Penerapan prinsip-prinsip belajar anak-anak (pedagogis) pada siswa TK Negeri Pembina Kecamatan di Desa Waung Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk / Maria Christin

 

ABSTRAK Christin, Maria. 2009. Penerapan Prinsip-prinsip Belajar Anak-anak (Pedagogis) pada Siswa TK Negeri Pembina Kecamatan di Desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Joseph Mbulu, M.Pd, (II) Drs. Sihkabuden, M.Pd. Kata kunci : Prinsip belajar pedagogis, TK Belajar merupakan suatu perubahan sikap atau respon terhadap stimulus yang kita terima, proses dimana dari kita tidak tahu menjadi tahu. Pada keseluruhan kegiatan di sekolah, belajar merupakan suatu hal yang paling mendasar, sehingga berhasil tidaknya suatu tujuan pembelajaran di sekolah tergantung pada proses belajar siswa. Belajar dilakukan manusia sepanjang hayatnya. Belajar merupakan tindakan dan perilaku yang dilakukan siswa secara sadar untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Prinsip belajar pedagogis adalah suatu proses belajar yang sistematik yang mengacu pada karakteristik anak, yang terdiri dari lima unsur yaitu: (1) dunia anak adalah dunia bermain (2) menyentuh aspek perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial dan bahasa (3) melibatkan lingkungan tumbuh anak (4) bebas tanpa paksaan (5) aman dan melindungi. Sedangkan TK adalah salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang menyediakan program pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar, dengan memakai kurikulum yang disebut dengan Program Kegiatan Belajar (PKB). Sebutan taman secara harfiah pada taman kanak-kanak adalah arti tempat yang nyaman untuk bermain, dalam pengertian perilaku guru, penataan sarana dan prasarana, dan program kegiatan belajar harus menciptakan suasana yang nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak didik taman kanak-kanak adalah anak usia 4-6 tahun, sedangkan lama pendidikan taman kanak-kanak adalah satu atau dua tahun, dan tidak ada istilah naik atau tinggal kelas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai penerapan prinsip-prinsip belajar anak-anak (pedagogiss) pada siswa TK negeri Pembina kecamatan di Desa Waung,Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk.Data yang dipaparkan mengenai penerapan prinsip-prinsip belajar anak-anak (pedagogis) pada siswa TK dan kesesuaian antara materi dengan prinsip belajar anak. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber data diperoleh dari wawancara langsung, angket dan dokumen-dokumen yang sesuai dengan tujuan penelitian. Analisa data terdiri atas tiga bagian: (1) reduksi data (2) penyajian data (3) penarikan kesimpulan. i Hasil penelitian ini adalah bahwa prinsip-prinsip belajar anak-anak (pedagogis) sudah diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari di TK negeri Pembina kecamatan di desa Waung, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk. Hal tersebut terlihat dari metode pembelajaran yang telah dijalankan yang meliputi: (1) dunia anak adalah dunia bermain dimana permainan yang terdapat di sekolahan sudah memenuhi jumlah anak, (2) menyentuh segala aspek perkembangan anak yaitu perkembangan fisik, kognitif, emosi social, dan bahasa (3) melibatkan lingkungan tumbuh anak yaitu orang tua, keluarga, dan masyarakat sekitar karena lingkungan adalah sebagai tempat pertama kali anak mengalami pendidikan secara informal, (4) bebas tanpa paksaan mengingat bahwa anak adalah suatu makhluk yang sedang berkembang hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak, (5) aman dan melindungi Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada guru di TK negeri pembina kecamatan untuk terus meningkatkan penerapan prinsip-prinsip belajar anak-anak (pedagogiss) dalam pembelajaran sehari-hari agar tujuan dari pembelajaran itu sendiri dapat tercapai secara maksimal.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi pada siswa Administrasi Perkantoran kelas X SMK PGRI 2 Malang pada mata diklat bekerjasama dengan kolega dan

 

ABSTRACT Nurhayati. 2009. Implementation of Problem Based Learning Model and Cooperative Learning of Jigsaw Model to Increase Student Learning Outcomes (A Study of APK Students in Class X of SMK PGRI 2 Malang on Training Subject of Co-operation with Colleagues and Customers). Thesis, Office Administration Education of Management Department, Faculty of Economy. State University of Malang. Advisors: (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si., (II) Madziatul Churiyh, S.Pd, M.M. Keywords: Cooperative Learning, Problem Based Learning model, Jigsaw Model, Student Learning Outcomes. One of the problems that we have to face in our education today is about weaknesses in the learning process. Recent learning processes evidently burden students with so many materials and assignments that students finally feel bored in the class. In learning activities, many approaches have been conducted by teachers; nevertheless, it has not yet shown satisfying results. It was proved by the results of both school and national examinations and individual skill tests achieved by students. Schools themselves have not yet been able to create a learning environment that enables students to think critically, creatively, and responsibly, as well as gives students opportunities to explore their own imaginative ideas. Hence, it is important that a learning model can encourage students to be active in learning processes. The research tried to collaborate a problem based learning model with cooperative learning of Jigsaw model. Problem based learning is a model of cooperative learning that students are trained to overcome a real-life problem while for the group divisions, a Jigsaw method is chosen as what expected that students are able to find information themselves in the expert group then transfer it to their team. The purposes of the research are: 1) to describe the implementation problem based learning and cooperative learning of Jigsaw model on the topic of cooperating in a team, 2) to know the increase of student learning outcomes through the implementation of problem based learning and cooperative learning of Jigsaw model, and 3) to know the constraints and solutions faced by the researchers in the process taking place. Subjects of the research are 42 APK students of class X in SMK PGRI 2 Malang. The research is a qualitative research designed in the form of classroom action research (CAR). The research data were collected by 1) test, 2) observation sheets, 3) interviews, 4) questionnaire, 5) documentation and 6) field notes. This kind of research is a classroom action research conducted in cycles. Each cycle involves 4 stages, namely: 1) planning, 2) action, 3) observation, 4) reflection. Data analysis in the research is done in a descriptive way. The result shows that generally problem based learning and cooperative learning of Jigsaw model has been done well. Students helped each other, did interaction, discussed with the teacher and their classmates, contributed scores for teams, gave respect to others, and became independent and good students. It can be seen from the observation result of students’ cooperative skills. In the implementation of cycle 1, based on the observation between two observers it shows a success stage. The implementation of problem based learning model and cooperative learning of Jigsaw model on APK students of class X of SMK PGRI 2 Malang is good. It is shown by the increase from cycle I that is 80 % to 95 % in cycle II. The increase of 15 % shows the learning thoroughness. In the cycle I the number of students completing their learning changes from 32 students to 40 students. Although in the action implementation there were many weaknesses and constraints in the cycle I, the researcher tried to improve it in the cycle II. Based on the result it can be concluded that the implementation of problem based learning and cooperative learning of Jigsaw model can increase the learning outcome of the training subject of cooperation with colleagues and customers in the topic of cooperation in a team. It can be seen through 3 aspects, namely cognitive and affective that increase in every cycle. Some suggestions that the researcher recommends are: 1) teachers who teach the subject of Cooperation with Colleagues and Customers can use problem based learning model and cooperative learning of Jigsaw model to increase student learning outcomes. 2) Students should participate in the learning process seriously, since the learning process trains students to think critically, overcome a problem and increase student learning outcomes. 3) The research should be continued by next researchers with different class and school, and use other cooperative learning that capabilities and student learning outcomes can increase. 4) The government should improve the quality of education; in the learning process students are very active while teachers are only facilitators. ABSTRAK Nurhayati. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dengan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa (Studi pada Siswa APK Kelas X SMK PGRI 2 Malang pada Mata diklat Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan). Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, FE. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si., (II) Madziatul Churiyah, S.Pd, M.M. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), model Jigsaw, hasil belajar siswa. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita sekarang adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang ada selama ini ternyata hanya membuat siswa sangat terbebani dengan materi dan tugas yang diberikan oleh guru, sehingga siswa merasa bosan di dalam kelas. Dalam pembelajaran di kelas telah banyak pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh guru tetapi sampai saat ini belum mendapatkan hasil yang memuaskan, ini ditunjukkan dengan hasil-hasil ujian siswa baik ujian nasional maupun ujian sekolah serta keterampilan individu siswa itu sendiri. Dari pihak sekolah sendiri juga belum berdaya untuk menciptakan suasana belajar yang memungkinkan siswa berpikir kritis, kreatif, bertanggungjawab, dan memberi peluang bagi siswa untuk menjelajahi idenya yang imajinatif. Oleh sebab itu perlu adanya sebuah model pembelajaran untuk membengkitkan semangat peserta didik agar aktif dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian ini mencoba mengkolaborasikan antara model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learninf) dengan pembelajaraan kooperatif model Jigsaw. Pembelajaran berbasis masalah merupakan bentuk pembelajaran kooperatif dimana siswa dilatih untuk memecahkan suatu masalah yang ada di dunia nyata sedangkan untuk pembagian kelompoknya dipilih metode Jigsaw diharapkan siswa dapat mencari informasi sendiri dalam kelompok ahli yang kemudian akan disampaikan kepada kelompok asal. Tujuan penelitian ini adalah: 1) untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan pembelajaran kooperatif model Jigsaw, pada pokok bahasan bekerjasama dalam sebuah tim, 2) untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan pembelajaran kooperatif model Jigsaw, dan 3) untuk mengetahui kendala-kendala dan solusi apa saja yang dihadapi peneliti dalam proses tindakan berlangsung. Subyek penelitian adalah siswa kelas X APK di SMK PGRI 2 Malang dengan jumlah 42 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dirancang dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui 1) tes, 2) lembar observasi, 3) wawancara, 4) angket, 5) dokumentasi dan 6) catatan lapangan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan pembelajaran kooperatif model Jigsaw secara umum telah dilaksanakan dengan baik. Siswa saling membantu, saling berinteraksi tatap muka, berdiskusi dengan guru dan teman, menyumbangkan skor untuk kelompok, tenggang rasa, sopan dan mandiri. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi keterampilan kooperatif siswa. Pada pelaksanaan siklus 1 berdasarkan perbandingan dari kedua pengamat menunjukkan taraf keberhasilan. Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dengan pembelajaraan kooperatif model Jigsaw pada kelas X APK SMK PGRI 2 Malang sudah baik. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan dari siklus I sebesar 80 % menjadi sebesar 95 % pada siklus II. Peningkatan sebesar 15% tersebut sudah menunjukkan ketuntasan belajar yaitu dari siklus I yang hanya 32 siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 40 siswa yang tuntas belajar. Meskipun dalam pelaksanaan tindakan banyak kekurangan dan kelamahan pada siklus I maka peneliti mencoba memperbaiki pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar mata diklat bekerjasama dedngan kolega dan pelanggan pada pokok bahasan bekerjasama dalam sebuah tim. Hal ini dapat dilihat dari ketiga aspek yaitu aspek kognitif dan afektif yang meningkat setiap siklusnya. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu:1) Bagi guru mata pelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan dapat menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 2) Bagi siswa hendaknya mengikuti pembelajaran tersebut dengan sungguh-sungguh, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, dapat memecahkan suatu permasalahan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 3) Penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya dengan kelas serta sekolah yang berbeda, serta dengan model pembelajaraan kooperatif yang lain sehingga kemampuan dan hasil belajar siswa lebih meningkat. 4) Bagi Pemerintah hendaknya lebih meningkatkan mutu pendidikan, dalam proses pembelajaran siswa yang sangat aktif guru hanya sebagai fasilitator saja.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-2 SMA Negeri 2 Batu / Binti Khomariyah

 

ABSTRAK Khomariyah, Binti.2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-2 SMA Negeri 2 Batu. Pembimbing: (I) Drs. H. Soewolo, M.Pd, (II) Dra. Hj. Hawa Tuarita, M.S. Kata Kunci: Numbered Heads Together, motivasi, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi di SMAN 2 Batu peneliti menemukan beberapa hal antara lain metode yang sering diterapkan di kelas X-2 adalah ceramah dan diskusi secara klasikal. Metode yang diterapkan oleh guru kurang menarik minat dan perhatian siswa sehingga mempengaruhi hasil belajarnya dimana setiap tes selalu ada siswa yang nilai tesnya tidak memenuhi Standar Kelulusan Minimal. Motivasi siswa tergolong rendah, ditandai dengan kurangnya perhatian siswa yang tidak mendapat tugas untuk menjawab pertanyaan yang ada di Lembar Kerja Siswa pada saat pelajaran. Selain itu guru lebih sering memberikan tugas secara individu. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, salah satunya dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari tiga pertemuan. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan (Planning), tahap pelaksanaan tindakan (Action), tahap observasi (Observation), dan tahap refleksi (Reflection). PTK ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-2 SMAN 2 Batu. Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X-2 SMAN 2 Batu semester genap tahun ajaran 2008-2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor motivasi siswa dari siklus I sebesar 69 % dengan taraf keberhasilan baik ke siklus II meningkat menjadi 85 % dengan taraf keberhasilan sangat baik. Peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa diketahui dari ketuntasan belajar klasikal, dari siklus I sebesar 82,85 % dengan rata-rata nilai siswa sebesar 69,30 ke siklus II meningkat menjadi 97,14 % dengan rata-rata nilai siswa 75,27. Peningkatan hasil belajar ranah afektif siswa diketahui dari skor hasil belajar ranah afektif siswa secara klasikal dari siklus I sebesar 77 % ke siklus II meningkat menjadi 90 %. Peningkatan hasil belajar ranah psikomotor siswa diketahui dari skor hasil belajar ranah psikomotor siswa secara klasikal dari siklus I sebesar 78 % ke siklus II meningkat menjadi 93 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model NHT dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-2 SMAN 2 Batu. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan untuk menghindari terjadinya kegaduhan pada pertemuan kedua dan seterusnya, maka siswa dapat diminta untuk duduk secara berkelompok terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai. Guru dapat menerapkan pembelajaran kooperatif model NHT sebagai salah satu alternatif model pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran. Bagi peneliti selanjutnya dapat menerapkan pembelajaran kooperatif model NHT pada pokok bahasan yang lain untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa atau untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, kerja ilmiah.

Manajemen pembelajaran inklusi (studi kasus di SD Negeri Sumbersari 1 Malang) / Lidya Maftukhah Nur

 

ABSTRAK Nur, Lidya Maftukhah.2009. Manajeme Pembelajaran Inklusi (studi kasus di SD Negeri Sumbersari 1 Malang). Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Maisyaroh, M.Pd, Pembimbing (II) Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd. Kata kunci : manajemen kelas, pembelajaran inklusi. Pendidikan merupakan usaha sadar seseorang untuk meningkatkan kualitas pribadi baik secara jasmani maupun rohani. Dengan adanya pendidikan yang merata akan melahirkan bangsa yang maju, adil dan makmur. Maka dari itu, hendaknya pemerintah menghimbau masyarakat agar mengenyam pendidikan WAJAR 9 TAHUN (wajib belajar 9 tahun). Pemerataan pendidikan juga harus bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat yang mempunyai kelainan atau disebut anak berkebutuhan khusus (ABK) maupun yang normal. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 pada Pasal 5 Ayat 1 menyebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Warga negara yang berkelainan juga telah disebutkan dalm Pasal 5 ayat 2, yang menyebutkan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Pemerintah kini lebih bijak dengan memberi perhatian bagi masyarakat yang mempunyai kelainan agar bisa sejajar dengan mereka yang normal salah satunya menyelenggarakan sekolah inklusi. Sekolah ini merupakan sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus untuk dapat belajar bersama dengan peserta didik yang normal. Sosialisasi sangat penting bagi ABK karena dengan begitu akan sangat membantu untuk kesembuhan mental dan menyiapkan diri supaya kelak bisa menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri dan berpotensi. Pengelolaan kelas yang kondusif merupakan salah satu hal yang penting untuk dilakukan. Karena dengan suasana kelas yang mendukung akan menjadikan peserta didik merasa nyaman dan bisa menerima pelajaran dengan senang. Dalam sekolah inklusi manajemen kelas dibangun dari tiga komponen penting yaitu guru kelas, guru pendidik khusus (GPK) dan shadow/shadow teacher. Kurikulum yang dipakai untuk sekolah inklusi adalah kurikulum reguler dengan sedikit modifikasi pada materi, media dan metode pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Salah satu sekolah tingkat dasar yang menyelenggarakan sekolah inklusi adalah SD Negeri Sumbersari 1 Malang. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih dalam tentang manajemen kelas untuk pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang. Ada enam fokus dalam penelitian ini yaitu (1) apa saja perencanaan yang dilakukan dalam pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang; (2) bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri Sumbersari 1 Malang;(3)bagaimanakah evaluasi yang dilakukan di SD Negeri Sumbersari 1 Malang; (4) apa sajakah faktor pendukung berjalannya proses pembelajaran inklusi dengan lancar di SD Negeri Sumbersari 1 Malang ; (5)apa saja faktor penghambat proses pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang ;(6) apa saja upaya untuk mengatasi masalah selama pelaksanaan pembelajaran inklusi di SD Negeri Sumbersari 1 Malang Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) observasi; (2) wawancara; (3) pengamatan berperan serta; (4) dokumentasi; (5) rekaman arsip dan (6) perangkat penunjang. Setelah data diperoleh kemudian data tersebut diuji dengan menggunakan metode trianggulasi sumber dan ketekunan pengamatan untuk mengetahui keabsahan data. Temuan penelitian ini yaitu (1) dalam perencanaan pembelajaran untuk pengelolaan kelas intinya sama dengan yang lain selama anak berkebutuhan khusus bisa mengikuti maka peserta didik tersebut hendaknya masuk dalam kelas dan mengikuti semua kegiatan yang ada. Sedangkan kurikulum yang dipakai adalah kurikulum reguler dengan sedikit modifikasi sesuai dengan kebutuhan peserta didik yang bersangkutan dan pihak yang terlibat dalam pembuatan perencanaan adalah guru kelas dengan GPK, (2) pelaksanaan pembelajaran terlihat pada pengelolaan kelas yang kondusif untuk tempat belajar, menarik, nyaman dan rapi, pengorganisasian tempat duduk antara yang ABK dan peserta didik yang normal adalah menjadi satu dan strategi pembelajaran yang digunakan dengan memberi waktu yang lebih banyak, dan membiarkan ABK untuk keluar kelas jika keadaan psikologisnya tidak stabil; (3) bentuk penilaian untuk kelas kecil ada dua bentuk sedangkan untuk kelas besar hanya satu seperti yang lain dan penilaian dari GPK dan shadow adalah sebagai bahan pertimbangan oleh guru kelas; (4) faktor yang menghambat antara lain kondisi psikologis peserta didik, faktor makanan dan ilmu yang didapat tidak sama dengan kenyataan yang ada; (5) sedangkan untuk faktor pendukungnya mempunyai guru pendidik khusus (GPK), partisipasi dan dukungan dari pihak orangtua serta lingkungan yang mendukung; (6) upaya untuk mengatasi masalah pengelolaan kelas adalah dengan merasa empati terhadap apa yang dirasakan peserta didik yang normal maupun yang ABK supaya bisa mencari jalan keluar dan kelas menjadi kondusif lagi untuk temapt belajar. Dari hasil penelitian ini disarankan sebagai berikut (1) kepala sekolah hendaknya lebih meningkatkan kualitas sekolah dan memperhatikan kuatitas anak berkebutuhan khusus dalam kelas dengan melihat kemampuan guru; (2) bagi jurusan adaministrasi pendidikan hendaknya dapat menambah reverensi dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memahami manajemen kelas untuk pembelajaran inklusi; (3) bagi peneliti lain agar lebih meningkatkan hasil penelitian yang telah dilakukan sehingga bermanfaat demi peningkatan kualitas pendidikan.

Pendidikan dan pelatihan dalam rangka pendirian dan pengelolaan BUMDes bagi masyarakat di Desa Gendingan Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi sebagai upaya penguatan ekonomi desa / Saheriyanto

 

ABSTRAK Saheriyanto. 2009. Pendidikan dan Pelatihan dalam Rangka Pendirian dan Pengelolaan BUMDes Bagi Masyarakat di Desa Gendingan Kecamatan Widodaren Kabupaten Ngawi sebagai Upaya Penguatan Ekonomi Desa. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Puji Handayati, S.E., M.M., Ak., (II) Makaryanawati, S.E., M.Si., Ak. Kata kunci: pendidikan, pelatihan, pendirian, pengelolaan, BUMDes. Adanya seruan dari pemerintah melalui UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah mengenai pendirian dan pengelolaan BUMDes tersebut, menjadi urgensi permasalahan tersendiri mengingat sumber daya manusia yang dimiliki desa sangat terbatas. Selain itu, BUMDes menjadi sesuatu yang baru bagi masyarakat Desa Gendingan, sehingga masih belum banyak dipahami. UPK Gerdu Taskin “Lestari Rahayu” yang selama ini sudah ada nantinya akan menjadi embrio dalam pembentukan BUMDes sebagai unit usahanya. Kondisi inilah yang dihadapi oleh masyarakat khususnya di Desa Gendingan Kabupaten Ngawi, sehingga diperlukan adanya pendidikan dan pelatihan dalam pembentukan dan pengelolaan BUMDes bagi masyarakat sebagai upaya penguatan ekonomi desa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tahapan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pendirian dan pengelolaan BUMDes di desa gendingan serta pengaruhnya bagi masyarakat sebagai upaya penguatan ekonomi desa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang dilaksanakan di Desa Gendingan Kabupaten Ngawi. Adapun subyek yang diteliti pada penelitian ini sebanyak 33 orang yang terdiri dari Pemerintahan Desa Gendingan, pengurus UPK Gerdu Taskin, dan masyarakat desa yang tergabung dalam pokmas. Analisis data yang digunakan dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Selama pelaksanaan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pendirian dan pengelolaan BUMDes bagi masyarakat di Desa Gendingan, baik peneliti maupun objek yang diteliti saling berkolaborasi dan terlibat langsung di lapangan. Kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah Desa Gendingan untuk mendirikan BUMDes sebagai prakarsa di Kabupaten Ngawi menghasilkan terbentuknya AD ART dan Perdes tentang pendirian BUMDes di Desa Gendingan di mana UPK Lestari Rahayu sebagai unit usaha yang dikembangkan; dan 2) Pengaruh pendidikan dan pelatihan dalam rangka pendirian dan pengelolaan BUMDes bagi masyarakat sebagai upaya penguatan ekonomi desa direspon secara positif. Berdasarkan nilai pre test, peserta yang mendapatkan nilai baik hanya 24,24% meningkat menjadi 90,91% pada saat post test setelah dilakukannya pendidikan dan pelatihan BUMDes. Model pendidikan dan pelatihan yang dilakukan dengan mendatangi langsung ke rumah para pokmas (dalam kelompok kecil) lebih efektif dan berhasil dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang BUMDes dari pada kelompok besar.

Pengaruh pengelolaan modal kerja terhadap tingkat likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas perusahaan (studi kasus pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.) / Shinta Ayunany

 

ABSTRAK Ayunany, Shinta. 2009. Pengaruh Pengelolaan Modal Kerja terhadap Tingkat Likuiditas, Profitabilitas, dan Solvabilitas Perusahaan (Studi Kasus pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk.) Skripsi., Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Helianti Utami, S.E, M.Si, Ak., (2) Drs. H. Sumadi, S.E, MM. Kata kunci: pengelolaan modal kerja, likuiditas, profitabilitas, solvabilitas. Modal kerja memegang peranan yang penting dalam suatu perusahaan dan digunakan untuk menjalankan kegiatan operasi. Besar kecilnya modal kerja tergantung pada jenis usaha perusahaan. Jumlah modal kerja yang baik bagi suatu perusahaan adalah modal kerja yang cukup. Salah satu penyebab kerugian dan keberhasilan sustu perusahaan adalah bagaimana perusahaan mengelola modal kerjanya. Kekurangtepatan dalam pengelolaan akan menyebabkan perusahaan mengalami kesulitan yang mungkin timbul karena adanya krisis atau kekacauan keuangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan modal kerja, untuk mengetahui tingkat likuiditas, untuk mengetahui tingkat profitabilitas, untuk mengetahui tingkat solavabilitas, untuk mengetahui pengaruh pengelolaan modal kerja terhadap tingkat likuiditas, untuk mengetahui pengaruh pengelolaan modal kerja terhadap tingkat tingkat profitabilitas, untuk mengetahui pengelolaan modal kerja terhadap tingkat solvabilitas, pada PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah rasio keuangan untuk likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas serta analisis uji korelasi rank spearman dengan menggunakan SPSS for Windows. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah pengelolaan modal kerja. Sedangkan variabel terikat (Y) adalah likuiditas (Y1), profitabilitas (Y2), dan solvabilitas (Y3). Dari uji statistik untuk uji pengaruh pengelolaan modal kerja terhadap likuiditas diperoleh hasil rs=0,964 dengan signifikasi 0,000 untuk taraf signifikasi 5%. Hasil untuk uji pengaruh pengelolaan modal kerja terhadap profitabilitas diperoleh hasil rs=0,857 dengan signifikasi 0,014. Dan Hasil untuk uji pengaruh pengelolaan modal kerja terhadap solvabilitas diperoleh hasil rs=0,752 dengan signifikasi 0,031. Berdasarkan hasil analisis korelasi dapat ditarik suatu kesimpulan yang menyatakan bahwa: (1) Ada pengaruh yang signifikan antara pengelolaan modal kerja dengan likuiditas, yaitu tingkat likuiditas akan meningkat pada saat terjadi kenaikan modal kerja, begitu juga sebaliknya.(2) Ada pengaruh yang signifikan antara pengelolaan modal kerja dengan profitabilitas, yaitu tingkat profitabilitas akan meningkat pada saat terjadi kenaikan modal kerja, begitu juga sebaliknya. (3) Ada pengaruh yang signifikan antara pengelolaan modal kerja dengan solvabilitas, yaitu tingkat solvabilitas akan meningkat pada saat terjadi kenaikan modal kerja, begitu juga sebaliknya. Saran yang bisa dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama melaksanakan penelitian ini adalah: (1) Bagi perusahaan diharapkan pengelolaan modal kerja tetap dipertahankan untuk tahun-tahun berikutnya agar dapat mencapai tingkat likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas yang tetap baik. (2) Adanya kelebihan atau penurunan modal kerja dapat dijadikan alat pengambilan keputusan terhadap kegiatan usaha pada tahun berikutnya. (3) Bagi peneliti selanjutnya yang bertujuan sama dengan penelitian ini disarankan untuk menggunakan lebih banyak lagi rasio selain yang telah dibahas dalam penelitian ini, seperti rasio aktivitas dan rentabilitas. (4) Untuk penelitian dimasa yang akan datang sebaiknya mengadakan penelitian pada 2 jenis perusahaan, seperti perusahaan jasa dengan perusahaan dagang sehingga bisa dilakukan analisa yang mendalam tentang perbedaan penggunaaan modal kerja.

Pengaruh tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah atas dollar AS (USD), tingkat inflasi terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) sebelum dan sesudah runtuhnya Lehman Brothers / Nanda Bagus Gunawan Putra

 

ABSTRAK Putra, Nanda Bagus Gunawan. 2009. Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah atas Dollar AS (USD), Tingkat Inflasi Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Sebelum dan Sesudah Runtuhnya Lehman Brothers. Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mugianto S.E., M.Si. (II) Subagyo S.E., S.H., M.M. Kata Kunci: Tingkat Suku Bunga SBI, Tingkat Inflasi, Nilai Tukar Rupiah Atas Dolar AS, IHSG, Runtuhnya Lehman Brothers Investasi melalui pasar modal selain memberikan hasil, juga mengandung resiko. Apalagi dengan adanya krisis ekonomi global kondisi pasar saham semakin tidak menentu sehingga resiko berinvestasi di pasar modal semakin tinggi. Besar kecilnya resiko di pasar modal sangat di pengaruhi oleh keadaan negara khususnya di bidang ekonomi, politik dan sosial termasuk Tingkat suku bunga SBI, inflasi dan nilai tukar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat bunga SBI, nilai tukar rupiah atas dollar AS, tingkat inflasi secara parsial terhadap Ineks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan tingkat bunga SBI, nilai tukar rupiah atas dollar AS, tingkat inflasi secara simultan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baik sebelum perusahaan Lehman Brothers runtuh maupun sesudah perusahaan Lehman Brothers runtuh. Penelitian ini digolongkan dalam penelitian kausalitas karena bermaksud untuk mengetahui pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari internet (www.bi.go.id). Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 14.0. pengujian hipotesis yang digunakan adalah dengan uji t dan uji F. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa (1) Tingkat suku bunga SBI sebelum perusahaan Lehman Brothers runtuh tidak berpengaruh terhadap IHSG sedangkan sesudah perusahaan Lehman Brothers runtuh berpengaruh terhadap IHSG, (2) nilai tukar rupiah atas Dollar AS sebelum perusahaan Lehman Brothers runtuh tidak berpengaruh terhahap IHSG sedangkan setelah perusahaan Lehman Brothers runtuh berpengaruh tehadap IHSG,(3) Tingkat inflasi baik sebelum dan sesudah perusahaan Lehman Brothers runtuh tidak mempengaruhi IHSG, (4) secara simultan tingkat bunga SBI, nilai tukar rupiah atas dollar AS, tingkat inflasi berpengaruh tehadap IHSG baik sebelum maupun sesudah perusahaan Lehman Brothers runtuh . Penelitian selanjutnya disarankan menambah variabel lain yang berpotensi mempengaruhi harga saham, menambah sampel, memperpanjang periode penelitian, atau meneliti indeks-indeks lain yang tidak hanya mencakup wilayah regional namun secara internasional sehingga hasilnya dapat berguna bagi para investor.

Penyalahgunaan jam kerja oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) (studi kasus di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung) / Ferry Handriono

 

Pengawasan aparatur negara menuju kepada administrasi yang sempurna sangat tergantung pada kualitas dan profesionalisme pegawai negeri. Undang- Undang No. 43 tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian memberikan jaminan kedudukan serta kepastian hukum bagi pegawai negeri untuk menyusun aparatur yang bersih dan berwibawa. Pembangunan aparatur pemerintah diarahkan pada peningkatan kualitas, efisien dan efektif dalam seluruh jajaran administrasi pemerintahan, termasuk peningkatan kedisiplinan pegawai negeri. Tetapi dalam kenyataan dilapangan masih banyak ditemukan pegawai negeri yang kurang tahu dan kurang menyadari akan tugas dan fungsinya sehingga seringkali timbul ketimpangan-ketimpangan dalam menjalankan tugasnya dan tidak jarang membuat kecewa masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pola penyalahgunaan jam kerja oleh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung; (2) mengetahui faktor-faktor penyebab penyalahgunaan jam kerja oleh Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung; (3) mengetahui dampak yang timbul dari penyalahgunaan jam kerja oleh Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung; (4) mengetahui upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi penyalahgunaan jam kerja oleh Pegawai Negeri Sipil di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan dan menafsirkan keadaan yang terjadi sekarang, yang berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Sedangkan jenis penelitiannya adalah studi kasus, yaitu memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan me ndetail. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan informan. Analisis data yang digunakan adalah metode analisa deskriptif yaitu penguraian permasalahan mengemukakan pandangan dan permasalahan tersebut dari data yang diperoleh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola penyalahgunaan jam kerja oleh Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung adalah: (1) masih banyak ditemukannya Pegawai Negeri Sipil yang berbelanja pada saat jam kerja; (2) makan di warung pada saat jam kerja; (3) ngobrol di pasar pada saat jam kerja. Faktor penyebab penyalahgunaan jam kerja di Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung adalah: (1) masalah kurangnya jiwa disiplin bagi masing-masing Pegawai Negeri Sipil; (2) kurangnya mutu Sumber Daya Manusianya. 3 Saran untuk Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Tulungagung adalah: (1) koreksi dan pencegahan terhadap melemahnya peraturan harus segera diatasi dan dilakukan oleh semua komponen yang terlibat dalam organisasi, khususnya Peagawai Negeri Sipil; (2) meningkatkan pengawasan di semua bidang agar bias meningkatkan disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Pengaruh persentase kandungan minyak jarak pada solar dengan variasi putaran mesin terhadap daya dan kebisingan mesin diesel / Hani Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, Hani. 2009. Pengaruh Persentase Kandungan Minyak Jarak pada Solar dengan Variasi Putaran Mesin terhadap Daya dan Kebisingan Mesin Diesel. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Mardji, M.Kes,(2) Sukarni, S.T.,MT. Kata kunci: Minyak Jarak, Putaran Mesin, Daya, dan Kebisingan Mesin Kenaikan harga BBM secara langsung berakibat pada naiknya biaya transportasi sehingga kemungkinan dilakukan penganekaragaman dengan memanfaatkan energi terbaharukan lainnya, sehingga perlu ditelaah kemungkinan untuk mensubstitusi bahan bakar solar dengan minyak jarak. Hasil pencampuran solar dengan minyak jarak sebagai bahan bakar mesin diesel yang terbaharui diharapkan pada putaran mesin yang berbeda dapat meningkatkan daya dan mengurangi kebisingan mesin diesel. Penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut: (1) Mengetahui perbedaan yang signifikan daya pada mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak 10%, 20%, 30%, 40% pada solar dengan variasi putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm, (2) Mengetahui perbedaan yang signifikan kebisingan pada mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak 10%, 20%, 30%, 40% pada solar dengan variasi putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm, dan (3) Mendeskripsikan interaksi daya dengan kebisingan mesin diesel pada campuran minyak jarak 10%, 20%, 30%, 40% pada solar dengan variasi putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang dari tanggal 3 Desember sampai 5 Desember 2008. Objek penelitian menggunakan mesin diesel Nissan 4 langkah berpendingin air dengan perbandingan kompresi 22:1. Analisis data menggunakan Anova dua jalan dengan taraf signifikan 0,01 menggunakan fasilitas software SPSS 14 for Windows Evaluation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan daya poros dan kebisingan mesin diesel pada persentase campuran minyak jarak 10%, 20%, 30%, dan 40% dengan variasi putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm, dengan taraf sognifikan 0,01. Daya poros tertinggi pada persentase campuran minyak jarak 40% yaitu pada putaran mesin 2200 rpm sebesar 31,325 PS, artinya semakin tinggi campuran minyak jarak pada solar dan putaran mesin akan meningkatkan daya poros mesin. Kebisingan mesin tertinggi pada persentase campuran 40% yaitu pada putaran mesin 2500 rpm sebesar 117,200 dB, artinya semakin tinggi campuran minyak jarak pada solar dan putaran mesin akan meningkatkan kebisingan mesin diesel.

Pelaksanaan bauran promosi pada rumah makan ayam bakar Wong Solo / Ika Yuni Agustin

 

ABSTRAK Yuni Agustin, Ika. 2009. Pelaksanaan Bauran Promosi Pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang. Tugas Akhir, Program Studi DIII Manajemen Pemasaran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Agus Hermawan, M.Si, M.Bus. Kata Kunci: Bauran Promosi Promosi merupakan sebuah upaya, cara ataupun kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan, produsen maupun pemasar untuk menginformasikan produk barang/jasa yang dihasilkannya, kemudian mempengaruhi dan membujuknya agar konsumen tersebut tertarik untuk membeli, mengkonsumsi serta menggunakannya. Kegiatan ini merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran. Betapapun berkualitasnya suatu produk, bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk itu akan berguna baginya nanti, maka tidak akan membelinya. Tujuan utama dari promosi ini adalah menginformasikan kepada konsumen agar melakukan pembelian terhadap barang yang ditawarkan. Jenis promosi yang sering digunakan dinamakan bauran promosi. Bauran promosi adalah serangkaian upaya yang dilakukan oleh perusahaan dalam mempromosikan produknya dengan elemen-elemen didalamnya adalah periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, dan penjualan pribadi. PKL dilaksanakan di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo dimulai tanggal 16 Februari sampai dengan tanggal 16 Maret 2009. Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis berusaha untuk mengetahui bauran promosi di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Penetapan bauran promosi tersebut akan sangat mempengaruhi hasil akhir komunikasi yang dilaksanakan perusahaan, karena masing-masing variabel dalam bauran promosi mempunyai karakteristik yang berbeda. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo menggunakan tiga elemen bauran promosi diatas yakni periklanan, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat. Dimana strategi yang sering digunakan adalah strategi sponsorship. Dari hasil pengamatan di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo dapat dijelaskan bahwa bauran promosi yang diterapkan sudah efektif karena telah disesuaikan dengan situasi dan kondisi perusahaan. Sehingga tujuan dari penggunaan bauran promosi tersebut dapat dicapai.

Pengaruh penggunaan turbojet accelerator dan variasi putaran mesin terhadap daya mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar / Mahfud

 

ABSTRAK Mahfud 2009. Pengaruh Penggunanaan Turbojet Accelerator dan Variasi Putaran Mesin Terhadap Daya Mesin Diesel Berbahan Bakar Campuran Minyak Jarak dan Solar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UM. Pembimbing: (I) Sukarni, S.T., M.T.; (II) Drs. Sumarli, M.Pd., M.T. Kata Kunci: daya mesin diesel, turbojet accelerator, putaran mesin. Walaupun telah banyak ditemukan berbagai sumber energi alternatif, penghematan bahan bakar harus tetap dilakukan,salah satu usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengatasi hal ini adalah dengan menambah peralatan yang berupa turbojet accelerator untuk meningkatkan performansi dan efisiensi motor bakar diesel. Dengan turbojet accelerator,aliran udara masuk ruang bakar menjadi lebih rendah dan kecepatan lebih tinggi.Sedang unjuk kerja yang meliputi daya BHP, Torsi, BMEP dan efisiensi termis motor bakar meningkat. Selain itu konsumsi bahan bakar menjadi lebih hemat jika motor bakar dilengkapi turbojet accelerator. Berdasarkan latar belakang tersebut, kemudian muncul permasalahan seberapa besar pengaruh turbojet accelerator terhadap daya spesifik pada mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar. Permasalahan tersebut dapat dirumuskan apakah ada pengaruh yang signifikan daya pada mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar tanpa turbojet accelerator dan menggunakan turbojet accelerator pada putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan daya spesifik pada mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar tanpa turbojet accelerator dan menggunakan turbojet accelerator pada putaran mesin 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang, tanggal 27 mei 2009 dengan menggunakan alat Dynamometer. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimental dengan desain faktorial 5 x 2. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analis varian dua jalan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perlakuan putaran mesin yang digunakan adalah rentangan 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan turbojet accelerator berpengaruh terhadap daya mesin diesel. Pada saat mesin menggunakan turbojet accelerator, daya mesin diesel lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak menggunakan turbojet accelerator. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan turbojet accelerator, variasi putaran mesin dan interaksi antara keduanya berpengaruh terhadap daya mesin diesel berbahan bakar campuran minyak jarak dan solar.

Analisis dimensi kualitas layanan pada CV. Kirana Tours and Travel / Ani Lisa Arianti

 

ABSTRAK Arianti, Ani Lisa.2009. Analisis Dimensi Kualitas Layanan pada CV. Kirana Tours and Travel. Skripsi. Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Agus Hermawan, M.Si, M.Bus, (2) Madziatul Churiyah, S.pd, M.M Kata kunci : Dimensi Kualitas Jasa ( Keandalan, Daya Tanggap, Jaminan, Empati dan Bukti Fisik) Peningkatan kualitas layanan yang diberikan karyawan pada pelanggan merupakan suatu tujuan utama dari pihak penyedia jasa. Kepuasan pelanggan, itulah yang diharapkan dari setiap perusahaan jasa. Dalam menilai atau melihat suatu kualitas layanan jasa, hal ini dapat dilihat melalui beberapa aspek yang biasa dikenal dengan dimensi kualitas jasa. Dimensi kualitas jasa ini terdiri dari Keandalan, Daya Tanggap, Empati, Jaminan,dan bukti fisik. Diperlukan kualitas layanan yang baik dari karyawan untuk menumbuhkan minat konsumen dalam memakai jasa yang ditawarkan oleh CV. Kirana pada khususnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas layanan yang ada pada CV. Kirana Tours and Travel. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dari lima dimensi kualitas layanan jasa yang diterapkan pada perusahaan CV. Kirana Tours and Travel. Instrumen yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur, observasi, dokumentasi dan kuisioner sebagai pendukung. Key informant diambil dari pemilik perusahaan, karyawan serta konsumen yang pernah memakai jasa CV. Kirana. Social situation diambil dari Mahasiswa Universitas Negeri Malang yang pernah menggunakan travel CV. Kirana dengan frekuensi lebih dari dua kali. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pelayanan yang ada pada CV. Kirana memang sudah bisa dikatakan baik. Perusahaan telah memenuhi dua prinsip dari standar ISO yaitu pelayanan yang fokus kepada pelanggan dan keterlibatan semua pihak baik atasan maupun karyawan dalam penanganan layanan terhadap konsumen. Adanya kekurangan yang peneliti temukan selama penelitian di CV. Kirana, seperti tidak adanya fasilitas ruang tunggu, area parkir yang tidak memadai, ruang kantor yang terlalu sempit, tidak adanya kotak saran dalam armada menjadikan catatan tersendiri bagi peneliti. Karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk dimensi Fisik yang belum dapat dipenuhi oleh perusahaan CV. Kirana dengan baik. Saran yang dapat penulis kemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah yang pertama perusahaan CV. Kirana, diharapakan perusahaan dapat menyediakan kotak saran dalam armada dan memperbaiki kualitas hotline service yang berupa email maupun layanan via telpon dan juga sms ( short massage service), yang kedua diharapkan CV. Kirana berupaya meningkatkan layanan dalam hal bukti fisik yaitu menyediakan ruang tunggu bagi konsumen dengan atmosfer yang nyaman (kursi yang nyaman, ruangan yang diberi wewangian, disediakan permen dan minuman diruang tunggu) dan area parkir yang luas, hal tersebut bertujuan agar konsumen lebih nyaman saat mengunjungi kantor CV. Kirana. Diharapkan dengan terpenuhinya semua aspek dimensi (keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik) menjadikan kualitas layanan pada CV. Kirana benar-benar berada jauh diatas para pesaing.

Korelasi antara self esteem dengan perilaku asertif siswa SMP Negeri 20 Malang / Fatma Anggraini

 

ABSTRAK Anggraini, Fatma. 2009. “Korelasi Antara Self- Esteem dan Perilaku Asertif Siswa SMP N 20 Malang” Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Widada, M.Si (II) Drs. M. Bisri, M.Si Kata Kunci : Konsep Diri, Self- Esteem, Perilaku Asertif Self- Esteem adalah suatu perasaan dan perilaku yang diwujudkan seseorang berdasarkan hasil penilaian terhadap dirinya. Perilaku asertif adalah perilaku individu yang mampu mengekspresikan perasaan, baik positif maupun negatif dan mampu mengungkapkan pikirannya secara tegas dan bebas dengan tetap memperhatikan perasaan orang lain. Secara sederhana perilaku asertif dapat dinyatakan sebagai kemampuan untuk menyatakan dirinya tanpa mengganggu atau merugikan orang lain Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Deskriptif Korelasi yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara Self- Esteem dan Perilaku Asertif. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket, dan sampel yang digunakan adalah siswa- siswi SMP N 20 Malang kelas VIII yang berjumlah 80 siswa. untuk memperoleh gambaran tentang Self- Esteem menggunakan rumus Product Moment untuk pengujian hipotesisnya kerena bila analisis yang dilakukan adalah uji korelasi antara dua variabel yang berskala interval atau rasio maka dapat dipilih Korelasi Product Moment . Dalam penelitian ini Ho diterima dan Ha ditolak dengan P = 0,08 > 0,05 walaupun peneliti telah menjabarkan bahwa terdapat teori yang menjelaskan adanya korelasi antara Self- Esteem dan Perilaku Asertif ini tetapi dalam prakteknya di SMP N 20 Malang tidak menemukan adanya indikasi terdapat korelasi yang signifikan antara kedua variabel, hal ini dikarenakan oleh pengaruh lingkungan sekolah yang tidak mendukung, seperti teman sebaya hal ini membuat siswa yang sebenarnya memilki Self- Esteem yang tinggi tetapi belum tentu memilki Perilaku Asertif yang tinggi pula. Seseorang yang dinilai baik oleh lingkungannya belum tenttu bisa mempertahankan hak, dan secara tegas memberikan penolakan terhadap hal- hal yang tidak baik seperti membolos, usil, menyontek dll. Harapan dari penelitian ii adalah jika Self- Esteem dari seseorang tinggi, maka diharapkan seseorang tersebut memiliki Perilaku Asertif yang tinggi pula, namun dalam penelitian ini tidak menyebutkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel, jadi diharapkan untuk penelitian selanjutnya diharapkan untuk memperhatikan faktor- faktor yang dapat mempengaruhi kedua variabel, dan memperhatikan peran siswa yang memiliki Self- Esteem dan Perilaku yang rendah, tinggi dan cukup. Selain itu diharapkan penelitian ini dapat diteliti dengan menggunakan menggunakan metode penelitian kualitatif, untuk menjadi alternatif pilihan metode penelitian yang memungkinkan mengasilkan penelitian yang lebih sempurna

Studi tentang pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di SMP se-kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Ikhwan Farizy

 

ABSTRAK Farizy, Ikhwan. 2009. Studi tentang Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP se-Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan FIK Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs, Mulyani Surendra, M. S, (2) dr. Hartati Eko Wardani, M.Si. Med Kata kunci: pembelajaran, pendidikan jasmani, SMP se-Kecamatan Gondangwetan Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan keseluruhan yang penting untuk dilaksanakan di sekolah karena pendidikan jasmani tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kognitif siswa, akan tetapi juga meningkatkan kemampuan afektif dan psikomotorik secara seimbang. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di SMP se-Kecamatan Gondangwetan diperoleh hasil bahwa guru tidak melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani dengan baik yaitu meliputi tidak selalu guru datang di lapangan tepat waktu, guru tidak melaksanakan kegiatan pendinginan, dan guru kurang melibatkan siswa secara aktif. Beberapa hal tersebut merupakan bagian penting yang harus dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan pembelajaran dan juga untuk mencapai tujuan pembelajaran pendidikan jasmani. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui dan mengkaji perencanaan atau kegiatan awal, tahap pendahuluan, tahap inti, dan tahap penutup pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di SMP se-Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif untuk mengetahui persentase kualitas pelaksanaan pembelajaran. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan persentase. Penelitian ini dilaksanakan di SMP se-Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan yaitu SMPN 1 Gondangwetan, SMPN 2 Gondangwetan dan SMP Islam Yanuba. Jumlah subyek penelitian yaitu 5 guru pendidikan jasmani. Berdasarkan hasil penelitian diketahui kegiatan awal/perencanaan termasuk dalam kategori kurang baik (24%), kegiatan pendahuluan termasuk dalam kategori cukup baik (73,68%), pada tahap inti termasuk dalam kategori baik yaitu dengan persentase 78%, dan pada tahap penutup termasuk dalam kategori cukup baik (62,5%). Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di SMP se-Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan secara keseluruhan termasuk dalam kategori cukup baik. Dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, guru pendidikan jasmani di SMP se-Kecamatan Gondangwetan hendaknya membuat perencanaan, mempersiapkan saran dan prasarana pembelajaran, meningkatkan kedisiplinan, meningkatkan peran aktif siswa dalam pembelajaran, melakukan evaluasi terhadap kemampuan siswa dan melakukan kegiatan penenangan pada kegiatan penutup. Hal ini untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani dan pencapaian tujuan pembelajaran pendidikan jasmani.

Profil model usaha kesehatan sekolah unggulan di Sekolah Menengah Atas Negeri 10 Malang / Catur Budiprasetyo

 

ABSTRAK Budiprasetyo, Catur. 2009. “Profil Model Usaha Kesehatan Sekolah Unggulan di SMA Negeri 10 Malang” Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mardianto, M. Kes (II) dr. Rias Gesang Kinanti, M. Kes. Kata kunci: Profil Model UKS Unggulan, Sekolah Menengah Atas. Pembinaan dan pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah adalah upaya pendidikan dan kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu, sadar, berencana, terarah dan bertanggungjawab dalam menanamkan, menumbuhkan, mengembangkan dan membimbing untuk menghayati, menyenangi dan melaksanakan prinsip hidup sehat dalam kehidupan peserta didik sehari-hari yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik. Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik maupun warga belajar dan menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis serta optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 10 Malang yang beralamat di Jl. Danau Grati 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, karena fokus atau masalah yang akan diteliti lebih banyak menyangkut proses dan memerlukan pengamatan yang mendalam serta mengungkap fenomena tertentu yang sifatnya unik dan menekankan pada suatu proses. Teknik analisis data dalam penelitian kualitatif ini dilakukan selama di lapangan dan sesudah pencarian data di lapangan. Aktivitas yang dilakukan untuk mengecek keabsahan data pada penelitian ini dengan mencocokkan perkataan setiap informan, selain itu mencocokkan hasil catatan lapangan dari hasil percakapan. Subyek penelitian adalah fenomena Profil Model UKS Unggulan SMA Negeri 10 Malang. Profil Model UKS Unggulan yang meliputi: 1) Ruang Sekolah, 2) Sarana dan Prasarana: a) Ruang UKS, b) Kantin Sekolah, c) Tempat cuci tangan dan d) Kamar mandi, jamban dan peturasan 3) SDM (Sumber Daya Manusia), 4) TRIAS UKS: a) Pendidikan Kesehatan, b) Pelayanan Kesehatan, c) Pembinaan Lingkungan Air Bersih, d) Sampah dan Air Limbah, e) Halaman dan Pekarangan serta f) Pagar Sekolah. 5) Manajemen/Organisasi dan 6) Peran Serta Masyarakat. Mekanisme pengelolaan terhadap ketersediaan sarana prasarana dari tahun ke tahun selalu dilakukan penambahan yang semakin lengkap dan terus di upayakan semakin baik yang tentu saja upaya ini tidak terlepas dari partisipasi dan kepercayaan masyarakat, baik orang tua peserta didik maupun masyarakat sekitar sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Profil Model Usaha Kesehatan Sekolah Unggulan yang dilaksanakan di SMA Negeri 10 Malang sudah sesuai dengan pedoman kesehatan di sekolah yang telah ditetapkan oleh DEPDIKNAS Pusat. Di SMA Negeri 10 Malang sudah memiliki: 1) Beberapa ruangan yang digunakan untuk menunjang pembelajaran yang sudah memenuhi 3 aspek kebersihan dan kerapihan, yaitu: tidak ada coretan, tidak ada kotoran/sampah dan peralatan yang ada di ruangan sudah tersusun rapi, 2) Sarana/Prasarana di ruang UKS sudah lengkap, 3) Sumber Daya Manusia (SDM) sudah tersedia, sudah memiliki Kader Kesehatan Remaja yang terlatih, 4) Sudah melaksanakan program TRIAS UKS melalui kegiatan Pendidikan Kesehatan, Penyuluhan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan, Pembinaan Lingkungan Air Bersih, 5) Organisasi Tim Pelaksana UKS sudah ada dan memiliki kelengkapan Administrasi dan 6) Sudah mengikutsertakan Peran Serta Masyarakat untuk menunjang kegiatan UKS berupa bantuan dana dan sarana dari komite sekolah. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Profil Model UKS Unggulan di SMA Negeri 10 Malang sudah memenuhi kategori sangat baik, sehingga Profil Model UKS Unggulan di SMA Negeri 10 Malang perlu dipertahankan dan lebih ditingkatkan lagi. SMA Negeri 10 Malang secara umum diharapkan kepada pihak kepala sekolah lebih memperhatikan lagi sisi pentingnya pengelolaan UKS demi terciptanya lingkungan sekolah yang lebih sehat, disarankan untuk lebih memaksimalkan ide serta gagasan untuk mengembangkan UKS, selalu menjaga hubungan baik dan harmonis antara personil sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan, siswa dan orang tua siswa agar orang tua siswa merasa aman dan senang menyekolahkan putranya. Bagi peneliti disarankan dapat melaksanakan program-program kesehatan sekolah baik di sekolah ketika peneliti mengajar dan dilingkungan masyarakat serta dapat menerapkan Pendidikan Kesehatan yang telah didapatkan selama perkuliahan kepada siswa yang dididik..

Penerapan pembelajaran model direct instruction dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-A UPTD SMP negeri 2 Gampengrejo Kabupaten Kediri tahun pelajaran 2008/2009 / Ninik Kristina

 

ABSTRACT Kristina, Ninik. 2009. Application of Direct Instruction with Contextual Approach to Improve Students' Achievement in Class VIIIA UPTD SMP Negeri 2 Gampengrejo Kabupaten Kediri in Academic year 2008/2009. A paper, the physics department. University of Malang. Supervisors: (I) Drs. Sumarjono, (II) Drs. Asim, M.Pd. Key word: direct instruction, contextual approach, students' achievement. Based on the result of the observation found that the teaching learning process of physics in class VIIIA UPTD SMP Negeri 2 Gampengrejo was carried out conventionally and students' were passive. The result of interview with physics teacher showed that the students' comprehension of physics was low, it can be seen on how many students' joined in remedial exam to get the passing grade and the independency of students on learning was low. From the description above, it needed improvement in teaching learning process using direct instruction with contextual approach. It is hoped that the students' achievement in physics improves. This research is a class action research using direct instruction in physics class on the topic light. It is conducted in two cycles, each cycle consist of 2 meetings for four teaching periods. The subject of this class action research is the 39 students' of class VIIIA UPTD SMP Negeri 2 Gampengrejo Kab. Kediri. The research is carried out in even semester academic year 2008/2009. The data got is the students' achievement including three aspects which are cognitive, affective and psychomotor, and teaching leaning process, and field note. The cognitive aspect is measured from the students' score, affective and psychomotor got from observation in cycle 1 and cycle 2. The improvement of students' achievement can be seen from the result of test in cycle 1 and cycle 2. The improvement of the cognitive aspect between cycle 1 and cycle 2 is 69,64 becomes 82,64 which has criteria good becomes very good. The improvement of the affective aspect between cycle 1 and cycle is 47,6% becomes 60,09% which has criteria fair becomes good. The improvement of the psychomotor aspect between cycle 1 and cycle is 57,35% becomes 70,06% which has criteria fair becomes good. Based on the result of this class action research, it can be concluded that direct instruction with contextual approach can improve students' achievement of class VIIIA UPTD SMP Negeri 2 Gampengrejo Kab.Kediri.

Pengelolaan laboratorium restoran untuk pembelajaran mata pelajaran program produktif Jurusan Restoran di SMK Negeri 2 Malang / Saharia

 

ABSTRAK Saharia. 2009. Pengelolaan Laboratorium Restoran untuk Pembelajaran Mata Pelajaran Program Produktif Jurusan Restoran di SMK Negeri 2 Malang. Skripsi, Program Studi Tata Boga, Bidang Keahlian Usaha Jasa Restoran, Jurusan Teknologi Industri; Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, ST., M.Pd, (2) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. kata kunci : Pengelolaan, laboratorium restoran, SMK. Laboratorium memiliki fungsi yang sangat penting untuk sebuah SMK sebagai sarana yang memfasilitasi siswa dalam kegiatan praktikum. Laboratorium dapat berfungsi dengan baik apabila dikelola dengan baik. Dalam sistem pengelolaan sebuah laboratorium dibutuhkan kecakapan dalam menentukan kebutuhan siswa akan kegiatan praktikum. Dengan adanya laboratorium maka tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan laboratorium Jurusan Restoran di SMK Negeri 2 Malang yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian sarana prasarana dan pengorganisasian sumber daya manusia, pengawasan, serta faktor pendukung dan penghambat dalam pengelolaan laboratorium restoran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian studi kasus. Sumber data dalam penelitian ini adalah kondisi fisik laboratorium restoran dan segala perlengkapannya, Kepala Sekolah, Waka Kurikulum, Waka Sarana Prasarana, laboran, guru, dan KBM di laboratorium restoran, serta dokumen laboratorium dan perangkat pembelajaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara, observasi serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan; (1) perencanaan dilakukan berdasarkan pedoman yang digunakan, yaitu kurikulum; (2) pengorganisasian sarana dan prasarana yang dilakukan meliputi pengorganisasian peralatan, ruangan, serta kesehatan dan keselamatan kerja (K3); (3) pengorganisasian sumber daya manusian yang dilakukan yaitu memberikan pekerjaan kepada orang yang berkompeten di bidangnya dan menggunakan sistem membagi habis pekerjaan; (4) pegawasan yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan terhadap kegiatan praktik, proses hingga kegiatan praktik selesai, penggunaan sarana dan prasarana serta K3; (5) faktor-faktor pendukung dalam pengelolaan antara lain adanya bantuan peralatan dari Pemerintah Daerah di awal berdirinya program restoran, terdapat tenaga pendidik yang bersedia mengajar di program restoran serta adanya ruangan yang dapat digunakan sebagai laboratorium; (6) faktor penghambat, yaitu terbatasnya anggaran guna pengadaan peralatan, pembangunan gedung baru dan tenaga pendidik yang berlatar belakang restoran. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar: 1) Kepala SMK Negeri 2 lebih memperhatikan pengorganisasian sarana prasarana, lebih aktif dalam menggali dana, serta lebih selektif dalam merekrut tenaga pendidik (GTT); 2) Lembaga khususnya Jurusan Restoran lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas lulusannya; 3) bagi kepala laboratorium/guru mata diklat agar lebih berperan aktif dalam pengelolaan dengan cara mengikuti pelatihan atau seminar; 4) bagi peneliti selanjutnya diharapkan memperluas lingkup penelitian misalnya pada pengorganisasian sumber daya manusia.

Pengaruh kualitas layanan terhadap loyalitas konsumen dan dampak pada kepuasan pelanggan di restoran "Oen" Malang / Rinna Muhammad

 

ABSTRAK Muhammad, Rinna. 2009. “Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Loyalitas Konsumen Melelui Kepuasan Pelanggan di Restoran OEN Malang” Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Usaha Jasa Restoran Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Etta Mamang Sangadji. M, Si. Pembimbing (II) Dra. Anti Asta Viani, M.Pd. Kata Kunci: Kualitas layanan, Loyalitas, Kepuasan Setiap perusahaan memiliki strategi pemasaran yang berbeda, strategi dijalankan bertujuan untuk menarik minat konsumen di pasar. Persaingan didunia bisnis semakin ketat, maka diperlukan suatu strategi pemasaran yang jitu agar memiliki suatu keunggulan bersaing untuk memenangkan pasar. Salah satu alternatif adalah melakukan berbagai upaya mempertahankan pasar yang sudah ada melalui usaha meningkatkan kepuasan pelanggan serta memberikan pelayanan semaksimal mungkin sehingga harapan dari konsumen dapat tercapai yaitu mendapatkan pelayanan yang terbaik. Apabila perusahaan dapat menyesuaikan pelayanan dengan harapan dan tuntutan konsumen (pelanggan) maka kepuasan konsumen yang menjadi sasaran utama perusahaan dapat tercapai. Penelitian ini dilakukan untuk menggetahui: (1) Kualitas layanan, (2) Kepuasan Pelanggan, (3) Loyalitas Konsumen, (4) Pengaruh secara langsung antara kualitas layanan yang terdiri dari variabel bukti nyata, keandalan, ketanggapan, jaminan dan empati secara parsial terhadap kepuasan pelanggan, (5) pengaruh secara langsung antara kualitas layanan secara simultan terhadap kepuasan pelanggan, (6) pengaruh secara langsung antara kepuasan pelanggan dan loyalitas konsumen, (7) Dimensi yang dominan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan. Jenis penelitian yaitu penelitian penjelasan (explanatory research) dengan menggunakan penelitian assosiatif. Populasi dalam penelitian ini adalah responden yang melakukan pembelian di Restoran OEN Malang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik accidental sampling, sedangkan teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi linier berganda yang di bantu dengan program komputer SPSS versi 12.0 for windows.Penelitian ini mempunyai 3 variabel, yaitu variabel bebas, variabel intervening dan variabel terikat. Hasil penelitian ini adalah (1) Kualitas layanan restoran OEN Malang cukup banyak responden yang menyatakan kurang setuju terhadap variabel jaminan yaitu indikatornya Terikat keamanan mengkonsumsi, Pemilihan bahan yang berkualitas, (2) Kepuasan pelanggan dikatakan baik, hal tersebut berdasarkan cukup banyak responden yang menyatakan setuju. (3) Loyalitas konsumen dikatakan baik, hal tersebut berdasarkan cukup banyak responden yang menyatakan setuju. (4) Kualitas layanan secara parsial berpengaruh positif yang signifikan terhadap kepuasan pelanggan hal tersebut dapat dilihat dari buktinyata: nilai thitung bukti nyata (X1) sebesar 2,280 dan sig sebesar = 0,025, thitung keandalan (X2) sebesar 2,634 dan sig sebesar = 0,010, thitung ketanggapan (X3) sebesar 2,360 dan i sig sebesar = 0,020, thitung jaminan (X4) sebesar 3,102 dan sig sebesar = 0,003, thitung empati (X5) sebesar 2,315 dan sig sebesar = 0.023. (5) kualitas layanan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan dengan nilai Fhitung sebesar 8,494 sig = 0,000 dan nilai R square sebesar 45,8% sedangkan sisanya sebesar 54,2% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model regresi ini. Variabel ketanggapan paling dominan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan sebesar 57%. Adapun saran yang dapat diberikan kepada pihak restoran OEN Malang yaitu tetap mempertahankan kualitas pelayanan dan selalu memperhatikan kebutuhan konsumen. Disamping meningkatkan kualitas layanan, pihak Restoran OEN Malang juga perlu meningkatkan mutu produk dan membuat lebih banyak lagi variasi menu-menu baru agar bisa lebih memuaskan konsumen.

Pengaruh faktor intern, faktor ekstern dan pendekatan belajar akuntansi terhadap kesulitan belajar akuntansi siswa kelas XI Jurusan Ilmu Sosial di SMA Negeri 2 Malang / Maya Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Maya. 2009. Pengaruh Faktor Intern, Faktor Ekstern dan Pendekatan Belajar Akuntansi Terhadap Kesulitan Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI Jurusan Ilmu Sosial di SMA Negeri 2 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Yuli Widi Astuti S.E, M.Si Ak, (2) Dr. Sunaryanto M.Ed Kata Kunci : Faktor Intern, Faktor Ekstern, Pendekatan Belajar Akuntansi Rendahnya prestasi belajar akuntansi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kesulitan belajar yang berasal dari faktor intern, faktor ekstern dan pendekatan belajar yang digunakan siswa dalam belajar akuntansi. Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri siswa itu sendiri. Faktor ekstern adalah faktor yang timbul dari lingkungan sekitar siswa, atau faktor yang datang dari luar diri siswa. Sedangkan pendekatan belajar adalah cara belajar siswa yang ikut menentukan strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran materi tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji apakah faktor intern, faktor ekstern dan pendekatan belajar yang digunakan siswa dalam belajar akuntansi ikut mempengaruhi tingkat kesulitan siswa dalam belajar akuntansi. Pengambilan populasi penelitian berdasarkan nilai UAS Akuntansi siswa yang berada dibawah standart kentuntasan SMA Negeri 2 Malang, yaitu siswa yang memperoleh nilai dibawah 75. Diasumsikan siswa tersebut memiliki kesulitan belajar yang menyebabkan ketidaktuntasan dalam belajar akuntansi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah butir-butir soal tes faktor intern, faktor ekstern dan pendekatan belajar yang digunakan siswa dalam belajar akuntansi, serta data dokumentasi tentang nilai UAS Akuntansi siswa dan tingkat IQ siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier ganda. Dari analisis data diperoleh bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara faktor intern penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi (X1) terhadap kesulitan siswa belajar akuntansi (Y). Demikian juga ada pengaruh positif yang signifikan antara faktor ekstern penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi (X2) terhadap kesulitan siswa belajar akuntansi (Y). Serta ditemukan ada pengaruh positif yang signifikan antara pendekatan belajar akuntansi (X3) terhadap kesulitan siswa belajar akuntansi (Y). Selain itu secara simultan ada pengaruh positif signifikan dari faktor intern (X1), faktor ekstern (X2) dan pendekatan belajar akuntansi (X3) terhadap tingkat kesulitan belajar akuntansi siswa kelas XI jurusan ilmu sosial SMA Negeri 2 Malang (Y). Hasil uji F menunjukan signifikasi (probabilitas) yang menyertainya lebih kecil dari signifikasi alfa, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi faktor intern penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi, dan semakin semakin tinggi faktor ekstern penyebab kesulitan siswa belajar akuntansi, maupun penggunaan pendekatan belajar akuntansi siswa yang kurang tepat secara simultan (bersama-sama) akan selalu diikuti oleh tingginya tingkat kesulitan siswa belajar akuntansi. Hal ini berarti bahwa hipotesis awal diterima. Kesimpulan yang diperoleh secara parsial maupun simultan ada pengaruh positif signifikan dari faktor intern, faktor ekstern dan pendekatan belajar akuntansi terhadap tingkat kesulitan belajar akuntansi siswa kelas XI jurusan ilmu sosial SMA Negeri 2 Malang. Saran yang diberikan dengan banyaknya faktor penyebab kesulitan siswa dalam belajar akuntansi, maka dibutuhkan kerjasama yang baik antara berbagai pihak sekolah, guru, orang tua, lingkungan masyarakat maupun siswa itu sendiri dalam mencapai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan.

Perancangan media komunikasi visual sebagai sarana promosi wisata Water Park Sumber Udel Blitar / Budiono

 

ABSTRAK Budiono. 2009. Perancangan Media Komunikasi Visual sebagai Sarana Media Promosi Wisata Water Park Sumber Udel Blitar. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Triyono Widodo, M.Sn (II) Drs. Sarjono, M.Sn. Kata Kunci: Perancangan, Media Komunikasi Visual, Wisata Water Park Sumber Udel Blitar. Wisata Water Park Sumber Udel Blitar merupakan kerjasama antara pemerintah kota Blitar dengan Management Suncity yang berada dikota Sidoarjo. Dalam melaksanakan kegiatan publikasi, pihak Water Park Sumber Udel Kurang memanfaatkan media-media komunikasi periklanan sebagai media penyebaran informasi kepada masyarakat sehingga informasi yang tersebar di masyarakat sangatlah minim. Hal tersebut berdampak kepada minimnya antusiasme masyarakat untuk mengunjungi Tempat wisata Water Park Sumber Udel. Perencanaan media komunikasi visual adalah salah satu solusi yang dapat digunakan dalam melaksanakan kegiatan publikasi tersebut. Akan tetapi, setiap media dalam kondisi tertentu memiliki peranan dan fungsi yang berbeda, maka perlu adanya perencanaan baik secara konseptual maupun visual dalam setiap perancangan media. Pokok permasalahan dalam perancangan ini adalah jenis media komunikasi visual apakah yang sesuai kebutuhan klien dan target audiens, berkenaan dengan promosi Water Park Sumber Udel sebagai salah satu tempat wisata di kota Blitar dan bagaimanakah konsep desain komunikasi visualnya. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap Water Park Sumber Udel. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi (3) kuisioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan hasil penyebaran kuisioner yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan komunikasi visual (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan media komunikasi visual. Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yakni (1) tahap persiapan (2) tahap pelaksanaan (3) dan tahap penyusunan laporan penelitian. Water Park Sumber Udel Blitar adalah tempat wisata tirta yang memiliki wahana yang lengkap seperti kolam Olimpic, Water River, timba raksasa, panggung hiburan, dan Pujasera, serta taman bermain indoor dan outdoor yang nyaman sehingga mampu bersaing dimasa yang akan datang. Kesimpulan penelitian ini adalah perancangan media promosi Water Park Sumber Udel Blitar sebagai media promosi dengan bentuk visualisasi yang sesuai dengan ciri khas warna, ilustrasi, fotografi, tipografi serta media yang digunakan. Saran yang dapat diajukan, yaitu untuk dapat meningkatkan dan kemudian mempertahankan citra positif dari Water Park Sumber Udel Blitar, maka penggunaan perancangan media promosi merupakan suatu solusi yang tepat.

Pembelajaran wayang topeng anak-anak pada Sanggar Panji Laras di Dusun Kedungmonggo Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / Merry Rosa Erira Nurwira Yuning Tyas

 

ABSTRAK Merry Rosa E.N.Y.T. 2009. Pembelajaran Wayang Topeng Anak-anak pada Sanggar Panji Laras di Dusun Kedungmonggo Desa Karangpandan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Robby Hidajat, M.Sn, (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran, Wayang Topeng, Seni Tari untuk Anak-anak. Pembelajaran seni di sanggar amat berbeda dengan pembelajaran seni yang ada di sekolah formal. Pendidikan seni meliputi semua bentuk kegiatan tentang aktifitas fisik dan non fisik yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak,dan peran. Sanggar Panji Laras Kedungmonggo terletak dibawah naungan Perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun Kedungmonggo dan merupakan sub-bagiannya. Perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun Kedungmonggo merupakan salah satu lembaga pembelajaran seni tari non formal yang ada di Kabupaten Malang. Perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun Kedungmonggo merupakan sanggar Wayang Topeng yang tertua dan dijadikan sebagai aset daerah oleh pemerintah Kabupaten Malang. Wayang topeng merupakan sebuah pertunjukkan drama berlakon yang ditampilkan oleh penari dengan menggunakan penutup muka (topeng) untuk mengetengahkan karakteristik tokoh-tokohnya. Usaha untuk melestarikan keberadaan wayang topeng di Dusun Kedungmonggo saat ini mulai tampak dengan adanya upaya regenerasi dengan cara melatih anak-anak usia SD – SMP yang nantinya mereka akan dilatih secara khusus sehingga dapat menguasai tarian maupun memerankan tokoh Wayang topeng. Proses pembelajaran Wayang topeng anak-anak di sanggar Panji Laras Kedungmonggo merupakan suatu wadah untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak yang memiliki bakat dan minat terhadap wayang topeng Kedungmonggo. Pelaksanaan pembelajarannya dilakukan oleh pelatih/pengajar kepada siswa/anggota sebagaimana pembelajaran seni dalam sistem non akademik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Wayang Topeng anak-anak pada perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun, untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung pembelajaran Wayang Topeng anak-anak pada perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun, dan untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat pembelajaran Wayang Topeng anak-anak pada perkumpulan Wayang Topeng Asmarabangun. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif, prosedur pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik dokumentasi, wawancara, dan observasi. Analisa data dilakukan dengan cara reduksi, penyajian data, penarikan simpulan dan verifikasi. Melalui hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa, (1) pelaksanaan pembelajaran Wayang Topeng anak-anak dilakukan oleh pelatih kepada siswa, (2) faktor-faktor yang mendukung pembelajaran mempengaruhi prestasi belajar siswa, (3) faktor-faktor yang menghambat pembelajaran berasal dari pelatih, faktor internal maupun eksternal siswa. Dari hasil penelitian ini diharapkan adanya peningkatan sistem pembelajaran pada pembelajaran Wayang Topeng anak-anak agar tujuan pembelajarannya lebih terarah dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan

Rancang bangun mesin penggulung kumparan dinamo pada motor Yamaha F1 ZR / Akhmad Kharis

 

Kinerja guru pendidikan jasmani SD negeri dalam menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM) di Gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / Agus Nur Shofi Wahit

 

ABSTRAK Wahit, Agus Nur Shofi. 2009. Kinerja Guru Pendidikan jasmani SD Negeri Dalam Menciptakan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (PAKEM) Di Gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mardianto M.Kes, (II) Drs. H. Sugiyanto. Kata Kunci : Kinerja Guru Penjas, Menciptakan PAKEM, SD Negeri Kurikulum 2004 yang lazim disebut kurikulum berbasis kompetensi menuntut pelaku pendidikan harus lebih ekstra mempersiapkan diri terutama guru sebagai motor utama proses pendidikan. Oleh karena guru langsung berhadapan dengan murid sebagai subyek pembelajaran maka perlu diciptakan hubungan yang harmonis, menarik, dan menyenangkan. Target ini harus berjalan serentak dan bersama-sama yaitu kemampuan guru yang maksimal, kemauan siswa, perhatian orang tua dan institusi pendidikan yang bijak. Kemampuan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran perlu diupayakan lebih bermutu, sehingga pembelajaran mencapai tujuan. Karena guru dalam mengajar lebih banyak memperdaya siswa dari pada memberdayakan siswa, siswa tidak diarahkan untuk berkembang tetapi diatur untuk jangan begini, jangan begitu dan pada akhirnya siswa menjadi pasif dan takut berbuat. Hal ini perlu diperhatikan guru, karena siswa adalah orang yang memiliki potensi bukan tabung kosong yang harus diisi. PAKEM sebagai salah satu strategi pembelajaran saat ini sangat tepat dikuasai guru sebagai modal pelaksanaan KBK dalam proses pembelajaran. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang Kinerja Guru Penjas SD Dalam Menciptakan PAKEM Di Gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Rincian rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut. (1) Bagaimana kinerja guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dalam menciptakan PAKEM pada penyususunan perencanaan pembelajaran; (2) Bagaimana kinerja guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dalam menciptakan PAKEM pada pelaksanaan pembelajaran tahap pendahuluan; (3) Bagaimana kinerja guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dalam menciptakan PAKEM pada pelaksanaan pembelajaran tahap Inti; (4) Bagaimana kinerja guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dalam menciptakan PAKEM pada pelaksanaan pembelajaran tahap penutup. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif yang dilakukan di SD Negeri gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang meliputi: dengan melakukan Obsevasi dan dokumentasi. Pengumpulan data penelitian ini diperoleh 6 orang subyek penelitian yaitu guru pendidikan jasmani sekolah dasar di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Penelitian ini menghasilkan beberapa hal: Kinerja Guru Penjas SD dalam Menciptakan PAKEM di Gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang secara keseluruhan sudah cukup baik, dengan rincian sebagai berikut: Pertama, kinerja guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dalam menciptakan PAKEM pada penyusunan perencanaan ditandai dengan secara bersama-sama guru pendidikan jasmani digugus II Kecamatan Wagir menyusun perencanaan pembelajaran sesuai dengan kurikulum, sehingga mereka memiliki sistem perencanaan pembelajaran yang sama. Kedua, kinerja guru penjas pada pelaksanaan pembelajaran aktif dilakukan dengan cukup baik namun masih ada kekurangan yang dimiliki bahwa tidak ada satupun guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang pada saat pelajaran berakhir mengajak siswanya untuk menyimpulkan bersama-sama materi yang telah dipelajari hari itu. Ketiga, pada pelaksanaan pembelajaran Kreatif masih tergolong cukup baik hal ini dapat dilihat dari guru penjas tidak pernah mengaitkan lingkungan sekitar dengan materi yang diajarkan dan juga guru tidak pernah memakai lingkungan yang ada disekitar sebagai sumber belajar. Keempat, pada pelaksanaan pembelajaran efektif termasuk cukup baik dalam pelaksanaannya tetapi juga masih ditemukan pada saat observasi bahwa tidak ada guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang yang mengulas sepintas atau membahas sedikit materi pertemuan yang lalu hanya dengan tujuan agar siswa tidak lupa sebelum menerima materi yang baru Sehingga siswa menjadi kurang mengerti dari materi yang telah dipelajari. Kelima, pada pelaksanaan pembelajaran menyenangkan termasuk cukup baik dalam pelaksanaannya tetapi juga masih ditemukan pada saat observasi bahwa tidak ada satupun guru pendidikan jasmani SD Negeri di gugus II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang yang mampu membuat cerita-cerita yang bisa membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap materi yang akan diajarkan. Hal ini menunjukkan kurangnya kreatifitas guru dalam penyampaian materi. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapakan agar kinerja guru pendidikan jasmani SD Negeri lebih meningkatkan mutu dan kualitas sistem mengajarnya dengan tujuan siswa dalam mengikuti materi pelajaran menjadi bersemangat dan penuh motivasi karena dengan penggunaan metode belajaar yang tepat dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Islam Malang / Chadhirun Asnif Fadhlun Nisa

 

ABSTRAK Nisa, Chadhirun Asnif Fadhlun. 2009. Pengaruh Motivasi Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi di SMA Islam Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Triadi Agung S, S.E., M.Si., Ak. (II) Dra. Tri Laksiani, S.E., MM. Kata Kunci: Motivasi Belajar, Prestasi. Pendidikan tidak hanya mencakup kecerdasan atau intelektual belaka, melainkan juga mencakup ketrampilan dan pengembangan pribadi sebagai makhluk Tuhan dan sebagai warga negara. Bidang studi/ mata pelajaran akuntansi tidak hanya berisi muatan teori namun juga ketrampilan dan bahkan sarat dengan nilai atau sikap tertentu oleh karena itu penyediaan sarana dan prasarana di sekolah harus mendapat perhatian agar dapat menumbuhkan keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar guna mencapai prestasi belajar yang memuaskan. Dalam proses belajar, banyak sekali faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu faktor intern dan ekstern. motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Motivasi berperan dalam menumbuhkan dan mengarahkan kegiatan siswa yang kurang berminat terhadap pelajaran yang diajarkan oleh guru. Hasil belajar (prestasi belajar) akan menjadi optimal kalau ada motivasi. Motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar dan prestasi belajar bagi siswa Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh secara parsial motivasi terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMA ISLAM Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS yang berjumlah 208 siswa. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 104 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasional, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial motivasi mempunyai pengaruh positif terhadap prestasi siswa kelas XI SMA ISLAM Malang, hal itu dapat diketahui dari nilai thitung 19,117. Saran yang dapat diberikan yaitu: (1) Guru hendaknya senantiasa memberikan arahan dan dorongan kepada siswa dalam rangka meningkatkan motivasi mereka dan agar siswa selalu memperbaiki kebiasaan belajar mereka salah satunya adalah dengan cara menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan, (2) siswa diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar dan memperbaiki kebiasaan belajar agar dapat mencapai prestasi yang baik, (3) Bagi peneliti lain yang tertarik untuk memperbaiki atau melanjutkan penelitian ini disarankan agar peneliti tersebut menambah variabel yang akan digunakan karena masih banyak variabel lain yang dapat mempengaruhi prestasi serta menggunakan sampel yang lebih luas.

Pemodelan keberadaan tanah berongga dengan menggunakan metode geolistrik (penelitian laboratorium) / Irlia Risandila Daristan

 

ABSTRAK Daristan, Irlia Risandila. 2009. Pemodelan Keberadaan Tanah Berongga Dengan Menggunakan Metode Geolistrik (Penelitian Laboratorium). Skripsi, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Burhan Indriawan S.Si., M.Si. (II) Daeng Achmad Suaidi, S.Si, M.Kom. Kata kunci: Geolistrik Resistivitas, konfigurasi Schlumberger, Sounding Mapping, Rongga. Metode geolistrik tahanan jenis adalah salah satu metode geofisika yang memanfaatkan distribusi resistivitas untuk mengetahui struktur geologi di bawah permukaan bumi. Metode ini banyak digunakan untuk pencarian air tanah, monitoring pencemaran air tanah, eksplorasi geothermal, aplikasi geoteknik dan penyelidikan di bidang arkeologi. Penelitian geolistrik menggunakan pemodelan di laboratorium dengan menggunakan metode resistivitas konfigurasi Schlumberger Sounding-Mapping dimaksudkan untuk menguji metode geolistrik dalam penerapannya di bidang geoteknik, yaitu mempelajari pola anomali akibat adanya rongga dalam tanah. Dimana benda berongga yang digunakan berbentuk silinder terbuat dari semen cor sebagai analogi dari rongga dalam tanah. Konfigurasi elektroda yang digunakan dalam pengukuran adalah konfigurasi Schlumberger Sounding-Mapping. Pengolahan dan interpretasi data menggunakan software Res2Dinv ver 3.54x untuk mengetahui pencitraan penampang anomali. Dari hasil interpretasi, menunjukkan bahwa distribusi nilai resistivitas semu yang terukur dapat memperkirakan keberadaan rongga di dalam tanah. Pada analisis data resistivitas pasir setelah adanya benda berongga yang ditanam pada posisi 0o terhadap lintasan pengukuran, terlihat sebaran nilai resistivitas antara 837 Ωm sampai 99694 Ωm. Pola anomali akibat rongga ditunjukkan dengan warna biru tua, berada pada skala horizontal yang berkisar antara 0,775-0,975 m dan pada skala vertikal yang berkisar antara 0,093-0,240 m. Dari perhitungan skala tersebut, didapatkan posisi anomali tersebut berada pada skala 0,093 yang berarti pada kedalaman sekitar 0,093 m. sedangkan pada analisis data resistivitas pasir setelah adanya benda berongga yang ditanam pada posisi 90o terhadap lintasan pengukuran, terlihat sebaran nilai resistivitas antara 172 Ωm sampai 1776348 Ωm. Pola anomali akibat rongga ditunjukkan dengan warna biru tua, berada pada skala horizontal yang berkisar antara 1,025-1,275 m dan pada skala vertikal yang berkisar antara 0,126-0,289 m. Dari perhitungan skala tersebut, didapatkan posisi anomali tersebut berada pada skala 0,126 yang berarti pada kedalaman sekitar 0,126 m. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai resistivitas yang terukur dapat memprediksikan letak rongga dalam tanah. Jadi melalui penelitian ini diharapkan memberi informasi ke masyarakat tentang struktur geologi bumi.

Pengaruh kultur sekolah terhadap motivasi belajar siswa melalui kinerja guru (studi pada siswa kelas XI SMK Negeri 1 Turen) / Nur Anita

 

ABSTRAK Anita, Nur. 2009. Pengaruh Kultur Sekolah Terhadap Motivasi Belajar Siswa Melalui Kinerja Guru. Skripsi, Jurusan Manajemen S1 Pendidikan Adminstrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Supriyanto, M.M, (II) Imam Bukhori, S.Pd, M.M. Kata kunci Kultur Sekolah, Motivasi Belajar Siswa, Kinerja Guru Usaha-usaha peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan merupakan tekad dan komitmen bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada hakikatnya ada dua pendekatan yang dapat dilakukan yaitu struktural dan kultural. Perbaikan struktural telah lama dilakukan Departemen Pendidikan Nasional seperti perbaikan komponen-komponen dan pelatiahan guru namun hasilnya belum menggembirakan. Hal ini sesuai pengamatan Ginningham dan Gresso (dalam Jumadi, 2004:22) yang mengisyaratkan ”bahwa dalam perjalanan sejarah, usaha peningkatan pendidikan melalui pendekatan struktural tidak berhasil mengubah keadaan”. Berbeda dengan pendekatan kultural yang bersifat bottom-up, sehingga warga sekolah tidak merasa disuruh, diperintah atau dipaksa melakukan perbaikan-perbaikan, namun atas kesadaran, keyakinan dan kehendak sendiri melakukan perbaikan-perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan. Salah satu faktor untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah dan peningkatan kinerja sekolah perlu dibangun budaya organisasi di sekolah. Menurut Deal dan Peterson, (1999) budaya sekolah adalah ”sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah”. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. Penerapan kultur sekolah yang tepat akan mempunyai pengaruh yang berarti dalam aktivitas belajar siswa, maupun dalam mempengaruhi guru untuk melakukan pekerjaan yang lebih efisien dan efektif untuk mencapai kinerja guru yang baik. Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat pembelajaran, karena merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan belajar. Dengan adanya motivasi, siswa akan terdorong untuk melaksanakan dan mengerjakan tugas belajarnya. Motivasi tidak hanya berasal dari dalam diri sendiri (internal) akan tetapi juga berasal dari luar (eksternal). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara: (1) Kultu sekolah terhadap kinerja guru, (2) Kultur sekolah terhadap motivasi belajar siswa, (3) Kinerja guru terhadap motivasi belajar siswa, dan (4) Kultur sekolah terhadap motivasi belajar melalui kinerja guru Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory research. Populasi yang dipilih adalah adalah seluruh siswa kelas XI SMK Negeri 1 Turen berjumlah 510 siswa. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel random (random sampling) dengan sampel sebanyak 75 responden, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara Kultur Sekolah terhadap Kinerja Guru pada siswa SMK Negeri 1 Turen sebesar 0,389, (2) Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara Kultur Sekolah terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Siswa SMK Negeri 1 Turen sebesar 0,215, (3) Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan antara Kinerja Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa SMK Negeri 1 Turen sebesar 0,523, dan (4) Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan antara Kultur Sekolah terhadap Motivasi Belajar Siswa melalui variabel Kinerja Guru pada SMK Negeri 1 Turen sebesar 0,203. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1) Salah satu sarana yang ada disekolah adalah perpustakaan, selama ini penggunaan perpustakaan di SMK Negeri 1 Turen masih kurang maksimal selain dikarenakan koleksi buku-buku yang terbatas, penataan ruangan yang kurang menarik juga diakibatkan ruang perpustakaan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sehingga membatasi siswa untuk masuk kedalam perpustakaan. Kultur sekolah yang ada di SMK Negeri 1 Turen hendaknya ditingkatkan utamanya dalam penyediaan sarana dan prasarana kelas dan perpustakaan sekolah, karena perpustakaan merupakan sumber pengetahuan bagi siswa dimana siswa mendapatkan berbagai informasi yang mungkin tidak diberikan di kelas; (2) Kondisi kinerja guru di SMK Negeri 1 Turen dikategorikan cukup. Kondisi tersebut akan lebih meningkat apabila kepala sekolah dapat mempertahankan dan bahkan mampu meningkatkan hasil kerja yang telah dicapai kearah yang lebih baik di masa mendatang dengan cara memberikan motivasi melalui penciptaan kultur sekolah yang baik, agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik dan mencapai kinerja yang maksimal.; (3) Motivasi belajar yang ada pada diri siswa sangat berpengaruh pada prestasi siswa itu sendiri, untuk itu dalam menimbulkan motivasi belajar siswa peranan guru sebagai orang tua bagi siswa disekolah sangat berperan besar, sehingga diharapkan guru mampu bekerja secara profesional dan menjadi pribadi yang menyenangkan bagi siswa dalam kegiatan belajarnya.; (4) Dalam penelitian selanjutnya yang bertema kultur sekolah dan motivasi belajar siswa agar objek yang di ambil lebih baik adalah sekolah se-Malang Raya. Dengan mengambil sampel pada sekolah se-Malang Raya maka akan memiliki keragaman yang lebih tinggi baik karakter maupun demografi pada kultur yang ada pada sekolah.

Hubungan antara self esteem dengan penyesuaian sosial siswa kelas X SMA Negeri Kunir Kabupaten Lumajang / Agung Kurniawan Syahbita

 

Manusia itu unik, memiliki karakter yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain, termasuk potensi dan kemampuannya sejak dilahirkan. Setiap manusia ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian positif, menyukai apa yang dilihatnya, sebagaimana ia menghormati diri sendiri (menerima kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya). Kelebihan dalam bidang akademik akan tetapi mempunyai kekurangan dalam berinteraksi dengan lingkungan, seperti dengan teman sebaya dan guru di Sekolah. Dengan seringnya individu melakukan interaksi dengan orang lain, maka individu tersebut dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan atau disebut dengan penyesuaian. Menurut Hurlock (1990:58) konsep diri adalah gambaran dari keyakinan yang dimiliki orang tentang dirinya. Pietrofersa (dalam Mappiare, 1992) mendefinisikan konsep diri adalah sejumlah tingkah laku dan aspirasi individu yang banyak dipengaruhi oleh pola kepribadian yang meliputi: nilai, sikap, dan keyakinan terhadap diri seseorang dalam berhubungan dengan lingkungan. Sesuai dengan tingkat perkembangan, siswa SMA berada pada tahap ingin mencari identitas diri yang berbeda dengan orang lain sehingga siswa tersebut memiliki pemikiran akan dirinya dan keunikan-keunikan dirinya yang diwujudkan dalam bentuk kepribadian, sikap dan tingkah lakunya.

Sifat organoleptik tiwul instan ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dengan substitusi tepung daging ikan mujair yang berbeda / Ayu Ulandari

 

ABSTRAK Ulandari, Ayu. 2009. Sifat Organoleptik Tiwul Instan Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) dengan Subtitusi Tepung Daging Ikan Mujair yang Berbeda. Tugas Akhir, Program Studi Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M. P, (II) Dra. Rini Sudjarwati, M. Pd. Kata kunci: Tiwul instan, tepung ikan mujair, organoleptik. Tiwul adalah salah satu makanan tradisional di Indonesia yang berbahan dasar tepung gaplek. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan tiwul instan ikan mujair dari bahan dasar tepung gaplek yang disubtitusi dengan tepung ikan mujair dengan jumlah subtitusi yang berbeda. Subtitusi tepung ikan mujair yang digunakan yaitu 40%, 50%, dan 60%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu organoleptik dan kesukaan terhadap tiwul instan ikan mujair yang meliputi warna, aroma, tekstur ,dan rasa setelah tiwul dikukus kembali. Eksperimen dilakukan pada bulan Juni sampai Agustus 2009 di Laboratorium Tata Boga Gedung G3 lantai dua Universitas Negeri Malang. Data diperoleh dari panelis agak terlatih sebanyak 20 orang, yaitu mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006 secara acak. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap warna, aroma, tekstur, dan rasa tiwul instan pada masing-masing perlakuan (subtitusi tepung ikan 40%, 50%, dan 60%). Hasil nilai rerata warna diperoleh dari tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 40% yaitu coklat muda, hasil nilai rerata aroma diperoleh dari tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 40% yaitu kurang amis, hasil nilai rerata tekstur diperoleh dari tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 40% yaitu berbutir, dan hasil nilai rerata rasa diperoleh dari tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 60% yaitu gurih. Berdasarkan hasil uji hedonik, panelis paling menyukai warna tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 50%, dari karakteristik aroma panelis paling menyukai tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 40%, dari karakteristik tekstur panelis paling menyukai tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 50%, sedangkan dari karakteristik rasa, panelis paling menyukai tiwul instan dengan subtitusi tepung ikan 50%. Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu banyaknya jumlah subtitusi tepung ikan mempengaruhi warna, aroma, tekstur, dan rasa tiwul instan. Hasil tiwul instan ikan mujair yang paling disukai adalah tiwul dengan subtitusi tepung ikan 50%, karena dari karakteristik tiwul yang diharapkan, warna, tekstur, dan rasa yang paling disukai panelis ada pada jumlah subtitusi ini. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan uji lanjutan tentang daya terima masyarakat terhadap produk tiwul instan ikan mujair serta penggunaannya untuk diaplikasikan pada produk lain, sehingga diharapkan tiwul instan ikan mujair dapat dijadikan salah satu produk inovasi baru sebagai alternatif peluang bisnis usaha.

Hubungan penyesuaian diri dengan kekerasan teman sebaya pada siswa SMK Negeri Kota Probolinggo / Putri Erika Marganingtias

 

ABSTRAK Marganingtias, Putri Erika. 2009. Hubungan Penyesuaian Diri dengan Kekerasan Teman Sebaya pada Siswa SMK Negeri Kota Probolinggo. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Adi Atmoko M.Si (2) Fattah Hidayat M.Psi. Kata Kunci : penyesuaian diri, kekerasan teman sebaya. Kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting manakala anak sudah menginjak masa remaja karena pada masa ini remaja telah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas Apabila remaja mengalami kegagalan dalam proses penyesuaian dirinya maka akan menimbulkan rasa rendah diri, merasa dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (antisosial) dan melakukan tindak kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) gambaran penyesuaian diri pada siswa, (2) tingkat kekerasan teman sebaya pada siswa, dan (3) hubungan antara penyesuaian diri dengan kekerasan teman sebaya pada siswa SMK Negeri Kota Probolinggo. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional dengan besaran populasi sebanyak 2032 siswa SMK Negeri Kota Probolinggo, dan besaran sampel sebanyak 130 siswa yang ditentukan dengan cluster random sampling. Data penyesuaian diri dikumpulkan dengan skala penyesuaian diri (koefisien validitas item antara 0,335 sampai 0,722 dan koefisien reliabilitas item 0,872). Data kekerasan teman sebaya dikumpulkan dengan skala kekerasan teman sebaya (koefisien validitas item antara 0,332 sampai 0,831 dan koefisien reliabilitas item 0,909). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara penyesuaian diri dengan kekerasan teman sebaya pada siswa SMKN Kota Probolinggo (rxy = -0,968, sig = 0,000 < 0,05). Artinya semakin baik penyesuaian diri siswa maka semakin rendah tingkat kekerasan teman sebayanya, sebaliknya semakin buruk penyesuaian diri siswa maka semakin tinggi tingkat kekerasan teman sebaya. Hasil analsis deskriptif menunjukkan bahwa siswa SMKN Kota Probolinggo yang memiliki penyesuaian diri sangat baik sebanyak 45 orang (34,615%) dan kategori baik sebanyak 85 orang (65,385%). Sedangkan kekerasan teman sebaya pada siswa memiliki kategori sangat rendah sebanyak 128 orang (98,462%) dan kategori rendah sebanyak 2 orang (1,538%). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada : (1) kepala sekolah diharapkan memberi fasilitas kepada siswa untuk menyalurkan bakat dan minat guna mengurangi tindak kekerasan teman sebaya misalnya perlombaan sepak bola, (2) siswa diharapkan mengalihkan dorongan kekerasan yang ada dalam dirinya kepada kegiatan lain yang lebih bermanfaat yaitu mengembangkan hobi dan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, dan (3) konselor sekolah diharapkan dapat memberikan informasi kepada siswa mengenai cara pemecahan masalah (problem solving) dan pengambilan keputusan yang tepat untuk mengurangi frustrasi yang dialami oleh siswa.

Pengembangan kewirausahaan di SMK negeri 1 Turen Kabupaten Malang / Diyanita Anggraeni

 

ABSTRAK Anggraeni, Diyanita. 2009. Pengembangan Kewirausahaan di SMK Negeri 1 Turen Kabupaten Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd; (2) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, kewirausahaan, SMK Turen Pengembangan kewirausahaan di SMK memang sangat diperlukan. Hal ini sesuai dengan yang diamanatkan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 15, bahwa “Pendidikan Kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu”. SMK Negeri 1 Turen merupakan salah satu sekolah kejuruan negeri terfavorit di Kabupaten Malang. Sekolah ini memiliki 6 program keahlian, yaitu Tata Boga (Resto), Tata Busana (Busana Butik), Akuntansi (AK), Penjualan/PJ (Pemasaran), Administrasi Perkantoran (APK), dan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengembangan kewirausahaan di SMK Negeri 1 Turen, meliputi arah pengembangannya, kebijakan yang diambil, keterlibatan guru dan siswa, bentuk kegiatan wirausaha, faktor pendukung, dan faktor penghambat dalam mengembangkan kewirausahaan di sekolah ini. Penelitian ini menggunakan mixing methode, dimana metode kualitatif dijadikan fasilitator untuk metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data untuk metode kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam kepada kepala SMK Negeri 1 Turen. Hasil yang diperoleh melalui wawancara kemudian dijadikan dasar untuk pengembangan instrumen pengumpulan data (berupa angket) untuk penelitian kuantitatif. Angket diberikan kepada 30 orang responden guru adaptif-kewirausahaan dan guru produktif dari 6 program keahlian di SMK Negeri 1 Turen. Berdasarkan hasil angket diketahui bahwa: 86,7% responden memahami tentang arah pengembangan kewirausahaan di SMK Negeri 1 Turen; 76,67% responden pernah dilibatkan dalam kegiatan pengembangan kewirausahaan; 100% responden mengetahui bentuk-bentuk pengembangan kewirausahaan di SMK Negeri 1 Turen. Dengan demikian pengembangan kewirausahaan di SMK Negeri 1 Turen masih belum maksimal, sehingga perlu lebih ditingkatkan lagi, agar siswa memiliki keterampilan dalam berwirausaha sesuai dengan kompetensinya.

Hubungan kecerdasan emosi dengan kecemasan menghadapi pensiun pada Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Kota Tebing Tinggi Sumatera Utara / Hairani Lubis

 

ABSTRAK Lubis, Hairani. 2009. Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Kecemasan Menghadapi Pensiun pada Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Kota Tebing Tinggi Sumatera Utara. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Adi Atmoko M.Si, (2) Diantini Ida Viatri S.Psi, M.Si. Kata Kunci : kecerdasan emosi, kecemasan menghadapi pensiun. Pensiun sering ditandai dengan munculnya post power syndrome antara lain kecemasan karena pendapatan berkurang, kehilangan fasilitas dan jabatan, penurunan kesehatan, dan kehilangan relasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) gambaran tingkat kecerdasan emosi, 2) gambaran tingkat kecemasan menghadapi pensiun, 3) hubungan kecerdasan emosi dengan kecemasan menghadapi pensiun pada PNS di Pemko Tebing Tinggi. Desain yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional dengan besaran populasi 2967 orang PNS Pemko Tebing Tinggi, dan sampel 50 orang yang ditentukan dengan purposive sampling. Data kecerdasan emosi dikumpulkan dengan skala kecerdasan emosi (koefisien validitas item antara 0,320 sampai 0,829 dan koefisien relibialitas 0,894), data kecemasan menghadapi pensiun dikumpulkan dengan skala kecemasan menghadapi pensiun (koefisien validitas item antara 0,302 sampai 0,823 dan koefisien reliabilitas item 0,948). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kecerdasan emosi dan kecemasan menghadapi pensiun pada PNS Pemko Tebing Tinggi (rxy = -0,961 sig = 0,001 < 0,05). Artinya, semakin tinggi kecemasan menghadapi pensiun pada PNS maka semakin rendah kecerdasan emosinya, sebaliknya semakin rendah kecemasan menghadapi pensiun PNS semakin tinggi pula kecerdasan emosinya. Hasil analisis deskriptif menunjukkan sebanyak 43 orang (86%) PNS Pemko Tebing Tinggi memiliki kecerdasan emosi tinggi, 5 orang (10%) kategori sangat tinggi, sebesar 2 orang (6%) kategori rendah, dan sebanyak 34 orang (68%) PNS Pemko Tebing Tinggi memiliki kecemasan menghadapi pensiun rendah, 10 orang (20%) kategori sangat rendah, sebanyak 6 orang (12%) kategori tinggi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada: 1) walikota untuk mengadakan pelatihan kecerdasan emosi untuk mengurangi kecemasan menghadapi pensiun selain pelatihan kewirausahaan dan manajemen stress, 2) PNS yang akan memasuki masa pensiun agar lebih melatih kecerdasan emosi, lebih mengenali dan mengelola emosi diri, memotivasi diri, meningkatkan relasi sosial, 3) psikolog dapat bekerjasama dengan pemerintah atau instansi yang terkait dengan pensiun dalam mengadakan pelatihan kecerdasan emosi, psikolog sebagai perancang, pemateri, sekaligus pelatih kecerdasan emosi.

Pengembangan model pembelajaran siklus akuntansi perusahaan dagang berbasis proyek yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer di SMA Negeri Kabupaten Jember / Sri Kantun

 

Abstrak Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan penelitian, yang mencakup : Apakah model P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer pada pokok bahasan siklus akuntansi perusahaan dagang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran? Apakah model P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer pada pokok bahasan siklus akuntansi perusahaan dagang memiliki efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran? Apakah model P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer pada pokok bahasan siklus akuntansi perusahaan dagang memiliki daya tarik bagi siswa? Adakah perbedaan signifikansi keefektifan model P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer bila dibandingkan dengan model pembelajaran secara konvensional dengan pendekatan behavioristik pada pokok bahasan siklus akuntansi perusahaan dagang di S.M.A Negeri Kabupaten Jember? Bagaimana dampak model P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer di S.M.A Negeri Kabupaten Jember pada pokok bahasan siklus akuntansi perusahaan dagang dalam mendukung pelaksanaan tugas guru, khususnya dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (R.P.P), proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar? Bagaimana dampak model P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer di S.M.A Negeri Kabupaten Jember pada pokok bahasan siklus akuntansi perusahaan dagang pada kemampuan non kognitif siswa? Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development) yang didesain secara eksperimen yang sesungguhnya (True Experimental Designs). Tingkat kelayakan model pembelajaran dilakukan dengan uji validasi bahan ajar oleh penelaah ahli rancangan pembelajaran dan ahli isi bidang ilmu, ahli media pembelajaran, penilaian dari subyek perorangan (guru), uji coba kelompok terbatas dan uji coba kelompok lebih luas. Populasinya adalah keseluruhan siswa kelas XI jurusan IPS SMA Negeri Kabupaten Jember pada tahun ajaran 2007/2008 sebanyak 1092 siswa sedangkan seleksi pengambilan jumlah sampel dilakukan dengan teknik Non Probability Purposive sebanyak 528 (lima ratus dua puluh delapan) siswa yang terbagi dalam 2 (dua) kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing berjumlah 264 siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran siklus akuntansi perusahaan dagang berbasis proyek yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer ini efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran dan memiliki daya tarik untuk dikembangkan. Dari 4 (empat) tahap yang dilakukan, hanya pada tahap 1 yang menunjukkan nilai akuntansi siswa di kelas yang diajarkan dengan model P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer lebih rendah dibandingkan dengan nilai siswa di kelas yang diajarkan dengan model konvensional, karena siswa belum memiliki persiapan yang matang untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan proses pembelajaran sebelumnya, sedangkan pada tahap lainnya menunjukkan adanya perbedaan nilai yang cukup signifikan. Nilai akuntansi siswa di kelas eksperimen yang diajarkan dengan P.B.L yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer pada tahap 2, 3 dan 4 lebih tinggi dibandingkan dengan nilai akuntansi siswa di kelas yang diajarkan dengan model konvensional. Motivasi belajar siswa menunjukkan tingkatan yang tinggi, siswa menjadi aktif dalam belajar akuntansi. Siswa juga menunjukkan sikap positif selama proses pembelajaran dengan model PBL yang berorientasi konstruktivistik berbantuan komputer. Dengan demikian model tersebut efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran dan merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki daya tarik untuk dikembangkan dalam pembelajaran akuntansi di SMA Negeri Kabupaten Jember. Peneliti yang akan datang diharapkan benar-benar mempersiapkan perangkat penelitian yang diperlukan. Hal tersebut berkaitan dengan sumber daya manusia, perangkat pembelajaran dan fasilitas media pembelajaran. Guru yang menjadi subyek penelitian perlu dipersiapkan terlebih dahulu agar benar-benar memahami model pembelajaran yang diimplementasikan, dan guru juga perlu diberikan pelatihan bagaimana mengoperasionalkan program aplikasi komputer akuntansi. Perangkat pembelajaran dan media pembelajaran, seperti perangkat komputer dan software juga harus disediakan dalam jumlah yang memadai.

Penelusuran biaya produksi gula dan tetes sebagai produk bersama dengan metode alokasi biaya bersama atas dasar nilai pasar hipotesis pada PTPN X (Persero) PG. Lestari, Kertosono / Prima Tegar Pribadi

 

Biaya merupakan permasalahan penting dalam sebuah organisasi bisnis, baik dalam pendanaan maupun dalam proses produksi. Dalam biaya produksi sangat dibutuhkan ketelitian dalam pencatatan dan pembebanan. Banyak masalah yang timbul dari biaya yang ada, jika dikelola secara tidak tepat. Melihat kondisi dalam lapangan terkadang masih banyak para pelaku bisnis yang belum mengetahui masalah alokasi biaya, perlakuan produk bersama, dan dasar alokasi yang tepat. Untuk mengetahui bagaimana penelusuran dan alokasi yang tepat dalam masalah produk bersama gula dan tetes, penulis melakukan penelitian alokasi biaya bersama produk bersama gula dan tetes pada PG. Lestari, Kertosono, yaitu salah satu perusahaan gula yang bernaung di bawah PT. Perkebunan Nusantara X, Surabaya. metode Nilai Pasar Hipotesis telah sesuai dengan teori akuntansi. Dasar pikiran metode tersebut adalah bahwa harga jual suatu produk merupakan perwujudan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam mengolah produk tersebut. Jika salah satu produk terjual lebih tinggi dari pada produk yang lain. Hal ini karena biaya yang dikeluarkan untuk produk tersebut lebih banyak bila dibandingkan dengan produk yang lain. Oleh karena itu menurut metode ini, cara yang logis untuk mengalokasikan biaya bersama adalah berdasarkan pada nilai jual relatif masing-masing produk bersama yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dalam rangka kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang dilakukan di PG. Lestari, Kertosono dengan objek penelitian adalah produk bersama gula dan tetes. Metode yang digunakan dalam penerapan akuntansi perusahaan adalah metode nilai pasar hipotesis yang digunakan dalam penelusuran alokasi biaya-biaya dalam proses produksi. Perhitungan alokasi biaya bersama dengan metode alokasi biaya bersama dengan harga pasar hipotesis di PG. Lestari adalah dengan melakukan perhitungan mencari prosentase antara nilai produk gula dan tetes. Hal tersebut didapat dengan menjumlah seluruh produksi baik gula maupun tetes. Dengan nilai jumlah masing-masing produk, maka dapat diketahui besar prosentase produk untuk gula dan untuk prosentase produk tetes. Selanjutnya menjumlahkan semua biaya yang menjadi dasar biaya untuk alokasi, kemudian membagi total biaya sesuai prosentase masing-masing produk (gula dan tetes).

Pengaruh perbedaan media tanam terhadap keberhasilan aklimatisasi Phalaenopsis sp. / Ruri Kartikasari

 

Anggrek bulan (Phalaenopsis sp.) merupakan salah satu jenis anggrek yang perlu dilestarikan keberadaannya. Sebagian besar budidaya anggrek dilakukan melalui teknik kultur jaringan. Aklimatisasi merupakan proses adaptasi suatu organisme terhadap perubahan dari lingkungan heterotrof ke lingkungan autotrof. Media tanam yang umumnya digunakan untuk aklimatisasi tanaman anggrek berupa cacahan batang pakis. Pohon pakis saat ini tersedia sangat terbatas di habitat aslinya. Keterbatasan pohon pakis disebabkan karena permintaan pakis sebagai media tanam terus naik dan dapat menyebabkan kepunahan pohon pakis di hutan. Salah satu bahan yang berpotensi menggantikan peran pakis adalah daun pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) dan daun cemara kipas (Thuja orientalis L.) yang sudah kering. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan Biologi UM. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai Mei 2009. Jenis penelitian eksperimental tentang perbandingan pengaruh media arang+pakis, arang+daun cemara dan arang+daun pinus terhadap keberhasilan aklimatisasi Phalaenopsis sp. Data gambar anatomi akar, batang dan daun Phalaenopsis sp. yang diaklimatisasi dianalisis secara deskriptif. Jumlah akar, jumlah daun dan persentase keberhasilan aklimatisasi dianalisis menggunakan analisis varian. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa ada perbedaan pengaruh media aklimatisasi terhadap struktur anatomi Phalaenopsis sp. yang sudah diaklimatisasi selama 2 bulan. Akar Phalaenopsis sp. yang diaklimatisasi di media arang+pakis dan arang+daun cemara memiliki jumlah kutub protoxilem yang lebih sedikit yaitu 7 berkas. Batang Phalaenopsis sp. yang diaklimatisasi pada media arang+daun cemara dan arang+daun pinus serta Phalaenopsis sp. yang sudah beradaptasi memiliki 22 berkas pengangkut. Daun Phalaenopsis sp. Yang diaklimatisasi pada media arang+daun cemara dan arang+daun pinus memiliki kutikula setebal 1μm. Daun Phalaenopsis sp. yang diaklimatisasi pada media arang+pakis dan arang+daun pinus memiliki 8 lapis klorenkima. Analisis data hasil penelitian menggunakan Anava menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan media aklimatisasi terhadap keberhasilan aklimatisasi Phalaenopsis sp. Tidak signifikan, mungkin disebabkan oleh jumlah akar yang lebih sedikit daripada daun dan singkatnya waktu pengamatan aklimatisasi yaitu selama 2 bulan. Pengaruh perlakuan media aklimatisasi terhadap jumlah akar dan daun Phalaenopsis sp. setelah dianalisis ternyata tidak signifikan, dapat disebabkan waktu penelitian selama 2 bulan belum cukup untuk mengetahui pengaruh media aklimatisasi terhadap jumlah akar dan daun Phalaenopsis sp.

Pengaruh iklim komunikasi organisasi dan stres kerja terhadap kinerja (studi pada Dosen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta) / Novelina Susanti

 

ABSTRAK Susanti, N. 2009. Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi dan Stres Kerja terhadap Kinerja (Studi pada Dosen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sarbini, (II) Elfia Nora, S.E., M.Si Kata Kunci : Iklim Komunikasi, Stres Kerja, dan Kinerja Keberhasilan suatu organisasi tidak dapat terlepas dari keberadaan sumber daya manusia yang berpotensi, karena kemajuan suatu organisasi dapat diwujudkan melalui kinerja sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Sebagaimana halnya dengan keberadaan dosen dalam suatu lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi, yang memegang peranan penting dalam mewujudkan kemajuan kampus. Dalam hal ini, peneliti melakukan penelitian terhadap kinerja dosen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta. Setiap organisasi dalam suatu perguruan tinggi harus mampu mengelola sumber daya manusia yang bekerja untuk memperoleh kinerja yang optimal. Pengelolaan sumber daya manusia tersebut dapat dilakukan melalui penciptaan iklim komunikasi yang baik dan pengelolaan stres kerja secara tepat pada dosen dalam dunia kerjanya dengan tujuan untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Kondisi deskriptif iklim komunikasi, stres kerja, dan kinerja dosen AKINDO Yogyakarta; (2) Pengaruh iklim komunikasi terhadap kinerja dosen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta; (3) Pengaruh stres kerja terhadap kinerja dosen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta. “Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian explanatory yang menyoroti hubungan antar variabel penelitian dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya” (Singarimbun, 1995:5). Penelitian ini terdiri dari tiga (3) variabel, yaitu iklim komunikasi sebagai variabel bebas kesatu (X1), stres kerja sebagai variabel bebas kedua (X2), dan kinerja sebagai variabel terikat (Y). Dalam penelitian ini, terdapat populasi sebanyak 39 dosen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta dan jumlah sampel yang diambil untuk mewakili populasi berdasarkan teknik simple random sampling adalah sebanyak 36 dosen AKINDO. Pengambilan data penelitian dilakukan melalui angket, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian diolah dengan statistik deskriptif yang berfungsi untuk mengetahui gambaran tentang implementasi X1, X2, dan Y pada dosen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta. Penelitian ini juga menggunakan analisis regresi berganda (statistik inferensial) untuk mengetahui pengaruh X1 dan X2 terhadap Y. Proses pengolahan data dilakukan dengan menerapkan aplikasi program SPSS 12 for windows. Hasil penelitian menyatakan bahwa : (1) Kondisi iklim komunikasi pada organisasi AKINDO Yogyakarta adalah tinggi, kondisi stres kerja pada dosen AKINDO Yogyakarta adalah rendah, dan kinerja pada dosen AKINDO Yogyakarta adalah tinggi; (2) Pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap kinerja dosen AKINDO Yogyakarta adalah negatif dan tidak signifikan, dengan nilai signifikansi sebesar 0,698, dibandingakan dengan taraf signifikansi 0,05, maka 0,698 > 0,05 dan thitung = -0,391 < ttabel = 1,70. Nilai koefisien regresi untuk variabel iklim komunikasi (X1) sebesar -0,055; (3) Pengaruh stres kerja terhadap kinerja dosen AKINDO Yogyakarta adalah positif dan tidak signifikan, dengan nilai signifikansi sebesar 0,169 dibandingkan dengan taraf signifikansi 0,05, maka 0,169 > 0,05 dan thitung = 1,410 < ttabel = 1,70. Nilai koefisien regresi untuk variabel stres kerja (X2) sebesar 0,425. Saran yang dapat diberikan atas hasil penelitian tersebut adalah : (1) Direktur AKINDO Yogyakarta diharapkan mampu untuk mempertahankan kondisi iklim komunikasi yang baik dengan menerapkan iklim komunikasi yang penuh persaudaraan kepada bawahannya (dosen dan staf lainnya). Iklim komunikasi yang penuh persaudaraan, mendorong para anggota organisasi berkomunikasi secara terbuka, rileks, dan ramah tamah terhadap anggota organisasi yang lain; (2) Dosen AKINDO Yogyakarta diharapkan mampu mengelola stres kerja yang terjadi dengan tepat sesuai dengan cara dan kemampuan setiap dosen. Setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk menyikapi dan memulihkan kondisi dari stres yang terjadi. Pengelolaan stres kerja dengan tepat akan membantu para dosen untuk mempertahankan kondisi stres kerja yang rendah, sehingga tidak menyebabkan kinerja dosen AKINDO menurun; (3) Peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya, agar obyek penelitian yang diambil lebih bervariasi, misalnya organisasi pemerintah (negeri); (4) Bagi peneliti lain, disarankan untuk menambah jumlah variabel penelitian, misalnya motivasi, fasilitas kerja (gaji, pemberian reward, keselamatan kerja, pengembangan karir); dan iklim organisasi dihubungkan dengan kinerja yang berpengaruh sekitar 99%.

Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan (studi pada perawat dan bidan UPT Puskesmas Glagah Kabupaten Lamongan) / Dhading Yan Uttoyo

 

ABSTRAK Uttoyo, D.Y. 2009. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karywan UPT Puskesmas Glagah Lamongan). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) DR.Sopiah, M.Pd., M.M, (II) Elfia Nora, S.E., M.Si Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan Otoriter, Gaya Kepemimpinan Demokratis, Gaya Kepemimpinan Bebas, dan Kinerja Kemajuan suatu organisasi akan terjaga dengan baik jika ada campur tangan seorang pemimpin yang benar-benar mampu mempengaruhi bawahan (karyawannya) untuk mencapai tujuan organisasi dengan lebih baik. Pengelolaan gaya kepemimpinan oleh seorang pemimpin merupakan satu teknik tepat yang dilakukan setiap jasa pelayanan kesehatan untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia supaya dapat menghasilkan kinerja yang optimal dalam mencapai tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Kondisi gaya kepemimpinan (otoriter, demokratis, dan bebas) pada UPT Puskesmas Glagah Lamongan; (2) Kondisi kinerja karyawan (karyawan) UPT Puskesmas Glagah Lamongan; (3) Pengaruh positif dan signifikan gaya kepemimpinan (otoriter, demokratis, dan bebas) secara parsial terhadap kinerja karyawan UPT Puskesmas Glagah Kabupaten Lamongan; (4) Mengetahui pengaruh positif dan signifikan gaya kepemimpinan (otoriter, demokratis, dan bebas) secara simultan terhadap kinerja karyawan UPT Puskesmas Glagah Kabupaten Lamongan; (5) Variabel yang dominan mempengaruhi kinerja karyawan UPT Puskesmas Glagah Kabupaten Lamongan. “Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian explanatory yang menyoroti hubungan antar variabel penelitian dan menguji hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya” (Singarimbun, 1995:5). Penelitian ini terdiri dari empat variabel, yaitu variabel bebas kesatu (X1) gaya kepemimpinan otoriter, variabel bebas kedua (X2) gaya kepemimpinan demokratis, variabel bebas ketiga (X3) gaya kepemimpinan bebas, dan variabel terikat (Y) kinerja. Dalam penelitian ini, jumlah populasi sebanyak 40 karyawan (perawat dan bidan) UPT Puskesmas Glagah dan jumlah sampel yang diambil untuk mewakili populasi berdasarkan rumus Slovin adalah sebanyak 36 karyawan. Pengambilan data penelitian dilakukan melalui angket, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial (regresi berganda) dengan aplikasi program SPSS 12 for windows. Hasil penelitian adalah (1) Ada pengaruh positif dan signifikan dari gaya kepemimpinan otoriter (X1) terhadap kinerja (Y), dengan nilai signifikansi sebesar 0,045 dibandingkan dengan taraf signifikansi (α= 0,05), dan nilai Unstandardized Coefficient B = 0,376 (positif); (2) Ada pengaruh positif dan signifikan dari gaya kepemimpinan demokratis (X2) terhadap kinerja (Y), nilai signifikansi sebesar 0,001 dibandingkan dengan taraf signifikansi (α= 0,05), dan nilai Unstandardized Coefficient B = 0,697 (positif); (3) Ada pengaruh positif dan signifikan dari gaya kepemimpinan bebas (X3) terhadap kinerja (Y), dengan nilai signifikansi sebesar 0,012, dan nilai Unstandardized Coefficient B = 0,494 (positif); (4) ada pengaruh positif yang signifikan dari gaya kepemimpinan otoriter, gaya kepemimpinan demokratis, dan gaya kepemimpinan bebas secara simultan terhadap kinerja, dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000 l, dan nilai R = 0,816 (positif); (5) SE X2= 0,6042 = 36,46%, menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan demokratis (X2) lebih dominan mempengaruhi kinerja (Y). Saran yang dapat diberikan atas hasil penelitian tersebut adalah : (1) Bagi pimpinan UPT Puskesmas Glagah, Pimpinan diharapkan mampu memadupadankan gaya kepemimpinan. Maksudnya pimpinan mampu mengkolaborasi dari gaya kepemimpinan yang ada sesuai dengan kondisi pada organisasi UPT Puskesmas Glagah Lamongan. Dapat dicontohkan perilaku tegas pemimpin dalam kelembutan atau lembut dalam ketegasan. Tidak selamanya perilaku lembut menimbukan kesenangan.(2) Bagi peneliti lain di masa mendatang, (a) Peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya agar obyek penelitian yang diambil lebih bervariasi, misalnya organisasi non pemerintah (swasta), (b) Disarankan untuk menambah jumlah variabel penelitian, misalnya ability, motivasi, attitude, dan job design dihubungkan dengan kinerja yang berpengaruh sekitar 37,2%.

Penerapan pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) untuk meningkatkan keterampilan proses ilmiah dan prestasi belajar IPA siswa di kelas X SMKN 4 Malang pada materi ekosistem / Anis Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, A. 2009. Penerapan Pembelajaran Model Siklus Belajar (Learning Cycle) untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Ilmiah dan Prestasi Belajar IPA Siswa di Kelas X SMKN 4 Malang pada Materi Ekosistem. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Susetyoadi Setjo, M.Pd, (II) Drs. H. Fathurrachman M.S, Kata kunci: Siklus belajar, keterampilan proses, prestasi belajar. Kemampuan akademik siswa di kelas pada umumnya heterogen. Kondisi seperti ini merupakan suatu kesulitan tersendiri bagi seorang guru, terutama dalam pengelolaan kelas. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu mengatasi hal tersebut melalui penentuan dan penerapan suatu metode dengan tepat. Kegiatan pembelajaran kini harus mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada penyesuaian guru terhadap kebutuhan siswa, sehingga siswa dapat lebih aktif, kreatif dan merasa senang dalam lingkungan belajarnya. Hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi serta melakukan pengamatan langsung pembelajaran di kelas pada SMKN 4 Malang khususnya kelas X PsG-i pada pembelajaran IPA ditemukan beberapa permasalahan di antaranya adalah: 1) siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar; 2) pengetahuan yang didapat siswa sebagian besar adalah bentukan guru sehingga ketika guru bertanya ulang mengenai konsep tertentu siswa cenderung tidak dapat menjawab dengan benar; 3) rata-rata kriteria keterampilan proses yang dimiliki siswa dalam belajar adalah kurang baik (KB) dengan persentase antara 25-49%, sehingga siswa cenderung sulit untuk menyelesaikan permasalahan sendiri; 4) siswa yang tuntas belajar pada kelas tersebut belum mencapai 75%, sehingga kelas dinyatakan belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Untuk mengatasi adanya masalah dalam kegiatan belajar mengajar di kelas tersebut, perlu adanya perbaikan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dianggap sesuai oleh peneliti untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah siklus belajar (learning cycle). Siklus belajar terdiri dari empat fase, yaitu eksplorasi, eksplanasi, ekspansi dan evaluasi. Menurut Sunal (1985 dalam Fuad, 2004:21) siklus belajar merupakan kerangka filosofi dalam pembelajaran IPA berdasarkan atas filosofi konseptual. Filosofi ini menyajikan strategi yang melibatkan pengalaman, penafsiran dan pengembangan model. Suatu siklus belajar adalah cara berpikir atau bertindak yang konsisten dengan bagaimana siswa belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Pengumpulan data dilaksanakan mulai tanggal 28 Maret sampai 29 April 2009. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas X Persiapan Grafika-i (PsG-i) SMKN 4 Malang yang berjumlah 39 siswa, tetapi dalam pelaksanaan penelitian hanya 38 siswa yang datanya dapat dianalisis dan disimpulkan yang terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model siklus belajar (learning cycle) dapat meningkatkan keterampilan proses ilmiah dan prestasi belajar IPA siswa di kelas X SMKN 4 Malang. Peningkatan keterampilan proses ilmiah siswa didasarkan pada meningkatnya jumlah siswa yang memiliki keterampilan proses dengan kriteria baik (B) dari siklus I ke siklus II di mana pada siklus I sebanyak 11 siswa (28,95%) dan pada siklus II sebanyak 22 siswa (57,89%). Meningkatnya prestasi belajar IPA siswa didasarkan pada peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar dan rata-rata skor prestasi belajar dari siklus I ke siklus II di mana pada siklus I siswa yang tuntas belajar sebanyak 31 siswa (81,57%) dengan rata-rata skor prestasi belajar sebesar 72,61 dan pada siklus II sebanyak 37 siswa (97,37%) dengan rata-rata skor prestasi belajar sebesar 77,20. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka peneliti dapat memberikan saran yaitu, 1) bagi guru bidang studi disarankan untuk menerapkan model pembelajaran ini pada materi dengan karakteristik yang sesuai; 2) bagi peneliti lain yang ingin menerapkan model pembelajaran yang sama hendaknya tahapan metode yang digunakan haruslah dilaksanakan dengan tahapan yang benar dan sesuai, dan 3) para peneliti lain yang ingin menggunakan model pembelajaran yang sama hendaknya juga meneliti aspek lain selain aspek kognitif pada prestasi belajar siswa.

Pengembangan media pembelajaran kimia berbasis komputer pada materi laju reaksi untuk SMA kelas XI / Krisna Hartanto

 

ABSTRAK Hartanto, Krisna. 2008. Pengembangan Media Pembelajaran Kimia Berbasis Komputer pada Materi Laju Reaksi untuk SMA Kelas XI: Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Fauziatul Fajaroh, M.S. (II) Munzil, S.Pd., M.Si. Kata kunci: media pembelajaran, media berbasis komputer, laju reaksi. Beberapa dekade terakhir, ICT (Information and Communication Technology) berkembang dengan pesat dan telah merambah segala bidang kehidupan manusia tak terkecuali dalam bidang pendidikan. Media pembelajaran berbasis komputer merupakan salah satu contoh penerapan ICT dalam bidang pendidikan. Dengan diterapkannya kurikulum 2006 atau KTSP yang menggunakan paradigma konstruktivistik keberadaan media pembelajaran berbasis komputer yang menarik dan interaktif sangat diperlukan untuk membantu mempermudah siswa dalam memahami materi kimia yang banyak memiliki konsep abstrak. Salah satu materi kimia yang memerlukan media pembelajaran adalah materi laju reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer yang menarik, interaktif dan mudah dipahami untuk materi laju reaksi. Rancangan pengembangan media pembelajaran ini mengadopsi model pengembangan Dick and Carrey dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan. Pengujian validitas media pembelajaran yang dikembangkan menggunakan instrumen berupa angket/kuisioner tertutup. Pengujian validitas meliputi uji validitas isi dan uji terbatas. Validator uji validitas isi adalah dosen kimia UM, sedangkan validator uji terbatas adalah 5 orang guru kimia dari SMAN 4 Malang (3 orang) dan SMAN 2 Malang (2 orang). Setelah melalui tahap validasi, media pembelajaran diperbaiki berdasarkan saran-saran yang diberikan validator. Hasil penelitian pengembangan ini berupa media pembelajaran laju reaksi yang dikemas dalam CD. Hasil validasi menunjukkan bahwa media yang dihasilkan memiliki tingkat validitas 90,5% dari uji validitas isi dan 90,2% untuk uji terbatas. Dengan demikian media ini telah layak digunakan sebagai perangkat pembelajaran untuk materi laju reaksi di SMA Kelas XI. Namun demikian, efektivitas penggunaan media ini masih perlu diteliti lebih lanjut melalui kegiatan empiris di kelas.

Pengembangan modul pembelajaran sistem regulasi pada manusia berbasis konstruktivisme dengan model learning cycle (siklus belajar) untuk kelas XI IPA SMA Diponegoro Tumpang / Sriwulan

 

Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesiadiharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini karenapendidikan mempunyai peran yang penting dalam meningkatkan sumber dayamanusia, sehingga perlu dilakukan pembaharuan pada sistem pendidikan diIndonesia. Pembaharuan tersebut terjadi secara bertahap dan mulai diberlakukanseiring dengan perubahan kurikulum saat ini. Kurikulum yang berlaku saat ini adalahKTSP. KTSP merupakan kurikulum yang dikembangkan oleh sekolah dan komitesekolah yang berpedoman pada standar isi menurut Peraturan Menteri PendidikanNasional no. 22 tahun 2006. Berdasarkan kurikulum yang berlaku, guru dituntutmemiliki kreativitas untuk meningkatkan proses pembelajaran di sekolah. Guru harusmengerti dan memahami bahwa potensi dan kemampuan siswa itu berbeda-beda,maka diperlukan media yang dapat memfasilitasi kemampuan siswa yang berbedabedatersebut. Modul merupakan media pembelajaran individual, yangpembelajarannya dapat disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing siswa. Modul dapat diterapkan pada berbagai matapelajaran, termasuk Biologi. Biologimerupakan salah satu bidang IPA yang menyediakan berbagai pengalaman belajaruntuk memahami konsep dan proses sains. Konsep dan proses tersebut harusdiperoleh sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman belajar yang disediakan olehguru. Salah satu pendekatan yang sesuai untuk memfasilitasi siswa dalammembangun konsepnya sendiri adalah pendekatan konstruktivisme. Dengan demikianguru harus menyediakan fasilitas belajar bagi siswa yang sesuai dengan kecepatanbelajar siswa dan dapat membantu siswa untuk membangun sendiri konsepnya. SMA Diponegoro Tumpang merupakan salah satu sekolah swasta diTumpang yang sedang merintis menuju sekolah berstandar nasional dengan salah satuprogramnya adalah pengembangan modul. Namun modul yang dikembangkan olehpihak sekolah masih sederhana dan bersifat Direct Instruction sehingga masihmemberikan konsep-konsep kepada siswa secara langsung. Selain itu, selama inipembelajaran Biologi di SMA Diponegoro Tumpang masih menggunakan LKS daripenerbit sebagai alat untuk belajar siswa. LKS ini masih belum memfasilitasi siswauntuk dapat membangun sendirikonsepnya. Oleh karena itu perlu dilakukanpenelitian pengembangan modul yang bertujuan untuk mengembangkan modulpembelajaran sistem regulasi pada manusia berbasis konstruktivisme dengan modelLearning Cycle (siklus belajar) untuk kelas XI IPA SMA Diponegoro Tumpang.Dengan demikian hasil modul yang dikembangkan dapat menjadi contoh modulIidengan komponen yang lengkap dan berbasis konstruktivisme serta dapatdimanfaatkan sebagai salah satu media pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Modul yangdikembangkan adalah modul yang berbasis konstruktivisme dengan model siklusbelajar 4 fase. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembanganprosedural. Prosedur pengembangan yang dilakukan adalah (1) penentuan Standarkompetensi dan kompetensi dasar, (2) analisis kebutuhan modul, (3) penyusunandraft modul, (4) uji coba modul, (5) validasi, dan (6) revisi modul. Validasi modulyang dikembangkan dilakukan oleh dua orang dosen biologi dan satu orang guruBiologi di SMA Diponegoro Tumpang, serta siswa kelas X-4 SMA DiponegoroTumpang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi (1) data kuantitatifberupa skor angket penilaian, dan (2) data kualitatif berupa tanggapan atau saran dari validator dan responden.Hasil pengembangan berupa modul pembelajaran sistem regulasi padamanusia berbasis konstruktivisme dengan model Learning Cycle untuk kelas XI IPA SMA Diponegoro Tumpang yang terdiri dari sembilan pembelajaran. Masing-masingpembelajaran disusun sesuai dengan model siklus belajar empat tahap (eksplorasi,eksplanasi, ekspansi, evaluasi) yang berbasis konstruktivisme. Hasil penilaian validator media adalah 55,06%, penilaian validator materi adalah 94,44%, danpenilaian guru adalah 89,58%. Hasil angket penilaian uji coba siswa adalah 93,27%.Berdasarkan hasil validasi, maka dilakukan revisi pada modul yang dikembangkan.Revisi dilakukan dengan mengacu pada saran dan masukan yang diberikan olehvalidator selama proses validasi, sehingga hasil akhir dari penelitian ini adalah modulpembelajaran sistem regulasi pada manusia berbasis konstruktivisme dengan modelLearning Cycle untuk kelas XI IPA SMA Diponegoro Tumpang yang telah direvisi.Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan untuk dilakukannyapengembangan modul dengan materi lain yang lebih menarik baik menggunakanpendekatan konstruktivisme ataupun dengan pendekatan lain. Dengan demikian akanlebih memperkaya media pembelajaran yang ada di sekolah.

Faktor-faktor dalam menentukan materi bahan ajar seni tari pada mata pelajaran seni budaya bidang seni tari menurut KTSP oleh guru di SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 6 Kota Probolinggo / Ika Suryawuri

 

ABSTRAK Suryawuri, Ika. 2009. Faktor-Faktor Dalam Menentukan Materi Bahan Ajar Seni Tari Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Tari Menurut KTSP Oleh Guru SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 6 Kota Probolinggo. Skripsi. Program Studi Pendidikan Seni Tari Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Purwatiningsih, M.Pd, (II) Tri Wahyuningtyas S.Pd, M.Si. Kata kunci: Faktor-Faktor Dalam Menentukan Materi, Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Tari, KTSP Kurikulum yang diberlakukan oleh pemerintah saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau biasa disebut dengan KTSP. KTSP memberikan keluasan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai kebutuhan setiap satuan pendidikan dan sekolah. Di kota Probolinggo terdapat 10 SMP Negeri yang telah memakai Kurikulum KTSP. Bidang seni tari di SMP Negeri kota Probolinggo yang masuk dalam kegiatan intra sekolah masih jarang. Dari 10 SMP Negeri yang ada di kota Probolinggo hanya 2 SMP Negeri yang mengajarkan seni tari dalam intrasekolah yaitu SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 6 Probolinggo. Pada bidang seni tari, tiap semester memiliki 2 standar kompetensi yang harus diajarkan yaitu mengenai apresiasi dan kreasi. Dan dilihat dari kompetensi dasarnya materi-materi yang digunakan sebagai bahan ajar adalah seni tari daerah setempat atau lokal untuk Kelas VII (tujuh), seni tari nusantara untuk kelas VIII (delapan) dan seni tari mancanegara (ASIA) untuk kelas IX (sembilan). Maka dimungkinkan setiap guru yang mengajar pada bidang seni tari itu pasti memiliki materi bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum dan pengetahuan tentang seni tari lainnya. Dalam penentuan bahan ajar, materi-materi yang akan diajarkan setiap guru pada siswanya disuatu SMP Negeri berbeda. Hal ini disebabkan banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dan pertimbangan guru menentukan materi bahan ajar itu penting. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana bentuk silabus yang disusun untuk menunjang materi bahan ajar pada mata pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Tari menurut KTSP di SMP Negeri 4 DAN smp Negeri 6 Kota Probolinggo? (2) Apa saja faktor-faktor yang menentukan pemilihan materi bahan ajar pada mata pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Tari menurut KTSP di SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 6 Kota Probolinggo meliputi: a. Faktor intern dan b. Faktor ekstern. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik analisis dari Miles dan Huberman yang terdiri dari tahap reduksi data, penyajian data dan tahap penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa komponen-komponen silabus yang dibuat oleh guru mencakup: identitas silabus, Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, sumber, bahan/alat.. Dalam penelitian ini juga dapat diketahui bahwa yang membuat silabus adalah guru mata pelajaran seni tari itu sendiri pada awal semester yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Dalam penyusunan silabus pada pelajaran seni budaya bidang seni tari juga dapat diketahui bahwa materi-materi pelajaran yang dipilih oleh guru sudah disesuaikan dengan Standar Kompetensi dalam KTSP. Faktor-faktor dalam menentukan materi bahan ajar seni tari ada 2 yaitu: faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup 3 hal yaitu faktor guru, faktor siswa dan factor kurikulum. Ketiga faktor ini yang menjadai faktor utama dalam pemilihan materi yang akan diberikan. Sedangkan faktor ekstern terdiri dari lingkungan sekolah, sarana dan prasarana serta sosial dan budaya.

Pengaruh kondisi keuangan perusahaan, pertumbuhan perusahaan dan opini audit tahun sebelumnya terhadap ketepatan pemberian opini audit going concern / Jefri Yanangi

 

Pada umumnya perusahaan publik memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk mendapatkan sumber dana atau alternatif pembiayaan. Investor bersedia menanamkan modal pada perusahaan apabila investasinya dapat menghasilkan sejumlah keuntungan. Keberadaan pasar modal menjadikan perusahaan mempunyai alat untuk refleksi diri tentang kinerja dan kondisi keuangan perusahaan. Apabila kondisi keuangan dan kinerja perusahaan bagus maka pasar akan merespon dengan positif melalui peningkatan harga saham perusahaan. Keuntungan dari adanya perusahaan publik dari sudut pandang investor antara lain adalah investor akan mendapat perlindungan dari otoritas pasar modal karena adanya peraturan yang harus ditaati perusahaan emiten. Otoritas pasar modal membuat peraturan untuk melindungi investor dari praktek-praktek yang tidak sehat. Untuk melindungi publik yang juga merupakan pemilik perusahaan, otoritas pasar modal mengharuskan perusahaan emiten menyerahkan laporan-laporan rutin dan juga laporan-laporan khusus yang menerangkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada perusahaan. Laporanlaporan rutin yang harus diserahkan emiten diantaranya adalah laporan keuangan auditan. Auditor mempunyai peranan penting dalam menjembatani antara kepentingan investor dan kepentingan perusahaan sebagai pemakai dan penyedia laporan keuangan. Data-data perusahaan akan lebih mudah dipercaya oleh investor dan pemakai laporan keuangan lainnya apabila laporan keuangan yang mencerminkan kinerja dan kondisi keuangan perusahaan telah mendapat pernyataan wajar dari auditor. Pernyataan auditor diungkapkan melalui opini audit. Opini wajar tanpa pengecualian dari auditor menjamin angka-angka akuntansi dalam laporan keuangan yang telah diaudit bebas dari salah saji material. Peran auditor diperlukan untuk mencegah diterbitkannya laporan keuangan yang menyesatkan. Dengan menggunakan laporan keuangan yang telah diaudit, para pemakai laporan keuangan dapat mengambil keputusan dengan benar sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Jika diperlukan paragraf tambahan/penjelasan auditor harus mengungkapkannya untuk menggambarkan kondisi perusahaan saat itu.

The hedges used by the main characters in Armageddon / Miftachul Hasana

 

Communication is an important way in delivering the messages. It is advisable that speakers are careful in using conversational strategies in order to avoid misunderstanding. Besides the misunderstanding that arises, it is also important to note that each culture has their own social value of politeness in communication. In order to make sense of what we communicate, we have to look at various factors that related to social distance and closeness. Those factors also involve the relative status of participants based on social value like age and power. The great deal of what we communicate is determined by our social relationship (Yule, 1996:59). Thus, in order to maintain the communication, the speakers are expected to consider the important of acceptable communication strategies. On the other hand, it is not possible for listeners to understand the utterances of the speakers fully without knowing the context. Yule (1996:35) states that in having a conversation, sometimes people do not normally assume to try to confuse, trick or withhold relevant information from each other. In other words, we assume that people are normally going to provide an appropriate amount of information. However, in everyday life, sometimes people say something that is threat to another person expectation regarding self image (Iragiliati, 2008: 24). As the consequence, they use negative politeness strategy to lessen the possible threat. They do not really give the information as required. They feel that it is dangerous to have cooperation with the listeners. The reason is that even though they are aware of the cooperative principle itself, they use hedges as a means of avoiding the danger. Hedges are one of the ways to soften the impact of sentence. It means that it will deal with some maxims of cooperative principle that are used to make the conversational contribution as required. Collins (1987) in Markkanen and Schroder (1997) mentioned that if people hedge against something unpleasant or unwanted things that might affect them, they do something that will protect them from it. Collins also argued that if people hedge a problem or question, they avoid answering the question in a particular action or decision. Thus, hedges will be a way to soften the impact of their utterances to the listener and lessen the possibility of misunderstanding between the speakers. In addition, Fairclough (1992:160), from his research on British and American conversation, argues that rather than straightforwardly show certainty, doubt and attitudes, hedging the sentence will be good intersection for signification of reality and the enactment of social relations. He suggested that hedges will represent interlocutors’ relationship such as solidarity, affinity, and other power relationships (Precht, 2003: 240). In having conversation, there is also gender bound that influence the use of language. Nemati and Beyer (2007: 187) stated that there was a comparison study between female cooperativeness and male competitiveness in linguistic behavior that was observed by Grey (1998). Climate (1997) quoted by Nemati and Beyer (2007:187) believed that females generally use speech to develop and maintain relationships and also to achieve intimacy. They adopted Tannen’s statement (1990) who argued that women speak and hear a language of connection and intimacy, while men speak and hear a language of status and independence. This present research tries to analyze the use of hedges from another side. Besides exploring how actually hedges are used in the real life, this research also focuses on the art which takes the form of movie. Since the previous researcher do not explore deeper about the aspects which impose the use of hedges, the present researcher endeavors to reveal the appearance of certain hedges. According to Precht (2003: 241) that hedges are interpreted as terms of the relationship between the speakers, the relative status of speakers, and the presentation of self; the researcher assumes that there must be reasons why people decide to hedge their sentences. In addition, this present research will also discuss cooperative principle in which she will deliver the finding to the conclusion of the reason why some certain hedges frequently used. In revealing the reasons why certain hedges are used, the researcher needs to know about the situation when the hedges appear. In applied arts, movie is one media that most people like. It will be a good means to represent the real life condition about how people talk to each other and to recover what aspects impose in that sentence. Improvisation in a movie will be able to give a clear description the way hedges are used, because it will show the context of the situation where the conversation takes place. That is the reason why the researcher uses the movie in order to reveal the aspects that impose the use of hedges. In this study, the researcher chooses Armageddon as the subject of the study because it received the Saturn Awards for Best Directory and Best Science Fiction Film. According to Gibson in his article, the criteria for good science fiction movie are Volume and Balance, openended complexity, time-referencing, and development. In Wikipedia, it is stated that this movie was also nominated in seven categories for the 1998 Golden Raspberry Awards. Armageddon was nominated for four Academy Awards (Best Sound, Best Special Effects, Best Effects Editing, and Best Original Song). On the other hand, Armageddon also received critical disdain for some scientific inaccuracies in terms of laws of physics. Thus, prospective managers of the company that released this movie were asked to find as many inaccuracies in the movie as they can. At least 168 impossible things have been found during the film (http://www.wikipedia.com). For example, Shuttles would not and could not be landed on an asteroid, even if they could, they would not subsequently be able to leave. Besides, there will be no sound in the outer space, because sound waves need a medium through which to pass in the form of vibrations to be heard. All scientific inaccuracies stated above had led NASA to show the film as part of its management program (Newscientist magazine, 1 September 2007). It is possible that those inaccuracies influence the sentences that are used in that movie in order to minimize the critiques. The inaccuracies will create the dangers for the movie director, thus it needs the strategies to lessen and avoid the danger by using hedges. What makes hedges special to be discussed in this movie is that the characters come from different social classes and they face something dangerous. Thus, the research is also conducted to recognize the way they deliver the messages of trepidation to others. In the real life situation, people usually are very careful in delivering the message of danger to others. They will avoid making the situation gets worse by choosing the proper expression how to tell the hearers about the dangers they face. Considering the inaccuracies emerge in that movie, there is possibility that people use hedges to answer the questions that arise in the viewer’s mind and also from NASA as one of the Space Agency. Thus, the researcher decides to analyze the hedges in Armageddon. 1.2 Statement of the Problems The research tries to reveal: a. What kinds of hedges are used by the main characters in Armageddon? b. What maxims are related with the hedges used by the characters? c. What are the aspects that impose the use of certain type of hedges? 1.3 Objectives of the Study This research is conducted to describe and explain how the characters hedge their utterances in order to lessen the impact of their sentence in any situation and to know the most frequent hedges used. Related to the general objective above, several specific objectives of the study are formulated to describe and explain: a. the types of hedges that are used by the characters in Armageddon. b. the maxims related to hedges used. c. the aspects that impose the use of hedges by the characters in Armageddon. 1.4 Significance of The Study The result of this study is aimed to give significance for the students of English Linguistics, English teachers and the viewers of the Armageddon. Theoretically, the results of this study describe and explain the hedges used by the characters in Armageddon based on politeness strategy in universal theory by Brown and Levinson (2004/1987) and politeness measured along Spencer-Oatey’s pragmatic scale (1995). In practice, the results of the study are designed for students of Linguistics and English teachers in order to enrich the knowledge of English pragmatics, especially about hedges and how it is related to the maxims; provide a practical contribution in analyzing the work of art based on Linguistics’ point of view and provide the students with the competence in using hedges in a proper way. For the viewers of Armageddon in common, the findings are expected to give practical improvement in practicing the way to communicate by using hedges in proper way and it will help to understand the relationship of social parameters. 1.5 Limitation of The Study This study deals with socio-pragmatic field since it will cover the social background of the speakers in any conversation and explain it pragmatically. The main characters in the study chosen are Harry S. Stamper, Grace S. Stamper, Dan Golden, and Albert Jack Frost (A.J), since they usually dominate the conversation happened in the movie. Another reason for choosing the characters mentioned above because they are deeply involved in the panic situation. Therefore, hedges will help them to communicate more precisely when they are delivering the messages. 1.6 Definition of The Key Term In this research, there are some key words in order to get the conclusion from researcher’s point of view. Characters are the people in the fiction that are, usually similar to the people in the real life (Peck and Coyle, 1986). In this study, the characters investigated are the main characters who come from different social status. They are Harry, A.J, Gracie and Dan Golden. Cooperative principle is a set of norm expected in conversation (Grice,1975). In cooperating with the hearers, the speaker must be aware with four maxims of this principle. They are maxim of quality, maxim of quantity, maxim of relevant, and maxim of manner. Hedges are a linguistic device used to modify and mitigate a proposition, tone down uncertain or potentially risky claims, and convey appropriate collegial attitudes to readers (Hyland, 2000). Hedging is a linguistic resource that conveys the fundamental characteristics of science of uncertainty, doubt and skepticism (Salager-Meyer, 2001). It is a cautious note expression about how an utterance is taken.

Perancangan paket buku profil Aikido sebagai media promosi Aikido Training Course / Haries Marten Bastian

 

ABSTRAK Bastian, Haries Marten. 2009. Perancangan Buku Profil Aikido Sebagai Media Promosi Aikido Training Course. Skripsi. Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka M.Sc, (II) Rudi Irawanto, S.Pd,M.Sn. Kata kunci : perancangan, aikido, Aikido Training Course, buku profil, media promosi. Seni bela diri aikido dibawa masuk ke Indonesia sejak tahun 1960-an dan mulai berkembang sejak 1983 seiring dengan berdirinya Yayasan Indonesia Aikikai (YIA) sebagai induk organsasi seni bela diri aikido di Indonesia. Seiring dengan perkembangan seni bela diri aikido di Indonesia, seni bela diri aikido kemudian menyebar dan berkembang di berbagai kota di Indonesia. Di Kota Malang, seni bela diri aikido mulai masuk dan berkembang pada tahun 1996. Sekalipun perkembangan di Kota Malang cukup baik, namun peminat seni bela diri aikido di Kota Malang masih terbilang sedikit dan cenderung fluktuatif. Salah satu lembaga pelatihan seni bela diri aikido di Kota Malang adalah Aikido Training Course. Aikido Training Course merupakan lembaga operasional yang didirikan oleh Malang Aikido Club untuk memberi pelatihan dan pengajaran seni bela diri aikido kepada masyarakat. Minimnya peminat seni bela diri aikido dan sifatnya yang cenderung fluktuatif akibat belum adanya media yang sesuai untuk memperkenalkan seni bela diri aikido dan Aikido Training Course sekaligus menarik minat masyarakat untuk bergabung dengan Aikido Training Course menjadi permasalahan yang dihadapi oleh Aikido Training Course. Perancangan buku profil Aikido sebagai media promosi Aikido Training Course ini bertujuan untuk menghasilkan media yang sesuai untuk memperkenalkan seni bela diri aikido dan Aikido Training Course sekaligus menarik minat masyarakat untuk bergabung dengan Aikido Training Course. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data yang bersumber dari observasi dan pengumpulan gambar foto langsung dari lokasi, dan wawancara secara langsung kepada pihak Aikido Training Course, serta pengumpulan data tidak langsung dari jurnal, internet, buku atau artikel-artikel lainnya. Hasil perancangan berupa rancangan paket buku profil Aikido yang terdiri dari rancangan buku profil Aikido yang berjudul ‘AIKIDO, Harmoni Energi Dalam Gerak’, rancangan buku panduan teknik bela diri aikido, dan rancangan pembatas buku sebagai bonus. Rancangan media-media tersebut didukung oleh rancangan media pendukung yang terdiri dari poster, standing banner, print ad iklan surat kabar, flyer, t-shirt, dan sticker. Keseluruhan media dirancang dengan tampilan nuansa tradisional Jepang yang identik dengan karakter aikido. Diharapkan hasil perancangan tersebut dapat berguna sebagai referensi serta motivasi bagi Aikido Training Course untuk meningkatkan promosi demi kemajuan Aikido Training Course dan seni beladiri aikido di Kota Malang. ABSTRACT Bastian, Haries Marten. 2009. Design Project Of Aikido Profile Book As Promotional Media For Aikido Training Course. Thesis. Department of Art and Design, Faculty of Letters. Lecturers: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka M.Sc, (II) Rudi Irawanto, S.Pd,M.Sn.Keywords : design, aikido, Aikido Training Course, profile book, promotional media. Aikido brought to Indonesia since 1960’s and developed since 1983 along with the estabilishment of Yayasan Indonesia Aikikai (YIA) or Aikikai Foundation of Indonesia as the Chief Organization of Aikido in Indonesia. Along with the development of aikido in Indonesia, aikido spread out and developed over many cities in Indonesia. In Malang, aikido was known and developed since 1996. Although the progress of aikido in Malang is good enough, the devotee of aikido in Malang still stucked in a very low number of person and disposed to be fluctuative. One of aikido institute in Malang is Aikido Training Course. Aikido Training Course is an operational institute developed by Malang Aikido Club to provide the learning and training program of aikido. The low number and flucutuative person of aikido caused by the improperly media for introducing aikido and Aikido Training Course itself, and also for growing the interest to learn aikido in Aikido Training Course become the fundamental problem that Aikido Training Course has to deal. The Design Project Of Aikido Profile Book As Promotional Media For Aikido Training Course dedicated to produce proper media which functioned to introduce aikido and Aikido Training Course, and also to grow the interest to learn aikido in Aikido Training Course. Design method that used in this thesis is procedural or descriptive which explain step by step to produce a product. Datas that used as references are based on observation, photograph that taken on location, personal interview with The Chairman of Aikido Training Course, and non-direct datas are collected from journals, internet, books or another articles. The result of design project is the design of Aikido profile book package that consist of the design of Aikido Profile Book named ‘AIKIDO, Harmoni Energi Dalam Gerak’, the design of Guidebook of Aikido Self-defense Techniques, dan the design of bookmark as bonus. The design of those media supported by support media that consist of poster, standing banner, print ad for newspaper, flyer, t-shirt, and sticker. A whole media are designed to visualize the nuance of traditional Japanese culture that closely identical with aikido’s characteristic. Be provided that this result of design project can be usefull as references and motivation to improve the promotion of Aikido Training Course for the development of Aikido Training Course and aikido in Malang

Penerapan model Camels sebagai alat ukur kinerja keuangan Bank Umum Syariah tahun 2005-2007 / Dian Safitri

 

ABSTRAK Safitri, Dian. 2009. Penerapan Model CAMELS sebagai Alat Ukur Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah Tahun 2005-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi S-1 Manajemen Konsentrasi Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1) Dr. F. Danardana Murwani, M.M. 2) Drs. Mohammad Hari, M.Si. Kata kunci : model CAMELS, kinerja keuangan. Perbankan merupakan lembaga berfungsi mengatur kestabilan ekonomi Negara. Sehingga dalam melaksanakan fungsinya perbankan dituntut memiliki kinerja yang baik. Untuk menilai kinerja perbankan baik bank umum maupun bank syariah umumnya digunakan enam aspek penilaian. Diantaranya aspek permodalan (Capital), kualitas asset (Asset quality), manajemen (Management), Rentabilitas (Earning), Likuiditas (Liquidity) dan Sensitivity to market risk. Namun dalam penelitian ini hanya menggunkan aspek permodalan (Capital), kualitas asset (Asset quality), Rentabilitas (Earning), dan Likuiditas (Liquidity). Hal ini dikarenakan adanya keterbatasan data. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi faktor permodalan (Capital), kualitas asset (Asset quality), Rentabilitas (Earning), dan Likuiditas (Liquidity) bank umum syariah baik per faktor maupun secara menyeluruh selama tahun 2005-2007. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah KPMM, KAP, NPF, NOM, OER/REO, dan STM. Adapun populasi (subyek) penelitian adalah seluruh bank umum yang ada di Indonesia. Diantaranya Bank Muamalat Indonesia (BMI), Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI), dan Bank Syariah Mandiri (BSM). Data yang digunakan adalah laporan keuangan bank selama tahun 2005-2007. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, yaitu penelitian yang memberikan memberikan gambaran atau memaparkan kondisi keuangan dan tingkat kesehatan bank syariah selama tahun 2005-2007. Hasil penelitian menunjukkan selama tahun 2005-2007 kondisi faktor permodalan (Capital), kualitas asset (Asset quality), Rentabilitas (Earning), dan Likuiditas (Liquidity) bank syariah menunjukkan hasil yang baik. Hal tersebut tercermin dari penilaian peringkat yang diperoleh masing-masing bank yang secara umum berada pada peringkat pertama dan kedua penilaian peringkat faktor CAMEL. Aspek yang paling menonjol untuk ketiga bank syariah diantaranya; untuk Bank Muamalat Indonesia (BMI) aspek yang dominan adalah aspek permodalan (capital), untuk Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI) aspek yang dominan adalah aspek kualitas asset (asset quality) dan aspek rentabilitas (earning), sedangkan untuk Bank Syariah Mandiri (BSM) aspek yang dominan adalah aspek likuiditas. Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa saran yang diharapkan dapat memberikan acuan bagi pembaca dan pihak-pihak yang berhubungan dengan dunia perbankan, bahwa secara umum kelemahan bank umum terletak pada aspek kualitas aktiva (assets quality). Yaitu bank belum mampu memaksimalkan kenaikan DPK (dana pihak ketiga) bank secara optimal, sehingga diharapkan pihak manajemen dapat mengalokasikan DPK untuk pembiayaan yang produktif sehingga mampu meningkatkan pendapatan operasional bank. Juga untuk bank syariah terutama untuk Bank Syariah Mandiri (BSM) harus lebih memperhatikan aspek likuiditas bank, karena jika aspek likuiditas terlalu tinggi maka akan menyebabkan ketidakseimbangan antara Dana Pihak Ketiga (DPK) dengan pembiayaan yang disalurkan, sehingga akan mengakibatkan bank menjadi tidak kompetitif lagi. Untuk nasabah atau masyarakat disarankan untuk memilih Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI) karena dari kedua bank syariah yang lain BSMI merupakan bank yang paling baik jika dilihat dari aspek kualitas asset dan rentabilitas, nasabah akan merasa puas jika bank mampu memberikan penghasilan atau pendapatan yang meningkat setiap tahunnya, dan bank yang mampu memberikan pelayanan tersebut adalah BSMI. Disamping aspek-aspek yang diteliti diatas ada dua aspek yang belum diteliti, hal ini disebabkan oleh keterbatasan data. Kedua aspek tersebut juga penting dalam menentukan kinerja keuangan bank yaitu aspek manajemen dan aspek sensitivitas terhadap resiko pasar. Oleh karena itu, diharapkan peneliti yang akan datang memasukkan aspek manajemen dan sensitivity terhadap resiko pasar sehingga diperoleh kinerja keuangan bank syariah secara menyeluruh berdasarkan model CAMELS atau berdasarkan peringkat komposit bank umum syariah.

Penerapan metode outbond untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas III SD Dandanggendis I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Ari Kurniawati

 

ABSTRAK Kurniawati, Ari. 2009. Penerapan Metode Outbound untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas III SDN Dandanggendis Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Musa Sukardi, M.Pd., (II) Drs.Ir.Endro Wahyuno, M.Si. Kata Kunci : Outbound, hasil belajar, Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Dasar. Pengajaran Pendidikan kewarganegaraan di Sekolah Dasar mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk warga negara yang demokratis, bertanggung jawab, dan menjadi wahana psikologi pedagogis. Bertolak dari hal itu, siswa diharapkan memiliki keteladanan, kemauan, kreativitas, keberanian, serta rasa percaya diri yang tinggi. Permasalahan yang terjadi di kelas adalah siswa dalam merespon pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan selama ini cenderung sebagai obyek pendengar / penerima begitu saja, sehingga mereka menjadi pemalu, takut salah, tidak percaya diri, pasif, dan kurang kreatif. Hasil observasi awal diketemukan bahwa hasil belajar siswa kelas III SDN Dandanggendis I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan sebelum menerapkan metode outbound belum mampu mencapai criteria ketuntasan kelas yang diharapkan minimal 80%, hanya mampu mencapai 55%. Sehingga perlu adanya inovasi dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas III SDN Dandanggendis I yang telah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang hendak di capai. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : (1)Mendiskripsikan penerapan metode Outbond pada pembelajaran PKn kelas III di SDN Dandanggendis I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan, (2)Mengetahui besarnya peningkatan hasil belajar siswa kelas III mata pelajaran PKn setelah menggunakan metode Outbond. Penelitian ini dirancang dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, siklus tindakan dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan belajar kelas yaitu 80% dari jumlah subyek penelitian 51 siswa SDN Dandanggendis I dengan rata-rata ketuntasan belajar individu minimal 70. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan tes tulis, pedoman observasi Metode Outbound untuk menilai perilaku seperti, keaktifan, kreatifitas, ketangkasan, ketelitian, dan sosial kemanusiaan antar teman, soal tes untuk menilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan menerapkan metode Outbound. Dari hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus I dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk : a) keaktifan, kreatifitas, ketelitian, ketangkasan, dan sosial kemanusiaan antar teman memiliki kategori cukup baik (76,0) mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 92,7 dengan kategori sangat baik, b) sedangkan hasil belajar siswa melalui tes adalah 71 % dengan kriteria cukup meningkat pada siklus II menjadi81% dengan kriteria baik sekaligus telah mencapai kriteria ketuntasan belajar kelas yaitu 80%,dan c) Prosentase tanggapan siswa terhadap pembelajaran PKn dengan metode Out Bound 86,2% dengan kategori baik dan meningkat menjadi 96,1% pada siklus IIdengan kriteria sangat baik, ini menunjukkan bahwa lebih dari 75% siswa beranggapan pembelajaran dengan metode outbound benar-benar menyenangkan. Secara keseluruhan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan Metode outbound ini terbukti efektif untuk tujuan-tujuan yang berhubungan dengan perilaku (behavior) seseorang. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada pada guru agar dapat menerapkan pembelajaran bermetode Outbound, sehingga aka nada bahan perbandingan sehingga hasil belajar di kemudian hari menjadi lebih baik.

Studi tentang pengelolaan pendidikan sistem ganda dalam rangka meningkatkan mutu lulusan di SMK Negeri 6 Malang / Herfan Juniwan Riyanto

 

ABSTRAK Riyanto, Herfan Juniwan. 2009. Studi Tentang Pengelolaan Pendidikan Sistem Ganda Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Lulusan di SMK Negeri 6 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. YOTO, S.T., M.Pd., M.M., (II) Drs. H. Suharmanto, M.Pd. Kata Kunci : Pendidikan Sistem Ganda Lulusan SMK diharapkan memiliki sikap profesional, mampu beradaptasi dengan industri dan menjadi manusia kreatif dan produktif sehingga mampu mengisi lapangan kerja. Agar lulusan SMK dapat memasuki lapangan kerja, maka mereka tidak hanya diberikan pengetahuan yang sifatnya teoritis saja, tetapi perlu dibekali dengan kegiatan-kegiatan yang sifatnya terapan dan aplikatif, dengan kata lain lulusan SMK sangat tergantung pada adanya keseimbangan dan keserasian antara pengetahuan teori dan praktek. Sesuai dengan hal tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:(1) Pengintegrasian dunia usaha/industri (DU/DI) pada pelaksanaan PSG di SMK Negeri 6 Malang. (2) Perencanaan PSG bagi siswa SMK Negeri 6 Malang. (3)Pengorganisasian PSG di SMK Negeri 6 Malang. (4) Kontrol dan pengendalian PSG di SMK Negeri 6 Malang. (5) Manfaat yang diperoleh pihak sekolah dan pihak DU/DI dalam pelaksanaan PSG. (6) Kendala dan solusi yang dihadapi pihak sekolah dan DU/DI dalam rangka pelaksanaan PSG di SMK Negeri 6 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Disebut pendekatan kualitatif karena data yang dihasilkan bukan dalam bentuk angka-angka tetapi berupa kata-kata tertulis atau lisan. Jenis penelitian ini adalah studi kasus yaitu suatu penelitian yang detail atas satu latar atau satu subyek atau satu tempat penyimpanan data atau satu peristiwa tertentu. Dalam penelitian ini data-data yang diperoleh adalah berupa dokumen, laporan kegiatan PSG, foto-foto, catatan hasil wawancara, serta catatan hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti. Informan kunci dalam penelitian ini adalah: (1) Kepala Sekolah (2) Wakasek Kurikulum (3) Wakasek Hubungan Masyarakat (4) Pembimbing atau pengawas DU/DI (5) Ketua Jurusan Otomotif (6) Pembimbing PSG (7) Siswa. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa : (1) SMK Negeri 6 Malang dalam pelaksanaan PSG adalah menggunakan dual sistem blok, sistem model block release pada program keahlian otomotif adalah sistem blok release yang pelaksanaannya dilaksanakan selama 12 bulan pada tingkat II, dengan pertimbangan dikelas I sudah mendapatkan pengalaman praktik dasar dan mendapatkan bekal praktik program diklat produktif. (2) Pendidikan Sistem Ganda adalah milik dan tanggung jawab bersama antara sekolah dan industri, maka dalam penyusunan kurikulum/ programnya harus disusun secara bersama-sama, sehingga ada kejelasan tentang apa yang akan dipelajari siswa di sekolah dan apa yang akan dipelajari siswa melalui bekerja langsung di industri. (3) Di SMKN 6 Malang kegiatan pengorganisasian PSG di koordinator oleh Waka Humas. Selanjutnya dibentuk tim-tim khusus untuk menangani masalah PSG. Dimana guru pembimbing sebagai pemonitoring dan pembimbing siswa dan untuk mencari DU/DI yang bersedia bekerja sama dengan sekolah. Tetapi segala keputusan kerjasama diserahkan kepada pihak industri. (4) Pengontrolan dan pengendalian PSG yang dilakukan di SMKN 6 Malang adalah untuk mengetahui seberapa besar kepuasan pihak industri dalam membimbing siswa praktik, selain itu kontrol dan kendali yang dilaksanakan di SMKN 6 Malang juga dilakukan oleh guru pembimbing yang berperan sebagai pemonitoring. (5) Sektor dunia usaha/ industri dan lembaga pendidikan kejuruan pada dasarnya saling membutuhkan satu sama lain. Keduanya memerlukan hubungan hubungan yang serasi, saling menunjang dan saling menguntungkan. Ditinjau dari segi kehidupan dunia usaha dan industri, kebutuhan peningkatan teknologi dan mutu produksi merupakan masalah yang perlu segera dipecahkan. Sebaliknya lembaga pendidikan kejuruan sangat membutuhkan dana guna memperlancar keotonomian dan menuju lembaga yang swadana. (6) Pelaksanaan PSG selama ini mengalami kendala-kendala struktural, geografis, potensi teknologis, psikologis, akademis, manajerial, dan kultural.

Pendayagunaan non penal dalam menanggulangi penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar (studi di SMA Negeri Ponorogo) / Hendrik Kristiana

 

ABSTRAK Kristiana, Hendrik. 2009, Pendayagunaan Non Penal Dalam Menanggulangi Penyalahgunaan Narkotika di Kalangan Pelajar (Studi di SMA Negeri Ponorogo). Skripsi Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP UM. Pembimbing: (I) Drs. Edi Suhartono, SH, M.Pd, (II) Sutoyo, SH, M.Hum Kata kunci: Non Penal, Menanggulangi, Narkotika, Pelajar Dalam penulisan skripsi ini penulis meneliti dan membahas permasalahan mengenai narkotika yang lebih tepatnya membahas tentang Pendayagunaan Non Penal Dalam Menanggulangi Penyalahgunaan Narkotika di Kalangan Pelajar. Penelitian ini dititik beratkan kepada peran sekolah Menengah Atas dalam mencegah penggunaan narkotika di Ponorogo. Hal ini dilatar belakangi oleh adanya fakta yang ditemukan bahwa terdapat sejumlah pelajar Sekolah Menengah Atas di Ponorogo yang pernah atau menggunakan narkotika walaupun telah ada undang-undang yang melarang menggunakan narkotika yaitu UU No. 22 tahun 1997. Undang-undang sebagai sarana penal belum mampu menekan penyalahgunaan narkotika maka cara yang dirasa lebih efektif adalah menggunakan sarana non penal yaitu dengan memberdayakan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang dirasakan lebih dapat mencegah penggunaan narkotika di kalangan pelajar karena sebagian besar waktu pelajar dihabiskan di sekolah. Dalam upaya memperoleh dan mengetahui tentang pendayagunaan sarana non penal dalam penanggulangan penyalahgunaan narkotika penulis menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis yaitu dengan mengkaji dan menganalisa permasalahan yang timbul di kalangan pelajar. Dalam melakukan penelitian ini penulis mengambil pelajar SMA dan guru sebagai responden. Kemudian seluruh data yang di dapat dianalisa secara deskriptif analisis. Berdasarkan hasil dari penelitian penulis mendapatkan jawaban dari permasalahan yang ada bahwa upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika adalah dengan melakukan cara sebagai berikut: membuat tata tertib sekolah dengan sanksi yang tegas, memaksimalkan tugas guru pembimbing atau BK (Bimbingan Konseling), melakukan razia-razia secara intensif, bekerja sama dengan instansi lain untuk melakukan penyuluhan, menggunakan ekstrakurikuler sebagai sarana pencegahan, memasukkan materi tentang narkotika ke dalam kurikulum sekolah. Selain itu dalam melakukan upaya pencegahan ini terdapat beberapa kendala yang dihadapi, antara lain tidak adanya kerjasama antar guru dan juga kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya. Setelah melakukan berbagai upaya akhirnya sekolah mendapatkan hasil yang cukup memuaskan yaitu adanya penurunan tingkat pelanggaran penyalahgunaan narkotika di kalangan pelajar di SMA. Dengan melihat berbagai fakta dari hasil penelitian yang dilakukan maka penulis berpendapat bahwa dengan begitu besar manfaat sekolah sebagai sarana untuk mencegah penyalahgunaan narkotika seharusnya pihak sekolah terutama guru lebih memahami lagi tentang narkotika supaya para guru dapat menjadi panutan yang tepat bagi para siswanya.

Pelaksanaan tata tertib sistem skoring dalam peningkatan disiplin siswa di SMP Negeri 20 Malang / Siti Nurhayati

 

ABSTRAK Nurhayati, Siti.2009. Pelaksananaan Tata Tertib Sistem Skoring dalam Peningkatan Disiplin Siswa di SMP Negeri 20 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Suparlan M.Si; (II) Rusdianto Umar, SH, M.Hum. Kata Kunci: Tata tertib sistem skoring, disiplin siswa. Dalam pembentukan, pembinaan dan pengembangan kedisiplinan, setiap sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bersifat formal, negeri maupun swasta perlu mempunyai aturan atau tata tertib. Hal ini dikarenakan peranan tata tertib di sekolah adalah mengatur kehidupan para pelajar baik yang bersifat kurikuler maupun ekstra kurikuler. Dalam kenyataan sehari-hari masih banyak diantara para pelajar yang melanggar tata tertib sekolah. maka perlu membuat strategi untuk mengurangi jumlah pelanggaran serta dapat mengukur jenis pelanggarannya dan strategi ini menggunakan sistem skoring di sekolah. Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang tujuan diberlakukannya tata tertib sistem skoring di SMP Negeri 20 Malang, bentuk-bentuk pelanggaran tata tertib di SMP Negeri 20 Malang, upaya-upaya yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan kedisiplinan siswa di SMP Negeri 20 Malang, dari hasil pelaksanaan tata tertib sistem skoring dalam peningkatan disiplin siswa di SMP Negeri 20 Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitataif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah dari buku, artikel dan hasil wawancara dengan pihak yang bertangung jawab menangani tata tertib siswa kelas VII, VIII, IX di SMP Negeri 20 Malang. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Prosedur analisis data yang dilakukan peneliti adalah koleksi data, display data serta mengambil kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) tujuan diberlakukannya tata tertib sistem skoring di SMP Negeri 20 Malang adalah (a) bisa membantu guru untuk mengetahui bagaimana perilaku anak itu di kelas, (b) mengetahui jumlah point pelanggaran yang diperoleh siswa, (c) orang tua lebih bisa mengetahui bagaimana perilaku anaknya di sekolah, (d) menjadikan siswa lebih patuh pada tata tertib yang ada, (e) menjadikan siswa berdisiplin tinggi; (2) Bentuk-bentuk pelanggaran tata tertib di SMP Negeri 20 Malang yang biasa dilakukan oleh siswa adalah meliputi: bentuk kelakuan, bentuk kerapian, dan bentuk kerajinan. Adapun faktor yang menyebabkan pelanggaran siswa antara lain: masalah keluarga, faktor teman sebaya, adanya pengaruh dari media massa serta adanya faktor lain yang yang bisa datang dari dalam dirinya sendiri; (3) upaya yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan kedisiplinan siswa di SMP Negeri 20 Malang adalah dengan cara benar-benar menerapkan tata tertib sekolah yang ada, memberi point/skor sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, serta juga penanaman sikap dan perilaku melalui MOSIBA, selain itu di sekolah juga diadakan SIDAK dalam rangka disiplin pada diri siswa sampai dengan penerapan sanksi yang tegas terhadap setiap bentuk pelanggaran; (4) hasil pelaksanaan tata tertib sistem skoring dalam peningkatan disiplin siswa di SMP Negeri 20 Malang dapat dilihat dari jumlah penurunan angka pelanggaran dari tahun ke tahun semakin menurun yaitu mulai diberlakukannya pelaksanaan tata tertib sistem skoring dari tahun 2003-2009. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pendidik dan orang tua dapat menjalin kerjasama dalam memberikan contoh dan membimbing siswa untuk meningkatkan kedisiplinan dan mentaati peraturan yang ada di sekolah dengan sadar dan bertanggung jawab.

Penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan fungsional (KF) di Dusun Krajan Desa Gadingkulon Kec. Dau Kab. Malang / Mokhamad Irwan

 

ABSTRAK Irwan, Mokhamad. 2007. Penyelenggaraan Program Pendidikan Keaksaraan Fungsional di Dusun Krajan Desa Gadingkulon Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhadjir Effendy M.Ap, (2) Drs. H. Imam Hambali, M.pd. Kata Kunci : Penyelenggaraan, Program Pendidikan, Keaksaraan Fungsional. Dengan kemajuan teknologi dan informasi serta di tengah maraknya issu global yang meyerbu Indonesia, negeri ini masih dihadapkan pada permasalahan buta huruf yang relatif tinggi. Untuk menghapuskan masyarakat buta aksara tersebut diselenggarakan pendidikan keaksaraan yaitu pendidikan yang diselenggarakan bagi anggota masyarakat yang buta aksara sehingga menjadi melek aksara dan angka, melek bahasa Indonesia dan melek pengetahuan dasar sebagai bekal dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Pendidikan keaksaraan ini dilakukan melalui satuan kelompok belajar keaksaraan fungsional. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mendiskripsikan secara mendalam mengenai penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan fungsional di Dusun Krajan Desa Gadingkulon Kec. Dau Kab Malang (2) Untuk mengetahui tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelompok belajar keaksaraan fungsional (3) Untuk mengetahui hambatan dalam pelaksanaan program keaksaraan fungsional di Dusun Krajan Desa Gadingkulon Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang mendeskripsikan atau membuat gambaran secara sistematis tentang fakta-fakta yang ada dalam penelitian ini. Obyek penelitian ini adalah warga belajar dan tutor keaksaraan fungsional di Dusun Krajan Desa Gadingkulon Kecamatan Dau Kabupaten Malang, dan informan lain yaitu lembaga pengabdian masyarakat Universitas Negeri Malang (LPM UM) Hasil penelitian tentang penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan fungsional di Dusun Krajan Desa Gadingkulon Kecamatan Dau Kabupaten Malang ini adalah dinilai sudah menerapkan prinsip-prinsip utama keaksaraan fungsional diantara; konteks lokal, desain lokal, proses partisipatif. Dalam menerapkan prinsip utama keaksaraan yaitu dengan memperhatikan proses partisipatif, kegiatan sosialaisasi program dilakukan dengan mendatangi jamaah tahlil ibu-ibu Jum’at sore dan mendatangi jama’ah tahlil bapak-bapak pada waktu malam Senin. Dalam prosedur umum perencanaan pembelajaran dengan membentuk kelompok belajar, sistem pembelajaran yang dilaksanakan, memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa serta menggunakan pendekatan konsep pembelajaran orang dewasa (andragogi). Hambatan didalam pelaksanaan program pendidikan keaksaraan fungsional adalah banyak warga belajar yang mutus di tengah jalan. Hambatan-hambatan dalam proses pembelajaran membaca adalah masyarakat sebagai warga belajar kebanyakan kesulitan mengatakan dengan bahasa Indonesia, karena bahasa komunikasi sehari-hari dengan bahasa Jawa, hambatan dalam pembelajaran menulis adalah terdapat beberapa warga belajar apabila didekte menulis dalam mengarang masih menggunakan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa, warga belajar ada yang masih menggunakan ejaan lama, masih terdapat kekurangan sedikit pada penulisan kata-kata tertentu seperti; menulis sepuluh, kurang nulis (h) nya saja. Sedang hambatan dalam proses pembelajaran berhitung ada beberapa warga belajar kelompok belajar tingkat lanjut kesulitan dalam hal pembagian. Saran yang dapat diberikan adalah 1. Bagi Pendidikan Luar Sekolah Hendaknya ada program tahap lanjut sebagai program tindak lanjut yang di selenggarakan di Dusun Krajan Desa Gadingkulon Kecamatan Dau untuk mencegah masyarakat buta huruf kembali. Selain itu. Perlu program pendampingan berkelanjutan terhadap warga belajar yang telah menjadi sasaran program agar menjadi masyarakat yang bebas buta aksara latin dan bahasa Indonesia, Warga belajar keaksaraan fungsional perlu diberikan insentif karena pengabdiannya untuk mensukseskan program tersebut. 2. Bagi pengelola keaksaraan fungsional. Bagi pengelola program keaksaraan fungsional, perlu adanya program pelatihan dan pembekalan yang terintegrasi bagi tutor program yang diterjunkan di lapangan. Disamping itu perlu dibentuk sebuah forum warga belajar, yang bertujuan menjalin kerja sama (silaturami), selain itu juga dapat dijadikan sarana pembinaan, dan pengawasan.

Perbedaan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) antara bengkel sepeda motor resmi dan non resmi di Kota Blitar / Auliya Urrohman

 

ABSTRAK Urrohman, Aulia. 2009. Perbedaan Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara Bengkel Sepeda Motor Resmi dan Non Resmi di Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd (II) Dra. Widiyanti, M.Pd Kata Kunci: K3, Bengkel Sepeda Motor Resmi dan Non Resmi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja dapat memperoleh derajat keselamatan dan kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik, mental, maupun sosial melalui usaha preventif dan kuratif terhadap potensi problem kerja yang dinilai membahayakan. Bengkel sepeda motor pada umumnya bergelut dengan peralatan dan zat-zat bahaya, yang menyebabkan kecelakaan bila tidak dilaksanakan dengan prosedur yang benar dan mempertimbangkan pentingnya K3, baik di bengkel motor resmi dan non resmi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di bengkel resmi, mengetahui pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di bengkel non resmi dan mengetahui perbedaan pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) antara bengkel sepeda motor resmi dan non resmi di kota Blitar. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi variabel bebas yakni pelaksanaan K3 di bengkel sepeda motor resmi (X) dan variabel terikatnya yakni pelaksanaan K3 di bengkel sepeda motor non resmi (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah model cross sectional study dengan populasi seluruh bengkel motor resmi dan non resmi di kota Blitar yang berjumlah 11 bengkel dengan 51 jumlah mekanik dan sampel 51 mekanik yang dipilih secara total sampling. Dengan menggunakan instrumen berupa angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (a) mayoritas responden dengan 72,41% (21) dan 68,97% (20) mekanik menyatakan setuju terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di bengkel resmi motor; (b) mayoritas responden dengan 100% atau 22 mekanik menyatakan setuju terhadap pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di bengkel motor non resmi dan; (c) diketahui pelaksanaan K3 di bengkel sepeda motor resmi dari 29 mekanik adalah 95,10% dan pelaksanaan K3 di bengkel sepeda motor non resmi dari 22 mekanik adalah 88,05%, dengan signifikansi t sebesar 0,000 (0,000<0,05). Berarti terdapat perbedaan yang sangat nyata antara pelaksanaan K3 di bengkel sepeda motor resmi dan non resmi di kota Blitar. Dengan kata lain pelaksanaan K3 pada bengkel sepeda motor resmi lebih baik dari pada bengkel sepeda non resmi dengan selisih 7,05%. Dari hasil penelitian tersebut bahwa pelaksanaan K3 di bengkel sepeda motor resmi dan non resmi di kota Blitar, menuntut peran serta pemerintah, pimpinan bengkel, dunia industri dan masyarakat dalam merumuskan managerial bengkel yang baik dalam mendukung pelaksanaan K3. Demi terciptanya keselamatan dan kesehatan kerja karyawan secara fisik, psikis dan sosial serta dalam pemenuhan hak-hak asasi mereka dalam pekerjaaan.

Peningkatan pendapatan asli daerah yang berasal dari pajak dan retribusi daerah di Kabupaten Probolinggo pada era otonomi daerah berdasarkan Undang-undang No. 32 Tahun 2004 / Afrilyanita Ery Huslandari

 

ABSTRAK Huslandari, Afrilyanita, Ery. 2009. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari Pajak dan Retribusi Daerah di Kabupaten Probolinggo pada Era Otonomi Daerah Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Edi Suhartono, S.H, M.Pd, (II) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum. Kata kunci: Pendapatan Asli Daerah, otonomi daerah, pajak daerah, retribusi daerah, UU No. 32 Tahun 2004 Sesuai dengan amanat perubahan UUD 1945 yang tertuang dalam pasal 18 ayat (2) pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah salah satu landasan yuridis bagi pengembangan otonomi daerah di Indonesia. Berlakunya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah berbasis kepada titik berat otonomi daerah yang diletakkan di daerah Kabupaten dan Kota. Dalam menyelenggarakan urusan rumah tangganya, daerah membutuhkan dana atau uang karena faktor keuangan merupakan hal yang esensial dalam mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya. Agar kemandirian daerah dalam pembangunan dan mengurus rumah tangganya sendiri terwujud, Pemerintah Daerah diberi kesempatan untuk menggali sumber-sumber keuangan yang ada di daerah, salah satunya dengan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. PAD adalah salah satu sumber keuangan daerah yang terdiri dari empat jenis pendapatan yaitu pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian tentang peningkatan PAD yang berasal dari pajak dan retribusi daerah di Kabupaten Probolinggo pada era otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang: (1) sumber- sumber Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Probolinggo pada era otonomi daerah berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004, (2) kontribusi pajak daerah dan retribusi daerah terhadap PAD tahun anggaran 2004-2008 di Kab. Probolinggo, (3) peningkatan pajak daerah dan retribusi daerah tahun anggaran 2004-2008 di Kab. Probolinggo, (4) upaya Pemerintah Daerah Kab. Probolinggo dalam rangka meningkatkan PAD yang berasal dari pajak daerah dan retribusi daerah, (5) kendala-kendala yang dihadapi Pemerintah Daerah Kab. Probolinggo dalam meningkatkan PAD yang berasal dari pajak daerah dan retribusi daerah, (6) upaya Pemerintah Daerah Kab. Probolinggo dalam mengatasi kendala-kendala dalam upaya meningkatkan PAD yang berasal dari pajak dan retribusi daerah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penelitian dilakukan di Pemerintah Daerah Kab. Probolinggo. Sumber data terdiri dari data kepustakaan dan data lapangan. Data kepustakaan bersumber dari dokumen yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. Sedangkan data yang bersumber dari lapangan i diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang dipakai adalah reduksi data, display data/penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk mendapatkan kebenaran pemaparan dilakukan dengan cara triangulasi yakni menggunakan sumber, metode, dan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sumber-sumber PAD Kab. Probolinggo berasal dari pajak daerah dengan enam jenis sumber penerimaan, retribusi daerah dengan dua puluh enam jenis sumber penerimaan dan merupakan sumber PAD yang terbesar, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dengan satu jenis sumber penerimaan, serta lain-lain pendapatan asli daerah yang sah yang terdiri dari sepuluh jenis sumber penerimaan; (2) kontribusi pajak daerah terhadap PAD tahun anggaran 2004-2008 rata-rata 25,73%, sedangkan retribusi daerah terhadap PAD tahun anggaran 2004-2008 rata-rata 40%; (3) peningkatan pajak dan retribusi daerah Kabupaten Probolinggo dari tahun anggaran 2004-2008 selalu mengalami peningkatan. Begitu pula dengan target dan realisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah, secara keseluruhan pencapaian target yang telah ditetapkan dapat terealisasi dengan baik dalam arti penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah secara keseluruhan setiap tahunnya selalu melebihi target yang dicanangkan; (4) upaya Pemerintah Kab. Probolinggo melalui Dinas Pendapatan dalam meningkatkan PAD yang berasal dari pajak dan retribusi daerah dilakukan melalui cara intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi dilakukan dengan cara mengumpulkan wajib pajak dengan instansi terkait dan memberikan penyuluhan/pembinaan sehingga diharapkan wajib pajak sadar dalam membayar pajak/tidak ada rasa terpaksa untuk membayar pajak, melakukan pengawasan/monitoring terhadap aparat yaitu dengan adaya tim evaluasi, memberikan hadiah pada wajib pajak yang membayar pajak tepat waktu, dan memberikan hukuman kepada wajib pajak yang tidak membayar tepat waktu. Sedangkan ekstensifikasi mengali sumber-sumber PAD yang baru sesuai dengan perundang-undangan; (5) kendala-kendala yang dihadapi Pemerintah Kab. Probolinggo dalam meningkatkan PAD yang berasal pajak dan retribusi daerah adalah minimnya sarana dan prasarana petugas, Sumber Daya Manusia (SDM) aparat yang rendah, dan kurangnya investor untuk mengelola tempat-tempat wisata yang berpotensi; (6) upaya Pemerintah Kab. Probolinggo dalam mengatasi kendala-kendala dalam upaya meningkatkan PAD yang berasal dari pajak dan retribusi daerah adalah mengajukan dana kepada Kepala Daerah untuk keperluan sarana dan prasana dalam melaksanakan tugas, menarik investor agar bersedia menanamkan modalnya dengan melakukan promosi, meningkatkan SDM. Berdasarkan penelitian ini disarankan supaya dilakukan pembinaan dan penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak dan retribusi daerah, memberikan sanksi hukum yang tegas pada wajib pajak yang lalai dalam melaksanakan kewajibannya, mendata ulang retribusi daerah dengan baik, meningkatkan pelayanan dalam penyelenggaraan tempat parkir sehingga dapat memasukkan pajak parkir sebagai pajak daerah guna meningkatkan PAD, menarik investor agar bersedia menanamkan modalnya di daerah, dengan melakukan promosi potensi-potensi daerah yang unggul dan menciptakan suasana yang kondusif serta meningkatkan kualitas intelektual maupun kualitas moral aparat.

Manajemen integrated learning studi kasus di SMPIT Al-Hikmah Bence Garum Blitar / Eko Budi Santoso

 

ABSTRAK Santoso, Eko Budi. 2009. Manajemen Integrated Learning: Studi Kasus di SMPIT Al-Hikmah Bence Garum Blitar. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd, (II) Drs. H. Sultoni, M.Pd Kata kunci : manajemen pembelajaran, integrated learning Pembelajaran yang berpola integrated learning, merupakan model pembelajaran yang memadukan integrated curriculum dan integrated activity dengan mamdukan aktivitas sekolah, ibadah dan belajar yang dikemas dalam kurikulum terpadu. Pembelajaran ini dilkukan oleh Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Al-Hikmah Bence Blitar dengan tujuan: (1) membentuk wadah pendidikan integral sehingga lahir generasi-generasi yang unggul dari segi intelektual, mental spiritual, dan life skills; (2) membentuk kepribadian Islami (syakhsyiyah islamiyah) dalam kehidupan sehari-hari; (3) memiliki semangat kemampuan dan daya pikir dalam pengembangan ilmu pengetahuam dan teknologi; serta (4) memiliki wawasan secara global. Berdasarkan informasi tersebut, maka dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui manajemen integrated learning, dengan fokus serta tujuan diantaranya tentang (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pelaksanaan; (4) penilaian; (5) faktor-faktor penghambat dan upaya mengatasinya; dan (6) faktor-faktor pendukung beserta pemanfaatannya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang mencoba memperoleh gambaran yang mendalam, memandang peristiwa secara keseluruhan dalam konteksnya dan mencoba memperoleh pemahaman yang holistik dengan memahami makna dan memandang hasil penelitian sebagai spekulatif. Jenis penelitian ini adalah studi kasus dengan objek SMPIT Al-Hikmah yang beralamatkan di Jalan Asngari desa Bence kecamatan Garum kabupaten Blitar. Dalam penelitian ini, peneliti sendiri yang berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala kurikulum, guru, siswa, dan orang tua siswa SMPIT Al-Hikmah. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan integrated learning. Data yang diperoleh dianalisis selama pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Pada saat pengumpulan data, peneliti melakukan pengumpulan dan pengorganisasian data, dan setelah pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah mengklasifikasi data, menyaring data, serta menarik kesimpulan. Data yang telah dianalisis kemudian dicek keabsahannya dengan menggunakan empat kriteria, yaitu (1) kredibilitas atau kepercayaan; (2) dependabilitas atau kebergantungan; (3) konfirmabilitas atau kepastian, dan (4) transferabilitas atau keteralihan. Dalam mengecek keabsahan data peneliti menggunakan beberapa teknik, yaitu: (1) ketekunan pengamatan dengan observasi; (2) triangulasi dengan mencocokan hasil temuan dengan masing-masing informan; (3) pemeriksaan sejawat melalui diskusi dengan rekan-rekan yang mempunyai pengetahuan dalam bidang manajemen pendidikan; (4) pengecekan anggota dengan melakukan review terhadap informasi yang telah diperoleh kepada informan; dan (5) kecukupan referensial berupa merujuk teori-teori dari sumber-sumber yang terkait dengan pennelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrated learning di SMPIT Al-Hikmah merupakan perpaduan antara aktifitas belajar dan beribadah di sekolah yang dikemas dalam kurikulum terpadu. Manajemen integrated learning di SMPIT Al-Hikmah, meliputi tahapan-tahapan yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian. Perencanaan pembelajaran dilakukan oleh tim yang terdiri atas kepala sekolah dan guru. Adapun perencanaan yang disusun meliputi empat hal yaitu: (1) menetapkan tujuan dan target, (2) merumuskan strategi, (3) menentukan sumber-sumber daya, dan (4) menetapkan standar atau indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target. Sedangkan pengorganisasiannya meliputi tiga tahapan, yaitu (1) merusmuskan dan menetapkan tugas, (2) penataan tempat, alat dan media dan, (3) penempatan siswa. Kegiatan pengintegrasian aktivitas belajar dan beribadah di sekolah teletak pada tahap pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari (1) pelaksanaan aktivitas pendahuluan berupa aktivitas penyambutan siswa dan kegitan shalat duha berjama’ah yang disertai tilawah Al Qur’an; (2) pelaksanaan kegiatan inti yang merupakan pengintegrasian aktivitas belajar dan beribadah dengan menggunakan metode-metode pendidikan yang terdiri dari pendidikan keteladanan, pendidikan dengan pembiasaan, pendidikan pembiasaan nasehat, pendidikan perhatian, dan pendidikan dengan memberi hukuman; (3) pelaksanaan kegiatan penutup di sekolah berupa aktivitas shalat Ashar berjama’ah yang disertai do’a bersama. Sedangkan tahapan proses penilaiannya, yaitu (1) mengevaluasi keberhasilan dalam mencapai tujuan dan target, (2) mengambil langkah klasifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin terjadi, dan (3) melaksanakan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait tujuan dan target. Sekolah ini dalam melaksanakan pembelajaran memiliki beberapa faktor penghambat, antara lain (1) kurangnya sarana dan prasarana sekolah; (2) minimnya jumlah guru; (3) tingkat kepedulian orang tua siswa terhadap pendidikan anaknya yang masih rendah; dan (4) belum adanya campur tangan dari pihak pemerintah dikarenakan sekolah ini belum lama berdiri dan masih dalam tahap pengembangan. Adapun faktor-faktor pendukungnya yaitu (1) meiliki kerja sama yang baik dengan lembaga pendidikan lain, khususnya lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Lembaga Islam Terpadu (LPIT) Al-Hikmah; (2) lokasi sekolah berada jauh dari keramaian dan berada di lingkungan masyarakat yang bernuansa Islami; (3) meliliki fasilitas transportasi sekolah sendiri berupa mobil antar jemput siswa yang dapat memudahkan pelaksanaan pembelajaran sesuai waktu yang ditentukan; dan (4) adanya asrama guru yang berada di lingkungan sekolah sehingga dapat memudahkan guru-guru menjalin komunikasi dalam mengambangkan pengajaran maupun bertukar informasi mengenai perkembangan siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi (1) bagi kepala sekolah agar perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan integrated learning sebaiknya terus dilakukan seiring dengan perkembangan dan perubahan dalam dunia pendidikan nasional; (2) bagi guru pengajar diharapkan dapat dengan selalu meningkatkan wawasan dan kemampuan dalam pembelajaran integrated learning; (3) bagi Jurusan Administrasi diharapkan jurusan lebih banyak lagi mengkaji tentang menajemen integrated learning sebagai pendalaman dalam ilmu manajemen pendidikan; dan (4) bagi peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode yang lain, sehingga dapat menambah dan mengembangkan kajian ilmiah yang ada.

Faktor-faktor yang mempengaruhi nasabah Bank Central Asia di Kota Surabaya dalam menolak menggunakan internet banking berdasarkan perspektif theory of reasoned action / Bambang Wijanarko

 

ABSTRAK Wijanarko, B. 2009. ” Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nasabah Bank Central Asia Di Kota Surabaya Dalam Menolak Menggunakan Internet Banking Berdasarka Perspektif Theory Of Reasoned Action”.Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1): DR. F Danardana Muwarni, M.M, Pembimbing (II): Rachmad Hidayat, S.Pd Kata kunci: perilaku individu, norma subjektif, niat individu Kota Surabaya merupakan kota yang mendapat julukan sebagai kota pahlawan. Keberadaan kota Surabaya sebagai kota pahlawan didukung oleh beberapa fasilitas Pelayanan Jasa (Bank) salah satunya adalah Bank Central Asia. Berbicara masalah Bank Central Asia, perkembangan Bank Central Asia di Indonesia cukup menggembirakan, khususnya di kota Surabaya. Keberadaan Bank Central Asia di kota Surabaya sangat disambut baik oleh Masyarakat sekitar, sehingga Perusahaan harus mampu bersaing di pasar mereka untuk merebut hati Nasabahnya. Untuk itu, setiap perusahaan dituntut untuk mengembangkan usaha pemasaran yang inovatif pada bisnisnya guna menarik para nasabah. Untuk dapat menarik nasabah agar menggunaka jasanya, salah satunya dapat dilakukan dengan kreatifitas penciptaan Internet banking yang dapat memberikan keefektifan dalam kinerjanya, karena dewasa ini ada kecenderungan berubahnya sikap nasabah karena faktor-faktor tertentu, dimana kegiatan Internet Banking ada beberapa nasabah yang enggan menggunakannya dikarenakan faktor-faktor tersebut, sehingga merubah niat nasabah dalam menggunakan layanan tersebut. Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang niat nasabah dalam menolak menggunakan fasilitas Internet Banking. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Niat nasabah (X) yang terdiri dari Faktor perilaku (X1), Faktor Norma Subjektif (X2) secara parsial maupun simultan terhadap Niat Nasabah dalam menolak Menggunakan Internet Banking. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan Multy Stage Sampling yaitu menentukan sampel berdasarkan kebetulan, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang nasabah Bank Central Asia yang berada di kota Surabaya dengan menggunakan rumus Daniel & Tarrel. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS Versi 16.00. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel Faktor-faktor yang mempengaruhi nasabah (X) yang terdiri dari Faktor Perilaku (X1), Faktor Norma Subjektif (X2) secara parsial mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap Keputusan nasabah dalam Menolak Penggunaan Internet Banking. Adanya pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi dari uji t dari masing-masing variabel < 0,05. Dimana nilai tersebut berturut-turut sebagai berikut: untuk Faktor Perilaku (X1) mempunyai nilai signifikansi 0,000, Faktor Norma Subjektif (X2) mempunyai nilai signifikansi 0,0123. Selain itu juga ditunjukkan dengan nilai t hitung untuk Faktor Sikap/Perilaku = 4,536 < nilai t tabel = 4,62, untuk Faktor Norma Subjektif nilai t hitung = 1,555 > 1,98. Secara simultan Faktor Sikap/Perilaku (X1), Faktor Norma Subjektif (X2) juga mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap Niat Nasabah Dalam Menolak Menggunakan Internet Banking. Pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000 ≤ 0,05 dan ditunjukkan oleh nilai F hitung = 22,936 > F tabel = 3,09. Selain itu diketahui pula bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,321. Dapat diinterpretasikan bahwa variabel Faktor-faktor yang mempengaruhi nasabah yang meliputi Faktor Sikap/Perilaku, Faktor Norma Subjektif dalam mempengaruhi keputusan Nasabah dalam Menolak Menggunakan Internet banking sebesar 32,1% dan sisanya sebesar 67,9% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian. Selain memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi nasabah dalam menolak penggunaan internet banking antara lain sikap dan norma subjektif, sebaiknya juga memperhatikan pula faktor lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini guna menarik konsumen, karena faktor lain dalam penelitian ini, mempunyai pengaruh yang cukup besar yaitu sebesar 67,9%. Faktor lain tersebut mungkin dari pihak dirinya sendiri atau yang lainnya. Peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya agar objek penelitian yang diambil lebih baik, yaitu nasabah bank yang sudah mapan, usia produktif, dan berwawasan lebih matang, tidak sekedar nasabah yang mengerti tentang internet banking melainkan yang lihai dan mengerti tentang pentingnya teknologi.

Pengembangan inventori multiple intelligences berbasis komputer dengan menggunakan software bagi siswa SMA / Nora Elfira

 

ABSTRAK Elfia, Nora. 2009. Pengembangan Inventori Multiple Intelligences Berbasis Komputer dengan Menggunakan Software bagi Siswa SMA. Skirpsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs, Widada, M.Si; (2) Drs. Hariadi Kusumo. Kata Kunci: pengembangan, inventori, multiple intelligences, software Informasi mengenai kecerdasan ganda (multiple intelligences)yang dimiliki siswa sangat diperlukan bagi konselor untuk mengetahui potensi keberhasilan siswa di masa yang akan datang. Kecerdasan ganda yang dimiliki setiap siswa dapat diketahui dengan menggunakan inventori multiple intelligences. Selama ini inventori multiple intelligences berbentuk instrumen yang cara pengerjaannya dilakukan secara manual. Tentunya hal ini akan membutuhkan waktu yang relatif lama dalam penggunaannya, oleh karena itu diperlukan inventori multiple intelligences berbasis komputer dengan menggunakan software bagi siswa SMA adalah untuk membantu kinerja konselor dalam mengumpulkan data siswa sehingga waktu yang digunakan lebih cepat dan efisien Tujuan dikembangkannya inventori multiple intelligences berbasis komputer dengan menggunakan software bagi siswa SMA adalah untuk menghasilkan seperangkat inventori multiple intelligences yang memiliki validitas yang tinggi, dan memiliki reliabilitas yang tinggi, serta system pengadministrasian yang praktis karena berbasis komputer. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 2 Lamongan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian pengembangan. Populasi dalam penelitian ini adalah 377 orang siswa dari kelas XI. Teknik sampling yang digunakan dalam cluster random sampling dan didapatkan 123 orang siswa yang diguakan sebagai sampel penelitian. Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui uji uji lapangan awal dan uji lapangan utama.. Untuk uji lapangan awal dilakukan kepada sekelompok siswa, ahli multiple intelligence, ahli bimbingan dan konseling, ahli media sofware, dan konselor. Sedangkan untuk uji lapangan utama dilakukan kepada sekelompok siswa SMA kelas XI. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah mengetahui koefisien korelasi product moment, validitas, reliabilitas, keterbacaan dan penormaan. Berdasarkan hasil uji lapangan awal terhadap sekelompok siswa didapatkan 66 butir pernyataan yang valid dan 14 item yang tidak valid yang harus diperbaiki. Hasil uji ahli multiple intelligences dan ahli media berbasis teknologi informasi, dapat disimpulkan bahwa inventori multiple intelligences telah memiliki content validity khususnya logic validity dan face validity. Berdasarkan hasil uji lapangan utama, dapat disimpulkan bahwa seluruh item inventori multiple intelligences telah memiliki kualitas yang tinggi. Nilai koefisien reliabilitas masing-masing aspek kecerdasan meskipun tidak tinggi (paling rendah sebesar 0,421 dan yang paling tinggi sebesar 0,737), namun dianggap cukup memuaskan. Berdasarkan kesimpulan tersebut, disarankan konselor agar dapat memanfaatkan hasil penelitian berupa pengembangan inventori multiple intelligences berbasis komputer bagi siswa SMA sebagai instrumen pengumpul i data untuk mengungkap aspek-aspek yang dimiliki siswa. Selain itu, disarankan agar konselor dapat memanfaatkan hasil penelitian berupa pengembangan inventori multiple intelligences berbasis komputer bagi siswa SMA untuk membantu siswa dalam menyalurkan dan mengembangkan aspek-aspek kecerdasan ganda (multiple intelligence) yang dimiliki siswa. Bagi penelitian selanjutnya, hendaknya dapat menindaklanjuti penelitian ini dengan cara mencari bukti validitas inventory multiple intelligences dengan menggunakan konsep validasi lain, seperti uji validitas dengan pendekatan eksternal, misalnya validitas berdasarkan kriteria, seperti validitas prediktif dan validitas konkuren. Sedangkan mengenai hasil uji reliabilitas disarankan untuk ditingkatkan dengan cara menambah jumlah item soal. Selain itu perlu melakukan uji lapangan dengan populasi yang lebih bervariasi, sehingga inventori multiple intelligences ini dapat digunakan secara lebih luas.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan seorang isteri untuk mengajukan gugatan cerai / Dewi Permatasari

 

ABSTRAK Permatasari, Dewi. 2009. Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Pengambilan Keputusan Seorang Isteri Untuk Mengajukan Gugatan Cerai D Pegadilan Agama Malang. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling Dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Alwisol, M.Pd, (II) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Psi, Psikolog. Kata Kunci : pengambilan keputusan bercerai, isteri. Angka perceraian semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini juga disertai dengan munculnya fenomena bahwa kaum wanitalah yang lebih banyak mengajukan gugatan perceraian dibandingkan dengan kaum pria sebagai suami. Setiap wanita atau isteri memiliki alasan atau faktor pendorong yang melatarbelakangi keputusannya untuk mengakhiri pernikahannya yang berbeda antara invidu yang satu dengan yang lain. Keputusan seorang isteri untuk mengakhiri pernikahannya merupakan suatu bentuk kesadaraan akan kesetaraan gender dimana wanita tidak ingin dianggap sebagai pihak nomor dua dalam pernikahan akan tetapi sebagai individu yang memiliki hak yang dan kesetaraan yang sama dengan kaum pria. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang meneliti dan mengkaji masalah secara obyektif sebagaimana adanya tanpa ada manipulasi atau memberikan perlakuan pada variabel penelitian, dilihat dari jenisnya, penelitian ini merupakan penelitian expost facto yang meneliti peristiwa yang telah terjadi, kemudian merunut ke belakang melalui data yang diperoleh untuk menemukan faktor-faktor yang mendahului dan menentukan sebab yang mungkin dari peristiwa yang diteliti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa yang melatar belakangi pengambilan keputusan seorag isteri untuk mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Malang. Uji validitas instrumen menggunakan validitas item, uji validity digunakan dengan membandingkan dengan tabel korelasi Pearson dengan taraf signifikansi 0,05 untuk df = 50 ekuivalen dengan 0,231. Reliabilitas diukur menggunakan koefisien reliabilitas alpha dengan bantuan program SPSS 15.0 for Windows menghasilkan reliabilitas sebesar 0.914. Subjek dalam penelitian ini adalah isteri yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama baik yang baru memasukkan perkaranya maupun yang sedang dalam proses persidangan yang diambil dengan cara tehnik insidental sampling. Tehnik analisis data menggunakan tehnik analisis faktor untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang melatar belakagi pengambilan keputusan seorang isteri untuk mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor krisis akhlaq, nafkah, kesetiaan pasangan, ketidak nyamanan emosi, dan ketidak cocokan terhadap pasangan melatar belakangi pengambilan keputusan seorang isteri untuk mengajukan gugatan cerai. Faktor krisis akhlaq memberikan sumbangan sebesar 14,59 %, nafkah sebesar 11,6 %, kesetiaan pasangan sebesar 15,69 %, ketidak nyamanan emosi sebesar 29,08 % dan ketidak cocokan terhadap pasangan memberikan sumbangan sebesar 28, 92 % terhadap pegambilan keputusan seorang isteri untuk mengajukan gugatan cerai. Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1). bagi pihak Pengadilan Agama hendaknya lebih memperhatikan kelima faktor dalam penelitian ini yaitu, krisis akhlaq, nafkah, kesetiaan pasangan, ketidak nyamanan emosi, dan ketidak cocokan terhadap pasangan. Berdasar hasil penelitian diketahui bahwa ketidaknyamanan emosi menjadi faktor penyumbang terbesar dalam proses pengambilan keputusan mengajukn gugatan cerai. sehingga sebelum mengabulkan permohonan gugatan cerai terlebih dahulu dilakukan mediasi untuk mendamaikan kedua belah pihak. Sebab pernikahan yang telah lama dibangun sangat disayangkan bila harus berakhir disebabkan oleh sudah lunturnya cinta diantara kedua belah pihak. 2) bagi pasangan suami isteri, berusaha untuk dapat menerima pasangan apa adanya dan tidak terlalu banyak menuntut yang pada akhirnya tidak akan menambahkan kedewasaan hubungan dan jusru berakibat pada munculnya banyak kekecewaan pada suatu hubungan. 3) Bagi peneliti selanjutnya untuk dapat semakin banyak menambahkan faktor-faktr lainnya sehingga semakin dapat mengungkap faktor-faktor yang melatar belakangi pengambilan keputusan seorang isteri untuk mengajukan gugatan cerai.

Pengelompokkan klon-klon tebu berdasarkan sifat morfologinya dengan metode analisis cluster jarak euclidean dan fungsi diskriminan / Didik Nurdiansyah

 

ABSTRAK Nurdiansyah, Didik. 2009. Pengelompokkan Klon-Klon Tebu Berdasarkan Sifat Morfologinya dengan Metode Analisis Cluster Berdasarkan Jarak Euclidean dan Fungsi Dikriminan.Skripsi, Program Studi Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs.Susiswo, M.Si, (II) Ir. Hendro Permadi, M.Si. Kata kunci: Analisis kelompok, identifikasi klon, morfologi, pengelompokkan. Suatu upaya kuantifikasi dicobakan untuk menstranformasikan data deskriptif morfologi 63 klon tebu menjadi data biner. Analisis multivariate kemudian diterapkan terhadap data hasil transformasi. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk membuka peluang bahwa data morfologi deskriptif, yang selama ini hanya digunakan sebagai alat deskripsi klon saja, dapat lebih dimanfatkan untuk menduga jarak, keragaman dan hubungan kekerabatan genetik antar klon. Analisis statistik dilakukan dengan program komputer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data morfologi dapat memberikan informasi genetik lebih mendasar daripada sekedar deskripsi varietas. Jarak genetik, keanekaragaman genetik dan hubungan kekerabatan genetik antar varietas dapat dinyatakan secara kuantitatif dari data deskriptif morfologi. Dari 63 klon dapat dikelompokkan menjadi 55 kelompok dengan kisaran derajat kesamaan genetik antar kelompok sebesar 100%. Pada derajat kesamaan sebesar 91% menjadi 32 kelompok, pada derajat kesamaan 82% menjadi 15 kelompok, pada derajat kesamaan 74% menjadi 4 kelompok, dan pada derajat kesamaan 65% menjadi 1 kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan data morfologi dapat lebih mendukung program-program pemuliaan di samping sebagai alat deskripsi varietas. Disamping itu pembandingan kesamaan antar varietas secara manual berdasar data morfologi sama hasilnya dengan pembandingan analisis statistik tetapi dilakukan secara lebih cepat. Sedangkan pada fungsi diskriminan, dari 19 variabel yang diteliti dapat ditentukan dua belas variabel yang secara signifikan membedakan antara 5 kelompok yang terbentuk yaitu: Helai daun, permukaan daun tidak berbulu, lapisan lilin pelepah , sifat lepas dau, lapisan lilin ruas ada, mata akar melewati puncak mata, cincin tumbuh melengkung, kedudukan mata pada bekas pangkal, kedudukan mata, tepi sayap rata, rambut tepi basal tidak ada, rambut jambul tidak ada.

Diagnosis kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi trigonometri serta pengajaran remidinya pada siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang / Didik Nurdiansyah

 

ABSTRAK Nurdiansyah, Didik. 2008. Diagnosis Kesulitan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Materi Trigonometri Serta Pengajaran Remidinya Pada Siswa Kelas X SMA Negeri 4 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. M. Shohibul Kahfi, M.Pd, (II) Drs. Eddy Budiono, M.Pd Kata kunci: soal cerita, pengajaran remidi, trigonometri Dalam proses belajar mengajar di kelas, aktivitas belajar tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar. Setiap guru akan menjumpai permasalahan-permasalahan, diantaranya adalah kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan kesulitan yang paling banyak dialami siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi trigonometri. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Malang, kelas X-1 yang berjumlah 38 siswa. Siswa yang menjadi subyek penelitian adalah siswa yang skor tesnya kurang dari 75 dan juga melihat dari Penentuan Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 77. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena lebih mementingkan proses. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: (1) memberikan tes diagnostik, (2) menganalisis hasil tes diagnostik, (3) menentukan subyek penelitian, (4) menentukan faktor penyebab kesulitan, (5) pemberian pengajaran remidi. Secara umum disimpulkan bahwa kesulitan yang paling banyak dialami siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi trigonometri adalah kesulitan dalam memahami konsep satuan pada ukuran sudut khusunya pada konsep hubungan ukuran radian dengan ukuran derajat, kesulitan perbandingan trigonometri pada segitiga siku-siku dan sudut-sudut istimewa, kesulitan perbandingan trigonometri dari sudut di berbagai kuadran dan sudut berelasi, kesulitan konsep trigonometri tentang sudut elevasi dan sudut depresi. Hal tersebut terjadi karena siswa tidak bisa menerjemahkan kalimat dalam soal cerita ke dalam model matematika. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, peneliti memberikan pengajaran remidi. Adapun bentuk pengajaran remidi yang dilaksanakan re-teaching, bimingan individu, dan memberikan pekerjaan rumah (PR). selama melaksanakan pengajaran remidi, peneliti memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dalam pelaksanaannya, peneliti menggunakan metode ekspositori dan tanya jawab. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketuntasan siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi trigonometri meningkat setelah memperoleh pengajaran remidi. Hal tersebut tampak dari hasil ketuntasan pada tes diagnostik sebesar 39,47 % dan 94,73% pada tes akhir. ABSTRACT Nurdiansyah, Didik. 2008. Diagnosis of Student's Difficulties in Order to Solve Essay Problems For Trigonometri Material and Its Remedial Teaching for Students of grade 10th SMA Negeri 4 Malang. Thesis, Department of Mathematics Education, Mathematics and Science Faculty, Malang State University. Advisors: (I) Drs. H. M. Shohibul Kahfi, M.Pd, (II) Drs. Eddy Budiono, M.Pd Keywords: essay problem, remedial teaching, trygonometri In teaching and learning process in the class, the learning activities are not always fluently. Each teacher will discover several problems dealing with the process. One of the problems is student's difficulties in order to solve essay problems. This research aims to identify the difficulties are faced by student in order to solve essay problems for trygonometri material. The research is conducted at SMA Negeri 4 Malang, grade 10th of 1, with 38 students. The subject of the research are students that get score less than 75 in their examination as well as seeing from Penentuan Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) equal to 77. This research used qualitative approach, and its step are: (1) conducting the diagnostic test, (2) analyzing the result of diagnostic test, (3) determining the research subjects, (4) determining the cause of difficulties factors, and (5) remidial teaching. In general, the difficulties which were faced by most of student in order to solve essay problems for trygonometri material were difficulties to understand the concept of set of angle measure, especially relation for measure radian with measure degree, the difficulties trygonometri comparation at bevel three angle and spcial angle's, the difficulties trygonometri comparation in various kuadran angle and relation angle, the difficulties trygonometri concept for elevasi angle and depresi angle. In order overcome these difficulties, researcher used remedial teaching. The forms of remedial teaching were: re-teaching, individual coaching, and homework. During the remedial teaching, researcher gave student worksheet and used expository and discussion (question and answer) method. This research result showed that student's completion in order to solve essay prolems for trygonometry material increase had remedial teaching. This fact to be seen from diagnostic's result is 39,47 % and 94,73% on final test.

Pengaruh luas pengungkapan sosial dalam laporan tahunan perusahaan terhadap volume perdagangan saham dan abnormal return saham (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2007) / Mohamad Imam Agung Prakoso

 

ABSTRAK Prakoso, Mohamad Imam Agung. 2009 Pengaruh Luas Pengungkapan Sosial pada Laporan Tahunan Perusahaan terhadap Volume Perdagangan Saham dan Abnormal Return Saham (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar pada BEI Periode 2007). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sutatmi, S.E., M.Pd., M.Si., Ak., (II) Dr. Puji Handayati, S.E., M.M., Ak. Kata kunci: pengungkapan sosial perusahaan, volume perdagangan saham, abnormal return saham Investor membutuhkan informasi-informasi yang digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan keputusan transaksi atas saham, baik informasi keuangan maupun informasi non-keuangan. Informasi yang baik atau buruk dapat membuat investor merespon informasi tersebut. Respon dari investor atau reaksi investor tersebut dapat dilihat melalui volume perdagangan saham dan harga saham. Volume perdagangan saham dapat diukur menggunakan trading volume activity, sedangkan untuk harga saham diukur menggunakan abnormal return. Penelitian ini bertujuan utuk (1) mengetahui perbedaan volume perdagangan saham dan abnormal return saham sebelum dan sesudah pengumuman laporan tahunan, dan (2) pengaruh luas pengungkapan sosial terhadap volume perdagangan saham dan mengetahui pengaruh luas pengungkapan sosial terhadap abnormal return saham. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji peringkat wilcoxon untuk menguji beda rata-rata volume perdagangan saham dan abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman laporan tahunan. Sedangkan untuk menguji pengaruh luas pengungkapan sosial terhadap volume perdagangan saham dan pengaruh luas pengungkapan sosial terhadap abnormal return saham menggunakan regresi sederhana. Berdasarkan hasil uji Z (Wilcoxon), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara volume perdagangan saham sebelum dan sesudah pengumuman, dan tidak ada perbedaan antara abnormal return saham sebelum dan sesudah pengumuman. Hasil uji regresi sederhana pada pengaruh luas pengungkapan sosial terhadap volume perdagangan saham menunjukkan tidak ada pengaruh. Hasil uji regresi sederhana pada pengaruh luas pengungkapan sosial terhadap abnormal return saham menunjukkan tidak ada pengaruh. Berdasar hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut: (1) para investor yang hendak menanamkan modalnya di pasar modal sebaiknya memperhatikan informasi sosial pada laporan tahunan perusahaan, (2) perusahaan manufaktur sebaiknya lebih memperhatikan sektor lingkungan sosial perusahaan, (3) untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti penelitian sejenis diharapkan menggunakan sampel penelitian dengan wilayah populasi yang lebih besar serta mengembangkan permasalahan.

Humand/Daemon: the role as human alter ego depicted in Daemon of the Golden Compass / Mahardi Eka Putra

 

It is often asserted that reading is an important skill. It helps improve the reader’s minds, assists with works and pleasures. For every reader, there comes a time when they want something new and different, so they branch out into other areas of fiction. Trying a new genre can bring new ideas and entertainment to enjoy. Fantasy is one of the many genres of narrative fiction that include mystery, romance, and science fiction. It is one of the oldest genres. Most fantasy comes from the mythology of Greek and other ancient civilizations. Some of the first Fantasy stories are Gilgamesh from Babylonia, The Iliad, and Odyssey by Homer of Greece and the Aeneid by Virgil from the Roman Empire. The common basic patterns that form the genre are stories of quests, heroes, magic, gods, mythical creatures, and adventures. In order to have an appreciation toward the genre of fantasy fiction, it is important to try to understand what a fantasy is. Fantasy is a commercial and literary genre of fiction, which is a made up story about unreal characters, with its own themes and elements. The fiction has realistic plots and characters on the contrary, the fantasy deals with the impossible. As Todorov points out, that fantastic literature involves an unresolved hesitation between a supernatural (or otherwise paranormal or impossible) solution and a psychological (or realistic) one. Fantasy is a genre that mostly has magic, secondary worlds, mythical creatures, quests, and great battles between good and evil. Common elements in the genre are dragons, wizards, elves, trolls and other imaginary characters. Some might have minimal fantastic elements, but anything that is not possible in the real world is considered fantasy. It is hard to disagree that in fantasy, there is a lesson of understanding the differences of others, and there is a lesson of tolerance toward other people, which brings new experiences. This statement above might be the suitable line to explain the importance of fantasy. Speaking personally, fantasy literatures help the readers to gain understanding or comprehension about being human and to explore the human soul by taking the readers out of the real world. The idea of educating the readers with moral or philosophical lessons through the elements of fantasy arouses my interest to begin this very study.

Penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams-Achievement Divisions) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X5 SMA Negeri 8 Malang / Candra Ari Sudha

 

ABSTRAK Sudha, Candra Ari. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah dan Pembelajaran Kooperatif STAD (Student Teams-Achievement Divisions) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X5 SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Susetyoadi Setjo, M.Pd, (II) Drs. Sulisetijono, M.Si. Kata Kunci: Motivasi, Hasil Belajar, Pembelajaran Berdasarkan Masalah, STAD Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Tiga hal utama yang perlu disoroti dalam perbaikan mutu pendidikan, yaitu pembaharuan kurikulum, peningkatan kualitas pembel- ajaran, dan efektivitas metode pembelajaran. Metode pembelajaran di kelas harus efektif dan mampu memberdayakan potensi siswa. Akan tetapi, berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMAN 8 Malang, diketahui bahwa pembelajaran yang dilakukan di kelas masih bersifat konvensional, yaitu dengan metode ceramah yang berorientasi pada guru (teacher centered) sehingga kurang memberdayakan potensi siswa. Hal ini berakibat pada motivasi belajar siswa rendah sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang juga rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams- Achievement Divisions) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas X5 SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X5 semester II tahun ajaran 2008-2009 SMA Negeri 8 Malang yang berjumlah 34 siswa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2009. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi motivasi, soal tes/kuis, kamera dan catatan lapangan. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams- Achievement Divisions) dengan tahapan presentasi kelas, belajar kelompok, mengembangkan dan menyajikan laporan, evaluasi dan penghargaan kelompok secara umum dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas X5 SMA Negeri 8 Malang. Dari paparan data dan temuan penelitian, diketahui bahwa motivasi belajar klasikal keseluruhan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 16,89% dibandingkan dengan siklus I. Hasil belajar siswa dapat diketahui dari dari tes yang diadakan setiap siklus. Ketuntasan belajar klasikal dari siklus I ke siklus II meningkat 20,59%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams-Achievement Divisions) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas X5 SMA Negeri 8 Malang. Saran dari penelitian ini i adalah sebaiknya dilakukan penelitian sejenis pada kompetensi dasar yang lain guna mengetahui keberhasilan penerapan model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams-Achievement Divisions) dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, sebaiknya pemicu masalah yang diberikan bagi siswa bersifat lebih nyata dan inovatif untuk lebih meningkatkan meningkatkan motivasi belajar siswa, sebaiknya guru Biologi juga menerapkan model pembelajaran berdasarkan masalah dan pembelajaran kooperatif STAD.

Penerapan strategi layanan jasa produk paket express dan paket kilat khusus pada PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu / Stefri Eko Kismawan

 

ABSTRAK Kismawan, Stefri Eko. 2009. Penerapan Strategi Layanan jasa Produk Paket Express dan Paket Kilat Khusus pada PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu. Tugas Akhir, Jurusan Manajemen, Program Studi DIII Manajemen Pemasaran, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Supriyanto, M. M Kata Kunci : Pelayanan, Jasa dan Produk PT. Pos Indonesia merupakan salah satu instansi pemerintah yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat luas yang bergerak langsung dalam bidang pelayanan jasa. PT. Pos Indonesia masih menjadi sarana favorit bagi masyarakat dalam hal pelayanan jasa yang tidak bisa dijangkau oleh perkembangan teknologi. PT Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu sebagai salah satu perusahaan yang ingin meningkatkan pelayanan pada pelanggan terhadap penggunaan jasa pos. Pada era sekarang ini yang perkembangan teknologinya semakin maju dan berkembang baik itu dari segi teknologi komunikasi. Para pelanggan biasanya tidak dapat langsung mengikuti perkembangan tersebut, sebab di dalam lingkungan masyarakat ada yang tidak memungkinkan atau tidak mengetahui dalam memakai teknologi komunikasi tersebut. Dengan minimnya pengetahuan sebagian masyarakat ini, PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu berusaha memperkenalkan pelayanan kepada masyarakat untuk memberikan kemudahan dan pengetahuan bagi masyarakat yang kurang mengetahuinya dengan memberikan pelayanan didalam menyediakan sarana pengiriman express dan paket kilat khusus. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mendiskripsikan pelayanan yang diterapkan PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu antara lain adalah (1) Bagaimana Pelayanan yang diberikan PT. Pos Indonesia kepada jasa pengguna jasa pos pengiriman express dan paket kilat khusus, (2) Bagaimana strategi pelayanan yang diberikan PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu kepada pengguna jasa pos pengiriman express dan paket kilat khusus, (3) Faktor pendukung dan penghambat pengiriman paket exprees dan paket kilat khusus pada PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu. Menurut Kotler (2002; 486)”jasa adalah setiap mtindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak terwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik’. Dalam pengumpulan data, penulis mendapatkan pelayanan dari pegawai paket pos, tarif, strategi pelayanan, pelayananya, tanggung jawab dan ganti rugi. Pemberian ganti rugi di dalam pos biasanya diberikan oleh pihak posindo. Tnggung jawab posindo mulai dari pengeposan di loket bsampai dengan alamat yang akan dituju. Apabila terjadi kerusakan, kehilangan atau keterlambatan didalam pengiriman barang, maka pengguna jasa pengeposan dapat menuntut atau mengkomplain selama hal tersebut disebabkan sebesar kerusakan atau kehilangan yang diderita pihak penerima atau pengiriman. Produk jasa pengiriman express dan kilat khusus PT. Pos Indonesia (Persero) Cabang Batu adalah pengiriman pengiriman secara cepat perhitungan yang akurat melalui online dengan memiliki resi sebagai tanda bukti untuk pengiriman. Harga pada produk jasa pengiriman express dan kilat khusus sudah ditetapkan dan penetapan harga dalam pengiriman barang sesuai dengan jauhnya kota tujuan serta berat barang tersebut. Tempat pada produk jasa pengiriman express dan kilat khusus pengirimannya meliputi seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri serta layanan pelanggan yang diberikan jasa pengiriman express dan kilat khusus terbatas pada saat transaksi.

Kontrol temperatur rice cooker berbasis mikrokontroler at mega 16 / Dwi Hadi Yusanto

 

ABSTRAK Hadi Yusanto, Dwi. 2009. Kontrol Temperatur Rice Cooker Berbasis Mikrokontroler AT Mega 16. Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwasono, M.T. (II) Drs. Puger Honggowiyono, M.T. Kata Kunci: Rice Cooker, Sensor Suhu , Keypad, LCD Kemajuan teknologi di dunia semakin tahun semakin cepat dan berkembang, dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin berkembang maka banyak tercipta peralatan elektronik yang bekerja secara otomatis, kemajuan tersebut juga merambat pada peralatan rumah tangga Sebelum ada perkembangan teknologi, pada peralatan rumah tangga masih banyak yang bersifat tradisional dan manual. Pada dasarnya peralatan tersebut masih sangat merepotkan dikarenakan belum menggunakan listrik atau rangkaian elektronik, tetapi dengan terkena imbas dari kemajuan teknologi peralatan rumah tangga sekarang ini sudah mengalami kemajuan. Kemajuan yang ada pada peralatan rumah tangga baru saat ini membantu ibu-ibu rumah tangga dalam memasak sebagai contoh terciptanya peralatan seperti rice cooker, microwave, dispenser, blender, mixer, dan lain-lain. Tetapi pada peralatan tersebut belum dilengkapi oleh pengontrol suhu, pengontrol putaran, pengontrol tekanan. Seperti halnya pada rice cooker alat tersebut bisa menanak nasi dan menghangatkan nasi, tetapi alat ini bekerja terus-menerus sehingga menyebabkan nasi menjadi kering dan tidak layak konsumsi. Alat kontrol temperatur rice cooker berbasis mikrokontroler AT Mega 16 ini tersusun dari beberapa komponen yaitu: (1) Keypad 3x4 berfungsi untuk memberi masukan berapa suhu yang diiginkan dan tombol tertentu sebagai instruksi memulai suatu perintah (2) Sensor suhu LM-35 sebagai perasa temperatur yang dihasilkan oleh elemen pemanas yang ada pada rice cooker (3) Pengkondisi Sinyal non-inverting berfungsi untuk menguatkan tegangan keluaran dari sensor (4) Mikrokontroler AT Mega 16 berfungsi sebagai pusat kendali utama yang mengkoordinasikan seluruh perangkat input dan output pada sistem. (5) Relay berfungsi sebagai driver untuk menghubungkan tegangan AC dan DC (6) LCD M1632 berfungsi sebagai penampil karakter huruf dan angka untuk mempermudah pengoprasian alat. Dari hasil pengujian dan analisis diperoleh kesimpulan yaitu: (1) Keypad 3x4 sudah bisa digunakan dengan baik sebagai instruksi masukan suhu. (2) Sensor suhu LM-35 menjadi input dari sistem ini telah sesuai dengan perancangan dan sudah bisa merasakan berapa besar suhu yang ada di sekitar sensor. (3) Pengkondisi Sinyal non-inverting telah berjalan dengan baik sesuai dengan perancangan karena bisa melakukan penguatan sebesar 4 kali. (4) Mikrokontroler AT Mega 16 telah berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan karena sudah memadukan perangkat input dan output (5) Penggunaan modul LCD M1632 untuk menampilkan petunjuk penggunaan alat serta untuk menampilkan berapa suhu yang ada dan menampilkan keterangan yang ada pada alat dapat berjalan sesuai yang diharapkan. (6) Dengan mengamati hasil pengujian tiap bagian maupun secara keeluruhan baik untuk hardware maupun software, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perancangan yang dilakukan telah berhasil dan alat dapat bekerja sesuai yang diharapkan.

Desain pintu otomatis menggunakan RFID / Cahya Dwi Pratama

 

ABSTRAK Dwi Pratama, Cahya. 2009. Desain Pintu Otomatis Menggunakan RFID. Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom. (II) Siti Sendari, S.T., M.T. Kata Kunci: Pintu, Otomatis, RFID, mikrokontroler AT89S8252 Tindak kejahatan yang terjadi pada lingkungan gedung perkantoran bahkan di lingkungan rumah akhir-akhir ini semakin sering terjadi, angka kriminalitas pun semakin meningkat. Di dalam sebuah gedung perkantoran tentunya banyak benda-benda penting yang tersimpan di beberapa ruangan. Semakin banyak ruangan yang menyimpan benda-benda penting, maka semakin tinggi kebutuhan sistem keamanan gedung tersebut. Hal ini menjadi kurang efisien jika tugas itu di kerjakan oleh tenaga manusia, misalnya dalam suatu gedung terdapat puluhan ruangan, untuk memaksimalkan keamanan tentunya diperlukan puluhan tenaga manusia untuk berpatroli di setiap ruangan itu. Dalam suatu gedung biasanya terdapat ruangan-ruangan tertentu yang bersifat eksklusif, artinya tidak sembarang orang diperkenankan masuk selain yang berkepentingan. Prinsip kerja dari desain pintu otomatis menggunakan RFID ini adalah terdeteksinya setiap objek yang akan masuk pada pintu dengan menggunakan RFID. Ketika tag RFID terdeteksi maka pintu akan terbuka dan sensor infra merah akan menghitung jumlah objek yang ada didalam ruangan saat melewati pintu, kemudian pintu akan tertutup. Sebaliknya, jika tag RFID tidak terdeteksi, maka alarm akan berbunyi. Sementara itu jika objek ingin keluar ruangan, juga menggunakan tag RFID untuk dapat membuka pintu, dan sensor infra merah akan mengurangi jumlah objek dalam ruangan. Dari hasil pengujian dan analisis diperoleh kesimpulan yaitu: (1) RFID bisa digunakan sebagai piranti pengenal pada objek yang telah terdaftar atau sesuai dengan data yang ada pada mikrokontroler. Kemudian mikro-kontroler akan menggerakkan motor untuk membuka atau menutup pintu jika RFID Reader mendeteksi kartu RFID yang terdaftar; (2) infra red berfungsi sebagai pendeteksi sekaligus penghitung objek yang masuk atau keluar ruangan; (3) hal yang bisa ditampilkan dalam sistem antara lain: nomor identitas kartu, status kartu, dan jumlah pengunjung.

Sifat organoleptik tahu udang dengan komposisi udang segar dan udang rebon yang berbeda / Amalia

 

ABSTRAK Amalia. 2009. Sifat Organoleptik Tahu Udang dengan komposisi udang segar dan udang rebon yang berbeda. Tugas Akhir, Program Studi Tata Boga, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Teti Setiawati, M. Pd. (II) Ir. Issutarti. Kata Kunci : Tahu udang, udang rebon, udang segar dan organoleptik. Tahu udang adalah tahu yang mempunyai flavor udang. Tahu udang dibuat untuk memberikan variasi pada tahu agar menjadi lebih baik. Proses pembuatan tahu udang menggunakan udang segar dan udang rebon. Penambahan udang segar diharapkan memberikan aroma pada flavor tahu udang sedangkan penambahan udang rebon diharapkan memberikan rasa pada flavor tahu udang. Penelitian ini bertujuan untuk mencari komposisi tahu udang yang mempunyai flavor udang yang tajam, warna putih agak krem dan tekstur kokoh. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Perlakuan dalam penelitian ini adalah pembuatan tahu udang dengan komposisi udang segar dan udang rebon yang berbeda (4:0 ; 3:1 ; 2:2 ; 1:3 ; 0:4). Masing-masing penelitian pengujian dilakukan 3 kali pengulangan. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik warna, flavor dan tekstur. Instrumen yang digunakan dalam penelitian yaitu instrumen uji mutu hedonik dan uji hedonik. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan panelis agak terlatih dari mahasiswa D3 Tata Boga sebanyak 25 orang. Data uji mutu hedonik dan uji hedonik dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika berbeda nyata maka dilanjutkan dengan Duncan’S Multiple Range Test (DMRT). Berdasarkan hasil penelitian dari uji mutu hedonic diketahui bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata pada flavor, warna dan tekstur. Flavor udang yang kuat didapatkan dari tahu udang dengan komposisi udang segar dan udang rebon (3:1), tekstur tahu udang yang kokoh terdapat pada komposisi udang segar dan udang rebon (4:0) sedangkan warna putih agak krem didapatkan dari tahu udang dengan komposisi udang segar dan udang rebon (4:0). Hasil uji hedonik diketahui sebanyak 88% panelis menyatakan suka terhadap warna tahu udang pada komposisi udang segar dan udang rebon (3:1). Tingkat kesukaan panelis terhadap flavor tahu udang pada komnposisi udang segar dan udang rebon (3:1) sebanyak 80% panelis menyatakan suka dan sebnyak 84% panelis menyatakan suka terhadap tekstur tahu udang pada komposisi udang segar dan udang rebon (4:0). Kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian ini adalah komposisi yang disuka panelis dari segi flavor dan warna adalah komposisi udang segar dan udang rebon 3:1. Sedangkan dari segi tekstur tahu udang yang disukai panelis adalah komposisi udang segar dan udang rebon 4:0 yang memiliki tekstur kokoh. KATA PENGANTAR Alhamdulillahi Rabbil’Alamin. Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul “Sifat Organoleptik Tahu Udang dengan Komposisi Udang Segar dan Udang Rebon yang Berbeda”. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini tidak terlepas dari bimbingan dan dorongan pihak lain. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1. Dra. Nunung Nurjanah,M.Kes, selaku Ketua Jurusan Teknologi Industri atas dorongan dan penyemangat atas terselesaikannya karya kecil ini. 2. Dra. Teti Setiawati,M.Pd, selaku Pembimbing I atas bimbingan, dorongan serta doa terima kasih banyak bu. Amel mohon maaf sudah membuat ibu marah dan kecewa. 3. Ir. Issutarti, selaku dosen Pembimbing II atas bimbingan dan kesabaran telah membimbing amel untuk menyelesaikan tugas akhir ini. 4. Dra. Rina Rifqie Mariana, M.P, selaku dosen penguji.Terima kasih sudah banyak memberikan masukan agar karya kecil ini menjadi lebih baik. 5. Bapak dan ibu dosen atas segala bantuan, doa serta bimbingannya. 6. Ayah dan mama yang selalu mendoakan dan memberi dukungan moril dan material. 7. Seluruh keluarga yang memberikan semangat dan doa, khususnya suamiku tercinta terima kasih telah menemaniku dalam suka maupun duka. 8. Orangtua angkatku terima kasih atas bantuan materialnya yang sangat bermanfaat. 9. Teman-teman angkatan 2005 yang telah memberikan semangat dan dukungan 10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini. Penulis menyadari bahwa banyak kesalahan dalam penulisan ini oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penyempurnaan Tugas Akhir ini. Penulis berharap semoga Tugas Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi semua. Penulis DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN Halaman ABSTRAK……………………………………………………………………….. i KATA PENGANTAR…………………………………………………………… ii DAFTAR ISI …………………………………………………………………….. iv DAFTAR TABEL ……………………………………………………………….. vi DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………….. vii DAFTAR BAGAN …………………………………………………………….. viii DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………….. ix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……………………………………………………….. 1 B. Rumusan Masalah ………………………….……………………….. 3 C. Tujuan Penelitian……………………………………………………… 3 D. Manfaat Penelitian ……………………………………………………. 4 E. Definisi Operasional …………………………………………………. 5 F. Sifat Organoleptik ……………………………………………………. 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tahu …………………………………………………………………. 7 B. Tahu Udang …………………………………………………………. 8 C. Kedelai ……………………………………………………………… 8 D. Udang Segar ………………………………………………………… 10 E. Udang Rebon ……………………………………………………….. 12 F. Air …………………………………………………………………… 13 G. Asam Cuka ………………………………………………………….. 13 H. Pembuatan Tahu ……….…………………………………………….. 14 I. Sifat Organoleptik …………………………………………………… 18 BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ……………………………………………….. 19 B. Alat dan Bahan ………………………………………………………. 20 C. Waktu dan Tempat Penelitian ……………………………………….. 21 D. Subyek Penelitian …………………………………………………. 21 E. Pelaksanaan Penelitian ……………………………………………. 21 F. Instrumen Penelitian ……………………………………………….. 25 G. Pengumpulan Data …………………………………………………. 25 H. Analisis Data ……………………………………………………….. 26 BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan …………………………………………….. 27 B. Penelitian Utama …………………………………………………… 27 1. Uji Mutu Hedonik Tahu Udang a. Warna ………………………………………………………… 28 b. Flavor ………………………………………………………… 31 c. Tekstur ……………………………………………………….. 34 2. Uji Hedonik Tahu Udang a. Warna ………………………………………………………… 37 b. Flavor ………………………………………………………… 39 c. Tekstur ……………………………………………………….. 42 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ………………………………………………………… 45 B. Saran ………………………………………………………………... 46 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………... 47 LAMPIRAN …………………………………………………………………….. 48 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Nilai Gizi Tahu ………………………………………………………… 7 Tabel 2.2 Kandungan Unsur Gizi pada Kedelai …………………………………. 10 Tabel 2.3 Kandungan Unsur Gizi dan Kalori Udang Segar ……………………... 11 Tabel 2.4 Kandungan Unsur Gizi dan Kalori Udang Rebon……………………... 12 Tabel 2.5 Bahan Baku Tahu……………………………….……………………... 14 Tabel 3.1 Rancangan Penelitian …………………………………………………. 20 Tabel 3.2 Daftar Alat …………………………………………………………….. 20 Table 3.3 Formulasi Tahu Udang dengan Komposisi yang Berbeda ……………. 21 Tabel 3.4 Ketentuan Skor Uji Mutu Hedonik ……………………………………. 25 Tabel 3.5 Ketentuan Skor Uji Hedonik ………………………………………….. 25 Tabel 4.1 Analisis Sidik Ragam Uji Mutu Hedonik Warna Tahu Udang………... 29 Tabel 4.2 Hasil DMRT Uji Mutu Hedonik Warna Tahu Udang…………………. 29 Tabel 4.3 Analisis Sidik Ragam Uji Mutu Hedonik Flavor Tahu Udang………... 32 Tabel 4.4 Hasil DMRT Uji Mutu Hedonik Flavor Tahu Udang…………………. 32 Tabel 4.5 Analisis Sidik Ragam Uji Mutu Hedonik Tekstur Tahu Udang……….. 35 Tabel 4.6 Hasil DMRT Uji Mutu Hedonik Tekstur Tahu Udang………………… 36 Tabel 4.7 Hasil Uji Hedonik Warna Tahu Udang ……………………………….. 37 Tabel 4.8 Hasil Uji Hedonik Flavor Tahu Udang ……………………………….. 40 Tabel 4.9 Hasil Uji Hedonik Tekstur Tahu Udang ………………………………. 42 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Jenis Kedelai Impor ……………………………………………… 9 Gambar 2.2 Udang Jerbung …………………………………………………… 11 Gambar 4.1 Grafik Uji Mutu Hedonik Warna ………………………………… 28 Gambar 4.2 Grafik Uji Mutu Hedonik Flavor …………………………………. 31 Gambar 4.3 Grafik Uji Mutu Hedonik Tekstur ………………………………… 35 DAFTAR GAMBAR Bagan 2.1 Proses Pembuatan Tahu ………………………………………………. 17 Bagan 3.1 Proses Pembuatan Tahu Udang………………………………………… 24 DAFTAR LAMPIRAN 1. Format Penilaian Uji Mutu Hedonik………………………………………... 48 2. Format Penilaian Uji Hedonik ………………………………………………. 49 3. Data Uji Mutu Hedonik Warna Tahu Udang ……………………………….. 50 4. Hasil Perhitungan Uji Mutu Hedonik Warna Tahu Udang …………………. 52 5. Data Uji Mutu Hedonik Flavor Tahu Udang ……………………………….. 54 6. Hasil Perhitungan Uji Mutu Hedonik Flavor Tahu Udang …………………. 56 7. Data Uji Mutu Hedonik Tekstur Tahu Udang ………………………………. 58 8. Hasil Perhitungan Uji Mutu Hedonik Tekstur Tahu Udang …………………. 60 9. Data Uji Hedonik Warna Tahu Udang ……………………………………… 62 10. Hasil Perhitungan Uji Hedonik Warna Tahu Udang ………………………. 64 11. Data Uji Hedonik Flavor Tahu Udang ……………………………………… 66 12. Hasil Perhitungan Uji Hedonik Flavor Tahu Udang ………………………. 68 13. Data Uji Hedonik Tekstur Tahu Udang …………………………………… 70 14. Hasil Perhitungan Uji Hedonik Tekstur Tahu Udang ………………………. 72

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan memilih program studi di perguruan tinggi / Aries Kusuma Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Aries Kusuma. 2009. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Pengambilan Keputusan Memilih Program Studi di Perguruan Tinggi.. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Alwisol, M.Pd, (II) Drs. M. Bisri M.Si. Kata kunci: pengambilan keputusan, memilih program studi. Pendidikan di SMA tidak khusus ditujukan agar tamatannya secara langsung dapat mengisi lapangan kerja tertentu di masyarakat, tidak juga diarahkan agar tamatannya melanjutkan ke suatu jurusan tertentu di perguruan tinggi. Dalam usia yang masih muda, lulusan SMA akan mengalami kesulitan bila harus langsung masuk ke dunia kerja. Untuk mendapatkan bekal dan keahlian yang cukup, tamatan SMA harus melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi. Memasuki perguruan tinggi memiliki kesulitan tersendiri karena banyaknya program studi yang ditawarkan. Namun, siswa pasti memiliki faktor-faktor tertentu yang memudahkannya dalam memilih program studi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dilihat dari jenisnya, penelitian ini merupakan penelitian expost facto yang meneliti peristiwa yang telah terjadi, kemudian merunut ke belakang melalui data yang diperoleh untuk menemukan hal-hal yang mendahului dan menentukan sebab yang mungkin dari peristiwa yang diteliti. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan memilih program studi di perguruan tinggi. Uji validitas item menggunakan teknik korelasi product moment. Setelah dihitung, terdapat 6 item yang tidak valid dan 74 item valid. Reliabilitas tes diukur menggunakan koefisien reliabilitas alpha dengan bantuan program SPSS 15.0 for Windows menghasilkan reliabilitas sebesar 0.887. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas XII di SMA Negeri 5 Malang yang diambil dengan menggunakan teknik insidental sampling. Teknik analisis data menggunakan analisis faktor konfirmatori untuk memperoleh gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan memilih program studi di perguruan tinggi dengan bantuan program Lisrel 8.70 student version. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kognitif, afektif, lingkungan sosial, dan perguruan tinggi mempengaruhi pengambilan keputusan memilih program studi di perguruan tinggi. Faktor kognitif memiliki persentase pengaruh sebesar 23.87%, faktor afektif sebesar 26.59%, faktor lingkungan sosial sebesar 25.04%, dan faktor perguruan tinggi sebesar 24.38%, sehingga totalnya adalah sebesar 99.9%. Berdasarkan hasil penelitian disarankan; 1) alumni SMA yang akan memilih program studi hendaknya mengenali diri sehingga program studi yang dipilih sesuai, serta mencari informasi tentang perguruan tinggi dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal dan mengecek info yang didapat, 2) bagi penyelenggara perguruan tinggi hendaknya memanfaatkan hasil penelitian dengan melakukan evaluasi dan perbaikan sarana maupun pra sarana sehingga dapat menarik alumni SMA untuk memilih berkuliah disana, 3) bagi peneliti selanjutnya dengan topik penelitian yang sama diharapkan mengembangkan desain penelitian dengan menambah variabel penelitian.

Pengaruh efikasi diri terhadap stres mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang yang sedang menyusun skripsi / Pandu Occaesar

 

ABSTRAK Occaesar, Pandu. 2009. Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Stres Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang yang Sedang Menyusun Skripsi. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I)Dr. Adi Atmoko, M.Si (II)Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si. Kata kunci : efikasi diri, stres mahasiswa yang menyusun skripsi Dalam proses bimbingan skripsi tidak jarang mahasiswa dengan susah payah menentukan judul, menyusun skripsi kemudian mengoreksi serta mengevaluasi bersama dosen pembimbing, atau diminta untuk memperbaiki sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Hal ini dapat menimbulkan stres bagi sebagian mahasiswa. Stres bagi mahasiswa dapat disebabkan oleh faktor eksternal maupun internal. Salah satu faktor internal stres yang akan diteliti adalah efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh efikasi diri terhadap stres mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Sampel penelitian sebanyak 132 mahasiswa, diambil dengan teknik random sampling dari populasi sasaran dalam penelitian ini sebanyak 661 mahasiswa penyusun skripsi di Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang pada tahun 2009. Data efikasi diri dan stres mahasiswa diambil dengan metode skala likert. Reliabilitas skala efikasi diri sebesar 0.940, sedangkan skala stres sebesar 0.958. Data hasil penelitian di analisis dengan teknik regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi telah layak (F = 15,886, Sig. = 0,000 < 0,05), dan diperoleh persamaan regresi Y = 133,277 + (-0,453)x). Besarnya koefisien korelasi atau keeratan hubungan R = 0,453. Besarnya pengaruh atau koefisien determinasi efikasi diri terhadap stres mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi R2 = 0,0205. Berarti bahwa ada pengaruh efikasi diri terhadap stres mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang yang sedang menyusun skripsi sebesar 20,5 %, sedangkan 79,5 % yang lainnya dipengaruhi oleh variabel – variabel atau faktor – faktor lain yang mempengaruhi stres. Disarankan kepada: (1) mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi memiliki efikasi diri yang tinggi, hal itu akan mempengaruhi tingkat stres mahasiswa tersebut.; (2) mahasiswa juga menyusun jadwal untuk menyelesaikan skripsi dalam satu semester sehingga mengurangi stres pada akhir semester, berolahraga, melakukan relaksasi, mencari rasa nyaman dari orang lain, atau mencari dukungan emosional dari orang-orang di sekitar (3) bagi peneliti selanjutnya disarankan meneliti variabel-variabel lain yang mungkin mempengaruhi stres juga perlu dilakukan, mengingat stres saat mengerjakan skripsi tidak hanya dipengaruhi oleh efikasi diri saja

Model proses pembelajaran sosiologi pada pendidikan kesetaraan paket C mahir 2 berdasarkan prinsip andragogi / Widya Nusantara

 

ABSTRAK Nusantara, Widya. 2009. Model Program dan Proses Pembelajaran Sosiologi pada Pendidikan Kesetaraan paket C Mahir 2 berdasarkan Prinsip Andragogi. Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sanapiah Faisal, (II) Dr. Endang Sri Redjeki MS. Kata kunci: warga belajar, andragogi, pengalaman Mata Pelajaran sosiologi merupakan mata pelajaran yang mempelajari bagaimana cara mengungkapkan realitas sosial yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selama ini ditemukan bahwa proses pembelajaran sosiologi belum sesuai dengan prinsip andragogi, mengingat Warga belajar merupakan komponen dari masyarakat yang telah banyak memiliki peran sosial, pengalaman, dan mengalami berbagai macam persoalan hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran Sosiologi kepada warga belajar paket C perlu ditekankan pada proses hadap masalah. Berdasarkan permasalahan tersebut, peneliti bertindak sebagai tutor merencanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan metode participatory experience learning. proses pembelajaran tersebut bertujuan untuk merancang sebuah proses pembelajaran sosiologi paket C yang Andragogis. Sehingga proses belajar menjadi asyik, menyenangkan, demokratis, dan menjawab kebutuhan warga belajar itu sendiri.. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan menggunakan rancangan tindakan kelas (action research). Penelitian ini dilaksanakan dua siklus. Lokasi penelitian yang dipilih sebagai ajang penelitian tindakan ini, adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Prof. M. Soedomo Jalan Raya Krajan no 30 desa Kucur kecamatan Dau kabupaten Malang pada bulan Mei - Juli 2009. Warga belajar yang dilibatkan sebanyak 10 orang dengan rentangan usia antara 25-45 tahun. Hasil penelitian tindakan yang telah dilakukan bahwa penggunaan participatory experiential learning dalam pembelajaran andragogis pada warga belajar Paket C pelajaran sosiologi di PKBM Prof M. Soedomo sangat mendorong peningkatan partisipasi dan kesadaran dalam belajar sehingga dapat lebih mudah memahami inti materi yang sedang di dalami serta dapat meningkatkan kemampuan warga belajar dalam memecahkan permasalahan di kehidupan sehari-hari Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti lain disarankan untuk mengadakan pengembangan lebih lanjut terhadap penelitian ini dan menerapkan penggunaan metode participatory experiential learning pada mata pelajaran lain.

Penerapan metode assignment (pemberian tugas) untuk meningkatkan hasil belajar akuntansi pada siswa kelas XI AK 1 SMK Negeri 1 Turen / Kharisma Danang Yuangga

 

ABSTRAKSI Danang Yuangga, Kharisma, 2009. Penerapan Metode Assignment (Pemberian Tugas) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Akuntansi pada Siswa Kelas XI Ak 1 SMK Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Yuli Widiastuti SE, M.Si, AK, Hj, (II) Sriyani Mentari SPd, MM. Kata Kunci : Penerapan metode Assignment (Pemberian Tugas), hasil belajar Fenomena praktik kegiatan pembelajaran akuntansi di SMK Negeri 1 Turen masih didominasi oleh metode konvensional yaitu menggunakan ceramah, pemberian tugas secara individu dan latihan soal yang masih mengacu pada buku, sehingga siswa sering mengalami kejenuhan dan tidak fokus dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Siswa kurang aktif dalam kelas dan kurang diberi kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran, sehingga aktivitas belajar siswa menjadi tidak maksimal. Hal ini menyebabkan hasil belajar yang diperoleh siswa belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimal (SKM) secara keseluruhan. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Turen pada semester gasal tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas XI Ak 1 SMK Negeri 1 Turen dan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 2 Desember 2008 sampai dengan tanggal 17 Desember 2008. Metode mengajar yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode Assignment (pemberian tugas), sedangkan analisis data yang digunakan meliputi tahap mereduksi data, menyajikan data, verifikasi data atau menarik kesimpulan. Secara keseluruhan penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode Assignment (pemberian tugas) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI AK 1 pada mata diklat Akuntansi Keuangan di SMK Negeri 1 Turen serta untuk mengetahui kendala yang dihadapi beserta solusi yang dapat dipakai untuk mengatasi kendala dalam penerapan metode Assignment (pemberian tugas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Assignment (pemberian tugas) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk meningkatkan hasil belajar, guru memberikan variasi pemberian tugas dalam bentuk tugas kelompok dan individu guna mengatasi kejenuhan siswa dan mengkondisikan siswa untuk dapat bekerja sama memahami materi serta mendorong siswa untuk saling bekerjasama secara efektif serta memberikan motivasi untuk meningkatkan hasil belajar baik tidak hanya dari nilai evaluasi tetapi juga sikap siswa selama pembelajaran. Persentase hasil belajar siswa rata– rata nilai hasil belajar aspek kognitif secara individual meningkat dari 71,0% pada siklus I menjadi 74,0% pada siklus II. Sedangkan persentase rata- rata ketuntasan belajar secara klasikal meningkat dari 68,2% pada siklus I menjadi 72,7% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode Assignment (pemberian tugas) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI Ak 1 SMK Negeri 1 Turen. Pada penerapan metode ini disarankan guru sebaiknya lebih menekankan agar siswa tepat waktu dalam menyelesaikan tugas, memberi motivasi kepada siswa serta memperhatikan perannya dalam proses pembelajaran.

Sistem kaderisasi partai politik (studi kasus pada Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan (DPC PDI-P) Kota Malang) / Mariatus Sholikhah

 

Dari berbagai masalah kebangsaan yang muncul, yang paling rumit adalah kaderisasi. Kemacetan kaderisasi telah melingkupi segala sektor kehidupan. Baik di pemerintahan, organsasi politik, pemuda maupun sektor olah raga di Indonesia. Berbagai jenis kaderisasi yang pernah diterapkan berbagai organisasi Massa (atau organisasi Kader) belum menampakkan hasil yang diharapkan. Berbagai isu tentang peran seseorang selalu dihubungkan dengan proses kaderisasi yang pernah ia tempuh. Satu diantara tuntutan Oposisi adalah Suksesi. Suksesi adalah alih kepemimpinan, baik secara sistem maupun figur. Karena sejak Indonesia Merdeka, mekanisme dan aturan main suksesi belum melembaga. Padahal, dalam Manejemen negara modern suksesi dikenal sebagai satu diantara tolok ukur keberhasilan dari kepemimpinan sebelumnya. Jika Ia berhasil melahirkan kader pengganti, maka ia telah berhasil menjalankan fungsinya sebagai pemimpin. Ketika Soekarno dinyatakan sakit, berbagai kelompok kepentingan berlomba bagai cacing kepanasan; membangun klik-klik oligarkis untuk dapat memenangkan kelompok dan kepentingannya dalam permainan politik yang belum diatur mekanisme dan aturan mainnya. Semua bergantung pada person yang sedang berkuasa; baik itu yang dibangun melalui kekuatan bersenjata 2 seperti rezim Soeharto, maupun dibangun lewat legitimitas sejarah yang menempatkannya menjadi sosok kharismatik dan merakyat seperti Soekarno. Karena didasari kegelisahan itu maka tampillah Megawati Soekarnoputri di panggung perpolitikan di era Orde Baru sebagai Ketua Umum PDI yang berlambang kepala Banteng. Akan tetapi kemunculan Megawati menimbulkan kecemasan dan harapan. Kecemasan dari penguasa Orde Baru akan munculnya paham Soekarnoisme, lebih-lebih ia bukan "produk dari atas" tapi kehendak arus bawah, dan ancaman berat bagi partai-partai pro-status quo (Golkar) dalam Pemilu 1997 dan 1999. Kecemasan yang berlebihan inilah, yang menjadikan Megawati dalam cermin Orde Baru sebagai "musuh yang berbahaya". Sebaliknya bagi PDI dan arus bawah, Megawati adalah sebuah harapan. (www.tokohindonesia.com/ ensiklopedi/m/megawati/,akses 1 Juni 2009) Megawati yang muncul sebagai pemimpin alternatif ketika Kongres Medan gagal menghasilkan seorang pemimpin partai, diharapkan meredam konflik berkepanjangan dalam tubuh partai itu sendiri dan dapat menggenjot perolehan suara dalam pemilu terakhir rezim Orde Baru dimata arus bawah. Penggusuran Megawati Soekarnoputri yang berimbas pada peristiwa 27 Juli 1996 jelas kemenangan berada di pihak rezim Soeharto beserta pendukungnya: Golkar, ABRI, dan pengkhianat partai seperti Soerjadi, Fatimah, Buttu Hutapea. Meskipun kemenangan itu diperoleh dengan jalan kekerasan, namun Megawati bukan membalas dengan kekerasan, melainkan dengan gerakan moral. la mengambil pilihan oposisi (beserta pengikutnya pisah 3 dengan nama baru PDI Perjuangan), untuk terus berjuang menentang tirani Orde Baru. Pilihan Megawati tampaknya seperti yang pernah dikatakan oleh Ronggowarsito : "Ketika kamu menemukan jaman edan, zaman di mana persoalan etika dan moral diabaikan, maka janganlah sekali-kali kamu terlibat di dalamnya. Sebab meskipun beruntung mereka yang terlibat, namun lebih beruntung tidak melibatkan diri dan tetap ingat kepada Tuhan”. Pada Pemilu 1997 Megawati memilih Golput, ketimbang menyumbangkan suaranya kepada pro-status quo (www.tokohindonesia.com/ ensiklopedi/m/megawati/,akses 1 Juni 2009). Pada Pemilu ini sempat diwarnai insiden pengejaran oleh massa Megawati terhadap Soerjadi dan fungsionaris PDI. Di beberapa daerah juga terwujud aliansi "Mega - Bintang" yang membawa konsekuensi pada merosotnya perolehan suara PDI Soerjadi. Pada Pemilu 1999 Megawati dan PDI Perjuangannya menang dan mendapat kepercayaan Rakyat Indonesia. Realitas demikian menunjukkan bahwa Mega tiada, Mega ada”- meminjam istilah Eep Saefulloh Fatah. Pada Pemilu 1997 ini hasilnya menunjukkan bahwa setelah pada Pemilu 1992 mengalami kemerosotan, kali ini Golkar kembali merebut suara pendukungnnya. Perolehan suaranya mencapai 74,51 persen, atau naik 6,41. Sedangkan perolehan kursinya meningkat menjadi 325 kursi, atau bertambah 43 kursi dari hasil pemilu sebelumnya. PPP juga menikmati hal yang sama, yaitu meningkat 5,43 persen. Begitu pula untuk perolehan kursi. Pada Pemilu 1997 ini PPP meraih 89 kursi atau meningkat 27 kursi dibandingkan Pemilu 1992. Dukungan terhadap partai itu di Jawa sangat besar. Sedangkan PDI, yang mengalami konflik internal dan terpecah antara PDI Soerjadi dengan Megawati 4 Soekarnoputri setahun menjelang pemilu, perolehan suaranya merosot 11,84 persen, dan hanya mendapat 11 kursi, yang berarti kehilangan 45 kursi di DPR dibandingkan pemilu 1992 ( http://id.wikipedia.org/wiki/Pemilihan Umum. diakses 1 juni 2009) Setelah Presiden Soeharto dilengserkan dari kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998 jabatan presiden digantikan oleh Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Atas desakan publik, Pemilu yang baru atau dipercepat segera dilaksanakan, sehingga hasil-hasil Pemilu 1997 segera diganti. Kemudian ternyata bahwa Pemilu dilaksanakan pada 7 Juni 1999, atau 13 bulan masa kekuasaan Habibie. Pada saat itu untuk sebagian alasan diadakannya Pemilu adalah untuk memperoleh pengakuan atau kepercayaan dari publik, termasuk dunia internasional, karena pemerintahan dan lembaga-lembaga lain yang merupakan produk Pemilu 1997 sudah dianggap tidak dipercaya. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Pemilu 1999. Pemilu 1999, dimana disebutkan sebagai pemilu yang paling demokratis setelah orde baru tumbang (era reformasi) tampil sebagai pemenangnya adalah PDI Perjuangan yang meraih 35.689.073 suara atau 33,74 persen dengan perolehan 153 kursi. Golkar memperoleh 23.741.758 suara atau 22,44 persen sehingga mendapatkan 120 kursi atau kehilangan 205 kursi dibanding Pemilu 1997. PKB dengan 13.336.982 suara atau 12,61 persen, mendapatkan 51 kursi. PPP dengan 11.329.905 suara atau 10,71 persen, mendapatkan 58 kursi atau kehilangan 31 kursi dibanding pemilu 1997. PAN meraih 7.528.956 suara atau 7,12 persen, mendapatkan 34 kursi. Di luar lima besar, partai lama yang masih ikut, yakni PDI merosot tajam dan hanya meraih 2 kursi dari pembagian kursi 5 sisa, atau kehilangan 9 kursi dibanding Pemilu 1997 (www.astaga.com/pemilu, akses 1 Juni 2009). Didaerah pemilihan Jawa Timur PDI Perjuangan meraih 7.338.813 suara atau 34 persen menempati peringkat kedua setelah PKB. Khusus untuk kota malang PDIP meraih 177.726 suara atau 41 persen dan merupakan salah satu lumbung suara untuk daerah pemilihan Jawa Timur (Tim Pappuda PDIP Jatim:2004:2). Pada pemilu 2004, PDI Perjuangan khususnya di Kota Malang meraih 109,893 atau 26,75 persen (www.pemkot-malang.go.id/hasilpemilu.php, diakses 1 Juni 2009). Sedangkan pada pemilu lagislatif 2009 PDI Perjuangan berada di urutan ke 3 setelah Partai Demokrat dan Partai Golkar. Kejutan terjadi pada Partai Demokrat yang naik fantastis lebih dari 100% membuat semua partai untuk instropeksi diri tidak terkecuali PDI Perjuangan yang mendapatkan 95 kursi (14,6 juta suara 15%) sebelumnya 109 kursi. Oleh karena itu, untuk instropeksi diri salah satu tugas PDI Perjuangan yang sangat penting dalam menjalankan perannya tersebut secara konkrit, baik dalam rangka membangun dan menumbuhkembangkan partai sebagai perjuangan yang mandiri, profesional, dan modern, maupun dalam rangka pengabdian dan kontribusinya kepada kehidupan kebangsaan dan ketatanegaraan dan agar bisa memenangkan pemilu, diperlukan kader yang berkualitas dalam jumlah yang cukup banyak Kader adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai ketrampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang diatas 6 rata-rata orang umum. Sedangkan kaderisasi adalah proses penyiapan sumber daya manusia agar kelak mereka menjadi pemimpin yang mampu membangun peran dan fungsi organisasi secara lebih baik. (http://pertamacanberra.wordpress.com, diakses 25 April 2008) Kaderisasi suatu organisasi dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah organisasi adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas organisasi. Sedangkan yang kedua adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian lain adalah individu-individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi organisasi. Sifat sebagai subyek dan obyek dari proses kaderisasi ini sejatinya harus memenuhi beberapa fondasi dasar dalam pembentukan dan pembinaan kader-kader organisasi yang handal, cerdas dan matang secara intelektual dan psikologis.Sebagai subyek atau pelaku, dalam pengertian yang lebih jelas adalah seorang pemimpin. (http://www.digilib.ui.edu, diakses 10 Mei 2008). Oleh karena itu, PDI Perjuangan sangat memperhatikan kaderisasi. Karena kaderisasi merupakan inti dari kelanjutan perjuangan PDI Perjuangan ke depan. Kaderisasi di PDI Perjuangan merupakan urat nadi bagi partai. Tanpa kaderisasi, PDI Perjuangan tidak dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis dan tidak dapat menang di dalam pemilu. 7 Kepedulian yang amat rendah terhadap proses pengkaderan partai tidak akan hanya berdampak negatif terhadap kelangsungan hidup partai itu sendiri, tetapi pertaruhannya adalah masa depan bangsa secara keseluruhan. Bila partai tidak melakukan pengkaderan yang benar, mereka akan menuai kader partai yang kering cita-cita dan tidak mempunyai komitmen terhadap kepentingan rakyat banyak. Mereka hanya pandai beretorika, tetapi tidak mempunyai kemampuan secuil pun untuk mewujudkannya. Karena itu, mutu kader partai pertama-tama dan terutama harus diukur dari komitmennya dan konsistensinya dalam memperjuangkan keprihatinan masyarakat. ( Kristiadi, http://www.csis.or.id, diakses 11 April 2008) Atas dasar dari uraian tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti sistem kaderisasi PDI Perjuangan khususnya Kota Malang. Karena didasarkan atas pertimbangan bahwa PDI Perjuangan Kota Malang ini merupakan partai yang cukup berhasil didalam melaksanakan program kaderisasinya, sebagai buktinya terdapat banyak kader PDI Perjuangan Kota Malang yang terpilih dan mempunyai suara terbanyak pada saat pemilu. Oleh karena itu peneliti memilih judul : ”SISTEM KADERISASI PARTAI POLITIK (Studi Kasus Pada Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan (DPC PDI-P) Kota Malang)”.

Penerapan pembelajaran berbasis konstruktivisme model TPS (Think Pair Share) dengan siklus belajar untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas X-7 SMAN 7 Malang pada materi ekosistem / Dianika Praharani

 

ABSTRAK Praharani, Dianika. 2009. Penerapan Pembelajaran Berbasis Konstruktivisme Model TPS (Think Pair Share) dengan Siklus Belajar untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-7 SMAN 7 Malang Pada Materi Ekosistem. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. M. Noviar Darkuni, M.Si, (II) Drs. Sulisetijono, M.Si. Kata kunci: konstruktivisme, think pair share, siklus belajar, kemampuan berpikir, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran biologi di SMAN 7 Malang, diperoleh informasi bahwa guru menerapkan metode ceramah, siswa kurang aktif bertanya dan menjawab, hasil belajar pada materi Plantae sekitar 25 siswa belum tuntas belajar, hasil analisis pertanyaan tingkat kognitif Bloom menunjukkan sebagian besar siswa kesulitan menjawab pertanyaan C2 yaitu pertanyaan pemahaman. Hal tersebut menunjukkan siswa kelas X-7 masih memiliki kemampuan berpikir dan hasil belajar rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan pendekatan, strategi, model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar. Pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran berbasis konstruktivisme model TPS (Think Pair Share) dengan siklus belajar. Melalui penerapan pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas X-7 di SMAN 7 Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama 2 siklus. Pengambilan data dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2009 sampai dengan 28 Mei 2009. Data penelitian berupa kemampuan berpikir siswa dan hasil belajar serta data pendukung berupa kegiatan guru, dan catatan lapangan. Kemampuan berpikir siswa diukur berdasarkan persentase kemampuan bertanya dan menjawab pada tingkat kognitif C1-C6, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi kemampuan berpikir siswa, kegiatan guru, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan bertanya pada tingkat kognitif C1 berkurang sebesar 4,05%, tingkat kognitif C2 berkurang sebesar 8,83%, tingkat kognitif C3 berkurang sebesar 1,90%, tingkat kognitif C4 meningkat sebesar 27,27%, tingkat kognitif C5 meningkat sebesar 11,36%. Kemampuan menjawab pada tingkat kognitif C3 berkurang sebesar 1,68%, tingkat kognitif C4 meningkat sebesar 26,09%, tingkat kognitif C5 meningkat sebesar 10,87%. Persentase kemampuan berpikir pada tingkat kognitif C1-C3 menurun pada siklus II sedangkan persentase kemampuan berpikir pada tingkat kognitif C4 dan C5 meningkat. Peningkatan hasil belajar diperoleh dari skor rata-rata dan ketuntasan klasikal. Skor rata-rata meningkat sebesar 13,72 dan ketuntasan klasikal meningkat sebesar 33,34%. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis konstruktivisme model TPS (Think Pair Share) dengan siklus belajar dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas X-7 SMAN 7 Malang.

Peranan gender dalam peningkatan partisipasi politik perempuan di era reformasi (studi pada Partai Keadilan Sejahtera Kota Malang) / Eka Rahayu Titi Sulistiya

 

ABSTRAK Sulistiya, Titi, Rahayu, Eka. Peranan gender dalam Peningkatan Partisipasi Politik Perempuan Di Era Reformasi (Studi Pada Partai Keadilan Sejahtera Kota Malang). Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I). Dra. Sri Untari, M.Si, (II). Siti Awaliyah, S.Pd, M.Hum. Kata Kunci : Gender, Partisipasi Politik, Perempuan Perempuan merupakan salah satu komponen dalam gender, karena dalam gender terdapat pembagian peran antara perempuan dan laki-laki. Pembagian peran terjadi di berbagai bidang khususnya bidang politik. Dalam bidang politik partisipasi perempuan dibutuhkan untuk melindungi kepentingan kaum perempuan dari berbagai bentuk kekerasan baik domestik maupun publik. Reformasi politik di Indonesia telah memberikan harapan besar bagi perempuan yang selama ini terpasung dan terbelakang hak politiknya. Era sekarang ini merupakan momentum terbaik untuk semaksimal mungkin membuat berbagai kebijakan politis yang menciptakan suasana politik egaliter, adil dan demokratis tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Sehingga terjadi kesimbangan antara peran partisipasi politik perempuan dan laki-laki dalam bidang politik. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk: a) mengetahui bentuk- bentuk kegiatan perempuan Partai Keadilan Sejahtera dalam meningkatkan partisipasi politik; b) mengetahui hambatan yang dialami partai politik dalam meningkatan partisipasi politik perempuan pada Partai Keadilan Sejahtera kota Malang; c) mengetahui upaya yang dilakukan partai dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan di era reformasi pada Partai Keadilan Sejahtera kota Malang; d) mengatahui peranan gender dalam peningkatan partisipasi politik perempuan di era reformasi dalam Partai Keadilan Sejahtera kota Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut metodologi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu berupaya menggambarkan keadaan yang sebenar-benarmya yang terjadi di lapangan. Teknik dalam pengumpulan data serta informasi adalah: a) observasi, yaitu penelitian sebagai instrumen utama terjun langsung ke lapangan atau lokasi penelitian; b) wawancara digunakan sebagai salah satu alat pengumpul informasi dari informan yang telah ditetapkan; c) dokumentasi, digunakan sebagai alat pelengkap serta memperkuat data dan inforamsi yang ada. Teknik analisis yang diganukan adalah model Miles dan Huberman yang menggunakan langkah analisis reduksi, penyajian data dan verifikasi. Hasil penelitian skripsi ini adalah a) kegiatan yang dilaksanakan untuk meningkatkan partisipasi politik perempuan pada Partai Keadilan Sejatera yakni Post Wanita Keadilan memiliki beberapa bidang untuk membantu perempuan dalam menangani permasalahan yang ada, direct selling merupakan kegiatan yang dilakukan dalam mempromosikan partai kepada kalayak ramai khususnya warga yang belum mengenal partai sedangkan peringatan 17 Agustus merupakan kegiatan rutin yang dilakukan kader perempuan dalam memperingati kemerdekaan bangsa Indonesia dengan melaksanakan “Aksi Merah Putih” yang semua pesertanya adalah kader perempuan, simpatisan, warga masyarakat,; i b) Hambatan yang dialami meliputi hambatan struktural, hambatan fungsional, hambatan pendidikan dan ekonomi, hambatan personal dan hambatan kultural merupakan hambatan yang disebabkan dari kebiasan yang ada dimasyarakat; c) Upaya yang dilakukan partai yakni dengan struktural, fungsional, pendidikan dan ekonomi, kultural dan personal; d) peranan gender dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan dalam partai keadilan sejahtera adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pengetahuan mereka, meningkatkan kemampuan kader dalam memanagemen waktu., meningkatkan jumlah suara dalam partai dan partisipasi kader dan masyarakat dalam pemilu meningkat. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan: agar a) hendaknya DPC PKS Klojen Kota Malang agar partai memahami bahwa dengan adanya pemahaman yang benar tentang peranan gender maka peningkatan partisipasi politik kader dalam wilayah Klojen dapat meningkat khususnya kader perempuan; b) DPD PKS Kota Malang agar pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan partisipasi politik selalu didukung dengan memberikan kebebasan kepada kader yang ingin ikut serta tanpa meninggalkan amanah yang sudah diberikan kepada kader; c) Kader khususnya bidang kewanitaan dengan adanya kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan partisipasi politik sewajarnya sebagai kader harus dan mendukung dan ikut serta agar pemahaman tentang dunia politik menjadi lebih matang dan bila terjun dalam ranah politik dapat memberikan kontribusi terhadap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Situasi bengkel dan kondisi perakatan praktik pemesinan SMK swasta di wilayah Gerbangkertosusila / Tukiman

 

ABSTRAK Tukiman. 2009. Situasi Bengkel dan Kondisi Peralatan Praktik Pemesinan SMK Swasta di Wilayah Gerbangkertosusila. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Drs. Achmad Tutjik Moechid, M.Sc., Ph.D., dan (2) Drs. Imam Muda Nauri, ST., MT. Kata kunci: situasi bengkel, kondisi peralatan praktik pemesinan Situasi bengkel dan kondisi peralatan praktik pemesinan merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses pembelajaran di SMK, dan sekaligus menjadi tolok ukur dari kualitas lulusannya. SMK diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dengan cara memperbanyak pengalaman kerja praktik. Oleh karena itu waktu belajar di sekolah dialokasikan sebesar 70% untuk pembelajaran praktik, dan sebesar 30% digunakan untuk pembelajaran teori. Namun keterbatasan fasilitas praktik di SMK menjadi hambatan yang serius dalam mewujudkan harapan tersebut, sehingga lulusan SMK dinilai oleh banyak pihak masih kurang kompeten. Variabel penelitian ini adalah situasi bengkel, jumlah dan kondisi peralatan praktik pemesinan. Maka rumusan masalah penelitian ini adalah (1) Berapakah rerata persentase situasi bengkel praktik pemesinan?; dan (2) Berapakah rerata persentase kondisi peralatan praktik pemesinan? Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah jawaban dari rumusan masalah tersebut yaitu untuk mengetahui rerata persentase untuk situasi bengkel, jumlah dan kondisi peralatan praktik pemesinan SMK swasta di wilayah Gerbangkertosusila. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pejabat yang terkait di pemerintahan daerah, pemerintahan provinsi, maupun pemerintah pusat sebagai bahan rujukan pada penyusunan program penambahan fasilitas praktik pemesinan untuk SMK. Penelitian ini menggunakan rancangan survei dengan populasi penelitian sebanyak 62 SMK swasta di wilayah Gerbangkertosusila. Pe¬¬¬ngumpulan data di-lakukan dengan cara datang ke setiap bengkel praktik pemesinan yang di survei. Sedangkan instrumen penelitian berbentuk checklist tertutup diisi dengan seksama dan didampingi oleh guru pengajar praktik pemesinan sekolah setempat. Selanjut-nya semua data hasil temuan survei dipilah-pilah dan kemudian dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Kesimpulannya diketahui bahwa komponen penelitian yang terdiri dari situasi bengkel praktik, jumlah dan kondisi peralatan praktik pemesinan, masing-masing menunjukkan kurang standar. Secara berurutan nilai rerata persentasenya hanya sebesar 48,2%, 50,4%, dan 43,9%. Oleh karena itu disarankan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Direktorat Pembinaan SMK di Jakarta, agar secara bertahap dapat membantu menambah peralatan praktik pemesinan SMK swasta di wilayah populasi tersebut. Selain itu perlu diadakan penelitian lanjutan yang sejenis dengan variabel, populasi dan area yang berbeda.

Kontribusi gaya kepemimpinan transformasional kepala sekolah, motivasi berprestasi guru, dan kompensasi kerja terhadap kinerja guru SMK negeri, SMA negeri, dan SMP negeri di Kabupaten Tuban / Sholihin

 

ABSTRAK Sholihin. 2009. Kontribusi Kepemimpinan Ttransformasional Kepala sekolah, Motivasi Berprestasi, dan Kompensasi Kerja terhadap Kinerja Guru di SMA negeri, SMK Negeri, dan SMP negeri di Kabupaten Tuban. Tesis. Program Studi Manajemen Pendidikan, Program pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M. Pd, (II) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M. Pd. Kata kunci: kepemimpinan transformasional, motivasi berprestasi, kompensasi, kinerja. Kinerja guru sangat menentukan keberhasilan suatu program pendidikan sebab guru merupakan pelaksana pendidikan di sekolah. Guru merupakan sosok yang bersentuhan langsung dengan siswa. Salah satu faktor penentu keberhasilan sekolah adalah peran pokok yang dimainkan oleh kepala sekolah melalui kepemimpinannya dengan membangun dan mempertahankan semangat kerja yang positif dan tinggi. Kepala sekolah yang mempunyai tujuan secara terus-menerus untuk meningkatkan kinerja para guru dan stafnya pada dasarnya merupakan seorang pemimpin transformasional. Kepala sekolah harus mampu membangkitkan motivasi para guru untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dan mencapai prestasi kerja yang sebaik-baiknya pula. Motivasi untuk mencapai prestasi sebaik-baiknya inilah yang disebut motivasi berprestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (a) kinerja guru di SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (b) kepemimpinan transformasional kepala sekolah di SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (c) motivasi berprestasi guru di SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (d) kompensasi kerja guru di SMk Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (e) ada tidaknya hubungan antara kepemimpinan transformasional kepala sekolah dengan kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (f) ada tidaknya hubungan antara motivasi berprestasi dengan kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (g) ada tidaknya hubungan antara kompensasi kerja dengan kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (h) ada tidaknya hubungan antara kepemimpinan transformasional, motivasi berprestasi, dan kompensasi kerja secara bersama-sama dengan kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, (i) seberapa besar kontribusi kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban (j) seberapa besar kontribusi motivasi berprestasi terhadap kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban, dan (k) seberapa besar kontribusi kompensasi kerja terhadap kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban. Penelitian ini dirancang guna mengetahui ada tidaknya korelasi variabel independen terhadap variabel dependen. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif korelasional. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel bebas yaitu kepemimpinan transformasional kepala sekolah (X1), motivasi berprestasi (X2),, dan kompensasi kerja (X3). Adapun variabel terikatnya adalah kinerja guru (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru pada tujuh SMP Negeri, empat SMA Negeri dan lima SMK Negeri di Kabupaten Tuban sebanyak 760 orang. Dengan menggunakan teknik proporsional sampling maka besar sampel dari tiap sekolah ditetapkan 20% dari populasi tiap sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (a) Kinerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Tuban sangat tinggi. (b) kepemimpinan transformasional kepala sekolah SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Tuban adalah sangat tinggi. (c) Motivasi berprestasi guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Tuban sangat tinggi. (d) Kompensasi kerja yang diterima guru di SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Kabupaten Tuban adalah tinggi. (e) Kepemimpinan transformasional kepala sekolah berhubungan secara signifikan dengan kinerja guru. (f) Kompensasi kerja guru SMK Negeri, SMA Negeri, dan SMP Negeri di Tuban berpengaruh terhadap kinerja guru. (g) Kompensasi kerja berhubungan secara signifikan terhadap kinerja guru. (h) Variabel kepemimpinan, motivasi berprestasi , dan kompensasi kerja guru terbukti berpengaruh secara bersama-sama terhadap kinerja guru. (i) besar kontribusi relatif kepemimpinan transformasional terhadap kinerja guru adalah 11.8%, sedangkan besarnya sumbangan efektifnya 8%, (j) Motivasi berprestasi guru mempunyai sumbangan relatif terhadap kinerja guru sebasar 42.7% sumbangan efektif sebesar 29%, dan (k) Besar sumbangan relatif kompensasi kerja terhadap kinerja guru adalah 5.2% sedangkan sumbangan efektifnya adalah 3.5% Karena kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan komepnsasi kerja guru berpengaruh terhadap kinerja guru baik secara parsial maupun bersama-sama maka kepala sekolah harus terus meningkatkan kualitas kepemimpinan transformasional dan kompensasi kerja guru. Sedangkan guru harus terus meningkatkan motivasi berprestasinya agar dapat mencapai kinerja maksimal yaitu mencapai hasil belajar siswa secara maksimal.

Analisis penetapan besar biaya pendidikan di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Busthanul Athfal (TK ABA) 23 Malang / Novita Maulidya

 

ABSTRAK Maulidya, Novita. 2009. Analisis Penetapan Besar Biaya Pendidikan di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Busthanul Athfal (TK ABA) 23 Malang. Skripsi, Jurusan Admistrasi Pendidikan fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Bambang Setyadin, M.Pd, (II) Drs. Agus Timan, M.Pd. Kata Kunci: biaya pendidikan, rancangan anggaran, cashflow. Mengelola pendidikan TK yang berkualitas, tidak dapat dipisahkan oleh salah satu komponen manajemen pendidikan, yaitu dana, pengelolaannya pun harus efisien dan transparan. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990, biaya pendidikan TK yang diselenggarakan masyarakat ditanggung oleh penyelenggara TK tersebut dan dapat diperoleh dari orangtua/wali, tetapi tidak memberatkan. Dalam rangka menetapkan besar biaya pendidikan, penyelenggara TK sebelumnya menyusun Rencana Pendapatan dan Belanja TK (RAPBTK). Oleh karenanya, harus berusaha mengidentifikasi sumber-sumber keuangan dengan cermat dan memperkirakan jumlah anggaran yang dapat diperoleh dari setiap sumber keuangan itu agar dapat melaksanakan semua program kegiatan yang telah disusun. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah: (1) variabel pendapatan apa saja yang diperoleh TK ABA 23 Malang?, (2) variabel biaya apa saja yang menjadi kewajiban TK ABA 23 Malang dalam menyelenggarakan biaya?, (3) variabel biaya apa saja yang dibebankan kepada otangtua/wali anak didik TK ABA 23 Malang dan berapa besar masing-masing biaya?, (4) bahan pertimbangan apa saja yang menjadi dasar untuk menetapkan besar kontribusi biaya pendidikan di TK ABA 23 Malang?, (5) bagaimana menghitung penetapan besar biaya pendidikan di TK ABA 23 Malang dalam satu tahun buku? Tujuan penelitian ini, yaitu: (1) mengetahui variabel-variabel pendapatan yang diperoleh TK ABA 23 Malang, (2) mengetahui variabel-variabel biaya yang menjadi kewajiban TK ABA 23 Malang dalam menyelenggarakan jasa pendidikan, (3) mengetahui variabel-variabel biaya yang dibebankan kepada orangtua/wali anak didik TK ABA 23 Malang dan besar masing-masing biayanya, (4) mengetahui bahan pertimbangan yang dijadikan dasar untuk menetapkan besar biaya pendidikan di TK ABA 23 Malang, (5) menghitung penetapan besar biaya pendidikan yang ditanggung oleh orangtua/wali anak didik dalam satu tahun ajaran. Masing-masing terbatas dari Tahun Ajaran 2003/2004 sampai dengan Tahun Ajaran 2006/2007. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, teknik dokumentasi, dan teknik wawancara. Objek penelitian adalah TK ABA 23 Malang. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan dan pengeluaran, analisis total biaya dan biaya satuan per murid, serta laporan keuangan berupa laporan surplus/defisit dan cashflow/neraca. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa pendapatan yang diperoleh TK ABA 23 Malang berasal dari iuran BP3, iuran bangunan, piutang BP3 dan bangunan dari tahun sebelumnya, infaq dan sumbangan, laba kue, bunga bank, i serta uang iuran dari TPA ABA 23 Malang. Biaya yang dikeluarkan dalam penyelenggaraannya, antara lain untuk pembiayaan administrasi sekolah, pembayaran gaji/karyawan, pembayaran jasa, pembangunan serta pemeliharaan gedung dan taman, pembelian dan pemeliharaan alat, peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta biaya lain yang termasuk dalam perlengkapan sekolah. Biaya yang dibebankan kepada orangtua/wali anak didik TK ABA 23 Malang, meliputi: iuran infaq pendaftaran, iuran bangunan, uang seragam, iuran Sumbangan Penyelenggaran Pendidikan (SPP), iuran kegiatan ekstrakurikuler; serta biaya alih jenjang. Dalam hal menetapkan besar kontribusi biaya pendidikan di TK ABA 23 Malang, tidak ada pertimbangan khusus. Besarnya biaya berpatokan pada biaya tahun sebelumnya serta harga kebutuhan yang terkait dengan biaya operasional sekolah. Pendapatan TK ABA 23 Malang yang diperoleh dari sejumlah sumber, berturut-turut dari Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2006, yaitu Rp 66.308.117, Rp 175.048.155, Rp 79.129.868, dan Rp 127.300.277. Pengeluarannya berturut-turut dari Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2006 adalah Rp 17.693.650, Rp 164.147.500, Rp 29.129.697, Rp 127.301.122 sehingga didapat, bahwa biaya seharusnya yang dibayar oleh per orang siswa secara berturut-turut dari Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2007 adalah Rp 25.948, Rp 102.520, Rp 21.667, Rp 78.859, Rp 30.057. Untuk itu secara keseluruhan dapat dikatakan, bahwa kondisi keuangan TK ABA 23 Malang dapat dikatakan stabil. Implikasi hasil penelitian ini untuk upaya transparansi pengelolaan biaya pendidikan, agar masyarakat terutama orangtua/wali anak didik bisa mendapatkan informasi tentang kondisi keuangan TK yang sebenarnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diharapkan peneliti lain lebih mengembangkan lagi teori dan teknik analisis yang telah diadopsi oleh peneliti. Apabila dalam penelitian ini, peneliti hanya menghitung besar surplus/defisit dan analisis cashflow, maka peneliti selanjutnya diharapkan dapat menganalisis pengelolaan keuangan pendidikan dengan sistem akuntansi yang berbeda dan dari segi siklus akuntansi pendidikan yang lebih terperinci dalam rangka mewujudkan lembaga pendidikan yang transparan sehingga lembaga pendidikan dapat mencapai pengelolaan keuangan yang ideal. ii

Perancangan media komunikasi visual berbentuk 3 dimensi interaktif untuk meningkatkan penjualan unit rumah di Perumahan Graha Dewata / Deddy Christian Hadiyono P.

 

ABSTRAK Christian, Deddy. 2009. Perancangan Media Komunikasi Visual Berbentuk 3Dimensi Interaktif Untuk Meningkatkan Penjualan Unit Rumah Di Perumahan Graha Dewata. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc (II) Drs. Didiek Rahmanadji. Kata Kunci: Perancangan, Media Komunikasi Visual, Perumahan Perancangan media promosi yang diambil yaitu pada perumahan Graha Dewata dengan nama perusahaannya PT Dewata Abdi Nusa, yang terletak di dataran tinggi kota Malang. Perumahan Graha dewata adalah perumahan berstandart medium to high, gaya desain yang ditawarkan PT Dewata Abdi Nusa ini menuju pada seni etnik Bali, yaitu dengan menonjolkan ornamen-ornamen Bali yang dikemas secara modern. Kurangnya desainer berkualitas sangat mempengaruhi dalam penjualan unit perumahan. Hal ini akan terpengaruh pada sektor-sektor seperti pada tata bangunan, taman, loby, pintu masuk perumahan, kantor dan lain-lain. Media 3 dimensi interaktif pada perumahan adalah media yang mampu merubah kondisi suatu rumah secara langsung dengan pemanfaatan komputer sebagai media penggeraknya. Media komunikasi visual yang dirancang sebagai sarana promosi yang sesuai bagi Perumahan Graha Dewata. Konsep-konsep seperti konsep warna, visual, tipografi, ilustrasi dan tekhnologi disesuaikan dengan karakter dari Perumahan Graha Dewata. Hasil perancangan media komunikasi visual Perumahan Graha Dewata ini diharapkan dapat menjadi masukan dan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai pertimbangan, referensi dan alternatif yang dapat diaplikasikan pada proses promosi untuk menjadikan Perumahan Graha Dewata menjadi perumahan unggulan di kota Malang.

Pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa kelas VII SMP Ardjuna Malang / Lismi Rodiya

 

ABSTRAK Lismi, Rodiya. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Asissted Individualization (TAI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Motivasi Siswa Kelas VII SMP Ardjuna Malang. Skripsi, Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Muharjito, M.S (2) Drs. Sirwadji. Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Asissted Individualization), hasil belajar, motivasi belajar. Permasalahan yang ada di kelas VII SMP Ardjuna Malang khususnya di kelas VIIB adalah kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran fisika. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilaksanakan pembelajaran kooperatif tipe TAI. dalam pembelajaran kooperatif tipe TAI ada 7 tahap, yaitu: (1) teams,(2) placement test, (3) team study, (4) teaching group, (5) whole-class units, (6) fact test, (7) team scorer and team recognition. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas VII di SMP Ardjuna Malang dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan tes yang berbentuk pilihan ganda. Tes dilakukan sebanyak dua kali yaitu tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II. Motivasi siswa diukur dengan menggunakan angket. Angket diberikan kepada siswa sebelum penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI dan setelah penerapan pembelajaran Kooperatif tipe TAI selesai dilaksanakan di akhir siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI pada materi gerak dan kalor dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar siswa pada tes awal dengan tes akhir siklus I sebesar 4,2, tes akhir siklus I dengan tes akhir siklus II sebesar 9,2. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI, ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan. Pada siklus I, ketuntasan siswa mencapai 80%, berarti siswa telah tuntas belajar. Pada siklus II ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 94.29 %. Peningkatan motivasi siswa terlihat dari hasil angket, pada observasi awal 3 siswa masuk dalam kategori kurang, 9 siswa dalam kategori cukup, 21 siswa dalam kategori baik, dan 2 siswa masuk dalam kategori sangat baik. Pada akhir pembelajaran siklus II menunjukkan hasil 1 siswa dalam kategori kurang, 4 siswa dalam kategori cukup, 15 siswa dalam kategori baik dan 15 siswa dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa, sehingga model pembelajaran kooperatif ini dapat dipertimbangkan sebagai alternatif untuk diterapkan pada pembelajaran Fisika.

Perancangan iklan layanan masyarakat tentang pelestarian hutan dengan pemberdayaan masyarakat di sekitar Sumber Brantas / Rohartin Fifilianti

 

ABSTRAK Fifilianti, Rohartin. 2009. Perancangan Iklan Layanan Masyarakat tentang Pelestarian Hutan Dengan Pemberdayaan Masyarakat Di Sekitar Sumber Brantas. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbimg: (I) Drs. Imam Muhadjir, (II) Moch. Abdul Rahman, S.Sn, M.Sn. Kata kunci: perancangan, iklan layanan masyarakat, pelestarian hutan,pemberdayaan asyarakat. Pelestarian hutan sangatlah penting untuk melanjutkan ekosistem dan ekologi kehidupan, manusia sangat memerlukan hutan sebagai penyelamat bumi karena hutan merupakan salah satu jantung kehidupan. Jika hutan menjadi rusak akan banyak dampak yang akan terjadi seperti bancana alam. Oleh karenanya, untuk meningkatkan kesadaran terhadap bahaya pelestarian, maka dibutuhkan iklan layanan masyarakat tentang pelestarian hutan dengan pemberdayaan masyarakat terutama di sekitar hutan seperti di sekitar Sumber Brantas . Yang mana, salah satunya adalah dengan menggunakan komik sebagai media. Pemilihan komik sebagai media dikarenakan media komik merupakan media yang komunikatif yang merupakan segment dari pesan yang diangkat dalam iklan. Dengan demikian, diharapkan pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh segment iklan yang dimana target audien terutama berpendidikan rendah dan buta huruf. Maksud dan tujuan dari disusunnya perancangan komik iklan layanan masyarakat tentang pelestarian hutan ini adalah untuk menyadarkan masyarakat di sekitar Sumber Brantas maupun masyarakat umum untuk ikut serta melestarikan hutan dan menyelamatkan hutan bersama, dan memberikan alternatif solusi tentang menyelamatkan hutan melalui pemberdayaan masyarakat. Model perancangan yang dibuat adalah menggunakan model perancangan yang bersifat prosedural yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari kepustakaan, pengalaman pribadi, dan dari perkuliahan yang diikuti oleh penulis. Hasil perancangan ini adalah komik iklan layanan masyarakat yang didalamnya berintikan tentang sebab - sebab terjadinya kerusakan, dampak apa yang akan terjadi jika hutan rusak serta solusi apa yang diberikan oleh pemerintah untuk menyelamatkan hutan serta perlu adanya pemberdayaan masyarakat untuk menyelamatkan hutan. Berdasarkan perancangan ini, dapat disarankan agar dikembangkan peran komik dengan lebih dalam, tidak hanya sebagai media hiburan saja.

Pengaruh penerapan model problem based learning (PBL) terhadap kemampuan bertanya siswa dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII MTs Al Maarif 01 Singosari Malang / Umu Salamah

 

ABSTRAK Salamah, Umu. 2009. Pengaruh Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap Kemampuan Bertanya dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII MTs Al Maarif 01 Singosari Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika. Jurusan Fisika. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Subani, (2) Drs. Eddy Supramono Kata kunci : model problem based learning, kemampuan bertanya siswa, prestasi belajar fisika siswa. Siswa MTs Al Maarif 01 mayoritas tinggal di pesantren. Lingkungan tempat tinggal ini berdampak pada rendahnya kemampuan bertanya siswa. Hal ini mengakibatkan siswa pasif selama pembelajaran di kelas. Prestasi belajar fisika siswa juga menjadi perhatian dalam pembelajaran. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa dan prestasi belajar fisika siswa adalah dengan menerapkan berbagai inovasi dan variasi model pembelajaran. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh penerapan model tertentu terhadap kemampuan bertanya dan prestasi belajar fisika siswa. Salah satu pilihannya adalah model problem based learning. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1)mengetahui apakah kemampuan bertanya siswa di kelas dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) lebih baik dari kemampuan bertanya siswa di kelas kontrol pada kelas VIII MTs Al Maarif 01 Singosari; (2)mengetahui apakah prestasi belajar fisika siswa di kelas dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) lebih baik dari prestasi belajar fisika siswa di kelas kontrol pada kelas VIII MTs Al Maarif 01 Singosari. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen. Dua sampel diperoleh tidak secara acak. Untuk prestasi belajar fisika dilakukan pretest dari nilai UTS Genap Tahun Pelajaran 2008/2009 untuk mengetahui bahwa kelas yang digunakan mempunyai kemampuan yang sama. Dua kelas sampel yang mendapatkan perlakuan berbeda. Kelas eksperimen menerapkan model Problem Based Learning (PBL), sedang kelas kontrol menerapan model Direct Instruction (DI) pada materi cahaya. Kemampuan bertanya siswa diukur selama proses pembelajaran berlangsung dan prestasi belajar fisika sebagai posttest diukur melalui hasil tes tulis materi cahaya. Instrumen penelitian berupa lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, rubrik penilaian kemampuan bertanya dan tes prestasi belajar fisika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan bertanya siswa di kelas dengan penerapan model PBL sama dengan rata-rata kemampuan bertanya siswa kelas kontrol pada kelas VIII MTs Al Maarif 01 Singosari Malang. Rata-rata prestasi belajar fisika siswa di kelas dengan penerapan model PBL lebih baik dari rata-rata prestasi belajar fisika siswa kelas kontrol pada kelas VIII MTs Al Maarif 01 Singosari Malang.

Perbedaan motivasi kerja guru taman kanak-kanak ditinjau dari status PNS dan non PNS di Kabupaten Trenggalek / Gilang Agus Setiyono

 

ABSTRAK Setiyono, Gilang A. 2009. Perbedaan Motivasi Kerja Guru Taman Kanak-Kanak ditinjau dari Status PNS dan NON-PNS di Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Si. Kata Kunci: motivasi kerja Guru Taman Kanak-Kanak, Status PNS dan non PNS Perhatian Pemerintah dalam merevitalisasi kinerja guru untuk meningkatkan kesejahteraan guru tidak terlalu terasa bagi sebagian guru yang memiliki status tertentu. Akan tetapi, banyaknya jumlah guru yang masih terus bertahan untuk bekerja membuktikan bahwa setiap pekerjaan selalu dilatarbelakangi oleh adanya motivasi kerja yang selalu beragam. Keberadaan status pegawai negeri memiliki motif-motif tentang karakter pekerjaan yang berbeda dengan pegawai yang bekerja dengan status bukan pegawai negeri (Houston, 2000). Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui motivasi kerja Guru Taman Kanak-Kanak yang berstatus PNS di Kabupaten Trenggalek; (2) untuk mengetahui motivasi kerja Guru Taman Kanak-Kanak yang berstatus non PNS di Kabupaten Trenggalek; dan (3) untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja antara Guru Taman Kanak-Kanak yang berstatus PNS dan Guru Taman Kanak-Kanak yang berstatus non PNS di Kabupaten Trenggalek. Jenis penelitian ini adalah deskriptif-komparatif. Variabel yang diteliti adalah motivasi kerja ditinjau dari status PNS dan non PNS. Pengukuran variabel motivasi kerja menggunakan skala motivasi kerja model Likert. Populasi dalam penelitian ini adalah Guru Taman Kanak-Kanak yang tercatat sebagai anggota IGTKI Kabupaten Trenggalek yang berjumlah 934 orang. Sampel yang diambil dengan teknik sampel proporsional, dengan proporsi 15 % untuk setiap kecamatan, sehingga didapatkan sampel sebanyak 140 orang. Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji-t atau t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tingkat motivasi kerja yang dimiliki oleh Guru Taman Kanak-Kanak dengan status PNS sebagian besar berada dalam klasifikasi sedang; (2) Tingkat motivasi kerja yang dimiliki oleh Guru Taman Kanak-Kanak dengan status non PNS sebagian besar berada dalam klasifikasi sedang; dan (3) Tidak ada perbedaan tingkat motivasi kerja yang signifikan antara kelompok Guru Taman Kanak-Kanak dengan status PNS dan kelompok Guru Taman Kanak-Kanak dengan status NON PNS. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa hipotesis penelitian ditolak, karena p = 0, 862> 0,05. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) Para Guru diharapkan dapat meningkatkan motivasi kerjanya agar kinerja guru makin optimal; (2) Yayasan terkait diharapkan dapat menjalankan tanggungjawabnya terhadap Taman Kanak-Kanak yang dinaunginya; (3) Pemerintah diharapkan dapat memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan guru agar kinerja guru makin optimal; (4) Bagi peneliti berikutnya sebaiknya menggunakan metode penelitian ataupun teori motivasi lainnya dalam melakukan penelitian pembanding.

Perancangan buku cerita rakyat bergambar Putri Kilaswara untuk anak-anak / Kartika Ayu Ardhanariswari

 

ABSTRAK Ardhanariswari, Kartika Ayu. 2009. Perancangan Buku Cerita Rakyat bergambar Putri Kilaswara Untuk Anak-anak. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc., (II) Moch. Abdul Rahman, S.Sn. M.Sn. Kata Kunci : buku cerita bergambar, cerita rakyat, Putri Kilaswara Sebuah perancangan Buku Cerita Rakyat bergambar Putri Kilaswara Untuk Anak-anak. Cerita Putri Kilaswara ini mempunyai pesan moral bahwa kita tidak boleh mengumbar janji, apabila tidak yakin bisa menepatinya, karena bisa merugikan orang lain.Cerita rakyat dari Blitar ini menceritakan seorang raja yang mengadakan sayembara, namun setelah Lembusura berhasil memenangkanya, ia dikubur di dalam Gunung Kelud. Akhirnya Lembusura marah dan mengancam akan menghancurkan wilayah kerajaan.Topik ini diangkat dengan pertimbangan bahwa pentingnya pelestarian kebudayaan yaitu cerita rakyat Indonesia apalagi persaingan buku cerita bergambar dari luar negeri semakin pesat. Sehingga perlu diupayakan peningkatan mutu buku cerita rakyat di Indonesia,baik dari segi illustrasi dan cerita. Dari uraian latar belakang muncul permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut: Diperlukan sebuah buku untuk anak-anak yang membahas tentang cerita rakyat Indonesia yang bermuatan moral dan mengasah kreatifitas. Untuk menghasilkan media tersebut digunakan pendekatan ilmiah yaitu mendapatkan data-data literatur yang relevan bagi perancangan, dan media yang dibuat haruslah sesuai dengan karakteristik anak-anak. Perancangan yang dibuat menggunakan model perancangan prosedural. Prosedur perancangan yang dilakukan adalah pertama yaitu melakukan observasi dengan melakukan pencarian data melalui internet hingga buku sumber yang ada. Produk yang dihasilkan berupa buku berwarna dengan ukuran (20cm x 21 cm) dengan 66 halaman berwarna yang dicetak diatas kertas kertas Art Paper 150 gram, yang dibuat dengan software pendukung yaitu Adobe Photoshop CS3 dan Adobe Illustrator CS3. Untuk mendukung buku cerita bergambar ini maka dibuat juga media promosi komunikasi visual berupa X-banner, display buku, dan merchandise berupa pin, block note, alat tulis, kaos dan tas. Anak-anak merupakan target audience kamus bergambar dengan cerita ini, tetapi bagi para penggemar buku bergambar yang berusia lebih dewasa tidak menutup kemungkinan juga untuk menggunakan produk ini sebagai bahan referensi yang dapat dipelajari kelebihan dan kekurangannya.

Hubungan antara tingkat stres dan status sosial ekonomi orang tua dengan perilaku merokok pada remaja / Abdur Rohman

 

ABSTRAK Rohman, Abdur. 2009. Hubungan Antara Tingkat Stres dan Status Sosial Ekonomi Orang Tua dengan Perilaku Merokok Pada Remaja. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si. Kata Kunci : Tingkat Stres, Status Sosial Ekonomi Orang Tua, Perilaku Merokok. Tidak ada yang memungkiri adanya dampak negatif dari perilaku merokok, namun para perokok seakan tetap saja tidak peduli terhadap ancaman yang dapat menyiksanya dan bahkan dapat merenggut nyawanya. Berdasar data Global Youth Tobacco Survey 2006 terbukti jika 24,5 persen anak laki-laki dan 2,3 persen anak perempuan berusia 13-15 tahun di Indonesia adalah perokok, di mana 3,2 persen dari jumlah tersebut telah berada dalam kondisi ketagihan atau kecanduan (www.kompas.com). Merokok dengan motif meringankan ketegangan dan stres menempati urutan tertinggi, yakni sekitar 54,59 persen. Keadaan sosial ekonomi yang terdiri dari tingkat pendidikan, penghasilan, dan pekerjaan (Paavola dkk, 2004) juga memegang peranan penting dalam perilaku merokok. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) perilaku merokok pada remaja, (2) tingkat stres pada remaja, (3) status sosial ekonomi orang tua pada remaja, (4) hubungan antara stres dan perilaku merokok pada remaja, (5) hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dan perilaku merokok pada remaja, dan (6) hubungan antara tingkat stres dan status sosial ekonomi orang tua dengan perilaku merokok pada remaja. Desain yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling. Perilaku merokok diukur dengan skala perilaku merokok, tingkat stres diukur dengan skala DSI (Daily Stress Inventory) dan status sosial ekonomi orang tua diukur dengan kuesioner status sosial ekonomi orang tua. Subyek penelitian adalah 83 Siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen Malang. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat perilaku merokok pada remaja berada pada tingkatan sedang, (2) tingkat stres remaja berada pada tingkatan sedang, (3) status sosial ekonomi orang tua remaja adalah bawah, (4) terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat stres dan tingkat perilaku merokok remaja, (5) terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status sosial ekonomi orang tua dan tingkat perilaku merokok remaja, dan (6) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan status sosial ekonomi orang tua dengan tingkat perilaku merokok remaja. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak sekolah agar memberikan penyuluhan dan konseling untuk menyampaikan informasi yang efektif tentang bahaya merokok, mengadakan program atau kegiatan pelatihan cara menghadapi stres yang adaptif, dan mengendalikan perilaku merokok remaja khususnya remaja dari orang tua dengan status sosial ekonomi bawah. Orang tua hendaknya juga memberikan pemahaman yang tepat kepada anak-anaknya mengenai bahaya perilaku merokok, memberikan pendampingan kepada anakanaknya terutama ketika mereka sedang menghadapi stres dan mengarahkan mereka kepada kegiatan-kegiatan yang positif dalam menghadapi stres dan memberikan perhatian yang cukup dan melakukan pengawasan yang efektif terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak mereka dapat mengendalikan, mengurangi, dan menghentikan perilaku merokok mereka.

Implementasi beberapa analisis peubah ganda terhadap pengelompokan kelurahan berdasarkan penggunaan alat kontrasepsi di Kota Blitar / Zemmy Indra Kumala Dewi

 

ABSTRAK Dewi,Zemmy Indra Kumala. 2009. Implementasi Beberapa Analisis Peubah Ganda terhadap Pengelompokkan Kelurahan Berdasarkan Penggunaan Alat Kontrasepsi di Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Swosono Rahardjo, S.Pd, M.Si (II) Ir.Hendro Permadi, M.Si Kata Kunci : analisis kelompok, analisis biplot, alat kontrasepsi. Program pembangunan berdasar atas kependudukan suatu bangsa. Pemerintah Indonesia mengendalikan masalah kependudukan salah satunya dengan cara mencanangkan program keluarga berencana (KB). Penggunaan alat kontrasepsi erat kaitannya terhadap program keluarga berencana (KB). Di kota Blitar, badan yang menangani tentang hal-hal yang berkaitan dengan alat kontrasepsi dan KB adalah dinas PMKB (Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana) yang melayani masyarakat di bidang KB dan mengupayakan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan KB serta memberikan informasi kepada masyarakat secara merata. Skripsi ini membahas penggunaan alat kontrasepsi di 21kelurahan kota Blitar yang dipengaruhi oleh status pendidikan dan tingkat kesejahteraan. Perilaku tersebut dianalisis dengan metode biplot, sedangkan pembentukan kelompok-kelompok kelurahan yang mempunyai kesamaan karakteristik dalam pemilihan penggunaan alat kontrasepsi dengan status pendidikan dan tingkat kesejahteraan dianalisis dengan menggunakan analisis kelompok hierarki metode average linkage dan analisis biplot. Dari 21 kelurahan di kota Blitar setelah dilakukan analisis kelompok dan analisis biplot terbentuk 3 kelompok. Kelompok 1 terdiri dari kelurahan Ngadirejo, Klampok, Tlumpu, Sentul, Bendo, Pakunden dan Tanjung Sari. Kelompok 2 terdiri dari kelurahan Kepanjen Kidul, Bendogerit, Karang Tengah, Tanggung, Karang Sari, Blitar, Kauman, Gedog, Turi, Ploso kerep, Rembang, dan Sukorejo. Kelompok 3 terdiri dari kelurahan Sanan Wetan dan Kepanjenlor. Masyarakat kelurahan dalam menentukan penggunaan alat kontrasepsi cenderung dipengaruhi oleh status pendidikan. Kelurahan Sanan Wetan dan Kepanjenlor cenderung menggunakan alat kontrasepsi kondom untuk masyarakat yang tamat perguruan tinggi. Kelurahan Ngadirejo, Klampok, Tlumpu, Sentul, Bendo, Pakunden dan Tanjung Sari cenderung menggunakan alat kontrasepsi Suntik untuk masyarakat yang tamat SLTA dan untuk masyarakat yang lulus SD-SLTP cenderung menggunakan alat kontrasepsi IUD. Kelurahan Kepanjen Kidul, Bendogerit, Karang Tengah, Tanggung, Karang Sari, Blitar, Kauman, Gedog, Turi, Ploso kerep, Rembang, dan Sukorejo cenderung menggunakan alat kontrasepsi IUD untuk masyarakat yang tamat SD-SLTP dan untuk masyarakat yang tamat PT dengan katagori keluarga sejahtera III cenderung menggunakan alat kontrasepsi kondom.

Pengaruh good corporate governance terhadap kinerja keuangan studi pada perusahaan LQ 45 yang listing di Bursa Efek Indonesia / Veby Hervyanto Yuda

 

ABSTRAK i Yuda, Veby Hervyanto. 2009. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Kinerja Keuangan Studi pada Perusahaan LQ 45 yang Listing di Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Program Studi Sarjana Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, M.Si, Ak. (II) Yuli Widi Astuti S.E, M.Si, Ak Kata kunci: corporate governance, kinerja keuangan Teori keagenan menyatakan bahwa perusahaan merupakan hubungan kontrak yang legal antara pemegang saham (principal) dengan manajemen (agent). Dalam hubungan ini sering kali timbul konflik karena adanya perbedaan kepentingan. Good corporate governance sebagai suatu sistem tata kelola perusahaan yang baik, dapat mengatur pola hubungan yang harmonis antara pemegang saham dan pihak manajemen. Melalui penerapan prinsip-prinsipnya seperti transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, independesi, dan kewajaran, konsep good corporate governance ini dapat menyelaraskan kepentingan pemegang saham dengan pihak manajemen sehingga dapat berdampak pada peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh good corporate governance terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diproxy dengan Tobin’ s Q. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam indeks LQ 45 pada tahun 2007-2008 yaitu sebanyak empat puluh lima perusahaan. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purpossive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah uji regresi linier berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel komisaris independen, dewan komisaris, akuntan publik, komite audit, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional terhadap Tobin’s Q. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel komisaris independen, akuntan publik, dan kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap Tobin’s Q. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya dapat menambah variabel-variabel lain yang juga menunjang implementasi good corporate governance pada suatu perusahaan. Bagi investor hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam menginvestasikan dananya pada perusahaan yang telah menerapkan good corporate governance dengan baik.

Pengaruh penggunaan LCD sebagai media pembelajaran terhadap hasil belajar siswa kelas 2 resto di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Batu / Jesica Veronica Runtu

 

ABSTRAK Runtu, Jesica Veronica. 2009. Pengaruh Penggunaan LCD Sebagai Media Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas 2 Resto di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Batu. Skripsi, Bidang Keahlian Usaha Jasa Restoran, Program Studi S1 Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Amat Nyoto, M. Pd, Pembimbing (II) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M. Pd. Kata Kunci: Penggunaan Media, Hasil Belajar Siswa Kegiatan pembelajaran adalah penyampaian materi atau pesan dari guru (pengajar) kepada siswa. Kegiatan pembelajaran mencakup pembuka, inti dan penutup. Dalam penelitian ini guru menyampaikan materi dengan menggunakan metode yang sesuai dan media pembelajaran dengan menggunakan LCD untuk mencapai tujuan. LCD dipakai pada mata diklat menyiapkan dan menghidangkan minuman non-alkohol. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswa kelas 2 Resto semester IV Tahun pelajaran 2008/2009 di SMK N 1 Batu dan lokasi penelitian Jl.Bromo No.11 Kota Batu. Sampel penelitian adalah siswa kelas 2 Resto yang berjumlah 53 siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, teknik penarikan sampel menggunakan teknik porposif random sampling dengan responden yang diambil sebanyak 30 siswa. Pengambilan data berupa metode tes,observasi dan angket. Hasil penelitian menunjukan Pre-test kelompok yang diajar dengan menggunakan media LCD signifikan sinya sebesar (0,303) karena nilai Signifikan sinya (0,303) > 0,05 maka tidak ada perbedaan nilai Pre-test antara kelas kontrol dengan nilai Pre-test kelas eksperimen. Post-test kelompok eksperimen dan kelompok kontrol Signifikan sinya sebesar (0,000) karena nilai Signifikan sinya. (0,000) < 0,05 maka ada perbedaan nilai Post-test antara kelas kontrol dengan nilai Post-test kelas eksperimen. Diperoleh juga data tentang respon positif dari siswa yang diajar dengan menggunakan media LCD.

Pengaruh lama sintering terhadap dielektrisitas senyawa infinite layer Sr12Mn2Cu24O41± / Vina Meyta

 

Senyawa infinite layer adalah senyawa yang terdiri dari lapisan rantai (chains) dan lapisan tingkatan (ladders) yang tak terhingga bertumpuk secara teratur dalam satu bidang. Infinite layer merupakan bahan yang sangat menarik karena dapat diaplikasikanuntuk film tipis superkonduktor. Penambahan lama sintering mempengaruhi sifat fisis yang dimiliki oleh bahan tersebut, diantaranya adalah konstanta dielektrik, karena lama sintering merupakan salah satu parameter penting pada pembentukan fase kristal. Oleh karena itu dilakukan penelitian Pengaruh lama sinterig terhadap nilai konstanta dielektrik senyawa Infinite Layer Sr12Mn2Cu24O41±δ Pada Berbagai Temperatur Pengukuran. Bahan dasar SrCO3, MnO2, dan CuO yang digunakan memiliki tingkat kemurnian masing-masing 99,95%; 99% dan99%. Sampel disintesis dengan metode reaksi padatan (solid state reaction) dengan konsentrasi 2 mol pada suhu sintering 900oC. Sampel diukur konstanta dielektriknya pada berbagai suhu pengukuran. Sampel dikarakterisasi menggunakan Difraksi Sinar-X (XRD), dianalisis menggunakan program PCW dan Cellref dibantu oleh microcal origin untuk membuat plot grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan lama sinteringpada senyawa infinite layer Sr12Mn2Cu24O41+δ menaikkan nilai konstanta dielektrik. Peningkatan nilai konstanta dielektrik mengikuti mekanisme polarisasi elektronik, yakni semakin banyak doping Mn, semakin banyak ion Mn2+ yang menggantikan posisi ion Sr2+ Jarak ektron valensi ke inti semakin dekat, sehingga elektron tidak mudah terlepas dari inti. Akibatnya dielektrisitasnya semakin tinggi. Semakin tinggi temperatur pengukuran nilai konstanta dielektrik semakin naik peristiwa ini mengikuti mekanisme lain (bukan mekanisme polarisasi elektronik) yang dijelaskan di Bab II bahwa pada suhu diatas 100K bahan mengalami fase transisi dari CDW ke mott insulator.

Peranan gerakan Pemuda Ansor dalam penumpasan PKI di Dusun Sumbergendul Desa Sidowarek Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri 1965 / Wheny Kholifatul Jannah

 

Sejarah ditulis untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang terjadi di masa lampau dari berbagai sudut, agar mendekati dengan kebenaran. Kebenaran merupakan sesuatu yang selalu dijunjung tinggi, dan diperjuangkan dalam hidup, entah itu untuk sendiri, kelompok, bahkan dalam cakupan berbangsa dan bernegara. Sayangnya banyak orang menyembunyikan kebenaran dengan alasan kekuasaan, bahkan ketakutan apabila suatu kebenaran muncul dan ironinya kebenaran sering kali digunakan sebagai tameng atas berbagai aktivitas yang cenderung lebih menguntungkan diri/kelompok masing-masing. Berdasarkan konstruk di Indonesia, dan jiwa zaman terutama pada pada tahun 1959-1966 kebenaran tidak lagi menjadi prioritas utama, kebenaran dapat diterima jika dapat menguntungkan kepentingan banyak orang atau kelompok tertentu. Bahkan tak jarang kelompok atau pihak yang mengambil keuntungan itu merugikan pihak lain, dan yang selalu dirugikan dan menjadi korban adalah rakyat kecil. Salah satu contoh yang nampak adalah pembantaian para anggota, simpatisan dan orang-orang yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia. Hal menarik ketika membicarakan PKI, adalah usaha yang dilakukan partai tersebut untuk menarik massa. Tentunya usaha tersebut tidak lepas dari kultur budaya Indonesia seperti yang diungkapkan Kartodirdjo (1973:9) : 2 According to ageold popular tradition, the experted messiah is a king who will establish justice and peace in a land of great abundance. The spesifically javanese messianic myth refers to the appearance of the Ratu Adil or Just King, who will deliver people from illness, famine and all kinds of evil. Mitos di Jawa atas munculnya mesias atau utusan yang mengharapkan kedatangan ratu adil atau Imam Mahdi atau juru selamat yang membebaskan rakyat dari kesengsaraan dan akan memimpin masyarakat secara arif bijaksana. Kedatangan PKI dalam masyarakat Sumbergendul sekitar tahun 1955 ketika dalam kondisi carut marut semakin meyakinkan masyarakat bahwa PKI adalah juru selamat itu. Untuk meyakinkannya maka PKI memulai langkahnya dengan pembaharuan program, perbaikan citra diri PKI, membentuk koalisi lewat Front Persatuan Nasional, pengesahan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH) yang menguntungkan PKI, aksi sepihak, yang kemudian akhirnya meletus peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa Gerakan 30 September itu kemudian memicu konflik yang disertai pembantaian diberbagai daerah di Indonesia. Akibat peristiwa itu banyak korban jiwa yang berjatuhan baik dari militer maupun sipil. Bahkan Hermawan Sulistyo menyebutkan dalam bukunya Palu Arit di Ladang Tebu bahwa pembantaian PKI merupakan salah satu pembantaian yang terbesar dalam sejarah pembunuhan massal sepanjang abad ke 20 (2003:vii). Peristiwa itu tentu saja menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat yang hidup sejaman dengan peristiwa tersebut. Hal ini disadari ketika berbagai sumber, baik media cetak maupun elektronik dan sumber buku 3 yang ditemukan mengatakan tentang kebiadaban PKI. Sumber-sumber itu antara lain dalam buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai (Soerojo,1988:XIX) yang menyebutkan bahwa PKI menculik 6 jendral1 yang dibawa ke Lubang Buaya. Kemudian mereka melakukan makar yang kejam dengan menyilet dan menyayat, demikian pula yang ditemukan disumber lain seperti di surat kabar Berita Yudha serta berita dari radio menyebutkan kebiadaban PKI2. Sehingga adanya berita-berita tersebut menambah kebencian masyarakat terhadap PKI. Ditengah kondisi yang mencekam, Soeharto kemudian mengambil tindakan dalam rangka ketertiban dan keamanan negara3. Kenyataan tentang kebiadaban PKI tersebut telah ternternalisasi dalam diri masyarakat. Setelah peristiwa penculikan muncul aksi yang menuntut pembubaran PKI4. Pada akhirnya PKI dibubarkan dan muncul perintah untuk menumpas anggota PKI dan ormas-ormasnya. Walaupun dalam kenyataannya banyak kasus terjadi dilapangan tidak demikian. Banyak peristiwa pembantaian terhadap anggota PKI terjadi sebelum adanya perintah pembubaran PKI. Hal ini dapat dimaklumi karena kemarahan kelompok yang non PKI sudah tidak terbendung lagi. Misalnya seperti dibeberapa daerah yaitu di daerah Sumbermalang Situbondo, Srengat Blitar, dan Burengan Kediri, termasuk pula di Sumbergendul. 1 Lampiran 1b halaman 156, Pidato pimpinan AD Mayor Jendral Soeharto tanggal 1 Oktober 1965 2 Lampiran 1d halaman 158, Pidato Mayor Jendral Soeharto di Lobang Buaya dan lampiran 2b, Berita Yudha halaman 182. 3 Lampiran 1c halaman 157, Pidato radio Panglima Kostrad Mayor Jendral Soeharto tanggal 3 Oktober 1965 4 Lampiran 2 halaman 181. Berita Yudha merupakan satu-satunya surat kabar yang boleh beredar pada tahun 1965. Ada pula sumber yang menerangkan bahwa Berita Yudha merupakan surat kabar milik militer dan itu menerangkan mengapa Berita Yudha menjadi satu-satunya surat kabar yang eksis saat itu 4 Pembalasan lebih kejam, mungkin itu yang mereka dapat atas apa yang PKI lakukan. Demikian pula yang terjadi didaerah-daerah, anggota PKI diburu dan dikejar. Kekejaman PKI tersebut telah terbayar dengan nyawa mereka. Bahkan korban dan akibatnya jauh melebihi dengan apa yang telah mereka lakukan. Berita itu kemudian tersebar luas melalui surat kabar dan radio . Adanya berita tersebut, menjadikan berbagai masyarakat terutama kelompok masyarakat yang bersebrangan (kelompok agama) dengan PKI ikut ambil bagian menumpas PKI. Penumpasan dan pembersihan terhadap anggota PKI dilaksanakan secara menyeluruh dan besar-besaran. Pertumpahan darah pun tak bisa dielakkan karena konflik mental dan fisik antar kelompok agama dan komunis terjadi cukup lama. Hal ini selain dilatarbelakangi oleh pembunuhan 6 jendral yang terjadi dikalangan tubuh Angkatan Darat, juga dilatarbelakangi oleh aksi sepihak dalam rangka landreform serta adanya penodaan agama yang dilakukan oleh anggota PKI didaerah-daerah. Namun disaat genting seperti itupun ternyata masih ada saja orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Beberapa kasus, sekitar 10% yang dijumpai dilapangan menyebutkan bahwa ada seorang PKI yang selamat karena menyerahkan hartanya, walaupun pada akhirnya akan dibunuh juga jika orang tersebut seorang tokoh PKI. Disisi lain, hal yang lebih mengerikan juga terjadi, misalnya banyak orang yang bukan anggota PKI juga ikut menjadi korban pembersihan. Banyak pembersihan dilakukan hanya berdasarkan dendam pribadi semata dan dengan cara dituding dan dicap sebagai anggota 5 PKI, maka orang itupun ikut dibunuh5. Pembantaian pun terjadi dimana-mana sampai kepelosok desa dan termasuk pula di Dusun Sumbergendul Desa Sidowarek Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri. Sumbergendul merupakan bagian dari wilayah kabupaten Kediri adalah dusun yang terpencil, jauh dari pusat kota, serta berbagai akses, sarana dan prasarana yang minim. Selain itu menurut penduduk setempat, Sumbergendul memiliki gua-gua persembunyian yang pada masa pendudukan Jepang juga dipakai untuk pertahanan tentara Jepang. Adanya gua tersebut menjadikan daerah Sumbergendul pada tahun 1965 digunakan sebagai basis pertahanan bagi PKI. PKI di Sumbergendul memiliki pengaruh yang kuat. Semakin kuat pengaruh PKI disuatu daerah, maka kemungkinan semakin banyak pula korban pembantaian PKI didaerah itu. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil wawancara dengan bapak Ubd6 (tanggal 7 Oktober 2007), dimana korban pembantaian di Sumbergendul mencapai 557 orang7. Ada beberapa pertimbangan mengapa peneliti memutuskan untuk meneliti daerah Sumbergendul. Pertimbangan tersebut antara lain : 1) Sumbergendul merupakan daerah yang lokasinya cukup strategis untuk basis PKI, tetapi sampai sekarang belum ada yang mengkaji dan meneliti lebih dalam mengenai daerah Sumbergendul, 2) Adanya kedekatan emosional, karena lokasi Sumbergendul dekat dengan tempat tinggal peneliti, 3) Berdasarkan informasi dari informan yang dilakukan saat wawancara, Sumbergendul merupakan dusun yang sebagian besar penduduknya menjadi 5 Lihat lampiran 8c halaman 213, wawancara dengan Mrsm 15 Juni 2008 6 Bapak Ubd adalah mantan ketua Ansor anak cabang kecamatan Plemahan 1965, lihat lampiran 5c,foto Ubd 7 Lihat lampiran 8 halaman 205, wawancara dengan Ubd dan bandingkan dengan informasi yang diberikan oleh informan lain seperti Mln dan Rmn (lampiran 8.e halaman 222 dan halaman 228) 6 anggota PKI yaitu sekitar 70% . Semakin kuat pengaruh PKI disuatu daerah maka terdapat kemungkinan semakin besar pula korban penumpasan PKI didaerah tersebut, 4)Wilayah Sumbergendul cocok untuk persembunyian karena terdapat gua-gua yang pada masa pendudukan Jepang dijadikan tempat persembunyian, 5) Dijadikan basis pertahanan PKI, 6) Pembantaian anggota PKI dilakukan secara besar-besaran di Sumbergendul pada bulan Oktober 1965, 7) Pola penyerangan Ansor di Sumbergendul face to face. Sering kali penumpasan terhadap PKI dilakukan secara serampangan, karena ada pembantaian PKI yang dilakukan hanya berdasarkan dendam pribadi semata. Berbeda dengan Sumbergendul, dikota lain tipe penumpasan PKI memiliki pola sembunyi-sembunyi yang berupa penculikan, misalnya seperti yang terjadi Aceh berdasarkan radiogram yang ditujukan kepada Panglima Angkatan Kepolisian yang menyatakan telah timbul aksi-aksi “mengambil”orang PKI (Soerojo,1988:251), kemudian di Jombang dimana aksi pembantaian PKI dilakukan dalam bentuk aksi: a) Operasi diam-diam habis; b) Pembunuhan kolektif; c) Pembunuhan perseorangan. Hal ini ternyata juga terjadi di desa Sidowarek, kecamatan Plemahan, kabupaten Kediri, namun yang terjadi disini sedikit berbeda, karena penyerangan diawali dengan cara face to face dan kemudian diakhiri dengan aksi pengambilan orang setelah sebelumnya terjadi serangan besar-besaran. Walaupun peristiwa G30S dan PKI sampai sekarang masih kontroversi, ternyata cukup banyak pula peneliti yang meneliti bertemakan G30S dan PKI serta cukup banyak pula hasil karya dari penelitiannya. Hasil penelitian tersebut antara lain : pertama merupakan hasil disertasi Hermawan 7 Sulistyo yang kemudian dibukukan dan diterbitkan, berjudul Palu Arit Di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal Yang Terlupakan (1965-1966). Membahas mengenai kasus Jombang-Kediri oleh PKI yang mendasarkan strateginya pada konflik dengan melakukan kampanye besar-besaran untuk merekrut pengikut dan menunjukkan adanya perpecahan sosial kemudian meledak menjadi konflik yang disertai kekerasan dan mematikan setelah muncul peristiwa G 30 September. Kedua sebuah hasil disertasi Aminuddin Kasdi yang kemudian dibukukan dan diterbitkan, berjudul Kaum Merah Menjarah Aksi Sepihak PKI/BTI di Jawa Timur 1960-1965. Mengulas tentang berbagai peristiwa aksi sepihak yang terjadi di Jawa Timur (1960-1965), kaitan antara aksi sepihak dan strategi PKI/BTI untuk mencapai tujuan politiknya, serta aksi-aksi sepihak sebagai peristiwa sejarah lokal dengan kebijakan yang digariskan ditingkat nasional. Bukunya juga mengulas tentang persoalan tanah yang struktur kepemilikannya kritis sangat potensial bagi munculnya keresahan dan radikalisasi gerakan petani. Ketiga hasil skripsi oleh M Yusup Wibisono yang berjudul Radikalisasi Petani Dan Ruralisasi Politik : Studi Tentang Aksi Sepihak PKI/BTI Di Perkebunan Jengkol-Kediri 1961 yang menjelaskan tentang masyarakat tanpa kelas melalui sebuah revolusi agraria dengan memakai implementasi Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) sebagai pembenaran aksinya. Aksi tersebut diwujudkan dengan serangkaian usaha yang bersifat radikal dengan memobilisasi petani di Desa Plosokidul untuk dapat memiliki tanah perkebunan jengkol. Dilihat dari kondisi agraria Desa Plosokidul yang 8 menunjukkan konsentrasi yang terbesar untuk para petani adalah petani tak bertanah pertanian (tuna kisma). Hal ini kemudian mendorong petani untuk melakukan sebuah gerakan radikal untuk mendapatkan tanah pertanian. Keempat hasil skripsi tidak diterbitkan oleh M. Sulhan berjudul Peranan Gerakan Pemuda Ansor Dalam Peristiwa G-30-S/PKI 1965 Studi Kasus Penumpasan PKI Pada Oktober-Desember 1965 Di Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang. Mengkaji tentang Ansor yang merupakan pengawal dan penerus perjuangan kiai yang tidak lepas dari pola kepemimpinan NU yang bersifat tradisional dengan watak patron-client . Hubungan yang memposisikan santri/Ansor sebagai pihak yang ditolong, berhutang budi kepada kiai; guru/NU yang memberikan pertolongan, menanamkan budi. Usaha-usaha PKI dan ormasnya yang menunjukkan para kiai yang memiliki tanah luas sebagai setan desa dan pelecehan terhadap agama ternyata mendapat perlawanan balik yang berujung pada aksi pembantaian. Aksi pembantaian tersebut bisa ditafsiri sebagai perang suci membela agama dengan bentuk aksi penumpasannya. Kelima hasil skripsi tidak diterbitkan oleh Ahmad Maulidi berjudul Tragedi Berdarah di Sumbermalang Kabupaten Situbondo Tahun 1965-1966 yang mengkaji tentang adanya konflik yang terjadi antara dua kubu besar di Situbondo yaitu NU dan PKI. Hal ini dilatarbelakang adanya keterlibatan pihak Angkatan Darat dan perintah dari pimpinan NU di Situbondo. Pihak NU ini tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi pelaku pembantaian yang ternyata didekengi oleh Angkatan Darat. Pembantaian mulai reda sejak diberlakukannya kebijakan adanya larangan membunuh bagi anggota NU cabang Sumbermalang. 9 Setelah melihat penelitian sejenis terdahulu tersebut diatas, peneliti tertarik untuk mengkaji dengan tema yang sejenis pula namun dengan fokus penelitian yang berbeda yaitu Peranan Gerakan Pemuda Ansor Dalam Penumpasan PKI Di Dusun Sumbergendul Desa Sidowarek Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri 1965. Dengan pertimbangannya yaitu peneliti terdahulu menampakkan hasil yang memuaskan dengan teknik pencarian sumber yang unik sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian ditempat yang berbeda.

Pengaruh struktur aktiva, financial leverage, dan struktur modal terhadap return on investment (ROI) pada perusahaan food and beverage yang listing di BEI periode 2004-2007 / Santy Wahyu Lestari

 

ABSTRACT Wahyu Lestari, Santy. Influence of Asset Structure, Financial Leverage, and Equity Structure to Return on Investment (ROI) in Food and Beverage Company with listing period 2004-2007. Minor thesis of Studi Management Economic Faculty State University of Malang. Counsellor (1) Drs. Mohammad Hari, M.Si (2) Lulu Nurul Istanti, S.E., M.M Keyword: Asset Structure, Financial Leverage, Equity Structure and Return on Investment (ROI) Return on Investment is a kind of probability analysis that can use to determine financial capability in a company. ROI ratio as ratio to determine capability of company to produce benefit with all of asset in company. Its getting high this ratio, its getting good as condition of company. For that reason, the company should focus on ROI to enhance its benefit. However, the company must focus on factors that can influence its activity to enhance benefit or return. The aim of this study evaluated partially and simultant influence of asset structure, financial leverage, and equity structure to Return on Investment (ROI) in Food and Beverage company (listing period 2004-2007). This study used explanation method that could describe relation among asset structure, financial leverage, and equity structure to Return on Investment. In this study used 8 food and beverage company with listing period 2004-2007 as sample and purposive sampling method. The data was obtained from Indonesian Capital Market Directory (ICMD) period 2005-2007 as quantitative and secondary data. Data analysis used multiple regression method with SPSS program 16.0. Result of this study shown that partially asset structure have significantly negative influence to ROI, partially financial leverage have significantly positive influence to ROI and equity structure have significantly positive influence to ROI. Asset structure, financial leverage, and equity structure have significantly positive influence to ROI. For the next researcher was suggested to add the number of sample from the same company or time of period or range of study time so other factors that influence to ROI cant be known.

Pengaruh kemampuan personal selling pemandu wisata terhadap keputusan wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata di Kusuma Agrowisata Batu / Aprilinda Dwi Nurcahyani

 

ABSTRACT Nurcahyani, Aprilinda Dwi. 2009. The Effect of Personal Selling Ability of Tourism Guide on The Tourist’s Decision in Visiting Tourism in Kusuma Agrowisata Batu. Thesis, Management Department Economy Faculty State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Mohammad Arief, M.Si, (II) Rachmad Hidayat, S.Pd. Keywords: personal selling, tourism guide, tourist decision Globalization has encourage a very competitive competition in all sectors of bussiness. This competition advancement is mainly determined by the anticipation and respond of the market on every change of need and behavior of the consumer. The company is supposed to be more creative and innovative in serving the consumer by better product and service. Thus, it has to be done to save the existence of the company among competitive business competition, including tourism service business. Kusuma Agrowisata is a natural tourism object that combines the tourism and agricultural elements, located in Batu. It always enhances its marketing strategy to be able to compete with other tourism companies. One of the srtategies is done by increasing the personal selling of tourism guide. This study aims to know 1) the effect of personal selling of tourism guide partially to the tourist’s decision in visiting Kusuma Agrowisata Batu, 2) the effect of personal selling of personal selling simultaneously to the tourist’s decision in visiting Kusuma Agrowisata Batu, 3) the most dominant variable of personal selling of the tourism guide in effecting the tourist’s decision in visiting Kusuma Agrowisata Batu. The variable used in this study consisted of independent and dependent study. The independent study was the personal selling of the tourism guide (X), consisting of guiding activity variable (X1), tourism guide ability (X2), and tourism guide personal characteristic (X3). Meanwhile, the independent variable was the tourism decision in visiting Kusuma Agrowisata Batu (Y). This study was descriptive explanatory research, while the population was the tourists of Kusuma Agrowisata Batu. The number of the sample was 100 respondents, using Accidental Sampling, and the instrument used was questioners. This study showed that there was partially significant effect between personal selling variable of the tourism guide, consisting of tourism guide skill (X2) for 3.311. While the tourism activities (X1) 0.357 and the tourism guide personal characteristic (X3) was 0.357. in addition, there was not a significant effect of the tourism activities and the tourism guide personal characteristic in visiting tourism in Kusuma Agrowisata Batu. There was effect between personal selling of tourism guide, consisting of guiding activities (X1), tourism guide skill (X2), and the tourism guide personal characteristic (X3) for 15.669 simultaneously to the tourist’s decision in visiting Kusuma Agrowisata Batu, and variable of tourism guide skill (X2) was the most dominant variable in effecting the tourist’s decision. R2 value was 0.329, means that 32.9% of tourism decision was effected by the tourism guide personal selling ability. Thus, it can be said that personal selling of the tourism guide is effective to be the company advancement source that can influence the tourist’s decision in visiting Kusuma aGrotourism Batu. Therefore, it needed the increment and attention to the factors influencing the personal selling ability and giving trainings for them in order to increase their performances. In addition, the skill of the tourism guide has also to be concerned since it is also the factors that support the performance of the tourism guide in order to increase the number of visits in Kusuma Agrowisata Batu.

Penerapan pembelajaran matematika menggunakan pendekatan PBM (Pembelajaran Berbasis Masalah) pada sub pokok bahasan kubus dan balok kepada siswa kelas VIII A SMP Muhammadiyah 1 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Astutik Talun Nu

 

ABSTRAK Talun NU, Astutik. 2009. Penerapan Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah pada Sub Pokok Bahasan Kubus dan Balok terhadap Siswa Kelas VIII A SMP Muhammadiyah 1 Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tjang Daniel Chandra, M.Si, (II) Dr. Sisworo, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, prestasi belajar. SMP Muhammadiyah 1 Malang merupakan salah satu sekolah di kota Malang yang belum pernah melakukan penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah kepada siswanya..Guru matematika di sekolah tersebut khususnya kelas VIII A menyatakan bahwa memerlukan ketelatenan untuk membuat siswa belajar matematika. Guru seringkali harus mengulangi materi yang sama beberapa kali agar siswa benar-benar memahami. Selain itu, ulangan harian yang mereka peroleh pun sering masih berada di bawah standar kentuntasan minimum sekolah (SKM), yaitu 60. Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan salah satu pendekatan yang cocok secara teoritis untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika bagi mereka karena pembelajaran ini diawali dengan pemberian masalah untuk diselesaikan sendiri oleh siswa sampai secara tidak sadar mereka telah belajar sesuatu dari permasalah tersebut. Dengan metode ini pengetahuan yang mereka pelajari sendiri akan mengendap lama di otak mereka. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus pembelajaran. Penelitian ini mendiskripsikan tentang rancangan penerapan pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah pelaksanaannya sekaligus prestasi yang dicapai siswa setelah diterapkan pembelajaran model ini. Rancangan penerapan pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajarn (RPP) dan Lembar kerja Siswa (LKS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa selalu menunjukkan hasil di atas SKM yang ditetapkan sekolah. Pada siklus kedua siswa mencapai nilai rata-rata kelas 87 dengan ketuntasan siswa sebesar 100%. Dari hasil penelitian juga diperoleh kesimpulan bahwa siswa menunjukkan sikap positif terhadap pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah. Hasil lembar observasi aktifitas siswa mencapai total skor antara 30 sampai dengan 38 yang masuk pada kategori ”baik”. Selain itu, dari angket yang disebar pada siswa menunjukkan bahwa sebagian besar siswa senang dengan model pembelajaran ini.

Pengaruh arus kas operasi, investasi dan pendanaan terhadap harga saham pada perusahaan food and beverages yang go public di Bursa Efek Indonesia / Shinta Indrayanti

 

Pasar Modal merupakan lembaga keuangan, di mana investor menginvestasikan dananya dalam bentuk surat berharga. Saham sebagai bukti kepemilikan perusahaan diharapkan akan memberikan tingkat keuntungan yang memadai. Harga saham di bursa efek merupakan gambaran tentang persepsi investor mengenai risiko dan tingkat keuntungan yang diharapkan (expected rate of return). Semakin tinggi tingkat harga saham maka kekayaan pemegang saham semakin besar dan hal ini dianggap menguntungkan bagi investor. Perubahan harga saham di bursa efek dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor yang dianggap nerpengaruh terhadap harga saham adalah faktor fundamental dan faktor teknikal. Faktor fundamental merupakan gambaran tentang kinerja perusahaandalam menjalankan kegiatan operasionalnya. Arus kas merupakan salah satu faktor fundamental yang diduga berpengaruh terhadap harga saham. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara variabel arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan dan total arus kas terhadap variabel harga saham. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan perusahaan dan data harga saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam perusahaan food and beverages Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 sebanyak dua puluh satu (21) perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak Delapan belas (18) perusahaan. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purpossive sampling. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel arus kas operasi, arus kas investasi, arus kas pendanaan dan total arus kas terhadap harga saham secara parsial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel arus kas operasi, arus kas investasi, dan total arus kas berpengaruh terhadap harga saham. Sedangkan arus kas pendanaan tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel harga saham. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel-variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap pergerakan harga saham, menambah periode observasi, dan memperluas jenis perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia.

Peran komite sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran (studi kasus di SMPN 9 Malang) / Riza Wicaksono

 

ABSTRAK Wicaksono, Riza. 2009. Peran Komite Sekolah Dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran : Studi Kasus di SMPN 9 Malang. Skripsi Jurusan Administrasi Pendidikan, Program Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd dan Pembimbing II: Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. Kata Kunci: komite sekolah, mutu pembelajaran Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh.Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi tanggung jawab bersama, yaitu pemerintah, sekolah dan orang tua. Sejak pemerintah memberlakukan desentralisasi pendidikan, peran masyarakat menjadi sangat penting dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah. Untuk mengembangkan aspirasi masyarakat tersebut, maka dibentuklah suatu wadah yang dinamakan komite sekolah. Kelahiran Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yaitu membawa perubahan paradigma pengelolaan sistem pendidikan. Jika semula pendidikan berada di tangan pusat, maka sekarang pihak sekolah berhak untuk mengatur dirinya sendiri tanpa bergantung pada pemerintah yang direalisasikan dengan kemandirian sekolah dari aparat daerah dalam menentukan arah, kebijakan, serta jalannya pendidikan masing-masing. Dalam otonomi pendidikan masyarakat perlu dilibatkan dalam kegiatan sekolah yang tujuannya untuk menciptakan rasa tanggung jawab, sehingga timbul rasa memiliki terhadap sekolah, bentuk dari keterlibatan masyarakat terhadap sekolah yaitu dengan adanya Komite Sekolah, yang berperan sebagai pertimbangan (advisory), pendukung (supporting), pengontrol (controlling), dan penghubung (mediator). Penelitian ini berangkat dari pertanyaan bagaimana peran Komite Sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran di SMPN 9 Malang. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan empat fokus penelitian yaitu a) bagaimana profil komite sekolah di SMPN 9 Malang, b) bagaimana strategi komite sekolah dalam menggalang dana untuk peningkatan mutu pembelajaran di SMPN 9 Malang, c) faktor pendukung bagi komite sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran di SMPN 9 Malang, d) faktor penghambat bagi komite sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran di SMPN 9 Malang. Penelitian ini dilakukan berdasarkan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Lokasi penelitian adalah SMPN 9 Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan observasi partisipasi dengan tingkat kontinum pasif. Pengambilan data dilakukan dengan alat bantu berupa catatan lapangan (field notes) dan alat dokumentasi. Sampel dalam penelitian ini ditentukan secara snowball sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara pasif; (2) teknik pengamatan berperan serta; (3) teknik dokumentasi. Data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut diorganisasikan, ditafsirkan dan dianalisis guna menyusun dan mengabtraksi temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan (1) ketekunan pengamatan, (2) teknik triangulasi. Temuan penelitian ini adalah (1) bentuk organisasi komite sekolah SMPN 9 Malang berpedoman pada Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kepmendiknas) Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah atas kesepakatan pihak komite sekolah dan sekolah. Kebutuhan sekolah dituangkan dalam program kerja komite sekolah dan sekolah. Komite sekolah terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan anggota yang berjumlah 9 orang. (2) strategi komite sekolah dalam mengalang dana salah satunya dari orang tua siswa yang dinamakan dengan Dana Peran Serta Masyarakat (PSM) ada dua macam yaitu sumbangan pembangunan dan sumbangan sukarela. Sebelum komite sekolah menarik sumbangan pembangunan komite sekolah harus mengetahui program sekolah berupa program jangka panjang (8 tahun), program jangkan menengah (4 tahun), dan program jangka pendek (1 tahun) dan memprioritaskan program sekolah yang harus didahulukan. Sehingga komite sekolah dapat mengetahui jumlah dana yang diperlukan,langkah selanjutnya yaitu menarik sumbangan kepada wali murid, dengan strategi, komite sekolah memberikan surat edaran kepada wali murid yang bertujuan untuk meminta sumbangan pembangunan. Batas maksimal pembayaran sumbangan pembangunan tersebut tiga bulan. Apabila ada siswa yang belum membayar sampai batas maksimal maka diberi kelonggaran sampai akhir semester. Untuk siswa yang orang tuanya tidak mampu oleh sekolah dibebaskan dari penarikan sumbangan. (3) faktor pendukung bagi komite sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran meliputi faktor manusia: masyarakat, guru, pegawai tata usaha dan faktor non manusia: sarana dan prasarana. (4) faktor penghambat bagi komite sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran yaitu wali murid yang kurang perhatian terhadap program komite sekolah dan lingkungan sekolah yang sempit. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh disarankan bagi kepala sekolah untuk lebih aktif dalam meningkatkan tugas sebagai pimpinan sekolah dan meningkatkan perannya dalam memberi motivasi kepada komite sekolah. Bagi guru agar memanfaatkan potensi di luar sekolah untuk mengembangkan komite sekolah. Bagi komite sekolah sebagai bahan informasi untuk mengambil keputusan dan membuat program perencanaan. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan menambah kajian-kajian teori tentang komite sekolah. Bagi Peneliti untuk memperluas wawasan dan pemahaman tentang komite sekolah sekaligus memantapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.

Perancangan komik digital sebagai media alternatif promosi Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang / Yudhanto Pratama

 

ABSTRAK Pratama, Yudhanto. 2009. Perancangan Komik Digital sebagai Media Alternatif Promosi Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang. Skripsi. Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Pujiyanto, M.Sn, (II) Moh. Abdul Rahman, M.Sn. Kata Kunci: perancangan, media promosi, jurusan seni dan desain UM Promosi sebagai bentuk komunikasi pemasaran bertujuan menyebarkan informasi, memengaruhi/membujuk, dan atau mengingatkan sasaran (audience) agar bersedia, menerima, membeli, dan loyal pada suatu perusahaan atau produk. Dalam perancangan ini, promosi akan dilakukan melalui media komik digital. Komik digital adalah komik yang menggunakan sistem digital dalam pembuatan dan penyampaian pesannya. Komik digital sebagai media promosi diyakini lebih menarik minat remaja karena memiliki keunikan dan keistimewaan. Sebab, komik digital merupakan media yang dinamis dan sesuai dengan perkembangan teknologi. Ilustrasi-ilustrasi dalam komik digital secara langsung menggambarkan kenyataan dalam kehidupan kampus Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Dengan demikian, audience mendapat gambaran aktivitas yang dapat mereka lakukan dan fasilitas yang bisa mereka dapatkan saat menempuh kuliah di Jurusan Seni dan Desain UM. Perancangan ini secara khusus bertujuan (1) menghasilkan rancangan komik digital sebagai media promosi Jurusan Seni dan Desain UM dan (2) menghasilkan rancangan media pendukung promosi Jurusan Seni dan Desain UM sebagai pelengkap media promosi utama (komik digital). Model perancangan yang digunakan adalah model prosedural, yaitu mendeskripsikan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. Model perancangan tersebut dipilih agar dapat memecahkan masalah secara sistematis dan faktual. Hasil yang diperoleh dalam perancangan ini adalah (1) produk berupa komik digital sebagai media promosi Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) dan (2) produk pendukung promosi berupa poster, x-banner, serta CD case. Secara teori, perancangan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan dalam mengembangkan media promosi yang mengandalkan unsur kedinamisan dan kekinian. Secara praktis, hasil perancangan ini dapat digunakan sebagai prototipe media promosi Jurusan Seni dan Desain UM berupa komik digital yang dikemas dalam bentuk CD. Komik digital tersebut dengan mudah dapat diperbanyak dan disebarluaskan demi kepentingan mempromosikan Jurusan Seni dan Desain.

Penggunaan model hands-on mathematics dalam membangun pemahaman konsep operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat bagi siswa kelas IV SDN Inpres 3 Kelurahan Birobuli Palu / Muh. Tawil Ali

 

ABSTRAK Tawil, Muh. 2009. Penggunaan Model Hands-on Mathematics dalam Membangun Pemahaman Konsep Operasi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat bagi Siswa Kelas 4 SDN Inpres 3 Kelurahan Birobuli Palu. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika SD, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Muchtar Abd. Karim, M.A., dan (II) Dr. Hj. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A, Kata Kunci: Model Hands-On Mathematics, Membangun Pemahaman Konsep, Operasi Bilangan Bulat Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tahapan model Hands-on Mathematics yang dapat membangun pemahaman konsep penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat di kelas IV SDN Inpres 3 Birobuli Palu. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan langkah-langkah pembelajaran operasi bilangan bulat yang meliputi: (1) menjumlahkan dua bilangan bulat dengan menggunakan alat manipulatif benda kongkret; (2) mengurangkan dua bilangan bulat dengan menggunakan alat manipulatif benda kongkret; (3) melakukan operasi hitung campuran (penjumlahan dan/atau pengurangan) dan melaksanakan peragaan semi kongkret (dikembangkan lewat koneksi dan representasi) dari penjumlahan atau pengurangan dua bilangan bulat; (4) menggambar garis bilangan operasi bilangan bulat (lewat pemahaman simulasi kegiatan) dan menuliskan kalimat matematika dan sebaliknya; dan (5) menyelesaikan soal dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatam yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci mutlak diperlukan. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai perencana, pelaksana tindakan dan sekaligus pengumpul dan pengolah data serta penyusun laporan. Pembelajaran dengan model hands-on mathematics diterapkan pada pembelajaran bilangan bulat di kelas IV SDN Inpres 3 di Kelurahan Birobuli, Kecamatan Palu Selatan di kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui observasi, wawancara, penelaahan dokumen, dan catatan lapangan. Sedangkan data kuantitatif diproleh dari hasil pretes, tes akhir pertemuan dan tes akhir tindakan. Model analisis yang digunakan adalah model alir (flow model) yang dikemukakan oleh Miles M. B. & Huberman yang meliputi kegiatan: (1) mereduksi data, (2) menyajikan data, dan (3) menarik simpulan dan verifikasi. Berdasarkan analisis data dikemukakan hasil sebagai berikut. Pertama, prosedur pembelajaran model hands-on mathematics (HOM) yang dikembangkan dalam penelitian ini berhasil sebagai suatu prosedur pembelajaran yang dapat membangun pemahaman konsep operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat bagi siswa kelas IV SDN Inpres 3 Kelurahan Birobuli Palu. Prosedur pembelajaran yang dimaksud melalui 2 fase yaitu fase pengutakatikan benda konkret dan dilanjutkan dengan fase kedua yaitu penggambaran proses kegiatan simulasi dalam wujud semi konkret atau dengan garis bilangan. Kedua, Pembelajaran model HOM dengan sarana pendukung alat peraga dapat membangun pemahaman operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat yang bermakna bagi siswa kelas IV SDN Inpres 3 Kelurahan Birobuli Palu. Ketiga, dengan pembelajaran model HOM siswa mampu menunjukkan proses yang terjadi dalam menjumlah dengan bilangan bulat negatif atau mengurang dengan bilangan bulat negatif. Proses ini ditunjukkan dengan mengaitkan operasi penjumlahan dan pengurangan dalam bilangan asli dan operasi penjumlahan dan pengurangan dalam bilangan bulat. Keempat, Pembelajaran model HOM membuat siswa kreatif mengembangkan ide dalam pembelajaran. Kelima, hambatan yang dialami dalam menerapkan model HOM adalah keterbatasan waktu dan kesiapan materi prasyarat beberapa orang siswa yang kemampuan pengetahuan fakta dasar penjumlahan bilangan cacahnya sangat kurang. Bagi siswa yang berkemampuan kurang menjadi merasa terbantu dengan alat peraga yang diberikan. Namun bagi guru menjadi hambatan waktu saat melaksanakan koneksi, representasi dan penarikan kesimpulan karena siswa yang kemampuan rendah sangat sulit untuk melepaskan diri dari bantuan alat peraga (belum mampu berfikir abstrak). Berdasarkan temuan penelitian, diajukan saran sebagai berikut. Pertama, Guru dapat menerapkan model pembelajaran HOM sebagai suatu alternatif untuk memahamkan siswa konsep operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Siswa dapat menjumlahkan bilangan bulat positif dengan bilangan bulat lainnya dan mengurangkan bilangan bulat negatif dengan bilangan bulat lainnya. Siswa dapat melihat proses operasi dengan jelas dan mengidentifikasi hasil lewat pengamatan. Kedua, dalam pelaksanaan model HOM, disarankan guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan bermain, mengarahkan siswa melakukan koneksi dengan pengetahuan atau materi yang telah dimiliki dalam pikiran untuk melatih kegiatan mentalnya. Ketiga, guru disarankan dapat mengembangkan kemampuan koneksi dan representasi matematis siswa selama proses pembelajaran untuk memahamkan siswa operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Keempat, disarankan buat guru untuk pembelajaran penjumlahan dengan bilangan bulat negatif dan pengurangan dengan bilangan bulat negatif dilaksanakan dengan model pembelajaran HOM. Siswa diarahkan mengaitkan fakta operasi penjumlahan dan pengurangan dalam bilangan asli dengan pengetahuan operasi penjumlahan dan pengurangan dalam bilangan bulat. Hasil temuan selalu didiskusikan dengan siswa, sebelum menyimpulkan agar materi yang dipelajari lebih bermakna. Kelima, guru diharapkan dapat merancang LKS yang memberi ruang bagi siswa untuk beraktivitas dan menggunakan representasi atau melakukan koneksi dengan tepat yang berkaitan dengan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Keenam, kepada kepala sekolah dan Dinas Pendidikan Kota, disarankan agar hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dalam rangka mengefektifkan pembinaan strategi pembelajaran khususnya pembelajaran membangun pemahaman konsep operasi hitung bilangan bulat, sekaligus dijadikan masukan untuk memotivasi guru menciptakan model-model pembelajaran efektif dan efisien.

Hubungan antara dukungan sosial dan stres pada penderita penyakit kusta di Rumah Sakit Kusta Kediri / Rona Adi Nugraha

 

Nugraha, Rona Adi. Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Stres pada Penderita Penyakit Kusta di Rumah Sakit Kusta Kediri. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) DR. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed. (2) Nur Eva, M.Psi Kata Kunci: Dukungan sosial, stres, penderita kusta Penyakit kusta adalah penyakit menahun yang disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae). Penyakit ini sering dipercaya bahwa penularannya disebabkan oleh kontak antara orang yang terinfeksi dan orang yang sehat. Dengan berbagai kemungkinan resiko mengalami kecacatan dan berbagai resiko penularan yang tinggi pada penyakit kusta maka akan membuat para penderita harus diisolasi untuk mendapat kesembuhan dan mencegah penularan. Berada dalam kondisi pernah menjalani kehidupan normal namun harus mengalami suatu penyakit yang besar kemungkinan menimbulkan kecacatan dan dapat menular pada orang lain adalah suatu keadaan yang sangat berat bagi penderita dan dapat menimbulkan stres. Keberadaan kerabat penderita penyakit kusta dalam memberi dukungan akan mengurangi stres yang dialami penderita penyakit kusta.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat dukungan sosial pada penderita penyakit kusta, (2) stres pada penderita penyakit kusta, (3) hubungan antara tingkat dukungan sosial dan stres pada penderita penyakit kusta. Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu dukungan sosial dan stres. Instrumen yang digunakan adalah Skala Dukungan Sosial dan Skala Stres. Subjek dalam penelitian ini adalah pasien rumah sakit kusta kediri yang berjumlah 35 orang. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik korelasi product moment dari Pearson. Penelitian ini menghasilkan temuan : (1) Tingkat dukungan sosial pada sebagian besar penderita penyakit kusta adalah sedang, (2) Tingkat stres pada sbagian besar penderita kusta adalah sedang, (3) Ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dan stres. Dari hasil penelitian disarankan pada: (1) Penderita kusta dapat menurunkan tingkat stres dengan cara lebih meningkatkan interaksi dengan sesama penderita penyakit kusta, pegawai rumah sakit, dan praktisi medis. (2) Bagi praktisi medis hendaknya lebih memperhatikan aspek dukungan sosial pada penderita penyakit kusta sebagai upaya untuk lebih menurunkan stres yang dialami penderita penyakit kusta dengan memberikan dukungan berupa dorongan semangat dan informasi tentang upaya penyembuhan penyakit kusta. (3) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian sejenis hendaknya dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas baik variabel ataupun populasinya. Dengan demikian dapat dijadikan acuan peneliti dimasa yang akan datang. KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan ridho-Nya sehingga penelitian yang berjudul: Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Tingkat Stres pada Penderita Penyakit Kusta di Rumah Sakit Kusta Kediri dapat diselesaikan. Sholawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW, yang dengan ajarannya mampu menerangi jalan manusia dan sebagai pedoman hidup manusia. Tiada upaya tanpa hasil, demikian pula dalam penulisan skripsi ini. Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan. Penulisan skripsi ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang beserta seluruh jajarannya atas bantuan sistem kepemimpinannya. 2. Dr. Triyono, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi dan selaku penguji utama atas perhatiannya kepada Program Studi Psikologi. 3. Dra. Sri Weni Utami, M.Si, selaku Ketua Program Studi Psikologi yang mencurahkan segenap kemampuan guna pengembangan dan kemajuan Psikologi UM. 4. Dr. Fattah Hanurrawan, M.Si., M.Ed selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, motivasi, masukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 5. Nur Eva., M.Psi, selaku Pembimbing II yang telah memberi arahan dan bimbingan, masukan dengan penuh kesabaran dan ketelitian, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. 6. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang atas ilmu, bimbingan, dan dedikasinya. 7. Dr. Adi Wirachjanto, M.Kes, selaku Kepala UPT Rumah Sakit Kusta Kediri beserta seluruh jajaran, atas ijin yang diberikan, perhatian dan ketulusan hati membantu serta meluangkan waktu dan tenaga untuk kelancaran proses penelitian. 8. Kedua orang tuaku Bapak Robingan dan Ibu Dwi Endang Sunanik dan kakak-kakakku tercinta yang selalu memberikan doa, dorongan untuk maju, kasih sayang dan cinta tulus. 9. Keluarga besar Poharin H181 yang telah memberikan support dan doa serta kasih sayang sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 10. Maman, Gilang, Desi, Luna, Mula, Pandu, Noval, Dodo, Wied, Bayu, Tommy, Faried, Adit, Bram, yang telah mewarnai lika-liku kehidupanku dan ada menemaniku disaat aku susah dan senang. 11. Teman – teman Psikologi Reg dan Psikologi Non Reg 2005, dan teman-teman Psikologi se-UM yang telah memberikan support dan kebersamaan selama menempuh pendidikan S1 Psikologi di Universitas Negeri Malang. 12. Teman-teman KKN Sananrejo dimanapun kalian berada, yang telah memberi inspirasi dan semangat dalam pengerjaan skripsi ini. 13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Meski asa telah tercurah dalam segenap daya usaha dan cucuran keringat, namun penulis menyadari akan keterbatasan kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga amal baik, bantuan, dan bimbingan yang diberikan kepada penulis mendapat imbalan dari Allah SWT. Akhirnya, penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Malang, Agustus 2009 Penulis DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK i KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI v DAFTAR TABEL vi DAFTAR GAMBAR vii DAFTAR LAMPIRAN viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Rumusan Masalah ……………………….…………….... 4 C. Tujuan Penelitian …………………………….………….. 4 D. Hipotesis Penelitian …………………………….……….. 5 E. Manfaat Penelitian ………………………… 5 F. Asumsi Dan Keterbatasan Penelitian ……….…………… 5 G. Ruang Lingkup dan Jabaran Variabel……………………. 6 H. Keterbatasan Penelitian…………………………………... 10 I. Definisi Operasional……….……………………………... 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Dukungan Sosial pada Penderita Penyakit Kusta 12 B. Stres pada Penderita Penyakit Kusta 26 C. Hubungan Dukungan Sosial dan Stres pada Penderita Penyakit Kusta ................................................................... 34 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian …………………………………... 38 B. Subjek Penelitian.......…………………………………… 39 C. Instrumen Penelitian ……………………………………. 39 D. Uji Coba Instrumen……………………………………… 42 E. Pengumpulan Data …..…………………………………. 45 F. Analisis Data …………………………………………… 46 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Hasil Analisis Data……………...……………………… 48 B. Pembahasan……………………………………………… 52 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan………………………………………………. 58 B. Saran……………………………………………………... 58 DAFTAR RUJUKAN…………………………………………………... 59 LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.1 Jabaran Variabel Penelitian 6 3.1 Blue print Skala Dukungan Sosial 40 3.2 Blue print Skala Stres 42 3.3 Blue print Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba 43 3.4 Blue print Skala Stres Setelah Uji Coba 44 3.5 Rincian Hasil Realibilitas Skala Dukungan Sosial dan Stres 45 3.6 Pedoman Klasifikasi Norma Kelompok ........................................... 47 4.1 Hasil Perhitungan Mean dan Standar Deviasi Skala Dukungan Sosial................................................................................................. 48 4.2 Klasifikasi Dukungan Sosial 49 4.3 Hasil Perhitungan Mean dan Standar Deviasi Skala Stres 49 4.4 Klasifikasi Stres 50 4.5 Hasil Uji Normalitas 51 4.6 Hasil Uji Linieritas 51 4.7 Hasil Uji Korelasi 52 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 3.1 Rancangan Penelitian 38 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Instrumen Penelitian Untuk Uji Coba 2. Tabulasi Data Uji Coba 3. Hasil Uji Validitas 4. Hasil Uji Reliabilitas 5. Instrumen Penelitian Untuk Turun Lapangan 6. Tabulasi Data Penelitian 7. Hasil Uji Normalitas dan Hasil Uji Linieritas 8. Hasil Uji Hipotesis 9. Surat Ijin Melaksanakan Penelitian 10. Pernyataan Keaslian Tulisan 11. Riwayat Hidup

Pengaruh status sosial ekonomi orang tua, perspektif siswa dan peluang kerja terhadap minat siswa SMK Negeri 1 Turen Jurusan Akuntansi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi / Rizka Tri Wahyuningtyas

 

ABSTRAK Wahyuningtyas, Rizka Tri. 2009. Pengaruh Status Sosial Ekonomi Orang Tua, 5 Perspektif Siswa, dan Peluang Kerja Terhadap Minat Siswa SMK Negeri 1 Turen Jurusan Akuntansi untuk Melanjutkan Pendidikan ke Perguruan Tinggi. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) DR. Puji Handayati, S.E., Ak., M.M (2) Dra. Hj. Sutatmi, S.E., M.Pd., M.Si., Ak Pada dasarnya minat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal seperti perspektif siswa dan faktor eksternal seperti status sosial ekonomi orang tua dan peluang kerja. Status sosial ekonomi orang tua dapat dilihat dari beberapa hal diantaranya adalah tingkat pendidikan orang tua, jenis pekerjaan orang tua, tingkat pendapatan orang tua, dan jumlah tanggungan orang tua. Perspektif siswa tentang perguruan tinggi merupakan pandangan siswa terkait dengan pengetahuan terhadap perguruan tinggi. Dalam memanfaatkan peluang kerja yang tersedia dibutuhkan persiapan-persiapan antara lain persiapan profesional, persiapan sikap dan kepribadian, persiapan hubungan dengan orang lain, serta persiapan kerjasama. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh status sosial ekonomi orang tua, perspektif siswa, dan peluang kerja baik secara parsial maupun secara simultan terhadap minat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa jurusan akuntansi di SMK Negeri 1 Turen sebanyak 249 siswa. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik proporsional random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang. Teknik pengumpulan data berupa kuesioner yang hasilnya dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa (1) status sosial ekonomi orang tua berpengaruh terhadap minat siswa SMKN 1 Turen untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Semakin tinggi status sosial ekonomi orang tua, maka semakin besar minat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, (2) perspektif siswa berpengaruh terhadap minat siswa SMKN 1 Turen untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Semakin tinggi tingkat pengetahuan siswa terhadap perguruan tinggi, maka semakin besar pula minat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, (3) peluang kerja berpengaruh terhadap minat siswa SMKN 1 Turen untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Semakin diperlukannya persiapan-persiapan sebelum memanfaatkan peluang kerja, maka semakin besar pula minat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. (4) status sosial ekonomi orang tua, perspektif siswa, dan peluang kerja secara simultan berpengaruh terhadap minat siswa SMKN 1 Turen untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kata Kunci: Minat siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, status sosial ekonomi orang tua, perspektif siswa, peluang kerja

Perbedaan kegiatan belajar antara siswa akselerasi dan siswa reguler di SMA negeri se-kota Malang / Riris Agusetianingsih

 

ABSTRAK Agusetianingih, Riris. 2009. Perbedaan Kegiatan Belajar Antara Siswa Akselerasi dan Siswa Reguler di SMA Negeri Se- Kota Malang. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) H. Sultoni, M.Pd, (II) Dr. Ali Imron, M.Pd. M,Si. Kata Kunci: kegiatan belajar, siswa akselerasi, siswa reguler. Kegiatan belajar merupakan suatu bentuk pembelajaran dalam hidup untuk mengetahui hal-hal baru seperti ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam hidup. Kegiatan belajar dapat dilakukan di manapun, kapanpun dan bagaimanapun kondisinya. Pelaksanaannya dapat dilakukan di sekolah, lingkungan sekitar maupun bersoialisasi dengan masyarakat. Sekolah merupakan tempat yang paling efektif melaksanakan kegiatan belajar. Perbedaan tingkat kecerdasan tersebut juga mempengaruhi kegiatan belajar masing-masing siswa, untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam belajar maka sekolah membentuk kelas akselerasi bagi siswa yang berkemampuan diatas rata-rata dan kelas reguler bagi siswa dengan kemampuan rata-rata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kegiatan belajar siswa akselerasi, (2) kegiatan belajar siswa reguler, (3) perbedaan kegiatan belajar siswa akselerasi dan siswa reguler. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri se- Kota Malang dengan jumlah sampel 153 responden yang meliputi 52 siswa akselerasi dan 101 siswa reguler. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode angket. Teknik analisis yang dilakukan menggunakan analisis Uji-t yang dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan kegiatan belajar antara siswa akselerasi dan siswa reguler yang diolah menggunakan SPSS 12 for windows. Hasil penelitian Hipotesis yang diuji diketahui bahwa nilai kualifikasi kegiatan belajar siswa akelerasi berada pada taraf tinggi (20,48), dan kualifikasi kegiatan belajar siswa reguler berada pada taraf cukup tinggi (112,56), t hitung yang didapatkan adalah 2,977 lebih besar dari t tabel 1,960 pada taraf signifikan 0,05, dengan demikian t hitung =2,977 > t tabel 5%= 1,960 yang berarti H0 yang berbunyi tidak ada perbedaan kegiatan belajar siswa akselerasi dan siswa reguler ditolak dan H1 yang berbunyi ada perbedaan kegiatan belajar antara siswa akselerasi dan reguler diterima, sehingga ada perbedaan yang antara kegiatan belajar siswa akselerasi dan siswa reguler. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, maka dapat disimpulkan kegiatan belajar siswa akselerasi lebih tinggi dibandingkan kegiatan belajar siswa reguler. Adapuan saran yang diperkirakan dapat meningkatkan kualitas kegiatan belajar adalah: (1) Bagi Kepala Sekolah, meningkatkan sarana dan prasarana khususnya bagi siswa akselerasi agar kemampuan,minat dan bakatnya lebih terasah,(2) Bagi siswa Akselerasi meningkatkan daya kreatif dan keterampilannya,(3) Siswa reguler meningkatkan kegiatan belajar,dan dapat mengatur waktu untuk belajar, (4) Bagi peneliti selanjutnya hendaklah meneliti variabel-variabel lain dan memperluas lokasi penelitian serta memperbanyak subjek yang diteliti.

Persepsi dan sikap siswa SMK negeri di Kota Malang terhadap napza / Anik Pitriyawati

 

ABSTRAK Pitriyawati, Anik. Juni. 2009. Persepsi dan Sikap Siswa SMK Negeri di Kota Malang terhadap NAPZA. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dany M. Handarini, M.A (2) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd Kata Kunci : Persepsi, Sikap, NAPZA Masalah penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, Zat Adiktif) semakin mengkhawatirkan, baik di lingkup nasional maupun internasional. Di Indonesia penyalahgunaan NAPZA jelas dilarang dalam undang-undang dan hanya dilakukan jika ada indikasi medis. Kenyataanya justru terjadi peningkatan penyalahgunaan NAPZA. Peredaranyapun tidak terbatas pada kota-kota besar saja tetapi telah merambah ke kota-kota kecil dan daerah sekitarnya. Bahkan di kota Malang sendiri telah banyak terjadi kasus penyalahgunaan NAPZA baik itu kasus pemakaian NAPZA sampai kasus memproduksi NAPZA. NAPZA mengincar semua usia, agama, profesi, pendidikan, status ekonomi, dan budaya, tidak hanya terbatas pada individu yang berkehidupan malam namun telah merambah dan berkembang pada individu yang masih berstatus pelajar mulai dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi. Pencegahan penyalahgunaan NAPZA di kalangan remaja salah satunya dapat dilakukan melalui program bimbingan dan konseling di sekolah yaitu dengan mengidentifikasi persepsi dan sikap siswa terhadap NAPZA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa terhadap NAPZA, sikap siswa terhadap NAPZA, dan mengetahui hubungan antara persepsi dengan sikap siswa terhadap NAPZA. Rancangan penelitian yang digunakan adalah diskriptif dan korelasional. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri Kota Malang pada bulan Maret 2009. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri di Kota Malang dengan sampel penelitian sebanyak 341 siswa melalui teknik porpusive sampling. Instrumen yang digunakan adalah instrumen non tes berupa angket persepsi dan angket sikap. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak (61%) siswa yang memiliki persepsi tepat terhadap NAPZA. Banyak siswa (73%) siswa yang memiliki sikap sangat positif terhadap NAPZA. Hasil analisis product moment menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara persepsi dengan sikap terhadap NAPZA dengan r = 0,542. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi tepat siswa terhadap NAPZA diikuti dengan sikap sangat positif terhadap NAPZA. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa siswa memiliki persepsi tepat terhadap NAPZA dan sikap sangat positif terhadap NAPZA serta adanya hubungan antara persepsi dengan sikap siswa terhadap NAPZA. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada 1) Kepala Sekolah, sebagai masukan untuk tetap melakukan pengawasan dalam usaha pencegahan penyalahgunaan NAPZA di lingkungan sekolah 2) Konselor hendaknya terus memberikan dan meningkatkan layanan informasi tentang bahaya penyalahgunaan NAPZA 3) Peneliti selanjutnya hendaknya mengembangkan penelitian tentang sikap dan persepsi terhadap para pecandu yang telah sembuh dari ketergantungan NAPZA.

Pengaruh economic value added, residual income, earnings dan arus kas operasi terhadap return saham (studi kasus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2005-2007) / Fa'iq Ahmadin

 

ABSTRACT Ahmadin, Faiq. 2009. The Influence of Economic Value Added, Residual Income, Earnings and Operating Cashflows toward Stock Return”. (a Case Study on Manufacturing Companies listed at BEI within periods of 2005-2007). Thesis, Management Department, Course of S-1 (Bachelor Degree) Management, Concentration Majoring in Financial Management, Economic Faculty, State University of Malang. Advisors: 1) Subagyo SE, SH, M.M, 2) Ely Siswanto S.Sos, M.M Keywords : Economic Value Added, residual income, earning, operating cashflows, return. In essence, companies performance has quite significant and substantial role for economic decision making to some parties, e.g. to Creditors and future prospective Creditors, Shareholders, Stakeholders and to the Management itself. Prior to do investment, by conducting certain valuation and assessment toward companies, investors will have valuable references and guides later for their investment decision making. The analysis of EVA, residual income, earnings, and operating cashflows will represent and reflect how significant the companies’ performance in providing economic value to the company. These analyses will help investors to generate and calculate the expected return they are about to earn from their investment in the future. The purpose of conducting this research is to analyze The Influence of Economic Value Added, Residual Income, Earnings and Operating Cashflows toward Stock Return in partially, of manufacturing companies listed at BEI within period of 2005 – 2007. The data analysis used is regression analysis supported by SPSS 16.00 for windows, with significance level 5%. The research population is manufacturing companies listed at BEI within periods of 2005 – 2007, which are about 153 companies. The sampling method used is ‘purposive sampling’. It is one of sampling methods by choosing subjects based on certain defined purposes. By applying this sampling method, the population of 153 companies listed at BEI within period of 2005 – 2007, is narrowed down to 12 companies. These 12 companies further defined as the research sample. In conclusion, the results of this research are: (1) In general, The Economic Value Added (EVA), Residual Income, Earnings and Operating Cashflows of Manufacturing Companies listed at BEI within periods of 2005 – 2007 are decreasing. Yet, in 2007 those variables are increasing; (2) There is no partially significant influence of Economic Value Added (EVA) variable to Stock Return of Manufacturing Companies listed at BEI within periods of 2005 – 2007; (3) There is no partially significant influence of Residual Income variable to Stock Return of Manufacturing Companies listed at BEI within periods of 2005 – 2007; (4) There is partially significant influence of Earnings variable to Stock Return of Manufacturing Companies listed at BEI within periods of 2005 – 2007; (5) There is no partially significant influence of Operating Cashflows variable to Stock Return of Manufacturing Companies listed at BEI within periods of 2005 – 2007; (6) Among other variables, the Earnings is the only variable which has significant influence toward Stock Return of Manufacturing Companies listed at BEI within periods of 2005 – 2007. Some recommendations for further study could be generated as follows: (1) Companies should concern any factors influencing their earnings, in order to manage and obtain their expected Earning Per Share (EPS); (2) Investors, prior to do their investments should consider carefully and review thoroughly the Earnings factor as well other important factors of the companies where they will put the funds.

Perancangan film pendek "Berlari Mengejar Prestasi" / Andi Galih Zulkarnain

 

ABSTRAK Zulkarnain, Andi, Galih. 2009. Perancangan Film Pendek "Berlari Mengejar Prestasi". Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (1) Pranti Sayekti S.Sn., M.Si, (II) Moh. Abdul Rahman, S.Sn., M.Sn. Kata kunci : Perancangan, Film Pendek, SMAI Pujon. SMAI Pujon adalah salah satu sekolah menengah atas swasta yang ada di daerah pegunungan tepatnya di desa Ngroto kecamatan Pujon. Sekolahan ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan pendidikan jenjang menengah atas di daerah yang cukup jauh dari kota. Dengan adanya sekolahan ini diharapkan masyarakat sekitar akan terbantu dalam memperoleh kemudahan dalam mencari ilmu, karena jarak sekolahan dan rumah dekat dan tentunya SMAI adalah sekolah yang mampu bersaing dengan sekolah lainya diwilayah kabupaten malang, sehingga diperlukan untuk mempromosikan sekolahan ini dengan media promosi yang tepat agar sekolah SMAI dapat menjadi pilihan utama bagi calon murid baru. Tujuan perancangan film pendek ini untuk menghasilkan sebuah media yang memberikan informasi dan mempromosikan kepada penonton tentang SMAI Pujon yang ingin menjadi sekolah yang dapat dikenal diseluruh wilayah kabupaten Malang sebagai sekolah yang maju dan berkompetensi. Dalam prosedur perancangan dipaparkan langkah-langkah procedural yang ditempuh dengan menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk yang berupa rancangan media, langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi (1) perumusan masalah, (2) pengumpulan dan analisis data, (3) penetapan konsep perancangan dan (4) program perancangan. Hasil dari perancangan ini berupa film pendek dalam format video compact disc (VCD) dengan durasi 50 menit, dan dilengkapi oleh beberapa media pendukung yang berupa website, iklan radio, poster film, stop map, leaflet, stiker dan kaos merchandise. Media promosi dalam film pendek ini, disarankan untuk dikembangkan lebih luas lagi agar lebih bermanfaat lagi.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 |