Memperbaiki kualitas proses belajar genetika melalui strategi metakognitif dalam pembelajaran kooperatif pada siswa SMU oleh Endang Susantini

 

Perbandingan prestasi belajar mahasiswa yang diajar dengan menggunakan problem-based learning dan ekspositori yang memiliki gaya kognitif berbeda / I Made Tegeh

 

ABSTRAK Tegeh, I Made. 2009. Perbandingan Prestasi Belajar Mahasiswa yang Diajar dengan Menggunakan Problem Based-Learning dan Ekspositori yang Memiliki Gaya Kognitif Berbeda. Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wayan Ardhana, M.A., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (III) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Ed., M.Pd.. Kata kunci: problem based-learning, ekspositori, gaya kognitif, prestasi belajar Paradigma belajar yang dianut oleh dosen tercermin pada strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran diacukan sebagai penataan cara-cara yang memuat urutan langkah-langkah prosedural yang dapat digunakan pada kondisi tertentu untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan. Di lapangan selama ini, dosen kurang memperhatikan strategi pembelajaran yang digunakannya. Sering kali seorang dosen hanya menggunakan strategi pembelajaran yang monoton, yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada dosen. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran yang menyatakan bahwa tidak semua strategi pembelajaran dapat digunakan untuk mencapai semua tujuan pada berbagai kondisi. Penggunaan strategi pembelajaran yang tidak tepat, dimana mahasiswa tidak dilibatkan secara aktif dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar pada mata kuliah yang dipelajari. Hal ini berimplikasi terhadap rendahnya kompetensi mata kuliah yang dipelajari. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan ketidakpuasan terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Untuk itu, seorang dosen perlu menguji keefektifan suatu sterategi pembelajaran sebelum strategi itu digunakan dalam perkuliahan. Salah satu strategi pembelajaran yang perlu diuji keefektifannya adalah strategi pembelajaran problem based-learning (PBL). PBL dirancang tidak untuk menyampaikan materi sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa, melainkan untuk mengembangkan cara berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, belajar berperan seperti orang dewasa melalui situasi nyata atau simulasi, dan menjadi pebelajar mandiri. Sebagai pembanding keefektifan strategi pembelajaran PBL, digunakan strategi pembelajaran ekspositori karena strategi ini sangat lazim digunakan oleh para dosen PGSD dalam mengampu mata kuliah. Selain strategi pembelajaran, hal penting yang perlu juga menjadi perhatian guru dalam pembelajaran adalah kondisi pembelajaran, di antaranya adalah gaya kognitif. Gaya kognitif adalah bagian dari gaya belajar yang menggambarkan kebiasaan berperilaku relatif tetap dalam diri seseorang dalam menerima, memikirkan, memecahkan masalah maupun dalam menyimpan informasi. Sejauh mana pengaruh utama dan pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar merupakan konsentrasi penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel perlakuan terhadap prestasi belajar mata kuliah media pembelajaran pada mahasiswa S1 PGSD. Kegunaan atau manfaat penelitian ini dipilah menjadi dua, yaitu (1) manfaat teoretis yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan dalam pendidikan dan (2) manfaat praktis untuk pelaksanaan tindakan pembelajaran di kelas dalam lembaga pendidikan. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen. Desainnya merupakan versi nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester III Jurusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja yang berjumlah 620 orang (15 kelas). Sampelnya berjumlah 82 orang (dua kelas) mahasiswa Jurusan S1 PGSD semester III. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik sampel kelompok acak, dimana yang diacak adalah kelas. Data yang dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan prestasi belajar mata kuliah media pembelajaran antara kelompok mahasiswa yang diberi perlakuan menggunakan strategi pembelajaran PBL dan kelompok mahasiswa yang menggunakan strategi pembelajaran ekspositori, (2) tidak ada perbedaan prestasi belajar mata kuliah media pembelajaran antara kelompok mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field dependence dan kelompok mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field independence, dan (3) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar mata kuliah media pembelajaran pada mahasiswa S1 PGSD. Statistik desriptif menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran PBL (rerata 76,04) memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap prestasi belajar mahasiswa dibandingkan dengan penerapan strategi pembelajaran ekspositori (rerata 70,00). Berdasarkan temuan penelitian, disarankan kepada para dosen untuk mencoba menggunakan strategi pembelajaran PBL dalam mata kuliah yang diampu pada pokok bahasan tertentu yang sesuai dengan karakteristik strategi pembelajaran ini. Walaupun dalam penelitian ini gaya kognitif tidak berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar, para dosen hendaknya memperhatikan kondisi pembelajaran, seperti minat, bakat, kemampuan awal, motivasi, gaya kognitif, intelegensi, sikap, dan lain-lain, sehingga dosen dapat memberdayakan mahasiswa untuk belajar secara maksimal. ABSTRACT Tegeh, I Made. 2009. The Comparison between Students’ Learning Achievement Taught Using Problem-Based Learning and Expository with Different Cognitive Styles. Dissertation, Departement of Instructional Technology, Graduate Program State University of Malang. Advisor: (I) Prof. Dr. Wayan Ardhana, MA., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., (III) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Ed., M.Pd. Keywords: problem-based learning, expository, cognitive style, learning achievement. The learning paradigm followed by the lecturers is reflected in the instructional strategy they implement. The instructional strategy refers to structuring any ways that certain procedural steps that can be used only in a certain condition to obtain a certain learning achievement. So far, the lecturers pay less attention on the instructional strategy they implement. Often, a lecturer for instance implements a monotonous instructional strategy, so called lecturer-based instructional strategy. This, in fact, does not go with the general principal believed in the implementation of any instructional strategy, that not all instructional strategies can achieve all learning objectives in various conditions. The implementation of imprecise instructional strategy where the students are not active can affect the student’ dissatisfied learning achievement on the subjects learned. This implies low competence on the subjects they learn. This, then, can lead to dissatisfied quality of outputs of high institutions. With respect to this condition, a lecturer is expected to first test the effectiveness of any instructional strategy before he uses it in his lecturing. One of the instructional strategies that needs to be verified in terms of its effectiveness is problem-based learning (PBL). PBL is designed not to transfer content as much as possible to students, but to develop a critical thinking, problem solving, and intellectual competence, to learn to act as adult, to learn through a real situation or simulation, and to be independent learners. The expository strategy is the comparison standard in the effectiveness of the strategy of PBL, as it is often and commonly used by instructors of PGSD (teacher education for primary school) in conducting teaching-learning process. Besides instructional strategy, another point which is important to consider by the instructor are conditions of instruction including cognitive style. Cognitive style is a part of learning style that describes behaviour in individual student in receiving, processing, and solving problem as well as storing information. Therefore, it is necessary to study the main and interactive contribution of the instructional strategy and cognitive style toward academic achievement. The objective of this study is to find out the main effect and interaction effect of treatment variables toward the students’ academic achievement in Learning Media classes, PGSD. There are two significances of this study, namely: (1) for theoretical significance in relation to policy implementation in education, and (2) for practical significance in terms of the implementation of classroom action learning in educational institution. A quasi experiment was applied in this research. The version of nonequivalent control group design was employed in this research. The subjects are 620 (15 classes) semester III students, department of PGSD, “Universitas Pendidikan Ganesha”. The samples are 82 students (two classes) cluster randomly selected. The data collected were analysed by means at two-way analysis of variance 2 x 2 of inferential statistics. The results show that (1) there is difference in students’ academic achievement in Learning Media subject between group threated with PBL strategy and group with expository instructional strategy, (2) there is no difference in students’ academic achievement in Learning Media subject between group of students with field dependence and field independence cognitive style, and (3) there is no interaction between the instructional strategy and cognitive style toward the students’ academic achievement. Descriptive statistic analysis shows that the implementation of PBL strategy (M=76.04) contributes better to the academic achievement compared to the implementation of Expository learning strategy (M=70.00). Based on the findings, it is suggested to instructors to try the PBL strategy in conducting the teaching and learning process, especially in certain topics of discussion which are in line with the characteristics of PBL strategy. Though this study shows that cognitve style does not have any contribution significally to the students academic achievement, it is advised that instructors should pay attention instructional condition, such as: interest, talent, prior knowledge, motivation, cognitive style, intelligence, attitude that they can empower the students to learn maximally.

Pengembangan model pembelajaran kooperatif bermodul yang berwawasan sains teknologi dan masyarakat (STM) dan pengaruh implementasinya terhadap hasil belajar biologi siswa SMA di Singaraja oleh Putu Budi Adnyana

 

Pengaruh motivasi dan kompensasi terhadap kinerja karyawan pada perusahaan tenun tikar elresas Lamongan / Teguh Wahyudi

 

ABSTRAK Wahyudi, Teguh. 2009. Pengaruh Motivasi dan Kompensasi terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sarbini, (II) Elfia Nora, S.E., M.Si Kata kunci:, Motivasi, Kompensasi, Kinerja Keberhasilan suatu perusahaan sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang dimilikinya. Sumber daya manusia merupakan aset yang paling vital dalam perusahaan. Banyak sekali cara untuk mendapatkan sumber daya manusia yang qualified, diantaranya dengan memberikan kompensasi yang adil kepada karyawan. Dengan memberikan kompensasi yang adil diharapkan para karyawan akan meningkatkan kinerjanya sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Kinerja karyawan akan lebih baik lagi jika perusahaan memberikan motivasi kepada karyawannya. Perusahaan harus menggerakkan karyawan sesuai dengan yang dikehendaki, selain itu hendaknya dipahami motivasi manusia di dalam perusahaan tersebut karena motivasi inilah yang menyebabkan, menyalurkan, dan menentukan perilaku karyawan supaya mau bekerja giat dan antusias mencapai hasil yang optimal. Tujuan dari tindakan menggerakkan karyawan (motivasi) adalah tercapainya kinerja (performance) perusahaan yang optimal. Penelitian ini dilaksanakan di Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan pada bulan Mei-Juni 2009. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah karyawan bagian produksi Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan yang berjumlah 41 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk menjabarkan kondisi deskriptif motivasi, kompensasi dan kinerja pada karyawan bagian produksi Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan, (2) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara motivasi terhadap kinerja pada karyawan bagian produksi Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan, (3) Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara kompensasi terhadap kinerja pada karyawan bagian produksi Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas adalah Motivasi (X1) dan Kompensasi (X2), dan variabel terikat adalah Kinerja Karyawan (Y). Data diperoleh dari beberapa cara meliputi angket/kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 22 responden (54%) menyatakan bahwa motivasi kerja karyawan Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan adalah tinggi, sebanyak 24 responden (59%) menyatakan bahwa pemberian kompensasi oleh Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan adalah tinggi, sementara 26 responden (63%) menyatakan bahwa kinerja karyawan Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan mempunyai kinerja yang tinggi. Sedangkan berdasarkan teknik analisis inferensial atau analisis regresi berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5% secara parsial dapat diketahui: variabel motivasi (X1) mempunyai nilai t sig α (0,003<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel motivasi (X1) berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja (Y) secara langsung. Variabel kompensasi (X2) mempunyai nilai t sig α (0,012<0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kompensasi (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) secara langsung. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti kepada Perusahaan Tenun Tikar Elresas Lamongan adalah pihak manajemen lebih meningkatkan pemberian kompensasi kepada karyawannya agar karyawan lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerjanya. Keterkaitan pemberian kompensasi dan motivasi kepada karyawan sangat erat, guna mencapai tujuan perusahaan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VIII-B SMP Negeri 2 Malang / Prihartiningsih

 

Siswa SMP Negeri 2 Malang masih menganggap biologi sebagai mata pelajaran yang susah untuk dimengerti. Indikasinya dapat dilihat dari prestasi belajar siswa di SMA ini yang kurang memuaskan. Faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa adalah pembelajaran biologi yang kurang tepat sehingga dapat dikatakan proses kegiatan belajar siswa kurang berhasil. Guru juga belum pernah menggunakan variasi metode pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini bersifat konvensional. Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran biologi dengan menggunakan NHT untuk melihat prestasi belajar siswa kelas XI IPA 3 SMP Negeri 2 Malang pada materi menentukan titik stasioner suatu fungsi beserta jenis ekstrimnya serta menentukan nilai maksimum dan minimum dari suatu fungsi dalam suatu interval tertutup dengan menggunakan turunan. Proses pelaksanaan pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) ini dilaksanakan melalui 4 tahapan, yaitu penomoran (Numbering), mengajukan pertanyaan (Questioning), berfikir bersama (Heads Together), dan menjawab (Answering). Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus 1 presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar dengan subpokok bahasan menentukan titik stasioner dan jenis nilai stasioner dari suatu fungsi dengan menggunakan turunan adalah 79.41 % sedangkan pada siklus 2 presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar dengan subpokok bahasan menentukan nilai maksimum dan minimum dari suatu fungsi dalam suatu interval tertutup dengan menggunakan turunan adalah 100%. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan SMP Negeri 2 Malang, pelaksanaan pembelajaran dikatakan mendukung atau berhasil apabila sekurang-kurangnya 80% siswa mendapat nilai minimal 75 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan NHT dalam penelitian ini berhasil. Dalam penelitian ini pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu pada tahap penomoran (Numbering), siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang heterogen yang beranggotakan 4-5 siswa berdasarkan nilai ulangan harian siswa kemudian siswa diberi nomor-nomor sesuai dengan jumlah anggota setiap kelompoknya dengan suatu aturan khusus. Pada tahap mengajukan pertanyaan (Questioning), setiap kelompok diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) lebih dari satu lembar untuk menghindari siswa kesulitan dalam membaca LKS. Kemudian pada tahap berfikir bersama (Heads Together), siswa berdiskusi dengan teman satu kelompoknya tentang LKS yang diberikan dan guru sebagai fasilitator. Tahap yang terakhir adalah tahap menjawab (Answering), guru menunjuk nomor siswa dan kelompok siswa secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas sedangkan siswa dari kelompok lain meskipun mempunyai nomor yang tidak sama dengan yang presentasi dapat memberikan tanggapannya.

Persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru pratikan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang hubungannya dengan motivasi belajar siswa pada semester genap tahun ajaran 2008/2009 di SMK Negeri 6 Malang / Aditya Permata

 

ABSTRAK Permata, Aditya. 2009. Persepsi Siswa Tentang Keterampilan Mengajar Guru Praktikan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang Hubungannya dengan Motivasi Belajar Siswa pada Semester Genap Tahun Ajaran 2008/2009 di SMK Negeri 6 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1)Prof. Dr. H. A. Sonhadji KH, M.A, (2) Dra. Widiyanti, M.Pd Kata kunci: persepsi siswa, keterampilan mengajar guru praktikan, motivasi belajar siswa. Persepsi merupakan stimulus untuk menggambarkan pemahaman tentang peristiwa yang telah terjadi yang dapat dijadikan media informasi. Dalam kegiatan belajar mengajar disekolah persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru praktikan sangat penting sekali untuk mengetahui sejauhmana keterampilan mengajar yang dimiliki oleh seorang guru praktikan. Adapun keterampilan mengajar dalam penelitian ini yaitu 1) Keterampilan membuka pelajaran, (2) Keterampilan menjelaskan materi, (3) Keterampilan bertanya, (4) Keterampilan memberi penguatan, (5) Keterampilan mengadakan variasi, (6) Keterampilan mengelola kelas, (7) Keterampilan menutup pelajaran. Jika keterampilan mengajar yang dimiliki oleh seorang guru tinggi maka motivasi belajar seorang siswa juga tinggi. Motivasi belajar bisa tumbuh jika ada dorongan baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa yang diistilahkan dengan motivasi intristik dan motivasi ekstristik. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru praktikan TM FT UM di SMK Negeri 6 Malang, mendiskripsikan seberapa besar tingkat motivasi belajar, dan untuk mendiskripsikan hubungan antara keterampilan mengajar guru praktikan TM FT UM 2008 terhadap motivasi belajar siswa SMK Negeri 6 Malang. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif korelasional yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi dan untuk menemukan ada tidaknya suatu hubungan tentang variabel-variabel yang sudah ditentukan sebelumnya. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru praktikan TM FT UM di SMK Negeri 6 Malang hubungannya dengan motivasi belajar siswa secara parsial, beberapa variabel tidak mempengaruhi motivasi belajar siswa, tetapi secara simultan semua variabel mempengaruhi motivasi belajar siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru praktikan TM FT UM dengan motivasi belajar siswa pada semester genap tahun ajaran 2008/2009 di SMK Negeri 6 Malang.

Implementing the Drta strategy to improve the reading comprehension ability of the eleventh-year students at MAN Kandangan Kediri / Ani Mutadayyinah

 

ABSTRACT Mutadayyinah, Ani. 2009. Implementing the DRTA Strategy to Improve the Reading Comprehension Ability of the Eleventh-Year Students at MAN Kandangan Kediri. Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Johannes A Prayogo, M.Pd., M.Ed. (II) Drs. Fachrurrazy,M.A.,Ph.D. Key words: Directed Reading Thinking Activity strategy, reading comprehension Reading is one of the four basic language skills that must be mastered in language learning. It is usually taught in integration with the three other language skills. As one of the language skills, reading receives more emphasis than the others. It is given the first priority. However, many students have insufficient skills in reading and their reading achievement is poor. This research employs Collaborative Classroom Action Research design and aims at improving the reading comprehension ability of the eleventh year students on narrative texts at MAN Kandangan through DRTA (Directed Reading Thinking Activity). The strategy is selected since it helps develop critical reading skills and encourages active reading. Further, the strategy has been proven, through many studies, to have been able to improve the students’ achievement in reading comprehension and involvement in the learning process. The subjects of this study were thirty three eleventh-year students of MAN Kandangan in the academic year of 2008/2009. The study was conducted in two cycles by following the procedures of an action research, i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle was carried out two meetings of strategy implementation and one meeting for the test. The data of the study were gathered through the following instruments: observation checklist, field notes, questionnaire, and a reading comprehension test. The finding of the study revealed that the appropriate model of the DRTA strategy in teaching reading at MAN Kandangan consists of the following steps: in pre reading step; (1) grouping the students, (2) explaining the objective of the lesson, (3) leading students to the topic by delivering some questions and showing a picture, (4) asking the students to predict the topic of the text from the picture and the title given, (5) introducing new vocabulary items; in the guided silent reading; (1) delivering open-ended questions, (2) asking the students to predict the text then write them in the sheet, (3) asking the students to share with group. In this case, some students’ predictions were recorded on white board, (4) assigning one of the students to read loud followed by all students reading silently, (5) requesting to take note on information, (6) asking students to discuss with their group; in the post reading step; (1) assigning to check and prove their prediction, (2) asking to find evidence to support the prediction, (3) having discussion for students’ prediction, (4) asking the students to do the task, (5) discussing the students’ answers. Furthermore, the finding also indicated that the DRTA strategy has improved students’ reading comprehension. The improvement could be seen from the increase of the students’ score in reading comprehension which reached the target score (75 in the range of 0 to 100), i.e. in pre test, there were only 8 students or 24% out of 33 students who could reach the target score, in the first cycle, there were 17 students or 48% out of 33 students who could reach the target score, in the second cycle, there were 22 students or 67% out of 33 students who could reach the target score. Besides, the finding indicated that the DRTA strategy was successful in enhancing the students to be actively involve in the class. Based on the research findings, it can be concluded that the DRTA strategy is not only successful in improving the students’ reading comprehension but also in enhancing the students’ involvement in the learning class. Therefore, the following suggestions are presented. First, the English teachers could apply the DRTA strategy in their reading instruction. They should use the reading texts that have not been read by the students and they also must be positive, supportive, and encouraging. Second, future researchers are suggested they conduct a similar study using the DRTA strategy in other language skills and in other text types such as expository, report, and recount. ABSTRAK Mutadayyinah, Ani. 2009. Menerapkan Strategy DRTA untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Membaca Siswa Kelas Sebelas MAN Kandangan Kediri. Tesis. Program Pascasarjana pada Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Johannes A Prayogo, M.Pd., M.Ed. (II) Drs. Fachrurrazy,M.A.,Ph.D. Key words: Strategy Directed Reading Thinking Activity, pemahaman membaca. Membaca sebagai salah satu ketrampilan dasar bahasa yang harus dikuasai dipembelajaran bahasa. Biasanya diajarkan bersama dengan tiga ketrampilan bahasa lain. Sebagai salah satu ketrampilan bahasa, membaca mendapat perhatian lebih dari keterampilan bahasa lainnya. Ada prioritas utama. Bagaimanapun, banyak siswa tidak mempunyai cukup ketrampilan dalam membaca dan prestasi membaca mereka rendah. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dan bertujuan meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa kelas sebelas pada teks narasi di MAN Kandangan melalui DRTA (Directed Reading Thinking Activity). Strategi ini dipilih karena membantu mengembangkan kemampuan membaca kritis and mendorong membaca aktif. Selain itu, strategi ini telah terbukti, melalui banyak penelitian, telah mampu meningkatkan prestasi pemahaman membaca dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah tiga puluh siswa kelas tiga MAN Kandangan pada tahun akademik 2008/2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan mengacu pada prosedur penelitian tindakan yaitu, planning, implementing, observing, dan reflecting. Masing-masing siklus dalam penelitian terdiri dari dua pertemuan untuk penerapan strategi dan satu pertemuan untuk tes. Data penelitian ini dikumpulkan melalui beberapa instrument berikut; lembar observasi, lembar catatan, kuestioner, dan tes membaca pemahaman. Hasil penelitian ini menunjukkan model yang tepat dari DRTA strategi dalam pengajaran membaca di MAN Kandangan terdiri dari langkah langkah berikut: ditahap membaca awal; (1) mengelompokkan siswa, (2) menjelaskan tujuan pelajaran, (3) mengiring siswa pada topic dengan memberi beberapa pertanyaan dan menunjukkan gambar, (4) meminta siswa memprediksi topic bacaan dari gambar dan judul yang diberikan, (5) mengenalkan kosakata baru. Ditahap membaca diam terpadu; (1) memberikan pertanyaan, (2) meminta siswa memprediksi bacaan kemudian menulisnya dalam lembaran, (3) meminta siswa berbagi dengan kelompok. Dalam hal ini, beberapa prediksi siswa ditulis di papan tulis, (4) menugaskan salah satu siswa untuk membaca keras diikuti oleh semua siswa membaca secara diam, (5) meminta untuk mencatat informasi, (6) meminta siswa berdiskusi dengan kelompok. Di tahap membaca akhir; (1) menugaskan untuk memeriksa dan membuktikan prediksi mereka, (2) meminta menemukan bukti untuk mendukung prediksi, (3) berdiskusi prediksi murid, (4) meminta siswa mengerjakan tugas, (5) mendiskusikan jawaban siswa. Lebih lanjut, hasil penelitian ini menjelaskan bahwa strategi DRTA meningkatkan pemahaman membaca siswa. Peningkatan ini dapat dilihat dari bertambahnya skor pemahaman membaca siswa yang dapat mencapai nilai target (75 pada rentang 0 sampai 100), yaitu pada tes awal, hanya ada 8 siswa atau 24% dari 33 siswa yang dapat mencapai nilai target. Pada siklus pertama, ada 17 siswa atau 48% dari 33 siswa yang dapat mencapai nilai target. Pada siklus kedua, ada 22 siswa atau 67% out of 33 siswa yang dapat mencapai nilai target. Selain itu, penemuan ini menjelaskan bahwa strategi DRTA sukses meningkatkan murid aktif terlibat dikelas. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa strategi DRTA tidak hanya sukses dalam meningkatkan pemahaman membaca siswa tetapi juga dapat meningkatkan keterlibatan siswa pada proses pembelajara. Oleh sebab itu, beberapa saran dibuat. Pertama, guru-guru bahasa Inggris dapat menerapkan strategi DRTA dalam pembelajaran membaca. Mereka harus mengunakan teks bacaan yang belum dibaca oleh siswa dan mereka juga harus positif, suportif, and memberi semangat. Kedua, peneliti-peneliti selanjutnya disarankan mereka melakukan penelitian yang sama mengunakan strategi DRTA pada ketrampilan bahasa lainnya dan pada jenis teks yang lain seperti expository, report, dan recount.

Manajemen pembelajaran pakem: studi kasus di sekolah dasar Islam Surya Buana Malang / Kana Setya Aikhoka

 

Tujuan penelitian mengetahui manajemen pembelajaran PAKEM SDI Surya Buana Malang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, jenis penelitian studi kasus. Hasil penelitian ini adalah prosedur kerja manajemen pembelajaran PAKEM terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan dibuat oleh guru, pelaksanaan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pembelajaran juga diadakan di gazebo. Evaluasi proses pembelajaran juga dilakukan. Keungggulan pembelajaran PAKEM SDI Surya Buana yaitu pemantapan agama, pembiasaan hidup sehat, kegiatan parents day dan studi empiris. Aplikasi pembelajaran PAKEM di kelas dengan menyelenggarakan pembelajaran yang variatif. Guru menggunakan metode yang menyenangkan, yaitu metode estafet, silih tanya, alphabet method, pohon pembelajaran, dan pembelajaran di ruang non kelas. Keberhasilan penyelenggaraan PAKEM dapat diketahui melalui kemampuan siswa, guru, dan ruang kelas.

Pengembangan media animasi pembelajaran sistem pencernaan pada manusia untuk siswa kelas 5 SDN Sawojajar III Malang / Dela Noris Delen

 

ABSTRAK Delen, Dela Noris. 2009. Pengembangan Media Animasi Pembelajaran Sistem Pencernaan Pada Manusia Untuk Kelas 5 SDN Sawojajar III Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Ed., (II) Dr. H. Sulton, M.Pd. Kata kunci: pengembangan media pembelajaran, animasi, sistem pencernaan pada manusia. Media animasi pembelajaran merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di sekolah khususnya mata pelajaran IPA pokok bahasan sistem pencernaan pada manusia. Berdasarkan hasil observasi di SDN Sawojajar III Malang, penyampaian materi sistem pencernaan pada manusia masih menggunakan metode ceramah dan menggunakan gambar diam. Padahal dengan metode tersebut siswa cenderung sulit memahami materi yang diberikan dan cepat bosan karena proses pencernaan begitu kompleks dan memiliki banyak istilah-istilah asing, sehingga berdampak pada hasil belajar siswa. Tujuan dari pengembangan media animasi pembelajaran ini adalah untuk mengembangkan suatu media animasi pembelajaran yang efektif dan efisien untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga bisa memberikan salah satu alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi sistem pencernaan pada manusia. Subjek uji coba dalam pengembangan media animasi ini adalah siswa kelas 5 SDN Sawojajar III Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi pengembangan media animasi kepada ahli media, ahli materi, dan siswa atau audiens. Sedangkan untuk menguji kedalaman materi yang diberikan kepada siswa, dilakukan pre-test sebagai evaluasi sebelum menggunakan media dan post-test sebagai evaluasi setelah menggunakan media. Analisis data yang digunakan untuk mengolah hasil validasi ahli media, ahli materi dan audiens adalah prosentase, sedangkan untuk mengolah hasil pre-test dan post-test siswa adalah uji t. Hasil pengembangan media animasi pembelajaran ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 85%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 95%, dan audiens mencapai tingkat kevalidan 89%, dengan prosentase rata-rata 89,7%. Sedangkan untuk hasil belajar menunjukkan thitung > ttabel, sehingga pengujian hipotesis rumus statistik H0 ditolak dan H1 diterima, karena ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah menggunakan media animasi pembelajaran. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media animasi pembelajaran yang disajikan secara variatif dapat merangsang minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPA pokok bahasan sistem pencernaan pada manusia, serta dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar bagi siswa. Saran yang diberikan berdasarkan hasil pengembangan media animasi pembelajaran ini adalah diharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas penggunaan media animasi pembelajaran yang telah dikembangkan. Sehingga pengembang berikutnya dapat menghasilkan media animasi pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.

Hubungan antara bullying dan kecemasan terhadap pelajaran matematika dengan prestasi belajar matematika pada siswa SMK Negri 1 Pasuruan / Dewingga Budi Astria

 

ABSTRAK Astria, Dewingga, Budi. 2009. Hubungan antara Bullying dan Kecemasan Terhadap Pelajaran Matematika dengan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMK Negeri 1 Pasuruan. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Hetti Rahmawati, S.Psi,M.Si Kata Kunci : Bullying, Kecemasan, Prestasi Belajar Matematika Prestasi belajar siswa berhubungan dengan berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bullying dan kecemasan terhadap pelajaran matematika dengan prestasi belajar matematika. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan deskriptif korelasional pada subyek 33 siswa kelas X SMK Negeri 1 Pasuruan. Data dikumpulkan dengan skala bullying, skala kecemasan dan tes prestasi belajar matematika, kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan siswa yang mengalami bullying pada kategori tinggi sebanyak 9 siswa (27,27%), kategori sedang sebanyak 17 siswa (51,51%) dan kategori rendah sebanyak 7 siswa (21,21%). Siswa yang mengalami kecemasan terhadap pelajaran matematika pada kategori tinggi sebanyak 5 siswa (15,15%), kategori sedang sebanyak 9 siswa (27,27%) dan kategori rendah sebanyak 19 siswa (57,57%). Prestasi belajar matematika siswa pada kategori tinggi sekali sebanyak 2 siswa (6,6%), kategori tinggi sebanyak 9 siswa (27,27%), kategori sedang sebanyak 14 siswa (42,42%), kategori rendah sebanyak 8 siswa (24,24%) dan tidak ada siswa yang tergolong dalam kategori rendah sekali; ada hubungan negatif antara bullying dan kecemasan terhadap pelajaran matematika dengan prestasi belajar matematika (F = 0,11365, Sig = 0,001;R = 0,154 < Rtab 0,436 ), dengan sumbangan efektif kedua variabel bebas sebesar 0,324 (32,4%); ada hubungan negatif antara bullying dengan prestasi belajar matematika (Beta = -0,570), dan ada hubungan negatif antara kecemasan terhadap pelajaran matematika dengan prestasi belajar matematika (Beta = -0,345). Berdasarkan hasil penelitian, disarankan (1) guru mengembangkan peer support dengan menunjuk beberapa siswa untuk bersahabat dengan siswa lain yang mengalami bullying dan kecemasan, karena siswa lebih terbuka berbagi rasa dengan teman sebayanya dibandingkan dengan guru, (2) kepala sekolah selaku legislatif dan pengawas melibatkan guru untuk secara bergiliran memonitoring tempat yang rawan bullying dan kecemasan seperti kelas, kantin, toilet, lapangan olahraga dan pintu gerbang sekolah, (3) konselor bekerja sama dengan bidang kesiswaan, wali kelas dan orang tua untuk mencari solusi masalah siswa yang mengalami bullying dan kecemasan, (4) peneliti selanjutnya hendaknya melakukan penelitian pada aspek kematangan remaja sehingga perilaku bullying dan kecemasan dapat diteliti secara lengkap.

Pengembangan perangkat pembelajaran polimer alam di SMA/MA berbasis bahan domestik / Dewi Nur Asrini Wilujeng

 

ABSTRAK Wilujeng, Dewi, Nur, Asrini. 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Polimer Alam di SMA/MA Berbasis Bahan Domestik. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA UM. Pembimbing: (I) Dr. Sutrisno, M.Si, (II) Dra. Nazriati, M.Si Kata kunci: pengembangan, perangkat pembelajaran, polimer alam, bahan domestik. Sebagian konsep kimia merupakan konsep yang bersifat abstrak. Hal ini menyebabkan siswa cenderung mengalami kesulitan untuk mengkonstruksi pemahaman secara tepat. Oleh karena itu, diperlukan suatu konsep pembelajaran yang mampu mengaitkan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa agar lebih mudah dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Salah satu cara untuk menunjang hal tersebut adalah dengan menggunakan perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah perangkat pembelajaran yang berbasis pada bahan-bahan atau produk yang bisa ditemui di lingkungannya. Pengembangan perangkat pembelajaran terhadap suatu materi pokok yang berbasis bahan domestik belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran yang berbasis bahan domestik pada materi polimer alam. Pengembangan ini dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran polimer khususnya polimer alam. Tujuan pengembangan ini adalah (1) untuk mengidentifikasi langkah-langkah dalam pengembangan perangkat pembelajaran polimer alam menurut 4D-model yang dikembangkan oleh Thiagarajan, (2) untuk memperoleh produk pengembangan yang berwujud perangkat pembelajaran polimer alam yang berbasis bahan domestik, dan (3) untuk mengetahui tingkat validitas perangkat pembelajaran hasil pengembangan. Pengembangan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini digunakan suatu model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model (Membatasi (Define), Merancang (Design), Mengembangkan (Develop), dan Menyebarluaskan (Disseminate)). Keempat D dalam 4D-Model merupakan tahap-tahap atau sintaks dalam pengembangan perangkat pembelajaran. Namun, pada rancangan pengembangan ini diadopsi sampai pada D yang ketiga, yakni hingga tahap mengembangkan (develop). Validator dalam pengembangan ini adalah dua orang dosen kimia yang kompeten dan dua orang guru kimia SMA yaitu dari SMAN 2, dan SMAN 9 Malang. Instrumen yang digunakan adalah angket penilaian dan angket tanggapan terhadap perangkat pembelajaran kemudian dianalisis. Analisisnya menggunakan analisis deskriptif. Produk yang dihasilkan dalam pengembangan adalah perangkat pembelajaran kelas XII semester 2 pada sub materi polimer alam. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan berupa: (a) bahan ajar yang terdiri dari halaman judul, kata pengantar, daftar isi, karakteristik bahan ajar, pendahuluan, uraian materi, rangkuman, kata-kata kunci, daftar pustaka, (b) soal-soal latihan dan kunci jawaban, (c) Lembar Kerja Siswa, (d) silabus dan RPP yang dilengkapi dengan instrumen penilaian (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Hasil validasi terhadap perangkat pembelajaran yang dikembangkan secara keseluruhan menunjukkan nilai rata-rata 3,5 yang bermakna bahwa secara keseluruhan bahan ajar yang i

Penerapan metode jaritmatik untuk meningkatkan keaktifan dan pemahaman konsep perkalian pada siswa kelas II SDN Kolursari I Banagil / Nanik Ruqoiyah

 

ABSTRAK Ruqoiyah, Nanik. 2009. Penerapan Metode Jaritmatika untuk Meningkatkan Keaktifan dan Pemahaman Konsep Perkalian pada Siswa kelas II SDN Kolursari I Bangil. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Thomas Irianto, M.Pd., (II) Dra. Harti Kartini, M.Pd. Kata Kunci: Metode, Jaritmatika, Perkalian. Pembelajaran berhitung di SD kelas rendah hendaknya menarik dan membuat siswa senang belajar sambil beraktivitas. Pembelajarannya dimulai dari yang paling sederhana menuju yang lebih kompleks, dari yang konkret menuju ke abstrak. Dengan menggunakan pengalaman-pengalaman sosial siswa, penggunaan alat peraga, belajar sambil bermain atau bernyanyi akan lebih menyenangkan dan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep matematika. Berkaitan dengan berhitung di kelas II SDN Kolursari I Bangil yang merupakan permasalahan adalah materi perkalian. Masalahnya adalah rendahnya aktifitas dan pemahaman konsep siswa dalam perkalian yang berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa dan pemahaman konsep perkalian dengan metode Jaritmatika, yaitu cara belajar berhitung dengan menggunakan sepuluh jari tangan. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan PTK yang dilakukan selama 2 bulan sejak pertengahan April sampai akhir Mei 2009. Subjek penelitian adalah siswa kelas II SDN Kolursari I Bangil yang berjumlah 29 siswa. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: keaktifan siswa mengalami peningkatan dari 79%-94% pada siklus 1 menjadi 85%-98% pada siklus 2. kemampuan untuk memahami konsep perkalian siswa juga mengalami peningkatan dari 45% pada siklus 1 menjadi 83% pada siklus 2. hasil belajar siswa juga ada peningkatan dari rata-rata hasil belajar siswa 73 pada siklus 1 menjadi 91 pada siklus 2, secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan metode jaritmatika dalam pembelajaran matematika.

Nyanyian rakyat Bugis: kajian bentuk, fungsi, nilai, dan strategi pelestariannya / Amaluddin

 

ABSTRAK Amaluddin. 2009. Nyanyian Rakyat Bugis (Kajian Bentuk, Fungsi, Nilai, dan Strategi Pelestariannya). Disertasi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (2) Dr. Djoko Saryono, M.Pd., dan (3) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie. Kata-kata Kunci: nyanyian rakyat, bentuk, fungsi, nilai, strategi pelestarian, dan hermeneutika. Nyanyian Rakyat Bugis (NRB) merupakan produk budaya etnik Bugis. Nyanyian rakyat tersebut, diwariskan secara lisan (verbal) dari generasi ke generasi Bugis. Sebagai produk budaya, NRB digunakan sebagai media ekspresi seni untuk menyampaikan berbagai hal tentang kehidupan manusia Bugis, di samping sebagai media hiburan rakyat. Penelitian ini berusaha memerikan hal-hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini memerikan empat aspek, yakni (1) bentuk, (2) fungsi, (3) nilai, dan (4) strategi pelestarian. Pada aspek bentuk, meliputi: (a) pemaknaan terhadap kategori diksi yang digunakan dalam NRB yang berhubungan dengan ruang persepsi kehidupan masyarakat Bugis yang sangat substansial dan fundamental, (b) pemaknaan terhadap bentuk kalimat yang digunakan NRB dalam kaitannya dengan eksistensi siri’ dan pêsse sebagai inti budaya Bugis, (c) dan pemaknaan gaya bahasa dalam NRB yang mendeskripsikan tentang sifat-sifat manusia Bugis. Kemudian aspek fungsi, meliputi: (a) fungsinya sebagai sarana kritik sosial dalam masyarakat Bugis, (b) fungsinya sebagai pengawas norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Bugis, dan (c) fungsinya sebagai alat pendidikan bagi generasi muda manusia Bugis. Aspek nilai, meliputi: (a) nilai filosofis, (b) nilai religius, dan (c) nilai sosiologis. Aspek strategi pelestarian NRB, meliputi: (a) strategi langsung yang dilaku¬kan oleh pemerintah dan (b) strategi tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang menggunakan ancangan hermeneutika. Data penelitian berupa teks lisan NRB Makkacaping dan Elong asli dalam bahasa Bugis, serta data primer lainnya yang terkait dengan NRB. Pengumpulan data dilakukan melalui perekaman, observasi, wawancara, dan studi/kaji dokumen NRB. Dalam pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci dilengkapi dengan format catatan lapangan, pedoman/panduan wawancara, instrumen penjaring data, dan dilengkapi dengan alat perekam elektronik (handycam, tape recorder, dan kamera digital). Analisis data sudah dilakukan sejak awal pengumpulan data, oleh sebab itu ketika pengumpulan data, peneliti melakukan identifikasi data, klasifikasi data terpilih, penyajian data, interpretasi, dan penarikan simpulan atau verifikasi data. Semua proses itu didasari oleh pandangan etik dan emik dalam studi budaya. Analisis data penelitian dilakukan secara hermeneutis dengan model interaktif-dialektis. Maksudnya, pengumpulan data dan analisis data dilakukan secara serentak, bolak-balik, dan berkali-kali atau sesuai dengan prinsip lingkaran hermenutika (hermeuti circle) dengan mengikuti model hermeneutika Recouer, yakni pemahaman secara cermat melalui level semantik, level refleksif, dan level eksistensial. Untuk memverifikasi semua temuan penelitian, dilakukan trianggulasi temuan kepada pakar bahasa Bugis, ahli lontara’ Bugis, dan Budayawan Bugis. Berdasarkan analisis data ditemukan beberapa hal berikut. Dari aspek pemaknaan bentuk diksi untuk mengekspresikan beragam muatan budaya yang sarat dengan makna kehidupan manusia, ditemukan penggunaan diksi kategori (1) being, meliputi: (a) assimêllêrêng dan siakkamasêang, (b) atongêngêng), (c) asipaka¬tau¬ngêng, (d) apaccingêng, (e) alêbbirêng, (f) adele’ (g) assicocokêng/ asalêwangêng, (h) alempurêng, (i) acenningêngati, dan (j) apatorêng. (2) terresterial, meliputi: kosakata (a) galung,(b) sepe’,(c) salo’, (d) dare’, dan (e) ale’, (3 living, meliputi kosa kata: (a) batakkaju, (b) taneng-taneng, dan (c) bua’, (4) annimate, meliputi kosa kata: (a) dongi’,(b) manu’, (c) meong, dan sebagainya. Kemudian jenis kalimat yang digunakan dalam tradisi lisan NRB untuk mendeskripsikan patêttong penegakan budaya siri’ dan pêsse dalam masyarakat Bugis, yakni (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat imperatif, dan (3) kalimat interogatif. Gaya bahasa dalam NRB, meliputi (1) hiperbola, (2) simile, (3) personifikasi, (4) metafora, dan (5) repetisi. Dari aspek fungsi, NRB mengandung fungsi sebagai (1) sarana kritik atau protes sosial yang bertujuan untuk: (a) memberikan kritikan terhadap ketimpangan, penyelewengan, dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyat yang dipimpinnya, (b) memberikan kritikan atau sindiran terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat Bugis, dan (c) memberikan masukan atau nasihat kepada pemimpin dalam menjalankan amanah yang diberikan oleh rakyat, (2) pengawas norma-norma yang berlaku dalam masyarakat (sebagai fungsi adat), yang bertujuan untuk: (a) menegakkan norma adat adê untuk memberikan hukuman kepada orang yang melakukan kesalahan dalam masyarakat Bugis, (b) menegakkan norma adat adê dalam memutuskan suatu perkara (ketetapan hukum), dan (c) larangan melakukan pelanggaran norma adat adê dalam masyarakat Bugis, (3) sebagai sarana pendidikan bagi generasi muda Bugis yang bertujuan untuk (a) memberikan nasihat kepada seorang anak dalam keluarga (paseng ri wjiae), (b) mendorong agar setiap orang senantiasa berbuat baik dalam hidupnya (ampe-ampe deceng), (c) memberikan nasihat agar setiap orang berusaha memperbanyak bekal (bokong temmawari) akhirat berupa amal yang baik, (d) menjaga dan memelihara perkataan yang baik dan benar (ada tongêng), (e) menumbuhkan sifat sabar dalam menjalani kehidupan dunia (sabbara’), (f) menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia (sipakatau), (g) menumbuhkan sifat pemurah/kedermawanan (malabo’), (h) menumbuhkan semangat etos kerja keras (rêso), dan (i) menanamkan kesadaran tenang pentingnya memiliki kepandaian/pengetahuan (amaccangêng). Dari aspek nilai, NRB mengandung nilai yang sangat hakiki dalam kehidupan manusia Bugis, yaitu: (1) nilai filosofis, adalah nilai yang merepresentasi¬kan pandangan hidup atau kebijaksanaan hidup manusia Bugis untuk mengendali¬kan dan mengarahkan manusia dalam bersikap, berperilaku atau perbuatan ke arah yang lebih baik, meliputi : (a) sikap teguh dalam pendirian atau memegang teguh prinsip hidup, (b) sikap menentukan pegangan hidup yang kokoh (sikap kepastian), dan (c) sikap kebijaksanaan, (2) nilai religius, adalah nilai-nilai kudus (suci) yang berhubungan dimensi ke-Tuhan-an dalam aktivitas kehidupan manusia sebagai hamba Allah di muka bumi, meliputi: (a) meyakini bahwa Allah SWT Maha Kuasa dan Pelindung bagi hambanya, (b) menerima takdir (toto’) Allah SWT dengan sikap pasrah, (c) perintah memperbanyak bekal (bongkong temmawari) akhirat, berupa amal yang baik, (d) perintah memantapkan/ memperkokoh iman (teppe’) dalam hati, dan (e) perintah menegakkan (patêttong’) ibadah salat lima waktu, dan (f) perintah menjauhkan diri dari perbuatan dosa (ampesala atau adosang), (3) nilai sosiologis, adalah nilai-nilai yang merepresentasikan hubungan atau interaksi manusia dengan manusia dalam masyarakat Bugis yang direfleksikan dalam bentuk perilaku, sifat, kebiasaan untuk membangun hubungan timbal balik yang lebih harmonis, meliputi (a) pentingnya tolong-menolong (assiturusêng), (b) pentingnya bermusyawarah (tudassipulung) untuk menyatukan pendapat, (c) pentingnya persaudaraan (assiajingêng) dalam suka dan duka, dan (d) berdedikasi tinggi (mawatang) untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara, dan (e) menjaga dan memelihara kerukunan hidup (asalêwangêng). Dari aspek pelestarian budaya NRB, ada dua strategi yang dilakukan pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Pertama, strategi langsung yang dilakukan oleh pemerintah untuk memelihara keberadaan tradisi lisan NRB, meliputi (a) inventarisasi dan dokumentasi, (b) dijadikan sebagai muatan lokal di beberapa sekolah, dan (c) sebagai hiburan pada acara resmi pemerintah daerah, melalui Pembinaan tradisi lisan NRB, perlombaan yang dilakukan setiap hari besar nasional dan hari jadi kabupaten/kota, (3) melalui pengembangan, yaitu diteliti dan dikembangkan oleh ilmuwan dan budayawan Bugis, dan kedua strategi tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat dalam upaya pelestarian tradisi lisan NRB, meliputi (a) pelatihan Makkacaping dan Elong, (b) pembentukan grup Kecapi NRB, (c) penyiaran dan promosi melalui media, (d) membudayakan NRB sebagai hiburan di lingkungan rumah tangga, (e) keterlibatan industri rekaman, dan (f) menggunakan NRB sebagai hiburan masyarakat pada acara keluarga. Berdasarkan data wawancara, ditemukan pula strategi pelestarian yang seharusnya dilakukan, yaitu (a) pembinaan kepada para pelaku NRB, (b) memfasilitasi pembentukan grup NRB/simfoni kecapi, (c) Pemberian dana pembinaan, (d) seharusnya ada seksi khusus yang membidangi kebudayaan daerah, (e) perlombaan penulisan teks NRB, dan (f) dilaksanakan seminar dan diskusi tentang pengembangan NRB. ABSTRACT Amaluddin. 2009. Buginese Folksong (Study of Form, Function, Value, and its Perpetuation Strategy). Dissertation of Indonesian Language Education Study Program, Postgraduate Program of State Unversity of Malang. Advisor (I) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Dr. Djoko Sarjono, M.Pd., and (III) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie. Key words: folksong, form, function, value, perpetuation strategy, and hermeneutic Buginese Folksong (BF) is a cultural product of Buginese ethnic. The song has been orally handed down from one Buginese generation to the next. As a cultural product, it has been used as a medium of art expression to convey various things on Buginese life, in addition to the people entertainment medium. This research is focused on four aspects, namely (1) the form, (2) the function, (3) the value, and (4) the defensive or perpetuation strategy. The form aspect covers: (a) understanding on diction category which is used in the song and which is related to the very substantial and fundamental of Buginese life perception, (b) understanding on sentence form in relation to the existence of siri’ and pesse’ as cores of Buginese culture which are applied in the tune, (c) understanding on language style of the song that describes about the Buginese behaviours. The function aspect involves: (a) its function as a social critique media in Buginese society, (b) norms observer in Buginese society, (c) besides, its function as an educational mean for Buginese young generation.The value covers: (a) the philosophical value, (b) religiuos value, and (c) sociological value. The perpetuation strategy aspect of Buginese falksong. It involves: (a) direct strategy which is cunducted by the government, and (b) indirect strategy which is conducted by the members of society. This research includes a qualitative research which employs hermeneutics theory. The research data are oral texts on Buginese folksongs and the other primary data in relation to the songs. Data collection was conducted by recording, observing, interviewing, and studying/learning the Buginese folksong documents. In collecting data, the researcher himself was the key instrumen. Besides, he also used other instrumental such as, field notes, inteview guide, intrument for filtering data, handycam, tape recorder, and digital camera. Data analysis has been done at the beginning of data collection activity. Therefore, when data collection was going on, the researcher began to identify, classify the selected data, present, interpret, and draw a conclusion or data veryfication. All of these proccesses were based on ethic and emyc concept in the study of culture. Data were analyzed by using hermeneutic theory by means of interactive-dialectic. It means that the data collection and data analysis were conducted simulteneously, repeatedly again and again according to the hermeneutic cycle; it follows the Recouer hermeneutic model, that is accurate understanding through sementic, reflexive, and existencial level. Triangulation to the Buginese language experts, Buginese-Makassarese old manuscript experts, and Buginese cultured man. Based on data analysis it is found that on the aspect of diction meaning to express various cultural load which is full of meaningful life, it is found the use of diction categories (1) being consisting (a) assimêllêrêng and siakkamasêang, (b) atongêngêng, (c) asipakataungêng, (d) appaccingêng, (e) alêbbireng, (f) adele’, (g) assicocokêng/asalêwangêng, (h) alempurêng, (i) acenningêngati, and (j) apatorêng. (2) terresterial, consisting of some vocabularies (a) galung, (b) sepe’, (c) salo’, (d) dare’, and ale’, (3) living, consisting of the vocabularies such as (a) batakkaju, (b) taneng-taneng, and (c) bua’, (4) annimate, consisting of some vocabularies such as (a) dongi’, (b) manu’, (c) meong, and so forth. The sentence types which are used in oral tradition of Buginese Folksong to describe pattêttong siri’ and pêsse’ in Buginese society namey (1) declarative sentence, (b) imperative sentence, and (c) interrogative sentence. The language styles or linguistic styles in the song comprise (1) hyperbole, (2) simile, (3) personification, (4) metaphor, and (5) repetition. From the aspect of function, the Buginese folksong functions as (1) critical media or social protest which aims to criticize again the (a) imbalanced, deviation, and arbitrariness conducted by the government toward the people they govern, (b) provide critique of the social problem as faced the community and (c) provide input and advice to the leader in implementing their policy as expected by the community, (2) supervisor of the norms establish the community (as the tradition), which aims to (a) establish the tradition ade’ to give penalty to those who break the traditional norms, (b) establish the tradition norms ade’ in deciding a case (low decision), and (c) prohibition to deviate the traditional norms ade’ in Buginese community, (3) as educational guides to Buginese young generation in order to (a) advise the children in the family (paseng ri wijae), (b) encourage veryone to behave properly in daily life, (ampe deceng), (c) advise everybody to behave properly for hereafter (bokong temmawari), (d) to talk politely (ada tongêng), (e) to be patient in their life (sabbara’), (f) to respect each other (sipakatau)), (g) establish generosity (malabo), (h) to encourage to people to work hard (rêso), and (i) to make people realize the important of education in life (amaccangeng). From the aspect of values, the Buginese folksong contain deep values in Buginese life, they are (1) philosophical values representing the ways of life or wisdom to control of people behave properly embracing (a) strong principle, (b) choice of strong ways of life, and (c) to be wise, (2) religious values are the pure values which are relating to their belief in god in human being’ activities as a servant of god comprising: (a) belief in God as the owner of the universe and the protector of the servant, (b) accept fate (toto’), (c) order to make much deed (bokong temmawari) for herafter, as proper behavior, (d) encouragement to strengthen the belief (teppe’), and (e) encouragement to worship (patêttong), and (f) encouragement o avoid making sin (ampesala or adosang), (3) sociological values are the values representing the relationship or human interaction among Buginese people reflected in their behaviors, manners, habit to build mutual relationship in better harmony, consisting of (a) the important of helping each other (assiturusêng), (b) the important of making consensus (tudang sipulung) in any situation, and (c) the important of establishing brotherhood (assiajingêng) in any condition, and (d) high dedication (mawatang) to build the strong society, nation and country, and (e) to maintain the life harmony (asalêwangêng). Form the cultural security aspect of Buginese folksong, there were two strategies employed in the past, today, and in the future. First, direct strategy employed by the government to maintain the existence of oral tradition of the song, encompassing (a) recording and documenting, (b) as a local content in the curriculum of some schools, and (c) as an entertainment for the official ceremony of local government through teaching oral tradition of the song, competition on every important national and local ceremonies, (3) that is by research and development by the experts and Buginese cultured men, and the second is the indirect stategy employed by the government in order to maintain the Buginese oral tradition of Buginese folksong by Makkacaping and elong trainings, (b) establishing groups of Kacaping of the song, (c) broadcasting and promoting through the media, (d) acculturates the Buginese folksong as an entertainment of the family, (e) the involvement of recording industry, and (f) using the song to entertain people in any family party. Based on the interview, it is also found defense strategy which should e done, they are (a) guiding the actors of the Buginese folksong, (b) facilitating the form of group of the song/ kacaping symphony, (c) financing the group, (d) there should be a particular oard managing the local culture, (e) text writing competition on the Buginese folksong, and (f) conducting seminar and discussion about the Buginese folksong development.

Representasi pandangan hidup masyarakat Madura dalam sastra Madura Modern oleh Moh. Fatah Yasin

 

Penerapan inquiry training model untuk meningkatkan kerja ilmiah, sikap dan nilai ilmiah, dan prestasi belajar biologi siswa kelas VIIIF di SMPN 4 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / M. Taufan Qudussy Akbar

 

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMPN 4 Malang, ditemukan bahwa keterampilan proses pada siswa belum tampak dan nilai rata-rata pemahaman konsep ditinjau dari nilai tes siswa adalah 58,69. Dari hasil nilai tes siswa, diperoleh data siswa yang sudah mencapai KKM yang telah ditetapkan sekolah yaitu 70 sebanyak 27,5% dari jumlah seluruh siswa kelas VII C dan 72,5% lainnya belum mencapai KKM. Nilai tersebut diperoleh dari hasil tes pada materi besaran dan satuan. Hal ini disebabkan guru masih menggunakan metode ceramah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti berupaya untuk menerapkan suatu model pembelajaran baru dengan harapan dapat meningkatkan keterampilan proses dan pemahaman konsep fisika siswa. Salah satu model tersebut adalah inquiry training model (model latihan inkuiri). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIF SMPN 4 Malang dengan jumlah 40 siswa, yang terdiri dari 22 orang putri dan 18 orang putra. Instrumen penelitian yang digunakan berupa RPP, lembar observasi pembelajaran, rubrik penilaian keterampilan proses siswa, perangkat tes, LKS, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan keterampilan proses siswa meningkat. Peningkatan keterampilan proses tersebut dari siklus I ke siklus II adalah 7,5% untuk keterampilan melakukan pengamatan, 10% untuk keterampilan menjelaskan hasil praktikum, 20% untuk keterampilan bertanya, 15% untuk keterampilan menggunakan alat praktikum, 20% untuk keterampilan melakukan praktikum, 14,17% untuk keterampilan mengumpulkan hasil praktikum, 36,67% untuk keterampilan menyusun hipotesis,dan untuk keterampilan menarik kesimpulan 22,5%. Pemahaman konsep fisika siswa juga menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pada siklus I 60,22 menjadi 72,75. Peningkatan nilai rata-rata pada setiap siklusnya yang berdampak positif terhadap ketuntasan belajar.

Peningkatan keaktifan dan prestasi belajar matematika melalui pendekatan pakem pada siswa kelas III B SDN Kauman 1 Kota Malang / Ahmad Sodikin

 

Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas III pada waktu pembelajaran Matematika adalah sebagai berikut: (1) guru menunjukkan contoh-contoh pengerjaan bilangan secara langsung dan cepat di papan tulis tanpa memberitahukan tahapan-tahapan pengerjaannya dan kemudian siswa diberikan soal latihan, (2) siswa belum paham betul materi sebelumnya, (3) siswa jarang sekali bertanya pada guru tentang materi yang belum mereka kuasai, (4) tidak tampak siswa mengungkapkan gagasannya, (5) suasana belajar yang tercipta di dalam kelas kurang menyenangkan dan beberapa siswa terlihat tegang dalam menerima pelajaran. Berdasarkan pengalaman yang dilakukan terhadap proses pembelajaran matematika yang berlangsung diperoleh hasil yang kurang memuaskan, yaitu dari 30 siswa hanya 8 siswa saja yang nilainya dapat mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal) atau > 61,79, sedangkan 22 siswa lainnya masih belum dapat mencapai KKM atau < 61,79. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran dalam matapelajaran matematika perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan PAKEM. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)mengetahui dan mendeskripsikan penerapan pendekatan PAKEM pada mata pelajaran matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas III, (2)mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas III. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas dengan model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas III. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan PAKEM pada matapelajaran matematika di kelas III sudah sangat baik. Hal ini didukung dengan sudah munculnya semua aspek/komponen PAKEM pada saat pembelajaran berlangsung. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan adalah 26,67%, pada siklus I adalah 86,67% dan pada siklus II adalah 100%. Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan kepada guru kelas III SDN Kauman 1 untuk menggunakan pendekatan PAKEM pada pembelajaran matematika agar hasil belajar siswa optimal dan siswa aktif dalam pembelajaran.

Kajian tentang hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing pada materi pokok hidrolisis garam / Siti Norlaelatuzzuhro

 

ABSTRAK Norlaelatuzzuhro, Siti. 2009. Kajian Tentang Hasil Belajar, Kerja Ilmiah, dan Sikap Ilmiah Siswa Kelas XI SMA Negeri 7 Malang yang Dibelajarkan dengan Metode Inkuiri Terbimbing pada Materi Pokok Hidrolisis Garam. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Ph.D, (II) Drs. Mahmudi, M.Si. Kata Kunci: inkuiri terbimbing, hasil belajar, kerja ilmiah, sikap ilmiah Pembelajaran kimia menurut KTSP menggunakan prinsip-prinsip dasar pendekatan konstruktivistik yang menekankan pada proses mengkonstruk dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional; (2) mendeskripsikan perbedaan kerja ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional; dan (3) mendeskripsikan perbedaan sikap ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu dan rancangan desriptif. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah siswa, variabel bebasnya adalah metode pembelajaran yaitu metode inkuiri terbimbing dan konvensional, sedangkan variabel kontrolnya adalah waktu pembelajaran dan materi yang diajarkan. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IA-1 dengan jumlah 37 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IA-2 dengan jumlah 37 siswa sebagai kelas kontrol SMA Negeri 7 Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian antara lain: RPP, LKS, tes, angket, lembar observasi kerja ilmiah dan sikap ilmiah. Keterlaksanaan proses pembelajaran dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan teknik persentase, sedangkan data hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah dianalisis secara kuantitatif menggunakan uji-t dengan α = 0,05 dan uji prasyarat analisis. Reliabilitas tes hasil belajar = 0,032 untuk soal obyektif dan 0,882 untuk soal subyektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah siswa yang dibelajarkan dengan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional. Hasil uji-t hasil belajar diperoleh nilai thitung = 16,7 (> ttabel = 1,99), kerja ilmiah tiap pertemuan I thitung = 2,38; II thitung = 2,59; III thitung = 5,98; IV thitung = 1,98 (> ttabel = 1,99), sikap ilmiah tiap pertemuan I thitung = 6,00; II thitung = 6,98; III thitung = 7,98; IV thitung = 9,32 (> ttabel = 1,99). Berdasar uji statistik diketahui bahwa kelas eksperimen mempunyai hasil belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah yang berbeda secara signifikan dengan kelas kontrol.

Pelaksanaan strategi saluran distribusi untuk meningkatkan volume penjualan pada perusahaan saus CV Jempol Jaya Kediri / Ivin Setiani

 

Setiani, Ivin. 2009. Pelaksanaan Strategi Saluran Distribusi Untuk Meningkatkan Volume Penjualan Pada Perusahaan Saus CV Jempol Jaya Kediri. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Supriyanto, M.M (2) Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd, M.M. Kata Kunci : strategi saluran distribusi Strategi saluran distribusi adalah serangkaian strategi yang dilaksanakan perusahaan dalam kegiatan pendistribusian atau penyaluran produk dari produsen ke konsumen atau pengguna akhir. Strategi saluran distribusi ini dilaksanakan oleh perusahaan dengan tujuan untuk menyebarkan dan menjamin persediaan produknya di pasar. Sedangkan volume penjualan merupakan hasil penjualan dari suatu produk pada periode tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui strategi saluran distribusi yang dilaksanakan perusahaan untuk meningkatkan volume penjualan pada perusahaan saus CV Jempol Jaya Kediri. Fokus penelitian ini adalah (1) Strategi saluran distribusi; (2) volume penjualan produk saus tahun 2008. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif eksploratif dengan tujuan untuk menggambarkan keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan, dan memeriksa sebab dari suatu gejala tertentu. Penelitian ini memiliki pendekatan kualitatif yakni data yang tergambarkan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat. Metode wawancara, observasi dan dokumentasi merupakan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, untuk analisis data dengan menggunakan deskriptif persentase. Hasil penelitian ini adalah faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan strategi saluran distribusi adalah kondisi pasar, mutu kualitas produk, kondisi perusahaan, kondisi perantara, dan kondisi produk. Model saluran distribusi perusahaan saus CV Jempol Jaya Kediri adalah model distribusi tidak langsung dimana perusahaan menggunakan agen dan sales serta model distribusi langsung dimana perusahaan langsung menjual produk saus kepada konsumen akhir di toko milik CV Jempol Jaya sendiri yang berada tepat di depan pabrik. Masalah dalam mendesain dan mengelola strategi saluran distribusi adalah penagihan dalam pembayaran piutang oleh pihak penyalur, rayonisasi atau pembagian wilayah pasar, dan masalah jalur darat. Kiat dalam mengatasi persaingan adalah dengan selalu menjaga dan meningkatkan mutu kualitas produk, service pelayanan, dan perluasan pasar. Volume penjualan yang dihasilkan perusahaan pada tahun 2008 untuk penjualan saus tomat lebih besar yakni 97% dari total penjualan produk saus dan 3% untuk penjualan saus sambal. Volume penjualan saus tomat dan saus sambal lebih banyak dihasilkan oleh sales dibandingkan dengan agen yang lebih sedikit volume penjualannya Saran dari penelitian ini adalah agar perusahaan melakukan riset pasar untuk mengetahui perubahan selera konsumen, daya beli konsumen, dan mencari penyalur dan konsumen potensial agar dapat meningkatkan volume penjualan perusahaan.

Pengaruh Pembinaan Karyawan Terhadap Kinerja Karyawan Pada Perusahaan Kayu Lapis Kuala Dua Pontianak Kalimantan Barat oleh Mashudi

 

Penerapan model permainan berbasis teori dienes untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian siswa kelas II B SDN Dadaprejo 01 Batu / Usnindra Utami

 

ABSTRAK Utami, U. 2009. Penerapan Model Permainan Berbasis Teori Dienes untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Perkalian Siswa Kelas II B SDN Dadaprejo 01 Batu. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program S1 PGSD. Pembimbing (1) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd., (2) Drs. Suhartono, S.Pd. Kata Kunci: Model Permainan, Teori Dienes, Konsep Perkalian, Kelas II SD Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model permainan berbasis teori Dienes pada pokok bahasan perkalian di kelas II B SDN Dadaprejo 01 Batu; (2) Mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep perkalian setelah diterapkan model permainan berbasis teori Dienes pada siswa kelas II B SDN Dadaprejo 01 Batu; dan (3) Mendeskripsikan rasa senang setelah diterapkan model permainan berbasis teori Dienes pada siswa kelas II B SDN Dadaprejo 01 Batu. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif yang terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus melalui 4 tahapan yang dikemukakan oleh Kurt Lewin antara lain (1) planning, (2) acting, (3) observing, dan (4) reflecting. Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas II B SDN Dadaprejo 01 Malang dengan jumlah 29 orang. Data dalam penelitian ini diambil dari hasl tes, hasil observasi dan hasil catatan lapangan. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut: (1) Penerapan model permainan berbasis teori Dienes pada pokok bahasan perkalian di kelas II B SDN Dadaprejo 01 Batu menggunakan lima tahapan teori Dienes antara lain (a) tahap bermain bebas (free play); (b) tahap permainan (games); (c) tahap penelaahan kesamaan sifat (searching for communities); (d) tahap representasi (representation); dan (e) tahap simbolisasi (symbolism); (2) Pemahaman konsep perkalian siswa kelas II B setelah diberikan tindakan dengan penerapan model permainan berbasis teori Dienes meningkat yang terlihat dari peningkatan persentase keberhasilan siswa sebesar 31 % dari pra tindakan ke tindakan siklus I, dan 28 % dari siklus I ke siklus II; (3) Siswa kelas II B merasa senang mengikuti pembelajaran konsep pekalian dengan penerapan model permainan berbasis teori Dienes yang terlihat dari perubahan sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran. Saran dari penelitian ini dikemukakan sebagai berikut: (1) Pembelajaran dengan model permainan berbasis teori Dienes yang menggunakan 5 tahapan teori Dienes layak dipertimbangkan menjadi bentuk pembelajaran alternatif untuk konsep perkalian karena siswa kelas rendah sekolah dasar masih menyukai permainan; (2) Bagi guru disarankan hendaknya menerapkan model permainan berbasis teori Dienes pada pokok bahasan perkalian untuk siswa kelas II selanjutnya; (3) Bagi peneliti lain akan menerapkan model permainan berbasis teori Dienes pada pokok bahasan perkalian siswa kelas II disarankan untuk: (a) Menggunakan media benda konkret pada setiap siklus; (b) Menggunakan media benda konkret bermacam-macam agar rasa senang siswa tetap terjaga; dan (c) Membatasi kegiatan siswa tanpa mematikan kreativitas siswa untuk berkreasi menemukan pengetahuan baru pada setiap tahap permainan yang dilalui untuk menjaga alokasi waktu.

Peran Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPTPPA) dalam mendampingi korban kasus kekerasan pada anak di Kabupaten Malang / Yuliana Indriaswari

 

Indriaswari, Yuliana. 2014. Peran Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPTPPA) Dalam Mendampingi Korban Kasus Kekerasan Pada Anak di Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si (II) Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd, M.H Kata Kunci: PPTPPA, Kekerasan Anak Kasus kekerasan terhadap anak-anak sering terjadi di masyarakat. Anak sebagai mahluk yang lemah, polos dan membutuhkan perlindungan menyebabkan orang dewasa sering melampiaskan kemarahan kepada anak-anak. Setiap tahun jumlah kasus kekerasan pada anak semakin meningkat. Pemerintah sudah banyak membentuk peraturan yang dapat melindungi anak dari tindak kekerasan, namun tidak membuat pelaku kekerasan menjadi jera. Banyak upaya yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah, khususnya pemerintahan daerah Kabupaten Malang untuk menanggulangi masalah kekerasan anak. Salah satunya upaya tersebut adalah membentuk Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak agar dapat memberikan pendampingan terhadap korban kekerasan khususnya anak. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan program-program yang ditetapkan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak; (2) Mendeskripsikan pelaksanaan program yang ditetapkan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak; (3) Mendeskripsikan kendala yang dihadapi oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak; (4) Mendeskripsikan upaya yang dilakukan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam mengatasi kendala yang ada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di Jalan Nusa Barong No. 13 Kota Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia dan dokumen. Teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Ketua harian, Pengurus/ Admin dan Konselor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Malang. Prosedur analisis data dengan prosedur reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPTPPA) Kabupaten Malang berdiri pada tahun 2011 berdasarkan Peraturan Bupati No.8 tahun 2011. PPTPPA Kabupaten Malang adalah lembaga berbasis masyarakat yang beranggotakan multistakeholder pemerhati perempuan dan anak pada tingkat pemerintah maupun nonpemerintah. Dalam melaksanakan tugasnya, PPTPPA mempunyai beberapa program layanan antara lain: (a) Layanan Cegah Kekerasan, kegiatan ini merupakan upaya PPTPPA untuk melakukan pencegahan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kegiatan yang dilakukan berupa pelatihan, yaitu pelatihan problem solving untuk anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berkebutuhan khusus/ mempunyai masalah. Selain itu, PPTPPA juga mengadakan kegiatan pelatihan konseling/ pendampingan terhadap korban kekerasan untuk kader yang peduli terhadap masalah perempuan dan anak. Kader yang mengikuti pelatihan adalah tokoh masyarakat, tokoh agama, dan gabungan dari beberapa organisasi kewanitaan. PPTPPA juga mengikuti FGD bersama bersama multistakeholder pemerhati perempuan dan anak di Kabupaten Malang; (b) Layanan Advokasi Korban, dalam layanan ini ada dua jenis pendampingan yaitu: Ligitasi dan nonligitasi. Ligitasi yaitu apabila korban menempuh jalur hukum atau kasus sudah dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Pendampingan yang dilakukan PPTPPA saat ligitasi adalah mendampingi korban saat pemeriksaan, pembuatan BAP, melakukan Visum Et Repertum (VER), rawat inap, perawatan kesehatan, menyediakan pengacara, hingga saat persidangan. Selain itu PPTPPA juga melakukan pendampingan secara psikologis, penguatan dan dukungan kepada korban, dan penguatan secara spiritual atau agamanya sehingga korban mampu menjalani kehidupan dengan baik. Sedangkan pada pendampingan nonligitasi, PPTPPA hanya memberikan pelayanan pendampingan secara psikologis berupa penguatan dan dukungan, juga pendampingan secara spiritual. Bagi korban yang merasa terancam terhadap pelaku kekerasan PPTPPA menyediakan shelter/ rumah aman; (c) Layanan Reintegrasi dan Rehabilitasi, layanan ini diberikan setelah proses hukum berakhir atau pascatrauma. Untuk perempuan korban KDRT, PPTPPA memberikan pelatihan pemberdayaan ekonomi, bantuan secara ekonomi, dan bantuan sosial sehingga korban dapat membangun kembali kehidupannya dengan baik. Sedangkan untuk anak korban kekerasan, PPTPPA dapat membantu dalam bidang pendidikan anak. PPTPPA mengusahakan beasiswa sehingga anak dapat kembali bersekolah. Kedua, pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik, karena lembaga PPTPPA bekerja sama dengan berbagai pihak dalam mendampingi anak korban kekerasan. Pada Pelayanan pendampingan dapat diperoleh korban melalui prosedur sebagai berikut: (a) Klien/ korban melakukan pengaduan ke pengurus/ admin atau korban sudah mendapat rujukan dari UPPA Polres Malang; (b) Kemudian admin melaporkan kasus kekerasan kepada ketua harian; (c) Ketua harian menunjuk konselor yang akan mendampingi korban; (d) Ketua harian memberikan rujukan kepada psikolog untuk memberikan tes psikologi sehingga dapat memutuskan pendampingan seperti apa yang akan diberikan kepada korban. Ketiga, kendala yang dialami Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan anak pasti ada, yaitu: (a) Jika masalah yang dihadapi anak terlalu kompleks, misalnya keluarga pelaku yang ikut mengintimidasi korban; (b) Waktu bertemu saat pendampingan yang terlalu sedikit sehingga penyembuhan dapat berjalan lama; (c) Jika keluarga kurang mendukung dengan upaya yang dilakukan oleh PPTPPA; (d) Kurangnya tenaga sosial/ tenaga konselor. Keempat, upaya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan anak dalam mengatasi kendala yang terjadi yaitu: (a) Melakukan pendekatan kepada keluarga korban sehingga keluarga dapat membantu proses penyembuhan korban; (b) Memindahkan korban ketempat yang aman agar pelaku tidak dapat mengetahui keberadaan korban; (c) Mengusahakan korban dapat bersekolah lagi dengan cara bekerja sama dengan Kemensos agar memperoleh beasiswa Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan adalah: (1) Sebaiknya Lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak menambah pengurus atau konselor sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih maksimal dan dapat menjalankan kegiatan yang lebih banyak. (2) Sebaiknya Tokoh masyarakat lebih aktif berpartisipasi mengatasi masalah kekerasan pada anak dengan mengikuti kegiatan penyuluhan atau pelatihan yang diadakan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak. (3) Sebaiknya orang tua lebih memperhatikan kondisi anak dan menjalin komunikasi yang baik dengan anak. (4) Sebaiknya korban segera melaporkan kekerasan yang dialaminya kepada orang terdekat atau kepada lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak

Hubungan tata ruang perpustakaan dengan minat baca siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri se-Kecamatan Bangil / Yuliana

 

ABSTRAK Yuliana. 2009. Hubungan Tata Ruang Perpustakaan dengan Minat Baca Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri se-Kecamatan Bangil. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd, (2) Drs. H. Burhanuddin, M.Ed. Kata kunci: tata ruang perpustakaan, minat baca siswa Perpustakaan sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan penunjang kegiatan belajar siswa memegang peranan yang sangat penting dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Disebutkan dalam penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 35 Ayat 1 bahwa ”... standar sarana dan prasarana pendidikan mencakup ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat rekreasi dan berikreasi, dan sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk pengguna teknologi informasi dan komunikasi...” Perlunya perpustakaan bagi sekolah mempunyai nilai yang dapat membangkitkan anak untuk membaca dan mengenali berbagai jenis buku. Melalui perpustakaan inilah siswa akan banyak memperoleh informasi dari apa yang dibacanya. Oleh sebab itu perlu bagi pihak pustakawan untuk dapat mengelola perpustakaan dengan baik, sehingga perpustakaan tampak nyaman dan menjadi suatu tempat yang digemari oleh siswa untuk dikunjungi. Kenyamanan ini salah satunya dapat diwujudkan dengan penataan ruangan perpustakaan yang baik dan teratur, mengingat peranan perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana bentuk tata ruang perpustakaan di SMP Negeri se-Kecamatan Bangil?, (2) bagaimana tingkat minat baca siswa di SMP Negeri se-Kecamatan Bangil?, (3) adakah hubungan tata ruang perpustakaan dengan minat baca siswa SMP Negeri se-Kecamatan Bangil? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) bentuk tata ruang perpustakaan di SMP Negeri se-Kecamatan Bangil, (2) tingkat minat baca siswa di SMP Negeri se-Kecamatan Bangil, (3) hubungan tata ruang perpustakaan dengan minat baca siswa SMP Negeri se-Kecamatan Bangil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa SMP Negeri se-Kecamatan Bangil dengan jumlah 1.786 orang dari 3 sekolah. Sedangkan jumlah sampel penelitian yang diperoleh dari perhitungan rumus Slovin sebanyak 327 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Instrumen pengumpulan data adalah teknik angket. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan korelasi product moment pearson. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) bentuk tata ruang perpustakaan di SMP Negeri se-Kecamatan Bangil termasuk dalam kategori baik, (2) tingkat minat baca siswa di SMP Negeri se-Kecamatan Bangil termasuk dalam kategori baik, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara bentuk tata ruang perpustakaan dengan tingkat minat baca siswa di SMP Negeri se-Kecamatan Bangil. Berdasarkan kesimpulan, saran yang diajukan kepada: (1) kepala sekolah, yaitu kepala sekolah hendaknya terus meningkatkan kualitas bentuk penataan ruangan perpustakaan untuk lebih membangkitkan minat baca siswa di perpustakaan sekolah, (2) pustakawan, yaitu pustakawan hendaknya terus aktif mencari pengetahuan baru untuk memberikan pelayanan di perpustakaan demi meningkatkan minat baca siswa. Selain itu, pustakawan juga perlu untuk mempertahankan kemampuan profesional yang sudah baik dalam mengelola perpustakaan sekolah, (3) siswa, yaitu siswa hendaknya dapat terus meningkatkan minat bacanya dan bukan hanya tergantung dari keberadaan ketenagaan, penataan ruangan, maupun sarana prasarana di dalam perpustakaan, (4) jurusan Administrasi Pendidikan, yaitu jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya selalu memotivasi mahasiswa agar meneliti sejauhmana perkembangan perpustakaan saat ini di sekolah. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menambah perbendaharaan kajian seputar dunia pendidikan, (5) peneliti lain, yaitu hasil penelitian ini hendaknya dapat dikembangkan oleh peneliti lain dengan cara meneliti hal yang sama, tetapi dalam pengembangannya dengan menambahkan variabel lain yang akan diteliti.

Penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan prestasi belajar IPS siswa kelas IV SDN Penanggungan Klojen Kota Malang / Siti Fatimah

 

ABSTRAK Fatimah, S, 2009, Penerapan Pembelajaran Kontekstual untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPS pada Siswa Kelas IV SDN Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang, Laporan Perbaikan Pembelajaran, Pemantapan Kemampuan Mengajar, Program Sertifikasi Guru Sekolah Dasar Melalui Jalur Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Dosen Pembimbing Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Prestasi Belajar IPS, Pembelajaran Kontekstual. Di sekolah dasar saat ini, pendidikan Pengetahuan Sosial menunjukkan indikasi bahwa pola pembelajarannya masih berpusat pada siswa. Metode yang digunakan pun cenderung hanya ceramah saja dengan alasan lebih efektif dan bisa mencakup materi yang luas. Kecenderungan pembelajaran yang demikian, mengakibatkan lemahnya potensi diri siswa dalam pembelajaran sehingga prestasi belajar yang dicapai tidak optimal. Dari paparan latar belakang maka tujuan penelitian ini adalah untuk Mendeskripsikan penerapan pendekatan kontekstual dalam mata pelajaran IPS kelas IV di SDN Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang dan Menjelaskan hasil belajar siswa selama pembelajaran dengan menerapkan pendekatan kontekstual berlangsung. Pendekatan Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini mempunyai 7 komponen yakni kontruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian sebenarnya. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan secara Kolaboratif dengan Guru Mata Pelajaran IPS di kelas IV. Sebagai sumber data utamanya dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang Semester II tahun Pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 35 siswa, Tehnik pengumpulan data melalui Pengamatan, Wawancara, Dokumentasi dan tes hasil belajar. Pelaksanaan pembelajaran pada setiap tindakan dalam penelitian ini akan berakhir jika tingkat keberhasilan masing-masing subyek penelitian mendekati nilai ketuntasan minimal kelas dan Komptensi Dasar. Nilai KKM untuk bidang studi IPS adalah 6,5, sedangkan nilai ketuntasan minimal Kompetensi Dasar Aktivitas Ekonomi adalah 6,2. Pada siklus pertama yang belum tuntas 15 siswa dengan nilai rata-rata kelas 68,29 dan pada siklus kedua yang belum tuntas 6 siswa dengan nilai rata-rata kelas 76,86. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan siswa lebih bergairah dan termotivasi dalam pembelajaran IPS. Disarankan bahwa dalam pembelajaran IPS menggunakan metode pembelajaran yang mendorong minat siswa untuk mengikuti pembelajaran, memberi kesempatan yang lebih luas kepada siswa untuk mengembangkan potensi siswa dan perlu disajikan suasana pasar yang alami agar siswa mendapatkan pengalaman yang lebih berharga.

Upaya peningkatan motivasi belajar fisika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas VIII-B SMP Negeri 8 Malang semester II tahun 2008/2009 / Didik Galang Pramuja

 

Pemilihan model pembelajaran kooperatif STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMP Negeri 8 Malang dalam pembelajaran IPS dilatarbelakangi oleh masalah rendahnya hasil belajar yaitu 65, karena selama ini guru menggunakan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus, setiap siklus secara berdaur meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah tes dan lembar observasi aktifitas siswa baik individ maupun kelompok. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan proses pembelajaran IPS di kelas III SMP Negeri 8 Malang yaitu pada pratindakan sebesar 33%, siklus I 76% dan siklus II 100%dari hal tersebut dapat diketahui bahwa kenaikan prosesnya dari pra tindakan ke siklus I sebesar 43% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 24%. Dari hal tersebut dapat diketahui pula bahwa aktivitas siswa juga meningkat dari pra tindakan 0%, siklus I 74%, dan siklus II 80%. Hasil belajar siswa juga meningkat dari pra tindakan ke siklus I sebesar 43 % dan dari siklus I ke siklus II sebesar 24%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar atau aktivitas siswa.

Penerapan model pembelajaran IPA berbasis inkuiri pada mata pelajaran biologi untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa kelas 7E SMP Negeri 5 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / S. Gustini

 

Gustini, S. 2009. Penerapan Model Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri pada Mata Pelajaran Biologi untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah Siswa Kelas 7 E SMP Negeri 5 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Tugas Akhir, Program Studi Pendidikan Profesi Guru IPA SMP. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S dan Drs. Susetyoadi Setjo, M.Pd. Kata kunci: kemampuan kerja ilmiah ,Model Pembelajaran IPA Berbasis Inkuiri. Selama ini proses inkuiri siswa dalam pembelajaran Biologi belum pernah dilaksanakan secara sesungguhnya, sehingga terlihat siswa hanya mengikuti proses pembelajaran pada tatanan kelompok kooperatif dengan metode diskusi dan terkesan kurang antusias. Pembelajaran biologi terkesan lebih menekankan pada produk, sehingga siswa belum bisa membuat rumusan masalah dan kesimpulan dengan baik. Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang menarik dan dapat melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Penerapan model pembelajaran IPA berbasis inkuiri dapat melibatkan siswa secara aktif pada setiap tahap pembelajarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa melalui penerapan model pembelajaran IPA berbasis inkuiri.    Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 7E SMP Negeri 5 Malang tahun 2008/2009, berjumlah 35 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap: (1) Perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, (4) refleksi.    Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kemampuan kerja ilmiah siswa kelas 7E SMP Negeri 5 Malang dapat meningkat melalui penerapan model pembelajaran IPA berbasis inkuiri.    Ada temuan di samping penelitian tersebut: dalam kerja ilmiah perlu melatihkan ketrampilan psikomotor secara berulang-ulang. Dari hasil penelitian ini, peneliti menyampaikan saran: (1) Pelaksanaan pembelajaran IPA berbasis inkuiri pada mata pelajaran Biologi dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa, sehingga diharapkan untuk menerapkan pembelajaran model IPA berbasis inkuiri dalam proses pembelajaran sebagai variasi dalam pembelajaran Biologi. (2) Penelitian ini terbatas pada pokok bahasan Keanekaragaman Mahluk Hidup, sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan menggunakan model pembelajaran IPA berbasis inkuiri pada pelajaran biologi dengan pokok bahasan lain. (3) Guru yang tertarik menggunakan model pembelajaran IPA berbasis inkuiri sebaiknya melatihkan ketrampilan psikomotor dalam kerja ilmiah secara berulang-ulang.

Peningkatan motivasi dan prestasi belajar matematika melalui model pembelajaran team game tournament (TGT) pada siswa kelas IVA SDN Kasin Kota Malang / Paijan

 

Kata kunci: model pembelajaran Team Game Tournament (TGT), pembelajaran matematika SD Pembelajaran matematika di SD semestinya ditekankan pada proses penemuan konsep dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami, mencari, bekerja sama dengan kelompok, menemukan, sehingga dapat membangun pengetahuannya sendiri. Sementara itu yang terjadi di SD aktifitas pembelajaran masih terpusat pada guru. Siswa cenderung pasif. Untuk itu perlu adanya perubahan pembelajaran yang memberikan peluang kepada siswa untuk lebih aktif melalui permainan dan melakukan game bersama kelompok yang mereka pilih. Cara tersebut ditempuh dengan menerapakan pembelajaran Team Game Tournament (TGT). Penelitian ini bertujuan menggambarkan bahwa pembelajaran Team Game Tournament (TGT) dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dilakukan penelitian tindakan kelas dengan subjek guru praktek PKM, guru kelas IVA sebagai guru mitra dan 39 orang siswa yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan SDN Kasin Kecamatan Klojen Kota Malang. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi dibantu dengan kamera digital. Penelitian dilakukan menggunakan dua siklus dengan fokus yang berbeda. Siklus pertama menitikberatkan pada penumbuhan motivasi belajar dan keberanian siswa menyelesaikan tugas di depan kelas. Siklus kedua pada peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa. Setiap siklusnya terdiri dari tahapan persiapan, kegiatan tindakan, observasi, dan diakhiri dengan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan pada pra tindakan, guru cenderung mendominasi aktivitas belajar dengan menerangkan materi. Sehingga siswa cepat jenuh dan kurang menangkap makna pelajaran hari itu. Dengan penerapan model Team Game Tournament (TGT), motivasi beajar siswa meningkat, aktivitas belajar lebih didominasi oleh siswa bukan lagi pada guru. Peningkatan dimulai dari siswa memiliki gairah belajar yang tinggi, penuh semangat, berdiskusi kelompok, mencatat kesimpulan pelajaran, dan peningkatan prestasi belajar. Peningkatan prestasi belajar sebanyak 10,26 poin yaitu pada siklus I nilai rata-rata kelas 80,00 menjadi 90,26 pada siklus II. Tingkat ketuntasan materi pelajaran pada siklus I sebesar 76,92% menjadi 97, 44% pada siklus II, sehingga ada peningkatan sebanyak 20, 52%. Guru dan siswa menyatakan senang dengan kegiatan game yang dilakukan. Guru termotivasi untuk menerapakan model Team Game Tournament (TGT) pada kompetensi dasar yang lain.

Penerapan pendekatan daur belajar )Learning cycle) untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas III di SDN Suberjo Kulon II Ngunut Tulungagung / Nina Sayyidah

 

ABSTRAK Sayyidah, Nina. 2009. Penerapan Pendekatan Daur Belajar (Learning Cycle) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas III di SDN Sumberjo Kulon II Ngunut Tulungagung. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Wasih D.S., M.Pd., (II) Dra. Lilik Bintartik, M. Pd. Kata kunci: pendekatan, daur belajar, hasil belajar. Hasil diskusi dengan guru kelas III dan observasi pendahuluan sebelum melaksanakan penelitian ini memberi informasi bahwa hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Sumberjo Kulon II Ngunut Tulungagung kurang dari rata-rata karena metode pembelajaran yang digunakan guru masih monoton. Guru menggunakan metode yang kurang bervariasi dalam pembelajaran. Dalam pendidikan IPA diharapkan proses pembelajarannya lebih menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung agar kompetensi siswa dapat berkembang dan dapat memahami alam sekitar secara ilmiah. Karena itu diperlukan perubahan pembelajaran dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Penerapan Pendekatan Daur Belajar (Learning Cycle) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Kelas III di SDN Sumberjo Kulon II Ngunut Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan pembelajaran daur belajar 5 fase. Dengan pendekatan ini, siswa akan dapat mengurangi ketergantungannya kepada guru dalam mendapatkan pengalaman belajarnya dan melatih siswa menggali serta memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar yang tidak ada habisnya. Rumusan masalah dalam PTK ini adalah bagaimanakah penerapan pendekatan daur belajar (learning cycle) dapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas III di SDN Sumberjo Kulon II Ngunut Tulungagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan pendekatan daur belajar (learning cycle) dapat meningkatkan hasil belajar IPA kelas III di SDN Sumberjo Kulon II Ngunut Tulungagung. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, angket dan tes. Sasaran penelitian adalah siswa kelas III SDN Sumberjo Kulon II Ngunut Tulungagung dengan jumlah siswa 25 anak. Tiga macam data temuan penelitian ini adalah (1) hasil belajar IPA, (2) hasil belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPS, dan PKn yang diintegrasikan dalam pembelajaran tematik, dan (3) data proses belajar siswa dengan pendekatan daur belajar (learning cycle). Rata-rata hasil belajar IPA pada tahap pra tindakan yaitu 48,00 sedangkan hasil belajar Bahasa Indonesia yaitu 76,16. Rata-rata hasil belajar IPA pada siklus 1 yaitu 70,40 sedangkan hasil belajar IPS yaitu 76,84. Rata-rata hasil belajar IPA pada siklus 2 yaitu 85,20 sedangkan hasil belajar PKn yaitu 87,20. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendekatan daur belajar (learning cycle) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Sumberjo Kulon II dan disarankan kepada guru untuk menerapkan pendekatan daur belajar (learning cycle) di kelas yang lain atau pada mata pelajaran yang lain dan untuk meningkatkan mutu pembelajaran.

Efek beban tidak seimbang terhadap pertanahan titik netral / Nina Rahmatiya S.A.K.

 

ABSTRAK Nina Rahmatiya S.A.K. 2009. “Efek Beban Tidak Seimbang Terhadap Pentanahan Titik Netral”. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sujono, M.T. (II) Aripriharta, S.T. Kata Kunci: ketidakseimbangan beban, arus netral, losses, grounding Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi merupakan terjadinya ketidakseimbangan pada ketiga fasa. Penyebab dari pembebanan yang tidak seimbang pada jaringan 3 fasa, maka mengakibatkan timbulnya arus pada netral transformstor. Arus yang mengalir di netral transformstor ini menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi), yaitu losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral transformstor dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah. Penelitian ini dibuat dengan mengambil data sekunder yang dirubah cara perhitungannya dengan mensimulasikannya menggunakan software EDSA technical 2005, metodenya berbeda dengan data sekunder. Penelitian ini berbeda pada spesifikasi yang dimasukkan dalam program EDSA technical 2005, perbedaan terletak pada penghantar transformstor, besar load flow, tipe-tipe penghantar, serta panjangnya, karena di dalam data sekunder tidak dijelaskan hal tersebut. Sistem pentanahan atau biasa disebut sebagai grounding adalah sistem pengamanan terhadap perangkat-perangkat yang mempergunakan listrik sebagai sumber tenaga, dari lonjakan listrik, petir dan lain-lain. Sistem pentanahan berfungsi sebagai sarana mengalirkan arus petir yang menyebar ke segala arah ke dalam tanah. Dari keterangan di atas maka metode pentanahan (grounding) yang dipakai ialah metode pentanahan titik netral. Dari penghitungan analisa penelitian ini, terlihat bahwa arus netral yang terdapat di penghantar netral transformstor pada siang hari sebesar (101,87A) sedangkan pada malam hari sebesar (123,28A), serta arus netral yang mengalir ke tanah pada siang hari sebesar (52,31A) sedangkan arus netral yang mengalir ke tanah pada malam hari sebesar (43,2A), begitu pula dengan losses, pada siang hari losses sebesar (7,1kW) dan pada malam hari sebesar (10,4kW). Dari analisa terlihat bahwa semakin besar arus netral yang mengalir maka semakin besar pula losses. Dengan semakin besar arus netral dan losses di transformstor maka effisiensi transformstor menjadi turun. ABSTRAK Nina Rahmatiya S.A.K. 2009. “Efek Beban Tidak Seimbang Terhadap Pentanahan Titik Netral”. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sujono, M.T. (II) Aripriharta, S.T. Kata Kunci: ketidakseimbangan beban, arus netral, losses, grounding Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi merupakan terjadinya ketidakseimbangan pada ketiga fasa. Penyebab dari pembebanan yang tidak seimbang pada jaringan 3 fasa, maka mengakibatkan timbulnya arus pada netral transformstor. Arus yang mengalir di netral transformstor ini menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi), yaitu losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral transformstor dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah. Penelitian ini dibuat dengan mengambil data sekunder yang dirubah cara perhitungannya dengan mensimulasikannya menggunakan software EDSA technical 2005, metodenya berbeda dengan data sekunder. Penelitian ini berbeda pada spesifikasi yang dimasukkan dalam program EDSA technical 2005, perbedaan terletak pada penghantar transformstor, besar load flow, tipe-tipe penghantar, serta panjangnya, karena di dalam data sekunder tidak dijelaskan hal tersebut. Sistem pentanahan atau biasa disebut sebagai grounding adalah sistem pengamanan terhadap perangkat-perangkat yang mempergunakan listrik sebagai sumber tenaga, dari lonjakan listrik, petir dan lain-lain. Sistem pentanahan berfungsi sebagai sarana mengalirkan arus petir yang menyebar ke segala arah ke dalam tanah. Dari keterangan di atas maka metode pentanahan (grounding) yang dipakai ialah metode pentanahan titik netral. Dari penghitungan analisa penelitian ini, terlihat bahwa arus netral yang terdapat di penghantar netral transformstor pada siang hari sebesar (101,87A) sedangkan pada malam hari sebesar (123,28A), serta arus netral yang mengalir ke tanah pada siang hari sebesar (52,31A) sedangkan arus netral yang mengalir ke tanah pada malam hari sebesar (43,2A), begitu pula dengan losses, pada siang hari losses sebesar (7,1kW) dan pada malam hari sebesar (10,4kW). Dari analisa terlihat bahwa semakin besar arus netral yang mengalir maka semakin besar pula losses. Dengan semakin besar arus netral dan losses di transformstor maka effisiensi transformstor menjadi turun.

Implementing reciprocal teaching strategy to develop the reading comprehension ability of the English Department students of FKIP Tadulako University / Muhsin

 

ABSTRACT Muhsin. 2009. Implementing Reciprocal Teaching Strategy to Develop the Reading Comprehension Ability of the English Department Students of FKIP Tadulako University. Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. (II) Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Key words: Reciprocal Teaching strategy, develop, reading comprehension English language is officially regarded and compulsorily taught in Indonesian schools. It is a compulsory subject taught at the junior and senior high schools, and the reading subject is particularly taught at the university level. English Department of FKIP Tadulako University has offered the Reading Comprehension course which is divided into Reading I, Reading II, Reading III, Reading IV, and Extensive Reading. This study was conducted in the Reading Comprehension II Class B academic year 2008/2009. From the teaching process of reading comprehension that implemented in the class based on the preliminary observation, the problems are centered on: (1) students’ low achievement in reading comprehension. (2) students’ difficulties in understanding the texts. (3) reading activities were dominated by high achievers of the best students. (4) the strategy that the lecturer applied was more lecturer-centered and conventional. This study is designed to obtain information on how the Reciprocal Teaching Strategy (RT) can improve the students’ reading comprehension ability. In reading comprehension particularly it is directed to investigate the implementation of the RT Strategy and all at once to improve the students’ reading comprehension ability by using a model of reading instruction with the RT Strategy. Specifically, this study is intended to improve the students’ reading comprehension ability at English Department of FKIP Tadulako University Palu through the RT Strategy. The study was conducted through collaborative Classroom Action Research (CAR) which consisted of planning (designing teaching procedure to implement the RT Strategy, designing the lesson plan, preparing the RT instructional materials and instruments, and setting the criteria of success), implementing the plan, observing the action, and reflecting the results. This study was conducted in the form of two cycles, and each cycle consisted of three meetings and the third was the reading comprehension test using the RT Strategy. In conducting this study, the researcher collaborated with one of the reading comprehension lecturers at English Department of FKIP Tadulako University. The implementation of the RT strategy consists of six components: (1) predicting (useful to give students strong concept and activate the students’ prior knowledge), (2) clarifying (the step conducted by the researcher in order to give the students more vocabulary), (3) questioning (the step which allowed the students to create questions that relevant to the text), (4) summarizing (the step allowed the students to state the most important ideas by writing a shorter version in form of one paragraph), (5) group working (useful to enhance the students’ skill). During this group work the students are guided by the lecturer to implement the RT strategy, and (6) implementing the test (an independent practice of the RT Strategy in which the students are expected to be able to implement the strategy individually and independently). The result of the study showed the students’ achievement in reading comprehension test after they had two meetings for the implementation of the RT Strategy was 67% of the students in the class got score >80. It means that there were about twenty students got score >80. The students’ response in cycle 1 was 97% of the total students involved in the teaching learning activity using the RT Strategy, then in cycle 2 the students’ involvement was 100%. It means that the students were active in the reading comprehension reciprocal class. It could be concluded that the implementation of the RT Strategy in reading comprehension was effective to solve the problems of the students. With the good result of this study, it is suggested that the students of English Department FKIP Tadulako University make it accustomed to discussing or sharing their ideas with their friends when they are confronted with the problem in reading comprehension. It is also suggested that English lecturers of reading comprehension who want to implement the RT Strategy, consider the three fore-mentioned stages while giving feedback to the students on their works. Finally, it is suggested that the further researchers conduct similar studies in advanced level of reading comprehension such as critical reading, creative reading, and extensive reading. ABSTRAK Muhsin. 2009. Menerapkan Strategi Pengajaran Resiprokal untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Membaca Mahasiswa pada Program Studi Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako. Tesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. (II) Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Kata Kunci: Strategi Pengajaran Resiprokal, meningkatkan, pemahaman membaca Bahasa Inggris secara resmi dan wajib diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Mata pelajaran wajib yang diajarkan di SMP dan di SMA, dan mata kuliah Membaca lebih khusus diajarkan di tingkat universitas. Program Studi Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako menawarkan mata kuliah Membaca Pemahaman yang dibagi menjadi Membaca I, Membaca II, Membaca III, Membaca IV, dan Membaca Ekstensif. Penelitian ini dilaksanakan pada mata kuliah Membaca Pemahaman II Kelas B tahun akademik 2008/2009. Dari proses pengajaran Membaca Pemahaman berdasarkan data awal sebelum penelitian, masalah-masalah berpusat pada: (1) rendahnya pencapaian mahasiswa dalam membaca pemahaman. (2) kesulitan mahasiswa dalam memahami teks. (3) kegiatan membaca dimonopoli oleh sebagian kelompok mahasiswa yang berkemampuan baik. (4) strategi yang diterapkan oleh dosen lebih terpusat pada dosen itu sendiri. Penelitian ini dirancang untuk memperoleh informasi bagaimana Strategi Pengajaran Resiprokal (RT) dapat memperbaiki kemampuan pemahaman membaca mahasiswa. Dalam pemahaman membaca khususnya diarahkan untuk mengamati pelaksanaan Strategi RT dan sekaligus memperbaiki kemampuan pemahaman membaca mahasiswa dengan menggunakan model pengajaran Strategi RT. Pada khususnya, penelitian ini dimaksudkan untuk memperbaiki kemampuan pemahaman membaca mahasiswa pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako Palu melalui Strategi RT. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas kolaborasi (PTK) yang terdiri dari perencanaan (merancang prosedur pengajaran untuk menerapkan strategi Pengajaran Resiprokal, merancang rencana pembelajaran, menyiapkan materi pengajaran dan instrumen, dan menetapkan kriteria keberhasilan), melaksanakan rencana kegiatan, mengamati kegiatan, dan merefleksi hasil kegiatan. Penelitian ini telah dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan dan pertemuan ketiga dilaksanakan untuk memberikan tes membaca pemahaman dengan menggunakan strategi Pengajaran Resiprokal. Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti bekerjasama dengan salah seorang dosen Membaca Pemahaman pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako. Penerapan strategi RT meliputi enam komponen: (1) memprediksi (berguna untuk memberikan konsep yang kuat dan mengaktifkan pengetahuan awal mahasiswa), (2) mengklarifikasi (langkah yang dilaksanakan oleh peneliti yang bertujuan menambah kosakata mahasiswa), (3) bertanya (langkah yang mengarahkan mahasiswa untuk membuat pertanyaan sesuai dengan bacaan), (4) meringkas (langkah yang mengarahkan mahasiswa untuk menyatakan ide yang sesuai bacaan dengan menulis dalam bentuk satu paragraf), (5) bekerja kelompok (berguna untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa). Selama bekerja kelompok mahasiswa dibimbing oleh dosen untuk menerapkan strategi RT, dan (6) pemberian tes (praktik mandiri yang menggunakan strategi RT yang mana mahasiswa diharapkan dapat menerapkan strategi secara individu dan mandiri). Hasil penelitian menunjukkan pencapaian mahasiswa dalam tes membaca pemahaman setelah mereka menyelesaikan dua pertemuan penerapan strategi RT adalah 67% dari mahasiswa dalam kelas memperoleh nilai ≥80. Hal ini berarti bahwa terdapat sekitar dua puluh mahasiswa yang memperoleh nilai ≥80. Respon mahasiswa pada siklus 1 adalah 97% dari jumlah mahasiswa aktif dalam kegiatan pembelajaran menggunakan strategi RT, kemudian pada siklus 2 respon mahasiswa adalah 100%. Hal ini berarti bahwa mahasiswa aktif dalam kelas resiprokal membaca pemahaman. Maka dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi RT dalam membaca pemahaman efektif menyelesaikan masalah mahasiswa. Dengan hasil penelitian yang baik maka disarankan kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako agar membiasakan berdiskusi dan berbagi ide dengan teman-temannya ketika mengalami masalah dalam pembelajaran. Disarankan juga kepada dosen mata kuliah Membaca Pemahaman yang ingin menerapkan strategi RT, agar melaksanakan tiga tahap dalam pengajaran sambil memberikan perbaikan terhadap pekerjaan mahasiswa. Terakhir, disarankan kepada peneliti berikutnya agar melaksanakan penelitian di tingkat mahir membaca pemahaman seperti membaca kritis, membaca kreatif, dan membaca ekstensif.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi peserta didik kelas 7D SMP Negeri 5 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Rulli Sofi Sasmita

 

Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa pembelajarn biologi di SMP Negeri 5 Malang, pada umumnya guru masih menggunakan metode konvensional (ceramah), membahas LKS, dan tanya jawab, yang mana dalam tanya jawab tersebut hanya siswa tertentu saja yang mau bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru sehingga pembelajaran kurang bervariasi. Hal tersebut menyebabkan siswa merasa bosan dan cenderung meremehkan guru dengan ramai sendiri bersama teman sebangkunya, maka akan membuat motivasi belajar siswa rendah. Rendahnya motivasi belajar biologi dan sikap siswa tersebut berdampak terhadap hasil belajar siswa kelas X-4 SMP Negeri 5 Malang. Hal ini dapat dilihat dari masih banyak nilai hasil ujian siswa di bawah Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yang ditetapkan di SMP Negeri 5 Malang yaitu 75 ke atas. Selain itu, pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat tradisional. Pada materi tertentu terkadang menggunakan diskusi, namun sebatas diskusi konvensional, sehingga sering dijumpai siswa yang masih tergantung pada teman atau guru dan siswa cenderung malas untuk berfikir. Untuk mengatasi permasalahan di atas, diperlukan suatu metode pembelajaran yang melibatkan peran aktif siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar biologi siswa dilakukan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share(TPS). Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented). Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi belajar biologi siswa kelas X-4 SMP Negeri 5 Malang dan mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X-4 SMP Negeri 5 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penerapan model Think Pair Share (TPS) dilakukan dengan dua siklus yang terdiri dari empat kali pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-4 SMP Negeri 5 Malang dengan jumlah 41 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, rubrik penilaian, observasi, catatan lapangan, angket, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan persentase seluruh aspek motivasi belajar siswa yang diamati yaitu 61,40% dengan kategori cukup pada siklus I meningkat menjadi 80,98% dengan kategori sangat tinggi pada siklus II. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, dimana siklus pertama ditinjau dari aspek kognitif setelah tindakan rata-rata sebesar 82,05% dan pada siklus kedua menjadi 94,87%. Dari aspek afektif didapat rata-rata pada siklus pertama sebesar 74,36% dan pada siklus kedua sebesar 89,74%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi belajar biologi siswa kelas X-4 SMP Negeri 5 Malang. (2) penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas X-4 SMP Negeri 5 Malang. Adapun saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagi sekolah hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam menerapkan model pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran biologi agar dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan maksimal. (2) Bagi guru dalam menerapkan model pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa akan menggunakan langkah-langkah, diantaranya Thinking (berpikir) yaitu siswa mulai memikirkan secara individu pertanyaan/masalah yang diberikan guru dalam waku tertentu, Pairing (berpasangan) yaitu siswa berpasangan dengan teman sebangku atau yang lainnya untuk mendiskusikan mengenai jawaban yang telah diperoleh dari masing-masing siswa, dan Sharing (berbagi) yaitu siswa secara individu mewakili kelompok atau berdua mereka maju bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas. (3) Bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan motivasi dalam pembelajaran karena siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan meningkatkan hasil belajarnya dan tercapai hasil yang maksimal. (4) Bagi peneliti selanjutnya penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya dengan kelas, sekolah, dan materi yang berbeda. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan tindakan lebih dari dua siklus. Sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal guna perbaikan pendidikan.

Penerapan model pembelajaran problem solving untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan prestasi belajar siswa kelas VIII-C SMP Negri 1 Malang tahun ajaran 2008/2009 / Elysa Purwaningsih

 

Pembuatan gaun pesta full cutting / Ninik Wahyuningsih

 

Pada kehidupan manusia busana merupakan kebutuhan mendasar dalam bersosialisasi. Selain bertujuan untuk perlindungan diri dari sengatan panas matahari, dinginnya hujan, angin, dan gangguan binatang buas, saat ini pakaian juga digunakan untuk menunjukkan identitas, strata sosial, karya seni dan kreatifitas. Menurut Viani (1999:1) busana adalah segala sesuatu yang kita pakai mulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Di dalam hal ini termasuk semua benda yang melekat dibadan, semua benda yang melengkapi dan berguna bagi si pemakai. Busana juga dikelompokkan berdasarkan waktu dan kesempatan pemakaiannya yaitu busana sehari-hari, busana kerja, busana sekolah atau kuliah dan busana pesta. Gaun tidak lepas dari kesan sebuah busana wanita yang mempunyai keanggunan dan kemewahan. Avantie, (2004:1) menuliskan “Tampilan busana pesta selalu dibuat istimewa,baik dari segi model, bahan, warna, aksesori. Sang pemakai selalu berharap busana yang dipakai memiliki daya tarik tersendiri di alam pesta yang dihadirinya. Gaun mempunyai model yang variatif dan berbeda dengan busana seharihari”. Berikut ciri-ciri gaun ditinjau dari waktu pemakaian, yaitu (1) gaun pesta pagi yaitu model yang digunakan sederhana dan tidak terlalu mewah, warna yang dipakai adalah warna yang segar dan pastel; (2) gaun pesta siang dan sore yaitu warna yang biasa dipilih adalah warna segar, warna-warna segar kesannya soft dan ringan, warna yang dipilih adalah merah muda, biru dan kuning. Warna ini tetap bisa menonjolkan siluet tubuh pemakainya, sehingga kesan glamour masih terlihat; (3) gaun pesta malam yaitu memerlukan busana yang akan membuat pemakainya terlihat gla mour, bahan yang digunakan harus menimbulkan kesan feminim dan anggun, model gaun malam bermacam-macam. Poespo (2000:27) mengatakan,”Bermacammacam variasi model gaun malam, tetapi pada umumnya bagian atas badan berpotongan strapless, pundak terbuka(off/one shoulder), leher jerat(halter neck), maupun backless. Jenis gaun malam biasa dipakai wanita yang bercita rasa tinggi”. Selain itu menurut Poespo (2000:27), “Model gaun pesta malam biasanya sepanjang kaki menyentuh lantai”. Menurut kamus Webster’s Third New International (1986: A-G) disebutkan bahwa, gown is an outer garment, a woman dress, especially one suitable for afternoon or evening wear, yang artinya, gaun adalah pakaian luar, sebuah busana wanita, khusunya sepotong pakaian yang digunakan untuk acara sore dan malam hari, sedangkan pesta adalah acara khusus yang diadakan untuk merayakan suatu peristiwa. Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, maka yang dinamakan dengan gaun pesta adalah sepotong pakaian wanita yang dibuat mewah baik dari segi model, bahan, warna serta hiasannya yang dikenakan untuk menghadiri acara khusus yaitu pesta. Gaun full cutting adalah sepotong pakaian yang terdiri dari badan atas dan badan bawah yang memiliki banyak potongan sehingga membentuk satu kesatuan desain. Pembuatan bentuk gaun ditetapkan oleh tingkatan lebar pada bahu, pinggang, panggul serta garis penyelesaian pada kelim. Pembuatan gaun dapat dirancang dengan 3 cara antara lain dirancang pas (fitted), setengah pas (semi fitted), atau kombinasi dari kedua cara diatas. Selain itu, pembagian potongan gaun dapat dirancang baik secara horizontal, diagonal maupun vertikal. Pembagian secara vertikal dapat dilakukan pada titik manapun, tetapi umumnya mengikuti lekuk badan (kontur), pada puncak dada (bust), pinggang dan panggul. (Holly C.H, 2007:2). Pada saat mendesain busana ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain tekstur. Tekstur adalah sifat permukaan suatu benda. Rosmawati (1999:15)menarik kesimpulan sebagai berikut. Tekstur dapat dibedakan dengan beberapa cara, antara lain yaitu (1) cara nyata, yaitu tekstur didapat dengan nilai raba, perbedaan tekstur atau sifat permukaan benda diketahui dengan cara meraba dan memegang permukaan benda tersebut, misalnya untuk mengetahui sifat tekstil apakah kasar, halus, licin, tebal, tipis, transparan, kusam atau kilap; (2) cara semu yaitu, yaitu tekstur didapat dari nilai lihat, perbedaan tekstur diketahui hanya dengan melihat, misalnya tekstur yang bermotif, kusam dan kilap. Tekstur memegang peranan penting sebuah busana karena tekstur bisa memberi kesan mewah dan glamour. Warna adalah salah satu unsur keindahan dalam seni dan desain selain unsurunsur visual lainnya seperti garis, bidang, bentuk, barik (tekstur), nilai dan ukuran. Selain itu menurut Apsari (2001:6), bahwa warna merupakan faktor utama pada busana, sebelum memperhatikan model, orang akan tertarik dengan warnanya terlebih dahulu. Pengaruh warna demikian kuatnya baik bagi busana dalam hal ini adalah gaun yang akan dipakai atau pemakainya, kesan yang dimunculkan dapat berbedabeda, misalnya segar, pucat, muram dan mewah. Warna yang penulis pilih adalah biru, kuning dan merah muda yang tergolong warna triadik yaitu kombinasi warna yang masuk dalam (segitiga) sama sisi dalam lingkaran warna (warna split complementary/triadic contras). Warna-warna tersebut dipilih karena dapat memberi kesan segar dan kesan lebih putih pada kulit pemakai. Sebagai hiasan, penulis menggunakan retsluiting. Menurut penjelasan modul program keahlian tata busana (2005:6) rietsluiting pada umumnya terdiri dari dua potong kain, masing-masing ditempatkan pada salah satu sisi kain kemudian dipertautkan, dengan puluhan atau ratusan gigi dari metal atau plastik. Setiap gigigigi ini untuk melekatkan atau mempertautkan dua bagian kain yang terpisah menjadi satu bagian. Pengoperasiannya terdapat pada kepala retsluiting yang ditarik dengan tangan, sehingga bergerak sepanjang deretan giginya. Penulis mencoba menciptakan gaun pesta dengan potongan penuh sehingga membentuk lajur-lajur vertikal yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam mengatur jarak antara potongan-potongan serta dapat memberi kesan lebih langsing pada pemakai. Gaun pesta yang dirancang kali ini termasuk gaun pesta pagi dengan ciri-ciri model yang sederhana yaitu terdapat beberapa potongan sehingga membentuk beberapa lajur garis vertikal dan dirancang pas pada bagian atas dari dada sampai lutut dan warna yang dipilih adalah warna yang soft. Kombinasi bahan yang digunakan untuk pesta pagi secara keseluruhan adalah sutra, organza dan sifon. Bahan lain yang lembut, berkilau atau transparan seperti kain bludru, renda, lame, tafetta, santung dan lain-lain juga bisa digunakan. Untuk pemilihan bahan penulis menggunakan kain yang memiliki nama pasar kain lobster dan katun bermotif. Kain lobster ini memiliki tekstur yang kasar, kilau dan tebal. Jenis ini dipilih karena sesuai dengan desain yang penulis ciptakan yaitu cocok bila diberi dengan aksen zipper serta dapat memperlihatkan kesan glamour, karena jenis bahan ini memiliki kilau yang tidak terlalu. Pertimbangan lain dalam pemilihan bahan adalah karena penulis ingin menciptakan terobosan baru yaitu membuat gaun menggunakan bahan yang jarang digunakan oleh orang lain.

Thought patterns as reflected in the linguistic features in Indonesian and english letters written by Indonesians by Susilo

 

Teknik pemasangan retssluiting sebagai hiasan pada busana pesta / Afifah Khairunisa Krisnawati

 

Pada setiap waktu busana selalu berkembang dan berubah mengikuti tren yang ada. Seorang perancang busana harus bisa mengekspresikan dirinya dalam suatu rancangan busana yang dibuat dan diciptakanya dalam mengikuti suatu tren busana yang sedang dinikmati dan diikuti sebagaian besar masyarakat terutama penikmat dan pengguna mode, dengan cara menonjolkan kepribadian yang dimiliki seseorang yang memakai busana tersebut, menjadikan berbeda dengan yang lainnya. Hal tersebut seperti diungkapkan Massardi (2003:43) ”sering kita lihat di pesta, para wanita tampil ’sama’ every body look the same. Mereka semua cantik, tetapi tentu memiliki karakter yang berbeda, seharusnya mereka tampil sesuai dengan kepribadiannya sendiri”. Busana pesta merupakan busana yang digunakan seseorang untuk menghadiri suatu kesempatan pesta (tanpa nama, 2005:65). Ada bermacammacam pesta yang mengharuskan seseorang mempunyai bermacam-macam busana pesta, hal ini dikarenakan busana pesta yang dipakai harus disesuaikan dengan jenis pesta yang akan kita hadiri. ”... busana evening coat dibuat dari bahan yang mewah, desain yang rumit .... sedangkan busana cocktail dress bahan busana tidak harus mewah dan desainnya lebih sederhana dari evening coat” (tanpa nama, 2005:66).Ide awal pembuatan busana pesta ini merupan busana khas Gypsy, sehingga penulis memilih busana pesta siang untuk penerapannya, dikarenakan busana pesta siang dalam segi desain, model, dan hiasan, lebih cocok untuk model Gypsy, ”busana Gypsy yang unik dan dinamis dapat dimodifikasi sesuai dengan kreatifitas seseorang, namun ciri khas Gypsy yang berupa patchwork yang disusun dan yang paling utama capuchon tidak boleh ditinggalkan” (Silvester, 2005:10). ”Busana pesta pada acara pesta-pesta resmi mengarah pada busana houte cuture, sedangkan suatu busana pesta siang, busana yang digunakan lebih bersifat sederhana dan dinamis” (tanpa nama 2005:66). Menurut Bagdza (2003:41) ” .... di desain itu tidak ada yang baru idenya, yang ada hanya refresh, styling baru yang lebih segar”. Kalimat tersebut salah satu latar belakang yang mendorong penulis untuk membuat suatu busana pesta siang dengan hiasan dari retssluiting sebagai sumber ide. Busana dengan hiasan dari retssluiting didunia fashion bukanlah hal baru untuk diterapkan, namun perpaduan antara busana pesta siang yang kental dengan ciri-ciri penggunaan warna-warna cerah dengan hiasan yang sederhana dan tidak berkilau secara berlebihan yang berkesan mewah, dengan retssluiting sebagai hiasan dapat menjadikan pilihan busana yang menarik. Busana dengan hiasan yang dipergunakan dalam suatu busana selain untuk menunjang penampilan busana tersebut, juga menjadikan busana tersebut berbeda, sehingga suatu busana yang sejenis akan nampak berbeda dengan busana yang lainnya, apabila hiasan yang digunakan berbeda. Menurut Yuwono (1994:179)

Kebutuhan belajar pelatihan calon tenaga kerja Indonesia (studi kasus pada pelatihan jasa tenaga kerja Indonesia di PT. Orientasari Mahkota Labour Suplayer International Sawojajar-Malang) / Mifta Ayu Dhewanti

 

ABSTRAK Dhewanti, Mifta, Ayu. 2009. Kebutuhan Belajar Pelatihan Calon Tenaga Kerja Indonesia (Studi Kasus pada Pelatihan Jasa Tenaga Kerja Indonesia di PT. Orientasari Mahkota Labour Suplayer International Sawojajar-Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Dr. Achmad Rasyad, M. Pd, Pembimbing II Drs. Ahmad Mutadzakir, M. Pd. Kata kunci: kebutuhan belajar, pelatihan, tenaga kerja Indonesia Program penempatan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri pada hakekatnya merupakan alternatif upaya bersama pemerintah dan masyarakat (pengusaha) untuk mengatasi masalah pengangguran dan kelangkaan kesempatan kerja di dalam negeri. Adanya program ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat dan penerimaan devisa negara. Kebutuhan belajar pelatihan haruslah dapat dipenuhi oleh para CTKI agar bisa bersaing dan menjadi tenaga kerja yang kompeten di luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) profil pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh PJTKI, (2) kebutuhan belajar peserta pelatihan dalam pemenuhan kompetensi pangsa pasar tenaga kerja luar negeri, (3) aktivitas pembelajaran yang diikuti oleh peserta pelatihan selama dalam penampungan, (4) kesesuaian komponen-komponen pelatihan yang diselenggarakan oleh PJTKI dengan kebutuhan belajar peserta pelatihan, dan (5) faktor pendukung dan penghambat peserta pelatihan dalam memenuhi kebutuhan belajarnya sebagai TKI. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data adalah pimpinan PJTKI, staf, trainer, dan peserta pelatihan. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan yang terakhir adalah pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian adalah: jenis pelatihannya adalah pelatihan tata laksana rumah tangga yang termasuk dalam pelatihan induksi (induction training) dan understudy training. Metode pelatihan yang digunakan 30% teori dan 70% praktek. Media yang digunakan berupa white board, modul, dan alat-alat praktek, seperti, alat praktek tata boga, alat praktek mencuci, alat praktek house keeping, dan alat praktek mengasuh bayi. Kurikulum yang digunakan berasal dari kompetensi yang diajukan oleh Pemerintah Singapura dan telah dikolaborasikan dengan kurikulum Depnaker. Peserta pelatihan periode Maret-Mei 2009 berjumlah 11 orang, semuanya adalah wanita. 10 orang tamatan SMP dan 1 orang tamatan SMA. Peserta pelatihan berasal dari Malang, Blitar, Kediri, dan Lumajang. Evaluasi dilakukan oleh trainer di sela-sela proses pembelajaran dan evaluasi akhir dilakukan oleh pihak agensi Singapura, test ini dinamakan dengan entry test. Kebutuhan belajar pelatihan muncul dari adanya kompetensi yang telah ditentukan oleh Pemerintah Singapura. Aktivitas pembelajaran berlangsung pada hari Senin hingga Sabtu pada pukul 07.00-16.00 WIB. Faktor pendukung peserta pelatihan dalam memenuhi kebutuhan belajarnya antara lain: (1) pihak-pihak yang mendukung peserta pelatihan untuk pergi bekerja di luar negeri dan mengikuti pendidikan dan pelatihan di asrama, (2) lingkungan belajar yang sesuai dengan minat peserta pelatihan, (3) trainer yang mengerti kondisi peserta pelatihan, dan (4) suasana kekeluargaan yang cukup erat antar sesama peserta pelatihan. Faktor penghambat peserta pelatihan dalam memenuhi kebutuhan belajarnya antara lain: (1) keadaan jasmani yang tidak sehat, (2) kurangnya dukungan atau motivasi dari para trainer, dan (3) adanya masalah keluarga yang dihadapi oleh peserta pelatihan (calon tenaga kerja). Saran peneliti: (1) kepada pihak perusahaan (PJTKI Orientasari Mahkota Labour Suplayer International Malang) peneliti memberikan beberapa saran seperti: Kepada pihak PJTKI diharapkan: (1) mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan belajar pelatihan dengan mengusahakan fasilitas penunjang serta melakukan pembenahan waktu pembelajaran, (2) trainer diharapkan mampu memberikan penyegaran di sela-sela proses pembelajaran dan memberikan media lain dan berbeda dalam proses pembelajaran, dan (3) suasana kekeluargaan antara pimpinan, staf, trainer dan peserta pelatihan perlu dijalin dan lebih ditingkatkan agar tercipta suasana pembelajaran yang kondusif. Kepada pemerintah, melalui Depnaker, dalam membuat kurikulum pembelajaran bagi CTKI, hendaknya menyesuaikan dengan kebutuhan belajar CTKI dan latar belakang pendidikannya, memberikan penyuluhan kepada CTKI tentang prosedur menjadi TKI legal, dan mengusahakan jaminan hukum yang lebih baik. Bagi para calon tenaga kerja Indonesia, diharapkan lebih mengoptimalkan kemampuan awal yang dimiliki agar mampu memenuhi kebutuhan belajar pelatihan dan kompetensi yang ada sehingga menjadi TKI yang sukses. Kepada para praktisi pendidikan luar sekolah diharapkan agar lebih mengkritisi sub bidang pendidikan dan pelatihan, khususnya bagi para calon tenaga kerja Indonesia dan ikut serta dalam mendesakkan perubahan dan jaminan kebijakan ke arah yang lebih baik bagi perlindungan tenaga kerja Indonesia. Kepada mahasiswa pendidikan luar sekolah diharapkan dapat menindak lanjuti dan mengembangkan penelitian sejenis dengan lingkup tenaga kerja Indonesia dan permasalahan disekitarnya.

Perencanaan dan pelaksanakan struktur kolom beton bertulang pada proyek pembangunan gedung perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Hendryk Willy Sabara

 

Plat lantai adalah elemen horizontal struktur yang mendukung beban mati maupun beban hidup dan menyalurkan ke struktur vertical yang disebut kolom. Dalam merencanakan suatu plat harus memperhatikan bebrapa faktor, yaitu komponen struktur beton bertulang yang mengalami lentur harus direncanakan agar mempunyai kekakuan yang cukup untuk mambatasi lendutan dan deformasi apapun yang dapat memperlemah kekuatan atau mengurangi kemampuan layan struktur pada beban kerja. Tujuan studi lapangan ini adalah: (1) untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pelat beton pada Proyek Pembangunan Gedung PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang Tahap I; (2) untuk mengetahui besar anggaran biaya pada RAB dengan taksiran sesuai dengan SNI 2002 dalam pelaksanaan pekerjaan pelat beton pada Proyek Pembangunan Gedung PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang Tahap I. Untuk mendapatkan data yang valid pada studi lapangan ini diperlukan suatu metode studi lapangan, yaitu dengan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Setelah itu data-data yang diperoleh dianalisis untuk menjawab semua permasalahan yang ada. Hasil dari studi lapangan menyebutkan bahwa: (1) proses pekerjaan plat beton bertulang pada proyek pembangunan PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang meliputi pekerjaan perancah, pekerjaan pemasangan bekisting, pekerjaan penulangan/pembesian, pekerjaan pengecoran, pekerjaan perawatan pasca pengecoran dan pekerjaan pembongkaran bekisting; (2) Terdapat perbedaan biaya antara rencana anggaran biaya dengan rencana anggaran pelaksanaan. Berdasarkan hasil studi lapangan ini, disarankan: (1) pekerjaan bekisting diperhitungkan secara teliti agar nantinya bekisting dapat digunakan untuk pekerjaan bekisting pada proyek lain; (2) Untuk pemesanan ready mix sebaiknya diperhitungkan dengan teliti agar tidak terjadi pemborosan pemesan beton; dan (3) untuk perhitungan rencana anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan harga dan upah pekerjaan di lapangan.

Pemanfaatan ring locker sebagai hiasan busana / Meylisa Endah Porwanti

 

Peningkatan kualitas proses dan hasil belajar biologi pada siswa kelas VII.2 SMP Negeri 6 Malang melalui model pembelajaran investigasi kelompok terbimbing / Watin

 

ABSTRAK Watini, 2009. Peningkatan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Biologi pada Siswa Kelas VII.2 SMP Negeri 6 Malang melalui Model Pembelajaran Investigasi Kelompok Terbimbing. Pembimbing: Drs. Pudyo Susanto, M.Pd dan Dr. Endang Suarsini, M.S. Kata kunci: kualitas proses, hasil belajar, investigasi kelompok terbimbing Berdasarkan hasil wawancara, hasil observasi, dan angket siswa, proses pembelajaran Biologi di kelas VII.2 SMP Negeri 6 Malang sudah cukup baik. Masalah yang terjadi adalah masih rendahnya tingkat keaktifan siswa pada waktu diskusi kelas, adanya kesenjangan antara kemauan/motivasi dengan pelayanan, ketuntasan nilai tugas maupun nilai ulangan harian di bawah 60%, dan sharing antar siswa belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar yang keberhasilannya ditandai oleh meningkatnya keaktifan siswa dalam melaksanakan keterampilan proses, meningkatnya kemampuan siswa dalam melaksanakan keterampilan proses, ketuntasan klasikal akhir siklus ≥ 85%, dan munculnya jawaban siswa pada ranah pengetahuan C3 dan C4. Penelitian yang dilakukan berupa Penelitian Tindakan Kelas menggunakan pendekatan kualitatif Model Kemmis dan Mc. Taggart dengan siklus daur ulang yang terdiri dari tahap perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan tindakan (observing), dan refleksi (reflecting). Tindakan yang dilakukan adalah menerapkan pembelajaran dengan model investigasi kelompok terbimbing. Penelitian dilaksanakan dalam 3 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII.2 SMP Negeri 6 Malang dengan jumlah siswa 45 anak. Data yang dikumpulkan berupa data keaktifan siswa dalam melaksanakan keterampilan proses, data kemampuan siswa dalam melaksanakan keterampilan proses, data keaktifan siswa dalam diskusi kelas, hasil penilaian laporan investigasi, hasil penilaian poster, dan hasil tes tulis akhir siklus. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, angket, observasi, penilaian lembar kerja, penilaian produk berupa laporan dan poster, serta tes tulis. Temuan peneliti tentang tindakan guru dalam menerapkan sintaks model pembelajaran investigasi kelompok terbimbing yang disesuaikan dengan kondisi dan tingkat perkembangan siswa SMP adalah: (1) tahap pemilihan topik: membentuk kelompok heterogen berdasarkan jenis kelamin, tingkat kecerdasan, dan tipe gaya belajar, mengaktifkan pengetahuan awal siswa, memberikan apersepsi dengan menghadirkan fenomena yang menimbulkan konflik kognitif pada diri siswa serta memotivasi siswa untuk berpikir dan mencari pemecahan, menentukan topik dan sub topik, siswa duduk sesuai kelompoknya dalam tatanan kooperatif, dan mengarahkan siswa untuk memilih topik yang diminati kelompoknya dengan mempertimbangkan pemerataan sub topik yang dibahas kepada seluruh kelompok (2) tahap perencanaan kooperatif: membimbing siswa untuk mengajukan pertanyaan berhubungan dengan fenomena yang dihadirkan, membimbing siswa merumuskan masalah, memberitahukan alat dan bahan ii eksperimen yang akan digunakan serta data yang akan diambil, membimbing siswa menyusun hipotesis, membimbing siswa membuat rancangan eksperimen, dan mengecek kebenaran rancangan yang disusun siswa/kelompok (3) tahap implementasi: membimbing siswa bersama kelompoknya untuk melakukan eksperimen, membimbing siswa mencatat data hasil eksperimen dan mengevaluasi hipotesisnya, memantau kerja setiap kelompok, dan memberikan bimbingan kepada kelompok yang memerlukan (4) tahap analisis sintesis: membimbing siswa untuk menganalisis data, membimbing siswa untuk menarik kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh, membimbing siswa/kelompok siswa untuk melakukan investigasi lanjutan di luar kelas guna menghubungkan apa yang telah dipelajari dengan kehidupan nyata di masyarakat, membimbing siswa mengkomunikasikan hasil investigasi dalam bentuk laporan tertulis dan poster (5) tahap presentasi final: membimbing siswa/kelompok mempresentasikan hasil investigasinya dalam diskusi kelas, guru memberitahukan tata tertib diskusi dan ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas, membimbing siswa berperan sebagai moderator dan notulis diskusi, menyediakan lembaran untuk menuliskan pendapat/pertanyaan agar semua siswa aktif dan berkonsentrasi dalam diskusi, menganalisis pertanyaan siswa untuk mengetahui tingkat berpikir siswa, pada akhir diskusi guru membimbing siswa menarik kesimpulan (6) tahap evaluasi: mengadakan evaluasi proses yaitu mengevaluasi setiap tahapan yang dilalui dalam investigasi secara individu maupun kelompok untuk bahan perbaikan kegiatan berikutnya, evaluasi hasil yaitu memberikan tes tertulis kepada siswa. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: soal yang diberikan disesuaikan dengan pengalaman belajar siswa, bentuk soal dapat mengeksplor tingkat berpikir siswa mulai tingkat rendah sampai tingkat tinggi, penilaian jawaban disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa dan tuntutan KKM , jawaban siswa dibahas dan dianalisis bersama siswa untuk meningkatkan tingkat berpikir mereka. Hasil penelitian membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran investigasi kelompok terbimbing dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar Biologi Siswa Kelas VII.2 SMP Negeri 6 Malang. Pada akhir penelitian didapat data bahwa keaktifan siswa dalam melakukan keterampilan proses mencapai 93.65%, kemampuan siswa dalam melaksanakan keterampilan proses = 77,41%, ketuntasan belajar klasikal 97,78% dengan nilai rata-rata kelas 81, dan ranah kognitif siswa sudah mencapai jenjang kemampuan menerapkan (C3) dan jenjang kemampuan menganalisis (C4) dengan perincian jenjang kemampuan mengingat (C1) = 5,56%, jenjang kemampuan memahami (C2) = 47,78%, jenjang kemampuan menerapkan (C3) = 18,89%, dan jenjang kemampuan menganalisis (C4) = 27,78%. Masalah yang belum terpecahkan dalam penelitian ini adalah masih rendahnya kemampuan siswa pada aspek merumuskan hipotesis dan menarik kesimpulan, konsentrasi siswa belum terarah ketika permasalahan satu kelompok berbeda dengan kelompok yang lain, dan kurangnya ketelitian dan kekritisan siswa dalam menjawab soal.

The effects of using formal outlines in writing exposition by Kisman Salija

 

Pengaruh pembelajaran kooperatif think pair share, jigsaw, kombinasi dengan strategi metakognitif, dan kemampuan akademik terhadap kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif, dan hasil belajar kognitif siswa di SMA Negeri kota Pekabaru Riau / Sri Amnah S.

 

ABSTRAK Amnah, S. S. 2009. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-Share, Jigsaw, Kombinasi dengan Strategi Metakognitif, dan Kemampuan Akademik terhadap Kesadaran Metakognitif, Keterampilan Metakognitif, dan Hasil Belajar Kognitif Siswa di SMA Negeri Kota Pekanbaru Riau. Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd., (II) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D., (III) Dr. Siti Zubaidah, M.Pd. Kata Kunci: Metakognitif, kooperatif Think-Pair-Share, koopertif Jigsaw, hasil belajar kognitif Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Keadaan dan mutu pendidikan bangsa Indonesia masih rendah, termasuk di Propinsi Riau. Perbaikan mutu pendidikan perlu dilakukan dengan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan strategi yang dapat mengaktifkan siswa seperti pembelajaran kooperatif. Penelitian ini menggunakan pembelajaran kooperatif Think Pair Share dan Jigsaw yang dipadu dengan strategi metakognitif (SM) untuk melihat pengaruhnya pada kemampuan akademik tinggi dan rendah terhadap kesadaran metakognitif, keterampilan metakognitif, dan hasil belajar siswa. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap yaitu penelitian survai dan penelitian quasi eksperimen. Penelitian survai untuk mengetahui metode pembelajaran apa saja yang digunakan guru biologi dalam mengajar, terutama kooperatif TPS dan Jigsaw dengan menyebarkan angket kepada seluruh guru biologi SMAN Kota Pekanbaru, serta mengetahui kondisi kesadaran metakognitif siswa kelas XI dengan menggunakan inventori kesadaran metakognitif. Penelitian quasi eksperimen menggunakan rancangan pretest-postest nonequivalent control group desain faktorial 5x2. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas XI SMAN Kota Pekanbaru yang berjumlah 13 SMA. Sampel ditentukan secara simple random sampling. Sekolah yang terpilih ada 5 kelas yaitu kelas XI di SMAN 2, SMAN 4, SMAN 7, SMAN 9, dan SMAN 10. Hasil penelitian survei menunjukkan kualitas guru biologi umumnya baik, aktif dalam MGMP, dan telah mengikuti berbagai pelatihan. Pembelajaran kooperatif kurang diminati guru. Jigsaw digunakan oleh 52,08% guru dan TPS 25%. 68,75% guru biologi tidak memahami arti metakognisi. Guru yang tidak pernah melatihkan strategi metakognitif pada siswanya sebanyak 68,75%. Siswa 1,21% masuk kategori Belum Berkembang Baik; 16,39% Mulai Berkembang; 75,36% OK; dan 7,15% Super. Penelitian eksperimen menunjukkan tidak ada perbedaan kesadaran metakognitif pada siswa di setiap strategi pembelajaran. Nilai kesadaran metakognitif menunjukkan penurunan pada setiap strategi pembelajaran. Strategi TPS+SM dan TPS menunjukkan potensi yang tertinggi dalam meningkatkan keterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif. Tidak ada perbedaan kesadaran dan keterampilan metakognitif serta hasil belajar siswa kemampuan akademik tinggi rendah. Tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik pada kesadaran dan keterampilan metakognitif serta hasil belajar kognitif siswa. Sesuai hasil penelitian, peneliti menyarankan pada guru untuk menggunakan pembelajaran kooperatif TPS atau TPS+SM yang paling tinggi hasilnya dalam meningkatkan keterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif siswa, memperbanyak pemberian soal esai untuk meningkatkan keterampilan metakognitif siswa, dan melatih strategi metakognitif pada siswanya. ABSTRACT Amnah, S. S. 2009. The Effect of Cooperative Learning Think-Pair-Share, Jigsaw, Combination with Metacognitive Strategy and Academic Level on Metakognitive Awareness, Metakognitive Skills, and Cognitive Learning Result in State Senior High School in Pekanbaru City of Riau. Dissertation, Study Program of Biologiy Post Graduate Program, State University of Malang. Guidance Lecturer: (I) Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd., (II) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D., (III) Dr. Siti Zubaidah, M.Pd. Kata Kunci: Metacognitive, cooperative think-pair-share, cooperative jigsaw, cognitive learning result. The quality of a nation is determined by education factors. The condition and education quality of Indonesia is still low, including in Riau Province. The improvement of education quality can be conducted restructuring instructional processes by implementation of strategies that can activated students as in cooperative learning. This study uses cooperative learning combined with metacognitive strategy in order to know the effects of high or low academic level on metacognitive awareness, metacognitive skills, and the student’s learning result. This study was conducted in two stages such as survey research and quasi experimental research. The purpose of the survey is to know the teaching methods that biology teachers used in their teaching especially the use of cooperative learning TPS and jigsaw by giving questionnaires to all teachers of Public High Schools in Pekanbaru, and to know the condition of metacognitive awareness of biology students of grade XI by using the inventory of metacognitive awareness. The purpose of quasi experimental was to know the effect of Jigsaw strategy, Jigsaw+MS, TPS, TPS+MS, and control at the student academic level on metacognitive awareness, metacognitive skills, and students biology’s resulted. Pretest-postest nonequivalent control group design 5x2 factorial version was used for the quasi experimental research. The population of the research was all of the grade XI students of 13 Public High Schools in Pekanbaru. The sample was determined by simple random sampling. There were five classes of five schools chosen. They’re each of grades XI of SMAN 2, SMAN 4, SMAN 7, SMAN 9, SMAN 10. in Pekanbaru, Riau. The survey research findings showed that the quality of Biology teachers were generally good, tyey were active in MGMP, and attended many kinds of trainings. The cooperative learning was rarely used by the teachers. Cooperative jigsaw was used by 52,08% of teachers and TPS was 25%. 68,75% of biology teachers didn’t know the meaning of metacognition. Teachers who had never applied the metacognitive strategy to their students were 68,75%. 1,21% students were categorized as cannot really category; 16,39% in developing category; 75,36% was OK category; and 7,15% was super category. The quasi experimental findings showed that there were no significant difference of metacognitive awareness in every learning strategies. There were decreases in metacognitive awareness in every learning strategies. TPS+MS strategy and TPS showed the higher potential to increase the metacognitive skills and cognitive learning results. There were no difference in metacognitive awareness, metacognitive skills, and cognitive learning resulted of students with high and low academic level. There were no interaction effect beetween learning strategy and academic level on the metacognitive awareness, metacognitive skills, and cognitive learning resulted. According to the research findings, the researcher suggests the teachers to use cooperative learning TPS or TPS+SM which shows the greatest effect to increase metacognitive skills and cognitive learning result, use many essay test to increase metacognitive skills, and practice his/her students with metacognitive strategies.

Pengembangan media layanan penguasaan konten pembentengan diri remaja terhadap seks bebas berbasis multimedia interaktif siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Malang / Inge Oktavia Nordiani

 

ABSTRAK Nordiani, Inge Oktavia.2009. Pengembangan Media Layanan Penguasaan Konten `Pembentengan Diri Remaja terhadap Seks Bebas` Berbasis Multimedia Interaktif Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. M. Ramli, M. A. (II) Drs. Hariadi Kusumo Kata Kunci: Pengembangan, media, layanan penguasaan konten Fenomena seks bebas di kalangan remaja telah merajalela dan sampai pada taraf memprihatinkan. Padahal hal ini sangat mempengaruhi tingkah laku remaja yang notabene berada dalam masa transisi yang identik dengan pencarian identitas diri. BK sebagai bagian yang penting dari pendidikan harus dapat memberikan pemahaman yang cukup kepada remaja mengenai dunia remaja, terutama pembentengan diri remaja terhadap seks bebas. Namun, BK di MTs N 2 Malang belum memiliki media yang efektif yang menunjang proses pemberian materi yang termasuk dalam layanan penguasaan konten. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk media layanan penguasaan konten `pembentengan diri remaja dari seks bebas` berbasis multimedia interaktif yang berterima baik secara teoritik maupun praktis. Media ini berisi 4 menu utama yaitu profil, petunjuk penggunaan, pendahuluan dan materi. Di dalam materi terdapat empat (4) menu materi antara lain: tumbuh kembang remaja, relita seks bebas, dampak seks bebas dan benteng diri remaja. Pengembangan media layanan penguasaan konten ini mengikuti tahapan pengembangan yang diadaptasi dari metode pengembangan Borg and Gall. Tahapan ini meliputi: 1) identifikasi kebutuhan, 2) perumusan tujuan bimbingan, 3) penyusunan isi, 4) uji coba produk, 5) revisi dan 6) produk akhir. Untuk mengetahui media berterima secara teoritik maupun praktis, dilakukan uji validitas terhadap 3 subjek yaitu ahli media, ahli materi dan audiens/uji kelompok kecil yang berjumlah 10 orang. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data validitas adalah angket. Adapun hasil pengisian angket kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif prosentase. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa tingkat kevalidan multimedia interaktif dengan topik pembentengan diri remaja dari seks bebas, menurut ahli media adalah valid (95,3%), menurut ahli materi adalah cukup valid (79,4%) dan dari hasil uji audiens/kelompok kecil tingkat kevalidannya adalah cukup valid (74,28%). Secara keseluruhan, media layanan penguasaan konten tersebut dapat digunakan dalam pemberian layanan penguasaan konten. Saran yang diberikan dalam hal ini adalah 1) media ini hendaknya digunakan oleh guru BK dalam pemberian layanan penguasaan konten materi pembentengan diri remaja terhadap seks bebas, 2) terhadap peneliti selanjutnya agar multimedia ini diteliti lebih lanjut hasil pengembangannya dengan melakukan penelitian eksperimen ataupun penelitian tindakan (action research) dalam bimbingan.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) untuk meningkatkan pelayanan individual siswa pada pembelajaran IPA biologi kelas VII.1 SMP Negeri 6 Malang / I Wayan Suyasa

 

ABSTRAK Suyasa, I Wayan. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Pelayanan Individual Siswa Pada Pembelajaran IPA Biologi Kelas VII.1 SMP Negeri 6 Malang. Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Universitas Negeri Malang Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur pendidikan Profesi. Pembimbing I: Drs. Pudyo Susanto, M.Pd. Pembimbing II: DR. Endang Suarsini ,M.S. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share, Pelayanan Individual Siswa. Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa, pelayanan individual siswa SMP Negeri 6 Malang kelas VII masih tergolong kurang. Ini terlihat dari siswa pada saat menerima pelajaran IPA Biologi masih ada siswa yang belum mendapat pelayanan dengan baik. Ini disebabkan oleh model pembelajaran kooperatif yang digunakan guru belum mampu menguji siswa orang per orang. Di sini peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share untuk meningkatkan pelayanan individual siswa pada pembelajaran IPA Biologi Kelas VII.1 SMP Negeri 6 Malang. Pembelajaran biologi dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share dilakukan dengan sintaks: 1) Think; guru mengajukan pertanyaan atau permasahan yang berhubungan dengan materi pelajaran. Selanjutnya siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau masalah tersebut secara mandiri berdasarkan waktu yang telah ditentukan. 2) Pair; guru meminta siswa berpasangan dengan temannya untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada saat Think. Interaksi pada saat ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau berbagi ide. 3) Share; guru meminta kepada pasangan untuk mempresentasikan hasil diskusinya dan siswa lain diminta memberi tanggapan, sehingga diperoleh jawaban yang sama atau mengkerucut di dalam kelas itu tentang pertanyaan atau permasalahan yang dibahas. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan kelas (PTK). PTK dilakukan sebanyak 2 siklus. Pembelajaran pada siklus I penyajiannya dilakukan dengan menggunakan percobaan pada materi kepadatan populasi manusia. Pembelajaran siklus II penyajiannya dengan menggunakan gambar atau foto pada materi kerusakan hutan dan pencemaran air. Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan pelayanan individual siswa dan hasil belajar kognitif pada pembelajaran IPA Biologi di kelas VII.1 SMP Negeri 6 Malang yang dilakukan dengan percobaan atau eksperimen dan menggunakan gambar atau foto.Pelaksanaan proses pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dengan mengelola kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir dapat meningkatkan pelayanan individual siswa dan hasil belajar kognitif siswa. Adapun langkah-langkahnya adalah: a) Kegiatan awal; guru melakukan motivasi untuk memusatkan konsentrasi siswa, menyampaikan tujuan untuk mengarahkan materi yang dibicarakan dan menggali pengetahuan siswa untuk mengetahuai seberapa jauh konsep yang sudah dimiliki oleh siswa. Kegiatan seperti ini dapat dilakukan dengan menggunakan fenomena berupa gambar atau foto. b) Kegiatan inti pada penerapan pembelajaran TPS ada 3 tahap:1)Tahap Think, guru mengajak siswa untuk melaksanakan eksperimen atau percobaan agar siswa yang belajar dapat menemukan konsep atau pengetahuan pembelajarannya berbasis penemuan yang berakar dari teori pembelajaran kontruktivisme. 2) Tahap Pair, guru memberikan bimbingan kepada siswa agar mau berdiskusi dengan pasangannya (saling mengemukakan ide, berbagi pengetahuan dan mau menerima pendapat teman). 3) Tahap Share, guru memberikan bimbingan kepada siswa agar mau melaporkan/mempresentasikan hasil diskusinya, memberikan tanggapan dari presentasi yang dilakukan oleh temannya. c) Kegiatan akhir; guru memunculkan materi yang belum dimunculkan oleh siswa memberikan pengembangan materi memberikan contoh-contoh dan menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Penerapan siklus belajar (5E Learning cycle model) untuk meningkatkan keterampilan proses dan prestasi belajar IPA biologi siswa kelas VIIF SMPN 20 Malang / Mudlikah

 

Relasi gelanggang pembagian R dengan modul bebas atas R / Riza Safirah Namirah

 

ABSTRAK Namirah, Riza Sarifah. 2009. Relasi Gelanggang Pembagian R dengan Modul Bebas Atas R. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hery Susanto, M.Si , (II) Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph.D. Kata Kunci: Gelanggang pembagian, Modul bebas. Konsep modul merupakan pengitlakan (generalisasi) dari konsep ruang vektor. Suatu sifat dasar ruang vektor yang berbeda dari modul adalah bahwa setiap ruang vektor tak nol senantiasa mempunyai basis. Bila suatu modul mempunyai basis, maka modul ini disebut modul bebas. Dengan demikian ruang vektor merupakan modul bebas atas lapangan. Dalam penelitian ini dikaji tentang relasi antara suatu gelanggang pembagian R (merupakan perluasan dari lapangan yang tidak harus bersifat komutatif) dengan modul bebas atas R. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu setiap modul atas gelanggang pembagian merupakan modul bebas. Selain itu, relasi yang terjadi antara gelanggang pembagian R dan modul bebas atas R merupakan relasi yang tidak memerlukan syarat tambahan untuk berlaku bolak balik, yaitu suatu gelanggang R merupakan gelanggang pembagian jika dan hanya jika setiap modul atas R merupakan R-modul bebas.

Pemanfaatan internet dalam pembelajaran melalui program Jardiknas oleh guru-guru SMK di Kabupaten Indramayu / Kamajaya

 

The research aimed to describe the internet used on the learning through Jardiknas program by the teacher’s of SMK in Indramayu district the research uses correlation descriptive approach, with variable: motivation teacher’s working of SMK (X1), the policy of headmaster about using ICT Jardiknas (X2), and the internet used (Y). The research population is whole the teacher’s of technology and industry goup that has internet connection facility through ICT center in Indramayu program is 120 teacher’s that are taken at random. The instrument is used questioner using Likert scale with four alternative answers. There is data analyze technic that uses correlation analyze technic product moment pearson, and regretion analyze double linear.

Pengelolaan check list kebiasaan belajar melalui aplikasi saftware untuk pelayanan bimbingan dan konseling di SMA/SMK/MA / Rachmad Agung Basuki

 

ABSTRAK Basuki, Rachmad Agung. 2009. Pengelolaan Check List Kebiasaan Belajar Melalui Aplikasi Software untuk Layanan Bimbingan dan Konseling di SMA/SMK/MA. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd, (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata Kunci : Check List, Kebiasaan Belajar, Software, Bimbingan dan Konseling. Teknologi informasi yang didukung oleh teknologi komputer semakin lama semakin diperlukan dalam dunia pendidikan. Dalam hal ini, teknologi komputer mengambil peranan aktif dalam dunia pendidikan yaitu guna membantu pengelolaan data dalam layanan bimbingan konseling terutama check list data. Dengan demikian jika dikaitan dengan sistem komputerisasi tersebut, kinerja konselor akan dipermudah dan lebih efektif lagi. Sehingga dalam perkembangannya, konselor dituntut untuk bisa mengikuti perkembangan teknologi. Selama ini check list kebiasaan belajar masih dianalisis secara manual dan belum adanya software untuk mempermudah pengelolaan check list kebiasaan belajar. Menyikapi kondisi ini, penulis menggunakan model pengembangan Software Life Cycle/e-learning (Leman,1998). Model pengembangan software adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk software. Model (rancangan) pengembangan software tersebut dapat memfasilitasi konselor dalam menangani bidang perkerjaannya tersebut. Kinerja yang dilakukan secara manual tersebut dipermudah dalam bentuk Pengelolaan check list kebiasaan belajar melalui aplikasi software. Dalam merancang aplikasi software layanan bimbingan konseling tersebut, haruslah dimengerti terlebih dahulu tentang tahapan – tahapan penggunaannya secara sistematis. Dimulai dari membuka tampilan indeks / halaman utama software, kemudian peserta mengisi input data peserta, input data admin, dan input data masalah. Pengisian software tersebut diharapkan dilakukan oleh peserta sendiri dengan sejujur – jujurnya. Sehingga pada akhir tahap laporan, konselor dapat mengevaluasi dan memberikan solusi bagi peserta melalui software check list kebiasaan belajar. Penilitian kelayakan penggunaan aplikasi software ini, telah dilakukan sehingga ditemukan hasil yang optimal. Hasil tersebut dapat diamati dengan adanya penghematan media check list kebiasaan belajar, yang biasanya membutuhkan arsip (data) dengan berlembar – lembar kertas, namun dengan adanya software ini kebiasaan pengarsipan yang manual tersebut dapat dihindarkan. Selain itu, aplikasi software ini dapat mempermudah dan mempercepat proses pengelolaan data yang telah diisi sehingga menghasilkan data yang lebih efisien. Untuk saran pemanfaatan sebaiknya produk ini dipakai untuk sekolah menengah tingkat atas, dan untuk pemakaian tingkatan selain sekolah menengah tingkat atas tersebut perlu sebuah penyesuain. Untuk diseminasi (penyebaran) produk ini sebaiknya dilakukan pada lingkup sekolah yang sudah memakai sistem komputer.

Analisis rasio keuangan dan non keuangan untuk mengetahui kinerja perusahaan tenun nasional CV. Gueno Ngunut Tulungagung / Novita Irawati

 

Perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayanan ini merupakan salah satu perusahaan yang memegang peranan penting dalam mensejahterakan masyarakat. Dalam melakukan bisnisnya perusahaan ini dituntut untuk dapat menciptakan pemanfaatan jasa pelayanan dimana hal ini memerlukan perencanaan secara terpadu yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Untuk memahami kondisi keuangan perusahaan diperlukan suatu penilaian kinerja keuangan dengan menggunakan analisis rasio keuangan. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan melalui hasil analisis rasio keuangan yang meliputi rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas, Profitabilitas pada Perusahaan tenun nasional CV. Gueno Ngunut Tulungagung dalam kurun waktu tahun 2003 s/d 2005. Penilaian kinerja dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan analisis rasio yang membandingkan antar pos-pos yang terkait dalam neraca dan laporan laba-rugi serta membandingkan kondisi yang ada di laporan yang tercantum dalam laporan keuangan dengan teori yang terdapat dalam referensi-referensi yang digunakan. Dilihat dari rasio-rasio keuangan yang dihasilkan, Hasil analisis untuk rasio likuiditas pada current ratio sebesar 87,39%; 85,89%; 85,03% untuk cash ratio, angka yang terjadi adalah 85,37%; 83,95%; 83,12%. Hasil analisis untuk rasio Leverage pada tot. hutang thdp tot. aktiva adalah 98,14%; 98,19%; 98,22%; untuk tot.hutang thdp. Tot. ekuitas sebesar 5.270%; 5.436%; 5,517%; dan untuk hut.jk pjg thdp tot.modal jk pjg sebesar 10,22%; 10,27%; 10,28%. Hasil analisis untuk rasio aktivitas pada rasio perputaran aktiva tetap sebesar 38,53%; 34,43%; 24,10%; dan untuk perputaran total asset adalah 4,11%; 4,20%; 3,15%. Sedangkan di rasio profitabilitas pada return on equity (ROE) yaitu sebesar 68,81%; 80,54%; 74,48%. Untuk return on investment (ROI) adalah sebesar 1,28%; 1,45%; 1,33%. Dari rasio-rasio yang dihasilkan, kinerja Perusahaan tenun nasional CV. Gueno Ngunut Tulungagung selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 dapat dikatakan cukup baik ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya rasio yang dihasilkan setiap tahunnya. Meskipun tahun 2003 PT POS INDONESIA mengalami .penurunan namun secara keseluruhan kinerjanya sudah cukup baik. Dari rasio yang ada, disarankan dalam pemanfaatan aktiva yang ada lebih dioptimalkan guna menunjang pencapaian laba yang diinginkan. Selain itu guna menghindari terjadinya kerugian, maka perlu adanya penekanan biaya usaha dan peningkatan jasa pelayanan pos.

Using dialogue journals to improve english writing skill of the second-year students at NTsN Tinambung Polewali Mandar, west Sulawesi / Nurdin

 

ABSTRACT Nurdin. 2009. Using Dialogue Journals to Improve English Writing Skill of the Second-Year Students at MTsN Tinambung Polewali Mandar, West Sulawesi. Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D, (2) A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D. Key words: dialogue journals, writing skill Based on preliminary study conducted in MTsN Tinambung West Sulawesi, it was found out that the students of the school had some problems in learning writing. The problems were low motivation to learn, inability to make sentences in English and difficulty to begin writing. The possible causes of the problems were uninteresting strategy in teaching, limited vocabulary and having no idea to write. This study was designed to improve the students’ writing skill in English through dialogue journal strategy. The strategy was selected for some reasons. First of all, dialogue journal strategy provides the students an interesting activity in which the students can freely write anything they like such as ideas, thought, or feelings. The students can also communicate with the teacher through writing because the teacher gives responses to the students’ writing. In addition, by writing journals the students have a lot of practices. So, they are expected to write well because of the regular writing activities. The research problem was formulated as follows: “How can dialogue journals improve English writing skill of the second-year students at MTsN Tinambung Polewali Mandar, West Sulawesi?” This study employed a classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in designing the lesson plans, implementing the action, observing and making reflection. The subjects of the study were the second-year students of MTsN Tinambung Polewali Mandar, West Sulawesi of the 2008-2009 academic year. This study was conducted in two cycles by following the procedures of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The procedures of implementing dialogue journal strategy in the teaching and learning process in this study were: (1) leading the students to the topics by asking some questions; (2) asking the students to tell about something. For example, their daily activity or their experience; (3) asking the students to write down what they have told about; (4) showing the students models of sentences and paragraphs; (5) asking the students to compare between their sentences and paragraphs and the models; (6) asking the students to rewrite their sentences and paragraphs; (7) showing the students models of dialogue journals; (8) giving explanation about dialogue journal to the students; (9) showing the students list of topics to write in journals; (10) asking the students to write journals based on the topic they choose; and (11) asking the students to write their own journals at home. The findings of the study show that the strategy can improve the students’ writing ability. The improvement can be seen from the students’ products both in quantity and quality. It can also be seen from the students’ final scores. In terms of quantity, the students can write various topics with increasing number of sentences and paragraphs in each entry. In terms of quality, the students show significant improvement in four aspects of writing: content, organization, vocabulary, and grammar. Regarding final scores, the number of students whose scores are 60 or higher is increasing from pre-test to post-tests. Based on the findings, the following suggestions are proposed: (1) the English teachers are suggested to apply dialogue journals when teaching writing to the students; (2) in applying dialogue journals, the teachers should be sure that the students have mastered basic vocabulary items and basic concept of sentences and paragraphs; (3) the teachers have to show to the students some models of journals. Models of sentences and paragraphs are also important to be given to the students, and (4) for beginning activities in dialogue journal writing, it is necessary for the teachers to provide the students with a list of topics.

The differences of learning style preferences of the english department students at state Universitas of Malang by Rakhma Diana Sari

 

As studenths aved ifferentp ersonalitietsh, eyl earnE nglishi n manyw ays.I t is notv eryl ikely thatt wo studentlse ami n thes amew aya t thes amep acei.e acher,s unawar-enaensdsi gnoranceo f thesed ifferencems ightl eadt o thes tudentsle, arning difficultya ndi nability.T hereforet,e acherasr ee xpectetdo helpt hes tudentisd enti! theird ifferenceisn their F*iry stylep referenceai ndt o applyv ariousw ayso f teachintgh atc anb ridget he differences. Fort hatr easona, ndt hel imitedn umberso f studiesd oneo n identifyingth e *qTtrl leamings tyled ifferencesth, is studyi s conductedR. eplicatingd eid;s (1987M), elton's( 1990)a, ndH yland's(1 99i)s rudiegth iss tudyin vesigatetsh e 9jv9rrtv of leamings tylep referenceosf theE nglishD epartnenst tudenLa t state uliver-sitr9 f Malanga ccordingto tfueev ariabtesg: enders, tudyp rogramsa, ndl evel of studya ndw hethetrh e differenceasr es igrrificantT. hes tude;si leirning style preferencetos b em easureadr ev isual,a uditoryk, inesthetict,a ctile,g roup,a na individual. Them aini nstrumenut sedt o collectt hed atai s thep erceptuaLl eamings tyle Questionnairdee, signebdy JoyM . Reid,c onsistingo f 30 itemst hatt hes tudentrsa te ona five-points calef rom 4 to 0. Theseit emsa reo f randomlya rrangedse tso f 5 statemenotsn eacho f thes ix leamings tylep referencetos bem easuredT.o facilitate thel earnersr'e sponsaen dt o avoidm isinterpretatiotnh"e q uestionnairise translated intoI ndonesianT. heI ndonesiaenu estionnairies re-hansiateidn to Englishb y an experot f whichr esults howsit s consistencTy.h et est-retesrte liability,i sing p"a6on product-momenatls, os howss igrificantc orrelationa t the .01a nd. 0i ievels. Processeuds ings PSSf or windowsp rogmmt,h e secondtr y-outr esults howsth at ANovA frodrr y sigrrificandt ifferencea t the .05l evelb etweenth el anguagoef the questionnairTeh. et anslatedi nstrumenht asf ulfilled its validitya sw eli sincet herea red ifferentl anguagper ogramas ndd iflerentl evelsa t theE nglish Departmenotf stateu niversityo f Malangt,h es ampleo f this studyi s drawnu singa statifiedg ndgm samplingp rocedureT.w o classeso,n ec lassf romE nglishE ducation ando ne9 las1fr ory EnglishL anguagaen dL iteraturep rograma, ret akei randomly frome acho fthe four levels;t hus,t herea re8 classesinvolveidn this study.A total numbeor f 167s tudentos f theE nglishD epartnenct ompleteth eq uestionnairTe.h e datai s thenc lassifieda ccordingto eacho fthe threes tudentsv' ariables:g ende(r4 4 malesa nd1 23f emales)t;w o studyp rogram(s5 3 studentos f EnglishE dication programa nd79s tudentos f EnglishL anguagaen dL iteraturep rogram)a; ndf our levelso f study( 35f reshmen3,l sophomores,j4ugn iors,a ndi2 ieniors;r. ne studentssc' oreso n eachle amings tylef or eachv ariablea ret henc lassifiedin to three categorieses tu p by Reid:m ajor,m inor,a ndn egativele amings tylep references. Ther esulto f this studys howsth ata ccordingto gendert,o -maiepsr efer garuoduitpao srty kh,ie nierm stihneotrilc et,aa cmtilien,ga s ntydli ensdA.i vuidduitaolar ys,mk inaejJsrth haertnicitn,a gcs titiyel,ea sna dng drv oisuupaa rlae nd malesm' ajorl eamings tylesw hilev isuala ndi ndividuala ret heir minoilearning stylesA. nalysiso f variance_(ANoy-4u)s, ings pSSf or windows,o f eachs tylJ showtsh att herei s no sigrificantd ifferencea t the .05l evel;o r, then uil hypothesiiss accepted. - Accordingto the studyp rogramss,t udentos f EnglishE ducationp rogramo nly prefevr isuala st heirm inor_learninsgty lesw, hilet heo tiets aret heirm ajorleaming - styles.s. tudentosf Errglish! -anguagaen dL iteraturep rogramc hoosev isual,g roupj andin dividuaal sm inors tylesa qda uditoryk- inesthetica, ndt actilea sm ajoileaming stylesA. NovA results howsth att hen dl hypothesiiss acceptedN. o sigriificant differencaet the .05l eveli s revealedb etweenth eseg roups. Thes tudentsl'e arnings tylep referencme eanio f four levelso f studys hows thatt hef reshmenp refera uditorya ndk inesthetica sm ajorl earnings tylesw hereas visual,-tactilger, oup,a ndi ndividuala ret heirm inorl eamings tyteii n teaming EnqfishT. hes ophomorecsh oosev isuala ndi ndividuala sm inorl earnings tylesa nd auditoryk,i nesthetict,a ctile,a ndg roupa sm ajorl earnings tylesv. isual ind gro,.pa re theju niors' minorl earnings tylesw hereatsh eo therf our arj tlreirm ajorl eariing' sty]es Th9 last group, theleniors, prefer visual, tactile, and group as minor leairing lulgs andg ditory, kinesthetica, ndi ndividuala sm ajorl eamingstylesA. l.IovA findss ignificandt ifferencea t the .05l evela t thea uditoryle aming -xyle, F ratio (3, 163-)- 4.3412p,: .0057U. singS cheffep ostH ocM ultipleC ompariionth, e researchfeinr dst hatt he senioris significantlym orea uditoryth ant hej unior; thus,t he nullh ypothesiiss rejected. . somei nterestingtr endsa rea lsor evealedfr om ther esult.N o groupss how negativele arnings tyle,a ll groupsc hoosev isuala sa minorl earningJ tytea na kinesthetiacn da uditorya sm ajorl earnings tylesa, ndt heya ll travetuttiple major Iearnings tyles.T hesete nds mighti ndicateth att heE ngiishD epartmenstt udentasr e goodle arnersa, sh avingb eenf oundi n thep reviouss tudies. Basedo n this finding thew riter suggesttsh atE nglisht eacherhse lpi dentif theirs tudentsle' arnings tylep referenceuss ingR eid'sp erceptuaLle arnings tyle |9fere1ce9s urvey( Questionnaires)i,n cei t is self-scorinagn dh asjusts ii categories, befored ecidingw hicht eachingte chniquetsh eya pplya nat eu*ing strategietsh ey proposeId. entificationo fdiferencesin the studentsle' amings tylep refer-ncessh ould bef ollowedb y-applyingm orev ariousw ayso f teachingT. eachirsih oua notj udge thatc ertains tylesa reb ettert hana nothebr ut theys houlda cceptth ev arietyt trit migtrt occur. vlt

Fungsi tradisi naik ayun dalam kehidupan masyarakat Kutai, desa Handil Bakti Kalaimantan Timur: kajian antropolgi religi oleh Rusmini

 

htar belakangp enelitiana dalahB udayaK utai telahm elahirkanb ermacammacamtradisi,s alahs atus adisi yangm asiht erintegraski uatd alamm asyarakatpendukun$yaS. ebagi suatut radisiy angm enyangkusti stemk epercapant,r adisiNaikA yuny angd ikonotasikadne ngan"p emberiann amak epadab ayi",t radisiN alftlyn merupakaunp acaraa daty angm enjadsi uatua spekd ari kebudayaatrr\a disii nimerupakawn ujudb udayay angh idupd alamm asyaral@Ktu tai yangd iwariskand arigeneraskie generassie lanjutryad alamp elaksanaaunp acama datN aik.aymmencakukpo mponen-komponyeann gt erdapadt alams istemr eligi. Rumusamn asalahd alamp enelitianin i adalah( l) bagaimankae beradaanfradisNi aikA yund i desall andil Bakti?( 2) bagaimanpar osesp elaksanaatand isiNaikA yn di desaH andilB akti ? (3) bagaimankao ndisis osiabl udayam asyarakatKutaid esaF landilB akti?( )baearn,tr,a hubuneana ntaraf irngsir eligi radisi Nar&lyar dengank ondisis osiabl udayam asyarakaKtu tai desaH andilB akti?.Tujuany angi ngin dicapayi aknim engetahukie beradaatnra disiN aikA ym,mengetahupi, rosepse laksanaatand isi NaikAytot,m engetahukio ndisis osiabl udayamasyarakKaru tai,m engidentifikashiu bunganfir ngsir eligi dengank ondisis osialbudayam asyarakaKtu tai.Metodey angd igunakand alamp enelitiani ni adalahm etodea ntropologrie ligidanm enggunalajne nisp endekataknil alitatif danM entuk deslriptif. Metodeantropologdi igunakanu ntukm enelaafhu ngpir eligi danf tngsi sosial,d enganprosedupr engumpuladna ta yaituo bservaspi arBipasiw, awancarma endalamd anstudi dokumentasi. Hasilp enelitianin i membawap erolehanke simpulanb ahwap ertamakeberadaatand isi NaikA ym di desall andil Bakti sejakd ahulus ampasi ekarugmasihd ilakukank arenam erupakaunp acaras ydkurk epadaA llah Subhanahuwata'alaa tast itipany angd ipercayaakakne padau matnyay angb erupab ayi.E sensdi aritadisi ini adalahp emberiana mak €padas €oranga nakd alamw aktut ertentud anbiasanynaa mat ersebudt ihubungkadne ngana yat-ayaAt l Qur'an.K eduap rosespelaksanaaMnc i k Ayuni ni membawasu ,atud ampaky angs angabt ailqy aitumengharapkan aky angd iberin amai ni dapatm enjadia naky angs olehb, erbaktikepadake duao rangt uanyad anb ergunab ag nusad anb angsas ertat erhindard aribencanaK-e tigau ntukk ondisis osialb udayas angamt endukunmg asih& rgolongdalamk ategorlie stari,a rtinyak ebudayaayna ngm erupakawn arisanr nasala mpaumasiht€rpelihaxsa mpasi elcarandga nm asihr elevand enganp erkembangazna nan,bahkanm enjadi kebanggaanm asyarakast etempatK. eempatt radisi Naik Ayunterdapatk omponen-komponerne ligi yang saling berkaitany angt idak dapatd ipisahpisahkan. K omponen-komponenre ligi tersebut (1) sistemk eyakinan( 2) sistememosik eagamaan(3 ) sistemr itus dan upacara( 4) peralatanr itus dan upacara( 5)pengikut,[u"-a. Hal ini nampakp ada( l) masihk uatnyak epercayaamn asyarakatpadi.oh halus, kekuataan sakti dun alam gaib. (2) adausaha dalam masyarkat untukmenjalin hubungan dengan kekuatan gaib yang berupa upacara adat Naik Ayun. (3)masyarakaKt utai menggunakans aranau pacutraa datN aik Ayun untuk mengadakankoniak dengan roh leluhur. (4) setiap upacara religi terdapat peralatan upacara yangpenuh dengan simbol-simbol dalam kaitannya dengan usaha pendukug upacarai"ng* roh--rohh alusy ang merupakanb agiani ntegral dalam prosesiu pacarar eligiO- tSi pengtkutu pacamd ari masyarakayt ang masih selalum engadakantr adisit"tr"tut. D; fung;i tadisi Naik Ayundalam hubungan den91 sistemreligi adalahsebagasi aranap enghuUungd engand unia gaib, sehinggam endapatkanterkah,panjang umut, iasJaman, rasa keteraman dan selamat. Fungsi lain adalah fungsiiosial dimanah al ini merupakans alahs atuc ara mengurangip erbedaans fratifikasiyang adad i masyarakatf,u ngsi sosial ini membuahkanh asil yang meningkatkanr asasolidaritas dalam mayarakat yang kemudian rasionalnya dalam bentuk gotongroyong.U ntuk saranh endaknyap enelitian lebih lanjut meneliti tetangt radisi Naik Ayun dilihat dari segi pariwisatanya

Studi tentang pengenalan dan penggunaan warna pada kegiatan mewarnai gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang / Heri Sugianto

 

ABSTRAK Sugianto, Heri. 2009. Studi Tentang Pengenalan dan Penggunaan Warna Pada Kegiatan Mewarnai Gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Ida Siti Herawati, M.Pd, (2) Drs. Andi Harisman. Kata Kunci: Pengenalan Warna, Penggunaan Warna Pengenalan warna merupakan kegiatan yang paling dasar yang akan mendukung kegiatan penggunaan warna pada kegiatan mewarnai gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang. Oleh karena itu, sangat tepat sekali bila anak-anak diwajibkan belajar mengenal warna sejak usia dini. Dari pengalaman mewarnai, anak-anak akan memperoleh banyak keuntungan, karena warna-warna tidak hanya sebagai alat kreatif, tetapi juga menjadi alat ekspresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengenalan warna dan untuk mengetahui warna-warna yang sering digunakan dalam kegiatan mewarnai gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang. Warna-warna yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: warna primer yang meliputi warna merah, kuning dan biru; warna sekunder yang meliputi warna jingga, hijau dan ungu; warna tersier yaitu warna cokelat; dan warna neteral yang meliputi warna hitam dan putih. Warna-warna tersebut didapat dari alat mewarna krayon dan pensil warna yang biasanya digunakan dalam kegiatan mewarnai gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang mengarah pada pendekatan kuantatif. Dalam kegiatan penelitian ini, peneliti tidak merumuskan hipotesa, karena tidak bermaksud untuk membuktikan sesuatu, melainkan hanya mendeskripsikan apa yang menjadi rumusan masalah dari hasil yang terdapat di lapangan. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan instrumen tes pengenalan warna dan tes penggunaan warna. Tes dilakukan untuk mengetahui pengenalan warna dan penggunaan warna dalam kegiatan mewarnai gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang. Sedangkan observasi dilakukan untuk mengetahui warna-warna apa saja yang sering digunakan dalam kegiatan mewarnai gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua anak-anak kelas I di SDN I Percobaan Malang sudah mengenal warna, yaitu warna primer ( merah, kuning, biru), warna sekunder (jingga, hijau, ungu), warna tersier (cokelat), dan warna neteral (hitam dan putih). Tidak selalu warna-warna cerah dan mencolok yang digunakan anak-anak. Dari hasil tes penggunaan warna yang dilakukan pada penugasan mewarnai gambar di kelas I SDN I Percobaan Malang, menunjukkan bahwa warna coklat (bukan warna cerah) dan warna hitam juga banyak sekali digunakan dalam mewarnai gambar. Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa, warna gelap cenderung dikenal dari pada warna terang,dan warna-warna tidak cerah seperti warna hitam dan cokelat sering digunakan oleh anak-anak kelas I dalam kegiatan mewarnai gambar pada kelas I di SDN I Percobaan Malang.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (2006-2008) / Andik Susanto

 

ABSTRAK Susanto, Andik. 2008. Analisis faktor-faktor yang mempengaruh kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (2006-2008). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Hari, M. Si, (II) Subagyo, S.E, S.H, M.M Kata Kunci: Kebijakan dividen, Rasio Leverage, Rasio likiditas dan Rasio Profitablititas Pada pasar modal para investor menanamkan dananya kepada pihak lain, sebaliknya perusahaan dapat memperoleh dana untuk pembiayaan usaha baik jangka panjang dalam hal ini pasar modal maupun jangka pendek yakni pasar uang. Tujuan investor dalam menanamkan dananya tersebut adalah untuk memaksimumkan kekayaan yang akan diperolehnya baik dari dividen yang dibagikan maupun dari capital gain pada saat saham tersebut dijual. Investor yang dalam menanamkan dananya bertujuan membeli saham untuk investasi akan lebih menginginkan dividen yang besar daripada capital gain, tetapi bila tujuannya untuk berspekulasi maka mereka cenderung memilih capital gain. Oleh karena itu diperlukan adanya kebijakan dividen yang dapat memenuhi harapan investor akan dividen dan yang tidak menghambat pertumbuhan perusahaan, sebab semakin tinggi dividen yang dibayarkan, berarti semakin sedikit jumlah laba yang ditahan, akibatnya akan menghambat pertumbuhan perusahaan dan akan menurunkan harga sahamnya. Dengan demikian laba tidak seluruhnya dibagikan kedalam bentuk dividen namun perlu disisihkan untuk investasi kembali. Kebijakan dividen merupakan kebijakan yang mempersoalkan berapa bagian dari keuntungan perusahaan yang dicapai dalam suatu periode yang sebaiknya didistribusikan kepada para pemegang saham dan berapa yang akan ditahan di dalam perusahaan. Kebijakan dividen ini sangat penting artinya bagi manajer keuangan, karena seorang manajer harus memperhatikan kepentingan perusahaan, pemegang saham, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, dalam menentukan kebijakan dividen seorang manajer perlu mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen, diantaranya: Rasio Leverage, Rasio likiditas dan Rasiom Profitablititas Dengan berbagai pertimbangan yang tersebut diatas perlu dilakukan pembuktian melalui sebuah penelitian dengan menggunakan data-data yang valid. Untuk mengtahui seberapa besar pengaruh leverage, likuiditas dan profitabilitas terhadap kebijakan deviden. Dalam penelitian ini Terdapat 3 variabel babas yang digunakan dan diduga mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat Y (kebijakan dividen). Diantaranya (1) Variabel X1: Leverage, (2) Variabel X2: likuiditas, (3)Variabel X3: Profitabilitas. Populasi/Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008 yang berjumlah 149 persahaan. Sedangkan sampelnya Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 10 perusahaan manufaktur yang listing di BEJ. Dengan ketentuan (1) Perusahaan manufaktur tersebut merupakan perusahaan yang go public dan terdaftar di BEJ selama 3 tahun berturut-turut (periode 2006-2008), (2) Perusahaan manufaktur tersebut memperoleh laba dan membagikan dividen secara berturut-turut selama periode 2006-2008. (3) Perusahaan manufaktur tersebut memiliki kelengkapan data yang memadai dan relevan yang di butuhkan dalam proses analisa data penelitian. Teknik pengumpulan datanya yaitu dengan cara dokumentasi yaitu dengan teknik pengumpulan data dimana peneliti memperoleh data melalui data-data yang ada dalam perusahaan dari pojok BEJ Unibraw dan PDB UM. Dan Analisisnya menggunakan regresi berganda Uji t dan Uji F dengan menunjukkan hubungan spesifikasi antara variabel bebas dengan terikat. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Leverage, Likuiditas, dan Profitabilitas terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang listing di BII tahun 2006-2008 dan Bedasarkan pada hasil uji F menyatakan bahwa dari ketiga variabel dalam penelitian ini terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan. Hasil signifikansi tersebut ditandai dengan nilai signifikansi F < signifikansi α (0,026 < 0,05). Dari uji F tersebut disimpulkan bahwa H1 yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel leverage, rasio likuiditas dan Profitabilitas secara simultan terhadap kebijakan deviden pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008 diterima. Saran yang dapat diajukan dengan temuan yang diperoleh adalah 1. Perusahaan harus menilai baik terhadap factor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen (dalam hal pembayaran dividen atau dividen payout ratio), sehingga keputusan yang diambil dalam menentukan kebijakan dapat diprediksikan lebih akurat, sebab faktor yang mempengaruhinya (baik internal maupun eksternal) sifatnya adalah uncountrolabel. 2. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan supaya penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel yang lebih banyak dan jangka waktu yang lebih panjang, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik, menambahkan factor internal perusahaan baik pertumbuhan asset maupun penjualan, EPS, NPM) dan factor eksternal perusahaan yang mingkin juga berpengaruh terhadap pembayaran dividen misalnya pajak (baik atas dividen maupun atas capital gain) dan kondisi perekonomian. 3. Bagi investor, diharapkan lebih jeli dalam memilih perusahaan dengan melihat segala kemampuan perusahaan dalam hal pertanggungjawaban terhadap pembayaran dividen. Dan hal tersebut bisa dilihat dari beberapa faktor antara lain leverage, likuiditas dan profitabilitas seperti yang telah diteliti dalam skripsi ini. Ketiga faktor seperti leverage, likuiditas dan profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebojakan dividen.

Pengaruh persepsi siswa tentang manajemen kelas dan kemampuan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IS di SMA Negeri 2 Pasuruan / Narulita Sugiono

 

ABSTRAK Sugiono,Narulita. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Manajemen Kelas dan Kemampuan Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akuntansi Kelas XI IS Di SMA Negeri 2 Pasuruan. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Sunaryanto, M.Ed., (II) Dra. Endang Sri A., S.E., M.Si. Ak. Kata Kunci: persepsi, manajemen kelas, kemampuan mengajar, prestasi belajar. Pendidikan merupakan usaha untuk mempersiapkan generasi muda sebagai penerus cita-cita bangsa, untuk itu prestasi belajar siswa perlu untuk ditingkatkan. Peranan guru sebagai manajer dalam kegiatan belajar di kelas sudah lama diakui sebagai salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru dituntut untuk mampu mengelola kelas dan mengelola pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sementara itu, persepsi siswa tentang kedua hal tersebut juga dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa yang akan berdampak terhadap prestasi belajarnya. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Pasuruan untuk menjelaskan (I) pengaruh persepsi siswa tentang manajemen kelas terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Pasuruan, (II) pengaruh persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Pasuruan, dan (III) pengaruh persepsi siswa tentang manajemen kelas dan kemampuan mengajar guru secara simultan terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Pasuruan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IS SMA Negeri 2 Pasuruan tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 112 siswa dan sampel yang digunakan berjumlah 88 siswa. Sedangkan teknik pengambilan data menggunakan teknik simple random sampling (sampel acak sederhana). Instrumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah kuisioner atau angket. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda (multiple regression). Hasil analisis dapat diketahui bahwa persepsi siswa tentang manajemen kelas dan kemampuan mengajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa baik secara parsial maupun secara simultan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial variabel persepsi siswa tentang manajemen kelas guru (X1) dan persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Pasuruan. Dari hasil tersebut juga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan variabel persepsi siswa tentang manajemen kelas (X1) dan persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru (X2) terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Pasuruan. Pengaruh persepsi siswa tentang manajemen kelas dan kemampuan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Pasuruan yaitu sebesar 58,3% sedangkan sisanya sebesar 41,7% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Saran yang dapat diberikan (I) Bagi guru, diharapkan lebih meningkatkan lagi kemampuan dalam mengelola kelas dan pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan prestasi belajar siswa akan lebih meningkat lagi. (II) Bagi siswa, diharapkan dapat mengelola dan memahami dengan baik persepsi yang dimiliki terhadap manajemen kelas dan kemampuan mengajar guru sehingga dapat memberikan pengaruh yang baik pula terhadap prestasi belajar yang diperoleh. (III) Bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakannya yaitu dengan menggunakan variabel lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan memperluas wawasan.

Pembuatan busana pesta dengan hiasan aplikasi dan lekapan burci / Widiarti

 

Saat ini manusia mulai sadar dan mengerti tentang perkembangan busana. Menurut Karomah dan Sawitri (1988:1) “busana adalah segala sesuatu yang kita pakai mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki termasuk pelengkapnya, tata rias wajah, dan tata rias rambut yang melekat pada diri si pemakai termasuk semua benda yang berguna dan menambah keindahan bagi pemakainya”. Model busana selalu berkembang dan tidak pernah berhenti dari waktu ke waktu. Hal tersebut disebabkan kebutuhan manusia terhadap busana merupakan kebutuhan lahiriah yang keberadaannya harus dipenuhi sebagai kebutuhan primer. Namun sejalan dengan perkembangan di dunia fashion, fungsi busana tidak hanya sebagai penutup tubuh dari sengatan panas matahari dan melindungi anggota badan, tetapi juga sebagai media menuangkan imajinasi dan kreasi serta menunjukkan gaya hidup seseorang. Busana pesta adalah busana atau kostum yang dipakai pada saat pesta, dengan disesuaikan pada waktu dan tempat berpesta. Busana pesta biasanya berbentuk gaun yang dirancang khusus dengan menambahkan berbagai aksesoris sebagai pelengkap busana yang tujuannya untuk menimbulkan kesan anggun dan mewah. Menurut Sukarno (2004:10) busana pesta adalah busana yang dikenakan untuk menghadiri suatu perayaan yang bersifat resmi atau meriah, seperti acara resepsi pernikahan dan ulang tahun. Busana pesta merupakan salah satu jenis busana yang digolongkan dalam kelompok busana yang dipakai berdasarkan kesempatan. Busana yang penulis buat adalah mode overall yaitu bagian atas dan celana pendek menjadi satu. Menurut Hornby (2000:940) Overall adalah “a loose piece of clothing like a shirt and trouser/pants in one piece, made of heavy fabric and usually worn over other clothing by workers doing dirty work”. Dengan kata lain overall adalah busana longgar yang bagian atas dan bawah berbentuk celana disambung menjadi satu. Pada umumnya busana overall terbuat dari bahan tebal seperti bahan jeans. Mode overall yang penulis buat yaitu dari bahan katun sutra warna hijau dan bagian atas busana terdapat krah shanghai yang menempel pada ujung aplikasi. Pada bagian depan busana overall tedapat aplikasi yang berbentuk belah ketupat yang menggunakan kombinasi bahan katun sutra warna hijau dan kuning, diatas aplikasi tersebut dihiasi payet yang fungsinya untuk mempertegas motif aplikasi dan untuk menambah keindahan. Busana overall menggunakan bahan tambahan yaitu sifon sutra yang fungsinya untuk menambah kesan anggun dan feminine, sedangkan bagian belakang terdapat tutup tarik. Busana tersebut juga menggunakan vuring silky jepang karena jenis kainnya memiliki sifat lebih lembut dari bahan utama. Penulis memilih katun sutra karena bahannya ringan dan dingin. Kain ini juga memiliki kilau dan serat benang yang rapat, sedangkan alasan penulis memilih mode overall karena busana tersebut sangat simpel dan penulis ingin memberikan inovasi baru dengan cara memodifikasi busana overall menjadi busana pesta yang sesuai dengan trend. Busana overall ini kelihatan lebih anggun dan indah dengan balutan bahan sifon sutra sebagai pelapis, hiasannya juga tidak terlalu mencolok sehingga cocok dengan busana pesta remaja yang dipakai pada waktu pesta siang hari yang bersifat tidak formal. Hal ini sesuai dengan pendapat Chodijah (1982:166) menjelaskan bahwa: “Perbedaan antara busana pesta siang dan busana pesta malam yaitu terdapat pada model busana, warna dan bahan yang digunakan. model busana pesta siang sederhana dan tidak terlalu terbuka, bahan yang digunakan agak lembut dan tidak terlalu berkilau, warna bahan yang dipakai adalah warna yang lembut atau warna pastel. Sedangkan busana pesta malam model busana terlihat mewah, menggunakan bahan yang berkilau dan warna yang dipilih cenderung berwarna gelap dan mencolok. Pada busana pesta yang penulis rancang menggunakan perpaduan 2 warna yaitu kuning dan hijau. Warna adalah salah satu faktor penting yang mendukung penampilan sebuah busana pesta. Yuliawati (2006:8) menjelaskan bahwa: “Pemilihan warna pada pembuatan busana pesta berkaitan dengan kesempatan busana pesta akan dikenakan. Misalnya: untuk kesempatan siang hari, warna yang bisa dipakai adalah warna-warna lembut, seperti merah muda, biru muda, coklat muda dan merah muda. Sedangkan untuk malam hari warna yang bisa dipakai adalah warna-warna yang lebih berani, seperti merah dan hitam”. Menurut Prang (1876:2) warna hijau mempunyai sifat keseimbangan dan selaras sedangkan Warna kuning menggambarkan sesuatu yang bersinar atau bersifat cahaya. Perpaduan dua warna yang serasi dan merupakan warna analogus (memadukan warna yang bersebelahan dalam lingkaran warna yaitu lingkaran warna kuning dan hijau) sehingga warna ini memberi kesan serasi dan seimbang selain itu warna kuning menimbulkan efek cahaya yang dapat mempertegas corak atau motif garis yang ditimbulkan. Aplikasi yaitu menempelkan potongan kain pada kain lain kemudian dijahit menggunakan mesin jahit atau dijahit dengan menggunakan tangan. Menurut Tjahjadi (2007:4) aplikasi berasal dari kata Applique atau Appliquery (bahasa Perancis) yang berarti menempel, melekatkan atau memasang motif pada sebuah busana baik dilakukan dengan mesin jahit ataupun manual dengan tangan. Penerapan teknik aplikasi dipilih karena untuk menepis anggapan bahwa aplikasi itu indah jika diterapkan pada busana anak dan lenan rumah tangga saja, padahal dengan daya kreatifitas yang tinggi teknik ini juga dapat diterapkan pada busana pesta dan mampu memberi nilai keindahan. Selain itu, dengan penerapan teknik aplikasi kita bisa lebih bebas menuangkan kreatifitas dalam pembuatan sebuah busana. Sedangkan burci dipakai untuk memberi hiasan pada aplikasi karena permukaannya yang mengkilat dapat mempertegas motif aplikasi dan dapat menambah kesan mewah pada busana pesta.

Prototype electrostatic precipitator penangkap debu pada sirkulasi udara ruangan / Muhamad Imron

 

Pemanfaatan kubus satuan untuk meningkatkan hasil belajar pengukuran volume balok siswa kelas V SDN Kedawung Wetan IV Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan / Dwi Sri Astutik

 

ABSTRAK Astutik, D.S. Pemanfaatan Kubus Satuan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pengukuran Volume Balok Siswa Kelas V SDN Kedawungwetan IV Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan KSDP, FIP Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Sumanto, M.Pd. (2) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Kubus Satuan. Pengukuran Volume, Hasil Belajar, SD Hasil observasi ditemukan bahwa siswa di SDN Kedawungwetan IV Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan jarang menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media. Sebagian siswa merasa bosan dan kurang bergairah dalam pembelajaran sehingga siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan kelas 75%. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan menggunakan media sangat tepat dan dianjurkan sebagai alternative proses pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan pemanfaatan kubus satuan dalam pembelajaran volume balok pada siswa kelas V SDN Kedawungwetan IV Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan, 2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas V pada pengukuran volume dengan menggunakan kubus satuan di SDN Kedawungwetan IV Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 (dua) siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kedawungwetan IV. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan tes. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa pedoman wawancara, pengamatan guru dan postes. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa pada pra tindakan rata-rata kelas 21,95 dengan ketuntasan belajar 4,9%. Pada siklus I mencapai rata-rata kelas 66 dengan ketuntasan belajar 60,5%, sedangkan pada siklus II mencapai rata-rata 99, sehingga ketuntasan belajar kelas mencapai 100%. Kesimpulan dari penlitian ini yaitu penggunaan kubus satuan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari pra tindakan mendapat rata-rata 21,95 dengan ketuntasan belajar 4,9% menjadi 66 dengan ketuntasan belajar 60,5% pada siklus I. Kemudian mengalami peningkatan yang signifikan lagi pada siklus II menjadi 99 dengan ketuntasan 100%. Kesulitan yang dialami peneliti selama penelitian tindakan kelas tentang penggunaan kubus satuan pada pengukuran volume balok, media yang diugunakan siswa kurang menyeluruh sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa. Selanjutnya peneliti menyarankan kepada guru, agar dapat menggunakan media pada pembelajaran matematika, dengan demikian siswa dapat mengembangkan potensi diri. Alokasi waktu untuk pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media perlu diperhatikan karena hal itu yang menentukan keberhasilan dari pembelajaran tersebut. Pembelajaran dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan perbandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Penggunaan teknik batang napier untuk meningkatkan prestasi belajar pada operasi perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SDN Watestani 04 Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Epuk Suswati Rahayu

 

Abstrak: Matematika merupakan salah satu pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rendahnya prestasi belajar matematika salah satu penyebabnya daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika kurang. Anggapan bagi sebagian besar siswa matematika merupakan mata pelajaran yang amat berat dan sulit, terutama dalam menyelesaikan soal-soal perkalian. Peneliti berasumsi bahwa dengan menggunakan teknik “Batang Napier”, siswa akan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran matematika operasi perkalian bilangan cacah sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penggunaan teknik “Batang Napier” untuk meningkatkan prestasi belajar matematika operasi perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SDN Watestani 04 Kecamatan Nguling, (2) peningkatan prestasi belajar matematika operasi perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SDN Watestani 04 Kecamatan Nguling setelah menggunakan teknik “Batang Napier”. Subjek penelitian ini siswa kelas IV SDN Watestani 04 sebanyak 20 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Instrumen yang digunakan tes dan lembar observasi. Teknik analisis data yang dipakai rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik “Batang Napier”untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SDN Watestani 04 dilakukan dengan cara siswa mengerjakan soal operasi perkalian dengan teknik batang Napier, kemudian ditukar dengan siswa lain. Selanjutnya secara bergilir mengerjakan di papan tulis. Peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dari nilai rata-rata pada pratindakan 52,5, pretes dan postes pada siklus I meningkat dari 55,5 menjadi 64. Sedangkan pada siklus II nilai pretes dan postes juga meningkat dari 72,5 menjadi 84,7. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini: (1) penggunaan teknik “Batang Napier”dapat meningkatkan prestasi belajar matematika operasi perkalian bilangan cacah siswa kelas IV SDN Watestani 04 dilakuan dengan cara siswa mengerjakan soal perkalian selanjutnya ditukar dengan siswa lain kemudia secara bergilir dikerjakan di papan tulis, (2) peningkatan prestasi belajar dapat dilihat dari nilai rata-rata pratindakan, pretes dan postes pada siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) guru dalam pembelajaran matematika hendaknya memilih salah satu teknik pembelajaran dengan menggunakan “Batang Napier” agar tujuan matematika tercapai, (2) sekolah hendaknya menyediakan prasarana yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran matematika, (3) dinas pendidikan hendaknya selalu memberikan bimbingan terhadap guru tentang strategi dan teknik pembelajaran matematika, (4) penelti lain diharapkan dapat mengadakan penelitian dengan teknik lain untuk bilangan pecahan dan bulat negatif.

Hubungan antara social interest dengan self control pada remaja pelaku index offenses di lembaga pemasyarakatan anak Blitar / Ayu Dyah Hapsari

 

ABSTRAK Hapsari, Ayu Dyah. 2009. Hubungan antara Social Interest dengan Self Control Pada Remaja Pelaku Index Offenses di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. Skripsi. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Sri Weni Utami, M.Si, (2) Anies Syafitri, M.Psi, Psikolog. Kata kunci: social interest, self control Seringkali remaja mengalami kesulitan untuk mengontrol diri. Kurangnya kemampuan self control remaja akan berdampak buruk, salah satunya adalah munculnya kenakalan remaja index offenses. Individu mempelajari pola-pola tingkah laku, baik tingkah laku pro-sosial maupun anti-sosial, yang dipelajari dalam keluarga, sekolah, dan teman sebaya. Apabila proses sosialisasi ini berjalan konsisten, batasan sosial terbentuk antara individu dengan unit sosial, dan batasan sosial ini akan mempengaruhi tingkah laku dengan terbentuknya kontrol informal untuk tingkah laku di masa mendatang. Individu dengan social interest yang baik, akan mengembangkan self control yang baik pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengungkap hubungan antara social interest dengan self control pada remaja pelaku index offenses di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar. Social interest adalah suatu ketertarikan dan perhatian individu terhadap lingkungan sosial untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya secara kooperatif, peka, dan bertanggung jawab agar dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sosialnya. Self control adalah suatu kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku, agar menjadi individu yang bertanggung jawab untuk membimbing, mengarahkan, dan mengatur segala bentuk tingkah lakunya yang pada akhirnya akan membawa pada suatu konsekuensi positif yang diharapkan. Penelitian ini dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar, dengan jenis penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Subjek yang dijadikan sampel penelitian adalah remaja pelaku index offenses di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar yang berstatus anak negara dan narapidana sebanyak 60 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala social interest dan skala self control dengan menggunakan model penskalaan Likert. Dari hasil uji coba diperoleh 34 dan 32 butir item valid dengan reliabilitas sebesar 0,93 dan 0,914. Analisis deskriptif menggunakan mean dan standar deviasi. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan social interest remaja pelaku index offenses sebagian besar berada di kategori rendah yaitu sebesar 33,34% (20 orang), dan self control remaja pelaku index offenses juga berada di kategori rendah sebesar 31,67% (19 orang). Dari hasil analisis korelasional diketahui bahwa terdapat hubungan positif antara social interest dengan self control pada remaja pelaku index offenses (rxy= 0,711; p=0,000), hal ini berarti bahwa hipotesis awal penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan remaja pelaku index offenses dapat mengembangkan social interest yang selanjutnya akan meningkatkan self control. Remaja diharapkan mampu menggunakan self controlnya untuk tujuan jangka panjang, dapat menghindari perilaku yang merugikan, dan mengganti perilaku tersebut dengan perilaku yang lebih baik.

Efektivitas pembelajaran problem posing dalam meningkatkan proses belajar, motivasi dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah kimia dasar I FKIP Universitas Tadulako / Kasmudin Mustapa

 

ABSTRAK Mustapa, Kasmudin. 2009. Efektivitas Pembelajaran Problem Posing Dalam Meningkatkan Proses Belajar, Motivasi dan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Kimia Dasar I FKIP Universitas Tadulako. Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dra. Srini M Iskandar, M.Sc., Ph.D., (II) Dra. Surjani Wonorahardjo., Ph.D. Kata Kunci : Pembelajaran Problem Posing, Proses Belajar, Hasil Belajar, Motivasi Belajar. Upaya peningkatan kualitas di bidang pendidikan memiliki peranan penting untuk pencapaian kemajuan di segala bidang. Salah satu indikasi tingginya kualitas suatu pendidikan ditentukan oleh prestasi, motivasi dan proses belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas. Agar tujuan proses tersebut dapat tercapai maka diperlukan suatu paradigma baru dalam pembelajaran kimia, yakni paradigma konstruktivis yang merupakan suatu pendekatan kegiatan belajar mengajar yang dapat melibatkan mahasiswa secara aktif dalam pembelajaran, salah satunya dengan penerapan pembelajaran Problem Posing (merumuskan soal/masalah). Penerapan pembelajaran Problem Posing merupakan strategi pembelajaran yang diadaptasikan dengan kemampuan mahasiswa, dan dalam proses pembelajarannya membangun struktur kognitif mahasiswa serta dapat memotivasi mahasiswa untuk lebih berfikir kritis dan kreatif untuk merekonstruksikan pikiran-pikirannya, dalam pengajuan masalah (merumuskan soal). Pendekatan problem posing itu dapat pula memacu kreativitas belajar mahasiswa dan mereka termotivasi untuk meningkatkan proses dan hasil belajar yang tinggi. Masalah dalam penelitian ini mencakup: (1) Apakah pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Kimia Dasar I? (2) Apakah pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan kualitas proses belajar mahasiswa pada mata kuliah Kimia Dasar I? (3) Bagaimana motivasi mahasiswa terhadap penerapan pembelajaran Problem Posing pada mata kuliah Kimia Dasar I? Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi experiment atau eksperimen semu dan dianalisis secara statistik dan deskriptif. Sampel penelitian adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Universitas Tadulako Tahun Akademik 2008/2009 Semester Satu (Ganjil). Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan rata-rata tes akhir kelompok eksperimen (61.3462) lebih tinggi dari pada rata-rata tes akhir kelompok kontrol (52.1538). Data hasil observasi selama proses pembelajaran berlangsung diambil dari jumlah total rata-rata pertemuan I sampai VI, dengan ketetapan butir Skor maksimal : 5 x 32 = 160 dan Skor minimal : 1 x 32 = 32 dengan rata-rata berada pada kategori berkualitas yaitu 120,3 ini sesuai dengan range/kategori setiap skala yang ditentukan pada setiap indikator pengamatan. Sementara tingkat kemampuan Problem Posing mahasiswa adalah: pada tahapan pertama sebesar 139 atau 53,5%, tahapan kedua sebesar 148 atau 57,0%, dan tahapan ketiga sebesar 160 atau 61,5%. Sehingga dikatakan mengalami peningkatan dari segi kemampuan mahasiswa dalam merumuskan soal/pertanyaan dan dapat mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pendekatan Problem Posing. Hasil motivasi mahasiswa terhadap penerapan pembelajaran Problem Posing berada pada kategori tinggi dengan kriteria positif yaitu 79,75% dengan persen rata-rata berada pada ≥ 60%. Tingkat keberhasilan prestasi mahasiswa dapat pula dilihat dari semakin tinggi tingkat motivasi mahasiswa maka hasil belajarnya akan semakin tinggi pula. Maka dapat disimpulkan bahwa, penerapan pembelajaran Problem Posing dapat meningkatkan proses belajar, motivasi dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Kimia Dasar I. ABSTRACT Mustapa, Kasmudin. 2009. The Effectivity of Problem Posing Instruction in Increasing the Learning Process, Motivation, and the Students’ Learning Achievement on the Basic Chemistry Course I, Faculty of Teacher Training and Educational Sciences, State University of Tadolako, Thesis, Graduate Program in Chemistry Education, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dra. Srini M. Iskandar, M.Sc., Ph.D., (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Key Words: Problem Posing Instruction, Learning Process, Learning Achievement, Learning Motivation The effort to increase the quality of education has an important role to achieve progress in all fields. An indicator of a high quality of education is determined by learning process in the classroom, learning motivation, and learning achievement. To achieve a good process needs a new paradigm in the Chemistry instruction i.e. constructivism paradigm. It is an approach of teaching and learning activities by applying the problem posing to make the students participate actively during the lesson. The application of problem posing is a strategy adjusted to the ability of the students, and during the process of instruction it can build up cognitive structure of the students and motivate the students to think more creatively in order that they can reconstruct their own opinions in formulating the problems. The problem posing approach can also accelerate the students’ creativities and they are motivated to increase the process and high learning achievement. The problems of this study include: (1) Can the problem posing instruction increase the learning achievement of the students on the course of Basic Chemistry I? (2) Can the problem posing instruction increase the quality of the students’ learning process on the course of Basic Chemistry I? (3) How is the students’ motivation towards the application of problem posing instruction on the course of Basic Chemistry I? The research design used is Quasi Experiment, and the data are analyzed by means of statistical and descriptive techniques. The samples of the research are the students of the Study Program of Chemistry Education, the State University of Tadulako, Odd Semester, the Academic Year of 2008/2009. Based on the research results, the averages of the scores of experiement group is higher (61.3462) than the scores of the control group (52.1538). The observation data during the process of instruction are obtained by acummulating the averages of the class meetings that is class meeting I to Class meeting IV, and criteria of the maximal score is by five multiplied by 32 (5 X 32 = 160) , while the minimal score is by one multiplied by 32 (1 X 32= 32). The average is at the qualified category i.e. 120.3. This agrees with the range/category of each of scale determined by each of observational indicator. Meanwhile, the level of ability of the students’ problem posing is as follow. At the first phase it is 139 or 53.5%, at the second phase it is 148 or 57.0%, and at the third phase it is 160 or 61.5%. Based on these averages, it can be said that the application of problem posing can increase the ability of the students in formulating the question items, and they can follow the process of instruction with the application of problem posing. The motivation of the students towards the application of problem posing instruction is at the high category with positive criteria i.e. 79.75% and its percentage average is at ≥ 60%. The level of the students learning achievement can be seen at: the higher the motivation level of the studentsis the higher their learning achievement. Based on this finding, it can be concluded that the application of problem posing instruction can contribute to increasing the learning process, the students’ motivation, and the students learning achievement on the subject of Basic Chemistry I.

Teori keberhasilan-kegagalan pendampingan anak jalanan / Sri Wahyuni

 

ABSTRACT Wahyuni, Sri. 2009. Theory of Successes-Failings on Accompanying Street Children. Thesis. Out of School Department, Postgraduate Program, the State University of Malang. Advisor: (I) Dr. Sanapiah Faisal, (II) Dr. M. Djauzi Moedzakir, M. A. Key words: Success-failing, accompanying, street children. The effort of protecting street children has a purpose to warrant the fulfillment of children’s right to live, grow, develop and participate optimally in accordance with human dignity, and to receive protection from vandalism and discrimination, so as to develop qualified, morale, and prosper children (verse 3 UURI no. 23/2002). Accompanying street children at drop in centre is one way in protecting those kids. This effort is important regarding to the increasing amount of street children. However, there are always hindrances that prevent the implementation which lead to ineffectiveness, as proven in the research of Dana Mandiri Trust that the accompanying implementation in East Java is strictly following the standards of Social Service and paying less attention to strengths and weaknesses aspects of the children which make ineffective implementation. One example of ineffectiveness is the fact that many children get back to their street life after having had an accompanying program, despite the implementation and great financial cost. However there were street children who succes left their street life. Why are there success street children and fail street children while they have similar background and join in similar accompanying model? What theory can be constructed from the data to explain the succes-failing accompanying? These are the focuses of the research. The research aims at formulating a theory based on the data that will explain successes and failings in accompanying street children. The approach used was qualitative approach by using grounded theory research strategy. The research took place at Insan Mandiri ‘Aisyiyah drop in centre (Rsg IMAs), Regency of Malang that was located at Perum Tunjungtirto, Tunjungtirto Village, Subdistrict of Singosari. Participants that were invited as research sources were 13 people, 10 of which were still undergoing street-living; and 3 of which succes left their street life; those 13 children were protégés of Rsg IMAs for 2006-2008. The age of the participants ranged from 15 to 21 years old. The data was collected through in depth interview, participative observation, and documentary study. The collected data was then analyzed by Constant Comparative Analysis method that used the combination of Glaser and Creswell models which had 4 stages as follows: (1) developing categories based on information or field data record, (2) combining the categories with the sub-categories, (3) connecting each category to another so that theoretical framework would be visible, and (4) writing theory or building a story which would connect those categories. The research found a success-failing theory in accompanying street children, which pointed out that the success of the accompanying was greatly influenced by the children’s mindset. The accompanying program would be succesful if it could drive the children’s mindset from negative side to the positive one; i.e, it could replace the perspective of being unable to do something, meaningless, no worth life goal, and free of responsibility with the perspective of being able to do something, meaningful, worth life goal, and responsible. That theory construction was concluded in one concept that explained the success-failing phenomenon in assisting the kids, named as the “mindset revolution”. This concept explained that accompanying street children would be fruitful if it can touch and eventually change the children’s mindset; otherwise, it would fail it the accompanying focused solely in the kids’ hard skills. The validity was tested by using credibility test, transferability test, dependability test, and confirmability test formulated by Lincoln and Guba. A credibility test was held through extended observation, accuration improvement, triangulation, peer discussion, negative case analysis, and member check techniques. Transferability test was held by exposing the details of research setting, while dependability and confirmability tests were held by showing the result of the whole research process. This research may become a reference for Nonformal and Informal Education researches, especially the ones concerning on practicing and development programs. The developed theory may also be useful as a consideration for practitioners of street children practicing and development programs in constructing a more effective and creative accompanying model based on a distinct theory in order to avoid “malpractice” in taking care of street children . This theory is also applicable as the basis in developing accompanying programs towards society groups similar to street children. One question that needs follow-up research is what sort of practicing on accompanying model is appropriate to lead street children’s mindset.

Hubungan gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar, dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa SMA negeri di Kota Malang / Liliek Rahayu

 

Abstrak Rahayu, Liliek. 2009. Hubungan Gaya Pengasuhan Orang tua, Disiplin Belajar, dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri di Kota Malang. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd. Kata Kunci: prestasi belajar, pengasuhan orangtua, disiplin belajar, motivasi belajar. Gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar dan motivasi belajar merupakan penentu prestasi belajar siswa. Sehubungan dengan itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) hubungan antara gaya pengasuhan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, (2) hubungan antara disiplin belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, (3) hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, (4) hubungan secara bersama-sama antara gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar, dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, serta untuk mengetahui variabel mana yang paling dominan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif yaitu suatu kegiatan mengumpulkan dan menganalisis data dalam bentuk angka-angka atau diangkakan. Rancangan penelitian menggunakan deskriptif korelasional (Fraenkel & Wallen,1993) untuk menguji kemungkinan hubungan antara masing-masing variabel bebas, yakni gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar dan motivasi belajar siswa hubungannya dengan variabel terikat prestasi belajar siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X tahun pelajaran 2007/2008 pada SMA Negeri di Kota Malang yang berjumlah 2509 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Cluster sampling (Area Sampling), agar tidak terjadi pemusatan di wilayah tertentu, tetapi menyebar seluruh wilayah Kota Malang. Ukuran sampel ditentukan dengan menggunakan tabel Krejcie, dimana perhitungan ukuran sampel didasarkan atas kesalahan 5%. Sampel yang diperoleh mempunyai kepercayaan 95% terhadap populasi, bila jumlah populasi 1300 maka sampelnya 297. Pada penelitian ini jumlah populasi berdasarkan sampel sekolah adalah 1284 siswa dibulatkan menjadi 1300 siswa, maka jumlah sampelnya adalah 297 siswa. Data gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar dan motivasi belajar siswa dijaring dengan menggunakan instrumen kuesioner yang terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Data prestasi belajar siswa diperoleh dari dokumen berupa buku rapor siswa kelas X semester genap tahun pelajaran 2007/2008. Selanjutnya data dikumpulkan dan dianalisis dengan menggunakan statistik program komputer (SPSS 16.0), baik teknik analisis deskriptif, uji kelayakan, analisa korelasi Product Moment, dan analisa regresi ganda untuk pembuktian hipotesis penelitian. Berdasarkan hasil analisis data dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) gaya pengasuhan orangtua memiliki hubungan positif yang signifikan dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, (2) disiplin belajar memiliki hubungan positif yang signifikan dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, (3) motivasi belajar memiliki hubungan positif yang signifikan dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, dan (4) secara simultan (bersama-sama) gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar dan motivasi belajar siswa memiliki hubungan positif yang signifikan dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, artinya bahwa prestasi belajar siswa tidak dapat dilepaskan dengan aktivitas gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar dan motivasi belajar. Sumbangan efektif gaya pengasuhan orang tua terhadap prestasi belajar siswa sebesar 12,3%, motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa sebesar 6,4%, dan disiplin belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa sebesar 6,0%. Dalam hal ini gaya pengasuhan orang tua lebih dominan peranannya terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan dengan disiplin belajar dan motivasi belajar. Berdasarkan temuan penelitian di atas, disampaikan saran-saran sebagai berikut : (1) dalam rangka pengembangan ilmu Manajemen Pendidikan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, perlu upaya yang lebih intensif berkaitan dengan gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar dan motivasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang secara bersama-sama, (2) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur maupun Kota Malang agar senantiasa memberikan pembinaan kepada Kepala Sekolah berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar siswa, (3) Pengawas Sekolah di Kota Malang agar tetap menjalin hubungan kerja yang konstruktif dengan Kepala Sekolah dan guru-guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar, dan menumbuhkan motivasi belajar siswa yang sesuai di SMA Negeri Kota Malang, (4) Kepala SMA Negeri di Kota Malang agar tetap memberikan pembinaan/bimbingan kepada guru dalam hal penanganan gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar, dan motivasi belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, (5) Pihak-pihak terkait seperti: orang tua, kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, guru pembina OSIS, guru BK, dan guru tim tatib, perlu lebih berperan aktif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, gaya pengasuhan orang tua, disiplin belajar, dan motivasi belajar siswa SMA Negeri di Kota Malang, dan (6) Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji kemungkinan terjadinya pergeseran perilaku siswa terhadap belajar di perpustakaan, hubungan iklim belajar yang kondusif di sekolah dan di rumah, kinerja kepala sekolah dan guru, sarana dan prasarana pendukung belajar, kesejahteraan guru, kurikulum dan strategi belajar mengajar dengan prestasi belajar siswa. ABSTRACT Rahayu, Liliek. 2009. The Relationship Between Parent’s Care Style, learning Discipline, as well as Learning Motivation and Learning Achievement of Students at the State Senior High Schools in Malang. Thesis, A Study Program of Educational Management, Postgraduate Program of State University of Malang. Supervisor: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd. Keywords: learning achievement, parent’s care, learning discipline, learning motivation The style of parent’s care, learning discipline, and learning motivation has become the determinant of the student’s achievement. Therefore, objectives of this research are to analyze: (1) relationship between style of parent’s care and student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, (2) relationship between learning discipline and student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, (3) relationship between learning motivation and student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, (4) simultaneous relationship between style of parent’s care, learning discipline, as well as learning motivation, and student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, and to find out the most dominant variable. This research used a quantitative approach that is an activity to collect and analyze data in the form of numbers or it is being numbered. The research used descriptive correlational design (Fraenkel & Wallen, 1993) that is to examine the possible relationship between each independent variable, which includes parent’s care style, learning discipline and learning motivation of the students in relation with dependent variable of the student’s achievement. Population of this research is all tenth-grade students at the State Senior High Schools in Malang during the academic year of 2007/2008, which comprise of 2509 students. The sample was taken by using Cluster sampling technique in order to avoid centering on certain area, but it should spread over the area of Malang. Sample measurement will be determined using Krejcie’s table, in which calculation of the sample measurement was based on 5% errors. The trust level of the sample toward population was 95% in which number of the sample was 297 out of 1300 population. On this research, number of population based on the school’s sample was 1284 students and rounded off into 1300 students, therefore, number of the sample was 297 students. Data of the parent’s care style, learning discipline and learning motivation of the students was collected using questionnaire instrument which has passed through both validity and reliability tests. Data of the student’s achievement was obtained from documents, such as, school report of the tenth-grade students during even semester in academic years of 2007/2008. Then, the data will be collected and analyzed using computerized-statistics program (SPSS 16.0), descriptive analysis technique, proper test, correlation Product Moment analysis, and multiple regression analysis in order to prove hypothesis of the research. Based on data analysis results, some conclusions are drawn as follow: (1) parent’s care style has significant relationship with the student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, (2) learning discipline has significant relationship with the student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, (3) learning motivation has significant relationship with the student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, and (4) parent’s care style, learning discipline, and learning motivation have simultaneously positive significant relationship with the student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, it means that the student’s achievement cannot be separated from activities of parent’s care style, learning discipline and learning motivation. The effective contribution of the parent’s care style toward the student’s achievement is 12,3%, learning motivation toward the student’s achievement is 6,4% and learning discipline toward the student’s achievement is 6.0%. However, parent’s care style has more dominant role toward the student’s achievement in comparison with learning discipline and learning motivation. Based on findings of the research above, some suggestions are given as follow: (1) in developing Educational Management science to improve the student’s achievement at the State Senior High Schools in Malang, more intensive efforts should be done in relation with simultaneous parent’s care style, learning discipline, and learning motivation of the students at the State Senior High Schools in Malang, (2) Department of Education, East Java Province as well as Malang Municipality should develop the Principals to improve the student’s achievement, (3) School’s Superintendent of Malang should maintain constructive working relationship with the Principals and teachers in order to improve the student’s achievement, parent’s care style, learning discipline, and develop appropriate learning motivation at the State Senior High Schools in Malang, (4) The Principals of State Senior High Schools in Malang should guide the teachers in handling parent’s care style, learning discipline, and learning motivation in order to improve the student’s achievement, (5) Related parties such as: parent, principals, teacher of each subject, homeroom teacher, Leader of the Student’s Organization of Intra-School, Counseling teacher, and team of teachers for disciplinary matters should play their roles more actively in improving the student’s achievement, parent’s care style, learning discipline, and learning motivation of the students at the State Senior High Schools in Malang, and (6) further research should be performed to review any possibility of the student’s behavioral change toward learning in library, conducive climate for study both at schools and home, performance of the principals and teachers, means and infrastructures which support the study, teacher’s prosperity, curriculum and strategy for teaching and learning process which related to the student’s achievement.

Implementasi rintisan sekolah bertaraf internasional (studi kasus di SMP Negeri 3 Tulungagung) / Desi Dwi Juliana

 

ABSTRAK Juliana, Desi Dwi. 2009. Implementasi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional: Studi Kasus di SMP Negeri 3 Tulungagung. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (2) Dra. Maisyaroh, M. Pd. Kata kunci: rintisan sekolah bertaraf internasional, manajemen sekolah. RSBI merupakan salah satu program dari pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sekolah di Indonesia untuk dapat diterima era global. Pelaksanaan programnya sendiri dilaksanakan selama tiga tahun sebelum dapat menjadi SBI secara utuh. Banyak sekolah di Indonesia yang berjuang untuk mendapatkan posisi sebagai RSBI untuk memperbaiki kualitas sekolah, salah satunya adalah SMP Negeri 3 Tulungagung. Bertolak dari itulah perjuangan SMP Negeri 3 Tulungagung untuk menjadi RSBI dimulai. Setelah ditetapkan sebagai sekolah standar nasional (SSN), SMP Negeri 3 Tulungagung berusaha keras untuk memperbaiki manajemen yang ada di sekolah agar dapat menjadi SSN yang unggul. Pada tahun 2008 (tahun ke tiga menjadi SSN) SMPN 3 Tulungagung resmi menjadi RSBI yang ke dua di Tulungagung. Banyak persiapan-persiapan yang dilakukan pihak sekolah untuk menjadi RSBI. Persiapan tersebut meliputi seluruh aspek manajemen yang ada di sekolah diantaranya manajemen peserta didik, manajemen sumber daya manusia, manajemen kurikulum, dan manajemen sarana prasarana. Keempat substansi manajemen tersebut merupakan kunci utama dari pihak sekolah untuk menjalankan RSBI di SMP Negeri 3 Tulungagung, karena dengan keempat substansi tersebut pihak sekolah dapat memenuhi standar nasional pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan SMP Negeri 3 Tulungagung dari segi manajemen kurikulum, manajemen peserta didik, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen sarana prasarana untuk menuju Sekolah Bertaraf Internasional. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Tulungagung dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara mendalam; (2) observasi; (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi, ditafsirkan dan dianalisis secara berulang-ulang guna penyusunan konsep dan abstraksi temuan lapangan. Kredibilitas data di cek dengan menggunakan teknik triangulasi metode dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di SMP Negeri 3 Tulungagung 60% telah siap untuk mengimplementasikan SBI secara utuh. Banyak perubahan-perubahan yang telah dilakukan oleh SMP Negeri 3 Tulungagung untuk memenuhi standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan pemerintah. Perubahan itu mencakup empat substansi manajemen sekolah yaitu manajemen kurikulum yang sampai saat ini pihak sekolah masih menggunakan KTSP sebagai acuan untuk melaksanakan pembelajarannya, tetapi di kelas RSBI ada penambahan kurikulum yang bersifat bilingual pada mata pelajaran MIPA, TIK, dan Bahasa Inggris. Penambahan kurikulum baru tersebut menambah juga beban jam belajar siswa RSBI yang bersifat full day. Untuk manajemen sumber daya manusia, pihak sekolah melakukan pelatihan bahasa Inggris dan komputer untuk semua staf sekolah termasuk guru dan kepala sekolahnya. Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas guru dan staf dalam menghadapi RSBI berikutnya.Untuk manajemen peserta didik, perubahan yang terjadi yaitu sekolah membuka dua jalur pendaftaran siswa baru yaitu jalur reguler dan jalur RSBI, dimana dalam jalur RSBI ini sekolah membuka dua kelas yang masing-masing berisi 24 siswa, dalam evaluasi pihak sekolah menggunakan sistem on line untuk penyampaian hasil evaluasi dan memberika dua jenis rapor di kelas RSBI yaitu rapor reguler dan rapor yang khusus RSBI yang di dalamnya mencakup empat matapelajaran yaitu MIPA, TIK, dan Bahasa Inggris. Dan untuk manajemen sarana dan prasarana, banyak penambahan dan pembangunan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran RSBI diantaranya dengan pembangunan laboratorium, menambah kelengkapan sarana yang ada di kelas RSBI, menambah layanan kesiswaan, dan yang akan direncanakan untuk tahun berikutnya adalah pembangunan kelas baru untuk kelas RSBI tingkat II. Pengadaan sarana dan prasarana di SMP Negeri 3 Tulungagung dananya berasal dari bantuan orang tua siswa, komite sekolah, dan bantuan dari pemerintah. Dana terbesar di dapat dari pemerintah, karena setiap pengadaan sarana dan prasarana SMP Negeri 3 Tulungagung membuat sebuah proposal pengajuan bantuan dana untuk melengkapi kebutuhan sarana dan prasarana yang kurang. Semua persiapan dan perubahan yang dilakukan di SMP Negeri 3 Tulungagung dengan satu tujuan yaitu menjadikan SMP Negeri 3 Tulungagung menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional yang unggul di Tulungagung maupun di Indonesia, serta mampu dengan cepat menjadi SBI secara utuh. Dari hasil penelitian, saran-saran yang diajukan yaitu: 1) Bagi Kepala Sekolah, di manajemen kurikulum kepala sekolah menambah jam belajar untuk kelas RSBI khusus di hari Sabtu dengan memantapkan pembelajaran bilingual di empat matapelajaran yaitu MIPA, TIK, dan Bahasa Inggris; 2) Bagi Guru Pengajar dan Karyawan, untuk lebih meningkatkan profesionalisme dan semangat kerja keras untuk menerapkan program bilingual yang ada di sekolah agar siswa dapat termotivasi dengan semangat guru dalam mengajar; 3) Bagi peneliti lain, diharapkan bagi peneliti lain untuk dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode dan pemikiran yang berbeda tentang RSBI.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) "upaya peningkatan hasil belajar siswa kelas XI-IPS pada mata pelajaran sejarah di SMA Kertanegara Malang tahun jaran 2008/2009" / Ahmad Taufiqqurrohman

 

ABSTRAK Taufiqqurrohman, Ahmad. 2009. “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray (TSTS), Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas XI – IPS pada Mata Pelajaran Sejarah di SMA Kertanegara Malang tahun ajaran 2008/2009”. Skripsi, Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd.(II) Dr. Hj. Siti Malikhah Towaf, M.A. Kata kunci: Pembelajaran kooperatif, Two Stay Two Stray, Hasil belajar siswa. Berdasarkan observasi awal melalui guru dan siswa menunjukkan bahwa selama ini guru yang mengajarkan mata pelajaran sejarah kelas XI – IPS belum pernah menggunakan pendekatan kooperatif, temasuk model Two Stay Two Stray dalam mengajar di SMA Kertanegara Malang. Permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh guru adalah hasil belajar yang kurang memuaskan. SMA Kertanegara Malang merupakan sekolah yang mempunyai siswa cenderung ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar. Pada saat belajar kelompok anggota yang kurang aktif hanya menggantungkan jawaban temannya yang dianggap pintar, sedangkan siswa yang dipercayakan pintar oleh anggotanya tidak berusaha untuk memotivasi anggotanya untuk bekerjasama memberikan sumbangan pikiran. Tidak ada pembagian kerja yang merata dalam kelompok. Hal tersebut juga berpengaruh pada hasil belajar siswa yang setelah dianalisis bahwa siswa yang kurang aktif di kelas juga menunjukkan hasil belajarnya kurang. Adapun alasan pemilihan kelas berdasarkan pertimbangan dari guru mata pelajaran sejarah pada SMA Kertanegara Malang. SKM individual yang ditetapkan pada mata pelajaran sejarah adalah 70, dari 18 siswa pada kelas XI – IPS hanya 2 siswa yang hasil belajarnya memenuhi SKM individual sebesar 70. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah salah satu pembelajaran kooperatif dengan model Two Stay Two Stray. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 11 Februari sampai 17 Maret 2009. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir belajar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI – IPS di SMA Kertanegara Malang yang terdiri dari 18 siswa. Adapun alasan pemilihan model ini ialah terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompok, siswa dapat bekerjasama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar. Langkah-langkah model ini ialah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, persentasi kelompok. Dengan penerapan model Two Stay Two Stray pada siswa kelas XI – IPS diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang ada dan meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini, diantaranya (1) Bagaimana proses belajar sejarah sebelum diterapkannya model Two Stay Two Stray pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI – IPS di SMA Kertanegara Malang tahun ajaran 2008/2009. (2) Bagaimana hasil belajar sejarah sebelum diterapkannya model Two Stay Two Stray pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI – IPS di SMA Kertanegara Malang tahun ajaran 2008/2009. (3) Bagaimana proses belajar sejarah setelah diterapkannya model Two Stay Two Stray pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI – IPS di SMA Kertanegara Malang tahun ajaran 2008/2009. (4) Bagaimana hasil belajar sejarah setelah diterapkannya model Two Stay Two Stray pada mata pelajaran sejarah siswa kelas XI – IPS di SMA Kertanegara Malang tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yaitu merupakan suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi peneliti, tes, lembar observasi, lembar wawancara, angket, dokumentasi, dan catatan lapangan. Untuk menjawab rumusan masalah yang pertama dan kedua, peneliti menggunakan data kualitatif dengan melakukan observasi awal, wawancara, dan pengamatan langsung dalam kelas. Data kuantitatif diperoleh dari hasil rapot semester I siswa kelas XI – IPS. Sedangkan untuk menjawab rumusan masalah yang ketiga dan keempat, peneliti melaksanakan tindakan penelitian bertindak sebagai guru, memberikan lembar observasi keaktifan guru dan siswa pada pengamat, melaksanakan tes pada tiap akhir siklus, dan melaksanakan wawancara serta merefleksi hasil penelitian dengan pengamat. Peneliti melaksanakan penelitian pada siswa kelas XI – IPS SMA Kertanegara Malang terfokus dalam materi pokok “Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia” pada siklus I dan materi pokok “Upaya-upaya Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia” pada siklus II. Adapun teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada penelitian ini, yakni dengan cara membandingkan persentase ketuntasan belajar secara keseluruhan sebelum diberikan tindakan yang diperoleh dari nilai rapot siswa pada semester I, dengan ketuntasan belajar secara keseluruhan setelah diberikan tindakan pada siklus I maupun siklus II. Terdapat beberapa temuan penelitian diantaranya hasil belajar dapat meningkat, terdapat pembagian kerja yang jelas pada saat berkelompok sehingga siswa tidak lagi ramai saat proses belajar mengajar berlangsung, siswa dapat saling bekerjasama dan menghargai pendapat temannya dalam mengutarakan pendapat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Two Stay Two Stray yang dilakukan dalam mata pelajaran sejarah siswa kelas XI – IPS di SMA Kertanegara Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar sebesar 10,93 % dari sebelum dilakukan tindakan dengan melihat nilai rapor semester I dengan setelah dilaksanakan tes akhir siklus I. Sedangkan hasil belajar siswa dari siklus I telah meningkat sebesar 11,77 % ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disarankan bahwa dalam menerapkan model Two Stay Two Stray hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan oleh guru. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar tidak hanya menilai hasil belajar tapi juga menilai segala aktivitas atau keaktifan setiap siswa dalam melaksanakan langkah-langkah model ini.

Kontribusi supervisi pengawas sekolah, kinerja profesional kepala sekolah dan pengembangan profesionalisme guru terhadap kinerja profesional guru di SMA negeri Kabupaten Jember / Arifiatun

 

ABSTRAK Arifiatun. 2009. Kontribusi Supervisi Pengawas Sekolah, Kinerja Profesional Kepala Sekolah dan Pengembangan Profesionalisme Guru terhadap Kinerja Profesional Guru di SMA Negeri Kabupaten Jember. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II) Dr. H. Imron Arifin M.Pd. Kata kunci: supervisi pengawas sekolah, kinerja profesional kepala sekolah, pengembangan profesionalisme guru, kinerja profesional guru. Penelitian ini dilakukan dengan dilandasi kenyataan bahwa masalah mutu guru masih sangat butuh perhatian karena mutu guru sangat mempengaruhi kinerja profesional mereka yang pada akhirnya berpengaruh pula terhadap kualitas pendidikan. Hal-hal yang berhubungan dengan kinerja guru antara lain adalah supervisi pengawas sekolah, kinerja profesional kepala sekolah dan pengembangan profesionalisme guru. Melalui hal-hal tersebut di atas diharapkan kinerja profesional guru akan lebih meningkat. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui bagaimana supervisi pengawas, kinerja profesional kepala sekolah dan pengembangan profesionalisme guru di SMA Negeri Kabupaten Jember, (2) mengetahui seberapa besar hubungan supervisi pengawas sekolah terhadap kinerja profesional guru di SMA Negeri Kabupaten Jember, (3) mengetahui seberapa besar hubungan kinerja profesional kepala sekolah terhadap kinerja profesional guru di SMA Negeri Kabupaten Jember, (4) mengetahui seberapa besar hubungan pengembangan profesionalisme guru terhadap kinerja profesional guru di SMA Negeri Kabupaten Jember, dan (5) mengetahui manakah diantara variabel bebas supervisi pengawas, kinerja profesional kepala sekolah dan pengembangan profesionalisme guru yang paling besar sumbangannya terhadap variabel terikat kinerja profesional guru. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif korelasional yang mendeskripsikan tentang hubungan supervisi pengawas sekolah, kinerja profesional kepala sekolah dan pengembangan profesionalisme guru dengan kinerja profesional guru Teknik pengumpulan data menggunakan responden 222 guru sebagai sumber data. Teknik penentuan responden menggunakan teknik proporsional random sampling.Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis statistik inferensial dengan analisis regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan: (1) supervisi pengawas berlangsung baik (45,5 %), (2) kinerja profesional kepala sekolah berlangsung baik (56,3 %), (3) pengembangan profesionalisme guru berlangsung baik sekali ( 45,5 %), (4) kinerja guru berlangsung baik (55,3 %), (5) berdasarkan uji linieritas diperoleh bahwa hubungan masimg-masing variabel adalah linier karena signifikansinya <0,05, (6) berdasarkan uji normalitas dengan menggunakan uji Kolomogorof- Smirnov menunjukkan nilai signifikansi > 0,05, dengan demikian variabel-variabel tesebut adalah normal, (7) berdasarkan uji hipotesis maka, (a) supervisi pengawas sekolah tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kinerja profesional guru karena berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai signifikansi supervisi pengawas 0,076 atau > dari 0,05, (b) kinerja profesional kepala sekolah mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kinerja profesional guru dibuktikan dengan hasil analisis yang menyatakan nilai signifikansi kinerja profesional kepala sekolah adalah 0,013 atau < dari 0.05, (c) pengembangan profesional guru mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kinerja profesional guru karena nilai signifikansi menunjukkan 0,006 atau < 0,05, dan (8) besarnya sumbangan efektif masing-masing variabel terhadap variabel kinerja profesional guru adalah: supervisi pengawas sekolah mempunyai sumbangan efektif 19,99 %, kinerja profesional kepala sekolah mempunyai sumbangan efektif sebesar terbesar yaitu 36,61 % dan pengembangan profesionalisme guru mempunyai sumbangan efektif sebesar 30,07 % sehingga secara keseluruhan besarnya sumbangan efektif adalah 86,67%, dengan demikian ada sumbangan efektif sebesar 13,33% berasal dari luar 3 variabel tesebut. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran untuk meningkatkan kinerja guru di Kabupaten Jember: (1) bagi pengawas sekolah, disarankan agar melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan pedoman yang ada sehingga dapat meningkatkan kinerjanya agar kinerja profesional guru juga lebih meningkat, (2) bagi kepala sekolah, disarankan agar meningkatkan kinerja profesionalnya agar kinerja profesional guru juga lebih meningkat, (3) bagi guru, disarankan agar selalu meningkatkan kinerja profesionalnya, antara lain dengan memperoleh pembinaan dari kegiatan supervisi pengawas sekolah, kinerja profesional kepala sekolah, dan melakukan berbagai kegiatan pengembangan profesionalisme. (4)bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, dengan adanya temuan-temuan dalam penelitian ini maka diharapkan agar dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk mengadakan perbaikan dan pengembangan pendidikan yang lebih memadai terutama yang berkaitan dengan supervisi pengawas, kinerja profesional kepala sekolah, pengembangan profesionalisme guru dan kinerja profesional guru, dan (5) bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi tambahan dalam bidang ilmu manajemen pendidikan terutama yang berkaitan dengan supervisi pengawas sekolah, kinerja profesional kepala sekolah, pengembangan profesionalisme guru dan kinerja profesional guru.

Kajian tentang model problem-based learning (PBL) terhadap hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi koloid kelas XI SMA Negeri 7 Malang tahun ajaran 2008/2009 / Nanik Widyastuti

 

ABSTRAK Widyastuti, Nanik. 2009. Kajian Tentang Model Problem-Based Learning (PBL) Terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Koloid Kelas XI SMA Negeri 7 Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (II) Drs. Supardjito Kata Kunci: Problem-Based Learning, koloid, hasil belajar, berpikir kritis Koloid merupakan salah satu materi yang diajarkan di SMA pada semester II kelas XI. Metode pembelajaran yang selama ini sering diterapkan dalam membelajarkan koloid menggunakan metode konvensional. Penggunaan metode ini membuat siswa kurang termotivasi untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga dapat mengakibatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa masih rendah. Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar kimia dan kemampuan berpikir kritis siswa. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kriteria tersebut adalah model pembelajaran PBL. Tujuan penelitian ini adalah : (1) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan PBL dengan siswa yang dibelajarkan dengan metode konvensional, (2) untuk mengetahui dampak penggunaan model pembelajaran PBL terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, dan (3) untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap model pembelajaran PBL. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan eksperimental semu dan rancangan deskriptif. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan PBL dengan siswa yang dibelajarkan dengan metode konvensional. Sedangkan rancangan deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran nyata tentang proses, hasil belajar, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen dan XI IPA 3 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 7 Malang pada bulan Mei 2009 dengan objek penelitian adalah materi koloid. Instrumen pengukuran terdiri dari tes tulis, angket, lembar observasi. Tes yang dilakukan telah divalidasi dan diketahui reliabilitasnya sebesar 0,86. Analisis data dilakukan dengan Uji-t pada signifikasi α = 0,05 dan analisis deskriptif dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil Uji-t menunjukkan bahwa kelas eksperimen mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi daripada kelas kontrol (thitung 6,158 > ttabel 1,99). Kemampuan berpikir kritis pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Persentase siswa kelas eksperimen yang mampu mengerjakan soal kategori kemampuan berpikir analisis, sintesis, kemampuan berpikir kritis berinduksi dan kemampuan berpikir kritis berargumentasi sebesar 85,6%, 86%, 74,1% dan 78,9%. Tanggapan siswa terhadap penggunaan model PBL sebanyak 13,5% menyatakan sangat positif, 64,9% menyatakan positif, 18,9% menyatakan negatif dan 2,7% menyatakan sangat negatif.

Manajemen perpustakaan sekolah (studi kasus di SMP Negeri 5 Malang) / Fadiah Oktiningsih

 

ABSTRAK Oktiningsih, Fadiah. 2009. Manajemen Perpustakaan Sekolah (Studi Kasus di SMP Negeri 5 Malang). Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd; (II) Dra. Maisyaroh, M.Pd. Kata kunci: manajemen, perpustakaan sekolah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab I Pasal 1 menyatakan bahwa: “Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka”. Perpustakaan sebagai lembaga pendidikan dan lembaga penyedia informasi akan memiliki kinerja yang baik apabila didukung dengan manajemen yang memadai, sehingga seluruh aktivitas lembaga akan mengarah pada upaya pencapaian tujuan yang telah dicanangkan. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih dalam tentang manajemen perpustakaan sekolah. Ada lima tujuan dalam penelitian ini yaitu: (1) mendeskripsikan pengorganisasian perpustakaan; (2) mendeskripsikan layanan teknis perpustakaan; (3) mendeskripsikan layanan pembaca perpustakaan; (4) mendeskripsikan manfaat perpustakaan bagi warga sekolah; dan (5) mendeskripsikan keterlibatan warga dalam penyelenggaraan perpustakaan di SMP Negeri 5 Malang. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 5 Malang dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) observasi partisipasi; (2) wawancara mendalam; dan (3) studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini adalah (1) reduksi; (2) display data; dan (3) verifikasi data. Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan beberapa cara yaitu: (1) ketekunan pengamatan; (2) triangulasi; dan (3) pengecekan anggota. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pengorganisasian perpustakaan SMP Negeri 5 Malang, kedudukan perpustakaan berada langsung di bawah kepala sekolah yang didalamnya terdapat pengelola perpustakaan dibantu oleh kader perpustakaan namun perpustakaan sekolah yang merupakan bagian dari sekolah tidak dimasukkan ke dalam struktur organisasi sekolah dan pengelola perpustakaan perlu mengikuti pelatihan perpustakaan untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilannya; (2) layanan teknis di perpustakaan SMP Negeri 5 Malang ditemukan bahwa pengadaan bahan pustaka direncanakan setiap awal tahun ajaran baru, inventarisasi bahan pustaka dengan diinventarisasikan ke dalam buku induk di komputer, pengolahan bahan pustaka dengan memberikan kelengkapan bahan pustaka sampai siap untuk dilayankan namun katalog tidak digunakan untuk penelusuran informasi bahan pustaka, pengaturan dan pemeliharan bahan pustaka dengan mengelompokkan sesuai dengan klasifikasinya dan pemeliharaan dilakukan secara berkala; (3) layanan pembaca di perpustakaan SMP Negeri 5 Malang ditemukan bahwa layanan sirkulasi yaitu layanan peminjaman dan pengembalian sedangkan layanan referensi hanya memberikan layanan informasi; (4) manfaat perpustakaan bagi warga SMP Negeri 5 Malang terutama bagi kepala sekolah, guru dan siswa sebagai sumber informasi yang menyediakan berbagai koleksi bahan pustaka; dan (5) keterlibatan warga SMP Negeri 5 Malang dalam pengelolaan perpustakaan ditemukan bahwa keterlibatan kepala sekolah dalam memberikan kebijakan-kebijakan yang terkait dengan perpustakaan, keterlibatan guru dalam perencanaan pengadaan bahan pustaka, memotivasi siswa untuk memanfaatkan perpustakaan, dan mengajak siswa untuk belajar bersama di perpustakaan, dan keterlibatan siswa dalam kader perpustakaan namun masih belum ada program kerja dari kader perpustakaan tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan adalah (1) bagi Kepala SMP Negeri 5 Malang diharapkan komponen perpustakaan dimasukkan ke dalam struktur organisasi sekolah, pengelola perpustakaan diikutkan dalam pelatihan, dan terus mendukung untuk kemajuan perpustakaan sekolah; (2) bagi pengelola perpustakaan SMP Negeri 5 Malang diharapkan mengikuti pelatihan, menyusun program kerja kader perpustakaan, dan mensosialisasikan tentang pentingnya penggunaan katalog; (3) bagi guru diharapkan terus terlibat dalam perencanaan pengadaan bahan pustaka, memotivasi dan mengajak siswa untuk belajar di perpustakaan; (4) bagi siswa diharapkan memanfaatkan katalog, dan terus terlibat dalam kader perpustakaan; (5) bagi Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan lebih banyak mengkaji tentang manajemen perpustakaan sekolah; dan (6) bagi peneliti lain dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk mengembangkan penelitian sejenis dalam bidang manajemen perpustakaan sekolah.

Hubungan antara kematangan emosi dan penyesuaian sosial pada mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Trenggalek / Yulia Mulyariati

 

ABSTRAK Mulyariati, Yulia. 2009. Hubungan Antara Kematangan Emosi dan Penyesuaian Sosial Pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Trenggalek. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M. Ed (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi., M.Si. Kata Kunci: kematangan emosi, penyesuaian sosial, mahasiswa Akademi Keperawatan. Masa remaja merupakan suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi terutama berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru. Mahasiswa Akademi Keperawatan usia remaja akhir dikatakan telah mencapai kematangan emosi bila tidak meluapkan emosinya dihadapan orang lain, menilai situasi kritis, dan memiliki reaksi emosi stabil. Penguasaan emosi yang baik menjadikan remaja dapat mengendalikan diri terhadap lingkungannya sehingga mampu berpenyesuaian sosial yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti: (1) Untuk mendeskripsikan kematangan emosi mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Trenggalek. (2) Untuk mendeskripsikan penyesuaian sosial mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Trenggalek. (3) Untuk mendeskripsikan hubungan antara kematangan emosi dengan penyesuaian sosial mahasiswa Akademi Keperawatan Pemkab Trenggalek. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa akademi keperawatan usia remaja akhir di Trenggalek sebanyak 100 orang, dengan sampel sebanyak 41 orang mahasiswa Akademi Keperawatan usia remaja akhir di Trenggalek. Subyek mengisi skala kematangan emosi dan skala penyesuaian sosial. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, dan analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematangan emosi mahasiswa Akademi Keperawatan termasuk dalam kategori sedang sebesar 44,34%, dan penyesuaian sosial mahasiswa Akademi Keperawatan usia remaja akhir termasuk kategori sedang sebesar 36,59%. Selain itu juga terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kematangan emosi dan penyesuaian sosial mahasiswa Akademi Keperawatan usia remaja akhir (r = 0,648; p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada: (1) Bagi mahasiswa, melatih mengontrol emosi dan penyesuaian sosial dalam menghadapi suatu situasi dan kondisi, (2) Bagi Akademi Keperawatan Pemkab Trenggalek, orientasi tentang cara belajar dan bersosialisasi pada awal perkuliahan, (3) Bagi perawat senior, memberikan pengarahan perawatan yang baik, (4) Bagi pihak Rumah Sakit, memberikan kepercayaan kepada mahasiswa Akademi keperawatan dalam menempuh matakuliah praktek di Rumah Sakit, (5) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat sebagai acuan untuk mengembangkan penelitian tentang kematangan emosi dan penyesuaian sosial dengan metode yang berbeda.

Pengembangan strategi penggunaan gambar seri untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa kelas VII MTs Negeri Batu tahun pelajaran 2008/2009 / Ita Permatasari

 

ABSTRAK Permatasari, Ita. 2009. Pengembangan Strategi Penggunaan Gambar Seri untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita Siswa MTS Negeri Batu Tahun Pelajaran 2008/2009. Sripsi, Jurusan Sastra Indonesia FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Abdul Syukur Ghazali, M. Pd. Kata kunci: bercerita, media gambar seri. Pembelajaran Bahasa membedakan empat aspek keterampilan kebahasaan yang terdiri atas: (1) keterampilan menyimak, (2) berbicara, (3) membaca, dan (4) menulis. Seluruh aspek keterampilan tersebut terlibat dalam kemampuan bersastra maupun keterampilan berbahasa yang perlu disajikan secara seimbang dan terpadu. Pernyataan tersebut terdapat dalam KTSP 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK (2004). Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat. Dengan demikian, berbicara adalah menyampaikan pikiran, pendapat, ide atau pikiran yang disampaikan kepada orang lain secara lisan menggunakan bahasa yang baik sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima oleh pendengar. Kegiatan bercerita merupakan bagian dari keterampilan berbicara. Kegiatan bercerita juga terdapat dalam kompetensi dan kompetensi dasar satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs). Standar Kompetensi kegiatan bercerita adalah mengekspresikan pikiran dan perasaan melalui kegiatan bercerita. Bercerita merupakan aktivitas menuturkan sesuatu yang mengisahkan tentang perbuatan, pengalaman atau suatu kejadian yang sungguh-sungguh terjadi maupun hasil rekaan. Media gambar seri adalah urutan gambar yang mengikuti suatu percakapan dalam hal memperkenalkan atau menyajikan arti yang terdapat pada gambar. Alasan digunakannya media gambar seri adalah agar media gambar tersebut dapat membantu menyajikan suatu kejadian peristiwa yang kronologis dengan menghadirkan orang, benda, dan latar. Kronologi atau urutan kejadian peristiwa dapat memudahkan siswa untuk menuangkan idenya dalam kegiatan bercerita. Dikatakan gambar seri karena gambar satu dengan gambar lainnya memiliki hubungan keruntutan peristiwa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan gambar seri untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa yang meliputi: (1) kelengkapan tokoh, peristiwa, latar, (2) keruntutan alur cerita, dan (3) kepaduan antar gambar. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diambil dari penelitian yang dilakukan di kelas, yaitu di MTs. Negeri Batu. Data yang diperoleh berupa data verbal bercerita siswa. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) aspek cerita yang disampaikan siswa yang bercerita dengan membuat cerita terlebih dulu lebih lengkap daripada aspek cerita yang disampaikan siswa yang bercerita secara langsung, (2) alur cerita yang disampaikan siswa yang bercerita dengan membuat cerita terlebih dulu lebih runtut daripada alur cerita yang disampaikan siswa yang bercerita secara langsung, dan (3) kepaduan antar gambar yang diceritakan siswa yang bercerita dengan membuat cerita terlebih dulu lebih padu daripada kepaduan antar gambar yang disampaikan siswa yang bercerita secara langsung.

Pengaruh return of equity (ROE), earning per share (EPS), dan price earning ratio (PER) terhadap return saham pada perusahaan automotive and allied product yang listing di BEI selama tahun 2004-2007 / Teri Kriswanti

 

Dalam setiap pengambilan keputusan investasi, investor selalu dihadapkan pada suatu ketidakpastian. Untuk memperkecil adanya suatu resiko maka investor perlu melakukan suatu analisis terhadap kinerja keuangan perusahaan, sehingga investor dapat menilai prospek dari perusahaan yang menjual sekuritas tersebut dalam rangka mendapatkan return yang sesuai dengan harapan. Adapun beberapa rasio keuangan yang digunakan investor untuk menilai kinerja perusahaan dan dalam penelitian ini diambil tiga faktor yang berpengaruh terhadap return saham yaitu Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER). Return saham merupakan tingkat pengembalian atas investasi para investor yang merupakan hasil selisih dan perbandingan antara harga saham pada saat jual dengan harga saham pada saat beli. Return On Equity (ROE) merupakan kemampuan dari suatu perusahaan dalam menghasilkan laba bagi perusahaannya. Earning Per Share (EPS) merupakan rasio untuk mengukur besar laba bersih yang dihasilkan perusahaan untuk tiap-tiap lembar saham yang beredar. Price Earning Ratio (PER) merupakan rasio yang digunakan oleh investor untuk mengukur antara harga saham dengan laba per lembar saham. Berdasarkan tingkat eksplanasinya, penelitian ini termasuk jenis penelitian asosiatif yang menunjukkan kausal (sebab akibat). Populasi penelitian adalah perusahaan Automotive and Allied Product yang listing di BEI selama tahun 2004-2007 sejumlah 20 perusahaan. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 8 perusahaan. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi. Sumber data dalam peneltian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Teknik analisis statistik yang digunakan adalah regresi linear berganda yang meliputi Uji-t dan Uji F dengan bantuan program komputer SPSS 16.0 for windows dan menggunakan α = 5%. Hasil uji statistik regresi linear berganda menunjukkan bahwa secara parsial Return on Equity (ROE) dan Price Earning Ratio (PER) berpengaruh signifikan positif terhadap return saham sedangkan Earning Per Share (EPS) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Dan secara simultan seluruh variabel bebas yaitu Return on Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) telah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Secara teoritis nilai ROE yang tinggi akan memberikan gambaran bahwa perusahaan tersebut akan memberikan keuntungan yang tinggi pula. Begitu juga dengan EPS, secara teoritis nilai EPS yang besar akan memberikan gambaran bahwa perusahaan telah mendapatkan tingkat keuntungan yang besar pula. Karena EPS merupakan gambaran dari keuntungan yang diterima untuk setiap satu lembar saham. Sedangkan variabel PER yang meningkat akan mencerminkan prospek kinerja perusahaan yang semakin baik dan dengan sendirinya informasi itu memberikan gambaran bahwa perusahaan akan memberikan tingkat keuntungan yang semakin meningkat. Keuntungan yang diperoleh investor ini merupakan return (tingkat pengembalian) dari investasinya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya dengan menggunakan variabel bebas selain ROE, EPS dan PER seperti EVA dan DPR. Tehnik analisis juga bisa diganti dengan tehnik analisis yang lain dan juga jumlah sampel perlu ditambah.

Pengaruh capital adequncy ratio (Car), loan to deposit ratio (LDR), return on asset (ROA), dan beban operasional atas pendapatan operasional (Bopo) terhadap perubahan laba pada PT. Bank Central Asia TBk. periode 2001-2008 / Joko Setyono

 

Setyono, Joko. Pengaruh Capital Adequancy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Perubahan Laba pada PT. Bank Central Asia .Tbk Periode 2001-2008. Skripsi, program Studi Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. F. Danardana Murwani, MM, (II) DR. H. Agung Winarno, MM. Kata kunci: Capital Adequancy Ratio (CAR), Loan to Depoait Ratio (LDR), Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) dan Perubahan Laba. Dalam perusahaan perbankan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja keuangan persahaan perbankan adalah dengan perubahan laba yang diperoleh. Artinya untuk memperoleh perubahan laba yang tinggi, maka perusahaan perbankan harus berusaha meningkatkan laba yang diperoleh setiap periodenya. Meskipun laba bukan merupakan orientasi utama dalam perusahaan perbankan, namun laba merupakan faktor penting dan harus diwujudkan. Laba bagi perusahaan perbankan merupakan satu sumber penting dari pemupukan modal. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Capital Adequancy Ratio (CAR), Loan to Depoait Ratio (LDR), Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Perubahan Laba. Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimen yang sifatnya korelasi recursive (satu arah). Adapun bentuk hubungan antara variabel ini adalah hubungan kausal atau hubungan sebab akibat. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini laporan keuangan PT. Bank Central Asia .Tbk setelah berubah nama menjadi perusahaan terbuka. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah quota sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari PT. Bank Central Asia .Tbk tahun 2001-2008. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 13.0. Uji asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas dan uji multikolinieritas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CAR, LDR, dan ROA secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Perubahan Laba dengan tanda positif. Variabel BOPO secara parsial juga berpengaruh signifikan terhadap perubahan laba, tetapi dengan tanda negatif. Secara simultan variabel CAR, LDR, ROA dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap Perubahan Laba. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah sampel dari badan usaha yang sama atau meneliti Perusahaan Perbankan di luar PT. Bank Cantral Asia .Tbk, menambah variabel, memperpanjang periode atau rentang waktu penelitian sehingga lebih diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan laba pada perusahaan perbankan.

Eksistensi perempuan dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (sebuah kajian kritik sastra feminisme) / Sofi Auliana

 

ABSTRAK Auliana Sofi. 2009. Eksistensi Perempuan dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer (Sebuah Kajian Kritik Sastra Feminisme). Skripsi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hj. Yuni Pratiwi M.Pd. Kata Kunci: eksistensi, tokoh perempuan, novel Novel merupakan salah satu bentuk refleksi dari kesadaran mental pengarang terhadap nilai yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat karena novel tidak pernah lepas dari sistem sosial budaya yang melingkupinya. Dengan demikian, suatu fenomena sosial dapat menjadi salah satu unsur sebuah novel. Setiap novel sebagai cipta sastra pada umumnya mempunyai kandungan amanat tertentu. Artinya, pengarang berusaha mengaktifkan pembaca untuk menerima gagasan-gagasannya tentang berbagai segi kehidupan. Begitu juga cara pengarang memandang tokoh perempuan sebagai salah satu bentuk konkretisasi dari aspirasi, gagasan, pandangan dan nilai-nilai tentang perempuan itu sendiri. Perempuan sebagai makhluk sosial dan individu diciptakan dengan kedudukan dan peranan yang sejajar dengan pria. Perkembangan selanjutnya perempuan lebih rendah dari pria yang menimbulkan adanya eksistensi perempuan sebagai wujud dari adanya nilai feminisme. Eksistensi merupakan sebuah filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada keberadaan (eksistensi) dan titik sentralnya adalah manusia. Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer merefleksikan adanya eksistensi pribadi perempuan dalam menjalankan peran dan kedudukannya di dalam keluarga dan masyarakatnya melalui sikap, tindakan, perilaku, ucapan, jalan pikiran dan rencana hidup tokoh perempuan. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang eksistensi perempuan dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yakni mendeskripsikan (1) eksistensi pribadi perempuan, (2) eksistensi perempuan dalam keluarga, dan (3) eksistensi perempuan dalam masyarakat berdasarkan strata sosial masyarakat yang terkandung dalam novel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan feminisme. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Data berupa unit-unit teks yang berisi deskripsi eksistensi pribadi perempuan, deskripsi eksistensi perempuan dalam keluarga, dan deskripsi eksistensi perempuan dalam masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data dan peneliti berperan sebagai instrument (human instrument). Peneliti melakukan identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi data berdasarkan permasalahan yang dikaji. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi atau studi kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menyeleksi, mengklasifikasi, menafsirkan, dan memaknai data kemudian mengambil kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh beberapa kesimpulan, Pertama eksistensi pribadi perempuan dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, terefleksi melalui sikap, tindakan, jalan pikiran, rencana hidup serta ucapan tokoh perempuan yang memiliki ciri-ciri: (1) tokoh sebagai perempuan yang memiliki ciri seperti perempuan terpelajar dan cerdas, (2) tokoh sebagai perempuan yang kuat dan berkuasa, (3) tokoh sebagai perempuan yang berani mengambil keputusan, dan (4) tokoh sebagai perempuan yang pendendam dan mandiri. Tokoh perempuan sebagai perempuan yang memiliki ciri seperti perempuan terpelajar dan cerdas terlihat dari pelafalan bahasa Belanda tokoh yang fasih, menguasai banyak istilah-istilah Eropa, gemar membaca buku-buku Eropa, memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam berdagang dan mampu menerangkan layaknya seorang guru-guru di sekolah. Tokoh perempuan yang memiliki ciri-ciri sebagai perempuan yang kuat dan berkuasa terbukti dari kemampuan tokoh perempuan dalam mengurus semua kepentingannya (dirinya, keluarga, dan perusahaan) sendiri, tokoh memiliki kekuatan dalam mengetahui dan mengendalikan pedalaman orang lain, tokoh yang berani menghadapi kekuasaan Eropa dan pengendali seluruh perusahaan. Tokoh perempuan memiliki ciri sebagai perempuan yang berani mengambil keputusan terlihat dari berani mengambil keputusan untuk tidak mengakui orangtuanya, mempunyai keberanian dalam mengambil keputusan untuk tetap dipanggil dengan sebutan Nyai bukan Mevrouw. Tokoh sebagai perempuan yang memiliki ciri sebagai perempuan pendendam dan mandiri terlihat dari sikap yang menaruh dendam yang dalam kepada orangtuanya dan tuannya, tokoh perempuan tidak bergantung dengan suaminya, tokoh yang dapat melakukan semua pekerjaan kantor dan perusahaan dengan tangannya sendiri, serta mampu mengurusi kepentingan dirinya, keluarga dan perusahaan dengan tangannya sendiri. Kedua eksistensi perempuan dalam keluarga yang terdapat dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, terefleksi dari tokoh perempuan yang berperan sebagai seorang istri, seorang ibu dan ibu mertua dalam keluarganya. Ketiga eksistensi perempuan dalam lingkungan masyarakat yang terdapat dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, terefleksi dari tokoh perempuan yang berkedudukan sebagai majikan dalam perusahaan, tokoh sebagai warga negara dari sistem pemerintah kolonial atau sebagai perempuan pribumi, dan sebagai perempuan yang berstatus sebagai gundik. Saran-saran yang dapat disimpulkan berdasarkan kesimpulan tersebut, yakni (1) peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi penelitian dan disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda, (2) hasil penelitian ini hendaknya bagi pemerhati sastra sebagai salah satu referensi dalam memahami karya-karya sastra Pramoedya, dan (3) para guru SMP dan SMA/MA/SMK, penelitian ini disarankan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam pengembangan bahan ajar.

Improving the eight graders' abitily of writing recount texts through the process writing strategy at MTsN Grogol Kediri / Luluk Rahmawati

 

Rahmawati, Luluk. 2009. Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VIII dalam Menulis Teks Recount melalui Starategi Menulis Proses di MTsN Grogol Kediri. Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd, (II) Dr. Roembilin Soepadi, M.A. Kata kunci: kemampuan menulis, teks recount, strategi menulis proses Menurut para siswa kelas 8 di MTsN Grogol Kediri, menulis dianggap sebagai kecakapan berbahasa yang paling sulit dikuasai. Sayangnya, pembelajaran menulis tidak dilakukan dengan baik oleh para guru bahasa Inggris di sekolah tersebut dan hal itu menyebabkan rendahnya kemampuan menulis para siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, strategi menulis proses diajukan karena telah dibuktikan berhasil oleh beberapa peneliti dalam meningkatkan kemampuan menulis para siswa. Kemudian, penelitian yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas 8 dalam menulis teks recount melalui strategi menulis proses di MTsN Grogol Kediri dilaksanakan. Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan yang terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengamatan, dan refleksi. Tahap-tahap tersebut didahului oleh penelitian awal yang bertujuan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah-masalah dalam pembelajaran menulis. Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa tidak ada seorang siswapun yang mendapatkan nilai 65 sebagai nilai minimal. Subyek penelitian ini adalah 37 siswa kelas VIII-C pada tahun ajaran 2008-2009. Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan 4 instrumen yaitu lembar observasi, catatan lapangan, portofolio, dan kuesioner. Penelitian ini dianggap berhasil apabila memenuhi kriteria kesuksesan berikut: (1) 75% siswa atau lebih berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, (2) sekurang-kurangnya 50% siswa memperoleh nilai sama dengan atau lebih dari 65, dan (3) sekurang-kurangnya 75% siswa memiliki tanggapan yang bagus terhadap penggunaan strategi menulis proses. Prosedur yang tepat dalam penerapan strategi menulis proses untuk mengajar menulis adalah (1) membagi siswa menjadi beberapa kelompok, (2) membagikan gambar berangkai untuk tahap pemodelan, lembar kerja siswa, dan media, (3) menugaskan siswa untuk memperoleh ide, (4) meminta siswa untuk menyusun ide-ide tersebut ke dalam paragraf, (5) menugaskan siswa untuk merevisi draf dalam hal isi dan penyusunan, (6) meminta siswa untuk mengedit draf dalam hal tata bahasa, kosa kata, ejaan, pemakaian huruf kapital, dan tanda baca, dan (7) meminta siswa untuk menulis hasil akhir karangan mereka. Pada setiap langkah, siswa diberi contoh terlebih dahulu. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa semua indikator kesuksesan telah dapat dicapai pada Siklus I. Mengenai indikator yang pertama, hasil temuan menunjukkan bahwa 75% siswa telah berpartisipasi pada sekurang;kurangnya 9 kegiatan dari 13 kegiatan di lembar observasi. Berkenaan dengan kriteria yang kedua, hasil analisis data menunjukkan bahwa 72.97% siswa (27 siswa) telah memperoleh nilai sama dengan atau lebih dari 65. Untuk kriteria yang ketiga, hasil analisis data dari kuesioner menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya 94% siswa (34 siswa) memberikan respon positif terhadap penggunaan strategi menulis proses. Mempertimbangkan hasil temuan penelitian yang positif mengenai penggunaan strategi menulis proses untuk mengajar menulis, disarankan kepada para guru bahasa Inggris untuk memanfaatkan strategi ini untuk mengajar menulis. Bagi peneliti lainnya, disarankan agar mereka mengadakan penelitian mengenai pemanfaatan strategi menulis proses di tingkat SD (khususnya RSBI) dan SMA/MA karena belum ada penelitian mengenai hal itu di tingkat tersebut.

Kesalahan penggunaan modal verben dalam karangan mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman UM pada matakuliah Aufsatz I / Retno Wahyu Kusuma

 

ABSTRAK Kusuma, Retno Wahyu. Kesalahan Penggunaan „Modalverben“ dalam Karangan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Jerman UM Pada Mata Kuliah Aufsatz I. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Edy Hidayat S.Pd, M.Hum. Pembimbing (II) Sri Prameswari S.Pd, M.Pd Kata kunci: Kesalahan Penggunaan, Modalverben, Aufsatz I Modalverben merupakan kata kerja bantu yang sering digunakan dalam bahasa Jerman. Modalverben memiliki peranan penting untuk memberikan penekanan terhadap kata kerja. Modalverben telah diajarkan kepada mahasiswa pada mata kuliah Deutsch I-IV dan SW I-IV. Meskipun demikian, mahasiswa masih sering melakukan kesalahan dalam penggunaan Modalverben dalam karangan mereka. Penelitian ini memiliki tujuan mendeskripsikan kesalahan penggunaan dan pembentukan Modalverben pada karangan mahasiswa jurusan bahasa Jerman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang angkatan 2007 yang berjumlah 45 orang. Data dalam penelitian ini adalah hasil seluruh Aufsatz mahasiswa selama satu semester genap 2008/2009 yaitu kalimat yang mengandung unsur Modalverben. Instrumen yang digunakan terbagi atas dua bagian, yaitu peneliti sebagai instrumen utama,dan tabel berfungsi sebagai instrumen pembantu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masih terdapat cukup banyak kesalahan penggunaan Modalverben yang dilakukan mahasiswa dalam kalimat, contohnya: kesalahan peletakan Modalverben dalam induk kalimat, kesalahan pada anak kalimat, kesalahan peletakan pada kalimat yang mengandung dua kata kerja Infinitiv,dll. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah karena kelalaian mahasiswa itu sendiri dan kurangnya pemahaman mahasiswa terhadap materi Modalverben baik dari penggunaan maupun pembentukannya dalam sebuah kalimat. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa mahasiswa belum memahami materi Modalverben dengan baik. Karena itu, dosen hendaknya mengenalkan serta membahas materi Modalverben kepada mahasiswa secara lebih jelas lagi dan mahasiswa hendaknya lebih aktif dengan tidak hanya mengandalkan informasi dari dosen saja tetapi juga dengan belajar dari sumber lain, seperti buku, belajar kelompok bersama teman, latihan soal di internet,dan lain-lain.

Sifat organoleptik hard candy susu nabati dari jenis kacang yang berbeda / Anggraeni Wastiandari

 

ABSTRAK Wastiandari, Anggraini. 2009. Sifat Organoleptik Hard Candy Susu Nabati Dari Jenis Kacang Yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Ir. Budi Wibowotomo, M. Si. (2) Dra. Wiwik Wahyuni, M. Pd. Kata kunci: Hard candy, jenis susu nabati Hard candy biasanya menggunakan media pencampur dari sari buah-buahan, dalam penelitian ini menggunakan media pencampur susu nabati dari jenis kacang yang berbeda sehingga menghasilkan hard candy susu nabati. Susu nabati adalah sari dari kacang-kacangan yang melalui proses pengolahan sehingga berbentuk cairan. Penggunaan jenis susu nabati yang berbeda ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan kesukaan sifat organoleptik yang meliputi rasa, warna, tekstur dan flavour pada hard candy susu nabati. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu pembuatan hard candy susu nabati manggunakan susu nabati yang berbeda yaitu susu kacang kedelai, susu kacang hijau dan susu kacang merah. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Sidik Ragam dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian dari uji mutu hedonik hard candy dengan jenis susu nabati yang berbeda menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata. Rasa manis diperoleh dari hard candy susu kedelai dengan skor 3,30. Warna kuning kecoklatan diperoleh dari hard candy susu kedelai dengan skor 3,13. Tekstur keras mengkilat tidak lengket diperoleh dari hard candy susu kedelai dengan skor 3,17 dan hard candy susu kacang hijau dengan skor 3,08, sedangkan tekstur keras, mengkilat cukup lengket diperoleh dari hard candy susu kacang merah dengan skor 2,82. flavour tidak langu kacang diperoleh dari hard candy susu kacang merah dengan skor 3,03, sedangkan flavour kurang langu kacang diperoleh dari hard candy susu kacang kedelai dengan skor 2,75 dan hard candy susu kacang hijau dengan skor 2,98. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa rasa, warna dan flavour hard candy susu terdapat perbedaan yang sangat nyata, sedangkan pada tekstur menunjukkan tidak berbeda nyata. Pada uji hedonik rasa panelis menyatakan suka pada hard candy dengan perlakuan menggunakan susu kacang kedelai dengan skor 3,30. Pada uji hedonik warna panelis menyatakan suka pada hard candy dengan perlakuan menggunakan susu kacang kedelai dengan skor 3,50. Pada uji hedonik flavour panelis menyatakan suka pada hard candy dengan perlakuan menggunakan susu kacang kedelai dengan skor 2,97. Pada uji hedonik tekstur panelis menyatakan suka pada hard candy dengan perlakuan menggunakan susu kacang kedelai dengan skor 3,32. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan tiga jenis susu nabati yang berbeda menghasilkan hard candy yang berbeda. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti tentang daya simpan hard candy yang lebih lama dan kemasan yang berkualitas selain itu, sebagai sarana berwirausaha karena dilihat dari bahan pembuatan hard candy susu nabati cukup terjangkau dan ekonomis.

Penerapan promosi penjualan pada Departemen Sea Food divisi fresh giant hypermarket Gajayana Malang / Heru Eka Wardana

 

Persaingan dunia usaha semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah konsumen yang ditandai dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi. Hal tersebut menyebabkan keadaan ekonomi yang tidak menentu sehingga mempengaruhi para praktisi usaha yang dalam hal ini adalah pedagang eceran atau peritel untuk selalu berpikir, bersikap dan bertindak efisien. Efisiensi adalah penekanan biaya yang salah satunya dengan mengurangi tenaga kerja dan mengoptimalkan karyawan. Dari hal tersebut muncullah bisnis eceran atau bisnis riteil dengan sistem hypermarket, artinya pembeli mengambil sendiri barang yang akan dibeli. Dengan sistem ini efisiensi dapat diperoleh, karena dengan sedikit karyawan dapat menjangkau luas toko yang relatif besar. Sejarah berkembangnya hypermarket didahului dengan berkembangnya sarana belanja berupa pasar. Namun, dengan belanja di pasar dirasakan kurang praktis karena setiap produk tidak berada dalam satu lokasi (ada di beberapa toko). Perubahan pola perilaku konsumen sangat mendukung keberadaan hypermarket karena setiap produk kebutuhan konsumen ada pada satu tempat sehingga lebih praktis. Bahkan di hypermarket, pembeli dapat bebas memilih barang-barang yang diinginkan tersedianya barang yang beraneka ragam. Pesatnya perkembangan hypermarket mengakibatkan usaha ini bersaing ketat sehingga memacu usaha-usaha sejenis bermunculan seperti minimarket dan supermarket. Faktor yang mengakibatkan usaha-usaha hypermarket dan supermarket meningkat antara lain adalah prospek profitable dan didukung oleh makin beragamnya kebutuhan konsumen. Faktor tersebut juga yang mendorong berdirinya Giant Hypermarket Gajayana Malang. Awalnya Giant di Indonesia pertama berdiri tahun 2002 di Jakarta. Kemudian semakin berkembang dan membuka cabang di seluruh kota-kota besar di Indonesia, termasuk di kota Malang dengan nama Giant Gajayana Malang yang resmi dibuka awal tahun 2008. Giant Gajayana Malang menghadapi banyak persaingan dari supermarket dan hypermarket lain di kota Malang. Hal demikian mengharuskan Giant Gajayana Malang menerapkan strategi promosi untuk dapat meraih hati konsumen supaya membeli produknya. Karena tujuan utama promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi, dan membujuk, serta mengingatkan pelanggan tentang produk-produk yang ada di perusahaan. Jika pihak Giant Gajayana Malang mempunyai tujuan menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk, serta mengingatkan pelanggan tentang perusahaan atau mendorong konsumen untuk datang ke hypermarket dan akhirnya melihatlihat, memilih, dan membeli barang maka Giant Gajayana Malang harus memiliki keunggulan. Keunggulan tersebut harus diinformasikan kepada konsumen melalui kegiatan promosi. Baik tidaknya promosi yang diterapkan suatu perusahaan, sangat ditentukan oleh seberapa baik strategi yang diterapkan untuk menghilangkan kesenjangan antara apa yang diharapkan perusahaan dengan kenyataan di lapangan. Strategi yang dilakukannya harus sesuai dengan apa yang dibaca dan dilihat konsumen ketika promosi tersebut sudah dipublikasikan. Tjiptono (1997:219) menyatakan bahwa pada hakekatnya promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran, yaitu aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi atau membujuk dan mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal terhadap produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Strategi promosi dapat menjadi salah satu strategi yang mampu memenangkan persaingan bisnis karena strategi promosi menjadi salah satu alat dalam melaksanakan komunikasi pemasaran dari produsen ke konsumen.

Perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan pembelajaran koorperatif metode Numbered Heads Together (NHT) dan pendekatan pembelajaran konvensional metode ceramah dan tanya jawab (studi pada siswa kelas X SMK PGRI 6 Malang dengan mata pelajaran kewirausah

 

ABSTRAK Oktavia, Ratnasari. 2009. Perbedaan Hasil Belajar Siswa Dengan Menggunakan Pendekatan Pembelajaran Koorperatif Metode Numbered Heads Together (NHT) Dan Pendekatan Pembelajaran Konvensional Metode Ceramah dan Tanya jawab (Studi Pada Siswa Kelas X SMK PGRI 6 Malang dengan Mata Pelajaran Kewirausahaan). Skripsi Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Tata Niaga Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. M. Hari, M.Si, (II) Drs. Agus Hermawan, M.Si, M.Bus. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads Together (NHT), Pembelajaran Konvensional Model Ceramah, Hasil Belajar. Suatu inovasi pembelajaran telah muncul dengan cara mempengaruhi pengorganisasian kelas. Salah satu inovasi pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan pembelajaran kooperatif metode Numbered Heads Together (NHT). Pembelajaran kooperatif metode Numbered Head Together (NHT) merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan pada kelas heterogen. Penerapan pendekatan pembelajararan Numbered Heads Together (NHT) diharapkan lebih dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran secara konvensional. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui bagaimanakah hasil belajar siswa setelah penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif metode Numbered Heads Together (NHT), (2) untuk mengetahui bagaimanakah hasil belajar siswa setelah penerapan pendekatan pembelajaran konvensional metode ceramah dan tanya jawab, dan (3) untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa setelah menjalani pendekatan pembelajaran kooperatif metode Numbered Heads Together (NHT) dan pendekatan pembelajaran konvensional metode ceramah dan tanya jawab. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data kuantitatif dengan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian jenis quasi experimental design. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen yang diukur dengan alat ukurnya adalah pre test dan post test. Populasi penelitian ini adalah kelas X SMK PGRI 6 Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel bertujuan atau purposive sampling. Penelitian ini menggunakan tes awal untuk mengetahui bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum diberi perlakuan mempunyai kemampuan awal yang sama atau tidak jauh berbeda. Kemudian diberi perlakuan yaitu metode Numbered Heads Together (NHT) untuk kelas eksperimen dan metode ceramah untuk kelas kontrol. Kemudian diberikan tes akhir untuk mengetahui hasil belajar setelah diberi perlakuan. Data yang akan dianalisis pada penelitian ini adalah data gain score. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan uji t. Sebelum dilakukan uji t, data gain score diuji dengan menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas. Karena varian data tidak identik, maka tidak dapat dilakukan uji t melainkan uji Mann-Whitney. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan Z hitung (-6,441) > Z tabel (1,96) yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti hasil belajar kewirausahaan siswa yang mendapat pelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif metode NHT berbeda atau lebih baik daripada hasil belajar siswa yang mendapatkan pelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran konvensional metode ceramah. Saran yang dapat peneliti berikan yaitu bagi peneliti selanjutnya perlu lebih meningkatkan keaktifan siswa dalam kelas untuk mengemukakan pendapat pada saat pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dengan cara memberikan pujian, kritik maupun reward karena pada penelitian ini siswa masih terkesan dipaksa untuk mengemukakan pendapat. Sedangkan bagi sekolah khususnya guru pada mata pelajaran Kewirausahaan perlu menerapkan metode pembelajaran NHT selain metode ceramah agar tidak terjadi

Penerapan pembelajaran kooperatif stad (Student teams-achievement divisions) untuk menongkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa mata pelajaran IPS geografi materi atmosfer di kelas VII-A SMPN 17 Malang / Yuli Ifana Sari

 

Sari, Yuli Ifana. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif STAD (Student Teams-Achievement Divisions) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Aktivitas Siswa Mata Pelajaran IPS Geografi Materi Atmosfer di Kelas VII-A SMPN 17 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Ach. Fatchan, M.Pd. M.P (II) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd. M.Si Kata Kunci: pembelajaran kooperatif model STAD, hasil belajar, dan aktivitas siswa. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi langsung diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas VII-A SMP Negeri 17 Malang cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas VII-A untuk mata pelajaran Geografi sebesar 51,5. Hasil belajar yang rendah ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain model pembelajaran yang masih didominasi oleh guru. Akibatnya, siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Selain itu, minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran masih rendah. Pada saat proses belajar mengajar siswa sering tidak memperhatikan penjelasan guru, mereka mengobrol dengan teman sebangku, serta tidak ditunjang dengan fasilitas belajar yang baik. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dalam penelitian diterapkan model pembelajaran STAD (Student Teams-Achievement Divisions). STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat melatih siswa untuk bekerjasama dan memungkinkan siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran misalnya siswa aktif bertanya, mengerjakan LKS, dan tugas yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dengan menggunakan model pembelajaran STAD. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas ini, peneliti terlibat langsung dalam seluruh proses penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pelaporan. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi dan tes tulis. Penelitian dilaksanakan di kelas VII-A SMP Negeri 17 Malang dengan jumlah siswa 41 orang, pada materi pokok Atmosfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari presentase peningkatan nilai rata-rata tes akhir setiap siklus yaitu dari siklus I ke siklus II masing-masing nilainya 61,15 dan 77, serta mengalami peningkatan nilai hasil belajar sebesar 15,85 dari siklus I ke siklus II. Tercapainya hasil belajar yang meningkat pada siklus II ditunjang oleh aktivitas belajar yang baik. Dimana presentase ketercapaian aktivitas belajar siswa pada siklus I rata-rata 46% dan meningkat menjadi 70,4% pada siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa sebesar 24,4%.

Penggunaan rational emotive behavior therapy (REBT) untuk meningkatkan percaya diri (Self-Confidence) siswa SMP Negeri 6 Malang (Studi Pra-Eksperimental) / Rumidhatus Sakdiyah

 

ABSTRAK Sakdiyah, Rumidhatus: 2009. Penggunaan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) Untuk Meningkatkan Percaya Diri (Self-Confidence) Siswa SMP Negeri 6 Malang (Studi Pra-Eksperimental). Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Marthen Pali, M.Psi, Pembimbing (II) Prof. Drs. Rosjidan, MA. Kata Kunci : Percaya Diri (Self-Confidence), Terapi REBT, Teknik DIBS REBT merupakan salah satu pendekatan konseling yang berorientasi pada aspek kognitif. Siswa SMP Negeri 6 Malang yang mengalami percaya diri rendah perlu mendapat layanan konseling khususnya (kuratif), agar menjadi manusia yang memiliki kepribadian dengan aspek emosional yang matang dalam menghadapi masa remajanya yang penuh dengan konflik yang disebut dengan masa “Strom & Stress”. Hal ini penting dilakukan penelitian guna memproses pembentukan kepercayaan diri dalam diri seseorang sejak dini dengan melibatkan semua pengalaman hidupnya sejak pertama kali ia berhubungan dengan “orang lain” (ibunya sendiri) sampai saat sekarang dia berada. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) efektif untuk menigkatkan percaya diri siswa SMP Negeri 6 Malang?” Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan teknik DIBS (Dispute Irrational Beliefs) untuk dapat meningkatkan percaya diri siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas terapi REBT dapat meningkatkan percaya diri siswa SMP Negeri 6 Malang. Penelitian ini menggunakan metode studi pra-eksperimental dengan rancangan the one-group pretest-postest design. Subyek penelitian diambil sampel sebanyak 10 orang dari siswa kelas VIII tahun ajaran 2008/2009, yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Skala Rasa Percaya Diri dalam bentuk skala Likert. Adapun materi perlakuan teknik DIBS ini terdiri dari empat tahap yaitu : (1) Tahap I; Membangun hubungan interpersonal (rapport), (2) Tahap II; Empirical Disputing, (3) Tahap III; Logical Disputing, dan (4) Tahap IV; Pragmatical Disputing. Terjadi perubahan yang signifikan pada siswa antara sebelum diberi perlakuan dengan sesudah mendapat perlakuan teknik DIBS. Ini dapat terlihat dari hasil pretest dan posttest yang dilakukan siswa, dimana siswa yang kategori percaya dirinya rendah dari 6 siswa (60%) berkurang menjadi 2 siswa (20%), kategori percaya diri sedang yang sebanyak 3 siswa (30%) meningkat menjadi 5 siswa (50%) dan kategori percaya diri tinggi sebanyak 1 siswa (10%) meningkat menjadi 3 siswa (30%). Untuk menguji hipotesis penelitian, digunakan tes analisis Wilcoxon. Hasilnya menunjukkan mean percaya diri sesudah terapi (1600) lebih besar dari mean percaya diri sebelum terapi (1417) sehingga terjadi perbedaan skor antara pretest dan posttest sebesar 183 atau terjadi peningkatan sebesar ±153,03%. Hasil uji Z, ternyata z hitung lebih besar dari z tabel (zhitung [ -2,599 ] > ztabel -1,96 ), dengan demikian Ho ditolak dan H1 diterima pada taraf kesalahan 0,025. Kesimpulan, terapi REBT efektif (berhasil) untuk meningkatkan percaya diri siswa yang rendah. Saran-saran, (1) Untuk mengatasi masalah pribadi yang terjadi pada siswa, khususnya rendahnya percaya diri, maka pendekatan terapi REBT disarankan untuk digunakan oleh konselor, karena praktis, efektif dan terapi ini tidak terlalu menggunakan waktu yang relatif lama, sehingga terapi ini dapat diterapkan dengan mudah pada siswa setingkat sekolah menengah; (2) Konselor melalui pelatihan-pelatihan/workshop untuk menambah wawasan dan keterampilan konseling dalam mengefektifkan layanan konseling kepada siswa, terutama layanan konseling yang bersifat prefentif dan kuratif terhadap masalah-masalah pribadi sosial khususnya percaya diri; (3) Para teorisi dan pengembang dalam bidang bimbingan dan konseling perlu mengadakan penelitian dalam metode pengembangan atau tindakan lain untuk dapat mengujicobakan terapi konseling lain dalam konteks yang lebih beragam dan populasi yang lebih luas. ABSTRACT Sakdiyah, Rumidhatus: 2009. The Use of Rational Emotive Therapy (REBT) to Improve Self Confidence of Students at Public Senior High School 6 Malang (Pre-experimental Study). Thesis, Study Program of Guidance and Counseling, Postgraduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Marthen Pali, M.Psi, (II) Prof. Drs. Rosjidan, MA. Key Words: Self Confidence, REBT Therapy, DIBS Technique REBT is one of the counseling cognitive aspect-oriented approaches. Students at Public Senior High School 6 who suffer from loosing self confidence need a counseling service, particularly curative, so they will be people who have personality with the mature emotional aspect in facing their teenage period exposing a lot of problems which is called as “Strom & Stress”. It requires a research in order to shape self confidence inside themselves early by involving their experiences since the first time they interacted with “others” (their own mothers) until the present time and where they are. The research problem is whether Rational Emotive Therapy (REBT) is effective to improve self confidence of students at Public Senior High School 6 Malang. In order to answer such question, DIBS (Dispute Irrational beliefs) technique is used self confidence. The aim of this research is to find out the efficacy of REBT therapy to improve self confidence of students at Public Senior High School 6 Malang. It employs pre-experimental study method with the design of the one-group pretest-postest. The subject of study is taken by the sample consisting 10 students from eight grade batch 2008/2009, which is determined by purposive sampling technique. The research instrument is Self Confidence Scale in the form of Likert Scale. The treatment material of DIBS technique consists of (1) Stage I: Building interpersonal relationship (rapport); (2) Stage II: Empirical Disputing; (3) Stage III: Logical Disputing, and (4) Stage IV: Pragmatical Disputing. There is a significant change before and after receiving DIBS technique. It is seen in the result of students’ pretest and postest, where 6 students who were categorized into having low self confidence (60%) lessen into 2 students (20%), 3 students who were categorized into having medium self confidence (30%) increase into 5 students (50%), and 1 student who was categorized into high self confidence (10%) increases into 3 students (20%). In order to test the hypothesis of the research, Wilxcoxon analysis is used. The result shows that self confidence mean after the therapy (1600) is higher than before the therapy ((1417) so there is a score difference between pretest and posttest of 183 or there is an increase of ±153.03%. The result of Z test shows that z test is higher than z table (ztest [-2.599] > z table -1.96); therefore, H0 is not supported and H1 is supported in the error level of 0.025. It is concluded that REBT therapy is effective (successful) to improve the low self confidence of students. The suggestions in this research are: (1) In order to solve the personal problem faced by students, particularly the low of self confidence, REBT therapy should be used by counselors because it is practical, effective, but does not spend a lot of time so it can be implemented easily to students in the high school level; (2) Counselors should join training/workshop to improve their counseling knowledge and skill in trying to make counseling service become effective for students, particularly preventive and curative counseling service for social personal problems, especially self confidence; and (3) Theorists and developers of guidance and counseling field should conduct the research in the method of development or other actions to tryout other counseling therapies in the more various context and the wider population.

Pengaruh strategi pembelajaran dan orientasi lokus kendali terhadap hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif siswa SMK Program Keahlian Mekanik Otomotif / M. Ma'ruf Al Khasani

 

ABSTRAK Khasani, M.M.A. 2009. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Orientasi Lokus Kendali terhadap Hasil Belajar Kompetensi Sistem Pene¬rangan dan Wiring Otomotif Siswa SMK Program Keahlian Mekanik Otom¬otif. Tesis, Jurusan Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, ST., M.Pd., (II) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata kunci: Pengaruh strategi pembelajaran, lokus kendali, hasil bel¬ajar, sistem penerangan dan wiring otomotif Sudah saatnya pertumbuhan SMK yang pesat diiringi oleh peningkatan ku¬¬a¬litas lulusan SMK. Namun kenyataannya masih jauh dari harapan. Hal ini da¬pat ditunjukkan oleh pencapaian kompetensi/hasil belajar yang di¬peroleh lulusan SMK yang masih belum memuaskan. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh variabel mutu pembelajaran dan karakteristik pebelajar. Untuk mengungkap dan mengetahui pengaruh strategi pembelajaran dengan pemberian job pembuatan dan aplikasi trai¬ner, serta lokus kendali terhadap hasil belajar kompetensi sistem pene¬rangan dan wiring otomotif siswa Program Keah¬lian Mekanik Otom¬otif, maka penelitian ini mempunyai rumusan masalah: (1) Ada¬kah perbedaan ha¬sil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomo¬tif antara kelompok siswa yang diajar menggunakan trainer saja dan ke¬lom¬pok sis¬wa yang diajar meng¬gunakan trainer dengan terlebih dahulu diberi job pembu¬at¬an trainer sistem penerangan dan wiring otomotif?; (2) Adakah perbedaan hasil belajar kompetensi trainer sistem penerangan dan wiring otomotif antara kelom¬pok siswa yang memi¬liki lokus kendali internal dan kelompok siswa yang memi¬liki lokus kendali eks¬ternal?; dan (3) Adakah interaksi antara penggunaan media trainer dan lokus ken¬dali siswa terhadap hasil belajar kompetensi sistem pene¬rang¬an dan wiring oto¬motif? Untuk menjawab permasalahan di atas, penelitian ini dirancang dengan ran¬¬cangan penelitian quasi-experimental dengan desain faktorial prates-postes dan di¬lakukan pada di SMK “Roudlo¬tun Nasyi’in” Beratkulon Kemlagi Mojo¬kerto. Ada dua kelas yang digunakan sebagai subjek penelitian dengan jumlah 73 siswa. Penentuan kelompok eksperimen dan kontrol menggunakan teknik random as¬sign¬ment sampling. Pene¬li¬tian ini menggunakan tes untuk pengumpulan datanya. Dari hasil penelitian dapat diungkapkan bahwa: (1) Terdapat perbedaan hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan trainer de¬ngan terlebih dahulu diberi job pembu¬atan trainer dan yang diajar dengan meng¬gunakan trainer saja; (2) Terdapat perbe¬daan hasil belajar kompetensi sistem penerangan dan wiring otomotif yang signi¬fikan antara kelompok siswa yang memiliki lokus kendali internal dan yang me¬mi¬liki lokus kendali eksternal; dan (3) Terdapat interaksi antara penggunaan dan pemberian job pembuatan media trai¬ner, dan lokus kendali siswa terhadap hasil belajar sistem penerangan dan wiring otomotif. Berdasarkan hasil temuan ini, maka ada beberapa saran yang dapat disam¬pai¬¬kan, yaitu: (1) Agar guru mata diklat kompe¬tensi sistem penerangan dan wiring otomotif melakukan pembelajaran dengan terlebih dahulu memberikan job pem¬bu¬atan trainer sebelum menggu¬nakan trainer tersebut, agar hasil belajar siswa da¬pat meningkat; (2) Agar pihak sekolah meyelenggarakan kegiatan pem¬bimbingan kepada siswa, antara lain layanan orientasi dan informasi, konse¬ling (baik indivi¬du maupun kelompok) untuk kasus-kasus khusus, misalnya ter¬hadap siswa yang beranggapan bahwa keberhasilan yang diperolehnya ber¬sumber dan ditentukan oleh sesuatu di luar dirinya (yang memiliki kecende¬rungan lokus kendali ekster¬nal); dan (3) Agar guru dapat men¬¬ciptakan situasi dan kondisi yang dapat mengu¬bah orientasi lokus ken¬dali siswa dari eksternal ke internal, misalkan dengan me¬numbuhkan keinginan un¬tuk berkompetisi dalam berprestasi, kondisi pembelajar¬an yang menyenangkan, dan lain-lain. ABSRACT Khasani, M.M.A. 2009. The influence of learning strategy, and control locus on the study result of automotive lighting and wiring system competency of SMK student majoring in Automotive Mechanic. Thesis, Vocational Education Department, post-graduated program of Malang State University. Key words: the influence of learning strategy, the trainer application, control locus, study result, automotive lighting and wiring system. It is the time the rapid development of SMK is balanced with the increasing of SMK graduation quality. Yet in fact, it is still far from the hope. In case, it can be proved by the study result of SMK graduation that is not satisfying yet. This condition is influenced by the variable of learning quality and of learner characteristic. To know the influence of learning strategy by giving job on making trainer and the application, and control locus on the study result of automotive lighting and wiring system competency of SMK student majoring in Automotive Mechanic, this research has some problems to discuss. They are: (1) is there any difference in the study result of automotive lighting and wiring system competency between a group of students that is taught by using trainer only and that is taught by using trainer and is given job on making trainer of automotive lighting and wiring system before?; (2) is there any difference in the study result of automotive wiring and lighting system competency between a group of students that has internal control locus and a group of students that has external one?; and (3) is there correlation between the using of trainer media and student control locus to result study of automotive lighting and wiring system? To answer the problems above, the research is done by using quasi-experimental research program with pretest-posttest factorial design. The research is conducted at SMK of Roudlotun Nasyi’in in Beratkulon-Kemlagi-Mojokerto. In doing so, there are two classes with 73 students that are used as the object of this research. The determining of experiment group and control uses random assignment sampling technique. In this research, the writer uses test to collect the data. From the result of the research can be known that: (1) there are significant differences in the study result of automotive wiring and lighting system competency between the students that are taught using trainer and given job on making trainer before and that is taught using trainer only; (2) there are significant differences in the study result of automotive lighting and wiring system competency between the group of students that have internal control locus and that have external control locus; and (3) there is correlation between the using and the giving job on making trainer, and student control locus in the result study of automotive wiring and lighting system. Based on the discussion, there are several suggestions that can be implied. They are: (1) the teacher of automotive wiring and lighting system competency subject should give job on making trainer to the students first before they use it in order the study result of the students can increase; (2) school need to conduct guiding program for student, namely orientation and information service, counseling to student – whether individual or group – for special cases, for example to the student that believes his/her success is gotten and determined by something outside of himself/ herself – that tend to have external control locus); and (3) teacher can create teaching atmosphere which can change student control locus from external to internal one. Let take some examples, by motivating student willingness to compete one another in achievement and creating teaching and learning in pleasing condition, etc.

Penggunaan media model bangun ruang untuk meningkatkan hasil belajar geometri dan pengukuran siswa kelas V SDN Ampelsari I Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Mokhamad Ghozali

 

ABSTRAK Ghozali, Mokhamad. 2009. Penggunaan Media Model Bangun Ruang untuk Meningkatkan Hasil Belajar Geometri dan Pengukuran Siswa Kelas V SDN Ampelsari I Pasrepan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn, (2) Drs. Sumanto, M.Pd. Kata Kunci : Media Model, Bangun Ruang, Geometri dan Pengukuran Pelaksanaan pembelajaran matematika di Sekolah Dasar sampai saat ini masih berlangsung Konvensional terbukti. Kegiatan pembelajaran masih terpusat pada guru, monoton dan menjenuhkan, akibatnya perolehan belajar siswa pada mata pelajaran matematika tersebut masih sangat rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Guru masih menggunakan metode lama yaitu metode ceramah, metode ini mengakibatkan siswa kurang kreatif dan kurang berkreasi dalam pembelajaran. Akibatnya siswa tidak bisa mengaplikasikan ilmu yang dia dapat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu adanya terobosan baru dalam mendorong arah kualitas pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Salah satu faktornya adalah penggunaan media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran geometri dan pengukuran dengan menggunakan media model bangun ruang kubus dan balok di kelas V SDN Ampelsari I Pasrepan Pasuruan, (2) mendiskripsikan peningkatan belajar siswa kelas V SDN Ampelsari I Pasrepan Pasuruan tentang pembelajaran geometri dan pengukuran dengan menggunakan media model bangun ruang kubus dan balok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang fenomena yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung yaitu situasi kelas dengan tingkah laku siswa selama proses pembelajaran. Jenis penelitian ini adalah PTK mengikuti alur Kurt Lewin dan Stephen Kemmis, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan siklus I nilai ketuntasan masih belum tercapai yaitu 73,2 dari kriteria ketuntasan kelas yaitu 85% dari seluruh jumlah siswa. Pada siklus II dari 25 siswa semua (100%) sudah mencapai kriteria ketuntasan dengan rata-rata 87,6. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media model pada pembelajaran geometri dan pengukuran dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V. Peneliti menyarankan kepada pihak-pihak sekolah khususnya guru kelas V agar menggunakan media model dalam pembelajaran geometri dan pengukuran secara optimal serta kepala sekolah agar senantiasa memperhatikan media pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk menunjang kelancaran pembelajaran siswanya.

Analisis penggunaan scaffolding ditinjau dari biaya pelaksanaan pekerjaan (Studi kasus : Proyek Pembangunan Gedung Perkulihaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Aris Prasetyawan

 

ABSTRAK Prasetyawan, Aris, 2009. Analisis Penggunaan Scaffolding Ditinjau Dari Biaya Pelaksanaan Pekerjaan (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang). Proyek Akhir, Program Studi Diploma III Teknik Sipil dan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T. Kata Kunci : Scaffolding, perancah bambu, efisiensi biaya. Scaffolding merupakan tiang-tiang perancah yang berbentuk suatu kerangka dengan bentuk sesuai kebutuhan, dan dilengkapi dengan alat yang dapat diatur naik/turunnya. Scaffolding merupakan inovasi baru di bidang teknologi perancah berbahan logam (besi/baja) yang dapat memberikan efisiensi dan efektivitas terhadap pelaksanaan konstruksi bangunan. Keuntungan lain dari penggunaan scaffolding ini adalah kualitas/mutu pekerjaan dijamin baik, apabila dilaksanakan sesuai petunjuk teknis yang berlaku. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi scaffolding per 50 m² luas bangunan. Untuk mendapatkan data yang valid pada Proyek Akhir, diperlukan suatu teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode observasi (pengamatan), yaitu upaya mengumpulkan informasi dari obyek yang diteliti. Setelah itu, data-data yang diperoleh dianalisis lebih lanjut secara deskriptif komparatif dengan menjawab semua permasalahan yang ada. Hasil dari studi lapangan dan pembahasan menyebutkan bahwa: (1) pada umumnya aplikasi scaffolding pada pekerjaan plat lantai beton bertulang tidak jauh berbeda dengan aplikasi perancah bambu, yaitu dimulai dari pengadaan komponen perancah, pemasangan, pembongkaran dan perawatan, dan (2) dari segi biaya pelaksanaan pekerjaan perancah bambu lebih murah bila dibandingkan dengan penggunaan konstruksi scaffolding. Berdasarkan hasil studi lapangan ini, disarankan: (1) untuk pekerjaan konstruksi bangunan bertingkat banyak, sebaiknya menggunakan scaffolding sebagai perancah plat lantainya. Karena metode pelaksanaannya yang praktis dan cepat, dan (2) perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui perbedaan biaya pelaksanaan konstruksi scaffolding dengan perancah bambu pada pekerjaan plat lantai beton bertulang untuk luasan yang lebih besar.

Pengembangan paket bimbingan peningkatan keterampilan manajemen stres bagi siswa Madrasah Aliyah / Praptanti Dyah Fitriana

 

ABSTRAK Fitriana, Praptanti Dyah. 2009. Pengembangan Paket Bimbingan Peningkatan Keterampilan Manajemen Stres bagi Siswa Madrasah Aliyah. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. Ramli, M.A., (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, paket bimbingan, keterampilan manajemen stres, siswa Madrasah Aliyah. Para siswa Madrasah Aliyah sering menunjukkan gejala stres. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain beratnya beban belajar siswa karena kurikulum Madrasah Aliyah (MA) yang menerapkan 100% kurikulum SMA seperti biasa ditambah dengan kurikulum agama Islam. Full Day School terkadang membawa stres bagi siswa karena siswa merasa lelah dan jenuh akibat seharian belajar. Kondisi seperti ini ditambah lagi jika siswa tinggal di pondok pesantren, dimana mereka harus pandai membagi waktu dalam mengikuti seluruh kegiatan di MA dan pondok pesantren. Gaya hidup modern, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat membawa tuntutan baru bagi siswa untuk dapat menguasainya dengan cepat dan tepat, sementara banyak orangtua siswa yang justru mengabaikan pendampingan anak dan lebih sibuk bekerja. Selain itu di dalam hubungan interpersonal siswa, sering terjadi konflik yang dapat membuat siswa tidak nyaman. Oleh karena itu penting sekali bagi siswa berlatih meningkatkan keterampilan manajemen stres untuk mengurangi atau mengatasi stres yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Sampai saat ini belum ada media bimbingan yang dikembangkan untuk membantu siswa meningkatkan keterampilan manajemen stres. Untuk itu, penelitian ini akan mengembangkan paket bimbingan peningkatan keterampilan manajemen stres (PBPKMS) bagi siswa MA yang dapat diterima dari segi kegunaan, kelayakan, ketepatan dan kemenarikan. Pengembangan PBPKMS ini menggunakan model prosedural Borg&Gall yang terdiri atas tiga tahapan pengembangan, yaitu tahap pra survei, tahap penyusunan prototipe produk dan tahap validasi. Pada tahap pra survei, kegiatan yang dilakukan adalah melakukan studi kepustakaan dan survei lapangan. Pada tahap penyusunan prototipe produk, kegiatan yang dilakukan adalah merumuskan kompetensi dasar, merumuskan tujuan bimbingan, menentukan prosedur bimbingan, menyusun prototipe produk pengembangan PBPKMS dan menyusun alat evaluasi. Prototipe pengembangan PBPKMS yang dihasilkan terdiri dari dua komponen, yaitu buku panduan bimbingan peningkatan keterampilan manajemen stres dan buku paket bimbingan peningkatan keterampilan manajemen stres bagi siswa MA. Tahap yang terakhir adalah tahap validasi. Pada tahap ini dilakukan uji coba prototipe PBPKMS oleh ahli dan calon pengguna produk. Subyek uji ahli adalah seorang ahli bimbingan dan konseling, sedangkan subyek calon pengguna produk adalah tiga orang konselor MA. Instrumen yang digunakan untuk uji coba prototipe produk adalah format penilaian uji ahli dan calon pengguna produk berbentuk skala penilaian, lembar saran dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif didapatkan dari hasil analisis skala penilaian yang telah diisi oleh ahli dan calon pengguna produk, sedangkan data kualitatif didapatkan dari komentar, saran dan masukan ahli dan calon pengguna produk yang diungkapkan dalam lembar saran maupun pada saat wawancara. Hasil penilaian ahli dan calon pengguna produk menunjukkan bahwa PBPKMS telah diterima dari aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan dan kemenarikan. Pada aspek kegunaan, ahli memberikan skor 23, sedangkan skor rata-rata dari penilaian para konselor adalah 21,7. Dengan demikian, penilaian ahli dan konselor untuk aspek kegunaan termasuk pada kategori sangat berguna. Pada aspek kelayakan, ahli memberikan skor 50, sedangkan skor rata-rata dari penilaian para konselor adalah 41,3. Dengan demikian, penilaian ahli untuk aspek kelayakan termasuk pada kategori sangat layak, sedangkan penilaian konselor termasuk pada kategori layak. Selanjutnya ahli memberikan skor 61 pada aspek ketepatan, sedangkan skor rata-rata dari penilaian para konselor adalah 52. Dengan demikian, penilaian ahli untuk aspek ketepatan termasuk pada kategori sangat tepat, sedangkan penilaian konselor termasuk pada kategori tepat. Dan yang terakhir, untuk aspek kemenarikan ahli memberikan skor 7, sedangkan skor rata-rata dari penilaian para konselor adalah 6. Dengan demikian, penilaian ahli untuk aspek kemenarikan termasuk pada kategori sangat menarik, sedangkan penilaian konselor termasuk pada kategori menarik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara umum PBPKMS ini sesuai dan dapat digunakan untuk pembimbingan keterampilan manajemen stres siswa MA. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu perlu dilakukan uji lapangan (siswa) sehingga PBPKMS ini benar-benar dapat dirasakan manfaat dan kesesuaiannya bagi siswa MA. Selain itu perlu dikembangkan buku paket bimbingan peningkatan keterampilan manajemen stres yang dapat digunakan siswa secara mandiri. Konselor juga diharapkan memberi dorongan kepada siswa untuk terus berlatih menggunakan teknik-teknik manajemen stres dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi kebiasaan siswa yang positif dalam mengahadapi kesibukan, tuntutan, kecemasan atau konflik yang dialami.

Hubungan gaya kepimpinan kepala sekolah dan iklim sekolah dengan kinerja tenaga administrasi sekolah (TAS) di SMPTN Kota Malang / Imroatul Nufidah

 

ABSTRAK Keberhasilan pendidikan di sekolah tidak terlepas dari gaya kepemimpinan kepala sekolah, dalam hal ini harus bisa memanfaatkan segenap sumber daya yang ada dengan baik termasuk hubungan yang baik dengan para guru dan para staf-staf yang ada di sekolah. Perlu adanya pembinaan dan digerakkan secara efektif supaya tercipta suasana kerja yang positif dan menyenangkan. Gaya kepemimpinan kepala sekolah juga dipengaruhi oleh iklim organisasi sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan kerja yang menyenangkan. Iklim organisasi sekolah yang sehat dapat mendorong sikap keterbukaan, baik dari pihak pegawai maupun dari pihak pimpinan, sehingga mampu menumbuhkan kinerja tenaga administrasi sekolah yang searah antara pegawai dan pimpinan dalam rangka menciptakan ketentraman kerja dan kelangsungan usaha ke arah peningkatan hasil yang ingin dicapai. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan: 1) seberapa tinggi gaya kepemimpinan kepala sekolah di SMPN Kota Malang, 2) seberapa tinggi iklim sekolah di SMPN Kota Malang, 3) seberapa tinggi kinerja tenaga administrasi sekolah di SMPN Kota Malang, 4) apakah ada hubungan langsung secara simultan dan parsial antara gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap iklim sekolah di SMPN Kota Malang, 5) apakah ada hubungan langsung secara simultan dan parsial antara gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja tenaga administrasi sekolah di SMPN Kota Malang, 6) apakah ada hubungan tidak langsung secara simultan dan parsial antara gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja tenaga administrasi sekolah melalui iklim sekolah di SMPN Kota Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Subyek dalam penelitian ini adalah tenaga administrasi sekolah di SMPN Kota Malang sejumlah 128. Jumlah sampel yang diteliti berjumlah 100, sedangkan teknik sampling yang digunakan adalah teknik sampling proporsional random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu angket gaya kepemimpinan, angket iklim sekolah dan angket kinerja tenaga administrasi sekolah. Hasil penelitian ini adalah: 1) Mayoritas Kepala Sekolah Menengah tingkat Pertama di Kota Malang menerapkan gaya kepemimpinan instruktif tingkat tinggi (64% tingkat tinggi, 29% tingkat rendah dan 7% gaya kepemimpinan instruktif tingkat rendah), 2) Mayoritas Kepala Sekolah Menengah tingkat Pertama di Kota Malang menerapkan gaya kepemimpinan konsultatif tingkat sedang (42% tingkat tinggi, 50% tingkat sedang, dan 8% gaya kepemimpinan konsultatif tingkat rendah), 3) Mayoritas Kepala Sekolah Menengah tingkat Pertama di Kota Malang menerapkan gaya kepemimpinan paartisipatif tingkat sedang (42% tingkat tinggi, 51% tingkat sedang, dan 7% gaya kepemimpinan partisipatif tingkat rendah), 4) Mayoritas Kepala Sekolah Menengah tingkat Pertama di Kota Malang menerapkan gaya kepemimpinan delegatif tingkat sedang (19% tingkat tinggi, 60% tingkat sedang, dan 21% gaya kepemimpinan delegatif tingkat rendah), 5) Secara Umum, Iklim Sekolah di SMP Kota Malang adalah cukup kondusif (tingkat sedang). Hal ini didapatkan dari sampel penelitian yang menyatakan iklim sekolah tingkat sedang atau dalam kondisi cukup kondusif sebanyak 56%. Iklim sekolah tingkat tinggi (kondusif) dinyatakan oleh 36% dari sampel penelitian. Dan hanya sedikit sekali 8% dari sampel yang menyatakan bahwa iklim sekolah pada tingkat rendah (tidak kondusif), 6) Mayoritas subyek penelitian (Tenaga Administrasi Sekolah Menengah tingkat Pertama di Kota Malang) Memiliki kinerja tingkat sedang. Hal ini didapatkan dari sampel penelitian yang memiliki kinerja tingkat sedang sebanyak 48%. Kinerja tingkat tinggi dimiliki oleh 43% dari sampel penelitian. Dan hanya sedikit sekali 9% dari sampel yang memiliki kinerja tingkat rendah, 7) Terdapat hubungan langsung secara simultan dan parsial signifikan variabel gaya kepemimpinan (X) dan terhadap iklim sekolah (Z) di SMPN Kota Malang, 8) Terdapat hubungan langsung secara simultan dan parsial yang signifikan variabel gaya kepemimpinan (X) terhadap kinerja tenaga administrasi sekolah (Y) di SMPN Kota Malang, 9) Terdapat hubungan secara langsung yang signifikan variabel iklim sekolah (Z) terhadap kinerja tenaga administrasi sekolah (Y) di SMPN Kota Malang, 10) Terdapat hubungan tidak langsung secara simultan dan parsial yang signifikan variabel gaya kepemimpinan (X) terhadap kinerja tenaga administrasi sekolah (Y) melalui iklim sekolah (Z) di SMPN Kota Malang. Berdasarkan kesimpulan dan implikasi penelitian ini, maka disarankan kepada para kepala sekolah di SMPN Kota Malang untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang mampu mempengaruhi iklim sekolah dan kinerja tenaga administrasi sekolah pada kondisi yang maksimal. Gaya kepemimpinan yang dimungkinkan dapat mempengaruhi iklim dan kinerja tenaga administrasi pada kondisi maksimal adalah gaya kepemimpinan konsultatif. Gaya kepemimpinan ini memberikan banyak dukungan dan banyak pengarahan secara berimbang kepada bawahan. Kepada peneliti selanjutnya yang tertarik mendalami hasil penelitian ini disarankan agar melakukan penelitian secara lebih mendalam mengenai gaya-gaya kepemimpinan yang lebih mampu mempengaruhi iklim organisasi dan kinerja karyawan secara lebih efektif. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian dengan pendekatan kualitatif dan menambahkan variabel budaya organisasi yang berlaku pada oraganisai.

Kajian aplikasi formwork metal system dan bekisting konvensional ditinjau dari biaya pada pekerjaan kolom pembangunan gedung convention hall Universitas Negeri Malang / Muthoharoh

 

Model pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri di daerah terpencil (studi kasus di Politeknik Kotabaru) / Didik Nurhadi

 

ABSTRAK Nurhadi, Didik. 2009. Model Pembelajaran Kolaboratif Antara Lembaga Pendidikan dengan Industri di Daerah Terpencil (Studi Kasus di Politeknik Kotabaru). Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dwi Agus Sudjimat, M.Pd., (II) Drs. Isnandar, MT. Kata kunci: model pembelajaran kolaboratif, pendidikan di daerah terpencil Penelitian ini dilakukan karena kemampuan kompetisi sumber daya manusia untuk mendapatkan suatu pekerjaan di Kotabaru sangat rendah karena terletak di daerah terpencil. Kenyataan ini membuat lembaga pendidikan dan industri merasa peduli untuk mengembangkan sebuah model pembelajaran kolaboratif. Model Pembelajaran ini berkolaborasi antara Politeknik Kotabaru dengan industri di daerah, yaitu PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Plant 12 Tarjun. Model pembelajaran ini berupaya memperbaiki kemampuan sumber adaya manusia daerah agar mampu berkompetisi dan lulusannya dapat terserap oleh industri yang ada di daerah. Implementasi model pembelajaran kolaboratif sudah berjalan selama lima tahun ini, namun peta model pembelajarannya belum jelas, sehingga penelitian dilakukan. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana perencanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri? (2) bagaimana pelaksanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri?, (3) bagaimana evaluasi pelaksanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri?, (4) bagaimana evaluasi hasil pembelajaran kolaboratif antara Politeknik Kotabaru dengan lembaga pendidikan dengan industri?, dan (5) apa sajakah kendala-kendala dalam implementasi model pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri?. Metode penelitian dipilih adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik wawancara, koesioner, dokumentasi, dan diskusi kelompok terpusat. Tujuan dari penelitian ini adalah memerikan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan dan hasil pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri, serta memerikan kendala-kendala implementasinya. Hasil dari riset ini menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri di daerah terpencil perlu ditingkatkan untuk mendapatkan perencanaan yang lebih jelas dan tepat melalui melakukan MOU tentang: (a) paduan/manual yang rinci dan jelas, (b) pembagian tugas dan wewenang yang merata, (c) data yang akurat tentang dunia usaha/industri, (d) pemberdayaan kelembagaan yang ada, (e) komitmen dosen/pengajar, peserta didik, dan orang tua, (f) komunikasi yang baik semua pihak, (g) paket-paket pembelajaran yang tepat dan operasional, dan (h) format training plans, training agreement, serta monitoring dan evaluasi, dan didukung dengan kurikulum terintegrasi antara kedua belah pihak; (2) Pelaksanaan pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri perlu ditingkatkan tentang (a) organization strategy,(b)delivery strategy, dan (c)management strategy; (3) Evaluasi pelaksanaan pembelajaran kolaboratif 1 antara lembaga pendidikan dengan industri masih perlu ditingkatkan dengan menggunakan cara kerja PDCA (Plan-Do-Check-Action); (4) Evaluasi hasil pembelajaran kolaboratif antara lembaga pendidikan dengan industri di daerah terpencil masih perlu ditingkatkan dari sisi (a) keefektifan pembelajaran, (b) efisiensi pembelajaran, dan (c) daya tarik pembelajaran; (5) Kendala dalam implementasi model pembelajaran kolaboratif terkait perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan dan evaluasi hasil pembelajaran perlu diselesaikan. Kendala pembelajaran terjadi akibat kurang diperhatikannnya tujuan, sintaks, lingkungan, dan sistem pengelolaan pembelajaran. Politeknik Kotabaru dan industri dalam melaksanakan pembelajaran kolaboratif yang lebih baik, disarankan untuk membuat MOU terkait perencanaan guna meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Perbaikan perlu dilakukan untuk evaluasi hasil penyelenggaraan dan hasil pembelajaran. Uji kompetensi peserta didik juga diperlukan untuk mengetahui hasil evaluasi. Penelitian berikutnya juga diperlukan untuk pengembangan model pembelajaran kolaboratif ini. ABSTRACT Nurhadi, Didik. 2009. Collaborative Learning Model between Educational Institution and Industry at the Isolated Area (A Case Study at the Polytechnics of Kotabaru). Thesis. A Study Program of Vocational Education, Postgraduate Program of State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Dwi Agus Sudjimat, M.Pd., (II) Drs. Isnandar, MT. Keywords: collaborative learning model, education at the isolated area Collaborative learning model is applied between educational institutions and industries at the isolated area due to ability of the human resources competition to get a job are very low. Therefore, this fact makes both educational institution and industries are more concerned to develop a collaborative learning model. This learning model is collaboration between Polytechnics of Kotabaru and PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Plant 12 Tarjun. This learning model is intended to improve local human resources capability in order to enable to compete and the graduates will be hired by local industries. Implementation of this collaborative learning model has run for the past five years, but the learning model chart is not obvious, therefore, the research is done. Problems formulation of the research includes (1) how is the planning of collaborative learning? (2) how is the implementation of collaborative learning? (3) how is the evaluation of collaborative learning? (4) how is the evaluation of collaborative learning result? and (5) what are the obstacles in implementation of collaborative learning model between educational institutions and industries? The chosen research method is quantitative and descriptive method using interview, questionnaires, documentation, and centered-group discussion techniques. Objective of this research is to provide planning, implementation, evaluation over the implementation and result of the collaborative learning between Polytechnics of Kotabaru and PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk Plant 12 Tarjun, as well as obstacles in its implementation. Results of this research show that: (1) collaborative learning plan should be improved to obtain more obvious and exact plan through MOU about: (a) detailed and obvious arrangement, (b) tasks division and authorities evenly, (c) accurate data about industry world, (d) empowering the existed institutions, (e) commitment of the instructor, learners, and parents, (f) good communication among them, (g) operational and proper learning packages, and (h) format training plans, training agreement, as well as monitoring and evaluation, and supported by integrated curriculum between both sides; (2) Implementation of the collaborative learning should be improved concerning with (a) organization strategy, (b) delivery strategy, and (c) management strategy; (3) Evaluation over the implementation of collaborative learning should be improved by applying PDCA (Plan-Do-Check-Action); (4) Evaluation of the collaborative learning result should be improved in (a) learning effectiveness, (b) learning efficiency, and (c) attraction of learning; (5) obstacles in implementation of the collaborative learning model that related to planning, implementation, evaluation of the implementation and evaluation of the learning result should be completed. Obstacle in learning is occurred due to less attention on objective, syntax, environment, and learning management system. In implementing better collaborative learning at Polytechnics of Kotabaru and industry, it is suggested to make MOU related with planning to improve quality of the process and learning result. Some improvement should be made for evaluation of the implementation and learning results. Competency test of the learners is badly needed to find out the evaluation result. Further research is needed to develop this collaborative learning model.

Pembuatan gaun two pieces dengan memadukan warna-warna kontras / Rina Rosida

 

Busana atau pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Manusia membutuhkan busana untuk melindungi dan menutup dirinya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, busana juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, ataupun kedudukan seseorang yang memakainya (http ://id.wikipedia.org/wiki/pakaian, diakses 13 Mei 2009). Bahkan, busana kini telah berubah fungsi menjadi tempat penuangan ide ataupun kreatifitas. Pada umumnya dari semua jenis busana, yang diutamakan adalah keindahan, kenyamanan dan ketepatan pada ukuran tubuh pada saat busana dikenakan. Pemakaian busana dengan ukuran yang sesuai dengan tubuh si pemakai akan terkesan lebih indah dan menarik. Hal tersebut juga tak lepas dari keserasian dalam memadukan busana. Keserasian berbusana berarti memakai busana dengan memperhatikan usia, bentuk badan, warna kulit, waktu, tempat, suasana, dan kepribadian si pemakai. Jenis-jenis busana terbagi menjadi beberapa kelompok, antara lain: busana seharihari atau busana rumah, busana sekolah atau busana kuliah, busana olahraga, busana kerja, busana rekreasi atau busana santai, busana kesempatan khusus, dan busana pesta (Soekarno dan Lanawati, 2004:35). Busana pesta termasuk busana yang istimewa karena dalam pembuatannya diperlukan jiwa seni yang cukup tinggi baik dari segi pemilihan model, bahan, warna, dan aksesoris. Hal tersebut dikarenakan sang pemakai pada umumnya berharap busana yang dipakai memiliki daya tarik tersendiri pada acara pesta yang dihadiri. Namun demikian, dalam pemakaian busana pesta harus disesuaikan dengan kesempatan acaranya. Busana pesta remaja umumnya lebih bervariatif terutama dari segi model dan selalu mengikuti perkembangan trend mode di setap tahunnya. Hal ini disebabkan karena salah satu karakter remaja yang selalu ingin mencoba hal-hal baru termasuk diantaranya adalah mode busana. Faktor ini pula yang menyebabkan banyaknya industri busana terus merancang stategi promosi yang tepat untuk menarik konsumen terhadap busana-busana pesta. Saat ini industri busana lebih membidik konsumen dengan usia remaja. Hal ini disebabkan umumnya remaja lebih berminat terhadap perkembangan trend mode khususnya fashion. Busana pesta saat ini telah hadir dengan beragam model. Model busana pesta wanita yang sering dijumpai biasanya berupa gaun, sackdress, bustier, kebaya dan lain sebagainya. Busana pesta yang penulis rancang merupakan busana two pieces yang terdiri atas busana bagian luar dan busana bagian dalam. Baik busana luar maupun busana dalam yang dirancang berupa gaun. Gaun yang dirancang disini dengan mengaplikasikan permainan tiga warna kontras yaitu jingga kemerahan, kuning keemasan, dan biru turqish. Ketiga warna tersebut ialah perpaduan warna-warna cerah yang terkesan berlawanan satu dengan yang lainnya. Warna cerah pada warna kontras dipilih karena dapat mewakili karakter remaja yang ceria, energik, dan semangat. Peletakan warna kontras pada busana yang penulis rancang adalah pada gaun luar yang terdiri dari dua belas potong pias. Jumlah potongan pias dipilih sebagai pertimbangan peletakan warna, sebab dengan menggunakan dua belas potong pias maka penulis dapat meletakkan ketiga warna tersebut dengan komposisi yang seimbang. Untuk gaun bagian dalam, penulis memilih warna jingga kemerahan sebagai pengulangan warna yang terdapat pada gaun luar, sebab warna jingga kemerahan merupakan warna panas yang menjadi simbol riang dan semangat.

Strtategi pembelajaran muatan lokal "Seni Reyok" di SMA Negeri 2 Ponorogo / Nanik Indri Astutik

 

ASBTRAK Astutik, Nanik Indri. 2009. Strategi Pembelajaran Muatan Lokal "Seni Reyog" Di SMA Negeri 2 Ponorogo. Skripsi, Program Pendidikan Seni Tari, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd, (2) Drs. Imam Muhadjir. Kata Kunci: Strategi, Pembelajaran, Muatan lokal "Seni Reyog" hadir di SMA Negeri 2 Ponorogo sebagai mata pelajaran muatan lokal. Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran umum dan strategi guru mengajar muatan lokal "Seni Reyog" di SMA Negeri 2 Ponorogo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran umum dan strategi guru mengajar muatan lokal "Seni Reyog" di SMA Negeri 2 Ponororgo. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan diskriptif. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik telaah dokumen, observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, sajian data disertai penarikan kesimpuan. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) "Seni Reyog" hadir di SMA Negeri 2 Ponorogo sebagai mata pelajaran muatan Lokal. Potensi pengembangan kemampuan daerah dan pemanfaatan sumber daya manusia (guru) menjadi pemikiran dasar kebijakan sekolah dan alasan dasar dari kurikulum yang digunakan yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kelayakan menjadi guru muatan lokal "Seni Reyog" tidak harus berlatar belakang dari pendidikan seni/ pendidikan sarjana seni. Terbukti guru yang mengajar muatan lokal "Seni Reyog"di SMA Negeri 2 Ponorogo berlatar pendidikan Bahasa Inggris; (2) Sesuai dengan KTSP sebagai kurikulum yang digunakan dalam membelajarkan muatan lokal "Seni Reyog", guru telah menyiapkan perangkat mengajar sebelum mengajar. Standar kompetensi dan kompetensi dasar dikembangkan dari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari mata pelajaran seni budaya sub mata pelajaran seni tari dan sub mata pelajaran seni musik tahun ajaran 2007/2008; (3) Kecenderungan guru dalam proses pembelajaran muatan lokal ”Seni Reyog” menggunakan model aprentisip, metode demonstrasi, drill/ latihan yang diulang-ulang dan menggunakan pendekatan eskpositorik. Media yang digunakan dalam pembelajaran muatan lokal "Seni Reyog" adalah media guru (media berbasis manusia), tape kaset pita, player, CD dan gamelan serta menggunakan properti eblek dan sampur.(4) Evaluasi yang digunakan adalah proses dan hasil, akhir semester genap ini siswa diwajibkan untuk menggelar pertunjukan kreasi gerak tari dan musik iringan tari warok dan jathil. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan untuk (1) pengorganisasian perangkat mengajar dan perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar dilaksanakan dengan teliti, cermat dan tepat sehingga guru mempunyai pegangan/pedoman dalam melaksanakan kegiatan belajar. i Dengan berusaha semaksimal mungkin agar kegiatan pembelajaran di kelas sesuai dengan perangkat mengajar yang telah dibuat; (2) Pihak sekolah diharapkan dapat meningkatkan dan menambah guru (pengajar) dan sarana prasarana yang sesuai untuk pembelajaran gerak tari dan musik iringan reyog; (3) Diharapkan guru mengetahui dan mengerti metode, pendekatan serta model pembelajaran seni untuk mengajarkan muatan lokal "Seni Reyog", karena isi dan materi "Seni Reyog " adalah kesenian yang sub materi seni tari dan musik; (4) Muatan lokal "Seni Reyog" hadir dalam pendidikan sebagai wujud bakti terhadap kesenian reyog diharapkan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mengupayakan kelengkapan dari pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran muatan lokal "Seni Reyog", sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal.

Improving students' ability in writing recount texts through the question and answer technique at MTs Siti Mariam Banjarmasin / Raudhatun Nisa

 

ABSTRACT Nisa, Raudhatun. 2009. Improving Students’ Ability in Writing Recount Texts through the Question and Answer Technique at MTs Siti Mariam Banjarmasin. Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Hj. Utami Widiati, M.A. Ph.D., (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Key words: recount text, writing, the question and answer technique This study was carried out based on the problems faced by the researcher as the English teacher at MTs Siti Mariam Banjarmasin. Based on the results of the preliminary study at the grade eight students, it showed that the students’ achievement in writing especially in recount text was still unsatisfactory and the students had low motivation to participate in the writing tasks. To solve the problems, the Question and Answer Technique was chosen. Thus, this study was designed to investigate how the Question and Answer Technique could improve the ability of the grade eight students of MTs Siti Mariam Banjarmasin in writing recount texts. The study used a collaborative classroom action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in conducting this study. The researcher acted as the teacher while the English teacher became the observer who observed the implementation of the Question and Answer Technique. This study was conducted in two cycles by following the procedures of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle consisted of three meetings. The data of the study were gathered through the following instruments - observation checklist, field notes, questionnaire and students’ writing tasks. The subjects of this study were 35 grade eight students of MTs Siti Mariam Banjarmasin of the 2008/2009 academic year. The findings of the study revealed that the Question and Answer Technique could improve the students’ ability in writing recount texts by guiding them in constructing sentences. In constructing sentences, the students were given a series of questions based on certain media (such as timetables, picture series, and so forth). The complete answers of the questions were then constructed in a certain way to make a well-organized recount text. Furthermore, the improvement of the students’ ability in writing recount texts could be seen from the increase of students’ average writing score from 52.1 in the first cycle, to 70.1 in the second cycle. Besides, from the result of observation checklist, field notes, and questionnaire, the findings of this study indicated that the Question and Answer Technique was effective in enhancing the students’ participation and motivation in the teaching and learning process. In addition, the findings of the study revealed the appropriate model of the Question and Answer Technique in the teaching of writing covered the following procedures: (1) giving the students the model of recount texts, (2) having students read the recount texts and pay attention to vocabulary and sentence structure or language feature of recount texts, (3) asking students some questions to ensure that the students have understood about the content and the generic structure of recount text, (4) organizing the students into groups, (5) distributing to each group of students several copies of the picture series with a list of questions (some questions were related to the topic and the picture series, some others were not), (6) assigning the students to select the questions related to the topic and picture series in group, (7) assigning the students to answer the selected questions in group, (8) assigning the students to arrange their answers to be a recount text individually, (9) assigning the students to combine the sentences of their text with the appropriate connectors individually, and (10) giving opinion and suggestion to the students to revise and edit their drafts. Based on the above findings, it is suggested that the English teachers apply the Question and Answer Technique since it is beneficial in improving the students’ ability in writing recount text. Moreover, to the future researcher, particularly those who have the same problems and are interested in applying the Question and Answer Technique in their research, it is suggested that they apply the Question and Answer Technique in the same field which is focused on increasing the students’ creativity and curiosity in writing (creative writing) or in the teaching of other language skills, for instance listening and speaking (by having students to listen to an oral monologue for example, and then asking them to answer the questions about the monologue orally). ABSTRAK Nisa, Raudhatun. 2009. Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menulis Teks Recount melalui Teknik Tanya-Jawab di MTs Siti Mariam Banjarmasin. Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Hj. Utami Widiati, M.A. Ph.D., (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Kata kunci: teks recount, menulis, teknik tanya-jawab Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada permasalahan yang dialami oleh peneliti sebagai guru Bahasa Inggris di MTs Siti Mariam Banjarmasin. Berdasarkan hasil studi awal pada siswa kelas delapan MTs Siti Mariam Banjarmasin, diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis teks recount masih kurang memuaskan dan siswa mempunyai motivasi yang rendah untuk berpartisipasi dalam tugas menulis. Teknik Tanya-Jawab dipilih untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk mengetahui bagaimana Teknik Tanya-Jawab dapat meningkatkan kemampuan siswa-siswi kelas delapan MTs Siti Mariam Banjarmasin dalam menulis teks recount. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana peneliti dan guru bekerja sama dalam melaksanakan penelitian ini. Peneliti berperan sebagai guru sedangkan guru bahasa Inggris menjadi observer yang mengobservasi pelaksanaan Teknik Tanya-Jawab. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang mengacu pada prosedur penelitian tindakan yaitu planning, implementing, observing, dan reflecting. Tiap siklus dalam penelitian ini terdiri dari tiga pertemuan. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa instrumen yaitu ceklis observasi, catatan lapangan, kuisioner, dan tugas-tugas menulis siswa. Subyek penelitian ini adalah 35 siswa kelas delapan MTs Siti Mariam Banjarmasin pada tahun ajaran 2008/2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teknik Tanya-Jawab dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks recount dengan membimbing para siswa dalam membuat kalimat. Dalam membuat kalimat, para siswa diberi serangkaian pertanyaan berdasarkan media tertentu (seperti daftar kegiatan, gambar berseri, dan lain-lain). Jawaban lengkap dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diolah dengan cara tertentu untuk menghasilkan sebuah teks recount yang terorganisasi dengan baik. Lebih lanjut, peningkatan kemampuan siswa dalam menulis teks recount dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata menulis siswa dari 52,1 di putaran pertama, menjadi 70,1 di putaran kedua. Di samping itu, dari hasil ceklis observasi, catatan lapangan, dan kuisioner, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa Teknik Tanya-Jawab sangat efektif dalam meningkatkan partisipasi dan motivasi siswa dalam proses belajar dan mengajar. Terlebih lagi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Teknik Tanya-Jawab yang sesuai dalam pengajaran menulis meliputi prosedur berikut: (1) memberikan model teks recount kepada siswa, (2) memerintahkan siswa untuk membaca teks recount tersebut dan memperhatikan kosa kata dan tata bahasa atau ciri-ciri kebahasan dari teks recount, (3) memberikan pertanyaan yang bertujuan untuk menyakinkan pemahaman siswa tentang isi cerita dan generic structure dari teks recount, (4) mengelompokkan siswa, (5) mendistribusikan gambar berseri dengan serangkaian pertanyaan (sebagian pertanyaan-pertanyaan itu berhubungan dengan topik dan gambar berseri tersebut, sebagian pertanyaan yang lain tidak berhubungan dengan topik dan gambar berseri tersebut) kepada masing-masing kelompok siswa, (6) menugaskan siswa untuk memilih pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan topik dan gambar berseri tersebut secara berkelompok, (7) menugaskan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dipilih secara berkelompok, (8) menugaskan siswa untuk menyusun jawaban-jawaban mereka menjadi sebuah teks recount secara individu, (9) menugaskan siswa untuk menggabungkan kalimat-kalimat dalam teks recount mereka dengan kata sambung yang sesuai secara individu, dan (10) memberi pendapat dan saran kepada siswa untuk merevisi dan mengedit tulisan mereka. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan Teknik Tanya-Jawab karena teknik ini bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks recount. Lebih lanjut, kepada peneliti yang akan datang, khususnya bagi mereka yang memiliki permasalahan yang sama dan tertarik untuk menerapkan Teknik Tanya-Jawab dalam penelitian mereka, disarankan agar mereka menerapkan Teknik Tanya-Jawab pada bidang keterampilan yang sama yang difokuskan untuk peningkatan kreatifitas dan keinginan-tahu siswa dalam menulis (menulis kreatif) atau pada pembelajaran bidang keterampilan bahasa lainnya seperti menyimak dan berbicara (dengan menyuruh siswa untuk menyimak sebuah monolog lisan, misalnya, dan kemudian menyuruh mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang monolog tersebut secara lisan).

Pembuatan busana pesta menggunakan bentuk dan motif geometri / Rivo Eka Maf'ula

 

Melihat dari tren busana 2010 yang masih mengacu pada denim, maka penulis ingin membuat sebuah busana berbahan baku denim. Dari masa ke masa denim masih menjadi sebuah tren. Namun selama ini denim hanya digunakan untuk busana sehari-hari atau casual, masih jarang ditemui denim digunakan untuk acara formal atau busana pesta. Hal inilah yang mendorong penulis untuk membuat sebuah busana berbahan denim dengan desain yang menarik dan elegan sehingga bisa digunakan untuk acara formal atau pun pesta. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas akhir ini adalah menciptakan suatu desain busana pesta dengan pewarnaan pelangi pada denim. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah dapat dijadikan sumber inspirasi bagi pembaca untuk membuat busana pesta dengan pewarnaan pelangi pada denim. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 259.000,- Hasil yang diperolah dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa long coat dan gaun bersiluet A, yang keduanya menggunakan bahan denim, sedangkan untuk pewarnaan pelangi menggunakan teknik airbrush. Aksesories dan milineris yang digunakan adalah hiasan rambut dari bahan denim, sepatu, anting-anting dan legging. Saran yang dapat diberikan adalah pada saat menandai kain sebelum proses airbrush, sebaiknya menggunakan kapur jahit jangan menggunakan pensil. Hal ini karena goresan menggunakan pensil membekas pada kain dan susah untuk dihilangkan.

Pemanfaatan media neraca bilangan untuk meningkatkan hasil belajar operasi perkalian bilangan siswa kelas II SD Negeri Tundosoro Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Andika Martaning

 

Matematika merupakan salah satu pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rendahnya hasil belajar matematika salah satu penyebabnya adalah daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika masih kurang. Asumsi yang didapat bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan membingungkan, terutama dalam menyelesaikan soal-soal perkalian. Peneliti berasumsi bahwa dengan media neraca bilangan siswa akan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran matematika tentang operasi perkalian bilangan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) pembelajaran “media neraca bilangan” untuk meningkatkan hasil belajar matematika operasi perkalian bilangan siswa kelas II SDN Tundosoro, (2) peningkatan hasil belajar matematika operasi perkalian bilangan siswa kelas II SDN Tundosoro setelah dilaksanakan pembelajaran matematika menggunakan “media neraca bilangan”. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subyek penelitian ini ialah siswa kelas II SDN Tundosoro sebanyak 30 siswa.. Instrumen yang digunakan adalah tes, lembar observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media neraca bilangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SDN Tundosoro dilakukan dengan cara siswa mengisi lembar tes akhir tentang operasi perkalian kemudian ditukar dengan teman lain dan siswa yang ditunjuk maju untuk mempraktekkan dengan menggunakan media neraca bilangan. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan dari nilai rata-rata pretest dan postest, pada siklus I meningkat dari 5,2 menjadi 6,76. sedangkan pada siklus II ditunjukkan dari nilai postest pada siklus II meningkat dibandingkan pada siklus I yaitu 6,76 menjadi 8,5. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) pembelajaran menggunakan media neraca bilangan dapat meningkatkan hasil belajar matematika operasi perkalian bilangan siswa kelas II SDN Tundosoro, (2) peningkatan hasil belajar dapat di lihat dari nilai rata-rata pretest dan postest pada siklus I meningkat dari 5,2 menjadi 6,76. Sedangkan nilai postest pada siklus II juga meningkat dibanding pada siklus I yaitu dari 6,76 menjadi 8,5. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) guru dalam pelajaran matematika hendaknya menggunakan media pembelajaran yang efektif bagi siswa yaitu ”media neraca bilangan” agar tujuan belajar matematika tercapai, (2) sekolah dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan hendaknya menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjung pelaksanaan pembelajaran matematika dengan media pembelajaran, (3) peneliti lain diharapkan dapat melanjutkan untuk mendapatkan temuan yang lebih signifikan.

Hubungan kemampuan mengajar guru, kelengkapan peralatan praktik, dan motivasi berprestasi dengan pencapaian kompetensi siswa dalam menginstalasi perangkat jaringan lokal (Local Area Network) di SMK se-Kabupaten dan kota Mojokerto / Bambang Kuswanto

 

ABSTRAK Kuswanto, Bambang. 2009. Hubungan Kemampuan Mengajar Guru, Kelengkap¬an Peralatan Praktik, dan Motivasi Berprestasi dengan Pencapaian Kom¬pe¬tensi Siswa dalam Menginstalasi Perangkat Jaringan Lokal (Local Area Net¬work) di SMK Se-Kabupaten dan Kota Mojokerto. Tesis, Jurusan Pen¬di¬dik¬an Kejuru¬an, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pem¬bim¬bing: (I) Prof. Dr. H. Djoko Kustono, M.Pd., (II) H. Hakkun Elmun¬syah, ST., M.T. Kata kunci: kemampuan mengajar, kelengkapan peralatan praktik, mo¬tivasi ber¬prestasi, kompetensi menginstalasi perangkat jaring¬an lo¬kal. Salah satu sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan di era global ini adalah SDM yang mempunyai kompetensi di bidang informasi dan komunikasi. Untuk memenuhi kebu¬tuh¬an tersebut, pemerintah mulai membuka sekolah mene¬ngah kejuruan (SMK) di Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Pro¬g¬ram Keahlian Tek¬nik Kom¬puter dan Jaringan (TKJ). Pertumbuhan SMK program keahlian TKJ yang pesat, diharapkan seiring dengan peningkatan kualitas lulusannya. Namun kenyataannya masih jauh dari ha¬rap¬an. Hal ini dapat ditunjukkan oleh pencapaian kompetensi lulusan Program Keahlian TKJ yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui hubungan ke¬mampuan mengajar guru, persepsi siswa terhadap kelengkapan peralatan praktik, dan motivasi berprestasi siswa dengan pencapai¬an kompetensi menginstalasi pe¬rangkat jaringan lokal (LAN) di SMK Se-Kabupa¬ten dan Kota Mojokerto. Peneli¬tian ini menggunakan ran¬cangan penelitian deskriptif korelasional dan dilakukan pada SMK program ke¬ahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) Se-Kabupaten dan Kota Mojoker¬to. Ada 6 SMK dengan 142 siswa yang dijadikan sampel pene¬li¬tian. Teknik peng¬ambilan sampel yang digunakan adalah sampling acak secara proporsional, sedangkan sebagai alat pengum¬pulan data¬ digunakan angket dan tes. Dari hasil penelitian dapat diungkapkan bahwa: (1) terdapat hubungan po¬sitif yang signifikan antara ke¬mampuan mengajar guru dengan kompetensi siswa, (2) terda¬pat hubungan positif yang signifikan antara per¬sepsi siswa terhadap ke¬leng¬kapan peralat¬an praktik dengan kompetensi siswa, (3) terdapat hubungan po¬si¬tif yang signifikan an¬tara motivasi berprestasi dengan kompe¬ten¬si siswa, dan (4) secara bersa¬ma-sama, terdapat hubungan yang positif signifikan antara kemam¬pu¬an meng¬a¬jar guru, ke¬lengkapan peralatan praktik, dan motivasi berprestasi dengan kompetensi siswa. Berdasarkan hasil temuan ini, maka ada beberapa saran yang dapat disam¬pai¬kan, yaitu: (1) agar guru meningkatkan kemampuannya melalui diklat dan studi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi; (2) agar kepala sekolah memenuhi ke¬bu¬tuhan peralatan praktik sesu¬ai de¬ngan stan¬dar kebutuhan yang telah ditetapkan; (3) agar guru untuk selalu memberikan dorongan dan pemantauan terus-mene¬rus pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah dan bagi siswa memiliki mo¬tivasi berprestasi tinggi, perlu diberitahukan tujuan pembelajaran, modul atau buku referensi, dan pemberian balikan dari tugas yang diberikan; (4) agar siswa da¬¬pat meningkatkan penguasaan kompetensi¬nya dengan terus belajar dan berlatih, misal¬kan: melaksanakan praktik kerja in¬dustri (prakerin) yang sesuai dan mengi¬kuti lomba kompetensi siswa (LKS); dan (5) agar pihak Kepala Dinas Pen¬didikan Kabupaten dan Kota Mojo¬ker¬to mengambil kebi¬jakan yang berhubung¬an dengan peningkatan kualitas SMK, misalkan: pemberian dik¬lat dan beasiswa pendi¬dikan lanjutan bagi guru SMK, pengalokasian dana pendidikan un¬tuk me¬leng¬kapi kebu¬tuhan peralat¬an praktik, pengadaan lomba-lomba kompe¬tensi siswa, dan pemberi¬an penghargaan pada siswa-siswa ber¬prestasi. ABSTRACT Kuswanto, Bambang. 2009. Correlation of Teachers’ Teaching Ability, Complete¬ness of Practice Equipment, and Achievement Motivation with Students’ Competence Achievement in Installing Local Area Network (LAN) at Vo¬cational Schools in Mojokerto. Thesis, Vocational Educati¬on Depar¬te¬ment. Post-graduate Program of the State University of Ma¬lang. Advi¬sor: (I) Prof. Dr. H. Djoko Kustono, M.Pd., (II) H. Hakkun El¬munsyah, ST., M.T. Key words: teaching ability, completeness of practice equipment, achievement motivation, local area network installation competency. Global era these days requires human resources that have competence in in¬formation and communication fields. To fulfill the demand, Goverment is open¬ing vocational schools that have Communication and Information Technology (TIK) Departement, Computer and Network Engineering (TKJ) Departement. Vocational schools with TKJ Departement are in time growing in numbers, which expects improvement in school graduates’ quality. However, the fact is dif¬ferent from the sxpectation, indicated by the competence achievement of TKJ gra¬duates that is not optimal. This research aims at revealing and recognizing relationship teachers’ teach¬ing ability, complete¬ness of practice equipment, and achievement motivation with students’ competence achievement in installing local area network (LAN) at voca¬tional schools in Mojokerto. The current research has used correlation descriptive design and has been done at vocational schools, TKJ Departement all over Mojo¬kerto. There has been 6 vocational schools and 142 students that were involved as result sample. Sampling technique used was proportional randam sampling, by the instruments of quesionnaire and test. The research result has shown the following facts: (1) there has been a signi¬fi¬cant correlation between teachers’ teach¬ing ability and students’ competence, (2) there has been a signi¬fi¬cant correlation between complete¬ness of practice equip¬ment and students’ competence, (3) there has been a signi¬fi¬cant correlation bet¬ween achievement motivation and students’ competence, and (4) eventually there has been a signi¬fi¬cant correlation between teachers’ teach¬ing ability, complete¬ness of practice equipment, and achievement motivation toward students’ competence. Base on these findings, the following suggestions have been made: (1) the teachers should improve their theaching ability through joining in education-and-practice programs (diklat) and studi on higher level, (2) the headmasters should fulfill practice equipments in line with the established needs standards, (3) the teach¬ers should regularly motivate and evaluate the low-mativated students while giving information about learning objectives, modules or references and giving feedbacks to the high-motivated students, (4) students should improve their com¬pe¬tences by keep learning and practicing, such as: applyng industrial laboratory practice (pakerin) and joining students’ competence competition (LKS), and (5) Head of Education Departement in Mojokerto determines policies regarding to qua¬lity improvement of vocational shool teachers, allocating educational fund for the equipment completion, holding student competence competitions, and giving rewards for high-motivated students.

Penerapan patchwork pada busana pesta pagi / Asyukru Nikmatulillah

 

Busana merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap orang. Salah satunya adalah model busana pesta yang banyak mendapat perhatian khusus oleh para pecinta mode busana. Mulai dari model yang sederhana sampai model yang mewah. Selain model, warna juga menjadi pusat perhatian busana pesta dan memiliki keistimewaan tersendiri bagi pemakainya. Penerapan warna kontras, biru turquoise, oranye, dan emas dapat menimbulkan kesan riang, sejuk, semangat, serta nyaman, dengan menggunakan paduan rok dan ponco, yang dapat menimbulkan kesan feminin yang penuh gaya, selalu ceria, semangat, etnik serta glamour yang akan melengkapi kesempurnaan dan kecantikan bagi pemakainya. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menciptakan suatu desain busana pesta yang menerapkan warna kontras dengan memadukan ponco dan rok. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi pembaca untuk membuat busana pesta yang menggunakan warna kontras dengan perpaduan rok dan ponco. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 486.800,- Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa ponco dengan krah shanghai dan rok, yang keduanya menggunakan bahan berupa sutra serat nanas, sutra garis, dan rawsilk. Bagian dalam memakai bra dengan warna biru turquoise. Aksesoris dan millinaries yang digunakan adalah bando, sepatu, dan legging dengan hiasan berupa garis terbuat dari bahan utama. Saran yang dapat diberikan adalah pada saat proses teknik jahit dilakukan, untuk membentuk bagian ujung asimetris busana, hendaknya menggunakan benang untuk membentuknya, agar bentuk yang dihasilkan dapat sempurna.

Studi pelaksanaan dan analisa biaya plat lantai beton bertulang pada proyek pembangunan gedung convention hall Universitas Negeri Malang Jl. Surabaya 6 Malang / Aprilina Kartikasari

 

ABSTRAK Kartikasari, Aprilina 2009. Studi Pelaksanaan dan Analisa Biaya Plat Lantai Beton Bertulang Pada Proyek Pembangunan Gedung Convention Hall Universitas Negeri Malang Jl. Surabaya 6 Malang. Proyek Akhir, Program Studi Diploma III Teknik Sipil dan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Boedya Djatmika, S.T., M.T. Kata kunci : Studi Pelaksanaan, pelat lantai beton bertulang, analisa biaya Perkembangan industri kontruksi di Indonesia mengalami kemajuan yang cukup besar akhir-akhir ini. Dalam industri kontruksi dikenal berbagai macam konstruksi, seperti: kontruksi kayu, kontruksi baja dan kontruksi beton serta konstruksi baja ringan. Dalam pelaksanaan bangunan, kontruksi beton makin sering digunakan sebagai bahan bangunan. Alasan pemakaian beton ini antara lain karena daya tahannya yang kuat, umurnya yang panjang dan praktis tidak memerlukan perawatan yang sering serta tahan korosi (Sutarto, 1988:2). Salah satu contoh pembangunan yang menggunakan kontruksi beton adalah proyek pembangunan Gedung Convention Hall Universitas Negeri Malang di Jl. Surabaya 6 Malang. Pada tahapan pelaksanaan beton bertulang pada pelat lantai beton bertulang dapat dikelompokkan menjadi 5 pekerjaan utama yang meliputi pekerjaan persiapan, pembesian, bekisting, pengecoran dan perawatan setelah pengecoran. Studi pelaksanaan ini bertujuan untuk mengetahui tahapan pelaksanaan pekerjaan pelat lantai beton bertulang pada proyek pembangunan Gedung Convention Hall Universitas Negeri Malang di Jl. Surabaya 6 Malang, serta bagaimana metode pelaksanaan penulangan, bekisting, pengecoran, perawatan, pembongkaran bekisting dan menganalisa biaya pekerjaan pelat lantai beton bertulang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah melalui teknik observasi (pengamatan), Interview (tanya jawab), dan dokumentasi. Dari hasil studi lapangan pelaksanaan pekerjaan pelat lantai mengenai pekerjaan penulangan, bekisting, pengecoran, perawatan dan pembongkaran bekisting secara umum sudah memenuhi persyaratan yang berlaku namun pada proses pembuatan perancah bekisting pelat kurang sesuai dengan kajian pustaka. Pada pekerjaan pelat lantai beton bertulang pada proyek pembangunan gedung Convention Hall Universitas Negeri Malang disarankan agar pelaksana dalam melaksanakan pekerjaan lebih memperhatikan ketentuan dalam kajian teori yang ada, sehingga tidak terjadi kesalahan atau penyimpangan dalam pelaksanaan proyek. Untuk memperoleh biaya yang efisien, disarankan agar perhitungan biaya dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) perlu mempertimbangkan kondisi di lapangan.

Penerapan pembelajaran eksperiensial dalam mengembangkan self-regulated learning mahasiswa / Darmiany

 

Abstrak Fenomena yang teramati di sejumlah kampus menunjukkan bahwa para mahasiswa nampaknya masih belum menghayati budaya belajar di perguruan tinggi. Adapun gejalanya adalah bahwa, para Mahasiswa yang dimaksud umumnya lebih senang apabila (a) materi perkuliahan terlebih dahulu "sudah diolah" oleh Dosen, lalu kemudian (b) langsung disampaikan (Content-transmission Paradigm), sehingga mereka tinggal "menelan" saja, (c) tidak disiplin mengatur waktu dalam belajar, selain mengikuti kuliah, (d) tidak tahu bagaimana cara berkonsentrasi, dan (e) belajar hanya bila akan ujian, (f) sehingga banyak diantara mereka memperoleh prestasi rendah, yang belum sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Oleh karena itu, sebagai Dosen, Peneliti merasa terpanggil untuk secara langsung ikut serta dalam memperbaiki budaya beelajar tersebut melalui Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), yang merajut latihan dan pemanfaatan metakognisi, motivasi dan perilaku yang diduga efektif, karena mecerminkan Sosok seorang Life-long Learner, terlepas dari Bidang Vokasi atau A-Vokasi yang kebetulan dia tekuni. Sebagaimana diketahui, Kerangka Pikir Pembelajaran Informal melalui Pengalaman Kerja khususnya dan Pengalaman hidup umumnya untuk Penumbuhan kemampuan seorang Life-long Learner itu, semula digagas oleh David Kolb, yang dikemas dalam sebuah Buku dengan judul Experiential Learning: Experience as a Source of Knowledge and Development (Kolb, 1984). Secara lebih rinci Kerangka Pikir Experiential Learning itu terdiri atas (1) concrete experinece, (2) reflective observation, (3) abstract conceptualization, dan (4) active experimentation. Pilihan untuk menggunakan format penelitian tindakan kelas ini dilakukan, karena melalui penelitian tindakan kelas, baik intervensi perbaikan yang dilakukan, maupun dampaknya kepada baik (a) penumbuhan kemampuan melakukan Self-Regulated Learning, maupun(b) pemanfaatannya dalam meningkatkan kualitas pembelajan dalam sesuatu Mata Kuliah tertentu itu, langsung dihayati secara bersama-sama oleh Dosen dan Mahasiswa sepanjang rentang transaksi pembelajaran. Secara lebih spesifik, keunggulan dari Strategi Pembelajaran Experiensial itu, adalah karena Belajar Informal melalui Pengalaman itu menjanjikan 2 jenis hasil, yaitu (a) penguasaan Dampak langsung Pembelajaran dalam Mata Kuliah tertentu (Instructional efect), sekaligus disertai (b) Penumbuhan kemampuan untuk melakukan Self-Directed Learning yang merupakan hasil tambahan dari Pengalaman elajar yang dijalani (Nurturant effect, (Joyce dan Weil, 1972). Hasil dari penerapan keempat modus tindakan belajar tersebut dilaporkan oleh tiap mahasiswa melalui wahana jurnal kegiatan belajar harian. Oleh karena itu, dalam Penelitian Kelas, baik segi peningkatan kemampuan melakukan Self-Directed Learning, maupun dari segi kualitas pembelajaran, terlebih dahulu perlu ditetapkan suatu Kriteria keberhasilan. Pada gilirannya, keberhasilan dalam meraih tingkat Kriteria keberhasilan inilah, yang digunakan sebagai Rujukan penilaian sepanjang rentang transaksi pembelajaran. Akan tetapi, yang juga penting dicatat pada kesempatan ini adalah bahwa Kerangka Pikir Pembelajaran Eksperiensial ini, tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh Pebelajar Dewasa, melainkan juga dapat dimanfaatkan oleh siapa pun juga, yang merasa terusik untuk belajar secara cerdas dari pengalamannya, meskipun hasilnya tidak selalu direkam dalam bentuk suatu Professional Journal yang baku (Holly, 1984). Dengan kata lain, Rekaman hasil dari Experiential Learning ini, secara produktif dapat dimanfaatkan oleh Mahasiswa S-3, Mahasiswa S-2 atau Mahasiswa S-1 yang tengah mempersiapkan Proposal Penelitian, Anggota Tim Studi Banding yang mempelajari Praktek dalam penanganan sesuatu masalah yang dilakukan oleh sesuatu lembaga atau sesuatu negara, Wartawan yang mengumpulkan bahan untuk mengusun Artikel Investigstive Reporting tentang sesuatu topik, dan sebagainya. Bahkan seorang Balita usia 4 ½ tahun pun, juga dapat memanfaatkan Experiential Learning ini untuk menumbuhkan Empati, misalnya jika ia merasa terusik ketika melihat perbedaan Cara Bersembahyang dari Ummat yang memeluk agama yang berbeda. Sebagai konteks dalam dalam penyelenggaraan Penelitian Tindakan Kelas ini, digunakan Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik dalam Prodi S-1 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang angkatan 2007-2008. Ini berarti bahwa seluruh populasi kelas, yang terdiri atas 52 orang itu, dilibatkan sebagai Subyek Perlakuan. Oleh karena itu, Penelitian Tindakan Kelas ini ditujukan untuk mengetahui Dampak pembelajaran eksperiensial dalam penumbuhan SRL dan peningkatan penguasaan Tujuan Instruksional Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik tersebut, yang hasil implementasinya direkam melalui akumulasi Jurnal Kegiatan Belajar harian. Dari pemaknaan atas akumulasi Jurnal Harian ini, ternyata secara bertahap, Penelitian Tindakan Kelas ini dapat memenuhi kriteria Keberhasilan yang telah ditetapkan itu dalam 3 siklus pembelajaran. Pada akhir siklus pertama, sebagian besar mahasiswa belum mampu menerapkan SRL melalui penulisan jurnal. Dalam pada itu, sebagian kecil (kurang dari 10%) mahasiswa yang menemui kesulitan dan oleh karena itu malas membuat jurnal dan, bahkan menjelang akhir Siklus II, masih ada mahasiswa yang menolak membuat jurnal belajar. Akan tetapi dengan arahan dan bimbingan secara terus menerus yang kemudian, juga disertai pemberitahuan menjelang akhir siklus II bahwa kemampuan menyusun Jurnal sesuai kriteria yang telah ditetapkan itu, akan dinilai dan hasilnya akan diumumkan di depan kelas, maka semakin besar jumlah Mahasiswa mulai termotivasi untuk belajar sambil menulis, bahkan menjealng akhir Siklus III, mereka sudah mulai terbiasa membuat rencana dan target setiap belajar, mulai aktif melakukan kegiatan mandiri, mencari, dan membahas tambahan bahan dari berbagai sumber, dan pada siklus III, telah nampak jelas, bahwa secara keseluruhan, pencapaian Kriteria Keberhasilan, berupa perbaikan persiapan diri (penerapan SRL) sehingga berimbas kepada peningkatan penguasaan tujuan instruksional Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik. Dengan kata lain, secara bertahap Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini, menunjukkan bahwa Pembelajaran Eksperiensial ini berpengaruh terhadap peningkatan penguasaan Tujuan Instruksional matakuliah Perkembangan Peserta Didik, melalui Penerapan SRL.

Improving the writing ability through picture series on the second year students of MA Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan Probolinggo / Samsuddin

 

ABSTRACT Samsuddin, 2009. Improving the Writing Ability through Picture Series of the Second Year students of MA Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan Probolinggo. Thesis. English Language Education, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D. (II) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M. Pd., M. Ed. Key Words: picture series, writing ability Based on the preliminary study, the ability of the second year students of MA Darul lughah Wal Karomah Kraksaan in writing paragraphs was still unsatisfactory. The students were unable to express their ideas in a good paragraph. They made a number of mistakes in their writing in terms of content, language use, and mechanism. To overcome this problem, to proposed one of the appropriate strategies in the teaching of English narrative writing using picture series. The research, which aimed at improving the ability of the second year students of MA Darul lughah Wal Karomah Kraksaan in writing narrative paragraphs using picture series, employed Collaborative Classroom Action Research. Both the researcher and his collaborator worked together in planning, implementing, observing the action, and reflecting on the data collected from the teaching and learning process and the students’ writing products. The subjects of this research were 36 students of class II B of MA Darul lughah Wal Karomah Kraksaan , East Java 2008/2009 academic year. The study was conducted in two cycles, and each cycle was carried out in four meetings. The findings indicate that using picture series is one of the strategy-improved students’ ability in writing narrative paragraph. After the researcher conducted the first and second cycle, it was shown that the result of the second cycle improved. Only 6 of 36 students (16.15%) still received scores under the target score 60. The steps were: (1) the teacher gave the picture series to groups of four students, (2) the teacher explained Simple Past Tense, vocabulary of irregular verbs, and plural nouns to the students to help them solve their problems in narrative writing, and (3) the teacher provided the vocabulary of irregular verbs and plural nouns on sheets of paper that made their writing better. Based on the research findings, three suggestions are presented. First, for the development of the teacher’s strategy in applying picture series, it is suggested that teachers socialize the strategy in the teacher’s meeting, workshops, trainings, or write articles about writing which uses picture series strategy in the students’ books, or journals. Second, it is recommended that the students use picture series as one of learning strategy to practice their writing ability, which can be done for instance their extra-curricular activity. Third, for material developers, it is expected that this research provide them with some considerations in developing writing materials, which are relevant to the students’ need. Fourth, future researchers are suggested that, it is expected to be continued because it has some benefits for teaching writing. By giving some valuable modifications particularly in the shape and the color of picture series. Therefore, it will be more interesting for the student. ABSTRAK Samsuddin. 2009. Meningkatkan Kemampuan Menulis dengan Menggunakan Gambar Seri bagi Siswa Kelas II MA Darul Lughah wal Karomah Kraksaan. Tesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D (II) Dr. Johannes Ananta Prayogo, M. Pd., M. Ed Kata Kunci: gambar seri, kemampuan menulis, Kemampuan siswa kelas dua MA Darul Lughah wal Karomah Kraksaan Probolinggo dalam menulis paragraf masih kurang memuaskan. Siswa tidak mampu mengekspresikan gagasan mereka dalam sebuah paragraf yang baik. Mereka masih membuat kesalahan dalam menulis berkenaan dengan komposisi, isi, penggunaan bahasa, dan mekanisme. Untuk mengatasi masalah ini, diajukan peneliti sebagai salah satu strategi yang tepat dalam mengajarkan menulis paragraph narasi dengan menggunakan gambar seri. Penelitian ini bertujuan memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis paragraph narasi dengan menggunakan gambar seri bagi siswa kelas dua MA Darul Lughah wal Karomah Kraksaan Probolinggo , menggunakan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif. Peneliti dan kolaborator bekerja sama dalam hal perencanaan, pengimplementasian, pengamatan tindakan dan refleksi data yang diperoleh selama proses kegiatan belajar mengajar dan hasil tulisan siswa. Subjek dari penelitian ini adalah 36 siswa kelas II B MA Darul Lughah wal Karomah Kraksaan tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, dan setiap siklus dilaksanakan dalam 4 pertemuan. Terindikasi bahwa penemuan gambar seri telah memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis paragraph narasi. Setelah peneliti menyelesaikan siklus pertama dan kedua, terlihat bahwa hasil siswa pada siklus kedua meningkat. Hanya 6 dari 36 siswa (16,5%) saja yang masih mendapat skor di bawah target skor 60. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. Pertama, guru memberikan gambar seri kepada kelompok-kelompok siswa yang beranggotakan empat orang. Kedua, guru menjelaskan Simple Past, kosa kata dari kata kerja tak beraturan dan kata benda jamak untuk membantu siswa memecahkan masalah-masalah mereka dalam menulis paragraph narasi. Ketiga, guru menyediakan kosakata dari kata kerja yang tak beraturan dan kata benda jamak yang disediakan dalam lembaran kertas untuk membantu siswa menulis lebih baik. Berdasarkan temuan di atas, dibuatlah tiga saran. Pertama, untuk mengembangkan strategi guru dalam menerapkan gambar seri, disarankan bahwa guru mensosialisasikannya dalam pertemuan guru, workshop, pelatihan, atau menulis artikel yang menggunakan strategi gambar seri dalam buku-buku siswa, atau jurnal. Kedua, dianjurkan bahwa siswa menggunakan gambar seri sebagai salah satu strategi belajar untuk melatih kemampuan mereka dalam menulis paragraph narasi, yang dapat dilakukan dalam kegiatan ekstra kurikuler mereka. Ketiga, bagi peneliti mendatang, disarankan melakukan studi semacam ini dengan subjek dan tempat yang berbeda untuk perbaikan mengajar menulis paragraph narasi.

Pencitraan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Trenggalek / Sunarko

 

ABSTRACT Sunarko, 2009. The Imaging of Vocational School in Trenggalek Regency. Thesis. A Study Program of Vocational Education. Postgraduate Program of State University of Malang. Advisor: (I) Prof. Dr. Amat Mukhadis, (II) Drs. Maftuchin Romlie M.Pd. Keywords : vocational school, professionalism of the teacher, expertise program, training and education system At the end of academic year, the parents will always be busy in preparing their children to enter new schools from elementary to junior high schools as well as from junior high schools to senior high schools. They have to make the right decision for the future of their children. Most of the parents hope that they children could continue their studies at high-qualified state schools, which still take with their children’s career in the future. Shift to the next education level, especially from junior high schools to senior high schools, has close related to the children’s career in the future and it needs serious handling, not only from the parents but also society who get involved in higher education problem. In relation to the children’s career in the future, vocational schools as institutions, which prepare graduates to be ready to work and career as the solution. According to Regulation of Government Number 29 in 1990, this formulates that education in vocational schools gives priority to prepare the students in getting opportunity for employment as well as developing professional attitude. Vocational schools play their roles in preparing skilled workforces, educating the children to be self-supported, decreasing number of unemployment and criminal action, as well as increasing the tax income for the country. Like school performance, professionality of educator energy , expertise area, education system and training, and quality of graduate. Therefore, an analysis should be made to identify the causal factors, which in turn could design the necessary programs to organize the future of vocational education in Indonesia, realistic working program, integrated and continuous. However, problems in vocational schools are complex, which mean that roots of the problems are not only derived from one source, but from more aspects that have close-related and depended, therefore, one of them cannot be solved easily. In solving such problems, it needs an integrated program as preliminary action to rehabilitate the image of the vocational schools, and followed by certain programs that are intended to make self-evaluation as a whole, and they are related to institutions, professionalism of the teachers, expertise program, training and education system, as well as product and merit of the students (student project), therefore, it is hoped that the education / learning implementation will run well as expected. This is a descriptive research. Population of this research is students at the Third grade of Vocational Schools in Trenggalek Regency during the Academic Year of 2007/ 2008, a number of 1332 and sample a number of 267. Steps in these research activities are as follow: (1) constructing instruments in the form of questionnaire, which has passed through statistically validation measurement stages according to the explored data, (2) exploring data from the source, population of the students by using the arranged-questionnaire, (3) doing tabulation, data analysis and interpreting result of the data analysis. Results of the research reveal facts as follow: (1) most of the programs of the respondents (70.60%) have perception that structure, vision and mission, as well as goal of the Vocational Schools that conform to need and expectation of the students (mean 116.40), (2) most of the respondents (78.195%) have perception that professionalism of the teachers at Vocational Schools conform to need and expectation of the students (mean 121.21), (3) most of the respondents (62.02%) have perception that goal of the expertise program conform to the student’s need (mean 21.54), (4) most of the respondents (86.90%) usually have perception that training and education system at vocational schools conform to the student’s expectation (mean 41.29), (5) most of the respondents (72.04%) have perception that product and merit at the Vocational Schools conform to the student’s need (mean 36.02). Based on result of the research, it can be concluded that: (1) in educational world (schools), the producer is the school management, which produce educational service for its consumers, the students, (2) high-qualified education has close relation to how the school programs are planned as effective as possible to encourage the students to learn, (3) learning effectiveness does not only evaluate result of the student’s study but also all efforts that could encourage them to learn. It means that qualification and performance of the teachers, the school staffs, as well as other personnel are indicator, which could determine learning effectiveness, (4) Most of the teachers at vocational schools in Trenggalek Regency have met the qualification as educator, when it is reviewed from: pedagogic competence, personality competence, social competence, and profession competence, (5) vocational field at Vocational Schools in Trenggalek Regency has not provided conformity as the student’s expected, it means that the goal of expertise program has not been reached or it has not satisfied the students. Causes of this failure lie in learning service that has not been implemented effectively as well as inadequate means and infrastructures, (6) Vocational Schools in Trenggalek Regency have cooperated with DU/DI, as seen on mutual agreement in planning basic learning program for vocational schools and it must be productive to improve quality of the graduates. But, implementation of vocational-basic learning process at vocational schools has not met the expectation of DU/DI, in which students have not been placed on the right position that conforms to their expertise. In related to learning service, some suggestions are given to the teachers as follow: (1) they should improve their competence through training institutions as well as learning organizations, such as MGPD or other organizations to improve their learning quality, (2) they should develop curriculum and evaluation in the interest of learning, (3) utilizing information technology and communication as sophisticated learning method to encourage the students to be more active in learning, and the-stated learning goal will be achieved, (4) develop learning methods that conform to characteristic of the expertise field and the students, (5) strive for the future of the students.

Upaya peningkatan prestasi siswa kelas X APK melalui metode pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) pada mata diklat bekerja sama dengan kolega dan pelanggan di SMK PGRI 6 Malang / Noer Qarimah

 

ABSTRAK Qarimah, Noer. 2009. Upaya Peningkatan Prestasi Siswa Kelas X APK Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games Tournament) pada Mata diklat Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan di SMK PGRI 6 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1) Drs. Sarbini, 2) Madziatul Churiyah, S.Pd, M.M. Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games Tournament), Prestasi Belajar Pembelajaran Kooperatif telah menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan reformasi pendidikan. Pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement (penguatan). Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa kegiatan pembelajaran mata diklat Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan di SMK PGRI 6 Malang menggunakan metode ceramah, pembelajaran masih didominasi guru dan kurang terpusat pada siswa. Hal ini menyebabkan siswa kurang merespon selama kegiatan pembelajaran berlangsung karena siswa merasa bosan, jenuh, mengantuk, dan kurang dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini berpengaruh pada prestasi belajar siswa yang menjadi kurang optimal padahal nilai ketuntasan belajar yang harus dicapai oleh siswa pada mata diklat Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan adalah 70. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif model TGT pada mata diklat Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan, peningkatan prestasi siswa melalui pembelajaran kooperatif model TGT, serta respon siswa terhadap penerapan pembelajarn kooperatif model TGT pada mata diklat Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini bersifat alamiah dan data yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk verbal. Jenis penelitian adalah Penelitian TIndakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas X APK SMK PGRI 6 Malang. Teknik pengambilan dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara induktif. Tindakan yang dilakukan dalam penerapan pembelajaran kooperatif model TGT pada mata diklat Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan adalah: 1) Peneliti menjelaskan secara rinci kepada siswa tentang metode pembelajaran kooperatif model TGT, 2) Peneliti memulai kegiatan pembelajaran kooperatif model TGT dengan memberikan pretest, kemudian siswa dibagi menjadi 10 kelompok heterogen berdasarkan segi akademik dan siswa duduk dalam kelompok yang sudah dibentuk, peneliti melakukan penyajian kelas tentang materi Berkomunikasi di Tempat Kerja, siswa melaksanakan kerja kelompok untuk mendiskusikan Lembar Kerja Siswa yang diberikan oleh peneliti dan mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, tahap game ini peneliti menyiapkan semua alat dan aturan main untuk turnamen, tahap turnamen merupakan aplikasi dari game dimana siswa beralih dari kelompok heterogen menjadi kelompok homogen dan duduk dalm meja-meja turnamen (Tinggi, Sedang1, Sedang2, dan rendah), kegiatan akhir adalah pemberian penghargaan terhadap kelompok yang mendapat nilai tertinggi, 3) Prestasi belajar siswa dilihat dari ketuntasan belajarnya yang diperoleh dari nilai pretest dan posttest. Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model TGT dilihat dari tercapainya kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan. Data prestasi belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata siswa adalah 70, dan pada siklus II nilai rata-rata siswa adalah 75,88 mengalami peningkatan sebesar 5,88 dari siklus I. Persentase siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 62,9% mengalami peningkatan sebesar 57,9% dari sebelum pemberian tindakan pembelajaran kooperatif model TGT dimana ketuntasan belajar siswa masih 5%. Sedangkan pada siklus II, persentase ketuntasan belajar siswa setelah diberi tindakan pembelajaran kooperatif model TGT adalah sebesar 94,12% mengalami peningkartan sebesar 31,22% dari Siklus I yang sebesar 62,9%. Analisis terhadap respon siswa dalam pembelajaran kooperatif model TGT dilihat dari 3 aspek yaitu tingkat minat siswa, tingkat keaktifan siswa, dan tingkat kebermaknaan. Hasil analisis angket respon siswa terhadap aspek minat siswa diperoleh skor rata-rata pernyataan adalah 2,897 yang termasuk kriteria “positif”. Pada aspek keaktifan siswa skor rata-rata yang diperoleh sebesar 3,088 yang termasuk kriteria “sangat positif”, sedangkan pada aspek tingkat kebermaknaan skor rata-rata yang diperoleh sebesar 3,127 yang termasuk Kriteria “sangat positif”. Berdasarkan hasil angket respon siswa pada ke 3 aspek di atas menunjukkan bahwa pembelajaran pada mata diklat Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan dengan metode kooperatif model TGT membuat hasil belajar lebih bermakna bagi siswa, meningkatkan minat, dan keaktifan siswa selama pembelajaran berlangsung. Saran yang dapat peneliti berikan yaitu: 1) Sekolah hendaknya mensosialisasikan berbagai metode pembelajaran yang baru dan meminta guru mata diklat untuk menerapkannya serta berinovasi terhadap metode pembelajaran yang digunakan, 2) Guru SMK PGRI 6 Malang disrankan mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT karena siswa memberikan respon yang positif, dapat meningkatkan prestasi siswa, mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, dan tidak monoton, 3) Peneliti harus lebih banyak belajar tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mencari referensi sebanyak mungkin dan hasil penelitian ini dijadikan pengalaman untuk penelitian selanjutnya karena masih banyak hal yang harus dikembangkan dan digali lebih dalam, 4) Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menemukan solusi agar metode pembelajaran kooperatif model TGT dapat diterapkan sepenuhnya dan menjadi alternative bagi guru dalam kegiatan pembelajaran.

Studi pelaksanaan dan rencana anggaran biaya pembuatan kolom dan balok precast / Ikhsan Ardianto

 

ABSTRAK Ardianto, Ikhsan. 2009. Studi Pelaksanaan dan Rencana Anggaran Biaya Pembuatan Kolom dan Balok Precast. Proyek Akhir, Program Studi Diploma III Teknik Sipil dan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Nindyawati, S.T., M.T. Kata Kunci : precast, pelaksanaan, kolom, balok, rencana biaya Precast, atau dalam istilah Indonesia disebut pracetak adalah suatu proses produksi komponen beton bertulang yang dilakukan di atas tanah, artinya dapat dilakukan di pabrik ataupun tempat lainnya yang ditentukan.Precast berkembang sejak awal tahun 80an. Dalam pelaksanaannya precast mudah dalam pengendalian mutunya dan juga tidak makan waktu yang lama dalam pelaksanaannya.Precast mempunyai banyak keunggulan, yaitu lebih murah dan lebih efisien. Dilain pihak precast juga membutuhkan peralatan berat dalam proses pemasangannya. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan kolom dan balok precast yang meliputi pekerjaan penulangan, pembuatan bekisting, dan pengecoran hingga perhitungan rencana anggaran biaya pembuatan kolom dan balok precast. Untuk mendapatkan data yang valid pada studi ini diperlukan suatu metode studi lapangan, yaitu dengan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data pada studi ini menggunakan metode: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari studi lapangan menyimpulkan bahwa; pelaksanaan pekerjaan pembuatan kolom dan balok precast terdiri dari penulangan, pembuatan bekisting, dan pengecoran. Penulangan menggunakan 2 jenis tulangan yaitu tulangan utama dan tulangan sengkang. Pembuatan bekisting menggunakan kayu meranti dan multipleks sebagai bahan utama. Sedangkan untuk pengecoran menggunakan beton dengan mutu K-350. Untuk perencanaan anggaran biaya dibandingkan antara pengerjaan sesuai SNI dan perhitungan sesuai real cost terjadi perbedaan selisih dimana real cost lebih kecil dari RAB sesuai SNI. Yaitu selisih untuk pembuatan 1 buah kolom K1 adalah Rp. 1.067.000,00 dan selisih untuk pembuatan 1 buah balok B1 adalah Rp.652.000,00. Dari hasil studi lapangan didapatkan beberapa saran dalam laporan ini. Saran-saran tersebut antara lain adalah : (1) Pelaksanana seharusnya lebih menekankan pada pentingnya K3, hal ini disebabkan masih banyaknya pekerja yang tidak mempedulikan keselamatan dengan tidak menggunakan alat pengaman kepala, kaki, dan sebagainya. (2) Disarankan untuk peneliti dalam pekerjaan bekisting, penulangan, dan pengecoran khususnya precast dilakukan penelitian terlebih dahulu agar mendapat informasi yang lebih banyak dan akurat. (3) setelah Proyek Akhir ini selesai, penulis menyarankan agar dilakukan studi lebih lanjut untuk mahasiswa yang lain, untuk mengetahui lebih lanjut tentang precast.

Studi pelaksanaan dan analisa biaya untuk pekerjaan plat lantai sistem grid pada proyek pembangunan RSU Mardi Waluyo Kota Blitar Jl. Kalimantan No. 113 Blitar / Moch. Nurzaeni

 

Pada bangunan bertingkat salah satu komponen bangunan yang ada adalahplat lantai. Salah satu tipe plat lantai adalah plat lantai sistem grid. Plat lantaisistem grid diterapkan pada bentang yang luas dan lebar, dengan jarak grid (balokgrid) yang sempit atau pendek plat lantai hanya menahan beban vertikal 55% daribeban semula. Jarak balok grid juga mempengaruhi ketebalan konstruksi plat,semakin sempit jarak balok grid semakin tipis ketebalan dari konstruksi plat.Dengan ketebalan plat yang tipis, balok grid sangat berguna sebagai pendukungdari kestabilan dan pengaku plat itu sendiri. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui lebih jelas tentangpelaksanaan dan analisa biaya untuk pekerjaan plat lantai sistem grid dengan studikasus pada Proyek Pembangunan Rumah Sakit Umum Mardi Waluyo Tahap II Jl.Kalimantan No.113 Blitar. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam studi lapangan adalahobservasi lapangan, interview dan dokumentasi. Setelah itu, data-data tersebutdianalisis lebih lanjut secara deskriptif komparatif. Sehingga dapat dihasilkan datauntuk atau perbandingan antara pelaksanaan di lapangan dengan pelaksanaan yangada dalam kajian pustaka. Hasil dari studi lapangan menyimpulkan bahwa; pelaksanaan pekerjaanplat lantai sistem grid mempunyai kesamaan dengan pelaksanaan pekerjaan platlantai biasa. Hanya saja plat lantai sistem grid memiliki banyak balok grid denganjarak grid yang sempit atau pendek. Pelaksanaan pekerjaan pengecoran plat lantaisistem grid menggunakan beton mutu K-225. Perhitungan Rencana AnggaranBiiaya yang dihitung pihak dibandingkan dengan perhitungan cara SNI dan CaraTepat Menghitung Biaya Bangunan terjadi perbedaan dalam jumlah biaya yangdibutuhkan dan nilai koefisien. Disarankan kepada peneliti yang akan melaksanakan Proyek Akhir agardapat mengembangkan studi lapangan ini. Dengan melakukan studi lapangantentang proses perhitungan konstruksi plat grid, keselamatan keamanan kerjadalam proyek pembangunan. Dalam proses studi lapangan ini belum sempatmelakukan penelitian tentang kedua hal tersebut. Dikarenakan waktu yangdibutunhkan untuk studi lapangan ini sangat singkat.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |