Peranan Bahasa Arab dalam dunia ilmu pengetahuan
oleh M. Ali Arifin

 

Ragam teks dalam buku pelajaran SD / Chalifatus Sahliyah

 

ABSTRAK Sahliyah, Chalifatus. 2015. Ragam Teks dalam Buku Pelajaran SD. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Suyono, M.Pd, (II) Dr. Roekhan, M.Pd. Kata Kunci: ragam teks, buku pelajaran SD Buku pelajaran adalah sarana belajar yang digunakan di sekolah untuk menunjang suatu proses pembelajaran. Dalam buku pelajaran disajikan berbagai macam teks. Tidak dapat dihindari bahwa siswa harus menghadapi teks dalam semua buku pelajaran yang dipelajari. Ragam teks yang dihadapi siswa tidak hanya ragam teks berdasarkan isi, tetapi juga ragam teks berdasarkan tujuan dan genre. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan ragam teks dalam buku pelajaran SD berdasarkan isi, (2) mendeskripsikan ragam teks dalam buku pelajaran SD berdasarkan tujuan, dan (3) mendeskripsikan ragam teks dalam buku pelajaran SD berdasarkan genre. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu instrumen pengumpulan dan analisis data. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini berupa tabel pengumpul data, sedangkan instrumen analisis data berupa tabel panduan analisis data dan tabel analisis data. Data pada penelitian ini adalah teks pada buku pelajaran SD kelas I sampai kelas VI. Sumber data pada penelitian ini yaitu buku pelajaran SD kelas I sampai kelas VI. Buku pelajaran yang digunakan siswa kelas I, II, IV, dan V yaitu buku pelajaran terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kurikulum 2013, sedangkan buku pelajaran yang digunakan siswa kelas III dan VI yaitu buku pelajaran terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional kurikulum 2006. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, ditemukan lima belas ragam teks berdasarkan isi dalam buku pelajaran SD, yaitu teks olahraga, teks sosial, teks ekonomi, teks budaya, teks kesehatan, teks militer, teks politik, teks agama, teks lingkungan, teks moral, teks kerajinan, teks sains, teks pahlawan, teks pertanian, dan teks pendidikan.Kedua, ditemukan lima ragam teks dalam buku pelajaran SD berdasarkan tujuan, yaitu teks narasi, teks deskripsi, teks argumentasi, teks eksposisi, dan teks persuasi. Ketiga, ditemukan tujuh belas ragam teks berdasarkan genre dalam buku pelajaran SD, yaitu teks cerita (teks fabel, teks cerpen, teks legenda, teks cerita sejarah), teks prosedur, teks puisi (teks lirik lagu, teks syair, teks pantun), teks kitab, teks buku harian, teks berita, teks eksplanasi, teks cerita ulang, teks biografi, teks feature, teks tabel, teks laporan informasi, teks diskusi, teks surat permintaan, teks pidato, teks drama, teks resensi buku. Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat dikemukakan tiga saran. Saran yang pertama ditujukan untuk guru. Guru sebagai pendidik tidak hanya menyuruh siswa untuk membaca berbagai macam teks tetapi juga disarankan untuk menjelaskan beragam teks dalam buku pelajaran yang dipelajari. Guru juga dapat memanfaatkan berbagai jenis teks dalam buku pelajaran untuk dijadikan contoh dalam pembelajaran. Saran yang kedua ditujukan untuk penyusun buku pelajaran. Penyusun buku pelajaran berperan penting dalam memilih teks dalam buku pelajaran. Oleh karena itu, berdasarkan temuan tentang ragam teks berdasarkan isi, tujuan, dan genre disarankan untuk lebih memperkaya teks pada penyusunan buku pelajaran selanjutnya. Saran yang ketiga ditujukan untuk peneliti selanjutnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti tingkat kesulitan yang dihadapi siswa terhadap keragaman teks yang dipelajari.

Penerapan dry point dengan bahan plastik sebagai salah satu kegiatan kreatif di kelas satu SMA / oleh Dan Suparman

 

The teaching of reading at senior high schools in Tulungagung / Fany Fransisca Sari

 

ABSTRAK Sari, Fany Fransisca. 2015. Pengajaran Membaca di Sekolah Menengah Atas di Tulungagung. Skripsi, Pendidikan Bahasa Inggris Program, Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd, M.Ed, Pembimbing II: Drs. Andi Muchtar, M.A., Kata kunci: membaca, strategi pengajaran Membaca dianggap sebagai kegiatan yang menakutkan karena beberapa faktor seperti teks tidak cocok yang memiliki teks yang panjang atau kosa kata asing. Itulah mengapa guru perlu menggunakan beberapa strategi untuk mengatasi masalah. Sukses dalam membaca terutama bergantung pada strategi yang tepat yang digunakan oleh guru dan pembaca yang berhasil dapat meningkatkan kemampuan mereka dengan menggunakan strategi yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan cara mengajar membaca yang dilakukan oleh guru dan menjelaskan alasan mengapa guru menerapkan strategy dalam mengajar membaca. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Peneliti mencoba untuk mengidentifikasi, mencari tahu dan menggambarkan strategi pengajaran membaca dan alasan mengapa para guru menerapkan strategi. Keempat guru yang diteliti yang berasal dari SMAN 1 Karangrejo, SMAN 1 Tulungagung, SMAN 1 Kedungwaru dan SMAN 1 Boyolangu. Para guru dari sekolah-sekolah yang diusulkan oleh kepala sekolah dari sekolah masing-masing. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar observasi yang digunakan untuk mengetahui kegiatan nyata dan situasi yang dilakukan oleh guru dan siswa di kelas, catatan lapangan yang digunakan untuk untuk mencatat beberapa item observasi untuk menambahkan data, dan wawancara yang digunakan untuk mengajukan beberapa pertanyaan lebih mendalam dalam memperoleh data yang tidak tercakup dalam lembar observasi. Kemudian, data dianalisis dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengatur, dan mengklarifikasi data Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Peneliti mencoba untuk mengidentifikasi, mencari tahu dan menggambarkan strategi pembelajaran membaca dan alasan mengapa para guru menerapkan strategi. Keempat guru di bawah studi adalah dari SMAN 1 Karangrejo, SMAN 1 Tulungagung, SMAN 1 Kedungwaru dan SMAN 1 Boyolangu. Para guru dari sekolah-sekolah tersebut disarankan oleh kepala sekolah dari sekolah masing-masing. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah daftar observasi, catatan lapangan, dan pedoman wawancara. Kemudian, data dianalisis dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mengatur, dan mengklarifikasi data. Penemuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa, empat guru (guru A, B, C, dan D) menggunakan modelling dan reading aloud sebagai strategi mengajar di kelas. Guru C dan guru D menggunakan writing project sebagai integareted strategy. Selain itu, hanya guru C yang menggunakan media visual untuk memperoleh pengetahuan siswa sebelumnya dan mengunakan grouping strategi. Untuk alasan mengapa guru menggunakan strategi, karena strategi pembelajaran penting dalam mengajar reading. Penggunaan strategi membaca bergantung pada situasi dan kondisi siswa di kelas. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang ditujuka untuk para guru, kepala sekolah dan peneliti selanjutnya. Untuk guru, mereka harus menggunakan berbagai strategi seperti SQ3R, KWL, dll. Mereka dapat menerapkan beberapa strategi untuk memotivasi siswa dalam membaca dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi. Untuk kepala sekolah, penelitian ini dapat menjadi media untuk membuat keputusan dalam meningkatkan prestasi siswa. Yang terakhir adalah untuk para peneliti selanjutnya, disarankan agar mereka dapat melakukan penelitian dalam pengajaran strategi yang lebih spesifik dalam jenis teks dan menggunakan temuan penelitian ini sebagai referensi.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan konsumen dalam pembelian handphone Nokia di Kecamatan Blimbing Malang / Listyorini Pramuningtyas

 

Key words: Marketing Diffused, consumer’s buying decision This is kind of research is survey research which is conducted by the researcher through observation during collecting data to the 100 respondents who use nokia mobile phone in Blimbing, Malang, with the title “The influence of Marketing Diffused to the Buying Decision of Nokia Mobile Phone (A studi of nokia mobile phone users in Blimbing, Malang)”. Blimbing was chosen because it becomes the main track that connects Malang and Surabaya. So, the society in Blimbing is dynamic and complex, thus, it is interesting to examine how is the attitude of the society in using technology especially mobile phone. Nokia mobile hone was chosen because this brand is so well known and unbroken in applying innovation and promotion through mass media. So, the use of thin mobile phone is far-ranging. The aim of this research is to figure out the effects of variable marketing diffused including product, price, promotion, and distribution to the buying decision of nokia mobile phone in Blimbing, Malang. The achieved advantage of the research especially for the company, it is expected gives additional information in order to increase the amount of selling, based on the consumer’s attitude analysis. According to the above explanation, the researcher attracted to conduct a research about marketing diffused. This research aims to find out the effects of marketing diffused (X) including product (X1), price (X@), promotion (X3), and distribution (X4), partially and simultaneously to the customer’s buying decision. on this research, the sampling technique used is Accidental Sampling. Accidental sampling is deciding sample based on the accidental event, which the sample taken is 100 nokia mobile phone users in Blimbing, Malang. the scale used is likert skale with five options of answers. To test the feasibility of the instrument, the researcher uses validity and reliability test. Data collection technique uses in this research are questionnaire, documentation, and interview. This research uses descriptive and multiple linier regression technique analysis through SPSS 13.00 version. Based on the result of the research, it is found that the marketing diffused variable(X) consisting of product (X1), price (X2), promotion(X3) and distribution(X4) factors partially and significantly give positive effects to the buying decision of Nokia Mobile Phone in Blimbing Malang. those effects is shown with significant value by t test from each variable, which the values are shown as follows: product(X1) has 4.979 significant value, price (X2) has 2.740 significant value, promotion(X3) has 2.883 significant value and distribution (X4) has 5.804 significant value. Simultaneously product (X1), price (X2), promotion (X3), and distribution (X4) also significantly have positive effects to the buying decision of nokia mobile phone in Blimbing, Malang. That effect is shown with significant value of F is 41.317. Besides, it is also known that the adjusted R square 0, 635. it can be interpreted that the variable of marketing defused consisting of product, price, promotion and distribution give impact to the buying decision of nokia mobile phone in Blimbing, Malang 63.5% and the rest is 36.5% which is influenced by other variable out side the research. Based on the result of the research, it is suggested to the personnel marketing of nokia mobile phone to improve level of distribution channel in order to be wider, so the consumer can reach nokia easily, product factor has to be easier to use and long durable, promotion has to be practices more incessantly, finally, the price has to be more competitive with offered product quality. besides the company should pay attention to the other factures to attract consumers which are not explain in this research. other factor can be from internal consumer factors such as culture, social, personal and psychology, and also external consumer

Penyajian bahan pelajaran struktur dan komposisi senyawa karbon di kelas I SMA / oleh Tuti Haryati

 

Pengaruh penggunaan strategi Think-Talk-Write (TTW) terhadap kemampuan menulis teks eksposisi siswa kelas VII SMP Negeri 6 Malang / Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari. 2015. Pengaruh Penggunaan Strategi Think-Talk-Write (TTW) terhadap Kemampuan Menulis Teks Eksposisi Siswa Kelas VII SMP Negeri 6 Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd., (II) Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd. Kata Kunci: strategi TTW, kemampuan menulis, teks eksposisi Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui adanya pengaruh penggunaan strategi TTW terhadap kemampuan menulis teks eksposisi dari aspek isi, (2) mengetahui adanya pengaruh penggunaan strategi TTW terhadap kemampuan menulis teks eksposisi dari aspek struktur teks, dan (3) mengetahui adanya pengaruh penggunaan strategi TTW terhadap kemampuan menulis teks eksposisi dari aspek bahasa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain control group pretest-posttest design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 6 Malang, sedangkan sampel penelitian ini adalah siswa kelas VII-1 sebagai kelompok kontrol dan kelas VII-2 sebagai kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan dengan menggunakan strategi TTW, sedangkan kelompok kontrol menggunakan strategi konvensional (ceramah). Instrumen yang digunakan berupa tes menulis berbentuk esai beserta rubrik penilaian hasil menulis. Hasil dari penelitian ini sebagai berikut. Pertama, terdapat pengaruh penggunaan strategi TTW terhadap kemampuan menulis teks eksposisi dari aspek isi. Hal ini berdasar pada hasil analisis statistik uji beda postes menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,001 (Sig. 2-tailed <0,05). Kedua, terdapat pengaruh penggunaan strategi TTW terhadap kemampuan menulis teks eksposisi dari aspek struktur teks. Hal ini berdasar pada hasil analisis statistik uji beda postes menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,019 (Sig. 2-tailed <0,05). Ketiga, terdapat pengaruh penggunaan strategi TTW terhadap kemampuan menulis teks eksposisi dari aspek bahasa. Hal ini berdasar pada hasil analisis statistik uji beda postes menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,023 (Sig. 2-tailed <0,05). Berdasarkan hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan strategi TTW terhadap kemampuan menulis teks eksposisi dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa. Atas dasar itu, dari hasil penelitian ini disarankan kepada (1) guru bahasa Indonesia untuk menggunakan strategi TTW sebagai alternatif dalam pembelajaran menulis teks eksposisi, (2) bagi siswa disarankan untuk lebih meningkatkan kegiatan membaca agar hasil tulisan eksposisi yang dibuat lebih lengkap dan penuh informasi, sehingga dapat menarik minta pembaca terhadap argumen yang diberikan oleh siswa, dan (3) bagi peneliti lanjutan disarankan untuk melakukan penelitian melalui strategi TTW dengan jenis teks yang berbeda dalam kegiatan menulis.  

Manajemen laboratorium komputer di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Malang 2 / Restiana Raraswati

 

Kata Kunci : manajemen, laboratorium komputer Manajemen adalah suatu proses pengadaan dan pengkombinasian sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang efektif dan efisien. Dalam pendidikan dibutuhkan manajemen pendidikan. Salah satu manajemen pendidikan yaitu manajemen layanan khusus yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada seluruh personil yang ada di sekolah (guru, tenaga tata usaha, siswa) agar lebih optimal dalam menjalankan tugas sekolah. MIN Malang 2 memiliki manajemen layanan khusus yang dimiliki lembaga pendidikan dalam hal ini adalah laboratorium komputer. Manajemen laboratorium komputer adalah usaha merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinir serta mengawasi kegiatan belajar-mengajar dalam laboratorium komputer sebagai praktik dalam mata pelajaran komputer agar tercapai tujuan yaitu menunjang pembelajaran dan dapat dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain. MIN Malang 2 memiliki laboratorium komputer yang sudah dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan efektif. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) perencanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, (2) pengorganisasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, (3) pelaksanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, (4) pengawasan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, dan (5) pengevaluasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2. Berkaitan dengan laboratorium komputer yang ada di MIN Malang 2 maka penelitian dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen laboratorium komputer yang ada di MIN Malang 2 ditinjau dari fungsi manajemen adalah perencanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, pengorganisasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, pelaksanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, pengawasan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2 dan pengevaluasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci yaitu memerankan dirinya secara aktif dalam keseluruhan proses studi. Sumber data dalam penelitian ini kepala MIN Malang 2, waka kurikulum, waka sarana dan prasarana dan guru komputer. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi. Penelitian ini pengecekan keabsahan data dilakukan dengan derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Analisis data pada penelitian ini menggunakan reduksi data, display data, verifikasi data. Tahap-tahap penelitian terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa (1) perencanaan laboratorium komputer di MIN Malang 2 dilaksanakan pada saat penyusunan program laboratorium komputer pada setiap awal tahun ajaran baru, (2) pengorganisasian laboratorium komputer di MIN Malang 2 menggambarkan tentang kedudukan atau wewenang secara hirarki dari setiap unit kerja, dan deskripsi tugas pokok dan fungsi masing-masing jabatan. Penanggung jawab pada laboratorium komputer adalah kepala MIN Malang 2, waka kurikulum, waka sarana dan prasarana dan guru komputer, (3) pelaksanaan laboratorium komputer adalah realisasi program-program yang ada dalam laboratorium komputer. Pelaksanaan ini lebih mengarah pada kegiatan pembelajaran komputer, sistem pembelajaran di sini yaitu dengan sistem gelombang, (4) pengawasan pembelajaran dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengawasan langsung dilakukan oleh guru komputer sedangkan pengawasan tidak langsung dilakukan oleh waka kurikulum. Sedangkan pengawasan sarana dan prasarana dilakukan oleh waka sarana dan prasarana, dan (5) pengevaluasian dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pada akhir pengevaluasian dibuat laporan evaluasi akhir yang berisi dari nilai tugas, ulangan harian, UTS dan UAS. Berdasarkan hasil penelitian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2 belum maksimal dikarenakan masih ada program yang belum bisa mencapai tujuan yang direncanakan. Oleh karena itu peneliti menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait yaitu kepada Kepala MIN Malang 2 untuk Mengingat laboratorium komputer keberadaanya sangat penting dalam menunjang kegiatan pembelajaran, maka disarankan bagi kepala madrasah untuk terus memberikan pengarahan serta masukan atau kritik yang membangun kepada guru komputer agar dapat mengembangkan program-program yang berkaitan yang terdapat pada laboratorium komputer agar berjalan dengan baik mulai dari pembelajaran serta sarana dan prasarana yang ada. Kepada guru komputer MIN Malang 2 Agar laboratorium komputer berjalan dengan baik, disarankan untuk terus meningkatkan kinerjanya, memelihara, merawat komputer agar dalam kondisi yang lebih baik, diharapkan guru komputer terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya tentang manajemen laboratorium dengan mengikuti pelatihan dan terus mengembangkan keterampilannya mulai dari perencanaan sampai evaluasi. Kepada pengelola jurusan AP untuk Diharapkan lebih mengkaji tentang manajemen laboratorium komputer sekolah. Hasil penelitian ini hendaknya menjadi tambahan referensi bagi jurusan administrasi pendidikan dan lebih meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memahami manajemen pembelajaran khususnya dalam pelajaran komputer. Kepada peneliti lain Agar lebih menyempurnakan hasil penelitian yang telah dilakukan sehingga dapat bermanfaat meningkatkan kualitas pendidikan dan disarankan bagi peneliti lain agar dapat meneliti manajemen laboratorium komputer dari substansi lain dengan latar yang berbeda.

Analisa perbandingan kata sifat Bahasa Arab dengan kata sifat Bahasa Inggris / oleh M. Masri Muadz

 

Penerapan strategi belajar murder (mood, understand, recall, digest, expand, review) untuk penguasaan keterampilan menulis Bahasa Jerman siswa kelas X Bahasa SMA Negeri 8 Malang / Ersalinna Christie Trisuwito

 

ABSTRAK Trisuwito, Ersalinna Christie. 2015. Penerapan Strategi Belajar MURDER (Mood, Understand, Recall, Digest, Expand, Review) untuk Penguasaan Keterampilan Menulis Bahasa Jerman Siswa Kelas X Bahasa SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rizman Usman, M. Pd., (II) Dra. Rosyidah, M. Pd. Kata Kunci: penerapan, strategi belajar MURDER, keterampilan menulis Keterampilan menulis merupakan salah satu dari keempat keterampilan yang harus dikuasai seorang pembelajar bahasa Jerman. Siswa kelas X Bahasa SMA Negeri 8 Malang memiliki kesulitan dalam menentukan, menyusun dan mengembangkan gagasan penulisan untuk menghasilkan karangan berbahasa Jerman yang baik. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan strategi belajar MURDER dan hasilnya pada keterampilan menulis dalam pembelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X Bahasa SMA Negeri 8 Malang sebanyak 12 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi belajar MURDER dapat diterapkan untuk keterampilan menulis. Berdasarkan hasil kegiatan observasi, proses pembelajaran dengan penerapan strategi belajar MURDER dapat berjalan dengan baik. Analisis hasil wawancara dan dokumentasi karangan menunjukkan bahwa siswa merasa nyaman selama proses pembelajaran, sehingga siswa dapat menentukan pemilihan kata yang tepat, serta mengembangkan dan menyusunnya dalam sebuah karangan yang baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa strategi belajar MURDER efektif dalam pembelajaran bahasa Jerman khususnya pada keterampilan menulis. Selain itu strategi belajar tersebut dapat menarik minat siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran dan siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan.

Kemampuan menulis paragraf eksposisi siswa kelas X SMAN 1 Nganjuk / Febrian Adi Laksono

 

Kata kunci: kemampuan, menulis, eksposisi Pengembangan kemampuan menulis perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sejak tingkat sekolah khususnya tingkat SMA. Karena sebagai aspek kemampuan berbahasa, menulis memang dapat dikuasai oleh siapa saja yang memiliki kemampuan intelektual memadai. Namun, berbeda dengan kemampuan menyimak dan berbicara, menulis tidak dikuasai oleh seseorang secara alami. Menulis harus dipelajari dan dilatihkan secara sungguh-sungguh. Eksposisi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan objek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Menulis paragraf eksposisi perlu diajarkan pada siswa SMA agar siswa terlatih untuk mengembangkan pola pikir mereka dalam mengamati, memahami, serta mengatasi sebuah permasalahan dengan cara menulis paragraf eksposisi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan bagaimana kemampuan siswa kelas X SMAN 1 Nganjuk dalam menulis paragraf eksposisi, yang dapat dilihat dari aspek (1) merumuskan judul, (2) pemaparan informasi, (3) kepaduan, (4) penggunaan piranti kohesi yang meliputi penggunaan kata ganti, penggunaan kata penghubung, serta diksi, (5) aspek teknik penulisan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Nganjuk. Sampel penelitian sebanyak 1 kelas yaitu kelas X-1 dengan anggota kelas sebanyak 36 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling. Untuk mengukur kemampuan keseluruhan siswa digunakan pedoman penilaian kelas yaitu sebesar 75% keberhasilan dalam tiap kompetensi, dalam hal ini adalah menulis paragraf eksposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pada aspek merumuskan judul, kemampuan siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif kemampuan siswa dalam memberi judul paragraf eksposisi memperoleh skor 6 dengan kategori baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel. Secara keseluruhan judul yang dibuat siswa sudah memenuhi kriteria judul sesuai dengan isi dan ringkas, namun belum memenuhi unsur menarik yang harus ada dalam judul sebuah paragraf; (2) aspek pemaparan informasi dalam paragraf siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif memperoleh skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel. Pada umumnya informasi yang dipaparkan oleh siswa sudah faktual, jelas, dan rinci. Sehingga informasiinformasi yang dipaparkan tersebut cukup untuk menjelaskan objek yang dibahas; (3) aspek kepaduan dalam paragraf siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif memperoleh skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel. Pada umumnya paragraf eksposisi yang dibuat siswa sudah mengandung satu ide pokok, ide penjelas tidak menyimpang dari ide pokok, dan ide penjelas sudah mampu menunjang ide pokok; (4) aspek penggunaan perangkat kohesi siswa tergolong mampu yang meliputi subaspek penggunaan kata ganti dengan ii rincian kumulatif mendapatkan skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel, subaspek penggunaan kata penghubung dengan rincian kumulatif mendapatkan skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel, dan subaspek pilihan kata atau diksi dengan rincian kumulatif eksposisi mendapatkan skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel, serta (5) aspek teknik penulisan kemampuan siswa tergolong tidak mampu dengan rincian kumulatif mendapatkan skor 9 dan 12 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 21 siswa atau 58,33% siswa sampel. Pada umumnya siswa menulis paragraf eksposisi dengan tidak memperhatikan ejaan dan tanda baca yang telah ada dalam EYD. Misalnya penggunaan huruf besar atau kapital, serta penggunaan tanda baca koma dan titik. Disarankan kepada guru untuk membantu dan membimbing siswa secara lebih intensif dalam penggunaan ejaan dan tanda baca yang baik dan benar sesuai dengan EYD. Untuk peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian tentang menulis paragraf eksposisi disarankan untuk menggunakan metode yang dapat mengetahui kemampuan siswa secara lebih detail dalam penelitiannya. Misalnya dengan menyertakan metode tertentu untuk mengukur kemampuan siswa. Peneliti lebih lanjut juga bisa menggunakan rancangan penelitian yang lain seperti eksperimen ataupun PTK untuk mengetahui kemampuan menulis paragraf eksposisi siswa SMA kelas X.

Penerapan model pembelajaran team game tournament (TGT) pada mata kuliah konversation 1 jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Septi Aning Tyas Dwi Arti

 

ABSTRAK Arti, Septi Aning Tyas Dwi. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Team Game Tournament (TGT) pada Mata Kuliah Konversation 1 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rizman Uzman, M.Pd., (II) Dudy Syafruddin, S.S., M.A. Kata Kunci : TGT, Konversation I Keterampilan berbicara menempati kedudukan penting dalam pembelajaran bahasa asing, termasuk bahasa Jerman. Sebagian mahasiswa prodi pendidikan bahasa Jerman masih ragu dalam mengungkapkan ide dan pendapatnya. Masalah lain yang timbul di dalam kelas adalah mahasiswa yang mempunyai kemampuan lebih dalam berbicara terlihat mendominasi kelas. Oleh karena itu, peneliti menerapkan model pembelajaran Team Game Tournament (TGT) pada mata kuliah Konversation 1 untuk memotivasi mahasiswa lebih aktif berbicara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memdeskripsikan penerapan model pembelajaran TGT serta kelebihan dan kekurangan model pembelajaran tersebut pada mata kuliah Konversation 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Off AA angkatan 2013 Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Universitas Negeri Malang yang mengikuti mata kuliah Konversation 1. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran TGT cukup memotivasi mahasiswa dalam berbicara. Hal itu ditunjukkan dengan keaktifan mahasiswaa dalam kerja kelompok dan turnamen. Namun dari hasil wawancara, sebagian mahasiswa berpendapat model pembelajaran TGT lebih sesuai jika diterapkan dalam mata kuliah Arbeit am Text (AAT)karena model pembelajaran TGT lebih menekankan penghafalan daripada pengungkapan ide, dan pendapat.

Penerapan permainan make a match pada keterampilan membaca Bahasa Jerman siswa kelas XI lintas minat SMA Negeri 8 Malang / Bayu Indra Setia Putra

 

ABSTRAK Putra, Bayu Indra Setia. 2015. Penerapan Permainan Make a Match pada Keterampilan Membaca Bahasa Jerman Kelas XI Lintas Minat SMA Negeri 8 Malang. Skripsi. Pendidikan Bahasa Jerman, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rizman Usman, M.Pd. (II) Deddy Kurniawan, S.Pd., M.A. Kata Kunci: penerapan, Make a Match, membaca, pembelajaran Bahasa Jerman merupakan salah satu bahasa resmi Uni Eropa. Di Indonesia, bahasa Jerman juga menjadi mata pelajaran penting di tingkat SMA, salah satunya dipelajari di SMA Negeri 8 Malang. Dalam prosesnya, siswa menemui kesulitan pada kegiatan belajar. Salah satunya adalah kesulitan siswa dalam keterampilan membaca bahasa Jerman. Kesulitan itu bisa disebabkan salah satunya karena rendahnya minat siswa dalam membaca. Dibutuhkan sebuah metode ataupun permainan yang menarik agar siswa dapat antusias dalam pembelajaran, salah satunya adalah Make a Match Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas belajar siswa serta respon siswa terhadap permainan Make a Match pada keterampilan membaca bahasa Jerman untuk kelas XI Lintas Minat. Sumber data pada penelitian ini yakni aktivitas belajar siswa yang didapat dari kegiatan pembelajaran bahasa Jerman dan respon siswa bersumber dari data hasil wawancara mengenai pendapat siswa terhadap permainan Make a Match. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan Make a Match mampu menumbuhkan motivasi belajar siswa dan membantu siswa dalam keterampilan membaca bahasa Jerman. Selain itu siswa juga mendapatkan kosakata baru ketika menerapkan permainan. Hal itu didukung dengan hasil analisis data observasi dan wawancara yang menunjukkan bahwa siswa antusias dan terbantu ketika menerapkan permainan Make a Match.

Penggunaan media video deutsche welle pada matakuliah konversation 1 jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Mirza Nafila Tanzil

 

ABSTRAK Tanzil, Mirza Nafila. 2015. Penggunaan Media Video Deutsche Welle pada matakuliah Konversation I Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rizman Usman, M.Pd., (II) Deddy Kurniawan, S.Pd.,M.A. Kata Kunci: Media Pembelajaran, Video Deutsche Welle, Keterampilan Berbicara. Untuk meningkatkan pembelajaran Konversation pada program studi pendidikan bahasa Jerman diperlukan media pembelajaran yang lebih bervariasi. Penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran bahasa adalah hal yang mutlak digunakan untuk memperkuat pemahaman materi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah penggunaan Deutsche Welle dan kesulitannya dalam matakuliah Konversation I Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan data penelitian diambil melalui observasi dan wawancara. Sumber data penelitian ini adalah proses pembelajaran dan 16 mahasiswa offering B angkatan 2013 Universitas Negeri Malang. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa penggunaan video Deutsche Welle sebagai media pembelajaran dapat memberikan banyak kosakata baru. Mahasiswa juga lebih aktif saat pembelajaran berlangsung karena video menampilkan masyarakat Jerman asli dan mahasiswa dapat mengetahui pelafalan yang tepat mengenai suatu ujaran tertentu.

Pengaruh training kewirausahaan pada mata pelajaran kewirausahaan terhadap tumbuhnya motivasi dan minat berwirausaha siswa SMK PGRI 3 Malang (Studi pada siswa kelas X Program Keahlian Teknik Permesinan) / Pambayu Kristanto

 

Kata Kunci: pengaruh, training kewirausahaan, motivasi, minat. Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini telah meningkatkan jumlah pengangguran. Menyikapi hal tersebut pemerintah memfokuskan pada pengembangan SMK sebagai institusi yang menghasilkan lulusan-lulusan yang siap bekerja, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Akan tetapi banyak lulusan SMK yang belum siap bekerja dan menjadi pengganguran, beberapa diantaranya lebih senang menjadi pegawai atau buruh dan hanya sedikit sekali yang tertarik untuk berwirausaha. Mereka tidak mau mengambil resiko, takut gagal, tidak memiliki modal dan lebih menyukai bekerja pada orang lain, mereka kurang memiliki motivasi dan minat untuk berusaha sendiri. Akibatnya mereka berfikir bahwa berwirausaha merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Motivasi dan minat seseorang timbul dan dipengaruhi faktor-faktor internal dan eksternal masing-masing individu. Training Kewirausahaan adalah salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi dan minat berwirausaha, yang termasuk dalam faktor eksternal. Training secara langsung akan memberikan suatu stimulus pemikiran kepada siswa yang bisa merubah pola pikir dan pandangan siswa mengenai kewirausahaan. Atas dasar itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh training kewirausahaan terhadap tumbuhnya motivasi dan minat berwirausaha siswa SMK. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X program keahlian teknik pemesinan SMK PGRI 3 Malang. Penelitian ini dilakukan di dua kelas, kelas XTPA sebagai kelas perlakuan dan kelas XTPB sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan angket dengan skala pengukuran skala Likert. Pengumpulan data dilakukan dua kali pada masing-masing kelas yakni dengan pretest dan posttest. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan minat berwirausaha siswa kelas XTPA sebesar 5,43%, sedangkan dikelas XTPB motivasi dan minat berwirausahanya terjadi peningkatan sebesar 0,83%. Dengan membandingkan hasil pengukuran di kelas XTPA dan XTPB terjadi pertumbuhan motivasi dan minat berwirausaha yang signifikan pada kelas yang mendapatkan perlakuan training kewirausahaan dibandingkan dengan kelas yang tidak mendapat training kewirausahaan. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar pada mata pelajaran kewirausahaan dilakukan kegiatan training kewirausahaan yang bisa menarik perhatian siswa yang bisa menumbuhkan motivasi dan minat berwirausaha siswa untuk menghasilkan lulusan-lulusan SMK yang bisa menciptakan suatu lapangan pekerjaan sendiri tanpa harus tergantung pada bekerja untuk orang lain.

Korelasi antara nilai matakuliah Bahasa Latin dengan nilai matakulia anatomi manusia di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang / oleh Umar Singgih

 

Hubungan timbal-balik antara keadaan sosial ekonomi penduduk dengan tingkat pendidikan di Kecamatan Panarukan / oleh Suminto

 

Penguapan / oleh Sanjoto

 

Dispersi / oleh N. Purwanto Legowo

 

Pengaruh angin terhadap pertumbuhan tanaman jagung
oleh Endang Suhartuti

 

Metakognisi siswa SMK dalam memecahkan masalah matematika materi pengukuran / Farid Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, F. Metakognisi Siswa SMK dalam Memecahkan Masalah Matematika Materi Pengukuran. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A., (2) Dr. Makbul Muksar, M.Si. Kata kunci: Metakognisi, Awareness, Regulation, Evaluation, Pemecahan Masalah, Struktur kurikulum 2013 menyatakan pemecahan masalah merupakan komponen penting dalam pembelajaran. Siswa dituntut menguasai kemampuan pemecahan masalah selama belajar matematika. Fakta di lapangan menunjukkan kemampuan memecahkan masalah siswa belum berkembang dengan baik. Proses pemecahan masalah merupakan aktivitas siswa yang melibatkan metakognisi. Metakognisi adalah memikirkan apa yang telah dipikirkan. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan metakognisi siswa SMK dalam memecahkan masalah matematika. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Instrumen pendukung adalah tes kemampuan matematika, tes pemecahan masalah, jurnal metakognisi, pedoman wawancara, dan alat rekam Subjek penelitian adalah siswa SMK kelas X yang dipilih berdasarkan hasil tes kemampuan matematika. Subjek penelitian mewakili setiap kelompok kemampuan. 2 siswa berkemampuan tinggi, 2 berkemampuan sedang dan 2 berkemampuan rendah. Siswa yang telah ditetapkan sebagai subjek penelitian diberikan tes pemecahan masalah. Peneliti kemudian melalakukan wawancara terhadap subjek penelitian berkaitan dengan metakognisi selama memecahkan masalah matematika. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua karakteristik metacognitive awareness siswa berkemampuan tinggi dalam memecahkan masalah, pertama sebagai pemicu siswa berpindah dalam tahapan memecahkan masalah dan kedua kesadaran dalam memahami masalah. Metacognitive awareness siswa berkemampuan sedang dan rendah sebatas kesadaran dalam memahami masalah. Metacognitive regulation siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah dalam memecahkan masalah muncul saat memikirkan langkah atau strategi penyelesaian masalah. Metacognitve evaluation siswa berkemampuan tinggi dan sedang muncul saat menilai langkah pengerjaan selama proses memecahkan masalah dan saat menilai jawaban akhir yang diperoleh. Metacognitve evaluation siswa berkemampuan rendah muncul sebatas menilai jawaban akhir yang diperoleh.

Student's gender, anxiety, and speaking performance in the Indonesian EFL context / Wahyu Kartika Wienanda

 

ABSTRAK Wienanda, Wahyu K. 2015. Students’ Gender, Anxiety, and Speaking Performance in the Indonesian EFL Context. Magister Tesis. English Department, Graduate Program, State University of Malang. Pembimbing: (1) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (2) Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Kata Kunci: kecemasan berbahasa asing, jender, kemampuan berbicara Perbedaan peserta didik, seperti faktor afektif dan jender, telah cukup lama dipercaya berkorelasi dengan hasil pembelajaran bahasa asing. Kecemasan berbahasa asing, salah satu faktor afektif yang memengaruhi hasil pembelajaran bahasa, telah dipercaya berkaitan secara negatif terhadap performa peserta didik, terutama dalam kemampuan berbicara. Namun, hubungan antara jender dan kecemasan berbahasa asing, serta jender dengan kemampuan berbicara masih menunjukkan hasil yang bertentangan. Penelitian dengan menggunakan metode kuantitatif korelasional ini merupakan sebuah upaya untuk menjelaskan hubungan antara jender, kecemasan, dan kemampuan berbicara pada konteks pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan siswa dan performa berbicara laki-laki dan perempuan, serta untuk mengungkapkan hubungan antar variabel tersebut. Untuk tujuan ini, sebuah kuesioner FLCAS, terdiri dari 43 butir pernyataan dengan enam skala Likert digunakan untuk mengukur tingkat kecemasan siswa dalam belajar bahasa asing. Sebuah tes lisan informal buatan peneliti sendiri digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan berbicara siswa. Kuesioner dan tes lisan diberikan kepada 40 siswa (20 laki-laki dan 20 perempuan) tahun kedua dari Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diambil beberapa kesimpulan. Tingkat kecemasan berbahasa pada siswa tahun kedua masih tergolong sedang dengan rerata 151.68 (SD = 35.563) dan sedikit lebih tinggi dari rerata teoretis. Tidak diragukan bahwa siswa jurusan Bahasa Inggris mengalami kecemasan berbahasa asing. Tingkat performa berbicara siswa dengan rerata 62.925 (SD = 13.8174) juga tergolong sedang. Tingkat kecemasan dan kemampuan berbicara siswa berada pada tingkatan yang sama, yaitu sedang. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan antar kedua variabel. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan hasil penghitungan yang menunjukkan bahwa kecemasan berbahasa asing terkait secara negatif dengan performa siswa dalam tes lisan (r= -.454, sig.= .017). Hal ini mungkin disebabkan oleh lama studi di universitas, durasi persiapan tugas speaking, terbatasnya paparan terhadap bahasa Inggris, serta pandangan siswa terhadap kelas bahasa asing. Hubungan antara kecemasan berbahasa dan kemampuan berbicara pada grup laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa rasa cemas lebih berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan berbicara pada siswa laki-laki r = -.549, sig. = .012) dibanding siswa perempuan (r = -.333, sig. = .151), yang mengindikasikan bahwa kecemasan berbahasa lebih merusak pada grup laki-laki dengan berkontribusi sebesar 30.2% (R2 = .302) dibandingkan pada grup perempuan (R2 = .111). Namun, ketika jender dijadikan sebagai salah satu variabel dalam proses penghitungan, jender tidak berkaitan secara signifikan baik dengan kecemasan berbahasa asing (r = .072, sig. = .715) maupun dengan kemampuan berbicara (r = .198, sig. = .328). Ini berarti siswa laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat kecemasan dan tingkat kemampuan berbicara yang relatif sama kendati adanya stereotip tentang perbedaan jender yang menyatakan bahwa siswa perempuan cenderung lebih mudah cemas yang mengakibatkan rendahnya performa mereka di dalam kelas bahasa. Dengan menyadari hubungan antar variabel yang diteliti, diharapkan dosen, terutama dosen kelas berbicara (speaking class), dapat menciptakan suasana yang santai serta tugas dan kegiatan yang menarik untuk menurunkan tingkat kecemasan siswa. Selain itu, karena penelitian ini terbatas pada 40 siswa saja, dibutuhkan adanya perbaikan pada teknik pengambilan sampel, jumlah sampel, metode, serta penambahan variabel untuk dapat menjabarkan hubungan kecemasan berbahasa asing dan kemampuan berbahasa. Sebuah perbandingan akan tingkat kecemasan yang dirasakan siswa pada jurusan Bahasa Inggris dan jurusan non-Bahasa Inggris juga dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk penelitian berikutnya.

Masalah pengajaran menulis dengan huruf Arab melayu di SMA Kodya Malang / oleh Abd. Syukur Ibrahim

 

Developing English syllabus for accounting department of Darussalam University Ambon / M. Isa Anshori

 

ABSTRAK Anshori, M. Isa, 2015. PengembanganSilabusBahasaInggrispadaJurusanAkuntansiUnuversitas Darussalam Ambon. Tesis. JurusanPendidikanBahsaInggris, Program PascaSarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. UtamiWidiati, M.A., Ph.D., (II) Dr. MirjamAnugerahwati, M.A. Key words: PengembanganSilabus, matakuliah ESP, TBLT Berdasarkanpertimbanganbahwasetiapmatakuliahharusdiajarkansesuaidengankebutuhanmahasiswanyasertapentingnyasilabussebagaidasarbagiseorangdosenuntukmelaksanakan proses belajarmengajardidalamkelas, makasilabuskhususnyauntukbahasaInggrisprofesisangatdiperlukan agar tujuanbelajarmengajarsesuaidengan yang dibutuhkanmahasiswa. Olehkarenaitu, pengembangansilabusuntukbahasaInggrisprofesidiperlukansebagaipendukungberjalannyaaktivitasbelajarmengajar di kelassesuaidengankebutuhanmahasiswasertasesuaidengannilai-nilaidariinstitusi. Bertolakpadakebutuhantersebut, makasilabusuntukbahasaInggrisprofesiperludikembangkan. SebagaimanadikatakanolehDubindanOlstain, silabusadalahalat yang digunakanpembuatkebijakanmenyampaikaninformasikepada guru, penulisbuku, komitepemeriksaan, danpesertadidikmengenai program bahasa. Silabusperludisusunsebelum proses belajarmengajardilaksanakan. PenelitianinidifokuskanpadapengembangansilabuspadajurusanakuntansiUniversitas Darussalam Ambon. Berdasarkanpadatujuansertapentingnyafungsisilabusdalam proses belajarmengajarpadabahasaInggrisprofesidiatas, penelitimengadakanpenelitianpengembangandengandesainpenelitianmerujukpadadesainpenelitiandanpengembangan (R&D) yang ditetapkanolehYalden, yang memuattahapanpenelitiansebagaiberikut: analisiskebutuhan, pengembangan, validasiproduk, danujicobaproduk. KarenadalampengembangansilabusbahasaInggrisprofesipenekanannyaadalahpadakesesuaianmateridengankebutuhanmahasiswasertavisidanmisidariinstitusi, maka, objekpenelitianadalahkepala program studi, dosenmatakuliah, dosenbahasaInggrissertamahasiswa. Untukmendapatkansilabus yang sesuaimahasiswa, penelitimenggunakanpendekatanTask Based Language Teaching(TBLT)untukmencapaitujuansesuaidengankarakterdankebutuhanmahasiswa.Instrumenpenelitian yang digunakanantara lain: catatanlapangan, protokolwawancara, danangket. Kemudian data yang diperolehdariinstrumentersebutdipresentasikansecaraqualitative danquantitative besertadenganteknikanalisisnya. Produkdarihasilpenelitianpengembanganantara lain: sebuahpaketsilabus lab. English Practice untukjurusanakuntansi, contoh lesson plan, dan course outline. Berdasarkanhasilanalisis yang dilaksanakanpadatahapvalidasidanujicoba, para ahlidan guru sebagaipartisipantersebutmemberikanresponpositifterhadaphasilpengembanganpenelitianini, meskipunpenelitiperlumelakaukanbeberaparevisipadabeberapaaspekuntukmemperbaikikualitasdariprodukpenelitian. Berdasarkanhasilpenelitian yang telahdipaparkandiatas, dapatdisimpulkanbahwaaktivitas-aktivitas yang dilaksanakandalampenelitianinitelahmampumendorongpenelitiuntukmencapaitujuanpenelitian. Kemudianprodukpenelitiantelahdidesaindenganmenyesuaikankaraktersertakebutuhanmahasiswa agar dapatdigunakanolehdosensertamahasiswadalam proses belajarmengajar. Denganadanyasilabustersebut, diharapkanmahasiswadapatmeningkatkankemampuanbahasaInggrismerekauntukmenunjangpemahamanilmuakuntansimerekasehinggadapatdiaplikasikandalamkebutuhan yang akandatang. Beberapa saran diberikanpenelitikepadabeberapapihak; pertama, dosenbahasaInggrisdiharapkanmengembangkanmateridenganjelasdandilengkapipenjelasantentangisidan proses evaluasi. Lebihjauhlagi, merekajugaharusmenjalinkolaborasidengandosenmatakuliah lain untukmendapatkangambarantentangmateri demi menyesuaikandengankebutuhanmahasiswa. Kedua, produk yang dihasilkandalampenelitianinidapatdigunakansebagailandasanbagipenulisbukusehinggasilabusiniakanlebihdapatdiaplikasikandalam proses belajarmengajar.Ketiga, untuk para penelitiataupengembangsilabusdapatmengembangkansilabusdenganteoridanobjek yang berbedadenganmenyesuaikankaraktermahasiswanyamengingatkeberagamanadat di Indonesia mempengaruhipolapikirsertacarabelajarmereka.

Tinjauan pengajaran roman dalam rangka pengajaran sastra di kelas II jurusan Bahasa SMA Negeri II Malang
oleh Huda Ruba'i

 

Poliembrioni pada jeruk sebagai bahan praktikum di kelas II SMA
oleh Yulfah

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi rasionalitas ekonomi siswa SMA di Malang Raya / Purwaningrum Puji Lestari

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi, Pengetahuan dasar Ekonomi (Economic Literacy), Persepsi, Minat belajar, Rasionalitas Ekonomi Rasionalitas ekonomi sebagai sikap yang mencerminkan kecenderungan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi, pada dasarnya telah dikenal oleh siswa SMA sejak mereka mengenal aktivitas ekonomi di lingkungan keluarga, maupun masyarakat di sekitar kehidupannya. Pemahamannya kemudian diperkaya melalui pendidikan ekonomi di sekolah, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga kelas akhir di SMA. Meskipun demikian secara umum nampak bahwa sikap dan perilaku ekonomi siswa SMA, kurang rasionalitas. Bila ditelaah, penyebabnya dapat berasal dari lingkungan keluarga dan masyarakat, karena di lingkungan tersebut, selain belajar, siswa SMA juga memperoleh pengaruh negatif terkait dengan nilai-nilai rasionalitas ekonomi. Kelemahan pendidikan ekonomi di sekolah, dapat pula menjadi penyebab kurang rasionalnya siswa SMA dalam sikap dan perilaku ekonomi. Penelitian ini secara umum dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rasionalitas ekonomi siswa SMA di jenjang kelas akhir, secara spesifik penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis: pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); pengaruh minat pada mata pelajaran ekonomi terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); pengaruh persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi; pengaruh minat siswa pada pelajaran ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; pengaruh persepsi siswa atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; pengaruh pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) terhadap rasionalitas ekonomi; dan pengaruh tidak langsung status sosial ekonomi orangtua, minat pada mata pelajaran ekonomi, persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) siswa SMA di Malang Raya. Penelitian eksplanatori ini dirancang dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitiannya adalah seluruh siswa SMA kelas XII Jurusan IPS yang ada di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu). Sampel berjumlah 305 orang, dan dipilih dengan teknik multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket dan tes. Teknik angket dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang status sosial ekonomi orang tua, minat siswa SMA pada mata pelajaran ekonomi, persepsi siswa atas kompetensi guru ekonomi, dan rasionalitas ekonomi siswa SMA. Sementara teknik tes dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy). Analisis data dilakukan dengan teknik analisis jalur dan hubungan variabelnya distrukturkan berdasar SEM (Structural Equation Modeling). Analisis dilakukan dengan menggunakan program aplikasi LISREL 8.30 for Windows NT. Hasil penelitian menyimpulkan: (1) tidak ada pengaruh yang signifikan status sosial ekonomi orang tua terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); (2) terdapat pengaruh yang signifikan minat pada pelajaran ekonom terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); (3) terdapat pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); (4) terdapat pengaruh yang signifikan status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi; (5) terdapat pengaruh yang signifikan minat pada mata pelajaran ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; (6) tidak ada pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; (7) terdapat pengaruh yang signifikan pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) terhadap rasionalitas ekonomi; (8) tidak ada pengaruh tidak langsung yang signifikan status sosial ekonomi orangtua, terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy), (9) terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan minat pada mata pelajaran ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) dan (10) terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) siswa SMA di Malang Raya. Dari temuan penelitian dapat diajukan saran sebagai berikut: Guru ekonomi sebaiknya meningkatkan intensitasnya dalam mengembangkan pembelajaran melalui telaah kritis kurikulum, mengembangkan pengetahuan tentang fenomena-fenomena ekonomi terkini, dan meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan komputer dan mengakses internet. Sekolah perlu mengembangkan laboratorium ekonomi, sebagai pusat sumber belajar ekonomi bagi siswa, untuk itu sekolah perlu menjalin kerjasama dengan pergurun tinggi. Kerjasama tersebut juga dimaksudkan untuk melakukan penelitian bersama dalam kaitannya dengan pengembangan pembelajaran ekonomi di sekolah. Perguruan Tinggi Khususnya Jurusan Pendidikan Ekonomi disarankan untuk memprakarsai dilakukannya kajian dan revisi kurikulum pelajaran ekonomi. Selain itu Jurusan Pendidikan Ekonomi disarankan pula untuk mengembangkan strategi dan model-model pembelajaran ekonomi inovatif yang mampu memberikan pengaruh positif bagi peningkatan intensitas siswa untuk meningkatkan rasionalitas ekonomi, sesuai dengan konteks Indonesia.

Persoalan istilah Bahasa Asing (Inggris) dalam Bahasa Indonesia
oleh Endah Purwaningsih Ms.

 

Penerapan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar pada materi trigonometri kelas X.3 di SMAN 1 Malang / Pungky Rahmawati

 

Kata kunci: Penerapan, Pembelajaran Berbasis Masalah, Trigonometri Dalam kegiatan pembelajaran guru matematika SMAN 1 Malang menggunakan metode pembelajaran dengan pemberian lembar kegiatan kepada siswa yang berupa latihan soal. Siswa secara mandiri menyelesaikan lembar kegiatan tersebut. Pada pembelajarannya, masih ada siswa yang bingung ketika kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa-siswa tersebut mengalami kesulitan untuk memahami materi matematika. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya perbaikan dalam kegiatan pembelajaran siswa. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan pembelajaran berbasis masalah yang dapat meningkatkan hasil belajar pada materi trigonometri di kelas X. 3 SMAN 1 Malang dan mengetahui respon siswa terhadap penerapan pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Malang dengan subjek penelitian yaitu 39 siswa kelas X. 3 tahun 2009/2010. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi selama pembelajaran, catatan lapangan, tes, angket, wawancara dan studi dokumen. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah yang meningkatkan hasil belajar pada materi trigonometri dilakukan melalui langkah-langkah berikut: (1) pendahuluan yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran, motivasi, apersepsi dan pembentukan kelompok secara heterogen yang beranggotakan 4-5 orang, (2) pemberian masalah dari kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan trigonometri dan disiplin ilmu lain, (3) diskusi kelompok kecil untuk memahami, mendefinisikan dan menyelesaikan masalah, (4) membandingkan hasil diskusi kelompok dengan kelompok lain, (5) melakukan analisa dan evaluasi proses penyelsaian masalah, dan (6) penutup yaitu menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan melakukan tes. Berdasarkan hasil tes, terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari 71,79% sebelum pembelajaran berbasis masalah dengan nilai rata-rata 78,05 menjadi 100% ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 97,13 pada siklus I dan 100% ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 99,21 pada siklus II. Sedangkan berdasarkan hasil observasi, terjadi pula peningkatan hasil observasi aktifitas guru dari skor 85,71 berkategori ”Sangat baik” pada siklus I menjadi 91,96 berkategori ”Sangat baik” pada siklus II dan hasil observasi aktifitas siswa dari skor 78,12 berkategori ”Baik” pada siklus I menjadi 88,54 berkategori ”Sangat baik” pada siklus II. Selain itu, berdasarkan angket respon dan wawancara diperoleh bahwa siswa antusias mengikuti pembelajaran berbasis masalah. Secara garis besar, pembelajaran berbasis ii masalah dapat memperbaiki tahapan-tahapan yang kurang dari pembelajaran yang diterapkan guru, dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa dan mendapatkan respon positif dari siswa terhadap pembelajaran ini sesuai dengan kriteria keberhasilan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan sebaiknya pembelajaran berbasis masalah dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran karena menunjukkan hasil yang positif. Selain itu penentuan masalah yang digunakan dalam pembelajaran sangat menentukan pelaksanaan pembelajaran.

Pengaruh jumlah pektin dan konsentrasi gula terhadap mutu fruit leather murbei (Morus alba L.) / Andina Larasati

 

ABSTRAK Larasati, Andina. 2015. Pengaruh Jumlah Pektin dan Konsentrasi Gula Terhadap Mutu Fruit Leather Murbei (Morus alba L.). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Aisyah Larasati, ST., MT., MIM. Ph.D. (II) Lismi Animatul Chisbiyah, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Murbei, Fruit Leather, Pektin, Gula, Sifat Fisikokimia Buah murbei sangat berpotensi untuk dijadikan makanan fungsional. Salah satu upaya untuk mengembangkan pemanfaatan buah murbei adalah sebagai bahan dasar pembuatan fruit leather. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik (tekstur dan warna), sifat kimia (antosianin dan kadar air), tingkat kesukaan (aroma, tekstur, rasa), dan mutu hedonik (aroma, tekstur, rasa) fruit leather murbei berdasarkan jumlah pektin (0,75%, 1%, 1,5%) dan konsentrasi gula (55%, 65%, 75%), serta komposisi fruit leather murbei yang paling disukai. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor yang berbeda yaitu jumlah pektin (0,75%, 1%, 1,5%) dan konsentrasi gula (55%, 65%, 75%) dengan dua kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance). Jika terdapat perbedaan antar perlakuan, maka dilanjutkan dengan Post hoc Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor tekstur tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Kecerahan warna (L) tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 0,75% dan konsentrasi gula 55%. Warna merah (a+), warna biru (b-), dan antosianin tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Kadar air tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 0,75% dan konsentrasi gula 55%. Tingkat kesukaan aroma tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Tingkat kesukaan tekstur dan rasa tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 55%. Mutu hedonik aroma tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 65%. Mutu hedonik tekstur tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 75%. Mutu hedonik rasa tertinggi diperoleh dari fruit leather murbei dengan jumlah pektin 1% dan konsentrasi gula 55%. Formula fruit leather murbei yang paling disukai diperoleh dari jumlah pektin 1,5% dan konsentrasi gula 55%.

Elips / oleh Hutomo

 

Dua sastrawan besar dizaman baru: Ahmad Syauqi; Hafidz Bik Ibrahim
oleh Syaifudin Jufri M.

 

Pengembangan model pembelajaran bidang manufaktur berbasis siklus aktivitas proses manufaktur / Wahono

 

Kata kunci: pengembangan model, pembelajaran, proses manufaktur Pembelajaran praktik proses manufaktur di Jurusan Teknik Mesin (TM), Fakultas Teknik (FT), Universitas Negeri Malang (UM), cenderung berorientasi pada keterampilan mengeksekusi material belaka. Pembelajaran demikian tidak mampu mengintegrasikan matakuliah praktik dengan matakuliah prasyaratnya, sehingga tidak mampu membuka wawasan mahasiswa untuk mengenal lingkup proses manufaktur secara total. Pembelajaran yang mengintegrasikan seluruh aktivitas proses manufaktur, mulai dari perancangan hingga perakitan dan instalasi, diprediksi mampu menjawab masalah pembelajaran praktik proses manufaktur tersebut. Penelitian ini bertujuan ini untuk mengembangkan model pembelajaran bidang manufaktur dengan melakukan simplifikasi aktivitas riil industri manufaktur. Simplifikasi aktivitas tersebut diharapkan dapat dikomunikasikan kepada mahasiswa dalam bentuk aktivitas pembelajaran di kelas. Tujuan khusus kajian ini adalah untuk (1) merancang paket pembelajaran, (2) mengembangkan panduan evaluasi pembelajaran, (3) melakukan verifikasi kelayakan fasilitas pendukung pembelajaran, dan (4) menyusun panduan penerapan paket pembelajaran berbasis siklus aktivitas proses manufaktur. Prosedur pengembangan, meliputi (1) pengumpulan informasi awal, (2) perancangan paket pembelajaran, pengembangan panduan evaluasi pembelajaran, verifikasi fasilitas pendukung pembelajaran, dan penyusunan panduan penerapan paket pembelajaran, (3) uji coba paket pembelajaran dan panduan evaluasi, serta (4) merevisi paket pembelajaran dan panduan evaluasi pembelajaran berdasarkan hasil uji coba. Panduan penerapan paket pembelajaran tidak diuji coba, karena sekedar sebagai pelengkap. Data informasi awal tentang estimasi kebutuhan (need assessment) kompetensi proses manufaktur diambil dari pendapat 11 mahasiswa D3 Teknik Mesin (TM) dan 11 mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Mesin (PTM), FT, UM, yang dipilih secara acak. Isi dan urutan materi pembelajaran bidang manufaktur, paket pembelajaran, dan panduan evaluasi di-judgement oleh pakar yang kompeten di bidangnya. Paket pembelajaran diuji cobakan pada kelompok kecil untuk dilakukan one-to-one evaluation. Subjek uji coba adalah satu mahasiswa S1 PTM, dua mahasiswa D3 TM, dan dua mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif (PTO), FT, UM. Data informasi awal, uji coba paket pembelajaran, dan kelayakan fasilitas pendukung pembelajaran, serta panduan evaluasi dianalisis menggunakan teknik deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan, bahwa (1) informasi awal mengindikasikan ada kesenjangan (gap) kompetensi, sehingga diestimasi mahasiswa Jurusan TM, FT UM membutuhkan kompetensi aktivitas proses manufaktur untuk melengkapi tujuan pembelajaran proses manufaktur, (2) isi dan urutan materi pembelajaran proses manufaktur cukup memadai untuk dikonstruk menjadi paket pembelajaran berbasis siklus aktivitas proses manufaktur, (3) paket pembelajaran memiliki konstruk memadai untuk dilakukan uji coba, (4) paket pembelajaran memiliki kejelasan informasi dasar dari tinjauan vocabullary dalam hubungannya dengan konteks, kompleksitas kalimat dalam hubungannya dengan ikhtisar materi, kompleksitas pesan dalam hubungannya dengan analogi, pengantar dalam hubungannya dengan ilustrasi, dan prosedur, (5) fasilitas di jurusan TM memiliki potensi besar untuk mendukung implementasi paket pembelajaran ini, (6) panduan evaluasi pembelajaran memiliki kejelasan informasi dasar, teknik evaluasi, jenis data, dan aspek yang dievaluasi, sehingga layak digunakan untuk model pembelajaran ini. Temuan penelitian ini direkomendasikan untuk dimanfaatkan (1) isi dan urutan materi pembelajaran proses manufaktur dapat dimanfaatkan sebagai pembanding materi pembelajaran praktik manufaktur di jurusan TM, FT, UM, (2) isi dan urutan materi pembelajaran proses manufaktur dan potensi dukungan fasilitas pembelajaran yang besar dapat digunakan untuk mengonstruk matakuliah baru yang mampu memberi pengalaman berlajar yang utuh kepada mahasiswa S1 PTM tentang proses manufaktur, (3) paket pembelajaran projek dan subprojek memiliki kejelasan informasi dasar, sehingga dapat diterapkan secara parsial pada matakuliah Menggambar Mesin, Manajemen Produksi, Praktik Manufaktur, Metrologi Industri, Statistik, dan Perakitan Mesin, (4) segmentasi, ragam topik, dan tuntutan fasilitas dalam paket pembelajaran ini identik dengan matakuliah Lab. Produksi, sehingga paket belajar maupun panduan evaluasinya disarankan untuk diimplementasikan pada matakuliah Lab. Produksi tersebut, (5) paket pembelajaran dan panduan evaluasinya dapat digunakan sebagai langkah awal untuk diteruskan dalam pekerjaan pengembangan pembelajaran sejenis berikutnya, (6) penggunaan paket pembelajaran dalam setting pembelajaran sebenarnya dimaksudkan untuk mengumpulkan data evaluasi formatif, dan (8) penerapan paket pembelajaran dalam setting pembelajaran sebenarnya harus di bawah kendali dosen pendamping.

Pengaruh pembelajaran ideal problem solving berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M terhadap keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas VII SMP Negeri 1 Tikung Lamongan / Ndaru Restyana

 

ABSTRAK Restyana,Ndaru.2015.Pengaruh Pembelajaran IDEAL Problem Solving Berbantuan Modul Pengelolaan Sampah Berbasis 6M terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Kelas VII SMP Negeri 1 Tikung Lamongan.Tesis.Jurusan Pendidikan Biologi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati, M.S., (II) Dr. Murni Saptasari, M.Si. Kata kunci: pembelajaran IDEAL problem solving, modul pengelolaan sampah berbasis 6M, keterampilan berpikir kritis, hasil belajar. IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. Tujuan pendidikan IPA adalah meningkatkan berpikir kritis, menanggapi secara logis, dan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Masalah lingkungan berhubungan dengan proses pendidikan. Pendidikan lingkungan hidup dipengaruhi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa yaitu pembelajaran berbasis konstruktivis seperti Problem Solving. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran IDEAL Problem Solving berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M terhadap keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas VII SMP Negeri 1 Tikung Lamongan. Penelitian ini tergolong dalam penelitian eksperimen semu. Desain penelitian yang digunakan adalah pretest posttest nonequivalent control group design. Populasi penelitian ini seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Tikung tahun pelajaran 2014/2015. Sampel penelitian adalah siswa kelas VII-B sebagai kelompok kontrol dan kelas VII-C sebagai kelompok eksperimen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan berdasarkan hasil uji kesetaraan nilai rata-rata rapor. Teknik pengumpulan data menggunakan tes untuk mengetahui keterampilan berpikir kritis, hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor. Data penelitian diuji prasyarat menggunakan uji Kolmogorov Smirnof untuk mengetahui data berdistribusi normal, dan uji Leven’s Test untuk mengetahui data homogen. Uji hipotesis menggunakan anakova. Berdasarkan hasil analisis data penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa hasil uji anakova menunjukkan nilai p lebih kecil dari α = 0,05. Hal ini menunjukkan ada perbedaan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar antara siswa yang belajar dan pembelajaran IDEAL Problem Solving berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M dan pembelajaran multistrategi. Sehingga pembelajaran berpengaruh pada keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar. Dengan demikian guru IPA diharapkan dapat menerapkan pembelajaran IDEAL Problem Solving sebagai salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Sehingga siswa mampu memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Proses keliling ideal / oleh Pamudji

 

Penerapan pembelajaran group investigation berbasis 5M untuk meningkatkan keterampilan kerja ilmiah, motivasi belajar, dan hasil belajar siswa kelas X lintas minat IPA di SMA Laboratorium UM / Evi Fatmawati

 

ABSTRAK Fatmawati, Evi. 2015. Penerapan Pembelajaran Group Investigation Berbasis 5M untuk Meningkatkan Keterampilan Kerja Ilmiah, Motivasi, dan Hasil Belajar Siswa Kelas Lintas Minat IPA di SMA Laborratorium UM. Tesis, Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M. Pd., (2) Dr. Ibrohim, M. Si Kata–kata kunci: kelas lintas minat, penelitian tindakan kelas, group investigation, 5M Hal baru dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 yaitu adanya pengelompokan Kelas Lintas Minat (Permendikbud Nomor 64 tahun 2014). Kelompok Kelas Minat merupakan pengelompokan siswa rumpun IPS atau Bahasa yang memiliki minat belajar IPA khususnya biologi. Berdasarkan hasil angket pemilihan Mata Pelajaran Lintas Minat IPA, Mata Pelajaran Biologi di SMA Laboratorium UM diminati oleh 142 siswa dari 189 (2013/2014) dan 96 dari 171 (2014/2015) siswa non IPA (Bahasa dan IPS), sehingga memberi suasana baru terhadap pembelajaran biologi (Kurikulum SMA LAB, 2014). Suasana baru ini menuntut Guru Biologi di SMA LAB UM untuk lebih kreatif mengemas pembelajaran biologi, yaitu dalam hal membiasakan siswa jurusan non IPA (IPS dan Bahasa) bersikap dan belajar sains secara benar. Dari segi output, hasil belajar biologi siswa Kelas X Lintas Minat IPA baik itu nilai kognitif, afektif dan psikomotor masih rendah (nilai di bawah standar ketuntasan minimal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Penerapan pembelajaran Group Investigation berbasis 5M dapat meningkatkan keterampilan kerja ilmiah, motivasi dan hasil belajar siswa Kelas X Lintas Minat IPA di SMA Laboratorium UM. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Kelas yang diberi tindakan adalah siswa Kelas X Lintas Minat Biologi C Tahun Pelajaran 2014/2015 sebanyak 34 siswa. Data Penelitian berupa: (1) Hasil Belajar Kognitif siswa, Hasil Belajar Afektif siswa, (2) Keterampilan kerja ilmiah, (3) Motivasi belajar siswa, dan (4) Keterlaksanaan Model Pembelajarn Group Investigation, yang diukur dengan menggunakan: (1) Tes tulis (pilihan ganda dan uraian), (2) Observasi langsung, (3) Dokumentasi, dan (4) Angket. Berdasarkan analisis data kualitatif dan data kuantitatif dapat disimpulkan terjadi peningkatan: 1) keterampilan kerja ilmiah sebesar 24%, 2) motivasi belajar 3,59% , 3) hasil belajar kognitif 40% dan afektif 40%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Penerapan pembelajaran Group Investigation berbasis 5M dapat meningkatkan keterampilan kerja ilmiah, motivasi dan hasil belajar siswa Kelas X Lintas Minat IPA di SMA Laboratorium UM. Hasil penelitian menunjukan bahwa Mata Pelajaran Biologi mampu memberikan kebermaknaan hidup bagi siswa Kelas Lintas Minat IPA. Bagi peneliti lain yang berminat terhadap penerapan Group Investigation berbasis 5M, diharapkan dapat melakukan inovasi pembelajaran dalam penerapan Kelas Lintas Minat supaya kebermaknaan dalam setiap materi yang disampaikan, mampu digunakan dan bermanfaat dalam kehidupan sehari hari siswa.

Perhitungan dalam suatu segitiga / oleh Mutini

 

Inventarisasi ciliata diperairan sebelah barat laboratorium ilmu hayat IKIP Malang
oleh Siti Nurul Akbari

 

Integrasi Timor-Timur ke dalam Republik Indonesia ditinjau dari UUD 1945
oleh Puwito Adi

 

Proses pembelajaran keterampilan usaha dan dampak terhadap warga belajar pada program keaksaraan usaha mandiri di pusat kegiatan belajar masyarakat (studi kasus di PKBM Sabilul Falah Bangil Pasuruan) / Tarich Yuandana

 

ABSTRAK Yuandana, Tarich. 2015. Proses Pembelajaran Ketrampilan Usaha dan Dampak Terhadap Warga Belajar Pada Program Keaksaraan Usaha Mandiri di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (Studi Kasus di PKBM Sabilul Falah Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan). Tesis. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs M. Saleh Marzuki, M.Ed (II) Dr. Endang Sri Redjeki, M.S. Kata Kunci: Pembelajaran Ketrampilan Usaha, Keaksaraan Usaha Mandiri, PKBM Penelitian studi kasus ini dilatarbelakangi oleh keberhasilan pembelajaran keaksaraan usaha mandiri ditinjau dari sudut pandang antusiasme warga belajar dan manfaat materi pembelajaran bagi peserta, sehingga menimbulkan pertanyaan oleh peneliti dalam kaitannya antara keaksaraan usaha mandiri dengan ketrampilan usaha. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana peserta belajar ketrampilan usaha dan dampak apa yang diperoleh pada program keaksaraan usaha mandiri di PKBM Sabilul Falah. Atas dasar permasalahan tersebut, maka fokus penelitian ini adalah bagaimana proses pembelajaran ketrampilan usaha pada program keaksaraan usaha mandiri (KUM) di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Sabilul Falah Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan yang beralamatkan di Jl Sili no.05 Desa Manaruwi. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Kasus yang diteliti adalah proses pembelajaran ketrampilan usaha pada program KUM di PKBM Sabilul Falah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi untuk mengamati proses pembelajaran, teknik wawancara kepada beberapa informan sesuai dengan fokus penelitian, dan teknik dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ketrampilan usaha pada program keaksaraan usaha mandiri di PKBM Sabilul Falah Bangil Pasuruan dilaksanakan melalui pembelajaran membuat kue, pembelajaran membuat hantaran, pembelajaran membuat accessories, dan pengetahuan TOGA, selama proses pembelajaran ditemukan (1) Dalam penentuan materi pembelajaran warga belajar tidak menentukan sendiri melainkan ditawari tutor mengenai macam-macam ketrampilan yang akan dilatihkan, hal ini tidak masalah karena warga belajar mengalami kesulitan dalam menentukan materi pembelajaran. (2) Pembelajaran ketrampilan membuat kue tidak dapat memberikan dampak yang maksimal karena terkendala peralatan yang dibutuhkan, sehingga hasil belajar kurang maksimal, dari proses pembelajaran yang seperti ini terlihat bahwa dampak kurang bermakna untuk berwirausaha membuat kue. (3)Dalam pembelajaran membuat hantaran warga belajar senang, antusias, dan memperoleh kepuasan batin ketika hasilnya dapat ditunjukkan pada warga belajar yang lain, tetapi hasil belajar tidak membantu warga belajar menambah penghasilan melainkan hanya sampai pada membantu tetangga dan kerabat sebab proses pembelajaran tidak mendorong warga belajar berinisiatif. (4) Ketrampilan membuat accesories bross lebih diberi dorongan untuk berkreasi dalam pembuatan, karena faktor tutor yang merupakan tokoh masyarakat setempat sehingga lebih akrab, namun pembelajaran ketrampilan membuat bross hanya sebatas meningkatkan ketrampilan secara pribadi bukan menambah penghasilan. (5) Pembelajaran TOGA berlangsung hanya sampai pada pembelajaran informatif tidak sampai pada praktek dan pemanfaatan pekarangan atau polibek, sehingga dampak tidak terlihat nyata. (6) Dampak pembelajaran untuk semua ketrampilan yang diajarkan belum sampai pada kemampuan warga belajar merintis usaha secara mandiri maupun berkelompok karena pembelajaran hanya sampai pada output dan hasil belajar tidak sampai pada outcome, sehingga belum berdampak terhadap peningkatan perekonomian warga belajar. Berdasarkan hasil kesimpulan yang ada maka disarankan agar Sebaiknya tutor lebih memotivasi warga belajar supaya tertarik dan mencoba membuat usaha secara mandiri dari bekal ketrampilannya. Selain itu juga PKBM Sabilul Falah sebaiknya melakukan pendampingan usai pembelajaran dan membantu upaya pemasaran serta mendorong warga belajar berwirausaha agar warga belajar lebih termotivasi untuk membuat usaha dan menjual hasil ketrampilannya.  

Bola dengan beberapa masalahnya / oleh Hermien Setyowati

 

Teori ilmu kalam bagi kalangan awam oleh: Imam Al Ghozali / oleh Abdul Adzim Syah

 

Tinjauan pengaruh fisis, sosial dan kultur geografis terhadap perkembangan interinsik penduduk Desa Ampeldento, Kecamatan Karang Ploso Kabupaten Malang / oleh Kusmijati

 

Kajian pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pembelajaran tenatik matematik di kelas II ICP (International Class Programme) SD Laboratorium Universitas Negeri Malang / Nia Wahyu Damayanti

 

Kata kunci:KTSP, ICP, silabus, SD Laboratorium UM KTSP memberikan keleluasaan sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang digunakan di sekolah. Oleh karena itu, muncul beragam pengembangan KTSP di sekolah dengan berbagai kelebihan dan kelemahan dalam pelaksanaannya. Sebagai sekolah berstandar internasional, SD Laboratorium UM yang mengembangkan secara mandiri kurikulum yang digunakan sekolah. Hal ini dilakukan dalam rangka pencapaian visi dan misi serta tujuan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan KTSP di kelas II ICP jika ditinjau dari penilaian, peran guru dan fasilitas pada mata pelajaran matematika dan model silabus matematika di SD Laboratorium UM. Penelitian ini dilakukan di kelas II ICP (International Class Programme) selama bulan April sampai Juni 2010. Pendekatan penelitian yang digunakan termasuk penelitian kualitatif. Kegiatan yang dilakukan selama penelitian adalah penggalian data kepada beberapa orang yang merupakan tim pengembang kurikulum di SD Laboratorium UM, observasi fasilitas yang terdapat di sekolah dan observasi kegiatan belajar mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SD Laboratorium UM membagi KTSP menjadi 2 standar yaitu standar nasional dan internasional. Hal ini menyebabkan adanya 2 kelompok belajar yaitu kelas ICP dan kelas reguler/bilingual. KTSP untuk mata pelajaran matematika di kelas ICP merupakan hasil sintesis dari KTSP berdasarkan standar nasional dan CIPP (Cambridge International Primary Programme). CIPP merupakan suatu program kurikulum yang berasal dari Cambridge University yang diberikan untuk anak usia pendidikan dasar yang difokuskan pada mata pelajaran matematika, sains dan bahasa Inggris. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah mastery learning dan continuous progress. Secara umum, peran guru yang utama di kelas adalah sebagai fasilitator dan agen kognitif. Selain menjadi fasilitator, guru juga berperan sebagai motivator, pembimbing dan agen moral. Hal ini terlihat pada saat kegiatan belajar mengajar. Penilaian pada mata pelajaran matematika di kelas II ICP dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) dan terus-menerus saat pembelajaran. Aspekaspek yang menjadi sasaran penilaian oleh guru adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tes akhir semester untuk mata pelajaran matematika di kelas II ICP terdapat dua macam yaitu tes dari Diknas dan tes berdasarkan kurikulum Cambridge. Fasilitas yang berada di SD Laboratorium dibagi menjadi tiga, yaitu fasilitas pembelajaran, fasilitas kelas dan fasilitas sekolah. Dalam mengembangkan silabus, SD Laboratorium mengembangkan secara mandiri ii dengan tetap berpedoman pada pedoman penyusunan silabus. Komponen yang terdapat pada silabus matematika kelas II ICP adalah komponen identitas yang meliputi mata pelajaran, kelas, semester dan alokasi waktu satu semester. Komponen yang terdapat pada kolom silabus adalah nomor pertemuan, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, alokasi waktu, kegiatan belajar mengajar dan penilaian. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai muatan/isi KTSP secara keseluruhan yang digunakan di sekolah berstandar internasional.

Bahan yang mudah didapat untuk disain mobil sebagai alat kegiatan kreatif di kelas V Sekolah Dasar Laboratorium IKIP Malang / oleh Liliek Sudarwati

 

Persepsi siswa tentang kualitas layanan pembelajaran di SMK Negeri 1 Purwosari / Izzuddin Raviedz Helmy

 

Kata Kunci: kualitas layanan pembelajaran Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa tentang kualitas layanan pembelajaran, yang meliputi layanan kegiatan belajar mengajar, layanan fasilitas pembelajaran, layanan perpustakaan dan lingkungan sekolah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 93 siswa. Sampel yang diambil yaitu keseluruhan dari jumlah populasi. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik deskriptif. Pengambilan data dilakukan di SMK Negeri 1 Purwosari. Instrumen yang digunakan untuk proses pengumpulan data adalah angket (a) layanan kegiatan belajar mengajar, (b) layanan fasilitas pembelajaran, (c) layanan perpustakaan dan (d) lingkungan sekolah. Validitas instrumen melalui expert justment (content, contract, face), kemudian dilanjutkan analisis statistik uji validitas butir dan reliabilitas (r 0,747, r 0,757, r 0,750, dan r 0,793). Hasil analisis data menunjukkan bahwa siswa rata-rata mempersepsikan kualitas layanan pembelajaran baik, siswa rata-rata mempersepsikan kualitas layanan fasilitas pembelajaran baik, siswa rata-rata mempersepsikan kualitas layanan perpustakaan baik dan siswa rata-rata mempersepsikan kualitas lingkungan sekolah baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semua layanan dalam pembelajaran dipersepsikan baik. Hal ini dikarenakan metode, media dan sumber belajar serta strategi yang digunakan oleh guru mempermudah siswa dalam memahami materi yang disampaikan dan juga guru dalam memberikan penguatan perlu untuk meyakinkan siswa terhadap suatu teori dengan memberikan penghargaan secara lisan maupun tertulis. Fasilitas pembelajaran yang dimiliki lengkap dan memadai serta pengelolaan yang baik sehingga interaksi belajar mengajar akan semakin efektif dan efisien serta memperlancar jalannya proses pembelajaran. Koleksi perpustakaan yang berkualitas yang dapat dimanfaatkan siswa untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuannya serta akses layanan yang tepat yang membuat siswa dapat memilih dan meminjam bahan pustaka yang diinginkan dengan mudah. Lingkungan yang baik yang membuat siswa nyaman dan aman dalam belajar serta tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai. Selanjutnya dapat disarankan bagi: 1) Untuk mempertahankan dan menjaga fasilitas sekolah yang sudah ada untuk menunjang kelancaran proses pembelajaran serta memberikan motivasi kepada guru agar selalu menjaga kualitas layanan pembelajaran yang sudah baik, 2) guru untuk mengembangkan potensi yang telah ada dan sudah baik, 3) siswa lebih berani untuk mengeluarkan pendapat apabila kualitas layanan pembelajaran di sekolah tidak sesuai dengan harapan/kebutuhan siswa dan ikut serta menjaga kualitas layanan di sekolah dengan sebaik-baiknya, 4) Peneliti lain perlu melaksanakan penelitian selanjutnya dengan memperluas wilayah peneliti, selain itu juga memperbanyak subyek penelitian serta juga melengkapi penelitian dengan observasi dan wawancara sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan data-data yang lebih lengkap.

Mengajarkan sistim koloid di SMA / oleh Endang Nurrochmi Margono

 

Studi tentang lichenes bentuk frutikosa yang terdapat di Daerah Selekta Batu / oleh Sakemat

 

Pembelajaran multi representasi untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kualitas representasi siswa pada topik optika geometri / Yasinta Sindy Pramesti

 

ABSTRAK Pramesti, Yasinta Sindy. 2015. Pembelajaran Multirepresentasi untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Kualitas Representasi Siswa pada Topik Optika Geometri. Tesis, Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dr.Sutopo, M.Si., (II) Prof. Dr. Arif Hidayat, M.Si. Kata Kunci:multirepresentasi, pemahaman konsep, kualitas representasi Salah satu aspek penting dalam pembelajaran fisika yaitu agar siswa mampu memahami konsep sehingga dapat menerapkannya untuk menjelaskan fenomena alam yang terjadi sehari-hari. Pemahaman konsep siswa yang baik diperlukan sebagai dasar dalam menyelesaikan permasalahan fisika.Konsep pada topik optika geometri merupakan konsep yang terjadi sehari-hari.Namun hal tersebut tidak menjamin siswa memiliki konsep yang benar tentang optika geometri. Apabilasiswatidakmemahamisuatukonsep, makatidakdapatmenyelesaikanpermasalahan.Pembelajaran multirepresentasididuga dapat membantu siswa siswa untuk meningkatkan pemahaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran multirepresentasi dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi optika geometri dan sejauh mana pembelajaran multirepresentasi dapat meningkatkan kualitas representasi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain embedded experimental model untuk menggali secara lengkap subjek penelitian.Subjek penelitian terdiri dari 32 siswa kelas X MIA C SMA Negeri 1 Kediri. Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Data penelitian ini adalah observasi pembelajaran, data pemahaman konsep, data kualitas representasi, dan hasil wawancara. Data yang dianalisis secara kuantitatif yaitu data sekor pemahaman konsep dengan paired sample t-test, dan data kualitas representasi dengan rubrik. Data yang dianalisis secara kualitatif yaitu deskripsi pembelajaran multirepresentasi, pemahaman konsep dengan constant comparative, dan hasil wawancara. Hasil penelitian diperoleh bahwa skor pemahaman konsep siswa meningkat dari rata-rata 40,88 menjadi 73,84 (p < 0,01) dengan effect size sebesar 3,65 (kategori kuat) dan N-gain sebesar0,56 (kategori menengah atas). Ke¬sulitan-kesulitan yang masih muncul baik pada pretesdan postesantara lain dalam hal (1) menentukan bidang datar pada hukum pemantulan cahaya, (2) prinsip pembentukan bayangan, (3) syarat berlakunya f = R/2, (4) peran layar pada pembentukan bayangan. Pem¬belajaran multirepresentasi dapat meningkatkan pemhaman konsepmelalui konstruksi berbagai representasi yang digunakan selama pembelajaran. Pembelajaran multirepresentasi dapat meningkatkan kualitas representasi yang dikonstruksi siswa dari missing dan inadequate menjadi adequate. Perubahankualitasrepresentasimenjadilebihlogis, lengkap, danbenarmembuatsiswalebihmudahmenganalisadanmemahamisuatupermasalahan.

Tinjauan gerografis tanaman kopi rakyat Desa Jambuwer Kecamatan Sumberpucung Kabupaten Malang / oleh Sutarji

 

Pengembangan bahan ajar Bahasa Portugis untuk komunikasi siswa SMA kelas I Dili, Timor Leste / Agostinho dos Santos Goncalves

 

ABSTRAK Gonçalves, Agostinho dos Santos. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Portugis untuk Komunikasi Siswa SMA Kelas I Dili, Timor Leste.Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Pd., M.Ed, (2) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, dan (3) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, bahan ajar, komunikasi Bahasa Portugis merupakan bahasa nasional di Timor Leste. Bahasa tersebut dapat dikuasai oleh siswa dengan mudah dan lancar jika bahan ajar pembelajaran bahasa Portugis didasarkan kebutuhan siswa yang belajar. Karena itu, penelitian ini bertujuan (1) menghasilkan bahan ajar bahasa Portugis untuk komunikasi siswa SMA Kelas I Dili, Timor Leste, dan (2) mengkaji kelayakan produk bahan ajar bahasa Portugis untuk komunikasi siswa SMA Kelas I Dili, Timor Leste. Pengembangan bahan ajar tersebut dilakukan dengan menggunakan desain pembelajaran konstruktivis dengan pola kerja R2D2 (recursive, reflective, desain, dan development) yang dikembangkan oleh Willis. Subjek uji coba atau sampel untuk uji coba adalah guru bahasa Portugis dan siswa SMA Kelas I Cristal dan SMA Kelas I Negeri 4 September Dili, Timor Leste. Data penelitian untuk pengembangan produk bahan ajar ini adalah data kualitatif, yang berupa informasi tentang kebutuhan model bahan ajar. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi lembar catatan dan panduan observasi, ikhtisar dokumen, dan angket. Sesuai dengan instrumen yang digunakan, teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi dokumen, dan pengisian angket. Data dianalisis secara deskriptif baik dalam bentuk paparan kualitatif maupun dalam bentuk perhitungan kuantitatif dan diklasifikasikan berdasarkan jenis dan komponen produk yang dikembangkan. Untuk uji keelayakan produk, data dianalisis dengan menggunakan uji t. Berdasarkan hasil analisis uji lapangan, dapat diketahui bahwa produk bahan ajar bahasa Portugis yang sudah dikembangkan mampu menjadikan meningkatkan rerata skor siswa, yakni dari rerata skor sebelumnya 70,8653 menjadi 77,7528. Selain itu, penggunaan produk tersebut juga memperkecil perbedaan kompetensi antar siswa. Hal ini tampak pada simpangan baku yang skor tersebut, yakni dari 7,69768 menjadi lebih kecil lagi, yakni 6,88424. Dengan demikian, produk bahan ajar tersebut memiliki manfaat untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran bahasa Portugis bagi siswa SMAkelas I Dili, Timor Leste. Penggunaan produk bahan ajar bahasa Portugis mampu meningkatkan rerata skor sebanyak 6.88764. memperkecil simpangan baku sebanyak 5,50297 dan memiliki taraf signifikansi perbedaan 11,808. Berdasarkan hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa produk bahan ajar bahasa Portugis yang dikembangkan dengan menggunakan model R2D2 layak digunakan dan perlu didiseminasikan secara lebih luas, serta dikembangkan secara lebih lanjut.

Wacana Tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa Provinsi Gorontalo / Fatimah AR. Umar

 

Kata Kunci: wacana tujaqi, prosesi adat perkawinan, masyarakat Suwawa. Penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa provinsi Gorontalo sekarang ini sudah meluas dan merakyat. Akan tetapi apa, bagaimana, dan untuk apa belum dipahami secara mendalam oleh sebahagian pemiliknya. Wacana tujaqi merupakan salah satu wacana budaya masyarakat Suwawa provinsi Gorontalo yang merepresentasikan ideologi budaya, baik melalui untaian kata-katanya, tata cara penuturannya, personil aktornya, tugas dan posisi aktornya, tindakan aktornya, serta simbol adat yang menyertainya, baik pada tahap motolobalango,tahap momanato, maupun tahap moponikah. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hakikat wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa, yang meliputi (1) skema, (2) aktor, (3) latar, dan (4) tema. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian adalah kata-kata tujaqi dan tindakan para aktor serta simbol adat yang menyertainya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan perekaman, pengamatan berperan serta, studi dokumen, dan wawancara. Instrumen utama adalah peneliti sendiri dan pedoman pengumpulan data. Untuk menjaga kesahihan data dilakukan triangulasi terhadap sumber data dan metode pengumpulan data. Analisis data menggunakan teknik analisis wacana kritis dengan menggunakan model interaktif yang di dalamnya terdapat kegiatan reduksi, penjajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan, pertama skema penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa menggunakan alur maju bertahap dari awal, tengah, dan akhir, baik pada tahap motolobalango, momanato, maupun moponikah. Skema tahap motolobalango bagian awal adalah (i) menyapa audiens, (ii) menghormati pemimpin, (iii) memaklumkan, (iv) memohon maaf, (v) memohon izin, (vi) mengagungkan asma Allah SWT, (vii) menunjung tinggi nabi Muhammad SAW, (viii) mengecek kehadiran audeisn, (ix) memperjelas identitas utoliya wolato, dan (x.) menyerahkan dan menerima simbol adat. Skema tahap motolobalango bagian tengah adalah (i) mencari informasi tentang calon mempelai perempuan , (ii) melamar calon mempelai perempuan, (iii) menyerahkan dan menerima simbol adat pelamaran. Skema tahap motolobalango bagian akhir adalah (i) memperjelas pembicaraan awal, (ii) berjabatan tangan. Skema tahap momanato bagian awal adalah (i) mempersiapkan hantaran harta, (ii) membawa hantaran harta, (iii) membawa masuk hantaran harta ke rumah mempelai perempuan, (iv) menghidangkan hantaran harta, dan (v) membuka dan memperlihatkan hantaran harta kepada audiens. Skema tahap momanato bagian tengah adalah (i) memohon menyerahkan hantaran harta, dan (ii) menyerahkan dan menerima hantaran harta. Skema tahap momanato bagian akhir adalah (i) berjabatan tangan, dan (ii) menyerahkan mahar dan tapagola kepada mempelai perempuan di kamar wadaka (adat). Skema tahap moponikah bagian awal adalah (i) memaklumkan dan memohon izin, (ii) menuntun mempelai laki-laki turun dari kenderaan adat , (iii) menuntun mempelai melangkah ke gapura rumah mempelai perempuan, (iv) menuntun mempelai laki-laki memasuki halaman rumah mempelai perempuan, (v) menuntun mempelai laki-laki menaiki tangga adat rumah mempelai peremuan , (vi) menuntun mempelai laki-laki memasuki rumah mempelai perempuan, dan (vi) menuntun mempelai laki-laki duduk di kursi kerajaan. Skema tahap moponikah bagian tengah adalah (i) memaklumkan dan memohon izin, (ii) membaeat, (iii) menikahkan, dan (iv) membatalkan air wudlu. Skema tahap moponikah bagian akhir adalah berdoa. Kedua, aktor yang terlibat dalam penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan adalah (i) aktor abstrak, (ii) aktor sebagai narator, (iii) aktor terlibat, (iv) aktor sasaran utama, dan (v) aktor sebagai kreator. Aktor (i) berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, sedangkan aktor (ii – v) di sisi lain berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, tetapi di sisi lain mereka juga berada pada posisi yang didominasi dan dihegemoni. Tindakan para aktor adalah (i) tindakan sesuai aturan, (ii) tindakan taktik, (iii) tindakan move, dan (iv) tindakan heuristik. Ketiga, latar penuturan wacana tujaqi adalah (i) latar terpola, dan (ii) latar spontanitas. Latar terpola meliputi (a) latar agama, dan (b) latar budaya dan adat istiadat, (ii) latar spontanitas, meliputi (a) latar waktu, (b) latar situasi, dan (c) pengalaman nyata. Keempat, tema khusus pada tahap motolobalango adalah (1) ketauhidan, (ii) kepemimpinan, (iii) kesusahan, (iv) kesungguhan dan keberanian, (v) ketawudluaan, (vi) kesatuan dan persatuan, (vii) kehadiran, (viii) kedemokratisan, (ix) kesepakatan awal, (x.) kearifan dan kebijaksanaan, (xi) ketangguhan, (xii) kegelisahan, (xiii) perencanaan awal, (xiv) kejujuran, (xv) kecekatan dan ketelitian, (xvi) keyakinan, (xvii) kewaspadaan, (xviii) kepercayaan diri, (xix) kehormatan diri, (xx) keikhlasan, (xxi) keraguan, (xxii) kesaksian, (xxii) kedisiplinan.Tema umumnya adalah perjuangan. Tema khusus tahap momanato adalah (i) penjagaan dan pengamalan adat istiadat, (ii) pemenuhan hak dan kewajiban, (iii) kesabaran, (iv) keadilan, dan (v) kepedulian. Tema umumnya adalah pengorbanan. Tema khusus tahap moponikah adalah (i) kepemimpinan, (ii) ketauhidan, (iii) keterbatasan, (iv) ketaatan, ((v) pedoman dan pegangan, (vi) peradaban, (vii) pembaeatan, (viii) pengakuan, dan (ix) pengukuhan.Tema umumnya adalah pengakuan dan pengukuhan. Berdasarkan temuan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa pada hakikatnya bukan sekedar hiburan dan pemecah kesunyian. Akan tetapi di dalamnya terdapat berbagai ideologi budaya yang dapat dijadikan pedoman dan pandangan hidup dalam berbagai sendi kehidupan bukan saja oleh kedua mempelai tetapi juga oleh seluruh audiens yang terlibat di dalamnya. Untuk itu perlu ditemukan, digali, dipelihara dan dilestrikan secara terus menerus oleh semua pihak yang terkait di dalamnya.

Desa Mangunan di Ketjamatan Udanawu merupakan daerah banjir dari aliran Sungai Lahar Temas / oleh Samad Soebagio

 

Pengaruh model daur belajar 6 fase dengan bantuan blended learning pada pemahaman konsep laju reaksi dan higher order thinking skill (HOTS) / Moh. Ismail Sholeh

 

ABSTRAK Sholeh, M.I, 2015. Pengaruh Model Daur Belajar 6 Fase Dengan Bantuan Blended Learning Pada Pemahaman Konsep Laju Reaksi dan Higher Order Thinking Skill (HOTS). Tesis. Program Studi Pendidikan Kimia. Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1) Prof. Srini M. Iskandar, Ph.D., 2) Dr. Aman Santoso, M.Si. Kata kunci: Daur Belajar 6 Fase, Blended Learning, Pemahaman Konsep, Higher Order Thinking Skill (HOTS). Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa pemahaman konsep laju reaksi ditingkat Sekolah Menengah Atas dan Perguruan Tinggi tergolong rendah, selain itu banyak terdapat miskonsepsi pada konsep laju reaksi. Apabila pemahaman konsep rendah akan menyebabkan kegagalan studi. Padahal tuntutan kurikulum diarahkan pada tercapainya kemampuan ketrampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skill (HOTS). Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan pembelajaran berbasis kognitif, salah satunya model daur belajar 6 fase. Telah banyak penelitian untuk membuktikan keefektifan model daur belajar 6 fase dalam meningkatkan pemahaman konsep dan higher order thinking skill (HOTS). Model daur belajar 6 fase memiliki kelemahan terutama dalam hal durasi waktu. Untuk mengatasi hal ini peneliti mencoba untuk memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran yang dikenal dengan blended learning. Blended learning merupakan pembelajaran yang mengkombinasikan penggunaan kegiatan face to face dan online. Penelitian bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh model daur belajar 6 fase dengan bantuan blended learning untuk meningkatkan pemahaman konsep laju reaksi dan HOTS; (2) mengetahui presentase pemahaman konsep (paham konsep, kurang paham konsep dan tidak paham konsep) pada materi laju reaksi setelah diterapkan pembelajaran dengan model daur belajar 6 fase dengan bantuan blended learning dan tanpa bantuan blended learning; (3) mengetahui deskripsi kualitas kegiatan online pada pembelajaran model daur belajar 6 fase dengan bantuan blended learning dalam mendukung pemahaman konsep laju reaksi dan HOTS. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA N 2 Malang. Sampel penelitian dipilih secara acak yang diperoleh kelas XI IPA 4 sebagai kelas eksperimen yang diajarkan dengan model daur belajar 6 fase dengan bantuan blended learning dan kelas XI IPA 5 sebagai kelas kontrol yang diajarkan dengan model daur belajar 6 fase. Instrumen pengumpulan data meliputi tes pemahaman konsep dan HOTS, Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Pembelajaran model daur belajar 6 fase dengan bantuan blended learningmempunyai pengaruh yang lebih besar(nilai gain 59,4 dan 49,83) dibandingkan dengan pembelajaran model daur belajar 6 fase tanpa bantuan blended learning (nilai gain 39,10 dan 33,39) dalam meningkatkan pemahaman konsep laju reaksi dan HOTS; (2)Persentase kategori paham konsep pada kelas eksperimen meningkat lebih tinggi (nilai gain 70) dibandingkan kelas kontrol (nilai gain 44), sedangkan kategori kurang paham konsep menurun lebih banyak pada kelas eksperimen (nilai gain -13)dibandingkan kelas kontrol (nilai gain -2) dan kategori tidak paham konsep menurun lebih banyak pada kelas eksperimen (nilai gain -57) dibandingkan kelas kontrol (nilai gain -42); (3)Kualitas online pada aspek: (a) jumlah tugas, menunjukkan bahwa semua siswa telah melaksanakan tugas di kegiatan online. Sebagian besar siswa pada rentang 31-36 kegiatan dari total 36 kegiatan; (b) frekuensi, menunjukkan bahwa frekuensi akses siswa tidak merata. Sebagian besar siswa pada rentang 251-500 akses dan sangat sedikit siswa pada rentang 1251-1500 akses; (c) nilai aktivitas, menunjukkan bahwa semua fasilitas online (chatting, forum diskusi, evaluasi, handout dan penugasan) telah digunakan dengan baik oleh siswa dengan nilai aktivitas yang berbeda-beda.

Peningkatan kemampuan menulis pantun sesuai dengan syarat-syarat pantun siswa kelas VII Mts Al Hidayah Karangploso Malang dengan menggunakan media daftar kosakata / Erna Fitriyah

 

Kata kunci: pantun, daftar kosakata Mata pelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan melalui pengembangan empat ketrampilan berbahasa, yakni mendengarkan, menulis, membaca, dan berbicara. Menulis pantun merupakan salah satu kompetensi berbahasa dan bersastra kurikulum 2006 SMP/MTS mata pelajaran bahasa dan sastra indonesia. Pembelajaran menulis pantun menekankan pada kemampuan siswa dalam menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat tertentu pantun yang perlu dikuasai oleh siswa. Proses pembelajaran yang menarik dan menyenagkan siswa dapat menghasilkan siswa yang kompeten dalam menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat pantun yaitu terdiri atas empat larik atau baris pada tiap bait, bersajak silang atau a-b-a-b, dua baris pertama merupakan sampiran, dua baris terakhir merupakan isi, dan banyaknya suku kata tiap larik atau baris antara delapan sampai du belas suku kata sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai pada kurikulum 2006. Untuk mencapai tujuan tersebut guru harus memiliki media yang tepat dalam pembelajaran menulis pantun. Media tersebut digunakan untuk membantu siswa dalam menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat pantun. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, (1) bagaimana proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun siswa kelas VII MTs Al Hidayah Karangploso-Malang dengan menggunakan media daftar kosakata, pada tahap pramenulis?, (2) bagaimana proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun siswa kelas VII MTs Al Hidayah Karangploso-Malang dengan menggunakan media daftar kosakata, pada tahap menulis?, dan (3) bagaimana proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun siswa kelas VII MTs Al Hidayah Karangploso-Malang dengan menggunakan media daftar kosakata, pada tahap pascamenulis? Penelitian ini dilakukan di MTs Al Hidayah Karangploso-Malang, difokuskan pada siswa kelas VII sebagai subjek penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang digunakan berupa data verbal, data perilaku siswa dalam pembelajaran menulis, data numerik yang berupa skor hasil pada tahap pramenulis, menulis, dan pasca menulis, dan data nonverbal yang berupa dokumentasi foto siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yakni lembar observasi dan angket. Penelitian ini dilakukan hingga dua siklus untuk mencapai tujuan penelitian, yaitu peningkatan kemampuan menulis pantun dengan menggunakan media daftar kosakata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media daftar kosakata dapat meningkatkan kemampuan menulis pantun. Pada siklus I tahap pramenulis dari 24 siswa yang mendapat tindakan 18 siswa dikatakan berhasil mencapai nilai rata- ii rata kelas di atas SKM (>70), dengan rincian 9 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-90, 7 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 89-80 dan 1 siswa mencapai kriteria cukup dengan rentangan nilai 79-71. Dalam tahap pramenulis masih terdapat 6 siswa yang mendapat nilai rata-rata kelas di bawah SKM (<70), dengan rincian 2 siswa mencapai kriteria kurang, serta 4 siswa mencapai kriteris sangat kurang dengan nilai terendah 40. Pada tahap menulis didapatkan hasil dari 24 siswa yang mendapat tindakan hanya 17 siswa yang mendapat nilai rata-rata kelas di atas SKM (>70), dengan rincian 10 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-90, 6 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 89-80 dan 1 siswa mencapai kriteria cukup dengan rentangan nilai 79-71. Dalam tahap ini ditemukan 7 siswa yang mencapai nilai rata-rata kelas di bawah SKM (<70), dengan rincian 4 siswa mencapai kriteria kurang dengan rentang nilai 70-60 dan 3 siswa yang mencapai kriteria sangat kurang dengan nilai terendah 54 Siklus II pada tahap pramenulis didapatkan hasil 20 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-90, dan 4 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 89-80. Pada tahap menulis tidak ditemui siswa yang mencapai kriteria cukup, kurang dan sangat kurang. Seluruh siswa memperoleh nilai rata-rata kelas di atas SKM (>70), dengan rincian 20 siswa mencapai kriteria sangat baik, dan4 siswa mencapai kriteria baik. Pada siklus II didapatkan hasil semua siswa mengalami peningkatan nilai rata-rata kelas di atas SKM (>70). Berdasarkan data-data yang sudah dicapai pada siklus I dan siklus II, siswa sudah mampu menulis pantun secara utuh dan tepat sesuai dengan syarat pantun dengan menggunakan media daftar kosakata. Media daftar kosakata dapat menjadi inspirasi bagi siswa, dengan bukti siswa mampu menulis pantun dengan utuh dan tepat sesuai dengan syarat pantun. Tema yang sudah dipilih dan syarat-syarat pantun yang telah ditentukan membantu siswa untuk menuangkan gagasanya menjadi pantun yang utuh dan tepat sesuai dengan syarat pantun. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk kepala sekolah dan guru agar menggunakan media daftar kosakata sebagai salah satu media pembelajaran menulis pantun atau puisi, sebab daftar kosakata merupakan sebuah daftar yang berisi sejumlah nama benda yang sering ditemui dalam kehidupan siswa sekaligus dapat memperluas kosakata siswa dan mudah dipahami serta dapt membantu siswadalam mengatur pola sajak pantun yang harus a b a b.

Metode diskusi dalam pengajaran apresiasi sastra di SMAN Trenggalek / oleh Dwi Andrias

 

Pengembangan sistem pembelajaran berbantuan web dengan mengaplikasikan strategi self-regulated learning / Dinda Aya Sofia

 

ABSTRAK Sofia, Dinda Aya. 2015. Pengembangan Sistem Pembelajaran Berbantuan Web dengan Mengaplikasikan Strategi Self-Regulated Learning.Tesis, Program Studi Teknologi PembelajaranProgram Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd, (II) Saida Ulfa, M. Edu, Ph.D. Kata kunci:Pengembangan Pembelajaran, Web, Strategi Self-Regulated Learning. Pemanfaatan internet di dunia pendidikan bukan lagi menjadi hal yang baru. Program e-learning menjadi salah satu metode pilihan dalam pendidikan saat ini. Dengan konsep belajar ini, pebelajar dapat belajar dengan tak terbatas waktu dan tempat. Tetapi jika dilihat dari keefektifaannya, tidak banyak lembaga pendidikan menjalankannya dengan efektif. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya partisipasi para pengajar dan pebelajar dalam menggunakan e-learning. Penerapan strategi self-regulated learning dalam penelitian ini dilakukan melalui pemanfaatan software aplikasi berbasis web. Web tersebut berisi seperangkat materi yang memungkinkan pebelajar dapat merancang tujuan belajarnya, memilih kegiatan belajarnya, sampai dengan melakukan evaluasi atas tingkat penguasaan materi yang dipelajarinya. Dengan menggunakan sumber belajar ini memungkinkan pebelajar menganalisis tugasnya sendiri, memotivasi dirinya untuk dapat melaksanakan dengan baik, serta memonitor keterlaksanaan kegiatan tersebut. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan sistem pembelajaran berbantuan web yang di dalamnya menerapkan strategi Self-regulated learning. Selain itu pengembangan ini juga bertujuan untuk menyediakan sebuah lingkungan belajar yang baru bagi pebelajar untuk berkesempatan melakukan interaksi dan diskusi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Adapun Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Lee&Owens. Model yang dikembangkan oleh William W. Lee dan Diana L. Owens ini dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain model ini dirancang khusus untuk multimedia-based instructional design sehingga sesuai apabila digunakan untuk mengembangkan lingkungan belajar online.Subyek uji coba dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pascasarjana Teknologi Pembelajaran Angkatan 2014. Produk pengembangan ini divalidasikan kepada Ahli Materi, Ahli Media dan Ahli Pembelajaran serta diuji-cobakan kepada mahasiswa Pascasarjana Program Studi Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang angkatan 2014 yang berjumlah 24 orang. Dari hasil validasi dan uji coba tersebut diperoleh kesimpulan bahwa pengembangan pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan valid sehingga layak digunakan. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji hasil uji ahli materi mencapai tingkat kevalidan 93,68%; ahli media mencapai tingkat kevalidan 74%; ahli pembelajaran mencapai tingkat kevalidan 85,33%; hasil uji coba kepada mahasiswa secara perseorangan mencapai tingkat kevalidan 80%; hasil uji coba kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 81,19%, dan hasil uji coba lapangan mencapai tingkat kevalidan 82,95%. Berdasarkan hasil pengembangan, maka diharapkan adanya penelitian-penelitian lain yang sejenis. Misalnya penelitian untuk mengetahui pengaruh dan efektivitas pembelajaran berbantuan web. Selain itu diharapkan pula untuk dapat menggali lebih dalam tentang teori-teori dan aplikasi teknologi pembelajaran untuk diterapkan dalam pembelajaran.

Mengajarkan larutan elektrolit di Sekolah Menengah Atas / oleh Dyah Astianna

 

Efektivitas level of inquiry model of science teaching terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika siswa SMA kelas X / Yulia Agustin Surya Juita

 

ABSTRAK Juita, Yulia Agustin Surya. 2015. Efektifitas Levels of Inquiry Model of Science Teaching terhadap Keterampilan Proses Sains dan Penguasaan Konsep Fisika Siswa SMA Kelas X. Tesis, Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Arif Hidayat, M. Si. (2) Dr. Lia Yuliati, M. Pd. Kata kunci: levels of inquiry (LoI) model of science teaching, keterampilan proses sains, penguasaan konsep fisika Kurikulum 2013 menghendaki pembelajaran dengan scientific approach yang mengisyaratkan penggunaan keterampilan proses sains dalam pemebelajaran. Tujuan penerapan scientific approach diantaranya adalah untuk melatih dan mengembangkan keterampilan proses sains siswa serta mencapai penguasaan konsep fisika. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keterampilan proses sains siswa masih relatif rendah. Salah satu penyebab permasalahan ini adalah kurangnya keterampilan guru dalam mengorganisasikan prosedur atau informasi yang harus diterima siswa. LoI merupakan sebuah model yang mengorganisasikan informasi ke dalam cara yang lebih bermakna. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas LoI terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika siswa. Penelitian ini menggunakan pre-post test control group design. Populasi terdiri dari seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Malang. Sampel dipilih dengan cara cluster random sampling. Kelas eksperimen yaitu X MIA 8 dan kelas kontrol yaitu X MIA 1 masing-masing berjumlah 33 siswa. Siswa pada kelas eksperimen dibelajarkan dengan model pembelajaran LoI sedangkan siswa pada kelas kontrol dibelajarkan dengan guided inquiry. Data keterampilan proses sains siswa diperoleh melalui lembar observasi dan instrumen tes keterampilan proses sains. Data penguasaan konsep diperoleh dari instrumen tes penguasaan konsep. Data dianalisis dengan statistik nonparametris uji Mann-Whitney satu ekor karena tidak terdistribusi normal. Deskripsi keterlaksanaan proses pembelajaran dengan LoI dan Guided inquiry dapat dikatakan baik. Hal ini berdasarkan pada lembar observasi keterlaksanaan proses yang menunjukkan bahwa keterlaksanaan LoI mencapai 93,64 % sedangkan keterlaksanaan guided inquiry mencapai 92,31%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran LoI lebih efektif dibanding guided inquiry dalam menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan proses sains siswa. Nilai zhitung 5,47 lebih besar dari nilai zkritis yaitu1,65. LoI juga lebih efektif dibanding guided inquiry dalam meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa. Hal ini ditunjukkan dengan nilai zhitung 2,59 lebih besar dari nilai zkritis yaitu1,65. Jika nilai zhitung lebih besar dari nilai zkritis maka hipotesis awal ditolak yang berarti keterampilan proses sains dan penguasaan konsep fisika siswa yang belajar dengan LoI lebih tinggi dibanding siswa yang belajar dengan guided inquiry. Beberapa hal yang menjadi penyebab adalah kurangnya pemahaman siswa yang belajar dengan guided inquiry terhadap macam-macam variabel serta definisinya. Selain itu, penyebab lain adalah kurangnya pemahaman siswa terhadap prosedur yang harus dilakukan.

Mengembangkan daya kreasi anak lewat menggambar-mencipta pada kelas VI Sekolah Dasar Dionysius II. Malang / oleh Sugino

 

Memutuskan siklus hidup sitophilus oryza dengan cara pemanasan / oleh Wulan Indrowati

 

Pengaruh faktor-faktor geografis, terutama iklim, terhadap peternakan unggas di Daerah Kotamadya Malang / oleh Imam Asjari

 

Tinjauan pelaksanaan pengajaran kalimat majemuk di kelas III SMPK III Yos Sudarso Blitar / oleh Wiwiek Sulistyo

 

Individuation process of the main character in hermann hesse's demian and its pedagogical implications / Winda Pradnya Paramita

 

ABSTRAK Paramita, WindaPradnya. 2015. Individuation Process of the Main Character in Hermann Hesse’sDemian and Its Pedagogical Implication. Thesis, Graduate Program in English Language Teaching,State University of Malang. Advisors: Advisors: (1) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd, M.A, (2) Dr. Emalia Iragiliati M.Pd. Kata kunci: proses indivuasi, implikasipengajaran Penulisantesisditujukanuntukneneliti proses individuasi yang dihadapioleh Sinclair, tokohutamadalam novel Demian: the Story of Emil Sinclair's Youthkarangan Hermann Hesse, sertabagaimana Sinclair berinteraksidenganlingkungandisekitarnyadalampencariannyaakanidentitasdiri yang sejati. Tesisinijugamenelitihal –hal yang berkaitandengan proses pencarianjatidiri di dalam novel yang bisadiambildandipakaisebagaibahanpengajarandalammatakuliahaffective readingdansebagaibahandiskusikelasdalamrangkamembangunkaraktermahasiswamelaluikaryasastra. Teori yang digunakansebagaidasardalampenulisantesisiniadalahteorikarakterdankarakterisasidandidukungteoripsikoanalisisoleh Carl Gustav Jung karenapenelitianinitentang proses individuasidanperkembangankarakter. Teoriinidigunakanuntukmenelitiperkembangankaraktertokohutamasejakmasakanak-kanakhinggadewasa.Metodepenelitan yang digunakandalamtesisiniadalahanalisaisidimana data utamadiambildari novel Demian: the Story of Emil Sinclair's Youth. Data inikemudiandipilahberdasarkanpermasalahanpenelitian, untukkemudianditelitidandisimpulkan. Data pendukungdiambildaribuku, jurnaldanartikel yang relevandenganstudiini. Dari penelitianiniditemukanbahwa Sinclair melalui proses individuasidalamtigatahapan: masakanak-kanak, remajadandewasa. Dalamtahapan-tahapanini Sinclair mulaimengenalidanberinteraksidenganberbagaiarchetypes sepertishadow, persona, anima and self di dalamdirinya yang dipicuolehpertemuannyadengankarakter--karakterbaru di dalam novel.Masing-masingkarakterinimenandaititikbarudalam proses individuasi yang dilalui Sinclair. Temuandalamstudiinidiharapkandapatmenjadimasukanbagipengajaruntukmenjadikankaryasastratidakhanyasebagaibahanbacaan di dalamkelasnamunjugasebagaireferensiuntukevaluasidiri.Diharapkandenganmembaca novel inisiswadapatmemahamiisutentangjatidiridanmerefleksikisahdalam novel tersebutdalamhidupmereka; bahwameskipun proses pencarianjatidiri tidaklahmudah, tetapiketikaditemukanhidupakanmenjadilebihbermakna. Di dalammatakuliahinterpretive and affective readingsiswadapatmengeksplordanmemahamiDemian: The Story of Emil Sinclair’s Youthsertameresapiinformasi-informasitersirat di dalam novel tersebut.

Perbedaan tingkat penyesuaian sosial antara siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga orangtua tunggal di SMK Negeri 2 Malang / Indah Novita

 

Kata Kunci: penyesuaian sosial, keluarga utuh, orangtua tunggal Penyesuaian sosial adalah kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara tepat dan efektif serta menyeluruh terhadap relitas sosial dan orang lain yang mencakup enam aspek: penampilan nyata, penyesuaian terhadap diri sendiri, penyesuaian terhadap orang lain, penyesuaian terhadap kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi. Penyesuaian sosial merupakan salah satu hal yang penting untuk dimiliki individu sebagai syarat hidup bermasyarakat. Hubungan orangtua dan anak yang penuh kasih sayang adalah faktor yang mempengaruhi tercapainya penyesuaian sosial yang baik. SMK Negeri 2 merupakan sekolah yang memiliki fenomena yang melatarbelakangi penelitian, dimana di sekolah tersebut memiliki jumlah siswa yang besar dengan latar belakang keluarga yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat penyesuaian sosial siswa dari keluarga utuh di SMK Negeri 2 Malang, (2) tingkat penyesuaian sosial siswa dari keluarga orangtua tunggal di SMK Negeri 2 Malang, serta (3) perbedaan tingkat penyesuaian sosial antara siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga orangtua tunggal di SMK negeri 2 Malang. Penelitian ini dilakukan dengan desain deskriptif dan komparatif pada populasi siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang tahun ajaran 2009/2010. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan angket dan dianalisis dengan teknik persentase dan uji-t. Hasil penelitian siswa dari keluarga utuh yang memiliki tingkat penyesuaian sosialnya tinggi sebesar 73,4%, tingkat penyesuaian sosial sangat tinggi sebesar 13,3%, tingkat penyesuaian sosialnya sedang sebesar 13,3%. Siswa dari keluarga orangtua tunggal yang memiliki tingkat penyesuaian sosial tinggi sebesar 66,1%, tingkat penyesuaian sosial sedang sebesar 19,6%, tingkat penyesuaian sosialnya sangat tinggi sebesar 14,3%. Hasil analisis komparatif menunjukkan adanya perbedaan tingkat penyesuaian sosial antara siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga orangtua tunggal (t = 1,175 dan p = 0,010 < 0,05).Tingkat penyesuaian sosial siswa dari keluarga utuh lebih tinggi daripada siswa dari keluarga orangtua tunggal (mean jawaban siswa keluarga utuh = 188,5667; mean jawaban siswa keluarga orangtua tunggal = 184,7857; selisih mean = 3,78095). Disarankan bagi konselor hendaknya tetap memelihara dan mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial yang telah ada pada siswa melalui pengembangan layanan informasi bidang pribadi-sosial siswa, dan juga peningkatan layanan konseling kelompok yang memungkinkan untuk membantu siswa memecahkan permasalahan yang dialaminya melalui interaksi kelompok. Selain itu konselor juga perlu memberikan layanan penempatan dalam kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai bakat dan minat siswa melalui kerja sama dengan ii guru di sekolah sehingga, dengan demikian diharapkan dapat lebih menunjang kemampuan penyesuaian sosial siswa. Sejalan dengan upaya konselor, guru hendaknya dapat mengkondisikan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah untuk menunjang tetap terpeliharanya kemampuan penyesuaian sosial yang telah ada pada siswa, salah satunya dengan meningkatkan kegiatan diskusi kelompok, misalnya dalam ekstrakurikuler kerohanian. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa akan terlibat dalam interaksi kelompok sehingga kemampuan penyesuaian sosial yang telah ada dapat lebih berkembang. Bagi peneliti lain yang tertarik dengan penelitian ini diharapkan dapat membantu mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial siswa, misalnya dengan menggunakan teknik sosiodrama.

Proyek kantong lahar Sungai Putih dalam usaha mengurangi bahaya lahar Gunung Kelud / oleh Masrur

 

Student's perception of motivational teaching strategies in english as foreign language (EFL) classroom / Wirentake

 

PERSEPSI SISWA TERHADAP STRATEGI MENGAJAR YANG MEMOTIVASI DI KELAS BAHASA INGGRIS SEBAGAI BAHASA ASING Wirentake1, Emalia Iragiliati2 and Johannes Ananto Prayogo2 UniversitasNegeri Malang Jalan Semarang No. 5.Kota Malang wirenvanamire@gmail.com ABSTRAK Penelitianinibertujuanuntukmenginvestigasipersepesisiswaterhadapstrategimengajarmemotivasi di kelasbahasainggirssebagaibahasaasing, khususnyatentangapastrategimengajarmemotivasi yang siswaanggappentingdanapaalasanmerekamenganggapstrategitersebutpenting. Penelitianinimerupakanpenelitianqualitatifdeskriptif yang memanfaatkanangketdanwawancarasebagaiinstrumenpenelitiannya.Berdasarkanhasiltemuan, strategimengajarmemotivasi yang siswaanggappentingyakni: (1) guru harusmenjalinhubungan yang baikdengansiswanya; (2) guru harusmembawa humor kedalamkelas; (3) guru harusmenunjukkanantusiasdansemangatnyaketikamengajar;(4) guru harusmenunjukkanbahwadiaperhatiandanpedulikepadasiswanya; (5) guru harusmemberikaninstruksi yang jelastentangbagaimanamengerjakantugas; (6) guru harusmemastikanbahwanilaiatauprestasi yang dicapaisiswabenar-benarmenggambarkanpencapaiandanusahasiswa; (7) guru harusmengundang orang asingyang berbahasainggriskekelas; (8) guru harusmemulaisetiapkelasdenganaktifitas yang ringkasdanmenyenangkan; (9) guru harusmenghindariperbandingan social , dan (10) guru harusmenjadidirinyasendiri di depanparasiswa. Sementaraitu, satualasanumumkenapasiswamenganggapstrategi-strategitersebutpentingadalahkarenamerekapercayabahwastrategi-strategitersebutbisameningkatkanmotivasimerekadalambelajarbahasainggrisjikaditerapkanolehparagurunya. Kata kunci: persepsisiswa, strategimengajarmemotivasi, kelasbahasainggrissebagaibahasa asing.

Pengembangan modul pembelajaran trigonometri dengan pendekatan konstruktivis untuk siswa SMA kelas XI semester I / Nina Mariyana

 

Kata kunci: modul, trigonometri, konstruktivis, matematika. Modul adalah suatu paket bahan ajar yang disusun secara sistematis dan memuat serangkaian aktivitas belajar mandiri agar siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dengan modul siswa dapat belajar menurut kecepatan dan caranya masing-masing serta menggunakan tehnik yang berbeda-beda untuk memecahkan masalah. Dengan adanya modul siswa akan lebih mudah dalam memahami materi. Kegiatan pengembangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan modul pembelajaran pokok trigonometri. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, materi trigonometri merupakan salah satu materi siswa SMA kelas XI semester I. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam penulisan modul ini adalah konstruktivis. Pendekatan konstruktivis adalah pendekatan dimana siswa menemukan sendiri rumus dan menghubungkan pengalaman-pengalaman sebelumnya serta benda-benda disekitarnya dengan materi pelajaran. Modul pembelajaran ini dikembangkan melalui proses validasi modul dan uji coba modul. Tahap validasi melibatkan empat validator yaitu satu dosen matematika Universitas Negeri Malang dan satu guru matematika Sekolah Menengah Atas, satu mahasiswa S1, dan satu mahasiswa S2 Universitas Negeri Malang. Tahap uji coba modul melibatkan subjek coba yang terdiri dari sepuluh siswa SMA. Hasil validasi menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan valid. Kelebihan dari modul yang dikembangkan yaitu (1) materi yang disajikan sesuai dengan KTSP (2) tampilan modul menarik dan (3) kegiatan belajar yang disajikan mengacu pada pendekatan konstruktivis (4) siswa diberi kesempatan untuk menyusun kesimpulan secara mandiri. Adapun beberapa saran yang dapat dikemukakan yaitu (1) pengembangan modul ini hanya terbatas pada materi trigonometri, oleh karena itu diharapkan ada tindak lanjut pengembangan modul untuk materi yang lain (2) disarankan kepada pengembang-pengembang modul lainnya untuk mengujicobakan modul ini kepada siswa dalam kelompok besar/satu kelas agar dapat diketahui tingkat keefektifannya (3) diharapkan guru Sekolah Menengah Atas mencoba menggunakan produk pengembangan modul ini dalam pembelajaran untuk menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan (4) guru dapat mengembangkan modul ini sesuai dengan kondisi sekolah yang ada.

Peranan pelajaran geografi untuk menanamkan kesadaran ekologi di SMP Negeri V Malang / oleh J. Sumitro

 

Penerapan metode investigasi kelompok untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman wacana narasi siswa kelas V SDN Tunjungsekar 2 Kota Malang / Iri Karunia

 

ABSTRAK Karunia, Iri. 2015. Penerapan Metode Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Wacana Narasi Siswa Kelas V SDN Tunjungsekar 2 Kota Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd dan (II) Prof. Hj. Utami Widiati,M.A. Ph.D. Kata kunci: penerapan, metode investigasi kelompok, peningkatan, kemampuan membaca pemahaman, wacana narasi Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas V SDN Tunjungsekar 2 Kota Malang ditemukan kondisi bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar siswa. Pelaksanaan pembelajaran di kelas masih didominasi guru sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Kurangnya penggunaan metode yang melibatkan siswa sebagai strategi pembelajaran dianggap sebagai salah satu penyebab rendahnya kemampuan membaca pemahaman. Permasalahan ini diatasi dengan memberikan kesempatan siswa untuk menginvestigasi sendiri kemampuan membaca pemahamannya melalui metode investigasi kelompok (MIK). Tujuan penelitian ini yatu mendeskripsikan penerapan MIK yang dapat meningkatkan kemampuan mmbaca pemahaman pada wacana narasi. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi beberapa tahapan yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. PTK dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing siklus dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan dan satu kali pertemuan tes akhir siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tunjungsekar 2 Kota Malang dengan subjek penelitian 30 siswa kelas V tahun pelajaran 2014/2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan MIK dapat meningkatkan proses dan hasil kemampuan membaca pemahaman wacana narasi siswa SDN Tunjungsekar 2 Kota Malang. Aktivitas siswa pada siklus I dengan kriteria baik dengan persentase 73.57%. Berdasarkan persentase hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa siswa antusias dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran MIK dibanding sebelum dberikan tindakan. Sedangkan pada siklus II aktivitas siswa meningkat dengan kriteria sangat baik dengan persentase 88.63%. Prestasi atau hasil kemampuan membaca pemahaman siswa pada siklus I dengan kriteria baik dengan persentase 67.74% atau 21 orang mengalami tuntas belajar sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan persentase 90% atau 27 orang tuntas belajar. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan ada peningkatan baik proses maupun hasil kemampuan membaca pemahaman dengan menerapkan MIK, melalui enam tahap pembelajaran yaitu (1) mengorganisasikan kelompok dan mengidentifikasikan topik, (2) merencanakan kelompok, (3) melaksanakan investigasi, (4) menganalisis hasil serta mempersiapkan laporan, (5) menyajikan laporan, dan (6) evaluasi. Tahap-tahap pembelajaran dengan MIK teraplikasi pada tahapan-tahapan membaca yaitu 1) tahap prabaca, 2) tahap saat baca, dan 3) tahap pascabaca

Pengaruh persepsi asosiasi merek handphone Nokia terhadap loyalitas pelanggan (studi pada pengguna HP Nokia di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tulungagung) / Ferdian Hartanto

 

Kata kunci: Asosiasi Merek, Loyalitas Pelanggan. Persaingan di dunia bisnis yang semakin ketat membuat konsumen menjadi semakin berkuasa di pasar karena banyaknya variasi produk yang tersedia. Untuk menghadapi persaingan di pasar, sangat penting bagi perusahaan mengembangkan keunggulan kompetitif berkelanjutan yaitu dengan menempatkan mereknya menjadi merek yang selalu dipilih konsumen. Merek yang baik dari sebuah produk akan mudah dikenal oleh konsumen karena manfaat serta kesan kualitas yang telah mereka tangkap. Asosiasi-asosiasi merek yang dipersepsikan dengan baik akan membuat konsumen mengingat maupun memilih untuk membeli produk tersebut. Berbicara tentang bisnis dan persaingan tidak terlepas dari pelanggan yang merupakan kunci keberhasilan perusahaan. Karena, perusahaan tidak berarti tanpa pelanggan. Jadi sekarang perusahaan harus mulai berkonsentrasi pada loyalitas pelanggan. Karena tidak ada jaminan bahwa pelanggan yang puas akan menjadi pelanggan yang loyal. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui persepsi asosiasi merek Handphone Nokia, loyalitas pelanggan Handphone Nokia, variabel-variabel asosiasi merek yang berpengaruh secara parsial maupun simultan terhadap loyalitas pelanggan serta untuk mengetahui varibel asosiasi merek mana yang berpengaruh dominan terhadap loyalitas pelanggan. Penelitian ini merupakan penelitian descriptive research dan explanatory research, yaitu penelitian yang menjelaskan keadaan di lapangan dari objek yang diteliti serta menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis pada data yang sama. Penelitian ini mempunyai dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas (X) terdiri dari sub variabel: jenis-jenis asosiasi merek (X1), dukungan asosiasi merek (X2), kekuatan asosiasi merek (X3), keunikan asosiasi merek (X4), dan periklanan (X5), sedangkan variabel terikat (Y) adalah loyalitas pelanggan. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tulungagung pengguna Handphone Nokia. Sampel yang diambil sebanyak 60 responden dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Dianalisis dengan analisis regresi linier berganda dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji f. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Keadaan asosiasi merek (X) dan keadaan loyalitas pelanggan (Y) di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tulungagung terhadap Handphone Nokia secara umum dipersepsikan tinggi oleh pegawai, (2) secara simultan ke-5 variabel asosiasi merek (X) yang terdiri dari jenis-jenis asosiasi merek (X1), dukungan asosiasi merek (X2), kekuatan asosiasi merek (X3), keunikan asosiasi merek (X4), dan periklanan (X5) berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan (Y). Secara parsial, variabel jenis-jenis asosiasi merek (X1), dukungan asosiasi merek (X2), kekuatan asosiasi merek (X3), keunikan asosiasi merek (X4), dan periklanan (X5) juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Dari hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan untuk perusahaan adalah dengan memberikan pelayanan atau service yang baik, memberikan garansi, serta terus mengiklankan Handphone Nokia lewat berbagai media, dimungkinkan hal ini akan menambah rasa loyal pelanggan untuk menggunakan Handphone Nokia lebih lama lagi. Dan tidak menutup kemungkinan mereka yang tidak menggunakan Handphone Nokia akan beralih, dan melakukan pembelian ulang. Penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam rangka menentukan kebijakan yang akan diambil pada waktu mendatang, agar dapat meningkatkan persepsi asosiasi merek Handphone Nokia dan loyalitas pelanggan pengguna Handphone Nokia. Penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan memperluas variabel yang diteliti maupun pengembangan indikator serta item lain yang diduga juga berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan. Penelitian ini masih bersifat lokal, artinya hasil penelitian dan kesimpulan ini hanya berlaku untuk populasi pegawai Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Tulungagung, dan belum dapat berlaku untuk umum. Sehingga ruang lingkupnya perlu diperluas lagi. Sehingga untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah wilayah penelitian sehingga hasil kesimpulan dari penelitian dapat lebih mewakili (representative) secara umum (general).

Motor bakar
tugas akhir pilihan
oleh Dwi Agus Siswantoro

 

Perhitungan konstruksi beton bertulang
perencanaan gedung pertokoan dan pertemuan
oleh Bambang Supriyanto

 

Perencanaan konstruksi beton III gedung perkuliahan
(methode lentur n")
oleh Sutjipto"

 

Pemanfaatan layanan internet gratis pada Perpustakaan Universitas Negeri Malang / Aditya Endra Sayekti

 

Analisis beban latihan fisik pemain sepakbola di klub "Golden Boys" Bedali-Lawang Kabupaten Malang / Zainurid

 

Sepakbola merupakan permainan yang sederhana. Kendati demikian sepakbola mebutuhkan teknik, fisik, taktik, dan strategi untuk memenangkan suatu pertandingan yang mana semua komponen tersebut tidak dapat dipisahkan. Dan berdasarkan observasi awal di Klub sepakbola “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang, banyak pemain yang tidak hadir dalam latihan fisik. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana beban latihan fisik di klub “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang?, dan tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis beban latihan fisik pemain di klub “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang . Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yaitu memaparkan data yang bersifat kuantitatif berujud angka-angka hasil perhitungan atau pengukuran.secara sistematis, faktual, dan akurat tentang subyek yang terjadi pada masa kini. Instrumen penelitian ini menggunakan instrumen non tes yaitu angket. Teknik analisis data mengunakan uji statistik deskriptip (persentase). Dari analisis data diketahui dalam menentukan beban latihan seperti volume, intensitas, frekuensi, recovery, rythme latihan di klub “Golden Boys” yang diberikan pelatih untuk latihan daya tahan dikategorikan baik dengan persentase 84 %. Beban latihan kekuatan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan kurang baik dengan persentase 54,66%. Beban latihan kecepatan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan kurang baik dengan persentase 54,3 %. Beban latihan kelincahan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan cukup dengan persentase 74,66 %. Sedangkan untuk beban latihan kelentukan yang diberikan pelatih “Golden Boys” dikategorikan baik dengan persentase 92,66 %. Dikarenakan latihan daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan, dan kelentukan merupakan suatu komponen latihan fisik yang tidak dapat dipisahkan di dalam sepakbola, maka pelatih di klub “Golden Boys” diharapkan dalam memberikan latihan fisik, harus memperhatikan beban latihan untuk kelima komponen tersebut dengan berpedoman pada teori-teori tentang beban latihan fisik yang ada dibuku-buku kepelatihan. Selain itu pelatih dalam memberikan latihan fisik diharapkan memberikan variasi-variasi latihan, agar pemain tidak merasa bosan sehingga seberat apapun beban latihan yang diberikan tidak membebani pemain dalam melakukan latihan fisik. Begitu juga bagi pemain “Golden Boys” Bedali-Lawang Kabupaten Malang diharapkan hadir dalam setiap latihan fisik, karena kondisi fisik sangat berpengaruh untuk mencapai prestasi yang maksimal.

Kontribusi keterlibatan siswa di unit produksi/jasa dan employability skills terhadap self efficacy serta dampaknya pada minat bekerja siswa SMK kompetensi keahlian teknik komputer dan jaringan di Malang Raya / Fitria Nur Hasanah

 

ABSTRAK Hasanah, Fitria Nur. 2015. Kontribusi Keterlibatan Siswa di Unit Produksi/Jasa dan Employability Skills terhadap Self Efficacy serta Dampaknya pada Minat Bekerja Siswa SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Malang Raya. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd., (II) Dr. Muladi, S.T., M.T. Kata Kunci :pendidikan kejuruan,unit produksi/jasa, keterlibatan siswa, employability skills, self efficacy, minat bekerja, Teknik Komputer dan Jaringan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)merupakan salah satu institusi pendidikan yang berfungsi sebagai saranapersiapan padaduniakerja, namun tidak semua lulusan SMK berminat untuk memasuki dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi antara keterlibatan siswa di Unit Produksi/Jasa (UPJ) dan employability skill secara simultan terhadapself efficacy. Selain itu, juga diketahui kontribusi keterlibatan siswa di UPJ dan employability skills masing-masing terhadap self efficacy.Kemudian, mengetahui kontribusi simultan antara keterlibatan siswa di UPJ, employability skills, dan self efficacy terhadap minat bekerja siswa. Dari kontribusi simultan diketahui kontribusi antara keterlibatan siswa di UPJ, employability skills, dan self efficacy masing-masing terhadap minat bekerja siswa SMK Kompetensi Keahlian TKJ di Malang Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang melibatkan dua variabel bebas, yaitu keterlibatan siswa di UPJ dan employability skills; satu variabel intervening, yaitu self efficacy; dan satu variabel terikat, yaitu minat bekerja. Populasi penelitian adalah siswa kelas XII SMK Kompetensi Keahlian TKJ di Malang Raya yang telah terlibat dalam UPJ.Teknik pengumpulan data menggunakan angket, dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur. Berdasarkan hasil uji hipotesis, diketahui bahwa keterlibatan siswa di UPJ dan employability skills secara simultan berkontribusi terhadap self efficacy sebesar 54,60%. Selain berkontribusi secara simultan, keterlibatan siswa di UPJ dan employability skills masing-masing juga berkontribusi terhadap self efficacy. Kemudian keterlibatan siswa di UPJ, employability skills, dan self efficacy secara simultan berkontribusi terhadap minat bekerja siswa sebesar 53,80%. Juga dihasilkan bahwa keterlibatan siswa di UPJ, employability skills, dan self efficacy masing-masing berkontribusi terhadap minat bekerja.  

Tugas perencanaan konstruksi beton
oleh Agus Suyono

 

Hubungan religiusitas, kematangan emosi, dan kecemasan terhadap masa depan pada dewasa awal / Yanuar Indrayani

 

Kata Kunci: Religiusitas, kematangan emosi, kecemasan terhadap masa depan, dewasa awal. Masa dewasa awal merupakan masa transisi ketika seseorang dihadapkan pada tugas baru yang berbeda dengan masa remaja. Dalam tahap perkembangan ini pula seringkali terjadi kecemasan pada individu terkait dengan ketidakpastian dalam menghadapi masa depan. Perbedaan tingkat kecemasan setiap orang berbeda-beda, faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah tingkat religiusitas dan kematangan emosional. Religiusitas memegang peranan yang besar dalam menghadapi masalah, supaya kecemasan tidak berlanjut. Orang yang mempunyai kematangan emosi dapat mengontrol gejala-gejala tersebut sebelum muncul kecemasan pada dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiusitas, kematangan emosi, dan kecemasan terhadap masa depan pada dewasa awal. Penelitian ini berjenis deskriptif dan korelasional, pengambilan sampel ditentukan dengan teknik random sampling. Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah skala religiusitas, skala kematangan emosi, dan skala kecemasan terhadap masa depan. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, tahap perkembangan dewasa awal memiliki religiusitas sangat tinggi, kematangan emosi tinggi, dan kecemasan terhadap masa depan yang rendah. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi sebesar rx1y = -0,655 dengan nilai p = 0,000 (p< 0,01). Ini berarti dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara religiusitas dan kecemasan terhadap masa depan, koefisien rx2y= -0, 722 dengan nilai p= 0,000 (p<0,01), bahwa ada hubungan negatif antara kematangan emosi dan kecemasan terhadap masa depan. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan R square= 0, 661 dengsan nilai sig= 0,000. Maka dapat disimpulkan ada hubungan antara religiusitas, kematangan emosi, dan kecemasan terhadap masa depan. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada individu dewasa awal agar dapat meningkatkan religiusitas dan kematangan emosi dengan cara mengikuti kegiatan religius, dan pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan kematangan emosi sehingga bisa mengurangi tingkat kecemasan terhadap masa depan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadi referensi dalam melakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan variabel-variabel lainnya yang dapat mempengaruhi religiusitas, kematangan emosi, dan kecemasan terhadap masa depan. Bagi pihak universitas diharapkan agar ikut berperan serta mengadakan kegiatan-kegiatan untuk tumbuh kembang religiusitas dan kematangan emosi mahasiswanya.

Perencanaan konstruksi beton perkuliahan"
tugas matakuliah beton III
oleh Sunarsih"

 

Proses berpikir siswa dalam membangun koneksi ide-ide matematis pada pemecahan masalah matematis / Elly Susanti

 

ABSTRAK Elly Susanti, 2015. Proses berpikirsiswadalammembangunkoneksi ide-ide matematispadapemecahanmasalahmatematika. Disertasi, Program StudiPendidikanMatematika, PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Purwanto, Ph,D., (II) Dr. I NengahParta, M.Si., dan (III) Tjang Daniel Chandra,M.Si., Ph.D. Kata kunci: Koneksi Matematika, BerpikirKonektif, danPemecahanMasalahMatematika. Penelitianiniadalahpenelitiankualitatif yang bersifatdeskriptif. Tujuanpenelitianadalahmendeskripsikan proses berpikirsiswadalammembangunkoneksiantar ide-ide matematispadapemecahanmasalahmatematika. Penelitianinipentingdilakukankarenasalahsatupenyebabkesulitanbelajar siswadalam memecahkan masalah matematika adalahsiswatidakdapatmembangunkoneksi (keterkaitan) antarapengetahuan yang dimilikidaninformasiyang diberikan.Membangunkoneksiantarapengetahuan yang dimilikidaninformasi yang diberikanberkaitandengan prosesberpikirsiswadalammem-buatpengaitanantar ide-ide yang munculketikasiswamenghubungkankonsep-konsepmatematika.Kemampuanmembangun ide-ide dipengaruhiolehkesesuaianstrukturber-pikirsiswadenganstrukturmasalah yang dihadapi. Struktur berpikir siswa adalah skema kognitif yang terbentuk ketika siswa me-lakukan proses berpikir. Dalam menyelesaikan masalah matematika, struktur berpikir yang terbentuk bisa sesuai dengan struktur masalah yang diberikan atau tidak sesuai dengan masalah yang diberikan. Struktur masalah adalah skema penyelesaian masalah yang dibuat oleh peneliti. Proses berpikirsiswadalammembuatpengaitanantar ide-ide ketikamembangunkoneksiantarkonsep-konsepmatematikadisebutproses berpikirkonektif. Ide-ide yang mempunyaiketerkaitandanfungsi yang samamembangunjaringanberpikirkonektif. Jaringan-jaringanberpikirkonektif yang mempunyaiketerkaitandanfungsi yang samamembangunskemajaringanberpikirkonektif. Skemainimerupakansatukesatuandaripengetahuansecarakeseluruhandandapatdianggapsebagaikonsep global. Penelitian ini menggunakan metode perbandingan tetap dengan memilih minimal 6 siswa sebagai subjek penelitian. Keenam siswa dikelompokkan menjadi tiga kategori berpikir konektif, masing-masing kategori dipilih 2 subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan siswakategori3memilikistrukturberpikirsesuaidenganstrukturmasalah. Siswadapatmembangun ide-idenyasecaralengkapdanbervariasi. Dalampenelitianini ide-ide yang lengkapdanbervariasiadalah ide yang dibangunberdasarkaninformasimasalah, ide yang dibangunberdasarkan ide yang dibangunsebelumnya (ide informasi), ide yang dibangunberdasarkanpenyelesaiantabel, ide yang dibangunberdasarkangeneralisasi, ide yang dibangunberdasarkanpengalamandan ide yang dibangunberdasarkanpenarikan kesimpulan. Siswakategori 2memilikistrukturberpikirsesuaidenganstrukturmasalahpada domain pemecahanmasalahsederhana. Siswadapatmembangun ide berdasarkaninformasi masalah, ide yang dibangun berdasarkan ide sebelum-nya (ide informasi)dan ide berdasarkanpenyelesaian tabel. Strukturberpikirsiswakategori 2 tidaksesuaidenganstrukturmasalahketikadihadapkanpada domain pemecah-anmasalah yang lebihkompleks. Siswa yang memilikistrukturberpikirtidaksesuaidenganstrukturmasalah yang diberikanhanyadapatmembangun ide berdasarkaninformasisaja. Siswa yang memilikistrukturberpikirsesuaidenganstrukturmasalah yangdiberikandapatmembangunskemageneralisasi yang dilengkapidenganpengetahuanspasialdanabstraksi yang cukuptinggi.Siswa yang memilikistrukturberpikirsesuaidenganstrukturmasalahketikadihadapkanpadapemecahanmasalahsederhanadapatmembangunskemabarutapibukanskemageneralisasi. Siswa yang memilikistrukturberpikirtidaksesuaidenganstrukturmasalahhanyadapatmembangunjaringanberpikirkoneksikarenasiswainitidakbisamengaitkanjaringan-jaringantersebut.Berdasarkan proses berpikirkonektiftersebutmakaspesifikasiberpikirsiswadalammembangunkoneksi ide-ide matematismeliputi (1) berpikirkonektifsederhanaadalahproses berpikirdalammembuatpengaitanantar ide-ide matematis dimana ide-ide matematis yang munculselaludikoneksikandenganinformasi yang diberikansehingga ide-ide yang sudahterbentuksebelumnya tidakdapatdigunakanuntukmembangun ide-ide berikutnya.; (2) berpikir konektif semi produktif adalah proses berpikirdalammembuat pengait-an antar ide-ide matematisdimana ide-ide matematis yang munculhanyadapat di-generalisasikanpadapemecahanmasalahsederhana, ide-ide tersebut tidak dapat diimplementasikan ke domain pemecahan masalah yang lebih kompleks;(3) berpikirkonektifproduktif adalah proses berpikir dalam membuat pengaitan antar ide-ide matematis dimana ide-ide matematis yang muncul dapatdapat digeneralisasikan dan diimplementasikan ke domain pemecahan masalah yang lebih kompleks.

Perencanaan konstruksi beton untuk bangunan perkantoran
oleh Totok Hernowo

 

Perencanaan pompa sentrifugal
tugas akhir pilihan
oleh Suko Hariyono

 

Developing multimedia-based listening materials for the seventh graders / Nailun Naja

 

ABSTRAK Naja, Nailun. 2015. Mengembangkan Bahan Ajar Menyimak Bahasa Inggris Berbasis Multimedia untuk Siswa Kelas VII. Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Utami Widiati, M.A. Ph.D., (II) Prof. Dr. Yazid Basthomi, M.A. Kata kunci: penelitian dan pengembangan, materi mendengarkan, multimedia Dalam pengajaran bahasa Inggris, penting untuk mengajarkan keterampilan mendengarkan. Namun demikian, sering kali keterampilan mendengarkan tidak ditekankan dalam proses belajar-mengajar. Salah satu alasannya karena tidak tersedia materi yang sesuai. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang bertujuan mengembangkan materi tambahan berupa materi mendengarkan untuk siswa kelas VII. Materinya dalam bentuk rekaman audio yang disajikan dalam PowerPoint Show dikombinasi dengan video, gambar, teks, dan animasi. Materi mendengarkan tersebut diharapkan dapat memfasilitasi guru dalam mengajarkan keterampilan mendengarkan kepada siswa, dapat digunakan siswa sebagai sumber belajar untuk berlatih ketrampilan mendengarkan secara mandiri di luar kelas. Penelitian ini terdiri dari lima tahap yang diadaptasi dari Dick & Carey (2001, dalam Borg &Gall, 2007), dan Borg &Gall (2007), yaitu: (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) evaluasi produk, (5) produk akhir. Studi pendahuluan dilaksanakan dengan mengadakan survey pasar, observasi sekolah, mendistribusikan kuesioner kepada guru bahasa Inggris dan siswa, dan mewawancarai guru bahasa Inggris. Dalam tahap perencanaan, peneliti merencanakan struktur materi dan spesifikasi produk. Dalam tahap pengembangan produk, peneliti membuat kisi-kisi materi, membuat skript materi, merancang aktifitas, merancang produk, merekam suara sesuai skript, dan memvisualisasikan produk. Tahap selanjutnya adalah evaluasi produk, meliputi validasi ahli dan uji coba produk. Dalam tahap ini, konsep produk divalidasi oleh ahli materi pengajaran bahasa Inggris, dan ahli multimedia. Hasil validasi ahli menunjukkan bahwa produk ini dinilai sangat bagus dari segi isi dan desain. Revisi produk mengacu pada masukan yang diberikan oleh dua pakar tersebut. Sesudah itu, konsep produk yang sudah direvisi diujicobakan kepada guru dan sejumlah siswa untuk mendapatkan penilaian mereka sebagai pengguna. Hasil penilaian menunjukkan bahwa produk ini sangat baik dari segi kegunaan dan kepraktisan. Penilaian dari pengguna tersebut digunakan sebagai acuan untuk merevisi produk. Selanjutnya, produk akhir siap digunakan. Produk tersebut terdiri dari DVD untuk mendengarkan, buku kerja siswa, dan buku petunjuk guru. DVD memuat materi mendengarkan sebanyak 8 unit, rujukan, dan biografi pengembang. Buku kerja siswa berisi kata pengantar, ucapan terima kasih, daftar isi, materi dari unit1-unit8, sumber materi, sumber gambar, jurnal perkembangan, petunjuk penggunaan DVD, dan tentang penulis. Buku petunjuk guru memuat kata pengantar, daftar isi, petunjuk penggunaan DVD, pemetaan materi, saran penyajian, skript mendengarkan, dan kunci jawaban. Keberadaan produk ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah tidak adanya materi mendengarkan. Dengan produk ini, guru terfasilitasi untuk mengajarkan ii keterampilan mendengarkan kepada siswa, dan siswa juga terfasilitasi untuk lebih banyak berlatih ketrampilan mendengarkan dengan menggunakan produk ini baik didalam maupun diluar kelas.

Perencanaan konstruksi beton bangunan perkuliahan dengan metode ultimate
oleh Joko Trihantoko

 

Perencanaan motor bakar 4 tak 1 silinder
tugas akhir pilihan
disusun oleh Catur Sunariadi

 

Perancangan iklan layanan masyarakat tentang perlindungan satwa liar Indonesia / Dzita Firdaus Pratama Putra

 

Kata Kunci: Perancangan, Iklan Layanan Masyarakat, Satwa Liar, Kakatua Putih. Indonesia kaya akan satwa liar, perdagangan satwa liar merupakan kejahatan nomor dua di dunia setelah perdagangan narkoba. Indonesia dirugikan sekitar 9 triliun pertahun karena kejahatan ini. Sementara itu Kakatua Putih merupakan salah satu satwa endemik Indonesia yang belum juga terlindungi oleh undang-undang sehingga terus diperdagangkan dan populasinya berkurang. Melihat latar belakang tersebut maka perlu dilakukan tindakan untuk melestarikannya, seperti memperbanyak media yang mengangkat tentang permasalahan satwa liar Indonesia. Bertujuan membantu masyarakat untuk mengetahui permasalahan satwa liar yang terjadi di Indonesia dan menjadi dorongan untuk pemerintah agar lebih sigap dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Perancangan media kampanye iklan layanan masyarakat tentang satwa liar Indonesia ini menggunakan model perancangan prosedural. Proses perancangan diawali dengan mempelajari latar belakang dan fakta-fakta tentang satwa liar yang ada di Indonesia pada umumnya dan fakta-fakta Kakatua Putih pada khususnya. Tahap berikutnya adalah dilakukan pengumpulan data yang dibutuhkan, baik data pustaka maupun data lapangan yang akan dianalisis dan disintesis menjadi sebuah konsep kreatif dan konsep media. Setelah dilakukan analisa data dan pembahasan konsep media maka dihasilkan beberapa target audience dengan strategi media yang berbeda yaitu melakukan sosialisasi tentang manfaat kakatua bagi target audience masyarakat penangkap kakatua putih, melakukan penyadaran bagi masyarakat pembeli kakatua putih, dan melakukan dorongan kepada pemerintah agar segera melindungi kakatua putih. Media yang telah diaplikasikan sesuai dengan target audience diharap akan menekan angka perdagangan satwa liar pada umumnya dan kakatua putih pada khususnya. Untuk itu perlu dilakukan sebuah evaluasi program kampanye yang telah dilakukan dengan cara mengamati perkembangan dari aktifitas-aktifitas yang merugikan tersebut, kemudian melakukan follow up terhadap semua program kampanye yang dilakukan sehingga kampanye yang dilakukan tidak hanya semata-mata dilakukan pada saat itu saja.

Perencanaan konstruksi beton III bangunan perkuliahan
tugas akhir pilihan
oleh Nurfahim

 

Defragmenting struktur berpikir siswa dalam memecahkan masalah persamaan linier satu variabel melalui refleksi / Sri Menganti

 

ABSTRAK Menganti. Sri. 2015. Defragmenting Struktur Berpikir Siswa dalam Memecahkan Masalah Persamaan Linier Satu Variabel melalui Refleksi . Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Toto Nusantara, M.Si, (II) Prof. Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A. Kata Kunci: Defragmenting, Struktur Berpikir, Memecahkan Masalah PLSV Kemampuan siswa memecahkan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa menghadapi tantangan dalam kehidupan yang selalu berubah. Namun kenyataannya, siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. Kesulitan siswa tampak dari kesalahan yang dilakukan siswa dalam memecahkan masalah. Demikian juga dalam memecahkan masalah PLSV. Kesulitan tampak ketika siswa melakukan kesalahan dalam memahami masalah, menyusun rencana memecahkan masalah dan melaksanakan rencana memecahkan masalah. Defragmenting struktur berpikir siswa dalam memecahkan masalah PLSV melalui refleksi dilakukan peneliti untuk membantu siswa memperbaiki kesalahannya dalam memecahkan masalah PLSV. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan subyek penelitian 5 siswa kelas IX SMP Negeri 4 Sumbermanjing Satu Atap Kabupaten Malang tahun ajaran 2014/2015. Pemilihan subjek penelitian berdasarkan pekerjaan siswa dalam memecahkan masalah PLSV pada lembar tugas 1, penilaian guru pengajar matematika di kelas IX dan kemampuan siswa dalam berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan defragmenting struktur berpikir siswa dalam memecahkan masalah PLSV melalui reflaksi. Hasil dari penelitian ditemukan: 1) defragmenting dilakukan sesuai dengan kesulitan yang dihadapi subjek, 2) defragmenting struktur berpikir masing-masing subjek memerlukan waktu yang tidak sama, dan 3) defragmenting dilakukan melalui refleksi yaitu dengan mengingatkan subjek mengenai konsep-konsep matematika yang pernah dipelajari sebelumnya. Defragmenting struktur berpikir siswa yang dilakukan peneliti yaitu: 1) untuk siswa yang mengalami kesulitan memahami masalah, meminta siswa membaca kembali secara cermat, menelaah apa yang diketahui dan ditanyakan dari lembar tugas 1 disertai pertanyaan yang membimbing siswa. 2) untuk siswa yang mengalami kesulitan dalam merencanakan menyelesaikan masalah, meminta siswa membaca kembali apa yang diketahui, memberikan pertanyaan yang membimbing dan meminta siswa menuliskan apa yang harus direncanakan untuk menyelesaikan masalah. Dan 3) untuk siswa yang mengalami kesulitan dalam menggunakan konsep-konsep matematika yang telah dipelajari sebelumnya, meminta siswa mengingat kembali operasi bilangan desimal, mengingatkan tentang bentuk persamaan setara pada PLSV, mengingatkan invers (lawan) suatu bilangan pecahan serta konsep operasi pembagian bilangan pecahan. Kemampuan siswa menyelesaikan masalah dengan jawaban benar menggambarkan struktur berpikir siswa telah berkembang hingga sesuai dengan struktur masalah.

Perencanaan gear box
tugas pilihan
Mardianto

 

Perbedaan prestasi akademik dan non-akademik siswa kelas XI program reguler dan akselerasi di SMA Negeri 4 Malang / Lestari Handayani

 

Kata kunci: prestasi akademik, prestasi non-akademik, siswa kelas XI program reguler dan akselerasi. Usaha pengembangan pendidikan di Indonesia harus dilaksanakan secara serius dan terus menerus untuk kehidupan Indonesia yang lebih baik kedepannya. Salah satu usaha tersebut adalah peningkatan mutu pendidikan di Indonesia secara luas dan merata sampai pelosok negeri. Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan di sekolah, karena sekolah sebagai tempat anak untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya dengan lingkungan sekitarnya. Prestasi akademik yang dicapai siswa adalah hasil usahanya karena belajar di kelas. Sedangkan prestasi non-akademik adalah prestasi yang dicapai oleh siswa sewaktu mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Disebut siswa reguler karena seorang anak telah terdaftar dan mengikuti pelajaran sebagimana mestinya di sekolah, sedangkan siswa akselerasi adalah siswa yang mempunyai IQ di atas rata-rata sehingga ia dapat memperecepat masa studinya di sekolah. Baik siswa reguler maupun siswa akselerasi mempunyai kemampuan yang berbeda dalam segi akademik dan non-akademiknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) tingkat prestasi akademik siswa reguler; (2) tingakat prestasi akademik siswa akselerasi; (3) tingkat prestasi non-akademik siswa reguler; (4) tingkat prestasi non-akademik siswa akselerasi; (5) perbedaan prestasi akademik siswa reguler dan akselerasi; (6) perbedaan presasi akademik dan non-akademik siswa akselerasi di SMAN 4 Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Penelitian ini dilakukan di SMAN 4 Malang dengan populasi berjumlah 173 orang untuk siswa reguler dan 17 orang untuk siswa akselerasi. Sampelnya berjumlah 118 orang untuk siswa reguler dan 17 orang untuk siswa akselerasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah simple random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan instrumen angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis uji t untuk sampel tidak berhubungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat prestasi akademik siswa kelas XI program reguler di SMAN 4 Malang termasuk dalam kategori cukup tinggi; (2) tingkat prestasi akademik siswa kelas XI program akselerasi di SMAN 4 Malang termasuk dalam kategori sangat tinggi; (3) tingkat prestasi non- i   akademik siswa kelas XI program reguler di SMAN 4 Malang termasuk dalam kategori rendah; (4) tingkat prestasi non-akademik siswa kelas XI program akselerasi di SMAN 4 Malang termasuk dalam kategori rendah; (5) ada perbedaan yang signifikan antara prestasi akademik siswa kelas XI program reguler dan akselerasi di SMAN 4 Malang; (6) ada perbedaan yang signifikan antara prestasi non-akademik siswa kelas XI program reguler dan akselerasi di SMAN 4 Malang. Saran-saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian yang telah diperoleh adalah (1) bagi kepala sekolah SMAN 4 Malang disarankan penelitian ini dapat dijadikan masukan agar peningkatan prestasi siswa tidak hanya pada prestasi akademik, namun prestasi non-akademik siswa juga harus ditingkatkan, baik pada siswa reguler maupun akselerasi; (2) bagi guru SMAN 4 Malang, penelitian ini dapat dijadikan masukan agar guru tidak hanya memperhatikan prestasi akademik, namun prestasi non-akademik siswa juga perlu mendapatkan perhatian; (3) bagi siswa reguler SMAN 4 Malang agar siswa reguler menyalurkan bakat dan minat yang dimilikinya pada kegiatan ekstrakurikuler sehingga dapat meraih prestasi di bidang non-akademik; (4) bagi siswa akselerasi SMAN 4 Malang agar dapat menyeimbangkan prestasi akademik dan non-akademiknya, karena akan lebih baik jika prestasi akademik yang sangat tinggi diiringi dengan prestasi non-akademik yang tinggi pula; (4) bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan masukan dan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

Perencanaan irigasi
oleh Hari Kartika

 

Kegagalan program pemberdayaan masyarakat ditinjau dari proses inovasi (studi kasus pada program budidaya lele Desa Kucur Kecamatan Dau Kabupaten Malang) / Muhammad Luqman Basri

 

ABSTRAK Basri, Muhammad Luqman. 2015. Kegagalan Program Pemberdayaan Masyarakat Ditinjau Dari Proses Inovasi (Studi Kasus Pada Program Budidaya Lele Desa Kucur Kecamatan Dau Kabupaten Malang). Tesis. Prodi Pendidikan Luar Sekolah Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. M. Saleh Marzuki, M. Ed (II) Dr. Zulkarnain Nasution. M.Pd. M.Si Kata Kunci: Kegaggalan program pemberdayaan masyarakat, ditinjau dari proses inovasi Penelitian studi kasus ini berangkat dari fenomena yang terjadi pada program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya lele di Kucur Dau Malang. Pada awal budidaya lele tersebut mengalami kemajuan. Tapi belakangan seiring berjalannya waktu peserta yang mejadi anggota program banyak yang menarik diri dari pelaksanaan program tersebut. Kemudian menjadikan program pemberdayaan ini tidak berlanjut, dan berakhir. Penelitian ini upaya mengetahui mengapa program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya lele pada Desa Kucur mengalami kegagalan. Penelitian ini mengkaji kegagalan program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya lele Desa Kucur melalui proses inovasi. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Kasus yang diteliti adalah tentang kegagalan program pemberdayaan melalui budidaya lele di desa Kucur. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada beberapa informan sesuai dengan fokus penelitian. Untuk pengecekan keabsahan pernyataan informan dilakukan dengan triangulasi sumber, metode, serta perpanjangan keikutsertaan. Hasil penelitian menujukan alasan mengapa program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya lele di Desa Kucur mengalami kegagalan program, yaitu disebabkan adanya kelemahan dalam pelaksanaannya. Kelemahan-kelemahan tersebut terdapat pada (1) tahap promosi, yaitu kelemahannya terjadi pada strategi yang digunakan dengan cara memberi kompensasi, (2) tahap penyampaian, yaitu terjadi karena adanya ketidaktepatan peserta (sasaran) penyuluhan dan studi lapang, singkatnya durasi waktu pelaksanaan penyuluhan, (3) tahap demonstrasi, kelemahan terjadi karena tidak dilakukannyanya tahap demonstrasi, (4) tahap melatih, kelemahan terjadi karena disebabkan tidak dilakukannya tahap pelatihan terhadap sasaran (peserta) program, (5) tahap bantuan dan pelayanan, kelemahan terjadi karena kurangnya peran aktif dari pembina program (agen perubahan) dalam membantu dan melayani peserta program, serta kurang dilibatkannya tokoh masyarakat, (6) tahap pendampingan, sebenarnya tidak sampai dilaksanakan karena sebelum tahap pendampingan dilakukan pada tahap sebelumnya sudah terdapat kelemahan sehingga tidak sampai pada tahap pendampingan. Berbasis temuan penelitian disarankan, dalam setiap penyelengaraan program pemberdayaan masyarakat atau penyebaran inovasi, pada tahap promosi hendaknya tidak dilakukan dengan cara memberi kompensasi seperti uang rokok, uang makan dan uang transpot dalam menarik minat kelompok sasaran. Pada tahap penyampaian semua peserta harus diupayahkan memperoleh informasi terkait pemberdayaan atau inovasi yang disebarkan supaya terhindar dari ketidaktepatan sasaran, sementara itu durasi waktu pada tahap penyampaian juga harus disesuaikan dengan kemampuan peserta. Untuk tahap demonstrasi, tahap ini harus benar-benar dilaksanakan supaya peserta dapat menilai, apakah pemberdayaan atau inovasi yang disebarkan sudah layak bagi dirinya. Pada tahap melatih, tahap ini harus benar dilaksankan supaya ketika sudah pelaksanaan pemberdayaan atau adopsi tidak terjadi masalah. Tahap bantuan dan pelayanan pembina atau agen pembaru harus berperan aktif dalam melayani dan membantu peserta. Untuk tahap pendampingan hendaknya pembina atau agen pembaru harus tetap menjaga hubungan ke peserta guna terjadinya integrasi terhadap pemberdayaan atau inovasi yang sudah diadopsi.

Perencanaan konstruksi beton bangunan pertokoan / oleh Yudi

 

Pengaruh strategi pembelajaran (kooperatif model STAD dan konvensional) terhadap hasil belajar IPA fisika siswa SMP kelas IX yang memiliki tingkat perkembangan kognitif yang berbeda / Marungkil Pasaribu

 

Kata kunci: Strategi Pembelajaran Kooperatif, Tingkat Perkembangan Kognitif, Perolehan Belajar, IPA Fisika Strategi pembelajaran yang digunakan dalam mengajarkan IPA fisika pada Sekolah Menengah Pertama hingga saat ini masih didominasi oleh strategi pembelajaran konvensional. Strategi pembelajaran konvensional menekankan perolehan belajar dengan cara hafalan, dan tidak melibatkan pebelajar dengan kegiatan ilmiah, sehingga perolehan belajar tidak seperti yang diharapkan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan perolehan belajar. Strategi pembelajaran kooperatif dengan model STAD memfasilitasi pebelajar untuk belajar melalui kegiatan ilmiah berdasarkan kelompok untuk membangun pengetahuan dengan bimbingan guru. Kegiatan ilmiah melibatkan pebelajar dengan kegiatan fisik dan mental . Kegiatan fisik adalah kegiatan yang menggunakan indera fisik, sedangkan kegiatan mental adalah kegiatan yang menggunakan fikiran. Strategi pembelajaran yang demikian berpeluang membantu pebelajar untuk meningkatkan pemahamannya dalam belajar IPA fisika. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menguji signifikansi perbedaan hasil belajar IPA Fisika antara kelompok pebelajar yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran kooperatif model STAD dan strategi pembelajaran konvensional, (2) menguji signifikansi perbedaan hasil belajar IPA Fisika antara masing-masing kelompok tingkat perkembangan kognitif serta (3) menguji pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan tingkat perkembangan kognitif terhadap hasil belajar IPA fisika pada pokok bahasan Listrik Dinamis, Sumber Arus Listrik dan Energi dan Daya Listrik. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilakukan penelitian kuasi eksperimen pada siswa kelas IX semester 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Malang pada tahun pembelajaran 2009/2010. Eksperimen menggunakan rancangan factorial 2 x 4 dengan versi disain faktorial non equivalen control group. design Dengan teknik random terpilih SMP N 3 Malang kelas IX.2, SMP N 5 Malang kelas IX.C, dan SMP N 18 Malang kelas IX.E untuk mendapat perlakuan dengan strategi pembelajaran konvensional dan SMP N 3 Malang kelas IX.7, SMP N 5 Malang kelas IX.B, dan SMP N 18 Malang kelas IX.A untuk mendapat perlakuan dengan strategi pembelajaran koopertif. Berdasarkan analisis data ditemukan hasil-hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ada perbedaan yang signifikan pada perolehan belajar IPA fisika antara kelas yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran kooperatif dengan model STAD dan kelas yang diberi perlakuan dengan strategi pembelajaran konvensional. Kedua, ada perbedaan yang signifikan pada perolehan belajar IPA fisika antara kelompok tingkat perkembangan kognitif yang berbeda. Ketiga, ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan tingkat perkembangan kognitif terhadap perolehan belajar sians fisika. Berdasarkan temuan-temuan ini, dikemukakan saran-saran sebagai berikut, (1) dalam melaksanakan pembelajaran untuk mencapai perolehan belajar pada tingkat pemahaman yang lebih tinggi, disarankan kepada guru untuk menggunakan strategi pembelajaran kooperatif dengan model STAD dilengkapi dengan rancangan pembelajaran yang melibatkan pebelajar untuk dapat melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang dipelajari untuk memfaktualkan pengetahuan IPA fisika, terutama pengetahuan yang bersifat abstrak, (2) bagi guru sekolah menengah pertama yang mengimplementasikan strategi pembelajaran kooperatif dengan model STAD, sebaiknya telah memahami tahap-tahap pembelajaran ini dengan baik, sehingga pelaksanaan strategi pembelajaran ini dapat terlaksana lebih optimal, (3) guru IPA fisika menyediakan masalah-masalah yang bersumber dari lingkungan pebelajar, sehingga memotivasi pebelajar untuk melakukan kegiatan ilmiah, (4) disarankan juga untuk menyelidiki pengaruh strategi pembelajaran dengan melibatkan faktor lain yang turut mempengaruhi hasil belajar, seperti motivasi, minat dan gaya belajar dengan jenjang pendidikan yang berbeda. (5) hasil pengujian hipotesis menunjukkan ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dengan tingkat perkembangan kognitif terhadap hasil belajar. Namun masih sangat diperlukan lagi penelitian yang serupa untuk menganalis interaksi yang terjadi dengan menggunakan instrument yang berbeda dan strategi pembelajaran yang berbeda.

Perencanaan turbin uap curtis satu tingkat tekanan dua tingkat kecepatan
oleh Edy Pudjiono

 

Proses kreatif Sri Purnanto / Dwi Kuncorowati

 

ABSTRAK Kuncorowati, Dwi, 2015. Proses Kreatif Sri Purnanto. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof, Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., (2) Dr. Roekhan, M.Pd., (3) Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd. Kara kunci: proses kreatif, sosiopsikologi Seorang pengarang akan menulis karyanya sesuai dengan apa yang ada dalam alam pikiran pengarang sebagai individu maupun anggota masyarakat. Nilai-nilai, norma dan tatanan kebudayaan tertentu tempat pengarang dibesarkan, dapat menjadi potensi yang tidak pernah kering untuk digali menjadi karya sastra. Fenomena sosial dapat menjadi pendorong bagi pengarang untuk menciptakan karya sastra. Karya sastra yang bergenre prosa dan drama yang dipandang sebagai fenomena psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh. Sementara itu, terciptanya karya sastra dipandang dari fenomena sosiologis dipicu oleh kehidupan sosial. Pengarang sastra akan dengan sendirinya mendistorsi fakta sosial sesuai dengan idealismenya Penelitian tentang proses kreatif seorang pengarang merupakan salah satu bagian dari studi sastra. Satu di antara berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam studi sastra yakni pendekatan sosiopsikologi. Proses kreatif Sri Purnanto tidak dapat dipisahkan dari latar belakang kepengarangan, kepribadian, dan hal ihwal yang melingkupi kehidupannya. Fokus penelitian ini adalah proses kreatif Sri Purnanto. Aspek yang diteliti, yakni pemilihan pokok persoalan, pengembangan tokoh, penggarapan latar, dan pengembangan alur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah Sri Purnanto, karya sastra, dan kenyataan. Data yang berkaitan dengan Sri Purnanto meliputi alasan, tujuan atau motif, pandangan maupun proses kreatif dalam pemilihan pokok persoalan, pengembangan tokoh, penggarapan latar, pengembangan alur. Data yang berasal dari karya sastra Sri Purnanto, dan kenyataan bertalian dengan pokok persoalan, tokoh, latar, dan alur. Data yang berasal dari wawancara dengan Sri Purnanto adalah data proses, cara, dan alasan Sri Purnanto dalam keempat aspek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi dokumen, wawancara mendalam, dan pengamatan. Untuk menganalisis data dari teks sastra digunakan pemahaman arti secara mendalam. Untuk menganalisis data dari Sri Purnanto dan kenyataan digunakan teknik pemahaman arti secara mendalam dan interaktif-dialektik. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi teman sejawat dan ahli.. Berdasarkan hasil penelitian proses kreatif Sri Purnanto disimpulkan bahwa (1) empati dan prinsip pengarang merupakan alasan pemilihan pokok persoalan, pemilihan pokok persoalan dilakukan dengan mengamati, membaca, menggunakan pengalaman sendiri, mendengarkan yang diolah dengan imajinasi, pokok persoalan terpilih bersifat human interst masyarakat desa. (2) Tokoh-tokoh yang menggerakkan hati, menimbulkan semangat maupun penjiwaan, memiliki masalah, dan menciptakan efek kesatuan cerita menjadi alasan pengembangan tokoh, pengembangan tokoh dilakukan secara variatif antara narasi dan dialog, keakraban SP dengan masyarakat desa membuatnya lebih mudah menggunakan tokoh-tokoh yang ada di sekitarnya. (3) Penggarapan latar menggambarkan kedekatan SP dengan latar, penggarapan latar pada umumnya secara rinci untuk latar yang dikenal dengan baik, penggarapan latar terpilih bersifat realistis autentik dan rekayasa. (4) Mencari kemudahan dan ketidaklaziman dalam pengembangan alur, awal cerita ditandai adanya konflik, keadaan alam, dan dialog; pengembangan cerita umumnya tidak menggunakan peleraian; akhir cerita bersifat tragis, mengejutkan, aneh, dan lebih dominan menggunakan alur maju. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan guru sebagai (1) model pembelajaran menulis cerpen dengan memanfaatkan langkah-langkah menulis SP, (2) bahan membuat program pembelajaran menulis cerpen dengan pokok persoalan yang bersumber dari pengalaman sendiri, pengalaman orang lain, dan peristiwa yang dilihat atau dibaca, (3) bahan merancang kegiatan yang menekankan aktivitas menulis cerpen dengan latihan kegiatan menulis yang terprogram. Guru juga disarankan memanfaatkan cerpen karya pengarang daerah dalam pembelajaran untuk mengembangkan pendidikan karakter terkait nilai kearifan lokal yang lebih kontekstual dengan kehidupan peserta didik. Pengarang daerah disarankan untuk membangun komunitas pengarang untuk mengadakan komunikasi dan mengupayakan penerbitan. Pengelola Media massa diharapkan memberikan dukungan kepada pengarang daerah sebagai upaya pemertahanan dan pelestarian nilai-nilai lokal. Peneliti yang berminat melakukan penelitian tentang proses kreatif SP, dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai informasi awal untuk melakukan penelitian lanjutan pada fokus yang sama, dengan aspek yang berbeda misalnya, aspek gaya penceritaan, aspek pilihan kata dengan pendekatan yang berbeda misalnya, pendekatan estetika.

Perencanaan perangkat roda gigi (gear box)
Debora

 

Perencanaan motor diesel empat langkah sebagai penggerak generator
oleh Kusnan

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |