Aplikasi turunan fungsi aljabar / Fitria Labetubun

 

Kata Kunci : Limit, Turunan, Aplikasi Turunan Turunan merupakan salah satu bagian dari kalkulus yang mempunyai peranan yang sangat besar baik dalam bidang–bidang lain maupun dalam matematika itu sendiri. Dengan mempelajari turunan, maka dapat mempermudah kita dalam menyelesaikan masalah–masalah yang berkaitan dengan fungsi, integral dan bidang kalkulus lainnya. Turunan juga dapat digunakan untuk dapat menggambarkan grafik suatu fungsi aljabar yaitu dengan menggunakan penerapannya. Untuk menentukan turunan suatu fungsi biasanya digunakan konsep limit. Yang perlu diperhatikan dalam aplikasi turunan ini adalah turunan pertama dan turunan keduanya. Turunan pertama berfungsi untuk dapat membantu kita mengetahui titik kritis suatu fungsi dan fungsi tersebut naik atau turun, sedangkan turunan kedua berfungsi untuk menentukan dimana suatu fungsi cekung ke atas dan dimana fungsi tersebut cekung ke bawah. Selain itu dapat juga membantu untuk menentukan nilai maksimum dan minimum suatu fungsi.

Sistem keamanan rumah menggunakan kamera CCTV dengan PIR sebagai pendeteksi gerakan / Arin Widianang

 

ABSTRAK Widianang, Arin. 2009. Sistem Keamanan Rumah Menggunakan Kamera CCTV dengan PIR Sebagai Pendeteksi Gerakan. Jurusan Teknik Elektro. Program Studi D3 Teknik Elektronika. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom. (II) Anik Nur Handayani, S.T., M.T. Kata Kunci: Sensor, Kamera, Komputer Di dalam sebuah rumah tentunya banyak benda penting yang tersimpan di beberapa ruangan. Semakin banyak ruangan yang menyimpan benda-benda penting maka semakin tinggi kebutuhan sistem keamanan rumah tersebut. Rasanya kurang efisien jika semua tugas itu dikerjakan oleh tenaga manusia. Melihat perkembangan teknologi khususnya komputer kamera CCTV (Closed Circuit Television), dan PIR (Passive Infra Red) ini dapat digunakan dalam pengembangan sistem pengaman. Prinsip kerja dari sistem secara keseluruhan yaitu: jika ada manusia yang terdeteksi oleh sensor PIR (Passive Infra Red) maka sensor akan mengeluarkan tegangan 3.3 volt, tegangan tersebut akan dikuatkan dan dibalik oleh IC Schimtt Trigger .Keluaran dari IC Schimtt Trigger digunakan sebagai masukan ke Komputer dan Komputer akan merespon dengan menggerakkan kamera CCTV ke arah sensor yang mendeteksi gerakan. Sensor PIR (Passive Infra Red) yang digunakan sebanyak tiga buah yang diletakkan secara segaris, sehingga jika ada orang yang datang dari samping kanan kiri maupun dari tengah akan terdeteksi oleh sensor. Sedangkan peletakan kamera dan mekaniknya sejajar atau segaris dengan sensor yang tengah, sehingga objek yang terdeteksi oleh sensor kanan dan kiri dapat terambil gambarnya oleh kamera CCTV. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah Delphi 7. Motor yang digunakan untuk menggerakkan kamera CCTV adalah motor stepper dan motor DC. Motor stepper digunakan untuk menggerakkan kamera ke kanan, kiri dan tengah. Sedangkan motor DC digunakan untuk menggerakan kamera CCTV ke atas dan ke bawah. Pergerakan kamera ketika sensor mendeteksi gerakan adalah kamera ke arah sensor yang mendeteksi kemudian ke bawah setelah beberapa detik kemera kembali keatas dan menghadap tengah. Hasil dari pengujian yaitu: keluaran dari sensor jika mendeteksi gerakan 3.33 volt, sebaliknya jika tidak mendeteksi gerakan 0.34 volt. Keluaran dari IC schmitt triger jika IC mendapat masukan dari sensor maka keluaran dari IC 0.15 volt dan jika sebaliknya maka keluaran dari IC 4.97 volt. Kamera diletakkan dengan kemiringan 70°, karena pada kemiringan tersebut wajah manusia yang dapat ditangkap oleh kamera lebih lama atau dengan jarak lebih panjang yaitu jika kamera berada di atas tinggi orang 165 cm dapat terlihat dari jarak 320 cm sampai 120 cm dari kamera, dan jika kamera berada di bawah tinggi orang 165 cm dapat terlihat dari jarak lebih dari 400 cm sampai 158 cm.

Sifat organoleptik meat loaf ikan lele dumbo (Claris garipinus) dengan penggunaan minyak kelapa sawit, santan kelapa murni dan santan kelapa instan / Jannatun Aliyah Tohir

 

ABSTRAK Tohir, Jannatun Aliyah. 2009. Sifat Organoleptik Meat Loaf Ikan Lele Dumbo dengan Penggunaan Minyak Kelapa Sawit, Santan Kelapa Murni dan Santan Instan.Tugas Akhir, Jurusan D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Ir. Ummi Rohajatien, (II) Dra.Rina Rifqie Mariana Kata kunci: Meat loaf, ikan lele dumbo, minyak kelapa sawit, santan kelapa murni dan santan instan. Meat loaf termasuk salah satu produk olahan makanan yang disukai oleh masyarakat, akan tetapi dalam pembuatan meat loaf yang sering digunakan adalah daging sapi atau ayam, pada penelitian ini met loaf yang dibuat dari daging ikan lele. Ikan lele merupakan ikan budidaya kolam yang banyak ditemui di kota Malang selain itu juga harganya murah. Pada umumnya lemak yang sering digunakan dalam pembuatan meat loaf adalah minyak kelapa sawit. Sedangkan penggunaan santan kelapa masih belum banyak dilakukan orang. Kelapa mempunyai asam amino yang tidak terdapat pada jenis lemak lainnya diantaranya adalah asam aspartat dan glutamat sebagai penambah cita rasa gurih. penggunaan dari ketiga lemak ini diduga mempengaruhi terhadap mutu organoleptik. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan dan tingkat kesukaan meat loaf ikan lele dengan penggunaan minyak kelapa sawit, santan kelapa murni dan santan kelapa instan. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik (tekstur, rasa, dan warna) melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik (kesukaan). Adapun yang digunakan adalah Analisis data menggunakan Analisis Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa dengan menggunakan minyak kelapa sawit teksur yang dihasilkan kompak (3,52) sedangkan rasa yang paling gurih (3,18) diperoleh dari yang menggunakan santan instan. Minyak kelapa sawit menghasilkan warna yang putih cerah (3,27). Hasil uji hedonik menunjukkan panelis 40% menyukai tekstur dengan menggunakan minyak kelapa sawit. 50% panelis menyukai rasa meat loaf dengan menggunakan minyak kelapa sawit. Sedangkan 48,33% panelis menyukai warna meat loaf dengan menggunakan santan instan. Berdasarkan hasil uji mutu dari penilitian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan minyak kelapa sawit, santan murni dan santan instan menunjukkan perbedaan yang nyata pada masing- masing perlakuan terhadap tekstur, rasa, dan warna. Sedangkan uji hedonik menunjukkan bahwa tekstur yang paling disukai oleh panelis adalah meat loaf ikan lele dengan menggunakan minyak kelapa sawit. Rasa yang paling disukai oleh panelis adalah meat loaf ikan lele dengan menggunakan santan instan. Sedangkan, warna yang disukai panelis adalah meat loaf ikan lele dengan menggunakan santan instan. Bagi peneliti selanjutnya disarankan dalam pembuatan meat loaf ikan lele dumbo sebaiknya menggunakan minyak kelapa sawit agar mutu tekstur dan warna meat loaf yang dihasilkan bagus

Proses berpikir dalam mengkonstruksi pengetahuan himpunan melalui aktivitas think pair share / Lutfiyah

 

Pembelajaran matematika tidak cukup diukur hanya dari keberhasilan siswa menyelesaikan mata pelajaran, melainkan bagaimana seorang pendidik mampu mentransformasikan makna-makna yang terkandung dalam bidang studi matematika itu sendiri. Tetapi masih banyak pendidik yang menganut model pembelajaran yang didasarkan atas asumsi tersembunyi, bahwa “pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke pikiran siswa”. Berarti tidak terjadi perkembangan struktur kognitif pada diri siswa. Konsep dasar matematika merupakan masalah yang penting, sehingga siswa tidak hanya sekedar menghafal, melainkan mengerti apa yang terjadi dalam matematika itu. Salah satu konsep dasar matematika adalah materi Himpunan. Materi Himpunan ini berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mempermudah siswa untuk diajak berpikir, dan tidak sekedar menghafal. Menurut Slavin (2000:255) salah satu prinsip dalam psikologi pendidikan adalah guru tidak mudah menyampaikan pengetahuan kepada siswa, siswa harus mengkonstruksi pengetahuan dalam benaknya. Berkaitan dengan siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika, terdapat kesamaan pendapat antara Piaget dan Vygotsky yaitu bahwa perubahan struktur kognitif terjadi jika konsepsi baru masuk ke benak seseorang. Vygotsky menekankan pada interaksi sosial dalam mengkonstruksi pengetahuan matematika dan maknanya. Sedangkan Piaget lebih menekankan pada kerja individu dalam mengkonstruksi pengetahuan matematika dan maknanya berdasar pada pengalaman siswa sendiri. Vygotsky mengatakan bahwa siswa memiliki dua tingkat perkembangan yang berbeda yaitu (1) tingkat perkembangan aktual dan (2) tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual merupakan fungsi intelektual individu saat ini dan kemampuannya untuk mempelajari sendiri hal-hal tertentu. Sedangkan tingkat perkembangan potensial didefinisikan sebagai tingkat yang dapat difungsikan atau dicapai oleh individu dengan bantuan orang lain. Dalam penelitian ini yang dimaksud bantuan orang lain yaitu teman sebaya yang lebih mampu. Zona yang terletak diantara tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial siswa disebut Zone of Proximal Development. Proses konstruksi dalam penelitian ini berada dalam aktivitas Think Pair share. Proses aktivitas Think Pair Share dilakukan dengan cara memberikan lembar tugas yang diselesaikan secara individu dan lembar tugas yang diselesaikan secara berkelompok (berpasangan). Hasil penyelesaian siswa tersebut untuk menjelaskan konstruksi pengetahuan yang terjadi pada masing-masing siswa. Mengkonstruksi pengetahuan merupakan hal yang penting dalam pembelajaran, karena pengetahuan tidak bisa dengan sekedar dihafal, melainkan harus dikontruksi dalam pikiran siswa. Think Pair Share adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa (Trianto, 2007:61). Dengan pola interaksi ini diharapkan terjadi proses berpikir dalam mengkonstruksi pengetahuan Himpunan. Interaksi dengan teman sebayanya yang lebih mampu dapat mempermudah siswa untuk memahami atau menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII-A SMP PGRI Bangsalsari Jember. Subjek penelitian sebanyak 4 siswa diantaranya 2 siswa berkemampuan tinggi, 1 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Dari keempat subjek penelitian, dibentuk menjadi dua kelompok yaitu kelompok 1 terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kamampuan sedang, kelompok 2 terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kamampuan rendah. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif yaitu mendeskripsikan hasil eksplorasi proses berpikir. Metode yang digunakan untuk mengambil data adalah Think out louds untuk mengungkapkan proses berpikir siswa. Subjek penelitian yang memiliki kemampuan tinggi, ketika menyelesaikan lembar tugas 1 dan lembar tugas 2 proses berpikirnya sesuai dengan struktur masalah, ketika berpasangan pada lembar tugas 1 maupun lembar tugas 2 berada di wilayah Zona of Proximal Development untuk memberikan Scaffolding. Untuk subjek penelitian yang memiliki kemampuan sedang, ketika menyelesaikan lembar tugas 1 secara individu proses berpikirnya sesuai dengan struktur masalah, ketika berpasangan tidak membutuhkan scaffolding, sedangkan pada lembar tugas 2 ketika individu proses berpikirnya tidak sesuai dengan struktur masalah, ketika berpasangan berada di wilayah Zona of Proximal Development untuk mendapatkan Scaffolding. Untuk subjek penelitian yang memiliki kemampuan rendah, ketika menyelesaikan lembar tugas 1 maupun lembar tugas 2 Proses berpikirnya tidak sesuai dengan struktur masalah, ketika berpasangan pada lembar tugas 1 maupun lembar tugas 2 berada di wilayah Zona of Proximal Development untuk mendapatkan Scaffolding dari temannya yang lebih mampu.

Efektivitas teknik kerja kelompok untuk mengurangi prasangka sosial / Romdiyah

 

ABSTRAK Kata kunci: Efektivitas, teknik Kerja Kelompok, prasangka sosial. Keragaman merupakan jatidiri Indonesia, yang terdiri atas (1) beragam dari segi kelompok etnik, berbagai etnik, (2) Beragam dari segi Jarak Geografi fungsional, (3) beragam dari segi sumber daya alam, (4) beragam dari segi keyakinan agama, (5) beragam dari segi ketersediaan layanan publik, (6) beragam dari segi status sosial-ekonomi, yang semua itu nampaknya memicu terbentuknya kecenderungan berpikir secara stereotipikal yang mengedepan sebagai prasangka sosial (Aronson dan Gonzales, 1988) yang, pada gilirannya menumbuhkan (7) keragaman dalam kebutuhan belajar. Sehingga menuntut (8) beragam layanan pendidikan. Oleh karena itu, demi Kemaslahatan umum, maka sangat mendesak untuk menyediakan beragam layanan pendidikan dalam rangka memperbaiki keadaan, dan salah satu solusinya harus dijajagi dalam rangka penyelenggaraan pendidikan formal. Oleh karena itu, penelitian Disertasi ini ditujukan untuk mengurangi prasangka sosial melalui salah satu varian dari kerja kelompok, yaitu Kerja Kelompok Komplementer, dalam mata pelajaran Sosiologi. Dengan kata lain, penyelenggaraan teknik Kerja Kelompok Komplementer dalam mata pelajaran Sosiologi. Pada dasarnya membuka peluang untuk mencermati dari nurturant effect yang terkait dengan instructional effect dari penyelenggaraan pembelajaran dalam mata pelajaran Sosiologi. Secara lebih rinci, dapat ditunjuk bahwa nurturant effect yang memberikan sumbangan dalam pembentukan nilai, norma, sikap serta berbagai ketrampilan sosial yang memainkan peranan dalam penurunan tingkat prasangka sosial (Johnson dan Johnson, 1987). Untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka digunakan rancangan penelitian Kuasi-Eksperimental dengan pre-tes dan pos tes. Dalam kelompok eksperimen diselenggarakan Kerja Kelompok Komplementer digunakan paket perlakuan yang dirancang khusus, sedangkan Kelompok Kontrol diajar dengan menggunakan metode pembelajaran yang konvensional. Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan efektivitas. Penyelenggaraan teknik pembelajaran Kerja Kelompok Komplementer dalam penurunan tingkat prasangka sosial pada Madrasah Tsanawiyah Al Istiqamah, dan SMPN 10 Banjarmasin. Dalam Madrasah Tsanawiyah Al Istiqomah dibentuk 2 kelompk, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen terdiri atas 14 siswa etnik Madura, dan 16 siswa etnik Banjar. Sedangkan kelompok kontrol terdiri atas 9 siswa etnik Madura dan 22 siswa etnik Banjar. Sedangkan pada SMPN 10, juga dibentuk 2 kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen terdiri atas 6 siswa etnik Madura, dan 25 siswa etnik Banjar, sedangkan kelompok kontrol terdiri atas 6 siswa etnik Madura dan 31 siswa etnik Banjar. Kesemua subjek penelitian adalah siswa kelas 8. Agar dapat mengungkapkan penurunan atau kenaikan tingkat prasangka sosial, kepada mereka dilancarkan pre-tes berupa kuisioner. Kemudian mereka dilibatkan dalam Kerja Kelompok Komplementer bagi kelompok eksperimen, sedangkan Kelompok Kontrol diajar dengan metode pembelajaaran yang Konvensional. Data hasil Penelitian, dianalisis dengan menggunakan ANOVA. Hasil penelitian membuktikan, sebagai berikut: (1) Prasangka sosial siswa etnik Banjar terhadap etnik Madura di MTs. Kelompok eksperimen (N.16) nilai rata-rata prates 90.563. Kelompok Kontrol (N.22) nilai rata-rata prates 89.682. Setelah diberi perlakuan, kemudian kelompok eksperimen diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 80.688. Jadi ada selisih angka penurunan 90.563 – 80.688 = 9.875 yang signifikan. Untuk kelompok kontrol setelah diberi perlakuan, kemudian diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 91.9091. Jadi ada kenaikan angka 89.682 menjadi 91.9091, yang berarti menunjukkan adanya penaikan 2.227 prasangka sosial tetapi tidak signifikan. (2) Prasangka sosial siswa etnik Madura terhadap etnik Banjar di MTs. Kelompok eksperimen (N.14) nilai rata-rata prates 60.000. Kelompok kontrol (N.9) nilai rata-rata prates 59.056. Setelah kelompok eksperimen diberi perlakuan, kemudian diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 49.000. Jadi ada selisih penurunan 60.000 – 49.000 = 11.000 yang signifikan. Sedang Kelompok Kontrol setelah diberi perlakuan diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 58.16667, berarti ada penurunan 59.056 – 58.1667 = 0.990 tidak signifikan, (3) Prasangka sosial etnik Banjar terhadap etnik Madura di SMP. Kelompok eksperimen (N.25) nilai rata-rata prates 81.640. Kelompok Kontrol (N.31) nilai rata-rata prates 79.903. Setelah kelompok eksperimen diberi perlakuan, kemudian diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 74.240. Jadi ada selisih penurunan 81.640 – 74.240 = 7.40 yang signifikan. Sedang Kelompok Kontrol setelah diberi perlakuan diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 78.0323. Jadi ada selisih penurunan 79.903 – 78.0323 = 1.8707 tidak signifikan, (4) Prasangka sosial etnik Madura terhadap etnik Banjar di SMP. Kelompok Eksperimen (N.6) nilai rata-rata prates 60.500. Kelompok Kontrol (N.6) nilai rata-rata prates 61.1667. Setelah Kelompok Eksperimen diberi perlakuan, diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 46.6667. Jadi ada penurunan 60.500 – 46.6667 = 13.834 yang signifikan. Sedang Kelompok Kontrol diberi perlakuan, kemudian diukur prasangka sosialnya nilai rata-rata postes 58.667. Jadi ada penurunan 61.1667 – 58.6667 = 2.500 yang signifikan. Secara umum dapat disimpulkan, bahwa perlakuan pembelajaran dengan menerapkan teknik Kerja Kelompok secara signifikan dapat menurunkan atau mengurangi prasangka sosial baik di MTs maupun di SMP. Inti Kerja Kelompok adalah siswa menguasai dan terdorong menerapkan keterampilan, seperti: menghargai pendapat orang lain, menghormati perbedaan, berantre/secara tertib menunggu giliran, menghormati hak orang lain, beradaptasi dan menghargai waktu. Implikasi penelitian ini pada ketiga pusat pendidikan, pertama pendidikan keluarga, dimana orang tua sangat besar peranannya dalam rangka membentuk karakter anak-anaknya. Sejak dari keluarga harus ditanamkan oleh orang tua, bahwa kita diciptakan Tuhan berbeda-beda bukan untuk berselisih tapi untuk saling kenal, memahami, hormat menghormati. Kedua, pendidikan di sekolah, bagi kepala sekolah, para guru dan staf sekolah lainnya harus bisa menciptakan suasana yang kondusif untuk menghadapi perbedaan-perbedaan dalam soal budaya, ras, agama, status sosial dan lain-lain. Sekolah merupakan instansi yang bertanggung jawab atas berkembangnya keterampilan bukan hanya akademik, tetapi juga keterampilan sosial seperti menghormati pendapat orang lain, menghargai perbedaan dan sebagainya. Sedang ketiga pendidikan di masyarakat, yang melibatkan para pemuka agama, adat, organisasi massa.Mereka sangat berpengaruh terhadap baik tidaknya lingkungan masyarakat, karena fatwanya diikuti dan dilaksanakan oleh masyarakat pada umumnya. Menghargai perbedaan bukan sekadar meningkatkan keputusan kelompok tetapi juga membuat kapasitas anggota menjadi lentur (tidak keras kepala) dan empati. Costa, (1999).

Kepimpinan Kepala Sekolah dalam mengelola sumber belajr (Studi kasus SD Negeri Pagowan 01 Pasrujambe kota Lumajang) / Linda Putriansih

 

ABSTRAK Putriansih, Linda. 2009. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengelola Sumber Belajar Studi Kasus di SD Negeri Pagowan 01 Pasrujambe Lumajang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing (I) Dr. H. Ali Imron, M.Pd. M.Si, Dosen Pembimbing (II) Prof. Dr. H. M. Huda A.Y, M.Pd. Kata kunci: Kepemimpinan Kepala Sekolah, Sumber belajar. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, merupakan kunci kesuksesan di sekolah. Karena kepemimpinan kepala sekolah mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar di dalam kehidupan sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sumber belajar dapat meningkatkan kinerja para guru dan staf, agar sekolah mampu menciptakan inovasi-inovasi baru dalam pendayagunaan sumber belajar yang efektif dan efisien guna mewujudkan tujuan pembelajaran di sekolah. Tidak terlepas dari model sumber belajar, kepemimpinan kepala sekolah dalam faktor pendukung dan penghambat serta faktor kebudayaan dan strategi pemecahannya merupakan hal yang penting dalam mengelola sekolah. SD Negeri Pagoan 01 merupakan sekolah yang sistem model pembelajarannya memanfaatkan media alam sekitar yang dijadikan media pembelajaran, sehingga lingkungan alam dijadikan laboratorium pembelajaran. Sekolah ini sangat strategis letaknya karena terletak di nuansa desa yang indah dan alami jadi sangat cocok, dan tepat sekali kalau salah satu sumber belajar pemanfaatannya menggunakan alam sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang (1) kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sumber belajar (2) model sumber belajar, (3) faktor pendukung dan pemberdayaannya, dan (4) faktor penghambat dan strategi pemecahannya. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Pagowan 01 Pasrujambe Lumajang sebagai salah satu sekolah negeri di kabupaten Lumajang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif, jenis studi kasus dengan landasan berpikir fenomenologis. Dalam penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subjek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, seperti wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari hasil penelitian ini menunjukkan: (1) kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola sumber belajar yaitu: a) perencanaan sumber belajar, b) pengadaan sumber belajar, c) pemanfaatan sumber belajar; (2) model sumber belajar yang digunakan antara lain: a) model sumber belajar berbasis pembelajaran, b) model alam dan lingkungan sosial sebagai sumber belajar, c) model sumber belajar berbasis guru, d) model sumber belajar berbasis media; (3) faktor pendukung bagi terselenggaranya proses pengelolaan sumber belajar SD Negeri Pagowan 01adalah: a) kepemimpinan kepala sekolah yang gigih dalam memperjuangkan segala macam kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, b) dukungan positif dari Departemen Pendidikan, guru-guru, staf administrasi, dan tidak ketinggalan peran orang tua dan masyarakat, dan faktor pemberdayaannya antara lain: a) meningkatkan kemampuan kepala sekolah, b) pembinaan hubungan kerjasama yang aktif dengan komite sekolah dan masyarakat; (4) faktor penghambat yang terjadi di SD Negeri Pagowan 01 adalah pertama dari aspek guru-guru yang masih belum profesional secara akademis dan aspek perkembangan zaman yang menuntut pemanfaatan teknologi bagi sekolah berbasis alam semesta, dan strategi pemecahannya antara lain: a) dengan pemberian kesempatan bagi guru untuk mengikuti diklat pendidikan atau melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, b) penambahan jumlah fasilitas dari sumber belajar bagi siswa, yang berbasis teknologi seperti komputer dan internet.

Meningkatkan pemahaman konsep perubahan benda melalui metode discovery pada siswa kelas V SDN Tundosoro Kabupaten Pasuruan / Sri Astutik

 

Keberhasilan guru dalam mengajar dapat dinilai berdasarkan ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar antara lain mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya, pembelajaran IPA yang dilakukan di SDN Tundosoro selama ini menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang pasif, tidak mampu mengingat konsep yang telah dipelajari sehingga tidak mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai pre test yang dicapai 55,83 dengan 16 siswa (53%) mencapai ketuntasan dan 14 siswa (47%) belum mencapai ketuntasan. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan metode pembelajaran discovery. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Peningkatan pemahaman konsep perubahan benda pada pembelajaran IPA dengan menggunakan metode discovery (2) Tanggapan guru mengenai penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Tundosoro. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing siklus terdiri dari (1) Perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Observasi (4) Refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Tundosoro yang berjumlah 30 siswa yang terdiri dari 16 perempuan dan 14 laki-laki. Instrumen penelitian ini adalah RPP, pedoman observasi, LKS, dan lembar tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode discovery dapat meningkatkan pemahaman konsep perubahan benda pada siswa kelas V SDN Tundosoro. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil tes tulis pada setiap siklus. Hasil tes tulis pada siklus I mencapai 62,7 dan meningkat menjadi 77 pada siklus II. Dari hasil observasi terdapat temuan lain yaitu penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA menjadikan siswa aktif bekerja sama dalam kelompok, berani bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru maupun siswa lain, serta menimbulkan rasa ingin tahu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode discovery dalam pembelajaran IPA telah terbukti dapat meningkatkan pemahaman konsep perubahan benda pada siswa kelas V SDN Tundosoro. (1) Saran kepada guru, hendaknya menggunakan metode yang memberikan kebebasan belajar untuk menemukan konsep-konsep IPA, (2) kepada peneliti lain disarankan menggunakan metode pembelajaran discovery pada mata pelajaran lain sehingga diperoleh kualitas pendidikan yang lebih baik.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran sejarah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Batu semester genap tahun ajaran 2008/2009 / Teguh Dwi Setyawan

 

SMA Negeri 1 Batu dipilih sebagai sasaran lokasi penelitian karena beberapa alasan. Pada saat wawancara informal dan pengamatan diperoleh informasi bahwa pembelajaran yang terjadi di SMA Negeri 1 Batu masih banyak menggunakan metode konvensional seperti ceramah walaupun sudah diterapkan juga metode pembelajaran lain seperti belajar kelompok khususnya pada mata pelajaran sejarah. Pada saat peneliti mengadakan pengamatan lebih lanjut diketahui bahwa suasana pembelajaran di kelas kurang aktif karena kurangnya interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa yang lainnya. Alasan lain yang diperoleh dari pada saat wawancara dengan guru sejarah adalah karena sekolah ini mempunyai siswa yang beragam, baik keragaman jenis kelamin, latar belakang sosial, dan kemampuan akademik, prestasi belajar siswa kelas XI IPS 2 yang dibawah SKM yang ditetapkan sekolah yaitu 70,00. Kelas XI-IPS 1 nilai rata-ratanya yaitu73,90. Kelas XI-IPS 3 nilai rata-ratanya yaitu 74,83. Kelas XI-IPS 4 nilai rata-ratanya yaitu 75,50. Sedangkan XI-IPS 2 yaitu 67,38. Nilai tersebut diperoleh pada ulangan harian pada materi sebelumnya. Hal ini sesuai dengan ciri utama pembelajaran kooperatif model TGT yaitu adanya siswa yang heterogen. Hal tersebut menjadi dasar peneliti memilih TGT yaitu, keadaan siswa yang cenderung individualistis, siswanya mempunyai kemampuan heterogen. Pembelajaran kooperatif model TGT adalah pembelajaran berpusatkan pada siswa dan mempunyai beberapa tahap yaitu: (a) guru menerangkan topik tertentu sebagai informasi awal, (b) siswa dibagi dalam kelompok, (c) siswa belajar dalam kelompok, (d) turnamen, dan (e) penghargaan kelompok. Berdasarkan permasalahan di atas maka rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran kooperatif model TGT pada pelajaran sejarah kelas XI-IPS di SMA Negeri 1 Batu semester genap tahun Ajaran 2008/2009?; (2) bagaimanakah prestasi belajar sejarah siswa kelas XI-IPS setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif model TGT? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran kooperatif model TGT pada pelajaran sejarah kelas XI-IPS SMA Negeri 1 Batu; (2) bagaimanakah prestasi belajar sejarah siswa kelas XI-IPS setelah diterapkaannya pembelajaran kooperatif model TGT. Untuk mengkaji permasalahan di atas, digunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir belajar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI-IPS di SMA Negeri 1 Batu yang terdiri dari 32 siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Teams Games Tournement yang dilakukan dalam mata pelajaran sejarah siswa kelas XI-IPS 2 SMA Negeri 1 Batu dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Dibuktikan dengan peningkatan prestasi belajar sebelum dilakukan tindakan yaitu 66,75 %. Kemudian pada siklus 1 menjadi 70,12 %. Sedangkan pada siklus 2 menjadi 74,25 %. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model Teams Games Tournament dapat meningkatkan prestasi belajar kelas XI-IPS SMA Negeri 1 Batu tahun ajaran semester genap 2008/2009. Penelitian yang dilakukan diatas mempunyai kekurangan, sehingga ada beberapa saran, yaitu: 1) Pembelajaran dengan menggunakan model Teams Games Tournament terbukti mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, model pembelajaran Teams Games Tournament ini perlu diterapkan dalam pembelajaran dikelas suntuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada di SMA Negeri 1 Batu. 2) Ada baiknya jika penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament, agar dapat menyempurnakan penelitian yang sebelumnya. 3) Model pembelajaran kooperatif akan lebih baik digunakan untuk menvariasikan kegiatan pembalajaran dan untuk meningkatakan kegembiraan siswa dalam proses belajar mengajar sejarah.

Peningkatan kemampuan menulis puisi dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran pada siswa kelas VB SDN Kasin Kota Malang / Lilik Setiyowati

 

Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa SD kelas V adalah menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat. Dalam kenyataannya, siswa sering mengalami kesulitan untuk menulis puisi. Kondisi tersebut terjadi pada siswa kelas VB SDN Kasin Kota Malang. Siswa di kelas ini kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran menulis puisi sehingga mengalami beberapa kesulitan seperti di atas. Oleh karena itu, diperlukan teknik atau pun metode pembelajaran yang efektif, inovatif, dan menyenangkan agar dapat membuat siswa lebih bersemangat dan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran menulis puisi. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk merangsang keterampilan siswa dalam menulis puisi adalah teknik rekonstruksi parsial cerpen. Teknik rekonstruksi parsial cerpen merupakan teknik yang digunakan dalam menulis puisi dengan cara merekonstruksi atau menyusun kembali cerpen yang telah dibaca secara parsial menjadi puisi. Tujuan umum penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen pada siswa kelas VB SDN Kasin Kota Malang. Proses dan hasil peningkatan perlu dideskripsikan untuk menjelaskan kualitas peningkatan. Oleh karena itu, secara khusus, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan (1) proses meningkatkan keterampilan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen pada kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup; dan (2) hasil peningkatan keterampilan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen pada aspek kemampuan menentukan tema, memilih kata (diksi), menggunakan rima, dan menggunakan majas. Dalam penelitian ini, rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian kualitatif, sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VB SDN Kasin Kota Malang sebanyak 24 siswa dengan rincian 10 putra dan 14 putri. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas yang bernama Ibu Lis Suwarti. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun data primer yang digunakan adalah proses meningkatkan dan hasil kemampuan menulis puisi siswa, sedangkan data sekunder adalah data catatan lapangan dan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan siswa yang menjadi subjek penelitian. Sumber data penelitian ini adalah aktivitas proses dan hasil kegiatan pembelajaran menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen yang berasal dari guru, siswa, dan proses pembelajaran. Proses meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa dilakukan dalam dua tindakan siklus, yaitu tindakan siklus I dan siklus II. Pada setiap tindakan terdapat tiga tahap kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup Berdasarkan hasil analisis data, proses meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen dilakukan dalam tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan penutup. Kegiatan awal dilakukan dengan membangkitkan skemata siswa tentang menulis puisi, menyanyikan lagu tentang puisi, memberikan contoh puisi yang ditulis berdasarkan teknik rekonstruksi parsial cerpen, dan latihan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen secara klasikal dan individu. Kegiatan inti dilakukan dengan menulis puisi dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen. Siswa memilih cerpen yang disiapkan oleh guru, menentukan tema cerpen, menentukan peristiwa-peristiwa utama dalam cerpen, memilih salah satu peristiwa utama, mengumpulkan kata-kata, dan menyusun puisi. Kegiatan penutup dilakukan dengan mengulang hal-hal penting dalam menulis puisi, mengidentifikasi kesulitan siswa, mendiskusikan manfaat yang diperoleh siswa dalam pembelajaran, dan merancang kegiatan tindak lanjut untuk terus berlatih menulis puisi. Semua tahapan dalam setiap kegiatan tersebut dilakukan siswa dengan baik. Berdasarkan analisis data hasil, diketahui kemampuan siswa dalam menulis puisi mengalami peningkatan. Pada aspek kemampuan menentukan tema, 83,3% siswa termasuk dalam kategori tinggi (siklus I) dan meningkat menjadi 100% siswa (siklus II). Pada aspek kemampuan memilih kata (diksi), 25% siswa termasuk kategori tinggi (siklus I) dan meningkat menjadi 75% siswa (siklus II). Pada aspek kemampuan menggunakan rima, 92% siswa termasuk kategori tinggi (siklus I) dan meningkat menjadi 100% (siklus II). Pada aspek kemampuan menggunakan majas, 4,2% siswa yang termasuk dalam kategori tinggi (siklus I) dan 4,2% siswa (siklus II). Secara utuh, kemampuan siswa dalam menulis puisi meningkat dari 50% siswa (siklus I) yang mampu mencapai KKM menjadi 100% siswa (siklus II). Berdasarkan perolehan nilai tersebut, dapat dikatakan bahwa dengan teknik rekonstruksi parsial cerpen, kemampuan menulis puisi siswa meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk menerapkan teknik rekonstruksi parsial cerpen sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa. Kepada peneliti lain, dapat mengembangkan teknik pembelajaran ini dengan memperbaiki kekurangan yang ada. Selain itu, peneliti lain disarankan untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis puisi siswa dengan menggunakan media yang lebih efektif, inovatif, dan menyenangkan.

Upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menentukan KPK melalui karta bilangan teratur pada siswa kelas IV SDN Plososari 3 Grati Pasuruan / Badiatuz Zumroh

 

ABSTRAK Zuhroh, B. 2009. Upaya Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menentukan KPK Melalui Kartu Bilangan Teratur pada Siswa Kelas IV SDN Plososari 3 Grati Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Progam Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Setyo Winarni, M.Pd, (II) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Meningkatkan, KPK, Pemecahan Masalah, Kartu Bilangan, SD Pendekatan pemecahan masalah merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulusi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan masalah. Hal ini berarti pendekatan pemecahan masalah dapat digunakan untuk membantu meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar Matematika supaya menjadi lebih baik. Tujuan penelitian yaitu untuk mendiskripsikan adanya peningkatan prestasi belajar siswa dalam menentukan KPK suatu bilangan melalui pendekatan pemecahan masalah. Untuk mendiskripsikan peningkatan keaktifan siswa dan minat belajar Matematika setelah menggunakan pembelajaran pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan rincian pelaksanaan: pre tes satu kali pertemuan, siklus I tiga kali pertemuan, siklus II tiga kali pertemuan, Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran dibagi dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Subyek penelitian adalah 32 siswa kelas IV SDN Plososari 3 semester II tahun pelajaran 2008 s.d 2009. Penelitian ini menggunakan intrumen: pedoman observasi, lembar evaluasi (tes) dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisa secara kuantitatif dan kualitatif, dan indikator keberhasilan dalam PTK ini adalah bila ketuntasan 75% secara klasikal. Yang dapat dilihat dalam penelitian ini terjadi peningkatan hasil belajar melalui kartu bilangan tidak teratur pada siklus I nilai rata-rata kelas sebesar 61,6 meningkat menjadi 79,7 pada siklus II pembelajaran melalui kartu bilangan teratur dengan pendekatan pemecahan masalah. Disarankan kepada semua guru agar dapat menerapkan pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran supaya dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Penerapan pendekatan komunikatif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa pada pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Sungiwetan Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan / Makruf Suroso

 

Bahasa Indonesia berperan sebagai alat untuk mempersatukan keberagaman bahasa, adat istiadat, suku, dan budaya. Bertolak dari hal tersebut, siswa diharapkan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Permasalahan yang terjadi di kelas adalah siswa belum mampu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta tidak sesuai dengan situasi dan konteks, sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Sungiwetan yang mencakup kelancaran berbicara, inovasi, struktur kalimat, ketepatan pilihan kata, kontak mata yang sesuai dengan situasi dan konteks. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) melalui tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 49 siswa di SDN Sungiwetan kecamatan Pohjentrek kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes, observasi dan wawancara selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, pendekatan komunikatif diterapkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Sungiwetan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut : hasil belajar siswa berupa pemahaman konsep tentang situasi dan konteks saat berbicara secara klasikal mengalami peningkatan dari 57,1% pada pra tindakan menjadi 65,9% pada siklus I. Selanjutnya menjadi 82,0% pada siklus II. Hasil belajar yang berupa tes secara lisan pada siklus I diperoleh skor 51,5% dan menjadi 74,3% pada siklus II. Hasil belajar yang berupa proses kegiatan belajar siswa pada siklus I diperoleh skor 51,1% dan mengalami peningkatan menjadi 74,4%. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatif. Hal ini disimpulkan bahwa pendekatan komunikatif telah berhasil meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran dengan pendekatan komunikatif dalam mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Saran yang diberikan kepada guru, hendaknya guru menerapkan pendekatan komunikatif dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai sehingga siswa aktif dan terampil dalam aspek berbicara untuk bercerita, menanggapi cerita teman, mengkomunikasikan gagasan dan pendapatnya secara lisan dan tulisan. Dengan demikian hasil belajar siswa dapat meningkat.

Story-telling technique using puppets to improve the speaking ability of the students of MTsN Tangerang II Pamulang / Nalti Nasution

 

ABSTRAK Nasution, Nalti, 2009. Teknik bercerita menggunakan puppets untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa MTsN Tangerang II Pamulang. Tesis. Program Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. (II) Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd Kata kunci: Teknik bercerita menggunakan puppets, kemampuan berbicara. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di MTsN Tangerang II Pamulang ditemukan bahwa kemapuan berbicara siswa tahun 2008-2009 di kelas VIII-7 masih belum memuaskan. Siswa-siwa terlihat pasif dalam proses belajar-mengajar speaking. Siswa tidak mempunyai ide atau inisiatif untuk berbicara, atau jika mereka mempunyai ide, mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan ide tersebut. Semua itu dikarenakan kurangnya kosa-kata, kurang paham tata-bahasa, dan kurang praktek berbicara bahasa Inggris. Disamping itu, guru menggunakan teknik pengajaran yang monoton, dan jarang membuat media-media pengajaran. Karena itu, penelitian tindak kelas ini dilakukan untuk mengatasi masalah siswa dalam berbicara. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara melalui teknik bercerita menggunakan puppets dalam hal isi cerita dan penyampaian cerita. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus terdiri atas sembilan pertemuan. Tiga pertemuan untuk membaca (memahami tiga cerita), tiga pertemuan berikutnya untuk berbicara (memperaktekkan cerita menggunakan puppets dalam kelompok), dan tiga pertemuan terakhir untuk bercerita menggunakan puppets di depan kelas secara individu. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII7 MTsN Tangerang II Pamulang. Instrumen penelitian dalam pengumpulan data adalah lembar pengamatan, catatan lapangan, lembar penilaian diri, lembar penilaian antar sesama, penampilan berbicara siswa menggunakan rubrik penilaian, rekaman, dan angket. Kriteria sukses ditentukan berdasarkan partisipasi siswa dalam proses belajar-mengajar, pencapaian speaking siswa dalam hal nilai (menceritakan cerita secara perorangan), dan respon siswa terhadap penerapan teknik bercerita menggunakan puppets. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik tersebut berhasil dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa, karena kriteria sukses telah tercapai. Kriteria pertama adalah jika 65% siswa berpartisipasi atau terlibat aktif dalam proses berlaja mengajar, dan analisa data menjelaskan bahwa 83% siswa terlibat aktif. Mengenai kriteria kedua yaitu jika 65% siswa memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 65, penemuan menunjukkan bahwa 87% siswa telah mencapai nilai lebih dari 65. Untuk kriteria terakhir, jika 75% siswa memiliki respon yang baik terhadap penerapan tehnik bercerita menggunakan puppets, temuan penelitian menjelaskan bahwa 89% siswa memperlihatkan respon baik terhadap teknik tersebut. Penerapan teknik bercerita menggunakan puppets dalam pengajaran berbicara terdiri aras beberapa langkah: 1) menujukkan gambar pada slide atau menunjukkan puppets, 2) menanyakan tentang gambar atau puppets tersebut, 3) membagi siswa menjadi kelompok kelompok, 4) memberikan siswa fotokopi teks narrative, 5) menugaskan siswa membaca teks dengan pelan, 6) mendiskusikan teks dalam kelompok berhubungan dengan topik and kata-kata sulitnya, 7) menanyakan cerita atau/dan mendiskusikan kosa-kata dan tata bahasa (kata kerja atau keterangan waktu yang digunakan dalam teks tersebut), 8) memberikan siswa fotokopi daftar kata-kata yang berhubungan dengan cerita, 9) mengidentifikasi dan menganalisa semua aspek dari teks narrative bersama dengan para siswa, 10) mendiskusikan pesan atau nilai moral dari teks tersebut bersama dengan siswa, 11) memberikan voucher bagi para siswa yang mau menjawab dan menjelaskan sesuatu mengenai cerita tersebut, 12) meminta siswa membaca teks dengan keras, 13) memberikan model kepada siswa bagaimana menyebutkan kata dengan benar, 14) memberikan lembar penilaian diri dan lembar kerja kepada siswa, 15) menyanyikan lagu berhubungan dengan cerita, 16) mencontohkan cara bercerita kepada siswa dengan menggunakan irama musik, 17) memberikan lembar penilaian antar sesama, dalam hal ini menilai penampilan guru, 18) meminta siswa memperaktekkan cerita dan bercerita menggunakan puppets dalam kelompok kecil, 19) memotivasi siswa untuk melafalkan cerita kembali di rumah, 20) meminta siswa menceritakan cerita tersebut dengan menggunakan puppets secara individu di depan kelas, 21) memberikan lembar penilaian sesama untuk menilai teman, 22) merekam suara siswa dan menilai penampilan mereka. Berdasarkan temuan dapat disimpulkan bahwa teknik bercerita menggunakan puppets sangat efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam process belajar-mengajar, dan meningkatkan pencapaian –nilai– berbicara siswa. Disamping itu, teknik tersebut meningkatkan motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris. Guru-guru bahasa Inggris disarankan untuk menerapkan teknik tersebut dalam pengajaran speaking atau skill lain seperti listening dan writing. Berhubungan dengan cerita dan puppets sebagai media dan materi pengajaran, para guru disarankan menyediakan media dan materi yang menarik dan bagus, tidak hanya sesuai dengan kebutuhan siswa tetapi juga dapat memotivasi siswa dalam belajar bahasa. Memberikan motivasi dari luar sangatlah diperlukan karena hal tersebut dapat membantu motivasi dari dalam diri siswa untuk belajar bahasa Inggris. Kepala sekolah diharapkan dapat menyediakan fasilitas dan alat-alat untuk membuat media yang dapat di pakai dalam kegiatan belajar-mengajar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajaar bahasa Inggris khususnya kemampuan berbicara. Disamping meyediakan berbagai jenis buku cerita berbahasa Inggris baik lokal maupun asing di perpustakaan untuk memperkaya jumlah bacaan siswa sangatlah diperlukan.Terakhir, calon peneliti disarankan melakukan penelitian dengan menerapkan teknik bercerita menggunakan puppets atau media lain dalam keterampilan berbahasa yang lain pula atau dengan menggunakan rancangan penelitian yang lain.

Faktor-faktor proses belajar-mengajar pencetus kecenderungan kecemasan bersekolah / Muh. Nur Ali

 

ABSTRAK Ali, Muh. Nur. 2009. Faktor-faktor Proses Belajar-Mengajar Pencetus Kecenderungan Kecemasan Bersekolah. Disertasi, Program Studi Psikologi Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Johana E. Prawitasari, M.Sc., Ph.D., (II) Dr. Marthen Pali, M.Psi., dan (III) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata kunci: Proses Belajar-Mengajar dan Kecemasan Besekolah. Kecemasan bersekolah merupakan salah satu masalah akademik dalam mengoptimalkan prestasi belajar siswa. Apabila siswa merasakan kecemasan terhadap objek-objek yang berhubungan dengan persekolahan, ia tidak bisa hadir secara total untuk mengikuti pelajaran di kelas. Di dalam proses belajar-mengajar siswa hendaknya terlibat secara total baik fisikal maupun intelektual. Keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran secara fisikal bersifat administratif dan nyata, tetapi secara intelektual baik yang bersiafat kognitif dalam arti pemahaman maupun afektif dalam arti siswa menyadari pentingnya memahami pelajaran itu adalah samar dan hanya dapat diketahui melalui evaluasi. Keterlibatan siswa secara total tercipta bila iklim kelas yang baik dapat diterjadikan oleh guru melalui pengelolaan kelas, disiplin kelas, dan penyajian materi plajaran dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor kegiatan pembelajaran yang dapat mencetus kecenderungan kecemasan bersekolah pada siswa. Ada tiga hal yang dianalisis yaitu faktor (1) pengelolaan kelas, (2) disiplin kelas, dan (3) penyajian materi pelajaran. Selain itu dilakukan pula pengujian tentang hubungan kecemasan dengan prestasi akademik siswa. Penelitian yang mengkaji tiga variabel bebas (pengelolaan kelas, disiplin kelas, dan penyajian materi pelajaran) dan satu variabel terikat yakni kecen-derungan kecemasan bersekolah ini, menggunakan rancangan penelitaian survei dengan ciri-ciri (1) lebih menekankan pada informasi tentang variabel dari pada informasi tentang individu, (2) sampelnya tidak meliputi semua populasi atau sensus, melainkan hanya terdiri dari sebagian kecil populasi, (3) pengukuran yang digunakan tidak bersifat nyata karena mengukur konstruk yang bersifat psikologis dan sosiologis, dan (4) data variabel dari subjek yang dianalisis bersifat data deskriptif. Dari ciri-ciri tersebut, maka penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian survei deskriptif yang menggunakan teknik analisis regresi berganda (multiple regression). Hasil penelitian yang diperoleh menyatakan bahwa interaksi guru-siswa dalam kegiatan pembelajaran yang meliputi ranah pengelolaan kelas, disiplin kelas, dan penyajian materi pelajaran, menimbulkan kecemasan bersekolah pada siswa. Ranah interaksi guru-siswa dalam kegiatan pembelajaran yang dominan dan paling besar pengaruhnya berturut-turut adalah penyajian materi pelajaran, disiplin kelas, dan pengelolaan kelas. Pada ranah pengelolaan kelas, kecemasan siswa terjadi dalam konteks pengelolaan waktu belajar dan pengelolaan siswa oleh guru. Objek Kecemasan siswa tertuju pada keterlambatan hadir di kelas dan momen interaksi tatap muka dengan guru. Sedangkan gejala kecemasan yang dirasakan siswa dalam konteks ini adalah gelisah, tegang, gugup, sulit berkonsentrasi, dan gagap terutama jika guru menanyakan tentang PR. Perilaku dominan guru yang terlampau tinggi dalam pengelolaan kelas berbanding dengan gejala kecemasan siswa, sehingga semakin tinggi dominasi guru di dalam pengelolaan kelas – semakin tinggi pula kecenderungan kecemasan bersekolah bagi siswa. Pada ranah disiplin kelas, kecemasan siswa terjadi dalam konteks norma disiplin yang berlaku dan penerapannya. Objek kecemasan siswa adalah pada guru yang mengawasi dan hukuman yang akan mengganjarnya. Gejala kecemasan pada umumnya yang dirasakan siswa dari objek tersebut adalah jantung berdebar-debar, kejadian buruk akan menimpa, dan nafas mudah tersengal-sengal. Peran guru yang sangat menonjol dalam mendisiplinkan siswa seringkali dianggap momok yang dirasakan sangat represif. Dengan kata lain, peran-serta penetap model guru yang terlalu menonjol dalam membentuk kebiasaan/budaya melalui perilaku disiplin di dalam kelas – berpengaruh terhadap kecenderungan kecemasan bersekolah. Pada ranah penyajian materi pelajaran kecemasan siswa terjadi dalam konteks persiapan materi pelajaran, pengajaran, pemberian soal latihan, ulangan (UTS), dan ujian (UAS). Objek yang menjadi kecemasan siswa adalah takut dituding tidak siap belajar, takut bicara dan bertanya tentang pelajaran, takut salah menjawab pertanyaan guru, takut memperoleh nilai buruk, dan takut tidak lulus ujian. Sedangkan gejala kecemasan yang dirasakan siswa terhadap objek tersebut adalah jantung mudah berdebar-debar, mudah tegang, tangan gemetar, sulit berkonsentrasi, gugup, dan kejadian buruk akan menimpanya. Metode dan strategi mengajar guru yang tidak variatif menyulitkan siswa menyerap materi pelajaran, sehingga kurangnya dinamika penyajian materi pembelajaran guru di kelas – mempengaruhi kecenderungan kecemasan bersekolah. ABSTRACT Ali, Muh. Nur. 2009. Factors of Teaching-Learning Process as Triggers toward Schooling Anxiety Tendency. Dissertation, Study Program of Educational Psychology, State University of Malang, Advisors: (I) Prof. Johana E. Prawitasari, M.Sc., Ph.D., (II) Dr. Marthen Pali, M.Psi., and (III) Dr. Dany M. Handarini, M.A. Key words: Teaching-Learning Process and Schooling Anxiety. Schooling anxiety is one of a number of academic problems in optimizing the students’ learning achievement (performance). If the students feel anxious about things in terms of schooling, he is not able to totally join the classroom instruction. With respect to feeling anxious, the students’ participation during the teaching-learning process can therefore be viewed physically and intellectually. Physically, the students’ participation during the classroom instruction is, in fact, just in terms of administrative cases, but mentally they are absent. Meanwhile, intellectually, the students’ participation during the teaching-learning process, in fact, deals with both cognitive and affective factors. The former deals with the students’ comprehension, while the latter with their realization on the importance of comprehending the teaching materials. Whether the students’ participation is physical or intellectual during the classroom instruction can, later, be measured or identified only by means of the evaluation result. Generally, the students’ total participation, physically and intellectually is only by a good atmosphere created by the teachers by means of classroom management, classroom discipline, and material presentation during the teaching-learning process. The current research aims at describing the teaching-learning factors that can trigger the schooling-anxiety tendency of the students. In detail this study aims at: (1) describing the factors of the teachers’ teaching-learning process that cause the students’ schooling-anxiety tendency, (2) comparing the factors of the teachers’ teaching-learning process that cause the students’ schooling-anxiety tendency, and (3) knowing the factors of the teachers’ teaching-learning process that dominantly cause the students’ schooling-anxiety tendency. This research examines three independent variables, classroom management, classroom discipline, and material presentation, and one dependent variable i.e. schooling-anxiety tendency, by means of a research design that completes the following four characterizations: (1) stressing more on the information about the individuals, (2) the samples are selected from the population or census, (3) the measurement used is not real since it deals with the psychological and sociological constructs, and (4) the data obtained from the subjects are descriptive data. Based on the characterizations, this study can be categorized as descriptive survey by using multiple-regression analysis. The results of the research inform three factors that trigger the students’ schooling-anxiety tendency during the teacher – student interaction, i.e. classroom management, classroom discipline, and teachers’ materials presentation. The analysis shows that the teachers’ material presentation is the most dominant factor and the classroom management is the least. In terms of classroom management, the students’ anxiety deals with the teachers’ learning time management and student management. The objects the students feel anxious about deal with being late for the class and interaction with their teachers. Because of these objects, physically the students can suffer from feeling worried, feeling nervous, feeling under pressured, losing concentration, and get stammered if the teachers ask about the students’ homework. The teachers’ unusual and extraordinary behaviors in the classroom management are followed by the students’ physical anxiety. Thus, the higher the teachers’ dominance in the classroom management the higher the students’ schooling-anxiety tendency is. In terms of classroom discipline, the students’ anxiety deals with the norms and practice of disciplines. The objects the students feel anxious about are the teachers who control and the punishments they should face. Because of these objects, physically, the students feel heart beating, any undesired things can happen to them, and breathing troubles. The teachers’ unusual role to keep the disciplines in the classroom is often regarded as a very repressive danger (specter). In other words, the teachers’ too extraordinary roles to build up a habit (culture) through the discipline practices in the classroom affect the students’ schooling-anxiety tendency. In terms of material presentation, the students’ anxiety deals with the teachers’ material preparation, teaching presentation, answering questions as practices, mid-term test, and semester test. The objects that trigger the students’ anxiety deals with: being considered not well-prepared to join the class, answering and asking questions, feeling mistaken in answering the teachers’ questions, getting bad marks, and failure in examination. Because of these objects, physically the students can suffer from heart beating, under pressure, hands trembling, losing concentration, feeling nervous, and then any undesired things can happen to them. The teachers still apply the old methods and strategies that cannot help the students to understand what they teach. Thus, the less dynamic the teachers’ presentation during the classroom instruction the more it triggers the students’ schooling-anxiety tendency.

Utilizing cartoon series to improve the writing narrative text ability of the grade-nine students of Madrasah Tsanawiyah Negeri Nganjuk / Mochammad Abdul Rasyid

 

ABSTRACT Rasyid, Mochammad Abdul. 2009. Utilizing Cartoon Series to Improve the Writing Narrative Text Ability of the Grade-Nine Students of Madrasah Tsanawiyah Negeri Nganjuk. Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd., M.Ed., (2) Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Key words: cartoon series, improve, writing ability, narrative text One of the problems of the teaching of writing at MTsN Nganjuk was the ineffective teaching writing activities by the teachers. The English teachers did not make a good planning in teaching writing and they were not accustomed to employing process of writing in their teaching writing. Based on the preliminary study, it was found the facts that: (1) The students had problems in generating ideas and organizing the text; (2) The students had inadequate competence in grammar and vocabulary; (3) The students required to practice writing narrative text for they never practiced writing it before. The researcher was greatly motivated to overcome the problems by utilizing cartoon series in the process of writing within four-stage strategy. The statement of the problem is how cartoon series can improve the writing ability of the Grade IX students of MTsN Nganjuk in writing narrative texts. The objective of the study is to describe the strategy of utilizing cartoon series in teaching writing in order to improve the writing ability of the Grade IX students of MTsN Nganjuk in writing narrative texts. The research design employed in this study was Classroom Action Research which consisted of four main steps: planning, implementing, observing, and reflecting, conducted in two cycles. The study was conducted at Grade IX-E which comprised thirty three students. Observation checklist, a set of questionnaires, and field notes were used as instruments to collect the data about the involvement and motivation of the students upon the implementation of the strategy. The students’ drafts were scored on the basis of analytical scoring format for narrative writing adapted from Hill, et al. (1998) which assessed aspects of a story such as setting and characters, plot, theme, story conclusion, and language components which cover grammar, vocabulary, and sentence structure. The study was considered successful if it met three criteria. First, the degree of the students’ involvement throughout the implementation of the strategy achieved 75% measured using observation checklist. Second, the number of the students who got 65 or more attained 24 students (70%). Third, the average score of the students’ products was at least 65. The findings of the study showed that cartoon series within four-stage strategy and writing process approach was effective in the teaching of writing narrative text. First, cartoon series was helpful to generate the students’ ideas and organize their texts. Second, writing process approach encouraged the students with the steps of creating the texts and four-stage strategy was effective in the teaching of writing. Additionally, self-access learning brought the students to write narrative text independently. Personal treatment encouraged the students to consult their drafts and it minimized the gap between the teacher and the students. The procedures of implementing cartoon series in the teaching of writing were initiated by BKoF stage i.e.: telling a story and rewriting the story. In MoT stage, a text was exemplified to be comprehended and analyzed. The process of writing occurred in JCoT stage. Provided with a set of cartoon series, the students made an outline, developed the draft, proofread, peer edited, and revised the draft. In ICoT stage, the students independently accessed their own cartoon series and developed a narrative text. The students proceed this writing process recursively, writing draft, peer editing the draft, revising and writing the final draft. Finally, the students’ drafts were published through reading aloud, role playing, and displaying them on the wall magazine. It can be inferred, therefore, that cartoon series is effective for the teaching of writing narrative texts. Cartoon series has inspired the students to generate ideas and also has brought them to organize narrative texts well. Writing process approach keeps the students to do the steps of composing whereas four-stage strategy facilitates the students to do the steps of learning writing collaboratively and independently. It is finally suggested that the teachers of English utilize cartoon series in teaching writing narrative texts. For the students, it is expected that they practice writing paragraphs in various topics and texts by utilizing cartoon series available in printed media, such as newspapers, magazines, etc. The other researchers are invited to conduct further research based on the findings of this study to develop better strategies in the teaching of writing.

Studi pembelajaran bioteka di Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang / Eko Budi Minarno

 

ABSTRAK Minarno, Eko Budi. 2009. Studi Pembelajaran Bioetika di Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Yusuf Abdurrajak, (II) Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, S.U., D.Sc., dan (III) Dr. Agr. Mohamad Amin, M.Si. Kata Kunci: Bioetika , Pembelajaran Perkembangan biologi dan bioteknologi yang pesat antara lain dalam bentuk xenotransplantasi, kloning, dan stem sel selain memiliki nilai manfaat bagi kehidupan, juga berpotensi memunculkan masalah etika. Di samping itu, berbagai eksperimen dalam bioteknologi tidak jarang belum memiliki arah yang jelas, sehingga berpretensi mengabaikan tanggung jawab terhadap kemaslahatan manusia dan lingkungan. Menghadapi fenomena tersebut, bioetika diperlukan sebagai pemandu penelitian dan pengembangan biologi serta bioteknologi, agar kegiatan tersebut selalu berlandaskan tanggung jawab terhadap kehidupan. Cara yang dapat digunakan adalah melalui pembelajaran bioetika kepada mahasiswa. Dalam pembelajaran bioetika, mahasiswa sebagai peserta didik tidak hanya terbatas pada belajar tentang konsep dalam biologi, namun juga belajar tentang konsekuensi sosial suatu hasil penelitian ilmiah. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran di Jurusan Biologi Fakultas Saintek UIN Malang sebagai salah satu perguruan tinggi berbasis agama, yakni mahasiswa mampu menguasai pengembangan biologi dan integrasinya dengan al-Qur’an dan al-Hadits demi tercapainya kemaslahatan umat manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengenalan mahasiswa terhadap istilah bioetika dan isu bioteknologi, (2) perbedaan kemampuan kognitif bioteknologi sebelum dan sesudah pembelajaran bioetika, (3) perbedaan sikap terhadap bioteknologi sebelum dan sesudah pembelajaran bioetika, (4) korelasi antara kemampuan kognitif dengan sikap terhadap bioteknologi setelah pembelajaran bioetika, (5) korelasi antara kemampuan kognitif dengan keputusan etik, (6) korelasi antara sikap dengan keputusan etik, (7) korelasi antara kemampuan kognitif, sikap, dan keputusan etik, (8) perbedaan kemampuan kognitif, sikap, dan keputusan etik antara mahasiswa yang pernah mengalami pendidikan di pondok pesantren dengan yang tidak pernah, (9) tanggapan mahasiswa terhadap pembelajaran bioetika. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif-analitis. Variabel yang diamati meliputi: pengenalan mahasiswa terhadap istilah bioetika, pengenalan mahasiswa terhadap isu bioteknologi, kemampuan kognitif biotek-nologi, sikap terhadap bioteknologi, dan kemampuan pengambilan keputusan etik dalam kasus dilema bioetika, dan tanggapan mahasiswa terhadap pembel-ajaran bioetika. Penelitian dilakukan mulai bulan Desember 2008 sampai dengan Mei 2009 di Jurusan Biologi Fakultas Saintek UIN Malang. Teknik analisis data meng-gunakan Analisis Deskriptif, Uji t-berpasangan dan tidak berpasangan, Analisis Korelasi Berganda, dan Analisis Kovarian (Anakova). Data diolah dengan meng-gunakan bantuan komputer melalui program SPSS for Windows versi 10.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Secara umum (94%) mahasiswa belum mengenal istilah bioetika, 6% mengenal istilah bioetika dari luar perkuliahan, (2) Sejumlah 98% mahasiswa sudah mengenal isu bioteknologi pada topik kloning namun tidak memahami permasalahannya, dan hanya 2% yang menyatakan mengenal dan memahami permasalahan, (3) Hampir semua (94%) mahasiswa belum mengenal isu bioteknologi pada topik stem sel dan xenotransplantasi, dan hanya 6% yang menyatakan sudah mengenal dan memahami, (4) Terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan kognitif dan sikap sebelum dan sesudah pembelajaran bioetika, (5) Terdapat korelasi yang signifikan antara kemampuan kognitif, sikap dan keputusan etik baik secara parsial maupun keseluruhan (serentak), namun kemampuan kognitif memberikan sumbangan lebih besar (81,82%) daripada sikap (5,93%) terhadap kemampuan pengambilan keputusan etik, (5) Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal kemampuan kognitif, sikap dan keputusan etik antara mahasiswa yang pernah mengalami pendidikan di pondok pesantren dengan yang tidak pernah, (6) Tanggapan mahasiswa adalah pembelajaran bioetika diharapkan dapat disajikan dengan harapan agar terjadi pengembangan kemampuan berpikir dan timbulnya pemahaman bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selain memberi manfaat terhadap kehidupan, tidak jarang berpotensi memun-culkan masalah-masalah etika. Saran yang dapat diberikan setelah perolehan hasil penelitian adalah: (1) Pembelajaran bioetika terutama di perguruan tinggi khususnya di jurusan biologi wajib dilaksanakan. Saran ini tidak berarti untuk jurusan di luar biologi tidak perlu dilakukan, sebab bioetika juga bersifat lintas keilmuan. Pembelajaran dapat dilakukan dalam bentuk mata kuliah tersendiri maupun terintegrasi ke dalam mata kuliah tertentu, (2) Perlu penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran bioetika dalam bentuk penelitian eksperimen untuk mencari metode pem-belajaran yang paling ideal, (3) Perlu penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran bioetika di pondok pesantren, (4) Perlu penelitian lebih lanjut tentang bioetika dan pembelajarannya dengan topik selain xenotransplantasi, kloning, dan stem sel. ABSTRACT Minarno, Eko Budi. 2009. A Study of Bioethic Instruction at Biology Department, Science and Technology Faculty, Malang Islamic State University. Disertation. Biology Education Department, Post Graduate Progam, Malang State University. Promotors : (1) Prof. Dr. H. Yusuf Abdurrajak, (II) Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, S.U, D.Sc., and (III) Dr. Agr. Mohamad Amin, M.Si. Key Words : Bioethic, Instruction The fast development of biology and biotechnology, especially in the area of xenotransplantation, cloning, and cell stem not only can give additional value for life, but it also have a chance of promoting ethical problem. Besides, it can be found that many kinds of experiments on biotechnology still cannot yield clear direction, thus, that experiments neglect responsibility to the goodness of human life and environment. Facing such kind of phenomenon, bioethic is badly needed as the guide of research and development of biology and biotechnology, in order that those activities will always be based on responsibility to life. The way that can be implemented is by conducting bioethic instruction to students. In bioethic instruction, students not only study about concept in Biology, but they also study about the social consequence resulted from a result of scientific research. It is in line with the instructional objective at Biology Department, Faculty of Science and Technology, Malang Islamic State University, a religion based University, in order that the students can master biology development and its integration on al-Qur’an and al-Hadits to promote human goodness and welfare. This research aims to know (1) the introduction of bioethic terms and issue of biotechnology, (2) the difference of cognitive ability on biotechnology before and after the instruction activity, (3) the difference of attitude toward biotech-nology before and after the instruction of bioethic, (4) the correlation between cognitive ability and the attitude toward biotechnology after the instruction of bioethic, (5) the correlation between cognitive and ethic decision, (6) the corre-lation between attitude and ethic decision, (7) the correlation among cognitive ability, attitude and ethic decision, (8) the difference among cognitive, attitude and ethic decision between students who had ever got education at Islamic education board and those who had not, (9) the students’ response on bioethic instruction. This research used analytical descriptive research desaign. The observed variables are: the students understanding on bioethic terms, the issue of biotechnology, and the ability of ethic decision making in he case of bioethic dilemma, and students response on bioethic instruction. The research is conducted on December 2008 until May 2009 at Biology Department, Faculty of Science and Technology, Malang Islamic State University. The technique of analyzing data is descriptive analysis, the T-test, double correlation analysis, and covariant analysis. The data is analyzed by using computer program SPSS for Windows version 10.00. The result of research showed that : (1), In general (94%) the students still are not familiar with the term of bioethic, 6% of students are already familiar with it. (2) about 98%, students have understood the issue of biotechnology on the cloning topic, but they still do not the real substance, and only 2% from them really know and understand the substance, (3) almost all students (94%) are still not familiar with biotechnology issue on cell stem topic and xenotransplantation, and only 6% have already familiar and understood, (4) there is a significant different on cognitive skill and attitude before and after the bioethic instruction, (5) there is a significant correlation among cognitive ability, attitude and ethic decision partially or for the whole, but cognitive ability gives give higher contribution (81,82%) than attitude (5,93%) to the ability of ethic decision making, (5) there is significant difference on cognitive ability, attitude and ethic decision between students who have ever got education in an Islamic education and those who have not, (6) the students response on the bioethic instruction, the hope that this subject is presented to increase the ability of thinking and arousing the awareness that the development of science of technology will give advantage to life, but it also can give problems especially on ethic. Based on the research results, suggestions are forwarded as follow: (1) the instruction of bioethic in college especially in biology department must be done. It does not mean that it is not important for other department, because bioethic is also a cross sector knowledge. The instruction can be conducted in the form of independent course or it is integrated to other course, (2) it needs further research about bioethic instruction in the form of experiment research to formulate the most ideal bioethic instruction, (3) it needs further research about the bioethic instruction in Islamic education board, (4) it needs further research about bioethic and its instruction outside the topic of xenotransplantation, cloning and cell stem.

Peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi dengan media gambar di kelas IV SDN Sumberanyar IV Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Nanik Fadiah

 

ABSTRAK Fadiah,Nanik.2009. Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi Dengan media Gambar Di Kelas IV SDN Sumberanyar IV Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra.Wiwik Dwi Hastuti, M.Pd, (II) Muchtar, S.Pd,M.Si Kata kunci: keterampilan menulis, karangan deskripsi, media gambar, SD Berdasarkan studi awal peneliti dari pengalaman selama mengajar di sekolah dasar kelas empat mulai pada Juli 2006 ditemukan bahwa siswa dalam menulis deskripsi masih cenderung individu sehingga siswa mengalami kesulitan dalam menulis. Kesulitan yang dialami siswa dalam menyusun karangan deskripsi yang dihasilkan dapat diidentifikasikan beberapa kelemahan, yaitu (1) siswa belum mampu mengembangkan karangan sesuai dengan ciri karangan deskripsi, (2) siswa masih belum dapat memilih kosakata yang tepat dalam mempertajam karangan deskripsinya, (3) kualitas ide tulisan yang dihasilkan masih rendah, dan (4) kemampuan siswa dalam mengorganisasi ide masih belum bertata dengan baik. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah (1) bagaimana proses pembelajaran Bahasa Indonesia menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar (2) apakah pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi. Tujuan PTK ini yaitu (1) mendeskripsikan proses pembelajaran bahasa Indonesia untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar, (2) mendeskripsikan peningkatan keteramplan menulis karangan deskripsi. Penelitian ini berbentuk Penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri atas4 komponen yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. PTK ini dilaksankan di kelas IV SDN Sumberanyar IV kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Kesimpulan dari PTK ini adalah (1) proses penerapan pembelajaran bahasa Indonesia dalam menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar ditempuh dengan langka-langkah sesuai dengan tahapan pengguaan media gambar, (2) dengan penerapan media gambar pada pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan ketetamppilan menulis karangan deskripsi siswa kelas IV SDN Sumberanyar IV kecamatan Ngulig Kabupaten Pasuruan mengalami peningktan, pada siklus I siswa yang mendapat nllai diatas 60 ada 32% sedangkan pada silus II siswa yang mendapat nilai diatas 60 mencapai 60%.. saran dari PTK ini yaitu dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dalam menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar dapat diterapkan dan dikembangkan dengan baik di kels IV sesuai dengan langkah-langkah yang benar.

Peningkatan kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan rangsang peristiwa pada siswa kelas VIII SMP Negeri 13 Malang tahun ajaran 2008/2009 / Dwiana Listiyaningtyas

 

ABSTRAK Listiyaningtyas, Dwiana. 2009. Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Berita dengan Menggunakan Rangsang Peristiwa pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 13 Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Masnur Muslich, M.Si. Kata kunci: peningkatan kemampuan menulis, teks berita, rangsang peristiwa. Salah satu kompetensi yang dikuasai oleh siswa kelas VIII SMP adalah menulis teks berita dengan singkat, padat, dan jelas. Hasil belajar yang diharapkan, yaitu (1) mampu mencatat apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana tentang peristiwa yang terjadi, (2) mampu menulis berita dengan menggunakan bahasa jurnalistik, dan (3) mampu memperbaiki kesalahan penggunaan bahasa dan tanda bacanya. Kenyataan di lapangan khususnya di SMP Negeri 13 Malang menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks berita siswa belum maksimal. Hasil studi pendahuluan menunjukkan adanya permasalahan, diantaranya (1) siswa kesulitan menuliskan teras berita, (2) siswa kesulitan mengembangkan tubuh berita, (3) unsur-unsur berita yang dituliskan siswa masih kurang lengkap, (4) siswa kesulitan merumuskan judul berita yang menarik. Munculnya permasalahan tersebut disebabkan oleh strategi pembelajaran yang digunakan guru belum bisa memperdayakan potensi siswa dalam menulis. Rangsang peristiwa ini dipilih karena dinilai mampu meningkatkan potensi menulis teks berita siswa karena mereka terjun langsung untuk mencari bahan berita kemudian menuliskannya menjadi teks berita. Tujuan umum penelitian ini, yaitu mendeskripsikan peningkatkan kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan rangsang peristiwa pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 13 Malang. Tujuan khususnya, yaitu untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis teks berita dilihat dari aspek judul berita, kelengkapan isi berita, teras berita, tubuh berita, bahasa, serta ejaan dan tanda baca. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian ini meliputi studi pendahuluan, rencana tindakan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Proses pelaksanaan penelitian ini dimulai bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2009. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas VIII E SMP Negeri 13 Malang dengan jumlah siswa 39, 20 putra dan 19 putri. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru bahasa Indonesia dan juga dua orang teman sejawat untuk membantu pelaksanaan pembelajaran di kelas. Data penelitian ini berupa data verbal dan nonverbal yang dikumpulkan dengan teknik observasi, catatan lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sebagai instrumen utama dan instrumen pendukung berupa pedoman observasi, pedoman penskoran, pedoman wawancara, dan angket. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa kemampuan menulis teks berita siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan rangsang peristiwa. Hal ini ditandai oleh adanya peningkatan hasil kerja siswa pada siklus I ke siklus II. Pada siklus I, peningkatan kemampuan siswa masih belum maksimal. Rata-rata kemampuan siswa sebesar 62,5% dan pada siklus II mengalami peningkatan yang signifikan menjadi 84,8%. Pada aspek penulisan judul berita, kemampuan siswa meningkat. Judul yang ditulis siswa sudah mencerminkan isi dan menarik. Kemampuan siswa dalam menulis judul berita meningkat dari siklus I sebesar 65,4% menjadi 89,1% pada siklus II. Persentase kemampuan siswa pada aspek kelengkapan isi berita pada siklus I sebesar 82,7% dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 91,7%. Pada tindakan siklus II, siswa sudah mampu mengembangkan jawaban atas pertanyaan apa, siapa, kapan, dan di mana menjadi sebuah teras berita. Terbukti dari persentase perolehan skor pada aspek penulisan teras berita mengalami peningkatan dari siklus I sebesar 59% menjadi 78,8% pada tindakan siklus II. Persentase perolehan skor pada aspek penulisan tubuh berita pada tindakan siklus I mencapai 57% dan mengalami peningkatan pada tindakan siklus II menjadi sebesar 82,7%. Bahasa yang ditulis siswa juga mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Pada siklus I persentase perolehan skor siswa sebesar 53,8% dan terjadi peningkatan pada siklus II mencapai 80,7%. Pada aspek ejaan dan tanda baca, skor yang diperoleh siswa juga mengalami peningkatan. Jika pada siklus I persentase perolehan skor mencapai 67,9% pada tindakan siklus II persentasenya mencapai 81,4%. Disamping perubahan yang cukup signifikan dari siklus I ke siklus II, skor siswa juga memenuhi SKM (70). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa rangsang peristiwa dapat meningkatkan kemampuan menulis teks berita pada siswa khususnya pada aspek judul berita, kelengkapan isi, teras berita, tubuh berita, bahasa, serta ejaan dan tanda baca. Oleh karena itu, dapat disampaikan saran berkenaan dengan penggunaan rangsang peristiwa, diantaranya (1) rangsang peristiwa dapat dipilih sebagai salah satu strategi dalam pembelajaran menulis teks berita karena terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa, (2) siswa diberikan kebebasan memilih peristiwa di lingkungan sekitarnya baik itu di sekolah maupun di rumah agar peristiwa yang dipilih siswa lebih bervariasi, (3) hendaknya guru memberikan motivasi terlebih dahulu kepada siswa sebelum menulis teks berita, (4) siswa diberi kebabasan untuk bertukar pendapat dalam menentukan judul berita yang menarik, dan (5) sebelum mengawali pembelajaran, hendaknya guru menyampaikan manfaat yang diperoleh dari menulis teks berita dengan menggunakan rangsang peristiwa.

Manajemen kurikulum pendidikan seni tari di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (studi multi-situs di Universitas Ngremo, Universitas Gambang, dan Universitas Beskalan) / Wahjudhi Dwidjowinoto

 

ABSTRAK Dwidjowinoto, Wahjudhi. 2009. Manajemen Kurikulum Pendidikan Seni Tari di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Studi Multi-situs di Universitas Ngremo, Universitas Gambang, dan Universitas Beskalan. Disertasi (Tidak Dipublikasikan). Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd., (2) Prof. H. A. Sonhadji K.H., M.A., Ph.D., (3) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata kunci: kurikulum, manajemen kurikulum, pendidikan seni tari, lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Guru seni tari mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat dalam pengembangan, pelestarian, dan pembinaan kesenian kepada generasi penerus. Pendidikan seni tari memang mempunyai keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Sudah sejak lama ada pendapat yang saling bertentangan antara para pendidik dan seniman tari. Para seniman tari berpendapat bahwa tari sebagai seni akan mencair dan turun derajatnya apabila diajarkan oleh seseorang yang bukan seniman. Sebaliknya para pendidik berpendapat bahwa dialah yang paling tepat mengajar tari di pendidikan umum. Karena guru mengetahui pengalaman dan kegiatan siswa setiap hari, sehingga lebih mudah merencanakan program tari yang seimbang. Pada kenyataannya tidak setiap seniman sesuai mengajar tari di sekolah umum, demikian juga tidak semua guru/pendidik memahami permasalahan tentang tari. Sebagai pemecahnnya dirasakan perlu ada lembaga yang dapat memenuhi kebutuhan guru tari yang dapat mengajar seni tari di sekolah umum. Kebutuhan guru seni tari di sekolah umum, sama kebutuhnnya dengan guru pendidikan jasmani yang sudah lama ada lembaga pendidikannya. Manajemen kurikulum pendidikan guru seni tari ini sangat menarik bila diteliti melalui sudut pandang manajemen pendidikan, dan cukup urgen karena sepanjang pengetahuan peneliti belum banyak penelitian tentang kurikulum pendidikan seni, terutama kurikulum LPTK pendidikan seni tari. Fokus penelitian: (1) perencanaan kurikulum pada awal berdirinya pendidikan seni tari di LPTK, (2) organisasi kurikulum pada kurikulum tahun 2008 jenjang strata 1 pendidikan seni tari di LPTK, (3) implementasi kurikulum tahun 2008 jenjang strata 1 pendidikan seni tari di LPTK yang meliputi: pengembangan materi pembelajaran, sarana-prasarana pembelajaran, SDM pelaksana kurikulum, dan (4) pengawasan pelaksanaan kurikulum pendidikan seni tari di LPTK. Tujuan umum penelitian ini adalah mendeskripsikan manajemen kurikulum pada pendidikan seni tari di lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Tujuan khusus penelitian adalah mendeskripsikan manajemen kurikulum pendidikan seni tari di lembaga pendidikan tenaga kependidikan sesuai dengan fokus penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi berperan serta wawancara mendalam, dan studi dokumen. Pengabsahan data dengan dependabilitas, dan kredibilitas. Analisis data:dengan analisis data situs tunggal dan analisis lintas situs. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, perencanaan kurikulum pendidikan seni tari LPTK pada awal berdirinya, dengan memadukan kurikulum pendidikan seni tari murni, tari daerah setempat, dengan kurikulum kependidikan seni rupa LPTK. Kedua, pengorganisasian kurikulum tahun 2008 pendidikan seni tari LPTK pada tiap semester atas dasar pertimbangan: tingkat kesulitan matakuliah teori maupun matakuliah praktek, matakuliah pengetahuan disusul matakuliah yang memerlukan pemahaman, matakuliah yang perlu analisis-sintesis; untuk menyiapkan fisik mahasiswa diberikan matakuliah Olah Tubuh, matakuliah praktek tari dari yang rendah tingkat kesulitannya sampai yang rumit, dibuat berjenjang dengan disertai prasarat, matakuliah tari ciri daerah di diutamakan, berusaha lulusannya mempunyai kompetensi sesuai tuntutan matapelajaran Seni Budaya di SMP dan SMA, pengorganisasian kurikulum pendidikan seni tari LPTK memberikan bekal penalaran ilmiah melalui penulisan skripsi, bekal kepribadian, kependidikan, dan latihan sebagai guru melalui PPL, bekal penciptaan seni tari melalui Karya Tari, bekal penmgabdi kepada masyarakat melalui KKN, menyediakan kelompok matakuliah untuk profesi selain profesi guru tari, memberikan matakuliah pengayaan materi praktek seni tari bagi mahasiswa yang dapat selesai 7 semester, penulisan skripsi ada 3 pilihan bentuk. Ketiga, implikasi kurikulum pendidikan seni tari LPTK: (a) pengembangan materi pembelajaran pendidikan seni tari LPTK dilaksanakan secara terkoordinasi dan secara individu atau tim pengajar, ada matakuliah muatan lokal tertentu yang dilaksanakan dengan kegiatan nyantrik. (b) sarana-prasarana pembelajaran pendidikan seni tari LPTK dilaksanakan oleh laboratorium jurusan, (c) SDM pelaksana kurikulum, rekrutmen dengan pemagangan, pembinaan resmi dan tidak resmi, peningkatan kualitas SDM sesuai dengan ketentuan peningkatan kualitas tenaga akademis di perguruan tinggi, komunikasi dan informasi menggunakan: komunikasi searah dan komunikasi timbal balik . Keempat, pengawasan pelaksanaan kurikulum melalui pengawasan melekat, rapat jurusan, jurnal kemajuan perkuliahan, dan monitoring pelaksanaan perkuliahan. Penelitian ini merekomendasikan: (1) Matakuliah Karya Tari dan Skripsi di pendidikan seni tari LPTK tidak merupakan matakuliah pilihan. (2) Kegiatan nyantrik perlu dipertahankan dan dilaksanakan oleh semua pendidikan seni tari LPTK. (3) Perpustakaan pendidikan seni tari LPTK dapat dilengkapi VCD tari hasil Karya Tari dan hasil nyantrik. (4) Tradisi dosen membuat karya tari dan dipentaskan hendaknya tidak hanya dipentaskan di kampus masing-masing, tetapi juga di LPTK yang mempunyai jurusan/prodi pendidikan seni tari. (5) Selain matakuliah Olah Tubuh, Yoga Asanas (senam yoga) juga penting diberikan kepada mahasiswa pendidikan seni tari LPTK agar kelenturan fisik, daya tahan tubuh, dan kepekaan rasa mahasiswa bertambah baik.

Perancangan iklan layanan masyarakat tentang pengenalan gejala gangguan autis anak sebagai media sosiallisasi autisme di Kota Malang / Sandi Arianto

 

ABSTRAK Arianto, Sandi. 2010. Perancangan Iklan Televisi Tentang Pengenalan Gejala Gangguan Autis Anak Sebagai Media Sosialisasi Autisme di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Muhadjir, (II) Rudi Irawanto, S.Pd,M.Sn. Kata kunci: perancangan, iklan televisi, autisme, media sosialisasi. Autisme adalah gangguan perkembangan neurobiologis berat dan luas yang terjadi pada anak pada usia tiga tahun pertama kehidupannya. Penyandang autisme memiliki gangguan pada komunikasi, interaksi sosial, serta aktivitas yang terbatas dan berulang-ulang sehingga anak yang menyandang gangguan ini terlihat seperti hidup dalam dunia-nya sendiri. Perkembangan permasalahan Autisme saat ini cukup mengkhawatirkan karena jumlah penyandang autis terus meningkat setiap tahunnya. Dalam hal ini, peran Pemerintah dalam mensosialisasikan Autisme masih sangat terbatas. Sehingga, masih banyak anak penyandang autis yang belum terdeteksi dan tertangani dengan tepat. Penelitian perancangan ini bertujuan untuk merancang suatu media sosialisasi bagi masyarakat umum di kota Malang dalam bentuk iklan layanan masyarakat tentang autisme melalui pengenalan terhadap gejala gangguan autisme pada anak. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian perancangan dengan subyek penelitian adalah anak autis, orang tua anak autis yang ada di Sekolah Autis Laboratorium (SAL) UM. Metode penggalian data adalah wawancara, observasi, kuesioner dan studi dokumentasi kepustakaan. Teknik analisis data perancangan yang digunakan adalah reduksi data, analisis deskriptif dengan prsentase dan penarikan kesimpulan. Model perancangan yang dibuat adalah menggunakan model perancangan yang bersifat prosedural yang menerangkan langkah-langkah yang telah ditentukan untuk menghasilkan sebuah iklan layanan masyarakat. Hasil penelitian perancangan ini adalah suatu bentuk Iklan Layanan Masyarakat dengan format iklan televisi yang memberikan informasi mengenai autisme dengan cara menjelaskan secara ringkas dan jelas tentang gejala-gejala gangguan autiseme pada anak. Iklan tersebut memiliki target kalayak sasaran perancangan yaitu warga kota Malang, meliputi orang tua dan calon orang tua serta masyarakat yang peduli dengan perkembangan anak di lingkungannya. Dari hasil penelitian perancangan ini, saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi masyarakat adalah perlu untuk selalu menumbuhkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat akan keberadaan autisme di lingkungan masing-masing. Selain itu agar para orang tua dan masyarakat umum dapat lebih mengetahui upaya yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kasus gangguan autisme di lingkungan tempat tinggalnya. (2) Bagi SAL UM, agar dapat terus mewujudkan misinya untuk memberikan pelayanan dalam menyediakan informasi bagi keluarga, orang tua dan semua lapisan masyarakat yang peduli dengan masalah autisme khususnya di kota Malang.

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi guru terhadap prestasi belajar yang dikontrol dengan motivasi belajar (studi pada siswa kelas VIII C dan VIII D pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 17 Malang) / Aditya Dewi Mujianto

 

ABSTRAK Mujianto, Aditya Dewi. 2010. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Guru Terhadap Prestasi Belajar Yang Dikontrol Dengan Motivasi Belajar (Studi Pada Siswa Kelas VIII C dan VIII D Pada Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 17 Malang). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing(I) : Dr. Bambang Pranowo, S.E, M.Pd., Ak. Pembimbing(II) : Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.Ec. Kata Kunci: Persepsi, Kompetensi Guru, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Guru mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan pendidikan karena guru memegang kunci dalam pendidikan dan pengajaran di sekolah. Guru adalah pihak yang paling dekat berhubungan dengan siswa dalam pelaksanaan pendidikan sehari-hari. Guru merupakan pihak yang paling peranannya cukup besar dalam menentukan keberhasilan siswa mencapai tujuan pendidikan. Pentingnya guru sebagai sumberdaya manusia yang terlibat langsung dalam mengemban tugas pendidikan tersebut adalah untuk menciptakan manusia Indonesia yang cerdas, terampil, dan berbudi luhur yang dicita-citakan. Oleh karena itu, selayaknya seorang guru mempunyai berbagai kompetensi diantaranya kompetensi paedagogik, kompetensi professional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Setiap siswa memiliki persepsi yang berbeda terhadap kompetensi yang telah dimiliki oleh seorang guru. Persepsi yang berasal dari siswa ini akan mempengaruhi perkembangan mental siswa yaitu motivasi untuk belajar. Motivasi belajar merupakan pendorong atau daya penggerak individu untuk melakukan aktivitas belajar dalam usaha untuk mencapai prestasi belajar. Motivasi ini meliputi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Dengan adanya kedua motivasi tersebut akan mempengaruhi tindakan siswa dalam mencapai tujuannya, yaitu memperoleh prestasi belajar yang memuaskan. Apabila motivasi belajar seorang siswa rendah maka prestasi belajar tidak akan sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu mendapat nilai yang tinggi. Sebaliknya apabila seorang siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi maka prestasi yang diperoleh akan sesuai dengan apa yang diharapkan. Penelitian ini merupakan penelitian explanatory research, sedangkan ditinjau dari hubungan variabelnya penelitian ini tergolong penelitian Asosiatif Kausalitas. Analisis yang digunakan adalah Path Analysis. Variabel dalam penelitian ini meliput: persepsi siswa tentang kompetensi guru (X1) sebagai variabel bebas, motivasi belajar (X2) sebagai variabel moderator, dan prestasi belajar (Y) sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII C dan VIII D SMP Negeri 17 Malang tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 87 siswa. Teknik pengumpulan data adalah angket dan dokumentasi. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa ada pengaruh positif secara langsung antara persepsi siswa tentang kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,406 dan mempunyai t hitung > ttabel (6,063 > 1,987). Motivasi belajar siswa berpengaruh positif secara langsung terhadap prestasi belajar sebesar 0,567 dengan t hitung > ttabel (8,489 > 1,987). Dan Persepsi siswa berpengaruh positif secara langsung terhadap motivasi belajar sebesar 0,527 dengan thitung > ttabel (5,711 > 1,987). Sedangkan persepsi siswa tentang kompetensi guru berpengaruh positif secara tidak langsung terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar sebesar 0,298. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diajukan kepada SMP Negeri 17 Malang adalah untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa sekolah hendaknya lebih sering lagi mengadakan pelatihan atau seminar yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi guru, dan guru harus lebih bisa meningkatkan lagi untuk memberikan motivasi kepada para siswa.

Profil guru produktif Jurusan Teknik Mesin di SMK Kota Palu Sulawesi Tengah / Soni Taslim

 

ABSTRAK Soni Taslim, 2009. Profil Guru Produktif Jurusan Teknik Mesin diKota Palu Sulawesi Tengah. Tesis, Jurusan Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Waras Kamdi, M.Pd, (II) Drs. Isnandar.MT Kata Kunci : profil guru produktif Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendesripsikan profil guru produktif jurusan teknik mesin di SMK berdasarkan kualifikasi akademik pendidikan minimum, (2) untuk mendeskripsikan profil guru produktif jurusan teknik mesin di SMK berdasarkan kesesuaian latar belakang program pendidikan tinggi dengan mata pelajaran yang diampu, (3) untuk mendeskripsikan profil guru produktif jurusan teknik mesin di SMK berdasarkan kepemilikan sertifikat pendidik, (4) untuk mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru produktif jurusan teknik mesin di SMK berdasarkan kompetensi pedagogik dalam standart kualifikasi akademik dan kompetensi guru, (5) untuk mendeskripsikan kompetensi profesional guru produktif jurusan teknik mesin di SMK berdasarkan kompetensi profesional dalam standart kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Metode penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif eksploratif, yang dilaksanakan dengan menggunakan rancangan survey secara langsung pada masing-masing sekolah yang diteliti. Hasil survey dideskripsikan dan di presentasikan sebagai laporan ilmiah. Hasil penelitian (1) profil guru produktif jurusan teknik mesin berdasarkan kualifikasi akademik pendidikan minimum adalah sebagian besar guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu adalah lulusan S1 65,91%, atau 29 orang, sedangkan yang berijaza D3 30,2 %, atau 13 Orang dan D4 2 orang atau 4,55%, (2) profil guru produktif jurusan teknik mesin berdasarkan kesesuaian latar belakang program pendidikan tinggi dengan mata pelajaran yang diampu adalah, dari 44 Guru produktif jurusan teknik mesin yang mengajar mata pelajaran sesuai dengan program pendidikan tinggi masih cukup besar, yaitu 27 Orang 61,36%, sedangkan guru produktif yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang program pendidikan tingginya adalah 17 Orang 38,64%, (3) profil guru produktif jurusan teknik mesin berdasarkan kepemilikan sertifikat pendidik. Sesuai dengan peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, bahwa seorang pendidik harus memiliki sertifikat sebagai pendidik, dari 44 orang Guru teknik mesin di kota Palu sebagian besar masih belum memiliki sertifikat sebagai pendidik yaitu 24 orang guru, (4) Dari hasil penelitian kompetensi pedagogik guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu yang datanya dikumpul lewat angket/kuesioner penelitian adalah, di temukan skor terendah 54, dan skor tertinggi 93. Dengan skor rata-rata 80,2558, dan peluang minimum 54.00 dan maksimum 94.00 dengan simpangan baku 9,342. Dari distribusi kompetensi pedagogik guru secara keseluruhan menunjukan bahwa frekfensi (f) pada interfal 80-100 yaitu terdiri dari 25 Orang 56,82. Dan hanya sebagian kecil atau interval 60–80 sebanyak 18 Org 40,91% tergolong dalam kategori sedang. Sedangkan kategori rendah hanya sebagian kecil 1 Org 2,27% dengan interval 40-60. (5) Dari hasil penelitian kompetensi profesional guru produktif jurusan teknik mesin dikota Palu terkategori terendah, 3 Orang dengan skor, 30-40, atau 6,82%, dan terkategori sedang, 7 Org dengan skor, 40–50, atau sekitar 15,91%, sedangkan yang tertinggi, 34 Org dengan skor 50–70 atau sekitar 77,27% dengan demikian di lihat secara rata–rata 54.9767 dengan peluang minimum 35.00 dan peluang maksimum sebesar 69.00, dan simpangan baku 8,609. Kesimpulan dan saran (1) profil guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu berdasarkan kualifikasi akademik pendidikan minimum. Sebagian kecil masih berijasah D3, Jadi ada beberapa guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu belum sesuai dengan standart minimal Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Hal ini pemda kota Palu harus menyiapkan dana untuk melanjutkan studi ke S1 atau D4 yang sesuai dengan kompetesinya atau mata diklat yang di ajarkan ketiga masih D3, (2) profil guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu berdasarkan kesesuaian latar belakang program pendidikan tinggi dengan mata pelajaran yang diampu. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi Guru. Hal ini terlihat masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang program pendidikan tingginya, mengsikapi hal itu maka Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah pada umumnya dapat menyiapkan dana untuk pelaksanaan training alifungsi kepada 17 Orang Guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang tugas, (3) profil guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu berdasarkan kepemilikan sertifikat pendidik; masih sebagian kecil Guru yang telah memiliki sertifikat pendidik, (4) profil guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu berdasarkan kompetensi pedagogik dalam standart kualifikasi akademik dan kompetensi guru, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nsional Nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi Guru. Secara umum guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu menunjukan sebagian besar memiliki kompetensi Pedagogik yang tinggi, (5) profil guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu berdasarkan kompetensi profesional dalam standart kualifikasi akademik dan kompetensi guru, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nsional Nomor 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Secara umum guru produktif jurusan teknik mesin di kota Palu sudah sebagian besar memiliki kompetensi profesional yang tinggi, (6) penelitian ini masih terbatas pada kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional guru saja, sedangkan kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian guru belum dilakukan, untuk itu peneliti mempersilakan siapa saja yang ingin menjutkan penelitian ini sehubungan dengan kompetensi guru.

Perancangan iklan layanan masyarakat gerakan ayo ke bank melalui budaya menabung menggunakan animasi tiga dimensi untuk anak / Rhangga Adian Putra

 

ABSTRAK Putra, Rhangga Adian. 2010. Perancangan Iklan Layanan Masyarakat Gerakan Ayo ke Bank Melalui Budaya Menabung Menggunakan Animasi Tiga Dimensi Untuk Anak. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I)Drs. Imam Muhadjir, (II) Moch. Abdul Rahman, S.Sn, M.Sn. Kata kunci: perancangan, animasi, iklan layanan masyarakat, menabung, anak Pembudayaan menabung di bank, merupakan poin perhatian dalam program Gerakan Ayo Ke Bank yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 2008. Dalam segi perekonomian, menabung merupakan elemen penting untuk pembentukan kapital. Konsep menabung perlu dikenalkan kepada anak-anak sejak dini salah satunya dalam bentuk iklan layanan masyarakat. Dari uraian tersebut disimpulkan akan pentingnya menggalakkan dan menanamkan budaya menabung di masyarakat terutama pada anak-anak. Oleh karena itu maka diperlukan suatu rancangan media yang efektif untuk memotivasi anak-anak agar gemar menabung yaitu iklan layanan masyarakat dalam bentuk animasi 3D.Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan iklan layanan masyarakat tentang gemar menabung dengan target audien anak-anak. Metode perancangan yang digunakan bertolak dari model perancangan prosedural. Data yang digunakan terdiri atas data pustaka dan data lapangan. Data pustaka dikumpulkan dengan metode observasi dan dokumentasi. Data lapangan dikumpulkan dengan wawancara. Adapun proses perancangan Iklan Layanan Masyarakat ini terdiri dari pencarian data dan fakta pendukung, perancangan konsep kreatif, proses produksi dan perancangan media pendukung. Rancangan yang dihasilkan berupa Iklan Layanan Masyarakat dengan durasi 45 detik, menggunakan format animasi 3D serta mengusung pesan pokok tentang budaya menabung di Bank Desain animasi berkarakter Barat, kartunal, dengan mengambil tema “Ayo Menabung” dan menggunakan cerita singkat. Sofware yang digunakan adalah 3D Max, Adobe Photoshop dan Adobe Premier. Diharapkan dengan hadirnya Iklan Layanan Masyarakat ini, anak-anak mulai membiasakan diri untuk menabung ke Bank. Dan untuk semakin memantapkan pesan tersebut diperlukan pula media-media pendukung lain untuk mengkampanyekan Gerakan Ayo ke Bank dan membudayakan masyarakat untuk menabung. Akan tetapi media yang dihasilkan dari perancangan ini belum melalui tahap ujicoba, karena itu belum diketahui keefektifannya. Untuk itu disarankan dilakukan ujicoba agar diketahui tingkat keefektifan dan kelebihan media tersebut.

Analisis penerimaan pajak daerah dalam peningkatan pendapatan asli daerah dan kesejahteraan hidup masyarakat kota Malang / Rima Anggraeni

 

ABSTRAK Anggraeni, Rima. 2009. Analisis Penerimaan Pajak Daerah Dalam Peningkatan Pendapatan Asli Daerah Dan Kesejahteraan Hidup Masyarakat Kota Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hj. Sutatmi, S. E, M.Pd, M.Si. Ak., (2) Helianti Utami, S. E, M. Si. Ak. Kata kunci : pajak daerah, pendapatan asli daerah, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Salah satu upaya Pemerintah Kota Malang dalam meningkatkan penerimaan Pendapatan Asli Daerahnya adalah melalui pajak daerah. Pengolahan Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari pembayaran pajak oleh masyarakat seharusnya dapat digunakan dan dialokasikan untuk mewujudkan kepentingan berbagai lapisan masyarakat dan kesejahteraan bersama. Namun sampai sekarang ini masih belum ditemukan adanya jawaban tentang masih meningkatnya masalah kesejahteraan masyarakat Kota Malang jika dihubungkan dengan Pendapatan Asli Daerah yang dalam setiap wacananya telah mencapai target yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan pajak daerah, kontribusinya terhadap PAD, pengelolaan, arah alokasi, serta peranan pajak daerah dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Kota Malang. Penelitian ini juga diharapkan bisa memberikan kontribusi untuk mengetahui pengelolaan penerimaan pajak daerah serta upaya-upaya pengelolaan yang telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah sebagai salah satu penerimaan pemerintah daerah yang memiliki tujuan utama yaitu meningkatkan dan memeratakan kesejahteraan hidup masyarakat. Rancangan penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan dokumentasi. Subyek dari penelitian ini adalah Kota Malang serta dilakukan pada Dinas Pendapatan Daerah, Pemerintahan Kota Malang dan Biro Pusat Statistik Kota Malang. Sedangkan obyek penelitian ini adalah laporan realisasi penerimaan dan pengeluaran keuangan daerah Kota Malang, serta datadata kependudukan Kota Malang mulai tahun 2000-2008. Metode analisis data dilakukan dengan mengolah data sekunder, teknik analisis persentase dan analisis trend (metode least square). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan realisasi pajak daerah selalu mengalami pertumbuhan selama 9 tahun terakhir dan merupakan sumber pendapatan yang memberikan kontribusi terbesar pada PAD Kota Malang jika dibandingkan dengan jenis PAD lainnya. Kesejahteraan masyarakat Kota Malang yang diukur melalui IPM dan PDRB per Kapita juga mengalami kenaikan setiap tahunnya. Peranan pajak daerah terhadap masyarakat juga terwujud dengan adanya pembangunan sarana prasarana umum. Namun anggaran belanja daerah untuk kesejahteraan masyarakat tersebut tidak sebanding dengan besarnya dana yang dialokasikan untuk belanja pegawai (kesejahteraan pegawai negeri). Sebaiknya Pemkot Malang bisa lebih mengutamakan kesejahteraan masyarakat karena juga ikut berperan dalam pembangunan, serta harus lebih berusaha untuk meningkatkan pendapatan daerah khususnya pajak daerah.

Pengembangan media catatan harian untuk pembelajaran menulis naskah drama siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang / Ilham Assofi

 

Pembelajaran menulis sastra khususnya menulis naskah drama sebenarnya bertujuan untuk lebih dapat mempelajari budaya bangsa serta memacu kreativitas peserta didik. Namun ada juga hal yang lebih penting yaitu pembelajaran sastra dan menulis naskah drama lebih bertujuan untuk menanamkan budi pekerti siswa melalui apresiasi terhadap karya sastra. Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mencari strategi dan yang efektif untuk pembelajaran menulis naskah drama. Dalam hal ini, peneliti juga ingin menghasilkan sebuah media dan panduan pembelajaran yang nantinya dapat digunakan dalam pembelajaran menulis sastra khususnya menulis naskah drama. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Adapun hasil produk yang nantinya diperoleh adalah berupa panduan penggunaan media catatan harian yang tergambar melalui rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kerja siswa. Dalam pengembangan ini, setelah diadakan perencanaan strategi pembelajaran yang akan dijalankan, peneliti melakukan rancangan penggunaan media catatan harian dalam pembelajaran menulis naskah drama. Setelah itu, untuk mengetahui letak kesalahan dalam penggunaan catatan harian ini, peneliti melakukan uji lapangan yaitu terhadap siswa kelas VIII serta meminta saran dari ahli. Hasil dari uji coba lapangan adalah ternyata hasilnya sudah optimal. Hal itu karena siswa sudah mampu untuk menulis catatan harian dengan kelengkapan waktu, tempat dan tokoh yang terlibat. Selain itu, siswa juga sudah mampu untuk mengembangkan catatan hariannya menjadi sebuah cerita yang dapat diubah menjadi sebuah naskah drama. Dan yang terpenting adalah siswa juga sudah mampu untuk berlatih membuat naskah drama dengan perencanaan yang sudah mereka buat. Namun ada beberapa hal yang harus dievaluasi yaitu siswa belum mampu untuk menggambarkan watak tokoh melalui lakuan serta ciri-ciri sosiologis serta fisiknya. Siswa juga kurang mampu untuk memberi kejutan pada penyelesaian dalam cerita. Saran yang diperoleh peneliti dari ahli antara lain memperbaiki langkah-langkah pembelajaran yang sebelumnya direncanakan. Selain itu ada beberapa teori yang belum disajikan dalam pembelajaran diantaranya adalah teori tentang perbedaan karakter catatan harian dan naskah drama serta bagan hasil pengembangan catatan harian. Dan yang terakhir adalah perlu ditingkatkannya kemampuan siswa untuk membuat cerita menjadi lebih menarik.

Perancangan sistem kontrol tempat penyimpanan beras / Anugrah Andrianto

 

ABSTRAK Andrianto, Anugrah. 2009. Perancangan Sistem Kontrol Tempat Penyimpanan Beras. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Setiadi C.P., M.Pd., M.T. (II) Siti Sendari, S.T., M.T. Kata kunci: Sistem Kontrol, Penyimpanan Beras, Sensor Suhu dan Kelembaban, Volume Beras. Tujuan pembuatan Tugas Akhir yang berjudul Perancangan Sistem Kontrol Tempat Penyimpanan Beras antara lain: (1) merancang sistem kontrol tempat penyimpanan beras, (2) merancang rangkaian tiap blok (hardware), (3) untuk merancang mekanik alat pada tempat pe-nyimpanan beras, (4) untuk merancang perangkat lunak (software), (5) untuk mendapatkan rancangan alat yang sudah teruji. Metode perancangan meliputi: (1) perancangan sistem, (2) perancangan tiap blok (Hardware), (3) perancangan mekanik alat, (4) perancangan perangkat lunak (Software). Tempat penyimpanan beras dilengkapi dengan sensor suhu dan kelembaban jenis SHT11, sensor volume beras dan tombol untuk mengeluarkan beras. Data suhu, kelembaban dan volume beras diolah di dalam AT89S51 dengan bahasa pemrograman assembly kemudian ditampilkan melalui LCD. Sistem pemanas menggunakan heater yang bekerja pada range suhu 31o-36oC dan kelembaban 20-90%. Indikator yang dapat mengetahui volume beras dari 3-10Kg, tombol start untuk menghidupkan heater dan tombol untuk mengeluarkan beras dengan kapasitas 1/2Kg setiap kali keluarnya beras. Kapasitas maksimal beras yang dapat disimpan yaitu 10Kg. Kipas digunakan untuk sirkulasi udara jika suhu melebihi batas yang telah ditentukan, dan motor sebagai penggerak mekanik untuk mengeluarkan beras. Hasil yang didapat adalah suhu, kelembaban dan volume beras ditampilkan melalui LCD dengan tampilan, yaitu Sh:__oC, Hm:__%RH dan Volume:___Kg. Temperatur setting yaitu antara 31o-36oC dan kelembaban 20-90%. Sensor volume mendeteksi beras dari 3-10Kg di dalam box, dilengkapi tombol start untuk menghidupkan heater dan tombol untuk mengeluarkan beras dengan kapasitas 1/2Kg setiap kali keluarnya beras. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah (1) perancangan sistem kontrol close loop tempat penyimpanan beras dapat bekerja sesuai perancangan, bekerja pada suhu 31o-36oC kelembaban 20-90% dan sensor volume dapat mendeteksi beras setiap kenaikan 1Kg, (2) pengujian dan hasil rangkaian setiap blok yang terdiri dari blok sensor, mikrokontroler, LCD dan driver dapat bekerja secara digital, (3) desain mekanik alat dapat bekerja sesuai dengan fungsi dari sistem kontrol tempat penyimpanan beras yaitu dapat membuka dan menutup pintu keluar beras secara otomatis, (4) perancangan software dapat bekerja sesuai instruksi yang diinginkan, yaitu mengontrol suhu pada range 31o-36oC kelembaban 20-90%.

Mengatasi kesulitan menarik akar pangkat dua dengan pembimbingan bagi siswa kelas V SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan / Sujono

 

ABSTRAK Sujono. 2009. Mengatasi Kesulitan Menarik Akar Pangkat Dua dengan Pembimbingan bagi Siswa Kelas V SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Juruasan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan< Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Harmini, S.Pd. M. Pd, (II) Drs. A. Badawi, S.Pd. M. Pd. Kata Kunci: Mengatasi, Akar Pangkat Dua, SD Pembelajaran Matematika dalam menarik akar pangkat dua di kelas V mengalami kesulitan. Kesulitan ini disebabkan oleh teknik pembelajaran guru yang kurang tepat. Dengan menggunakan pembimbingan, peneliti berusaha mengatasi kesulitan menarik akar pangkat dua bagi siswa kelas V SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembimbingan untuk mengatasi kesulitan menarik akar pangkat dua bagi kelas V SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan PTK yang dilakukan selama bulan yaitu mulai 31 Maret sampai akhir Mei 2009. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan yang terdiri atas 40 siswa. Diharapkan dengan pembimbingan yang diterapkan dalam penelitian ini dapat mengatasi kesulitan siswa kelas V dalam menarik akar pangkat dua. Penelitian ini menggunakan disain Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan Taggart yang terdiri empat tahap, yaitu, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembimbingan dalam pembelajaran matematika dapat mengatasi kesulitan menarik akar pangkat dua bagi siswa kelasV SDN Selotambak Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Namun, nampaknya masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengatasi kesulitan belajar di kelas tersebut.

The teaching of reading for grade VII students of bilingual class at MtsN Malang 1 / Aminatus Zuhriyah

 

This study was intended to describe the teaching of reading in terms of techniques of teaching, materials, media, and assessment in the bilingual class at MTsN Malang 1. This study is descriptive qualitative research. The subjects of this study were the English teacher and the 24 Grade VII students of the bilingual class. The instruments used to collect the data were observation sheets, interview guides, questionnaires, and documentations. Then, the collected data were analyzed by using three phases, i.e. data reduction, data display, and conclusion. The findings of this study were as follows. First, the teacher applied three phases of reading techniques: pre-reading, whilst-reading, and post-reading phase. In the pre-reading phase, she told the purpose of reading, activated the students’ background knowledge by doing pre-questions, brainstorming, and visual aids use, and dealt with new and/or difficult vocabularies. In the whilst-reading phase, she applied reading aloud, silent reading, reading in a group, modeling, and retelling. In the post-reading phase, she asked the students post-questions, gave feedback, linked the text with the students’ experience, and did writing activity. Second, in terms of the material selection, she took them from various sources: textbooks, magazines, internet, and the collection of legend and short stories. She taught descriptive, procedure, songs, and academic texts to the students. In selecting the reading materials, she considered several things, namely readability, suitability of content, and exploitability. Third, she used both traditional media such as pictures, whiteboard, and photographs and modern ones such as computers, films, internet and DVDs. In selecting the media, she considered three criteria, namely practicality, student appropriateness, and instructional appropriateness. Fourth, she administered informal assessment, such as feedback, reading aloud, peer-assessment, text/story retelling, and assignment. She also applied formal assessment in the forms of gap-filling tests, matching techniques tests, multiple-choice tests, and short-answer tests. Based on the results of the study, it is suggested that the English teacher should make lesson plans as their guidance in teaching and does not conduct the reading aloud too often. Besides, she should pay more attention to the materials that have connection with real world/ happen in daily life and improve the way she administers the assessment, especially informal or authentic assessment. For the principal and coordinators of the bilingual class program, it is suggested that they may observe the class once in a while to make sure that the teacher and the students really use English every time and provide authentic sources of learning. For future researchers, it is suggested that they may do research in terms of the use of English by the students in the bilingual class.

Pengaruh media advertising, brand image. Dan customer refernce terhadap keputusan konsumen dalam membeli laptop merek acer (Studi kasus pada pengguna laptop Acer di kedai kopi RKB hotspot area Perumahan Sawojajar) / Restiana Oktaviany

 

Persaingan bisnis dewasa ini semakin ketat. Hal ini terjadi akibat adanya globalisasi dan perdagangan bebas. Perusahaan di tuntut untuk memenangkan persaingan dengan cara mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Perkembangan pengguna laptop setiap hari semakin meningkat, Dengan harga yang semakin terjangkau, kini laptop atau notebook sudah bukan menjadi barang mewah lagi. Kini berbagai spesifikasi, merek, dan harga laptop pun semakin bervariasi. Celah disini dimanfaatkan oleh produsen laptop untuk menarik konsumen. Mulai dari penekanan media advertising, pengaruh brand image dari laptop yang dipilih, dan juga pengaruh customer reference yang selalu merekomendasikan konsumen untuk memilih laptop itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh media advertising, brand image, dan customer reference terhadap keputusan pembelian laptop merek Acer, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah media advertising (X1), brand image (X2), customer reference (X3), sedangkan variabel terikatnya adalah Keputusan pembelian (Y). Penelitian ini dilakukan di kedai kopi RKB (Hotspot Area) perumahan Sawojajar Malang. Penentuan sampel menggunakan Purposive Sampling, diperoleh sampel sebesar 100 responden. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda dengan menggunakan bantuan SPSS for windows seri 14.0. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:(1) Terdapat pengaruh positif dan signifikan media advertising terhadap keputusan konsumen dalam membeli laptop merek Acer (2) Tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan brand image terhadap keputusan konsumen dalam membeli lapotop merek Acer (3) Terdapat pengaruh positif dan signifikan customer reference terhadap keputusan konsumen dalam membeli laptop merek Acer. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah ditujukan pada perusahaan notebook Acer, hendaknya Periklanan yang dilakukan oleh Acer melalui media cetak, elektronik, dan brosur agar lebih ditingkatkan, dengan cara membuat konsep dan isi iklan yang lebih menarik dengan menggunakan media-media periklanan yang lebih efektif yaitu media televisi. Karena sampai saat ini Acer belum menggunakan media televisi sebagai media promosi. Sebaiknya Acer berupaya meningkatkan brand image melalui periklanan, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan media televisi agar positioning produk bisa cepat tertanam dibenak konsumen Customer Reference yang dilakukan oleh Acer agar lebih ditingkatkan yaitu dengan menawarkan desain notebook yang lebih menarik, memberikan informasi berbagai macam tipe dan warna lebih lengkap, dan juga memberitahukan bahwa adanya pelayanan yang diberikan terutama after sales service di kota-kota yang ditunjuk demi kepuasan konsumen dan menciptakan pelanggan yang loyal.

Evaluasi kenaikan temperatur trafo distribusi 20 KV akibat beban dengan menggunakan simulator Edsa / Evan Dwi Setyono

 

ABSTRAK Setyono, Evan dwi. 2009. Evaluasi Kenaikan Temperatur Trafo Distribusi 20 KV Akibat Variasi Beban Dengan Menggunakan Simulator EDSA. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Program Diploma Tiga Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Hari Putranto., (2) Arif Nur Afandi, S.T., M.T. Kata Kunci: kenaikan temperatur, variasi beban, trafo, edsa. Beban yang bervariasi mulai dari beban dasar, beban menengah dan puncak, akan menimbulkan kenaikan suhu atau temperatur trafo tiang 20 kV yang berbanding lurus sesuai kenaikan keadaan beban, namun bila beban yang tidak terkontrol dengan baik atau melebihi kapasitas dari trafo tiang 20 kV akan menimbulkan suatu pemanasan yang lebih, jika dibiarkan terus menerus dan tanpa adanya sistem kontrol dan proteksi yang baik akan menyebabkan kerusakan trafo tiang atau bahkan kemungkinan besar trafo tersebut terbakar, oleh karena itu dibutuhkan suatu evaluasi kenaikan temperatur suhu gardu trafo tiang 20 kV terhadap variasi beban yang baik dan benar. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data; (4) melakukan simulasi dengan Edsa Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan diperoleh dengan mencatat arus pada setiap gedung. Dengan melakukan evaluasi terhadap kenaikkan temperatur dan variasi beban, maka dapat deketahui pengaruhnya terhadap distribusi tenaga listik dan setelah dilakukan simulasi dengan EDSA, maka alangkah baiknya trafo tidak di bebani oleh beban berlebih karena dapat meningkatkan kenaikan temperatur dari trafo tersebut.

Sifat organoleptik selai wortel dengan penambahan tepung tapioka dalam jumlah yang berbeda / Haji Astutik

 

ABSTRAK Astutik, Haji. 2009. Sifat Organoleptik Selai Wortel dengan Penambahan Tepung Tapioka dalam Jumlah yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Ir. Ummi Rohajatein, M.P., (2) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P Kata kunci: wortel, selai, tepung tapioka, sifat organoleptik. Wortel merupakan jenis sayuran yang sangat dikenal masyarakat, berwarna orange, mengandung banyak manfaat seperti senyawa betakaroten yang berfungsi mencegah kanker dan provitamin A yang baik untuk kesehatan mata. Wortel dapat diolah menjadi berbagai olahan salah satunya diolah menjadi selai. Selai wortel berbahan dasar wortel, gula, sari jeruk nipis, air, dan ditambahkan tepung tapioka sebagai bahan pengental. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen pembuatan selai wortel dengan penambahan tepung tapioka dalam jumlah yang berbeda yaitu1%, 2%, dan 3%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis yang meliputi kekentalan, tekstur di mulut, dan daya oles. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Duncan´s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata kekentalan, tekstur di mulut, dan daya oles terhadap selai wortel dengan penambahan tepung tapioka sebanyak 1%, 2%, dan 3%. Skor tertinggi untuk kekentalan pada selai wortel dengan penambahan tepung tapioka 3% yaitu kental dengan skor (3,72), skor tertinggi untuk tekstur di mulut pada selai wortel dengan penambahan tepung tapioka 1% yaitu halus dengan skor (3,75), dan skor tertinggi untuk daya oles pada selai wortel dengan penambahan tepung tapioka 3% yaitu sangat merata dengan skor (3,72). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata antara kekentalan, tekstur di mulut, dan daya oles terhadap selai wortel dengan penambahan tepung tapioka sebanyak 1%, 2%, dan 3%. Skor tertinggi untuk kekentalan pada selai wortel yang disukai dengan penambahan tepung tapioka 3% yaitu suka dengan skor (3,27), skor tertinggi untuk tekstur di mulut pada selai wortel yang disukai dengan penambahan tepung tapioka 1% yaitu suka dengan skor (3,75), dan skor tertinggi untuk daya oles pada selai wortel yang disukai dengan penambahan tepung tapioka 3% adalah suka dengan skor (3,72). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti tentang pengemasan selai, cara pengawetan, dan daya simpan selai wortel yang lebih lama.

Sikap dan perilaku masyarakat nelayan dalam pengelolaan lingkungan hidup di daerah pantai Desa Jeku Eja Kecamatan Kusan Hilir Pagatan Kabupaten Tanah Bumbu Kalaimantan Selatan oleh Eva Dewi Yulianti

 

Permukiman linghmgan pantai yang ada di Indonesia pada wnunnya identik dargan masyarakat nelayan dan lingkungan kumuhnya. Desa Juku Eja sendiri merupakan salah satu desa pantai di Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Adapun masyarakat di desa ini pada ummrnya bennatap encaharians ebagani elayan. Sernentarait u kesadaran masyarakaat kan pentingnyam engelolal ingkungan pantai denFn baik masih kurang serta masih rendahnya tinet{at pendidikan masyarakat pada umumnya berpengaruhte rhadapp engetahuanm erekat entangl ingkungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sikap dan perilaku masyarakadt i desat ersebut.P enelitiani ni termasukp enelitian deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 100 kepala keluarga. Pengambilan data ifigunakan metode angket (kuisioner) sebagi data primer yang dibagikan ke setiap sampel penelitian. Teknik dokumentasijuga digunakan oleh peneliti sebagai data sekunder. Teknik analisis datayang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif denganm enggrmakanta bulasi funggal unfuk mengetahuib esamyap ersentasi. Kemudian untuk skoring digunakan skala Likert. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. Sikap masyarakat terhadapp engelolaanli ngkunganp antaim enunjukan2 9%osangatbaik,62%baIk, 9o/oc ukup baih 0% kurang dan 0%os angatk urang. Sedangkanp erilaku masyarakate rhadapp engelolaanl ingkungan pantai menunjukan l%os angatbark, 25o/obaik,60% cukup baik, 14% kurang baik dan 0% sangat kurang. Dari angka tersebut dapat dilihat untuk sikap masyarakat pada runumnya sudah baik dan untuk perilaku sendiri pada umumnyac ukup baik. Akan tetapi persentaspi erilaku masyarakat di bawah persentasi sikap, sehingga dalam hal ini menunjukan bahwa sikap masyarakat yang baik dalam kehidupan sehari-hari kurang diterapkan dalam berperilaku yang baik terhadap lingkungamya.

Penerapan motif geometri dengan teknik patchwork pada busana pesta siang / Farida Dwi. W

 

Dalam memilih busana pesta harus mempertimbangkan kapan pesta itu akan diadakan dan jenis pestanya, apakah pesta pagi, siang, sore atau malam. Karena perbedaan waktu juga akan mempengaruhi model, bahan dan warna yang akan ditampilkan. Bahan untuk pembuatan busana pesta biasanya menggunakan bahan yang berkilau, tetapi kali ini penulis membuat busana pesta one piece dari bahan denim. Penulis juga menambahkan hiasan pada gaun, yaitu hiasan Suffolk Puffs (yo-yos). Penerapan hiasan Suffolk Puffs (yo-yos) memberikan kesan elegan, dan nyaman, menarik, indah dan memberi inovasi baru dalam dunia mode. Hiasan menggunakan bahan dari batik dengan berbagai macam warna memberikan kesan feminim dan penuh gaya, serta glamour yang akan melengkapi kesempurnaan dan kecantikan bagi pemakainya. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menjelaskan tentang model busana pesta dan menjelaskan tentang pembuatan busana pesta berbahan denim dengan hiasan dari bahan batik. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menambah pengetahuan dan inspirasi bagi pembaca untuk membuat busana pesta berbahan denim dengan hiasan. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 127.475,00. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah dengan menggunakan pola sistem draping dengan model one piece menggunakan bahan blue denim dengan hiasan yang disusun secara A-simetris, dan kerah halter neck. Saran yang dapat diberikan adalah saat proses pembuatan hiasan suffolk puffs (yo-yos) sebaiknya dibuat satu minggu sebelum busana tersebut selesai, karena hiasan suffolk puffs (yo-yos) menggunakan teknik handmade dan dibuat dalam jumlah yang banyak dan hasilnya akan lebih rapi.

Penerapan pendekatan salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, masyarakat) melalui model kooperatif numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI-IA 2 SMA Negeri 3 Malang / Galina Istighfarini

 

ABSTRAK Istighfarini, Galina. 2009. Penerapan Pendekatan Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi, Masyarakat) melalui Model Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI-IA 2 SMA Negeri 3 Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Endah Indriwati, M.Pd. (II) Dra. Sri Rahayu Lestari, M.Si Kata-kata kunci: salingtemas, NHT, motivasi belajar, hasil belajar Saat Ini Indonesia menggunakan kurikulum KTSP yang prinsipnya antara lain berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan; beragam dan terpadu; tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pada kenyataannya pelaksanaan pembelajaran belum sesuai dengan KTSP. Pembelajaran Salingtemas merupakan suatu pendekatan yang dapat mengajak siswa untuk mau dan mampu menerapkan prinsip sains dan menghasilkan suatu teknologi untuk memecahkan masalah di masyarakat. Model NHT merupakan struktur yang melibatkan siswa dalam menelaah materi dan memeriksa pemahaman terhadap isu pelajaran. Pembelajaran Biologi di kelas XI-IA2 SMAN 3 Malang berpusat pada guru (teacher centered). Metode yang digunakan dalam pembelajaran berupa metode ceramah. Worksheet yang merupakan instrumen pembelajaran tidak digunakan secara tepat. Dalam melakukan penilaian, soal tes yang digunakan kebanyakan berupa soal tingkat kognitif mengingat (C1) saja. Hal tersebut menyebabkan motivasi dan hasil belajar siswa rendah. Siswa selalu pasif dan hanya mendengarkan tanpa menunjukkan sikap gembira maupun sikap ingin tahu. Nilai ketuntasan belajar secara klasikal rendah yaitu hanya 66,67%. Pendekatan Salingtemas dengan model NHT diduga dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa SMAN 3 Malang kelas XI-IA2. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pada tiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Mei 2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI-IA2 SMAN 3 Malang dengan 10 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa diperoleh dengan melakukan observasi menggunakan lembar observasi motivasi belajar selama pembelajaran. Sedangkan data hasil belajar siswa pada ranah kognitif C1-C4 diukur berdasarkan ketuntasan belajar secara klasikal dan rata-rata tingkat kognitif yang diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi motivasi, lembar observasi tindakan guru, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelittian terjadi peningkatan pada keempat aspek motivasi belajar yaitu minat (2,6%), perhatian (9,1%), konsentrasi (13,9%) dan ketekunan (6,8%). Hasil belajar juga mengalami peningkatan sebesar 27,58%. Ketiga Aspek kognitif juga mengalami peningkatan yaitu C1 (22,4), C2 (11,6), dan C3 (38), sedangkan C4 mengalami penurunan sebesar 17,3. Oleh karena itu disarankan bahwa guru dapat menggunakan pendekatan Salingtemas dengan model Kooperatif NHT untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa.

Perbandingan losses daya pada susunan 1x1 trafo 3 fasa dengan susunan 3x1 trafo 1 fasa / Ravi Jamaludin Yunus

 

ABSTRAK Yunus, Ravi Jamaludin. 2009. Perbandingan Lossses Daya pada Susunan 1x1 Trafo 3 Fasa dengan Susunan 3x1 Trafo 1 Fasa. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Program Diploma Tiga Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) H. M. Rodhi Faiz, S.T.,M.T. (2) Aripriharta, S.T. Kata Kunci: Trafo, Losses daya, edsa. Tingkat kontinuitas dan kualitas daya listrik suatu sistem tenaga listrik merupakan suatu bagian yang harus dipertimbangkan dengan baik dalam suatu perencanaan sistem tenaga listrik. Tingkat kualitas daya listrik yang baik sangat dibutuhkan oleh peralatan elektronik yang sensitive seperti komputer dan peralatannya. Aspek-aspek yang terkait dalam penentuan tingkat kualitas daya meliputi : kestabilan tingkat tegangan dan frekuensi, tingkat faktor daya. Dalam distribusi ke konsumen diperlukan Gardu Trafo Tiang sebagai kontrol tegangan yang dikirim, tegangan ini dikontrol untuk menghindari tegangan yang tinggi dibagian yang paling dekat dengan trafo dan tegangan rendah di bagian ujungnya. Dalam Gardu Trafo Tiang umumnya dipakai trafo dengan susunan 1x1 trafo 3 fasa. Trafo dengan susunan 3x1 trafo 1 fasa jarang sekali digunakan dalam pelaksanaan distribusi. Untuk itu perlu di studi kenapa lebih banyak digunakan susunan 1x1 trafo 3 fasa dari pada susunan 3x1 trafo 1 fasa. Dengan menggunakan aplikasi program Edsa Technical 2000. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data; (4) melakukan simulasi menggunakan program Edsa Technical 2000; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan diperoleh dengan cara mensurvei ruang tiap gedung dan dicatat beban yang dipakai tiap ruang, data lapangan ini diasumsikan pada jam 10.00 setiap hari pada semester genap. Dengan simulasi didapatkan data bahwa losses pada susunan 1x1 trafo 3 fasa lebih rendah dari pada susunan 3x1 trafo 1 fasa.

The Implementation of the use of english in physics instruction at SMP RSBI Negeri 5 Malang / Puspita Prajarisma

 

ABSTRACT Prajarisma, Puspita. 2009. The Implementation of the Use of English in Physics Instruction at SMP RSBI Negeri 5 Malang. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dr. Sri Rachmajanti, Dip TESL., M. Pd. Key words: Physics instruction, English language, RSBI. This study was intended to find out the implementation of the use of English in Physics instruction in the pioneering international standard school (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional/ RSBI) at SMP Negeri 5 Malang. This study is a descriptive case study. The subjects of this study were the students in three pioneering international standard classes Grade VII and the Physics teacher. The instruments used to collect the data were field note, interview, questionnaires, and documentations. The findings showed that the use of English in Physics instruction has fulfilled requirements mandated by Diknas. It was used 20 up to 50% in RSBI classes. The details of the finding in this study were as follows. First, the syllabus made by the Physics teacher has met the requirements for the syllabus in the pioneering international standard school mandated by Diknas. Second, the lesson plan used by the teacher in teaching Physics in the pioneering international standard school was written in English and mentioned all aspects of teaching. Then, the techniques employed by the Physics teacher varied. Next, the materials used in Physics teaching were suited to the standard and basic competences mandated by the government. Fifth, various media were used by the Physics teacher at the pioneering international standard classes such as TV, LCD projector, internet, real objects, realia, and apparatus in Physics laboratory. Sixth, the Physics teacher assessed her students with two kinds of tests: formative test and summative test. Besides, the teacher also assessed the students’ progress. Next, the drawbacks of the Physics instruction in the pioneering international standard classes were the teacher’s English mastery. The teacher has difficulty in making the Physics lesson plan in English. Besides, there were lacks of experiment apparatus in Physics laboratory. Based on the result of the study, it is recommended that the school principle complete the experiment apparatus in Physics laboratory and provide laboratory assistant in Physics laboratory. In addition, the headmaster also suggested not recruiting more than 24 students in RSBI classes. The Physics teacher is recommended to work harder to increase the teaching quality. The teacher is expected to improve her teaching techniques, and improve her ability in making the Physics lesson plan in English. Finally, to other researchers who may conduct studies on the similar topic, the writer suggests that they conduct research in international standard class for one specific variable only, for instance the teaching techniques, or the drawbacks of the international standard school. By conducting a more specific study, it is expected that the implementation of Physics instruction at the pioneering international standard school program can be analyzed more deeply and intensively.

Rendeman dan sifat organoleptik tahu suter kedelai hitam dengan perbandingan air dan kedelai yang berbeda / Helena Susilo

 

ABSTRAK Susilo, Helena. 2009. Rendemen dan Sifat Organoleptik Tahu Sutera Kedelai Hitam dengan Perbandingan Air dan Kedelai yang Berbeda. Tugas Akhir, Program Studi Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Budi Wibowotomo, M. Si., (II) Dra. Teti Setiawati, M. Pd. Kata kunci: tahu sutera, kedelai hitam. Tahu sutera merupakan jenis tahu yang memiliki tekstur yang lunak. Tekstur yang lunak tersebut diperoleh karena pada proses pembuatannya menggunakan Glucono Delta Lactone (GDL) sebagai penggumpal dan hasil akhir produk tidak dipres. Bahan utama pembuatan tahu sutera pada umumnya adalah kedelai kuning. Sabagai alternatif digunakan kedelai hitam untuk lebih memberikan variasi olahan kedelai hitam di masyarakat. Kedelai hitam memiliki asam amino glutamate yang lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai kuning sehingga diharapkan menghasilkan tahu sutera dengan kriteria yang lebih baik. Salah satu faktor penentu dalam proses pembuatan tahu sutera adalah perbandingan air dan kedelai. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dalam pembuatan tahu sutera kedelai hitam dengan perbandingan air dan kedelai yang berbeda, yaitu 9 : 1, 11 : 1, dan 13 : 1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rendemen dan sifat organoleptik (rasa, warna dan tekstur) berdasarkan uji mutu hedonik dan uji hedonik tahu sutera kedelai hitam. Data diperoleh dari hasil pengisian format penilaian yang dilakukan oleh panelis agak terlatih sebanyak 20 orang dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Data akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan Duncan’s Mutiple Range Test (DMRT). Hasil analisis menunjukkan rendemen tertinggi sebanyak 870% pada tahu sutera kedelai hitam dengan perbandingan air dan kedelai 13 : 1. Hasil uji mutu hedonik tahu sutera kedelai hitam menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan air dalam batas maksimal pada pembuatan tahu sutera kedelai hitam, maka akan memberikan hasil berupa rasa yang cenderung kurang terasa asam, warna yang cenderung kurang kusam, dan tekstur yang lunak. Tahu sutera dengan perbandingan air dan kedelai 13 : 1 menghasilkan rasa, warna, dan tekstur sesuai dengan kriteria yang diharapkan. Sedangkan untuk hasil uji hedonik tahu sutera kedelai hitam menunjukkan semakin tinggi jumlah air yang digunakan dalam batas maksimal pada pembuatan tahu sutera kedelai hitam, maka panelis semakin menyukai rasa, warna dan tekstur tahu sutera kedelai hitam. Tahu sutera kedelai hitam dengan perbandingan air dan kedelai 13 : 1 merupakan tahu sutera yang menghasilkan rasa (kurang terasa asam), warna (putih kurang kusam) dan tekstur (lunak) yang cenderung disukai oleh panelis. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan perbandingan air dan kedelai yang berbeda dalam pembuatan tahu sutera kedelai hitam akan menghasilkan rendemen dan sifat organoleptik yang berbeda. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah perlu diteliti mengenai daya simpan serta alternatif koagulan yang dapat digunakan dalam pembuatan tahu sutera kedelai hitam.

Sistem informasi pembayaran iuran komite sekolah menggunakan smart card berbasis delphi / Rizqi Budhi Prasetiyo

 

ABSTRAK Prastiyo, Rizqi Budhi. 2009. Sistem Informasi Pembayaran Iuran Komite Sekolah Menggunakan Smart Card Berbasis Delphi. Tugas akhir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Wahyu Sakti G.I., M.KOM. (II) Muhammad Ashar ST., MT. Kata Kunci: Sistem Informasi, Pembayaran Iuran Sekolah, Smart Card, Delphi Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang komputer membawa perubahan besar dengan memberikan berbagai macam program yang dapat mempermudah segala macam aktifitas manusia. Penekanan pada faktor kemudahan operasional serta kepraktisan membuat peralihan teknologi dari sistem analog ke sistem digital, sehingga dapat meminimalisir terjadinya human error. Dalam perancangan sistem digunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7 sebagai interfacing antara manusia dengan komputer. Program database yang digunakan adalah Microsoft Access. SIstem ini menggunakan smart card sebagai media input, sehingga diharapkan dapat meminimalisir kesalahan. Sistem ini menggunakan PC (Personal Computer), karena dengan PC data dalam jumlah besar dapat diproses dan diakses dengan mudah. Sistem berbasis smart card ini diharapkan dapat memperlancar proses pembayaran, masing-masing siswa mempunyai smart card yang juga berfungsi sebagai tanda pengenal atau kartu pelajar, sehingga kesalahan data dalam pembayaran iuran komite sekolah dapat diminimalisir dan keamanan sistem juga meningkat, karena hanya administrator yang mempunyai hak akses dapat mengoperasikan sistem ini. Dari hasil dan analisis dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan bahasa pemrograman Borland Delphi 7, dapat digunakan untuk membuat program Sistem Informasi Pembayaran Iuran Komite Sekolah Menggunakan Smart Card Berbasis Delphi. Perancangan sistem yang dibuat memiliki keunggulan, yaitu : keamanan sistem lebih terjamin, karena hanya pemegang kartu petugas dan mengetahui password yang dapat mengakses sistem ini, tingkat kesalahan dalam melakukan pembayaran iuran komite sekolah kecil, karena masing-masing siswa memiliki kartu dengan NIS yang berbeda, sehingga dapat meminimalisir kesalahan. Siswa juga dapat membayar lebih dari satu bulan dalam satu kali pembayaran. Sedangkan kelemahannya adalah pada smart card yang digunakan cepat rusak, karena setiap melakukan pembayaran atau login petugas, kartu selalu bergesekan dengan smart card reader sehingga lapisan pelindung kartu terkelupas.

Keterampilan manajerial peningkatan keunggulan pembelajaran (studi multi kasus pada tiga SMA unggulan di Kota Semarang) / Karwanto

 

ABSTRAK Karwanto, 2009. Keterampilan Manajerial Peningkatan Keunggulan Pembelajaran (Studi Multi Kasus pada Tiga SMA Unggulan di Kota Semarang). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd (II) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd dan (III) Prof. Dr.H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata kunci: keterampilan manajerial, keunggulan pembelajaran. Kepala sekolah merupakan sumber daya manusia yang penting di dalam penyelenggaraan kegiatan persekolahan. Keberhasilan suatu sekolah tidak hanya terbatas pada guru yang berkualitas, sarana prasarana yang memadai dan proses pembelajaran yang unggul, tetapi harus didukung oleh keterampilan manajerial kepala sekolah yang menonjol, mampu merespon setiap persoalan dan memiliki kompetensi dalam mengelola sekolah dengan baik. Artinya, kepala sekolah harus mampu merencanakan, mengkoordinasikan, melaksanakan dan mengevaluasi aktivitas pembelajaran secara profesional dalam rangka meningkatkan keunggulan pembelajaran. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa keterampilan manajerial kepala sekolah dalam mengelola sekolah benar-benar dituntut dan membutuhkan seni dalam proses pengelolaannya. Penelitian ini bermaksud mengungkap lebih mendalam tentang keterampilan manajerial peningkatan keunggulan pembelajaran pada tiga SMA Unggulan di Kota Semarang yang memiliki karakteristik berbeda. Fokus penelitian ini tertuju pada lima hal yaitu: (a) keunggulan pembelajaran; (b) keterampilan kepala sekolah dalam perencanaan peningkatan keunggulan pembelajaran; (c) keterampilan kepala sekolah dalam pelaksanaan peningkatan keunggulan pembelajaran; (d) keterampilan kepala sekolah dalam evaluasi hasil peningkatan keunggulan pembelajaran; dan (e) strategi yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan keterampilannya dalam peningkatan keunggulan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi berperan serta dan studi dokumentasi. Pengecekan kredibilitas data dilakukan dengan teknik triangulasi, pengecekan anggota, dan diskusi teman sejawat. Sedangkan pengecekan auditabilitas data penelitian dilakukan oleh para pembimbing, dan meminta seseorang sebagai independent auditor untuk mengauditnya. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi, ditafsir, dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus maupun analisis lintas kasus guna menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan. Pertama, keunggulan pembelajaran yang ditemukan pada tiga SMA Unggulan di Kota Semarang meliputi penerapan kedisiplinan dalam proses belajar mengajar dan memiliki keseriusan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran, sedangkan proses keunggulan pembelajaran yang dikembangkan di sekolah unggulan meliputi pola pembelajaran moving class, berpengantar bahasa Inggris, pembelajaran berbasis ICT dan kegiatan live-in di luar kelas. Eksistensi sekolah pada sekolah unggul ditentukan oleh sejumlah keunggulan pembelajaran yang dimiliki sekolah dan adanya keterlibatan kepala sekolah dalam meningkatkan dan memelihara kemajuan dengan melakukan inovasi-inovasi dan perubahan sehingga sekolah tetap stabil dan berlangsung sampai sekarang ini. Kedua, keterampilan kepala sekolah dalam perencanaan peningkatan keunggulan ditentukan oleh keterampilan kepala sekolah yang menonjol dalam: keterampilan memanaj perubahan organisasi, memonitor setiap perubahan, keterampilan merancang yang baik, dan mengalokasikan sumber daya manusia dengan tepat. Kepala sekolah yang memiliki keterampilan manajerial yang menonjol dan mampu merancang keunggulan pembelajaran mampu menjadikan sekolah menjadi sekolah unggul. Ketiga, keterampilan kepala sekolah dalam pelaksanaan peningkatan keunggulan dibuktikan dengan hasil dari unjuk kerjanya melalui perolehan prestasi akademik dan prestasi non-akademik yang dicapai siswa serta ditentukan oleh keterampilan kepala sekolah yang menonjol dalam: keterampilan teknis di bidang pembelajaran, melaksanakan teori pembelajaran terkini, menciptakan program pengembangan staf, keterampilan komputer dan keterampilan berbahasa asing yang memadai. Keberhasilan kepala sekolah dalam meningkatkan keunggulan ditentukan pula oleh keterampilan kepala sekolah dalam menata aspek manusia dan aspek non-manusia serta mampu bekerjasama dengan dan melalui orang lain. Keempat, keterampilan kepala sekolah dalam evaluasi hasil peningkatan keunggulan yaitu kepala sekolah selama memimpin dan mengelola sekolah mampu menjadikan sekolah berprestasi, tidak bermasalah, mampu menciptakan iklim yang kondusif serta ditentukan oleh keterampilan kepala sekolah yang menonjol dalam: memonitor implementasi kebijakan pembelajaran, membina, mengarahkan dan memberdayakan guru dengan baik dalam melakukan evaluasi serta keterampilan dalam memonitor kemajuan belajar siswa. Kelima, strategi yang dilakukan kepala sekolah untuk meningkatkan keterampilannya dalam peningkatan keunggulan pembelajaran dilakukan dengan: peningkatan sumber daya manusia, penyelenggaraan bimbingan teknis, lokakarya pembuatan rencana pengembangan sekolah, menjalin kerjasama dengan orang luar, alumni dan orang tua siswa serta melakukan studi banding ke sekolah berprestasi untuk menemukan sesuatu yang unggul. Keberhasilan kepala sekolah dalam meningkatkan keterampilan manajerialnya ditentukan oleh kepiawaiannya dalam menerapkan strategi dan mampu memberdayakan serta mengembangkan potensi, pengetahuan, dan kemampuan yang dimilikinya secara optimal, profesional, dan berkesinambungan, yang dimanifestasikan dalam bentuk unjuk kerja. Saran-saran dari penelitian ini antara lain disampaikan kepada: (1) kepala sekolah, hendaknya dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan keterampilannya dalam mengelola dan memberdayakan guru, karyawan, dan staf dengan baik melalui pemberian kepercayaan, melakukan pendampingan, mengevaluasi serta memberikan alternatif penyelesaiannya; (2) pendidik, hendaknya berkolaborasi dengan kepala sekolah secara maksimal dalam hal peningkatan kualitas pembelajaran dan pengelolaan aktivitas pembelajaran secara profesional; (3) orang tua siswa, hendaknya berpartisipasi aktif mendukung program-program sekolah dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa; (4) penyelenggara pendidikan, hendaknya melakukan kerjasama dengan lembaga independent yang bergerak dalam bidang pendidikan untuk mengembangkan pendidikan di sekolah dan juga untuk melakukan program pendampingan peningkatan kompetensi profesional bagi kepala sekolah; (5) dinas pendidikan/departemen pendidikan nasional, hendaknya meningkatkan pembinaan profesionalisme kepala sekolah secara terpadu, terpola, profesional dan berkesinambungan; (6) dewan pendidikan, hendaknya meningkatkan pola koordinasi dan kerjasama antara pemangku pendidikan (stakeholders) terutama dengan dewan pendidikan dan komite sekolah agar kepala sekolah dapat meningkatkan keterampilan manajerialnya dan (7) kepada para peneliti lain yang berminat terhadap topik penelitian ini, hendaknya dilakukan penelitian lebih lanjut yang mampu mengungkap lebih mendalam tentang sekolah unggul ditinjau dari fokus yang lain serta dapat mengembangkan dan menggali lebih dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan: keterampilan kepemimpinan pendidikan, kepemimpinan pembelajaran, kepemimpinan kultural, kepemimpinan manajerial, kepemimpinan sumber daya manusia, dan kepemimpinan strategis.

Perancangan pengendali suhu udara pada mesin pengering ikan berbasis mikrokontroler at89852 / Abdul Karim

 

ABSTRAK Karim, Abdul. 2009. Perancangan Pengendali Suhu Udara pada Mesin Pengering Ikan Berbasis Mikrokontroler AT89S52. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro. Program Studi D3 Teknik Elektronika. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ahmad Fahmi, S.T., M.T. (II) Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T. Kata kunci: Suhu, Pengering ikan, ADC, Mikrokontroler. Pengeringan ikan merupakan proses mengurangi kadar air dalam ikan agar dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama. Pengeringan ini diharapkan mampu menurunkan kadar air ikan, sehingga kadar airnya kira-kira 25%-30%. Pengeringan ikan menggunakan mesin pengering dilakukan untuk menjaga kualitas ikan kering, terutama bagi para nelayan tradisional. Mereka sering mengabaikan kualitas produk mereka yang berupa ikan kering. Biasanya pengeringan dilakukan dengan cara dijemur di bawah terik matahari di tempat yang luas, itu pun tergantung dari kondisi cuaca. Hal ini juga memerlukan waktu yang cukup lama ±3 hari untuk mendapatkan hasil pengeringan yang sempurna. Namun, kebersihan (higienitas) dari ikan kering tersebut belum terjamin karena banyak ditempeli debu- debu dan dihinggapi lalat. Dengan adanya pengendali suhu udara pada mesin pengering ikan berbasis mikrokontroler AT89S52 diharapkan mempermudah para nelayan untuk proses pengeringan ikan dan tidak memerlukan waktu yang cukup lama. Selain itu, hasil ikan keringnya dapat terjamin kebersihannya. Prinsip kerja dari alat ini yaitu: pada saat sistem dijalankan, suhu udara pada mesin pengering ikan akan dideteksi melalui sensor suhu (LM35), suhu yang diinginkan maksimal 45ºC. Output dari sensor suhu dikuatkan oleh rangkaian op-amp menggunakan IC LM324. Kemudian output yang berupa sinyal analog dikirim ke ADC untuk diubah ke sinyal digital agar dapat dibaca dan diproses di dalam mikrokontroler. Mikrokontroler berfungsi mengontrol kerja seluruh sistem. Alat ini menggunakan kipas (fan) untuk mengalirkan udara dalam ruangannya. Jika suhu pada ruang pengering lebih tinggi dari suhu yang diinginkan (set point), maka driver akan mengontrol heater agar tidak aktif (off) untuk menurunkan suhu ruang pengering. Sebaliknya, jika suhu ruang pengering lebih rendah dari suhu set point, maka driver akan mengontrol heater agar aktif untuk menaikkan suhu pada ruang pengering agar tetap pada kondisi yang stabil. Hasil dari pengujian alat diperoleh output dari sensor LM35 sesuai dengan dasar teori yaitu sebesar 10mV/°C, dapat dikatakan sensor dalam keadaan baik dan memiliki output linear. Pengujian rangkaian ADC 0804 sesuai dengan tabel kebenaran pada datasheet. Rangkaian driver dapat bekerja dengan baik dan mampu mengontrol heater dan fan bekerja. Pengujian rangkaian keseluruhan dapat bekerja dengan baik sesuai perancangan, yaitu dapat mengontrol suhu udara maksimal 45°C. Kesimpulan dari hasil perancangan dan pengujian yang dilakukan telah berhasil sesuai yang diharapkan.

Pengaturan daya reaktif menggunakan transformator / Ahmad Amirudin

 

ABSTRAK Amirudin, Ahmad. 2009. Pengaturan Daya Reaktif Menggunakan Transformator. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Program Diploma Tiga Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Ahmad Fahmi, S.T., M.T., (2) Arif Nur Afandi, S.T., M.T., Kata Kunci: daya reaktif, aliran daya, transformator, edsa. Pengaturan aliran daya merupakan hal penting dalam pengoperasian sistem tenaga listrik agar kualitas pelayanan tenaga listrik baik. Tugas Akhir ini akan membahas pengaturan aliran daya reaktif menggunakan transformator pengatur tegangan untuk memperbaiki jatuh tegangan pada sistem tenaga listrik. Metode yang digunakan dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data; (4) melakukan simulasi dengan Edsa Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Pada simulasi EDSA hasil yang diperoleh pada pada sistem tanpa transformator pengatur tegangan mengalami drop tegangan yang berkisar antara 1% - 4,5%. Sedangkan pada sistem yang menggunakan transformator pengatur tegangan (Tap Canger) drop tegangan 0% - 1%. Tugas akhir ini menyimpulkan bahwa sebelum pemasangan transformator pengatur tegangan, pada bus dan beban terjadi jatuh tegangan yang relatif besar meskipun belum melebihi batas 5 %). Transformator pengatur tegangan dipasang pada saluran yang memiliki aliran daya reaktif terkecil, setelah pemasangan transformator pengatur tegangan, pada bus dan beban terjadi jatuh tegangan yang relatif kecil dan pada saluran aliran daya reaktifnya akan naik.

Pengembangan strategi tandur dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Mafia Firshada

 

ABSTRAK Firshada, Mafia. 2009. Pengembangan Strategi TANDUR dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 13 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia FS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ghazali, M.Pd Kata kunci: pengembangan, pembelajaran, menulis puisi, strategi TANDUR Pembelajaran menulis puisi diterapkan di sekolah menengah pertama dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi karya sastra serta mempertajam perasaan, imajinasi, penalaran serta kepekaan terhadap lingkungan sekitar siswa. Selama ini, pengembangan strategi yang disajikan pada pembelajaran menulis puisi sangat monoton dan kurang bervariasi menyebabkan siswa kurang tertarik dalam pelajaran ini, meskipun di sekolah tersebut telah diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam situasi yang demikian, siswa menjadi bosan serta imajinasinya kurang tertuang dalam puisi, sehingga hasil belajar siswa dari tahun ke tahun relatif sama. Kondisi objektif pembelajaran puisi di kelas tersebut secara tidak langsung mendesak para guru untuk berusaha sekreatif dan seinovatif mungkin menerapkan strategi-strategi dan membuat siswa lebih aktif. Salah satu teknik pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran menulis puisi menggunakan strategi TANDUR. Strategi TANDUR merupakan suatu strategi yang mengajari siswa menulis puisi melalui tahapan-tahapan yang fleksibel dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan awal produk, mengujicobakan, dan merevisi produk pengembangan strategi TANDUR dalam pembelajaran menulis puisi. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian pengembangan dengan model pengembangan prosedural. Produk yang dihasilkan berupa buku panduan penggunaan strategi TANDUR yang akan diujicobakan pada ahli, lapangan, dan praktisi. Teknik analisis data dilakukan dengan langkahlangkah (1) mentranskrip data hasil wawancara dan observasi, (2) menelaah proses uji coba pengembangan strategi dan hasil tulisan puisi siswa, (3) pemaparan proses serta hasil penelitian, dan (4) merevisi produk. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi TANDUR dapat digunakan untuk pembelajaran menulis puisi karena berdasarkan hasil analisis seluruh tahapan kegiatan menunjukkan bahwa siswa memperoleh hasil yang baik. Dari hasil uji coba baik pada ahli, uji lapangan, dan guru produk awal masih terdapat kendala dan kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki atau direvisi. Pada hasil tulisan puisi siswa, siswa telah mampu mengembangkan tema dengan baik, memunculkan diksi-diksi yang khas, memunculkan empat jenis majas (simile, metafora, dan personifikasi), memunculkan sarana retorika berupa hiperbola, menggunakan imaji visual dan auditif, rima, judul, dan tipografi yang baik dan menarik. Setiap kendala yang muncul pada setiap proses pembelajaran menggunakan strategi TANDUR dapat segera dievaluasi oleh guru. Akan tetapi, strategi TANDUR terkesan memiliki tahapan terlalu panjang. Oleh karena itu, guru tidak harus menerapkan tahap-tahap TANDUR secara terpisah-pisah. Dalam pelaksanaannya guru dapat menggabungkan tahap tumbuhkan, alami, dan namai secara bersamaan.

Pengaruh strategi pembelajaran dan kemampuan akademik serta interaksinya terhadap kemampuan metakognisi dan hasil belajar kognitif siswa kelas X di SMA Negeri 9 Malang / Ninik Kristiani

 

ABSTRAK Kristiani, Ninik. 2009. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Kemampuan Akademik serta Interaksinya terhadap Kemampuan Metakognisi dan Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas X di SMA Negeri 9 Malang, Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd, (II) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. Kata Kunci: strategi pembelajaran, kemampuan akademik, interaksi strategi pembelajaran dan kemampuan akademik, kemampuan metakognisi, hasil belajar kognitif Era global membutuhkan individu tangguh dan mandiri. Oleh karena itu dibutuhkan individu yang memiliki kemampuan metakognisi. Metakognisi yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi keterampilan metakognisi yang diukur menggunakan tes essay dilengkapi rubrik dan kesadaran metakognisi yang diukur menggunakan MAI, keduanya penting untuk membentuk ketangguahan dan kemandirian. Strategi pembelajaran yang telah diketahui berpengaruh terhadap kemampuan metakognisi adalah PBMP (Pemberdayaan Berpikir melalui Pertanyaan) yang dipadukan dengan pembelajaran kooperatif yaitu PBMP+TPS (Think Pair Share). Penelitian tentang strategi pembelajaran PBMP+TPS telah dilakukan untuk mengukur keterampilan metakognisi, kemampuan berpikir, dan hasil belajar pada siswa SMP. Di tingkat SMA, khususnya di SMA Negeri 9 Malang penelitian ini belum pernah dilaksanakan. Di samping itu PBMP+TPS belum pernah diperbandingkan dengan pembelajaran kooperatif lain. Oleh karena itu perlu dikaji tentang pengaruh strategi pembelajaran PBMP+TPS dan PBMP+Script serta interaksinya dengan kemampuan akademik (tinggi/KAT dan rendah/KAR) terhadap kemampuan metakognisi dan hasil belajar kognitif. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengetahui pengaruh strategi pembelajaran (PBMP+TPS/PT, PBMP+Script/PS, dan Multistrategi/MS) terhadap kemampuan metakognisi, 2) mengetahui pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif, 3) mengetahui pengaruh kemampuan akademik (tinggi/KAT dan rendah/KAR) terhadap kemampuan metakognisi, 4) mengetahui pengaruh kemampuan akademik terhadap hasil belajar kognitif, 5) mengetahui pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan kemampuan akademik (PT-KAT, PT-KAR, PS-KAT, PS-KAR, MS-KAT, dan MS-KAR) terhadap kemampuan metakognisi, dan 6) mengetahui pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan kemampuan akademik terhadap hasil belajar kognitif. Analisis statistik yang digunakan adalah Anakova. Uji lanjut menggunakan uji beda LSD. Pengujian terhadap konsistensi pelaksanaan strategi pembelajaran digunakan analisis regresi. Pengujian hipotesis nol dilakukan pada taraf signifikansi 0,5 %. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa strategi pembelajaran dan kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap kemampuan metakognisi, tetapi strategi pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif. Berdasarkan uji konsistensi diketahui bahwa ketiga garis regresi pada strategi pembelajaran PT dan PS sejajar dan berhimpit. Hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan penelitian eksperimen berlangsung konsisten dari awal, tengah, hingga akhir. Berdasarkan hasil ini dapat dikemukakan:1) tidak ada strategi yang paling baik dari yang lain sehingga guru harus menyesuaikan penggunaan strategi pembelajaran dengan karakteristik materi yang akan diajarkan, 2) setiap individu mempunyai perbedaan karateristik atau individual deferensis. Oleh karena itu kecenderungan untuk lebih menguasai strategi tertentu sangat mungkin terjadi. Diketahui juga bahwa kelas yang penulis teliti ini kemampuan akademiknya homogen. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan: 1) strategi pembelajaran tidak berpengaruh terhadap kemampuan metakognisi, 2) strategi pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif, dalam hal ini adalah MS yang konstruktivistik, 3) kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap kemampuan metakognisi, 4) kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif, 5) interaksi strategi pembelajaran dan kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap kemampuan metakognisi. Namun interaksi yang lebih baik adalah PS-KAT, dan 6) interaksi strategi pembelajaran dan kemampuan akademik tidak berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif. Namun interaksi yang lebih baik adalah PT-KAR. Dengan demikian disarankan: 1) supaya peneliti lain menindaklanjuti hasil penelitian ini, 2) nilai ujian nasional belum sepenuhnya menggambarkan kemampuan akademik, untuk memastikan kemampuan akademik siswa dapt dilakukan tes skolastik berupa tes numerik dan tes verbal, 3) perlu alat pengumpul data metakognisi selain tes berupa nontes melalui wawancara sehingga think aloud siswa dapat diketahui, dan 4) PBMP+TPS direkomendasikan untuk diterapkan di kelas berkemampuan akademik rendah.

Peningkatan kemampuan menulis proposal dengan menggunakan strategi tabib (Tahu, Apa, bagainama, ingin, dan belajar) siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen / Duwi Hajarianti

 

ABSTRAK Hajarianti, Duwi. 2009. Peningkatan Kemampuan Menulis Proposal dengan Menggunakan Strategi TABIB (Tahu, Apa, Bagaimana, Ingin, dan Belajar) Siswa Kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Masnur Muslich, M. Si. Kata kunci: kemampuan menulis, proposal, strategi TABIB. Berdasar pada Standar Isi tahun 2006, keterampilan menulis telah diajarkan mulai jenjang SD/MI hingga jenjang SMA/MA. Siswa SD/MI hingga SMA/MA diharapkan memiliki keterampilan menulis dalam berbagai bentuk, termasuk dalam bentuk proposal. Dari kegiatan studi pendahuluan pada siswa kelas XI IPA 4 di SMA Negeri 1 Kepanjen, diketahui adanya kesulitan menulis proposal. Kesulitan mereka terletak pada aspek kelengkapan unsur, kelayakan proposal, dan kebahasaan. Selain itu, fenomena yang ditemukan selama pembelajaran yaitu (1) pembelajaran menulis proposal masih dilaksanakan secara tradisional, (2) guru tidak menggunakan media selama pembelajaran berlangsung, (3) guru tidak memberikan rubrik penilaian menulis proposal, dan (4) belum tercipta suasana kelas yang nyaman, interaktif, dan komunikatif. Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan, peneliti berkolaborasi dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen merencanakan tindakan melalui penelitian dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui peningkatan kemampuan menulis proposal siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen, baik pada aspek kelengkapan unsur, kelayakan proposal, maupun kebahasaan dengan menggunakan strategi TABIB (Tahu, Apa, Bagaimana, Ingin, dan Belajar). Diharapkan kemampuan siswa dalam menulis proposal mengalami peningkatan, sehingga mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Strategi TABIB (Tahu, Apa, Bagaimana, Ingin, dan Belajar) merupakan strategi yang diadaptasi dari KWLH Technique yang dikemukakan oleh Donna Ogle yang kemudian ditambahkan satu aspek yaitu What atau Apa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2009―Juni 2009 di SMA Negeri 1 Kepanjen, dengan subjek penelitian siswa kelas XI IPA 4 yang berjumlah 33 siswa. Penelitian ini difokuskan pada kemampuan siswa dalam menulis proposal kegiatan dan proposal penelitian. Data penelitian ini adalah data hasil wawancara, aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran, dan hasil karya siswa yang berupa proposal. Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru Bahasa Indonesia kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen. Dari hasil analisis ditemukan bahwa pembelajaran menulis proposal dengan menggunakan strategi TABIB (Tahu, Apa, Bagaimana, Ingin, dan Belajar) terbukti dapat meningkatkan proses dan hasil menulis proposal. Proses peningkatan kemampuan menulis proposal dengan menggunakan strategi TABIB (Tahu, Apa, Bagaimana, Ingin, dan Belajar) yaitu: (1) pengisian kolom Tahu (a) Guru melakukan apersepsi, (b) guru dan siswa bertanya jawab mengenai kegiatan dan penelitian, (c) guru mengajak siswa melakukan permainan ringan, (d) siswa menuliskan apa saja yang mereka ketahui tentang proposal; (2) pengisian kolom Apa (a) guru mengarahkan siswa untuk mencari tambahan pengetahuan mengenai proposal, (b) guru menyampaikan materi proposal menggunakan media yang menarik, (c) siswa menuliskan pengetahuan yang mereka peroleh; (3) mengisi kolom Bagaimana (a) guru menyampaikan tugas yang harus mereka penuhi, (b) siswa menuliskan langkah-langkah yang mereka tempuh untuk menghasilkan produk, (c) siswa melakukan tahapan menghasilkan produk tahap demi tahap dengan bimbingan guru; (4) mengisi kolom Ingin (a) guru menyampaikan target yang harus dipenuhi siswa dalam pembelajaran ini, (b) siswa menambahkan target yang akan mereka capai dalam pembelajaran; (5) mengisi kolom Belajar (a) siswa melakukan penilaian mandiri hal tersebut bisa dilakukan dengan penilaian sejawat, (b) siswa menuliskan produk dan pengetahuan yang telah mereka peroleh selama pembelajaran, (c) siswa menuliskan nilai yang berhasil dicapai. Berdasarkan hasil penilaian proposal siswa diketahui bahwa sebelum tindakan, rata-rata kemampuan menulis proposal siswa hanya mencapai 53 sehingga belum mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Setelah diberikan tindakan dengan menggunakan strategi TABIB pada siklus I, rata-rata kemampuan menulis proposal siswa mengalami peningkatan sebesar 24% sehingga mencapai 77. Pada siklus II, rata-rata kemampuan menulis proposal siswa mengalami peningkatan sebesar 7% dari siklus I sehingga mencapai 84. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa setelah menggunakan strategi TABIB, kemampuan siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen dalam menulis proposal mengalami peningkatan sebesar 31% dan mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan menulis proposal siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen pada setiap aspeknya. Setelah menggunakan strategi TABIB, kemampuan menulis proposal siswa mengalami peningkatan pada: (1) aspek kelengkapan unsur, dengan peningkatan sebesar 29%, (2) aspek kelayakan proposal, dengan peningkatan sebesar 19%; dan (3) aspek kebahasaan, dengan peningkatan sebesar 14%. Berdasarkan simpulan di atas diketahui bahwa peningkatan kemampuan menulis proposal siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen dapat dicapai dengan menggunakan strategi TABIB. Secara umum disarankan kepada pembaca bahwa pembelajaran dengan menggunakan strategi TABIB dapat digunakan sebagai salah satu alternatif perbaikan atau peningkatan kemampuan menulis proposal pada kompetensi dasar menulis proposal untuk berbagai kepentingan. Saran khusus, saran ditujukan peneliti kepada: (1) guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia disarankan agar menggunakan strategi TABIB sebagai upaya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis proposal atau strategi yang lain secara lebih kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kemampuan siswa mencapai suatu standar kompetensi minimal dalam pembelajaran; (2) Kepala SMA Negeri 1 Kepanjen disarankan untuk menerapkan penelitian tindak kelas sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan peningkatan kemampuan siswa dalam mencapai standar kompetensi minimal; (3) peneliti berikutnya agar menggunakan dan mengembangkan strategi TABIB sebagai dasar untuk meningkatkan kemampuan menulis dalam mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan lebih kreatif atau mengembangkan strategi TABIB untuk peningkatan kemampuan keterampilan berbahasa yang lain.

Hubungan antara kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah dengan motivasi belajar siswa di perpustakaan SMA Negewri se-Kabupaten Lumajang / Eni Wulandari

 

Perpustakaan sekolah sebagai lembaga penyedia ilmu pengetahuan dan informasi mempunyai peranan yang penting dalam penyelenggaraan manajemen lembaga pendidikan.Perpustakaan sekolah merupakan pusat sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang berada di sekolah, dan didirikan untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan oleh sekolah.Perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Untuk itu, perpustakaan sekolah perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dalam mendukung usaha peningkatan prestasi belajar siswa di sekolah dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi yang berkualitas serta layanan pendukung suasana pembelajaran baik layanan teknis maupun layanan pembaca. Dengan memaksimalkan perannnya, diharapkan perpustakaan sekolah bisa mencetak siswa untuk selalu membiasakan diri dengan aktivitas membaca, memahami pelajaran, dan menghasilkan karya bermutu. Sehingga pada akhirnya prestasi pun relatif mudah untuk diraih oleh para siswa. Masalah penelitian ini adalah: (1) Seberapa tinggi tingkat motivasi belajar siswa di perpustakaan SMA Negeri Se- Kabupaten Lumajang? (2) Seberapa tinggi tingkat keefektivan kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah di SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang? (3) Apakah ada hubungan antara kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah dengan motivasi belajar siswa di perpustakaan SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang? Adapun tujuan penelitian adalah: (1) untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa di perpustakaan SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang; (2) untuk mengetahui kefektivan kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah di SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang; (3) untuk mengetahui hubungan antara kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah dengan motivasi belajar siswa di perpustakaan SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang. Penelitian ini tergolong penelitian descriptive correlational dwivariat maksudnya adalah penelitian yang mengungkapkan hubungan asimetris variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y). Populasi penelitian ini adalah sejumlah 2350 orang siswa dengan sampel penelitian 342 orang siswa ditetapkan dengan teknik stratified proportional random sampling di SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang. Data penelitian dikumpulkan dengan angket dan dokumentasi, selanjutnya dianalisis dengan teknik korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) motivasi belajar siswa di perpustakaan SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang tergolong tinggi, yakni 63,74%. Rata-rata nilai motivasi siswa di perpustakaan mencapai 65,8%; (2) kinerja manajemen layanan perpustakaan SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang tergolong baik, Hal ini dapat dilihat sekitar 67,25% dalam kategori baik; dan (3) terdapat hubungan yang signifikan antara kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah dengan motivasi belajar siswa di perpustakaan SMA Negeri Se-Kabupaten Lumajang. Dengan semakin tinggi kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah maka motivasi belajar siswa di perpustakaan sekolah akan semakin tinggi pula. Dari hasil penelitian ini, penulis mengajukan beberapa saran yaitu: (1) bagi sekolah: perpustakaan sekolah hendaknya lebih dikembangkan sebagai sumber belajar selain yang diperoleh di dalam kelas untuk menunjang kegiatan PBM. Selain itu hendaknya bahan pustaka yang disediakan relatif baru dengan jumlah yang memadai. Guru hendaknya memotivasi siswa untuk belajar di perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan sebagai media untuk menggali ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Guru hendaknya juga memberikan tugas yang terkait dengan pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar; (2) seorang pustakawan harus memiliki tanggung jawab dan dedikasi tinggi terhadap pengelolaan bahan pustaka dan pelayanan yang diberikan perpustakaan kepada pembaca perpustakaan. disamping itu pustakawan harus kreatif dalam mengelola perpustakaan agar siswa termotivasi datang ke perpustakaan; (3) bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan dan informasi sekaligus sebagai salah satu rujukan, terutama bagi mereka yang akan meneliti masalah kinerja manajemen layanan perpustakaan sekolah dengan motivasi siswa di perpustakaan.

Alat pedeteksi kebugaran pada atlet / Heri Budi Prasetyo

 

ABSTRAK Prasetyo, Heri Budi. 2009. Alat Pendeteksi Kebugaran Pada Atlet. Jurusan Teknik Elektro. Program Studi D3 Teknik Elektronika. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muladi, S.T., M.T. (II) Didik Dwi Prasetya, S.T., MT Kata Kunci: Pendeteksi, Kebugaran, Atlet, Penampil (LCD). Alat pendeteksi kebugaran atlet yang ada saat ini masih sangat mahal harganya, banyak atlet-atlet lebih mempercayakan kebugarannya pada rumah sakit, dokter, pukesmas yang memiliki alat untuk mengetahui kebugaran. Prinsip kerja dari sistem secara keseluruhan yaitu: pendeteksian jantung pada jari manusia dan kapasitas paru-paru. Ketika cahaya LED menuju sensor cahaya terhalang oleh jari, maka akan keluar tegangan berupa pulsa analog dari 0 samapai 0,01 volt yang kemudian diolah sehingga dapat ditampilkan ke dalam sebuah penampil. Pada sensor kapasitas paru-paru jika katup angin yang terhalang terbuka dan tertutup saat angin dihembuskan maka fotodioda akan terkena cahaya led sehingga memberikan logika high dan low atau berupa tegangan 0 dan 5 volt yang kemudian diolah dan ditampilkan menuju penampil sehingga mudah di baca oleh pemakai. Dengan pembuatan alat ini diharapkan dapat mempermudah seorang atlet dalam menjaga kondisi kebugarannya dengan mudah dan praktis. Sehingga dapat menghemat waktu dan uang untuk menjaga kebugaran.

Keterampilan metakognitif pada pembelajaran IPA biologi di kalangan siswa SMP Kota Blitar / Nurul Purwandari

 

ABSTRAK Purwandari, N. 2009. Keterampilan Metakognitif Pada Pembelajaran IPA Biologi di Kalangan Siswa SMP Kota Blitar. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. A. D. Corebima, M.Pd (II) Dr. Siti Zubaidah, M.Pd Kata Kunci: strategi pembelajaran, karakteristik siswa, keterampilan metakognitif. Konsep pembelajaran IPA Biologi mengutamakan keaktifan siswa membangun pengetahuannya sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang telah dimiliki, dan menggunakan semua pengetahuan atau pengalaman untuk belajar melalui perbedaan-perbedaan yang ada pada pengetahuan baru dan lama untuk mencapai pemahaman baru. Hal ini menunjukkan adanya perubahan paradigma pendidikan, yaitu perubahan dari paradigma behavioristik menjadi paradigma konstruktivistik. Paradigma konstruktivistik menekankan pada refleksi diri dan pembentukan pengetahuan yang memiliki konstribusi bagi perkembangan keterampilan-keterampilan metakognitif. Strategi pembelajaran konstruktivistik terbukti dapat mendorong atau memberdayakan perkembangan keterampilan metakognitif. Strategi pembelajaran konstruktivistik sudah banyak disosialisasikan dan diintegrasikan ke dalam kurikulum-kurikulum terbaru: namun, kenyataan kegiatan pembelajaran di lingkungan sekolah tidaklah demikian. Berdasarkan observasi di beberapa sekolah menengah pertama di Kota Blitar menunjukkan sebagian besar guru masih banyak yang menekankan pada pemberian materi saja dan kurang memperhatikan proses bagaimana informasi tersebut diterima oleh siswa. Guru juga kurang mengetahui aspek-aspek kualitas individu yang berupa bakat, motivasi belajar atau kemampuan awal yang dimiliki siswa; dengan mengetahui aspek-aspek tersebut seorang guru dapat menata pembelajaran khususnya komponen-komponen strategi pembelajaran agar sesuai dengan karakteristik individu siswa. Atas dasar temuan sementara tersebut penulis berkeinginan untuk mengetahui lebih lanjut tentang strategi pembelajaran yang digunakan guru, karakteristik siswa dan keterampilan metakognitif siswa. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengambilan data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan instrumen penelitian yang berupa lembar kuisioner, observasi, dokumen, dan wawancara. Temuan pada penelitian “Keterampilan Metakognitif Pada Pembelajaran IPA Biologi di Kalangan Siswa SMP Kota Blitar” adalah: pertama, strategi pembelajaran yang mengarah pada penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi masih belum optimal untuk mendorong munculnya diskusi terhadap pengetahuan baru yang dipelajari. Kesempatan siswa menerapkan cara berpikir dan belajar yang paling cocok dengan dirinya kurang mendapatkan kesempatan yang cukup. Hal ini disebabkan pencapaian kompetensi dasar dan nilai akhir yang tinggi pada suatu tes dan ujian sebagai tolak ukur keberhasilan. Kedua, model belajar yang banyak diminati siswa adalah melakukan latihan di kelas, mengerjakan PR, mendengarkan guru dan mancatat, belajar bersama dan mengikuti buku teks. Sebagian besar siswa termotivasi belajarnya karena mereka ingin mendapatkan nilai yang baik. Ada kecenderungan bahwa setiap materi yang dipelajari lebih mudah dipahami dan harapan mereka soal tes yang diberikan sama dengan yang diajarkan di kelas. Rata-rata siswa memiliki minat yang besar terhadap mata pelajaran IPA Biologi. Ketiga, berdasarkan perhitungan anakova (1) variabel sekolah menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap keterampilan metakognitif; (2) variabel kelas untuk seluruh sekolah menunjukkan tidak ada beda yang signifikan terhadap keterampilan metakognitif; (3) interaksi sekolah dengan kelas ada beda yang signifikan terhadap keterampilan metakognitif siswa, dengan kata lain ada perbedaan keterampilan metakognitif antara kelompok siswa pada jenjang tingkatan yang sama dengan sekolah yang berbeda; (4) Berdasarkan hasil uji anakova keterampilan metakognitif dengan kelas diperoleh kesimpulan tidak ada beda yang signifikan antar kelas VII, VIII, dan IX; (5) kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap keterampilan metakognitif; (6) ada beda yang signifikan antara interaksi kelas dengan kemampuan akademik terhadap keterampilan metakognitif siswa. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa strategi-strategi kognitif yang diterapkan oleh para guru belum mengintervensi dalam mempengaruhi siswa bertindak secara mandiri karena siswa belum dibiasakan untuk mengetahui kapan untuk meringkas, mengelaborasi, mengorganisasi yang sesuai dengan karakteristik siswa. Petunjuk dalam mengenali dan praktik dalam menerapkan strategi-strategi metakognitif akan membantu siswa dengan sukses memecahkan masalah-masalah sepanjang hidupnya.

Sifat organoleptik fresh milk crackers (kerupuk susu segar) dengan penambahan full cream milk powder / Riendri Atmanegara

 

ABSTRAK Atmanegara, Riendri. 2009. Fresh Milk Crackers (Kerupuk Susu Segar) dengan Penambahan Full Cream Milk Powder.Tugas Akhir, Jurusan D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd, (II) Ir.Budi Wibowotomo, M.Si. Kata kunci: Kerupuk, Susu segar, milk powder. Kerupuk merupakan produk olahan yang terbuat dari tepung tapioka atau sagu dengan atau tanpa penambahan bahan makanan dan bahan tambahan makanan yang diijinkan dan harus disiapkan dengan cara menggoreng sebelum disajikan. Jenis-jenis kerupuk berdasarkan bahan variasi rasanya yaitu kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk wortel, kerupuk apel, kerupuk bawang, kerupuk puli dan sebagainya. Pembuatan kerupuk susu sudah pernah diteliti, tetapi dalam penambahan full cream milk powder masih belum. Penambahan full cream milk powder pada kerupuk susu segar diharapkan dapat diminati. Penelitian ini meneliti variasi penambahan full cream milk powder dalam pembuatan kerupuk susu segar. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan memberikan perlakuan pada kerupuk susu segar, yaitu kerupuk susu segar dengan penambahan full cream milk powder 5%, 10%, 15% dan 20%. Masing-masing pengujian dilakukan 3 kali penggulangan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan penambahan full cream milk powder dengan persentase berbeda meliputi flavor dan tekstur melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji organoleptik dan kesukaan oleh panelis. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam dan Ducan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa penambahan full cream milk powder pada perlakuan 15% dengan skor 3.15 menghasilkan flavor yang kuat, dan penambahan full cream milk powder pada perlakuan 15% dengan skor 3.55 menghasilkan tekstur yang renyah. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa penambahan full cream milk powder pada perlakuan 15% dengan skor 3.22 merupakan flavor yang disukai panelis dan penambahan full cream milk powder pada perlakuan 15% dengan skor 3.30 merupakan tekstur yang disukai panelis. Berdasarkan hasil uji mutu hedonik dari penilitian di atas dapat disimpulkan bahwa semakin banyak full cream milk powder ditambahkan pada fresh milk crackers berpengaruh terhadap flavour dan tekstur. Sedangkan hasil uji hedonik menunjukkan bahwa flavour yang paling disukai oleh panelis adalah fresh milk crackers dengan penambahan full cream milk powder pada perlakuan 15% dengan skor 3,22 dan tekstur yang paling disukai oleh panelis adalah fresh milk crackers dengan penambahan full cream milk powder pada perlakuan 15% dengan skor 3,30. Bagi peneliti selanjutnya disarankan dalam pembuatan fresh milk crackers (kerupuk susu segar) bisa menggunakan penambahan susu yang berbeda misalnya susu skim ataupun susu kental manis.

Grammatical errors in students' narrative writing / Isani Astasari

 

ABSTRACT Astasari, Isani. 2009. Grammatical Errors in Students’ Narrative Writing. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. Key words: grammar, grammatical errors, narrative writing. This study is intended to find out and describe grammatical errors in students’ narrative writing. It was conducted at SMAN 1 Malang and took the eleventh graders of XI IPA 5 class as the subject because beside this class was taught by the researcher when she was having a practice teaching in SMAN 1 Malang, the classes in that school are parallelized so that the level of English mastery of each class is considered the same. This study employed descriptive qualitative approach and used a case study design as it investigated grammatical problems in one particular class. The data of this study are 85 of the students’ narrative writing on free topics. The grammatical errors found are classified based on the surface strategy taxonomy proposed by Dulay et al.(1982); they are errors of omission, errors of addition, errors of misformation and errors of misordering. This study reveals that there are 860 errors found from the data. The highest frequency of errors is omission errors (41.51%) that consist of: omission of verb inflection -ed/-d, omission of to be, omission of plural marker -s/’-es, omission of articles and definite article, omission of preposition, omission of possessive marker ‘s, and other omission errors, including omission of –ing, omission of auxiliary verb, and omission of pronoun. The second highest frequency of errors is error of misformation (35.5%) including misformation of past tense verb, misformation of verb, misformation of to be, misformation of preposition, misformation of articles, misformation of modal auxiliary, misformation of pronoun and misformation of noun. The next highest frequency is errors of addition (21.74%) that comprise of addition of verb inflection –ed/-d, addition of to be, addition of preposition, addition of plural marker –s/-es, addition of articles and definite article, addition of –ing, -ly, and addition of verb auxiliary. Misordering errors come as the lowest frequency of errors that only amount to 1.3%. Errors of misordering include misordering of adverb, misordering of to be, misordering of modal auxiliary, misordering of noun phrase and misordering of subject. Interlingual and intralingual interference are considered as the major causes of these errors. Based on the research findings, some suggestions are given to the English teachers and the students. The teachers are suggested to give the students more exposures to the English structure that are different from those in Bahasa Indonesia and to pay attention on particular structures that often create difficulties for the students. The students are advised to expose themselves to many sources in English and more exercises especially in English structures that are considered difficult.

Pembuatan motif geometri dengan teknik patchwork pada busana wanita / Norvita Dewi S.

 

Gaun Pesta Asimetris adalah busana yang terdiri dari busana yang menutup bagian atas dan menutup bagian bawah terdiri dari satu bagian (one piece), yang dirancang secara pas (fitted) dengan potongan melekuk ke samping atau dengan kata lain keseluruhan sisi kanan dan sisi kirinya berlawanan/tidak simetris. Gaun model ini tampak luwes sebab akan menampilkan lekuk tubuhpemakainya. Gaun asimetris ini diaplikasikan dengan teknik patchwork mengunakan satu jenis bahan yang sama, namun dengan tiga warna yang berbeda yaitu warna merah, jingga dan hijau kebiruan, penggabungan ketiga warna ini memberikan kesan enerjig dan dinamis pada pemakainya. Penggunaan bahan yang dimaksud adalah bahan kain katun, hal ini didasarkan karena kain katun memiliki tingkat kenyamanan yang lebih pada saat dipakai. Patchwork adalah menggabungkan beberapa motif atau warna kain yang berbeda dengan bantuan tangan atau mesin yang akan menjadikan sehelai kain mempunyai motif unik dan langka. Pada pembuatan gaun pesta asimetris dengan teknik patchwork ini dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain, pada pembuatan gaun ataupun busana dengan penggunaan motif patchwork diusahakan ukuran model tidak berubahubah agar motif tetap menyambung sesuai pola, pemberian interlining sangat berpengaruh pada hasil patchwork agar bagian-bagian patchwork tidak terlihat kusut. Potongan patchwork pada gaun ini menggunakan potongan menyerong, hal ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih sebab kain dengan potongan menyerong mempunyai sifat mudah mulur, sehingga pada pemberian tanda dilakukan dengan cara menjelujurnya.

Aplikasi teknik sisip kumai serong pada gaun berbahan transparan / Handa Sagita Mulya

 

Busana adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Segala sesuatu yang dikenakan seseorang mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki beserta pelengkapnya adalah termasuk busana. Dulu seseorang berbusana hanya untuk kebutuhan saja, namun sekarang seseorang lebih mementingkan trend pada saat berbusana. Penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk menggambarkan trend dan keinginan seseorang berbusana saat ini. Denim adalah jenis bahan yang biasanya digunakan untuk busana casual. Namun disini, penulis mencoba merubah image denim yang biasanya digunakan untuk busana casual menjadi denim untuk pembuatan busana pesta. Selain itu denim sangat mudah dibentuk sesuai keinginan seseorang. Untuk menjadikan denim sebagai bahan pembuatan busana pesta, perlu sesuatu yang membuat busana tersebut terlihat lebih indah dan mewah. Seperti penambahan payet swarosky dan bros, juga pada bentuk busana itu sendiri. Bentuk busana disini terlihat unik dan lain daripada yang lain karena busana ini merupakan busana khusus. Dengan memodifikasi circle akan membuat busana ini telihat unik dan menarik. Circle dimodifikasi menjadi a quarter of circle kemudian ditambahkan stand dan kain keras sebagai penyempurna bentuk a quarter of circle. Dari sini kita bisa melihat bahwa seseorang berbusana bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, namun juga mengikuti trend. Seseorang berbusana ingin terlihat menarik dan lebih menonjol daripada yang lain terutama pada saat acara-acara khusus seperti pesta. Pembuatan modifikasi circle mencerminkan kepercayaan diri pada seseorang yang memakainya.

Improving the reading comprehension ability of the eleventh grade students of MAN 2 Madiun through SQ3R strategy / Purwatiningsih

 

Reading is very important in daily life; therefore it is very important to learn. For the students, reading is needed as a means of learning variety of sciences. So success in reading is very important to the students. In line with the importance of reading for the students, in Indonesia, reading skill is taught from elementary up to university level of education. However, the result of preliminary study conducted at MAN 2 Madiun, it was found that the students’ ability to comprehend the text was not satisfactory yet. Their achievement was still under the minimum standard of learning success. Thus, this action research was done as one of the solutions to overcome the students’ problem in reading comprehension. For that reason, the teaching and learning of reading comprehension through SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, and Review) strategy was developed to improve students’ reading comprehension. This research employed collaborative classroom action research in which the researcher and her collaborator worked together on designing the lesson plans, implementing the actions, observing the effect of action, and reflecting the results of the actions. In conducting the research, the researcher was the practitioner while the collaborator became the observer. The subjects of the research were 30 students of the eleventh grade of language program of MAN 2 Madiun in the 2008/2009 academic year. The research was carried out in two Cycles by following the action research procedure, i.e., planning, implementing, observing, and reflecting. Each Cycle was carried out three meetings. The data of the research were gathered using observation checklist, interview guide, field note, and reading comprehension tests. The findings of the research revealed that the appropriate model of SQ3R strategy in teaching reading consisted of these procedures: (1) activating the background knowledge before reading, (2) providing some pictures or real objects (3) finding the meaning of the unfamiliar words, (4) formulating list of questions as the prediction, (5) reading the introductory and concluding paragraphs, (6) answering the previously formulated questions, (7) keeping the information in the long term memory, (8) recalling the kept information, (9) doing report, (10) doing verification to the report by rereading the text, (11) writing the verification result. Furthermore, the finding also indicated that SQ3R strategy improved students’ reading comprehension ability. The improvement can be seen from the students’ reading scores which fulfilled the minimum standard of learning success. The mean score were 59.1 in the pre-test, 64.5 in test 1 and 78.7 in test 2. In other words, there were merely 33.3% of students who were considered successful in pre-test, 50% who were successful in Cycle 1, and 86.7% who succeeded in Cycle 2. Besides, the finding indicated that SQ3R strategy was successful to empower students’ motivation to be actively involved in the instructional process. The improvement on the students’ participation were 59% in Cycle 1 and 79% in Cycle 2. Based on the findings above, some suggestions for the English teachers and future researchers are made as follows: for the English teachers who have similar problem, it is suggested that they implement SQ3R strategy as one of the alternatives for improving students’ reading comprehension ability. For future researchers, it is suggested that they conduct a similar study deeply in other level of study with different setting, subject, and other text types to see whether SQ3R strategy is also applicable and effective for improving their students’ reading comprehension achievement.

Pengaruh variasi komposisi campuran bahan bakar premium dengan pertamax 92 terhadap daya dan emisi gas buang pada Honda Vario Techno 125 / Akhmad Sukhaemi

 

ABSTRAK Sukhaemi, Akhmad. 2015. Pengaruh Variasi Komposisi Campuran Bahan Bakar Premium dengan Pertamax 92 Terhadap Daya dan Emisi Gas Buang Pada Honda Vario Techno 125. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sumarli, M.Pd., M.T., (II) Dra. Hj. Widiyanti, M.Pd. Kata Kunci: premium, pertamax 92, daya, emisi gas buang Perkembangan teknologi sepeda motor semakin maju untuk menghasilkan performa mesin yang lebih baik dengan emisi gas buang yang ramah lingkungan. Harapan tersebut akan tercapai apabila konsumen menggunakan bahan bakar pertamax 92 untuk menunjang kinerja mesin, namun kenyataannya konsumen menggunakan premium bahkan mencampur kedua bahan bakar tersebut, akibatnya tujuan dari penciptaan produk tidak tercapai. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi campuran bahan bakar premium dengan pertamax 92 terhadap daya, (2) untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi campuran bahan bakar premium dengan pertamax 92 terhadap emisi gas buang CO, (3) untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi campuran bahan bakar premium dengan pertamax 92 terhadap emisi gas buang HC. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen. Objek dalam penelitian ini ialah honda vario techno 125. Analisis data yang digunakan adalah uji one way ANOVA dan post hoc. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata daya serta emisi gas buang CO dan HC yang dihasilkan oleh komposisi 0 : 4 adalah 9.639 Hp serta emisi gas buang CO sebesar 0.734%, dan HC sebesar78.43 ppm. Komposisi 1 : 4 adalah 9.027 Hp serta emisi gas buang CO sebesar 1.104%, dan HC sebesar 108.93 ppm. Komposisi 1 : 1 adalah 8.428 Hp serta emisi gas buang CO sebesar 1.461%, dan HC sebesar 139.67 ppm. Komposisi 4 : 1 adalah 7.810 Hp serta emisi gas buang CO sebesar 1.875%, dan HC sebesar 175.83 ppm. Komposisi 4 : 0 adalah 7.183 Hp serta emisi gas buang CO sebesar 2.404%, dan HC sebesar 206.57 ppm. Dari hasil pengujian analisis menunjukkan bahwa masing-masing variasi komposisi bahan bakar ada perbedaan daya, emisi gas buang CO dan HC yang dihasilkan. Semakin besar komposisi pertamax 92, maka daya yang dihasilkan meningkat dan emisi gas buang CO dan HC menurun. Pada kecepatan menengah emisi gas buang CO dan HC kembali meningkat. Untuk menghasilkan daya yang maksimum serta emisi gas buang yang ramah lingkungan, maka bahan bakar yang digunakan harus disesuaikan dengan karateristik kendaraan tersebut. Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dengan karakteristik motor akan mengakibatkan daya mesin menurun, emisi gas buang meningkat dan kerusakan disekitar bagian piston akan cepat terjadi.

Kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja guru dan komitmen kerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada SMA negeri di Kota Jombang / Suminto

 

ABSTRAK Suminto. 2009. Kontribusi Perilaku kepemimpinan Kepala Sekolah, Kepuasan Kerja Guru , dan Komitmen Kerja Guru terhadap Pretasi Belajar Siswa pada SMA Negeri di Kota Jombang. Tesis, Jurusan Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D. (II) Dr. H. Kusmintardjo, M. Pd. Kata kunci: perilaku kepemimpinan, kepuasan kerja, komitmen kerja, prestasi belajar Hal yang menarik dengan berlakunya Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang standarisasi kompetensi kelulusan dan pelaksanaan ujian nasional, perhatian kepala sekolah dan guru terpokus pada kesiapan pada ujian akhir dan ujian nasional tersebut. Upaya yang ditempuh kepala sekolah dan guru dengan menigkatkan kualitas pembelajaran, mendorong dan memacu siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran pokok dan pembelajaran tambahan. Berbagai upaya ditempuh dengan harapan nilai prestasi belajar siswa pada mata pelajaran yang diujikan secara nasional tersebut baik dan menghasilkan kelulusan setinggi mungkin. Nilai baik dan tingkat kelusan yang tinggi diyakini berpengaruh terhadap citra baik sekolah di mata masyarakat luas. Secara umum yang menjadi masalah dalam penelitian ini, adakah kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja, dan komitmen kerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada SMA Negeri di kota Jombang? Secara rinci permasalahan penelitian di atas sebagai berikut: (1) Bagaimanakah perilaku kepemimpinan kepala sekolah berdasarkan persepsi guru?, (2) Bagaimanakah kepuasan kerja guru?, (3) Bagaimanakah komitmen kerja guru pada SMA Negeri di kota Jombang?, (4) Bagaimanakah prestasi belajar siswa berdasarkan hasil ujian akhir nasional?, (5) Adakah kontribusi langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa? (6) Adakah kontribusi langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru? (7) Adakah kontribusi langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap komitmen kerja guru? (8) Adakah kontribusi langsung kepuasan kerja guru terhadap prestasi belajar siswa? (9) Adakah kontribusi langsung kepuasan kerja guru terhadap komitmen kerja guru? (10) Adakah kontribusi langsung komitmen kerja guru terhadap prestasi belajar siswa? (11) Adakah kontribusi tak langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa melalui kepuasan kerja guru? (12) Adakah kontribusi tak langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa melalui komitmen kerja guru? (13) Adakah kontribusi tak langsung kepuasan kerja guru terhadap prestasi belajar siswa melalui komitmen kerja guru? (14) Adakah kontribusi tak langsung perilaku kepala sekolah terhadap komitmen kerja guru melalui kepuasan kerja guru? Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja, komitmen kerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada SMA Negeri di kota Jombang. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja, dan komitmen kerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada SMA Negeri di kota Jombang. Sampel populasi dalam penelitian ini sebanyak 64 guru pembina mata pelajaran yang diujikan secara nasional di tiga SMA Negeri di kota Jombang. Sedangkan untuk prestasi belajar siswa kelas XII di tiga SMA tadi menggunakan sampel sebagai obyek penelitian yang berjumlah 909 siswa. Data penelitian untuk variabel bebas diperoleh dengan menggunakan instrumen angket model tertutup yang dikembangkan oleh peneliti dalam bentuk skala linkert, sedang untuk prestasi belajar siswa dengan menggunakan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis jalur (path) untuk uji hipotesis, dengan bantuan komputer program analisis statistik SPSS 13 for windows. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan secara umum bahwa terdapat kontribusi perilaku kepemimpinan kepala sekolah, kepuasan kerja guru, dan komitmen kerja guru terhadap prestasi belajar siswa. Besarnya kontribusi masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat berbeda-beda. Berdasarkan hasil analisis data komitmen kerja memiliki kontribusi yang paling besar dibandingkan dengan variabel kepuasan kerja, maupun varibel perilaku kepemimpinan kepala sekolah. Sedangkan secara khusus dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Tidak ada kontribusi langsung antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa. (2) Ada kontribusi langsung antara perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap kepuasan kerja guru (3) Ada kontribusi langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap komitmen kerja guru (4) Ada Kontribusi langsung kepuasan kerja guru terhadap prestasi belajar siswa (5) Ada Kontribusi langsung kepuasan kerja guru terhadap komitmen kerja guru (6) Ada kontribusi langsung komitmen kerja guru terhadap prestasi belajar siswa (7) Ada kontribusi tak langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa melalui kepuasan kerja guru (8) Ada kontribusi tak langsung perilaku kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa melalui komitmen kerja guru (9) Ada kontribusi tak langsung kepuasan kerja guru terhadap prestasi belajar siswa melalui komitmen kerja guru (10) Ada kontribusi tak langsung perilaku kepala sekolah terhadap komitmen kerja guru melalui kepuasan guru. Bertitik tolak dari hasil penelitian, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sebagai berikut : (1) Kepada pengembang ilmu pengetahuan khususnya bidang Manajemen Pendidikan: Perlu adanya penelitian ulang atau lanjutan terhadap variabel yang sama pada waktu dan tempat yang sama atau yang berbeda dengan pendekatan yang berbeda, atau variabel yang berbeda dengan pendekatan yang sama, (2) Kepada pihak sekolah: Kepala sekolah perlu mempertahankan dan berupaya terus menerus meningkatkan perilaku kepemimpinannya. Kepada para guru perlu kiranya menyadari bahwa kepuasan kerja guru dan komitmen kerja memiliki kontribusi langsung pada prestasi belajar siswa, oleh karena itu perlu terus menerus ditumbuhkan pada diri sendiri seorang guru untuk mencintai akan profesi yang melekat padanya. (3) Kepada anggota masyarakat khususnya yang bergerak dalam dunia pendidikan perlu kiranya dalam menetapkan kepala sekolah hendaknya unsur kompetensi sebagai seorang pemimpin harus mendapat perhatian serius. Para guru harus mendapat perhatian dalam perlakuan, dengan jalan memberikan penghargaan yang tepat dan berarti kepada para guru yang berprestasi dan memberikan teguran atau sanksi yang tegas dan yang manusia kepada para guru yang melalaikan tugas dan tanggung jawab.

Penerapan metode teams games tournament (TGT) untuk menngkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIIID SMP Negeri 9 Malang tahun ajaran 2008/2009 / Masrurun

 

ABSTRAK Masrurun, 2009. Penerapan metode Teams Games Tournament (TGT) untuk Meningkatkan aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIID SMP Negeri 9 Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Margono, M.A., (II) Dra. Sunarmi, M.Pd. Kata Kunci: TGT, aktivitas belajar, hasil belajar Minat belajar siswa kelas VIIID SMP Negeri 9 Malang pada mata pelajaran Biologi sangat tinggi. Ditandai 72,2% siswa merasa senang dengan pelajaran Biologi, 22,2% sangat senang dan hanya 5,6% yang kurang senang. Tingginya minat siswa tidak serta merta diikuti oleh tingginya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Jumlah siswa yang bertanya hanya 5,3%, bekerjasama dalam kelompok 25% dan mengerjakan tugas 52,8%. Aktivitas siswa yang rendah menyebabkan rendahnya penguasaan konsep yang pada akhirnya berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Ulangan Harian I ketuntasan belajar klasikal 44,7% sedangkan pada Ulangan Harian II 10,5% sehingga ketuntasan belajar sebelum tindakan sebesar 27,63%. Rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa dipecahkan dengan penerapan metode pembelajaran TGT. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK), bertu- juan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 9 Malang, Jalan Prof. Muhammad Yamin VI/26 Malang. Tindakan pembelajaran siklus I dilaksanakan pada tanggal 7 April 2009, siklus II tanggal 14 April 2009, siklus III tanggal 5 Mei 2009 dan siklus IV tanggal 19 Mei 2009. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIID SMP Negeri 9 Malang tahun pelajaran 2008/2009. Jumlah siswa 38 terdiri atas 21 laki-laki dan 17 perempuan. Jenis data dalam penelitian ini adalah (1) data aktivitas belajar siswa dan (2) data hasil belajar siswa. Sumber data berupa aktivitas siswa dalam pembelajaran, perolehan kartu turnamen dan hasil tes akhir K.D. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas siswa, catatan lapangan, lembar balikan siswa, kartu turnamen dan soal tes akhir K.D. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif. Penerapan metode TGT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas VIIID SMP Negeri 9 Malang. Taraf keberhasilan aktivitas siswa secara klasikal tiap siklus berturut-turut adalah 62,18%, 70,67%, 73,69% dan 85,95%. Ketuntasan belajar klasikal pada ulangan harian K.D. 2.2 sebesar 100% dan K.D 2.3 sebesar 88,57%. Ketuntasan belajar klasikal meningkat secara nyata dibandingkan dengan sebelum tindakan. Berdasarkan temuan yang diperoleh, disarankan: (1) mengelola waktu den- gan cermat agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan, (2) memberikan pemahaman kepada siswa tentang aturan permainan dalam turnamen agar setiap pemain dapat melaksanakan tugas sesuai perannya, (3) melakukan ke- giatan pembelajaran hands-on activity agar minat dan aktivitas siswa lebih tinggi, (4) memberikan perangkat kegiatan dengan mempertim-bangkan jenis kegiatan dan jumlah siswa agar keterlibatan siswa dalam kelompok merata. (5) membuat alat ukur untuk mengetahui hasil belajar siswa pada masing-masing K.D. dengan tingkat kesulitan/kompleksitas yang relatif sama.

Penerapan siklus belajar (learning cycle) dengan menggunakan peta konsep untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Batu / Dyan Rifiana Malikha

 

i ABSTRAK Malikha, Dyan Rifiana. 2009. Penerapan Siklus Belajar (Learning Cycle) dengan Menggunakan Peta Konsep untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Kelas X-1 SMAN 2 Batu. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soewolo, M.Pd dan (II) Dra. Amy Tenzer, M.S. Kata Kunci: Siklus Belajar (Learning Cycle), Peta Konsep, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran Biologi di SMA Negeri 2 Batu pada tanggal 19 Februari 2009 sampai tanggal 5 Maret 2009 di kelas X.1 terhadap kegiatan pembelajaran Biologi diperoleh informasi bahwa keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran masih rendah, hanya sekitar 25 % siswa yang aktif dalam pembelajaran. Banyak siswa yang masih ramai ketika guru menjelaskan di depan kelas. Guru masih sering menggunakan metode ceramah dan keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan masih kurang walaupun guru sering memberikan kesempatan siswa untuk mengajukan pertanyaan. Berdasarkan daftar nilai siswa pada ulangan harian sebelumnya, diketahui bahwa sekitar 70% siswa yang tuntas belajar. Perubahan dalam penggunaan strategi pembelajaran dalam kelas perlu dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, diterapkan pembelajaran model siklus belajar dengan menggunakan peta konsep. Pembelajaran model siklus belajar ini melalui enam fase yaitu: menyampaikan tujuan pembelajaran, engage, eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Batu melalui penerapan siklus belajar (Learning Cycle) dengan menggunakan peta konsep. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimen dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 Mei 2009 sampai dengan 27 Mei 2009. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa yang diperoleh melalui observasi selama penelitian, sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi (minat, perhatian, konsentrasi, dan ketekunan) belajar Biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Batu, adalah 61,25% yang termasuk dalam kategori baik pada siklus I, menjadi 81% yang termasuk dalam kategori sangat baik pada siklus II. Hasil belajar Biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Batu menunjukkan bahwa persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 80,56% dengan skor rata-rata kelas 78,5 pada siklus I menjadi 94,5% dengan skor rata-rata kelas 82 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran siklus belajar (Learning Cycle) dengan menggunakan peta konsep dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Batu. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa dalam melaksanakan siklus belajar yang baik harus sesuai dengan sintaks agar proses ii pembelajaran dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif sehingga terjadi proses asimilasi, akomodasi dan organisasi dalam struktur kognitif siswa. Dalam pembuatan peta konsep sebaiknya guru harus membelajarkan peta konsep dahulu kepada siswa disertai dengan memberikan contoh peta konsep yang benar dan siswa harus sering dilatih agar mendapatkan peta konsep yang baik. Pembelajaran model siklus belajar dengan peta konsep dapat dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan, karena model siklus belajar dapat mengajak siswa untuk berpikir secara maksimal sehingga tingkat pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari menjadi lebih meningkat dan dengan peta konsep akan membantu siswa mencapai hasil pembelajaran yang berkualitas tinggi serta bermakna.

Pengaruh model implementasi lesson study dalam kegiatan MGMP terhadap peningkatan kompetensi guru dan hasil belajar biologi siswa / Ibrohim

 

ABSTRAK Ibrohim, 2009. Pengaruh Model Implementasi Lesson Study dalam Kegiatan MGMP terhadap Peningkatan Kompetensi Guru dan Hasil Belajar Biologi Siswa. Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D., (II) Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd, dan (III) Dr. Hedi Sutomo, S.U. Kata Kunci: pengaruh model implementasi lesson study, kompetensi guru biologi, motivasi guru, minat, sikap dan motivasi belajar siswa, dan hasil belajar biologi siswa. Penelitian tentang pengaruh implementasi lesson study dalam kegiatan MGMP yang dipadu dengan PTK atau portofolio terhadap peningkatan kompetensi guru dan hasil belajar biologi siswa SMP dilatarbelakangi oleh: (1) Adanya berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dan kualitas pendidikan yang sejauh ini cenderung masih rendah; (2) Adanya berbagai pelatihan guru dalam jabatan (In-Service Teacher Training/INSET) di Indonesia yang dirasakan belum secara signifikan meningkatkan kemampuan guru dan kualitas pendidikan; (3) Adanya implementasi lesson study melalui Program SISTTEMS di Kabupaten Pasuruan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan matematika dan IPA yang perlu diteliti dampaknya secara jelas; dan (4) Perlunya menemukan model implementasi lesson study yang paling efektif untuk meningkatkan kemampuan guru dan kualitas pembelajaran. Berkaitan dengan hal tersebut telah dilakukan tiga model implementasi lesson study di tiga MGMP wilayah di Kabupaten Pasuruan, yakni: (1) implementasi lesson study tanpa dipadu dengan kegiatan lain; (2) implementasi lesson study yang dipadu dengan penyusunan portofolio hasil lesson study oleh guru; dan (3) implemetasi lesson study yang dipadu dengan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) secara kolaboratif setelah pelaksanaan lesson study di MGMP. Berkaitan dengan latar belakang tersebut dirumuskan masalah utama penelitian, yakni: (1) Bagaimana pola pelaksanaan dan keefektifan kegiatan MGMP Sains di Kabupaten Pasuruan?; (2) Adakah perbedaan pengaruh model implementasi lesson study terhadap peningkatan kompetensi guru biologi SMP, motivasi berprestasi, persepsi dan sikap guru terhadap MGMP, minat, sikap, motivasi, dan hasil belajar biologi siswa SMP di Kabupaten Pasuruan? Secara garis besar tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan pola pelaksanaan dan keefektifan kegiatan MGMP Sains di SMP Kabupaten Pasuruan sebelum implementasi lesson study; (2) Mengungkapkan ada tidaknya perbedaan pengaruh model implementasi lesson study terhadap peningkatan kompetensi guru biologi SMP, motivasi berprestasi, persepsi dan sikap guru terhadap MGMP, serta minat, sikap, motivasi dan hasil belajar biologi siswa SMP Kabupaten Pasuruan. Penelitian dilakukan dalam dua bentuk, yakni: (1) penelitian pendahuluan yang bersifat deskriptif-eksploratif untuk mendeskripsikan pola pelaksanaan dan keefektifan kegiatan MGMP sains sebelum implementasi lesson study; dan (2) penelitian eksperimen semu untuk menguji pengaruh model implementasi lesson study terhadap kompetensi guru dan hasil belajar siswa. Data tentang aspek kompetensi, motivasi, persepsi dan sikap guru terhadap MGMP, serta minat, sikap, motivasi dan hasil belajar siswa diambil pada awal dan akhir perlakuan, yakni implementasi model lesson study. Penelitian dimulai Bulan Oktober 2006 sampai April 2008. Tiga macam perlakuan yang diberikan kepada guru adalah implementasi lesson study di MGMP Sains-Biologi (Wilayah Beji), lesson study dipadu dengan portofolio guru (Wilayah Nguling), dan lesson study dipadu dengan PTK (Wilayah Purwosari). Sementara kelompok guru lain sebagai kontrol atau yang tidak diimplementasi lesson study diambil di SMP Kota Pasuruan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pada dasarnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan MGMP sains di Kabupaten Pasuruan telah sesuai dengan tujuan, peran dan fungsi MGMP, namun pola pelaksanaannya belum konsisten dan belum efektif untuk meningkatkan keprofesionalan guru. Model implementasi lesson study berpengaruh sangat signifikan terhadap pemahaman teknik edukatif guru (p = 0,001), kemampuan mengajar guru (p = 0,009), persepsi dan sikap guru (p = 0,002), hasil belajar biologi siswa (p = 0,010), namun tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penguasaan konsep biologi guru (p = 0,058), motivasi berprestasi guru (p = 0,505), serta minat, sikap dan motivasi belajar biologi siswa SMP (p = 0,498). Model implementasi lesson study yang secara konsisten memberikan pengaruh paling besar terhadap peningkatan penguasaan konsep biologi, pemahaman teknik edukatif, kemampuan mengajar guru biologi, persepsi dan sikap guru terhadap MGMP, dan hasil belajar siswa adalah lesson study yang dipadu dengan portofolio. Kesimpulan dari penelitian adalah: (1) Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam MGMP Sains di Kabupaten Pasuruan sebelum implementasi lesson study telah sesuai dengan tujuan dan fungsi MGMP namun pola pelaksanaan belum konsisten dan keefektifannya dalam meningkatkan kemampuan masih rendah. 2) Model implementasi lesson study dalam kegiatan MGMP Sains-biologi SMP di Kabupaten Pasuruan berpengaruh sangat signifikan terhadap peningkatan pemahaman teknik edukatif guru, kemampuan mengajar, persepsi dan sikap guru terhadap MGMP, serta peningkatan hasil belajar biologi siswa, namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan penguasaan konsep biologi guru, motivasi berprestasi guru, serta minat, sikap dan motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat direkomendasikan agar dalam upaya meningkatkan kemampuan guru berbasis MGMP memilih model implementasi lesson study yang dipadu dengan portofolio. Penyusunan portofolio setelah melaksanakan lesson study dapat meningkatkan kemampuan merefleksi, mengembangkan metakognisi dan mendorong guru belajar secara mandiri untuk memecahkan masalahnya.

Peningkatan aktivitas dan prestasi belajar biologi siswa kelas VIIIE SMPN 4 Malang melalui model pembelajaran kooperatif tipe numbered head together (NHT) / Sutriyono

 

ABSTRAK Sutriyono, 2009. Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Biologi Siswa Kelas VIII E SMPN 4 Malang melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT). Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Balqis, S.Pd, M.Si, (2) Drs. Soewolo, M.Pd. Kata kunci: aktivitas belajar, prestasi belajar, kooperatif numbered heads together Berdasarkan opservasi awal ditemukan siswa kurang bergairah, kurang aktif dan kelas tidak berpusat pada siswa merupakan masalah yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah hasil ketuntasan belajar nilai 73,36 atau 40% tuntas. Hasil ulangan harian terdahulu masih banyak yang di bawah KKM (72).Melalui penelitian tindakan kelas (PTK) masalah ini dicoba untuk diatasi dengan mengaktifkan siswa ke dalam model pembelajaran kooperatif numbered heads together. PTK dilakukan dalam 2 siklus, dengan tujuan penelitian: mendeskrip- sikan aktivitas siswa, mengetahui prestasi belajar siswa setelah belajar biologi. Subjek penelitian adalah Siswa Kelas VIIIE SMP Negeri 4 Malang dengan jumlah siswa 40 orang, tahun pelajaran 2008/2009. Data diperoleh melalui observasi, pemberian tes, dan wawancara. Kemudian dianalisilis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas siswa meningkat dalam membaca, berdiskusi, bertanya, memperhatikan dan kerjasama dengan kriteria baik, serta prestasi belajar siswa meningkat. Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat di-tarik kesimpulan sebagai berikut.Implementasi model pembelajaran tipe NHT dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas VIIIE SMPN 4 Malang da-lam hal membaca, berdiskusi, bertanya, memperhatikan, dan kerjasama rata-rata pada siklus I adalah 57,40 me- ningkat menjadi 73,25 pada siklus II.Implementasi model pembelajaran tipe NHT dalam pembelajaran biologi dapat meningkatkan prestasi belajar biologi siswa kelas VIIIE SMPN 4 Malang. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya nilai rata-rata hasil tes pada proses pembelajaran siklus I 82,95 dan siklus II 85,51, sehingga ada peningkatan nilai rata-rata sebesar 2,56. Kalau ditinjau dari persen- tase ketuntasan klasikal siklus I 75% dan siklus II 92,5% sehingga ada peningkatan sebesar 7,5%. Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, maka perlu disampaikan ke- pada pembaca pada umumnya dan khususnya guru biologi SMP yang meng- gunakan model pembelajaran tipe NHT dalam melakukan pembelajaran kepada siswa disarankan sebagai berikut. Penerapan sintak-sintak NHT secara runtut mulai dari penomoran, pengajuan pertanyaan, berfikir bersama dan pemberian jawaban pada saat proses pembelajaran agar bisa meningkatkan aktifitas dan prestasi bela- jar siswa.Agar bisa lebih menekankan pada peningkatan kemampuan bertanya, mengingat rendahnya peningkatan aktivitas bertanya siswa.Agar mewujudkan pro- sedur mengajar yang melibatkan siswa di dalam proses belajar atau dengan kata lain pembelajaran berpusat pada siswa.Memperbanyak literatur buku bacaan siswa akan meningkatkan pengetahuan siswa.

Pengembangan bahan ajar digital grammatik bahasa Jerman untuk kelas XI di SMA Negeri 1 Malang / Faizza Fegynarulita Machfiroh

 

Bahasa Jerman merupakan bahasa resmi yang digunakan di beberapa negara di benua Eropa. Bahasa Jerman juga menjadi bahasa ibu di Austria, Swiss, dan Luxembourg. Berdasarkan peran dan fungsi bahasa Jerman, bahasa Jerman dipelajari di Indonesia sebagai bahasa asing ke dua. Dengan landasan kurikulum KTSP 2006, bahasa Jerman diajarkan dari kelas X sampai kelas XII di SMA Negeri 1 Malang dengan intensitas satu kali pertemuan setiap minggu dengan durasi satu jam pelajaran. Pada pembelajaran bahasa Jerman, siswa tidak hanya belajar dan berlatih kosakata bahasa Jerman, tetapi juga harus belajar tata bahasa Jerman atau yang dikenal dengan Grammatik. Grammatik merupakan inti dari sebuah bahasa, agar bahasa tersebut memilik makna yang utuh. Berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan, siswa merasa bosan dan lelah dengan pelajaran Grammatik, karena bahan ajar yang digunakan tidak menarik. Apabila memperhatikan kondisi tersebut, maka perlu ada usaha pengembangan bahan ajar Grammatik bahasa Jerman. Melalui pemanfaatan teknologi komputer, bahan ajar dapat diwujudkan dalam format bahan ajar digital. Dengan dikembangkannya bahan ajar digital, pengembang ingin memberikan bahan ajar yang efektif. Pengembangan bahan ajar digital Grammatik bahasa Jerman untuk kelas XI dilakukan di SMA Negeri 1 Malang. Pokok bahasan yang akan dibahas dalam bahan ajar digital Grammatik yaitu der Artikel im Nominativ, Akkusativ, und Dativ. Masalah dalam penelitian ini adalah belum adanya bahan ajar digital pokok bahasan Grammatik yang menarik dan efektif, yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat bahan ajar digital pokok bahasan Grammatik yang menarik dan efektif untuk digunakan. Penelitian pengembangan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan model pengembangan yang dikembangkan oleh Alessi dan Trollip. Prosedur penelitian dilakukan dalam empat tahap yaitu, persiapan, perancangan, uji coba, dan evaluasi bahan ajar digital Grammatik bahasa Jerman. Sumber data uji kelayakan adalah tiga orang ahli yang meliputi ahli media, materi, dan guru bahasa Jerman. Uji kelayakan juga dilakukan kepada 18 siswa kelas XI akselerasi. Data dikumpulkan dengan teknik kuesioner berupa angket tertutup dan pengamatan aktifitas guru dan siswa. Data berupa angket dianalisis dengan teknik persentase . Hasil penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar digital Grammatik yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Jerman dengan sedikit revisi. Menurut ahli media, bahan ajar digital sudah valid dengan persentase sebesar 88,235%. Ahli materi berpendapat bahwa media valid dengan persentase sebesar 80,56%. Menurut guru bahasa Jerman, bahan ajar digital valid dengan persentase 89,58%. Menurut siswa kelas XI akselerasi, bahan ajar digital valid dengan persentase 83,33%. Demi menyempurnakan bahan ajar disarankan beberapa hal tentang penyebarluasan dan pengembangan lebih lanjut. Bahan ajar dapat disebarluaskan dengan mudah dan murah. Bahan ajar yang dikembangkan dapat diubah ke dalam bahan ajar online di internet.

Proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional berdasarkan kerangka kerja asimilasi dan akomodasi / Samsul Irpan

 

ABSTRAK Samsul Irpan. 2009. Proses Terjadinya Kesalahan Dalam Penalaran Proporsional Berdasarkan Kerangka Kerja Asimilasi dan Akomodasi. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, S.Pd.,M.Si. (II) Drs. Tjang Daniel Chandra, M.Si.,Ph.D. Kata Kunci : penalaran proporsional, asimilasi, akomodasi. Penalaran proporsional merupakan aktivitas mental dalam mengkordinasikan dua kuantitas yang berkaitan dengan relasi perubahan (perbandingan senilai) suatu kuantitas terhadap kualitas yang lain. Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan kognitif siswa dalam proses belajar. Dalam proses belajar, diharapkan siswa mampu mengkonstruksi pengetahuan sesuai dengan masalah yang dihadapi. Pada kenyataanya, ada masalah yang dapat diselesaikan sesuai dengan harapan dan ada juga masalah yang tidak bisa diselesaikan sesuai dengan apa yang diharapkan. Ini berarti struktur penalaran siswa tersebut belum cukup untuk menyelesaikan struktur masalah yang diberikan. Penalaran proporsional telah dikaji oleh oleh beberapa peneliti misalnya Cramer,K. & Post,T. (1993), dan Rahma (2006). Namun kajian-kajian tersebut belum sampai pada masalah “proses terjadinya kesalahan penalaran proporsional”. Karena itu dalam penelitian ini akan dikaji proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional berdasarkan kerangka kerja asimilasi dan akomodasi. Ketika seseorang menghadapi suatu masalah, maka akan terjadi proses adaptasi yang melibatkan proses asimilasi dan akomodasi. Menurut Piaget asimilasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang sudah terbentuk. Akomodasi merupakan proses pengintegrasian stimulus baru melalui pengubahan skema lama atau pembentukan skema baru untuk menyesuaikan dengan stimulus yang diterima. Penelitian ini dilakukan pada siswa MTs Surya Buana Kota Malang yang sudah mendapatkan materi perbandingan (proporsi). Pengambilan data dilakukan dengan metode Think-Out-Loud (TOL) atau sering disebut Think Aloud. Dalam metode TOL, siswa diminta untuk mengungkapkan secara keras apa yang sedang dipikirkan. Data yang diperoleh dikodekan dan dijadikan dasar untuk mengkaji terjadinya kesalahan, ketika mengerjakan masalah proporsi. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa proses terjadinya kesalahan dalam penalaran siswa MTs Surya Buana Kota Malang memiliki karakteristik, yaitu: (1) kekeliruan proses asimilasi yang terjadi pada subjek (S1), dan (2) ketidakcukupan struktur berpikir dalam proses asimilasi terjadi pada subjek kelompok sedang (S3 dan S4). Sedangkan untuk subjek (S2, S5 dan S6) memiliki konstruksi penalaran yang lengkap. Penelitian ini masih terbatas pada proses terjadinya kesalahan dalam penalaran proporsional (khususnya perbandingan senilai), karena itu masih sangat terbuka penelitian lanjutan terutama berkaitan dengan: (1) bagaimana proses penalaran siswa, ketika memahami perbandingan berbalik nilai, dan (2) desain pembelajaran yang dapat mengurangi terjadinya kesalahan penalaran dalam menyelesaikan masalah matematika.

Errors in the recount writing of the eight graders of SMP Negeri 9 Malang / Galuh Retnaningtyas

 

Sebagai salah satu bahasa asing yang ada di Indonesia, Bahasa Inggris seringkali hanya digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas. Oleh karenanya, para pebelajar mngkin tidak mendapat latihan yang cukup dalam menggunakan bahasa Inggris di lingkungan mereka yang mengakibatkan Bahasa Inggris mereka tidak berkembang. Selain itu, kurangnya latihan membuat pebelajar tidak terbiasa dengan perbedaan struktur bahasa antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Hal ini menyebabkan mereka membuat ‘error’ dalam menggunakan Bahasa Inggris, khususnya dalam ‘productive skill’ yaitu dalam ketrampilan menulis dan berbicara. Namun, pengajaran menulis sepertinya kurang mendapat perhatian dari guru dibandingkan dengan pengajaran ketrampilan yang lain. Siswa mungkin tidak mendapat cukup latihan dalam menulis dan tidak mendapat cukup umpan balik dari guru. ‘Error analysis’ sangat penting untuk mencari tahu bagaimana siswa mempelajari sebuah bahasa, perkembangan belajar mereka, masalah yang dihadapi dan bagian dimana peningkatan diperlukan. Semua isu ini mengantarkan peneliti untuk melakukan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari tahu ‘error’ yang dibuat oleh siswa kelas 8 SMP Negeri 9 Malang. Penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian ‘descriptive qualitative’ karena tujan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ‘error’ apa saja yang muncul dalam karangan ‘recount’ siswa. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa 75 karangan siswa. Ada tiga langkah dalam proses analisis data. Langkah pertama adalah identifikasi ‘error’. Kemudian dilanjutkan dengan pengklasifikasian ‘error’ dan yang terakhir adalah penghitungan ‘error’. Dari data yang terkumpul, ditemukan 1144 ‘error’. Hasil penelitian ini menunjkkan ‘error’ terbanyak yang dibuat siswa adalah ‘errors of omission’ (32.08%). Dalam ‘error’ ini ‘omission of be’ menempati rutan teratas. Peringkat selanjutnya adalah ‘errors of addition’ yang muncul sebanyak 25.87%. disini ‘addition of preposition’ menduduki peringkat teratas. ‘Errors of misformation’ menempati rutan teratas selanjutnya dengan persentase sebanyak 22.90%. ‘Misformation of past tense verb’ paling banyak muncul di ‘error’ ini. ‘Misordering error’ muncul sebanyak 2.71% dari semua ‘error’ yang ditemukan. ‘Error’ dengan frekuensi tertinggi adalah ‘misordering of adverb’. Dalam ‘vocabulary use’ diction menempati urutan teratas dengan persentase sebanyak 10.84% dan ‘spelling error’ sebanyak 5.60% Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran diberikan untuk meningkatkan penguasaan siswa pada ketrampilan menlis. Untuk guru, disarankan agar mereka member kesempatan lebih banyak pada siswa untuk berlatih menulis dengan menggnaka Bahasa Inggris. Selain itu, guru juga seharusnya lebih memperhatikan penggunaan verb form on tenses, articles, preposition, dan singular and plural markers. Dalam ‘vocabulary use’ guru diharapkan untuk lebih mengakrabkan siswa dengan bacaan-bacaan yang menggunakan Bahasa Inggris agar siswa lebih terbiasa dengan kata-kata bahasa Inggris. Yang paling penting adalah, siswa dan guru diharapkan lebih memperhatikan perbedaan struktur antara Bahsa Indonesia dan Bahasa Inggris yang sepertinya merupakan penyebab utama ‘error’.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan konsumen dalam membeli rumah (studi pada pembeli rumah di Perumahan Griya Intan Asri Kediri) / Pristya Novianti

 

ABSTRAK Novianti, Pristya. 2009. Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Keputusan Konsumen dalam Membeli Rumah (Studi pada Pembeli Rumah di Perumahan Griya Intan Asri Kediri). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suwarni, M.Si., (II) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si. Kata kunci: bauran pemasaran, keputusan pembelian konsumen, perumahan Griya Intan Asri Dampak adanya globalisasi mengakibatkan banyak perusahaan berlomba untuk memiliki keunggulan daya saing. Hal ini juga terjadi dalam bisnis property terutama bisnis perumahan. Perumahan Griya Intan Asri Kediri merupakan salah satu perumahan di kota Kediri yang segmen pasarnya untuk golongan menengah ke atas. Untuk menarik minat pembeli pihak pengembang Perumahan Griya Intan Asri Kediri menawarkan beberapa fasilitas berupa tempat ibadah (masjid), lapangan voli, dan taman. Selain itu pihak pengembang juga memberikan kebebasan pada konsumen untuk memilih bank mana yang dianggap sesuai dengan kondisi konsumen yang akan melakukan pembelian secara kredit. Perumahan Griya Intan Asri Kediri berlokasi di kelurahan Mrican kecamatan Mojoroto Kota Kediri yaitu lokasi yang cukup strategis yang merupakan jalan raya yang menghubungkan Kediri dengan Nganjuk. Dan untuk mengenalkan perumahan Griya Intan Asri Kediri kepada masyarakat pihak pengembang melakukan promosi melalui pameran dan media cetak maupun elektronik. Bauran pemasaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi bauran pemasaran (produk, harga, tempat, dan promosi) di perumahan Griya Intan Asri Kediri dan untuk mengetahui pengaruh signifikan antara bauran pemasaran (produk, harga, tempat, dan promosi) secara parsial dan secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh bauran pemasaran (X) yang terdiri dari produk (X1), harga (X2), tempat (X3), dan promosi (X4) terhadap keputusan pembelian konsumen (Y) baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pembeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri yang dipasarkan oleh PT. Intan Kemilau Utama pada bulan April 2009 sebanyak 206 kepala keluarga. Jumlah sampel pada penleitian ini adalah 68 responden. Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda (multiple regression) dengan menggunakan uji t dan uji F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bauran pemasaran berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri. Hal ini dibuktikan dengan nilai koefisien regresi β (X1) 0.275, thitung = 4.280, dan taraf signifikansi adalah 0.000 < 0.05, nilai β (X2) = 0.322; thitung = 4.049 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05, nilai β (X3) = 0.344; thitung = 3.410 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05, nilai β (X4) = 0.389; thitung = 6.150 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05. Selain itu, bauran pemasaran juga berpengaruh secara simultan terhadap keputusan konsumen dalam membeli rumah di perumahan Griya Intan Asri Kediri. Hal ini dibuktikan dengan nilai F hitung 136.014 dengan taraf signifikasi 0.000 < 0.05. Berdasarkan penelitian ini saran yang dapat diberikan sehubungan dengan hasil penelitian di atas adalah (1) Pengembang (developer) hendaknya lebih memperhatikan tipe produk (rumah) yang ditawarkan dengan mengutamakan mutu dan rancangan yang sesuai dengan keinginan konsumen, selain itu pengembang (developer) harus memberikan pelayanan yang memuaskan sehingga konsumen lebih tertarik dalam mengambil keputusan untuk membeli rumah, (2) Pengembang(developer) juga harus memberikan kemudahan syarat-syarat pembayaran kepada konsumen agar konsumen tidak mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran pembelian rumah, (3) Tempat atau lokasi perumahan juga harus diperhatikan oleh pengembang (developer) agar produk rumah yang ditawarkan dapat menarik minat konsumen karena kemudahan sarana transportasi menuju lokasi perumahan Pengembang (developer) hendaknya lebih memperhatikan tipe produk (rumah) yang ditawarkan dengan mengutamakan mutu dan rancangan yang sesuai dengan keinginan konsumen, selain itu pengembang (developer) harus memberikan pelayanan yang memuaskan sehingga konsumen lebih tertarik dalam mengambil keputusan untuk membeli rumah, (4) Pengembang (developer) harus lebih sering dan lebih banyak melakukan promosi (minimal dalam jangka waktu 3 bulan mengikuti 2 kali pameran) agar konsumen mengetahui dan lebih mengenal perumahan Griya Intan Asri Kediri.

Analisis anggaran penjualan polis sebagai alat ukur efektifitas kinerja perusahaan pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang / Iva Rohana

 

ABSTRAK Rohana, Iva. 2009. Analisis Anggaran Penjualan Polis Sebagai Alat Ukur Efektivitas Kinerja Perusahaan pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang. Tugas Akhir, Jurusan Diploma Akuntansi, Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Puji Handayati, SE., Ak., MM. Kata Kunci : analisis anggaran penjualan polis, kinerja perusahaan. Anggaran adalah rencana sebuah perusahaan yang ingin dicapai dimasa yang akan datang. Untuk menyusun anggaran yang baik, diperlukan suatu langkah-langkah penyusunan anggaran sehinggga penyusunan anggaran tersebut sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang yang merupakan perusahan asuransi jiwa, berupaya menyusun anggaran penjualan polis dengan sebaik mungkin. Anggaran juga dapat dijadikan alat ukur kinerja perusahaan. Karena PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang bergerak dalam bidang jasa, maka kinerja yang dinilai adalah kinerja pelayanannya. Kinerja perusahaan dinilai berdasarkan pencapaian realisasi terhadap target yang telah ditetapkan sebelumnya. Penilaian kinerja tersebut merupakan bagian dari kegiatan evaluasi kinerja yang selalu dilakukan pada akhir triwulan atau setiap tiga bulan kali. Hal ini dapat dijadikan informasi sebagai perbaikan periode berikutnya selama kegiatan operasional PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang masih berjalan. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui penganggaran penjualan polis pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang dan untuk mengetahui pengaruh anggaran penjualan polis terhadap efektivitas kinerja pada PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah studi pustaka dan studi lapangan. Sedangkan metode pemecahan masalah yang digunakan adalah deskriptif kuntiatif dengan menggunakan analisis varians dan prosentase pencapaian target. Pencapaian target penjualan polis pada tahun 2008 adalah 98,79% dari aggaran penjualan polis yang ditetapkan sebesar 4.000.000. Dari realisasi penjualan tersebut dapat dilihat adanya varians atau selisih kurang tetapi hal tersebut masih dapat ditoleransi karena prosentase varians lebih kecil dibandingkan prosentase koefisien varians. Maka kinerja perusahaan dikategorikan efektif. Hal ini dikarenakan adaya kebijaksanan-kebjaksanaan dari perusahan untuk mengatasi hambatan-hambatan yang menyebabkan turunnya hasil penjualan, juga tidak lepas dari adanya bonus, insentif dan THR untuk karyawan yang berprestasi sehingga karyawan berusaha untuk bekerja dengan baik. Tetapi jika dilihat dari tiap bulannya, kinerja perusahaan dikatakan tidak efektif dibeberapa bulan. Hal ini disebabkan karena anggaran yang ditetapkan hanya berdasarkan perkiraan, juga terdapat beberapa pengurangan karyawan, serta kurangnya promosi dari pihak cabang sendiri. Karena itu untuk tahun selanjutnya dalam menentukan target penjualan polis, PT. AJ. Bringin Jiwa Sejahtera Malang juga harus memperhatikan teori tanpa meninggalkan kebijkasanaan-kebijaksanaan yang ada agar hasil atau target yang ditetapkan mendekati realisasi penjualan polis.

Sistem pakar online sebagai alternatif bimbingan dengan dosen penasehat akademik bagi mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Teknik Informatika Universitas Negeri Malang / Meyga Fika Sukmayanti

 

Studi pelaksanaan dan analisa biaya pekerjaan pelat beton pada proyek pembangunan gedung perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Nita Kusrianti

 

Plat lantai adalah elemen horizontal struktur yang mendukung beban mati maupun beban hidup dan menyalurkan ke struktur vertical yang disebut kolom. Dalam merencanakan suatu plat harus memperhatikan bebrapa faktor, yaitu komponen struktur beton bertulang yang mengalami lentur harus direncanakan agar mempunyai kekakuan yang cukup untuk mambatasi lendutan dan deformasi apapun yang dapat memperlemah kekuatan atau mengurangi kemampuan layan struktur pada beban kerja. Tujuan studi lapangan ini adalah: (1) untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pelat beton pada Proyek Pembangunan Gedung PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang Tahap I; (2) untuk mengetahui besar anggaran biaya pada RAB dengan taksiran sesuai dengan SNI 2002 dalam pelaksanaan pekerjaan pelat beton pada Proyek Pembangunan Gedung PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang Tahap I. Untuk mendapatkan data yang valid pada studi lapangan ini diperlukan suatu metode studi lapangan, yaitu dengan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Setelah itu data-data yang diperoleh dianalisis untuk menjawab semua permasalahan yang ada. Hasil dari studi lapangan menyebutkan bahwa: (1) proses pekerjaan plat beton bertulang pada proyek pembangunan PERKULIAHAN FAKULTAS EKONOMI Universitas Negeri Malang meliputi pekerjaan perancah, pekerjaan pemasangan bekisting, pekerjaan penulangan/pembesian, pekerjaan pengecoran, pekerjaan perawatan pasca pengecoran dan pekerjaan pembongkaran bekisting; (2) Terdapat perbedaan biaya antara rencana anggaran biaya dengan rencana anggaran pelaksanaan. Berdasarkan hasil studi lapangan ini, disarankan: (1) pekerjaan bekisting diperhitungkan secara teliti agar nantinya bekisting dapat digunakan untuk pekerjaan bekisting pada proyek lain; (2) Untuk pemesanan ready mix sebaiknya diperhitungkan dengan teliti agar tidak terjadi pemborosan pemesan beton; dan (3) untuk perhitungan rencana anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan harga dan upah pekerjaan di lapangan.

Teknik penyambungan dan terminasi kabel bawah tanah tegangan menengah 20 KV / Gigih Prayogi

 

Gardu Trafo Tiang (GTT) merupakan salah satu komponen instalasi tenaga listrik yang terpasang di Jaringan Distribusi yang berfungsi sebagai trafo daya penurun tegangan dari tegangan menengah ke tegangan rendah. Pada Jaringan Tegangan Rendah energi listrik disalurkan ke konsumen seperti rumah tangga, bisnis, dan juga industri kecil. Penyaluran energi listrik dari Gardu Induk ke Gardu Trafo Tiang (GTT) dilakukan dengan menggunakan penghantar udara, penghantar bawah tanah (kabel bawah tanah) serta kombinasi penghantar udara dengan penghantar bawah tanah. Jaringan distribusi dengan menggunakan kabel bawah tanah mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan penghantar udara. Keunggulan menggunakan penghantar bawah tanah adalah tidak tampak dibanding dengan penghantar udara, sehingga tepat untuk penggunaan dikawasan perkotaan yang menuntut estetika lebih tinggi. Selain itu juga lebih aman dari reruntuhan pohon akibat adanya kondisi alam yang tidak menentu. Keandalan/kualitas penyaluran energi listrik dengan menggunakan kabel bawah tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain tuntutan estetika/keindahan, adanya gangguan seperti gangguan alam maupun gangguan tegangan sentuh, serta kualitas penghantar yang tahan lama.

Uji sifat organoleptik chewy candy bar susu sapi subtitusi suhu kambing / Arif Raharjo

 

ABSTRAK Raharjo, Arif 2009. Uji Sifat Organoleptik Chewy Candy Bar Susu Sapi Subtitusi Susu Kambing. Tugas Akhir. Program Studi D3 Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si, (2) Ir. Ummi Rohajatin,M.P. Kata kunci : chewy candy bar, susu sapi, susu kambing, organoleptik. Chewy candy merupakan salah satu jenis permen yang memiliki tekstur kenyal. Bahan dasar dari pembuatan chewy candy adalah gula, mentega, glukosa, dan susu segar. Susu segar yang digunakan adalah susu sapi yang disubtitusi dengan susu kambing segar. Susu kambing masih terbatas dalam pengolahannya, susu kambing memiliki aroma yang ( lebus). Penelitian adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase yang berbeda yaitu 15%, 30%, dan 45%. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat sifat organoleptik yang dihasilkan oleh masing-masing perlakuan. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis meliputi rasa, warna, dan tekstur. Masing–masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Analisa data yang digunakan adalah analisa sidik ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Ducan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rasa chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase 15%, 30%, dan 45%. Rasa chewy candy yang diharapkan (manis gurih) dihasilkan oleh chewy candy susu sapi substitusi susu kambing dengan persentase 45% . Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan warna chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase 15%, 30%, dan 45%. Warna chewy candy yang diharapkan (coklat) dihasilkan oleh chewy candy susu sapi substitusi susu kambing dengan persentase 15% . Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tekstur chewy candy susu sapi yang disubtitusi susu kambing dengan persentase 15%, 30%, dan 45%. Tekstur chewy candy yang diharapkan (kenyal) adalah chewy candy susu sapi yang disubstitusi susu kambing sebesar 45% . Hasil uji hedonik terhadap chewy cand bar susu sapi yang disubtitusi susu kambing menunjukkan bahwa rasa yang cenderung disukai adalah yang disubtitusi sebesar 30%. Warna yang cenderung disukai panelis adalah yang disubtitusi sebesar 30%. Tekstur yang cenderung disukai panelis adalah yang disubtitusi sebesar 30%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan rasa, warna, dan tekstur chewy candy bar susu sapi yang disubtitusi susu kambing sebesar 15%, 30% dan 45%. Rasa, warna, dan tekstur chewy candy bar susu sapi yang disubtitusi susu kambing yang disukai oleh panelis adalah yang disubtitusi 30%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk mengembangkan aneka olahan chewy candy susu sapi subtitusi susu yang lain selain susu kambing, serta penambahan variasi rasa.

Pembuatan mini sackdress dan poncho transparan dengan aplikasi motif "geometri" sebagai busana pesta / Siswandari Rosyida

 

Sifat organoleptik keripik telur bebek dengan penambahan variasi daun bumbu / Evrielia Enggar Cahyani

 

ABSTRAK Cahyani, Evrielia Enggar. 2009. Sifat Organoleptik Keripik Telur Bebek dengan Penambahan Variasi Daun Bumbu. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Nunung Nurjanah M. Kes (2) Ir. Budi Wibowotomo M.Si. Kata kunci: Keripik, Telur Bebek, Daun Kemangi, Daun Mint, Daun Jeruk Purut Keripik telur bebek adalah produk makanan ringan yang berbahan dasar telur bebek. Telur bebek cenderung memiliki aroma amis yang tajam sehingga untuk menghilangkan rasa amis tersebut diperlukan penambahan variasi daun bumbu yaitu daun kemangi, daun mint dan daun jeruk purut. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan membuat keripik telur bebek dengan menggunakan penambahan variasi daun bumbu yaitu daun kemangi, daun mint dan daun jeruk purut. Untuk mengetahui perbedaan antara flavour, warna dan tekstur, maka di dalam penelitian ini dilakukan uji mutu hedonik dan uji hedonik terhadap sifat organoleptik yang ditimbulkan dari penambahan variasi daun bumbu. Data penelitian diperoleh dari angket yang diberikan kepada panelis. Panelis yang digunakan adalah panelis agak terlatih sebanyak 20 orang dengan tiga kali pengulangan. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis sidik ragam, apabila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk uji mutu hedonik terdapat perbedaan yang nyata terhadap flavour, warna, dan tekstur dengan penambahan variasi daun bumbu yaitu daun kemangi, daun mint, daun jeruk purut. Flavour keripik telur bebek yang amis tidak tajam (3,72) diperoleh pada perlakuan dengan menggunakan penambahan daun jeruk purut. Warna keripik telur bebek yang menghasilkan warna kuning kehijauan (3,68) diperoleh dengan menggunakan penambahan daun kemangi. Tekstur renyah pada kripik telur bebek (2,95) diperoleh dengan menggunakan penambahan daun mint. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa flavour keripik telur bebek yang paling disukai (3,12) adalah keripik telur bebek dengan penambahan daun jeruk purut. Warna keripik telur bebek yang relatif disukai (2,97) adalah keripik telur bebek dengan penambahan daun mint. Tekstur keripik telur bebek yang relatif disukai panelis (2,87) adalah tekstur keripik telur bebek dengan penambahan daun jeruk purut. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang pematangan keripik telur bebek agar tidak cenderung berminyak dan dapat menggunakan penambahan kombinasi daun jeruk purut dan daun mint untuk menghasilkan keripik telur yang lebih bagus dari segi flavour, warna dan tekstur.

Sifat organoleptik cake dengan perbandingan persentase tepung telur dan telur ayam yang berbeda / Lika Rusiana

 

ABSTRAK Rusiana, Lika. 2009. Sifat Organoleptik Cake Dengan Perbandingan Persentase Tepung Telur Dan Telur Ayam Yang Berbeda. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Ir. Ummi Rohajatien, M.P (II) Dra. Nunung Nurjannah, M.Kes Kata Kunci: Cake, Tepung Telur, Telur Ayam, Organoleptik Telur merupakan bahan makanan yang mudah rusak dan memiliki daya simpan yang tidak lama. Fungsi telur pada pembuatan cake adalah sebagai daya emulsi (emulsifier), pemberi warna/pigmen, daya buih dan memberikan flavour. Tepung telur adalah produk awetan dari telur segar sehingga memiliki daya simpan yang lama, tidak mudah rusak namun tetap memiliki fungsi sehingga dapat menghasilkan kualitas cake yang baik. Penelitian bertujuan untuk memberikan kualitas yang lebik baik pada cake yang berkarakteristik butter cake dengan penggunaan tepung telur sebagai bahan pengganti sebagian pada telur segar. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan perlakuan perbandingan persentase tepung telur dan telur ayam 20%:80%. 40%:60% dan 60%:40%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik yang meliputi rasa, warna, aroma dan tekstur. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian pendahuluan dan penelitian utama. Data penelitian diperoleh dari angket yang diberikan kepada panelis agak terlatih. Instrumen yang digunakan adalah uji organoleptik berupa format penilaian uji mutu hedonik dan uji hedonik. Pengolahan data dilakukan dengan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan analisis DMRT (Duncan’s Multiple Range Test). Hasil penelitian pada uji mutu hedonik menunjukkan rasa, warna, aroma dan tekstur cake yang paling baik ada pada perlakuan 60%:40% dengan rasa manis gurih, warna kuning cukup kecoklatan, aroma kurang anyir dan tekstur empuk. Hasil penelitian pada uji hedonik menunjukkan cake yang disukai dari rasa dan warna pada perlakuan 40%:60%, aroma dan tekstur pada perlakuan 60%:40%. Hasil yang cukup disukai dari rasa dan warna pada perlakuan 60%:40%, aroma dan tekstur pada perlakuan 40%:60%. Hasil yang agak disukai dari rasa, warna dan aroma pada perlakuan 20%:80% dan tekstur pada perlakuan 60%:40%. Hasil yang kurang disukai dari rasa pada perlakuan 60%:40%, warna dan tekstur pada perlakuan 20%:80% dan aroma pada perlakuan 40%:60%. Berdasarkan hasil penelitian maka diajukan saran untuk mendapatkan cake dengan kriteria rasa manis gurih, warna kuning cukup kecolatan, aroma kurang anyir dan tekstur empuk dengan penggunaan tepung telur dan telur ayam 60%:40%.

Sifat organoleptik permen jeli agar-agar dengan penambahan susu bubuk dalam jumlah yang berbeda / Matin Waliyu

 

ABSTRAK Waliyu, Matin. Sifat Organoleptik Permen Jeli Agar-agar Dengan Penambahan Susu Bubuk Dalam Jumlah yang Berbeda. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Issutarti, (II) Ir. Umi Rohajatien, M.P. Kata Kunci: Susu Bubuk, Penambahan, Organoleptik. Permen jeli agar-agar merupakan salah satu produk yang digemari dan dapat dikonsumsi oleh semua orang terutama dikalangan anak-anak dan remaja. Permen jeli pada dasarnya adalah campuran karbohidrat yang diproses menjadi sistem koloidal stabil yang mempunyai konsistensi semi padat, manisnya cukup dan biasanya berasa dan berwarna buah. Kandungan gizi permen jeli hanya terdiri dari karbohidrat. Untuk memnyeimbangkan kandungan gizi permen jeli agar-agar perlu ditambahkan susu. Susu mempunyai kandungan gizi yang baik dan seimbang. Namun penambahan susu pada proses pembuatan permen jeli agar-agar berpengaruh terhadap mutu organoleptik permen jeli agar-agar. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengetahui perbedaan mutu organoleptik dan tingkat kesukaan terhadap tekstur, flavor, dan warna dengan penambahan susu bubuk 2%, 4%, 6%, 8%. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan perlakuan penambahan susu bubuk dengan jumlah yang berbeda. Pengamatan dilakukan terhadap sifat-sifat organoleptik yang meliputi tekstur, flavor susu, dan warna dengan uji mutu hedonik dan uji hedonik. Analisa data menggunakan sidik ragam jika ada perbedaan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata pada tekstur, flavor susu, dan warna. Perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 2% menghasilkan tekstur paling kenyal dan warna kurang kusam. Sedangkan flavor susu yang paling kuat dihasilkan oleh perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 8%. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sabgat nyata pada tekstur, flavor susu, dan warna. Perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 2% mendapatkan nilai skor kesukaan paling tinggi terhadap tekstur, flavour, dan warna. Untuk memperoleh permen jeli agar-agar yang disuka disarankan menggunakan perlakuan penambahan susu bubuk sebanyak 2%.

Sifat organoleptik permen jelly subtitusi sari buah tomat dan susu / Andi Yulfa Septiani

 

Permen jelly adalah permen yang terbuat dari campuran karbohidrat yang diproses menjadi sistem koloidal stabil yang mempunyai konsistensi semi padat,manisnya cukup dan biasanya berasa dan berwarna buah. Komponenya adalah pemanis (gula, gula invert, dektrosa dan sirup jangung), asam-asan organik permen (sitrat, malat ataupun tartart), dan pembentuk gel (pati, pektin,agar, dan gelatin), air, flavour dan pewarna. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi dengan perbandingan yang berbeda untuk mensubtitusi air pada pembuatan permen jelly. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik yang meliputi flavour, warna dan tekstur dengan pengujian uji mutu hedonik dan uji hedonik oleh panelis. Panelis terdiri dari 20 orang agak terlatih dari mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006. Data dianalisis dengan menggunakan Analisis Sidik Ragam. Hasil analisis data yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap flavour, warna dan tekstur pemen jelly yang disubtitusi dengan sari buah tomat dan susu sapi dengan perbandingan yang berbeda. Nilai rerata tertinggi untuk flavour 3,31% yaitu kuat dicapai oleh permen jelly sari buah tomat dan susu sebanyak 50%:50%. Nilai rerata tertinggi untuk warna 3,56% yaitu jingga dicapai permen jelly sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 75%:25%. Nilai rerata tertinggi untuk tekstur 3,56% yaitu kenyal dicapai permen jelly subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 50%:50%. Hasil uji hedonik terhadap permen jelly menunjukkan bahwa flavour disukai panelis adalah permen jelly dengan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 50%:50%. Panelis menyukai warna permen jelly dengan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 75%:25%.Dan hasil uji hedonik terhadap permen jelly menunjukkan bahwa tekstur yang paling disukai panelis adalah permen jelly dengan subtitusi sari buah tomat dan susu sapi sebanyak 50%:50%.

Implementasi siklous belajar sains untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 4 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Mastini

 

ABSTRAK Mastini. 2009. Implementasi Siklus Belajar Sains untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII-C SMP Negeri 4 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Pembimbing I: Drs. Soewolo, M.Pd, Pembimbing II: Balqis, S.Pd, M.Si Kata-kata kunci: siklus belajar sains, kerja ilmiah, hasil belajar biologi Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa dan wawancara dengan guru mata pelajaran tentang proses pembelajaran biologi yang selama ini telah dilaksanakan, terdapat beberapa kendala yang dihadapi, antara lain: (1) model pembelajaran kooperatif yang pernah diterapkan, misalnya STAD dan TGT belum cukup mengarahkan siswa untuk melakukan kerja ilmiah, (2) dari hasil jajak pendapat tentang pembelajaran yang selama ini dialami oleh siswa, 27,5% (11 siswa) menyatakan penerapan kerja ilmiah sudah baik, 47,5% (19 siswa) menyatakan cukup dan 25% (10 siswa) menyatakan kurang. Tetapi, ketika peneliti mengadakan wawancara lisan dengan beberapa siswa, mereka mengasumsikan bahwa kerja ilmiah adalah praktikum. Dari fakta ini dapat dikatakan bahwa penerapan kerja ilmiah dalam pembelajaran masih kurang, (3) hasil ulangan harian terdahulu masih banyak yang di bawah KKM yang telah ditetapkan yaitu sebesar 72. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan Mei 2009, dengan menggunakan 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 3 tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan dan observasi, (3) evaluasi dan refleksi. Metode pembelajaran yang diimplementasikan yaitu siklus belajar sains yang terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) eksplorasi, (2) eksplanasi, (3) ekspansi, dan (4) evaluasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar siswa (ranah kognitif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja ilmiah dan hasil belajar siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang dapat ditingkatkan melalui implementasi siklus belajar sains. Kerja ilmiah siswa pada siklus 1 memperoleh persentase ketercapaian secara klasikal sebesar 87,77% (sangat baik) dan meningkat pada siklus 2 yang mencapai 96,43% (sangat baik). Hasil belajar siswa pada siklus 1 menunjukkan nilai rata-rata 68 dengan ketuntasan klasikal sebesar 60% dan pada siklus 2 mengalami peningkatan nilai rata-rata menjadi 87 dengan ketuntasan klasikal 95%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi siklus belajar sains dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa kelas VIII-C SMP Negeri 4 Malang. Saran yang peneliti sampaikan berdasarkan hasil penelitian ini yaitu: (1) untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa, disarankan untuk mengimplementasikan siklus belajar sains, (2) disarankan bagi guru maupun peneliti lain agar menggunakan modul dalam proses pembelajaran agar semua aspek dari kerja ilmiah siswa dapat dicapai dengan optimal.

Usaha pengembangan kompetensi profesional guru SMK jurusan Bisnis Manajemen Program Studi Akuntansi di Kota Pasuruan / Rusita Rakhmawati

 

Pemberlakuan sertifikasi guru menjadi pendidik sebagai suatu profesi yang benar-benar profesional dan menjanjikan dilihat dari kontribusi tunjangan. Sesungguhnya serti-fikasi ini bermaksud meningkatkan mutu pendidikan dari sektor guru bukan untuk me-naikkan gaji atau kesejahteraan. Guru yang telah memiliki sertifikat pendidik harus terus melakukan peningkatan kompetensinya melalui berbagai kegiatan untuk meningkatkan profesionalitas guru berkelanjutan (Continous Profesional Development). Hal ini harus berlangsung secara berkesinambungan, karena prinsip mendasar adalah guru harus merupakan a learning person. Belajar sepanjang hayat selama masih di kandung badan sebagai guru profesional dan telah menyandang sertifikat pendidik, guru harus berkewa-jiban untuk terus mempertahankan profesionalitasnya sebagai guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui usaha pengembangan kompetensi profesional guru SMK jurusan Akuntansi yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan lulus sertifikasi melalui PLPG di Kota Pasuruan. Pendekatan yang digunakan dalam skripsi ini adalah deskriptif kualitatif. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh guru Akuntansi yang telah lulus sertifikasi melalui por-tofolio dan yang melalui PLPG di SMK se Kota Pasuruan. Sampel penelitian ini adalah guru Akuntansi yang lulus sertifikasi dari SMKN 1 Pasuruan, SMK PGRI 1 Pasuruan, dan SMK PGRI 4 Pasuruan. Data penelitian berupa hasil wawancara dan observasi. Ins-trumen penelitian berupa pedoman wawancara dan lembar observasi. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil analisis data maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Guru akuntansi yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan guru yang lulus sertifikasi melalui PLPG ke-mampuan penguasaan bahan pengajaran terlihat hampir sama, mereka belum mengem-bangkan keprofesionalannya secara maksimal. (2) Guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio maupun yang lulus melalui PLPG mempunyai kemampuan yang relatif sama dalam kemampuan menggunakan media pembelajaran dan sumber pengajaran. (3) Guru- guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan melalui PLPG telah mengembangkan kompetensi profesionalannya. (4) Guru-guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan yang lulus melalui PLPG telah mengembangkan kompetensi profesionalannya dalam kemampuan mengelola program belajar mengajar. (5) Guru-guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan melalui PLPG dapat mengembangkan kompetensi profesionalan-nya dengan mampu mengelola kelas dengan baik. (6) Guru- guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan lulus melalui PLPG telah mengembangkan keterampilan dasar mengajar, sehingga dapat dikatakan telah mampu mengelola interaksi belajar mengajar di dalam kelas. (7) Guru yang lulus sertifikasi melalui portofo-lio, guru melakukan evaluasi terhadap siswa masih mengarah ke ranah kognitif, namun untuk guru yang lulus sertifika-si melalui PLPG evaluasi terhadap siswa sudah mengarah ke ranah afektif, kognitif dan psikomotorik. (8) Semua guru yang lulus sertifikasi melalui portofolio dan yang lulus melalui PLPG belum ada yang melakukan penelitian tentang PTK. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Guru akuntansi yang lulus sertifikasi mela-lui portofolio, usaha pengembangan kompetensi profesionalnya sudah cukup baik namun belum maksimal. Kemudian untuk guru yang lulus sertifikasi melalui PLPG, usaha pengembangan kompetensi profesionalnya sudah cukup baik namun belum maksimal. Saran untuk penelitian selanjutnya, sebaiknya (1) peneliti menguji kualitas dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada subjek penelitian, agar indikator-indikator dari variabel penelitian dapat dimunculkan dan data atau informasi yang diperoleh sesuai dengan yang dibutuhkan. (2) Guru sebagai subjek penelitian sebaiknya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peneliti, hendaknya jawaban yang diberikan tidak menyimpang dari pertanyaan yang diajukan, sehingga informasi yang diperoleh menjadi lebih akurat. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah bahwa instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan yang telah dibuat, masih kurang dapat menunjukkan indikator-indikator dari variabel penelitian yang akan diteliti. Sehingga data yang diperoleh masih kurang lengkap.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan penguasaan konsep sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Patuguran I Kecamatan Rejoso Pasuruan / Sustiyah

 

Matematika merupakan salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Rendahnya prestasi belajar matematika salah satu penyebabnya terletak pada daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika masih kurang. Anggapan yang terjadi pada kehidupan masyarakat matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit dan membingungkan, terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan bangun ruang.Peneliti berasumsi bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD anak akan bersemangat dan mengikuti pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun ruang dapat meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan penguasaan konsep sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN. Patuguran I Kec. Rejoso. (2) Peningkatan penguasaan konsep sifat-sifat bangun ruang dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas V SDN. Patuguran I Kec. Rejoso dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN. Patuguran I Kec. Rejoso sebanyak 24 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK Instrumen yang digunakan adalah tes dan lembar observasi. Tehnik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V SDN. Patuguran I. Peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dari nilai rata-rata pre tes dan post tes, pada siklus I meningkat dari 51,6 % menjadi 68,5 %. Sedangkan pada siklus II nilai pre tes dan post tes juga meningkat menjadi 77,8 %. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembelajaran ini adalah: a). Proses Pembelajaran Matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat siswa menjadi lebih berani tampil ke depan kelas dan lebih berani bertanya juga menjawab pertanyaan yang di berikan oleh guru. b). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada sifat -sifat bangun ruang siswa kelas V, telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN. Patuguran I yang ditunjukkan dari nilai rata-rata pada siklus I yaitu 68,5 % menjadi 77,8 %, pada siklus II terjadi peningkatan 9,3%. Juga terjadi peningkatan aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II yaitu:a) kerjasama A= 64,5%, B= 35,3%, dan C= 0%; b) keberanian A= 47,6%, B= 42,3%, C= 9,3%; c) aktivitas A= 70,8%, B= 25%, dan C= 4,1%; d) ketepatan A= 37,5%, B= 30,1%, dan C= 33,3%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) Guru dalam pembelajaran hendaknya memilih pembelajaran yang efektif bagi siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD, agar tujuan belajar matematika tercapai. (2) Sekolah hendaknya mengembangkan penelitian ini pada kelas-kelas lain di SDN Patuguran I secara berkesinambungan. (3) Untuk guru mata pelajaran lain yang memiliki karakteristik materi yang hampir sama dengan matematika, misalnya IPA, juga mencoba melakukan penelitian tindakan ini sebagai upaya peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran yang bersangkutan.

Pengembangan media pembelajaran audiovisual spab mit wechselpraposition (SPION) untuk kelas XII Program Bahasa SMA Islam Kepanjen / Okta Vita Dwi Onny

 

Media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi kepada siswa agar siswa lebih mudah menangkap materi dan dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar. Media audiovisual saat ini dapat dijadikan alternatif bagi guru dalam pembelajaran. Berdasarkan observasi yang dilakukan diketahui bahwa selama ini siswa memiliki kesulitan dalam memahami materi Wechselpräposition. Kesulitan yang dialami siswa adalah membedakan kasus Akkusativ dan kasus Dativ.Pengembangan media audiovisual-SPION ini dilakukan untuk memberikan alternatif media yang dapat membantu oleh guru dalam pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pengembangan yang didukung dengan data kuantitatif untuk mengetahui efektifitas media. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII bahasa SMA Islam Kepanjen. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan 2 instrumen yaitu angket dan tes. Angket diberikan kepada ahli media, ahli materi, guru bidang studi dan siswa. Tes digunakan 2 bentuk tes yaitu Pre test dan Post test. Hasil angket untuk ahli media diperoleh prosentase sebesar 90%, ahli materi sebesar 85%, guru bidang studi sebesar 97% dan siswa sebesar 89,31%. Sedangkan nilai rata-rata untuk Pre test adalah 51,59 dan untuk Post test adalah 72,3. Berdasarkan hasil penelitian dan angket dapat disimpulkan bahwa menurut hasil validitas dari ahli media, ahli materi dan guru bidang studi media ini dapat digunakan dalam pembelajaran sedangkan hasil angket terdapat siswa menunjukkan bahwa media ini dapat memotivasi siswa untuk belajar bahasa Jerman khususnya mengenai Wechselpräposition. Berdasarkan hasil belajar siswa yang dianalisis dengan menggunakan rumus t-test diperoleh hasil bahwa (t) 4,35 lebih besar dari (t) signifikasi 5% 2,179 dan lebih besar (t) signifikasi 1% 2,756. Dalam penggunaan media ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru bidang studi. Saran-saran yang dapat diberikan dalam menggunakan media pembelajaran audiovisual- SPION adalah sebagai berikut. (1) Media audiovisual- SPION dapat menjadi alternatif dalam pembelajaran. (2) Media ini dapat digunakan untuk tema yang lain dengan pengolahan terlebih dahulu. (3) Penggunaan media ini hendaknya diimbangi dengan metode pengajaran yang menarik.

Pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada mata pelajaran IPS bahan kajian sejarah kelas VII di SMPN 3 Kepanjen tahun 2008/2009 / Fajar Setiyawan

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan program pengganti/perbaikan dari kurikulum 2004 (KBK), yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Pelaksanaan KBK di SMPN 3 Kepanjen tahun 2006 yang belum maksimal dilanjutkan dengan pelaksanaan KTSP mulai tahun 2007/2008 sampai sekarang. Dalam pelaksanaannya, sekolah mengadakan pembagian tugas mengajar dengan menyediakan dua orang guru IPS yang jumlah dan disiplin ilmunya belum sesuai dengan rekomendasi pembelajaran terpadu mata pelajaran IPS. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian mengenai bagaimana (1) kesiapan guru dalam pelaksanaan KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (2) pengembangan perangkat pembelajaran KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (3) pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah, dan (4) faktor apa saja yang pendukung dan penghambat pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah. Tujuan penelitian secara umum adalah mendeskripsikan pelaksanaan KTSP pada mata pelajaran IPS bahan kajian sejarah. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) kesiapan guru dalam pelaksanaan KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (2) pengembangan perangkat pembelajaran KTSP IPS pada bahan kajian sejarah, (3) pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah, (4) faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian adalah wakil kepala sekolah bagian kurikulum SMPN 3 Kepanjen, guru mata pelajaran IPS kelas VII SMPN 3 Kepanjen, siswa kelas VII SMPN 3 Kepanjen. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrument) yang melakukan observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru yang kualifikasi dan disiplin ilmunya S-1 geografi IKIP Malang siap melaksanakan KTSP IPS dengan mengikuti berbagai pelatihan yang mendukung seperti, MGMP, MGMPS, seminar, dan workshop yang berkaitan dengan mata pelajaran IPS. Guru mengembangkan perangkat pembelajaran yang telah disediakan oleh tim pengembang kurikulum sekolah dengan melakukan pemetaan KD, analisis alokasi waktu dengan melihat kalender akademik, menyusun promes dan prota, silabus dan RPP. Guru melaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian dengan menyampaikan materi sesuai dengan SK dan KD, serta memperhatikan ii kemungkinan yang akan terjadi pada siswa saat menerima materi. Sedangkan metode yang dipakai adalah metode ceramah dan tanya jawab, karena keduanya dianggap saling melengkapi. Sedangkan media yang digunakan mulai dari buku yang relevan, LKS, dan peta sampai media yang sudah disediakan sekolah seperti TV, DVD, dan OHP. Untuk sumber belajar dengan menggunakan buku yang relevan, LKS, peta. Penilaiannya adalah dengan menggunakan teknik tes tulis, instrumen berupa tes uraian dan pilihan ganda, yaitu 4 soal uraian dan 18 soal pilihan ganda. Faktor pendukung pelaksanaan KTSP dalam pembelajaran IPS bahan kajian sejarah meliputi sosialisasi KTSP, ketersediaan perangkat pembelajaran, adanya BSE, dan fasilitas internet. Sedangkan faktor penghambatnya meliputi belum adanya lembaga pendidikan yang mengeluarkan produk guru khusus untuk mata pelajaran IPS, ketidaksesuaian antara kualifikasi akademik dan disiplin ilmu dengan bahan kajian yang diajarkan. Berdasarkan hasil penelitian hendaknya guru siap melaksanakan KTSP, walaupun untuk disiplin ilmu yang dimilikinya belum sesuai dengan rekomendasi pembelajaran terpadu pada mata pelajaran IPS, yaitu dengan mengikuti berbagai pelatihan yang mendukung pelaksanaan KTSP seperti MGMP, MGMPS, seminar dan workshop. Dengan berbagai pelatihan itu pula, guru diharapkan secara mandiri belajar mengembangkan perangkat pembelajaran, tanpa harus menggantungkan pertangkat pembelajaran yang disediakan oleh sekolah. Hal tersebut perlu diperhatikan untuk memperlancar pelaksanaan daripada KTSP IPS bahan kajian sejarah.

Penggunaan metode silabel untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan di kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Sukhaifa Jum'ati

 

Kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah konsep pembelajaran yang kurang menarik karena guru kurang tepat dalam memilih dan menerapkan metode membaca yang efektif. Media yang digunakan juga belum bervariasi. Selama ini guru hanya menggunakan metode mengeja dan kartu huruf sebagai media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan dengan menggunakan metode silabel. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, yaitu (1) siklus I tema lingkungan, pembelajaran membaca menggunakan metode silabel didukung media pembelajaran berupa kartu suku kata, dan pembelajaran dilaksanakan secara klasikal. (2) siklus II tema budi pekerti, pembelajaran membaca menggunakan metode silabel dengan media kartu suku kata dan pembelajaran dilaksanakan dengan pengorganisasian siswa dalam kelompok kecil (teman sebangku). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah siswa 22 anak. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: penggunaan metode silabel terbukti dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Lemahbang Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan, yaitu nilai siswa meningkat dari nilai rata-rata 70,95 menjadi 80,23 yakni meningkat 13%. Sesuai dengan kriteria yang ditentukan maka peningkatan ini tergolong baik. Penggunaan metode silabel yang didukung media pembelajaran yang relevan juga berdampak pada peningkatan aktivitas dan kreatifitas siswa dalam proses pembelajaran. Saran pada penelitian ini adalah guru hendaknya pandai memiliki metode yang tepat dan efektif dalam melaksanakan pembelajaran membaca permulaan. Guru hendaknya menggunakan metode silabel karena dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa.

Meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan pendekatan cooperative learning tipe STAD di kelas V SDN Pasrepan I Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Shinta Diah Damayanti

 

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh skor nilai rata-rata yang didapat siswa kelas V SDN Pasrepan I pelajaran IPA khususnya pada materi pokok Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungannya yang hanya mencapai nilai 65,61, jauh dari ketuntasan minimum yaitu 70. Hal ini disebabkan karena siswa terhadap materi pembelajaran IPA dan juga metode yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran tidak sesuai serta cenderung masih menggunakan metode ceramah sehingga aktivitas siswa kurang dan siswa hanya sebagai pendengar saja. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan tujuan: 1) meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SDN Pasrepan I pada pembelajaran IPA dengan materi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungannya; 2) meningkatkan penguasaan konsep siswa kelas V SDN Pasrepan I pada pembelajaran IPA dengan materi Penyesuaian Makhluk Hidup dengan Lingkungannya. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Pasrepan I Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah siswa 41 anak. Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari: 1) perencanaan; 2) pelaksanaan tindakan; 3) observasi; dan 4) refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh: 1) hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA meningkat ditandai dengan peningkatan aktivitas siswa dalam kerjasama kelompok, berani dalam mengutarakan pendapat dan tepat dalam menyelesaikan masalah; 2) siswa dalam penguasaan konsep IPA meningkat terbukti dengan diperolehnya skor nilai rata-rata kelas mencapai 79,76 dan kriteria ketuntasan belajar mencapai 90,24%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran tipe STAD pada materi Penyesuaian Makhluk Hidup Terhadap Lingkungan bisa meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan aktivitas siswa dalam kerja kelompok. Saran pada penelitian ini adalah guru dalam pembelajaran IPA hendaknya pandai dalam memilih metode yang tepat dan efektif sesuai dengan materi pembelajaran IPA.

Pengembangan media animasi pada pokok bahasan "Der Artikel" untuk siswa kelas X SMA negeri 6 Malang / Ariani Dian Wulandari

 

Kata kunci: pengembangan, media animasi, artikel Media pembelajaran merupakan salah satu komponen sumber belajar yang turut menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pengembang dengan guru Bahasa Jerman SMAN 6 Malang diketahui bahwa siswa mengalami kebosanan selama mengikuti pelajaran Bahasa Jerman. Oleh sebab itu, sekolah ini membutuhkan suatu media yang menarik dan efektif dalam bentuk animasi interaktif untuk pembelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran dengan pokok bahasan der Artikel untuk siswa kelas X SMAN 6 Malang. Kegiatan pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan dan kegiatan validasi pada ahli media, ahli materi, guru matapelajaran, dan siswa. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah media dapat digunakan dalam pembelajaran dengan sedikit revisi. Menurut ahli media, media sudah cukup valid dengan prosentase sebesar 75%. Ahli materi berpendapat bahwa media cukup valid dengan prosentase sebesar 78,13%. Menurut guru, media valid dengan prosentase sebesar 86,76%. Siswa juga berpendapat bahwa media valid dengan prosentase sebesar 81,43%. Selain itu nilai rata-rata siswa pada lembar latihan sebesar 70,1 dari 34 siswa. Berdasarkan penelitian pengembangan yang telah dilakukan, materi yang disajikan di dalam media ini terbatas dengan pokok bahasan der Artikel, hal ini sangat memungkinkan bagi pengembang selanjutnya untuk mengembangkan media pembelajaran dengan materi yang lebih luas dan dengan konsep yang lebih menarik.

Pengaruh motivasi kerja terhadap profesionalitas guru melalui kepuasan kerja (di SMK Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang) / Dewi Puspita Sari

 

ABSTRAK Puspita Sari, Dewi. 2009. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Profesionalitas Guru Melalui Kepuasan Kerja (Di SMK Negeri 1 Turen Kabupaten Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen S1 Pendidikan Adminstrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si, (II) Drs. Sarbini Kata kunci : Motivasi Kerja, Profesionalitas Guru, Kepuasan Kerja Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia, pendidikan amat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan guna meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Berdasarkan beberapa fenomena telah memperlihatkan bahwa kondisi dunia pendidikan saat ini di tanah air memang masih jauh dari yang kita harapkan. Perlu sebuah upaya kerja keras tanpa henti dengan melibatkan seluruh stakeholders, agar dunia pendidikan kita benar-benar bangkit dari keterpurukan untuk mengejar ketertinggalannya sehingga mampu berkompetisi secara terhormat dalam era globalisasi yang semakin menguat. Oleh sebab itu reformasi pendidikan, dimana salah satu issu utamanya adalah peningkatan profesionalitas guru merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam mencapai pendidikan yang lebih berkualitas. Oleh karena itu peningkatan profesionalitas guru memang sangat perlu diperhatikan oleh semua pihak. Pada dasarnya profesionalitas guru dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor motivasi dan kepuasan kerja. Profesionalitas guru mengacu pada tingkah laku saat mengajar di kelas. Motivasi akan timbul dalam diri guru apabila ada perhatian, kesesuaian, kepercayaan dan kepuasan yang diberikan kepala sekolah, yang kemudian akan dapat meningkatkan profesionalitas. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory research. Populasi yang dipilih adalah adalah seluruh guru di SMK Negeri 1 Turen yang berjumlah 74 guru. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel bertujuan (purposive sampling) dengan sampel sebanyak 62 responden dan menggunakan unsur kelonggaran ketelitian sebesar  = 5%, metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan metode path analysis (Analysis Path). Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1)Guru di SMK Negeri 1 Turen memiliki tingkat motivasi kerja yang tinggi. 2)Guru di SMK Negeri 1 Turen memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi. 3)Guru di SMK Negeri 1 Turen memiliki tingkat profesionalitas guru adalah sangat tinggi/ baik. 4)Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara motivasi kerja terhadap kepuasan kerja pada guru SMK Negeri 1 Turen . 5)Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara motivasi kerja terhadap profesionalitas guru di SMK Negeri 1 Turen .6)Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara kepuasan kerja terhadap profesionalitas guru di SMK Negeri 1 Turen.7)Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara motivasi kerja terhadap profesionalitas guru melalui variabel kepuasan kerja di SMK Negeri 1 Turen. Maka saran yang dapat disampaikan peneliti adalah: 1) Kondisi motivasi kerja di SMK Negeri 1 Turen dikategorikan tinggi. Oleh karena itu, kepala sekolah diharapkan harus dapat mempertahankan dan meningkatkan lagi kondisi tersebut. Karena terbukti motivasi memiliki pengaruh positif terhadap profesionalitas. 2)Guru perlu berpikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya guru harus melakukan pengayaan dan pembaruan di bidang ilmu, pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya secara terus menerus. 3)Guru harus paham dan melakukan penelitian-penelitian guna mendukung efektifitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak dengan praktek pengajaran yang menurut asumsinya sudah efektif. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian dapat memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peranan manajemen hubungan masyarakat dalam pemanfaatan sumber belajar: studi kasus di SD Islam Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo / Ayu Rizki Amalya

 

SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo merupakan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdhatul Ulama (NU) Taman Pendidikan Qur’an (TPQ)/Diniyah yang terbilang baru. Berdiri pada Tahun 2002 dan bernaung di bawah Yayasan Sabilil Huda. Pada Tanggal 24 Maret 2003 dikeluarkan Surat Keputusan (SK) dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo dengan Nomor: 642.2/246/104.314/2003 tentang Izin Pendirian dan Penyelenggaraan Sekolah Dasar Islam “Sabilil Huda“, kemudian pada Tanggal 17 Desember 2007, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia melalui Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-SM) menetapkan SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo dengan Nomor Induk Sekolah (NIS) 101050203013 telah berhasil memperoleh akreditasi dengan peringkat A. SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo memberlakukan jam sekolah secara penuh (full day school) mulai jam 06.30-15.00 WIB, setelah pada tahun pelajaran 2003/2004 sekolah mengadakan studi komparatif ke SDI Sabilillah Malang. Berkaitan dengan hal tersebut, maka manajemen humas sangat diperlukan dalam hal sosialisasi dan kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat, sehingga pada tahun pelajaran 2007/2008 kepala sekolah mengangkat Wakasek Humas untuk menangani segala operasional hubungan dan kerjasama antara sekolah dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan sumber belajar melalui manajemen humas yang meliputi: (1) Program-program kepala sekolah dan Wakasek Humas dalam pelaksanaan manajemen humas di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo; (2) Pemanfaatan sumber belajar dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo; (3) Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo; (4) Peranan manajemen humas dalam pemanfaatan sumber belajar di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo. Penelitian ini dilakukan di SDI Sabilil Huda Sumorame Candi Sidoarjo, Jalan Singokarso Nomor 54 Sumorame Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo, mulai Tanggal 3 Januari 2009, 20 Mei 2009 sampai 22 Juli 2009. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus yang digunakan adalah studi kasus observasional (observational case studies). Pada penelitian ini, peneliti merupakan instrumen kunci. Kehadiran peneliti di lapangan diperlukan sebagai alat pengumpul data utama. Adapun sumber data berupa orang/person meliputi kepala sekolah, Wakasek Humas, Wakasek Kurikulum, petugas perpustakaan, Kepala Bagian (Kabag) Tata Usaha (TU), guru dan siswa. Metode pengumpulan data dalam Penelitian ini menggunakan tiga teknik, yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang meliputi tiga langkah, yaitu reduksi data, display/penyajian data, dan verifikasi data/penarikkan kesimpulan. Pengecekan keabsahan datanya dilakukan dengan tiga cara, yaitu ketekunan pengamatan, triangulasi, dan kecukupan referensial. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Program kerja tahunan kepala sekolah dalam bidang manajemen humas terdiri dari kegiatan-kegiatan operasional: (a) pertemuan dengan komite sekolah, (b) rapat pengurus, (c) rapat pleno, dan (d) konsultasi dengan instansi. Program-program tersebut disusun oleh kepala sekolah. Sedangkan Wakasek Humas adalah pihak yang dipercaya sebagai penanggungjawab dan diberikan wewenang untuk melaksanakan program-program tersebut serta segala kegiatan yang berhubungan dengan pihak luar. Wakasek Humas membawahi masyarakat atau wali murid, siswa dan guru, yang terdiri dari wakil bagian kesehatan, wakil penjaga sekolah dan bagian keamanan/satpam; (2) Pemanfaatan sumber belajar di sekolah berupa pemanfaatan lingkungan untuk kepentingan KBM; (3) Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar meliputi penyelenggaraan studi pariwisata dan pemanfaatan lingkungan sekitar sekolah; dan (4) Pemanfaatan sumber belajar di sekolah semuanya dapat dikelola melalui manajemen humas. Kegiatannya meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Berdasarkan kesimpulan penelitian, disarankan kepada: (1) kepala sekolah untuk menetapkan program kerja yang efektif, tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa kini dan masa yang akan datang serta dapat mengambil segala keputusan dengan tepat. Kepala sekolah juga dapat memberikan pengarahan, masukan, serta kritik yang bersifat membangun kepada para guru untuk terus meningkatkan kinerjanya terkait dengan KBM di sekolah. Salah satunya dengan mendukung, mengupayakan, dan mengembangkan pemanfaatan berbagai sumber belajar, baik yang berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah serta mengajak orangtua siswa berpartisipasi secara langsung dalam KBM di sekolah, terutama sebagai sumber belajar bagi siswa; (2) Wakasek Humas disarankan untuk memperluas saluran komunikasi dan rekan kerja melalui kerjasama dan hubungan dengan berbagai pihak di luar sekolah serta menyatukan pihak-pihak di dalam dan di luar sekolah; (3) Guru disarankan untuk lebih menggali ide, kreativitas, dan metode mengajar yang bervariasi dan konstruktif serta berbasis masyarakat. Guru dapat menggunakan berbagai sumber belajar, baik yang berada di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah; (4) Orangtua siswa disarankan untuk berpartisipasi secara langsung dalam KBM. Salah satunya menjadi sumber belajar bagi siswa; dan (5) Peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan objek yang sama tetapi dengan pendekatan dan subjek yang berbeda, sehingga dapat diketahui perbandingan diantara keduanya serta dapat melengkapi penelitian-penelitian sebelumnya.

Keterbacaan teks bahasa Jerman dalam mata kuliah Arbeit Am Text I dan Arbeit An Text II tahun akademik 2008/2009 / Rischa Noviya Masruroh

 

Pengajaran bahasa Jerman yang ada di Indonesia, terutama di Universitas Negeri Malang menggunakan metode pengajaran komunikatif. Dalam pengajaran bahasa Jerman ada empat macam keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Empat keterampilan itu adalah mendengar (Hören), berbicara (Sprechen), membaca (Lesen), dan menulis (Schreiben). Salah satu mata kulaih yang mengajarkan keterampilan membaca adalah Arbeit am Text I dan Arbeit am Text II. Materi pembelajaran dalam Mata kuliah Arbeit am Text I dan Arbeit am Text II berupa teks-teks berbahasa Jerman. Untuk mengetahui kesesuaian teks dengan kemampuan membaca mahasiswa, dapat dilakukan dengan mengukur tingkat keterbacaan teks. Keterbacaan merupakan aspek yang sangat penting, baik bagi dosen maupun bagi mahasiswa. Bacaan yang memiliki tingkat keterbacaan yang baik akan memengaruhi pembacanya dalam meningkatkan minat belajar dan daya ingat, menambah kecepatan dan efisiensi membaca, dan memelihara kebiasaan membacanya. Fokus pada penelitian ini adalah bagaimanakah tingkat keterbacaan teks-teks bahasa Jerman yang digunakan dalam mata kuliah Arbeit am Text I dan II. Dalam penelitian ini digunakan formula Lix (Lesbarkeitindex) yang dikembangkan oleh Björnsson (1968) karena formula ini dianggap paling valid jika digunakan untuk teks bahasa Jerman dan formula ini juga lebih cepat pemakaiannya karena tidak perlu menghitung suku kata. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa keterbacaan teks dalam mata kuliah Arbeit am Text I dan Arbeit am Text II bervariasi mulai dari sangat mudah hingga sangat sukar. Berdasarkan temuan tersebut disarankan kepada dosen untuk memanfaatkan temuan penelitian dengan menata dan memilih teks yang sesuai dengan daya serap mahasiswa. Dosen juga disarankan untuk menggunakan strategi mengajar dan belajar membaca yang tepat. Selain itu, disarankan bagi para peneliti lanjutan agar menjangkau subjek penelitian yang lebih besar dan tidak terbatas hanya pada teks-teks bahasa Jerman dalam mata kuliah Arbeit am Text, serta menggunakan alat ukur yang lebih baik.

Penyimpangan nilai edukatif dalam komik Donal Bebek / Ika Karina

 

penyimpangan nilai edukatif, komik, komik Donal Bebek. Buku bacaan anak yang baik adalah buku bacaan yang mampu menyampaikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai edukatif sehingga menjadi panutan atau pedoman bagi anak-anak. Komik merupakan salah satu bacaan anak. Salah satu komik di Indonesia adalah komik Donal Bebek atau yang biasa disebut dengan komik DB. Komik DB menceritakan kehidupan tokoh bernama Donal Bebek dan tokoh-tokoh lain di sekitar Donal Bebek. Komik DB sangat sedikit memuat nilai edukatif. Cerita dalam komik DB sangat lucu dan menghibur tetapi banyak mengandung penyimpangan terhadap nilai-nilai edukatif. Pembaca tidak menyadari adanya cukup banyak penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB, karena aspek humor yang menyimpang dari nilai edukatif dalam cerita mampu mengalahkan nilai edukatif yang seharusnya dominan lebih dimunculkan. Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah bentuk-bentuk penyimpangan terhadap nilai-nilai edukatif yang dilihat dari aspek kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor dalam komik DB. Kemampuan dalam aspek kognitif meliputi, kemampuan mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kemampuan dalam aspek afektif meliputi, kemampuan menerima, menanggapi, menghargai, membentuk, dan berpribadi. Sementara itu, kemampuan dalam aspek psikomotorik, meliputi, kemampuan persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian, dan kreativitas.Tujuan penelitian ini adalah memperoleh deskripsi penyimpangan nilai-nilai edukatif dalam komik DB yang dilihat dari penyimpangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang menghasilkan data-data deskriptif berupa kata-kata dialog, monolog, lakuan tokoh dan gambar yang disertai dengan deskripsi peristiwa yang terdapat dalam komik DB. Jumlah komik yang dijadikan sumber data adalah 22 cerita dari 26 edisi yang terbit pada rentang waktu Januari 2003 sampai tahun 2005. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai penentu dalam proses pengumpulan dan penganalisisan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi, (a) peneliti membaca secara cermat dan teliti komik DB, (b) peneliti mencari untuk menemukan bagian-bagian tertentu yang berhubungan dengan penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB, (c) peneliti mencatat paparan kebahasaan yang berhubungan dengan penyimpangan nilai edukatif, (d) peneliti mengidentifikasi penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB. Sedangkan langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini meliputi, (a) pengecekan data, pada tahap pengecekan data, data yang sesuai dengan tujuan penelitian akan dimasukkan pada tabel korpus data, (b) pengklasifikasi data, data dipilah-pilah dan diklasifikasi sesuai dengan indikator penyimpangan nilai-nilai edukatif yang terdapat pada tabel panduan pengamatan data penyimpangan nilai edukatif, (c) penganalisaan data, data yang telah terkumpul dianalisis sesuai dengan masalah yang diteliti. (d) pendeskripsi hasil analisis data, data yang telah terkumpul ditafsirkan kemudian dideskripsikan dalam bentuk paparan kebahasaan sebagai hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komik DB mengandung penyimpangan terhadap nilai-nilai edukatif yang tergambar dari dialog tokoh, lakuan tokoh dan gambar yang disertai dengan deskripsi peristiwa. Dari 22 sumber data yang diteliti, terdapat 15 sumber data yang mengandung penyimpangan nilai edukatif dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Jumlah keseluruhan penyimpangan dari 15 sumber data yang dianalisis ditemukan 20 penyimpangan nilai edukatif dalam komik DB. Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam komik DB tersebut menimbulkan kelucuan yang membuat cerita komik DB menjadi lebih menarik.

Penerapan metode pembelajaran model permainan tembok kata untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar mata pelajaran IPS kajian sejarah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar tahun pelajaran 2008/2009 / Tatang Kurniawan

 

Pembelajaran sejarah di SMP masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dan tanya jawab serta pusat pembelajaraan di kelas masih dipegang oleh guru secara mutlak (teacher centered). Sejarah sebagai salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Sosial pada saat ini mendapat berbagai hambatan dalam proses pengajarannya. Hambatan dalam proses pengajaran itu berasal dari berbagai faktor antara lain guru sebagai pengajar, metode yang digunakan guru dalam proses pembelajaran, motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, serta sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran itu. Keadaan itu semakin diperburuk dengan rendahnya minat baca anak didik terhadap buku pelajaran. SMPN I Panggung Rejo sebagai salah satu sekolah favorit juga tidak lepas dari masalah yang cukup mendasar ini. Siswa di kelas VII D SMPN I Panggung Rejo mayoritas memiliki motivasi yang kurang dalam mengikuti pelajaran IPS khususnya Sejarah. Hal ini ditandai dengan sikap siswa yang kurang serius dalam mengikuti pelajaran IPS Sejarah seperti tidak semua siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, tidak semua siswa memperhatikan ketika guru sedang menyampaikan materi pelajaran di depan kelas, sebagian besar siswa tidak mau mendengarkan pendapat dari temannya, sebagian besar siswa ramai sendiri saat pelajaran berlangsung, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, siswa lebih suka duduk mendengarkan dan berbicara sendiri dengan temannya. Keadaan tersebut membuat siswa kurang mampu dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajarnya, terutama untuk mata pelajaran IPS Sejarah. Berdasarkan permasalahan diatas, peneliti berusaha memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo dengan menerapkan metode pembelajaran model permainan tembok kata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar Sejarah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar melalui penerapan metode pembelajaran model permainan tembok kata. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar yang berjumlah 40 siswa orang siswa. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa yang diperoleh melalui observasi selama penelitian dan hasil belajar siswa yang diperoleh melalui tes pada akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode pembelajaran model permainan tembok kata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Sejarah siswa kelas VII D SMPN I Panggung Rejo Kabupaten Blitar. Hal ini terlihat dari peningkatan motivasi belajar siswa. Pada masa observasi, motivasi belajar siswa sebesar 48,14% yang termasuk dalam kategori kurang, meningkat menjadi 65,63% yang termasuk dalam kategori cukup pada siklus I. Kemudian pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 75,15% yang termasuk ke dalam kategori baik. Sedangkan rata-rata hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari 64,2 pada masa observasi, meningkat menjadi 71,25 pada siklus I dan menjadi 80,5 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk dilakukan penelitian yang lebih lanjut, dan disarankan agar penelitian dilakukan di kelas dan pokok bahasan yang lain, serta guru disarankan lebih banyak memberikan reinforcement atau penguatan (seperti memberikan pujian atau penghargaan) kepada siswa sehingga siswa akan lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.

Improving student's comprehension in reading English narrative texts through jigsaw II strategy at SMP Negeri 5 Malang / Susilowati

 

ABSTRACT Susilowati, 2009. Improving Students’ Comprehension in Reading English Narrative Texts through Jigsaw II Strategy at SMP Negeri 5 Malang. Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Arwijati Wahyudi Murdibjono, Dipl. TESL, M.Pd, (II) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D Key Words: Comprehension, Narrative Text, Jigsaw II Strategy The study was carried out in Grade 8G of SMP Negeri 5 Malang. With regard to the teaching of reading in this grade, the teacher’s teaching strategy was focused on students’ competitiveness where the students were assisted to work individually. Only certain students who engaged to the lessons during teaching learning activities. Most of the students felt scared and did not have enough confidence to participate in the classroom. With regard to the Grade 8G students’ reading test result of narrative texts, more than half of the students got scores under the minimum passing score of SMP Negeri 5 Malang (KKM) which was 75. In relation to the problems above, this study developed Jigsaw II Strategy to help the Grade 8G students in comprehending the narrative texts. In the implementation of Jigsaw II Strategy, the students worked cooperatively in jigsaw groups as well as expert groups. The students had accessibility to the whole text, but each jigsaw student was assigned a different element of the text. The division of the element of the text was based on the generic structures of the narrative text: Orientation, Complication, and Resolution. The students taught one another in their jigsaw groups; and discussed and shared ideas or information in the expert groups. The subjects of the study were 36 students of Grade 8G. The criteria of success of the study were: (1) The students participated actively during the implementation of Jigsaw II Strategy. The minimum score of the students’ participation obtained from the observation sheet was above 60 which meant that half of the students participated in every step of Jigsaw II Strategy; (2) The students’ mean score of reading test was equal to or above 75; (3) More than 60 percent of the students got score that equals to or above 75. The design of the study was Classroom Action Research. The study was carried out in two cycles. Cycle 1 was carried out in four meetings and Cycle 2 was in three meetings. In relation to the findings of Cycle 1, the score of the students’ participation obtained from the observation sheet was 60, the students’ mean score of reading test was 68, and there were 9 students or 25% of the students got score above 75. With regard to these findings, the researcher concluded that the criteria of the study had not been achieved yet. Then, the researcher proposed the new lesson plans and carried them out in Cycle 2. The findings of Cycle 2 showed the score of the students’ participation obtained from the observation sheet was 73, the students’ mean score was 82.5, and 32 students or 89% of the students got score above 75. With regard to these findings, the researcher concluded that criteria of success defined in the study were achieved and the study was stopped. It can be stated that, the best ways to implement the Jigsaw II Strategy are as follows: (1) The teacher activates the students’ schemata about the generic structures of the narrative text; (2) The teacher explains the procedure of the Jigsaw II Strategy; (3) The teacher describes the students’ role in jigsaw group as well as expert group; (4) The teacher distributes the text and asks the students to read the whole text individually and silently; (5) The teacher asks some students to read aloud the text, discuss the difficult words as well as the content of the text; (6) The teacher distributes Discussion Schemes 1, (7) the students do Presentation 1 in their jigsaw groups; (8) The student group themselves into their expert groups; (9) The teacher distributes Discussion Schemes 2 which functions to write the expert group discussion result; (10) The students do Presentation 2 in their expert groups; (11) The teacher asks the students to regroup themselves into their jigsaw groups; (12) The students do Presentation 3 in their jigsaw groups; (13) The teacher asks the jigsaw groups to discuss the gathered information; (14) The students do Presentation 4 to the class; (15) The teacher test the students’ comprehension; and (16) The teacher determines the students’ scores. The researcher suggests that the English teachers of SMP Negeri 5 Malang use Jigsaw II Strategy as an alternative teaching strategy to help the students comprehend narrative texts. The teacher should prepare well the teaching material and media. The teacher should deliver the instructions clearly and make sure that the students understand what they have to do in every step of Jigsaw II Strategy. She also suggests that the result of the study can be used as a relevant reference concerning the implementation of Jigsaw strategy.

Penggunaan model problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam memecahkan soal-soal cerita pada mata pelajaran matematika kelas I SDN Nguling 01 Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Laila Triwahyuningsih

 

Belajar matematika bukan hanya berhadapan dengan teori dan konsep saja. Melainkan harus melakukan sesuatu, mengetahui dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan pembelajaran. Berdasarkan studi pendahuluan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan materi pokok soal cerita 75% nilai siswa di bawah standar ketuntasan belajar 65. Rendahnya nilai siswa disebabkan pembelajaran kurang bervariasi sehingga peneliti membuat pembelajaran supaya lebih menarik. Kondisi tersebut menyebabkan konsep yang diajarkan tidak dapat dicerna oleh siswa. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan masalah soal-soal cerita mata pelajaran matematika, maka digunakan model pembelajaran PBL. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penggunaan PBL untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan masalah soal-soal cerita mata pelajaran matematika, (2) penggunaan PBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan soal-soal cerita mata pelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I sebanyak 21 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi dan tes. Teknik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan PBL untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 dalam memecahkan masalah soal-soal cerita mata pelajaran matematika dilakukan dengan langkah-langkah: mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing pemecahan masalah, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Penggunaan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas I SDN Nguling 01 Kecamatan Nguling. Hal ini terbukti bahwa rata-rata nilai hasil belajar siswa pada pratindakan adalah 58 (cukup) dan pada siklus I rata-rata nilai hasil belajar siswa meningkat menjadi 67,3 (baik). Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II meningkat menjadi 80,3 (baik sekali) Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: (1) kepala sekolah hendaknya meningkatkan layanan fasilitas pembelajaran di SD, (2) guru hendaknya menggunakan PBL untuk meningkatkan pemahaman konsep materi pelajaran matematika tentang soal cerita, (3) Peneliti selanjutnya dalam mengadakan penelitian hendaknya meneliti hal lain yang berkaitan dengan model pembelajaran matematika selain PBL ( Problem Based Learning). Misalnya model pembelajaran Berbasis proyek/tugas, pembelajaran berbasis kerja, pembelajaran berbasis jasa layanan.

Penerapan pendekatan keterampilan proses untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VI SDN Tampung II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan / Katiyo

 

IPA merupakan mata pelajaran untuk mengembangkan pengetahuan, konsep-konsep, keterampilan dasar, terpadu , dan nilai ilmiah pada siswa serta mencintai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Penelitian ini dilatar belakangi oleh guru-guru hanya menggunakan metode ceramah, maka perlu adanya inovasi dalam pembelajaran. Melalui penerapan PKP dalam pembelajaran dapat mengajak siswa lebih aktif, terlibat langsung, dan saling kerjasama dengan temannya. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1) Mendeskripsikan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA melalui PKP, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPA melalui PKP, 3) Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA melalui PKP , 4) Mendeskripsikan tanggapan guru terhadap pembelajaran IPA melalui PKP, dan 5) Mendekrisikan tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPA melalui PKP siswa kelas VI SDN Tampung II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan pada materi pokok “rangkaian listrik” Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 (dua) siklus. Rancangan penelitian melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah guru dan 24 siwa kelas VI SDN Tampung II. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan tes. Instrument yang digunakan adalah: lembar observasi Guru (APKG), postes, dan pedoman wawancara. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa: 1) Pada pembelajaran IPA siklus I dengan penerapan PKP, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajarn sesuai dengan RPP mencapai skor 84,4 dengan prosentase 84,4%, dan sikus II mencapai skor 96,87 dengan prosentase 96,87%, 2) Hasil belajar pada pra tindakan mendapat rata-rata kelas 60.42 dengan ketuntasan belajar 25% menjadi 74.16 dengan ketuntasan belajar 75% pada siklus I. Kemudian mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 82.5 dengan ketuntasan belajar siswa 87.5%, 3) Aktivitas Siswa pada siklus I 72,61, meningkat menjadi 82,08 pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian melalui model PKP adalah: guru dapat melaksanakan dengan baik, dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dapat meniningkatkan aktivitas siswa , mendapat tanggapan yang menarik (positif) dari guru, dan mendapat tanggapan yang menyenangkan \dari siswa. Penelti menyarankan kepada guru agar dapat menerapkan model embelajaranPKP pada pembelajaran IPA dengan kompetensi dasar lain ataupun mata pelajaran lainnya. Alokasi waktu perlu diperhatikan agar siswa dapat berhasil mengembangkan potensi diri dengan baik

Developing prototype of lustening materials for grade XII students of Madrasah Aliyah Negeri Jombang / Syamsul Ma'arif

 

The objective of this study was to develop a prototype of listening materials for Grade XII students in the first semester. The procedures of the study were conducting needs survey, developing materials, experts’ and teacher’s validation, revision, trying out the materials, revision, and getting the final product. The instruments in needs survey were questionnaires, an interview guide, and field notes. The result of the needs survey showed that they did not have enough practice for listening comprehension. Most of the students (97.1%) agreed that it was necessary to provide them with listening materials. Based on those findings, the listening materials were developed. There were 9 units for the proposed listening materials. Then the proposed materials were sent to the experts and the English teacher to be validated and evaluated. A validation form was used to gain the experts and teacher judgment on the materials. The experts and the teachers validated them on the basis of language, content, length, speeds of delivery, quality of the recording, and the practicality. The data from the experts and teachers were analyzed qualitatively. The experts’ and teacher’s validation showed that eight units were acceptable and applicable except unit 1. An expert and the teacher considered it too easy. Therefore, this unit then was deleted. A review unit was added as the suggestion of the teacher. The try out was conducted from March 4, 2008 to March 28, 2008. The subject was Grade XII students of Language Program at MAN Jombang. The data from the teacher and observation related to the practicality and effectiveness during try-out were presented qualitatively. The data from the students related to language, content, length, and speeds of delivery and the clarity of the recording were analyzed quantitatively using percentage. The result of the first try out showed that only one unit namely unit 5 needed revising in terms of task. The revision was done by adding written questions and task B was changed from making a summary into arranging the jumble paragraphs based on the oral information. Then, the revised units were tried out. The result of the second try out showed that the revised unit was appropriate for the students. The final product was in the form of Audio CD and Cassette, a teacher guide book, and a student workbook. The CD and Cassette contain the materials to be listened to by the students. The teacher guide contains the direction of how to teach the materials, the stages in teaching listening, the tape scripts and the answers key. The student workbook contains the tasks which have to be done by the students. For other researchers who are doing a similar study was suggested to develop listening materials for Grades X and XI. For English teachers who are going to use this product was suggested to follow the guide book and vary the expansion activities.

A proposed speaking class syllabus for the intensive English course for the first-year students at State Institute of Islamic Studies (IAIN) Antasari Banjarmasin / Raida Asfihana

 

Hasil dari survey pendahuluan yang dilakukan di institusi ini menunjukkan bahwa tidak ada silabus tertentu yang dapat dipakai untuk mengajarkan bahasa Inggris; para dosen hanya mengikuti panduan yang disajikan di buku teks, yang ruang lingkupnya adalah bahasa Inggris umum. Selanjutnya dapat dicermati bahwa panduan tersebut tidaklah memadai untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam hal konten keIslaman dan efisiensi pedagogisnya. Berangkat dari masalah diatas, muncullah suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi akan perancangan sebuah silabus untuk mahasiswa di institusi Islam ini. Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah silabus yang sesuai untuk mengajarkan keterampilan berbicara kepada mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Prosedur penelitian pengembangan dipakai di dalam penelitian ini. Model pengembangan silabusnya merupakan perpaduan dari Pengembangan Program Bahasa oleh Yalden (1987) dan tahap-tahap penelitian pengembangan oleh Borg and Gall (1983). Prosedurnya melingkupi sembilan tahap pengembangan, yaitu: (1) analisa kebutuhan, (2) perencanaan, termasuk didalamnya deskripsi tujuan pengembangan dan pemilihan tipe silabus, (3) pembuatan silabus purwa-rupa, (4) validasi ahli terhadap silabus purwa-rupa, (5) pembuatan silabus pedagogis, (6) uji coba, (7) revisi produk akhir, (8) evaluasi (validasi ahli terhadap produk akhir yang telah direvisi), dan (9) produk akhir. Produk akhir dari penelitian pengembangan ini berupa sebuah Speaking for Islamic Studies silabus untuk pengajaran bahasa Inggris, terutama keterampilan berbicara, di kelas Intensive English tahap B di IAIN Antasari Banjarmasin. Silabus komunikatif berbasis genre ini terutama berisi gambaran singkat mata kuliah, tujuan pengajaran, pemilihan topik dan sub-topik, dan sistem evaluasi. Silabus yang dirancang untuk mata kuliah ini mengacu kepada empat jenis teks (genre); antara lain penceritaan, narasi, pelaporan informasi, dan ekposisi. Karena fungsi bahasa dalam silabus ini berbasis genre, maka keterampilan yang dilatih melingkupi keterampilan dasar berbicara yang dipadukan dengan fitur-fitur gramatikal dari jenis teks tersebut, seperti bentuk waktu kini dan lampau, kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, dan kata penghubung. Lebih lanjut, mata kuliah ini juga menyajikan keterampilan berbicara dalam bertukar peran percakapan, bekerja berpasangan, penceritaan kembali, penyajian presentasi singkat, dan melakukan diskusi kelompok kecil dan diskusi panel. Silabus ini berisi empat topik utama yang kemudian di rinci lagi menjadi sepuluh sub topik yang berkaitan dengan kepercayaan dan praktik-praktik budaya Islam. Empat model rencana pengajaran, yang telah diuji-cobakan secara empiris dalam tahap uji coba, juga tersedia didalamnya. Selain itu, akan mudah bagi para pemakai silabus ini untuk membuat rencana dan materi pengajaran lainnya dikarenakan format dari rancangan silabus ini, yang telah divalidasi oleh dua orang ahli, mudah untuk ditafsirkan. Berdasarkan temuan studi ini, disarankan kepada para dosen pengajar bahasa Inggris dan peneliti lain untuk merancang silabus keterampilan berbahasa Inggris lainnya yang berkaitan dengan studi Islam dikarenakan silabus yang baru dirancang ini mungkin perlu dievaluasi dan direvisi secara kontinyu sebagai akibat dari penerapannya dalam aktivitas pengajaran di kelas. Produk dari penelitian ini juga bisa disosialisasikan melalui diskusi rutin diantara para dosen pengajar mata kuliah bahasa Inggris, seminar lokal dan internasional, pertemuan-pertemuan profesional dengan para ahli di bidang pengembangan produk dan melalui tulisan dalam jurnal. Kegiatan ini akan sangat membantu dalam usaha menjaga kualitas dari produk akhir penelitian ini. Sehingga produk akhir dari penelitian pengembangan ini akan berhasil mengakomodir kebutuhan pembelajar dalam menguasai keterampilan berbicara bahasa Inggris dalam konteks studi Islam, khususnya para mahasiswa di IAIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Analisis dekonstruksi derrida terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini / Ninik Mardiana

 

Membaca karya-karya Rusmini, akan ditemukan beragam permasalahan lokalitas Bali. Konflik dalam sistem stratifikasi sosial Bali merupakan permasalahan yang intens dihadirkan oleh Rusmini. Sistem stratifikasi sosial tersebut dikritisi sedemikian rupa melalui alur cerita yang menarik. Masalah yang dianalisis dalam penelitian ini adalah (1)bagaimanakah representasi dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini, (2) bagaimanakah makna dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dalam karya-karya Oka Rusmini. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi, dengan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan dekonstruksi menekankan pada jejak-jejak tanda yang terdapat dalam naskah, dan tidak menghubungkan antara sastra dan masyarakat atau latar belakang penulisnya. Sumber data penelitian adalah novel Tarian Bumi, cerpen Sagra, cerpen Pemahat Abad, cerpen Putu Menolong Tuhan. Data penelitian berupa pikiran, tindakan tokoh, dialog, monolog, narasi dan deskripsi. Data dianalisis menggunakan analisis unsur instrinsik, dengan langkah sebagai berikut; membaca retroaktif, pereduksian data, penyajian data berdasar kategori, penafsiran dekonstruksi, penyimpulan data. Simpulan-simpulan pada penelitian ini yaitu; representasi dekonstruksi terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dapat dilihat dari (1) Pada keseluruhan karya Rusmini, masalah nama tokoh, tidak ditemukan adanya jejak dekonstruksi; (2) Satu dari empat karya Rusmini, yaitu Tarian Bumi, menampakkan jejak usaha untuk tidak menaati aturan panggilan oleh kasta sudra terhadap kasta brahmana, sesuai dengan sistem stratifikasi sosial Bali; (3) Dua dari empat karya Rusmini (Tarian Bumi dan Putu Menolong Tuhan) memaparkan dengan jelas suatu kepercayaan adanya kesialan bila lelaki sudra menikah dengan perempuan bangsawan; (4) Keempat karya Rusmini menampakkan jejak tanda bahwa nilai keprestisiusan kasta brahmana dapat bergeser oleh kekayaan dan pendidikan; (5) Idiom-idiom Bali menunjukkan trace yang mengarah pada differance. Perbedaan dan jarak antara sudra dengan brahmana dapat dirunut dari jejak-jejak idiom Bali, (7) Keberagaman intensitas kemunculan tokoh, mempunyai peran yang sama penting dalam menampakkan permasalahan sistem stratifikasi sosial Bali; (8) Kasta didapat secara turun temurun, bukan seperti yang diajarkan dalam agama Hindu dengan catur warnanya (kasta dilihat dari profesi seseorang). Makna dalam karya-karya Rusmini yaitu karya-karya Rusmini menyiratkan adanya usaha pengkritisan atas keberadaan sistem stratifikasi sosial Bali. Usaha ini akan lebih mudah dan cepat jika dilakukan oleh warga Bali yang memiliki kekuasaan, harta dan pendidikan. Dekonstruksi yang terdapat dalam karya-karya Rusmini cenderung bersifat evolutif. Hal ini dapat dilihat dari minimnya tokoh yang tidak patuh terhadap sistem stratifikasi sosial Bali dibnding dengan tokoh yang patuh terhadap sistem stratifikasi sosial Bali. Proses penurunan konstruk sistem stratifikasi Bali tidak bersifat destruktif, karena konstruk lama masih berjalan dan berdiri.

Manifestasi tindak tutur pembelajaran among dalam wacana kelas / Heri Suwignyo

 

Dalam praktik atau pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia saat ini, sis-tem among diakui keberadaan dan kontinuitasnya. Pencantuman semboyan Tut Wuri Handayani dalam logo Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) adalah bentuk formal pengakuan pemerintah terhadap sistem among, yakni Tut Wuri Handayani sebagai ‘ideologi’ dalam pendidikan nasional (Djojonegoro, l996:41-43). Makna ideologi terentang dari ujung yang paling netral, sampai kepada konsep-konsep yang memihak. Konsep ideologi dalam konteks ini relevan dengan konsep yang netral, yakni sebagai sistem ide atau pandangan dunia atau word view, atau pelembagaan gagasan yang diartikulasikan oleh komunitas tertentu (Wareing, l999; Beard, 2000)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli hidangan di rumah makan Padang Arau Indah Malang / Lellya Iriana Nur Makhmuda

 

Perkembangan dan kemajuan perekonomian saat ini memunculkan persaingan di dalam dunia usaha. Pengusaha di tuntut agar usahanya dapat bersaing dan mampu bertahan hidup dipasaran khususnya tentang kuliner, yaitu hasil olahan setiap daerah yang berupa masakan. Masakan tersebut berupa makanan, jajanan dan minuman. Mengingat meningkatnya aktivitas masyarakat di luar rumah serta berbagai hal yang mengakibatkan keadaan tertentu yang menambah alasan untuk makan di luar, maka rumah makan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan makan dan minum, dan menentukan pilihan hidangan apa saja yang diinginkan tanpa perlu susah payah memasak sendiri. Perilaku konsumen adalah suatu sikap pembeli yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis. Penelitian ini bertujuan:(1)untuk mendeskripsikan pengaruh variabel budaya terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah (2)untuk mendeskripsikan pengaruh variabel sosial terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah (3)untuk mendeskripsikan pengaruh variabel pribadi terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah (4) untuk mendeskripsikan pengaruh variabel psikologis terhadap perilaku konsumen dalam membeli hidangan di Rumah Makan Padang Arau Indah dan (5)untuk mengetahui variabel manakah yang dominan mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian di Rumah Makan Padang Arau Indah Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Teknik penarikan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda. Data yang dikumpul adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan metode kuesioner, dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang signifikan variabel budaya, variabel sosial, variabel pribadi dan variabel psikologis baik secara simultan dan parsial (2) variabel psikologis mempunyai pengaruh yang paling dominan dalam konsumen melakukan keputusan pembelian. Berdasarkan hasil dari penelitian ini disarankan kepada rumah makan padang Arau Indah untuk: (1) tetap mempertahankan kualitas masakan, menambah sasaran penjualan untuk paket ulang tahun, pernikahan, catering dan melakukan promosi (2) menghimpun saran dan kritik yang bersifat membangun dari konsumen. Bagi peneliti yang lebih lanjut diharapkan dapat menambah objek penelitian lebih banyak lagi, sehingga kesimpulan yang ditarik dari penelitian yang akan datang jauh akan lebih sempurna.

Daya antimikroba ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah dan varietas emprit terhadap kapang Penicillium citrinum Thom. / M. Ainur Yaqin

 

ABSTRAK Yaqin, M. Ainur. 2009. Daya Antimikroba Ekstrak Rimpang Jahe (Zingiber officinale Rosc) Varietas Merah dan Varietas Emprit terhadap Kapang Penicillium citrinum Thom. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si. Kata kunci: Ekstrak, rimpang jahe, daya antimikroba, Penicillium citrinum Thom. Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan tumbuhan yang termasuk dalam family Zingiberaceae. Tumbuhan ini terbagi menjadi 3 varietas, yaitu varietas me- rah, varietas emprit, dan varietas gajah. Jahe varietas merah dan varietas emprit merupakan varietas rimpang jahe yang paling banyak digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai bumbu masak maupun penyedap pada makanan dan minuman. Rimpang jahe mengandung senyawa-senyawa kimia dari golongan fenol (diantaranya adalah gingerol, shogaol, dan zingeron) yang bersifat antimikroba termasuk kapang. Kapang Penicillium citrinum Thom adalah salah satu spesies kapang kontaminan pada biji-bijian seperti beras, jagung, gandum, barley, rey, dan oat (Makfoeld, 1993). Kapang ini mampu menghasilkan mikotoksin yaitu citrinin. Apabila bahan makanan yang terkontaminasi mikotoksin citrinin ini di-konsumsi oleh manusia, maka akan membahayakan kesehatan karena bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui pengaruh perbedaan varietas rimpang jahe (merah dan emprit) terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (2) untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah terhadap pengham-batan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (3) untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas emprit terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (4) untuk mengetahui konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Peni-cillium citrinum Thom, (5) untuk mengetahui konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas emprit yang paling efektif menghambat pertum-buhan kapang Penicillium citrinum Thom. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang mulai bulan November 2008 sampai dengan Februari 2009. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan mengguna-kan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Variabel bebas yang digunakan yaitu: (1) varietas rimpang jahe, meliputi varietas merah dan varietas emprit, (2) konsen-trasi ekstrak rimpang jahe, meliputi 0%, 4%, 5%, 6%, 7%, 8%, 9%, dan 10%. Eks-trak rimpang jahe diperoleh melalui maserasi dengan pelarut alkohol 95% selama 1x24 jam. Ekstrak yang diperoleh kemudian disaring steril menggunakan cellulose nitrate membrane filter dengan diameter pori 0,45 µm yang dipasang pada vacuum flask. Pengujian ekstrak rimpang jahe terhadap kapang Penicillium citrinum Thom dilakukan dengan mencampur ekstrak rimpang jahe dalam berbagai konsentrasi tersebut dengan medium Czapek Agar, kemudian diinokulasikan koloni kapang Penicillium citrinum Thom yang telah dicetak dengan menggunakan bor gabus steril yang berdiameter 6 mm secara aseptik. Perlakuan dalam penelitian ini dilakukan sebanyak 6 kali ulangan. Data diperoleh dengan cara mengukur diameter koloni kapang Penicillium citrinum Thom pada medium Czapek Agar setelah diinkubasi pada suhu 25oC-27oC selama 7x24 jam. Data dianalisis menggunakan analisis varian ganda kemudian dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf signifikansi 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh perbedaan varietas rimpang jahe (varietas merah dan varietas emprit) terhadap penghambatan pertum-buhan kapang Penicillium citrinum Thom. Ekstrak rimpang jahe varietas merah lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom dibandingkan dengan ekstrak rimpang jahe varietas emprit, (2) ada pengaruh per-bedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (3) ada pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas emprit terhadap penghambatan pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom, (4) konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc) varietas merah yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom ialah konsentrasi 10%, (5) konsentrasi ekstrak rimpang jahe (Zingiber offi-cinale Rosc) varietas emprit yang paling efektif menghambat pertumbuhan kapang Penicillium citrinum Thom ialah konsentrasi 10%.

Pemanfaatan media pembelajaran benda kongkrit untuk meningkatkan hasil belajar IPA tentang pesawat sederhana di kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Susmiati

 

Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih dan menetapkan berbagai media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar pada siswa. Hasil observasi awal diketahui bahwa pembelajaran IPA siswa kelas V di SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan belum menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, sehingga sebagian besar siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan belajar individu yang ditetapkanyaitu skor 70. Hasil belajar yang diperoleh pada mata pelajaran IPA semester I tahun ajaran 2008/2009 rata-rata kelasnya hanya 6,2. Berdasarkan hal itu maka media pembelajaran benda kongrit dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran, karena siswa dapat melihat dan mencoba secara langsung media pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran dapat menyenangkan dan meningkatkan aktivitas siswa. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: (1) Untuk mendiskripsikan pemanfaatan media pembelajaran benda kongkrit dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. (2) Untuk mendiskripsikan dampak pemanfaatan media benda kongkrit dalam pembelajaran IPA terhadap aktivitas belajar siswa kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), siklus tindakan ini dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan belajar individu dengan skor 70. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V sebanyak 18 siswa di SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Sedangkan instrument penelitian yang digunakan berupa panduan observasi mengenai : aktivitas siswa dalam pembelajaran, pemanfaatan media pembelajaran benda kongrit, kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, dan soal-soal tes untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan memanfaatkan media pembelajaran benda kongrit. Dari hasil analisis data pada siklus I dan siklus II dalam pembelajaran IPA dengan memanfaatkan media pembelajaran benda kongkrit menunjukkan bahwa : (1) Aktivitas siswa dalam pembelajaran hanya sebagian kecil siswa yaitu 3 siswa(16,6%) yang yang belum mendapatkan kriteria baik dan pada siklus II mengalami peningkatan sebanyak 18 siswa (99,9%) siswa sudah mendapatkan kriteria baik. (2) Kemampuan guru dalam proses pembelajaran pada siklus I mendapatkan kriteria cukup (57,6%) dengan kategori C dan mengalami peningkatan pada siklus II dengan mendapatkan kriteria baik (80,7%) dengan kategori baik. (3). Pemanfaatan media benda kongrit dalam pembelajaran pada siklus I hanya mencapai 71,4% dan mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 100%. (4) Hasil belajar pada pra tindakan dengan rata-rata kelas 57,22 tergolong rendah mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas 66,6 dan mengalami peningkatan lagi pada siklus II dengan rata-rata kelas 77,77, meskipun ada 2 siswa yang belum dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar individu dengan skor 70 yang disebabkan oleh beberapa faktor. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : (1) pemanfaatan media benda kongrit juga telah berhasil meningkatkan perolehan hasil belajar siswa. Hal ini terbukti sebanyak 16 siswa telah mencapai kriteria ketuntasan belajar yang diharapkan yaitu skor 70, sementara ada 2 siswa yang belum bisa mencapai kriteria ketuntasan belajar disebabkan beberapa faktor. (2) Dampak pembelajaran dengan memanfaatkan media benda kongrit pada siswa kelas V SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan telah berdampak positif terhadap aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Hal ini terbukti semua siswa(99,9%) telah mencapai kriteria yang diharapkan. Selanjutnya peneliti menyarankan untuk para guru agar dapat memanfaatkan media pembelajaran benda kongrit yang ada disekitar siswa dan menyesuikannya pada setiap proses pembelajaran, sehingga hasil belajar diharapkan akan lebih baik. Sekolah diharapkan dapat menyediakan media pembelajaran yang dibutuhkan agar pembelajaran berlangsung menyenangkan bagi siswa. Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada para guru untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep mol pada siswa SMA Negeri I Malang / Fasril Vaudhi

 

Kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, konsep mol. Salah satu materi kimia yang memiliki konsep abstrak dan berjenjang adalah stoikiometri, yang di dalamnya mencakup konsep mol. Konsep abstrak pada konsep mol ditunjukkan oleh definisi mol sebagai satuan partikel.Konsep mol juga dibangun dari konsep-konsep yang saling berkaitan seperti massa atom relatif, massa molekul relatif, massa molar maupun massa zat. Konsep abstrak cenderung hanya dapat dipahami oleh siswa SMA yang telah mengembangkan kemampuan berfikir formal. Tidak semua siswa SMA yang seharusnya sudah mempunyai kemampuan berfikir formal, berada pada tingkat operasi formal.Hal ini membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep mol yang diperoleh sehingga menjadi konsep sukar bagi siswa. Konsep sukar ini bila terjadi terus menerus akan memungkinkan siswa mengalami kesalahan konsep.Penelitian yang dilaksanakan pada kelas X, XI, XII di SMAN I Malang mengenai konsep mol, bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi konsep sukar; (2) mengidentifikasi dan menghitung persentase kesalahan konsep siswa pada masing-masing kelas. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah siswa SMAN I Malang tahun pelajaran 2008/2009 yaitu 81 siswa kelas X,72 siswa kelas XI, dan 80 siswa kelas XII. Instrumen penelitian dengan menggunakan tes tertulis dan wawancara. Tes tertulis berupa 23 soal obyektif dengan 4 alternatif jawaban, yang diperkuat dengan alasan pemilihan jawaban. Validitas soal berdasarkan validitas isi yang kemudian dipakai untuk verifikasi butir soal. Reliabilitas soal sebesar 0,64.Wawancara dipakai sebagai triangulasi data.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yang digunakan untuk mengidentifikasi konsep sukar dan jenis-jenis kesalahan konsep siswa beserta persentase kesalahan konsep tersebut di kelas X, XI dan XII. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) identifikasi konsep sukar yang dimiliki siswa kelas X, XI dan XII adalah: (a) massa molar senyawa garam di kelas X, XI dan XII; (b) massa atom relatif (mencari massa 1 atom unsur) di kelas XII; (c)massa molekul relatif (mencari massa 1 molekul) di kelas XI; (d)partikel penyusun unsur logam (alumunium) di kelas X dan XII; (e)partikel penyusun senyawa yang terbentuk dari logam-nonlogam (BaH2) di kelas XI; (f) Partikel penyusun senyawa yang terbentuk dari nonlogam-nonlogam (CCl4) di kelas X dan XI; (g) hubungan partikel, mol dan massa di kelas X, XI dan XII; (h) hubungan partikel, mol, massa dan massa molar di kelas X dan XI. 2) Kesalahan konsep yang berhasil diidentifikasi sekaligus persentase kesalahan konsepnya adalah: (a) Partikel senyawa BaH2 dan SO3, berturut-turut dibentuk oleh atom Ba dan molekul H2, atom S dan molekul O2, dimiliki 8,64% siswa kelas X; 12,5% siswa kelas XI dan 2,5% siswa kelas XII; (b) partikel senyawa molekul ii (SO3 dan CCl4) adalah ion, dimiliki 9,88% siswa kelas X dan 2,5% siswa kelas XII; (c) satuan massa molar dianggap sama dengan massa zat (g), hanya terjadi pada siswa kelas X sebanyak 1,23%; (d) massa molar garam ditulis tanpa satuansama dengan massa molekul relatif (Mr) garam, terjadi pada siswa kelas XI (4,17%) dan siswa kelas XII (5%); (e) hanya siswa kelas X yang menafsirkan unsur merupakan salah satu jenis partikel, dengan persentase sebanyak 1,23%; (f) partikel untuk senyawa yang tersusun atas logam-nonlogam, seperti BaI2 dan CaCl2, berupa molekul dimiliki 6,17% siswa kelas X; 4,17% siswa kelas XI; dan 1,25% siswa kelas XII; (g) salah menafsirkan angka indeks pada rumus molekul unsur atau senyawa terdapat pada siswa kelas X (2,46%) dan siswa kelas XI (2,78%); (h) salah memahami massa rata-rata 1 atom suatu unsur atau massa ratarata 1 molekul suatu senyawa dialami oleh 20,99% siswa kelas X; 37,5% siswa kelas XI; dan 22,5% siswa kelas XII; (i) jenis partikel dari unsur diatomik (N2, Br2, H2 dan I2) dan unsur poliatomik (fosfor dan belerang) berupa atom, dialami oleh 1,39% siswa kelas XI dan 3,75% siswa kelas XII.

Pengaruh pembelajaran praktikum dengan menggunakan CD interaktif terhadap kompetensi sistem pengapian pada siswa kelas III Mekanik Otomotif SMK YP 17-1 Kota Malang / Eddy Sudarwanto

 

Abstrak Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak besar terhadap bidang pendidikan. Salah satunya adalah tersedianya pembelajaran yang menggunakan Compact Disc (CD) interaktif yang terdiri dari atas tayangan teks informasi, animasi, gambar, dan soal-soal latihan untuk mencari dan menganalisa kerusakan dan perbaikan sistem pengapian pada dunia otomotif. CD pembelajaran sistem pengapian ini dapat dimiliki oleh semua siswa dikarenakan harga keping CD murah dan praktis, dan sangat bermanfaat untuk mengikuti perkembangan dan menambah ilmu khususnya sistem pengapian konvensional sampai ke sistem pengapian elektronik. Penelitian mengenai pembelajaran yang menggunakan media CD interaktif sistem pengapian ini, antara lain bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media CD interaktif dalam pembelajaran praktikum sistem pengapian. Penggunaan CD interaktif pengapian merupakan salah satu prasarana bagi terjadinya interaksi belajar mengajar yang baik dalam rangka meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model eksperimental, subyek penelitian ini adalah siswa SMK YP 17-1 Malang. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas III Mekanik Otomotif dengan jumlah 30 siswa, kelas eksperimen dan 30 siswa kelas kontrol, variabel bebas yang digunakan adalah pembelajaran dengan menggunakan CD interaktif. Variabel terikatnya adalah hasil praktikum kompetensi sistem pengapian. Instrumen penelitian terdiri atas tes kemampuan pengetahuan dan tes praktek kompetensi sistem pengapian, tes kemampuan pengetahuan jumlahnya ada 40 butir dinyatakan valid dan 5 butir soal praktek kompetensi sistem pengapian juga dinyatakan valid. Sebelumnya dilakukan uji coba instrumen penelitian yaitu validitas dan reliabilitas instrumen, untuk validitas menggunakan korelasi product moment sebesar 0,40 untuk taraf signifikansi 0,05 (5%) dengan menyertakan sampel yang diujicobakan apabila rhitung > rtabel maka soal yang ditanyakan valid, diambil nilai r > 0,4 ke atas dinyatakan signifikan. Untuk reliabilitas menggunakan Kuder_Richardson (KR-20). Reliabilitas soal dikatakan baik jika memiliki nilai Cronbach's Alpha > dari 0,60. Selanjutnya juga dilakukan pengujian persyaratan analisis, yang meliputi uji normalitas yang menggunakan uji Kolmogorof-Smirnof test, jika nilai Dhitung < dari Dtabel maka data dianggap normal. Selain itu juga dapat dinyatakan bahwa koefisien signifkansi (Asymp. Sig) dan alpha 5% data dianggap normal. Selanjutnya uji homogenitas, digunakan Leavene Statistic jika nilai Fleavene statistic > alpha 5% maka data dianggap bervarian homogen. Analisis data yang terakhir dalam penelitian ini menggunakan uji-t, kesemuanya pengujian tersebut menggunakan program SPSS 12 for windows. Berdasarkan kesimpulan analisa data yang telah dilakukan diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) ada pengaruh yang signifikan penggunaan CD interaktif terhadap pengetahuan siswa tentang sistem pengapian pada kelas III program keahlian mekanik otomotif (2) ada pengaruh yang signifikan penggunaan CD interaktif terhadap kompetensi siswa tentang sistem pengapian pada kelas III program keahlian mekanik otomotif. Berdasarkan tujuan dan hasil penelitian ini dapat disarankan sebagai berikut: (1) guru harus meningkatkan pemahaman pengetahuan siswa, dengan menerapkan pembelajaran CD interaktif, (2) siswa diwajibkan untuk memiliki media CD interaktif karena harganya murah dan praktis (3) hendaknya sarana praktek di workshop/bengkel dilengkapi, yang mengikuti perkembangan teknologi sehingga siswa lebih banyak mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan, (4) perlu diadakan penelitian lanjutan untuk kompetensi yang berbeda dalam perbandingan yang sama, atau metode lain pada kompetensi yang lain.

Studi tentang pembelajaran tari topeng di sanggar tari Setyotomo Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang / Ika Wahyu Widyawati

 

Seni tari bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Pembelajaran seni tari tidak hanya didapat dari sekolah formal saja, namun pembelajaran seni tari bisa diperoleh dari sanggar-sanggar. Salah satunya yang terdapat di SANGGAR SETYOTOMO Desa Pulungdowo Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang yang membidangi Tari Tradisisonal khususnya Tari Topeng. Penelitian ini dilatar-belakangi oleh adanya anggota sanggar yang tiap tahun cenderung tidak bertambah. Selain itu, para anggota/siswa sanggar suka tidak teratur mengikuti pelatihan, sehingga siswa yang dinilai mampu meneruskan bakat pelatihnya selalu tidak bertambah dan bahkan menghilang. Jika mereka sudah merasa bisa menari, seringkali malas dan lebih suka mengikuti kegiatan lain atau meninggalkan latihan di sanggar. Sehingga pengetahuan mereka tidak bertambah dan cenderung pasif. Kondisi lainnya yaitu sanggar yang sangat sederhana dan belum tertata dengan baik mengakibatkan masyarakat sekitar kurang merespon dengan baik adanya sanggar tersebut. Terlihat dengan semakin berkurangnya minat masyarakat sekitar ikut berpartisipasi dalam mengembangkan seni tari topeng atau kerajinan topeng itu sendiri. Setiap kali ada kegiatan sanggar hanya orang tertentu saja yang berkreasi dan melanjutkan kesenian ini. Masyarakat menilai keluaran dari sanggar Setyotomo kurang baik dan tidak dapat menghasilakn calon seniman yang berkualitas baik. Kendala finacial juga ikut menjadi salah satu faktor penghambat tidak berkembangnya sanggar tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi fisik sanggar Setyotomo, untuk mengetahui pembelajaran seni tari Topeng, dan untuk mengetahui apresiasi mayarakat sekitar terhadap sanggar Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Penggunaan metode kualitatif dalam penulisan ini dikarenakan peneliti disini langsung terjun ke lapangan dengan mengamati sistem pengajaran seni taridi sanggar. Selain itu peneliti juga melakukan observasi pada saat proses pembelajaran tari,menganalisis data hasil wawancara observasi, serta melaporkan hasil penelitian. Peneliti berperan langsung dengan mengikuti kegiatan kesenian di Sanggar Tari Setyotomo Tumpang. Proses pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam baik formal maupun informal. Pelaksanaan wawancara formal diperoleh bertatap muka secara fisik dan bertanya jawab dengan pengajar tari. Sedangkan wawancara informal atau pengkajian pustaka diperoleh dari buku-buku yang berhubungan dengan seni tari terutama sistem pengajaran seni tari. Dalam pengumpulan data ini peneliti menggunakan alat tulis sebagai instrumen penelitian. Pendokumentasian lingkungan serta proses belajar mengajar di sanggar juga dilakukan untuk mendapatkan data yang nyata atau real. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa (a) kondisi fisik sanggar sangat sederhana dan masih membutuhkan perbaikan yang mendalam, (b) di SANGGAR TARI SETYOTOMO menggunakan model pembelajaran Aprentisip dan terdapat tahapan dalam proses pembelajaran,metode yang digunakan adalah demonstrasi dan latihan.Mencontoh adalah cara yang digunakan pelatih dalam proses pembelajaran,dan (c) respon masyarakat sekitar terhadap adanya sanggar ini kurang begitu tertarik, ini dikarenakan kondisi sanggar masih sederhana dan masih memerlukan pembenahan. Banyak sekali alasan kenapa masyarakat sekitar kurang tertarik dengan sanggar diantaranya, malas mengikuti pelatihan tari karena lebih suka pada kegiatan lainnya seperti, bermain, nonton TV, dan lain sebagainya; keterbatasan waktu, sibuk untuk bekerja setiap hari, terbentur dengan kegiatan keagamaan yang mereka ikuti, mereka merasa tidak berbakat dalam bidang tari Topeng, bangunan sanggar dinilai kurang bagus/masih sederhana, dan pelatihan tari Topeng kurang menarik untuk diikuti. Menurut pendapat peneliti, pelaksanaan pembelajaran di Sanggar Setyotomo masih tradisional dan masih dalam proses perkembangan. Selain hal itu, untuk peningkatan kualitas secara keseluruhan perlu adanya pembenahan–pembenahan antara lain, peningkatan mutu sumber daya manusia, baik guru maupun siswa, dengan cara menambah pelatih dari luar yang lebih berkualitas, serta mendisiplinkan siswa dalam kegiatan pelatihan; perbaikan metode pengajaran dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan masa mendatang, pengoptimalan pengajaran oleh guru terhadap siswa dengan cara pengelolaan kelas yang baik dan penerapan strategi pengajaran yang sesuai, perbaikan sarana dan prasarana secara menyeluruh agar dalam proses pembelajaran bisa didukung dan berlangsung dengan maksimal, serta peningkatan kerjasama dengan instansi terkait atau lembaga kesenian.

Penggunaan media word square dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai upaya peningkatan kemampuan kosakata siswa kelas XI SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember / Devi Suryaning Farida

 

Salah satu cara untuk memotivasi siswa agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik adalah dengan melakukan variasi pembelajaran. Variasi ini bisa dilakukan dari segi materi, metode/teknik, dan media. Salah satu bentuk media yang dapat memotivasi siswa adalah media word square. Pembelajaran bahasa Arab di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember terkesan monoton. Hal itu disebabkan kurang bervariasinya metode pembelajaran dan minimnya penggunaan media dalam proses pembelajaran. Media word square sebagai salah satu media pembelajaran bahasa Arab dapat dijadikan salah satu alternatif yang dapat digunakan, karena dengan word square siswa lebih mudah menghafal serta menangkap makna mufradat baru. Dengan begitu dapat meningkatkan kosakata bahasa Arab siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) kegiatan pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan word square untuk meningkatkan kemampuan kosakata siswa kelas XI di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember (2) proses peningkatan kemampuan kosakata bahasa Arab siswa kelas kelas XI di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember dengan menggunakan word square sebagai media pengajaran bahasa Arab Rancangan penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) tes, (2) wawancara, dan (3) observasi. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan dimulai sejak pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa melalui trianggulasi, yaitu membandingkan antara hasil tes, wawancara, dan observasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar diawali dengan penyiapan RPP, materi, media word square. KBM dengan media word square diadakan 4 kali pertemuan, kemudian pelaksanaanya disesuaikan dengan RPP yang telah dibuat. Pemerolehan kosakata siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan word square mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa word square dalam pengajaran bahasa Arab dapat meningkatkan pemerolehan kosakata siswa. Disarankan bagi pengajar bahasa Arab di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember untuk lebih memvariasikan media pembelajaran bahasa Arab. Selain itu disarankan pula bagi kepala di SMA 02 Muhammadiyah Wuluhan Jember untuk menyediakan media-media pembelajaran yang sesuai dengan karakter anak didik seperti media word square karena telah terbukti dapat meningkatkan kosakata siswa

Penerapan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) untuk meningkatkan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V Kabupaten Pasuruan / Lina Hidayatul Ilmiyah

 

Pembelajaran yang konvensional dengan metode ceramah yang mendominasi pembelajaran saat ini sudah mulai beralih pada pembelajaran yang inovatif berpusat pada siswa. Salah satunya adalah penerapan pembelajaran kontekstual yaitu konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya untuk menghidupkan kelas secara maksimal agar siswa memperoleh pengalaman belajar dengan menemukan serta membangun suatu konsep dengan mengalami sendiri. Tujuan penelitian adalah untuk (1)mendeskripsikan jika CTL diterapkan dalam penguasaan konsep Pembagian siswa kelas II SDN Puspo V, (2)mendeskripsikan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V sebelum digunakan CTL, (3)mendeskripsikan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V setelah digunakan CTL, (4)mendeskripsikan peningkatan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V setelah diterapkannya CTL. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri atas empat tahap yaitu (1)perencanaan, (2)tindakan, (3)observasi, dan (4)refleksi. Hasil penelitian pada siklus I berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dengan ketuntasan individu 60% dari 18 siswa dikategorikan tuntas. Sedangkan untuk ketuntasan kelas 70% sudah tercapai dengan nilai rata-rata kelas 83,5 nilai tertinggi 94 dan nilai terendah 71 siklus I sudah tuntas. Siklus II sebagai siklus konfirmasi tujuannya untuk memantapkan apakah ketuntasan siklus I hanya kebetulan saja atau ada faktor yang lain, dari 18 siswa dengan ketuntasan individu 70%, 16 siswa dikategorikan tuntas dan 2 siswa dikategorikan tidak tuntas, ketuntasan kelas 80% sudah tercapai dengan nilai rata-rata kelas 81,8, nilai tertinggi 91, dan nilai terendah 63 siklus II dikategorikan tuntas. Kesimpulan (1)pembelajaran konvensional dengan metode ceramah dalam pembelajaran tentang penguasaan konsep pembagian belum memperoleh hasil yang maksimal dari 18 siswa dan ketuntasan individu 60%, 6 siswa dikategorikan tuntas, 12 siswa dikategorikan belum tuntas, sedangkan untuk ketuntasan kelas 70% dengan nilai rata-rata 58,1, nilai tertinggi 81, dan nilai terendah 41, (2)penerapan pembelajaran kontekstual menjadikan siswa aktif dan siswa memperoleh pengalaman belajar dengan mengalami sendiri, (3)penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V. Dengan demikian penerapan pembelajaran kontekstual bisa diterapkan oleh guru dalam pembelajaran matematika pada materi pembagian.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |