Pengembangan media pembelajaran sistem persamaan linear dua variabel berbasis Realistic Mathematics Education (RME) bagi siswa kelas VIII SMP / Muflihatul Walidah

 

ABSTRAK Walidah, Muflihatul. 2015. PengembanganMedia PembelajaranSistemPersamaan Linear DuaVariabelBerbasis Realistic Mathematics Education (RME) bagiSiswaKelas VIII SMP. Skripsi, JurusanMatematika, FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.EdyBambangIrawan, M.Pd, (II) Drs. Imam Supeno, M.S. Kata Kunci: Media pembelajaran, sistempersamaan linear duavariabel, realistic mathematics education (RME) Materisistempersamaan linear duavariabelmerupakanmateriyang diajarkanpadasiswakelas VIII SMP.Berdasarkanwawancaradengan guru SMP banyaksiswayang mendapatnilaikurangmaksimalpadamateriini, karenamaterinyaabstrakdenganbanyaksimbol yang dioperasikanolehsiswatanpabenar-benarmengertimaknanya. Untukmencapaitujuanpembelajaranmaksimalpadamateriini, diperlukanmediapembelajaran yang inovatifdanbermakna. Salah satumedia pembelajaraninovatifyang menjadikanbelajarbermaknaadalah media pembelajaransistempersamaan linear duavariabelberbasisRealistic Mathematics Education (RME).Media pembelajaranberbasis RME, diharapkandapatmembuatsiswabelajardenganbermaknasertadapatmenerapkanmateri yang merekapelajaridalamkehidupannyata. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menghasilkan media pembelajaran sistem persamaan linear dua variabel berbasis RME yang valid danefektifbagi siswa kelas VIII SMP. Mediapembelajaran yang dikembangkanberupalembarkegiatansiswa yang disertaidengan slide powerpoint. Model pengembangan media yang digunakan dalam pengembangan media pembelajaran sistem persamaan linear dua variabel ini adalah model pengembangan Plomp dengan modifikasi. Data hasil validasimedia pembelajaran diperoleh dari penilaian validator ahli dan praktisi terhadap produk pengembangan yang telah disusun.Berdasarkan analisis data hasil validasi diperolehnilaivaliditaslembarkegiatansiswasebesar 3,29 yang berartilembarkegiatansiswa valid. Nilaivaliditas slide powerpointsebesar 3,18 yang berartibahwa slidepowerpointcukup valid, dannilaivaliditasrubrikpenilaianlembarkegiatansiswasebesar 3,11 yang berarticukup valid. Hasilpengerjaanlembarkegiatansiswaolehdelapan orang siswamenunjukkansatusiswamendapatskor≥90yang berartiskorsangattinggidantujuhsiswamendapatskorpadarentang75sampaidengan 90 yang berartiskortinggi.Hal inijugamenunjukkanbahwalembarkegiatansiswaefektif.Selainitu, hasilwawancarapenelitidengansiswaujimenunjukkanbahwasiswatertarikdansenangdengan media pembelajaran yang dikembangkan.Beberaparevisi dilakukanberdasarkan saran dari validator dan hasil uji coba lapangan untuk perbaikan produk yang dikembangkan.

Laporan tentang peninjauan ke projek bendungan Karang Kates
oleh S. Harien N.

 

Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan pengembangan kecerdasan spiritual anak di PAUD Restu Bunda Lawang Kabupaten Malang / Kristina Yuliani

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi, Kecerdasan Spiritual Kualitas kehidupan bangsa ditentukan oleh faktor pendidikan, karena melalui pendidikan tercipta sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, beriman, dan memiliki daya saing tinggi. Untuk meningkatkan sistem pendidikan nasional, pemerintah telah melakukan banyak usaha, antara lain peningkatan mutu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dampak dari upaya pengembangan sistem pendidikan nasional itu telah dirasakan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, namun disisi lain masih terdapat permasalahan antara lain menyangkut pemerataan, relevansi, efisiensi dan kualitas pendidikan yang memerlukan solusi pemecahan. untuk membentuk calon generasi penerus bangsa yang berkualitas, maka cara pembinaan pada anak usia dini harus ditempuh melalui multi cara yaitu pembinaan di sekolah, di rumah, dan lingkungan masyarakat. Salah satu pembinaan anak usia dini adalah dirumah dan aspek ini tidak akan lepas dari peranan orang tua. Orang tua dapat melakukan melakukan pembinaan dari kebiasaan anak beribadah secara berjamaah, tata karma dengan orang yang lebih tua, sopan santun, dan cara beretika yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (2) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (3) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan etika sosial anak, (4) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (5) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (6) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan etika sosial anak, (7) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (8) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (9) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan etika sosial anak. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 responden. Hasil penelitian ini adah (1) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini dengan r hitung 0.610 (2) terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pendidikan orang tua dengan sosial keagamaan pada anak usia dini dengan r hitung = 0.527, (3) Terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pendidikan orang tua dengan etika sosial pada kecerdasan spiritual anak usia dini r hitung = 0.638, (4) jenis pekerjaan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik= 23,38 (5) jenis pekerjaan orang tua dengan sosial keagamaan anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik 43,065 (6) jenis pekerjaan orang tua dengan etika sosial anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik 35,179 (7) Terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah penghasilan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini dengan r hitung = 0.582 (8) Terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan orang tua dengan sosial keagamaan anak usia dini dengan r hitung = 0.524 (9) Terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan orang tua dengan etika sosial anak usia dini r hitung = 0.551. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang peneliti ajukan adalah: (1) Diharapkan orang tua lebih memperhatikan pengembangan kecerdasan spiritual anak. Tidak ada kemungkinan orang tua yang status sosial ekonomi tinggi keserdasan spiritual anak tinggi pula. Atau orang tua yang status sosialnya rendah kecerdasan spiritual anak bias tinggi pula. Semua itu bisa terjadi karena faktor lingkungan juga, (2) Lingkungan sekolah sangatlah mempengaruhi semua itu dilihat dari segi pembelajaran, tutor. Dan media belajar. Oleh sebab itu diharapkan lembaga dapat memberikan fasilitas yang bagus, seperti menyediakan media yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan belajar, standar tutor yang setara dengan ahli dibidang PAUD, serta memberikan situasi pembelajaran yang nyaman, aman, serta tidak membuat anak bosan atau jenuh, (3). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan mutu PAUD salah satunya mengoreksi, memperkaya, bahkan memperkuat teori tentang status sosial ekonomi dengan kecerdasan spiritual yang ada pada lingkungan masyarakat, (4) Diharapkan peneliti selanjutnya untuk melengkapi kekurangan yang ada untuk mengembangkan ilmu tentang Pendidikan Anak Usia Dini khususnya tentang pengembangan kecerdasan spritual anak usia dinisegi status sosial orang tua dan dapat digunakan untuk penelitia-penelitian lanjutan.

Pengembangan inventori kesadaran multikultural untuk siswa SMA / Rr. Dwi Umi Badriyah

 

Perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Malang yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ingkuiri terbimbing dan model pembelajaran ekspositori pada materi larutan penyangga / Mella Rizka Ainun Nafis

 

ABSTRAK Nafis, Mella Rizka Ainun. 2015.Perbedaan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 1 Malang yang Dibelajarkan Menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan Model Pembelajaran Ekspositori pada Materi Larutan Penyangga.Skripsi, ProgramStudiS1 Pendidikan Kimia, FMIPA, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Parlan, M.Si.,(II) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd. Kata Kunci:inkuiriterbimbing, hasilbelajarkognitif, kemampuan berpikir tingkat tinggi Ilmukimiamerupakanilmu yang dibangunberdasarkanfakta-fakta yang teramatiolehmanusiaterhadapgejala-gejaladanfenomenabaik yang terjadidialammaupun yang sengajadilakukandilaboratorium.Pembelajarankimiaseharusnya dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya. Oleh karena itu, pembelajaran kimia sangat cocok jika dirancang dengan model pembelajaran yang berbasis konstruktivisme dengan harapan dapat mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Salah satu model pembelajaran yang memfasilitasi siswa dalam melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing dan pembelajaran ekspositoripada materi larutan penyangga di kelas XI MIA SMAN 1 Malang, 2) mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran ekspositori, 3) mengetahui perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing dan siswa yang dibelajarkan menggunakan pembelajaran ekspositori. Rancangan penelitianiniadalaheksperimensemu dengan menggunakan 2 kelas. Kelas eksperimen dibelajarkan dengan pembelajaraninkuiriterbimbingdankelaskontroldibelajarkandenganpembelajaranekspositori. Teknik pengambilan sampel menggunkan teknikcluster random samplingdengan cara undian. Penelitian ini melibatkan tiga macam variabel yaitu variabel terikat, kontrol dan bebas. Variabel terikat adalah hasil belajarkognitif dan kemampuan berpikir tingkat tinggi, variabel kontrol adalah waktupembelajaran, materi ajar, dan guru yang memberikan materi, dan variabel bebas adalah model pembelajaran yang digunakan. Instrumen pengukuranyang digunakan adalahsoaltesdanlembarobservasi. Soaltesberupa soal pilihan ganda sebanyak 15 soal dan soal uraian sebanyak 4 soal yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (r pilihan ganda = 0,697 dan r soal uraian = 0,548). Lembarobservasidigunakan untuk mengetahui keterlaksanaanpembelajaraninkuiriterbimbingdanpembelajaran ekspositori. Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif dan statistika. Analisisstatistikyang dilakukan adalah uji prasyarat analisis dan uji-t satu pihak dengan bantuan SPSS 20,0 for Windows. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa: 1) keterlaksanaan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing sebesar 92,50%, sedangkan pembelajaran menggunakan model ekspositori sebesar 88,85%; 2) hasilbelajarsiswa yang dibelajarkandenganmenggunakanpembelajaraninkuiriterbimbing(rerata = 88,60) lebihtinggidarisiswa yang dibelajarkandenganmenggunakanpembelajaranekspositori (81,73);3) kemampuan berpikir tingkat tinggisiswa yang dibelajarkandenganmenggunakanpembelajaraninkuiriterbimbing (rerata = 78,67)lebihtinggidarisiswa yang dibelajarkandenganmenggunakanpembelajaranekspositori (71,60).

Laporan peninjauan ke syphon metro projek dam Karangkates PG Kebonagung
oleh Soeparjo Soeharno

 

Tanggapan siswa kelas XII Jurusan Tata Busana tentang pelaksanaan ujian online di SMK Negeri 5 Malang tahun pelajaran 2014/2015 / Gupita Maulida Sholikhah

 

ABSTRAK Sholikhah, Gupita Maulida. 2015. Tanggapan Siswa Kelas XII Jurusan Tata Busana Tentang Pelaksanaan Ujian Online Di SMK Negeri 5 Malang Tahun Pelajaran 2014/2015. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, FakultasTeknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Esin Sintawati, M.Pd. (2) Nurul Hidayati, S.Pd, M.Sn. Kata kunci: ujian, online, hasil belajar. Ujian online adalah sistem ujian dengan perangkat komputer yang telah terhubung dengan jaringan internet atau intranet dengan batasan waktu tertentu. Pemakaian ujian secara online di SMK Negeri 5 Malang khususnya pada jurusan Tata Busana perlu diteliti pada proses pelaksanaannya karena merupakan hal baru dalam sistem evaluasi hasil belajar. Kesiapan perlengkapan ujian, sarana dan prasarana penunjang ujian online serta jaringan internet sekolah merupakan kendala dalam pelaksanaan ujian. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tanggapan siswa kelas XII jurusan Tata Busana tentang pelaksanaan ujian secara online di SMK Negeri 5 Malang tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini berjumlah 80 siswa dari jurusan Tata Busana kelas XII angkatan 2014/2015 di SMK Negeri 5 Malang. Sampel penelitian diambil seluruhnya karena ingin membuat generalisasi dengan tingkat kesalahan yang sangat kecil. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan kuesioner, sedangkan uji instrumen dengan uji validitas dan uji reliabilitas menggunakan SPSS 20 for Windows. Analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah menentukan panjang kelas interval dan menentukan persentase besarnya nilai frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap kesiapan siswa mengikuti ujian online terhadap pemahaman teknis, kelengkapan dan keberhasilan pelaksanaan ujian secara online menanggapi positif karena siswa telah memahami dan mempunyai kesiapan yang cukup untuk melaksanakan ujian secara online, (2) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap tujuan ujian untuk mengetahui langsung informasi hasil belajar ujian secara online sudah tercapai karena sebagian besar siswa menyatakan sangat baik atau positif dengan langsung mengetahui informasi hasil ujian online, (3) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap prinsip ujian dengan penilaian yang disesuaikan dengan prosedur penilaian dan penilaian mencakup semua aspek kompetensi sudah dilakukan dengan baik karena siswa menyatakan baik atau positif, (4) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap sistem ujian online dengan indikator sistem ujian komputerisasi yang terhubung dengan intranet, kebutuhan sistem ujian online dan fungsi pengawas dalam pelaksanaan ujian online sudah berjalan dengan baik karena siswa menyatakan baik atau positif, (5) Siswa kelas XII jurusan Tata Busana memberikan tanggapan yang positif terhadap tentang soal ujian online dengan soal ujian yang sesuai dengan materi pembelajaran, soal ujian bersifat konstruksi dan bahasa yang digunakan dalam soal ujian online sudah sesuai dengan kriteria pembuatan soal yang baik karena siswa menyatakan baik atau positif. Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis menyampaikan saran yaitu: (1) Pada tahap persiapan sebelum ujian dilaksanakan, diharapkan untuk menambah pembekalan atau pelatihan ujian online, agar siswa lebih memahami tentang prosedur pelaksanaan ujian online sehingga dapat mempersiapkan kelengkapan ujian online secara matang, (2) Pada sistem ujian online diharapkan untuk lebih meningkatkan kecepatan akses data intranet dengan menambah Acces Point didalam kelas agar siswa dapat mengakses soal ujian online lebih cepat dan lancar, (3) Diharapkan agar pelaksanaan ujian secara online terselenggara dengan baik dan optimal maka pihak sekolah sebaiknya meningkatkan sarana dan prasarana seperti media komputer dengan spesifikasi lebih tinggi, lampu penerangan, pengeras suara, kursi dan meja, (4) Diharapkan soal ujian beracuan pada kriteria penulisan soal ujian yang baik dan benar yaitu memperhatikan materi, kontruksi dan bahasa yang baik supaya soal yang diterima siswa dapat dipahami dan dikerjakan dengan mudah pada waktu ujian, (5) Tingkat relevansi antara pertanyaan dan jawaban, gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya pada soal ujian online harus diperjelas berdasarkan tema atau materi yang telah guru berikan selama kegiatan belajar mengajar.

Identifikasi konsep sukar dan salah konsep materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi pada siswa SMA Negeri 2 Pasuruan tahun ajaran 2010/2011 / Husnul Istiqomah

 

Kata kunci: konsep sukar, salah konsep, faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Perkembangan ilmu kimia yang didasari oleh hasil eksperimen dapat memunculkan konsep kimia yang bersifat abstrak. Keabstrakan ilmu kimia membuat mata pelajaran kimia dianggap paling sulit dan menjenuhkan. Penyebab kegagalan mempelajari ilmu kimia adalah kegagalan mempelajari konsep kimia. Konsep kimia dikembangkan berurutan dari konsep sederhana hingga kompleks. Konsep kompleks hanya dapat dipahami jika konsep yang lebih sederhana telah benar-benar dipahami. Kesulitan memahami konsep mengakibatkan terjadi konsep sukar yang berpeluang menimbulkan salah konsep. Siswa dikatakan mengalami salah konsep apabila memberikan jawaban salah secara konsisten pada sejumlah soal yang memiliki dasar konsep sama. Kesalahan pada konsep yang fundamental berdampak pada pemahaman konsep berikutnya yang lebih kompleks. Salah satu konsep kimia yang abstrak dan memerlukan pemahaman konseptual adalah faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Konsep laju reaksi merupakan salah satu konsep dasar, tetapi seringkali sukar untuk dipahami sehingga berpotensi menimbulkan salah konsep. Konsep sukar adalah konsep dengan persentase jawaban salah siswa (PJS) lebih dari dan atau sama dengan 61%. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi: (1) jenis konsep sukar; dan (2) jenis kesukaran; dan (3) jenis salah konsep. Penelitan dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Instrumen penelitian berupa tes diagnostik berbentuk tes pilihan ganda dengan empat alternatif pilihan jawaban dan satu pilihan jawaban kosong serta disertai dengan alasan pemilihan jawaban. Soal disusun berdasarkan peta konsep dan kisi soal. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI-IA SMA Negeri 2 Pasuruan tahun ajaran 2010/2011. Hasil wawancara digunakan sebagai triangulasi data. Analisis data meliputi pemberian skor, pengelompokkan butir soal berdasarkan konsep dalam kisi-kisi soal, penentuan konsep sukar, perhitungan persentase siswa yang menjawab pilihan jawaban salah, dan penentuan salah konsep siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) konsep sukar yang dialami oleh siswa kelas XI-IA SMA Negeri 2 Pasuruan berdasarkan PJS adalah konsep (a) laju reaksi berdasarkan persamaan r = ΔC/Δt, (b) pengaruh pereaksi terhadap laju reaksi berdasarkan persamaan r = k[A]x[B]y (khususnya reaksi orde 1), (c) hubungan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap tumbukan partikel, (d) pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, (e) hubungan pengaruh luas permukaan terhadap tumbukan partikel, (f) pengaruh perubahan temperatur terhadap laju reaksi, (g) pengaruh perubahan temperatur terhadap tumbukan partikel, (h) definisi dan peran katalis, (i) pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, atau temperatur terhadap tumbukan partikel, (j) pengaruh perubahan konsentrasi, temperatur, dan katalis terhadap tumbukan efektif, dan (k) pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, temperatur, dan katalis terhadap laju reaksi. Konsep definisi dan peran katalis merupakan konsep paling sukar dengan nilai PJS sebesar 88%. (2) jenis kesukaran yang dimiliki siswa adalah sukar: (a) mendefinikan dan membedakan konsep laju reaksi berdasarkan persamaan r = ΔC/Δt, (b) mendefinisikan, mengidentifikasi, dan membedakan pengaruh pereaksi terhadap laju reaksi berdasarkan persamaan r = k[A]x[B]y (khususnya reaksi orde 1), (c) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap tumbukan partikel, (d) mengidentifikasi dan menghubungkan pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, (e) mendefinisikan, mengidentifikasi, dan membedakan pengaruh luas permukaan terhadap tumbukan partikel, (f) mengidentifikasi, menghubungkan, dan membedakan pengaruh perubahan temperatur terhadap laju reaksi, (g) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan temperatur terhadap tumbukan partikel, (h) mendefinisikan katalis, mengidentifikasi dan menghubungkan peran katalis terhadap laju reaksi, (i) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, atau temperatur terhadap tumbukan partikel, (j) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi, temperatur, dan katalis terhadap tumbukan efektif, dan (k) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, temperatur, dan katalis terhadap laju reaksi. (3) salah konsep yang terjadi pada siswa berdasarkan PK adalah: (a) laju menyatakan penambahan konsentrasi pereaksi, (b) laju menyatakan penambahan konsentrasi produk dan pereaksi, (c) katalis tidak ikut bereaksi, (d) katalis tidak diperoleh kembali pada akhir reaksi, (e) penambahan katalis dapat meningkatkan energi kinetik, (f) kenaikan konsentrasi dapat meningkatkan gerakan partikel, (g) setiap tumbukan dapat menghasilkan reaksi, (h) pada persamaan laju r = k[A] (reaksi orde 1), laju dipengaruhi oleh konsentrasi semua pereaksi, (i) pada persamaan laju r = k[A] (reaksi orde 1), laju ditentukan oleh konsentrasi pereaksi yang mempengaruhi pembentukan produk, (j) laju dapat ditingkatkan dengan cara menurunkan konsentrasi pereaksi, (k) penambahan katalis dapat menambah jumlah partikel pereaksi, (l) penambahan katalis dapat meningkatkan energi aktivasi, (m) peningkatan konsentrasi dapat meningkatkan energi partikel pereaksi, (n) peningkatan temperatur dapat meningkatkan energi aktivasi, (o) luas permukaan besar berarti memiliki jumlah partikel lebih banyak. Salah konsep terbesar adalah katalis tidak ikut bereaksi dengan PK sebesar 27,68%.

Pengaruh penyerapan kromium terhadap kadar total senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan jamur kuping hitam (auricularia polytricha) / Ika Nugraheni Adityawati

 

ABSTRAK Adityawati, Ika Nugraheni. 2015. Pengaruh Penyerapan Kromium terhadap Kadar Total Senyawa Fenolik dan Aktivitas Antioksidan Jamur Kuping Hitam (Auricularia polytricha). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembimbing: (I) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si., (II) Eli Hendrik Sanjaya, S.Si., M.Si. Kata Kunci: fortifikasi kromium, kadar total senyawa fenolik, aktivitas antioksidan, jamur kuping Kromium(III) merupakan ion logam yang bermanfaat bagi manusia. Kromium(III) terlibat dalam metabolisme glukosa, protein, lipid, dan sensitivitas reseptor insulin. Kromium(III) secara alami ditemukan dalam makanan, untuk meningkatkan asupan kromium dapat ditempuh dengan konsumsi suplemen atau bahan pangan yang kaya kromium. Jamur kuping hitam dapat menyerap ion logam dan merupakan bahan pangan yang disukai masyarakat. Kemampuan jamur kuping menyerap ion logam dapat diarahkan untuk aplikasi fortifikasi kromium(III). Penambahan kromium(III) pada jamur dapat mempengaruhi metabolisme sekundernya. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan kromium(III) terhadap kadar total senyawa fenolik dan aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH (1,1-difenil-2-pikrihidrazil) ekstrak etanol jamur kuping hitam (Auricularia polytricha). Penelitian menggunakan rancangan eksperimen dengan tujuh tahapan yaitu: (1) pembuatan media tanam dengan penambahan kromium(III) nitrat, (2) inokulasi dan pemeliharaan jamur kuping hitam, (3) pemanenan jamur kuping hitam, (4) preparasi sampel, (5) analisis data kadar kromium total, kromium (III), dan kromium(VI) pada badan buah jamur, (6) analisis kadar total senyawa fenolik ekstrak etanol jamur kuping hitam, dan (7) analisis aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH ekstrak etanol jamur kuping hitam. Hasil Penelitian menunjukkan makin banyak kadar fortifikan yang ditambahkan ke dalam media tanam yakni pada rentang 0-100 ppm maka makin banyak kromium yang terabsorpsi pada badan buah jamur kuping hitam. Peningkatan kadar kromium diikuti dengan peningkatan kadar total senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan jamur kuping hitam. Aktivitas antioksidan tidak dapat dihubungkan dengan fluktuasi kadar total fenolik. Pada kadar fortifikan yang sama, kadar total fenolik tertinggi dihasilkan dari jamur kuping hitam yang ditanam pada pH 6. Sementara itu, aktivitas antioksidan tertinggi dihasilkan dari jamur kuping yang ditanam pada pH 7.

Laporan kerja praktek di Dipo Lokomotip PJKA Blitar
oleh Isdarmadji Yulianto

 

Derivational nominal suffixes in the Jakarta post / Dini Dikarinah Tito Nurhidhe

 

ABSTRAK Nurhidhe, D.D.T. 2015. Derivasi Akhiran Kata Benda Dalam Jakarta Post. Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Aulia Apriana, S.S., M.Pd. Kata Kunci: Derivasi, Akhiran, Akhiran kata benda Surat kabar merupakan salah satu media yang banyak disukai karena surat kabar menginformasikan kegiatan yang terjadi dalam kehidupan manusia seperti kejahatan, kecelakaan, pemerintahan, politik dan sebagainya. Pemilihan kata yang digunakan oleh surat kabar harus sesuai dengan konteks untuk menghindari kesalahpahaman dan makna yang ambigu. Menurut Madel (1962:55) ada beberapa kata-kata umum seperti vaccination, technical, dan death yang digunakan di surat kabar termasuk dalam kategori derivasi. Ada tiga jenis imbuhan akhiran kata benda dalam bentuk derivasi yaitu kata benda yang membentuk kata benda, kata kerja yang membentuk kata benda, dan kata sifat yang membentuk kata benda. Pembahasan skripsi ini diutamakan pada tema yang banyak terdapat imbuhan akhiran pada kata benda dan banyaknya jenis pembentukan kata benda yang ada pada tema terpilih di surat kabar. Disamping itu, skripsi ini juga membahas pengaruh imbuhan akhiran kata benda di surat kabar. Skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif desriptif. Data yang digunakan dalam bentuk tulisan yang di ambil dari tema-tema yang tertera di surat kabar Jakarta Post pada hari Kamis 05 Februari 2015. Tema-tema yang tertera di surat kabar dipilih secara acak karena skripsi ini terfokus pada kata-kata yang berhubungan dengan kamus yang terdiri dari imbuhan akhiran kata benda dalam bentuk derivasi. Data pada skripsi ini dikumpulkan melalui tiga tahap yaitu kategori, klasifikasi dan analisis. Penemuan penelitian pada skripsi ini menunjukkan bahwa jenis imbuhan akhiran kata benda yang paling banyak terdapat pada tema opinion khususnya pada kata kerja yang membentuk kata benda. Tema opinion merupakan tema yang terdiri dari akhiran kata benda paling banyak yaitu 96 kata benda. Tema opinion di surat kabar Jakarta Post memiliki kebebasan dalam menyampaikan pemikiran ataupun sudut pandang penulis dalam persoalan yang terjadi. Umumnya, ketika orang berbicara tentang hal-hal yang bersifat asumsi, kalimat-kalimat yang dihasilkan biasanya terdiri dari penjelasan ataupun deskripsi tentang seseorang atau sesuatu. Dari 96 imbuhan akhiran kata benda yang tertera pada tema opinion, jenis pembentukan kata benda terbanyak adalah kata kerja yang membentuk kata benda sebanyak 56 kata benda. Disamping itu, ada 10 pengecualian kata-kata yang tidak sesuai dengan teori Plag. Penemuan penelitian pada skripsi ini juga menunjukkan bahwa pengaruh imbuhan akhiran kata benda dalam bentuk derivasi pada penyampaian pesan di surat kabar dapat membantu penulis Indonesia dalam menggunakan kata yang sesuai agar pesan dapat tersampaikan dengan tepat. Kata-kata benda yang diberi imbuhan-imbuhan akhiran memiliki makna yang lebih khusus untuk menyampaikan dan mengekplor pesan yang ingin disampaikan oleh surat kabar. Itu berarti, penulis Indonesia ingin menyampaikan informasi dengan sebuah tindakan karena makna dari kata-kata benda yang berasal dari kata kerja memiliki makna yang berarti sebuah proses, tindakan atau hasil dari sebuah tindakan. Penulis Indonesia memilih kata-kata benda yang diberi imbuhan akhiran karena mereka ingin menyampaikan informasi, keadaan dan pesan yang spesifik kepada para pembaca atas apa yang terjadi pada Negara ini. Disamping itu, mereka memilih kata benda dalam bentuk derivasi dengan imbuhan akhiran karena kata-kata benda dengan imbuhan akhiran memiliki makna yang spesifik. Penelitian tentang derivasi imbuhan akhiran kata benda ini dibuat agar dapat menjadi referensi untuk memperkaya pengetahuan di bidang morfologi khususnya pada imbuhan akhiran kata benda. Sangat direkomendasikan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan data dari percakapan sehari-hari di imbuhan yang lain ataupun dari sudut pandang bidang lain.

Pengembangan media pembelajaran interaktif mata kuliah Teknologi Konstruksi 2 dan pengaruhnya terhadap aktivitas belajar mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang / Choirunisya Nur Adiyatma

 

ABSTRAK Adiyatma, Choirunisya Nur. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Mata Kuliah Teknologi Konstruksi 2 dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Belajar Mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Apif Miftahul Hajji, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., (II) Drs. Priyono, M.Pd. Kata Kunci: media pembelajaran interaktf, aktivitas belajar mahasiswa, teknologi konstruksi 2, Media pembelajaran interaktif merupakan salah satu perwujudan dari pemanfatan teknologi dalam bidang pendidikan. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk(1) Mengetahui aktivitas belajar mahasiswa pada Mata Kuliah Teknologi Konstruksi 2sebelum menggunakan media pembelajaran interaktif(2) menghasilkan produk berupa media pembelajaran interaktif Mata Kuliah Teknologi Konstruksi 2 Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang, (3) Mengetahui perbedaan aktivitas belajar mahasiswa antara kelas yang menggunakan media pembelajaran interaktif dengan kelas yang menggunakan media pembelajaran konvensional. .Pengembangan menggunakan metode Research and Development yang dimodifikasi. Prosedur pengembangan meliputi: (1) identifikasi potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi produk, (6) uji coba pemakaian, (7) revisi produk.Validasi produk dilakukan oleh ahli materi dan ahli media. Uji coba pemakaian menggunakan Intact-Group Comparison dan dilakukan pada mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang semester 4 offering D sebagai kelas kontrol dan offering C sebagai kelas eksperimen. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Instrumen pengumpulan data berupa angket validasi materi, angket validasi media, dan angket aktivitas belajar mahasiswa. Hasil pengembangan berupa media pembelajaran interaktif dalam bentuk file aplikasi, terdiri dari unsur teks, gambar, animasi, video, dan audio, serta dilengkapi dengan tombol navigasi. Hasil validasi dari ahli materi diperoleh nilai persentase sebesar 86% dan dari ahli media diperoleh nilai persentase sebesar 86%, yang berarti bahwa media pembelajaran interaktif sangat valid sehingga dapat diujicobakan.Hasil uji coba pemakaian menunjukkan bahwa ada perbedaan skor rata-rata aktivitas belajar mahasiswa antara kelaskontrol dengan kelas eksperimen. Perbedaan tersebut diketahui dari hasil analisis dengan SPSS bahwa besarnya nilai Sig. (2-tailed) adalah 0,029 < 0,05. Selain itu, ditunjukkan juga bahwa besarnya nilai thitung (2,269) lebih besar dari nilai t tabel (2,024). Saran yang dapat diberikan agar media pembelajaran interaktif dapat dimanfaatkan dan disebarluaskan, serta terus dikembangkan dengan materi yang lebih luasdan mendalam dan desain yang lebih Up to Date. Uji coba pemakaian sebaiknya dilakukan lebih dari satu kali pertemuan agar hasil yang didapat lebih signifikan.

Laporan hasil observasi praktek elektronika I
oleh Purwanto

 

Eksplorasi ornamen Suku Mbaham-Matta Fakfak Papua Barat / Intan Permani Karsanto

 

ABSTRAK Karsanto, Intan Permani. 2015. Eksplorasi Ornamen Suku Mbaham-Matta Fakfak Papua Barat. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Agus Sunandar S.Pd, M.Sn, (II) Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd. Kata Kunci: Ornamen, Eksplorasi Budaya lahir dari hasil cipta, karsa, dan rasa terhadap hasil interaksi antara manusia dengan alam dimana ia tinggal. Sehingga masing-masing daerah memiliki ragam budaya yang berbeda sesuai dengan imajinasi penciptanya. Namun saat ini dengan derasnya pengaruh luar dan besarnya tantangan yang dihadapi, budaya daerah tidak selamnya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, dan jika dibiarkan sebagian diantaranya akan punah dan dilupakan. Salah satunya adalah Kabupaten Fakfak yang terletak di provinsi Papua Barat, merupakan daerah yang memiliki potensi pariwisata, antara lain: wisata alam, wisata budaya, maupun sejarah. Selain itu, Fakfak yang mayoritas penduduk berasal dari suku Mbaham-Matta sangat kental akan tradisi, adat istiadat dan ragam hias yang sangat khas. Ornamen khas daerah yang tertuang dalam benda seperti alat musik dan busana adat semakin menambah nilai dari budaya tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menggali, menggembangkan dan merancang ornamen Suku Mbaham-Matta menjadi salah satu produk seni daerah. Pedekatan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian desksiptif dengan pendekatan Kualitatif. Instrumen yang digunakan sebagai penggumpul data adalah peneliti sendiri. Dewan Adat, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Sanggar Budaya Qahma Kampung Werba, dan Budayawan Kokas merupakan sumber data dalam penelitian ini. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ada tiga langkah analisi data dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, verifikasi atau penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk menjaga keabsahan data menggunakan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, Triangulasi, menggunakan bahan relefansi, dan mengadakan membercheack. Berdasarkan temuan dilapangan peneliti memperoleh data: (1) Makna dan Ornamen Utama Suku Mbaham-Matta Fakfak meliputi: ornamen yana proum kendeb, ornamen henggi keih, ornamen mbeg-mbegwun, ornamen yeb tatare, ornamen tumtumber, ornamen jer kengger, ornamen wendi, ornamen wendi mbum-mbua, ornamen tita yana, ornamen tifa titir atau lakadinding, ornamen huer, ornamen Kafari, ornamen gong, ornamen cenderawasi dan buah merah; ornamen pread, ornamen hindi, dan ornamen timour atau tifa ukuran kecil; dan (2) Makna dan Ornamen Pengisi Suku Mbaham-Matta Fakfak meliputi: ornamen wonggen kinggid dan ornamen Heir kinggid-kinggid. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini adalah (1) Harapannya hasil dari ornamen Suku Mbaham-Matta ini bukan akhir dari pelestarian budaya Suku Mbaham-Matta Fakfak Papua Barat. Namun awal dari pengembangan dan pelestarian ornamen Suku Mbaham-Matta Fakfak Papua Barat, (2) Peran pemerintah daerah dan pemerintah pusat sangat dibutuhkan agar ornamen Suku Mbaham-Matta dapat dijadikan hak kepemilikan dari suku Mbaham-Matta Fakfak Papua Barat. Sehingga dapat dipatenkan sebagai kebudayaan khas dari suku Mbaham-Matta Fakfak Papua Barat. (3) Pelestarian ornamen dan budaya bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah daerah atau dewan adat, namun lebih dari itu adalah tanggung jawab bersama masyarakat Suku Mbaham-Matta Fakfak yang harus bersama-sama melestarikan dan menjaga identitas daerah agar tidak hilang begitu saja. (4) Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan nilai dan budaya yang terdapat di Suku Mbaham-Matta Fakfak Papua Barat diharapkan menjadi motivator bagi masyarakat yang lain, agar timbul rasa peduli atas budaya sendiri sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di tanah kelahirannya. (5) Bagi Mahasiswa Tata Busana hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai aspirasi dalam berkarya di bidang busana.

Laporan praktek kerja di PT Faroka SA Malang
oleh Widodo Sugeng Narimo

 

Upaya peningkatan prosedur evaluasi dan daya serap (pemahaman/C2) materi pelajaran sejarah melalui metode numbered heads together (NHT) bagi siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru / Citra Devi Paramita Sari

 

Kata kunci: Prosedur Evaluasi, Daya Serap (Pemahaman/C2), Metode NHT Pendidikan merupakan syarat mutlak majunya suatu negara. Agar pendidikan di Indonesia dapat berhasil dengan baik maka mutu pendidikan harus senantiasa ditingkatkan. Peningkatan mutu pendidikan ini dapat dimulai dari peningkatan kualitas pendidikan. Fakta di lapangan menunjukkan nilai ijasah lebih diutamakan daripada ketrampilan yang dimiliki, sehingga lebih banyak siswa yang menekankan bagaimana caranya memperoleh nilai yang baik, bukan bagaimana caranya memahami apa yang disampaikan, padahal yang paling penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh individu tersebut. Dengan demikian sudah saatnya untuk melakukan evaluasi sesuai prosedur, yakni evaluasi yang tidak hanya menekankan pada hasil belajar saja, melainkan juga mengukur proses pelaksanaan pembelajaran tersebut. Melalui perbaikan proses pembelajaran dan peningkatan prosedur dalam evaluasi yang tidak hanya menekankan pada hasil belajar saja, maka kualitas pendidikan akan dapat ditingkatkan. SMAN I Kedungwaru merupakan SMA favorit di Tulungagung dengan danem minimal 38,17 sehingga murid-muridnya pilihan dari berbagai daerah di Tulungagung dan sekitarnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Masriah selaku guru sejarah, siswa kelas XI IPS 1 memiliki masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu siswa ramai dan selalu mencontek ketika mengerjakan tugas ataupun ulanagn harian. Walaupun contekan tetapi nilai ulangan mereka tetap rendah. Berdasarkan hasil observasi terhadap sikap siswa, pemahaman mereka masih rendah karena masih sering mencontek ketika mengerjakan tes dan merasa kebingungan ketika tanya jawab. Oleh sebab itu peneliti memilih model Numbered Head Together agar evaluasi bisa dilakukan dengan lebih obyektif yaitu dengan tes dan non tes untuk mengecek pemehaman siswa. Dari latar belakang yang ada maka permasalahan dalam penelitian ini meliputi (1) Bagaimanakah prosedur evaluasi materi pelajaran sejarah bagi siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru dengan dilaksanakannya metode NHT ? (2) Bagaimanakah daya serap (Pemahaman/C2) materi pelajaran sejarah siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru dengan dilaksanakannya metode NHT? dan (3) Apa saja keterbatasan atau hambatan dari pelaksanaan metode NHT bagi siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru? Untuk menjawab permasalahan yang ada maka dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki mutu praktik pambelajaran di kelas. PTK ini dilaksanakan dengan 2 siklus yang masing-masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/pengamatan, dan refleksi. Pelaksanaan tindakan siklus pertama selama 2 jam pelajaran dan siklus kedua selama 3 jam pelajaran. Subyek penelitian adalah siswa SMAN I Kedungwaru kelas XI IPS 1 angkatan 2008/2009 yang berjumlah 42 siswa. Hal yang diteliti adalah prosedur evaluasi dan daya serap (pemahaman/C2). Pengukuran prosedur evaluasi diperoleh melalui data observasi, dan daya serap siswa diukur dari hasil rata-rata kelas tes siswa serta observasi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara, lembar observasi, soal tes, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan secara interaktif, yakni meliputi reduksi data, beberan data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperoleh melalui keajegan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan prosedur evaluasi dari 83% menjadi 93%. Nilai tes pemahaman siswa berdasarkan data nilai ulangan harian sebelum adanya tindakan yakni 54, 35, pada tindakan siklus I meningkat menjadi 60,71. Meskipun ada peningkatan tetapi nilai siswa masih di bawah KKM disebabkan oleh jumlah soal yang mampu di jawab oleh siswa tidak sebanding dengan jumlah soal yang di kerjakan sehingga skor mereka rendah. Berdasarkan perbaikan tindakan pada siklus II, hasil tes meningkat menjadi 81,57 dan telah melampaui KKM. Disamping hasil tes pemahaman, peningkatan pemahaman juga dapat di lihat dari non tes yakni hasil observasi pemahaman siswa sebagai proses belajar. Pada siklus I mendapat prosentase sebesar 64% dan pada siklus II meningkat mencapai 88%. Dari hasil refleksi guru, peneliti dan teman sejawat, kurang maksimalnya NHT pada siklus I karena alokasi waktu pembelajaran yang kurang mencukupi. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode NHT dapat meningkatkan prosedur evaluasi dan daya serap (pemahaman/C2) siswa kelas XI IPS 1 di SMAN I Kedungwaru. Dari kesimpulan tersebut peneliti menyarankan: (1) Pelaksanaan metode NHT membutuhkan waktu yang lama dalam pelaksanaanya agar semua tahapanya dapat dilaksanakan secara maksimal. Oleh sebab itu bagi peneliti berikutnya yang akan menggunakan metode ini sebaiknya mempertimbangkan alokasi waktu pembelajaran yang ada; (2) Bagi peneliti berikutnya yang akan menggunakan metode ini sebaiknya membuat perencanaan pelaksanaan yang terperinci dan sesuai dengan kondisi lapangan; dan (3) Dalam penelitian berikutnya sebaiknya calon peneliti mengembangkan manfaat lain dari metode NHT.

Laporan kerja praktek di Perusahaan Jawatan Kereta Api inspeksi 10 Depo Mesin Malang
oleh Susilo Wahyudi

 

Kajian faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pencapaian keluarga sejahtera di lingkungan keluarga petani di Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember / Titien Mayasari

 

Kata kunci: Faktor-faktor, Keluarga sejahtera, Lingkungan petani Upaya mewujudkan pembangunan Keluarga Sejahtera merupakan salah satu program pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kendala yang dihadapi adalah mayoritas penduduk dibawah garis kemiskinan bermukim di daerah pedesaan yang bermata pencaharian sebagai petani. Dimana masalah klasik yang sering dijumpai pada lingkungan masyarakat pedesaan adalah pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, disamping masalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia, rendahnya tingkat pendapatan, dan tingginya jumlah beban tanggungan keluarga. Selain itu, adanya perubahan tingkat pencapaian keluarga sejahtera pada masyarakat. Penelitian yang dilakukan di Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan jumlah tanggungan keluarga terhadap tingkat pencapaian keluarga sejahtera. Variabel-variabel yang yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah: tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan jumlah beban tanggungan keluarga yang tergolong dalam variabel bebas, sedangkan variabel terikat adalah Keluarga Sejahtera. Jumlah populasi yang ada 2018 jiwa, dan sampelnya yang diambil sejumlah 100 responden. Responden yang diambil adalah petani. Cara pengambilan sampel responden menggunakan tekhnik Proporsional Random Sampling. Tekhnik pengumpulan data menggunakan analisis Tabulasi Silang dan Analisis Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian diperoleh bahwa tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan jumlah beban tanggungan keluarga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pencapaian keluarga sejahtera hal ini dipengaruhi oleh perbedaan kondisi sosial dan pola pikir masyarakat di daerah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian Pemerintah Kabupaten Jember disarankan (1) Perlu diupayakan perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, peningkatan penyuluhan-penyuluhan pertanian dan latihan kerja dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, (2) Penyuluhan-penyuluhan dan mutu layanan Keluarga Berencana (KB) harus lebih ditingkatkan lagi, untuk menghambat laju pertumbuhan penduduk, (3) Memeratakan sarana dan prasarana penunjang berlangsungnya pendidikan di setiap desa.

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe student teams achievement devision terhadap hasil belajar mata pelajaran dasar dan pengukuran listrik pada siswa kelas X Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang / Abiyu Wisu

 

ABSTRAK Abiyu. Wisudawan N. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Devision Terhadap Hasil Pembelajaran Mata Pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik Pada Siswa Kelas X Jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik Di SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hary Suswanto, M.T, (II) Drs. Suwasono, M.T. Kata Kunci : Student Teams Achievement Devision, Dasar dan Pengukuran, Hasil Belajar. Berdasarkan data hasil observasi yang peneliti lakukan di SMKN 1 Singosari, siswa kelas X pada waktu pembelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik adalah sebagai berikut: (1) guru masih menggunakan metode pembelajaran kurang variasi, (2) siswa kurang antusias dalam pembelajaran, (3) Hasil belajar kurang memuaskan. Karena metode pembelajaran yang masih kurang bervariasi tersebut menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan kurang antusias dalam belajar sehingga menyebabkan hasil belajar siswa menjadi kurang memuaskan. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pelajaran dalam mata pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achivement Devision. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui signifikansi perbedaan hasil belajar pada Mata Pelajaran Dasar dan Pengukuran Listrik antara siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievment Devision Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi eksperimental dengan desain non equivalent control group design. Desain penelitian ini menggunakan dua kelas dimana kelas eksperimen diterapkan perlakuan model pembelajaran Student Teams Achievement Division dan kelas kontrol tanpa diberikan model pembelajaran Student Teams Achievement Division. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji-t. Hasil Penelitian, dilihat dari uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar pada siswa kelas eksperimen yang diajar menggunakan metode pembelajaran Student Teams Achievment Devision dengan siswa kelas kontrol yang tanpa perlakuan. Dari hasil penelitian ditemukan hasil bahwa siswa pada kelas eksperimen yang diterapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan. Terbukti dari hasil analisa nilai rata-rata kelas eksperimen meningkat sebelum dan sesudah menggunakan metode. Selain itu juga nilai rata-rata kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol

Laporan kerja praktek di perusahaan bengkel las & konstruksi CV Nasional Malang
oleh Sri Widiyanti

 

Indonesia and American politeness strategies: a case study of appropriate request / Azizun Ajeng Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, A. A. 2015. Strategi Kesopanan Penutur Asli Bahasa Indonesia dan Penutur Asli Amerika: Sebuah Studi Kasus dalam Ketepatan Tindak Meminta. Skripsi, Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Evynurul Laily Zen, S.S, M.A. dan Maria Hidayati S.S., M.Pd. Kata Kunci: tindak meminta, penutur asli bahasa Indonesia, penutur asli bahasa Inggris Amerika, tindak kesopanan Penelitian ini mengkaji tentang fenomena lintas budaya yang ditinjau dari perspektif tindak tutur meminta (speech act of request) dari penutur asli bahasa Indonesia dan Amerika. Secara khusus, fokus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) strategi kesantunan yang dipilih oleh para pentur asli bahasa Indonesia, dan (2) penutur asli bahasa Inggris Amerika, serta (3) perbandingan strategi kesantunan antara penutur asli bahasa Indonesia dan bahasa Inggris Amerika dalam memproduksi kalimat permintaan yang santun. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode multi studi kasus. Subjek penelitian yang dipilih adalah 11 laki-laki dan 11 perempuan penutur asli bahasa Indonesia, serta 11 laki-laki dan 11 perempuan penutur asli bahasa Inggris Amerika. Subjek penelitian tersebut dipilih berdasarkan kriteria-kriteria khusus yang sudah ditetapkan peneliti sejak awal. Dasar teori yang digunakan peneliti untuk menganalisis bagian-bagian kalimat permintaan adalah teori dari Blum-Kulka dkk (1989). Instrumen yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah kuisioner. Kuisioner tersebut terdiri atas delapan belas pertanyaan yang disusun berdasarkan teori weightiness oleh Brown and Levinson (1987). Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data kualitatif (data verbal) yang didukung oleh data kuantitatif (data numerik). Analisis data dilakukan melalui (1) pengumpulan data, dan (2) penganalisisan data yang meliputi reduksi data, paparan data, serta inferensi dan verifikasi data. Temuan dari penelitian ini adalah pada kalimat permintaan penutur asli bahasa Indonesia dan Inggris Amerika menggunakan 3 bagian kalimat permintaan (request segment) diantaranya pembuka (allerter), inti kalimat permintaan(head act), dan pendukung inti kalimat permintaan(supporting move). Temuan dari penelitian ini antara lain, pada situasi-situasi formal, laki-laki dan perempuan penutur asli bahasa Indonesia cenderung menggunakan panggilan (terms of address) yang ditemukan sebanyak 65 data. Temuan tersebut berbeda dengan temuan dari penutur asli bahasa Inggris Amerika yang cenderung memilih sapaan (greeting) dengan temuan sebanyak 55 data. Pada situasi-situasi informal, laki-laki dan perempuan penutur asli bahasa Indonesia memilih menggunakan allerter yang sama yakni terms of address dengan temuan sebanyak 74 data. Berbeda dengan laki-laki penutur asli bahasa Indonesia, penutur asli bahasa Inggris Amerika banyak digunakan greeting dengan temuan sebanyak 22 data sementara pada perempuan adalah terms of address dengan temuan sebanyak 35 data. Kesamaan temuan penelitian juga terdapat pada jenis strategi meminta yang digunakan baik oleh penutur asli bahasa Indonesia maupun penutur asli bahasa Inggris Amerika. Pada situasi formal, ditemukan 75 data dari penutur asli bahasa Indonesia dan 79 data dari penutur asli bahasa Inggris Amerika yang menggunakan permintaan tak langsung (conventionally indirect request). Pada situasi-situasi informal, detemukan 66 data dari penutur asli bahasa Indonesia dan 99 data dari penutur asli bahasa Inggris Amerika yang menggunakan conventionally indirect request. Pada penggunaan supporting move, strategi yang paling banyak dipilih oleh penutur asli bahasa Indonesia adalah alasan (grounder) sejumlah 73 data pada situasi formal dan 128 data pada situasi informal. Penutur asli bahasa Inggris lai-laki lebih cederung menggunakan penanda jumlah/waktu (cost minimizer) sebanyak 19 data pada situasi-situasi formal, sedangkan penutur asli bahasa Inggris perempuan banyak menggunakan grounder sebanyak 50 data. Pada situasi-situasi informal, baik penutur asli bahasa Inggris laki-laki dan perempuan lebih sering menggunakan grounder. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, dapat ditarik simpulan bahwa strategi tidak langsung yang paling banyak dipilih oleh penutur asli bahasa Indonesia dan penutur asli bahas Inggris Amerika tidak selalu mencerminkan kesopanan. Hal itu karena, penutur bisa dikatakan sopan pada saat meminta jika menyampaikan isi dari permintaannya dengan jelas dan tidak memaksa mitratutur untuk merespon permintaan. Selain itu, adanya allerter dan supporting move juga mendukung kesopanan permintaan. Hasil dari penelitian ini senada dengan teori ketidaklangsungan dalam kalimat permintaan oleh Bluk-Kulka et al (1987). Tingkat kesopanan dalam sebuah kalimat permintaan juga didukung oleh adanya pembuka (allerter) dan pendukung inti kalimat permintaan (supporting move). Untuk penutur asli bahasa Indonesia yang tinggal di Amerika atau sebaliknya dapat menambahkan tiga segmen permintaan untuk membuat kalimat permintaan mereka menjadi lebih halus dan sopan selama kalimat permintaan tersebut jelas dan tidak memaksa mitra tutur untuk melakukan apa yang penutur inginkan.

Laporan praktek kerja bidang konversi energi di bengkel Melati Jaya Lawang
oleh Moch. Wahyudi

 

Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi dengan pendekatan komunikatif pada kelas III SD Berita Hidup Malang / Wahyu Dyah Sriwindartin

 

Pengaruh pembelajaran IPA-Biologi dengan menggunakan metode diskoveri-inkuiri terhadap kemampuan analisis dan sintesis siswa SLTP Negeri 2 Pengasih Kabupaten Kulonprogo / oleh Pratiwi Pujiastuti

 

Pengaruh Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) vs pendekatan verifikasi dan keterampilan penalaran ilmiah terhadap pemahaman konseptual, algoritmik, dan grafik dalam materi kesetimbangan kimia siswa SMA kelas XI IPA / Galuh Suci Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Galuh Suci. 2015. Pengaruh Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) vs Pendekatan Verifikasi dan Keterampilan Penalaran Ilmiah terhadap Pemahaman Konseptual, Algoritmik, dan Grafik dalam Materi Kesetimbangan Kimia Siswa SMA Kelas XI IPA. Tesis. Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Effendy, Ph. D., (2) Dr.Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata Kunci: POGIL, verifikasi, Keterampilan Penalaran Ilmiah, pemahaman konseptual, pemahaman algoritmik, pemahaman grafik Materi kesetimbangan kimia memiliki karakter konseptual dan algoritmik. Karakter konseptual ditunjukkan dengan adanya konsep-konsep abstrak seperti kesetimbangan dinamis dan pergeseran kesetimbangan yang membutuhkan pemahaman konseptual untuk mempelajarinya. Karakter algoritmik ditunjukkan dengan adanya perhitungan matematik seperti perhitungan konstanta kesetimbangan yang membutuhkan pemahaman algoritmik untuk menghitungnya. Grafik biasanya digunakan untuk membantu siswa memahami konsep-konsep dalam materi kesetimbangan kimia. Pemahaman grafik diperlukan untuk memahami grafik dengan benar. Keterampilan penalaran ilmiah (KPI) diperlukan untuk mengembangkan pemahaman konseptual, algoritmik, dan grafik. KPI juga diperlukan untuk memecahkan masalah dalam materi kesetimbangan kimia. Sejauh ini pembelajaran di SMA didominasi dengan pendekatan verifikasi. Dalam pendekatan ini siswa tidak perlu mengkonstruk konsep sendiri. Konsep dijelaskan oleh guru dan kemudian diikuti dengan kegiatan laboratorium untuk memverifikasi kebenaran dari konsep. Pendekatan ini cenderung tidak efektif untuk mendorong perkembangan KPI siswa. Akibatnya siswa cenderung mengalami kesulitan dalam belajar materi kesetimbangan kimia. Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) merupakan pendekatan alternatif yang diharapkan efektif dalam mendorong perkembangan KPI siswa. Dalam pendekatan ini siswa mengkonstruk konsep dengan sedikit bantuan dari guru. Kelima fase POGIL, yaitu orientation, exploration, concept formation, application, dan closure, sering memberikan stimulasi intelektual yang mampu mendorong perkembangan KPI siswa. Hal ini cenderung mempermudah siswa dalam mengkonstruk konsep dan memecahkan masalah yang ada serta memungkinkan bagi siswa untuk mencapai hasil belajar yang lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi: (1) pengaruh perbedaan POGIL dan pendekatan verififikasi pada pemahaman konseptual, algoritmik, dan grafik siswa; (2) perbedaan pemahaman konseptual, algoritmik, dan grafik siswa dengan tingkat KPI yang berbeda; dan (3) interaksi antara pendekatan pembelajaran dan KPI pada pemahaman konseptual, algoritmik, dan grafik siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 2 x 2. Subjek penelitian diambil berdasarkan skor KPI siswa dari dua kelas XI IPA SMAN 9 Malang pada tahun akademik 2014/2015 yang homogen. Skor ini dikumpulkan dengan menggunakan tes terjemahan LCTSR yang dikembangkan oleh Lawson dan terdiri dari 24 soal. Koefisien reliabilitas tes terjemahan, dihitung dengan menggunakan rumus KR-20, adalah 0,70, koefisien reliabilitas tersebut tidak jauh berbeda dari pengujian awal, yaitu 0,75 dihitung dengan rumus yang sama. Berdasarkan skor yang dikumpulkan, diperoleh21 pasang siswa. Sebanyak 9 pasang siswa dengan KPI tingkat formal rendah dan 12 pasang siswa dengan KPI tingkat konkrit. Data tentang pemahaman konseptual, algoritmik, dan grafik siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 11 soal tentang pemahaman konseptual, 8 soal tentang pemahaman algoritmik, dan 9 soal tentang pemahaman grafik. Tes ini memiliki validitas isi sebesar 94,5%, dan koefisien reliabilitas, dihitung dengan menggunakan persamaan Alpha Cronbach, sebesar 0,86. Data dianalisis dengan menggunakan metode statistik Manova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) POGIL menghasilkan pemahaman konseptual dan grafik yang lebih tinggi daripada pendekatan verifikasi, tetapi memberikan hasil yang tidak berbeda untuk pemahaman algoritmik; (2) siswa dengan KPI tingkat formal rendah memiliki pemahaman konseptual dan grafik yang lebih tinggi daripada siswa dengan KPI tingkat konkrit, tapi sama untuk pemahaman algoritmik; (3) tidak ada interaksi antara pendekatan pembelajaran dan KPI pada pemahaman konseptual, algoritmik, dan grafik siswa.

Laporan praktek kerja di PJKA Dipo Malang
disusun oleh Purwedi Bambang Rusdiyanto

 

Kontribusi pengetahuan kewirausahaan, prestasi prakerin, dan kompetensi keahlian, terhadap minat berwirausaha siswa SMK paket keahlian teknik pemesinan di Madura / Ali Hasbi Ramadani

 

ABSTRAK Ramadani, Ali Hasbi. 2015. Kontribusi Pengetahuan Kewirausahaan, Prestasi Prakerin, dan Kompetensi keahlian, terhadap Minat Berwirausaha serta Dampaknya pada Kesiapan Berwirausaha Siswa SMK Paket Keahlian Teknik Pemesinan di Madura. Tesis. Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T, M.Pd, (II) Dr. Ir. Soenar Soekopitojo, M.Si. Kata Kunci: kesiapan berwirausaha, minat berwirausaha, pengetahuan kewirausahaan, prestasi prakerin, kompetensi keahlian. Salah satu tujuan dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu mencetak lulusan yang mandiri dan siap berwirausaha. Pengembangan kesiapan berwirausaha siswa pada pendidikan kejuruan dapat dilakukan melalui pembelajaran di kelas, pengintegrasian ke dalam kurikulum, kegiatan kesiswaan, pelatihan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kontribusi pengetahuan kewirausahaan, prestasi prakerin, kompetensi keahlian, tehadap minat berwirausaha dan dampaknya pada kesiapan berwirausaha siswa SMK paket keahlian teknik pemesinan di Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan teknik pengujianya menggunakan analisis jalur (path analysis) model persamaan struktural. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kausal secara langsung dan tidak langsung seperangkat variabel bebas (eksogen) terhadap variabel terikat (endogen). Instrumen yang digunakan peneliti adalah tes dan kuisioner. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa SMK kelas XII Paket Keahlian Teknik Mesin se Madura Tahun Pelajaran 2014/2015 yang berjumlah 191 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling dan diperoleh sampel penelitian sebesar 129 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi yang paling tinggi untuk menumbuhkan kesiapan berwirausaha siswa adalah variabel minat berwirausaha dibandingkan dengan pengetahuan kewirausahaan, prestasi prakerin dan kompetensi keahlian siswa yaitu 29,16%, dengan kata lain siswa akan siap berwirausaha jika memiliki minat berwirausaha yang tinggi. Adapun kontribusi yang paling tinggi untuk menumbuhkan minat berwirausaha siswa adalah variabel prestasi prakerin dibandingkan dengan pengetahuan kewirausahaan dan kompetensi keahlian siswa yaitu 24,7%, dengan kata lain untuk menumbuhkan minat berwirausaha siswa harus mengoptimalkan pelaksanaan prakerin yang telah dilaksanakan sekolah guna menghasilkan prestasi prakerin siswa yang baik. Untuk menyiapkan lulusan SMK yang mandiri kususnya Paket Keahlian Teknik Pemesinan di Madura maka dipandang perlu untuk lebih memperhatikan lagi program prakerin yang berlangsung selama ini mulai dari persiapan dan pelaksanaannya, karena dengan pelaksanaan prakerin siswa mendapatkan pengalam riil tentang dunia usaha yang sesuai dengan keahliannya, sehingga akan menumbuhkan minat siswa untuk berwirausaha, dan setelah lulus siswa akan benar-benar siap untuk berwirausaha sesuai keahliannya berdasarkan pengetahuan, pengalaman, serta keahlian yang dimilikinya.

Pengembangan permainan "maze plus" pada pembelajaran fisik motorik anak kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang / Rina Lestari

 

Kata kunci: Pengembangan, Pembelajaran, Fisik Motorik, Permainan ”Maze Plus”. Pembelajaran fisik motorik di TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang dilakukan dengan kegiatan senam Sehat Ceria bersama ibu guru, kemudian melempar bola dengan metode pemberian tugas secara klasikal, dan berlari sambil melompati tali secara bergantian sedangkan pembelajaran fisik motorik yang dikemas dalam bentuk permainan belum pernah dilakukan di TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. Maka peneliti merancang permainan yang diberi nama “Maze Plus” yaitu permainan yang dirancang dengan memanfaatkan benda-benda yang ada didalam kelas seperti meja, kursi, matras dan balok. Ciri khas dari permainan ini adalah anak mencari jejak berupa telapak kaki kanan dan kir. Dalam bermain anak harus mencari jejak yang tepat dan memperhatikan petunjuk gambar aktivitas yang dilakukan untuk menuju titik terakhir (finish). Ketika mengikuti jejak tersebut, anak harus melalui beberapa rintangan yang telah disediakan. Rintangan tersebut diatur dengan memakai benda-benda yang ada di dalam ruangan seperti: menyusun meja di sebelah kanan dan kiri namun bagian tengah merupakan lintasan untuk merangkak pada bagian atas ditutup matras atau kerdus agar terlihat sebagai terowongan kecil , gawang kecil dari balok untuk melompat, kursi yang berjajar untuk berjalan di atas kursi sebagai pengganti papan titian. Dalam menyelesaikan rintangan menggunakan aktivitas motorik yang merupakan aktivitas motorik berdasarkan gerak-gerak dasar perkembangan fisik motorik yaitu lokomotor, non-lokomotor dan manipulatif serta semua aspek keterampilan fisik motorik meliputi kekuatan, keseimbangan, kecepatan, kelincahan, dan ketangkasan. Permainan ini juga membantu kemampuan koginitif anak dalam mencari jejak yang benar dan membilang dengan kegiatan memantulkan bola sebanyak lima kali. Tujuan pengembangan pembelajaran fisik motorik adalah 1). Untuk mendiskripsikan Permainan “Maze Plus” dapat diterapkan pada pembelajaran fisik motorik anak di Kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. 2). Untuk mendiskripsikan Permainan “Maze Plus” mudah dilakukan oleh anak dan dapat membuat anak senang dalam melakukan pada pembelajaran fisik motorik anak di Kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menggunankan model penelitian pengembangan dari Borg and Gall . Model pengembangan tersebut memiliki sepuluh langkah penelitian pengembangan), namun karena subjek penelitian kurang dari 100 maka peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah karena penelitian ini dilaksanakan pada 1 sekolah saja. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi (kajian pustaka, pengamatan kelas, persiapan laporan pokok persoalan). (2) Melakukan perencanaan (pendefinisian keterampilan, perumusan tujuan, penentuan urutan pengajaran, dan uji coba skala kecil). (3) Mengembangkan bentuk produk awal (penyiapan materi pengajaran, penyusunan buku pegangan, dan perlengkapan evaluasi). (4) Melakukan uji lapangan permulaan (dilakukan pada 1 sekolah, menggunakan 6-12 subyek). (5) Melakukan revisi terhadap produk utama (sesuai dengan saran-saran para ahli dari hasil uji lapangan permulaan). (6) Melakukan uji lapangan utama (pada 1 sekolah dengan 30-50 subyek). (7) Melakukan revisi produk (berdasarkan saran-saran para ahli dari hasil uji lapangan utama). Berdasarkan hasil analisa dari dua guru kelas kelompok B 90 % menyatakan sangat menarik. Dan klasifikasi persentase antara 80 % - 100 % tergolong klasifikasi baik ( dapat digunakan). Hasil analisa uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 50 anak kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang menyatakan 97.11 % anak mudah melakukannya dan 99.33 % anak senang melakukannya. Dan klasifikasi persentase antara 80 % - 100 % tergolong dalam klasifikasi baik (dapat digunakan). Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1). Bahwa Permainan “Maze Plus” dapat diterapkan pada pembelajaran fisik motorik anak usia dini. Dengan kreatifitas guru dalam memanfaatkan benda-benda yang ada di ruang kelas untuk merancang rute dan aktivitas fisik motorik yang dapat dilakukan anak. Ada beberapa rintangan yang disediakan diantaranya memilih jejak kaki yang tepat, melewati terowongan dari meja dengan cara merangkak, berjalan lurus mengikuti garis lurus, melompati rintangan gawang balok, berjalan di atas susunan kursi lalu meloncat dan memantulkan bola sebanyak 5 kali. Aktivitas fisik motorik yang ada merupakan penerapan dari gerak dasar fisik motorik serta semua aspek-aspek keterampilan fisik motorik pada anak. 2).Permainan “Maze Plus” mudah dilakukan oleh anak dan dapat membuat anak senang dalam melakukan pembelajaran fisik motorik anak di Kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. Saran-saran yang akan dikemukakan meliputi saran untuk Guru Taman Kanak-kanak, saran untuk Sekolah lain, Saran untuk Peneliti Yang Lain, dan saran pengembangan produk lebih lanjut.

Laporan kuliah kerja (praktek kerja nyata) yang diselenggarakan di PT Faroka SA Malang
oleh Supardji

 

Pengembangan multimedia interaktif materi pembelahan sel untuk siswa SMA kelas XII IPA / Anisa Sativa Fillaili

 

ABSTRAK Fillaili, Anisa Sativa. 2015. Pengembangan Multimedia InteraktifMateriPembelahanSeluntukSiswa SMA Kelas XII IPA. Skripsi, Program StudiPendidikanBiologi, FakultasMatematikadanIlmuPengetahuanAlam, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. agr. Moh. Amin. S.Pd.,M.Si, (II) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd. Kata Kunci: media pembelajaran, multimedia interaktif, pembelahansel Pembelahanseladalahsalahsatumateripelajaranbiologiyang diajarkanpadakelas XII semester ganjiltahunajaran 2014/2015. Materitersebuttergolongabstrakdanobyek yang dipelajarisusahdiamatisecaralangsung. Hasilsurvei yang dilakukan di SMAN 1 Batumenunjukkanbahwasiswamengalamikesulitanbelajarpadamateripembelahan sel. Diperlukansuatu media pembelajaran yang dapatmembantusiswamempelajarimateripembelahanseltersebut. Tujuandilakukannyapenelitiandanpengembanganiniadalahuntukmenghasilkan multimedia interaktifmateripembelahanseluntuksiswa SMA kelas XII IPA yang valid, praktis, danefektif. Data penelitiandiperolehdaripenilaianahlimateri, ahli media, guru, dan 15 siswakelas XII di SMAN 1 Batu, sertaskorhasiltesolehsiswapadamateripembelahan sel. Instrumen yang digunakandalampenelitianiniberupaangketdansoalteshasilbelajar. Teknikanalisis data yang digunakanadalahteknikanalisisdeskriptifkualitatifdananalisisstatistikdeskriptif. Produkpenelitian yang dikembangkanberupa multimedia interaktifberformatswf yangdikemasdalambentukCompact Disc (CD). Multimedia interaktif yang dikembangkanmemuatenam menu utama, yaitu 1) menu petunjuk, 2) menu kompetensi3) menu materi4) menu evaluasi, dan 5) menu pengembang. Materi yang terdapatdalam multimedia interaktifadalahmateripembelahansel yang terdiridarimateripembelahansecara amitosis, mitosis, dan meiosis; sertamateri gametogenesis yang terdiridari spermatogenesis, oogenesis, mikrosoporogenesis, danmegasporogenesis. Berdasarkananalisis data, dapatdikatakanbahwamultimediainteraktifmateripembelahanselinitergolong valid, praktis, danefektif. Hal tersebutditunjukkandenganperolehanpersentasepenilaian multimedia interaktifpembelahanselsebesar91,67% olehahlimateri, 85,71% olehahli media, 88,24% oleh guru, dan90,21% olehsiswa.Hasilbelajarsiswapadamateripembelahanselsetelahmenggunakan multimedia interaktifjugatergolongbaik, yang ditunjukkandenganpersentaseketuntasanbelajarsebesar 86,67%.

Laporan praktek otomotip II
disusun oleh Djoko S. Wahyudi

 

Perbedaan kemampuan siswa kelas IV menulis narasi melalui pembelajaran menggunakan gambar seri dan pembelajaran konvensional di SDN Sedarum 1 Pasuruan / Tryanto Zakariyah Faruq

 

ABSTRAK Faruq, Tryanto Zakariyah. 2015. Perbedaan Kemampuan Siswa Kelas IV Menulis Narasi melalui Pembelajaran Menggunakan Gambar Seri dan Pembelajaran Konvensional di SDN Sedarum I Pasuruan. Skripsi, Program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Ruminiati, M.Si, (2) Drs. Sutarno, M.Pd Kata Kunci: Penggunaan Gambar Seri, Menulis Karangan Narasi, Sekolah Dasar. Menulis merupakan salah satu komponen kemampuan berbahasa yang harus dikuasai dengan baik oleh siswa. Melalui menulis, siswa dilatih untuk mengungkapkan perasaan, ide serta gagasan secara tertulis. Penggunaan media gambar seri diharapkan dapat membangun imajinasi dan konsep siswa untuk menulis karangan yang lebih terarah sesuai sajian gambar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk memaparkan ada tidaknya perbedaan kemampuan menulis karangan narasi dengan menggunakan media gambar seri dan pembelajaran konvensional terhadap kemampuan siswa kelas IV dalam menulis karangan narasi di SDN Sedarum 1 Nguling Pasuruan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif yang dilakukan dengan menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasy Experimental Design). Rancangan penelitian ini menggunakan dua kelas untuk dijadikan sampel penelitian. Satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas lainnya sebagai kelas eksperimen. Kelas eksperimen dalam penelitian ini yaitu pembelajaran yang menggunakan media gambar seri (Kelas IVb), sedangkan kelas kontrol tanpa menggunakan media gambar seri (Kelas IVa). Instrumen yang digunakan yaitu tes hasil belajar untuk mengetahui hasil belajar siswa berupa kemampuan menulis karangan. Teknik analisis data yang digunakan berupa uji prasyarat analisis yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis penelitian menggunakan uji t independent (one tailed). Analisis data menunjukkan bahwa rata-rata gain score kelompok eksperimen (25,00) lebih tinggi dari rata-rata gain score kelompok kontrol (15,00). Berdasarkan hasil pengujian hipotesis penelitian yang dibantu dengan program SPSS 21 for windows untuk analisis Compare Means Independent Sampel T Test dengan one tailed, menunjukkan nilai thitung > ttabel (1,932 > 1,683) yang berarti ada perbedaan kemampuan siswa kelas IV dalam menulis karangan narasi melalui pembelajaran menggunakan media gambar seri dan pembelajaran konvensional di SDN Sedarum 1 Nguling Pasuruan. Hasil penelitian ini hendaknya dijadikan bahan tambahan oleh guru untuk mempertimbangkan pemilihan media pembelajaran sebagai upaya meningkatkan mutu suatu pembelajaran di kelas.

Laporan kerja praktek di perusahaan las dan konstruksi CV Nasional Malang
disusun oleh Khoirul Amin

 

Pengaruh konflik kerja terhadap burnout pada karyawan bagian produksi UD. Abadi Lestari Bojonegoro / Tommy Dwi Yulianto

 

Kata kunci: konflik kerja, burnout Karyawan dalam suatu perusahaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam melaksanakan aktivitas. Dalam beraktivitas, karyawan tidak bisa lepas dari kondisi lingkungan kerjanya. Salah satu faktor munculnya burnout pada karyawan adalah sering terjadinya konflik kerja. Penelitian deskriptif kausalitas ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan kondisi konflik kerja karyawan bagian produksi, (2) mendeskripsikan kondisi burnout karyawan bagian produksi, (3) mengetahui pengaruh konflik kerja terhadap burnout karyawan bagian produksi. Penelitian ini menggunakan sampel berjumlah 70 karyawan bagian produksi UD. Abadi Lestari Bojonegoro. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala konflik kerja dan skala burnout. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan melakukan pengklasifikasian pada tingkatan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah, lalu untuk mencari pengaruh konflik kerja terhadap burnout digunakan analisis regresi sederhana dengan program SPSS 14.00. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 5 karyawan memiliki konflik kerja sangat tinggi (7,14%), 22 karyawan tinggi (31,43%), 25 karyawan sedang (35,71%), 14 karyawan rendah (20%) dan 4 karyawan sangat rendah (5,71%). Sedangkan karyawan yang memiliki burnout sangat tinggi 8 karyawan (11,43%), 14 karyawan tinggi (20%), 29 karyawan sedang (41,43%), 17 karyawan rendah (24,29%) dan 2 karyawan sangat rendah (2,86%). Terdapat pengaruh yang signifikan konflik kerja terhadap burnout R2 = 0,19 atau sebesar r = 0,436. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah secara umum konflik kerja yang diterima karyawan adalah sedang. Kemudian dapat dijelaskan secara rinci bahwa hambatan komunikasi, perbedaan sikap dan ketergantungan aktivitas kerja merupakan jenis konflik kerja yang banyak diterima oleh karyawan. Sedangkan burnout secara umum yang diterima karyawan adalah sedang. Kemudian dapat dijelaskan juga bahwa kelelahan emosi dan penurunan prestasi merupakan jenis burnout yang banyak diterima oleh karyawan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap variable konflik kerja dan burnout menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan konflik kerja terhadap burnout karyawan sehingga hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh konflik kerja terhadap burnout diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang disampaikan adalah bagi karyawan dan perusahaan yang sudah mengetahui tentang sindrom burnout, hendaknya lebih memperhatikan kondisi jiwa, sehingga jika mendapati stressor yang menimbulkan burnout dapat melakukan pencegahan.

Laporan study ekskursi pada Pabrik Gula Jatiroto - Prosida Jember - PT CIP Denpasar - PT Patal Tohpati Denpasar - PT Bali Raya/Pronas Denpasar
oleh Sutjipto

 

Pengembangan trainer generator sinkron 1 fasa dilengkapi kendali frekuensi berbasis labview untuk praktikum mesin-mesin listrik di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Yonas Septiyan Putra

 

ABSTRAK Septiyan,Yonas Putra. 2015. Pengembangan Trainer Generator sinkron 1 fasa dilengkapi kendali frekuensi berbasis LabVIEW untuk Praktikum Mesin-Mesin Listrik di Jurusan Elektro Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) M. Rodhi Faiz, S.T.,M.T.,(2) Drs. Hari Putranto Kata kunci:Pengembangan, Trainer Generator Berbasis LabVIEW,frekuensi, Handout dan Jobsheet. Dalam pembelajaran Mesin-Mesin Listrik di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang, pengendalian frekuensi generator menjadi materi penting dalam proses pembelajaran. Materi tersebutdisajikan pada Mata kuliah Teori danMata kuliah Praktikum untuk pengujian generator beban nol dan berbeban. Pengendalian frekuensi yang dibutuhkan (50 Hz), merupakan awal dari keberlangsungan praktikum selanjutnya. Kemudian masalah yang sering terjadi adalah pada pengukuran. Sering kali data yang di ambil melalui alat ukur yang ada mengalami berbagai perubahan, kurang akuran, dan tidak stabil. Data pengukuran diambil satu-persatu. Pengukuran yang dilaksanakan dengan manual, menyebabkan waktu praktikum habis untuk melakukan pengukuran. NI USB 6008 dengan program LabVIEW dapat menjadi salah satu alternatif untuk memecahkan permasalahan yang ada. LabVIEW dapat mengendalikan frekuensi generator secara automatis. LabVIEW juga dapat melakukan multi-monitoring dalam pengambilan data. Data dari LabVIEW yang telah dimonitoring, dapat secara konstan disimpan secara automatis. Pengembangan ini menghasilkan media pembelajaran berupa trainer Generator berbasis LabVIEW untuk Matakuliah Praktikum Mesin-Mesin Listrik serta bahan pembelajaran cetak berupa jobsheet dan handout.Model pengembangan trainer ini menggunakan model pengembangan ADDIE karena terdapat evaluasi disetiap tahapannya sehingga didapatkan produk yang efektif dan efisien. Model pengembangan trainer ini memiliki 5 tahap yaitu: (1) Analisis kebutuhan media pembelajaran Trainer Generator berbasis LabVIEW; (2) Desain media pembelajaran berupa Trainer Generator berbasis LabVIEW; (3) Pengembangan Trainer Generator berbasis LabVIEW; (4) Implementasi Trainer Generator berbasis LabVIEW; (5) Evaluasi di keempat tahap tersebut.Rancangan model pengembangan ini telah sesuai dengankebutuhan peneliti untuk melakukan pengembangan trainer. Berdasarkan hasil uji coba diperoleh persentase dari tiap-tiap subjek uji coba sebagai berikut: (1) persentase skor keseluruhan dari Ahli Media sebesar 96%, (2) persentase skor keseluruhan dari Ahli Materi sebesar 89%, dan (3) persentase skor keseluruhandari uji coba kelompok kecil sebesar 87,5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengembangan trainer Generator berbasis LabVIEW sebagai media pembelajaran Praktikum Mesin-MesinListrik ini layak sebagai media pembelajaran.

Pengembangan model latihan transisi defense ke offense pada ekstrakurikuler bolabasket SMA Negeri 8 Malang / Garry William Dony

 

Kata kunci: Pengembangan, model latihan, transisi defense ke offense bolabasket. Transisi defense ke offense (TDO) adalah situasi pada saat transisi dari keadaan bertahan berubah menjadi ke posisi penyerangan (PERBASI:6). Taktik ini digunakan untuk membuat pertahanan lawan menjadi kacau, karena memiliki pola transisi yang lebih agresif, serta mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan pada tim (turn over) karena memiliki kerjasama tim yang baik (team work). Oleh karena itu, semua pemain di lapangan harus mengerti bagaimana melaksanakan TDO tersebut. Para pemain terbaik mampu meminimalisir kesalahan (turn over) pada saat penyerangan karena memahami konsep peralihan dari defense ke offense. Berdasarkan analisis kebutuhan yang menggunakan instrumen tertutup pada: (1) siswa ekstrakurikuler bolabasket SMA Negeri 8 Malang, (2) Pelatih bolabasket SMA Negeri 8 Malang, tanggal 20-23 Januari 2010. Analisis kebutuhan yang dilakukan pada 20 siswa putra peserta ekstrakurikuler bolabasket SMAN 8 Malang, diketahui siswa perlu dengan latihan TDO sebanyak 18 siswa (90%) dan hanya 2 siswa (10%) yang tidak memerlukan latihan TDO, karena merasa sulit untuk memahaminya. Dalam pertandingan dan sesi latihanpun materi transisi yang diterapkan hanya set offense saja, sedangkan transisi dari defense ke offense yang lengkap jarang diberikan dan digunakan saat pertandingan, dan set offense biasanya mudah dipatahkan lawan. Sehingga banyak sekali yang menginginkan variasi model latihan transisi dari defense ke offense, yaitu sebanyak 20 orang (100%) memerlukan variasi latihan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan latihan set offense saja yang diajarkan dan belum pernah mendapat latihan transisi defense ke offense (TDO), akibatnya saat melawan tim yang kuat mereka tidak dapat menyeting ulang serangan (set offense), dan dapat dengan mudah dibaca oleh lawan karena memiliki satu macam peralihan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model latihan transisi defense ke offense (peralihan dari bertahan ke penyerangan) untuk siswa putra yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 8 Malang. Sehingga siswa dapat dengan mudah mempelajari latihan transisi defense ke offense dengan baik dan benar. Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan Research and Development yang dikemukakan oleh Borg dan Gall, yang telah dimodifikasi oleh peneliti. Prosedur penelitian pengembangannya adalah sebagai berikut: (1) Kegiatan pengumpulan informasi yakni, penyebaran kuesioner. (2) Men-gembangkan produk awal (peneliti mengembangkan buku model latihan Transisi defense ke offense). (3) Kegiatan evaluasi ahli (dua ahli pengembangan bolabasket dan satu ahli kepelatihan bolabasket). (4) Revisi produk awal, revisi berdasarkan evaluasi para ahli. (5) Uji coba tahap I (kelompok kecil) dilakukan dengan melibatkan 10 subjek. (6) kegiatan uji coba tahap II (kelompok besar) dengan melibatkan 20 subjek, (7) Hasil akhir, produk pengembangan model latihan transisi defense ke offense bolabasket putra SMA Negeri 8 Malang. Pengumpulan data untuk data evaluasi ahli berupa kuesioner untuk: (1) dua orang pengembangan bolabasket dan (2) satu orang ahli kepelatihan bolabasket. Untuk mendapatkan data uji coba kelompok kecil subjeknya 10 mahasiswa dan uji coba kelompok besar subjeknya 20 siswa, peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa instrumen yang disajikan dalam bentuk kuesioner/angket. Pada pengembangan transisi defense ke offense bolabasket teknik yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian adalah teknik persentase. Hasil penelitian model pengembangan diperoleh hasil sebagai berikut: (1) ahli bola basket yaitu 97,91% (baik), (2) Uji coba tahap I (kelompok kecil) yaitu 92,42% (valid), (3) Uji coba tahap II (kelompok besar) yaitu 98.7% (baik). Hasil pengembangan ini berupa model latihan transisi defense ke offense yang dikemas berupa buku model latihan. Lengkap dengan keterangan gambar dan petunjuk pelaksanaan. Diharapkan hasil ini dapat diuji cobakan kepada lingkup yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah lain dan perguruan tinggi sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Laporan study excursi di Jawa Timur
disusun oleh Darmason Saragih

 

Tanggapan mahasiswa terhadap fungsi penasehat akademik pada Prodi SI Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang / Ni Nyoman Reza Laksmianisari

 

ABSTRAK Laksmianisari, Ni Nyoman Reza. 2015. Tanggapan Mahasiswa Terhadap Fungsi Penasehat Akademik Pada Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si, (II) Dra Nurul Aini, M.Pd. Kata Kunci: Tanggapan, Fungsi Penasehat Akademik, Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Perguruan Tinggi diharapkan dapat menyediakan Penasehat Akademik (PA) untuk membantu mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Penasehat Akademik (PA) adalah dosen yang ditunjuk dan diserahi tugas membimbing sekelompok mahasiswa yang bertujuan untuk membantu mahasiswa menyelesaikan studinya secepat dan seefisen mungkin sesuai dengan kondisi dan potensi individual mahasiswa. Sejak diberlakukannya Kartu Rencana Studi (KRS) secara Online mahasiswa dapat mengakses KRS lebih mudah dan cepat di mana pun mereka berada, tanpa harus mengantri di Perguruan Tinggi setempat. Hal tersebut menyebabkan pembinaan, bimbingan, penyuluhan maupun pengarahan terhadap mahasiswa kurang berjalan secara maksimal. Dosen PA harus membuka website UM di siakad untuk mengetahui prestasi mahasiswa setiap semester yang mendapatkan IP kurang baik atau sebaliknya, sehingga tidak ada komunikasi langsung antara dosen Penasehat Akademik dengan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan tahun 2011/2012, 2012/2013 dan 2013/2014 dengan sampel sejumlah 101 yang menggunakan teknik sampling simple random sampling Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sub variabel Membimbing mahasiswa agar studi selesai tepat waktu memperoleh persentase sebanyak 45,5% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang membimbing dan menasehati mahasiswa, (2) Sub variabel Membantu mahasiswa dalam menyelesaikan masalah akademik dan non akademik memperoleh persentase sebanyak 39,6% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang menasehati dan membantu mahasiswa (3) Sub variabel Memberi nasehat dan persetujuan terhadap mahasiswa yang IP nya kurang dari 2,00 memperoleh persentase sebanyak 49,5% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang dalam memberi nasehat (4) Sub variabel Menyerahkan penanganan mahasiswa yang mengalami masalah kepada konselor memperoleh persentase sebanyak 44,6% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang menyerahkan penanganan mahasiswa, (5) Sub variabel Memberikan konsultasi perencanaan studi kepada mahasiswa memperoleh persentase sebanyak 39,6% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang memberikan konsultasi. Berdasarkan ke 5 sub variabel fungsi Penasehat Akademik, kesimpulan tersebut tidak dapat digeneralisasikan pada semua dosen Penasehat Akademik di Teknologi Industri atau ke 6 dosen Penasehat Akademik pada angkatan tahun 2011/2012, 2012/2013 dan 2013/2014, karena teknik sampling yang digunakan tidak tepat sehingga ada kelemahan-kelemahan. Saran yang diberikan pada penelitian ini yaitu, hendaknya meskipun registrasi diberlakukan secara online, dosen PA sebaiknya tetap mengadakan komunikasi secara langsung minimal 1 (satu) kali dalam satu semester, sehingga dapat memantau dan menasehati mahasiswa, agar prestasi belajarnya selalu dalam kondisi terjaga, untuk mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap fungsi Penasehat Akademik pada Prodi S1 Pendidikan Tata Busana secara keseluruhan, sebaiknya lebih teliti dalammenggunakan teknik sampling sehingga tidak terjadi kelemahan-kelemahan. dan bagi peneliti lain, diharapkan dapat meneliti tentang fungsi dosen Penasehat Akademik tentang “Membuat rekam jejak dari proses kepenasehatan selama masa studi masing-masing mahasiswa bimbingan.  

Laporan study eksksursi pada pabrik gula Jatiroto - Prosida Jember - pengalengan ikan PT CIP Denpasar Bali - pemintalan benang Patal Tohpati Bali - pengalengan ikan PT Bali Raya Bali
oleh Any Asmoro

 

Laporan kuliah kerja
oleh Sitono Alhuda

 

Pengaruh penggunaan model pembelajaran inquiry laboratory terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pokok bahasan suhu dan kalor SMAN 1 Kesamben / Ledyanita Chandra

 

ABSTRAK Chandra, Ledyanita. 2015. Pengaruh PenggunaanModelPembelajaranInquiry Laboratory terhadapKemampuanBerpikirKritisPesertaDidikpadaPokokBahasanSuhudanKalor SMAN 1 Kesamben. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. KadimMasjkur, M.Pd., (2) Dr. Muhardjito, M.S. Kata Kunci: inquiry laboratory, berpikirkritis Model pembelajaran berbasis pada penyelidikan ilmiah diperlukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis secara optimal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui pembelajarandengankegiatan eksperimen.Eksperimen yang dilaksanakan dalam pembelajaran menggunakan model Direct Instruction belum bersifat mandiri. Salah satu solusi yang mampumeningkatkankemampuanberpikirkritispesertadidikadalahInquiry Laboratory.Tahapeksperimenpada pembelajaranInquiry Laboratorymemberikanpengalamanlangsungdanmelatihkemandirianpesertadidik.Tujuan penelitian ini adalah mengetahuiapakah kemampuan berpikir kritis peserta didikpada pokok bahasan suhu dan kalor di SMAN 1 Kesamben yang mengikuti model pembelajaran Inquiry Laboratory lebih tinggi daripada model pembelajaran Direct Instruction. Penelitian ini merupakan penelitian quasy experiment dengan rancangan eksperimen Posttest Only Control Group Design.Data penelitian ini adalah skor kemampuanberpikirkritis fisikasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Inquiry Laboratorydan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan cara Direct Intruction. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik pemberian post test. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa soal tes yangtelah diujicobakan dan dianalisis. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas varian, dan uji-t. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh bahwa data skor post test terdistri-busi normal, memiliki varians homogen, danmemiliki nilai thitung= 2,17> 1,66 (t74;.05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuanberpikirkritis fisika pesertadidik kelas X SMAN 01Kesamben yang belajarfisika dengan model Inquiry Laboratorylebih tinggi daripada yang belajar dengan cara Direct Instruction.

Penerapan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan keterampilan metakognitif dan berpikir siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Malang / Fadhiah Isna

 

Kata kunci: cooperative Script, keterampilan metakognitif, keterampilan berpikir Aspek yang harus dikembangkan dalam diri siswa yakni keterampilan metakognitif dan keterampilan berpikir siswa. Siswa dengan keterampilan metakognitif yang baik akan mampu menjadi pebelajar yang mandiri. Siswa mampu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam kegiatan belajarnya sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir yang baik tentunya materi akan dapat dicerna dengan baik dan siswa akan lebih mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu diterapkan strategi pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan keterampilan metakognitif dan keterampilan berpikir siswa. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA 4 semester genap tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 1 Malang yang berjumlah 36 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2010. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi kegiatan guru, catatan lapangan, tes keterampilan metakognitif, dan tes keterampilan berpikir. Keterampilan metakogitif siswa diukur dari jawaban siswa yang diskor dengan rubrik. Keterampilan berpikir diukur dari jawaban siswa yang diskor dengan rubrik dan nonrubrik/konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan metakognitif siswa pada siklus I sebesar 48,49; pada siklus II sebesar 68,69; dan pada siklus III sebesar 73,70. Persentase peningkatan keterampilan metakognitif dari siklus I ke siklus II sebesar 41,66%, dan dari siklus II ke siklus III sebesar 7,29%. Rata-rata keterampilan berpikir siswa pada siklus I adalah 39,35; pada siklus II menjadi 44,14; dan pada siklus III sebesar 66,61. Persentase peningkatan keterampilan berpikir dari siklus I ke siklus II sebesar 12,17%, dan dari siklus II ke siklus III sebesar 50,91%. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan keterampilan metakognitif dan keterampilan berpikir siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Malang. Disarankan hendaknya peneliti memperhatikan alokasi waktu yang digunakan sehingga pelaksanaan pembelajaran berlangsung secara efisien. Pemberdayaan keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikir siswa hendaknya dilakukan secara terus menerus dan terencana pada pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru bidang studi ataupun peneliti yang lain untuk menerapkan strategi tersebut.

Laporan kerja nyata I teknologie mekanik
oleh Priyono, Lugito

 

Pengaruh model pembelajaran learning cycle 5E terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran mekanika teknik keahlian teknik gambar bangunan SMK Negeri 1 Nganjuk / Ananda Putri Vitaningrum

 

ABSTRAK Vitaningrum, AnandaPutri. 2015. PengaruhModel Pembelajaran Learning Cycle 5E terhadapHasilBelajarSiswaPadaMata PelajaranMekanikaTeknikKeahlianTeknikGambarBangunan SMK Negeri 1 Nganjuk. Skripsi, JurusanTeknikSipil, Program Studi S1 PendidikanTeknikBangunan, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. R.M. Sugandi, S.T., M.T.(II)Drs. Sutrisno, S.T., M.Pd. Kata kunci: learning cycle 5E, hasilbelajar, Learning Cycle 5Emerupakansalahsatu model pembelajarandenganpendekatankonstruktivissehinggapembelajaranberpusatpadasiswa.Penelitianinibertujuanuntuk (1) mengetahuihasilbelajarmatapelajaranmekanikateknikmenggunakan model pembelajaranLearning Cycle 5Edan(2) mengetahuipeningkatanhasilbelajarmatapelajaranmekanikateknikmenggunakan model pembelajaranLearning Cycle 5E. Metodepenelitian yang digunakanyaituPre-Experimental Design, dengandesainIntact-Group Comparison.Penelitiandilakukan di SMKNegeri 1 Nganjukdenganmenggunakanduakelasyaitukelas X TGB1sebagaikelaseksperimendankelas X TGB 2sebagaikelaskontrol. KelaseksperimendiberiperlakuanyaitupenerapanpembelajaranLearning Cycle 5Edankelaskontrolpembelajarankonvensional. Data hasilbelajardianalisisdenganujiprasyaratyaituujinormalitasdanujihomogenitas, kemudiandilanjutkandenganujihipotesisdenganuji T atauIndependent sample T-testmenggunakanSPSS 20.0 for windows. HasilpenelitianmenunjukkanpembelajaranLearning Cycle 5Edapatmeningkatkanhasilbelajarsiswapadamatapelajaranmekanikatekniksecarasignifikan.Hal iniditunjukkanolehreratahasilbelajarsiswadenganpembelajaranLearning Cycle 5Elebihtinggidibandingkanpembelajarankonvensional. Perolehannilaikognitifsiswa di atas KKM sebesar 75% untukkelaseksperimen, sedangkan 27% untukkelaskontrol. Saran untukguru hendaknya model pembelajaranLearning Cycle 5Editerapkanpadamatapelajaranmekanikateknikkarenadapatmenciptakansuasanabelajar yang tidakmembosankandanmenjadikansiswalebihaktif.Sekolahhendaknyamengadakanpelatihantentang model pembelajaranuntukmenciptakankondisibelajar yang lebihefektif, salahsatunyaadalahLearning Cycle 5E.Bagipenelitilanjutan,disarankanmemilihmatapelajaranlain,misalnyamatapelajaranteoridanpraktikum.Learning Cycle 5Ecocokdigunakanuntukmatapelajarandengandurasiwaktu lama.

Pelaksanaan penggunaan atribut produk pada divisi fresh department ready to eat (RTE) di Giant Gajayana Malang / Arif Yuni Setiawan

 

Keyword: Execution Of Usage of Attribute Product. Product element and product strategy represent especial priority which is is absolute to be mastered by a marketing, under colour of the expected by a marketing can know desire of consumer or market given the what consumer will buy and why the consumer buy an product. So that can gratify all consumer at the same time can improve sale to yield company profit on a long term. This writing aim to for the description of product strategy which in using Unlucky Giant Gajayana of Division of Fresh Department of RTE ( Ready To Eat), there are three problem of which studied that is: ( 1) How execution of product strategy ( Product classification, quality of product, brand, tidiness, guarantee and lable) at Division of Fresh Departmental of RTE ( Ready To Eat) ( 2) Problems what pursuing product strategy at Division of Fresh Departmental of RTE ( Ready To Eat) in Unlucky Giant Gajayana ( 3) How trouble-shooting alternative exist in Division of Fresh Department of RTE ( Ready To Eat) in Unlucky Giant Gajayana. Executed by Product strategy is Unlucky Giant Gajayana of Division of Fresh Department of RTE ( Ready To Eat), covering: classification of product, quality of product, brand, tidiness of guarantee and lable. Problems pursuing product strategy at Division of Fresh Department of RTE ( Ready To Eat) in Unlucky Giant Gajayana: often happened delay of delivery of fish product and vegetable, many product of nyang easy decay and destroy, less room broadness of cold storage, existence of overcharged product ascription and to the number of competitor. Trouble-Shooting alternative pursuing product strategy at Division of Fresh Department of RTE ( Ready To Eat) in Unlucky Giant Gajayana that is: delivery of correct supplier of time, creating salesman which quickly and sprier in handling damage at vegetable and fish, adding wide of storage cold, performing a promotion writing down is Cheap of once and use certain methods which do not have by competitor. Conclusion of which can taken by writer is execution of executed by product strategy is Unlucky Giant Gajayana of Division of Fresh Department of RTE ( Ready To Eat) in this time have walked better, the mentioned proven by existence of classification of product, brand, tidiness, lable. Strategy which have been used by Unlucky Giant Gajayana at Division of Fresh Department of RTE ( Ready To Eat) in make-up of sale also have done well with existence of execution of analysis of requirement location,consumer, price, quality of promotion and product. Told by suggestion is writer for example: [conducting] market research step by step in checking its shop so that can give satisfaction at targeted buyer, ordering of order shall be considered , in order not to happened heaping of vegetable and fish, depository at storage cold shall be paid attention the problem of heap and employees shall be more check to a period to product expaide and research to damage product

Laporan studi ekskursi
disusun oleh Muhammad Faizal

 

Pengembangan multimedia interaktif berbasis flash untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran sistem imun untuk kelas XI SMA / Bayu Putra Suhartono

 

ABSTRAK Suhartono, Bayu Putra. 2015. Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Flash untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Sistem Imun Untuk Kelas XI SMA. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Endang Suarsini, M.Ked., (2) Dra. Amy Tenzer, M.S. Kata Kunci: penelitian dan pengembangan, multimedia interaktif, sistem imun, dan hasil belajar. Sistem imun merupakan salah satu materi dalam pembelajaran biologi kelas XI SMA. Berdasarkan hasil observasi diperoleh permasalahan terkait ketiadaan media yang tepat pada pembelajaran sistem imun di SMAN 2. Materi sistem imun yang cenderung abstrak tanpa bantuan media pembelajaran yang tepat menimbulkan permasalahan pada hasil belajar yang diperlihatkan dari rerata nilai yang berada di bawah kriteria kelulusan minimal dan ketuntasan belajar klasikal yang hanya mencapai 64%. Media pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dalam kegiatan pembelajaran. Jenis media pembelajaran sangat banyak tidak terkecuali media pembelajaran yang berbasis komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan multimedia interaktif berbasis flash materi sistem imun serta menguji validitas, kepraktisan, dan keefektifan media pembelajaran. Penelitian ini mengadaptasi model penelitian pengembangan Borg and Gall 1983 yaitu hanya menggunakan 7 tahapan dari 10 tahapan yang ada. Uji coba lapangan tahap awal dilakukan oleh validator ahli media, ahli materi, dan ahli praktisi lapangan untuk mengetahui tingkat kelayakan media. Uji coba lapangan utama dalam penelitian ini dilaksanakan di kelas XI MIA 2 SMAN 2 kota Probolinggo pada semester genap tahun ajaran 2014/2015 untuk mengetahui tingkat kepraktisan dan keefektifan media. Berdasarkan hasil uji validasi oleh ahli media, ahli materi dan praktisi lapangan dapat disimpulkan media memerlukan revisi pada suara, petunjuk pemanfaatan, dan penambahan materi.. Hasil analisis uji kepraktisan menunjukkan persentase sebesar 92,7% sehingga dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif ini sangat praktis. Hasil analisis uji keefektifan menunjukkan peningkatan rerata hasil belajar ranah pengetahuan maupun ketuntasan belajar klasikal dibandingkan sebelum penelitian. Rerata hasil belajar ranah pengetahuan mengalami peningkatan dari 74 menjadi 84,6 dan ketuntasan belajar klasikal dari 64% menjadi 90% sehingga dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif ini efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran sistem imun.

Laporan study ekskursi
oleh Willem Loemau

 

Penerapan pelayanan yang berkualitas sebagai strategi untuk menciptakan kepuasan nasabah Bank Jatim Cabang Utama Surabaya tahun 2006 / oleh Danny Erry Priandhika

 

Kata Kunci: Layanan Purna Jual, Kepuasan Konsumen Setelah proses pembelian, konsumen tidak hanya berakhir pada proses konsumsi, tetapi juga membutuhkan pelayanan setelah pembelian yang dapat menentukan kepuasan dan ketidakpuasan konsumen atas produk yang dibeli. Layanan purna jual adalah fasilitas yang diberikan produsen kepada konsumen setelah proses pembelian produk, yang meliputi pengiriman barang, garansi, fasilitas perbaikan/servis dan fasilitas jasa konsultasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui adakah pengaruh layanan purna jual terhadap kepuasan konsumen sepeda motor Bajaj Pada PT. Bajaj Mitra Sukses Abadi Cabang Malang baik secara parsial atau simultan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif. Namun demikian prosesnya diawali dengan pengumpulan data secara kualitatif selanjutnya dilakukan pengolahan dengan memberikan skor terhadap setiap jawaban responden, sehingga menghasilkan data kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen PT. Bajaj Mitra Sukses Abadi Cabang Malang dalam kurun waktu Mei 2011 sampai dengan Oktober 2011 yang berjumlah 497 orang. Tehnik pengambilan sampel menggunakan purposive random sampling dengan jumlah sampel 100 orang. Sebelum instrument penelitian disebar, dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas untuk mengetahui apakah instrumen valid dan reliable terhadap variabel yang diteliti Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda yang akan menguji hipotesis yang menyatakan ada pengaruh secara parsial maupun simultan antara variabel bebas yaitu Layanan Purna Jual (penyerahan barang, garansi, fasilitas perbaikan/servis, dan fasilitas jasa konsultasi) dengan variabel terikat yaitu kepuasan konsumen. Hasil dari penelitian ditemukan pengaruh secara parsial antara (1) peyerahan barang terhadap kepuasan konsumen, (2) garansi terhadap kepuasan konsumen, (3) fasilitas perbaikan/servis terhadap kepuasan konsumen, (4) fasilitas jasa konsultasi terhadap kepuasan konsumen. Dan berpengaruh secara simultan antara purna jual terhadap kepuasan konsumen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh baik secara parsial maupun simultan layanan purna jual terhadap kepuasan konsumen. Dan variabel yang paling dominan mempengaruhi kepuasan konsumen adalah fasilitas perbaikan/servis.

Pengembangan bahan ajar menulis kreatif naskah drama dengan teknik pemodelan untuk siswa SMP / Dian Indria Sari

 

Kata kunci: menulis, bahan ajar, naskah drama, pemodelan. Menulis naskah drama merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa SMP. Melalui pembelajaran menulis naskah drama, siswa dapat mengembangkan kreativitas yang bersifat imajinatif dan reflektif untuk menghasilkan sebuah karya sastra yang dapat diapresiasi. Namun, pembelajaran menulis naskah drama merupakan pembelajaran yang kurang diminati oleh siswa SMP. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah belum tersedianya bahan ajar yang mendukung proses pembelajaran. Bahan ajar dibutuhkan siswa untuk mengatasi hambatan belajar dan membantu kelancaran pembelajaran menulis naskah drama secara mandiri serta memfasilitasi guru untuk menunjang keberhasilan dalam pembelajaran. Tujuan penelitian ini secara umum adalah menghasilkan produk berupa bahan ajar menulis kreatif naskah drama dengan teknik pemodelan untuk siswa SMP. Adapun tujuan khususnya adalah (1) menghasilkan bahan ajar cetak menulis kreatif naskah drama yang memuat teori, contoh, dan evaluasi dengan teknik pemodelan untuk memudahkan siswa belajar mandiri dan (2) menghasilkan bahan ajar cetak menulis kreatif naskah drama yang memuat proses dan langkah kreatif menulis naskah drama dengan memperhatikan kemenarikan penyajian, bahasa, dan kegrafikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diadaptasi dari model desain pembelajaran Borg and Gall (1983). Berdasarkan model tersebut, penelitian ini terdapat empat tahap prosedur penelitian, yakni (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba produk, dan (4) tahap revisi. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap prapengembangan. Selanjutnya produk hasil pengembangan diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yaitu melalui (1) ahli penulisan kreatif naskah drama, (2) ahli pembelajaran sastra, (3) guru bahasa Indonesia, dan (4) uji kelompok kecil siswa yang terdiri atas 43 siswa. Data dalam penelitian ini berupa data verbal dan data nonverbal. Data verbal dibedakan menjadi data tulis dan data lisan. Data tulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi lisan ketika wawancara langsung. Data nonverbal yakni berupa data numerik atau skor yang diperoleh dari hasil uji coba angket penilaian dari ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Instrumen yang digunakan dalam pengambilan data adalah kuesioner dan pedoman wawancara bebas. Data hasil uji coba dianalisis dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian; (2) mentranskrip data verbal lisan; (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasi data verbal tulis dan verbal lisan berdasarkan kelompok uji; dan (4) menganalisis data serta merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan, apakah harus direvisi atau diimplementasikan. Perbaikan dilakukan berdasarkan saran dan masukan dari ahli yang disampaikan secara lisan dan tulisan. Produk yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah bahan ajar menulis kreatif naskah drama, dengan penggunaan model atau contoh yang berhubungan dengan materi dan aktivitas pembelajaran untuk dilakukan siswa, sehingga dapat ditiru, diadaptasi, atau dimodifikasi. Adapun deskripsi isi bahan ajar menulis kreatif naskah drama meliputi (1) teori menulis naskah drama, (2) contoh naskah drama, dan (3) evaluasi berupa latihan-tahian dalam menulis naskah drama yang disesuaikan dengan SK KD dan tujuan pembelajaran. Sistematika penyajian bahan ajar meliputi (1) pendahuluan, (2) bagian inti, dan (3) bagian penutup. Penggunaan bahasa dalam bahan ajar memperhatikan keterbacaan siswa, tata bahasa yang benar, struktur kalimat yang sederhana, singkat, jelas, dan memotivasi. Tampilan bahan ajar memperhatikan jenis dan ukuran huruf, penataan halaman, dan ilustrasi isi. Hasil uji bahan ajar menulis kreatif naskah drama berdasarkan aspek deskripsi isi bahan ajar menunjukkan rata-rata kelayakan sebesar 85%, aspek sistematika bahan ajar menunjukan rata-rata kelayakan sebesar 92%, aspek kebahasaan bahan ajar menunjukan rata-rata kelayakan sebesar 89%, dan aspek tampilan bahan ajar menunjukan rata-rata 88%. Keempat hasil uji tersebut menunjukkan bahan ajar tergolong layak dan siap diimplementasikan, namun pada aspek-aspek tertentu juga perlu dilakukan revisi. Data verbal dari ahli menitikberatkan pada aspek tampilan, dari kompenen kombinasi warna dan tampilan gambar yang masih kurang mendukung dalam memahami teori yang ada dan aspek deskripsi isi bahan ajar dari teori, contoh dan latihan masih kurang sesuai denagn kebutuhan siswa SMP, sehingga perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan karakteristik siswa SMP. Data verbal dari siswa adalah bahan ajar secara keseluruhan bagus, tetapi masih kurang menarik mereka untuk menulis. Berdasarkan data verbal tersebut, peneliti merevisi aspek tampilan bahan ajar. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan menggunakan bahan ajar ini pada pembelajaran menulis naskah drama sebagai salah satu alternatif sumber/bahan belajar bagi siswa. Selain guru, siswa juga disarankan memanfaatkan bahan ajar ini dalam pembelajaran menulis naskah drama dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran menulis naskah drama dalam bahan ajar. Bagi peneliti lain prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi reverensi untuk melakukan penelitian serupa. Selanjutnya, bahan ajar ini dapat disebarluaskan dalam forum MGMP, ditulis dalam jurnal penelitian, dan diusahakan dapat diterbitkan dalam jumlah yang lebih banyak.

Pengembangan paket bimbingan keterampilan sosial bagi siswa sekolah menengah kejuruan / Moh. Ramadhan Afif

 

Kata kunci: paket bimbingan, keterampilan sosial, siswa SMK Fenomena kurangnya penguasaan siswa SMK terhadap keterampilan sosial menyebabkan siswa kesulitan dalam penyesuaian dengan lingkungan sekitarnya. Padahal penyesuaian sosial merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai oleh remaja. Jika tidak segera diatasi, akan berpengaruh pada optimalisasi perkembangannya. Oleh sebab itu, konselor perlu membantu siswa untuk mengembangkan dan meningkatkan keterampilan sosial. Tujuan pengembangan ini adalah untuk menghasilkan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial yang bermanfaat, mudah untuk digunakan dan dipahami, serta akurat sesuai dengan tugas perkembangan bagi siswa SMK. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengadaptasi langkah-langkah pengembangan dari Borg & Gall (1983) yang terdiri dari tahap perencanaan, tahap pengembangan produk, dan tahap uji coba. Subjek uji coba adalah ahli bimbingan dan calon pengguna produk. Data dikumpulkan melalui format penilaian uji ahli dan uji calon pengguna produk berupa skala penilaian. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dengan analisis persentase dan data kualitatif dengan analisis deskriptif. Produk yang dihasilkan dari pengembangan ini adalah Paket Bimbingan Keterampilan Sosial Bagi Siswa SMK yang terdiri atas (1) panduan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial untuk konselor; dan (2) materi bimbingan keterampilan komunikasi sosial untuk siswa, yang terdiri dari lima topik yaitu: membuka diri, mengekspresikan perasaan secara verbal dan nonverbal, mendengarkan dan menanggapi, mengungkapkan pendapat, serta mempresentasikan diri. Hasil pengembangan menunjukkan tingkat kebermanfaatan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial pada aspek kebermanfaatan adalah sangat bermanfaat dengan persentase rata-rata 90% (uji ahli) dan 91,25% (uji calon pengguna produk). Pada aspek kemudahan adalah sangat mudah dengan persentase rata-rata 80,5% (uji ahli dan calon pengguna produk). Pada aspek keakuratan diperoleh persentase rata-rata 79,1% (uji ahli dan calon pengguna produk). Artinya persentase rata-rata berada pada kriteria akurat. Sesuai hasil penilaian ahli isi dan rancangan serta penilaian calon pengguna produk, terdapat beberapa komponen paket yang harus direvisi, yaitu: (1) Tujuan khusus hendaknya berupa perilaku yang dikuasai siswa, bukan berupa kegiatan. Misalnya: “mempraktikkan cara mempresentasikan diri dengan tepat” diganti dengan “mempresentasikan diri dengan tepat”, (2) Tulisan yang berwarna mencolok, seperti: pink atau cygan, sebaiknya diganti dengan warna yang lebih “meneduhkan” siswa. Karena pemilihan warna yang sangat kontras bisa mengakibatkan kelelahan dan kerusakan mata pembaca, (3) Tujuan khusus antar ii topik harus konsisten. Karena terdapat beberapa kalimat dalam tujuan khusus salah satu topik yang belum sinkron dengan kalimat dalam tujuan khusus topik yang lain, (4) Sebaiknya menggunakan bahasa yang baku dalam penulisan materi bimbingan maupun buku panduan konselor, (5) Sebaiknya diberi kata pengantar untuk buku panduan bagi konselor. Karena dapat mempermudah konselor dalam memahami bahasan yang ingin disampaikan, sehingga berdampak pula dalam penguasaan materi oleh siswa, (6) Menyeragamkan gambar yang ada. Jika di halaman depan menggunakan gambar, maka untuk halaman selanjutnya harus terdapat beberapa gambar pendukung yang sesuai dengan topik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang diberikan adalah: (1) konselor harus benar-benar memahami prosedur bimbingan dan materi bimbingan agar siswa dapat mencapai tujuan bimbingan yang dikehendaki, (2) isi paket dapat dilakukan revisi secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan akan langkah-langkah bimbingan yang lebih tepat dan terperinci, (3) bagi peneliti selanjutnya, perlu dilakukan uji lapangan yang melibatkan siswa, agar diketahui keefektifan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial ini, (4) perlu dikembangkan Paket Bimbingan Keterampilan Sosial pada populasi penelitian yang lebih luas baik dari tingkatan sekolah maupun ragam sekolah.

Laporan studi ekskursi pada PT PG Jatiroto, Prosida, PT Cip, PT Patal Tohpati, PT Bali Raya
disusun oleh I Ketut Suandi

 

Laporan praktek kerja di bengkel Gajah Mada Malang
disusun oleh Djoko Sugiono

 

Pengaruh tata ruang kantor terhadap kinerja pegawai (studi pada pegawai Kantor Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Malang) / Yoka Arif Wicaksono

 

ABSTRACT Keywords: Spatial Planning Office, Employee Performance. Administrative office space is one factor that contributed to determining whether an activity to pass on each organization in achieving its objectives. Spartial arrangement of good offices will encourage good employee performance as well. This study aimed to describe the objective conditions in the office of an office layout in Malang Regency BPAD. In addition to analyzing the partial and simultaneous influence of the office layout to employee performance This study has two variables, namely the independent variable office layout (X), which includes spatial planning office (X1), office settings (X2), environmental and physical condition of the office layout (X3), while the dependent variable is employee performance (Y ). The method used was descriptive correlational, because this study intended to obtain a description of the variables studied. Data obtained using observations, questionnaires, documentation, and interviews. The population in this study were employees in the office of Malang Regency BPAD numbering 30 people. The results of this study, based on frequency distribution analysis the majority of respondents stated that spatial planning office (X1) in Malang Regency BPAD office in good condition at 86.6%. Most respondents stated that office settings (X2) in Malang Regency BPAD office in good condition at 76.67%. Most respondents stated that the environmental and physical condition of the office layout (X3) in Malang Regency BPAD office in very good condition for 76.66%. Most respondents stated that employee performance (Y) in Malang Regency BPAD office in very good condition for 63.33%. From the results of multiple regression analysis using standard error 0.05. Partially spatial planning office (X1), obtained significance is 0.730 t> 0.05. This means there is no significant effect between spatial planning office (X1) to employee performance (Y). Partially office settings (X2), obtained by the significance of t is 0.000 <0.05. This means there is significant influence between office settings (X2) to employee performance (Y). Partially environmental and physical conditions of good office space (X3), obtained by the significance of t is 0.000 <0.05. This means there is significant influence between environments and physical conditions of the office layout (X3) on staff performance (Y). T simultaneously acquired significance is 0.000 <0.05. This means there is significant influence between the layout of office space (X) to employee performance (Y). While the numerical value Adjust R Square shows the coefficient of determination equal to 0.625. In this case means 62.5% change in employee performance variable (Y) is caused by changes in office space planning variables (X1), office settings (X2), environmental and physical condition of the office layout (X3), while the remaining 37.5 % caused by other factors beyond the existing variables in this study. From exposure data above we can conclude that the spatial variables significantly influence the performance of office employees in the office of Malang Regency BPAD. From the above conclusions are expected in the future to further improve the condition of the office layout so that the performance of employees has also increased in the end. Spartial planning office in Malang Regency BPAD office space expansion is necessary to hold the room. This can be done by building additional office space so vast that there is room in turn expected to be suitable and meet the needs of employees in their work. It is also hoped that the office layout was in good condition can be maintained and done revamping the existing shortcomings in the existing office layout. Office space in order to reach maximum efficiency.

Laporan praktek kerja nyata di PT Faroka SA Malang dari tgl. 4 Desember 1978 s/d 4 Pebruari 1979
disusun oleh Muhammad Faizal

 

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar akuntansi siswa-siswi kelas XI IPS 1 di MAN 3 Malang / Safira Madanisa

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Jigsaw, Hasil Belajar Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh penulis di MAN 3 Malang, diketahui bahwa metode pembelajaran yang masih digunakan oleh guru adalah metode pembelajaran konvensional, yaitu ceramah, tanya jawab, diskusi kelompok, dan pemberian tugas. Model pembelajaran seperti ini masih belum memberikan hasil yang maksimal terhadap hasil belajar siswa. Selama proses pembelajaran berlangsung siswa menjadi semakin bosan dan cenderung memiliki sikap yang pasif selama pembelajaran. Oleh karena itu, melalui penelitian ini penulis berusaha untuk dapat menghidupkan suasana kelas menjadi lebih aktif sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran yang menarik dan jarang atau bahkan tidak pernah digunakan oleh guru selama proses pembelajaran sebelumnya. Model pembelajaran yang digunakan penulis dengan tujuan-tujuan tersebut adalah metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Melalui model pembelajaran seperti Jigsaw siswa dilatih untuk saling bekerjasama dengan berbagai orang yang berbeda, mendengarkan dan menghargai pendapat teman, saling berinteraksi dan berkomunikasi antar siswa, serta berlatih untuk bertanggung jawab terhadap penguasaan materi yang telah disajikan kepadanya. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw ini bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa dalam penerapan pembelajaran Akuntansi dengan materi Jurnal Umum. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan di mana masing-masing terdiri dari 2x45 menit setiap pertemuannya. Siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2009 dan 24 Oktober 2009, sedangkan siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 7 November 2009 dan 14 Oktober 2009. Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI IPS 1 MAN 3 Malang pada semester ganjil tahun ajaran 2009/2010. Jumlah siswa yang ada pada kelas tersebut sebanyak 27 orang dengan rincian 13 orang siswa perempuan dan 14 orang siswa laki-laki. Data yang diambil berupa peningkatan hasil belajar siswa. Data tersebut diambil dengan cara menggunakan pre-test untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum diberikan tindakan dan post-test untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberi tindakan di setiap siklusnya untuk mendapatkan hasil belajar secara kognitif, dan pengamatan terhadap sikap dan keterampilan siswa selama proses pembelajaran berlangsung untuk mendapatkan hasil belajar secara afektif dan psikomotorik. Hasil penelitian menunjukkan data mengenai hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Sebelum diberikan tindakan, nilai pre-test menunjukkan ketuntasan belajar klasikal 27,28%. Setelah diberi tindakan pada siklus pertama, nilai post-test I menunjukkan ketuntasan belajar klasikal 61,53%, sedangkan setelah diberi tindakan pada siklus kedua, nilai post-test II diperoleh dengan ketuntasan belajar klasikal 95,83%. Untuk nilai afektif pada siklus I diperoleh rata-rata nilai sebesar 69,93 dan pada siklus II menunjukkan peningkatan menjadi 86,60. Sedangkan nilai psikomotorik siswa pada siklus I menunjukkan rata-rata 73,40, dan pada siklus II menunjukkan peningkatan menjadi 90,70. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka disarankan kepada para guru akuntansi agar menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini pada materi akuntansi berikutnya.

Laporan praktek kerja pada proyek pengembangan pendidikan guru IKIP/FKg LRC di Malang
oleh Adi Priyono

 

Hubungan bakat mekanik dan minat kerja dengan kesiapan kerja siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK Negeri 6 Malang / Ade Lucky Anugerah Robby

 

ABSTRAK A.R.Ade Lucky. 2015. Hubungan Bakat Mekanik dan Minat Kerja dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas XI Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di SMK Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Mesin, Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd., (II) Drs. Partono, M.Pd. Kata kunci: hubungan, bakat mekanik, minat, kesiapan, kerja siswa SMK Bakat mekanik merupakan kemampuan dasar yang dimiliki siswa dalam hal menggunakan alat-alat, pengoperasian atau perancangan mesin otomotif. Minatkerjamerupakankeinginan dalam diri atau kecenderungandalammelaku-kanaktifitas-aktifitastertentu, dengantujuanuntukmendapatkanpenghasilandanmen-dorongmerekauntuklebihmajudantrampilsesuaikeinginanmereka. Kesiapan kerja merupakan pencapaian yang telahdimilikimeliputikematanganfisik, mental, keinginan, kemampuanuntukmenggunakantenagaataukemampuannyadalamhal mengerjakansesuatubaiksebagaikaryawanmaupunsebagaipenciptalapangandanpekerjaan yang memenuhikebutuhan-kebutuhannya. Jika bakat mekanik dan minat kerja tinggi, maka akan memperoleh pencapaian tingkat kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian teknik kendaraan ringan di SMK Negeri 6 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bakat mekanik dan minat kerja dengan kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian teknik kendaraan ringan di SMK Negeri 6 Malang.Penelitian ini menggunakan sampel, dimana dalam pengambilan sampel menggunakan proposional random sampling pada poulasi yang telah ditentukan. Teknik pengumpulan data dengan cara menyebar kuisioner (angket) dan (tes) kepada responden.Testerstandartdenganalternatifduapilihanjawabandanangketmenggunakankuisioner tertutup yang berskala likert. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis korelasional, analisis inferensial digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Terdiri dari bakat mekanik (X1), minat kerja (X2), kesiapan kerja (Y). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bakat mekanik dan minat kerja berpengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja siswa sebesar 52% dan sisanya sebesar 48% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan sebagai berikut. Pertama, terdapat hubungan antara bakat mekanik dengan kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian teknik kendaraan ringan di SMK Negeri 6 Malang. Kedua, terdapat hubungan antara minat kerja dengan kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian teknik kendaraan ringan di SMK Negeri 6 Malang. ketiga, terdapat hubungan antara bakat mekanik dan minat kerja dengan kesiapan kerja siswa kelas XI program keahlian teknik kendaraan ringan di SMK Negeri 6 Malang. Hal ini menunjukan untuk masuk dunia kerja dan untuk memperoleh kesiapan kerja siswa dipengaruhi oleh faktor bakat mekanik dan minat kerja yang tumbuh dan berkembang didalam diri peserta didik.

Laporan perhitungan tugas konstruksi bangunan pengairan
disusun oleh Pribadi

 

Penerapan pembelajaran dengan menggunakan jurnal belajar untuk meningkatkan prestasi belajar bangun ruang pada siswa SMP Negeri 10 Malang kelas VIII-H / Edi Junaedi

 

Junaedi, Edi . 2013. Penerapan Pembelajaran Dengan Menggunakan Jurnal Belajar Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bangun Ruang Pada Siswa SMP Negeri 10 Malang Kelas VIII-H. Skripsi, jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang.Pembimbing (1) Drs. Askury, M.Pd., (II) Indriati Nurul Hidayah, S.Pd, M.Si. Kata kunci : Jurnal Belajar, Prestasi Belajar Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti pada proses pembelajaran bangun ruang di kelas VIII-H SMP Negeri 10 Malang diketahuibahwa di kelas ini siswa kurang menyukai pembelajaran bangun ruang, hal ini terlihat dari antusias siswa untuk bertanya dan mengungkapkan pendapat kurang, siswa bersifat pasif, siswa kurang terbuka terhadap gurunya. Sehingga siswa kurang berpestasi dalam belajarnya yang berpengaruh terhadap hasil belajar nya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa adalah dengan menerapkan jurnal belajar. Jurnal belajar dapat dimanfaat kan siswa sebagai alat komonikasi dengan guru, dimana siswa akan merasa lebih dekat dengan guru. Demikian juga guru akan lebih memahami kebutuhan belajar siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus belajar.Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, obsevasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-H SMP Negeri 10 Malang semester genap tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 37 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan jurnal belajar dinilai kurang berhasil, hal ini bias dilihat dari masih kurangnya pemanfaatan jurnal belajar olehsiswa. Namun penerapan jurnal belajar cukup meningkat prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya hasil belajar siswa, yang di peroleh dengan melihat rata-rata nilai tes siswa dari 42,18 padasiklus I menjadi 63,08 padasiklus II.

Pengembangan instrumen asesmen kompetensi menyimak teks eksplanasi VII SMP / Dwi Ningwang Agustin

 

ABSTRAK Agustin, DwiNingwang. 2015. PengembanganInstrumenAsesmenKompetensiMenyimakTeksEksplanasiKelas VII SMP.Tesis. Pendidikan Bahasa Indonesia. PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Imam AgusBasuki, M. Pd., (II) Dr. KusubaktiAndajani, M. Pd. Kata Kunci: instrumenasesmen, menyimak,tekseksplanasi Instrumenasesmenpembelajaranmenyimakeksplanasimerupakanalat-alat yang digunakanuntukpengumpulaninformasitentangpesertadidik, berkenaandenganapa yang merekaketahuidanapa yang dapatmerekalakukanketikadansetelahpembelajaranmenyimakeksplanasi.Instrumen asesmenpembelajaranmenyimakeksplanasikelas VII SMP yang disusunsecaratepatdanproporsionalmampumengukurataumenilaihasilbelajarsiswadenganlebihtepatdansesuaidengantujuandilakukannyapenilaian. Selanjutnya, instrumenpenilaian yang dikembangkan di dalampenelitianiniberupainstrumentesdannontesuntukmenilaihasildan proses pembelajaranmenyimakeksplanasi. Instrumenasesmentesberupasoal, pilihanganda, danuraian. Instrumenasesmennontesberuparubrikpenilaiandiridanobservasi.Penelitianinibertujuan (1) menghasilkanprodukinstrumenasesmenhasiluntukkompetensimenyimaktekseksplanasikelas VII SMP yang layakdarisegiisi, konstruk, reliabilitas, danketerterapan; dan (2) menghasilkanprodukinstrumenasesmenprosesuntukkompetensimenyimaktekseksplanasikelas VII SMP yang layakdarisegiisi, konstruk, reliabilitas, danketerterapan. Penelitianinimenggunakan model pengembanganproseduralThiargarajan. Model pengembanganproseduraldipilihkarena model inimenampilkandeskripsilangkah-langkah yang didasarkanpadapengetahuantertentuuntukmenghasilkansuatuprodukpendidikan. Thiargarajan (1974)merumuskanempattahappenelitiandanpengembangan yang disingkatdengan 4D, yaitu “Define, Design, Develop, and Disseminate”. Berdasarkan model penelitian 4D, dirumuskanprosedurpengembanganinstrumenasesmenmenyimakmeliputiempattahap, yakni (1) studipendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan, dan (4) diseminasi. Ujiprodukdilakukankepada (1) ahlievaluasi, (2) ahlipembelajaranmenyimak, (3) praktisi, dan (4) kelompokujisiswa. Ujiprodukkepada para ahlidanpraktisiberfungsiuntukmengetahuitingkatkelayakanprodukdariaspekvaliditaskonstruk, validitasisi, keterterapan, keterbacaan, dankepraktisan, sedangkanujicobakepadakelompokkecilsiswabertujuanuntukmengetahuitingkatkesulitandanreliabilitasnya. Berdasarkanhasilujitersebut, dilakukanbeberaparevisi, yakni (1) penyajianteksdansoal, (2) petunjukpenggunaanproduk, dan (3) aspekrekamanbahansimakan. Setelahdilakukanrevisi, alatpenilaiantelahseutuhnyalayakuntukdigunakanuntukmenilaikompetensimenyimakeksplanasi. ProdukakhirdaripengembanganiniadalahinstrumenasesmenkompetensimenyimakeksplanasikelasVII SMP. Penelitianinimenghasilkanduaproduk, yakniinstrumentesdannontes. Instrumentesdigunakanuntukpenilaianhasilbelajar, terdiriatasduaversi, yakni multimedia dan manual. Versi multimedia terdiriatastayangan audio visual yang memuatbahansimakandansoal-soal, serta LJS. Versi manual terdiriatasbukusoal guru, LJS, danpedomanpenyekoran. Selainitu, produkinstrumentesmemilikiduapaket, yaknipaketAdan B. Paket A dan B dibedakanberdasarkantingkatkemampuanmenyimakdanpembagianindikatorketercapaian. Bukusoalterdiriataspetunjukumumproduk, identitasdanpetunjukpelaksanaan, transkripsiteksdansoal, sertapedomanpenyekoran. Produkinstrumentesdigunakanuntukpenilaianhasildandiberlakukansebagaiulangan.Paket A dan B terdiriatassoalobjektif pilihan gandadansoalsubjektif uraian. Produkinstrumennonteskomptenesimenyimakeksplanasidigunakanuntukmenilai proses pembelajaranmenyimak. Produkinstrumennontesterdiriataspaket A dan B. Paket A berisivarianinstrumenasesmennontes yang pengisianrubriknyadilakukanoleh guru. Paket B berisivarianinstrumenasesmennontes yang pengisianrubriknyadilakukansendiriolehsiswa. Produk yang dihasilkanpenelitianinidiharapkanbisamemberikanmanfaatdaninspirasibagi guru, penelitiselanjutnya, danpenulis. Bagi guru, diharapkanprodukinibisadigunakandenganbaik di lapangandanmenjadibahandiskusiuntukpengembanganalatpenilaianlebihlanjut. Bagipenelitiselanjutnya, produkinibelummelaluitahapujikesetaraanuntukdayabeda, makadariitupenelitiselanjutnyabisamelakukanujitersebutterhadapprodukini. Bagipenulis, produkinibisamemberikantambahanwawasankeilmuandaninspirasiuntuksenantiasabelajardanberinovasidalammengembangkanprodukpenilaian di lain kesempatan.

Implementasi penilaian otentik pada pembelajaran dasar Program Keahlian Tata Boga berdasarkan kurikulum 2013 (studi kasus di kelas X SMK Negeri 2 Malang) / Tyas Shanna Asterina Sopamena

 

ABSTRAK Sopamena, Tyas Shanna Asterina. 2015. Implementasi Penilaian Otentik pada Pembelajaran Dasar Program Keahlian Tata Boga Berdasarkan Kurikulum 2013 (Studi Kasus di kelas X SMK Negeri 2 Malang). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd; (II) Dra. Teti Setiawati, M.Pd. Kata Kunci : penilaian otentik, pembelajaran, kurikulum 2013 Salah satu elemen perubahan Kurikulum 2013 adalah pada standar penilaian. Standar penilaian pada Kurikulum 2013 menggunakan penilaian otentik. Penilaian otentik adalah kegiatan penilaian yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian. Penilaian otentik pada kurikulum 2013 mempertegas adanya pergeseran dalam melakukan penilaian, yakni dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja) menuju penilaian otentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil). Peserta didik dalam penilaian otentik diminta untuk menerapkan konsep atau teori pada dunia nyata Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) perencanaan penilaian otentik pada Pembelajaran Dasar Program Keahlian Tata Boga di kelas X SMK Negeri 2 Malang; (2) pelaksanaan penilaian otentik pada Pembelajaran Dasar Program Keahlian Tata Boga di kelas X SMK Negeri 2 Malang; dan (3) kendala yang dialami dalam penilaian otentik pada Pembelajaran Dasar Program Keahlian Tata Boga di kelas X SMK Negeri 2 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumen. Keabsahan data didukung oleh kegiatan perpanjangan pengamatan, triangulasi, dan menggunakan bahan referensi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa guru Program Keahlian Tata Boga di kelas X SMK Negeri 2 Malang telah melakukan perencanaan penilaian secara otentik dalam bentuk RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 66 Tahun 2013. Pelaksanaan penilaian pada pembelajaran telah dilakukan guru secara otentik dilihat dari intrumen yang digunakan pada saat pembelajaran berlangsung sesuai dengan Peraturan Menteri Nomor 81A Tahun 2013. Kendala yang dihadapi dalam implementasi penilaian otentik oleh guru Program Keahlian Tata Boga di kelas X SMK Negeri 2 Malang yaitu berkaitan dengan waktu untuk penyesuaian terhadap penerapan kurikulum 2013 yang masih baru, kurang kesesuaian antara perencanaan dan pelaksanaan penilaian, kondisi lingkungan dan peserta didik yang mempengaruhi proses penilaian, keterbatasan waktu yang dimiliki, dan terkendala sistem.

Laporan praktek kerja lapangan pada proyek LRC (P3G)/FKg IKIP Malang
disusun oleh Tatok Haripurnomo

 

Profil pelaksanaan program praktik industri mahasiswa Prodi SI Pendidikan Tata Busana di Industri Busana Kota Surabaya / Nurul Fadhilah

 

ABSTRAK Fadhilah, Nurul. 2015. Profil Pelaksanaan Program Praktik Indsutri Mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Busana di Industri Busana Kota Surabaya. Skripsi Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Nur Endah Purwaningsih, M.Pd (II) Agus Sunandar, S.Pd., M.Sn Kata Kunci: Profil Pelaksanaan, Praktik Industri. Praktik Industri merupakan salah satu mata kuliah wajib ditempuh oleh mahasiswa tata busana secara berkelompok pada industri busana sebagai bentuk aplikasi pengetahuan yang telah diperoleh dari setiap kegiatan pembelajaran. Pembelajarannya PI dengan tujuan utamanya memberikan pengalaman praktik sebagai upaya penerapan pengetahuan, ketrampilan, dan disiplin kerja pada dunia indusstri bidang busana, serta pelaporannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program praktik industri mahasiswa prodi S1 pendidikan tata busana di industri busana kota Surabaya yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Rancangan penelitiannya adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilakukan pada mahasiswa SI Pendidikan Tata Busana angkatan 2010 dan 2011 yang telah menempuh dan dinyatakan lulus matakuliah Praktik Industri dan tempat PI yang mempunyai spesifikasi yang berbeda meliputi bidang butik, garmen, dan LPK di kota Surabaya. Berdasarkan hasil analisis diatas dapat disimpulkan bahwa (a) Perencanaan pada program praktik industri yang dilakukan mahasiswa menunjukkan 100% terlaksana sangat baik dan perencanaan program praktik industri di DU/DI menunjukkan 66,6% perencanaan terlaksana dengan baik. (b). Pelaksanaan pada program praktik industri yang dilakukan mahasiswa menunjukkan 78,5% terlaksana dengan baik, pelaksanaan program praktik industri di DU/DI menunjukkan 100% pelaksanaan terlaksana sangat baik. (c). Evaluasi pada program praktik industri yang dilakukan mahasiswa menunjukkan 100% terlaksana sangat baik, evaluasi pada program praktik industri di DU/DI menunjukkkan 66,6% evaluasi pada program praktik industri terlaksana dengan baik. Kesimpulan penelitian ini adalah PI merupakan bagian dari proses pembelajaran yang dilaksanakan dilapangan. Pelaksanaan pembelajaran program PI yang dilaksanakan mahasiswa dilakukan dalam 3 (tiga) tahap di 3(tiga) tempat PI. 1. Tahap perencanaan pada industri di LPK (Lembga Pendidikan Luar Sekolah Bidang Busana)sudah terlaksana dengan sangat baik hal tersebut karena di industri ini sudah siap dalam hal menyiapkan tenaga pengajar untuk mahasiswa magang, sarana dan prasarana, dan sudah mempunyai program kegiatan atau flow chart yang akan dilakukan selama proses kegiatan PI berlangsung. 2. Tahap perencanaan industri di butik dan tahap perencanaan industri di garmen secara keseluruhan dapat terlaksana dengan baik hanya saja kurang mendukungnya sarana dan prasarana yang memadai untuk mahasiswa praktik. 3. Tahap pelaksanaan tempat industri di bidang LPK, bidang butik, dan bidang garmen secara keseluruhan dapat disimpulkan dapat terlaksana dengan sangat baik hal ini pihak industri selalu memantau kegiatan mahasiswa dan memberikan kegiatan pembimbingan pada saat mahasiswa mengerjakan tugas dari pembimbing PI atau instruktur PI. 4. Tahap evaluasi terhadap mahasiswa praktik pada bidang di LPK dan bidang butik dapat disimpulkan terlaksana dengan baik hal tersebut mahasiswa kurang menguasai dan kurang tanggap terhadap tugas yang diberikan oleh pembimbing industri. 5. Evaluasi bidang garmen terlaksana sangat baik mahasiswa bekerja sesuai dengan kopetensi yang ada di industri tersebut. Hasil penelitian yaitu bagi mahasiswa, sebaiknya pada tahap pelaksanaan lebih meningkatkan kompetensi karena tahap pelaksanaan merupakan salah satu penentu keberhasilan dari kegiatan praktik indusri. Dengan semakin meningkatnya kegiatan yang dilaksanakan pada tahap pelaksanaan tersebut semakin meningkatkan hasil dan manfaat dari kegiatan praktik industri tersebut. Bagi DU/DI, sebaiknya pada tahap evaluasi lebih ditingkatkan karena tahap evaluasi merupakan suatu rangkaian dalam suatu proses pelaksanaan pembelajaran praktik industri. Dengan semakin meningkatkan kegiatan evaluasi yang dilakukan maka akan semakin meningkatkan hasil dari kegiatan praktik industri.

Laporan praktek kerja di workshop PT Faroka Malang (2 Juni s/d 11 Juli 1986)
disusun oleh Sugeng Tri Hartono

 

Developing autoplay multimedia studio program for the seventh grade English materials / Widya Dwi Astuty

 

ABSTRAK Astuty, Widya Dwi. 2015. Mengembangkan Program Multimedia Autoplay Studio untuk Materi Bahasa Inggris Kelas Tujuh. Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Utami Widiati, M.A.,Ph.D., (II) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. Keywords: penelitian dan pengembangan, program autoplay multimedia studio, materi Bahasa Inggris Jumlah bahan ajar bahasa Inggris yang disediakan oleh sekolah-sekolah didaerah terpencil dan rendahnya motivasi siswa-siswa merupakan tantangan bagi guru-guru untuk kreatif dan inovatif dalam mencari bahan ajar, merancang atau menggunakan teknik atau strategi atau media untuk memfasilitasi siswa-siswa untuk belajar. Meskipun terjadi kondisi-kondisi seperti itu, sayangnya, belum ditemukan adanya kreasi dan inovasi di SMP Negeri 1 Punduh Pedada untuk mengatasi masalah-masalah itu untuk memfasilitasi siswa-siswa untuk belajar bahasa Inggris. Lebih parahnya lagi, pihak sekolah tidak memiliki fasilitas pendukung yang cukup untuk menstimulasi motivasi siswa dan meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar bahasa Inggris seperti laboratorium bahasa dan teknologi informasi dan komunikasi. Kajian ini merupakan penelitian dan pengembangan pendidikan. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan Mengembangkan Program Multimedia Autoplay Studio untuk Materi Bahasa Inggris Kelas Tujuh. Bahan-bahan ajar didapat dari “Students’ Book of Curriculum 2013”, “English in Focus”, “Contextual Teaching Learning Bahasa Inggris” and “Side By Side, Longman” dengan mengintegrasikan keterampilan-keterampilan dalam bahasa Inggris. Kajian ini menggunakan model Borg dan Gall (1983) dengan beberapa modifikasi mempertimbangkan bahwa tahapan-tahapan tersebut dapat mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk pendidikan yang nantinya akan mengatasi masalah-masalah pendidikan. Tahapan-tahapannya adalah analisa kebutuhan, perencanaan, pengembangan, validasi ahli, uji coba dan produk akhir. Analisa kebutuhan dilakukan dengan cara wawancara guru bahasa Inggris, melakukan survey, menyebarkan kuesioner dan ceklis dan menginvestigasi topik-topik yang berkaitan lainnya. Dalam tahap perencanaaan, peneliti merencanakan isi, struktur dan spesifikasi produk. Kemudian peneliti mengembangkan produk. Setelah itu, hasilnya divalidasi oleh dua ahli dan revisi pertama adalah berdasarkan masukan mereka. Bahan yang sudah direvisi kemudian diujicobakan dan data dari uji coba didapat melalui validasi ceklis untuk revisi kedua. Kemudian, produk akhir siap digunakan. Produknya mencakup empat topik dari bahan ajar semester satu yang isinya dimasukkan kedalam software computer yang dikompilasi dalam sebuah CD ROM yang mencakup tujuan pembelajaran; brainstorming; slide materi; permainan dan lagu ice breaker; kuis; dan video motivasi dan buku petunjuk bagi pengguna.Produk penelitian dan pengembangan ini membuat para guru mampu menjadi fasilitator yang jauh lebih baik dalam mengembangkan kemampuan belajar siswa dalam bahasa Inggris dengan keterampilan yang terintegrasi. Tujuan pembelajaran membantu siswa untuk mempersiapkan diri terhadap bahan ajar, video brainstorming dapat memotivasi siswa untuk belajar dan mengaktivasi latar belakang pengetahuan mereka. Siswa-siswa juga belajar keterampilan-keterampilan yang terintegrasi dalam bahasa Inggris dari slide materi yang menarik. Ketika suasana belajar mulai membosankan setelah mata pelajaran-mata pelajaran lain sebelum bahasa Inggris atau kelelahan mulai terjadi di kelas selama proses belajar mengajar bahasa Inggris, video, permainan dan lagu ice breaker mencairkan suasana. Siswa-siswa juga dapat mengulang kembali ingatan mereka dan mengkonfirmasi kosakata yang mereka dapatkan dari slide materi melalui kuis. Terakhir namun tak kalah pentingnya, video motivasi meluaskan wawasan mereka tentang nilai-nilai kehidupan dan menginspirasi mereka sehingga membawa ke pengembangan karakter yang baik.

Laporan praktek elektronika
oleh Kambali

 

The teaching of English to fifth graders at MI Muhammadiyah Sidorejo / Hanifatul Laillisa

 

ABSTRAK Laillisa, Hanifatul.2015. Pembelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas Lima di MI Muhammadiyah Sidorejo.Skripsi Sarjana. Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dr. Arwijati Wahjudi, M.Pd, Dip. TESL, II. Nur Hayati, S.Pd, M.Ed. Kata Kunci: Bahasa Inggris untuk anak-anak, Kelas Lima, Muatan Lokal. Bahasa Inggris adalah mata pelajaran muatan lokal di sekolah dasar Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa sekolah dapat memilih untuk mengajarkan Bahasa Inggris atau tidak. Sebagai muatan lokal, Bahasa Inggris hanya diajarkan mulai Kelas Empat, tapi beberapa sekolah memilih utuk mengajarkan Bahasa Inggris sejak Kelas Satu. MI Muhammadiyah Sidorejo adalah salah satu sekolah yang mengajarkan Bahasa Inggris sejak Kelas Satu.Tujuan pembelajaran Bahasa Inggris pada Kelas Satu adalah untuk mengenalkan Bahasa Inggris kepada siswa dan lebih kepada aktifitas yang menyenangkan seperti menyayikan lagu.Sekolah mulai mengajarkan Bahasa Inggris sesuai dengan kurikulum dimulai dari Kelas Empat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitaif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas lima beserta gurunya. Peneliti memilih untuk menggunakan dua kelas.Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, angket, dan catatan harian.Pengolahan data hasil penelitian menggunakan analisis data kwalitatif dan kuantifikasi minor untuk angket.. Berdasarkan hasil penelitian, guru menggunakan beberapa tekniks eperti ceramah, Tanya jawab, beberapa pendekatan ilmiah seperti menanya, mengobservasi, dan meheksplor, dan brainstorming.Guru menggunakan papan, LCD Projektor, Laptop, dan pengeras suara untuk membantunya dalam mengajar Bahasa Inggris. Guru memilih menggunakan buku pegangan dan CD sebagai sumber belajar. Penelitian dilakukan dengan menggunakan tugas individu, test kosa-kata, Tanya jawab, dan praktek berbicara. Guru menggunakan Bahasa Inggris danBahasa Indonesia dalam mengajarkan dengan porsi yang berbeda tapi lebih sering menggunakan Bahasa Inggris yang simple. Beberapa saran yang dapat diberikan kepada guru, kepala sekolah, dan peneliti selanjutnya. Pertama, kepada guru, guru disarankan menggunakan bermacam-macam teknik yang menyertakan aktifitas dimana siswa dapat aktif dan membuat suasana menjadi menyenangkan. Guru juga seharusnya menggunakan berbagai sumber belajar untuk melengkapi materi yang akan diajarkan. Kepala sekolah dianjurkan untuk memfasilitasi media yang dapat digunak untuk proses belajar mengajar Bahasa Inggris dan mendukung guru untuk mengikuti seminar atau pendidikan tambahan dalam bidang pendidikan Bahasa Inngris. Terakhir, kepada peneliti selanjutnya yang mengambil penelitian yang sama disarankan untuk melakukan wawancara tidak hanya kepada guru dan kepala sekolah saja tapi juga kepada beberap asiswa. Disarankan juga kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lebih dari tiga pertemuan agar data yang didapat lebih akurat.

Pengaruh strategi pembelajaran TPS (Think Pair Share) dan TPS (Think Pair Share) yang dipadu PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) terhadap keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif siswa kelas VIII SMPN 2 Singosari / Tri

 

Kata kunci: TPS (Think Pair Share), PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif. Kondisi pembelajaran di SMPN 2 Singosari masih tergolong pembelajaran yang konvensional dan belum ada guru Biologi yang mencoba untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan metakognitif siswa. Semua guru Biologi juga mengaku bahwa mereka hanya melakukan evaluasi sampai pada tingkat C3 dan itu pun tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan yang bertingkat C3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Strategi Pembelajaran TPS (Think Pair Share) dan TPS (Think Pair Share) yang dipadu PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) terhadap kemampuan berpikir kritis, keterampilan metakognitif, dan hasil belajar kognitif siswa Kelas VIII SMPN 2 Singosari. Jenis penelitian yaitu Penelitian quasi eksperimen atau eksperimen semu. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Strategi Pembelajaran yang terdiri atas tiga macam yaitu Strategi pembelajaran Think Pair Share (TPS), Strategi Pembelajaran Think Pair Share (TPS) yang dipadu dengan PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) dan Strategi Pembelajaran Konvensional. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah: a) kemampuan berpikir kritis, b) keterampilan metakognitif, dan c) hasil belajar kognitif.. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data melalui hasil pre tes yang dilakukan sebelum penerapan strategi pembelajaran dan pos tes yang dilakukan setelah penerapan strategi pembelajaran yang diukur dengan menggunakan rubrik untuk mengetahui keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif. Hasil penelitian menunjukkan Strategi pembelajaran TPS+PBMP mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 7,35% lebih tinggi dari strategi pembelajaran TPS dan mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 15,37% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional, sedangkan strategi pembelajaran TPS mampu meningkatkan keterampilan metakognitif siswa sebesar 3,67% lebih tinggi dari strategi pembelaajran konvensional. Strategi pembelajaran TPS+PBMP mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 15,56% lebih tinggi dari strategi pembelajaran TPS dan mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 44,90% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional, sedangkan strategi pembelajaran TPS mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sebesar 25,47% lebih tinggi dari strategi pembelaajran konvensional. Strategi pembelajaran TPS+PBMP mampu meningkatkan hasil belajar kognitif siswa sebesar 16,08% lebih tinggi dari strategi pembelajaran TPS dan mampu meningkatkan hasil belajar kognitif siswa sebesar 35,00% lebih tinggi dari strategi pembelajaran konvensional, sedangkan strategi pembelajaran TPS mampu meningkatkan hasil belajar kognitif siswa sebesar 16,32% lebih tinggi dari strategi pembelaajran konvensional. Selain itu, ada hubungan antara keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif dengan persamaan Y= 0,102X1+1,023X2+0,540 dan nilai keterandalan 83,5%. Keterampilan metakognitif memberikan sumbangan relatif sebesar 5,40% dan sumbangan efektif sebesar 3,77% sedangkan kemampuan berpikir kritis memberikan sumbangan relatif sebesar 94,60% dan sumbangan efektif sebesar 79,71%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran TPS+PBMP dapat meningkatkan keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir siswa, dan hasil belajar kognitif siswa pada matapelajaran Biologi. Untuk itu disarankan kepada guru Biologi agar menerapkan strategi pembelajaran TPS yang dipadu PBMP karena telah terbukti dapat meningkatkan keterampilan metakognitif, kemampuan berpikir siswa, dan hasil belajar kognitif siswa.

Laporan praktek elektronika
disusun oleh Alfan

 

Analisis wacana iklan televisi yang berbahasa Indonesia

 

Laporan praktek elektronika
oleh Budianto

 

Penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share) melalui pembuatan peta konsep untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 2 MAN Malang II Batu / Sulistioningsih

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share), pembuatan peta konsep, motivasi, hasil belajar. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan pada tanggal 26 Februari 2010 di MAN Malang II Batu kelas XI IPA2, kegiatan pembelajaran biologi pada materi “Sistem Pernapasan” dilakukan melalui diskusi, namun bersifat text book yaitu siswa diberi tugas dan mencari jawabannya di buku teks. Saat diskusi kelas juga masih didominasi dengan ceramah dari guru. Siswa pasif dan terlihat malas-malasan untuk belajar Biologi. Hasil observasi menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa masih rendah sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Persentase siswa yang belum mencapai Standart Ketuntasan Minimal adalah 42,86% atau sebanyak 12 siswa dari 28 siswa. Perlu dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut antara lain berupa pengembangan strategi pembelajaran yang mampu mengoptimalkan motivasi belajar siswa. Pembelajaran kooperatif model TPS melalui pembuatan peta konsep merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar karena menekankan pada kerjasama siswa dalam kelompok yang membantu siswa dalam menguasai materi yang dipelajari. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 2 MAN Malang II Batu dengan penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share) melalui pembuatan peta konsep. Jenis penelitian merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam 2 siklus. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, tes, hasil pembuatan peta konsep, catatan lapangan, dan pemotretan. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I rata-rata motivasi klasikal siswa adalah 78,95% dan meningkat menjadi 86,03% pada siklus II. Ketuntasan belajar klasikal siswa pada siklus I adalah 60,71% dan meningkat menjadi 92,6% pada siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa (1) penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share) melalui pembuatan peta konsep mampu meningkatkan motivasi belajar biologi siswa, (2) penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think Pair Share) melalui pembuatan peta konsep mampu meningkatkan hasil belajar biologi siswa. Berdasarkan pada hasil penelitian disarankan agar para pendidik dapat menggunakan model pembelajaran TPS melalui pembuatan peta konsep ini karena dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dan disarankan melakukan penelitian dalam pembelajaran Biologi dengan materi yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif model TPS melalui pembuatan peta konsep.

Pengembangan trainer pengujian karakteristik sel surya untuk matakuliah pembangkit tenaga listrik di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang / Hefri Maulana Rizka

 

ABSTRAK Rizka, Hefri Maulana. 2015. Pengembangan Trainer pengujian karakteristik Sel Surya untuk Matakuliah Pembangkit Tenaga Listrik di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) M. RodhiFaiz, S.T., M.T. (2) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T., M.Pd. Kata Kunci : Pengembangan, trainer, sel surya, transistor 2N3055. Energi merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Peningkatan kebutuhan energi dapat merupakan indikator peningkatan kemakmuran, namun bersamaan dengan itu juga menimbulkan masalah dalam usaha penyediaannya. Pemakaian energi surya di Indonesia mempunyai prospek yang sangat baik, mengingat bahwa secara geografis sebagai negara tropis, melintang garis katulistiwa berpotensi energi surya yang cukup baik. Oleh karena itu, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan manusia. Salah satunya dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dengan sel surya menggunakan power transistor 2N3055. Transistor ini memiliki tiga buah elektroda (kaki) yaitu basis (B), kolektor (C) dan emittor (E). Emittor (E) berfungsi membawa muatan. Pada kaki basis (B) akan menghasilkan tegangan negatif sementara kaki emitter (E) dan kolektor (C) menghasilkan tegangan positif. Pada pengembangan ini 1 buah transistor dapat menghasilkan ± 0,5 Volt dengan menggunakan cahaya lampu pijar Philip 100 Watt. Model pengembangan yang di gunakan pada pengembangan trainer sel surya ini adalah model pengembangan ADDIE. Model pengembangan ADDIE terdiri dari 5 tahapan yaitu: (1) Analisis, (2) Desain, (3) Pengembangan, (4) Implementasi, (5) Evaluasi. Proses validasi dilaksanakan oleh ahli media, ahli materi, dan melakukan implementasi pada uji kelompok kecil dan uji kelompok besar. Validasi bertujuan untuk mengukur kelayakan produk yang dikembangkan. Validasi menggunakan angket rating scale yang kemudian dianalisis. Analisis data yang diperoleh digunakan untuk menentukan kelayakan media sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Produk yang dikembangkan pada penelitian ini berupa Trainer pengujian karakteristik sel surya yang disertai dengan jobsheet. Tahap pertama dilakukan validasi oleh para ahli yang kemudian dilanjutkan dengan mengujicobakan trainer pada mahasiswa. Sampel yang digunakan dalam ujicoba adalah mahasiswa angkatan 2011 dan 2012 Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang yang sudah menempuh matakuliah Pembangkit Tenaga Listrik.

Laporan praktek elektronika
oleh Utomo

 

Penari Gandrung Banyuwangi sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan seni lukis / Muhammad Ainul Yaqien Fajar Hari Mahardika

 

ABSTRAK Mahardika,MuhammadAinulYaqienFajarHari. 2015.PenariGandrungBanyuwangiSebagaiSumberInspirasiDalamPenciptaanSeniLukis. PenciptaanSeniLukis. Skripsi, JurusanSenidanDesain, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.Triyono Widodo, M.Sn, (II) Drs. AnakAgungGdeRaiAirmbawa, M.Sn. Kata Kunci:penariGandrungBanyuwangi, penciptaansenilukis. TariGandrungadalahtari yang lahir di daerahKabupatenBanyuwangi.TingginyakecintaanmasyarakatterhadapTariGandrungmembuatpementasanseringterlihat di berbagaidaerah.Hinggakinikerapdipertunjukkandalamberbagaiacara, mulaidaripenyambutantamu yang datangsampaikegiatanmasyarakat yang dilakukanpadawaktutertentu.pengenalanpenciptapadamasakanak-kanakhinggaremaja yang tumbuhdanberkembang di KabupatenBanyuwangiterhadapTariGandrung, membuatkagumterhadaptarianini. Olehsebabitumuncul ide untukselanjutnyadikembangkandalambentukpenciptaansenilukis. Proses penciptaansenilukisdiawalidaritimbulinspirasitentangTariGandrungBanyuwangi, di tahap ide. Laludibentukperancangan, di tahapkonsepsetelahitutelahtersusunpemetaantahapansampaiperwujudankaryaantara lain pencarianbahanpenciptaandaribukudan internet, merancangdesainlaluditeruskanmenyiapkansaranapenciptaandanmembentukpola, laludieksekusipada proses peciptaan. KarakteristikpadakaryapenciptaansenilukisberupaPenariGandrung, SeniLukis ModerndanBatuan Style Representatif. Penciptaansenilukis yang diwujudkanolehpenciptamelaluiberbagaitahapanmetodemulaidarimendapatkan ide sampaiapresiasi. Data penciptaanberasaldarireferensiberbagaisumber yang diperolehdariinternet ataupunbukuuntukmengembangkandanmenyempurnakan proses penciptaan. Objekpadakaryapenciptaanadalahpenarigandrung. Hasilpenciptaan yang diperolehberupa 6 lukisandenganjudulPertunjukkanTariGandrung Di KerajaanSingaraja, TariGandrungPadaUpacaraAdatBersihDesa, TariGandrungPadaAcaraHajatanWarga, TariGandrungSebagaiJuaraUmum (1) PadaLombaTari Nusantara Di Surabaya, TariGandrung Di DesaKemirenPadaUpacaraAdatSyukuran, The first Gandrung dance to entertain Chines soldier when build of Chungking village. Diharapkandengankaryatulisinipembacadapatterinspirasidalammeningkatkankemampuandiri.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pada swalayan Mustika Blitar / Yessy Widya Pratiwi

 

Kata kunci: kualitas pelayanan, kepuasan konsumen. Pada persaingan global saat ini terutama dalam persaingan antar swalayan, memberikan kualitas pelayanan (service quality) yang baik dan mempunyai konsumen yang puas dipandang sebagai suatu yang harus dimiliki untuk mendapatkan keunggulan yang berkelanjutan. Untuk itu, penyampaian jasa dan penyediaan kualitas jasa merupakan hal penting dalam penciptaan nilai bagi pelanggan dan pada gilirannya menentukan nilai bagi penyedia jasa. Setiap perusahaan terutama yang beorientasi pada konsumen akan selalu berusaha untuk memberikan kualitas produk dan pelayanan yang terbaik kepada konsumennya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : Pengaruh antara kualitas pelayanan yang meliputi bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati secara parsial dan simultan terhadap kepuasan konsumen swalayan mustika blitar, . Dimensi kualitas pelayanan yang paling dominan dalam mempengaruhi kepuasan konsumen pada swalayan mustika Blitar. Rancangan penelitian adalah deskriptif korelasioanal, Populasi pada penelitian ini adalah pengujung swalayan mustika Blitar. Penentuan jumlah sample mengggunakan rumus Slovin, sehingga ditemukan jumlah sample sebanyak 84 pengunjung, Pengumpulan data dengan metode interview dan kuesioner. Data dianalisis dengan teknik analisis regresi linear berganda dengan dukungan program SPSS 14. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1). Terdapat pengaruh secara terhadap kepuasan konsumen, antara lain: (a). Terdapat pengaruh positif yang signifikan Bukti Fisik terhadap Tingkat Kepuasan Konsumen,(b). Terdapat pengaruh positif yang signifikan Keandalan terhadap Tingkat Kepuasan Konsumen, (c). Terdapat pengaruh positif yang signifikan Daya Tanggap terhadap Tingkat Kepuasan Konsumen, (d). Terdapat pengaruh positif yang signifikan Jaminan dan Empati. (2). Terhadap Tingkat Kepuasan Konsumen bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan Bukti Fisik, Keandalan, Daya Tanggap dan Jaminan dan Empati penjualan terhadap Tingkat Kepuasan Konsumen. Dimensi kualitas pelayanan yang paling berpengaruh adalah Bukti Fisik 0,823 Standar coefficient β Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperoleh setelah melaksanakan peneliti ini adalah: (1) untuk menampung suara konsumen khususnya konsumen yang merasa kurang puas supaya pihak swalayan Mustika Blitar memberikan sarana untuk menampung keluhan, saran, atau kritik mereka yaitu dengan menyediakan kotak saran. (2) Untuk segmen yang dibidik Swalayan Mustika Blitar sebaiknya tidak hanya remaja. Namun juga bisa dikembangkan lebih luas misalnya segmen untuk anak-anak dan dewasa. ABSRTAK

Laporan praktek kerja di pabrik pemintalan Lawang
oleh Slamet Sucipto

 

Pengaruh strategi pembelajaran guided inquiry terhadap keterampilan proses dan penguasaan konsep sains siswa SMP Islam Almaarif 02 Singosari / Nikmatul Kholidah

 

ABSTRAK Kholidah, Nikmatul 2015. Pengaruh Strategi Pembelajaran Guided Inquiry terhadap Keterampilan Proses dan penguasaan Konsep Sains Siswa SMP Islam Almaarif 02 Singosari. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi Pendidikan IPA SMP, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Dosen pembimbing: (I) Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd. (II) Dr. Munzil, M.Si. Kata Kunci: strategi pembelajaran guided inquiry, keterampilan proses sains, penguasaan konsep sains Diperlukan perbaikan kualitas pembelajaran sains untuk meningkatkan keterampilan proses dan penguasaan konsep sains siswa.Sintaks dalam proses pembelajaran hendaknya dapat mendukung munculnya keterampilan proses sains siswa sekaligus dapat menguatkan pemahaman konsep sains. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran guided inquiry terhadap keterampilan proses dan penguasaan konsep sains siswa SMP Islam Almaarif 02 Singosari. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan rancangan pretes and postes control group design. Pada kelas eksperimen diterapkan strategi pembelajaran guided inquiry dan kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian menggunakan soal pretes dan postes untuk mengukur kemampuan keterampilan proses dan penguasaan konsep sains siswa. Instrumen lain sebagai pendukung adalah hasil pengamatan yang dilakukan observer pada setiap proses pembelajaran berlangsung terhadap kemampuan keterampilan proses sains siswa. Analisis terhadap data hasil pretes dan postes dengan menggunakan uji Anacova menunjukkan: (1) Ada pengaruh yang signifikan antara penerapan strategi pembelajaran guided inquiry dengan pembelajaran konvensional terhadap keterampilan proses sains siswa pada materi cahaya dan alat optik di SMP Islam Almaarif 02 Singosari. Kemampuan keterampilan proses sains siswa yang dibelajarkan dengan guided inquiry memperoleh rerata 72,08 lebih tinggi dibandingkan dengan rerata kelas yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional sebesar 47,85. Peningkatan ini didukung dengan hasil pengamatan keterampilan proses sains siswa selama pembelajaran. Hasil pengamatan keterampilan proses sains siswa kelas eksperimen memperoleh skor rata-rata 69,17 lebih tinggi dari pada skor rata-rata hasil pengamatan keterampilan proses sains siswa kelas kontrol sebesar 66,31. (2) Ada pengaruh yang signifikan antara penerapan strategi pembelajaran guided inquiry dengan pembelajaran konvensional terhadap penguasaan konsep sains siswa pada materi cahaya dan alat optik di SMP Islam Almaarif 02. Kemampuan penguasaan konsep sains siswa yang dibelajarkan dengan strategi pembelajaran guided inquiry memperoleh rerata 51.96 lebih tinggi dibandingkan rerata kemampuan penguasaan konsep sains siswa di kelas yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional yaitu sebesar 30,43. Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian, penerapan strategi pembelajaran guided inquiry dalam pembelajaran sains secara kontinyu diharapkan dapat meningkatkan keterampilan proses dan penguasaan konsep sains siswa dan siswa menjadi terbiasa dengan menemukan dan memecahkan masalah secara mandiri.

Laporan kerja praktek di PT Industri Sandang II Patal Lawang
oleh M. Anang Aliansyah

 

Implementing writing process through interactive pair outlining strategy to improve writing ability in hortatory exposition text of eleventh graders of SMA Negeri 7 Malang / Chasanatun Mujrikhah

 

ABSTRAK Mujrikhah, Chasanatun.2015. Penerapan Writing ProcessmelaluiStrategi Interactive Pair Outlining untuk Meningkatkan KeterampilanSiswadalamMenulisTeksHortatory Expositionpada siswa kelas 11 SMA Negeri 7 Malang. Skripsi.JurusanBahasaInggris,Fakultas Sastra,UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Mirjam Anugerahwati, M.A. (II) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D. Kata kunci: kemampuan menulis, teks hortatory exposition, strategi Interactive Pair Outlining, proses menulis Berdasarkan observasi pendahuluan yang telah dilakukan, peneliti menemukan bahwa kemampuan menulis teks Bahasa Inggris pada siswa kelas peminatanXI MIA 4 masih rendah dan siswa juga kurang memiliki motivasi untuk menulis. Kurangnya variasi strategi guru dalam mengajar membuat siswa enggan untuk menulis. Selain itu malasah yang dihadapi siswa ketika menulis yaitu ketika mereka harus mengemabngkan ide dan menyusunnya ke dalam sebauh pargraf.. Untukmemecahkanmasalahtersebut, penelitimenerapkanproses menulis dengan bantuan strategiInteractive Pair Outlininguntukmeningkatkankegiatanbelajardanmengajarmenulis di kelasdanmeningkatkanketerampilansiswadalammenulistekshortatory exposition.PenelitimenggunakanstrategiInteractive Pair Outliningdikarenakankebanyakansiswamemilikikesulitandalam mengembangkan ide mereka.Oleh karena itu, mereka memerlukan sebuah acuan yang akan digunakan untuk menulis dalam bentuk outline. Selain itu penerapan diskusi ketika membuat outline juga membantu siswa untuk mendapatkan lebih banyak ide. Penelitijugamenggunakanstrategi proses menulis yang terbagi mejadi empat tahap yaitu: pre-writing, planning, drafting, dan post-witing. Penerapan strategiInteractive Pair Outliningterdapat padatahapanplanning. Strategiinimembantusiswamembangundanmengembangkan ide merekakedalamparagraf yang baik. Desain penelitian ini adalah Peneliti Tindakan Kelas. Penelitian ini dilakukan dalam satusiklus yang mencakup enam kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa peminatankelas XI MIA 4 SMA Negeri 7 Malang. Fokus dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menulistekshortatory exposition siswa dan partisipasi siswa selama pelaksanaan tindakan. Instrumen dalampenelitian ini antara lain adalah pedoman wawancara, lembar observasi, kuisioner, catatan reflektifpeneliti, rubrik penilaianmenulis, dan tes menulis. Rekan peneliti ditunjuk untuk mengamati sikap dan partisipasi siswa selama proses belajar mengajar. Kriteria keberhasilan siswa ditentukan dengan menggunakan nilai yaitu 70. Darihasilanalisadata,dapatdinyatakanbahwapenelitianinisuksesdilakukan karenakriteriasuksestelahterpenuhi.Nilai siswa meningkat,dansiswa memberi tanggapan positif terhadap penerapanproses menulis dengan bantuan strategiInteractive Pair Outliningdalam pembelajaran menulis. Hasil analisis data menunjukkan 18 dari 20 siswa menunjukkan peningkatan nilai menulis hingga 10 poin dan 90% siswa mendapat nilai ≥70. Selain itu, lebih dari 75% siswa menunjukkan respon positif terhadap penerapan strategi Interactive Pair Outlining. Keberhasilan peningkatan kemampuan siswa dalam menulis juga berdasarkan penerapan proses menulis dengan strategi Interactive Pair Outlining sesuai langkah berikut:(1) siswa dibimbing untuk membrainstrorm ide berdasarkan topik tertentu, (2) siswa secara berpasangan berdiskusi untuk membuat outline, (3) siswa menulis outline secara individu, (4) siswa membuat draft berdasarkan outline yang dibuat secara individu, (5) siswa mendapat feedback dari guru dan teman sebaya, (6) siswa merevisi dan mengedit teks yang mereka buat berdasarkan feedback yang diberikan. Kesimpulannya, penerapan proses menulis dengan bantuan strategiInteractive pairOutliningdapatdigunakanuntukmeningkatkankemampuanmenulissiswa. Strategiinidapatmembantusiswadalam mengembangkan ide dan menyusun paragraf tekshortatory expositionmenjadilebihbaik.Selain itu, nilaisiswameningkat dansiswalebih termotivasi untukaktifdalamkegiatanbelajarmengajar.Penerapan proses menulis dengan bantuan strategi Interactive Pair Outlining jugamembantusiswauntuk menemukandanmengembangkan ide merekalalumenuangkannyadalamsebuahtekshortatory exposition yang lebih baik.  

Laporan kerja praktek di Dinas Pekerjaan Umum Kotamadya Dati II Malang, tanggal 12 Desember 1983 s/d 12 Pebruari 1984
oleh Syamsul Hadi

 

Developing ''what's on your mind?'' board game as media to teach speaking / Vikka Setiawati Anatha Pindika

 

ABSTRAK SetiawatiAnathaPindika, Vikka. 2015. Developing “What’s on Your Mind?” Board Game as a Medium to Teach Speaking.Skripsi, JurusanSastraInggris, FakultasSastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Emalia Iragiliati, M.Pd, (II) Dra S. NurulMuthmainnah., M.A. Kata kunci: Permainanpapan, keterampilanberbicara, SMA Penelitianinibertujuanuntukmengembangkan media pembelajarandalambentukpermainanpapanpermainan bernama "What's on Your Mind?" untukdigunakan sebagai media mengajar berbicara.Permainanpapaninididisainuntukmemotivasisiswakelas XI SMA untukmempelajariketerampilanberbicara,menciptakansuasanamenyenangkanbagisiswauntukmempelajariBahasaInggris. MateridipilihberdasarkanpadaKurikulum 2013 untukkelas XI semester pertama yang meliputiekspresimengungkapkanpendapat, saran danpenawaran, sertaharapandanmimpi. Penelitianinimengadaptasilangkah-langkahpenelitiandanpengembanganoleh Borg dan Gall (1983) yang meliputianalisiskebutuhan, perencanaanproduk, pengembanganproduk, validasiproduk, revisiproduk I, ujicobaproduk, revisiproduk II, danprodukakhir. Untukmenjaring data dalamanalisiskebutuhan, penelitimewawancarai guru danmenyebarkanangketkepadasiswa.Data darianalisiskebutuhandigunakanuntukmerencanakandanmengembangkanpermainanpapan.Permainanpapan "What's on Your Mind?" dikembangkandenganmengikuti model ASSURE olehHeinich (1982) danmerupakanmodifikasidaripermainanpapanUlarTanggadanMonopoli, terdiriataspapan, panduanpermainan, kartusituasi, bidak, dadu, danstiker. Setelahdikembangkan, papanpermainandivalidasiolehahli di bidangpengembangan media denganmemberikan checklist validasi.Dari hasilvalidasiahli, beberapaaspekdaripermainandirevisimeliputikejelasaninstruksi, tatabahasadalamkartusituasi, dantopik. Setelah direvisi, permainaninidiujicobakankepada 12 subjekdarikelas XI MIA II SMAN 7 Malang, yang kemudiandibagikedalamduakelompokdengansiswadaritingkatkemampuanberbahasaInggrisrendah, pertengahan, danlanjutuntukmasing-masingkelompok. Subjekpenelitian siswa kelas 11, dipilihdenganmempertimbangkansudutpandang guru mengenaipencapaianbelajar di kelasdannilaibahasa Inggris di rapot.Untukmemperoleh data, penelitimewawancarai guru, menyebarkanangketkepadasiswa, danmengamati proses ujicoba. Dari ujicoba, penelitimerevisiukuranbidak dan papan permainan, jumlahdanwarnadadu, danukurankotak. Dari penelitianini, dapatdisimpulkanbahwaprodukinilayakdigunakanuntukmengajarketerampilanberbicarauntuksiswakelas XI SMA.Permainaninidapatmembantusiswameningkatkan rasa percayadiridalammengungkapkan ide dalamBahasaInggris.Guru BahasaInggrisdisarankanuntukbertindaksebagaifasilitatordalamkelas, mengkondisikanpermainanuntuksiswa yang lebihbanyak, danmemodifikasitopikdanhadiahdalampermainan.Sementaraitu, penelitiberikutnyadisarankanuntukmengembangkanlebihbanyakpermainanpapanuntukketerampilan lain.

Laporan kerja praktek pada perusahaan las dan konstruksi CV Nasional Malang
disusun oleh Bambang Suparmadi

 

Potensi wisata dan tanggapan pengunjung terhadap objek wisata air terjun Sedudo di Kabupaten Nganjuk berdasarkan kondisi geografis / Anisyak Putri Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Anisyak Putri. 2015. Potensi Wisata Dan Tanggapan Pengunjung Terhadap Objek Wisata Air Tejun Sedudo di Kabupaten Nganjuk Berdasarkan Kondisi Geografis. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. I Nyoman Ruja, S.U (2) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si. Kata Kunci: Potensi Wisata, Tanggapan Pengunjung, dan Kondisi Geografis Indonesia memiliki berbagai macam destinasti pariwisata yang dapat dinikmati keindahannya. Pariwisata dapat dipilih oleh masyarakat antara lain wisata alam atau wisata budaya. Air terjun Sedudo merupakan maskot dan ikon yang terkenal di Kabupaten Nganjuk, air terjun ini mempunyai tinggi 105 meter dari permukaan laut. Air terjun sedudo memiliki daya tarik untuk dikunjungi oleh wisatawan sehingga tanggapan pengunjung dibutuhkan untuk pengembangan objek wisata berkaitan dengan kondisi geografis objek wisata ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geografis objek wisata Air Terjun Sedudo dan Tanggapan Pengunjung berdasarkan kondisi geografisnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan metode survey. Teknik pengumpulan sampel menggunakan accidental sampling untuk menunjuk para responden dalam mengisi kuisioner yang telah disediakan. Dalam penelitian ini juga melakukan observasi lapangan untuk melihat keadaan yang sebenarnya di lapangan yaitu menggunakan pengkuran kmemiringan lereng di beberapa titik sekitar objek wisata. Analisis data penelitian ini menggunakan tabulasi tunggal dan scoring dibantu dengan aplikasi SPSS 16. Air Terjun Sedudo masuk dalam kategori layak untuk dijadikan tempat wisata alam. Hal ini dilihat dari kondisi georafis objek wisata yaitu lokasi objek wisata, iklim, topografi dan keanekargaman vegetasi termasuk dalam katagori sesuai. Selain itu kondisi penunjang wisata yaitu daya tarik, fasilitas dan aksebilitas juga sudah termasuk pada katagori sesuai. Fasilitas yang terdapat di objek wisata Air Terjun Sedudo termasuk dalam katagori cukup sesuai. Dan aksebilitas menuju objek wisata Air Terjun Sedudo masuk dalam katagori cukup sesuai. Selain perolehan nilai tanggapan dari pengunjung juga menjadi pertimbangan penilaian objek wisata ini. Namun pada penelitian ini ditemukan ada beberapa fasilitas di objek wisata air terjun sedudo yang belum memadai sampai tidak terawat. Jalan menuju air terjun sedudo ada yang rusak dan jalan berlubang serta bergelombang, selain itu jalan menyempit serta menanjak Saran kepada dinas yang terkait adalah Air Terjun Sedudo sebagai maskot dan ikon Kabupaten Nganjuk fasilitas yang ada di objek wisata ini diperbarui atau ditambahkan, agar wisatawan yang datang tidak menyesal dan akan datang kembali berkunjung keobjek wisata Air Terjun Sedudo. Selain itu juga jalan menuju keobjek wisata Air Terjun Sedudo diadakan perbaikan agar wisstawan yang datang mudah mengakses menuju objek wisata ini.

Laporan kerja praktek di bengkel mekanik proyek 227 veteran RI Tulungagung (20 Januari 1981 s/d 20 Maret 1981)
oleh Mardji

 

Perbedaan hasil belajar peserta didik yang menggunakan pembelajaran inquiry dengan pembelajaran langsung pada mata pelajaran sejarah kelas X SMAN I Purwosari Kabupaten Pasuruan tahun ajaran 2014/2015 / Buyung Surya Aditama

 

ABSTRAK Aditama, Buyung Surya. 2015. Perbedaan Hasil Belajar Peserta Didik yang Menggunakan Pembelajaran Inquiry dengan Pembelajaran Langsung Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas X SMAN 1 Purwosari Kabupaten Pasuruan Tahun Ajaran 2014/2015. Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Kasimanuddin Ismain, M.Pd., (II) Deny Yudo Wahyudi, S.Pd. M.Hum. Kata Kunci: Pembelajaran Langsung, Pembelajaran Inquiry, Hasil Belajar. Pendidikan adalah salah satu aspek pencapaian kemajuan bangsa sehingga dari tahun ke tahun pola pembelajaran dalam pendidikan di negara ini harus mengalami perubahan yang mengarah lebih baik dengan terobosan dan inovasi-inovasi yang baru. Dalam pelajaran Sejarah dibutuhkan pengembangan berpikir kritis karena berhubungan dengan pengembangan dari pelajaran Sejarah sendiri yang melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam mempelajari sebuah peristiwa Sejarah. Model Inquiry yang digunakan dalam pembelajaran Sejarah ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar peserta didik dengan cara menguji model pembelajaran yang di terapkan kepada peserta didik, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak semata-mata berasal dari guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Bagaimana hasil belajar peserta didik yang menggunakan pembelajaran langsung?. 2) Bagaimana hasil belajar peserta didik yang menggunakan pembelajaran inquiry?. 3) Bagaimana perbedaan hasil belajar peserta didik yang menggunakan pembelajaran inquiry dengan pembelajaran langsung?. Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment (eksperimen semu). Penelitian ini dikatakan quasi karena perlakuan yang diberikan pada objek penelitian tidak dikendalikan sepenuhnya. Perlakuan ini juga tidak dilaksanakan terlalu ketat dan hanya terbatas pada pelaksanaan pembelajaran di kelas saja. Objek penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X SMAN 1 Purwosari, dengan sampel kelas X3 ditetapkan sebagai kelas eksperimen dan kelas X1 ditetapkan sebagai kelas kontrol. Kelas X1 dan kelas X3 ditetapkan sebagai objek penelitian karena peserta didik pada kedua kelas ini memiliki kemampuan yang sama atau setara berdasarkan nilai UAS dan telah di uji menggunakan uji-t dengan hasil tidak signifikan. Sebelum instrumen digunakan dalam pengambilan data, terlebih dahulu dilakukan telaah soal, ujicoba soal, dan analisis soal. Analisis tersebut meliputi validitas butir soal, reliabilitas butir soal, tingkat kesukaran butir soal, dan analisis daya pembeda soal. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian. Data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes peserta didik, baik pretest maupun posttest. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar. Tes dilaksanakan sebanyak dua kali yakni pretest dan posttest. Hasil penelitian berdasarkan hasil analisis, H0 diterima jika nilai probabilitas (p) > 0,05, dan H0 ditolak jika nilai (p) < 0,05. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai (p) = 0,00 atau (p) < 0,05. Ini berarti H0 ditolak dan H1diterima atau model inquiry berpengaruh terhadap hasil belajar Sejarah peserta didik kelas X SMAN 1 Purwosari. Rata-rata gain score kelas eksperimen yaitu 40 lebih besar dari kelas kontrol dengan skor 27,14. Data tersebut menunjukkan bahwa model inquiry berpengaruh positif terhadap hasil belajar sejarah peserta didik kelas X SMAN 1 Purwosari. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diambil keputusan dalam eksperimen ini H0 ditolak dan H1 diterima sebagai hasil penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan terhadap hasil belajar Sejarah antara peserta didik yang belajar dengan model inquiry dan pembelajaran langsung.

Laporan kerja praktek di PT Faroka SA Malang
disusun oleh Heru Dewo Pudjiono

 

Analisis proses dan kesalahan siswa SMP dalam menyelesaikan soal matematika pisa serta scaffolding-nya / Ahmad Candra Pradana

 

ABSTRAK Pradana, Ahmad Candra. 2015. Analisis Proses dan Kesalahan Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal Matematika Pisa serta Scaffolding-nya. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D., (II) Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph.D. Kata Kunci: analisis, proses menyelesaikan masalah, kesalahan siswa, penyelesaian masalah, soal matematika PISA, scaffolding Rendahnya skor yang dicapai siswa Indonesia pada tes PISA (Programme for International StudentAssessment¬) pada tahun 2009 dan 2012 khususnya pada bidang matematika mencerminkan bahwa siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika PISA. Salah satu cara untuk mengetahui kesulitan siswa adalah dengan menganalisis kesalahan yang dilakukan siswa. Pape (2004) mengelompokkan kesalahan siswa menjadi dua, yaitu kesalahan membaca soal dan kesalahan matematis. Soal matematika PISA termasuk tipe soal penyelesaian masalah, dalam proses menyelesaikannya dapat menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah Polya, yaitu: memahami masalah, merencanakan strategi, melaksanakan strategi dan melihat kembali. Konsep yang diperlukan untuk menyelesaikan soal matematika PISA sudah dipelajari siswa dalam pembelajaran di sekolah yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia. Cara yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal matematika PISA adalah dengan melakukanscaffolding yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan proses penyelesaian yang dilakukan siswa untuk menyelesaikan soal matematika PISA; 2) menganalisis kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal matematika PISA; 3) mendeskripsikan scaffolding yang dilakukan kepada siswa untuk mengatasi kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika PISA. Dalam penelitian ini digunakan rancangan deskriptif kualitatif untuk mencapai tujuan penelitian. Peneliti sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, mengumpulkan data yang berupa proses penyelesaian siswa dalam lembar jawaban yang dilanjutkan dengan wawancara, kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam lembar jawaban dan scaffolding kepada siswa. Scaffolding yang dilakukanmengacu pada tingkat dan jenis scaffolding yang dikemukakan oleh Anghileri (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sudah berusaha menjawab dengan menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah Polya dalam proses penyelesaian meskipun belum sempurna. Dalam menyelesaikan soal matematika PISA kesalahan yang dilakukan siswa antara lain 1) kesalahan membaca soal, yaitu siswa salah dalam memahami gambar ilustrasi dalam soal, siswa tidak memahami soal dengan benar. 2) kesalahan matematis, yaitu siswa ceroboh dalam melakukan perhitungan, salah dalam menerapkan prosedur perhitungan, dan siswa salah dalam memahami konsep matematis. Scaffolding yang dilakukan untuk mengatasi kesalahan tersebut antara lain berupa petunjuk, kesempatan siswa untuk menjelaskan dan memberi alasan, pertanyaan pancingan, memberikan contoh yang serupa, penyederhanaan masalah, menyediakan ilustrasi untuk situasi yang abstrak bagi siswa.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang program sertifikasi guru terhadap minat menjadi guru dan prestasi belajar (studi kasus pada mahasiswa S1 Pendidikan Akuntansi 2007 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Redi Wibowo

 

Kata kunci: Persepsi Mahasiswa tentang Program Sertifikasi, Minat Menjadi Guru dan Prestasi Belajar Globalisasi yang sedang kita hadapi bersama dapat dipastikan melanda seluruh aspek kehidupan kita. Globalisasi tersebut dapat membawa kita pada tingkat persaingan yang semakin ketat, sehingga memerlukan perhatian yang lebih besar bagi dunia pendidikan. Pengembangan Sumber Daya Manusia menjadi aspek yang penting karena merupakan proses peningkatan kualitas manusia. Pembangunan bidang pendidikan memiliki relevansi yang tinggi dengan peningkatan sumber daya manusia. Dalam peranannya untuk mencapai peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan bidang pendidikan menghadapi berbagai permasalahan yang mendesak untuk segera dicarikan pemecahannya. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan tersebut yaitu dengan diadakannya sertifikasi guru. Sertifikasi guru dilaksanakan berdasarkan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standart Nasional Pendidikan. Persepsi adalah suatu konsep yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera agar memberi makna bagi lingkungan (Robbins,2001: 160). Sertifikasi guru dapat menimbulkan persepsi yang berbeda-beda tiap individu. Selanjutnya persepsi tentang sertifikasi guru tersebut dapat mempengaruhi minat menjadi guru. Hurlock (2004:114) menyatakan bahwa minat menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuninya. Bila seseorang berminat terhadap suatu kegiatan yang menurutnya menyenangkan maka mereka akan berusaha keras dan akhirnya dapat meningkatkan prestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung persepsi mahasiswa tentang program sertifikasi guru terhadap minat menjadi guru, yang kedua yaitu untuk mengetahui pengaruh langsung minat menjadi guru terhadap prestasi. Tujuan penelitian yang ketiga yaitu untuk mengetahui pengaruh langsung persepsi mahasiswa tentang program sertifikasi guru terhadap prestasi dan tujuan penelitian yang terakhir yaitu untuk mengetahui pengaruh tidak langsung persepsi mahasiswa tentang program sertifikasi guru terhadap prestasi melalui minat menjadi guru. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Akuntansi angkatan 2007 Universitas Negeri Malang. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sampling dan diperoleh sebesar 35% dari 157 mahasiswa atau 55 responden. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer untuk persepsi mahasiswa tentang program sertifikasi guru dan variabel minat menjadi guru yang berupa hasil angket. Sedangkan data untuk variabel prestasi belajar adalah data sekunder yaitu berupa IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) semester 5. ii Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis jalur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru berpengaruh signifikan terhadap minat menjadi guru dengan nilai koefisien beta terstandarisasi 0,155 . Sedangkan minat menjadi guru tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dengan nilai koefisien beta terstandarisasi 0,004. Persepsi mahasiswa tentang program sertifikasi guru berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dengan nilai koefisien beta terstandarisasi 0.078. Kemudian persepsi mahasiswa tentang program sertifikasi guru tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar melalui minat menjadi guru pada mahasiswa S1 Pendidikan Akuntansi 2007 Universitas Negeri Malang. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang diberikan adalah (1) mahasiswa diharapkan sebisa mungkin selalu memiliki persepsi yang baik terhadap sertifikasi guru karena dapat meningkatkan minat menjadi guru dan prestasi belajar. (2) Peneliti disarankan untuk menambahkan variabel lain misalnya suasana rumah, lingkungan keluarga, motivasi dan memperluas populasi penelitian serta disarankan tidak hanya dilakukan dengan kuisioner (angket saja) untuk pengumpulan data.

Laporan praktek otomotif
disusun oleh Imam Mustangin

 

Penerapan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran komunikasi bisnis (studi pada kelas X Pemasaran SMK Ma'arif NU 04 Pakis Kab. Malang) / Yoga Dwi Arif Wibowo

 

Pengembangan modul materi dan perubahannya dengan model learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas X semester I / Agus Rahmad Pratama

 

Kata kunci: Modul, Model Learning Cycle 5 fase, materi dan perubahannya, KTSP, Dick and Carey Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) proses pembelajaran yang bersifat konstruktivistik sangat ditekankan. Salah satu model pembelajaran yang bersifat konstruktivistik adalah Learning Cycle 5 fase. Untuk lebih mendukung proses pembelajaran yang berorientasi konstruktivistik, maka diperlukan kolaborasi antara bahan ajar dan modul yang digunakan. Sejauh ini bahan ajar berupa modul yang dikembangkan dengan model Learning Cycle 5 fase untuk SMK pada pokok bahasan Materi dan Perubahannya belum tersedia. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan modul Materi dan Perubahannya dengan model Learning Cycle 5 fase. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk menghasilkan modul Materi dan Perubahannya dengan model Learning Cycle 5 fase untuk Sekolah Menengah Kejuruan Semester I serta menguji tingkat kelayalakannya. Modul dikembangkan dengan mengadaptasi desain Dick & Carey yang terdiri dari 10 langkah, yaitu: (1) mengidentifikasi pembelajaran umum, (2) menganalisis materi pembelajaran, (3), mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, (4) menuliskan pengalaman belajar, (5) mengembangkan item tes berbasis kriteria, (6) pemilihan strategi pembelajaran, (7) mengembangkan produk pembelajaran, (8) melakukan validasi formatif , (9) melakukan revisi dan memproduksi modul, dan (10) melakukan evaluasi sumatif. Namun, karena keterbatasan waktu hanya dilakukan sampai langkah ke-9. Desain validasi terdiri dari dua macam yaitu validasi soal uji kompetensi dan validasi isi produk (modul dilengkapi RPP). Validasi soal uji kompetensi diujicobakan ke siswa dan dianalisis validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya bedanya. Soal-soal dengan kriteria baik dimasukkan dalam modul. Modul yang telah lengkap dengan RPP divalidasi isi oleh ahli (validator). Intrumen pengumpulan data berupa soal uji kompetensi dan angket validasi. Hasil validasi dianalisis dengan teknik analisis nilai rata-rata. Hasil dari pengembangan adalah modul Materi dan Perubahannya yang dilengkapi dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dari hasil analisis nilai rata-rata terhadap validasi modul dari 3 validator diperoleh 3,45 dengan kriteria penilaian valid/baik/layak. Hasil validasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,55 dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, dapat disimpulkan modul Materi dan Perubahannya yang dilengkapi dengan RPP sudah layak dan baik untuk divalidasi empirik (evaluasi sumatif) di lapangan. ii

Perbedaan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 7 Malang berdasarkan jender dengan penerapan strategi jigsaw / Agung Pambudiono

 

Pambudiono, Agung. 2013. Perbedaan Kemampuan Berpikir dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 7 Malang Berdasarkan Jender dengan Penerapan Strategi Jigsaw. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd., (II) Dr. Susriyati Mahanal, M.Pd. Kata Kunci: kemampuan berpikir, hasil belajar, jender, Jigsaw     Masalah kemajemukan siswa di sekolah merupakan salah satu pokok bahasan penelitian dalam dunia pendidikan. Perbedaan yang cukup tampak terutama di lingkungan sekolah setingkat SMA adalah perbedaan jender. Siswa laki-laki dan perempuan ternyata berbeda dalam beberapa hal. Beberapa perbedaan tersebut diantaranya perbedaan secara fisik, keterampilan spasial, kemampuan verbal, tingkat agresivitas, dan motivasi. Perbedaan jender tersebut tampaknya berdampak pada cara siswa belajar, sehingga dimungkinkan akan berpengaruh pada hasil belajar siswa. Selain mempengaruhi hasil belajar, perbedaan jender diperkirakan juga berpengaruh pada kemampuan berpikir siswa. Padahal kemampuan berpikir juga berkaitan erat dengan pencapaian hasil belajar siswa. Oleh karena itu, perlu kiranya seorang guru memilih strategi pembelajaran yang mengakomodasi segala perbedaan yang ada di dalam kelas termasuk perbedaan jender. Berdasarkan permasalahan tersebut, penyelesaian yang dapat diajukan adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif Jigsaw. Strategi Jigsaw melibatkan semua siswa secara heterogen untuk aktif belajar. Keterlibatan aktif semua siswa dalam belajar diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa.     Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kemampuan berpikir dan hasil belajar biologi siswa berdasarkan jender dengan penerapan strategi Jigsaw. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan Pre test Post test Nonequivalent Group Desain. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 7 Malang pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013. Populasi penelitian adalah seluruh kelas pada kelas X SMAN Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2012/2013 dan sampel penelitian adalah kelas X.3 yang terdiri atas 16 siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan. Kemampuan berpikir dan hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan tes essay. Instrumen tes yang digunakan terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Data kemampuan berpikir dan hasil belajar yang diperoleh dari hasil pre test dan post test selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis Anakova.     Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) Tidak ada perbedaan kemampuan berpikir siswa kelas X SMAN Negeri 7 Malang berdasarkan jender dengan penerapan strategi Jigsaw, dan (2) Ada perbedaan hasil belajar biologi siswa kelas X SMAN Negeri 7 Malang berdasarkan jender dengan penerapan strategi Jigsaw. Perbedaan kemampuan berpikir dan hasil belajar berdasarkan jender perlu diteliti lebih lanjut pada jenjang pendidikan yang berbeda. Selain itu, pengukuran kemampuan berpikir dengan indikator kemampuan berbahasa membutuhkan kecermatan yang tinggi. Oleh karena itu, disarankan agar lebih teliti dalam melakukan penskoran pada penelitian selanjutnya

Perhitungan perencanaan bangunan pengairan
disusun oleh Ahmad Dardiri

 

Pengembangan modul sistem operasi jaringan dengan model problem based learning pada kelas XI semester 1 Program Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi sesuai kurikulum 2013 / Setyaningsih

 

ABSTRAK Setyaningsih. 2014.Pengembangan Modul Sistem Operasi Jaringan dengan Model Problem Based Learning pada Kelas XI Semester 1 Program Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi Sesuai Kurikulum 2013. Skripsi, Pendidikan Teknik Informatika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muladi, S.T. M.T., (II) Dyah Lestari, S.T., M.Eng Kata kunci: Kurikulum 2013, modul ajar, Sistem Operasi Jaringan, Problem Based Learning. Kurikulum 2013 menerapkan prinsip bahwa peserta didik merupakan subjek dalam belajar. Peserta didik dituntut dapat belajar mandiri dan berpikir kritis serta kreatif. Oleh karena itu diperlukan inovasi bahan ajar yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Bahan ajar yang dimaksud adalah modul ajar cetak mata pelajaran Sistem Operasi Jaringan Kelas XI yang terdiri dari modul siswa dan modul guru. Modul ajar yang dikembangkan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), siswa dituntut untuk dapat memecahkan masalah secara mandiri. Tujuan dari pengembangan modul ajaradalah menyediakan modul pembelajaran berbasis Problem Based Learning Sistem Operasi Jaringan Kelas XI Semester 1 dan menguji kelayakan modul berbasis PBL Sistem Operasi Jaringan Kelas XI Semester 1. Model pengembangan yang digunakan adalah model Dick and Carey yang terdiri dari 10 tahapan, namun pengembangan modul ini hanya menggunakan sembilan tahap yaitu: mengidentifikasi tujuan pembelajaran, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik, merumuskan tujuan pembelajaran, melakukan analisis pembelajaran, mengembangkan butir test acuan patokan, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan bahan ajar, merancang dan melaksanakan uji coba formatif, dan revisi bahan ajar. Hasil dari penelitian ini berupa modul siswa dan modul guru. Instrumen pengumpulan data yang akan digunakan dalam pengembangan ini adalah angket. Hasil uji coba formatif pada setiap tahapan meliputi hasil uji perseorangan ahli materi sebesar 87,5%, hasil uji perseorangan ahli media sebesar 91%, hasil uji kelompok kecil 81,42%, dan hasil uji lapangan sebesar 80,48%. Dari data yang diperoleh, disimpulkan bahwa modul ajar berbasis PBL mata pelajaran Sistem Operasi Jaringan Kelas XI Semester 1 dinyatakan sangat layak untuk digunakan untuk siswa kelas XI program keahlian TKJ.

Penyelenggaraan pelatihan keterampilan otomotif untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (studi kasus di Balai latihan Kerja Industri (BLKI) Makasar) / oleh Abdul Wahid Hasan

 

Laporan praktek kerja pada gedung laboratorium ilmu hayat IKIP Malang
disusun oleh Slamet

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |