Penggunaan problem-based learning untuk meningkatkan mutu pembelajaran kimia dalam materi sistem koloid pada siswa kelas II SMA Negeri 1 Ngunut Kabupaten Tulungagung tahun ajaran 2004/2005 / oleh Swisstyn Rianita

 

Analisis kekuatan tarik dan struktur mikro sambungan las baja ST 37 dengan variasi waktu post treatment pengelasan SMAW / Firman Abidin

 

ABSTRAK Abidin, Firman. 2016. Analisis Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro Sambungan Las Baja ST 37 dengan Variasi Waktu Post Treatment Pengelasan SMAW. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr, Waras, M.Pd., (II) Rr. Poppy Puspitasari, S.Pd., M.T., Ph.D. Kata Kunci: post treatment, pengelasan SMAW, kekuatan tarik, struktur mikro, baja ST 37 Proses penyambungan logam dengan pengelasan sudah sering diaplikasikan dalam industri fabrikasi. Salah satu jenis pengelasan yang banyak dipakai adalah Shielded Metal Arc Welding (SMAW). Namun harus diakui bahwa sambungan las juga memiliki kelemahan diantaranya adalah timbulnya lonjakan tegangan yang besar disebabkan oleh perubahan struktur mikro pada daerah sekitar las. Oleh karena itu diperlukan aplikasi post treatment untuk mengurangi tegangan sisa yang terkunci didalam suatu struktur sebagai akibat proses fabrikasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui berapa kekuatan tarik baja ST 37 hasil pengelasan SMAW akibat variasi waktu post treatment; (2) untuk mengetahui bagaimana struktur mikro baja ST 37 hasil pengelasan SMAW akibat variasi waktu post treatment; dan (3) untuk mengetahui keterkaitan kekuatan tarik, struktur mikro, dan jenis patahan baja ST 37 hasil pengelasan SMAW akibat variasi waktu post treatment. Spesimen uji yang digunakan pada penelitian ini adalah hasil lasan baja ST 37 mengunanakan las SMAW. Proses post treatment pasca pengelasan menggunakan temperatur tinggi 6500C dengan variasi waktu (holding time) 60, 120, dan 180 menit. Analisis penelitian berupa hasil kekuatan tarik dan struktur mikro yang dijelaskan dalam bentuk deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa: (1) nilai kekuatan tarik tertinggi dimiliki oleh kelompok spesimen pengelasan baja ST 37 tanpa perlakuan sebesar 46.95 kg/ ; (2) nilai kekuatan tarik terendah dimiliki kelompok spesimen pengelasan baja ST 37 yang mengalami post treatment 180 menit sebesar 41.85 kg/ dengan persentase penurunan sebesar 12.1%; dan (3) pada kelompok spesimen pengelasan baja ST 37 yang mengalami post treatment 180 menit memiliki nilai regangan tertinggi sebesar 22.29% dengan persentase kenaikan 147,9%, hal ini terjadi karena dengan post treatment 180 menit struktur mikro bentuk dan ukuran butir ferrit pada baja ST 37 semakin membesar dan diikuti juga dengan perubahan ferrit widmanstatten menjadi accicular ferrit pada daerah HAZ (Heat Affected Zone) yang menandakan material tersebut ulet. Penemuan yang penting dalam penelitian adalah semakin lama waktu post treatment yang diberikan membuat material tersebut semakin ulet. Hal ini berkaitan dengan jenis patahan nampak kasar berwarna kelabu berserabut (fibrous), nilai regangan yang tinggi dan struktur mikro ferrit yang semakin besar diikuti juga dengan perubahan ferrit widmanstatten menjadi accicular ferrit pada daerah HAZ.

Intensitas penggunaan media IPA kelas V di beberapa SD wilayah Kodya Yogyakarta / oleh C. Asri Budiningsih

 

Pengaruh penerapan pembelajaran dengan Problem-Based Learning terhadap mutu pembelajaran kimia dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Kedungwaru Kabupaten Tulungagung pada pokok bahasan minyak bumi dan Petrokimia / oleh Eny Kurniasari

 

Pemanfaatan program siaran televisi pendidikan sekolah TPI sebagai sumber be;ajar proses belajar mengajar fisika oleh guru SMP Negeri di Kotamadya Malang / oleh Betty Marisi Turnip

 

Pengembangan paket permainan simulasi bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi belajar siswa / oleh Abdul Hadis

 

Pemberian pensintesis dalam pengajaran dan pengaruhnya terhadap perolehan belajar, retensi, dan motivasi / Dwi Agus Sudjimat

 

Akulturasi kebudayaan pada kompleks Masjid Makam Kanjeng Sepuh Sidayu Gresik / oleh Eko Prasetyo Hidayat

 

Evaluasi potensi mata air geger (C4, F12) sebagai suplai kebutuhan air bersih penduduk Kecamatan Sendang Tulungagung / Aisyah Trees Sandy

 

Kata kunci: potensi mata air, kebutuhan air bersih, evaluasi potensi mata air Kecamatan Sendang merupakan salah satu kecamatan di Tulungagung yang memanfaatkan potensi sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk yang dikelola oleh PDAM Kabupaten Tulungagung dengan dibantu cabang pembantu PDAM Kecamatan Sendang yaitu mata air Geger (C4, F12), namun distribusi air PDAM di Kecamatan Sendang, mulai tahun 2007 mengalami hambatan, yaitu distribusinya belum merata di seluruh desa di Kecamatan Sendang, misalnya air yang mengalir hanya tiap dua hari sekali sehingga diperlukan penelitian untuk membantu menyelesaikan permasalahan berkenaan dengan kebutuhan air bersih oleh PDAM. Penelitian ini memfokuskan pada potensi mata air (kuantitas dan kualitas), jumlah kebutuhan air penduduk setiap hari, serta membandingkan kebutuhan air penduduk dengan debit mata air Geger. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahuai kuantitas mata air Geger (C4,F12) Kecamatan Sendang. 2) Mengetahui kebutuhan air bersih penduduk Kecamatan Sendang. 3) Mengevaluasi potensi mata air Geger (C4,F12) dalam memenuhi kebutuhan air bersih penduduk Kecamatan Sendang. Jenis penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode survey berdasarkan data debit mata air selama 6 bulan dari PDAM Kecamatan Sendang. Objek dari penelitian ini terdiri dari obyek fisik (mata air) dan obyek sosial (penduduk) dengan pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Pengambilan sampel terbagi menjadi dua yaitu pengambilan sampel daerah dan pengambilan sampel penduduk sesuai dengan mata pencaharian. Analisis data dilakukan dengan membandingkan kebutuhan air penduduk setiap hari dengan debit mata air Geger (C4,F12). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Debit mata air Geger yang bersumber dari C4 selama satu tahun rata-rata (musim penghujan) sebesar 3 liter/detik sedangkan F12 sebesar 4 liter/detik sedangkan pada musim kemarau sebesar 2,5 liter/detik (C4) dan 3,5 liter/detik (F12). Adapun Jalur pendistribusian air dari sumber mata air sampai ke penduduk memiliki perbedaan ukuran pipa di beberapa desa. 2) Kebutuhan air bersih penduduk Kecamatan Sendang dalam sehari berdasarkan data primer yang diperoleh dari wawancara sebesar 278.122,282 liter/detik sedangkan debit mata air pada musim penghujan sebesar 604.800 liter/hari (bulan September 2011-Maret 2012) sedangkan apda muism kemarau sebesar 518.400 liter/hari (bulan April 2011-Agustus 2011) . 3) Hasil perbandingan kebutuhan air bersih penduduk dengan debit mata air Geger menunjukkan bahwa mata air Geger dapat memenuhi kebutuhan air bersih penduduk setiap hari yaitu pada musim kemarau debit mata air sebesar 518.400 liret/hari dan pada musim penghujan sebesar 604.800 liter/hari sedangkan kebutuhan air bersih penduduk sebesar 278.122,282 liter/hari.

Pengembangan modul pembelajaran soal cerita matematika kontekstual berbahasa Inggris untuk siswa kelas X / Eka Lestari

 

Lestari, Eka. 2013. Pengembangan Modul Pembelajaran Soal Cerita Matematika Kontekstual Berbahasa Inggris Untuk Siswa Kelas X. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Abdur. Rahman As’ari, M. Pd., M. A. Kata Kunci: modul, soal cerita, persamaan kuadrat     Pada saat ini mayoritas guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran yang terpusat pada guru ini mengakibatkan kreativitas siswa terhambat. Siswa juga akan kehilangan motivasi belajar. Selain itu, buku teks yang digunakan belum dapat mendukung guru dan siswa mencapai tujuan belajar. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan modul dalam kegiatan pembelajaran. Modul dapat meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa karena siswa diberi kesempatan untuk belajar mandiri. Salah satu materi dalam matematika yang dianggap siswa sarat akan rumus adalah persamaan kuadrat. Materi ini belum diajarkan secara maksimal khususnya dalam menyelesaikan masalah sehari-hari. Oleh karena itu, masalah yang dituliskan dalam modul berupa soal cerita matematika kontekstual.     Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan suatu modul pembelajaran soal cerita matematika kontekstual berbahasa Inggris. Modul ini diharapkan dapat membantu siswa belajar secara aktif dan mandiri. Modul ini juga dapat membantu siswa dalam mempelajari soal cerita persamaan kuadrat yang ada di kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa dapat belajar bahasa Inggris matematika dengan menggunakan modul ini.     Modul ini dikembangkan dengan menggunakan model ADDIE yang memiliki lima tahap. Kelima tahap itu adalah analyze, design, develop, implement, and evaluate. Pada tahap analyze dilakukan analisis pembelajaran dan materi soal cerita persamaan kuadrat. Pada tahap design dirancang format modul soal cerita yang akan dikembangkan. Pada tahap develop, rancangan yang diperoleh dari tahap design dikembangkan menjadi modul soal cerita. Pada tahap implement, modul yang dikembangkan diujicobakan kepada dosen, guru, dan siswa. Pada tahap evaluate, hasil uji coba dievaluasi dan dilakukan revisi pada bagian-bagian dari modul yang perlu diperbaiki. Produk pengembangan diujicobakan melalui beberapa tahap, yaitu: (1) validasi modul oleh dosen dan guru matematika, (2) validasi bahasa Inggris yang digunakan dalam modul, dan (3) uji keterbacaan modul oleh delapan siswa kelas X billingual. Data kualitatif maupun kuantitatif dikumpulkan dengan menggunakan angket.     Persentase hasil penilaian dari kegiatan validasi modul oleh dosen dan guru matematika adalah 91 % . Hal ini menunjukkan bahwa modul pembelajaran soal cerita matematika kontekstual berbahasa Inggris berada pada kriteria sangat valid. Persentase hasil penilaian guru bahasa Inggris adalah 75 %. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Inggris yang digunakan dalam modul berada pada kriteria valid. Hasil dari uji keterbacaan modul menunjukkan bahwa modul dapat memotivasi belajar siswa karena menyajikan masalah soal cerita yang menantang dan bahasa Inggris matematika yang membutuhkan pemahaman lebih. Modul direvisi dengan menuliskan check your readiness, mini dictionary, dan mengganti kalimat pasif menjadi kalimat aktif berdasarkan saran atau komentar dari subjek uji coba.     Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan, modul pembelajaran ini terdiri dari bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Modul memberikan tantangan baru kepada siswa dalam belajar. Hal ini dikarenakan soal cerita persamaan kuadrat nonverbal yang dituliskan dalam bahasa Inggris dan berkaitan dengan permasalahan kontekstual belum pernah dibaca siswa. Modul ini juga memotivasi siswa untuk belajar matematika berbahasa Inggris. Selain itu, siswa dapat belajar secara mandiri dengan menggunakan modul ini. Hal ini dikarenakan oleh modul ini dilengkapi langkah-langkah sistematis yang dapat membimbing siswa. Saran dari penelitian ini adalah peneliti selanjutnya sebaiknya melakukan uji keefektifan modul dalam pembelajaran. Selain itu, modul soal cerita pada materi yang lain dengan bahasa Inggris yang komunikatif, desain yang menarik, dan ekonomis perlu dikembangkan.

Strategi penyampaian pengajaran teknik belajar berkelompok do sekolah dasar : suatu studi kualitatif / oleh Atrup

 

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model kooperatif tipe jigsaw bagi siswa kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar / Pelif Laim

 

Laim, Pelif. 2014. Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Model Kooperatif Tipe Jigsaw bagi Siswa Kelas IV SDN Turi 02 Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Widayati, M. H, (II) Dra. Hj. Sri. Murdiyah, M.Pd. Kata kunci : model kooperatif tipe jigsaw, hasil belajar, pkn sekolah dasar. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas IV pada waktu pembelajaran PKn terdapat: (1) guru menggunakan metode ceramah yang dominan, sehingga siswa kurang aktif, (2) siswa kurang berkonsentrasi dalam belajar, terbukti pada waktu pembelajaran ada yang bermain sendiri, mengantuk pada saat guru menjelaskan materi, (3) guru tidak menggunakan media pembelajaran, (4) suasana belajar kurang menyenangkan, terlihat siswa malas mengikuti pembelajaran, (5) selama pembelajaran siswa tidak belajar secara berkelompok melainkan belajar secara individu, sehingga tidak ada diskusi, (6) hasil belajar yang diperoleh yaitu nilai ≤ 70 ada 20 siswa dan nilai ≥ ada 19 siswa. Pada pembelajaran PKn, KKM yang ditentukan yaitu 70. Ada 20 siswa dari jumlah keseluruhan 39 siswa yang hasil belajarnya di bawah KKM, sehingga mereka belum tuntas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan tentang penerapan pembelajaran PKn melalui pembelajaran kooperatif tipe jigsaw di kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar, (2) mendeskripsikan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn melalui model kooperatif tipe jigsaw di kelas IV SDN Turi 02 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian tindakan kelas. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumennya terdiri dari lembar observasi, lembar wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan menggunakan model kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan aktivitas siswa dengan baik terlihat kenaikan disetiap siklus. Hasil nilai akhir siswa pada pra tindakan mencapai 61%, siklus I pertemuan 1 mencapai 65% dan pertemuan 2 mencapai 71%. Pada siklus II pertemuan 1 mencapai 74% dan pertemuan 2 mencapi 75%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I pertemuan 1 yang tuntas 20 siswa, dan yang belum tuntas 19 siswa, dan pada siklus I pertemuan 2 yang tuntas 26 siswa dan 13 siswa belum tuntas. Sedangkan siklus II pertemuan 1 yang tuntas 32 siswa dan yang belum tuntas 7 siswa, pada siklus II pertemuan 2 yang tuntas 39 siswa. Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model koopertif tipe jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Peningkatan hasil belajar operasi hitung campuran bilangan bulat melalui model numbered heads together siswa kelas IV SDN Karangtengah 4 Kota Blitar / Retno Manggali

 

Manggali, Retno. 2015. Peningkatan Hasil Belajar Operasi Hitung Campuran Bilangan Bulat Melalui Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IV SDN Karangtengah 4 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Ke-pendidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dosen dan Pembimbing: (I) Drs. H. Suhel Madyono, S.Pd., M. Pd, (II) Dra. Yuliwidiarti, S. Pd. Kata kunci: hasil belajar, operasi hitung campuran bilangan bulat, model nht Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas IV SDN Karangtengah 4 menunjukkan bahwa hasil belajar sebagian siswa masih rendah, hal ini bisa dilihat dari 36 siswa sebanyak 24 siswa (67%) yang belum tuntas belajar dan hanya 12 siswa (33%) yang tuntas belajar. Hal tersebut menunjukkan bahwa siswa kurang memahami materi pelajaran. Pada saat belajar kelompok, siswa yang pandai cenderung egois dan tidak mau membantu teman yang kesulitan. Banyak siswa yang diam, terlihat bosan dan ramai sendiri. Sehingga hasil belajarnya kurang baik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan model NHT pada mata pelajaran matematika materi operasi hitung campuran bilangan bulat siswa kelas IV SDN Karangtengah 4 Kota Blitar dan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pada mata pelajaran matematika operasi hitung campuran bilangan bulat siswa kelas IV SDN Karangtengah 4 Kota Blitar melalui model NHT. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah PTK yang terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan tes, observasi, dokumentasi, wawancara dan catatan lapangan. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru dan guru kelas sebagai observer. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: nilai rata-rata observasi aktivitas guru pada siklus I sebesar 85% dan meningkat pada siklus II sebesar 94%. Sedangkan nilai rata-rata observasi siswa pada siklus I sebesar 83% dan meningkat pada siklus II sebesar 92%. Nilai hasil rata-rata siswa pada pratindakan adalah 49 dengan ketuntasan belajar sebesar 33%. Setelah dilaksanakan siklus I, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 63 dengan ketuntasan belajar sebesar 64%. Selanjutnya pada siklus II, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 74 dengan ketuntasan belajar sebesar 89%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model NHT pada mata pelajaran matematika materi operasi hitung campuran bilangan bulat sudah sangat baik, berjalan dengan lancar, dan sesuai dengan rancangan langkah-langkah model NHT. Untuk itu disarankan guru dapat mengembangkan model NHT pada mata pelajaran lainnya, siswa hendaknya dapat saling bertukar pendapat saat belajar kelompok dan sekolah hendaknya memberikan fasilitas yang lengkap.

Analisis tingkah laku sebagai teknik bimbingan untuk mengubah off-task behavior siswa sekolah dasar / oleh Edy Legowo

 

Pemecahan masalah dinamika partikel melalui strategi problem solving - conflict map untuk menganalisis perubahan konseptual siswa / Issi Anissa

 

Anissa, Issi. 2015. Pemecahan Masalah Dinamika Partikel Melalui Strategi Problem solving-Conflict map untuk Menganalisis Perubahan Konseptual Siswa. Tesis. Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Arif Hidayat, M.Si (II) Dr. Lia Yuliati, M.Pd. Kata kunci: Problem solving - Conflict map, perubahan konseptual, pemecahan masalah Tuntutan untuk menjadikan siswa mampu memecahkan masalah dengan baik telah menjadi tema sentral dalam pembelajaran fisika. Pemecahan masalah menjadi aspek penting dalam pembelajaran karena berhubungan dengan kemampuan menerapkan konsep yang telah diperoleh dan wahana mengkonstruk pengetahuan baru. Strategi Problem solving-Conflict map membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir dalam memecahkan masalah dan menganalisis perubahan konseptual. Penggunaan Conflict map membawa perubahan konseptual karena membantu siswa dalam konsistensi pemahaman antara kerangka konseptual yang telah dimiliki dengan informasi baru yang didapatkan untuk mencari konsepsi ilmiah yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemecahan masalah dan menganalisis perubahan konseptual siswa pada konsep Dinamika partikel. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan embedded experimental design dan dilakukan pada kelas X MIA F SMAN 1 Probolinggo tahun ajaran 2014/2015. Instrumen yang digunakan dalam penelitian meliputi instrumen perlakuan berupa RPP dan LKS serta instrumen pengukuran meliputi tes pemecahan masalah, pedoman wawancara, dan lembar angket persepsi siswa pada pembelajaran. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan uji Paired sampled t test. Data kualitatif disajikan secara deskriptif terhadap respon jawaban siswa pada tes pemecahan masalah dan hasil Conflict map siswa. Wawancara dan angket dilakukan untuk mengevaluasi pembelajaran dan mengidentifikasi perubahan konseptual yang dialami siswa. Hasil penelitian menunjukkan : 1) Terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan Problem solving-Conflict map. Rata-rata sekor pemecahan masalah berubah dari 46,25 menjadi 72; 2) Terdapat peningkatan level kemampuan pemecahan siswa setelah pembelajaran berlangsung yang dianalisis dengan taksonomi SOLO (Structured of Learning Outcomes). Siswa mengalami peningkatan dari level unistruktural menjadi level multistrutural dan relasional; 3) Terdapat perubahan konseptual siswa, dari pemahaman pada konsep yang salah menjadi konsep ilmiah yang benar dalam konsep Dinamika partikel setelah pembelajaran dengan Problem Solving-Conflict map.

Pengaruh lama sintering terhadap pembentukan fase 2223, parameter kisi, kualitas kristal dan suhu kritis pada superkonduktor BSCCO-2223 / oleh Farida Amini

 

Pengaruh model pembelajaran Teams Assisted Individualization (TAI) terhadap kemampuan berpikir analitis pada mata pelajaran geografi SMAN 7 Malang / Romauli BR Sitinjak

 

ABSTRAK Sitinjak, Romauli. 2016. Pengaruh Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) terhadap Kemampuan Berpikir Analitis pada Mata Pelajaran Geografi SMAN 7 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Hadi Soekamto, S.H, M.Pd, M.Si. (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si Kata Kunci: Team Assisted Individualization, Kemampuan Berpikir Analitis Model pembelajaran Team Assisted Individualization adalah pembelajaran kooperatif yang memadukan dengan pengajaran tutor sebaya untuk dapat melatih keterampilan sosial dalam kelompok dan melatih kemampuan berpikir analitis peserta didik. Model pembelajaran TAI memiliki berbagai kelebihan dan sintaknya mampu melatih kemampuan berpikir analitis peserta didik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Team Assisted Individualization terhadap kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas XI SMAN 7 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experimental) dengan desain pretest posttest group design. Subjek dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelas yaitu XI IIS 2 sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran Team Assisted Individualization dan XI IIS 1 sebagai kelas kontrol yang diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dengan soal uraian. Analisis data menggunakan uji-t dengan SPSS 16.0 for Windows. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Dari hasil uji-t terhadap kemampuan berpikir analitis peserta didik didapatkan bahwa nilai probabilitas adalah 0,000. Dari hasil tersebut nilai probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima atau diinterpretasi bahwa terdapat pengaruh kemampuan berpikir analitis peserta didik kelas XI yang mengikuti model pembelajaran Team Assisted Individualization. Model pembelajaran Team Assisted Individualization memiliki kelebihan yang mampu melatih kemampuan berpikir analitis. Oleh karena itu, disarankan untuk digunakan dalam melatih kemampuan berpikir analitis peserta didik khususnya pada kompetensi dasar yang menuntut kemampuan berpikir analitis sehingga menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Ragam dan pola penyelesaian konflik mahasiswa kos putri di sekitar kampus Universitas Negeri Malang (UM) / Ami Kusnawartiningsih

 

Mahasiswa adalah sebuah komunitas yang dicirikan oleh pemilikan intelektual tinggi, dinamis, idealis, dan kaya kreativitas. Mahasiswa suatu perguruan tinggi biasanya tinggal di sekitar kampus. Mereka tinggal dengan cara kos atau kontrak. Tinggal di kos-kosan bukanlah tanpa masalah, bahkan disitulah awal munculnya berbagai konflik yang dialami mahasiswa. Berkaitan dengan itulah dilakukan penelitian tentang ragam konflik yang dialami mahasiswa dan pola penyelesaiannya dengan tujuan untuk mengetahui: (1) ragam konflik, (2) penyebab timbulnya konflik, (3) pola penyelesaian konflik, (4) kendala-kendala yang dihadapi dalam penyelesaian konflik yang terjadi pada mahasiswa kos (kos-kosan putri) di sekitar kampus Universitas Negeri Malang (UM). Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan jenis penelitian adalah studi kasus. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara, pengamatan dan dokumentasi serta kuesioner untuk mendukung hasil wawancara dan observasi. Sedangkan analisis data menggunakan model interaktif, yaitu melalui reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, pengumpulan data dilakukan secara teliti dan cermat, triangulasi, perpanjangan kehadiran dan pembahasan sejawat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) ragam konflik yang dihadapi mahasiswa kos putri di sekitar kampus Universitas Negeri Malang adalah konflik pertengkaran, konflik perkelahian, konflik pencurian; (2) penyebab timbulnya konflik tersebut adalah perbedaan kebutuhan, nilai, dan tujuan, langkanya sumber daya, persaingan; (3) pola penyelesaian konflik tersebut adalah menarik diri (withdrawing), memaksa (forcing), melunak (smoothing), kompromi (compromising), dan konfrontasi (confronting); dan (4) kendala dalam penyelesaian konflik tersebut adalah kurangnya kesadaran, gengsi, tidak adanya saling pengertian. Berdasarkan temuan penelitian tersebut disarankan: (1) anak kos perlu bersosialisasi dengan sesama penghuni kos, pemilik kos, dan lingkungan sekitar, (2) kontrol terhadap anak kos perlu dilakukan dengan tegas, (3) perlu diadakan seminar atau lokakarya tentang manajemen konflik kos-kosan, (4) diadakan pendataan terhadap mahasiswa yang tinggal di kos, (5) penelitian ini perlu dikembangkan ke sasaran yang lebih luas.

Studi tentang kebutuhan pelatihan bagi guru Pendidikan Jasmani SMP Negeri se- Kecamatan Sukun dalam upaya melaksanakan kurikulum 2004 / oleh Fitri Kusuma Wardhani

 

Analisis Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) pada proses pengolahan makanan (studi kasus di My baby Rental Catering Malang) / Rizki Alfi Nugrahani

 

ABSTRAK Nugrahani, Rizki Alfi. 2017. Analisis Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) pada Proses Pengolahan Makanan (Studi Kasus di My Baby Rental Catering Malang). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Rina Rifqie Mariana, M.P, (II) Dra. Wiwik Wahyuni, M.Pd. Kata Kunci: CPMB, My Baby Rental Catering Malang Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan cara produksi makanan yang baik (CPMB) pada pengolahan makanan bayi di My Baby Rental Catering Malang meliputi (1) pemilihan bahan; (2) penyimpanan bahan makanan (3) proses pengolahan makanan; (4) pengangkutan makanan. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah tenaga pengolah makanan dan bagian purchasing di My Baby Rental Catering Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah pemilihan bahan di My Baby Rental Catering Malang meliputi cara pemilihan bahan segar, cara pemilihan makanan olahan pabrik, dan tidak menggunakan bahan tambahan pangan (BTP) sesuai dengan Pedoman CPMB Permenkes RI Nomor 1096 Tahun 2011. Penyimpanan bahan makanan belum dilengkapi dengan tanda first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) serta belum memperhatikan suhu penyimpanan bahan makanan. Pengolahan makanan di My Baby Rental Catering Malang yaitu pengolahan bubur halus, nasi tim, dan sayur, teknik pengolahan yang digunakan merebus dan mengetim, belum menggunakan resep standar, masih menggunakan garam dan gula dalam pengolahan makanan bayi usia 6-12 bulan, pengolah makanan tidak menggunakan sarung tangan, celemek, penutup kepala saat mengolah makanan. Pengangkutan makanan di My Baby Rental Catering Malang menggunakan sepeda motor dan belum menggunakan box khusus untuk pengangkutan makanan. Kegiatan sebelum pengangkutan makanan adalah pengemasan makanan. Pengemasan di My Baby Rental Catering Malang menggunakan 3 jenis kemasan, semua bahan kemasan yang digunakan belum food grade, pengemasan makanan belum disertai dengan label makanan yang memuat keterangan produk yang dijual oleh My Baby Rental Catering Malang.

Kajian nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam serat Wedhatama dan sumbangannya bagi landasan budaya bimbingan dan konseling / oleh Soetarno

 

Zona sebaran populasi kumbang kubah (Curinus coeruleus) pada tanaman teh (Camellia sinensis L.O.K.) di area kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang / Anggeria Oktavisa Denta

 

Kata Kunci : Zona Migrasi, Kumbang Kubah, Tanaman Teh Pengendalian hama terpadu merupakan salah satu cara pengendalian hama tanpa merusak lingkungan. Salah satu pengendalian hama terpadu adalah pengendalian yang bersifat alami dengan membiarkan musuh-musuh alami (predator) agar tetap hidup. Kepik atau kumbang kubah (Curinus coeruleus) adalah serangga yang terkenal sebagai pemangsa (predator) serangga hama Empoasca sp dan sangat menguntungkan. Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui perbedaan jumlah anggota populasi kumbang kubah (Curinus coeruleus )dan faktor abiotik yang berpengaruh terhadap jumlah anggota populsi kumbang kubah antar klon TRI 2024, TRI 2025, dan Asamicca, 2) Untuk mengetahui perbedaan jumlah anggota populasi kumbang kubah (Curinus coeruleus) dan faktor abiotik yang berpengaruh terhadap jumlah anggota populsi kumbang kubah antar zona A, zona B, dan zona C, 3) Untuk mengetahui perbedaan jumlah anggota populasi kumbang kubah (Curinus coeruleus) dan faktor abiotik yang berpengaruh terhadap jumlah anggota populsi kumbang kubah antar waktu pagi, siang, dan sore pada tanaman teh (Camellia sinensis L.O.K) di area Kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Tempat penelitian dilakukan di Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang dan Ruang Ekologi Universitas Negeri Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua kumbang kubah yang terdapat pada klon TRI 2024, TRI 2025, dan Asamicca pada Kebun Teh Wonosari Singosari Kabupaten malang, dan sampel pada penelitian ini adalah kumbang kubah yang teramati pada titik pencuplikan tegakan teh pada klon TRI 2024, TRI 2025, dan Asamicca. Pengambilan data dilakukan pada 8 titik yang telah dijadikan sampel dan data diambil pada waktu pagi(06.00 – 08.00), siang(11.00 – 13.00) dan sore (15.00 – 17.00). Pengamatan jumlah kumbang kubah dilakukan di 3 zona, yaitu zona A, zona B, dan zona C. Faktor-faktor abiotik yang diukur meliputi kecepatan angin, suhu, kelembapan udara, dan intensitas cahaya.Untuk mengetahui anggota populasi kumbang kubah pada tiap zona, waktu dan klon dianalisis secara diskriptif dengan menggunakan diagram batang. Untuk mengetahui hubungan lingkungan dan populasi kumbang kubah dianalisis dengan regresi stepwise backward Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1). Terdapat perbedaan jumlah anggota populasi kumbang kubah antar zona A, zona B, dan zona C. Jumlah anggota populasi terbesarnya ditemukan pada zona C klon TRI 2024 dengan nilai jumlah anggota populasi sebesar 11. Ada pengaruh faktor lingkungan terhadap jumlah anggota populasi kumbang kubah. Untuk zona A faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah kelembapan udara, zona B faktor yang paling ii berpengaruh adalah kelembapan udara, dan zona C faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah suhu. 2). Terdapat perbedaan jumlah anggota populasi kumbang kubah antar klon TRI 2024, TRI 2025, dan Asamicca. Jumlah anggota populasi kumbang terbesar ditemukana pada TRI 2024, dengan nilai jumlah anggota populasi sebesar 31. Sedangkan untuk jumlah anggota populasi kumbang kubah terkecil ditemukan pada klon Asamicca dengan nilai jumlah anggota populasi sebesar 16. Untuk klon TRI 2024 faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah intensitas cahaya. Klon TRI 2025 faktor yang berpengaruh adalah suhu. Klon TRI Asamicca faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah intensitas cahaya. 3). Terdapat perbedaan jumlah anggota populasi kumbang kubah antar waktu pagi, siang, dan sore hari. Jumlah anggota populasi terbesarnya ditemukan pada waktu siang hari klon TRI 2024 dengan nilai jumlah anggota populasi sebesar 19. Pada waktu pagi hari faktor lingkungan yang berpengaruh adalah intensitas cahaya. Pada siang hari faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah kecepatan angin. Pada waktu sore hari faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah intensitas cahaya.

Sintesis linalil asetat dari linalool dan anhidrida asetat melalui reaksi esterifikasi / Falasifah Firdaus

 

Kata kunci: Sintesis, Linalil Asetat, Esterifikasi, Linalool, Anhidrida Asetat Ester dapat disintesis melalui reaksi esterifikasi alkohol dengan suatu asam karboksilat atau turunannya seperti anhidrida asam atau halida asam. Pengembangan konsep ester dilakukan dengan modifikasi pereaksi yang melibatkan alkohol dengan rantai alkil panjang dan asam karboksilat atau turunannya dengan rantai alkil pendek, yang sebelumnya diketahui konsep ester dengan melibatkan alkohol dengan rantai alkil pendek dan asam karboksilat atau turunannya dengan rantai alkil panjang. Keberhasilan sintesis ester berbasis alkohol rantai alkil panjang dan asam karboksilat atau turunannya dengan rantai alkil pendek, yakni neril asetat dari nerol dengan anhidrida asetat oleh Rofidah (2008) mendorong untuk dilakukan penelitian tentang sintesis ester berbasis modifikasi pereaksi yang lain, yakni linalil asetat dari linalool dengan anhidrida asetat yang diharapkan dapat menambah keanekaragaman senyawa organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sintesis senyawa ester berbasis alkohol rantai panjang dan asam karboksilat rantai pendek untuk memperoleh senyawa yang selama ini belum banyak dieksplorasi baik melalui isolasi maupun sintesis. Penelitian ini merupakan penelitian survei laboratoris yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu: (1) sintesis linalil asetat dari linalool dan anhidrida asetat melalui reaksi esterifikasi, (2) karakterisasi sifat fisik senyawa hasil sintesis meliputi: uji organoleptik (warna, wujud, dan bau), berat jenis, indeks bias, titik didih, dan uji kelarutan, (3) dan identifikasi senyawa hasil sintesis dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa linalil asetat dapat disintesis dari linalool dan anhidrida asetat dengan katalis asam klorida pekat dengan kondisi reaksi pada tekanan kamar dan suhu 50 oC dan diperlakukan selama 1 jam. Setelah diperlakukan selama 1 jam, dilakukan ekstraksi dengan air untuk memisahkan hasil samping (asam asetat) dan kelebihan pereaksi (anhidrida asetat) dari esternya (linalil asetat). Sisa air dari proses ekstraksi dikeringkan dengan magnesium sulfat anhidrat. Pengontrolan jalannya reaksi dan identifikasi awal dilakukan dengan KLT dengan eluen kloroform. Selanjutnya dilakukan karakterisasi sifat fisik dan identifikasi dengan GC-MS. Senyawa hasil sintesis yang diperoleh memiliki rendemen sebesar 12,156% dan kemurnian sebesar 49,45%, berwujud cairan berwarna kuning muda jernih, berbau harum, mempunyai indeks bias 1,487 pada suhu 20 oC, berat jenis 0, 672 g/mL, titik didih 146 °C-148 °C pada 735 mmHg, larut dalam etanol, kloroform dan n-heksana, tetapi tidak larut dalam air.

Proses belajar operasi bilangan pecahan pada penerapan model siklus belajar (Learning Cycle) siswa kelas VII-B SMPN 9 Mojokerto / Adhisti Feri Anggraeny

 

ABSTRAK Anggraeny, A.F. (2009). Proses Belajar Operasi Bilangan Pecahan pada Penerapan Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Siswa Kelas VII-B SMPN 9 Mojokerto. Skripsi, Jurusan Matematika, Program Studi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ety Tejo D.C., M.Pd, (II) Dra. Tri Hapsari Utami, M.Pd. Kata kunci : model siklus belajar, proses belajar Pembelajaran dengan model siklus belajar adalah pembelajaran yang berlandaskan pada paham konstruktivisme yang berpusat pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses belajar operasi bilangan pecahan dengan menerapkan model siklus belajar pada siswa kelas VII-B SMPN 9 Mojokerto. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Adapun tahap-tahap penelitian ini meliputi: tahap pra penelitian dan tahap penelitian. Pada tahap pelaksanaan penelitian terdiri dari pelaksanaan penelitian penjumlahan dan pembagian bilangan pecahan. Pokok bahasan yang dipilih dalam penelitian ini adalah operasi bilangan pecahan yang difokuskan pada sub pok bahasan penjumlahan dan pembagian pada bilangan pecahan. Masing-masing sub pokok bahasan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan selama 2 jam pelajaran x @ 40 menit. Penerapan model siklus belajar pada penelitian ini yaitu siswa dibagi menjadi 10 kelompok dan tiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar, tiap kelompok diberi LKS pada sub pokok bahasan penjumlahan dan pembagian bilangan pecahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses belajar operasi bilangan pecahan dengan menerapkan tahapan-tahapan siklus belajar (learning cycle) adalah: (1) tahap pendahuluan: siswa memahami pengetahuan prasyarat, (2) tahap eksplorasi; siswa menunjukkan kedua pecahan, siswa menyamakan penyebut dengan mengubah salah satu pecahan menjadi bentuk lain, siswa melakukan operasi penjumlahan atau pembagian bilangan pecahan, siswa menuliskan langkah-langkah yang diambil, siswa menemukan kesimpulan dari hasil diskusi kelompok, (3) tahap eksplanasi; siswa menjelaskan hasil diskusi kelompok dan konsep yang digunakan, dan membuat kesimpulan tentang penjumlahan dan pembagian bilangan pecahan dari hasil kegiatan yang sudah dilakukan dengan bimbingan guru, (4) tahap elaborasi; siswa menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru berkaitan dengan pemahaman konsep tentang operasi penjumlahan dan pembagian bilangan pecahan dan menerapkan konsep baru dalam situasi baru, dan (5) tahap evaluasi; siswa mengevaluasi pemahaman konsep.

Pembelajaran tutorial luas daerah bangun geometri dengan komputer / oleh Soebari

 

Pengembangan media trainer kit mobile robot Quadcopter pada mata kuliah robotika Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Robi Andria

 

ABSTRAK Andria, Robi. 2015. Pengembangan Media Trainer Kit Mobile Robot Quadcopter pada Mata Kuliah Robotika Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UM. Skripsi, S1 Pendidikan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suwasono, M.T., (II) Dr. Eng. Siti Sendari, S.T., M.T. Kata Kunci: pengembangan, trainer, mobile robot, quadcopter, robotika Media pembelajaran mata kuliah yang bersifat praktikum berupa trainer kit mobile robot quadcopter merupakan salah satu potensi yang dapat digunakan mahasiswa dalam mengenal perkembangan teknologi robot penjelajah udara . Kendala yang dihadapi pada proses pembelajaran Robotika adalah belum tersedianya media trainer robot penjelajah udara atau UAV. Tujuan pengembangan ini, yaitu 1) merencanakan, membuat, serta menguji kelayakan media Trainer Kit Mobile Robot Quadcopter; 2) merencanakan, membuat, serta menguji kelayakan buku manual sebagai petunjuk penggunaan trainer; 3) merencanakan, membuat, serta menguji kelayakan modul praktikum sebagai bahan ajar pembelajaran. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah model ADDIE. Media pembelajaran yang dihasilkan berupa media trainer kit mobile robot quadcopter, buku manual sebagai petunjuk penggunaan trainer, dan modul praktikum sebagai bahan ajar kegiatan pembelajaran. Produk trainer kit quadcopter mempunyai 6 Degree OF Freedom (DOF) yang meliputi, tiga gerak translasi dan tiga gerak rotasi dengan kendali radio remote control transmitter. Quadcopter juga dapat terbang dengan tiga mode, yaitu stabilizier, GPS lock, dan RTL/RTH. Produk buku manual berisi spesifikasi trainer, K3, dan prosedur langkah percobaan. Produk Modul praktikum berisi spesifikasi trainer, deskripsi judul, prasyarat, petunjuk penggunaan modul, tujuan pembelajaran, K3, silabus perkuliahan; dan peta kedudukan modul. Uji coba ditujukan kepada ahli media, ahli materi, serta mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Elektro dan D3 Teknik Elektronika Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang yang sudah menempuh mata kuliah Robotika. Uji coba dilaksanakan untuk mengetahui tingkat kelayakan dari media trainer yang telah dikembangkan. Hasil uji coba dari ahli materi mendapatkan persentase 93%, uji coba ahli media mendapatkan persentase 92%, sedangkan uji coba pemakaian mendapatkan persentase sebesar 88,86%. Berdasarkan hasil uji coba, produk pengembangan berupa trainer kit mobile robot quadcopter, buku manual, dan modul praktikum dikategorikan sangat layak untuk diimplementasikan sebagai media pembelajaran praktikum pada mata kuliah Robotika Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang.

Pengembangan aplikasi pemilihan program studi untuk siswa SMA menggunakan model Analytical Hierarchy Process (AHP) / Rizky Basatha

 

Basatha, Rizky. 2015. Pengembangan Aplikasi Pemilihan Program Studi Untuk Siswa SMA Menggunakan Model Analytical Hierarchy Process (AHP). Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Teknik Informatika. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muladi, S.T., M.T. (2) Triyana Widyaningtyas, S.T., M.T. Kata Kunci: aplikasi, SMA, program studi, AHP. Pemilihan program studi merupakan kegiatan yang penting dilakukan oleh para siswa-siswi SMA untuk menentukan ilmu yang akan didalami. Namun pemilihan program studi masih menjadi kesulitan bagi siswa SMA Laboratorium UM. Hal ini disebabkan oleh siswa SMA yang memiliki minat yang sangat tinggi terhadap program studi idaman mereka. Tetapi mereka kurang mengerti karakteristik dan kebutuhan program studi yang akan didalami. Dan kebanyakan dari mereka kurang kesiapan dalam hal materi dan mental untuk menjalani program studi yang dipilih. Dengan begitu maka dikembangkanlah Aplikasi Pemilihan Program Studi Untuk Siswa SMA Menggunakan Model AHP (Analytical Hierarchy Process). Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Menghasilkan rancangan dan palikasi Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Program Studi berbasis web sebagai aplikasi untuk membantu siswa SMA dalam menentukan program studi yang akan dipilih, dan (2) mengukur tingkat keberhasilan produk sistem pendukung keputusan yang dikembangkan.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Model pengembangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan waterfall, yang memiliki tahap-tahap sebagai berikut: (1) analisa kebutuhan, (2) desain sistem, (3) implementasi dan uji coba, (4) integrasi dan tes sistem, (5) operasi dan pemeliharaan. Hasil pengujian kepada user dibagi dalam 3 kategori yaitu: 1) pengujian ahli media, 2) pengujian user guru, dan 3) pengujian user siswa. Dari pengolahan data keseluruhan diperoleh persentase tingkat kesesuaian output dan efisiensi sistem pendukung keputusan sebesar 89%% diterima yang berarti bahwa layanan sistem pendukung keputusan program studi berbasis web yang dikembangkan termasuk dalam kualifikasi valid. Secara fungsional, sistem sudah dapat menghasilkan output yang diharapkan.

Proses pengambilan keputusan oleh kepala sekolah dengan kerja sama guru di sekolah dasar negeri Kotamadya Kediri / oleh Nurul Ulfatin

 

Pengaruh perubahan kelembaban jangka panjang akibat air laut terhadap kekuatan campuran mortar 1PC : 3pasir yang dibuat di lapangan menggunakan semen tipe PCC / Iftakhul Qudsiyah

 

ABSTRAK Qudsiyah, Iftakhul. 2016. Pengaruh Perubahan Kelembaban Jangka Panjang Akibat Air Laut Terhadap Kekuatan Campuran Mortar 1PC : 3Pasir yang Dibuat Di Lapangan Menggunakan Semen Tipe PCC. Skripsi, Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sonny Wedhanto, M.T, M.T, (II) Drs. Wahyo Hendarto Yoh, M.T. Kata Kunci: Mortar, Kelembaban, Semen PCC, Kuat Tekan Bangunan yang mengandung sulfat dan air laut umumnya menggunakan semen portland tipe V, namun semen tersebut susah di jumpai di pasaran, sehingga digunakan semen yang tersedia yaitu tipe PCC atau PPC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan kelembaban (rendam angkat air laut) jangka panjang terhadap kuat tekan mortar campuran 1PC : 3Pasir yang dibuat di lapangan. Semen menggunakan tipe PCC merek Tiga Roda dan agregat halus yang digunakan adalah pasir lumajang, semua bahan tersebut di beli di toko bangunan yang ada di kota Malang. Sampel berupa kubus mortar ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm sebanyak 20 benda uji untuk setiap umur pengujian. Perlakuan benda uji dengan rendam angkat pada air laut dan air tawar selama 21, 28, 60, dan 90 hari. Pengujian tekan dilakukan pada umur perlakuan. Analisis data menggunakan Analysis of Variances (ANOVA) dengan taraf signifikasi α sebesar 0,05. Hasil penelitian : (1) pada usia 28 hari mortar campuran 1PC : 3Pasir yang dibuat di lapangan kekuatannya sebesar 80,67 kg/cm², standar deviasi (SD) 1,72 gr/cm3, dan koefisien variansi (CV) sebesar 2,13%; (2) komposisi rancangan campuran mortar menggunakan metode Dreux Corrise dengan data nilai kuat tekan mortar campuran 1PC : 3Pasir yang dibuat di lapangan setara campuran 1PC : 4,37Pasir menurut perbandingan berat; (3) terdapat pengaruh perubahan kelembaban jangka panjang akibat air laut terhadap kekuatan tekan mortar, nilai kuat tekan mortar rendam angkat menggunakan air laut pada usia 21 hari sebesar 66,12 kg/cm² dan pada usia 90 hari menurun 20,26 % menjadi 35,47 kg/cm².

Pengaruh infus daun lampes (Ocimum sanctum L.) terhadap perkembangan kelenjar mammae mencit (Mus musculus) Galur Balb C. pada masa kebuntingan / oleh Beti Anggrani

 

Pengaruh ekstrak hipofisis sapi terhadap spermatogenesis mencit (Mus musculus) galur Balb C / oleh Rini Yulis Fitriyana

 

Analisa perencanaan campuran aspal beton menggunakan gradasi agregat No. 4 SNI No: 1737-1989-F untuk lalu lintas berat / oleh Yuli Kurniawati

 

Pengaruh kinerja keuangan perusahaan dan tingkat suku bunga terhadap saham perusahaan semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2015 / Dieska Melati Shinta Ayu

 

ABSTRAK Ayu, Dieska Melati Shinta. 2016. Pengaruh Kinerja Keuangan Perusahaan dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Harga Saham Perusahaan Semen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2015. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Imam Mukhlis, S.E., M.Si., (II) Dr. Grisvia Agustin, S.E., M.Sc. Kata Kunci: Rasio Keuangan Perusahaan, BI Rate, Harga Saham, Perusahaan Semen Realisasi pembangunan infrastruktur berupa sarana dan prasarana masyarakat dilakukan dengan segera guna memperlancar mobilitas rakyat Indonesia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, proses pembangunan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kemudahan akses keuangan bagi masyarakat menjadi salah satu kunci pemenuhan kebutuhan dana pembangunan infrastruktur di Indonesia karena dana simpanan masyarakat dapat menjadi sumber investasi untuk menunjang pembangunan. Dana dari investor juga diperlukan untuk menunjang kelangsungan perusahaan penyedia bahan baku konstruksi sehingga kebutuhan dapat terpenuhi dengan adanya dana yang mencukupi, yakni dengan menanamkan dana mereka pada instrumen saham. Sebagai acuan pengambilan keputusan berinvestasi pada saham, terdapat dua analisis tradisional yang digunakan yakni analisis fundamental dan teknikal. Analisis fundamental dilakukan dengan menganalisis rasio keuangan perusahaan sedangkan analisis teknikal dengan mengamati pergerakan grafik harga saham. Informasi keuangan perusahaan menjadi dasar informasi penting bagi pengguna informasi yang menunjukkan performa perusahaan selama periode tertentu, sehingga dapat dijadikan acuan tentang aman atau tidaknya berinvestasi pada saham perusahaan tertentu. Informasi semakin mudah dibaca dengan menganalisis melalui rasio keuangan yang setiap rasionya memiliki toleransi angka yang berbeda-beda untuk menunjukkan angka kelayakan. Grafik pergerakan saham dapat melihat pada indeks harga saham sebagai informasi historis keadaan perekonomian suatu negara Melalui informasi historis ini investor dapat memprediksi keamanan berinvestasi untuk waktu ke depannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan perusahaan melalui tiga rasio keuangan yaitu quick ratio, return on equity (ROE), dan total assets turnover (TAT) serta tingkat suku bunga dengan menggunakan suku bunga Bank Indonesia terhadap harga saham perusahaan semen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Data per kuartal selama periode 2008-2015 diperoleh dari BEI dan situs Bank Indonesia. Melalui analisis regresi data panel, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan, baik secara parsial dan simultan, antara quick ratio, ROE, TAT, terhadap harga saham, ROE terhadap harga saham, TAT terhadap harga saham, dan suku bunga terhadap harga saham.  

Dampak keberadaan Pasar Agrobisnis Semando terhadap kesejahteraan masyarakat di Desa Moropelang Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan / Annas Thohir

 

ABSTRAK Thohir, Annas. 2016. DampakKeberadaanPasarAgrobisnisSemandoTerhadapKesejahteraanMasyarakat di DesaMoropelangKecamatanBabatKabupatenLamongan.Skripsi, Program StudiPendidikanPancasiladanKewarganegaraan, JurusanHukumdanKewarganegaraan, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. NurWahyuRochmadi, M.Pd.,M.Si, (II) Yuniastuti, S.H, M.Pd. Kata Kunci:DampakKeberadaanPasarAgrobisnisSemandoTerhadapKesejahteraanMasyarakat di DesaMoropelang. KeberadaanpasaragrobisnisSemandoinimengakibatkanpasartradisonal yang berada di DesaMoropelangberangsurmengalamipenurunansecaraaktifitasdanpenurunanpendapatan yang diterimaolehparapedagang,tukangbecakdankulipanggul. Hal inijugaberdampakpadaperubahansosiologisterhadapmasyarakatDesaMoropelang yang mulaimajudansedikit demi sedikitmeninggalkanpolabudayatradisonal yang adapadapasartradisonaltersebut. Sehinggamembuatparapedagang yang ada di pasartradisonalMoropelangharusmencariupayaapasaja yang akandilakukansehinggamampumembuatmerekamasihtetapeksisdanbisabersaingdenganpasaragrobisnisSemando. Tujuandaripenelitianiniadalah: (1)menjelaskandampakapasaja yang ditimbulkandarikeberadaanpasaragrobisnisSemandoterhadapkesejahteraanmasyarakat di DesaMoropelang, (2) menjelaskandampaksecarasosiologis yang ditimbulkandaripasaragrobisnisSemandoterhadapmasyarakat di DesaMoropelang, (3) menjelaskanupayaapasaja yang dilakukanpedagang yang ada di pasartradisonalMoropelangterkaitkeberadaanpasaragrobisnisSemando. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatifdeskriptif yang berdasarkanpadasituasitempatberlangsungnyapenelitian. Proses analisis data dilakukansecaraterusmenerus(cyclical)sejakpenelitimemasukilapangansampaikegiatanpenelitianiniberakhir. Kegiatanpenelitianinitidakterlepasdariempatkegiatanberikut: (1) pengumpulan data; (2) reduksi data; (3) penyajian data; (4) penyimpulan/verifikasi. Hasilpenelitianyaitu: (1) keberadaanpasaragrobisnisSemando yang ada di KecamatanBabatinimempengaruhikesejahteraanmasyarakat yang ada di DesaMoropelang yang ditandaidenganmenurunnyapendapatan yang diterima. (2) keberadaanpasaragrobisnisSemandoinijugaberdampakpadaperubahansosiologismasyarakat yang ada di DesaMoropelangKecamatanBabat. (3) keberadaanpasaragrobisnisSemandoinimembuatpedagang di pasartradisonalMoropelangmelakukanupayasepertimerantau, menjadipetaniataumasihtetapinginberjualan di pasartradisonalMoropelang. Berdasarkantemuanpenelitianditemukantiga saran terhadapdampakkeberadaanpasaragrobisnisSemandoterhadapkesejahteraanmasyarakat di DesaMoropelangyaitu; (1) pedagangyang berada di pasartradisonalMoropelangdi tuntutuntuklebihmeningkatkankualitasbarangdanpelayanan agar pembelitidakberalihkepasaragrobisnisSemando. (2) pedagangyang berada di pasartradisonalMoropelangharussiapsecarasosiologisdengansegalaresikodariperubahanpolahidupmasyarakat. (3) pedagangyang berada di pasartradisonalMoropelangjugaharusmencariupaya agar tetapmampueksisberdagang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderuangan penduduk pedesaan memilih pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan bagi anak-anaknya di Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso / oleh Diah Suci Wahyuni

 

Hubungan antara motivasi, faktor penunjang dan bentuk-bentuk kerjasama sekolah dengan orang tua siswa dengan prestasi belajar siswa STM Negeri Malang / oleh Suwarno

 

Hubungan antara tingkat variasi penggunaan metode mengajar PMP dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri se Kodya Malang tahun ajaran 1992/1993 / oleh Abdul Khamid

 

Zona sebaran populasi laba-laba bermata hitam Oxyopes sp. (araneae: Oxypidae) pada tanaman teh (Camellia sinensis L.O.K.) di kebun teh afdeling Wonosari Singosari Kabupaten Malang / Endah Susilowati

 

Kata kunci: zona sebaran, Oxyopes sp., faktor abiotik. Zona sebaran adalah daerah dimana tersebarnya pengendali hayati yang memiliki jarak dan melibatkan banyak individu. Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) melakukan migrasi baik secara horizontal ataupun vertikal disaat mencari makanan. Pengendalian hama terpadu merupakan salah satu cara pengendalian hama yang ramah lingkungan. Pengendalian hama terpadu atau pengendalian alamiah merupakan pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (predator). Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) adalah serangga yang terkenal sebagai pemangsa (predator) serangga hama Empoasca sp. pada tanaman teh. Laba-laba bermata tajam tergolong Laba-laba pemburu dan makanan utamanya adalah serangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah anggota populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) pada tanaman teh (Camellia sinensis L.O.K) di zona A, B, dan C antara klon TRI 2024, TRI 2025, dan Assamicca pada waktu pagi, siang dan sore hari dan faktor lingkungan yang mempengaruhi populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) pada tanaman teh (Camellia sinensis L.O.K) di area Kebun Teh Afdeling Wonosari Singosari Kabupaten Malang. Faktor-faktor abiotik yang diukur meliputi kecepatan angin, suhu, kelembapan udara, dan intensitas cahaya. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil pengamatan dan penghitungan maka dideskripsikan tentang jumlah anggota populasi pada klon teh TRI 2024, TRI 2025, dan Assamica di zona (A, B, dan C) pada waktu pagi, siang dan sore hari kemudian diperjelas dengan diagram batang. Untuk mengetahui faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap jumlah anggota populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) dianalisis dengan regresi ganda bertahap (stepwise-multivariate) dengan menggunakan progam SPSS. Sedangkan untuk mengetahui pola sumbangan terbesar dianalisis statistik dengan r2 parsial. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa perbedaan jumlah anggota populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) antara klon TRI 2024, TRI 2025 dan Assamica paling banyak ditemukan pada klon teh TRI 2025. Perbedaan jumlah anggota populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) pada tanaman Teh (Camellia Sinensis L.O.K) antara Zona A, B dan C paling banyak ditemukan pada zona C. Dari perbedaan jumlah anggota populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) antara Zona A, Zona B dan Zona C diungkap bahwa zona sebaran populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) di Kebun Teh Wonosari, Singosari, Kabupaten Malang tidak teratur atau acak. ii Berdasarkan grafik zona sebaran Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) pada zona A, B dan C di klon teh TRI 2024, TRI 2025 dan Assamica dapat terlihat bahwa pada setiap klon teh yang diamati perpindahan serangga atau zona sebaran Laba-laba tidak teratur. Berdasarkan perhitungan regresi linier terlihat bahwa semua faktor lingkungan yang diukur selama penelitian mempengaruhi jumlah anggota populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp). Nilai semua faktor abiotik dengan analisis regresi ganda bertahap (stepwise-multivariate) yang mempengaruhi jumlah anggota populasi Laba-laba bermata tajam (Oxyopes sp.) dengan R2 ganda total di klon TRI 2024 sebesar 1,49 %, sedangkan pola sumbangan faktor abiotik terbesar untuk klon teh TRI 2024 berdasarkan nilai r2 adalah intensitas cahaya sebesar 10,093% (X1), kelembapan udara sebesar 2,436% (X2), suhu 1,894% (X3), dan kecepatan angin 0,477% (X4). Pada TRI 2025 R2 ganda total sebesar 1,75 %, pola sumbangan faktor abiotik berdasarkan nilai r2 adalah suhu sebesar 9,715% (X1), kelembapan udara sebesar 5,907% (X2), intensitas cahaya 1,295% (X3), dan kecepatan angin 0,582% (X4). Nilai faktor abiotik R2 ganda total pada klon Assamica sebesar 0,81 %, sedangkan pola sumbangan faktor abiotik berdasarkan nilai r2 adalah intensitas cahaya sebesar 7,884% (X1), suhu sebesar 0,115% (X2), kecepatan angin 0,054% (X3), dan kelembapan udara 0,046% (X4). Zona A nilai R2 ganda total sebesar 1,38 %, pola sumbangan faktor abiotik berdasarkan nilai r2 adalah kelembapan udara sebesar 10,439% (X1), suhu sebesar 2,571% (X2), kecepatan angin 0,655% (X3), dan intensitas cahaya 0,134% (X4). Nilai semua faktor abiotik zona B dengan R2 ganda total sebesar 1,47 %, sedangkan pola sumbangan faktor abiotik berdasarkan nilai r2 adalah suhu sebesar 7,729% (X1), intensitas cahaya 3,515% (X2), kelembapan udara 0,134% (X3), dan kecepatan angin 0,733% (X4). Pada zona C nilai R2 ganda total sebesar 1,76%, pola sumbangan faktor abiotik berdasarkan nilai r2 adalah suhu sebesar 7,729% (X1), intensitas cahaya 3,515% (X2), kelembapan udara 0,134% (X3), dan kecepatan angin 0,733% (X4). Faktor abiotik pada pagi hari nilai R2 ganda total sebesar 2,6%, pola sumbangan faktor abiotik yang mempengaruhi berdasarkan nilai r2adalah intensitas cahaya sebesar 1,263% (X1), kecepatan angin sebesar 0,572% (X2), suhu 0,514% (X3), dan kelembapan udara 0,249% (X4). Faktor abiotik yang mempengaruhi jumlah anggota pada siang hari nilai R2 ganda total sebesar 0,54 %, pola sumbangan faktor abiotik berdasarkan nilai r2 adalah kecepatan angin sebesar 5,203% (X1), kelembapan udara sebesar 0,18% (X2), intensitas cahaya 0,009% (X3) dan suhu 0,007% (X4). Sore hari nilai R2 ganda total untuk pengaruh faktor abiotik sebesar 0,18 %, pola sumbangan faktor abiotik berdasarkan nilai r2 adalah intensitas cahaya sebesar 0,775% (X1), kecepatan angin sebesar 0,481% (X2), suhu 0,345% (X3) dan kelembapan udara 0,199% (X4).

Pengaruh lingkungan keluarga dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa SMA Negeri 2 Junrejo Batu / oleh Wiwik Kristianingsih

 

Proses enkulturasi pada anak pengrajin juningan di Desa Mojotrisno Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang serta muatan edukasinya / Septiyan

 

Septiyan. 2015. Proses Enkulturasi Pada Anak Pengrajin Kuningan Di Desa Mojotrisno Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang serta muatan edukasinya . Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. GM. Sukamto, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: enkulturasi, pengrajin kuningan, strategi adaptasi.      Kerajinan kuningan Desa Mojotrisno merupakan industri kecil yang sudah turun temurun sejak nenek moyang dan berkembang sampai sekarang. Di mana dulu para pengrajin hanya memproduksi barang-barang perabot rumah tangga. Kini produk dikembangkan sesuai dengan permintaan pasar lokal, nasional dan internasional.      Masalah pokok kajian ini: pertama, bagaimanakah startegi adaptasi yang di lakukan oleh para pengrajin kuningan di Desa Mojotrisno Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang? Kedua, bagaimanakah proses enkulturasi pada anak pengrajin kuningan di Desa Mojotrisno Kecamatan Mojoagung Kabupaten Jombang serta muatan edukasinya? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah: Observasi, Wawancara, Studi dokumentasi.      Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh: (1) Faktor pertama adalah melestarikan kebudayaan yang sudah turun temurun sejak nenek moyang dan berkembang sampai sekarang. Kedua latar belakang pendidikan pengrajin kuningan yang rendah membuat para pengrajin kuningan tidak memiliki banyak peluang terhadap lapangan pekerjaan yang lebih baik. Ketiga adalah larangan orang tua terhadap anaknya untuk tidak bekerja jauh dari rumah. Keempat membangun kepuasan pelanggan dengan cara mengutamakan kualitas barang produksi. Kelima mengatur manajemen usaha dengan cara mengurangi barang produksi disaat pembeli berkurang. Menggunakan sistem pemesanan barang dapat mengurangi kerugian produksi. Merubah cara pemasaran yang lebih modern, pemasaran dilakukan dengan menggunakan media internet dan ikut dalam pameran hasil usaha, merupakan strategi adaptasi yang di lakukan oleh para pengrajin kuningan Desa Mojotrisno. (2) Proses enkulturasi di mulai dari lingkungan keluarga, dengan cara belajar dan meniru cara pembuatan kerajinan kuningan. Selain melalui keluarga proses enkuturasi bisa terjadi melalui lingkungan masyarakat. Dengan adanya interaksi, sosialisasi, komunikasi antara orang tua dan anak dalam proses pembuatan kerajinan kuningan, maka terjadilah proses pembelajaran secara alamiah. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk meneliti sejarah perkembangan kerajinan kuningan di Desa Mojotrisno serta kondisi sosial ekonomi masyarakat pengrajin kuningan tersebut. Dikarenakan dalam penelitian ini hanya melakukan penelitian proses enkulturasinya.            

Studi tentang pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat(orang tua siswa) di SMP Negeri 4 Nganjuk Kabupaten Dati II Nganjuk / oleh Edy Widodo

 

Peranan prestasi belajar mahasiswa terhadap keaktifan berorganisasi dalam organisasi kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Handhini Sutharatri

 

Kata kunci: prestasi belajar mahasiswa, keaktifan berorganisasi, Fakultas Ekonomi. Dunia perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan yang mengedepankan kemandirian bagi individu yang terlibat di dalamnya, sehingga kebebasan dalam bidang akademik maupun non akademik sangat terasa bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan di bawahnya. Aspek kegiatan dalam dunia perkuliahan, yaitu kegiatan intrakurikuler (akademik) dan kegiatan ekstrakurikuler (keaktifan dalam berorganisasi) menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan seorang mahasiswa sebagai kunci awal untuk membuka kesuksesan. Seperti halnya motivasi berprestasi (achievement motivation) yang disampaikan oleh Mc Clelland. Dalam penelitian ini masalah yang akan dikaji adalah tentang 1) tingkat prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (nilai rata-rata untuk Matakuliah Keilmuan dan Ketrampilan/MKK Fakultas dengan sandi MFE sebanyak 9 matakuliah), 2) tingkat keaktifan berorganisasi mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (dalam penelitian ini, Organisasi Kemahasiswaan yang dimaksud adalah DMFE,BEMFE, HMJ EKP, HMJ AKT, HMJ MNJ, dan LSO LP3ME), dan 3) peranan prestasi belajar mahasiswa terhadap keaktifan berorganisasi dalam Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Populasi penelitiannya adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan tahun 2007 dan tahun 2008 dari semua Jurusan, baik itu Jurusan Ekonomi Pembangunan, Akuntansi, maupun Manajemen yang berpartisipasi dalam Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang periode tahun 2009 dan tahun 2010. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling kemudian dilanjutkan dengan teknik Proportional Random Sampling.Penentuan ukuran sampel dalam penelitian ini menggunakan cara yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael dengan tingkat kesalahan sebesar 5%, hingga ditemukan jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 55 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisis datanya menggunakan analisis statistik deskriptif dan Crosstab (tabel silang). Program komputer yang digunakan adalah SPSS 16.00 for windows. 4 Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis statistik deskriptif untuk hasil prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, baik angkatan tahun 2007 maupun tahun 2008 yang berpartisipasi dalam kehidupan berorganisasi dalam Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang frekuensi terbanyak termasuk dalam kategori sedang. Begitu pula untuk tingkat keaktifan berorganisasi mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, baik angkatan tahun 2007 dan tahun 2008 sama-sama berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil analisis Crosstab untuk peranan variabel X terhadap variabel Y adalah 1) untuk mahasiswa angkatan tahun 2007 diperoleh Chi-Square hitung > Chi-Square tabel (19,953 > 16,919) dan probabilitas < 0,05 (0,018 < 0,05), 2) untuk mahasiswa angkatan tahun 2008 diperoleh Chi-Square hitung > Chi-Square tabel (34,927 > 16,919) dan probabilitas < 0,05 (0,000 < 0,05). Dari hasil analisis tersebut ditarik kesimpulan bahwa Ho ditolak. Artinya ada hubungan antara prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (angkatan tahun 2007 dan tahun 2008) dengan keaktifan berorganisasi dalam Organisasi Kemahasiswaan. Sehubungan dengan hasil penelitian di atas, maka saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah kepada mahasiswa, yaitu hendaknya melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas; lebih melibatkan diri secara aktif dalam Organisasi Kemahasiswaan di lingkungan kampus, baik tingkat Universitas maupun tingkat Fakultas karena akan memperoleh pengalaman edukatif yang akan mempengaruhi sikap dan cara berpikirnya; serta senantiasa menyeimbangkan antara aktivitas akademik (perkuliahan) dan non akademik (kegiatan organisasi) agar dapat berjalan seimbang dan tidak saling merugikan.

Motivasi mahasiswa PTB FPTK IKIP MALANG angkatan 1988-1992 untuk menjadai guru di STM / oleh Agustin Anis Ainun

 

Pengaruh ekstrak daun kulit batang tanaman bungur (Lagerstroemia speciosa Pers.) pada beberapa konsentrasi terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae secara in vitro / Istikomah

 

Studi tentang layanan penempatan dan penyaluran siswa di SMA dan SMK Negeri dan swasta se Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek / oleh Abdur Rozaq Mikail

 

The effect of corrective feedback on grammatical accuracy the writing of EFL university students / Pariyanto

 

ABSTRAK Pariyanto. 2015. Pengaruh Umpan Balik Perbaikan Terhadap Keakuratan Gramatikal Dalam Tulisan Mahasiswa Pembelajar Bahasa Inggris. Disertasi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd, (II) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd., M.A., Ph.D., (III) Prof. Dr. Gunadi Harry Sulistyo, M.A. Kata Kunci: umpan balik perbaikan, tulisan, keakuratan gramatikal Umpan balik perbaikan sudah menjadi pembahasan yang luas bagi para peneliti pemerolehan bahasa kedua dan peneliti pengajaran bahasa kedua terkait apakah hal tersebut merupakan cara yang efektif dalam meningkatkan keakuratan bahasa pembelajar bahasa kedua atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pengaruh umpan balik perbaikan menyeluruh (CCF), umpan balik pilihan (SCF), dan umpan balik nongramatikal (NGF) terhadap keakuratan keseluruhan gramatikal tulisan, pengaruh CCF dan SCF terhadap keakuratan menggunakan fitur gramatikal tertentu (yaitu keakuratan menggunakan kata kerja), dan pengaruh CCF dan SCF terhadap perbaikan jangka panjang keakuratan tulisan mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris. Satu kelas utuh berjumah 38 mahasiswa tahun kedua Jurusan Bahasa Inggris berpartisipasi dalam penelitian ini. Untuk menguji peningkatan keakuratan tulisan mahasiswa, penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain tes awal-tes akhir langsung-tes akhir bertunda. Tiga kelompok mahasiswa, yaitu kelompok CCF (N=13), kelompok SCF (N=13), dan kelompok NGF (N=12) menulis sembilan esai ekspositori yang kemudian diikuti pemberian umpan balik yang berbeda. Kelompok CCF menerima perbaikan pada seluruh kesalahan gramatikal (kesalahan gramatikal seperti yang dideskripsikan pada Taksonomi Kategori Linguistik oleh Dulay, et al., 1982) yang muncul dalam tulisan mahasiswa, sementara kelompok SCF menerima perbaikan pada kesalahan gramatikal tertentu, yaitu kesalahan dalam menggunaan kata kerja secara akurat di tulisan mahasiswa (seperti kata kerja waktu, bentuk kata kerja, kesesuaian kata kerja dengan subyeknya). Kelompok NGF menerima komentar pada aspek nongramatikal (seperti isi dan susunan paragraf) dan berperan sebagai kelompok pembanding. Hasil uji Repeated Measures ANOVA dengan perbandingan post-hoc menunjukkan bahwa kelompok CCF jauh lebih baik daripada kelompok SCF dan NGF dalam meningkatkan keakuratan keseluruhan aspek gramatikal pada tes akhir langsung, dan bahwa tidak ada peningkatan yang signifikan yang ditunjukkan oleh kelompok CCF dan kelompok SCF dalam keakuratan menggunakan kata kerja. Hasil uji paired-samples t-test juga menunjukkan bahwa tidak ada perbaikan jangka penjang yang signifikan dalam hal keakuratan menggunakan keseluruhan aspek gramatikal dan keakuratan menggunakan kata kerja (aspek gramatikal tertentu) oleh kelompok CCF dan kelompok SCF. Hasil temuan ini menyimpulkan bahwa (1) CCF efektif meningkatkan keakuratan menggunakan keseluruahan aspek gramatikal dalam jangka pendek, (2) SCF tidak efektif meningkatkan keakuratan menggunakan kata kerja, dan (3) CCF dan SCF tidak efektif dalam meningkatkan keakuratan tulisan mahasiswa dalam jangka panjang. Penelitian lanjutan dengan konteks dan strategi pemberian umpan balik yang berbeda sangat diperlukan untuk mengesahkan hasil temuan ini. Melalui penelitian ini pengajar tulisan bisa mempertimbangkan keefektifan CCF dalam meningkatkan keakuratan menggunakan keseluruhan aspek gramatikal pada tulisan mahasiswa, selain mempertimbangkan tujuan-tujuan program tulisan yang sedang pengajar ajarkan.

Ekosistem terumbu karang di kawasan wisata bahari Gili Terawangan Lombok dan pengaruh hidrokarbon pada masa lethal karang Acropora spp / Muhlis

 

Kata kunci: ekosistem, terumbu karang, hidrokarbon, masa lethal karang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki jumlah pulau sebanyak 18.110 membentang sepanjang 5000 km dan lebar sekitar 2000 km dengan garis pantai 108.920 km yang memiliki sumber daya alam hayati yang melimpah salah satunya adalah ekosistem terumbu karang yang luasnya 60.000 km atau satu per delapan dari luas total terumbu karang dunia diantaranya yang berada di kawasan wisata bahari gili terawangan lombok seluas 170 hektar. Terumbu karang merupakan suatu ekosistem unik perairan tropis dengan tingkat kesuburan, keanekaragaman biota dan nilai estetika yang tinggi, namun termasuk salah satu yang paling peka terhadap perubahan kualitas lingkungan. Peranan biofisik ekosistem terumbu karang sangat beragam, di antaranya sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berkembang biak bagi beragam biota laut, terumbu karang juga berperan sebagai penahan gelombang dan ombak terhadap pengikisan pantai, dan penghasil sumberdaya hayati yang bernilai ekonomi tinggi. Terumbu karang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan, baik yang bersifat fisik maupun kerusakan akibat aktivitas manusia.Keberadaan terumbu karang di kawasan bahari Gili terawangan sebagai sumber daya tarik wisatawan untuk mengunjunginya dan sebagai sumber belajar tentang ekosistem terumbu karang sehingga perlu dilakukan penelitian tentang ekosistem trumbu karang pada kawasan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Kondisi terumbu karang tentang persen tutupan karang, indeks kematian karang, bentuk pertumbuhan karang dan indeks keragaman bentuk pertumbuhan karang pada perairan kawasan wisata bahari Gili Terawangan 2. Kondisi oseanografi (kecerahan, suhu, kecepatan arus, salinitas, Ph, dan oksigen terlarut) perairan pada zona windward dan zona leeward di kawasan wisata bahari Gili Terawangan 3. Hubungan kondisi oseanografi dengan kondisi ekosistem terumbu karang di perairan kawasan wisata bahari Gili Terawangan 4. Laju pertumbuhan karang A. Nobilis dengan A. Nosuta pada perairan kawasan wisata bahari Gili Terawangan 5. Laju pertumbuhan karang Acropora spp pada zona windward dengan zona leeward pada perairan kawasan wisata bahari Gili Terawangan; 6. Hubungan interaksi zona dan jenis karang Acropora spp terhadap laju pertumbuhan karang Acropora spp 7. Pengaruh hidrokarbon dalam air terhadap masa lethal karang Acropora spp; 8. Pengaruh hidrokarbon dalam air terhadap kandungan hidrokarbon dalam kerangka karang Acropora spp; 9. Pengaruh hidrokarbon dalam kerangka karang Acropora terhadap masa letal karang Acropora spp; 10. Upaya untuk mempermudah mengakses materi perkuliahan ekosistem terumbu karang dalam perkuliahan biologi laut melalui penulisan bahan ajar Hasil pengamatan kondisi ekosistem terumbu karang di Gili terawangan menunjukkan bahwa ada perbedaan kondisi ekosistem terumbu karang pada zona windward dengan kondisi ekosistem terumbu karang pada zona leeward. Kondisi ekosistem terumbu karang zona windward persen tutupan karangnya 36,9% termasuk kategori sedang, indeks kematian karangnya 0,17 nilai indeks kematian karang kategori tinggi, bentuk pertumbuhan karangnya ditemukan 13 jenis 251 jumlah bentuk pertumbuhan karang dengan indeks keragamannya 0,8429 didominasi oleh bentuk pertumbuhan karang foliose 25,9%, bentuk pertumbuhan karang massive 25,5% dan bentuk pertumbuhan karang branching 17,53%. Kondisi ekosistem terumbu karang pada zona leeward persentase tutupan karangnya 23,72% kategori jelek, indeks kematian karangnya sebesar 0,45 nilai indeks kematian kategori tinggi, bentuk pertumbuhan karangnya ditemukan 11 jenis 276 jumlah bentuk pertumbuhan dengan indeks keragaman 0,4568 didominasi oleh bentuk pertumbuhan Coral Massive 36,59%. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah: 1) Terdapat perbedaan kualitas faktor oseanografi pada zona windward dengan zona leeward, kualitas oseanografi zona winward kecerahannya 22,36 m, suhu 27,52 oC, kecepatan arus 4.77 m/mnt, salinitas 33.21 Ppt, pH 7.56 dan oksigen terlarut 6.41 Mg.l-1. Zona leeward kecerahannya 14,36 m, suhu 27,83 oC, kecepatan arus 2.68 m/mnt, salinitas 31.54 ppt, pH 7.77 dan oksigen terlarut 5.40 Mg.l-1 2) Terdapat hubungan antara faktor oseanografi (kecerahan, suhu, kecepatan arus, salinitas, pH, dan oksigen terlarut) dengan kondisi ekosistem terumbu karang, dari enam faktor oseanografi yang memiliki sumbangan efektif tertinggi adalah salinitas sebesar 49,79%, dan terrendah adalah pH sebesar 1,52%. 3) Terdapat perbedaan laju pertumbuhan karang Acropora spp pada jenis yang berbeda, 4) Terdapat perbedaan laju pertumbuhan karang Acropora spp pada zona yang berbeda, 5) Terdapat perbedaan laju pertumbuhan karang Acropora spp pada interaksi jenis karang dengan zona. Laju pertumbuhan karang Acropora spp tertinggi yaitu Acropora nobilis pada zona windward sebesar 22,18 mm dan yang teredah yaitu Acropora nosuta pada zona leeward sebesar 17,38.mm dalam waktu 140 hari. 6) Terdapat hubungan masa lethal karang Acropora spp dengan hidrokarbon dalam air 7) Terdapat hubungan masa lethal karang Acropora spp dengan kandungan hidrokarbon dalam karang 8) Terdapat hubungan Kandungan hidrokarbon dalam karang dengan hidrokarbon dalam air. Hidrokarbon mempengaruhi masa lethal karang sebesar 66,1% 9) Masa lethal karang Acropora spp terjadi pada konsentrasi hidrokarbon 0,5 L/m3 setelah 58,9.jam, konsentrsi hidrokarbon 1,0 L/m3 terjadi lethal pada 50,25 jam, konsentrsi hidrokarbon 2,0 L/m3 terjadi lethal pada 34.04.jam, konsentrsi hidrokarbon 3,0 L/m3 terjadi lethal setelah 32,1 jam. Hasil penelitian ini menjadi bahan ajar pada perkuliahan biologi laut berupa modul yang berjudul ekosistem terumbu karang dan prosedur pengamatannya

Pengaruh penerapan model pembelajaran learning cycle dalam meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa kelas XI semester II SMAN 10 Malang pada pokok bahasan koloid / Yesi Sulistiani

 

Kata kunci: Learning Cycle, hasil belajar kimia, motivasi, koloid Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan. Oleh karena itu pembaharuan pendidikan perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Salah satu upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah adalah dengan diterapkannya metode pembelajaran yang konstruktivistik (students centered). Model pembelajaran Learning Cycle merupakan salah satu model pembelajaran konstruktivistik yang menyarankan agar proses pembelajaran dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5 Fase dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) dan rancangan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI semester 2 SMA Negeri 10 Malang tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah tiga kelas yaitu kelas XI-IPA1 sampai XI-IPA3. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik sampling kelompok. Dari teknik tersebut diperoleh sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI-IPA2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI-IPA3 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen dikenai perlakuan menggunakan metode pembelajaran Learning Cycle dan kelas kontrol menggunakan metode pembelajaran yang biasa dilakukan oleh guru (metode konvensional). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat pembelajaran, angket motivasi belajar dan respon siswa. Dari hasil uji coba tes prestasi belajar diperoleh 25 soal valid dengan tingkat realibilitas 0,9208. Perbedaan prestasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol dianalisis dengan uji-t dua pihak. Untuk memperoleh gambaran secara nyata tentang motivasi siswa dideskripsikan secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode pembelajaran konvensional pada materi pokok koloid dimana rerata hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Learning Cycle lebih tinggi (80,08) daripada siswa yang diajar dengan metode konvensional (76,26). (2) Ada perbedaan hasil belajar kognitif antara kelompok atas dan kelompok antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle dengan siswa yang dibelajarkan dengan metode konvensional pada pokok bahasan koloid. (3) Ada perbedaan hasil belajar kognitif pada siswa dari model pembelajaran Learning Cycle kelompok atas, model pembelajaran Learning Cycle kelompok bawah, model pembelajaran konvensional kelompok atas, dan model pembelajaran konvensional kelompok bawah pada pokok bahasan koloid. (4) Hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Learning Cycle lebih baik daripada hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa yang diajar secara konvensional pada materi pokok koloid. (5) Motivasi belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Learning Cycle lebih tinggi (sangat termotivasi 18,42%, termotivasi 78,95%, kurang termotivasi 2,63%, tidak termotivasi 0%) daripada motivasi belajar siswa yang diajar secara konvensional (sangat termotivasi 2,63%, termotivasi 84,21%, kurang termotivasi 13,16%, tidak termotivasi 0%) pada materi pokok koloid. (6) Respon siswa terhadap pembelajaran dengan model pembelajaran Learning Cycle pada materi koloid sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dari persentase respon siswa dimana sebanyak 26,32% siswa memberikan respon sangat positif, 52,63% siswa memberikan respon positif, 21,05% siswa memberikan respon negatif, dan 0% siswa memberikan respon sangat negatif.

Ternatenese phonemes / by Asnan

 

Perbedaan penyesuaian sosial anak TK kelas A yang berlatar belakang play group dan tidak berlatar belakang play group di TK Al Hidayah Pakisaji Kabupaten Malang / oleh Sedyawati

 

Resistensi terhadap feodalisme dalam roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer / Widi Suharto

 

ABSTRAK Suharto, Widi. 2016. Resistensi terhadap Feodalisme Roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd.; (II) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd.; (III) Dr. Mudjianto, M.Pd. Kata Kunci: pranata sosial, hukum feodal, perlawanan terhadap feodalisme Bumi Manusia adalah roman pertama tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disingkat Pramoedya) pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada tahun 1980. Secara garis besar Bumi Manusia mengisyaratkan bermacam-macam hal yang bisa terjadi di bumi yang dipijak oleh ba¬nyaknya manusia ini. Sekian banyak masalah dapat digali dalam Bumi Manusia ini, masalah yang paling besar adalah kolonialisme dan feodalisme. Mempertimbangkan kekuatan yang terdapat dalam Roman Bumi Manusia maka sangat perlu untuk digali lebih dalam lagi kandungan tematis feodalisme yang lebih mengarah pada titik fokus resistensi Penelitian resistensi feodalisme dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini, resistensi dimaksudkan sebagai perlawanan atau penolakan terhadap berbagai perilaku feodalisme. Berdasarkan paradigma resistensi terhadap feodalisme dalam teks sastra, maka fokus masalahnya dirinci menjadi tiga sub-masalah: (1) resistensi pranata sosial kaum pribumi terhadap Feodal Jawa, dan kaum Feodal Eropa dalam Bumi Manusia.(2) resistensi perlakuan hukum terhadap kaum pribumi, kaum Feodal Jawa, dan kaum Feodal Eropa dalam Bumi Manusia. (3) resistensi kaum pribumi terhadap kaum Feodal Jawa, kaum Feodal Eropa dalam Bumi Manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan ancangan literasi kritis. Data penelitian adalah data tekstual berupa dialog dan narasi dalam roman Bumi Manusia. Sedangkan sumber data penelitian berupa teks sastra. Teknik pengumpulan data penelitian berupa kajian tektual dengan pengkodean korpus data berupa kutipan teks dalam sumber data, baik dalam bentuk narasi maupun dialog Temuan resistensi pranata sosial kaum pribumi terhadap kaum Feodal Jawa, dan kaum Feodal Eropa yang berhubungan dengan kekerabatan dalam Roman Bumi Manusia, bahwa Ibu memiliki hak untuk memberi pertimbangan atas perkawinan anaknya, seorang anak perempuan tidak memiliki rasa iba lagi terhadap keprihatinan ibunya, dendam seorang anak perempuan terhadap orangtuanya, keinginan laki-laki Jawa untuk tidak berpoligami, sikap anak perempuan Indo yang tidak peduli dengan hak warisnya. Dalam hubungan dengan status sosial, pranata sosial dalam Roman Bumi Manusia bahwa sikap anak pe¬rempuan Indo yang sederhana dan tidak mengandalkan status keluarga, sikap anak feodal Jawa tidak suka terhadap kaum Feodal Jawa yang memperlakukan orang kecil secara sewenang-wenang, pembelaan orang-orang Belanda terhadap Kaum Pribumi, anak perempuan Indo dapat meraih jabatan dan pekerjaan dengan menerima gaji besar. Hubungan sosial antarras, pranata sosial dalam Roman Bumi Manusia antara lain: kesadaran jati diri anak-anak pribumi dengan tidak menggunakan nama keluarga di belakang namanya, kesadaran bahwa pendidikan dapat menyetarakan derajad antar bangsa, kebanggaan wanita pribumi atas kecerdasannya. Hubungan antarumat beragama, antara lain: kekecewaan kaum pribumi terhadap pandangan orang-orang Belanda yang mengkafirkan pribumi, kekecewaan Indo terhadap pemelukan agama orang-orang Belanda, kesadaran pribumi untuk tidak melakukan perbuatan sirik. Resistensi perlakuan hukum terhadap kaum pribumi, kaum Feodal Jawa dan Kaum Feodal Belanda ditemukan perlakuan-perlakuan yakni, perlakuan diskriminatif terhadap kaum pribumi, seorang Nyai tidak mempunyai kewenangan melakukan pembelaan terhadap anaknya sendiri, kaum pribumi melakukan pembelaan terhadap hak-haknya, perlakuan diskriminatif penggunaan bahasa Belanda bagi pribumi. Resistensi perlakuan hukum terhadap Feodal Jawa yakni anak Feodal Jawa dapat bersekolah di HBS meskipun tidak mencantumkan nama keluarga, anak Feodal Jawa sekolah di HBS tidak harus mendapat jaminan dari orang berpangkat. Temuan perlakuan hukum terhadap Feodal Eropa yakni, diperbolehkannya anak perempuan Indo dinikahi laki-laki Pribumi, keberanian seorang Nyai mempertanyakan ketikdakwenangan merestui anaknya dinikahi laki-laki Pribumi. Temuan Resistensi kaum pribumi terhadap perilaku Feodal Jawa yakni menentang kebiasaan laki-laki pribumi berpoligami, kaum pribumi menuntut hubungan egaliter majikan dengan pelayan, upaya kaum pribumi menguasai bahasa Belanda, dendam kaum pribumi terhadap pelaku perbudakan, antipati kaum pribumi terhadap perilaku Feodal Jawa, sikap anak Feodal Jawa yang kecewa terhadap keluarganya, sikap seorang nyai yang membela kaum pribumi. Temuan resistensi kaum pribumi terhadap perilaku Feodal Eropa yakni melawan kesewenang-wenangan Feodal Belanda, kekecewaan seorang nyai terhadap tuannya (suaminya), keunggulan pengetahuan pribumi daripada ilmu pengetahuan Eropa, perubahan perspektif kaum pribumi terhadap ilmu pengetahuan Eropa, semangat kaum pribumi membela Tanah Airnya, hilangnya penghormatan seorang nyai kepada tuannya (suaminya) dan kesadaran kaum pribumi dalam menemukan kebenaran.

Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan pengembangan kecerdasan spiritual anak di PAUD Restu Bunda Lawang Kabupaten Malang / Kristina Yuliani

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi, Kecerdasan Spiritual Kualitas kehidupan bangsa ditentukan oleh faktor pendidikan, karena melalui pendidikan tercipta sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, beriman, dan memiliki daya saing tinggi. Untuk meningkatkan sistem pendidikan nasional, pemerintah telah melakukan banyak usaha, antara lain peningkatan mutu pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dampak dari upaya pengembangan sistem pendidikan nasional itu telah dirasakan baik secara kuantitatif maupun kualitatif, namun disisi lain masih terdapat permasalahan antara lain menyangkut pemerataan, relevansi, efisiensi dan kualitas pendidikan yang memerlukan solusi pemecahan. untuk membentuk calon generasi penerus bangsa yang berkualitas, maka cara pembinaan pada anak usia dini harus ditempuh melalui multi cara yaitu pembinaan di sekolah, di rumah, dan lingkungan masyarakat. Salah satu pembinaan anak usia dini adalah dirumah dan aspek ini tidak akan lepas dari peranan orang tua. Orang tua dapat melakukan melakukan pembinaan dari kebiasaan anak beribadah secara berjamaah, tata karma dengan orang yang lebih tua, sopan santun, dan cara beretika yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (2) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (3) hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan etika sosial anak, (4) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (5) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (6) hubungan antara jenis pekerjaan orang tua dengan etika sosial anak, (7) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan spiritual keagamaan anak, (8) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan sosial keagamaan anak, (9) hubungan antara jumlah penghasilan orang tua dengan etika sosial anak. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 responden. Hasil penelitian ini adah (1) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini dengan r hitung 0.610 (2) terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pendidikan orang tua dengan sosial keagamaan pada anak usia dini dengan r hitung = 0.527, (3) Terdapat hubungan yang signifikan antara Tingkat pendidikan orang tua dengan etika sosial pada kecerdasan spiritual anak usia dini r hitung = 0.638, (4) jenis pekerjaan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik= 23,38 (5) jenis pekerjaan orang tua dengan sosial keagamaan anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik 43,065 (6) jenis pekerjaan orang tua dengan etika sosial anak usia dini terdapat hubungan yang signifikan dengan t empirik 35,179 (7) Terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah penghasilan orang tua dengan spiritual keagamaan anak usia dini dengan r hitung = 0.582 (8) Terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan orang tua dengan sosial keagamaan anak usia dini dengan r hitung = 0.524 (9) Terdapat hubungan yang signifikan antara penghasilan orang tua dengan etika sosial anak usia dini r hitung = 0.551. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang peneliti ajukan adalah: (1) Diharapkan orang tua lebih memperhatikan pengembangan kecerdasan spiritual anak. Tidak ada kemungkinan orang tua yang status sosial ekonomi tinggi keserdasan spiritual anak tinggi pula. Atau orang tua yang status sosialnya rendah kecerdasan spiritual anak bias tinggi pula. Semua itu bisa terjadi karena faktor lingkungan juga, (2) Lingkungan sekolah sangatlah mempengaruhi semua itu dilihat dari segi pembelajaran, tutor. Dan media belajar. Oleh sebab itu diharapkan lembaga dapat memberikan fasilitas yang bagus, seperti menyediakan media yang lengkap untuk memenuhi kebutuhan belajar, standar tutor yang setara dengan ahli dibidang PAUD, serta memberikan situasi pembelajaran yang nyaman, aman, serta tidak membuat anak bosan atau jenuh, (3). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan mutu PAUD salah satunya mengoreksi, memperkaya, bahkan memperkuat teori tentang status sosial ekonomi dengan kecerdasan spiritual yang ada pada lingkungan masyarakat, (4) Diharapkan peneliti selanjutnya untuk melengkapi kekurangan yang ada untuk mengembangkan ilmu tentang Pendidikan Anak Usia Dini khususnya tentang pengembangan kecerdasan spritual anak usia dinisegi status sosial orang tua dan dapat digunakan untuk penelitia-penelitian lanjutan.

Pengembangan inventori kesadaran multikultural untuk siswa SMA / Rr. Dwi Umi Badriyah

 

The lampung language phonemic analysis and its application to teacher english / by Asim Gunarwan

 

Hubungan dukungan sosial dan stres kerja pada pramuniaga / oleh Suciati

 

Pengaruh metode jigsaw versus Student Teams-Achievement Divisions (STAD) dan gaya kognitif terhadap hasil belajar membaca pemahaman wacana siswa kelas VIII SMP Negeri 10 Kota Kupang / Labu Juli

 

ABSTRAK Juli, Labu. 2016. Pengaruh Metode Jigsaw Versus Metode Student Teams- Achievement Divisions (STAD) dan Gaya Kognitif Terhadap Hasil Belajar Membaca Pemahaman Siswa Kelas VIII SMPN 10 Kota Kupang. Disertasi Program Studi Teknologi Pembelajaran Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Pd; M.Ed; (II) Prof. Dra. Utami Widiati, M.A; Ph.D; dan (III) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M. Pd. Kata Kunci: Metode jigsaw, student teams achiement divisions, dan gaya kognitif Penelitian ini bertujuan (1) menguji perbedaan hasil belajar membaca pemahaman wacana antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui metode Jigsaw dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui metode STAD, (2) menguji perbedaan hasil belajar membaca pemahaman wacana antara kelompok siswa yang bergaya kognitif field dependent dengan kelompok siswa yang bergaya kognitif field independent,dan (3) menguji ada interaksi antara metode Jigsaw dan metode STAD terhadap gaya kognitif. Hipotesis penelitian ada tiga, yaitu (1) tidak ada perbedaan hasil belajar membaca pemahaman wacana antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui metode Jigsaw dengan metode STAD, (2) tidak ada perbedaan hasil belajar membaca pemahaman antara kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent dengan kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif field independent, dan (3) tidak ada interaksi antara metode Jigsaw dan metode STAD dengan gaya kognitif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen semu dengan menggunakan desain 2 x 2. Jumlah sampel pada kelas eksperimen 73 siswa dan jumlah sampel pada kelas kontrol 22 siswa. Siswa pada kelas kontrol dan kelas eksperimen diawali mengikuti tes gaya kognitif. Tes ini bermanfaat untuk mendapat data siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent dan field independent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada pengaruh metode Jigsaw versus STAD terhadap hasil belajar membaca pemahaman wacana. (2) Hasil belajar membaca pemahaman wacana kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent lebih rendah dari pada hasil belajar membaca pemahaman wacana kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif field independent,dan (3) Tidak ada interaksi antara metode Jigsaw versus metode STAD dengan gaya kognitif terhadap hasil belajar membaca pemahaman wacana. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) metode jigsaw dan STAD dengan memanfaatkan gaya kognitif siswa dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar keterampilan berbahasa pada siswa SMP, (2) Guna menjaga konsistenan hasil belajar siswa, guru perlu menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang menerapkan langkah-langkah pembelajaran dari kedua metode, (3) Guru memberi keyakinan pada siswa bahwa siswa mendapatkan hasil belajar yang baik jika secara bersama dalam kelompok saling mendukung, (4) Penelitian lanjutan disarankan untuk membandingkan pengaruh metode Jigsaw versus STAD yang melibatkan gaya kognitif dan motifasi berprestasi terhadap hasil belajar.

The morphology of Tombulu / by Mathilda Martha Wajong

 

Identifikasi konsep sukar dan salah konsep materi faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi pada siswa SMA Negeri 2 Pasuruan tahun ajaran 2010/2011 / Husnul Istiqomah

 

Kata kunci: konsep sukar, salah konsep, faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Perkembangan ilmu kimia yang didasari oleh hasil eksperimen dapat memunculkan konsep kimia yang bersifat abstrak. Keabstrakan ilmu kimia membuat mata pelajaran kimia dianggap paling sulit dan menjenuhkan. Penyebab kegagalan mempelajari ilmu kimia adalah kegagalan mempelajari konsep kimia. Konsep kimia dikembangkan berurutan dari konsep sederhana hingga kompleks. Konsep kompleks hanya dapat dipahami jika konsep yang lebih sederhana telah benar-benar dipahami. Kesulitan memahami konsep mengakibatkan terjadi konsep sukar yang berpeluang menimbulkan salah konsep. Siswa dikatakan mengalami salah konsep apabila memberikan jawaban salah secara konsisten pada sejumlah soal yang memiliki dasar konsep sama. Kesalahan pada konsep yang fundamental berdampak pada pemahaman konsep berikutnya yang lebih kompleks. Salah satu konsep kimia yang abstrak dan memerlukan pemahaman konseptual adalah faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Konsep laju reaksi merupakan salah satu konsep dasar, tetapi seringkali sukar untuk dipahami sehingga berpotensi menimbulkan salah konsep. Konsep sukar adalah konsep dengan persentase jawaban salah siswa (PJS) lebih dari dan atau sama dengan 61%. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi: (1) jenis konsep sukar; dan (2) jenis kesukaran; dan (3) jenis salah konsep. Penelitan dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Instrumen penelitian berupa tes diagnostik berbentuk tes pilihan ganda dengan empat alternatif pilihan jawaban dan satu pilihan jawaban kosong serta disertai dengan alasan pemilihan jawaban. Soal disusun berdasarkan peta konsep dan kisi soal. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI-IA SMA Negeri 2 Pasuruan tahun ajaran 2010/2011. Hasil wawancara digunakan sebagai triangulasi data. Analisis data meliputi pemberian skor, pengelompokkan butir soal berdasarkan konsep dalam kisi-kisi soal, penentuan konsep sukar, perhitungan persentase siswa yang menjawab pilihan jawaban salah, dan penentuan salah konsep siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) konsep sukar yang dialami oleh siswa kelas XI-IA SMA Negeri 2 Pasuruan berdasarkan PJS adalah konsep (a) laju reaksi berdasarkan persamaan r = ΔC/Δt, (b) pengaruh pereaksi terhadap laju reaksi berdasarkan persamaan r = k[A]x[B]y (khususnya reaksi orde 1), (c) hubungan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap tumbukan partikel, (d) pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, (e) hubungan pengaruh luas permukaan terhadap tumbukan partikel, (f) pengaruh perubahan temperatur terhadap laju reaksi, (g) pengaruh perubahan temperatur terhadap tumbukan partikel, (h) definisi dan peran katalis, (i) pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, atau temperatur terhadap tumbukan partikel, (j) pengaruh perubahan konsentrasi, temperatur, dan katalis terhadap tumbukan efektif, dan (k) pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, temperatur, dan katalis terhadap laju reaksi. Konsep definisi dan peran katalis merupakan konsep paling sukar dengan nilai PJS sebesar 88%. (2) jenis kesukaran yang dimiliki siswa adalah sukar: (a) mendefinikan dan membedakan konsep laju reaksi berdasarkan persamaan r = ΔC/Δt, (b) mendefinisikan, mengidentifikasi, dan membedakan pengaruh pereaksi terhadap laju reaksi berdasarkan persamaan r = k[A]x[B]y (khususnya reaksi orde 1), (c) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi terhadap tumbukan partikel, (d) mengidentifikasi dan menghubungkan pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi, (e) mendefinisikan, mengidentifikasi, dan membedakan pengaruh luas permukaan terhadap tumbukan partikel, (f) mengidentifikasi, menghubungkan, dan membedakan pengaruh perubahan temperatur terhadap laju reaksi, (g) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan temperatur terhadap tumbukan partikel, (h) mendefinisikan katalis, mengidentifikasi dan menghubungkan peran katalis terhadap laju reaksi, (i) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, atau temperatur terhadap tumbukan partikel, (j) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi, temperatur, dan katalis terhadap tumbukan efektif, dan (k) mengidentifikasi dan membedakan pengaruh perubahan konsentrasi, luas permukaan, temperatur, dan katalis terhadap laju reaksi. (3) salah konsep yang terjadi pada siswa berdasarkan PK adalah: (a) laju menyatakan penambahan konsentrasi pereaksi, (b) laju menyatakan penambahan konsentrasi produk dan pereaksi, (c) katalis tidak ikut bereaksi, (d) katalis tidak diperoleh kembali pada akhir reaksi, (e) penambahan katalis dapat meningkatkan energi kinetik, (f) kenaikan konsentrasi dapat meningkatkan gerakan partikel, (g) setiap tumbukan dapat menghasilkan reaksi, (h) pada persamaan laju r = k[A] (reaksi orde 1), laju dipengaruhi oleh konsentrasi semua pereaksi, (i) pada persamaan laju r = k[A] (reaksi orde 1), laju ditentukan oleh konsentrasi pereaksi yang mempengaruhi pembentukan produk, (j) laju dapat ditingkatkan dengan cara menurunkan konsentrasi pereaksi, (k) penambahan katalis dapat menambah jumlah partikel pereaksi, (l) penambahan katalis dapat meningkatkan energi aktivasi, (m) peningkatan konsentrasi dapat meningkatkan energi partikel pereaksi, (n) peningkatan temperatur dapat meningkatkan energi aktivasi, (o) luas permukaan besar berarti memiliki jumlah partikel lebih banyak. Salah konsep terbesar adalah katalis tidak ikut bereaksi dengan PK sebesar 27,68%.

A phonemic analysis of Adonara (a dialect of Lamaholot) / by Frans Monteiro

 

Pengembangan media Kartu Jack Mandarin untuk pembelajar an kosakata bahasa Mandarin kelas X SMA / Mardliatul Husnah

 

ABSTRAK Husna, Mardliatul. 2016. Pengembangan Media Kartu Jack Mandarin untuk Pembelajaran Kosakata Bahasa Mandarin Kelas X SMA. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Rizman Usman, M.Pd. Kata Kunci: Media Pembelajaran, Kartu, Kelayakan Mempelajari kosakata bahasa Mandarin bukan hal mudah, karena bahasa Mandarin menggunakan Hanzi dan Pinyin dalam penulisan, serta satu kata dalam bahasa Mandarin bisa memiliki empat makna yang berbeda dengan empat nada yang berbeda. Pembelajaran bahasa Mandarin di sekolah monoton karena tidak tersedianya media pembelajaran bahasa Mandarin yang dapat menjadikan pembelajaran Bahasa Mandarin lebih menarik. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran bahasa Mandarin di kelas X SMA, dan mengetahui kelayakan media kartu Jack Mandarin sebagai media pembelajaran kosakata bahasa Mandarin di SMA Negeri 6 Malang. Jenis Penelitian ini merupakan Research and Development (R&D) dengan memodifikasi teori pengembangan Sugiyono. Tahapan dalam penelitian ini meliputi (1) Potensi dan Masalah, (2) Pengumpulan Data, (3) Desain Produk, (4) Validasi Desain, (5) Revisi Desain, (6) Uji Coba Produk, dan (7) Revisi Produk. Penentuan tingkat kelayaka produk dilakukan berdasarkan uji validasi materi, uji validasi desain dan uji coba produk di SMA Negeri 6 Malang kelas XI Lintas Minat Bahasa Mandarin yang berjumlah 10 siswa. Hasil penelitian menunjukkan kelayakan media kartu Jack Mandarin melalui uji validasi dan uji coba produk. Media kartu ini dapat menarik minat belajar siswa serta dapat meningkatkan pemahaman siswa terkait materi. Akan tetapi media kartu ini juga masih memiliki kelemahan yaitu aturan permainan yang sedikit rumit, sehingga diawal permainan tidak jarang siswamasih kesulitan memainkan kartu. Tetapi setelah diberi arahan, siswa terlihat sangat mudah dan sangat senang dalam memainkan kartu Jack Mandarin. Sehingga media kartu ini sangat layak digunakan untuk pembelajaran bahasa Mandarin di kelas X SMA.

Hubungan antara tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan penyuluhan wajar pendidikan dasar 9 tahun dengan motivasi orang tua menyekolahkan anak ke SLTP di Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang / oleh Sularno Joko Widodo

 

Beberapa faktor yang mempengaruhi pendidikan anak di Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / oleh Tri Andajani

 

Penerapan pembelajaran quantum teaching dengan teknik mind mapping untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 8 Malang / Mar'atus Sholihah

 

Pengaruh konsentrasi inokulum, jenis inokulum, dan kultivar kedelai terhadap warna, aroma, rasa, kandungan protein dan asam total soyghurt / oleh Allina Setia Niningsih

 

Pengaruh scaffolding prosedural dalam group investigation dan pengetahuan awal terhadap kemampuan menyelesaikan masalah dan kerj ailmuah pada materi dinamika rotasi / Al Muhalla Amarta

 

ABSTRAK Amarta, Al Muhalla, 2016. PengaruhScaffolding ProseduraldalamGroup Investigationdan PengetahuanAwalterhadapKemampuanMenyelesaikanMasalahdanKerjaIlmiahpadaMateriDinamikaRotasiTesis. Program StudiPendidikanFisika, PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. SupriyonoKoes H, M.Pd, MA. (2) Dr. EnyLatifah, M.Si. Kata Kunci: scaffolding-prosedural, group investigation, pengetahuanawal, kemampuanmenyelesaikanmasalah, kerjailmiah.dinamikarotasi Kurikulum 2013 dikembangkan untuk melatih kemampuan penyelesaian masalah dan keterampilan bekerja secara ilmiah. Pembelajaran fisika di sekolah belum melatihkan kemampuan penyelesaian masalah. Sedangkanpengembangan kemampuan kerja ilmiahjuga masih menemui berbagai kendala. Siswamengalamikesulitanpadamateridinamikarotasikarenasifatmateri yang kompleks. Tujuanutamapenelitianiniadalahuntukmengkajipengaruhstrategiscaffolding-prosedural yang di integrasikandalam GI danpengetahuanawalterhadapkemampuanmenyelesaikanmasalahfisikadanketerampilankerjailmiahpadamateridinamikarotasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi, dengan rancangan faktorial. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI-MIPA MAN NglawakKertosono Tahun Pelajaran 2015/2016. Semua siswa kelas XI-MIPA berjumlah 119 siswa dijadikan sampel penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pengetahuan awal yang berbentuk pilihan ganda, tes kemampuanmenyelesaikanmasalah yang berbentukuraiandanrubrikpenilaiankerjailmiah. Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan teknik analisismultivariat. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa: 1). Ada perbedaan kemampuan menyelesaikan masalahdankemampuankerjailmiah antara siswa yang belajar dengan pembelajaran groupinvestigation berbantuan scaffolding dengan siswa yang belajar dengan Group Investigation; 2). Ada perbedaan kemampuan menyelesakan masalah dankemampuankerjailmiahantara siswa yang memliki pengetahuan awal tinggi dan rendah. 3) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi strategi pembelajaran (scaffolding-prosedural berbasis GI dan pembelajaran GI) dan pengetahuan awal (tinggi-rendah) terhadap kemampuan menyelesaikan masalahdankemampuankerjailmiahsiswa. Beberapa saran dikemukakan berkenaan dengan hasil penelitian ini. Penekananpembelajaran yang mengarahkanpesertadidikuntukselalumelakukanevaluasiterhadapjawabandenganmenyertakansatuandanmemastikankelengkapanjawabanpentinguntukdilakukandalampembelajaranselanjutnyaPenelitianselanjutnyadiharapkandapatmenggunakanteknikpenilaian yang dapatmenghindariterjadinyakerjasamadalam proses penilaiankerjailmiah.

Efektivitas pelaksanaan pendidikan dan pelatihan guru mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di Balai penetaran Guru (BPG) Yogyakarta
oleh Lina Erawati

 

Penerapan metode inkuiri terpimpin dalam problem based learning untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IIA SMPN Beji Pasuruan / oleh Fitta Nur Rohmah

 

ABSTRAK Rohnawati, Noer. 2003. Pengaruh Metode Kerja Kelompok Bebas dan Kerja Kel ompok T erb inb ing T erhadap P e ningkaat n Pr es tasi Be I a ja r dan Akt iv i tas Siswad alamM ota Pelajaran Biologi Kelas II SemestelrI SMU Assa'adah BungahGresik Skripsi, jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu PengetahuaAnl am UniversitasN egeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soewolo,lvI-Pd,( tr) Drs. TriastonoI mam P, M.Pd. Krtr tnnci : Metode Kerja kelompok Bebas, Keqia kelompok Terbimbing, Prestasi BelEjar,'{ktivias Sisua. Kegiaianp cmb€lajarany angb erlangsungs elamai ni hanyab ersifat memberi pengetrhnnyangben4a lasit dari menghapalU- ntuk mengataski eadaante rsebut meikad iperh*an carau ntuk lebih memahamki onsep.konsepd alamB iologi sehingga teroapahi nsil beldar png baik Agar presusi belajars iswab aik maka guru dituntut menentukand anm enerapkans uatum etodep embetajarany angt epat.S elamai ni metodep embelqiaranya ngd igunakano leh guru Biologi SMU Assa'adahB unph Gresikl ebih banyakm enggunakapne nyampaiand engn ceramah,n amunh al ini belumm ampum eningkatkana ktivias dan prestasib elajar siswa.B erdasarkan permasalahatne rsebutd alamp enelitiani ni diujicobakanm etodep embelajaranla in yangl ebih banyakm enga"tciftans elamap rosesb elajarm eng:ajasr ehinggad iharapkan dapatm eningkatkanh asil belajars iswa.A lternatif metodet ersebuta dalahm etode kerja kelompok terbimbing. Tujuanp enelitiani ni adalahuntukm engetahu:i (l) perbedaanp restasib elajar siswa dalam mata pelajaran biologi antara siswa yang diajar dengan metode ke{a kelompok bebas dan siswa yang diajar dengan metode keda kelompok terbimbing (2) perbedaana ktivitas siswad alamm ata pelajaranb iologi antaras isway ang diajar denganm etodek erja kelompokb ebasd engans isway ang diajar dan metodek eda kelompok terbimbing. Penelitiani ni perupakanp enelitiane ksperimenR. ancanganp enelitiany ang dipilih adalahP rates- PascatesA cqk Kelompok.P opulasid alamp enelitiani ni adalah siswaS MU Assa'adahB ungahG resik kelas II s€mesterII tahun ajaran200212003, pengambilans ampelnyad ilakukan secaraa cakk elompok yaitu kelasI i3 (keqa kelompokt erbimbing)d an kelasI I2 (kerja kelompokb ebas),m asing-masingk elas terdiri dari 45 siswa,s ehinggaju mlah keseluruhan9 0 siswa.U ji prasaraty ang digunakana dalahu ji normalitas.U ji hipotesisnyam enggunakanu ji t (uji bedar atarata). Dari hasila nalisisd iperolehT hit > T tab yaitu 2,133> 1,9872S. ehingga disimpulkanb ahwaa dap erbedaanp restasib elajar siswad alamm atap alajaranb iologr antara siswa yang diajar dengan metode ke{a kelompok bebas dengan siswa yang diajar denganm etodek efa kelompokt erbimbing. Perbedaanp restasib elajar diperolehd alamh al peningkatanp restasbi elaiars iswa.P restasibelalasri sway ang drajard enganm etodek ef a kelompokt erbimbingl ebih baik dari padas isway ang diajard enganm etodek erja kelompokb ebasD. isampingi tu adap erbedaaank tivitas sisway angd iajard enganm etodek erja kelompokt erbimbingd an sisway angd iajar denganm etodek erja kelompokb ebas.P erbedaana ktivitas diperolehd alam hal rataratap ersentaseA.k livitas sisway angd iajard enganm etodek eqak elompok terbimbingle bihb aik dari padas isway angd iajard enganm etodek erjak elompok bebas.

Pengaruh kemampuan dasar matematika terhadap prestasi belajar mata pelajaran akuntansi kelas XII SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun pelajaran 2010/2011 / Yulistiana Kusuma Dewi

 

Kata Kunci: Kemampuan Dasar Matematika, Prestasi Belajar Mata Pelajaran Akuntansi. Kemampuan dasar matematika merupakan dasar yang harus dimiliki untuk dapat menguasai ilmu-ilmu lain tidak terkecuali dengan akuntansi. Ditinjau dari materi, akuntansi memerlukan bantuan matematika dalam penggunaan operasi-operasi matematika yang sederhana. Matematika berpengaruh terhadap akuntansi karena keduanya memiliki kesamaan karakteristik, yaitu sama-sama menekankan penggunaan logika, sama-sama menggunakan simbol, sama-sama memiliki rumus-rumus pasti yang hasilnya tidak bisa diganggu gugat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemampuan dasar matematika terhadap prestasi belajar mata pelajaran akuntansi siswa kelas XII SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang tahun pelajaran 2010/2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi (explanatory research). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan dasar matematika (X) dan variabel terikat adalah prestasi belajar mata pelajaran akuntansi (Y). populasi penelitian ini adalah siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang Tahun Pelajaran 2010/2011 berjumlah 775 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh jumlah responden sebanyak 104. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Sumber data berasal dari nilai Ujian Akhir Nasional tahun pelajaran 2008/2009 dan nilai raport tahun pelajaran 2009/2010 dan teknik pengumpulan data adalah dokumentasi. Penelitian ini dilakukan mulai bulan September sampai November. Kemampuan dasar matematika siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang berdasarkan rata-rata nilai Ujian Akhir Nasional secara umum (5,2015) menunjukkan kemampuan dasar matematika yang mendukung prestasi belajar mata pelajaran akuntansi. Prestasi belajar mata pelajaran akuntansi berdasarkan rata-rata nilai Ujian Akhir Semester secara umum (7,7010) menunjukkan prestasi belajar mata pelajaran akuntansi terolong cukup baik. Berdasarkan pada hasil data yang telah diolah dapat diketahui signifikansi regresi sederhana adalah 0,000 lebih kecil 0,05 dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan dasar matematika (X) memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar mata pelajaran akuntansi (Y). Besar Adjusted R square adalah 0,140. Hal ini berarti 14,0% perubahan variabel Y disebabkan oleh perubahan variabel X, sedangkan sisanya 86,0% disebabkan oleh faktor di luar perubahan variabel X. Hasil ini mengimplikasikan bahwa kemampuan dasar matematika terhadap prestasi belajar mata pelajaran akuntansi sangat diperlukan bagi pihak sekolah agar menjadi dasar dalam menyeleksi input siswa, khususnya yang akan mengikuti kegiatan belajar di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang dan mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Bagi peneliti selanjutnya diharapkan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas.

Upaya peningkatan prosedur evaluasi dan daya serap (pemahaman/C2) materi pelajaran sejarah melalui metode numbered heads together (NHT) bagi siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru / Citra Devi Paramita Sari

 

Kata kunci: Prosedur Evaluasi, Daya Serap (Pemahaman/C2), Metode NHT Pendidikan merupakan syarat mutlak majunya suatu negara. Agar pendidikan di Indonesia dapat berhasil dengan baik maka mutu pendidikan harus senantiasa ditingkatkan. Peningkatan mutu pendidikan ini dapat dimulai dari peningkatan kualitas pendidikan. Fakta di lapangan menunjukkan nilai ijasah lebih diutamakan daripada ketrampilan yang dimiliki, sehingga lebih banyak siswa yang menekankan bagaimana caranya memperoleh nilai yang baik, bukan bagaimana caranya memahami apa yang disampaikan, padahal yang paling penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh individu tersebut. Dengan demikian sudah saatnya untuk melakukan evaluasi sesuai prosedur, yakni evaluasi yang tidak hanya menekankan pada hasil belajar saja, melainkan juga mengukur proses pelaksanaan pembelajaran tersebut. Melalui perbaikan proses pembelajaran dan peningkatan prosedur dalam evaluasi yang tidak hanya menekankan pada hasil belajar saja, maka kualitas pendidikan akan dapat ditingkatkan. SMAN I Kedungwaru merupakan SMA favorit di Tulungagung dengan danem minimal 38,17 sehingga murid-muridnya pilihan dari berbagai daerah di Tulungagung dan sekitarnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Masriah selaku guru sejarah, siswa kelas XI IPS 1 memiliki masalah dalam pembelajaran sejarah yaitu siswa ramai dan selalu mencontek ketika mengerjakan tugas ataupun ulanagn harian. Walaupun contekan tetapi nilai ulangan mereka tetap rendah. Berdasarkan hasil observasi terhadap sikap siswa, pemahaman mereka masih rendah karena masih sering mencontek ketika mengerjakan tes dan merasa kebingungan ketika tanya jawab. Oleh sebab itu peneliti memilih model Numbered Head Together agar evaluasi bisa dilakukan dengan lebih obyektif yaitu dengan tes dan non tes untuk mengecek pemehaman siswa. Dari latar belakang yang ada maka permasalahan dalam penelitian ini meliputi (1) Bagaimanakah prosedur evaluasi materi pelajaran sejarah bagi siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru dengan dilaksanakannya metode NHT ? (2) Bagaimanakah daya serap (Pemahaman/C2) materi pelajaran sejarah siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru dengan dilaksanakannya metode NHT? dan (3) Apa saja keterbatasan atau hambatan dari pelaksanaan metode NHT bagi siswa kelas XI IPS 1 SMAN I Kedungwaru? Untuk menjawab permasalahan yang ada maka dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki mutu praktik pambelajaran di kelas. PTK ini dilaksanakan dengan 2 siklus yang masing-masing siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/pengamatan, dan refleksi. Pelaksanaan tindakan siklus pertama selama 2 jam pelajaran dan siklus kedua selama 3 jam pelajaran. Subyek penelitian adalah siswa SMAN I Kedungwaru kelas XI IPS 1 angkatan 2008/2009 yang berjumlah 42 siswa. Hal yang diteliti adalah prosedur evaluasi dan daya serap (pemahaman/C2). Pengukuran prosedur evaluasi diperoleh melalui data observasi, dan daya serap siswa diukur dari hasil rata-rata kelas tes siswa serta observasi. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara, lembar observasi, soal tes, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan secara interaktif, yakni meliputi reduksi data, beberan data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data diperoleh melalui keajegan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan prosedur evaluasi dari 83% menjadi 93%. Nilai tes pemahaman siswa berdasarkan data nilai ulangan harian sebelum adanya tindakan yakni 54, 35, pada tindakan siklus I meningkat menjadi 60,71. Meskipun ada peningkatan tetapi nilai siswa masih di bawah KKM disebabkan oleh jumlah soal yang mampu di jawab oleh siswa tidak sebanding dengan jumlah soal yang di kerjakan sehingga skor mereka rendah. Berdasarkan perbaikan tindakan pada siklus II, hasil tes meningkat menjadi 81,57 dan telah melampaui KKM. Disamping hasil tes pemahaman, peningkatan pemahaman juga dapat di lihat dari non tes yakni hasil observasi pemahaman siswa sebagai proses belajar. Pada siklus I mendapat prosentase sebesar 64% dan pada siklus II meningkat mencapai 88%. Dari hasil refleksi guru, peneliti dan teman sejawat, kurang maksimalnya NHT pada siklus I karena alokasi waktu pembelajaran yang kurang mencukupi. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode NHT dapat meningkatkan prosedur evaluasi dan daya serap (pemahaman/C2) siswa kelas XI IPS 1 di SMAN I Kedungwaru. Dari kesimpulan tersebut peneliti menyarankan: (1) Pelaksanaan metode NHT membutuhkan waktu yang lama dalam pelaksanaanya agar semua tahapanya dapat dilaksanakan secara maksimal. Oleh sebab itu bagi peneliti berikutnya yang akan menggunakan metode ini sebaiknya mempertimbangkan alokasi waktu pembelajaran yang ada; (2) Bagi peneliti berikutnya yang akan menggunakan metode ini sebaiknya membuat perencanaan pelaksanaan yang terperinci dan sesuai dengan kondisi lapangan; dan (3) Dalam penelitian berikutnya sebaiknya calon peneliti mengembangkan manfaat lain dari metode NHT.

Studi kualitas nata de tomato dari buah tomat (Lycopersicum Mill.) varietas ratna dan artaloka berdasarkan tebal, berat dan kadar gula reduksi nata / oleh Muhtarul Kirom

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw berbantuan mind mapping untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar bahasa melayu siswa tingkat Matthayom 2 (kelas 8 SMP) Patthanasaswitthaya School Thailand / Danai Sopalang

 

ABSTRAK Sopalang, Danai. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Berbantuan Mind Mapping untuk Meningkatkan Aktivitas danHasilBelajar Bahasa Melayu SiswaTingkat Matthayom 2 (Kelas 8 SMP) Patthanasaswitthaya School Thailand. Tesis. Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., (II) Dr. Dedi Kuswandi, M.Pd. Kata Kunci: model pembelajaran kooperatif jigsaw, aktivitas belajar, hasil belajar, mind mapping. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Melayu siswa tingkat Matthayom 2 (Kelas 8 SMP) Patthanasaswitthaya School Thailand, dimana hasil belajar dan aktivitas siswa sangat rendah. Fakta tersebut dilihat dari rendahnya hasil ujian akhir semester yang menunjukkan bahwa sebanyak 15 dari 21 orang siswa yang mendapat nilai dibawah standar minimal, beserta dengan hasil observasi aktivitas siswa yang menunjukkan bahwa siswa cenderung pasif dalam belajar. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa pembelajaran terlihat berpusat pada guru, sedangkan strategi pembelajaran yang digunakan berupa metode konvensional ceramah dan penugasan dimana siswa kurang antusias dalam belajar. Untuk mengatasi masalah pembelajaran tersebut peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif jigsaw berbantuanmind mapping untuk meningkatkan aktivitasdanhasil belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat peningkatan aktivitasdanhasil belajar siswa mata pelajaran Bahasa Melayu setelah dilaksanakan strategi pembelajaran ini. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif dengan desain penelitian model Kemmis dan Taggart yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, tes, catatan lapangan dan dokumentasi dengan peneliti sebagai observer berkolaborasi dengan guru kelas dan satu lagi observer, sedangkan instrumen yang digunakan adalah soal tes dan lembar observasi aktivitas pembelajaran. Hasil validasi menunjukkan bahwa model pembelajaran yang digunakan sudah layak dan sesuai untuk dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Proses analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan penyimpulan hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase aktivitas siswa mencapai sebesar 81,67% pada siklus I dan meningkat menjadi 88,34% pada siklus II. Sedangkanpersentase pencapaian kriteria ketuntasan minimal hasilbelajar mengalami peningkatan, yaitu dari 15% pada tahap pratindakan meningkat menjadi 38,10% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 85,71% pada siklus II. Peningkatan prestasi dan kualitas pembelajaran tersebut dikarenakan siswa sudah terlibat dalam proses pembelajaran kooperatif Jigsaw berbantuanmind mapping dan dapat dikatakan model pembelajaran ini sudah dapat meningkatkan aktivitasdanhasilbelajarsiswa. Berdasarkan hasil penelitian disaran kepada guru mata pelajaran Bahasa Melayu untuk menjadikan strategi pembelajaran ini sebagai alternatif dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kajian faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat pencapaian keluarga sejahtera di lingkungan keluarga petani di Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember / Titien Mayasari

 

Kata kunci: Faktor-faktor, Keluarga sejahtera, Lingkungan petani Upaya mewujudkan pembangunan Keluarga Sejahtera merupakan salah satu program pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu kendala yang dihadapi adalah mayoritas penduduk dibawah garis kemiskinan bermukim di daerah pedesaan yang bermata pencaharian sebagai petani. Dimana masalah klasik yang sering dijumpai pada lingkungan masyarakat pedesaan adalah pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, disamping masalah rendahnya kualitas sumberdaya manusia, rendahnya tingkat pendapatan, dan tingginya jumlah beban tanggungan keluarga. Selain itu, adanya perubahan tingkat pencapaian keluarga sejahtera pada masyarakat. Penelitian yang dilakukan di Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan jumlah tanggungan keluarga terhadap tingkat pencapaian keluarga sejahtera. Variabel-variabel yang yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah: tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan jumlah beban tanggungan keluarga yang tergolong dalam variabel bebas, sedangkan variabel terikat adalah Keluarga Sejahtera. Jumlah populasi yang ada 2018 jiwa, dan sampelnya yang diambil sejumlah 100 responden. Responden yang diambil adalah petani. Cara pengambilan sampel responden menggunakan tekhnik Proporsional Random Sampling. Tekhnik pengumpulan data menggunakan analisis Tabulasi Silang dan Analisis Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian diperoleh bahwa tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan jumlah beban tanggungan keluarga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pencapaian keluarga sejahtera hal ini dipengaruhi oleh perbedaan kondisi sosial dan pola pikir masyarakat di daerah penelitian. Berdasarkan hasil penelitian Pemerintah Kabupaten Jember disarankan (1) Perlu diupayakan perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, peningkatan penyuluhan-penyuluhan pertanian dan latihan kerja dalam upaya peningkatan pendapatan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, (2) Penyuluhan-penyuluhan dan mutu layanan Keluarga Berencana (KB) harus lebih ditingkatkan lagi, untuk menghambat laju pertumbuhan penduduk, (3) Memeratakan sarana dan prasarana penunjang berlangsungnya pendidikan di setiap desa.

Analisis kesalahan berbahasa Indonesia rubrik pembaca menulis haria Jawa Pos edisi Oktober 1992 / oleh Ediyono

 

Pengaruh umur terhadap daya regenerasi sirip kaudal ikan zebra (Danio rerio) wild type / oleh Akhmad Muzaiyin

 

Pengembangan prosedur praktikum berbasis inkuiri terbimbing dan kontekstual pada materi sifat koligatif larutan untuk SMA kelas XII / Muhammad Hubbi

 

Jargon pelacur di lokalisasi Kalisari Malang / oleh Alfian

 

Studi komparasi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup Kepiting Bakau (Scylla serrata) yang dipelihara dengan variasi ukuran karamba apung di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan / oleh Nunung Puji Lestari

 

Kesalahan bahasa Indonesia dalam tulisan mahasiswa Thailand Program In-Country tahun 2014/2015 di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang / Rachan Jaengsri

 

ABSTRAK Jaengsri, Rachan. 2016. Kesalahan Bahasa Indonesia dalam Tulisan Mahasiswa Thailand Program In-Country Tahun 2014/2015 di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd., (II) Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd. Kata kunci: kesalahan bahasa Indonesia, mahasiswa Thailand, program In-Country. Tujuan penelitian ini adalah pertama, mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan penulisan akibat pembentukan kata bahasa Indonesia. Kedua, mendeskripsikan bentuk-bentuk kesalahan pemilihan kata bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Data penelitian ini berupa kesalahan bahasa indonesiayang bersumber dari tulisan 20 mahasiswa Thailand pada Program In-Country Tahun 2014/2015di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Teknik studi dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data dalam tulisan mahasiswa Thailand. Data diperoleh dengan tahapan (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) pengambilan kesimpulan. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Pertama, kesalahan pembentukan kata yaitu pengimbuhan. Kedua, kesalahan pemilihan kata meliputi (1) penggunaan pilihan kata yang tidak tepat, (2) penggunaan pilihan kata yang tidak lazim dalam konteksnya, (3) penggunaan pilihan kata sinonim yang tidak tepat, (4) kerancuan penggunaan pilihan kata yang mirip, (5) penggunaan pilihan kata yang merupakan hasil terjemahan secara harfiah, dan (6) penggunaan pilihan kata terjemahan bersinonim. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan beberapa hal. Pertama, kesalahan pembentukan kosakata bahasa Indonesia dalam tulisan mahasiswa Thailand terjadi karena overgeneralization terhadap bahasa Indonesia, pemahaman mahasiswa Thailand yang belum lengkap tentang penggunaan pengimbuhan, mahasiswa belum memahami aturan dalam bahasa kedua, dan perbedaan dalam unsur-unsur bahasa antara bahasa pertama dan bahasa kedua yang akan dikuasainya. Kedua, kesalahan pemilihan kata bahasa Indonesia dalam tulisan mahasiswa Thailand terjadi karena dipengaruhi oleh bahasa asing yang mereka pelajari, terpengaruh dari bahasa ibu mereka yaitu bahasa Thai sehingga tidak mengerti dalam pemilihan kosakata sinonim yang tepat sesuai konteksnya, ada faktor kemiripan makna, penyerapan secara langsung dari bahasa asing, serta tidak tahu bagaimana bentuk seharusnya yang benar. Berdasarkan kesimpulan tersebut, saran ditujukan beberapa pihak. Pertama, bagi mahasiswa Thailand yang sedang belajar bahasa Indonesia di Indonesia hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar lain di luar kelas, seperti media pembelajaran, program KKN, tutor, dan teman-teman Indonesia agar lebih cepat memahami dan menguasai bahasa Indonesia. Kedua, bagi instruktur BIPA disarankan untuk tidak hanya menekankan pada pembelajaran bahasa Indonesia yang bersifat komunikatif, tetapi juga perlu menekankan pada pentingnya pemilihan kosakata bahasa Indonesia.

Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi dengan pendekatan komunikatif pada kelas III SD Berita Hidup Malang / Wahyu Dyah Sriwindartin

 

Alih kode bahasa guru MIA 05 Singosari tahun ajaran 1995/1996 dalam interaksi belajar-mengajar dan interaksi keluarga
oleh Tri Kusumawati

 

Implementasi pembelajaran kooperatif dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan prestasi belajar fisika siswa SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang / oleh Widiyanti Nurhadini

 

Pembuatan busana muslim wanita dengan variasi anyaman dan belahan asimetris / Whinda Veronica Putri Pamungkas

 

ABSTRAK Pamungkas, Whinda, Veronica Putri. 2017. PembuatanBusana Muslim WanitaDenganVariasiAnyamandanBelahanAsimetris. TugasAkhir, JurusanTeknologiIndustri, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang, Pembimbing (I) Dra. EsinSintawati, M.Pd, (II) AgusSunandar, S.Pd.,M.Sn. Kata Kunci: BusanaWanita, Trend Fashion 2015, Prolific,AnyamandanBelahanAsimetris Busanamerupakankebutuhanpokokmanusia yang harusdipenuhi, karenafungsidasarnya yang melindungitubuhdanterpenuhinyaunsurkesusilaan, seiringberjalannyawaktusertaperkembanganjamandanteknologi, duniafashion jugamengalamibeberapakemajuan.Menurutfungsinyajamandahulubusanahanyauntukmelindungitubuhseseorangdaripanasdandingin, namunsekarangtujuanberbusanasaatinilebihdalamseperti; memenuhiunsuretikadanestetika, menutupiauratbagikaummuslimah, menunjukangayahidupseseorang, menunjukan status sosialdanekonomiseseorang, menunjukanidentitasseseorang, menutupicacatataukekuranganpadatubuh. Busanamuslimadalah “pakaian yang dapatmenutupibeberapabagiankhususanggotatubuhmanusia, busanainidapatdijadikansebagaibusanamuslim. Busanamuslimwanitatidakbolehmemilikihiasan yang berlebihandantetapsederhana.Busanamuslimwanitaharusmencerminkanseorangmuslimah. BusanainimengangkattemaProlific, Prolific adalahsalahsatutemabesaryang adadalamtrend forecasting 2015/2016 di Jakarta Fashion Week 2014.Dalambuku (Re+habitat, 2014:94) menyatakanProlific adalah “terinspirasiolehsejarahperadabanmanusiadenganmenggunakanmerajut, menganyamdanteknikrumbaimenggunakanwarna-warnacerah, rapiterorganisir, danpemotongancenderungasimetris” Prolificjugalebihcenderungkepembuatanfabricbaru.Dalamtemainimemberikankesanlebihgembiradan ceria, meskimengangkatperadabanmanusianamuntemainitetaplebihinovasidankreatif. Busana yang mempunyaihiasananyamaniniakanterlihatmenarikdenganbentukasimetris,karenapadaumumnyaanyamanhanyaterbuatdarirotan, disinianyamandiangkatmenjadisebuahbusanadenganbelahanasimetris.Asimetrismemberikesanabstrakatauacaktapitetapmemeperhatikankeindahan.

Analisis kesalahan struktur kalimat bahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas I SMAN 7 Malang tahun 1991/1992
oleh Tulus Widodo

 

Pengembangan permainan "maze plus" pada pembelajaran fisik motorik anak kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang / Rina Lestari

 

Kata kunci: Pengembangan, Pembelajaran, Fisik Motorik, Permainan ”Maze Plus”. Pembelajaran fisik motorik di TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang dilakukan dengan kegiatan senam Sehat Ceria bersama ibu guru, kemudian melempar bola dengan metode pemberian tugas secara klasikal, dan berlari sambil melompati tali secara bergantian sedangkan pembelajaran fisik motorik yang dikemas dalam bentuk permainan belum pernah dilakukan di TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. Maka peneliti merancang permainan yang diberi nama “Maze Plus” yaitu permainan yang dirancang dengan memanfaatkan benda-benda yang ada didalam kelas seperti meja, kursi, matras dan balok. Ciri khas dari permainan ini adalah anak mencari jejak berupa telapak kaki kanan dan kir. Dalam bermain anak harus mencari jejak yang tepat dan memperhatikan petunjuk gambar aktivitas yang dilakukan untuk menuju titik terakhir (finish). Ketika mengikuti jejak tersebut, anak harus melalui beberapa rintangan yang telah disediakan. Rintangan tersebut diatur dengan memakai benda-benda yang ada di dalam ruangan seperti: menyusun meja di sebelah kanan dan kiri namun bagian tengah merupakan lintasan untuk merangkak pada bagian atas ditutup matras atau kerdus agar terlihat sebagai terowongan kecil , gawang kecil dari balok untuk melompat, kursi yang berjajar untuk berjalan di atas kursi sebagai pengganti papan titian. Dalam menyelesaikan rintangan menggunakan aktivitas motorik yang merupakan aktivitas motorik berdasarkan gerak-gerak dasar perkembangan fisik motorik yaitu lokomotor, non-lokomotor dan manipulatif serta semua aspek keterampilan fisik motorik meliputi kekuatan, keseimbangan, kecepatan, kelincahan, dan ketangkasan. Permainan ini juga membantu kemampuan koginitif anak dalam mencari jejak yang benar dan membilang dengan kegiatan memantulkan bola sebanyak lima kali. Tujuan pengembangan pembelajaran fisik motorik adalah 1). Untuk mendiskripsikan Permainan “Maze Plus” dapat diterapkan pada pembelajaran fisik motorik anak di Kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. 2). Untuk mendiskripsikan Permainan “Maze Plus” mudah dilakukan oleh anak dan dapat membuat anak senang dalam melakukan pada pembelajaran fisik motorik anak di Kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti menggunankan model penelitian pengembangan dari Borg and Gall . Model pengembangan tersebut memiliki sepuluh langkah penelitian pengembangan), namun karena subjek penelitian kurang dari 100 maka peneliti tidak menggunakan keseluruhan tetapi hanya menggunakan 7 langkah karena penelitian ini dilaksanakan pada 1 sekolah saja. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi (kajian pustaka, pengamatan kelas, persiapan laporan pokok persoalan). (2) Melakukan perencanaan (pendefinisian keterampilan, perumusan tujuan, penentuan urutan pengajaran, dan uji coba skala kecil). (3) Mengembangkan bentuk produk awal (penyiapan materi pengajaran, penyusunan buku pegangan, dan perlengkapan evaluasi). (4) Melakukan uji lapangan permulaan (dilakukan pada 1 sekolah, menggunakan 6-12 subyek). (5) Melakukan revisi terhadap produk utama (sesuai dengan saran-saran para ahli dari hasil uji lapangan permulaan). (6) Melakukan uji lapangan utama (pada 1 sekolah dengan 30-50 subyek). (7) Melakukan revisi produk (berdasarkan saran-saran para ahli dari hasil uji lapangan utama). Berdasarkan hasil analisa dari dua guru kelas kelompok B 90 % menyatakan sangat menarik. Dan klasifikasi persentase antara 80 % - 100 % tergolong klasifikasi baik ( dapat digunakan). Hasil analisa uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 50 anak kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang menyatakan 97.11 % anak mudah melakukannya dan 99.33 % anak senang melakukannya. Dan klasifikasi persentase antara 80 % - 100 % tergolong dalam klasifikasi baik (dapat digunakan). Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1). Bahwa Permainan “Maze Plus” dapat diterapkan pada pembelajaran fisik motorik anak usia dini. Dengan kreatifitas guru dalam memanfaatkan benda-benda yang ada di ruang kelas untuk merancang rute dan aktivitas fisik motorik yang dapat dilakukan anak. Ada beberapa rintangan yang disediakan diantaranya memilih jejak kaki yang tepat, melewati terowongan dari meja dengan cara merangkak, berjalan lurus mengikuti garis lurus, melompati rintangan gawang balok, berjalan di atas susunan kursi lalu meloncat dan memantulkan bola sebanyak 5 kali. Aktivitas fisik motorik yang ada merupakan penerapan dari gerak dasar fisik motorik serta semua aspek-aspek keterampilan fisik motorik pada anak. 2).Permainan “Maze Plus” mudah dilakukan oleh anak dan dapat membuat anak senang dalam melakukan pembelajaran fisik motorik anak di Kelompok B TK. Dharma Wanita Persatuan Kota Malang. Saran-saran yang akan dikemukakan meliputi saran untuk Guru Taman Kanak-kanak, saran untuk Sekolah lain, Saran untuk Peneliti Yang Lain, dan saran pengembangan produk lebih lanjut.

Hubungan antara motivasi berprestasi dan stres yang dialami siswa kelas 5 SDN Purwantoro 5 Malang / oleh Binti Khusmawati

 

Interferensi bahasaJawa terhadap bahasa Indonesia tulis siswa kelas II SMPN 2 Gambiran Kabupaten Banyuwangi tahun ajaran 1992/1993
oleh Mohamad Samsudin

 

Syntactic analysis of Arabic and English negation in the Holy Qur'an and Its translation in English / by Toyyibah

 

Pengaruh konflik kerja terhadap burnout pada karyawan bagian produksi UD. Abadi Lestari Bojonegoro / Tommy Dwi Yulianto

 

Kata kunci: konflik kerja, burnout Karyawan dalam suatu perusahaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam melaksanakan aktivitas. Dalam beraktivitas, karyawan tidak bisa lepas dari kondisi lingkungan kerjanya. Salah satu faktor munculnya burnout pada karyawan adalah sering terjadinya konflik kerja. Penelitian deskriptif kausalitas ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan kondisi konflik kerja karyawan bagian produksi, (2) mendeskripsikan kondisi burnout karyawan bagian produksi, (3) mengetahui pengaruh konflik kerja terhadap burnout karyawan bagian produksi. Penelitian ini menggunakan sampel berjumlah 70 karyawan bagian produksi UD. Abadi Lestari Bojonegoro. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala konflik kerja dan skala burnout. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan melakukan pengklasifikasian pada tingkatan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah, lalu untuk mencari pengaruh konflik kerja terhadap burnout digunakan analisis regresi sederhana dengan program SPSS 14.00. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 5 karyawan memiliki konflik kerja sangat tinggi (7,14%), 22 karyawan tinggi (31,43%), 25 karyawan sedang (35,71%), 14 karyawan rendah (20%) dan 4 karyawan sangat rendah (5,71%). Sedangkan karyawan yang memiliki burnout sangat tinggi 8 karyawan (11,43%), 14 karyawan tinggi (20%), 29 karyawan sedang (41,43%), 17 karyawan rendah (24,29%) dan 2 karyawan sangat rendah (2,86%). Terdapat pengaruh yang signifikan konflik kerja terhadap burnout R2 = 0,19 atau sebesar r = 0,436. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah secara umum konflik kerja yang diterima karyawan adalah sedang. Kemudian dapat dijelaskan secara rinci bahwa hambatan komunikasi, perbedaan sikap dan ketergantungan aktivitas kerja merupakan jenis konflik kerja yang banyak diterima oleh karyawan. Sedangkan burnout secara umum yang diterima karyawan adalah sedang. Kemudian dapat dijelaskan juga bahwa kelelahan emosi dan penurunan prestasi merupakan jenis burnout yang banyak diterima oleh karyawan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap variable konflik kerja dan burnout menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan konflik kerja terhadap burnout karyawan sehingga hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh konflik kerja terhadap burnout diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang disampaikan adalah bagi karyawan dan perusahaan yang sudah mengetahui tentang sindrom burnout, hendaknya lebih memperhatikan kondisi jiwa, sehingga jika mendapati stressor yang menimbulkan burnout dapat melakukan pencegahan.

Pengaruh penilaian kinerja terhadap kompensasi pegawai : studi pada bagian produksi di PT. Temprina Media Grafika Surabaya / oleh Fitria Agustina

 

Analisis kesalahan berbahasa Indonesia dalam karangan siswa kelas V SDN Ciptomulyo 4 Malang / oleh Welly Santiung

 

Pengembangan model latihan transisi defense ke offense pada ekstrakurikuler bolabasket SMA Negeri 8 Malang / Garry William Dony

 

Kata kunci: Pengembangan, model latihan, transisi defense ke offense bolabasket. Transisi defense ke offense (TDO) adalah situasi pada saat transisi dari keadaan bertahan berubah menjadi ke posisi penyerangan (PERBASI:6). Taktik ini digunakan untuk membuat pertahanan lawan menjadi kacau, karena memiliki pola transisi yang lebih agresif, serta mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan pada tim (turn over) karena memiliki kerjasama tim yang baik (team work). Oleh karena itu, semua pemain di lapangan harus mengerti bagaimana melaksanakan TDO tersebut. Para pemain terbaik mampu meminimalisir kesalahan (turn over) pada saat penyerangan karena memahami konsep peralihan dari defense ke offense. Berdasarkan analisis kebutuhan yang menggunakan instrumen tertutup pada: (1) siswa ekstrakurikuler bolabasket SMA Negeri 8 Malang, (2) Pelatih bolabasket SMA Negeri 8 Malang, tanggal 20-23 Januari 2010. Analisis kebutuhan yang dilakukan pada 20 siswa putra peserta ekstrakurikuler bolabasket SMAN 8 Malang, diketahui siswa perlu dengan latihan TDO sebanyak 18 siswa (90%) dan hanya 2 siswa (10%) yang tidak memerlukan latihan TDO, karena merasa sulit untuk memahaminya. Dalam pertandingan dan sesi latihanpun materi transisi yang diterapkan hanya set offense saja, sedangkan transisi dari defense ke offense yang lengkap jarang diberikan dan digunakan saat pertandingan, dan set offense biasanya mudah dipatahkan lawan. Sehingga banyak sekali yang menginginkan variasi model latihan transisi dari defense ke offense, yaitu sebanyak 20 orang (100%) memerlukan variasi latihan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan latihan set offense saja yang diajarkan dan belum pernah mendapat latihan transisi defense ke offense (TDO), akibatnya saat melawan tim yang kuat mereka tidak dapat menyeting ulang serangan (set offense), dan dapat dengan mudah dibaca oleh lawan karena memiliki satu macam peralihan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model latihan transisi defense ke offense (peralihan dari bertahan ke penyerangan) untuk siswa putra yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri 8 Malang. Sehingga siswa dapat dengan mudah mempelajari latihan transisi defense ke offense dengan baik dan benar. Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan Research and Development yang dikemukakan oleh Borg dan Gall, yang telah dimodifikasi oleh peneliti. Prosedur penelitian pengembangannya adalah sebagai berikut: (1) Kegiatan pengumpulan informasi yakni, penyebaran kuesioner. (2) Men-gembangkan produk awal (peneliti mengembangkan buku model latihan Transisi defense ke offense). (3) Kegiatan evaluasi ahli (dua ahli pengembangan bolabasket dan satu ahli kepelatihan bolabasket). (4) Revisi produk awal, revisi berdasarkan evaluasi para ahli. (5) Uji coba tahap I (kelompok kecil) dilakukan dengan melibatkan 10 subjek. (6) kegiatan uji coba tahap II (kelompok besar) dengan melibatkan 20 subjek, (7) Hasil akhir, produk pengembangan model latihan transisi defense ke offense bolabasket putra SMA Negeri 8 Malang. Pengumpulan data untuk data evaluasi ahli berupa kuesioner untuk: (1) dua orang pengembangan bolabasket dan (2) satu orang ahli kepelatihan bolabasket. Untuk mendapatkan data uji coba kelompok kecil subjeknya 10 mahasiswa dan uji coba kelompok besar subjeknya 20 siswa, peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa instrumen yang disajikan dalam bentuk kuesioner/angket. Pada pengembangan transisi defense ke offense bolabasket teknik yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian adalah teknik persentase. Hasil penelitian model pengembangan diperoleh hasil sebagai berikut: (1) ahli bola basket yaitu 97,91% (baik), (2) Uji coba tahap I (kelompok kecil) yaitu 92,42% (valid), (3) Uji coba tahap II (kelompok besar) yaitu 98.7% (baik). Hasil pengembangan ini berupa model latihan transisi defense ke offense yang dikemas berupa buku model latihan. Lengkap dengan keterangan gambar dan petunjuk pelaksanaan. Diharapkan hasil ini dapat diuji cobakan kepada lingkup yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah lain dan perguruan tinggi sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Pengaruh komunikasi dan motivasi terhadap prestasi kerja karyawan : studi pada karyawan bagian keuangan dan umum PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal lawang / oleh Ismi' Ivan Pramudya

 

Tanggapan mahasiswa terhadap fungsi penasehat akademik pada Prodi SI Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang / Ni Nyoman Reza Laksmianisari

 

ABSTRAK Laksmianisari, Ni Nyoman Reza. 2015. Tanggapan Mahasiswa Terhadap Fungsi Penasehat Akademik Pada Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M.Si, (II) Dra Nurul Aini, M.Pd. Kata Kunci: Tanggapan, Fungsi Penasehat Akademik, Prodi S1 Pendidikan Tata Busana Perguruan Tinggi diharapkan dapat menyediakan Penasehat Akademik (PA) untuk membantu mahasiswa dalam menyelesaikan studinya. Penasehat Akademik (PA) adalah dosen yang ditunjuk dan diserahi tugas membimbing sekelompok mahasiswa yang bertujuan untuk membantu mahasiswa menyelesaikan studinya secepat dan seefisen mungkin sesuai dengan kondisi dan potensi individual mahasiswa. Sejak diberlakukannya Kartu Rencana Studi (KRS) secara Online mahasiswa dapat mengakses KRS lebih mudah dan cepat di mana pun mereka berada, tanpa harus mengantri di Perguruan Tinggi setempat. Hal tersebut menyebabkan pembinaan, bimbingan, penyuluhan maupun pengarahan terhadap mahasiswa kurang berjalan secara maksimal. Dosen PA harus membuka website UM di siakad untuk mengetahui prestasi mahasiswa setiap semester yang mendapatkan IP kurang baik atau sebaliknya, sehingga tidak ada komunikasi langsung antara dosen Penasehat Akademik dengan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini yaitu mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan tahun 2011/2012, 2012/2013 dan 2013/2014 dengan sampel sejumlah 101 yang menggunakan teknik sampling simple random sampling Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sub variabel Membimbing mahasiswa agar studi selesai tepat waktu memperoleh persentase sebanyak 45,5% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang membimbing dan menasehati mahasiswa, (2) Sub variabel Membantu mahasiswa dalam menyelesaikan masalah akademik dan non akademik memperoleh persentase sebanyak 39,6% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang menasehati dan membantu mahasiswa (3) Sub variabel Memberi nasehat dan persetujuan terhadap mahasiswa yang IP nya kurang dari 2,00 memperoleh persentase sebanyak 49,5% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang dalam memberi nasehat (4) Sub variabel Menyerahkan penanganan mahasiswa yang mengalami masalah kepada konselor memperoleh persentase sebanyak 44,6% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang menyerahkan penanganan mahasiswa, (5) Sub variabel Memberikan konsultasi perencanaan studi kepada mahasiswa memperoleh persentase sebanyak 39,6% dengan klasifikasi dosen PA kadang-kadang memberikan konsultasi. Berdasarkan ke 5 sub variabel fungsi Penasehat Akademik, kesimpulan tersebut tidak dapat digeneralisasikan pada semua dosen Penasehat Akademik di Teknologi Industri atau ke 6 dosen Penasehat Akademik pada angkatan tahun 2011/2012, 2012/2013 dan 2013/2014, karena teknik sampling yang digunakan tidak tepat sehingga ada kelemahan-kelemahan. Saran yang diberikan pada penelitian ini yaitu, hendaknya meskipun registrasi diberlakukan secara online, dosen PA sebaiknya tetap mengadakan komunikasi secara langsung minimal 1 (satu) kali dalam satu semester, sehingga dapat memantau dan menasehati mahasiswa, agar prestasi belajarnya selalu dalam kondisi terjaga, untuk mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap fungsi Penasehat Akademik pada Prodi S1 Pendidikan Tata Busana secara keseluruhan, sebaiknya lebih teliti dalammenggunakan teknik sampling sehingga tidak terjadi kelemahan-kelemahan. dan bagi peneliti lain, diharapkan dapat meneliti tentang fungsi dosen Penasehat Akademik tentang “Membuat rekam jejak dari proses kepenasehatan selama masa studi masing-masing mahasiswa bimbingan.  

Pengaruh disiplin kerja terhadap produktivitas kerja karyawan : studi kasus karyawan PT. Pindad (Persero) Malang / oleh Ninik Wulandari

 

Pengaruh pendidikan dan pelatihan terhadap prestasi kerja karyawan : studi pada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Pelayanan dan Jaringan (AP & J) Malang / oleh Imas Sumarsih

 

Efektifitas metode eksperimen kerja kelompok dan metode demonstrasi terhadap pemahaman konsep fisika pokok bahasan suhu dan kalor siswa kelas I SMU Negeri 8 Malang / oleh Nani Indrawati

 

Pengaruh penggunaan model pembelajaran inquiry laboratory terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pokok bahasan suhu dan kalor SMAN 1 Kesamben / Ledyanita Chandra

 

ABSTRAK Chandra, Ledyanita. 2015. Pengaruh PenggunaanModelPembelajaranInquiry Laboratory terhadapKemampuanBerpikirKritisPesertaDidikpadaPokokBahasanSuhudanKalor SMAN 1 Kesamben. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. KadimMasjkur, M.Pd., (2) Dr. Muhardjito, M.S. Kata Kunci: inquiry laboratory, berpikirkritis Model pembelajaran berbasis pada penyelidikan ilmiah diperlukan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis secara optimal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui pembelajarandengankegiatan eksperimen.Eksperimen yang dilaksanakan dalam pembelajaran menggunakan model Direct Instruction belum bersifat mandiri. Salah satu solusi yang mampumeningkatkankemampuanberpikirkritispesertadidikadalahInquiry Laboratory.Tahapeksperimenpada pembelajaranInquiry Laboratorymemberikanpengalamanlangsungdanmelatihkemandirianpesertadidik.Tujuan penelitian ini adalah mengetahuiapakah kemampuan berpikir kritis peserta didikpada pokok bahasan suhu dan kalor di SMAN 1 Kesamben yang mengikuti model pembelajaran Inquiry Laboratory lebih tinggi daripada model pembelajaran Direct Instruction. Penelitian ini merupakan penelitian quasy experiment dengan rancangan eksperimen Posttest Only Control Group Design.Data penelitian ini adalah skor kemampuanberpikirkritis fisikasiswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Inquiry Laboratorydan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan cara Direct Intruction. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik pemberian post test. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa soal tes yangtelah diujicobakan dan dianalisis. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas varian, dan uji-t. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh bahwa data skor post test terdistri-busi normal, memiliki varians homogen, danmemiliki nilai thitung= 2,17> 1,66 (t74;.05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuanberpikirkritis fisika pesertadidik kelas X SMAN 01Kesamben yang belajarfisika dengan model Inquiry Laboratorylebih tinggi daripada yang belajar dengan cara Direct Instruction.

Penerapan model pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan keterampilan metakognitif dan berpikir siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Malang / Fadhiah Isna

 

Kata kunci: cooperative Script, keterampilan metakognitif, keterampilan berpikir Aspek yang harus dikembangkan dalam diri siswa yakni keterampilan metakognitif dan keterampilan berpikir siswa. Siswa dengan keterampilan metakognitif yang baik akan mampu menjadi pebelajar yang mandiri. Siswa mampu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam kegiatan belajarnya sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir yang baik tentunya materi akan dapat dicerna dengan baik dan siswa akan lebih mudah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu diterapkan strategi pembelajaran cooperative script untuk meningkatkan keterampilan metakognitif dan keterampilan berpikir siswa. Rancangan Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA 4 semester genap tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 1 Malang yang berjumlah 36 orang. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2010. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi kegiatan guru, catatan lapangan, tes keterampilan metakognitif, dan tes keterampilan berpikir. Keterampilan metakogitif siswa diukur dari jawaban siswa yang diskor dengan rubrik. Keterampilan berpikir diukur dari jawaban siswa yang diskor dengan rubrik dan nonrubrik/konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan metakognitif siswa pada siklus I sebesar 48,49; pada siklus II sebesar 68,69; dan pada siklus III sebesar 73,70. Persentase peningkatan keterampilan metakognitif dari siklus I ke siklus II sebesar 41,66%, dan dari siklus II ke siklus III sebesar 7,29%. Rata-rata keterampilan berpikir siswa pada siklus I adalah 39,35; pada siklus II menjadi 44,14; dan pada siklus III sebesar 66,61. Persentase peningkatan keterampilan berpikir dari siklus I ke siklus II sebesar 12,17%, dan dari siklus II ke siklus III sebesar 50,91%. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan keterampilan metakognitif dan keterampilan berpikir siswa kelas XI IPA 4 SMA Negeri 1 Malang. Disarankan hendaknya peneliti memperhatikan alokasi waktu yang digunakan sehingga pelaksanaan pembelajaran berlangsung secara efisien. Pemberdayaan keterampilan metakognitif dan kemampuan berpikir siswa hendaknya dilakukan secara terus menerus dan terencana pada pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi guru bidang studi ataupun peneliti yang lain untuk menerapkan strategi tersebut.

Pengaruh atribut produksi terhadap keputusan konsumen dalam membeli air mineral aqua galon : studi pada Elnusa Mineral di Sumbersari Malang / oleh Ade Joko Nugroho

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |