Pembelajaran bangun ruang secara konstruktivitis dengan menggunakan alat peraga di kelas V SD Negeri 10 watampone / oleh Latri

 

Antusiasme anak jalanan pada pembinaan lembaga pemberdayaan anak jalanan Griya Baca di alun-alun Kota Malang (fenomena antusiasme anak jalanan) / Nur Ida

 

ABSTRAK Nur Ida. 2009. Antusiasme Anak Jalanan pada Pembinaan Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca di Alun-alun Kota Malang (Fenomena Antusiasme Anak Jalanan). Tesis, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. H. M. Saleh Marzuki, M.Ed., (II) Dr. Supriyono, M.Pd. Kata Kunci: Anak Jalanan, Pendidikan Non Formal. Pembinaan melalui program pendidikan non formal bagi anak jalanan diselenggarakan oleh Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca di Alun-alun Kota Malang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sebuah fenomena yang menggambarkan tentang antusiasme anak jalanan dalam mengikuti program pendidikan non formal dan keterampilan yang ada di lokasi penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) memperoleh gambaran mengenai kegiatan pembinaan melalui Griya Baca yang ada di lokasi penelitian, 2) mengetahui alasan-alasan yang melatar belakangi antusiasme anak jalanan terhadap pembinaan Griya Baca, dan 3) mengetahui prosedur pengelolaan kelompok belajar pada Griya Baca. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dengan desain fenomena. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu; 1) wawancara mendalam, 2) observasi, dan 3) studi dokumentasi. sumber data pendukung adalah pimpinan, ibu asuh dan pengajar pendidikan dan keterampilan. Analisis data dilakukan melakukan tiga alur kegiatan analisis yang memungkinkan data menjadi bermakna yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa 1) kegiatan pembinaan anak jalanan adalah pembinaan rutin (bimbingan belajar), gebyar musik anak jalanan, dunia kreasi anak jalanan dan outbond anak jalanan. 2) alasan anak jalanan mengikuti kegiatan adalah: a) adanya rasa kasih sayang, yang penuh perhatian dengan kelembutan para pengajar dan pembina terhadap anak jalanan (WB) b) lingkungan yang lebih nyaman, c) kondisi belajarnya rilex, terkesan tidak dipaksakan, 3) prosedur pengelolaan yang meliputi ketenagaan organisasi dengan beberapa komponen yaitu; pencatatan, penjadwalan, pembiayaan dan evaluasi program. Berdasarkan temuan penelitian, disampaikan beberapa saran sebagai berikut: 1) jenis kegiatan yang diterapkan oleh Lembaga Pemberdayaan Anak Jalanan Griya Baca perlu dikembangkan keterampilan yang lebih beragam, sehingga bekal dikehidupan kelak lebih banyak, agar anak jalanan lebih kreatif dan kritis, dan melakukan pemantauan pembelajaran agar pelajaran yang diberikan tidak berulang dan dapat berkembang 2) antusiasme dan keikutsertaan anak jalanan dalam mengikuti pembinaan pada Griya Baca, para pengajar atau pembina agar tidak berlebihan memberikan kasih sayang yang tidak terkesan manja, sehingga mereka lebih dewasa dan cepat mandiri, serta dikembangkan suasana belajar yang dapat meningkatkan rasa nyaman, lebih kondusif, misalnya sarana belajar menggunakan meja belajar, papan tulis (white board), dan masing-masing kelompok belajar tempatnya agak terpisah sehingga warga belajar tidak saling terganggu, 3) prosedur pengelolaan dari pengorganisasian perlu adanya penyiapan regenerasi pengurus utuk lebih fokus pada pembinaan serta pengelolaan anak jalanan Griya Baca sehingga, pengurus yang berstatus mahasiswa semester akhir tidak terganggu kuliah mereka, segi pencatatan atau administrasi harus lebih rapih punya buku induk alumni untuk mengetahui kondisi warga belajar (anak jalanan) yang masih aktif dan tidak aktif, dan pembiayaan harus mempunyai sponsor, serta daftar donator agar dapat membantu segala keperluan serta kebutuhan-kebutuhan pada Griya Baca.

Pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah, sumber belajar, dan minat baca terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar / Nurma Hayati

 

ABSTRAK Hayati, Nurma. 2009. Pengaruh Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah, Sumber Belajar, dan Minat Baca Terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Diklat Siklus Akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Sriyani Mentari, S.Pd., M.M. Kata Kunci : Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah, Sumber Belajar, Minat Baca, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Belajar mengajar sebagai suatu proses yang tidak lepas dari komponen lainnya yang saling interaksi di dalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah fasilitas belajar. Fasilitas Belajar yang disediakan di sekolah antara lain perpustakaan dan penggunaan fasilitas internet. Perpustakaan sebagai salah satu fasilitas yang diberikan sekolah untuk para siswa telah menjadi bagian yang sangat penting untuk menumbuhkan minat baca pada diri siswa. minat membaca merupakan suatu keinginan dan kesiapan siswa atau seseorang untuk membaca buku di manapun berada guna memenuhi keingin tahuannya terhadap ilmu pengetahuan. Internet juga merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki sekolah, melalui internet siswa dapat memperoleh berbagai macam informasi yang sesuai dengan kebutuhan terutama kebutuhan akan pelajaran. Penggunaan fasilitas dan minat baca tersebut akan memberikan satu dampak bagi tumbuhnya motivasi siswa untuk lebih giat belajar dan menjadikan siswa untuk lebih berprestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh langsung secara parsial pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap motivasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar, (2) pengaruh langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar, (3) pengaruh langsung secara parsial pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar, dan (4) pengaruh tidak langsung secara parsial pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa pada mata diklat siklus akuntansi di SMK Negeri 2 Blitar. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanasi (explanatory research) yaitu penelitian yang dilakukan untuk menguji hubungan antar variabel yang dihipotesiskan, yaitu antara variabel bebas dan variabel terikat. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap motivasi belajar siswa SMKN 2 Blitar yang dilakukan telah diperoleh hasil untuk masing-masing variabel yang pertama untuk pemanfaatan perpustakaan sekolah didaptkan thitung sebesar 2,331, pemanfaatan sumber belajar berupa internet didperoleh nilai thitung sebesar 2,165, dan untuk minat baca diperoleh nilai thitung sebesar 3,935 ;(2) pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa di SMKN 2 Blitar diperoleh hasil Fhitung sebesar 70,217 ;(3) pengaruh pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar siswa di SMKN 2 Blitar juga dilakukan secara parsial dengan hasil untuk variabel pemanfaatan perpustakaan mendapatkan nilai thitung sebesar 0,450, untuk variabel pemanfaatan sumber belajar berupa internet diperoleh nilai thitung sebesar 1,933, minat baca diperoleh nilai thitung sebesar 1,849; dan yang terakhir (4) pengaruh tidak langsung pemanfaatan perpustakaan sekolah, internet, dan minat baca terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa di SMKN 2 Blitar memperoleh hasil sebesar untuk variabel pemanfaatan perpustakaan sekolah (X1) sebesar 0,206 ; pemanfaatan sumber belajar berupa internet (X2) sebesar 0,201 ; minat baca (X3) sebesar 0,333. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah: Bagi pihak sekolah antara lain (1) kepala sekolah dan guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk selalu mempergunakan fasilitas sekolah dan memberikan kenyamanan pada fasilitas-fasilitas sekolah sehingga siswa merasa betah menggunakannya, (2) bagi siswa hendaknya untuk lebih meningkatkan pemanfaatan fasilitas sekolah yang ada, karena dengan memanfaatkan fasilitas yang ada akan memberikan dampak motivasi yang besar untuk belajar sehingga prestasi belajar akan menjadi meningkat, dan (3) bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan menggunakan populasi dan sampel yang lebih luas agar ruang lingkup hasil penelitian lebih menyeluruh.

Meningkatkan ketrampilan menyusun pertanyaan dan prestasi belajar biologi melalui strategi pembelajaran kooperatif tipe problem posing siswa kelas VIII D SMPN 2 Malang / Akhmad Fadil

 

Melalui kegiatan observasi yang dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2009, diketahui pembelajaran di SMPN 2 Malang menggunakan metode ceramah yang diselingi tanya jawab, diskusi dan pemberian tugas tanpa adanya kontrol akan tugas tersebut sehingga pembelajaran cenderung berpusat pada guru. Pembelajaran yang demikian menyebabkan siswa kurang termotivasi dalam belajar, indikator motivasi yang rendah yaitu: (1) Attention ditunjukkan dengan kurangnya persiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, (2) Relevance ditunjukkan dengan kondisi siswa yang tidak memperhatikan ketika guru sedang menerangkan pelajaran, (3) Confidence ditunjukkan dengan beberapa siswa yang merasa malu untuk bertanya dan hanya sebagian siswa saja yang aktif ketika kegiatan diskusi berlangsung, serta (4) Saitisfaction ditunjukkan dengan sikap guru yang kurang memberikan penguatan pada siswa yang mau menjawab pertanyaan sehingga siswa kurang termotivasi untuk aktif ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.. Kurang termotivasinya siswa dalam belajar berdampak pula pada hasil belajar siswa, hal ini ditunjukkan dengan cukup kurangnya rerata kelas yaitu sebesar 69,58 dari SKM yang berlaku (≥ 70). Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut dilaksanakan pengembangan pembelajaran dengan pendekatan Problem posing. Pembelajaran dengan pendekatan Problem posing merupakan suatu bentuk pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan merumuskan masalah untuk memudahkan pemehaman siswa sehingga dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah, sehingga dengan adanya pembelajaran yang demikian pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran dengan pendekatan Problem posing dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa SMPN 2 Malang serta untuk mengetahui persepsi siswa akan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Problem posing. Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMPN 2 Malang pada bulan April-Mei 2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A MTs Surya Buana Malang yang berjumlah 24 orang. Data penelitian ini berupa motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa diketahui dari hasil angket dan lembar observasi, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor evaluasi yang dilaksanakan di setiap siklus menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai skor ≥70 dan daya serap klasikal 85% siswa yang mencapai skor ≥70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan persentase masing-masing indikator yaitu indikator Attention sebesar 17,5%, Relevance 16,67%, Confidence 19,79%, dan Satisfaction 12,5%. Skor motivasi rata-rata angket sebelum tindakan 2,90 meningkat menjadi 3,23 setelah pelaksanaan tindakan. Rerata kelas dari hasil evaluasi di setiap siklus juga mengalami peningkatan, pada siklus I sebesar 77,07 dan hasil belajar pada siklus II sebesar 84,75 dengan peningkatan sebesar 7,68. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 91,67% dan pada siklus II meningkat menjadi 96,33%. Jadi, ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 4,66%, serta melalui hasil angket dan observasi menunjukkan persepsi siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan Problem posing cukup baik serta lebih disukai siswa karena siswa merasa lebih percaya diri dalam berpendapat akan materi terkait. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran dengan pendekatan Problem posing lebih disukai siswa sehingga diharapkan guru dapat menerapkan pendekatan Problem posing sebagai variasi dalam pembelajaran Biologi. Keterbatasan penelitian yang hanya menerapkan pendekatan Problem posing pada materi Fotosintesis dan Gerak pada Tumbuhan dengan waktu penelitian yang cukup singkat, maka diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan pada materi yang lain dengan memanfaatkan alam sebagai laboratorium pada waktu penelitian yang cukup lama secara kolaborasi antara guru dengan peneliti untuk peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Sistem informasi penggunaan laboratorium digital di gedung G4 berdasarkan jadwal kuliah berbasis PC / Sugiantono

 

ABSTRAK Sugiantono. 2009 Sistem Informasi Penggunaan Laboratorium Digital di Gedung G4 Berdasarkan Jadwal Kuliah Berbasis PC. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom. (2) Siti Sendari, S.T., M.T. Kata Kunci: Sistem Informasi, laboratorium digital, jadwal kuliah, pc Informasi tentang penggunaan ruangan yang ada di gedung G4 pada saat ini dirasakan kurang menarik. Mengacu pada hal ini maka dibuatlah sebuah sistem informasi yang mampu memberitahukan tentang jadwal penggunaan suatu ruangan atau laboratorium yang ada di gedung G4 salah satunya yaitu laboratorium digital. Sistem informasi ini nantinya akan dikendalikan oleh pc pada saat menampilkan jadwal penggunaan ruangan atau laboratorium yang ada di gedung G4 setiap jamnya. Jadwal penggunaan ini nantinya akan ditampilkan pada dot matrix.

Studi tentang pelaksanaan penjurusan IPA pada beberapa SMA di Jawa Timur / Blasius Boli Lasan

 

ABSTRAK Blasius Boli Lasan, 2009. Judul: STUDI TENTANG PELAKSANAAN PENJURUSAN IPA PADA BEBERAPA SMA DI JAWA TIMUR Promotor: Prof. Dr. T. Raka Joni, M.Sc, Prof. Dr. I wayan Ardhana, M.A, Dr. Dany M. Handarini, M.A. Kata-kata kunci: Penjurusan, jurusan IPA, kriteria penjurusan, model penjurusan, prestasi belajar, pribadi cerdas, efikasi diri. Sepanjang perkembangan Pendidikan formal di Indonesia teramati bahwa penjurusan di SMA telah dilaksanakan sejak awal kemerdekaan yaitu tahun 1945 sampai sekarang, yang dipilah menjadi Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Bahasa. Pergantian kurikulum dari tahun ke tahun, mulai dari kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, 1994, sampai dengan yang terakhir yaitu kurikulum 2004, tetap memberlakukan penjurusan sebagai bagian integral untuk mencapai tujuan pendidikan yakni mewujudkan potensi anak sesuai dengan kemampuannya pada masing-masing gugus ilmu pengetahuan. Kebijakan Departemen Pendidikan Nasional (d/h Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) menetapkan Penjurusan di SMA seperti yang telah disebutkan di atas, yang memang acap kali menimbulkan masalah karena penjurusan di SMA itu berkaitan dengan hajat publik yang penting dan kompleks. Hajat publik itu penting karena penjurusan berarti pengerahan haluan hidup seseorang seperti jenis pekerjaan, nilai yang dianut serta kepribadian yang mengembannya. Hajat publik itu kompleks karena ikhwal penjurusan itu menyangkut kecerdasan serta kemampuan manusia untuk belajar, selain juga menyangkut persaingan kelas sosial karena penjurusan dipandang sebagai peletakan posisi siswa dan keluarganya dalam masyarakat, bahkan juga menyangkut pengendalian emosi dalam arti apakah orang tua dan siswa dapat menerima jika siswa tidak masuk jurusan yang diinginkannya. Salah satu jurusan yang sangat diinginkan siswa dan orangtua adalah jurusan IPA. Di satu pihak, jurusan ini memungkinkan siswa memiliki pilihan jurusan yang lebih banyak di perguruan tinggi daripada jurusan lain, disamping banyak pekerjaan yang hanya menerima siswa dari jurusan IPA, sehingga tanpa disadari juga diikuti oleh prestise sosial dalam arti bahwa siswa dan keluarganya digolongkan sebagai orang pintar. Namun di pihak lain, materi pelajaran IPA tidak mudah bagi banyak siswa sehingga sering menimbulkan masalah antara keinginan dan kemampuan, antara prestasi dan pencapaian kriteria penjurusan atau kelulusan, di samping muncul kecenderungan pemaksaan kemampuan dengan mewajibkan siswa untuk mengikuti pelajaran tambahan, serta akibat-akibat psikologis lain yang menyertainya. Oleh karena itu, kajian kebijakan ini ditujukan untuk mengetahui: keragaman penetapan kriteria penjurusan, prosedur pelaksanaan penjurusan, alasan-alasan penetapan kriteria penjurusan, evalusai pelaku-pelaku penjurusan, faktor-faktor dalam pemilihan jurusan IPA, serta konsistensi penerapan kriteria penjurusan. Kajian kebijakan ini juga ditujukan untuk membangun suatu model teoritik kriteria penjurusan IPA berdasarkan pelaksanaanya pada beberapa SMA di Jawa Timur, suatu model yang dibangun atas konstruk pretasi belajar, pribadi cerdas, dan self efficacy. Sebagai sampel ditetapkan 10 SMA di Jawa Timur, yang dikelompokkan berdasarkan ciri tertentu (cluster-based sampling), sehingga mewakili sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah berciri Islam, berciri Kristen/Katolik, nasionalis, sekolah yang berada di kota besar dan desa. Kesepuluh SMA yang dimaksud yaitu: SMA Negeri 5 Surabaya, SMA Negeri 1 Malang, SMA Negeri 1 Blitar, SMAK St. Yusuf Malang, SMA Negeri 6 Malang, SMA Kodya Blitar, SMA Widya Gama Malang, SMA Taman Madya Malang, SMA Al-Yasini Pasuruan, SMA Darut Taqwa Pasuruan. Subyek teliti meliputi 10 orang wakil kepala sekolah, 40 orang guru, 26 orang konselor, 610 siswa, dan 422 orangtua. Sedangkan subyek kajian kebijakan untuk memverifikasi Model Penjurusan IPA ini hanya meliputi SMAN 1 Malang, SMAN 1 Blitar, SMAK St. Yusuf Malang, yang melibatkan 214 siswa. Data dikumpulkan melalui angket dengan teknik skala penilaian dan isian terbuka, serta metode dokumenter. Data yang dikiumpulkan itu, di analisis secara deskriptif yang dilanjutkan dengan uji beda. Data eksplanatif dianalisis dengan Pemodelan Persamaan Struktural, untuk memperbandingkan model teoritik yang dibangun berdasarkan praktek penjurusan pada tiap SMA sampel. Hasil penelitian deskriptif mengungkapkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, para pelaku penjurusan telah melaksanakan prosedur penjurusan dengan baik yakni dengan pengenalan tujuan dan kriteria penjurusan, menetapkan kriteria sekolah dengan mempertimbangkan beberapa faktor antara lain input siswa, membuat peringkat nilai, dan penyelenggaraan rapat untuk menetapkan keputusan penjurusan. Kedua para pelaku penjurusan tidak setuju dengan kriteria penjurusan yang > 75 karena kualitas input siswa yang sedang-sedang saja, sehingga hanya sekitar 30% yang betul-betul mencapai kriteria penjurusan secara murni, karena siswa mengalami kesulitan memahami materi IPA. Ketiga, adanya faktor-faktor yang mendorong siswa memilih jurusan IPA sejak masuk IPA sejak masuk SMA, kualifikasi guru yang memenuhi syarat, Sekolah memenuhi persyaratan kerja dan adanya dukungan kecerdasan, bakat, dan prestasi, akan tetapi keempat, penjurusan dinilai kurang berhasil karena pencapaian tujuan penjurusan yang tidak maksimal, karena nilai diperoleh dari hasil penilaian harian di sekolah, serta penguasaan ilmu dan teknologi yang masih kurang. Secara umum hasil penelitian eksplanatif menunjukkan, bahwa model teoritik penjurusan yang dibangun berdasarkan praksis penjurusan pada 10 SMA yang diteliti, ternyata cocok dengan praktek Penjurusan IPA di tiap SMA. Secara khusus, konstruk-konstruk pembangun model teoritik berpengaruh secara signifikan terhadap pelaksanaan penjurusan yang baik; yakni 1. Prestasi belajar berpengaruh signifikan terhadap self efficacy, 2. Prestasi belajar berpengaruh signifikan terhadap penjurusan, 3. Pribadi cerdas berpengaruh signifikan self efficacy, 4. Pribadi cerdas berpegaruh signifikan terhadap self efficacy, 5. Self efficacy berpengaruh terhadap penjurusan, dan 6. Secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan dari prestasi belajar, Pribadi Cerdas dan Self Efficacy terhadap penjurusan. Juga terdapat dua pengaruh tidak langsung dalam kajian kebijakan ini yakni: 1) Prestasi Belajar berpengaruh tidak langsung terhadap penjurusan melalui self efficacy, 2) Pribadi Cerdas berpengaruh tidak langsung terhadap Penjurusan melalui Self Efficacy. Selanjutnya berdasarkan temuan-temuan kajian kebijakan ini, maka dikemukakan beberapa saran kepada beberapa pihak. Departemen Pendidikan Nasional perlu meninjau kembali standar penjurusan IPA dan mencari jalan keluar terhadap besarnya minat siswa terhadap jurusan itu. Oleh karena itu, sebaliknya penjurusan IPA dibagi menjadi dua yakni IPA A dan IPA B. IPA A berlaku bagi siswa yang dapat mencapai kriteria >75 secara murni, dan IPA B bagi siswa yang berminat tetapi prestasinya tergolong cukup atau sedang yakni < 75. Ruang lingkup dan tingkat kesulitan materi IPA dalam kurikulum hendaknya disesuaikan dengan jenis IPA-nya. Siswa IPA A diarahkan ke jurusan-jurusan ilmu murni dan ilmu/teknologi terapan, akan tetapi siswa yang mengikuti IPA B diarahkan kepada Politeknik, teknologi terapan atau sejenisnya. Selanjutnya masyarakat sekolah hendaknya menentukan pendirian terhadap input yang sulit mencapai prestasi maksimal walaupun kualitas proses pembelajaranya cukup baik. Jika demikian, pembukaan kelas IPA hendaknya terbatas atau hanya IPA B saja atau tanpa kelas IPA. Selanjutnya, evaluasi kemampuan IPA hendaknya lebih didasarkan pada penilaian proses yakni kemampuan mengikuti pelajaran dan nilai-nilai harian daripada nilai Rapor semester yang biasanya merupakan hasil ujian ulangan yang diselenggarakan semata-mata agar siswa memenuhi kriteria kelulusan. Konselor hendaknya mengkaji motif-motif siswa dan orang tua dalam memlih jurusan IPA, untuk lebih meyakinkan seberapa murni cocok dengan pribadi, rasa percaya diri dan prestasi belajar siswa. Rupanya para konselor yang belum pernah menjadi guru itu belum mampu memperhatikan faktor-faktor tersebut karena pendidikan prajabatannya (pre-service training) belum mempersiapkan kompetensi tersebut. Kepada peneliti berikutnya diharapkan secara lebih intensif dan menyeluruh menghimpun sebanyak mungkin model empirik yang pada gilirannya dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan model teoritik, sehingga dapat digunakan sebagai Landasan Kebijakan Penjurusan IPA, IPS, dan Ilmu Bahasa serta sebagai acuan bagi penjurusan SMA-SMA di Indonesia.

Penerapan pembelajaran kontekstual menggunakan metode inkuiri terbimbing untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran IPS bidang sejarah kelas VIIA SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek / Widi Ayu Hapsari

 

ABSTRAK Hapsari, Widi Ayu. 2009. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Menggunakan Metode Inkuiri Terbimbing”Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Pada Mata Pelajaran IPS Bidang Sejarah Kelas VII A SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mashuri, M Hum. (II) Drs. Dewa Agung Gede Agung, M. Hum. Kata kunci: pembelajaran kontekstual, metode inkuiri terbimbing, kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru sejarah selama ini pembelajaran sejarah di SMPN 1 Tugu Trenggalek menggunakan metode konvensional. Begitu pula pembelajaran yang terjadi hanya memiliki target menghabiskan materi pelajaran dan kurang memperhatikan kualitas pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Selain itu kegiatannya lebih banyak berorientasi pada buku pegangan yang dimiliki guru atau sekolah. SMP Negeri I Tugu ini merupakan SMP yang terletak di daerah pinggiran tetapi siswanya memiliki potensi yang bagus dilihat dari nilai masuk SMP yang cukup tinggi. Selain itu juga tercermin dari beberapa kali siswa SMP Negeri I Tugu ini pernah menjuari lomba-lomba baik di tingkat kabupaten maupun propinsi. Tetapi dalam pelajaran IPS khususnya bidang sejarah belum ada. Karena siswa menganggap bahwa bidang sejarah tidak menentukan masa depan. Siswa cenderung belajar sejarah hanya untuk mendapatkan nilai dalam rapor, dengan mengabaikan nilai-nilai esensial yang dapat mereka petik dalam belajar sejarah. Sehingga siswa kurang bisa mengeksplor kemampuan yang mereka miliki karena pengetahuan mereka terbatas pada buku paket. Selain itu banyak siswa yang hanya menghafal materi sehingga mereka mudah lupa ketika materi itu sudah tidak dipelajari lagi. Siswa kurang mampu untuk mengemukakan pendapat secara sistematis bahkan banyak pertanyaan itu yang tidak terarah dan terkesan asal- asalan. Kelas VII A merupakan kelas yang paling rame dan aktif dalam bertanya tetapi pertanyaan itu masih belum terarah. Dan ketika mereka menjawab soal yang membutuhkan penalaran atau bukti mereka tidak bisa menjawab. Dan mereka juga belum mengetahui bahwa untuk menarik kesimpulan diperlukan bukti yang kuat. Masih banyak siswa-siswa VII A yang belum mencapai nilai 65, jika dipersentase maka siswa yang belajar tuntas sekitar 70% sedangkan yang tidak tuntas sekitar 30%. Salah satu keunggulan dari metode inkuiri terbimbing adalah mengubah persepsi pembelajaran sejarah yang sekedar mengembangkan kemampuan menghafal fakta, dengan siswa dituntut berperan aktif mencari sendiri pemecahan yang diberikan guru dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian siswa akan lebih mudah mengingat materi yang telah diberikan tanpa harus menghafalnya. Dalam proses pembelajaran ini memberikan lebih banyak kesempatan pada siswa untuk berbuat daripada hanya mendengarkan ataupun menerima informasi secara pasif. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penerapan pembelajaran kontekstual menggunakan metode inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII A SMP Negeri I Tugu Trenggalek. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2008. Data yang diamati yaitu kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek. Kemampuan berpikir kritis siswa disesuaikan dengan materi dalam penelitian yaitu meliputi memahami konsep, memberikan argumen, melakukan interpetasi terhadap pertanyaan, mengumpulkan data, analisis data, mengambil keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual menggunakan metode inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Tugu Trenggalek dalam bidang sejarah dengan taraf keberhasilan memahami konsep yaitu 59,72% pada siklus I dan 87,50% pada siklus II, memberikan argumen yaitu 54,17% pada siklus I dan 77,78% pada siklus II, melakukan interpetasi terhadap pernyataan yaitu 59,03% pada siklus I dan 77,78% pada siklus II, mengumpulkan data yaitu 60,42% pada siklus I dan 88,19% pada siklus II, analisis data yaitu 59,03% pada siklus I dan 76,39% pada siklus II, mengambil keputusan yaitu 42,36% pada siklus I dan 65,97% pada siklus II. Selain itu siswa sudah terbiasa untuk merencanakan investigasi (observasi), mengindentifikasi, merumuskan hipotesis berdasarkan pustaka bukan sekedar merumuskan dugaan rasional berdasarkan logika. Selain itu mereka mampu melaporkan pengamatan baik secara tertulis maupun lisan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan hendaknya siswa dihadapkan pada suatu masalah yang membutuhkan penalaran dan berhubungan dengan lingkungan sekitar. Sehingga mereka siap apabila dihadapkan pada suatu masalah yang muncul di luar dugaan mereka dan mereka akan lebih banyak mencari sumber untuk menguatkan jawaban mereka. Reward diberikan pada saat kondisi motivasi siswa untuk belajar sangat rendah.

Improving the tenth-year students' writing ability at MA Mambaus Sholihin Gresik through mind mapping / M. Zaini Miftah

 

ABSTRACT Miftah, M. Zaini. 2009. Improving the Tenth-year Students’ Writing Ability at MA Mambaus Sholihin Gresik through Mind Mapping. Thesis, Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dra. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Dr. Hj. Nur Mukminatien, M.Pd. Key words: mind mapping, writing ability. This study was conducted on the basis of the problems faced by the researcher in English teaching in the classroom. His experience as an English teacher of the tenth-year students at Madrasah Aliyah (MA) Mambaus Sholihin Gresik shows that the students’ ability in writing English is still low. Based on the preliminary study, the fact that the average score obtained from the students’ writing task was 50.5. This result is considered to be insufficient since it did not yet achieve the target of the study at the school. It must be at least 65 for minimum standard of writing success at the school. It is also found that there are some problems to solve. The main problem is that the students did not know how to generate and organize ideas for writing a topic. In response to the causes of the problem, this study is focused on solving the problem related to how the students generate and organize ideas to write for the topic. This study proposes mind mapping with the proper model to improve the tenth-year students’ ability in writing a descriptive text. The research problem is, “How can mind mapping strategy improve the tenth-year students’ writing ability at MA Mambaus Sholihin Gresik?” The design of the study is collaborative classroom action research. Both the researcher and his collaborator work together in cyclic activities – planning, implementing, observing, and reflecting on the data gained from the teaching and learning process – which runs into three cycles, each of which covers four meetings. The subjects of the study are the students of class X-6 of the second semester in the 2008/2009 academic year which consists of thirty-eight male students. The instruments used are the writing tasks, observation checklist, field notes, and questionnaire. The reflection is based on the findings during the observation and compared to the criteria of success including: (1) by using the writing tasks, the students’ writing achievement improves (≥75% students of the class achieve the score greater than or equal to 65 of the range that lies from 0-100), and (2) by using observation checklist, the students are actively involved in the writing activities. The result of the reflection is used to determine the planning for the next cycle. After implementing the model of mind mapping in the writing class, it is found that the procedures of a proper model developed in implementing mind mapping are as follows: (1) tell the students about the objectives of the lesson, (2) show the picture that will be described and ask the students to observe it, (3) write the object (topic or key word) in a circle and elicit the students’ ideas, (4) guide the students to develop each supporting idea, (5) guide the students to make sentences to develop each supporting idea, (6) distribute a model of descriptive text, and ask the students to read and understand it, (7) arrange the students to become groups of four, (8) distribute the other different pictures or (in other ways) assign the students to observe the real object, (9) distribute larger papers (A4), equip the students with vocabulary guides and dictionaries, and then train them, (10) ask the students to generate and organize ideas through mind mapping, (11) guide the students to do drafting, (12) assign the students to write the first drafts based on their mapped ideas, (13) ask the students to place a greater emphasis on content and organization than on mechanics, (14) guide the students to revise the draft, (15) ask the students to revise their own drafts using revising guidelines and to use their mapped ideas to develop the content of their first draft, (16) assign the students to proofread their friends' rough drafts and to share them, (17) ask the students to make substantive changes, (18) guide the students to do editing, (19) ask the students to edit their own drafts using editing guidelines and to use their mapped ideas to check/revise the content, organization, grammar, and mechanics of their second draft, (20) assign the students to proofread again, (21) assign the students to share their final writings, and (22) ask the students to submit their final writings to assess. The research findings indicate that the students are active during the writing activities and the students’ writing ability improves after the implementation of the action. The improvement is shown by the increase of the percentage of the students’ achievement in writing a descriptive text. The percentage of the students achieving the score greater than or equal to 65 in Cycle I is 36.11% (13 students of the class). It increases into 52.78% (19 students of the class) in Cycle II. In Cycle III, the percentage of the students achieving the score greater than or equal to 65 reaches 82.86% (29 students of the class). Based on the research findings, three suggestions are provided. First, the English teachers are recommended to employ the proper model procedure of mind mapping as one of the alternative strategies in their writing class and to develop their way of teaching for the more appropriate in their writing class. Second, the principal as a policy maker is suggested to provide special lesson time for students to practice the continuous English writing. Third, future researchers are recommended to conduct such kinds of research concerned with the implementation of mind mapping in English teaching for the other skills – listening, speaking, and reading – and for the other levels such as elementary school, junior high school, and university by considering the strength of mind mapping as a strategy in English teaching.

Analisis informasi kinerja keuangan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2004-2007 / Murtiningtyas Nuswantari

 

ABSTRACT Nuawantari, Murtiningtyas. 2009. The Analysis of Financial Performance on The Share Return on Manufacture Company Listed in Bursa Efek Jakarta in the Period of 2004-2007.Thesis. Management Departement, Study Program S1 Management, Economy Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Mugianto, S.E., M.Si., (II) Yuli Soesetio, S.E., M.M. Keywords: Financial Performance and Share Return Financial report is a main device for a company to report the accounting information to the out side party of the company. Financial report is arranged to provide information related to financial position, performance, and financial position change that is useful for several parties to make an economic decision. The information about financial position report, financial position change and performance are significantly needed to evaluate the ability of the company in resulting cash (equal cash) and time ad certainty of the result. The population in this study is all of companies in manufacturing company industry group listed in BEI period 2004-2007 for about 144 companies. The sample determination uses layer sample random; thus, it results 30 sample companies. The data used in this study was secondary data. It was the financial report of sample company and annual share price. The analysis technique used in this study was double regression analysis technique. The result of the study showed that variables consisting of Current Ratio, Debt Equity Ratio, Return on Equity, Price Earning per Share, Earning per Share, significantly influence the share return. Meanwhile, the variable of Net Profit Margin, Operational cash Flow, Investment Cash Flow, and Fund Cash Flow did not significantly influence the share return. The most dominant variable that significantly influences the share return was Return on Equity. It is suggested that the next study uses return after the financial report are published. While, investors are supposed to analyze the decision carefully in investing their capital and esteem the risk of the decision. For companies, it is suggested that they do careful analysis in determining the steps that are used to determine the policies in the company.

Penggunaan media gambar dan teknik imajinasi dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi pada siswa kelas X SMAN 2 Batu tahun ajaran 2008/2009 / Wilujeng Arie Andiyaningrum

 

Abstrak Dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi, siswa diharapkan mampu melukiskan atau menggambarkan suatu objek sedemikian rupa, sehingga pembaca seolah-olah melihat , mendengar, dan merasakan sendiri objek tersebut. Menulis karangan deskripsi merupakan salah satu materi pembelajaran menulis kebahasaan yang diajarkan di kelas X. Penggunaan media gambar dan teknik imajinasi dipandang dapat memudahkan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Secara umum, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang, (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, (3) aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi, dan (4) hasil penilaian pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan menggunakan media gambar dan teknik imajinasi.

Pengaruh peran dosen pembimbing lapangan dan peran guru pamong terhadap prestasi praktik pengalaman lapangan (studi kasus pada mahasiswa PPL Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2008) / Anis Khumaidi

 

Kata Kunci: PPL, Dosen Pembimbing lapangan, Guru pamong. Prestasi PPL mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya adalah faktor eksternal. Sebagai faktor eksternal peran Dosen Pembimbing Lapangan dan Guru Pamong sebagai pembimbing, pengawas sekaligus penilai pelaksanaan PPL. Namun kebenaran ini perlu dibuktikan melalui kegiatan penelitian agar diperoleh jawaban yang akurat. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah adakah pengaruh peran Dosen Pembimbing lapangan dan Guru pamong terhadap Prestasi mahasiswa PPL angkatan Tahun 2008 baik secara parsial maupun simultan?. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh peran dosen pembimbing lapangan dan guru pamong terhadap prestasi mahasiswaa PPL mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan ekonomi pembangunan FE UM angkatan tahun 2008, baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan FE UM Angakatan tahun 2008 yang berjumlah 86 mahasiswa, Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang mengambil 86 responden. Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan angket. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan deskriptif persentase dan teknik analisis regresi berganda dengan menggunakan bantuan program SPSS Versi 16.00 Berdasarkan hasil analisis statistik inferensial didapat hasil yaitu terdapat pengaruh signifikan antara peran Dosen pembimbing Lapangan dan Guru Pamong terhadap prestasi PPL baik secara parsial maupun simultan. Dengan sumbangan secara simultan sebesar 57% dengan rincian Pengaruh peran Dosen Pembimbing Lapangan sebesar 11,5% dan peran Guru Pamong berpengaruh sebesar 45,4% sisanya 43% dipengaruhi oleh faktor diluar penelitian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peran Dosen Pembimbing Lapangan dan Guru Pamong merupakan modal berharga bagi pencapaian prestasi PPL. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para Dosen Pembimbing Lapangan dan Guru Pamong untuk lebih meningkatkan kualitas pembimbingan kepada mahasiswa praktikan agar pencapaian prestasi PPL mahasiswa lebih optimal.

Pengaruh media pembelajaran sejarah berbasis perangkat lunak drean weaver terhadap prestasi belajar sejarah siswa di SMK Negeri 5 Malang / Suhardi Bayu Saputro

 

ABSTRAK Saputro, Suhardi Bayu. 2009. “Pengaruh Penerapan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Perangkat Lunak Dream Weaver Terhadap Prestasi Belajar Sejarah Siswa Di SMK Negeri 5 Malang”. (Skripsi), Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Prof. Dr. Haryono, M.Pd., (II)Drs. Mashuri, M. Hum. Kata Kunci : media, perangkat lunak, prestasi belajar, dream weaver Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan penggunaan media yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah dengan menggunakan media perangkat lunak berbasis dreamweaver 8. Dream weaver adalah salah satu program perangkat lunak yang biasa digunakan untuk mendesain web dengan cara yang lebih mudah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara membuat media pembelajaran sejarah berbasis dream weaver8, mengetahui aplikasi media pembelajaran berbasis dream weaver8 dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dan untuk mengetahui prestasi belajar siswa setelah materi disajikan dengan media pembelajaran sejarah berbasis dream weaver8. Materi pelajaran proses kebangkitan nasional diambil sebagai materi uji. Penelitian dilakukan di SMK Negeri 5 Malang. Dalam penelitian ini, populasinya yaitu siswa kelas X. Sedangkan sampelnya terdiri dari 2 kelas yaitu kelas 1 TKJ 1dan 1 TKJ 2. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen dan dianalisis secara kuantitatif, dengan pertimbangan (1) kelas yang dijadikan sampel dianggap mengetahui dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber informasi serta mengetahui permasalahan secara mendalam (2) kelas yang dijadikan sampel sudah menggunakan media pembelajaran berbasis dreamweaver. Teknik pengumpulan data menggunakan pre test dan postes. Pembelajaran sejarah dengan teknik pembelajaran menggunakan media pembelajaran sejarah berbasis dream weaver untuk kelas eksperimen (kelas 1 TKJ 2) dan ceramah untuk kelas control (kelas 1 TKJ 1). Indikator keberhasilan pengajaran ditunjukkan dari selisih nilai pos test dan pre test yang dilakukan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa siswa pada kelas yang memperoleh pengajaran menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi informasi memiliki nilai rerata kelas untuk pre test 6,89 dan pos test 8,15, sehingga selisih nilai antara rerata pos test dan pre testnya adalah 1,26. Sedangkan siswa pada kelas yang memperoleh pengajaran dengan metode ceramah (konvensional) memiliki nilai rerata kelas untuk pre test 6,85 dan pos test 7,54, sehingga selisih nilai antara rerata pos test dan pre testnya adalah 0,69. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa siswa pada kelas yang memperoleh pengajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis dreamweaver, memiliki kenaikan pemahaman yang lebih besar apabila dibandingkan dengan siswa yang materi pembelajaran menggunakan dengan metode konvensional (ceramah). Saran yang dapat disumbangkan berkenaan dengan bidang keilmuan adalah bahwa perlunya penggunaan media dreamweaver ini dalam bidang pendidikan sehingga peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah dapat tercapai dengan maksimal.

Pemberian penguatan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Tempuran II Kecamatan Pasrepan / Wiji Astuti

 

ABSTRAK Astuti,Wiji. 2009. Pemberian Penguatan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV SDN Tempuran II Kecamatan Pasrepan.Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sutarno, M.Pd (II) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum Kata Kunci: penguatan, hasil belajar, matematika Siswa yang memiliki semangat belajar yang tinggi akan memiliki banyak energi untuk melakukan aktivitas belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Jika siswa belajar tidak disertai semangat belajar yang tinggi, maka ia akan belajar di dalam keadaan yang kurang menyenagkan sehingga ada kemungkinan hasil belajarnya menurun. Salah satu karakteristik siswa adalah senang jika dipuji. Pujian merupakan salah satu bentuk penguatan. Siswa membutuhkan penguatan dalam belajar karena penguatan merupakan penghargaan yang dapat menimbulkan semangat belajar. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui jenis pemberian penguatan yang digunakan guru untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat (2) untuk mengetahui pemberian penguatan dalam meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat. Subyek yang menerima tindakan adalah siswa kelas IV SDN Tempuran II Kecamatan Pasrepan tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 18 siswa. Data dikumpulkan melalui tes, observasi, dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif kwalitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada pembelajaran tindakan I guru cenderung menberi penguatan verbal. Skor rata-rata siswa setelah tindakan adalah 76,67. Ketuntasan kelas baru tercapai 55,55% Pembelajaran tindakan II guru memberi penguatan yang seimbang antara jenis verbal dan non verbal. Skor rata-rata siswa setelah tindakan adalah 86,11. Standar ketuntasan kelas dapat tercapai 94,44%. Jadi pemberian penguatan jenis verbal dan non verbal yang digunakan guru dalam pembelajaran terbukti dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV. Pemberian penguatan kepada siswa ternyata dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV SDN Tempuran II, terbukti dari hasil belajar dari pra tindakan ke tindakan I mengalami peningkatan 44,44% dan hasil belajar tindakan I ke tindakan II mengalami peningkatan sebesar 38,89%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: (1) Pemberian penguatan jenis verbal dan non verbal yang digunakan guru dalam pembelajaran terbukti dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV SDN Tempuran II (2) Pemberian penguatan dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan bilangan bulat di kelas IV SDN Tempuran II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru memberikan penguatan verbal dan non verbal dalam pembelajaran matematika. Perlu juga dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemberian penguatan dengan hanya menggu nakan jenis penguatan verbal saja pada pembelajaran matematika.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap minat dan motivasi mahasiswa untuk menjadi guru (studi kasus mahasiswa D-3 yang alih jenjang ke S-1 Pendidikan Akuntansi semester ganjil 2007/2008 - semester genap 2008/2009) / Anikmatul Koiriyah

 

ABSTRAK Khoiriyah, Anikmatul. 2009. Pengaruh Persepsi Mahasiswa Tentang Sertifikasi Guru Terhadap Minat dan motivasi Mahasiswa Untuk Menjadi Guru (Studi Kasus Mahasiswa D-3 Yang Alih Jenjang Ke S-1 Pendidikan Akuntansi Semester Ganjil 2007/2008- Semester Genap 2008/2009). Skripsi. Program Studi Pendidikan Akuntansi. Jurusan Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Yuli Widi Astuti S.E, M.Si Ak, (2) Dr. Drs Bambang Sugeng S.E. Ak, MA, M.M Kata Kunci: Persepsi Mahasiswa, Sertifikasi Guru, Minat, Motivasi Pendidikan merupakan proses pembentukan sumber daya manusia berkualitas dan yang berperan penting untuk mewujudkannya adalah guru. Sementara persepsi bahwa profesi guru merupakan suatu profesi yang dianggap maasih kurang layak dari segi finansial sehingga profesi ini kurang diminati. Bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Undang-Undang No. 14 tentang Guru dan Dosen yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru, juga menjanjikan jaminan perbaikan kesejahteraan guru, jaminan sosial serta hak dan kewajiban guru. Jika ini benar-benar terwujud, maka diharapkan mampu meningkatkan minat dan motivasi calon guru dalam hal ini adalah mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap minat dan motivasi mahasiswa untuk menjadi guru. Penelitian ini adalah penelitian ekplanasi, yang berusaha menguji hubungan antar variabel yang dihipotesiskan dan mencari pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru, dan terdpat dua variabel terikat yaitu minat mahasiswa menjadi guru dan motivasi mahasiswa menjadi guru. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa input dari program Diploma 3 ke S-1 Pendidikan Akuntansi semester ganjil 2007/2008 sampai semestergenap 2008/2009 sebanyak 35 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada responden dan dianalisis menggunakan Simple Linier Regression Analysis dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Penelitian ini menggunakan dua kali uji regresi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah. Hasil penelitian regresi pertama menunjukkakn bahwa taraf signifikansi 0,011 yang menyertai t hitung sebesar 2,680 pada α sebesar 5 %, karena signifikansi yang menyertai t hitung lebih kecil dari 0,05 maka hipotesisnya diterima artinya persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru dapat digunakan untuk memprediksi minat mahasiswa menjadi guru. Hasil regresi kedua diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,287 yang menyertai t hitung sebesar 1,081 pada α sebesar 5 %, karena signifikansi yang menyertai t hitung lebih besar dari 0,05 maka hipotesisnya ditolak artinya persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru tidak dapat digunakan untuk memprediksi motivasi mahasiswa menjadi guru. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dikemukakan beberapa saran diantaranya adalah: 1) Mengacu pada keterbatasan variabel pada penelitian ini maka peneliti menyarankan kepada para pembaca yang berminat meneliti atau mengembangkan penelitian sejenis maka sebaiknya menambahkan variabel-variabel yang lebih menarik atau bervariasi dengan demikian diharapkan hasil yang diperoleh dapat mengungkap lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak. Variabel tersebut diantaranya adalah prestasi belajar, lingkungan sosial seseorang, IQ dan EQ, pendidikan orang tua, latar belakang ekonomi orang tua, latar belakang pendidikan mahasiswa, dan lain sebagainya , 2) Mengacu pada keterbatasan populasi pada penelitian ini maka peneliti menyarankan kepada para pembaca yang berminat meneliti atau mengembangkan penelitian sejenis maka sebaiknya menambahkan jumlah responden, 3) Penelitian ini berusaha untuk mengetahui pengaruh antara variabel bebas (independent variabel) yaitu persesi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap variabel terikat (dependent variabel) yaitu minat dan motivasi mahasiswa untuk menjadi guru. Mengingat ada 2 variabel terikat (dependent variable), sehingga selain dapat menjelaskan pengaruh masing-masing variabel secara parsial saja peneliti juga dapat menjelaskan hubungan variabel secara simultan. Sehingga peneliti selanjutnya bisa mengembangkan dan mengkombinasikan teknik analisis yang lain, untuk mengetahui hubungan parsial antar variabel bebas dan terikat serta hubungan simultannya. Misalnya pada penelitian selanjutnya variabel minat dijadikan variabel perantara (intervening) sehingga peneliti bisa menggunakan teknik analisis jalur (Path Analysis). Hal tersebut dilakukan agar dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih bervariasi yang diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih besar

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Angkasa Singosari Malang pada pokok bahasan zat aditif makanan, zat aditif, dan psikotropika / Dwi Asti Ardiani

 

Motivasi belajar sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa motivasi belajar berkaitan erat dengan hasil belajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru biologi SMAN 8 Malang, diketahui bahwa selama ini pembelajaran Biologi di SMP Angkasa Singosari Malang menggunakan metode konvensional dengan sedikit sekali praktikum. Para siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga hasil belajarnya tidak maksimal dan pembelajaran menjadi kurang bermakna. Masih banyak siswa yang belum mencapai nilai SKM sekolah (75). Dari observasi awal diketahui bahwa 43,9% siswa belum mencapai SKM. Guru berusaha untuk meningkatkan kualitas pembelajaran agar hasil yang dicapai sesuai dengan harapan. Guru berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memberi tugas kelompok, memberikan LKS, memberikan tugas rumah untuk membuat rangkuman. Namun ternyata usaha-usaha tersebut belum berhasil untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga guru harus memilih salah satu metode yang dapat diterapkan dikelas untuk mengatasi permasalahan pembelajaran di kelas. Salah satu keunggulan dari pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah adanya tanggung jawab setiap anggota kelompok yang dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dengan baik untuk dapat memberikan penjelasan kepada anggota kelompok lainnya se-hingga diharapkan hasil belajar siswa akan meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X.3 SMP Angkasa Singosari Malang tahun ajaran 2008/2009 melalui penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw dan 2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.3 SMP Angkasa Singosari Malang tahun ajaran 2008/2009 melalui penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada bulan Pebruari-Juni 2009. Sumber data dalam penelitian ini adalah motivasi dan hasil belajar siswa kelas X.3 SMAN 8 Malang. Motivasi belajar siswa meliputi aspek minat, keaktifan, usaha konsentrasi, dan efisiensi kerja. Hasil belajar siswa diukur dari aspek kognitif yaitu dari hasil ulangan harian yang dilaksanakan tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk matapelajaran Biologi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X.3 SMAN 8 Malang, terlihat dari meningkatnya motiva-si belajar klasikal dengan kategori baik dari 50,24% pada siklus I menjadi 69,75% pada siklus II. Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk matapelajaran Biologi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.3 SMAN 8 Malang, terlihat dari meningkatnya persentase keberhasilan belajar klasikal dari 65,85% pada siklus I menjadi 80,49%

Penerapan model pembelajaran kooperatif STAD untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-B SMPN 1 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Hanik Umi Utari

 

ABSTRAK Utari, Hanik Umi. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif STAD untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 1 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Laporan Penelitian Tindakan Kelas, Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan Profesi Guru IPA-SMP. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumaryono, (II) Drs. H. Edi Supriana, M.Si. Kata kunci: Motivasi Belajar, Prestasi Belajar, STAD Berdasarkan observasi data lapangan dan wawancara dengan guru mitra di SMPN 1 Malang, diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran Fisika sebagian siswa aktif dan sebagian kurang antusias mengikuti kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Motivasi belajar dan prestasi belajar siswa masih bisa dioptimalkan. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Fisika melalui penerapan model pembelajaran kooperatif STAD pada materi Cahaya pada siswa kelas VIII-B SMP Negeri 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian ini dilak- sanakan pada bulan Maret sampai dengan bulan Juli 2009. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa diperoleh melalui angket dan observasi, sedangkan prestasi belajar siswa diperoleh melalui tes akhir siklus. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar Fisika pada materi Cahaya siswa kelas VIII-B SMP Negeri 1 Malang tahun pela- jaran 2008/2009. Dari hasil observasi motivasi belajar selama berlangsungnya proses pembelajaran pada siklus pertama dan kedua diperoleh data: (1) aspek frekuensi pertanyaan yang diajukan siswa meningkat dari 67,44% menjadi 74,93%, (2) aspek kualitas pertanyaan yang diajukan siswa meningkat dari 68,21% meningkat menjadi 73,56%, (3) aspek kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan tugas meningkat dari 74,22% menjadi 78,88%, (4) aspek peningkatan sumber belajar yang dimanfaatkan oleh siswa meningkat dari 72,49% menjadi 78,65%. Berdasarkan hasil angket yang diisi siswa di setiap akhir siklus diperoleh data bahwa pada siklus pertama siswa yang bermotivasi belajar rendah sebesar 23,8%, siswa yang bermotivasi belajar sedang sebesar 57,2% dan siswa yang bermotivasi belajar tinggi sebesar 19%. Pada siklus kedua terjadi perubahan yang cukup signifikan, yakni terjadi pengurangan jumlah siswa yang bermotivasi belajar fisika rendah dari 10 orang menjadi 5 orang (berkurang 50%), jumlah siswa yang bermotivasi belajar Fisika sedang berkurang dari 24 menjadi 20 orang (turun 16%) dan jumlah siswa yang bermotivasi belajar Fisika tinggi meningkat dari 8 menjadi 17 orang (naik 53%) Dari hasil analisis evaluasi belajar akhir siklus, prosentase siswa yang me- menuhi KKM 71,43%) pada siklus pertama meningkat menjadi 85,71% pada siklus kedua.

Hubungan antara rasa keberhasilan bidang akademik (academic self-efficacy) dengan prestasi belajar mahasiswa di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) / Najlatun Naqiyah

 

ABSTRAK Naqiyah, Najlatun. 2009. Hubungan antara Rasa Keberhasilan Bidang Akademik (Academic Self-Efficacy) dengan Prestasi Belajar Mahasiswa di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Di bimbing oleh Prof. Dr. Raka Joni, M. Sc, sebagai Promotor, Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A, sebagai promotor I, dan Dr. Marthen Pali, M.Psi sebagai promotor II. Kata kunci : academic self-efficacy, prestasi belajar, underachiever, achiever, highachiever. Latar belakang penelitian adalah rasa keingintahuan penulis tentang hubungan antara rasa keberhasilan akademik dengan prestasi belajar mahasiswa highachiever, achiever dan underachiever di kampus. Rasa keberhasilan di bidang akademik ialah penilaian diri seseorang akan kemampuannya untuk mengorganisir dan menjalankan rangkaian perilaku dalam mencapai tujuan pendidikan. (Bandura, 1997). Tujuan penelitian ini membuktikan hubungan antara academic self-efficacy dengan prestasi belajar bagi mahasiswa highachiever, achiever, dan underachiever. Populasi penelitian adalah mahasiswa fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Surabaya yang terdaftar pada tahun ajaran 2008-2009. Sampel penelitian adalah mahasiswa pendidikan matematika, pendidikan biologi, pendidikan fisika dan pendidikan kimia reguler di semester lima dengan teknik total sampling, sehingga dalam penelitian ini ditetapkan 154 orang. Hasil analisis deskriptif dan pengujian hipotesis memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut; (1) Hasil tabulasi silang (cross-tabulation) antara self-efficacy dengan prestasi belajar pada 154 mahasiswa menerangkan bahwa dari 42 mahasiswa dengan self-efficacy tinggi ada 13 (8,4%) mahasiswa yang berprestasi belajar tinggi dan 5 (3,2%) mahasiswa yang berprestasi belajar rendah. Pada 38 mahasiswa dengan self-efficacy rendah terdapat 9 mahasiswa (5,8%) yang berprestasi rendah dan 8 mahasiswa (5,2 %) berprestasi belajar tinggi; (2) Hasil analisis Chi-Square menerangkan hubungan antara rasa keberhasilan dengan prestasi belajar di fakultas MIPA UNESA adalah 7,567 dengan probabilitas 0,109 (lebih besar dari (0,05). Hal ini menerangkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara rasa keberhasilan akademik dengan prestasi belajar di fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya. Berdasarkan hasil penelitian ini memiliki implikasi (1) pada para pengajar (dosen) supaya memberikan pembelajaran yang banyak memberikan pengalaman keberhasilan bagi mahasiswa (deep- understanding); (2) pada profesi bimbingan dan konseling khususnya konselor perlu bekerjasama dengan guru untuk melihat isi pembelajaran sehingga bisa memberikan bantuan belajar yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Meningkatkan aktivitas berpendapat dan prestasi belajar biologi pada siswa kelas VIII-D SMPN 4 Malang dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD / Amin Rohyati

 

ABSTRAK Rohyati, Amin. 2009. Meningkatakan Aktivitas Berpendapat dan Prestasi Belajar IPA Biologi pada Siswa Kelas VIII-D SMPN 4 Malang dengan Menerap-kan Pembelajaran Kooperatif Model STAD. Drs. Soewolo, M.Pd.: Balqis, S.Pd. M.Pd. Kata-kata kunci: pembelajaran koopertaif model STAD, aktivitas berpendapat, prestasi belajar Berdasarkan hasil observasi dan dikusi dengan guru mitra yang mengajar IPA biologi kelas VIII-D SMPN 4 Malang yang dilaksanakan pada tanggal 4 dan 11 Desember 2008, diperoleh data bahwa proses pembelajaran IPA Biologi di SMPN 4 Malang sudah biasa menggunakan berbagai bentuk pembelajaran antara lain dengan metode diskusi kelompok dan praktikum. Akan tetapi sikap individu-alis siswa masih tampak menonjol, terutama dalam kegiatan praktikum dan disku-si kelompok, masih ada siswa yang mendominasi dan banyak juga siswa yang hanya mengantungkan diri kepada teman dan tidak ikut berpartisipasi dalam ke- lompok. Selain itu aktivitas berpendapat siswa masih sangat rendah, siswa sering menolak bila diminta mengemukakan pendapatnya di depan kelas. Penelitian ini bertujuan meningkatkan aktivitas berpendapat dan prestasi belajar IPA Biologi kelas VIII-D SMPN 4 Malang dengan menerapkan pem-belajaran kooperatif model STAD, berkolaborasi dengan teman sejawat dan guru mitra sebagai observer. Sintaks Pembelajaran kooperatif model STAD terdiri atas: (1) presentasi, (2) Kerja Tim, (3) Kuis, (4) Skor kemajuan individu, dan (5) peng-hargaan kelompok. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-D SMPN 4 Malang. Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus PTK, yang masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap: (1) Perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) re- fleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD pada pembelajaran IPA Biologi siswa kelas VIII-D SMPN 4 Malang dapat meningkatkan aktivitas berpendapat siswa yaitu dari kriteria baik = 58,6% pada siklus I menjadi kriteria baik sekali = 77,86% pada si-klus II, dan prestasi belajar juga meningkat jika dilihat dari siswa yang tuntas belajar, 60% pada siklus I menjadi 87,5% pada siklus II, serta skor rata-rata kelas dari 78,5 pada siklus I menjadi 84 pada siklus II Temuan lain dalam penelitian ini adalah: (1) siswa masih kesulitan me-rangkai kata-kata yang benar untuk membuat kesimpulan, (2) dalam pembelajaran kooperatif bila dalam satu kelompok hanya terdapat 1 orang yang berbeda jenis kelamin, maka 1 orang siswa tersebut cenderung menyendiri atau berinteraksi de-ngan anggota kelompok lain yang sejenis dan ada ketidak puasan pada siswa yang pintar dan individualis. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyampaikan saran: (1) dalam membuat kesimpulan, disarankan guru memberikan bimbingan pada siswa dalam merangkai kata-kata dengan benar, sehingga siswa tidak salah konsep, (2) dalam pembentukan kelompok pada pembelajaran kooperatif , disarankan guru memben-tuk kelompok yang heterogen dan hindarkan adanya hanya 1 orang siswa yang berbeda jenis kelaminnya diantara anggota kelompok tersebut.

Peningkatan hasil belajar membaca cepat melalui teknik trifokus Steve Snyder di kelas V SDN Kedungbanteng I Kabupaten Blitar / Winarsih

 

ABSTRAK Winarsih, 2009. Peningkatan Hasil Belajar Membaca Cepat Melalui Teknik Trifokus Steve Snyder di Kelas V SDN Kedungbanteng I Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. Ahmad Samawi, M Hum., (II) Dra. Sutansi, M.Pd. Kata kunci: membaca cepat, teknik Trifokus Steve Snyder, hasil belajar membaca cepat sekolah dasar. Salah satu pembelajaran membaca di SD adalah membaca cepat yang artinya suatu teknik membaca dengan waktu sesingkat-singkatnya sekaligus mam-pu memusatkan perhatian terhadap suatu informasi yang ada dalam teks dan mam-pu menginterprestasikannya. Permasalahan yang terjadi di sekolah adalah hasil belajar membaca cepat siswa kelas V masih kurang yaitu kecepatan efektif mem-bacanya masih kurang dari 100 kata per-menit (kpm) yakni rata-rata 95 kpm dan ketuntasan klasikal/kelas hanya mencapai 55% dari jumlah siswa dalam satu kelas yang telah mencapai ketuntasan. Rancangan penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar membaca cepat siswa kelas V SDN Kedungbanteng I yang mencakup keterampilan proses, KEM, dan keterampilan produk. Subyek penelitian sejumlah 11 orang siswa.Teknik pe-ngumpulan data dengan menggunakan tes dan observasi selama proses pembe-lajaran. Penelitian dilaksanakan selama tiga siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah tes, lembar observasi, dan dokumentasi. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2008, siklus II tanggal 4 Juni 2008, dan siklus II tanggal 11 Juni 2008. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; nilai hasil belajar membaca cepat secara klasikal mengalami peningkatan dari 71,2% pra tindakan pada siklus I menjadi 76,3% setelah tindakan (menggunakan teknik Trifokus Steve Snyder) pada siklus II, dan 82,% pada siklus III. Dan untuk ketuntasan klasikal juga mengalami peningkatan yakni dari 27,3% pra tindakan pada siklus I menjadi 54,6% setelah tindakan pada siklus II, dan 73% pada siklus III. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pene-rapan Teknik Trifokus Steve Snyder pada pembelajaran membaca cepat dengan pendekatan komunikatif, penggunaan metode yang bervariasi, media yang sesuai materi, dan memberikan motivasi pada siswa serta meningkatkan konsentrasi siswa, dapat meningkatkan aktifitas, kreatifitas, interaksi siswa maupun guru dan hasil belajar membaca cepat siswa. Dan disarankan juga agar guru hendaknya menerapkan teknik tersebut dalam mengajarkan materi membaca cepat, sehingga dapat meningkatkan dan mencapai hasil belajar maupun ketuntasan klasikal yang lebih baik.

Manajemen program akselerasi belajar: studi kasus di SMA Negeri 3 Jombang / Iva Faradiana

 

Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dari masa ke masa lebih bersifat klasikal massal, yaitu hanya berorientasi pada jumlah atau kuantitas untuk dapat melayani peserta didik sebanyak mungkin tanpa memandang kualitas peserta didik tersebut. Kelemahan yang tampak dari pelaksanakan pendidikan seperti ini adalah tidak terakomodasikannya kebutuhan individual siswa di luar kelompok siswa normal. Padahal sebagaimana yang diketahui bahwa hakikat pendidikan adalah untuk memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi kecerdasan dan bakatnya secara optimal (Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2003). Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyatakan bahwa Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran . Namun kenyataannya menurut Diknas hal ini baru dapat terpenuhi pada saat Indonesia memasuki pembangunan jangka panjang ke satu yakni pada Tahun 1969/1970-1993/1994 (Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, 2003). Hasilnya pada periode pembangunan ini pemerintah mulai menaruh perhatian pada pendidikan siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa . Untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki bakat intelektual, diperlukan suatu penjaringan. Menurut Penelitian Balitbang dalam Semiawan (1997:72) bahwa penjaringan terhadap keterbakatan intelektual dalam kelompok populasi tertentu pada umumnya bertolak dari perkiraan kurang lebih 15% sampai 25% populasi sampel yang secara kasar merupakan identifikasi permulaan dalam menghadapi seleksi yang lebih cermat. Penjaringan itu bisa menggunakan nominasi guru tentang kemajuan sehari-hari siswa, namun bisa juga melalui penilaian beberapa mata pelajaran tertentu, tergantung dari tujuan penjaringan. Merujuk pada UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV Pasal 5 ayat 4 berbunyi: Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus . Bab V Pasal 12 ayat 1b berbunyi: Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya . Hal ini bisa dimaknai bahwa pemerintah membuka atau memperbolehkan sekolah untuk membuka kelas percepatan belajar yang tentu sebelumnya sekolah tersebut sudah lulus uji dan mendapatkan kepercayaan dari Departemen Pendidikan Nasional untuk mengadakan program tersebut. Program ini didesain dalam bentuk pemadatan waktu menjadi 2 tahun dari 3 tahun masa pendidikan normal (regular). Dengan pembagian tetap dalam 6 semester hanya durasi waktu yang dibutuhkan lebih kurang 4 bulan 1 semesternya. Diharapkan dengan program layanan percepatan belajar ini, siswa-siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat menghemat waktu studi dan mereka tidak merasakan belajar sebagai sesuatu yang membosankan kerena lambatnya penyampaian materi yang didapat. Kesiapan dari pihak sekolah sendiri untuk menempatkan kualifikasi tenaga pengajar/guru serta penyesuaian/modifikasi mengenai kurikulum yang digunakan dalam program akselerasi marupakan suatu faktor sekolah boleh mengadakan program akselerasi. Disamping itu juga dari siswa itu sendiri, apakah mampu untuk bisa memenuhi dan beradaptasi dengan kurikulum yang dipakai di program akselerasi ini sesuai yang ditetapkan oleh pihak sekolah. Karena itu, menurut Akbar dan Hawadi (2004:7), sebelum siswa dinyatakan diterima dalam program akselerasi ini, calon siswa harus melakasanakan serangkaian tes hingga dapat dinyatakan lulus. Tes tersebut antara lain adalah tes psikologi yang komprehensif, tes IQ dengan skala nilai minimal 125, bebas dari problem emosional dan sosial, memiliki fisik sehat, tidak ada tekanan dari orang tua tetapi atas kemauan anak sendiri, adanya sikap positif guru terhadap siswa, guru peduli terhadap kematangan sosial emosional siswa. Kenyataan yang ada dengan penyelenggaraan program percepatan belajar (akselerasi) yang baru diadakan beberapa tahun belakangan ini masih menimbulkan pro dan kontra sehingga menimbulkan beberapa kelemahan yang mengiringi pelaksanaannya. Kelemahan itu adalah: (1) timbulnya stigmatisasi pada diri siswa reguler; di lingkungan sekolah bisa dikatakan kelas reguler merupakan kelas yang memiliki prestasi kurang jika dibandingkan dengan kelas akselerasi; (2) timbulnya budaya inferior, muncul kelas eksklusif, arogansi, dan elitisme. Inferiorisme akan timbul pada diri siswa kelas reguler karena mereka dianggap siswa yang memiliki prestasi rendah, sedangkan budaya eksklusifisme, arogansi dan elitisme akan mudah melekat pada siswa akselerasi. Jika berkelanjutan, hal ini secara otomatis akan membentuk group reference pada diri masing-masing siswa; (3) berkenaan dengan eksploitasi proses belajar siswa akselerasi di sekolah, dengan adanya akselerasi ini siswa dituntut untuk dapat mengikuti materi belajar yang diinginkan dengan alokasi waktu yang sangat cepat. Secara intelektual, siswa memang dirasa mampu untuk mengikutinya namun siswa itu bukanlah mesin yang di set untuk melakukan aktifitas yang sama; (4) dengan mengikuti program percepatan belajar ini, berarti siswa tidak leluasa untuk dapat mengembangkan potensi afektifnya Padatnya materi yang harus mereka terima, banyaknya pekerjaan rumah yang harus mereka selesaikan, ditunjang kemampuan intelektual yang mereka miliki dan teman-teman sekelas yang ratarata pandai, membuat iklim kerja sama mereka menjadi terbatas (Bernas dalam Mujiran, 2009). Hal ini dapat terjadi dari cara pengelolaannya atau timbul dari diri siswa. Padahal tujuan diadakan program akselerasi ini adalah untuk memberikan pelayanan yang sesuai kepada siswa yang memiliki kecerdasan istimewa dengan memberikan fasilitas dan materi yang sesuai dengan daya kemampuan dan berpikir siswa bukan menjadikan program yang menimbulkan jurang pemisah antara siswa yang memiliki kecerdasan istimewa dengan siswa reguler. Oleh karena itu untuk mengantisipasi kelemahan-kelamahan semacam itu maka dalam pelaksanaannya dibutuhkan sebuah manajemen yang efektif untuk mengelola dan menjalankan sistem tersebut sehingga pelaksanaannya tidak melenceng dari tujuan awal dari penyelenggaraan program akselerasi ini. Manajemen merupakan suatu hal yang memiliki dampak relatif dominan dalam penyelenggaraan program akselerasi. Karena dalam akselerasi menuntut adanya suatu manajemen yang berorientasi jauh ke depan dengan fleksibilitas yang tinggi didasari oleh komitmen, ketekunan, pemahaman yang sama serta kebersamaan semua pihak yang terlibat (Latifah, 2009). Selain itu program akselerasi juga membutuhkan kegiatan perencanaan yang matang, pengorganisasian yang tepat, penggerakan yang dinamis oleh pemimpin yang handal dan berorientasi ke masa depan, serta pengawasan yang selalu bersifat rekonstruktif. Dengan adanya manajemen yang baik diharapkan tujuan dari program akselerasi dapat tercapai secara efektif dan efisien. SMA Negeri 3 Jombang merupakan satu-satunya sekolah menengah atas yang pertama di Jombang yang mendapat kepercayaan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang untuk membuka program akselerasi. Menurut Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan di SMA Negeri 3 Jombang yang merangkap sebagai Manajer Program Akselerasi dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 29 Januari 2009, mengatakan bahwa alasan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang memilih SMAN 3 Jombang sebagai SMA pertama yang membuka program akselerasi karena selama SMAN 3 Jombang berdiri telah mampu mencetak prestasi, baik dalam hal akademik maupun non akademik. Selain itu juga karena SMA ini juga berhasil membuka kelas-kelas tambahan seperti kelas olahraga yang berisi siswa yang memiliki kemampuan yang handal dalam bidang olahraga dan kelas seni bagi siswa yang memiliki keahlian dalam bidang seni. Hal ini tentu saja memberikan nilai plus bagi sekolah dimata masyarakat sehingga menjadikan SMAN 3 sebagai sekolah favorit di Kabupaten Jombang. Atas dasar itulah Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang memberikan kepercayaan pula kepada SMAN 3 untuk membuka program akselerasi (Bachtiar, 2009). Mengingat tujuan program ini adalah untuk memberikan pelayanan terhadap siswa yang memiliki kecerdasan istimewa untuk mengembangkan bakat intelektualnya sebagai pemimpin masa depan (Hartati, 2009), maka SMAN 3 Jombang merasa tertantang dan harus mampu memberikan pelayanan yang terbaik, walaupun mengingat program akselerasi ini baru terlaksana pada tahun ajaran 2007/2008. Dalam usahanya mencetak lulusan yang terbaik yakni agar lulusan program akselerasi dapat masuk dalam perguruan tinggi bonafit dan favorit, maka SMAN 3 Jombang secara kontinyu memperbaiki manajemennya dalam program akselerasi. Karena menyadari bahwa pengelolaan program akselerasi berbeda dengan program reguler, oleh karena itu program akselerasi ditangani secara khusus. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti mengadakan penelitian yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Jombang, dengan maksud melanjutkan penelitian tentang manajemen akselerasi pada tingkat SD (Maulana, 2008) dan SMP (Raharja, 2006). Pengelolaan yang baik akan berdampak dalam penyelenggaraan program akselerasi yang baik pula dan tentunya sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Mengingat pentingnya manajemen pada program akselerasi, maka peneliti ingin mengadakan penelitian tentang Manajemen Program Akselerasi Belajar: Studi Kasus di SMA Negeri 3 Jombang.

Manajemen perpustakaan sekolah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa: studi kasus di SD Negeri Srengat 03 Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar / Arun Widya Atmaja

 

ABSTRAK Atmaja, Arun W. 2009. Manajemen Perpustakaan Sekolah dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa: Studi Kasus di SD Negeri Srengat 3 Kec. Srengat Kab. Blitar. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd; (2) Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd. Kata kunci: manajemen perpustakaan, motivasi belajar Berbagai upaya dilakukan masyarakat memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas. Layanan khusus perpustakaan sekolah yang tepat dan efektif menjadi penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Pemanfaatan layanan khusus perpustakaan bertujuan agar proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar sebagai penunjang media belajar dan sumber belajar mengajar. Karena perpustakaan sekolah merupakan bagian yang integral dan bagian dari manajemen pendidikan yang vital. Berfungsi untuk mendukung proses menyelenggarakan pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan dengan fokus secara umum yakni manajemen perpustakaan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan dijabarkan sebagai berikut: (1) perencanaan program perpustakaan; (2) pengorganisasian perpustakaan; (3) penggerakan atau actuating; (4) pengawasan perpustakaan; dan (5) motivasi siswa dalam memanfaatkan keberadaan perpustakaan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan manajemen perpustakaan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, tujuan secara rinci untuk mendeskripsikan: (1) perencanaan program perpustakaan; (2) pengorganisasian perpustakaan; (3) penggerakan atau actuating; (4) pengawasan perpustakaan; dan (5) motivasi siswa dalam memanfaatkan keberadaan perpustakaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus yang digunakan adalah studi kasus observasional. Pada penelitian ini peneliti merupakan satu-satunya pengumpul data. Adapun teknik pengambilan data menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang sudah didapatkan akan dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang meliputi reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi, meliputi triangulasi sumber, metode, penyidik, dan teori. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) perencanaan program perpustakaan dilakukan sesuai dengan tujuan, penambahan bahan pustaka, menerapkan peraturan baru tentang peminjaman buku, serta mampu mengatasi berbagai macam alternatif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan; (2) perpustakaan sekolah ini memiliki struktur organisasi yang memperlihatkan hubungan kerjasama antara bagian-bagian yang ada di dalam organisasi perpustakaan, serta menunjuk orang-orang yang paham tentang pengelolaan iv perpustakaan; (3) penggerakan atau kepemimpinan yang ada di perpustakaan sekolah ini dipimpin oleh kepala sekolah, karena perpustakaan di bawah naungan sekolah maka pemimpin juga oleh kepala sekolah hal ini jika disesuaikan dengan struktur organisasinya, namun untuk keseharian perpustakaan ini di pimpin oleh tenaga pengelola atau pengelola perpustakaan; (4) proses pengawasan di perpustakaan di sekolah dilakukan oleh kepala sekolah. Waktu evaluasi atau pengawasan setiap tahun ajaran dan bentuk laporannya dalam buku secara tertulis oleh pengelola perpustakaan; (5) motivasi siswa dalam memanfaatkan keberadaan perpustakaan, motivasi yang diberikan adalah dengan memberikan bimbingan dan pembinaan tentang keberadaan perpustakaan serta dengan pemberian buku-buku yang dapat siswa gemari yakni buku-buku yang diselipi gambar-gambar sehingga membuat siswa betah untuk berada di perpustakaan, karena dari data yang diperoleh siswa lebih menyukai buku cerita dengan sentuhan gambarnya, dan juga dengan melibatkan siswa dalam kegiatan perpustakaan sehingga mengetahui kegiatan yang ada di perpustakaan. Berdasarkan kesimpulan penelitian dapat disarankan kepada pihak-pihak yang terkait, yaitu: (1) bagi kepala sekolah disarankan untuk terus memberikan arahan dan bimbingannya agar perpustakaan sekolah tetap berjalan lancar dan dapat dimanfaatkan untuk kedepannya; (2) bagi pengelola perpustakaan disarankan lebih mendalami seluk-beluk bagaimana manajemen perpustakaan sehingga layanan dan kegiatan yang ada di perpustakaan dipergunakan dengan baik; (3) bagi siswa, diharapkan terus memanfaatkan keberadaan perpustakaan sebagai penunjang proses belajar; (4) bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan objek yang sama tetapi menggunakan pendekatan yang berbeda atau dengan variabel yang berbeda.

A study on the difference of the tenth and the eleventh graders' ability in writing narrative texts / Retno Fitri Habsari Juniar Ayun

 

ABSTRACT Ayun, Retno Fitri Habsari Juniar. 2009. Studi Perbandingan Kemampuan Menulis Teks Narasi Siswa Kelas Sepuluh dan Kelas Sebelas. Skripsi, Jurusan Sastra Inggris. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Nur Hayati, M.Ed. Kata kunci: kemampuan menulis, karakteristik teks, teks narasi, causal comparative design Menulis merupakan salah satu kemampuan penting bagi para pebelajar bahasa; salah satu alasannya karena menulis dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Menulis juga dapat digunakan sebagai alat untuk merekam informasi, mengembangkan ide-ide baru, menggunakan bahasa melalui banyak pola, dan menciptakan dunia fiksi. Mengingat pentingnya kemampuan menulis inilah maka kurikulum pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia mewajibkan para siswa untuk menguasai keempat kemampuan berbahasa, termasuk kemampuan menulis. Untuk mencapai tujuan ini, kurikulum pengajaran Bahasa Inggris mengadopsi konsep genre yang mengharuskan para siswa tidak hanya mampu menggunakan kalimat-kalimat dalam Bahasa Inggris dengan baik dan benar tetapi juga mampu menyusun teks berdasarkan aturan yang paling sering digunakan oleh para penutur asli Bahasa Inggris. Meskipun demikian, sukses pengajaran menulis tampaknya masih dipertanyakan karena pada kenyataannya guru sering mengabaikan pengajaran menulis. Fakta bahwa menulis merupakan suatu aktivitas yang kompleks yang sayangnya juga tidak termasuk dalam kemampuan yang diujikan dalam Ujian Akhir Nasional (UAN) merupakan salah satu dari sekian banyak alasan bagi guru untuk mengabaikan pengajaran menulis. Karena alasan inilah, penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat kesuksesan pengajaran menulis khususnya di sekolah menengah atas. Penelitian dengan desain causal comparative ini dilaksanakan untuk menemukan perbedaan yang signifikan dalam (1) kemampuan menulis, (2) kemampuan mengorganisasikan ide, mengembangkan ide, pilihan kata, struktur kalimat, dan penggunaan tanda baca dalam menulis teks narasi antara siswa kelas sepuluh dan kelas sebelas. Sample penelitian ini adalah siswa kelas X-7 dan XI-IPA4 SMA Negeri 1 Malang pada tahun akademik 2008/2009. Hasil karangan siswa, sejumlah 68 karangan yang diperoleh melalui pelaksanaan tes mengarang, merupakan sumber data utama. Karangan tersebut dinilai dengan sistem analytic scoring untuk teks narasi yang dikembangkan dan dipergunakan oleh Missouri Department of Elementary and Secondary Education (2009). Dua analisis statistik dipergunakan untuk mendeskripsikan nilai para siswa: (1) descriptive statistics untuk menemukan Mean, (2) inferential statistics untuk menentukan tingkat signifikansi perbedaan. Dari hasil analisa, bisa disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari segi kemampuan menulis, kemampuan mengorganisasikan ide, mengembangkan ide, pilihan kata, struktur kalimat, dan penggunaan tanda baca antara siswa kelas sepuluh dan siswa kelas sebelas. Para siswa cenderung memiliki kemampuan yang sama. (1) Siswa kelas sebelas telah mampu menyajikan orientation, complication, dan resolution yang baik sebagai bagian utama dari teks narasi, sementara siswa kelas sepuluh mampu menyajikan orientation, complication, dan resolution meskipun kurang begitu sempurna. Baik siswa kelas sepuluh maupun kelas sebelas mampu (2) mengembangkan ide yang logis dan berurutan; (3) menggunakan diksi yang tepat; (4) menggunakan kalimat yang utuh dan lengkap; (5) menggunakan tanda baca tanpa banyak kesalahan. Berdasarkan hasil penelitian, guru disarankan untuk meningkatkan kemampuan menulis para siswanya. Sebelum memulai pengajaran menulis di suatu tingkat, guru sebaiknya mencari tahu apa yang telah dipelajari siswa dan kesulitan-kesulitan mereka sehingga guru bisa melakukan pengembangan yang dibutuhkan. Peneliti yang ingin mereduplikasi studi ini disarankan untuk menggunakan lebih banyak sample dan juga melibatkan siswa kelas dua belas.

A study on the implementation of English extracurricular program at SMP Negeri 1 Malang / Verry Ardhiana Nur

 

ABSTRACT Nur, Verry Ardhiana. A Study on the Implementation of English Extracurricular Program at SMP Negeri 1 Malang. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Niamika El Khoiri, S.Pd, M.A. Keywords: descriptive study, teaching English, English extracurricular program, SMP A lot of materials to be covered combined with the limited time available in English regular class made it difficult for the teachers to apply many interesting and fun activities. As a result, the students might feel bored and not motivated because of the lack of fun activities in learning English. Therefore, SMP Negeri 1 Malang conducted English extracurricular program which functioned as a channel for the students who wanted to improve their English ability through the application of fun and interesting activities out of the school s regular time. This study used a descriptive design which was aimed to describe the implementation of English extracurricular program at SMP Negeri 1 Malang. The subjects of the study were the headmaster, the vice headmaster for student affairs, the English extracurricular teachers, the students who joined the program in class VII.1 and VIII.2, and the students of class VII C and VIII D who did not join the program. The instruments used to collect the data were interview, questionnaire, observation, and documentation. The findings of the study were as follows. First, the facilities provided by the school were classrooms and language laboratory. However, because of some limitations, the facilities were considered insufficient to support the activities in the program. Second, the media used in the program were whiteboards, games, cards, pictures, and worksheets. Third, the materials used were developed by the teachers. Some materials used in the program were biography, description of something, expressions of asking for and giving suggestions, simple present tense, simple past tense, and conversation about Malang Tempoe Doeloe. Fourth, some controlled, semi controlled, and free techniques were implemented in the program such as setting, brainstorming, interview, composition, game, cued dialog, dialogue recitation, identification, mini-drama, story telling, and simple debate. Fifth, related to the students opinions toward the implementation of the program, almost all students supported the implementation of the program in their school. Most of the English extracurricular students said that their English ability had improved since they joined the program. Moreover, the students who did not join the program stated that the program was important to be implemented in their school to give a channel for the students who were interested in English. Finally, the problems in the program were the class overcapacity at the beginning of academic year, the unavailability of program plans and the difficulty of some students to be active in speaking activity because of the low self confidence and limited vocabulary mastery. Based on the result of the study, some suggestions are given for the improvement of English extracurricular program s quality. First, the principal of the school needs to provide more facilities and overcome the class overcapacity problem. The principal is also suggested to evaluate the program regularly that will be useful for the program improvement. Second, it is suggested that the English extracurricular teachers formulize the program plans and use the facilities available. The teachers also need to conduct more various activities in the program. Third, the researcher suggests the other schools which conduct or have a plan to conduct the same program to have a careful program plan which consists of the program specific objectives and the program evaluation system. The schools also need to provide the sufficient facilities to support the program implementation. The last, the researcher suggests other researchers who are interested in conducting the same research on the implementation of English extracurricular program to observe and analyze deeper on other aspects that have not been explored in this study.

The effectiveness of using picture cards on the vocabulary mastery of the second grade students of SMP Sriwedari Malang / Wenita Kusumaningtyas

 

Abstract: This study is a quasi-experimental study aimed to examine whether there is a significant difference in the vocabulary mastery of students between those who are taught using picture cards, as a medium in teaching and learning, and those who are taught without using them. This study was conducted to the second grade students of SMP Sriwedari of academic year 2008/2009. The samples were the two classes of the second grade consisted of 28 students; one class was used as the experimental group and the other one was used as the control group. The instrument used to get the data was the vocabulary test consisting of 30 test items in the form of multiple choice type with four options (15 test items) and matching items type (15 test items). The finding shows that the experimental group got better mean score than the control group. Based on the Independent Samples t Test with the help of the SPSS 14.0 program, it was found that the t value was 7.861 at the 0.05 level of significance. It means that there is a significant difference in the vocabulary mastery of the students taught using picture cards and those taught without using picture cards. Keywords: picture cards, vocabulary, mastery

Pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan starter experiment approach (SEA) untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar fisika siswa SMA Negeri 2 Malang / Dwi Lujeng Hariani

 

ABSTRAK Hariani, Dwi Lujeng. 2009. Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dengan Starter Experiment Approach (SEA) untuk Meningkatkan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Fisika Siswa SMA Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muhardjito, M.S; (2) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd. Kata kunci: PBMP, SEA, Kerja Ilmiah, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara terhadap guru matapelajaran fisika di SMA Negeri 2 Malang diperoleh bahwa siswa kelas XI IPA 1 masih belum maksimal dalam melaksanakan pembelajaran fisika. Banyak siswa yang tidak mau bertanya kepada guru dan memberikan jawaban yang kurang sempurna jika guru memberikan pertanyaan. Selain itu, ketika pelaksanaan kegiatan praktikum, siswa cenderung bermain-main dan kegiatan ilmiah siswa masih kurang baik. Siswa cenderung tidak memperhatikan penjelasan guru, terlihat dari beberapa kelompok siswa yang ramai sendiri. Hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang rendah. Untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang tersebut, diterapkan pola pembelajaran pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dengan Starter Experiment Approach (SEA). Pembelajaran pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) merupakan pola pembelajaran yang berusaha memberdayakan pemikiran melalui pertanyaan. Pola pembelajaran ini sejalan dengan teori konstruktivisme. Siswa secara aktif menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks yang ingin diperoleh secara individu. Starter Experiment Approah (SEA) adalah suatu pendekatan yang mengajak siswa belajar IPA dengan membangun konsep melalui pengamatan dan pengujian terhadap gejala-gejala yang terjadi di alam. Penggabungan antara pola PBMP dengan SEA juga tergolong pembelajaran konstruktivisme yang dapat memicu siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, untuk meningkatkan kerja ilmiah, dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pembelajaran siklus I dan II dilaksanakan dengan cara pengerjaan lembar soal PBMP dengan SEA. Dari hasil penelitian pada siklus I sudah mulai ada peningkatan kerja ilmiah siswa dengan rata-rata 79,80%. Hasil belajar pada siklus I yang dapat dilihat dari rata-rata kelas diperoleh 49,3 untuk aspek kognitif, aspek psikomotorik dan afektif diperoleh rata-rata 82,4% dan 83,0%. Pada siklus II terjadi peningkatan rata-rata kerja ilmiah ssiwa sebesar 88,28%, sedangkan untuk hasil belajar pada aspek kognitif nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 58,5 dan untuk aspek psikmotorik, dan afektif meningkat sebesar 88,28%; dan 90,6%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Pemberdayaan Berpikir Melalui Mertanyaan (PBMP) dengan Starter Experiment Approach (SEA) dapat meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi guru fisika untuk menerapkan pola pembelajaran PBMP dengan SEA sebagai salah satu variasi metode pembelajaran di kelas.

Penyusunan tata ruang kantor sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan (studi pada Kantor Pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang) / Sulaili

 

ABSTRAK SULAILI. 2009. Penyusunan Tata Ruang Kantor Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kinerja Karyawan (Studi Pada Kantor Pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi S-1 Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Saputra, M. Si. (II) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd. M.M Kata Kunci: Tata Ruang Kantor, Kinerja Karyawan Sumber daya manusia adalah aset yang paling vital yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi. Unsur manusia dalam keberadaan suatu organisasi sangatlah penting karena dapat menentukan baik atau buruknya, maju atau mundurnya suatu organisasi, disamping peralatan dan perlengkapan atau aset-aset vital lainnya. Salah satu tempat terciptanya suatu kerja sama dalam suatu organisasi adalah kantor. Dewasa ini, kedudukan dan peranan kantor berkembang dengan pesat dan sangat menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Kantor adalah tempat dilaksanakannya semua kegiatan tata usaha, di sana terdapat pegawai, perabot kantor, peralatan kantor, mesin-mesin kantor dan lain sebagainya yang dapat membantu proses pekerjaan kantor. Setiap pekerjaan memerlukan kondisi tata ruang kantor yang baik dan memadai. Pengaturan tempat kerja atau ruangan, diperhitungkan dengan suasana kerja pengawasan (Human relations) antar pegawai maupun pengunjung kantor. Pengaturan suasana maupun faktor lain yang berhubungan dengan pekerjaan tata usaha hendaknya memadai. Seperti cahaya, udara, suara, dan warna Bilamana pengaturan tersebut tepat akan menimbulkan ketenangan, kepuasan dan gairah kerja. Kesemuanya ini berpengaruh langsung terhadap produksi kantor, baik secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian penjelasan (a explenatory research). Pengambilan data primer menggunakan instrumen angket dengan skala likert, 5 alternatif jawaban, pernyataan dan pertanyaan dijabarkan dalam angket sebanyak 33 item kemudian disebarkan kepada 95 karyawan kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang. Agar data yang diperoleh dari instrumen penelitian sakhih, maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan bantuan SPSS 16.00 for windows. Karena penelitian ini menjelaskan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, maka termasuk penelitian jenis kuantitatif. Teknik pengumpulan data selain menggunakan angket juga observasi, dokumen dan interview atau wawancara. Penelitian ini merupakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan variabel tata ruang kantor yang meliputi perencanaan tata ruang kantor, pengaturan ruang kantor serta lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor dan kinerja karyawan pada kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang. Sedangkan analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap terikat, yaitu tata ruang kantor yang meliputi perencanaan tata ruang kantor, pengaturan ruang kantor serta lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor terhadap kinerja karyawan pada kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang, baik secara parsial maupun simultan. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: berdasarkan analisis distribusi frekuensi sebagian besar responden mengatakan bahwa perencanaan tata ruang kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang dalam kondisi baik atau sudah sesuai dengan keinginan karyawannya dengan persentase 55,79%, sedangkan pengaturan ruang kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang dalam kondisi baik atau sudah sesuai dengan keinginan karyawannya dengan persentase 63,16%. Lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang sudah baik atau sudah sesuai dengan keinginan karyawannya dengan persentase 75,79%. Sedangkan untuk kinerja karyawan kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang adalah baik atau tinggi, dengan persentase sebesar 67,37%. Dari analisis analisis regresi berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5%. Secara parsial dapat diketahui variabel perencanaan tata ruang kantor (X1) mempunyai Sigt 0,000 < 0,05. thitung (3,684) > ttabel (1,986) Nilai β = 0,225 sehingga dapat dikatakan secara parsial perencanaan tata ruang kantor (X1) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Untuk variabel pengaturan ruang kantor (X2) mempunyai Sigt 0,001 < 0,05. thitung (3,382) > ttabel (1,986). Nilai β = 0,366 sehingga dapat dikatakan secara parsial pengaturan ruang kantor (X2) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Untuk variabel lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor (X3) mempunyai Sigt 0,000 < 0,05. thitung (4,160) > ttabel (1,986). Nilai β = 0,295 sehingga dapat dikatakan secara parsial lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor (X3) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang. Secara simultan variabel tata ruang kantor mempunyai sigF = 0,000 < 0,05. Nilai Fhitung = 33,884 > Ftabel = 2,705 dan β 1= 0,225; β 2= 0,366; β 3=0,295. sehingga dapat dikatakan secara simultan tata ruang kantor (X) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan (Y). Nilai Angka Adjusted R square menunjukkan koefisien determinasi sebesar 51,2 % yang berarti perubahan variabel kinerja karyawan (Y) disebabkan oleh perubahan variabel perencanaan tata ruang kantor (X1), pengaturan ruang kantor (X2), serta lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor (X3), sedangkan sisanya 48,8 % disebabkan oleh faktor di luar variabel yang ada dalam penelitian ini. Kemudian penghitungan Sumbangan Efektif secara simultan adalah 52,8%. Secara parsial variabel perencanaan tata ruang kantor (X1) adalah sebesar 16,8%, Sumbangan Efektif variabel pengaturan ruang kantor (X2) adalah sebesar 15,3%, serta Sumbangan Efektif variabel lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor (X3) adalah sebesar 20,7%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel lingkungan dan kondisi fisik tata ruang kantor (X3) lebih dominan berpengaruh terhadap variabel kinerja karyawan (Y) Dari paparan data di atas dapat disimpulkan bahwa variabel tata ruang berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan kantor pusat PT PG Rajawali I Unit PG Krebet Baru Bululawang Malang. Dari kesimpulan di atas diharapkan di masa akan datang untuk meningkatkan kondisi tata ruang kantor sehingga kinerja karyawan dapat ditingkatkan.

Gambaran perilaku asertif dan perilaku agresif siswa kelas 2 Madrasah aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang / Khoirul Anam

 

Pada tahap perkembangan hidup, keterampilan sosial tertentu harus dikuasai oleh semua individu. Sebagai contoh, anak perlu belajar bagaimana mendapatkan seorang teman, remaja perlu berinteraksi dengan lawan jenis dan orang dewasa harus belajar bagaimana menjadi efektif dalam menjalin hubungan dengan tetangga, teman sejawat, dan orang yang lebih berkuasa. Begitu juga siswa, mereka adalah manusia yang belum dewasa yang berusia diantara 12 tahun sampai 18 tahun. Mereka beinteraksi dengan baik jika mengerti kapan berperilaku yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Dalam melaksanakan hubungan sosial ini, remaja mengembangkan beberapa tingkah laku dalam melakukan komunikasi dengan kelompok atau teman sebayanya di antaranya adalah perilaku asertif dan agresif. Penelitian ini bertujuan mengetahui, (1) Gambaran tentang perilaku asertif siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang, dan (2) Gambaran tentang perilaku agresif siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari tahun pelajaran 2003/2004 yang berjumlah 211 orang siswa, yang terdiri dari 80 orang siswa laki-laki dan 131 orang siswa perempuan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel kelompok dua tingkat (two stage cluster sampel) yaitu sampel yang diperoleh dengan dua tingkat, pertama memilih sampel kelompok secara purposive/dipilih kemudian yang kedua memilih sampel elemen dari kelompok yang terpilih sebagai sampel secara acak. Sampel yang diambil sebanyak 30% atau 65 orang siswa, yang terdiri dari 24 orang siswa laki-laki dan 41 orang siswa perempuan. Dalam mengambil data, penelitian ini menggunakan instrument angket. Analisis yang digunakan adalah persentase. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa: secara umum siswa banyak sekali yang mempunyai perilaku asertif (78,46%), secara rinci aspek perilaku asertif yang menunjukkan skor tertinggi adalah cara membangun harga diri yang ditunjukkan dengan hasil banyak sekali siswa yang dapat menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri dan orang lain. Sikap kurang asertif masuk dalam kategori sedikit (21,54%), begitu juga dengan perilaku sangat asertif dan tidak/non asertif (0%). Dalam hal perilaku agresif, secara umum siswa kelas 2 Madrasah Aliyah Almaarif Singosari banyak yang berperilaku tidak agresif. Adapun rinciannya, sedikit sekali (0 %) siswa sangat agresif, sedikit sekali (0 %) siswa berperilaku agresif, cukup banyak (47,69 %) siswa kurang agresif dan banyak (52,31%) siswa bertingkah laku tidak agresif. Dari hasil penelitian ini, beberapa hal yang dapat disarankan, antara lain: (1) bagi konselor Madrasah Aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang, hendaknya dapat memahami kondisi siswa. Dari hasil penelitian diketahui bahwa banyak siswa di Madrasah Aliyah Almaarif Singosari Kabupaten Malang dapat berperilaku asertif dengan sangat efektif dan banyak siswa yang berperilaku tidak agresif. Maka dari itu, konselor dapat mengadakan pengembangan diri siswa dengan mengarahkan layanan bimbingan dan konseling bagi siswa pada bidang pribadi dan sosial sebagai tindakan prefentif atau pencegahan untuk perilaku non asertif dan perilaku agresif, (2) bagi guru, diharapkan dapat lebih meningkatkan penguatan-penguatan yang positif dalam kegiatan belajar mengajar misalnya, ketika siswa mengutarakan pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan., (3) bagi peneliti lain, diharapkan peneliti selanjutnya apabila berminat meneliti dalam hal yang sama, agar menggunakan teknik pengumpulan data yang lain dan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian dalam mengembangkan penelitian perilaku asertif dan agresif selanjutnya.

Perancangan game memasak masakan tradisional yang ada di Malang / Mahmud Ikhsan Fauzi

 

ata kunci: Perancangan, Game Memasak, Masakan Tradisional Saat Indonesia sudah memasuki masa digital, dimana fungsi digital sudah bukan lagi barang yang asing bagi masyarakat, khususnya masyarakat perkotaan. Dimulai dengan hadirnya personal computer (PC), handphone, proyektor, hingga notebook atau laptop yang dulu merupakan salah satu barang mewah, tapi kini dapat dengan mudah didapatkan dengan harga yang relatif lebih terjangkau. Tak dipungkiri lagi dengan perkembangan teknologi yang semakin murah tersebut membuka peluang besar bagi berbagai informasi ikut serta berkembang pesat di dalamnya. Di dalam perkembangannya, informasi juga hadir dalam berbagai macam bentuk yang menyesuaikan dengan media yang tersedia, dalam hal ini media digital. Ada berbagai macam contoh bentuk informasi yang dikemas dengan media digital yang dijumpai saat ini, antara lain website, electronic book (e-book), interactive media, game online ataupun offline, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan media digital. Masakan Tradisional Malang merupakan salah satu kekayaan kuliner yang ada di wilayah Malang. Kekayaan ini merupakan ciri khas yang dimiliki serta perlu dijaga kelestariannya karena mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata kuliner. Perbedaan Masakan Tradisional yang ada di Malang dengan masakan modern adalah masakan ini lebih kaya akan bumbu dan rempah alami, terbuat dari bahan yang berasal dari daerah setempat serta masakan yang dihasilkan juga sesuai dengan selera masyarakat setempat. Masakan Tradisional diolah dari bahan segar dan alami sehingga kandungan lemaknya relatif rendah dan aman bagi kesehatan. Dari hasil observasi yang dilakukan di beberapa pasar tradisional dan warung yang menjual masakan tradisional, didapatkan data bahwa salah satu penyebab masih lestarinya masakan tradisional hingga saat ini tidak terlepas dari peran pedagang masakan tradisional. Namun saat ini para konsumen lebih memilih masakan modern daripada masakan tradisional.Hal ini seiring merebaknya makanan cepat saji yang berada di beberapa pusat perbelanjaan modern dan mal-mal serta kurangnya promosi tentang masakan tradisional, mengakibatkan masakan tradisional ini seolah ditinggalkan masyarakat. Jajanan pasar itu juga kian sulit ditemukan baik di beberapa kota besar maupun kecil.

Efektivitas penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung tahun ajaran 2008/2009 / Nining Dwi Puspaningrum

 

ABSTRAK Puspaningrum, Nining Dwi. 2009. Efektivitas Penggunaan Metode Investigasi Kelompok terhadap Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas VII SMP Negeri I Ngunut Tulungagung Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Martutik M.Pd Kata Kunci: metode investigasi kelompok, kemampuan membaca pemahaman. Membaca pemahaman adalah kemampuan seseorang dalam memahami isi atau makna bacaan. Manfaat yang dapat diambil dari terampil membaca pemahaman yaitu dapat menangkap informasi-informasi secara tepat. Pada tiap-tiap jenjang pendidikan terdapat kompetensi kemampuan membaca pemahaman yang harus dilatihkan kepada siswa sesuai dengan tingkat keterampilan membaca pemahaman yang dituntut kurikulum. Oleh karena itu, kemampuan membaca pemahaman perlu dilatihkan untuk menunjang kemampuan siswa dalam menyerap informasi secara tepat dan cepat sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dalam menangkap informasi. Berbagai metode dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan membaca pemahaman. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran membaca pemahaman adalah metode investigasi kelompok. Metode investigasi kelompok merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Metode investigasi kelompok melatih siswa untuk berpikir kritis dan bekerja sama dalam menyelesaikan suatu masalah. Selain itu, metode ini mengajarkan siswa untuk berinteraksi dengan siswa lain untuk menyatukan pendapat dalam rangka menyelesaikan masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode investigasi kelompok terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa dari segi kemampuan dalam menemukan ide pokok, ide penjelas, dan meringkas isi teks dengan cara merangkaikan ide pokok yang terdapat di dalam teks. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung tahun pelajaran 2008/2009. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngunut Tulungagung yang berjumlah 352 siswa yang terbagi dalam delapan kelas. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII B dan kelas VII E dengan jumlah 44 siswa tiap kelas. Penentuan sampel ini dilakukan dengan teknik pengambilan sampel klaster (cluster sampling). Pengambilan kedua kelas sampel tersebut dijadikan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen yaitu kelas VII B sebagai kelas kontrol dan kelas VII E sebagai kelas eksperimen. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain penelitian eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan kelas kontrol dan kelas eksperimen untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman. Instrumen yang digunakan untuk menjaring data kemampuan membaca pemahaman siswa berupa teks yang telah diukur tingkat keterbacaannya. Adapun data dalam penelitian ini berupa skor dalam menemukan ide pokok, ide penjelas, dan meringkas dengan merangkaikan ide pokok baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi langsung yaitu melihat hasil tes yang diperoleh pada saat pretes dan postes. Penghitungan data dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Analisis data dihitung dengan menggunakan uji t dengan kriteria pengujian H1 diterima apabila t0 > 2,018 dan H1 diterima apabila t0 ≤ 2,018 ditolak. Hasil penghitungan yang diperoleh dalam uji t sebagai berikut. Pertama, hasil postes kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam mengidentifikasi ide pokok adalah t0 = 3,26, dengan nilai rata-rata pada kelompok kontrol 68,59 sedangkan kelompok eksperimen 78,68. Kedua, hasil postes kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalam mengidentifikasi ide penjelas adalah t0 = 3,14, dengan nilai rata-rata pada kelompok kontrol 74,88 sedangkan nilai rata-rata kelompok eksperimen 87,5. Ketiga, hasil postes kelompok kontrol dan kelompok ekseperimen dalam meringkas isi teks diperoleh hasil uji t dengan adalah t0 = 4,02 dengan nilai rata-rata pada kelompok kontrol sebesar 35,06 sedangkan kelompok eksperimen sebesar 48,86. Sesuai dengan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman dalam mengidentifikasi ide pokok, ide penjelas, dan meringkas isi teks bernilai efektif, maka berdasarkan kriteria pengujian uji t, ketiga aspek kemampuan membaca pemahaman yang telah dihitung dengan uji t menunjukkan bahwa hasil uji t lebih besar dari t tabel yaitu 2,018. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam penggunaan metode investigasi kelompok terhadap peningkatan kemampuan membaca pemahaman dalam mengidentifikasi ide pokok, ide penjelas, dan meringkas isi teks.

Pemanfaatan membaca terstruktur di perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan bagi siswa kelas IV SDN Tempuran I / Pinanti

 

ABSTRAK Pinanti 2009. Pemanfaatan Membaca Terstruktur di Perpustakaan untuk Meningkatkan Kemampuan Menceritakan Kembali Isi Bacaan Bagi Siswa Kelas IV SDN Tempuran I. Skripsi, Program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Drs. Sutarno, M. Pd, (2) Drs. Sutrisno, M.Pd Kata Kunci : Membaca terstruktur, Menceritakan Kembali Isi Bacaan Membaca tersturktur di perpustakaan adalah membaca terbimbing dengan menggunakan lembar panduan yang dilaksanakan di perpustakaan. Menceritakan kembali isi bacaan adalah menyampaikan maksud seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan tentang sesuatu yang dibaca sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain. Perpustakaan sekolah berperan sebagai sumber belajar yang menunjang pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran, khususnya dalam penyediaan dan pemanfaatan bahan-bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan belajar mengajar di sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan. Berdasarkan observasi, khususnya di SDN Tempuran I pemanfaatkan perpustakaan masih belum optimal, maka dari itu peneliti melaksanakan membaca terstruktur di perpustakaan untuk meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan bagi siswa SDN Tempuran I Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui kemampuan siswa dalam menemukan gagasan-gagasan, meningkatkan ketrampilan siswa mernggunakan bahasa baku secara lisan, meningkatkan ketrampilan siswa untuk menceritakan kembali isi bacaan dengan menggunakan kata-kata sendiri dan sesuai dengan gagasan utama dalam bacaan yang telah dibaca. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dilaksanakan di dalam perpustakaan dan di dalam kelas dengan pemberian bimbingan secara klasikal. Berdasarkan observasi pada siklus I, ternyata masih banyak siswa yang belum memahami isi lembar panduan menceritakan kembali isi bacaan, sehingga pada siklus II diberikan bimbingan secara individu. Dalam penelitian tindakan kelas ini penulis bertindak sebagai guru dan bekerja sama dengan guru kelas III sebagai kolaborator untuk melakukan pengamatan dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Hasil penelitian yang dilakukan selama dua siklus pembelajaran yang menunjukkan adanya peningkatan ketrampilan menceritakan kembali isi bacaan secara bertahap pada pra tindakan 9,09 % siklus I 54,5 % dan pada siklus II 86,4 %. Hasil tersebut menunjukkan adanya ketuntasan belajar pada pelaksanaan siklus kedua dengan kenaikan dari pra tindakan ke siklus I 45,41 %, siklus I ke siklus II sebesar 32 %. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan dengan dua siklus, maka peneliti menyimpulkan bahwa manfaat membaca terstruktur di perpustakaan dapat meningkatkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan bagi siswa kelas IV SDN Tempuran I tahun pelajaran 2008 / 2009. Dengan demikian disarankan bagi guru untuk: (1) Memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar siswa pada bidang studi Bahasa Indonesia, kompetensi dasar menceritakan kembali isi bacaan, (2) Memanfaatkan perpustakaan untuk melakukan penelitian pada bidang studi Bahasa Indonesia, untuk kompetensi dasar yang lain, (3) Memanfaatkan perpustakaan untuk melakukan penelitian pada bidang studi yang lain.

Otomatisasi buka tutup pintu air dengan handphone berbasis mikrokontroler / Mohammad Muzakki

 

Alat Otomatisasi Buka Tutup Pintu Air dengan Handphone Berbasis Mikrokontroler dilengkapi dengan sensor ultrasonik sebagai pengukur ketinggian air pada pintu air, sensor posisi sebagai penanda letak daun pintu. Sensor ultrasonik akan mendeteksi ketinggian air, setiap selang waktu 5 menit data ketinggian air akan diolah pada mikrokontroler ATMega8 dengan bahasa pemrograman basic, selanjutnya ditampilkan pada LCD. Kemudian data dikirim melalui handphone logging ke handphone server melalui media SMS. Pada aplikasi database di PC akan ditampilkan kondisi ketinggian air dalam bentuk grafik dan tabel, selanjutnya akan terlihat kondisi ketinggian air dalam kondisi kurang, normal, waspada atau banjir. Operator akan melakukan tindakan membuka atau menutup pintu air dengan mengirim SMS dari handphone server ke handphone logging. Mikrokontroler akan mengolah data perintah membuka atau menutup, selanjutnya perintah akan dikirim ke motor DC untuk menggerakkan daun pintu air untuk membuka atau menutup. Posisi buka-tutup pintu air akan dibatasi dengan sensor posisi berupa limit switch. Ketinggian air pada pintu air ditampilkan pada LCD dengan tampilan Time:hh/mm/ss, Tgg Air:_cm. Mekanik pintu air menggunakan 4 batas ketinggian air meliputi kondisi kurang 0- 5cm, kondisi normal 5-10 cm, kondisi waspada 10-12,5 cm, dan kondisi banjir > 12,5 cm . Sensor posisi yang digunakan berjumlah 6 (LS1, LS2, LS3, LS4, LS5, dan LS6), sebagai pembatas posisi daun pintu air. Pada aplikasi batabase di PC mengunakan batas ketinggian 20 kali dari batas ketinggian yang terukur pada mekanik pintu air. Dari hasil pengujian keseluruhan sistem yang telah dilakukan didapat bahwa ketika ketinggian air 2 cm pada pintu air yang ditampilkan pada LCD, data ketinggian air tersebut dikirim melalui handphone logging ke handphone server di pos pusat pemantauan pada alpikasi database di PC pada pukul 14.00. di aplikasi delphi dapat terlihat data ketinggian air dalam kondisi kurang, jadi operator melakukan perintah LS1, yaitu perintah untuk menurunkan daun pintu air sampai posisi LS1 (limit switch 1). Data perintah dikirim melalui media SMS dari handphone server ke handphone logging yang ada pada rangkaian alat di pintu air untuk menggerakkan pintu air sampai posisi LS1. Kemudian motor DC menggerakkan tangkai daun pintu air dari posisi LS2 ke posisi LS1. Selanjutnya selang waktu 5 menit ketinggian air terdeteksi 4 cm pada pintu air ditampilkan pada LCD yang kemudian dikirim melalui media SMS dari handphone logging ke handphone server di pos pusat pemantauan pada aplikasi database delphi di PC pada pukul 14.05. Pada aplikasi database terlihat ketinggian air dalam kondisi kurang, kemudian operator melakukan perintah LS2. Perintah LS2 dikirim melalui handphone server ke handphone logging pada rangkaian alat di pintu air untuk menggerakkan pintu air menuju posisi LS2. Selanjutnya motor menggerakan tangkai pintu air dari LS1 ke LS2. Sehingga dari 2 contoh pengujian keseluruhan sistem yang telah dilakukan didapat bahwa ketinggian air dapat dikontrol dari kondisi kurang menjadi normal, dan pada kondisi lainnya, seperti kondisi waspada dan banjir menjadi kondisi normal.

Studi metode pelaksanaan, perhitungan konstruksi dan perhitungan rab pada kolom dan balok pada proyek pembangunan swalayan Alfamart di Jalan Raya Singosari KM 73 Malang / Arief Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Arief. 2009. Studi Pelaksanaan Pekerjaan Kolom dan Balok pada Proyek Pembangunan Swalayan Alfamart di Jalan Raya Singosari km 73 Malang. Proyek Akhir , Jurusan Teknik Sipil dan Bangunan, Program Studi Diploma Tiga Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Ir. I Wayan Jirna, MT Kata kunci : Pelaksanaan, Pekerjaan, Kolom,Balok, Beton Bangunan memegang peranan penting dalam kehidupan kita, seperti pada bangunan swalayan Alfamart di Jalan Raya Singosari km 73 Malang. Kolom dan balok adalah elemen struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur di atasnya ke struktur bawahnya. Kegagalan pelaksanaannya akan berakibat langsung pada runtuhnya struktur lain yang berhubungan dengannya. Maka daam hal ini diperlukan metode yang ketat dalam pengawasannya. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok, tahapan dalam pekerjaan kolom dan balok, dan cara pengelolaan tenaga kerjannya. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan pekerjaan beton khususnya pekerjaan kolom dan balok. Metode pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan memeriksa kelengkapan data. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan kajian pustaka sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Hasil studi pelaksanaan kolom dan balok adalah sebagai berikut. Tahapan pekerjaan kolom dan balok dimulai dari pekerjaan pekerjaan penulangan, bekisting, pengadukan adonan beton, pengecoran, perawatan beton dan pembongkaran bekisting umumnya telah sesuai dengan teori. Namun pada pengecoran terjadi beberapa kesalahan yaitu dalam urutan pemasukan bahan ke dalam mesin aduk dimulai dari air, semen, pasir dan kerikil. Dan kesalahan lainnya yaitu pengangkutan yang dilakukan oleh pekerja kurang terorganisir dan menyebabkan terjadinya segregasi pada beton. Sedangkan untuk pengelolaan tenaga kerja sudah terorganisir dengan baik. Berdasarkan hasil studi lapangan dapat disarankan untuk melakukan pengawasan yang lebih teliti terutama pada pelaksanaan pekerjaan pengecoran yaitu ketika pencampuran adonan. Sehingga didapatkan kualitas beton yang maksimal.

Penerapan metode bermain peran pada pembelajaran bahasa Jerman untuk meningkatkan unjuk kerja berbicara siswa kelas X-RPL SMKN 11 Malang / Sri Suci Dewayanti

 

ABSTRAK Dewayanti, Sri Suci. 2009. Penerapan Metode Bermain Peran pada Pembelajaran Bahasa Jerman untuk Meningkatkan Unjuk Kerja Berbicara Siswa Kelas X-RPL SMKN 11 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tiksno Widyatmoko, M.A., (II) Dra. Sawitri Retnantiti, M.Pd. Kata kunci: Metode Bermain Peran, Berbicara, Bahasa Jerman Pembelajaran kontekstual merupakan suatu konsep strategi pembelajaran yang membantu guru untuk menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan memotivasi siswa dalam menghubungan pengetahuan yang dimiliki dengan aplikasinya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bermain peran adalah salah satu metode pengajaran yang dapat digunakan secara efektif untuk mengarahkan siswa dalam mempelajari materi dengan tema tertentu. Metode ini dilaksanakan melalui sembilan tahap, yaitu: (1) memotivasi siswa, (2) memilih peran, (3) menyusun tahap-tahap peran, (4) menyiapkan pengamat, (5) pemeranan I, (6) diskusi dan evaluasi I, (7) pemeranan II, (8) diskusi dan evaluasi II, dan (9) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan unjuk kerja berbicara bahasa Jerman siswa yang meliputi kelancaran berbicara, sikap tubuh, dan volume suara melalui penerapan metode bermain peran. Penelitian ini dilaksanakan pada pembelajaran bahasa Jerman semester I di kelas X-RPL SMKN 11 Malang. Hal ini dilakukan karena siswa seringkali mengalami kesulitan dalam berbicara bahasa Jerman dengan lancar mengenai suatu tema dan masih terdapat banyak siswa yang pasif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Adapun instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi, pedoman wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual metode bermain peran dapat meningkatkan unjuk kerja berbicara bahasa Jerman siswa, sehingga kelas menjadi lebih hidup karena semua siswa dituntut untuk berbicara. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan nilai belajar siswa. Nilai hasil belajar awal sebesar 36,67 meningkat menjadi 61,56 pada siklus I dan 72,45 pada siklus II. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan unjuk kerja berbicara bahasa Jerman. Oleh karena itu, disarankan agar pengajar dapat menggunakan berbagai macam metode pengajaran dan sekaligus menggunakan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk mengajar agar tercipta kondisi kelas yang lebih hidup dan menarik.

Hubungan antara motivasi memilih jurusan restoran dan hasil belajar siswa SMK Negeri 7 Malang / Rudi Barianto

 

ABSTRAK Barianto, Rudi. 2009. Hubungan Antara Motivasi Memilih Jurusan Restoran dan Hasil Belajar Siswa SMK Negeri 7 Malang”. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Teti Setiawati, M.Pd, (II) Dra. Nunung Nurjanah, M.kes. Kata kunci : hasil belajar, smk negeri 7, motivasi memilih jurusan Sekolah merupakan tempat menimba ilmu secara formal, karena di sekolah terlaksana serangkaian kegiatan yang terencana dan terorganisir. Di Indonesia sekolah lanjutan tingkat atas ( SLTA) terdiri dari tiga, yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK Negeri 7 Malang merupakan sekolah kejuruan yang terdiri dari 3 program keahlian seperti, program Tata Boga (restoran), Tata Busana, dan Analisis Kimia. Salah satu jurusan yang sedang berkembang di SMK Negeri 7 Malang adalah jurusan restoran. Dari dua puluh mata diklat yang diajarkan pada semester ganjil tahun ajaran 2008/2009, masih banyak siswa yang belum mencapai KKM yang diinginkan oleh pihak sekolah. Dari uraian di atas penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Hubungan Antara Motivasi Memilih Jurusan Restoran dan Hasil belajar Siswa SMK Negeri 7 Malang”. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut a) Rancangan Penelitian yang digunakan adalah regresi sederhana dan berganda, (b) Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X jurusan restoran SMK Negeri 7 Malang yang berjumlah 50 orang, (c) Instrumen Penelitian pada penelitian ini menggunakan angket/ kuesioner, (d) Pengujian Instrumen pada penelitian ini adalah uji validitas dan reliabilitas, (e) Pengumpulan Data dalam penelitian ini langkah-langkahnya adalah tahap persiapan dan tahap pelaksanaan, dan (f) Teknik Analisis Data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan korelasional. Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi siswa SMK Negeri 7 Malang jurusan restoran adalah tinggi yaitu sebesar 74%, hasil belajar siswa tergolong tinggi yaitu 7,00-8,49, hasil analisis deskriptif dan korelasional menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi intrinsik maupun ekstrinsik terhadap hasil belajar, baik secara sendiri-sendiri maupun simultan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pengaruh yang signifikan antara motivasi memilih jurusan dan hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik dan dapat disarankan kepada sekolah dan orang tua untuk lebih memberikan lagi motivasi kepada siswanya dan anaknya, untuk peneliti lain agar variabel yang diteliti bisa lebih banyak lagi sehingga dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan.

Perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok di SMA Negeri 3 Bondowoso / Izatul Millah

 

ABSTRAK Millah, Izatul. 2009. Perbedaan Persepsi terhadap Bahaya Merokok antara Remaja Perokok dan Bukan Perokok di SMA Negeri 3 Bondowoso. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Triyono, M.Pd. (II) Dr. Adi Atmoko, M.Si. Kata Kunci: Persepsi, Bahaya Merokok, Remaja, Perokok, Bukan Perokok Perilaku merokok yang semakin marak di kalangan remaja, dimungkinkan dipengaruhi oleh persepsinya terhadap bahaya merokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi terhadap bahaya merokok pada remaja perokok, dan (2) pada remaja bukan perokok, serta (3) perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain deskriptif komparatif pada populasi seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 3 Bondowoso, tahun ajaran 2008/2009. Sampel diambil dengan teknik stratified random sampling dengan cara mengundi tiap-tiap tingkatan kelas sebanyak dua kelas. Data diambil dengan menggunakan angket, dan dianalisis dengan teknik persentase dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) siswa perokok yang memiliki persepsi tepat terhadap bahaya merokok sebesar 66,1% dan tidak tepat sebesar 27,1% serta sangat tepat sebesar 6,8%, (2) siswa bukan perokok yang memiliki persepsi sangat tepat terhadap bahaya merokok sebesar 70,1% dan persepsi tepat sebesar 29,9%, dan (3) ada perbedaan persepsi terhadap bahaya merokok antara remaja perokok dan bukan perokok (t = 12,335 dan sig = 0,000 < 0,05), dan persepsi terhadap bahaya merokok pada remaja bukan perokok lebih tepat dibandingkan dengan remaja perokok (selisih mean = 24,75655). Remaja perokok ternyata juga memiliki persepsi yang tepat terhadap bahaya merokok, karena itu penyuluhan bahaya merokok dimungkinkan kurang efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok, maka disarankan untuk kepala sekolah membuat kebijakan dengan memberikan sanksi tegas bagi seluruh personil sekolah yang merokok di sekolah. Bagi konselor hendaknya memberikan layanan konseling dengan pendekatan behavioral (membuat kontrak perilaku) guna menghentikan kebiasaan merokok dan mengadakan konseling kelompok dengan mendatangkan mantan pecandu rokok yang berhasil berhenti merokok sebagai model untuk berbagi pengalaman dengan siswa perokok sedangkan bagi siswa bukan perokok konselor dapat memberikan bimbingan kelompok tentang bagaimana cara menghadapi tekanan dari teman perokok sehingga siswa dapat menghadapi dan menolak rayuan untuk merokok. Bagi siswa perokok hendaknya mengikuti terapi berhenti merokok, dan bagi siswa bukan perokok hendaknya memiliki keberanian untuk menegur teman yang merokok disekitar mereka. Bagi orangtua, hendaknya memberikan dukungan sosial pada anak untuk berhenti dan menghindari merokok. Bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian eksperimen untuk menghentikan kebiasaan merokok serta mengembangkan media pengetahuan mengenai bahaya merokok.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi return saham pada perusahaan food and beverages di Bursa Efek Indonesia periodetahun 2004-2007 / Muhammad Farid Firmansyah

 

ABSTRAK Firmansyah Farid, Muhammad. 2009. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return Saham Pada Perusahaan Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2004-2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Puji Handayati, S.E., M.M., Ak., (II) Helianti Utami, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci : Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Economic Value Added (EVA), return saham. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan investor memilih saham suatu perusahaan untuk menanamkan modalnya. Salah satu faktor yang sangat diperhatikan oleh investor dalam memilih saham adalah kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian, dari sudut pandang investor, kinerja keuangan yang baik pada suatu perusahaan akan menawarkan tingkat return yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain yang memiliki kinerja keuangan yang lebih buruk. Analisis rasio merupakan suatu teknis analisis yang banyak digunakan dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan meliputi Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Economic Value Added (EVA). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara variabel Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Economic Value Added (EVA) terhadap variabel return saham. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan perusahaan dan data harga saham. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam Perusahaan Food and Beverages periode 2004-2007 sebanyak Dua puluh satu (21) perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak delapan belas (18) perusahaan. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purpossive sampling. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Economic Value Added (EVA) terhadap variabel return saham baik secara parsial maupun secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial hanya variable Return On Assets (ROA) dengan nilai signifikansi 0.000 dan Earning Per Share (EPS) dengan nilai signifikansi 0.009 dimana kedua variabel tersebut mempunyai pengaruh terhadap return saham. Sedangkan secara simultan variabel Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Economic Value Added (EVA) terhadap variabel return saham. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel-variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap pergerakan harga saham, menambah periode observasi, dan mengganti sampel penelitian, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya.

Keselamatan dan kesehatan kerja dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja karyawan operasional departemen produksi (studi pada PT. Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan) / Firdaus Pamungkas

 

ABSTRAK Faradiana, Iva. 2009. Manajemen Program Akselerasi Belajar: Studi Kasus di SMA Negeri 3 Jombang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. H. Kusmintardjo, M.Pd, (II) Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd. Kata kunci: manajemen, program akselerasi belajar Program akselerasi belajar adalah suatu bentuk program yang pelaksanaannya bertujuan untuk memberikan pelayanan terhadap peserta didik yang memiliki bakat dan kecerdasan istimewa. Istilah akselerasi ini menunjukkan pada pelayanan yang diberikan dan kurikulum yang disampaikan. Program akselerasi ini juga disebut sebagai program pemampatan waktu belajar Pengelolaan program akselerasi ini diawali dari kegiatan perencanaan, baik perencanaan penyelenggaraan maupun perencanaan struktur programnya, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi atau sistem penilaiannya. Penelitian ini memfokuskan kajian tentang manajemen program akselerasi belajar di SMA Negeri 3 Jombang, secara rinci ada empat sub fokus yaitu: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pelaksanaan; dan (4) sistem penilaian program akselerasi belajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang: (1) perencanaan; (2) pengorganisasian; (3) pelaksanaan; dan (4) sistem penilaian program akselerasi di SMA Negeri 3 Jombang. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Jombang yang merupakan salah satu sekolah menengah atas dengan akreditasi A di Kabupaten Jombang. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus. Untuk pengumpulan data, menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisis guna mendapatkan temuan penelitian. Keabsahan data diuji menggunakan teknik triangulasi dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori. Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) perencanaan program akselerasi di SMA Negeri 3 Jombang mencakup dua hal, yakni tentang perencanaan pelaksanaan program akselerasi dan penyusunan program, perencanaan program akselerasi, dilakukan melalui tiga langkah yakni, kegiatan workshop, pembentukan tim, dan sosialisasi kepada guru. Penyusunan program akselerasi dilakukan sesuai dengan penyusunan program untuk kelas reguler, namun perbedaannya hanya terletak pada alokasi waktu dan media pembelajaran yang digunakan, untuk program kelas akselerasi disusun setiap semester hanya 4 bulan; (2) secara struktural organisasi dari program akselerasi ini dipimpin oleh seorang manajer, namun manajer tersebut bukanlah kepala sekolah, pengelolaan program akselerasi tidak sama dengan program reguler, oleh karena itu pengorganisasian program akselerasi dikelola oleh sebuah tim, terdiri atas tiga orang yakni manajer, sekretaris, dan bendahara. Kepala sekolah menunjuk seorang guru untuk menjadi manajer, walaupun begitu semua tanggungjawab dan keputusan berada di tangan i kepala sekolah; (3) pelaksanaan program akselerasi dikategorikan lancar, hal ini bisa terjadi karena adanya penanganan yang sungguh-sungguh jika menghadapi masalah, diawali penerimaan siswa baru sampai dengan siswa lulus. Persyaratan untuk siswa yang mengikuti program akselerasi adalah siswa SMP kelas IX dengan nilai raport rata-rata dari semester I sampai dengan V adalah 8, dan IQ lebih dari 130. Jumlah siswa yang mengikuti program akselerasi adalah 18-20 orang siswa. Pelaksanaan program akselerasi dilengkapi dengan ICT dan sarana multimedia. Namun begitu, sekolah masih kekurangan sarana untuk almari penyimpanan materi dan perpustakaan kelas, tetapi kekurangan ini tidak mengganggu kelancaran kegiatan belajar mengajar. Program akselerasi ini dilaksanakan selama 6 semester. Pelaksanaan program akselerasi juga mendapat pengawasan yang rutin dari manajer. Pengawasan dilaksanakan untuk kegiatan belajar harian, kegiatan ujian, kegiatan laporan kepada orangtua, dan pengaduan orangtua kepada tim maupun sekolah; dan (4) sistem penilaian program akselerasi di SMA Negeri 3 Jombang meliputi dua hal, yakni tentang pertanggungjawaban kepada orangtua dan instansi terkait (Dinas Pendidikan Kabupaten dan Propinsi) serta penilaian akademik siswa. Pertanggungjawaban sekolah kepada orangtua meliputi dua hal yakni tentang akademik dan psikologis siswa. Bentuk pertanggungjawaban dilaksanakan setiap 2 (dua) tahun sekali yakni semenjak siswa dinyatakan diterima sampai dengan lulus. Sedangkan pertanggungjawaban sekolah kepada instansi terkait dilaksanakan setiap 1 (satu) tahun sekali. Walaupun secara prosedural dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali. Pertanggungjawaban dilakukan dengan teknik supervisi. Untuk penilaian akademik siswa, sistem yang dilakukan sama dengan penilaian siswa kelas reguler. Namun standar KKM yang digunakan lebih tinggi. Bentuk evaluasi yang digunakan adalah teknik tes secara tertulis dan lisan. Pelaksanaan program akselerasi berdampak sangat positif, siswa sangat enjoy dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Hal ini dikarenakan sekolah memberikan kebebasan para siswa untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sehingga siswa tidak terlalu terbebani dengan tugas sekolah. Berdasarkan kesimpulan, penelitian ini menyarankan kepada: (1) pihak sekolah atau tim khususnya diharapkan dapat lebih membuat standar kegiatan untuk program akselerasi agar dapat mengetahui kekurangan dan tingkat keberhasilan tercapainya tujuan dari kegiatan tersebut, untuk pembagian tugas tim, hendaknya lebih dibuat deskripsi yang jelas sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pelaksanaan tugasnya; (2) Dinas Pendidikan (Diknas) diharapkan untuk lebih memberikan dukungan dalam penyelenggaraan program akselerasi, dan untuk meningkatkan frekuensi pengawasan atas jalannya program akselerasi; (3) Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan dapat memberikan banyak kajian tentang pengelolaan program akselerasi belajar karena pengelolaan program akselerasi merupakan bagian dari manajemen pendidikan; dan (4) bagi peneliti lain yang melakukan penelitian dengan tema yang sama, agar dapat melaksanakan dengan pendekatan yang berbeda sehingga dapat memperkaya data program akselerasi.

Meningkatkan pembelajaran membaca menulis permulaan dengan model kartu huruf di kelas I SDN Kemiri Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan / Erlinawati

 

ABSTRAK Erlinawati.2009.Meningkatkan Pembelajaran Membaca Menulis Permulaan dengan Model Kartu Huruf di Kelas I SD Negeri Kemiri Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd, (2) Drs. A. Badawi, M.Pd Kata Kunci : Pembelajaran membaca menulis, membaca menulis permulaan, kartu huruf Kemampuan membaca menulis merupakan landasan utama untuk menimba ilmu pengetahuan. Untuk itu kemampuan membaca menulis perlu diterapkan sejak dini. Berdasarkan hasil observasi di kelas I SDN Kemiri, kemampuan berbahasa Indonesia khususnya kemampuan membaca menulis permulaan perlu diadakan perbaikan proses pembelajaran guna meningkatkan kemampuan membaca menulis. Ruang lingkup penelitian ini meliputi aktifitas guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran membaca dan menulis permulaan dengan media kartu huruf. Obyek penelitian hanya pada siswa-siswi kelas I SDN Kemiri kemiri semester ganjil tahun pelajaran 2008-2009. Hal yang diteliti mengenai keberhasilan pembelajaran membaca menulis permulaan dengan menggunakan media kartu huruf . sedangkan metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah metode SAS. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan proses pembelajaran membaca menulis permulaan dengan model kartu huruf dan perkembangan kemampuan membaca menulis permulaan. Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menguunakan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari tiga tahap kegiatan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan tahap refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran membaca menulis permulaan dengan model kartu huruf dapat mempermudah pemahaman siswa akan huruf-huruf sehingga mempermudah untuk merangkai suku kata, kata, dan kalimat. Penelitian dilakukan pada 40 siswa, hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata pada siklus I sebesar 40,2% ( kegiatan pra siklus I ) meningkat menjadi 63,25. Pada siklus II menunjukkan peningkatan prosentase dari 63,2% (kategori sedang ) menjadi 72,1% (kategori baik). Sedangkan dari hasil observasi pada siklus I dan siklus II siswa menyukai pembelajaran membaca menulis menggunakan media kartu huruf, hal ini ditunjukkan dengan 50% pada siklus I siswa dalam kategori baik, dan 55% siswa pada siklus II dalam kategori baik sekali. Selain hasil belajar dan observasi, dan wawancara dengan guru dan siswa kelas 1 menunjukkan peningkatan prestasi belajar yang berarti, hal ini terbukti siswa lebih menyukai model kartu huruf karena merasa belajar sambil bermain.

Pengaruh kondisi tata ruang kantor terhadap semangat kerja pegawai (studi pada bagian keuangan Kantor Pemerintah Kota Mojokerto) / Christia Maria

 

Manusia diciptakan sebagai mahkluk sosial, karena untuk mempertahankan hidupnya manusia diwajibkan untuk saling berhubungan dengan individu lain. Di samping itu setiap manusia dalam hidupnya tentu mempunyai kebutuhan. Kebutuhan merupakan suatu hal yang wajar bagi setiap orang untuk mencapai cita-citanya. Kebutuhan adalah keinginan setiap manusia terhadap benda atau barang dan jasa di dalam memenuhi dan mempertahankan hidupnya, yang pemuasannya bisa dilakukan baik bersifat jasmani maupun rohani. Dalam usahanya untuk berhubungan dengan orang lain dan memenuhi kebutuhan guna mencapai kemakmuran diperlukan adanya kerjasama antar individu dengan individu yang lainnya. Dengan bekerja sama, manusia akan dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan dan ditetapkan bersama-sama. Kebersamaan itu terwujud apabila mereka menyadari dan menyatukan keterbatasan yang dimilikinya masing-masing, sehingga diperlukan upaya untuk saling membantu dalam mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu mereka perlu mengadakan kegiatan yang disebut administrasi. Menurut Brech (dalam Mills, dkk 2002:3), administrasi adalah “ Bagian dari proses manajemen yang berhubungan dengan instansi dan pelaksanaan prosedur yang digunakan untuk menentukan dan mengkomunikasikan program dan perkembangan kegiatan diatur dan dicek berdasarkan target dan rencana”.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student teams achiecement division STAD) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Jerman siswa kelas X 11 Malang / Lilla Wahyuningsih

 

ABSTRAK Wahyuningsih, Lilla. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (STAD) Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Jerman Siswa Kelas X SMKN 11 Malang. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Bahasa Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Herri Akhmad Bukhori M.A, M.Hum, (2) Sri Prameswari Indriwardhani, M.Pd. Kata kunci : Pembelajaran Kooperatif model STAD, Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa. Hasil wawancara dengan guru bahasa Jerman di SMKN 11 Malang menunjukkan bahwa metode ceramah yang diterapkan guru pada mata pelajaran bahasa Jerman terasa membosankan dan kurang efektif. Oleh karena itu, diperlukan metode lain yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah Student Teams Achievement Division (STAD). Metode ini mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam sebuah kelompok. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas belajar bahasa Jerman siswa kelas X SMKN 11 malang dan (2) untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Jerman siswa kelas X SMKN 11 Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dilaksanakan dalam dua siklus tindakan, yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-Mo2 SMKN 11 Malang dengan jumlah 42 siswa. Dalam penelitian ini data berupa deskripsi dari hasil observasi aktivitas siswa, angket respon siswa dan hasil pre-test dan post-test serta ketuntasan belajar pada tiap-tiap siklus. Langkah pembelajaran berorientasi pada metode pembelajaran kooperatif model STAD yaitu (1) penyajian kelas, (2) kelompok, (3) tes atau kuis, (4) skor peningkatan individu, dan (5) penghargaan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan data aktivitas siswa mengalami peningkatan yaitu pada siklus I rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 57,7% dengan taraf keberhasilan “cukup” meningkat menjadi 80,3% dengan taraf keberhasilan “sangat baik” pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan rata-rata hasil belajar siswa. Sebelum perlakuan (pre-test) rata-rata hasil belajar siswa sebesar 61,6 dengan ketuntasan klasikal 54,7%, pada siklus I meningkat menjadi 76,7, pada siklus II meningkat menjadi 82,3 dan setelah perlakuan (post-test) rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 87 dengan ketuntasan klasikal 100%. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu hendaknya guru bidang studi dapat menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD dalam proses pembelajaran.

A Mighty Heart: a propaganda film in the 9/11 aftermath / Silvia Carolina

 

ABSTRACT Carolina, Silvia. 2009. A Mighty Heart: Propaganda Film in the 9/11 Aftermath.. Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Evi Eliyanah, S.S., M.A. Keywords: 9/11 Aftermath, Propaganda Film, Terrorism, A Mighty Heart. September 11, 2001 has become a turning point of the world. The blasting tragedy on both the symbol of established capitalist power, the World Trade Center, and the symbol of established power intelligence, the Pentagon, has marked the initiation of a new era in the history. Not only has the Cold War ended, but it is also the rises of the era of post 9/11. In response to this, President Bush called for a war. Besides the military forces, the war of ideas, or propaganda, is far more significant than ever. In this very circumstances of war on terrorism, Chossudovsky (2003) said the corporate media are controlling the public mind. The world is insisted on seeing the reality published in the public through media, either news media or even media entertainment. Propaganda after 9/11 should be able to convince especially the Muslim world that the Islamic terrorist is the current hazardous group. One of the essential propaganda tools is propaganda film, since Hollywood movies are prevailing worldwide. A Mighty Heart is one of the films depicting the issue of 9/11 aftermath. The purpose of this research is to analyze whether this film is a propaganda, and if so, how the propaganda operates in the film to potentially influence the viewers. In order to answer such questions, I use some theories of propaganda techniques, a slight theory of persuasion and public opinion, and other theories supporting this analysis. So far, very few do I find researches about Propaganda in the 9/11 aftermath, neither do I find research about A Mighty Heart using the approach of propaganda. Meanwhile, myriad analysis on propaganda films of the Cold War and the World Wars are found. Therefore, this thesis is worth conducting. The results of the analysis show that A Mighty Heart does have a power of persuasion that makes it a propaganda film in the 9/11 aftermath. A Mighty Heart applies propaganda techniques in order to be able to influence the viewers to approve what the propagandist disseminates. The film exhibits so strong emotional appeals that the viewers can hardly deny: the woman viewpoint, in general, and Muslim viewpoint in some parts. Propaganda techniques, such as name calling, glittering generalities, transfer, testimonial, plain folks, card stacking, bandwagon, and identification are employed in the fabrication of reality and fabrication of us and them, which play significant roles in the effectiveness of propaganda in this warfare. The application of the techniques above-mentioned, as I have attempted to analyze, have enriched A Mighty Heart to have a huge potency as a propaganda film for the public in the 9/11 aftermath.

Pengaruh motif berbelanja konsumen terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar / Wiji Tri Lestari Ningsih

 

ABSTRAK Ningsih,Wiji, Tri Lestari. 2009.“ Pengaruh Motif Berbelanja Konsumen terhadap Keputusan Pembelian Pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar”.Skripsi.Program Studi Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing(I) Dr. F. Danardana Murwani, M.M. (II) Drs. M. Hari, M.Si. Kata Kunci : Motif Berbelanja,Keputusan Pembelian Konsumen. Banyaknya pusat-pusat perbelanjaan dewasa ini, semakin memanjakan kebutuhan berbelanja konsumen. Di Indonesia jumlah minimarket, supermarket, sampai pasar dan toko modern raksasa seperti Hypermarket dapat dengan mudah kita temukan. Berdasarkan data PT ACNielsen Indonesia (2007) persentase, pertumbuhan pasar dan toko modern lebih tinggi dibandingkan dengan persentase pasar dan toko tradisional, yaitu toko modern tumbuh 14 persen, sedangkan toko tradisional hanya 3 persen. Penelitian tentang konsumen tumbuh/berkembang secara menarik sejalan dengan pengalaman belanja konsumen yang terkait dengan beberapa kegiatan konsumtif antara untuk kesenangan atau karena kebutuhan. Nilai bersenang-senang dalam berbelanja menggambarkan nilai hiburan dan emosional yang potensial. Tidak semua orang melakukan kegiatan berbelanja karena untuk memenuhi kebutuhan, tetapi ada juga orang beralasan kegiatan berbelanja sebagai bagian untuk bersenang-senang atau sebagai pelarian disaat menghadapi masalah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Gambaran keputusan berbelanja konsumen di Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (2) Pengaruh utilitarian shopping motives terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan Blitar. (3) Pengaruh hedonic shopping motives terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (4) Pengaruh utilitarian shopping motives dan hedonic shopping motives secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Pada penelitian ini, variabel bebas (X) yaitu Motif Berbelanja yang terdiri dari dua subvariabel yaitu Utilitarian Shopping Motives (X1 ) dan Hedonic Shopping Motives (X2). Sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah keputusan pembelian. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen / pelanggan yang berbelanja di Bentar Dipayana Swalayan Blitar, yang jumlahnya tak terhingga. Untuk menentukan sampel digunakan rumus Daniel dan Terrel, dengan tingkat kesalahan sebesar 0,05 ditemukan sampel sebanyak 113. Untuk pengambilan sampel menggunakan metode Accidental sampling dan metode pengumpulan data adalah dengan menyebarkan angket/kuesioner. Sedangkan analisa data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Rata-rata responden menyatakan setuju dengan faktor-faktor pembentuk motif berbelanja dan faktor-faktor pembentuk keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar (2) Ada pengaruh yang positif signifikan dari utilitarian shopping motives secara parsial terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (3) Ada pengaruh yang positif signifikan dari hedonic shopping motives secara parsial terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. (4) Ada pengaruh yang positif signifikan dari utilitarian dan hedonic shopping motives maupun simultan terhadap keputusan pembelian pada Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama penelitian adalah (1) Manajemen Bentar Dipayana Swalayan di Blitar. Perusahaan hendaknya mampu memanfaatkan secara maksimal Utilitarian Shopping Motives dan Hedonic Shopping Motives, sehingga harapan perusahaan untuk dapat melayani semua lapisan masyarakat dapat terwujud.Untuk menarik konsumen yang motif berbelanjanya adalah Utilitarian Shopping Motives perusahaan dapat menyediakan ragam kebutuhan sehari – hari berdasarkan manfaat produk tersebut secara lebih variatif, baik dari segi harga maupun pilihan produknya. Sementara untuk mendapatkan konsumen yang motif berbelanjanya Hedonic Shopping Motives, perusahaan lebih memfokuskan lagi pada produk-produk apa yang biasanya motif pembeliannya berdasarkan motif ini. (2) Pada peneliti berikutnya disarankan agar dapat meneruskan penelitian ini pada obyek dan variabel yang lebih kompleks lagi.

Pengaruh collateral assets, leverage dan investment opportunity set (IOS) terhadap kebijakan deviden / Uun Undarti

 

ABSTRAK Undarti, Uun. 2010. Pengaruh Collateral Assets, Leverage dan Investment Opportunity Set (IOS) terhadap Kebijakan Dividen. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Makaryanawati, S.E., M.Si., Ak., (II) Ika Putri Larasati, S.E., M.Com Kata kunci: Collateral assets, Leverage, Investment Opportunity Set (IOS), Kebijakan Dividen Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Penetapan kebijakan dividen ini sangat penting karena berkaitan dengan tujuan utama perusahaan yaitu untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh variabel independen Collateral Assets (X1) yang diukur dengan menggunakan rasio aktiva tetap terhadap total aktiva, Leverage (X2) yang diukur dengan menggunakan times interest earned ratio, dan Investment Opportunity Set (X3) yang diukur dengan menggunakan rasio market to book value of equity terhadap variabel dependen Kebijakan Dividen (Y) yang diukur dengan dividend yield. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari ICMD dan dari situs www.idx.com dengan metode dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa semua variabel bebas yang terdiri dari collateral assets, leverage dan investment opportunity set (IOS) tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Sehingga penelitian ini tidak sesuai dengan teori keagenan. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: (1) bagi manajemen perusahaan, meskipun pada penelitian ini collateral assets, leverage dan investment opportunity set (IOS) terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen karena perusahaan beranggapan bahwa kenaikan dividen merupakan sinyal bagi investor akan prospek perusahaan di masa depan sesuai dengan signaling theory, akan tetapi perusahaan tetap memperhatikan IOS yang terbukti dapat mengurangi agency cost antara manajer dengan pemegang saham, (2) calon investor selain melihat besarnya dividen yang akan diterima, sebaiknya juga melihat catatan atas laporan keuangan untuk menganalisis tingkat kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Selain itu, investor juga harus lebih jeli dalam melihat adanya kesempatan investasi perusahaan yang lebih menguntungkan, (3) bagi penelitian selanjutnya, peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap kebijakan dividen. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan mencoba menggunakan lima proksi yang biasanya digunakan untuk mengukur IOS. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat juga menggunakan sampel perusahaan berdasarkan jenis industri tertentu dan menambah periode penelitian sehingga dapat memberikan hasil yang signifikan terhadap kebijakan dividen.

Peranan serikat pekerja dalam membina hubungan industrial (studi kasus serikat pekerja pada BRI Kantor Cabang Martadinata Kota Malang) / Muaddib

 

ABSTRACT Muaddib. 2009. The Role of Labour Union in Developing Industrial Relations (A case study of Labor Union in the BRI Martadinata Branch-Office Malang). Management Department of State University of Malang. Advisers : (1) Dr. Budi Eko Soetjipto,M.Ed.,M.Si (2) Afwan Hariri A.P.S.E ,M.Si Keywords : Labour Union, Industrial Relations Reformation has given many changes to the democrational existent in Indonesia, including the labour existent, one of them is by publishing UU No.13 Tahun 2003 about employment and UU No.21 Tahun 2001 about the labour unions. Labourers are given a freedom guarantee to build organizations of labour union in the companies, likewise with the system of industrial relation. Nowadays, the system of industrial relations has been more decentralized, the mechanism of taking decisions dealing with the system of industrial relations has also been more dialogic. In order to do that, the labour unions have important roles in establishing the industrial relations. Labour union is a labour organization which is created to improve, protect, and repair the social, economic, and political problems from its own members through collective action. In fact, this labour union will affect the policies which are going to be decided by management. Industrial relation is a relational system composed among labours/workers, and government which is based on the aspects of Pancasila and UUD 1945. Industrial relations will discuss the whole aspects and economic, social, politic, and cultural problems; directly or indirectly, which is related to the relations among the labours and the labourers. This research is using descriptive-qualitative approach. Descriptive research is aimed to get informations dealing with present situation and only explain about the real situation of the object which is analyzed. Because of that, this research doesn’t test hypothesis, rather than only describes informations based on the fact. In this research, the instrument is the researcher himself who plans, does, collects data, analize, evaluated, and report the research result. The result of this research explains that labour unions have been well functioned on the process of building the company rules through discussion forum which is implemented in the branch level, regional, and central. The rules of BRI company have been well implemented labour union, and management have realized the whole regulations, include their authority and obligation. The rules of BRI company are applied as a guide for the labour union and management in carrying out the activities and businesses. While the function of an institution in biparting corporation of BRI Martadinata Branch- Office is as a communication forum and a consultation for the labour union and management. Moreover, another function of bipartit institution is as a forum to solve the disagreement and the problems related to industrial relations. Many problems have been well solved through bipartit institution. Based on the result of this research above, labour union of BRI Martadinata Branch-Office Malang may be suggested to be more decisive and more pro, moreover it will be more effective if the labour union had its own offices to support its operational organization. It is expected for the next research to more lengthen the presence and participation of the researcher in this research, decide the focus and the problems of the research more specifically.

Revealing the effects generated by the translation strategies used in translating Taboo expressions in the novel Eleven Minutes from English into Indonesian / Kurnianing Mahardini

 

ABSTRACT Mahardini, Kurnianing. 2009. Revealing the Effects Generated by the Translation Strategies used in Translating Taboo Expressions in the Novel Eleven Minutes from English into Indonesian. Skripsi, Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Setyadi S, M.Pd. Permasalahan mengenai penerjemahan antar budayaan sangatlah menarik untuk dibicarakan disaat film-film dan buku-buku untuk dewasa banyak diterjemahkan. Masalah muncul ketika seorang penerjemah dihadapkan pada ungkapan-ungkapan yang berbau tabu pada teks sumber dan menuntut pememilihan strategi yang akan ia gunakan untuk menerjemahkan kata-kata tersebut. Eleven Minutes adalah sebuah novel populer yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Versi indonesia dari novel ini, Sebelas Menit, diterjemahkan oleh dua penerjemah professional, Tanti Lesmana dan Arif Subiyanto. Ketika penulis membaca novel ini, ia menemukan banyak kata yang dianggapnya tabu berdasarkan nilai-nilai ketimuran, khususnya, nilai-nilai dalam kebudayaan Indonesia. Permasalahan tersebut sangat menggelitik penulis untuk menemukan strategi-srategi yang digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan ungkapan-ungkapan tabu, khususnya ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan aktivitas seksual. Hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih dalam tentang pertimbangan-pertimbangan apa saja yang harus diambil oleh para penerjemah dalam mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada diantara budaya bahasa asal dan sasaran. Sebelas Menit adalah buku best seller internasional oleh penulis The Alchemist. Penelitian ini menggunakan ungkapan-ungkapan tabu yang di temukan dalam novel Eleven Minutes sebagai subjeknya karena dalam studi literatur, kata-kata tabu tergolong dalam ‘bahasa yang dilarang' atau ‘bahasa yang kasar' (Drozde dan Vogule, 2008:24). Yang dimaksud dengan ungkapan tabu dalam penelitian ini adalah ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan seksualitas, khususnya bagian yang memaparkan tentang aktivitas seksual. Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah kalimat-kalimat yang menggandung ungkapan-ungkapan tabu dari novel Bahasa Inggris Eleven Minutes dan versi Indonesianya Sebelas Menit pada bagian yang memaparkan tentang aktivitas seksual. Dari kalimat-kalimat ini, ungkapan tabu akan diidentifikasi dan dikatagorikan berdasarkan efek-efek yang ditimbulkan dari penggunaan strategi-strategi yang digunakan oleh penerjemah. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa, ada tiga efek yang dihasilkan dari penggunaan strategi-strategi penerjemahan yaitu efek memperhalus, melebih-lebihkan, dan sepadan. Efek memperhalus muncul ketika penerjemah menerjemahkan ungkapan-ungkapan dari bahasa sumber dengan bahasa tidak langsung dan mengurangi elemen semantik yang terkandung dalam ungkapan yang terdapat pada bahasa sasaran. Untuk menghasilkan efek memperhalus, ada tiga strategi yang digunakan oleh penerjemah yaitu strategy paraphrase, synonymy, dan kombinasi. Efek kedua, melebihkan, didapatkan dari adanya elelmen semantik tambahan yang muncul pada ungkapan terjemahan. Efek ini dihasilkan dari penggunaan strategi synonymy, penambahan, dan kombinasi. Efek yang terakhir, sepadan, didapat ketika ungkapan bahasa sumber memiliki arti dan efek yang sama dengan ungkapan bahasa sasaran. Efek sepadan diperoleh dari penggunaan strategi naturalisasi dan literal. Efek yang sering kali muncul adalah efek melebihkan (58.54%). Efek ini mengajak pembaca untuk melihat lebih dekat gambaran sensual yang tersembunyi dibalik pemilihan kata-kata tertentu oleh penulis ketika menceritakan bagian dari novel tersebut yang didalamnya terdapat ungkapan-ungkapan tabu. Hal ini bisa terjadi karena penerjemah memilih untuk berdiri pada sisi pembaca. Dalam menerjemahkan ungkapan-ungkapan tabu yang terdapat dalam novel tersebut, penerjemah menunjukkan ketidakkonsistenannya. Terkadang ia memperhalus ungkapan, namun disisi lain ia menerjemahkannya apa adanya, bahkan malah melebihkannya. Namun, dengan melakukan hal ini, produk terjemahannya menjadi terdengar sangat natural dan halus. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan hasil terjemahan yang tidak terbaca seperti sebuah terjemahan sama sekali, tetapi lebih pada pemberian baju baru dengan motif yang sama seperti aslinya.

Pengaruh leverage, rasio aktivitas dan earning variability terhadap resiko investasi saham pada perusahaan LQ-45 yang listing di bursa efek Indonesia periode 2006-2008 / Tri Mardiani

 

ABSTRAK Mardiani, Tri. 2010. Pengaruh Leverage, Rasio Aktivitas, dan Earning Variability, terhadap Risiko Investasi Saham. Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Agung Winarno, M.M (II) Ely Siswanto, S. Sos, M.M Kata kunci: leverage, rasio aktivitas, earning variability, risiko investasi. Untuk mengarahkan investor pada suatu investasi saham dengan risiko sistematis sebagai indikatornya, diperlukan suatu alat analisis melalui pemahaman atas karakteristik tingkat risiko saham, maka para investor akan dapat melakukan pemilihan saham secara logis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh leverage, rasio aktivitas, dan earning variability terhadap risiko investasi saham baik secara parsial maupun secara simultan terhadap perusahaan LQ-45 periode 2006-2008 Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang masuk kategori LQ-45 tahun 2006-2006. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan, harga saham bulanan (clossing price), dan indeks LQ-45. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan variabel leverage, rasio aktivitas, dan earning variability berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham. Dengan menggunakan signifikansi sebesar 5% secara parsial variabel leverage, rasio aktivitas tidak berpengaruh terhadap risiko investasi saham, tetapi earning variability berpengaruh signifikan terhadap risiko investasi saham. Dan dari hasil penelitian diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar sebesar 29,7% hal ini menunjukan bahwa besarnya sumbangan DFL, DOL, TATO, dan earning variability sebesar 29,7% sedangkan 70,3% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian berikutnya (1) menggunakan variabel bebas lain seperti asset growth, liquidity, dan accounting beta. Selain dari variabel mikro di atas, juga dipertimbangkan variabel makro seperti suku bunga, inflasi, dan nilai tukar yang akan mempengaruhi besar kecilnya risiko investasi saham di pasar modal, (2) untuk lebih meneliti mengenai nilai ”batas-batas tertentu” leverage yang dapat mengakibatkan kerugian finansial bagi perusahaan,

Penerapan model pembelajaran dengan tipe stad untuk meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS ekonomi siswa kelas VII di MTs Surya Buana kota Malang / Rahayu Kusumaningsih

 

ABSTRAK Kusumaningsih, Rahayu. 2010. Penerapan Model Pembelajatan Dengan Tipe STAD untuk Meningkatkan Prestasi Belajar pada Mata Pelajaran Ekonomi Siswa Kelas VII di MTs Surya Buana kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Sugeng Hadi Utomo, M.S., (II) Drs. Mardono, M.Si. Kata Kunci: STAD, Prestasi, Respon Belajar. Pemerintah telah mempercepat pencanangan Millenium Development Goals, yang semula dicanangkan tahun 2020 dipercepat menjadi tahun 2015, sebagai era persaingan mutu atau kualitas. Oleh karena itu pembangunan sumber daya manusia ( SDM ) berkualitas merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat ditawartawar lagi. Salah satu metode pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah metode pembelajaran kooperatif. Metode STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang mampu memberikan gambaran kepada siswa untuk memecahkan masalah. Metode STAD merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Penelitian ini dilakukan di MTs Surya Buana Malang, kelas VIIA. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung. Peristiwa yang dimaksud adalah proses pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan dalam kelas, prestasi belajar serta respon belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Berdasarkan hasil analisis ketuntasan belajar siswa pada siklus I, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 15 siswa atau 65 % dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 8 siswa atau 34,8%. Ketuntasan belajar pada siklus I belum dapat memenuhi ketuntasan belajar secara keseluruhan, Dikarenakan hampir 34,8% siswa belum tuntas belajar dan dikategorikan belum mencapai ketuntasan belajar kelas secara keseluruhan (�� 85 %). Tetapi jika dibandingkan dengan persentase jumlah siswa yang tuntas belajar pada ulangan harian sebelum tindakan sebesar 66,18%, maka terjadi peningkatan sebesar 3.16%. Rendahnya hasil evaluasi prestasi belajar dari aspek kognitif siklus I, disebabkan siswa belum aktif dalam kegiatan pembelajaran kooperatif tipe STAD, hanya siswasiswa tertentu saja yang aktif, sehingga tidak semua siswa memperoleh pengalaman belajar. Selain kurang aktifnya siswa, siswa cenderung Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com Click to buy NOW! PDFXCHANGE www.docutrack. com ii terbiasa ditugaskan merangkum catatan di papan tulis dan jarang sekali diberi tugas. Sehingga pada saat siswa mendapat lembar kerja siswa (LKS), siswa cenderung malas mengerjakan dan hanya menunggu jawaban temannya. Sehingga peneliti mengintruksikan kepada siswa untuk mengerjakan secara bersamasama, masingmasing siswa mendapat bagian untuk mengerjakan soal dan mendiskusikan jawaban yang telah mereka kerjakan bersama kelompoknya. Dengan begitu tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok. Pada siklus II dilakukan beberapa koreksi dan perbaikan dengan bertolak dari hasil refleksi pada siklus I. Bila dilihat dari ketuntasan belajar maka pada siklus II terjadi kenaikan ketuntasan belajar siswa. Banyaknya siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 24 siswa atau 96% dan siswa yang belum tuntas sebanyak 1siswa atau 4%. Maka dalam hal ini terjadi kenaikan Ketuntasan belajar yang mencapai 69,34 pada siklus I, dan pada siklus II menjadi 84,24. Sehingga terjadi kenaikan sebesar 14,9 . Pada siklus II prestasi belajar siswa sudah mencapai standart ketuntasan belajar secara keseluruhan yaitu mencapai 96% (��85%). Tetapi pada siklus II masih ada 1 siswa yang prestasi belajarnya belum tuntas, sehingga guru perlu memberikan perhatian khusus. Siswa tersebut baru saja pindah dari sekolah lain, sehingga masih memerlukan adaptasi di sekolah yang baru. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif dengan tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, aktivitas belajar siswa serta respon belajar siswa dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta respon siswa dalam mengikuti mata pelajaran ekonomi. Saran dalam penelitian ini antara lain Perlu adanya pengkondisian bagi masingmasing tingkat satuan pendidikan dan guru mata pelajaran ekonomi khususnya dalam menggunakan model pembelajaran tipe STAD agar dapat menghasilkan hasil optimal dalam pencapaian tujuan pendidikan. Penerapan pembelajaran dengan model STAD hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan dan lingkungan belajar siswa serta ketersediaan waktu yang cukup. Hal ini dikarenakan dengan waktu yang optimal pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan akan mendapatkan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien.

Efektivitas penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kemampuan membaca cepat siswa kelas VII SMPN 1 Pare tahun ajaran 2008/2009 / Rany Agung Prameswari

 

ABSTRAK Prameswari, Rany Agung. 2009. Efektivitas Penerapan Metode Self-Pacing Terhadap Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pare Tahun 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Martutik, M.Pd. Kata kunci: membaca cepat, metode self-pacing, pembelajaran membaca Kemampuan membaca cepat siswa kurang berkembang karena siswa merasa telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik kecepatan maupun tingkat pemahamannya. Kecepatan dan pemahaman semula dapat ditingkatkan dengan berlatih sungguh-sungguh unttuk meningkatkan kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan yang lebih baik dari sebelumnya. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat adalah metode self-pacing yang meliputi lima macam teknik untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dengan langkah-langkah pengorganisasian diri untuk dapat membaca cepat, salah satunya adalah the card yang diterapkan dalam penelitian ini. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menggunakan kartu atau lembaran kertas yang dilipat dan diletakkan di atas kalimat-kalimat yang telah dibaca. Ketika telah membaca, kartu ditarik ke bawah secara perlahan-lahan dan teratur. Dalam menggunakan kartu untuk menutup kalimat-kalimat yang telah dibaca ini, diusahakan membaca bagian baris sebelum menutupnya. Hal ini akan membantu untuk menghindari kebiasaan membaca bagian yang sama berulangulang dan juga membantu untuk lebih memfokuskan perhatian pada bagian yang dibaca. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui ada tidaknya pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kecepatan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Pare, dan (2) mengetahui ada tidaknya pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa kelas VII SMPN 1 Pare. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu dengan dua kelompok. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII C dan VII E SMPN 1 Pare. Dalam penelitian ini, data berupa hasil pretes dan postes kecepatan membaca dan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan membaca siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki nilai uji statistik 2,540 lebih besar dari nilai t tabel 2,045 maka H1 diterima. Dengan demikian, ada pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kecepatan membaca siswa kelas VII SMPN 1 Pare. Sedangkan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki nilai uji statistik 0,481 lebih kecil dari nilai t tabel 2,045 maka H1 ditolak. Dengan demikian tidak ada pengaruh positif penerapan metode self-pacing terhadap peningkatan kemampuan menceritakan kembali isi bacaan siswa kelas VII SMPN 1 Pare. Hal ini karena motivasi tujuan membaca siswa tidak murni berasal dari dalam diri siswa sehingga hasil bacaan tidak maksimal. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah untuk lebih menanamkan motivasi tujuan membaca dari dalam diri siswa agar penerapan metode self-pacing memperoleh hasil bacaan yang maksimal.

Pengembangan modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA / Lilik Wulansari

 

ABSTRAK Wulansari, Lilik. 2009. Pengembangan Modul Keterampilan Membaca Bahasa Indonesia Siswa Kelas XI SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. H. Nurhadi, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, modul, keterampilan membaca. Sistem pembelajaran dengan modul merupakan perubahan dari sistem pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Pembelajaran modul dapat menuntun siswa untuk bisa belajar sendiri dan maju sesuai dengan kecepatannya sendiri. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan. Data dalam pengembangan ini sesuai dengan KTSP bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA, daftar rujukan atau referensi teori membaca. Data yang diperoleh dari pengembangan ini adalah kualitatif berupa hasil wawancara dengan ahli membaca bahasa Indonesia dan guru bahasa Indonesia, serta data hasil uji produk dalam pengembangan yang berupa data verbal dan skor nilai. Sumber data tersebut diperoleh dari subjek penelitian yaitu ahli materi, guru bahasa Indonesia, dan siswa kelas XI SMA. Hasil pengembangan modul berupa 1) kompetensi dasar sesuai dengan KTSP yang harus dicapai oleh siswa kelas XI SMA agar keterampilan membacanya meningkat. Kompetensi dasar yang dikembangkan adalah a) menemukan perbedaan paragraf induktif dan deduktif melalui kegiatan membaca intensif, b) membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik, c) menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat, d) menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Indonesia/terjemahan, d) mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kata per menit, e) membedakan fakta dan opini pada editorial dengan membaca intensif. 2) Materi yang dikembangkan pada modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA, yaitu disesuaikan dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai. Materi disajikan berupa teks lengkap atau kutipan, gambar, dan foto yang bersumber dari media cetak maupun media elektronik yang relevan. 3) Pengembangan latihan pada modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA agar kompetensi yang diinginkan tercapai. Latihan pada masing-masing unit isinya disesuaikan dengan materi pembelajaran. 4) Model tampilan pada pengembangan modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA. Model tampilan meliputi tampilan sampul/cover modul dan tampilan isi modul yang dibuat semenarik mungkin dengan disertai gambar pendukung agar siswa lebih tertarik untuk mempelajari modul. Modul ini memuat kajian materi yang cukup jelas dan disertai contoh soal beserta kunci jawaban. Selain itu, dalam modul ini juga terdapat aktivitas umpan balik yang merupakan arahan kegiatan yang harus dilakukan siswa untuk mengetahui kriteria nilai yang diperoleh. Soal-soal latihan yang terdapat dalam modul ini bertujuan membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diterapkan. Hal tersebut merupakan faktor-faktor pendukung yang bisa membuat siswa belajar secara mandiri dan menghubungkan materi dengan lingkungan sekitar yang konstruktivis. Modul ini sangat diminati oleh subjek coba yaitu siswa, terbukti dengan antusiasme siswa saat mempelajari modul dan juga terbukti dengan perolehan nilai siswa yang baik saat mengerjakan soal evaluasi. Pada akhir penelitian ini dihasilkan produk berupa modul keterampilan membaca bahasa Indonesia siswa kelas XI SMA yang siap digunakan dalam proses belajar mengajar yang dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa. Modul ini perlu dimanfaatkan siswa untuk belajar secara mandiri dalam rangka memperoleh pengetahuan yang konkret tentang penguasaan kompetensi dasar kemampuan membaca.

Kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang / Erlis Mareta Puspasari

 

ABSTRAK Puspasari, Erlis Mareta. 2009. Kemampuan Membaca Pemahaman dan Kemampuan Mengarang Siswa Kelas XI SMA Negeri I Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. H. Sumadi, M.Pd. Kata kunci: membaca pemahaman, mengarang. Membaca pemahaman merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa kelas XI SMA/MA. Melalui kegiatan membaca pemahaman inilah siswa memperoleh berbagai informasi secara aktif reseptif. Dengan memiliki kemampuan membaca pemahaman yang tinggi, siswa dapat memperoleh berbagai informasi dalam waktu yang relatif singkat. Setelah siswa melakukan kegiatan membaca pemahaman, diharapkan siswa dapat menyampaikan kembali isi bacaan yang telah mereka peroleh dari kegiatan membaca pemahaman. Melalui kegiatan penyampaian kembali isi bacaan inilah dapat diketahui tingkat pemahaman siswa dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Salah satu bentuk kegiatan penyampaian kembali isi bacaan ini berupa kegiatan mengarang. Mengarang juga merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa SMA, khususnya kelas XI. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi objektif kemampuan membaca pemahaman dan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri I Malang. Selain itu, juga untuk mengetahui hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri I Malang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang mampu membaca pemahaman, siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang mampu mengarang, dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang Penelitian ini dilaksakan pada bulan April 2009 di SMA Negeri I Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini meliputi skor kemampuan membaca pemahaman dan skor kemampuan mengarang. Setelah diketahui skor dari masing-masing kemampuan, kegiatan selanjutnya adalah mengukur tingkat korelasi antara keduanya dengan menggunakan Pearson Product Moment. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa siswa kelas XI SMA Negeri I Malang mampu membaca pemahaman dan mengarang. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa 86,1% siswa mendapatkan nilai ≥7 dalam tes kemampuan membaca pemahaman dan 88,89% siswa mendapatkan nilai ≥7 untuk tes kemampuan mengarang. Selain itu, melalui analisis Pearson Product Moment diketahui pula bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan mengarang siswa kelas XI SMA Negeri I Malang. Besarnya nilai r hitung adalah sebesar 0,674 dengan taraf signifikansi 1%. Adapun beberapa saran yang bisa disampaikan sehubungan dengan pembelajaran membaca pemahaman dan kemampuan mengarang adalah sebagai berikut. Pertama, guru disarankan agar memberi latihan kepada siswa mengenai teknik membaca pemahaman yang efektif dan efisien untuk lebih meningkatkan lagi kemampuan siswa dalam membaca pemahaman. Kedua, guru hendaknya juga memberikan latihan yang lebih banyak lagi kepada siswa mengenai keterampilan mengarang. Ketiga, untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif, dalam penelitian-penelitian sejenis berikutnya hendaknya lebih diperluas lingkup mengenai strategi membaca pemahaman, aspek-aspek yang mempengaruhi membaca pemahaman, serta tingkat pemahaman membaca. Demikian pula dengan keterampilan mengarang.

Improving the reading comprehension ability of the eleventh grade students of MAN 2 Madiun through the small group discussion technique / Ida Sriwidati

 

ABSTRACT Sriwidati, Ida. 2009. Improving the Reading Comprehension Ability of the Eleventh Grade Students of MAN 2 Madiun through Small group Discussion. Thesis, English Language Education, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Yazid Basthomi, M.A. (II) Drs. Fachrurrazy, M. A., Ph. D. Key words: improving, reading comprehension, small group discussion technique Reading is an important activity in every language. Reading enables people to find out information from a variety of texts, written or printed information from newspapers, magazines, advertisements, brochures, and so on. According to Djiwandono (2008:62) reading is an important activity and becomes more important in this modern world, where the development in every life aspect occurs very quickly. As a part of language skills, reading plays an important role for the success of language learning. In reading activity, we are not only reading the text, but also trying to understand what we are reading. The study was designed to improve the students’ reading comprehension ability by using the small group discussion. The study was collaborative Classroom Action Research. The subjects were the students of XI IPA3 at MAN 2 Madiun in the 2008/2009 academic year consisting of forty students. The study was conducted through cyclic activities to collect the data consisting of preliminary study, planning, implementing, observing, and reflecting. There were two criteria to determine that the study was considered successful, namely, the students’ mean score increased from 5.6 into 6.5, the students were actively involved in the teaching learning activities, and 80 %of the students were able to answer the questions based on the text in reading comprehension. The findings indicated that small group discussion was successful in improving students’ reading comprehension ability. The improvement could be seen from the increase of the students’ mean scores and the students’ involvement in reading comprehension activities. The mean scores obtained by the students in the two cycles were shown by the results of their test. While the students’ involvement in reading comprehension activities in the two cycles were shown by the observations checklists, field notes, and also the results of the test. The mean score 64.70 in Cycle 1 had not achieved the first criterion of success. In Cycle 2, the students’ mean score reached 70.83. This means that the first criterion of success had not been achieved. Besides, the finding also showed that small group discussion was effective in enhancing the students’ involvement in reading comprehension activity. In Cycle 1, 65% of the students were involved in reading activity and the percentage was bigger in Cycle 2 that is 80%. This means that the second criterion of success was achieved. Furthermore, the findings of the study revealed that the appropriate model of small group discussion could be well implemented by using three procedures: (a) pre- reading activity that focused on activating the students’ prior knowledge; (b) whilst reading activity that focused on reading the text silently, discussing the content of the text with their group, answering comprehension questions, monitoring and providing assistance, and checking the students’ answers; (c) post reading activity that focused on rechecking the students’ understanding of the text. From the findings, it could be inferred that small group discussion was not only effective in improving the students’ reading comprehension ability but also in enhancing their participation in the learning process. Therefore, it was suggested that English teachers applied small group discussion in teaching and learning reading comprehension. Yet, teachers should design a suitable model of small group discussion, designed the lesson plans, chose model texts, composed tasks, and allocated the time since more time was required when it came to low achievers. Furthermore, teachers should consider the principles of small group discussion so as to reach the expected outcomes. Besides, it was advisable that teachers gave more and various tasks to the students. The tasks could be done at home as a homework or project if the time at school was limited. More and various tasks could enrich students’ knowledge and made them more trained. To the future teacher-researchers, particularly those who were interested in applying small group discussion in their classroom research, it was suggested that they conducted classroom action research on the use of small group discussion in teaching reading related to text types other than the one in this research, such as procedure, report, recount, narrative and hortatory exposition.

Peningkatan penguasaan konsep alam semesta dan suasana belajar melalui pembelajaran tematik bagi siswa kelas III SDN Kejayan Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Dwi Kristiana

 

Proses pembelajaran yang dilaksanakan di kelas III SDN Kejayan Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan kurang efektif. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya penguasaan konsep siswa tentang tema alam semesta. Kurangnya penguasaan konsep disebabkan karena metode guru yang sifatnya ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Untuk memperbaiki pembelajaran tersebut digunakan pendekatan pembelajaran tematik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan suasana belajar dan penguasaan konsep siswa tentang tema alam semesta dalam pembelajaran tematik. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, yaitu (1) siklus I, pembelajaran tematik dilakukan dengan menyusun rancangan pembelajaran, kegiatannya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, (2) siklus II, tema yang ditentukan yaitu alam semesta, dijadikan pusat perhatian dan pembelajaran tematik dilaksanakan dengan menggunakan metode yang bervariasi dan menonjolkan keaktifan siswa, yaitu dengan pengamatan dan kerja kelompok. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Kejayan Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 40 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) suasana belajar dan penguasaan konsep tentang tema alam semesta siswa sebelum pembelajaran tematik belum optimal, (2) Nilai penguasaan konsep tentang tema alam semesta siswa sebelum pembelajaran tematik hanya mencapai 42,5%, hanya 17 siswa yang mendapat nilai 70 dan diatas 70, (3) Pembelajaran tematik terbukti meningkatkan suasana belajar siswa melalui aktivitas belajarnya. Peningkatan tersebut dari 69,53 pada siklus I menjadi 84,53 pada siklus II sebanyak 21,57%, dikategorikan sangat baik. Selain itu, adanya peningkatan penguasaan konsep tentang tema alam semesta siswa dari nilai rata-rata 63 pada pra tindakan menjadi 81 pada siklus II. Peningkatan tersebut sebanyak 18 (28,57%), dikategorikan baik sekali. Peningkatan ini juga didukung kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran tematik. Saran pada penelitian ini adalah guru diharapkan bisa menerapkan pembelajaran tematik di sekolah, guru hendaknya lebih kreatif dalam menyusun perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan guru bisa menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.

Teknik pembelajaran menyimak-berbicara bahasa Indonesia siswa autis kelas III sekolah dasar di Sekolah Autisme Laboratorium Universitas Negeri Malang / Listieningsih

 

Abstrak: Penelitian ini dilakukan terhadap siswa autis yang berkenaan dengan teknik pembelajaran menyimak-berbicara yang dilakukan guru. Pembelajaran menyimak-berbicara sebagai keterampilan bahasa reseptif-ekspresif sangat penting dan perlu diperhatikan sebagai program pengajaran bahasa, khususnya bagi siswa autis. Hal ini terkait dengan kesulitan dalam komunikasi siswa, yakni sulit memahami tuturan dan mengekspresikan keinginan diri kepada lawan bicaranya. Dalam pelaksanaan pembelajaran menyimak-berbicara ini, guru menggunakan cara-cara ilmiah, yang disebut sebagai teknik pembelajaran. Teknik inilah yang diterapkan guru kepada siswa dalam menyampaikan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kata kunci : teknik menyimak, berbicara.

Pengembangan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana Malang / M. Syafi'udin Pramestari

 

ABSTRAK Pramestari, Syafi’udin, M. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Macromedia Flash Professional 8 Untuk Kelas VII MTs Surya Buana. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Moh. Ainin, M.Pd., (2) Moh. Ahsanuddin, M.Pd.I. Kata kunci: Macromedia Flash, CD, media pembelajaran, bahasa Arab. Kemajuan teknologi yang pesat, khususnya teknologi informasi mendorong manusia untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat digunakan kapan pun dan di mana pun. Di samping itu, metode pembelajaran bahasa Arab yang konvensional dan klasik menuntut guru untuk menggunakan media yang lebih relevan dengan tuntutan zaman, agar siswa lebih termotivasi dalam belajar bahasa Arab. Media tersebut adalah berupa media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8. Tujuan penelitian adalah: (a) membuat tampilan hasil pengembangan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana, (b) membuat langkah penggunaan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana, (c) mengembangkan materi yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 untuk siswa kelas VII MTs Surya Buana. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model prosedural. Uji lapangan dilaksanakan di MTs Surya Buana Malang. Langkah- langkah penelitian pengembangan media pembelajaran berbasis macromedia flash professional 8 adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis bahan ajar, (3) analisis kebutuhan siswa, (4) desain media, (5) produksi, (6) editing, (7) prototipe media, (8) validasi produk, (9) revisi dan penyempurnaan, (10) tahap akhir. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data persentase. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (human instrument) sebagai instrumen kunci, dan instrumen penunjang berupa angket. Hasil penelitian adalah berupa produk CD interaktif pembelajaran bahasa Arab berbasis macromedia flash professional 8 yang telah divalidasi oleh beberapa ahli, dan di uji cobakan pada siswa - siswi kelas VII MTs Surya Buana. Berdasarkan hasil validasi yang melibatkan ahli media bahasa Arab dan ahli materi bahasa Arab, disimpulkan bahwa media ini telah valid dan layak untuk diuji coba. Dari 9 aspek yang menjadi aspek penilaian, diketahui bahwa 5 aspek penilaian dikategorikan valid, dan 4 aspek penilaian dikategorikan cukup valid. 5 aspek penilaian yang dikategorikan valid tersebut, adalah: (1) kejelasan materi, (2) kevalidan materi (kebenaran tulisan dan tata bahasa), (3) kesesuaian materi pembelajaran, (4) Kemudahan menggunakan program, (5) desain dan tampilan program. 4 aspek yang dikategorikan cukup valid dengan nilai adalah: (1) penyajian materi, (2) kevariatifan materi, (3) kejelasan susunan kalimat, dan (4) kelengkapan fitur dalam program. i Berdasarkan hasil uji coba lapangan siswa kelas VII MTs Surya Buana, diketahui: 9 item dari item 10 item penilaian dinyatakan valid dan 1 item dinyatakan cukup valid. 9 item yang dinyatakan valid adalah: (1) Siswa senang belajar dengan media ini, (2) semangat belajar siswa bertambah, (3) Isi materi yang disampaikan menjadi jelas, (4) memberi kemudahan dalam evaluasi, (5) menambah kosakata siswa, (6) pemahaman terhadap materi menjadi lebih mudah, (7) desain dan tampilan program menarik, (8) media pembelajaran meningkatkan motivasi belajar, (9) perlunya pengembangan media ini untuk materi yang lain. 1 item yang dinyatakan cukup valid adalah kalimat/bahasa yang digunakan mudah dipahami. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar media pembelajaran ini dapat digunakan sebagai referensi dan salah satu media belajar bagi siswa yang dibatasi oleh waktu dan jarak. Selain itu diharapkan guru mengkaji ulang terhadap materi- materi di dalam media pembelajaran tersebut.

Buku teks bahasa dan sastra Indonesia kelas IX terbitan Erlangga: materi, metode, dan penggunaan bahasa / Wahyu Wijaya

 

ABSTRAK Wijaya, Wahyu. 2009. Buku Teks Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas IX Terbitan Erlangga: Materi, Metode, dan Penggunaan Bahasa. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Anang Santoso, M. Pd. Kata kunci: buku teks, materi, metode, penggunaan bahasa. Perubahan kurikulum membawa banyak dampak dan perubahan pada sistem maupun sarana pendidikan. Salah satunya adalah banyak diterbitkannya buku-buku pelajaran yang memberikan label berstandar kurikulum yang berlaku, termasuk buku teks pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tugas pengguna buku terutama guru dituntut dalam menyeleksi buku yang berkualitas. Pemilihan buku tidak hanya pada aspek luarnya saja, akan tetapi juga isi, metode, dan bahasa yang digunakan. Selain itu juga disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan materi, metode belajar, dan bahasa yang digunakan dalam buku teks Bahasa Indonesia terbitan Erlangga. Penelitian ini termasuk penelitian deskripsi kualitatif, karena menggunakan metode kualitatif. Instrumen utama yang digunakan adalah peneliti sendiri. dengan dibantu beberapa tabel dan pemberian kode pada data-data yang ditemukan. Teknik yang digunakan adalah (1) penyeleksian data yang layak dipakai sesuai dengan masalah penelitian, (2) pengklasifikasian data pada aspek materi, metode penyajian, dan juga penggunaan bahasa, (3) pemberian kode-kode terhadap data yang telah ditemukan agar mempermudah dalam penganalisisan, (4) menganalisis serta mencocokkan data dengan kurikulum, (5) penyimpulan data. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. Pertama, materi yang meliputi kompetensi dasar, standar kompetensi, kegiatan pembelajaran, dan bahan pengajaran sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku yaitu KTSP, walaupun ada satu kompetensi dasar yang kurang sesuai yaitu pada kompetensi dasar menulis naskah drama berdasarkan kutipan bagian awal teks cerpen yang pada kurikulum tercantum menulis naskah drama berdasarkan cerpen yang telah dibaca. Kedua, metode belajar sudah bervariasi atau bermacam-macam, dan melibatkan keaktifan siswa. Metode belajar yang terdapat pada buku teks antara lain metode ceramah, latihan, tanya-jawab, simulasi, diskusi atau kelompok, resitasi atau pemberian tugas, dan individu atau perseorangan. Ketiga, bahasa yang digunakan dalam buku teks sudah baik dan benar sesuai dengan EYD, serta menggunakan kalimat-kalimat yang efektif, tetapi masih ditemukan sedikit kesalahan dalam penggunaan bahasa. Kesalahannya meliputi kesalahan penggunaan tanda baca dan kesalahan penggunaan huruf kapital, serta ada beberapa kalimat yang kurang logis dan kurang hemat.

Perencanaan pembebanan daya pada trafo distribusi 20 KV / Veny Wulandari

 

Wulandari, Veny. 2009. Perencanaan Pembebanan pada Gardu Tiang Trafo (GTT). Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Program Diploma Tiga Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Arif Nur Afandi, S.T., M.T., (2) Mohamad Rodhi Faiz, S.T., M.T. Kata Kunci: beban, daya, trafo, edsa. Perencanaan pembebanan daya bertujuan agar keseimbangan beban tetap terjaga. Pada awalnya pembagian beban merata, tetapi karena pengguna beban tidak bersamaan, maka menimbulkan ketidakseimbangan beban antar tiap fasa (fasa R, fasa S, dan fasa T) yang berdampak pada penyediaan tenaga listrik. Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan penyebab ketidakseimbangan tersebut adalah pada beban-beban satu fasa pada pelanggan jaringan tegangan rendah. Akibat ketidakseimbangan beban tersebut menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi). Oleh karena itu, manajemen energi harus lebih diartikan sebagai usaha untuk menaikkan efisiensi penggunaan energi. Salah satu upaya untuk menghemat penggunaan energi, terutama energi listrik adalah dengan merencanakan dan mengendalikan beban pada sisi permintaan/konsumen misalnya dengan kompensasi. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data; (4) melakukan simulasi dengan Edsa Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan diperoleh dengan mencatat arus pada setiap gedung. Dengan melakukan kenaikkan beban, maka dapat diketahui seberapa besar kemampuan trafo dalam menyalurkan daya pada setiap gedung. Ternyata setelah dilkukan simulasi dengan EDSA, maka alangkah baiknya trafo dibebani sampai 80%.

Pengembangan inventori kreativitas siswa SMA Negeri di Malang / Mita Widianasari

 

ABSTRAK Widianasari, Mita. 2009. Pengembangan Inventori Kreativitas Siswa SMA Negeri di Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Henny Indreswari M.Pd, (II) Drs. Harmiyanto. Kata kunci: kreativitas, inventori, pengembangan pada jenjang sekolah lain baik sekolah dasar, menengah maupun perguruan tinggi, desain produk pengembangan dirancang lebih menarik, menggunakan variasi teknik analisis yang lain. Di samping itu, mengingat perkembangan teknologi yang semakin canggih disarankan produk dapat dikembangkan melalui program dalam bentuk softwareKreativitas merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan. Tanpa adanya kreativitas, kehidupan merupakan sesuatu yang bersifat pengulangan terhadap pola-pola yang sama. Kreativitas sangat dibutuhkan oleh siswa SMA dalam memenuhi salah satu tugas perkembangan dalam kehidupan, baik dalam bidang pribadi, sosial, belajar, maupun kariernya. Alat yang dibutuhkan konselor dapat berbentuk inventori, namun kenyataan di lapangan inventori mengenai kreativitas belum dikembangkan, oleh sebab itu inventori kreativitas ini dikembangkan. Dalam pengembangan inventori kreativitas ini khusus pada bagaimana tingkat validitas, reliabilitas, dan norma yang digunakan. Pengembangan ini dibatasi pada konstruk kreativitas subteori komponensial yang menghubungkan inteligensi dengan dunia internal individu, khususnya mekanisme mental yang menggiring perilaku kurang inteligen. Subteori ini dikhususkan pada tiga komponen dalam (a) belajar bagaimana melakukan, (b) merencanakan apa dan bagaimana cara melakukan, dan (c) mengaktualisasikan (Sternberg, 1985). Pengembangan inventori kreativitas ini mempunyai tujuan untuk menghasilkan inventori yang: (1) memiliki validitas tinggi; (2) memiliki reliabilitas tinggi; (3) menetapkan norma; (4) menghasilkan produk; (5) mengetahui gambaran kreativitas siswa SMA Inventori kreativitas diuji tingkat konsistensi internalnya dengan menggunakan rumus Product Moment Pearson, dengan taraf signifikansi P<0,05. Inventori juga diuji tingkat reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Polpulasi pengembangan adalah siswa SMA kelas X di Malang tahun ajaran 2009/2010, subyek pengembangan sebanyak 375 siswa diambil dengan teknik proportional cluster area random sampling. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa: (1) Inventori kreativitas memiliki tingkat validitas yang tinggi, memenuhi syarat konsistensi internal pada P<0,05; (2) inventori kreativitas memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi α = 0,873; (3) Inventori kreativitas memiliki ketepatan norma yang diwujudkan dalam bentuk norma persentil dengan kategorisasi tinggi, sedang, dan rendah. Berdasarkan hasil pengembangan, disarankan: 1) hasil produk pengembangan dapat digunakan konselor sebagai salah satu alat pengumpul data pribadi untuk mengetahui tingkat kreativitas siswa; 2) diharapkan konselor melakukan kerja sama dengan pihak sekolah agar mampu memberikan sarana dan prasarana untuk memfasilitasi para siswa baik yang memiliki tingkat kreativitas rendah, sedang maupun yang tinggi; 3) bagi pengembang selanjutnya, hendaknya menindaklanjuti hasil pengembangan dengan terus melakukan pengembangan, baik dalam konstruk teoritis berdasar teori Robert J. Sternberg maupun teori kreativitas yang lain. Selain itu, subyek pengembangan diharapkan lebih diperluas i

Penerapan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw dan teknik STAD terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar pada mata pelajaran penyajian makanan (studi penelitian pada siswa kelas X Resto 2 SMKN 2 Malang) / Erma

 

ABSTRAK Erma. 2009. “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif teknik JIGSAW dan teknik STAD Terhadap Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar pada mata pelajaran penyajian makanan (Studi Siswa Kelas X Resto 2 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Malang).” Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga Jasa Restoran Teknologi Industri, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Etta Mamang Sangaji, M. Si ,(2) Dra. Wiwik wahyuni, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, Jigsaw, STAD. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa motivasi belajar mata pelajaran penyajian makanan peserta didik sedikit rendah, salah satu penyebab rendahnya motivasi belajar pada mata pelajaran penyajian makanan ini adalah kecenderungan menerapkan metode pembelajaran yang tidak variatif atau konvensional. Usaha meningkatkan motivasi belajar peserta didik mata pelajaran penyajian makanan, dapat dilakukan dengan cara menerapkan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dan teknik STAD yang melibatkan peserta didik sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan sikap sosial antar sesama peserta didik sebagai latihan hidup dalam suatu masyarakat yang nyata. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixing reserch dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui: 1) observasi, 2) wawancara, 3) angket, 4) catatan lapangan 5) dokumentasi, dan 6) hasil uji hipotesa. Subjek penelitian adalah siswa kelas X Resto 2 di SMKN 2 Malang. Teknik analisis data dilakukan dengan mengunakan hasil uji compremean dari perbandingan teknik jigsaw dan teknik STAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dan teknik STAD kepada peserta didik secara umum mengalami peningkatan dalam meningkatkan hasil belajar siswa, 2) kerjasama peserta didik dalam pembelajaran ini juga berlangsung dengan baik, dimana peserta didik tidak membedakan kemampuan akademik, latar belakang sosial, maupun jenis kelamin, tetapi lebih didorong oleh rasa tanggung jawab mereka dalam menyelesaikan tugas; 3) motivasi peserta didik dalam penerapan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dan teknik STAD sudah baik, hal ini ditunjukkan dengan berdasarkan perolehan skor dan persentase, dari 36 siswa kelas X Resto 2 yang mengisi angket motivasi belajar, dengan hasil presentase yang meningkat. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dan teknik STAD pada mata pelajaran penyajian makanan dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa yang dibuktikan dengan kerjasama peserta didik dalam menyelesaikan tugas dengan baik. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu: 1)Bagi siswa hendaknya lebih aktif dalam pembelajaran, baik dalam melaksanakan percobaan maupun diskusi didalam kelas. 2)Bagi peneliti lain, jika ingin menggunakan pembelajaran penyajian makanan dengan teknik jigsaw dan teknik STAD hendaknya dilakukan pada pokok bahasan yang berbeda.

Kritik sosial dalam novel Wasripin & Satinah karya Kuntowijoyo / Zainul Fuadi

 

ABSTRAK Fuadi, Zainul. 2009. Kritik Sosial dalam Novel Wasripin & Satinah Karya Kuntowijoyo. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Maryaeni, M.Pd. Kata Kunci: kritik sosial, novel, sosiologi sastra Kritik sosial adalah sindiran maupun tanggapan yang ditujukan pada sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Kritik sosial muncul ketika terjadi ketidakpuasan terhadap realitas kehidupan yang dinilai tidak selaras. Adanya pelanggaran-pelanggaran dalam kehidupan masyarakat akan memunculkan kritik dalam kalangan masyarakat itu sendiri. Kritik sosial yang membangun tidak hanya berisi kecaman, celaan, atau tanggapan terhadap situasi tertentu, tetapi juga berisi inovasi sosial sehingga tercapai sebuah harmonisasi sosial. Kritik dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung. Media yang tersedia untuk menyampaikan kritik juga cukup beragam. Karya sastra merupakan salah satu media untuk menyampaikan kritik sosial secara tidak langsung. Kritik sosial banyak dijumpai dalam karya sastra sebagai bentuk gambaran realita sosial di masyarakat. Novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang berisi kehidupan manusia melalui tokoh dan pelaku tidak menutup kemungkinan banyak mengandung kritik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kritik sosial di Indonesia dalam novel Wasripin & Satinah karya Kuntowijoyo yang meliputi (1) deskripsi kritik pengarang terhadap kebijakan politik pemerintah, (2) deskripsi kritik pengarang terhadap kebijakan penguasa, (3) deskripsi kritik pengarang terhadap kebijakan penegak hukum, (4) deskripsi kritik pengarang terhadap kebijakan pimpinan militer, dan (5) deskripsi kritik pengarang terhadap kehidupan rakyat jelata. Penelitian ini termasuk kualitatif karena prosedur penelitian tersebut menghasilkan data deskripsi tentang kata-kata tertulis. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi sastra. Data dalam penelitian ini adalah paparan berupa dialog, monolog, dan narasi dalam novel Wasripin & Satinah karya Kuntowijoyo. Sedangkan sumber data dalam penelitian ini berupa novel Wasripin & Satinah karya Kuntowijoyo setebal 256 halaman. Novel ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas Jakarta, September 2003 dengan penyelia naskah Kenedi Nurhan, ilustrasi dan desain sampul Taufan Arifin serta penata teks Ratno. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama atau human instrument. Pengumpulam data dalam penelitian ini menggunakan teknik tekstual, yaitu menganalisis atau menelaah tuturan bahasa yang berupa dialog, monolog dan narasi dalam novel Wasripin & Satinah karya Kuntowijoyo yang mengandung kritik sosial dengan prosedur (1) membaca secara intensif karya sastra yang dikaji, (2) menafsirkan data yang diperoleh dari novel berdasarkan indikator yang telah ditentukan, dan (3) mengklasifikasi data berupa dialog, monolog maupun narasi yang mengandung kritik terhadap kebijakan politik pemerintah, kritik terhadap kebijakan penguasa, kritik terhadap kebijakan penegak hukum, kritik terhadap kebijakan pimpinan militer, dan kritik terhadap kehidupan rakyat jelata. Deskripsi yang diperoleh dari hasil analisis adalah deskripsi (1) kritik terhadap kebijakan politik pemerintah yang meliputi (a) pemanfaatan tokoh yang populer yang tidak relevan dengan kepentingan politik partai, (b) adanya praktek pelanggaran-pelanggaran peraturan pemilihan umum yang dilakukan oleh partai politik maupun calon-calon wakil rakyat. Wujud nyata dari pelanggaran kampanye dapat berupa pencurian start kampanye, kampanye terselubung, dan politik uang (money politic), (c) adanya campur tangan kepentingan politik dalam menentukan suatu kebijakan, dan (d) adanya tindakan tidak etis bahkan tindak kriminal yang dilakukan oleh partai politik untuk menjatuhkan lawan politiknya; (2) kritik terhadap kebijakan penguasa yang meliputi (a) pelanggaran terhadap hak rakyat yang dilakukan oleh penguasa seperti pembatalan pemberian bintang jasa kepada Wasripin dan (b) penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa untuk kepentingan tertentu baik individu maupun kelompok; (3) kritik terhadap kebijakan penegak hukum yang meliputi (a) penyalahgunaan aturan hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memegang jabatan tertentu dan (b) adanya pelanggaran prosedur hukum, terutama yang dilakukan oleh aparat penegak hukum itu sendiri; (4) kritik terhadap kebijakan pimpinan militer yang meliputi (a) intervensi yang dilakukan oleh militer ke dalam kehidupan masyarakat cukup dominan dan (b) campur tangan militer dalam persoalan politik; dan (5) kritik terhadap kehidupan rakyat jelata yang berupa berupa ketidakadilan dan penderitaan-penderitaan yang telah mereka alami, seperti kemiskinan, penindasan, tindak kejahatan, dan perlakuan diskriminatif. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa novel Wasripin & Satinah karya Kuntowijoyo tersebut sarat akan muatan kritik sosial. Namun, hasil penelitian yang diperoleh ini masih bersifat terbuka. Artinya, terbuka kemungkinan lain bagi siapa saja yang menganalisis karya sastra tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Oleh sebab itu, penulis menyarankan adanya penelitian lanjutan untuk meneliti karya sastra tersebut dari sudut pandang dan pendekatan yang berbeda secara utuh, misalnya dari segi humanisme maupun kultur Jawa. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengajar sastra, pembaca sastra, dan kritikus sastra.

Pemenuhan standar sarana dan prasarana praktik program keahlian teknik komputer dan jaringan (TKJ) pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-malang Raya / Wahyu Andreas

 

ABSTRAK Andreas, Wahyu. 2009. Pemenuhan Standar Sarana dan Prasarana Praktik Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Malang Raya. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Haris Anwar Syafrudie, M. Pd., (II) Hakkun Elmunsyah, S.T, M.T. Kata kunci : sarana dan prasarana praktik, pemenuhan Peranan pemenuhan sarana dan prasarana turut menentukan kualitas dari proses belajar mengajar disekolah. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Cahyono (2005) yang menunjukkan bahwa sarana dan prasarana belajar berhubungan positif dengan prestasi belajar siswa. Dengan demikian pembinaan kemampuan guru dalam mengelola sarana dan prasarana memang diperlukan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di sekolah, namun dalam rangka itu pula di sekolah perlu adanya layanan profesional di bidang sarana dan prasarana (Gorton dalam Bafadal, 2004) Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pemenuhan standar kuantitas sarana praktik program keahlian TKJ, (2) mendeskripsikan pemenuhan standar kuantitas prasarana praktik program keahlian TKJ, (3) mendeskripsikan pemenuhan standar kualitas prasarana praktik program keahlian TKJ di SMK se-Malang Raya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah 19 SMK yang mempunyai program keahlian TKJ se-Malang Raya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ada tiga jenis, yaitu kuesioner pemenuhan pemenuhan standar kuantitas sarana, kuesioner pemenuhan standar kuantitas prasarana dan angket pemenuhan standar kualitas prasarana praktik program keahlian TKJ. Hasil penelitian ini adalah : 1) secara umum, program keahlian TKJ kurang memenuhi standar kuantitas sarana praktik program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. 2) secara umum, program keahlian TKJ kurang memenuhi standar kuantitas prasarana praktik program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. 3) secara umum, program keahlian TKJ memenuhi standar kualitas prasarana praktik program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan. Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan agar: 1) dapat menjadi pertimbangan bagi kepala dinas pendidikan se- Malang Raya dalam penentuan kebijakan pada penambahan sarana dan prasarana praktik. 2) pihak sekolah melakukan usaha untuk meningkatkan pemenuhan standar sarana dan prasarana praktik program keahlian TKJ. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain dengan cara melakukan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri. Pihak sekolah perlu membuka kesempatan kepada pihak orang tua siswa yang berkeinginan untuk mengambil peranan dalam rangka pemenuhan standar sarana dan prasarana praktik ini. Selain itu pihak sekolah juga perlu mengefektifkan peranan manajemen sekolah untuk peningkatan fasilitas melalui efisiensi pembiayaan. 3) dilakukan penelitian lanjut yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemenuhan standar sarana dan prasarana praktik terhadap pencampaian kompetensi siswa.

Peningkatan motivasi dan hasil belajar matematika melalui teknik reinforcement pada siswa kelas IB SDN Bareng 3 Kota Malang / Devy Shinta Harmayanti

 

ABSTRAK Harmayanti, Devy Shinta. 2009. Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar Matematika Melalui Teknik Reinforcement Pada Siswa Kelas IB SDN Bareng 3 Kota Malang. Skripsi Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. H. Sutarno, M.Pd, (2) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd. Kata Kunci : Motivasi dan Hasil Belajar, Teknik Reinforcement Siswa yang memiliki motivasi rendah menampakkan keengganan, cepat bosan, dan berusaha menghindar dalam kegiatan belajar. Lebih jauh situasi belajar yang tidak didasari motivasi yang mendalam, siswa akan acuh tak acuh. Siswa akan belajar dalam keadaan yang kurang lebih memaksanya untuk belajar. Siswa terus melakukan pekerjaannya karena percaya pada gurunya, bukan karena siswa tersebut melihat guna pekerjaan yang dilakukannya. Dengan demikian ada motivasi, tetapi motivasi itu tidak mendalam dan tidak memaksa sifatnya. Mencermati fakta di atas, betapa pentingnya teknik reinforcement yang merupakan salah satu teknik peningkatan dan pemeliharaan perilaku. Masalah pokok dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana penggunaan teknik reinforcement untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas IB SDN Bareng 3 Malang? (2) Apakah pemberian teknik reinforcement bisa meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IB SDN Bareng 3 Malang? (3) Apakah pemberian teknik reinforcement bisa meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IB SDN Bareng Malang? Tujuan penelitian adalah (1) mendeskripsikan penggunaan teknik reinforcement dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas IB SDN Bareng 3 Malang. (2) mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar matematika melalui teknik reinforcement pada siswa kelas IB SDN Bareng 3 Malang. (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika melalui teknik reinforcement pada siswa kelas IB SDN Bareng 3 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini direncanakan dalam 3 siklus. Pelaksanaan tindakan meliputi 4 langkah, yaitu : (1) Rencana, (2) Pelaksanaan, (3) Evaluasi, (4) Refleksi. Berakhir tidaknya suatu siklus berdasar pada tercapainya KKM 60, dengan asumsi 90% siswa mencapai hasil tes di atas 60. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I B SDN Bareng 3 Malang yang berjumlah 35 siswa. Lokasi penelitian Jalan Kawi Selatan No. 20 Malang. Prosedur pengumpulan data berupa soal–soal tes dan observasi motivasi dan hasil belajar siswa. Instrument pengumpul data dalam penelitian ini adalah soal–soal tes matematika. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran melalui teknik reinforcement dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas IB SDN Bareng 3 Malang dengan peningkatan rata–rata, yaitu : 68 (tes pra tindakan siklus I) ; 83 (tes siklus II) ; 91 (tes siklus III). Hal ini menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa pada tiap siklus mengalami peningkatan dan mencapai kriteria keberhasilan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian teknik reinforcement dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa kelas I B SDN Bareng 3 Malang.

Upaya meningkatkan keterampilan pembelajaran perkalian melalui penggunaan jari-jari tangan pada siswa kelas IV SDN Pukul Kabupaten Pasuruan / Mukhdori

 

ABSTRAK Mukhdori. 2009 . Upaya Meningkatkan Keterampilan Pembelajaran Perkalian Melalui Penggunaan Jari Tangan Pada Siswa Kelas IV SDN Pukul Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan s1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Setyo Winarni, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. Rumidjan, M.Pd. Kata Kunci: Keterampilan , Pembelajaran, Perkalian, Jari Tangan. Pembelajran pada tingkat Sekolah Dasar merupakan tahapan penting bagi siswa, karena proses pembelajaran pada tahap ini dapat mempengaruhi pola belajar pada tahap selanjutnua. Pada tingkat awal, pemahaman siswa yang benar terhadap suatu konsep sangat penting sebagai modal dasar bagi penguasaan konsep yang lebih besar. Namun demikian masih banyak siswa kelas IV yang belum paham tentang perkalian. Ketidak pahaman mereka disebabkan oleh cara penyajian materi yan kurang menarik, sehingga tidak memotivasi minat siswa dalam belajar. Berdasarkan fenomena tersebut peneliti mencoba inovasi baru dengan menggunakan jari tangan sebagai alternatif dalam pembelajaran perkalian. Pembelajaran perkalian dengan menggunakan jari tangan diharapkan akan mempermudah siswa dalam memahami materi, sehingga akan memperoleh hasil belajar yang optimal sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk 1). Mendeskripsikan pemahaman pembelajaran perkalian sebelum menggunakan jari-jari tangan dalam mata pelajaran matematika siswa kelas IV SDN Pukul Kabupaten Pasuruan. 2). Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran perkalian dengan menggunakan jari-jari tangan dalam mata pelajaran matematika siswa kelas IV SDN Pukul Kabupaten Pasuruan. 3) Mendeskripsikan penggunaan jari-jari tangan dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN Pukul Pasuruan. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Instrumen pengumpulan data berupa tes, yaitu ulangan harian I dan ulangan harian II. Untuk menganalisa data dari hasil ulangan pada penelitian ini menggunakan penilaian acuan kriteria. Penilaian acuan kriteria yang digunakan adalah ketuntasan belajar perorangan (75%) dan ketuntasan kelas atau kelompok (80%). Pelaksanaan pembelajaran dibagi dalam 1 siklus, yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) pengamatan, 4) refleksi. Tindakan awal dilaksanakan denganmenggunakan pembelajaran konvensional. Perolehan hasil belajar pada tindakan pembelajaran konvensional dinyatakan yang belum tuntas, sehingga perlu dilaksanakan perbaikan pada siklus 1 yang terbagi dalam 5 kali pertemuan dan diakhiri dengan ulangan harian II. Waktu yang digunakan dalam penelitian ini 5 minggu. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peningkatan pengusaan pembelajaran perkalian dengan menggunakan jari tangan siswa dalammata pelajaran matematika kelas IV SDN Pukul Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan tahun 2009. Peningkatan pemahaman tersebut dapat dilihat dari ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran konvensional sebesar 27,5 %, dan pada siklus I meningkat lagi menjadi 82,5%. Dengan perolehan tersebut pembelajaran dapat dikatan berhasil tuntas. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa dalam pembelajaran perkalian penggunaan metode dan strategi yang menarik sangat penting. Karena hal itu akan membangkitkan minat belajar dan akan membantu siswa lebih mudah menguasai materi yang diberikan. Dengan menggunakan kalkulator ekonomis isyarat jari-jari tangan, disarankan kepada guru agar tercapai tujuan pembelajaran intuk: 1) menguasai dan memantapkan konsep perkalian dasar 6 s/d 10. 2) menghafalkan rumus-rumus perkalian, 3) teliti dalam menjumlahkan, 4) materi pembelajaran hendaknya diberikan tahap demi tahap sesuai tingkat kesulitan materi. Dengan demikian disaran kan agar guru hendaknya menggunakan jari-jari tangan pada materi perkalian dalam pembelajaran matematika kelas IV. Disarankan bagi peneliti lain, agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam penelitian selanjutnya, sehingga hasilnya dapat dijadikan pedoman dan pengembangan profesi serta meningkatkan prestasi belajar siswa.

Using films to improve the ability of the eight graders ot MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap in writing narrative paragraphs / Akhmad Fauzan

 

ABSTRAK Fauzan, Akhmad. 2009. Menggunakan Film untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas 8 MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap dalam Menulis Paragraf Narasi. Tesis. Program Pasca Sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Utami Widiati, M.A., Ph.D (2). Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL.,M.Pd Kata kunci: films, kemampuan menulis, paragraph narrative. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada permasalahan yang dialami oleh peneliti sebagai guru Bahasa Inggris di MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap. Berdasarkan hasil stui pendahuluan siswa kelas VIII MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap, menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks narrative siswa kelas VIII E masih kurang memuaskan dan siswa mempunyai motivasi yang rendah dalam proses belajar dan mengajar. untuk mengatasi masalah tersebut peneliti menggunakan film teknik. Teknik ini dipilih karena dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan menulis sehingga kemampuan menulis mereka dapat meningkat. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana film bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis siswa MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap dalam menulis paragraph narrative?”. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas secara kolaborasi. Dalam penelitian ini, peneliti dan kolaborator bekerja sama dalam menyusun rencana pelajaran, mengimplementasikan tindakan, mengamati tindakan, dan melakukan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII E pada MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap tahun ajaran 2008-2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan mengikuti prosedur penelitian tindakan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Prosedur penerapan media film dalam pembelajaran menulis pada penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) mengawali pelajaran dengan ice breaking,(2) mengelompokan anak-anak dengan cara memberi daftar kata kunci.(3) menyuruh anak-anak duduk berkelompok, terdiri dari empat sampai lima orang setiap kelompoknya,(4) menyuruh anak-anak untuk membaca daftar kata dipandu oleh , (5). menampilkan gambar sesuai dengan tema , (6) menapilkan model teks, (6) menayangkan narrative film pendek secara lambat atau bahkan berhenti pada bebarapa kejadian dan mengisi narrative chart berkelompok, (8) Siswa menjawab pertanyaan bersama anggota kelompoknya, (9) Siswa mengembangkan draft berdasarkan jawaban-jawaban pada pertanyaan, (10) Siswa diminta untuk merevisi dan mengedit draft yang telah mereka buat, (11) Siswa diberi kesempatan untuk menampilkan karya tulisnya, Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis paragraf narrative. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai tes rerata siswa pada siklus 1,dan siklus 2.Nilai rerata siswa pada sikulus 1 adalah 61dan pada siklus 2 menjadi 72. Selain itu film juga mampu meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa selama pembelajaran menulis. Hal ini dapat dilihat dari prosentase keterlibatan siswa pada siklus1 yaitu 63% dan 70% pada siklus 2. Berkaitan dengan response siswa, 86% menyatakn termotivasi pada siklus 1 dan 87% pada siklus 2. Berdasarkan temuan di atas, beberapa saran dikemukakan.Bagi guru bahasa inggris, untuk menerapkan media film dalam mengajar menulis. Kepada pihak sekolah untuk menyediakan media pembelajaran seperti halnya computer dan LCD proyektor Ketiga, bagi peneliti mendatang, disarankan melakukan studi semacam ini dengan ketrampilan dan type teks yang berbeda.

Tari reyog Tulungagung sebagai sumber pengembangan gerak tari reyog mayoret dalam materi pengembangan diri seni tari di SMPN 1 Srengat Blitar / Novyta Mijil Purwana IS.

 

ABSTRAK Purwana, Novyta, Mijil. 2009. Tari Reyog Tulungagung sebagai Sumber Pengembangan Gerak Tari Reyog Mayoret dalam Materi Pengembangan Diri Seni Tari di SMPN 1 Srengat Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M.Pd., (II) Drs. Supriyono. Kata Kunci: reyog tulungagung, reyog mayoret, pengembangan diri Kegiatan Pengembangan Diri di SMPN 1 Srengat Blitar merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa. Pencapaian yang diharapkan adalah kemampuan dalam menari dan pengalaman ketrampilan seni siswa.Materi yang digunakan adalah tari Reyog Mayoret yang bersumber dari tari Reyog Tulunggagung. Penulisan ini bertujuan mendeskipsikan struktur tari Reyog kendhang dan ragam geraknya serta memaparkan hasil dan proses penerapan pengambangan tari Reyog kendhang menjadi tari Reyog mayoret. Penelitian ini merupakan penelitian developmental atau penelitian pengembangan dengan mengembangkan tari tradisi daerah setempat menjadi bentuk tari pendidikan sebagai bahan ajar siswa dalam kegiatan pengembangan diri. Lokasi peelitian berada di SMPN 1 Srengat Blitar dengan subyek penelitian adalah siswa pengembangan diri kelas VII dan VIII. Tari Reyog Mayoret mengembangkan beberapa gerak dari Reyog Tulungagung, yaitu gerak gembyangan, menthokan, andul, midhak kecik, ngungak sumur, gejoh bumi, baris, kejang dan lilingan. Berdasarkan penelitian hasil penelitian dapat disarankan agar dilakukan pengembangan tari berdasar Reyog Tulungagung lebih lanjut. Misalnya pengembangan dalam musik, busana dan property. Dalam penyampaian materi terhadap anak hendaknya tidak terlalu kaku atau jangan memaksakan suatu gerakan jika siswa mengalami kesulitan. Koreografer hendaknya membuat gerakan yang sesuai dengan karekteristik siswa.

Improving the ability of the third-year students of MA Tarbiyatul Wathon Gresik in writing narrative texts through peer feedback / Mohammad Faizal Mubarok

 

ABSTRACT Mubarok, Mohammad Faizal. 2009. Improving the Ability of the Third-Year Students of MA Tarbiyatul Wathon Gresik in Writing Narrative Texts through Peer Feedback. Thesis, English Language Education, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Utami Widiati, M.A., Ph.D. (II) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D. Key words: writing ability, narrative texts, peer feedback As a part of the stages in the writing process, feedback is crucial in assisting students to improve their writing. Students generally intend their texts to be read by their teacher in order to view how the teacher responds to their work and to learn from these responses to improve their drafts. However, based upon the preliminary study conducted in my English class, the third year students of MA Tarbiyatul Wathon Gresik, and my experience as an English teacher in that school, I had found that many of these students were incapable of improving their initial drafts particularly narrative drafts after gaining feedback from me, their teacher. The source for the students’ problem might lie in the ineffective feedback offered by me. In response to that problem, peer feedback in the form of revising checklists was proposed as the solution. The salient point of this strategy is that it mainly provides a means of improving the students’ initial drafts. For that reason, the present study, then, is intended to improve the ability of the third-year students of MA Tarbiyatul Wathon Gresik in writing narrative texts through peer feedback. To attain the purpose, I employed collaborative classroom action research as the design of this study following four stages: planning, implementing, observing, and reflecting. This study, furthermore, was only carried out within two cycles as the criteria of success had been attained in the second cycle. Each cycle comprised three meetings. The subjects of the research were the third-year students of MA Tarbiyatul Wathon Gresik of the 2008/2009 academic year. The data were collected through the following instruments: observation checklists, field notes, questionnaires, interview, and the students’ written work. The data taken from field notes and interview were analyzed qualitatively and descriptively, while the data through observation checklists, questionnaires and writing test were analyzed and presented quantitatively and descriptively. The result of this study illustrates that the implementation of peer feedback in teaching writing can improve the students’ writing skill and successfully encourage them to actively and enthusiastically take part in the teaching-learning process of writing. The students’ improvement in writing narrative texts was reflected on their writing achievement. Their writing achievement had met the criteria of success in that 26 students or 81% of the students obtained score equal to or greater than 60. In addition, in terms of the students’ involvement in the teaching-learning process, the students’ part-taking, interest and enthusiasm in the overall activities of the teaching-learning process were very good, or 87% of the students were actively involved in the teaching-learning process activities. It means that the criteria of success in terms of their participation in the teaching-learning process had been met. The implementation of peer feedback in the present study follows these procedures: (1) assigning students to groups of four, (2) inviting the students in groups of 4 to arrange the jumbled paragraphs into good order, (3) asking the students to take part in a teacher-students conference actively by giving comments related to the correct arrangement of the jumble paragraph, (4) having them write the topic within 1-5 minutes, (5) getting the students to write their initial plan, (6) asking them to compose their first draft, (7) discussing the meaning of items on revising checklist, (8) ordering them to read and offer feedback to the sample of the draft through the revising checklist sheet, (9) inviting the students to discuss the sample of the draft in the group, (10) ordering them to share ideas in conjunction with the students’ feedback to the selected draft as the class discussion, (11) having them read and give feedback on their peers’ drafts, (12) getting them to talk about each others’ drafts by giving comments and suggestion on their classmates’ drafts through elaborating on their checklists, (13) asking them to revise and improve their draft based on their peers’ feedback, and (14) ordering them to rewrite their drafts as their final draft. Referring to the strengths of implementing this strategy in the present study, I would like to suggest that peer feedback can be utilized as an alternative solution especially for English teachers who have similar problems in the teaching of writing. In implementing the strategy, nevertheless, the teachers are suggested to model and teach the students the way how to respond to their peers drafts before implementing the strategy, control the activities of peer feedback, group them based on their English performance, point to one of them to lead the discussion, activate the students’ participation in peer feedback activities, place their position as the facilitator in the teaching-learning process and set the time allocation properly especially in reading and offering feedback on the basis of the students’ ability. Meanwhile, for the future-researchers, they are recommended to conduct classroom action research by means of this strategy in the teaching of writing with other text types and expand their focus on all writing aspects: content, organization, grammar, vocabulary, and mechanics. They are also suggested to conduct this classroom action research by employing peer feedback in the teaching of other language skills.

Sifat organoleptik stick susu dengan menggunakan jenis susu yang berbeda / Yaumi Faizah

 

ABSTRAK Faizah, Yaumi. 2009. Sifat Organoleptik Stick Susu dengan Menggunakan Jenis Susu yang Berbeda. Tugas Akhir, Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Budi Wibowotomo, M.Si, (II) Ir. Ummi Rohajatien, M. P. Kata kunci: stick, susu kambing, susu sapi, susu kedelai. Stick adalah makanan ringan (makanan camilan) yang digoreng dengan rasa gurih, aroma cukup kuat, teksturnya renyah, berbentuk batang panjang dan dengan warna kuning cerah. Stick yang banyak dipasarkan saat ini beraneka macam seperti stick keju (cheese stick) dan stick gurih. Stick keju menggunakan keju sebagai penguat rasa, aroma, tekstur dan warna. Sedangkan, stick gurih yang beredar saat ini menggunakan penyedap rasa sebagai penguat rasa dan penyedap rasa kurang baik untuk kesehatan. Sebagai alternatif dapat digunakan bahan yang dapat memperkuat rasa, aroma, tekstur dan warna stick. Bahan tersebut berupa susu. Susu merupakan sumber protein, lemaknya dapat memberikan rasa gurih dan dapat sebagai alternatif rasa gurih, aroma yang kuat, dan membantu pembentukan tekstur stick. Selain lemak kandungan karbohidrat dalam susu dapat memberikan warna pada stick jika bereaksi dengan panas. Susu yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu kambing, susu sapi dan susu kedelai. Ketiga susu tersebut dipilih karena memiliki kandungan lemak dan karbohidrat yang bervariasi dan aroma yang kuat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dalam pembuatan stick yang menggunakan jenis susu yang berbeda, yaitu susu kambing, susu sapi, dan susu kedelai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik stick susu yang meliputi rasa, aroma, tekstur dan warna. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji organoleptik, yaitu meliputi uji mutu hedonik dan uji hedonik. Data akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan Duncan’s Mutiple Range Test (DMRT). Panelis yang digunakan adalah panelis agak terlatih sebanyak 20 orang dengan tiga kali pengulangan. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap rasa, aroma, tekstur, dan warna dengan menggunakan susu kambing, susu sapi dan susu kedelai. Rasa yang paling gurih (3,62) diperoleh pada perlakuan yang menggunakan susu kambing. Aroma yang paling kuat (3,02) diperoleh pada perlakuan yang menggunakan susu kambing. Tekstur yang paling renyah (3,67) diperoleh pada perlakuan yang menggunakan susu kambing. Warna yang paling kuning cerah (3,87) diperoleh pada perlakuan yang menggunakan susu kedelai. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa stick yang menggunakan susu yang berbeda akan menghasilkan tingkat kesukaan panelis terhadap rasa, aroma, dan tekstur yang berbeda sangat nyata, sedangkan pada warna menunjukkan tidak berbeda nyata. Rasa yang paling disukai panelis (3,32) adalah stick yang menggunakan susu kambing. Aroma yang paling disukai panelis (2,97) adalah stick yang menggunakan susu kambing. Tekstur yang paling disukai panelis (3,38) adalah stick yang menggunakan susu kambing. Warna yang paling disukai panelis (2,85) adalah stick yang menggunakan susu sapi. Saran bagi peneliti selanjutnya, untuk meneliti tentang jenis susu lain yang dapat dijadikan alternatif pembuatan stick, misalnya susu yang berasal dari kacang-kacangan. Selain itu untuk mendapatkan hasil yang mempunyai rasa, aroma dan tekstur yang paling baik disarankan menggunakan susu kambing dan untuk menghasilkan warna stick kuning cerah disarankan menggunakan susu kedelai.

The effects of multimedia to assist the teaching of descriptive paragraph writing at SMP 37 Semarang / Nur Khamim

 

ABSTRACT Khamim, Nur. 2009. The Effects of Multimedia to Assist the Teaching of Descriptive Paragraph Writing at SMPN 37 Semarang. Thesis. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (1) Dr. Yazid Basthomi, M.A., (2) Drs. Fahrurrazy, M.A., Ph.D. Key words: multimedia, non-multimedia, effect, achievement, attitude This study was an investigation on the effects of media – multimedia and non-multimedia – on the writing ability of descriptive paragraph by seventh grade students of SMPN 37 Semarang in the 2008/2009 academic year. This study employed a quasi-experimental design. Eighty students selected from two hundreds and thirty eight students from two classes took part in this study. They were divided into two groups of control and experimental group based on their original classes. A pretest was given prior the treatment to know the initial mastery of writing ability to ensure the equality between groups. A posttest was administered after the experimentation to measure the effect of treatment. The other three instruments in this study were questionnaire, observation checklist, and observation field to predict students’ attitude (positive and negative) and motivation toward the implementation of the main treatment (multimedia). In order to compare the mean scores, an analysis of covariance (ANCOVA) was performed with the pre-test scores as the covariate. The analysis results indicated that multimedia had a significant effect on the writing score achievement, that was the students who exposed to the main treatment of multimedia gain higher scores on the overall scores and the aspects of adequacy and relevance of content, compositional organization, adequacy of vocabulary for purpose, and grammar as compared to the control variable of non-multimedia. In other words, the implementation of multimedia in writing class is more effective than non-multimedia to increase achievement. Concerning students’ attitude toward the implementation of multimedia in writing class, an analysis on the students’ answer in response to the questionnaire found that most of the students tended to have positive value to it. In the questionnaire which included five factors on the relationship between multimedia and English learning in the classroom – interesting manners, media effect on understanding learning content, media effect on learning atmosphere, factors influenced learning, and the application in real setting – almost all of the participants were strongly positive. Furthermore, the observations by collaborator found that the experimental group was more motivated than the control group which was indicated by the higher scale of active participation in the learning process. The pedagogical implications and suggestions for further research are presented in the final paper. A practical contribution of this study suggested that the use of multimedia in writing class may be favourable to English teaching and learning. Furthermore, this study also suggested several directions for future study related to the research design, the study coverage and homogeneity phenomenon of the experimental group after the treatment which was found in this study.

Pengaruh perubahan daya reaktif beban terhadap arus keluaran trafo / Zainul Arifin Aba

 

Kata Kunci: media pembelajaran, ensiklopedia, merakit PC Salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di SMK 2 Singosari adalah merakit Personal Komputer. Kompetensi ini adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh siswa SMK 2 Singosari. Dari hasil wawancara dan observasi dengan guru mata pelajaran Teknik Komputer dan Jaringan, pada proses pembelajaran Merakit PC (Personal Computer) masih bersifat konvensional. Di mana pembelajaran di kelas masih menggunakan metode ceramah dan hanya menggunakan power point. Hal ini yang menyebabkan minat belajar dari siswa menjadi kurang. Selain itu juga siswa banyak yang tidak mengerti istilah-istilah yang ada pada materi Perakitan Personal Computer (PC). Hal ini ditunjukan pada hasil post-test rata-rata siswa yang menunjukan kurang dari KKM yaitu di bawah 75. Dalam pembelajaran di sekolah, ensiklopedia dapat menjadi referensi bagi guru dan siswa. Ensiklopedia memberikan penjelasan secara mendalam dari suatu istilah Tujuan pengembangan media ini adalah tersedianya media pembelajaran pada materi Merakit PC. Spesifikasi media ini terdapat penjelasan istilah dari materi, latihan soal, dan video tutorial. Pengembangan media ini merujuk pada model yang dikembangkan oleh Sadiman. Prosedur pengembangannya meliputi: (1) identifikasi kebutuhan; (2) perumusan tujuan; (3) perumusan butir-butir materi; (4) perumusan alat pengukur keberhasilan; (5) desain media; (6) pembuatan media; (7) validasi ahli ahli media dan materi; (8) uji coba; (9) revisi (10) modifikasi media; dan (11) media siap digunakan. Desain uji coba meliputi uji coba ahli media, ahli materi, uji coba kelompok kecil, dan uji coba lapangan. Instrumen yang digunakan berupa kuisioner/angket. Adapun jenis data pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu penjabaran atau menggambarkan data yang ada di lapangan dengan metode angket. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data yang sesuai untuk menganalisis hasil kuisioner adalah analisis deskriptif kualitatif dengan persentase jawaban pada masing-masing item. Hasil validasi ahli media dengan presentase kelayakan media 100%. Hasil validasi ahli materi dengan presentasi kelayakan materi 92,86%. Hasil uji coba kepada responden/siswa diperoleh hasil sebagai berikut: kelompok kecil 91,7% dan kelompok besar (lapangan) 92,05%. Dengan demikian dinyatakan bahwa media pembelajaran yang dikembangkan sudah memenuhi kriteria layak dan secara keseluruhan dinyatakan baik serta dapat diujicobakan lebih luas agar nantinya bisa digunakan dalam pembelajaran.

Perancangan saluran bawah tanah pada sisi out going trafo 20 KV / Dedi Trias Styawan

 

ABSTRAK Styawan, Dedi. Trias. 2009. Perancangan Saluran Bawah Tanah Pada Sisi Out Going Trafo 20 kV. Proyek Akhir. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Uni versitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Puger Honggowiyono P., M.T. ( II) Arif Nur Afandi, S.T., M.T. Kata Kunci: Distribisi Listrik, Perancangan, Penghantar Bawah Tanah Untuk mengantisipasi ketidakstabilan dan kontinyuitas tenaga listrik, dituntut adanya peningkatan pelayanan sistem kelistrikan yang andal dan keamanan yang memadai, tanpa mengesampingkan segi keindahan serta peningkatan kapasitas yang sudah ada, maka sistem jaringan transmisi bawah tanah merupakan solusi terbaik untuk mengatasi perm asalahan diatas. Dibandingkan dengan transmisi udara, saluran bawah tanah sebenarnya mempunyai keunggulannya yang lebih menonjol, yaitu saluran bawah tanah tidak terpengaruh oleh cuaca buruk seperti taufan, hujan angin dan bahaya petir, sehingga kemungkina n terjadi gangguan akibat bencana alam tersebut sangat kecil. Perancangan saluran bawah tanah pada gedung G1, G2 dan G3 Fakultas T eknik Universitas Negeri Malang ini dimulai dari studi literature, digunakan untuk memahami bagaimana perancangan saluran baw ah tanah dapat dirancang dengan baik dan benar serta mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Seperti penentuan kuat hantar arus pada penghantar, penentuan pembebanan, kapasiatas busbar dan fuse, perancangan grounding, perancangan PHB serta pene ntuan lokasi untuk perancangan saluran bawah tanah. Hasil perancangan di peroleh 5 tahap, (1) luas penampang yang dipakai pada saluran utama sebesar 25 mm2sedangkan untuk saluran cabang menggunakan penghantar dengan luas penampang 16 mm2, (2) Busbar yang dipakai dalam kotak PHB menggunakan konduktor tembaga persegi empat dengan luas penampang sebesar 99,1 mm2, (3) Untuk mendapatkan tahanan pentanahan 5 Ω digunakan batang elektroda sebanyak 4 batang, dengan kedalaman 5 m. Sedangkan pentanahan peralatan men gunakan sistem PNP, (4) fuse utama dan fuse cabang di sesuaikan dengan arus masing-masing beban atau KHA terus-menerus dari fuse sama dengan nilai arus pengenalnya , (5) perancangan PHB TR disesuaikan dengan standar PLN.

Sistem keamanan tempat penyimpan uang dengan menggunakan RFID dan kata kunci / Muh. Ali Mufrodi

 

ABSTRAK Mufrodi, Muh. Ali. 2009. Sistem Keamanan Tempat Penyimpan Uang dengan Menggunakan RFID dan Kata Kunci. Tugas Akhir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dyah Lestari S.T., M.Eng. (II) Hary Suswanto S.T., M.T. Kata Kunci: Sistem Keamanan Tempat Uang, Kartu RFID, Mikrokontroler AT89S51 Perkembangan teknologi yang semakin maju mempermudah manusia dalam menjalankan aktivitas. Salah satu bentuk pengembangan teknologi yakni sistem keamanan tempat penyimpan uang yang dapat diakses secara otomatis. Sistem keamanan tempat penyimpan uang sekarang ini masih dilakukan secara manual dan waktu yang dibutuhkan terlalu lama, seperti sistem keamanan tempat penyimpan uang dengan kunci berkode dan kunci gembok. Sistem keamanan tempat penyimpan uang dengan kunci berkode saat ini masih banyak kelemahannya diantaranya pengunciannya terlebih dahulu mencocokkan nomer yang diinginkan dengan cara manual dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Sedangkan menggunakan kunci gembok masih banyak kelemahannya juga diantaranya pengunciannya masih memakai kunci. Maka penggunaan tenaga manusia dapat digantikan dengan menggunakan elektronik yang lebih efisien dan efektif. Dengan alat yang dilengkapi keamanan menggunakan RFID dapat digunakan dengan mudah dalam penyimpanan maupun pengambilan uang. Prinsip kerja dari desain Sistem Keamanan Tempat Penyimpan Uang menggunakan RFID dan Kata Kunci ini adalah, apabila kartu RFID didekatkan dengan pembaca RFID maka penbaca RFID akan mendeteksi nomer kartu yang tersimpan di dalam mikroprosesor kartu, kemudian nomer kartu dikirimkan ke mikrokontroler AT89S51 melalui pin serial. Hasil pembacaan pembaca RFID akan diproses mikrokontroler yang sudah berisi basis data, Apabila data yang dibaca pada kartu RFID terdeteksi oleh mikrokontroler, maka pintu tempat penyimpan uang akan terbuka, pintu tempat penyimpan uang akan tertutup setelah kartu RFID didekatkan kembali. Jika kartu RFID tidak terdeteksi maka alarm akan berbunyi. Kesimpulan dari hasil penelitianini adalah sebagai berikut; RFID bisa digunakan sebagai piranti pengenal pada objek yang telah terdaftar atau sesuai dengan data yang ada pada mikrokontroler. Kemudian mikrokontroler akan menggerakkan motor DC untuk membuka atau menutup pintu loker jika RFID Reader mendeteksi kartu RFID yang terdaftar.

Manajemen penyelenggaraan pendidikan model kelas layanan khusus (Studi multisitus di SDN Kotalimo 10 Mekar dan SDN Tanjungan 5 Mekar) / M. Shodiq Abdul Wahid

 

ABSTRAK M. Shodiq, A.W. 2008 . Manajemen Penyelenggaraan Pendidikan Model Kelas Layanan Khusus (Studi Multisitus di SDN Kotalimo 10 Mekar dan SDN Tanjungan 5 Mekar). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. Dr. Salladien, (III) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata-kata kunci: manajemen sekolah, sekolah dasar, kelas layanan khusus (klk) Pemerintah senantiasa berupaya agar program pendidikan wajib belajar 9 tahun berhasil dengan baik. Keberhasilan itu salah satunya ditandai dengan terbukanya kesempatan bagi semua golongan masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada masyarakat dari golongan ekonomi lemah yang tidak dapat mengeyam dan melanjutkan pendidikan dasar – termasuk dalam kategori ini adalah anak-anak rawan putus sekolah yang bekerja di jalanan. Berbagai pendekatan telah dilakukan agar anak-anak tersebut bisa mendapatkan pendidikan dasar sebagaimana anak-anak usia sekolah lainnya. Kelas Layanan Khusus (KLK) adalah salah satu dari program pemerintah yang dilaksanakan di beberapa kota untuk memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak dengan kondisi tersebut di atas. Keberhasilan salah satu SD di Kota Mekar dalam menyelenggarakan program KLK ini menjadikan SD tersebut sebagai percontohan nasional dalam penyelenggaraan KLK. Hal ini terbukti dengan kepercayaan pemerintah pusat untuk menambah sebuah lokasi lagi di kota yang sama sebagai penyelenggara program KLK. Atas dasar keberhasilan inilah dilakukan penelitian untuk mengetahui manajemen pengelolaan KLK pada dua SD tersebut. Adapun tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan peran kepala sekolah pendidikan model Kelas Layanan Khusus di kedua lokasi penelitian (2) mendiskripsikan pola pengadaan tenaga pendidikan model Kelas Layanan Khusus di sekolah dasar ke dua lokasi penelitian. (3) mendiskripsikan pola rekruitmen, pengelolaan dan evaluasi peserta didik pendidikan model Kelas Layanan Khusus di sekolah dasar di kedua lokasi penelitian, yang meliputi: a) mendiskripsikan kendala-kendala yang dihadapi pengelola program dalam melaksanakan Kelas Layanan Khusus, b) mendiskripsikan upaya-upaya yang dilakukan oleh pengelola program dalam mengatasi kendala-kendala yang ditemui dalam melaksanakan Kelas Layanan Khusus. (4) mendeskripsikan peran masyarakat dalam pengelolaan pendidikan Kelas Layanan Khusus di kedua lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multisitus pada SDN Kutolimo 10 Mekar dan SDN Tanjungan 5 Mekar. Sebagai informan adalah kepala sekolah, guru, dewan sekolah, tokoh masyarakat, orang tua siswa dan petugas pada unit pelaksana teknis dinas pendidikan kecamatan. Teknik analisa data, induktif deskriptif dengan alur reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, untuk data digunakan uji trianggulasi. Penelitian berbentuk multisitus, maka ada dua analisis data yang digunakan yaitu analisis dalam situs dan analisis lintas situs. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) peran kepala sekolah di kedua lokasi penelitian dapat ditandai dengan beberapa ciri yaitu: memiliki kemampuan memahami visi atau tujuan dari KLK dan menyampaikannya kepada orang lain, melibatkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan, totalitas dalam pekerjaan dan memberi teladan kepada staffnya, melakukan evaluasi dan analisis program serta menyelesaikan masalah yang ada (2) pengadaan guru pada KLK melalui proses seleksi dan pelatihan, selanjutnya para guru mendapatkan kompensasi baik berupa materi maupun non materi. (3) pola rekruitmen dalam pencarian peserta didik (siswa) adalah dengan cara menelusuri buku induk yang ada di sekolah dan selanjutnya dilakukan pengecekan di lapangan yang dibantu oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat, a) kendala yang dihadapi oleh pengelola KLK adalah, masalah motivasi belajar siswa, adanya siswa yang menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah, atau hidup sendiri serta menjadi kelompok-kelompok anak jalanan b) untuk mengatasi kendala tersebut pihak pengelola melakukan pendekatan informal dan personal kepada siswa dan orang tua serta melibatkan aparat keamanan ketika menyangkut permasalahan yang terkait dengan kelompok anak-anak jalanan, (4) adapun peran masyarakat dalam program KLK adalah mendukung keberadaan program, membantu mensosialisasikan dan merekrut calon peserta didik serta memberikan bantuan untuk ikut mengatasi permasalahan dalam pelaksanaan program KLK. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pengelolaan pendidikan model Kelas Layanan Khusus di kedua situs melibatkan peran serta masyarakat dalam melakukan perekrutan siswa. Pendekatan personal dan informal dilakukan untuk mengatasi kendala yang ada seperti masalah motivasi siswa dan permasalahan ekonomi. Adapun untuk mengelola KLK dibutuhkan tenaga profesional yang dilakukan melalui perekruitan dan pelatihan serta diberikan kompensasi berupa materi dan non materi. Memperhatikan kesimpulan tersebut ada beberapa saran yang disampaikan yaitu: (1) Hendaknya Depdiknas Pusat khususnya PTKSD hendaknya menjalin kersama dan melibatkan institusi yang terkait ketika merumuskan perbaikan program KLK, misalnya: Departemen Sosial, karena permasalah peserta didik KLK tidak akan maksimal tanpa penanganan yang komprehensif dan menyeluruh yang melibatkan banyak pihak. (2) Keberhasilan program KLK sudah selayaknya mendapat dukungan Pemerintah Kota/Kabupaten, baik berupa dana maupun fasilitas yang mendukung serta kesejahteraan pengajar dan pengola KLK. Dinas Sosial hendaknya mendukung dengan melakukan pemberdayaan yang memandirikan orang tua siswa KLK secara ekonomi karena akan menjadi salah satu faktor yang sangat penting bagi keberhasilan program KLK. (3) Bagi Depdiknas Kota Mekar, keberhasilan kedua SDN tersebut bisa dijadikan percontohan untuk pengelolaan KLK di SD lainnya dan melakukan kajian khusus serta kerjasama dengan pihak lain, untuk membuka program sejenis yang bisa dilaksanakan oleh masyarakat – seperti diselenggarakan SD/MI swasta yang berminat, untuk itu diperlukan aturan, petunjuk teknis dan sosialisasi kepada institusi terkait seperti Pemerintah Kota dan parlemen daerah. (4) Kepala sekolah hendaknya melibatkan seluruh komponen yang ada agar bisa bekerja sama dengan baik dengan cara memahami visi dan misi dari program KLK, dengan melakukan pertemuan reguler dimana pada saat itu masing-masing pihak bisa memberikan perkembangan yang dicapai sehingga bisa dilakukan evaluasi dan diambil tindakan-tindakan yang dibutuhkan jika ada suatu permasalahan. (5) Keterilbatan Komite/Dewan Sekolah lebih ditingkatkan lagi terutama yang berhubungan dengan orang tua anak-anak yang belajar di KLK, karena idealnya kepala sekolah dan guru berfokus pada pengajaran peserta didik, sementara komite sekolah berfokus mencari dan menciptakan terobosan untuk pemberdayaan ekonomi orang tua peserta didik KLK. Dengan demikian dirapkan keberhasilan program KLK tidak bersifat temporer yaitu tidak hanya ketika peserta didik duduk di bangku SD tetapi juga ketika menginjak tingkatan pendidikan yang lebih tinggi. (6) Perlu adanya sosialiasi yang baik dari Dinas Pendidikan tentang program KLK sehingga diharapkan partisipasi masyarakat semakin besar dengan cara melibatkan dan mensinergikan program-program dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam pengentasan kemiskinan dan penanganan anak-anak jalanan.

Sifat organoleptik brownies kukus putih telur dengan menggunakan tiga margarin yang berbeda / Imroatul Amanah

 

Brownies kukus merupakan salah satu jenis cake, yang bersifat bantat dan berwarna coklat, lebih lembut dibanding dengan brownies panggang (oven). Penggunaan margarin pada brownies kukus putih telur berfungsi membentuk tekstur brownies lembut dan gurihnya lemak. Penggunaan margarin yang mempunyai ciri fisik dan kompisisi yang berbeda diduga dalam pembuatan brownies kukus putih telur menghasilkan rasa, tekstur, warna dan aroma brownies kukus putih telur dengan sifat organoleptik yang berbeda. Tujuan penelitian ini, untuk mempelajari penggunaan 3 margarin untuk menghasilkan brownies kukus putih telur yang disuka. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen, dengan menggunakan 3 margarin yang berbeda yang disimbulkan X, Ydan Z. Instrumen penelitian dalam uji organoleptik yaitu instrumen uji mutu hedonik dan instrumen uji hedonik yang berupa format uji penilaian terhadap rasa, warna, aroma dan tekstur brownies dengan penggunaan jenis margarin yang berbeda. Teknik pengumpulan data dengan mengisi format penilaian uji mutu hedonik dan uji hedonik yang masing-masing dilakukan oleh panelis. Panelis yang digunakan adalah panelis agak terlatih. Panelis yang digunakan mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2006 yang ditentukan secara acak sejumlah 20 orang. Teknis analisis data yang dilakukan adalah Analisis Sidik Ragam,jika pada hasil terdapat perbedaan yang sangat nyata yaitu jika Fhitung > Ftabel maka analisis data dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik rasa manis dan aroma harum margarin dicapai oleh brownies kukus putih telur yang menggunakan margarin Y, tekstur padat berongga kecil dicapai oleh brownies kukus putih telur yang menggunakan margarin Z, warna coklat dicapai oleh brownies kukus putih telur yang menggunakan margarin X. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terdapat pebedaan yang sangat nyata terhadap tingkat kesukaan rasa, tekstur, warna dan aroma brownies kukus putih telur yang menggunakan 3 margarin yang disimbulkan dengan X, Y dan Z. Rasa dan aroama yang paling disuka pada brownies kukus putih telur yang menggunakan margarin Y, tekstur yang paling disuka pada brownies kukus putih telur yang menggunakan margarin Z dan warna yang paling disuka pada brownies kukus putih telur yang menggunakan margarin X. Kesimpulan dari penelitian ini adalah brownies kukus putih telur menggunakan margarin Y yang menghasilkan rasa manis dan aroma harum margarin yang disuka. Tetapi kelemahannaya ialah warnanya yang kurang coklat dan tekstur yang masih berongga besar. Saran yang diajukan untuk peneliti selanjutnya memperbaiki tekstur yang masih berongga besar dan jenis coklat yang baik dalam pembuatan brownies kukus putih telur.

Alat pendeteksi kebocoran gas LPG dengan informasi SMS / Sigit Hariadi Putra

 

Satunya faktor kegalan konversi minyak ke gas LPG adalah ketakutan akan bahaya gas LPG karena sifat gas LPG yang mudah terbakar. Kebanyakan kasus kebakaran akibat gas LPG selama ini, terjadi akibat kelalaian manusia itu sendiri dan kurangnya sosialisasi dari pemerintah mengenai tabung gas LPG menjadi faktor utama dari kelalaian manusia tersebut. Berdasarkan permasalahan bahaya gas LPG maka diperlukan alat yang bermanfaat bagi konsumen gas LPG tersebut. Alat ini berfungsi mendeteksi gas LPG pada regulator, selang, dan tabung gas LPG bila mengalami kebocoran dengan dilengkapi informasi SMS. Alat ini juga dilengkapi indikator bahaya (lampu dan alarm) yang berfungsi sebagai pengaman. Penggunaan informasi SMS ini diperuntukkan untuk konsumen gas LPG yang mempunyai banyak aktifitas di luar, yang senantiasa menggunakan atau membawa HP. Sehingga alat ini bersifat fleksibel dan mempunyai manfaat bagi konsumen yang mempunyai orientasi kegiatan di dalam atau di luar rumah. Prinsip kerja alat ini dimulai dari sensor gas yang mendeteksi adanya gas LPG pada selang, regulator, dan tabung. Bila terjadi kebocoran maka sensor gas akan mendeteksi adanya gas LPG dan mengeluarkan tegangan. Agar tegangan keluaran sensor gas yang bersifat analog dapat dibaca oleh mikrokontoler yang bersifat digital, maka tegangan tersebut dikuatkan oleh penguat pembanding (komparator). Komparator berfungsi membandingkan tegangan keluaran sensor gas dengan tegangan referensi dan mengubahnya menjadi logika digital pada pin keluaran komparator. Keluaran dari komparator lalu dimasukan ke mikrokontoler untuk di proses. Kemudian keluaran mikrokontroler mengirim data ke HP pengirim melalui antarmuka dan mengaktifkan indikator bahaya. Selanjutnya HP pengirim akan mengirim SMS ke HP penerima (konsumen LPG). Dari hasil pengujian dan pembahasan “Alat Pendeteksi Kebocoran Tabung Gas LPG Dengan Informasi SMS” dapat diambil kesimpulan bahwa, alat dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan yaitu dapat mendeteksi kebocoran gas LPG dan menginformasikan dalam bentuk SMS. Dalam pengembangan selanjutnya dapat dilakukan beberapa hal untuk kesempurnaan alat diantaranya sebagai berikut: Sebaiknya alat tidak hanya mengirim SMS saja melainkan juga menerima SMS, pengiriman SMS sebaiknya tidak hanya ke satu nomor saja melainkan ke banyak nomor, gunakan yang sensor yang lebih baik dari TGS 2610, gunakan kabel data asli dari HP pengirim, gas LPG tidak akan terbakar ataupun meledak asal tidak ada percikan api atau suhu panas yang mengenainya.

Sifat organoleptik hard candy jahe gajah (Zingiberis Rhizoma) dengan subtitusi jahe emprit (Zingiber majus Rumph.) / Linda Lestari

 

Hard candy adalah permen yang memiliki tekstur keras dan penampakan yang jernih. Bahan dasar penyusun hard candy meliputi gula (sukrosa), sirup glukosa, gula invert, flavor, pewarna, dan sebagainya. Jahe merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai flavoring agents dalam pembuatan produk hard candy. Jahe gajah mempunyai rimpang besar, berwarna kuning atau kuning muda, seratnya sedikit dan lembut, aromanya kurang tajam, dan rasanya kurang pedas. Jahe emprit mempunyai rimpang yang agak pipih, berwarna putih, seratnya lembut, aromanya tidak tajam, dan rasanya pedas. Penggunaan jahe gajah saja dalam pembuatan hard candy dapat memberikan rasa yang tidak terlalu pedas dan flavor yang kurang kuat. Sedangkan penggunaan jahe emprit dalam pembuatan hard candy dapat memberikan rasa yang pedas dan flavor yang kuat, tetapi penggunaan jahe emprit saja dapat menghasilkan rasa hard candy yang sangat pedas. Jika jahe emprit ditambahkan dengan air, maka flavor yang dihasilkan tidak kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi jahe emprit terhadap jahe gajah dalam hard candy. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Tata Boga Gedung H4 Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan pengulangan sebanyak 3 kali. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji organoleptik, yaitu meliputi uji mutu hedonik dan uji hedonik. Panelis yang digunakan adalah mahasiswa DIII Tata Boga Universitas Negeri Malang angkatan 2006 sebanyak 20 orang yang dipilih secara acak. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan analisis Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5% dan 1% apabila dari analisis sidik ragam terdapat perbedaan nyata (Fhitung > Ftabel). Substitusi jahe emprit yang digunakan dalam perlakuan adalah substitusi sebanyak 10%, 20%, 30%, dan 40%. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa substitusi jahe emprit berpengaruh terhadap flavor, rasa, warna, dan kejernihan hard candy. Flavor hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit, nilai rerata skor tertinggi (3,27) terdapat pada perlakuan D (hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 40%). Rasa hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit, nilai rerata skor tertinggi (3,40) terdapat pada perlakuan D (hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 40%). Warna hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit, nilai rerata skor tertinggi (3,28) terdapat pada perlakuan D (hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 40%). Kejernihan hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit, nilai rerata skor tertinggi (3,07) terdapat pada perlakuan A (hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 10%). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa flavor hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit yang disukai lebih dari setengah panelis (75%) adalah hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 30% (perlakuan C). Rasa hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit yang disukai lebih dari setengah panelis (70%) adalah hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 30% (perlakuan C). Warna hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit yang disukai lebih dari setengah panelis (73,33%) adalah hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 10% (perlakuan A). Kejernihan hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit yang disukai sebagian besar panelis (81,67%) adalah hard candy jahe gajah substitusi jahe emprit 10% (perlakuan A).

Optimalisasi penjadwalan pada proyek pembangunan gudang dan DC Indomaret Jl. Mayjen Sungkono Buring Malang / Amelia Putri Purnamasari

 

ABSTRAK P. Putri, Amelia.2009. Optimalisasi Penjadwalan Pada Proyek Pembangunan Gudang dan DC Indomaret Jl. Mayjen Sungkono Kecamatan Buring Malang. Proyek Akhir, Program Studi Teknik Sipil dan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Imam Alfianto, S.T., M.T. Kata kunci : penjadwalan, optimalisasi Penjadwalan merupakan alat mutlak yang diperlukan guna menyelesaikan suatu proyek. Untuk proyek berskala kecil, yang hanya memiliki beberapa kegiatan, umumnya penjadwalan hanyalah dibayangkan saja ( di dalam kepala atau pikiran) sehingga penjadwalan tidak begitu mutlak dilakukan. Akan tetapi berbeda masalahnya pada proyek berskala besar, di mana jumlah kegiatannya yang sangat besar serta rumitnya ketergantungan (keterkaitan) antar kegiatan sehingga tidak mungkin lagi bila hanya diolah di dalam pikiran. Penjadwalan dan kontrol menjadi rumit dan sangat penting supaya kegiatan dapat dilaksanakan dengan efisien. Data diperoleh dengan cara observasi dan wawancara, Pengumpulan data dilakukan dua tahap, tahap pertama data dikumpulkan dengan metode wawancara untuk memperoleh data tentang durasi pelaksanaan beserta efisiensi biaya yaitu data tentang kegiatan yang terjadi di lapangan setiap harinya serta tentang besarnya biaya pelaksanaan pekerjaan gudang dan kantor Indomaret yang sebenarnya di lapangan, yang meliputi volume pekerjaan, harga bahan, upah kerja dan harga satuan pekerjaan yang dilaksanakan di lapangan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa proyek dapat diselesaikan tepat waktu dengan optimalisasi penjadwalan yaitu dengan mereduksi waktu pelaksanaan yang ada dengan jumlah sumberdaya tetap antara kontraktor dan penulis. Dari perhitungan di dapat bahwa total biaya kontraktor Rp.377,130,000.00 dan penulis Rp. 355,658,333.33 dengan keuntungan 5,82% lebih besar dari kontraktor. Berdasarkan kesimpulan di atas penulis dapat memberikan saran kepada perencana bangunan adalah dalam merencanakan bangunan harus memperhatikan aspek-aspek seperti mobilisasi sumber daya (bahan, alat, tenaga kerja) yang sering terlambat, keahlian dan ketrampilan serta motivasi kerja para pekerja - pekerja ,jumlah pekerja yang kurang memadai atau sesuai dengan aktivitas pekerjaan yang ada, tersedianya bahan secara cukup pasti atau layak sesuai kebutuhan, tersedianya alat atau peralatan kerja yang cukup memadai atau sesuai kebutuhan, kelalaian atau keterlambatan oleh sub kontraktor pekerjaanharus dikendalikan, pendanaan kegiatan proyek yang tidak terencana dengan baik (kesulitan pendanaan di kontraktor) harus di antisipasi sebelumnya dan melakukan perhitungan dengan berdasarkan analisa Soedrajat sehingga menghasilkan perhitungan yang paling optimal.

Pemilihan lightning arrester sebagai pengaman surja petir pada GTT 20 KV / Ricky Vendi Sugiyono

 

ABSTRAK Sugiyono, Ricky. Vendi. 2009. Pemilihan Lightning Arrester Sebagai Pengaman Surja Petir Pada GTT 20 kV. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sujono,M.T. ( II) Ahmad Fahmi,S.T.,M.T. Kata Kunci: Distribusi Listrik, Pemilihan, Lightning Arrester Keinginan untuk mewujudkan suatu kebutuhan dengan laju perkembangan teknologi dan kebutuhan itu sendiri adalah hal yang sangat mutlak di inginkan setiap suatu lembaga demi kemajuan lembaga tersebut. Hal tersebut yang mendasari suatu lembaga pendidikan membangun sarana demi kelangsungan kelancaran operasional pembelajarannya. Mengantisipasi ketidakstabilan dan kontinyuitas tenaga listrik, dituntut adanya peningkatan pelayanan sistem kelistrikan yang andal dan keamanan yang memadai. Gangguan akibat surja petir sangatlah bernahaya bagi alat – alat yang ada pada GTT maupun bagi kontinuitas sistem. Di Indonesia sendiri ganggua petir sangatlah besar intensitasnya. Sehingga Pengamanan terhadap petir itu sendiri haruslah sangat tepat dan efisien Pemilihan Ligthning Arrester pada GTT 20 kV di gedung G4 Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang ini dimulai dari studi literatur, dengan baik dan benar serta memahami bagaimana pemilihan Lightning Arrester di pilih berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan. Seperti karakterisrik gelombang petir di Indonesia, karakteritik pengamanan dari masing – masing jenis arrester, penentuan tegangan pengenal arrester, dan tipe arrester. Hasil pemilihan di peroleh 3 tahap, (1)karakteritik pengamanan arrester yang tepat untuk perlindugan trafo di GTT adalah karakteristik arester tipe katup dengan perlindungan margin 20% dibawah BIL, (2) tegangan pengenal arester didapatkan sebesar 25 kV dengan tegangan pelepasaan sebesar 116 kV, (3) untuk jenis arrester sendiri dipilih jenis arester tipe katup berdasarkan pertimbangan pertimbangan – pertimbangan yang telah dilakukan.

Peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan memanfaatkan media komik siswa kelas III SDK Santo Fransiskus Lawang-Malang / Maria Margaretha Novi Kartikasari

 

ABSTRAK Kartikasari, Maria Margaretha Novi. 2009. Peningkatan Kemampuan Menulis Cerpen dengan Memanfaatkan Media Komik Siswa Kelas III SDK Santo Fransiskus Lawang-Malang. Skripsi Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia & Daerah Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd. Kata Kunci: menulis, cerpen, komik Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang wajib dilaksanakan sejak siswa menempuh pendidikan dasar hingga ke jenjang sekolah lanjutan atas. Pengajaran Bahasa Indonesia perlu dilakukan sejak dini. Pengajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tulis dengan baik dan benar. Mata pelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan melalui pengembangan empat keterampilan berbahasa, yakni mendengar, menulis, berbicara, dan membaca. Masalah yang dikeluhkan oleh guru kelas III SDK Santo Fransiskus adalah rendahnya kemampuan siswa dalam menulis, terutama pembelajaran menulis cerpen. Masalah-masalah yang ditemukan antara lain, (1) siswa belum mampu mengembangkan tema ke dalam bentuk cerpen, (2) siswa belum mampu menggunakan kalimat langsung dan kalimat tidak langsung, (3) siswa belum mampu menggunakan ejaan, huruf kapital, dan (4) siswa belum mampu mengembangkan unsur pembangun cerpen. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, (1) bagaimanakah tindakan dan hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan memanfaatkan media komik siswa kelas III SDK Santo Fransiskus Lawang-Malang pada tahap pramenulis, (2) bagaimanakah tindakan dan hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan memanfaatkan media komik siswa kelas III SDK Santo Fransiskus Lawang-Malang pada tahap menulis, dan (3) bagaimanakah tindakan dan hasil peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan memanfaatkan media komik siswa kelas III SDK Santo Fransiskus Lawang-Malang pada tahap pascamenulis? Penelitian ini dilakukan di SDK Santo Fransiskus Lawang-Malang, difokuskan pada siswa kelas III sebagai subjek penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang digunakan berupa data verbal, data perilaku siswa dalam pembelajaran menulis, data numerik yang berupa skor hasil pada tahap pramenulis, menulis, dan pasca menulis, dan data nonverbal yang berupa dokumentasi foto siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yakni lembar observasi dan angket. Penelitian ini dilakukan hingga dua siklus untuk mencapai tujuan penelitian, yaitu peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan memanfaatkan media komik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media komik dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen. Pada siklus I tahap pramenulis dari 32 siswa yang mendapat tindakan 24 siswa dikatakan berhasil mencapai nilai diatas SKM (>70), dengan rincian 10 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-86 dan 13 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 80-73. Dalam tahap pramenulis masih terdapat 9 siswa yang mendapat nilai dibawah SKM (<70), dengan rincian 8 siswa mencapai kriteria cukup dengan rentangan nilai 66-60, serta 1 siswa mencapai kriteria kurang dengan nilai 53. Pada tahap menulis didapatkan hasil dari 32 siswa yang mendapat tindakan hanya 15 siswa yang mendapat nilai diatas SKM (>70), dengan rincian 2 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-90, dan 13 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 84-72. Dalam tahap ini ditemukan 17 siswa yang mencapai nilai dibawah SKM (<70), dengan rincian 16 siswa mencapai kriteria cukup dengan rentang nilai 64-60, serta 1 siswa yang mencapai kriteria kurang dengan nilai 44. Siklus II pada tahap pramenulis didapatkan hasil 23 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-86, dan 9 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 86-73. Pada tahap menulis tidak ditemui siswa yang mencapai kriteria cukup dan kurang. Seluruh siswa memperoleh nilai diatas SKM (>70), dengan rincian 20 siswa mencapai kriteria sangat baik, dan 12 siswa mencapai kriteria baik. Pada siklus II didapatkan hasil semua siswa mengalami peningkatan nilai diatas SKM (>70). Berdasarkan data-data yang sudah dicapai pada siklus I dan siklus II, siswa sudah mampu menulis cerpen secara utuh dan padu dengan memanfaatkan media komik. Media komik dapat menjadi inspirasi bagi siswa, dengan bukti siswa menemukan judul, tema, tokoh, latar, dan alur dari media komik. Judul, tema, tokoh, latar, dan alur yang sudah ditemukan membantu siswa untuk berimajinasi dan menuliskan imajinasinya menjadi cerpen yang utuh dan padu. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk kepala sekolah dan guru agar memanfaatkan media komik sebagai salah satu media pembelajaran menulis cerpen, sebab komik merupakan bacaan yang digemari dan mudah dipahami siswa.

Pengembangan strategi domino dalam pembelajaran menulis cerpen siswa kelas X SMA Islam Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Susi Budi Utami Yantias

 

ABSTRAK Yantias, Susi Budi Utami Yuli. 2009. Pengembangan Strategi Domino dalam Pembelajaran Menulis Cerpen Siswa Kelas X SMA Islam Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd Kata Kunci: pengembangan strategi Domino, pembelajaran menulis cerpen. Menulis cerpen adalah salah satu kompetensi dasar yang tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk bidang kesastraan khususnya pada pengajaran apresiasi prosa yang harus dikuasai siswa SMA kelas X. Dalam hal ini, siswa harus mampu menciptakan sendiri karya sastra melalui kegiatan menulis karangan berdasarkan pengalaman orang lain dalam bentuk cerpen. Bagi guru, pembelajaran menulis cerpen selama ini dianggap kurang berhasil karena butir-butir pembelajaran yang berkaitan dengan cerpen sulit untuk dikembangkan. Hal tersebut diakibatkan oleh pola pembelajaran yang digunakan oleh guru masih bersifat umum atau konvensional. Bagi siswa, pembelajaran menulis cerpen hanya untuk siswa yang menyenanginya saja sehingga yang lain merasa jenuh dan terbebani. Latar belakang inilah yang mendasari penelitian dengan judul Pengembangan Strategi Domino dalam Pembelajaran Menulis Cerpen Siswa Kelas X SMA Islam Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Penelitian ini dilakukan untuk (1) merancang produk awal pengembangan model strategi Domino dalam pembelajaran menulis cerpen, (2) menguji coba produk awal, dan (3) merevisi produk pengembangan model stategi Domino dalam pembelajaran menulis cerpen siswa SMA kelas X. Metode penelitian ini menggunakan rancangan pengembangan yaitu mengembangkan suatu model strategi pembelajaran dalam kegiatan menulis cerpen yang berwujud game atau permainan. Model strategi yang dikembangkan menggunakan permainan kartu domino. Pengembangan model strategi Domino dalam pembelajaran menulis cerpen diaplikasikan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan lembar kegiatan siswa (LKS). Untuk menghasilkan produk yang efektif dan efisien, maka produk tersebut diuji coba. Subjek uji coba dalam penelitian ini adalah uji ahli, uji praktisi, dan uji lapangan. Uji ahli melibatkan salah satu dosen ahli pembelajaran sastra. Uji praktisi melibatkan salah satu guru Bahasa dan Sastra Indonesia dari sekolah yang ditunjuk. Uji lapangan melibatkan siswa kelas X-E SMA Islam Malang sebanyak 35 orang. Hasil penelitian pengembangan model strategi Domino dalam pembelajaran menulis cerpen siswa SMA kelas X menunjukkan bahwa (1) strategi Domino dalam pembelajaran menulis cerpen terbagi menjadi tiga kegiatan yaitu kegiatan awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir/penutup. Pada kegiatan awal guru melakukan kegiatan pemodelan dengan cara membaca model cerpen sehingga guru dapat melakukan proses interaktif antara guru-siswa, siswa dengan siswa. Pada kegiatan inti guru melakukan proses pembelajaran yang inspiratif dengan model strategi Domino yang berwujud game atau permainan yang memanfaatkan kartu domino, sehingga guru dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk moncoba dan melakukan sesuatu. Permainan kartu domino ini digunakan untuk tahap penentuan tema, tokoh, latar, dan tahap pembuka cerpen. Dalam kegiatan inti, guru menekankan pada siswa untuk melakukan diskusi kelompok. Pada kegiatan akhir guru melakukan penilaian, pemublikasian hasil cerpen, dan refleksi, (2) strategi Domino sangat efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis cerpen, terbukti siswa mampu menulis cerpen dengan baik. Dalam hal ini, siswa mampu menulis cerpen dengan memilih dan mengembangkan tema berdasarkan ruang lingkup persoalan dalam kehidupan yang berbeda, sehingga hasil cerpen siswa sangat bervariasi, (3) strategi Domino sangat membantu siswa pada tahap pemilihan dan pengembangan tema, tokoh, alur, latar, dan sudut pandang, (4) dilihat dari pelaksanaannya, strategi Domino ini sangat praktis, dan (5) strategi Domino ini mampu menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa dan dapat memotivasi siswa untuk belajar menulis cerpen. Kendala dari strategi Domino ini adalah pengalokasian waktu kurang teratur sehingga tugas-tugas harus diselesaikan sebagai tugas pekerjaan rumah (PR). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia yaitu (1) supaya guru dapat melaksanakan pembelajaran menulis kreatif khususnya pembelajaran menulis cerpen secara bervariasi dan terpadu serta memberi motivasi kepada siswa untuk berlatih menulis cerpen agar pembelajaran menulis cerpen tidak dianggap sulit dan menjemukan, sehingga mendapatkan hasil yang optimal, dan (2) berdasarkan hasil penelitian, guru disarankan dapat menggunakan model strategi Domino dalam pembelajaran menulis kreatif selain menulis cerpen, misalnya pada pembelajaran menulis dongeng, menulis naskah drama, dan menulis deskriptif.

Perancangan sistem pertanahan netral trafo pada gardu trafo tiang 20 KV dengan menggunakan tahanan tinggi / Didiet Wahyudianto

 

Hubungan supervisi pengajaran dan kompensasi kerja dengan kinerja guru Mts swasta di kota Malang / Nisfuana

 

ABSTRAK Nisfuana. 2009. Hubungan Supervisi Pengajaran dan Kompensasi Kerja dengan Kinerja Guru MTs Swasta di Kota Malang. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd. Kata kunci: supervisi, kompensasi, kinerja Guru adalah pengelola pembelajaran atau disebut pembelajar. Adapun faktor yang perlu diperhatikan oleh pembelajar adalah keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, dan memanfaatkan metode yang tersedia. Di dalam interaksi belajar mengajar, guru memegang kendali utama untuk keberhasilan tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan metode yang tersedia, menggunakan media dan mengalokasikan waktu. Kelima hal ini merupakan faktor pendekatan guru untuk mengkomunikasikan tindakan mengajarnya demi tercapainya tujuan pembelajaran. Keterampilan mengajar adalah sejumlah kompetensi guru yang menampilkan kinerjanya secara profesional. Kinerja merupakan prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya/pekerjaannya sesuai dengan standar dan kriteria yang yang telah ditentukan. Kinerja guru adalah unjuk kerja atau kegiatan yang dilakukan guru dalam rangka melaksanakan tugasnya sebagai guru. Adapun unsur kinerja yang baik bagi seorang guru pada dasarnya terlihat dari kemampuan dan keterampilannya dalam menyusun program pengajaran, melaksanakan pembelajaran, melaksanakan evaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan. Pada pelaksanaannya kinerja akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang bersumber dari pekerja sendiri maupun yang bersumber dari organisasi. Dari pekerja sangat dipengaruhi oleh kemampuan/ kompetensinya, sementara dari segi organisasi dipengaruhi oleh seberapa baik pemimpin memberdayakan pekerjanya, bagaimana mereka memberikan penghargaan pada pekerja, bagaimana mereka membantu meningkatkan kemampuan kinerja pekerja. Penelitian ini mengangkat supervisi pengajaran dan kompensasi kerja sebagai faktor yang mempengaruhi kinerja guru. Kedua hal tersebut telah dilaksanakan di lembaga MTs swasta di kota Malang, namun belum diyakini dapat mempengaruhi kinerja guru MTs swasta di kota Malang. Untuk dapat mengungkap keadaan tersebut, dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan: (1) Bagaimanakah deskriptif supervisi pengajaran dan kompensasi kerja dengan kinerja guru MTs swasta di kota Malang?, (2) Apakah terdapat hubungan antara supervisi pengajaran dan kompensasi kerja dengan kinerja guru MTs swasta di kota Malang?, Selanjutnya ditentukan tujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan tentang hubungan supervisi pengajaran dan kompensasi kerja dengan kinerja guru MTs swasta di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian survey jenis deskriptif korelasional untuk menggambarkan fenomena yang ada dan mengetahui hubungan variabel supervisi pengajaran (X1), kompensasi kerja (X2) dengan kinerja guru (Y) MTs swasta di Kota Malang. Ditentukan sejumlah 184 guru yang dijadikan sampel penelitian. Jumlah tersebut merupakan bagian dari populasi yang ditentukan dengan menggunakan tabel krejcie sejumlah 351 orang guru, yang tersebar di kota Malang. Pengolahan data dengan menggunakan tehnik korelasi untuk mengetahui koefisien korelasi dan signifikansi secara statistik. Hasil dari penelitian analisis deskripsi menunjukkan bahwa supervisi pengajaran dalam kategori tinggi 62,5% dan kategori sangat tinggi sebesar 30,4%, untuk kompensasi kerja pada kategori sedang sebesar 37,5%, kategori tinggi sebesar 37% dan kategori sangat tinggi sebesar 25,5% sedangkan untuk variabel kinerja guru pada kategori tinggi 57,6% dan sangat tinggi 42,4%. Selanjutnya dari hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa variabel supervisi pengajaran (X1) berhubungan secara signifikan dengan variabel kinerja guru (Y) dengan p = 0,000, variabel kompensasi kerja (X2) berhubungan secara signifikan dengan variabel kinerja guru(Y) dengan p = 0,000. Artinya peningkatan variabel-variabel supervisi pengajaran, kompensasi kerja yang lebih baik, maka akan meningkatkan kinerja guru MTs swasta di kota Malang, karena koefisien korelasi bernilai positif. Bertitik tolak dari kenyataan hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa supervisi pengajaran dan kompensasi kerja mempengaruhi kinerja guru MTs swasta di kota Malang. Namun begitu, beberapa hal masih dirasakan oleh peneliti terjadi di lembaga MTs swasta di kota Malang yaitu, pelaksanaan supervisi pengajaran belum bisa secara merata terhadap seluruh guru dan pemberian kompensasi kerja yang dirasakan belum bisa proporsional dan tepat waktu. Dengan demikian perlu kiranya mengatasi hal tersebut dan juga lebih meningkatkan prosentase serta kualitas pelaksanaannya, maka dapat disarankan: (1) Meningkatkan kegiatan pelaksanaan supervisi pengajaran dan melaksanakan seluruh teknik supervisi secara lebih merata terhadap seluruh guru, (2) Memberikan kompensasi kerja kepada guru secara proporsional dan tepat waktu, karena kedua langkah tersebut akan semakin meningkatkan kinerja guru MTs swasta di kota Malang.

Sifat organoleptik hard candy susu dengan jenis gula berbeda / Dian Prayogi

 

ABSTRAK Prayogi, Dian. 2009. Sifat Organoleptik Hard Candy Susu Dengan Jenis Gula Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Titi Mutiara Kiranawati, M.P. (2) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes. Kata Kunci : Hard Candy, Gula, Organoleptik Hard candy merupakan salah satu permen non kristalin yang dimasak dengan suhu tinggi (1500C). Sebagai produk confectionary, candy dibedakan menjadi dua golongan bedasarkan bahan bakunya diantaranya sugar confectionary yang berbahan dasar gula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu organoleptik hard candy susu. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan gula yang berbeda yaitu gula aren, gula kelapa dan gula tebu. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik yang meliputi rasa, warna, tekstur dan kebeningan dengan pengujian uji mutu hedonik dan uji hedonik oleh panelis. Panelis terdiri dari 20 orang agak terlatih dari mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2005-2006. Data dianalisis dengan menggunakan Analisis Sidik Ragam. Hasil analisis data yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan masing-masing perlakuan. Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap rasa, warna, tekstur dan kebeningan dengan jenis gula berbeda. Nilai rerata tertinggi untuk rasa 3,66 dengan jenis gula tebu yaitu manis. Nilai rerata tertinggi untuk warna 3,33 dengan jenis gula aren yaitu coklat cerah. Nilai rerata tertinggi untuk tekstur 3,76 dengan jenis gula tebu yaitu keras. Nilai rerata tertinggi untuk kebeningan 3,71 dengan jenis gula aren yaitu bening. Hasil uji hedonik terhadap hard candy susu menunjukkan bahwa rasa hard candy susu yang disukai panelis adalah hard candy susu dengan jenis gula tebu. Hasil uji hedonik terhadap hard candy susu menunjukkan bahwa warna yang disukai panelis adalah hard candy susu dengan jenis gula aren. Hasil uji hedonik terhadap hard candy susu menunjukkan bahwa tekstur yang disukai panelis adalah hard candy susu dengan jenis gula tebu. Hasil uji hedonik terhadap hard candy susu menunjukkan bahwa kebeningan yang disukai panelis adalah hard candy susu dengan jenis gula aren. Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu : jenis gula yang berbeda akan menghasilkan hard candy susu dengan rasa, warna, tekstur, dan kebeningan yang berbeda sangat nyata. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya perbedaan jumlah kandungan sukrosa dan kadar abu pada setiap jenis gula.

Mutu organoleptik keripik telur ayam dengan penambahan bumbu soto instan kering / Ulfatur Rahmah Kurniawati

 

Bumbu soto merupakan bahan makanan yang dimanfaatkan masyarakat dalam memasak. Bumbu soto terbagi menjadi dua yaitu bumbu soto segar dan bumbu soto instan. Bumbu instan juga terbagi menjadi dua yaitu instan pasta dan instan kering atau bubuk. Bumbu soto memiliki kandungan oleoresin dan minyak atsiri yang menghasilkan aroma khas soto. Bumbu soto berfungsi memberikan flavour, warna dan tekstur pada keripik telur ayam. Bumbu soto segar dan bumbu soto instan kering memiliki keunggulan masing-masing. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan terhadap keripik telur ayam dengan penambahan bumbu soto segar dan bumbu soto instan kering. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu organoleptik (flavour, warna, tekstur) keripik telur ayam dengan penambahan bumbu soto segar dan bumbu soto instan kering. Panelis yang digunakan adalah panelis agak terlatih dari mahasiswa DIII Tata Boga sebanyak 30 orang. Analisis data yang digunakan adalah dengan uji t. Hasil penelitian pada uji mutu hedonik pada taraf signifikan 1% menunjukan adanya perbedaan pada flavour, warna dan tekstur antara keripik telur ayam bumbu segar dengan bumbu soto instan kering. Keripik telur ayam bumbu segar memiliki flavour soto kuat (skor rata-rata 3,2), warna coklat gelap (skor rata-rata 1,63), dan tekstur cukup renyah (skor rata-rata 2,67). Sedangkan keripik telur ayam bumbu soto instan kering memiliki flavour cukup kuat (skor rata-rata 2,47), warna coklat tidak gelap (skor rata-rata 3,57), dan tekstur renyah (skor rata-rata 3,53). Hasil penelitian uji hedonik menunjukan penambahan bumbu soto segar memberikan flavour dengan rata-rata tingkat panelis 3,4 (suka) dan 93,34% (sebagian besar) panelis menyukai, sementara penambahan bumbu soto instan memberikan warna dan tekstur yang disuka panelis. Sebanyak 100% (seluruhnya) panelis menyukai warna keripik telur ayam dengan rata-rata tingkat kesukaan panelis 3,6 (suka) dan sebanyak 90% (sebagian besar) panelis menyukai tekstur keripik telur ayam dengan rata-rata tingkat kesukaan panelis 3,47 (suka). Peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian pembuatan keripik telur ayam dengan penambahan bumbu soto instan kering guna menentukan flavour, warna, dan tekstur yang dikehendaki. Bagi masyarakat, produk keripik telur dapat dijadikan peluang usaha, dan bagi lembaga keripik telur ayam yang telah diteliti dapat dijadikan sebagai pengayaan materi matakuliah Teknologi Pengolahan Makanan Industri.

Using language games to improve the speaking ability of the second year students at SLTP Negeri 5 Manado (Classroom action research) / Anita Luisa Manoppo

 

Kontribusi penguasaan matakuliah prasyarat terhadap keberhasilan praktik industri mahasiswa DIII Tata Boga angkatan 2006 Universitas Negeri Malang / Merinda Kusmaningtyas

 

ABSTRAK Kusmaningtyas, Merinda. 2009. Kontribusi Penguasaan Matakuliah Prasyarat terhadap Keberhasilan Praktik Industri Mahasiswa DIII Tata Boga Angkatan 2006 Universitas Negeri Malang, Skripsi Jurusan Teknologi Industri Tata Boga, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Siswanto, M.A., (II) Dra. Teti Setiawati, M.Pd. Kata kunci : kontribusi, prasyarat, Praktik Industri Tenaga trampil siap pakai dapat terpenuhi apabila lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi, mampu menyiapkan lulusan yang menguasai bidangnya, baik ketrampilan maupun pengetahuan. Sebagai salah satu upaya yang ditempuh Perguruan Tinggi adalah dengan mewajibkan setiap mahasiswa untuk mengikuti matakuliah Praktik Industri. Agar tujuan tersebut dapat terlaksana maka, lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi perlu membekali peserta didik dengan pengetahuan dasar yang sesuai dengan yang dibutuhkan di dunia industri. Hal ini mendorong peneliti untuk meneliti tentang ”Kontribusi Penguasaan Matakuliah Prasyarat Terhadap Keberhasilan Praktik Industri Mahasiswa DIII Tata Boga Angkatan 2006 Universitas Negeri Malang”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi antara penguasaan matakuliah Prasyarat terhadap keberhasilan Praktik Industri pada mahasiswa DIII Tata Boga angkatan 2006 Universitas Negeri Malang. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis korelasional. Popolasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa DIII Tata Boga angkatan 2006 yang sudah menempuh matakuliah Praktik Industri. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat kontribusi secara simultan, antara penguasaan matakuliah prasyarat terhadap keberhasilan Praktik Industri sebesar 64,8%. Kontribusi secara parsial menunjukkan bahwa matakuliah yang paling dominan memberikan kontribusi adalah matakuliah Pastry sebesar 15,1%, selanjutnya matakuliah Bakery sebesar 14,5%, matakuliah Teknik Pengolahan Makanan Kontinental sebesar 12,8%, berikutnya matakuliah Teknik Pengolahan Makanan Indonesia sebesar 12,5% dan yang paling kecil memberikan kontribusi adalah matakuliah Teknik Pengolahan Makanan Oriental yaitu sebesar 9,9%. Ada beberapa saran yang diberikan bagi; (1) Dosen Tata Boga Universitas Negeri Malang, keberhasilan Praktik Industri akan lebih baik lagi, bila materi perkuliahan prasyarat Praktik Industri yang di ajarkan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan di tempat Praktik Industri, (2) Bagi Mahasiswa Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik agar lebih termotivasi untuk mengikuti perkuliahan terutama matakuliah prasyarat Praktik Industri, karena matakuliah tersebut sangat penting, bermanfaat dan mempermudah mahasiswa dalam pelaksanaan matakuliah Praktik Industri, (3) Bagi Peneliti Lebih Lanjut sebagai bahan pembanding dan acuan bagi peneliti lain yang ingin meneliti hal yang serupa.

Penggunaan media majalah dinding dalam pembelajaran menulis siswa kelas V SDN Tlogowaru 2 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Lestari Nuria Hati

 

Kemampuan berbahasa meliputi empat aspek, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek keterampilan menulis sangat penting untuk dikuasai oleh siswa. Kemampuan menulis dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa tulis. Menulis bukan merupakan kemampuan yang instan, melainkan kemampuan yang tercermin dari pola pengajaran dan latihan yang dilakukan siswa. Oleh karena itu, pembelajaran menulis membutuhkan media yang mampu membantu siswa dalam proses menulis dan mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini bermaksud untuk mendiskripsikan pembelajaran menulis menggunakan media majalah dinding. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan strategi penggunaan media majalah dinding dalam pembelajaran menulis, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis menggunakan media majalah dinding, dan (3) mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis menggunakan media majalah dinding. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN Tlogowaru 2 Kecamatan Kedung Kandang Kota Malang 2008-2009. Siswa berjumlah 8 orang. Data yang diperoleh peneliti berupa rekaman aktivitas penelitian. Rekaman aktivitas penelitian berupa tulisan dan gambar. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, pengisian angket. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar panduan observasi, panduan wawancara, angket, contoh-contoh materi menulis. Penelitian mencakup tiga kompetensi dasar yaitu, (1) menulis surat undangan (ulang tahun, acara agama, kegiatan sekolah, kenaikan kelas, dll) dengan kalimat yang efektif dan menggunakan ejaan, (2) menulis dialog sederhana antara dua atau tigatokoh dengan memperhatikan isi dan perannya, (3) menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan. Hasil penelitian menunjukkan siswa memperoleh hasil yang baik dalam pembelajaran menulis menggunakan media majalah dinding. Siswa menulis sesuai dengan tahapan menulis. Siswa mengikuti jalannya kegiatan pembelajaran dengan aktif. Siswa memiliki sumber inspirasi, referensi contoh karya tulis, dan wadah untuk memublikasikan karya. Siswa memiliki ketertarikan lebih dalam mengikuti tahapan menulis dengan menggunakan media majalah dinding. Pembelajaran menulis menggunakan media majalah dinding membutuhkan strategi yang tepat. Strategi digunakan agar tiap tahapan menulis dapat dilakukan dengan maksimal dan siswa mampu mencapai kompetensi dasar. Siswa aktif dalam mengikuti jalannya pembelajaran, sehingga siswa sungguh-sungguh dalam menulis dan mampu memperoleh nilai di atas SKM (60,1). Guru disarankan untuk menyiapkan strategi penggunaan majalah dinding dalam pembelajaran menulis agar mendapatkan hasil yang maksimal. Selain guru mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, guru mata pelajaran lain juga disarankan untuk menggunakan majalah dinding sebagai media pembelajaran. Siswa disarankan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran dengan sungguh, karena tidak semua sekolah memiliki atau memanfaatkan majalah dinding sebagi media pembelajaran.kepala sekolah disarankan menyediakan fasilitas berupa papan majalah dinding di dalam atau di luar kelas untuk membantu aktivitas belajar siswa. Peneliti lain disarankan untuk menggunakan hasil penelitian ini sebagai dasar, bahan pertimbangan, atau referensi dalam penelitian yang dilakukan tersebut.

Sifat organoleptik kerupuk rambak kelinci dengan lama perebusan yang berbeda / Ainiati Gamma Ridhi

 

Kerupuk rambak merupakan makanan ringan yang terbuat dari kulit hewan dan mempunyai sifat kering dan renyah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan kerupuk rambak kelinci dengan lama perubusan yang berbeda, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan 60 menit. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu organoleptik dan tingkat kesukaan terhadap kerupuk rambak kelinci yang meliputi tekstur, rasa, dan aroma. Eksperimen dilakukan pada bulan Juli 2009 di Laboratorium Tata Boga Gedung G3 lantai dua Universitas Negeri Malang. Data diperoleh dari panelis agak terlatih sebanyak 20 orang, yaitu mahasiswa D3 Tata Boga angkatan 2006 secara acak. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam dan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat nyata terhadap tekstur, rasa dan aroma kerupuk rambak kelinci dengan lama perebusan yang berbeda, yaitu 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan 60 menit. Tekstur renyah dihasilkan dari perlakuan perebusan selama 60 menit. Rasa gurih dihasilkan dari perlakuan perebusan selama 45 menit. Aroma anyir kurang tajam dihasilkan dari perlakuan perebusan selama 60 menit. Hasil uji hedonik diketahui bahwa perlakuan perebusan selama 60 menit disukai panelis dari segi tekstur dan aroma, sedangkan rasa yang disukai panelis pada perlakuan perebusan selama 45 menit. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah pada perebusan selama 60 menit menghasilkan tekstur renyah, rasa agak gurih, dan aroma anyir kurang tajam. Saran dari hasil penelitian ini adalah bagi lembaga, sebaiknya dilakukan penyuluhan dan pelatihan kerupuk rambak kelinci, kepada masyarakat luas terutama di daerah yang banyak beternak kelinci. Agar dapat memajukan perekonomian masyarakat sekitar dengan cara home industri. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar dilaksanakan penelitian lanjutan terhadap lama perebusan kerupuk rambak kelinci dengan waktu 60 menit untuk mendapatkan rasa gurih, dan disarankan melakukan penelitian lanjutan tentang daya simpan produk kerupuk rambak kelinci, Bagi produsen yang ingin membuat kerupuk rambak kelinci disarankan untuk membuat kerupuk rambak kelinci dengan lama perebusan 60 menit, agar menghasilkan kerupuk rambak kelinci dengan tekstur yang renyah, rasa yang agak gurih, dan aroma anyir yang kurang tajam.

EFL teacher questions in reading comprehension courses at the language center of Muhammadiyah University of Malang: a case study / Masduki

 

ABSTRACT Masduki, 2009. EFL Teacher Questions in Reading Comprehension Courses at the Language Center, Muhammadiyah University of Malang: A Case Study. Dissertation. The English Language Education, Graduate Program, State University of Malang. Advisors: (I) Frof. E. Sadtono, Ph.D. (II) Prof. Moh. Adnan Latief, M.A., Ph.D. (III) Prof. Dr. Siusana Kweldju, M.Pd Key Words: Teacher Questions, Reading Comprehension The main purpose of the study is clarifying an issue on EFL teacher questions in Reading Comprehension (RC) courses. More specifically, the study was done to investigate: 1) the types of questions posed by EFL teacher in RC courses, and 2) the strategies employed by EFL teachers to make effective questions in RC courses. In order to effectively describe those two aspects of teacher questions, the researcher analyzes them by means of question classification. With respect to effective questioning, the obtained data were analyzed by relying on the concepts/criteria for effective questions. The research project was executed by employing the qualitative study as a classroom research, focusing on the observation of teacher question and the students’ responses as the interactive effects of the questions. The data in the forms of teaches’ and students’ utterances (questions) were obtained through non-participant observation. Two teachers teaching reading comprehension classes in the Language Center at Muhammadiyah University of Malang were selected as the research subjects to be observed. As the research also required the subjects’ opinion and understanding of certain phenomena, it needed the data that were elicited using interview. This means that the data to handle were subjectively produced by the research subjects and subjectively and qualitatively interpreted by the present researcher. Since the analysis resides within the camp of qualitative type of research, in general, the present study can be labeled into qualitative. The analysis reveals the obvious types of questions posed by EFL teachers in reading comprehension courses. The types include display and referential questions. Both display and referential questions that occurred in the classes were in the closed and open form. With the closed forms, the teachers required the students to provide only one correct answer. Meanwhile, with the open form, they wanted their students to give more than one right answer. The closed and open forms were found in interrogative with yes/no questions and wh-questions, commands, and statements. The statements consisted of a complete sentence and were added by raising intonation to show that the teacher asked a question. The forms of referential question was also found closed and open. The closed referential was found in interrogative with yes/no questions, wh-questions and statements. But, the teacher employed open referential questions in the forms of wh-questions, statements, and commands. In classroom practices, the teacher used display questions more frequently than referential questions. Then, as far as the strategies are concerned, three different strategies were used by the teachers in posing questions in RC courses: translation, repetition, and pausing. The first questioning strategy employed by teachers in EFL reading classes is translation. The translation is either from the target language (English) to the student native language (Indonesian) or vice versa. The use of translation strategy indicated that the teachers wanted to emphasize and to make clearer about things they explained and described. The interviews with some student subjects touched an important issue on the use of translation to pose questions. The students acknowledged that translation also turned out to be the students’ preference. This indicated that they wanted the L1 (Indonesian) equivalents on their teachers’ English speech whenever they found it incomprehensible. This might also indicate that the students (mostly freshmen) had low proficiency in English. This finding supported the view that students’ preference for L1 and the language dominance in the setting may influence teachers’ preference for the communication strategies and the language used in the classrooms. The second strategy employed by teachers in EFL reading classes is repetition. The teacher repeated the question to ask whether the student understand about the questions posed. The repetition strategy was intended not only to increase comprehensibility but also to maximize the opportunities for students to answer. The present study also documented a point worth highlighting pertaining to the repetition. That is, despite the existing debate among scholars on the use of repetition, repetition strategy was capable of ensuring and improving EFL students’ engagement in a learning process. In the observed classes, there was sufficient evidence supporting this assertion. The findings attested some previous related studies which revealed that teacher’s repetition strategy was effective for improving learners’ engagement to find the intended response. The third questioning strategy employed by the teacher is the employment of wait-time or pausing. The present study reveals that teachers employed relatively moderate period of pause. The observed teachers posed questions with the mean of wait-time of 3:69 seconds. With this in mind, in this research, many students volunteered to answer each question. With regard to the wait-time, the study also reveals that the wait-time pauses were very similar among question types. Regarding the ways to pose effective questions, a number of modifications in the strategy of questioning were employed by the observed EFL teachers. For the purposes, the teachers employed probing and rephrasing modifications. Each has its own pattern. For the probing there were two types of modification employed by the teachers. Those are sequencing the questions by: 1) focusing on subordinate category, and 2) focusing on an exemplification. In addition to probing, the other modification of the question is rephrasing. In the present study, rephrasing was found to have more than one modification, namely the modification of rephrased questions by: 1) using a clue that describes the attribute of the expected answer, 2) comparing or contrasting of the expected answer to something, and 3) rephrasing with alternative or choice questions. Finally, as observed, there appears to be a direct relationship between the question modification made by teachers with the quantity and quality of the student’s responses. With the question modifications, the study found relatively ample evidence that the students could be helped to elicit the intended responses in the process of comprehending a reading text. Thus, it is recommended that teachers achieve a high degree of sensitivity and awareness to use questions in the most effective manner.

Identifikasi kerak evaporator di beberapa pabrik gula / Septika Sandra Kusuma Dewi

 

Evaporator merupakan salah satu dari satuan operasi teknik kimia yang diaplikasikan di industri gula, yang berfungsi untuk memisahkan air dari nira encer melalui peristiwa perpindahan panas. Dalam industri gula larutan tersebut berupa nira encer yang diperoleh dari nira mentah yang telah mengalami proses klarifikasi dari salah satu badan yang dikenal dengan badan pemurnian. Peristiwa perpindahan panas dapat terjadi karena mekanisme konduksi, konveksi, dan radiasi. Perhitungan panas dalam ilmu perpindahan panas (U) dapat dihitung dari jumlah tahanan panas secara keseluruhan. Selama operasional, koefisien perpindahan panas pada evaporator biasanya mengalami perubahan. Perubahan tersebut mengakibatkan terbentuknya kerak pada evaporator. Kerak yang terbentuk walaupun tipis akan merupakan tambahan tahanan terhadap perpindahan panas. Lapisan kerak ini timbul terutama pada permukaan yang selaluberhubungan dengan larutan atau cairan. Oleh karena kerak dapat mengakibatkan suatu kerugian terhadap laju perpindahan panas, para pelaku industri gula khususnya bidang proses produksi selalu berupaya untuk menekan atau mengurangi terbentuknya kerak dalam evaporator baik sisi nira maupin sisi uap. Penelitian ini bersifat eksperimen menggunakan sarana di Laboratorium Analitik Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan. Objek penelitian adalah kerak evaporator dari badan penguapan (BP) I s.d BP IV serta kerak evaporator dari daerah Pantura dan Pedalaman badan penguapan (BP) IV. Penentuan identifikasi kerak evaporator pada pabrik gula ini ditentukan dengan menggunakan analisis kadar air, kadar yang hilang karena pemijaran (kadar abu), kadar yang tidak larut dalam HCL, asam silikat, besi oksida dan aluminium, analisis CaO, analisis MgO, analisis sulfat, analisis fosfat dan karbon dioksida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerak pada badan penguapan I lebih banyak mengandung bahan organik dan garam-garam fosfat dari Ca, Fe dan MgO; kerak pada badan penguapan II sebagian besar mengandung bahan organik yaitu silikat (terlarut dan tak terlarut) dan garam fosfat dari Ca; kerak badan penguapan III banyak dijumpai bahan organik dan silikat (terlarut dan tak terlarut) kemudian garam fosfat dari Ca; Pada badan penguapan IV (BP akhir) banyak dijumpai silikat (terlarut dan tak terlarut) bahan organik dan garam silikat dari Ca.

Pengaruh kinerja keuangan perbankan berdasarkan model Camels dan Eagles terhadap saham (studi kasus pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode 2007-2009) / Arif Yudhistira Raj Suweda

 

Kata kunci : CAMELS, EAGLES, Harga Saham Pentingnya menilai tingkat kesehatan bank adalah untuk mengetahui kondisi sesungguhnya bank tersebut. Kondisi perekonomian yang berubah-ubah akan memperlihatkan ketahanan suatu bank dalam menghadapi naik turunnya perekonomian. Model yang dapat digunakan adalah model CAMELS dan EAGLES. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh model CAMELS dan EAGLES terhadap harga saham baik secara parsial maupun secara simultan dan seberapa besar kontribusinya. Populasi dalam penelitian ini adalah sektor perbankan yang listing di BEI sebanyak 29 bank. Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Adapun sampel dalam penelitian ini ada 10 perusahaan perbankan. Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu; variabel bebas meliputi CAR, KAP, NPM, ROA, ROE, LDR, IGR, DGR, LGR dan SRQ. Sedangkan untuk variabel terikatnya adalah harga saham pada perusahaan perbankan di BEI. Metode yang digunakan adalah Uji Asumsi Klasik yang terdiri atas Uji Normalitas, Uji Multikolinieritas, Uji Heteroskedastisitas. Analisis Regresi dan Uji Hipotesis yang terdiri dari Uji t dan Uji F. Berdasarkan hasil uji t diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan antara ROA, ROE dan LDR, terhadap harga saham secara parsial, artinya Ha diterima. Sedangkan untuk KAP, NPM, IGR, DGR, CAR, LGR dan SRQ tidak berpengaruh secara signifikan, artinya Ha ditolak. Untuk uji F model CAMELS memperoleh Nilai R Square sebesar 0,572 atau 57.2%. Artinya bahwa variabel Y dipengaruh sebesar 57.2%. Untuk uji F model EAGLES memperoleh Nilai R Square sebesar 0,624 atau 62.4%. Artinya bahwa variabel Y dipengaruh sebesar 62.4%. Dengan melihat kontribusi yang paling besar yaitu EAGLES sebesar 62,4%, maka analisis ini dapat disarankan untuk menilai kinerja keuangan suatu bank.

Meingkatkan kemampuan pemahaman konsep pecahan desimal melalui penggunaan blok desimal siswa kelas V SDN Winongan Lor II / Sri Muji Mistutik

 

ABSTRAK Mistutik, S. M, 2009. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan Desimal Melalui Penggunaan Blok Desimal Siswa Kelas V SDN Winongan Lor II. Skripsi, Jurusan KSDP Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Moh. Sochib, M.Pd, (II) Dra. Sri Harmini, S. Pd, M. Pd. Kata Kunci : Pemahaman Konsep, Pecahan Desimal, Penggunaan Blok Desimal, SD Berdasarkan observasi awal ditemukan permasalahan bahwa dari 28 siswa kelas V SDN Winongan Lor II, ada 25 siswa yang belum menguasai teknik menyimpan dan meminjam pada penjumlahan dan pengurangan pecahan desimal. Di samping itu berdasarkan pre tes yang telah dilakukan peneliti tentang mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal ditemukan bahwa dari 28 siswa hanya 3 siswa yang mampu mengerjakan 2 soal dengan benar, 10 siswa mampu mengerjakan 1 soal dengan benar dan 15 siswa lainnya salah dalam mengerjakan soal tersebut. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakan penelitian dengan tujuan mendiskripsikan peningkatan kemampuan pemahaman konsep pecahan desimal siswa kelas V dengan menggunakan blok desimal. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan rincian pelaksanaan : pre tes 1 kali pertemuan, siklus I dua kali pertemuan, siklus II satu kali pertemuan. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dibagi dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) obsevasi, dan (4) refleksi. Subyek penelitian adalah 28 siswa kelas V SDN Winongan Lor II semester II tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 25 Mei 2009 sampai dengan 16 Juli 2009. Instrumen penelitian ini meliputi : pedoman observasi untuk guru dan siswa, lembar evaluasi (tes), dan pedoman wawancara. Pedoman observasi guru dan siswa berguna untuk memberikan informasi tentang perilaku siswa dan memberikan masukan bagi guru tentang cara mengajar. Lembar evaluasi (tes) diberikan untuk mengetahui sejauh mana dalam pembelajaran yang diberikan dapat diserap siswa. Pedoman wawancara untuk mengetahui pemahaman dan perasaan siswa terhadap pembelajaran. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisa secara kuantitatif dan kualitatif, dan indikator keberhasilan dalam PTK ini adalah bila ketuntasan perorangan sebesar 65% dan ketuntasan klasikal sebesar 75% berdasarkan petunjuk belajar mengajar dalam KTSP. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini terjadi peningkatan hasil belajar yaitu pada siklus I nilai rata-rata kelas sebesar 60 meningkat 90,7 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan dalam PBM guru menggunakan alat peraga/media yang menarik dan bervariasi misalnya penggunaan blok desimal supaya pembelajaran berlangsung menyenangkan dan guru harus kreatif menemukan cara-cara yang mudah dan cepat dipahami siswa dalam pembelajaran matematika.

Penerapan model pembelajaran problem posing untuk meningkatkan kecakapan berpikir (thinking skill) dan hasil belajar biologi siswa klelas XI-IPA SMA Negeri 1 Malang / Alhidayat

 

ABSTRAK Alhidayat. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kecakapan Berpikir (Thinking Skill) dan Hasil belajar Biologi Siswa Kelas XI-IPA SMA Negeri I Malang. Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fatchur Rohman, M.Si, (II) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd Kata kunci: Model Pembelajaran Problem Posing, kecakapan berpikir, hasil belajar Berdasarkan hasil observasi peneliti sebanyak 2 kali pada bulan Januari- Februari 2009, diketahui bahwa selama proses pembelajaran biologi di kelas XI IPA SMA Negeri I Malang, guru berperan aktif dalam menyampaikan materi pelajaran, sedangkan siswa pasif dalam menerima pelajaran. Kemampuan siswa dalam menanggapi atau menjawab pertanyaan dari guru masih rendah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecakapan berpikir siswa masih rendah. Problem posing merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan kecakapan berpikir siswa karena dalam pembelajaran ini, siswa dikondisikan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai literatur, merumuskan soal atau pertanyaan dari situasi yang ada, menentukan jawaban atau pemecahan dari permasalahan yang mereka buat serta mencari alternatif pemecahannya. Berdasarkan uraian tersebut maka dilakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Problem Posing untuk Meningkatkan Kecakapan Berpikir (Thinking Skill) dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI-IPA SMA Negeri I Malang”. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kecakapan berpikir (Thinking Skill) dan hasil belajar biologi siswa kelas XI SMA Negeri I Malang melalui penerapan model pembelajaran problem posing. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model pembelajaran problem posing yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing- masing siklus terdiri dari 3 pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI-IPA2 SMA Negeri 1 Malang, semester genap tahun ajaran 2008-2009 sebanyak 38 orang, yang terdiri dari 23 orang siswa perempuan dan 15 orang siswa laki-laki. Data dalam penelitian ini berupa kecakapan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas XI-IPA2 SMA Negeri I Malang. Kecakapan berpikir siswa diukur berdasarkan peningkatan persentase kualitas kecakapan berpikir siswa secara klasikal, sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran problem posing yang dapat meningkatkan kecakapan berpikir (Thinking Skill) siswa kelas XI-IPA2 SMA Negeri I Malang, terdiri dari 5 tahapan yaitu tahap mendeskripsikan situasi/ informasi, mendefinisikan masalah, menampilkan permasalahan, mendiskusikan masalah, dan mendiskusikan alternatif pemecahan masalah. Kecakapan berpikir dan hasil belajar biologi siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Kecakapan membuat pertanyaan kognitif i tingkat tinggi meningkat 22%, sedangkan kecakapan menjawab pertanyaan kognitif tingkat tinggi meningkat 89%. Peningkatan hasil belajar biologi dari siklus I ke siklus II adalah 50% untuk kemampuan kognitif dan 19% untuk kemampuan afektif siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa kecakapan berpikir dan hasil belajar biologi siswa mengalami peningkatan melalui penerapan pembelajaran model Problem posing.

Kebijakan sekolah terhadap pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran seni budaya dan keterampilan pada siswa kelas VI tahun pelajaran 2008/2009 di SD Negeri Bareng 3 Malang / Vika Miranti

 

ABSTRAK Miranti, Vika. 2009. Kebijakan Sekolah Terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan Pada Siswa Kelas VI SD Negeri Bareng 3 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soerjo Wido Minarto M. Pd, (II) Dra. Ninik Harini. Kata kunci: Kebijakan, Sekolah, Pembelajaran Seni Budaya, SDN Bareng 3 SD Negeri Bareng 3 Malang adalah salah satu sekolah dasar negeri yang merupakan sekolah inti yang berada di wilayah gugus 4 Bareng. Sebelum menjadi SD Negeri Bareng 3, sekolah ini adalah gabungan dari tiga sekolah dalam satu lingkungan, terdiri dari SD Negeri Bareng 6, SD Negeri Bareng 7, dan SD Negeri Bareng 8. Kemudian Dinas Pendidikan Kota Malang melakukan peregroupan pada sekolah – sekolah yang dalam satu lingkungan terdapat sekolah lebih dari satu. Dengan alasan, supaya mutu pendidikan khususnya pada sekolah dasar di Kota Malang lebih meningkat. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan pembelajaran Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan yang pelaksanaannya telah dimulai pada tahun ajaran 2006/2007. Hal tersebut sesuai dengan perubahan kurikulum yang berlaku sekarang yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kebijakan adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui suatu pengaturan. Kebijakan sekolah merupakan kebijakan suatu lembaga sekolah untuk mengembangkan pendidikan dalam sekolah tersebut. Kebijakan meliputi apapun pilihan sekolah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Permasalahan yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah langkah kebijakan strategis dan operasional dalam kurikulum Seni Budaya dan Keterampilan pada kelas VI dan strategi pembelajaran, proses belajar mengajar dan penilaiannya pada siswa kelas VI di SD Negeri Bareng 3 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk langkah kebijakan strategis dan operasional dalam kurikulum Seni Budaya dan Keterampilan pada kelas VI dan strategi pembelajaran, proses belajar mengajar dan penilaiannya pada siswa kelas VI di SD Negeri Bareng 3 Malang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif kualitatif, teknik analisa datanya menggunakan tiga langkah yaitu mereduksi data, penyajian data, dan verifikation.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2009 menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan pengumpulan dokumen dengan Guru Seni Budaya dan Keterampilan dan Kepala Sekolah sebagai responden. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Kebijakan sekolah yang menyatakan bahwa sesuai hasil musyawarah Kepala Sekolah dengan dewan Guru SD Negeri Bareng 3 Malang menetapkan pada tahun ajaran 2008/2009 pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan diberlakukan sampai tanggal 30 April 2009, sedangkan tanggal 1 sampai dengan 8 Mei dikhususkan untuk mata pelajaran UASBN saja; (2) Sekolah juga mempunyai kebijakan dengan memberikan guru sendiri untuk mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bagi siswa kelas VI dan (3) Pelaksanaan pembelajaran di kelas, guru menggunakan tiga bagian dalam kegiatan belajar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, bahwa Sekolah tetap memberikan pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada siswa kelas VI tahun pelajaran 2008/2009 pembelajaran Seni Budaya dan Keterampilan diberlakukan sampai tanggal 30 April 2009, sedangkan tanggal 1 sampai dengan 8 Mei dikhususkan untuk mata pelajaran UASBN saja. Kemudian sekolah juga mempunyai kebijakan dengan memberikan guru sendiri untuk mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan bagi siswa kelas VI. Dalam pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan guru menggunakan tiga bagian dalam kegiatan belajar. Disarankan kepada SD Negeri Bareng 3 Malang untuk pemberian materi Seni Budaya dan Keterampilan pada siswa kelas VI lebih maksimal karena mengingat adanya pemberian batasan jangka waktu dalam memberikan materi. dan dapat menambah guru yang lebih berkompeten di bidang seni supaya pemberian materi lebih maksimal lagi.

Penerapan pembelajaran trigonometri dengan metode silih tanya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMA kelas X / Elly Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Elly. 2009. Penerapan Pembelajaran Trigonometri Dengan Metode Silih Tanya Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMA Kelas X. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Askury, M.Pd dan (II) Drs. H. Abdurrahman As’ari, M.Pd, M.A Kata kunci: pembelajaran matematika, metode silih tanya, prestasi belajar siswa Berdasarkan pengalaman peneliti selama menjalankan praktik mengajar di SMAN 8 Malang, hanya sebagian kecil siswa yang tuntas belajarnya. Kebanyakan mereka ribut sendiri ketika proses belajar mengajar berlangsung, dan sangat jarang dari mereka yang mempertanyaan penjelasan guru. Kondisi ini memotivasi peneliti untuk menjalankan penelitian tindakan kelas untuk mengatasinya. Berdasarkan kajian kepustakaan, jika dilaksanakan secara sempurna, Metode Silih Tanya memiliki potensi untuk mengatasi masalah ini. Oleh karena itu, peneliti tertantang untuk menyelidiki bagaimana melaksanakan metode Silih Tanya yang mampu membantu siswa meningkatkan prestasinya. Pada saat yang sama, penelitian ini juga dimaksudkan untuk menggambarkan respons siswa terhadap pelaksanakan metode Silih Tanya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru harus memberikan perhatian kepada bagaimana para siswanya dikelompokkan selama proses penerapan metode Silih Tanya tersebut. Guru harus menghidarkan terjadinya pengelompokan yang didasarkan atas teman kesukaan siswa. Kalau hal ini dibiarkan, turnamen yang merupakan bagian dari pelaksanaan Metode Silih Tanya akan berlangsung secara tidak adil. Penelitian ini juga menampilkan kenyataan bahwa respons siswa terhadap pelaksanaan metode Silih Tanya ini bisa dikategorikan bagus.

Penggunaan lagu-lagu untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris kelas IV di SDN Sumberjo I Kandat Kediri / Valentina Retna Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Valentina R. 2009. Penggunaan Lagu-lagu untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Kelas IV SDN Sumberjo I Kandat Kediri. Skripsi, Jurusan KSDP, Program studi SI PGSD, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Ratna Trieka Agustina, M.Pd, (2) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd. Kata kunci: Keterampilan berbicara, Media, Lagu-lagu. Pembelajaran berbicara Bahasa Inggris siswa kelas IV SDN Sumberjo I yang diselenggarakan selama ini tidak melalui latihan (praktik) berbicara melainkan sekedar teori berbicara, siswa tidak dilibatkan dalam pembelajaran dan tidak diberi kesempatan untuk berlatih berbicara untuk mengungkapkan pendapat. Saat pembelajaran berlangsung siswa terlihat kurang tertarik, bosan dan mengantuk sehingga keterampilan berbicara kurang dan hasil belajar sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan yaitu 57,83 dan hanya 8 siswa (34,78%) dari 23 siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 65. Berdasarkan hal tersebut maka dilaksanakan pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan lagu-lagu melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk (1) untuk mendeskripsikan kegiatan penyajian teks lagu dengan menggunakan media Flash Card Animal bisa meningkatkan keterampilam berbicara Bahasa Inggris kelas IV, (2) untuk mendeskripsikan kegiatan mendramakan teks lagu bisa meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris kelas IV. (3) untuk mendeskripsikan kegiatan bercerita binatang kesukaan sesuai dengan teks lagu bisa meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris kelas IV. Model penilaian yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari tujuh aspek antara lain yaitu gagasan, pelafalan, intonasi, kelancaran, volume suara, alamiah, dan penguasaan kosakata. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penggunaan lagu-lagu dalam pembelajaran terdiri dari tiga tahapan kegiatan yaitu (1) kegiatan penyajian teks lagu menggunakan media flash card animal, (2) kegiatan mendramakan teks lagu, (3) kegiatan bercerita binatang kesukaan sesuai teks lagu, kegiatan-kegiatan tersebut terbukti dapat meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris pada semua kelompok belajar. Siswa kelompok tinggi mengalami kenaikan sebesar 10,44 (13,60%), siswa kelompok sedang mengalami kenaikan sebesar 16,27 (24,59%), sedangkan siswa kelompok rendah mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu 17,26 (27,16%). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan lagu-lagu dalam pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris Kelas IV sangat tepat dan efektif diterapkan pada siswa yang mempunyai kemampuan rendah dan kemampuan sedang di SDN Sumberjo I Kandat Kediri Saran yang dapat disampaikan dari penelitian adalah bahwa pada setiap kesempatan guru sebagai pembelajar hendaknya menyajikan materi yang lebih variatif lagi, agar siswa tidak cepat merasa bosan, Dengan demikian, kompetensi siswa dapat meningkat secara optimal. Keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa dan hasil belajar bahasa Inggris siswa masih perlu ditingkatkan lagi melalui upaya yang terencana dan berkesinambungan dengan menerapkan penggunaan lagu-lagu dalam pembelajaran.

Implementasi pembelajaran matematika realistik untuk meningkatkan penguasaan konsep perkalian dan keaktifan siswa kelas II SDN Pateguhan Pasuruan / Nisa'ul Khurin Khasanah

 

ABSTRAK Khasanah, N.K. 2009 Implementasi Pembelajaran Matematika Realistik Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Perkalian Dan Keaktifan Siswa Kelas II SDN Pateguhan Pasuruan. Skripsi Jurusan KSDP Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Endang Setyo Winarni, M.Pd. (II) Dra. Sri Harmini, S.Pd. M.Pd Kata Kunci : Pembelajaran matematika realistik, meningkatkan, penguasaan, keaktifan, konsep perkalian, Sekolah Dasar Matematika memiliki peranan penting dalam memajukan kemampuan berpikir siswa. Belajar matematika memerlukan pemahaman konsep yang baik karena pemahaman konsep sebelumnya merupakan prasyarat untuk memahami konsep yang baru. Oleh karena itu penguasaan terhadap konsep dalam matematika mutlak diperlukan. Observasi awal yang dilakukan di kelas II SDN Pateguhan menunjukkan bahwa pembelajaran yang digunakan adalah ceramah sehingga pembelajaran hanya terpusat pada guru. Siswa cenderung pasif dalam pembelajaran dan hanya menerima bentuk jadi dari guru. Penekanan calistung atau baca tulis hitung pada kelas rendah di SD menjadi berkurang karena untuk perkalian 6 sampai 9 anak-anak diajari dengan menekuk jari. Hal ini menyebabkan penguasaan anak terhadap konsep perkalian bilangan cacah kurang. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap konsep perkalian dan keaktifan siswa dengan mengimplementasikan pembelajaran matematika realistik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah dalam proses implementasi pembelajaran matematika realistik, peningkatan penguasaan konsep perkalian dan keaktifan siswa kelas II. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus. Subyek penelitian adalah 36 siswa kelas II SDN Pateguhan Semester II Tahun Pelajaran 2008/2009. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 1 juni 2009 sampai 3 Juli 2009. Pembelajaran matematika realistik yang diimplementasikan diawali dengan pemberian masalah-masalah kontekstual yang dilengkapi dengan alat-alat peraga. Masalah kemudian didiskusikan secara berkelompok. Hasil diskusi kelompok disajikan dalam diskusi kelas dengan tujuan untuk mendapatkan kesimpulan dari masalah yang diberikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika realistik meningkatkan penguasaan konsep perkalian dan keaktifan siswa kelas II SDN Pateguhan. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk mengimplementasikan pembelajaran matematika realistik dalam menanamkan konsep perkalian di kelas II. Selain itu dikembangkan juga pada materi matematika yang lainnya pada kelas yang lain dengan lebih menarik dengan mengembangkan masalah-masalah yang lebih kontekstual.

Penerapan pembelajaran melalui pemecahan masalah bersetting kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah program linear di kelas X SMK Negeri 8 Malang / Arlina Yuni Astutiek

 

ABSTRAK Yuni Astutiek, Arlina. 2009. Penerapan Pembelajaran Melalui Pemecahan Masalah Bersetting Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Program Linear di Kelas X SMK Negeri 8 Malang. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A. (II) Drs. H.M.Shohibul Kahfi, M.Pd Kata kunci: Masalah,Pemecahan masalah, kemampuan pemecahan masalah, Program linear Penelitian ini diawali dengan adanya kenyataan rendahnya kemampuan siswa SMK Negeri 8 Malang dalam memecahkan masalah pada materi program linear. Hal ini disebabkan karena selama ini pembelajaran mayoritas masih berpusat pada guru, guru masih mendominasi siswa. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk menerapkan suatu model pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan pemecahan masalahnya. Salah satunya melalui:” Penerapan Pembelajaran Melalui Pemecahan Masalah Bersetting Kooperatif Tipe STAD”. Penerapannya ,mengikuti prosedur yang ada di STAD, tetapi dalam menyelesaikan masalah menggunakan empat langkah penyelesaian masalah menurut Polya. Dalam penerapannya siswa dibagi dalam 6 kelompok masing-masing beranggotakan 4 orang, siswa belajar dengan bantuan LKS secara berkelompok, berdiskusi untuk menemukan, memahami konsep serta memecahkan masalah. Dalam proses pemecahan masalah ini digunakan empat langkah menurut Polya. Dalam penelitian ini pemecahan masalah didefinisikan sebagai usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan, mancapai suatu tujuan yang tidak dengan segera dapat dicapai. Dari pengertian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah dalam matematika adalah suatu aktivitas psikologis (khususnya intelektual) untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan secara integratif semua bekal pengetahuan matematika yang telah dimiliki. Sedangkan kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kemampuan untuk menyelesaikan pertanyaan matematika yang tidak bersifat rutin, artinya pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin. Dengan kata lain, siswa tidak mempunyai strategi tertentu yang segera dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran melalui pemecahan masalah bersetting kooperatif tipe STAD yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah program linear di kelas X SMK Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas X METRO A yang berjumlah 24 orang, sedangkan subjek wawancaranya adalah 3 orang. yaitu siswa yang nilainya terendah saat itu/perolehan nilainya menurun dibandingkan dengan tes sebelumnya/yang nilainya tetap, tidak ada peningkatan dan pelaksanaannya setelah pembelajaran satu tindakan berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah tentang program linear siswa meningkat dibandingkan dengan sebelum diterapkannya model pembelajaran ini. Hal ini terjadi karena siswa diberi kesempatan untuk mencari, dan mengkonstruk pengetahuan melalui pemecahan masalah. Siswa menjadi lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Berdasarkan penelitian ini, maka bagi penulis lain yang berminat mengadakan penelitian serupa hendaknya melakukan pada sekolah yang lain sehingga akan diperoleh gambaran lebih lanjut mengenai efektifitas pembelajaran melalui pemecahan masalah bersetting kooperatif tipe STAD pada materi program linear.

Sifat organoleptik cookies dengan penggunaan tepung telur ayam ras dalam jumlah yang berbeda / Anista Filla Sari

 

ABSTRAK Sari, Anista Filla. 2009. Sifat Organoleptik Cookies dengan Penggunaan Tepung Telur Ayam Ras dalam Jumlah yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi Tata Boga. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Nunung Nurjanah, M.Kes, (2) Dra. Teti Setiawati, M. Pd. Kata kunci: Cookies, tepung telur, air, dan organoleptik Cookies adalah adonan pasir yang berbentuk pipih dengan rasa manis (sweet) atau gurih (savoury). Bahan pembuatan cookies pada umumnya adalah tepung, gula, sorthening, bahan pengembang dengan tambahan cairan atau flavor dan telur. Tepung telur merupakan produk awetan telur mentah yang dibuat untuk menyelamatkan masa simpan telur sehingga tahan lama, dibuat dari telur segar yang masih mentah, namun sudah dihilangkan sebagian besar kandungan airnya, hingga hanya tersisa 10%. Tepung telur mempunyai sifat rapuh, tekstur rapuh ini sangat baik untuk digunakan dalam pembuatan cookies yang renyah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan cookies dengan penggunaan tepung telur ayam ras dalam jumlah yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sifat organoleptik meliputi warna, flavour, dan tekstur cookies tepung telur. Data hasil penelitian diperoleh dari hasil pengisian format penilaian uji mutu hedonik dan uji hedonik yang menggunakan panelis agak terlatih sebanyak 20 orang dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Data akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan jika terdapat perbedaan maka akan dilanjutkan dengan Duncan’s Mutiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa untuk uji mutu hedonik terdapat perbedaan terhadap warna, flavour, dan tekstur cookies dengan penggunaan tepung telur ayam ras. Warna cookies dengan penggunaan tepung telur 30% memiliki skor rerata (3,53) yaitu coklat keemasan. Flavour cookies dengan penggunaan tepung telur 40% memiliki skor rerata (3,58) yaitu flavour kuat. Tekstur cookies dengan penggunaan tepung telur 40% memiliki skor rerata (3,52) yaitu tekstur renyah. Adapun hasil penelitian uji hedonik menunjukkan bahwa, warna cookies dengan penggunaan tepung telur 30% disukai oleh setengah dari panelis (46,67%). Flavour cookies dengan penggunaan tepung telur 40% disukai oleh setengah dari panelis (50%). Tekstur cookies dengan penggunaan tepung telur 40% disukai oleh setengah dari panelis (48,87%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah cookies tepung telur ayam ras yang memiliki warna coklat keemasan diperoleh dari perlakuan C dengan menggunakan tepung telur 30%. Dan untuk menghasilkan cookies tepung telur ayam ras yang memiliki flavour telur yang kuat dan tekstur yang renyah diperoleh dari perlakuan D dengan menggunakan tepung telur 40%. Disarankan dilakukan penelitin lebih lanjut tentang berbagai perlakuan pada tepung telur ayam ras agar diperoleh flavour, warna, tekstur tetap baik, seperti kecepatan pengocokan atau penggantian bahan.

Sifat organoleptik dendeng ikan lele dumbo (Clarias Gariepinus) dengan perbedaan lama curing / Agustina Dwi Jayanti

 

Dendeng yang dikenal oleh masyarakat pada umumnya adalah dendeng yang berbahan daging. Pada penelitian kali ini bahan yang digunakan dalam pembuatan dendeng adalah ikan lele dumbo. Dendeng ikan lele dumbo adalah dendeng yang terbuat dari daging ikan lele dumbo yang mengalami proses fillet, skinning, dan curing. Proses curing yang digunakan adalah curing kering dengan kulit ikan lele dumbo yang dibuang (skinning). Curing kering adalah proses membalur bahan dendeng dengan bahan- bahan curing yang sudah dihaluskan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan dendeng ikan lele dumbo (Clarias Gariepinus) dengan perbedaan lama curing yaitu 3 jam, 6 jam, 9 jam, dan 12 jam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik yang meliputi warna, tekstur, dan rasa melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik. Data dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik dendeng ikan lele dumbo (Clarias Gariepinus) dengan perbedaan lama curing yaitu 3 jam, 6 jam, 9 jam, dan 12 jam menunjukkan berbeda sangat nyata terhadap warna, tekstur, dan rasa. Dendeng ikan lele dumbo (Clarias Gariepinus) yang menghasilkan warna coklat gelap dengan skor (3,68), tekstur kering tidak alot (liat) dengan skor (3,73) dan rasa manis gurih dengan skor (3,57) diperoleh dari lama curing 12 jam. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa panelis menyukai warna sebanyak (45%), tekstur (43,33%) dan rasa (45%) adalah dendeng lele ikan dumbo dengan lama curing 12 jam. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah dendeng ikan lele dumbo yang mempunyai warna coklat gelap, tekstur kering tidak alot (liat) dan rasa manis gurih diperoleh dari proses curing kering selama 12 jam. Disarankan dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemasaran dendeng ikan lele dumbo yang belum ada dipasaran.

Penerapan strategi Think Talk Write (TTW) untuk meningkatkan kemampuan menulis bahasa Arab siswa kelas XI SMAN 1 Malang / Fathiyah Alawiyah

 

Kata Kunci: strategi think talk write, kemampuan menulis, SMAN 1 Malang. Keberhasilan dalam belajar bahasa Arab sebagai bahasa asing diantaranya tidak hanya sekedar bertumpu pada kurikulum, akan tetapi juga pada model dan strategi pengajarannya. Selain itu, terdapat 4 kemampuan berbahasa yang harus dikuasai termasuk kemampuan menulis. Menulis merupakan kemampuan yang kompleks karena melibatkan ketiga kemampuan yang lainnya. Oleh karena itu diperlukan strategi yang tepat dan inovatif untuk memotivasi dan menarik minat siswa untuk belajar, salah satunya strategi think talk write. Masalah penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan strategi Think Talk Write (TTW) untuk meningkatkan kemampuan menulis bahasa arab siswa kelas XI SMAN 1 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan pendekatan kualitatif. Data pada penelitian ini terdiri atas dua macam, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu sumber primer yang terdiri dari guru dan siswa kelas XI SMAN 1 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu pemberian tes, penyebaran kuesioner, wawancara dan observasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Peneliti merupakan instrumen utama yang terlibat langsung mulai pengumpulan data, analisis hingga penyusunan laporan. Prosedur penelitian terdiri atas 4 tahapan, meliputi a) perencanaan, b) pelaksanaan, c) pengamatan, dan d) refleksi. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan sebagai berikut: 1) proses pembelajaran siklus 1 menunjukkan bahwa pembelajaran kemampuan menulis bahasa Arab dengan strategi think talk write masih belum maksimal. Namun, setelah dilakukan perbaikan pada siklus 2 pembelajaran berlangsung secara maksimal dan sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal tersebut membuktikan bahwa strategi think talk write memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan menulis bahasa Arab, baik dari segi hasil maupun proses, 2) hasil belajar kemampuan menulis bahasa Arab siswa kelas XI SMAN 1 Malang dengan strategi think talk write mengalami peningkatan yang signifikan pada setiap siklus. Nilai rata-rata siswa pada siklus 1 sebesar 54,83 dan meningkat pada siklus 2 menjadi 75. Pada siklus 1 persentase siswa yang mendapatkan nilai di atas SKM sebesar 13,33 %. Persentase tersebut meningkat menjadi 90% pada siklus 2 dan hanya 10 % siswa yang mendapatkan nilai di bawah SKM. Saran yang dapat diberikan kepada guru yaitu agar menggunakan strategi pembelajaran yang kreatif dan inovatif terutama dalam pembelajaran menulis bahasa Arab dengan menggunakan strategi think talk write. Sementara untuk peneliti yang mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk mengembangkan penelitian tentang strategi think talk write yang tidak hanya terfokus pada pembelajaran kemampuan menulis bahasa Arab saja, tetapi berlanjut pada pembelajaran kemampuan berbahasa yang lainnya.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |