Peningkatan aktivitas dan prestasi belajar biologi siswa kelas VIIIE SMPN 4 Malang melalui model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) / Sutriyono

 

ABSTRAK Sutriyono, 2009. Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas VIII E SMPN 4 Malang melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT). Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Balqis, S.Pd, M.Si, (2) Drs. Soewolo, M.Pd. Kata kunci: aktivitas belajar, prestasi belajar, kooperatif numbered heads together Berdasarkan opservasi awal ditemukan siswa kurang bergairah, kurang aktif dan kelas tidak berpusat pada siswa merupakan masalah yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah hasil ketuntasan belajar nilai 73,36 atau 40% tuntas. Hasil ulangan harian terdahulu masih banyak yang di bawah KKM (72).Melalui penelitian tindakan kelas (PTK) masalah ini dicoba untuk diatasi dengan mengaktifkan siswa ke dalam model pembelajaran kooperatif numbered heads together. PTK dilakukan dalam 2 siklus, dengan tujuan penelitian: mendeskrip- sikan aktivitas siswa, mengetahui prestasi belajar siswa setelah belajar biologi. Subjek penelitian adalah Siswa Kelas VIIIE SMP Negeri 4 Malang dengan jumlah siswa 40 orang, tahun pelajaran 2008/2009. Data diperoleh melalui observasi, pemberian tes, dan wawancara. Kemudian dianalisilis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas siswa meningkat dalam membaca, berdiskusi, bertanya, memperhatikan dan kerjasama dengan kriteria baik, serta prestasi belajar siswa meningkat. Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat di-tarik kesimpulan sebagai berikut.Implementasi model pembelajaran tipe NHT dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VIIIE SMPN 4 Malang da-lam hal membaca, berdiskusi, bertanya, memperhatikan, dan kerjasama rata-rata pada siklus I adalah 57,40 me- ningkat menjadi 73,25 pada siklus II.Implementasi model pembelajaran tipe NHT dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan prestasi belajar biologi siswa kelas VIIIE SMPN 4 Malang. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya nilai rata-rata hasil tes pada proses pembelajaran siklus I 82,95 dan siklus II 85,51, sehingga ada peningkatan nilai rata-rata sebesar 2,56. Kalau ditinjau dari persen- tase ketuntasan klasikal siklus I 75% dan siklus II 92,5% sehingga ada peningkatan sebesar 7,5%. Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, maka perlu disampaikan ke- pada pembaca pada umumnya dan khususnya guru biologi SMP yang meng- gunakan model pembelajaran tipe NHT dalam melakukan pembelajaran kepada siswa disarankan sebagai berikut. Penerapan sintak-sintak NHT secara runtut mulai dari penomoran, pengajuan pertanyaan, berfikir bersama dan pemberian jawaban pada saat proses pembelajaran agar bisa meningkatkan aktifitas dan prestasi bela- jar siswa.Agar bisa lebih menekankan pada peningkatan kemampuan bertanya, mengingat rendahnya peningkatan aktivitas bertanya siswa.Agar mewujudkan pro- sedur mengajar yang melibatkan siswa di dalam proses belajar atau dengan kata lain pembelajaran berpusat pada siswa.Memperbanyak literatur buku bacaan siswa akan meningkatkan pengetahuan siswa.

Pengembangan bahan ajar digital grammatik bahasa Jerman untuk kelas XI di SMA Negeri 1 Malang / Faizza Fegynarulita Machfiroh

 

Bahasa Jerman merupakan bahasa resmi yang digunakan di beberapa negara di benua Eropa. Bahasa Jerman juga menjadi bahasa ibu di Austria, Swiss, dan Luxembourg. Berdasarkan peran dan fungsi bahasa Jerman, bahasa Jerman dipelajari di Indonesia sebagai bahasa asing ke dua. Dengan landasan kurikulum KTSP 2006, bahasa Jerman diajarkan dari kelas X sampai kelas XII di SMA Negeri 1 Malang dengan intensitas satu kali pertemuan setiap minggu dengan durasi satu jam pelajaran. Pada pembelajaran bahasa Jerman, siswa tidak hanya belajar dan berlatih kosakata bahasa Jerman, tetapi juga harus belajar tata bahasa Jerman atau yang dikenal dengan Grammatik. Grammatik merupakan inti dari sebuah bahasa, agar bahasa tersebut memilik makna yang utuh. Berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan, siswa merasa bosan dan lelah dengan pelajaran Grammatik, karena bahan ajar yang digunakan tidak menarik. Apabila memperhatikan kondisi tersebut, maka perlu ada usaha pengembangan bahan ajar Grammatik bahasa Jerman. Melalui pemanfaatan teknologi komputer, bahan ajar dapat diwujudkan dalam format bahan ajar digital. Dengan dikembangkannya bahan ajar digital, pengembang ingin memberikan bahan ajar yang efektif. Pengembangan bahan ajar digital Grammatik bahasa Jerman untuk kelas XI dilakukan di SMA Negeri 1 Malang. Pokok bahasan yang akan dibahas dalam bahan ajar digital Grammatik yaitu der Artikel im Nominativ, Akkusativ, und Dativ. Masalah dalam penelitian ini adalah belum adanya bahan ajar digital pokok bahasan Grammatik yang menarik dan efektif, yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat bahan ajar digital pokok bahasan Grammatik yang menarik dan efektif untuk digunakan. Penelitian pengembangan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan model pengembangan yang dikembangkan oleh Alessi dan Trollip. Prosedur penelitian dilakukan dalam empat tahap yaitu, persiapan, perancangan, uji coba, dan evaluasi bahan ajar digital Grammatik bahasa Jerman. Sumber data uji kelayakan adalah tiga orang ahli yang meliputi ahli media, materi, dan guru bahasa Jerman. Uji kelayakan juga dilakukan kepada 18 siswa kelas XI akselerasi. Data dikumpulkan dengan teknik kuesioner berupa angket tertutup dan pengamatan aktifitas guru dan siswa. Data berupa angket dianalisis dengan teknik persentase . Hasil penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar digital Grammatik yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Jerman dengan sedikit revisi. Menurut ahli media, bahan ajar digital sudah valid dengan persentase sebesar 88,235%. Ahli materi berpendapat bahwa media valid dengan persentase sebesar 80,56%. Menurut guru bahasa Jerman, bahan ajar digital valid dengan persentase 89,58%. Menurut siswa kelas XI akselerasi, bahan ajar digital valid dengan persentase 83,33%. Demi menyempurnakan bahan ajar disarankan beberapa hal tentang penyebarluasan dan pengembangan lebih lanjut. Bahan ajar dapat disebarluaskan dengan mudah dan murah. Bahan ajar yang dikembangkan dapat diubah ke dalam bahan ajar online di internet.

Proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional berdasarkan kerangka kerja asimilasi dan akomodasi / Samsul Irpan

 

ABSTRAK Samsul Irpan. 2009. Proses Terjadinya Kesalahan Dalam Penalaran Proporsional Berdasarkan Kerangka Kerja Asimilasi dan Akomodasi. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, S.Pd.,M.Si. (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si.,Ph.D. Kata Kunci : penalaran proporsional, asimilasi, akomodasi. Penalaran proporsional merupakan aktivitas mental dalam mengkordinasikan dua kuantitas yang berkaitan dengan relasi perubahan (perbandingan senilai) suatu kuantitas terhadap kualitas yang lain. Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan kognitif siswa dalam proses belajar. Dalam proses belajar, diharapkan siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan masalah yang dihadapi. Pada kenyataanya, ada masalah yang dapat diselesaikan sesuai dengan harapan dan ada juga masalah yang tidak bisa diselesaikan sesuai dengan apa yang diharapkan. Ini berarti struktur penalaran siswa tersebut belum cukup untuk menyelesaikan struktur masalah yang diberikan. Penalaran proporsional telah dikaji oleh oleh beberapa peneliti misalnya Cramer,K. & Post,T. (1993), dan Rahma (2006). Namun kajian-kajian tersebut belum sampai pada masalah “proses terjadinya kesalahan penalaran proporsional”. Karena itu dalam penelitian ini akan dikaji proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional berdasarkan kerangka kerja asimilasi dan akomodasi. Ketika seseorang menghadapi suatu masalah, maka akan terjadi proses adaptasi yang melibatkan proses asimilasi dan akomodasi. Menurut Piaget asimilasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang sudah terbentuk. Akomodasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru melalui pengubahan skema lama atau pembentukan skema baru untuk menyesuaikan dengan stimulus yang diterima. Penelitian ini dilakukan pada siswa MTs Surya Buana Kota Malang yang sudah mendapatkan materi perbandingan (proporsi). Pengambilan data dilakukan dengan metode Think-Out-Loud (TOL) atau sering disebut Think Aloud. Dalam metode TOL, siswa diminta untuk mengungkapkan secara keras apa yang sedang dipikirkan. Data yang diperoleh dikodekan dan dijadikan dasar untuk mengkaji terjadinya kesalahan, ketika mengerjakan masalah proporsi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa proses terjadinya kesalahan dalam penalaran siswa MTs Surya Buana Kota Malang memiliki karakteristik, yaitu: (1) kekeliruan proses asimilasi yang terjadi pada subjek (S1), dan (2) ketidakcukupan struktur berpikir dalam proses asimilasi terjadi pada subjek kelompok sedang (S3 dan S4). Sedangkan untuk subjek (S2, S5 dan S6) memiliki konstruksi penalaran yang lengkap. Penelitian ini masih terbatas pada proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional (khususnya perbandingan senilai), karena itu masih sangat terbuka penelitian lanjutan terutama berkaitan dengan: (1) bagaimana proses penalaran siswa, ketika memahami perbandingan berbalik nilai, dan (2) desain pembelajaran yang dapat mengurangi terjadinya kesalahan penalaran dalam menyelesaikan masalah matematika.

Errors in the recount writing of the eight graders of SMP Negeri 9 Malang / Galuh Retnaningtyas

 

Sebagai salah satu bahasa asing yang ada di Indonesia, Bahasa Inggris seringkali hanya digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas. Oleh karenanya, para pebelajar mngkin tidak mendapat latihan yang cukup dalam menggunakan bahasa Inggris di lingkungan mereka yang mengakibatkan Bahasa Inggris mereka tidak berkembang. Selain itu, kurangnya latihan membuat pebelajar tidak terbiasa dengan perbedaan struktur bahasa antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Hal ini menyebabkan mereka membuat ‘error’ dalam menggunakan Bahasa Inggris, khususnya dalam ‘productive skill’ yaitu dalam ketrampilan menulis dan berbicara. Namun, pengajaran menulis sepertinya kurang mendapat perhatian dari guru dibandingkan dengan pengajaran ketrampilan yang lain. Siswa mungkin tidak mendapat cukup latihan dalam menulis dan tidak mendapat cukup umpan balik dari guru. ‘Error analysis’ sangat penting untuk mencari tahu bagaimana siswa mempelajari sebuah bahasa, perkembangan belajar mereka, masalah yang dihadapi dan bagian dimana peningkatan diperlukan. Semua isu ini mengantarkan peneliti untuk melakukan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari tahu ‘error’ yang dibuat oleh siswa kelas 8 SMP Negeri 9 Malang. Penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian ‘descriptive qualitative’ karena tujan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ‘error’ apa saja yang muncul dalam karangan ‘recount’ siswa. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa 75 karangan siswa. Ada tiga langkah dalam proses analisis data. Langkah pertama adalah identifikasi ‘error’. Kemudian dilanjutkan dengan pengklasifikasian ‘error’ dan yang terakhir adalah penghitungan ‘error’. Dari data yang terkumpul, ditemukan 1144 ‘error’. Hasil penelitian ini menunjkkan ‘error’ terbanyak yang dibuat siswa adalah ‘errors of omission’ (32.08%). Dalam ‘error’ ini ‘omission of be’ menempati rutan teratas. Peringkat selanjutnya adalah ‘errors of addition’ yang muncul sebanyak 25.87%. disini ‘addition of preposition’ menduduki peringkat teratas. ‘Errors of misformation’ menempati rutan teratas selanjutnya dengan persentase sebanyak 22.90%. ‘Misformation of past tense verb’ paling banyak muncul di ‘error’ ini. ‘Misordering error’ muncul sebanyak 2.71% dari semua ‘error’ yang ditemukan. ‘Error’ dengan frekuensi tertinggi adalah ‘misordering of adverb’. Dalam ‘vocabulary use’ diction menempati urutan teratas dengan persentase sebanyak 10.84% dan ‘spelling error’ sebanyak 5.60% Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran diberikan untuk meningkatkan penguasaan siswa pada ketrampilan menlis. Untuk guru, disarankan agar mereka member kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berlatih menulis dengan menggnaka Bahasa Inggris. Selain itu, guru juga seharusnya lebih memperhatikan penggunaan verb form on tenses, articles, preposition, dan singular and plural markers. Dalam ‘vocabulary use’ guru diharapkan untuk lebih mengakrabkan siswa dengan bacaan-bacaan yang menggunakan Bahasa Inggris agar siswa lebih terbiasa dengan kata-kata bahasa Inggris. Yang paling penting adalah, siswa dan guru diharapkan lebih memperhatikan perbedaan struktur antara Bahsa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sepertinya merupakan penyebab utama ‘error’.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan konsumen dalam membeli rumah (studi pada pembeli rumah di Perumahan Griya Intan Asri Kediri) / Pristya Novianti

 

ABSTRAK Novianti, Pristya. 2009. Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Keputusan Konsumen dalam Membeli Rumah (Studi pada Pembeli Rumah di Perumahan Griya Intan Asri Kediri). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suwarni, M.Si., (II) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si. Kata kunci: bauran pemasaran, keputusan pembelian konsumen, perumahan Griya Intan Asri Dampak adanya globalisasi mengakibatkan banyak perusahaan berlomba untuk memiliki keunggulan daya saing. Hal ini juga terjadi dalam bisnis property terutama bisnis perumahan. Perumahan Griya Intan Asri Kediri merupakan salah satu perumahan di kota Kediri yang segmen pasarnya untuk golongan menengah ke atas. Untuk menarik minat pembeli pihak pengembang Perumahan Griya Intan Asri Kediri menawarkan beberapa fasilitas berupa tempat ibadah (masjid), lapangan voli, dan taman. Selain itu pihak pengembang juga memberikan kebebasan pada konsumen untuk memilih bank mana yang dianggap sesuai dengan kondisi konsumen yang akan melakukan pembelian secara kredit. Perumahan Griya Intan Asri Kediri berlokasi di kelurahan Mrican kecamatan Mojoroto Kota Kediri yaitu lokasi yang cukup strategis yang merupakan jalan raya yang menghubungkan Kediri dengan Nganjuk. Dan untuk mengenalkan perumahan Griya Intan Asri Kediri kepada masyarakat pihak pengembang melakukan promosi melalui pameran dan media cetak maupun elektronik. Bauran pemasaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi bauran pemasaran (produk, harga, tempat, dan promosi) di perumahan Griya Intan Asri Kediri dan untuk mengetahui pengaruh signifikan antara bauran pemasaran (produk, harga, tempat, dan promosi) secara parsial dan secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh bauran pemasaran (X) yang terdiri dari produk (X1), harga (X2), tempat (X3), dan promosi (X4) terhadap keputusan pembelian konsumen (Y) baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pembeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri yang dipasarkan oleh PT. Intan Kemilau Utama pada bulan April 2009 sebanyak 206 kepala keluarga. Jumlah sampel pada penleitian ini adalah 68 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda (multiple regression) dengan menggunakan uji t dan uji F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bauran pemasaran berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi β (X1) 0.275, thitung = 4.280, dan taraf signifikansi adalah 0.000 < 0.05, nilai β (X2) = 0.322; thitung = 4.049 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05, nilai β (X3) = 0.344; thitung = 3.410 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05, nilai β (X4) = 0.389; thitung = 6.150 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05. Selain itu, bauran pemasaran juga berpengaruh secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri. Hal ini dibuktikan dengan nilai F hitung 136.014 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05. Berdasarkan penelitian ini saran yang dapat diberikan sehubungan dengan hasil penelitian di atas adalah (1) Pengembang (developer) hendaknya lebih memperhatikan tipe produk (rumah) yang ditawarkan dengan mengutamakan mutu dan rancangan yang sesuai dengan keinginan konsumen, selain itu pengembang (developer) harus memberikan pelayanan yang memuaskan sehingga konsumen lebih tertarik dalam mengambil keputusan untuk membeli rumah, (2) Pengembang(developer) juga harus memberikan kemudahan syarat-syarat pembayaran kepada konsumen agar konsumen tidak mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran pembelian rumah, (3) Tempat atau lokasi perumahan juga harus diperhatikan oleh pengembang (developer) agar produk rumah yang ditawarkan dapat menarik minat konsumen karena kemudahan sarana transportasi menuju lokasi perumahan Pengembang (developer) hendaknya lebih memperhatikan tipe produk (rumah) yang ditawarkan dengan mengutamakan mutu dan rancangan yang sesuai dengan keinginan konsumen, selain itu pengembang (developer) harus memberikan pelayanan yang memuaskan sehingga konsumen lebih tertarik dalam mengambil keputusan untuk membeli rumah, (4) Pengembang (developer) harus lebih sering dan lebih banyak melakukan promosi (minimal dalam jangka waktu 3 bulan mengikuti 2 kali pameran) agar konsumen mengetahui dan lebih mengenal perumahan Griya Intan Asri Kediri.

Analisis anggaran penjualan polis sebagai alat ukur efektifitas kinerja perusahaan pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang / Iva Rohana

 

ABSTRAK Rohana, Iva. 2009. Analisis Anggaran Penjualan Polis Sebagai Alat Ukur Efektivitas Kinerja Perusahaan pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang. Tugas Akhir, Jurusan Diploma Akuntansi, Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Puji Handayati, SE., Ak., MM. Kata Kunci : analisis anggaran penjualan polis, kinerja perusahaan. Anggaran adalah rencana sebuah perusahaan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang. Untuk menyusun anggaran yang baik, diperlukan suatu langkah-langkah penyusunan anggaran sehinggga penyusunan anggaran tersebut sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang yang merupakan perusahan asuransi jiwa, berupaya menyusun anggaran penjualan polis dengan sebaik mungkin. Anggaran juga dapat dijadikan alat ukur kinerja perusahaan. Karena PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang bergerak dalam bidang jasa, maka kinerja yang dinilai adalah kinerja pelayanannya. Kinerja perusahaan dinilai berdasarkan pencapaian realisasi terhadap target yang telah ditetapkan sebelumnya. Penilaian kinerja tersebut merupakan bagian dari kegiatan evaluasi kinerja yang selalu dilakukan pada akhir triwulan atau setiap tiga bulan kali. Hal ini dapat dijadikan informasi sebagai perbaikan periode berikutnya selama kegiatan operasional PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang masih berjalan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui penganggaran penjualan polis pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang dan untuk mengetahui pengaruh anggaran penjualan polis terhadap efektivitas kinerja pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah studi pustaka dan studi lapangan. Sedangkan metode pemecahan masalah yang digunakan adalah deskriptif kuntiatif dengan menggunakan analisis varians dan prosentase pencapaian target. Pencapaian target penjualan polis pada tahun 2008 adalah 98,79% dari aggaran penjualan polis yang ditetapkan sebesar 4.000.000. Dari realisasi penjualan tersebut dapat dilihat adanya varians atau selisih kurang tetapi hal tersebut masih dapat ditoleransi karena prosentase varians lebih kecil dibandingkan prosentase koefisien varians. Maka kinerja perusahaan dikategorikan efektif. Hal ini dikarenakan adaya kebijaksanan-kebjaksanaan dari perusahan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang menyebabkan turunnya hasil penjualan, juga tidak lepas dari adanya bonus, insentif dan THR untuk karyawan yang berprestasi sehingga karyawan berusaha untuk bekerja dengan baik. Tetapi jika dilihat dari tiap bulannya, kinerja perusahaan dikatakan tidak efektif dibeberapa bulan. Hal ini disebabkan karena anggaran yang ditetapkan hanya berdasarkan perkiraan, juga terdapat beberapa pengurangan karyawan, serta kurangnya promosi dari pihak cabang sendiri. Karena itu untuk tahun selanjutnya dalam menentukan target penjualan polis, PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang juga harus memperhatikan teori tanpa meninggalkan kebijkasanaan-kebijaksanaan yang ada agar hasil atau target yang ditetapkan mendekati realisasi penjualan polis.

Sistem pakar online sebagai alternatif bimbingan dengan dosen penasehat akademik bagi mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Malang / Meyga Fika Sukmayanti

 

Studi pelaksanaan dan analisa biaya pekerjaan pelat beton pada proyek pembangunan gedung perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Nita Kusrianti

 

Plat lantai adalah elemen horizontal struktur yang mendukung beban mati maupun beban hidup dan menyalurkan ke struktur vertical yang disebut kolom. Dalam merencanakan suatu plat harus memperhatikan bebrapa faktor, yaitu komponen struktur beton bertulang yang mengalami lentur harus direncanakan agar mempunyai kekakuan yang cukup untuk mambatasi lendutan dan deformasi apapun yang dapat memperlemah kekuatan atau mengurangi kemampuan layan struktur pada beban kerja. Tujuan studi lapangan ini adalah: (1) untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pelat beton pada Proyek Pembangunan Gedung PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang Tahap I; (2) untuk mengetahui besar anggaran biaya pada RAB dengan taksiran sesuai dengan SNI 2002 dalam pelaksanaan pekerjaan pelat beton pada Proyek Pembangunan Gedung PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang Tahap I. Untuk mendapatkan data yang valid pada studi lapangan ini diperlukan suatu metode studi lapangan, yaitu dengan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Setelah itu data-data yang diperoleh dianalisis untuk menjawab semua permasalahan yang ada. Hasil dari studi lapangan menyebutkan bahwa: (1) proses pekerjaan plat beton bertulang pada proyek pembangunan PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang meliputi pekerjaan perancah, pekerjaan pemasangan bekisting, pekerjaan penulangan/pembesian, pekerjaan pengecoran, pekerjaan perawatan pasca pengecoran dan pekerjaan pembongkaran bekisting; (2) Terdapat perbedaan biaya antara rencana anggaran biaya dengan rencana anggaran pelaksanaan. Berdasarkan hasil studi lapangan ini, disarankan: (1) pekerjaan bekisting diperhitungkan secara teliti agar nantinya bekisting dapat digunakan untuk pekerjaan bekisting pada proyek lain; (2) Untuk pemesanan ready mix sebaiknya diperhitungkan dengan teliti agar tidak terjadi pemborosan pemesan beton; dan (3) untuk perhitungan rencana anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan harga dan upah pekerjaan di lapangan.

Sistem kendali suhu dan kelembaban udara otomatis untuk tanaman anggrek pada green house / Dedy Hariawan

 

Abstrak: Anggrek pada umumnya tumbuh di daerah yang suhunya rendah dengan kelembaban yang cukup tinggi, hal ini sering menjadi kendala bagi para penggemar anggrek untuk memgudidayakan anggrek tersebut, karena mereka harus berhati-hati terhadap perubahan cuaca yang tidak menentu dan harus juga menyediakan tempat yang khusus untuk menanamnya, akan tetapi itupun masih menjadi kendala, karena masih menggunakan cara yang sangat manual, baik dalam menyesuaikan suhu maupun kelembaban di lahan tersebut. Dengan adanya alat yang bekerja secara otomatis pada ruangan grren house ini, diharapkan dapat mempermudah para pengguna dalam bercocok tanam, agar tanaman tumbuh secara optimal dan mendapat hasil tanam yang sesuai dengan harapan. Prinsip kerja dari alat ini yaitu: Sensor SHT 11 berfungsi untuk mendeteksi tingkat kelembaban pada ruangan miniatur green house, yang kemudian tingkat suhu dan kelembaban yang telah terdeteksi dan dikonversikan menjadi sinyal digital oleh rangkaian ADC yang telah menjadi satu modul dengan sensor tersebut, kemudian sinyal tersebut diproses dan dikontrol oleh Mikrokontroler AT89S51. Mikrokontroler tersebut berfungsi untuk mengontrol heater, kipas satu, kipas dua, kipas tiga dan media pengairan, dengan menggunakan driver solid state untuk mengaktifkan kelima perangkat tersebut. Sehingga dapat menentukan tingkat suhu dan kelembaban udara yang diinginkan pada green house. Jika tingkat suhu udara pada miniatur green house menurun/ kurang dari yang diharapkan, maka kipas tiga dan heater akan aktif bersamaan sampai tingkat suhu yang diharapkan. Sedangakan jika tingkat suhu udara meningkat atau melebihi dari yang diharapkan, maka media pengairan, akan aktif atau bekerja sampai dengan suhu udara yang diharapkan, serta kipas satu dan dua juga akan aktif secara bersamaan dengan media pengairan tersebut sebagai sirkulasi di dalam ruangan miniatur green house. Display (LCD) pada alat tersebut berfungsi untuk menampilkan tingkat suhu dan kelembaban yang terukur dan dapat memudahkan pengguna dalam pengecekan tingkat suhu dan kelembaban udara pada miniatur green house. Hasil dari pengujian yaitu: rata-rata error pada pengujian pertama dengan posisi sensor di tengah ruangan,untuk suhu 1,96 % dan untuk kelembaban 3,54 %. pada pengujian kedua dengan posisi sensor mendekati heater, untuk suhu 1,55 % dan untuk kelembabannya 2,77 %. Pada pengujian ketiga dengan posisi sensor menjauhi heater, untuk suhu 0,79 %, dan untuk kelembabannya 1,10%. Kata Kunci: Sensor, Mikrokontroler, Otomatis, Green House, LCD, Suhu dan Kelembaban.

Teknik penyambungan dan terminasi kabel bawah tanah tegangan menengah 20 KV / Gigih Prayogi

 

Gardu Trafo Tiang (GTT) merupakan salah satu komponen instalasi tenaga listrik yang terpasang di Jaringan Distribusi yang berfungsi sebagai trafo daya penurun tegangan dari tegangan menengah ke tegangan rendah. Pada Jaringan Tegangan Rendah energi listrik disalurkan ke konsumen seperti rumah tangga, bisnis, dan juga industri kecil. Penyaluran energi listrik dari Gardu Induk ke Gardu Trafo Tiang (GTT) dilakukan dengan menggunakan penghantar udara, penghantar bawah tanah (kabel bawah tanah) serta kombinasi penghantar udara dengan penghantar bawah tanah. Jaringan distribusi dengan menggunakan kabel bawah tanah mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan penghantar udara. Keunggulan menggunakan penghantar bawah tanah adalah tidak tampak dibanding dengan penghantar udara, sehingga tepat untuk penggunaan dikawasan perkotaan yang menuntut estetika lebih tinggi. Selain itu juga lebih aman dari reruntuhan pohon akibat adanya kondisi alam yang tidak menentu. Keandalan/kualitas penyaluran energi listrik dengan menggunakan kabel bawah tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tuntutan estetika/keindahan, adanya gangguan seperti gangguan alam maupun gangguan tegangan sentuh, serta kualitas penghantar yang tahan lama.

Uji sifat organoleptik chewy candy bar susu sapi subtitusi suhu kambing / Arif Raharjo

 

ABSTRAK Raharjo, Arif 2009. Uji Sifat Organoleptik Chewy Candy Bar Susu Sapi Subtitusi Susu Kambing. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si, (2) Ir. Ummi Rohajatin,M.P. Kata kunci : chewy candy bar, susu sapi, susu kambing, organoleptik. Chewy candy merupakan salah satu jenis permen yang memiliki tekstur kenyal. Bahan dasar dari pembuatan chewy candy adalah gula, mentega, glukosa, dan susu segar. Susu segar yang digunakan adalah susu sapi yang disubtitusi dengan susu kambing segar. Susu kambing masih terbatas dalam pengolahannya, susu kambing memiliki aroma yang ( lebus). Penelitian adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase yang berbeda yaitu 15%, 30%, dan 45%. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat sifat organoleptik yang dihasilkan oleh masing-masing perlakuan. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis meliputi rasa, warna, dan tekstur. Masing–masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Analisa data yang digunakan adalah analisa sidik ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Ducan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rasa chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase 15%, 30%, dan 45%. Rasa chewy candy yang diharapkan (manis gurih) dihasilkan oleh chewy candy susu sapi substitusi susu kambing dengan persentase 45% . Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan warna chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase 15%, 30%, dan 45%. Warna chewy candy yang diharapkan (coklat) dihasilkan oleh chewy candy susu sapi substitusi susu kambing dengan persentase 15% . Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tekstur chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase 15%, 30%, dan 45%. Tekstur chewy candy yang diharapkan (kenyal) adalah chewy candy susu sapi yang disubstitusi susu kambing sebesar 45% . Hasil uji hedonik terhadap chewy cand bar susu sapi yang disubtitusi susu kambing menunjukkan bahwa rasa yang cenderung disukai adalah yang disubtitusi sebesar 30%. Warna yang cenderung disukai panelis adalah yang disubtitusi sebesar 30%. Tekstur yang cenderung disukai panelis adalah yang disubtitusi sebesar 30%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan rasa, warna, dan tekstur chewy candy bar susu sapi yang disubtitusi susu kambing sebesar 15%, 30% dan 45%. Rasa, warna, dan tekstur chewy candy bar susu sapi yang disubtitusi susu kambing yang disukai oleh panelis adalah yang disubtitusi 30%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan aneka olahan chewy candy susu sapi subtitusi susu yang lain selain susu kambing, serta penambahan variasi rasa.

Pembuatan mini sackdress dan poncho transparan dengan aplikasi motif "geometri" sebagai busana pesta / Siswandari Rosyida

 

Sifat organoleptik keripik telur bebek dengan penambahan variasi daun bumbu / Evrielia Enggar Cahyani

 

ABSTRAK Cahyani, Evrielia Enggar. 2009. Sifat Organoleptik Keripik Telur Bebek dengan Penambahan Variasi Daun Bumbu. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Nunung Nurjanah M. Kes (2) Ir. Budi Wibowotomo M.Si. Kata kunci: Keripik, Telur Bebek, Daun Kemangi, Daun Mint, Daun Jeruk Purut Keripik telur bebek adalah produk makanan ringan yang berbahan dasar telur bebek. Telur bebek cenderung memiliki aroma amis yang tajam sehingga untuk menghilangkan rasa amis tersebut diperlukan penambahan variasi daun bumbu yaitu daun kemangi, daun mint dan daun jeruk purut. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan membuat keripik telur bebek dengan menggunakan penambahan variasi daun bumbu yaitu daun kemangi, daun mint dan daun jeruk purut. Untuk mengetahui perbedaan antara flavour, warna dan tekstur, maka di dalam penelitian ini dilakukan uji mutu hedonik dan uji hedonik terhadap sifat organoleptik yang ditimbulkan dari penambahan variasi daun bumbu. Data penelitian diperoleh dari angket yang diberikan kepada panelis. Panelis yang digunakan adalah panelis agak terlatih sebanyak 20 orang dengan tiga kali pengulangan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis sidik ragam, apabila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk uji mutu hedonik terdapat perbedaan yang nyata terhadap flavour, warna, dan tekstur dengan penambahan variasi daun bumbu yaitu daun kemangi, daun mint, daun jeruk purut. Flavour keripik telur bebek yang amis tidak tajam (3,72) diperoleh pada perlakuan dengan menggunakan penambahan daun jeruk purut. Warna keripik telur bebek yang menghasilkan warna kuning kehijauan (3,68) diperoleh dengan menggunakan penambahan daun kemangi. Tekstur renyah pada kripik telur bebek (2,95) diperoleh dengan menggunakan penambahan daun mint. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa flavour keripik telur bebek yang paling disukai (3,12) adalah keripik telur bebek dengan penambahan daun jeruk purut. Warna keripik telur bebek yang relatif disukai (2,97) adalah keripik telur bebek dengan penambahan daun mint. Tekstur keripik telur bebek yang relatif disukai panelis (2,87) adalah tekstur keripik telur bebek dengan penambahan daun jeruk purut. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang pematangan keripik telur bebek agar tidak cenderung berminyak dan dapat menggunakan penambahan kombinasi daun jeruk purut dan daun mint untuk menghasilkan keripik telur yang lebih bagus dari segi flavour, warna dan tekstur.

Sifat organoleptik cake dengan perbandingan persentase tepung telur dan telur ayam yang berbeda / Lika Rusiana

 

ABSTRAK Rusiana, Lika. 2009. Sifat Organoleptik Cake Dengan Perbandingan Persentase Tepung Telur Dan Telur Ayam Yang Berbeda. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Ir. Ummi Rohajatien, M.P (II) Dra. Nunung Nurjannah, M.Kes Kata Kunci: Cake, Tepung Telur, Telur Ayam, Organoleptik Telur merupakan bahan makanan yang mudah rusak dan memiliki daya simpan yang tidak lama. Fungsi telur pada pembuatan cake adalah sebagai daya emulsi (emulsifier), pemberi warna/pigmen, daya buih dan memberikan flavour. Tepung telur adalah produk awetan dari telur segar sehingga memiliki daya simpan yang lama, tidak mudah rusak namun tetap memiliki fungsi sehingga dapat menghasilkan kualitas cake yang baik. Penelitian bertujuan untuk memberikan kualitas yang lebik baik pada cake yang berkarakteristik butter cake dengan penggunaan tepung telur sebagai bahan pengganti sebagian pada telur segar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan perlakuan perbandingan persentase tepung telur dan telur ayam 20%:80%. 40%:60% dan 60%:40%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik yang meliputi rasa, warna, aroma dan tekstur. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Data penelitian diperoleh dari angket yang diberikan kepada panelis agak terlatih. Instrumen yang digunakan adalah uji organoleptik berupa format penilaian uji mutu hedonik dan uji hedonik. Pengolahan data dilakukan dengan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan analisis DMRT (Duncan’s Multiple Range Test). Hasil penelitian pada uji mutu hedonik menunjukkan rasa, warna, aroma dan tekstur cake yang paling baik ada pada perlakuan 60%:40% dengan rasa manis gurih, warna kuning cukup kecoklatan, aroma kurang anyir dan tekstur empuk. Hasil penelitian pada uji hedonik menunjukkan cake yang disukai dari rasa dan warna pada perlakuan 40%:60%, aroma dan tekstur pada perlakuan 60%:40%. Hasil yang cukup disukai dari rasa dan warna pada perlakuan 60%:40%, aroma dan tekstur pada perlakuan 40%:60%. Hasil yang agak disukai dari rasa, warna dan aroma pada perlakuan 20%:80% dan tekstur pada perlakuan 60%:40%. Hasil yang kurang disukai dari rasa pada perlakuan 60%:40%, warna dan tekstur pada perlakuan 20%:80% dan aroma pada perlakuan 40%:60%. Berdasarkan hasil penelitian maka diajukan saran untuk mendapatkan cake dengan kriteria rasa manis gurih, warna kuning cukup kecolatan, aroma kurang anyir dan tekstur empuk dengan penggunaan tepung telur dan telur ayam 60%:40%.

Sifat organoleptik permen jeli agar-agar dengan penambahan susu bubuk dalam jumlah yang berbeda / Matin Waliyu

 

ABSTRAK Waliyu, Matin. Sifat Organoleptik Permen Jeli Agar-agar Dengan Penambahan Susu Bubuk Dalam Jumlah yang Berbeda. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Issutarti, (II) Ir. Umi Rohajatien, M.P. Kata Kunci: Susu Bubuk, Penambahan, Organoleptik. Permen jeli agar-agar merupakan salah satu produk yang digemari dan dapat dikonsumsi oleh semua orang terutama dikalangan anak-anak dan remaja. Permen jeli pada dasarnya adalah campuran karbohidrat yang diproses menjadi sistem koloidal stabil yang mempunyai konsistensi semi padat, manisnya cukup dan biasanya berasa dan berwarna buah. Kandungan gizi permen jeli hanya terdiri dari karbohidrat. Untuk memnyeimbangkan kandungan gizi permen jeli agar-agar perlu ditambahkan susu. Susu mempunyai kandungan gizi yang baik dan seimbang. Namun penambahan susu pada proses pembuatan permen jeli agar-agar berpengaruh terhadap mutu organoleptik permen jeli agar-agar. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan mutu organoleptik dan tingkat kesukaan terhadap tekstur, flavor, dan warna dengan penambahan susu bubuk 2%, 4%, 6%, 8%. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan perlakuan penambahan susu bubuk dengan jumlah yang berbeda. Pengamatan dilakukan terhadap sifat-sifat organoleptik yang meliputi tekstur, flavor susu, dan warna dengan uji mutu hedonik dan uji hedonik. Analisa data menggunakan sidik ragam jika ada perbedaan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata pada tekstur, flavor susu, dan warna. Perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 2% menghasilkan tekstur paling kenyal dan warna kurang kusam. Sedangkan flavor susu yang paling kuat dihasilkan oleh perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 8%. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sabgat nyata pada tekstur, flavor susu, dan warna. Perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 2% mendapatkan nilai skor kesukaan paling tinggi terhadap tekstur, flavour, dan warna. Untuk memperoleh permen jeli agar-agar yang disuka disarankan menggunakan perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 2%.

Sifat organoleptik permen jelly subtitusi sari buah tomat dan susu / Andi Yulfa Septiani

 

Permen jelly adalah permen yang terbuat dari campuran karbohidrat yang diproses menjadi sistem koloidal stabil yang mempunyai konsistensi semi padat,manisnya cukup dan biasanya berasa dan berwarna buah. Komponenya adalah pemanis (gula, gula invert, dektrosa dan sirup jangung), asam-asan organik permen (sitrat, malat ataupun tartart), dan pembentuk gel (pati, pektin,agar, dan gelatin), air, flavour dan pewarna. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi dengan perbandingan yang berbeda untuk mensubtitusi air pada pembuatan permen jelly. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik yang meliputi flavour, warna dan tekstur dengan pengujian uji mutu hedonik dan uji hedonik oleh panelis. Panelis terdiri dari 20 orang agak terlatih dari mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006. Data dianalisis dengan menggunakan Analisis Sidik Ragam. Hasil analisis data yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap flavour, warna dan tekstur pemen jelly yang disubtitusi dengan sari buah tomat dan susu sapi dengan perbandingan yang berbeda. Nilai rerata tertinggi untuk flavour 3,31% yaitu kuat dicapai oleh permen jelly sari buah tomat dan susu sebanyak 50%:50%. Nilai rerata tertinggi untuk warna 3,56% yaitu jingga dicapai permen jelly sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 75%:25%. Nilai rerata tertinggi untuk tekstur 3,56% yaitu kenyal dicapai permen jelly subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 50%:50%. Hasil uji hedonik terhadap permen jelly menunjukkan bahwa flavour disukai panelis adalah permen jelly dengan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 50%:50%. Panelis menyukai warna permen jelly dengan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 75%:25%.Dan hasil uji hedonik terhadap permen jelly menunjukkan bahwa tekstur yang paling disukai panelis adalah permen jelly dengan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 50%:50%.

Implementasi siklous belajar sains untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 4 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Mastini

 

ABSTRAK Mastini. 2009. Implementasi Siklus Belajar Sains untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII-C SMP Negeri 4 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Pembimbing I: Drs. Soewolo, M.Pd, Pembimbing II: Balqis, S.Pd, M.Si Kata-kata kunci: siklus belajar sains, kerja ilmiah, hasil belajar biologi Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa dan wawancara dengan guru mata pelajaran tentang proses pembelajaran biologi yang selama ini telah dilaksanakan, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, antara lain: (1) model pembelajaran kooperatif yang pernah diterapkan, misalnya STAD dan TGT belum cukup mengarahkan siswa untuk melakukan kerja ilmiah, (2) dari hasil jajak pendapat tentang pembelajaran yang selama ini dialami oleh siswa, 27,5% (11 siswa) menyatakan penerapan kerja ilmiah sudah baik, 47,5% (19 siswa) menyatakan cukup dan 25% (10 siswa) menyatakan kurang. Tetapi, ketika peneliti mengadakan wawancara lisan dengan beberapa siswa, mereka mengasumsikan bahwa kerja ilmiah adalah praktikum. Dari fakta ini dapat dikatakan bahwa penerapan kerja ilmiah dalam pembelajaran masih kurang, (3) hasil ulangan harian terdahulu masih banyak yang di bawah KKM yang telah ditetapkan yaitu sebesar 72. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Mei 2009, dengan menggunakan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan dan observasi, (3) evaluasi dan refleksi. Metode pembelajaran yang diimplementasikan yaitu siklus belajar sains yang terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) eksplorasi, (2) eksplanasi, (3) ekspansi, dan (4) evaluasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar siswa (ranah kognitif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja ilmiah dan hasil belajar siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang dapat ditingkatkan melalui implementasi siklus belajar sains. Kerja ilmiah siswa pada siklus 1 memperoleh persentase ketercapaian secara klasikal sebesar 87,77% (sangat baik) dan meningkat pada siklus 2 yang mencapai 96,43% (sangat baik). Hasil belajar siswa pada siklus 1 menunjukkan nilai rata-rata 68 dengan ketuntasan klasikal sebesar 60% dan pada siklus 2 mengalami peningkatan nilai rata-rata menjadi 87 dengan ketuntasan klasikal 95%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi siklus belajar sains dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 4 Malang. Saran yang peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu: (1) untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa, disarankan untuk mengimplementasikan siklus belajar sains, (2) disarankan bagi guru maupun peneliti lain agar menggunakan modul dalam proses pembelajaran agar semua aspek dari kerja ilmiah siswa dapat dicapai dengan optimal.

Usaha pengembangan kompetensi profesional guru SMK jurusan Bisnis Manajemen Program Studi Akuntansi di Kota Pasuruan / Rusita Rakhmawati

 

Pemberlakuan sertifikasi guru menjadi pendidik sebagai suatu profesi yang benar-benar profesional dan menjanjikan dilihat dari kontribusi tunjangan. Sesungguhnya serti-fikasi ini bermaksud meningkatkan mutu pendidikan dari sektor guru bukan untuk me-naikkan gaji atau kesejahteraan. Guru yang telah memiliki sertifikat pendidik harus terus melakukan peningkatan kompetensinya melalui berbagai kegiatan untuk meningkatkan profesionalitas guru berkelanjutan (Continous Profesional Development). Hal ini harus berlangsung secara berkesinambungan, karena prinsip mendasar adalah guru harus merupakan a learning person. Belajar sepanjang hayat selama masih di kandung badan sebagai guru profesional dan telah menyandang sertifikat pendidik, guru harus berkewa-jiban untuk terus mempertahankan profesionalitasnya sebagai guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui usaha pengembangan kompetensi profesional guru SMK jurusan Akuntansi yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan lulus sertifikasi melalui PLPG di Kota Pasuruan. Pendekatan yang digunakan dalam skripsi ini adalah deskriptif kualitatif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh guru Akuntansi yang telah lulus sertifikasi melalui por-tofolio dan yang melalui PLPG di SMK se Kota Pasuruan. Sampel penelitian ini adalah guru Akuntansi yang lulus sertifikasi dari SMKN 1 Pasuruan, SMK PGRI 1 Pasuruan, dan SMK PGRI 4 Pasuruan. Data penelitian berupa hasil wawancara dan observasi. Ins-trumen penelitian berupa pedoman wawancara dan lembar observasi. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil analisis data maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Guru akuntansi yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan guru yang lulus sertifikasi melalui PLPG ke-mampuan penguasaan bahan pengajaran terlihat hampir sama, mereka belum mengem-bangkan keprofesionalannya secara maksimal. (2) Guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio maupun yang lulus melalui PLPG mempunyai kemampuan yang relatif sama dalam kemampuan menggunakan media pembelajaran dan sumber pengajaran. (3) Guru- guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan melalui PLPG telah mengembangkan kompetensi profesionalannya. (4) Guru-guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan yang lulus melalui PLPG telah mengembangkan kompetensi profesionalannya dalam kemampuan mengelola program belajar mengajar. (5) Guru-guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan melalui PLPG dapat mengembangkan kompetensi profesionalan-nya dengan mampu mengelola kelas dengan baik. (6) Guru- guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan lulus melalui PLPG telah mengembangkan keterampilan dasar mengajar, sehingga dapat dikatakan telah mampu mengelola interaksi belajar mengajar di dalam kelas. (7) Guru yang lulus sertifikasi melalui portofo-lio, guru melakukan evaluasi terhadap siswa masih mengarah ke ranah kognitif, namun untuk guru yang lulus sertifika-si melalui PLPG evaluasi terhadap siswa sudah mengarah ke ranah afektif, kognitif dan psikomotorik. (8) Semua guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan yang lulus melalui PLPG belum ada yang melakukan penelitian tentang PTK. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Guru akuntansi yang lulus sertifikasi mela-lui portofolio, usaha pengembangan kompetensi profesionalnya sudah cukup baik namun belum maksimal. Kemudian untuk guru yang lulus sertifikasi melalui PLPG, usaha pengembangan kompetensi profesionalnya sudah cukup baik namun belum maksimal. Saran untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya (1) peneliti menguji kualitas dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada subjek penelitian, agar indikator-indikator dari variabel penelitian dapat dimunculkan dan data atau informasi yang diperoleh sesuai dengan yang dibutuhkan. (2) Guru sebagai subjek penelitian sebaiknya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peneliti, hendaknya jawaban yang diberikan tidak menyimpang dari pertanyaan yang diajukan, sehingga informasi yang diperoleh menjadi lebih akurat. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah bahwa instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang telah dibuat, masih kurang dapat menunjukkan indikator-indikator dari variabel penelitian yang akan diteliti. Sehingga data yang diperoleh masih kurang lengkap.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan penguasaan konsep sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Patuguran I Kecamatan Rejoso Pasuruan / Sustiyah

 

Matematika merupakan salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Rendahnya prestasi belajar matematika salah satu penyebabnya terletak pada daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika masih kurang. Anggapan yang terjadi pada kehidupan masyarakat matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit dan membingungkan, terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan bangun ruang.Peneliti berasumsi bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD anak akan bersemangat dan mengikuti pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun ruang dapat meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan penguasaan konsep sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN. Patuguran I Kec. Rejoso. (2) Peningkatan penguasaan konsep sifat-sifat bangun ruang dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas V SDN. Patuguran I Kec. Rejoso dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN. Patuguran I Kec. Rejoso sebanyak 24 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK Instrumen yang digunakan adalah tes dan lembar observasi. Tehnik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SDN. Patuguran I. Peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dari nilai rata-rata pre tes dan post tes, pada siklus I meningkat dari 51,6 % menjadi 68,5 %. Sedangkan pada siklus II nilai pre tes dan post tes juga meningkat menjadi 77,8 %. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembelajaran ini adalah: a). Proses Pembelajaran Matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat siswa menjadi lebih berani tampil ke depan kelas dan lebih berani bertanya juga menjawab pertanyaan yang di berikan oleh guru. b). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada sifat -sifat bangun ruang siswa kelas V, telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN. Patuguran I yang ditunjukkan dari nilai rata-rata pada siklus I yaitu 68,5 % menjadi 77,8 %, pada siklus II terjadi peningkatan 9,3%. Juga terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II yaitu:a) kerjasama A= 64,5%, B= 35,3%, dan C= 0%; b) keberanian A= 47,6%, B= 42,3%, C= 9,3%; c) aktivitas A= 70,8%, B= 25%, dan C= 4,1%; d) ketepatan A= 37,5%, B= 30,1%, dan C= 33,3%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) Guru dalam pembelajaran hendaknya memilih pembelajaran yang efektif bagi siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD, agar tujuan belajar matematika tercapai. (2) Sekolah hendaknya mengembangkan penelitian ini pada kelas-kelas lain di SDN Patuguran I secara berkesinambungan. (3) Untuk guru mata pelajaran lain yang memiliki karakteristik materi yang hampir sama dengan matematika, misalnya IPA, juga mencoba melakukan penelitian tindakan ini sebagai upaya peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran yang bersangkutan.

Pengembangan media pembelajaran audiovisual spab mit wechselpraposition (SPION) untuk kelas XII Program Bahasa SMA Islam Kepanjen / Okta Vita Dwi Onny

 

Media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi kepada siswa agar siswa lebih mudah menangkap materi dan dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar. Media audiovisual saat ini dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam pembelajaran. Berdasarkan observasi yang dilakukan diketahui bahwa selama ini siswa memiliki kesulitan dalam memahami materi Wechselpräposition. Kesulitan yang dialami siswa adalah membedakan kasus Akkusativ dan kasus Dativ.Pengembangan media audiovisual-SPION ini dilakukan untuk memberikan alternatif media yang dapat membantu oleh guru dalam pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pengembangan yang didukung dengan data kuantitatif untuk mengetahui efektifitas media. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII bahasa SMA Islam Kepanjen. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan 2 instrumen yaitu angket dan tes. Angket diberikan kepada ahli media, ahli materi, guru bidang studi dan siswa. Tes digunakan 2 bentuk tes yaitu Pre test dan Post test. Hasil angket untuk ahli media diperoleh prosentase sebesar 90%, ahli materi sebesar 85%, guru bidang studi sebesar 97% dan siswa sebesar 89,31%. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pre test adalah 51,59 dan untuk Post test adalah 72,3. Berdasarkan hasil penelitian dan angket dapat disimpulkan bahwa menurut hasil validitas dari ahli media, ahli materi dan guru bidang studi media ini dapat digunakan dalam pembelajaran sedangkan hasil angket terdapat siswa menunjukkan bahwa media ini dapat memotivasi siswa untuk belajar bahasa Jerman khususnya mengenai Wechselpräposition. Berdasarkan hasil belajar siswa yang dianalisis dengan menggunakan rumus t-test diperoleh hasil bahwa (t) 4,35 lebih besar dari (t) signifikasi 5% 2,179 dan lebih besar (t) signifikasi 1% 2,756. Dalam penggunaan media ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru bidang studi. Saran-saran yang dapat diberikan dalam menggunakan media pembelajaran audiovisual- SPION adalah sebagai berikut. (1) Media audiovisual- SPION dapat menjadi alternatif dalam pembelajaran. (2) Media ini dapat digunakan untuk tema yang lain dengan pengolahan terlebih dahulu. (3) Penggunaan media ini hendaknya diimbangi dengan metode pengajaran yang menarik.

Pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada mata pelajaran IPS bahan kajian sejarah kelas VII di SMPN 3 Kepanjen tahun 2008/2009 / Fajar Setiyawan

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan program pengganti/perbaikan dari kurikulum 2004 (KBK), yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Pelaksanaan KBK di SMPN 3 Kepanjen tahun 2006 yang belum maksimal dilanjutkan dengan pelaksanaan KTSP mulai tahun 2007/2008 sampai sekarang. Dalam pelaksanaannya, sekolah mengadakan pembagian tugas mengajar dengan menyediakan dua orang guru IPS yang jumlah dan disiplin ilmunya belum sesuai dengan rekomendasi pembelajaran terpadu mata pelajaran IPS. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian mengenai bagaimana (1) kesiapan guru dalam pelaksanaan KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (2) pengembangan perangkat pembelajaran KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (3) pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah, dan (4) faktor apa saja yang pendukung dan penghambat pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah. Tujuan penelitian secara umum adalah mendeskripsikan pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran IPS bahan kajian sejarah. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) kesiapan guru dalam pelaksanaan KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (2) pengembangan perangkat pembelajaran KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (3) pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah, (4) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian adalah wakil kepala sekolah bagian kurikulum SMPN 3 Kepanjen, guru mata pelajaran IPS kelas VII SMPN 3 Kepanjen, siswa kelas VII SMPN 3 Kepanjen. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrument) yang melakukan observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang kualifikasi dan disiplin ilmunya S-1 geografi IKIP Malang siap melaksanakan KTSP IPS dengan mengikuti berbagai pelatihan yang mendukung seperti, MGMP, MGMPS, seminar, dan workshop yang berkaitan dengan mata pelajaran IPS. Guru mengembangkan perangkat pembelajaran yang telah disediakan oleh tim pengembang kurikulum sekolah dengan melakukan pemetaan KD, analisis alokasi waktu dengan melihat kalender akademik, menyusun promes dan prota, silabus dan RPP. Guru melaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian dengan menyampaikan materi sesuai dengan SK dan KD, serta memperhatikan ii kemungkinan yang akan terjadi pada siswa saat menerima materi. Sedangkan metode yang dipakai adalah metode ceramah dan tanya jawab, karena keduanya dianggap saling melengkapi. Sedangkan media yang digunakan mulai dari buku yang relevan, LKS, dan peta sampai media yang sudah disediakan sekolah seperti TV, DVD, dan OHP. Untuk sumber belajar dengan menggunakan buku yang relevan, LKS, peta. Penilaiannya adalah dengan menggunakan teknik tes tulis, instrumen berupa tes uraian dan pilihan ganda, yaitu 4 soal uraian dan 18 soal pilihan ganda. Faktor pendukung pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah meliputi sosialisasi KTSP, ketersediaan perangkat pembelajaran, adanya BSE, dan fasilitas internet. Sedangkan faktor penghambatnya meliputi belum adanya lembaga pendidikan yang mengeluarkan produk guru khusus untuk mata pelajaran IPS, ketidaksesuaian antara kualifikasi akademik dan disiplin ilmu dengan bahan kajian yang diajarkan. Berdasarkan hasil penelitian hendaknya guru siap melaksanakan KTSP, walaupun untuk disiplin ilmu yang dimilikinya belum sesuai dengan rekomendasi pembelajaran terpadu pada mata pelajaran IPS, yaitu dengan mengikuti berbagai pelatihan yang mendukung pelaksanaan KTSP seperti MGMP, MGMPS, seminar dan workshop. Dengan berbagai pelatihan itu pula, guru diharapkan secara mandiri belajar mengembangkan perangkat pembelajaran, tanpa harus menggantungkan pertangkat pembelajaran yang disediakan oleh sekolah. Hal tersebut perlu diperhatikan untuk memperlancar pelaksanaan daripada KTSP IPS bahan kajian sejarah.

Penggunaan metode silabel untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan di kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Sukhaifa Jum'ati

 

Kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah konsep pembelajaran yang kurang menarik karena guru kurang tepat dalam memilih dan menerapkan metode membaca yang efektif. Media yang digunakan juga belum bervariasi. Selama ini guru hanya menggunakan metode mengeja dan kartu huruf sebagai media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan dengan menggunakan metode silabel. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, yaitu (1) siklus I tema lingkungan, pembelajaran membaca menggunakan metode silabel didukung media pembelajaran berupa kartu suku kata, dan pembelajaran dilaksanakan secara klasikal. (2) siklus II tema budi pekerti, pembelajaran membaca menggunakan metode silabel dengan media kartu suku kata dan pembelajaran dilaksanakan dengan pengorganisasian siswa dalam kelompok kecil (teman sebangku). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah siswa 22 anak. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: penggunaan metode silabel terbukti dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan, yaitu nilai siswa meningkat dari nilai rata-rata 70,95 menjadi 80,23 yakni meningkat 13%. Sesuai dengan kriteria yang ditentukan maka peningkatan ini tergolong baik. Penggunaan metode silabel yang didukung media pembelajaran yang relevan juga berdampak pada peningkatan aktivitas dan kreatifitas siswa dalam proses pembelajaran. Saran pada penelitian ini adalah guru hendaknya pandai memiliki metode yang tepat dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran membaca permulaan. Guru hendaknya menggunakan metode silabel karena dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa.

Meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan pendekatan cooperative learning tipe STAD di kelas V SDN Pasrepan I Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Shinta Diah Damayanti

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh skor nilai rata-rata yang didapat siswa kelas V SDN Pasrepan I pelajaran IPA khususnya pada materi pokok Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungannya yang hanya mencapai nilai 65,61, jauh dari ketuntasan minimum yaitu 70. Hal ini disebabkan karena siswa terhadap materi pembelajaran IPA dan juga metode yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran tidak sesuai serta cenderung masih menggunakan metode ceramah sehingga aktivitas siswa kurang dan siswa hanya sebagai pendengar saja. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan tujuan: 1) meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SDN Pasrepan I pada pembelajaran IPA dengan materi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungannya; 2) meningkatkan penguasaan konsep siswa kelas V SDN Pasrepan I pada pembelajaran IPA dengan materi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungannya. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Pasrepan I Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah siswa 41 anak. Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi; dan 4) refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh: 1) hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA meningkat ditandai dengan peningkatan aktivitas siswa dalam kerjasama kelompok, berani dalam mengutarakan pendapat dan tepat dalam menyelesaikan masalah; 2) siswa dalam penguasaan konsep IPA meningkat terbukti dengan diperolehnya skor nilai rata-rata kelas mencapai 79,76 dan kriteria ketuntasan belajar mencapai 90,24%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran tipe STAD pada materi Penyesuaian Makhluk Hidup Terhadap Lingkungan bisa meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan aktivitas siswa dalam kerja kelompok. Saran pada penelitian ini adalah guru dalam pembelajaran IPA hendaknya pandai dalam memilih metode yang tepat dan efektif sesuai dengan materi pembelajaran IPA.

Pengembangan media animasi pada pokok bahasan "Der Artikel" untuk siswa kelas X SMA negeri 6 Malang / Ariani Dian Wulandari

 

Kata kunci: pengembangan, media animasi, artikel Media pembelajaran merupakan salah satu komponen sumber belajar yang turut menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pengembang dengan guru Bahasa Jerman SMAN 6 Malang diketahui bahwa siswa mengalami kebosanan selama mengikuti pelajaran Bahasa Jerman. Oleh sebab itu, sekolah ini membutuhkan suatu media yang menarik dan efektif dalam bentuk animasi interaktif untuk pembelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran dengan pokok bahasan der Artikel untuk siswa kelas X SMAN 6 Malang. Kegiatan pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan dan kegiatan validasi pada ahli media, ahli materi, guru matapelajaran, dan siswa. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah media dapat digunakan dalam pembelajaran dengan sedikit revisi. Menurut ahli media, media sudah cukup valid dengan prosentase sebesar 75%. Ahli materi berpendapat bahwa media cukup valid dengan prosentase sebesar 78,13%. Menurut guru, media valid dengan prosentase sebesar 86,76%. Siswa juga berpendapat bahwa media valid dengan prosentase sebesar 81,43%. Selain itu nilai rata-rata siswa pada lembar latihan sebesar 70,1 dari 34 siswa. Berdasarkan penelitian pengembangan yang telah dilakukan, materi yang disajikan di dalam media ini terbatas dengan pokok bahasan der Artikel, hal ini sangat memungkinkan bagi pengembang selanjutnya untuk mengembangkan media pembelajaran dengan materi yang lebih luas dan dengan konsep yang lebih menarik.

Pengaruh motivasi kerja terhadap profesionalitas guru melalui kepuasan kerja (di SMK Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang) / Dewi Puspita Sari

 

ABSTRAK Puspita Sari, Dewi. 2009. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Profesionalitas Guru Melalui Kepuasan Kerja (Di SMK Negeri 1 Turen Kabupaten Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen S1 Pendidikan Adminstrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si, (II) Drs. Sarbini Kata kunci : Motivasi Kerja, Profesionalitas Guru, Kepuasan Kerja Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia, pendidikan amat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan guna meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Berdasarkan beberapa fenomena telah memperlihatkan bahwa kondisi dunia pendidikan saat ini di tanah air memang masih jauh dari yang kita harapkan. Perlu sebuah upaya kerja keras tanpa henti dengan melibatkan seluruh stakeholders, agar dunia pendidikan kita benar-benar bangkit dari keterpurukan untuk mengejar ketertinggalannya sehingga mampu berkompetisi secara terhormat dalam era globalisasi yang semakin menguat. Oleh sebab itu reformasi pendidikan, dimana salah satu issu utamanya adalah peningkatan profesionalitas guru merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam mencapai pendidikan yang lebih berkualitas. Oleh karena itu peningkatan profesionalitas guru memang sangat perlu diperhatikan oleh semua pihak. Pada dasarnya profesionalitas guru dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor motivasi dan kepuasan kerja. Profesionalitas guru mengacu pada tingkah laku saat mengajar di kelas. Motivasi akan timbul dalam diri guru apabila ada perhatian, kesesuaian, kepercayaan dan kepuasan yang diberikan kepala sekolah, yang kemudian akan dapat meningkatkan profesionalitas. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory research. Populasi yang dipilih adalah adalah seluruh guru di SMK Negeri 1 Turen yang berjumlah 74 guru. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel bertujuan (purposive sampling) dengan sampel sebanyak 62 responden dan menggunakan unsur kelonggaran ketelitian sebesar  = 5%, metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan metode path analysis (Analysis Path). Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1)Guru di SMK Negeri 1 Turen memiliki tingkat motivasi kerja yang tinggi. 2)Guru di SMK Negeri 1 Turen memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi. 3)Guru di SMK Negeri 1 Turen memiliki tingkat profesionalitas guru adalah sangat tinggi/ baik. 4)Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara motivasi kerja terhadap kepuasan kerja pada guru SMK Negeri 1 Turen . 5)Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara motivasi kerja terhadap profesionalitas guru di SMK Negeri 1 Turen .6)Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara kepuasan kerja terhadap profesionalitas guru di SMK Negeri 1 Turen.7)Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara motivasi kerja terhadap profesionalitas guru melalui variabel kepuasan kerja di SMK Negeri 1 Turen. Maka saran yang dapat disampaikan peneliti adalah: 1) Kondisi motivasi kerja di SMK Negeri 1 Turen dikategorikan tinggi. Oleh karena itu, kepala sekolah diharapkan harus dapat mempertahankan dan meningkatkan lagi kondisi tersebut. Karena terbukti motivasi memiliki pengaruh positif terhadap profesionalitas. 2)Guru perlu berpikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya guru harus melakukan pengayaan dan pembaruan di bidang ilmu, pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya secara terus menerus. 3)Guru harus paham dan melakukan penelitian-penelitian guna mendukung efektifitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak dengan praktek pengajaran yang menurut asumsinya sudah efektif. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian dapat memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peranan manajemen hubungan masyarakat dalam pemanfaatan sumber belajar: studi kasus di SD Islam Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo / Ayu Rizki Amalya

 

SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo merupakan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdhatul Ulama (NU) Taman Pendidikan Qur’an (TPQ)/Diniyah yang terbilang baru. Berdiri pada Tahun 2002 dan bernaung di bawah Yayasan Sabilil Huda. Pada Tanggal 24 Maret 2003 dikeluarkan Surat Keputusan (SK) dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo dengan Nomor: 642.2/246/104.314/2003 tentang Izin Pendirian dan Penyelenggaraan Sekolah Dasar Islam “Sabilil Huda“, kemudian pada Tanggal 17 Desember 2007, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-SM) menetapkan SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo dengan Nomor Induk Sekolah (NIS) 101050203013 telah berhasil memperoleh akreditasi dengan peringkat A. SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo memberlakukan jam sekolah secara penuh (full day school) mulai jam 06.30-15.00 WIB, setelah pada tahun pelajaran 2003/2004 sekolah mengadakan studi komparatif ke SDI Sabilillah Malang. Berkaitan dengan hal tersebut, maka manajemen humas sangat diperlukan dalam hal sosialisasi dan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat, sehingga pada tahun pelajaran 2007/2008 kepala sekolah mengangkat Wakasek Humas untuk menangani segala operasional hubungan dan kerjasama antara sekolah dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan sumber belajar melalui manajemen humas yang meliputi: (1) Program-program kepala sekolah dan Wakasek Humas dalam pelaksanaan manajemen humas di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo; (2) Pemanfaatan sumber belajar dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo; (3) Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo; (4) Peranan manajemen humas dalam pemanfaatan sumber belajar di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo. Penelitian ini dilakukan di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo, Jalan Singokarso Nomor 54 Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo, mulai Tanggal 3 Januari 2009, 20 Mei 2009 sampai 22 Juli 2009. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus yang digunakan adalah studi kasus observasional (observational case studies). Pada penelitian ini, peneliti merupakan instrumen kunci. Kehadiran peneliti di lapangan diperlukan sebagai alat pengumpul data utama. Adapun sumber data berupa orang/person meliputi kepala sekolah, Wakasek Humas, Wakasek Kurikulum, petugas perpustakaan, Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha (TU), guru dan siswa. Metode pengumpulan data dalam Penelitian ini menggunakan tiga teknik, yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang meliputi tiga langkah, yaitu reduksi data, display/penyajian data, dan verifikasi data/penarikkan kesimpulan. Pengecekan keabsahan datanya dilakukan dengan tiga cara, yaitu ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecukupan referensial. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Program kerja tahunan kepala sekolah dalam bidang manajemen humas terdiri dari kegiatan-kegiatan operasional: (a) pertemuan dengan komite sekolah, (b) rapat pengurus, (c) rapat pleno, dan (d) konsultasi dengan instansi. Program-program tersebut disusun oleh kepala sekolah. Sedangkan Wakasek Humas adalah pihak yang dipercaya sebagai penanggungjawab dan diberikan wewenang untuk melaksanakan program-program tersebut serta segala kegiatan yang berhubungan dengan pihak luar. Wakasek Humas membawahi masyarakat atau wali murid, siswa dan guru, yang terdiri dari wakil bagian kesehatan, wakil penjaga sekolah dan bagian keamanan/satpam; (2) Pemanfaatan sumber belajar di sekolah berupa pemanfaatan lingkungan untuk kepentingan KBM; (3) Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar meliputi penyelenggaraan studi pariwisata dan pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah; dan (4) Pemanfaatan sumber belajar di sekolah semuanya dapat dikelola melalui manajemen humas. Kegiatannya meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Berdasarkan kesimpulan penelitian, disarankan kepada: (1) kepala sekolah untuk menetapkan program kerja yang efektif, tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa kini dan masa yang akan datang serta dapat mengambil segala keputusan dengan tepat. Kepala sekolah juga dapat memberikan pengarahan, masukan, serta kritik yang bersifat membangun kepada para guru untuk terus meningkatkan kinerjanya terkait dengan KBM di sekolah. Salah satunya dengan mendukung, mengupayakan, dan mengembangkan pemanfaatan berbagai sumber belajar, baik yang berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah serta mengajak orangtua siswa berpartisipasi secara langsung dalam KBM di sekolah, terutama sebagai sumber belajar bagi siswa; (2) Wakasek Humas disarankan untuk memperluas saluran komunikasi dan rekan kerja melalui kerjasama dan hubungan dengan berbagai pihak di luar sekolah serta menyatukan pihak-pihak di dalam dan di luar sekolah; (3) Guru disarankan untuk lebih menggali ide, kreativitas, dan metode mengajar yang bervariasi dan konstruktif serta berbasis masyarakat. Guru dapat menggunakan berbagai sumber belajar, baik yang berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah; (4) Orangtua siswa disarankan untuk berpartisipasi secara langsung dalam KBM. Salah satunya menjadi sumber belajar bagi siswa; dan (5) Peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan objek yang sama tetapi dengan pendekatan dan subjek yang berbeda, sehingga dapat diketahui perbandingan diantara keduanya serta dapat melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya.

Keterbacaan teks bahasa Jerman dalam mata kuliah Arbeit Am Text I dan Arbeit An Text II tahun akademik 2008/2009 / Rischa Noviya Masruroh

 

Pengajaran bahasa Jerman yang ada di Indonesia, terutama di Universitas Negeri Malang menggunakan metode pengajaran komunikatif. Dalam pengajaran bahasa Jerman ada empat macam keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Empat keterampilan itu adalah mendengar (Hören), berbicara (Sprechen), membaca (Lesen), dan menulis (Schreiben). Salah satu mata kulaih yang mengajarkan keterampilan membaca adalah Arbeit am Text I dan Arbeit am Text II. Materi pembelajaran dalam Mata kuliah Arbeit am Text I dan Arbeit am Text II berupa teks-teks berbahasa Jerman. Untuk mengetahui kesesuaian teks dengan kemampuan membaca mahasiswa, dapat dilakukan dengan mengukur tingkat keterbacaan teks. Keterbacaan merupakan aspek yang sangat penting, baik bagi dosen maupun bagi mahasiswa. Bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang baik akan memengaruhi pembacanya dalam meningkatkan minat belajar dan daya ingat, menambah kecepatan dan efisiensi membaca, dan memelihara kebiasaan membacanya. Fokus pada penelitian ini adalah bagaimanakah tingkat keterbacaan teks-teks bahasa Jerman yang digunakan dalam mata kuliah Arbeit am Text I dan II. Dalam penelitian ini digunakan formula Lix (Lesbarkeitindex) yang dikembangkan oleh Björnsson (1968) karena formula ini dianggap paling valid jika digunakan untuk teks bahasa Jerman dan formula ini juga lebih cepat pemakaiannya karena tidak perlu menghitung suku kata. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa keterbacaan teks dalam mata kuliah Arbeit am Text I dan Arbeit am Text II bervariasi mulai dari sangat mudah hingga sangat sukar. Berdasarkan temuan tersebut disarankan kepada dosen untuk memanfaatkan temuan penelitian dengan menata dan memilih teks yang sesuai dengan daya serap mahasiswa. Dosen juga disarankan untuk menggunakan strategi mengajar dan belajar membaca yang tepat. Selain itu, disarankan bagi para peneliti lanjutan agar menjangkau subjek penelitian yang lebih besar dan tidak terbatas hanya pada teks-teks bahasa Jerman dalam mata kuliah Arbeit am Text, serta menggunakan alat ukur yang lebih baik.

Penyimpangan nilai edukatif dalam komik Donal Bebek / Ika Karina

 

penyimpangan nilai edukatif, komik, komik Donal Bebek. Buku bacaan anak yang baik adalah buku bacaan yang mampu menyampaikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai edukatif sehingga menjadi panutan atau pedoman bagi anak-anak. Komik merupakan salah satu bacaan anak. Salah satu komik di Indonesia adalah komik Donal Bebek atau yang biasa disebut dengan komik DB. Komik DB menceritakan kehidupan tokoh bernama Donal Bebek dan tokoh-tokoh lain di sekitar Donal Bebek. Komik DB sangat sedikit memuat nilai edukatif. Cerita dalam komik DB sangat lucu dan menghibur tetapi banyak mengandung penyimpangan terhadap nilai-nilai edukatif. Pembaca tidak menyadari adanya cukup banyak penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB, karena aspek humor yang menyimpang dari nilai edukatif dalam cerita mampu mengalahkan nilai edukatif yang seharusnya dominan lebih dimunculkan. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah bentuk-bentuk penyimpangan terhadap nilai-nilai edukatif yang dilihat dari aspek kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor dalam komik DB. Kemampuan dalam aspek kognitif meliputi, kemampuan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kemampuan dalam aspek afektif meliputi, kemampuan menerima, menanggapi, menghargai, membentuk, dan berpribadi. Sementara itu, kemampuan dalam aspek psikomotorik, meliputi, kemampuan persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian, dan kreativitas.Tujuan penelitian ini adalah memperoleh deskripsi penyimpangan nilai-nilai edukatif dalam komik DB yang dilihat dari penyimpangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata dialog, monolog, lakuan tokoh dan gambar yang disertai dengan deskripsi peristiwa yang terdapat dalam komik DB. Jumlah komik yang dijadikan sumber data adalah 22 cerita dari 26 edisi yang terbit pada rentang waktu Januari 2003 sampai tahun 2005. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai penentu dalam proses pengumpulan dan penganalisisan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi, (a) peneliti membaca secara cermat dan teliti komik DB, (b) peneliti mencari untuk menemukan bagian-bagian tertentu yang berhubungan dengan penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB, (c) peneliti mencatat paparan kebahasaan yang berhubungan dengan penyimpangan nilai edukatif, (d) peneliti mengidentifikasi penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB. Sedangkan langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini meliputi, (a) pengecekan data, pada tahap pengecekan data, data yang sesuai dengan tujuan penelitian akan dimasukkan pada tabel korpus data, (b) pengklasifikasi data, data dipilah-pilah dan diklasifikasi sesuai dengan indikator penyimpangan nilai-nilai edukatif yang terdapat pada tabel panduan pengamatan data penyimpangan nilai edukatif, (c) penganalisaan data, data yang telah terkumpul dianalisis sesuai dengan masalah yang diteliti. (d) pendeskripsi hasil analisis data, data yang telah terkumpul ditafsirkan kemudian dideskripsikan dalam bentuk paparan kebahasaan sebagai hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komik DB mengandung penyimpangan terhadap nilai-nilai edukatif yang tergambar dari dialog tokoh, lakuan tokoh dan gambar yang disertai dengan deskripsi peristiwa. Dari 22 sumber data yang diteliti, terdapat 15 sumber data yang mengandung penyimpangan nilai edukatif dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Jumlah keseluruhan penyimpangan dari 15 sumber data yang dianalisis ditemukan 20 penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB. Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam komik DB tersebut menimbulkan kelucuan yang membuat cerita komik DB menjadi lebih menarik.

Penerapan metode pembelajaran model permainan tembok kata untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar mata pelajaran IPS kajian sejarah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar tahun pelajaran 2008/2009 / Tatang Kurniawan

 

Pembelajaran sejarah di SMP masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dan tanya jawab serta pusat pembelajaraan di kelas masih dipegang oleh guru secara mutlak (teacher centered). Sejarah sebagai salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Sosial pada saat ini mendapat berbagai hambatan dalam proses pengajarannya. Hambatan dalam proses pengajaran itu berasal dari berbagai faktor antara lain guru sebagai pengajar, metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran, motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, serta sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran itu. Keadaan itu semakin diperburuk dengan rendahnya minat baca anak didik terhadap buku pelajaran. SMPN I Panggung Rejo sebagai salah satu sekolah favorit juga tidak lepas dari masalah yang cukup mendasar ini. Siswa di kelas VII D SMPN I Panggung Rejo mayoritas memiliki motivasi yang kurang dalam mengikuti pelajaran IPS khususnya Sejarah. Hal ini ditandai dengan sikap siswa yang kurang serius dalam mengikuti pelajaran IPS Sejarah seperti tidak semua siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, tidak semua siswa memperhatikan ketika guru sedang menyampaikan materi pelajaran di depan kelas, sebagian besar siswa tidak mau mendengarkan pendapat dari temannya, sebagian besar siswa ramai sendiri saat pelajaran berlangsung, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, siswa lebih suka duduk mendengarkan dan berbicara sendiri dengan temannya. Keadaan tersebut membuat siswa kurang mampu dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajarnya, terutama untuk mata pelajaran IPS Sejarah. Berdasarkan permasalahan diatas, peneliti berusaha memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo dengan menerapkan metode pembelajaran model permainan tembok kata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar Sejarah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar melalui penerapan metode pembelajaran model permainan tembok kata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar yang berjumlah 40 siswa orang siswa. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa yang diperoleh melalui observasi selama penelitian dan hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes pada akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran model permainan tembok kata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Sejarah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar. Hal ini terlihat dari peningkatan motivasi belajar siswa. Pada masa observasi, motivasi belajar siswa sebesar 48,14% yang termasuk dalam kategori kurang, meningkat menjadi 65,63% yang termasuk dalam kategori cukup pada siklus I. Kemudian pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 75,15% yang termasuk ke dalam kategori baik. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 64,2 pada masa observasi, meningkat menjadi 71,25 pada siklus I dan menjadi 80,5 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk dilakukan penelitian yang lebih lanjut, dan disarankan agar penelitian dilakukan di kelas dan pokok bahasan yang lain, serta guru disarankan lebih banyak memberikan reinforcement atau penguatan (seperti memberikan pujian atau penghargaan) kepada siswa sehingga siswa akan lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.

Improving student's comprehension in reading English narrative texts through jigsaw II strategy at SMP Negeri 5 Malang / Susilowati

 

ABSTRACT Susilowati, 2009. Improving Students’ Comprehension in Reading English Narrative Texts through Jigsaw II Strategy at SMP Negeri 5 Malang. Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Arwijati Wahyudi Murdibjono, Dipl. TESL, M.Pd, (II) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D Key Words: Comprehension, Narrative Text, Jigsaw II Strategy The study was carried out in Grade 8G of SMP Negeri 5 Malang. With regard to the teaching of reading in this grade, the teacher’s teaching strategy was focused on students’ competitiveness where the students were assisted to work individually. Only certain students who engaged to the lessons during teaching learning activities. Most of the students felt scared and did not have enough confidence to participate in the classroom. With regard to the Grade 8G students’ reading test result of narrative texts, more than half of the students got scores under the minimum passing score of SMP Negeri 5 Malang (KKM) which was 75. In relation to the problems above, this study developed Jigsaw II Strategy to help the Grade 8G students in comprehending the narrative texts. In the implementation of Jigsaw II Strategy, the students worked cooperatively in jigsaw groups as well as expert groups. The students had accessibility to the whole text, but each jigsaw student was assigned a different element of the text. The division of the element of the text was based on the generic structures of the narrative text: Orientation, Complication, and Resolution. The students taught one another in their jigsaw groups; and discussed and shared ideas or information in the expert groups. The subjects of the study were 36 students of Grade 8G. The criteria of success of the study were: (1) The students participated actively during the implementation of Jigsaw II Strategy. The minimum score of the students’ participation obtained from the observation sheet was above 60 which meant that half of the students participated in every step of Jigsaw II Strategy; (2) The students’ mean score of reading test was equal to or above 75; (3) More than 60 percent of the students got score that equals to or above 75. The design of the study was Classroom Action Research. The study was carried out in two cycles. Cycle 1 was carried out in four meetings and Cycle 2 was in three meetings. In relation to the findings of Cycle 1, the score of the students’ participation obtained from the observation sheet was 60, the students’ mean score of reading test was 68, and there were 9 students or 25% of the students got score above 75. With regard to these findings, the researcher concluded that the criteria of the study had not been achieved yet. Then, the researcher proposed the new lesson plans and carried them out in Cycle 2. The findings of Cycle 2 showed the score of the students’ participation obtained from the observation sheet was 73, the students’ mean score was 82.5, and 32 students or 89% of the students got score above 75. With regard to these findings, the researcher concluded that criteria of success defined in the study were achieved and the study was stopped. It can be stated that, the best ways to implement the Jigsaw II Strategy are as follows: (1) The teacher activates the students’ schemata about the generic structures of the narrative text; (2) The teacher explains the procedure of the Jigsaw II Strategy; (3) The teacher describes the students’ role in jigsaw group as well as expert group; (4) The teacher distributes the text and asks the students to read the whole text individually and silently; (5) The teacher asks some students to read aloud the text, discuss the difficult words as well as the content of the text; (6) The teacher distributes Discussion Schemes 1, (7) the students do Presentation 1 in their jigsaw groups; (8) The student group themselves into their expert groups; (9) The teacher distributes Discussion Schemes 2 which functions to write the expert group discussion result; (10) The students do Presentation 2 in their expert groups; (11) The teacher asks the students to regroup themselves into their jigsaw groups; (12) The students do Presentation 3 in their jigsaw groups; (13) The teacher asks the jigsaw groups to discuss the gathered information; (14) The students do Presentation 4 to the class; (15) The teacher test the students’ comprehension; and (16) The teacher determines the students’ scores. The researcher suggests that the English teachers of SMP Negeri 5 Malang use Jigsaw II Strategy as an alternative teaching strategy to help the students comprehend narrative texts. The teacher should prepare well the teaching material and media. The teacher should deliver the instructions clearly and make sure that the students understand what they have to do in every step of Jigsaw II Strategy. She also suggests that the result of the study can be used as a relevant reference concerning the implementation of Jigsaw strategy.

Penggunaan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam memecahkan soal-soal cerita pada mata pelajaran matematika kelas I SDN Nguling 01 Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Laila Triwahyuningsih

 

Belajar matematika bukan hanya berhadapan dengan teori dan konsep saja. Melainkan harus melakukan sesuatu, mengetahui dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan pembelajaran. Berdasarkan studi pendahuluan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan materi pokok soal cerita 75% nilai siswa di bawah standar ketuntasan belajar 65. Rendahnya nilai siswa disebabkan pembelajaran kurang bervariasi sehingga peneliti membuat pembelajaran supaya lebih menarik. Kondisi tersebut menyebabkan konsep yang diajarkan tidak dapat dicerna oleh siswa. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan masalah soal-soal cerita mata pelajaran matematika, maka digunakan model pembelajaran PBL. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penggunaan PBL untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan masalah soal-soal cerita mata pelajaran matematika, (2) penggunaan PBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan soal-soal cerita mata pelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I sebanyak 21 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi dan tes. Teknik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan PBL untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan masalah soal-soal cerita mata pelajaran matematika dilakukan dengan langkah-langkah: mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing pemecahan masalah, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Penggunaan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 Kecamatan Nguling. Hal ini terbukti bahwa rata-rata nilai hasil belajar siswa pada pratindakan adalah 58 (cukup) dan pada siklus I rata-rata nilai hasil belajar siswa meningkat menjadi 67,3 (baik). Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II meningkat menjadi 80,3 (baik sekali) Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: (1) kepala sekolah hendaknya meningkatkan layanan fasilitas pembelajaran di SD, (2) guru hendaknya menggunakan PBL untuk meningkatkan pemahaman konsep materi pelajaran matematika tentang soal cerita, (3) Peneliti selanjutnya dalam mengadakan penelitian hendaknya meneliti hal lain yang berkaitan dengan model pembelajaran matematika selain PBL ( Problem Based Learning). Misalnya model pembelajaran Berbasis proyek/tugas, pembelajaran berbasis kerja, pembelajaran berbasis jasa layanan.

Penerapan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VI SDN Tampung II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan / Katiyo

 

IPA merupakan mata pelajaran untuk mengembangkan pengetahuan, konsep-konsep, keterampilan dasar, terpadu , dan nilai ilmiah pada siswa serta mencintai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Penelitian ini dilatar belakangi oleh guru-guru hanya menggunakan metode ceramah, maka perlu adanya inovasi dalam pembelajaran. Melalui penerapan PKP dalam pembelajaran dapat mengajak siswa lebih aktif, terlibat langsung, dan saling kerjasama dengan temannya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1) Mendeskripsikan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA melalui PKP, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPA melalui PKP, 3) Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA melalui PKP , 4) Mendeskripsikan tanggapan guru terhadap pembelajaran IPA melalui PKP, dan 5) Mendekrisikan tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPA melalui PKP siswa kelas VI SDN Tampung II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan pada materi pokok “rangkaian listrik” Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 (dua) siklus. Rancangan penelitian melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah guru dan 24 siwa kelas VI SDN Tampung II. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan tes. Instrument yang digunakan adalah: lembar observasi Guru (APKG), postes, dan pedoman wawancara. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa: 1) Pada pembelajaran IPA siklus I dengan penerapan PKP, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajarn sesuai dengan RPP mencapai skor 84,4 dengan prosentase 84,4%, dan sikus II mencapai skor 96,87 dengan prosentase 96,87%, 2) Hasil belajar pada pra tindakan mendapat rata-rata kelas 60.42 dengan ketuntasan belajar 25% menjadi 74.16 dengan ketuntasan belajar 75% pada siklus I. Kemudian mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 82.5 dengan ketuntasan belajar siswa 87.5%, 3) Aktivitas Siswa pada siklus I 72,61, meningkat menjadi 82,08 pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian melalui model PKP adalah: guru dapat melaksanakan dengan baik, dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dapat meniningkatkan aktivitas siswa , mendapat tanggapan yang menarik (positif) dari guru, dan mendapat tanggapan yang menyenangkan \dari siswa. Penelti menyarankan kepada guru agar dapat menerapkan model embelajaranPKP pada pembelajaran IPA dengan kompetensi dasar lain ataupun mata pelajaran lainnya. Alokasi waktu perlu diperhatikan agar siswa dapat berhasil mengembangkan potensi diri dengan baik

Developing prototype of lustening materials for grade XII students of Madrasah Aliyah Negeri Jombang / Syamsul Ma'arif

 

The objective of this study was to develop a prototype of listening materials for Grade XII students in the first semester. The procedures of the study were conducting needs survey, developing materials, experts’ and teacher’s validation, revision, trying out the materials, revision, and getting the final product. The instruments in needs survey were questionnaires, an interview guide, and field notes. The result of the needs survey showed that they did not have enough practice for listening comprehension. Most of the students (97.1%) agreed that it was necessary to provide them with listening materials. Based on those findings, the listening materials were developed. There were 9 units for the proposed listening materials. Then the proposed materials were sent to the experts and the English teacher to be validated and evaluated. A validation form was used to gain the experts and teacher judgment on the materials. The experts and the teachers validated them on the basis of language, content, length, speeds of delivery, quality of the recording, and the practicality. The data from the experts and teachers were analyzed qualitatively. The experts’ and teacher’s validation showed that eight units were acceptable and applicable except unit 1. An expert and the teacher considered it too easy. Therefore, this unit then was deleted. A review unit was added as the suggestion of the teacher. The try out was conducted from March 4, 2008 to March 28, 2008. The subject was Grade XII students of Language Program at MAN Jombang. The data from the teacher and observation related to the practicality and effectiveness during try-out were presented qualitatively. The data from the students related to language, content, length, and speeds of delivery and the clarity of the recording were analyzed quantitatively using percentage. The result of the first try out showed that only one unit namely unit 5 needed revising in terms of task. The revision was done by adding written questions and task B was changed from making a summary into arranging the jumble paragraphs based on the oral information. Then, the revised units were tried out. The result of the second try out showed that the revised unit was appropriate for the students. The final product was in the form of Audio CD and Cassette, a teacher guide book, and a student workbook. The CD and Cassette contain the materials to be listened to by the students. The teacher guide contains the direction of how to teach the materials, the stages in teaching listening, the tape scripts and the answers key. The student workbook contains the tasks which have to be done by the students. For other researchers who are doing a similar study was suggested to develop listening materials for Grades X and XI. For English teachers who are going to use this product was suggested to follow the guide book and vary the expansion activities.

A proposed speaking class syllabus for the intensive English course for the first-year students at State Institute of Islamic Studies (IAIN) Antasari Banjarmasin / Raida Asfihana

 

Hasil dari survey pendahuluan yang dilakukan di institusi ini menunjukkan bahwa tidak ada silabus tertentu yang dapat dipakai untuk mengajarkan bahasa Inggris; para dosen hanya mengikuti panduan yang disajikan di buku teks, yang ruang lingkupnya adalah bahasa Inggris umum. Selanjutnya dapat dicermati bahwa panduan tersebut tidaklah memadai untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam hal konten keIslaman dan efisiensi pedagogisnya. Berangkat dari masalah diatas, muncullah suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi akan perancangan sebuah silabus untuk mahasiswa di institusi Islam ini. Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah silabus yang sesuai untuk mengajarkan keterampilan berbicara kepada mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Prosedur penelitian pengembangan dipakai di dalam penelitian ini. Model pengembangan silabusnya merupakan perpaduan dari Pengembangan Program Bahasa oleh Yalden (1987) dan tahap-tahap penelitian pengembangan oleh Borg and Gall (1983). Prosedurnya melingkupi sembilan tahap pengembangan, yaitu: (1) analisa kebutuhan, (2) perencanaan, termasuk didalamnya deskripsi tujuan pengembangan dan pemilihan tipe silabus, (3) pembuatan silabus purwa-rupa, (4) validasi ahli terhadap silabus purwa-rupa, (5) pembuatan silabus pedagogis, (6) uji coba, (7) revisi produk akhir, (8) evaluasi (validasi ahli terhadap produk akhir yang telah direvisi), dan (9) produk akhir. Produk akhir dari penelitian pengembangan ini berupa sebuah Speaking for Islamic Studies silabus untuk pengajaran bahasa Inggris, terutama keterampilan berbicara, di kelas Intensive English tahap B di IAIN Antasari Banjarmasin. Silabus komunikatif berbasis genre ini terutama berisi gambaran singkat mata kuliah, tujuan pengajaran, pemilihan topik dan sub-topik, dan sistem evaluasi. Silabus yang dirancang untuk mata kuliah ini mengacu kepada empat jenis teks (genre); antara lain penceritaan, narasi, pelaporan informasi, dan ekposisi. Karena fungsi bahasa dalam silabus ini berbasis genre, maka keterampilan yang dilatih melingkupi keterampilan dasar berbicara yang dipadukan dengan fitur-fitur gramatikal dari jenis teks tersebut, seperti bentuk waktu kini dan lampau, kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, dan kata penghubung. Lebih lanjut, mata kuliah ini juga menyajikan keterampilan berbicara dalam bertukar peran percakapan, bekerja berpasangan, penceritaan kembali, penyajian presentasi singkat, dan melakukan diskusi kelompok kecil dan diskusi panel. Silabus ini berisi empat topik utama yang kemudian di rinci lagi menjadi sepuluh sub topik yang berkaitan dengan kepercayaan dan praktik-praktik budaya Islam. Empat model rencana pengajaran, yang telah diuji-cobakan secara empiris dalam tahap uji coba, juga tersedia didalamnya. Selain itu, akan mudah bagi para pemakai silabus ini untuk membuat rencana dan materi pengajaran lainnya dikarenakan format dari rancangan silabus ini, yang telah divalidasi oleh dua orang ahli, mudah untuk ditafsirkan. Berdasarkan temuan studi ini, disarankan kepada para dosen pengajar bahasa Inggris dan peneliti lain untuk merancang silabus keterampilan berbahasa Inggris lainnya yang berkaitan dengan studi Islam dikarenakan silabus yang baru dirancang ini mungkin perlu dievaluasi dan direvisi secara kontinyu sebagai akibat dari penerapannya dalam aktivitas pengajaran di kelas. Produk dari penelitian ini juga bisa disosialisasikan melalui diskusi rutin diantara para dosen pengajar mata kuliah bahasa Inggris, seminar lokal dan internasional, pertemuan-pertemuan profesional dengan para ahli di bidang pengembangan produk dan melalui tulisan dalam jurnal. Kegiatan ini akan sangat membantu dalam usaha menjaga kualitas dari produk akhir penelitian ini. Sehingga produk akhir dari penelitian pengembangan ini akan berhasil mengakomodir kebutuhan pembelajar dalam menguasai keterampilan berbicara bahasa Inggris dalam konteks studi Islam, khususnya para mahasiswa di IAIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Analisis dekonstruksi derrida terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini / Ninik Mardiana

 

Membaca karya-karya Rusmini, akan ditemukan beragam permasalahan lokalitas Bali. Konflik dalam sistem stratifikasi sosial Bali merupakan permasalahan yang intens dihadirkan oleh Rusmini. Sistem stratifikasi sosial tersebut dikritisi sedemikian rupa melalui alur cerita yang menarik. Masalah yang dianalisis dalam penelitian ini adalah (1)bagaimanakah representasi dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini, (2) bagaimanakah makna dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi, dengan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan dekonstruksi menekankan pada jejak-jejak tanda yang terdapat dalam naskah, dan tidak menghubungkan antara sastra dan masyarakat atau latar belakang penulisnya. Sumber data penelitian adalah novel Tarian Bumi, cerpen Sagra, cerpen Pemahat Abad, cerpen Putu Menolong Tuhan. Data penelitian berupa pikiran, tindakan tokoh, dialog, monolog, narasi dan deskripsi. Data dianalisis menggunakan analisis unsur instrinsik, dengan langkah sebagai berikut; membaca retroaktif, pereduksian data, penyajian data berdasar kategori, penafsiran dekonstruksi, penyimpulan data. Simpulan-simpulan pada penelitian ini yaitu; representasi dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dapat dilihat dari (1) Pada keseluruhan karya Rusmini, masalah nama tokoh, tidak ditemukan adanya jejak dekonstruksi; (2) Satu dari empat karya Rusmini, yaitu Tarian Bumi, menampakkan jejak usaha untuk tidak menaati aturan panggilan oleh kasta sudra terhadap kasta brahmana, sesuai dengan sistem stratifikasi sosial Bali; (3) Dua dari empat karya Rusmini (Tarian Bumi dan Putu Menolong Tuhan) memaparkan dengan jelas suatu kepercayaan adanya kesialan bila lelaki sudra menikah dengan perempuan bangsawan; (4) Keempat karya Rusmini menampakkan jejak tanda bahwa nilai keprestisiusan kasta brahmana dapat bergeser oleh kekayaan dan pendidikan; (5) Idiom-idiom Bali menunjukkan trace yang mengarah pada differance. Perbedaan dan jarak antara sudra dengan brahmana dapat dirunut dari jejak-jejak idiom Bali, (7) Keberagaman intensitas kemunculan tokoh, mempunyai peran yang sama penting dalam menampakkan permasalahan sistem stratifikasi sosial Bali; (8) Kasta didapat secara turun temurun, bukan seperti yang diajarkan dalam agama Hindu dengan catur warnanya (kasta dilihat dari profesi seseorang). Makna dalam karya-karya Rusmini yaitu karya-karya Rusmini menyiratkan adanya usaha pengkritisan atas keberadaan sistem stratifikasi sosial Bali. Usaha ini akan lebih mudah dan cepat jika dilakukan oleh warga Bali yang memiliki kekuasaan, harta dan pendidikan. Dekonstruksi yang terdapat dalam karya-karya Rusmini cenderung bersifat evolutif. Hal ini dapat dilihat dari minimnya tokoh yang tidak patuh terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dibnding dengan tokoh yang patuh terhadap sistem stratifikasi sosial Bali. Proses penurunan konstruk sistem stratifikasi Bali tidak bersifat destruktif, karena konstruk lama masih berjalan dan berdiri.

Manifestasi tindak tutur pembelajaran among dalam wacana kelas / Heri Suwignyo

 

Dalam praktik atau pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia saat ini, sis-tem among diakui keberadaan dan kontinuitasnya. Pencantuman semboyan Tut Wuri Handayani dalam logo Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) adalah bentuk formal pengakuan pemerintah terhadap sistem among, yakni Tut Wuri Handayani sebagai ‘ideologi’ dalam pendidikan nasional (Djojonegoro, l996:41-43). Makna ideologi terentang dari ujung yang paling netral, sampai kepada konsep-konsep yang memihak. Konsep ideologi dalam konteks ini relevan dengan konsep yang netral, yakni sebagai sistem ide atau pandangan dunia atau word view, atau pelembagaan gagasan yang diartikulasikan oleh komunitas tertentu (Wareing, l999; Beard, 2000)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli hidangan di rumah makan Padang Arau Indah Malang / Lellya Iriana Nur Makhmuda

 

Perkembangan dan kemajuan perekonomian saat ini memunculkan persaingan di dalam dunia usaha. Pengusaha di tuntut agar usahanya dapat bersaing dan mampu bertahan hidup dipasaran khususnya tentang kuliner, yaitu hasil olahan setiap daerah yang berupa masakan. Masakan tersebut berupa makanan, jajanan dan minuman. Mengingat meningkatnya aktivitas masyarakat di luar rumah serta berbagai hal yang mengakibatkan keadaan tertentu yang menambah alasan untuk makan di luar, maka rumah makan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan makan dan minum, dan menentukan pilihan hidangan apa saja yang diinginkan tanpa perlu susah payah memasak sendiri. Perilaku konsumen adalah suatu sikap pembeli yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis. Penelitian ini bertujuan:(1)untuk mendeskripsikan pengaruh variabel budaya terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah (2)untuk mendeskripsikan pengaruh variabel sosial terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah (3)untuk mendeskripsikan pengaruh variabel pribadi terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah (4) untuk mendeskripsikan pengaruh variabel psikologis terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah dan (5)untuk mengetahui variabel manakah yang dominan mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian di Rumah Makan Padang Arau Indah Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda. Data yang dikumpul adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode kuesioner, dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang signifikan variabel budaya, variabel sosial, variabel pribadi dan variabel psikologis baik secara simultan dan parsial (2) variabel psikologis mempunyai pengaruh yang paling dominan dalam konsumen melakukan keputusan pembelian. Berdasarkan hasil dari penelitian ini disarankan kepada rumah makan padang Arau Indah untuk: (1) tetap mempertahankan kualitas masakan, menambah sasaran penjualan untuk paket ulang tahun, pernikahan, catering dan melakukan promosi (2) menghimpun saran dan kritik yang bersifat membangun dari konsumen. Bagi peneliti yang lebih lanjut diharapkan dapat menambah objek penelitian lebih banyak lagi, sehingga kesimpulan yang ditarik dari penelitian yang akan datang jauh akan lebih sempurna.

Daya antimikroba ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah dan varietas emprit terhadap kapang Penicillium citrinum Thom. / M. Ainur Yaqin

 

ABSTRAK Yaqin, M. Ainur. 2009. Daya Antimikroba Ekstrak Rimpang Jahe (Zingiber officinale Rosc) Varietas Merah dan Varietas Emprit terhadap Kapang Penicillium citrinum Thom. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si. Kata kunci: Ekstrak, rimpang jahe, daya antimikroba, Penicillium citrinum Thom. Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam family Zingiberaceae. Tumbuhan ini terbagi menjadi 3 varietas, yaitu varietas me- rah, varietas emprit, dan varietas gajah. Jahe varietas merah dan varietas emprit merupakan varietas rimpang jahe yang paling banyak digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai bumbu masak maupun penyedap pada makanan dan minuman. Rimpang jahe mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan fenol (diantaranya adalah gingerol, shogaol, dan zingeron) yang bersifat antimikroba termasuk kapang. Kapang Penicillium citrinum Thom adalah salah satu spesies kapang kontaminan pada biji-bijian seperti beras, jagung, gandum, barley, rey, dan oat (Makfoeld, 1993). Kapang ini mampu menghasilkan mikotoksin yaitu citrinin. Apabila bahan makanan yang terkontaminasi mikotoksin citrinin ini di-konsumsi oleh manusia, maka akan membahayakan kesehatan karena bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui pengaruh perbedaan varietas rimpang jahe (merah dan emprit) terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (2) untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah terhadap pengham-batan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (3) untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas emprit terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (4) untuk mengetahui konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Peni-cillium citrinum Thom, (5) untuk mengetahui konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas emprit yang paling efektif menghambat pertum-buhan kapang Penicillium citrinum Thom. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang mulai bulan November 2008 sampai dengan Februari 2009. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan mengguna-kan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel bebas yang digunakan yaitu: (1) varietas rimpang jahe, meliputi varietas merah dan varietas emprit, (2) konsen-trasi ekstrak rimpang jahe, meliputi 0%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, dan 10%. Eks-trak rimpang jahe diperoleh melalui maserasi dengan pelarut alkohol 95% selama 1x24 jam. Ekstrak yang diperoleh kemudian disaring steril menggunakan cellulose nitrate membrane filter dengan diameter pori 0,45 µm yang dipasang pada vacuum flask. Pengujian ekstrak rimpang jahe terhadap kapang Penicillium citrinum Thom dilakukan dengan mencampur ekstrak rimpang jahe dalam berbagai konsentrasi tersebut dengan medium Czapek Agar, kemudian diinokulasikan koloni kapang Penicillium citrinum Thom yang telah dicetak dengan menggunakan bor gabus steril yang berdiameter 6 mm secara aseptik. Perlakuan dalam penelitian ini dilakukan sebanyak 6 kali ulangan. Data diperoleh dengan cara mengukur diameter koloni kapang Penicillium citrinum Thom pada medium Czapek Agar setelah diinkubasi pada suhu 25oC-27oC selama 7x24 jam. Data dianalisis menggunakan analisis varian ganda kemudian dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf signifikansi 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh perbedaan varietas rimpang jahe (varietas merah dan varietas emprit) terhadap penghambatan pertum-buhan kapang Penicillium citrinum Thom. Ekstrak rimpang jahe varietas merah lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom dibandingkan dengan ekstrak rimpang jahe varietas emprit, (2) ada pengaruh per-bedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (3) ada pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas emprit terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (4) konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom ialah konsentrasi 10%, (5) konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber offi-cinale Rosc) varietas emprit yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom ialah konsentrasi 10%.

Pemanfaatan media pembelajaran benda kongkrit untuk meningkatkan hasil belajar IPA tentang pesawat sederhana di kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Susmiati

 

Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih dan menetapkan berbagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa. Hasil observasi awal diketahui bahwa pembelajaran IPA siswa kelas V di SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan belum menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, sehingga sebagian besar siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan belajar individu yang ditetapkanyaitu skor 70. Hasil belajar yang diperoleh pada mata pelajaran IPA semester I tahun ajaran 2008/2009 rata-rata kelasnya hanya 6,2. Berdasarkan hal itu maka media pembelajaran benda kongrit dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran, karena siswa dapat melihat dan mencoba secara langsung media pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran dapat menyenangkan dan meningkatkan aktivitas siswa. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: (1) Untuk mendiskripsikan pemanfaatan media pembelajaran benda kongkrit dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. (2) Untuk mendiskripsikan dampak pemanfaatan media benda kongkrit dalam pembelajaran IPA terhadap aktivitas belajar siswa kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), siklus tindakan ini dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan belajar individu dengan skor 70. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V sebanyak 18 siswa di SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Sedangkan instrument penelitian yang digunakan berupa panduan observasi mengenai : aktivitas siswa dalam pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran benda kongrit, kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, dan soal-soal tes untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan memanfaatkan media pembelajaran benda kongrit. Dari hasil analisis data pada siklus I dan siklus II dalam pembelajaran IPA dengan memanfaatkan media pembelajaran benda kongkrit menunjukkan bahwa : (1) Aktivitas siswa dalam pembelajaran hanya sebagian kecil siswa yaitu 3 siswa(16,6%) yang yang belum mendapatkan kriteria baik dan pada siklus II mengalami peningkatan sebanyak 18 siswa (99,9%) siswa sudah mendapatkan kriteria baik. (2) Kemampuan guru dalam proses pembelajaran pada siklus I mendapatkan kriteria cukup (57,6%) dengan kategori C dan mengalami peningkatan pada siklus II dengan mendapatkan kriteria baik (80,7%) dengan kategori baik. (3). Pemanfaatan media benda kongrit dalam pembelajaran pada siklus I hanya mencapai 71,4% dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 100%. (4) Hasil belajar pada pra tindakan dengan rata-rata kelas 57,22 tergolong rendah mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas 66,6 dan mengalami peningkatan lagi pada siklus II dengan rata-rata kelas 77,77, meskipun ada 2 siswa yang belum dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar individu dengan skor 70 yang disebabkan oleh beberapa faktor. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : (1) pemanfaatan media benda kongrit juga telah berhasil meningkatkan perolehan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti sebanyak 16 siswa telah mencapai kriteria ketuntasan belajar yang diharapkan yaitu skor 70, sementara ada 2 siswa yang belum bisa mencapai kriteria ketuntasan belajar disebabkan beberapa faktor. (2) Dampak pembelajaran dengan memanfaatkan media benda kongrit pada siswa kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan telah berdampak positif terhadap aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Hal ini terbukti semua siswa(99,9%) telah mencapai kriteria yang diharapkan. Selanjutnya peneliti menyarankan untuk para guru agar dapat memanfaatkan media pembelajaran benda kongrit yang ada disekitar siswa dan menyesuikannya pada setiap proses pembelajaran, sehingga hasil belajar diharapkan akan lebih baik. Sekolah diharapkan dapat menyediakan media pembelajaran yang dibutuhkan agar pembelajaran berlangsung menyenangkan bagi siswa. Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada para guru untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep mol pada siswa SMA Negeri I Malang / Fasril Vaudhi

 

Kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, konsep mol. Salah satu materi kimia yang memiliki konsep abstrak dan berjenjang adalah stoikiometri, yang di dalamnya mencakup konsep mol. Konsep abstrak pada konsep mol ditunjukkan oleh definisi mol sebagai satuan partikel.Konsep mol juga dibangun dari konsep-konsep yang saling berkaitan seperti massa atom relatif, massa molekul relatif, massa molar maupun massa zat. Konsep abstrak cenderung hanya dapat dipahami oleh siswa SMA yang telah mengembangkan kemampuan berfikir formal. Tidak semua siswa SMA yang seharusnya sudah mempunyai kemampuan berfikir formal, berada pada tingkat operasi formal.Hal ini membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep mol yang diperoleh sehingga menjadi konsep sukar bagi siswa. Konsep sukar ini bila terjadi terus menerus akan memungkinkan siswa mengalami kesalahan konsep.Penelitian yang dilaksanakan pada kelas X, XI, XII di SMAN I Malang mengenai konsep mol, bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi konsep sukar; (2) mengidentifikasi dan menghitung persentase kesalahan konsep siswa pada masing-masing kelas. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah siswa SMAN I Malang tahun pelajaran 2008/2009 yaitu 81 siswa kelas X,72 siswa kelas XI, dan 80 siswa kelas XII. Instrumen penelitian dengan menggunakan tes tertulis dan wawancara. Tes tertulis berupa 23 soal obyektif dengan 4 alternatif jawaban, yang diperkuat dengan alasan pemilihan jawaban. Validitas soal berdasarkan validitas isi yang kemudian dipakai untuk verifikasi butir soal. Reliabilitas soal sebesar 0,64.Wawancara dipakai sebagai triangulasi data.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yang digunakan untuk mengidentifikasi konsep sukar dan jenis-jenis kesalahan konsep siswa beserta persentase kesalahan konsep tersebut di kelas X, XI dan XII. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) identifikasi konsep sukar yang dimiliki siswa kelas X, XI dan XII adalah: (a) massa molar senyawa garam di kelas X, XI dan XII; (b) massa atom relatif (mencari massa 1 atom unsur) di kelas XII; (c)massa molekul relatif (mencari massa 1 molekul) di kelas XI; (d)partikel penyusun unsur logam (alumunium) di kelas X dan XII; (e)partikel penyusun senyawa yang terbentuk dari logam-nonlogam (BaH2) di kelas XI; (f) Partikel penyusun senyawa yang terbentuk dari nonlogam-nonlogam (CCl4) di kelas X dan XI; (g) hubungan partikel, mol dan massa di kelas X, XI dan XII; (h) hubungan partikel, mol, massa dan massa molar di kelas X dan XI. 2) Kesalahan konsep yang berhasil diidentifikasi sekaligus persentase kesalahan konsepnya adalah: (a) Partikel senyawa BaH2 dan SO3, berturut-turut dibentuk oleh atom Ba dan molekul H2, atom S dan molekul O2, dimiliki 8,64% siswa kelas X; 12,5% siswa kelas XI dan 2,5% siswa kelas XII; (b) partikel senyawa molekul ii (SO3 dan CCl4) adalah ion, dimiliki 9,88% siswa kelas X dan 2,5% siswa kelas XII; (c) satuan massa molar dianggap sama dengan massa zat (g), hanya terjadi pada siswa kelas X sebanyak 1,23%; (d) massa molar garam ditulis tanpa satuansama dengan massa molekul relatif (Mr) garam, terjadi pada siswa kelas XI (4,17%) dan siswa kelas XII (5%); (e) hanya siswa kelas X yang menafsirkan unsur merupakan salah satu jenis partikel, dengan persentase sebanyak 1,23%; (f) partikel untuk senyawa yang tersusun atas logam-nonlogam, seperti BaI2 dan CaCl2, berupa molekul dimiliki 6,17% siswa kelas X; 4,17% siswa kelas XI; dan 1,25% siswa kelas XII; (g) salah menafsirkan angka indeks pada rumus molekul unsur atau senyawa terdapat pada siswa kelas X (2,46%) dan siswa kelas XI (2,78%); (h) salah memahami massa rata-rata 1 atom suatu unsur atau massa ratarata 1 molekul suatu senyawa dialami oleh 20,99% siswa kelas X; 37,5% siswa kelas XI; dan 22,5% siswa kelas XII; (i) jenis partikel dari unsur diatomik (N2, Br2, H2 dan I2) dan unsur poliatomik (fosfor dan belerang) berupa atom, dialami oleh 1,39% siswa kelas XI dan 3,75% siswa kelas XII.

Pengaruh pembelajaran praktikum dengan menggunakan CD interaktif terhadap kompetensi sistem pengapian pada siswa kelas III Mekanik Otomotif SMK YP 17-1 Kota Malang / Eddy Sudarwanto

 

Abstrak Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak besar terhadap bidang pendidikan. Salah satunya adalah tersedianya pembelajaran yang menggunakan Compact Disc (CD) interaktif yang terdiri dari atas tayangan teks informasi, animasi, gambar, dan soal-soal latihan untuk mencari dan menganalisa kerusakan dan perbaikan sistem pengapian pada dunia otomotif. CD pembelajaran sistem pengapian ini dapat dimiliki oleh semua siswa dikarenakan harga keping CD murah dan praktis, dan sangat bermanfaat untuk mengikuti perkembangan dan menambah ilmu khususnya sistem pengapian konvensional sampai ke sistem pengapian elektronik. Penelitian mengenai pembelajaran yang menggunakan media CD interaktif sistem pengapian ini, antara lain bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media CD interaktif dalam pembelajaran praktikum sistem pengapian. Penggunaan CD interaktif pengapian merupakan salah satu prasarana bagi terjadinya interaksi belajar mengajar yang baik dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model eksperimental, subyek penelitian ini adalah siswa SMK YP 17-1 Malang. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas III Mekanik Otomotif dengan jumlah 30 siswa, kelas eksperimen dan 30 siswa kelas kontrol, variabel bebas yang digunakan adalah pembelajaran dengan menggunakan CD interaktif. Variabel terikatnya adalah hasil praktikum kompetensi sistem pengapian. Instrumen penelitian terdiri atas tes kemampuan pengetahuan dan tes praktek kompetensi sistem pengapian, tes kemampuan pengetahuan jumlahnya ada 40 butir dinyatakan valid dan 5 butir soal praktek kompetensi sistem pengapian juga dinyatakan valid. Sebelumnya dilakukan uji coba instrumen penelitian yaitu validitas dan reliabilitas instrumen, untuk validitas menggunakan korelasi product moment sebesar 0,40 untuk taraf signifikansi 0,05 (5%) dengan menyertakan sampel yang diujicobakan apabila rhitung > rtabel maka soal yang ditanyakan valid, diambil nilai r > 0,4 ke atas dinyatakan signifikan. Untuk reliabilitas menggunakan Kuder_Richardson (KR-20). Reliabilitas soal dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbach's Alpha > dari 0,60. Selanjutnya juga dilakukan pengujian persyaratan analisis, yang meliputi uji normalitas yang menggunakan uji Kolmogorof-Smirnof test, jika nilai Dhitung < dari Dtabel maka data dianggap normal. Selain itu juga dapat dinyatakan bahwa koefisien signifkansi (Asymp. Sig) dan alpha 5% data dianggap normal. Selanjutnya uji homogenitas, digunakan Leavene Statistic jika nilai Fleavene statistic > alpha 5% maka data dianggap bervarian homogen. Analisis data yang terakhir dalam penelitian ini menggunakan uji-t, kesemuanya pengujian tersebut menggunakan program SPSS 12 for windows. Berdasarkan kesimpulan analisa data yang telah dilakukan diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) ada pengaruh yang signifikan penggunaan CD interaktif terhadap pengetahuan siswa tentang sistem pengapian pada kelas III program keahlian mekanik otomotif (2) ada pengaruh yang signifikan penggunaan CD interaktif terhadap kompetensi siswa tentang sistem pengapian pada kelas III program keahlian mekanik otomotif. Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian ini dapat disarankan sebagai berikut: (1) guru harus meningkatkan pemahaman pengetahuan siswa, dengan menerapkan pembelajaran CD interaktif, (2) siswa diwajibkan untuk memiliki media CD interaktif karena harganya murah dan praktis (3) hendaknya sarana praktek di workshop/bengkel dilengkapi, yang mengikuti perkembangan teknologi sehingga siswa lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan, (4) perlu diadakan penelitian lanjutan untuk kompetensi yang berbeda dalam perbandingan yang sama, atau metode lain pada kompetensi yang lain.

Studi tentang pembelajaran tari topeng di sanggar tari Setyotomo Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang / Ika Wahyu Widyawati

 

Seni tari bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pembelajaran seni tari tidak hanya didapat dari sekolah formal saja, namun pembelajaran seni tari bisa diperoleh dari sanggar-sanggar. Salah satunya yang terdapat di SANGGAR SETYOTOMO Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang yang membidangi Tari Tradisisonal khususnya Tari Topeng. Penelitian ini dilatar-belakangi oleh adanya anggota sanggar yang tiap tahun cenderung tidak bertambah. Selain itu, para anggota/siswa sanggar suka tidak teratur mengikuti pelatihan, sehingga siswa yang dinilai mampu meneruskan bakat pelatihnya selalu tidak bertambah dan bahkan menghilang. Jika mereka sudah merasa bisa menari, seringkali malas dan lebih suka mengikuti kegiatan lain atau meninggalkan latihan di sanggar. Sehingga pengetahuan mereka tidak bertambah dan cenderung pasif. Kondisi lainnya yaitu sanggar yang sangat sederhana dan belum tertata dengan baik mengakibatkan masyarakat sekitar kurang merespon dengan baik adanya sanggar tersebut. Terlihat dengan semakin berkurangnya minat masyarakat sekitar ikut berpartisipasi dalam mengembangkan seni tari topeng atau kerajinan topeng itu sendiri. Setiap kali ada kegiatan sanggar hanya orang tertentu saja yang berkreasi dan melanjutkan kesenian ini. Masyarakat menilai keluaran dari sanggar Setyotomo kurang baik dan tidak dapat menghasilakn calon seniman yang berkualitas baik. Kendala finacial juga ikut menjadi salah satu faktor penghambat tidak berkembangnya sanggar tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi fisik sanggar Setyotomo, untuk mengetahui pembelajaran seni tari Topeng, dan untuk mengetahui apresiasi mayarakat sekitar terhadap sanggar Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Penggunaan metode kualitatif dalam penulisan ini dikarenakan peneliti disini langsung terjun ke lapangan dengan mengamati sistem pengajaran seni taridi sanggar. Selain itu peneliti juga melakukan observasi pada saat proses pembelajaran tari,menganalisis data hasil wawancara observasi, serta melaporkan hasil penelitian. Peneliti berperan langsung dengan mengikuti kegiatan kesenian di Sanggar Tari Setyotomo Tumpang. Proses pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam baik formal maupun informal. Pelaksanaan wawancara formal diperoleh bertatap muka secara fisik dan bertanya jawab dengan pengajar tari. Sedangkan wawancara informal atau pengkajian pustaka diperoleh dari buku-buku yang berhubungan dengan seni tari terutama sistem pengajaran seni tari. Dalam pengumpulan data ini peneliti menggunakan alat tulis sebagai instrumen penelitian. Pendokumentasian lingkungan serta proses belajar mengajar di sanggar juga dilakukan untuk mendapatkan data yang nyata atau real. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa (a) kondisi fisik sanggar sangat sederhana dan masih membutuhkan perbaikan yang mendalam, (b) di SANGGAR TARI SETYOTOMO menggunakan model pembelajaran Aprentisip dan terdapat tahapan dalam proses pembelajaran,metode yang digunakan adalah demonstrasi dan latihan.Mencontoh adalah cara yang digunakan pelatih dalam proses pembelajaran,dan (c) respon masyarakat sekitar terhadap adanya sanggar ini kurang begitu tertarik, ini dikarenakan kondisi sanggar masih sederhana dan masih memerlukan pembenahan. Banyak sekali alasan kenapa masyarakat sekitar kurang tertarik dengan sanggar diantaranya, malas mengikuti pelatihan tari karena lebih suka pada kegiatan lainnya seperti, bermain, nonton TV, dan lain sebagainya; keterbatasan waktu, sibuk untuk bekerja setiap hari, terbentur dengan kegiatan keagamaan yang mereka ikuti, mereka merasa tidak berbakat dalam bidang tari Topeng, bangunan sanggar dinilai kurang bagus/masih sederhana, dan pelatihan tari Topeng kurang menarik untuk diikuti. Menurut pendapat peneliti, pelaksanaan pembelajaran di Sanggar Setyotomo masih tradisional dan masih dalam proses perkembangan. Selain hal itu, untuk peningkatan kualitas secara keseluruhan perlu adanya pembenahan–pembenahan antara lain, peningkatan mutu sumber daya manusia, baik guru maupun siswa, dengan cara menambah pelatih dari luar yang lebih berkualitas, serta mendisiplinkan siswa dalam kegiatan pelatihan; perbaikan metode pengajaran dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan masa mendatang, pengoptimalan pengajaran oleh guru terhadap siswa dengan cara pengelolaan kelas yang baik dan penerapan strategi pengajaran yang sesuai, perbaikan sarana dan prasarana secara menyeluruh agar dalam proses pembelajaran bisa didukung dan berlangsung dengan maksimal, serta peningkatan kerjasama dengan instansi terkait atau lembaga kesenian.

Penggunaan media word square dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai upaya peningkatan kemampuan kosakata siswa kelas XI SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember / Devi Suryaning Farida

 

Salah satu cara untuk memotivasi siswa agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik adalah dengan melakukan variasi pembelajaran. Variasi ini bisa dilakukan dari segi materi, metode/teknik, dan media. Salah satu bentuk media yang dapat memotivasi siswa adalah media word square. Pembelajaran bahasa Arab di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember terkesan monoton. Hal itu disebabkan kurang bervariasinya metode pembelajaran dan minimnya penggunaan media dalam proses pembelajaran. Media word square sebagai salah satu media pembelajaran bahasa Arab dapat dijadikan salah satu alternatif yang dapat digunakan, karena dengan word square siswa lebih mudah menghafal serta menangkap makna mufradat baru. Dengan begitu dapat meningkatkan kosakata bahasa Arab siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kegiatan pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan word square untuk meningkatkan kemampuan kosakata siswa kelas XI di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember (2) proses peningkatan kemampuan kosakata bahasa Arab siswa kelas kelas XI di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember dengan menggunakan word square sebagai media pengajaran bahasa Arab Rancangan penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) tes, (2) wawancara, dan (3) observasi. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan dimulai sejak pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa melalui trianggulasi, yaitu membandingkan antara hasil tes, wawancara, dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar diawali dengan penyiapan RPP, materi, media word square. KBM dengan media word square diadakan 4 kali pertemuan, kemudian pelaksanaanya disesuaikan dengan RPP yang telah dibuat. Pemerolehan kosakata siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan word square mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa word square dalam pengajaran bahasa Arab dapat meningkatkan pemerolehan kosakata siswa. Disarankan bagi pengajar bahasa Arab di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember untuk lebih memvariasikan media pembelajaran bahasa Arab. Selain itu disarankan pula bagi kepala di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember untuk menyediakan media-media pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak didik seperti media word square karena telah terbukti dapat meningkatkan kosakata siswa

Penerapan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) untuk meningkatkan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V Kabupaten Pasuruan / Lina Hidayatul Ilmiyah

 

Pembelajaran yang konvensional dengan metode ceramah yang mendominasi pembelajaran saat ini sudah mulai beralih pada pembelajaran yang inovatif berpusat pada siswa. Salah satunya adalah penerapan pembelajaran kontekstual yaitu konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya untuk menghidupkan kelas secara maksimal agar siswa memperoleh pengalaman belajar dengan menemukan serta membangun suatu konsep dengan mengalami sendiri. Tujuan penelitian adalah untuk (1)mendeskripsikan jika CTL diterapkan dalam penguasaan konsep Pembagian siswa kelas II SDN Puspo V, (2)mendeskripsikan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V sebelum digunakan CTL, (3)mendeskripsikan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V setelah digunakan CTL, (4)mendeskripsikan peningkatan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V setelah diterapkannya CTL. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri atas empat tahap yaitu (1)perencanaan, (2)tindakan, (3)observasi, dan (4)refleksi. Hasil penelitian pada siklus I berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dengan ketuntasan individu 60% dari 18 siswa dikategorikan tuntas. Sedangkan untuk ketuntasan kelas 70% sudah tercapai dengan nilai rata-rata kelas 83,5 nilai tertinggi 94 dan nilai terendah 71 siklus I sudah tuntas. Siklus II sebagai siklus konfirmasi tujuannya untuk memantapkan apakah ketuntasan siklus I hanya kebetulan saja atau ada faktor yang lain, dari 18 siswa dengan ketuntasan individu 70%, 16 siswa dikategorikan tuntas dan 2 siswa dikategorikan tidak tuntas, ketuntasan kelas 80% sudah tercapai dengan nilai rata-rata kelas 81,8, nilai tertinggi 91, dan nilai terendah 63 siklus II dikategorikan tuntas. Kesimpulan (1)pembelajaran konvensional dengan metode ceramah dalam pembelajaran tentang penguasaan konsep pembagian belum memperoleh hasil yang maksimal dari 18 siswa dan ketuntasan individu 60%, 6 siswa dikategorikan tuntas, 12 siswa dikategorikan belum tuntas, sedangkan untuk ketuntasan kelas 70% dengan nilai rata-rata 58,1, nilai tertinggi 81, dan nilai terendah 41, (2)penerapan pembelajaran kontekstual menjadikan siswa aktif dan siswa memperoleh pengalaman belajar dengan mengalami sendiri, (3)penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V. Dengan demikian penerapan pembelajaran kontekstual bisa diterapkan oleh guru dalam pembelajaran matematika pada materi pembagian.

Pembelajaran bangun ruang secara konstruktivitis dengan menggunakan alat peraga di kelas V SD Negeri 10 watampone / oleh Latri

 

Antusiasme anak jalanan pada pembinaan lembaga pemberdayaan anak jalanan Griya Baca di alun-alun Kota Malang (fenomena antusiasme anak jalanan) / Nur Ida

 

ABSTRAK Nur Ida. 2009. Antusiasme Anak Jalanan pada Pembinaan Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca di Alun-alun Kota Malang (Fenomena Antusiasme Anak Jalanan). Tesis, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed., (II) Dr. Supriyono, M.Pd. Kata Kunci: Anak Jalanan, Pendidikan Non Formal. Pembinaan melalui program pendidikan non formal bagi anak jalanan diselenggarakan oleh Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca di Alun-alun Kota Malang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena yang menggambarkan tentang antusiasme anak jalanan dalam mengikuti program pendidikan non formal dan keterampilan yang ada di lokasi penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) memperoleh gambaran mengenai kegiatan pembinaan melalui Griya Baca yang ada di lokasi penelitian, 2) mengetahui alasan-alasan yang melatar belakangi antusiasme anak jalanan terhadap pembinaan Griya Baca, dan 3) mengetahui prosedur pengelolaan kelompok belajar pada Griya Baca. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dengan desain fenomena. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu; 1) wawancara mendalam, 2) observasi, dan 3) studi dokumentasi. sumber data pendukung adalah pimpinan, ibu asuh dan pengajar pendidikan dan keterampilan. Analisis data dilakukan melakukan tiga alur kegiatan analisis yang memungkinkan data menjadi bermakna yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa 1) kegiatan pembinaan anak jalanan adalah pembinaan rutin (bimbingan belajar), gebyar musik anak jalanan, dunia kreasi anak jalanan dan outbond anak jalanan. 2) alasan anak jalanan mengikuti kegiatan adalah: a) adanya rasa kasih sayang, yang penuh perhatian dengan kelembutan para pengajar dan pembina terhadap anak jalanan (WB) b) lingkungan yang lebih nyaman, c) kondisi belajarnya rilex, terkesan tidak dipaksakan, 3) prosedur pengelolaan yang meliputi ketenagaan organisasi dengan beberapa komponen yaitu; pencatatan, penjadwalan, pembiayaan dan evaluasi program. Berdasarkan temuan penelitian, disampaikan beberapa saran sebagai berikut: 1) jenis kegiatan yang diterapkan oleh Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca perlu dikembangkan keterampilan yang lebih beragam, sehingga bekal dikehidupan kelak lebih banyak, agar anak jalanan lebih kreatif dan kritis, dan melakukan pemantauan pembelajaran agar pelajaran yang diberikan tidak berulang dan dapat berkembang 2) antusiasme dan keikutsertaan anak jalanan dalam mengikuti pembinaan pada Griya Baca, para pengajar atau pembina agar tidak berlebihan memberikan kasih sayang yang tidak terkesan manja, sehingga mereka lebih dewasa dan cepat mandiri, serta dikembangkan suasana belajar yang dapat meningkatkan rasa nyaman, lebih kondusif, misalnya sarana belajar menggunakan meja belajar, papan tulis (white board), dan masing-masing kelompok belajar tempatnya agak terpisah sehingga warga belajar tidak saling terganggu, 3) prosedur pengelolaan dari pengorganisasian perlu adanya penyiapan regenerasi pengurus utuk lebih fokus pada pembinaan serta pengelolaan anak jalanan Griya Baca sehingga, pengurus yang berstatus mahasiswa semester akhir tidak terganggu kuliah mereka, segi pencatatan atau administrasi harus lebih rapih punya buku induk alumni untuk mengetahui kondisi warga belajar (anak jalanan) yang masih aktif dan tidak aktif, dan pembiayaan harus mempunyai sponsor, serta daftar donator agar dapat membantu segala keperluan serta kebutuhan-kebutuhan pada Griya Baca.

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah, sumber belajar, dan minat baca terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar / Nurma Hayati

 

ABSTRAK Hayati, Nurma. 2009. Pengaruh Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah, Sumber Belajar, dan Minat Baca Terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Diklat Siklus Akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Sriyani Mentari, S.Pd., M.M. Kata Kunci : Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah, Sumber Belajar, Minat Baca, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Belajar mengajar sebagai suatu proses yang tidak lepas dari komponen lainnya yang saling interaksi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah fasilitas belajar. Fasilitas Belajar yang disediakan di sekolah antara lain perpustakaan dan penggunaan fasilitas internet. Perpustakaan sebagai salah satu fasilitas yang diberikan sekolah untuk para siswa telah menjadi bagian yang sangat penting untuk menumbuhkan minat baca pada diri siswa. minat membaca merupakan suatu keinginan dan kesiapan siswa atau seseorang untuk membaca buku di manapun berada guna memenuhi keingin tahuannya terhadap ilmu pengetahuan. Internet juga merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki sekolah, melalui internet siswa dapat memperoleh berbagai macam informasi yang sesuai dengan kebutuhan terutama kebutuhan akan pelajaran. Penggunaan fasilitas dan minat baca tersebut akan memberikan satu dampak bagi tumbuhnya motivasi siswa untuk lebih giat belajar dan menjadikan siswa untuk lebih berprestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh langsung secara parsial pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap motivasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar, (2) pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar, (3) pengaruh langsung secara parsial pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar, dan (4) pengaruh tidak langsung secara parsial pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi (explanatory research) yaitu penelitian yang dilakukan untuk menguji hubungan antar variabel yang dihipotesiskan, yaitu antara variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap motivasi belajar siswa SMKN 2 Blitar yang dilakukan telah diperoleh hasil untuk masing-masing variabel yang pertama untuk pemanfaatan perpustakaan sekolah didaptkan thitung sebesar 2,331, pemanfaatan sumber belajar berupa internet didperoleh nilai thitung sebesar 2,165, dan untuk minat baca diperoleh nilai thitung sebesar 3,935 ;(2) pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa di SMKN 2 Blitar diperoleh hasil Fhitung sebesar 70,217 ;(3) pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar siswa di SMKN 2 Blitar juga dilakukan secara parsial dengan hasil untuk variabel pemanfaatan perpustakaan mendapatkan nilai thitung sebesar 0,450, untuk variabel pemanfaatan sumber belajar berupa internet diperoleh nilai thitung sebesar 1,933, minat baca diperoleh nilai thitung sebesar 1,849; dan yang terakhir (4) pengaruh tidak langsung pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa di SMKN 2 Blitar memperoleh hasil sebesar untuk variabel pemanfaatan perpustakaan sekolah (X1) sebesar 0,206 ; pemanfaatan sumber belajar berupa internet (X2) sebesar 0,201 ; minat baca (X3) sebesar 0,333. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah: Bagi pihak sekolah antara lain (1) kepala sekolah dan guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk selalu mempergunakan fasilitas sekolah dan memberikan kenyamanan pada fasilitas-fasilitas sekolah sehingga siswa merasa betah menggunakannya, (2) bagi siswa hendaknya untuk lebih meningkatkan pemanfaatan fasilitas sekolah yang ada, karena dengan memanfaatkan fasilitas yang ada akan memberikan dampak motivasi yang besar untuk belajar sehingga prestasi belajar akan menjadi meningkat, dan (3) bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan menggunakan populasi dan sampel yang lebih luas agar ruang lingkup hasil penelitian lebih menyeluruh.

Meningkatkan ketrampilan menyusun pertanyaan dan prestasi belajar biologi melalui strategi pembelajaran kooperatif tipe problem posing siswa kelas VIII D SMPN 2 Malang / Akhmad Fadil

 

Melalui kegiatan observasi yang dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2009, diketahui pembelajaran di SMPN 2 Malang menggunakan metode ceramah yang diselingi tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas tanpa adanya kontrol akan tugas tersebut sehingga pembelajaran cenderung berpusat pada guru. Pembelajaran yang demikian menyebabkan siswa kurang termotivasi dalam belajar, indikator motivasi yang rendah yaitu: (1) Attention ditunjukkan dengan kurangnya persiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, (2) Relevance ditunjukkan dengan kondisi siswa yang tidak memperhatikan ketika guru sedang menerangkan pelajaran, (3) Confidence ditunjukkan dengan beberapa siswa yang merasa malu untuk bertanya dan hanya sebagian siswa saja yang aktif ketika kegiatan diskusi berlangsung, serta (4) Saitisfaction ditunjukkan dengan sikap guru yang kurang memberikan penguatan pada siswa yang mau menjawab pertanyaan sehingga siswa kurang termotivasi untuk aktif ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.. Kurang termotivasinya siswa dalam belajar berdampak pula pada hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan cukup kurangnya rerata kelas yaitu sebesar 69,58 dari SKM yang berlaku (≥ 70). Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut dilaksanakan pengembangan pembelajaran dengan pendekatan Problem posing. Pembelajaran dengan pendekatan Problem posing merupakan suatu bentuk pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan merumuskan masalah untuk memudahkan pemehaman siswa sehingga dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, sehingga dengan adanya pembelajaran yang demikian pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran dengan pendekatan Problem posing dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa SMPN 2 Malang serta untuk mengetahui persepsi siswa akan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Problem posing. Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Malang pada bulan April-Mei 2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A MTs Surya Buana Malang yang berjumlah 24 orang. Data penelitian ini berupa motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa diketahui dari hasil angket dan lembar observasi, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor evaluasi yang dilaksanakan di setiap siklus menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai skor ≥70 dan daya serap klasikal 85% siswa yang mencapai skor ≥70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan persentase masing-masing indikator yaitu indikator Attention sebesar 17,5%, Relevance 16,67%, Confidence 19,79%, dan Satisfaction 12,5%. Skor motivasi rata-rata angket sebelum tindakan 2,90 meningkat menjadi 3,23 setelah pelaksanaan tindakan. Rerata kelas dari hasil evaluasi di setiap siklus juga mengalami peningkatan, pada siklus I sebesar 77,07 dan hasil belajar pada siklus II sebesar 84,75 dengan peningkatan sebesar 7,68. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 91,67% dan pada siklus II meningkat menjadi 96,33%. Jadi, ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 4,66%, serta melalui hasil angket dan observasi menunjukkan persepsi siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan Problem posing cukup baik serta lebih disukai siswa karena siswa merasa lebih percaya diri dalam berpendapat akan materi terkait. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran dengan pendekatan Problem posing lebih disukai siswa sehingga diharapkan guru dapat menerapkan pendekatan Problem posing sebagai variasi dalam pembelajaran Biologi. Keterbatasan penelitian yang hanya menerapkan pendekatan Problem posing pada materi Fotosintesis dan Gerak pada Tumbuhan dengan waktu penelitian yang cukup singkat, maka diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan pada materi yang lain dengan memanfaatkan alam sebagai laboratorium pada waktu penelitian yang cukup lama secara kolaborasi antara guru dengan peneliti untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sistem informasi penggunaan laboratorium digital di gedung G4 berdasarkan jadwal kuliah berbasis PC / Sugiantono

 

ABSTRAK Sugiantono. 2009 Sistem Informasi Penggunaan Laboratorium Digital di Gedung G4 Berdasarkan Jadwal Kuliah Berbasis PC. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom. (2) Siti Sendari, S.T., M.T. Kata Kunci: Sistem Informasi, laboratorium digital, jadwal kuliah, pc Informasi tentang penggunaan ruangan yang ada di gedung G4 pada saat ini dirasakan kurang menarik. Mengacu pada hal ini maka dibuatlah sebuah sistem informasi yang mampu memberitahukan tentang jadwal penggunaan suatu ruangan atau laboratorium yang ada di gedung G4 salah satunya yaitu laboratorium digital. Sistem informasi ini nantinya akan dikendalikan oleh pc pada saat menampilkan jadwal penggunaan ruangan atau laboratorium yang ada di gedung G4 setiap jamnya. Jadwal penggunaan ini nantinya akan ditampilkan pada dot matrix.

Studi tentang pelaksanaan penjurusan IPA pada beberapa SMA di Jawa Timur / Blasius Boli Lasan

 

ABSTRAK Blasius Boli Lasan, 2009. Judul: STUDI TENTANG PELAKSANAAN PENJURUSAN IPA PADA BEBERAPA SMA DI JAWA TIMUR Promotor: Prof. Dr. T. Raka Joni, M.Sc, Prof. Dr. I wayan Ardhana, M.A, Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata-kata kunci: Penjurusan, jurusan IPA, kriteria penjurusan, model penjurusan, prestasi belajar, pribadi cerdas, efikasi diri. Sepanjang perkembangan Pendidikan formal di Indonesia teramati bahwa penjurusan di SMA telah dilaksanakan sejak awal kemerdekaan yaitu tahun 1945 sampai sekarang, yang dipilah menjadi Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Bahasa. Pergantian kurikulum dari tahun ke tahun, mulai dari kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, 1994, sampai dengan yang terakhir yaitu kurikulum 2004, tetap memberlakukan penjurusan sebagai bagian integral untuk mencapai tujuan pendidikan yakni mewujudkan potensi anak sesuai dengan kemampuannya pada masing-masing gugus ilmu pengetahuan. Kebijakan Departemen Pendidikan Nasional (d/h Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) menetapkan Penjurusan di SMA seperti yang telah disebutkan di atas, yang memang acap kali menimbulkan masalah karena penjurusan di SMA itu berkaitan dengan hajat publik yang penting dan kompleks. Hajat publik itu penting karena penjurusan berarti pengerahan haluan hidup seseorang seperti jenis pekerjaan, nilai yang dianut serta kepribadian yang mengembannya. Hajat publik itu kompleks karena ikhwal penjurusan itu menyangkut kecerdasan serta kemampuan manusia untuk belajar, selain juga menyangkut persaingan kelas sosial karena penjurusan dipandang sebagai peletakan posisi siswa dan keluarganya dalam masyarakat, bahkan juga menyangkut pengendalian emosi dalam arti apakah orang tua dan siswa dapat menerima jika siswa tidak masuk jurusan yang diinginkannya. Salah satu jurusan yang sangat diinginkan siswa dan orangtua adalah jurusan IPA. Di satu pihak, jurusan ini memungkinkan siswa memiliki pilihan jurusan yang lebih banyak di perguruan tinggi daripada jurusan lain, disamping banyak pekerjaan yang hanya menerima siswa dari jurusan IPA, sehingga tanpa disadari juga diikuti oleh prestise sosial dalam arti bahwa siswa dan keluarganya digolongkan sebagai orang pintar. Namun di pihak lain, materi pelajaran IPA tidak mudah bagi banyak siswa sehingga sering menimbulkan masalah antara keinginan dan kemampuan, antara prestasi dan pencapaian kriteria penjurusan atau kelulusan, di samping muncul kecenderungan pemaksaan kemampuan dengan mewajibkan siswa untuk mengikuti pelajaran tambahan, serta akibat-akibat psikologis lain yang menyertainya. Oleh karena itu, kajian kebijakan ini ditujukan untuk mengetahui: keragaman penetapan kriteria penjurusan, prosedur pelaksanaan penjurusan, alasan-alasan penetapan kriteria penjurusan, evalusai pelaku-pelaku penjurusan, faktor-faktor dalam pemilihan jurusan IPA, serta konsistensi penerapan kriteria penjurusan. Kajian kebijakan ini juga ditujukan untuk membangun suatu model teoritik kriteria penjurusan IPA berdasarkan pelaksanaanya pada beberapa SMA di Jawa Timur, suatu model yang dibangun atas konstruk pretasi belajar, pribadi cerdas, dan self efficacy. Sebagai sampel ditetapkan 10 SMA di Jawa Timur, yang dikelompokkan berdasarkan ciri tertentu (cluster-based sampling), sehingga mewakili sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah berciri Islam, berciri Kristen/Katolik, nasionalis, sekolah yang berada di kota besar dan desa. Kesepuluh SMA yang dimaksud yaitu: SMA Negeri 5 Surabaya, SMA Negeri 1 Malang, SMA Negeri 1 Blitar, SMAK St. Yusuf Malang, SMA Negeri 6 Malang, SMA Kodya Blitar, SMA Widya Gama Malang, SMA Taman Madya Malang, SMA Al-Yasini Pasuruan, SMA Darut Taqwa Pasuruan. Subyek teliti meliputi 10 orang wakil kepala sekolah, 40 orang guru, 26 orang konselor, 610 siswa, dan 422 orangtua. Sedangkan subyek kajian kebijakan untuk memverifikasi Model Penjurusan IPA ini hanya meliputi SMAN 1 Malang, SMAN 1 Blitar, SMAK St. Yusuf Malang, yang melibatkan 214 siswa. Data dikumpulkan melalui angket dengan teknik skala penilaian dan isian terbuka, serta metode dokumenter. Data yang dikiumpulkan itu, di analisis secara deskriptif yang dilanjutkan dengan uji beda. Data eksplanatif dianalisis dengan Pemodelan Persamaan Struktural, untuk memperbandingkan model teoritik yang dibangun berdasarkan praktek penjurusan pada tiap SMA sampel. Hasil penelitian deskriptif mengungkapkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, para pelaku penjurusan telah melaksanakan prosedur penjurusan dengan baik yakni dengan pengenalan tujuan dan kriteria penjurusan, menetapkan kriteria sekolah dengan mempertimbangkan beberapa faktor antara lain input siswa, membuat peringkat nilai, dan penyelenggaraan rapat untuk menetapkan keputusan penjurusan. Kedua para pelaku penjurusan tidak setuju dengan kriteria penjurusan yang > 75 karena kualitas input siswa yang sedang-sedang saja, sehingga hanya sekitar 30% yang betul-betul mencapai kriteria penjurusan secara murni, karena siswa mengalami kesulitan memahami materi IPA. Ketiga, adanya faktor-faktor yang mendorong siswa memilih jurusan IPA sejak masuk IPA sejak masuk SMA, kualifikasi guru yang memenuhi syarat, Sekolah memenuhi persyaratan kerja dan adanya dukungan kecerdasan, bakat, dan prestasi, akan tetapi keempat, penjurusan dinilai kurang berhasil karena pencapaian tujuan penjurusan yang tidak maksimal, karena nilai diperoleh dari hasil penilaian harian di sekolah, serta penguasaan ilmu dan teknologi yang masih kurang. Secara umum hasil penelitian eksplanatif menunjukkan, bahwa model teoritik penjurusan yang dibangun berdasarkan praksis penjurusan pada 10 SMA yang diteliti, ternyata cocok dengan praktek Penjurusan IPA di tiap SMA. Secara khusus, konstruk-konstruk pembangun model teoritik berpengaruh secara signifikan terhadap pelaksanaan penjurusan yang baik; yakni 1. Prestasi belajar berpengaruh signifikan terhadap self efficacy, 2. Prestasi belajar berpengaruh signifikan terhadap penjurusan, 3. Pribadi cerdas berpengaruh signifikan self efficacy, 4. Pribadi cerdas berpegaruh signifikan terhadap self efficacy, 5. Self efficacy berpengaruh terhadap penjurusan, dan 6. Secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan dari prestasi belajar, Pribadi Cerdas dan Self Efficacy terhadap penjurusan. Juga terdapat dua pengaruh tidak langsung dalam kajian kebijakan ini yakni: 1) Prestasi Belajar berpengaruh tidak langsung terhadap penjurusan melalui self efficacy, 2) Pribadi Cerdas berpengaruh tidak langsung terhadap Penjurusan melalui Self Efficacy. Selanjutnya berdasarkan temuan-temuan kajian kebijakan ini, maka dikemukakan beberapa saran kepada beberapa pihak. Departemen Pendidikan Nasional perlu meninjau kembali standar penjurusan IPA dan mencari jalan keluar terhadap besarnya minat siswa terhadap jurusan itu. Oleh karena itu, sebaliknya penjurusan IPA dibagi menjadi dua yakni IPA A dan IPA B. IPA A berlaku bagi siswa yang dapat mencapai kriteria >75 secara murni, dan IPA B bagi siswa yang berminat tetapi prestasinya tergolong cukup atau sedang yakni < 75. Ruang lingkup dan tingkat kesulitan materi IPA dalam kurikulum hendaknya disesuaikan dengan jenis IPA-nya. Siswa IPA A diarahkan ke jurusan-jurusan ilmu murni dan ilmu/teknologi terapan, akan tetapi siswa yang mengikuti IPA B diarahkan kepada Politeknik, teknologi terapan atau sejenisnya. Selanjutnya masyarakat sekolah hendaknya menentukan pendirian terhadap input yang sulit mencapai prestasi maksimal walaupun kualitas proses pembelajaranya cukup baik. Jika demikian, pembukaan kelas IPA hendaknya terbatas atau hanya IPA B saja atau tanpa kelas IPA. Selanjutnya, evaluasi kemampuan IPA hendaknya lebih didasarkan pada penilaian proses yakni kemampuan mengikuti pelajaran dan nilai-nilai harian daripada nilai Rapor semester yang biasanya merupakan hasil ujian ulangan yang diselenggarakan semata-mata agar siswa memenuhi kriteria kelulusan. Konselor hendaknya mengkaji motif-motif siswa dan orang tua dalam memlih jurusan IPA, untuk lebih meyakinkan seberapa murni cocok dengan pribadi, rasa percaya diri dan prestasi belajar siswa. Rupanya para konselor yang belum pernah menjadi guru itu belum mampu memperhatikan faktor-faktor tersebut karena pendidikan prajabatannya (pre-service training) belum mempersiapkan kompetensi tersebut. Kepada peneliti berikutnya diharapkan secara lebih intensif dan menyeluruh menghimpun sebanyak mungkin model empirik yang pada gilirannya dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan model teoritik, sehingga dapat digunakan sebagai Landasan Kebijakan Penjurusan IPA, IPS, dan Ilmu Bahasa serta sebagai acuan bagi penjurusan SMA-SMA di Indonesia.

Penerapan pembelajaran kontekstual menggunakan metode inkuiri terbimbing untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPS bidang sejarah kelas VIIA SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek / Widi Ayu Hapsari

 

ABSTRAK Hapsari, Widi Ayu. 2009. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Menggunakan Metode Inkuiri Terbimbing”Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Mata Pelajaran IPS Bidang Sejarah Kelas VII A SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mashuri, M Hum. (II) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M. Hum. Kata kunci: pembelajaran kontekstual, metode inkuiri terbimbing, kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru sejarah selama ini pembelajaran sejarah di SMPN 1 Tugu Trenggalek menggunakan metode konvensional. Begitu pula pembelajaran yang terjadi hanya memiliki target menghabiskan materi pelajaran dan kurang memperhatikan kualitas pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Selain itu kegiatannya lebih banyak berorientasi pada buku pegangan yang dimiliki guru atau sekolah. SMP Negeri I Tugu ini merupakan SMP yang terletak di daerah pinggiran tetapi siswanya memiliki potensi yang bagus dilihat dari nilai masuk SMP yang cukup tinggi. Selain itu juga tercermin dari beberapa kali siswa SMP Negeri I Tugu ini pernah menjuari lomba-lomba baik di tingkat kabupaten maupun propinsi. Tetapi dalam pelajaran IPS khususnya bidang sejarah belum ada. Karena siswa menganggap bahwa bidang sejarah tidak menentukan masa depan. Siswa cenderung belajar sejarah hanya untuk mendapatkan nilai dalam rapor, dengan mengabaikan nilai-nilai esensial yang dapat mereka petik dalam belajar sejarah. Sehingga siswa kurang bisa mengeksplor kemampuan yang mereka miliki karena pengetahuan mereka terbatas pada buku paket. Selain itu banyak siswa yang hanya menghafal materi sehingga mereka mudah lupa ketika materi itu sudah tidak dipelajari lagi. Siswa kurang mampu untuk mengemukakan pendapat secara sistematis bahkan banyak pertanyaan itu yang tidak terarah dan terkesan asal- asalan. Kelas VII A merupakan kelas yang paling rame dan aktif dalam bertanya tetapi pertanyaan itu masih belum terarah. Dan ketika mereka menjawab soal yang membutuhkan penalaran atau bukti mereka tidak bisa menjawab. Dan mereka juga belum mengetahui bahwa untuk menarik kesimpulan diperlukan bukti yang kuat. Masih banyak siswa-siswa VII A yang belum mencapai nilai 65, jika dipersentase maka siswa yang belajar tuntas sekitar 70% sedangkan yang tidak tuntas sekitar 30%. Salah satu keunggulan dari metode inkuiri terbimbing adalah mengubah persepsi pembelajaran sejarah yang sekedar mengembangkan kemampuan menghafal fakta, dengan siswa dituntut berperan aktif mencari sendiri pemecahan yang diberikan guru dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian siswa akan lebih mudah mengingat materi yang telah diberikan tanpa harus menghafalnya. Dalam proses pembelajaran ini memberikan lebih banyak kesempatan pada siswa untuk berbuat daripada hanya mendengarkan ataupun menerima informasi secara pasif. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penerapan pembelajaran kontekstual menggunakan metode inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII A SMP Negeri I Tugu Trenggalek. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2008. Data yang diamati yaitu kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek. Kemampuan berpikir kritis siswa disesuaikan dengan materi dalam penelitian yaitu meliputi memahami konsep, memberikan argumen, melakukan interpetasi terhadap pertanyaan, mengumpulkan data, analisis data, mengambil keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual menggunakan metode inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek dalam bidang sejarah dengan taraf keberhasilan memahami konsep yaitu 59,72% pada siklus I dan 87,50% pada siklus II, memberikan argumen yaitu 54,17% pada siklus I dan 77,78% pada siklus II, melakukan interpetasi terhadap pernyataan yaitu 59,03% pada siklus I dan 77,78% pada siklus II, mengumpulkan data yaitu 60,42% pada siklus I dan 88,19% pada siklus II, analisis data yaitu 59,03% pada siklus I dan 76,39% pada siklus II, mengambil keputusan yaitu 42,36% pada siklus I dan 65,97% pada siklus II. Selain itu siswa sudah terbiasa untuk merencanakan investigasi (observasi), mengindentifikasi, merumuskan hipotesis berdasarkan pustaka bukan sekedar merumuskan dugaan rasional berdasarkan logika. Selain itu mereka mampu melaporkan pengamatan baik secara tertulis maupun lisan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan hendaknya siswa dihadapkan pada suatu masalah yang membutuhkan penalaran dan berhubungan dengan lingkungan sekitar. Sehingga mereka siap apabila dihadapkan pada suatu masalah yang muncul di luar dugaan mereka dan mereka akan lebih banyak mencari sumber untuk menguatkan jawaban mereka. Reward diberikan pada saat kondisi motivasi siswa untuk belajar sangat rendah.

Improving the tenth-year students' writing ability at MA Mambaus Sholihin Gresik through mind mapping / M. Zaini Miftah

 

ABSTRACT Miftah, M. Zaini. 2009. Improving the Tenth-year Students’ Writing Ability at MA Mambaus Sholihin Gresik through Mind Mapping. Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dra. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Dr. Hj. Nur Mukminatien, M.Pd. Key words: mind mapping, writing ability. This study was conducted on the basis of the problems faced by the researcher in English teaching in the classroom. His experience as an English teacher of the tenth-year students at Madrasah Aliyah (MA) Mambaus Sholihin Gresik shows that the students’ ability in writing English is still low. Based on the preliminary study, the fact that the average score obtained from the students’ writing task was 50.5. This result is considered to be insufficient since it did not yet achieve the target of the study at the school. It must be at least 65 for minimum standard of writing success at the school. It is also found that there are some problems to solve. The main problem is that the students did not know how to generate and organize ideas for writing a topic. In response to the causes of the problem, this study is focused on solving the problem related to how the students generate and organize ideas to write for the topic. This study proposes mind mapping with the proper model to improve the tenth-year students’ ability in writing a descriptive text. The research problem is, “How can mind mapping strategy improve the tenth-year students’ writing ability at MA Mambaus Sholihin Gresik?” The design of the study is collaborative classroom action research. Both the researcher and his collaborator work together in cyclic activities – planning, implementing, observing, and reflecting on the data gained from the teaching and learning process – which runs into three cycles, each of which covers four meetings. The subjects of the study are the students of class X-6 of the second semester in the 2008/2009 academic year which consists of thirty-eight male students. The instruments used are the writing tasks, observation checklist, field notes, and questionnaire. The reflection is based on the findings during the observation and compared to the criteria of success including: (1) by using the writing tasks, the students’ writing achievement improves (≥75% students of the class achieve the score greater than or equal to 65 of the range that lies from 0-100), and (2) by using observation checklist, the students are actively involved in the writing activities. The result of the reflection is used to determine the planning for the next cycle. After implementing the model of mind mapping in the writing class, it is found that the procedures of a proper model developed in implementing mind mapping are as follows: (1) tell the students about the objectives of the lesson, (2) show the picture that will be described and ask the students to observe it, (3) write the object (topic or key word) in a circle and elicit the students’ ideas, (4) guide the students to develop each supporting idea, (5) guide the students to make sentences to develop each supporting idea, (6) distribute a model of descriptive text, and ask the students to read and understand it, (7) arrange the students to become groups of four, (8) distribute the other different pictures or (in other ways) assign the students to observe the real object, (9) distribute larger papers (A4), equip the students with vocabulary guides and dictionaries, and then train them, (10) ask the students to generate and organize ideas through mind mapping, (11) guide the students to do drafting, (12) assign the students to write the first drafts based on their mapped ideas, (13) ask the students to place a greater emphasis on content and organization than on mechanics, (14) guide the students to revise the draft, (15) ask the students to revise their own drafts using revising guidelines and to use their mapped ideas to develop the content of their first draft, (16) assign the students to proofread their friends' rough drafts and to share them, (17) ask the students to make substantive changes, (18) guide the students to do editing, (19) ask the students to edit their own drafts using editing guidelines and to use their mapped ideas to check/revise the content, organization, grammar, and mechanics of their second draft, (20) assign the students to proofread again, (21) assign the students to share their final writings, and (22) ask the students to submit their final writings to assess. The research findings indicate that the students are active during the writing activities and the students’ writing ability improves after the implementation of the action. The improvement is shown by the increase of the percentage of the students’ achievement in writing a descriptive text. The percentage of the students achieving the score greater than or equal to 65 in Cycle I is 36.11% (13 students of the class). It increases into 52.78% (19 students of the class) in Cycle II. In Cycle III, the percentage of the students achieving the score greater than or equal to 65 reaches 82.86% (29 students of the class). Based on the research findings, three suggestions are provided. First, the English teachers are recommended to employ the proper model procedure of mind mapping as one of the alternative strategies in their writing class and to develop their way of teaching for the more appropriate in their writing class. Second, the principal as a policy maker is suggested to provide special lesson time for students to practice the continuous English writing. Third, future researchers are recommended to conduct such kinds of research concerned with the implementation of mind mapping in English teaching for the other skills – listening, speaking, and reading – and for the other levels such as elementary school, junior high school, and university by considering the strength of mind mapping as a strategy in English teaching.

Analisis informasi kinerja keuangan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2004-2007 / Murtiningtyas Nuswantari

 

ABSTRACT Nuawantari, Murtiningtyas. 2009. The Analysis of Financial Performance on The Share Return on Manufacture Company Listed in Bursa Efek Jakarta in the Period of 2004-2007.Thesis. Management Departement, Study Program S1 Management, Economy Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Mugianto, S.E., M.Si., (II) Yuli Soesetio, S.E., M.M. Keywords: Financial Performance and Share Return Financial report is a main device for a company to report the accounting information to the out side party of the company. Financial report is arranged to provide information related to financial position, performance, and financial position change that is useful for several parties to make an economic decision. The information about financial position report, financial position change and performance are significantly needed to evaluate the ability of the company in resulting cash (equal cash) and time ad certainty of the result. The population in this study is all of companies in manufacturing company industry group listed in BEI period 2004-2007 for about 144 companies. The sample determination uses layer sample random; thus, it results 30 sample companies. The data used in this study was secondary data. It was the financial report of sample company and annual share price. The analysis technique used in this study was double regression analysis technique. The result of the study showed that variables consisting of Current Ratio, Debt Equity Ratio, Return on Equity, Price Earning per Share, Earning per Share, significantly influence the share return. Meanwhile, the variable of Net Profit Margin, Operational cash Flow, Investment Cash Flow, and Fund Cash Flow did not significantly influence the share return. The most dominant variable that significantly influences the share return was Return on Equity. It is suggested that the next study uses return after the financial report are published. While, investors are supposed to analyze the decision carefully in investing their capital and esteem the risk of the decision. For companies, it is suggested that they do careful analysis in determining the steps that are used to determine the policies in the company.

Penggunaan media gambar dan teknik imajinasi dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas X SMAN 2 Batu tahun ajaran 2008/2009 / Wilujeng Arie Andiyaningrum

 

Abstrak Dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi, siswa diharapkan mampu melukiskan atau menggambarkan suatu objek sedemikian rupa, sehingga pembaca seolah-olah melihat , mendengar, dan merasakan sendiri objek tersebut. Menulis karangan deskripsi merupakan salah satu materi pembelajaran menulis kebahasaan yang diajarkan di kelas X. Penggunaan media gambar dan teknik imajinasi dipandang dapat memudahkan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang, (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, (3) aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi, dan (4) hasil penilaian pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar dan teknik imajinasi.

Pengaruh media pembelajaran sejarah berbasis perangkat lunak drean weaver terhadap prestasi belajar sejarah siswa di SMK Negeri 5 Malang / Suhardi Bayu Saputro

 

ABSTRAK Saputro, Suhardi Bayu. 2009. “Pengaruh Penerapan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Perangkat Lunak Dream Weaver Terhadap Prestasi Belajar Sejarah Siswa Di SMK Negeri 5 Malang”. (Skripsi), Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Prof. Dr. Haryono, M.Pd., (II)Drs. Mashuri, M. Hum. Kata Kunci : media, perangkat lunak, prestasi belajar, dream weaver Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan penggunaan media yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah dengan menggunakan media perangkat lunak berbasis dreamweaver 8. Dream weaver adalah salah satu program perangkat lunak yang biasa digunakan untuk mendesain web dengan cara yang lebih mudah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara membuat media pembelajaran sejarah berbasis dream weaver8, mengetahui aplikasi media pembelajaran berbasis dream weaver8 dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dan untuk mengetahui prestasi belajar siswa setelah materi disajikan dengan media pembelajaran sejarah berbasis dream weaver8. Materi pelajaran proses kebangkitan nasional diambil sebagai materi uji. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 5 Malang. Dalam penelitian ini, populasinya yaitu siswa kelas X. Sedangkan sampelnya terdiri dari 2 kelas yaitu kelas 1 TKJ 1dan 1 TKJ 2. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dan dianalisis secara kuantitatif, dengan pertimbangan (1) kelas yang dijadikan sampel dianggap mengetahui dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber informasi serta mengetahui permasalahan secara mendalam (2) kelas yang dijadikan sampel sudah menggunakan media pembelajaran berbasis dreamweaver. Teknik pengumpulan data menggunakan pre test dan postes. Pembelajaran sejarah dengan teknik pembelajaran menggunakan media pembelajaran sejarah berbasis dream weaver untuk kelas eksperimen (kelas 1 TKJ 2) dan ceramah untuk kelas control (kelas 1 TKJ 1). Indikator keberhasilan pengajaran ditunjukkan dari selisih nilai pos test dan pre test yang dilakukan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa siswa pada kelas yang memperoleh pengajaran menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi informasi memiliki nilai rerata kelas untuk pre test 6,89 dan pos test 8,15, sehingga selisih nilai antara rerata pos test dan pre testnya adalah 1,26. Sedangkan siswa pada kelas yang memperoleh pengajaran dengan metode ceramah (konvensional) memiliki nilai rerata kelas untuk pre test 6,85 dan pos test 7,54, sehingga selisih nilai antara rerata pos test dan pre testnya adalah 0,69. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas yang memperoleh pengajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis dreamweaver, memiliki kenaikan pemahaman yang lebih besar apabila dibandingkan dengan siswa yang materi pembelajaran menggunakan dengan metode konvensional (ceramah). Saran yang dapat disumbangkan berkenaan dengan bidang keilmuan adalah bahwa perlunya penggunaan media dreamweaver ini dalam bidang pendidikan sehingga peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah dapat tercapai dengan maksimal.

Pemberian penguatan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Tempuran II Kecamatan Pasrepan / Wiji Astuti

 

ABSTRAK Astuti,Wiji. 2009. Pemberian Penguatan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SDN Tempuran II Kecamatan Pasrepan.Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sutarno, M.Pd (II) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum Kata Kunci: penguatan, hasil belajar, matematika Siswa yang memiliki semangat belajar yang tinggi akan memiliki banyak energi untuk melakukan aktivitas belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Jika siswa belajar tidak disertai semangat belajar yang tinggi, maka ia akan belajar di dalam keadaan yang kurang menyenagkan sehingga ada kemungkinan hasil belajarnya menurun. Salah satu karakteristik siswa adalah senang jika dipuji. Pujian merupakan salah satu bentuk penguatan. Siswa membutuhkan penguatan dalam belajar karena penguatan merupakan penghargaan yang dapat menimbulkan semangat belajar. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui jenis pemberian penguatan yang digunakan guru untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat (2) untuk mengetahui pemberian penguatan dalam meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat. Subyek yang menerima tindakan adalah siswa kelas IV SDN Tempuran II Kecamatan Pasrepan tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 18 siswa. Data dikumpulkan melalui tes, observasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif kwalitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pembelajaran tindakan I guru cenderung menberi penguatan verbal. Skor rata-rata siswa setelah tindakan adalah 76,67. Ketuntasan kelas baru tercapai 55,55% Pembelajaran tindakan II guru memberi penguatan yang seimbang antara jenis verbal dan non verbal. Skor rata-rata siswa setelah tindakan adalah 86,11. Standar ketuntasan kelas dapat tercapai 94,44%. Jadi pemberian penguatan jenis verbal dan non verbal yang digunakan guru dalam pembelajaran terbukti dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV. Pemberian penguatan kepada siswa ternyata dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV SDN Tempuran II, terbukti dari hasil belajar dari pra tindakan ke tindakan I mengalami peningkatan 44,44% dan hasil belajar tindakan I ke tindakan II mengalami peningkatan sebesar 38,89%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: (1) Pemberian penguatan jenis verbal dan non verbal yang digunakan guru dalam pembelajaran terbukti dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV SDN Tempuran II (2) Pemberian penguatan dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV SDN Tempuran II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru memberikan penguatan verbal dan non verbal dalam pembelajaran matematika. Perlu juga dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemberian penguatan dengan hanya menggu nakan jenis penguatan verbal saja pada pembelajaran matematika.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap minat dan motivasi mahasiswa untuk menjadi guru (studi kasus mahasiswa D-3 yang alih jenjang ke S-1 Pendidikan Akuntansi semester ganjil 2007/2008 - semester genap 2008/2009) / Anikmatul Koiriyah

 

ABSTRAK Khoiriyah, Anikmatul. 2009. Pengaruh Persepsi Mahasiswa Tentang Sertifikasi Guru Terhadap Minat dan motivasi Mahasiswa Untuk Menjadi Guru (Studi Kasus Mahasiswa D-3 Yang Alih Jenjang Ke S-1 Pendidikan Akuntansi Semester Ganjil 2007/2008- Semester Genap 2008/2009). Skripsi. Program Studi Pendidikan Akuntansi. Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Yuli Widi Astuti S.E, M.Si Ak, (2) Dr. Drs Bambang Sugeng S.E. Ak, MA, M.M Kata Kunci: Persepsi Mahasiswa, Sertifikasi Guru, Minat, Motivasi Pendidikan merupakan proses pembentukan sumber daya manusia berkualitas dan yang berperan penting untuk mewujudkannya adalah guru. Sementara persepsi bahwa profesi guru merupakan suatu profesi yang dianggap maasih kurang layak dari segi finansial sehingga profesi ini kurang diminati. Bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang No. 14 tentang Guru dan Dosen yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru, juga menjanjikan jaminan perbaikan kesejahteraan guru, jaminan sosial serta hak dan kewajiban guru. Jika ini benar-benar terwujud, maka diharapkan mampu meningkatkan minat dan motivasi calon guru dalam hal ini adalah mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap minat dan motivasi mahasiswa untuk menjadi guru. Penelitian ini adalah penelitian ekplanasi, yang berusaha menguji hubungan antar variabel yang dihipotesiskan dan mencari pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru, dan terdpat dua variabel terikat yaitu minat mahasiswa menjadi guru dan motivasi mahasiswa menjadi guru. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa input dari program Diploma 3 ke S-1 Pendidikan Akuntansi semester ganjil 2007/2008 sampai semestergenap 2008/2009 sebanyak 35 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada responden dan dianalisis menggunakan Simple Linier Regression Analysis dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Penelitian ini menggunakan dua kali uji regresi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah. Hasil penelitian regresi pertama menunjukkakn bahwa taraf signifikansi 0,011 yang menyertai t hitung sebesar 2,680 pada α sebesar 5 %, karena signifikansi yang menyertai t hitung lebih kecil dari 0,05 maka hipotesisnya diterima artinya persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru dapat digunakan untuk memprediksi minat mahasiswa menjadi guru. Hasil regresi kedua diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,287 yang menyertai t hitung sebesar 1,081 pada α sebesar 5 %, karena signifikansi yang menyertai t hitung lebih besar dari 0,05 maka hipotesisnya ditolak artinya persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru tidak dapat digunakan untuk memprediksi motivasi mahasiswa menjadi guru. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikemukakan beberapa saran diantaranya adalah: 1) Mengacu pada keterbatasan variabel pada penelitian ini maka peneliti menyarankan kepada para pembaca yang berminat meneliti atau mengembangkan penelitian sejenis maka sebaiknya menambahkan variabel-variabel yang lebih menarik atau bervariasi dengan demikian diharapkan hasil yang diperoleh dapat mengungkap lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak. Variabel tersebut diantaranya adalah prestasi belajar, lingkungan sosial seseorang, IQ dan EQ, pendidikan orang tua, latar belakang ekonomi orang tua, latar belakang pendidikan mahasiswa, dan lain sebagainya , 2) Mengacu pada keterbatasan populasi pada penelitian ini maka peneliti menyarankan kepada para pembaca yang berminat meneliti atau mengembangkan penelitian sejenis maka sebaiknya menambahkan jumlah responden, 3) Penelitian ini berusaha untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas (independent variabel) yaitu persesi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap variabel terikat (dependent variabel) yaitu minat dan motivasi mahasiswa untuk menjadi guru. Mengingat ada 2 variabel terikat (dependent variable), sehingga selain dapat menjelaskan pengaruh masing-masing variabel secara parsial saja peneliti juga dapat menjelaskan hubungan variabel secara simultan. Sehingga peneliti selanjutnya bisa mengembangkan dan mengkombinasikan teknik analisis yang lain, untuk mengetahui hubungan parsial antar variabel bebas dan terikat serta hubungan simultannya. Misalnya pada penelitian selanjutnya variabel minat dijadikan variabel perantara (intervening) sehingga peneliti bisa menggunakan teknik analisis jalur (Path Analysis). Hal tersebut dilakukan agar dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih bervariasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih besar

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Angkasa Singosari Malang pada pokok bahasan zat aditif makanan, zat aditif, dan psikotropika / Dwi Asti Ardiani

 

Motivasi belajar sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa motivasi belajar berkaitan erat dengan hasil belajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru biologi SMAN 8 Malang, diketahui bahwa selama ini pembelajaran Biologi di SMP Angkasa Singosari Malang menggunakan metode konvensional dengan sedikit sekali praktikum. Para siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga hasil belajarnya tidak maksimal dan pembelajaran menjadi kurang bermakna. Masih banyak siswa yang belum mencapai nilai SKM sekolah (75). Dari observasi awal diketahui bahwa 43,9% siswa belum mencapai SKM. Guru berusaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran agar hasil yang dicapai sesuai dengan harapan. Guru berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memberi tugas kelompok, memberikan LKS, memberikan tugas rumah untuk membuat rangkuman. Namun ternyata usaha-usaha tersebut belum berhasil untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga guru harus memilih salah satu metode yang dapat diterapkan dikelas untuk mengatasi permasalahan pembelajaran di kelas. Salah satu keunggulan dari pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah adanya tanggung jawab setiap anggota kelompok yang dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dengan baik untuk dapat memberikan penjelasan kepada anggota kelompok lainnya se-hingga diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X.3 SMP Angkasa Singosari Malang tahun ajaran 2008/2009 melalui penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw dan 2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.3 SMP Angkasa Singosari Malang tahun ajaran 2008/2009 melalui penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada bulan Pebruari-Juni 2009. Sumber data dalam penelitian ini adalah motivasi dan hasil belajar siswa kelas X.3 SMAN 8 Malang. Motivasi belajar siswa meliputi aspek minat, keaktifan, usaha konsentrasi, dan efisiensi kerja. Hasil belajar siswa diukur dari aspek kognitif yaitu dari hasil ulangan harian yang dilaksanakan tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk matapelajaran Biologi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X.3 SMAN 8 Malang, terlihat dari meningkatnya motiva-si belajar klasikal dengan kategori baik dari 50,24% pada siklus I menjadi 69,75% pada siklus II. Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk matapelajaran Biologi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.3 SMAN 8 Malang, terlihat dari meningkatnya persentase keberhasilan belajar klasikal dari 65,85% pada siklus I menjadi 80,49%

Penerapan model pembelajaran kooperatif STAD untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-B SMPN 1 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Hanik Umi Utari

 

ABSTRAK Utari, Hanik Umi. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif STAD untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 1 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Laporan Penelitian Tindakan Kelas, Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Profesi Guru IPA-SMP. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumaryono, (II) Drs. H. Edi Supriana, M.Si. Kata kunci: Motivasi Belajar, Prestasi Belajar, STAD Berdasarkan observasi data lapangan dan wawancara dengan guru mitra di SMPN 1 Malang, diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran Fisika sebagian siswa aktif dan sebagian kurang antusias mengikuti kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Motivasi belajar dan prestasi belajar siswa masih bisa dioptimalkan. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Fisika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif STAD pada materi Cahaya pada siswa kelas VIII-B SMP Negeri 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian ini dilak- sanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli 2009. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa diperoleh melalui angket dan observasi, sedangkan prestasi belajar siswa diperoleh melalui tes akhir siklus. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Fisika pada materi Cahaya siswa kelas VIII-B SMP Negeri 1 Malang tahun pela- jaran 2008/2009. Dari hasil observasi motivasi belajar selama berlangsungnya proses pembelajaran pada siklus pertama dan kedua diperoleh data: (1) aspek frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa meningkat dari 67,44% menjadi 74,93%, (2) aspek kualitas pertanyaan yang diajukan siswa meningkat dari 68,21% meningkat menjadi 73,56%, (3) aspek kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan tugas meningkat dari 74,22% menjadi 78,88%, (4) aspek peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan oleh siswa meningkat dari 72,49% menjadi 78,65%. Berdasarkan hasil angket yang diisi siswa di setiap akhir siklus diperoleh data bahwa pada siklus pertama siswa yang bermotivasi belajar rendah sebesar 23,8%, siswa yang bermotivasi belajar sedang sebesar 57,2% dan siswa yang bermotivasi belajar tinggi sebesar 19%. Pada siklus kedua terjadi perubahan yang cukup signifikan, yakni terjadi pengurangan jumlah siswa yang bermotivasi belajar fisika rendah dari 10 orang menjadi 5 orang (berkurang 50%), jumlah siswa yang bermotivasi belajar Fisika sedang berkurang dari 24 menjadi 20 orang (turun 16%) dan jumlah siswa yang bermotivasi belajar Fisika tinggi meningkat dari 8 menjadi 17 orang (naik 53%) Dari hasil analisis evaluasi belajar akhir siklus, prosentase siswa yang me- menuhi KKM 71,43%) pada siklus pertama meningkat menjadi 85,71% pada siklus kedua.

Hubungan antara rasa keberhasilan bidang akademik (academic self-efficacy) dengan prestasi belajar mahasiswa di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) / Najlatun Naqiyah

 

ABSTRAK Naqiyah, Najlatun. 2009. Hubungan antara Rasa Keberhasilan Bidang Akademik (Academic Self-Efficacy) dengan Prestasi Belajar Mahasiswa di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Di bimbing oleh Prof. Dr. Raka Joni, M. Sc, sebagai Promotor, Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A, sebagai promotor I, dan Dr. Marthen Pali, M.Psi sebagai promotor II. Kata kunci : academic self-efficacy, prestasi belajar, underachiever, achiever, highachiever. Latar belakang penelitian adalah rasa keingintahuan penulis tentang hubungan antara rasa keberhasilan akademik dengan prestasi belajar mahasiswa highachiever, achiever dan underachiever di kampus. Rasa keberhasilan di bidang akademik ialah penilaian diri seseorang akan kemampuannya untuk mengorganisir dan menjalankan rangkaian perilaku dalam mencapai tujuan pendidikan. (Bandura, 1997). Tujuan penelitian ini membuktikan hubungan antara academic self-efficacy dengan prestasi belajar bagi mahasiswa highachiever, achiever, dan underachiever. Populasi penelitian adalah mahasiswa fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Surabaya yang terdaftar pada tahun ajaran 2008-2009. Sampel penelitian adalah mahasiswa pendidikan matematika, pendidikan biologi, pendidikan fisika dan pendidikan kimia reguler di semester lima dengan teknik total sampling, sehingga dalam penelitian ini ditetapkan 154 orang. Hasil analisis deskriptif dan pengujian hipotesis memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut; (1) Hasil tabulasi silang (cross-tabulation) antara self-efficacy dengan prestasi belajar pada 154 mahasiswa menerangkan bahwa dari 42 mahasiswa dengan self-efficacy tinggi ada 13 (8,4%) mahasiswa yang berprestasi belajar tinggi dan 5 (3,2%) mahasiswa yang berprestasi belajar rendah. Pada 38 mahasiswa dengan self-efficacy rendah terdapat 9 mahasiswa (5,8%) yang berprestasi rendah dan 8 mahasiswa (5,2 %) berprestasi belajar tinggi; (2) Hasil analisis Chi-Square menerangkan hubungan antara rasa keberhasilan dengan prestasi belajar di fakultas MIPA UNESA adalah 7,567 dengan probabilitas 0,109 (lebih besar dari (0,05). Hal ini menerangkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara rasa keberhasilan akademik dengan prestasi belajar di fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian ini memiliki implikasi (1) pada para pengajar (dosen) supaya memberikan pembelajaran yang banyak memberikan pengalaman keberhasilan bagi mahasiswa (deep- understanding); (2) pada profesi bimbingan dan konseling khususnya konselor perlu bekerjasama dengan guru untuk melihat isi pembelajaran sehingga bisa memberikan bantuan belajar yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Meningkatkan aktivitas berpendapat dan prestasi belajar biologi pada siswa kelas VIII-D SMPN 4 Malang dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD / Amin Rohyati

 

ABSTRAK Rohyati, Amin. 2009. Meningkatakan Aktivitas Berpendapat dan Prestasi Belajar IPA Biologi pada Siswa Kelas VIII-D SMPN 4 Malang dengan Menerap-kan Pembelajaran Kooperatif Model STAD. Drs. Soewolo, M.Pd.: Balqis, S.Pd. M.Pd. Kata-kata kunci: pembelajaran koopertaif model STAD, aktivitas berpendapat, prestasi belajar Berdasarkan hasil observasi dan dikusi dengan guru mitra yang mengajar IPA biologi kelas VIII-D SMPN 4 Malang yang dilaksanakan pada tanggal 4 dan 11 Desember 2008, diperoleh data bahwa proses pembelajaran IPA Biologi di SMPN 4 Malang sudah biasa menggunakan berbagai bentuk pembelajaran antara lain dengan metode diskusi kelompok dan praktikum. Akan tetapi sikap individu-alis siswa masih tampak menonjol, terutama dalam kegiatan praktikum dan disku-si kelompok, masih ada siswa yang mendominasi dan banyak juga siswa yang hanya mengantungkan diri kepada teman dan tidak ikut berpartisipasi dalam ke- lompok. Selain itu aktivitas berpendapat siswa masih sangat rendah, siswa sering menolak bila diminta mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Penelitian ini bertujuan meningkatkan aktivitas berpendapat dan prestasi belajar IPA Biologi kelas VIII-D SMPN 4 Malang dengan menerapkan pem-belajaran kooperatif model STAD, berkolaborasi dengan teman sejawat dan guru mitra sebagai observer. Sintaks Pembelajaran kooperatif model STAD terdiri atas: (1) presentasi, (2) Kerja Tim, (3) Kuis, (4) Skor kemajuan individu, dan (5) peng-hargaan kelompok. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-D SMPN 4 Malang. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus PTK, yang masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap: (1) Perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) re- fleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD pada pembelajaran IPA Biologi siswa kelas VIII-D SMPN 4 Malang dapat meningkatkan aktivitas berpendapat siswa yaitu dari kriteria baik = 58,6% pada siklus I menjadi kriteria baik sekali = 77,86% pada si-klus II, dan prestasi belajar juga meningkat jika dilihat dari siswa yang tuntas belajar, 60% pada siklus I menjadi 87,5% pada siklus II, serta skor rata-rata kelas dari 78,5 pada siklus I menjadi 84 pada siklus II Temuan lain dalam penelitian ini adalah: (1) siswa masih kesulitan me-rangkai kata-kata yang benar untuk membuat kesimpulan, (2) dalam pembelajaran kooperatif bila dalam satu kelompok hanya terdapat 1 orang yang berbeda jenis kelamin, maka 1 orang siswa tersebut cenderung menyendiri atau berinteraksi de-ngan anggota kelompok lain yang sejenis dan ada ketidak puasan pada siswa yang pintar dan individualis. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyampaikan saran: (1) dalam membuat kesimpulan, disarankan guru memberikan bimbingan pada siswa dalam merangkai kata-kata dengan benar, sehingga siswa tidak salah konsep, (2) dalam pembentukan kelompok pada pembelajaran kooperatif , disarankan guru memben-tuk kelompok yang heterogen dan hindarkan adanya hanya 1 orang siswa yang berbeda jenis kelaminnya diantara anggota kelompok tersebut.

Peningkatan hasil belajar membaca cepat melalui teknik trifokus Steve Snyder di kelas V SDN Kedungbanteng I Kabupaten Blitar / Winarsih

 

ABSTRAK Winarsih, 2009. Peningkatan Hasil Belajar Membaca Cepat Melalui Teknik Trifokus Steve Snyder di Kelas V SDN Kedungbanteng I Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Ahmad Samawi, M Hum., (II) Dra. Sutansi, M.Pd. Kata kunci: membaca cepat, teknik Trifokus Steve Snyder, hasil belajar membaca cepat sekolah dasar. Salah satu pembelajaran membaca di SD adalah membaca cepat yang artinya suatu teknik membaca dengan waktu sesingkat-singkatnya sekaligus mam-pu memusatkan perhatian terhadap suatu informasi yang ada dalam teks dan mam-pu menginterprestasikannya. Permasalahan yang terjadi di sekolah adalah hasil belajar membaca cepat siswa kelas V masih kurang yaitu kecepatan efektif mem-bacanya masih kurang dari 100 kata per-menit (kpm) yakni rata-rata 95 kpm dan ketuntasan klasikal/kelas hanya mencapai 55% dari jumlah siswa dalam satu kelas yang telah mencapai ketuntasan. Rancangan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar membaca cepat siswa kelas V SDN Kedungbanteng I yang mencakup keterampilan proses, KEM, dan keterampilan produk. Subyek penelitian sejumlah 11 orang siswa.Teknik pe-ngumpulan data dengan menggunakan tes dan observasi selama proses pembe-lajaran. Penelitian dilaksanakan selama tiga siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah tes, lembar observasi, dan dokumentasi. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2008, siklus II tanggal 4 Juni 2008, dan siklus II tanggal 11 Juni 2008. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; nilai hasil belajar membaca cepat secara klasikal mengalami peningkatan dari 71,2% pra tindakan pada siklus I menjadi 76,3% setelah tindakan (menggunakan teknik Trifokus Steve Snyder) pada siklus II, dan 82,% pada siklus III. Dan untuk ketuntasan klasikal juga mengalami peningkatan yakni dari 27,3% pra tindakan pada siklus I menjadi 54,6% setelah tindakan pada siklus II, dan 73% pada siklus III. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pene-rapan Teknik Trifokus Steve Snyder pada pembelajaran membaca cepat dengan pendekatan komunikatif, penggunaan metode yang bervariasi, media yang sesuai materi, dan memberikan motivasi pada siswa serta meningkatkan konsentrasi siswa, dapat meningkatkan aktifitas, kreatifitas, interaksi siswa maupun guru dan hasil belajar membaca cepat siswa. Dan disarankan juga agar guru hendaknya menerapkan teknik tersebut dalam mengajarkan materi membaca cepat, sehingga dapat meningkatkan dan mencapai hasil belajar maupun ketuntasan klasikal yang lebih baik.

Manajemen program akselerasi belajar: studi kasus di SMA Negeri 3 Jombang / Iva Faradiana

 

Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dari masa ke masa lebih bersifat klasikal massal, yaitu hanya berorientasi pada jumlah atau kuantitas untuk dapat melayani peserta didik sebanyak mungkin tanpa memandang kualitas peserta didik tersebut. Kelemahan yang tampak dari pelaksanakan pendidikan seperti ini adalah tidak terakomodasikannya kebutuhan individual siswa di luar kelompok siswa normal. Padahal sebagaimana yang diketahui bahwa hakikat pendidikan adalah untuk memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi kecerdasan dan bakatnya secara optimal (Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2003). Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyatakan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran . Namun kenyataannya menurut Diknas hal ini baru dapat terpenuhi pada saat Indonesia memasuki pembangunan jangka panjang ke satu yakni pada Tahun 1969/1970-1993/1994 (Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2003). Hasilnya pada periode pembangunan ini pemerintah mulai menaruh perhatian pada pendidikan siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa . Untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki bakat intelektual, diperlukan suatu penjaringan. Menurut Penelitian Balitbang dalam Semiawan (1997:72) bahwa penjaringan terhadap keterbakatan intelektual dalam kelompok populasi tertentu pada umumnya bertolak dari perkiraan kurang lebih 15% sampai 25% populasi sampel yang secara kasar merupakan identifikasi permulaan dalam menghadapi seleksi yang lebih cermat. Penjaringan itu bisa menggunakan nominasi guru tentang kemajuan sehari-hari siswa, namun bisa juga melalui penilaian beberapa mata pelajaran tertentu, tergantung dari tujuan penjaringan. Merujuk pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV Pasal 5 ayat 4 berbunyi: Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus . Bab V Pasal 12 ayat 1b berbunyi: Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya . Hal ini bisa dimaknai bahwa pemerintah membuka atau memperbolehkan sekolah untuk membuka kelas percepatan belajar yang tentu sebelumnya sekolah tersebut sudah lulus uji dan mendapatkan kepercayaan dari Departemen Pendidikan Nasional untuk mengadakan program tersebut. Program ini didesain dalam bentuk pemadatan waktu menjadi 2 tahun dari 3 tahun masa pendidikan normal (regular). Dengan pembagian tetap dalam 6 semester hanya durasi waktu yang dibutuhkan lebih kurang 4 bulan 1 semesternya. Diharapkan dengan program layanan percepatan belajar ini, siswa-siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat menghemat waktu studi dan mereka tidak merasakan belajar sebagai sesuatu yang membosankan kerena lambatnya penyampaian materi yang didapat. Kesiapan dari pihak sekolah sendiri untuk menempatkan kualifikasi tenaga pengajar/guru serta penyesuaian/modifikasi mengenai kurikulum yang digunakan dalam program akselerasi marupakan suatu faktor sekolah boleh mengadakan program akselerasi. Disamping itu juga dari siswa itu sendiri, apakah mampu untuk bisa memenuhi dan beradaptasi dengan kurikulum yang dipakai di program akselerasi ini sesuai yang ditetapkan oleh pihak sekolah. Karena itu, menurut Akbar dan Hawadi (2004:7), sebelum siswa dinyatakan diterima dalam program akselerasi ini, calon siswa harus melakasanakan serangkaian tes hingga dapat dinyatakan lulus. Tes tersebut antara lain adalah tes psikologi yang komprehensif, tes IQ dengan skala nilai minimal 125, bebas dari problem emosional dan sosial, memiliki fisik sehat, tidak ada tekanan dari orang tua tetapi atas kemauan anak sendiri, adanya sikap positif guru terhadap siswa, guru peduli terhadap kematangan sosial emosional siswa. Kenyataan yang ada dengan penyelenggaraan program percepatan belajar (akselerasi) yang baru diadakan beberapa tahun belakangan ini masih menimbulkan pro dan kontra sehingga menimbulkan beberapa kelemahan yang mengiringi pelaksanaannya. Kelemahan itu adalah: (1) timbulnya stigmatisasi pada diri siswa reguler; di lingkungan sekolah bisa dikatakan kelas reguler merupakan kelas yang memiliki prestasi kurang jika dibandingkan dengan kelas akselerasi; (2) timbulnya budaya inferior, muncul kelas eksklusif, arogansi, dan elitisme. Inferiorisme akan timbul pada diri siswa kelas reguler karena mereka dianggap siswa yang memiliki prestasi rendah, sedangkan budaya eksklusifisme, arogansi dan elitisme akan mudah melekat pada siswa akselerasi. Jika berkelanjutan, hal ini secara otomatis akan membentuk group reference pada diri masing-masing siswa; (3) berkenaan dengan eksploitasi proses belajar siswa akselerasi di sekolah, dengan adanya akselerasi ini siswa dituntut untuk dapat mengikuti materi belajar yang diinginkan dengan alokasi waktu yang sangat cepat. Secara intelektual, siswa memang dirasa mampu untuk mengikutinya namun siswa itu bukanlah mesin yang di set untuk melakukan aktifitas yang sama; (4) dengan mengikuti program percepatan belajar ini, berarti siswa tidak leluasa untuk dapat mengembangkan potensi afektifnya Padatnya materi yang harus mereka terima, banyaknya pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan, ditunjang kemampuan intelektual yang mereka miliki dan teman-teman sekelas yang ratarata pandai, membuat iklim kerja sama mereka menjadi terbatas (Bernas dalam Mujiran, 2009). Hal ini dapat terjadi dari cara pengelolaannya atau timbul dari diri siswa. Padahal tujuan diadakan program akselerasi ini adalah untuk memberikan pelayanan yang sesuai kepada siswa yang memiliki kecerdasan istimewa dengan memberikan fasilitas dan materi yang sesuai dengan daya kemampuan dan berpikir siswa bukan menjadikan program yang menimbulkan jurang pemisah antara siswa yang memiliki kecerdasan istimewa dengan siswa reguler. Oleh karena itu untuk mengantisipasi kelemahan-kelamahan semacam itu maka dalam pelaksanaannya dibutuhkan sebuah manajemen yang efektif untuk mengelola dan menjalankan sistem tersebut sehingga pelaksanaannya tidak melenceng dari tujuan awal dari penyelenggaraan program akselerasi ini. Manajemen merupakan suatu hal yang memiliki dampak relatif dominan dalam penyelenggaraan program akselerasi. Karena dalam akselerasi menuntut adanya suatu manajemen yang berorientasi jauh ke depan dengan fleksibilitas yang tinggi didasari oleh komitmen, ketekunan, pemahaman yang sama serta kebersamaan semua pihak yang terlibat (Latifah, 2009). Selain itu program akselerasi juga membutuhkan kegiatan perencanaan yang matang, pengorganisasian yang tepat, penggerakan yang dinamis oleh pemimpin yang handal dan berorientasi ke masa depan, serta pengawasan yang selalu bersifat rekonstruktif. Dengan adanya manajemen yang baik diharapkan tujuan dari program akselerasi dapat tercapai secara efektif dan efisien. SMA Negeri 3 Jombang merupakan satu-satunya sekolah menengah atas yang pertama di Jombang yang mendapat kepercayaan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang untuk membuka program akselerasi. Menurut Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan di SMA Negeri 3 Jombang yang merangkap sebagai Manajer Program Akselerasi dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 29 Januari 2009, mengatakan bahwa alasan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang memilih SMAN 3 Jombang sebagai SMA pertama yang membuka program akselerasi karena selama SMAN 3 Jombang berdiri telah mampu mencetak prestasi, baik dalam hal akademik maupun non akademik. Selain itu juga karena SMA ini juga berhasil membuka kelas-kelas tambahan seperti kelas olahraga yang berisi siswa yang memiliki kemampuan yang handal dalam bidang olahraga dan kelas seni bagi siswa yang memiliki keahlian dalam bidang seni. Hal ini tentu saja memberikan nilai plus bagi sekolah dimata masyarakat sehingga menjadikan SMAN 3 sebagai sekolah favorit di Kabupaten Jombang. Atas dasar itulah Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang memberikan kepercayaan pula kepada SMAN 3 untuk membuka program akselerasi (Bachtiar, 2009). Mengingat tujuan program ini adalah untuk memberikan pelayanan terhadap siswa yang memiliki kecerdasan istimewa untuk mengembangkan bakat intelektualnya sebagai pemimpin masa depan (Hartati, 2009), maka SMAN 3 Jombang merasa tertantang dan harus mampu memberikan pelayanan yang terbaik, walaupun mengingat program akselerasi ini baru terlaksana pada tahun ajaran 2007/2008. Dalam usahanya mencetak lulusan yang terbaik yakni agar lulusan program akselerasi dapat masuk dalam perguruan tinggi bonafit dan favorit, maka SMAN 3 Jombang secara kontinyu memperbaiki manajemennya dalam program akselerasi. Karena menyadari bahwa pengelolaan program akselerasi berbeda dengan program reguler, oleh karena itu program akselerasi ditangani secara khusus. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti mengadakan penelitian yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Jombang, dengan maksud melanjutkan penelitian tentang manajemen akselerasi pada tingkat SD (Maulana, 2008) dan SMP (Raharja, 2006). Pengelolaan yang baik akan berdampak dalam penyelenggaraan program akselerasi yang baik pula dan tentunya sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Mengingat pentingnya manajemen pada program akselerasi, maka peneliti ingin mengadakan penelitian tentang Manajemen Program Akselerasi Belajar: Studi Kasus di SMA Negeri 3 Jombang.

Manajemen perpustakaan sekolah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa: studi kasus di SD Negeri Srengat 03 Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar / Arun Widya Atmaja

 

ABSTRAK Atmaja, Arun W. 2009. Manajemen Perpustakaan Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa: Studi Kasus di SD Negeri Srengat 3 Kec. Srengat Kab. Blitar. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd; (2) Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd. Kata kunci: manajemen perpustakaan, motivasi belajar Berbagai upaya dilakukan masyarakat memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. Layanan khusus perpustakaan sekolah yang tepat dan efektif menjadi penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Pemanfaatan layanan khusus perpustakaan bertujuan agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar sebagai penunjang media belajar dan sumber belajar mengajar. Karena perpustakaan sekolah merupakan bagian yang integral dan bagian dari manajemen pendidikan yang vital. Berfungsi untuk mendukung proses menyelenggarakan pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan dengan fokus secara umum yakni manajemen perpustakaan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan dijabarkan sebagai berikut: (1) perencanaan program perpustakaan; (2) pengorganisasian perpustakaan; (3) penggerakan atau actuating; (4) pengawasan perpustakaan; dan (5) motivasi siswa dalam memanfaatkan keberadaan perpustakaan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan manajemen perpustakaan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, tujuan secara rinci untuk mendeskripsikan: (1) perencanaan program perpustakaan; (2) pengorganisasian perpustakaan; (3) penggerakan atau actuating; (4) pengawasan perpustakaan; dan (5) motivasi siswa dalam memanfaatkan keberadaan perpustakaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus yang digunakan adalah studi kasus observasional. Pada penelitian ini peneliti merupakan satu-satunya pengumpul data. Adapun teknik pengambilan data menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang sudah didapatkan akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang meliputi reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi, meliputi triangulasi sumber, metode, penyidik, dan teori. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) perencanaan program perpustakaan dilakukan sesuai dengan tujuan, penambahan bahan pustaka, menerapkan peraturan baru tentang peminjaman buku, serta mampu mengatasi berbagai macam alternatif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan; (2) perpustakaan sekolah ini memiliki struktur organisasi yang memperlihatkan hubungan kerjasama antara bagian-bagian yang ada di dalam organisasi perpustakaan, serta menunjuk orang-orang yang paham tentang pengelolaan iv perpustakaan; (3) penggerakan atau kepemimpinan yang ada di perpustakaan sekolah ini dipimpin oleh kepala sekolah, karena perpustakaan di bawah naungan sekolah maka pemimpin juga oleh kepala sekolah hal ini jika disesuaikan dengan struktur organisasinya, namun untuk keseharian perpustakaan ini di pimpin oleh tenaga pengelola atau pengelola perpustakaan; (4) proses pengawasan di perpustakaan di sekolah dilakukan oleh kepala sekolah. Waktu evaluasi atau pengawasan setiap tahun ajaran dan bentuk laporannya dalam buku secara tertulis oleh pengelola perpustakaan; (5) motivasi siswa dalam memanfaatkan keberadaan perpustakaan, motivasi yang diberikan adalah dengan memberikan bimbingan dan pembinaan tentang keberadaan perpustakaan serta dengan pemberian buku-buku yang dapat siswa gemari yakni buku-buku yang diselipi gambar-gambar sehingga membuat siswa betah untuk berada di perpustakaan, karena dari data yang diperoleh siswa lebih menyukai buku cerita dengan sentuhan gambarnya, dan juga dengan melibatkan siswa dalam kegiatan perpustakaan sehingga mengetahui kegiatan yang ada di perpustakaan. Berdasarkan kesimpulan penelitian dapat disarankan kepada pihak-pihak yang terkait, yaitu: (1) bagi kepala sekolah disarankan untuk terus memberikan arahan dan bimbingannya agar perpustakaan sekolah tetap berjalan lancar dan dapat dimanfaatkan untuk kedepannya; (2) bagi pengelola perpustakaan disarankan lebih mendalami seluk-beluk bagaimana manajemen perpustakaan sehingga layanan dan kegiatan yang ada di perpustakaan dipergunakan dengan baik; (3) bagi siswa, diharapkan terus memanfaatkan keberadaan perpustakaan sebagai penunjang proses belajar; (4) bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan objek yang sama tetapi menggunakan pendekatan yang berbeda atau dengan variabel yang berbeda.

A study on the difference of the tenth and the eleventh graders' ability in writing narrative texts / Retno Fitri Habsari Juniar Ayun

 

ABSTRACT Ayun, Retno Fitri Habsari Juniar. 2009. Studi Perbandingan Kemampuan Menulis Teks Narasi Siswa Kelas Sepuluh dan Kelas Sebelas. Skripsi, Jurusan Sastra Inggris. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Nur Hayati, M.Ed. Kata kunci: kemampuan menulis, karakteristik teks, teks narasi, causal comparative design Menulis merupakan salah satu kemampuan penting bagi para pebelajar bahasa; salah satu alasannya karena menulis dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Menulis juga dapat digunakan sebagai alat untuk merekam informasi, mengembangkan ide-ide baru, menggunakan bahasa melalui banyak pola, dan menciptakan dunia fiksi. Mengingat pentingnya kemampuan menulis inilah maka kurikulum pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia mewajibkan para siswa untuk menguasai keempat kemampuan berbahasa, termasuk kemampuan menulis. Untuk mencapai tujuan ini, kurikulum pengajaran Bahasa Inggris mengadopsi konsep genre yang mengharuskan para siswa tidak hanya mampu menggunakan kalimat-kalimat dalam Bahasa Inggris dengan baik dan benar tetapi juga mampu menyusun teks berdasarkan aturan yang paling sering digunakan oleh para penutur asli Bahasa Inggris. Meskipun demikian, sukses pengajaran menulis tampaknya masih dipertanyakan karena pada kenyataannya guru sering mengabaikan pengajaran menulis. Fakta bahwa menulis merupakan suatu aktivitas yang kompleks yang sayangnya juga tidak termasuk dalam kemampuan yang diujikan dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) merupakan salah satu dari sekian banyak alasan bagi guru untuk mengabaikan pengajaran menulis. Karena alasan inilah, penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat kesuksesan pengajaran menulis khususnya di sekolah menengah atas. Penelitian dengan desain causal comparative ini dilaksanakan untuk menemukan perbedaan yang signifikan dalam (1) kemampuan menulis, (2) kemampuan mengorganisasikan ide, mengembangkan ide, pilihan kata, struktur kalimat, dan penggunaan tanda baca dalam menulis teks narasi antara siswa kelas sepuluh dan kelas sebelas. Sample penelitian ini adalah siswa kelas X-7 dan XI-IPA4 SMA Negeri 1 Malang pada tahun akademik 2008/2009. Hasil karangan siswa, sejumlah 68 karangan yang diperoleh melalui pelaksanaan tes mengarang, merupakan sumber data utama. Karangan tersebut dinilai dengan sistem analytic scoring untuk teks narasi yang dikembangkan dan dipergunakan oleh Missouri Department of Elementary and Secondary Education (2009). Dua analisis statistik dipergunakan untuk mendeskripsikan nilai para siswa: (1) descriptive statistics untuk menemukan Mean, (2) inferential statistics untuk menentukan tingkat signifikansi perbedaan. Dari hasil analisa, bisa disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari segi kemampuan menulis, kemampuan mengorganisasikan ide, mengembangkan ide, pilihan kata, struktur kalimat, dan penggunaan tanda baca antara siswa kelas sepuluh dan siswa kelas sebelas. Para siswa cenderung memiliki kemampuan yang sama. (1) Siswa kelas sebelas telah mampu menyajikan orientation, complication, dan resolution yang baik sebagai bagian utama dari teks narasi, sementara siswa kelas sepuluh mampu menyajikan orientation, complication, dan resolution meskipun kurang begitu sempurna. Baik siswa kelas sepuluh maupun kelas sebelas mampu (2) mengembangkan ide yang logis dan berurutan; (3) menggunakan diksi yang tepat; (4) menggunakan kalimat yang utuh dan lengkap; (5) menggunakan tanda baca tanpa banyak kesalahan. Berdasarkan hasil penelitian, guru disarankan untuk meningkatkan kemampuan menulis para siswanya. Sebelum memulai pengajaran menulis di suatu tingkat, guru sebaiknya mencari tahu apa yang telah dipelajari siswa dan kesulitan-kesulitan mereka sehingga guru bisa melakukan pengembangan yang dibutuhkan. Peneliti yang ingin mereduplikasi studi ini disarankan untuk menggunakan lebih banyak sample dan juga melibatkan siswa kelas dua belas.

A study on the implementation of English extracurricular program at SMP Negeri 1 Malang / Verry Ardhiana Nur

 

ABSTRACT Nur, Verry Ardhiana. A Study on the Implementation of English Extracurricular Program at SMP Negeri 1 Malang. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Niamika El Khoiri, S.Pd, M.A. Keywords: descriptive study, teaching English, English extracurricular program, SMP A lot of materials to be covered combined with the limited time available in English regular class made it difficult for the teachers to apply many interesting and fun activities. As a result, the students might feel bored and not motivated because of the lack of fun activities in learning English. Therefore, SMP Negeri 1 Malang conducted English extracurricular program which functioned as a channel for the students who wanted to improve their English ability through the application of fun and interesting activities out of the school s regular time. This study used a descriptive design which was aimed to describe the implementation of English extracurricular program at SMP Negeri 1 Malang. The subjects of the study were the headmaster, the vice headmaster for student affairs, the English extracurricular teachers, the students who joined the program in class VII.1 and VIII.2, and the students of class VII C and VIII D who did not join the program. The instruments used to collect the data were interview, questionnaire, observation, and documentation. The findings of the study were as follows. First, the facilities provided by the school were classrooms and language laboratory. However, because of some limitations, the facilities were considered insufficient to support the activities in the program. Second, the media used in the program were whiteboards, games, cards, pictures, and worksheets. Third, the materials used were developed by the teachers. Some materials used in the program were biography, description of something, expressions of asking for and giving suggestions, simple present tense, simple past tense, and conversation about Malang Tempoe Doeloe. Fourth, some controlled, semi controlled, and free techniques were implemented in the program such as setting, brainstorming, interview, composition, game, cued dialog, dialogue recitation, identification, mini-drama, story telling, and simple debate. Fifth, related to the students opinions toward the implementation of the program, almost all students supported the implementation of the program in their school. Most of the English extracurricular students said that their English ability had improved since they joined the program. Moreover, the students who did not join the program stated that the program was important to be implemented in their school to give a channel for the students who were interested in English. Finally, the problems in the program were the class overcapacity at the beginning of academic year, the unavailability of program plans and the difficulty of some students to be active in speaking activity because of the low self confidence and limited vocabulary mastery. Based on the result of the study, some suggestions are given for the improvement of English extracurricular program s quality. First, the principal of the school needs to provide more facilities and overcome the class overcapacity problem. The principal is also suggested to evaluate the program regularly that will be useful for the program improvement. Second, it is suggested that the English extracurricular teachers formulize the program plans and use the facilities available. The teachers also need to conduct more various activities in the program. Third, the researcher suggests the other schools which conduct or have a plan to conduct the same program to have a careful program plan which consists of the program specific objectives and the program evaluation system. The schools also need to provide the sufficient facilities to support the program implementation. The last, the researcher suggests other researchers who are interested in conducting the same research on the implementation of English extracurricular program to observe and analyze deeper on other aspects that have not been explored in this study.

The effectiveness of using picture cards on the vocabulary mastery of the second grade students of SMP Sriwedari Malang / Wenita Kusumaningtyas

 

Abstract: This study is a quasi-experimental study aimed to examine whether there is a significant difference in the vocabulary mastery of students between those who are taught using picture cards, as a medium in teaching and learning, and those who are taught without using them. This study was conducted to the second grade students of SMP Sriwedari of academic year 2008/2009. The samples were the two classes of the second grade consisted of 28 students; one class was used as the experimental group and the other one was used as the control group. The instrument used to get the data was the vocabulary test consisting of 30 test items in the form of multiple choice type with four options (15 test items) and matching items type (15 test items). The finding shows that the experimental group got better mean score than the control group. Based on the Independent Samples t Test with the help of the SPSS 14.0 program, it was found that the t value was 7.861 at the 0.05 level of significance. It means that there is a significant difference in the vocabulary mastery of the students taught using picture cards and those taught without using picture cards. Keywords: picture cards, vocabulary, mastery

Pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan starter experiment approach (SEA) untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar fisika siswa SMA Negeri 2 Malang / Dwi Lujeng Hariani

 

ABSTRAK Hariani, Dwi Lujeng. 2009. Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dengan Starter Experiment Approach (SEA) untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Fisika Siswa SMA Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhardjito, M.S; (2) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd. Kata kunci: PBMP, SEA, Kerja Ilmiah, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara terhadap guru matapelajaran fisika di SMA Negeri 2 Malang diperoleh bahwa siswa kelas XI IPA 1 masih belum maksimal dalam melaksanakan pembelajaran fisika. Banyak siswa yang tidak mau bertanya kepada guru dan memberikan jawaban yang kurang sempurna jika guru memberikan pertanyaan. Selain itu, ketika pelaksanaan kegiatan praktikum, siswa cenderung bermain-main dan kegiatan ilmiah siswa masih kurang baik. Siswa cenderung tidak memperhatikan penjelasan guru, terlihat dari beberapa kelompok siswa yang ramai sendiri. Hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang rendah. Untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang tersebut, diterapkan pola pembelajaran pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan Starter Experiment Approach (SEA). Pembelajaran pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) merupakan pola pembelajaran yang berusaha memberdayakan pemikiran melalui pertanyaan. Pola pembelajaran ini sejalan dengan teori konstruktivisme. Siswa secara aktif menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks yang ingin diperoleh secara individu. Starter Experiment Approah (SEA) adalah suatu pendekatan yang mengajak siswa belajar IPA dengan membangun konsep melalui pengamatan dan pengujian terhadap gejala-gejala yang terjadi di alam. Penggabungan antara pola PBMP dengan SEA juga tergolong pembelajaran konstruktivisme yang dapat memicu siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, untuk meningkatkan kerja ilmiah, dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pembelajaran siklus I dan II dilaksanakan dengan cara pengerjaan lembar soal PBMP dengan SEA. Dari hasil penelitian pada siklus I sudah mulai ada peningkatan kerja ilmiah siswa dengan rata-rata 79,80%. Hasil belajar pada siklus I yang dapat dilihat dari rata-rata kelas diperoleh 49,3 untuk aspek kognitif, aspek psikomotorik dan afektif diperoleh rata-rata 82,4% dan 83,0%. Pada siklus II terjadi peningkatan rata-rata kerja ilmiah ssiwa sebesar 88,28%, sedangkan untuk hasil belajar pada aspek kognitif nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 58,5 dan untuk aspek psikmotorik, dan afektif meningkat sebesar 88,28%; dan 90,6%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Pemberdayaan Berpikir Melalui Mertanyaan (PBMP) dengan Starter Experiment Approach (SEA) dapat meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi guru fisika untuk menerapkan pola pembelajaran PBMP dengan SEA sebagai salah satu variasi metode pembelajaran di kelas.

Gambaran perilaku asertif dan perilaku agresif siswa kelas 2 Madrasah aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang / Khoirul Anam

 

Pada tahap perkembangan hidup, keterampilan sosial tertentu harus dikuasai oleh semua individu. Sebagai contoh, anak perlu belajar bagaimana mendapatkan seorang teman, remaja perlu berinteraksi dengan lawan jenis dan orang dewasa harus belajar bagaimana menjadi efektif dalam menjalin hubungan dengan tetangga, teman sejawat, dan orang yang lebih berkuasa. Begitu juga siswa, mereka adalah manusia yang belum dewasa yang berusia diantara 12 tahun sampai 18 tahun. Mereka beinteraksi dengan baik jika mengerti kapan berperilaku yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Dalam melaksanakan hubungan sosial ini, remaja mengembangkan beberapa tingkah laku dalam melakukan komunikasi dengan kelompok atau teman sebayanya di antaranya adalah perilaku asertif dan agresif. Penelitian ini bertujuan mengetahui, (1) Gambaran tentang perilaku asertif siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang, dan (2) Gambaran tentang perilaku agresif siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari tahun pelajaran 2003/2004 yang berjumlah 211 orang siswa, yang terdiri dari 80 orang siswa laki-laki dan 131 orang siswa perempuan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel kelompok dua tingkat (two stage cluster sampel) yaitu sampel yang diperoleh dengan dua tingkat, pertama memilih sampel kelompok secara purposive/dipilih kemudian yang kedua memilih sampel elemen dari kelompok yang terpilih sebagai sampel secara acak. Sampel yang diambil sebanyak 30% atau 65 orang siswa, yang terdiri dari 24 orang siswa laki-laki dan 41 orang siswa perempuan. Dalam mengambil data, penelitian ini menggunakan instrument angket. Analisis yang digunakan adalah persentase. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa: secara umum siswa banyak sekali yang mempunyai perilaku asertif (78,46%), secara rinci aspek perilaku asertif yang menunjukkan skor tertinggi adalah cara membangun harga diri yang ditunjukkan dengan hasil banyak sekali siswa yang dapat menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan orang lain. Sikap kurang asertif masuk dalam kategori sedikit (21,54%), begitu juga dengan perilaku sangat asertif dan tidak/non asertif (0%). Dalam hal perilaku agresif, secara umum siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari banyak yang berperilaku tidak agresif. Adapun rinciannya, sedikit sekali (0 %) siswa sangat agresif, sedikit sekali (0 %) siswa berperilaku agresif, cukup banyak (47,69 %) siswa kurang agresif dan banyak (52,31%) siswa bertingkah laku tidak agresif. Dari hasil penelitian ini, beberapa hal yang dapat disarankan, antara lain: (1) bagi konselor Madrasah Aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang, hendaknya dapat memahami kondisi siswa. Dari hasil penelitian diketahui bahwa banyak siswa di Madrasah Aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang dapat berperilaku asertif dengan sangat efektif dan banyak siswa yang berperilaku tidak agresif. Maka dari itu, konselor dapat mengadakan pengembangan diri siswa dengan mengarahkan layanan bimbingan dan konseling bagi siswa pada bidang pribadi dan sosial sebagai tindakan prefentif atau pencegahan untuk perilaku non asertif dan perilaku agresif, (2) bagi guru, diharapkan dapat lebih meningkatkan penguatan-penguatan yang positif dalam kegiatan belajar mengajar misalnya, ketika siswa mengutarakan pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan., (3) bagi peneliti lain, diharapkan peneliti selanjutnya apabila berminat meneliti dalam hal yang sama, agar menggunakan teknik pengumpulan data yang lain dan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian dalam mengembangkan penelitian perilaku asertif dan agresif selanjutnya.

Perancangan game memasak masakan tradisional yang ada di Malang / Mahmud Ikhsan Fauzi

 

ata kunci: Perancangan, Game Memasak, Masakan Tradisional Saat Indonesia sudah memasuki masa digital, dimana fungsi digital sudah bukan lagi barang yang asing bagi masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Dimulai dengan hadirnya personal computer (PC), handphone, proyektor, hingga notebook atau laptop yang dulu merupakan salah satu barang mewah, tapi kini dapat dengan mudah didapatkan dengan harga yang relatif lebih terjangkau. Tak dipungkiri lagi dengan perkembangan teknologi yang semakin murah tersebut membuka peluang besar bagi berbagai informasi ikut serta berkembang pesat di dalamnya. Di dalam perkembangannya, informasi juga hadir dalam berbagai macam bentuk yang menyesuaikan dengan media yang tersedia, dalam hal ini media digital. Ada berbagai macam contoh bentuk informasi yang dikemas dengan media digital yang dijumpai saat ini, antara lain website, electronic book (e-book), interactive media, game online ataupun offline, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan media digital. Masakan Tradisional Malang merupakan salah satu kekayaan kuliner yang ada di wilayah Malang. Kekayaan ini merupakan ciri khas yang dimiliki serta perlu dijaga kelestariannya karena mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata kuliner. Perbedaan Masakan Tradisional yang ada di Malang dengan masakan modern adalah masakan ini lebih kaya akan bumbu dan rempah alami, terbuat dari bahan yang berasal dari daerah setempat serta masakan yang dihasilkan juga sesuai dengan selera masyarakat setempat. Masakan Tradisional diolah dari bahan segar dan alami sehingga kandungan lemaknya relatif rendah dan aman bagi kesehatan. Dari hasil observasi yang dilakukan di beberapa pasar tradisional dan warung yang menjual masakan tradisional, didapatkan data bahwa salah satu penyebab masih lestarinya masakan tradisional hingga saat ini tidak terlepas dari peran pedagang masakan tradisional. Namun saat ini para konsumen lebih memilih masakan modern daripada masakan tradisional.Hal ini seiring merebaknya makanan cepat saji yang berada di beberapa pusat perbelanjaan modern dan mal-mal serta kurangnya promosi tentang masakan tradisional, mengakibatkan masakan tradisional ini seolah ditinggalkan masyarakat. Jajanan pasar itu juga kian sulit ditemukan baik di beberapa kota besar maupun kecil.

Efektivitas penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung tahun ajaran 2008/2009 / Nining Dwi Puspaningrum

 

ABSTRAK Puspaningrum, Nining Dwi. 2009. Efektivitas Penggunaan Metode Investigasi Kelompok terhadap Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas VII SMP Negeri I Ngunut Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Martutik M.Pd Kata Kunci: metode investigasi kelompok, kemampuan membaca pemahaman. Membaca pemahaman adalah kemampuan seseorang dalam memahami isi atau makna bacaan. Manfaat yang dapat diambil dari terampil membaca pemahaman yaitu dapat menangkap informasi-informasi secara tepat. Pada tiap-tiap jenjang pendidikan terdapat kompetensi kemampuan membaca pemahaman yang harus dilatihkan kepada siswa sesuai dengan tingkat keterampilan membaca pemahaman yang dituntut kurikulum. Oleh karena itu, kemampuan membaca pemahaman perlu dilatihkan untuk menunjang kemampuan siswa dalam menyerap informasi secara tepat dan cepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam menangkap informasi. Berbagai metode dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan membaca pemahaman. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran membaca pemahaman adalah metode investigasi kelompok. Metode investigasi kelompok merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Metode investigasi kelompok melatih siswa untuk berpikir kritis dan bekerja sama dalam menyelesaikan suatu masalah. Selain itu, metode ini mengajarkan siswa untuk berinteraksi dengan siswa lain untuk menyatukan pendapat dalam rangka menyelesaikan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode investigasi kelompok terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa dari segi kemampuan dalam menemukan ide pokok, ide penjelas, dan meringkas isi teks dengan cara merangkaikan ide pokok yang terdapat di dalam teks. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung tahun pelajaran 2008/2009. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung yang berjumlah 352 siswa yang terbagi dalam delapan kelas. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII B dan kelas VII E dengan jumlah 44 siswa tiap kelas. Penentuan sampel ini dilakukan dengan teknik pengambilan sampel klaster (cluster sampling). Pengambilan kedua kelas sampel tersebut dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu kelas VII B sebagai kelas kontrol dan kelas VII E sebagai kelas eksperimen. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain penelitian eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan kelas kontrol dan kelas eksperimen untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman. Instrumen yang digunakan untuk menjaring data kemampuan membaca pemahaman siswa berupa teks yang telah diukur tingkat keterbacaannya. Adapun data dalam penelitian ini berupa skor dalam menemukan ide pokok, ide penjelas, dan meringkas dengan merangkaikan ide pokok baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi langsung yaitu melihat hasil tes yang diperoleh pada saat pretes dan postes. Penghitungan data dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Analisis data dihitung dengan menggunakan uji t dengan kriteria pengujian H1 diterima apabila t0 > 2,018 dan H1 diterima apabila t0 ≤ 2,018 ditolak. Hasil penghitungan yang diperoleh dalam uji t sebagai berikut. Pertama, hasil postes kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam mengidentifikasi ide pokok adalah t0 = 3,26, dengan nilai rata-rata pada kelompok kontrol 68,59 sedangkan kelompok eksperimen 78,68. Kedua, hasil postes kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam mengidentifikasi ide penjelas adalah t0 = 3,14, dengan nilai rata-rata pada kelompok kontrol 74,88 sedangkan nilai rata-rata kelompok eksperimen 87,5. Ketiga, hasil postes kelompok kontrol dan kelompok ekseperimen dalam meringkas isi teks diperoleh hasil uji t dengan adalah t0 = 4,02 dengan nilai rata-rata pada kelompok kontrol sebesar 35,06 sedangkan kelompok eksperimen sebesar 48,86. Sesuai dengan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman dalam mengidentifikasi ide pokok, ide penjelas, dan meringkas isi teks bernilai efektif, maka berdasarkan kriteria pengujian uji t, ketiga aspek kemampuan membaca pemahaman yang telah dihitung dengan uji t menunjukkan bahwa hasil uji t lebih besar dari t tabel yaitu 2,018. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman dalam mengidentifikasi ide pokok, ide penjelas, dan meringkas isi teks.

Pemanfaatan membaca terstruktur di perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan bagi siswa kelas IV SDN Tempuran I / Pinanti

 

ABSTRAK Pinanti 2009. Pemanfaatan Membaca Terstruktur di Perpustakaan untuk Meningkatkan Kemampuan Menceritakan Kembali Isi Bacaan Bagi Siswa Kelas IV SDN Tempuran I. Skripsi, Program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Sutarno, M. Pd, (2) Drs. Sutrisno, M.Pd Kata Kunci : Membaca terstruktur, Menceritakan Kembali Isi Bacaan Membaca tersturktur di perpustakaan adalah membaca terbimbing dengan menggunakan lembar panduan yang dilaksanakan di perpustakaan. Menceritakan kembali isi bacaan adalah menyampaikan maksud seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan tentang sesuatu yang dibaca sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain. Perpustakaan sekolah berperan sebagai sumber belajar yang menunjang pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran, khususnya dalam penyediaan dan pemanfaatan bahan-bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan belajar mengajar di sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan. Berdasarkan observasi, khususnya di SDN Tempuran I pemanfaatkan perpustakaan masih belum optimal, maka dari itu peneliti melaksanakan membaca terstruktur di perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan bagi siswa SDN Tempuran I Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui kemampuan siswa dalam menemukan gagasan-gagasan, meningkatkan ketrampilan siswa mernggunakan bahasa baku secara lisan, meningkatkan ketrampilan siswa untuk menceritakan kembali isi bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri dan sesuai dengan gagasan utama dalam bacaan yang telah dibaca. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan di dalam perpustakaan dan di dalam kelas dengan pemberian bimbingan secara klasikal. Berdasarkan observasi pada siklus I, ternyata masih banyak siswa yang belum memahami isi lembar panduan menceritakan kembali isi bacaan, sehingga pada siklus II diberikan bimbingan secara individu. Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis bertindak sebagai guru dan bekerja sama dengan guru kelas III sebagai kolaborator untuk melakukan pengamatan dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran yang menunjukkan adanya peningkatan ketrampilan menceritakan kembali isi bacaan secara bertahap pada pra tindakan 9,09 % siklus I 54,5 % dan pada siklus II 86,4 %. Hasil tersebut menunjukkan adanya ketuntasan belajar pada pelaksanaan siklus kedua dengan kenaikan dari pra tindakan ke siklus I 45,41 %, siklus I ke siklus II sebesar 32 %. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dengan dua siklus, maka peneliti menyimpulkan bahwa manfaat membaca terstruktur di perpustakaan dapat meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan bagi siswa kelas IV SDN Tempuran I tahun pelajaran 2008 / 2009. Dengan demikian disarankan bagi guru untuk: (1) Memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar siswa pada bidang studi Bahasa Indonesia, kompetensi dasar menceritakan kembali isi bacaan, (2) Memanfaatkan perpustakaan untuk melakukan penelitian pada bidang studi Bahasa Indonesia, untuk kompetensi dasar yang lain, (3) Memanfaatkan perpustakaan untuk melakukan penelitian pada bidang studi yang lain.

Otomatisasi buka tutup pintu air dengan handphone berbasis mikrokontroler / Mohammad Muzakki

 

Alat Otomatisasi Buka Tutup Pintu Air dengan Handphone Berbasis Mikrokontroler dilengkapi dengan sensor ultrasonik sebagai pengukur ketinggian air pada pintu air, sensor posisi sebagai penanda letak daun pintu. Sensor ultrasonik akan mendeteksi ketinggian air, setiap selang waktu 5 menit data ketinggian air akan diolah pada mikrokontroler ATMega8 dengan bahasa pemrograman basic, selanjutnya ditampilkan pada LCD. Kemudian data dikirim melalui handphone logging ke handphone server melalui media SMS. Pada aplikasi database di PC akan ditampilkan kondisi ketinggian air dalam bentuk grafik dan tabel, selanjutnya akan terlihat kondisi ketinggian air dalam kondisi kurang, normal, waspada atau banjir. Operator akan melakukan tindakan membuka atau menutup pintu air dengan mengirim SMS dari handphone server ke handphone logging. Mikrokontroler akan mengolah data perintah membuka atau menutup, selanjutnya perintah akan dikirim ke motor DC untuk menggerakkan daun pintu air untuk membuka atau menutup. Posisi buka-tutup pintu air akan dibatasi dengan sensor posisi berupa limit switch. Ketinggian air pada pintu air ditampilkan pada LCD dengan tampilan Time:hh/mm/ss, Tgg Air:_cm. Mekanik pintu air menggunakan 4 batas ketinggian air meliputi kondisi kurang 0- 5cm, kondisi normal 5-10 cm, kondisi waspada 10-12,5 cm, dan kondisi banjir > 12,5 cm . Sensor posisi yang digunakan berjumlah 6 (LS1, LS2, LS3, LS4, LS5, dan LS6), sebagai pembatas posisi daun pintu air. Pada aplikasi batabase di PC mengunakan batas ketinggian 20 kali dari batas ketinggian yang terukur pada mekanik pintu air. Dari hasil pengujian keseluruhan sistem yang telah dilakukan didapat bahwa ketika ketinggian air 2 cm pada pintu air yang ditampilkan pada LCD, data ketinggian air tersebut dikirim melalui handphone logging ke handphone server di pos pusat pemantauan pada alpikasi database di PC pada pukul 14.00. di aplikasi delphi dapat terlihat data ketinggian air dalam kondisi kurang, jadi operator melakukan perintah LS1, yaitu perintah untuk menurunkan daun pintu air sampai posisi LS1 (limit switch 1). Data perintah dikirim melalui media SMS dari handphone server ke handphone logging yang ada pada rangkaian alat di pintu air untuk menggerakkan pintu air sampai posisi LS1. Kemudian motor DC menggerakkan tangkai daun pintu air dari posisi LS2 ke posisi LS1. Selanjutnya selang waktu 5 menit ketinggian air terdeteksi 4 cm pada pintu air ditampilkan pada LCD yang kemudian dikirim melalui media SMS dari handphone logging ke handphone server di pos pusat pemantauan pada aplikasi database delphi di PC pada pukul 14.05. Pada aplikasi database terlihat ketinggian air dalam kondisi kurang, kemudian operator melakukan perintah LS2. Perintah LS2 dikirim melalui handphone server ke handphone logging pada rangkaian alat di pintu air untuk menggerakkan pintu air menuju posisi LS2. Selanjutnya motor menggerakan tangkai pintu air dari LS1 ke LS2. Sehingga dari 2 contoh pengujian keseluruhan sistem yang telah dilakukan didapat bahwa ketinggian air dapat dikontrol dari kondisi kurang menjadi normal, dan pada kondisi lainnya, seperti kondisi waspada dan banjir menjadi kondisi normal.

Studi metode pelaksanaan, perhitungan konstruksi dan perhitungan rab pada kolom dan balok pada proyek pembangunan swalayan Alfamart di Jalan Raya Singosari KM 73 Malang / Arief Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Arief. 2009. Studi Pelaksanaan Pekerjaan Kolom dan Balok pada Proyek Pembangunan Swalayan Alfamart di Jalan Raya Singosari km 73 Malang. Proyek Akhir , Jurusan Teknik Sipil dan Bangunan, Program Studi Diploma Tiga Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Ir. I Wayan Jirna, MT Kata kunci : Pelaksanaan, Pekerjaan, Kolom,Balok, Beton Bangunan memegang peranan penting dalam kehidupan kita, seperti pada bangunan swalayan Alfamart di Jalan Raya Singosari km 73 Malang. Kolom dan balok adalah elemen struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur di atasnya ke struktur bawahnya. Kegagalan pelaksanaannya akan berakibat langsung pada runtuhnya struktur lain yang berhubungan dengannya. Maka daam hal ini diperlukan metode yang ketat dalam pengawasannya. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok, tahapan dalam pekerjaan kolom dan balok, dan cara pengelolaan tenaga kerjannya. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan pekerjaan beton khususnya pekerjaan kolom dan balok. Metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan memeriksa kelengkapan data. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan kajian pustaka sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Hasil studi pelaksanaan kolom dan balok adalah sebagai berikut. Tahapan pekerjaan kolom dan balok dimulai dari pekerjaan pekerjaan penulangan, bekisting, pengadukan adonan beton, pengecoran, perawatan beton dan pembongkaran bekisting umumnya telah sesuai dengan teori. Namun pada pengecoran terjadi beberapa kesalahan yaitu dalam urutan pemasukan bahan ke dalam mesin aduk dimulai dari air, semen, pasir dan kerikil. Dan kesalahan lainnya yaitu pengangkutan yang dilakukan oleh pekerja kurang terorganisir dan menyebabkan terjadinya segregasi pada beton. Sedangkan untuk pengelolaan tenaga kerja sudah terorganisir dengan baik. Berdasarkan hasil studi lapangan dapat disarankan untuk melakukan pengawasan yang lebih teliti terutama pada pelaksanaan pekerjaan pengecoran yaitu ketika pencampuran adonan. Sehingga didapatkan kualitas beton yang maksimal.

Penerapan metode bermain peran pada pembelajaran bahasa Jerman untuk meningkatkan unjuk kerja berbicara siswa kelas X-RPL SMKN 11 Malang / Sri Suci Dewayanti

 

ABSTRAK Dewayanti, Sri Suci. 2009. Penerapan Metode Bermain Peran pada Pembelajaran Bahasa Jerman untuk Meningkatkan Unjuk Kerja Berbicara Siswa Kelas X-RPL SMKN 11 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tiksno Widyatmoko, M.A., (II) Dra. Sawitri Retnantiti, M.Pd. Kata kunci: Metode Bermain Peran, Berbicara, Bahasa Jerman Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep strategi pembelajaran yang membantu guru untuk menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan memotivasi siswa dalam menghubungan pengetahuan yang dimiliki dengan aplikasinya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bermain peran adalah salah satu metode pengajaran yang dapat digunakan secara efektif untuk mengarahkan siswa dalam mempelajari materi dengan tema tertentu. Metode ini dilaksanakan melalui sembilan tahap, yaitu: (1) memotivasi siswa, (2) memilih peran, (3) menyusun tahap-tahap peran, (4) menyiapkan pengamat, (5) pemeranan I, (6) diskusi dan evaluasi I, (7) pemeranan II, (8) diskusi dan evaluasi II, dan (9) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan unjuk kerja berbicara bahasa Jerman siswa yang meliputi kelancaran berbicara, sikap tubuh, dan volume suara melalui penerapan metode bermain peran. Penelitian ini dilaksanakan pada pembelajaran bahasa Jerman semester I di kelas X-RPL SMKN 11 Malang. Hal ini dilakukan karena siswa seringkali mengalami kesulitan dalam berbicara bahasa Jerman dengan lancar mengenai suatu tema dan masih terdapat banyak siswa yang pasif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Adapun instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi, pedoman wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual metode bermain peran dapat meningkatkan unjuk kerja berbicara bahasa Jerman siswa, sehingga kelas menjadi lebih hidup karena semua siswa dituntut untuk berbicara. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan nilai belajar siswa. Nilai hasil belajar awal sebesar 36,67 meningkat menjadi 61,56 pada siklus I dan 72,45 pada siklus II. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan unjuk kerja berbicara bahasa Jerman. Oleh karena itu, disarankan agar pengajar dapat menggunakan berbagai macam metode pengajaran dan sekaligus menggunakan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk mengajar agar tercipta kondisi kelas yang lebih hidup dan menarik.

Hubungan antara motivasi memilih jurusan restoran dan hasil belajar siswa SMK Negeri 7 Malang / Rudi Barianto

 

ABSTRAK Barianto, Rudi. 2009. Hubungan Antara Motivasi Memilih Jurusan Restoran dan Hasil Belajar Siswa SMK Negeri 7 Malang”. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd, (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.kes. Kata kunci : hasil belajar, smk negeri 7, motivasi memilih jurusan Sekolah merupakan tempat menimba ilmu secara formal, karena di sekolah terlaksana serangkaian kegiatan yang terencana dan terorganisir. Di Indonesia sekolah lanjutan tingkat atas ( SLTA) terdiri dari tiga, yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK Negeri 7 Malang merupakan sekolah kejuruan yang terdiri dari 3 program keahlian seperti, program Tata Boga (restoran), Tata Busana, dan Analisis Kimia. Salah satu jurusan yang sedang berkembang di SMK Negeri 7 Malang adalah jurusan restoran. Dari dua puluh mata diklat yang diajarkan pada semester ganjil tahun ajaran 2008/2009, masih banyak siswa yang belum mencapai KKM yang diinginkan oleh pihak sekolah. Dari uraian di atas penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Hubungan Antara Motivasi Memilih Jurusan Restoran dan Hasil belajar Siswa SMK Negeri 7 Malang”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut a) Rancangan Penelitian yang digunakan adalah regresi sederhana dan berganda, (b) Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X jurusan restoran SMK Negeri 7 Malang yang berjumlah 50 orang, (c) Instrumen Penelitian pada penelitian ini menggunakan angket/ kuesioner, (d) Pengujian Instrumen pada penelitian ini adalah uji validitas dan reliabilitas, (e) Pengumpulan Data dalam penelitian ini langkah-langkahnya adalah tahap persiapan dan tahap pelaksanaan, dan (f) Teknik Analisis Data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan korelasional. Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi siswa SMK Negeri 7 Malang jurusan restoran adalah tinggi yaitu sebesar 74%, hasil belajar siswa tergolong tinggi yaitu 7,00-8,49, hasil analisis deskriptif dan korelasional menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi intrinsik maupun ekstrinsik terhadap hasil belajar, baik secara sendiri-sendiri maupun simultan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pengaruh yang signifikan antara motivasi memilih jurusan dan hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik dan dapat disarankan kepada sekolah dan orang tua untuk lebih memberikan lagi motivasi kepada siswanya dan anaknya, untuk peneliti lain agar variabel yang diteliti bisa lebih banyak lagi sehingga dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan.

Perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok di SMA Negeri 3 Bondowoso / Izatul Millah

 

ABSTRAK Millah, Izatul. 2009. Perbedaan Persepsi terhadap Bahaya Merokok antara Remaja Perokok dan Bukan Perokok di SMA Negeri 3 Bondowoso. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Triyono, M.Pd. (II) Dr. Adi Atmoko, M.Si. Kata Kunci: Persepsi, Bahaya Merokok, Remaja, Perokok, Bukan Perokok Perilaku merokok yang semakin marak di kalangan remaja, dimungkinkan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap bahaya merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi terhadap bahaya merokok pada remaja perokok, dan (2) pada remaja bukan perokok, serta (3) perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain deskriptif komparatif pada populasi seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Bondowoso, tahun ajaran 2008/2009. Sampel diambil dengan teknik stratified random sampling dengan cara mengundi tiap-tiap tingkatan kelas sebanyak dua kelas. Data diambil dengan menggunakan angket, dan dianalisis dengan teknik persentase dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) siswa perokok yang memiliki persepsi tepat terhadap bahaya merokok sebesar 66,1% dan tidak tepat sebesar 27,1% serta sangat tepat sebesar 6,8%, (2) siswa bukan perokok yang memiliki persepsi sangat tepat terhadap bahaya merokok sebesar 70,1% dan persepsi tepat sebesar 29,9%, dan (3) ada perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok (t = 12,335 dan sig = 0,000 < 0,05), dan persepsi terhadap bahaya merokok pada remaja bukan perokok lebih tepat dibandingkan dengan remaja perokok (selisih mean = 24,75655). Remaja perokok ternyata juga memiliki persepsi yang tepat terhadap bahaya merokok, karena itu penyuluhan bahaya merokok dimungkinkan kurang efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok, maka disarankan untuk kepala sekolah membuat kebijakan dengan memberikan sanksi tegas bagi seluruh personil sekolah yang merokok di sekolah. Bagi konselor hendaknya memberikan layanan konseling dengan pendekatan behavioral (membuat kontrak perilaku) guna menghentikan kebiasaan merokok dan mengadakan konseling kelompok dengan mendatangkan mantan pecandu rokok yang berhasil berhenti merokok sebagai model untuk berbagi pengalaman dengan siswa perokok sedangkan bagi siswa bukan perokok konselor dapat memberikan bimbingan kelompok tentang bagaimana cara menghadapi tekanan dari teman perokok sehingga siswa dapat menghadapi dan menolak rayuan untuk merokok. Bagi siswa perokok hendaknya mengikuti terapi berhenti merokok, dan bagi siswa bukan perokok hendaknya memiliki keberanian untuk menegur teman yang merokok disekitar mereka. Bagi orangtua, hendaknya memberikan dukungan sosial pada anak untuk berhenti dan menghindari merokok. Bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian eksperimen untuk menghentikan kebiasaan merokok serta mengembangkan media pengetahuan mengenai bahaya merokok.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi return saham pada perusahaan food and beverages di Bursa Efek Indonesia periodetahun 2004-2007 / Muhammad Farid Firmansyah

 

ABSTRAK Firmansyah Farid, Muhammad. 2009. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham Pada Perusahaan Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2004-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Puji Handayati, S.E., M.M., Ak., (II) Helianti Utami, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci : Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Economic Value Added (EVA), return saham. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan investor memilih saham suatu perusahaan untuk menanamkan modalnya. Salah satu faktor yang sangat diperhatikan oleh investor dalam memilih saham adalah kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian, dari sudut pandang investor, kinerja keuangan yang baik pada suatu perusahaan akan menawarkan tingkat return yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain yang memiliki kinerja keuangan yang lebih buruk. Analisis rasio merupakan suatu teknis analisis yang banyak digunakan dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan meliputi Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Economic Value Added (EVA). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara variabel Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Economic Value Added (EVA) terhadap variabel return saham. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan perusahaan dan data harga saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam Perusahaan Food and Beverages periode 2004-2007 sebanyak Dua puluh satu (21) perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak delapan belas (18) perusahaan. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purpossive sampling. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Economic Value Added (EVA) terhadap variabel return saham baik secara parsial maupun secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial hanya variable Return On Assets (ROA) dengan nilai signifikansi 0.000 dan Earning Per Share (EPS) dengan nilai signifikansi 0.009 dimana kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh terhadap return saham. Sedangkan secara simultan variabel Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Economic Value Added (EVA) terhadap variabel return saham. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel-variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap pergerakan harga saham, menambah periode observasi, dan mengganti sampel penelitian, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya.

Keselamatan dan kesehatan kerja dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja karyawan operasional departemen produksi (studi pada PT. Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan) / Firdaus Pamungkas

 

ABSTRAK Faradiana, Iva. 2009. Manajemen Program Akselerasi Belajar: Studi Kasus di SMA Negeri 3 Jombang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd, (II) Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd. Kata kunci: manajemen, program akselerasi belajar Program akselerasi belajar adalah suatu bentuk program yang pelaksanaannya bertujuan untuk memberikan pelayanan terhadap peserta didik yang memiliki bakat dan kecerdasan istimewa. Istilah akselerasi ini menunjukkan pada pelayanan yang diberikan dan kurikulum yang disampaikan. Program akselerasi ini juga disebut sebagai program pemampatan waktu belajar Pengelolaan program akselerasi ini diawali dari kegiatan perencanaan, baik perencanaan penyelenggaraan maupun perencanaan struktur programnya, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi atau sistem penilaiannya. Penelitian ini memfokuskan kajian tentang manajemen program akselerasi belajar di SMA Negeri 3 Jombang, secara rinci ada empat sub fokus yaitu: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pelaksanaan; dan (4) sistem penilaian program akselerasi belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pelaksanaan; dan (4) sistem penilaian program akselerasi di SMA Negeri 3 Jombang. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Jombang yang merupakan salah satu sekolah menengah atas dengan akreditasi A di Kabupaten Jombang. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus. Untuk pengumpulan data, menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisis guna mendapatkan temuan penelitian. Keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) perencanaan program akselerasi di SMA Negeri 3 Jombang mencakup dua hal, yakni tentang perencanaan pelaksanaan program akselerasi dan penyusunan program, perencanaan program akselerasi, dilakukan melalui tiga langkah yakni, kegiatan workshop, pembentukan tim, dan sosialisasi kepada guru. Penyusunan program akselerasi dilakukan sesuai dengan penyusunan program untuk kelas reguler, namun perbedaannya hanya terletak pada alokasi waktu dan media pembelajaran yang digunakan, untuk program kelas akselerasi disusun setiap semester hanya 4 bulan; (2) secara struktural organisasi dari program akselerasi ini dipimpin oleh seorang manajer, namun manajer tersebut bukanlah kepala sekolah, pengelolaan program akselerasi tidak sama dengan program reguler, oleh karena itu pengorganisasian program akselerasi dikelola oleh sebuah tim, terdiri atas tiga orang yakni manajer, sekretaris, dan bendahara. Kepala sekolah menunjuk seorang guru untuk menjadi manajer, walaupun begitu semua tanggungjawab dan keputusan berada di tangan i kepala sekolah; (3) pelaksanaan program akselerasi dikategorikan lancar, hal ini bisa terjadi karena adanya penanganan yang sungguh-sungguh jika menghadapi masalah, diawali penerimaan siswa baru sampai dengan siswa lulus. Persyaratan untuk siswa yang mengikuti program akselerasi adalah siswa SMP kelas IX dengan nilai raport rata-rata dari semester I sampai dengan V adalah 8, dan IQ lebih dari 130. Jumlah siswa yang mengikuti program akselerasi adalah 18-20 orang siswa. Pelaksanaan program akselerasi dilengkapi dengan ICT dan sarana multimedia. Namun begitu, sekolah masih kekurangan sarana untuk almari penyimpanan materi dan perpustakaan kelas, tetapi kekurangan ini tidak mengganggu kelancaran kegiatan belajar mengajar. Program akselerasi ini dilaksanakan selama 6 semester. Pelaksanaan program akselerasi juga mendapat pengawasan yang rutin dari manajer. Pengawasan dilaksanakan untuk kegiatan belajar harian, kegiatan ujian, kegiatan laporan kepada orangtua, dan pengaduan orangtua kepada tim maupun sekolah; dan (4) sistem penilaian program akselerasi di SMA Negeri 3 Jombang meliputi dua hal, yakni tentang pertanggungjawaban kepada orangtua dan instansi terkait (Dinas Pendidikan Kabupaten dan Propinsi) serta penilaian akademik siswa. Pertanggungjawaban sekolah kepada orangtua meliputi dua hal yakni tentang akademik dan psikologis siswa. Bentuk pertanggungjawaban dilaksanakan setiap 2 (dua) tahun sekali yakni semenjak siswa dinyatakan diterima sampai dengan lulus. Sedangkan pertanggungjawaban sekolah kepada instansi terkait dilaksanakan setiap 1 (satu) tahun sekali. Walaupun secara prosedural dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali. Pertanggungjawaban dilakukan dengan teknik supervisi. Untuk penilaian akademik siswa, sistem yang dilakukan sama dengan penilaian siswa kelas reguler. Namun standar KKM yang digunakan lebih tinggi. Bentuk evaluasi yang digunakan adalah teknik tes secara tertulis dan lisan. Pelaksanaan program akselerasi berdampak sangat positif, siswa sangat enjoy dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Hal ini dikarenakan sekolah memberikan kebebasan para siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sehingga siswa tidak terlalu terbebani dengan tugas sekolah. Berdasarkan kesimpulan, penelitian ini menyarankan kepada: (1) pihak sekolah atau tim khususnya diharapkan dapat lebih membuat standar kegiatan untuk program akselerasi agar dapat mengetahui kekurangan dan tingkat keberhasilan tercapainya tujuan dari kegiatan tersebut, untuk pembagian tugas tim, hendaknya lebih dibuat deskripsi yang jelas sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan tugasnya; (2) Dinas Pendidikan (Diknas) diharapkan untuk lebih memberikan dukungan dalam penyelenggaraan program akselerasi, dan untuk meningkatkan frekuensi pengawasan atas jalannya program akselerasi; (3) Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan dapat memberikan banyak kajian tentang pengelolaan program akselerasi belajar karena pengelolaan program akselerasi merupakan bagian dari manajemen pendidikan; dan (4) bagi peneliti lain yang melakukan penelitian dengan tema yang sama, agar dapat melaksanakan dengan pendekatan yang berbeda sehingga dapat memperkaya data program akselerasi.

Meningkatkan pembelajaran membaca menulis permulaan dengan model kartu huruf di kelas I SDN Kemiri Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan / Erlinawati

 

ABSTRAK Erlinawati.2009.Meningkatkan Pembelajaran Membaca Menulis Permulaan dengan Model Kartu Huruf di Kelas I SD Negeri Kemiri Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd, (2) Drs. A. Badawi, M.Pd Kata Kunci : Pembelajaran membaca menulis, membaca menulis permulaan, kartu huruf Kemampuan membaca menulis merupakan landasan utama untuk menimba ilmu pengetahuan. Untuk itu kemampuan membaca menulis perlu diterapkan sejak dini. Berdasarkan hasil observasi di kelas I SDN Kemiri, kemampuan berbahasa Indonesia khususnya kemampuan membaca menulis permulaan perlu diadakan perbaikan proses pembelajaran guna meningkatkan kemampuan membaca menulis. Ruang lingkup penelitian ini meliputi aktifitas guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan media kartu huruf. Obyek penelitian hanya pada siswa-siswi kelas I SDN Kemiri kemiri semester ganjil tahun pelajaran 2008-2009. Hal yang diteliti mengenai keberhasilan pembelajaran membaca menulis permulaan dengan menggunakan media kartu huruf . sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah metode SAS. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan proses pembelajaran membaca menulis permulaan dengan model kartu huruf dan perkembangan kemampuan membaca menulis permulaan. Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menguunakan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga tahap kegiatan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan tahap refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran membaca menulis permulaan dengan model kartu huruf dapat mempermudah pemahaman siswa akan huruf-huruf sehingga mempermudah untuk merangkai suku kata, kata, dan kalimat. Penelitian dilakukan pada 40 siswa, hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata pada siklus I sebesar 40,2% ( kegiatan pra siklus I ) meningkat menjadi 63,25. Pada siklus II menunjukkan peningkatan prosentase dari 63,2% (kategori sedang ) menjadi 72,1% (kategori baik). Sedangkan dari hasil observasi pada siklus I dan siklus II siswa menyukai pembelajaran membaca menulis menggunakan media kartu huruf, hal ini ditunjukkan dengan 50% pada siklus I siswa dalam kategori baik, dan 55% siswa pada siklus II dalam kategori baik sekali. Selain hasil belajar dan observasi, dan wawancara dengan guru dan siswa kelas 1 menunjukkan peningkatan prestasi belajar yang berarti, hal ini terbukti siswa lebih menyukai model kartu huruf karena merasa belajar sambil bermain.

Pengaruh kondisi tata ruang kantor terhadap semangat kerja pegawai (studi pada bagian keuangan Kantor Pemerintah Kota Mojokerto) / Christia Maria

 

Manusia diciptakan sebagai mahkluk sosial, karena untuk mempertahankan hidupnya manusia diwajibkan untuk saling berhubungan dengan individu lain. Di samping itu setiap manusia dalam hidupnya tentu mempunyai kebutuhan. Kebutuhan merupakan suatu hal yang wajar bagi setiap orang untuk mencapai cita-citanya. Kebutuhan adalah keinginan setiap manusia terhadap benda atau barang dan jasa di dalam memenuhi dan mempertahankan hidupnya, yang pemuasannya bisa dilakukan baik bersifat jasmani maupun rohani. Dalam usahanya untuk berhubungan dengan orang lain dan memenuhi kebutuhan guna mencapai kemakmuran diperlukan adanya kerjasama antar individu dengan individu yang lainnya. Dengan bekerja sama, manusia akan dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan dan ditetapkan bersama-sama. Kebersamaan itu terwujud apabila mereka menyadari dan menyatukan keterbatasan yang dimilikinya masing-masing, sehingga diperlukan upaya untuk saling membantu dalam mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu mereka perlu mengadakan kegiatan yang disebut administrasi. Menurut Brech (dalam Mills, dkk 2002:3), administrasi adalah “ Bagian dari proses manajemen yang berhubungan dengan instansi dan pelaksanaan prosedur yang digunakan untuk menentukan dan mengkomunikasikan program dan perkembangan kegiatan diatur dan dicek berdasarkan target dan rencana”.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student teams achiecement division STAD) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Jerman siswa kelas X 11 Malang / Lilla Wahyuningsih

 

ABSTRAK Wahyuningsih, Lilla. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (STAD) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Jerman Siswa Kelas X SMKN 11 Malang. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Bahasa Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Herri Akhmad Bukhori M.A, M.Hum, (2) Sri Prameswari Indriwardhani, M.Pd. Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif model STAD, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa. Hasil wawancara dengan guru bahasa Jerman di SMKN 11 Malang menunjukkan bahwa metode ceramah yang diterapkan guru pada mata pelajaran bahasa Jerman terasa membosankan dan kurang efektif. Oleh karena itu, diperlukan metode lain yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah Student Teams Achievement Division (STAD). Metode ini mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam sebuah kelompok. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar bahasa Jerman siswa kelas X SMKN 11 malang dan (2) untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Jerman siswa kelas X SMKN 11 Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam dua siklus tindakan, yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-Mo2 SMKN 11 Malang dengan jumlah 42 siswa. Dalam penelitian ini data berupa deskripsi dari hasil observasi aktivitas siswa, angket respon siswa dan hasil pre-test dan post-test serta ketuntasan belajar pada tiap-tiap siklus. Langkah pembelajaran berorientasi pada metode pembelajaran kooperatif model STAD yaitu (1) penyajian kelas, (2) kelompok, (3) tes atau kuis, (4) skor peningkatan individu, dan (5) penghargaan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan data aktivitas siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 57,7% dengan taraf keberhasilan “cukup” meningkat menjadi 80,3% dengan taraf keberhasilan “sangat baik” pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan rata-rata hasil belajar siswa. Sebelum perlakuan (pre-test) rata-rata hasil belajar siswa sebesar 61,6 dengan ketuntasan klasikal 54,7%, pada siklus I meningkat menjadi 76,7, pada siklus II meningkat menjadi 82,3 dan setelah perlakuan (post-test) rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 87 dengan ketuntasan klasikal 100%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu hendaknya guru bidang studi dapat menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD dalam proses pembelajaran.

A Mighty Heart: a propaganda film in the 9/11 aftermath / Silvia Carolina

 

ABSTRACT Carolina, Silvia. 2009. A Mighty Heart: Propaganda Film in the 9/11 Aftermath.. Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Evi Eliyanah, S.S., M.A. Keywords: 9/11 Aftermath, Propaganda Film, Terrorism, A Mighty Heart. September 11, 2001 has become a turning point of the world. The blasting tragedy on both the symbol of established capitalist power, the World Trade Center, and the symbol of established power intelligence, the Pentagon, has marked the initiation of a new era in the history. Not only has the Cold War ended, but it is also the rises of the era of post 9/11. In response to this, President Bush called for a war. Besides the military forces, the war of ideas, or propaganda, is far more significant than ever. In this very circumstances of war on terrorism, Chossudovsky (2003) said the corporate media are controlling the public mind. The world is insisted on seeing the reality published in the public through media, either news media or even media entertainment. Propaganda after 9/11 should be able to convince especially the Muslim world that the Islamic terrorist is the current hazardous group. One of the essential propaganda tools is propaganda film, since Hollywood movies are prevailing worldwide. A Mighty Heart is one of the films depicting the issue of 9/11 aftermath. The purpose of this research is to analyze whether this film is a propaganda, and if so, how the propaganda operates in the film to potentially influence the viewers. In order to answer such questions, I use some theories of propaganda techniques, a slight theory of persuasion and public opinion, and other theories supporting this analysis. So far, very few do I find researches about Propaganda in the 9/11 aftermath, neither do I find research about A Mighty Heart using the approach of propaganda. Meanwhile, myriad analysis on propaganda films of the Cold War and the World Wars are found. Therefore, this thesis is worth conducting. The results of the analysis show that A Mighty Heart does have a power of persuasion that makes it a propaganda film in the 9/11 aftermath. A Mighty Heart applies propaganda techniques in order to be able to influence the viewers to approve what the propagandist disseminates. The film exhibits so strong emotional appeals that the viewers can hardly deny: the woman viewpoint, in general, and Muslim viewpoint in some parts. Propaganda techniques, such as name calling, glittering generalities, transfer, testimonial, plain folks, card stacking, bandwagon, and identification are employed in the fabrication of reality and fabrication of us and them, which play significant roles in the effectiveness of propaganda in this warfare. The application of the techniques above-mentioned, as I have attempted to analyze, have enriched A Mighty Heart to have a huge potency as a propaganda film for the public in the 9/11 aftermath.

Pengaruh motif berbelanja konsumen terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar / Wiji Tri Lestari Ningsih

 

ABSTRAK Ningsih,Wiji, Tri Lestari. 2009.“ Pengaruh Motif Berbelanja Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar”.Skripsi.Program Studi Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing(I) Dr. F. Danardana Murwani, M.M. (II) Drs. M. Hari, M.Si. Kata Kunci : Motif Berbelanja,Keputusan Pembelian Konsumen. Banyaknya pusat-pusat perbelanjaan dewasa ini, semakin memanjakan kebutuhan berbelanja konsumen. Di Indonesia jumlah minimarket, supermarket, sampai pasar dan toko modern raksasa seperti Hypermarket dapat dengan mudah kita temukan. Berdasarkan data PT ACNielsen Indonesia (2007) persentase, pertumbuhan pasar dan toko modern lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pasar dan toko tradisional, yaitu toko modern tumbuh 14 persen, sedangkan toko tradisional hanya 3 persen. Penelitian tentang konsumen tumbuh/berkembang secara menarik sejalan dengan pengalaman belanja konsumen yang terkait dengan beberapa kegiatan konsumtif antara untuk kesenangan atau karena kebutuhan. Nilai bersenang-senang dalam berbelanja menggambarkan nilai hiburan dan emosional yang potensial. Tidak semua orang melakukan kegiatan berbelanja karena untuk memenuhi kebutuhan, tetapi ada juga orang beralasan kegiatan berbelanja sebagai bagian untuk bersenang-senang atau sebagai pelarian disaat menghadapi masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Gambaran keputusan berbelanja konsumen di Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (2) Pengaruh utilitarian shopping motives terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan Blitar. (3) Pengaruh hedonic shopping motives terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (4) Pengaruh utilitarian shopping motives dan hedonic shopping motives secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Pada penelitian ini, variabel bebas (X) yaitu Motif Berbelanja yang terdiri dari dua subvariabel yaitu Utilitarian Shopping Motives (X1 ) dan Hedonic Shopping Motives (X2). Sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah keputusan pembelian. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen / pelanggan yang berbelanja di Bentar Dipayana Swalayan Blitar, yang jumlahnya tak terhingga. Untuk menentukan sampel digunakan rumus Daniel dan Terrel, dengan tingkat kesalahan sebesar 0,05 ditemukan sampel sebanyak 113. Untuk pengambilan sampel menggunakan metode Accidental sampling dan metode pengumpulan data adalah dengan menyebarkan angket/kuesioner. Sedangkan analisa data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Rata-rata responden menyatakan setuju dengan faktor-faktor pembentuk motif berbelanja dan faktor-faktor pembentuk keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar (2) Ada pengaruh yang positif signifikan dari utilitarian shopping motives secara parsial terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (3) Ada pengaruh yang positif signifikan dari hedonic shopping motives secara parsial terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (4) Ada pengaruh yang positif signifikan dari utilitarian dan hedonic shopping motives maupun simultan terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah (1) Manajemen Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Perusahaan hendaknya mampu memanfaatkan secara maksimal Utilitarian Shopping Motives dan Hedonic Shopping Motives, sehingga harapan perusahaan untuk dapat melayani semua lapisan masyarakat dapat terwujud.Untuk menarik konsumen yang motif berbelanjanya adalah Utilitarian Shopping Motives perusahaan dapat menyediakan ragam kebutuhan sehari – hari berdasarkan manfaat produk tersebut secara lebih variatif, baik dari segi harga maupun pilihan produknya. Sementara untuk mendapatkan konsumen yang motif berbelanjanya Hedonic Shopping Motives, perusahaan lebih memfokuskan lagi pada produk-produk apa yang biasanya motif pembeliannya berdasarkan motif ini. (2) Pada peneliti berikutnya disarankan agar dapat meneruskan penelitian ini pada obyek dan variabel yang lebih kompleks lagi.

Pengaruh collateral assets, leverage dan investment opportunity set (IOS) terhadap kebijakan deviden / Uun Undarti

 

ABSTRAK Undarti, Uun. 2010. Pengaruh Collateral Assets, Leverage dan Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Kebijakan Dividen. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Makaryanawati, S.E., M.Si., Ak., (II) Ika Putri Larasati, S.E., M.Com Kata kunci: Collateral assets, Leverage, Investment Opportunity Set (IOS), Kebijakan Dividen Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Penetapan kebijakan dividen ini sangat penting karena berkaitan dengan tujuan utama perusahaan yaitu untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh variabel independen Collateral Assets (X1) yang diukur dengan menggunakan rasio aktiva tetap terhadap total aktiva, Leverage (X2) yang diukur dengan menggunakan times interest earned ratio, dan Investment Opportunity Set (X3) yang diukur dengan menggunakan rasio market to book value of equity terhadap variabel dependen Kebijakan Dividen (Y) yang diukur dengan dividend yield. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari ICMD dan dari situs www.idx.com dengan metode dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa semua variabel bebas yang terdiri dari collateral assets, leverage dan investment opportunity set (IOS) tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Sehingga penelitian ini tidak sesuai dengan teori keagenan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: (1) bagi manajemen perusahaan, meskipun pada penelitian ini collateral assets, leverage dan investment opportunity set (IOS) terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen karena perusahaan beranggapan bahwa kenaikan dividen merupakan sinyal bagi investor akan prospek perusahaan di masa depan sesuai dengan signaling theory, akan tetapi perusahaan tetap memperhatikan IOS yang terbukti dapat mengurangi agency cost antara manajer dengan pemegang saham, (2) calon investor selain melihat besarnya dividen yang akan diterima, sebaiknya juga melihat catatan atas laporan keuangan untuk menganalisis tingkat kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Selain itu, investor juga harus lebih jeli dalam melihat adanya kesempatan investasi perusahaan yang lebih menguntungkan, (3) bagi penelitian selanjutnya, peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap kebijakan dividen. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mencoba menggunakan lima proksi yang biasanya digunakan untuk mengukur IOS. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat juga menggunakan sampel perusahaan berdasarkan jenis industri tertentu dan menambah periode penelitian sehingga dapat memberikan hasil yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

Peranan serikat pekerja dalam membina hubungan industrial (studi kasus serikat pekerja pada BRI Kantor Cabang Martadinata Kota Malang) / Muaddib

 

ABSTRACT Muaddib. 2009. The Role of Labour Union in Developing Industrial Relations (A case study of Labor Union in the BRI Martadinata Branch-Office Malang). Management Department of State University of Malang. Advisers : (1) Dr. Budi Eko Soetjipto,M.Ed.,M.Si (2) Afwan Hariri A.P.S.E ,M.Si Keywords : Labour Union, Industrial Relations Reformation has given many changes to the democrational existent in Indonesia, including the labour existent, one of them is by publishing UU No.13 Tahun 2003 about employment and UU No.21 Tahun 2001 about the labour unions. Labourers are given a freedom guarantee to build organizations of labour union in the companies, likewise with the system of industrial relation. Nowadays, the system of industrial relations has been more decentralized, the mechanism of taking decisions dealing with the system of industrial relations has also been more dialogic. In order to do that, the labour unions have important roles in establishing the industrial relations. Labour union is a labour organization which is created to improve, protect, and repair the social, economic, and political problems from its own members through collective action. In fact, this labour union will affect the policies which are going to be decided by management. Industrial relation is a relational system composed among labours/workers, and government which is based on the aspects of Pancasila and UUD 1945. Industrial relations will discuss the whole aspects and economic, social, politic, and cultural problems; directly or indirectly, which is related to the relations among the labours and the labourers. This research is using descriptive-qualitative approach. Descriptive research is aimed to get informations dealing with present situation and only explain about the real situation of the object which is analyzed. Because of that, this research doesn’t test hypothesis, rather than only describes informations based on the fact. In this research, the instrument is the researcher himself who plans, does, collects data, analize, evaluated, and report the research result. The result of this research explains that labour unions have been well functioned on the process of building the company rules through discussion forum which is implemented in the branch level, regional, and central. The rules of BRI company have been well implemented labour union, and management have realized the whole regulations, include their authority and obligation. The rules of BRI company are applied as a guide for the labour union and management in carrying out the activities and businesses. While the function of an institution in biparting corporation of BRI Martadinata Branch- Office is as a communication forum and a consultation for the labour union and management. Moreover, another function of bipartit institution is as a forum to solve the disagreement and the problems related to industrial relations. Many problems have been well solved through bipartit institution. Based on the result of this research above, labour union of BRI Martadinata Branch-Office Malang may be suggested to be more decisive and more pro, moreover it will be more effective if the labour union had its own offices to support its operational organization. It is expected for the next research to more lengthen the presence and participation of the researcher in this research, decide the focus and the problems of the research more specifically.

Revealing the effects generated by the translation strategies used in translating Taboo expressions in the novel Eleven Minutes from English into Indonesian / Kurnianing Mahardini

 

ABSTRACT Mahardini, Kurnianing. 2009. Revealing the Effects Generated by the Translation Strategies used in Translating Taboo Expressions in the Novel Eleven Minutes from English into Indonesian. Skripsi, Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Setyadi S, M.Pd. Permasalahan mengenai penerjemahan antar budayaan sangatlah menarik untuk dibicarakan disaat film-film dan buku-buku untuk dewasa banyak diterjemahkan. Masalah muncul ketika seorang penerjemah dihadapkan pada ungkapan-ungkapan yang berbau tabu pada teks sumber dan menuntut pememilihan strategi yang akan ia gunakan untuk menerjemahkan kata-kata tersebut. Eleven Minutes adalah sebuah novel populer yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Versi indonesia dari novel ini, Sebelas Menit, diterjemahkan oleh dua penerjemah professional, Tanti Lesmana dan Arif Subiyanto. Ketika penulis membaca novel ini, ia menemukan banyak kata yang dianggapnya tabu berdasarkan nilai-nilai ketimuran, khususnya, nilai-nilai dalam kebudayaan Indonesia. Permasalahan tersebut sangat menggelitik penulis untuk menemukan strategi-srategi yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan ungkapan-ungkapan tabu, khususnya ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan aktivitas seksual. Hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih dalam tentang pertimbangan-pertimbangan apa saja yang harus diambil oleh para penerjemah dalam mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada diantara budaya bahasa asal dan sasaran. Sebelas Menit adalah buku best seller internasional oleh penulis The Alchemist. Penelitian ini menggunakan ungkapan-ungkapan tabu yang di temukan dalam novel Eleven Minutes sebagai subjeknya karena dalam studi literatur, kata-kata tabu tergolong dalam ‘bahasa yang dilarang' atau ‘bahasa yang kasar' (Drozde dan Vogule, 2008:24). Yang dimaksud dengan ungkapan tabu dalam penelitian ini adalah ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan seksualitas, khususnya bagian yang memaparkan tentang aktivitas seksual. Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang menggandung ungkapan-ungkapan tabu dari novel Bahasa Inggris Eleven Minutes dan versi Indonesianya Sebelas Menit pada bagian yang memaparkan tentang aktivitas seksual. Dari kalimat-kalimat ini, ungkapan tabu akan diidentifikasi dan dikatagorikan berdasarkan efek-efek yang ditimbulkan dari penggunaan strategi-strategi yang digunakan oleh penerjemah. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa, ada tiga efek yang dihasilkan dari penggunaan strategi-strategi penerjemahan yaitu efek memperhalus, melebih-lebihkan, dan sepadan. Efek memperhalus muncul ketika penerjemah menerjemahkan ungkapan-ungkapan dari bahasa sumber dengan bahasa tidak langsung dan mengurangi elemen semantik yang terkandung dalam ungkapan yang terdapat pada bahasa sasaran. Untuk menghasilkan efek memperhalus, ada tiga strategi yang digunakan oleh penerjemah yaitu strategy paraphrase, synonymy, dan kombinasi. Efek kedua, melebihkan, didapatkan dari adanya elelmen semantik tambahan yang muncul pada ungkapan terjemahan. Efek ini dihasilkan dari penggunaan strategi synonymy, penambahan, dan kombinasi. Efek yang terakhir, sepadan, didapat ketika ungkapan bahasa sumber memiliki arti dan efek yang sama dengan ungkapan bahasa sasaran. Efek sepadan diperoleh dari penggunaan strategi naturalisasi dan literal. Efek yang sering kali muncul adalah efek melebihkan (58.54%). Efek ini mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat gambaran sensual yang tersembunyi dibalik pemilihan kata-kata tertentu oleh penulis ketika menceritakan bagian dari novel tersebut yang didalamnya terdapat ungkapan-ungkapan tabu. Hal ini bisa terjadi karena penerjemah memilih untuk berdiri pada sisi pembaca. Dalam menerjemahkan ungkapan-ungkapan tabu yang terdapat dalam novel tersebut, penerjemah menunjukkan ketidakkonsistenannya. Terkadang ia memperhalus ungkapan, namun disisi lain ia menerjemahkannya apa adanya, bahkan malah melebihkannya. Namun, dengan melakukan hal ini, produk terjemahannya menjadi terdengar sangat natural dan halus. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan hasil terjemahan yang tidak terbaca seperti sebuah terjemahan sama sekali, tetapi lebih pada pemberian baju baru dengan motif yang sama seperti aslinya.

Pengaruh leverage, rasio aktivitas dan earning variability terhadap resiko investasi saham pada perusahaan LQ-45 yang listing di bursa efek Indonesia periode 2006-2008 / Tri Mardiani

 

ABSTRAK Mardiani, Tri. 2010. Pengaruh Leverage, Rasio Aktivitas, dan Earning Variability, terhadap Risiko Investasi Saham. Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Agung Winarno, M.M (II) Ely Siswanto, S. Sos, M.M Kata kunci: leverage, rasio aktivitas, earning variability, risiko investasi. Untuk mengarahkan investor pada suatu investasi saham dengan risiko sistematis sebagai indikatornya, diperlukan suatu alat analisis melalui pemahaman atas karakteristik tingkat risiko saham, maka para investor akan dapat melakukan pemilihan saham secara logis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh leverage, rasio aktivitas, dan earning variability terhadap risiko investasi saham baik secara parsial maupun secara simultan terhadap perusahaan LQ-45 periode 2006-2008 Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang masuk kategori LQ-45 tahun 2006-2006. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan, harga saham bulanan (clossing price), dan indeks LQ-45. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan variabel leverage, rasio aktivitas, dan earning variability berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham. Dengan menggunakan signifikansi sebesar 5% secara parsial variabel leverage, rasio aktivitas tidak berpengaruh terhadap risiko investasi saham, tetapi earning variability berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham. Dan dari hasil penelitian diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar sebesar 29,7% hal ini menunjukan bahwa besarnya sumbangan DFL, DOL, TATO, dan earning variability sebesar 29,7% sedangkan 70,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian berikutnya (1) menggunakan variabel bebas lain seperti asset growth, liquidity, dan accounting beta. Selain dari variabel mikro di atas, juga dipertimbangkan variabel makro seperti suku bunga, inflasi, dan nilai tukar yang akan mempengaruhi besar kecilnya risiko investasi saham di pasar modal, (2) untuk lebih meneliti mengenai nilai ”batas-batas tertentu” leverage yang dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi perusahaan,

Penerapan model pembelajaran dengan tipe stad untuk meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS ekonomi siswa kelas VII di MTs Surya Buana kota Malang / Rahayu Kusumaningsih

 

ABSTRAK Kusumaningsih, Rahayu. 2010. Penerapan Model Pembelajatan Dengan Tipe STAD untuk Meningkatkan Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VII di MTs Surya Buana kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.S., (II) Drs. Mardono, M.Si. Kata Kunci: STAD, Prestasi, Respon Belajar. Pemerintah telah mempercepat pencanangan Millenium Development Goals, yang semula dicanangkan tahun 2020 dipercepat menjadi tahun 2015, sebagai era persaingan mutu atau kualitas. Oleh karena itu pembangunan sumber daya manusia ( SDM ) berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat ditawartawar lagi. Salah satu metode pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah metode pembelajaran kooperatif. Metode STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang mampu memberikan gambaran kepada siswa untuk memecahkan masalah. Metode STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Penelitian ini dilakukan di MTs Surya Buana Malang, kelas VIIA. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung. Peristiwa yang dimaksud adalah proses pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan dalam kelas, prestasi belajar serta respon belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan hasil analisis ketuntasan belajar siswa pada siklus I, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 15 siswa atau 65 % dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 8 siswa atau 34,8%. Ketuntasan belajar pada siklus I belum dapat memenuhi ketuntasan belajar secara keseluruhan, Dikarenakan hampir 34,8% siswa belum tuntas belajar dan dikategorikan belum mencapai ketuntasan belajar kelas secara keseluruhan (�� 85 %). Tetapi jika dibandingkan dengan persentase jumlah siswa yang tuntas belajar pada ulangan harian sebelum tindakan sebesar 66,18%, maka terjadi peningkatan sebesar 3.16%. Rendahnya hasil evaluasi prestasi belajar dari aspek kognitif siklus I, disebabkan siswa belum aktif dalam kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD, hanya siswasiswa tertentu saja yang aktif, sehingga tidak semua siswa memperoleh pengalaman belajar. Selain kurang aktifnya siswa, siswa cenderung Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com ii terbiasa ditugaskan merangkum catatan di papan tulis dan jarang sekali diberi tugas. Sehingga pada saat siswa mendapat lembar kerja siswa (LKS), siswa cenderung malas mengerjakan dan hanya menunggu jawaban temannya. Sehingga peneliti mengintruksikan kepada siswa untuk mengerjakan secara bersamasama, masingmasing siswa mendapat bagian untuk mengerjakan soal dan mendiskusikan jawaban yang telah mereka kerjakan bersama kelompoknya. Dengan begitu tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok. Pada siklus II dilakukan beberapa koreksi dan perbaikan dengan bertolak dari hasil refleksi pada siklus I. Bila dilihat dari ketuntasan belajar maka pada siklus II terjadi kenaikan ketuntasan belajar siswa. Banyaknya siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 24 siswa atau 96% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 1siswa atau 4%. Maka dalam hal ini terjadi kenaikan Ketuntasan belajar yang mencapai 69,34 pada siklus I, dan pada siklus II menjadi 84,24. Sehingga terjadi kenaikan sebesar 14,9 . Pada siklus II prestasi belajar siswa sudah mencapai standart ketuntasan belajar secara keseluruhan yaitu mencapai 96% (��85%). Tetapi pada siklus II masih ada 1 siswa yang prestasi belajarnya belum tuntas, sehingga guru perlu memberikan perhatian khusus. Siswa tersebut baru saja pindah dari sekolah lain, sehingga masih memerlukan adaptasi di sekolah yang baru. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, aktivitas belajar siswa serta respon belajar siswa dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta respon siswa dalam mengikuti mata pelajaran ekonomi. Saran dalam penelitian ini antara lain Perlu adanya pengkondisian bagi masingmasing tingkat satuan pendidikan dan guru mata pelajaran ekonomi khususnya dalam menggunakan model pembelajaran tipe STAD agar dapat menghasilkan hasil optimal dalam pencapaian tujuan pendidikan. Penerapan pembelajaran dengan model STAD hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup. Hal ini dikarenakan dengan waktu yang optimal pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan akan mendapatkan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien.

Efektivitas penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VII SMPN 1 Pare tahun ajaran 2008/2009 / Rany Agung Prameswari

 

ABSTRAK Prameswari, Rany Agung. 2009. Efektivitas Penerapan Metode Self-Pacing Terhadap Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pare Tahun 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Martutik, M.Pd. Kata kunci: membaca cepat, metode self-pacing, pembelajaran membaca Kemampuan membaca cepat siswa kurang berkembang karena siswa merasa telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik kecepatan maupun tingkat pemahamannya. Kecepatan dan pemahaman semula dapat ditingkatkan dengan berlatih sungguh-sungguh unttuk meningkatkan kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan yang lebih baik dari sebelumnya. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat adalah metode self-pacing yang meliputi lima macam teknik untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dengan langkah-langkah pengorganisasian diri untuk dapat membaca cepat, salah satunya adalah the card yang diterapkan dalam penelitian ini. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menggunakan kartu atau lembaran kertas yang dilipat dan diletakkan di atas kalimat-kalimat yang telah dibaca. Ketika telah membaca, kartu ditarik ke bawah secara perlahan-lahan dan teratur. Dalam menggunakan kartu untuk menutup kalimat-kalimat yang telah dibaca ini, diusahakan membaca bagian baris sebelum menutupnya. Hal ini akan membantu untuk menghindari kebiasaan membaca bagian yang sama berulangulang dan juga membantu untuk lebih memfokuskan perhatian pada bagian yang dibaca. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui ada tidaknya pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kecepatan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Pare, dan (2) mengetahui ada tidaknya pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa kelas VII SMPN 1 Pare. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan dua kelompok. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII C dan VII E SMPN 1 Pare. Dalam penelitian ini, data berupa hasil pretes dan postes kecepatan membaca dan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan membaca siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki nilai uji statistik 2,540 lebih besar dari nilai t tabel 2,045 maka H1 diterima. Dengan demikian, ada pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kecepatan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Pare. Sedangkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki nilai uji statistik 0,481 lebih kecil dari nilai t tabel 2,045 maka H1 ditolak. Dengan demikian tidak ada pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa kelas VII SMPN 1 Pare. Hal ini karena motivasi tujuan membaca siswa tidak murni berasal dari dalam diri siswa sehingga hasil bacaan tidak maksimal. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah untuk lebih menanamkan motivasi tujuan membaca dari dalam diri siswa agar penerapan metode self-pacing memperoleh hasil bacaan yang maksimal.

Pengembangan modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA / Lilik Wulansari

 

ABSTRAK Wulansari, Lilik. 2009. Pengembangan Modul Keterampilan Membaca Bahasa Indonesia Siswa Kelas XI SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. H. Nurhadi, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, modul, keterampilan membaca. Sistem pembelajaran dengan modul merupakan perubahan dari sistem pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Pembelajaran modul dapat menuntun siswa untuk bisa belajar sendiri dan maju sesuai dengan kecepatannya sendiri. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan. Data dalam pengembangan ini sesuai dengan KTSP bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA, daftar rujukan atau referensi teori membaca. Data yang diperoleh dari pengembangan ini adalah kualitatif berupa hasil wawancara dengan ahli membaca bahasa Indonesia dan guru bahasa Indonesia, serta data hasil uji produk dalam pengembangan yang berupa data verbal dan skor nilai. Sumber data tersebut diperoleh dari subjek penelitian yaitu ahli materi, guru bahasa Indonesia, dan siswa kelas XI SMA. Hasil pengembangan modul berupa 1) kompetensi dasar sesuai dengan KTSP yang harus dicapai oleh siswa kelas XI SMA agar keterampilan membacanya meningkat. Kompetensi dasar yang dikembangkan adalah a) menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif, b) membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik, c) menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat, d) menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan, d) mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kata per menit, e) membedakan fakta dan opini pada editorial dengan membaca intensif. 2) Materi yang dikembangkan pada modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA, yaitu disesuaikan dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Materi disajikan berupa teks lengkap atau kutipan, gambar, dan foto yang bersumber dari media cetak maupun media elektronik yang relevan. 3) Pengembangan latihan pada modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA agar kompetensi yang diinginkan tercapai. Latihan pada masing-masing unit isinya disesuaikan dengan materi pembelajaran. 4) Model tampilan pada pengembangan modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA. Model tampilan meliputi tampilan sampul/cover modul dan tampilan isi modul yang dibuat semenarik mungkin dengan disertai gambar pendukung agar siswa lebih tertarik untuk mempelajari modul. Modul ini memuat kajian materi yang cukup jelas dan disertai contoh soal beserta kunci jawaban. Selain itu, dalam modul ini juga terdapat aktivitas umpan balik yang merupakan arahan kegiatan yang harus dilakukan siswa untuk mengetahui kriteria nilai yang diperoleh. Soal-soal latihan yang terdapat dalam modul ini bertujuan membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diterapkan. Hal tersebut merupakan faktor-faktor pendukung yang bisa membuat siswa belajar secara mandiri dan menghubungkan materi dengan lingkungan sekitar yang konstruktivis. Modul ini sangat diminati oleh subjek coba yaitu siswa, terbukti dengan antusiasme siswa saat mempelajari modul dan juga terbukti dengan perolehan nilai siswa yang baik saat mengerjakan soal evaluasi. Pada akhir penelitian ini dihasilkan produk berupa modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA yang siap digunakan dalam proses belajar mengajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa. Modul ini perlu dimanfaatkan siswa untuk belajar secara mandiri dalam rangka memperoleh pengetahuan yang konkret tentang penguasaan kompetensi dasar kemampuan membaca.

Kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang / Erlis Mareta Puspasari

 

ABSTRAK Puspasari, Erlis Mareta. 2009. Kemampuan Membaca Pemahaman dan Kemampuan Mengarang Siswa Kelas XI SMA Negeri I Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. H. Sumadi, M.Pd. Kata kunci: membaca pemahaman, mengarang. Membaca pemahaman merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas XI SMA/MA. Melalui kegiatan membaca pemahaman inilah siswa memperoleh berbagai informasi secara aktif reseptif. Dengan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang tinggi, siswa dapat memperoleh berbagai informasi dalam waktu yang relatif singkat. Setelah siswa melakukan kegiatan membaca pemahaman, diharapkan siswa dapat menyampaikan kembali isi bacaan yang telah mereka peroleh dari kegiatan membaca pemahaman. Melalui kegiatan penyampaian kembali isi bacaan inilah dapat diketahui tingkat pemahaman siswa dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Salah satu bentuk kegiatan penyampaian kembali isi bacaan ini berupa kegiatan mengarang. Mengarang juga merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa SMA, khususnya kelas XI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi objektif kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri I Malang. Selain itu, juga untuk mengetahui hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri I Malang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang mampu membaca pemahaman, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang mampu mengarang, dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang Penelitian ini dilaksakan pada bulan April 2009 di SMA Negeri I Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini meliputi skor kemampuan membaca pemahaman dan skor kemampuan mengarang. Setelah diketahui skor dari masing-masing kemampuan, kegiatan selanjutnya adalah mengukur tingkat korelasi antara keduanya dengan menggunakan Pearson Product Moment. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa siswa kelas XI SMA Negeri I Malang mampu membaca pemahaman dan mengarang. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 86,1% siswa mendapatkan nilai ≥7 dalam tes kemampuan membaca pemahaman dan 88,89% siswa mendapatkan nilai ≥7 untuk tes kemampuan mengarang. Selain itu, melalui analisis Pearson Product Moment diketahui pula bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri I Malang. Besarnya nilai r hitung adalah sebesar 0,674 dengan taraf signifikansi 1%. Adapun beberapa saran yang bisa disampaikan sehubungan dengan pembelajaran membaca pemahaman dan kemampuan mengarang adalah sebagai berikut. Pertama, guru disarankan agar memberi latihan kepada siswa mengenai teknik membaca pemahaman yang efektif dan efisien untuk lebih meningkatkan lagi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman. Kedua, guru hendaknya juga memberikan latihan yang lebih banyak lagi kepada siswa mengenai keterampilan mengarang. Ketiga, untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif, dalam penelitian-penelitian sejenis berikutnya hendaknya lebih diperluas lingkup mengenai strategi membaca pemahaman, aspek-aspek yang mempengaruhi membaca pemahaman, serta tingkat pemahaman membaca. Demikian pula dengan keterampilan mengarang.

Improving the reading comprehension ability of the eleventh grade students of MAN 2 Madiun through the small group discussion technique / Ida Sriwidati

 

ABSTRACT Sriwidati, Ida. 2009. Improving the Reading Comprehension Ability of the Eleventh Grade Students of MAN 2 Madiun through Small group Discussion. Thesis, English Language Education, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Yazid Basthomi, M.A. (II) Drs. Fachrurrazy, M. A., Ph. D. Key words: improving, reading comprehension, small group discussion technique Reading is an important activity in every language. Reading enables people to find out information from a variety of texts, written or printed information from newspapers, magazines, advertisements, brochures, and so on. According to Djiwandono (2008:62) reading is an important activity and becomes more important in this modern world, where the development in every life aspect occurs very quickly. As a part of language skills, reading plays an important role for the success of language learning. In reading activity, we are not only reading the text, but also trying to understand what we are reading. The study was designed to improve the students’ reading comprehension ability by using the small group discussion. The study was collaborative Classroom Action Research. The subjects were the students of XI IPA3 at MAN 2 Madiun in the 2008/2009 academic year consisting of forty students. The study was conducted through cyclic activities to collect the data consisting of preliminary study, planning, implementing, observing, and reflecting. There were two criteria to determine that the study was considered successful, namely, the students’ mean score increased from 5.6 into 6.5, the students were actively involved in the teaching learning activities, and 80 %of the students were able to answer the questions based on the text in reading comprehension. The findings indicated that small group discussion was successful in improving students’ reading comprehension ability. The improvement could be seen from the increase of the students’ mean scores and the students’ involvement in reading comprehension activities. The mean scores obtained by the students in the two cycles were shown by the results of their test. While the students’ involvement in reading comprehension activities in the two cycles were shown by the observations checklists, field notes, and also the results of the test. The mean score 64.70 in Cycle 1 had not achieved the first criterion of success. In Cycle 2, the students’ mean score reached 70.83. This means that the first criterion of success had not been achieved. Besides, the finding also showed that small group discussion was effective in enhancing the students’ involvement in reading comprehension activity. In Cycle 1, 65% of the students were involved in reading activity and the percentage was bigger in Cycle 2 that is 80%. This means that the second criterion of success was achieved. Furthermore, the findings of the study revealed that the appropriate model of small group discussion could be well implemented by using three procedures: (a) pre- reading activity that focused on activating the students’ prior knowledge; (b) whilst reading activity that focused on reading the text silently, discussing the content of the text with their group, answering comprehension questions, monitoring and providing assistance, and checking the students’ answers; (c) post reading activity that focused on rechecking the students’ understanding of the text. From the findings, it could be inferred that small group discussion was not only effective in improving the students’ reading comprehension ability but also in enhancing their participation in the learning process. Therefore, it was suggested that English teachers applied small group discussion in teaching and learning reading comprehension. Yet, teachers should design a suitable model of small group discussion, designed the lesson plans, chose model texts, composed tasks, and allocated the time since more time was required when it came to low achievers. Furthermore, teachers should consider the principles of small group discussion so as to reach the expected outcomes. Besides, it was advisable that teachers gave more and various tasks to the students. The tasks could be done at home as a homework or project if the time at school was limited. More and various tasks could enrich students’ knowledge and made them more trained. To the future teacher-researchers, particularly those who were interested in applying small group discussion in their classroom research, it was suggested that they conducted classroom action research on the use of small group discussion in teaching reading related to text types other than the one in this research, such as procedure, report, recount, narrative and hortatory exposition.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas II melalui pendekatan kontekstual di SDN Kemiri Pasuruan / Riza Aludfianti

 

ABSTRAK Aludfianti, Riza, 2009. Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas II Melalui Pendekatan Kontekstual di SDN Kemiri Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, FIP. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Harti Kartini, M.Pd, (II) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd. Kata kunci: aktivitas, hasil belajar, pendekatan kontekstual Pembelajaran IPA di SD seharusnya ditekankan pada proses pengujian dan penerapan konsep-konsep dengan menghadirkan dan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan tersebut diyakini siswa dapat memahami konsep-konsep IPA secara mendalam. Pada kenyataannya pembelajaran IPA di SDN Kemiri masih terpusat pada guru, yaitu metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif, kurang bergairah dan pemahaman materi hanya sementara. Akibatnya aktivitas dan hasil belajar yang dicapai tidak sesuai dengan harapan. Berdasarkan karakteristik IPA dan pembelajaran Kontekstual, perlu dilakukan PTK penerapan kontekstual, yaitu salah satu pendekatan pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan yang dialami siswa sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menggambarkan penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, serta mengidentifikasi hambatan yang ditemui. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan PTK, yang dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas II yang berjumlah 32 anak dan seorang guru kelas sebagai mitra peneliti. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode observasi dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan yaitu: lembar observasi dan penilaian aktivitas siswa, LKS, lembar soal evaluasi, APKG, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan kontekstual, aktivitas dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan tujuh aspek aktivitas belajar serta kenaikan nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal. Beberapa hambatan yang ditemukan antara lain: (1) siswa kurang berani menjawab pertanyaan dan menyampaikan ide secara lisan, (2) siswa belum bisa mengembangkan pemahaman materi secara mandiri melalui LKS, (3) beberapa peralatan yang belum dikenal siswa, (4) siswa belum menyadari tujuan pengamatan sebagai proses menyerap pengetahuan, (5) komunikasi antar siswa dalam diskusi belum berjalan dengan baik, (6) peran siswa dalam peragaan belum optimal, karena belum dilaksanakan siswa secara mandiri dalam setiap kelompok, (7) lebih banyak waktu yang diperlukan. Beberapa hambatan di atas diusulkan diatasi dengan: (1) pembiasaan dan penanaman sikap positif & percaya diri, (2) penyempurnaan LKS, (3) menunjukkan foto-foto peralatan, (4) menjelaskan tujuan pengamatan sejelas mungkin, dan penghadiran dunia nyata yang benar-benar sesuai dengan materi, (5) pembiasaan tukar pendapat dalam pertemuan informal (6) membiasakan siswa untuk terlibat dalam peragaan dan menyempurnakan mekanisme peragaan, (7) penyusunan rencana alokasi waktu pembelajaran secara cermat.

Peningkatan penguasaan konsep alam semesta dan suasana belajar melalui pembelajaran tematik bagi siswa kelas III SDN Kejayan Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Dwi Kristiana

 

Proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas III SDN Kejayan Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan kurang efektif. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya penguasaan konsep siswa tentang tema alam semesta. Kurangnya penguasaan konsep disebabkan karena metode guru yang sifatnya ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Untuk memperbaiki pembelajaran tersebut digunakan pendekatan pembelajaran tematik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan suasana belajar dan penguasaan konsep siswa tentang tema alam semesta dalam pembelajaran tematik. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, yaitu (1) siklus I, pembelajaran tematik dilakukan dengan menyusun rancangan pembelajaran, kegiatannya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, (2) siklus II, tema yang ditentukan yaitu alam semesta, dijadikan pusat perhatian dan pembelajaran tematik dilaksanakan dengan menggunakan metode yang bervariasi dan menonjolkan keaktifan siswa, yaitu dengan pengamatan dan kerja kelompok. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Kejayan Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 40 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) suasana belajar dan penguasaan konsep tentang tema alam semesta siswa sebelum pembelajaran tematik belum optimal, (2) Nilai penguasaan konsep tentang tema alam semesta siswa sebelum pembelajaran tematik hanya mencapai 42,5%, hanya 17 siswa yang mendapat nilai 70 dan diatas 70, (3) Pembelajaran tematik terbukti meningkatkan suasana belajar siswa melalui aktivitas belajarnya. Peningkatan tersebut dari 69,53 pada siklus I menjadi 84,53 pada siklus II sebanyak 21,57%, dikategorikan sangat baik. Selain itu, adanya peningkatan penguasaan konsep tentang tema alam semesta siswa dari nilai rata-rata 63 pada pra tindakan menjadi 81 pada siklus II. Peningkatan tersebut sebanyak 18 (28,57%), dikategorikan baik sekali. Peningkatan ini juga didukung kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran tematik. Saran pada penelitian ini adalah guru diharapkan bisa menerapkan pembelajaran tematik di sekolah, guru hendaknya lebih kreatif dalam menyusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan guru bisa menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

Teknik pembelajaran menyimak-berbicara bahasa Indonesia siswa autis kelas III sekolah dasar di Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang / Listieningsih

 

Abstrak: Penelitian ini dilakukan terhadap siswa autis yang berkenaan dengan teknik pembelajaran menyimak-berbicara yang dilakukan guru. Pembelajaran menyimak-berbicara sebagai keterampilan bahasa reseptif-ekspresif sangat penting dan perlu diperhatikan sebagai program pengajaran bahasa, khususnya bagi siswa autis. Hal ini terkait dengan kesulitan dalam komunikasi siswa, yakni sulit memahami tuturan dan mengekspresikan keinginan diri kepada lawan bicaranya. Dalam pelaksanaan pembelajaran menyimak-berbicara ini, guru menggunakan cara-cara ilmiah, yang disebut sebagai teknik pembelajaran. Teknik inilah yang diterapkan guru kepada siswa dalam menyampaikan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kata kunci : teknik menyimak, berbicara.

Pengembangan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana Malang / M. Syafi'udin Pramestari

 

ABSTRAK Pramestari, Syafi’udin, M. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Macromedia Flash Professional 8 Untuk Kelas VII MTs Surya Buana. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Moh. Ainin, M.Pd., (2) Moh. Ahsanuddin, M.Pd.I. Kata kunci: Macromedia Flash, CD, media pembelajaran, bahasa Arab. Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi mendorong manusia untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat digunakan kapan pun dan di mana pun. Di samping itu, metode pembelajaran bahasa Arab yang konvensional dan klasik menuntut guru untuk menggunakan media yang lebih relevan dengan tuntutan zaman, agar siswa lebih termotivasi dalam belajar bahasa Arab. Media tersebut adalah berupa media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8. Tujuan penelitian adalah: (a) membuat tampilan hasil pengembangan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana, (b) membuat langkah penggunaan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana, (c) mengembangkan materi yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model prosedural. Uji lapangan dilaksanakan di MTs Surya Buana Malang. Langkah- langkah penelitian pengembangan media pembelajaran berbasis macromedia flash professional 8 adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis bahan ajar, (3) analisis kebutuhan siswa, (4) desain media, (5) produksi, (6) editing, (7) prototipe media, (8) validasi produk, (9) revisi dan penyempurnaan, (10) tahap akhir. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data persentase. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrument) sebagai instrumen kunci, dan instrumen penunjang berupa angket. Hasil penelitian adalah berupa produk CD interaktif pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 yang telah divalidasi oleh beberapa ahli, dan di uji cobakan pada siswa - siswi kelas VII MTs Surya Buana. Berdasarkan hasil validasi yang melibatkan ahli media bahasa Arab dan ahli materi bahasa Arab, disimpulkan bahwa media ini telah valid dan layak untuk diuji coba. Dari 9 aspek yang menjadi aspek penilaian, diketahui bahwa 5 aspek penilaian dikategorikan valid, dan 4 aspek penilaian dikategorikan cukup valid. 5 aspek penilaian yang dikategorikan valid tersebut, adalah: (1) kejelasan materi, (2) kevalidan materi (kebenaran tulisan dan tata bahasa), (3) kesesuaian materi pembelajaran, (4) Kemudahan menggunakan program, (5) desain dan tampilan program. 4 aspek yang dikategorikan cukup valid dengan nilai adalah: (1) penyajian materi, (2) kevariatifan materi, (3) kejelasan susunan kalimat, dan (4) kelengkapan fitur dalam program. i Berdasarkan hasil uji coba lapangan siswa kelas VII MTs Surya Buana, diketahui: 9 item dari item 10 item penilaian dinyatakan valid dan 1 item dinyatakan cukup valid. 9 item yang dinyatakan valid adalah: (1) Siswa senang belajar dengan media ini, (2) semangat belajar siswa bertambah, (3) Isi materi yang disampaikan menjadi jelas, (4) memberi kemudahan dalam evaluasi, (5) menambah kosakata siswa, (6) pemahaman terhadap materi menjadi lebih mudah, (7) desain dan tampilan program menarik, (8) media pembelajaran meningkatkan motivasi belajar, (9) perlunya pengembangan media ini untuk materi yang lain. 1 item yang dinyatakan cukup valid adalah kalimat/bahasa yang digunakan mudah dipahami. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar media pembelajaran ini dapat digunakan sebagai referensi dan salah satu media belajar bagi siswa yang dibatasi oleh waktu dan jarak. Selain itu diharapkan guru mengkaji ulang terhadap materi- materi di dalam media pembelajaran tersebut.

Buku teks bahasa dan sastra Indonesia kelas IX terbitan Erlangga: materi, metode, dan penggunaan bahasa / Wahyu Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Wahyu. 2009. Buku Teks Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas IX Terbitan Erlangga: Materi, Metode, dan Penggunaan Bahasa. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Anang Santoso, M. Pd. Kata kunci: buku teks, materi, metode, penggunaan bahasa. Perubahan kurikulum membawa banyak dampak dan perubahan pada sistem maupun sarana pendidikan. Salah satunya adalah banyak diterbitkannya buku-buku pelajaran yang memberikan label berstandar kurikulum yang berlaku, termasuk buku teks pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tugas pengguna buku terutama guru dituntut dalam menyeleksi buku yang berkualitas. Pemilihan buku tidak hanya pada aspek luarnya saja, akan tetapi juga isi, metode, dan bahasa yang digunakan. Selain itu juga disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan materi, metode belajar, dan bahasa yang digunakan dalam buku teks Bahasa Indonesia terbitan Erlangga. Penelitian ini termasuk penelitian deskripsi kualitatif, karena menggunakan metode kualitatif. Instrumen utama yang digunakan adalah peneliti sendiri. dengan dibantu beberapa tabel dan pemberian kode pada data-data yang ditemukan. Teknik yang digunakan adalah (1) penyeleksian data yang layak dipakai sesuai dengan masalah penelitian, (2) pengklasifikasian data pada aspek materi, metode penyajian, dan juga penggunaan bahasa, (3) pemberian kode-kode terhadap data yang telah ditemukan agar mempermudah dalam penganalisisan, (4) menganalisis serta mencocokkan data dengan kurikulum, (5) penyimpulan data. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. Pertama, materi yang meliputi kompetensi dasar, standar kompetensi, kegiatan pembelajaran, dan bahan pengajaran sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku yaitu KTSP, walaupun ada satu kompetensi dasar yang kurang sesuai yaitu pada kompetensi dasar menulis naskah drama berdasarkan kutipan bagian awal teks cerpen yang pada kurikulum tercantum menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang telah dibaca. Kedua, metode belajar sudah bervariasi atau bermacam-macam, dan melibatkan keaktifan siswa. Metode belajar yang terdapat pada buku teks antara lain metode ceramah, latihan, tanya-jawab, simulasi, diskusi atau kelompok, resitasi atau pemberian tugas, dan individu atau perseorangan. Ketiga, bahasa yang digunakan dalam buku teks sudah baik dan benar sesuai dengan EYD, serta menggunakan kalimat-kalimat yang efektif, tetapi masih ditemukan sedikit kesalahan dalam penggunaan bahasa. Kesalahannya meliputi kesalahan penggunaan tanda baca dan kesalahan penggunaan huruf kapital, serta ada beberapa kalimat yang kurang logis dan kurang hemat.

Perencanaan pembebanan daya pada trafo distribusi 20 KV / Veny Wulandari

 

Wulandari, Veny. 2009. Perencanaan Pembebanan pada Gardu Tiang Trafo (GTT). Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Program Diploma Tiga Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Arif Nur Afandi, S.T., M.T., (2) Mohamad Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci: beban, daya, trafo, edsa. Perencanaan pembebanan daya bertujuan agar keseimbangan beban tetap terjaga. Pada awalnya pembagian beban merata, tetapi karena pengguna beban tidak bersamaan, maka menimbulkan ketidakseimbangan beban antar tiap fasa (fasa R, fasa S, dan fasa T) yang berdampak pada penyediaan tenaga listrik. Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan penyebab ketidakseimbangan tersebut adalah pada beban-beban satu fasa pada pelanggan jaringan tegangan rendah. Akibat ketidakseimbangan beban tersebut menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi). Oleh karena itu, manajemen energi harus lebih diartikan sebagai usaha untuk menaikkan efisiensi penggunaan energi. Salah satu upaya untuk menghemat penggunaan energi, terutama energi listrik adalah dengan merencanakan dan mengendalikan beban pada sisi permintaan/konsumen misalnya dengan kompensasi. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data; (4) melakukan simulasi dengan Edsa Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan diperoleh dengan mencatat arus pada setiap gedung. Dengan melakukan kenaikkan beban, maka dapat diketahui seberapa besar kemampuan trafo dalam menyalurkan daya pada setiap gedung. Ternyata setelah dilkukan simulasi dengan EDSA, maka alangkah baiknya trafo dibebani sampai 80%.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |