Karakteristik dan persepsi nelayan terhadap kondisi alam dan pengetahuan teknologi peralatan tangkap ikan di Desa Branta Pesisir Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan Propinsi Jawa Timur / Farhat

 

ABSTRAK Farhat. 2009. Karakteristik dan Persepsi Nelayan terhadap Kondisi Alam dan Pengetahuan Teknologi Peralatan Tangkap Ikan di Desa Branta Pesisir Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan provinsi Jawa Timur. Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Soetjipto TH, SH, (II) Drs.Marhadi Slamet K, M.Si Kata kunci: karakteristik, nelayan, persepsi. Nelayan identik dengan kemiskinan. Faktor penyebab terjadinya kemiskinan pada masyarakat nelayan, seperti kurangnya akses kepada sumber-sumber modal, akses terhadap teknologi, akses terhadap pasar maupun rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam, pertumbuhan jumlah penduduk yang tinggi, dan rendahnya tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nelayan menurut pendidikan, beban tanggungan, pendapatan, hubungan sosial, aktifitas rumah tangga, sarana tangkapan ikan, tempat pemasaran hasil tangkapan ikan, dan pengetahuan nelayan tentang kondisi alam serta pengetahuan tentang teknologi peralatan alat tangkap ikan.. Penelitian ini dilakukan di desa Branta Pesisir Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan, tanggal 28 Mei sampai dengan 30 Juni 2009. Metode yang digunakan dalam membahas karakteristik nelayan dan persepsi terhadap kondisi alam dan pengetahuan teknologi peralatan tangkap ikan di Desa Branta Pesisir adalah survei. Dalam penelitian ini teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sampel yang diambil sebanyak 100 responden dari 904 populasi. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Data yang telah terkumpul ditabulasikan untuk mencari besarnya frekuensi jawaban yang akan dituangkan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) karakteristik sosial ekonomi pekerjaan sebagai nelayan mayoritas menempuh jenjang pendidikan tamatan SMP. Sebagian besar responden memiliki tanggungan keluarga sebanyak 4 orang. Sebagian besar responden memiliki pendapatan rata-rata Rp. 2.188.000,-. Nelayan Desa Branta Pesisir senantiasa ikut dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, keagamaan, serta perkumpulan yang ada di masyarakat. Aktifitas rumah tangga yang lebih berperan adalah istri nelayan sedangkan nelayan hanya bertugas melaut saja. Nelayan Desa Branta Pesisir sudah banyak menggunakan kapal motor untuk melaut dan alat tangkapnya mayoritas menggunakan purse-seine. Tempat pemasaran hasil tangkapan ikan dijual di agen. (2). Persepsi nelayan terhadap kondisi alam sudah bersahabat dengan kehidupannya sehingga nelayan mengetahui tanda-tanda alam yang tepat untuk melaut, sehingga nelayan dapat diketegorikan sangat paham akan kondisi alam seperti pengetahuan tentang laut, ombak, angin dan cara-cara untuk mengurangi resiko ditengah laut. (3) persepsi tentang pengetahuan terhadap teknologi peralatan tangkap ikan mereka peroleh pengalaman dari orang tua sehingga nelayan sudah sangat paham cara mengoperasikan alat tangkap.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Penjualan pada mata diklat melakukan usaha kecil di SMK PGRI 6 Malang / Sapta Lirantia Purnamasari

 

ABSTRAK Purnamasari, Sapta L. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Program Keahlian Penjualan Pada Mata Diklat Melakukan Usaha Kecil Di SMK PGRI 6 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen. Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Budi Eko Soetjipto, M.Ed., M.Si., (2) Rachmad Hidayat, S.Pd. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, group investigation, hasil belajar Pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut serta menentukan kemajuan dan perkembangan kehidupan manusia kearah yang lebih baik. Oleh karena itu, pembaharuan di bidang pendidikan harus selalu dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, diantaranya dengan penyempurnaan kurikulum dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), yang telah disempurnakan menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Dengan penyempurnaan kurikulum, maka proses pembelajaran harus didukung oleh metode pembelajaran yang berkualitas. Salah satu metode tersebut adalah pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Melalui pembelajaran kooperatif model Group Investigation siswa diharuskan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator. Kenyataannya, proses pembelajaran pada mata diklat Melakukan Usaha Kecil kelas X program keahlian Penjualan di SMK PGRI 6 Malang masih didominasi oleh metode ceramah dan tanya jawab yang materinya masih terbatas pada modul pembelajaran. Proses pembelajaran yang monoton membuat siswa cenderung pasif dan berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa dalam proses pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan segala ide, pendapat atau gagasan serta saran yang dimilikinya. Salah satu pembelajaran kooperatif yang melibatkan siswa secara langsung mulai dari perencanaan adalah pembelajaran kooperatif model Group Investigation dimana siswa dituntut lebih aktif dalam proses pembelajaran baik secara fisik maupun mental. Sehingga pembelajaran kooperatif model Group Investigation tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yaitu penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation pada mata diklat Melakukan Usaha Kecil; (2) untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif model Group Investigation; (3) untuk mengetahui hambatan yang muncul dalam penerapan pembelajaran i ii kooperatif model Group Investigation. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Penjualan SMK PGRI 6 Malang yang berjumlah 35 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Sedangkan analisis data meliputi reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pembelajaran kooperatif model Group Investigation pada mata diklat Melakukan Usaha Kecil di SMK PGRI 6 Malang dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu (a) mengidentifikasi topik dan mengatur murid ke dalam kelompok, (b) merencanakan tugas yang akan dipelajari, (c) melaksanakan investigasi, (d) menyiapkan laporan akhir, (e) mepresentasikan laporan akhir, (f) evaluasi; (2) Hasil belajar siswa dari aspek kognitif mengalami peningkatan sebesar 11,16. Dimana hasil belajar siswa pada siklus I adalah 69,44 dan meningkat pada siklus II menjadi 80,6. Sedangkan hasil belajar siswa dari aspek afektif juga mengalami peningkatan sebesar 13,9. Pada siklus I diketahui nilai rata-rata siswa ditinjau dari aspek afektif sebesar 68,57 meningkat menjadi 82,47 pada siklus II; (3) Hambatan yang muncul dalam penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation yaitu: (a) siswa belum terbiasa belajar dengan pembelajaran kooperatif model Group Investigation sehingga peneliti mengalami kesulitan dalam merangsang siswa untuk aktif; (b) keterbatasan waktu dalam pelaksanaan penelitian; dan (c) minimnya sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran kooperatif model Group Investigation khususnya literatur. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Penjualan SMK PGRI 6 Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat diberikan saran yaitu: (1) Bagi Kepala Sekolah SMK PGRI 6 Malang hendaknya lebih menghimbau, mendorong, serta mengusahakan peningkatan kualitas dan keterampilan guru, terutama dalam penggunaan model pembelajaran yang lebih bervariatif, khususnya penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation. Peningkatan kualitas dan keterampilan guru dapat dilakukan melalui pengiriman guru-guru untuk mengikuti diklat tentang profesi guru, sertifikasi, dan lain-lain; (2) Bagi guru mata diklat Melakukan Usaha Kecil disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation dalam rangka meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penerapan pembelajaran model Group Investigation hendaknya lebih variatif, misalnya dengan mengajak para siswa terjun langsung ke lapangan untuk menginvestigasi masalah; (3) Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menerapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation pada mata diklat yang berbeda dengan jumlah pertemuan atau siklus yang lebih banyak; (4) Bagi sekolah disarankan untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai terutama literatur untuk mendukung kelancaran proses pembelajaran kooperatif model Group Investigation.

Pengaruh arus kas (cash flow) dari aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan terhadap return saham perusahaan melalui return on equity (ROE) (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode Desember 2007) / Fandhy Oktofa Likwanda

 

ABSTRAK Oktova. L, Fandhy. 2009. Pengaruh Arus Kas (Cash Flow) dari Aktivitas Investasi dan Ativitas Pendanaan Terhadap Return Saham Perusahaan Melalui Return On Equity (ROE) (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di BEI Periode 2007). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu S., M.M. (II) Subagyo, SE., SH., M.M. Kata Kunci: Cash Flow, Return Saham dan Return On Equity (ROE) Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) mewajibkan penyajian arus kas dalam laporan keuangan mulai tanggal 1 Januari 1995. Penyajian arus kas ini telah di rekomendasikan oleh IAI dengan mengeluarkan PSAK No. 2 tentang laporan arus kas. Rumusan masalah dalam penelitian ini apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara cash flow dari aktivitas operasi, investasi, pendanaan terhadapa return saham jika melalui ROE. Laporan arus kas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari laporan keuangan dan perusahaan harus menyajikan laporan arus kas dalam laporan keuangannya. Laporan arus kas melaporkan penerimaan dan pengeluaran kas selama satu periode yang berasal dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Tetapi dalam penelitian ini dari variabel cash flow cuma menggunakan cash flow dari aktivitas Investasi dan pendanaan yang berpengaruh terhadap return saham melalui ROE. Cash flow dari aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas. Cash flow dari aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan, ROE adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan keuntungan, Return saham adalah pendapatan yang diperoleh investor dari investasi yang telah dilakukan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2007, dimana dari populasi tersebut dipilih sebagai sampel sebanyak 32 perusahaan manufaktur yang listing di BEI dan berdasarkan metode random sampling. Penelitian ini digolongkan pada asosiatif sebab akibat. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari ICMD, Fact Book, Annual Report periode tahun 2007 dan sebagainya. Analisa data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan analisi jalur (Path) dengan menggunakan bantuan computer program SPSS. Uji yang digunakan adalah uji F, uji t, dan uji R2. Hasil analisis uji F menunjukkan bahwa tingkat signifikansi yang di peroleh sebesar 0,001 ini lebih besar dari nilai yaitu sebesar 5%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independent cash flow dari aktivitas investasi, aktivitas pendanaan, dan ROE secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Demikian juga nilai koefisien determinasi dan koefisien korelasi sebesar 0,420 dan 0,648. ini menunjukkan bahwa pengaruh antatra cash flow dari aktivitas investasi, aktivitas pendanaan dan ROE terhadap return saham adalah kuat. Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa tingkat signifikan cash flow dari aktivitsas investasi sebesar 0,009, pendanaan sebesar 0,014 dan ROE sebesar 0,035. Cash flow dari aktivitas investasi, aktivitas pendanaan dan ROE mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham secara langsung karena tingkat signifikansi yang di peroleh lebih kecil dari 5%. Hasil pengujian analisis jalur (path) pada variabel cash flow dari aktivitas investasi terhadap return saham melalui ROE di peroleh nilai pengaruh total yang dinilai sangat kuat. Dan cash flow dari aktivitas pendanaan terhadap return saham melalui ROE di peroleh nilai pengaruh total yang dinilai lemah. Oleh karena itu ROE bisa disebut sebagai variabel moderator, yang dikrenakan hasil pengaruh langsung lebih kecil dari pada pengaruh tidak langsung pada variabel cash flow dari aktivitas investasi terhadap variabel return saham melalui ROE. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah bagi perusahaan pada periode Desember 2007, perusahaan manufaktur mengalami penurunan pada angka produksi dan penjualan produk, oleh karena itu perusahaan diharapkan agar melakukan hutang guna meningkatkan nilai ROE yang nantinya dapat digunakan untuk pembelian aktiva tetap, meningkatkan produksi, investasi dan juga perusahaan dapat melakukan penerbitan saham baru bagi investor. Hal tersebut perlu diupayakan agar kesehatan perusahaan pada periode-periode berikutnya akan menjadi lebih baik. Oleh karena itu tingginya nilai ROE perusahaan, maka kinerja perusahaan dapat dikatakan baik. Bagi peneliti berikutnya, diharapkan peneliti dapat menambahkan variabel cash flow dari aktivitas operasi atau peneliti juga dapat menggunakan variabel lain untuk dijadikan bahan acuan untuk penelitian dimasa yang akan datang.

Pengaruh pendinginan udara masuk dan variasi putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar mesin diesel berbahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) / Yuda Prasetia

 

ABSTRAK Prasetia, Yuda. 2009. Pengaruh Pendinginan Udara Masuk dan Variasi Putaran Mesin Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Mesin Diesel Berbahan Bakar Biodiesel (Minyak Jarak-Solar). Skripsi, Program S-1 Jurusan Teknik Mesin Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Sukarni, S.T., M.T, dan (II) Drs. Partono, M.Pd. Kata kunci: pendinginan udara masuk, variasi putaran, konsumsi bahan bakar Mengingat jumlah pasokan dan cadangan minyak bumi di Indonesia pada khususnya dan di dunia pada umumnya semakin berkurang dan disertai oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang meningkat tajam maka banyak masyarakat yang mencari solusi sumber energi alternatif dalam penekanan penggunaan minyak. Dimana salah satu cara untuk penekanan yaitu penggantian bahan bakar solar dengan biodiesel. Selain ditemukannya berbagai sumber energi alternatif, belakangan ini juga ditemukan penggunaan pendinginan udara masuk dapat meningkatkan performansi dan efisiensi motor bakar diesel. Perubahan suhu udara masuk ruang bakar akan berpengaruh terhadap kerapatan udara, sehingga akan mempengaruhi efisiensi volumetrik yang masuk ke ruang bakar. Tingkat kesempurnaan pembakaran merupakan salah satu hal yang dapat memperbaiki unjuk kerja mesin. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendinginan udara masuk dan variasi putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar mesin diesel berbahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar). Objek penelitian yang dipakai dalam penelitian adalah Mesin diesel empat langkah jenis Nissan, dengan dipasang pendingin udara masuk (dry ice) pada putaran mesin 1400 rpm, 1700 rpm, 2000 rpm, 2300 rpm, 2600 rpm dan 2900 rpm serta menggunakan bahan bakar campuran solar dan minyak jarak 20 %. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimental dengan desain faktorial 6 x 2. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analis varian dua jalur untuk menguji hipotesis yang diajukan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pendinginan udara masuk, variasi putaran mesin dan interaksi antara pendinginan udara masuk dan putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar mesin diesel. Pada mesin yang menggunakan pendinginan maupun tidak menggunakan pendinginan udara masuk, konsumsi bahan bakar tertinggi ketika mesin pada putaran 2600 rpm dan konsumsi bahan bakar terendah terjadi pada saat mesin pada putaran 2900 rpm. Saran yang dapat dikemukakan yaitu melakukan penelitian lebih lanjut tentang pendinginan udara masuk terhadap konsumsi bahan bakar mesin diesel pada berbagai variasi suhu serta perlu dilakukan penelitian tentang pendingin yang lebih sesuai dan praktis digunakan untuk pendinginan udara masuk.

Content analysis of textbook get along with English used in grade VII at SMPN 13 Malang / Nunuk Ika Herawati

 

Herawati, Nunuk Ika. 2013.Content Analysis of the Book ‘Get Along with English’ used for gradeVII at SMP Negeri 13 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Kata Kunci: analisis isi buku, buku teks Get Along with English Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisis isi buku teks Get Along with English yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas VII, SMP Negeri 13 Malang, pendapat guru tentang buku teks Get Along with English, dan persepsi peserta didik terhadap buku teks Get Along with English. Model penelitian yang diterapan adalah model penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Malang yang bertempat di Jalan Sunan Ampel II, Malang, Jawa Timur. Penelitian ini melibatkan satu guru dan 37 peserta didik sebagai subjek penelitian untuk mendapatkan opini masing-masing terhadap buku teks Get Along with English dan buku teks Get Along with English sebagai objek penelitian untuk dianalisis. Penelitian ini berlangsung pada bulan Januari hingga Maret 2013. Peneliti menggunakan wawancara dan kuesioner untuk mendapatkan data, serta beberapa dokumen yang relevan sebagai data pendukung agar peneliti memperoleh data yang valid. Setelah menganalisis data, peneliti menemukan bahwa buku teks Get Along with English memenuhi sebagian besar kriteria buku teks yang baik. Kriteria buku teks yang baik meliputi isi buku, penataan buku, metode yang digunakan dalam buku, media yang digunakan dalam buku, dan tampilan buku. Buku teks Get Along with English bertujuan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik akan sumber belajar bahasa Inggris, serta membantu guru untuk mengembangkan kegiatan belajar mengajar bahasa Inggris. Buku ini terorganisasi dengan baik dan ditata menurut tingkat kesulitan, meski terdapat beberapa materi yang diulang. Penyajian empal skill bahasa cukup seimbang, dan buku ini juga mencakup komposisi bahasa lainnya seperti kosakata, grammar, jenis teks, dsb. Media yang digunakan dalam buku ini adalah gambar dan tampilan buku jelas baik bagi guru maupun peserta didik. Selain itu, peneliti juga mencoba menemukan opini guru terhadap buku teks Get Along with English dan persepsi peserta didik terhadap buku teks Get Along with English dan menemukan bahwa buku teks ini termasuk buku teks yang baik walaupun masih membutuhkan beberapa revisi sebagai penyempurnaan. Penyempurnaan yang dibutuhkan oleh buku teks Get Along with English adalah variasi materi, serta penggunaan warna untuk membuat buku lebih menarik. Disamping itu, materi yang lebih up to date juga dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi peserta didik dan beragam jenis teks. Selainitu, ketersediaan rekaman materi untuk kegiatan mendengarkan juga baik untuk mengembangkan kemampuan listening peserta didik. Peneliti menyarankan agar (1) Buku ini disertai rekaman materi untuk aktivitas mendengarkan dan menyelaraskan empat kemampuan berbahasa Inggris, (2) melengkapi ketersediaan jenis teks, (3) menata kembali urutan materi dalam buku, (4) memperbarui informasi yang terdapat dalam buku, dan (5) menyediakan fun page untuk aktivitas peserta didik. Selain itu, guru juga diharapkan untuk kreatif dan selektif dalam memilih materi tambahan untuk melengkapi materi yang ada di dalam buku teks Get Along with English.

Mekanisme pertanggungjawaban sumbangan masyarakat untuk pembangunan masjid Al-Ihsan yang dilakukan di kapal penyeberangan Madura-Surabaya / Lutfiyatun Hasanah

 

ABSTRAK Hasanah, Lutfiyatun. 2009. Mekanisme Pertanggungjawaban Sumbangan Masyarakat untuk Pembangunan Masjid AL-IHSAN yang dilakukan di Kapal Penyeberangan Madura-Surabaya. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Suparlan, M.Si (II) Rusdianto Umar, SH, M.Hum. Kata Kunci : Mekanisme pertanggungjawaban, sumbangan masyarakat, kapal penyeberangan. Sumbangan merupakan pemberian sesuatu dengan tulus ikhlas kepada pihak lain dengan tujuan untuk meringankan beban/penderitaan orang yang menerima. Sumbangan yang diberikan tentunya harus didasari perasaan tulus ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan, baik imbalan langsung dari pihak yang menerima, maupun imbalan secara tidak langsung dari pihak lain (ketiga). Imbalan yang diharapkan dari pihak ketiga ini bisa dari Pemerintah berupa insentif pajak, atau bisa juga dari Tuhan Yang Maha Kuasa, berupa anugerah yang berlimpah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui (1) proses pengumpulan dana sumbangan masyarakat untuk pembangunan masjid AL-IHSAN di kapal penyeberangan Madura-Surabaya, (2) partisipasi masyarakat dalam proses pengumpulan dana sumbangan masyarakat untuk pembangunan masjid AL- IHSAN di kapal penyeberangan Madura-Surabaya, (3) mekanisme pertanggungjawaban sumbangan masyarakat untuk pembangunan masjid AL- IHSAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian berada di kapal-kapal penyeberangan Madura-Surabaya. diantaranya di KMP Tongkol, KMP Wicitra dharma, KMP Potre koneng, KMP Mulia nusantara. Sumber data berasal dari: Orang yaitu manajer PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero), kepala desa Banyuajuh, panitia pembangunan masjid AL-IHSAN dan para penyumbang dana sumbangan. Peristiwa berupa seluruh aktivitas panitia pembangunan masjid AL-IHSAN dan dokumentasi tentang gambaran umum penyeberangan Madura-Surabaya. pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. Keabsahan data dilakukan dengan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) proses pengumpulan dana sumbangan masyarakat untuk pembangunan masjid AL-IHSAN di kapal penyeberangan Madura-Surabaya melalui beberapa tahapan yaitu tahap persiapan yang meliputi penyusunan rancangan dan perizinan, tahap pelaksanaan yang meliputi penggalangan dana dan pengelolaan dana serta yang terakhir yaitu tahap pelaporan, (2) partisipasi masyarakat dalam proses pengumpulan dana sumbangan masyarakat untuk pembangunan masjid AL-IHSAN dapat dikelompokkan menjadi empat. Pertama, partisipasi masyarakat dalam menyumbang di kapal penyeberangan Madura-Surabaya dengan pemasukan perharinya antaranya Rp. 115.000,00 s/d Rp. 400.000,00. kedua, partisipasi masyarakat dalam menyumbang di masjid dengan pemasukan perminggunya antara Rp. 350.000,00 s/d Rp. 700.000,00. ketiga, partisipasi masyarakat sekitar masjid dalam menyumbang per RT dengan pemasukan perminggunya Rp.150.000,00 s/d Rp. 300.000,00. dan yang keempat, partisipasi masyarakat dalam menyumbang di jalan depan masjid dengan pemasukan perharinya sebanyak Rp. 400.000,00. (3) mekanisme pertanggungjawaban sumbangan masyarakat untuk pembangunan masjid AL- IHSAN sifatnya sangat transparan. Karena hasil penerimaan dan pengeluaran selalu dicatat dalam buku laporan. Sehingga kegiatan penggalangan dana sumbangan yang dilakukan panitia pembangunan masjid AL-IHSAN ini bisa dipertanggungjawabkan. Berdasarkan temuan penelitian ini, agar disarankan bagi penggalang dana sumbangan dan panitia pelaksana penggalangan dana sebaiknya dalam proses perijinan harus mencakup semua pihak yang terkait seperti ijin dari manajer PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) dan kepala desa setempat. Dan apabila mendapat dana dari seseorang, maka sudah seharusnya menjadi kewajiban panitia pelaksana untuk memastikan uang itu dibelanjakan untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dan memastikan uang itu dibelanjakan dengan sebaik-baiknya dan benar-benar mancapai hasil yang nyata. Selain itu mengingat percepatan proses penyelesaian pembangunan masjid AL-IHSAN yang penggunaannya sangat mendesak selanjutnya diharapkan partisipasi aktif dari para pengguna jasa kapal penyeberangan Madura-Surabaya yang perduli terhadap eksistensi agama islam baik secara pribadi maupun institusi. Pemerintah Kabupaten Bangkalan diharapkan dapat membantu biaya pembangunan masjid AL-IHSAN atau memfasilitasi sarana dan prasarana kepada panitia pelaksana terkait dengan pembangunan masjid.

Perbedaan hasil belajar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI SMA Negeri 4 Malang yang dibelajarkan dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing dan metode konvensional pada materi pokok koloid tahun ajaran 2008-2009 / Yuwanita Indriani

 

ABSTRAK Indriani, Yuwanita. 2009. Perbedaan Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMA Negeri 4 Malang yang Dibelajarkan dengan Menggunakan Metode Inkuiri Terbimbing dan Metode Konvensional pada Materi Pokok Koloid Tahun Ajaran 2008- 2009. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.I Wayan Dasna, M.Si, M.Ed., Ph.D. (II) Drs. H. Parlan, M. Si. Kata kunci: hasil belajar, kemampuan berpikir tingkat tinggi, inkuiri terbimbing, Pembelajaran IPA khususnya kimia dalam pembelajarannya lebih menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan kerja ilmiah. Materi kimia yang berjenjang membuat siswa sulit memahami konsep-konsep kimia. Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMAN 2 Pasuruan dan SMAN 4 Malang serta berdasarkan wawancara dengan sejumlah murid, diketahui bahwa pembelajaran kimia masih diajarkan dengan metode ceramah dan dilanjutkan dengan hafalan. Keadaan tersebut mengakibatkan siswa cenderung lemah dalam penguasaaan konsep-konsep, pasif, serta kurang berminat dalam mempelajari kimia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) perbedaan antara hasil belajar siswa kelas XI SMAN 4 Malang yang dibelajarkan dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode konvensional, (2) perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI SMAN 4 Malang yang dibelajarkan dengan menggunakan metode inkuiri terbimbing dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dan rancangan deskripif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMAN 4 Malang sedangkan sampel adalah siswa kelas XIA-3 dan XIA-4 SMAN 4 Malang. Instrumen penelitian terdiri atas instrumen pengukuran dan instrumen perlakuan. Instrumen pengukuran terdiri atas soal post test dan lembar observasi. Hasil uji coba tes diperoleh 24 soal valid dengan nilai reliabilitas = 0,77. Soal yang tidak valid diperbaiki kambali. Perbedaan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol dianalisis menggunakan uji-t dua pihak. Kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dianalisis dengan cara menghitung persentase jawaban siswa dalam menjawab soal ranah C4-C6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar kelas eksperimen 84 dan kelas kontrol 78. Begitu juga nilai psikomotorik dan afektif siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai psikomotorik dan afektif siswa kelas kontrol, (2) Terdapat perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kemapuan berpikir tingkat tinggi kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal ini terlihat dari persentase kemampuan siswa menjawab soal-soal dengan benar untuk kelas eksperimen pada jenjang C4 adalah 94%, C5 sebesar 92% dan C6 sebesar 94%, sedangkan pada kelas kontrol pada jenjang C4 adalah 77%, C5 sebesar 59%, dan C6 sebesar 71%.

Komposita bahasa Jerman hasil bentukan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2005 dalam mata kuliah Ubersetzung Indonesisch-Deutsch / Dina Sisilia Ratih Palupi

 

ABSTRAK Palupi, Dina Sisilia Ratih. Komposita Bahasa Jerman Hasil Bentukan Mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Angkatan 2005 dalam Mata Kuliah Übersetzung Indonesisch- Deutsch. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rosyidah, M.Pd, (II) Edy Hidayat, Spd. M.Hum Kata kunci: Morfologi, Pembentukan kata, Komposita, Penerjemahan Komposita adalah salah satu jenis pembentukan kata yang proses morfologi pembentukan katanya dengan menggabungkan dua kata atau lebih sehingga membentuk kata dan makna kata yang baru. Pada mata kuliah morfologi, proses pembentukan kata yang berupa komposita kurang diberikan secara mendalam karena keterbatasan waktu belajar. Hal ini membuat banyak mahasiswa yang masih mengalami kesulitan dalam proses pembentukan kata dan perubahan makna kata setelah mengalami proses pembentukan kata (komposita). Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui pola pembentukan komposita dan makna komposita bahasa Jerman hasil bentukan mahasiswa pada mata kuliah Übersetzung Indonesisch-Deutsch. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola dan makna komposita bahasa Jerman hasil bentukan mahasiswa pada mata kuliah Übersetzung Indonesisch-Deutsch. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Vater. Vater mendeskripsikan pembentukan pola komposita bahasa Jerman dengan sederhana dan lebih jelas apabila dibandingkan dengan teori yang lain. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah mahasiswa angkatan 2005 yang mengikuti mata kuliah Übersetzung Indonesisch-Deutsch sebanyak 26 orang. Data dalam penelitian ini adalah kata-kata bahasa Jerman hasil bentukan mahasiswa yang muncul karena proses komposita atau Zusammensetzung dalam mata kuliah Übersetzung Indonesisch-Deutsch. Peneliti sebagai instrumen utama juga dibantu oleh instrumen pemandu yang berupa tabel dan diagram. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) pola pembentukan komposita bahasa Jerman oleh mahasiswa pada mata kuliah Übersetzung Indonesisch-Deutsch kebanyakan berasal dari pembentukan komposita yang terdiri dari dua kata, yaitu kata benda+kata benda, selain dari kata benda (Nomen), kata kerja (Verb), dan kata sifat (Adjektiv), pola pembentukan komposita bahasa Jerman oleh mahasiswa ini juga berasal dari kata keterangan (Adverb), Präposition, dan Partikel, (2) dalam proses pembentukan pola komposita bahasa Jerman, mahasiswa masih terpengaruh oleh bahasa ibu, yaitu bahasa Indonesia, (3) masih banyak mahasiswa yang belum mengerti tentang materi Fugenzeichen dalam pembentukan pola komposita, dan (4) makna komposita bahasa Jerman hasil bentukan mahasiswa ada yang mengalami perubahan makna dan ada yang tidak mengalami perubahan makna.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang kondisi fasilitas perkuliahan dan kompetensi profesionalisme dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Sukma Adekayanti

 

ABSTRAK Adekayanti, Sukma. 2009. Pengaruh persepsi Mahasiswa Tentang Kondisi Fasilitasperkuliahan dan Kompetensi Profesionalisme Dosen Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Sutatmi, S.E.,M.Pd., M.Si.Ak. (2) Helianti Utami, S.E., M.Si. Ak Kata Kunci : Fasilitas Perkuliahan, Kompetensi Profesionalisme dosen, Motivasi Belajar Persepsi adalah suatu proses individu dalam penginderaan yang mengarah kepada pemberian makna terhadap lingkungannya, tujuannya adalah untuk mengetahui, menginterprestasikan, dan mengevaluasi objek yang dipersepsi baik itu tentang sifat, kualitas dan keadaan lain objek tersebut. Dalam hal ini kondisi fasilitas perkuliahan dan kompetensi profesionalisme dosen merupakan objek yang dipersepsi oleh mahasiswa. Apabila persepsi mahasiswa tentang kondisi fasilitas perkuliahan dan kompetensi profesionalisme dosen baik atau positif maka akan mendukung terciptanya motivasi yang kuat dalam diri mahasiswa sehingga dapat memproleh hasil pembelajaran yang maksimal. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh persepsi mahasiswa tentang kondisi fasilitas perkuliahan dan kompetensi profesionalisme dosen terhadap motivasi balajar mahasiswa jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang baik secara parsial maupun simultan. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi (Explanatory Research). Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode angket dan dokumentasi. Populasi data dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tahun angkatan 2005, 2006, dan 2007 yang aktif mengikuti perkuliahan pada pada semester genap 2008/2009, diwakili sampel 105 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik proporsional random sampling. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis regresi berganda dengan menggunakan uji t dan uji F melalui SPSS 10.00 for windows. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data dalam penelitian ini adalah angket tertutup atau kuisioner. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa (1) terdapat pengaruh persepsi mahasiswa tentang kondisi fasilitas perkuliahan terhadap motivasi belajar mahasiswa secara parsial, hal ini terbukti dengan didapatnya T hitung 3,252. (2) terdapat pengaruh persepsi mahasiswa tentang kompetensi profesionalisme dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa secara parsial, hal ini terbukti dengan didapatnya T hitung 6,438. (3) terdapat pengaruh persepsi mahasiswa tentang kondisi fasilitas perkuliahan dan kompetensi profesionalisme dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa secara simultan, hal ini dibuktikan didapatnya R Square sebesar 40,1%. Berdasarkan hasil penelitian ini saran yang dapat diajukan kepada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri malang sebagai upaya peningkatan motivasi belajar mahasiswa adalah: (1) mengadakan penambahan dan merawat fasilitas yang mendukung kegiatan perkuliahan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, baik mutunya maupun kuantitasnya. (2) dapat menjadi pertimbangan bagi pimpinan Fakultas Ekonomi untuk merencanakan kebijakan dalam meningkatkan dan mengembangkan kompetensi profesionalisme dosen.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep proses eksotermik dan endotermik pada siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Vina Agustina

 

ABSTRAK Agustina, Vina. 2009. Identifikasi Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep Proses Eksotermik dan Endotermik pada Siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fariati, M.Sc., (2) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: Konsep sukar, kesalahan konsep, proses eksotermik dan endotermik. Proses eksotermik dan endotermik dapat dikaji sebagai konsep konkrit dan abstrak. Sifat abstrak lebih sulit dipahami daripada konsep konkrit. Jika siswa kesulitan memahami konsep, maka akan menimbulkan konsep sukar. Konsep sukar adalah konsep dengan persentase jawaban salah siswa dari butir soal suatu konsep sama dengan atau lebih besar dari 61%. Konsep sukar siswa dapat disebabkan siswa mengalami kesalahan konsep. Kesalahan konsep ini diidentifikasi berdasarkan konsistensi siswa memilih jawaban salah pada soal yang berbeda tetapi memiliki konsep yang sama. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep proses eksotermik dan endotermik pada siswa kelas X, XI, dan XII SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang.

Pengaruh kinerja keuangan dan risiko sistematis terhadap harga saham perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia / Candra Jatmiko

 

ABSTRAK Jatmiko, Candra. 2009. Pengaruh Kinerja Keuangan dan Risiko Sistematis terhadap Harga Saham Perbankan yang Listing di Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Makaryanawati, S.E., M.si, Ak (II) D.R., Puji Handayati, S.E, M.M, Ak, Kata kunci: kinerja keuangan, risiko sistematis, harga saham Investasi melalui pasar modal, khususnya dalam bentuk saham selain menjanjikan hasil juga mengandung risiko. Hal ini disebabkan karena pergerakan harga saham yang fluktuatif dan sulit ditebak. Harga saham dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Faktor internal yang mempengaruhi harga saham dapat berupa kinerja perusahaan yang bisa diukur menggunakan rasio keuangan. Sementara faktor eksternal yang berpengaruh terhadap harga saham dapat berupa kebijakan pemerintah, risiko pasar, inflasi, tingkat suku bunga dsb. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh yang berasal dari faktor internal perusahaan, yaitu kinerja keuangan yang terdiri dari EPS, PBV, ROE, ROI, NPM, LDR, CAR dan pengaruh eksternal yang berupa Risiko Sistematis (BETA) terhadap harga saham baik secara parsial maupun simultan. Dalam perhitungan risiko sistematis, harga saham yang digunakan adalah harga saham penutupan bulanan. Populasi dari penelitian ini adalah semua perusahaan Perbankan yang listing di BEI periode 2005-2007. Dari populasi tersebut, kemudian digunakan metode purposive sampling agar kualifikasi sampel sesuai dengan kriteria-kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian. Hasilnya terdapat 23 perusahaan yang memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel penelitian. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi stepwise. Hasil uji t yang telah dilakukan menunjukkan bahwa variabel EPS, PBV, ROI dan CAR memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05 sehingga H0 ditolak dan menerima hipotesis yang diajukan. Sementara variabel ROE, NPM, LDR dan BETA menunjukkan nilai signifikansi lebih dari 0,05 sehingga H0 diterima dan menolak hipotesis yang diajukan. Hasil uji F menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05 sehingga H0 ditolak dan menerima hipotesis yang diajukan. Hasil pengujian hipotesis tersebut menunjukkan bahwa variabel EPS, PBV, ROI dan CAR memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Sementara variabel ROE, NPM, LDR dan BETA tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Secara simultan, variabel EPS, PBV, ROE, ROI, NPM, LDR, CAR dan BETA berpengaruh signifikan terhadap harga saham. EPS menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap harga saham. Ini menandakan investor sangat tertarik pada perusahaan yang memiliki nilai EPS tinggi. Dari hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan, disarankan kepada para investor untuk mempertimbangkan kinerja keuangan terutama EPS, PBV, ROI dan CAR terlebih dahulu sebelum melakukan investasi pada perusahaan perbankan.

Penyelenggaraan homeschooling dalam perspektif manajemen pendidikan: studi kasus di komunitas homeschooling sekolah dolan Malang / Eni Rahayu

 

Abstrak Homeschooling adalah pendidikan alternatif berbasis rumah yang dilaksanakan di mana pun, kapanpun, dan dengan siapapun di mana proses pendidikan anak hampir sepenuhnya dipegang oleh orang tua. Sistem pendidikan homeschooling menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan menggunakan pendekatan pendidikan secara at home. Di Kota Malang terdapat beberapa lembaga yang menerapkan homeschooling, namun hanya Komunitas Homeschooling Sekolah Dolan yang berada di bawah naungan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) dan mendapat binaan dari Depdiknas bidang Pendidikan Luar Sekolah. Berdasarkan informasi tersebut, maka dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui penyelenggaraan homeschooling di Sekolah Dolan Malang dalam perspektif manajemen pendidikan, dengan fokus dan tujuan penelitian memaparkan tentang (1) manajemen kurikulum dan pembelajaran, (2) manajemen peserta didik, (3) manajemen sarana dan prasarana, (4) manajemen sumber daya manusia, dan (5) manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif eksplanatoris dengan jenis penelitian studi kasus. Temuan-temuan penelitian yang dibahas dengan cara membandingkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, sehingga diperoleh hasil bahwa dalam menyelenggarakan homeschooling, Komunitas Homeschooling Sekolah Dolan Malang melaksanakan aktivitas manajemen pendidikan yang meliputi manajemen kurikulum dan pembelajaran, manajemen peserta didik, manajemen sarana dan prasarana, manajemen sumber daya manusia, dan manajemen hubungan sekolah dan masyarakat. Secara rinci (1) manajemen kurikulum dan pembelajaran, kurikulum yang digunakan di Sekolah Dolan adalah kurikulum inovatif dengan metode pembelajaran yang konstruktivistik, (2) manajemen peserta didik meliputi kegiatan penerimaan siswa baru, layanan program LSC (Learning Support Center), peningkatan potensi peserta didik, pengelolaan kegiatan ekstra kelas, (3) manajemen sarana dan prasarana meliputi kegiatan pengadaan sarana, penggunaan dan perawatan sarana, dan pengupgradean atau pembaharuan sarana yang masih layak pakai, (4) manajemen sumber daya manusia terdiri dari perekrutan tutor, pembagian tugas (job description), dan pengembangan kemampuan tutor, (5) manajemen hubungan sekolah dan masyarakat menggunakan teknik pertemuan kelompok, tatap muka, observasi dan partisipasi, serta surat-menyurat dengan pihak terkait dimana kegiatan tersebut dilaksanakan secara berkesinambungan agar kebutuhan komunitas dan harapan masyarakat dapat sejalan. Kata Kunci: homeschooling, manajemen pendidikan

Studi aktivitas dan pendapatan pengrajin meubel di Kabupaten Bondowoso / Liza Asri Safarina

 

Indonesia merupakan negara yang terbentang dikawasan tropis dan didalamnya terdapat kekayaan alam yang melimpah ruah. Berbagai hasil dari alam sudah tersedia didalamnya, yang perlu diolah dan dijaga pelestariannya. Pentingnya pengembangan di bidang industri dalam proses pembangunan ekonomi suatu daerah di sadari oleh pemerintah Kabupaten Bondowoso. Pengembangan strategi di bidang industri dapat menciptakan kesempatan kerja secara maksimal demi kelangsungan hidup bangsa. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa di Kabupaten Bondowoso dibidang industri relatif kurang berkembang seperti yang diharapkan atau lebih lambat dibandingkan dengan kabupaten lain.

Motivasi tenaga kerja wanita bekerja ke luar negeri dan dampak remitensi terhadap keluarga TKW di Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi / Ria Puspita

 

Masalah jumlah tenaga kerja setiap tahun selalu bertambah seiring dengan berkembangnya teknologi dan pertumbuhan penduduk yang pesat. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak diimbangi oleh perkembangan ekonomi. Hal ini akan menimbulkan masalah bagi kehidupan masyarakat, sepertii minimnya kesempatan kerja yang ada dapat menimbulkan banyaknya pengangguran, hal ini jika tidak dikontrol akan mengakibatkan dampak yang akan memperparah citra bangsa Indonesia. Berdasarkan data di Badan Pusat Statistik jumlah tenaga kerja dari tahun ke tahun semakin meningkat, menurut informasi dari Badan Pusat Statistik Banyuwangi tahun 2008 jumlah tenaga kerja wanita di Kecamatan Cluring telah mencapai 24.398 orang. Sedangkan menurut data Badan Pusat Statistik Banyuwangi tahun 2007 jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja ke luar negeri telah mencapai 3.126 orang.

Analisis efisiensi dan efektivitas fungsi produksi (studi kasus pada PT Perkebunan Nusantara X PG Krembung Persero) / Dwi Sulistyorini

 

ABSTRAK Sulistyorini, Dwi. 2009. Analisis Efisiensi dan Efektivitas Fungsi Produksi (Studi Kasus Pada PT Perkebunaan Nusantara X PG Krembung Persero). Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Yuli Widi Astuti, SE, M.Si, Ak, (II) Triadi Agung Sudarto, SE, Ak, M.Si. Kata kunci: Efisiensi, efektivitas, produktivitas biaya produksi (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik), idle capacity mesin. Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang kegiatan utamanya memproduksi barang untuk selanjutnya dipasarkan. Dalam melaksanakan kegiatan produksinya, perusahaan harus membuat perencanaan dan pengendalian yang baik serta dapat menggunakan sumber daya yang dimilikinya dengan optimal agar efisien dan efektif. Untuk dapat mengetahui efisiensi dan efektivitas suatu fungsi produksi maka diperlukan adanya audit operasional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilaksanakan pada fungsi produksi PG Krembung Sidoarjo. Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur dan menilai efisiensi dan efektivitas pada fungsi produksi selama enam tahun (20032008). Dengan dilakukannya analisis efisiensi dan efektivitas fungsi produksi diharapkan dapat membantu manajemen dalam menemukan kelemahankelemahan yang dapat menghambat jalannya operasi perusahaan yang selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki dan penyempurnaan operasi perusahaan. Analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilaksanakan dengan mengadakan pengukuran terhadap tingkat ketercapaian tujuan (achievement rate), produktivitas biaya produksi (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik), serta idle capacity mesin dalam perbandingan waktu enam tahun (20032008). Kemudian dilanjutkan dengan analisis kualitatif yaitu dengan membandingkan criteria, causes, effect Hasil penelitian menunjukkan bahwa PG Krembung sudah efektif dalam menjalankan fungsi produksinya. Hal ini tercermin pada tingkat ketercapaian tujuan selama enam tahun terakhir. Efektivitas tertinggi terjadi pada tahun 2004 dengan tingkat ketercapaian tujuan mencapai 103,76%. Untuk efisiensi penggunaan biaya produksi dapat diketahui dari produktivitas penggunaan biaya produksi (bahan baku, tenaga kerja langsung, dan overhead pabrik), serta idle capacity mesin. Efisiensi penggunaan bahan baku terjadi pada tahun 2008 dengan tingkat produktivitas mencapai 172,25%. Untuk biaya tenaga kerja langsung, efisiensi terjadi pada tahun 2008 dimana tingkat produktivitas mencapai 16,33. Sedangkan untuk overhead pabrik, efisiensi terjadi pada tahun 2007 dengan tingkat produktivitas mencapai 381,51%. Idle capacity terendah terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 17,47.

Pembelajaran finger painting pada sentra seni kreativitas di PAUD Kemala Bhayangkari 9 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Fivtina Shendi Restu

 

ABSTRAK Restu, Fivtina Shendi. 2009. Pembelajaran Finger Painting Pada Sentra Seni Kreativitas di PAUD Kemala Bhayangkari 9 Singosari, Malang, Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs, Kentar Budhojo, M.Pd, (II) Ellyn Sugeng Desyanty, S.Pd., M.Pd Kata kunci: Pembelajaran, Finger Painting, Anak Usia Dini Banyak para ahli yang mengadakan penelitian tentang perkembangan jiwa, kemampuan dalam berfikir, kreativitas, serta ketrampilan yang melibatkan daya imajinasi anak. Apabila semua kemampuan yang dimiliki anak dikembangkan sebagaimana mestinya, maka akan berguna bagi kehidupan anak selanjutnya. Dalam karya seni, anak akan mengungkapkan daya cipta dan ketrampilan yang dimilikinya dengan menggunakan berbagai macam alat dan media. Salah satu bentuk aplikasi lain dalam menggambar yang menjadi trend saat ini adalah finger painting. Finger painting merupakan suatu gerakan motoris yang global bagi anak, seluruh badan seakan-seakan ikut terlibat melakukan gerakan itu. Pembelajaran finger painting di PAUD diarahkan pada pengembangan kreativitas dan ketrampilan anak serta pembentukan kepribadian anak sesuai dengan tingkat perkembangan usia dan karakter anak. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan pembelajaran finger painting pada sentra seni kreativitas di PAUD Kemala Bhayangkari 9 Singosari, Malang. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan narasi/cerita. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Tujuan pembelajaran finger painting (a) Sebagai sarana untuk melatih keberanian anak dalam menggambar, dalam menuangkan imajinasinya (b) Sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan dasar yang meliputi daya cipta, bahasa, daya pikir, ketrampilan, dan jasmani anak, (2) Metode pembelajaran finger painting, guru saling membantu dan bekerjasama. Semua metode dilaksanakan secara lebih sederhana, menarik, dan mudah dimengerti anak, (3) Media pembelajaran finger painting, menggunakan sarana yang ada di PAUD, yaitu bahan hasil pabrik dan alam, bahan-bahan sederhana, yang berupa bahan alam atau limbah yang dapat digunakan anak-anak untuk berkarya seni, (4) Proses evaluasi finger painting dilakukan pada hari itu juga, saat pembelajaran usai guru mengadakan pengecekan dan pengamatan terhadap hasil aktivitas yang dikerjakan, serta memberikan nilai pada buku gambar. Saran yang diberikan: (1) Bagi Lembaga PAUD Kemala Bhayangkari 9 Singosari Malang, diharapkan dapat meningkatkan kualitas media pembelajaran dan metode pembelajaran yang telah dikembangkan, khususnya pada sentra seni kreativitas, (2) Bagi Jurusan PLS, diharapkan dapat memperbanyak literatur tentang pengelolaan PAUD berkenaan dengan sentra pada umumnya, dan sentra seni kreativitas khususnya, serta menambah keilmuan tentang praktek pembelajaran pada sentra-sentra tersebut, (3)Bagi Peneliti Selanjutnya, dapat mengkaji kembali model, pemanfaatan dan bentuk media finger painting tersebut dan mengembangkan lebih spesifik lagi media pembelajarannya.

Hubungan antara konsep diri dengan tugas perkembangan siswa di SMP Negeri 1 Wajak / Nandasari Aulia

 

ABSTRAK Aulia, Nandasari. 2009. Hubungan Antara Konsep Diri dengan Tugas Perkembangan Siswa di SMP Negeri 1 Wajak. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Djoko Budi Santoso, (II) Drs. Hariadi Kusuma. Kata Kunci: Konsep diri, Tugas Perkembangan. Remaja dapat dipandang sebagai suatu masa dimana individu telah mencapai kematangan dalam proses perkembangannya, terutama kematangan fisik. Bila ia menerima keadaan tubuhnya, maka hal ini akan berakibat positif terhadap konsep dirinya. Bila terdapat penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah yang berhubungan dengan konsep diri dan sikap sosialnya. Jika remaja dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang ada pada dirinya, maka ia akan mengembangkan konsep diri positif (Wicklund and Frey, 1980). Calhoun (1995) menunjukkan bahwa orang-orang yang menghukum diri secara psikis karena berpenampilan kurang sempurna menyebabkan timbulnya konsep diri rendah. Lebih lanjut Monks dkk. (1992), mengatakan bahwa ”konsep diri (self concept) akan turun bila seseorang tidak dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan dengan baik”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsep diri siswa SMP Negeri 1 Wajak, pelaksanaan tugas perkembangan siswa SMP Negeri 1 Wajak, hubungan antara konsep diri dengan pelaksanaan tugas perkembangan siswa di SMP Negeri 1 Wajak. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah siswa siswa kelas VIII di SMPN 1 Wajak tahun ajaran 2009/2010. Teknik pengambilan sampel adalah teknik proportional random sampling dengan undian sehingga total sampel sebesar 98 siswa dari populasi sebesar 200 siswa. Pengambilan data dengan cara angket. Analisis data dengan menggunakan persentase dan product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak (65,31%) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wajak yang mempunyai konsep diri tinggi, cukup banyak (34,69 %) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wajak yang mempunyai konsep diri yang cukup, dan sangat sedikit (0 %) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wajak yang mempunyai konsep diri yang rendah. Untuk hasil penelitian dalam tugas perkembangan menunjukkan bahwa banyak (63,27%) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wajak yang melaksanakan tugas perkembangan sangat baik, cukup banyak (36,73 %) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wajak yang melaksanakan tugas perkembangan cukup baik, dan sangat sedikit (0 %) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Wajak yang melaksanakan tugas perkembangan kurang baik. Dari hasil analisis data diketahui bahwa nilai korelasi antara konsep diri siswa dengan tugas perkembangan sebesar 0,592 dan menunjukkan signifikasi pada level 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan tugas perkembangan. Semakin tinggi konsep diri seseorang maka semakin baik pula tugas-tugas perkembangannya. Berdasarkan penemuan di atas, saran ditujukan kepada Kepala Sekolah sebagai penentu kebijakan di sekolah, diharapkan dapat lebih meningkatkan kebijakan terhadap pelaksanaan dan penyediaan sarana layanan Bimbingan dan i Konseling di Sekolah, memperhitungkan waktu yang tepat untuk memulai pendidikan sesuai dengan perkembangan siswa. Dengan demikian siswa akan lebih berpeluang untuk melaksanakan tugas perkembangan dengan baik dan pengembangan konsep diri ke arah yang diinginkan. Konselor diharapkan memotivasi klien untuk mengembangkan, memelihara, ataupun merubah konsep diri yang lebih tinggi. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian serupa diharapkan dapat mengembangkan instrumen yang sesuai dengan perkembangan siswa, kemudian lokasi penelitiannya tidak hanya dalam satu sekolah saja tetapi bisa lebih luas lagi, yaitu dalam suatu lingkup tertentu misalnya: se-Kecamatan maupun se-Kabupaten/Kota, dan lain-lain.

Analisis KTSP kombinasi standar nasional dengan Cambridge International Primary Program (CIPP) pada mata pelajaran sains di SD Laboratorium UM / Panca Oktawirani

 

Perkembangan dan perubahan dunia menjadikan sekolah sebagai institusi pendidikan dituntut untuk terus aktif dan inovatif dalam melaksanakan pendidikan. Dasar hukum dari keleluasaan satuan pendidikan untuk mengembangkan dan menerapkan bentuk dan proses pembelajaran tertera dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengamanatkan tersusunnya kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menegah yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Salah satu bentuk implementasi KSTP yang dikembangkan sekolah adalah kombinasi Standar Nasional dan Cambridge International Primary Program (CIPP) oleh SD Laboratorium UM. Perpaduan dua standar yaitu Standar Nasional dan CIPP berpengaruh terhadap bentuk silabus yang disusun sekolah khususnya dalam mata pelajaran Sains. Tujuan dari penelitian adalah 1) mengidentifikasi tahap-tahap proses pengembangan KTSP kombinasi Standar Nasional dengan CIPP pada mata pelajaran Sains di SD Laboratorium UM, 2) mendeskripsikan bentuk silabus KTSP Kombinasi Standar Nasional dengan CIPP pada mata pelajaran Sains di SD Laboratorium UM, 3) mendeskripsikan hal-hal yang dapat dipelajari dari proses pengembangan KTSP kombinasi Standar Nasional dengan CIPP pada mata pelajaran Sains di SD Laboratorium UM. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2009. Lokasi penelitian berada di SD Laboratorium UM, Jl Bogor No 19 Malang. Data yang di diambil yaitu tahap proses pengembangan KTSP dan contoh silabus kelas III ICP mata pelajaran. Teknik pengumpulan data tahap proses pengembangan KTSP dengan menggunakan instrumen lembar pedoman wawancara sedangkan teknik pengumpulan data bentuk silabus Sains dengan menggunakan lembar analisis dokumen KTSP dan penilaian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap proses pengembangan KTSP terdiri dari dua tahap yaitu tahap sosialisasi KTSP yang meliputi tahap perencanaan, rintisan dan desiminasi. Tahap pengembangan silabus meliputi tahap penyusunan, diskusi, review dan revisi, dan finalisasi. Bentuk silabus Sains SD Laboratorium meliputi komponen identitas, SK (Standard Competence), KD (Base Competence), IK (Indicator), alokasi waktu (Time Allocation), kegiatan pembelajaran (Teaching and Learning Activities), dan penilaian (Evaluation). Dalam silabus tidak terdapat komponen berupa materi dan sumber belajar. Hal-hal yang dapat dipelajari dari proses pengembangan KTSP kombinasi Standar ii Nasional dengan CIPP pada mata pelajaran Sains di SD Laboratorium UM adalah pihak sekolah harus berinteraksi dengan pihak Cambridge, terus mengevaluasi dan memperbaiki dalam penyusunan silabus. Silabus yang disusun merupakan perpaduan dari dua format yaitu Standar Nasional dan CIPP. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diadakan penelitian lebih lanjut yang mengidentifikasi komponen KTSP yang lain, visi dan misi, tujuan pendidikan satuan pendidikan, kalender pendidikan, struktur muatan KTSP, dan RPP.

Isolasi promotor gen beta actin (b-actin) ikan gurami (Oshpronemus gouramy Lac.) / Nuning Winaris

 

ABSTRAK Winaris, Nuning. 2009. Isolasi Promotor Gen Beta-actin (β-actin) Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Skripsi, Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Dwi Listyorini, M.Si, D.Sc, (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked. Kata-kata kunci : ikan gurami, promotor gen beta-actin (β-actin) Ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) merupakan salah satu ikan yang memiliki tingkat konsumsi tinggi. Namun, pertumbuhan ikan gurami relatif lebih lambat dari pada spesies ikan air tawar lainnya. Untuk mencapai bobot konsumsi (kurang lebih 700 g) dibutuhkan waktu sekitar 3 tahun. Umur ikan gurami sendiri dapat mencapai 10 tahun. Promotor gen β-actin telah diisolasi dari beberapa jenis ikan dan dilaporkan sebagai regulator dengan aktivitas tinggi dalam mengatur ekspresi transgen pada ikan transgenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi promotor gen β-actin ikan gurami dengan harapan selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam penerapan rekayasa genetika untuk perbaikan dan pengembangan kualitas ikan gurami, khususnya di dalam negeri. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif untuk mencari sekuen promotor β-actin ikan gurami. Sekuen promotor gen β-actin ikan gurami diisolasi dengan menggunakan metode amplifikasi PCR dengan primer yang dirancang berdasarkan primer yang digunakan untuk isolasi β-actin ikan nila, dengan acuan gen β-actin dari ikan common carp dan Japanese medaka (Hwang, dkk., 2002). Primer forward yang digunakan adalah 5’-CCGCGGGTGWGTGACGCTGGAC CAATC-‘3 dan reverse 5’-CCATGTCATCCCAGTTGGTCACAA-‘3. Dari hasil sequencing diketahui bahwa dengan sepasang primer ternyata belum mampu mengisolasi seluruh sekuen gen β-actin ikan gurami secara utuh, selain itu masih banyak bagian dari sekuen forward dan reverse yang mengalami error reading. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekuen hasil amplifikasi PCR merupakan bagian dari gen β-actin ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Melalui analisis lebih lanjut diduga terdapat sekuen promotor pada ujung dan pangkal hasil amplifikasi dengan primer forward dan reverse. Masih diperlukan amplifikasi PCR dengan menggunakan primer-primer internal untuk memperoleh sekuen promotor β-actin yang utuh.

Rancang bangun aplikasi distance learning di Jurusan Teknik Elektro berbasis extensible markup language (XML) / Agus Haryadi

 

ABSTRAK Hariyadi, Agus, 2009. Rancang Bangun Aplikasi Distance Learning Di Jurusan Teknik Elektro Berbasis Extensible Markup Language (Xml). Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Univesitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Heru Wahyu Herwanto, S.T., M. Kom., (II) Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T. Kata Kunci: Perangkat Lunak, Web, Extensible Markup Language (Xml). Teknologi internet semakin lama semakin berkembang. Kini boleh dikatakan hampir seluruh dunia terjangkau internet. Padahal, pada mulanya internet hanya digunakan di universitas- universitas tertentu dan lembaga-lembaga militer sebagai sarana komunikasi mereka. Dalam hal ini peneliti ingin menggembangkan suatu perangkat lunak (software) untuk mempermudahkan hubugan antara dosen dengan mahasiswa dalam suatu pembelajaran di Universitas Negeri Malang khususnya di Jurusan Teknik Elektro yaitu suatu pembelajaran jarak jauh yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja dengan sistem online. Untuk mengungkapkan permasalahan tersebut penelitian ini merumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) Bagaimana membuat sebuah pencarian data yang baik pada sistem pembelajaran jarak jauh (distance learning) di Jurusan Teknik Elektro Universitas Negeri Malang? (2) Bagaimana menyusun suatu struktur XML yang dapat merepresentasikan struktur data dengan baik untuk fasilitas pencarian data pada sistem tersebut? (3) Bagaimana merancang tampilan halaman XML pada distance learning tersebut dengan menggunakan XSL? Di tengah masalah tersebut, maka digunakanlah sebuah bahasa yang dinamakan eXtensible Markup Language (XML). XML mampu memisahkan antara data dengan style dari suatu halaman dengan memanfaatkan teknologi XSL (eXtensible Stylesheet Language). XML juga mampu bertindak sebagai suatu basis data sederhana yang sanggup menerima query dan menampilkan sesuai dengan query. Dengan demikian XML bukan merupakan bahasa yang vendor specific, artinya tidak terikat oleh suatu pengembang perangkat lunak atau bahasa tertentu seperti Sun Microsystem, Microsoft, dan Oracle. XML juga tidak memiliki tag-tag khusus yang hanya berlaku pada satu browser namun tidak berlaku untuk browser yang lainnya seperti yang terjadi pada HTML. Sifat ini membuat data yang ditulis dalam bentuk XML dapat dipertukarkan dengan mudah dengan tetap menjaga integritas data, dari satu platform ke berbagai macam platform lainnya. Pada media penelitian ini terdapat lima komponen menu utama dalam pembuatannya, yaitu menu home yang merupakan menu utama dan berfungsi mengakomodasi menu lain, menu mata kuliah yang merupakan database mata kuliah yang diajarkan di Jurusan Teknik Elektro. Menu modul yang merupakan jadwal mata kuliah yang diajarkan setiap minggunya dan juga mahasiswa dapat mendownload bahan kuliahnya. Search yang merupakan model pencarian data berdasarkan mata kuliah dan topik. Indek kata kunci merupakan pencarian data berdasarkan kata- kata yang sudah ada. Dari proses penelitian, perancangan, serta implementasi dari aplikasi dalam proyek akhir ini, maka peneliti membuat beberapa kesimpulan yaitu (1) penyimpanan data dalam bentuk filesystems XML tepat dan praktis digunakan untuk data yang tidak terlalu kompleks relasinya, dan tidak terlalu besar ukurannya; (2) Aplikasi Pencarian Data dengan menampilkan kata kunci- kata kunci dari data yang ingin dicari memudahkan user untuk mencari data; (3) Kombinasi antara XML dan XSLT mampu menghasilkan tampilan halaman web yang baik. Semua yang dapat dilakukan oleh HTML dapat dilakukan oleh XML dibantu dengan XSLT. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang dipekirakan dapat meningkatkan persentase dan kualitas cara pemanfaatan program tersebut diajukan. Saran yang diajukan tersebut adalah (1) Agar aplikasi ini dapat diterapkan pada Sistem Distance Learning yang sesungguhnya maka perlu dibuat salah satu dari dua cara untuk mengatasi kelemahan aplikasi dari segi redundansi data yaitu implementasi Database XML atau Sistem Konversi dari DBMS ke XML; (2) Perlu dibuat suatu fasilitas modifikasi data secara otomatis untuk memudahkan operator sistem. Fasilitas modifikasi data ini dapat tersambung ke DBMS untuk penerapan Sistem Konversi atau langsung ke Database XML.

Penggunaan media benda asli dan manipulatif untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep organ tubuh manusia dan hewan di kelas V SDN Karangasem 2 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan / Muhamad Munir

 

ABSTRAK Munir. Muhamad. 2009. Penggunaan Media Benda Asli dan Manipulatif untuk meningkatkan Hasil belajar IPA Konsep Organ Tubuh Manusia dan Hewan di kelas V SDN Karangasem 2 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Program Studi S-1 PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Sumanto, M.Pd, (2) Dra. Hj. Sukanti, M.Pd. Kata Kunci: Media Manipulatif, hasil belajar IPA, organ tubuh Berkurangnya minat belajar siswa terhadap pembelajaran IPA yang disebabkan metode yang digunakan oleh guru tidak menyenangkan sehingga siswa menjadi pasif sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi menoton dan tidak menarik, serta jarang digunakannya media dalam proses pembelajaran berlangsung. Untuk itu diperlukan sebuah penerapan pembelajaran yang bernuansa pakem dengan penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Penglibatan siswa secara aktif yang ada akhirnya nanti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran dalam proses belajar mengajar yang digunakan sebagai bahan berdiskusi kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penggunaan media asli dan manipulatif proses pembelajaran IPA konsep Organ Tubuh Manusia dan Hewan di kelas V SDN Karangasem 2 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan. (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPA konsep Organ Tubuh Manusia dan Hewan dengan digunakannya media asli dan manipulatif di kelas V SDN Karangasem 2 Kecamatan Lumbang Kabupaten Pasuruan.. Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Karangasem 2 tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 18 orang. Adapun pelaksanaan penelitian dilaksanakan sebanyak 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data penelitian ini diperoleh dari hasil observasi aktivitas guru dalam pembelajaran, aktivitas siswa dalam diskusi kelompok, wawancara dan tes untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa. Hal ini dapat dilihat dari penilaian aktivitas belajar siswa memperoleh nilai rata-rata 73,2 meningkat menjadi 81,4. Sedangkan partisipasi siswa dalam diskusi kelompok memperoleh nilai rata-rata 69,7 meningkat menjadi 80,5. Selain itu penggunaan media asli dan manipulatif juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil pra tindakan mencapai nilai rata-rata 64,17 (44,44%) meningkat menjadi 72,22 (66,67%) pada siklus I. Pada siklus II juga meningkat menjadi 81,11 (83,33%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa: (1) penggunaan media asli dan manipulatif dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembalajaran maupun dalam diskusi kelompok. (2) penggunaan media asli dan manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian yang dilakukan disarankan agar: Guru dapat menggunakan media dalam setiap pembelajaran, serta siswa mampu menggunakan media asli dan manipulatif dan terlibat langsung dalam pembelajaran.

Pengaruh motivasi kerja terhadap prestasi kerja karyawan bagian juru utama pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo / Chandra Refianto

 

ABSTRAK Refianto, Chandra. 2009. Pengaruh Motivasi Kerja Karyawan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Bagian Juru Utama Pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo. Skripsi. Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Ery Tri Djatmika. R.W.W, MA, M. Si (II) Drs. Muhammad Arief, M. Si Kata kunci: Motivasi Kerja, Prestasi kerja Dalam era globalisasi ini telah banyak mempengaruhi perkembangan di berbagai sektor kegiatan, khususnya kegiatan dunia bisnis yang mengakibatkan persaingan di dunia kerja yang sangat ketat, yang menuntut setiap perusahaan memilki daya saing yang kuat dan efisien. Salah satu faktor mewujudkan hal tersebut, pihak perusahaan harus mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas dan professional. Peranan atasan atau pimpinan sangat diperlukan untuk memberikan motivasi atau dorongan kepada karyawan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana kondisi motivasi kerja karyawan bagian Juru Utama pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo. (2) Bagaimana kondisi prestasi kerja karyawan bagian Juru Utama pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo. (3) Bagaimana pengaruh variabel motivasi kerja (kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri) secara parsial terhadap prestasi kerja karyawan bagian Juru Utama pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo. (4)Bagaimana pengaruh variabel motivasi kerja (kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri) secara simultan terhadap prestasi kerja karyawan bagian Juru Utama pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo. (5) Variabel motivasi kerja manakah yang lebih dominan mempengaruhi prestasi kerja karyawan bagian Juru Utama pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo bagian Juru Utama yang berjumlah 509 karyawan dan diambil sampelnya sejumlah 100 orang karyawan. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) pilihan jawaban. Uji validitas dan uji realibilitas digunakan untuk menguji kelayakan instrument. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Sedangkan untuk menguji kelayakan regresi dilakukan uji asumsi klasik dan hasil dari analisis data responden diolah menggunakan SPSS 12,0 For Windows. Hasil penelitian ini adalah: (1) Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi motivasi kerja berdasarkan kebutuhan fisiologis adalah cukup tinggi. (2) Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi motivasi kerja berdasarkan kebutuhan rasa aman adalah tinggi. (3) Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi motivasi kerja berdasarkan kebutuhan sosial adalah tinggi. (4) Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi motivasi kerja berdasarkan kebutuhan penghargaan adalah tinggi. (5) Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi motivasi kerja berdasarkan kebutuhan aktualisasi diri adalah cukup tinggi. (6) Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi motivasi kerja karyawan bagian Juru Utama PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo adalah tinggi. (7) Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi prestasi kerja karyawan bagian Juru Utama pada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo adalah tinggi. Berdasarkan hasil analisis regresi secara parsial pada variabel kebutuhan fisiologis diperoleh nilai thitung 0.572 > t tabel 1,984 atau signifikan t=0.569 < 0,05, maka variabel kebutuhan fisiologis tidak berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi kerja karyawan. Variabel kebutuhan rasa aman diperoleh nilai thitung 2.582 > t tabel 1,984 atau signifikan t=0,0011 < 0,05, maka variabel kebutuhan rasa aman berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi kerja karyawan. Variabel kebutuhan sosial diperoleh nilai thitung 5.340 > t tabel 1,984 atau signifikan t=0,000 < 0,05, maka variabel kebutuhan sosial berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi kerja karyawan. Variabel kebutuhan penghargaan diperoleh thitung 6.856 > t tabel 1,984 atau signifikan t=0,000 < 0,05, maka variabel kebutuhan penghargaan berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi kerja karyawan. Variabel kebutuhan aktualisasi diri diperoleh nilai thitung 2,053 > t tabel 1,984 atau signifikan t=0,043 < 0,05, maka variabel kebutuhan aktualisasi diri berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi kerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada PT. Kertas Leces (Persero) Probolinggo untuk lebih mengetahui kebutuhan, keinginan, dan memberikan motivasi yang tepat kepada karyawan agar dapat bergairah untuk bekerja dan dalam meningkatkan motivasi kerja yang diberikan, tidak memperhatikan salah satu bentuk motivasi kerja saja melainkan meliputi keseluruhan motivasi kerja yang ada demi terwujudnya tujuan perusahaan.

Perbedaan efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif STAD (Students Teams Division Achievement) dan TGT (Teams Games Tournament) terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa / Achmad Murdiono

 

ABSTRAK Murdiono, Achmad (2009): Perbedaan Efektifitas Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif STAD (Students Teams Division Achievement) dan TGT (Teams Games Tournament) terhadap Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Siswa. Kata kunci: Model Pembelajaran STAD (Students Teams Division Achievement), TGT (Teams Games Tournament), Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Pembelajaran koorporatif adalah pembelajaran yang menuntuk interaksi antar siswa yang terbagi menjadi beberapa kelompok. Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa model, diantaranya model STAD (Student Teams Achivement Division) dan model TGT (Teams Games Tournament). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan aktivitas dan hasil belajar yang rendah dan memberikan informasi metode kooperatif yang lebih efektif dari dua metode di atas. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI KU-1 dan XI KU-2 Jurusan Akuntansi SMEA Muhammadiyah 5 Kepanjen. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tertulis yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus, rubrik penilaian, lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Dari hasil analisis data diketahui bahwa, penerapan metode pembelajaran TGT siklus kedua nilai akumulatif untuk aktivitas sebesar 66.87% atau naik sebesar 19.95% . Sedangkan metode STAD siklus kedua nilai aktivitas belajar sebesar 52.02% dan mengalami kenaikan sebesar 15.11%. Data hasil belajar, jumlah siswa yang masuk dalam kategori tuntas pada siklus kedua untuk metode TGT naik (28.5%) menjadi 25 siswa. Sedangkan metode STAD dari jumlah yang masuk kategori tuntas pada siklus kedua sebanyak 22 siswa atau naik (16.12%). Data ini menjelaskan bahwa metode kooperatif moel TGT dan STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Fakta ini juga menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran metode TGT lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil ini diperkuat oleh pengujian hipotesa menunjukkan bahwa nilai t hitung = 2.396 dibagian equal variances assumed dan p (sig. (2-tailed) )= 0.02.Oleh karena p<0.05: maka Ho dotolak. Saran yang diajukan dalam penelitian ini antara lain (1) Bagi guru, disarankan untuk menggunakan metode pembelajaran kooperatif baik itu metode STAD dan TGT sebagai alternatif dalam pembelajaran di kelas pada mata pelajaran akuntansi perbankkan khususnya untuk kompetensi standar menyusun rekonsiliasi bank atau mata pelajaran yang mempunyai karakteristik materi serupa, berdasarkan temuan guru lebih disarankan untuk menerapkan metode TGT;(2) Dalam pengelolaan pembelajaran di kelas guru harus memberi motivasi kepada seluruh siswa, terutama siswa yang memiliki kemampuan lebih rendah, agar mereka lebih aktif dalam proses belajar di kelas; (3) Bagi peneliti berikutnya, disarankan melakukan penelitian tentang pengembangan pnggabungan metode pembelajaran TGT dan STAD, atau mengembangkan menjadi penelitian eksperimen dengan menambah kelas kontrol.

Studi preferensi mahasiswa terhadap produk jasa telekomunikasi prabayar (SIM Card) dengan metode analytic hierarchy process (AHP) (Studi Kasus di Universitas Negeri Malang) / Maya Pramitasari

 

ABSTRAK Pramitasari, Maya. 2009. Studi Preferensi Mahasiswa terhadap Produk Jasa Telekomunikasi (Sim card) dengan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) (Studi Kasus di Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si (II) Drs. Susiswo, M.Si. Kata kunci: AHP, Sim card, hirarki, preferensi. AHP adalah suatu prosedur pengambilan keputusan multikriteria dengan cara mengelompokkan dari situasi kompleks berdasarkan indikator hirarki. Langkah-langkah pengambilan keputusan: (1) menyusun hirarki keputusan, (2) menghitung bobot berdasar nilai eigen dan vektor eigen dari matriks perbandingan berpasangan kebalikan dan (3) menentukan prioritas tertinggi berdasar nilai Consistency Ratio (CR). Mengingat penggunaan telepon seluler yang semakin marak di kalangan mahasiswa, menyebabkan semakin meningkatnya persaingan produk jasa telekomunikasi prabayar (Sim card). Aplikasi AHP sangat tepat digunakan untuk mengetahui preferensi/pilihan mahasiswa Universitas Negeri Malang terhadap produk jasa telekomunikasi (Sim card). Pada penelitian ini disusun suatu sistem hirarki empat level. Level pertama merupakan fokus dari permasalahan, yaitu pemilihan Sim card. Level kedua adalah kriteria, ada tiga macam kriteria, yaitu kriteria ekonomis, kriteria fasilitas dan kriteria lain-lain. Kemudian masing-masing kriteria ini dibagi ke dalam subkriteria, di mana kriteria ekonomis terdiri dari harga perdana, harga voucher, tarif telepon, dan tarif SMS. Kriteria fasilitas terdiri dari sinyal/jangkauan, bebas roaming, layanan operator dan kelengkapan fitur. Kriteria yang terakhir, yaitu kriteria lain-lain, terdiri dari image produk dan bonus/hadiah. Masing-masing subkriteria menempati level ketiga. Sedangkan pada level keempat terdapat alternatif, yaitu kelima produk jasa telekomunikasi prabayar, yang terdiri dari Simpati, Mentari, IM3, XL dan As. Setelah dilakukan analisis AHP, diperoleh kesimpulan bahwa urutan preferensi mahasiswa terhadap produk jasa telekomunikasi prabayar (Sim card) yang paling disukai adalah IM3, diikuti Simpati, XL, As dan Mentari, dengan persentase prioritas berturut-turut adalah 34.1%, 22%, 16.6%, 14.1%, dan 13.2%.

Peningkatan hasil belajar siswa kelas XI SMA Laboratorium UM dengan model pembelajaran penemuan terbimbing-numbered head together pada materi limit fungsi aljabar / Tsalis Fitriana

 

ABSTRAK Fitriana, Tsalis. 2009. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA Laboratorium UM dengan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing-Numbered Head Together pada Materi Limit Fungsi Aljabar. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Swasono Rahardjo, S.Pd, M.Si (II) Aning Wida Yanti, S.Si, M.Pd. Kata Kunci: peningkatan, hasil belajar, penemuan terbimbing, Numbered Head Together, limit fungsi aljabar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) langkah-langkah pembelajaran penemuan terbimbing-Numbered Head Together di kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM, dan (2) hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA 1 dengan model pembelajaran penemuan terbimbing-Numbered Head Together. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Sebagai sumber data, dipilih siswa kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM yang berjumlah 25 siswa. Penelitian ini dilakukan di pada bulan April sampai dengan Mei 2009 dalam dua tahap, yaitu tahap pra tindakan dan tahap tindakan. Tahap tindakan dilaksanakan dalam 2 siklus yang terdiri dari 5 pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran penemuan terbimbing-Numbered Head Together di kelas XI IPA 1 SMA Laboratorium UM dilaksanakan dalam dua tahap, (1) Tahap pra instruksional meliputi penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian pokok materi secara garis besar, dan mengingatkan kembali tentang pengetahuan prasyarat. (2) tahap instruksional: guru membagi siswa dalam kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 siswa, membagi nomor siswa dan LKS pada tiap kelompok, siswa mendiskusikan LKS dalam kelompok, menyebutkan nomor siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Diskusi dalam mengerjakan LKS dilaksanakan dengan langkah penemuan terbimbing, yaitu: pemberian masalah, latihan pengembangan, penyusunan data, membuat prediksi, memeriksa prediksi, memeriksa hasil dan pengorganisasaian kembali. Penomoran dalam kelompok diberikan dengan ketentuan bahwa tiap kelompok memiliki nomor mulai 1 dan siswa bebas memilih nomor lengannya. Hasil belajar siswa selama pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing-Numbered Head Together, dapat dinyatakan sebagai berikut. Nilai rata-rata siswa pada tes akhir tindakan siklus I mencapai 86,22 dan pada tindakan siklus II mencapai 88,24. Prosentase siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 pada tes akhir tindakan siklus I adalah 72% dan pada tindakan siklus II adalah 92%. Artinya, hasil belajar siswa pada materi limit fungsi aljabar dengan pembelajaran penemuan terbimbing-Numbered Head Together telah memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui kegiatan lesson study (studi kasus pada guru program mata pelajaran produktif dan siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang tahun ajaran 2008/2009) / Alfia Norika

 

ABSTRAK Norika, Alfia. 2009. Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Melalui Kegiatan Lesson Study (Studi Kasus pada Guru Program Mata Pelajaran Produktif dan Siswa Kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran Di SMK Ardjuna 1 Malang Tahun Ajaran 2008/ 2009). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Gatot Isnani, M.Si., (2) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si. Kata kunci: Kualitas Pembelajaran, Kegiatan Lesson Study. Guru merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan, karena guru selalu terkait dengan komponen manapun dalam sistem pendidikan. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), pengetahuan guru harus selalu disegarkan. Pemerintah sebagai lembaga tertinggi negara selalu melakukan usaha peningkatan mutu guru melalui pelatihan-pelatihan untuk penyegaran pengetahuan guru. Namun, usaha dari pemerintah ini kurang dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan mutu guru karena tidak ada kegiatan monotoring pasca pelatihan. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru adalah kegiatan Lesson Study. Lesson Study dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), Do (melaksanakan), dan See (merefleksi) yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Dengan kata lain Lesson Study merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan yang tak pernah berakhir (continous improvement). Pelaksanaan kegiatan Lesson Study merupakan suatu kegiatan yang berupaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran guru pada program mata pelajaran prodktif dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Pelaksanaan kegiatan Lesson Study pada kelompok guru program mata pelajaran produktif dan siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang. (2) Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui kegiatan Lesson Study pada kelompok guru program mata pelajaran produktif dan siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang. (3) Kendala-kendala dalam pelaksanaan kegiatan Lesson Study pada kelompok guru program mata pelajaran produktif dan siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus dan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di SMK Ardjuna 1 Malang dengan subjek penelitian adalah guru program mata pelajaran produktif sebanyak 7 (tujuh) orang dan siswa kelas X pada Program Keahlian Administrasi Perkantoran tahun ajaran 2008/2009. Mata pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Korespondensi Bahasa Indonesia untuk kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran, dengan menggunakan kompetensi dasar “Menyusun Surat-Surat Niaga/Bisnis”. Untuk mengetahui peningkatan kualitas pembelajaran guru dilakukan penilaian terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dirumuskan oleh Tim Lesson Study dan penilaian terhadap pelaksaan pembelajaran dengan menggunakan Alat Penilaian Kompetensi Guru (APKG). Untuk mengetahui aktivitas siswa dan ketepatan guru dalam melaksanakan pembelajaran dilakukan observasi (pengamatan) dengan menggunakan instrumen lembar observasi dan catatan lapangan, sedangkan untuk mengetahui hasil belajar siswa digunakan tes tulis yang diberikan pada akhir pembelajaran. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Pelaksanaan kegiatan Lesson Study pada kelompok guru program mata pelajaran produktif dan siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 1 Malang terdiri atas tiga tahap, yaitu tahap Plan, Do, dan See. (2) Rata-rata nilai kompetensi guru dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 13,89% pada penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yakni dari 77,77 % pada siklus I menjadi 91,66% pada siklus II dan rata-rata nilai pelaksanaan pembelajaran meningkat sebesar 21,74% dari 76,08% pada siklus I menjadi 97,82% pada siklus II. Selain itu, terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 1,81 dari nilai rata-rata sebesar 69,68 sebelum Lesson Study menjadi 70,50 setelah diberi tindakan pada siklus I. Pada siklus II rata-rata hasil belajar mengalami peningkatan sebesar 2,59 dari 70,50 pada siklus I menjadi 73,09 pada siklus II. (3) Kendala-kendala yang dihadapi adalah adanya jenis pembagian jam mengajar yang berbeda-beda antara masing-masing guru, terbatasnya literatur yang disediakan oleh sekolah, dan terbatasnya waktu pelaksanaan Lesson Study yang bertepatan dengan pelaksanaan program sekolah di SMK Ardjuna 1 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu: (1) Kegiatan Lesson Study sangat bermanfaat bagi pengembangan potensi guru karena Lesson Study telah terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran guru di SMK Ardjuna 1 Malang, sehingga bagi guru-guru lainnya disarankan untuk melaksanakan kegiatan Lesson Study. (2) Guru hendaknya memiliki komitmen yang kuat dalam melaksanakan Lesson Study, dengan demikian diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru, terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. (3) Siswa hendaknya melakukan persiapan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai dan lebih berani lagi dalam mengungkapkan pendapatnya dalam pembelajaran. (4) Kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian pada kempetensi guru yang lain guna mengetahui keberhasilan pelaksanaan kegiatan Lesson Study.

Efek persepsi guru tentang kondisi lingkungan kerja terhadap semangat kerja (Studi pada program keahlian bangunan SMK di Kota Malang) / Heny Hartanto

 

ABSTRAK Hartanto, Heny. 2009. Efek Persepsi Guru tentang Kondisi Lingkungan Kerja terhadap Semangat Kerja (Studi pada Program Keahlian Bangunan SMK di Kota Malang). Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan, Jurusan Teknik Sipil, Falkultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sutrisno, S.T., M. Pd.; (II) Drs. Bambang Widarta, M.T. Kata kunci: Lingkungan kerja, semangat kerja, kepuasan kerja Kondisi lingkungan kerja merupakan salah satu hal yang penting bagi guru. Tersedianya lingkungan kerja yang baik dapat memberikan kenyamanan ba-gi guru. Disamping itu adanya kondisi lingkungan kerja yang baik dapat me-nimbulkan kepuasan dan dengan kepuasan dapat meningkatkan semangat kerja guru. Tetapi masih banyak diantara sekolah-sekolah kejuruan di kota Malang yang tidak menyadari bahwa begitu pentingnya penciptaan lingkungan kerja yang kon-dusif dapat berpengaruh terhadap kepuasan dan semangat kerja guru karena ke-banyakan dari sekolah lebih memfokuskan diri pada peningkatan prestasi dan na-ma baik sekolah. Oleh karena itu perlu diketahui tentang efek yang ditimbulkan dari lingkungan kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap ke-puasan kerja dan semangat kerja guru. Penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur, dalam penelitian ini ter-dapat tiga variabel yaitu: variabel bebas yang terdiri dari lingkungan kerja fisik (X1) dan lingkungan kerja non-fisik (X2), variabel intervening kepuasan kerja (X3), dan variabel terikat semangat kerja guru (Y1). Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMK program keahlian bangunan Se-Kota Malang dengan jumlah 30 guru. Dalam penelitian ini digunakan angket sebagai alat pengumpul data. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa (1) Terdapat efek positif secara langsung lingkungan kerja fisik terhadap kepuasan kerja sebesar 0,324; (2) Ter-dapat efek positif secara langsung lingkungan kerja non-fisik terhadap kepuasan kerja sebesar 0,732; (3) Terdapat efek positif secara langsung lingkungan kerja fisik terhadap semangat kerja sebesar 0,303; (4) Terdapat efek positif secara lang-sung lingkungan kerja non-fisik terhadap semangat kerja sebesar 0,600); (5) Ter-dapat efek positif secara langsung kepuasan kerja terhadap semangat kerja se-besar 0,818; (6) Terdapat efek positif secara tidak langsung lingkungan kerja fisik terhadap semangat kerja melalui kepuasan kerja sebesar 0,265; (7) Terdapat efek positif secara tidak langsung lingkungan kerja non-fisik terhadap semangat kerja melalui kepuasan kerja sebesar 0,599. Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada pihak sekolah terutama kepala sekolah agar lebih memperhatikan kondisi lingkungan kerja guru, supaya guru merasa puas dalam bekerja, sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan semangat dalam bekerja dan membimbing siswa-siswinya. Disarankan pula ke-pada para guru sebagai pendidik untuk lebih mempertahankan bahkan mening-katkan semangat kerja yang sudah baik menjadi lebih baik lagi

Korelasi antara tingkat pendidikan, adopsi inovasi pertanian, dan jenis tanaman sayuran dengan pendapatan usaha tani sayuran di desa Karangnongko Kabupaten Malang / Kafi Muslihuddin

 

Indonesia merupakan negara agraris, sebagian besar penduduk Indonesia berdomisili di daerah pedesaan dan memiliki mata pencaharian disektor pertanian. Jumlah daerah pedesaan dan cakupan daerah pedesaan jauh lebih luas disbanding daerah kota. Menurut Irawan (2008:1) ketersedian sumber daya lahan dan air merupakan salah satu faktor produksi utama pada usaha pertanian di pedesaan. Sektor pertanian memiliki peranan utama dalam perekonomian nasional dan regional, antara lain dalam bentuk penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan dan bahan baku industri, serta sumber mata pencaharian utama bagi sebagian besar masyarakat, khususnya masyarakat di pedesaan, sehingga bersama-sama dengan sektor industri, pembangunan sektor pertanian menjadi motor utama pembangunan ekonomi.

Pengaruh latihan bermain sepakbola terhadap prestasi bermain futsal bagi pengikut ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 3 Malang / Rivo Adrianto Abdulhaq

 

Abstrak: Dari observasi peneliti, prestasi ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 3 Malang kurang baik. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh latihan bermain sepakbola terhadap prestasi bermain futsal bagi pengikut ekstrakurikuler futsal di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental, subjek penelitian adalah 20 siswa pengikut ekstrakurikuler futsal yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 10 anak sebagai kelompok eksperimen dan 10 anak sebagai kelompok kontrol. Pengumpulan data menggunakan teknik tes. Berdasarkan hasil penelitian di dapat nilai uji t tes awal adalah seimbang antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan nilai t hitung (0,422) < t tabel (2,101) dan nilai sig. (0,678) > 0,05, sedangkan nilai uji t tes akhir adalah terdapat perbedaan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, nilai t hitung (8,129) > t tabel (2,101) dan nilai sig. (0,000) < 0,05, dimana kelompok eksperimen terbukti memiliki nilai t yang lebih baik dari pada kelompok kontrol. Kata kunci : Pengaruh latihan sepakbola, Prestasi bermain futsal, Pemain futsal

Manajemen, pembelajaran inklusi (Studi kasus di SMP Negeri 18 Malang) / Pertama Laily Wahyuningtyas

 

ABSTRAK Wahyuningtyas, Permata Laily. 2009. Manajemen Pembelajaran Inklusi (Studi Kasus di SMP Negeri 18 Malang). Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. A. Supriyanto, M. Pd, M. Si., Pembimbing (II) Dra. Maisyaroh, M. Pd. Kata kunci: manajemen pembelajaran, inklusi. Pendidikan merupakan usaha untuk membina kepribadian dalam diri. Untuk itu pemerintah selalu menggalakkan peningkatan mutu pendidikan. Meningkatkan mutu pendidikan pada dasarnya menjadi kunci utama dalam sebuah pendidikan, yang mana untuk menyukseskan pembangunan nasional. Mutu pendidikan yang berkualitas selalu diarahkan untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas agar tercapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 5 ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) yang menyebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Hal tersebut memberi kesempatan kepada semua orang untuk mengenyam pendidikan, tidak terkecuali bagi yang berkebutuhan khusus dalam bentuk pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi merupakan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. SMP Negeri 18 Malang merupakan satu-satunya sekolah menengah pertama di Kota Malang yang menerapkan pembelajaran inklusi. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang manajemen pembelajaran inklusi di SMP Negeri 18 Malang. Ada lima fokus dalam penelitian ini, yaitu: (1) bagaimana perencanaan pembelajaran inklusi di SMP Negeri 18 Malang?; (2) bagaimana pelaksanaan pembelajaran inklusi di SMP Negeri 18 Malang?; (3) bagaimana penilaian pembelajaran inklusi di SMP Negeri 18 Malang?; (4) apa saja faktor pendukung dan penghambat pembelajaran inklusi di SMP Negeri 18 Malang?; dan (5) bagaimana strategi pemecahan masalah pembelajaran inklusi di SMP Negeri 18 Malang?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara terbuka dan tidak terstruktur; (2) observasi berperan serta; dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut ditafsirkan dan dianalisis. Keabsahan data diuji dengan menggunakan teknik triangulasi metode dan triangulasi sumber. Selain itu dengan menggunakan teknik ketekunan pengamatan. Temuan penelitian ini, yaitu: (1) dalam perencanaan pembelajaran inklusi, secara teknis untuk siswa berkebutuhan khusus saat ini adalah pembelajaran secara in class dan out class; (2) dalam pelaksanaan pembelajaran inklusi, guru pendidik khusus menggunakan strategi pembelajaran, untuk pengorganisasian kelas, terlihat siswa berkebutuhan khusus didampingi oleh guru pendidik khusus; (3) penilaian dari pembelajaran inklusi disesuaikan dengan model kurikulum yang digunakan. Penyesuaian kurikulum diimplementasikan dalam bentuk program pembelajaran individualisasi (PPI). PPI merupakan program pembelajaran yang disusun sesuai dengan kebutuhan individu dengan bobot materi berbeda dari kelompok kelas dan dilaksanakan dalam setting klasikal; (4) faktor-faktor pendukung dari pembelajaran inklusi antara lain, sarana dan prasarana, guru pendamping untuk siswa berkebutuhan khusus, dan partisipasi orangtua, sedangkan faktor penghambat dari pembelajaran inklusi adalah dari siswanya itu sendiri; dan (5) untuk mengatasi permasalahan dari pembelajaran inklusi adalah dengan kerjasama antara guru dan guru pendidik khusus dalam memberikan asesmen dan menyusun program pengajaran. Dari hasil penelitian disarankan, sebagai berikut: (1) bagi guru dan guru pendidik khusus, hendaknya lebih bervariasi dalam mengajar agar ABK tetap memiliki semangat dan kemauan dalam mengikuti proses belajar-mengajar; (2) bagi Dinas Pendidikan, hasil penelitian ini hendaknya dapat digunakan sebagai umpan balik sekaligus bahan kajian dalam rangka penyelenggaraan sekolah inklusi di tingkat menengah baik negeri maupun swasta, sehingga dapat terwujud pemerataan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus melalui pendidikan inklusi; (3) bagi peneliti lain, agar dapat meneliti pembelajaran inklusi dari substansi manajemen pendidikan yang lainnya atau tetap pada substansi yang sama akan tetapi pada latar penelitian yang berbeda; dan (4) bagi orangtua siswa, diharapkan orangtua siswa hendaknya memberikan perhatian yang lebih besar pada perkembangan anak selama di rumah dan di sekolah.

Pengaruh bauran pemasaran jasa terhadap proses keputusan konsumen dalam memilih jasa penginapan (studi pada hotel Montana I Malang) / Ria Yudyanti Wina Dellya

 

ABSTRAK Dellya, Ria Yudyanti Wina. 2009. Pengaruh Bauran Pemasaran Jasa Terhadap Proses Keputusan Konsumen Dalam Memilih Jasa Penginapan (Studi Pada Hotel Montana I Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs Djoko Dwi Kusumanjanto, M.Si. (II) Afwan Hariri A.P, SE, M.Si Kata Kunci : Bauran Pemasaran Jasa, Proses Keputusan Pembelian Konsumen Seiring dengan perkembangan dunia perhotelan saat ini, tentunya semakin banyak pula persaingan yang timbul. Para pelaku bisnis dalam hal ini yang bergerak di bidang perhotelan dituntut untuk bersikap lebih kreatif lagi dalam menarik para pelanggan. Berbagai cara dilakukan para pelaku bisnis ini seperti pemberian diskon kamar, diskon event, berbagai cara pembayaran kamar hotel pun ditawarkan beragam untuk menarik para calon pelanggan agar menginap di hotel mereka. Bauran pemasaran jasa (produk, harga, tempat, promosi, proses, orang, bukti fisik) yang didalamnya terdapat beberapa variabel merupakan komponen penting dalam menjalankan bisnis di bidang perhotelan ini. Tidak hanya itu, proses keputusan pembelian konsumen juga mempengaruhi minat para calon pelanggan untuk mencoba menginap, merasakan segala fasilitasnya, kemudahan – kemudahan yang ditawarkan oleh pihak hotel yang tentunya demi kenyamanan para pelanggannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) Pelaksanaan bauran pemasaran jasa dan proses pengambilan keputusan konsumen dalam memilih jasa penginapan pada Hotel Montana I Malang. (2) Pengaruh bauran pemasaran jasa (produk, harga, lokasi, promosi, orang, proses, dan bukti fisik) secara parsial terhadap proses keputusan konsumen dalam memilih jasa penginapan pada Hotel Montana I Malang. (3) Pengaruh bauran pemasaran jasa (produk, harga, lokasi, promosi, orang, proses, dan bukti fisik) secara simultan terhadap proses keputusan konsumen dalam memilih jasa penginapan pada Hotel Montana I Malang. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas yang terdiri dari produk, harga, tempat, promosi, proses, orang, dan bukti fisik. Sedangkan variabel terikatnya adalah proses keputusan pembelian konsumen di Hotel Montana I Malang, penelitian dilakukan mulai 24 Agustus – 24 Oktober 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional dan metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan uji t dan uji F dalam pengujian hipotesisnya. Data penelitian dijaring dengan memberikan kuesioner kepada pelanggan yang menginap di Hotel Montana I Malang. Berdasarkan hasil analisis regresi terdapat pengaruh signifikan antara variabel bauran pamasaran jasa (produk, harga, lokasi, promosi, orang, proses, dan bukti fisik) terhadap proses keputusan pembelian konsumen secara parsial. Selain itu, hasil analisis regresi dalam penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan bauran pemasaran jasa (produk, harga, lokasi, promosi, orang, proses, dan bukti fisik) secara simultan terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada Hotel Montana I Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat dijadikan pertimbangan adalah sebagai berikut : (1) bagi manajemen Hotel Montana I Malang Pihak manajemen perlu memberikan perhatian terhadap 7 (tujuh) faktor tersebut yaitu peubah Produk, Harga, Tempat, Promosi, People, Process dan Physical Evidence misalnya menciptakan image di masyarakat bahwa menginap di hotel Montana I Malang akan memperoleh banyak kepuasan diantaranya dengan banyaknya fasilitas dimiliki hotel, lokasi hotel yang strategis, frekuensi pemberian diskon pada event tertentu, promosi yang menarik, keramahan pelayanan, kualitas layanan yang memuaskan dari karyawan. (2) bagi peneliti selanjutnya, karena keterbatasan – keterbatasan yang didapat selama penelitian, peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya dapat meneruskan penelitian ini pada obyek dan variabel yang lebih kompleks lagi

Studi perbandingan efektifitas model pembelajaran jigsaw dan numbered head togehter (NHT) terhadap kemampuan mengungkapkan pendapat secara lisan pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Blitar / Nurul Dina Nopika

 

ABSTRAK Nopika, Nurul Dina. 2009. Studi Perbandingan Efektifitas Model Pembelajaran Jigsaw dan Numbered Head Together (NHT) terhadap Kemampuan Mengungkapkan Pendapat secara Lisan pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA Negeri 1 Blitar. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I : Dr. Hari Wahyono M.Pd, Pembimbing II : Drs. Prih Hardinto M.Si Kata Kunci : Jigsaw, Numbered Head Together (NHT), Kemampuan Mengungkapkan Pendapat secara Lisan. Proses pendidikan dapat dilaksanakan secara formal dan non formal yang berlangsung secara bertahap sesuai dengan usia. Salah satu tahapan penting yang dilalui siswa adalah ketika berada pada tingkat Sekolah Menengah Atas dengan peningkatan dan pemantapan materi pelajaran ekonomi secara lebih mendalam. Dalam prosesnya, setiap siswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan pembelajaran baik dalam mencari informasi maupun memecahkan setiap permasalahan yang muncul. Guru sebagai pemberi motivasi dan fasilitator yang mengarahkan dan mengawasi tindakan siswa. Keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh keaktifan siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Salah satunya adalah kemampuan mengungkapkan pendapat secara lisan. Hal ini disebabkan selain karena alasan kemudahan dan efisien waktu, siswa lain yang ikut dalam diskusi juga dapat mendengarkan dan memberi tanggapan berupa ungkapan setuju ataupun ketidaksetujuannya secara langsung melalui forum yang tertib. Namun pada prakteknya, keaktifan dalam mengungkapkan pendapat secara lisan ini tidak semudah yang dibayangkan. Budaya malu masih melekat pada diri siswa. Rasa malu dan takut untuk mengungkapkan pendapat ternyata masih membudaya di kelas. Terbukti meskipun sudah berada pada tingkat Sekolah Menengah Atas, siswa yang malu-malu untuk mengungkapkan pendapatnya secara lisan masih banyak dijumpai. Berdasarkan hal tersebut terdapat dua tujuan penelitan yaitu : (1) Untuk mengetahui perbedaan efektifitas model pembelajaran Jigsaw dan Numbered Head Together (NHT) terhadap kemampuan mengungkapkan pendapat secara lisan pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Blitar dilihat dari hasil belajar siswa, (2) Untuk mengetahui perbedaan efektifitas model pembelajaran Jigsaw dan Numbered Head Together (NHT) terhadap kemampuan mengungkapkan pendapat secara lisan pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Blitar dilihat dari motivasi siswa. Peenelitian dilakukan selama tiga minggu yang terbagi dalam lima kali pertemuan mulai tanggal 2 hingga 18 April 2009 di SMA Negeri 1 Blitar. Adapun sampel penelitian adalah siswa kelas X1 dan X2 yang masing-masing berjumlah 40 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan tes lisan kepada masing-masing siswa di akhir pertemuan pada pertemuan ke-5 dan selanjutnya menggunakan kuesioner (angket). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan bantuan program SPSS 15.00 for Windows. Berdasarkan data hasil penelitian kelas X1 dengan model pembelajaran Jigsaw diperoleh taraf signifikansi normalitas sebesar 0,200 (berdistribusi secara normal) dan homogenitas 0,001 (memiliki varian yang tidak sama (tidak homogen)). Sedangkan kelas X2 dengan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) diperoleh taraf signifikansi normalitas sebesar 0,029 (tidak terdistribusi secara normal) dan homogenitas 0,029 (memiliki varian yang sama (homogen)). Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa besarnya probabilitas adalah 0,135 > 0,05 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan pelaksanaan efektifitas model pembelajaran Jigsaw dan Numbered Head Together (NHT) terhadap kemampuan mengungkapkan pendapat secara lisan pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Blitar dilihat dari hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui besarnya probabilitas adalah 0,397 > 0,05 yang berarti bahwa tidak ada perbedaan pelaksanaan efektifitas model pembelajaran Jigsaw dan Numbered Head Together (NHT) terhadap kemampuan mengungkapkan pendapat secara lisan pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Blitar dilihat dari motivasi siswa. Guru pengajar diharapkan untuk guna menggali potensi dan prestasi belajar khususnya dalam mengungkapkan pendapat secara lisan. Siswa juga diharapkan untuk lebih aktif dan berani mengungkapkan pendapat secara lisan tentunya dengan dukungan orang tua Bagi peneliti lain diharapkan untuk meneliti variabel ini secara lebih mendalam dengan memperhatikan kondisi yang berkembang guna diperoleh hasil yang lebih baik.

Pengaruh pemanfaatan dana bantuan khusus siswa miskin (BKSM) terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa jurusan Akuntansi di SMK BM Ardjuna 2 Malang / Dimas Kamarullah Dwi Novianto Kusuma

 

ABSTRAK Kamaullah, Dimas 2009. Pengaruh Pemanfaatan Dana Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa Jurusan Akuntansi di SMK BM Ardjuna 2 Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi SI Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sunaryanto, M.Ed. (II) Dra. Suparti, M.P Kata Kunci: Pemanfaatan dana BKSM, Motivasi belajar siswa, Prestasi belajar siswa. Dana Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) adalah salah satu manifestasi dari program kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) yang ditujukan untuk membantu siswa untuk memenuhi kebutuhan biaya sekolah selama duduk di Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Luar Biasa Negeri dan Swasta. Pada akhir 2006, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu jenis pendidikan yang mendapat perhatian khusus atas program BKSM. Tujuan pemberian dana BKSM pada jenis sekolah SMK adalah (1) mengurangi siswa SMK yang drop out akibat permasalahan biaya pendidikan, (2) membuka peluang bagi lulusan SMP yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke SMK. Pemanfaatan dana BKM secara efektif akan meringankan biaya pendidikan para siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu atau tidak mampu, sehingga mereka bisa lebih termotivasi dalam belajarnya dan pada akhinya adalah tercapainya prestasi belajar yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) pengaruh pemanfaatan dana BKSM terhadap motivasi belajar siswa, (2) pengaruh pemanfaatan dana BKSM terhadap prestasi belajar siswa, (3) pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa, (4) pengaruh pemanfaatan dana BKSM terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian (explanatory research). Analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Variabel dalam penelitian ini meliputi pemanfaatan dana BKSM (X1), motivasi belajar siswa (Y1) dan prestasi belajar siswa (Y2). Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X, XI, dan XII SMK BM Ardjuna 2 Malang jurusan akuntansi yang telah menerima dana BKSM pada tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah 46 siswa. Seluruh anggota dalam Sampel tersebut dijadikan sebagai subjek penelitian, sehingga penelitian ini dianggap sebagai penelitian sampel. Teknik pengumpulan data adalah angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan dana BKSM berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa sebesar 0,725. Pemanfaatan dana BKSM berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,475. Motivasi belajar siswa berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,377. Pemanfaatan dana BKSM berpengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa sebesar 0,244 dan pengaruh totalnya sebesar 0,719 Berdasarkan kesimpulan yang diambil dalam penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Pihak sekolah diharapkan mampu mempertahankan keefektifan pemanfaatan dana Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) yaitu dengan cara memberikan pengarahan kepada siswa penerima dana Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM), dan yang tidak kalah penting adalah ikut mengawasi pemanfaatan dari dana BKSM itu sendiri agar dana tersebut benar-benar dimanfaatkan sesuai dengan rambu-rambu yang telah ditetapkan. Pemanfaatan dana BKSM secara efektif terbukti telah dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga hal ini juga dapat memotivasi pihak sekolah untuk bisa menambah jumlah siswa penerima dana BKSM tiap periode. (2) Bagi siswa SMK BM Ardjuna 2 Malang yang mendapatkan dana BKSM diarahkan untuk lebih meningkatkan motivasi belajar sehingga dapat menjaga dan memelihara kelangsungan mengikuti pendidikan di SMK yang pada akhirnya akan bisa menjalankan tugas-tugas pembelajaran untuk memperoleh prestasi yang lebih baik, selain itu diharapkan agar siswa penerima dana ini memanfaatkan dana BKSM sebaik-baiknya hanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. (3)Bagi peneliti lain yang hendak mengadakan penelitian sejenis, disarankan menggunakan wilayah populasi dan sampel yang lebih luas misalnya dengan mengadakan penelitian di beberapa sekolah agar ruang lingkup hasil penelitian lebih menyeluruh. Dari peneltian terdahulu dan hasil penelitian di SMK BM Ardjuna 2 Malang, masih ada beberapa hal yang masih perlu digali bagi peneliti berikutnya, seperti halnya adanya hasil penelitian yang menunjukkan adanya kontribusi dari variabel lain di luar variabel penelitian dan dalam penelitian ini tidak dijelaskan maka masalah tersebut bisa dijadikan salah satu bahan kajian yang menarik untuk diteliti.

Problematika warga belajar dalam mengikuti pembelajaran program keaksaraan fungsional di desa Kucur Kecamatan Dau Kabupaten Malang / Nimas Ella Citra Wardhani

 

ABSTRAK Ella, Nimas. CW. 2009.Problematika Warga Belajar Dalam Mengikuti Pembelajaran Keaksaraan Fungsional Di Desa Kucur Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Dr. Endang Sri Redjeki, M.S (2) Drs.Lasi Purwito, M.S Kata Kunci: Problematika, Pembelajaran Keaksaraan Fungsional Program keaksaraan fungsional merupakan salah satu program layanan pendidikan luar sekolah yang berfungsi membekali sebagian warga masyarakat yang menyandang Tributa (buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia dan buta pengetahuan dasar). Program ini dilaksanakan dengan metode calistung yaitu proses belajar, membaca, menulis dan berhitung, berbahasa Indonesia serta terintergrasi dengan program pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang pembelajarannya dikaitkan dengan kebutuhan dan kondisi sehari-hari warga belajar. Adapun tujuan keaksaraan fungsional, yaitu melalui kemampuan dan keterampilan tersebut warga belajar tersebut diharapkan dapat menggunakannya dalam : (1) memecahkan masalah kehidupannya sendiri dan kehidupan masyarakat sekitar, (2) membuka jalan untuk mencari atau mendapatkan sumber-sumber kehidupannya, (3) melaksanakan kehidupan sehari-hari secara efektif dan efisien, (4) mengunjungi dan belajar pada lembaga yang dibutuhkan, (5) menggali, mempelajari pengetahuan, keterampilan dan sikap atau pembaharuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah wawancara, dokumentasi dan obeservasi. Analisis data yang dilakukan adalah Reduksi data, Penyajian Data, dan Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi. Sumber informasi penelitian ini adalah tutor dan warga belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat problematika belajar pada kondisi psikologis yaitu kemampuan warga belajar dalam memahami materi saat tutor menerangkan dengan intonasi cepat. Kondisi fisik warga belajar, yaitu tubuh yang sakit dan kondisi badan yang kurang fit terhadap konsentrasi belajar. Kondisi lingkungan belajar yaitu belajar dengan tidak adanya meja dan kursi. Kondisi lingkungan sosial belajar, yaitu tidak bisanya tutor menyatu dengan warga, akhirnya pembelajarannya banyak mengalami kegagalan. Saran dari peneliti ini adalah diharapkan untuk mengatasi problematika kondisi psikologis, (a) Untuk mengurangi tingkat kelupaan peserta belajar, hendaknya seorang tutor perlu mengulangi pelajaran yang sebelumnya lima belas menit sampai dua puluh menit, baru dilanjutkan ke materi berikutnya dan harus sering bertanya atau mengetes ingatan warga terhadap materi yang baru saja disampaikan, (b) Agar peserta belajar lebih memahami dan mengerti saat tutor menyampaikan materi, maka kontrol suara dan intonasi sangat diperlukan dalam membelajarkan peserta. Karena kecepatan untuk menangkap atau memahami suatu penjelasan informasi peserta yang belum terpelajar lambat dibanding dengan mereka yang terpelajar. Sehingga keruntutan dan intonasi yang tepat akan memudahkan peserta untuk memahami materi yang disampaikan. Untuk mengatasi problamatika kondisi fisik, yaitu Agar pembelajaran yang dilakukan tutor bisa lebih berhasil, hendaknya seorang tutor tidak memaksakan kehendaknya atau warga belajar harus mengikuti semua anjuran tutor. Tetapi tutor harus lebih cenderung menghargai pendapat dan hak warga belajar. Sehingga warga belajar melakukan kegiatan belajar tanpa ada rasa tekanan batin. Untuk mengatasi Kondisi lingkungan belajar, yaitu hendaknya pemerintah atau lembaga pemerintah setempat menjalin kerjasama yang bagus dengan perangkat desa setempat. Karena dengan kerjasama yang bagus ini kemungkinan besar seperti kurangnya perlengkapan belajar bagi warga, diantaranya bisa saling berkoordinasi dan melengkapi. Karena tidak mungkin bagi ibu-ibu warga belajar bisa melengkapi sendiri kurangnya sarana belajar seperti meja, kursi, ataupun papan. Tutor dan peserta belajar akan melaksanakan kegiatan belajar sesuai apa adanya yang apabila barang tersebut tidak tersedia akan menghambat kenyamanan belajar. Dan untuk mengatasi problematika kondisi lingkungan sosial belajar, yaitu keluwesan dan kebijaksanaan seorang pebelajar masyarakat yang belum berpendidikan mutlak diperlukan. Jika pada hari biasa kegiatan belajar tidak bisa dilakukan karena ada suatu hal yang tidak bisa ditunda, maka tutor perlu mencari hari lain yang waktu, hari dan jamnya antara peserta dan tutor sendiri dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar akuntansi siswa kelas XI IPS 2 SMAN I Probolinggo dengan metode pembelajaran kooperatif model teams-assisted-individualization / Indra Ari Pradana

 

Upaya Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Probolinggo Dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Teams Assisted Individualization Indra Ari Pradana S1 Pendidikan Akuntansi DR. Dyah Aju Wardhani, M.Si, Ak. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Abstract: Pradana, Indra Ari. 2009. Motivation and Study Results Improvement of Accounting Students Class XI IPS in SMAN 1 Probolinggo by Using Cooperative Learning Methods of Teams Assisted Individualisation Model. Thesis, Department of Accounting Education, Economic Faculty, Malang State University. Supervisors: (1) Dr. Dyah Ayu Wardani, Msi, Ak (2) Eka Ananta Sidharta, SE. Msi Ak Keywords: Cooperative Learning Method of Teams Assisted Individualization Model, motivation, study result. Based on the results of observation and interview with the accounting subject’s teachers in SMAN 1 Probolinggo, it was identified that the methods of accounting subject in class included speech method, discussion or review on accounting book’s exercises. These methods, absolutely, influence the motivation of student to actively study the subject. Consequently, it affects the student’s study result which is shown by many students who have to repeat the exam since their score are lower than the Minimum Fulfilment Criteria established by SMAN 1 Probolinggo which is 75 points. Therefore, learning strategy is crucial to overcome this problem. One of the learning strategies, which was used in this research, is Teams Assisted Individualization Model. The aim of this research was to identify the motivation and study result of accounting students class XI IPS in SMAN 1 Probolinggo trough the implementation of cooperative learning method of Teams Assisted Individualization Model. This research was classified as non-experimental research with using Class Action Research (CAR) design, which was consisted of two cycles. Data was collected from 2 March 2009 to 25 May 2009. Data on the student’s study motivation was gained from observation and the student’s study result was obtained from post-test result in the end on each cycle. The research results demonstrated that the student’s study motivation before the treatment was 32,99%, categorized as very low. Their motivation improved to 53,97% in cycle I and classified as low, as well as in cycle II which increased to 82,89% and classified as good. The same as, student’s study result also climbed up. Before the treatment, the average score of study result was 44.48 points with the study fulfilment of 6.90%. Then, after treatment, in cycle I, this score increased at point of 66.90 with the study fulfilment of 38% and in cycle II, there was an increase where the average score was 77.76 points with the study fulfilment of 78.98%. However, based on these results from cycle I and II, it can be stated that these result has not been classically achieve the study fulfilment because it still lower that 85% of the students total number who have absorptive power of more than 75%. In conclusion, the implementation of cooperative learning method of Teams Assisted Individualization Model could improve the student’s motivation and study result on the accounting subjects with the sub theme of “Accounting Cycle of Service Company”, partially the students class XI IPS in SMAN 1 Probolinggo. It is recommended that the accounting teachers are needed to continuously improve his/hers professionalism competency by which enhance the student perception about this matter and will positively influence the student’s motivation and study results. And for the readers who interested doing the same research, it is suggested to use the sample research with broaden population and expand other problems related with the student’s motivation and study results. Furthermore, it is expected that the research result will exploit other problems, as well as provide benefit and information for many parties. Dalam perkembangan globalisasi seperti sekarang ini, diharapkan bangsa Indonesia mengalami kemajuan dalam berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan. Upaya peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan menjadi salah satu tuntutan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Titik berat penyelenggaraan pendidikan diletakkan pada peningkatan mutu pendidikan. Untuk memperoleh hasil pendidikan yang maksimal maka peningkatan mutu pendidikan harus dilaksanakan secara terus menerus, terencana, dan bertahap. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan, antara lain penyempurnaan kurikulum, peningkatan kualitas guru, perbaikan proses pembelajaran serta pengadaan sarana dan prasarana. Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari proses pembelajarannya. Orbana (dalam Muslihati, 2005:1) mengungkapkan bahwa salah satu sebab belum tercapainya tujuan pendidikan, terutama terletak pada inti pembelajaran yang belum banyak melibatkan siswa secara aktif. Inti pembelajaran yang dimaksud adalah pemilihan dan penerapan metode pembelajaran, penguasaan materi pembelajaran dan interaksi siswa dengan siswa serta interaksi siswa dengan guru. Proses pembelajaran di kelas memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Guru hendaknya dapat memilih dan menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi atau bahan ajar yang akan diberikan pada siswa. Pemilihan dan penentuan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi atau bahan ajar yang akan diajarkan diharapkan akan memudahkan siswa untuk memahami materi yang diajarkan dan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. Dengan diterapkannya variasi pembelajaran akan menumbuhkan motivasi dalam proses belajar mengajar yang menimbulkan kemauan, memberi semangat, dan menimbulkan motivasi untuk meningkatkan prestasi belajarnya. Dalam pembelajaran Akuntansi, dimana akuntansi merupakan pengetahuan yang mempunyai peran sangat besar dalam kehidupan sehari-hari maupun pengembangan ilmu pengetahuan, diperlukan tingkat pemahaman dan ketelitian yang tinggi dari siswa. Untuk itu diperlukan adanya motivasi yang tinggi dari peserta didik untuk dapat lebih memahami materi yang diterangkan. PEMBELAJARAN KOOPERATIF Dari berbagai model pembelajaran, terdapat model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran akuntansi dan peningkatan hasil belajar adalah pembelajaran kooperatif, karena dengan metode pembelajaran kooperatif ini siswa dapat bekerja sama dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Setiap anggota kelompok dituntut untuk saling bekerja sama dengan teman kelompoknya. Setiap anggota kelompok harus membantu teman dalam kelompoknya dengan cara melakukan apa saja yang dapat membantu kelompok itu berhasil, dan yang lebih berani mengungkapkan pendapat dan bertanya satu sama lain. Selain itu, rasa jenuh pada diri siswa karena materi yang rumit dan kompleks serta suasana belajar di kelas yang kurang menyenangkan akan teratasi. MANFAAT PEMBELAJARAN KOOPERATIF Ada beberapa alasan penting mengapa sistem pengajaran kooperatif ini perlu dipakai lebih sering di sekolah-sekolah. Seiring dengan proses globalisasi, juga terjadi transformasi sosial, ekonomi, dan demografis yang mengharuskan sekolah dan perguruan tinggi untuk lebih menyiapkan anak didik dengan ketrampilan-ketrampilan baru untuk bisa ikut berpartisipasi dalam dunia yang berubah dan berkembang pesat (Lie Anita,2002:12). Belajar kooperatif merupakan salah satu metode pembelajaran yang diyakini mampu meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa, karena pembelajaran ini berorientasi pada siswa. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk membangun pemahaman konsep melalui aktivitas sendiri dan interaksinya dengan siswa lain. PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL “TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION” Salah satu model pembelajaran kooperatif yang cocok diterapkan pada mata pelajaran akuntansi dan dirasa mampu meningkatkan hasil belajar akuntansi adalah Team-Assisted Individualization. Team Assisted Individualization adalah model pembelajaran yang dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual dengan mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual (PPPM, 2006:8). Model ini mempunyai ciri khas, yaitu setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Model ini 4 tahap yaitu : mengajar, belajar individu, belajar kelompok, pembahasan soal bersama-sama, memberikan kesimpulan akhir tentang materi yang diajarkan Sebagai upaya peningkatan kualitas belajar maka pendekatan Team Assisted Individualization perlu digunakan, karena metode ini merupakan penggabungan antara pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individu sehingga dengan menggunakan metode ini, diharapkan nantinya siswa akan memiliki kemampuan lebih dalam memahami konsep materi, sikap positif juga keterampilan. Metode ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual dengan mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual (PPPM,2006:8). Dalam penelitian ini pembelajaran yang direncanakan menggunakan ceramah, diskusi, pemberian tugas secara individual maupun kelompok dan pembelajaran langsung (pelatihan), serta melalui pemberian bantuan/fasilitas (Fasilitator) kepada siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pembelajaran yang telah dipelajari yang dapat membantu siswa dalam mencapai tingkat pemahaman dan keterampilan yang diharapkan. Bantuan berupa tanggapan dalam penelitian yaitu berupa tugas-tugas yang terstruktur kepada siswa baik secara individual maupun kelompok dimana guru juga memberikan bantuan berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, dan memberikan contoh ataupun yang lain yang memungkinkan siswa tumbuh mandiri. KOMPONEN “TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION” Retna Kusumaningrum (2007) menjelaskan model pembelajaran tipe Teams Assisted Individualization ini memiliki 8 komponen, kedelapan komponen tersebut adalah sebagai berikut. 1. Teams yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa. 2. Placement Test yaitu pemberian pre-test kepada siswa atau melihat rata-rata nilai harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu. 3. Student Creative yaitu melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan dimana keberhasilan individu ditentukan oleh keberhasilan kelompoknya. 4. Team Study yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual kepada siswa yang membutuhkan. 5. Team Score and Team Recognition yaitu pemberian score terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas. 6. Teaching Group yaitu pemberian materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok. 7. Fact test yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh siswa. 8. Whole-Class Units yaitu pemberian materi oleh guru kembali diakhiri waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah HASIL PENELITIAN A. Motivasi Belajar Siswa Pada Pembelajaran Kooperatif Model Teams Assisted Individualization Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti diketahui bahwa pembelajaran akuntansi dengan menggunakan model Teams Assisted Individualization telah mampu membawa perubahan pada motivasi belajar siswa, meskipun masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan dalam penerapannya. Pada siklus I motivasi belajar siswa meningkat dibanding dengan sebelum diberi tindakan yaitu dari 32,99 % dengan taraf keberhasilan sangat kurang menjadi 53,97 % pada siklus I dengan taraf keberhasilan mencapai kurang. Pada siklus II meningkat menjadi 82,89 % dengan taraf keberhasilan baik. Peningkatan motivasi belajar dari Pra Tindakan ke Siklus I ini dimungkinkan karena adanya motivasi baru dalam pembelajaran misalnya dengan diterapkannya model pembelajaran baru, yaitu pembelajaran kooperatif model Teams Assisted Individualization, siswa tidak lagi merasa jenuh di kelas karena pada model pembelajaran ini diadakan belajar kelompok dengan kelompok yang dibagi secara acak dan heterogen untuk mengerjakan LKS, diskusi kelompok, pembahasan soal diskusi maupun tugas individu secara bersama-sama, membuat siswa lebih termotivasi untuk mengikuti dan memperhatikan penjelasan guru, meski peningkatannya belum maksimal. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I ini, ternyata masih ada kekurangan yang terjadi dalam proses pembelajaran pada siklus I ini. Kekurangan tersebut adalah masih terdapat beberapa siswa yang masih pasif dan kurang semangat untuk belajar kelompok, penjelasan guru terlalu cepat sehingga siswa kurang bisa menangkap penjelasan dari guru, beberapa siswa masih malas mengerjakan LKS, ramainya suasana kelas pada saat diskusi serta adanya siswa yang minta bantuan temannya saat tes berlangsung. Sehingga dari hasil refleksi ini ditempuh perbaikan-perbaikan yang akan dilaksanakan pada tindakan berikutnya. Mengenai kurang aktifnya siswa dalam belajar kelompok, hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah siswa tidak terbiasa dengan belajar kelompok ataupun ada siswa yang merasa kurang cocok atau ada masalah dengan teman kelompoknya. Sehingga mereka ada yang malas diajak belajar bersama yang mengakibatkan komunikasi dalam kelompokpun menjadi kurang. Dari hasil inilah kemudian peneliti berusaha memperbaikinya dengan memberikan motivasi-motivasi kepada siswa tentang pentingnya belajar kelompok demi keberhasilan mereka semua. Bahwa dengan belajar kelompok mereka yang tidak mengerti bisa meminta bantuan anggota kelompok yang lain untuk menerangkan, kalau hal itu terjadi maka kelompok tersebut bisa memahami pelajaran secara merata. Peneliti juga memberikan pengarahan kepada siswa yang mempunyai masalah pribadi dengan teman sekelompoknya untuk tidak memasukkan permasalahan individu pada saat proses pembelajaran karena hal itu bisa menghambat keberhasilan mereka. Peran LKS ternyata juga membantu dalam proses komunikasi siswa. Peran LKS dalam pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization adalah sebagai alat untuk memperlancar komunikasi siswa dalam kelompok. Oleh karena itu untuk memperlancar komunikasi maka siswa harus mengetahui dan memahami isi dari LKS yang akan didiskusikan. Dalam memahami LKS ternyata siswa juga mengalami kesulitan. Meskipun siswa sudah mendapatkan materi mengenai Jurnal Penyesuaian, Kertas Kerja dan Jurnal Penutup ternyata siswa masih banyak yang belum memahami akun-akun dalam jurnal penyesuaian dan jurnal penutup serta cara penghitungannya. Oleh karena itu peneliti kemudian harus menjelaskan kembali dan membimbing siswa atau kelompok yang memang masih belum mengerti tentang materi yang dijelaskan Dalam mengatasi masalah mengenai siswa yang malas mengerjakan tugas di LKS, peneliti mencoba berusaha memberikan motivasi agar siswa tersebut mau dan bersedia mengerjakan tugas di LKS dengan sungguh-sungguh. Sedangkan mengenai keributan yang terjadi, oleh peneliti dianggap wajar dalam diskusi asalkan tidak sampai mengganggu kegiatan belajar di kelas lain. Peneliti berusaha menegur siswa yang terlalu berbuat gaduh di dalam kelas agar tidak samapai mengganggu kegiatan belajar di kelas lain. Pada siklus II, terjadi peningkatan motivasi dari siklus I dalam pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization, hal ini diindikasikan oleh keterlibatan siswa dalam pembelajaran tinggi, siswa menjadi semangat dalam belajar, pengetahuan yang diperoleh siswa bukan semata-mata dari guru tetapi juga melalui keterlibatan oleh siswa, dapat menumbuhkan sikap-sikap positif dalam diri siswa seperti kerjasama, toleransi dan bisa menerima pendapat orang lain. Peningkatan motivasi pada siklus II ini dikarenakan adanya perbaikan dari kekurangan pada siklus I, yaitu kelompok dibagi secara adil yaitu dengan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan lebih dikelompokkan dengan siswa yang memiliki kemampuan kurang atau sedang dilihat berdasarkan nilai pada post-test siklus I sehingga siswa yang pandai akan menularkan ilmunya pada siswa yang kemampuannya sedang atau kurang. Di samping itu, peneliti memberikan motivasi kepada siswa tentang pentingnya belajar kelompok demi keberhasilan mereka semua. Peneliti juga memberikan pengarahan kepada siswa yang mempunyai masalah pribadi dengan teman sekelompoknya untuk tidak memasukkan permasalahan individu pada saat proses pembelajaran karena hal itu bisa menghambat keberhasilan mereka. Guru mengajak siswa bersama-sama membahas soal-soal yang telah diberikan sehingga membuat siswa lebih mengerti dan memahami tentang materi yang diberikan, dan pada saat jam pelajaran menjelang berakhir, guru menyuruh siswa secara acak untuk menjelaskan kesimpulan dari materi yang sudah dijelaskan. Oleh karena suasana belajar yang menyenangkan ini maka siswa akan merasa senang dan termotivasi untuk giat belajar dan berusaha secara maksimal demi keberhasilan mereka. Intensitas motivasi belajar seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian hasil belajar. Sehingga jika motivasi belajar pada diri siswa baik, maka diharapkan hasil belajarnya pun akan meningkat. Proses perbaikan ini dilakukan pada saat pembelajaran siklus II, dan hasilnya kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus sebelumnya berhasil untuk dihilangkan pada siklus II ini. Sehingga proses belajar pun menjadi lancar dan terkendali. B. Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Kooperatif Model Teams Assisted Individualization Sesuai dengan hasil nilai tes (bisa dilihat pada lampiran…), nampak bahwa terjadi peningkatan terhadap hasil belajar siswa. Pada Siklus I nilai rata-rata yang diperoleh adalah 66,90, meningkat daripada sebelum diberi tindakan yang hanya sebesar 44,48. Sedangkan terdapat 38 % siswa yang tuntas belajar yang berarti belum mencapai ketuntasan belajar secara klesikal, Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh adalah 77,76 dan terdapat 75,86 % siswa yang mengalami ketuntasan belajar meningkat bila dibandingkan siklus sebelumnya dan hal ini berarti kelas tersebut belum mengalami ketuntasan belajar secara klasikal.. Dari data tersebut maka terlihat adanya peningkatan nilai rata-rata dan prosentase siswa yang tuntas belajar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa siswa mengalami kemajuan belajar dalam hal pemahaman materi yang dibuktikan dari hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa yang meningkat Hasil ini tidak terlepas dari adanya motivasi siswa yang meningkat karena merupakan suatu hal yang wajar bahwa dengan meningkatnya motivasi belajar siswa maka hasil belajarnya pun menjadi meningkat. Intensitas motivasi yang dimiliki seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya. Berdasarkan refleksi pada siklus I diperoleh bahwa adanya siswa yang belum tuntas belajar disebabkan siswa masih belum memahami materi secara keseluruhan karena penjelasan guru terlalu cepat. Guru sebenarnya telah berusaha membimbing siswa per individu, namun ada beberapa siswa yang kurang memanfaatkan kesempatan yang diberikan guru untuk bertanya dan meminta penjelasan yang belum dimengerti. Sehingga pada siklus berikutnya guru (peneliti) berusaha untuk menjelaskan materi dengan waktu yang ditambah sehingga tidak terlalu cepat dalam memaparkan materi. Disamping itu, guru juga lebih intens memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa agar siswa yang masih belum paham mengenai penjelasan guru, bisa menanyakan kembali materi yang masih belum dipahami dengan harapan agar tujuan pembelajaran yang diharapkan bisa terwujud. Sedangkan pada Siklus II proses belajar berjalan dengan lancar hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil belajar yang memuaskan yaitu terdapat 75,86 % siswa yang tuntas belajar artinya mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya. Selain itu terdapat 7 siswa (24,14 %) siswa yang mendapat nilai dengan kategori cukup, 11 siswa (37,93 %) siswa dengan kategori baik dan sebanyak 11 siswa (37,93 %) siswa mendapat kategori sangat baik. Dari pembahasan ini menunjukkan bahwa pembelajaran Team Assisted Individualization merupakan salah satu alternative yang bisa digunakan dalam meningkatkan motivasi belajar siswa maupun hasil belajar mereka. Namun demikian dari proses penelitian yang dihasilkan maka ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam melaksanakan pembelajaran model Teams Assisted Individualization. Karena pembelajaran model ini membutuhkan banyak waktu dalam pelaksanaannya serta suasana kelas juga sangat ramai dan dilain

Studi karakterestik pemilihan moda angkutan sekolah (Studi kasus SMA di Kecamatan Sumbawa) / Baiq Ariska Imantari

 

ABSTRAK IMANTARI, ARISKA EGA. 2009. Studi Karakteristik Pemilihan Moda Angkutan Sekolah (Studi Kasus Pelajar SMA di Kecamatan Sumbawa). Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sugiyanto, S.T.,M.T. (II) Ir. Henri Siswanto, M.T. Kata kunci : Karaktersistik, model, pemilihan moda, angkutan kota, sepeda motor. Moda angkutan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan yang paling banyak digunakan oleh pelajaar SMA adalah sepeda motor dan angkutan kota. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pengguna, karakteristik pergerakan dan karakteristik transportasi, serta mendapatkan model pemilihan moda angkutan sekolah antara sepeda motor dan angkutan kota.. Hasil yang didapatkan bahwa 51% responden berjenis kelamin perempuan, 66% tidak memiliki SIM, 62% memiliki Ayah sebagai pegawai swasta dan 42% responden memiliki Ibu bekerja sebagai Ibu rumah tangga dan pedagang, 64% menggunakan angkutan kota, 80% memiliki uang saku Rp.100.000 – Rp. 250.000, 76% tidak memiliki mobil dan 53% memiliki 1 sepeda motor. Dalam melakukan perjalanan ke sekolah 62% menempuh jarak hingga 2,5 km, 100% melakukan perjalanan pada pagi hari, 53% menempuh perjalanan selama lebih dari 10 – 20 menit, 58 % mengeluarkan biaya lebih dari Rp. 2000/hari. Sedangkan dalam menggunakan moda angkutan sekolah 100% responden mempertimbangkann ketersediaan kendaraan dalam memilih moda, kemudian 89,87% dikarenakan keamanan, dan 81,65% dikarenakan lama perjalanan. Selanjutnya sebesar 30,07% responden mempertimbangkan biaya perjalanan. Sedangkan yang mempertimbangkan kenyamanan, jarak ketempat angkutan dan keteraturan masing-masing sebesar 23,42%, 14,565%, dan 7,59%. Pada analisis pemilihan moda diperoleh hasil variabel bebas yang paling mmempengaruhi secara signifikan ada 3, yaitu kepemilikan SIM (KEPEMSIM), jumlah motor (JUMMOTOR), dan pekerjaan Ayah (AYAH). Model pemilihan moda yang dihasilkan adalah U = 10,265 – 10,497 KEPEMSIM - 3,076 JUMMOTOR - 3,762 AYAH. Nilai utilitas model diatas akan bernilai paling tinggi jika pengguna angkutan kota tidak memiliki SIM, tidak memiliki sepeda motor dan ayah bekerja bukan sebagai PNS. Nilai peluang yang didapatkan sebesar 99,9% responden lebih memilih menggunakan angkutan kota. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan untuk lebih meningkatkan fasilitas angkutan kota agar lebih baik dari sebelumnya sehingga dapat meningkatkan minat penumpang untuk menggunakan angkutan kota sebagai moda transportasi.

Penggunaan media tape recorder untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan pada siswa kelas V SDN Talang Suko 03 Kecamatan Turen Kabupaten Malang / Dwi Ma'rifatika

 

ABSTRAK Ma’rifatika, Dwi. 2009. Penggunaan Media Tape Recorder untuk Meningkatkan Kemampuan Mendengarkan Siswa Kelas V SDN Talang Suko 03 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Skripsi, Program studi S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan. Pembimbing: (1) Muchtar, S.Pd., M.Pd (2) Dra. Hj. Winihasih, M.Pd Kata kunci: Penggunaan media tape recorder, Kemampuan mendengarkan cerita. Berdasarkan hasil observasi di kelas V SDN Talang Suko 03 dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi mendengarkan cerita, guru masih menerapkan pembelajaran yang bersifat verbalisme dan konvensional, guru kurang bisa menciptakan suasana pembelajaran yang inovatif dan melibatkan keaktifan siswa. Hal ini mengakibatkan rasa bosan dalam belajar yang akhirnya minat dan kemampuan siswa juga menurun. Permasalahan tersebut diatasi dengan menggunakan media tape recorder pada pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi mendengarkan cerita pada siswa kelas V SDN Talang Suko 03. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) pelaksanaan penggunaan media tape recorder untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan siswa kelas V SDN Talang Suko 03, (2) penggunaan media tape recorder dapat meningkatkan kemampuan mendengarkan siswa kelas V SDN Talang Suko 03, (3) dampak penggunaan media tape recorder terhadap keaktifan dan kondisi siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas V SDN Talang Suko 03. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas V SDN Talang Suko 03 Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes, observasi dan wawancara. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut: (1) kemampuan mendengarkan cerita siswa kelas V SDN Talang Suko 03 setelah menggunakan media tape recorder mengalami peningkatan sebesar 34%, dengan selisih peningkatan dari refleksi awal ke siklus I sebesar 8 sedangkan dari siklus I ke siklus II sebesar 13, (2) keaktifan dan kondisi siswa selama mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media tape recorder mengalami peningkatan sebesar 86% dengan kategori memuaskan, (3) secara keseluruhan penggunaan media tape recorder dapat meningkatkan kemampuan mendengarkan siswa kelas V SDN Talang Suko 03. Saran dari penelitian ini sebagai berikut: (1) bagi guru, dapat menggunakan media tape recorder dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia, dapat memanfaatkan media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan materi pembelajaran agar pembelajaran dapat lebih berorientasi pada siswa dan dapat meningkatkan kreativitas siswa, (2) bagi sekolah, sekolah harus melengkapi sarana pembelajaran atau media yang lebih bervariasi dan menarik siswa, sehingga mempermudah guru dan siswa dalam pembelajaran, (3) bagi peneliti lain, dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian yang baru, dapat meneliti dengan materi yang sama tetapi dengan media yang berbeda yang dapat menampilkan rekaman yang disertai dengan gambar misalnya menggunakan VCD pembelajaran.

Sengketa kepemilikan tanah pegaraman desa Pinggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep Madura tahun 1999-2004 / Umi Fitriya

 

ABSTRAK Fitriya, Umi. 2009. Sengketa Kepemilikan Tanah Pegaraman Desa Pimggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep Madura Tahun 1999-2004. Skripsi, Jurusan Sejarah FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Abd. Latif Bustami, M.Si (II) Drs. Nur Hadi, M.Pd, M.Si Kata kunci : Sengketa, Kepemilikan Tanah Pegaraman, Madura Pada awalnya garam sebagai komoditi subsisten, kemudian dalam perkembangannya menjadi komoditi yang bersifat komersil hingga industri. Sengketa tanah pegaraman memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya. Sengketa yang pernah diteliti terjadi pada jenis tanah pertanian basah seperti tanah perkebunan, sedangkan sengketa garam terjadi pada jenis tanah pertanian kering. Kultur masyarakat Madura yang manganut sistem patrilineal dan menjunjung harga diri terutama masalah tanah yang menunculkan budaya carok dengan semboyan ”lebih baik mati disbanding menahan malu” menjadi salah satu faktor perlawanan petani. Ruang lingkup kajian pertanian garam di Desa Pinggirpapas Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep dikarenakan sengketa tanah pegaraman dengan intensitas lebih tinggi dan menjadi pusat perlawanan petani. Penelitian ini mengambil periode tahun 1999 dengan munculnya berbagai organisasi petani garam seperti Yayasan Tanah Leluhur (YTL) dan Yayasan AL-Jihad hingga tahun 2004 adaya kesepakatan bersama penyelesaian sengketa kepemilikan tanah pegaraman bagi kedua pihak.

Penerapan kolaborasi model pembelajaran peta konsep dan numbered head together sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan (Studi pada siswa program keahlian administrasi perkantoran kelas XI di SMK Wisnuwardhana Malang) / Wari

 

ABSTRAK Wari’atuzzuhur, 2009. Penerapan Kolaborasi Model Pembelajaran Peta Konsep & Numbered Head Together Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Kelas XI Administrasi Perkantoran SMK Wisnuwardhana Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Hari, M.Si (II) Madziatul Churiyah, S.Pd, M.M. Kata Kunci: Peta Konsep, Numbered Head Together, hasil belajar Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa pembelajaran yang diterapkan di SMK Wisnuwardhana pada Mata Pelajaran Kewirausahaan masih cenderung memusatkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi. Pembelajaran yang dilakukan masih menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, pemberian tugas, praktek, namun dalam penyampaian teori guru belum pernah menyampaikan dengan menggunakan model pembelajaran yang terpusat pada siswa atau model pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa harus aktif dalam proses pembelajaran. Dengan proses belajar mengajar yang masih berpusat pada guru, sehingga siswa mudah merasa jenuh dan kurang bisa meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Jenis penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus, tiap siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Tahap-tahap Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI Administrasi Perkantoran pada Mata Pelajaran Kewirausahaan di SMK Wisnuwardhana yang berjumlah 31 siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan data dianalisis secara deskriptif. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang disempurnakan adalah model pembelajaran yang mengarah pada siswa untuk lebih aktif, interaktif, inspiratif, dan menyenangkan untuk menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan serta sikap melalui berbagai aktivitas belajar di dalam proses pembelajaran, misalnya model pembelajaran Peta Konsep & Numbered Head Together. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kolaborasi model pembelajaran Peta Konsep & Numbered Head Together untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI Administrasi Perkantoran SMK Wisnuwardhana pada Mata Pelajaran Kewirausahaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan kolaborasi model pembelajaran Peta Konsep & Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan siswa kelas XI Adminstrasi Perkantoran di SMK Wisnuwardhana. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa baik pada pre test maupun post test. Pada siklus I sebelum tindakan nilai rata-rata kelas adalah 45,56 Dari hasil tes ini diketahui bahwa seluruh siswa belum tuntas belajar, setelah pelaksanaan tindakan yang menunjukkan bahwa ada 86,6% yang telah tuntas , dan 13,3% belum tuntas. Rata-rata kelas pada post test siklus I ini adalah 83,46. Hasil belajar pada siklus II mengalami peningkatan, ditunjukkan dari hasil pre test dengan rata-rata adalah 64,1. Dari hasil tes ini juga diketahui bahwa siswa yang tuntas sebesar 40% dan siswa yang belum tuntas adalah 60% Sedangkan hasil post test meningkat diperoleh hasil bahwa ada 93,33% yang telah tuntas , dan hanya 6,6% yang belum tuntas. Hasil post test siklus I dan hasil post test siklus II meningkat sebesar 9,87%, Sejalan dengan itu peningkatan hasil belajar juga dapat dilihat dari peningkatan rata-rata pada siklus I dan siklus II, rata-rata hasil belajar meningkat sebesar 9,14%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang diajukan untuk SMK Wisnuwardhana adalah: (1) dalam pelaksanaan proses pembelajaran terutama pada penetapan kelompok, guru harus lebih mengendalikan situasi agar dalam pelaksanaan proses diskusi dapat berjalan secara efektif. Hal ini dapat disiasati dengan penetapan kelompok berdasarkan prestasi yang dimiliki oleh siswa, (2) guru hendaknya lebih memotivasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar dengan cara mendekati kelompok dalam pelaksanaan diskusi, berusaha menumbuhkan semangat pada siswa dengan membimbing secara teratur dalam proses pembuatan Peta Konsep dan diskusi untuk menemukan jawaban pada kelompok NHT sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, (3) kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian pada kompetensi dasar yang lain atau pada mata pelajaran lainnya guna mengetahui keberhasilan penerapan kolaborasi model pembelajaran Peta Konsep dan Numbered Head Together dalam meningkatkan hasil belajar, dan sebaiknya dapat menyusun perencanaan dan persiapan yang lebih matang sehingga tujuan dalam penerapan model pembelajaran ini dapat tercapai.

Pengaruh kondisi sosial ekonomi, pengetahuan dan sikap terhadap partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat untuk pelestarian hutan di kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang / Indah Ria Nurdiana

 

Program hutan rakyat merupakan salah satu upaya pelestarian hutan dengan pendekatan partisipatif yaitu keikutsertaan masyarakat secara aktif. Keberhasilan program hutan rakyat ini sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat sekitar hutan. Partisipasi masyarakat sebagai wujud perilaku masyarakat yang positif, dipengaruhi oleh kondisi social ekonomi, pengetahuan dan sikap. Pengareuh kondisi social ekonomi, pengetahuan dan sikap terhadap partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat ditenggarai juga terdapat pada program hutan rakyat yang ada di Kecamatan Sumberanjing Wetan Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh kondisi sosial ekonomi terhadap partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat untuk pelestarian hutan; (2) Pengaruh pengetahuan terhadap partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat untuk pelestarian hutan; (3) ) Pengaruh sikap terhadap partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat untuk pelestarian hutan di Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan penelitian kuantitatif yang mengungkapkan hubungan kausal antara variabel, yaitu untuk menyelidiki pengaruh variabel penyebab terhadap variabel akibat; yaitu pengaruh sosial ekonomi (x1), pengetahuan (x2), dan sikap (x3) terhadap variabel terikat berupa partisipasi masyarakat (y) dalam pelestarian hutan, khususnya pelestarian hutan menggunakan program hutan rakyat. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive random sampling, analisis data menggunakan analisis statistic deskriptif dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) ada pengaruh signifikan antara kondisi sosial ekonomi dan partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat; (2) ada pengaruh signifikan antara pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat; (3) ada pengaruh signifikan antara sikap dan partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat di Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan, (1) untuk meningkatkan kondisi sosial ekonomi dan partisipasi masyarakat dalam program hutan rakyat disarankan bagi BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan masyarakat untuk saling bekerjasama dengan menekankan penanaman pohon dan tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang dapat memberikan masukan penghasilan bagi masyarakat dan memiliki kemampuan untuk memperkuat struktur tanah seperti jati, cengkeh, kopi, dan jenis tanaman komoditas lain, (2) untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat dalam program hutan rakyat disarankan bagi BKSDA bekerjasama dengan perangkat desa dan tetua masyarakat untuk memberikan penyuluhan yang bersifat praktis kepada masyarakat dengan cara memberikan pemahaman dan contoh secara langsung untuk terlibat aktif ( learning by doing) dalam program hutan rakyat, (3) bagi peneliti lainnya dilakukan pengembangan yang lebih pada kekhususan yaitu dapat dilakukan dengan melakukan analisis tentang dampak pelaksanaan hutan rakyat dalam sudut pandang pengelolaan manajerialnya.

Kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah inklusif (studi multisitus tiga sekolah dasar di Kota Malang) / Ida Yuastutik

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Achmad Sonhadji, K.H., M.A., Ph.D., (2) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd dan (3) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd Kata kunci: kepemimpinan pembelajaran, kepala sekolah, sekolah inklusif. Sejak dikeluarkannya peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 70 tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif, Sekolah Inklusif (selanjutnya disingkat SI) telah menjadi keharusan untuk diimplementasikan ke seluruh sekolah sesuai dengan kesiapannya. Sebagai sebuah kebijakan baru selain melahirkan harapan baru juga sekaligus permasalahan baru.Harapannya adalah terciptanya layanan pendidikan ramah anak untuk pendidikan bermutu bagi semua tanpa terkecuali. Sedangkan salah satu permasalahan pentingnya berfokus pada kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah inklusif yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran mendalam tentang peran dan aktifitas kepala sekolah dalam mengimplementasikan kepemimpinan pembelajaran di sekolah inklusif, sebagai studi multikasus di SDN Sumbersari II, SDK Bhakti Luhur, dan SMPN 18 Kota Malang. Fokus utama penelitian ini adalah kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah inklusif yang dipilah menjadi sub-sub fokus: a) sifat-sifat pemimpin pembelajaran sekolah inklusif; b) strategi pemimpin pembelajaran kepala sekolah inklusif, yang mencakup: (1) strategi dalam mewujudkan visi dan misi sekolah inklusif, (2) strategi dalam menciptakan iklim pembelajaran yang positif, (3) strategi dalam mengelola kualitas kurikulum dan program pembelajaran, dan (4) strategi dalam mengembangkan kualitas guru, c) kinerja pemimpin pembelajaran sekolah inklusif, yang mencangkup: (1) kinerja dalam mewujudkan visi dan misi sekolah inklusif, (2) kinerja dalam menciptakan iklim pembelajaran yang positif, (3) kinerja dalam mengelola kualitas kurikulum dan program pembelajaran, dan (4) kinerja dalam mengembangkan kualitas guru. Melalui desain penelitian kualitatif studi multikasus, dengan teknik pengumpulan data wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta melalui analisis data kasus individu dan lintas kasus melalui proses triangulasi untuk keabsahan dan kredibilitas data.Penyusunan rancangan studi multikasus dilakukan sebagai upaya pertanggungjawaban ilmiah penelitian yang membahas kaitan logis antara pertanyaan yang diajukan, pengumpulan data yang relevan, penganalisisan yang relevan, dan penganalisisan hasilnya (Philliber, Schwab, & Samsloss,1980; Yin, 1994). Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting penelitian. Pertama, pemimpin pembelajaran SI memiliki sifat-sifat: (1) peduli, penuh kasih, dan disiplin dalam tugas dan perannya sebagai teladan dalam menerapkan kepemimpinan pembelajaran, (2) low profile dan dapat bekerja sama dalam menciptakan teamwork di sekolah, (3) sabar dan inovatif dalam mengelola proses pembelajaran, (4) penuh perhatian, bijaksana, demokrasi, dan tegas dalam menghadapi dan meyelesaikan permasalahan pembelajaran, (5) tangguh dalam membangun citra sebagai sekolah inklusif yang efektif, (6) familiar dan dapat bekerja sama bekerja sama dengan terapis, psikolog, psikiater, orang tua siswa, pemerintah dan perguruan tinggi, dan (7) religius dalam memotivasi guru dan siswa. Sebagaimana disampaikan Yulk (1998) bahwa sifat-sifat pribadi seorang pemimpin sangat berperan dalam keberhasilan kepemimpinannya. Kedua, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran sekolah inklusif yang efektif memiliki strategi, antara lain: (1) dalam mewujudkan visi dan misi sekolah mampu menciptakan strategi berupa mengkomunikasikan visi dan misi sekolah, melembagakan visi dan misi, keteladanan sifat-sifat baik kepala sekolah, orientasi kerja berdasar visi dan misi, dan bekerja sama dengan wali murid dan pemerintah (2) dalam meningkatkan kualitas kurikulum, program pembelajaran, dan proses pembelajaran memiliki strategi menyiapkan sarana prasarana dan media belajar, memeta kemampuan siswa melalui assesmen, mendiversifikasi kurikulum, evaluasi yang fleksibel, terapi 3 M, menyiapkan perangkat pembelajaran, menyediakan guru pendamping khusus, menunjuk manajer program inklusi, bekerja sama dengan psikolog, psikiater, terapis, dan volunteer dari luar negeri, pertemuan rutin, program perbaikan dan pengayaan, dan kegiatan ekstra kurikuler, (3) dalam menciptakan iklim pembelajaran yang positif kepala sekolah menerapkan keteladanan sifat peduli dan kasih sayang, celebrating success, memamerkan hasil karya siswa, memiliki moral yang tinggi, rasa saling menghargai, melibatkan guru dalam mengambil keputusan, dan menjaga keindahan sekolah, (4) dalam meningkatkan kualitas guru memiliki strategi: supervisi, menugaskan guru mengikuti KKG/MGMP), membentuk KKG/ MGPM Kecil di sekolah, bekerja sama dengan wali murid dan perguruan tinggi untuk pelatihan guru, workshop, modeling, dan menyediakan perpustakaan sekolah. Ketiga, kinerja kepala sekolah: (1) dalam mencapai visi dan misi yaitu mengkomunikasikan visi dan misi serta merealisasikannya ke tujuan dan program sekolah, dan mengejawantahkan ke dalam tindakan, (2) dalam meningkatkan kualitas kurikulum, program dan proses pembelajaran yaitu merealisasikan tindakan perencanaan proses pembelajaran sekolah inklusif, pengkoordinasian dan pengawasan, (3) dalam menciptakan iklim pembelajaran yang positif yaitu mempengaruhi warga sekolah familiar dan bermoral tinggi, peduli, penuh kasih sayang, celebrating success, memamerkan karya siswa, melibatkan guru mengambil keputusan, dan keindahan sekolah, (4) meningkatkan kualitas guru dengan melaksanakan supervisi, bekerja sama dengan pemerintah, wali murid, dan PT, pelatihan guru, modeling, KKG/MGMP, dan menyediakan perpustakaan. Kepala beberapa pihak berikut disarankan agar: (1) Dirjen PMPTK dan Kepala P4TK agar mengembangkan pendidikan dan pelatihan kepala sekolah inklusif, khususnya bidang kepemimpinan pembelajaran, (2) Kepala sekolah inklusif yang diteliti agar mempertahankan sifat-sifat familiar, low profile, bijaksana, suportif, humoris, penuh kasih dan peduli dan menjaga keterlibatan para orang tua siswa, pemerintah, dan PT dalam pengembangan profesional guru, (3) Kepala Dinas Pendidikan dan Pengawas agar sosialisasi pendidikan inklusif secara intens, memilih kepala sekolah yang bersifat baik dan mengerti manajemen pembelajaran sekolah inklusif, pemenuhan guru pendamping khusus maupun sarana prasarana pembelajaran, (4) Kepala Sekolah inklusif agar menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi, (5) Peneliti lain agar ada penelitian yang serupa namun berbeda kasus dan situsnya, untuk memverifikasi temuan penelitian ini guna membangun teori kepemimpinan kepala sekolah inklusif.

Pengelolaan media pembelajaran pada materi sulaman berwarna dalam mata diklat membuat hiasan busana di SMK Negeri Kodya Malang / Fariddatul Mariyana

 

ABSTRAK Mariyana, Fariddatul. 2009. Pengelolaan Media Pembelajaran Pada Materi Sulaman Berwarna Dalam Mata Diklat Membuat Hiasan Busana di SMK Negeri Kodya Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Nurul Aini, M. Pd, (II) Dra. Rosanti Rosmawati. Kata Kunci: perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Pengelolaaan media pembelajaran materi sulaman berwarna merupakan suatu proses yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi media pembelajaran pada materi sulaman berwarna dalam mata diklat membuat hiasan busana di SMK Negeri 5 dan SMK Negeri 7 Malang. Populasi penelitian ini adalah guru dan siswa SMK Negeri se-Kodya Malang yang memiliki keahlian tata busana. Sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan purposive sampling, jadi sampelnya yaitu guru berjumlah 3 orang dan siswa kelas X berjumlah 87, mata diklat membuat hiasan busana materi sulaman berwarna SMK Negeri 5 dan SMK Negeri 7 Malang. Penelitian ini menggunakan instrumen observasi untuk guru dan angket untuk siswa. Menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif dan analisis data menggunakan analisis prosentase. Hasil penelitian ini adalah (1) Perencanaan media pembelajaran sulaman berwarna dalam mata diklat membuat hiasan busana di SMK Negeri 5 dan SMK Negeri 7 Malang, meliputi: pemilihan media yang dilakukan oleh guru sudah mempertimbangkan faktor-faktor obyektif, karakteristik siswa, tujuan pembelajaran, keefektifan dan efisiensi media, waktu untuk mempersiapkan media pembelajaran, dana yang tersedia disekolah (memanfaatkan media yang ada), kepraktisan media (menggunakan media yang sederhana) dan kemudahan untuk memperoleh media sulaman berwarna. Penyediaan media sulaman berwarna disekolah terdiri dari; fragmen, gambar, benda jadi dan modul. Sedangkan media yang sering digunakan untuk menyampaikan materi sulaman berwarna yaitu; modul dan fragmen; (2) Pelaksanaan penggunaan media pembelajaran sulaman berwarna dalam mata diklat membuat hiasan busana di SMK Negeri 5 dan SMK Negeri 7 Malang terdiri dari: penyampaian materi sulaman berwarna dengan menggunakan media disertai dengan penjelasan oleh guru dilakukan secara berulang, karena sebagian besar siswa belum mengerti. Namun sebagian kecil siswa yang sudah mengerti merasa jenuh dengan penjelasan ulang tersebut. Pada saat mengajar guru selalu membawa media sulaman berwarna tetapi dalam menyampaikan materi tidak dilakukan secara bertahap. Dalam penggunaan media cukup banyak guru yang menguasai penggunaan media walaupun masih ada yang belum dapat menggunakan sendiri, namun hal itu tidak menghambat kegiatan belajar-mengajar karena dibantu guru satu team. Sedangkan jumlah media yang sangat terbatas menjadi faktor penghambat kegiatan belajar-mengajar. Adapun bentuk pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi sulaman berwarna yaitu pembelajaran individu dan kelompok. Metode yang digunakan yaitu ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan pemberian tugas; (3) Evaluasi media pembelajaran sulaman berwarna dalam mata diklat membuat hiasan busana di SMK Negeri 5 dan SMK Negeri 7 Malang yaitu, masih ada siswa yang belum dapat memahami materi yang telah disampaikan dengan menggunakan media. Penyampaian materi sulaman berwarna dengan menggunakan media hanya meningkatkan minat dan perhatian siswa tetapi tidak meningkatkan motivasi untuk belajar dan bertanya. Penilaian pembelajaran sulaman berwarna dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan dengan pemeriksaan tugas siswa pada setiap akhir kegiatan pembelajaran, sedangkan penilaian hasil melalui penilaian terhadap hasil praktek siswa sehari-hari. Pelaksanaan praktek tersebut bermanfaat bagi siswa untuk persiapan ujian semester. Penggunaan media sulaman berwarna mempercepat sebagian besar siswa untuk memahami materi dan memperlancar dalam menyelesaikan tugas sulaman berwarna. Media yang digunakan untuk mengajar kurang baik, warnanya kusam karena selalu berpindah-pindah tangan dari siswa yang satu ke siswa yang lain dan motif hiasannya sangat sederhana. Tetapi media tersebut masih dapat dipakai untuk menyampaikan materi. Media sulaman berwarna yang digunakan setelah mengajar dirawat dan disimpan kembali pada tempatnya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar kepala sekolah melakukan peninjauan tentang pengelolaan media pembelajaran dan meningkatkan kualitas mengajar guru keahlian tata busana. Guru diharapkan dapat melengkapi media yang ada disekolah dengan langkah kerja pertahap, memberikan penjelasan secara bertahap, pada waktu mengajar meningkatkan penguasaan dalam penggunaan media pembelajaran dan menggunakan media yang masih baik (beraneka ragam motif hiasannya, rapi penyelesaiannya, warna tidak kusam), dengan tujuan untuk memberi motivasi siswa dan menyediakan media yang sesuai dengan jumlah siswa. Siswa diharapkan lebih memperluas pengetahuan yang dimiliki dengan membaca buku referensi tentang sulaman berwarna dan menyelesaikan tugas sulaman berwarna tepat waktu. Sehingga tujuan pembelajaran tercapai dan selesai sesuai dengan waktu yang direncanakan. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian tentang pembuatan media sulaman berwarna yang dilengkapi dengan langkah kerja pertahap sehingga mudah dipahami oleh siswa.

Subgraph matched maksimal graph lintasan R-partisi komplit untuk pencarian pola musikal / Martha Yulian Sitawati

 

ABSTRAK Sitawati, Martha Yulian. 2009. Subgraph Matched Maksimal Graph Lintasan R- Partisi Komplit Untuk Pencarian Pola Musikal. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si. (II) Mahmuddin Yunus, S.Kom. Kata kunci: graph lintasan r-partisi komplit, pola musikal, matched. Teori Graph merupakan salah satu cabang matematika yang banyak bermanfaat karena dengan menggunakan rumusan atau metode dari Teori Graph yang tepat maka kita dapat menyelesaikan suatu masalah dengan lebih mudah. Salah satu aplikasinya adalah di bidang musik. Teori Graph membantu dalam memodulasi, mengaransemen, dan menemukan keharmonisan pada suatu lagu. Musik dapat dimodelkan dalam bentuk graph lintasan r-part isi komplit, dengan titik menggambarkan notasi musik, sisi menggambarkan relasi antar sepasang notasi musik, sedangkan partisi menggambarkan arus yang ada dalam alunan musik. Keharmonisan dalam sebuah lagu merupakan pola musikal lagu tersebut. Bila ditemukan subgraph matched maksimal dari kelas pitch yang ditentukan, maka subgraph tersebut merupakan pola musikal dari lagu tersebut. Pada skripsi ini, pencarian pola musikal tersebut akan dipergunakan untuk menganalisa kesamaan antara dua buah lagu secara melodik. Dengan melihat pola musikal yang ada dalam masing-masing lagu tersebut maka akan terlihat bila ada kesamaan. Selain itu terdapat alat bantu untuk menganalisa kesamaan antara dua lagu, yaitu dengan menggunakan software FruityLoops Studio 8. Software tersebut dapat dipergunakan dengan melihat gambar frekuensi dari dua lagu yang dibandingkan dan memainkannya secara bersamaan

Pengaruh penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah (analisis terhadap Kota Batu periode Januari 2008 - Juni 2010) / Fakhrul Ikhsan Nugroho

 

Kata kunci: Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Pendapatan Asli Daerah. Pendapatan asli daerah merupakan sektor penerimaan yang sangat penting bagi keberlangsungan pembangunan daerah. Semakin tinggi penerimaan terhadap pendapatan asli daerah maka semakin besar pula kemampuan bagi daerah tersebut untuk melaksanakan dan mensukseskan pembangunan daerah. Dalam hal ini pajak daerah dan retribusi daerah memegang peranan yang sangat penting yaitu sebagai sektor penyumbang pendapatan asli daerah. Kota Batu dituntut untuk melakukan pembenahan struktural yang meliputi identifikasi potensi PAD, peningkatan kapasitas dan kapabilitas aparat dan peningkatan identifikasi potensi dari sektor pajak dan retribusi daerah, agar sumber-sumber potensi yang ada dapat digali secara maksimal. Sehingga tidak terus terjadi ketergantungan terhadap pendapatan antara pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian terhadap sumber-sumber pendapatan yang mendukung PAD, yakni pajak daerah dan retribusi daerah. Peneliti berkeinginan untuk meneliti dan menganalisis kontribusi dari pajak daerah dan retribusi tersebut terhadap PAD kota Batu, serta perkembangan pajak daerah, retribusi daerah dan PAD kota Batu tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini terdiri dari variabel pajak daerah (X1) dan variabel retribusi daerah (X2). Sedangkan untuk variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah pendapatan asli daerah. Populasi dalam penelitian ini adalah pendapatan asli daerah kota Batu periode Januari 2008 hingga Juni 2010 (30 bulan). Sedangkan sampel dalam penelitian kali ini adalah pajak daerah dan retribusi daerah kota Batu dalam periode yang sama yaitu Januari 2008 hingga Juni 2010 (30 bulan). Fokus dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis perkembangan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan asli daerah kota batu, (2) untuk menganalisis pengaruh dari pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan asli daerah secara parsial dan simultan serta untuk menganalisis variabel apa yang paling berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah, dan yang terakhir (3) untuk menganalisis upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah kota batu dalam meningkatkanpendapatan asli daerah kota batu. Untuk menganalisis beberapa fokus penelitian diatas, maka peneliti menggunakan beberapa alat analisis diantaranya analisis deskriptif yang berupa analisis persentase dan analisis kontribusi dan alat analisis statistik yang berupa analisis regresi. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa (1) Persentase atas perkembangan pajak daerah kota Batu yang terbesar selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 terjadi pada bulan Maret 2010, yaitu sebesar 132,98%. Persentase atas perkembangan pajak daerah kota Batu yang terkecil terjadi pada bulan Februari 2010, yaitu sebesar -58.53%. Rata-rata persentase perkembangan penerimaan pajak daerah selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 adalah 20,48%. (2) Persentase atas perkembangan retribusi daerah kota Batu yang terbesar selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 terjadi pada bulan Desember 2009, yaitu sebesar 940,12%. Persentase atas perkembangan retribusi daerah kota Batu yang terkecil terjadi pada bulan November 2009, yaitu sebesar -89,70%. Rata-rata persentase perkembangan penerimaan Retribusi Daerah sejak Januari 2008 hingga Juni 2010 adalah 48,02%. (3) Persentase atas perkembangan pendapatan asli daerah kota Batu yang terbesar selama periode Januari 2008 hingga Juni 2010 terjadi pada bulan November 2008, yaitu sebesar 204,58%. Persentase atas perkembangan pendapatan asli daerah kota Batu yang terkecil terjadi pada bulan Januari 2009, yaitu sebesar -75,35%. Rata-rata persentase perkembangan penerimaan pendapatan asli daerah sejak januari 2008 hingga juni 2010 adalah 16,38%. Selanjutnya dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa (1) perkembangan pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan asli daerah mengalami pertumbuhan yang fluktuatif setiap bulanya. (2) Secara parsial pajak daerah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah, sedangkan retribusi daerah berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah. Secara simultan pajak daerah dan retribusi daerah berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah. Variabel yang paling berpengaruh dominan terhadap pendapatan asli daerah selama 30 bulan terhitung sejak Januari 2008 hingga Juni 2010 adalah pajak daerah. (3) Variabel bebas yang mempunyai pengaruh kuat terhadap variabel terikat pendapatan asli daerah adalah variabel pajak daerah (X1). (4) Pemerintah daerah kota Batu menerapkan kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak serta kebijakan ekstensifikasi retribusi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah kota Batu. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah kota batu adalah dengan usaha intensifikasi dan ekstensifikasi yang dilakukan dengan cara aktif dimana petugas pemungut harus lebih giat dalam usaha melakukan penagihan baik pembayaran atau tunggakan. Meningkatkan kualitas aparat pemungut antara lain dengan diadakannya pembenahan dalam hal yang berkenaan dengan manajemen perpajakan seperti : pelatihan, dan studi banding maupun diskusi-diskusi sehingga petugas dapat mengetahui dan lancar dalam menjalankan tugasnya. Peningkatan disipilin dan loyalitas para petugas pemungut lapangan dalam memungut pajak serta perlu dipertimbangkan insentif kerja. Mengadakan penyuluhan dan meningkatkan motivasi masyarakat guna menumbuhkan kesadaran dalam diri masyarakat atas kewajibannya membayar pajak yang merupakan langkah penting dalam usaha meningkatkan laju pemasukan pendapatan asli daerah. Perlunya sanksi tegas terhadap penyimpangan dan penyelewengan bagi wajib pajak ataupun pemungut pajak dan sanksi dengan pelaksanaan hukum bagi pelanggar pengumpul atau pemungut retribusi. Penyempurnaan sistem kerja sehingga tidak terjadi kebocoran-kebocoran dari penerimaan yang tidak diinginkan.

Pengaruh rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva terhadap return on investment pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2009 / Irvan Fachrudin

 

Kata kunci: rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva dan Return on Investment Return on Investment seringkali digunakan sebagai tolak ukur dalam menilai perkembangan suatu perusahaan. Return on Investment merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi Return on Investment perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva terhadap Return on Investment pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI periode 2006-2009. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausalitas yaitu untuk mengetahui hubungan antara rasio lancar, rasio perputaran modal kerja, rasio perputaran total aktiva terhadap Return on Investment. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan food and beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2009, dengan total populasi sebanyak 20 perusahaan. Sampel yang diambil dalam penelitian ini sejumlah 12 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2006-2009. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio lancar berpengaruh negatif terhadap Return on Investment. Rasio perputaran modal kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Investment. Rasio perputaran total aktiva berpengaruh positif terhadap Return on Investment. Rasio lancar berpengaruh dominan terhadap Return on Investment. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah (1) bagi perusahaan food and beverages sebaiknya memperhatikan sumber dana yang digunakan dalam operasional untuk meningkatkan Return on Investment, (2) Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya digunakan sampel dengan karakteristik yang lebih beragam, sampel yang lebih besar dan periode penelitian yang lebih panjang, (3) Dalam penelitian selanjutnya, diharapkan agar memasukkan ukuran perusahaan (size effect), karena mungkin ada perbedaan hasil sehingga dapat digunakan untuk pengambilan keputusan yang lebih cermat.

Vehicle routing problem with simultaneous deliveries and pick-ups (VRPSDP) dengan metode insertion heuristic dan penerapannya / Diaz Vinancya Ayuandari

 

ABSTRAK Ayuandari, Diaz Vinancya. 2009.Vehicle Routing Problem with Simultaneous Deliveries and Pick-ups (VRPSDP) dengan Metode Insertion Heuristic dan Penerapannya. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si., (II) Dra. Susy Kuspambudi A., M.Kom. Kata Kunci: Vehicle Routing Problem, VRP with Simultaneous Deliveries and Pick-ups, Metode Insertion Heuristic Masalah distribusi adalah bagian dari permasalahan penyediaan barang atau jasa dari depot (pusat distribusi) ke customer yang tersebar di berbagai lokasi. Kondisi lokasi customer yang tersebar, seringkali menyebabkan kendaraan harus menempuh perjalanan yang jauh dan tidak efisien. Salah satu konsep pada teori graph yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah Vehicle Routing Problem (VRP). Salah satu pengembangan dari permasalahan VRP yaituVehicle Routing Problem with Simutaneous Deliveries and Pick-ups (VRPSDP) yang merupakan pengembangan dari VRP dengan penambahan kendala, dimana pada saat pengiriman barang, dilakukan pula pengambilan kemasan isi ulang/produk cacat secara simultan pada setiap titik pada lintasan. Permasalahan VRPSDP yang dibahas diselesaikan dengan menggunakan metodeInsertion Heuristicdan digambarkan dengan suatu graph. Gambar graph tersebut dianggap sebagai peta yang menjelaskan kemungkinan jalur yang dapat dilewati dengan setiap titik mewakili depot dan customer, setiap sisi menunjukkan jalan yang menghubungkan antar titik dan setiap bobot pada sisi mewakili jarak. p, dan Jumlah permintaan barang dinotasikan dengani d, pengembalian barangi kapasitas kendaraanQ. Pencarian solusi dimulai dengan membentuk beberapa rute awal sesuai dengan jumlah kendaraan, kemudian penyisipan titiki dengan å d³ dilanjutkan penyisipan titikidengani d< yang memenuhiQ di£ ip ip i å hingga semua titik termuat dalam rute. danQ pi£ Pembahasan mengenai permasalahan VRPSDP ini memberikan beberapa analisa. Algoritmainsertion yang digunakan dalam penyelesaian permasalahan VRP dengan permasalahan VRPSDP mempunyai persamaan dalam hal penyisipannya, yaitu sama-sama melakukan proses perluasan rute dengan penyisipan titik customer. Namun bedanya yaitu pada permasalahan VRP, penyisipan titik customer didasarkan pada bobot sisi atau jarak antar customernya. Sedangkan pada permasalahan VRPSDP, penyisipan titik customer didasarkan pada jumlah permintaan maupun pengembalian barang tiap customernya. Dari penerapan 4 contoh permasalahan VRPSDP dapat diberikan analisa pada penentuan posisi penyisipan untuk titik-titik customer dengan jumlah permintaan yang lebih kecil dari pengembalian barangnya, urutan customer harus diperhatikan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap kendala kapasitas.

Analisa model matematika untuk penyebaran penyakit tuberculosis dengan exogenous reinfection / Indah Triwahyuni

 

ABSTRAK Triwahyuni, Indah. 2009. Analisa Model Matematika Untuk Penyebaran Penyakit Tuberculosis Dengan Exogenous Reinfection. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. (II) Drs. Rustanto Rahardi, M.Si. Kata kunci: model penyebaran penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection, sistem dinamik, persamaan diferensial, angka dasar reproduksi. Penyebaran penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection pada suatu populasi dengan total populasi (N) dapat dimodelkan secara matematis. Populasi tersebut dibagi menjadi empat kelas epidemik yaitu susceptible (S), exposed (E), infectious (I), dan effectively treated (T). Persamaan modelnya adalah sebagai berikut: adalah model dari exogenous reinfection dengan p merupakan level dari reinfection. Titik kesetimbangan bebas penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection adalah yang merupakan titik kesetimbangan yang stabil asimtotik dan terjadi saat , dengan . Jika nilai diperkecil maka waktu yang diperlukan untuk mencapai keadaan bebas penyakit tuberculosis dengan exogenous reinfection semakin cepat. Hal ini berarti jika intensitas terjadinya kontak antara individu susceptible dengan individu terinfeksi kecil maka terjadinya exogenous reinfection dapat diminimalkan, sehingga keadaan bebas penyakit tuberculosis dengan exogenous reinfection pada suatu populasi dapat dicapai. Disamping titik kesetimbangan bebas penyakit, pada saat juga muncul beberapa titik kesetimbangan endemik penyakit Tuberculosis dengan exogenous reinfection.

Kekuatan total titik tak beraturan pada graf bintang dan graf gabungan dua graf bintang / Dwi Walidatul Attiqoh

 

ABSTRAK Attiqoh, Dwi Walidatul. 2009. Kekuatan Total Titik Tak Beraturan Pada Graf Bintang Dan Graf Gabungan Dua Graf Bintang. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Drs. Rustanto Rahardi.M.Si. Kata kunci: graf, pelabelan total titik tak beraturan, kekuatan total titik tak beraturan, graf bintang, graf gabungan dua graf bintang. Misalkan suatu graf dengan himpunan titik dan himpunan sisi . Untuk suatu bilangan bulat . Pelabelan- total didefinisikan sebagai suatu pemetaan . Pelabelan dikatakan pelabelan- total titik tak beraturan jika untuk setiap titik yang berbeda berlaku , dimana . Kekuatan total titik tak beraturan (total vertex irregularity) atau , pertama kali diperkenalkan oleh Baca, yaitu bilangan bulat terkecil sehingga ada bobot total dari dengan bilangan bulat yang tidak beraturan. Pada skripsi ini dipelajari pelabelan total titik tak beraturan dan kekuatan total titik tak beraturan pada graf bintang dan graf gabungan dua graf bintang . Graf gabungan dua graf bintang merupakan graf yang dibentuk dari dua graf bintang dengan menggabungkan dua graf bintang dengan titik-titik yang berderajat satu secara berpasang-pasangan dihimpitkan. Dari pembahasan diperoleh dua hasil yang menyatakan bahwa graf bintang dan graf gabungan dua graf bintang mempunyai pelabelan total titik tak beraturan. Selain itu diperoleh bahwa graf bintang mempunyai kekuatan total titik tak beraturan atau dan kekuatan total titik tak beraturan graf gabungan dua graf bintang berorder , , dengan atau .

Penerapan pendekatan problem posing untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar siswa kelas X-A MAN 3 Malang pada pokok bahasan gelombang elektromagnetik dan penerapan listrik AC dan DC / Ika Rahmania

 

ABSTRAK Rahmania, Ika, 2009. Penerapan Pendekatan Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X-A MAN 3 Malang Pokok Bahasan Gelombang Elektromagnetik dan Penerapan Listrik AC dan DC. Skripsi Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Purbo Swasono, M.Si (2) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd Kata kunci : problem posing, kemampuan komunikasi, prestasi belajar Hasil wawancara menunjukkan bahwa pada umumnya proses pembelajaran fisika di kelas X-A MAN 3 Malang menggunakan metode ceramah, diskusi, demonstrasi, dan LKS. Kemampuan komunikasi dari siswa masih rendah, hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa masih banyak siswa yang kurang memperhatikan saat temannya sedang presentasi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, 12 % siswa belum memperoleh nilai sesuai SKM yang telah ditentukan oleh sekolah yaitu sebesar 7,5. Untuk memecahkan permasalahan tersebut diterapkan suatu pembelajaran berbasis konstruktivisme. Pembelajaran yang dipilih adalah pendekatan problem posing. Selain dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa model ini juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Tahapan dalam problem posing, melatih siswa untuk lebih berani menyampaikan pikiran dan perasaan, melatih untuk bisa memahami dan memberi dukungan kepada orang lain dan melatih siswa untuk mampu mengungkapkan diri. Oleh karena itu diharapkan pendekatan problem posing dapat terlaksana denga baik dan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar siswa kelas X-A MAN 3 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penelitian ini berlangsung dalam dua siklus. Tindakan yang diberikan pada penelitian ini adalah penerapan pendekatan problem posing. Untuk mengukur keterlaksanaan proses pembelajaran problem posing ini dilakukan dengan menggunakan rubrik penilaian keterlaksanaan proses. Untuk mengukur peningkatan kemampuan komuniksi siswa dilakukan dengan menggunakan rubrik penilaian komunikasi pada saat kegiatan diskusi. Untuk mengukur peningkatan prestasi belajar dilakukan melalui tes formatif pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan proses keterlaksanaan pembelajaran dari siklus I sebesar 80% menjadi 90% pada siklus II. Untuk kemampuan komunikasi siswa juga mengalami peningkatan, yang pada siklus I sebesar 67,6% dengan kriteria cukup meningkat pada siklus II menjadi 75% dengan kriteria baik. Sementara untuk prestasi belajarpun mengalami peningkatan, pada siklus I rata-ratanya sebesar 69,7 dan pada siklus II naik rata-ratanya menjadi 85,7. Sehingga diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pendekatan problem posing dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar siswa kelas X-A MAN 3 Malang.

Identifikasi konsep sukar dan miskonsepsi hukum gas pada siswa SMA Negeri 1 Malang / Aminatul Robi'ah

 

i ABSTRAK Robi’ah, Aminatul. 2009. Identifikasi Konsep Sukar dan Miskonsepsi Hukum Gas Pada Siswa SMA Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Fariati, M.Sc., (2) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: konsep sukar, miskonsepsi, hukum gas Dalam ilmu kimia banyak dipelajari konsep yang abstrak, berjenjang dan saling berkaitan satu sama lain. Karakteristik yang dimiliki oleh konsep kimia tersebut dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan dan kegagalan dalam mempelajari kimia. Kesulitan dalam memahami konsep kimia akan melahirkan konsep sukar. Suatu konsep disebut sebagai konsep sukar apabila sebagian besar siswa mengalami kesukaran pada konsep tersebut. Hal ini ditandai dengan jumlah siswa yang menjawab salah pada soal yang berkaitan dengan konsep itu antara 61%-100% atau ≥ 61%. Konsep sukar menyebabkan siswa tidak dapat memahami konsep kimia dengan tepat. Kesalahan pemahaman ini dapat dimiliki secara konsisten, sehingga siswa tersebut mengalami miskonsepsi. Konsep sukar ataupun miskonsepsi akibat pemahaman siswa yang tidak benar dapat terbawa sampai jenjang pendidikan selanjutnya (perguruan tinggi). Konsep dalam pokok bahasan hukum gas meliputi konsep hukum Boyle, hukum Charles, hukum Gay- Lussac, hukum Avogadro, hukum kombinasi gas, dan hukum gas ideal. Konsep ini merupakan salah satu konsep abstrak. Di samping itu, konsep tersebut juga berjenjang dan saling berkaitan satu sama lain. Jika siswa tidak faham terhadap salah satu hukum, maka dapat mengakibatkan kesulitan dalam memahami hukum yang lain. Di samping itu, hal ini juga dapat menimbulkan konsep sukar dan miskonsepsi. Penelitian yang dilakukan pada siswa kelas X, XI, dan XII SMA Negeri 1 Malang dengan pokok bahasan hukum gas memiliki tujuan yaitu mengetahui: (1) konsep manakah yang termasuk konsep sukar; (2) pada konsep apa sajakah siswa mengalami miskonsepsi. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X, XI, dan XII SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2008/2009 dan masing-masing diambil dua kelas sebagai sampel. Instrumen yang dipakai dalam penelitian adalah tes objektif yang berupa 21 soal pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban, disertai alasan pemilihan jawaban. Tiap alternatif jawaban mewakili satu konsep yang diukur. Hasil analisis data digunakan untuk menentukan konsep sukar dan miskonsepsi siswa dalam mempelajari konsep hukum gas. Berdasarkan analisis data hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa konsep sukar yang dimiliki siswa adalah pada konsep: (a) hukum Boyle dalam soal analisis pada siswa kelas X dengan persentase kesalahan (%S) sebesar 91%; (b) hukum Charles dalam soal algoritma pada siswa kelas X dengan %S sebesar 78%, dan dalam soal analisis pada siswa kelas X dan XII dengan persentase kesalahan (%S) masing-masing sebanyak 84%; (c) hukum Gay-Lussac dalam soal algoritma pada siswa kelas X persentase kesalahan (%S) sebesar 75%; (d) penerapan hukum kombinasi gas dalam soal analisis pada siswa kelas X dengan persentase kesalahan (%S) sebanyak 84% dan kelas XII dengan persentase kesalahan (%S) sebesar 63%; (e) penerapan hukum gas ideal pada kondisi standar ii dalam soal algoritama pada siswa kelas X dengan persentase kesalahan (%S) sebayak 66 %; dan (f) massa molekul relatif gas pada siswa kelas X, XI, dan XII dengan persentase kesalahan (%S) berturut-turut sebesar 96%, 78% dan 65%. Untuk miskonsepsi siswa yang dapat diidentifikasi adalah siswa menganggap bahwa: (a) massa molar tidak memiliki satuan seperti Mr; (b) Mr mempunyai satuan g/mol seperti massa molar; (c) Mr dan massa molar memiliki satuan g; (d) Mr memiliki satuan g/mol sedangkan massa molar tidak memiliki satuan; (e) Mr molekul diatom sama dengan Ar monoatom; (f) satuan kPa = atm; (g) pada volume konstan tekanan gas berbanding terbalik dengan temperatur mutlaknya; (h) kenaikan temperatur menyebabkan penurunan jumlah mol gas.

Pengaruh kualitas layanan kepada anggota terhadap loyalitas siswa di koperasi sekolah MAN 3 (Madrasah Aliyah Negeri) Malang / Dian Nia Rakhmawati

 

ABSTRAK Nia Rakhmawati, Dian. 2009. Pengaruh Kualitas Layanan Kepada Anggota Terhadap Loyalitas Siswa di Koperasi Sekolah MAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Ekonomi Pembangunan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. J. G. Nirbito, M.Pd., (2) Farida Rahmawati, S.E., M.E. Kata kunci:Kualitas layanan Kepada Anggota, Loyalitas Siswa Koperasi sekolah merupakan salah satu bentuk pelayan khusus yang diadakan di sekolah yang menunjang kegiatan pembelajaran disekolah yang didasari oleh azas kekeluargaan. Keberadaan koperasi sekolah banyak disukai oleh para siswa, apabila keberadaan koperasi tersebut memberikan manfaat bagi para siswa. MAN 3 Madrasah Aliyah Negeri merupakan salah satu sekolah MAN Madrasah Aliyah Negeri sekolah menengah setara SMU mempunyai keunggulan lainnya diantaranya kelengkapan sarana dan prasarana sekolah yang menunjang pembelajaran siswa. salah satunya adalah koperasi sekolah dilihat dari bentuk fisik koperasi yaitu ruangan koperasi ukurannya lebih besar dari pada koperasi pada umumnya. Koperasi ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai koperasi dengan sistematika pembukuan terbaik antar SMU Se-Malang Raya pada tahun 2005, selain itu koperasi tersebut masuk dalam 3 besar Jambore Koperasi Dalam koperasi terdapat istilah pelayanan pada anggota dimana layanan tersebut merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pelayanan jasa maupun barang. Koperasi merupakan bentuk layanan khusus yang ada di sekolah yang diperuntuhkan bagi para siswa, dimana layanan khusus ini berfungsi untuk mendukung proses belajar dan mendidik para siswa terutama dalam hal pengelolaan koperasi. Dalam pengelolaan koperasi sekolah harus mempunyai kualitas layanan yang sangat baik terutama bagi anggota koperasi di sekolah. Untuk itu pengelolaan koperasi sekolah khususnya dalam kualitas layanan yang dijalankan oleh anggota perlu mengetahui pengelolaan koperasi khususnya kualitas layanan yang dijalankan oleh koperasi itu sudah baik atau belum. Penelitian ini bertujuan 1). Mengetahui kondisi kualitas layanan anggota yang meliputi dimensi fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati terhadap loyalitas siswa di Koperasi MAN 3 Malang., (2) Mengetahui kondisi loyalitas siswa yang meliputi frekuensi pembelian, promosi, advokasi/memihak suatu produk dan intensitas pembelian di Koperasi sekolah MAN 3 Malang., (3) Mengetahui ada pengaruh kualitas layanan kepada anggota (yang terdiri dari dimensi fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati) terhadap loyalitas siswa di Koperasi sekolah MAN 3 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasional.Penelitian ini menggunakan instrument berupa kuesioner kemudian hasilnya dianalisis dengan menggunakan regresi linier sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas X dan IX dimana jumlahnya sebesar 450 dan sampelnya 50 siswa. ii Hasil penelitian regresi linier sederhana dapat diketahui Ha diterima yang berarti ada pengaruh signifikan antara kualitas layanan kepada anggota terhadap loyalitas siswa di koperasi sekolah MAN 3 Malang. Hal ini membuktikan bahwa nilai t hitung 7,823> dari pada t tabel 2,009 atau dengan memperhatikan nilai signifikannya 0,00<0,05. Hal ini ditunjukkan oleh kualitas Layanan Kepada Anggota (yang meliputi Bukti fisik, Keandalan, Daya Tanggap, Jaminan, dan Emphati) berpengaruh signifikan terhadap loyalitas siswa di koperasi MAN 3 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1) Kualitas layanan kepada anggota (yang meliputi; keandalan, daya tanggap, jaminan dan emphati) kepada para siswa terus dijaga , ditingkatkan, dan dipertahankan kepada siswa. Hal ini dilakukan pelaksana agar siswa lebih loyal dalam membeli barang kebutuhan sekolah di koperasi sekolah MAN 3 Malang., 2) Penyediaan kotak saran sangat membantu dan mendukung pihak pelaksana dalam hal ini manajemen koperasi sekolah dalam mempertahankan kualitas layanan kepada anggota serta meningkatkannya sesuai saran - saran yang diberikan oleh anggot., 3) Saran untuk penelitian selanjutnya adalah mengadakan penelitian pada koperasi MAN 3 Malang untuk mengadakan penelitian lebih lanjut pada variabel lain di luar kualitas layanan anggota yang berpengaruh terhadap loyalitas siswa. Karena dari penelitian ini pengaruh variabel kualitas layanan anggota hanya sebesar 56%, sehingga masih ada 44% variabel lain di luar kualitas layanan anggota yang berpengaruh terhadap loyalitas siswa di koperasi MAN 3 Malang.

Pengembangan paket IPA terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang / Dedy Yulianto

 

ABSTRAK Yulianto, Dedy. 2009. Pengembangan Paket IPA Terpadu dengan Tema Energi di SMP Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang : (1) Drs. Eddy Supramono, (II) Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd. Kata Kunci : Paket, IPA Terpadu, energi Penelitian evaluatif terhadap pendidikan IPA di SMP yang dilaksanakan di lima propinsi di Indonesia pada tahun 1996 menunjukkan bahwa pendidikan IPA di SMP masih mengalami berbagai masalah karena kecenderungan pembelajaran IPA di SMP pada masa kini tidak menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensinya dalam menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Berdasarkan hasil survei yang diselenggarakan oleh proyek MBE menunjukkan bahwa sebagian besar guru (92 dari 118 orang atau 79%) mengalami kesulitan untuk merancang pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan standar isi untuk kurikulum IPA, seperti pada SMP Negeri 5 Malang. Selain itu hasil pengamatan di beberapa toko buku di Kota Malang menunjukkan bahwa belum ditemukan buku IPA SMP yang dirancang secara terpadu. Penelitian ini betujuan mengetahui kelayakan pengembangan paket IPA Terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang dan kelayakan panduan guru paket IPA Terpadu di SMP Negeri 5 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Sasarannya adalah (1) tersusunnya paket IPA Terpadu dengan tema energi yang layak ,dan (2) tersusunnya panduan guru paket IPA Terpadu. Metode pengembangan yang digunakan pada penelitian ini ada 4 tahap yaitu : (1) tahap analisis situasi awal, (2) tahap pengembangan rancangan paket IPA Terpadu, (3) tahap penulisan paket IPA Terpadu, (4) tahap penilaian. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket yang diisi oleh validator. Jenis data berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari analisis nilai rata-rata angket skala Likert, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paket IPA terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang sudah memenuhi kriteria valid dengan skor rata-rata 3,72 sehingga paket IPA Terpadu dengan tema energi ini sudah dapat dikatakan layak digunakan oleh siswa SMP Negeri 5 Malang. Sedangkan panduan guru paket IPA Terpadu dengan tema energi di SMP Negeri 5 Malang juga sudah memenuhi kriteria valid dengan skor rata-rata 3,55 sehingga panduan guru paket IPA terpadu dengan tema energi sudah dapat dikatakan layak digunakan oleh guru SMP Negeri 5 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa paket IPA terpadu dan panduan guru paket IPA Terpadu dengan tema energi sudah layak digunakan di SMP Negeri 5 Malang. Disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap paket IPA Terpadu dengan melakukan kajian eksperimen yang lebih luas dan uji coba yang lebih luas.

Proses terjadinya kesalahan siswa dalam memecahkan masalah berkaitan dengan garis singgung lingkaran / Devy Eka Trisulawati

 

ABSTRAK Trisulawati, Devy Eka. 2009. Proses Terjadinya Kesalahan Siswa Dalam Memecahkan Masalah Berkaitan Dengan Garis Singgung Lingkaran. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, S.Pd., M.Si., dan (II) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. Kata Kunci: Proses Kesalahan Siswa, Garis Singgung Lingkaran Dalam proses pembelajaran siswa diharapkan bisa mengkonstruksi pengetahuan matematika yang telah diperoleh secara baik. Namun kenyataannya siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan matematika masih sering terjadi kesalahan. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian tentang kesalahan siswa mengkonstruksi materi garis singgung lingkaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya kesalahan siswa dalam memecahkan masalah berkaitan dengan garis singgung lingkaran. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII A SMP Negeri 13 Malang. Dari 42 siswa dipilih 24 subjek penelitian berdasarkan lembar jawaban yang salah. Siswa yang mempunyai jawaban salah diwawancarai untuk menelusuri kesalahan siswa berdasarkan proses berpikirnya. Karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa letak kesalahan siswa dalam menyelesaikan masalah garis singgung lingkaran adalah di dalam (1) memahami konsep garis singgung lingkaran, (2) memahami Teorema Pythagoras, (3) memahami konsep luas layang-layang terutama pengertian diagonal, (4) memahami langkah-langkah melukis garis singgung persekutuan dua lingkaran, (5) memahami konsep rumus garis singgung persekutuan dua lingkaran, (6) memahami materi prasyarat yaitu mengoperasikan bilangan bulat, dan (7) memahami konsep menghitung panjang tali yang melilit dua atau lebih lingkaran. Selanjutnya secara mendetail kesalahan siswa terjadi pada proses adalah ruas garis perpanjangan jari-jari tidak terbagi menjadi dua bagian yang sama panjang, garis singgung melalui satu titik pada lingkaran yang dipahami adalah menyinggung dua titik pada lingkaran, garis singgung lingkaran tidak tegak lurus dengan jari-jari/diameter, mengingat tentang rumus Pythagoras, memasukkan data ke rumus Pythagoras, panjang salah satu sisi siku-sikunya pada segitiga siku-siku dijawab sama dengan luas lingkaran dikurangi luas segitiga, panjang garis singgung persekutuan luar dua lingkaran dijawab sama dengan kuadrat selisih jari-jari lingkaran 1 dan jari-jari lingkaran 2, panjang salah satu diagonal pada layang-layang garis singgung dijawab sama dengan jari-jari lingkaran, panjang tali yang melilit satu per enam busur lingkaran dijawab sama dengan panjang tali yang melilit satu lingkaran, dan panjang tali menghubungkan kedua lingkaran dijawab sama dengan jarak kedua titik pusat lingkaran. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disarankan: (1) sebaiknya guru benar-benar memastikan bahwa materi prasyarat ini sudah dikuasai oleh siswa, dan (2) guru diharapkan memberikan perhatian lebih pada letak, level, dan faktor penyebab kesalahan siswa.

Prosedur pengelolaan dan efisiensi penemuan kembali arsip di kantor perpustakaan, arsip dan dokumentasi Kabupaten Tulungagung / Linda Prihyanti

 

ABSTRAK Prihyanti, Linda. 2009. “Prosedur Pengelolaan dan Efisiensi Penemuan Kembali Arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Agung Winarno, M.M., (II) Drs. Sarbini. Kata kunci: prosedur dan efisiensi arsip. Setiap kantor, baik kantor pemerintah maupun swasta bahkan rumah tangga dan perorangan, niscaya akan terlibat dengan arsip. Arsip merupakan suatu kumpulan catatan secara tertulis (warkat) yang disimpan secara sistematis sehingga memudahkan dalam penemuan kembali. Kearsipan merupakan bagian pekerjaan kantor yang sangat penting. Informasi tertulis yang tepat harus tersedia apabila diperlukan agar kantor dapat memberikan pelayanan yang efektif. Kearsipan sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan administrasi karena arsip merupakan pusat ingatan bagi setiap kegiatan dalam suatu kantor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan sistem kearsipan dan sejauh mana tingkat pengelolaan kearsipan di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung. Adapun pengelolaan arsip yang diteliti meliputi: (1) sistem penyimpanan arsip, (2) azas penyimpanan arsip, (3) peralatan dan perlengkapan yang digunakan, (4) prosedur pengelolaan arsip, (5) prosedur penyimpanan arsip, (6) prosedur penemuan kembali arsip, (7) kendala-kendala yang dihadapi. Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung yang beralamat di Oerip Sumohardjo 4A Tulungagung mulai bulan Januari 2009 sampai April 2009. Responden dalam penelitian ini adalah arsiparis kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung, jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode wawancara, metode dokumentasi dan metode tes kecepatan. Analisis data yang digunakan adalah jangka waktu penemuan kembali arsip, angka kecermatan dan angka efisiensi. Hasil penelitian ini adalah: (1) sistem Penyimpanan Arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah menggunakan sistem kombinasi antara sistem nomor dan sistem subjek. (2) azas penyimpanan arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah azas kombinasi antara azas sentralisasi dan azas desentralisasi, (3) peralatan dan perlengkapan yang digunakan di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah filling cabinet, almari, snelhechter, map, guide, dan lain-lain (4) prosedur pengelolaan arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah semua arsip yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan pemilahan, untuk memisahkan arsip asli, duplikat dan non arsip, setelah itu, dilakukan pendataan arsip yang dibuat dalam Daftar Pertelaan Arsip, selanjutnya dilakukan pembungkusan arsip yang kemudian dimasukkan ke dalam kotak arsip dan terakhir dilakukanlah penyimpanan yaitu dengan meletakkan kotak arsip tersebut pada rak arsip yang terdapat pada ruang penyimpanan arsip., (5) prosedur penyimpanan arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung adalah dengan cara menyusun arsip dalam folder menurut kode klasifikasi kemudian folder tersebut dimasukkan dalam kotak arsip in aktif dan di susun secara vertikal pada rak arsip dalam ruangan dengan pengaturan suhu yang telah ditentukan, (6) prosedur penemuan kembali arsip di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung yaitu dengan mengetahui subjek atau pokok masalah dan tahunnya, mencari nomor urut agenda surat dalam buku agenda, mencari arsip dalam snelhechter sesuai dengan pokok masalah dan tahunnya, setelah snelhechter ketemu langkah selanjutnya mencari arsip yang diperlukan dalam snelhechter sesuai dengan nomor urut buku agenda (7) kendala-kendala yang dihadapi di Kantor Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Tulungagung antara lain tenaga-tenaga SDM, sarana dan prasarana, kurangnya perhatian arsiparis terhadap penataan arsip. Saran penelitian ini adalah: (1) Untuk lebih meningkatkan sistem penyimpanan arsip sebaiknya sistem penyimpanan menggunakan komputerisasi untuk memudahkan dalam pencarian data arsip. (2) Untuk peneliti lain yang tertarik dengan penelitian yang serupa dengan penelitian ini akan lebih baik jika bisa magang pada tempat penelitian sehingga hasilnya akan lebih maksimal. (3) Hendaknya diadakan pelatihan-pelatihan khusus agar dari masing-masing petugas bisa lebih mendalami seluk beluk bidang kearsipan. (4) Hendaknya semua petugas lebih fokus melaksanakan tugasnya masing-masing, khususnya dalam bidang kearsipan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya kesalahan.

Tatacara penghitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan (PPh) pasal 21, PPh pasal 22, pasal 23, pasal 4 ayat (2), dan pasal 25 oleh perusahaan rokok AA / Anhar Khoir

 

ABSTRAK Anhar Khoir, 2009 : TATACARA PENGHITUNGAN, PENYETORAN, DAN PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN ( PPh ) Pasal 21, PPh Ps.22, Pasal 23, Pasal 4 ayat (2) dan Pasal 25. Tugas Akhir Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Hj. Sutatmi S.E., M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci : Tatacara Penghitungan, Penyetoran, dan Pelaporan PPh Sejak berlaku Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan dan Tatacara Perpajakan (KUP), sistem Official Assessment telah ditinggalkan. Sebelumnya, untuk menentukan jumlah pajak yang terutang oleh wajib pajak terlebih dulu ditetapkan oleh pihak fiscus yakni Kantor Inspeksi Pajak. Kini wajib pajak diberikan hak oleh Kantor Pelayanan Pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang terutang (sistem Self Assessment). Kantor Pelayanan Pajak hanya memberikan bimbingan dan pelayanan kepada wajib pajak tatacara pelaporannya melalui Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPh Pasal 21 dan Pasal 26, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23 dan Pasal 26, PPh Pasal 4 ayat (2), Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang (PPN dan PPn-BM), serta SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi, Wajib Pajak Badan, dan PPh Pasal 21. Oleh karena itu Perusahaan Rokok AA berupaya untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan kewajibkannya sebagai pemotong PPh Pasal 21, PPh Ps.22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 ayat (2), dan mengangsur PPh Pasal 25 pada tahun berjalan secara benar. Di samping itu juga menghitung kembali pajak yang terutang melalui SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan pada akhir tahun pajak sesuai ketentuan yang berlaku. Agar dapat dicapai tujuan penelitian secara maksimal maka dilakukan pengkajian atas ketentuan perpajakan berikut aturan pelaksanaannya yang berkaitan dengan masing-masing jenis pajak. Penulis berupaya memahami ketentuan perpajakan sebelumnya sampai dengan perubahannya yang terbaru. Dari tahapan ini kemudian dikembangkan kepada analisis diskriptif-kuantitatif, yakni penelaahan terhadap perhitungan finansial-fiskal dari hasil penerapan ketentuan perpajakan. Berdasarkan analisis langsung di perusahaan di temukan kendala yang dialami Perusahaan Rokok AA adalah kualitas personil yang tersedia belum memiliki pengetahuan perpajakan yang memadai. Di samping itu juga ketentuan perpajakan yang seringkali mengalami perubahan dan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat luas. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam penghitungan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21, PPh Ps.22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 ayat (2), dan mengangsur PPh Pasal 25 pada tahun berjalan. Pentingnya pemahaman perpajakan bagi pelaku usaha sangat berpengaruh terhadap kelangsungan serta kredibilitas usaha yang di gelutinya.

Model deterministik dinamika penyebaran penyakit campak dengan rantai Markov / Devie Ayu Rusmawanty

 

ABSTRAK Rusmawanty, Devie Ayu. 2009. Model Deterministik Dinamika Penyebaran Penyakit Campak dengan Rantai Markov. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Dr. Toto Nusantara, M.Si. (2) Drs. Rustanto Rahardi, M.Si. Kata kunci : model penyebaran campak, teori markov, angka reproduksi campak Penyebaran penyakit campak dalam keadaan nyata dapat dimodelkan secara matematis. Model penyebaran campak ini merupakan sistem nonlinier yang dikategorikan dalam empat kompartemen, yaitu Susceptible, Exsposed, Infection, dan Recovery yang biasanya disebut dengan model deterministik. Model matematikanya sebagai berikut: St+1 = St – iSt Et+1 = Et + iSt – fEt It+1 = It + fEt – rIt Rt+1= Rt + rIt dengan N = S + E + I + R. Pola penyebaran penyakit campak yang dimodelkan dalam persamaan diferensi di atas dapat dibentuk menjadi suatu matriks dengan A menunjukkan matriks Markov. Selanjutnya akan dianalisa dinamika penyebaran penyakit campak dengan bergantung pada angka reproduksi campak (K). Jika diberikan angka reproduksi campak K=5, K=10, K=15 untuk mengamati berbagai keadaan populasi dalam mencapai keadaan yang mantab (steady). Hasil kajian ini menyatakan bahwa semakin besar angka reproduksi campak yang diberikan maka akan semakin cepat populasi untuk mencapai keadaan yang mantab (steady) dengan kata lain populasi tersebut dapat dikatakan bebas dari penyakit campak sehingga penyebaran penyakit campak dapat dikendalikan. Dan untuk nilai K=5 adalah lebih cocok untuk model penyebaran penyakit campak di Kabupaten Mojokerto.

Pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang / Didit Pamungkas

 

ABSTRAK Pamungkas, Didit. 2009. Pengembangan VCD Pembelajaran Teknik Dasar Shooting Bolabasket pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Heru Widijoto, M. S (2) Drs. Mulyani Surendra, M. S. Kata kunci: pengembangan, VCD, shooting, bolabasket. Permainan bola basket adalah permainan yang dimainkan oleh 2 regu yang masing-masing terdiri dari 5 pemain, yang dalam lingkup pendidikan menjadi salah satu materi dalam mata pelajaran PENJASKES di suatu lembaga sekolah. Salah satu tujuan mata pelajaran PENJASKES adalah menguasai keterampilan dari materi yang diajarkan. Dalam hal ini siswa dituntut untuk dapat melakukan keterampilan bolabasket, salah satunya adalah shooting. Namun dalam pembelajaran shooting di sekolah terkadang terhambat akibat keadaan yang tidak memungkinkan serta keterbatasan dalam proses pembelajaran, oleh sebab itu diperlukan alternatif pendekatan pembelajaran yang tepat. Salah satu alternatifnya adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran. Media yang cocok dengan karakteristik pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket adalah media video pembelajaran teknik dasar shooting yang dikemas dalam bentuk compact disc (CD). Seperti yang terjadi di SMA Negeri 1 Malang bedasarkan observasi dan penelitian awal yang telah dilakukan, oleh karena itu di SMA Negeri 1 Malang perlu dikembangkan VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket. Tujuan pengembangan VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket adalah untuk mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar shooting yang nantinya dapat membantu siswa untuk mempercepat proses pemahaman dalam mempelajari teknik dasar shooting di luar jam pelajaran sekolah yang dikemas dalam bentuk CD dan berisi tentang prinsip-prinsip teknik dasar shooting, jenis dan aspek teknik dasar shooting serta beberapa contoh variasi latihan shooting dan dilengkapi dengan buku panduan Standard Operational Procedure (SOP) yang dapat membantu memperjelas apa yang tersaji dalam VCD. Dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan keseluruhan model pengembangan dari sepuluh langkah penelitian pengembangan dari Borg and Gall, tetapi hanya menggunakan 7 langkah. Adapun 7 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan materi teknik dasar shooting bolabasket adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assessment) dengan angket yang ditujukan kepada siswa dan guru pendidikan jasmani, serta observasi sekolah, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli media, 2 ahli bolabasket yang hasilnya berupa produk awal, 4) revisi rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal) dan uji coba lapangan pada kelompok kecil, 5) revisi hasil dari uji coba lapangan pada kelompok kecil, 6) uji coba lapangan pada kelompok besar, 7) revisi hasil uji coba lapangan pada kelompok besar kemudian menjadi produk akhir berupa VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket di Kelas XI SMA Negeri 1 Malang. Hasil pengembangan ini berupa VCD pembelajaran teknik dasar shooting bolabasket pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Malang yang dilengkapi dengan buku panduan Standard Operational Procedure (SOP). Diharapkan hasil ini dapat diuji cobakan kepada lingkup yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah menengah atas dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena penelitian ini hanya terbatas pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif group investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitad dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang / Aninda Ari Susanti

 

ABSTRAK Susanti, Aninda Ari. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd, (II) Drs. Sulisetijono, M.Si. Kata kunci: Group Investigation, aktivitas belajar afektif, hasil belajar kognitif. Kurikulum KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi wilayah dan karakteristik peserta didik. Di dalam KTSP diuraikan secara jelas mengenai tujuan pembelajaran IPA yaitu menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah dan diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian pada kenyataannya guru masih mengalami kesulitan dalam mewujudkan tujuan KTSP yang sebenarnya. Berdasarkan observasi, guru cenderung menggunakan metode ceramah dan text book oriented dalam membelajarkan siswa. Guru kurang memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk mempelajari IPA. Hasil observasi yang dilakukan di kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang diketahui bahwa pada kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, aktivitas siswa tidak terakomodasi dengan baik. Banyak siswa yang bergurau dan bermain ponsel selama proses pembelajaran. Selain itu soal tes yang diberikan kepada siswa masih bersifat hafalan dan hanya mengukur tingkatan berpikir pengetahuan, pemahaman dan penerapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan mengenai kurangnya aktivitas siswa dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI). Melalui penerapan pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X-1 semester genap tahun ajaran 2008-2009 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 33 siswa, terdiri dari 20 siswa perempuan dan 13 siswa laki-laki. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru dan catatan lapangan. Aktivitas belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa pada ranah afektif menurut taksonomi Bloom sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada tiap akhir siklus serta ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi aktivitas siswa dan guru, dan catatan lapangan, jurnal belajar, dan lembar penilaian antar teman. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 SMA Negeri 3 Malang. Peningkatan aktivitas belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase aktivitas belajar siswa secara klasikal dari 76,13% pada siklus I menjadi 82,50% pada siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui melalui peningkatan persentase hasil belajar pada masing-masing tingkat kognitif pada siklus I dan siklus II. Pada tingkat kognitif C2 mengalami peningkatan sebesar 15,6%, pada tingkat kognitif C3 meningkat sebesar 2,3%, pada tingkat kognitif C4 meningkat sebesar 2,6%, dan tingkat kognitif C5 meningkat sebesar 2,8%, sedangkan pada tingkat kognitif C1 dan C6 tidak mengalami peningkatan hasil belajar. Peningkatan hasil belajar juga ditunjukkan dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa yaitu pada siklus I sebesar 72,4% kemudian meningkat menjadi 86,2% pada siklus II.

Penerapan metode permainan simulasi untuk meningkatkan motivasi siswa kelas 1 Multimedia 3 dalam mengikuti bimbingan kelompok tentang hubungan sosial remaja di SMK Negeri 5 Malang / Prabandari Nuansmahira

 

ABSTRAK Nuansmahira, Prabandari. 2009. Penerapan Metode Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Motivasi Siswa Kelas 1 Multimedia 3 dalam Mengikuti Bimbingan Kelompok tentang Hubungan Sosial Remaja di SMKN 5 Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Ramli, M.A., (II) Drs. Hariadi Kusumo. Kata kunci: bimbingan kelompok, motivasi, permainan simulasi, siswa SMK Siswa kelas 1 Multimedia 3 memiliki motivasi rendah dalam mengikuti bimbingan dan konseling di kelas, khususnya layanan bimbingan kelompok. Hal ini ditunjukkan dengan reaksi yang mereka berikan saat mengikuti layanan bimbingan kelompok. Reaksi tersebut adalah: siswa ramai, berjalan kesana-kemari, saling melempar kertas, mengerjakan PR pelajaran lain, kurang aktif dalam kegiatan bimbingan kelompok. Hanya ada beberapa siswa yang mau memperhatikan dan terlibat aktif dalam layanan bimbingan kelompok yang diadakan. Siswa yang mau memperhatikan dan aktif dalam diskusi adalah siswa yang duduk di bangku depan. Hal ini terjadi karena metode yang digunakan konselor dalam memberikan layanan bimbingan kelompok kurang menarik. Konselor menerapkan metode diskusi dalam pemberian layanan bimbingan kelompok di kelas. Berdasarkan masalah tersebut maka pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan metode permainan simulasi. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi siswa kelas 1 Multimedia 3 SMKN 5 Malang dalam mengikuti bimbingan kelompok dengan menerapkan metode permainan simulasi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan yang terdiri atas dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah perangkat permainan simulasi, pedoman observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif, yang terdiri atas reduksi data, paparan data dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian adalah siswa kelas 1 Multimedia 3 SMKN 5 Malang, yang berjumlah 34 orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode permainan simulasi dapat meningkatkan motivasi siswa dalam bimbingan kelompok. Skor rata-rata angket pada pascatindakan lebih tinggi dibanding pada pratindakan (per item). Skor rata-rata tertinggi pada pascatindakan adalah 3.21, sedangkan skor rata-rata tertinggi pada pratindakan adalah 3.15. Pada pratindakan siswa yang motivasinya masuk dalam kategori ‘baik’ sebanyak 33 orang dan 1 orang masuk dalam kategori ‘sangat baik’. Pada pascatindakan siswa yang motivasinya masuk dalam kategori ‘baik’ sebanyak 23 orang dan 13 orang masuk dalam kategori ‘sangat baik’. Pada siklus II, siswa lebih aktif dibanding pada siklus I. Pada siklus II, semua siswa aktif dalam permainan simulasi dan diskusi. Siswa mau mengungkapkan pikiran dan pengalaman pada saat diskusi. Skor rata-rata aktivitas siswa selama pelaksanaan bimbingan kelompok pada siklus I adalah 24.5, skor ini masuk dalam kategori ‘sedang’. Adapun skor rata-rata aktivitas siswa selama pelaksanaan bimbingan kelompok pada siklus II adalah 33.5, skor tersebut masuk dalam kategori ‘baik’. Permainan simulasi akan efektif digunakan dalam penyampaian layanan bimbingan kelompok, jika semua siswa dapat terlibat dalam kegiatan. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbanyak jumlah beberan yang digunakan dalam pelaksanaan permainan simulasi. Dengan mengacu pada hasil penelitian di atas, maka disarankan: (1) sekolah membantu dalam pengadaan media permainan simulasi, permainan simulasi akan efektif jika media yang digunakan minimal dua unit dalam sekali penyampain layanan; (2) konselor dapat menerapkan metode permainan simulasi dalam memberikan layanan bimbingan kelompok di kelas dengan mempertimbangkan hal-hal seperti: kemenarikan materi yang akan disampaikan dalam permainan simulasi, waktu dan biaya yang tersedia untuk pengadaan media permainan simulasi dan sebaiknya tidak hanya satu beberan yang digunakan saat menerapkan permainan simulasi di kelas. Saat konselor menggunakan dua beberan dibutuhkan koordinasi dengan konselor lain dalam penyampainan bimbingan kelompok dengan permainan simulasi.

Pengaruh bauran pemasaran terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada distro Bandung Sport Blitar / Dian Firma Wijayanti

 

ABSTRAK Wijayanti, Dian Firma. 2009. Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen Pada Distro Bandung Sport Blitar. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs Sutrisno, M.M, (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E, M.Si. Kata Kunci: Bauran Pemasaran, Proses Keputusan Pembelian Dengan banyaknya perusahaan yang bergerak dibidang retail di Kota Blitar yang terus meningkat menyebabkan tingkat persaingan dibidang bisnis retail yang ada semakin ketat sehingga menuntut pihak pengusaha untuk menyusun kebijakan dalam rangka menghadapi persaingan yang ada. Salah satu usaha untuk menghadapi persaingan tersebut adalah perusahaan tersebut harus lebih efektif dibandingkan para pesaing dalam menciptakan, menyerahkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan kepada pasar sasaran yang tepat. Dalam hal ini perusahaan harus benar-benar efektif dan tepat dalam menerapkanstrategi bauran pemasaran. Semua aspek bauran pemasaran merupakan suatu mata rantai yang tidak dapat terpisahkan dan saling mempengaruhi. Empat aspek bauran pemasaran berupa harga, produk, tempat, dan promosi amat menentukan berhasil tidaknya perusahaan mencapai tujuan. Sebagai satu-satunya aspek pemasaran yang dikendalikan oleh perusahaan,aspek bauran pemasaran tersebut harus diformulasikan dan dikombinasikan seefektif mungkin, dimana kemudian strategi bauran pemasaran yang diterapkan oleh perusahaan direspon oleh konsumen. Untuk memahami kebutuhan konsumen bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana, tetapi bukan suatu yang mustahil untuk dilakukan. Menganalisis perilaku konsumen akan lebih mendalam dan berhasil apabila perusahaan memahami aspek-aspek psikologis manusia secara keseluruhan, kekuatan faktor sosial dan budaya serta prinsip-prinsip ekonomis dan strategi pemasaran. Kemampuan dalam menganalisis perilaku konsumen berarti keberhasilan dalam menyelami jiwa konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian berarti pula keberhasilan pengusaha, ahli pemasaran, pimpinan toko, dan pramuniaga dalam memasarkan suatu produk yang membawa kepuasan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kondisi bauran pemasaran (produk, harga, tempat dan promosi) dan proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar, (2) pengaruh bauran pemasaran (produk, harga, tempat dan promosi) secara parsial terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar, (3) pengaruh bauran pemasaran (produk, harga, tempat dan promosi) secara simultan terhadap proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas yaitu bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, tempat dan promosi. Sedangkan variabel terikatnya adalah proses keputusan pembelian konsumen pada Distro Bandung Sport Blitar. Penelitian ini dilakukan di Distro Bandung Sport Blitar pada periode April - Juni 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif korelasional. Analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Data penelitian dijaring dengan memberikan kuesioner kepada 73 konsumen Distro Bandung Sport Blitar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa proses keputusan konsumen dalam membeli di Distro Bandung Sport Blitar dipengaruhi oleh bauran pemasaran yang meliputi produk, harga, tempat dan promosi baik secara parsial maupun secara secara simultan. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat dijadikan pertimbangan manajemen Distro Bandung Sport Blitar dalam meningkatkan penjualannya adalah hendaknya pihak Distro Bandung Sport Blitar menambah jumlah produk yang ada, menambah keanekaragaman produk yang dijual, lebih memperhatikan dalam penentuan harga barang yang dijualnya karena konsumen sangat sensitif dengan masalah harga, memperbaiki tata letak barang yang dijual yang ada di dalamnya, melakukan renovasi pada tempat yang lebih menarik, menambah promosi dengan lebih sering beriklan baik di koran atau radio dan memasang poster atau baliho agar konsumen mengetahui keberadaan Distro Bandung Sport dan tertarik untuk melakukan pembelian di Distro Bandung Sport Blitar.

Keberadaan populasi tungau kuning Polyphagotarsonemus latus (Banks) pada beberapa galur harapan wijen di kebun percobaan Sumberrejo Bojonegoro / Panca Okta Wirani

 

ABSTRAK Oktawirani, Panca. 2008. Keberadaan Populasi Tungau Kuning Polyphagotarsonemus latus (Banks) pada Beberapa Galur Harapan Wijen di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro. Skripsi, Program Studi Biologi,FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien H. Irawati, M. S, (II) Ir. Tukimin. S.W. Kata kunci: keberadaan populasi, tungau kuning, Polyphagotarsonemus latus (Banks), wijen. Wijen (Sesamum indicum L.) adalah tanaman semak semusim termasuk famili Pedaliaceae (Soenardi, 1996). Biji wijen mengandung 35-57% minyak, 19- 25% air, 20-30% protein, 11% karbohidrat, 14 % lemak jenuh, dan 85, 8 % lemak tak jenuh. Usaha-usaha peningkatan produktivitas wijen masih terus diupayakan, namun upaya tersebut masih mengalami beberapa hambatan, antara lain dipengaruhi oleh penggunaan benih yang memiliki kualitas kurang baik, terbatasnya lahan, budidaya wijen yang belum intensif, penggunaan varietas lokal dengan tingkat produktivitas yang rendah, serangan penyakit dan gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT)( Suprijono,1996). Salah satu hama wijen adalah tungau kuning Polyphagotarsonemus latus. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengetahui keberadaan populasi tungau kuning P. latus pada 21 galur harapan dan 4 varietas di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro, 2) mengetahui intensitas kerusakan daun oleh tungau kuning P. latus di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif komparatif. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juli 2008. Tempat penelitian berada di Kebun Percobaan Sumberrejo-Bojonegoro dan di Laboratorium Hama Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS). Data yang diamati yaitu keberadaan populasi P. latus yang meliputi dari fase telur, larva, nimfa, dan imago pada 20 daun per galur dan varietas sebanyak tiga kali ulangan. Untuk mencari intensitas kerusakan, daun diskor dan kemudian digunakan rumus: I = Σ n x v x 100%. N x V Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada keberadaan populasi tungau P. latus tertinggi pada 55-65 HST (Hari Setelah Tanam). Terjadi penurunan populasi pada 75 HST. Intensitas kerusakan daun wijen mulai ditemukan pada 25 HST. Intensitas meningkat pada 35, 45, 55, 65 hingga 75 HST. Intensitas kerusakan dipengaruhi oleh keberadaan populasi tungau kuning Polyphagotarsonemus latus (Banks) fase larva, nimfa dan imago. Populasi telur tungau tidak mempengaruhi tingkat kerusakan daun dikarenakan telur tidak menggigit dan menghisap cairan daun. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diadakan penelitian lebih lanjut yang mengkaji karakteristik dan pengaruh galur terhadap keberadaan dan kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tungau P. latus sebagai acuan untuk menentukan ketahanan galur juga disarankan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui life table (neraca kehidupan) dari P. latus.

The effectiveness of the dialog journals technique in improving the skill in writing narrative texts of the year-12 students of MAN 3 Malang / Ali Mukti

 

ABSTRACT Mukti, Ali. 2009. The Effectiveness of the Dialogue Journals Technique in Improving the Skill in Writing Narrative Texts of the Year-12 Students of MAN 3 Malang. Unpublished Thesis. English Education Department, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Drs. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D. (2) Dra. Hj. Utami Widiati, M.A., Ph.D. Key words: effectiveness, dialogue journals, writing skill, narrative text Dialogue journal is a new technique. Its effectiveness has thus not been proved yet on MAN 3 Malang students. This study was conducted to investigate the effectiveness of dialogue journals technique in improving students’ skill in writing narrative texts. The general question to answer was, “Do the students taught using dialogue journals technique perform significantly better in writing narrative texts than those taught without dialogue journals technique?” The tentative answer for the question was then formulated in the working hypothesis which read: “The mean score of the group taught using dialogue journals technique is significantly higher than that of the group taught without dialog journals technique.” The design of the study was quasi-experimental with a non-randomized pretest-posttest control group. The samples of the study were taken from the population of the year-12 students of IPA at MAN 3 Malang in the 2008/2009 academic year; they were year-12 IPA 3 as the control group and year-12 IPA 2 as the experimental group. Both of the two classes were occupied by 36 female students. In collecting the data, two kinds of writing tests were used as the primary instrument; one of them was used in the pretest, and the other in the posttest. The tests required the students to write narrative texts. Then, their writings were scored using an analytical scoring rubric. Besides, a questionnaire was utilized as a secondary instrument. It was given only to the experimental group in order to evaluate the application of dialogue journals. Based on the descriptive characteristics, the result of the study showed that the means of the five writing aspects of the experimental group were better than those of the control group. Hence, the dialogue journals technique employed in the experimental group helped improve students’ skill in writing narrative texts. Furthermore, using analysis of covariance (ANCOVA) with significance level of .05, the results of the study showed that vocabulary and language use aspects were significantly different. It was because the obtained F-ratios for vocabulary and language use aspects were 4.595 and 27.548 respectively while the F table was 3.988. The other three aspects, namely content, organization, and mechanics, showed insignificant differences. It was indicated by their obtained F-ratios which were lower than the F table. Respectively, their obtained F-ratios were 0.071, 0.669, and 3.755 for the three aspects. Generally speaking, however, it revealed that the F-ratio of the holistic writing aspects (8.580) was higher than the F table (3.988). Thus, there was enough evidence to reject the null hypothesis. In other words, the hypothesis was accepted. Based on the results of the research findings, it can be concluded that the dialogue journals technique given to experimental group is proved to be effective in improving students’ skill in writing narrative texts. Thus, it is suggested that teachers of English utilize this technique in their teaching writing. Besides, teachers should also give more attention, in addition to content, organization, and vocabulary, to language use and mechanics aspects of writing in teaching writing. It is simply because these two aspects were still in the fair to poor criteria. Suggestions are also addressed to future researchers that they can conduct an experiment more than 10 meetings and the subjects are either year-10 or -11 students. Furthermore, the research can be conducted to classes or programs with low cognitive development and/or affective problems. The researchers, in order to be neutral, do not have to be involved in teaching but they can assign one teacher or two different teachers to teach in the two groups.

Pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi terhadap penyaluran kredit pada bank umum di Indonesia ( Studi kasus tahun 1998-2008) / Elyka Erma Azizah

 

Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia telah menyebabkan menurunnya pertumbuhan ekonomi. Bank sentral mempunyai peran besar dalam membuat kebijakan-kebijakan yang dapat menstabilkan kondisi sektor keuangan. Kebijakan-kebijakan tersebut dapat berupa penurunan tingkat suku bunga. Penurunan suku bunga ini diharapkan dapat mempengaruhi penyaluran kredit. Penurunan suku bunga diharapkan dapat memacu usaha melalui penyaluran kredit. Ketika inflasi meningkat, Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga untuk memperketat likuiditas uang dalam perekonomian. Kebijakan moneter Bank Indonesia menentukan tercapainya kestabilan moneter. Apabila kebijakan tersebut tidak mampu menekan laju inflasi maka akan berdampak pada suku bunga pinjaman yang akan berdampak terhadap penyaluran kredit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabel tingkat suku bunga dan variabel tingkat inflasi yang mempengaruhi penyaluran kredit, mengetahui sejauh mana pengaruh tingkat suku bunga dan tingkat inflasi terhadap penyaluran kredit dan faktor mana yang paling berpengaruh terhadap penyaluran kredit. Rancangan penelitian yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi yang diperoleh dari website Bank Indonesia atau buku Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia yang diterbitkan Bank Indonesia. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu, tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan penyaluran kredit perbulan selama sebelas tahun dari Januari tahun 1998 sampai dengan Desember tahun 2008. Hasil pengujian hipotesis dengan tingkat signifikansi 5% adalah hipotesis pertama yang menyebutkan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit dengan nilai signifikansi 0,008

Developing textbook for the students of Diploma III Program in hotel management / Kun Aniroh

 

ABSTRACT Kun Aniroh, 2009: Developing an English Textbook for the Students of the Diploma III Program in Hotel Management. Dissertation. Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors : (I) Prof. E. Sadtono, Ph.D., (II) Prof. Hj. Kasihani K.E. Suyanto.,M.A., Ph.D., (III) Dr. M.D.D. Oka., M.A. Key words: textbook, development, English, hotel supervisors, ESP The current study aims at developing a textbook to fill the gap existing in the scarcity of the English textbook for students of the Diploma III Program in Hotel Management. The present study employs a research and development design adopting Borg and Gall’s R@D framework with three main stages: a preliminary study phase realized through needs assessment, the textbook development phase, and the validation phase. The subjects involved two five-star hotel managers and ten hotel supervisors of several domestic five-star hotels as well as five-star hotels abroad, five subject matter specialists who taught hotel management courses, ten alumni, and ten students of the Diploma III Program, in Hotel Management, Merdeka University Malang who had completed their on-the-job training in a variety of domestic five star-hotels and those hotels abroad. Data were collected during field visits to several domestic five-star hotels as well as five-star hotels abroad and Focused Group Discussion (FGD). The data of the needs assessment phase were the basis for developing both the contents and the language aspects of the textbook on the principles of ESP in which both contents on hotel managerial matters and English for hotel management become the main core of the textbook, also with the principles of the contextual teaching and learning (CTL) approach and task-based, content-based, and problem-based learning for the purpose of task development as well as principles of textbook development for the purpose of organizing language aspects and task distribution in each unit. The draft of the textbook was evaluated by experts in the expert judgment phase utilizing a set of questionnaire. In the validation phase, the textbook was tried out during the teaching learning process in which nine English lecturers of five tourism colleges respectively in Denpasar, Malang, Samarinda, Jakarta, and Bogor were involved. Sixty four students in their classes were also involved as sources of data. A set of questionnaires was used to collect the data on the strengths and weaknesses of the textbook. In addition, FGD was performed as a triangulating measure with hotel supervisors. The data were utilized as a basis of quantiative and qualitative feedback for making a final revision of the textbook. The textbook as the final product of the present study is intended for those with a minimum of the English mastery from the intermediate to the advanced level.Further steps still need to be taken for the improvement of the textbook if the textbook is intended to be commercially available for use in the market.

Ekspresi tutur gerakan demo mahasiswa di Kota Malang / Mochtar Data

 

ABSTRAK Data, Mochtar. 2009. Ekspresi Tutur Gerakan Demo Mahasiswa di Kota Malang. Disertasi tidak dipublikasikan. Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Prof. Dr. H. Suparno, (III) Dr. H. Sumadi, M.Pd. Kata-kata kunci: ekspresi tutur, gerakan demo mahasiswa, wujud tuturan, fungsi tuturan, strategi bertutur, pemegang otoritas. Penelitian ini mengkaji ekspresi tutur yang meliputi wujud tuturan, fungsi tuturan, dan strategi bertutur. Pengkajian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan mengeksplanasikan secara kritis objektif terhadap tuturan dalam gerakan demo mahasiswa di kota Malang. Data yang dijaring dalam penelitian ini berupa rekaman tuturan beserta catatan lapangan, rekaman konteks, dan data pendukung; sedangkan sumber datanya adalah aktivis mahasiswa berbagai perguruan tinggi di kota Malang, baik intrakampus maupun ekstrakampus. Setelah melalui proses penjaringan data sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, dipilih dua puluh topik yang cukup beragam. Topik-topik itu berkisar pada masalah politik, hukum, pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan keagamaan. Ancangan teoretis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindak tutur dengan perspektif pragmatik dan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, dengan bantuan beberapa asisten yang berasal dari aktivis mahasiswa. Keberadaan asisten ini diperlukan untuk memperoleh data penelitian secara aktual dan faktual yang dijaring melalui perekaman audiovisual. Keseluruhan tuturan mahasiswa yang telah dijaring dari aksi demo disimpan dan diamankan dalam compact disk (CD) dan flashdisk. Berdasarkan dokumen-dokumen yang tersimpan ditunjang dengan catatan lapangan, peneliti menganalisis data sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Untuk menjamin kelengkapan dan keabsahan data penelitian dilakukan triangulasi dan diskusi dengan teman sejawat, serta ketekunan pengamatan dan kajian berulang. Setelah dilakukan analisis data ditemukan ekspresi tutur gerakan demo mahasiswa di kota Malang. Ekspresi tutur itu meliputi wujud, fungsi, dan strategi bertutur dalam menyalurkan aspirasi terkait dengan fenomena dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pengambil otoritas (Pemerintah dan pimpinan perguruan tinggi). Temuan penelitian yang berkaitan dengan wujud tuturan secara spesifik terlihat pada penggunaan ilustrasi yang cukup, wawasan yang memadai, penggunaan diksi yang mudah dipahami, dan penggunaan simbol-simbol atau perumpamaan-perumpamaan yang padat makna. Temuan penelitian yang berkaitan dengan fungsi tuturan secara spesifik bertujuan membela dan memperjuangkan nasib rakyat tertindas, mempertanyakan dan mengklarifikasi kebijakan-kebijakan pemegang otoritas, mengajak komponen masyarakat untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, melawan segala bentuk penindasan, memberikan solusi kepada pemegang otoritas, menyoroti dan mengultimatum kekuasaan yang otoriter, dan berempati terhadap nasib rakyat kecil terkait dengan kebijakan pemegang otoritas yang tidak prorakyat. Sementara itu, temuan penelitian yang berkaitan dengan strategi bertutur secara spesifik terlihat pada banyaknya penggunaan strategi langsung literal dan strategi tidak langsung literal dengan ragam gaya bertutur bombastik, demagogik, persuasif, dan provokatif. Temuan-temuan penelitian ini diyakini peneliti berimplikasi positif bagi bidang pendidikan dan pembelajaran; khususnya bagi pendidikan demokrasi, pendidikan sikap, pembelajaran bahasa Indonesia, dan pengembangan disiplin ilmu sejenis. Bagi pendidikan demokrasi, berimplikasi positif terhadap peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak bisa tinggal diam dalam menghadapi persoalan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Dalam hubungan ini, pendidikan demokratis justru menghargai perbedaan dan memberikan tempat bagi minoritas yang tertindas. Bagi pendidikan sikap, aksi mahasiswa dalam gerakan demonya juga merupakan gambaran kebebasan bersikap yang perlu diberikan tempat bagi mahasiswa untuk menunjukkan eksistensinya. Dalam hubungan ini, kebebasan sebagai kesempurnaan eksistensi merupakan cita-cita yang pantas dikejar oleh setiap insan. Kebebasan itu adalah kemandirian sebagai manusia. Bagi pembelajaran bahasa Indonesia, temuan-temuan penelitian ini juga dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain wujud-wujud tuturan beserta makna yang digunakan oleh mahasiswa dalam berorasi, fungsi tuturan beserta ragam tujuannya dapat pula dimanfaatkan sebagai ilustrasi fungsi tuturan, dan strategi bertutur dengan bermacam gayanya dapat dilatihkan di dalam kelas perkuliahan retorika atau keterampilan berbicara. Bagi disiplin ilmu sejenis, temuan penelitian ini juga berimplikasi positif terhadap pengembangan kegiatan perkuliahan pragmatik, etnografi komunikasi, retorika, analisis wacana, sosiolinguistik, dan analisis kesalahan berbahasa Untuk memberikan manfaat lebih sebagai wujud pertanggungjawaban ilmiah, dipaparkan beberapa proposisi ilmiah, yakni (1) bahasa gerakan demo mahasiswa bersifat spesifik, (2) bahasa gerakan demo mahasiswa bertujuan politis, dan (3) bahasa gerakan demo mahasiswa merupakan alat legitimasi kekuasaan. Keseluruhan temuan penelitian ini sangat bermanfaat bagi pengelola program studi bahasa di perguruan tinggi, unit aktivitas kemahasiswaan, peneliti dan pemerhati bidang pragmatik dan sosiolinguistik, pengelola jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di FKIP Universitas Islam Malang, serta pejabat Pemerintah Kota Malang.

Kontribusi supervisi pengajaran, pengembangan profesional guru, dan kinerja guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA Negeri se-malang Raya / Istiqomah

 

ABSTRAK Istiqomah. 2009. Kontribusi Supervisi Pengajaran, Pengembangan Profesional Guru,dan Kinerja Guru terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri Se-Malang Raya. Tesis. Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd. Kata kunci: supervisi pengajaran, pengembangan profesional guru, kinerja guru, hasil belajar. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh berbagai variabel baik yang langsung berkaitan dengan kegiatan pengajaran maupun di luar kegiatan pengajaran.. Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah kinerja guru yang langsung berinteraksi dengan para siswa. Kinerja guru pun dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain supervisi pengajaran yang dilakukan pengawas serta pengembangan profesional guru yang diikuti oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (a) hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (b) supervisi pengajaran yang dilakukan pengawas terhadap guru Bahasa Indonesia, (c) pengembangan profesional guru Bahasa Indonesia, (d) kinerja guru Bahasa Indonesia, (e) kotribusi langsung dan signifikan supervisi pengajaran terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (f) kontribusi langsung dan signifikan pengembangan profesional guru terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (g) kontribusi langsung dan signifikan supervise pengajaran dan pengembangan profesional guru secara langsung dan simultan terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (h) kontribusi langsung kinerja guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (i) kontribusi tidak langsung supervisi pengajaran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui kinerja guru, (j) kontribusi tidak langsung pengembangan profesional guru terhadap terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui kinerja guru, (k) besarnya kontribusi supervisi pengajaran terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (l) besarnya kontribusi pengembangan profesional guru terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia, (m) besarnya kontribusi kontribusi supervisi pengajaran dan pengembangan profesional guru secara bersama atau simultan terhadap kinerja guru Bahasa Indonesia terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (n) besarnya kontribusi kinerja guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, (o) besarnya kontribusi supervisi pengajaran pada hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia melalui kinerja guru, (p) besarnya kontribusi pengembangan profesional guru terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri se-Malang Raya melalui kinerja guru.

Model dan paket pelatihan peningkatan mutu guru dalam perspektif manajemen strategik di Sekolah Dasar Matahari Terbit Surabaya / Erny Roesminingsih

 

ABSTRAK Roesminingsih, E. 2009. Model dan Paket Pelatihan Penigkatan Mutu Guru dalam Perspektif Manajemen Strategik di SD Matahari Terbit Surabaya. Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: (1) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (II) Prof. H.A Sonhadji K.H., MA., Ph.D, dan (III) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd. Kata kunci: Model Pelatihan, Paket Pelatihan, Manajemen Strategik, Sekolah Dasar Guru mempunyai peran yang sangat signifikan bagi keberhasilan pembelajaran siswanya. Dalam memerankan fungsi dan perannya, indikator yang paling kuat bersingguangan adalah mutu guru. yang menunjukkan kemampuan guru untuk bertanggung jawab terhadap berbagai macam tugas serta pengetahuan yang dimiliki, dapat digunakan sebagai seni dan cara untuk bekerja. Dikatakan guru yang bermutu jika guru menguasai ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi pengembangannnya. Kebutuhan terhadap paradigma baru pendidikan didasarkan atas perubahan sehubungan dengan kondisi dan kebutuhan-kebutuhan pendidikan dalam masyarakat. Salah satu perbaikan yang paling strategik adalah memperbaiki manajemen pendidikannya melalui pelatihan peningkatan mutu guru dalam perspektif manajemen stategik. Dengan berbekal otonomi sekolah yang dimiliki SD Matahari Terbit Surabaya, sekolah mempunyai kesempatan untuk bereksplorasi dalam upaya meningkatkan efektivitas sekolah termasuk dalam pengembangan sumber daya manusianya. Diharapkan dengan guru yang berkompeten, guru akan menjadi change agent bagi kegiatan improvement sekolahnya sebagai perwujudan upaya akuntabilitas pada lingkungan. Yang menjadi permasalahan adalah SD Matahari Terbit belum mempunyai model dan paket pelatihan yang bersifat strategik dalam mengahadapi persaingan dan mengupayakan komitmen mutu dalam upaya menciptakan guru yang bermutu. Sementara pelatihan yang selama ini dilakukan dan diikuti belum memenuhi kebutuhan sekolah sebagai unit satuan terkecil penyelenggara pendidikan dalam perspektif perubahan Dalam penelitian pengembangan ini dihasilkan model, paket, dan evaluasi pelatihan peningkatan mutu guru dalam perspektif manajemen strategik yang mempunyai spesifikasi: (a) identifikasi kebutuhan organisasi, yang terdiri dari analisis SWOT, pemilihan alternative strategi dan perumusan strategi; (b) analisis kebutuhan; (c) perencanaan pelatihan (d) pelaksanaan pelatihan; dan (e) evaluasi. Model yang bersifat sistemik ini dapat membantu efisiensi dan efektivitas sekolah melalui fungsi masing-masing komponenya. Selain sistemik, model pelatihan ini juga mencakup beberapa dimensi: (a) dimensi waktu dan orientasi masa depan; (b) dimensi internal dan eksternal; (c) dimensi pendayagunaan sumber-sumber; (d) keikutsertaan manajemen puncak. Dengan mengacu cara kerja model yang sistemik dan mencakup beberapa dimesi di atas, maka model pelatihan ini mempunyai beberapa keunggulan; profitabilitas, produktivitas tinggi, posisi kompetitif, keunggulan teknologi, keunggulan sumber daya manusia, dan iklim kerja yang lebih baik. Paket pelatihan yang dihasilkan terdiri atas: (a) perencanaan pelatihan, meliputi tujuan pelatihan, strategi pelatihan, metode pelatihan, silabus, materi pelatihan dan session plan; (d) pelaksanaan pelatihan, yang dalam hal ini berupa pedoman pelatihan; dan (e) evaluasi. Paket pelatihan ini dapat membantu organisasi dan terutama guru dalam berapa hal: (a) perencanaan pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan secara berkelanjutan dapat disesuaikan dengan kondisi realitik organisasi; (b) paket pelatihan ini dapat berfungsi sebagai pengendali mutu guru secara berkelanjutan; (c) membangun paradigma guru; (d) dapat membangun profesional guru; (e) paket pelatihan sebagai salah satu sarana untuk mengkomunikasikan ide; (f)mendorong guru untuk berperilaku aktif dan proaktif. Evaluasi pelatihan terdiri dari; (a) evaluasi unjuk kerja berupa penguasaan isi materi, (b) evaluasi efektivitas dan efisiensi pelatihan, (c) evaluasi pelaksanaan pelatihan, (d) evaluasi kompetensi guru, dan (e) evaluasi komitmen guru pada sekolah. Evaluasi pelatihan yang dilakukan dapat memberikan beberapa manfaat dan sekaligus merupakan karakteristik dari evaluasi.: (a) mempunyai relevansi yang tinggi; (b) sebagai sistem kontrol dan pengendalian; (c) mampu memberikan rekomendasi; (d) berorientasi masa depan; (e) bersifat khusus; (f) kecocokan; (g) menarik/atraktif; (h) pertumbuhan Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Data kualitatif berupa komentar dan saran dideskripsikan, sedangkan data tentang aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, ujuk kerja mengenai pengasaan materi, efisiensi, efektifitas, proses pelatihan, kompetensi guru dan komitmen guru terhadap sekolah digunakan analisis statistik deskriptif. Dari hasil uji coba dapat diketahui bahwa: 44% guru memahami kebutuhan organisasi yang sehat. Sedangkan kompetensi yang diukur meliputi empat kompetensi, yaitu kometensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan professional. Penilaian unjuk kerja yang dilakukan oleh teman sejawat menunjukkan kenaikan sebesar 44%.; kompetensi yang dinilai dari atasan mengalami kenaikan sebesar 6,75%; kenaikan tingkat komitmen guru sebesar 25%. Dari hasil uji kelompok terbatas diketahui bahwa efektifitas/kegunaan pelatihan bagi guru dan sekolah mencapai 3,50 atau 87%,. Aspek keefisienan mencapai skor 3,30 atau 82%, penguasaan materi baik dari segi kognitif, afektif dan spikomotorik dapat diterima dengan sangat baik yaitu sebesar 86%. Perspektif manajemen strategik pada pelatihan peningkatan mutu guru di SD Matahari Terbit Surabaya merupakan keunggulan dan keunikan sebagai individu guru dan sekolah. Semua bermuara pada upaya improvement mutu guru yang menciptakan daya kompetirif guru dan sekolah dalam menghadapi perubahan yang terjadi baik di lingkungan intern maupun ekstern.

Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik (kajian etnografi komunikasi di kampus Universitas Negeri Makassar) / Muhammad Saleh

 

ABSTRAK Saleh, Muhammad. 2009. Representasi Kesantunan Berbahasa Mahasiswa dalam Wacana Akademik: Kajian Etnografi Komunikasi di Kampus Universitas Negeri Makassar. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Suparno, (II) Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd, dan (III) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ibrahim. Kata kunci: Representasi, kesantunan, wujud, fungsi, strategi. Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik merupakan realitas komunikasi bahasa yang terikat konteks sosiokultural. Pentingnya penelitian ini dilandasi oleh tiga landasan filosofis, yakni ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Penelitian ini berangkat dari masalah penelitian tentang kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik melalui tiga fokus utama, yakni: (1) wujud kesantunan berbahasa, (2) fungsi kesantunan berbahasa, dan (3) strategi kesantunan berbahasa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan mengeksplanasi kesantunan berbahasa mahasiswa melalui: (1) wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik; (2) fungsi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik; dan (3) strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan ancangan teori etnografi komunikasi, teori tindak tutur, dan teori kesantunan berbahasa. Data penelitian terdiri atas data tuturan dan catatan lapangan. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik perekaman, observasi, wawancara, dan transkripsi. Analisis data dilakukan melalui empat prosedur utama, yakni: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan/verifikasi. Berdasarkan analisis data, ditemukan keragaman wujud, fungsi, dan strategi kesantunan berbahasa sebagai berikut. Wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik secara deskriptif direpresentasikan melalui dua wujud penggunaan bahasa. Pertama, penggunaan diksi, meliputi: (1) penamaan diri, (2) penggunaan kata ganti, (3) penggunaan gelar, (4) penggunaan respon mengiyakan, dan (5) penggunaan diksi informal. Kedua, penggunaan tuturan, meliputi: (a) tuturan dengan modus deklaratif; (b) tuturan dengan modus imperatif; dan (c) tuturan dengan modus interogatif. Fungsi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara deskriptif melalui empat tindak penggunaan bahasa. Pertama, fungsi kesantunan dalam tindak asertif, meliputi: (1) fungsi mengemukakan pendapat; (2) fungsi mempertahankan pendapat; (3) fungsi mengemukakan alasan; (4) fungsi menyatakan penolakan; (5) fungsi menjawab pertanyaan, (6) fungsi memberi penjelasan, (7) fungsi menunjukkan, (8) fungsi memberikan klarifikasi, dan (9) fungsi me-nyampaikan laporan. Kedua, fungsi kesantunan dalam tindak direktif, meliputi: (1) fungsi permintaan, (2) fungsi permohonan, dan (3) fungsi pertanyaan. Ketiga, fungsi kesantunan dalam tindak komisif, meliputi: (1) fungsi menyatakan kesiapan, (2) fungsi menyatakan kesediaan, (3) fungsi menyatakan persetujuan, (4) fungsi menyatakan janji. Keempat, fungsi kesantunan dalam tindak ekspresif, meliputi: (1) fungsi permohonan maaf, (2) fungsi mengungkapkan terima kasih, (3) fungsi mengungkapkan kepuasan, (4) fungsi mengakui kesalahan, (5) fungsi mengungkapkan perhatian. Strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara deskriptif melalui tiga kategori strategi. Pertama, strategi kesantunan positif, direpresentasikan melalui: (1) strategi peng-hormatan; (2) strategi memberi penghargaan; (3) strategi memenuhi ke-inginan mitra tutur; (4) strategi meminta pertimbangan; (5) strategi ber-tanya; (6) strategi melipatgandakan simpati; (7) strategi memberi perhati-an; (8) strategi mencari persetujuan; dan (9) strategi merendahkan diri. Kedua, strategi kesantunan negatif, direpresentasikan melalui: (1) strategi menghindari perselisihan; (2) strategi bertanya balik; (3) strategi membiar-kan mitra tutur; (4) strategi bersikap pesimis; (5) strategi impersonalitas atau jarak; (6) strategi bersikap patuh; (7) strategi menghindari berasumsi; dan (8) strategi meminta maaf. Ketiga, strategi off-record, direpresentasikan melalui: (1) strategi bertutur samar-samar; (2) strategi memberi isyarat; (3) strategi bertanya retoris; dan (4) strategi menghindari pemaksaan. Representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik secara aksiologis memiliki dua implikasi utama. Pertama, implikasi teoretis, meliputi: (1) implikasi terhadap teori etnografi komunikasi; (2) implikasi terhadap teori kesantunan berbahasa; (3) implikasi terhadap teori pragmatik; (4) implikasi terhadap teori tindak tutur; (5) implikasi terhadap teori sosiolinguistik; dan (6) implikasi terhadap teori wacana. Kedua, implikasi praktis, meliputi: (1) implikasi terhadap pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia; (2) implikasi terhadap pengembangan model pembelajaran; (3) implikasi terhadap pendidikan damai. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan melalui beragam wujud, fungsi, dan strategi kesantunan berbahasa. Kedua, wujud kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui penggunaan diksi dan penggunaan tuturan. Ketiga, fungsi kesantunan berbahasa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui tindak tutur asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. Keempat, strategi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik direpresentasikan secara beragam melalui strategi kesantunan positif, kesantunan negatif, dan kesantunan off-record. Keenam, representasi kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik dieksplanasi secara eklektik melalui teori etnografi komunikasi, teori tindak tutur, teori kesantunan berbahasa, teori pragmatik, teori sosio-linguistik, dan teori kajian wacana. Ketujuh, hasil penelitian tentang kesantunan berbahasa mahasiswa dalam wacana akademik dengan beragam wujud, fungsi, serta strateginya membawa implikasi baik secara teoretis maupun secara praktis. Berdasarkan temuan penelitian, pembahasan, serta simpulan hasil penelitian, dikemukakan beberapa saran kepada pihak-pihak yang terkait. Saran-saran penelitian ini antara lain ditujukan secara akademik kepada: (1) peneliti lanjut sebagai pemerhati, dalam rangka pendalaman, perluasan, dan pengembangan penelitian kesantunan berbahasa; (2) dosen sebagai pembina kesantunan berbahasa mahasiswa; (3) mahasiswa sebagai subjek penelitian; (4) para pimpinan universitas sebagai penentu kebijakan (rektor, dekan, dan ketua jurusan/program studi; dan (5) orang tua/ lingkungan keluarga sebagai peletak dasar karakter anak didik.

Pengolahan limbah cair tahu dengan menggunakan effective microorganism (EM4 dan EM5) dan potensinya sebagai penghasil pupuk dan biogas / Ikenretna Dewi Sukowati

 

ABSTRAK Sukowati, Ikenretna Dewi. 2009. Pengolahan Limbah Cair Tahu dengan Menggunakan Effective Microorganism (EM4 dan EM5) dan Potensinya sebagai Penghasil Pupuk dan Biogas. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subandi, M.Si., (II) Ir. H. Santosa Soengkono Kata kunci: limbah cair tahu, Effective Microorganism, pupuk, biogas. Salah satu industri pangan adalah proses produksi tahu. Limbah cair tahu akan menganggu kelestarian lingkungan jika langsung dibuang. Pengolahan limbah cair tahu antara lain dengan penambahan EM dan fermentasi anaerob. Kedua cara pengolahan tersebut diharapkan dapat menghasilkan produk akhir yang lebih bermanfaat, seperti pupuk/kompos dan biogas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik limbah cair tahu sebelum dan sesudah ditambah EM4, serta untuk mengetahui pengaruh penambahan EM5 terhadap waktu fermentasi limbah cair tahu untuk menghasilkan biogas. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental serta dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang dan Laboratorium Jasa Tirta; sedangkan sampel limbah cair tahu diperoleh dari salah seorang pengrajin tahu di Mergan, kota Malang. Tahapan penelitian terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah analisis COD, TSS, nitrogen total, nitrat, dan karbon organik total limbah cair tahu sebelum dan sesudah fermentasi selama 3 hari menggunakan EM4, kemudian ditentukan rasio C/N limbah hasil fermentasi; bagian kedua adalah penentuan waktu fermentasi limbah cair tanpa dan dengan menggunakan EM5 sampai menghasilkan biogas serta serta pengamatan terhadap parameter kemampuan nyala, bau gas dan warna cairan outlet hasil fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan EM4 (0,33%) pada limbah cair tahu (pH 6,8) dengan waktu fermentasi 3 hari dapat menaikkan kadar nitrogen total 25,39 % dari 14,4 mg/L menjadi 19,3 mg/L; serta penurunan kadar COD 42,6 % dari 7992,84 mg/L menjadi 4582,08 mg/L; penurunan kadar TSS 59,21 % dari 710 mg/L menjadi 260 mg/L; penurunan kadar C-organik total 26,82 % dari 1167 mg/L menjadi 854 mg/L; penurunan kadar nitrat adalah 24,94 % dari 0,9725 mg/L menjadi 0,73 mg/L. Hasil fermentasi limbah cair tahu selama 3 hari menghasilkan rasio C/N 81,04 untuk yang tanpa EM4 dan 44,25 untuk yang menggunakan EM4 (rasio C/N ideal untuk pupuk 25-35). Baik dengan dan tanpa Effective Microorganism (EM5), limbah cair tahu dapat menghasilkan biogas. Dengan digester berkapasitas 60 L dan volume limbah cair tahu 40 L, penambahan EM5 (0,04%) memperpendek waktu terbentuknya biogas dari 42 hari menjadi 35 hari serta dapat menghilangkan bau yang tidak sedap.

Pengembangan bahan ajar biologi materi tumbuhan untuk SMA kelas X dengan model siklus belajar yang berorientasi konstruktivistik / Muhammad Syatibi

 

ABSTRAK Syatibi, Muhammad. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Biologi Materi Tumbuhan untuk SMA Kelas X dengan Model Siklus Belajar yang Berorientasi Konstruktivistik. Skripsi. Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Istamar Syamsuri, M.Pd, (II) Dra. Eko Sri Sulasmi, M.S Kata kunci: Bahan Ajar, Siklus Belajar, Konstruktivistik. Salah satu prinsip pelaksanaan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Pengembangan media berupa bahan ajar adalah salah satu pengembangan media dan sumber belajar yang sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Bahan ajar adalah bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan mengembangkan bahan ajar biologi materi tumbuhan dengan model siklus belajar yang berorientasi konstruktivistik untuk digunakan dalam pembelajaran biologi di SMA kelas X. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan bahan ajar. Bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar biologi materi tumbuhan dengan model siklus belajar yang berorientasi konstruktivistik. Prosedur penelitian meliputi pengkajian potensi dan masalah, pengumpulan data, disain bahan ajar, uji validasi bahan ajar, revisi bahan ajar I, uji coba bahan ajar, revisi bahan ajar II, penyempurnaan bahan ajar. Subjek validasi (validator) bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari tiga orang dosen biologi dan dua orang guru biologi di SMA data yang diperoleh dalam penelitian meliputi (1) data kuantitatif berupa skor angket penilaian dan nilai siswa, dan (2) data kualitatif berupa tanggapan atau saran dari validator, deskripsi keterlaksanaan uji coba bahan ajar dan motivasi belajar siswa. Hasil pengembangan berupa bahan ajar yang mempunyai dua kegiatan belajar materi pokok Tumbuhan Lumut dan materi pokok Tumbuhan Paku. Masing-masing kegiatan berlajar terdapat model siklus belajar empat tahap (eksplorasi, eksplanasi, ekspansi, evaluasi) yang berbasis konstruktivistik. Hasil penilaian validator tentang kelayakan isi sebesar 93,75% yang berarti valid, dan keterbacaan 88,24% yang berarti valid. Uji coba bahan ajar secara umum sudah terlaksana dan siswa termotivasi belajar dengan bahan ajar. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba bahan ajar, maka bahan ajar yang dikembangkan telah dapat digunakan dalam kegiatan belajar mengajar biologi di SMA kelas X.

Lexical analysis on the heroic and villainous characters' depiction of Rushdie's Haroun and The Sea of Stories / Citra Dwi Marlia Rhochayati

 

ABSTRACT Rhochayati, Citra D. Marlia. 2009. Linguistic Analysis on the Heroic and Villainous Character’s Depiction of Salman Rushdie’s Haroun and the Sea of Stories. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. M. Misbahul Amri, M.A. Key words: linguistic, heroic, villainous, characters’ depiction, Haroun and the Sea of Stories The study of language is important, for it can reveal or conceal people’s personal identity, character and background whether consciously or unconsciously (Chaika, 1982:2). Based on the notion above, the writer is interested in conducting a study towards one of attention grabbing novels—Rushdie’s Haroun and the Sea of Stories—to investigate whether or not the use of lexical items contribute to the depiction of the heroic and villainous characters. On this basis, the writer will further analyze the author’s style in depicting the characters. Another reason for strengthening the conduction of this study is the little attention paid towards the linguistic aspect of the novel. This is descriptive study and employs textual analysis using library research as data collection technique. From the checklist of linguistic and stylistic categories provided by Leech and Short (1984:75), the writer limits this study on the investigation on the use of lexical categories, particularly, the use of reporting verbs, verbs of perception, adverbs of manner and adjectives which are attributed to Haroun as the hero and Khattam Shud as the villain. The results of this study show that different lexical items have different degrees of significance in depicting characters. The choice of particular verbs (reporting verbs and verbs of perception) does not contribute strongly to the depiction of characters since there is only small evidence which prove that. For the adverbs of manner, its use does contribute more to the character’s depiction than for the verbs. However, all of those require context consideration. Whereas, the choice of adjectives attributed to the characters contributes strongly to the depiction of Haroun and Khattam Shud. Moreover, by identifying those lexical items’ use, the writer draws some points related to author’s style in depicting the characters. First, context plays important role in depicting characters by diction. Secondly, Haroun’s childish nature is emphasized by the use of various positive and negative lexical items which implies character inconsistency. Thirdly, there is an exaggeration of how dreadful and terrifying Khattam Shud is, by the frequent and repetitious use of adjectives. The last one, by the use of limited number of adjectives, the hero is depicted to be as ordinary as possible, avoiding heroism exaggeration.

Meningkatkan prestasi belajar matematika melalui pembelajaran matematika realistik pada siswa MTs Surya Buana Malang / Akhmad Riyadi

 

ABSTRAK Riyadi, Akhmad. 2009. Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Matematika Realistik pada Siswa MTs Surya Buana Malang. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. H. Ipung Yuwono, M.S, M.Sc., (II) Dra. Ety Tedjo D. C., M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran Matematika Realistik, prestasi belajar, segi empat Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) adalah salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang diperkenalkan oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1973. Freudenthal mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan situasi sehari-hari. Selain itu siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika. Karakteristik dari PMR adalah menggunakan masalah kontekstual, menggunakan model, menggunakan kontribusi murid, interaktivitas, dan intertwining. Sedangkan prinsip utama dari PMR antara lain (1) Guided Reinvention and Progressive Mathemathizing; (2) Didactatical Phenomenology; (3) Self- Developed Models. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menerapkan PMR pada topik segi empat yang diajarkan di kelas VII MTs Surya Buana Malang. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) menghasilkan rancangan langkah-langkah pembelajaran matematika realistik pada materi segi empat, 2) meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran matematika realistik, dan 3) meningkatkan aktivitas siswa melalui pembelajaran matematika realistik. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Surya Buana Malang pada tanggal 21 Mei 2007 sampai dengan 30 Mei 2007. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap pratindakan dan tahap tindakan. Tahap tindakan pada penelitian ini terdiri dari lima tahapan, yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, 4) analisis data, dan 5) refleksi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif dan kuantitatif. Analisis data kualitatif meliputi 1) reduksi data, 2) penyajian data, dan 3) penarikan kesimpulan. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan analisis persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar matematika setelah mendapatkan pembelajaran segi empat dengan menggunakan Pembelajaran Matematika Realistik. Peningkatan ini dapat dilihat dari aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan skor tes siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, Pembelajaran Matematika Realistik layak dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran pada topik segi empat.

Hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Jember ditinjau dari urutan kelahiran siswa dalam keluarga / Desy Christiani

 

ABSTRAK Christiani, Desy. 2009. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Jember ditinjau dari Urutan Kelahiran Siswa dalam Keluarga. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko, M.Si, (II) Ika Andrini Farida, M.Psi. Kata Kunci : Pola Asuh Orang Tua, Prestasi Belajar Siswa, Urutan Kelahiran dalam Keluarga. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA tahun 2008 secara nasional diyakini mengalami penurunan. Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (external), selain itu penelitian ilmiah tentang urutan kelahiran telah mengungkapkan bahwa pengaruh lingkungan mempunyai peran yang lebih penting daripada keturunan dalam menentukan perbedaan yang ditentukan pada anak dengan urutan kelahiran yang berbeda dalam keluarga. Tujuan utama penelitian yang dilakukan pada siswa Kelas XI SMA Negeri 2 Jember ini adalah untuk mengetahui: (1) pola asuh orang tua, (2) prestasi belajar siswa, (3) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak sulung, (4) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak tengah, (5) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak bungsu, dan (6) hubungan pola asuh orang tua dan prestasi belajar pada anak tunggal.Desain yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan sampel sebanyak 152 yang diambil dengan teknik propotional random sampling. Data variabel pola asuh orang tua diukur dengan skala pola asuh, prestasi belajar siswa adalah nilai rata-rata raport semester I tahun ajaran 2008/2009 yang didapat dari dokumentasi, dan urutan kelahiran siswa diperoleh dari identitas siswa saat mengisi skala pola asuh. Data dianalisa dengan teknik korelasi Spearman Brown (rho) dan Uji Mann_Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pola asuh orang tua paling banyak menerapkan pola asuh otoritatif (86,2%, n = 131), (2) prestasi belajar siswa paling banyak termasuk kelompok sedang (85,5%, n = 130), (3) ada hubungan positif antara pola asuh orang tua dan prestasi belajar siswa baik pada anak sulung, tengah, bungsu maupun tunggal. Berdasarkan hasil analisis uji beda, pola asuh otoritatif menghasilkan mean prestasi belajar yang lebih tinggi daripada mean prestasi belajar dengan pola asuh otoriter pada semua urutan kelahiran. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi pihak sekolah, antara konselor dan guru hendaknya menjalin kerja sama untuk mengadakan seminar atau pelatihan guna meningkatkan prestasi belajar siswa dengan peranan pola asuh otoritatif terhadap anak. Bagi orang tua hendaknya mewujudkan pola asuh otoritatif dengan cara bersedia mendampingi dan membantu anak bila diperlukan, menghargai hasil prestasi maupun kerja anak, tetap menjaga komunikasi yang baik dengan anak, melibatkan anak dalam mengambil keputusan yang menyangkut diri mereka sendiri dan melibatkan mereka dalam kegiatan keluarga.

Pengaruh persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online terhadap kepuasan mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Dian Mayasari

 

ABSTRAK Mayasari, Dian. 2009. Pengaruh Persepsi Mahasiswa Tentang Sistem Registrasi Akademik Online Terhadap Kepuasan Mahasiswa Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Program studi pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Puji Handayati (II) Helianti Utami (III) Bambang Sugeng Kata Kunci: persepsi mahasiswa, registrasi akademik online, dan kepuasan mahasiswa Layanan registrasi akademik adalah pelayanan bagi mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan pada semester tertentu, dengan syarat mahasiswa tersebut telah melakukan registrasi administrasi. Kegiatan registrasi akademik meliputi konsultasi rencana studi, pendaftaran matakuliah, pengisian dan pengesahan KRS, pengumuman hasil pemrosesan KRS (Universitas Negeri Malang, 2005). Peningkatan mutu pendidikan tinggi (mutu layanan akademik dan mutu pengajaran) merupakan upaya UM dalam memberikan layanan yang berkualitas dan memberikan kepuasan bagi mahasiswanya. Layanan registrasi akademik secara online merupakan wujud perubahan sistem sebagai upaya peningkatan pelayanan akademik yang tanggap akan kebutuhan sistem informasi. Bentuk penilaian terhadap kualitas layanan tersebut dapat diketahui apabila layanan tersebut dirasa baik dan memberikan kepuasan bagi mahasiswa sebagai pelanggan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik onlinedan untuk mengetahui pengaruh antara persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online dan kepuasan mahasiswa di FE UM. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi UM, lokasi penelitian di UM. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksplanasi dengan pendekatan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa FE UM tahun yang masih aktif di semester pendek tahun 2009, yang berjumlah 417 orang. Sample penelitian berjumlah 83 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah proporsional random sampling. Uji kualitas instrumen yang dipakai adalah uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linier sederhana yang diolah dengan bantuan program SPSS for Windows ver 13.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online berpengaruh terhadap variabel kepuasan mahasiswa, yang dibuktikan dari hasil analisis nilai uji t sebesar 5,975, R square 0,306 dan taraf signifikan 0,000 yang lebih kecil dari alpha (0,5). Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online berada dalam kriteria sedang. Hasil analisis angka signifikan 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak, koefisien regresi signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel persepsi mahasiswa tentang sistem layanan registrasi akademik online berpengaruh terhadap kepuasan mahasiswa. Saran agar tetap dapat memberikan layanan terbaik, hendaknya UM secara umum dan FE secara khusus dalam memberikan layanan registrasi akademik secara online dapat mempertahankan dan meningkatkan mutu serta kualitas secara terus-menerus dari masa ke masa, hal ini karena dapat memberikan citra tersendiri bagi pelanggan eksternal maupun internal. Hendaknya mahasiswa dapat memberikan aspirasinya secara objektif terhadap penelitian tentang layanan-layanan lain di UM agar hasilnya memang benar-benar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi beru serta motivasi bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian terhadap layanan-layanan lain di UM.

Hubungan antara career self-efficacy dengan pengambilan keputusan karier siswa kelas XII SMA Negeri I Batu / Christina Yosafat

 

ABSTRAK Yosafat, Christina. 2009. Hubungan Antara Career Self Efficacy dengan Pengambilan Keputusan Karier. Skripsi. Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Endang Prastuti M.Si, (2) Hetti Rahmawati S.Psi, M.Si, Kata kunci : career self efficacy, pengambilan keputusan karier. Masa remaja merupakan masa di mana pengambilan keputusan meningkat. Remaja mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan, seperti memilih bidang karier. Remaja sering memandang eksplorasi karier dan pengambilan keputusan dengan kebimbangan, ketidakpastian, dan stres. Hal ini didukung dengan fakta di lapangan yang menujukkan bahwa kebanyakan remaja mengalami kebingungan ketika ditanya tentang rencana karier yang akan dipilih. Fakta ini juga yang kemudian membuat peneliti menjadi tertarik untuk mengetahui hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana tingkat career self efficacy siswa kelas XII SMA Negeri I Batu; (2) Bagaimana pengambilan keputusan karier siswa XII SMA Negeri I Batu; (3) Apakah ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XII SMA Negeri I Batu. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui tingkat career self efficacy siswa kelas XII SMA Negeri I Batu; (2) Untuk mengetahui pengambilan keputusan karier siswa kelas XII SMA Negeri I Batu; (3) Untuk mengetahui hubungan antara career self-efficacy dengan pengambilan keputusan karier pada siswa kelas XII SMA Negeri I Batu. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII SMA Negeri I Batu yang berjumlah 225 siswa. Sedangkan sampel penelitian adalah siswa kelas XII IPA, IPS, dan Bahasa SMA Negeri I Batu sebanyak 90 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala career self efficacy dan skala pengambilan keputusan karier yang disusun menggunakan teknik penskalaan Likert. Analisis deskriptif dilakukan berdasarkan kategori tingkatan harga mean dan standar deviasi. Sementara, analisis korelasional menggunakan analisis statistik product moment Pearson dengan bantuan SPSS 12.00 for windows. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 56 siswa (62,22%) memiliki tingkat career self efficacy rendah. Sementara untuk variabel pengambilan keputusan karier sebanyak 64 siswa (71,11%) memiliki tingkat pengambilan keputusan karier yang rendah. Ada hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier (rxy= 0,812 (p = 0,000; p < 0,05) sehingga penambahan tingkat career self efficacy diikuti dengan penambahan tingkat pengambilan keputusan karier atau penurunan tingkat career self efficacy akan diikuti dengan penurunan tingkat pengambilan keputusan karier. Dengan demikian, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara career self efficacy dengan pengambilan keputusan karier diterima. Berdasarkan hasil penelitian bahwa career self efficacy dapat memberikan kontribusi positif dalam pengambilan keputusan karier, maka diharapkan para siswa dapat meningkatkan career self efficacy-nya. Peningkatan career self efficacy dapat dilakukan dengan cara memberikan bimbingan karier secara intensif kepada para siswa. Bimbingan karier ini dapat dilakukan oleh guru konseling dan sedapat mungkin dilakukan sejak kelas X atau sebelum siswa dijuruskan. Diharapkan melalui bimbingan karier ini siswa kelas XII lebih mampu memutuskan pilihan kariernya.

Penggunaan peta konsep untuk meningkatkan prestasi belajar biologi siswa di kelas X SMA Islam Malang / Ruri Eka Yuliana

 

Metode pembelajaran Biologi yang diterapkan di SMA Islam Malang sebagian menggunakan ceramah dan diskusi. Hasil observasi di kelas X, ditemukan bahwa guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran sehingga siswa cenderung pasif dan kurang motivasi dalam kegiatan pembelajaran, yang akibatnya prestasi belajar siswa kurang memuaskan. Salah satu pembelajaran yang bisa digunakan guru dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa adalah menggunakan peta konsep dalam pembelajaran Biologi dengan melakukan beberapa penilaian alternatif diantaranya adalah penilaian peta konsep, penilaian teman dalam satu kelompok, penilaian presentasi dan diskusi. Tujuan dari penelitian ini adalah menggunakan peta konsep untuk meningkatkan prestasi belajar Biologi siswa di kelas X SMA Islam Malang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang pelaksanaannya dilakukan meliputi dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa di kelas X-D SMA Islam Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, dokumentasi berupa catatan lapangan dan data prestasi dari asesmen alternative (terdiri dari penilaian peta konsep, penilaian teman (dalam satu kelompok), penilaian presentasi dan diskusi), angket, dan tes yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus. Hasil analisis data, ditemukan bahwa hasil belajar dengan tes pada siklus I, aspek kognitif yaitu 22,9% siswa sudah tuntas belajar. Sedangkan hasil belajar dengan tes pada siklus II dari aspek kognitif yaitu 100% siswa tuntas belajar. Prestasi belajar siswa untuk aspek afektif juga menunjukkan peningkatan, siswa lebih aktif bertanya dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Pada siklus I skor rata-rata yang diperoleh siswa pada penilaian teman (dalam satu kelompok) adalah 89,3, pada siklus II meningkat menjadi sebesar 91,7. Skor rata-rata penilaian presentasi keseluruhan kelompok pada siklus I adalah 70, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi sebesar 85,7. Penilaian diskusi juga meningkat pada siklus II, jumlah siswa yang berdiskusi pada siklus I sebanyak 14 siswa, rerata nilai diskusi sebesar 76,6, sedangkan pada siklus II jumlah siswa yang berdiskusi sebanyak 23 dan rerata nilai diskusi sebesar 78. Sedangkan untuk aspek psikomotorik yang ditunjukkan dari keterampilan siswa dalam membuat peta konsep juga bagus, meningkat pada siklus II, skor rata-rata dari keseluruhan kelompok pada siklus I adalah 62,7, pada siklus II meningkat menjadi sebesar 84,3. Saran yang diajukan adalah (1) bagi guru bidang studi dianjurkan menggunakan peta konsep dalam pembelajaran dan menilai setiap aktivitas yang dilakukan siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, (2) dalam pengelolaan pembelajaran di kelas guru harus memberi motivasi kepada seluruh siswa, terutama siswa yang memiliki kemampuan lebih rendah, agar mereka lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya, (3) siswa diharapkan mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatunya sebelum pelaksanaan kegiatan belajar di kelas, dan (4) bagi peneliti berikutnya, disarankan melakukan penelitian tentang penggunaan peta konsep dalam pembelajaran Biologi dengan materi yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran dengan peta konsep.

Model pembelajaran dua bahasa (bilingual) yang dilakukan di kelompok bermain Pelita Kasih Makassar / Dian Puspita Sari

 

ABSTRAK Sari, Dian Puspita. 2009. Model Pembelajaran Dua Bahasa (Bilingual) yang Dilakukan di Kelompok Bermain Pelita Kasih. Skripsi, Program Studi Pendidikan Luar Sekolah. FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Kentar Budhojo, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. Ihsom Ihsan Kata kunci : Model, Pembelajaran Dua Bahasa, Kelompok Bermain Beberapa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak di Makassar menerapkan pembelajaran dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Para ahli masih belum sependapat tentang pengaruh pembelajaran itu terhadap perkembangan kognitif anak. Penelitian ini ingin mengetahui model pembelajaran serta faktor pendukung dan penghambat pemebelajaran dua bahasa di Kelompok Bermain. Penelitian ini dilakukan di Kelompok Bermain Pelita Kasih pada tanggal 23 Februari sampai 07 Maret 2006. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan Deskriptif. Teknik penggalian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, angket dan dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan adalah dengan menggunakan rumus presentase Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pelaksanaan model pembelajaran dua bahasa yang dilakukan di Kelompok Bermain Pelita Kasih lebih difokuskan agar anak memiliki kemampuan berkomunikasi lisan dan berbicara dalam dua bahasa dengan berdasarkan kurikulum pembelajaran kelompok bermain. Tujuan dari pembelajaran dengan dua bahasa yang diterapkan di Kelompok Bermain Pelita Kasih yaitu mengenalkan dan membiasakan anak menggunakan bahasa asing terutama bahasa Inggris dan meningkatkan kecerdasan Linguistic anak sejak dini sehingga menambah kepercayaan diri anak untuk berkomunikasi dengan orang lain baik itu dari lingkungannya maupun dari luar lingkungannya tidak hanya itu, kemampuan cara berfikir anak akan bertambah serta mengembangkan kemampuan toleransi anak. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan (1) Bagi Lembaga Kelompok Bermain Pelita Kasih, Para guru disarankan menambah wawasan tentang pembelajaran secara dua bahasa. (2) Bagi jurusan Pendidikan Luar Sekolah, agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan informasi untuk pengembangan bidang garapan Pendidikan Luar Sekolah. (3) Bagi peneliti lain, dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemampuan bahasa inggris guru dalam rangka mempersiapkan diri untuk melakukan pembelajaran bilingual di Kelompok Bermain.

Perbedaan kepuasan perkawinan pada masa 5 tahun pertama pada suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak / Dian Putri Dirgahayu

 

ABSTRAK Dirgahayu, Dian Putri , 2009. Perbedaan Kepuasan Perkawinan pada Masa 5 Tahun Pertama Pada Suami yang Sudah memiliki Anak dan Belum Memiliki Anak. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I)Dr Fattah Hanurawan M.Si., M.Ed.,(II)Ika A. Farida, M.Psi. Kata kunci: kepuasan perkawinan, 5 tahun pertama, kepemilikan anak Dalam setiap perkawinan kehadiran anak seringkali dianggap sebagai syarat mutlak untuk menentukan kebahagiaan dan kelangsungan perkawinan itu sendiri. Walaupun tidak jarang ada pasangan tetap dapat menjalani perkawinan meskipun tanpa anak. (dalam Yulia, 2006). Secara psikologis, kehadiran anak di dalam keluarga dapat menyemarakkan suasana. Maka dari itu berkembanglah persepsi yang mengatakan bahwa tanpa anak, sebuah perkawinan akan terasa hampa (dalam Pernamasari, 2008). Sebuah riset di Amerika menyatakan bahwa 1 dari 2 pernikahan mengalami penurunan kualitas pernikahan sejak anak pertama lahir hal itu disebabkan banyak suami merasa disisihkan istrinya (dalam Lianawati, 2007). Banyak penelitian menunjukkan bahwa kehadiran anak meningkatkan stabilitas perkawinan dan secara bersamaan mengurangi kepuasan perkawinan (dalam Haseley, 2006). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang sudah memiliki anak, (2) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang belum memiliki anak, (3) perbedaan kepuasan perkawinan pada suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Kepuasan perkawinan diukur dengan skala kepuasan perkawinan. Subyek penelitian adalah 62 suami di Kotamadya Malang yang terdiri dari suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak. Data yang terkumpul dianalisa dengan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang sudah memiliki anak berada pada kategori tinggi, (2) tingkat kepuasan perkawinan pada suami yang belum memiliki anak berada pada kategori tinggi, (3)Ada perbedaan kepuasan perkawinan yang signifikan antara suami yang sudah memiliki anak dan belum memiliki anak, dan kepuasan perkawinan suami yang belum memiliki anak lebih tinggi dibanding kepuasan perkawinan suami yang sudah memiliki anak. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi suami yang sudah memiliki anak untuk merawat kemesraan,mengatur waktu pembagian kerja dan pengasuhan anak, dan refreshing. Bagi suami yang belum memiliki anak disarankan tetap merawat kemesraan diantara suami istri agar hubungan antara suami istri tetap harmonis dan kepuasan perkawinan yang dirasakan tetap tinggi. Diperlukan juga penerimaan perubahan pola pikir dan gaya hidup dalam masyarakat agar tidak berkembang paradigma yang menyudutkan keadaan atau situasi yang sedang dialami oleh pasangan suami-istri berkaitan dengan status kepemilikan anak

Pengembangan variasi latihan shooting dari daerah medium range pada tim ekstrakurikuler bolabasket putra SMA Negeri 9 Malang / Fajar Hidayatullah

 

ABSTRAK Hidayatullah, Fajar. 2009. Pengembangan Variasi Latihan Shooting Dari Daerah Medium Range Pada Tim Ekstrakurilkuler Bolabasket SMA Negeri 9 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Oni Bagus Januarto, M.Kes., Pembimbing (II). Dr. Saichudin, M.Kes. Kata kunci: Pengembangan, bolabasket, variasi latihan, shooting, medium range, ekstrakurikuler,siswa sekolah menengah atas. Bolabasket adalah olahraga yang dimainkan oleh dua regu yang saling memasukkan bola ke keranjang lawan dengan tangan. Jadi inti dari permainan bobabasket adalah berusaha sebanyak mungkin untuk memasukkan bola pada keranjang lawan. Menurut Oliver (2004:13) ”Meskipun banyak pemain bolabasket terus mencoba melakukan tembakan 3 angka, statistik mengungkapkan bahwa para penembak 3 angka terbaik pun hanya berhasil 40 hingga 45 persen dari semua usaha lemparan tiga angka mereka sedangkan persentase tembakan tertinggi adalah tembakan dalam”. Dalam penelitian ini subyek adalah tim ekstrakurikuler bolabasket putra SMAN 9 Malang. Pelatih ekstrakurikuler bolabsket SMA Negeri 9 Malang sudah seringkali memberikan latihan shooting dari daerah medium range, namun variasi latihan yang diberikan terkesan monoton dan diulang-ulang yang menyebabkan para siswa malas-malasan dalam menjalankannya. Menurut Bompa (1987:19) “latihan harus bervariasi dengan tujuan untuk mengatasi sesuatu yang monoton dan kebosanan dalam latihan, pelatih perlu pengetahuan dan sumber latihan yang banyak yang memungkinkan dapat berubah secara periodik”. Berdasarkan masalah yang ditemukan, maka peneliti mengembangkan variasi latihan shooting dari daerah medium range pada tim ekstrakurikuler bolabasket putra SMAN 9 Malang. Menembak (shooting) adalah suatu cara untuk mencetak poin dengan memasukkannya ke dalam ring. Shooting dari daerah medium range adalah shooting yang dilakukan pada area antara garis key hole dan garis 3 point. Dalam melatih teknik shooting diperlukan latihan yang berulang-ulang, selain itu membutuhkan teknik dasar yang benar juga diperlukan variasi-variasi model latihan untuk mencegah kebosanan berlatih. Model pengembangan ini adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Pada pengembangan variasi latihan shooting dari daerah medium range ini dilakukan melalui beberapa tahap yang meliputi analisis kebutuhan, pembuatan produk awal, uji coba produk, revisi produk pertama, uji lapangan, dan revisi produk akhir. Subyek penelitian adalah peserta ekstrakurikuler bolabasket di SMA Negeri 9 Malang. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan variasi latihan shooting dari daerah medium range pada tim ekstrakurilkuler bolabasket SMA Negeri 9 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada sekolah-sekolah yang mempunyai kegiatan ekstrakurikuler bolabasket, yang ada disekitar tempat pengembangan produk, peneliti sendiri dan peneliti lain untuk dikembangkan ke arah lebih lanjut.

Fluktuasi kepadatan populasi wereng hijau (Empoasca sp.) pada tanaman teh (Xamellia sinensis L.O.K.) klon assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 di kebun teh Wonosari Singosari Kabupaten Malang pada musim penghujan / Enik Amalia

 

i Abstrak Amalia, Enik. 2008. Fluktuasi Kepadatan Populasi Wereng Hijau (Empoasca sp.) Pada Tanaman Teh (Camellia sinensis L. O. K) Klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 Di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang Pada Musim Penghujan. Skripsi: Progam Studi Biologi. Pembimbing: (I) Drs. Fatchur Rohman, M. Si, (II) Drs. Faturrachman, M. Si. Kata kunci: Fluktuasi, kepadatan populasi, Empoasca sp, klon tanaman teh. Indonesia merupakan negara produsen teh kelima terbesar di dunia setelah India, Cina, Sri Langka dan Kenya. Sejak tahun 1998 di perkebunan teh Jawa Barat telah muncul hama baru yaitu wereng hijau Empoasca sp. Akibat serangan hama wereng tersebut produksi teh mengalami penurunan sekitar 50% dalam 45 hari (Dharmadi, 1999). Telah dilakukan beberapa cara untuk mengendalikan hama tersebut antara lain sanitasi peralatan panen, pemangkasan tanaman teh, dan pengendalian hama dengan menggunakan musuh alami (predator). Populasi serangga hama di alam tergantung pada faktor iklim, yaitu curah hujan, suhu, kelembaban udara, dan faktor biotik seperti jumlah dan kualitas makanan, musuh alami, dan kompetisi antar atau inter spesies (Widayat, 1987:16). Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui fluktuasi kepadatan populasi Emposca sp. pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar, 2) mengetahui faktor abiotik yang paling menentukan kepadatan populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar di kebun teh Wonosari Singosari Malang pada mesim penghujan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Desember 2006-Mei 2007. Tempat penelitian berada di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang dan di Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi UM. Data yang diamati yaitu fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. yang meliputi dari fase telur, nimfa dan imago pada daun bagian peko, daun muda dan daun tua di klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Faktor abiotik lingkungan yang diukur meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan air tanah, suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan angin, dan curah hujan. Untuk mencari jumlah rerata kepadatan populasi relatif Empoasca sp. digunakan rumus: Dr = ni/N x 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar memiliki kepadatan relatif tertinggi bila dibandingkan dengan klon Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Kepadatan populasi tertinggi berada pada klon Assamica datar fase imago yang berada pada daun tua yaitu sebesar 2 individu/daun dengan kepadatan relatif 60%, sedangkan fase nimfa kepadatan populasi tertinggi berada pada daun muda yaitu 1 individu/daun dengan kepadatan relatif 47,06%. Selama pemetikan Empoasca sp. fase telur tidak ditemukan. Secara umum kepadatan populasi Empoasca sp terbanyak berada pada klon Assamica datar pada daun muda fase imago. Faktor ii abiotik yang paling menentukan fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. adalah suhu udara, suhu tanah dan curah hujan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diadakan penelitian lebih lanjut mengenai fluktuasi kepadatan populasi wereng hijau (Empoasca sp.) pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang pada musim kemarau dan diadakan penelitian lebih lanjut tentang daya serang wereng hijau (Empoasca sp.) terhadap tanaman teh.

Kualitas pelaksanaan pembelajaran praktek kerja industri (prakerin) Jurusan Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang tahun pelajaran 2008-2009 / Yoyok Suwiknyo

 

KUALITAS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) JURUSAN TEKNIK BANGUNAN SMK NEGERI 1 SINGOSARI MALANG TAHUN PELAJARAN 2008-2009 Yoyok Suwiknyo Herman Ginting Pribadi Praktek Kerja Industri (Prakerin) merupakan salah satu jenis pendidikan dan pelatihan untuk siswa SMK. Pelaksanaan Prakerin merupakan usaha pemerintah untuk meningkatkan sumberdaya manusia untuk menghasilkan produk yang terbaik di era globalisasi ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perencanaan, Pelaksanaan, dan evaluasi Prakerin di Jurusan Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang. Manfaat dari penelitian ini adalah pijakan dasar dalam pengembangan konsep Prakerin di SMK. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Singosari Malang Jurusan Teknik Bangunan pada tanggal 8 April sampai 30 April 2009. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif. Sampel yang digunakan adalah guru pembimbing Prakerin dan siswa kelas XII Program Keahlian Survey dan Pemetaan, Konstruksi Batu Beton, dan Gambar Bangunan. Pengambilan data menggunakan angket dengan skala likert. Analisis hasil penelitian adalah dengan mengkonversi hasil skor angket ke skala likert. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa Prakerin di Teknik Bangunan sudah baik, dapat dilihat dalam perencanaan Prakerin Program Keahlian Survey dan Pemetaan dengan rata-rata skor 3.9989 termasuk kualifikasi baik. Konstruksi Batu Beton dengan rata-rata skor 3.3711 termasuk kualifikasi baik. Dan Gambar Bangunan dengan rata-rata skor 3.6333 yang termasuk kualifikasi baik. Dalam pelaksanaan Prakerin Program Keahlian Survey dan Pemetaan dengan rata-rata skor 3.7692 termasuk kualifikasi baik. Konstruksi Batu Beton dengan rata-rata skor 3.6200 termasuk kualifikasi baik. Dan Gambar Bangunan dengan rata-rata skor 3.6246 termasuk kualifikasi baik. Dalam evaluasi Prakerin Program Keahlian Survey dan Pemetaan dengan rata-rata skor 3.6367 termasuk kualifikasi baik. Konstruksi Batu Beton dengan rata-rata skor 3.9950 termasuk kualifikasi baik. Dan Gambar Bangunan dengan rata-rata skor 3.7217 termasuk kualifikasi baik. Ketiga Program Keahlian tidak ada perbedaan yang signifikan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi Prakerin. Kata kunci: kualitas, Prakerin, PSG

Pengelolaan pembelajaran pada program kesetaraan paket C (studi kasus di SMA Alternatif Laboratorium Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang) / Dodot Ariyanto

 

i ABSTRAK Ariyanto, Dodot. 2009. Pengelolaan Pembelajaran pada Program Kesetaraan Paket C (Studi Kasus di SMA Alternatif Laboratorium Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H.S. Mundzir, M.Pd (2) Dra. Dwi Maziyah P., M.Pd. Kata Kunci :Paket C, Pengelolaan, Pembelajaran Program Pendidikan Kesetaraan Paket C Setara SMA merupakan program pendidikan tingkat SMA bagi warga masyarakat yang putus sekolah SMA atau lulusan SMP yang tidak dapat melanjutkan ke SMA/SMK. SMA Alternatif Lab. PLS UM merupakan salah satu penyelenggara program pendidikan kesetaraan Paket C sebagai bentuk kegiatan pendidikan luar sekolah. Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan berbagai permasalahan dalam kegiatan pembelajaran diantaranya jadwal yang tertata, namun kahadiran tutor tidak sesuai dengan jadwal, bahan belajar atau modul berasal dari tutor, serta penyediaan media pembelajaran yang kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan pembelajaran program pendidikan Kesetaraan Paket C SMA Altenatif LAB. PLS. UM, dan faktor pendukung dan penghambat pengelolaan pembelajaran. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan rancangan studi kasus. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisa yang digunakan adalah reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan berdasarkan analisis teori – teori pembelajaran, pendapat para pakar dan temuan data Hasil yang diperoleh dalam penelitian dalam pengelolaan pembelajaran meliputi perencanaan pembelajaran (1) Tujuan pembelajaran tutor didasarkan pada materi ajar, melalui pengembangan pokok bahasan atau sub pokok bahasan. (2) Penyiapan materi pembelajaran menggunakan modul pendidikan kesetaraan beracuan pada kurikulum pendidikan kesetaraan dengan menambah rujukan dari buku acuan lain. (3) Strategi pembelajaran menggunakan pembelajaran kelompok dan mandiri. (4) Metode Pembelajaran yang diterapkan (a) ceramah sehingga pembelajaran terkesan monoton membuat warga belajar merasa jenuh sehingga sering meninggalkan kelas. (b) Melakukan review (ulangan) bahan pelajaran namun kurang berjalan secara efektif karena tidak melibatkan semua warga belajar. (c) Memberikan latihan sebagai feedback. Namun tidak berjalan secara maksimal dengan tidak terdorongnya inisiatif dari warga belajar untuk bertanya. (5) Media pembelajaran terbatas papan tulis. Serta media praktek yang merupakan kretifitas dari tutor. Pelaksanaan pembelajaran (1) Tutor tidak melakukan prosedur pengelolaan kelas secara preventif hanya mendinamiskan suasana kelas yang ramai. (2) Motivasi dilakukan oleh tutor secara internal dan motivasi eksternal dilakukan oleh pengelola. Evaluasi pembelajaran dilakukan ii pada akhir penyampaian materi, pelaksanaan ujian tengah semester, ujian akhir semester dan ujian nasional. Faktor pendukung kesesuaian waktu belajar dengan kebutuhan warga belajar dan tempat pembelajaran yang mamadai terletak dalam lingkungan kampus UM. Faktor penghambatnya minimnya bahan ajar (buku paket) serta kurangnya pengetahuan tutor tentang prinsip – prinsip pembelajaran orang dewasa Saran dari penelitian ini adalah: (1) Hendaknya pengelola melakukan penataan administrasi yang lebih termanajemen dengan baik. (2) Tutor melakukan pengembangan bahan dan media pembelajaran serta strategi pembelajaran yang digunakan. (3) Pengelola dan para tutor perlu mengikuti pelatihan-pelatihan untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan pengelolaan kejar Paket C serta prinsip-prinsip pembelajaran orang dewasa (andragogi) serta peningkatan variasi pembelajaran. (4) Agar program dapat menarik dan memotivasi warga belajar maka perlu memaksimalkan sarana belajar keterampilan yang bermanfaat dan fungsional. (5) Hendaknya pendampingan dalam pengelolaan dan pembelajaran pada program Paket C sebagai bentuk pendidikan luar sekolah yang dilakukan oleh Laboratorium Jurusan Pendidikan Luar Sekolah dapat terus berkesinambungan bagi Kelompok Belajar Paket C SMA Alternatif Lab. PLS. UM. (6) Bagi peneliti lain hendaknya melakukan pengembangan terhadap hasil penelitian ini dengan melakukan penelitian ini melalui metode serta fokus yang berbeda. Sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap pengelolaan program Paket C secara umum dan bagi Kelompok Belajar Paket C SMA Alternatif Lab. PLS. UM.

Pengaruh stres kerja terhadap kinerja melalui komitmen organsiasi (studi kasus pada karyawan PDAM Kota Batu) / Sukma Intan

 

ABSTRAK Intan, Sukma. 2009. Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Melalui Komitmen Organisasi (Studi Kasus Pada Karyawan PDAM Kota Batu). Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Sumber Daya Manusia Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si, (II) Madziatul Churiyah, S.Pd. M.M Kata kunci: stres kerja, kinerja, dan komitmen organisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Batu, sebagai lembaga atau organisasi milik negara yang memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai lembaga penyedia air bersih bagi masyarakat Kota Batu, masih mengalami banyak permasalahan karena kebutuhan masyarakat akan air bersih semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya segala aktivitas masyarakat. Di satu pihak peralatan kerja yang semakin modern dan efisien, sementara di lain pihak beban kerja juga semakin bertambah akan menuntut energi pegawai yang lebih besar dari yang sudah-sudah. Sebagai akibatnya, dapat berpotensi menimbulkan stres bagi karyawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara: (1) pengaruh secara langsung antara stres kerja terhadap komitmen organisasi, (2) pengaruh secara langsung antara komitmen organisasi terhadap kinerja, (3) pengaruh secara lansung antara stres kerja terhadap kinerja, (4) pengaruh secara tidak langsung antara stres kerja terhadap kinerja melalui komitmen organisasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory research yaitu menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis yang terdiri dari tiga variabel yaitu variabel bebas adalah stres kerja (X), variabel intervening adalah komitmen organisasi (Z), dan variabel terikat adalah kinerja (Y). Populasi yang dipilih adalah karyawan PDAM Kota Batu yang berjumlah 88 orang. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel secara acak dari populasi yang sudah dibagi dalam lapisan-lapisan (Proportionate Stratified Random Sampling). Dalam menentukan ukuran sampel peneliti menggunakan rumus Slovin sehingga diperoleh sebanyak 73 responden. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil analisis yang didapat melalui penyebaran kuesioner menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara stres kerja terhadap komitmen organisasi sebesar -0,504; (2) terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara komitmen organisasi terhadap kinerja sebesar 0,304; (3) terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan antara stres kerja terhadap kinerja sebesar -0,361; (4) terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan antara stres kerja terhadap kinerja melalui komitmen organisasi sebesar -0,153 Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapat adalah: (1) bagi PDAM Kota Batu: hendaknya mengadakan pengelolaan stres agar stressor dapat menimbulkan efek yang positif dengan cara menciptakan lingkungan kerja yang kondusif sehingga tercipta kepuasan kerja pada setiap karyawan dan secara tidak langsung akan semakin meningkatkan komitmen i karyawan terhadap organisasi. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan cara mempertimbangkan peningkatan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan, menggunakan komunikasi yang efektif antar sesama karyawan, mengadakan lokakarya untuk membantu karyawan mengelola stres agar dapat menimbulkan efek yang positif bagi kinerjanya terutama demi perusahaan, dan mengadakan outbond sebagai sarana refreshing untuk menghilangkan kepenatan selama bekerja (2) bagi karyawan PDAM Kota Batu: dengan adanya tingkat stres kerja yang rendah, komitmen organisasi yang tinggi dan kinerja yang tinggi maka dapat memberikan layanan kepada masyarakat yang lebih maksimal lagi. Dalam hal mencukupi kebutuhan air minum bagi segenap masyarakat Kota Batu dan meningkatkan kesejahteraan dalam bidang penyediaan air bersih. Dengan cara, antara lain menyelenggarakan penggantian dan perbaikan kebocoran pipa distribusi, melaksanakan perencanaan pengembangan pemasangan baru, sumber air, sistem transmisi dan distribusi, rehabilitasi pipa dan pekerjaan sipil lainnya, melaksanakan kerja sama dengan bagian lain untuk merekomendasikan secara teknis solusi permasalahan pada sistem distribusi dan sambungan rumah dan lain-lain yang sesuai deskripsi tugas dari masing-masing karyawan PDAM Kota Batu (3) bagi peneliti selanjutnya: untuk dapat lebih mengembangkan penelitian sejenis dengan melibatkan variabel yang lain dan lebih variatif, misalnya kepuasan kerja dan kompensasi.

Pengaruh pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) terhadap kandungan emisi gas buang mesin diesel / Achmad Aminudin

 

ABSTRAK Aminudin, Achmad. 2009. Pengaruh Pemanasan Bahan Bakar Biodiesel (Minyak Jarak-Solar) Terhadap Kandungan Gas Buang Mesin Diesel. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sukarni, S.T, M.T., (II) Retno Wulandari, S.T., M.T. Kata Kunci: pemanasan bahan bakar, biodiesel, mesin diesel, kandungan gas buang. Pemanasan terhadap bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) sebelum diinjeksikan ke dalam ruang bakar dengan tujuan untuk menurunkan viskositasnya agar nantinya setelah diinjeksikan ke dalam ruang bakar dapat membentuk butiran-butiran yang lebih halus dan menghasilkan campuran bahan bakar dan udara yang lebih homogen. Selain itu untuk melihat bagaimana perubahan yang terjadi pada kandungan gas buang mesin diesel jika dilakukan pemanasan terhadap bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar), pengaruh yang signifikan variasi putaran mesin, dan pengaruh interaksi yang signifikan antara pemanasan bahan bakar dengan variasi putaran mesin terhadap kandungan gas buang mesin diesel. Minyak jarak yang digunakan sebagai bahan bakar biodiesel (20% minyak jarak-80% solar) dalam penelitian ini diperoleh dari Lembaga Penilitian Universitas Negeri Malang, yaitu minyak jarak yang telah melalui proses transesterifikasi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Motor Bakar Universitas Brawijaya Malang, tanggal 6 Pebruari 2009 dengan menggunakan alat Orsad Apparatus. Jenis penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian eksperimental dengan desain faktorial 5 x 2. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analis varian dua jalan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perlakuan putaran mesin yang digunakan adalah rentangan 1300 rpm, 1600 rpm, 1900 rpm, 2200 rpm, dan 2500 rpm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemanasan bahan bakar biodiesel (minyak jarak-solar) pengaruh terhadap kandungan gas buang mesin diesel. Pada saat mesin diberi pemanas, kadar emisi CO dan O2 lebih rendah jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pemanas. Sedangkan kadar CO2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan tidak menggunakan pemanas. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemanasan bahan bakar, variasi putaran mesin dan interaksi antara pemanasan dan putaran mesin mempengaruhi kadar emisi CO, O2, dan CO2. Dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pengaruh kenaikan suhu bahan bakar terhadap kandungan emisi gas buang.

Pembuatan busana pesta dengan hiasan patchwork / Wastiani Maula

 

Gaun Pesta Asimetris adalah busana yang terdiri dari busana yang menutup bagian atas dan menutup bagian bawah terdiri dari satu bagian (one piece), yang dirancang secara pas (fitted) dengan potongan melekuk ke samping atau dengan kata lain keseluruhan sisi kanan dan sisi kirinya berlawanan/tidak simetris. Gaun model ini tampak luwes sebab akan menampilkan lekuk tubuh pemakainya. Gaun asimetris ini diaplikasikan dengan teknik patchwork mengunakan satu jenis bahan yang sama, namun dengan tiga warna yang berbeda yaitu warna merah, jingga dan hijau kebiruan, penggabungan ketiga warna ini memberikan kesan enerjig dan dinamis pada pemakainya. Penggunaan bahan yang dimaksud adalah bahan kain katun, hal ini didasarkan karena kain katun memiliki tingkat kenyamanan yang lebih pada saat dipakai. Patchwork adalah menggabungkan beberapa motif atau warna kain yang berbeda dengan bantuan tangan atau mesin yang akan menjadikan sehelai kain mempunyai motif unik dan langka. Pada pembuatan gaun pesta asimetris dengan teknik patchwork ini dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain, pada pembuatan gaun ataupun busana dengan penggunaan motif patchwork diusahakan ukuran model tidak berubahubah agar motif tetap menyambung sesuai pola, pemberian interlining sangat berpengaruh pada hasil patchwork agar bagian-bagian patchwork tidak terlihat kusut. Potongan patchwork pada gaun ini menggunakan potongan menyerong, hal ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih sebab kain dengan potongan menyerong mempunyai sifat mudah mulur, sehingga pada pemberian tanda dilakukan dengan cara menjelujurnya.

Studi tentang desain tato di Kota Malang / Iwan Syahroni

 

ABSTRAK Syahroni, Iwan. 2008. Studi Tentang Desain Tato di Kota Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs.Pujiyanto. M.Sn. (II) Moch.Abdul Rahman, S.Sn, M.Sn. Kata Kunci: seni tato, tatois, recipient, desain Seni tato di Malang untuk sebagian kalangan masyarakat masih dikesankan sebagai aksesoris tubuh yang berkonotasi negatif. Tapi, kesan ini agak semakin terkikis. Buktinya, belakangan ini semakin banyak saja pengusaha muda, mahasiswa, remaja, bahkan ibu-ibu rumah tangga yang ingin tubuhnya di tato agar kelihatan lebih percaya diri. Saat ini pandangan masyarakat mulai dapat menerima tato sebagi suatu karya seni dan merupakan bagian dari ekspresi seseorang. Seni tato adalah suatu produk dari kegiatan menggambar pada kulit tubuh dengan menggunakan alat sejenis jarum atau benda tajam yang terbuat dari duri. Tatois adalah orang yang mempunyai kemampuan menato. Recipient adalah orang yang di tato (Client). Sedangkan yang dimaksud gaya visual disini adalah Berbagai ragam jenis tato atau desain yang ditato pada tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi, mendeskripsikan dan mengklasifikasi (1) pandangan masyarakat terhadap fenomena seni tato, (2) variasi,motivasi client tato, (3) gaya visual seni tato. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menelaah fenomena-fenomena sosial. Penelitian ini dilakukan pada orang yang bertato maupun yang tidak mempunyai tato, tatois, recipient di kota malang. Sedangkan teknik yang digunakan untuk memperoleh data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil wawancara dan observasi dari tiga subyek penelitian bahwa tato merupakan suatu karya seni sebab dalam kenyataan sehari-hari semakin banyak saja orang dan anak muda yang memberi arti lebih atau pemakmaan tertentu atas tubuh mereka dengan tato, disisi lain berkembang juga cerita-cerita buruk dan mitos-mitos keliru mengenai orang yang bertato, tato selalu diasosiasikan dengan kriminalitas. Desain tato dibagi menjadi sepuluh yaitu Fantasi, Bionic, Celtik, Newskool, Oldskool, Oriental, Portrait, Surialistic, Tribal, dan Vow. Desain tato yang paling diminati oleh client di kota Malang adalah Bionic.

Reality construction in political news of the Jakarta Post: a semiotic analysis / Junda Yanti

 

ABSTRACT Yanti, Junda. 2009. Reality Construction in Political News of The Jakarta Post— A Semiotic Analysis. Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. M. Misbahul Amri, M.A. Keywords: Reality Construction, Semiotics, The Jakarta Post Newspaper has a significant role in delivering information among society. At the same time, newspaper is a medium which intensively constructs reality in building public opinion. The press freedom makes newspaper capable of constructing a certain reality in society. However, the press policy and journalistic ethics directly or indirectly force the newspaper to apply an implicit or implied way in presenting the news. As the consequence, several news—crime, education, entertainment, life style, and politics—presented in newspapers frequently tend to construct the reality implicitly. Accordingly, this study aims to know how political news in The Jakarta Post constructs a particular reality toward the readers. The data of this study were taken from seven articles of The Jakarta Post political news, especially the Indonesia Election 2009 news from March 31st to April 5th 2009. These seven articles were considered to be important because these articles were published in the election pages (additional pages during the campaign period) of The Jakarta Post, published in the last seven days of campaign period that was considered as the peak season of campaign period, occupied the large spaces of the pages, and considered to be the headline of the pages. Then, the data were analyzed by using Triangle Meaning of Pierce and Two-Order of Significations of Barthes. The result of this study showed that The Jakarta Post constructed the reality of political situation in Indonesia General Election 2009 by using attractive headline, dictions, sentences arrangement, spaces distribution, comparison of several parties, and presenting several different point of views or opinions. Using those several ways, The Jakarta Post tended to confirm the positive image of SBY and Democratic Party toward the readers. However, the further studies in relation to reality construction, semiotic analysis or other studies in terms of language use are needed to be done to give a deeper comprehension, leading to a better application that will enrich the language studies.

Analisis rasio keuangan untuk membandingkan nilai kinerja keuangan PDAM Kota Blitar dengan PDAM Kabupaten Blitar / Meinyar Agustina

 

ABSTRAK Agustina, Meinyar. Analisis Rasio Keuangan Untuk membandingkan Nilai Kinerja Keuangan PDAM Kota Blitar Dengan PDAM Kabupaten Blitar. Tugas Akhir, Jurusan Diploma III Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr Dyah Aju Wardhani, M.Si Ak. Kata Kunci : Analisis Rasio Keuangan, Nilai Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah perusahaan yang bertugas sebagai penyedia sarana air bersih guna memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat dengan kuantitas dan kualitas serta pelayanan yang memadai. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Kota Blitar dibandingkan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Blitar dengan cara menggunakan analisis rasio keuangan yang terdiri dari rasio likuiditas, rasio profitabilitas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas. Bedasarkan analisis data disimpulkan bahwa rasio likuiditas tahun 2005-2007 untuk current rasio Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar sebanding dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, cash ratio Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Rasio Profitabilitas tahun 2005-2007 untuk return on equity Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih kecil nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, profit margin Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Rasio Aktivitas tahun 2005-2007 untuk perputaran aktiva Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, rata-rata umur piutang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibandingkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar,perputaran piutang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih kecil nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar, perputaan total aktiva Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih kecil dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Rasio Solvabilitas tahun 2005-2007 untuk rasio hutang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Blitar lebih besar nilainya dibanding Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Blitar. Berdasarkan hasil evaluasi dapat disarankan meningkatkan pendapatan untuk mengurangi biaya administrasi dan umum, meningkatkan penagihan piutang, meningkatkan penjualan secara tunai dan lebih memanfaatkan aktiva yang dimiliki secara optimal.

Perancangan media "topografi" Taman Nasional Gunung Semeru Jawa Timur sebagai sarana promosi / Mayrosis

 

ABSTRAK Mayrosis.2009. Perancangan Media “ Topografi” Taman Nasional Gunung Semeru Jawa Timur Sebagai Sarana Informasi . Skripsi. Program Studi Desain Komunikasi Visual. Jurusan Seni dan Desain. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Sarjono, M.Sn, (2) Andy Pramono, S.Kom, M.T Kata kunci : Perancangan, Topografi, Taman Nasional Gunung Semeru, Sarana Informasi Peta topografi 3 dimensi merupakan salah satu hasil dari pengembangan pengetahuan dari teknologi komputer dan informasi. Penggunaan teknologi pengindraan jauh yang memanfaatkan satelit untuk mengambil citra muka bumi menjadikan pembuatan peta topografi menjadi lebih cepat dan akurat. Adanya perkembangan teknologi informasi dan komputer, diharapkan kendala mengenai pembuatan sebuah model peta topografi sebagai media informasi dapat teratasi. Penyediaan media informasi mengenai Taman Nasional Gunung Semeru merupakan salah satu upaya dari pengelola Taman Nasional yaitu Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan wilayah Taman Nasional yang berada di bawah naunganya, ketersediaan sarana media informasi memegang peranan penting bagi pengelola Taman Nasional Gunung Semeru, karena ketersediaan informasi merupakan salah satu syarat yang selalu dibutuhkan oleh para pengunjung Taman Nasional Gunung Semeru mengingat besarnya resiko akan keselamatan jiwa di lapangan. Perancangan Peta Topografi 3 Dimensi Taman Nasional Gunung Semeru Jawa Timur sebagai sarana informasi berupa multimedia interaktif. Sistematika perancangan ini menggunakan prosedur yang menyesuaikan permasalahan pada objek di lapangan dengan kebutuhan desain. Produk tersebut ditujukan kepada pengguna maupun pengunjung Taman Nasional Gunung Semeru. Mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, multimedia interaktif sebagai media informasi merupakan penyesuaian dan sikap yang ditempuh agar media yang dirancang bisa memberikan informasi kepada pengguna secara efektif dan komprehensif. Teknologi informasi dan komputer mampu menjadi solusi mengenai efektifitas penyampaian informasi, efisiensi biaya produksi serta jangkauan penyampaian yang lebih luas pada pengguna secara cepat dan tepat.

Perancangan paket media komunikasi visual sebagai promosi launching Transkids Shop / Ken Yuditya Tungga Wardani

 

ABSTRAK Wardani, Ken Yuditya Tungga. 2009. Perancangan Paket Media Komunikasi Visual sebagai Promosi Launching Trandskids Shop. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn, (II) Moh. Sigit, S.Sn Kata kunci: perancangan, paket media komunikasi visual, promosi, launching, Transkids Shop. Transkids Shop merupakan salah satu outlet khusus anak, yang masih baru di kota Malang. Transkids Shop berada di daerah kompleks perumahan Sawojajar kota Malang. Letak yang strategis dekat dengan beberpa SD, TK, dan bimbingan belajar membuat Transkids Shop menjadi outlet khusus anak yang potensial di kota Malang. Selain itu Transkids Shop sendiri juga memiliki keunggulan yang berbeda dan belum ada, yaitu menyediakan produk anak-anak yang sekaligus memberikan unsur edukasi terutama dalam mempelajari bahasa Inggris untuk anak usia 4-11 tahun. Perancangan ini bertujuan untuk memperkenalkan, mempromosikan dan membentuk citra dari Transkids Shop secara efektif dan efisien, melalui konsep desain yang sesuai dengan program promosi launching Transkids Shop serta wujud karya desain yang sesuai dengan target market yaitu orang tua dari anakanak usia taman kanak-kanak sampai sekolah dasar. Perancangan yang terbentuk berupa paket media promosi launching Transkids Shop. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari observasi, dokumentasi dan wawancara. Berdasarkan data yang terkumpul dapat diketahui bahwa Transkids Shop membutuhkan media yang mampu memperkenalkan dan mengkomunikasikan citra Transkids Shop melalui sebuah launching event lomba mewarna dan menggambar “Colorfull of Transkids” yaitu sebuah kegiatan kreasi anak-anak tetapi tetap mengusung edukasi bahasa Inggris. Dipilihnya event lomba mewarna dan menggambar ini sebagai salah satu media komunikasi visual adalah karena Transkids Shop mencoba menampilkan produk dan keunggulan Transkids yang memiliki unsur pendidikan dalam pengenalan bahasa Inggris. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah perlunya paket media promosi yang tepat dan efektif dalam launching produk yang baru sehingga tujuan untuk menjadi outlet dan brand yang berkualitas dapat terwujud.

Ta'lim al-qowaid al-nahwiyyah wa al-iktisab al-tilmidzat li anashiriha al-nahwiyyah fi tarkibi al-jumlah fi al-madrosah al-diniyah bi al-ma'had al-ashry al-Rifa'ie / Arif Widodo

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif TGT (Teams Games Tournament) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas VII A SMPN 1 Pucuk Lamongan / Enik Amalia

 

Abstrak Amalia, Enik. 2008. Fluktuasi Kepadatan Populasi Wereng Hijau (Empoasca sp.) Pada Tanaman Teh (Camellia sinensis L. O. K) Klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 Di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang Pada Musim Penghujan. Skripsi: Progam Studi Biologi. Pembimbing: (I) Drs. Fatchur Rohman, M. Si, (II) Drs. Faturrachman, M. Si. Kata kunci: Fluktuasi, kepadatan populasi, Empoasca sp, klon tanaman teh. Indonesia merupakan negara produsen teh kelima terbesar di dunia setelah India, Cina, Sri Langka dan Kenya. Sejak tahun 1998 di perkebunan teh Jawa Barat telah muncul hama baru yaitu wereng hijau Empoasca sp. Akibat serangan hama wereng tersebut produksi teh mengalami penurunan sekitar 50% dalam 45 hari (Dharmadi, 1999). Telah dilakukan beberapa cara untuk mengendalikan hama tersebut antara lain sanitasi peralatan panen, pemangkasan tanaman teh, dan pengendalian hama dengan menggunakan musuh alami (predator). Populasi serangga hama di alam tergantung pada faktor iklim, yaitu curah hujan, suhu, kelembaban udara, dan faktor biotik seperti jumlah dan kualitas makanan, musuh alami, dan kompetisi antar atau inter spesies (Widayat, 1987:16). Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui fluktuasi kepadatan populasi Emposca sp. pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar, 2) mengetahui faktor abiotik yang paling menentukan kepadatan populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar di kebun teh Wonosari Singosari Malang pada mesim penghujan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif eksploratif. Pengambilan sampel dilakukan antara bulan Desember 2006-Mei 2007. Tempat penelitian berada di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang dan di Laboratorium Ekologi Jurusan Biologi UM. Data yang diamati yaitu fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. yang meliputi dari fase telur, nimfa dan imago pada daun bagian peko, daun muda dan daun tua di klon Assamica datar, Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Faktor abiotik lingkungan yang diukur meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan air tanah, suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, kecepatan angin, dan curah hujan. Untuk mencari jumlah rerata kepadatan populasi relatif Empoasca sp. digunakan rumus: Dr = ni/N x 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Empoasca sp. pada klon Assamica datar memiliki kepadatan relatif tertinggi bila dibandingkan dengan klon Assamica lereng, TRI 2025 datar, TRI 2025 lereng dan TRI 2024 datar. Kepadatan populasi tertinggi berada pada klon Assamica datar fase imago yang berada pada daun tua yaitu sebesar 2 individu/daun dengan kepadatan relatif 60%, sedangkan fase nimfa kepadatan populasi tertinggi berada pada daun muda yaitu 1 individu/daun dengan kepadatan relatif 47,06%. Selama pemetikan Empoasca sp. fase telur tidak ditemukan. Secara umum kepadatan populasi Empoasca sp terbanyak berada pada klon Assamica datar pada daun muda fase imago. Faktor i ii abiotik yang paling menentukan fluktuasi kepadatan populasi Empoasca sp. adalah suhu udara, suhu tanah dan curah hujan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diadakan penelitian lebih lanjut mengenai fluktuasi kepadatan populasi wereng hijau (Empoasca sp.) pada tanaman teh (Camellia sinensis L. O. K) klon Assamica, TRI 2025 dan TRI 2024 di Kebun Teh Wonosari Singosari Malang pada musim kemarau dan diadakan penelitian lebih lanjut tentang daya serang wereng hijau (Empoasca sp.) terhadap tanaman teh.

Implementasi pembelajaran model problem posing-STAD untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar pokok bahasan pengenalan ilmu statika dan tegangan siswa kelas X Teknik Permesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen / Teguh Pratomo

 

ABSTRAK Pratomo, Teguh. 2009. Implementasi Pembelajaran Model Problem Posing-STAD Untuk Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Pokok Bahasan Pengenalan Ilmu Statika dan Tegangan Siswa Kelas X Teknik Pemesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T., M.Pd. (II) Drs. H. Yoto, S.T., M.Pd., M.M. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, problem posing-STAD, motivasi belajar, prestasi belajar. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang berasosiasikan pada pendekatan konstruktivisme. Pada dasarnya belajar kooperatif lebih menekankan belajar bersama atau berinteraksi dengan teman. Metode ini mampu menyediakan kondisi yang menyebabkan siswa satu dengan yang lainya saling aktif berinteraksi dan berlomba untuk meningkatkan hasil belajar. Pembelajaran model problem posing-STAD merupakan pembelajaran yang menggabungkan aspek konstruktivisme dan kooperatif yang bertujuan supaya siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat, dan keaktifan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada pelaksanaanya problem posing-STAD diterapkan pada saat diskusi kelompok. Pada tahap diskusi kelompok selain siswa mendapat lembar kerja informasi dari guru, siswa juga melakukan kegiatan menyusun soal serta menyelesaikannya. Penelitian ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, tanggal 21 Oktober sampai 6 November 2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Teknik Pemesinan 3 SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen tahun pelajaran 2008/2009. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi. Hasil penelitian diperoleh adalah pembelajaran model problem posing-STAD pada matadiklat PDTM pokok bahasan Pengenalan Ilmu Statika dan Tegangan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Pada aspek motivasi belajar, siklus I memiliki persentase sebesar 50,12% dan siklus II memiliki persentase sebesar 73,11%. Peningkatan persentase sebesar 22,99%. Pada aspek prestasi belajar, siklus I memiliki persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 78,60% dan siklus II memiliki persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 83,30%. Peningkatan persentase sebesar 4,70%. Nilai rata-rata siklus I sebesar 80,30, sedangkan siklus II sebesar 86,25. Peningkatan persentase sebesar 5,95%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan melakukan penelitian tentang pembelajaran dengan menggunakan model problem posing-STAD pada permasalahan pembelajaran yang memiliki karakteristik yang sama, dan memberikan variasi dalam pembelajaran PDTM dengan pendekatan problem posing-STAD, seperti diberikan permainan saat menukarkan soal, agar siswa tidak merasa bosan dan lebih termotivasi untuk membuat soal.

Pengaruh komitmen organisasi dan kepuasan kerja terhadap intensi turnover pada karyawan PT. Bank Bukopin Tbk. Cabang Malang / Nurhadi Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Nurhadi. 2009. Pengaruh Komitmen Organisasi dan Kepuasan Kerja terhadap Intensi Turnover pada Karyawan PT. Bank Bukopin Tbk Cabang Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Diyah Sulistyarini, M.Psi. Kata Kunci : Komitmen Organisasi, Kepuasan Kerja, Intensi Turnover. PT. Bank Bukopin Tbk termasuk kelompok bank menengah di Indonesia dari sisi asset. Menjadi bank yang terpercaya dalam pelayanan jasa keuangan adalah visi dari Bank Bukopin. Jika kita bicara tentang pelayanan tentu saja berkaitan dengan karyawan. Perusahaan tentu akan berusaha meningkatkan pelayanan tersebut dengan berbagai cara, diantaranya memperhatikan komitmen organisasi dan kepuasan kerja karyawan. Karena kinerja perusahaan yang sudah sangat baik sekalipun dapat dirusak oleh perilaku karyawan secara langsung maupun tidak. Salah satunya adalah keinginan berpindah (turnover intentions) yang berujung pada keputusan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya (turnover). Komitmen organisasi dan kepuasan kerja adalah determinan peting bagi adanya turnover yang di dahului oleh intensi turnover. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan eksplanasi. Subjek penelitian adalah karyawan Bank Bukopin yang berjumlah 40 orang, dengan teknik pengambilan sampel random sampling. Instrumen pengambilan berupa skala komitmen organisasi, kepuasan kerja, dan intensi turnover. Data penelitian dianalisis dengan teknik analisis regresi linier sederhana dan teknik analisis regresi linier ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap intensi turnover. Variabel komitmen organisasi memberikan kontribusi sebesar 21,9% terhadap intensi turnover; 2) Kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap intensi turnover. Variabel kepuasan kerja memberikan kontribusi sebesar 47,0% terhadap intensi turnover; 3) Komitmen organisasi dan kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap intensi turnover. Variabel komitmen organisasi dan kepuasan kerja secara simultan mampu menjelaskan variabel intensi turnover sebesar 47,6%, selebihnya sebesar 52,4% di jelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Namun ternyata ketika bersamaan itu, variabel kepuasan kerja yang lebih berpengaruh terhadap intensi turnover dari pada komitmen organisasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: 1) Kepada perusahaaan untuk lebih memperhatikan kepuasan kerja dari pada komitmen organisasi. Dengan itu perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawannya yang saat ini berada di tingkat sedang. Karena jika tidak diperhatikan dengan baik maka bisa menjadi turun dan pada akhirnya membuat intensi turnover naik menjadi tinggi; 2) Sedangkan bagi peneliti selanjutnya yang berminat membahas intensi turnover disarankan untuk melakukan penelitian secara lebih lengkap dan komprehensif dengan cara menambah variabel-variabel yang mempengaruhi intensi turnover.

Penciptaan suasana belajar pada pelaksanaan program pelatihan otomotif sepeda motor di UPT Pelatihan Kerja Singosari-Malang Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur / Siska Mida Risifa Lutviana

 

ABSTRAK Lutviana, Siska, Mida, Risifa. 2009. Penciptaan Suasana Belajar dalam Pelaksanaan Program pelatihan Sepeda Motor di Unit Pelaksana Teknis Pelatihan Kerja (UPTPK) Singosari. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing 1: Prof, Drs. M Saleh Marzuki, Pembimbing 2: Drs. M. A. Prawoto M.Pd. Kata kunci: penciptaan suasana belajar, pelatihan, sepeda motor . Fokus penelitian; (1) bagaimana persepsi instruktur terhadap penciptaan suasana belajar, (2) bagaimana cara instruktur menciptakan suasana belajar yang kondusif, (3) bagaimana gambaran suasana belajar yang terjadi secara umum pada peristiwa-peristiwa dan kegiatan belajar yang dilaksanakan, (4) Apa yang menjadi pendukung dan penghambat penciptaan suasana belajar yang kondusif. Dalam menjawab rumusan masalah tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik; wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisa data menggunakan pendekatan teori/pendapat dari para ahli tentang pelatihan dan penciptaaan suasana belajar. Sebelumnya melalui tahap reduksi data, display data dan verifikasi/ mengambil kesimpulan. Pengecekan data menggunakan ketekunan pengamatan, triangulasi, kecukupan referensial. Hasil analisis data dalam penelitian ini; Instruktur pelatihan Sepeda Motor belum memahami pentingnya suasana belajar bagi peserta pelatihan hal ini di upayakan untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta pelatihan. Dipastikan bahwa instruktur belum dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif dalam pelaksanaan pelatihan sepeda motor di UPTPK Singosari. Suasana belajar dalam pelatihan otomotif sepeda motor hendaknya tidak hanya mengacu pada lingkungan fisik saja tetapi lingkungan sosial dalam pelatihan harus disesuaikan. Menata lingkungan belajar pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Suasana belajar yang baik disini dapat disimpulkan bahwa dimana suasana belajar tersebut dapat membangkitkan gairah belajar peserta pelatihan, artinya suasana belajar harus mampu memotivasi peserta pelatihan dalam belajar. Suasana belajar Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang di miliki sekolah seperti lampu, fentilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai untuk siswa, dan lain sebagainya. Lingkungan sosial yang baik memungkinkan para siswa untuk berinteraksi secara baik, siswa dengan siswa, guru dengan siswa, guru dengan guru, atau guru dengan karyawan, dan siswa dengan karyawan, serta secara umum interaksi antar personil. Faktor pendukung dan penghambat penciptaan suasana belajar pada proses belajar mengajar, faktor pendukungnya yaitu inti dari pada proses pelatihan secara keseluruhan dengan instruktur (pendidik) sebagai pemegang peranan utama. Faktor penghambatnya yaitu dalam posisi sebagai pembelajar yang seringkali mendengarkan, mengamati, dan menilai cara pengajar dalam menyampaikan materi, bahkan yang paling ekstrim, apabila peserta pelatihan tidak menyukai cara pengajar mengajar baik karena sulit dimengerti ataupun karena faktor bosan seringkali mengabaikannya, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Faktor pengajar dalam proses kegiatan belajar-mengajar memang sangat berpengaruh sekali terhadap motivasi pembelajaran, meski memang ada juga siswa yang mandiri, yang tidak terpengaruh terhadap faktor pengajar karena dia mau belajar sendiri. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran (1) kepada pihak instruktur diharapkan agar dapat memaksimalkan lagi penciptaan suasana belajar dalam pelaksanaan pelatihan sepeda motor di UPTPK Singosari dalam upaya untuk meningkatkan motivasi belajar peserta pelatihan, baik dalam penciptaan suasana belajar fisik maupun non fisik, (2) instruktur diharapkan mampu memberikan penyegaran di sela-sela proses pembelajaran seperti mengadakan permainan (ice breaking) hal ini sangat berguna untuk mengatasi kejenuhan dalam proses belajar mengajar, (3) juga diharapkan suasana kekeluargaan antara pimpinan, staf, trainer dan peserta pelatihan perlu dijalin dan lebih ditingkatkan agar para peserta pelatihan bisa lebih berkonsentrasi pada pembelajaran sehingga akan tercipta suasana pembelajaran yang kondusif.

Uji organoleptik sarabba instan dengan perbandingan persentase yang berbeda antara susu dan santan / Yuventia Amalia

 

ABSTRAK Amalia, Yuventia. 2009. Uji Organoleptik Sarabba Instan Dengan Perbandingan Persentase Susu dan Santan Yang Berbeda. Tugas Akhir. Program Studi DIII Tata Boga. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Umi Rohajatien, M. P. (II) Dra Titi Mutiara Kiranawati, M.P. Kata Kunci : Sarabba, susu, santan, rempah, organolepik. Sarabba merupakan minuman penghangat badan yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. Terbuat dari bahan rempah-rempah. yang terdiri dari santan, jahe, gula, kayu manis, sereh, merica, garam. Tetapi untuk mempermudah pemasarannya, maka Sarabba dibuat dalam bentuk yang lain yaitu dalam bentuk instan. Pada dasarnya proses pembuatan Sarabba tidak menggunakan susu, namun pada penelitian ini akan dilakukan pembuatan Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan yang berbeda. Perbandingan susu dan santan dalam Sarabba instan tidak mengurangi rasa khas dari Sarabba. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tentang pembuatan Sarabba instan dengan perbandingan persentase santan dan susu dalam jumlah yang berbeda yaitu 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%. Pengamatan dilakukan terhadap sifat organoleptik dan tingkat kesukaan panelis yang meliputi warna, tekstur, rasa, dan aroma. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam. Karena ada perbedaan maka, dilanjutkan dengan Duncan´s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sangat nyata rasa, warna, tekstur , dan aroma terhadap Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%. Skor tertinggi rasa dari Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 75%:25% adalah rasa manis pedas gurih (3,57), skor tertinggi tekstur pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25% adalah kering berbutir halus (3,52), dan skor tertinggi warna pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25 adalah coklat pudar (3,38). skor tertinggi aroma pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25 adalah aroma susu kuat (3,57). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa terhadap perbedaan sangat nyata rasa, warna, tekstur , dan aroma pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%, 50%:50%, dan 75%:25%. Skor tertinggi rasa dari Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 25%:75% adalah suka (58,33%), skor tertinggi tekstur pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 25%:75% adalah suka (65%), dan skor tertinggi warna pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 25%:75% adalah suka (66,67%). skor tertinggi aroma pada Sarabba instan dengan perbandingan susu dan santan 75%:25 adalah suka(58,33%). Untuk memperoleh Sarabba instan yang disukai disarankan menggunakan perlakuan perbandingan susu dan santan sebanyak 25%:75%.

Pengaruh ekuitas merek terhadap loyalitas konsumen (studi pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia) / Dini Oktapiany

 

ABSTRAK Kata Kunci: ekuitas merek, loyalitas konsumen. Perkembangan teknologi pada saat ini berkembang cukup pesat, salah satunya adalah perkembangan komunikasi. Perkembangan komunikasi berkembang dari alat komunikasi yang menggunakan telepon kabel beralih menjadi telepon selular (handphone) yang memiliki keunggulan dan kualitas yang hampir sama dengan telepon kabel bahkan malah melebihi telepon kabel tersebut. Handphone merupakan produk yang memiliki high technology dengan harga yang relative mahal, sehingga didalam melakukan keputusan pembelian maka seorang konsumen akan memiliki keterlibatan yang tinggi. Perkembangan pasar Hanphone di Indonesia pada saat ini berkembang dengan cukup pesat, hal ini ditandai dengan semakin banyaknya produsen handphone yang bermunculan yang memasarkan produknya salah satunya adalah Nokia. Nokia merupakan perusahaan Handphone yang berasal dari negara Finlandia. Salah satu cara didalam memenangkan persaingan pasar adalah dengan menggunakan ekuitas merek. Ekuitas merek dari sebuah produk memiliki peranan yang penting didalam mempengaruhi loyalitas konsumen, demikian juga dengan ekuitas merek yang dimiliki oleh Handphone Nokia. Ekuitas merek merupakan seperangkat aset yang dimiliki oleh suatu merek atau perusahaan yang akan menjadi identitas dari sebuah produk atau perusahaan, dan hal tersebut akan membedakannya dengan produk pesaing yang ada dipasar. Brand equity akan akan memberikan nilai tambah atau lebih terhadap sebuah merek produk apabila unsur-unsur yang ada didalam ekuitas merek produk tersebut dapat mewakili karakteristik produk dan karakteristik segmen pasar. Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Ekuitas Merek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ekuitas Merek (X) yang terdiri dari kesadaran merek (X1), asosiasi merek (X2), persepsi kualitas (X3), dan loyalitas merek (X4 ) secara parsial maupun simultan terhadap Loyalitas Konsumen. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random Sampling yaitu menentukan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata tertentu yang terdapat pada responden, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 99 orang konsumen (mahasiswa) yang menggunakan handphone Nokia di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS Versi 13.00. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kesadaran merek (X1 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara asosiasi merek (X2 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara persepsi kualitas (X3 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Terdapat pengaruh yang signifikan antara loyalitas merek (X4 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia. Terdapat pengaruh yang signifikan antara kesadaran merek (X1 ), asosiasi merek (X2 ), persepsi kualitas (X3 ), dan loyalitas merek (X4 ) terhadap loyalitas konsumen pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang pengguna handphone Nokia Dari hasil yang diperoleh dari penelitian ini, penulis memberikan saran untuk perusahaan yaitu, agar perusahaan dapat mempertahankan dan dapat mengelola dengan baik ekuitas merek handphone Nokia, karena brand equity suatu produk dapat berubah dan dapat mempengaruhi loyalitas konsumen. Dalam mengelola brand equity dapat dilakukan dengan melalui media promosi, terus melakukan inovasi terhadap produk, dan peningkatan kualitas layanan pada Nokia Customer Service. Selain itu peneliti juga memberikan saran kepada peneliti selanjutnya agar menggunakan variabel bebas yang lain dan yang lebih banyak untuk mengetahui pengaruhpengaruh variabel ekuitas merek terhadap suatu produk.

Implementasi hasil pelatihan otomotif dalam memberi peluang kerja bagi anak jalanan di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang (studi kasus pada anak jalanan warga belajar pelatihan otomotif di SKB Kota Malang) / Nugroho Dwi Prayogi

 

ABSTRAK Prayogi, Nugroho, Dwi. 2009. Implementasi Hasil Pelatihan Otomotif Dalam Memberi Peluang Kerja Bagi Anak Jalanan Di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang (Studi Kasus Pada Anak Jalanan Warga Belajar Pelatihan Otomotif Di SKB Kota Malang). Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Abdillah Hanafi, M.Pd. (II) Drs. Ahmad Mutadzakir, M.Pd. Kata Kunci: Implementasi, anak jalanan, sanggar kegiatan belajar SKB Kota Malang telah menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan otomotif kepada anak jalanan. Salah satunya adalah pelatihan otomotif sepeda motor. Tujuan penelitian untuk menelaah dan mengkaji secara lebih dalam guna mengetahui, implementasi hasil pelatihan otomotif dalam memberi peluang kerja bagi anak jalanan di sanggar kegiatan belajar (SKB) kota malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Kemampuan yang dikuasai anak jalanan dalam bidang otomotif sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan otomotif di SKB Kota Malang, (2) Implementasi hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang, (3) Implementasi kemampuan yang sudah dikuasai (hasil belajar) hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang pada saat bekerja di bengkel milik orang lain, (4) Faktor pendukung dan penghambat yang ditemui anak jalanan dalam menerapkan hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang pada saat bekerja di bengkel milik orang lain, (5) Dampak hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang bagi anak jalanan dalam kehidupan Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif, karena dalam penelitian ini bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang di alami oleh subjek penelitian secara holistik (utuh) dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata – kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus. Tipe studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe studi kasus deskriptif. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah dua orang anak jalanan yang pernah mengikuti pelatihan otomotif di SKB Kota Malang dan saat ini telah bekerja di bengkel milik orang lain. Teknik pengumpulan data dalam penelitan ini menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Prosedur analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, display data, dan pengambilan keputusan atau verifikasi. Sedangkan untuk pemeriksaan keabsahan data peneliti menggunakan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Peserta tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan sama sekali sebelum mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh SKB Kota Malang. Setelah mengikuti pelatihan otomotif sepeda motor di SKB Kota Malang anak jalanan tersebut mengalami peningkatan kemampuan baik pengetahuan dan keterampilan dalam bidang otomotif sepeda motor. (2) Anak jalanan menerapkan atau menggunakan materi yang diterima pada saat pelatihan otomotif sepeda motor di SKB dengan bekerja di bengkel sepeda motor milik orang lain. (3) Anak jalanan tersebut telah mampu menggunakan atau menerapkan materi yang diperoleh dari pelatihan otomotif di SKB ke dalam situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa pada kemampuan untuk memperbaiki sistem transmisi anak jalanan tersebut merasa kurang i dapat mengerti tentang apa yang disampaikan sehingga anak jalanan tersebut tidak dapat menerapkan ke dalam situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. (4) Faktor motivasi, disiplin, materi, praktek dan kegiatan magang merupakan faktor pendukung bagi anak jalanan dalam menerapkan hasil pelatihan otomotif ke dalam situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. Untuk faktor penghambat anak jalanan tersebut merasa kurang dapat mengerti materi tentang sistem transmisi, materi pelatihan yang terkadang menggunakan bahasa Inggris sehingga hal tersebut menghambat anak jalanan dalam menerapkan ke situasi nyata di tempat sekarang mereka bekerja. Rasa solidaritas, dimana anak jalanan yang pernah mengikuti pelatihan otomotif tetapi memilih kembali ke jalan karena adanya rasa solidaritas antar teman. Faktor pada saat magang juga mempengaruhi mereka dalam menerapkan hasil pelatihan otomotif di SKB Kota Malang, pada saat mereka melakukan praktek atau magang di bengkel – bengkel sepeda motor mereka merasa kurang mendapat kepercayaan untuk melakukan pekerjaan yang semestinya. (5) Dampak pelatihan otomotif bagi anak jalanan dalam kehidupan adalah anak jalanan tersebut mengalami perubahan berupa peningkatan kemampuan baik pengetahuan dan keterampilan dalam bidang otomotif sepeda motor, anak jalanan tersebut juga telah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik yaitu bekerja di bengkel, anak jalanan juga mendapatkan penghasilan yang secara langsung meningkatkan taraf hidup mereka dari keadaan sebelumnya dan mereka tidak lagi turun ke jalan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa sebaiknya pihak SKB selaku penyelenggara pelatihan dan kepada pihak – pihak lain yang memberikan bantuan pelatihan atau berhubungan dengan pemberdayaan anak jalanan sebaiknya senantiasa melakukan pemantauan, pendampingan dan pemberian motivasi bagi anak jalanan yang telah mengikuti pelatihan agar anak jalanan tersebut tidak kembali turun ke jalan. Istilah dari materi yang diberikan sebaiknya tidak menggunakan dalam bahasa Inggris karena anak jalanan merasa kurang dapat mengerti materi pelatihan apabila materi itu menggunakan bahasa Inggris. Tutor pelatihan sebaiknya memberikan materi tentang transmisi yang lebih mudah dimengerti oleh peserta pelatihan. Pihak SKB sebaiknya melakukan perjanjian dengan pihak tempat magang, dimana anak jalanan tersebut bisa melakukan pekerjaan yang semestinya. Bagi Pemerintah khususnya Pemerintah Kota Malang diharapkan semakin menggalakkan program – program pemberdayaan masyarakat seperti pelatihan – pelatihan kepada anak – anak jalanan. Disarankan pula perlunya dilakukan penelitian lanjut dengan menggunakan metode kuantitatif untuk dapat mengeneralisasikan hasil penelitian.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep perubahan fisika dan kimia pada siswa SMPN 8 Malang / Supatmiati

 

Pada tahun 2006, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diperbaharui menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP, sains merupakan salah satu mata pelajaran di SMP yang merupakan kajian secara simultan dari aspek biologis, fisis dan kimia. Untuk aspek kimia, sains mengkaji berbagai fenomena atau gejala kimia baik pada makhluk hidup maupun pada benda mati yang ada di alam semesta (Depdiknas, 2006). Menurut Depdikbud (1980: 12-13) ilmu kimia mempelajari zat dari segi struktur, susunan atau komposisi, perubahan susunan, mekanisme dan perubahan energi yang menyertainya. Sementara Slabaugh dan Parsons (dalam Effendy, 2002: 2) mendefinisikan ilmu kimia yaitu ilmu tentang sifat zat, perubahan zat, serta konsep dan teori yang menafsirkan atau menjelaskan perubahan zat. Ilmu kimia memiliki ciri-ciri yang khas, seperti diungkapkan Kean dan Middlecamp (1985: 5-9) bahwa sebagian besar konsep kimia bersifat abstrak, ilmu kimia yang dipelajari merupakan penyederhanaan dari yang sebenarnya, materi berurutan dan berkembang dengan cepat, tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal, bahan yang dipelajari sangat banyak. Lebih lanjut, Sastrawijaya (1988: 115) menyebutkan bahwa suatu konsep yang kompleks dalam sains hanya dapat dipahami jika konsep-konsep yang lebih fundamental yang membentuk konsep baru telah benar-benar dipahami. Hal ini sesuai dengan pendapat Gagne dalam Sastrawijaya (1988: 115) bahwa mempelajari kumpulan pengetahuan yang berurutan tergantung pada penguasaan kumpulan pengetahuan sebelumnya.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |