Pengaruh variasi jumlah sudu terhadap putaran, daya, dan efisiensi yang dihasilan turbin air pelton dengan sudu bilah / Roni Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Roni. 2009. PENGARUH VARIASI JUMLAH SUDU (BUCKET) TERHADAP PUTARAN, DAYA DAN EFISIENSI YANG DIHASILKAN TURBIN AIR PELTON DENGAN SUDU BILAH. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Drs. Sunomo, M.Pd., Pembimbing (II): Retno Wulandari, S.T., M.T.. Kata kunci : bucket, putaran, daya, efisiensi, turbin Pelton. Pembangkit listrik skala mikrohidro adalah sebuah instalasi pembangkit listrik yang memiliki kapasitas kecil dan dalam pembangunan instalasinya dibutuhkan anggaran yang relatif kecil dibandingkan dengan anggaran pembangunan sebuah PLTA. Pada akhirnya diharapkan bahwa efisiensi dari turbin air Pelton yang digunakan akan semakin meningkat dan semua masalah krisis energi listrik dapat segera terselesaikan sehingga semua orang dapat mendapatkan pemenuhan atas kebutuhan energi listrik. Bucket atau runner adalah komponen penting dalam proses konversi energi kinetik menjadi energi mekanik pada sebuah instalasi turbin air Pelton. Konstruksi bucket sangat mempengaruhi hasil guna atau konversi potensi energi yang terkandung dalam air terjun menjadi energi mekanik yang selanjutnya dapat dikonversi menjadi bentuk yang lain sesuai dengan kebutuhan. Dalam penelitian ini peneliti membuat beberapa buah runner masing-masing memiliki 6 buah, 9 buah, 12 buah, dan 15 buah mata sudu. Selanjutnya sudu dipasang pada mesin uji prestasi turbin air dan diberikan beberapa varisi pembebanan. Setelah diberikan pembebanan kemudian diamati berapa putaran yang dihasilkan untuk dianalisis lebih lanjut. Variasi pembebanan yang dipakai adalah 0 Newton, 5 Newton, 10 Newton, 15 Newton, 20 Newton, 25 Newton, 30 Newton, 35 Newton, dan 40 Newton. Penelitian menggunakan metode eksperimental di laboratorium teknik mesin dan dilakukan dengan menggunakan mesin uji prestasi turbin air yang jumlah sudunya divariasi terhadap putaran, daya, serta efisiensi dan didapatkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dari putaran, daya, dan efisiensi turbin yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukan beberapa hal, yaitu: 1. Jika jumlah sudu bertambah1 buah maka putaran turbin akan bertambah sebesar 13,886 rpm, 2. Jika jumlah sudu bertambah1 buah maka daya turbin akan bertambah sebesar 0,043watt, 3. Jika jumlah sudu bertambah1 buah maka efisiensi turbin akan bertambah sebesar 1,604 %.

Survei manajemen ekstrakurikuler bola basket di SMA Negeri 2 Malang / Irawan Bagus Satriyo

 

ABSTRAK Bagus, Irawan. 2009. Survei Manajemen Ekstrakurikuler Bola Basket di SMA Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan Rekreasi, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Gatot Subijantoro, M. Kes (II) Drs. Mu'arifin, M. Pd. Kata kunci: manajemen, ekstrakurikuler bola basket Pengembangan potensi siswa tentunya tidak hanya dapat dikembangkan hanya melalui pendidikan intrakurikuler, namun pendidikan ekstrakurikuler juga memiliki peranan yang besar pula. Pendidikan kemandirian, kedisiplinan dan ketrampilan serta pengembangan diri juga bisa diperoleh melalui kegiatan ekstrakurikuler. Berkembangnya kegiatan ekstrakurikuler yang penuh prestasi, bisa dijadikan alat pemikat bagi suatu sekolah dalam penerimaan peserta didik baru, yang dengan bangga memamerkan prestasi-prestasi yang pernah diraih. Dan masyarakat bisa menilai kemajuan suatu sekolah tidak hanya berdasarkan prestasi akademik saja melainkan juga prestasi non akademik yang dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Salah satu usaha yang dilakukan sekolah untuk meningkatkan pembinaan ekstrakurikuler di sekolah adalah diadakannya ekstrakurikuler bola basket. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti bahwa pembinaan kegiatan ekstrakurikuler bola basket di SMA Negeri 2 Malang sudah cukup maksimal, hal ini terbukti dengan banyaknya prestasi-prestasi di bidang olahraga yang diraih, khususnya olahraga bola basket. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen ekstrakurikuler bola basket di SMA Negeri 2 Malang, berkaitan dengan aspek sebagai berikut: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2009. Subjek dalam penelitian ini adalah pengurus ekstrakurikuler bola basket, diantaranya adalah: wakakesiswan, pembina atau pelatih, siswa yang menjadi ketua atau wakil pengurus ekstrakurikuler dan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif, rancangan penelitian yang digunakan adalah survei, instrumen yang digunakan adalah angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen ekstrakurikuler bola basket di SMA Negeri 2 Malang termasuk dalam kategori baik, hal ini ditunjukkan dari jawaban responden melalui angket sebagai berikut: wakakesiwaan, pembina atau pelatih ekstrakurikuler, siswa yang menjadi ketua atau wakil pengurus ekstrakurikuler bola basket dan siswa yang menjadi pemain inti bola basket SMA Negeri 2 Malang yaitu 87,9% yang berarti baik. Perencanaan ekstrakurikuler bola basket SMA Negeri 2 Malang dalam menetapkan tujuan, merencanakan program kegiatan, jadwal dan anggaran kegiatan ektrakurikuler bola basket dari segi wakakesiswaan, pembina atau pelatih, ketua atau wakil pengurus ekstrakurikuler bola basket dan pemain inti bola basket SMA Negeri 2 Malang secara keseluruhan termasuk kategori baik. Pengorganisasian ekstrakurikuler bola basket SMA Negeri 2 Malang dalam penyusunan struktur organisasi, pembentukan bidang sesuai dengan klasifikasi kegiatan dan menetapkan peraturan kerja kegiatan ekstrakurikuler olahraga bola basket dari segi wakakesiswaan adalah kurang baik, sedangkan dari segi pembina atau pelatih ketua atau wakil pengurus ekstrakurikuler dan pemain inti bola basket SMA Negeri 2 Malang secara keseluruhan adalah termasuk kategori baik. Pelaksanaan ekstrakurikuler bola basket SMA Negeri 2 Malang dalam menetapkan saluran komunikasi, pelaksanaan sesuai rencana, menjalin kerjasama dan pemilihan cara memberi motivasi dari segi wakakesiswaan, pembina atau pelatih ekstrakurikuler, ketua atau wakil pengurus ekstrakurikuler dan pemain inti bola basket SMA Negeri 2 Malang adalah termasuk kategori baik. Pengawasan ekstrakurikuler bola basket SMA Negeri 2 Malang dalam mengawasi kegiatan, mengukur pelaksanaan kegiatan, membandingkan pelaksanaan dengan perencanaan, laporan pelaksanaan kegiatan, memperbaiki penyimpangan yang terjadi dari segi wakakesiswaan, pembina atau pelatih ekstrakurikuler dan pemain inti bola basket SMA Negeri 2 Malang adalah termasuk kategori baik, sedangkan dari segi ketua atau wakil pengurus ekstrakurikuler adalah termasuk kategori kurang baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen ekstrakurikuler bola basket SMA Negeri 2 Malang sudah termasuk kategori baik.

Penerapan model pembelajaran kooperatif jigsaw untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X-A SMA Taman Madya Malang / Yuli Purwanti

 

ABSTRAK Purwanti, Yuli. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-A SMA Taman Madya Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi FMIPA Program Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Soedjono Basoeki, M.Pd (II) Nuning Wulandari, S.Si, M.Si Kata Kunci: Motivasi, Hasil Belajar, model pembelajaran kooperatif Jigsaw Berdasarkan hasil observasi awal, hasil wawancara dengan guru mata pelajaran biologi kelas X-A SMA Taman Madya Malang diketahui bahwa SMA Taman Madya Malang menggunakan kurikulum KTSP dan metode konvensional. Guru sangat mendominasi dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswa terlihat kurang aktif dan tidak banyak terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode konvensional. Berdasarkan pengalaman peneliti selama menjadi guru PPL SMA Taman Madya Malang, kelas X-A menunjukkan bahwa siswa sering ramai pada waktu proses belajar mengajar berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa rendah, sehingga perlu ada variasi model pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Model pembelajaran koopertif Jigsaw diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut, karena dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw mengaktifkan siswa melalui kelompok kecil sehingga melatih siswa untuk berkomunikasi dan interaksi antar teman. Komunikasi dan interaksi siswa tersebut akan melatih kemampuan bertanya dan menerangkan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X-A SMA Taman Madya Malang. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, masing-masing siklus 3 kali pertemuan. Setiap siklus meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-A SMA Taman Madya Malang semester genap 2008/2009 yang berjumlah 21 siswa dengan materi Animalia. Pengambilan data dilaksanakan bulan Maret-April 2009. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi motivasi siswa, tes, wawancara dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif dan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran koopertif Jigsaw dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas X-A SMA Taman Madya Malang. Hasil pembelajaran dilihat dari keseluruhan aspek motivasi menunjukkan terjadinya peningkatan belajar klasikal dengan kategori baik sebesar 10,472%, yaitu dari 60,002% pada siklus I menjadi 70,474% pada siklus II. Ketuntasan belajar minimal untuk mata pelajaran Biologi kelas X-A SMA Taman Madaya Malang sebesar 60%. Peningkatan persentase ketuntasan belajar (kognitif) dari siklus I ke siklus II sebesar 24% yaitu dari 62% pada siklus I menjadi 86% pada siklus II. i

Perancangan event G-land go surving day di Pantai Plengkung Banyuwangi / Krisna Vindya Hajar Al Kahfi

 

ABSTRAK Alkahfi, Krisna Vindya Hajar. 2009. Perancangan Event G- Land Go Surfing Day di Pantai Plengkung Banyuwangi.Skripsi, Program Studi Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (1) Dra. Ida Siti Herawati M.Pd, (2) Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si Kata kunci: Event G- Land Go Surfing Day, Pantai Plengkung, Perancangan Wanawisata pantai Plengkung merupakan salah satu pantai yang berada di Kabupaten Banyuwangi yang berada di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, dan dikenal dengan julukan G- Land. Selain itu pantai Plengkung merupakan pantai yang memiliki potensi sumber daya alam yang berupa keunikan objek wisata pantai yang berbeda dari objek wisata pantai lainnya yang berada di Indonesia. Namun, potensi dari wanawisata pantai Plengkung ini hanya diketahui penduduk sekitar tempat wisata dan sedikit dari wisatawan Internasional maupun lokal yang mengetahui keberadaan pantai ini. Potensi ini tidak akan dikenal oleh wisatawan lokal maupun Internasional apabila kurangnya media promosi yang mendukung untuk mempermudah dalam proses pengenalan tempat wisata pantai Plengkung ini. Adapun tujuan dari perancangan ini adalah merancang Event G- Land Go Surfing Day di pantai Plengkung Banyuwangi secara efisien dan dapat disampaikan secara visual. Visualisasi yang disesuaikan dengan target audience primer, yaitu semua usia yang berwilayah di wilayah Indonesia maupun Internasional. Model Perancangan Event G- Land go Surfing Day di Pantai Plengkung Banyuwangi dengan menggunakan metode perancangan prosedural yang bersifat deskriptif. Yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan suatu bentuk produk Perancangan Event G- Land Go Surfing Day di pantai Plengkung yang efektif, inovatif dan komunikatif sesuai audience yang dituju dalam perancanganan ini, pengambilan keputusan akhir didasarkan pada kesepakatan antara perancangan dengan balai Taman Nasional Alas Purwo selaku pendukung dan pemberi kesempatan pada perancang. (Sanyoto, 2006:37). Langkah – langkah perancangan harus membentuk aliran, mulai dari Latar Belakang sampai Desain Final tanpa terputus. Desain Final Yang baik harus dapat menjawab Latar Belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan perancangan, sehingga aliran itu seolah-olah kembali ke latar belakang masalah perancangan.

Pengaruh financial leverage terhadap earning per share (EPS) (studi pada perusahaan sektor telekomunikasi yang listing di BEI periode Desember 2005 - Juni 2008) / Maulia M.J.

 

ABSTRAK Janna Maulia, Miftakhul. 2009. Pengaruh Financial Leverage terhadap Earning Per Share (EPS) Perusahaan Sektor Telekomunikasi yang Listing di BEI Periode Desember 2005-Juni 2008. Skripsi, Program Studi Manajemen Keuangan, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Agung Winarno, S.E., M.Si. (2) Lulu Nurul Istianti, S.E., M.M. Kata kunci : Debt to Equity Ratio (DER), Degree of Financial Leverage (DFL), Times Interest Earned Ratio (TIER), Earning Per Share (EPS). Pada dasarnya dalam melaksanakan kegiatannya setiap perusahaan memerlukan dana untuk membiayai operasinya. Pendanaan yang dilakukan oleh perusahaan dapat berasal dari modal sendiri (equity) maupun berasal dari utang, baik utang jangka pendek maupun jangka panjang. Besar kecilnya pendanaan perusahaan yang berasal dari utang merupakan cerminan tingkat leverage dari suatu perusahaan. Tingkat leverage tersebut akan menentukan jumlah besar kecilnya Earning Per Share (EPS) yang akan diterima pada setiap lembar sahamnya, sehingga dapat diketahui kemampulabaan perusahaan dalam menghasilkan laba (earning) tiap lembar sahamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan besarnya Debt to Equity Ratio (DER), Degree of Financial Leverage (DFL), Times Interest Earned Ratio (TIER) dan pendapatan per lembar saham (Earning Per Share-EPS) dari perusahaan sektor telekomunikasi selama periode Desember 2005-Juni 2008, dan pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Degree of Financial Leverage (DFL) dan Times Interest Earned Ratio (TIER) terhadap Earning Per share (EPS) perusahaan sektor telekomunikasi selama periode pengamatan baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan sektor telekomunikasi yang listing di BEI sebanyak 6 perusahaan, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 5 perusahaan yang diambil secara purpossive sampling. Dalam penelitian ini rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian penjelasan (explanatory research). Dan untuk teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi. Sedangakan analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) rata-rata DER perusahaan sampel mengalami penurunan, DFL mengalami peningkatan, TIER mengalami penurunan, dan EPS mengalami penurunan, 2) secara parsial Debt to Equity Ratio (DER), Degree of Financial Leverage (DFL), Times Interest Earned Ratio (TIER) berpengaruh signifikan terhadap Earning Per share (EPS), 3) Earning Per share (EPS) perusahaan sektor telekomunikasi yang listing di BEI periode Desember 2005-Juni 2008 secara simultan dipengaruhi oleh Debt to Equity Ratio (DER), Degree of Financial Leverage (DFL), Times Interest Earned Ratio (TIER).

Meningkatkan motivasi belajar matematika siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe think pair square / Septi Triwahyu

 

ABSTRAK Triwahyu, Septi. 2009. Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Square. Skripsi, Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwiyana, M.Pd dan (II) I Nengah Parta, S.Pd, M.Si. Kata kunci: meningkatkan motivasi belajar, pembelajaran kooperatif, tipe Think Pair Square Motivasi belajar siswa merupakan sesuatu yang sangat penting untuk kegiatan belajar siswa. Hal ini karena dengan adanya motivasi belajar akan timbul kegiatan belajar dalam diri siswa dan menjamin keberlangsungan kegiatan belajar tersebut. Motivasi belajar siswa akan meningkat jika siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran. Think Pair Square adalah tipe pembelajaran kooperatif yang mengoptimalkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dituntut untuk aktif selama proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan tipe Think Pair Square yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2009 dalam 2 tahap, yaitu tahap pra tindakan dan tahap pelaksanaan tindakan. Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam 2 siklus, siklus 1 dilaksanakan dalam empat kali pertemuan dan siklus 2 dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan tipe Think Pair Square yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen adalah (1) tahap Think (berpikir individu) yaitu tahap saat siswa menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru secara individu dengan menuliskan hasil penyelesaiannya pada LKSnya masing-masing, (2) tahap Pair (berpikir secara berpasangan) yaitu tahap saat siswa berpasangan dengan siswa lain dalam kelompok berempatnya dan mendiskusikan penyelesaian permasalahan yang diberikan guru, pasangan siswa ditentukan oleh warna sampul pada LKSnya masing-masing, pada tahap ini siswa level rendah dipasangkan dengan siswa level sedang sedangkan siswa level tinggi dipasangkan dengan siswa level sedang, (3) tahap Square (sharing/berbagi dalam kelompok berempat) yaitu tahap saat siswa sharing (berbagi) dan saling mengemukakan pendapat dalam kelompok berempatnya, dan (4) tahap presentasi hasil kerja kelompok yaitu tahap saat siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok berempatnya di depan kelas, pada tahap ini siswa yang menjawab pertanyaan kelompok lain, memberikan kontra contoh, dan bertanya akan mendapatkan poin. Pengurangan aktivitas pada LKS yang bersifat latihan soal dapat memberikan waktu yang lebih banyak pada siswa untuk mendiskusikan penyelesaian masalah yang diberikan guru sehingga motivasi siswa dapat meningkat. ABSTRACT Triwahyu, Septi. 2009. Improving Student’s Mathematics Learning Motivation by Cooperative Learning with Think Pair Square Type. Sarjana’s thesis, Mathematics, Mathematics and Science Faculty, State University of Malang. Advisor: (I) Drs. Dwiyana, M.Pd and (II) I Nengah Parta, S.Pd, M.Si. Key Words: improving learning motivation, cooperative learning, Think Pair Square type Student’s learning motivation is important thing in learning process. It’s because learning motivation can cause the students learning by them self and this activity will be done continually. Student’s learning motivation will be increased if the students do the learning process actively. Think Pair Square is cooperative learning type that can make the students do the activity maximally in learning process. So that the students must be active during the learning process. This research wants to get the procedure of cooperative learning with Think Pair Square type that can improve the student’s learning motivation of XI IPA 4 class in SMA Negeri 1 Kepanjen. This research uses qualitative and quantitative approach. The type of this research is classroom action research. The subject of this research is the students of XI IPA 4 SMA Negeri 1 Kepanjen. This research was done on March until May 2009 with two steps, that is the pre action step and the action step. The action step was done in two cycles, the first cycle consist of 4 meetings and the second cycle consist of 2 meetings. The result of this research can be concluded that the procedures of cooperative learning with Think Pair Square type that can improve the student’s learning motivation of XI IPA 4 class in SMA Negeri 1 Kepanjen are (1) Think step (think by them self), in this step the students must solve the problems that are given by their teacher individually with written the result in their own worksheet, (2) Pair step (think with their couple), in this step the students must discuss the result of the problems that are solved in think step with their couple, the couple is the student that has the worksheet with the same color, the student with the low level will be paired with the student with medium level and the student with high level will be paired with the student with medium level, (3) Square step (sharing in group), in this step the students can share and discuss the result of the problems in their group, and (4) presentation of the result group step, in this step the students can present their result of the problems with their group in front of the class, the students that can answer the question from the other group, give an alternative example, and give question will get point. The evaluation activities in the worksheet are reduced so that the students will have much time to share the solution of the problems which are given by the teacher so that the student’s learning motivation can increase.

Hubungan kecerdasan emosi dan perilaku kekerasan antar teman sebaya pada siswa di SMK Nasional Malang / Ika Sari Juwita

 

ABSTRAK Juwita, Ika Sari. 2009. Hubungan Kecerdasan Emosi dan Perilaku Kekerasan antar Teman Sebaya Pada Siswa di SMK Nasional Malang. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Fattah Hanurawan, M.Ed, M,Si (2) Hetti Rahmawati, S.Psi, M.Si. Kata Kunci : kecerdasan emosi, perilaku kekerasan antar teman sebaya. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa peralihan ini remaja belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya. Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan tiadanya pembelajaran dan penerapan kecerdasan emosi akan menjadi pemicu timbulnya perilaku kekerasan antar teman sebaya pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui deskripsi tingkat kecerdasan emosi siswa di SMK Nasional Malang, (2) Mengetahui deskripsi tingkat perilaku kekerasan antar teman sebaya pada siswa di SMK Nasional Malang, (3) Mengetahui hubungan kecerdasan emosi dan perilaku kekerasan antar teman sebaya pada siswa di SMK Nasional Malang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara kecerdasan emosi dan perilaku kekerasan antar teman sebaya pada siswa di SMK Nasional Malang. Penelitian ini berjenis deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa di SMK Nasional Malang dengan jumlah sampel sebanyak 84 siswa yang ditentukan dengan random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu skala kecerdasan emosi dengan nilai koefisien validitas item sebesar 0,377-0,688. Koefisien reliabilitas skala kecerdasan emosi sebesar 0,865. Sedangkan skala perilaku kekerasan mempunyai nilai koefisien validitas item sebesar 0,303 – 0,688 dengan koefisien reliabilitas skala perilaku kekerasan antar teman sebaya sebesar 0,856. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, siswa SMK Nasional Malang mempunyai kecerdasan emosi tinggi. Hal ini disimpulkan dari sebagian besar sampel penelitian sebanyak 78,57% memiliki kecerdasan emosi pada tingkatan tinggi. Sedangkan Berdasarkan hasil analisis deskriptif siswa SMK Nasional Malang berada pada tingkatan rendah dalam melakukan kekerasan antar teman sebaya. Hal ini disimpulkan dari sebagian besar sampel penelitian yaitu sebanyak 76,19% berada pada tingkatan rendah dalam melakukan kekerasan antar teman sebaya. Hasil analisis korelasi product moment menghasilkan koefisien korelasi sebesar rxy = -0,989 dengan nilai p= 0,000 (p<0,01). Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif antara kecerdasan emosi dan perilaku kekerasan antar teman sebaya pada siswa di SMK Nasional Malang. Dari penelitian ini disarankan kepada para siswa agar meningkatkan kecerdasan emosinya sehingga bisa mengurangi perilaku kekerasan antar teman sebaya. Kepada pihak sekolah untuk menerapkan pembelajaran berbasis kecerdasan emosi, bagi konselor sekolah dan orang tua agar memberikan pelatihan manajemen emosi sehingga dapat mencegah dan menurunkan perilaku kekerasan antar teman sebaya di lingkungan sekolah.

Pengaruh pendinginan udara masuk dan variasi putaran terhadap kebisingan mesin diesel berbahan bakar biodiesel (solar-minyak jarak) / Irkham Slamet Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Irkham Slamet. 2009. Pengaruh pendinginan udara masuk dan variasi putaran terhadap kebisingan motor diesel berbahan bakar biodiesel (minyak jarak-minyak solar). Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT UM. Pembimbing: (I) Dr. Mardji, M. Kes.; (II) Sukarni, S.T, M.T. Kata kunci: Pendinginan, putaran mesin, kebisingan mesin. Kebisingan merupakan salah satu gejala yang meresahkan masyarakat. apalagi salah satu penyebabnya adalah mesin diesel yang sering dipakai oleh sebagian besar kalangan masyarakat, baik untuk perindustrian maupun kendaraan angkutan, meskipun gejala yang terjadi seperti itu kebisingan mesin diesel juga dapat dikurangi dengan memasukan udara yang berlebih yang diharapkan dapat memaksimalkan pembakaran pada mesin diesel, salah satunya dengan cara mendinginkan udara sebelum masuk keruang bakar agar massa udara semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan pendinginan udara masuk, pengaruh yang signifikan variasi putaran mesin, dan pengaruh interaksi yang signifikan antara pendinginan udara masuk dengan variasi putaran mesin terhadap kebisingan mesin diesel berbahan bakar biodiesel. Minyak jarak yang digunakan sebagai bahan bakar biodiesel (20% minyak jarak-80% solar) dalam penelitian ini diperoleh dari Lembaga Penilitian Universitas Negeri Malang, yaitu minyak jarak yang telah melalui proses transesterifikasi. Sedangkan yang diaplikasikan untuk mendinginkan udara masuk adalah dry ice yang diperoleh dari pabrik PT. PETROKIMIA Gresik. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang, tanggal 26 Mei 2009 dengan menggunakan alat Sound level meter (Krisbow). Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimental dengan desain faktorial 6 x 2. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analis varian dua jalan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perlakuan putaran mesin yang digunakan adalah rentangan 1400 rpm, 1700 rpm, 2000 rpm, 2300 rpm, 2600 rpm dan 2900 rpm. Hasil Penelitian menunjukkan Fhitung Putaran Mesin > Ftabel Putaran Mesin dan sig.FPutaran Mesin < 0,01, maka dapat diambil keputusan putaran mesin berpengaruh terhadap kebisingan. Fhitung Kondisi Pendingin > Ftabel Kondisi Pendingin dan sig.FKondisi Pendingin < 0,01, maka dapat diambil keputusan kondisi pendingin berpengaruh terhadap kebisingan. Fhitung Putaran Mesin * Kondisi Pendingin > Ftabel Putaran Mesin * Kondisi Pendingin dan sig.F Putaran Mesin * Kondisi Pendingin < 0,01, maka dapat diambil keputusan interaksi antara putaran mesin dengan kondisi pendingin berpengaruh terhadap kebisingan. Kesimpulan penelitian Putaran mesin mempengaruhi kebisingan. Pada saat putaran mesin 2900 rpm menghasilkan kebisingan paling tinggi dan pada saat putaran mesin 1400 menghasilkan kebisingan paling sedikit. Kondisi pendingin mempengaruhi kebisingan. Pada saat mesin diberi pendingin dry ice, kebisingan mencapai nilai tertinggi. Interaksi antara putaran mesin dan kondisi pendingin mempengaruhi kebisingan. Kebisingan tertinggi terjadi ketika mesin tidak diberi pendingin dan memiliki putaran 2900 rpm, sedangkan kebisingan terendah terjadi ketika mesin tidak diberi pendingin dan mesin berputar 1400 rpm.

Pengukuran kinerja sekolah dengan menggunakan balanced scorecard menuju sekolah mandiri (studi kasus pada Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Malang) / Apriantini Ainun Maftuhah

 

ABSTRAK Maftuhah, Apriantini A. 2009. Pengukuran Kinerja Sekolah dengan menggunakan Balanced Scorecard Menuju Sekolah Mandiri ( Studi Kasus SMA Negeri 7 Malang).Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Sutatmi, SE, M.Pd, M.Si, Ak., (2) Eka Ananta Sidharta, SE, MM, Ak. Kata Kunci: Pengukuran Kinerja, Balanced Scorecard Sistem pendidikan yang selama ini dikelola dalam suatu iklim yang birokratik sudah saatnya kini dirubah dengan sistem tata kelola yang lebih baik. Sistem tata kelola birokratik seringkali mengesampingkan peranan kepala sekolah dan guru. Tata kelola yang lebih baik dilakukan dengan cara meningkatkan peran kepala sekolah, guru dan orang tua siswa. Sistem tata kelola yang baru ini disebut dengan Manajemen Berbasis Sekolah. MBS mengharapkan sekolah untuk menjadi mandiri dan selalu meningkatkan mutu kinerjanya. Salah satu konsep manajemen yang dapat diadopsi dari perusahaan adalah konsep balanced scorecard (BSC). BSC dapat diterapkan di sekolah untuk mengukur seberapa efektif dan efisien kinerja sekolah dilihat dari kinerja keuangan dan non keuangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengukuran kinerja SMA Negeri 7 Malang dilihat dari empat (4) perspektif BSC, yaitu: (1) perspektif Keuangan, (2) perspektif pelanggan, (3) perspektif proses internal bisnis, dan (4) perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan obyek SMA Negeri 7 Malang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah (a) dokumentasi, (b) wawancara, dan (c) angket. Responden yang terlibat adalah guru, siswa, dan orang tua siswa. Teknik anlisis yang digunakan adalah time series analysis, yaitu membandingkan hasil pengukuran selama tahun ajaran 2005/2006, 2006/2007, dan 2007/2008. Dilihat dari perspektif keuangannya kinerja SMA Negeri 7 Malang dapat dinilai baik karena sudah terpenuhinya semua fasilitas pendidikan yang diperlukan siswa dan diberikannya laporan penggunaan dana yang berasal dari orang tua. Kinerja SMA Negeri 7 Malang dilihat dari perspektif pelanggan juga dapat dinilai baik, karena selalu terpenuhinya pagu, lulusan yang mencapai 90% dan kepuasan para siswa dan orang tua terhadap pelayanan yang diberikan sekolah. Menurut perspektif proses internal bisnis kinerja SMA Negeri 7 Malang juga dinilai baik karena sudah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung kegiatan belajar mengajar guru dan siswa. Sedangkan dilihat dari perspektif pertumbuhan dan pembelajaran kinerja SMA Negeri 7 Malang juga dapat dinilai baik, karena loyalitas guru dan karyawannya selama ini sudah baik dan usaha peningkatan kompetensi juga selalu dilakukan sekolah atau dilakukan masing-masing guru secara individu. ABC Amber Text Converter Trial version, http://www.processtext.com/abctxt.html Dari hasil penelitian ini diharapkan sekolah dapat terus meningkatkan kualitas para guru, sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas para lulusan. Pada akhirnya juga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat pada SMAN 7 Malang.

Proses interaksi berpikir siswa dalam pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) kelas VIIIA semester II di SMP Negeri 4 Malang / Siti Nafsitah

 

ABSTRAK Nafsitah, Siti. 2009. Proses Interaksi Berpikir Siswa dalam Pembelajaran Kooperatif Model Two Stay Two Stray ( TSTS) Kelas VIII Semester II di SMPN 4 Malang. Skripsi, Jurusan Matematika, Program Studi Pendidikan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. M. Shohibul Kahfi, M. Pd (2) Dr. Hery Susanto, M. Si Kata kunci: Proses Interaksi Berpikir, Two Stay Two Stray (TSTS) Kegiatan pembelajaran yang merupakan bagian dari pendidikan terdapat proses interaksi berpikir siswa untuk melengkapi struktur kognitifnya sehingga memiliki keterhubungan antara konsep-konsep pengetahuan di dalamnya. Metode menghafal tanpa disertai pemahaman menyebabkan struktur kognitif siswa akan terpisah antara satu bagian dengan bagian yang lainnya, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa. Metode pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS) adalah metode pembelajaran yang mengoptimalkan kegiatan interaksi siswa untuk melengkapi struktur kognitifnya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan pada siswa kelas VIIIA semester II di SMPN 4 Malang dengan mengambil empat siswa sebagai subjek penelitian dengan karakteristik heterogen dalam kemampuan akademis. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan terjadinya proses interaksi berpikir siswa dalam pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) kelas VIIIA semester II di SMPN 4 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kegiatan diskusi dengan menggunakan pembelajaran kooperative model Two Stay Two Stray (TSTS) terjadi proses interaksi berpikir multiarah antara subjek penelitian pada saat melengkapi lembar kegiatan kelompok (LKK), dan pada saat subjek penelitian melaksanakan kegiatan bertamu dan menjadi tuan rumah. Subjek penelitian pertama (siswa kemampuan tinggi) cenderung menyumbangkan pengetahuan kepada teman diskusinya. Siswa yang berkemampuan sedang cenderung seimbang antara menyumbangkan dan menerima pengetahuan dari teman diskusinya. Subjek penelitian keempat (siswa yang berkemampuan rendah) cenderung menerima pengetahuan dari teman diskusinya. Subjek penelitian 3 (siswa berkemampuan sedang 2) lebih aktif berinteraksi dengan dengan teman diskusinya dalam kegiatan diskusi dibandingkan subjek penelitian 2 (siswa berkemampuan sedang 1). Perubahan struktur pengetahuan subjek penelitian menjadi lebih sesuai dengan struktur masalah yang diberikan setelah kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan untuk adanya penelitian lebih lanjut. Misalnya adalah penelitian mengenai konstruksi pengetahuan siswa pada materi luas permukaan prisma dan limas atau bangun ruang lainnya, yang pelaksanaannya lebih terfokus pada siswa untuk metode pembelajaran kooperatif yang lain.

Penerapan soal open-ended dalam pembelajaran matematika untuk siswa kelas VII SMP Negeri 3 Bangkalan / Baitul Afifah

 

ABSTRAK AFIFAH, BAITUL. 2009. Penerapan Soal Open-Ended Dalam Pembelajaran Matematika Untuk Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Bangkalan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj Cholis Sa’dijah M.Pd, M.A (2) Dra. Tri Hapsari Utami M.Pd Kata Kunci: bangun datar, matematika, pembelajaran, soal Open-ended Berbagai strategi mengajar menyebabkan pendidik harus bisa memilih strategi pembelajaran yang dapat menunjang tujuan pembelajaran agar penyampaian materi pembelajaran dapat diterima oleh siswa dengan baik. Dalam hal ini strategi yang dipilih adalah strategi pembelajaran dengan pendekatan open-ended. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan soal open-ended dapat mampu memberikan keleluasaan bagi siswa untuk mengemukakan jawaban dan lebih bersifat merangsang kreatifitas berfikir siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Untuk mengkaji pelaksanaan penerapan pembelajaran matematika dengan menggunakan soal open-ended, (b) Untuk mengkaji tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan soal open-ended pada pokok bahasan bangun datar di kelas VII SMPN 3 Bangkalan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang dimaksudkan untuk dapat memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian seperti, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Dari hasil analisis didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami kemajuan, hal ini dapat dilihat dari nilai belajar siswa yang mengalami peningkatan mulai dari pertemuan kedua sampai terakhir meskipun nilai yang diperoleh tidak begitu sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu siswa juga merasa senang dengan adanya pembelajaran menggunakan soal open-ended karena mereka lebih mempunyai kesempatan untuk berpendapat dan mengemukakan ide-ide mereka.

Hubungan antara pola asuh orang tua demokratis dan prestasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Lawang tahun ajaran 2008/2009 / Yunita Ratna Widyawati

 

ABSTRAK Widyawati, R Yunita. 2009. Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua Demokratis Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPS Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 1 Lawang Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Mardono, M.Si (2) Dra. Hj. Lisa Rokhmani, M.Si Kata Kunci : Pola Asuh Orang Tua Demokratis, Prestasi Belajar Ekonomi Pola asuh orang tua merupakan model atau cara yang digunakan orang tua dalam mengasuh anaknya. Adapun pola asuh orang tua yang ada yaitu pola asuh orang tua demokratis ditandai dengan adanya pengarahan-pengarahan dari orang tua dalam musyawarah. Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui gambaran bagaimana pola asuh orang tua demokratis siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Lawang (2)Untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Lawang (3)Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pola asuh orang tua demokratis dan prestasi belajar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMAN I Lawang yang jumlah keseluruhannya 200 siswa, dan sampel 50 siswa yang ditetapkan dengan menggunakan propotional random sampling. Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan metode angket dan dokumentasi. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang digunakan untuk mendeskripsikan pola asuh orang tua yaitu pola asuh orang tua demokratis sebagai variabel X dan prestasi belajar sebagai variabel Y dalam bentuk perhitungan prosentase. Dan korelasi product moment untuk menganalisis hubungan antara pola asuh orang tua demokratis dan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan: 1). Kecenderungan pola asuh orang tua demokratis pada Siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Lawang yang paling banyak yaitu “Cukup”. 2). Prestasi belajar siswa kelas X di SMAN 1 Lawang pada mata pelajaran ekonomi semester ganjil tahun ajaran 2008/ 2009 tergolong cukup baik, hal ini dibuktikan dengan 40% responden memiliki nilai mata pelajaran ekonomi cukup baik. 3). Tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua demokratis dan prestasi belajar siswa. Berdasarkan dari hipotesis yang diuji ternyata model pola asuh orang tua demokratis dan prestasi belajar tidak ada hubungan yang signifikan yaitu yang dapat dilihat bahwa r hitung < r tabel (0,043 < 0,279) maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dari hasil penelitian ini penulis dapat memberikan saran kepada orang tua, orang tua hendaknya tidak membandingkan prestasi belajar anaknya dengan anak orang lain, karena setiap anak mempunyai kemampuan, bakat dan minat yang berbeda serta hendaknya dapat memberikan perhatian dan ikut berperan serta aktif dalam proses belajar anak sehingga anak bisa termotivasi untuk belajar. Kepada siswa, hendaknya siswa bisa menjalankan tugas sebagai siswa dengan sebaikbaiknya yaitu belajar dengan baik dan benar.

Pelaksanaan pembelajaran seni budaya sub bidang seni tari dalam mengimplementasikan seni tradisi daerah setempat berdasarkan KTSP di SMA Negeri 3 Malang / Istika Yuliana

 

ABSTRAK Yuliana, Istika.2009. Pelaksanaan Pembelajaran Seni Budaya Sub Bidang Seni Tari dalam Mengimplementasikan Seni Tradisi Daerah Setempat Berdasarkan KTSP di SMA Negeri 3 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soerjo Wido Minarto, M. Pd, (II) Drs.Supriyono. Kata kunci: Pembelajaran Seni Budaya Sub Bidang Seni Tari, KTSP. KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik siswa sebagai bagian dari rencana jangka panjang dan upaya pemerintah untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan KTSP tidak dapat dipisahkan dari peran guru dan pengurus sekolah. Pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya di SMA Negeri 3 Malang menerapkan tiga cabang seni dan menjadikan ketiga cabang seni tersebut sebagai sub bidang Mata Pelajaran Seni Budaya. Untuk pelaksanaan pembelajarannya guru memiliki keunikan tersendiri. Tujuan dari Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tentang Pelaksanaan Pembelajaran Seni Budaya Sub Bidang Seni Tari berdasarkan KTSP di SMA Negeri 3 Malang yang meliputi: a) materi ajar, b) metode mengajar, dan c) media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan deskriptif. Subjek penelitiannya adalah guru seni tari. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumen. Analisis data dilakukan dengan tiga cara yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Teknik pemeriksaan keabsahan temuan untuk mengetahui kesahihan (validitas) data dalam penelitian, yaitu ketekunan pengamatan dan trianggulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya di SMA Negeri 3 Malang menerapkan tiga bidang seni. Ketiga bidang seni tersebut adalah seni rupa, seni tari, dan seni musik. Untuk pelaksanaan pembelajaran Seni Budaya di SMA Negeri 3 Malang ketiga bidang seni tersebut diajarkan secara bersamaan dalam tiap pertemuannya. Jadi dalam satu kelas seni budaya terdapat tiga materi ajar yang berbeda sesuai dengan masing-masing bidang seni. Sehubungan dengan penelitian yang diambil oleh peneliti, maka pelaksanaan pembelajarannya hanya difokuskan pada satu bidang seni yaitu seni tari. Dalam pelaksanaan pembelajaran bidang seni tari ini, dapat diketahui tentang materi yang digunakan adalah mengkaji tari Grebeg Sabrang; metode yang dipakai adalah ceramah, demonstrasi, pemberian tugas, mencontoh, diskusi dan kerja kelompok; media yang digunakan adalah media berbasis manusia yakni guru, media audio-visual yaitu VCD dan TV, media berbasis audio yaitu tape dan kaset tari. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran di SMA Negeri 3 Malang guru Seni Budaya memiliki karakter mengajar yang berbeda dengan sekolah-sekolah yang lain, karena pada sekolah ini untuk mata pelajaran Seni Budaya memiliki tiga bidang seni yang dalam pelaksanaan pembelajarannya dilakukan secara bersamaan dalam tiap pertemuan dalam kelas. Saran yang dapat diberikan bagi guru bidang seni tari adalah untuk bahan ajar yang digunakan lebih menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa, metode yang digunakan sudah sesuai, dan media yang digunakan sudah sesuai dengan sarana prasarana yang ada , hanya guru harus lebih memanfaatkan sarana prasarana yang ada dengan sebaik-baiknya.

Studi pelaksanaan model kelas wirausaha Jurusan Tata Boga tahun pelajaran 2008/2009 di SMK Negeri 3 Malang / Siti Haja Wati Paoh

 

ABSTRAK Paoh, Siti Haja Wati. 2009. Studi Pelaksanaan Model Kelas Wirausaha Jurusan Tata Boga Tahun Pelajaran 2008-2009 Di SMK Negeri 3 Malang. Program S1 Pendidikan Tata Boga. Bidang Keahlian Usaha Jasa Restoran. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Prof. Dr. H. Mohammad Efendi, M. Pd, M. Kes. Pembimbing II Dra. Hj. Anti Asta Viani, M. Pd. Kata Kunci: Model Kelas Wirausaha. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara kualitatif bagaimana persiapan pelaksanaan model kelas wirausaha yang ada di SMK Negeri 3 Malang. Sumber data pada penelitian ini adalah ketua wirausaha, waka kurikulum, dan guru Boga. Teknik pegumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kesiapan pelaksanaan model kelas wirausaha di SMK Negeri 3 Malang adalah: (a) Persiapan Pelaksanaan sudah cukup baik dalam hal promosi dan seleksi (b) Pelaksanaan meliputi: kurikulum KTSP, sarana dan prasarana khususnya untuk ruangan teori masih terbatas, tetapi peralatan pengolahan dan ruangan praktek sudah memenuhi jumlah yang diinginkan, metode dan teknik pembelajaran lebih banyak ke pelajaran produktif sebanyak 70%, sedangkan untuk pelajaran adaptif dan normatif sebanyak 30 % (c) Evaluasi Hasil Belajar menggunakan bentuk penilaian unjuk kerja, (performance), penugasan, hasil kerja, tertulis, dan portofolio. Adapun hasil evaluasi belum bisa dijelaskan hal ini disebabkan karena penilaian hasil belajar kelas wirausaha harus menjalankan uji entrepreneur yang akan dilaksanakan pada kelas XII. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan model kelas wirausaha yang ada di SMK Negeri 3 Malang sudah memiliki kesiapan yang cukup baik. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah aspek sarana dan prasarana, yaitu perlu adanya penambahan khususnya untuk ruang teori demi kelancaran proses pembelajaran.

Pengembangan model pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu di SMP Negeri 1 Wlingi Kabupaten Blitar / Miftakhul Arifin

 

ABSTRAK Arifin, Miftakhul. 2009. Pengembangan Model Pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu di SMP Negeri 1 Wlingi Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Heru Widijoto, M. S. (2) Drs. Agus Gatot Subijantoro, M. Kes. Kata kunci: Pengembangan, Model Pembelajaran, Kebugaran Jasmani, Media Sederhana, Bambu. Di SMP Negeri 1 Wlingi Kabupaten Blitar aktivitas kebugaran jasmani diberikan pada pembelajaran Pendidikan Jasmani aspek pengembangan, berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan, Pelaksanaan pembelajarannya meliputi sit–up, push–up, back-up, siswa kurang tertarik dan tidak serius dalam melaksanakannya, dan belum pernah dilakukan pembelajaran menggunakan media sederhana, untuk itu perlu dilakukan pengembangan model pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu. Aktivitas Pembelajaran Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan untuk aktivitas pengembangan berisi latihan kebugaran jasmani, dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. dan meliputi latihan kelentukan, kekuatan, keseimbangan, kecepatan, kelincahan, dan daya tahan. Media sederhana yang dikembangkan menggunakan bahan bambu berbentuk kipas, gawang, lingkaran, tonggak zig-zag, gelang, lingkaran keseimbangan, bilah jembatan, dan bola. Tujuan pengembangan model pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu di SMP Negeri 1 Wlingi ini adalah diharapkan dengan adanya model pembelajaran aktivitas kebugaran jasmani menggunakan bambu dapat membuat siswa senang dan serius dalam mengikuti pembelajaran aktivitas kebugaran jasmani dan dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah. Dalam penelitian ini model pengembangan dari sepuluh langkah penelitian pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan materi kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assesment) dengan angket yang ditujukan kepada siswa dan guru pendidikan jasmani, serta observasi sekolah, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli Kebugaran Jasmani, 1 ahli media pendidikan jasmani, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa Model Pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu. Berdasarkan hasil analisa dari dua guru pendidikan jasmani SMP Negeri 1 Wlingi, 80,95% menyatakan sangat menarik. Dan klasifikasi persentase antara 76 – 100 % tergolong dalam klasifikasi baik (dapat digunakan). Hasil analisa uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 36 siswa SMP Negeri 1 Wlingi, 82,54% menyatakan sangat mudah untuk melakukan aktivitas kebugaran menggunakan bambu, dan 89,29% sangat menyenangkan melakukan aktivitas kebugaran dari bahan bambu ini. Hasil klasifikasi persentase yaitu antara 76 – 100 % tergolong dalam klasifikasi baik (dapat digunakan). Produk pengembangan berupa Model pembelajaran menggunakan media sederhana dari bahan bambu memiliki 1) dapat menarik perhatian siswa untuk mau melakukan aktivitas kebugaran jasmani, 2) siswa dapat melakukan aktivitas kebugaran jasmani dengan mudah dan senang, 3) Guru dapat memanfaatkan sumber daya alam sekitar seperti bambu ini untuk media pembelajaran kebugaran jasmani. Produk pengembangan berupa model pembelajaran kebugaran jasmani, diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru pendidikan jasmani dalam memberikan pelajaran aspek pengembangan materi kebugaran jasmani, penggunaan media sederhana menggunakan bahan dari bambu dapat dilaksanakan oleh guru pendidikan jasmani di sekolah lain.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X-4 SMAN 9 Malang / Hanik Rofiqoh

 

Berdasarkan hasil observasi awal diketahui bahwa pembelajarn ekonomi di SMA Negeri 9 Malang, pada umumnya guru masih menggunakan metode konvensional (ceramah), membahas LKS, dan tanya jawab, yang mana dalam tanya jawab tersebut hanya siswa tertentu saja yang mau bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru sehingga pembelajaran kurang bervariasi. Hal tersebut menyebabkan siswa merasa bosan dan cenderung meremehkan guru dengan ramai sendiri bersama teman sebangkunya, maka akan membuat motivasi belajar siswa rendah. Rendahnya motivasi belajar ekonomi dan sikap siswa tersebut berdampak terhadap hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 9 Malang. Hal ini dapat dilihat dari masih banyak nilai hasil ujian siswa di bawah Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yang ditetapkan di SMA Negeri 9 Malang yaitu 75 ke atas. Selain itu, pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat tradisional. Pada materi tertentu terkadang menggunakan diskusi, namun sebatas diskusi konvensional, sehingga sering dijumpai siswa yang masih tergantung pada teman atau guru dan siswa cenderung malas untuk berfikir. Untuk mengatasi permasalahan di atas, diperlukan suatu metode pembelajaran yang melibatkan peran aktif siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa dilakukan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share(TPS). Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented). Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas X-4 SMA Negeri 9 Malang dan mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X-4 SMA Negeri 9 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penerapan model Think Pair Share (TPS) dilakukan dengan dua siklus yang terdiri dari empat kali pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-4 SMA Negeri 9 Malang dengan jumlah 41 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, rubric penilaian, observasi, catatan lapangan, angket, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan persentase seluruh aspek motivasi belajar siswa yang diamati yaitu 61,40% dengan kategori cukup pada siklus I meningkat menjadi 80,98% dengan kategori sangat tinggi pada siklus II. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, dimana siklus pertama ditinjau dari aspek kognitif setelah tindakan rata-rata sebesar 82,05% dan pada siklus kedua menjadi 94,87%. Dari aspek afektif didapat rata-rata pada siklus pertama sebesar 74,36% dan pada siklus kedua sebesar 89,74%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas X-4 SMA Negeri 9 Malang. (2) penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar ekonomi siswa kelas X-4 SMA Negeri 9 Malang. Adapun saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagi sekolah hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam menerapkan model pembelajaran Think Pair Share pada pembelajaran ekonomi agar dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan maksimal. (2) Bagi guru dalam menerapkan model pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa akan menggunakan langkah-langkah, diantaranya Thinking (berpikir) yaitu siswa mulai memikirkan secara individu pertanyaan/masalah yang diberikan guru dalam waku tertentu, Pairing (berpasangan) yaitu siswa berpasangan dengan teman sebangku atau yang lainnya untuk mendiskusikan mengenai jawaban yang telah diperoleh dari masing-masing siswa, dan Sharing (berbagi) yaitu siswa secara individu mewakili kelompok atau berdua mereka maju bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas. (3) Bagi siswa hendaknya lebih meningkatkanmotivasi dalam pembelajaran karena siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan meningkatkan hasil belajarnya dan tercapai hasil yang maksimal. (4) Bagi peneliti selanjutnya penelitian ini hendaknya dapat diteruskan oleh peneliti selanjutnya dengan kelas, sekolah, dan materi yang berbeda. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya melakukan tindakan lebih dari dua siklus. Sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal guna perbaikan pendidikan.

Pengaruh tingkat risiko saham terhadap return saham pembentuk portofolio optimal (studi pada industri perbankan yang terdaftar di BEI pada tahun 2004-2007) / Muamar Kadafi

 

ABSTRAK Kadafi, Muamar. 2009. Pengaruh Tingkat Risiko Saham Terhadap Return Saham Pembentuk Portofolio Optimal (Studi Pada Saham Industri Perbankan Yang Terdaftar Di Bei Pada Tahun 2004-2007). Skripsi. Jurusan Menejemen Keuangan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. F Danardana Murwani, M.M. Pembimbing (II) Yuli Soesetio, S.E., M.M. Kata kunci : tingkat risiko saham, return saham pembentuk portofolio optimal Return adalah keuntungan yang akan diperoleh dari investasi, dimana return dapat dibedakan menjadi return realisasi dan return ekspektasi. Tingkat return yang digunakan dalam penelitian ini adalah return realisasi bulanan rata-rata atau yang disebut return ekspektasi, karena dalam investasi, return yang dapat diterima di masa akan datang lebih diperhitungkan. Risiko adalah penyimpangan antara return yang diharapkan dengan return yang benar-benar diterima. Indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah risiko sistematis karena beta tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi. Bagian risiko yang hilang karena diversifikasi menjadi tidak relevan dalam pengukuran risiko, hanya risiko yang tidak dapat hilanglah yang relevan. Portofolio Optimal adalah portofolio efisien yang menyedikan kepuasan tertinggi yang dapat dinikmati oleh investor. Saham-saham yang masuk dalam kandidat portofolio optimal adalah saham yang menghasilkan ERB sama dengan atau lebih besar dari Cutting point. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat risiko saham terhadap return saham pembentuk portofolio optimal pada industri perbankan yang terdaftar di BEI pada tahun 2004-2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat risiko berpengaruh secara signifikan terhadap return saham pembentuk portofolio optimal. Dapat diketahui juga hubungan kedua variabel positif, tetapi tidak cukup kuat dengan tingkat determinasi variabel bebas terhadap variabel terikat sebesar 0.098 (9.8%). Berdasarkan hasil Penelitian, disarankan kepada investor hendaknya memilih kapan waktu yang tepat untuk melakukan transaksi dalam pasar modal. Selain itu, terlebih dahulu memadukan metode indeks tunggal dengan metode-metode yang lain. Dalam pengambilan keputusan investasi hendaknya tidak hanya mempertimbangkan tingkat risiko saham saja, tetapi juga mempertimbangkan kondisi kinerja perusahaan dan kondisi pasar. Dan bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya menambahkan variabel-variabel lain yang mungkin lebih berpengaruh saham pembentuk portofolio optimal. Selain itu dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kinerja dari portofolio optimal.

Pengembangan modul pembelajaran fisika untuk biologi dengan tema torka (momen gaya), pusatgravitasi, dan keseimbangan pada perkuliahan mahasiswa biologi / Diaur Rahman

 

ABSTRAK Rahman,D. 2009. Pengembangan Modul Pembelajaran Fisika Untuk Biologi tema Torka (Momen gaya), pusat gravitasi dan keseimbangan pada perkuliahan Mahasiswa Biologi. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra.Endang Purwaningsih, M.Si., (II) Drs. Sumardji Adikusuma, M.Si. Kata Kunci: Modul Pembelajaran, Fisika untuk Biologi. Menyediakan bahan ajar sebagai rujukan belajar untuk guru atau dosen maupun mahasiswa (siswa) merupakan langkah yang dilakukan oleh pemerintah dalam menigkatkan kualitas pendidikan di negara ini. Bahan ajar merupakan salah satu sarana yang penting dalam menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan modul pembelajaran fisika untuk biologi dengan tema momen gaya, pusat gravitasi dan keseimbangan untuk perkuliahan mahasiswa biologi yang menempuh fisika dasar pada semester gasal. Metode pengembangan yang digunakan pada penelitian ini meng-ikuti langkah-langkah penelitian pengembangan yang telah dimodifikasi, terdiri dari : (1) studi pendahuluan; (2) penyusunan draft modul, yang me-liputi pengembangan rancangan modul pembelajaran, pengembangan isi pembelajaran dan tahap penulisan modul; (3) pengembangan modul. Instru-men penelitian yang digunakan berupa angket yang diisi oleh evaluator. Jenis data berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diper-oleh dari analisis nilai rata-rata angket skala Likert, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator. Modul pembelajaran yang dikembangkan lebih menekankan pada penerapran konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari terutama yang terkait dengan bidang biologi. Pembelajaran tersebut diharapkan dapat memotivasi mahasiswa dalam mempelajari fisika. Berdasarkan hasil uji validitas, modul pembelajaran memperoleh skor 3,12 yang bernilai cukup layak/cukup valid. Kelebihan dalam bahan ajar yang dikembangkan adalah: (1) disesuaikan dengan men-gacu pada kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh mahasiswa seperti pada katalog jurusan biologi, (2) penyusunannya disesuaikan dengan para-digma pembelajaran kontekstual, (3) mahasiswa dapat melihat hubungan yang bermakna antara materi fisika dan biologi, (4) beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus sehingga terjadi efisiensi waktu Selain memiliki ke-lebihan; sedangkan kekurangan pada baan ajar ini adalah: (1) belum dilaku-kan validitas empirik (uji coba lapangan) sehingga belum diketahuai tingkat efisiensi waktu setelah modul pembelajaran ini,(2) modul pembelajaran hasil pengembangan merupakan penerapan konsep fisika sehingga mahasiswa di-tuntut untuk berwawasan luas dan memiliki pemahaman yang lebih, (3) modul pembelajaran yang dihasilkan disertai gambar-gambar berwarna untuk menarik perhatian mahasiswa, (4) penerapan penekanannya masih sebatas pada fisika tubuh manusia.

Penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran seni budaya kelas 8 di SMP Negeri 1 Malang / M. Dwi Cahyadi Prihatmoko

 

ABSTRAK Prihatmoko, M. Dwi, Cahyadi. 2009. Penggunaan Media Pembelajaran Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas 8 di SMP Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing :(I) Dra. Hj. Purwatiningsih, M. Pd (II) Drs. Andi Harisman. Kata kunci: jenis media pembelajaran, penggunaan media, peranan Media. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup. Salah satu pertanda bahwa seorang telah belajar suatu adalah perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut baik perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (apektif). Dalam pembelajaran dikenal berbagai media yang digunakan sebagai pendukung berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya media, siswa akan lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui gambaran jenis media pembelajaran yang digunakan dalam mata pelajaran Seni Budaya kelas 8 pada materi menggambar ilustrasi di SMP Negeri 1 Malang (2) mengetahui gambaran penggunaan media pembelajaran dalam mata pelajaran Seni Budaya pada materi menggambar ilustrasi kelas 8 di SMP Negeri 1 Malang (3) mengetahui gambaran peranan media pembelajaran dalam mata pelajaran Seni Budaya pada materi menggambar ilustrasi kelas 8 di SMP Negeri 1 Malang. Rancangan penelitian ini adalah menggunakan jenis Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, sedangkan untuk pengumpulan datanya menggunakan angket terstruktur. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik prosentase.     Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan sebesar 50,8% siswa menyatakan jenis media pembelajaran yang digunakan dalam mata pelajaran Seni Budaya kelas 8 pada materi menggambar ilustrasi di SMP Negeri 1 Malang cukup baik. Sebesar 59,6% siswa menyatakan penggunaan media pembelajaran dalam mata pelajaran Seni Budaya kelas 8 pada materi menggambar ilustrasi baik. Sebesar 42,6% siswa menyatakan peranan media pembelajaran dalam mata pelajaran Seni Budaya pada materi menggambar ilustrasi kelas 8 di SMP Negeri 1 Malang cukup baik. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa jenis media pembelajaran yang digunakan dalam mata pelajaran Seni Budaya kelas 8 pada materi menggambar ilustrasi mempunyai kriteria cukup baik, penggunaan media pembelajaran dalam mata pelajaran Seni Budaya pada materi menggambar ilustrasi kelas 8 mempunyai kriteria baik dan peranan media pembelajaran dalam mata pelajaran Seni Budaya pada materi menggambar ilustrasi kelas 8 di SMP Negeri 1 Malang mempunyai kriteria cukup baik. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan (1) Sekolah diharapkan dapat terus mengembangkan pola pembelajaran baik Seni Budaya ataupun pelajaran lain. (2) Guru, diharapkan dapat semaksimal mungkin memberikan yang terbaik pada siswa. (3) Pembaca, khususnya pelaku pendidikan harus mengerti bahwa banyak hal yang perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan. (4) Penelitian selanjutnya disarankan diadakan tindak lanjut penelitian yang serupa tetapi pada subjek yang berbeda. i

Sejarah warung kopi blandongan dan makna pendidikannya (sebuah studi tentang perkembangan warung kopi blandongan dan identitas anak muda) / Dwi Indah Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Dwi Indah. 2009. Sejarah Warung Kopi Blandongan dan Makna Pendidikannya (sebuah studi tentang perkembangan warung kopi dan identitas Anak muda) Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Irawan, M. Hum. (2) Waskito, S. Sos, M. Hum. Kata Kunci: Warung Kopi Blandongan, Anak Muda, Identitas Warung Kopi Blandongan merupakan salah satu warung kopi terbesar di Yogyakarta. Warung ini berciri khas Jawa Timur. Anak-anak muda biasa meluangkan waktu di sini, mulai pagi hingga malam hari. Selain ngopi, berbagai macam aktivitas mereka lakukan di warung kopi Blandongan. Menyinggung beberapa hal yang berkaitan dengan anak muda dan perilakunya maka pada masa muda seseorang bergulat dengan masalah makna, gaya hidup dan hubungan dengan orang lain. Dalam era yang penuh perubahan inilah anak-anak muda mempunyai kesempatan untuk memiliki waktu luang di tempat-tempat hiburan seperti salah satunya adalah warung kopi Blandongan. Setiap manusia di dalam masyarakat sepertinya tidak dapat melepaskan diri dari identitas. Artinya, identitas sendiri merupakan suatu hal yang diperlukan oleh setiap manusia untuk menunjukkan siapa dirinya kepada orang lain dalam berinteraksi. Perlunya sebuah identitas merupakan alasan logis karena denganya keberadaan seseorang dalam suatu masyarakat diakui dan tidak disisihkan oleh masyarakat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah warung kopi Blandongan?; (2) Apa makna warung kopi dalam proses pengukuhan identitas kelompok anak muda di warung kopi Blandongan?; (3) Bagaimana relevansi penelitian ini terhadap dunia pendidikan? Pada penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode Kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) Pengamatan/observasi; (2) Wawancara mendalam; (3) Focus Group Discussion; (4) Dokumentasi Hasil penelitian menunjukkan, bahwa keberagaman budaya masyarakat kota Yogyakarta sebagai konsekuensi Kota Budaya dan kota Pendidikan sangat mempengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Masyarakat yang heterogen tersebut, memunculkan kondisi sosial masyarakat dengan fenomena akulturasi kebudayaan. Anak-anak muda atau komunitas warung kopi Blandongan merupakan anak-anak muda yang berasal dari Jawa Timur yang berada dalam fase pencarian identitas dengan menggunakan warung kopi sebagai sarananya. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan anak muda terdapat satu kritik terhadap satu teori tentang budaya massa yang mengaitkan konsumennya dengan hal-hal yang bersifat negatif. Berdasarkan hasil penelitian ini, Komunitas warung kopi Blandongan dalam segala aktivitas dan perilaku yang ditunjukkan hendaknya bersifat positif dan terbuka. Masyarakat sebaiknya tidak selalu memandang negatif terhadap warung kopi Blandongan dan komunitasnya. Harus terdapat pengertian bahwa budaya yang dibawa oleh komunitas warung kopi Blandongan adalah bagian dari keanekaragaman budaya bangsa Indonesia. Institusi pendidikan diharapkan dapat lebih meningkatkan masalah pembekalan terhadap penguatan nilai dan norma budaya dalam rangka membangun dan mengembangkan diri siswa. Bagi Pendidik diharapkan mampu memahami peserta didik tentang pengetahuan dan pengalamannya agar siswa dapat memilih dan memilah tentang unsur-unsur kebudayaan baru yang bersifat positif dan negatif

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan model numbered heads together (kepala bermotor) untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS sejarah pada siswa kelas VIII F di SMP Negeri 1 Malang / Hari Hadi Kesuma

 

ABSTRAK Kesuma, Hari, Hadi . 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Model Numbered Heads Together (Kepala Bernomor) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Sejarah pada Siswa Kelas VIII F di SMP Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Sri Sumartini. M.Si, (II) Drs. Joko Sayono M.Pd. M.Hum. Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, model NHT, hasil belajar. Proses pembelajaran di kelas memiliki peranan sangat penting dalam upaya penerapan tujuan pembelajaran dan peningkatan hasil belajar. Guru hendaknya memilih dan menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa. Pemilihan dan penggunaan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi atau bahan ajar yang akan diajarkan diharapkan akan memudahkan siswa untuk memahami materi yang diajarkan dan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa yang diajar. Oleh karena itu diterapkan model NHT pada mata pelajaran IPS sejarah guna meningkatkan hasil belajar. Hasil belajar siswa kelas VIII F SMPN 1 Malang masih rendah. Rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh 1) Penggunaan model pembelajaran yang kurang variatif, 2) siswa menganggap mata pelajaran sejarah membosankan karena siswa kurang dilibatkan. Hasil belajar siswa yang rendah terlihat pada hasil ulangan harian siswa yang rendah, dimana yang mengalami tuntas belajar hanya 10 orang dari 30 siswa. Masalah yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif dengan model NHT pada siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Malang, (2) Bagaimana hasil belajar siswa mata pelajaran IPS Sejarah pada siswa kelas VIII F SMP Negeri 1 Malang setelah diterapkan model pembelajaran NHT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII F SMPN 1 Malang mengenai materi Pergerakan Nasional dan Sumpah Pemuda pada mata pelajaran IPS Sejarah. Hal ini didukung oleh hasil belajar dan respon siswa yang positif. Semua siswa merasa senang dengan model pembelajaran NHT dan lebih mudah memahami materi Pergerakan Nasional dan Sumpah Pemuda. Data hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan perolehan nilai rata- rata siswa untuk aspek kognitif dan aspek afektif. Untuk aspek kognitif nilai rata- rata sebelum diberi tindakan sebesar 51,33, pada siklus1 dan siklus 2 setelah diberi tindakan rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 72,66 pada siklus I dan 78,66 pada siklus II. Untuk ketuntasan belajar secara klaksikal dari aspek kognitif mengalami peningkatan persentase yaitu dari 70% pada siklus I menjadi 86,67% pada siklus II. Nilai rata-rata aspek afektif mengalami peningkatan persentase yaitu 73,33% pada siklus I menjadi 86,67% pada siklus II. Kesimpulannya bahwa hasil belajar siswa baik dari segi kognitif maupun afektif mengalami peningkatan. i

Implementasi metode BCCT untuk mengajar menggambar pada Taman Kanak-kanak Harapan Bangsa, Lamongan / Ardiansyah

 

ABSTRAK Ardiansyah. 2009. Implementasi Metode BCCT untuk Mengajar Menggambar pada Taman Kanak-Kanak Tunas Harapan Bangsa, Lamongan, guna Mengasah Kreativitas Anak. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Ida Siti Herawati, M.Pd, (II) Dra. Tjitjik Sriwardhani, M.Pd Kata kunci: metode BCCT, kreativitas anak, TK Metode Beyond Centers and Circle Time (BCCT) merupakan suatu metode atau pendekatan dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yang dikembangkan berdasarkan kajian teoritik dan pengalaman empirik dari pengembangan metode Montessori, High Scope, dan Reggio Emilla. Metode ini ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak melalui bermain yang terarah, dimana pembelajarannya dapat merangsang anak untuk aktif, kreatif, dan terus berpikir dengan menggali pengalamannya sendiri. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen yang bertujuan mengimplementasikan metode BCCT untuk mengajar menggambar pada TK Tunas Harapan Bangsa, Lamongan, guna mengasah kreativitas anak. Untuk memperoleh data tersebut diperlukan tes sebagai instrumen/ alat pengumpulan data. Sebelum instrumen dipakai sebagai alat pengumpulan data, terlebih dahulu dilakukan uji coba kelayakan instrumen. Kemudian dilakukan analisis butir soal tes yaitu dengan validitas, yang hasilnya adalah valid karena nilai tes dari ke lima guru TK tersebut sama atau tidah jauh beda. Uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan pre-test yang hasilnya adalah homogen karena jumlah skor rata-rata pre-test kelas eksperimen dan kontrol adalah sama yaitu 74. Uji hipotesis menggunakan analisis data uji statistik parametrik dengan uji-t untuk varian homogen (pooled variance t-test), dengan syarat data berdistribusi homogen, yang hasilnya adalah: 1. thitung = 1,38 < t0,05 = 2,26, maka berdasarkan kriteria pengambilan keputusan dengan taraf signifikasi 0,05, H0 ditolak dan hipotesis penelitian diterima, berarti metode BCCT lebih efektif dalam mengasah kreativitas anak. 2. thitung = 1,38 < t0,01 = 3,25, maka berdasarkan kriteria pengambilan keputusan dengan taraf signifikasi 0,01, H0 ditolak dan hipotesis penelitian diterima, berarti metode BCCT lebih efektif dalam mengasah kreativitas anak. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut bagi peneliti yang tertarik pada permasalahan yang sama dalam jangka waktu yang lama, sampel yang lebih besar, dan memperluas cakupan variabelnya.

Pembelajaran model siklus belajar (the 5e learning cycle) untuk meningkatkan keterampilan proses IPA dan pemahaman konsep IPA di kelas VIII.4 SMP Negeri 3 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Uci Lusiati

 

ABSTRAK Lusiati, Uci 2009. Pembelajaran Model Siklus Belajar (The 5E LC) untuk meningkatkan Keterampilan Proses IPA dan Pemahaman Konsep IPA di kelas VIII.4 SMP Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2008/2009. Tugas akhir, Program Pendidikan Sertifikasi Guru dalam Jabatan. FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Drs. Eddy Supramono dan Pembimbing II Dra.Endang Purwaningsih,M.Si. Kata Kunci: Siklus Belajar (The 5E Learning Cycle), Keterampilan Proses IPA dan Pemahaman Konsep IPA. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mitra serta guru pengajar Fisika kelas VIII.4 SMP Negeri 3 Malang, terungkap bahwa keterampilan proses siswa sangat rendah. Hal ini dikarenakan guru jarang menilai keterampilan proses siswa. Guru lebih banyak mengajar dengan demonstrasi dan ceramah dan hanya menekankan pada aspek kognitf saja. Akibatnya siswa kurang terampil menyampaikan pendapat atau idenya tentang konsep-konsep pembelajaran yang ditemukan. Siswa kurang terampil merangkai atau menggunakan alat. Padahal pembelajaran IPA penuh dengan fakta-fakta yang berhubungan dengan gejala alam dan konsep-konsep serta erat dengan kehidupan sehari-hari. Dianjurkan pembelajaran IPA tingkat SMP sudah mengembangkan keterampilan proses. Tujuan Penelitian adalah mengukur peningkatan keterampilan proses IPA dan Pemahaman Konsep IPA siswa kelas VIII.4 SMP Negeri 3 Malang setelah menggunakan model pembelajaran The 5 E Learning Cycle. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan jenis penelitian kualitatif yang digunakan. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2009. Instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterampilan proses IPA, lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran the 5 E Learning Cycle dan angket siswa tentang keterlaksanaan model pembelajaran the 5 E Learning Cycle serta hasil tes pemahaman konsep siswa setelah tindakan dilakukan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata keterampilan proses IPA siswa kelas VIII.4 SMP Negeri 3 Malang mengalami peningkatan dari 67,9 % pada siklus I menjadi 75,5 % pada siklus II dan rata-rata pemahaman konsep siswa yang pada siklus I adalah 69,32 % pada siklus II menjadi 78,8 %. Sedangkan keterlaksanaan pembelajaran model the 5 E Learning Cycle juga meningkat dari pada siklus I, 75 % menjadi 80,3 % pada siklus II. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa model pembelajaran the 5 E Learning Cycle dapat meningkatkan keterampilan proses IPA dan Pemahaman konsep IPA siswa kelas VIII.4 SMP Negeri 3 Malang pada materi cahaya

Tathbiq al-thoriqoh al-ta'awuniyah bistikhdami la'bi al-mabarati al-fatawiyah litarqiyah maharah al-thollabah waruqghbitihim fil-qiro'ah/ Hasanatul Hamidah

 

ABSTRAK Hamidah, Hasanatul. 2009. Penerapan Metode Kooperatif TGT (Teams Games Tournaments) untuk Meningkatkan Ketrampilan serta Motivasi Siswa dalam Kemahiran Qiroah di Madrasah Aliyah Negeri Gondang Legi. Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Nurul Murtadho, M. Pd. Kata kunci: metode kooperatif TGT (Teams Games Tournaments), Ketrampilan membaca, motivasi siswa. Saat ini bahasa Arab telah menjadi bahasa ilmiyah, disamping itu bahasa Arab juga merupakan bahasa dibidang kedokteran, bahasa dalam ilmu filsafat dan bahasa diberbagai ilmu pengetahuan lainnya. Bahasa Arab bukan hanya digunakan oleh bangsa Arab semata, namun banyak bangsa selain bangsa Arab salah satunya bangsa Indonesia juga mempelajari bahasa Arab. Dalam pembelajaran bahasa Arab terdapat 4 kemahiran berbahasa, salah satu diantara empat komponen tersebut adalah kemahiran membaca, menurut Djiwandono (1996:62) membaca merupakan kegiatan penting saat ini, karena informasi antara satu negara dengan Negara lain saat ini berkembang pesat melalui berbagai media, antara lain melalui media massa, buku, majalah dan lain lain. Tetapi dalam pembelajaran bahasa Arab masih terdapat masalah dan hambatan dalam pembelajaran kemahiran membaca, karena dalam kenyataannya masih banyak para guru bahasa Arab tidak memanfaatkan serta tidak menggunakan teori serta metode pembelajaran yang baru yang lebih menarik selama proses pengajar, masalah ini menyebabkan pada penurunan prestasi serta motivasi siswa dalam pembelajaran kemahiran membaca. Maka dari itu, untuk mengatasi masalah tersebut peneliti mencoba menerapkan metode kooperatif TGT (Teams Games Tournaments) untuk meningkatkan ketrampilan serta motivasi siwa dalam kemahiran membaca di Madrasah Aliyah negeri Gondang legi. Tujian penelitian ini adalah 1) mengetahui kemampuan siswa dalam pemahaman teks sebelum penelitian, 2) mengetahui kemampuan siswa dalam pemahaman teks setelah penelitian, 3) mengetahui motivasi siswa dalam pemahaman teks sebelum penelitian, 4) mengetahui motivasi siswa dalam pemahaman teks setelah penelitian, 5) mengetahui efektivitas penerapan metode kooperati TGT dalam pembelajaran qiroah. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen, adapun populasi penelitian ini adalah siswa kelas x MAN Gondang Legi Malang. Sampel terdiri dari kelas x A yang terdiri dari 32 siswa menjadi kelas control, dan kelas x E yang terdiri dari 31 siswa menjadi kelas eksperimen, sampel tersebut diambil dengan menggunakan sampling pertimbangan. Dalam mengumpulkan data peneliti menggunakan instrument sebagai berikut; 1) pedoman observasi, 2) pedoman wawancara, 3) angket motivasi, 4) soal tes, 5) dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis uji T dengan bantuan program SPSS 11.0 for Windows menunjukkan bahwa ratarata hasil pre tes dari kelas control dan kelas eksperimen tidak berbeda secara signifikan. Maka dapat dikatakan bahwa kemampuan awal dalam pemahaman teks dari siswa kelas control dan kelas eksperimen sama. Sedangkan dari analisis hasil post tes menunjukkan bahwa ratarata nilai kelas control dan kelas eksperimen berbeda secara signifikan. Peningkatan ratarata pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada peningkatan yang terdapat pada kelas control. Begitu juga dalam motivasi, dari analisis angket pertama menunjukkan bahwa motivasi awal kedua kelas tidak berbeda secara signifikan, sedangkan dari analisis angket terakhir yang dibagikan setelah penelitian menunjukkan bahwa motivasi siswa kelas eksperimen dari pada kelas control. Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode koopertif TGT (Teams games Tournaments) dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks bahasa Arab serta dapat meningkatkan motivasi siswa. sehingga disarankan pada guru bhasa Arab untuk menerapkan metode koopertif TGT dalam pembelajaran bahasa Arab terutama dalam pembelajaran qiroah.

Analisis sistem pemberian dan pelunasan kredit gadai pad Perum Pegadaian Cabang Blitar / David Kristianto

 

Dewasa ini, kondisi perekonomian Indonesia semakin terpuruk yang menyebabkan banyak masyarakat menghadapi permasalahan, khususnya dalam bidang keuangan (financial). Perum Pegadaian merupakan salah satu lembaga keuangan nonperbankan yang memiliki kegiatan utama memberikan pinjaman (kredit) kepada masyarakat dengan persyaratan tertentu. Begitu besar tugas dan tanggung jawab yang di emban oleh Pegadaian, namun tetap diharapkan agar perusahaan mampu memberikan pelayanan yang maksimal kepada nasabahnya. Semua itu tidak akan terwujud jika tidak didukung dengar. adanya suatu sistem yang baik dalam mengendalikan berbagai kegiatan operasionalnya. Dalam penulisan Tugas Akhir ini, berusaha untuk menganalisis sistem pemberian dan pelunasan kredit gadai serta pengendalian yang ada di Perum Pegadaian Cabang Blitar. Adapun metode yang digunakan dalam pengumpulan data, yaitu dokumentasi. Sedangkan metode pemecahan masalah yang digunakan analisis deskriptif kualitatif, yaitu mengolah data yang berbentuk kalimat uraian atau pemikiran yang logis maupun teori-teori yang digunakan oleh perusahaan. Adapun tahapan dalam analisis deskriptif kualitatif yaitu, (1) Mempelajari alur dan prosedur secara umum dalam buku pedoman. (2) Identifikasi prosedur yang berhubungan dengan penggunaan kredit yang menggunakan barang jaminan dan pelunasannya. (3) Pemeriksaan langsung terhadap data-data yang berkenaan dengan pendistribusian dan dokumentasi yang berkenaan dengan penggunaan kredit. Berdasarkan pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dapat diketahui bahwa sistem pemberian dan pelunasan kredit di Perum Pegadaian sudah cukup baik,di mana proses pencatatan pun sudah komputerisasi dan manual serta terlihat adanya pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing fungsi, namun pada Perum Pegadaian Cabang Blitar terdapat salah satu fungsi yang belum terpisahkan yaitu fungsi administrasi. Berdasarkan hasil penulisan Tugas Akhir ini dapat disarankan agar dibentuk pemisahan fungsi, antara fungsi administrasi dengan penaksir serta pembagian tugas yang jelas sesuai dengan fungsinya, sehingga hal ini akan dapat meningkatkan pengendalian intern dalam pelaksanaan operasional, serta efektivitas dan efisiensi perusahaan akan lebih tercapai apabila masing-masing fungsi dapat menjalankan tugasnya secara optimal.

Pengaruh perubahan arus kas terhadap tingkat likuiditas dan profitabilitas pada perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI tahun 2004-2007 / Dewi Diah Ekasari

 

ABSTRAK Ekasari, Dewi Diah. 2009. Pengaruh Perubahan arus Kas terhadap Likuiditas dan Profitabilitas pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Listing di BEI Tahun 2004-2007. Skripsi. Jurusan Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Mohammad Hari, M.Si, (II) Ely Siswanto, S.Sos, M.M. Kata Kunci : Profitabilitas, Perubahan Arus Kas, Likuiditas. Memasuki era globalisasi dunia usaha yang pesat, dengan di tandai oleh beragamnya usaha yang muncul akan mengakibatkan usaha mengalami perubahan yang mendasar.Sektor industri makanan dan minuman merupakan salah satu sektor industri di BEI yang mempunyai peluang untuk tumbuh dengan pesat karena potensi pasarnya dari tahun ke tahun semakin berkembang. Untuk itu dalam kegiatan operasionalnya, pengendalian arus kas sangat di butuhkan dalam menjaga likuiditas dan guna meningkatkan profitabilitas. Tujuan penelitian ini yaitu (1) untuk mengetahui kondisi perubahan arus kas (2) Untuk mengetahui kondisi likuiditas (3) untuk mengetahui kondisi profitabilitas (4) untuk mengetahui pengaruh perubahan arus kas aktivitas operasi terhadap likuiditas(5) untuk mengetahui pengaruh arus kas aktivitas investasi terhadap likuiditas (6)untuk mengetahui pengaruh arus kas aktivitas pendanaan terhadap likuiditas (7) untuk mengetahui pengaruh arus kas aktivitas operasi terhadap profitabilitas (8) untuk mengetahui pengaruh perubahan arus kas aktivitas investasi terhadap profitabilitas (9) untuk mengetahui pengaruh perubahan arus kas aktivitas pendanaan terhadap profitabilitas (10)untuk mengetahui pengaruh likuiditas terhadap profitabilitas. Populasi penelitian ini adalah perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI pada tahun 2004-2007, sedangkan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis penelitian menggunakan Analisis jalur dengan pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t dan uji F. dengan nilai α sebesar 5% atau 0.05. sebelum dilakukan analisis data di uji normalitas data dan uji Heterokedasitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara perubahan arus kas aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan terhadap likuiditas, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara perubahan arus kas aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan terhadap profitabilitas dan terdapat pengaruh yang signifikan antara likuiditas terhadap profitabilitas. Pada perubahan arus kas aktivitas operasi, aktivitas pendanaan dan profitabilitas cenderung mengalami penurunan dari setiap tahunnya, sedangkan pada aktivitas investasi dan likuiditas dari setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal tersebut secara umum menunjukkan bahwa perusahaan kurang produktif dalam mengelola modal baik yang berasal dari laba maupun penambahan modal sehingga banyak modal yang menganggur. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada investor dalam melakukan investasi tidak hanya melihat dari labanya saja, akan tetapi perlu melihat kemampuan perusahaan dalam mengendalikan arus kas bagi perusahaan atau dapat di lihat dalam laporan arus kas.

Meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui pembelajaran kooperatif model cooperative script / Ira Okta Verina

 

ABSTRAK Verina, Ira Okta. 2009. Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Melalui Pembelajaran Kooperatif Model Cooperative Script. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. M. Shohibul Kahfi, M.Pd., (II) Dra. Santi Irawati, M.Si., Ph.D. Kata kunci: Meningkatkan Hasil Belajar, Pembelajaran Kooperatif, Cooperative Script Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika kelas VII-B SMP Muhammadiyah 1 Malang, diperoleh bahwa hasil belajar matematika siswa masih tergolong rendah dan belum bisa memenuhi ketuntasan klasikal. Hal ini disebabkan guru matematikanya masih menerapkan pembelajaran yang bersifat konvensional. Akibatnya siswa cenderung menghafal materi dan kurang memahami materi yang diajarkan. Padahal, ingatan yang diperoleh dari cara menghafal akan mudah dilupakan. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman siswa adalah pembelajaran kooperatif model Cooperative Script. Cooperative Script menuntut siswa untuk beraktivitas sendiri. Artinya, siswa menemukan sendiri suatu konsep atau mampu memecahkan masalah sendiri, sehingga meningkatkan pemahaman siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh langkah-langkah pembelajaran kooperatif model Cooperative Script yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII-B SMP Muhammadiyah 1 Malang. Subjek penelitian yang digunakan yaitu siswa kelas VII-B SMP Muhammadiyah 1 Malang yang berjumlah 30 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan model pembelajaran Cooperative Script pada materi segi empat yang dilaksanakan dalam 2 siklus/tindakan. Setiap tindakan terdiri atas 3 kali pertemuan. Dua pertemuan digunakan untuk mempelajari materi (pembelajaran) dan satu pertemuan untuk tes akhir tindakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan model Cooperative Script yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII-B SMP Muhammadiyah 1 Malang meliputi: (1) pengerjaan masalah secara individu, peneliti meminta siswa mengerjakan LKS secara individu serta menyiapkan kesimpulan dari LKS yang telah dikerjakan yang nantinya akan disampaikan (pembicara) kepada teman sekelompoknya (pendengar) pada tahap selanjutnya (2) penyampaian kesimpulan oleh pembicara kepada pendengar, peneliti meminta siswa yang berperan sebagai pembicara yang pertama untuk menyampaikan kesimpulan dari LKS yang telah dikerjakan pada tahap sebelumnya kepada teman sekelompoknya (pendengar). Ketika pembicara menyampaikan kesimpulannya, pendengar menyimak, mengoreksi, bahkan menambahi apa yang disampaikan pembicara (3) pertukaran peran, peneliti meminta siswa yang pada tahap sebelumnya berperan sebagai pembicara pada tahap ini berganti peran menjadi pendengar, dan sebaliknya. Dengan pembelajaran Cooperative Script tersebut, hasil belajar siswa meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan ketuntasan klasikal yang mengalami

Pengolahan sinyal digital sebagai implementasi restorasi citra berbasis Delphi / Silvi Fitria Humaira

 

ABSTRAK Humaira, Silvi Fitria. 2009. Pengolahan Sinyal Digital sebagai Implementasi Restorasi Citra Berbasis Delphi. Skripsi, Program Studi Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Daeng Achmad Suaidy, S.Si, M.Kom. (II) Samsul Hidayat, S.Si, M.T. Kata kunci: restorasi citra, noise, smoothing, borland delphi. Citra merupakan representasi objek yang dapat memberikan informasi. Namun, adakalanya citra mengalami gangguan akibat kesalahan capture sehingga citra menjadi tampak cacat. Program ini bertujuan untuk mereduksi noise pada citra. Metode yang digunakan adalah dengan teknik smoothing atau penghalusan. Pada program ini, dibuat tiga metode reduksi noise yaitu metode penghalusan seragam, metode penghalusan ambang dan metode penghalusan Gaussian. Penghalusan seragam merupakan metode dengan memberikan nilai filter yang sama kepada area piksel yang ditinjau. Penghalusan ambang merupakan metode dengan pemberian nilai ambang yang bertujuan untuk mempertahankan ketajaman citra. Penghalusan Gaussian merupakan metode dengan menggunakan nilai filter pada konvolusi yang terdistribusi secara normal mengikuti persamaan Gaussian. Pada program ini, citra disimulasikan memiliki noise dengan model noise Gaussian. Pada penghalusan seragam, citra hasil tampak mengalami reduksi noise yang cukup signifikan dengan ketajaman citra yang masih dapat dipertahankan pada citra dengan model noise Gaussian pada mask 5 titik. Pada penghalusan ambang, citra hasil tampak mengalami reduksi noise cukup signifikan pada citra dengan pemberian nilai ambang sebesar 50. pada penghalusan Gaussian, citra hasil tampak mengalami reduksi noise cukup signifikan terutama pada citra dengan model noise Gaussian pula. Dari ketiga metode tersebut, hasil terbaik ditunjukkan pada metode penghalusan Gaussian. Hal ini berdasarkan nilai SNR yang diperoleh pada masing-masing metode.

Pengembangan paket IPA terpadu tema hujan asam di SMP Negeri 8 Malang / Pratiwi Dwi Agiestina

 

ABSTRAK Agiestina, Pratiwi Dwi. 2009. Pengembangan Paket IPA Terpadu Tema Hujan Asam di SMP Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang: (1) Drs. Supriyono Koes H., M.Pd, MA (II) Drs. Parlan, M.Si Kata kunci : Pengembangan, IPA Terpadu, hujan asam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah secara tegas menyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/MTs merupakan IPA Terpadu. Selain itu, penelitian evaluatif terhadap pendidikan IPA di SMP yang dilaksanakan di lima propinsi di Indonesia pada tahun 1996 menunjukkan bahwa pendidikan IPA di SMP masih mengalami berbagai masalah. Berdasarkan hasil survey yang diselenggarakan oleh proyek MBE (2006) menunjukkan bahwa sebagian besar guru (92 dari 118 orang atau 79%) mengalami kesulitan untuk merancang pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan standar isi untuk kurikulum IPA, seperti pada SMP Negeri 8 Malang. Selain itu hasil pengamatan di beberapa toko buku di Kota Malang menunjukkan bahwa belum ditemukan buku IPA SMP yang dirancang secara terpadu. Oleh sebab itu, perlu paket IPA Terpadu yang dapat membantu proses pembelajaran. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menyusun paket IPA Terpadu tema hujan asam dan panduan pelaksanaannya di SMP Negeri 8 Malang. Metode pengembangan yang digunakan pada penelitian ini ada 5 dari 10 tahap penelitian pengembangan Borg dan Gall yaitu : (1) Studi pendahuluan, (2) Perencanaan, (3) Pengembangan bentuk awal produk, (4) Uji lapangan awal, dan (5) Revisi produk. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket yang diisi oleh validator. Jenis data berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari analisis nilai rata-rata angket skala Likert, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paket IPA Terpadu tema hujan asam di SMP Negeri 8 Malang sudah memenuhi kriteria layak dengan skor rata-rata 3,71 sehingga paket IPA Terpadu dengan tema hujan asam ini dapat digunakan oleh siswa SMP. Panduan guru paket IPA Terpadu tema hujan asam di SMP Negeri 8 Malang juga memenuhi kriteria cukup layak dengan skor rata-rata 3,23 sehingga panduan guru paket IPA Terpadu tema hujan asam sudah dapat digunakan oleh guru SMP. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap paket IPA Terpadu dengan melakukan kajian eksperimen dan uji coba yang lebih luas. i

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial dan prestasi belajar fisika kelas VII-B SMPN 14 Malang / Intan Nurjannah

 

ABSTRAK Nurjannah, Intan. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD Dengan Menggunakan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Kemampuan Berinteraksi Sosial Dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas VII-B SMPN 14 Malang. Skripsi, Pogram Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd (2) Drs. Purbo Suwasono, M.Si Kata kunci : pembelajaran kooperatif, model STAD, metode eksperimen, kemampuan berinteraksi sosial, dan prestasi belajar Hasil observasi dan wawancara informal dengan guru fisika kelas VII-B SMPN 14 Malang menunjukkan bahwa pembelajaran fisika masih sering dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan jarang sekali guru mengajak siswa melakukan praktikum maupun diskusi kelompok. Kemampuan interaksi sosial siswa masih rendah, diantaranya ditunjukkan dengan siswa yang cenderung individual, tidak aktif dalam menjawab pertanyaan, dan kurang berani menanggapi pendapat teman. Prestasi belajar fisika siswa masih rendah ditunjukkan dengan ketuntasan belajar fisika siswa hanya mencapai 55,81 % dengan SKM yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 65. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil. Dalam pengelolaan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Pembelajaran kooperatif memliki beberapa model diantaranya adalah model pembelajaran STAD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial dan prestasi belajar fisika siswa kelas VII-B SMPN 14 Malang dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Tindakan yang diberikan berupa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen. Tahapan pelaksanaan penelitian ini dimulai dari observasi awal, kemudian dilakukan refleksi awal. Setelah itu dilanjutkan dengan menyusun rencana tindakan yang disusul dengan pelaksanaan rencana tindakan, observasi, dan refleksi. Tahapan pelaksanaan tersebut dilakukan hingga siklus kedua. Prestasi belajar fisika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah prestasi belajar fisika siswa pada ranah kognitif yang meliputi tiga aspek, yaitu pengetahuan, pemahaman, dan penerapan. Data diperoleh dari hasil tes individu yang dilaksanakan setiap tahap studi kelompok dalam pembelajaran STAD selesai. Sedangkan kemampuan interaksi sosial siswa diukur dengan menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan menggunakan metode eksperimen mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosial dan prestasi belajar fisika siswa. Pada siklus I kemampuan interaksi sosial siswa mencapai 60,08 % dan pada siklus II meningkat menjadi 84,76 %. Nilai rerata fisika siswa pada siklus I mencapai 63,33 dengan persentase ketuntasan 61,90 % dan meningkat menjadi 70,83 dengan persentase ketuntasan 76,19 % pada siklus II.

Tanggapan konsumen terhadap atribut rumah makan mie Djogja Cabang Malang berdasarkan karakteristik konsumen / Ike Maria Fitriyani

 

ABSTRAK Fitriyani, Ike M. 2009.Tanggapan Konsumen Terhadap Rumah Makan Mie Djogja Cabang Malang Berdasarkan karakteristik Konsumen. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga, Fakultas Teknik, Jurusan Teknologi Industri, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Amat Nyoto, M. Pd., (II) Dra. Anti Asta Viani, M. Pd. Kata Kunci: Tanggapan, Atribut Rumah Makan, Karakteristik Konsumen. Malang cukup dikenal dengan berbagai kuliner yang mengugah selera, Mie Djogja adalah salah satunya Rumah Makan Mie Djogja didaerah Malang sangat disukai oleh konsumen karena pengolahan bahan dan bumbu yang sangat diperhatikan kualitasnya, brand nya pun berbeda dari rumah makan yang lain. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data empirik tentang bagaimana tanggapan konsumen terhadap atribut Rumah Makan Mie Djogja milik Bapak Puspo yang merupakan master franchaise berdasarkan karakteristik (usia dan pekerjaan) konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah Kuantitatif Deskriptif dengan menggunakan pendekatan Deskriptif Presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada karakteristik usia menyatakan setuju akan produk atau dapat dikatakan baik (positif), untuk pelayanan sebagian besar responden menyatakan hal yang positif (baik) melalui pernyataan yang diberikan yaitu menyatakan setuju dengan aspek pelayanan yang ada di Rumah akan Mie Djogja, sedangkan harga yang ada di Rumah Makan Mie Djogja sebagian besar responden menyatakan setuju atau menyatakan hal yang positif, dan sebagian besar responden setuju akan lokasi yang digunakan untuk tempat berdirinya Rumah Makan Mie Djogja. Untuk karakteristik pekerjaan dapat disimpulkan sebagian besar responden menyatakan hal yang positif (baik) pada atribut produk, pada pelayanan sebagian besar responden menyatakan setuju akan keseluruhan pelayanan yang diberikan, pada harga sebagian besar responden menyatakan hal yang positif (setuju), dan pada lokasi atau tempat terdapat pernyataan dari responden yang menyatakan hal yang baik (setuju).

Rancang bangun las potong lurus dengan rel / Yasika Andri Adi, Bambang Suryo

 

Saat ini perkembangan teknologi dapat dikatakan meningkat semakin pesat, hal ini terbukti dengan banyaknya peralatan-peralatan bantu dan peralatan pada bengkel permesinan sudah menggunakan peralatan yang canggih dengan mekanisme kerja tinggi, sehingga perkembangannya merupakan sarana untuk menuju kemajuan teknologi. Salah satu bukti dari kemajuan teknologi dalam permesinan adalah teknik pengelasan. Menurut Wiryosumarto (1996: 1) pengelasan adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Perkembangan pengelasan terbukti bahwa pengelasan bukan untuk menyambung saja, melainkan fungsinya dapat digunakan untuk memotong. Pemotongan plat biasanya dilakukan menggunakan gerinda, gunting, dan gergaji. Kelemahan menggunakan gunting adalah plat yang bisa dipotong ketebalannya terbatas. Memotong plat dengan gunting tangan hanya dapat menyayat plat tipis, yaitu plat baja, kuningan dan tembaga yang tebalnya kira-kira sampai 1,25 mm, plat logam ringan hingga 2 mm (Schonmetz dkk, 1985:28). Jika menggunakan gerinda kelemahannya biaya yang dikeluarkan lebih besar dan hasilnya kurang presisi. Pemotongan dengan gergaji membutuhkan tenaga yang besar, waktu yang dibutuhkan lebih lama, dan hasilnyapun kurang presisi. Pemotongan yang lebih baik adalah dengan menggunakan las potong. Waktu yang dibutuhkan untuk proses pemotongan lebih cepat daripada gergaji, gerinda, dan gunting plat. Selain waktu yang lebih singkat, biaya yang dibutuhkan juga tidak terlalu besar. Dengan menggunakan las potong ini, bisa memotong plat yang lebih tebal. Untuk pemotongan lurus memanjang dengan hasil yang presisi kita membutuhkan rel sebagai jalur dari alat bantu las potong. Las potong sudah terdapat dipasaran, namun kami membuat alat yang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan alat yang sudah ada. Kelebihan tersebut, meliputi: biaya pembuatan lebih murah karena menggunakan brander biasa yang dimodifikasi, tersedia komponen untuk mengatur kecepatan pemotongan, terdapat pengatur sudut untuk pemotongan sudut. Prinsip kerjanya sama dengan las biasa, baik dalam penyalaan maupun penyetelan nyala api. Dari hal itulah penulis merancang pemotong plat dengan judul “Rancang Bangun Las Potong Lurus dengan Rel”.

Manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah yang efektif (studi multikasus pada tiga SD/MI Kota Malang) / Sugeng Utomo

 

Abstrak Di Indonesia, ekspetansi pendidikan sekolah dasar dilakukan sejak dilancarkanya beberapa instruksi presiden (Inpres) tahun 1973/ 1974. Melalui proyek-proyek yang diadakan atas dasar inpres tersebut kesempatan diperluas kepada anak usia 7-16 tahun untuk mendapatkan pendidikan. Namun meskipun secara kuantitatif Indonesia telah mampu mengupayakan pemerataan pendidikan sekolah dasar, permasalahan yang dihadapi pendidikan sekolah dasar di Indonesia ini sekarang justru terletak di kualitasnya. Sebab, kualitas pendidikan belum memenuhi target yang diharapkan, sehingga dari segi peningkatan mutunya, masih jauh lebih banyak dan perlu diupayakan. Fokus penelitian ini adalah bagaimana manajemen substasi kepala sekolah yang efektif dalam mengelola sekolah unggul pada 3 SD/MI di kota Malang? Bagaimanakah kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam mengelola 3 SD/MI unggul di Kota Malang. Lokasi Penelitian ini di MIN Malang I, SDN Kauman I Malang, SDN Madyopuro IV Malang. Sekolah tersebut adalah sekolah-sekolah yang prestasi akademis dan non akademis unggul di kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan multi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu: (1) wawancara mendalam, (2) observasi berperan serta pasif, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian ini menggunakan teknik Snawball Sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, dengan alur; (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan. (d) analisis data individu, (e) analisis data lintas kasus. Agar memperolah keabsahan data dilakukan dengan empat kriteria: (1) kredibilitas data, (2) transferbilitas, (3) dependebilitas data, (4) konfirmabilitas. Dari hasil paparan data penelitian di lapangan ditemukan sebagai berikut; manajemen yang efektif pada ke tiga kasus penelitian adalah sebagai berikut: kasus 1 (satu), a) pengelolaan rotasi kelas berdasarkan pengelompokan prestasi (achievement grouping) dapat menjadi sarana evaluatif bagi perkembangan akademik murid dan dapat memperbaiki prestasi belajar murid secara individu; b) Penyediaan dan Pengelolaan Fasilitas Laboratorium; c). Pengelolaan Perpustakaan yang baik dengan tersediaanya buku teks, buku bacaan dan piranti elektronik yang memadai dapat mempertinggi kualitas aktifitas belajar murid; d). Kurikulum yang diterapkan mengacu pada kurikulum tahun 2004 yaitu kurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Temuan penelitian di kasus 2 (dua) adalah: a) Sistem kenaikan kelas yang ketat dan apa adanya sesuai dengan standar akademik yang ditetapkan sekolah, telah meningkatkan persaingan di antara para siswa untuk selalu meningkatkan kualitas belajarnya; b) Fasilitas, sarana dan prasarana sekolah yang tepat jumlah dan mutu; c) Dalam mengelola perpustakaan Kepala Sekolah, melalui Wakil Kepala Sekolah melaksanakan pengawasan dan Wakil Kepala Sekolah melaporkan ke Kepala Sekolah. d) Kurikulum juga dikembangkan sesuai dengan UU No. 20 tahun 2003. Untuk kepemimpinan yang efektif pada tiga kasus yakni kasus 1 adalah; a) Visi terwujudnya madrasah berstandar nasional yang handal dan Islami. Misi (1) menciptakan suasana madrasah yang Islami, (2) menyelenggarakan pembelajaran yang inovatif dan berwawasan teknologi, (3) menciptakan SDM yang adaptif, kompetitif, dan kooperatif dengan mengembangkan multi kecerdasan, (4) menjadikan lingkungan madrasah sebagai sumber belajar, (5) membangun citra madrasah sebagai mitra terpercaya masyarakat di bidang pendidikan. b) Stuktur organisasi Sekolah MIN I Malang mengharuskan adanya Wakil Kepala Sekolah. Jumlah Wakil Kepala Sekolah berjumlah 3 Wakil Kepala Sekolah. (c) Untuk meningkatkan potensi guru, Guru-guru MIN selalu diadakan pembinaan. (c) Peningkatan aktivitas dan wawasan siswa dilaksanakan melalui ekstrakurikuler. Pada kasus 2 (dua) adalah; a) Visi membangun SDM unggul yang berakhlak mulia. Misi sekolah tersebut adalah: (1) meningkatkan kompetisi akademik dan non akademik; (2) meningkatkan mutu kompetisi dan profesional guru; (3) meningkatkan mutu sarana dan prasarana pembelajaran; (4) meningkatkan mutu pembelajaran yang pakem; (5) menyelenggarakan sekolah berbasis teknologi informasi dan komunikasi.dan (6) menyelenggarakan pembelajaran secara bilingual. b) Struktur organisasi sekolah SDN Kauman I terdiri dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Dewan Sekolah, Urusan kurikulum, urusan kesiswaan, urusan ketenagaan, urusan sarana prasarana, urusan keuangan dan urusan humas, serta guru. c) Peningkatan potensi guru, dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kotamadya. d) Peningkatan aktivitas dan wawasan siswa dilaksanakan melalui ekstrakurikuler. Pada sitius 3 manajemen yang efektif temuannya sebagai berikut: a) Tatatertib ini telah ditulis dan disosialisasikan kepada siswa, wali murid, dan masyarakat. b) Fasilitas dan ruang yang sangat memadai, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. c) Pengelolaan perpustakaan di Sekolah Dasar Negeri Madyopuro menekankan pada kedisiplinan siswa. d) Pelaksanaan pembelajaran menggunakan Kurikulum 2006/2007, Kurilulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Temuan penelitian kasus tiga pada kepemimpinan Kepala Sekolah yang efektif; a) Visi terciptanya SDM yang unggul bertaqwa dan berakhlak Mulia. Misi (a) meningkatkan kompetisi akademik dan non akademik, (b) meningkatkan mutu kompetisi dan profesional guru, (c) meningkatkan mutu sarana dan prasarana pembelajaran, (d) meningkatkan mutu pembelajaran yang pakem, (e) menyelenggarakan sekolah berbasis teknologi informasi dan komunikasi. c) Peningkatan potensi guru, dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kotamadya.

Penerapan model pembelajaran kooperatif Teams-Games-Tournament (TGT) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa / Rini Febriyanti

 

ABSTRAK Febriyanti, Rini. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teams Games Tournament (TGT) Untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Matematika Siswa. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwiyana, M.Pd., (II) Drs. Eddy Budiono, M.Pd. Kata kunci: Pembelajaran kooperatif TGT, motivasi belajar, prestasi belajar Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana peningkatan motivasi belajar matematika siswa SMA Kelas XII Bahasa Tamansiswa Malang setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif TGT?, dan (2) bagaimana peningkatan prestasi belajar matematika siswa SMA Kelas XII Bahasa Tamansiswa Malang setelah diterapkan model pembelajaran TGT?. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis peningkatan: (1) motivasi belajar matematika siswa SMA Kelas XII Bahasa Tamansiswa Malang melalui penerapan model pembelajaran TGT., (2) prestasi belajar matematika siswa SMA Kelas XII Bahasa Tamansiswa Malang melalui penerapan model pembelajaran TGT. Jenis dari penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, karena pada siklus I belum didapatkan hasil yang diharapkan oleh peneliti, sehingga penelitian dilanjutkan ke siklus II. Setiap siklus mempunyai tahapan-tahapan pembelajaran yang sama, yakni: tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen untuk mengukur peningkatan motivasi belajar siswa yang berupa angket motivasi belajar dan lembar observasi dan instrumen untuk mengukur peningkatan prestasi belajar siswa yang berupa tes. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penerapan model pembelajaran TGT dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan aspek-aspek motivasi yang meliputi: kesiapan belajar di kelas, semangat mendapatkan nilai terbaik, kesenangan terhadap mata pelajaran matematika, respon terhadap metode pembelajaran, keaktifan bertanya dan berdiskusi. Pada siklus I persentase banyaknya siswa yang menunjukkan aspek motivasi belajar yang baik adalah 46,11% dimana persentase tersebut masuk dalam kriteria motivasi belajar rendah, sedangkan rata-rata skor pos-tes siswa adalah 63,3 yang masuk dalam kriteria prestasi belajar sedang. Hasil tersebut belum mencapai target yang diinginkan oleh peneliti, sehingga dilaksanakan siklus II. Pada siklus II, hasil yang diperoleh adalah persentase banyaknya siswa yang menunjukkan aspek motivasi belajar yang baik adalah 64,44% dimana persentase tersebut masuk dalam kriteria motivasi belajar sedang. Sedangkan prestasi belajar siswa yang dicapai pada siklus II adalah 70,0 yang masuk dalam kriteria prestasi belajar tinggi. Sehingga disimpulkan bahwa motivasi dan prestasi belajar matematika siswa mengalami peningkatan pada siklus II.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan aspek kognitif dan aspek afektif siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Singosari / Bahrul Arif

 

Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru fisika SMP Negeri 1 Singosari didapatkan bahwa nilai rata-rata aspek kognitif siswa pada kelas VII D masih rendah yaitu 62. Proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan menggunakan model ceramah yaitu penyampaian materi secara utuh kepada siswa dan diselingi dengan latihan-latihan soal, pembelajaran seperti ini menyebabkan siswa cenderung pasif dan pembelajaran kurang berarti bagi siswa. Siswa kurang memperoleh pengalaman langsung, dan guru kurang memberikan kesempatan serta kepercayaan terhadap diri siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Hal ini juga berdampak pada rendahnya aspek afektif siswa. Berdasarkan permasalahan ini peneliti melakukan upaya perbaikan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS). Tujuan dari penelitian ini adalah 1) melaksanakan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS), 2) meningkatkan aspek kognitif siswa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS), 3) meningkatkan aspek afektif siswa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas dengan memberikan tindakan berupa pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) yang terdiri dari 3 siklus. Sebagai subjek penelitiannya adalah siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Singosari, berjumlah 36 siswa. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes aspek kognitif fisika berupa ulangan harian akhir siklus, dan lembar observasi aspek afektif pada saat proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Singosari mengalami peningkatan aspek kognitif dan aspek afektif, setelah diberi tindakan berupa penerapan pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model two stay two stray (TSTS). Peningkatan aspek kognitif ditandai dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa dari sebelum tindakan 62 meningkat pada siklus I menjadi 72, meningkat pada siklus II menjadi 80 dan meningkat pada siklus III menjadi 88. Peningkatan nilai rata-rata aspek afektif dari siklus I sebesar 76 meningkat menjadi 83 pada siklus II dan meningkat menjadi 91 ada siklus III. Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) dengan prosentase keterlaksanaan sebesar 93 % terbukti mampu meningkatkan aspek kognitif dan aspek afektif siswa.

Pengaruh persepsi siswa tentang ketersediaan fasilitas belajar dan lingkungan sekolah terhadap prestasi belajar siswa Program Keahlian Akuntansi di SMK Negeri 2 Tuban / Ratna Susanti

 

ABSTRAK Susanti, Ratna. 2009. ”Pengaruh Persepsi Siswa tentang Ketersediaan Fasilitas Belajar dan Lingkungan Sekolah terhadap Prestasi Belajar Siswa Program Keahlian Akuntansi Di SMK Negeri 2” Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Triadi Agung Sudarto, S. E., M. Si, Ak. (2) Dr. Tuhardjo S. E., M. Si. Ak. Kata kunci: fasilitas belajar, lingkungan sekolah, prestasi belajar Fasilitas belajar dan lingkungan sekolah merupakan salah satu diantara faktor-faktor yang berpengaruh dalam pencapaian prestasi belajar siswa. Fasilitas belajar dan lingkungan sekolah yang baik serta mendukung tentu akan meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini adalah penelitian sampel, dimana jumlah sampelnya adalah siswa-siswi program keahlian Akuntansi di SMK Negeri 2 Tuban yaitu berjumlah 41 responden. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksplanasi dengan tujuan untuk menguji hipotesis yaitu menguji pengaruh variabel bebas yang terdiri dari fasilitas belajar (X1) dan lingkungan sekolah (X2) terhadap variabel terikat yaitu prestasi belajar (Y). Teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner (angket) kepada responden, dengan kuesioner jawaban tertutup berskala empat model Likert yang dimodifikasi. Teknik tersebut didukung dengan dokumentasi guna melengkapi data yang tidak terakomodasi oleh instrumen kuesioner. Indikator yang dijadikan ukuran untuk variabel X1 yaitu ruang kelas, media dan alat pembelajaran, perpustakaan, meja dan kursi, dan laboratorium. Indikator untuk variabel X2 yaitu kondisi sekolah, gedung sekolah, sistem kurikulum, dan guru. Untuk variabel Y adalah nilai raport siswa semester gasal 2008/2009. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa fasilitas belajar, lingkungan sekolah dan prestasi belajar siswa program keahlian Akuntansi di SMK Negeri 2 Tuban sudah pada tingkat kondisi yang baik. Fasilitas belajar dan lingkungan sekolah berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa sebesar 53,63% dan sisanya sebesar 46,4% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis. Dan uji hipotesis dengan Ftabel=3,245 dan nilai Fhitung=21,975 dengan probabilitas 0,000 < 0,05 pada taraf signifikansi 5%. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara fasilitas belajar dan lingkungan sekolah terhadap prestasi belajar siswa. Dari uraian di atas, saran-saran yang diberikan antara lain: a) Bagi pihak sekolah diharapkan untuk meningkatkan fasilitas belajar yang diperlukan oleh siswa terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana belajar. Ruang kelas perlu direnovasi agar siswa merasa betah dan nyaman dalam belajar, b) bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat mengembangkan komponen-komponen lainnya yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Serta dapat memperbaharui dan menambah variabel penelitian yang sebelumya.

Studi penggunaan fragmen pada pembelajaran kompetensi menjahit dengan mesin SMKN 5 Malang / Sulistyowati

 

ABSTRACT Sulistyowati. 2009. A Study on the Utilizing of Fragment in Learning of Sewing Competence Using Machine at SMK Negeri 5 Malang. Thesis. Technology of Industry Department, Faculty of Technique, State University of Malang. Advisors: (1) Dra. Anti Asta Viani, M.Pd., (II) Dra. Rosanti Rosmawati. Key words: study of utilizing, fragment The existence of media in learning process takes role in students’ responses in accepting materials. One of media which is used most often in learning process of fashion expertise program is fragment. Fragment in this research means a fragment of fashion in sewing competence using machine, which is a part/a cut sewing clothes technique. A study about fragment in teaching and learning process sewing competence using machine at SMKN 5 Malang has an objectives that are to describe: (1) the completeness of fragment owned, (2) factors which underline the utilizing of fragment media, (3) the process of fragment utilizing, (4) factors which are faced in the utilizing of fragment media, (5) the efforts taken in solving obstructions of utilizing of fragment media. The research showed that (1) the number of fragment owned by the school is 25 fragments. The fragment at school can be used easily in supporting learning process. The fragment at school is a finished good which are completed by explanation. (2) Factors which are underline the utilizing of fragment media are teaching variation, cheap of existence, clarify the materials so that can help students in doing their work fast, can activate students so they are more energetic and enthusiastic in doing their work. (3) In the proses of utilizing, the fragment is placed in a folder and exhibited so students can use it in turn. Teachers’ skills are felt less by students. Students are interested in joining learning using fragment, the learning method using fragment is demonstration, question-answer, and assignment. Learning form used is classical and individual. (4) Factors which are faced in using fragment, as a hamper factors are teachers’ skills, uninteresting fragment form, and unavailability of room and fund while the supporting factors are fragment’s color, curriculum demand, head master support and friends support, individual interest, and the improvement of teaching quality. (5) The efforts in solving the obstruction of utilizing fragment is making by involving students. The form of fragment is sometimes done by changing or remaking the more interesting one. The teachers usually try to improve their skills and knowledge. The availability of room is devised by rearrange the room which is going to be used while the availability of fund is sometimes devised by using private fund. Based on this study, there are suggestions: (1) the fragment is should be more than one and in the form of work step and using international language. (2) The utilizing of fragment should be based on the learning objectives and students abilities. (3) The utilizing of fragment is better to use cooperative learning in groups. (4) Teachers are suggested to improve their skills and knowledge in using the media, and make teaching plans using the best media in order to avoid learning obstructions. The school should improve its facilities which are needed and the teachers should be able to make an interesting fragment. (5) The school should devise to minimize the obstruction, internally and externally as well.

Pengaruh pendinginan udara masuk dan variasi putaran mesin terhadap emisi gas buang mesin diesel berbahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) / M. Aris Susanto

 

Susanto, M. Aris. 2009. Pengaruh Pendinginan Udara Masuk dan Variasi Putaran Mesin Terhadap Emisi Gas Buang Mesin Diesel Berbahan Bakar Biodiesel (Minyak Jarak-Solar). Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Syarif Suhartadi, Dr,. M.Pd. (II) Sukarni, S.T, M.T. Kata Kunci: pendinginan udara masuk, biodiesel, mesin diesel, kandungan gas buang. Pendinginan udara masuk yang menggunakan dry ice adalah salah satu proses yang dapat meningkatkan kerapatan massa jenis udara, sehingga molekul-molekul bahan bakar dapat bertemu dengan jumlah udara yang kerapatannya sudah meningkat sehingga efisiensi bahan bakar meningkat dan menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga emisi gas buang menjadi lebih bersih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan pendinginan udara masuk, pengaruh yang signifikan variasi putaran mesin, dan interaksi yang signifikan antara pendinginan udara masuk dan variasi putaran mesin terhadap kandungan gas buang mesin diesel berbahan bakar biodiesel. Minyak jarak yang digunakan sebagai bahan bakar biodiesel (20% minyak jarak-80% solar) dalam penelitian ini diperoleh dari Lembaga Penilitian Universitas Negeri Malang, yaitu minyak jarak yang telah melalui proses transesterifikasi. Sedangkan yang diaplikasikan untuk mendinginkan udara masuk adalah Dry ice yang diperoleh dari pabrik PT. PETROKIMIA Gresik. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang, tanggal 26 Mei 2009 dengan menggunakan alat Orsad Apparatus. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimental dengan desain faktorial 6 x 2. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analis varian dua jalan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perlakuan putaran mesin yang digunakan adalah rentangan 1400 rpm, 1700 rpm, 2000 rpm, 2300 rpm, 2600 rpm dan 2900 rpm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendinginan udara masuk berpengaruh terhadap kandungan gas buang mesin diesel. Pada saat mesin diberi pendingin, kadar emisi CO dan O2 lebih rendah jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pendingin. Sedangkan kadar CO2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pendingin. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pendinginan udara masuk, variasi putaran mesin dan interaksi antara pendinginan dan putaran mesin mempengaruhi kadar emisi CO, O2, dan CO2. Dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pengaruh kenaikan suhu udara masuk terhadap kandungan emisi gas buang berbahan bakar biodiesel (minyak ketela dan lain sebagainya).

Penentuan efektifitas daya resapan air di lereng bukit Gondo Mayi dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger dan Wenner / Bahrul Arif

 

Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru fisika SMP Negeri 1 Singosari didapatkan bahwa nilai rata-rata aspek kognitif siswa pada kelas VII D masih rendah yaitu 62. Proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan menggunakan model ceramah yaitu penyampaian materi secara utuh kepada siswa dan diselingi dengan latihan-latihan soal, pembelajaran seperti ini menyebabkan siswa cenderung pasif dan pembelajaran kurang berarti bagi siswa. Siswa kurang memperoleh pengalaman langsung, dan guru kurang memberikan kesempatan serta kepercayaan terhadap diri siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Hal ini juga berdampak pada rendahnya aspek afektif siswa. Berdasarkan permasalahan ini peneliti melakukan upaya perbaikan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS). Tujuan dari penelitian ini adalah 1) melaksanakan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS), 2) meningkatkan aspek kognitif siswa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS), 3) meningkatkan aspek afektif siswa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas dengan memberikan tindakan berupa pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) yang terdiri dari 3 siklus. Sebagai subjek penelitiannya adalah siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Singosari, berjumlah 36 siswa. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes aspek kognitif fisika berupa ulangan harian akhir siklus, dan lembar observasi aspek afektif pada saat proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas VII D SMP Negeri 1 Singosari mengalami peningkatan aspek kognitif dan aspek afektif, setelah diberi tindakan berupa penerapan pembelajaran kooperatif dengan menggunakan model two stay two stray (TSTS). Peningkatan aspek kognitif ditandai dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa dari sebelum tindakan 62 meningkat pada siklus I menjadi 72, meningkat pada siklus II menjadi 80 dan meningkat pada siklus III menjadi 88. Peningkatan nilai rata-rata aspek afektif dari siklus I sebesar 76 meningkat menjadi 83 pada siklus II dan meningkat menjadi 91 ada siklus III. Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) dengan prosentase keterlaksanaan sebesar 93 % terbukti mampu meningkatkan aspek kognitif dan aspek afektif siswa.

Pelaksanaan promosi di Fajar Teaching Restaurant Universitas Negeri Malang pada tahun 2008-2009 / Widiya Vertin

 

Abstrak Promosi merupakan aktivitas yang dapat mengawali hubungan dengan calon konsumen dengan mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya. Fajar Teaching Restaurant merupakan restoran milik Universitas Negeri Malang sebagai tempat Praktek Industri dan usaha secara profesional yang telah melakukan kegiatan promosi dari awal operasionalnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang: (1) Pelaksanaan promosi periklanan (advertising), (2) Pelaksanaan, promosi penjualan (sale promotion), (3) Hasil penjualan melalui pelaksanaan promosi periklanan (advertising), (4) Hasil penjualan melalui pelaksanaan promosi penjualan (sale promotion), dan (5) Kendala pelaksanaan promosi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Objek penelitian yaitu pelaksanaan promosi advertising, pelaksanaan promosi sale promotion dan hasil penjualan di Fajar Teaching Restaurant pada tahun 2008-2009 dengan teknik convenience sampling. Instrumen pengumpulan data melalui angket, observasi lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan rumus persentase. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Pelaksanaan promosi periklanan (advertising) di Fajar Teaching Restaurant untuk memperkenalkan produk-produknya kepada konsumen dan calon konsumen melalui media-media promosi. (2) Pelaksanaan promosi penjualan (sales promotion) di Fajar Teaching Restaurant untuk menyajikan kebutuhan konsumen dan memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan produk agar konsumen melakukan pembelian terus menerus. (3) Hasil penjualan melalui pelaksanaan Promosi Periklanan (Advertising) yaitu cukup meningkat. Hasil Penjualan tertinggi pada bulan April 2009 sebesar Rp. 27.795.140,00. (4) Hasil penjualan melalui pelaksanaan Promosi Penjualan (Sale Promotion) di Fajar Teaching Restaurant yaitu cukup meningkat. Hasil Penjualan tertinggi pada bulan Maret 2009 sebesar Rp. 33.164.517,00. (5) Kendala pelaksanaan promosi adalah minimnya biaya yang dapat dianggarkan untuk kegiatan promosi. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan promosi di Fajar Teaching Restaurant perlu mendapatkan dukungan dari sponsor dan pengelola Fajar Teaching Restaurant dapat melakukan promosi yang lebih efektif lagi dengan hasil yang memuaskan

Perbedaan tingkat kecemasan antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di MAN Malang 1 / Alfiatu Rizki Fauzia

 

ABSTRAK Fauzia, Alfiatu Rizki. 2009. Perbedaan Tingkat Kecemasan antara Siswa Kelas Akselerasi dan Siswa Kelas Reguler di MAN Malang 1. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Lutfi Fauzan M.Pd. (2) Drs. H. Imam Hambali M.Pd. Kata kunci: kecemasan, akselerasi, reguler. Kecemasan adalah fenomena biasa yang dialami oleh setiap manusia, sebab individu pernah mengalami cemas ketika berhadapan dengan situasi yang menurut individu membahayakan dan dapat mengancam keberadaan dirinya. Kecemasan dapat dialami oleh siapapun dan di mana pun, termasuk juga oleh para siswa di sekolah. Penyelenggaraan sistem percepatan kelas (akselerasi) bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan salah satu strategi alternatif yang relevan, namun tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa kelas akselerasi justru membuat siswanya tertekan. Tujuan penelitian adalah untuk: (1) mengetahui tingkat kecemasan siswa kelas akselerasi MAN Malang 1, (2) mengetahui tingkat kecemasan siswa kelas reguler MAN Malang 1, dan (3) mengetahui perbedaan tingkat kecemasan antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di MAN Malang 1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian adalah siswa MAN Malang 1 kelas X, XI, dan kelas XI akselerasi. Teknik pengambilan sampel untuk kelas reguler menggunakan stratified random sampling. Pengumpulan data menggunakan alat ukur angket bentuk terstruktur yang jawabannya telah tersedia dengan rentangan sangat sesuai (SS), sesuai (S), kurang sesuai (KS), dan tidak sesuai (TS). Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase dan Uji-t. Dari hasil penelitian di MAN Malang 1 menunjukkan bahwa tingkat kecemasan siswa kelas akselerasi berada pada klasifikasi cukup (28,56%), sedangkan siswa kelas reguler tingkat kecemasannya berada pada klasifikasi rendah (42,86%). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kecemasan antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler. Hasil analisis Uji-t diperoleh nilai t-hitung sebesar 0,272 dengan koefisien probabilitas (p) 0,788. Dengan nilai p > 0,05 maka dalam hal ini Ho diterima dan Ha ditolak, yang berarti tidak ada perbedaan tingkat kecemasan antara siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler di MAN Malang 1. Bagi penelitian di masa mendatang diharapkan dapat mendeskripsikan bagaimanakah karakteristik kecemasan dari siswa kelas akselerasi dan siswa kelas reguler untuk melengkapi kekurangan dalam penelitian ini dengan melakukan penelitian yang lebih komprehensif, sehingga hasil yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran nyata dalam memahami siswa sebagai peserta didik.

Rancang bangun mesin pengaduk jenang apel dengan kapasitas 20-40 kilogram / Alex Umar, Novi Dwijayanti

 

Proses interaksi berfikir siswa dengan siswa dalam pembelajaran kooperatif metode silih tanya kelas VII MTs Negeri Batu / Muhayanatul Juhria

 

ABSTRAK Juhria, Muhayanatul. 2009. Proses Interaksi Berpikir Siswa dengan Siswa dalam Pembelajaran Kooperatif Metode Silih Tanya Kelas VII MTs Negeri Batu. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Askury, M. Pd dan (II) Indriati Nurul Hidayah S. Pd, M. Si Kata kunci: proses interaksi berpikir, metode silih tanya, kartu model, keliling, luas, segi empat Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UUSPN No.20 Tahun 2003). Dalam kegiatan pembelajaran terdapat interaksi siswa dengan siswa yang melibatkan proses berfikir siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Interaksi ini akan terjadi apabila siswa bekerja sama satu dengan yang lain. Salah satu pembelajaran yang dapat memberikan keterampilan dalam bekerja sama antar siswa adalah pembelajaran kooperatif metode silih tanya antar siswa berbantuan kartu model. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji proses interaksi berpikir siswa dengan siswa dalam pembelajaran kooperatif metode silih tanya antar siswa berbantuan kartu model. Penelitian dilaksanakan di MTs Negeri Batu dengan subjek penelitian adalah empat siswa dalam satu kelompok diskusi dari kelas VII-C yang memiliki kemampuan heterogen. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari wawancara sebelum pembelajaran, catatan lapangan pada saat pembelajaran dan wawancara setelah pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses interaksi berpikir yang terjadi antar siswa pada proses pembelajaran kooperatif metode silih tanya kelas VII MTs Negeri Batu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam diskusi kelompok pada saat aktivitas silih tanya terjadi interaksi multiarah antar anggota kelompok dengan kartu model sebagai media pembelajaran. Interaksi dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi berperan sebagai sumber dalam diskusi, siswa berkemampuan sedang ada yang berperan sebagai penyeimbang dan ada yang hanya memberikan pengetahuan saja, sedangkan siswa berkemampuan rendah cenderung sebagai penerima saja.

Penerapan penemuan terbimbing (guided discovery) untuk meningkatkan pemahaman konsep sinus dan cosinus jumlah dan selisih dua sudut siswa kelas XI IPA SMA Al-Ma'hadul Islami Pasuruan / Johan Irawan

 

ABSTRAK Arifin, Miftakhul. 2009. Pengembangan Model Pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu di SMP Negeri 1 Wlingi Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Heru Widijoto, M. S. (2) Drs. Agus Gatot Subijantoro, M. Kes. Kata kunci: Pengembangan, Model Pembelajaran, Kebugaran Jasmani, Media Sederhana, Bambu. Di SMP Negeri 1 Wlingi Kabupaten Blitar aktivitas kebugaran jasmani diberikan pada pembelajaran Pendidikan Jasmani aspek pengembangan, berdasarkan hasil observasi dan analisis kebutuhan, Pelaksanaan pembelajarannya meliputi sit–up, push–up, back-up, siswa kurang tertarik dan tidak serius dalam melaksanakannya, dan belum pernah dilakukan pembelajaran menggunakan media sederhana, untuk itu perlu dilakukan pengembangan model pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu. Aktivitas Pembelajaran Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan untuk aktivitas pengembangan berisi latihan kebugaran jasmani, dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. dan meliputi latihan kelentukan, kekuatan, keseimbangan, kecepatan, kelincahan, dan daya tahan. Media sederhana yang dikembangkan menggunakan bahan bambu berbentuk kipas, gawang, lingkaran, tonggak zig-zag, gelang, lingkaran keseimbangan, bilah jembatan, dan bola. Tujuan pengembangan model pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu di SMP Negeri 1 Wlingi ini adalah diharapkan dengan adanya model pembelajaran aktivitas kebugaran jasmani menggunakan bambu dapat membuat siswa senang dan serius dalam mengikuti pembelajaran aktivitas kebugaran jasmani dan dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah. Dalam penelitian ini model pengembangan dari sepuluh langkah penelitian pengembangan dari Borg and Gall (1983:775), peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan materi kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assesment) dengan angket yang ditujukan kepada siswa dan guru pendidikan jasmani, serta observasi sekolah, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli Kebugaran Jasmani, 1 ahli media pendidikan jasmani, yang menghasilkan berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi dari hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa Model Pembelajaran kebugaran jasmani menggunakan media sederhana dari bahan bambu. Berdasarkan hasil analisa dari dua guru pendidikan jasmani SMP Negeri 1 Wlingi, 80,95% menyatakan sangat menarik. Dan klasifikasi persentase antara 76 – 100 % tergolong dalam klasifikasi baik (dapat digunakan). Hasil analisa uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 36 siswa SMP Negeri 1 Wlingi, 82,54% menyatakan sangat mudah untuk melakukan aktivitas kebugaran menggunakan bambu, dan 89,29% sangat menyenangkan melakukan aktivitas kebugaran dari bahan bambu ini. Hasil klasifikasi persentase yaitu antara 76 – 100 % tergolong dalam klasifikasi baik (dapat digunakan). Produk pengembangan berupa Model pembelajaran menggunakan media sederhana dari bahan bambu memiliki 1) dapat menarik perhatian siswa untuk mau melakukan aktivitas kebugaran jasmani, 2) siswa dapat melakukan aktivitas kebugaran jasmani dengan mudah dan senang, 3) Guru dapat memanfaatkan sumber daya alam sekitar seperti bambu ini untuk media pembelajaran kebugaran jasmani. Produk pengembangan berupa model pembelajaran kebugaran jasmani, diharapkan dapat dijadikan referensi oleh guru pendidikan jasmani dalam memberikan pelajaran aspek pengembangan materi kebugaran jasmani, penggunaan media sederhana menggunakan bahan dari bambu dapat dilaksanakan oleh guru pendidikan jasmani di sekolah lain.

Induksi Co terhadap struktur kristal dan magnetodielektrik senyawa spintronik Zn(1-x)CoxO1± / Pratiwi Dwi Agiestina

 

ABSTRAK Agiestina, Pratiwi Dwi. 2009. Induksi Co terhadap Struktur Kristal dan Magnetodielektrik Senyawa Spintronik Zn(1-x)CoxO1±δ. Skripsi, Program Studi Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Markus Diantoro, M.Si, (2) Drs. Abdulloh Fuad, M.Si Kata Kunci: Variasi doping, Sintering, Struktur Kristal, Magnetodielektrik, Spintronik Zn(1-x)CoxO1±δ. Spintronik merupakan perpaduan bahan semikonduktor yang didoping dengan bahan magnetik yang memanfaatkan elektron dari bahan semikonduktor untuk memproses data dan memanfaatkan spin dari bahan magnetik untuk menyimpan data. Keunggulan dan keunikan sifatnya yang menggunakan muatan dan spin elektron bersama-sama menjadikan spintronik menarik untuk dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui induksi Co terhadap struktur kristal dan medan magnet terhadap konstanta dielektrik senyawa spintronik Zn(1- x)CoxO1±δ. Dalam penelitian ini bahan dasar yang digunakan yaitu ZnO dan CoO dengan tingkat kemurnian 99%. Sampel disintesis dengan metode reaksi padatan (solid state reaction) pada suhu sintering 10000C selama 4 jam. Konstanta dielektriknya diukur dengan medan magnet 0 mT; 0,53 mT; 1,52 mT; 2,53 mT; 3,51 mT; 4,51 mT dan 5,53 mT. Untuk mengetahui data struktur kristal, sampel dikarakterisasi menggunakan difraksi sinar-X (XRD) dan dianalisis dengan metode Rietveld yang memanfaatkan software GSAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur kristal senyawa spintronik Zn(1-x)CoxO1±δ mengalami kenaikan parameter akibat doping Co pada tingkat konsentrasi Co = 0,00 hingga Co = 0,06. Terdapat sedikit perbedaan pola diantara parameter kisi. Perbedaan ini disebabkan ion Co2+ yang digunakan dalam pembuatan sampel memiliki tipe koordinasi oktahedral. Pola konstanta dielektrik sebagai fungsi konsentrasi molar (x) pada berbagai medan magnet berbanding terbalik dengan pola parameter kisi a, c dan volume. Selain itu, medan magnet juga mempengaruhi konstanta dielektrik dengan kecenderungan nilainya turun secara linier hingga konsentrasi molar Co = 0,08 sebesar 9,88011 dan naik kembali pada konsentrasi molar Co = 0,1. i

Pengaruh motivasi kerja dan kompensasi terhadap kinerja karyawan (studi pada karyawan Bagian Marketing PT. Hero Sakti Motor Malang) / Fachrul Rozi

 

ABSTRACT Rozi, Fachrul. 2009. The Influence of Working Motivation and Compensation to the Employees Performance (Research on PT. Hero Sakti Motor Malang). Thesis, Management Department, Faculty of Economy, Malang State University. Advisor: (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si, (II) Elfia Nora, S.E., M.Si. Keywords: working motivation, compensation, employees performance The success of a company is relied on its human resource. Human resource is one of the most important things in a company. There are so many ways to get a qualified human resource. One of these ways is by giving a fine compensation to the employees. By giving a fair compensation, hopefully the employees will increase their performance and as the result, the company’s target will be accomplished. The employees’ performance will be even better if the company gives motivation to them. The company should encourage the employees derived on the desire. The employees’ motivations in that company is also needed to be recognized since these motivations cause, convey, and influence the employees’ behavior to work hard and enthusiastic for the best result. The purpose of giving motivation to the employees is to achieve the optimal company performance. The research is done at PT. Hero Sakti Motor Malang in July – August 2009. The population in this research is sixty employees of Marketing Department in PT. Hero Sakti Motor Malang, whether the sample used is fifty-two employees of Marketing Division in PT. Hero Sakti Motor Malang. The sample taking technique used in this research is stratification proportional random sampling. The data analysis used is multiple regression analysis. This research’s purposes are: (1) to describe the condition of working motivation, compensation, and the performance of employees from Marketing Division of PT. Hero Sakti Motor Malang, (2) to identify whether there is a positive and significant influence of working motivation to the performance of employees from Marketing Division of PT. Hero Sakti Motor Malang, (3) to identify whether there is a positive and significant influence of compensation to the performance of employees from Marketing Division of PT. Hero Sakti Motor Malang. The complimentary variable in this research is Working Motivation (X1) and Compensation (X2), whether the restricted variable is Employees Performance (Y). The data research is got from several ways which are from questionnaire, documentation, and interview. The validity and reliability test is also done to examine the validity and reliability od the data got. The research result shows: 30 respondents (55.3%) state that the working motivation of PT. Hero Sakti Motor Malang employees is high, 33 respondents (63.47%) state that the compensation given by the company is satisfying, and 37 respondents (71.15%) state that the employees of Hero Sakti Motor has average performance. While based on inference analysis technique or multiple regression analysis using 5% of error degree, it can be known partially that: motivation variable (X1) has t sig α value (0.000<0.05), therefore, it can be conclude that motivation variable (X1) has positive and significant to the performance (Y). Compensation variable (X2) has t sig α value (0.008<0.05), therefore, it can be conclude that compensation variable (X2) has positive and significant to the performance (Y). The advice can be given by the researcher to PT. Hero Sakti Motor Malang is for the management of the company to increase the compensation giving for the employees. This is in order to make the employees to be more motivated to increase their performance. The company also needs to give chance for a promotion to the employee who has a very good and satisfying performance and also has significant contributionto the company. The correlation between compensation giving and employees’ motivation is very intense to meet the company’s goal.

Pengembangan bahan ajar IPA SD kelas VI pada materi pokok energi listrik dengan menggunakan media grafis / Fitri Miftahul Jannah

 

Pendidikan merupakan faktor utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Pendidikan sangat berperan membentuk baik dan buruknya sifat atau kepribadian seseorang. Pada UU RI SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 juga telah dijelaskan bahwa “manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya, pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain, yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”. Pendidikan juga merupakan sesuatu yang fundamental dalam mencetak sumber daya manusia yang berintelektual tinggi dan mampu menjawab tantangan di masa yang akan datang. Hasil belajar seseorang ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang ada di luar individu adalah tersedianya bahan ajar yang memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajarinya, sehingga menghasilkan belajar yang lebih baik. Berdasarkan alasan tersebut, maka pemerintah sangat fokus dalam menangani masalah dunia pendidikan, dengan maksud agar tercipta generasi yang unggul dan berkualitas. Berbagai cara telah dilakukan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional, salah satu cara yang dilakukan pemerintah yaitu dengan melakukan pembaharuan kurikulum. Perubahan kurikulum yang dilakukan adalah dengan memperbaharui Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun di masing-masing satuan pendidikan (Darmawan dan Nursalim, 2006 : 2). Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru harus mempunyai kemampuan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif pada pembelajaran. Namun pada prakteknya di lapangan, pembelajaran yang terjadi di Indonesia banyak yang masih bersifat tradisional, apalagi pada sekolah-sekolah yang berada di daerah pinggiran. Sarana dan prasarana yang tersedia sangat minim. Selain itu, mereka sama sekali belum terjamah oleh teknologi. Siswa yang bersekolah rata-rata berasal dari keluarga menengah ke bawah. Sehingga guru hanya memanfaatkan buku sebagai media dalam pembelajaran. Selain itu, guru juga masih banyak yang menggunakan metode belajar tradisional, yaitu metode ceramah. Pada pembelajaran tradisional, siswa hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru di kelas. Mayoritas siswa menilai bahwa belajar di kelas adalah kegiatan yang membosankan. Pada pembelajaran dengan metode ceramah, guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar. Akibatnya, di kelas hanya terdapat interaksi satu arah, yaitu guru kepada murid (teacher centered). Kondisi seperti itu membuat siswa menjadi kurang kreatif dan siswa memilki daya penalaran yang rendah. Nurhadi, dkk (2004:3) menyatakan bahwa siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep akademik seperti yang dialami oleh siswa selama ini, yaitu menggunakan konsep yang abstrak dengan metode ceramah. Menurut Grinder dalam Silberman, dari tiap 30 siswa, 22 diantaranya rata- rata dapat belajar efektif selama gurunya menghadirkan kegiatan belajar yang berkombinasi antara visual, auditori dan kinestetik. sedangkan menurut Tony Stockwell dalam Gunawan menyebutkan bahwa To learn anything fast and effectively you have to see it, hear it and feel it. Yang artinya, untuk dapat belajar dengan cepat dan efektif, kamu harus melihat, menengar dan merasakannya. IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan yang sangat luas terkait dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berperan dalam proses pendidikan dan juga perkembangan Teknologi, karena IPA memiliki upaya untuk membangkitkan minat manusia serta kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemahaman tentang alam semesta yang mempunyai banyak fakta yang belum terungkap dan masih bersifat rahasia sehingga hasil penemuannya dapat dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan alam yang baru dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap materi pelajaran mempunyai sifat masing masing. Materi IPA akan berbeda dengan konsep pembelajaran matematika, maupun bahasa. Matematika dengan sifat materinya yang abstrak memerlukan bahan ajar yang mampu membuat lebih kongkrit. Sedangkan untuk materi IPA yang umumnya gejalanya dapat dikenali oleh panca indera, memerlukan bahan ajar yang membuat siswa mampu mengungkap gejala alam yang ada di sekitar mereka dan menganalisisnya menjadi suatu pengertian atau konsep yang utuh. Kenyataan yang terjadi di Indonesia, mata pelajaran IPA tidak begitu diminati dan kurang diperhatikan. Apalagi melihat kurangnya pendidik yang menerapkan konsep IPA. Permasalahan ini terlihat pada cara pembelajaran IPA serta kurikulum yang diberlakukan sesuai atau malah mempersulit pihak sekolah dan siswa didik, masalah yang dihadapi oleh pendidikan IPA sendiri berupa materi atau kurikulum, guru, fasilitas, peralatan siswa dan komunikasi antara siswa dan guru. Berdasarkan survey di lapangan, kegiatan pembelajaran belum sepenuhnya berpusat pada siswa, kemampuan siswa berdiskusi dalam kelompok masih rendah, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah oleh siswa masih rendah, daya cipta dan kreativitas siswa belum menunjukkan hasil karya yang memadai, belum tampak dengan jelas kemandirian siswa dalam belajar, kemampuan dan keterampilan siswa melakukan percobaan IPA masih rendah. Menurut penelitian, International Education Achievement (IEA) kemampuan membaca siswa SD di Indonesia menempati urutan 30 dari 38 negara. UNDP Human Development Index, tahun 2002 dan 2003 berurutan menempati urutan 110 dari 173, dan 112 dari 175 negara. Bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan di dalam mata pelajaran tertentu, sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingatnya konsep tersebut lebih lama? Oleh sebab itu, perlu segera dikembangkan bahan ajar yang sistematis untuk menunjang kegiatan belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan bahan ajar pada mata pelajaran IPA Kelas V I Semester II. Peneliti hanya mengembangkan bahan ajar pada materi pokok energi listrik. Adapun pertimbangan yang mendasari peneliti meneliti di SDN Ketandan II adalah dari hasil observasi diperoleh informasi bahwa sekolah tersebut berada di desa, pembelajaran belum didukung dengan media-media yang canggih. Untuk pembelajaran IPA pada sekolah tersebut hanya menggunakan 1 buah literatur dan LKS sebagai sumber belajar siswa. Para siswanya pun kurang berminat dalam hal membaca. Karena literatur yang dipergunakan dirasa kurang menarik. Dan hasil interview menyatakan bahwa guru hanya menggunakan metode ceramah dalam mengajarkan materi IPA sehingga siswa kurang aktif dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan di atas, maka diperlukan penelitian untuk mengembangkan bahan ajar yang diharapkan dapat membantu siswa agar lebih cepat memahami konsep belajar IPA dan untuk dapat meringankan tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran. Diantara beberapa materi pokok IPA SD, maka dipilih materi Energi Listrik sebagai fokusnya. Untuk itu, dalam penelitian ini peneliti mengambil judul ”Pengembangan Bahan Ajar IPA SD Kelas VI pada Materi Pokok Energi Listrik dengan Menggunakan Media Grafis”.

Penerapan strategi pembelajaran kooperatif group investigation (GI) dengan pendekatan sains-lingkungan-teknologi-masyarakat (SALINGTEMAS) untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang / Fitriana Tri Palupi

 

ABSTRAK Palupi, Fitriana Tri. 2009. Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) dengan Pendekatan Sains-Lingkungan-Teknologi- Masyarakat (Salingtemas) untuk Meningkatkan Kemampuan Kerja Ilmiah dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien H. Irawati, M.S., (II) Balqis, S.Pd, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, group investigation, pendekatan Sains- Lingkungan-Teknologi-Masyarakat, keterampilan kerja ilmiah, hasil belajar biologi. Pembaharuan di bidang kurikulum dalam pembelajaran, menuntut guru untuk dapat mengubah sistem pembelajaran dari yang berorientasi pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered). Akan tetapi hasil observasi di kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang menunjukkan bahwa saat mengajar di kelas, guru masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode ceramah. Sumber belajar siswa hanya terbatas dari guru mengakibatkan ketrampilan kerja ilmiah siswa juga rendah karena siswa hanya terpaku pada materi dari guru. Hasil observasi yang telah dilakukan di kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang menunjukkan bahwa keterampilan kerja ilmiah diajarkan secara terintegrasi dengan kegiatan praktikum. Rendahnya keterampilan kerja ilmiah siswa dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil observasi juga menunjukkan bahwa hasil belajar biologi siswa kelas X masih rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diterapkan Strategi Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) dengan Pendekatan Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat (Salingtemas) untuk meningkatkan keterampilan kerja ilmiah dan hasil belajar Biologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang. Penelitian ini tergolong Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan penelitian, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X semester genap tahun ajaran 2008-2009 SMA Muhammadiyah 1 Malang yang berjumlah 10 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2009. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi kegiatan guru, catatan lapangan, lembar observasi keterampilan kerja ilmiah, laporan kerja ilmiah, jurnal kegiatan siswa, dan soal tes. Aspek keterampilan kerja ilmiah siswa dilihat dari hasil observasi keterampilan kerja ilmiah siswa, laporan kerja ilmiah siswa, dan jurnal kegiatan siswa, sedangkan hasil belajar diperoleh dari hasil tes akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase ketuntasan keterampilan kerja ilmiah siswa cenderung mengalami peningkatan antara siklus I (60%) dan siklus II (90%). Peningkatan juga terlihat pada rerata keterampilan kerja ilmiah siswa antara siklus I (65,93) dan siklus II (78,15). Persentase ketuntasan hasil belajar biologi siswa juga cenderung mengalami peningkatan antara siklus I (60%) dan siklus II (100%). Rerata hasil belajar biologi siswa juga mengalami peningkatan antara siklus I (65,63) dan siklus II (83,5). i Berdasarkan hasil penelitian maka dapat dikatakan bahwa penerapan strategi pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dengan pendekatan Sains-Lingkungan-Teknologi-Masyarakat (Salingtemas) dapat meningkatkan keterampilan kerja ilmiah dan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Malang dalam pembelajaran Biologi. Saran dari penelitian ini adalah hendaknya peneliti memperhatikan alokasi waktu yang digunakan agar pelaksanaan pembelajaran berlangsung secara efisien dan penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru bidang studi ataupun peneliti yang lain untuk menerapkan model dan pendekatan tersebut.

Pengembangan model out bound pembelajaran pendidikan jasmani untuk siswa kelas V di SDN Kayoman Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan / Harta Mardiyanto

 

ABSTRAK Mardiyanto, Harta. 2009. Pengembangan Model Out Bound Pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk Siswa Kelas V SDN Kayoman Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Sulistyorini, M. Pd, (2) Drs. Mulyani Surendra, M. S. Kata kunci: pengembangan, out bound. Out bound adalah suatu kegiatan yang dilakukan di luar ruangan atau di alam terbuka oleh beberapa kelompok atau perorangan dengan tujuan untuk membangun dan menjalin kerjasama antar sesama yang tergabung dalam kelompok tersebut. Kegiatan ini berupa permainan-permainan menarik yang di dalamnya terdapat muatan pembelajaran yang meliputi: kerjasama, ketangkasan, kejujuran, keterampilan dan kecerdasan. Dalam Pendidikan Jasmani siswa akan dapat mengikuti dengan senang apabila dalam penyajiannya berupa permainan. Tujuan pengembangan adalah untuk mengembangkan model out bound pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk siswa kelas V sekolah dasar yang nantinya dapat membantu guru Pendidikan Jasmani dalam variasi pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah dasar sehingga siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan aktif. Dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan dari Borg & Gall (1983:775) yaitu Research & Development (R&D) dan hanya menggunakan 7 langkah dari 10 langkah yang dikemukakan.Pengembangan model out bound pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk siswa kelas V SDN Kayoman Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi untuk melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assessment) dengan angket yang ditujukan kepada siswa dan guru Pendidikan Jasmani, serta observasi sekolah, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran dan 2 ahli out bound yang hasilnya berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba (kelompok kecil), 5) revisi hasil dari uji coba (kelompok kecil), 6) uji lapangan (kelompok besar), 7) revisi hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa model out bound pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk siswa kelas V SDN Kayoman Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan. Hasil pengembangan berupa model out bound pembelajaran Pendidikan Jasmani untuk siswa kelas V Sekolah Dasar dan diharapkan hasil ini dapat diuji cobakan kepada lingkup yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah dasar dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena penelitian ini hanya terbatas pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan model pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievement Division) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XA di SMA Negeri 2 Bangkalan / Yenny Eka Hidayanti

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dalam berbagai permasalahan yang dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain bermanfaat bagi kehidupan manusia, perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka perlu terus mengembang-kan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya (Umaedi, 2000). Terkait dengan kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal tersebut dibuktikan dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) dalam Manik ( 2006). Susanto (1999) berpendapat bahwa belajar merupakan suatu proses yang harus dikerjakan secara perlahan, karena siswa bukanlah sebuah botol kosong yang langsung siap menerima saat diisi atau mampu menyerap semua informasi yang baru didapat. Siswa merupakan manusia yang memiliki otak yang telah terisi sebelumnya, manusia memiliki kemampuan menerima materi pelajaran dengan cara yang berbeda dan dengan kapasitas yang berbeda pula. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dirancang untuk menghasilkan lulusan yang kompeten memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan tiga hal pokok dalam pembelajaran. Tiga hal pokok dalam pembelajaran adalah materi yang akan diajarkan, cara mengajarkan, serta cara mengetahui bahwa proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif. Kurikulum IPA juga dirancang sebagai pembelajaran yang berdimensi kompetensi, sebab IPA memegang peranan penting sebagai dasar pengetahuan untuk mengungkap bagaimana fenomena alam terjadi. IPA sekaligus memberi kontribusi besar bagi pengetahuan yang terkait dengan isu-isu global dan mutakhir (Sismanto, 2007). Sismanto (2007) juga berpendapat KTSP memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, logis dan berinisiatif dalam menanggapi isu masyarakat yang diakibatkan perkembangan IPA dan teknologi yang memasuki era teknologi informasi. Pada aspek Biologi, IPA mengkaji berbagai persoalan yang terkait dengan berbagai fenomena pada makhluk hidup berbagai tingkat organisasi kehidupan dan interaksinya dengan faktor lingkungan. Mulyasa (2006) berpendapat bahwa KTSP merupakan kurikulum yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah, karakteristik sekolah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Menurut Susanto (2005) pada kenyataannya pembelajaran Biologi akan lebih mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa jika siswa mengadakan pengamatan atau berhadapan langsung dengan hal yang sedang dibahas. Pengetahuan yang didapat dari hasil pengalaman sendiri akan lebih melekat kuat dalam ingatan siswa dari pada pengetahuan yang diperoleh dari hasil pengalaman orang lain. Apalagi biologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang makhluk hidup dan kehidupannya. Biologi bukan hanya pengetahuan yang terstruktur yang sudah dideskripsikan dalam bentuk buku teks. Pada umumnya guru di Bangkalan khususnya guru di SMA Negeri 2 Bangkalan dalam proses pembelajaran masih menggunakan metode dan model pembelajaran yang belum kontekstual (masih konvensional) karena pembelajaran secara kontekstual masih kurang digali. Model dan metode pembelajaran yang digunakan masih didominasi dengan metode ceramah. Pembelajaran secara kontekstual dapat diterapkan dengan mudah dalam pembelajaran Biologi yang berkaitan dengan potensi daerah. Hal ini sangat disayangkan karena Bangkalan memiliki keanekaragaman hayati yang masih tinggi yang mungkin di kota besar sudah jarang ditemui, seperti tumbuhan sawo kecik dan tumbuhan kecapi yang sudah sangat jarang ditemukan di kota lain. SMA Negeri 2 Bangkalan juga memiliki fasilitas berupa laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa, dan Komputer serta adanya taman di setiap kelas, tetapi fasilitas tersebut jarang digunakan dan hanya dijadikan barang koleksi sekolah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang selalu melibatkan para siswa di dalam aktivitas yang nyata. Tahap perencanaan pembelajaran menentukan aktivitas seperti penyelidikan, riset, pemecahan masalah, dan penggunaan alat bantu. Model pembelajaran berbasis masalah juga menerapkan proyek berorganisasi di dalam kelas dan kelompok, pelatihan, dan material pendukung, serta prosedur umpan balik, dan sumber daya. Pengalaman dari implementasi pembelajaran berbasis masalah menjadi sesuatu yang berharga, yang memberikan kesempatan untuk melakukan peningkatan kemampuan siswa dan pengajar dapat menyediakan umpan balik mengenai perencanaan, organisasi, support, dan penilaian proyek (Yudipurnawan, 2007). Ciri utama Pembelajaran berbasis masalah meliputi suatu pengajuan pertanyaan atau masalah, suatu pemusatan antar disiplin yaitu, siswa meninjau dari banyak mata pelajaran terhadap masalah yang akan dipecahkan, penyelidikan autentik, kerja sama,dan menghasilkan karya dan peraga. Pembelajaran berbasis masalah diorganisasikan di sekitar situasi kehidupan nyata autentik yang menghindari jawaban sederhana dan mengundang berbagai pemecahan yang bersaing. Kerja sama siswa dalam pembelajaran berbasis masalah mendorong berbagai inkuiri dan dialog serta perkembangan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir, berperan sebagai orang dewasa yang autentik melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata yang akan menjadikan pembelajaran yang mandiri (Ibrahim, 2000). Pembelajaran berbasis masalah mendorong siswa untuk memiliki kemampuan sosial. Pembelajaran berbasis masalah dipermudah penerapannya dengan menggunakan pembelajaran kooperatif STAD yang dalam proses pembelajaran juga terdapat tahapan untuk bekerja sama, sehingga perkembangan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir pada pembelajaran berbasis masalah dapat terjadi. Menurut Slavin (1997) dalam Mahanal (2006) pembelajaran kooperatif Student Teams Achieviment Division (STAD) adalah model pembelajaran yang dipandang paling sederhana dari pembelajaran kooperatif sehingga mudah diterapkan dalam pembelajaran berdasarkan masalah. Dalam model ini siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 siswa yang berbeda-beda menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku (heterogen) yang memungkinkan siswa untuk saling bertukar pikiran, bekerja sama memecahkan masalah yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Arfah (2005) dalam Mahanal (2006) menyatakan bahwa penerapan pembelajaran berdasarkan masalah melalui strategi kooperatif STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal tersebut juga terjadi pada hasil penelitian Mahanal (2006) bahwa penerapan pembelajaran berdasarkan masalah dengan strategi kooperatif model STAD pada mata pelajaran sains dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MIJS Malang. Motivasi belajar merupakan sesuatu hal yang dapat mendorong keinginan belajar siswa, sedangkan hasil belajar merupakan keseluruhan nilai yang diperoleh siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran meliputi: ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dengan model kooperatif STAD diharapkan dapat membuat siswa memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi sehingga dapat memberikan dampak hasil belajar yang meningkat. Motivasi belajar dapat mempengaruhi hasil belajar, adanya motivasi yang kuat untuk mempelajari biologi maka hasil belajar yang diperoleh akan semakin meningkat. Kurang bervariasinya model dan metode pembelajaran akan berdampak pada motivasi dan hasil belajar siswa. Dampak yang terjadi jika model dan metode kurang bervariasi dalam pembelajaran akan membuat siswa jenuh dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, sehingga siswa kurang termotivasi untuk belajar hal ini berdampak pada hasil belajar yang diperoleh siswa pun rendah. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dengan Model Pembelajaran Kooperatif STAD (Student Team Achievement Division) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XA di SMA Negeri 2 Bangkalan”

Pengontrol alat pemanas listrik yang dapat diprogram / Reymond Bayu Widhiarsa

 

ABSTRAK Widhiarsa, Reymond Bayu. 2009. Pengontrol Alat Pemanas Listrik Yang Dapat Diprogram. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwasono, M.T., dan (II) Drs. Slamet Wibawanto, M.T. Kata kunci: heater, sensor suhu, mikrokontroler AT89S51. Kontrol otomatis saat ini memberikan peran yang sangat besar dalam kehidupan manusia, baik untuk rumah tangga maupun industri. Beberapa di antaranya adalah robot, pengaturan suhu sebuah tangki, pengaturan kelembaban udara dalam sebuah ruangan, tekanan udara dalam suatu pipa tertutup yang dijaga tetap, dan lain-lain. Penguasaan sistem kontrol baik dalam hal teori maupun praktek akan menghasilkan suatu sistem dengan respon yang sesuai dengan kebutuhan. Salah satu sistem kontrol yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah sistem kontrol pemanas. Pada umumnya masyarakat memakai oven konvensional untuk membuat roti. Oven konvensional yang dimaksud adalah oven yang terbuat dari aluminium yang menggunakan kompor minyak tanah sebagai pemanas oven. Harga minyak tanah saat ini relatif mahal, yang menyebabkan produksi roti sedikit menurun. Perencanaan pengontrol alat pemanas listrik yang dapat diprogram ini menggunakan unit kontrol sistem (AT89S51), unit pendeteksi suhu (sensor suhu), unit pengkonversi analog ke digital (ADC), unit penginformasi huruf atau angka (LCD), dan unit system pemanas (oven dan heater). Sensor suhu yang digunakan adalah thermocouple. Sistem ini bekerja pada saat alat dinyalakan. Kita tentukan set point, yaitu berapa suhu yang diinginkan menggunakan keypad. Kemudian mikrokontroler akan membandingkan set point dengan suhu yang dideteksi oleh sensor yang digunakan untuk mengatur PWM pada proses pemanasan elemen. Jika suhu yang dideteksi sensor kurang dari set point maka PWM bekerja terus secara penuh (99%). Jika suhu yang dideteksi sensor lebih dari set point maka mikrokontroler akan mengurangi 1 data PWM tiap 5 detik hingga suhu sensor sama dengan set point. Blower akan menyala saat suhu sensor lebih dari set point dan akan berhenti saat suhu sensor kurang dari atau sama dengan set point. Hasil dari pembacaan suhu akan ditampilkan oleh LCD. Pengujian pada unit pendeteksi suhu (Thermocouple), sensor dapat berfungsi dengan baik walaupun masih terdapat kesalahan dalam menerjemahkan suhu pemanas. Pengujian pada unit pengubah sinyal analog ke digital (ADC) mampu mengubah masukan dari sensor menjadi keluaran biner. LCD mampu menampilkan data berupa hasil pengukuran dari sensor. Operasi keseluruhan alat bekerja sesuai dengan perencanaan walaupun masih banyak kesalahan dalam pembacaan suhu pemanas. Kesimpulan dari perancangan pengontrol alat pemanas litrik yang dapat diprogram ini adalah: (1) sistem ini mampu mengontrol suhu pemanas dari 70º C sampai 157º C. (2) LCD mampu menginformasikan data dari hasil pengukuran sensor.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen dan sarana belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa (studi kasus pada mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Enggar Wusanani Chrisya Putri

 

Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan pendidikan juga mendukung tercapainya pembangunan nasional. Untuk dapat mewujudkan pembangunan nasional melalui pendidikan perlu pemberdayaan manusia yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Gambaran tentang persepsi mahasiswatentang cara mengajar dosen mengetik manual program studi ADP Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. (2) Gambaran tentang sarana belajar program studi ADP Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. (3) Prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. (4) Pengaruh positif signifikan antara persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Universitas Negeri Malang secara parsial pada mata kuliah mengetik manual. (5) Pengaruh positif signifikan antara sarana belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Universitas Negeri Malang secara parsial pada mata kuliah mengetik manual. (6) Pengaruh positif signifikan antara persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen dan sarana belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 UniversitasNegeri Malang secara simultan pada mata kuliah mengetik manual. Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 49 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen yang masuk dalam kategori sangat baik yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 3,07. Hasil analisis statistik deskriptif mengenai sarana dan prasarana belajar maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kondisi sarana dan prasarana belajar sebagian besar masuk dalam kategori baik yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 2,94. Hasil prestasi belajar Mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang masuk dalam kategori sangat baik. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa data sekunder yang diolah oleh peneliti tahun 2008, dapat diketahuibahwa nilai rata-rata prestasi belajar Mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yaitu sebesar 3,3. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar Mahasisiwa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang masuk dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda yang telah dilakukan dapat dketahui bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara variabel persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hasil tersebut dibuktikan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < a, (5%) dan nilai terhitung untuk variabel persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen menunjukkan 4,803 dan t tabel sebesar 2,0117. Terdapat pengaruh yang positif signifikan secara parsial antara variabel sarana belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < a, (5%) dengan adanya t hitung untuk variabel sarana dan prasarana belajar menunjukkan 7,828 dan t tabel sebesar 2,0117. Hasil analisis uji F dapat diketahui bahwa persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen dan sarana dan prasarana belajar secara secara simultan (bersama-sama) mempunyai pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil analisis regresi berganda diperoleh nilai Fhitung sebesar 38,529 dan F tabel 3,230 dengan signifikansi 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi F lebih kecil dari a (0,05) dan F hitung > F tabel. Saran yang dapat diberikan yaitu (1) Bagi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, diharapkan untuk meningkatkan kreatifitas dan keterampilan dalam mengelola kelas dengan harapan dapat memberikan persepsi yang positif tentang tata cara mengajar yang diterapkan kepada para mahasiswa. (2) Bagi peserta didik/mahasiswa, diharapkan untuk mempergunakan sarana dan prasarana pendidikan secara maksimal dengan harapan dapat mendukung atas pencapaian prestasi belajar secara maksimal. Sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan prestasi belajarnya. (3) Bagi Peneliti Selanjutnya, bagi peneliti selnjutnya yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakannya yaitu dengan menggunakan variabel lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan memperluas wawasan. (4) Bagi Universitas Negeri Malang, diharapkan hasil penelitianini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitandengan pengaruh persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen dan sarana belajar terhadap prestasi belajar serta sebagai bahan kajian bagi pembaca.

Analisis rasio arus kas sebagai sistem peringatan dini dalam memprediksi kegagalan bank (studi kasus pada perusahaan perbankan yang listing di BEI) / Enggar Wusanani Chrisya Putri

 

Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, dan pendidikan juga mendukung tercapainya pembangunan nasional. Untuk dapat mewujudkan pembangunan nasional melalui pendidikan perlu pemberdayaan manusia yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Gambaran tentang persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen mengetik manual program studi ADPFakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. (2) Gambaran tentang sarana belajar program studi ADP Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. (3) Prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. (4) Pengaruh positif signifikan antara persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Universitas Negeri Malang secara parsial pada mata kuliah mengetik manual. (5) Pengaruh positif signifikan antara saranabelajar terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Universitas Negeri Malang secara parsial pada mata kuliah mengetik manual. (6) Pengaruh positif signifikan antara persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen dan sarana belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Universitas Negeri Malang secara simultan pada mata kuliah mengetik manual. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 49 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen yang masuk dalam kategori sangat baik yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 3,07. Hasil analisis statistik deskriptif mengenai sarana dan prasarana belajar maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa kondisi sarana dan prasarana belajar sebagian besar masuk dalam kategori baik yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 2,94. Hasil prestasi belajar Mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang masuk dalam kategori sangat baik. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa data sekunder yang diolah oleh peneliti tahun 2008, dapat diketahui bahwa nilai rata-rata prestasi belajar Mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yaitu sebesar 3,3. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar Mahasisiwa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang masuk dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda yang telah dilakukan dapat dketahui bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial antara variabel persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hasil tersebut dibuktikan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < α, (5%) dan nilai t hitung untuk variabel persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen menunjukkan 4,803 dan t tabel sebesar 2,0117. Terdapat pengaruh yang positif signifikan secara parsial antara variabel sarana belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < α, (5%) dengan adanya t hitung untuk variabel sarana dan prasarana belajar menunjukkan 7,828 dan t tabel sebesar 2,0117. Hasil analisis uji F dapat diketahui bahwa persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen dan sarana dan prasarana belajar secara secara simultan (bersama-sama) mempunyai pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa ADP 2006 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil analisis regresi berganda diperoleh nilai Fhitung sebesar 38,529 dan F tabel 3,230 dengan signifikansi 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi F lebih kecil dari α (0,05) dan F hitung > F tabel. Saran yang dapat diberikan yaitu (1) Bagi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, diharapkan untuk meningkatkan kreatifitas dan keterampilan dalam mengelola kelas dengan harapan dapat memberikan persepsi yang positif tentang tata cara mengajar yang diterapkan kepada para mahasiswa. (2) Bagi peserta didik/mahasiswa, diharapkan untuk mempergunakan sarana dan prasarana pendidikan secara maksimal dengan harapan dapat mendukung atas pencapaian prestasi belajar secara maksimal. Sebagai motivasi untuk lebih meningkatkan prestasi belajarnya. (3) Bagi Peneliti Selanjutnya, bagi peneliti selnjutnya yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakannya yaitu dengan menggunakan variabel lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan memperluas wawasan. (4) Bagi Universitas Negeri Malang, diharapkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pengaruh persepsi mahasiswa tentang cara mengajar dosen dan sarana belajar terhadap prestasi belajar serta sebagai bahan kajian bagi pembaca.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep hukum perbandingan tetap siswa NAB 3 Malang / Nur Aini

 

ABSTRAK Nur Aini. 2009. Identifikasi Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep Hukum Perbandingan Tetap Siswa MAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fariati, M.Sc., (II) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, dan hukum perbandingan tetap. Sebagian besar konsep hukum perbandingan tetap bersifat abstrak, seperti partikel, mol, dan perbandingan massa. Untuk memahami konsep abstrak, pola pikir siswa harus berada pada tingkat berpikir formal. Berdasarkan teori perkembangan Piaget, tingkat operasional formal siswa akan diperoleh pada usia 11 tahun ke atas. Salah satu penyebab kesulitan siswa SMA mempelajari kimia adalah sebagian besar siswa belum dapat mencapai tingkat operasional formal. Kesulitan siswa mempelajari kimia, juga muncul akibat kesulitan memahami konsep. Hal tersebut mengakibatkan konsep tersebut menjadi konsep sukar bagi siswa dan memungkinkan juga mengalami kesalahan pemahaman konsep. Kesalahan siswa yang terjadi secara terus-menerus dengan sumber tertentu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesalahan konsep. Tujuan penelitian dengan konsep hukum perbandingan tetap pada siswa kelas X dan XI MAN 3 Malang adalah mengidentifikasi: (1) jenis konsep sukar; dan (2) konsep yang paling sukar berdasarkan persentase kesalahan; serta (3) jenis kesalahan konsep; dan (4) kesalahan konsep paling besar yang dialami siswa berdasarkan konsistensi jawaban salah. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif. Sampel penelitian adalah siswa kelas X-A; X-E; XI-IPA1; dan XI-IPA4 MAN 3 Malang tahun ajaran 2008/2009 semester genap sebanyak 140 siswa, yaitu 70 siswa kelas X dan 70 siswa kelas XI IPA. Instrumen penelitian berupa tes tertulis dan wawancara. Tes tertulis sebanyak 28 butir soal dengan 5 pilihan jawaban dilengkapi dengan alasan pemilihan jawaban. Persentase validitas dan reliabilitas soal tes berturut-turut sebesar 91,7% dan 0,88. Hasil wawancara dipakai sebagai triangulasi data. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan analisis persentase dan ranking yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis konsep sukar, konsep paling sukar, jenis kesalahan konsep, dan kesalahan konsep paling besar yang dialami siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) jenis konsep sukar yang dimiliki siswa kelas X dan XI MAN 3 Malang berdasarkan persentase kesalahan adalah (a) pengertian rumus empiris di kelas XI; (b) hubungan senyawa dengan partikel, yaitu menentukan partikel suatu senyawa; (c) hubungan mol dengan Ar dan Mr, yaitu menentukan Ar di kelas X dan menentukan Mr di kelas X dan XI; (d) hubungan mol dengan massa; (e) hubungan mol, massa molar, dan Ar atau Mr; (f) hubungan mol dengan partikel; (g) perbandingan massa; (h) hubungan perbandingan massa dengan perbandingan atom (partikel); (i) hubungan perbandingan massa dengan massa molar; dan (j) hubungan perbandingan massa dengan rumus empiris. (2) Konsep yang paling sukar untuk siswa kelas X adalah i(a) hubungan senyawa dengan partikel sebesar 94%; (b) hubungan mol dengan Ar dan Mr sebesar 94%; (c) dan hubungan mol dengan partikel sebesar 94%. Konsep yang paling sukar bagi siswa kelas XI adalah hubungan perbandingan massa dengan rumus empiris dengan persentase kesalahan sebesar 95%. (3) Jenis kesalahan konsep yang dialami siswa kelas X dan XI berdasarkan konsistensi jawaban salah adalah: (a) senyawa dibentuk dari unsur yang sama, dimiliki 1% siswa kelas XI; (b) rumus empiris menyatakan perbandingan massa sebesar 3% di kelas X dan XI; (c) rumus empiris menyatakan perbandingan Ar, dengan tingkat konsistensi jawaban salah di kelas X dan XI berturut-turut sebesar 1% dan 21%; (d) rumus empiris menyatakan perbandingan molekul tiap unsur dalam senyawa, dimiliki 6% siswa kelas XI; (e) rumus empiris menyatakan perbandingan massa molekul relatif tiap molekul dalam senyawa, dialami oleh 1% siswa kelas X dan 11% siswa kelas XI; (f) besar Ar dan Mr ditentukan oleh mol, dimiliki 1% siswa kelas XI; (g) besar Ar dan Mr ditentukan oleh mol, dengan satuan sama dengan massa molar, sebesar 11% di kelas X dan 6% di kelas XI; (h) besar Ar dan Mr ditentukan oleh mol, dengan satuan sama dengan mol sebesar 8% di kelas X dan 3% di kelas XI; (i) mol sama dengan molekul, dimiliki oleh 23% siswa kelas X; (j) atom sama dengan molekul sebesar 1% di kelas X dan 3% di kelas XI; (k) perbandingan massa unsur sama dengan perbandingan mol atom sebesar 6% di kelas X dan 4% di kelas XI. (4) Kesalahan konsep paling besar yang dialami siswa kelas X adalah hubungan mol dengan partikel dengan persentase konsistensi jawaban salah sebesar 23%, yaitu mol sama dengan molekul. Kesalahan konsep paling besar siswa kelas XI adalah hubungan senyawa dengan rumus empiris sebesar 21%, yang menyatakan bahwa rumus empiris menentukan perbandingan massa atom relatif tiap atom dalam senyawa.

Seleksi dini dengan polyethylenglycol (PEG) 6000 secara in vitro untuk mendapatkan genotipe FI jarak pagar (Jatropha curcas L.) tahan terhadap kekeringan / Siti Nur Solikhah

 

J. curcas merupakan salah satu bahan bakar nabati (BBN) yang dapat hidup pada lahan kering. Keadaan kering atau kurang air pada media kultur dapat dikondisikan dengan penambahan senyawa osmotikum seperti PEG 6000. Konsentrasi PEG 5–20% setara dengan potensial osmotik pada kondisi tanah kapasitas lapang dan titik kelembaban kritis, sehingga dapat dijadikan untuk pengujian dalam menentukan konsentrasi optimum subletal PEG. J. curcas klon HS49 yang merupakan klon produksi tinggi dan mampu beradaptasi terhadap lingkungan kekeringan digunakan untuk pengujian subletal PEG. Hasil uji konsentrasi optimum subletal PEG digunakan sebagai medium seleksi 10 genotipe F1 J. curcas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh genotipe F1J. curcas yang tahan terhadap PEG pada konsentrasi optimum, sehingga jangka panjangnya genotipe F1 tersebut dapat digunakan sebagai klon unggul yang mampu hidup pada lahan kering. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisis data hasil penelitian penentuan konsentrasi optimum menggunakan batasan dari konsentrasi PEG subletal yang dapat menghambat pertumbuhan eksplan minimal 95% dibandingkan perlakuan kontrol. Analisis data hasil seleksi 10 genotipe F1J. curcas menggunakan analisis varian (anava) tunggal. Penelitian ini dilakukan mulai April sampai Agustus 2009 di Laboratorium Kultur Jaringan Pemuliaan Tanaman, Balai Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas) Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PEG 15% yang ditambahkan pada media dasar MS, IBA dan BAP merupakan konsetrasi optimum subletal J. curcas HS49. Konsentrasi PEG 15% selanjutnya digunakan sebagai medium seleksi 10 genotipe FI J. curcas. Hasil analisis data menggunakan anava tunggal menunjukkan bahwa genotipe FI dengan kode persilangan M19 X J22 mempunyai ketahanan terhadap PEG 15% dengan rerata jumlah eksplan yang tahan sebesar 2,147 dan persentase 43,333%. Penelitian lanjutan yang disarankan, sebaiknya dilakukan penelitian tentang pertumbuhan dan perkembangan kalus, tunas sampai aklimatisasi genotipe F1 yang tahan terhadap PEG 15%. Penelitian tersebut dibutuhkan untuk membuktikan ketahanan tanaman hasil seleksi in vitro terhadap kondisi stres air di lapang.

Analisis perbedaan return, risiko, volume perdagangan saham dan bid ask spread sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 / Indra Rudy Stiawan

 

ABSTRAK Stiawan, Rudy Indra. 2009. Analisis Perbedaan Return, Risiko, Volume Perdagangan Saham Dan Bid Ask Spread Pada Perusahaan Yang listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2005-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. (II) Drs. M. Hari, M.Si. Kata Kunci: Stock split, return, risiko, volume perdagangan saham, dan bid ask spread. Informasi sangat penting dalam pasar modal. Informasi yang masuk ke pasar modal mengakibatkan reaksi pada pasar. Stock split dilakukan oleh perusahaan untuk menyampaikan informasi tentang prospek perusahaan di masa yang akan datang dan juga untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham. Stock split masih menjadi fenomena yang kontroversial. Ada dua pendapat mengenai stock split, pertama stock split murni hanya sebagai kosmetik, kedua stock split dinyatakan mempunyai efek yang nyata terhadap saham. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kondisi return saham sebelum dan sesudah stock split, (2) kondisi risiko saham sebelum dan sesudah stock split, (3) kondisi volume perdagangan saham sebelum dan sesudah stock split, (4) kondisi bid ask spread saham sebelum dan sesudah stock split, (5) perbedaan antara return saham sebelum dan sesudah stock split, (6) perbedaan risiko saham sebelum dan sesudah stock split, (7) perbedaan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah stock split, (8) perbedaan bid ask spread saham sebelum dan sesudah stock split. Populasi Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan didapatkan 19 perusahaan sampel. Periode pengamatan dilakukan selama 10 hari sebelum dan 10 hari sesudah. Data yang digunakan adalah data sekunder antara lain data harga saham, jumlah saham yang beredar, jumlah saham yang diperdagangkan, bid price dan ask price pada perusahaan yang melakukan stock split periode 2005-2007. Uji normalitas menggunakan uji kolmogorov smirnov. Analisa data untuk data berdistribusi normal digunakan paired sample t-test, sedangkan untuk data yang berdistribusi tidak normal menggunakan wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan (1) kondisi return saham mengalami penurunan, (2) kondisi risiko saham mengalami penurunan, (3) kondisi volume perdagangan saham mengalami kenaikan, (4) kondisi bid ask spread mengalami penurunan, (5) terdapat perbedaan yang signifikan return saham, terdapat perbedaan pada t-4 dengan t+4, (6) tidak terdapat perbedaan yang signifikan risiko saham, terdapat perbedaan signifikan pada t-2 dan t+2 (7) tidak terdapat perbedaan yang signifikan volume perdagangan saham, (8) tidak terdapat perbedaan yang signifikan bid ask spread, terdapat perbedaan pada t-6 dengan t+6. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan (1) bagi investor tidak perlu terpengaruh oleh stock split dan memperhatikan variabel volume perdagangan saham dan bid ask spread, (2) bagi perusahaan memberikan informasi yang transparan kepada pasar mengenai kinerja keuangannya agar kebijakan stock split dapat direaksi oleh pasar dan adanya pertimbangan yang matang sebelum melakukan stock split agar kebijakan ini memberikan keuntungan bagi perusahaan, (3) bagi penelitian selanjutnya mengelompokkan sampel berdasarkan sektor industri, memperpanjang periode pengamatan dan menggunakan variabel lain yang menyangkut kinerja keuangan perusahaan.

Penerapan pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Divisions (STAD) dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sains biologi siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Tajinan Malang / Ratih Kusuma Wardhani

 

ABSTRAK Wardhani, Ratih Kusuma. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Student Teams Achievement Divisions (STAD) dengan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Sains Biologi Siswa Kelas VIII-A SMP Negeri 1 Tajinan Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sunarmi, M.Pd, (II) Dra. Murni Saptasari, M.Si. Kata Kunci: STAD, kontekstual, aktivitas, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 4 dan 21 Februari 2009 di kelas VIII-A SMP Negeri 1 Tajinan Malang diketahui bahwa sebagian besar kegiatan belajar mengajar (KBM) masih didominasi oleh guru. Sebanyak 90% siswa terlihat kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran, selain itu sebanyak 50% siswa belum tuntas hasil belajarnya. Penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa perlu dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya dengan penerapan pembelajaran kooperatif STAD (Student Teams Achievement Divisions) dengan pendekatan kontekstual. Melalui penerapan pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Biologi siswa kelas VIII-A di SMP Negeri 1 Tajinan Malang. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 4 Februari – 6 Juni 2009. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian yang digunakan dalam PTK ini yaitu siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Tajinan Malang tahun ajaran 2008-2009 yang berjumlah 31 siswa, terdiri 14 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Data dalam penelitian ini berupa keterlaksanaan pembelajaran kooperatif STAD yang diukur berdasarkan persentase aktivitas guru, aktivitas belajar siswa yang diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa dan taraf keberhasilan tindakan, serta hasil belajar siswa yang diukur berdasarkan hasil tes setiap akhir siklus dan ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas siswa dan guru dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif STAD dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Biologi siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Tajinan Malang. Rerata persentase keberhasilan aktivitas siswa mengalami peningkatan sebanyak 29,76% dari siklus pembelajaran. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan sebanyak 30,00%. Berdasarkan analisis hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran kooperatif STAD dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sains Biologi siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Tajinan Malang. Berdasarkan kekurangan dalam penelitian ini disarankan guru perlu menerapkan metode pembelajaran kooperatif STAD dengan pendekatan kontekstual sebagai salah satu metode alternatif pembelajaran, untuk mengurangi siswa yang bekerja sama pada waktu tes akhir siklus perlu adanya penambahan observer dan guru perlu tegas dalam menegur siswa yang ramai.

The English class of acceleration program at SMPN 1 Malang: a case study / Aan Fusi Wahyuni

 

ABSTRAK Wahyuni, Aan Fusi. 2009. The English Class of Acceleration Program at SMPN 1 Malang:A Case Study. Skripsi, Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Sri Widayati, M.Ed. Kata Kunci: Kelas Bahasa Inggris, Program Akselerasi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses pembelajaran bahasa Inggris pada kelas akselerasi di SMPN 1 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas VIII program akselerasi. Tahun pelajaran 2008/2009. Instrumen utama adalah peneliti, yang dibantu oleh beberapa instrumen lain, yaitu tabel observasi, petunjuk wawancara, kuesioner, dan sejumlah dokumentasi. Data yang diperoleh diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu silabus, RPP, materi dan media pembelajaran, dan metode pembelajaran. Berdasarkan data yang diperoleh, peneliti menemukan bahwa guru pengajar mata pelajaran bahasa Inggris kelas akselerasi menggunakan silabus kelas reguler sebagai pacuan untuk kemudian dimodifikasi waktunya dan dijadikan silabus untuk kelas aselerasi. RPP yang digunakan dibuat dalam bentuk modul yang pada hakikatnya tidak bisa digunakan sebagai RPP karna tidak mencantumkan banyak bagian-bagian penting sebuah RPP. Materi yang digunakan tidak hanya buku cetak saja, tapi juga dengan menggunakan materi tambahan yang diambil dari majalah, koran, atau mengunduh dari internet. Sedangkan media yang digunakan adalah benda-benda nyata, gambar, dan media elektronik, seperti LCD dan komputer. Metode yang digunakan variatif, seperti diskusi, presentasi, dan kerja kelompok. Berdasarkan hasil yang diperoleh, penelitian ini meyarankan kepada guru pengajar bahasa Inggris kelas akselerasi untuk membuat silabus khusus untuk program kelas akselerasi yang tidak hanya dimodifikasi pada bagian waktunya saja. Materi-materi yang diberikan dan metode-metode yang digunakan sebaiknya berbeda dari kelas reguler untuk dapat mengakomodasi kebutuhan individu siswa-siswi kelas akselerasi.

Pengaruh pendekatan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran kewirausahaan (studi pada siswa kelas X Otomotif SMK PGRI 6 Malang) / Pujo Lasmono

 

Pendidikan dapat dilakukan dalam lingkungan formal maupun non formal. Pendidikan dalam lingkungan sekolah lebih bersifat formal. Guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik. Kegiatan ini berlangsung dalam suatu lembaga pendidikan yang bersifat formal. Setiap proses belajar-mengajar di kelas terdapat dua kegiatan yang saling berkaitan satu sama yang lain, yaitu kegiatan pengajaran dan kegiatan pengelolaan kelas. Kegiatan pengajaran mencakup semua kegiatan yang secara langsung diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan pengajaran. Sedangkan kegiatan pengelolaan kelas ditujukan pada kegiatan yang menciptakan dan menjaga kondisi yang optimal bagi terselenggaranya proses belajar-mengajar. Fungsi pengelolaan kelas sangat mendasar sekali karena kegiatan guru dalam mengelola kelas meliputi kegiatan mengelola tingkah laku siswa di dalam kelas, menciptakan iklim sosioemosional dan mengelola proses kelompok, sehingga keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan menandakan proses belajar-mengajar berlangsung secara efektif. Di samping itu ia harus dapat mempengaruhi siswa untuk belajar dan menerima stimulus dengan tanggapan yang positif yang akhirnya akan mempengaruhi prestasi belajar siswa . Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana pengaruh pendekatan pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini mempunyai dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan pengelolaan kelas yang mempunyai sub variabel 1) pendekatan pengubahan tingkah laku 2) pendekatan penciptaan iklim sosioemosional dan 3) pendekatan proses kelompok sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa kelas X Otomotif SMK PGRI 6 Malang pada mata pelajaran kewirausahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Otomotif SMK PGRI 6 Malang yang berjumlah 48 siswa. Peneliti menggunakan seluruh populasi untuk subjek penelitian sehingga peneliti tidak perlu menggunakan sampel penelitian. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda (multiple regression) dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS for Windows seri 14.0. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) pendekatan pengubahan tingkah laku berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa 2) pendekatan penciptaan iklim sosioemosional berpengaruh secara positif akan tetapi tidak signifikan terhadap prestasi belajar siswa 3) pendekatan proses kelompok berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap prestasi belajar siswa Saran ditujukan kepada SMK PGRI 6 Malang, hendaknya melalui kepala sekolah perlu menetapkan pengelolaan kelas yang efektif sebagai kebijakan sekolah dan mewajibkan guru-gurunya melakukan pengelolaan kelas dengan baik. Kepala sekolah harus mengoptimalkan fungsi guru dalam mengkondisikan kelas dengan pendekatan pengubahan tingkah laku, pendekatan penciptaan iklim sosioemosional, dan pendekatan proses kelompok dengan mengoptimalkan gaya mengajarnya secara bervariasi. Selain itu saran ditujukan untuk peneliti yang tertarik untuk melanjutkan penelitian ini adalah untuk mencoba melakukan penelitian pada obyek yang lain (Sekolah SMK atau SMA yang lain) agar nanti hasilnya dapat dijadikan perbandingan bagaimana pengaruh pendekatan pengelolaan kelas disekolah tersebut dengan sekolah SMK PGRI 6 Malang. Selain itu penulis merekomendasikan pada peneliti selanjutnya untuk meneliti pengaruh variabel lain seperti lingkungan belajar, pengaruh IQ dan EQ serta motivasi siswa terhadap prestasi belajar siswa.

Prestasi belajar matematika pokok bahasan prisma dan limas melalui pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Malang / Dwi Puji Sulistyani

 

ABSTRAK Sulistyani, Dwi Puji. 2009. Prestasi Belajar Matematika Pokok Bahasan Prisma dan Limas Melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ir. Herutomo, M.Pd. (II) Dr. Tjang Daniel Chandra, M.Si. Kata kunci : pembelajaran berbasis masalah, prestasi belajar, prisma dan limas Tujuan pembelajaran matematika adalah siswa dapat memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, seperti memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah matematika. Berdasarkan peraturan tersebut sudah sewajarnya guru menerapkan suatu metode pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mengkonstruksi pemahaman mereka dan mengubah pembelajaran yang pada mulanya berpusat pada guru menjadi suatu pembelajaran yang berpusat pada siswa. Metode pembelajaran yang sesuai adalah pendekatan pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif untuk memecahkan suatu permasalahan melalui tahap-tahap metode ilmiah, sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Penerapan pendekatan pembelajaran berbasis masalah diharapkan dapat menumbuhkan serta meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang studi matematika sehingga berpengaruh terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas VIII SMP N 1 Malang pada pokok bahasan prisma dan limas dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Penelitian dilakukan di SMP N 1 Malang dengan subyek penelitian siswa kelas VIII-D dan VIII-E. Waktu pelaksanaan penelitian adalah pada semester II tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen semu. Data hasil belajar diperoleh dari postest setelah subyek diberikan perlakuan. Melalui analisis yang telah dilakukan, diperoleh bahwa prestasi belajar siswa meningkat setelah diberi perlakuan berupa pembelajaran berbasis masalah. Hal tersebut terlihat dari persentase jumlah siswa yang mendapatkan nilai post tes di atas standar nilai sekolah adalah sekitar 70%-80% siswa. Peneliti menyarankan sebaiknya pembelajaran berbasis masalah dapat dijadikan sebagai alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

Pengaruh cara belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa SMK PGRI 6 Janti Malang (studi pada siswa kelas XI SMK PGRI 6 Janti Malang) / Risa Sugianto

 

Keberhasilan belajar seorang siswa dalam menguasai pelajaran di sekolah tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut bisa dari dalam diri siswa maupun dari luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa diantaranya cara belajar dan kebiasaan belajar. Cara belajar sangat berperan dalam rangka mencapai tujuan belajar. Tanpa adanya cara dari dalam diri siswa untuk belajar dengan sungguh-sungguh maka ia tidak akan dapat mencapai tujuan belajar. Seperti halnya cara belajar, dengan memiliki kebiasaan belajar yang baik maka tercapai prestasi belajar yang diharapkan. Prestasi belajar siswa akan optimal apabila siswa memahami berbagai macam kebiasaan belajar yang dilakukan. Berdasarkan latar belakang yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cara belajar, kebiasaan belajar, dan prestasi belajar siswa kelas X1 SMK PGRI 6 Janti Malang, serta menganalisis secara parsial dan simultan pengaruh cara belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X1 SMK PGRI 6 Janti Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah diskriptif dan kausal. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah cara belajar (X1) dan kebiasaan belajar (X2). Sedangkan variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X1 SMK PGRI 6 Janti Malang tahun ajaran 2007/2008. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling, diperoleh sampel sebesar 75 siswa. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu angket (kuesioner) dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara belajar siswa APK kelas XI di SMK PGRI 6 Janti Malang adalah tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dari 32 % responden (24 siswa) menyatakan memiliki cara belajar yang sangat tinggi, 46,7 % responden (35 siswa) menyatakan memiliki cara belajar yang tinggi dan 21,3 % (16 siswa) menyatakan memiliki cara belajar yang sedang. Hasil analisis deskriptif tentang kebiasaan belajar menunjukkan bahwa 33,3 % responden (25 siswa) memiliki kebiasaan belajar yang sangat baik, 44 % responden (33 siswa) menyatakan memiliki kebiasaan belajar yang baik dan 22,6 % responden (17 siswa) menyatakan memiliki kebiasaan belajar yang cukup baik. Dan hasil analisis deskriptif tentang prestasi belajar menunjukkan bahwa 53,33 % responden (40 siswa) memiliki nilai baik, dan 46,67 % responden (35 siswa) memiliki nilai cukup baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa APK kelas XI SMK PGRI 6 Janti Malang memiliki prestasi belajar yang baik. Berdasarkan hasil analisis secara parsial dan simultan, cara belajar dan kebiasaan belajar mempengaruhi prestasi belajar sebanyak 38,2 % dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan cara belajar, kebiasaan belajar, dan prestasi belajar. Saran yang diajukan adalah (1) Agar lebih meningkatkan kebiasaan belajarnya dan diharapkan untuk lebih memperhatikan kebiasaan belajar, dengan cara memiliki kebiasaan belajar yang lebih teratur dan sehingga memperoleh hasil belajar yang lebih optimal. (2) Meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar dengan jalan membiasakan cara belajar yang dapat mempermudah prestasi belajar mengajar. (3) Hendaknya menciptakan suasana belajar mengajar yang mampu menumbuhkembangkan kegairahan belajar siswa, sehingga siswa menjadi lebih aktif belajar di kelas. (4) Dapat menciptakan cara belajar dan. kebiasaan belajar yang baik agar memperoleh prestasi belajar yang optimal. (5) Diharapkan pada penelitian yang akan datang, untuk meneliti tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar selain cara belajar dan kebiasaan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut antara lain intelegensi, kesiapan, minat, kesehatan, fasilitas belajar, bimbingan orang tua, keadaan ekonomi, guru.

Pengaruh metode pembelajaran kooperative Student Teams Achievement Division terhadap motivasi belajar, dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran motor otomotif di kelas 2 SMK Siwa Lima Santo Yosep Langgur-Tual / Pelipus Febby

 

ABSTRAK Febby, Pelipus, 2009. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (STAD) terhadap Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar” pada mata diklat motor otomotif di kelas 2 SMK Siwa Lima Santo Yoseph Langgur – Tual. Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Kata Kunci : Kooperatif Tipe STAD, Ceramah, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Mutu pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan mutu pendidikan di negara-negara ASEAN lainnya masih relatif rendah. Padahal dalam kenyataanya, mutu pendidikan sangat mempengaruhi mutu siswa yang dikeluarkannya. Rendahnya mutu pendidikan ditunjukkan dengan rendahnya prestasi belajar siswa termasuk mata pelajaran motor otomotif. Hal itu disebabkan masih adanya kesulitan dalam pembelajaran motor otomotif yang ditimbulkan karena kurangnya variasi pembelajaran motor otomotif. Materi yang harus disampaikan pada siswa sangat banyak, sehingga guru dengan metode kontekstual yang meliputi kegiatan ceramah bervariasi mengejar pemenuhan materi. Oleh karena itu diperlukan variasi pembelajaran untuk mengatasi kesulitan belajar motor otomotif pada siswa yang salah satunya dapat dilakukan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai perbedaan motivasi belajar dan prestasi belajar menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode pembelajaran ceramah pada pokok bahasan sistim pendingin pada kendaraan roda empat dan untuk mengetahui metode mana yang sesuai, sehingga dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II semester II SMK Siwa Lima Santo Yoseph Langgur, yang berjumlah 44 siswa yang berasal dari kelas IIA sampai dengan kelas IIB Sampel dalam penelitian ini berjumlah 2 kelas, dimana kelas IIB untuk kelompok eksperimen dan kelas IIA untuk kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel adalah mengunakan teknik One Stage Cluster Random Sampling.Variabel penelitian ada dua yaitu variabel pembelajaran kooperatif tipe STAD (X2) dan metode Pembelajaran konvensional (X1) Data diambil, melalui teknik dokumentasi dan tes. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis uji t. Berdasarkan hasil analisis motivasi awal kedua kelompok memiliki rata motivasi 83.3%. Berdasarkan hasil uji beda prestasi belajar siswa dari kedua kelompok diperoleh t hitung = -0.131x 44 Pada taraf signifikasi 5% dengan dk = 20+24-2 = 42 diperoleh F(0,05)(44) = 2.1. Dengan demikian diketahui bahwa t hitung < t tabel yang berarti kedua kelompok berbeda nilai rata-rata pre testnya atau kedua kelompok memiliki kesepadanan atau memiliki kemampuan awal yang sama atau homogen. Rata-rata motivasi dan prestasi belajar motor otomotif siswa pada kelompok yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah 59.900 dan yang menggunakan metode pembelajaran ceramah adalah 58.969. Setelah dilakukan analisis data dengan menggunakan uji t diperoleh t hitung = 5.458. Sedangkan = 5.775. Sedangkan t(0,143)(44) = 6.292. Karena thitung > t(0,143)(44). Maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata prestasi belajar kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol atau rata-rata prestasi belajar siswa mata pelajaran motor otomotif yang menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih baik daripada prestasi belajar siswa pada mata pelajaran motor otomotif yang menggunakan metode ceramah. Berdasarkan hasil uji ketuntasan hasil belajar siswa yang mendapatkan pengajaran dengan metode koperatif tipe STAD diperoleh harga t hitung = 5.458 > t-tabel = 4.303 Dengan demikian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa yaitu 60.78 telah mencapai ketuntasan belajar yaitu lebih besar dari 55. Mengacu dari hasil penelitian tersebut peneliti dapat mengajukan saran-saran yaitu: (1) Pihak sekolah diharapkan bersedia mengunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam mata pelajaran notor otomotif ataupun mata pelajaran lainnya seperti pelajaran Matematika, chasis dan body, Fisika dan lain-lain, (2) Guru diharapkan semakin memotivasi siswa untuk belajar dan bekerjasama antar sesama anggota kelompoknya, dan (3) Bagi pihak sekolah, lembaga terkait lainnya dan peneliti berikutnya diharapkan biasa mengadakan penelitian lanjutan sehingga semakin mengembangkan metode pembelajaran.

Pengaruh penambahan anyaman serat bambu dengan berbagai variasi jarak terhadap kuat lentur, tekan dan tarik papan partikel dari serbuk kayu sengon / Triaga Ria Sandi

 

ABSTRAK Sandi, Triaga, Ria. 2008. Pengaruh Penambahan Anyaman Serat Bambu dengan Berbagai Variasi Jarak terhadap Kuat Lentur, Tekan dan Tarik Papan Partikel dari Serbuk Kayu Sengon. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Karyadi, S.Pd., M.P., M.T., (II) Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T. Kata kunci: kuat lentur, kuat tekan, kuat tarik, papan partikel. Kayu memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari yang sangat sederhana seperti bahan bakar sampai kebutuhan yang sangat besar seperti pembuatan rumah, konstruksi bangunan, alat transportasi air dan lain sebagainya. Kebutuhan kayu di Indonesia dari tahun ketahun semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan penggunaan kayu dalam kehidupan sehari-hari. Pada industri pengolahan kayu, limbah yang berupa serbuk gergaji kayu biasanya digunakan sebagai bahan bakar tungku, atau dibakar begitu saja tanpa penggunaan yang berarti, sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Menyikapi keadaan tersebut, maka diperlukan suatu usaha peningkatan efisiensi pemakaian kayu dengan cara memanfaatkan limbah industri kayu menjadi produk yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi, salah satunya diolah menjadi papan partikel. Dari penelitian ini diharapkan mengetahui: (1) nilai kerapatan dan (2) pengaruh penambahan anyaman serat bambu pada papan partikel yang diberi perlakuan jarak anyaman serat bambu 5mm, 10mm, 15mm, 20mm, 25mm terhadap kuat lentur, tekan dan tarik papan partikel yang dibuat dari serbuk gergaji kayu sengon. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen menggunakan desain faktorial 1 x 6, dimana variabel bebasnya adalah variasi jarak anyaman serat bambu dengan berbagai variasi jarak, variabel terikatnya adalah kuat lentur, kuat tekan dan kuat tarik, sedangkan perekat urea formaldehyde sebanyak 15% sebagai variabel kontrol. Acuan yang digunakan dalam pengujian kerapatan, kuat lentur, tekan dan tarik papan partikel yaitu ASTM 2003, D 1037-99. Teknik analisa data untuk mengetahui pengaruh penambahan anyaman serat bambu dengan berbagai variasi jarak terhadap kuat lentur, tekan dan tarik papan partikel dari serbuk kayu sengon menggunakan analisa regresi. Dari hasil analisa regresi untuk pengaruh penambahan anyaman serat bambu dengan berbagai variasi jarak terhadap kuat lentur, tekan dan tarik diperoleh nilai MOR berkisar antara 0,2425-1,3237 Mpa dengan rerarta 0,8913 MPa, nilai MOE berkisar antara 245,4974-369,2285 MPa dengan rerata 298,465 MPa, nilai kuat tekan berkisar antara 14,781-16,233 Mpa dengan rerata 15,6315 MPa, dan nilai kuat tarik berkisar antara 18,4766-20,7639 MPa dengan rerata sebesar 19,6351 MPa. Menurut standard FAO papan partikel yang diteliti masuk dalam klasifikasi papan partikel tipe rendah. Papan partikel tipe rendah hanya cocok untuk produk furniture yang diletakkan di dalam bangunan dan tidak dapat menahan beban struktur, contohnya antara lain: meja belajar, lemari, dan sebagai penyekat ruangan. Sedangkan kuat tekan papan partikel, menurut standard FAO papan partikel yang diteliti masuk dalam klasifikasi papan partikel tipe sedang. Papan partikel tipe sedang cocok untuk produk furniture yang diletakkan di dalam bangunan dan dapat menahan beban struktur yang ringan, contohnya antara lain: meja komputer, lemari, dan kotak salon.

Pengaruh latar belakang sosial ekonomi orang tua dan kemampuan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa akuntansi di SMKN 1 Kraksaan Probolinggo tahun ajaran 2008/2009 / Rahanani Tri L.

 

ABSTRAK Tri, Rahanani. 2009. Pengaruh Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua Dan Kemampuan Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 1 Kraksaan Probolinggo. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akunntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nurika Restuningdiah, SE, Ak, M.Si, (2) Sawitri Dwi Prastiti, SE, Ak, M.Si Kata kunci: latar belakang sosial ekonomi orang tua, kemampuan mengajar guru dan Prestasi Belajar Siswa. Prestasi belajar adalah hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun suatu kalimat yang dapat mencerminkan usaha yang telah dilakukan oleh seseorang atau anak didik pada periode tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ada 2 yaitu a) Faktor internal, dan b) faktor eksternal. Faktor eksternal meliputi: faktor lingkungan keluarga (latar belakang sosial ekonomi orang tua) dan lingkungan sekolah (kemampuan mengajar guru). Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan atau explanatory research yaitu menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel pengujian hipotesis. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan kuesioner (angket). Populasi dalam penelitian berjumlah 190 siswa, sampel dalam penelitian berjumlah 40 siswa terdiri dari siswa kelas X dan XI Ak. Tekhnik pengambilan sampel menggunakan metode proportional sample. Metode analisa data yang digunakan adalah analisa regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik, uji t, dan uji F. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) tidak ada pengaruh antara latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas X dan XI Ak SMK Negeri 1 Kraksaan Probolinggo, 2) Ada pengaruh kemampuan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa kelas X dan XI Ak SMK Negeri 1 Kraksaan Probolinggo,3) Ada pengaruh secara simultan antara latar belakang sosial ekonomi orang tua dan kemampuan mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa kelas X dan XI Ak SMK Negeri 1 Kraksaan Probolinggo . Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan 1) bagi orang tua untuk melibatkan diri dalam proses belajar anak, 2) bagi guru untuk lebih meningkatkan lagi kemampuan dalam berkomunikasi dengan siswa dan mendorong keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar dikelas, 3) bagi siswa untuk lebih meningkatkan prestasinya dengan cara bekerjasama dengan guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang kondusif, dan 4) bagi peneliti lain masih banyak lagi faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi siswa seperti ketersediaan sumber belajar, kebiasaan belajar, minat belajar dan banyak yang lainnya untuk diteliti.

Studi kualitas gonad bulu babi Colobocentrotus atratus, Tripneustes gratilla, dan Heterocentrotus trigonarius di pantai pasir panjang Pulau Sempu Kabupaten Malang / Nur Amri Kadir

 

Perikanan bulu babi telah dikenal sejak 1000 tahun SM, terutama di kawasan Mediterania. Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, Indonesia adalah lahan yang subur bagi perikanan bulu babi, mengingat sebaran biota ini hampir merata disetiap pantai Indonesia. Sekalipun sebaran bulu babi di Indonesia hampir merata disetiap pantai dengan keragaman jenis yang tinggi, produk perikanan bulu babi (gonad) belum dilirik sebagai komoditi perikanan yang menjanjikan. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan masyarakat Indonesia akan sumberdaya perikanan dan teknik pemanfaatan hasil laut. Berdasarkan rasionalisasi tersebut maka diadakanlah Studi Kualitas Gonad Bulu babi Colobocentrotus atratus, Ttripneustes gratilla, dan Heterocentrotus trigonarius di Pantai Pasir Panjang Pulau Sempu Kabupaten Malang. Penelitian ini bermaksud memberikan infomasi kepada masyarakat tentang jenis bulu babi yang memiliki kualitas gonad yang paling baik diantara ketiga jenis bulu babi yang diteliti. Sehingga nantinya informasi ini dapat dijadikan sebagai rujukan dalam budidaya bulu babi. Gonad yang diteliti berasal dari jenis bulu babi jenis Colobocentrotus atratus, Ttripneustes gratilla, dan Heterocentrotus trigonarius dengan diameter cangkang 56 – 60 mm, yang dikoleksi langsung dari Pantai Pasir Panjang secara acak. Bulu babi yang diperoleh selanjutnya dibedah dan diamati gonadnya, untuk mengetahui perbedaan kualitas gonad antar ketiga jenis bulu babi. Parameter kualitas gonad yang diamati meliputi; berat, warna, dan tekstur gonad. Kualitas warna ditentukan berdasarkan standar kualitas warna gonad bulu babi, yang terdiri dari tiga kategori. Mutu sangat baik (grade A) ditandai dengan gonad berwarna kuning atau jingga terang, mutu baik (grade B) memiliki warna gonad merah muda atau kuning pucat (krem), dan mutu jelek (reject) memiliki warna gonad coklat (Ratna dalam Mustofa, 2007). Kualitas tekstur ditentukan berdasarkan tingkat kekompakan tekstur gonad, yang terdiri atas tiga kategori yakni kompak, cukup kompak, dan agak kompak. Tekstur kompak ditandai dengan kondisi gonad yang “padat”, lobus tampak berbutir-butir dan tidak mudah terputus ketika diangkat dari cangkang bulu babi. Tekstur cukup kompak memberikan penampakan lobus yang agak berbutir, jika diraba terasa kenyal dan sedikit berair, serta mudah terputus jika dikeluarkan dari cangkang bulu babi. Tekstur agak kompak memiliki penampakan lobus tidak berbutir (permukan halus), jika diraba terasa sangat lunak, berair, dan lobus mudah terputus. Apabila lobus terputus (robek), maka i telur yang berupa cairan langsung keluar dari dalam kantong gonad. Data berat gonad yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis statistik dengan menggunakan uji Anava Satu Arah, sedangkan data warna gonad dan tekstur gonad dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunujukkan, terdapat perbedaan berat gonad pada ketiga spesies bulu babi, dan spesies bulu babi yang memiliki rerata berat gonad yang paling tinggi adalah spesies Heterocentrotus trigonarius. Pada pengamatan kualitas warna gonad bulu babi, spesies Colobocentrotus atratus memiliki kualitas warna paling baik, selanjutnya diikuti spesies Tripneustes gratilla, dan yang terakhir adalah spesies Heterocentrotus trigonarius. Dari ke-11 sampel gonad spesies Colobocentrotus atratus, terdapat 9 sampel yang memiliki kualitas warna sangat baik dan 2 sampel yang mememiliki kualitas warna jelek (reject). Pada spesies Tripneustes gratilla dari ke-11 sampel yang diamati, terdapat 7 sampel yang memiliki kualitas warna sangat baik dan 4 sampel memiliki kualitas warna baik. Sedangkan pada spesies Heterocentrotus trigonarius, dari ke-11 sampel gonad, terdapat 7 sampel yang memiliki kualitas warna sangat baik, 2 sampel memiliki kualitas warna baik, dan 2 sampel yang memiliki kualitas warna yang jelek. Hasil pengamatan tekstur gonad menunjukkan, spesies yang memiliki tekstur gonad paling baik adalah Colobocentrotus atratus dan Heterocentrotus trigonarius, selanjutnya adalah spesies Tripneustes gratilla. Kesebelas sampel gonad dari masing-masing spesies Colobocentrotus atratus dan Heterocentrotus trigonarius seluruhnya memiliki tekstur gonad yang kompak, sedangkan spesies Tripneustes gratilla memiliki 4 sampel gonad dengan tekstur kompak, 2 sampel gonad cukup kompak, dan 5 sampel gonad agak kompak. Spesies bulu babi yang memiliki kualitas gonad paling baik berdasarkan tinjauan ketiga kriteria kualitas gonad ialah spesies Colobocentrotus atratus dan Heterocentrotus trigonarius. Spesies Colobocentrotus atratus memiliki kualitas yang baik dari segi warna dan teksturnya, sedangkan spesies Heterocentrotus trigonarius memiliki kualitas yang baik dari segi berat dan tekstur gonadnya. Spesies yang terendah kualitasnya berdasarkan kriteria kualitas gonad adalah Tripneustes gratilla.

Pengaruh store atmosphere (suasana toko) terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada konsumen toko Stroberi Matos) / Bayu Prasetyo

 

A couple years, economic in Malang has increased. This is supported from the establishment of a mall that began popping up in one of which Matos (Malang Town Square). Within each outlet / store in order Matos has different all of which create a certain mood. Of that order which aims to create a certain atmosphere is commonly referred to as store atmosphere (the atmosphere shops). Store atmosphere is the perception of store atmosphere as a result of the influence of the effects created by entrepreneurs to create a store to attract customers to visit. At this time one of the companies that use store atmosphere in terms of product sales is Stroberi store. The purpose of this study are: 1) know the condition / state store atmosphere toward the purchase decisions in store Strawberries Matos. 2) Determine the influence of atmosphere Store on consumer purchasing decisions, partially or simultaneously. 3) Knowing more dominant factor of the design factors, social factors and ambient factors on buying decisions in Stroberi Store. Population in this research are people who are or ever shopped at the Stroberi store. In this study using 110 samples of determining the minimum number of samples using simple random sampling technique of sampling. Technical analysis of the data used in this study is multiple regression. The results of this study concluded: 1) design factors have a significant positive influence on consumer purchasing decisions. 2) Social factors have a significant positive influence on consumer purchasing decisions. 3) ambient factors have a significant positive influence on consumer purchasing decisions. 4) the social component of store atmosphere (the atmosphere stores) is dominant in influencing consumer purchase decisions in store Strawberries Matos. Suggestions to Stroberi store also have to maintain and develop the store atmosphere. Suggestions aimed at researchers who are interested in continuing this research is to try to do research on other objects that implement store atmosphere so that later results can be used as a comparison how they affect consumers' purchasing decisions.

Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja karyawan (studi pada karyawan PDAM Kota Batu) / Dewi Ratih Cahyorini

 

Salah satu kunci keberhasilan suatu perusahaan terletak pada sumberdaya manusianya. Penggunaan tenaga kerja manusia secara efektif dan terarah merupakan kunci untuk meningkatkan motivasi kerja yang baik. Untuk itu peranan seorang pemimpin dalam perusahaan semakin penting artinya dalam upaya meningkatkan motivasi kerja karyawan, sehingga efisiensi dapat tercapai. Untuk mencapai upaya tersebut perusahaan memerlukan seorang pemimpin yang mampu mengkoordinasi sumberdaya manusia yang dipimpinnya ke arah tujuan yang diinginkan melalui berbagai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi dan situasi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan kondisi gaya kepemimpinan dan motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. (2) Mengetahui pengaruh variabel gaya kepemimpinan partisipatif terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. (3) Mengetahui pengaruh variabel gaya kepemimpinan suportif terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. (4) Mengetahui pengaruh variabel gaya kepemimpinan direktif terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. (5) Mengetahui pengaruh variabel gaya kepemimpinan orientasi pencapaian terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. (6) Mengetahui pengaruh variabel gaya kepemimpinan partisipatif, gaya kepemimpinan suportif, gaya kepemimpinan direktif, gaya kepemimpinan orientasi pencapaian secara simultan terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasional. Sampel pada penelitian ini adalah 73 karyawan dari jumlah total 89 karyawan yang ada dan diambil dari semua tingkatan jabatan yang ada pada PDAM Kota Batu. Teknik sampling yang digunakan adalah stratifikasi proporsional random sampling. Data diperoleh dari responden dengan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 12.0 for windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan dari variabel gaya kepemimpinan yang meliputi gaya kepemimpinan partisipatif, gaya kepemimpinan suportif, gaya kepemimpinan direktif, gaya kepemimpinan orientasi pencapaian terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. Terdapat pengaruh positif yang signifikan secara simultan dari variabel gaya kepemimpinan yang meliputi gaya kepemimpinan partisipatif, gaya kepemimpinan suportif, gaya kepemimpinan direktif, gaya kepemimpinan orientasi pencapaian terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. i Berdasarkan hasil sumbangan efektif (SE) gaya kepemimpinan suportif (X2) memiliki pengaruh yang dominan terhadap motivasi kerja pada karyawan PDAM Kota Batu. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk menggali variabel-variabel baru selain variabel gaya kepemimpinan partisipatif, gaya kepemimpinan suportif, gaya kepemimpinan direktif, gaya kepemimpinan orientasi pencapaian, misalnya perilaku tugas dan perilaku hubungan dan beberapa variabel lain yang dapat dijadikan temuan baru dalam penelitian sebelumnya. Sedangkan bagi perusahaan diharapkan mempertahankan dan meningkatkan gaya kepemimpinan yang sudah ada, utamanya gaya kepemimpinan suportif yang dalam penelitian ini berpengaruh dominan serta meningkatkan gaya kepemimpinan yang sudah ada dan menyesuaikan penerapannya sesuai dengan kondisi dan situasi dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.

Pengaruh fasilitas pendidikan dan kesiapan belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMK Negeri 1 Malang / Rusdiana

 

Masalah peningkatan kualitas pendidikan merujuk pada peningkatan proses belajar mengajar (proses pembelajaran). Adanya peningkatan proses belajar mengajar, siswa dapat mempersiapkan diri secara matang untuk menghadapi materi pelajaran yang akan disampaikan oleh guru sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain fasilitas pendidikan dan kesiapan belajar siswa. Proses belajar mengajar memerlukan fasilitas pendidikan atau sarana prasarana belajar yang memudahkan siswa dalam belajar sehingga dapat mencapai prestasi belajar yang optimal. Siswa yang kurang mempersiapkan diri dalam belajar atau menghadapi materi pelajaran yang disampaikan guru akan mempengaruhi prestasi belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas pendidikan dan kesiapan belajar siswa baik secara parsial maupun simultan terhadap prestasi belajar. Serta untuk mengetahui variabel bebas (fasilitas pendidikan & kesiapan belajar) manakah yang memiliki pengaruh dominan terhadap variabel terikat (prestasi belajar). Penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah 602 orang dan jumlah sampelnya 77 orang. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proportional random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket tertutup dengan menggunakan Skala Likert, 5 alternatif jawaban. Pernyataan dan pertanyaan dijabarkan dalam angket sebanyak 33 item, mewakili setiap sub variabel bebas (X) adalah fasilitas pendidikan & kesiapan belajar yang kemudian disebarkan kepada siswa. Sedangkan variabel terikat (Y) adalah prestasi belajar siswa yang diperoleh dari rata-rata nilai raport. Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Sedangkan untuk menguji kelayakan instrumen dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Keseluruhan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS 15.0 for Windows. Adapun hasil analisis data dari penelitian ini adalah: (1) 34 responden (44,16%) menyatakan setuju dengan fasilitas pendidikan yang ada (ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, dan laboratorium); (2) 49 responden (63,64%) menyatakan setuju dengan kesiapan belajar yang ada (kesiapan diri & kesiapan sarana); (3) 45 responden (58,44%) memperoleh nilai dengan kriteria baik. Terdapat pengaruh positif yang signifikan fasilitas pendidikan (X1) terhadap prestasi belajar (Y). Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,000) < (0,05) dan thitung (6,249) > ttabel (1,992). Hasil perhitungan Sumbangan Efektif fasilitas i pendidikan (X1) terhadap prestasi belajar (Y) siswa sebesar 36,26%. Terdapat pengaruh positif yang signifikan kesiapan belajar (X2) terhadap prestasi belajar (Y). Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,000) < (0,05) dan thitung (4,627) > ttabel (1,992). Hasil perhitungan Sumbangan Efektif kesiapan belajar (X2) terhadap prestasi belajar (Y) siswa sebesar 24,15%. Secara simultan terdapat pengaruh positif yang signifikan fasilitas pendidikan (X1) dan kesiapan belajar (X2) terhadap prestasi belajar (Y). Hal ini dibuktikan dengan Sig F (0,000) < (0,05) dan Fhitung (56,614) > Ftabel (3,120). Dari hasil analisis regresi juga diperoleh nilai R = 0,778, ini menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan antara variabel fasilitas pendidikan (X1) dan kesiapan belajar (X2) dengan prestasi belajar (Y) siswa adalah kuat. Nilai R Square menunjukkan koefisien determinasi sebesar 0,605, hal ini berarti bahwa 60,5% perubahan variabel Y disebabkan oleh perubahan variabel fasilitas pendidikan (X1) dan kesiapan belajar (X2), sedangkan sisanya 39,5% prestasi belajar (Y) siswa disebabkan oleh faktor lain di luar variabel bebas. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan yaitu: (1) Sebagian besar siswa yang dijadikan responden menyatakan setuju mengenai item pertanyaan yang berhubungan dengan fasilitas pendidikan (ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, dan laboratorium); (2) Sebagian besar siswa yang dijadikan responden menyatakan setuju mengenai item pertanyaan yang berhubungan dengan kesiapan belajar (kesiapan diri & kesiapan sarana); (3) Sebagian besar siswa mempunyai prestasi belajar yang baik; (4) fasilitas pendidikan berpengaruh positif secara signifikan terhadap prestasi belajar; (5) kesiapan belajar berpengaruh positif secara signifikan terhadap prestasi belajar; (6) fasilitas pendidikan dan kesiapan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar; (7) fasilitas pendidikan memiliki pengaruh dominan terhadap prestasi belajar. Dalam penelitian ini penulis memberikan saran yaitu: (1) Pihak sekolah sebaiknya mengambil kebijaksanaan yang berhubungan dengan pengadaan fasilitas pendidikan. Seperti menambah, memperbaiki dan meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan seperti ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, dan laboratorium. Serta siswa juga menyarankan agar fasilitas-fasilitas yang ada di sekolah lebih ditingkatkan lagi, misalnya kuantitas dan kualitas buku yang ada di perpustakaan. (2) Kesiapan belajar yang selama ini dimiliki oleh siswa harus didukung oleh peran serta sekolah maupun guru. (3) Sebaiknya siswa menerima kondisi fasilitas pendidikan yang ada di sekolah saat ini dan perlu untuk menjaga dan memanfaatkan secara optimal agar bisa dinikmati dan dirasakan manfaatnya secara bersama-sama. Sesuai hasil penelitian bahwa fasilitas pendidikan dan kesiapan belajar siswa bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Oleh karena itu hendaknya pihak sekolah memperhatikan pula faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor tersebut adalah faktor intern (faktor jasmani, psikologis, dan kelelahan,) dan ekstern (faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat).

Pengaruh penerapan strategi problem based learning (PBL) terhadap keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep siswa kelas X di SMA Negeri 8 Malang pada kemampuan akademik berbeda / Abdul Nurul Hadi

 

ABSTRAK Hadi, Abdul Nurul. 2009. Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap Keterampilan Metakognitif dan Pemahaman Konsep Siswa Kelas X di SMA Negeri 8 Malang pada Kemampuan Akademik Berbeda. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. A.D. Corebima, M.Pd, (II) Dr. Siti Zubaidah, M.Pd Kata kunci: PBL, keterampilan metakognitif, pemahaman konsep, kemampuan akademik Kegiatan belajar yang dilaksanakan di sekolah dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses mencapai tujuan pembelajaran tersebut banyak hal yang patut diperhatikan oleh guru. Kebanyakan guru hanya mementingkan aspek kognitif yaitu pemahaman konsep saja dan melupakan aspek lain yang harus dikembangkan dalam diri siswa. Aspek yang harus dikembangkan dalam diri siswa yakni kemampuan berpikir dan keterampilan metakognitif siswa. Bila siswa memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik tentunya materi akan dapat dicerna dengan baik dan siswa dapat dengan lebih mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Siswa dengan keterampilan metakognitif yang baik akan mampu menjadi pebelajar yang mandiri. Siswa mampu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam kegiatan belajarnya sendiri. Selain kedua hal di atas, dalam kelas yang baik terdapat siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah. Diupayakan guru dapat dengan baik memberdayakan siswa berkemampuan akademik rendah sehingga memiliki hasil belajar yang sejajar dengan siswa berkemampuan akademik tinggi. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 8 Malang selama semester gasal 2008/2009. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 8 Malang kelas X tahun ajaran 2008/2009. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-7 sebagai kelas kontrol dan siswa kelas X-8 sebagai kelas eksperimen. Siswa kelas X-7 terdiri atas 42 orang sedangkan siswa kelas X-8 terdiri dari 41 orang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian control group pre test post test. Data keterampilan metakognitif yang diperoleh dari hasil pretes dan postes maupun instrumen inventori, dan data pemahaman konsep dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik Anakova. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan strategi PBL memiliki keterampilan metakognitif yang lebih baik daripada siswa yang diajar dengan strategi konvensional. Rerata keterampilan metakognitif akhir kelas eksperimen kelompok akademik tinggi sebesar 37,9538 sedangkan kelas kontrol pada kelompok yang sama sebesar 24.8615. Adapun rerata keterampilan metakognitif akhir kelas eksperimen kelompok akademik rendah sebesar 32,6846 sedangkan kelas kontrol pada kelompok yang sama sebesar 19,5192. Antara siswa berkemampuan akademik tinggi dan rendah menunjukkan adanya perbedaan keterampilan metakognitif. Hal ini menunjukkan bahwa selain strategi pembelajaran, kemampuan akademik siswa juga berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif.

Pengungkapan corporate social responsibility (CSR) dalam laporan tahunan terpublikasi pada perusahaan pemenang CSR Award 2005 / Sony Bagus Prasetyo

 

ABSTRAK Prasetyo, Sony Bagus. 2009. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) Dalam Laporan Tahunan Terpublikasi pada Perusahaan Pemenang CSR Award 2005. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Sri Pujiningsih SE, M.Si, Ak (II) Yuli Widi Astuti, S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci : Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahaan-perusahaan besar di era modern ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap denyut kehidupan masyarakat. Perusahaan (korporasi) sebagai salah satu pelaku ekonomi memegang peran kunci dalam upaya pensejahteraan dan peningkatan pendapatan negara. Perusahaan diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru yang akan meningkatkan taraf hidup yang lebih baik bagi masyarakat. Corporate Social Responsibility menunjuk pada transparansi pengungkapan sosial perusahaan atas kegiatan atau aktivitas sosial yang dilakukan oleh perusahaan. Dimana transparansi informasi yang diungkapkan tidak hanya informasi keuangan perusahaan, tetapi perusahaan juga diharapkan mengungkapkan informasi mengenai dampak (externalities) sosial dan lingkungan hidup yang diakibatkan aktivitas perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan Sustainability Reporting (SRI) perusahaan peraih CSR Award sebagai alternatif pelaporan CSR. Sustainability Reporting adalah laporan yang mengungkapkan tentang pengaruh kinerja atau kegiatan perusahaan terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sustainability Reporting juga bisa menjadi a high-level strategic document (dokumen strategis tingkat tinggi) yang mendefinisikan visi organisasi, nilai inti dan tujuan dari perusahaan tersebut. Jenis panelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subyek dari penelitian ini adalah perusahaan yang meraih CSR Award 2005. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan studi pustaka. Analisis data dengan cara memberikan skor yang yang kemudian dilakukan penilaian pengungkapan sosial berdasarkan daftar indikator kerja. Berdasarkan hasil analisis, kesimpulan yang dapat diambil yaitu bahwa pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan pemenang CSR Award yang terpublikasi secara umum dapat dikatakan masih rendah yaitu dibawah 50%. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kesadaran mereka terhadap lingkungan di sekitar perusahaan tempat mereka beroperasi. Dari hasil penelitian ini ,dapat disarankan kepada peneliti selanjutnya agar dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai produk pengungkapan sosial. Hendaknya dilakukan beberapa tahun sebelum dan sesudah peraihan Award untuk mengetahui pengungkapan tiap tahunnya.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap harga saham pada perusahaan indeks LQ-45 periode 2004-2007 / Akhmad Taajuddin

 

Harga saham merupakan indikator nilai dan pencerminan yang relevan dari kondisi perusahaan. Untuk mengukur kinerja keuangan suatu perusahaan dapat menggunakan analisis rasio, diantaranya menggunakan Return On Equity (ROE), Return On Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS) dan Debt Equity Rasio (DER). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh Return On Equity (ROE), Return On Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS) dan Debt Equity Rasio (DER) terhadap harga saham, baik secara parsial maupun simultan. Return On Equity (ROE), Return On Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS) dan Debt Equity Rasio (DER) diukur dengan membandingkan nilai yang ada pada laporan keuangan perusahaan tahun 2004-2007. Populasi dari penelitian ini adalah semua perusahaan Yang termasuk dalam Indeks Lq-45 di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004-2007. Dari populasi tersebut, kemudian digunakan metode purposive sampling untuk menentukan sampel penelitian. Hasilnya, terdapat 32 perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa signifikansi variabel Net Profit Margin (NPM) lebih besar dari 0.05, sehingga H0 diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial hanya variabel Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Debt Equity Ratio (DER) yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Sedangkan secara simultan variabel Return On Equity (ROE), Return On Assets (ROA), Net Profit Margin (NPM), Earning Per Share (EPS) dan Debt Equity Rasio (DER) mempunyai pengaruh 54,1% terhadap variabel harga saham. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel-variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap pergerakan harga saham, menambah periode observasi, dan mengganti sampel penelitian, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya.

The techniques of teaching speaking at SMA Negeri 8 Malang / Paula Heniarti Ndoen

 

The Techniques of Teaching Speaking at SMA Negeri 8 Malang Paula Heniarti Ndoen State University of Malang Abstract In the implementation of English language teaching in Indonesia, speaking is one of the skills that has become an important part of students’ daily life. Besides, to most people, the success of learning a foreign language is measured in terms of the ability to carry out meaningful conversation in the language. Since speaking is a skill, the students should be given enough chance to practice it. Therefore, the teacher should pay attention to teaching speaking, especially in choosing and implementing the techniques of teaching speaking. This study was intended to describe the teaching of speaking skill at SMA Negeri 8 Malang. It focuses on describing the implementation of the techniques and whether or not the techniques give contribution to the students’ active participation in the teaching and learning process. This study is descriptive qualitative research. The subject of this study was the teachers of tenth and eleventh grade of the regular class of SMA Negeri 8 Malang. The instruments used to collect data were field note, interview guide, and questionnaire. The researcher analyzed the data gained and then presented the descriptively. The findings of this study were as follows. First is the step of the implementation of techniques of teaching speaking used in the regular class. The teacher conducted the activities that gave the students more chance to practice. The activities chosen should be productive, purposefulness, challenging, fun, safe, and authentic. The teacher used the techniques which were popular, and could provide the real life situation. In addition, the activities done should be able to equip the students with the components of linguistic knowledge, such as the vocabulary, pronunciation, and so on. The techniques of teaching speaking applied in the regular class during May, 2009 were role play, drill, re-tell story, and total physical response. Second is the way the techniques gave contribution to the students’ active participation. The techniques gave the students chance to speak. They made the students use the language function. Besides, it was found out that the techniques applied make the students familiar with the language features, the repetitive practice of language items in order to minimize the possibility of making mistakes. The techniques gave the students the real life situation. Based on the result of the study, it is recommended that the English teachers be more careful in selecting the kinds of the opening activities, give more students chance to speak and give more feedback and evaluation after the classroom activity. Next, to other researchers it is suggested to conduct studies on the techniques and then analyze the assessment that the teachers used to prove the effectiveness of the techniques in improving the students speaking ability. Key words: teaching technique, students’ active participation.

Persepsi warga belajar tentang pelaksanaan program Paket C setara SMA di SMA Alternatif Lab. PLS UM Kota Malang / Maria Yohana J.A. Limahekin

 

ABSTRAK Limahekin, Maria Yohana J.A. 2009. Persepsi Warga Belajar tentang Pelaksanaan Program Paket C di SMA Alternatif Lab PLS UM Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FTP UM. Pembimbing: (1) Drs. Lasi Purwito M.S, (II) Dr. Supriyono, M.Pd. Kata kunci: Persepsi, Paket C dan Pelaksanaan Paket C Program paket C merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat usia sekolah dan usia dewasa, yang karena berbagai sebab tidak melanjutkan pendidikan. Berkaitan dengan hal tersebut, sejauh ini belum diketahui secara pasti bagaimana persepsi warga belajar tentang pelaksanaan program paket C. Persepsi dalam penelitian ini adalah pendapat warga belajar di dalam menilai pelaksanaan program paket C yang diikuti. Pendapat tersebut merupakan hasil dari penilaian terhadap sesuatu objek yang diamati dan dirasakan, dalam hal ini adalah tentang pelaksanaan program paket C di SMA Alternatif Lab PLS UM. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi warga belajar tentang pelaksanaan program paket C. Persepsi warga belajar tentang pelaksanaan program paket C dijabarkan menjadi 9 (sembilan) bahasan yaitu: persepsi warga belajar tentang: (1) tutor, (2) materi, (3) metode, (4) media, (5) sarana, (6) waktu, (7) tempat, (8) administrasi, dan (lO)Evaluasi belajar paket C SMA Alternatif Lab PLS UM. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Metode yang digunakan adalah metode angket dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2008. Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana menciptakan lingkungan secara fisik yang dapat memberikan suasana dan kondisi yang nyaman, menyenangkan, santai dan tidak mengikat serta memotivasi peserta didik merupakan tugas dari tutor agar tidak terjadi kebosanan. Selain itu kebosanan timbul karena penggunaan metode pembelajaran yang monoton sehingga warga belajar tidak dapat belajar secara efektif dan efisien. Tutor juga melakukan pengulangan materi bila ada warga belajar yang tidak memahami pelajaran yang disampaikan. Materi yang disampaikan oleh tutor mempermudah pemahaman warga belajar, di samping itu ada hal yang juga mendukung mempermudah pemahaman warga belajar mengenai materi yang disampaikan yaitu metode dan media. Media pembelajaran yang sering digunakan adalah adalah buku paket dan papan tulis. Sedangkan metode yang sering digunakan adalah ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas atau PR. Media dan metode merupakan bagian dari proses pembelajaran yang juga menentukan keberhasilan kegiatan pembelajaran. Serta dapat menyalurkan pesan dan juga dapat membantu mengatasi berbagai jenis hambatan baik dalam diri guru maupun siswa. Selama seminggu pembelajaran diadakan dalam dua kali pertemuan yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Kegiatan belajar berlangsung selama 3 jam sampai 4 jam dalam setiap harinya. Penilaian hasil belajar dilakukan setelah tutor selesai menyampaikan materi dan bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kemajuan dan hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar ini terdiri dari : Evaluasi tiap-tiap modul pelajaran yang meliputi: (1) Tugas mandiri, (2) Tugas kelompok, (3) Evaluasi semester, (4) Ujian nasional. Penilaian akhir dapat diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota. Penilaian eksternal dapat digunakan sebagai pengendali mutu pendidikan seperti Ujian Nasional. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan : (1) Bagi Paket C SMA Alternatif Lab PLS UM agar melakukan pengembangan bahan belajar serta media pembelajaran dan juga menyediakan ruangan yang layak digunakan untuk kegiatan pembelajaran, khususnya ruangan belajar untuk kelas II. (2) Bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah agar melakukan pendampingan yang lebih fokus dengan pihak SMA Alternatif dalam penyelenggaraan program paket C sebagai bentuk pendidikan luar sekolah agar program tersebut dapat terus berkesinambungan. (3) Bagi Peneliti Lanjutan, diharapkan hasil penelitian ini dapat dilakukan penelitian lanjutan, dan hendaknya melakukan pengembangan terhadap hasil penelitian ini dengan melakukan ini melalui metode dan fokus yang berbeda. Sehingga memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan program paket C secara umum dan bagi program paket C SMA Alternatif Lab PLS UM khususnya.

Penerapan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas III SD Laboratorium Universitas Negeri Malang dalam pelajaran IPA pada materi pokok penampakan permukaan bumi tahun 2008/2009 / Sri Yudiyanti

 

ABSTRAK Yudiyanti, Sri. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Learning Cycle Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas III SD Laboratorium Universitas Negeri Malang Dalam Pelajaran IPA Pada Materi Pokok Penampakan Permukaan Bumi Tahun 2008/2009. Laporan, Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. H. Sutarno, M.Pd. Kata Kunci: Learning cycle, Kemampuan Berpikir Kritis, Penampakan Permukaan Bumi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia yang berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar melalui penyelidikan, penyusunan, dan pengujian gagasan-gagasan. Melalui pembelajaran IPA, siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, melalui pembelajaran IPA siswa akan memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari serta menyadari kebesaran dan keagungan Allah SWT. Dalam rangka menguasai suatu konsep tertentu, khususnya dalam pembelajaran IPA di sekolah dasar, diperlukan adanya model pembelajaran yang menyenangkan. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik IPA adalah Learning Cycle (LC). Learning Cycle adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Tujuan perbaikan/penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kemampuan berpikir kritis siswa, hasil belajar siswa, dan minat belajar siswa dalam pelajaran IPA pada materi Penampakan Permukaan Bumi akan meningkat dengan menggunakan model pembelajaran learning cycle. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPA dengan model learning cycle dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, hasil belajar siswa, dan minat belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan learning cycle lebih tinggi (83 ) dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran modul (72 ). Kemampuan berpikir kritis dan minat belajar siswa terhadap pembelajaran IPA dengan model learning cycle adalah positif. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran model learning cycle baik dan pas untuk diterapkan dalam proses pembelajaran IPA.

Pengaruh sabun aluminium (Ric Oil-Al2(SO4)3) terhadap viskositas pelumas / Aditya Anggara

 

ABSTRAK Anggara, Aditya. 2009. Pengaruh Sabun Aluminium (Ric Oil-Al2(SO4)3) terhadap Viskositas Pelumas. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutrisno, M. Si., (II) Drs. Sumari, M. Si. Kata kunci: sabun aluminium, viskositas pelumas, jarak kepyar Sabun aluminium merupakan salah satu jenis sabun yang telah dikembangkan dan memiliki fungsi yang berbeda dengan sabun alkali. Salah satu sabun aluminium yang telah berhasil disintesis adalah sabun aluminium dari minyak jarak kepyar dengan aluminium sulfat yang selanjutnya disebut sabun aluminium (Ric Oil-Al2(SO4)3). Uji potensi aluminium oleat dan sterat untuk memperkecil penurunan viskositas akibat kenaikan temperatur pada pelumas motor bensin dan disel telah berhasil dilakukan. Berdasarkan keberhasilan uji potensi aluminium oleat dan stearat, serta keberhasilan sintesis sabun aluminium (Ric Oil-Al2(SO4)3), maka perlu dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan sabun sabun aluminium (Ric Oil-Al2(SO4)3) terhadap viskositas pelumas mentah produksi PT Pertamina UP IV Cilacap Indonesia dan perubahan viskositasnya akibat kenaikan temperatur. Penelitian ini merupakan surpai laboratoris yang dilakukan secara eksperimen di laboratorium. Tahapan penelitian yang dilakukan yaitu (1) uji kelarutan sabun aluminium dalam pelumas mentah, (2) pengukuran densitas pelumas, (3) pengukuran viskositas pelumas, (4) penentuan viskositas kinematik, (5) analisis data perubahan viskositas pelumas akibat kenaikan temperatur dengan menggunakan empat tinjauan, yaitu berdasarkan grafik viskositas kinematik (cSt) terhadap temperatur (0C), koefisien temperatur viskositas (VTC, Viscosity Temperature Coefficient), persamaan Walther dan angka viskositas (VN, Viscosity Number). Hasil uji kelarutan sabun aluminium dalam pelumas mentah menunjukkan kelarutan maksimum sabun aluminium (Ric Oil-Al2(SO4)3) dalam pelumas mentah adalah pada konsentrasi 0,25%. Penambahan sabun aluminium ini dapat meningkatkan performa pelumas, serta dapat meningkatkan angka kekentalan pelumas baik SAE maupun ISO, yaitu angka kekentalan SAE dari 30 menjadi 50 dan angka kekentalan ISO dari 100 menjadi 150. Penambahan sabun aluminium (Ric Oil-Al2(SO4)3) pada pelumas dapat memperkecil penurunan viskositas akibat kenaikan temperatur ditinjau berdasarkan empat tinjauan, yaitu (1) penurunan kurva pada grafik viskositas kinematik terhadap temperatur yang semakin kecil seiring dengan bertambahnya konsentrasi sabun aluminium (2) penurunan nilai koefisien temperatur viskositas pelumas, (3) gradien dari grafik persamaan Walther yang semakin kecil, (4) angka viskositas pelumas yang semakin naik.

Pengaruh latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa (studi pada siswa SMK negeri 1 Pogalan Trenggalek kelas X Penjualan tahun ajaran 2008-2009) / Andy Prasetyo Wati

 

ABSTRAK Wati, Andy Prasetyo. 2009. Pengaruh Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Studi Pada Siswa SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek Kelas X Jurusan Penjualan Tahun Ajaran 2008-2009). Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si, Pembimbing (2) Drs. I Nyoman Saputra, M.Si. Kata Kunci : Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua, Prestasi Belajar. Pendidikan merupakan satu upaya untuk menciptkan kehidupan bangsa yang cerdas, damai dan ekonomis. Melalui pendidikan akan tercipta perubahan tingkah laku seseorang dan yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu serta mengerti tentang sesuatu hal. Pendidikan memang sangat penting bagi setiap orang agar dapat mengembangkan potensi dirinya. Selain itu pendidikan dapat dikatakan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu sendiri yaitu faktor ekstern dan faktor intern. Tujuan penelitian yaitu (1) Untuk mengetahui latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa kelas X Penjualan SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek Tahun Ajaran 2008 – 2009 (2) Untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas X Penjualan SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek Tahun Ajaran 2008 - 2009 (3) Menjelaskan ada atau tidaknya pengaruh latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas X Penjualan SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek Tahun Ajaran 2008 – 2009. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan metode wawancara, observasi, kuisioner dan dokumentasi. Yang digunakan sebagai populasi dalam penelitian ini adalah kelas X Penjualan SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek Tahun Ajaran 2008 – 2009. Dengan populasinya 80 siswa dan jumlah sampel yang digunakan juga 80 siswa, hal ini dikarenakan populasi yang ada hanya berjumlah 80 siswa dan jenis populasi yang digunakan adalah jenis populasi terbatas karena mempunyai sumber data yang jelas batasnya secara kuantitatif sehingga dapat dihitung jumlahnya. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa terdiri dari tingkat pendidikan orang tua, jenis pekerjaan orang tua, tingkat pendapatan orang tua dan jumlah tanggungan orang tua. Masing-masing menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua yang paling dominan untuk orang tua laki-laki sebesar 72,5% berpendidikan tamat SD – SMP dan untuk orang tua perempuan sebesar 57,5% berpendidikan tamat SD - SMP, jenis pekerjaan orang tua yang paling dominan untuk orang tua laki-laki adalah sebesar 73,75% yaitu memiliki pekerjaan tani/buruh sedangkan untuk orang tua perempuan sebesar 65% dengan pekerjaan tani/buruh. Untuk pendapatan orang tua adalah sebesar 51,25% dan jumlah tanggungan orang tua sebesar 45%. Sedangkan prestasi belajar siswa sebesar 85% tidak mendapatkan pengaruh dari keseluruhan variabel X. Dari hasil penelitian ini penulis dapat memberikan saran kepada para siswa untuk terus meningkatkan prestasi akademik yang telah dicapainya tetapi juga mengembangkan prestasi non akademik yang telah ditawarkan oleh pihak sekolah. Sedangkan untuk orang tua dan pihak sekolah hendaknya memotivasi dan mempertahankan apa yang telah dicapai oleh para siswa untuk lebih ditingkatkan

Kebutuhan informasi karier siswa SMK Negeri I Kota Pasuruan / Tri Mulyati

 

Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah pihak yang terutama berkepentingan dengan bantuan untuk perencanaan karier. Kegiatan penting dalam perencanaan karier adalah pengambilan keputusan, untuk mengambil keputusan siswa memerlukan informasi karier. Informasi karier khususnya informasi pribadi, sekolah lanjutan dan jabatan sangat penting untuk menyusun rencana dan menentukan pilihan pekerjaan. Tapi keyataannya sering dijumpai di sekolah banyak siswa Sekolah Menengah Atas yang terlanjur masuk ke perguruan tinggi tertentu merasa salah pilih jurusan karena tidak sesuai dengan minatnya. Begitu juga dengan siswa SMK yang merasa kesulitan dalam memilih karier setelah tamat dari sekolah. Berdasarkan keadaan tersebut dapat dikatakan bahwa informasi tentang karier apa saja yang dibutuhkan oleh siswa sekolah kejuruan, sangat diperlukan oleh pihak-pihak yang melaksanakan layanan bimbingan karier di SMK. Penelitihan ini bertujuan untuk mengetahui jenis kebutuhan informasi karier yang dibutuhkan siswa SMK N I Kota Pasuruan yang terdiri dari1) kebutuhan informasi Pribadi, kebutuhan informasi kelanjutan studi, dan 3) kebutuhan informasi jabatan.Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif survei dan jenis datanya bersifat kuantitatif dan kualitatif. Populasi penelitian seluruh siswa kelas XI SMK Negeri I kota Pasuruan sebanyak 677 siswa. sedangkan sampel yang diambil sebanyak 105 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan proposional random sampling. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan angket terstruktur dengan bentuk jawaban angket tertutup dan angket tidak terstruktur dengan bentuk jawaban angket terbuka. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Kebutuhan informasi pribadi yang menjelaskan tentang kebutuhan pemahaman diri adalah siswa sangat membutuhkan informasi tentang potensi diri, informasi tentang minat, informasi tentang sifat kepribadian, informasi tentang prestasi dan banyak siswa membutuhkan informasi latar belakang. 2) Kebutuhan informasi kelanjutan studi yang terdiri informasi kebutuhan jalur pendidikan yang terdiri jalur pendidikan formal dan jalur non formal sangat banyak siswa membuthkan. Kebutuhan informasi status perguruan tinggi yang sangat dibutuhkan adalah tentang informasi perguruan tinggi negeri. Kebutuhan informasi prodit/fakultas/jurusan yang sesuai dengan prodit di SMK yang sangat dibutuhkan adalah informasi tentang tehnik informatika sedangkan yang tidak sesuai dengan prodit SMK adalah informasi tentang psikologi menyusul sastra dan seni menyusul bimbingan dan konseling. 3) Kebutuhan informasi jabatan sangat banyak siswa membutuhkan informasi: a) informasi tentang persyaratan kerja b) informasi tentang pekerjaan c) informasi tentang sumber-sumber informasi Berdasarkan hasil penelitia ini disarankan agar pihak sekolah dapat melakukan hubungan kerjasama dengan pihak luar sekolah seperti perusahaan organisasi tenaga kerja, departemen kerja, instansi-instansi terkait dengan bidang ketenaga kerjaan, sebagai upaya meningkatkan kegiatan pemberian informasi karier dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan siswa untuk memproleh informasi baik itu dari dunia kerja maupun dunia pendidikan (PT).

Pelaksanaan pembelajaran praktik pada program keahlian perabot kayu (studi kasus: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 6 Malang) / Eriyana Chintyasari

 

ABSTRAK Chintyasari, Eriyana. 2009. Pelaksanaan Pembelajaran Praktik Pada Program Keahlian Perabot Kayu (Studi Kasus: Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 6 Malang). Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sutrisno, S.T., M.Pd., (II) Drs. Ir. Herman Ginting, S. Pd, S. Th., M.T. Kata kunci: pelaksanaan, pembelajaran, praktik Praktik Kerja merupakan salah satu jenis pendidikan dan pelatihan untuk siswa SMK. Pelaksanaan Pembelajaran Praktik merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan sumberdaya manusia untuk menghasilkan produk yang terbaik di era globalisasi ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas sumber belajar, perencanaan, Pelaksanaan, dan evaluasi Praktik di Jurusan Teknik Bangunan khususnya kelas perabot kayu SMK Negeri 6 Malang Malang. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi tentang bagaimana kualitas sumber belajar, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi yang tepat sesuai ketentuan yang baik untuk siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 6 Malang Jurusan Teknik Bangunan pada tanggal 19 Juni sampai 20 Juni 2009. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah Pelaksanaan Pembelajaran praktik di SMK Negeri 6 Malang. Peneliti menetapkan sampel dari keseluruhan pembelajaran praktik. Pengambilan data menggunakan angket dengan skala likert. Analisis hasil penelitian adalah dengan mengkonversi hasil skor angket ke skala likert. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa Praktek pada perabot kayu sudah baik, dapat dilihat dalam Sumber belajar Praktik di SMKN 6 Malang yang terdiri dari tiga komponen yaitu: (1) kualitas tenaga pengajar, (2) Kualitas peralatan praktik, (3) kualitas tempat praktik. Secara umum rata-rata untuk kualitas tenaga pengajar adalah 26,425 dengan skor terendah adalah 23,65 sedangkan skor tertinggi adalah 27,95. Dengan demikian bahwa kualitas tenaga pengajar praktik di SMKN 6 Malang dapat dikatakan baik. Dan untuk kualitas dan kuantitas peralatan praktik secara keseluruhan rata-rata adalah 13,275 dengan rincian skor terendah 11,80 dan tertinggi 13,85 sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas dan kuantitas peralatan praktik dapat dikatakan baik. Berikutnya adalah kualitas tempat praktik secara keseluruhan rata-rata adalah 18,75 dengan rincian skor terendah 17,80 dan tertinggi 20,45 sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas dan kuantitas tempat praktik dapat dikatakan baik. Adapun hal-hal yang menyebabkan perbedaan antara hasil studi lapangan dengan persyaratan adalah (1) kualitas peralatan praktik pada finisning, meskipun terdapat sedikit kekurangan yaitu bahan-bahan yang tersedia dalam praktik kurang memadai sehingga siswa tidak dapat bekerja secara maksimal, (2) kualitas tempat praktik masuk dalam kategori baik, meskipun didalam tempat praktik tidak terdapat alat pemadam kebakaran kotak P3K yang lengkap isinya, (3) perencanaan pengajaran di SMKN 6 Malang dapat dikategorikan baik, meskipun tidak semua guru memakai pedoman pembuatan Perencanaan Pembelajaran yang telah ada, seperti pada praktik Finishing, dan aksesoris mebel, (4) Pelaksanaan Pembelajaran di SMKN 6 Malang dikatakan baik. Hanya saja kegiatan praktik perlu ditambah agar siswa benar-benar dapat menguasai materi, (5) evaluasi di SMKN 6 Malang dapat dikatakan baik. Hanya saja keterbukaan penilaian khususnya hasil praktik untuk diumumkan pada siswa agar siswa dapat mengetahui kelebihan dan kekuranganya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan dalam sumber belajar, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam praktek kayu lebih ditingkatkan lagi. Pembimbingan kepada siswa lebih sering dilaksanakan, sehingga dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi siswa.

Pengaruh lama perendaman dan konsentrasi GA3 terhadap perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman lengkeng (Euphoria longan (Lour.) Steud.) / Yessyta Oktaviana

 

Lengkeng merupakan salah satu hasil komoditi tanaman buah di Indonesia. Pembiakan lengkeng dilakukan dengan dua cara yaitu cara generatif dan vegetatif. Pembiakan secara generatif dilakukan melalui penanaman biji. Biji lengkeng mempunyai kulit biji yang keras. Proses perkecambahan biji berkulit keras dapat dipercepat dengan perlakuan mekanis dan kimiawi. Salah satu perlakuan kimiawi yang dapat dilakukan adalah dengan merendam biji dalam zat pengatur tumbuh yaitu GA3. Tanaman lengkeng lebih bernilai ekonomis setelah berumur 4 bulan, untuk mempercepat pertumbuhan tanaman lengkeng dapat diperlakukan dengan perendaman dalam GA3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman terhadap perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman lengkeng, pengaruh pemberian GA3 terhadap perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman lengkeng, dan pengaruh interaksi lama perendaman dan konsentrasi GA3 terhadap perkecambahan biji dan pertumbuhan tanaman lengkeng. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 2 faktor 3 kali ulangan. Faktor I adalah konsentrasi GA3 yang terdiri dari 5 taraf perlakuan yaitu 0 ppm (P0), 10 ppm (P10), 20 ppm (P20), 30 ppm (P30), 40 ppm (P40), dan 50 ppm(P50). Faktor II adalah lama perendaman biji lengkeng yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu 6 jam (L6), 12 jam (L12), 18 jam (L18), dan 24 jam (L24). Taraf perlakuan dari tiap faktor didasarkan pada uji pendahuluan yang telah dilakukan. Dari taraf perlakuan faktor I dan II didapatkan 24 perlakuan yaitu: P0L6; P0L12; P0L18; P0L24; P10 L6; P10 L12; P10 L18; P10L4; P20 L6; P20 L12; P20 L18; P20 L24; P30L6; P30 L12; P30 L18; P30 L24; P40 L6; P40 L12; P40 L18; P40 L24; P50 L6; P50 L12; P50 L18 dan P50 L24. Biji lengkeng sebagai bahan penelitian adalah lengkeng lokal yang berasal dari Karang Ploso-Malang. Indikator perkecambahan biji yang diamati adalah persentase dan kecepatan perkecambahan. Indikator pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, berat basah, dan berat kering tanaman. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Analisis Varian (Anava) Faktorial, apabila ada perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan 5 %. Hasil analisis menunjukkan pemberian GA3 tidak berpengaruh terhadap persentase dan kecepatan perkecambahan, jumlah daun, panjang akar tetapi berpengaruh terhadap tinggi batang, berat basah, dan berat kering tanaman pada perlakuan pemberian GA3 konsentrasi 40 ppm. Perlakuan lama perendaman berpengaruh sangat nyata terhadap persentase dan kecepatan perkecambahan pada perlakuan perendaman selama 12 jam. Lama perendaman tidak berpengaruh terhadap jumlah daun, tetapi berpengaruh terhadap tinggi batang, panjang akar, berat basah, dan berat kering tanaman, perlakuan perendaman 18 jam memberiii kan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi batang, panjang akar, berat basah, dan berat kering tanaman. Interaksi perlakuan lama perendaman dan pemberian GA3 tidak berpengaruh pada persentase dan kecepatan perkecambahan, jumlah daun, dan panjang akar tanaman lengkeng tetapi berpengaruh pada tinggi batang, berat basah, dan berat kering tanaman lengkeng. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar pada penelitian lebih lanjut, yaitu pemberian GA3 dengan rentangan konsentrasi lebih kecil, dan pertumbuhan parameter daun dapat dilakukan dengan menghitung pertambahan panjang dan lebar daun.

Penerapan pembelajaran kontekstual (CTL) berbasis sains teknologi masyarakat (STM) untuk meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran biologi kelas VII SMP negeri 1 Singosari / Yessyta Oktaviana

 

ABSTRAK Oktaviana, Yessyta. 2009. Penerapan Pembelajaran Kontekstual (CTL) Berbasis Sains Teknologi Masyarakat (STM) untuk Meningkatkan Kreativitas dan Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Biologi Kelas VII SMP Negeri 1 Singosari. Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien H. Irawati, M.S, (II) Dra Murni S. Sari M. Si. Kata kunci: CTL berbasis STM, kemampuan berpikir kreatif siswa, kemampuan bertindak dan bersikap kreatif siswa, prestasi belajar siswa Berdasarkan hasil observasi di kelas VII i SMP Negeri 1 Singosari selama proses belajar mengajar berlangsung, ditemukan masalah sebagai berikut. (1) Siswa cenderung tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru, (2) Siswa kurang lancar dalam mengemukakan gagasan ketika menanggapi suatu masalah dan materi, (3) Siswa belum mampu mengaitkan satu konsep dengan konsep lainnya, (4) Siswa belum mampu menerapkan konsep materi dengan kehidupan nyata sehari-hari, dan (5) Siswa belum mampu menghasilkan pengetahuan baru dari materi yang sudah ada. Dari kelima masalah tersebut diketahui kemampuan kreativitas siswa dalam memahami konsep sains masih rendah. Masalah lain yang muncul di kelas VII i adalah prestasi belajar yang rendah yang ditandai dengan rendahnya hasil Ulangan Tengah Semester (UTS) mata pelajaran IPA. Untuk mengatasi masalah yang muncul di kelas VII i maka dilakukan upaya meningkatkan kreativitas dan prestasi belajar siswa VII i pada mata pelajaran Biologi melalui penerapan pembelajaran kontekstual (CTL) berbasis Sains Teknologi Masyarakat (STM). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Pada tiap siklus terdiri atas empat tahapan yaitu planning, implementing, observing, dan reflecting. Masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa VII i SMPN 1 Singosari, semester genap tahun ajaran 2008-2009 sebanyak 34 orang. Pengambilan data pada penelitian menggunakan instrumen sebagai berikut. Lembar observasi CTL berbasis STM, tes kreativitas, lembar observasi kemampuan bertindak dan bersikap kreatif siswa, dan ulangan harian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode CTL berbasis STM dapat meningkatkan kreativitas siswa kelas VII i SMPN 1 Singosari. Ketuntasan kemampuan berpikir kreatif siswa pada penerapan CTL berbasis STM siklus 1 adalah 97%, pada siklus II meningkat mencapai 100%. Ketuntasan kemampuan bertindak dan bersikap kreatif siswa pada penerapan CTL berbasis STM siklus 1 adalah 41,17%, pada siklus II meningkat mencapai 100%. Penerapan metode CTL berbasis STM juga meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII i SMPN 1 Singosari. Ketuntasan prestasi belajar siswa setelah penerapan CTL berbasis STM siklus 1 adalah 79%, pada siklus II meningkat mencapai 88%. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa kreativitas dan prestasi belajar siswa mengalami peningkatan melalui penerapan metode CTL berbasis STM. i Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pada penelitian selanjutnya perlu adanya metode pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa terutama pada aspek keaslian dan untuk meningkatkan kemampuan bertindak dan bersikap kreatif siswa terutama pada aspek memiliki sifat berani. ii

Penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA D SMA Negeri 1 Pamekasan / Lailatul Fitriyah

 

Pemerintah telah melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya adalah melalui pembaharuan kurikulum yang berkesinambungan, dimana Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004. Dengan kurikulum ini, pembelajaran sudah berpusat pada siswa (student centered) bukan teacher centered. Pada kenyataannya, guru kurang memberikan pengalaman belajar langsung kepada siswa, sehingga motivasi dan hasil belajar siswa cenderung rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD dengan pendekatan kontekstual dan untuk mengetahui bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan pendekatan kontekstual terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan 2 siklus pembelajaran, masing-masing siklus terdiri dari 3 pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Pamekasan kelas XI IPA D semester II tahun ajaran 2008/2009. Pengumpulan data menggunakan soal tes, lembar observasi, angket dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Pada pelaksanaan pembelajaran kooperatif model STAD dengan pendekatan kontekstual belum bisa diterapkan strategi REACT dengan baik, (2) Pembelajaran kooperatif model STAD dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, yaitu 82,3% (siklus 1) meningkat menjadi 89,9% (siklus 2). Berdasarkan angket pendapat siswa ternyata siswa lebih senang terhadap pembelajaran kooperatif model STAD dengan pendekatan kontestual daripada pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru sebelumnya, (3) Pembelajaran kooperatif model STAD dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Ketuntasan belajar sebesar 86% dan rata-rata kelas 83,2 (siklus 1) meningkat menjadi 97,7% dan rata-rata kelas 87,6 (siklus 2).

Efektifitas pembelajaran kooperatif model Group Investigation dan tutorial sebaya terhadap partisipasi aktif dan prestasi belajar siswa mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Almaarif Singosari / Dewi Anita

 

ABSTRAK Anita, Dewi. 2009.Efektifitas Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) dan Tutorial Sebaya terhadap Partisipasi Aktif dan Prestasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Islam Almaarif Singosari. Skripsi. Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hari Wahyono, M.Pd., (2) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si. Kata Kunci : PembelajaranGroup Investigation, Tutorial Sebaya, Partisipasi Aktif, Prestasi Belajar, Pelajaran Ekonomi. Pada pembelajaran ekonomi di SMA Islam Almaarif Singosari, umumnya guru masih menggunakan metode ceramah, pemberian tugas dari LKS, sehingga pembelajaran kurang bervariasi. Hal tersebut menyebabkan siswa merasa bosan. Sikap siswa tersebut membuat prestasi belajar siswa di SMA Islam Almaarif Singosari rendah.Untuk mengatasi permasalahan di atas, diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat melibatkan peran aktif siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu alternatif metode mengajar yang memungkinkan siswa berperan aktif dalam pembelajaran melalui pembelajaran kelompok. Pembelajaran kelompok merupakan model pembelajaran yang didalamnya siswa bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan khusus atau menyelesaikan suatu tugas. Dalam hal ini peneliti memilih menggunakan pembelajaran kelompok model Group Investigation, yaitu masing-masing kelompok bekerjasama untuk merencanakan penyelidikan, melaksanakan penyelidikan hingga menyajikan hasil akhir penyelidikan di depan kelas. Selanjutnya untuk pembelajaran kelompok pola tutorial sebaya terdapat seorang siswa yang dipilih oleh guru sebagai tutor yang prestasi belajarnya lebih baik berdasarkan nilai ulangan akan mengajar teman- temannya dalam satu kelompok yang pemahamannya atau memiliki kemampuan lebih rendah yang dipilih secara acak.. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk 1) mengetahui perbedaan partisipasi aktif siswa dari pembelajaran kooperatif modelGroup Investigation (GI) dengan partisipasi aktif siswa dari pembelajaran kooperatif model Tutorial Sebaya mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Almaarif Singosari, 2) mengetahui prestasi belajar siswa dari pembelajaran kooperatif modelGroup Investigation (GI) dengan prestasi belajar siswa dari pembelajaran kooperatif model Tutorial Sebaya mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Almaarif Singosari. Rancangan penelitian yang digunakan adalahquasi eksperimental dengan menggunakannon equivalent control group design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknikpurposive sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu kelas X-4 sebagai kelas eksperimen dan kelas X-1 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Tutorial Sebaya, sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan cara memberikanpre test danpost test serta melakukan pengamatan dari aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, metode tes dan metode dokumentasi. Metode observasi digunakan untuk mengukur partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung baik di kelas kontrol dan eksperimen. Metode tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa yang dilihat darigain score yaitu selisih antara nilaipre testdanpost test. Sedangkan metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh daftar nama siswa serta silabus siswa kelas X. teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakanUji t ± Independent Samples dengan taraf signifikansi 5%. Tetapi sebelum data dianalisis, diadakan uji prasarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Dari analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : (1) ada perbedaan partisipasi aktif siswa yang diajar dengan menggunakan ModelGroup Investigation dan Tutorial Sebaya pada mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Almaarif Singosari, dimana kelompok eksperimen memiliki partisipasi aktif lebih tinggi (Mean= 70,74) daripada kelompok kontrol (Mean= 61,70), (2) ada perbedaan prestasi belajar siswa yang diajar dengan menggunakan ModelGroup Investigation dan Tutorial Sebaya pada mata pelajaran ekonomi di SMA Islam Almaarif Singosari, dimana kelompok eksperimen memiliki prestasi belajar lebih tinggi (Mean= 66,71) daripada kelompok kontrol (Mean= 63,67).

Pengaruh keadilan distributif dan keadilan prosedural terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja (studi pada karyawan Bagian Sales PR. Jaya Makmur Kepanjen) / Khozinatul Asror

 

ABSTRAK Asror, Khozinatul. 2008. Pengaruh Keadilan Distributif dan Keadilan Prosedural Terhadap Komitmen Organisasi Melalui Kepuasan Kerja (Studi Pada Karyawan Bagian Sales PR. Jaya Makmur Kepanjen) Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si, (II) Drs. Mohammad Arief, M.Si Kata kunci : Keadilan Distributif, Keadilan Prosedural, Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja Dewasa ini pekerjaan akan sangat berarti bagi semua manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka, dimulai dari golongan bawah (lower class) sampai dengan kalangan atas (high class). Mereka akan bisa hidup dari hasil pekerjaan yang mereka kerjakan. Dengan faktor tersebut keadilan sngat dibutuhkan dalam sebuah perusahaan, agar apa yang diharapkan oleh seorang karyawan dalam sebuah perusahaan, dapat merasa terpenuhi kebutuhannya. Hal tersebut dapat membuat semangat yang berbeda pada saat mengerjakan pekerjaan yang ditangani setiap harinya. Dan yang lebih penting lagi, dengan adanya keadilan yang diterapkan oleh sebuah perusahaan, hal tersebut dapat membuat seorang karyawan merasa betah dan ingin tetap dalam perusahaan tersebut. Itu tidak terlepas dari penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin cepat dalam setiap bidang usaha. Kemajuan tersebut diiringi oleh teknologi yang semakin modern dan mengglobal di seluruh dunia yang menimbulkan ketatnya persaingan di pasar bebas sekarang ini. Persaingan tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Dalam melaksanakan pekerjaannya, seorang karyawan terkadang dilakukan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh karyawan tersebut. Maka karyawan tersebut memerlukan keadilan dalam melaksanakan setiap pekerjaan yang dilakukannya. Dengan demikian keadilan ini merupakan sesuatu yang harus di kelola dengan baik oleh perusahaan, agar tidak mengganggu segala aktivitas pekerjaan. Selain itu keadilan juga dikaitkan dengan komitmen organisasi, dan kepuasan kerja. Apabila perusahaan tidak mengelola keadilan dalam perusahaannya, maka seorang karyawan tidak akan mendapat kepuasan kerja dan hal tersebut tidak akan membuat karyawan tersebut akan berkomitmen dalam perusahaan yang digelutinya sekarang ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh secara langsung antara: (1) keadilan distributif terhadap kepuasan kerja, (2) keadilan prosedural terhadap kepuasan kerja, (3) keadilan distributif terhadap komitmen, (4) keadilan prosedural terhadap komitmen, (5) kepuasan kerja terhadap komitmen, dan (6) pengaruh tidak langsung antara keadilan distributif dan keadilan prosedural terhadap komitmen melalui kepuasan kerja. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Populasi yang dipilih adalah karyawan bagian sales PR. Jaya Makmur Kepanjen sebanyak 81 orang. Serta pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel bertujuan (purposive sampling) dengan sampel sebanyak 67 responden, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1). Keadilan distributif berpengaruh langsung secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (sig. T 0,034 < 0,05, β = 0,247), (2). Keadilan prosedural berpengaruh langsung secara positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (sig. T 0,002< 0,05, β = 0,367), (3). Keadilan distributif berpengaruh langsung secara positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi (sig. T 0,032< 0,05, β = 0,235) (4). Keadilan prosedural berpengaruh langsung secara positif dan signifikan terhadap komitmen organisasi (sig. T 0,025 < 0,05, β = 0,256), (5). Kepuasan kerja berpengaruh langsung dan signifikan terhadap komitmen organisasi (sig. t 0,006 < 0,05, β = 0,322), dan (6). Terdapat pengaruh secara tidak langsung keadilan distributif dan keadilan prosedural terhadap komitmen organisasi yang dimediatori oleh kepuasan kerja.(PTL = 0,029). Saran yang dapat diberikan yaitu, (1). Karena dari hasil pengujian statistik di atas, dan didapat keadilan yang tinggi, hendaknya PR. Jaya Makmur Kepanjen benar-benar mengimplementasikan keadilan pada karyawan , terutama dalam hal kepuasan kerja karyawan, agar mereka benar-benar berkomitmen pada pekerjaan yang mereka kerjakan, (2). Hendaknya PR. Jaya Makmur Kepanjen dalam membangun komitmen organisasi harus memperhatikan kerja keras yang dilakukan karyawan, bangga bekerja pada perusahaan, kesetiaan terhadap perusahaan, berbicara pada teman sebagai perusahaan yang hebat, dan kepedulian karyawan terhadap perusahaan. Sehingga apabila komitmen organisasi dimiliki oleh karyawan PR Jaya Makmur Kepanjen, maka perusahaan akan mudah untuk berkembang lebih pesat.

Penerapan pembelajaran model role playing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan (studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran kelas X APK di SMK Cendika Bangsa Kepanjen) / Khozinatul Asror

 

ABSTRAK Asror, khozinatul. 2009. Penerapan Pembelajaran Model Role Playing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega dan Pelanggan, Skripsi Jurusan Manajemen, program studi pendidikan adinistrasi perkantoran, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Budi Eko Soetjipto, M. Ed., M. Si (II) Imam Buchori, S. Pd Kata kunci: Model Pembelajaran Role Playing, Hasil Belajar Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini adalah melalui perbaikan kurikulum. Dengan perbaikan kurikulum, diharapkan kualitas proses pembelajran akan meningkat yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertijuan untuk mengetahui penerapan model role playing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan model role playing. Sebagai subjek penelitian, peneliti memilih siswa kelas X APK di SMK Cendika Bangsa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang berusaha mengkaji dan merefleksikan secara mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini terdiri dari siklus I dan Siklus II, yang masing-masing siklus dilakukan dalam dua kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan (obsevasi) serta tahap analisis dan refleksi. Hasil belajar terdiri dari aspek kognitif dengan menganalisis hasil pre tes dan post tes setiap siklus. Sedangkan aspek afektif dan psikomotor dianalisis dengan menghitung persentase frekuensi setiap indikator yang muncul. Ketentuan nilai batas minimum ketutasan belajar siswa untuk mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan adalah 68. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif karena guru telah melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik dimana skor rata-rata total yang diperoleh guru pada siklus I sebesar 80.5 % meningkat pada siklus II sebesar 98.1 %. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada aspek kognitif persentase ketuntasan belajar siswa pada post tes meningkat di siklus I sebesar 74.38% menjadi 93.84% di siklus II. Pada aspek afektif nilai rata-rata meningkat secara signifikan pada setiap siklus dan dikatakan tuntas. Sedangkan hasil belajar psikomotor juga meningkat secara signifikan dan dapat pula dikatakan tuntas. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat di sarankan bahwa model pembelajaran role playing dapat digunakan dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran lain sebagai alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dukungan kepala sekolah sangat diharapkan untuk mengupayakan guru supaya memiliki pengalaman dalam pembelajaran model role playing. Kepada peneliti selanjutnya disarankan agar melibatkan pakar role playing dalam melakukan penelitian tindakan kelas lebih lanjut.

Analisis sistem penerimaan dan pengeluaran kas sebagai alat pengendalian intern pada PT. Telkom Kandatel Blimbing-Malang / Bayu Silvi Indriani

 

PT.Telekomunikasi Indonesia Tbk (PT. TELKOM) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang pelayanan jasa Telekomunikasi untuk umum dalam negeri yang merupakan perusahaan publik di Indonesia. Kegiatan usaha PT. TELKOM dalam menyelenggarakan jasa telekomunikasi dalam negeri tersebut meliputi telepon, teleks, satelit, sirkit langganan, surat elektronik, jasa komunikasi bergerak, dan seluler. Dalam era pasar bebas yang mendominasi dunia saat ini, bagi PT. TELKOM sulit untuk bias memenangkan persaingan pasar jika tidak memberikan layanan terbaik pada pelanggannya. Sebagai perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia, PT. TELKOM menyediakan jasa telepon tidak bergerak kabel (fixed wire line), jasa telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (cellular), data dan internet, dan network serta interkoneksi baik secara langsung maupun perusahaan asosiasi. Dalam peranannya sebagai pusat pelayanan dan pengembangan dalam bidang komunikasi tersebut, Telkom bertugas mempertahankan dan mengembangkan pelayanannya terhadap konsumen, karena dalam bidang jasa, kepuasan konsumen lebih diutamakan. Telkom semakin berusaha meningkatkan mutu dan kualitas jasa serta mengembangkan keanekaragaman jenis jasa. Untuk mencapai tujuan tersebut perusahaan perlu memperhatikan supaya laba yang dihasilkan dapat lebih maksimal dari tahun ke tahun, untuk mempertahankan kesejahteraan perusahaan, pertumbuhan dan kelangsungan hidup perusahaan. Usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam krisis global saat ini menuntut perusahaan untuk bersaing di pasar yang memerlukan strategi untuk memanfaatkan peluang, menutup kelemahan, dan menetralisasi hambatan dalam dinamika bisnis yang dihadapi. Semua itu dapat dilakukan apabila melakukan pengambilan keputusan yang didasarkan pada masukan-masukan yang objektif. Diantara sekian banyak faktor yang menjadi masukan dalam pengambilan keputusan adalah masukan yang berasal dari yang berasal dari sistem informasi akuntansi, karena untuk mencapai keberhasilan perusahaan sangat ditentukan oleh sistem informasi akuntansi yang ada.

Pengaruh persepsi siswa tentang fasilitas belajar di sekolah terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi SMK Bhakti Mulia Pare / Sus Stya Yuliana

 

ABSTRAK Stya Yuliana, Sus. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Fasilitas Belajar di Sekolah Terhadap Prestasi Belajar Siswa Program Keahlian Akuntansi SMK BHAKTI MULIA Pare. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Helianti Utami S.E., M.Si., Ak (2) Dra. Hj. Sutatmi S.E., M.Pd., M.Si., Ak,. Kata Kunci: Persepsi Siswa Tentang Fasilitas Belajar di Sekolah dan Prestasi Belajar Fasilitas belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi interaksi belajar mengajar. Keberadaan fasilitas di sekolah mutlak diperlukan di sebuah lembaga pendidikan karena pendidikan tidak mungkin terlaksana dengan baik bila tenaga pengajar dan peserta didik tidak ditunjang oleh fasilitas belajar yang memadai. Dengan tersedianya fasilitas belajar yang lengkap diharapkan dapat membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar. Semakin lengkap dan beragam fasilitas yang ada, maka siswa akan semakin termotivasi untuk belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi siswa tentang fasilitas belajar di SMK BHAKTI MULIA Pare, (2) prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK BHAKTI MULIA Pare, (3) pengaruh persepsi siswa tentang fasilitas belajar di sekolah terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi SMK BHAKTI MULIA Pare. Data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari angket yang diisi oleh siswa sedangkan data sekunder berasal dari nilai ujian akhir semester ganjil tahun ajaran 2008/2009 pada mata pelajaran siklus akuntansi pada sub bab persamaan dasar akuntansi. Jumlah sampel sebanyak 46 % dari jumlah populasi, yakni sebesar 94 siswa. Teknis analisis data dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi siswa tentang kondisi fasilitas belajar di sekolah di SMK BHAKTI MULIA Pare tergolong rendah, (2) prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK BHAKTI MULIA Pare terbukti amat baik, (3) Persepsi siswa tentang fasilitas belajar di sekolah berpengaruh tehadap prestasi belajar siswa Program Keahlian Akuntansi DI SMK BHAKTI MULIA Pare. Saran yang diberikan adalah (1) Pihak sekolah sebaiknya berusaha untuk melengkapi dan memperbaiki fasilitas belajar yang ada agar dapat menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar agar siswa mempunyai persepsi yang baik terhadap fasilitas belajar yang ada, (2) Siswa sebaiknya menjaga serta memanfaatkan fasilitas yang ada disekolah secara optimal guna menunjang kegiatan belajar, (4) kepada peneliti selanjutnya yang tertarik pada masalah atau topik yang berkaitan dengan belajar siswa hendaknya menambah variabel dan sampel sehingga akan menambah lebih sempurnanya penelitian ini.

Hubungan motivasi belajar desain busana terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran menggambar busana (studi pada siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMK negeri 7 Malang) / Elis Nur Unsudah

 

Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Motivasi terjadi apabila seseorang mempunyai keinginan dan kemauan untuk melakukan suatu kegiatan atau tindakan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Jenis motivasi ada dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian. Menggambar busana merupakan salah satu kompetensi yang disajikan dalam kurikulum. Disain busana merupakan salah satu bidang yang harus dikuasai siswa dalam mata pelajaran menggambar busana sebagai perwujudan imajinasi, ide, karya yang dihasilkan siswa tentang busana. Motivasi belajar desain busana merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pada pelajaran menggambar busana. Sehingga siswa yang memiliki motivasi yang baik dalam desain busana akan mendapatkan hasil belajar yang baik pula.. Dalam penelitian ini dilakukan pengujian mengenai hubungan motivasi belajar desain terhadap prestasi belajar pada pelajaran menggambar busana. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi belajar desain terhadap prestasi belajar pada pelajaran menggambar busana, dan sumbangan efektif antara hubungan motiviasi belajar desain terhadap prestasi belajar pada pelajaran menggambar busana siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2008/2009. Hipotesis alternatif (Ha) dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara motivasi belajar desain dengan prestasi belajar pada pelajaran menggambar busana siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah motivasi belajar dan untuk variabel terikatnya adalah prestasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI jurusan tata busana SMK Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 34 siswa dengan menggunakan sampel total. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan dokumentasi berupa nilai hasil belajar. Uji coba dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment Pearson untuk menguji validitasnya dan pengujian reliabilitasnya dengan menggunakan Cronbach Alpha. Penyebaran skor motivasi belajar desain busana siswa Jurusan Tata Busana SMKN 7 Malang menunjukkan bahwa 21 responden (61,76%) memperoleh skor disekitar nilai rata- ratanya yang bervariasi antara 88 – 113. Terdapat 1 responden (2,94%) yang memperoleh skor dibawah nilai rata-rata, yang bervariasi antara 34 – 87. Sebagian nilai prestasi responden lainnya, yaitu 12 responden (35,29%) memperoleh skor diatas rata-rata yang bervariasi antara 114 – 140. Berdasarkan prosentase tersebut dapat dikatakan bahwa motivasi belajar desain busana siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMKN 7 Malang dalam kategori baik. Sedangkan untuk prestasi belajar siswa pada pelajaran menggambar busana menunjukkan bahwa 20 responden (58,82%) memperoleh skor disekitar nilai rata-ratanya yang bervariasi iii antara 75 – 89. Terdapat 11 responden (32,35%) yang memperoleh skor dibawah nilai rata- rata, yang bervariasi antara 0 – 74. Sebagian nilai prestasi responden lainnya, yaitu 3 responden (8,85%) memperoleh skor diatas rata-rata yang bervariasi antara 90 – 100. Deri data tersebut dapat dikatakan bahwa prestasi belajar siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMKN 7 Malang dalam kategori baik. Hasil analisis data penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,594, hal ini memunjukkan adanya hubungan korelasi yang sedang. Tingkat signifikansi sebesar 0,05 adalah 4,14. Karena F hitung (17,048) > F tabel (4,14) maka Ho ditolak artinya ada hubungan antara motivasi belajar desain busana dengan prestasi belajar pada mata pelajaran menggambar busana siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan antara motivasi belajar desain busana dengan prestasi belajar pada mata pelajaran menggambar busana siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan pada penelitian tentang hubungan antara motivasi belajar desain terhadap prestasi belajar pada pelajaran menggambar busana siswa kelas XI Jurusan Tata Busana SMK Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2008/2009.

Penerapan strategi produk pada Giant Hypermarket Gajayana Malang divisi Fresh Department Meat and Chicken / Nur Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Nur. 2009. Penerapan Strategi Produk pada Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Meat and Chicken. Tugas Akhir, Jurusan Manajemen Program Studi D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Fadia Zen, SE, M.M. Kata Kunci: Strategi Produk, Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Meat and Chicken Dalam dunia bisnis yang semakin penuh persaingan, perencanaan strategi produk menduduki posisi yang sangat menentukan terhadap keunggulan bersaing yang dimiliki oleh perusahaan. Strategi produk yang tepat akan menempatkan perusahaan dalam suatu posisi persaingan yang lebih unggul dari para pesaingnya. Tingkat persaingan usaha yang ketat ini menuntut para pelaku bisnis untuk lebih aktif dan inovatif dalam menerapkan strategi pemasarannya. Giant Hypermarket adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan eceran (retail). Giant Hypermarket memiliki beberapa divisi, salah satunya adalah divisi Fresh atau bagian yang menangani produk segar, di mana dalam divisi ini segala macam kegiatan penjualan dituntut untuk menjaga tingkat kelayakan konsumsi pada konsumen (kadaluarsa pada makanan). Diadakannya praktikum ini adalah untuk mengetahui strategi produk yang diterapkan pada Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Meat and Chicken, yang meliputi tujuan untuk (1) Mengetahui produk Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Meat and Chicken, (2) Strategi produk yang diterapkan pada Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Meat and Chicken, (3) Faktor pendukung dan penghambat penerapan strategi produk pada Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Meat and Chicken. Dari hasil pengamatan selama melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL), dapat diketahui produk Giant Hypermarket Gajayana Malang Divisi Fresh Departemen Meat and Chicken, terdiri atas (1) Daging Sapi, (2) Jeroan Sapi, (3) Daging Ayam, (4) Jeroan Ayam, (5) Daging Giling. Strategi produk yang diterapkan meliputi (1) Strategi Diversifikasi Produk, (2) Strategi Overlap Produk, (3) Strategi Produk Baru. Adapun faktor pendukung dan penghambat penerapan strategi produk tersebut yaitu: faktor pendukung, (1) Order produk yang dilakukan adalah by e-mail, (2) Produk memiliki lisensi halal, (3) Pengiriman produk dibuat seaman mungkin, (4) Daging sapi dan jeroan sapi berlabelkan merek lisensi dari Australia. Faktor penghambat (1) Terjadinya keterlambatan pengiriman produk, (2) Banyaknya produk yang rusak pada saat penyimpanan, (3) Adanya anggapan bahwa produk yang dijual Giant Gajayana Malang memiliki harga yang lebih mahal, (4) Masih menjual produk broken stok yang masih layak makan, (5) Adanya pesaing. Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan, maka saran yang dapat disampaikan adalah (1) Pembenahan terhadap produk-produk yang akan dipasarkan, (2) Menetapkan harga jual yang kompetitif, (3) Memperhitungkan stok yang ada, (4) Memperbaiki sistem pemesanan produk.

Improving recount text writing ability using open-ended questioning technique of the eighth grade students of MTsN Godean / Bibit Madi Hartono

 

Studi awal menunjukkan bahwa pengajaran menulis di MTsN Godeanbelum membantu siswa terampil menulis. Tulisan siswa terdapat kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu peneliti benar-benar perlu mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan teknik pertanyaan berakhir terbuka dalam mengajarkan menulis. Teknik ini merupakan gabungan dari proses menulis yang terdiri dari menggali gagasan, mengembangkan gagasan, menambah atau mengurangi gagasan, dan membenarkan kekeliruan-kekeliruan serta jenis teks ,khususnya recount, yang mengaitkan antara tujuan dan bentuk. Masalah penelitian yang diajukan adalah bagaimana teknik pertanyaan berakhir terbuka dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa dalam teks recount? Berbasis pada masalah penelitian itu, penelitian menekankan pada penggunaan pertanyaan berakhir terbuka untuk meningkatkan kemampuan kemampuan menulis teks recount bagi siswa MTsN Godean kelas delapan. Rancangan penelitian yang diterapkan adala penelitian tindakan kelas. Pada penelitian ini peneliti dibantu oleh seorang teman sejawat. Penelitian dilakukan pada sebuah kelas yang terdiri 41 siswa yang diambil sebagai subyek penelitian. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, penerapan, pengamatan, dan penilaian. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa instrument seperti daftar pengamatan, catatan-catatan lapangan, angket, dan porto folio atau tulisan-tulisan siswa. Penarapan open-ended questioning technique diawali dengan menanyakan kegiatan siswa yang telah mereka lakukan sebagai persiapan menulis. Berdasarkan jawaban siswa, guru mendisain gambaran situasi (prompt) dengan mempertimbangkan bahwa prompt tersebut menarik, dialami oleh seluruh siswa, dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan bahasa siswa. Kemudian secara berkelompok siswa mengubah prompt menjadi pembuka cerita pengalamannya yang akan ditulisnya. Kemudian untuk mengembangkan tulisan tentang pengalamannya guru memberikan pertanyaan terbuka. Untuk memperbaiki tulisannya, guru meminta siswa menambah keterangan yang diperlukan atau menghilangkan keterangan yang tidak diperlukan. Sebagai penutup tulisan siswa guru menanyakan kesan yang telah dirasakan dari apa yang telah ditulisan. Terakhir, siswa diminta membenahi hal-hal yang terkait dengan teknik penulisan. Penemuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik pertanyaan berakhir terbuka meningkatkan kemampuan menulis siswa. Peningkatan skor rata-rata tulisan siswa dapat dilihat dari tiap-tiap siklus. Sebelum teknik ini diterapkan skor rata-rata tulisan siswa 45.585. Setelah teknik ini diterapkan pada siklus pertama skor rata-rata tulisan siswa 57.870. Dan skor rata-rata tulisan siswa pada siklus kedua 76.121Berdasarkan hasil dari penerapan teknik pertanyaan berakhir terbuka untuk pengajaran menulis, guru-guru bahasa Inggris dianjurkan menerapkan teknik tersebut terutama dalam mengajar menulis teks recount. Dan bagi peneliti selanjutnya, khususnya bagi mereka yang tertarik untuk menerapkan teknik ini, dianjurkan untuk menerapkan teknik ini dalam menulis jenis-jenis teks yang lain seperti deskripsi, narasi, prosedur, dan laporan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TAi (Team Assisted Individualization) melalui pembuatan peta konsep untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X.2 SMA Negeri 8 Malang / Kiromim Baroroh

 

ABSTRAK Baroroh, Kiromim. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TAI (Team Assisted Individualization) Melalui Pembuatan Peta Konsep untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X.2 SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. H. M. Noviar Darkuni, M.Si, (II) Dra. Amy Tenzer, M.S. Kata Kunci: pembelajaran kooperatif model TAI, pembuatan peta konsep, motivasi, hasil belajar. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan pada tanggal 2 Februari 2009 diketahui bahwa proses pembelajaran di SMA Negeri 8 Malang masih menggunakan metode ceramah disertai pembahasan LKS, sedangkan diskusi kelompok jarang diterapkan. Siswa yang aktif dalam pembelajaran hanya 20% sisanya 80% masih pasif. Persentase siswa yang belum memenuhi standar ketuntasan minimal pada materi keanekaragaman hayati adalah 39,02%. Hasil observasi menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa masih rendah sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang diterapkan adalah TAI (Team Assisted Individualization) melalui pembuatan peta konsep. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X.2 SMA Negeri 8 Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif model TAI melalui pembuatan peta konsep. Jenis penelitian merupakan Penelitian Tindakan Kelas dalam 2 siklus, masing-masing siklus meliputi tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, tes, pembuatan peta konsep, catatan lapangan, dan pemotretan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I rata-rata motivasi klasikal siswa adalah 64,04% dengan kategori “cukup”, meningkat menjadi 83,44% dengan kategori “baik” pada siklus II. Ketuntasan belajar klasikal siswa pada siklus I adalah 73,68% dan meningkat menjadi 87,18% pada siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa (1) penerapan pembelajaran kooperatif model TAI melalui pembuatan peta konsep mampu meningkatkan motivasi belajar biologi siswa, (2) penerapan pembelajaran kooperatif model TAI melalui pembuatan peta konsep mampu meningkatkan hasil belajar biologi siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) melalui pembuatan peta konsep dapat diterapkan oleh guru yang memiliki permasalahan yang sama yaitu tentang rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa dan dapat pula diterapkan pada pokok bahasan yang lain (selain ekosistem) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa, pemberian tugas membuat peta konsep di rumah secara individu dapat membantu siswa mempermudah pemahaman dan pembuatan peta konsep kelompok sehingga dapat menghemat waktu diskusi.

The description of teaching speaking at SMAN 1 Kepanjen / Afrani Syahid

 

ABSTRACT Syahid, Afrani. 2009. Teaching Speaking at SMAN 1 Kepanjen. Thesis. English Department. Faculty of Letters. State University of Malang. Advisor: Drs. Murdibjono, M.A. Key words: teaching speaking, SMAN 1 Kepanjen This study was conducted in order to describe about the process of teaching speaking at SMAN 1 Kepanjen. Specifically, this study aimed at describing (1) the techniques used in teaching speaking, (2) the instructional materials used by the teachers, (3) instructional media, and (4) how the assessment was conducted. This study was descriptive-qualitative which tried to get a description of the process of teaching speaking at SMAN 1 Kepanjen. The techniques of data collection used were questionnaire and interview. The data collected from the instruments were gathered and analyzed to draw the final conclusions. In teaching speaking, the English teachers at SMAN 1 Kepanjen used some techniques such as listen and repeat, asking questions in the beginning of the lesson which were related to the topic, asking the students to make a dialogue and present it in front of the class, and group discussion. For grade ten, the teacher also asked the students to read the dialogues written in their textbooks and practiced them in pairs. The teacher also asked the students to complete the dialogue using the suitable expressions. In terms of instructional materials, the teachers at SMAN 1 Kepanjen, preferred to use textbooks as their main materials. In this case, the main textbook used by grade ten was "The Bridge English Competence" written by Kistono et al, published by Yudhistira. The teacher of grade ten also used two other textbooks that were "Headlight" written by Dra Emalia I. L, published by Erlangga, 2000 and "Look Ahead" written by THM Sudarwati, published by Erlangga, 2006. As an addition, the teacher of grade ten also took the materials from magazines, newspapers, and Lembar Kerja Siswa (LKS). The teacher of grade eleven used six main textbooks. The teacher took the materials from all those six textbooks, summarized it, and made notes for the students. In general, both of the teachers used the facility well. The teachers both used blackboard effectively in every meeting. They also used language laboratory for a different learning atmosphere. The teacher of grade ten also used tape recorder and English conversation cassettes to support the teaching and learning process. The test was conducted after one standard competence was finished or after some standard competencies were finished (block examination). The speaking test was done in the form of oral test. Based on the findings the researcher suggested that in teaching speaking the teachers should not only depend on the textbooks. They should use other sources, such as internets and authentic materials. The school should take good care of the facilities such as, language laboratory, LCD, or tape recorder. ABSTRACT Syahid, Afrani. 2009. Deskripsi Pengajaran Berbicara Bahasa Inggris di SMAN 1 Kepanjen. Skripsi. Jurusan Bahasa Inggris. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Murdibjono, M.A. Kata Kunci: Pengajaran Berbicara, SMAN 1 Kepanjen Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan tentang proses pengajaran berbicara bahasa inggris di SMAN 1 Kepanjen. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) teknik-teknik pengajaran yang digunakan dalam mengajar berbicara bahasa inggris, (2) materi pengajaran yang digunakan oleh guru, (3) media pengajaran, dan (4) bagaimana penilaian dilakukan. Penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif yang mencoba untuk menggambarkan proses pengajaran berbicara bahasa inggris di SMAN 1 Kepanjen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah questionnaire and interview. Data yang dihasilkan dari instumen-instrumen tersebut dikumpulkan dan dianalisa untuk kemudian ditarik kesimpulan. Dalam pengajaran berbicara bahasa inggris, guru-guru bahasa inggris di SMAN 1 Kepanjen menggunakan beberapa teknik seperti listen and repeat, menanyakan beberapa pertanyaan diawal pelajaran, membuat dialog dan mempresentasikannya didepan kelas, dan grup diskusi. Untuk kelas sepuluh, guru juga memberi tugas siswa untuk membaca dialog di buku teks mereka dan berlatih secara berpasangan. Guru juga memberi tugas untuk melengkapi dialog dengan menggunakan ekspresi yang sesuai. Dalam hal materi pengajaran, guru di SMAn 1 Kepanjen menggunakan buku teks sebagai materi pengajaran yang utama. Dalam hal ini, materi pengajaran utama yang digunakan oleh kelas sepuluh adalah "The Bridge English Competence" ditulis oleh Kistono dkk, dan diterbitkan oleh Yudhistira. Guru kelas sepuluh juga menggunakan dua buku lain yaitu "Headlight" ditulis oleh Dra Emalia I. L dan diterbitkan oleh Erlangga, 2000 dan "Look Ahead" ditulis oleh THM Sudarwati, diterbitkan oleh Erlangga, 2006. Sebagai tambahan, guru kelas sepuluh juga mengambil materi dari majalah, Koran, dan Lembar Kerja Siswa (LKS). Guru kelas sebelas menggunakan enam buku teks. Guru tersebut mengambil material dari keenam buku teks tersebut, merangkumnya, dan membuat catatan untuk kemudian dibagikan kepada murid. Secara umum, kedua guru menggunakan fasilitas dengan baik. Kedua guru tersebut menggunakan papan tulis disetiap pertemuan. Mereka juga menggunakan labolatorium bahasa untuk suasana pengajaran yang berbeda. Guru kelas sepuluh juga menggunakan radio tape dan kaset percakapan bahasa inggris. Tes dilaksanakan setelah satu standar kompetensi selesai atau setelah beberapa standar kompetensi selesai (ujian blok). Tes berbicara dilaksanakan dalam bentuk lisan. Berdasarkan penemuan diatas, peneliti menyarankan agar dalam proses pengajaran, guru tidak hanya bergantung pada buku teks. Mereka juga harus menggunakan sumber lain seperti internet dan materi autentik. Sekolah juga sebaiknya menjaga fasilitas seperti labolatorium bahasa, LCD, atau radio tape dengan baik.

Keanekaragaman dan spesies kapang dominan pada rizosfer tanah pertanian kubis di daerah Cangar dan Kasmiran Batu / Fitriana Tri Palupi

 

ABSTRAK Mujiono, 2009. Kontribusi Supervisi Kepala Sekolah, Insntif Guru, dan Motivasi Berprestasi Guru terhadap Profesionalisme Guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H.Ahmad Sonhadji K.H, M.A, Ph.D., (II) Prof. Dr. Salladien. Kata kunci: supervisi, insentif, motivasi, profesionalisme. Profesionalisme guru dewasa ini sangat diperlukan. Guru menjadi salah satu penentu pentingnya keberhasilan pendidikan. Sebagai pemimpin pembelajaran yang memfasilitasi kegiatan pembelajaran, guru dituntut untuk bersikap professional. Salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah. Kepala sekolah dapat meningkatkan profesionalitas guru melalui kegiatan supervisi. Selain itu, profesionalisme guru juga dapat ditingkatkan melalui pemberian insentif guru yang memadai dan motivasi berprestasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (a) Profesionalisme guru SMK Negari dan Swasta di Kabupaten Tuban, (b) Kontribusi supervisi kepala sekolah SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, (c)Insentif guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, (d) Motivasi berprestasi guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, (e) ada tidaknya kontribusi supervisi kepala sekolah terhadap profesionalisme guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, (f) ada tidaknya kontribusi supervisi kepala sekolah terhadap profesionalisme guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban , (g) ada tidaknya kontribusi insentif guru terhadap profesionalisme guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, (h) ada tidaknya kontribusi motiasi berprestasi terhadap profesionalisme guru di SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, (i) besarnya kontribusi supervisi kepala sekolah terhadap profesionalisme guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, (j) besarnya kontribusi insentif guru terhadap profesionalisme guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban, dan (k) besarnya kontribusi motivasi berprestasi terhadap profesionalisme guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian survey. Jumlah respondennya adalah 185 orang. Model analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda, populasi yang digunakan guru SMK Negeri dan Swasta di Tuban. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa (a) Profesionalisme guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban termasuk dalam kategori sangat tinggi, (b) Supervisi kepala sekolah SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban termasuk dalam kategori tinggi, (c) Insentif guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban termasuk dalam kategori sangat tinggi, (d) Motivasi berpretasi guru SMK Negeri dan Swasta di Kabupaten Tuban termasuk dalam kategori sangat tinggi, (e) Supervisi kepala sekolah secara parsial mempunyai kontribusi terhadap profesionalisme guru secara relatif sebesar 0.26 (26%) dan secara efektif sebesar 10%, (f) Insentif guru secara parsial mempunyai kontribusi terhadap profesionalisme guru secara relatif sebesar 0.15 atau 15% dan secara efektif sebesar 6%, (g) Motivasi berprestasi guru secara parsial mempunyai kontribusi terhadap profesionalisme guru secara relatif sebesar 0.340 (34%) dan secara efektif sebesar 13%, dan (h) supervisi kepala sekolah, insentif guru, dan motivasi berprestasi guru berkontribusi secara bersama-sama terhadap profesionalisme guru. Besarnya kontribusi itu adalah 38.3% jika terjadi kenaikan profesionalisme guru sebesar 100%. Implikasi dari temuan ini adalah bahwa dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah dan pemerintah dapat melakukannya antara lain dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas supervisi kepala sekolah (termasuk juga supervisi pengawas), meningkatkan insentif guru hingga mampu menjamin kesejahteraan para guru, dan memotivasi para guru untuk terus meningkatkan profesionalismenya. Selain itu, secara pribadi, guru juga harus mampu mengelola dan meningkatkan motivasi berprestasinya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya sebagai seorang profesional.

Penggunaan metode role playing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas III SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Rulasmini Khotimah

 

ABSTRAK Khotimah, Rulasmini. 2009. Penggunaan Metode Role Playing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran PKn Kelas III SDN Benerwojo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi SI PGSD, Jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Ahmad Samawi, M. Hum, (II) Drs. Sumanto, M.Pd. Kata Kunci : Metode, Role Playing, hasil belajar, PKn, SD. Role Playing atau bermain peran adalah salah satu bentuk permainan pendidikan (educational games) yang dipakai untuk menjelaskan perasaan, sudut pandangan, dan cara berpikir orang lain (membayangkan diri sendiri seperti dalam keadaan orang lain). Berdasarkan pengamatan peneliti pada siswa kelas III SDN Benerwojo diketahui bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn pada materi “Peraturan di Keluarga” masih rendah, hanya mencapai rata-rata 56,92. Nilai ini masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal (SKM) ditetapkan yaitu 75. Dalam pembelajaran guru kurang melibatkan siswa secara langsung. Guru sering menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan materi, sehingga pembelajaran hanya berpusat pada guru. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing pada materi “ Peraturan di Masyarakat” mata pelajaran PKn kelas III SDN Benerwojo kecamatan Kejayan kabupaten Pasuruan. Mendiskripsikan peningkatan hasil belajar materi “Peraturan di Masyarakat” mata pelajaran Pkn dengan menggunakan metode Role Playing di kelas III SDN Benerwojo. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model siklus yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Kurt Lewin yang setiap siklusnya terdiri dari beberapa tahap, yaitu: Perencanaan, Tindakan dan Observasi, dan Refleksi. Penelitian dilakukan di kelas III SDN Benerwojo kecamatan Kejayan, kabupaten Pasuruan, pada mata pelajaran PKn. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Semester I Tahun Pelajaran 2009/2010 yang dilakukan dalam 2 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran PKn mengalami peningkatan. Pada siklus I guru mengalami kesulitan dalam menerapkan metode Role Playing kemudian pada siklus II guru menjadi lebih terampil dalam pembelajaran. Ini terbukti dari hasil perolehan skor aktivitas guru dalam pembelajaran pada siklus I mencapai skor 75 yang mengalami peningkatan pada siklus II yang mencapai skor 85 dengan kriteria baik. Hal ini juga diikuti dengan peningkatan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I taraf keberhasilan peningkatan aktivitas belajar siswa mencapai 66,67 dengan kriteria cukup, kemudian meningkat menjadi 83,33 pada siklus II dengan kriteria baik. Hasil belajar siswa aspek kognitif dan afektif juga mengalami peningkatan. Hasil belajar aspek kognitif pada siklus I mencapai prosentase keberhasilan 70 dengan kriteria cukup. Pada siklus II mengalami peningkatan dengan prosentase keberhasilan 94,44 dengan kriteria sangat baik. Peningkatan ini juga diikuti hasil belajar siswa aspek afektif, yang pada siklus I mencapai prosentase keberhasilan 70,55 dengan kriteria cukup, dan pada siklus II mencapai taraf keberhasilan 81,67 dengan kriteria baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa: 1) pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PKn materi “Peraturan di Masyarakat” dengan menggunakan metode Role Playing dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, 2) hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah menggunakan metode Role Playing.. Maka dari itu saran yang dapat diberikan adalah guru hendaknya dapat menerapkan metode Role Playing pada mata pelajaran PKn dengan memberikan skenario pemeranan 2 hari sebelum pelaksanaan pembelajaran disertai penggunaan kostum sesuai tokoh peran pada waktu pemeranan. Bagi Kepala Sekolah, hendaknya memberikan bimbingan dan pembinaan kepada guru di lingkungan SDN Benerwojo kecamatan Kejayan, terutama berkenaan dengan penggunaan metode Role Playing dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa. Bagi peneliti lain agar meneliti penggunaan metode Role Playing pada materi yang berbeda dengan yang telah diteliti oleh peneliti saat ini.

Studi spektroskopi pada senyawa p-metoksisinamaldehida / Gustie Wahyu Alfatie

 

ABSTRAK Alfatie, Gustie, Wahyu. 2008. Studi Spektroskopi Pada Senyawa p-metoksisinamaldehia. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Dr. Sutrisno, M.Si, (II) Drs. Aman Santoso, M.Si. Kata Kunci: studi spektroskopi, p-metoksisinamaldehida Kondensasi Aldol adalah salah satu reaksi yang penting dalam kimia organik. Salah satu jenis kondensasi Aldol adalah kondensasi Aldol silang (Crossed Aldol Condensation). Kondensasi Aldol silang antara p-anisaldehida dengan asetaldehida dengan katalis NaOH diduga menghasilkan p-metoksisinamaldehida (Solikha, 2007). Dugaan bahwa senyawa yang terbentuk adalah p-metoksisinamaldehida didukung oleh beberapa hal, diantaranya senyawa hasil sintesis merupakan cairan sangat kental dengan bau yang khas, memiliki indeks bias 1,67540 pada suhu 20ºC dan berat jenisnya 3,6 g/L. Senyawa hasil sintesis larut dalam 2-propanol tetapi tidak larut dalam air dan heksana (Solikha, 2007). Apabila reaksi kondensasi Aldol silang dari p- anisaldehida dan asetaldehida berkatalis basa telah berlangsung dan membentuk p-metoksisinamaldehida maka secara spektroskopi akan terjadi perubahan yang cukup mendasar. Spektroskopi yang dimaksud adalah spektroskopi UV, IR, massa, 1H NMR dan 13C NMR. Penelitian ini bertujuan : (1) mengetahui apakah sintesis yang dilakukan akan memberikan produk yang identik dengan yang diperoleh oleh Solikha (2007), (2) Mengetahui apakah spektra UV, IR, GC-MS, 1H NMR dan 13C NMR dapat memberikan indikasi terbentuknya senyawa p-metoksisinamaldehida. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Pertama adalah verifikasi prosedur sintesis p-metoksisinamaldehida dari p-anisaldehida dan asetaldehida dengan katalis NaOH 10% melalui kondensasi Aldol silang. Senyawa hasil sintesis diidentifikasi awal dengan kromatografi lapis tipis. Kedua adalah identifikasi senyawa hasil sintesis secara spektrofotometri UV, spektrofotometri IR, GC-MS dan yang terakhir dengan 1H NMR dan 13C NMR. Dari penelitian diketahui bahwa sintesis yang dilakukan memberikan produk yang identik dengan yang diperoleh oleh Solikha (2007). Spektra UV, IR, GC-MS, 1H NMR dan 13C NMR memberikan indikasi terbentuknya senyawa p-metoksisinamaldehida. Indikasi tersebut diperkuat dengan munculnya serapan spektrum UV pada panjang gelombang 321,5 nm yang merupakan puncak hasil transisi n p* dan p p* pada gugus karbonil tidak jenuh a,ß. Pada spektrum IR muncul serapan pada bilangan gelombang 1675,06 cm-1 yang merupakan serapan khas untuk gugus (C=O) aldehida yang berkonjugasi dengan ikatan rangkap dan bilangan gelombang 1601,77 cm-1 untuk serapan ikatan rangkap -C=C-. Pada spektrum massa, muncul sinyal dengan m/z 162 yang diduga terbentuk dari ion molekul dari p-metoksisinamaldehida. Pada spektrum 1H NMR muncul dua sinyal masing-masing sebagai doblet pada 6,6 ppm, 6,7 ppm, 6,8 ppm dan 6,9 ppm yang merupakan sinyal dari proton alkena. Dan pada spektrum 13C NMR muncul sinyal pada 114 ppm dan 152 ppm yang merupakan sinyal dari karbon alkena. i

Validasi media VCD pembelajaran IPS pokok bahasan jenis-jenis pasar kelas III di SDN II Sumbersari Malang / Etis Megasari

 

ABSTRAK Megasari,Etis. 2009. Validasi Media VCD Pembelajaran IPS Pokok Bahasan Jenis-Jenis Pasar Kelas III Di SDN II Sumbersari Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Abdul Manan, M.pd. dan (2) Dr, A.J.E Toenlioe Kata kunci : Validasi, Media VCD Pembelajaran, IPS. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini menuntut dunia pendidikan untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan atau menggunakan berbagai metode dan media pembelajaran yang paling efektif dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. VCD Pembelajaran merupakan salah satu alternatif media yang dapat membantu guru dalam proses penyampaian materi pembelajaran kepada siswa karena mampu menyajikan pesan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Berdasarkan observasi di SDN II Sumbersari Malang dalam pembelajaran selama ini hanya menngunakan pembelajaran konvensional. Jadi guru belum pernah menggunakan media , sehingga siswa kurang termotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan alternative pemecahan masalah, yaitu penggunaan media pembelajaran berupa VCD yang dapat membantu siswa dalam proses belajar. Media VCD pembelajaran yang akan digunakan tidak dapat langsung dimanfaatkan dalam pembelajaran, perlu dilakukan kegiatan validasi untuk menentukan tingkat kelayakan atau kevalidan media VCD pembelajaran, pada ahli materi, ahli media, dan siswa. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket untuk ahli materi, ahli media dan siswa. Sedangkan untuk mengetahui hasil belajar menggunakan SKM (Standart Ketuntasan Mengajar). VCD Pembelajaran ini berisi tentang materi pembelajaran yang disajikan dengan gambar visual bergerak yang dilengkapi dengan suara dan musik yang menarik. Data yang diperoleh dari 22 orang dengan rincian satu ahli materi, satu ahli media dan 20 orang siswa kelas III SDN II Sumbersari yang diambil sebagai subjek total. Jenis penelitian ini deskriptif sedangkan jenis datanya adalah kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yaitu dari hasil uji kelayakan oleh ahli materi, ahli media, dan audiens. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Hasil penelitian yang diperoleh adalah dari ahli materi, keseluruhan mencapai 82,5. termasuk dalam kategori valid. Ahli materi, keseluruhan mencapai 75. termasuk dalam kategori cukup valid. Audiens keseluruhan mencapai skor 91. skor ini termasuk dalam kategori valid. Dari pengolahan data tabel juga terlihat peningkatan persentase siswa yang memenuhi SKM (≥ 70). Sebelum penggunaan media VCD pembelajaran persentase jumlah siswa yang memenuhi SKM sebesar 60 %, menjadi 100 % setelah siswa menggunakan media VCD pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa validasi media VCD Pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan efektif digunakan sebagai salah satu media pembelajaran karena telah diuji oleh ahli materi, ahli media serta audiens dengan kriteria valid dan layak digunakan sebagai alternatif media pembelajaran karena isi materi sesuai dengan RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Identifikasi kesulitan siswa kelas XII IPA-2 MAN Malang 1 dalam memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) serta pemahaman materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari / Gustie Wahyu Alfatie

 

Ilmu kimia merupakan pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa SMU maupun mahasiswa perguruan tinggi. Beberapa penyebab kesulitan yang dialami siswa adalah sifat ilmu kimia yang abstrak, konsep yang dipelajari sangat banyak serta berurutan dan rendahnya kemampuan siswa dalam operasi matematik. Pada umumnya siswa dalam memahami materi pelajaran kimia cenderung belajar dengan hafalan dari pada memahami konsep materi tersebut. Hal ini menyebabkan sebagian besar konsep-konsep pelajaran kimia menjadi konsep yang abstrak bagi siswa dan bahkan mereka tidak dapat mengenali konsep-konsep kunci atau hubungan antar konsep yang diperlukan untuk memahami konsep tersebut. Sehingga, siswa tidak memiliki pemahaman konsep-konsep kimia yang bersifat dasar pada awal mereka mempelajari ilmu kimia. Hal ini mengakibatkan pemahaman siswa yang diperoleh di sekolah cenderung sebatas pemahaman teori tanpa pemahaman dalam kehidupan nyata. Sehingga siswa tidak mampu berpikir ilmiah terhadap peristiwa sehari-hari yang terjadi dalam dunia nyata siswa. Salah satu materi pelajaran kimia yang konsepnya bersifat abstrak dan berurutan adalah kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp). Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Mengidentifikasi kesulitan siswa dalam memahami dan menentukan kelarutan yang terdiri dari:(a) pengertian kelarutan, (b) konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh, (c) kelarutan senyawa, (d) massa zat terlarut dalam larutan jenuh, (e) perbandingan kelarutan senyawa berdasarkan Ksp. 2) Mengidentifikasi kesulitan siswa dalam memahami dan menentukan hasil kali kelarutan (Ksp) yang terdiri dari:(a) rumusan Ksp, (b) Ksp berdasarkan massa zat terlarut, (c) Ksp berdasarkan kelarutan. 3) Mengidentifikasi kesulitan siswa dalam memahami dan menentukan pengendapan yang terdiri dari: a)meramalkan terbentuknya endapan, b)menentukan hubungan Ksp dan Qsp. 4) Mengidentifikasi kesulitan siswa dalam memahami dan menentukan faktor yang mempengaruhi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) yang terdiri dari: (a) pengaruh ion senama, (b) pengaruh pH, (c) pengaruh suhu. 5) Mengetahui tingkat kesulitan siswa dalam memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA MAN Malang I yang terdiri dari 3 kelas yang homogen. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XII IPA-2 yang terdiri dari 39 siswa. Instrumen penelitian ini berupa tes obyektif yang terdiri dari 30 soal. Dari hasil uji coba diperoleh validitas isi tes sebesar 95,6% dan reliabilitas (r11) sebesar 0,67 yang diukur menggunaka persamaan K-R 20. Berdasarkan data yang diperoleh dari tes tersebut diidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami materi kelarutan dan hasil kali kelarutan serta pemahaman materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh kesimpulan i sebagai berikut. 1) Kesulitan siswa dalam memahami dan menentukan kelarutan adalah : (a) siswa menganggap kelarutan terjadi pada larutan lewat jenuh, (b) siswa tidak dapat melakukan penyetaraan reaksi, (c) siswa tidak dapat menentukan massa zat yang membentuk larutan jenuh, (d) siswa tidak dapat membedakan larutan jenuh dan lewat jenuh, (e) siswa tidak memahami makna harga Ksp suatu zat. 2) Kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami dan menentukan hasil kali kelarutan adalah : (a) siswa tidak dapat menyetarakan persamaan reaksi, (b) siswa tidak dapat menentukan jumlah zat yang membentuk larutan jenuh, (c) siswa tidak memangkatkan konsentrasi dengan koefisien. 3) Kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami dan menentukan pengendapan adalah : (a) siswa tidak memperhatikan rumusan Ksp dan harga Ksp suatu zat, (b) siswa tidak memahami makna Ksp dan Qsp. 4) Kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami dan menentukan faktor yang mempengaruhi hasil kali kelarutan adalah : (a) siswa beranggapan bahwa adanya ion senama tidak berpengaruh terhadap harga kelarutan, dan siswa tidak memahami pengaruh ion senama terhadap kesetimbangan, (b) siswa tidak memahami hubungan pH dengan konsentrasi ion-ion dalam larutan, (c) siswa tidak memahami pengaruh suhu terhadap kelarutan. 5) Tingkat kesulitan siswa dalam memahami materi hasil kali kelarutan dalam kehidupan sehari- hari tergolong sangat tinggi.

Penerapan pembelajaran kooperatif model problem based learning (PBL) pada mata diklat menata produk untuk meningkatkan partisipasi belajar dan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Penjualan di SMK PGRI 2 Malang / Mohammad Faisol Anshori

 

Masyarakat dan bangsa Indonesia perlu dipersiapkan memasuki millennium ketiga dengan tuntutan-tuntutan global. Kehidupan moral, etos kerja, kemampuan dan keterampilan yang masih rendah sedangkan kehidupan global menuntut penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang baru, tentunya mengalami berbagai hambatan dan tantangan. Tantangan-tantangan tersebut antara lain, masalah kesatuan bangsa, demokratisasi pendidikan, desentralisasi manajemen pendidikan, dan kualitas pendidikan. Selain itu, terdapat tantangan global yaitu pendidikan yang kompetitif dan inovatif. Di dalam persaingan diperlukan kualitas individu yang dapat berkompetisi. Kemampuan berkompetisi tersebut dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif dan efektif. Suatu sistem pendidikan dapat saja menghasilkan tenaga-tenaga pemikir yang berkembang tetapi apabila tidak inovatif maka kemampuan berpikirnya tidak akan mendapat makna di dalam kehidupan bersama. Nurhadi dkk (2004:1) mengatakan bahwa “kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan zaman”. Pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari peran serta guru. Sardiman (1990:123) mengemukakan bahwa ”guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan”. Oleh karena itu guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan posisinya sebagai tenaga profesional, sesuai tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.

Pelaksanaan evaluasi hasil belajar pada mata pelajaran seni budaya sub bidang studi seni rupa di SMP Negeri 5 Malang / Ratih Padma Sari

 

Dalam KTSP, seni rupa merupakan salah satu komponen dari mata pelajaran Seni Budaya. Mata pelajaran Seni Budaya sub bidang studi Seni Rupa bertujuan agar siswa mampu menggunakan kepekaan inderawi dan intelektual dalam memahami, mempresentasikan keragaman gagasan, teknik, materi dan keahlian berkarya seni rupa serta berekspresi dengan beragam teknik dan medium seni rupa. Penilaian pada mata pelajaran Seni Budaya sub bidang studi Seni Rupa meliputi teori dan praktek, baik dari segi hasil maupun proses. Pada prakteknya, baik prosedur, teknik maupun alat evaluasi yang digunakan guru satu dengan lainnya bisa berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang ingin mengetahui bagaimana pelaksanaan evaluasi hasil belajar yang dilakukan guru mata pelajaran Seni Budaya sub bidang studi Seni Rupa di SMP Negeri 5 Malang tentang prosedur pelaksanaan evaluasi, serta teknik dan alat yang digunakan dalam evaluasi hasil belajar. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dan lembar observasi. Analisis yang digunakan adalah analisis data, yaitu dengan cara induksi, interpretasi, konseptualisasi. Hasil dari penelitian menunjukkan hal-hal berikut: (1) guru mata pelajaran Seni Budaya sub bidang Studi Seni Rupa di SMPN 5 Malang menggunakan prosedur evaluasi yang sama hanya cara pelaksanaannya yang berbeda, (2) teknik evaluasi yang digunakan oleh guru mata pelajaran Seni Budaya sub bidang Studi Seni Rupa di SMPN 5 Malang dalam mengevaluasi hasil belajar menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik yang digunakan dalam evaluasi hasil belajar pada kompetensi mengapresiasi antara lain tes tulis, tes identifikasi, dan observasi, sedangkan teknik yang digunakan dalam evaluasi hasil belajar pada kompetensi berekspresi antara lain tes tulis keterampilan, tes petik kerja, tugas rumah, proyek, dan observasi. Alat evaluasi yang dipakai antara lain presensi siswa dan format penilaian dengan skala rentang. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka penulis menyarankan sebagai berikut: (1) tahapan guru dalam mengevaluasi hasil belajar siswa diharapkan tidak berhenti sampai memasukkan nilai pada rapor saja, tetapi juga memanfaatkan hasil evaluasi untuk memotivasi siswa, (2) evaluasi dalam bentuk praktek baik kompetensi mengapresiasi maupun berekspresi diharapkan bisa seobjektif mungkin dengan cara membuat format pengamatan penilaian baik skala rentang maupun daftar cek.

Analisis saluran distribusi dan volume penjualan pada PR. Putra Abadi Sidoarjo / Widya Dharma

 

Pabrik rokok Putra Abadi Sidoarjo adalah salah satu perusahaan rokok diitngkat lokal yang berlokasi di daerah Tanggulangin, Sidoarjo. Pabrik rokok Putra Abadi Sidoarjo sebagai produsen rokok tentunya tidak kalah dalam berinovasi mencipatakan rokok yang sesuai dengan citra rasa dan iklim dimana rokok tersebut akan dipasarkan. Salah satu produk yang mereka ciptakan adalah rokok sam sam dji special isi 12 dan sam sam dji siaga isi 10. Di dalam pemasaranya pihak manajemen melakukan penjualan sampai keluar pulau Jawa. Dalam menguasai pangsa pasar Pabrik rokok Putra Abadi Sidoarjo menggunakan saluran distribusi melalui agen-agen yang tersebar diwilayah tertentu yang telah ditetapkan dan ditentukan pihak manajemen sebagai area pemasaran Berangkat dari pemikiran dan permasalahan di atas membuat peneliti tertarik untuk mengungkap dan mengkaji lebih jauh lagi kedalam bentuk penelitian dengan judul “Analisis Saluran Distribusi dan Volume Penjualan pada Pabrik Rokok Putra Abadi Sidoarjo”. Adapun rumusan masalahnya adalah faktor-faktor apakah yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan saluran distribusi pada perusahaan pabrik rokok Putra Abadi Sidoarjo. Bagaimana model saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan pabrik rokok Putra Abadi Sidoarjo. Berapakah volume penjualan yang dihasilkan oleh agen dan sales pada tahun 2006-2007.Bagaimana keterkaitan antara saluran distribusi dengan volume penjualan pada PR. Putra Abadi Sidoarjo. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif. Popolasi penelitian ini adalah Agen dan distributor Bagian Pemasaran Pabrik Rokok Putra Abadi Sidoarjo dengan jenis data yang dipergunakan adalah data dokumentasi. Teknik analisa data yang dipergunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan saluran distribusi pada perusahaan pabrik rokok Putra Abadi Sidoarjo yakni sistem penjualan dilakukan secara langsung dan tunai kepada para agen. Atau melalui mekanisme tempo bagi para agen atau distributor yang telah bekerjasama lama dengan PR. Putra Abadi Sidoarjo sehingga dapat menghindari kemacetan penjualan yang disebabkan karena tidak mampu bayarnya agen atau distributor terhadap pembayaran rokok dan juga sebagai upaya yang dilakukan untuk pembelian yang tidak berkali-kali yang menyebabkan tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh PT.Putra Abadi Sidoarjo. Model saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan pabrik rokok Putra Abadi Sidoarjo menggunakan model saluran distribusi panjang. Volume penjualan yang dihasilkan oleh agen dan sales pada tahun 2006-2007 fluktuatif, dengan jumlah penjualan rata-rata perbulan produk rokok PR. Putra Abadi Sidoarjo pada tahun 2006 penjualan tertinggi didapatkan pada Bulan November sebanyak 161 bal. Jumlah pendapatan terrendah didapatkan pada Bulan Agustus sebanyak 30 bal sementara tahun 2007 Januari sampai April, terus terjadi kenaikan tiap bulannya, sedangkan dari April ke Mei terjadi penurunan, demikian pula antara Mei ke Juni juga mengalami penurunan. Peralihan antara Juni ke Juli volume penjualan mengalami kenaikan dan mengalami penurunan lagi pada Bulan Agustus. Kenaikan terjadi lagi pada bulanseptember dan terus naik pada Bulan Oktober. PadaBulan November terjadi penurunan dan pada Bulan desember kembali terjadi kenaikan. Keterkaitan antara saluran distribusi dengan volume penjualan pada PR. Putra Abadi Sidoarjo dipergunakan sebagai suatu strategi distribusi yang dipilih dan di pergunakan dalam perusahaan sebab hal ini sangat berkenan erat dengan penentuan dan manajemen saluran distribusi yang dipergunakan oleh perusahaan tersebut untuk memasarkan barang dan jasanya, sehingga produk tersebut dapat sampai ditangan konsumen sasaran dalam jumlah dan jenis yang dibutuhkan, pada waktu yang diperlukan, dan tempat yang tepat untuk mendistribusikan barang dari produsen ke konsumen, alternatif yang dipilih dapat berupa distribusi langsung (direct channel) atau distribusi tidak langsung (indirect channel).

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 |