Laporan akhir PKMM meseum zoologi FR. M. Vianney, BHK / A. Yoseph I.R. ... [et al.]

 

Kayu merupakan kebutuhan bahan baku yang sangat penting dan diperlukan oleh masyarakat dalam berbagai bidang, seperti pembuatan APE (Alat Peraga Edukasi) dengan bahan dasar kayu. Pengrajin APE (Alat Peraga Edukasi) dengan bahan dasar kayu selama ini kebanyakan masih menggunakan pahat tangan konvensional untuk membuat media belajar tersebut. Untuk mengerjakan atau membuat Alat Peraga Edukasi dengan tingkat kedetailan desain yang cukup rumit, para pengrajin biasanya melimpahkan pekerjaan kepada perusahaan yang memiliki mesin lebih canggih, atau bahkan membeli sendiri mesin dengan harga yang cukup mahal dan dimensi yang cukup besar. Dengan diciptakannya mesin ini, diharapkan mampu menekan biaya produksi dan peningkatan devisa dari seni kriya kayu yang menjanjikan seperti sakarang ini. Proses pembuatan APE (Alat Peraga Edukasi) pada dasarnya memerlukan berbagai macam peralatan. Dimana peralatan itu untuk berbagai proses pemotongan, penghalusan, pengecatan, serta kegiatan kerajinan yang lainnya. Pembuatan APE dilakukan dengan beberapa tahap, diawali dari proses pengumpulan bahan baku yaitu kayu. Kayu yang dipilih merupakan kayu yang memiliki serat halus, lurus, tidak berlubang dan tidak ada lendutan atau tidak bergelombang. Pemilihan jenis kayu ini dimaksudkan untuk mendapatkan finishing yang halus dan memiliki serat indah serta untuk memperoleh hasil produk yang berkualitas. Dari permasalahan diatas maka dibuat mesin gergaji profil kayu yang berfungsi untuk menggergaji bentuk profil kayu itu sendiri. Penulis membuat mesin gergaji profil kayu yang lebih efektif dan efisien dengan hasil atau luaran keunggulan sebagai berikut: mesin ini memiliki variasi dalam membuat bentuk profil, selain dapat membuat profil luar dapat juga membuat profil dalam seperti: huruf O, A, B. Hal ini dibuktikan dengan meja kerja pada mesin yang penulis rencanakan dapat dimiringkan hingga membentuk sudut 45°, sehingga bisa membuat profil bersudut. Dimensi mesin juga cukup kecil (dengan Panjang Mesin (p) = 0,52 m; Lebar Mesin (l) = 0,48 m; dan Tinggi Mesin (h) = 0,5 m ) sehingga tidak menyita ruang kerja cukup besar dan mudah dipindah-pindah. Mesin ini juga dapat membuat profil berlubang tanpa merusak desain yang hendak dibuat.

Pemanfaatan benda-benda sekitar lingkungan kelas untuk peningkatan pembelajaran menulis deskripsi bagi siswa kelas IV MI.Ma'arif Ngering Legok Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan / Azkiyah

 

ABSTRAK Azkiyah, 2009. Pemanfatan Benda – Benda Sekitar Lingkungan Kelas Untuk Peningkatan Pembelajaran Menulis Deskripsi Bagi Siswa Kelas IV MI.Ma’arif Ngering Desa Legok Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Skripsi Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Sjafruddin A. Rahman,S.Pd.M.Pd. (2) Drs. Harry Poerwanto, S.Pd.M.Pd Kata kunci : Benda – benda lingkungan kelas, pembelajaran bahasa Indonesia, menulis deskripsi. Di sekolah dasar keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan yang ditekankan pembinaannya, di samping membaca dan berhitung. Pembelajaran menulis menuntut kerja keras guru untuk membuat pembelajarannya di kelas menjadi kegiatan yang menyenangkan, sehingga siswa tidak merasa dipaksa untuk dapat membuat sebuah karangan, tetapi sebaliknya, siswa merasa senang karena diajak untuk mengarang dan menulis. Penelitian ini berlatar belakang kekurangberhasilan pembelajaran Bahasa Indonesia pada aspek keterampilan menulis jenis karangan deskripsi berdasarkan pengalaman di sekolah, khususnya di MI.Ma'arif Ngering Gempol Pasuruan. Kekurangberhasilan tersebut disebabkan siswa tidak semangat dan kurang tertarik kepada pembelajaran menulis karangan deskripsi. Penyebabnya adalah Siswa belum mampu mengembangkan karangan sesuai dengan cirri karangan deskripsi. Dan siswa belum dapat memilih kosa kata yang tepat dalam mempertajam karangan Deskripsinya. Kwalitas tulisan yang dihasilkan siswa masih rendah dan kemampuan siswa dalam menggunakan tanda baca pun masih belum maksimal. Masalah yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah pengefektifan pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan memanfaatkan benda – benda lingkungan kelas sebagai sumber belajar pada siswa kelas IV semester 1 MI.Ma’arif Ngering tahun pelajaran 2009/2010. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan benda – benda lingkungan kelas untuk meningkatkan pembelajaran menulis Deskripsi pada siswa kelas 4 MI.Ma'arif Ngering dan penerapan pembelajaran dengan memanfatkan benda – benda lingkungan kelas dapat meningkatkan keterampilan menulis Deskripsi siswa kelas 4 MI.Ma'arif Ngering. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dua siklus. Data yang diperoleh dianalisis secara deskripsi kuantitatif dan deskripsi kualitatif. Pemerolehan data kuantitatif dilakukan dengan melakukan tes hasil kerja siswa dan data secara kualitatif dilakukan dengan melakukan observasi atau pengamatan. Hasil analisis data menunjukkan tingkat ketuntasan pada pra-Siklus sebesar 36,4 %, Siklus I 68,2 %, dan pada akhir siklus II mencapai 90,9 %. Hal ini berarti bahwa kemampuan siswa kelas IV dalam menulis karangan deskripsi dengan memanfaatkan benda – benda lingkungan kelas mengalami peningkatan serta dapat menciptakan suasana pembelajaran yang baru dan menyenangkan bagi siswa.

Pengaruh penggunaan Hydrocarbon Crack System (HCS) dengan variasi putaran mesin dan variasi pembukaan katup air mix di intake manifold terhadap konsumsi bahan bakar, daya motor dan emisi gas buang pada sepeda motor Yamaha Mio-J FI tahun 2013 / Pragunanda Andika Wahyu Sa

 

ABSTRAK Saputra, Pragunanda Andika Wahyu. 2015. Pengaruh Penggunaan Hydrocarbon Crack System (HCS) Dengan Variasi Pembukaan Katup Air Mix Di Intake Manifold Dan Putaran Mesin Terhadap Konsumsi Bahan Bakar,Daya Motor Dan Emisi Gas Buang Pada Sepeda Motor Yamaha Mio-J Fi Tahun 2013.Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Drs. Ir. Mustaman, M.Pd.,(II)Drs. Imam Muda Nauri, S.T., M.T., Kata Kunci: Hydrocarbon Crack System (HCS), variasi pembukaan katup air mix di intake manifold, konsumsi bahan bakar, daya motor, emisi gas buang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya keluhan pengguna Yamaha Mio-J FI yang disebabkan kualitas campuran udara dan bahan bakar kurus sehingga performa mesin kurang maksimal. Hal tersebut dapat diatasi dengan menambahkan gas hidrogen yang didapat dari penggunaan Hydrocarbon Crack System (HCS). Hydrocarbon Crack System (HCS) adalah sistempemecah atom hydrocarbon menjadi atom hydrogen (H) dancarbon (C) dengancaramenggunakanpipakatalisyang dipanaskan, sehinggasusunanikatansenyawahydrocarbonakanterurai. Serbukalumina oksidepadakatalisakanmengikatunsurcarbon dangas hydrogen (H) yang memilikinilaioktan>130 akanmasukkeruangkabar.Sehinggaakanmempercepat proses pembakaranpadaruangbakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaanhydrocarbon crack system (HCS) dengan variasi pembukaan katup air mix di intake manifolddanvariasi putaran mesin terhadap konsumsi bahan bakar,daya motor dan emisi gas buang pada sepeda motor Yamaha Mio-JFI tahun 2013. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan menggunakan analisis data uji anova satu arahdan post hoc dengan syarat data tersebut telah melaluiuji normalitas dan uji homogenitas. Berdasarkan hasil penelitian,peningkatan performa mesin pada pembukaan katup air mixture ½ putaran pada putaran mesin 1500 rpm adalah konnsumsi bahan bakar 25,3%, daya motor 15,3%, emisi gas buang menurun 28,5% kadar CO dan 15,8 ppm untuk kadar HC. Jika pada putaran mesin 3000 rpm konnsumsi bahan bakar 32,3%, daya motor 7,7%, emisi gas buang menurun 33,3% kadar CO dan 31,2 ppm untuk kadar HC. Sedangkan pada putaran mesin 5000 rpm konnsumsi bahan bakar 36%, daya motor 4,8%, emisi gas buang menurun 36,6% kadar CO dan 38,4 ppm untuk kadar HC dari kondisi standart. Hal tersebut dipengaruhi oleh ada peningkatan kualitas campuran udara dan bahan bakar yang dihasilkan karena adanya penambahan gas hydrogen yang dihasilkan oleh Hydrocarbon Crack System (HCS). Dapat disimpulkan bahwa pembukaan katup air mixtere ¼ dan ½ putaran akan mengalami peningkatan performa mesin karena kualitas campuran udara dan bahan bakar ideal. Sedangkan pembukaan katup air mixture ¾ dan 1 putaran akan mengalami penurunan performa mesin disebabkan karena kualitas campuran udara dan bahan bakar terlalu kaya.

Perancangan instalasi listrik pada gedung A3 Universitas Negeri Malang / Nurul Huda Ramadhani

 

Instalasi listrik mempunyai fungsi untuk menyalurkan energi listrik ke titik-titik beban seperti lampu, peranti, perlengkapan, mesin atau motor listrik. Secara umum instalasi listrik dapat digolongkan menjadi dua yaitu instalasi penerangan dan instalasi tenaga. Gedung A3 Universitas Negeri Malang sebagai pusat layanan mahasiswa harus memiliki sistem penerangan dan instalasi listrik yang baik dan memenuhi syarat untuk mendukung kelancaran aktivitas pengguna di dalamnya. Kurangnya perawatan dan usia komponen yang terlalu tua dapat mengurangi efisiensi dan faktor keamanan dari instalasi listrik itu sendiri. Oleh karena itu perlu dilakukan perancangan sesuai dengan standar-standar yang berlaku antara lain PUIL 2000 dan ketentuan-ketentuan lain yang mendukung. Perancangan yang dilakukan antara lain perancangan instalasi penerangan, perancangan instalasi tenaga, perancangan sirkit cabang dan sikit utama serta perancangan sistem pentanahan. Perancangan instalasi penerangan meliputi perancangan jumlah titik cahaya, perancangan tata letak titik cahaya dan perancangan sirkit akhir. Perancangan jumlah titik cahaya bergantung pada fungsi ruangan yang akan menentukan intensitas penerangan yang dibutuhkan. Perancangan instalasi tenaga yaitu perancangan sirkit akhir tenaga pada masing-masing lantai. Perancangan sirkit akhir instalasi tenaga meliputi pemilihan penampang penghantar dan arus pengenal gawai proteksi. Pemilihan penampang penghantar dilakukan dengan dua metode yaitu metode rapat arus dan metode rugi tegangan. Pemilihan gawai proteksi disesuaikan dengan penampang penghantar yang digunakan. Pada masing-masing lantai terdapat sirkit cabang penerangan, sirkit cabang tenaga dan sirkit cabang lantai yang menyuplai sirkit cabang penerangan dan tenaga. Perancangan sirkit cabang dan sirkit utama disesuaikan dengan beban yang ditanggung. Perancangan sistem pentanahan dilakukan dengan memperhatikan resistans jenis tanah di sekitar bangunan. Jumlah elektrode pentanahan yang dibutuhkan ditentukan dengan menyesuaikan resistans jenis tanah dengan resistans pembumian yang diinginkan. Hasil perancangan yang sesuai dengan standar diharapkan dapat dipakai sebagai pedoman apabila dikemudian hari diadakan kegiatan perawatan dan perbaikan instalasi listrik pada gedung A3 Universitas Negeri Malang.

Implementasi squid proxy server pada pc router berbasis linux mandriva di UPT SDN Mandaranrejo I Kota Pasuruan / Dendy Trisna Wijaya

 

Dampak negatif internet seperti situs porno, serta penggunaan bandwidth yang tidak merata merupakan kendala ketika memasukan internet sebagai bagian dari mata pelajaran di sekolah. Untuk itu diperlukan sebuah sistem untuk memblokir situs porno, dan untuk mengoptimalkan koneksi internet, maka diperlukan sebuah sistem manajemen bandwidth. Tugas akhir ini memiliki tujuan untuk membuat Squid Proxy Server yang berfungsi untuk memblokir situs porno dan manajemen bandwidth. Salah satu aplikasi porxy server yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah Squid V2.6 stable 13 yang memiliki lisensi GNU, kompatibel dengan linux, dan konfigurasinya yang relatif mudah. Perancangan dan pembuatan squid proxy server diawali dengan menginstal squid di PC-router berbasis linux mandriva, mengonfigurasi squid sebagai transparan proxy, mengonfigurasi delay pool sehingga setiap klien memperoleh bandwith 6 KB/s, mengonfigurasi squid untuk memfilter situs porno. Pengujian dilakukan dengan cara browsing ke internet untuk menguji transparan proxy dan filterisasi situs porno, mengukur bandwidth klien dengan bandwidth meter untuk menguji manajemen bandwidth. Dari hasil pengujian alat diperoleh data sebagai berikut: klien tidak dapat mengakses internet tanpa melalui proxy, bandwidth yang diterima oleh masing-masing klien sebesar 6 KB/s, klien relatif tidak dapat mengakses situs porno. Berdasarkan hasil yang dicapai maka dapat disimpulkan bahwa : Transparan proxy membelokkan akses internet dari klien melalui proxy server, delay pool membatasi bandwidth untuk masing-masing klien 6 KB/s, filterisasi situs porno untuk membatasi akses situs porno. Untuk pengembangan lebih lanjut disarankan: memperbarui daftar alamat situs porno seiring dengan perkembangan dan perubahan dari alamat situs porno tersebut.

Membangun WEB lokal pada server linux redhat 9.0 di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan / Akhmad Nasikhuddin

 

Server linux RedHat merupakan server tercepat dibandingkan dengan linux server lainnya, RedHat juga dapat digunakan sebagai client maupun PC desktop/PC standalone. Melalui server semua data-data itu bisa terorganisir dengan baik, setelah itu komputer di setiap ruangan yang terhubung dengan server akan bisa melakukan download atau pengambilan data tanpa harus meminta ke ruangan lain. Dalam membangun server RedHat dapat diketahui kecepatan akses dan kinerja web lokal pada server di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan. Proses pengembangan membangun server linux RedHat dilakukan dengan mengidentifikasi jaringan yang ada, perancangan hardware, instalasi system operasi sampai dengan setting IP address, DNS, FTP, samba serta web server. Dari perancangan dihasilkan server yang dibangun melalui program linux. Server ini mampu melewatkan paket data pada jaringan untuk kantor Dinas Pendidikan. Jaringan tersebut akan dibatasi dengan pengalamatan IP yang sudah di konfigurasi. Untuk melakukan aktifitas download dan Upload. Tiap komputer bisa melakukan download saja dan dibatasi masing-masing 128 Kbps. Sedangkan untuk komputer server di sini bisa melakukan download dan Upload.

Membangun PC router berbasis linux mandriva di UPT SDN Mandaranrejo I Kota Pasuruan / Dewi Masita

 

Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, komputer dan internet semakin marak dimasukkan sebagai bagian dari mata pelajaran di sekolah. Untuk itu diperlukan jaringan lokal dan koneksi internet yang handal. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang, membangun dan menguji PC Router Berbasis Linux Mandriva serta merancang, membangun dan menguji jaringan lokal yang terhubung ke PC Router di UPT SDN Mandaranrejo 1 Kota Pasuruan yang diharapkan dapat menunjang dunia pendidikan. Upaya untuk menanggulanginya agar dapat menghubungkan jaringan lokal tersebut dibuat sebuah PC router berbasis Linux Mandriva sebagai alternatif pengganti dedicated router yang sangat mahal. Pada perancangan dan pembuatan PC-router berbasis linux mandriva ini dimulai dengan instalasi sistem operasi linux mandriva, dilanjutkan dengan konfigurasi ethernet, konfigurasi IP forward, konfigurasi NAT (Network Address Translation), kemudian konfigurasi DHCP (Dinamic Host Configuration Protocol) server. Metode yang digunakan untuk mengetahui koneksi jaringan adalah menggunakan tes ping pada masing-masing klien dan untuk membuktikan koneksinya dilakukan browsing ke internet. Dari hasil perancangan, pembuatan dan pengujian menunjukkan bahwa jaringan lokal, koneksi antara PC Router dengan masing-masing klien terhubung dengan baik dan benar sesuai dengan masing-masing paket yaitu yang terkirim sebanyak 4, yang diterima sebanyak 4, dan yang hilang sebanyak 0 dengan replay time masing-masing

Miniatur sistem monitoring menggunakan CCTV didukung timing control traffic light berbasis SMS / Firman

 

Perkembangan teknologi pada bidang transportasi darat yaitu traffic light yang hingga kini masih menggunakan sistem manual maka cara seperti ini cukup menghabiskan waktu terutama untuk daerah yang memiliki banyak traffic light. Pada negara-negara maju contohnya Singapore, traffic light yang digunakan tidak lagi menggunakan sistem manual melainkan sudah menggunakan sistem otomatis dengan disertai kamera pemantau. Dimana untuk mengontrol traffic light. Maka operator tidak perlu melakukannya secara langsung pada lokasi traffic light tetapi bisa dari lokasi yang berbeda. Berdasarkan permasalahan di atas maka dirancang Miniatur Sistem Monitoring Menggunakan CCTV Didukung Timing Control Traffic Light Berbasis SMS yang mempunyai banyak keunggulan antara lain: biaya operasional yang relatif murah, jangkauan pengontrolan mengikuti operator selular, serta dapat melihat kepadatan arus lalu lintas secara langsung tanpa turun kelapangan. Tujuan dalam tugas akhir ini sebagai berikut: (1) Merancang timing control traffic light dengan menggunakan mikrokontroler Atmega16, (2) Merancang miniatur sistem traffic light, (3) Merancang sistem yang dapat melakukan pengendalian terhadap traffic light berbasis SMS dan Camera. Rangkaian timing control traffic light berbasis SMS terdiri atas: (1) HP pengirim dan penerima; (2) Database PC; (3) Mikrokontroler; (4) LED; (5) Max232; (5) Camera. User memasukkan data yang terdiri dari kode setting, jam, tanggal, bulan, tahun dan data tersebut disimpan dalam database PC. Apabila data (jam, tanggal, bulan, tahun) PC sama dengan data (jam, tanggal, bulan, tahun) yang diinputkan dalam database maka PC memerintahkan HP pengirim untuk mengirimkan SMS ke HP penerima yang berisi kode setting. Data yang diterima oleh HP penerima akan disalurkan pada IC Max232 melalui konektor RS-232. IC Max232 digunakan sebagai pengubah level tegangan pada konektor RS-232 menjadi level Transistor-Transistor Logic (TTL). Ketika mikrokontroler menerima sinyal (data setting) dari HP penerima, mikrokontroler terlebih dahulu memeriksa nomor HP pengirim. Apabila nomor HP pengirim benar, selanjutnya mikrokontroler melakukan eksekusi program sesuai dengan kode setting yang dikirimkan HP pengirim.

Rancang bangun sistem voip pada UPT SMK Negeri 1 Pasuruan / Mochamad Lukman

 

Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan untuk dapat saling bertukar informasi dan data, baik berupa gambar, video atau melewatkan jalur suara melalui jaringan komputer yang biasa disebut VoIP (Voice Over Internet Protocol). Layanan internet Jardiknas yang tersedia pada UPT SMK Negeri 1 Pasuruan sekaligus sebagai ICT Center Kota Pasuruan dapat digunakan sebagai alternatif untuk melakukan komunikasi suara yaitu dengan memanfaatkan teknologi VoIP. Dalam pembangunan sistem VoIP ini penulis akan membahas lebih rinci mengenai bagaimana merancang Sistem VoIP, mengkonfigurasi VoIP Server, dan mengkonfigurasi VoIP Client. Langkah pertama dengan menginstall VoIP Server Asterisk@Home 2.8, Konfigurasi IP Address pada VoIP Server, konfigurasi modul Asterisk, pembuatan SIP Extension, dan konfigurasi Video Call. Langkah kedua yaitu menginstall aplikasi X-Lte 3.0 pada VoIP Client dan registrasi VoIP Client pada VoIP Server. Dari langkah-langkah tersebut, dapat dihasilkan sistem VoIP dapat digunakan sebagai jalur komunikasi lokal antar ruang di lingkungan UPT SMK Negeri 1 Pasuruan, baik komunikasi audio mupun video call melalui koneksi internet Jardiknas yang telah ada. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah jaringan VoIP dengan Sistem Operasi Asterisk@Home 2.8 sebagai Aplikasi VoIP Server dan X-Lite 3.0 sebagai Aplikasi VoIP Client, dapat digunakan sebagai jalur komunikasi lokal di lingkungan UPT SMK Negeri 1 Pasuruan, baik komunikasi audio maupun video call dengan jumlah VoIP Client yang telah teregister ke VoIP Server berjumlah 10 Client dengan batas maksimal 252 Client sesuai dengan subnet pada jaringan yang telah dibangun. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut di sarankan dapat dilakukan analisis performansi VoIP dengan VoIP monitoring yang baik, dan dapat dilakukan komunikasi ke PSTN atau seluler, serta adanya koneksi internet dengan kapasitas bandwith yang memadai agar komunikasi yang dilakukan menghasilkan suara yang jernih tanpa adanya jitter dan delay yang signifikan.

Pengaruh faktor internal dan faktor eksternal terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Malang / Eka Hardiyanti

 

ABSTRAK Hardiyanti, Eka . 2010. Pengaruh Faktor Internal dan Faktor Eksternal Terhadap Prestasi Belajar Akuntansi Siswa Kelas XI Program Keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Malang . Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonmi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sri Pujiningsih , S.E, M.Si.AK (II) Triadi Agung .S, S.E, M. Si, AK Kata Kunci : Pengaruh, Faktor Internal dan Faktor Eksternal, Prestasi Belajar Dari pengamatan peneliti dan data empiris yang telah dikumpulkan sementara menunjukkan indikasi bahwa siswa kurang aktif selama proses pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar masih kurang memuaskan. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyak siswa yang tidak memenuhi standar kelulusan dalam ulangan harian dan harus melakukan pelaksanaan remidial.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi adanya faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Jenis penelitian kuantitatif eksplanasi dan dengan rancangan penelitian korelasional. Sampel penelitian menggunakan sampling porpusive yaitu seluruh siswa kelas XI program keahlian akuntansi tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Malang, pada tanggal 19 Oktober 2009. Untuk analisis data penelitian yang digunakan adalah analisis statistik Deskriptif dan analisis Statistik Inferensial dengan , analisis regresi berganda dan uji hipotesis . Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan antara faktor internal dan faktor eksternal terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Malang., ditunjukkan dengan hasil bahwa Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,044 X1 untuk peningkatan satu skor faktor minat (X1). Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,046X2 untuk peningkatan satu skor faktor motivasi (X2). Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,056X3 untuk peningkatan satu skor faktor bakat (X3). Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,025X4 untuk peningkatan satu skor faktor kesehatan jasmani (X4). Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,039X5 untuk peningkatan satu skor faktor Kebiasaan Belajar (X5). Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,034X6untuk peningkatan satu skor faktor Aktivitas Belajar (X6). Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,033X7 untuk peningkatan satu skor faktor Lingkungan Keluarga (X7). Prestasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,065X8 untuk peningkatan satu skor faktor Lingkungan Sekolah (X8). P restasi belajar siklus akuntansi (Y) rata-rata naik sebesar 0,039(X9 )untuk peningkatan satu skor faktor Lingkungan Masyarakat (X9). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan baik peneliti, siswa-siswi dan guru sebaiknya mengoptimalkan baik faktor internal dan faktor sksternal agar tercapainya prestasi belajar yang maksimal dan optimal. Faktor internal tetap diperlukan dalam memilih sekolah menengah. Untuk itu kita perlu tahu tentang diri siswa tersebut. Kita coba untuk menggali hal-hal yang diinginkan siswa tersebut, agar orang tua maupun orang lain (sebagai faktor eksternal) dapat benar-benar mengarahkan, dan bukan memberikan suatu pendapat atau argumen yang nantinya akan memberikan kesan pemaksaan terhadap siswa tersebut, sehingga siswa merasa nyaman, termotivasi, memiliki minat dan bakat, kebiasaan dan aktivitaas belajar yang baik dalam pelaksanaan proses belajar dan prestasinya pun akhirnya dapat diperoleh dengan maksimal. iv

Sistem kontrol suhu dan kadar air tanah pada tanaman anthurium / Kamilatul Amanah

 

Anthurium adalah tanaman yang bersifat epifit, yaitu mudah tumbuh pada media batang pepohonan yang membusuk atau tumbuh di pepohonan sehinggi pembudidayaan tanaman ini tidaklah sulit. Akan tetapi pembudidayaan tanaman ini yang baik perlu dikuasai untuk menghasilkan tanaman yang baik sehingga mampu menampilkan keindahan yang prima.. Dengan adanya alat yang bekerja secara otomatis pada ruangan miniatur anthurium ini, diharapkan dapat mempermudah para pengguna dalam bercocok tanam, agar tanaman tumbuh secara optimal dan mendapat hasil tanam yang sesuai dengan harapan. Prinsip kerja dari alat ini yaitu: Sensor kadar air berfungsi untuk mendeteksi tingkat kadar air tanah pada anthurium, yang kemudian tingkat kadar air yang telah terdeteksi dan dikonversikan menjadi sinyal digital oleh rangkaian ADC yang telah menjadi satu modul dengan mikrokontroler AVR ATmega8 yan kemudian diproses dan dikontrol oleh Mikrokontroler. Mikrokontroler tersebut berfungsi untuk mengontrol kipas satu, kipas dua dan media pengairan, dengan menggunakan driver relay untuk mengaktifkan pompa air driver transistor untuk mengaktifkan kipas. Sehingga dapat menentukan tingkat suhu dan kadar air tanah yang diinginkan untuk pertumbuhan anthurium. Jika tingkat suhu udara pada miniatur ruangan terlalu tinggi dari yang diharapkan, maka kipas akan aktif sampai tingkat suhu yang diharapkan. Sedangkan jika tingkat kadar air tanah kurang dari yang diharapkan, maka media pengairan, akan aktif atau bekerja sampai dengan kadar air yang diharapkan. Display (LCD) pada alat tersebut berfungsi untuk menampilkan tingkat suhu dan kadar air tanah yang terukur dan dapat memudahkan pengguna dalam pengecekan tingkat suhu dan kadar air tanah pada miniatur ruangan anthurium. Hasil dari pengujian yaitu: output tegangan rata-rata pada pengujian pertama sensor kadar air dengan kondisi tanah kering adalah 2,19 V; kondisi tanah normal adalah 1,8 V. Rata-rata suhu yang dihasilkan dari keempat sensor suhu pada pengujian pertama adalah 27,56% dengan rata-rata eror 0,89%.

Data logging pemakaian air PDAM pada konsumen menggunakan SMS / Hance Stenly Sambuaga

 

Untuk meningkatkan pelayanan terhadap pelanggan merupakan keinginan dari setiap perusahaan yang bergerak di semua bidang jasa termasuk perusahaan air yang ada di Indonesia yaitu PDAM. PDAM masih menggunakan cara manual sehingga dirasa kurang efektif karena petugas pencatat data meteran air, sering kali tidak bisa mencatat data meteran air disebabkan karena letak meteran air di dalam rumah yang terkunci pagar, sehingga menyulitkan petugas pencatat data meteran air. Selain itu juga mengganggu privasi pelanggan sehingga dalam kenyataan di lapangan akan timbul kekurangan-kekurangan yang dapat merugikan perusahaan air itu sendiri, seperti: keakuratan data yang tidak maksima, keaslian data, human error, dan waktu yang tidak effisien. Kelemahan ini mengakibatkan petugas harus datang pada hari selanjutnya hanya untuk mengetahui data meteran air pada setiap rumah tersebut. Cara kerja alat hampir sama dengan meteran air sebelumnya yang berbentuk analog yang mana alat ini menampilkan tarif harga pemakaian air. Yang kemudian dikembangkan dengan Proses pengirman dimulai dari keluaran mikrokontroler yang berupa data pemakaian air masuk ke handphone logging melalui komunikasi serial menggunakan ATCommand untuk pengkodean di handphone logginghandphone server data pemakaian air dimasukan ke database di PC. Pada tampilan database di monitor PC akan terlihat tabel data meteran air dari semua kelas, dimana pada tabel tersebut terlihat pemakaian-pemakaian air para pelanggan. Pada tampilan monitor PC juga bisa dilihat lebih spesifik ke kelas-kelas pelanggan yang terbagi dalam 16 kelas. Yang mana pengiriman data pemakian air dikirimkan setiap seminggu sekali data .pemakaian air akan di kirimkan ke kantor PDAM. Kesimpulan dari pengujian dan hasil analisis alat yaitu : Rangkaian peralatan yang dirancang dapat mencatat dan mengirimkan data pemakaian air para pelanggan menggunakan handphone. SMS yang dikirimkan oleh pencatat data meteran air dapat dibaca oleh PC Software yang dirancang dapat memonitor pemakaian air pelanggan Mikrokontroler dapat mengirimkan data pemakaian air setiap 1 bulan sekali. Aplikasi database pada PC dapat menerima data pemakian air yang ditampilkan dalam b

Upaya peningkatan pemahaman tentang budaya sedekah bumi siswa kelas V SDN Galih II melalui permainan ular tangga / Utami Dewi

 

ABSTRAKSI Utami Dewi. Upaya Peningkatan Pemahaman Tentang Budaya Sedekah Bumi Siswa Kelas V SDN Galih II Melalui Permainan Ular Tangga Skripsi. Jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, FIP Universitas Negeri Malang, pembimbing : (1) Drs .Ahmad Samawi M.Hum, (2) Drs. Toha Mashudi, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Peningkatan pemahaman, Budaya sedekah bumi, Permainan ular tangga, IPS, SD Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih dan menetapkan berbagai media pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep pada siswa. Hasil observasi awal diketahui bahwa pembelajaran IPS siswa kelas V di SDN Galih II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan belum menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, sehingga sebagian besar siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan belajar individu yang ditetapkan yaitu skor 70. Hasil belajar yang diperoleh pada mata pelajaran IPS semester I rata-rata kelas hanya 61,16. Berdasarkan hal itu maka permainan ular tangga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran, karena siswa dapat melihat dan melihat secara langsung media pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran dapat menyenangkan dan meningkatkan aktivitas siswa. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: (1) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan penggunaan pemainan ular tangga dalam meningkatkan kemampuan siswa kelas V semester I SDN Galih II dalam memahami keanekaragaman budaya setempat “Upacara Tradisional Sedekah Bumi”. (2) Untuk mendeskripsikan peningkatan pemahaman siswa kelas V SDN Galih II tentang keanekaragaman budaya setempat melalui permainan ular tangga. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis Taggart, siklus tindakan ini dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan belajar individu dengan skor 70. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V sebanyak 24 siswa di SDN Galih II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan. Sedangkan instrument penelitian yang digunakan berupa panduan observasi mengenai : aktivitas siswa dalam pembelajaran, penggunaan permainan ular tangga dalam pembelajaran, kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran, dan soal-soal tes untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS dengan memanfaatkan permainan ular tangga dalam pembelajaran. Dari hasil analisis data pada siklus I dan siklus II dalam pembelajaran IPS dengan menggunakan permainan ular tangga menunjukkan bahwa : (1) Hasil observasi pada aktivitas siswa mengalami peningkatan dari jumlah keaktifan siswa yang diperoleh sebanyak 19 siswa (79,16%), sudah mendapatkan kriteria aktif menjadi 20 siswa (83,33%) sudah mendapatkan kriteria aktif.(2) Hasil observasi kegiatan guru dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan dari 60,76 % dengan kategori C menjadi 81,53 % dengan kategori B. (3) Hasil belajar i siswa pada waktu pra tindakan hanya 61,16 dengan kriteria cukup mengalami sedikit peningkatan pada tindakan siklus I yaitu 69,16 , dan mengalami kenaikan lagi pada siklus II yaitu 79,16 dengan kriteria baik, meskipun ada 4 siswa yang tidak mencapai ketuntasan individu yang disebabkan oleh beberapa faktor. Peneliti sudah merasa puas dengan hasil siklus II maka peneliti menghentikan siklus ini. (4). Penggunaan permainan ular tangga pada siklus II terbukti efektif dan mampu meningkatkan keaktifan dan juga hasil belajar siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah : (1) Pembelajaran dengan menggunakan permainan ular tangga pada siswa kelas V SDN Galih II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan telah berhasil meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. (2) Perlakuan atau tindakan yang diberikan dengan penggunaan permainan ular tangga juga telah berhasil meningkatkan perolehan hasil belajar siswa. Sementara 4 siswa yang belum bisa mencapai kriteria ketuntasan belajar disebabkan beberapa faktor antara lain, 2 orang sedang sakit dan 2 orang lainnya mengalami lambat belajar. Selanjutnya peneliti menyarankan untuk para guru agar dapat memanfaatkan permainan ular tangga yang populer dikalangan siswa dan menyesuaikannya pada setiap proses pembelajaran, sehingga hasil belajar diharapkan akan lebih baik. Sekolah diharapkan dapat menyediakan media pembelajaran yang dibutuhkan agar pembelajaran berlangsung menyenangkan bagi siswa. Kepala Sekolah hendaknya selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada para guru untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh.

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep benda dan sifatnya siswa kelas IV SDN Plososari III Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan / Nurul Ulum

 

ABSTRAK Ulum, Nurul. 2009. Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep benda dan sifatnya Kelas IV SDN Plososari III Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi S1 pendidikan guru sekolah dasar, Jurusan kependidikan sekolah dasar dan prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. Sukamti, M.Pd. (2) Drs. H. Syaiful Imam, M.Pd. Kata kunci : Kerja ilmiah, hasil belajar kognitif, siklus belajar, eksperimen. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan pendidikan di masa yang akan dating. Kondisi ini menuntut adanya perbaikan sistem pendidikan nasional. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah menyempurnakan kurikulum. Kurikulum yang disempurnakan saat ini adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang mengembangkan satuan pendidikan, potensi sekolah / daerah, karakteristik sekolah / daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik. Berdasarkan observasi dan dokumentasi siswa kelas IV SDN Plososari III diketahui bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Pembelajaran yang mengaktifkan siswa belum banyak digunakan misalnya eksperimen, hal ini dikarenakan guru khawatir materi yang disampaikan tidak selesai sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Berdasarkan permasalahan diatas maka dalam penelitian ini digunakan metode eksperimen. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan (Planning), pelaksanaan tindakan(action), pengamatan (observation) dan refleksi(reflection). Subyek dalam penelitian ini siswa kelas IV SDN Plososari III Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan. Yang berjumlah 24 siswa yang terdiri dari 10 putri dan 14 putra. Hasil penelitian setelah diterapkan metode eksperimen pada mata pelajaran IPA konsep benda dan sifatnya menunjukkan adanya peningkatan kerja ilmiah siswa dari siklus I dengan rata-rata 67,5% ke siklus II meningkat rata-ratanya menjadi 70%. Sehingga dapat diketahui bahwa ada peningkatan kerja ilmiah sebesar 2,5%. Begitu juga dengan hasil belajar kognitif siswa meningkat dari siklus I dengan rata-rata 71,87 ke siklus II meningkat rata-ratanya menjadi 76,25. persentase ketuntasan kelas pada siklus I adalah 71%, dan pada siklus II meningkat menjadi 93%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan agar di dalam pembelajaran IPA dapat menerapkan metode eksperimen untuk meningkatkan kerja ilmiah dan hasil belajar kognitif siswa.

Implemenatasi manajemen bandwidth pada jaringan WAN menggunakan PC router mikrotik di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan / Kukuh Tri Yulianto

 

Peningkatan layanan teknologi informasi dan komunikasi di Dinas Pendidikan kota Pasuruan telah diimplementasikan dengan adanya WAN (Wide Area Network) yang merupakan pengembangan dari ICT (Information and Comunication Technology) untuk Pustekom (Pusat Teknologi dan Komunikasi) Kota Pasuruan. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan pelayanan optimal dan kemudahan kepada UPT (Unit Pelaksana Teknis) khususnya yang sudah terhubung dalam WAN Pustekom Kota Pasuruan. Namun, dalam penerapannya WAN yang sudah dibangun dan dikembangkan di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan dengan Router Mikrotik masih belum begitu optimal. Penggunaan bandwidth internet yang bebas tanpa ada batasan dalam proses download maupun upload dan banyaknya situs porno yang semakin berkembang.Oleh sebab itu, perlu adanya evaluasi terhadap fasilitas dan layanan Router Mikrotik yang sudah ada dengan melakukan manajemen WAN menggunakan PC Router Mikrotik di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan. Dalam pengembangan sistem jaringan ini penulis akan membahas lebih rinci bagaimana memanajemen WAN menggunakan Mikrotik. Langkah pertama mengkonfigurasi PC Router pada menu queue dan memasukan daftar situs pada acces list di web proxy mikrotik. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, maka diperoleh menajemen bendwidth dengan batasan download 256 Kbps dan upload 128 Kbps pada setiap komputer di sekolah - sekolah yang sudah terkoneksi jardiknas. Untuk membatasi user dalam mengakses situs yang sudah di blacklist pada web proxy di PC Router Mikrotik. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengujian adalah sistem manajemen bandwidth menggunakan queue membatasi bandwidth internet download 512 Kbps dan Upload 128 Kbps setiap komputer di sekolah - sekolah yang sudah terkoneksi jardiknas tidak melebihi batas yang ditentukan. Access list pada web proxy PC Router Mikrotik di dapat membatasi akses browsing dan searching menggunakan alamat situs dan kata kunci (keyword) yang terdaftar di blacklist web proxy, jika diakses situs dan keywod tersebut muncul keterangan access denied. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan memperbarui daftar filterisasi alamat situs dan keyword, dan perlu dilakukan upgrade Mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router Mikrotik di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan.

Penerapan pendekatan keterampilan proses (PKP) untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep sifat benda cair, padat dan gas siswa kelas IV SDN Bareng V Kecamatan Klojen Kota Malang tahun pelajaran 2009-2010 / Jefri Rumodar

 

ABSTRAK Rumodar, Jefri. 2009. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP) Untuk meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Sifat-Sifat Benda Cair Siswa Kelas IV SDN Bareng V Kecamatan Klojen kota Malang”. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj Sukamti, M.Pd, (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn. Kata Kunci: Hasil belajar, PKP, sifat benda cair, padat dan gas Penelitian ini di latar belakangi oleh kenyataan bahwa nilai ulangan harian kurang dari standar ketuntasan individu maupun klasikal, pembelajaran cenderung berpusat kepada guru dan metode pembelajaran masih bersifat informatif. Sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu adanya penerapan pendekatan pembelajaran yang inovatif. Salah satunya adalah pendekatan keterampilan proses. Karena PKP dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, sehingga anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sikap dan nilai secara maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA konsep sifat benda di kelas IV semester I SDN Bareng V Kecamatan kota Malang, (2) mendeskripsikan hasil belajarr siswa kelas IV SDN Bareng V Kecamatan Klojen Kota Malang dalam pembelajaran IPA konsep sifat benda melalui penerapan pendekatan keterampilan proses Rancanagan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan diskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan melalui tiga siklus. Masing-masing siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Bareng V dengan jumlah siswa 22 yang terdiri dari 13 perempuan dan 9 laki-laki. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian dari siklus I, siklus II dan siklus III menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I hasil belajar siswa memiliki nilai rata-rata sebesar 56,3 dengan ketuntasan belajar 50%, siklus II memiliki nilai rata-rata sebesar 64 dengan ketuntasan belajar 54,5% dan pada siklus III memiliki nilai rata-rata sebesar 80.2 dengan ketuntasan belajar 95%. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan pendekatan keterampilan proses dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Bareng V. Oleh karena itu disarankan hendaknya guru lebih banyak memberikan motivasi dan perhatian kepada siswa melalui metode yang bervariasi dan inovatif. Salah satunya pendekatan keterampilan proses (PKP).

Proses penerimaan siswa baru studi kasus di rintisan sekolah bertaraf internasional SMP Negeri 2 Pare Kabupaten Kediri / Putri Septikasari

 

ABSTRAK Septikasari, Putri. 2009. Proses Penerimaan Siswa Baru Studi Kasus di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare Kabupaten Kediri. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M. Pd, (II) Dr. H. Imron Arifin, M. Pd. Kata kunci: Proses, Penerimaan Siswa Baru, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam proses pembangunan nasional, oleh karena itu upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah merupakan upaya strategis dalam meningkatkan sumber daya manusia. Sejalan dengan peru¬bahan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta dinamika global yang begitu cepat menuntut agar setiap sekolah mampu menyesuaikan diri. Salah satu program yang dilaksanakan pemerintah agar perubahan dan perkembangan tersebut dapat direspon dengan cepat adalah dengan meningkatkan kualitas/mutu sekolah dengan mengembangkan sekolah bertaraf internasional.Setiap menjelang tahun ajaran baru, sekolah menyelenggarakan penerimaan siswa baru mulai dari pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan pendidikan Sekolah Menengah. Persyaratan yang ditetapkan oleh masing-masing sekolah dalam menerima siswa baru pun berbeda-beda. Siswa yang bisa masuk sekolah SBI tersebut adalah mereka yang dianggap sebagai bibit-bibit unggul yang telah diseleksi secara ketat. Sehingga penelitian ini difokuskan pada proses penerimaan siswa baru di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Penelitian ini menggunakan metode/pendekatan kualitatif, yang berlokasi di SMPN 2 Pare. Fokus penelitian ini antara lain: (1) Bagaimana kebijakan penerimaan siswa baru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare, (2) Bagaimana sistem penerimaan siswa baru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare, (3) Bagaimana prosedur penerimaan siswa baru Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional SMP Negeri 2 Pare. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) teknik wawancara, (2) teknik observasi, (3) teknik dokumentasi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat bantu berupa catatan lapangan, alat perekam, dan alat dokumentasi. Sampel dalam penelitian ini dilakukan secara snowball sampling, dengan informan terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, kepala TU, dan penjaga sekolah. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan melakukan pengorganisasian data, pengelompokan data, pemaparan data, dan perumusan temuan. Untuk memperoleh keabsahan data, dilakukan uji triangulasi sumber data dan metode pengumpulan data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini untuk masing-masing fokus penelitian diinformasikan sebagai berikut: (1) kebijakan penerimaan siswa baru RSBI yaitu berdasarkan acuan dari surat keputusan direktorat pembinaan sekolah menengah pertama dan sekolah yang kemudian mengembangkannya sendiri. (2) sistem penerimaan siswa baru RSBI yaitu menggunakan sistem tes antara lain tes tulis, tes praktek, dan tes wawancara, dan sistem olimpiade. (3) prosedur penerimaan siswa baru yaitu langkah-langkah yang harus ditempuh oleh sekolah dalam penerimaan siswa baru mulai dari pembentukan panitia dan rapat penerimaan siswa baru, pembuatan dan pemasangan pengumuman, pendaftaran, pennyelenggaraan tes (seleksi), penentuan siswa yang diterima sampai dengan pengumuman dan pendaftaran ulang siswa yang diterima. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah bahwa proses penerimaan siswa baru di RSBI sangat sistematis dan ketat karena dalam setiap perencanaan, pelaksanaan seleksi sampai dengan penentuan siswa yang diterima harus sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan oleh sekolah. Saran dalam penelitian ini ditujukan bagi kepala SMP Negeri 2 Pare, orang tua siswa, guru dan karyawan, Dinas Pendidikan, dan bagi peneliti lain.

Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa kelas V SDN Bareng V Kota Malang / Mustafa Wahid

 

Abstrak : Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa hasil belajar siswa yang masih rendah dan jauh dibawah SKBM yang ditetapkan oleh sekolah maupun standar ketuntasan yang ditetapkan pada mata pelajaran IPS mdi SDN Bareng V kota Malang. Siswa dalam pembelajaran masih pasif sehingga berdampak pada hasil akhir yang diperoleh siswa. Sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Bareng V yang dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah diatas perlu adanya penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw, pembelajaran ini dapat meningkatkan keaktifan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw dalam meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran IPS di kelas V SDN Bareng V. (2) Mendeskripsikan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Bareng V dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Kata Kunci : Kata kunci: Penerapan, Pembelajaran Model Jigsaw, Hasil Belajar, IPS, SD.

Meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dengan teknik jigsaw pada siswa kelas II di Sekolah Dasar Negeri Kotalama I Kota Malang / Pandu Bayu Cita

 

Dalam proses pembelajaran guru masih belum efektif melaksanakan metode pembelajaran dan hanya menggunakan metode penugasan dan ceramah. Hal ini, membuat siswa bosan dan hanya beberapa siswa saja yang aktif mengerjakan tugas dari guru. Namun, ada juga yang bergantung pada temannya yang dianggap mempunyai kemampuan lebih. Jadi, ketika siswa yang mampu mengerjakan selesai, siswa yang kurang mampu langsung menyalin jawaban yang ada. Maka siswa yang mempunyai kemampuan lebih semakin pandai sedangkan siswa yang mempunyai kemampuan kurang akan semakin lemah. Siswa yang pandai dikhawatirkan semakin lama cenderung lebih mementingkan kepentingan pribadi. Untuk itulah penerapan membaca secara berkelompok yang terdiri dari 4-5 siswa digunakan untuk memecahkan suatu masalah atau topik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan : (1) penerapan teknik membaca berkelompok dalam meningkatkan kemampuan membaca anak kelas II SDN Kotalama 1,(2) peningkatan kemampuan membaca dengan teknik membaca berkelompok pada anak kelas II SDN Kotalama 1Kota Malang. Rancangan penelitian yang berupa tindakan kelas. Penelitian ini adalah (a) membaca, (b) jenis-jenis membaca, (c) teknik membaca, (d) pembelajaran membaca dengan teknik membaca berkelompok pada siswa SD, (e) pelaksanaan pembelajaran membaca berdasarkan pendelkatan proses. Sedangkan instrument yang digunakan adalah : (1) lembar observasi guru, (2) lembar observasi siswa, (3) lembar formatif siswa. Analisa data berkaitan dengan menentukan nilai kemampuan membaca diadaptasi dari Depdiknas 2004 dan standar kualitas atau kualifikasi kemampuan siswa dalam proses belajar diadaptasi dari Nurhakiki (1999). Dalam penelitian ini menggunakan 2 siklus, siklus II merupakan perbaikan dari siklus I. Kesimpulan yang diperoleh adalah dengan penerapan teknik membaca berkelompok dapat meningkatkan kemampuan membaca dan kerjasama siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dengan peningkatan nilai yaitu pada pra tindakan dengan rata – rata 66, mengalami kenaikan pada siklus I meningkat menjadi 66,3 dan pada siklus II meningkat menjadi 74 dengan kualifikasi nilai baik. Peningkatan kemampuan membaca dan membaca secara berkelompok dari siklus I dengan rata – rata 74 menjadi 79,3 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru kelas II SDN Kotalama I Kota Malang untuk hendaknya perlu latihan tentang teknik perpindahan kelompok, perlu penyediaan kartu berwarna untuk mempermudah mengingat kelompok. Selain itu peneliti diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan (PAKEM) dalam segala mata pelajaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode two stay two stray (TS-TS) untuk meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan menjawab, dan hasil belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI Ak 1 di SMK Negeri 1 Turen / Subrotun Nafsiah

 

ABSTRAK Nafsiah, Subrotun. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Two Stay Two Stray (TS-TS) untuk Meningkatkan Kemampuan Bertanya, Kemampuan Menjawab Pertanyaan, dan Hasil Belajar pada Mata Pelajaran Akuntansi Siswa Kelas XI Ak 1 di SMK Negeri 1 Turen. Skripsi. Jurusan Akuntansi, Program Studi Pendidikan Akuntansi, FE, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Tuhardjo. S.E., M.Si., Ak (II) Makaryanawati.S.E., M.Si., Ak Kata kunci: Metode Two Stay Two Stray (TS-TS), Kemampuan bertanya, Kemampuan menjawab pertanyaan, dan Hasil belajar Kegiatan pembelajaran akuntansi di SMK Negeri 1 Turen masih menggunakan metode konvensional. Kemampuan bertanya, menjawab dan hasil belajarnyapun rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah melalui penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan menjawab, dan hasil belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas XI Ak 1 SMK Negeri 1 Turen. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Turen, semester 1 tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan materi persediaan. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI Ak 1 terdiri dari 38 siswa. Teknik Pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan persentase skor hasil kemampuan bertanya, kemampuan menjawab pertanyaan dan hasil belajar tiap-tiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray (TS-TS), dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, dan hasil belajar siswa. Persentase skor rata-rata kemampuan bertanya siswa meningkat sebesar 10,47%, dari 71,6% pada siklus I menjadi 82,07% pada siklus II, sedangkan persentase skor rata-rata kemampuan menjawab pertanyaan siswa mengalami peningkatan sebesar 5,36%, dari 78,75% pada siklus I menjadi 84,11%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, persentase rata-rata nilai siswa meningkat dari 81,58% pada siklus I, pada siklus II menjadi 89,39% atau meningkat sebesar 7,81%. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat dikemukakan antara lain (1) Bagi Sekolah yang diteliti, Pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) dapat menjadi alternatif pertimbangan dalam upaya perbaikan strategi pembelajaran yang ada di SMK Negeri 1 Turen (2)Bagi guru mata pelajaran akuntansi, metode Two Stay Two Stray (TS-TS) dapat menjadi pilihan variasi metode pembelajaran untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (3) Bagi siswa, tingkatkan kemampuan bertanya, menjawab pertanyaan, dan persiapkan diri sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung (4) Bagi peneliti lain, Lakukan penelitian serupa secara bertahap dan perhitungkan alokasi waktu yang disediakan, kembangkan penelitian serupa dengan subjek dan materi yang berbeda serta selain meneliti hasil belajar secara kognitif teliti juga hasil belajar secara afektif dan psikomotorik.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share (TPS) untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan / Siti Mutmainah

 

semuanya. ABSTRAK Mutmainah, Siti. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Siswa Kelas XI Bahasa I MAN Lamongan. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs.Muhaiban. Ibnu Syamsul Huda, S.S, MA. Kata kunci: TPS, keterampilan berbicara, MAN Lamongan. Pembelajaran berbicara bahasa Arab sering kali kurang menarik, kurang merangsang partisipasi siswa, dan bersuasana kaku sehingga kegiatan berbicara kadang-kadang menjadi fakum. Keterampilan berbicara bahasa Arab siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan masih rendah. Hal ini dikarenakan guru belum menggunakan model pembelajaran yang sesuai bagi siswa. Guru dituntut lebih kreatif dalam penyampaian materi baik dari metode pembelajaran, maupun model-model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang fungsional untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa adalah pembelajaran kooperatif model TPS. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan model TPS dalam pembelajaran bahasa Arab siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan, dan (2) proses peningkatan keterampilan berbicara bahasa Arab dengan menerapakan pembelajaran kooperatif model TPS pada siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan. Penelitian ini dilakukan di MAN Lamongan pada bulan September sampai Nopember tahun pelajaran 2009/2010 pada saat pembelajaran bahasa Arab dilaksanakan dengan subjek penelitian siswa kelas XI Bahasa I MAN Lamongan.. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) tes. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrument utama. Peneliti secara langsung terlibat dalam kegiatan pengumpulan, penyelesaian, serta penganalisisan data penelitian. Data dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan dimulai sejak pengumpulan data sampai penyusunan laporan. Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa melalui trianggulasi, yaitu membandingkan antara hasil observasi, wawancara, dan tes. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran bahasa Arab dengan pembelajaran kooperatif model TPS dilakukan dengan menyiapkan RPP, lembar observasi guru dan siswa, rubrik penilaian keterampilan berbicara, rubrik penilaian aspek afektif dan psikomotorik. Kemudian pelaksanaannya disesuaikan dengan RPP yang telah disusun. Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif model TPS mengalami peningkatan yang cukup baik. Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TPS i dalam pengajaran bahasa Arab dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi kepala sekolah agar menjadikan pembelajaran kooperatif model TPS sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Karena dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa dan siswa tidak hanya memperoleh kecakapan akademik saja akan tetapi juga kecakapan sosial. Bagi guru pengajar diharapkan bisa meningkatkan profesionalisme dan kualitas PBA dengan menciptakan inovasi model pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang sesuai dengan karakteristik siswa untuk diterapkan dalam KBM yang akan dilaksanakan. Sedangkan untuk peneliti yang mengadakan penelitian sejenis diharapkan lebih memperluas cakupannya dengan mengembangkan materi yang diajarkan dan dengan waktu yang lebih lama, sehingga hasil penelitian jauh lebih sempurna yang nantinya bisa dijadikan masukan bagi guru-guru bahasa Arab untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi siswa kelas V di SDN Ploso 03 Selopuro Kabupaten Blitar / Dyah Retno Novieni

 

Keprihatinan yang peneliti temui di lapangan berkenaan dengan pembelajaran mata pelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah (1) hasil belajar siswa untuk memecahkan soal matematika masih rendah, (2) guru lebih menekankan pada siswa untuk menerima apa yang disampaikan dan tidak memberikan kesempatan pada siswanya untuk memproses apa yang diterimanya, (3) guru matematika di SMP dalam mengajar di kelas jarang menggunakan media pembelajaran. Kenyataan tersebut mencerminkan bahwa hasil belajar mata pelajaran matematika yang diperoleh oleh siswa ketika selesai mengikuti pelajaran kurang memuaskan sehingga masih perlu ditingkatkan. Salah satu alternatif pemecahannya adalah dengan penggunaan metode pembelajaran yang tepat antara lain dengan metode penemuan terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang diajar dengan metode penemuan terbimbing dan kelompok siswa yang diajar dengan metode ekspositori (2) perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan kelompok siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah (3) interaksi antara penerapan pembelajaran (metode penemuan terbimbing dan metode ekspositori) dengan tingkat motivasi berprestasi terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas IX SMP. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen. Dengan desain eksperimen nonequivalent control group design. Rancangan pembelajaran dikembangkan oleh peneliti berupa program pelaksanaan pembelajaran beserta LKS dan tes. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan menerapkan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing dan metode ekspositori dengan menggunakan rancangan penelitian kuasi eksperimen factorial 2 x 2. Subjek penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Rambipuji Jember dan SMP Negeri 3 Tanggul Jember. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling, dimana yang dirandom adalah kelas. Sampel penelitiannya adalah siswa kelas IXA SMP Negeri 1 Rambipuji dan kelas IXB SMP Negeri 3 Tanggul ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing, sedang kelas IXD SMP Negeri 1 Rambipuji dan kelas IXD SMP Negeri 3 Tanggul ditetapkan sebagai tempat pelaksanaan penerapan metode ekspositori. Jumlah sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 145. Data dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar siswa berbeda secara signifikan jika diajar dengan menggunakan metode penemuan terbimbing dari pada metode ekspositori, (2) hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi berbeda secara signifikan dari pada siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, (3) tidak ada interaksi antara metode pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar siswa. Statistik diskriptif menunjukkan bahwa ada pengaruh penerapan metode penemuan terbimbing (rerata 76.00) terhadap hasil belajar siswa dibandingkan dengan penerapan metode ekspositori (rerata 70.07). Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa metode penemuan terbimbing dan tingkat motivasi berprestasi berpengaruh terhadap perolehan hasil belajar matematika SMP. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan kepada para guru untuk menggunakan metode penemuan terbimbing dalam mata pelajaran yang diampu pada pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini motivasi berprestasi berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar, untuk itu perlu penelitian lebih lanjut terkait dengan adanya variabel moderator selain motivasi berprestasi (misalnya minat, bakat, gaya kognitif, intelegensi, sikap dan lain-lain) yang juga berpengaruh terhadap hasil belajar.

Penerapan pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis untuk mengembangkan kompetensi aspek psikomotorik pada siswa kelas XI B, SMAK Diponegoro Blitar / Akik Tri Wanti

 

ABSTRAK Wanti, Akik, Tri. 2009. Penerapan Pembelajaran Fisika Berbasis Observasi Gejala Fisis untuk Mengembangkan Kompetensi Aspek Psikomotorik pada Siswa Kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Sutarman, (II) Drs. Subani. Kata kunci : berbasis observasi gejala fisis, aspek psikomotorik Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa aspek psikomotorik siswa tidak atau belum dapat berkembang karena siswa hanya belajar teori saja, tidak dapat berinteraksi langsung dengan obyek kongkret. Pembelajaran fisika tidak hanya belajar teori tetapi juga disertai dengan percobaan. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan pembelajaran, yaitu pembelajaran yang mengacu pada teori konstruktivisme dengan model Pembelajaran Fisika Berbasis Observasi Gejala Fisis sebagai pengembangan model belajar generative Osborne. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis yang dapat mengembangkan aspek psikomotorik siswa kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar dan mengetahui dampak pembelajaran ini terhadap perkembangan aspek psikomotorik siswa kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar dalam kegiatan merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, serta mengamati gejala fisis. Penelitian ini dilaksanakan di SMAK Diponegoro Blitar semester ganjil tahun ajaran 2009/2010. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar dengan jumlah 40 siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas dengan pemberian tindakan Pembelajaran Fisika Berbasis Observasi Gejala Fisis, yang terdiri dari tiga siklus. Siklus III diterapkan untuk memperbaiki siklus II dengan berbagai perbaikan. Pada proses pembelajaran dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran, untuk mengetahui kesesuaian antara pembelajaran yang dilakukan dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah rubrik observasi penguasaan aspek psikomotorik serta format observasi pembelajaran berbasis observasi gejala fisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis yang terdiri atas empat tahap yaitu tahap observasi, tahap pengajuan masalah, tahap pemecahan masalah dan tahap pemantapan konsep dapat berjalan dengan baik. Dengan keterbatasan alat dan bahan percobaan ternyata pembelajaran ini dapat diterapkan di kelas XI B1 SMAK Diponegoro Blitar. Pembelajaran fisika berbasis observasi gejala fisis ini juga dapat mengembangkan aspek psikomotorik yang dimiliki siswa selama pembelajaran berlangsung. Perkembangan hasil rerata aspek psikomotorik siswa pada siklus I sebesar 46,92%, pada siklus II sebesar 62,83% dan pada siklus III sebesar 60,75%. Selain itu, penerapan pembelajaran ini membuat siswa senang karena siswa dapat berinteraksi secara langsung dengan obyek kongkret.

Redesain corporate identity Indoadmin Dot Net sebagai identitas perusahaan pelayanan website / Zhaki Ambara

 

ABSTRAK Ambara, Zhaki. 2009. Redesain Corporate Identity Indoadmin Dot Net Sebagai Identitas Perusahaan Pelayanan Website. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Moch. Abdul Rohman, M.Sn (II) Mohammad Sigit, S.Sn Kata kunci: desain, redesain, Corporate Identity, Indoadmin dot Net. Indoadmin dot net merupakan salah satu perusahaan pelayanan website yang cukup terkemuka di Indonesia, sebagai perusahaan terkemuka Indoadmin dot net mempunyai Corporate Identity yang kurang kompeten dan spesifik. Corporate Identity adalah logo apabila dirancang dengan baik, dan diaplikasikan secara konsisten, baik kandungan warna, tipografi, komposisi, dan tata letaknya maka dinamakan Corporate Identity atau identitas kelembagaan. Hal ini tentu disayangkan dikarenakan Indoadmin dot net memiliki kantor cabang yang banyak namun Corporate Identity yang dimiliki kurang kompeten. Sehingga Indoadmin dot net membutuhkan Corporate Identity yang mampu merepresentasikan sejarah, latar belakang, visi,dan misi Perusahaan. Redesain Corporate Identity Indoadmin dot net ditujukan untuk merubah dan merancang ulang logo Indoadmin dot net serta pengaplikasian logo terhadap sarana perusahaan agar Corporate Identity Indoadmin dot net menjadi lebih baik, menarik dan spesifik dari sebelumnya. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural yaitu menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Untuk mengetahui permasalahan yang ada maka dilakukan analisis dari data-data yang telah terkumpul. Berdasarkan analisis data ini nantinya akan menjadi acuan dalam proses perancangan redesain Corporate Identity bagi perusahaan Indoadmin dot net. Hal tersebut dilakukan agar nantinya redesain Corporate Identity yang dirancang dan dihasilkan dapat benar-benar sesuai dengan karakteristik dan bisa memecahkan/menjawab masalah yang ada di perusahaan. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Merujuk dari permasalahan yang ada dapat diketahui bahwa Indoadmin dot net membutuhkan Corporate Identity yang dapat merepresentasikan sejarah, latar belakang, visi, misi serta karakter perusahaan sehingga dapat memberikan kesan yang baik dan berkompeten. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah perlunya desain Corporate Identity yang menarik dan konsisten agar tujuan untuk dapat memaksimalkan fungsi identitas dapat terwujud, sehingga diharapkan nantinya Corporate Identity baru ini dapat mewujudkan sebuah perusahaan jasa pelayanan website yang spesifik, kuat dan berkompeten.

Pengembangan pembelajaran blended berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran S-1 Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Henry Praherdhiono

 

ABSTRAK Praherdhiono, Henry. 2009. Pengembangan pembelajaran blended berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran S-1 jurusan teknologi pendidikan Universitas Negeri Malang. Tesis, Program Studi setingkat Jurusan Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sulton. M.Pd dan Pembimbing (II) Dr. Waras Kamdi. M.Pd Kata Kunci : blended, komputer pembelajaran. Mahasiswa secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai media pembelajaran secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Pengembangan media pembelajaran berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran S-1 jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang menerapkan prinsip (1) didasarkan pada pemecahan masalah dan kebutuhan yang sesuai dengan karakteristik sumber belajar, konten pembelajaran, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang diterapkan untuk melayani mahasiswa, (2) penggunaan perangkat lunak sistem operasi server dan web yang digunakan dalam pengembangan, merupakan aplikasi platform opensource yang distandarisasi untuk kepentingan pembelajaran pada Jurusan Teknologi Pendidikan Univesitas Negeri Malang dan (3) Pembelajaran model blended menjembatani prilaku dan budaya penggunaan pembelajaran berbasis web berupa prilaku individulistis sehingga terintegrasi dengan pembelajaran berbasis tatap muka berupa prilaku kolaboratif pada Jurusan Teknologi Pendidikan S-1 Univesitas Negeri Malang. Matakuliah yang dijadikan model adalah komputer pembelajaran atau Pembelajaran Berbasis Komputer. Pengembangan pembelajaran blended berbasis web platform opensource pada matakuliah komputer pembelajaran s-1 jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang menghasilkan beberapa spesifikasi produk yaitu, (1) Model Web Pembelajaran matakuliah Komputer Pembelajaran, (2)Material Objek Pembelajaran Komputer Pembelajaran, (3) Panduan Standar Operasional Administrator, (4) Panduan Standar Operasional Dosen Pengampu dan (5) Panduan Standar Operasional Mahasiswa. Prosedur pengembangan pembelajaran blended berbasis web melalui beberapa tahap yaitu : (1) Analisis; (2) Rencana Evaluasi (3) Fase serentak yang meliputi desain, pengembangan sistim, ujicoba dan Implementasi dan evaluasi Formatif. Fase ini dapat dilakukan bekali-kali hingga batas waktu yang tidak ditentukan; (4) Implementasi Menyeluruh dan (5) Kajian Implementasi. Berdasarkan hasil implementasi secara menyeluruh produk pembelajaran melalui penerapan atau implementasi model blended dengan melalui web dapat memberikan keuntungan-keutungan: (1) variasi media, secara umum mahasiswa menggunakan media pembelajaran yang beragam; (2) informasi baru, selain menyediakan informasi melalui lingkup server lokal, adalah bahan ajar dapat diperkaya melalui kegiatan akses internet yang terintegrasi; (3) pengembangan navigasi teknologi level user. Pada setiap tingkatan level akan memperoleh hak akses yang berbeda dan (4) sistem dapat memfasilitasi komunikasi dan interaksi antara mahasiswa dengan dosen/nara sumber, meningkatkan kolaborasi antar mahasiswa untuk membentuk komunitas belajar. (5) perlu adanya evaluasi beberapa aspek sebelum diterapkan pada matakuliah kain. Berdasarkan tinjauan ahli disimpulkan (1) Produk Pengembangan Pembelajaran Model Blended sebaiknya diuji cobakan juga untuk matakuliah yang lain. (2) Produk pengembangan pembelajaran blended berbasis web memiliki keefektifan, efisiensi dan kemenarikan

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil dan aktivitas belajar IPA siswa kelas VI SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang / Rendi Agus Triono

 

ABSTRAK Triono, Rendi Agus. 2010. Penerapan Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Hasil dan Aktivitas Belajar IPA Siswa Kelas VI SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi S1 PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd., (II) Dra. Hj. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci: Metode Eksperimen, Aktivitas, Hasil Belajar, IPA Pengamatan yang telah dilaksanakan di SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang dapat diketahui beberapa permasalahan yang timbul pada mata pelajaran IPA. Adapun rincian dari permasalahan yang timbul: (1) nilai rata-rata siswa berdasarkan ulangan harian dan formatif mencapai 34%. Nilai rata-rata tersebut masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh sekolah tersebut, yaitu 75%; (2) guru cenderung masih mendominasi dalam proses pembelajaran; (3) siswa kurang diberi kesempatan untuk mengalami dan memperoleh sendiri pengetahuan yang didapat, sehingga siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Adapun penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki siswa dengan jalan meningkatkan hasil dan aktivitas belajar siswa dengan menerapkan metode eksperimen. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis Taggart yang terdiri dari 5 siklus dan 4 tahapan, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang yang terdiri dari 24 siswa dengan rincian 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil dan aktivitas belajar siswa. Indikasi adanya dampak yang baik terhadap hasil belajar adalah adanya kenaikan rata-rata skor dari nilai siswa yang sebelumnya mencapai 62,2 meningkat menjadi 76,5. selain itu dampak tersebut dapat dilihat dari hasil nilai tes evaluasi pada siklus I mencapai 52%, meningkat pada siklus II menjadi 65%, meningkat pada siklus III menjadi 78%, pada siklus IV sama dengan siklus III yaitu 78%, dan meningkat pada siklus V menjadi 91% serta semakin berkurangnya domiasi guru dalam proses pembelajaran, hal tersebut dapat dibuktikan dari pencapaian guru dalam menerapkan metode eksperimen, yaitu pada siklus I mencapai 64% meningkat pada siklus II menjadi 73%, meningkat pada siklus III menjadi 82%, meningkat pada siklus IV menjadi 87%, dan meningkat pada siklus V menjadi 96%. Untuk dampak terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari semakin meningkatnya berbagai komponen aktivitas belajar siswa mulai dari komponen keaktifan, kerjasama, mengeluarkan pendapat, dan bertanya menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik dari siklus I sampai siklus V. Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan agar guru senantiasa dapat menerapkan metode eksperimen yang terbukti dapat meningkatkan hasil dan aktivitas belajar IPA siswa kelas VI di SDN Sidorejo 02 Kecamatan Jabung Kabupaten Malang.

Pemanfaatan media alam sekitar untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tematik tema lingkungan di kelas II C SDN Percobaan 2 Malang / Toni Tulus Santoso

 

ABSTRAK Santoso, Toni Tulus. 2010. Pemanfaatan Media Alam Sekitar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Tematik Tema Lingkungan di Kelas IIC SDN Percobaan 2 Malang. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1), Prof. Dr. H. Moch Shochib, M. Pd (2) Drs. Heru Agus Tri Widjaja, M. Pd Kata Kunci : Media, Alam Sekitar, Hasil Belajar, Pembelajaran Tematik Pembelajaran pada kelas II C di SDN Percobaan 2 Malang masih bersifat konvensional dengan metode ceramah, siswa merasa bosan karena guru memegang otoritas penuh, siswa hanya pasif. pemanfaatan media pembelajaran sangat minim. Pembelajaran yang seharusnya tidak memisah-misahkan bidang studi juga belum dilaksanakan sehingga hasil belajar siswa rendah. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan memanfaatkan media alam sekitar pada pembelajaran tematik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran tematik tema lingkungan siswa kelas II C SDN Percobaan 2 Malang (2)Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa Kelas II C SDN Percobaan 2 Malang dalam pembelajaran tematik tema lingkungan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas II C SDN Percobaan 2 Malang. Dalam penelitian ini peneliti sebagai sekaligus guru kelas sebagai pengajar di bantu dengan teman guru kelas II A, II B, II C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media alam sekitar dalam pembelajaran tematik tema lingkungan di kelas II C SDN percobaan 2 Malang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Nilai proses (aktifitas) pada pratindakan belum ditemukan karena siswa hanya mendengarkan saja. Nilai proses pada siklus 1 pertemuan 1 adalah 70,9. pertemuan 2 adalah 76,7, siklus II pertemuan 1 adalah 88,8, dan pada pertemuan 2 adalah 95,6. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pratindakan adalah 60,7 siklus I adalah 80 dan pada siklus II adalah 92,5. Ketuntasan belajar klasikal pada pratindakan adalah 20%, pada akhir siklus I adalah 80% dan pada akhir siklus II adalah 93%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pemanfaatan media alam sekitar dalam pembelajaran tematik tema lingkungan dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa. Saran yang dapat diberikan agar peneliti selanjutnya dapat memanfaatkan media alam sekitar dalam pembelajaran tematik dengan tema yang lain, memasukkan unsur permainan dalam pembelajaran, membuat strategi pembelajaran yang lebih mengkondisikan siswa untuk pembelajaran di luar sehingga pembelajaran lebih kondusif.

Sistem manajemen bandwidth dan filterisasi situs pada pembangunan PC router mikrotik d Madrasah Aliyah Negeri Kota Pasuruan / Fera Anugrahwati

 

Peredaran situs khususnya situs porno berdampak negatif jika siswa di Madrasah Aliyah Negeri Kota Pasuruan mengakses situs tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem filterisasi situs dan manajemen bandwidth dengan merancang PC Router Mikrotik yang dapat membatasi akses situs dan membagi bandwidth secara merata. Perancangan PC Router Mikrotik ini diawali dengan instalasi Mikrotik, dilanjutkan konfigurasi IP Address, konfigurasi manajemen bandwidth menggunakan tipe PCQ (Peer Connection Queue) dengan bandwidth speedy sebesar 875 kbps dibagi secara merata setiap client dari 35 client yang aktif, kemudian mengkonfigurasi Mikrotik sebagai pusat filterisasi situs dengan cara memasukkan alamat situs-situs berdasarkan blacklist alamatsitus. Dari hasil pengujian PC Router Mikrotik secara keseluruhan diperoleh hasil bahwa piranti sesuai dengan rancangan, yaitu: (1) Membagi bandwidth Internet secara merata sesuai dengan jumlah client yang sedang aktif, dan (2) Membatasi akses situssitus tertentu dan situs-situs porno berdasarkan daftar blacklist alamat situs. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah sebagai berikut: (1) Sistem manajemen bandwidth tipe PCQ membagi bandwidth Internet sama rata sesuai dengan jumlah client yang aktif, (2) Sistem filterisasi situs membatasi akses browsing dan searching menggunakan alamat situs sehingga jika siswa mengakses situs tersebut muncul keterangan access denied, dan (3) Sistem MRTG (The Multi Router Traffic Grapher) akan memonitoring statistik traffic download atapun upload dari semua interface, statistik traffic disuguhkan dalam bentuk grafik.Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan: (1) Memperbarui daftar filterisasi alamat situs seiring dengan perkembangan dari situs-situs tersebut, (2) Membackup keterbatasan admin dalam memperbarui daftar filterisasi alamat situs melalui OpenDNS, (3) Perlu dilakukan upgrade versi Mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router Mikrotik, (4) Perlu penambahan line koneksi baru dari ISP agar koneksi Internet di Madrasah Aliyah Negeri Pasuruan tidak terkesan lambat seiring bertambahnya jumlah client dan user yang ada.

Kontrol posisi arah cahaya matahari pada sel surya dengan simulasi berbasis PC / Martha Agung T.

 

Seiring pesatnya perkembangan teknologi elektronika memberikan motivasi bagi dunia akademik khususnya elektronika untuk menciptakan sebuah peralatan yang dikontrol secara otomatis oleh PC(Personal computer). Salah satunya adalah kontrol posisi arah cahaya matahari pada sel surya dengan simulasi berbasis PC. Sel surya merupakan salah satu teknologi sumber listrik alternatif yang tidak menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Salah satu sifat sel surya adalah menyerap energi maksimum ketika cahaya yang mengenai penampangnya pada posisi tegak lurus. Permasalahannya, kebanyakan orang menempatkan sel surya dengan posisi yang tetap, tentu saja hal ini kurang efisien karena luas penampang sel surya yang terkena cahaya matahari tidak maksimal. Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut, disesain alat secara otomatis dapat mengatur posisi sel surya agar dapat bergerak tegak lurus terhadap arah datangnya sinar matahari sepanjang hari. Pengaturan posisi sel surya ini menggunakan sensor. Komponen-komponen yang digunakan adalah kontrol motor, motor stepper, PC, sel surya. Prinsip kerja rangkaian ini yaitu sinyal yang dihasilkan oleh sensor akan dimasukan kedalam mikrokontroler, selanjutnya data yang dikeluarkan oleh mikrokontroler akan diolah oleh PC. Rangkaian driver motor akan menggerakan motor stepper sesuai data yang dikeluarkan oleh PC. Sinyal keluaran dari rangkaian driver motor stepper tersebut akan memberikan kerja ke kaki-kaki motor stepper. Motor bergerak memutar penampang sel surya sesuai dengan cahaya matahari, sehingga sel surya yang mendapatkan cahaya matahari secara terus menerus dan menyerap energi matahari semaksimal mungkin. Sel surya yang terus mendapatkan cahaya matahari yang sesuai dengan posisinya, maka sel surya akan cepat mengeluarkan energi yang maksimal. Dengan membuat seri pada sel surya akan didapatkan tegangan yang besar. Setiap sel surya akan mengeluarkan tegangan sebesar 3 Volt, dengan banyak sel surya enam buah. Dengan demikian tegangan yang dihasilkan keseluruhan adalah 18 Volt.

Analisis sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas sebagai alat pengendalian intern CV. Karya Singosari, Gempol-Pasuruan / Dhedy Merdianto

 

ABSTRAK Tujuan perusahaan adalah untuk mendapatkan laba semaksimal mungkin, menguasai pasar dan mengembangkan usaha. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya sistem yang baik. Sistem penerimaan dan pengeluaran kas merupakan salah satu sistem yang mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam mewujudkan tujuannya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar transaksi perusahaan akan menyangkut masalah penggunaan kas. Dilihat dari karakteristik dan fungsinya, kas merupakan alat yang mudah untuk disalahgunakan oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab. Untuk itu perusahaan harus menggunakan sistem pengendalian intern yang mampu memberikan pengawasan dan pengendalian sehingga dapat menciptakan kinerja yang efektif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pengendalian intern terhadap sistem penerimaan dan pengeluaran kas CV. Karya Singosari. Metode pemecahan masalah dilakukan dengan mendeskripsikan sistem akuntansi dan sistem pengendalian intern, menganalisa sistem akuntansi dan sistem pengendalian intern dan selanjutnya melakukan koreksi dan emberikan alternatif terhadap kekurangan-kekurangan yang mungkin ditemukan pada pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas sebagai alat pengendalian intern. Berdasarkan kegiantan observasi di perusahaan, interview langsung dengan sumber dan pendokumentasian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sudah terdapat adanya beberapa fungsi yang terkait guna menunjang pengendalian intern, pemisahan fungsi, sistem otorisasi, dan penggunaan dokumen yang tepat,prosedur yang sesuai. Namun masih ditemukannya sistem yang kurang sesuai untuk diterapkan sebagai sistem pengendalian intern terhadap penerimaan dan pengeluaran kas pada CV. Karya Singosari, hal tersebut apat dilihat dari penggabungan fungsi keuangan dan akuntansi yang sebaiknya dipisah, praktik yang tidak sehat kepala bagian yang dapat diatasi dengan pelimpahan wewenang kepada bawahan, penyimpanan arsip kurang memadai yang dapat diatasi dengan cara penyimpanan arsip dengan urut nomor, tanggal atau abjad., dan dokumen yang kurang lengkap yang dapat diatasi dengan melengkapi dokumen yang digunakan serta otorisasi yang kurang efektif yang dapat diatasi dengan pelimpahan wewenang.

Pengembangan media pembelajaran program aplikasi software berbasis WEB pada mata pelajaran keterampilan komputer dan pengelolaan informasi kelas X di SMKN 3 Malang / Asni Furoidah

 

ABSTRAK Furoidah, Asni. 2009. Pengembangan media pembelajaran program aplikasi software berbasis web, Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng M.Pd. Pembimbing (II) Eka Pramono Adi, S.IP, M.Si Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran Program Aplikasi Software,Web Media adalah hal penting yang harus dipergunakan secara optimal. Media pembelajaran yang baik adalah media yang mampu menjembatani informasi antara guru kepada siswa secara efisien dan murni. Sehingga pesan yang dimaksudkan guru dan yang diterima siswa adalah sama atau dengan kata lain tidak terjadi distorsi makna. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh pengembang dengan guru bidang studi Ketrampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi di SMK Negeri 3 Malang. Dalam pencapaian prestasi belajar siswa dalam ulangan harian dipandang masih belum memenuhi target. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pola pembelajaran yang masih bersifat klasikal, serta jumlah siswa yang lebih banyak dibandingkan jumlah PC yang tersedia, sehingga masih perlu adanya upaya peningkatan. Web pembelajaran ini diharapkan menjadi pilihan yang dapat digunakan sebagai media pada proses pembelajaran,karena media web ini sudah dikombinasikan dengan materi, gambar, suara, tutorial, soal latihan, quis dan modul petunjuk pemanfaatan yang diharapkan dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi, mempermudah siswa, dan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran KKPI. Berdasarkan permasalahan itu, maka pengembang memandang perlu memproduksi media dengan menggunakan software pembelajaran yang berbasis web Desain pengembangan media ini menggunakan model pengembangan Arif S. Sadiman dengan subyek uji coba adalah siswa kelas X TKJ di SMK Negeri 3 Malang . Validator terdiri dari dua orang ahli media dan dua orang ahli materi. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket yang diberikan kepada ahli materi, ahli media, dan responden siswa. Sedangkan untuk menganalisa hasil belajar siswa menggunakan perbedaan mean dengan uji t (t-test). Validasi media pembelajaran program aplikasi software berbasis web menunjukkan hasil uji ahli media 92,5 % dan memenuhi kriteria valid, hasil uji ahli materi 87,5% dan memenuhi kriteria valid, dan hasil uji audien memenuhi kriteria valid. Sedangkan uji t kelompok kecil menghasilkan t hitung (9,17) > t tabel (2,78) kelompok besar menghasilkan t hitung (8,03) > t tabel (2,04). Hasil ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran program aplikasi software berbasis web lebih baik dari pada sebelum menggunakan media pembelajaran program aplikasi software berbasis web. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Media pembelajaran program aplikasi software berbasis web dapat membantu guru dalam menyampaikan materi, mempermudah siswa dalam belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bertolak dari hasil diatas, terdapat revisi pada begian petujuk pengisian oleh guru hendaknya lebih diperjelas dan desain layout disesuaikan dengan karakteristik perkembangan siswa.

Peningkatan pembelajaran matematika melalui media papan paku dengan pendekatan STAD di kelas V SDN Gembongan 05 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar / Nurul Lailatul Husna

 

ABSTRAK Husna, Nurul, Lailatul. 2010. Peningkatan Pembelajaran Matematika Melalui Media Papan Paku Dengan Pendekatan STAD Di Kelas V SDN Gembongan 05 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si., (II) Drs. Imam Hanafi, M.M Kata Kunci: Matematika, Media, Papan Paku, Pendekatan Stad. Proses pembelajaran merupakan proses interaksi antara proses belajar dan mengajar yang dilakukan oleh pembelajar dan peserta didik, dimana dalam proses pembelajaran itu harus berurutan. Jika proses pembelajaran itu bisa berjalan dengan baik dan efisien maka tujuan yang diinginkan oleh pembelajar juga akan berhasil dengan baik pula. Tujuan yang diinginkan itu diantaranya tingkat keberhasilan hasil belajar siswa. Namun pembelajaran saat ini banyak yang mengalami kegagalan yang salah satunya disebabkan oleh kurang tepatnya guru dalam memilih media pembelajaran dan bahkan tidak menggunakan media dalam mengajar. Salah satu pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa diantaranya adalah matematika.Oleh karena itu maka pada pembelajaran matematika media dianggap sebagi hal yang penting yang harus diperhatikan agar anak tertarik untuk mengikuti pelajaran matematika. Berdasarkan hasil observasi sementara yang telah dilakukan di SDN Gembongan 05 Blitar pada pembelajaran Matematika materi Bangun Datar, diperoleh data sementara bahwa siswa belum seluruhnya menguasai konsep bangun datar. Hal itu ditandai dengan ketuntasan belajar siswa hanya ada 1 siswa yang dinyatakan tuntas belajar, sedangkan yang belum tuntas sebanyak 13 siswa. Jika diprosentasekan hanya 8% siswa tuntas belajar dan 92% siswa belum tuntas belajar dari 14 siswa. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian ” Peningkatan Pembelajaran Matematika Melalui Media Papan Paku Dengan Pendekatan Stad Di Kelas V SDN Gembongan 05 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar”. Peneliti memilih menggunakan media papan paku dengan materi bangun datar karena media papan paku dianggap sebagai media yang tepat, efektif, dan efisian untuk mengajarkan materi bangun datar sehingga siswa akan merasa senang untuk mengikuti pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Gembongan 05 Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, dokumentasi, wawancara, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif, meliputi proses, makna tindakan, dan pemaknaan. Kegiatan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus. Dengan menggunakan media papan paku dalam materi Bangun datar , hasil belajar siswa meningkat. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 8% menjadi 57% pada siklus I. Pada silus II ketuntasan hasil belajar mencapai 78,57%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunan media papan paku dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika materi Bangun datar. Untuk itu, hendaknya para guru lebih kreatif dalam memilih media pembelajaran dan dalam pemilihan media tersebut hendaknya media yang dipilih harus tepat, efektif, dan efisian. Selain itu guru hendaknya bisa meminimalisir kelemahan atau kekurangan dari media pembelajaran yang telah dipilih demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Hubungan kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa SMA negeri dalam mengikuti bimbingan kelompok di Kota Malang / Guruh Sukma Hanggara

 

ABSTRAK Hanggara, Guruh Sukma. 2009. Hubungan Kemenarikan Interpersonal Konselor dan Motivasi Siswa SMA Negeri dalam Mengikuti Bimbingan Kelompok di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd., (II) Drs. Djoko Budi Santoso. Kata kunci: Kemenarikan Interpersonal, Motivasi, Bimbingan Kelompok. Kemenarikan interpersonal merupakan daya tarik yang dimiliki oleh seorang karena adanya kesan positif yang melekat pada diriorang tersebut, dan merupakan salah satu syarat untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan lebih efektif. Fungsi lain dari kemenarikan interpersonal secara tidak langsung akan membantu untuk mengevaluasi perilaku, yaitu dengan analisa perbandingan sosial. Kemenarikan interpersonal yang kurang dimiliki konselor menyebabkan kedekatannya dengan siswanya menjadi berkurang pula. Minimnya kemenarikan interpersonal tersebut berakibat pada kurangnya motivasi siswa untuk mengikuti layanan tersebut. Dengan kata lain kemenarikan interpersonal penting untuk membangkitkan motivasi sisiwa dalam menerima layanan bimbingan kelompok yang diberikan oleh konselor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa SMA Negeri dalam mengikuti bimbingan kelompok di kota Malang. Penelitian ini mengambil obyek penelitian yaitu siswa SMA Negeri di Kota Malang. Sampel penalitian ini sebanyak 246 siswa dari tiga sekolah dari kecamatan yang berbeda yang ada di Kota Malang. Teknik pengambilan sanpel menggunakan multi stage kluster random sampling, jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala kemenarikan konselor dan skala motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok dengan menggunakan penskalaan likert. Analisis deskriptif menggunakan persentase dan kualifikasi variabel. Analisis hipotesisi menggunakan uji korelasional product moment. Berdasarkan persepsi 246 responden diketahui konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat stabilitas emosional dan moral yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 111 (45,2%) menarik, 6 (2,4%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik karena kestabilan emosional dan moralnya. Sebanyak 51 (20,7%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat kompetensi sosial yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 169 (68,7%) menarik, 26 (10,6%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik. Sebayak 88 (35,8%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat kompetensi intelektual yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 115 (46,7%) menarik, 43 (17,5%) cukup menarik dan tidak ditemukan konselor yang kurang menarik. Sebanyak 100 (40,7%) konselor SMAN di kota Malang memiliki tingkat kemenarikan interpersonal yang sangat menarik karena tingkat rasa estetika yang dimiliki konselor tersebut, sebanyak 121 (49,1%) menarik, 25 (10,2%) cukup menarik dan tidak ditemukan siswa yang mempersepsi konselornya sebagai pribadi yang kurang menarik. Sebanyak 101 (41,1%) siswa SMAN di kota Malang sangat termotivasi secara intrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok, 142 (57,7%) termotivasi, 3 (1,2%) cukup termotivasi serta tidak ditemukan siswa yang kurang termotivasi dalam mengikuti bimbingan kelompok yang diselenggarakan oleh konselornya. Serta sebanyak 25 (10,2%) siswa SMAN di kota Malang sangat termotivasi secara ektrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok, 174 (70,7%) termotivasi, 47 (19,1%) cukup termotivasi serta tidak ditemukan siswa yang kurang termotivasi secara ekstrinsik dalam mengikuti bimbingan kelompok yang diselenggarakan oleh konselornya. Selai itu juga terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemenarikan interpersonal konselor dan motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok (r = 0,622) dengan (p = 0,000 < 0,05) dimana (38,7%), motivasi siswa tersebut ditentukan oleh kemanrikan interpersonal konselor dan (61,3%) ditentukan oleh elemen lain. Agar motivasi siswa dalam mengikuti bimbingan kelompok, maka aspek kemenarikan interpersonal yang masih harus ditingkatkan adalah: kompetensi sosial, kompetensi intelektual dan rasa estetika, disamping itu konselor harus pandai-pandai menciptakan motivasi eksternal yang dapat ditempuh adalah harus pandai-pandai dalam memberi peguatan, pandai memilih tempat yang tepat untuk penyelenggaraan bimbingan, serta harus kreatif dalam memilih teknik yang digunakan sehingga kegiatan bimbingan kelompok akan lebih menarik. Penekanan kepala sekolah terhadap konselor untuk senantiasa menampakan kemenarikan interpersonal masing-masing merupakan salah satu hal yang bisa membangkitkan motivasi siswa. Dosen dan pimpinan bimbingan dan konseling di lembaga harus segera bergegas dan berbenah untuk kedepan lebih mengedepankan pelatihan-pelatihan ketrampilan berbasis hati. Berdasarkan hasil penelitian ini maka timbullah suatu gagasan supaya LPTK memprogramkan suatu karantina khusus berkenaan dengan penguasaan aspekaspek kemenarikan interpersonal konselor tersebut. Salah satu kebijakan yang bisa dilakukan oleh lembaga terkait adalah dengan menerbitkan semacam rujukan, jurmal ilmiah, melalui berbagai media yang bisa menambah wawasan dan memupuk kemenarikan interpersonal khususnya pada konselor. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik pada permasalahan yang sama, bisa diusahakan untuk mengkaji masalah ini dengan jangkauan yang lebih luas dengan menambahkan atau mengembangkan variabel lain yang belum terungkap dalam penelitian ini.

Peningkatan motivasi belajar bangun datar siswa kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan dengan model pembelajaran teams games tournament (TGT) / Ma'rufah

 

ABSTRAK Ma’rufah, 2009. Peningkatkan Motivasi Belajar Bangun Datar Siswa Kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan dengan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Skripsi, Jurusan KSDP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Bambang Soerjono, M. Ed. Kata Kunci: Pembelajaran Model TGT, Motivasi Belajar, Bangun Datar Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti pada pembelajaran bangun datar di kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa dalam kelas tersebut rendah. Salah satu akar penyebabnya yaitu kurang tepatnya guru dalam memilih cara dan media selama pembelajaran, sehingga siswa menjadi tidak termotivasi dalam belajar dan merasa bosan dengan suasana tersebut. Oleh karena itu perlu adanya suasana pembelajaran yang baru yang akan membuat siswa termotivasi untuk belajar sehingga hasil belajarnya pun meningkat. Salah satu model pembelajaran yang diyakini dapat membangkitkan motivasi siswa untuk belajar antara lain pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT). Dalam pembelajaran model TGT pada penelitian ini terdapat diskusi kelompok yang memiliki fungsi utama untuk mempersiapkan anggota-anggotanya agar melakukan yang terbaik dalam turnamen dan kuis . Kuis dilakukan karena TGT tidak secara otomatis menghasilkan skor yang dapat digunakan untuk menghitung nilai individual. Untuk menentukan nilai-nilai individual, peneliti memberikan kuis setelah turnamen. Pemberian turnamen dan kuis dalam pembelajaran ini diyakini mengakibatkan timbulnya motivasi tinggi yang dapat memberikan dampak hasil belajar maksimal. Terlebih model pembelajaran ini sesuai dengan karakter siswa SD kelas V yang masih senang bermain dan mendapatkan hadiah. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus belajar terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, implementasi tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan pada semester gasal tahun pelajaran 2009/2010. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi untuk motivasi belajar dan tes untuk mengetahui pengaruh motivasi yang didapatkan terhadap hasil belajar. Berdasarkan observasi motivasi belajar atas aspek keantusisan, keaktifan, dan keceriaan terdapat peningkatan – peningkatan pada tiap siklus. Pada siklus I motivasi belajar siswa mencapai rata-rata 90 poin, siklus II motivasi belajar siswa mencapai rata-rata 159,5 poin (diperoleh dari jumlah poin siklus I pertemuan ke-I dan pertemuan ke-2 dibagi dua). Dari hasil rata-rata motivasi belajar siswa tiap siklus terdapat peningkatan sebesar 69,5 poin. Hal ini berarti siswa kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan yang terdiri dari 17 siswa mengalami peningkatan motivasi belajar bangun datar. Dengan demikian pembelajaran model TGT terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar bangun datar siswa kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan. Hasil belajar bangun datar siswa pada siklus I mencapai rata-rata 41,18 dan hasil belajar bangun datar siswa pada siklus II pertemuan ke-1 dan pertemuan ke-2 mencapai rata-rata 67,06. Hal ini berarti terdapat peningkatan sebesar 25,91. Jadi dapat disimpulkan bahwa siswa kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan selain mengalami peningkatan motivasi belajar bangun datar, juga mengalami peningkatan hasil belajar bangun datar. Dengan demikian motivasi belajar bangun datar yang didapatkan dari penerapan pembelajaran model TGT dalam meningkatkan hasil belajar bangun datar siswa kelas V SDN Kenduruan I Sukorejo Pasuruan telah terbukti keberhasilannya dan dapat diterima.

Kepemimpinan kepala sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional (studi multikasus di SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu) / Mahfud Mahmud Gamar

 

ABSTRAK M.Gamar Mahfud, 2009. Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mencapai SMK Bertaraf Internasional (Studi Multikasus di SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. A.Sonhadji K.H, M.A.,Ph.D., (II) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd Kata kunci: kepemimpinan kepala sekolah, SMK, sekolah bertaraf internasional Keberhasilan sekolah menengah kejuruan dalam mencapai sekolah bertaraf internasional tidak lepas dari peran kepala sekolah sebagai pemimpin. Keberhasilan SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu dalam usaha mencapai SMK Bertaraf Internasional merupakan faktor kepemimpinan kepala sekolah. Untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional, penelitian ini difokuskan pada: (1) kepemimpinan kepala sekolah dalam mengubah pola pikir warga sekolah mencapai SMK Bertaraf Internasional, yang terdiri dari melakukan sosialisasi, membangun komitmen seluruh warga sekolah, menumbuhkan kesadaran warga sekolah, memberi contoh teladan, memberi motivasi terhadap warga sekolah, dan (2) kepemimpinan kepala sekolah dalam mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional, yang mencakup membentuk tim SMKRSBI, merumuskan visi ke depan, pembenahan kurikulum dan model pembelajaran, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pembenahan manajemen, perbaikan sarana dan prasarana, menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), dan pendanaan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan berbagai hal berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional. Adapun tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan kepemimpinan kepala sekolah SMK Negeri 1 Palu dan SMK Negeri 3 Palu mengubah pola pikir warga sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional,(2) untuk mendeskripsikan kepemimpinan kepala sekolah dalam mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan multi kasus, karena dua kasus penelitian dengan latar yang berbeda. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan tiga cara, yakni: (1) wawancara mendalam, (2) observasi berperan serta pasif, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, dengan alur: (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan, (d) analisis data kasus individu, (e) analisis data lintas kasus. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan empat kriteria, yaitu; (1) kredibilitas, (2) transferbilitas, (3) dependenitas, dan (4) komfirmabilitas Dari hasil paparan data penelitian ini ditemukan: Kasus SMKN 1 Palu dan SMKN 3 Palu merupakan Sekolah Bertaraf Internasional fase rintisan yang memiliki: (1) kepemimpinan kepala sekolah merubah pola pikir warga sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional dengan melakukan; (a) sosialisasi, sosialisasi dilakukan terhadap interen dan eksteren sekolah, (b) membangun komitmen bersama, kepala sekolah membangun komitmen bersama guru-guru dan tenaga administrasi, komitmen dengan pemerintah daerah khususnya Dinas Pendidikan Nasional, komitmen dengan komite dan orang tua murid serta komitmen dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri, (c) menumbuhkan kesadaran, untuk mengubah polah pikir warga sekolah sehingga mau melakukan perubahan, kepala sekolah berusaha menumbuhkan kesadaran guru-guru, pegawai dan siswa bahwa sekolahnya adalah SMKRSBI yang tentunya tidak sama dengan sekolah-sekolah lainnya, (d) memberi contoh teladan dengan mencontohkan keteladanan kepada warga sekolah berupa kedisiplinan, tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas, dan pengabdian terhadap sekolah, (e) memberikan motivasi terhadap warga sekolah, kepala sekolah melakukannya dalam bentuk penghargaan yang diberikan kepada guru-guru, tenaga administrasi bahkan satpam yang berprestasi, mendorong agar warga sekolah untuk mengembangkan diri melalui kegiatan seminar, training, pelatihan, diklat, dan meningkatkan kualifikasi pendidikan, dan (2) kepemimpinan kepala sekolah mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional dengan melakukan; (a) membentuk tim SMK RSBI, (b) merumuskan visi ke depan, (c) pembenahan kurikulum dan model pembelajaran, (d) meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), (e) pembenahan manajemen, (f) perbaikan sarana dan prasarana, (g) menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), (h) pendanaan sekolah. Kesimpulan penelitian ini adalah; (1) upaya kepala sekolah merubah pola pikir warga sekolah dalam mencapai SMK Bertaraf Internasional dilakukan dengan cara : (a) melakukan sosialisasi, (b) membangun komitmen warga sekolah, (c) menumbuhkan kesadaran dalam diri warga sekolah, (d) memberi contoh teladan, dan (e) memberi motivasi; (2) kepemimpinan kepala sekolah dalam mempercepat tercapainya SMK Bertaraf Internasional dilakukan dengan cara: (a) membentuk tim kerja SMK RSBI, (b) merumuskan visi kedepan, (c) pembenahan kurikulum dan model pembelajaran, (d) meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), (e) pembenahan manajemen, (f) perbaikan sarana dan prasarana, (g) menjalin kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI), dan (h) pendanaan sekolah. Penelitian ini memberikan beberapa saran. Pertama, bagi sekolah yang diteliti disarankan: (a) kepala sekolah senantiasa berusaha semaksimal mungkin merubah pola pikir warga sekolah dan senantiasa membangun komitmen bersama dengan seluruh warga sekolah dalam mewujudkan visi dan misi sekolah, (b) memotivasi seluruh warga sekolah untuk mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pelatihan-pelatihan, khursus-kursus dan melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, khususnya bagi guru dan tenaga kependidikan. Kedua,untuk kepala-kepala pada yayasan dan sekolah-sekolah lain, penelitian ini dapat dijadikan bahan keilmuan dalam rangka mengubah pola pikir warga sekolahnya untuk mencapai sekolah bertaraf internasional dan melakukan upaya-upaya untuk mempercepat tercapainya sekolah bertaraf internasional di sekolahnya. Ketiga, Dinas Pendidikan kota Palu sebagai bagian dari pemerintah, dapat memberikan: (a) kemudahan bagi pihak sekolah untuk melakukan hubungan kerja sama dengan semua pihak termasuk Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI) dalam rangka memajukan sekolah, (b) bantuan dana untuk pembiayaan sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan sekolah serta peningkatan Sumber Daya Manusia sehingga upaya sekolah mencapai sekolah bertaraf internasional tercapai. Keempat, bagi peneliti selanjutnya dapat menjadikan penelitian ini sebagi bahan keilmuan untuk mengetahui kepemimpinan kepala sekolah dalam upaya mencapai SMK Bertaraf Internasional dan disarankan untuk melanjutkan penelitian ini pada beberapa aspek yang belum dikemukakan dalam tulisan ini.

Pengaruh kredibilitas celebrity endorser pada iklan Pond's terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada mahasiswa pengguna produk Pond's di Universitas Negeri Malang) / Sri Hastuti

 

ABSTRAK Hastuti, Sri. 2009. Pengaruh Kredibilitas Celebrity Endorser Pada Iklan Pond’s Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi Pada Mahasiswa Pengguna Produk Pond’s di Universitas Negeri Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Supriyanto, M. M., (II) Titis Sinta Dewi, S. P., M. M., Kata Kunci: Kredibilitas Celebrity Endorser, Keputusan Pembelian Konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel kredibilitas celebrity endorser terhadap keputusan pembelian konsumen produk Pond’s. Penelitian ini mempunyai 2 variabel, yaitu variabel independen (X) yang terdiri dari Daya Tarik (X1), Keahlian (X2), dan Kepercayaan (X3), serta variabel dependen (Y) Keputusan Pembelian Konsumen. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa pengguna produk Pond’s di Universitas Negeri Malang, data diperoleh dengan menggunakan teknik kuesioner tertutup. Populasi tidak dapat ditentukan berapa jumlah pastinya. Oleh karena itu, untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus infinitive population, dari situ jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 140 mahasiswa. Setelah dilakukan proses pengolahan data dan analisis regresi linier berganda diketahui hasil penelitian menyatakan (1) Daya Tarik, dari hasil analisis data diperoleh nilai β1=0,271; t hitung=5,293; dan signifikansi t=0,000. Hal ini menunjukkan Daya Tarik berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen, (2) Keahlian, dari hasil analisis data diperoleh nilai β2=0,169; t hitung=3,531; dan signifikansi t=0,001. Hal ini menunjukkan Keahlian berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen, (3) Kepercayaan, dari hasil analisis data diperoleh nilai β3=0,513; t hitung=5,896; dan signifikansi t=0,000. Hal ini menunjukkan Kepercayaan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan secara parsial terdapat 3 variabel yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen, yaitu Daya Tarik, Keahlian, dan Kepercayaan. Sedangkan secara simultan variabel Daya Tarik, Keahlian, dan Kepercayaan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Variabel yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen adalah variabel kepercayaan. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah (1) Melihat tanggapan responden yang positif terhadap Gita Gutawa, Sandra Dewi, dan Cut Mini sebagai celebrity endorser pada iklan Pond’s maka PT. Unilever Indonesia, Tbk. tetap mempertahankan penggunaan ketiga selebriti tersebut, karena ketiga selebriti memiliki karakteristik dan kelebihan masing-masing dalam mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, (2) Gita Gutawa, Sandra Dewi, dan Cut Mini sebagai celebrity endorser produk Pond’s perlu menambah pengetahuan mereka tentang Pond’s dan manfaat produknya serta meningkatkan kemampuan dalam mengkomunikasikan pesan iklan Pond’s supaya dapat menarik perhatian konsumen sehingga akan menimbulkan niat untuk membeli. (3) Diharapkan dilakukan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan celebrity endorser dan keputusan pembelian konsumen dengan memasukkan lebih banyak variabel celebrity endorser, yaitu kecocokan selebriti dengan produk dan audiens, public image, dan profesionalisme seorang selebriti sebagai variabel yang akan diteliti. Dengan demikian hasil penelitian akan memberikan masukan yang lebih banyak bagi PT. Unilever Indonesia, Tbk. dan para pemasar serta praktisi iklan.

Kepercayaan sebagai pemediasi gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja (studi pada karyawan PT Steel Pipe Industry of Indonesia (SPINDO) Unit V Pasuruan) / Wina Prastuti

 

ABSTRAK Prastuti, Wina. 2009. Kepercayaan Sebagai Pemediasi Gaya Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kepuasan Kerja (Studi pada Karyawan PT Stell Pipe Industry Of Indonesia (SPINDO) Unit IV Pasuruan). Program S1 Manajemen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. M.Arief, M.Si, Pembimbing (II) Elfia Nora, S.E, M.Si. Kata Kunci: Kepercayaan, Gaya Kepemimpinan Transformasional, Kepuasan Kerja Pada era globalisasi dan pasar bebas seperti sekarang ini mencari seorang pemimpin yang tepat memang tidak gampang. Hal tersebut disebabkan kebanyakan suplay tenaga profesional yang tersedia cenderung kurang siap untuk menjadi pemimpin yang matang. Banyak pemimpin di indonesia yang sangat minim kesiapan namun tetap saja dipakai demi kepentingan perusahaan. Akibatnya, seperti sekarang ini banyak pemimpin yang malah membawa perusahaannya ke arah keruntuhan. Kepemimpinan memerankan peranan yang dominan penentu keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan. Sikap dan perilaku kepemimpinan manajer sangat besar pengaruhnya terhadap organisasi yang dipimpinnya. Pada masa sekarang ini gaya kepemimpinan yang sering diadopsi oleh perusahaan/organisasi adalah gaya kepemimpinan transformasional, hal ini dikarenakan gaya kepemimpinan ini menyangkut bagaimana mendorong orang lain untuk berkembang dan menghasilkan performa yang melebihi standart yang diharapkan. Kepercayaan merupakan suatu hal yang penting, karyawan yang percaya kepada pimpinan mereka akan berusaha untuk meningkatkan kinerja dan mereka memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik apabila terjadi perubahan dalam perusahaan. Dengan adanya kepercayaan serta kepuasan kerja yang tinggi sehingga proses kerja dapat berjalan sesuai dengan visi dan misi organisasi/perusahaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran deskriptif kondisi gaya kepemimpinan transformasional, kepercayaan, kepuasan kerja, serta pengaruh langsung gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepercayaan dan kepuasan kerja, maupun pengaruh secara tidak langsung kepercayaan memediasi gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja karyawan PT SPINDO unit IV Pasuruan. Analisis data yang digunakan untuk mengetahui pengaruh-pengaruh tersebut dilakukan dengan analisis jalur (path analysis) dengan bantuan SPSS 13.0 for windows dengan taraf sig 5%. Peneitian ini merupakan penelitian penjelasan dengan data yang diperoleh dari menyebarkan angket terrtutup yang menggunakan skala Likert. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji. Namun demikian, uji validitas dan realibilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan realibilitas data yang diperoleh. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT SPINDO unit IV Pasuruan yang berjumlah 155 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik proportional random sampling dimana jumlah sampel didapat dengan menggunakan rumus Slovin. Berdasarkan tehnik dan rumus Slovin tersebut, maka peneliti menetapkan nilai presisi (kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditoleransi/ diinginkan) sebesar 5% sehingga didapat jumlah sampel sebesar 112 orang karyawan PT SPINDO unit IV Pasuruan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Kondisi deskriptif gaya kepemimpinan transformasional, kepercayaan dan kepuasan kerja tergolong cukup baik. (2) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepercayaan dan kepuasan kerja. (3) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif dan signifikan antara kepercayaan terhadap kepuasan kerja (5) Terdapat pengaruh secara tidak langsung yang positif dan signifikan antara kepercayaan sebagai pemediasi gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja. Saran yang dapat diberikan peneliti berkaitan dengan hasil yang ada dalam penelitian ini adalah dengan adanya pengaruh yang positif dan signifikan diantara variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini maka pihak perusahaan hendaknya mengoptimalkan penerapan gaya kepemimpinan transfomasional yang mana dapat meningkatkan kepercayaan sehingga kepuasan kerja akan meningkat. Untuk meningkatkan penerapan gaya kepemimpinan transformasional yaitu dengan cara pemimpin harus mengarahkan karyawan untuk saling bekerjasama, melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan dan mempertimbangkan saran-saran karyawan.

Penggunaan media audio (lagu dan lirik) pada mata kuliah Deutsch III terhadap keterampilan menyimak mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2008 Universitas Negeri Malang / Arnidya Pradnasari

 

Abstrak : Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan media audio yang berupa lagu dan lirik sebagai media pembelajaran bahasa Jerman. Media audio adalah media yang dapat menghasilkan suara saja dan merupakan media yang berkaitan dengan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan menyimak mahasiswa dalam mata kuliah Deutsch III dengan menggunakan media audio (lagu dan lirik). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2008 sebanyak 42 mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Deutsch III. Adapun data utama yang digunakan berupa hasil tes menyimak mahasiswa saat penelitian berlangsung. Hasil tes berupa nilai atau angka yang berasal dari soal pada tes menyimak. Data penunjang berupa angket untuk mahasiswa dan observasi. Berdasarkan hasil tes, sebagian besar mahasiswa pada soal pertama mendapatkan nilai lebih baik dibandingkan dengan nilai pada soal kedua. Pada pembelajaran kedua dan ketiga sebagian besar mahasiswa mendapatkan nilai lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran pertama. Berdasarkan hasil observasi, dengan penggunaan media audio (lagu dan lirik) dalam menyimak dapat mendorong aktivitas mahasiswa. Berdasarkan hasil angket, manfaat yang mahasiswa dapatkan dari penelitian menyimak lagu dan lirik antara lain, (1) melatih kemampuan menyimak (hören), (2) menambah kosa kata baru, (3) melatih konsentrasi, (4) melatih pelafalan (aussprache) yang benar, (5) dapat menghilangkan penat, dan (6) menambah koleksi lagu dalam bahasa Jerman. Adapun faktor yang menjadi penghambat mahasiswa dalam menyimak lagu dan lirik pada saat penelitian berlangsung antara lain, (1) Pelafalan pada lagu (aussprache) kurang jelas, (2) kurang memahami kosa kata yang terdapat pada lirik lagu, (3) Kurangnya konsentrasi, (4) Lagu terlalu cepat. Faktor yang menjadi pendorong mahasiswa dalam menyimak lagu dan lirik pada saat penelitian berlangsung antara lain, (1) ingin menambah kosa kata baru, (2) menyimak dengan lagu lebih menarik, (3) lagu dapat menghilangkan kejenuhan, (4) ingin mengetahui makna dari tiap lirik lagu sehingga dapat melatih pelafalan (aussprache) yang benar dalam bahasa Jerman. Kata Kunci: Media audio, lagu dan lirik, dan keterampilan menyimak (hören).

Nilai-nilai moral dalam teks cerita rakyat Jawa Timur / Tria Wahyu Hidayati

 

ABSTRAK Hidayati, Tria Wahyu. 2009. Nilai-nilai Moral dalam Teks Cerita Rakyat Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum. Kata kunci: nilai moral, cerita rakyat Sastra daerah yang berbentuk lisan maupun tulisan merupakan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. Salah satu sastra daerah yang perlu dilestarikan adalah cerita rakyat. Cerita rakyat mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat penting dalam masyarakat pendukungnya. Cerita rakyat mengandung nilai luhur bangsa terutama nilai-nilai atau ajaran moral. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terdapat dalam teks cerita rakyat dari Jawa Timur. Tujuan khusus penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai moral individual, sosial, dan religi dalam teks cerira rakyat Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif dengan pendekatan moral. Pendekatan tersebut digunakan untuk menyatakan nilai-nilai moral yang terdapat dalam teks ceita rakyat dari Jawa Timur yang telah dibukukan oleh MB. Rahimsyah AR. tahun 2003 penerbit Bintang Usaha Jaya Surabaya. Data penelitian ini adalah paparan kebahasaan atau unit tekstual (dialog tokoh, monolog tokoh, dan narasi pengarang) dalam teks Cerita Rakyat Jawa Timur. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks Cerita Rakyat Jawa Timur yang dibukukan oleh MB. Rahimsyah AR., tahun 2003, penerbit Bintang Usaha Jaya Surabaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai moral dalam teks cerita rakyat Jawa Timur yang telah dibukukan oleh MB. Rahimsyah AR. tahun 2003 penerbit Bintang Usaha Jaya Surabaya, yaitu nilai moral individual, nilai moral sosial, dan nilai moral religi. Nilai-nilai moral individual dalam teks cerita rakyat Jawa Timur meliputi: (1) kepatuhan, (2) pemberani, (3) rela berkorban, (4) jujur, (5) adil dan bijaksana, (6) menghormati dan menghargai, (7) bekerja keras, (8) menepati janji, (9) tahu Balas Budi, (10) baik budi pekerti, (11) rendah hati, dan (12) hati-hati dalam bertindak. Nilai-nilai moral sosial dalam teks cerita rakyat Jawa Timur meliputi: (1) bekerjasama, (2) suka menolong, (3) kasih sayang, (4) kerukunan, (5) suka memberi nasihat, (6) peduli nasib orang lain, dan (7) suka mendoakan orang lain. Nilai-nilai moral religi dalam teks cerita rakyat Jawa Timur meliputi: (1) Percaya Kekuasaan Tuhan, (2) Percaya Adanya Tuhan, (3) Berserah Diri kepada Tuhan/Bertawakal, dan (4) Memohon Ampun kepada Tuhan. Disarankan bagi penulis karya sastra agar dapat menyajikan karya sastra bermutu khususnya tentang nilai moral dalam teks cerita rakyat, sehingga para penulis karya sastra dapat menciptakan karya sastra yang tidak hanya penyampaian kreativitas saja, melainkan karya sastra yang mengandung nilai-nilai moral, yaitu nilai moral individual, nilai moral sosial, dan nilai moral religi. Bagi peneliti sastra, agar setelah dilakukan penelitian ini dapat melakukan penelitian lanjutan dengan objek yang sama dan permasalahan yang berbeda, sehingga kajian tentang nilai moral dapat berkembang melalui objek-objek yang berbeda tersebut. Bagi pembaca, agar penelitian ini dapat digunakan pembaca sebagai bentuk pemahaman dan pengetahuan tambahan mengenai nilai moral, khususnya dalam teks cerita rakyat, sehingga pengetahuan pembaca tentang nilai moral, yaitu, nilai moral individual, nilai moral sosial, dan nilai moral religi lebih mendalam lagi pada masing-masing jenis nilai moral. Bagi lembaga atau instansi pendidikan, hasil penelitian ini agar dapat dijadikan cerminan dalam menemukan ajaran tentang nilai moral, sehingga melalui penemuan ini peserta didik dapat mengaplikasikannnya dalam pembelajaran sastra khususnya pada kajian sastra Indonesia dan dalam apresiasi karya sastra.

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar IPS melalui model problem based learning (PBL) pada siswa kelas V di SDN Ardimulyo 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Pasuruan / Dina Desi Maulita

 

ABSTRAK Maulita, Dina Desi. 2009. Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Pada Siswa Di Kelas V SDN Ardimulyo 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Program Studi S1 PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Sugiharti, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. I Made Seken, S.Pd, M.Pd Dra. Sri Harmini, M.Pd Kata Kunci : Problem Based Learning (PBL), Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, IPS Pembelajaran IPS di SDN Ardimulyo 02 masih berpusat pada guru dan siswa cenderung pasif. Oleh karena itu, peneliti menganggap penting mengadakan penelitian guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa. Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu strategi dari pendekatan pembelajaran kontekstual digunakan dalam penelitian ini untuk mencapai tujuannya yaitu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa IPS kelas V SDN Ardimulyo 02. Jenis penelitian yang dipergunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Data hasil Penelitian dianalisis secara diskriptif. Tempat pelaksanaan di SDN Ardimulyo 02 Kabupaten Malang dengan subjek penelitian siswa kelas V yang berjumlah 48 siswa dan dilaksanakan mulai tanggal 3 Agustus-21 November 2009. Hasil penelitian setelah diterapkan Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran IPS dengan kompetensi dasar ”menceritakan tokoh-tokoh sejarah pada masa Hindu-Budha dan Islam di Indonesia” menunjukkan adanya dampak yang baik terhadap aktivitas dan peningkatan hasil belajar siswa. Indikasi adanya dampak yang baik terhadap aktivitas siswa adalah adanya kenaikan rata-rata skor aktivitas belajar siswa dari pra tindakan ke siklus I kemudian ke siklus II. Rata-rata skor semua komponen aktivitas siswa pada pra tindakan sebesar 40 meningkat menjadi 70 pada siklus I, kemudian mencapai 94 pada siklus II. Untuk hasil belajar siswa ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata skor hasil belajar siswa dari pra tindakan (58) ke siklus I (69) kemudian ke siklus II (83) dan dari peningkatan prosentase taraf keberhasilan siswa dari pra tindakan (4%) ke siklus I (40%) kemudian siklus II (96%). Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa. Oleh karena itu, maka disarankan agar Problem Based Learning (PBL) dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi guru dalam penilaian untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sekolah dasar.

Sistem autentikasi pengguna pada pembangunan PC router mikrotik di Madrasah Aliyah Negeri Kota Pasuruan / Krisdiyanso Cahyono

 

Jaringan Internet di sekolah diharapkan bisa dimanfaatkan oleh guru dan siswa untuk mengakses informasi yang diinginkan dengan cepat, baik melalui jaringan kabel maupun nirkabel. Dengan meningkatnya pengguna labtop di lingkungan sekolah, maka dibutuhkan koneksi Internet gratis melalui Hotspot. Sehingga banyaknya pengguna Internet dari satu ISP ini, diperlukan sebuah manajemen pengguna yaitu dengan sistem autentikasi pengguna sebagai login akses Internet, agar bisa dimonitor siapa saja yang berhak dan layak menggunakan fasilitas ini. Hal ini bertujuan agar pemanfaatan layanan Internet disekolah lebih optimal dan bisa dirasakan oleh semua komponen sekolah terutama siswa dan guru melalui sistem Prepaid Voucher. Tampilan halaman login Hotspot pun perlu disesuai dengan keadaan dan kebutuhan agar lebih menarik. Pada perancangan PC Router berbasis mikrotik ini diawali instalasi Mikrotik, dilanjutkan konfigurasi IP Address, Gateway dan DNS, DHCP Server dan NAT serta MTRG, Konfigurasi Autentikasi pengguna diawali dengan kofigurasi sistem Hotspot lalu dilanjutkan dengan konfigurasi Server Radius sebagai backend-nya serta konfigurasi User Manager, kemudian mengimplementasikan ke dalam sistem Prepaid Voucher sebagai login akses Internet dan merubah tampilan default halaman login sesuai kebutuhan. Dari perancangan dan hasil pengujian tersebut dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1) Sistem autentikasi pengguna bisa dimanfaatkan pada Wireless dan Wireline menggunakan sistem Hotspot pada Mikrotik dan dilakukan melalui login pada web browser agar bisa terhubung dengan Internet, (2) Halaman default login Mikrotik dapat diubah sesuai dengan kehendak dan kebutuhan menggunakan aplikasi desain web pada umumnya, (3) implementasi sistem Prepaid Voucher dibuat dengan adanya sistem User Manager dan sistem Hotspot Mikrotik sehingga masing-masing pengguna dapat ditentukan lama pemakaian, batas pemakaian, batas Bandwidth-nya, (4) Sistem Prepaid Voucher dapat dibuat dengan adanya sistem User Manager dan sistem Hotspot Mikrotik. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan: (1) upgrade Mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router Mikrotik, (2) penambahan line koneksi baru dari ISP agar koneksi Internet tidak terkesan lambat, (3) penggantian Wireless Router menjadi Access Point, agar sistem Hotspot lebih maksimal.

Mesin penggoreng kopi sistem tertutup dengan bahan bakar gas / Ahmad Prihandhono, Basukiono

 

Konsumsi kopi domestik menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar seiring dengan berkembangnya kafe yang telah memodifikasi cara penyajian kopi sebagai minuman.. Tumbuhnya konsumsi domestik tersebut akhirnya juga berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan terhadap kopi di pasar. Oleh sebab itu untuk memenuhi permintaan pasar mesin penggoreng kopi yang efisien, murah dan aromanya nikmat, maka kita mengembangkan “mesin penggoreng kopi sistem tertutup dengan bahan bakar gas” . Mesin ini memiliki banyak keunggulan di bandingkan dengan mesin yang sudah ada. Kelebihan alat yang kita kembangkan antara lain, mesin dapat bekerja dengan cepat dan dapat bekerja secara kontinyu, waktu yang dibutuhkan dalam proses penggorengan 20 menit dengan suhu 120º C / kg, selain itu mesin ini juga lebih murah karena berbahan gas bukan minyak tanah, karena menggunakan sistem tertutup, maka aroma yang di hasilkan kopi juga maksimal. Prinsip kerja mesin yang penulis rancang ini adalah menggunakan dua buah tabung, yaitu tabung luar dan tabung dalam. Untuk menghasilkan putaran rendah digunakan motor listrik yang dihubungkan dengan sabuk ke pully Proses pemanasan tabung dengan menggunakan bantuan kompor gas yang dilakukan secara terus-menerus. Pada kompor tersebut dilengkapi oleh solenoid valve yang berfungsi untuk menagatur besar kecilnya api yang keluar pada kompor sehingga kopi tidak gosong. Perawatan mesin penggoreng kopi bertujuan untuk menjaga agar mesin tetap awet dan tetap bekerja secara optimal. Dalam perawatan mesin diperlukan pada mesin penggoreng kopi ini meliputi perawatan harian, perawatan mingguan, perbaikan dan pelumasan.Sebelum melakukan proses produksi sebaiknya dilakukan pengecekan mesin terlebih dahulu.

Pengaruh atribut produk terhadap proses keputusan pembelian (Studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang membeli dan menggunakan telepon seluler Nokia) / Garry Chrysanta

 

ABSTRAK Chrysanta, Garry. 2009. Pengaruh Atribut Produk Terhadap Proses Keputusan Pembelian (Studi Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang Membeli dan Menggunakan Telepon Selular Nokia). Skripsi, Jurusan Manajemen Konsentrasi Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si (II) Titis Shinta Dhewi, S.P, M.M. Kata kunci: Atribut Produk, Proses Keputusan Pembelian Salah satu kemajuan teknologi pada saat ini adalah terdapat pada bidang komunikasi yang ditandai dengan adanya berbagai macam alat komunikasi yang diciptakan untuk memudahkan sistem komunikasi bagi masyarakat dan salah satunya adalah telepon selular. Agar dapat lebih bersaing dengan produsenprodusen telepon selular yang lain, maka produsen telepon selular harus menetapkan strategi-strategi pemasaran yang jitu agar dapat memenangkan persaingan serta mampu mempertahankan market share yang telah diraih agar tidak direbut oleh para pesaing yang mulai memasuki pasar Indonesia salah satunya adalah dengan mengembangkan atribut produk. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian, mengetahui pengaruh variabel atribut produk secara parsial terhadap proses keputusan pembelian, mengetahui pengaruh atribut produk secara simultan terhadap proses keputusan pembelian konsumen yaitu mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang membeli dan menggunakan telepon selular Nokia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yakni Atribut Produk (X) yang terdiri dari variabel Harga (X1), Merek (X2), Mutu (X3), Desain (X4), dan Garansi (X5). Sedangkan variabel terikatnya adalah variabel Proses Keputusan Pembelian (Y). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan model penelitian survey, sedangkan populasi yang digunakan adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang Membeli dan Menggunakan Telepon selular Nokia. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 120 responden yang dipilih secara accidental sampling. Dengan instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas konsumen menjawab setuju terhadap keadaan atribut produk dan proses keputusan pembelian telepon selular Nokia, terdapat pengaruh secara parsial antara atribut produk terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, terdapat pengaruh secara simultan antara variabel atribut produk yang terdiri dari Harga (X1), Merek (X2), Mutu (X3), Desain (X4), dan Garansi (X5) terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dan variabel Merek (X2) merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh dominan terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. ii Dari hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa variabel atribut produk sangat efektif digunakan sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sehingga perlu adanya perbaikan dan perhatian khusus terhadap variabel-variabel tersebut terutama untuk variabel mutu karena mutu merupakan variabel atribut produk yang memiliki pengaruh paling lemah terhadap proses keputusan pembelian telepon selular Nokia pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

Pengembangan media pembelajaran interaktif pelajaran geografi untuk Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Dringu Kabupaten Probolinggo / Yaniar Khoirun Nisya

 

ABSTRAK Nisya, Yaniar Khoirun. 2009. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Pelajaran Geografi Untuk Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Dringu Kabupaten Probolinggo Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Mohammad Efendi,M.Pd. M.Kes, (II) Drs. Abdul Manan Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Pelajaran Geografi Media dapat diartikan suatu perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima. Sedangkan Multimedia interaktif adalah media yang dapat berinteraksi secara langsung dengan pebelajar, karena interaktif memiliki komunikasi yang bersifat dua arah. Dan dalam proses belajar mengajar perlu diciptakan suasana yang menyenangkan, sehingga respon yang berkesan akan lebih diingat dibandingkan respon yang tidak berkesan. Pengembang melihat kondisi pada saat belajar geografi di kelas X SMAN 1 Dringu, materi yang diberikan kepada pebelajar masih menggunakan metode diskusi, tanya jawab, dan ceramah dari pembelajar. Tingkat keefektivan pebelajar dalam hal bertanya, menjawab pertanyaan, menggungkapkan ide gagasan, menganalisis suatu masalah dan proses pembelajaran lainnya menurut pengembang kurang efektif, karna geografi merupakan pelajaran yang berhubungan dengan gejala alam, sehingga tidak memungkinkan bagi siswa untuk menggunakan media cetak saja untuk mengembangkan imajinasinya. Pengembangan ini bertujuan untuk mendeskripsikan keefektifan penggunaan pembelajaran interaktif dalam pembelajaran, pendapat siswa tentang penggunaan pembelajaran interaktif, serta pengaruh penggunaan pembelajaran interaktif terhadap kondisional pembelajaran siswa dikelas. Selanjutnya, untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan pengumpulan data melalui metode tes sebagai instrumen pokok, dokumentasi, observasi, dan angket sebagai instrumen pendukung. Metode tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran Geografi, dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pribadi dan nilai siswa, observasi dilakukan untuk mendapatkan data mengenai kondisional pembelajaran siswa, sedangkan angket digunakan untuk mengetahui pendapatsiswa tentang penggunaan pembelajaran interaktif dalam pembelajaran. Media pembelajaran interaktif ini divalidasikan oleh ahli materi sebanyak 2 orang, ahli media sebanyak 2 orang, dan audiens siswa sebanyak 20 orang. Setelah dianalisis media pembelajaran interaktif ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media 87,5%, ahli materi 89,16% dan siswa individual 83,9% serta siswa kelompok kecil 84,04%. Hal ini menunjukkan media pembelajaran interaktif cukup dapat memberikan efek positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa secara menyeluruh, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran interaktif sangat efektif digunakan dalam pembelajaran siswa.

Pengaruh penggunaan media animasi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi kelas VII MTS Sutya Buana Malang / Maya Fanny Furoidah

 

ABSTRAK Furoidah, Maya Fanny. 2009. Pengaruh Penggunaan Media Animasi Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Biologi Kelas VII MTS Surya Buana Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. AJE. Toenlioe, M.Pd, (II) Drs. Abdul Manan, M.Pd. Kata kunci : media pembelajaran, animasi, hasil belajar. Media animasi pembelajaran merupakan media yang berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran ini dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan saja digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran. Dalam suatu penelitian disebutkan bahwa pentingnya animasi sebagai media pembelajaran adalah memiliki kemampuan untuk memaparkan sesuatu yang rumit atau komplek serta sulit dijelaskan dengan hanya gambar atau kata-kata saja. Dengan kemampuan ini maka media animasi pembelajaran dapat digunakan untuk menjelaskan materi yang secara nyata tidak dapat terlihat oleh mata. MTS Surya Buana Malang merupakan sekolah yang telah memiliki fasilitas multimedia, akan tetapi selama ini guru di sekolah tersebut belum memanfaatkannya secara optimal dan belum pernah menggunakan media animasi pembelajarann khususnya dalam pembelajaran Biologi. Media animasi pembelajaran merupakan media yang berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media ini dikemas dalam bentuk Compact disk sehingga bisa digunakan kapan saja dan dimana saja sesuai kebutuhan pebelajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media animasi pembelajaran terhadap hasil belajar. Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2009 dengan sampel penelitian yaitu siswa kelas VII di MTS Surya Buana Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis tes tanda menggunakan rumus Chi Square. Penggunaan analisis ini dikarenakan data yang diperoleh tidak memnuhi syarat homogenitas dan tidak berdistribusi secara normal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media animasi pembelajaran memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, serta menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan media animasi lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan tanpa menggunakan media animasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan supaya dilakukan penelitian pengaruh media animasi terhadap motivasi belajar peserta didik lebih lanjut, karena nantinya sangat diharapkan bisa digunakan sebagai acuan terbaru dalam dunia pendidikan.

Studi kasus pemahaman makna lukisan damar kurung mbah Masmundari / Presty Anugrah Notavianingtyas

 

ABSTRAK Anugrah, Presty, N. 2009. Studi KasusPemahaman Makna Lukisan Damar Kurung Karya Mbah Masmundari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Imam Muhadjir,(2) Drs. Andi Harisman. Kata kunci: Studi Kasus, Makna Lukisan Damar Kurung, Mbah Masmundari. Damar Kurung pada dasarnya adalah kerajinan lampion dari kertas dengan kerangka terbuat dari bilah-bilah bambu yang saling berhadapan dengan membentuk persegi. Damar kurung dalam kertas inilah yang dilukis dengan wujud yang spesifik, namun pada gambar-gambarnya menyerupai bentuk wayang dengan menggunakan warna cerah. Adapun bentuk lukisannya unik seperti karya anak-anak dengan warna dari bahan sumbo (pewarna kue) yang digoreskan pada kertas, disamping itu mempuyai fungsi untuk mengurung damar atau lampu. Damar kurung ada setiap tahun pada bulan Ramadhan dan Damar Kurung menjadi buah bibir masyarakat. Salah satunya adalah pembuat Damar Kurung yaitu Mbah Masmundari seorang nenek yang sudah berusia 94 tahun. Dalam perkembangannya Damar Kurung yang hanya terbuat dari bilahan bambu berubah bentuk menjadi Damar Kurung dengan menggunakan mika yang di lukis. Hal tersebut karena permintaan dari masyarakat itu sendiri. Disamping meneruskan tradisi damar kurung, cucu Mbah Masmundari juga membuat lukisan dari kanvas dengan tema yang sama. Hasil penelitian pada damar kurung karya-karya Mbah Masmundari yang berjudul nelayan, habis melahirkan, pernikahan, dan macanan yang menjadi bahasan penelitian ini. Pada karya yang bertema “Nelayan” menceritakan sebagian besar masyarakat Gresik yaitu pekerja nelayan. Hasil nelayan tersebut sebagai kebutuhan hidup sehari-hari serta hasil tangkapannya sebagian di jual di pasar. Untuk karya yang bertema “Habis Melahirkan”, biasanya mengadakan acara kenduren (hajatan/ bagi-bagi makanan). Acara kenduren ini adalah acara selamatan dengan membagibagikan makanan pada masyarakat sekitar sebagai ritual habis melahirkan. Untuk “Pernikahan” diadakan acara pencak macan dan ketek-ketekan. Pada acara itu para tetangga membantu mempersiapkan makanan hingga merias kemanten. Sedangkan karya yang berjudul “Macanan” adalah iring-iringan saat mempelai pria datang ke tempat wanita. Dalam perjalanan tersebut menunjukkan antraksi pencak macan. Hal tersebut dimaksudkan agar dalam rumah tangga kita harus kuat menghadapinya serta menyikapi dengan sabar dan santai.

Faktor-faktor motivasi mahasiswa baru dalam memilih jurusan administrasi pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Alwi Hamam

 

ABSTRAK Hamam, Alwi. 2009. Faktor-Faktor Motivasi Mahasiswa Baru dalam Memilih Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang . Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Imron Arifin, M. Pd, (II) Dr H. Achmad Supriyanto, M.Pd, M.Si Kata kunci: motivasi, mahasiswa memilih jurusan. Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, sehingga faktor-faktor mahasiswa dalam memilih jurusan berbeda pula. Seorang calon mahasiswa akan memilih suatu jurusan tertentu dengan harapan, bahwa jurusan yang ditempuhnya nanti akan dapat menunjang proses pendidikannya di kemudian hari dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Mahasiswa harus mengambil keputusan dalam memilih jurusan yang diinginkan dan diharapkan dengan mempertimbangkan hal-hal yang penting untuk masa depannya. Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah (1) apa faktor-faktor yang memotivasi mahasiswa baru untuk masuk Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang?(2) bagaimana mahasiswa baru dalam persiapan ujian masuk di Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Malang?(3) bagaimana pandangan mahasiswa baru terhadap peran serta orang tua dalam menghadapi persiapan masuk di Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang?(4)kendala apa saja yang dihadapi dalam menghadapi persiapan masuk di Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang? Tujuan dari penelitian ini meliputi: (1) untuk mengetahui faktor yang memotivasi mahasiswa untuk masuk Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang; (2) mengetahui yang dilakukan mahasiswa dalam persiapan ujian masuk Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang; (3) mengetahui apa peran serta orang tua mahasiswa dalam menghadapi persiapan masuk Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang; (4) mengetahui kendala yang dihadapi mahasiswa dalam menghadapi persiapan masuk Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Untuk mengumpulkan data yang relevan guna menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data wawancara dan studi dokumentasi. Dilanjutkan dengan menganalisis data, pengecekan analisis data dan menyimpulkan. Dari hasil penelitian ini menunjukkan: faktor-faktor yang memotivasi mahasiswa baru masuk jurusan Administrasi Pendidikan adalah (1) karena mahasiswa baru menyenangi bidang pengadministrasian; (2) mahasiswa baru tidak diterima di pilihan pertama; (3) mahasiswa baru ingin bekerja di kantor atau lembaga pendidikan; (4) keinginan untuk menjadi guru; (5) karena cita-cita; (6) keinginan untuk jadi karyawan TU; (7) keinginan untuk mempelajari ilmu Administrasi; (8) keinginan untuk menjadi seorang pemimpin; (9) saran dari guru; (10) dorongan dari orang tua; (11) berdasarkan peluang yang banyak; (12) karena gradenya rendah. Persiapan yang dilakukan mahasiswa baru dalam menghadapi persiapan ujian masuk di jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang adalah dengan belajar. Peran serta orang tua mahasiswa dalam menghadapi persiapan masuk di Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang adalah memberikan dukungan baik material maupun spriritual yaitu dengan mendoakan dan juga memberikan motivasi. Kendala yang dihadapi dalam menghadapi persiapan masuk di Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang adalah banyaknya saingan yang dihadapi dan kesulitan dalam mengerjakan soal. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada fakultas ilmu pendidikan agar selalu berusaha memperbaiki dan menyempurnakan sistem penerimaan mahasiswa baru. Diharapkan bagi jurusan Administrasi Pendidikan lebih meningkatkan kualitas dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa dan diharapkan bagi peneliti yang lain untuk mengembangkan penelitian ini dengan metode yang lain, sehingga dapat menambah dan mengembangkan kajian ilmiah yang ada.

Penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh basa jawa di kelas V SDN Sumbermanjing Kulon I Pagak Malang / Fatty Purwantie

 

ABSTRAK Purwantie, Fetty. 2009. Penerapan Metode Bermain Peran untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Unggah-Ungguh Basa Jawa di Kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Prasekolah, Program Studi S1 PGSD, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H.M Thoha A.R, S.Pd, M. Pd, (2) Drs. H. Rumidjan, M.Pd. Kata kunci: Metode bermain peran, keterampilan berbicara, unggah-ungguh Basa Jawa Ketika seseorang berbicara dengan orang lain dalam Bahasa Jawa maka perlu diperhatikan adanya tatanan dalam berbahasa Jawa yang disebut unggah-ungguh basa. Berdasarkan adanya unggah-ungguh basa dalam pergaulan masyarakat Jawa, diperlukan adanya pengenalan sejak dini terhadap tatanan tersebut. Pembelajaran unggah-ungguh basa di SD kebanyakan hanya menekankan pada kegiatan reseptif berbahasa. Sedangkan aspek produktifnya belum banyak dimunculkan. Sementara keterampilan reseptif yang tidak diimbangi dengan keterampilan produktif akan menjadikan siswa kurang mampu mengekspresikan ide dan berkomunikasi dalam kehidupan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk. (1) Mendeskripsikan penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa di kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang, (2) Mendeskripsikan metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa di kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan model penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas V SDN Sumbermanjingkulon I Pagak Malang yang berjumlah 29 siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, dokumentasi dan wawancara. Sedangkan evaluasi yang dilakukan terfokus pada hasil keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa siswa. Pada siklus I siswa kelompok tinggi mengalami kenaikan mengalami kenaikan sebesar 3 (4,41%), siswa kelompok sedang mengalami kenaikan sebesar 6,5 (10,83%), dan siswa kelompok rendah sebanyak 4,5 (8,65%). Pada siklus II kelompok tinggi mengalami kenaikan sebesar 15 (21,12%), siswa kelompok sedang mengalami kenaikan sebesar 16,5 (24,81%), dan siswa kelompok rendah sebanyak 24,16 (42,76%). Pada siklus II ketuntasan belajar mencapai diatas 75 % sehingga siklus dihentikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain peran dapat meningkatkan keterampilan berbicara unggah-ungguh Basa Jawa. Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah bahwa guru hendaknya menyajikan materi dengan memilih metode yang tepat dan menarik siswa. Hal ini diperlukan untuk meingkatkan kompetensi yang dimiliki siswa dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal.

Penerapan model quantum writing untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Karangbesuki I Kota Malang / Pertariasti Hernantiyas

 

ABSTRAK Hernantiyas, Pertariasti. 2009. Penerapan Model Quantum Writing untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN Karangbesuki I Kota Malang. Skripsi, Program S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Harry Poerwanto, M.Pd (2) Dra. Wiwik Dwi Hastuti, M.Pd. Kata kunci: Quantum Writing, Pembelajaran Bahasa Indonesia, Menulis Deskripsi Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Menurut Mary Leonhardt (dalam Elizabeth, 2002 : 31) Dari keempat aspek keterampilan tersebut, dapat dikatakan bahwa menulis merupakan aspek berbahasa yang rumit dan kompleks tingkatannya karena menyangkut kemampuan yang lebih khusus dalam pemakaian ejaan, struktur, kalimat, kosakata serta penyusunan paragraf. Pembelajaran menulis pertama kali diajarkan pada jenjang pendidikan sekolah dasar. Demikian pula di SDN Karangbesuki I yang mengajarkan pembelajaran menulis sejak kelas I. Dalam pembelajaran menulis masih banyak kesulitan yang dialami oleh siswa. Kenyataan di lapangan menunjukkan kecenderungan pembelajaran menulis siswa hanya terpaku pada buku atau contoh dari guru sehingga siswa mengalami kesulitan untuk mengembangkan tulisannya tersebut, permasalahan lainnya siswa diberi kebebasan untuk menulis namun seringkali tidak ditindak lanjuti sehingga karangan siswa kebanyakan belum sesuai dengan ejaan dan struktur karangan yang benar. Untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi di SD perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang menarik, yaitu dengan model quantum writing. Quantum Writing adalah interaksi dalam proses belajar (menulis) niscaya mampu mengubah pelbagai potensi menulis yang ada dalam diri manusia menjadi ledakan/ gairah yang dapat ditularkan kepada orang lain (Hernowo, 2003:10). Langkah-langkah pembelajaran dalam quantum writing adalah: (1)tahap persiapan; (2) tahap draft kasar; (3) tahap berbagi; (4) tahap perbaikan; (5) tahap penyuntingan; (6) tahap penulisan kembali; (7) tahap evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Penerapan model Quantum Writing dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi siswa kelas V SDN Karangbesuki I; (2) Peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa Kelas V SDN Karangbesuki I menggunakan model Quantum Writing. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru kelas, peneliti sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas V SDN Karangbesuki 1 Malang yang berjumlah 32 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pra tindakan adalah 41,29 , nilai rata-rata siklus I adalah 66,98 dan nilai rata-rata siklus II adalah 77, 94. Hasil keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas V SDN Karangbesuki I mengalami peningkatan dari kegiatan pembelajaran siklus I dan kegiatan pembelajaran siklus II. Peningkatan skor keterampilan menulis karangan deskripsi siswa dari pra tindakan, siklus I dan siklus II adalah 36,65 dengan prosentase peningkatan rata-rata sebesar 88,76%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model quantum writing dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa serta memberikan nuansa belajar yang menyenangkan dan membuat siswa aktif, antusias dan bersemangat dalam menulis. Saran bagi Siswa hendaknya lebih aktif mengikuti setiap proses pembelajaran. Saran kepada guru, dalam mengajar hendaknya tidak sekedar mengajarkan dengan acuan pada buku dan menggunakan teknik pembelajaran yang monoton. Sebagai guru SD hendaknya lebih kreatif dan cermat dalam menggunakan suatu metode dalam proses pembelajaran, sehingga siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran dan dapat mengembangkan kreativitasnya.

Pengaruh fasilitas belajar di sekolah latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XII IPS SMA Negeri 6 Malang / Eka Afni Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Eka Afni. 2010. Pengaruh Fasilitas Belajar di Sekolah dan Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Akuntansi Kelas XII IPS SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Tuhardjo, S.E., M.Si, Ak. (2) Satia Nur Maharani, S.E., M.Sa, Ak. Kata kunci: Fasilitas Belajar, Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua, Prestasi Belajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, setiap siswa tentu berharap akan dapat mencapai hasil yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Kenyataan yang terjadi terkadang tidak sesuai dengan harapan. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, yang meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Diantara semua faktor tersebut terdapat faktor fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua yang turut mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh fasilitas belajar di sekolah dan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di SMAN 6 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi (eksplanantory research) dan instrumen yang digunakan berupa kuisioner dan dokumentasi. Jumlah sampel sebanyak 50% dari jumlah populasi, yakni sebesar 55 siswa. Teknik analisis data menggunakan analisis data deskriptif dan analisis linier berganda. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa fasilitas belajar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 4,402 dengan signifikansi 0,000. Latar belakang sosial ekonomi orang tua juga memiliki pengaruh yang sigifikan terhadap prestasi belajar siswa. Terbukti dengan diperolehnya nilai t sebesar 6,902 dengan signifikansi 0,000. Diketahui secara simultan bahwa fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua memiliki pengaruh signifikan tehadap pengaruh prestasi belajar siswa. Terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F sebesar 27,565 dengan signifikansi 0,000. Saran yang diajukan adalah: (1) Sekolah dalam pengadaan fasilitas belajar hendaknya memperhatikan kebutuhan belajar siswa, terutama kebersihan ruang sekolah dan memperbaiki fasilitas belajar yang telah ada, terutama fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran. (2)Bagi siswa berprestasi dan latar belakang sosial ekonomi orang tuanya kurang mampu diharapkan sekolah bisa memperhatikannya dengan memberikan beasiswa untuk membantu memenuhi biaya pendidikan, sehingga kebutuhan belajar dapat tercukupi dan dapat meningkatkan prestasi belajar. (3) Bagi peneliti berikutnya diharapkan mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai fasilitas belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua dengan menambah kajian variabel yang lain yang sekiranya mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Pengaruh model pembelajaran dan tingkat kemampuan perseptual motorik siswa terhadap hasil belajar keterampilan / Johanis Julius Laemina

 

ABSTRAK OLEH JOHANIS JULIUS LEIMENA Selama ini model pembelajaran untuk pendidikan jasmani lebih lebih diarahkan kepada model tugas gerak dalam bentuk teknik gerakan yang standart atau baku. Model ini menngakibatkan anak pada tingkat sekolah dasar menjauhi kegiatan pendidikan jasmani karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan jasmani anak. Model ini dinamakan model pembelajaran tradisional, dimana guru yang lebih banyak berperan dalam kegiatan pendidikan jasmani. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi dalam model pembelajaran pendidikan jasmani yang teknik geraknya telah dimodifikasikan sesuai dengan kebutuhan anak. Model ini dirancang untuk mempermudah anak menguasai teknik gerakan mulai dari tingkat penguasaan gerak yang sederhana sampai pada tingkat penguasaan gerak yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel perlakuan (model pembelajaran) terhadap prestasi belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen dengan mempergunakan rancangan versi nonequivalenat control group design. Sampel penelitian sebanyak 80 anak pada sekolah dasar di kecamatan Saparua, Maluku Tengah. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) tidak ada perbedaan hasil belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli antara kelompok siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran modifikasi, dan kelompok siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran tradisional, (2) tidak ada perbedaan hasil belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli antara siswa yang memiliki tingkat kemampuan perseptual motorik tinggi dan kelompok siswa dedngan tingkat kemampuan perseptual motorik rendah, (3) tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kemampuan perseptual motorik siswa terhadap hasil belajar keterampilan teknik dasar permainan bola voli siswa sekolah dasar. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan kepada para guru pendidikan jasmani di sekolah untuk menggunakan model pembelajaran modifikasi dimana model ini menawarkan pentahapan tugas gerak sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga anak akan lebih mudah memahami teknik gerakan dan menguasai tekni gerakan dasar tersebut dengan baik.

Menyelesaikan model getaran pegas dengan transformasi laplace / Risqi Undiansari

 

ABSTRAK Udiansari, Risqi. 2009. Menyelesaikan Model Getaran Pegas dengan Transformasi Laplace. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Rustanto Rahardi, M. Si, (II) Drs. Sudirman, M. Si. Kata kunci: getaran, pegas, Transformasi Laplace. Dalam sains sering ditemukan masalah-masalah yang penyelesaiannya tidak dapat diatasi dengan menggunakan rumus atau konsep yang sudah ada tanpa menggunakan persamaan diferensial. Dalam situasi seperti ini dibutuhkan penyelesaian atau perhitungan matematika secara khusus untuk memecahkan masalah-masalah tersebut, sebagai contoh, masalah getaran pada pegas. Oleh karena itu diperlukan penyelesaian melalui persamaan diferensial. Transformasi Laplace adalah suatu metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial, yang memetakan masalah nilai awal ke dalam suatu persamaan aljabar atau sistem persamaan yang dapat diselesaikan dengan metode aljabar dan tabel transformasi Laplace. Dengan metode Transformasi Laplace akan dihasilkan solusi khusus secara langsung sesuai dengan kondisi nilai awal yang diberikan. Langkah-langkah menyelesaikan model getaran pegas dengan Transformasi Laplace yaitu pertama, mengetahui model getaran pegas dengan menggunakan Hukum Hooke dan Hukum Newton sehingga diperoleh persamaan diferensialnya. Model getaran pegas dibedakan ada atau tidaknya suatu redaman dan masingmasing dari model tersebut terdiri dari ada atau tidaknya gaya luar yang bekerja pada sistem. Kedua, menyelesaikan model getaran pegas tersebut yang berupa persamaan diferensial dengan Transformasi Laplace. Ketiga, dengan menggunakan alat bantu program maple dapat diketahui hasil Transformasi Laplace tersebut sehingga diperoleh grafik model getaran pegas. Model getaran pegas ini dapat dikembangkan lagi menjadi dua atau lebih derajat kebebasan pada pegas.

Pengaruh persepsi mahasiswa program studi pendidikan akuntansi UM 2005 - 2007 tentang sertifikasi guru terhadap motivasi mahasiswa menjadi guru / Hendra Wahyu Setiawan

 

ABTRAK setiawan, hendra wahyu, 2009 judul: pengaruh persepsi mahasiswa progaram study pendidikan akuntasi UM 2005 – 2007 tentang sertifikasi guru terhadap motivasi mahasiswa menjadi guru. Skripsi pembimbing (1) Drs H Sumadi.SE, MM, (2) Makaryanawati.SE, M.Si kata kunci: Persepsi mahasiswa, sertifikasi guru, motivasi persepsi guru suatu profesi yang dianggap masih kurang layak dari segi financial sehingga profesi kurang diminatai. Dengan dikeluarkanya kebijakan pemerintah yang tertuang dalam undang – undang 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dengan tujuan utama untuk meningkatkan kwalitas dan profesionalisme guru dengan disertai peningkatan kesejateraan guru. Dengan adanya sertifikasi guru diharapkan akan menambah motivasi mahasiswa program studi pendidikan Akuntansi terhadap profesi guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap motivasi mahasiswa program studi pendidikan Akuntasi 2005 – 2007 untuk menjadi guru penelitian ini adalah jenis penelitian explanasi dengan variabel bebas perssepsi mahasiwa tentang sertikasi guru terhadap variabel terikat motivasi mahasiwa menjadi guru. Populasi dalam penelitian ini adalah mahsiswa program studi pendidikan akuntasi 2005- 2007 dengan jumlah 514, teknik pengambilan sampel dengan menggunakan random sampling dan diperoleh sampel sebanyak 128 atau 29.18% dari total populasi, instrumen penelitian ini dengan mengunakan kuisioner, teknik analisis dengan menggunakan regresi sederhan berdasarkan hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil penelian ada pengaruh positif antara persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru(x) terhadap motivasi mahasiswa menjadi guru (y) dari hasil analisis data diperoleh nilai t hitung sebesar 11.499 pada 5% dengan taraf signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0.005 maka hipotesis diterima. Hal ini menunjukan bahwa perubahan yang terjadi pada persepsi mahasiswa tentang sertifikasi akan menyebabkan perubahan pada motivasi mahasiswa menjadi guru dengan arah positif. Semakin tinggi persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru akan meningkatkan motivasi mahasiswa menjadi guru. Saran penelitian selanjutnya adalah menambahkan variabel minat dijadiakan variabel terikat hal tersebut dilakukan agar dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih bervariasi yang diharpkan dapat memberikan manfaat yang lebih besar.

Rancang bangun jaringan komputer untuk aplikasi VOIP pada UPT SMKN 1 Pasuruan / Siti Aminah

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin cepat, khusuanya pada teknologi jaringan yang mengarah pada teknologi IP (Internet Protokol) berfungsi sebagai infrastruktur multi layanan, yaitu dapat bertukar informasi dan data dan juga dapat melewatkan jalur suara melalui jaringan komputer atau yang disebut VOIP (Voice Over Internet Protocol). Layanan internet jardiknas di ICT (Information and Communication Technology) Center UPT SMK Negeri 1 Pasuruan dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengembangan koneksi jaringan yang sudah ada, agar dapat dikembangkan untuk di aplikasikan dengan sistem VoIP. Pada Pengembangan sistem jaringan ini akan membahas pengembangan jaringan jardiknas yang akan dikembangkan pada ruang dan laboratorium yang belum terkoneksi dengan internet, sehingga sistem VoIP dapat diaplikasikan pada ruang-ruang tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah persiapan hardware dan software yang akan digunakan. Langkah kedua desain dan perancangan jaringan. Langkah ketiga yaitu mengkonfigurasi IP address pada komputer client yang akan dikoneksikan pada internet. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, maka diperoleh komputer pada ruangan dan laboratorium yang sebelumnya belum terkoneksi ke internet kini telah terkoneksi dengan baik, sehingga sistem VoIP dapat di aplikasikan. Kesimpulan yang dapat diambil dari rancangan dan hasil pegujian adalah komputer yang telah terkoneksi jaringan internet dengan menggunakan layanan internet jardiknas dapat diaplikasikan dengan sistem VOIP, sehingga dapat digunakan sebagai media komunikasi antar gedung maupun antar ruang di UPT SMK Negeri 1 Pasuruan. Koneksi jaringan tersebut sering terjadi kegagalan koneksi (request timed out) pada siang hari yang disebabkan padatnya jalur koneksi internet, sehingga sistem VoIP yang di jalankan tidak dapat berjalan dengan baik dan suara yang dihasilkan sering terputus-putus. Dengan melihat hasil yang telah dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan jaringan VoIP yang sudah ada, hendaknya dikembangkan sehingga dapat menghubungkan dengan sekolah-sekolah yang menjadi Client ICT Center, serta adanya koneksi internet dengan kapasitas bandwith yang memadai agar komunikasi yang dilakukan menghasilkan suara yang jernih tanpa adanya jitter dan delay yang signifikan. Kata Kunci : IP (Internet Protokol), VOIP (Voice Over Internet Protocol)

Pengembangan strategi pembelajaran IPS dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan di kelas 7 SMP Negeri 1 Pengarengan Kabupaten Sampang / Fariz Faizal

 

ABSTRAK Faizal, Fariz. 2010. Pengembangan Strategi Pembelajaran IPS dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di Kelas 7 SMPN 1 Pangarengan Kabupaten Sampang. Skripsi, Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Malikah Thowaf, M.A, (II) Drs. Mashuri, M.Hum. Kata kunci: strategi pembelajaran, efektifitas, efisiensi, daya tarik. Dalam strategi pembelajaran, ada tiga variabel utama yang sangat penting yaitu, kurikulum, guru dan pengajaran. Dan guru menempati kedudukan sentral, sebab peranannya sangat menentukan.. Di sekolah-sekolah non unggulan, seperti di SMPN 1 Pangarengan, strategi mengajar IPS kurang bervariasi, kebanyakan di dalamnya adalah menggunakan metode ceramah. Padahal masih banyak metode lain yang bisa digunakan dengan kondisi pembelajaran. Masalah utama adalah kurang lengkapnya sarana/alat yang dihadapi oleh pengajar dalam menerapkan strategi dan media pembelajarannya. Sementara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengharuskan seorang guru untuk menguasai empat bidang studi (Geografi, Ekonomi, Sejarah dan Sosiologi) dalam pelajaran IPS. Maka dari itu guru harus mempunyai strategi yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan melihat kondisi murid dan sekolah. Fokus penelitian ini bagaimana guru mengembangkan strategi pembelajaran IPS yang efektif dan efisien diharapkan menjadi contoh sekolah lain dalam menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi sekolah terutama di kelas 7 dengan materi mendiskripsikan kehidupan pada masa pra-aksara di Indonesia. Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Pangarengan di semua kelas 7 (7A,7B, dan 7C). Rancangan penelitian yang digunakan adalah kasus tunggal, bersifat deskriptif dan menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti melihat secara langsung proses pembelajaran di kelas 7A, 7B dan 7C selama 4X tatap muka dan 2 minggu untuk wawancara dan dokumentasi, pada semester ganjil Tahun Ajaran 2008/2009. Tiga metode yang digunakan dalam mengumpulkan data-data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah menunjukkan bagaimana guru menggunakan strategi pembelajaran dengan pendekatan ekspositori dengan metode ceramah ternyata efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dari aspek kognitif, sedangkan pendekatan inquiri dengan metode diskusi ternyata efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran dari aspek psikomotorik dan afektif. Strategi pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi dipilih sesuai dengan kondisi pembelajaran di kelas 7 SMPN 1 Pangarengan dan terbukti efisien waktu kecuali untuk metode diskusi memerlukan waktu yang lebih lama, sedangkan tempat dan biaya relatif sama-sama efisien. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar, strategi pembelajaran hendaknya melihat kondisi siswa dan sekolah agar tidak hanya mempunyai efektifitas tetapi juga efisiensitas, pemerintah supaya memberikan sarana prasarana yang baik kepada sekolah non unggulan agar tujuan pendidikan nasional tercapai dengan merata, dan kepada peneliti selanjutnya diharapkan menggali lebih dalam lagi terkait dengan strategi pembelajaran di lapangan, di karenakan masih banyak masalah dalam pelaksanaan strategi pembelajaran terutama pada sekolah non unggulan atau yang jauh dari pusat pengembangan pendidikan.

Pelaksanaan PPL Mahasiswa pendidikan seni rupa di SMP 17 Malang pada mata pelajaran seni budaya semester II 2008/2009 / Dwi Setyorini

 

Setyorini, Dwi. 2009. Pelaksanaan PPL Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa di SMPN 17 Malang pada Mata Pelajaran Seni Budaya Semester II 2008/2009. Skripsi, Progam Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Dra. Hj. Purwatiningsih, M. Pd. Kata Kunci: pelaksanaan, strategi, PPL. Dunia pendidikan membutuhkan pendidik yang profesional agar setiap pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Untuk memperoleh tingkat profesionalisme, setiap mahasiswa kependidikan termasuk mahasiswa Pendidikan Seni Rupa diharuskan melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan. PPL tersebut dilaksanakan agar mahasiswa kompeten dibidangnya, karena pada dasarnya teori dan praktek di lapangan sangat berbeda. Untuk itu diadakan penelitian dengan tujuan untuk (1) Mengetahui pelaksanaan strategi pengorganisasian pembelajaran mahasiswa PPL Pendidikan Seni Rupa di SMPN 17 Malang pada mata pelajaran Seni Budaya semester II 2008/2009; (2) Mengetahui pelaksanaan strategi penyampaian pembelajaran mahasiswa PPL Pendidikan Seni Rupa di SMPN 17 Malang pada mata pelajaran Seni Budaya semester II 2008/2009 dan (3) Mengetahui pelaksanaan strategi pengukuran hasil belajar mahasiswa PPL Pendidikan Seni Rupa di SMPN 17 Malang pada mata pelajaran Seni Budaya semester II 2008/2009. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subyek penelitian adalah dua mahasiswa PPL di SMPN 17 Malang. Lokasi penelitian di SMPN 17 Malang yang tepatnya berada di jalan Tanjung Priok no. 120 Klayatan Malang. Intrumen penelitian utama adalah human instrument yaitu peneliti sendiri dengan dibantu intrumen pembantu seperti panduan wawancara, panduan observasi dan dokumentasi. Prosedur pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara mendalam (terstruktur dan tidak terstruktur), observasi partisipasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, penyajian data, verifikasi disertai dengan penyimpulan. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data baik sumber, waktu maupun metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Mahasiswa PPL telah melaksanakan tahap strategi pengorganisasian pembelajaran dengan menyusun perangkat pembelajaran. Perangkat yang terdiri dari progam tahunan, progam semester, silabus dan RPP tersebut disusun dengan menyesuaikan perangkat sekolah berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kompetensi yang dikembangkan adalah apresiasi dan ekspresi keempat sub bidang studi Seni Budaya yaitu seni rupa, musik, tari dan teater. Dalam implementasinya ditemukan suatu pembelajaran tanpa ada perangkat; (2) Mahasiswa PPL telah melaksanakan tahap strategi penyampaian pembelajaran seni, seperti penggunaan model, metode, pendekatan, media dan ketrampilan dasar mengajar. Dalam implementasinya, pembelajaran belum berjalan optimal dengan metode yang dipilih, terdapat kesulitan penguasaaan kelas, dan belum adanya sarana prasarana yang mendukung strategi penyampaian pembelajaran; (3) Mahasiswa PPL telah melaksanakan strategi pengukuran hasil belajar siswa melalui penilaian proses dan penilaian produk pembelajaran dengan mengukur kompetensi apresiasi dan ekspresi, dengan menggunakan penilaian rating scale yang berisi aspek-aspek yang dinilai. Dalam implementasinya penilaian tersebut belum sistematis sesuai dengan perencanaan. Berdasarkan temuan penelitian disarankan kepada (1) Mahasiswa PPL sebaiknya menyusun perangkat pembelajaran dengan cermat, teliti dan baik pada setiap pembelajaran. Dalam tahap strategi penyampaian sebaiknya lebih selektif dalam pemilihan metode pembelajaran. Dalam tahap strategi pegukuran pembelajaran sebaiknya menggunakan intrumen penilaian dengan baik dan sistematis, agar mempermudah dalam mengukur kemampuan siswa; (2) Guru pamong agar membimbing setiap mahasiswa PPL dalam melaksanakan strategi pengorganisasian, penyampaian dan strategi pengukuran hasil pembelajaran; (3) Sekolah agar lebih memperhatikan mata pelajaran seni budaya, dengan melengkapi sarana prasarana demi berlangsungnya pembelajaran yang optimal.

Penerapan mode kooperatif model Teams-Games-Tournaments (TGT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar maharah qira'ah siswa kelas XII Bahasa MAN Batu / Sholihatul Atik Hikmawati

 

ABSTRAK Hikmawati, Sholihatul Atik. 2009. Penerapan Metode Kooperatif Model Teams- Games- Tournaments (TGT) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Maharah Qira’ah Siswa Kelas XII Bahasa MAN Batu, Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. H. Moh. Khasairi, M.Pd dan Mohammad Ahsanuddin, S.Pd, M.Pd.I Kata kunci: Maharah Qira’ah, kooperatif TGT, motivasi belajar, hasil belajar. Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin cepat laju teknologi maka tuntutan dalam dunia pendidikan semakin berubah, paradigma lama yaitu teacher centered (pelajaran yang terpusat pada guru) tidak bisa lagi dipertahankan, karena pengajaran tersebut bersifat monoton sehingga siswa cenderung pasif dan merasa takut untuk menanyakan kesulitan yang mereka hadapi kepada guru. Mereka lebih suka menanyakan apa yang tidak dipahami dari teks atau bacaan kepada teman. Untuk itu, diperlukan suatu model pembelajaran yang memberikan konstribusi kepada pengajar untuk membentuk sebuah kelompok belajar yang dapat membangkitkan motivasi siswa sehingga memudahkan mereka dalam memahami materi secara menyeluruh dan menjawab soal-soal yang diberikan. Hal ini dapat diatasi dengan cara guru memberikan variasi strategi pembelajaran yang bersifat kooperatif agar atmosfer pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil dan motivasi siswa dalam belajar. Tujuan penelitian ini secara umum adalah meningkatkan hasil dan motivasi belajar Maharah Qira’ah dengan pendekatan kooperatif model TGT. Tujuan khusus penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan pelaksanaan proses pembelajaran Maharah Qira’ah dengan pendekatan kooperatif model TGT, (2) mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Maharah Qira’ah dengan pendekatan kooperatif model TGT, dan (3) mendeskripsikan peningkatan motivasi siswa dalam pembelajaran Maharah Qira’ah dengan pendekatan kooperatif model TGT. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom action research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Bahasa MAN Batu yang sedang menempuh semester ganjil 2009/2010. Data dalam penelitian ini berupa: (1) informasi tentang aktivitas guru dan siswa, (2) informasi tentang proses pelaksanaan pembelajaran kooperatif TGT pada Maharah Qira’ah, dan (3) motivasi dan hasil belajar siswa. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah human instrumen dengan instrumen bantu berupa, pedoman wawancara, lembar observasi, soal tes, dan angket. Langkah-langkah yang ditempuh peneliti adalah: mengumpulkan data, menyajikan data, mereduksi data, mengorganisasi data, memaknai data, dan menyimpulkan hasil penelitian. Adapun tahap-tahap penelitian adalah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Proses pembelajaran kooperatif model TGT memiliki lima komponen, yakni: (1) penyajian kelas, pengajar memberikan gambaran secara umum tentang materi yang akan disajikan, (2) tim, guru melaksanakan pembagian kelompok secara heterogen dari segi kemampuan. Tugas tim tersebut yaitu saling memotivasi dan siswa yang pandai sebagai tutor sebaya bagi timnya, (3) permainan, tim mengirimkan delegasinya untuk bermain di papan destinasi, (4) pertandingan, kelompok delegasi yang memiliki kemampuan homogen saling bersaing untuk mengumpulkan skor sebanyak-banyaknya untuk kemenangan timnya, dan (5) penghargaan tim, guru memberikan penghargaan kepada tim yang telah mengumpulkan skor tertinggi atau super tim. Penghargaan ini selain untuk menginformasikan keberhasilan tim juga sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi tim lain. Pelaksanaan pembelajaran Maharah Qira’ah dengan pendekatan kooperatif TGT pada siklus I ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya: (1) siswa belum terkondisikan karena guru tidak memberikan penjelasan secara menyeluruh alur pembelajaran dengan model TGT, serta kurangnya acuan yang diberikan guru, (2) fungsi dari kerja tim kurang maksimal sehingga sebagian besar siswa tidak bisa tampil percaya diri saat menghadapi lawan di meja pertandingan, dan (3) siswa masih belum terbiasa mengungkapkan kesimpulan atau menjawab pertanyaan dengan bahasa Arab, adapun pada siklus II masalah pada siklus I dapat diatasi. Namun ditemukan kendala baru yaitu kurangnya media kamus sehingga ada beberapa tim yang mengganggu konsentrasi tim lain serta guru belum memberikan kesimpulan secara menyeluruh. Adapun pada siklus III masalah-masalah pada siklus I dan II dapat diatasi. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, peneliti menggunakan tiga jenis penilaian berupa pengumpulan poin, penilaian afektif dan tes. Dari ketiga jenis penilaian tersebut ada peningkatan hasil belajar yang signifikan dari tiap siklusnya. Rata-rata kelas pada siklus I adalah 67,3 meningkat pada siklus II 78,3 dan meningkat lagi pada siklus III menjadi 85,2. Peningkatan hasil belajar tersebut tergantung pada besarnya peran kerja dan motivasi tim serta tanggung jawab individu untuk mencapai keberhasilan tim dan dirinya sendiri. Dari hasil belajar siswa tersebut maka dapat diketahui peningkatan motivasi siswa di tiap siklusnya, baik itu motivasi yang dicapai karena keinginan untuk berhasil, kebutuhan dalam belajar, harapan masa depan, penghargaan dalam belajar, kegiatan yang menarik dalam belajar dan proses belajar yang kondusif. Disarankan kepada Guru bahasa Arab MAN, hendaknya meningkatkan profesionalisme dan kualitas PBA dengan menciptakan inovasi metode maupun media PBA yang variatif. Kepala Madrasah, hendaknya mengikutsertakan guru bahasa Arab dalam pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan keahlian guru dalam PBA berbasis metode kooperatif. Siswa, hendaknya lebih bersungguh-sungguh dan lebih bersemangat dalam belajar bahasa Arab, serta tidak menganaktirikan/meremehkan pelajaran bahasa Arab. Peneliti selanjutnya, dapat melanjutkan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dan motivasi siswa dengan diaplikasikan ke Maharah yang lainnya.

Mitos raja dalam hikayat raja Banjar / M. Rafiek

 

ABSTRAK Rafiek, Muhammad. 2009. Mitos Raja dalam Hikayat Raja Banjar. Disertasi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Ahmad Rofi’uddin, M. Pd., (II) Dr. Djoko Saryono, M. Pd., dan (III) Prof. Dr. H. Abdul Syukur Ghazali, M. Pd. Kata kunci: mitos, jenis, makna, fungsi. Hikayat Raja Banjar merupakan salah satu karya sastra Melayu klasik bergenre prosa yang ada di Kalimantan Selatan. Hikayat ini berisi cerita tentang genealogi raja dan keluarganya serta sejarah kerajaan Banjar. Oleh karena itu, hikayat ini dapat digolongkan sebagai karya sastra Melayu klasik yang mengandung sejarah. Akan tetapi hikayat ini juga berisi mitos raja. Mitos raja itu ternyata telah dimasukkan menjadi sejarah Banjar. Mitos raja yang dimasukkan menjadi sejarah itu tentu pada akhirnya akan mengaburkan dan membelokkan kebenaran sejarah Banjar. Berdasarkan kenyataan tersebut, penelitian ini sangat penting untuk memisahkan antara mitos raja dengan realitas sejarah yang ada di dalam hikayat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar. Ada tiga hal yang dideskripsikan dan dijelaskan sehubungan dengan mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, yaitu (1) jenis mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar yang terbagi atas (a) jenis mitos raja yang berhubungan dengan fakta sejarah dan (b) jenis mitos raja yang tidak berhubungan dengan fakta sejarah; (2) makna mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar; dan (3) fungsi mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan ancangan historis dan hermeneutika. Ancangan historis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ancangan historis Gottschalk. Ancangan hermeneutika yang digunakan untuk menginterpretasi teks Hikayat Raja Banjar adalah hermeneutika Dilthey dan Ricoeur. Data penelitian berupa kata, kalimat, dan alinea dalam teks Hikayat Raja Banjar yang mengandung unsur jenis, makna, dan fungsi mitos raja. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan dan pencatatan mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kunci dan tabel pengumpul data. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis isi dari Holsti, Krippendorff, oposisi biner, hermeneutika Dilthey dan Ricoeur. Analisis data dilengkapi dengan prinsip intertekstualitas dan teori resepsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar terdiri atas (1) jenis mitos raja yang berhubungan dengan fakta sejarah dan (2) jenis mitos raja yang tidak berhubungan dengan fakta sejarah. Jenis mitos raja yang berhubungan dengan fakta sejarah terdiri atas enam buah. Jenis mitos raja yang tidak berhubungan dengan fakta sejarah terdiri atas (1) jenis mitos raja yang tidak sesuai dengan sejarah dan (2) jenis mitos raja yang tidak berisi sejarah. Jenis mitos raja yang tidak sesuai dengan sejarah terdiri atas sepuluh buah. Jenis mitos raja yang tidak berisi sejarah terdiri atas dua puluh empat buah. Keempat puluh jenis mitos raja di atas dapat diklasifikasikan menjadi delapan bentuk mitos raja. Kedelapan bentuk mitos itu terdiri atas (1) mitos teogoni dalam Hikayat Raja Banjar, (2) mitos kosmos dalam Hikayat Raja Banjar, (3) mitos transformasi dalam Hikayat Raja Banjar, (4) mitos pekuliaritas dalam Hikayat Raja Banjar, (5) mitos hero dalam Hikayat Raja Banjar, (6) mitos fauna dalam Hikayat Raja Banjar, (7) mitos taboo incest dalam Hikayat Raja Banjar, dan (8) mitos miasma dalam Hikayat Raja Banjar. Makna mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar terdiri atas (1) makna filosofi mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, (2) makna histori mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, (3) makna kultur mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, dan (4) makna etik mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar. Fungsi mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar terdiri atas (1) fungsi politik mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, (2) fungsi hegemoni mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, (3) fungsi legitimasi mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, (4) fungsi pedagogi mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, dan (5) fungsi mite mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar. Kesimpulan yang diperoleh melalui penelitian mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar ini adalah ditemukannya mitos raja yang didukung fakta sejarah dan mitos raja yang tidak didukung fakta sejarah. Penelitian ini juga menemukan makna mitos raja dan fungsi mitos raja. Mengacu pada temuan penelitian di atas, peneliti menyarankan agar (1) pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan sejarawan merekonstruksi sejarah Banjar yang bercampur dengan mitos raja dalam Hikayat Raja Banjar, (2) peneliti selanjutnya melakukan penelitian tentang jenis mitos raja secara lebih mendalam dan menghubungkannya dengan kajian arkeologi dan melakukan kajian intertekstualitas dengan memanfaatkan sumber yang relevan.

Perbedaan latar belakang pendidikan mahasiswa terhadap prestasi belajar mata kuliah praktikum pembuatan busana (Studi kasus pada mahasiswa angkatan 2004-2006 Jurusan D3 Tata Busana Universitas Negeri Malang) / Asti Setia Wardhani

 

ABSTRAK Setiawardhani, Asti. 2009. Perbedaan Latar Belakang Pendidikan Mahasiswa Terhadap Prestasi Belajar Mata Kuliah Praktikum Pembuatan Busana (Studi Kasus Pada Mahasiswa Angkatan 2004 - 2006 Jurusan D3 Tata Busana Universitas Negeri Malang). Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Nurul Aini, M.Pd. (2) Dra. Agus Hery S.I., M.Pd. Kata Kunci: Prestasi Belajar, Latar Belakang Pendidikan SMK dan SMA/MA. Program studi D3 Tata Busana jurusan Teknologi Industri sebagai salah satu bagian dari Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang bertugas untuk menghasilkan lulusan yang homogen sebagai tenaga kependidikan non guru tanpa memandang latar belakang pendidikan mahasiswa. Padahal input mahasiswa D3 Tata Busana adalah heterogen yaitu berasal dari lulusan SMK dan SMA/MA yang memiliki dasar karakter pendidikan yang berbeda satu dengan yang lain. Adanya perbedaan karakter pendidikan antara SMK dan SMA/MA diduga dapat menjadi salah satu sebab terjadinya perbedaan prestasi belajar pada program studi D3 Tata Busana khususnya pada mata kuliah praktikum pembuatan busana. Perbedaan tersebut antara lain adanya pengelompokan mata pelajaran ke dalam mata pelajaran produktif, adaptif, dan normatif di SMK, dimana pengelompokan mata pelajaran ini tidak dijumpai di SMA/MA. Perbedaan karakter pendidikan tersebut adalah kalau SMA/MA diarahkan pada kemampuan kognitif dan teori, sedangkan SMK lebih diarahkan pada kemampuan psikomotorik/keterampilan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: (1) perbedaan prestasi belajar mahasiswa D3 Tata Busana pada mata kuliah praktikum pembuatan busana antara yang berlatar belakang pendidikan SMK dengan SMA/MA. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah komparasi dengan pendekatan kuantitatif. Perolehan data penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi dengan mengambil nilai akhir mata kuliah praktikum pembuatan Busana (TDM, TPB I, TPB II, TPB Industri, Tailoring, dan Teknik Menjahit Adi Busana). Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2004, 2005, dan 2006 sejumlah 111 mahasiswa. Teknik sampel dalam penelitian ini adalah sampel populasi/total sampling yaitu mahasiswa angkatan 2004, 2005, dan 2006 sejumlah 111 mahasiswa dengan rincian 50 mahasiswa berlatar belakang SMK dan 60 mahasiswa berlatar belakang SMA/MA. Data dianalisis menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5 %, yang sebelumnya dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas varians. Dari uji normalitas diketahui probabilitas 0.062 > 0,05 berarti data prestasi belajar mahasiswa berdistribusi normal. Dari uji homogenitas diketahui nilai F sebesar 0.001 dan nilai Sig sebesar 0.969. Dari tabel statistik, untuk alpha 5%, degree of freedom 1 = 1, dan degree of freedom 2 = 109 diperoleh F-tabel sebesar 3.93. Karena nilai F < Ftabel (0.001 < 3.93) dan nilai Sig > 5% (0.969> 0.05) maka varian kedua kelompok yang diuji adalah sama. Dari hasil uji-t diperoleh nilai t sebesar 6.345 dan Sig t sebesar 0.000. Dari tabel statistik untuk degree of freedom sebesar 109 diperoleh t-tabel sebesar 1.98. Karena nilai t > (6.345 > 1.98) dan Sig t < 0,05 (0.000 < 0.05) maka Ha dalam penelitian ini yang menyatakan terdapat perbedaan antara prestasi belajar mahasiswa berlatar belakang pendidikan SMK dan SMA/MA adalah diterima. Perbedaan prestasi belajar mahaiswa berlatar belakang SMK dan SMA/MA terletak pada nilai prestasi pada mata kuliah praktikum pembuatan busana, yaitu mahasiswa berlatar belakang SMK memiliki kriteria sangat tinggi yaitu dengan rata-rata nilai 9.57. Sedangkan prestasi belajar mahasiswa berlatar belakang SMA/MA pada mata kuliah praktikum pembuatan busana memiliki kriteria tinggi yaitu dengan rata-rata nilai 8.23. Berdasarkan atas kualifikasi prestasi belajar, mayoritas mahasiswa berlatar belakang SMK adalah pada kualifikasi sangat tinggi (31 dari 51 mahasiswa), sedangkan mayoritas mahasiswa berlatar belakang SMA/MA adalah pada kualifikasi tinggi (42 dari 60 mahasiswa). Hal tersebut berarti prestasi belajar mata kuliah praktikum pembuatan busana mahasiswa berlatar belakang SMK lebih tinggi dibandingkan mahasiswa berlatar belakang SMA/MA, karena mahasiswa berlatar belakang SMK telah dibekali pengetahuan tentang pembuatan busana, sedangkan mahasiswa berlatar belakang SMA/MA tidak dibekali pengetahuan tersebut. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu hipotesis (Ha) yang dirumuskan yaitu adanya perbedaan prestasi belajar antara mahasiswa yang berlatar belakang SMK dengan mahasiswa yang berlatar belakang SMA/MA dapat terbukti, yakni Ha diterima karena nilai t > (6.345 > 1.98) dan Sig t < 0,05 (0.000 < 0.05) pada taraf signifikansi 5 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa berlatar belakang pendidikan SMK dan SMA/MA

Bahasa dalam wayang jemblung di Kabupaten Tulungagung / Riyan Dasa Candra Effendi

 

Abstrak Dasacandra, Riyan. 2010. Bahasa dalam Wayang Jemblung di Tulungagung. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo HS., M.Pd, (II) Dr. Maryaeni, M.Pd. Kata kunci: bahasa wayang, wayang jemblung, tulungagung Wayang Jemblung merupakan salah satu jenis wayang tradisional di Jawa Timur. Wayang ini masih ada pengaruh kebudayaan Islam dengan kekhasan alat bedug sebagai alat musik tambahannya. Wayang Jemblung dalam menyajikan ceritanya menggunakan sebuah media melalui wujud wacana dan vokal dalang. Dalam kurun waktu terakhir ini para ahli menyadari penelitian yang menyentuh bahasa dari sebuah wayang Jemblung masih belum ada. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai bahasa wayang Jemblung tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup jenis bahasa yang digunakan, peran bahasa dalan pelakonan, diksi atau pilihan kata, dan gaya bahasa dalam wayang Jemblung di Tulungagung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dekriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan kebahasaan dalam bentuk audio dan visual yang terdapat pada pertunjukan ini yang diperoleh dari rekaman pertunjukan wayang Jemblung dengan lakon “Syech Subakir NumbaliTanah Jawa”. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, tahap identifikasi dan klasifikasi data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah jenis bahasa yang digunakan dalam bahasa wayang Jemblung yang melandasi berjalannya sebuah cerita tersebut. Ragam bahasa wayang Jemblung pada umumnya memiliki jenis bahasa Jawa didalamnya. Bahasa Jawa dalam wayang Jemblung meliputi Jawa krama dan Jawa ngoko. Pada konteks tertentu, ragam bahasa Jawa bercampur dengan bahasa Indonesia dan bahasa arab. Kedua, masalah peran bahasa dalam pelakonan Wayang Jemblung. Peran bahasa dalam pelakonan berdasarkan unsur-unsurnya, dibedakan menjadi dua, yaitu lakon dan catur. Pertama, peran bahasa pada lakon dalam bahasa wayang Jemblung berfungsi informasional. Kedua, peran bahasa pada catur dalam bahasa wayang Jemblung disampaikan melalui tiga jenis wacana dalang, yaitu: a) janturan, b) pocapan, dan c) ginem. Peran bahasa dalam catur, bahasa berfungsi informasional dan ekspresif. Ketiga, masalah diksi dalam Wayang Jemblung. Diksi dalam bahasa wayang Jemblung diungkapkan melalui penggunaan kata lisan dalang wayang Jemblung tersebut. Diksi dalam lisan dalang meliputi: 1) saroja; 2) camboran; 3) dasanama; 4) rangkep; dan 5) garba atau sandi. Pemakaian diksi berfungsi untuk menimbulkan makna-makna tersendiri didalamnya. Keempat, masalah gaya bahasa dalam Wayang Jemblung digolongkan menjadi 4 (empat) jenis, yaitu perumpamaan atau Pepindhan, peribahasa, persajakan atau purwakanthi, dan bahasa banyolan. Gaya bahasa perumpamaan dalam Wayang Jemblung terdapat suatu pebanding dan pembanding. Pemakaian peribahasa akan lebih menimbulkan keindahan pada kalimatnya. Pada peribahasa, dalam penyampaian maknanya menggunakan sebuah kata kias. Persajakan dalam bahasa wayang Jemblung memberikan efek penekanan atau sekadar keindahan. Bahasa wayang Jemblung melalui wacana dalang terdapat banyolan-banyolan yang menjadi ciri khas wayang Jemblung. Bahasa banyolan wayang Jemblung, diungkapkan dalang wayang Jemblung melalui kata yang dipelesetkan atau yang lainnya.

Mutu organoleptik loaf tempe kedelai (Glycien max) dengan perlakuan lama pengukusan yang berbeda / Muhammad Fahmi Hadiyanto

 

Meatloaf pada umumnya daging, selain daging juga ada bahan lain yang dapat digunakan yaitu tempe. Tempe mengandung protein tinggi sehingga dapat diolah menjadi loaf tempe. Pemanfaatan tempe menjadi loaf terkendala bau langu, sehingga bisa diatasi dengan dengan teknik pengukusan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pembuatan loaf tempe kedelai dengan lama pengukusan yang berbeda, yaitu 5 menit, 10 menit, 15 menit. Masing-masing perlakuan dilakukan sebanyak tiga kali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu organoleptik dan tingkat kesukaan terhadap loaf tempe kedelai yang meliputi tekstur, warna, rasa dan aroma. Data penelitian diperoleh dari angket yang diberikan kepada panelis. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan´s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian pada uji mutu hedonik pada taraf signifikasi 1% menunjukkan adanya perbedaan sangat nyata pada tekstur, rasa, warna dan aroma dengan perlakuan pengukusan yang berbeda. Tekstur kenyal didapatkan pada lama pengukusan 5 menit, semakin lama pengukusan mengkibatkan tekstur semakin tidak kenyal. Rasa gurih didapatkan pada lama pengukusan 5 menit, semakin lama pengukusan mengkibatkan rasa semakin tidak gurih. Aroma kedelai tajam didapatkan pada lama pengukusan 5 menit, semakin lama pengukusan mengkibatkan aroma kedelai semakin tidak tajam. Semakin singkat lama pengukusan mengakibatkan warna semakin kusam karena diduga kadar air yang rendah sehingga pati yang terkandung dalam tepung tapioka mengalami proses maillard (browning) lebih cepat dan kandungan pigmen alami tempe yaitu flavonoid sedikit yang terlarut bersama uap air yang ditimbulkan oleh proses pengukusan. Hasil uji hedonik menunjukkan tekstur, rasa warna dan aroma kedelai yang disukai panelis. Untuk tekstur sebagian besar panelis (80%) menyukai tekstur pada lama pengukusan 5 menit. Untuk rasa sebagian besar panelis (86,67%) menyukai rasa pada lama pengukusan 5 menit. Untuk warna sebagian besar panelis (81,67%) menyukai warna pada lama pengukusan 5 menit. Untuk aroma sebagian besar panelis (90%) menyukai aroma pada lama pengukusan 5 menit. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, saran yang dapat diajukan adalah dilakukan penelitian lanjutan produk dengan lama pengukusan 5 menit yang menghasilkan tekstur kenyal, rasa gurih dan aroma tajam untuk mendapatkan warna putih, tentang daya awet produk, cara pengemasan agar produk dapat diterima dipasaran, analisa finansial agar produk dapat bersaing di pasaran dan penyuluhan serta pelatihan produk kepada masyarakat luas terutama di daerah produksi tempe, agar dapat memajukan perekonomian masyarakat dengan home industri.

Implementasi router mikrotik pada jaringan komputer di UPT SD Bakalan Kota Pasuruan / Bambang Efendi, Crestela Tri Wahyu Putri

 

Peningkatan layanan teknologi informasi dan komunikasi di Dinas Pendidikan kota Pasuruan telah diimplementasikan dengan adanya WAN (Wide Area Network) yang merupakan pengembangan dari ICT (Information and Comunication Technology) untuk Pustekom (Pusat Teknologi dan Komunikasi) Kota Pasuruan. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan pelayanan optimal dan kemudahan kepada UPT (Unit Pelaksana Teknis) khususnya yang sudah terhubung dalam WAN Pustekom Kota Pasuruan. Namun, dalam penerapannya WAN yang sudah dibangun dan dikembangkan di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan dengan Router Mikrotik masih belum begitu optimal. Penggunaan bandwidth internet yang bebas tanpa ada batasan dalam proses download maupun upload dan banyaknya situs porno yang semakin berkembang.Oleh sebab itu, perlu adanya evaluasi terhadap fasilitas dan layanan Router Mikrotik yang sudah ada dengan melakukan manajemen WAN menggunakan PC Router Mikrotik di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan. Dalam pengembangan sistem jaringan ini penulis akan membahas lebih rinci bagaimana memanajemen WAN menggunakan Mikrotik. Langkah pertama mengkonfigurasi PC Router pada menu queue dan memasukan daftar situs pada acces list di web proxy mikrotik. Berdasarkan langkah-langkah tersebut, maka diperoleh menajemen bendwidth dengan batasan download 256 Kbps dan upload 128 Kbps pada setiap komputer di sekolah - sekolah yang sudah terkoneksi jardiknas. Untuk membatasi user dalam mengakses situs yang sudah di blacklist pada web proxy di PC Router Mikrotik. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil pengujian adalah sistem manajemen bandwidth menggunakan queue membatasi bandwidth internet download 512 Kbps dan Upload 128 Kbps setiap komputer di sekolah - sekolah yang sudah terkoneksi jardiknas tidak melebihi batas yang ditentukan. Access list pada web proxy PC Router Mikrotik di dapat membatasi akses browsing dan searching menggunakan alamat situs dan kata kunci (keyword) yang terdaftar di blacklist web proxy, jika diakses situs dan keywod tersebut muncul keterangan access denied. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan memperbarui daftar filterisasi alamat situs dan keyword, dan perlu dilakukan upgrade Mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router Mikrotik di Dinas Pendidikan Kota Pasuruan.

Manajemen pembelajaran akselerasi: Studi kasus di Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Sumberbungur Pamekasan / Fajriyah

 

ABSTRAK Fajriyah. 2009. Manajemen Pembelajaran Akselerasi: Studi kasus di Madrasah Tsanawiyah Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Mustiningsih, M.Pd, (II) Dra. Maisyaroh, M.Pd. Kata kunci : manajemen pembelajaran, akselerasi. Penyelenggaraan pendidikan secara reguler yang dilaksanakan selama ini masih bersifat massal, yaitu berorientasi pada kuantitas untuk dapat melayani sebanyak-banyaknya jumlah siswa. Kelemahan yang segera tampak adalah tidak terakomodasinya kebutuhan individual siswa. Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa tidak terlayani secara baik sehingga potensi yang dimilikinya tidak dapat tersalur dan berkembang secara optimal. Pada dasarnya kemampuan anak memang berbeda tetapi apabila diberi layanan sesuai dengan keadaan masing-masing, maka hasilnya akan sama, yang membedakan waktu belajar. Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa perlu mendapatkan penanganan dan program khusus, sehingga potensi kecerdasan dapat berkembang secara optimal. Pengembangan program bagi siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa didasarkan prinsip utama, yaitu akselerasi. Program percepatan belajar (akselerasi) adalah program layanan pendidikan yang diberikan kepada siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa untuk dapat menyelesaikan masa belajarnya lebih cepat dari siswa yang lain (program regular). Fokus penelitian ini meliputi (1) bagaimana perencanaan pembelajaran akselerasi; (2) bagaimana pengorganisasian pembelajaran akselerasi; (3) bagaimana pelaksanaan pembelajaran akselerasi; dan (4) bagaimana penilaian pembelajaran akselerasi di MTsN Sumberbungur Pamekasan 3. Tujuan penelitian ini meliputi (1) mengetahui perencanaan pembelajaran akselerasi; (2) mengetahui pengorganisasian pembelajaran akselerasi; (3) mengetahui pelaksanaan pembelajaran akselerasi; dan (4) mengetahui penilaian pembelajaran akselerasi di MTsN Sumberbungur Pamekasan 3. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah (1) wawancara; (2) observasi; dan (3) dokumentasi. Setelah data tersebut diperoleh kemudian data diuji dengan menggunakan metode trianggulasi sumber, ketekunan pengamatan, dan perpanjangan keikutsertaan. Kesimpulan Penelitian ini adalah (1) perencanaan pembelajaran akselerasi di MTsN Model Sumberbungur Pamekasan 3 pada dasarnya sama dengan kelas reguler, kurikulum yang dipakai yaitu kurikulum MTsN Sumberbungur yang membedakan waktu belajarnya. Isi kurikulum MTsN meliputi struktur dan muatan kurikulum. Struktur kurikulum MTsN memuat kelompok mata pelajaran dengan memperhatikan standar kompetensi lulusan (SKL) dan standar isi (SI) yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Bentuk perencanaan pembelajarannya meliputi program tahunan, semester, dan rencana pelaksanaan pembelajaran; (2) Penyelenggaraan program kelas akselerasi di MTsN Sumberbungur Pamekasan 3 dibentuk tim pengelola program akselerasi berdasarkan kesepakatan dewan guru melalui rapat. Setelah pembentukan tim pengelola akselerasi, kemudian penanggungjawab program akselerasi dibantu dengan anggota-anggotanya merekrut guru-guru khusus pengajar akselerasi di MTs Negeri Sumberbungur Pamekasan 3 untuk mempersiapkan guru-guru yang kompeten di kelas akselerasi pihak madrasah menyelenggarakan workshop. Pengelolaan kelas program akselerasi menggunakan model kelas khusus. Ruang belajar untuk kelas akselerasi disendirikan (tidak bergabung dengan kelas reguler), kelas akselerasi menggunakan pola interaksi dengan sistem moving (belajar sesuai dengan mata pelajaran) yang sedang mereka terima. Kelas akselerasi didesain sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan tempat duduk siswa disediakan untuk masing-masing siswa dengan meja melekat dan berbaris sejajar; (3) Pelaksanaan pembelajaran meliputi proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas dan luar kelas. MTs Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3 kelas akselerasi menerapkan sistem paket dan waktu belajarnya dengan sistem kredit semester (sks). Metode pembelajaran diarahkan berpusat pada siswa. Guru sebagai fasilitator mendorong dan memberikan ruang peserta didik mengembangkan potensi belajar secara aktif, kreatif, dan menyenangkan. MTsN model Sumberbungur Pamekasan 3 telah menyiapkan di setiap kelas dan ruang yang ada beberapa media antara lain: laptop, LCD beserta perlengkapannya, TV, dan VCD. Media pembelajaran siswa akselerasi yang lain seperti buku-buku atau bahan bacaan, buku ajar dan paket yang disediakan di perpustakaan sekolah. Media pembelajaran juga disediakan di kelas dan di laboratorium termasuk internet, media tersebut digunakan sesuai dengan mata pelajaran yang akan di ajarkan. Kegiatan pembelajaran akselerasi sama dengan pembelajaran reguler yaitu meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir; dan (4) Bentuk penilaian pembelajaran akselerasi dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan untuk memperoleh informasi tentang kemajuan dan keberhasilan belajar siswa. MTs Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3 menetapkan target pencapain kompetensi (TPK) pada masing-masing mata pelajaran. Prinsip penilaiannya mengacu pada belajar tuntas (mastery learning). Saran dari penelitian ini adalah (1) Kepala Sekolah hendaknya menjadikan bahan tambahan untuk lebih meningkatkan kualitas program akselerasi di MTs Negeri Model Sumberbungur Pamekasan 3; (2) Pengelola Akselerasi harus mengembangkan keunggulan-keunggulan yang sudah ada pada program akselerasi, serta terus berbenah untuk mengembangkan keunggulan-keunggulan yang baru; (3) Jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya menjadi tambahan referensi bagi Jurusan Administrasi Pendidikan dan lebih meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memahami manajemen pembelajaran; dan (4) Peneliti lain agar lebih menyempurnakan sehingga dapat bermanfaat demi peningkatan kualitas pendidikan dan disarankan bagi peneliti lain agar dapat meneliti manajemen pembelajaran akselerasi dari substansi lain dengan latar yang berbeda.

Sejarah perkembangan musik jazz di Surabaya tahun 1930-2012 dan kontribusinya dalam pendidikan / Ezra Calvarinando Sitanggang

 

ABSTRAK Sitanggang, EzraCalvarinando. 2013. SejarahPerkembanganMusikJazz di Surabaya tahun 1930-2012danKontribusinyadalamBidangPendidikan. Skripsi, JurusanSejarah, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. G.M. Sukamto, M.Pd., M.Si, (II) Dra. Yuliati, M.Hum. Kata Kunci: sejarahperkembangan, musik jazz, Surabaya, kontribusidalampendidikan Musik Jazzlahir di AmerikaSerikatpadatahun 1869.Walaupun musik Jazz inilahir di Amerika, namunsekarangbukanlahhanyamilikwargaAmerika, tetapisudahmenjadimilikdunia. Musik Jazziniberawaldariperbudakan di Amerika.Musik Jazz masukke Surabaya tahun 1930 dibawaholehorang-orangBelanda yang singgah di PelabuhanTanjung Perak Surabaya. Musik Jazz di Surabaya padaperkembangannyamengalamipasangsurut.Padatahun1960 ketika PKI masihberkuasa, semuamusik yang berbau Barat harusdihapuskan, sehinggakehidupanmusik Jazz menjadi redub. Kemudiantahun 1970 merupakantitikbalik, karenapadatahun 1970 telahberdirisekolahmusik Jazz, yaitu YASMI Music School. Kemudiantahun 1985 pertama kali musik Jazz disiarkansecaraon air di Radio Suara Surabaya, tahun 2005 beridiriperkumpulanmusik Jazz yang disebut House of C. Twosix Jazz Club Surabaya, tahun 2007 berdirinya Vista Café sebagaitempatsatu-satunyauntukmenampilkanmusik Jazz danpadatahun 2011 diadakan Jazz Traffic Festival dantahun 2012 merupakankeduakalinyadiadakan Jazz Traffic Festival. Permasalahan yang dikajidalamskripsiini, antara lain: (1) Bagaimana proses masuknyamusik jazz di Surabaya; (2) Bagaimanaperkembanganmusik jazz di Surabaya tahun 1930-1970; (3) Bagaimanasejarahperkembanganmusik jazz di Surabaya tahun 1970-2012. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatifdenganmetodepenelitiansejarah.Penelitiansejarahmerupakanpenelitian yang mencobauntukmendeskripsikansecarasistematisdanobjektifdenganberbagaitahap.Adapunlangkah-langkahdalampenelitiansejarahadalah: (1) pemilihantopik, (2) pengumpulansumber (heuristic), (3) kritiksejarah (verifikasi), (4) interpretasi, (5) penulisansejarah (Historiografi). Hasildaripenelitiansejarahperkembanganmusik Jazz di Surabaya mulaidaritahun 1930 sampaitahun 2012adalah: 1) proses masuknyamusik Jazz di Surabaya dimulaitahun 1930 danmusik Jazz yang masuk di Surabaya bukanmerupakan Jazz yang asli, tetapijenismusik Jazz kelasdua, sedangakanmusik Jazz yang kelassatuhanyamasihada di Belanda. Musik Jazz dapatditerima di masyarakat Surabaya, terutamamusisi Jazz, karenamusik Jazz mengandungkemudahandalammemainkannya, karenatidakterpakupadapartituryang ada, pemainsangatbebasuntukberimprovisasi, 2) Tahun 1930 merupakanawalmusik Jazz masukke Surabaya danawalmulanyamusik Jazz inihanyadimainkanuntukmemenuhikebutuhanmenghiburpara orang-orang Belanda. Padatahun 1941 di Surabaya sudahada festival band musik Jazz, festival inidiadakanuntukditujukanbagipenderita TBC di Surabaya, sertapadatahun 1960 disaat PKI masihberpengaruh di Indonesia, pemerintahmelarangmusikngak-ngik-ngok, sehinggakehidupanmusik Jazz menjadiredup, tetapihalinitidakmembuatkehidupanmusik Jazz hilang. Terbuktipadatahun 1970 didirikansekolahmusik Jazz, yaitu YASMI Music School, 3) Tahun 1970 diawalidenganberdirinya YASMI Music School yang banyakdiminaticalon-calonmusisi Jazz, padatahun 1980 mulaimuncul Jazz fusion yaitumusik Jazz yang dicampurdenganiramalain, seperti Rock, musiktradisional, Funk, dan R&B. Musik Jazz tipe fusion inibanyakdisukaiolehkaulamudakarenasesuaidenganjiwamuda yang meledak-ledak. Padakelanjutannyasudahbermunculantempat-tempatuntukberkumpulnyamusisi Jazz, yaitu Vista café dan House of C.Twosix Jazz Club Surabaya, danGoci Fusion Jazz Community, sertapuncakdariperkembanganmusik Jazz di Surabaya adalahtahun 2011 dan 2012 diadakandua kali Jazz Traffic Festival. Bagiduniapendidikan, kehidupanmusik Jazz di Surabaya mempunyaijugamembantupemberiaanbukupelajaranumumdanpelajaranmusikke SMK Kasihan yang berada di Jogyakarta, karena SMK Kasihan 2 satu-satunyasekolah yang mempertahankankeberadaanmusik Jazz.

Media pembelajaran berbantuan komputer pada materi luas permukaan dan volume balok dn kubus untuk siswa sekolah menengah pertama / Ade Ermawati

 

ABSTRAK Ermawati, Ade. 2009. Media Pembelajaran Berbantuan Komputer pada Materi Luas Permukaan dan Volume Balok dan Kubus untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Rini Nurhakiki, M. Pd, (II) Dra. Susy Kuspambudi A., M. Kom. Kata kunci: media pembelajaran berbantuan komputer, luas permukaan, volume. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Menengah Pertama sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Istilah-istilah baru, definisi yang membingungkan bagi siswa, serta konsep yang abstrak menjadikan beberapa kendala dalam membelajarkan matematika. Media pembelajaran berbantuan komputer pada materi luas permukaan dan volume balok dan kubus dapat dijadikan salah satu media dan referensi dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika SMP. Media pembelajaran berbantuan komputer pada materi luas permukaan dan volume balok dan kubus ini dapat digunakan oleh para guru dalam menyampaikan materi matematika SMP. Media pembelajaran berbantuan komputer pada materi luas permukaan dan volume ini juga dapat digunakan langsung oleh siswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan bertahap. Model pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer pada materi luas permukaan dan volume ini melalui beberapa tahap, yaitu: (1) tahap penyusunan rancangan; (2) tahap penulisan naskah; (3) tahap produksi media; (4) tahap validasi media; dan (5) tahap revisi. Uji validasi yang dilaksanakan adalah validasi dengan tiga subjek validasi yang terdiri dari satu orang ahli media, satu orang ahli pendidikan, dan beberapa pengguna. Instrumen validasi yang digunakan berupa angket tertutup berbentuk chek list yang disertai dengan komentar, saran dan rekomendasi. Data diolah dengan teknik deskriptif persentase dengan cara mengubah data kuantitatif menjadi bentuk persentase. Hasil pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer pada materi luas permukaan dan volume ini memenuhi kriteria valid dari ahli pendidikan,ahli media dan pengguna. Ahli media menyarankan agar pengembang media pembelajaran luas permukaan dan volume ini juga dilakukan pada pengembangan berbasis web dan menambahkan unsur interaktivitasnya. Ahli pendidikan memberikan saran bagus kepada media pembelajaran berbantuan komputer pada materi luas permukaan dan volume mengenai susunan kalimat dan desain media agar lebih mudah dipahami pengguna.

Hubungan sosialisasi program UKS dan partisipaasi siswa menjalankan program UKS di Sekolah Lanjutan Atas se-kota Malang / Sri Andriyani

 

ABSTRAK Andriyani, Sri. 2009. Hubungan Sosialisasi Program UKS dan Partisipasi Siswa Menjalankan Program UKS di Sekolah Lanjutan Atas se-Kota Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Bambang Setyadin, M.Pd, (II) Drs. H. Sultoni, M.Pd. Kata kunci: sosialisasi, partisipasi Sekolah merupakan sebuah lembaga formal, tempat anak didik memperoleh pendidikan dan pelajaran yang diberikan oleh guru. Sekolah mempersiapkan anak didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan. Peserta didik merupakan generasi penerus bangsa, pada umumnya harus dibina dalam pertumbuhan dan perkembangannya demi mencapai cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dan kesejahteraannya. Departemen Kesehatan melakukan berbagai usaha atas tanggungjawabnya terhadap kesehatan Bangsa Indonesia secara keseluruhan. Salah satu usaha yang dilakukan dan terus dikembangkan adalah Usaha Kesehatan Sekolah atau yang disebut dengan UKS. Upaya memberikan pendidikan dan pelayanan kesehatan di sekolah merupakan tanggung jawab pihak sekolah selaku rumah kedua bagi peserta didik. UKS merupakan program layanan khusus di sekolah yang mampu menumbuhkan kesadaran peserta didik untuk hidup sehat dan selalu menjaga kesehatan. Tiap sekolah perlu merencanakan program kesehatan yang akan dijalankan secara terperinci tiap memasuki tahun ajaran baru. Hal ini dilakukan agar program yang telah disusun dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan bersama. Program UKS akan berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, apabila adanya partisipasi dari para siswa warga sekolah tersebut, dan sejauh mana partisipasi siswa tergantung dari cara pihak sekolah mensosialisasikan program UKS yang akan dijalankan. Masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah; (1) Apa saja usaha pihak sekolah dalam rangka mensosialisasikan Program UKS kepada para siswa, (2) Apakah para siswa ikut berpartisipasi dalam menjalankan Program UKS yang dibuat oleh pihak sekolah, dan (3) Apakah ada hubungan antara sosialisasi Program UKS dan partisipasi siswa menjalankan Program UKS di Sekolah Lanjutan Atas (SLA) se-Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1) Usaha-usaha dari pihak sekolah dalam mensosialisasikan Program UKS kepada para siswa; (2) Partisipasi siswa dalam menjalankan Program UKS yang dibuat oleh pihak sekolah; (3) Hubungan antara sosialisasi Program UKS dan partisipasi siswa menjalankan Program UKS di SLA se-Kota Malang. Penelitian ini diketegorikan ke dalam penelitian korelasional (correlational research). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat diukur secara kuantitatif. Populasi penelitian adalah SLA se-Kota Malang yang berjumlah 104 sekolah. Sampel penelitian diambil 20% dari populasi yaitu 21 sekolah. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket yang disusun dalam butir-butir pertanyaan berjumlah 30 butir, dengan siswa sebagai responden berjumlah 336 siswa dari sampel penelitian. Teknik analisis data yang digunakan yaitu menggunakan program komputer SPSS (Statistical Product and Special Services) for Windows Version 12.0. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa secara umum terdapat hubungan yang signifikan antara sosialisasi Program UKS dan partisipasi siswa menjalankan Program UKS di SLA se-Kota Malang. Sedangkan secara khusus menunjukkan, bahwa: (1) Pihak SLA se-Kota Malang melakukan 10 usaha dalam mensosialisasikan Program UKS, antara lain: a) Melakukan penyuluhan mengenai Program UKS kepada siswa-siswa; b) Menggunakan buku panduan UKS sebagai panduan atau arahan dalam pelaksanaan UKS; c) Memberi informasi kepada siswa tiap ada kegiatan yang berhubungan dengan UKS; d) Bekerjasama dengan pihak Puskesmas/Dinas Kesehatan untuk memberi informasi kesehatan kepada siswa; e) Memonitor kegiatan kebersihan sekolah termasuk kebersihan kelas dan kerapian siswa; f) Memberi penerangan dan latihan kepada siswa untuk mengembangkan ketrampilan kesehatan melalui 3 cara, antara lain yaitu rapat kerja, penataran atau seminar dan penyuluhan; g) Sekolah menyediakan alat peraga untuk pendidikan kesehatan dengan kondisi yang cukup memadai; h) Pihak sekolah melakukan 2-3 upaya untuk menarik kegiatan partisipasi siswa dalam menjalankan Program UKS, antara lain, yaitu memberikan informasi atau pendidikan kesehatan melalui media cetak atau tertulis, melalui media elektronik dan memasang poster-poster di majalah dinding sekolah dengan mengangkat tema mengenai pendidikan kesehatan; i) Mengintegrasikan pendidikan kesehatan ke dalam mata pelajaran di sekolah, yaitu Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) dan ekstrakurikuler; j) Memberi materi kesehatan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan kepada siswa. (2) Siswa ikut berpartisipasi dalam menjalankan Program UKS yang dibuat oleh pihak sekolah, hal ini ditunjukkan dengan nilai persentase 63,99% yang termasuk dalam kualifikasi sedang atau cukup. (3) Ada hubungan yang signifikan antara sosialisasi Program UKS dan partisipasi siswa dalam menjalankan Program UKS di SLA se-Kota Malang. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, implikasi yang dapat disampaikan meliputi 2 implikasi, yaitu teoritis dan praktis. Implikasi teoretis, yaitu bahwa program-program kegiatan apapun yang telah dicanangkan, apabila senantiasa disosialisasikan akan berdampak positif pada partisipasi anggota dalam suatu kegiatan tersebut, termasuk dalam hal ini Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Oleh karena itu, secara teoretis suatu program kemasyarakatan apabila akan diimplementasikan seharusnya didahului oleh kegiatan sosialisasi, agar supaya memperoleh dukungan dan partisipasi dari masyarakat. Adapun implikasi praktis dari hasil-hasil penelitian ini dapat dinyatakan, bahwa dalam rangka mengimplementasikan program UKS sudah selayaknya terlebih dahulu menyusun program-porgram kegiatan sosialisasi, dengan melibatkan instansi atau pejabat yang berkompeten serta membangun jaringan sebagai agen sosialisasi dengan harapan menumbuhkan kesadaran diri pada para siswa dan orangtuanya untuk menerima program-program UKS. Dengan memperhatikan beberapa hal terkait implikasi hasil penelitian ini, maka, saran yang dikemukakan oleh peneliti adalah, hendaknya Kepala Dinas Pendidikan dan Kesehatan perlu meningkatkan kerjasama dalam bidang peningkatan layanan khusus sekolah bersama dengan pihak dan instansi yang berkompeten dalam bidang kesehatan untuk menyusun Program UKS yang lebih baik dan perlu mengidentifikasi Program UKS sebelumnya yang belum mencapai tujuan, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui masalah apa yang menjadikan pelaksanaan tidak sesuai dengan tujuan, yang kemudian ditindaklanjuti untuk mencari solusi. Bagi Kepala Sekolah perlu memperhatikan kegiatan sosialisasi program UKS yang dilakukan di sekolah yang telah dipimpin dan perlu memantau perkembangan dari hasil kegiatan tersebut, dalam hal ini partisipasi siswa menjalankan program UKS yang telah direncanakan. Pihak sekolah juga perlu bekerjasama dengan pihak Puskesmas yang membawahi kesehatan masyarakat, untuk menyusun perencanaan sosialisasi yang dilakukan. Sedangkan untuk pihak Jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya mengembangkan teori-teori dan metode sosialisasi bagi kelancaran suatu program kegiatan, dan perlu melakukan kajian ulang terhadap penelitian ini sehingga hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan dalam bidang AP. Bagi peneliti lain perlu berfikir kreatif dan berkembang untuk merancang suatu pengembangan lebih jauh tentang penelitian ini, yaitu hendaknya melakukan penelitian mengenai model-model sosialisasi yang efektif dalam rangka mengimplementasikan program UKS, dengan menambah referensi-referensi yang lebih baru, menggunakan pendekatan yang berbeda dan dengan objek yang berbeda pula, sehingga hasil dari penelitian akan dapat lebih menyempurnakan hasil penelitian ini.

Perbedaan trading volume activity dan abnormal return sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2003-2008 / Meryem Shifa P.

 

ABSTRAK Paramitha, Meryem Shifa. 2009. Perbedaan Tading Volume Activity dan Abnormal Return Sebelum dan Sesudah Stock Split Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI (Periode Tahun 2003-2008). Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Mugianto, S.E., M.Si dan (II) Ely Siswanto, S.Sos., M.M Kata kunci: Stock Split, Trading Volume Activity, Abnormal Return Stock split adalah pemecahan jumlah lembar saham menjadi lembar yang lebih banyak dengan menggunakan nilai nominal yang lebih rendah per lembarnya secara proporsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pada Trading Volume Activity dan Abnormal Return sebelum dan sesudah Stock Split. Penelitian ini menggunakan 42 perusahaan sebagai sampel di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2003 sampai 2008. Yang diambil dari populasi sebanyak 63 perusahaan. Metode analisis data menggunakan parametric test dengan uji-t yaitu rata-rata dari dua sampel yang berpasangan (paired two sample fair means test). Berdasarkan atas pengujian hipotesis yang telah dilakukan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Trading Volume Activity mengalami perbedaan tetapi tidak signifikan Sedangkan Abnormal Return mengalami perbedaan yang signifikan tetapi, nilai Abnormal Return setelah peristiwa bernilai negatif. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi investor yang akan berinvestasi di pasar modal agar tidak menjadikan informasi pengumuman Stock Split sebagai satu-satunya tolak ukur untuk mendapatkan Return tidak normal, bagi emiten yang melakukan Stock Split hendaklah memperhatikan kondisi pasar modal, karena secara teoritis Stock Split hanya meningkatkan lembar saham yang beredar dan tidak secara langsung mempengaruhi cashflow perusahaan walaupun dalam praktiknya berbeda.

Perbedaan hasil pembelajaran fisika dengan siklus belajar 5E-Peta konsep, siklus belajar 5E, dan ceramah pada siswa kelas X SMAN 1 Munjungan Kabupaten Trenggalek / Dinnar Pristianita

 

ABSTRAK Pristianita, Dinnar. 2009. Perbedaan Hasil Pembelajaran Fisika dengan Siklus Belajar 5E-Peta Konsep, Siklus Belajar 5E, dan Ceramah pada Siswa Kelas X SMAN I Munjungan Kabupaten Trenggalek. Skripsi. Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Subani (II) Drs. Eddy Supramono. Kata Kunci : siklus belajar 5E-peta konsep, siklus belajar 5E, ceramah, hasil pembelajaran Model pembelajaran fisika yang digunakan di SMAN 1 Munjungan bisa dibilang monoton, karena selama ini pembelajaran menggunakan model ceramah. Hal ini berpengaruh terhadap keaktifan siswa selama proses pembelajaran dan penguasaan konsep fisika siswa. Terdapat model pembelajaran siklus belajar 5E-peta konsep yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar. Selain itu, siswa berkesempatan untuk menghubungkan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru.Untuk itu, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran siklus belajar 5E-peta konsep dibandingkan dengan model pembelajaran yang biasa dilakukan. Penelitian ini menggunakan jenis rancangan Quasy Experiment Design (eksperimen semu), desain statis dengan tiga kelompok. Penelitian dilakukan di SMAN I Munjungan semester ganjil tahun ajaran 2009/2010 antara bulan Agustus sampai Oktober 2009 dengan populasi siswa SMAN I Munjungan, sedangkan sampelnya siswa kelas X SMAN I Munjungan sebanyak 3 kelas dengan rincian 1 kelas eksperimen dan 2 kelas pembanding. Instrumen yang digunakan instrumen perlakuan berupa rencana pelaksanaan pembelajaran dan instrument pengukuran hasil pembelajaran yang berupa nilai posttest. Pengujian hipotesis menggunakan SPSS 16. for Window menu Independent Sample T Test untuk menghitung nilai t. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan hasil pembelajaran fisika dari ketiga kelas, terlihat dari nilai Foutput = 7.111 > 3.0696(Ftabel). Hasil pembelajaran fisika siswa yang diajar menggunakan siklus belajar 5E-peta konsep lebih baik daripada hasil pembelajaran siswa yang diajar menggunakan ceramah. Hal ini diperoleh dari nilai t yang telah dihitung dimana, thitung = 3.348 > 1.667 (ttabel), sedangkan hasil pembelajaran fisika siswa yang diajar menggunakan siklus belajar 5E-peta konsep lebih baik daripada hasil pembelajaran siswa yang diajar menggunakan siklus belajar 5E, dimana besarnya thitung = 3.153 > 1.667 (ttabel). Hasil pembelajaran fisika siswa yang diajar menggunakan siklus belajar 5E tidak lebih baik, karena nilai thitung = -0.155<1.667 (ttabel).

Penerapan metode pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X PM2 pada mata diklat melakukan negosiasi di SMK Negeri 1 Turen / Bekti Ardarani

 

ABSTRAK Ardarani, Bekti. 2009. Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar siswa kelas X PM2 Di SMK Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Manajemen. Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sopiah, M.Pd., M.M., (2) Dr. Ludiwishnu W, S.T, S.E, S.Pd, M.M Kata kunci: Pembelajaran berbasis masalah, Hasil belajar Guru memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Kualitas guru akan ikut mempengaruhi kualitas siswanya. Oleh karena itu, pembinaan dan pengembangan terhadap guru merupakan hal mendasar dalam proses pendidikan. Saat ini guru dianggap sebuah profesi yang sejajar dengan profesi yang lain, sehingga seorang guru dituntut bersikap profesional dalam melaksanakan tugasnya. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kompetensi dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Salah satu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang telah dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan melakukan penyempurnaan kurikulum dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), yang telah disempurnakan menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), pada tahun 2004 dan 2006. Dengan penyempurnaan kurikulum, maka proses pembelajaran harus didukung oleh metode pembelajaran yang berkualitas. Salah satu metode tersebut adalah model pembelajaran berbasis masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran 2 pada mata diklat Melakukan Negosiasi SMK NEGERI 1 TUREN. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) perencanaan; (2) tindakan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Pemasaran 2 di SMKN 1 Turen pada semester genap tahun ajaran 2008/ 2009, yang berjumlah 35 orang siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan metode pembelajaran berbasis masalah hasil belajar siswa dapat meningkat. Sedangkan prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dimana rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 78,68 dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa adalah 87,14. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran 2 SMK Negeri 1 Turen. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan, disarankan kepada guru mata diklat Melakukan Negosiasi untuk menerapkan pembelajaran berbasis masalah sebagai alternatif pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menerapkan metode pembelajaran berbasis masalah pada mata pelajaran lain.

Identifikasi kesulitan belajar dan pemahaman konsep siswa dalam materi laju reaksi kelas XI-IPA semester 1 SMA Negeri 6 Malang / Dian Nomi Febrianti

 

ABSTRAK Febrianti, Dian Nomi. 2010. Identifikasi Kesulitan Belajar dan Pemahaman Konsep Siswa dalam Materi Laju Reaksi Kelas XI-IPA Semester 1 SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hayuni Retno Widarti, M.Si, (II) Drs. Mahmudi, M.Si. Kata Kunci : Kesulitan belajar, Pemahaman konsep, Laju reaksi Ilmu kimia merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit oleh para siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Belajar ilmu kimia menuntut pemahaman dan penguasaan konsep-konsep dengan benar, menuntut kemampuan berfikir abstrak serta penguasaan perhitungan matematis. Hal ini kemungkinan mengakibatkan timbulnya kesulitan belajar. Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Salah satu indikator yang digunakan untuk mempredeksi kesulitan belajar dan pemahaman konsep siswa adalah dengan cara melihat data prestasi belajar yang dicapainya. Apabila prestasi belajarnya dibawah standar, maka yang bersangkutan belum mencapai kemampuan minimal yang dipersyaratkan, sehingga dapat dikatakan siswa tersebut mengalami kesulitan belajar. Sedangkan prestasi belajarnya diatas standar, maka yang bersangkutan sudah mencapai kemampuan minimal yang dipersyaratkan, sehingga dapat dikatakan siswa sudah memahami konsep. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar dan pemahaman konsep yang dialami oleh siswa SMA kelas XI-IPA dalam memahami materi laju reaksi. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif yang bermaksud untuk membuat gambaran mengenai situasi sebenarnya. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang yang terdiri dari 3 kelas dengan kemampuan yang dapat dianggap sama. Sampel penelitian terdiri dari 3 kelas yaitu kelas XI-IPA 1, XI-IPA 2 dan XI-IPA3 dengan jumlah 78 siswa. Instrumen penelitian berupa tes objektif dengan 30 soal. Dari hasil uji coba instrumen indeks kesukaran diperoleh 8 soal mudah, 17 soal sedang dan 5 soal sukar. Daya beda soal diperoleh 5 soal jelek, 14 soal cukup dan 11 soal baik. Reliabilitas tes diperoleh harga sebesar 0,797 dan 25 soal yang valid. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik persentase. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan persentase siswa yang mengalami kesulitan pada konsep konsentrasi larutan (molaritas larutan) (41,03%), memahami grafik dari data percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi (55,13%), memahami pengaruh konsentrasi, luas permukaan bidang sentuh, dan suhu terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan (41,02%), memahami diagram energi potensial dari reaksi kimia dengan menggunakan katalisator dan yang tidak menggunakan katalisator (48,72%), dan memahami peranan katalis dalam reaksi melalui diskusi (50,00%). Tingkat pemahaman konsep siswa cukup pada konsep konsentrasi larutan (molaritas larutan) (58,73%), memahami grafik dari data percobaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi (44,87%), memahami pengaruh konsentrasi, luas permukaan bidang sentuh, dan suhu terhadap laju reaksi berdasarkan teori tumbukan (58,97%), memahami diagram energi potensial dari reaksi kimia dengan menggunakan katalisator dan yang tidak menggunakan katalisator (51,28%), dan memahami peranan katalis dalam reaksi melalui diskusi (50,00%). Tingkat pemahaman konsep siswa sebagian besar pada konsep memahami pengertian laju reaksi berdasarkan percobaan (68,59%), memahami faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi (konsentrasi, luas permukaan, suhu, dan katalis) melalui percobaan (62,82%), memahami pengertian, peranan katalisator dan energi pengaktifan dengan menggunakan diagram(62,82%), dan memahami orde dan waktu reaksi(70,73%).

Pengaruh penggunaan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams-Tournament) terhadap motivasi dan prestasi belajar fisika siswa kelas XI IPA SMAN 1 Durenan Trenggalek / Resti Ratnaningtyas

 

ABSTRAK Ratnaningtyas, Resti. 2009. Pengaruh Penggunaan Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Teams Games-Tournament) terhadap Motivasi dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Durenan Trenggalek. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Dwi Haryoto, M.Pd, (II) Drs. Asim, M.Pd. Kata kunci: Pembelajaran kooperatif, model TGT (Teams Games –Tournament), motivasi belajar, prestasi belajar. Berdasarkan observasi langsung yang dilaksanakan di SMAN 1 Durenan menunjukkan bahwa siswa kurang aktif dalam pembelajaran, hanya sebagian siswa yang berkompetisi dan akhirnya mendominasi kelas. Hal tersebut ditengarai pola pembelajaran yang masih kurang bervariasi, sehingga terdapat perbedaan nilai yang mencolok dalam kelas. Mengingat hal tersebut, maka diusulkan penggunaan model pembelajaran TGT (Teams Games –Tournament) sebagai salah satu bentuk pembelajaran kooperatif yang bernaung dalam pembelajaran konstruktivistik, yang menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran, dimana model pembelajaran ini belum pernah diterapkan di SMAN 1 Durenan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran kooperatif model TGT dengan pembelajaran konvensional terhadap prestasi dan motivasi belajar fisika siswa kelas XI IPA SMAN 1 Durenan Trenggalek. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu dengan menggunakan teknik purposive sampling, dimana sampel yang digunakan adalah kelas XI IPA1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA2 sebagai kelas kontrol. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa tes prestasi dan angket motivasi belajar fisika siswa yang diberikan saat pra-tes dan pasca-tes. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t untuk data prestasi belajar dengan bantuan komputer program SPSS 15.0 for Windows serta skor rata-rata dengan skala Likert dan Guttman untuk data motivasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pasca-tes prestasi belajar fisika kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Dari analisis data diketahui peningkatan nilai rata-rata pasca-tes prestasi belajar siswa kelas eksperimen sebesar 17,72 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 11,34. Sedangkan dari data motivasi diperoleh peningkatan skor rata-rata motivasi kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, yakni untuk kelas eksperimen pada skala Likert dari 3,37 (kategori baik) menjadi 3,65 (kategori sangat baik) dan pada skala Guttman dari 1,80 (kategori cukup baik) menjadi 2,01 (kategori baik). Sedangkan untuk kelas kontrol pada skala Likert dari 3,33 (kategori baik) menjadi 3,50 (kategori baik) dan pada skala Guttman dari 1,78 (kategori cukup baik) menjadi 1,97 (kategori baik). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model TGT mempunyai pengaruh yang lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional terhadap motivasi dan prestasi belajar fisika siswa. Dari hasil penelitian dapat dikemukakan saran penggunaan model TGT untuk materi yang lain sebagai alternatif dalam pembelajaran, karena dapat meningkatkan prestasi dan motivasi belajar fisika siswa.

Pemanfaatan media keping berwarna untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang operasi hitung bilangan bulat kelas IV SDN Petung II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Muhammad Mukhdor

 

ABSTRAK Mukhdor, Muhammad. 2009. Pemanfaatan Media Keping Berwarna untuk Meningkatkan Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Bulat Kelas IV di SDN Petung II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, FIP UM, Jurusan KSDP. Program S1 PGSD. Pembimbing: (1) Drs. Suharjo, M.S. M.A (2).Drs. Goenawan Roebyanto M.Pd Kata kunci : Keping berwarna, Hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam mengerjakan soal operasi hitung bilangan bulat berbeda tanda di kelas IV dengan menggunakan media keping berwarna. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.(1)Bagaimanakah pemanfaatan media keping berwarna dalam pembelajaran matematika untuk meningatkan hasil belajar operasi hitung bilangan bulat siswa kelas IV SDN Petung II Kec. Pasrepan Kab.Pasuruan ? (2) Apakah dengan menggunakan media keping berwarna dapat meningkatkan hasil belajar operasi hitung bilangan bulat pada kelas IV di SDN Petung II Kec.Pasrepan Kab.Pasuruan ? Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas IV SDN Petung 2 Kec. Pasrepan sebanyak 23 siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 60,8% (14 siswa) mencapai standar nilai ketuntasan termasuk klasifikasi baik, 39,2% (9 Siswa) belum mencapai nilai standar ketuntasan belajar. Tingginya prosentase siswa yang yang belum mencapai standar ketuntasan dalam belajar dikarenakan siswa masih belum menguasai konsep operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat berbeda tanda. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan pedoman wawancara dan soal tes. Berdasarkan hasil observasi pada siklus 1 dan siklus 2 diperoleh data persentase keberhasilan aktivitas guru pada siklus 1 sebesar 85,7% dengan kategori sangat baik. Dan pada siklus 2 sebesar 88,6% dengan kategori sangat baik. Aktivitas guru mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 2,9%, secara keseluruhan aktivitas guru dalam proses pembelajaran dikategorikan sangat baik, Hal ini menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran matematika dengan menerapkan pengggunaan media keping berwarna untuk menanamkan konsep operasi hitung dengan sangat baik. Sedangkan hasil observasi aktivitas siswa pada siklus 1 sebesar 66,9% dengan kategori baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus 2 sebesar 85,7%. dari data tersebut diketahui adanya peningkatan aktivitas siswa dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 18,8%, secara keseluruhan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran meningkat secara signifikan setelah di beri tindakan dan dikategorikan sangat baik. Tingkat penguasaan konsep dan kemampuan siswa menyelesaikan soal yang berhubungan dengan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat berbeda tanda juga mengalami peningkatan yaitu ditunjukkan dengan hasil rata-rata kelas tes awal sebesar 66,5 dan pada tes akhir siklus 1 naik menjadi 71,3 serta siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar sebanyak 16 siswa. Sedangkan hasil tes akhir pada siklus 2 nilai rata-rata kelas mencapai 80,8, siswa yang mencapai standar ketuntasan belajar sebanyak 23 siswa, dari data diatas dapat diketahui telah terjadi meningkatan nilai rata rata siswa seluruh kelas dari siklus I ke siklus II sebesar 9,5 sehingga dapat disimpulkan bahwa Pemanfaatan media keping berwarna dalam pembelajaran matematika tentang operasi hitung penjumlahan dan pengururangan bilangan bulat berbeda tanda dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV Sekolah Dasar di SDN Petung 2 Kec. Pasrepan Kab. Pasuruan Saran dari penelitian ini dikemukakan sebagai berikut: (1). Pembelajaran matematika sedapat mungkin dilaksanakan dengan menggunakan media pembelajaran matematika yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa (2). Bagi guru disarankan agar menerapkan pembelajaran matematika dengan memanfaatkan media keping berwarna terutama pada materi penanaman konsep operasi hitung bilangan bulat berbeda tanda di kelas 4.

Membangun jaringan LAN menggunakan PC station untuk mendukung sistem informasi perpustakaan di UPT SDN Kebonagung Kota Pasuruan / Shandy Eko Budilaksono

 

Pembangunan jaringan LAN untuk mendukung sistem informasi perpustakaan di UPT SDN Kebonagung ini dilatarbelakangi kendala yang dihadapi pustakawan dan asisten pustakawan dalam mengolah buku,pengindukan, dan sirkulasi. Pembangunan jaringan ini bertujuan untuk mencapai akurasi data dalam pengindukan buku dan efisiensi waktu dalam pelayanan sirkulasi para anggota serta pengunjung perpustakaan di UPT SDN Kebonagung Kota Pasuruan. Salah satu alternatif untuk mengatasi hal ini yaitu dengan melakukan Perancangan Aplikasi Sistem Informasi dengan menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0 dalam suatu jaringan lokal (LAN) dengan menggunakan PC Station dari 1 PC Host (server) dan 2 PC Termina (client). Pengembangan Jaringan LAN untuk mendukung sistem informasi perpustakaan ini dilakukan di ruang Perpustakaan UPT SDN Kebonagung. Dalam perancangan Jaringan LAN tahapan-tahapannya yang pertama dengan mendesain jaringan, kedua dengan perancangan hardware, ketiga dengan menginstall sistem operasi dan driver dari PC Station pada PC host . Keempat yaitu konfigurasi IP Address pada PC host dan PC Terminal. Hasil pengembangan ini menunjukkan bahwa pembangunan jaringan LAN dapat mempercepat proses pengindukan dan sirkulasi sehingga siswa tidak menunggu terlalu lama dalam proses meminjam buku serta mencari buku dan juga rekapitulasi peminjaman buku dilaporkan kepada kepala sekolah dapat dilakukan dengan cepat. Berdasarkan hasil dari pembangunan jaringan ini, dapat disarankan agar dilakukan pengembangan lebih lanjut misalnya penambahan sistem barcode pada sistem informasi sehingga pada saat siswa masuk ke ruang perpustakaan siswa tidak lagi mengisi buku pengunjung, melainkan cukup dengan menunjukkan kartu anggota perpustakaan pada alat sensor barcode dan pada saat proses sirkulasi dapat dilakukan lebih cepat.

Pengaruh prestasi belajar mata pelajaran kewirausahaan serta perbedaan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat berwirausaha siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang / Satwikaning Santi Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Satwikaning Santi. 2009. Pengaruh Prestasi Belajar Mata Pelajaran Kewirausahaan serta Perbedaan Latar Belakang Sosial Ekonomi Orang Tua terhadap Minat Berwirausaha Siswa Kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Agung Winarno, M.M, (2) Imam Bukhori, S.Pd., M.M. Kata kunci : Prestasi Belajar, Latar Belakang Sosial Ekonomi, Minat Berwirausaha. Perwujudan masyarakat yang berkualitas telah menjadi tanggung jawab pendidikan pada khususnya dalam mempersiapkan peserta didik yang tangguh, kreatif, mandiri dan professional dibidangnya masing-masing sebagai subyek pembangunan kehidupan nasional. Semakin banyaknya pengangguran terdidik menekankan peran wirausaha sangat dibutuhkan, menciptakan lapangan kerja guna mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah, mendeskripsikan prestasi belajar mata pelajaran kewirausahaan, mendeskripsikan latar belakang sosial ekonomi orang tua, mendeskripsikan minat berwirausaha siswa, menguji pengaruh prestasi belajar mata pelajaran kewirausahaan terhadap minat berwirausaha siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang, menguji pengaruh perbedaan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang, menguji pengaruh perbedaan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat berwirausaha siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang. Berdasarkan penelitian ini hasil yang diperoleh adalah : (1) tidak terdapat pengaruh prestasi belajar mata pelajaran kewirausahaan terhadap minat berwirausaha siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2009/2010, (2) tidak terdapat pengaruh perbedaan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar mata pelajaran kewirausahaan siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2009/2010, (3) tidak terdapat pengaruh perbedaan latar belakang sosial ekonomi orang tua terhadap minat berwirausaha siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang tahun ajaran 2009/2010. Saran yang diberikan untuk menumbuhkan minat berwirausaha siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 2 Malang adalah (1) mengadakan kegiatan akademis yang dapat menimbulkan minat berwirausaha; (2) meningkatkan fungsi dan fasilitas sarana dan prasarana laboratorium untuk masing-masing program keahlian, agar dapat digunakan sebagai inkubator bisnis bagi siswa; (3) peningkatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, berorientasi pada praktek, studi kasus, studi banding dan mendatangkan narasumber dengan acara seminar/talk show; (4) untuk peneliti selanjutnya, sebaiknya tidak hanya meneliti prestasi belajar dan latar belakang sosial ekonomi orang tua.

Efektivitas penggunaan multiteks terhadap kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Pamekasan / Nice Abdiana

 

ABSTRAK Abdiana, Nice. 2009. Efektivitas Penggunaan Multiteks terhadap Kemampuan Membaca Cepat Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Pamekasan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurhadi, M.Pd, (II) Drs. Sunoto, M.Pd. Kata Kunci: multiteks, keterampilan membaca, kemampuan membaca cepat. Keterampilan membaca mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pepatah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Oleh karena itu, seiring dengan perkembangan tekhnologi informasi tulis seseorang dituntut untuk lebih banyak membaca agar memiliki wawasan yang lebih luas dengan kemampuan membaca cepat yang memadai. Pada hakikatnya, kemampuan membaca cepat adalah kemampuan membaca dalam waktu yang relatif singkat dan memiliki pemahaman yang luas terhadap isi teks. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca cepat adalah bahan bacaan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa bahan bacaan yang struktur kalimatnya sama dengan struktur kalimat bahasa lisan yang dikuasai siswa jauh lebih mudah dipahami daripada sebaliknya. Multiteks merupakan bahan bacaan yang disajikan dari berbagai sumber, tetapi memiliki topik yang sama dan terdiri atas teks bacaan yang mudah, sedang, sulit, dan sangat sulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh multiteks terhadap kemampuan membaca cepat. Ada dua aspek yang menandai kemampuan membaca cepat, yaitu (1) kecepatan membaca , dan (2) kemampuan memahami isi bacaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Jenis desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain control group pre-test and post-test. Peneliti menguji pengaruh multiteks terhadap kemampuan membaca cepat siswa kelas VIII SMP. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas empat data, yaitu (1) skor pretes dan postes kecepatan membaca kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, (2) skor pretes dan postes pemahaman isi bacaan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, (3) skor kecepatan membaca siswa kelompok eksperimen pada perlakuan 1—3, (4) skor kemampuan memahami isi bacaan kelompok eksperimen pada perlakuan 1—3. Langkah-langkah desain eksperimen semu sebagai berikut. Pertama, diidentifikasi karakteristik subjek, lalu didapat tiga kelas yang memiliki karakteristik relatif sama, yaitu sama-sama kelas regular. Kemudian, menentukan dua kelompok yang akan dijadikan sampel penelitian. Setelah itu, akan diperoleh dua kelompok yang sedapat mungkin memiliki sifat homogen. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sample. Kedua, pemberian tes awal (pretes) pada semua subjek untuk mengetahui tingkat kondisi subjek. Hasil tes digunakan untuk melihat perbedaan awal kedua kelompok dalam aspek kecepatan membaca dan kemampuan memahami isi bacaan. Ketiga, pemberian perlakuan berupa latihan membaca cepat menggunakan media multiteks kepada kelompok eksperimen dan perlakuan konvensional tanpa menggunakan media multiteks kepada kelompok kontrol. Data pada perlakuan 1—3 dikelompokkan menjadi 2 aspek, yaitu keceptan membaca dan pemahaman isi, selanjutnya masing-masing aspek dikelompokkan menjadi 2 kelompok frekuensi siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah. Keempat, memberikan tes akhir (postes) kepada kedua kelompok untuk membandingkan hasilnya dalam aspek kecepatan membaca dan kemampuan memahami isi bacaan. Data hasil postes kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diolah dengan menggunakan uji-t. Melalui penelitian ini dihasilkan dua kesimpulan sebagai berikut. Pertama, penggunaan multiteks efektif untuk meningkatkan kecepatan membaca siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Pamekasan. Hal ini terbukti karena terdapat perbedaan yang signifikan hasil postes antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek kecepatan membaca, yaitu diketahui thitung 2,858 > ttabel 2,001. Berdasarkan hitungan tersebut, berarti rerata postes kecepatan membaca siswa kelas eksperimen (367,4667 kpm) lebih tinggi dari rerata postes kecepatan membaca siswa kelas kontrol (233,9667 kpm). Selain itu, efektivitas penggunaan media multiteks terhadap kecepatan membaca juga tampak pada grafik perbedaan frekuensi pada kelompok kecepatan membaca tinggi antara perlakuan 1 dan 2, 2 dan 3, 1 dan 3. Dilihat dari peningkatan frekuensi kecepatan membaca kelompok tinggi dari perlakuan 1 dan 2, 2 dan 3 terlihat kenaikan grafiknya tidak begitu signifikan. Akan tetapi, apabila dilihat dari frekuensi perlakuan 1 dan 3 maka tampak adanya peningkatan yang signifikan karena jumlah siswa kelompok tinggi pada perlakuan 1 sejumlah 7 siswa meningkat menjadi 14 siswa pada perlakuan 3. Kedua, penggunaan multiteks efektif untuk meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Pamekasan. Hal ini terbukti karena terdapat perbedaan yang signifikan hasil postes antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek kemampuan memahami isi bacaan, yaitu diketahui thitung 2,427 > ttabel 2,001. Berdasarkan hitungan tersebut, berarti rerata postes pemahaman isi bacaan siswa kelas eksperimen (85,0000%) lebih tinggi dari rerata postes pemahaman isi bacaan siswa kelas kontrol (78,3333%). Selain itu, efektivitas penggunaan media multiteks terhadap tingkat pemahaman juga tampak pada grafik perbedaan frekuensi pada kelompok tingkat pemahaman tinggi antara perlakuan 1 dan 2, 2 dan 3, 1 dan 3. Dilihat dari peningkatan frekuensi kemampuan memahami isi bacaan kelompok tinggi dari perlakuan 1 dan 2, 2 dan 3 terlihat kenaikan grafiknya tidak begitu signifikan. Akan tetapi, apabila dilihat dari frekuensi perlakuan 1 dan 3 maka tampak adanya peningkatan yang signifikan karena jumlah siswa kelompok tinggi pada perlakuan 1 sejumlah 9 siswa meningkat menjadi 23 siswa pada perlakuan 3. Hal-hal yang disarankan setelah penelitian adalah sebagai berikut. Peneliti selanjutnya sebaiknya menggunakan jenis penelitian eksperimen sungguhan, sebaiknya menggunakan tes kecepatan membaca dan tes pemahaman isi bacaan untuk menguji validitas instrumen, teks bacaan yang digunakan dalam multiteks sebaiknya lebih dikontrol dari segi sumber, tingkat kesulitan, dan kesamaan topik, dan pengukuran tingkat pemahaman siswa sebaiknya menggunakan butir soal pilihan ganda.

Penggunaan media papan magnet untuk meningkatkan hasil belajar IPS materi keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia kelas V SDN Kupang Sidoarjo / Tatik Maulidah

 

ABSTRAK Maulidah,Tatik. 2010. Penggunaan Media Papan Magnet Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Materi Keragaman Suku Bangsa dan Budaya Di Indonesia Kelas V SDN Kupang Sidoarjo. Skripsi, Jurusan KSDP Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs.Sumanto,M.Pd, (2) Hj. Murtiningsih,S.Pd, M.Pd. Kata kunci : Media Papan Magnet, Hasil belajar, Keragaman Suku dan Budaya, SD. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi peneliti di kelas V SDN Kupang Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas diketahui bahwa terdapat permasalahan yang cukup kompleks pada pembelajaran IPS di kelas tersebut. Secara umum permasalahan tersebut dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah, yaitu model pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang tepat, kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan ceramah, dan penggunaan media pembelajaran yang tersedia di sekolah kurang optimal, sehingga motivasi belajar siswa rendah, yang ditandai oleh kurang aktifnya siswa dalam mencari pengetahuan sendiri dan hanya menunggu pemberian materi dari guru, hal ini berdampak pada hasil belajar yang siswa kurang optimal, terlihat dari nilai rata-rata hasil belajar IPS yang diperoleh siswa secara klasikal sebesar 60. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah-masalah tersebut dengan menggunakan media papan magnet, melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan papan magnet dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan papan magnet kompetensi dasar kemampuan menghargai keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia di kelas V SDN Kupang Sidoarjo. Untuk itu rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Hopkins yang tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kupang Sidoarjo sebanyak 42 siswa. Data penelitian diperolah dari hasil observasi dan hasil tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media papan magnet pada pembelajaran keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pada observasi awal nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 60 siklus I 64,2 dan pada siklus II 75,2. Sehingga mengalami peningkatan dari observasi awal ke siklus I sebesar 4,2 dan dari siklus I ke siklus II sebesar 9. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media papan magnet dapat meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya siswa kelas V SDN Kupang Sidoarjo. Untuk itu disarankan bagi guru untuk menggunakan media pada saat pembelajaran. Bagi sekolah disarankan dapat menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran.

Pengaruh penggunaan metode dictogloss terhadap kemampuan menulis siswa kelas IV SDN Karangjati I Ngawi tahun ajaran 2009/2010 / Arny Kurniasari

 

ABSTRAK Kurniasari, Arny. 2009. Pengaruh Penggunaan Metode Dictogloss Terhadap Kemampuan Menulis Siswa Kelas IV SDN Karangjati I Ngawi Tahun Ajaran 2009/2010 . Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Masnur Muslich, M.Si Kata Kunci: metode dictogloss, kemampuan menulis. Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan di samping keterampilan berbahasa yang lainnya. Dengan menulis siswa dapat menuangkan segala keinginan hati, perasaan, sindiran, kritikan dan lainnya. Namun, dalam pengajarannya masih banyak terdapat kendala karena rendahnya minat siswa. Upaya untuk mengatasi rendahnya minat siswa terhadap kegiatan menulis biasa dilakukan guru di sekolah dengan mengembangkan aspek menyimak sekaligus menulis. Upaya ini dilakukan dengan cara tradisional yang lebih kita kenal dengan sebutan dikte. Wajnryb (1990) telah mengembangkan cara baru untuk melakukan dikte, dikenal sebagai dictogloss. Dari latar belakang di atas diangkatlah sebuah penelitian dengan judul Pengaruh Penggunaan Metode Dictogloss terhadap Kemampuan Menulis pada Siswa Kelas IV SDN Karangjati I Ngawi Tahun Ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh penggunaan metode Dictogloss terhadap kemampuan menulis siswa dari segi pilihan kata atau diksi, penyusunan kalimat, ejaan, dan tanda baca. Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh Metode Dictogloss terhadap kemampuan menulis pada siswa kelas IV SD yang dilihat dari dua aspek, yaitu aspek bahasa dan aspek mekanik. Dengan demikian penelitian ini dapat dikategorikan dalam penelitian eksperimen. Instrumen pengukuran variabel dalam penelitian ini adalah tes kemampuan awal (prates) dan tes kemampuan akhir (postes). Tes dilakukan dengan memberikan tugas pada siswa untuk membuat karangan. Adapun soal yang diberikan berupa soal subjektif dengan rincian (1) dalam prates, siswa diminta untuk membuat karangan berdasarkan topik yang telah diberikan, dan (2) dalam postes, pada kelas eksperimen, siswa diminta kembali untuk membuat karangan setelah dilakukan pembelajaran dengan metode Dictogloss, sedangkan pada kelas kontrol dilakukan dengan model konvensional, siswa diberi kata kunci yang digunakan sebagai acuan mengarang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa t tabel untuk taraf signifikansi 5% sebesar 2,063. Dengan t hitung dari segi pilihan kata, penyusunan kalimat, ejaan dan tanda baca secara berurutan sebesar 3,536; 3,979; 3,015; 2,846. Setelah dikonsultasikan dengan t tabel diperoleh simpulan t hitung lebih besar dari t table . Hal ini membuktikan bahwa ada pengaruh positif penggunaan metode dictogloss dalam pembelajaran menulis terhadap kemampuan menulis karangan dari segi pilihan kata atau diksi, penyusunan kalimat, ejaan dan tanda baca. Berdasarkan hasil penelitian ini, guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia hendaknya bisa menerapkan pembelajaran menulis dengan menggunakan metode dictogloss agar kemampuan menulis siswa menjadi lebih baik. Untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif pembelajaran dengan metode dictogloss, instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan siswa pada aspek penilaian menulis hendaknya lebih ditingkatkan lagi dengan menambahkan aspek yang dinilai dalam mengukur kemampuan menulis siswa, seperti organisasi karangan. Guru disarankan juga untuk memberikan latihan yang lebih banyak lagi kepada siswa mengenai keterampilan mengarang. Melalui karangan inilah siswa dapat menuangkan segala ide, pikiran, dan gagasan.

Validitas dan reliabilitas butir-butir latihan dalam lembar kerja siswa Bahasa Arab yang digunakan di Mts Hasanuddin Siraman Kesamben Blitar / M. Nur Chozin

 

i ABSTRAK Chozin, M. Nur. 2009. Validitas dan Reliabilitas Butir-butir Latihan dalam Lembar Kerja Siswa Bahasa Arab yang Digunakan di MTs Hasanuddin Siraman, Kesamben, Blitar. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Moh. Ainin, M.Pd. Kata kunci: validitas, reliabilitas, Lembar Kerja Siswa Lembar Kerja Siswa/ Student Work Sheet merupakan salah satu bentuk bahan ajar cetak yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran, yakni berupa buku pedoman, pembimbing, dan perekam tugas-tugas siswa, serta buku kerja yang berfungsi sebagai pelengkap buku pokok yang berisi materi pelajaran. Dengan Lembar Kerja Siswa, siswa diharapkan dapat mempelajari materi pelajaran tersebut secara mandiri dan mampu mengerjakan tugas-tugas dan latihan-latihan dengan baik. Tugas-tugas dan latihan-latihan yang terdapat dalam Lembar Kerja Siswa dapat bersifat teori maupun aplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan validitas isi dan reliabilitas butir-butir latihan dalam Lembar Kerja Siswa Bahasa Arab yang digunakan di MTs Hasanuddin Siraman, Kesamben, Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif. Data yang digunakan untuk mengetahui validitas isi termasuk data kualitatif berupa butir-butir latihan dan untuk mengetahui tingkat reliabilitas data yang digunakan termasuk data kuantitatif berupa nilai atau skor. Sumber data yang digunakan untuk mengetahui validitas isi adalah dokumen atau catatan/ paper berupa butir-butir latihan dan untuk mengetahui tingkat reliabilitas sumber data adalah orang/ person berupa jawaban tertulis pada tes/ test. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Peneliti terlibat langsung dalam kegiatan pengumpulan, penyajian, pereduksian, pengorganisasian/ penyeleksian, dan penganalisisan data, serta penyimpulan hasil penelitian. Instrumen bantu atau penunjang berupa tes/ test yang digunakan untuk mengetahui tingkat reliabilitas. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengetahui validitas isi adalah teknik dokumentasi dan untuk mengetahui tingkat reliabilitas adalah pemberian tes/ testing. Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui validitas isi ialah teknik analisis rasional dan untuk mengetahui tingkat reliabilitas ialah metode belah dua/ split-half method. Hasil penelitian, yaitu butir-butir latihan dalam Lembar Kerja Siswa Bahasa Arab yang digunakan di MTs Hasanuddin Siraman Kesamben Blitar sebagian mencerminkan validitas isi, yaitu aspek kosakata/ mufradat, aspek struktur/ tarkib, aspek keterampilan membaca/ qira’ah, dan aspek keterampilan menulis/ kitabah. Sedangkan aspek keterampilan menyimak/ istima’ dan aspek keterampilan berbicara/ kalam tidak mencerminkan validitas isi, karena butir-butir latihannya mengukur aspek keterampilan membaca/ qira’ah. Butir-butir latihan dalam Lembar Kerja Siswa Bahasa Arab yang digunakan di MTs Hasanuddin Siraman Kesamben Blitar memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi, yaitu 0,769.

Hubungan antara pola asuh orang tua dan kepercayaan diri siswa kelas X SMAN 2 Trenggalek / Hasty Sevianingrum

 

ABSTRAK Sevianingrum, Hasty. 2009. Hubungan antara Pola Asuh Orang Tua dan Kepercayaan Diri Siswa Kelas X SMAN 2 Trenggalek. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Widada, M.Si. (II) Dr. Triyono, M.Pd. Kata Kunci : Pola Asuh, Orang Tua, dan Kepercayaan Diri. Pola asuh orang tua merupakan cara orang tua dalam mengasuh, mendidik, dan melatih kebiasaan anak untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Pola asuh orang tua memegang peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, karena dengan semangat kasih sayang dalam suasana keterbukaan akan sangat mempengaruhi bagaimana anak memenuhi kebutuhannya sesuai dengan usia perkembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memperoleh gambaran deskriptif mengenai pola asuh orang tua, (2) memperoleh gambaran deskriptif mengenai tingkat kepercayaan diri siswa, dan (3) memperoleh gambaran deskriptif mengenai hubungan antara pola asuh orang tua dan kepercayaan diri siswa kelas X SMAN 2 trenggalek. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 2 Trenggalek dengan jumlah sampel yang digunakan 70 siswa. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purpossive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pola asuh orang tua dan kuesioner kepercayaan diri. Teknik analisa data menggunakan dua cara, yaitu statistik deskriptif dan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran pola asuh orang tua siswa kelas X SMAN 2 Trenggalek sebagian besar berada pada pola asuh permisif dengan persentase 60%. Sedangkan, sebaran kepercayaan diri siswa kelas X SMAN 2 Trenggalek, sebagian besar berada pada kriteria tinggi dengan persentase 32,9%. Dari hasil uji korelasi product moment diketahui bahwa nilai rxy (0,660) > dari rtabel (0,235) dan nilai sig.(0,000) < 0,05 maka dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dan kepercayaan diri siswa kelas X SMAN 2 Trenggalek dan hubungan ini termasuk dalam kategori kuat karena berada di atas 50%. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan kepada konselor sekolah adalah: hasil penelitian ini hendaknya dapat digunakan oleh konselor untuk analisis kebutuhan siswa, selanjutnya siswa yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi konselor dapat lebih mengembangkan layanan bimbingan pribadi dan sosial yang berkaitan dengan kepercayaan diri siswa agar mereka tidak sampai memiliki rasa kepercayaan diri yang rendah. Bagi orang tua: diharapkan agar orang tua mempunyai satu jenis pola asuh yang dominan dalam mengasuh anak, walaupun orang tua dapat menerapkan ketiga jenis pola asuh tersebut. Adapun pola asuh yang dianjurkan adalah pola asuh demokratis. Bagi peneliti lain: hendaknya dapat menggunakan metode pengembangan instrumen yang lebih lengkap, misalnya dengan menggunakan metode observasi partisipan dan wawancara. Bagi jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai tambahan bahan pustaka untuk jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi.

Analisis faktor-faktor motivasional pemilihan jurusan siswa SMK Swasta se-Kota Malang / Ira Ermayanti

 

ABSTRAK Ermayanti, Ira. 2009. Analisis Faktor-Faktor Motivasional Pemilihan Jurusan Siswa SMK Swasta Se Kota Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Bambang Setyadin, M.Pd, (II) Dra. Mustiningsih, M.Pd. Kata kunci: motivasi, jurusan. Pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan, karena pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer dalam rangka membina dan membentuk watak serta kepribadian bangsa agar menjadi bangsa yang berbudaya dan beradab. Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia adalah terbatasnya lapangan kerja. Bentuk jenjang pendidikan yang ada di Indonesia sebagai jembatan untuk memasuki dunia kerja adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional yang terdiri dari berbagai macam jurusan. Sehubungan akan hal itu bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang akan melanjutkan jenjang pendidikannya ke SMK memiliki motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik. Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: (1) apa sajakah faktor-faktor yang menjadi motivasi pemilihan jurusan siswa SMK Swasta se Kota Malang, (2) apakah faktor motivasi yang paling dominan sebagai pendorong siswa memilih jurusan di SMK Swasta se Kota Malang, dan (3) berdasarkan aspek motivasinya, berapa orang siswa yang mengalami salah pilih jurusan di SMK Swasta se Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) faktor-faktor yang menjadi motivasi pemilihan jurusan siswa SMK Swasta se Kota Malang, (2) faktor motivasi paling dominan yang mendorong siswa memilih jurusan di SMK Swasta, dan (3) menemukan jumlah siswa yang salah dalam memilih jurusan di SMK Swasta berdasarkan motivasi mereka. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan jenis penelitian eksploratori dan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa Kelas I SMK Swasta se Kota Malang tahun ajaran 2009/2010, yaitu 11244 siswa. Sampel penelitian berjumlah 368 siswa. Instrumen yang digunakan adalah angket yang berisi 53 item pernyataan dengan reliabilitas 0,934. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis faktor eksploratori, analisis deskriptif, dan analisis diskriminan, dengan menggunakan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solution) for Windows version 12.0. Hasil penelitian ini menunjukkan pembentukan faktor-faktor baru hasil dari analisis faktor adalah: (1) Faktor sesuai kemampuan dan harapan, (2) Faktor kesenangan, (3) Faktor dorongan pihak luar, (4) Faktor pertimbangan animo masyarakat, (5) Faktor sesuai hobi, (6) Faktor status ekonomi, (7) Faktor kelengkapan sarana dan parasarana, (8) Faktor dukungan keluarga, (9) Faktor informasi relasi, (10) Faktor favorit, dan (11) Faktor dukungan teman. Jumlah sampel sebanyak 368 siswa, berdasarkan motivasinya siswa yang salah memilih jurusan adalah 356 dan sisanya 12 mengalami ketepatan memilih jurusan. Implikasi penelitian ini adalah: (1) Faktor yang paling dominan dalam pemilihan jurusan adalah faktor sesuai kemampuan dan harapan, maka dalam penerimaan siswa yang diutamakan adalah menggali kemampuan dan harapan siswa sebagai dasar untuk menentukan jurusannya; dan (2) Sebagian besar siswa ternyata salah pilih jurusan, oleh karena itu harus dilakukan replacement jurusan untuk disesuaikan dengan kemampuan dan harapan siswa. Saran yang dikemukakan sebagai berikut: (1) Pengelola SMK Swasta se Kota Malang, hendaknya Pengelola SMK Swasta se Kota Malang memperhatikan faktor-faktor yang menjadi motivasi siswa dalam pemilihan jurusan terutama faktor yang paling dominan, yaitu faktor sesuai kemampuan dan harapan. Upaya untuk menggali kemampuan dan harapan siswa selain dari hasil studi selama di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), dapat dilakukan dengan tes tulis dan wawancara. Sehubungan dengan hasil tersebut dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan penerimaan peserta didik baru agar tidak terjadi salah pilih jurusan yang nantinya berimbas pada kesalahan penjurusan/pengelompokan siswa. Apabila terjadi kesalahan pemilihan jurusan atau penjurusan siswa, maka perlu dilakukan penggantian jurusan kepada siswa bersangkutan yang disesuaikan dengan kemampuan dan harapannya, hal demikian dimaksudkan agar: proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan lancar, siswa dapat lebih fokus menerima pelajaran sehingga harapannya dapat tercapai, dan tercetak output (lulusan) yang berkualitas dan siap pakai dalam dunia kerja; (2) Siswa, hendaknya bagi siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya agar tidak salah memilih jurusan, mereka perlu mengetahui seberapa tingkat kemampuan dan harapan yang dimiliki, selain itu perhatian serta pertimbangan faktor-faktor motivasi pemilihan jurusan yang lain juga diperlukan sebagai landasan memutuskan jurusan yang dipilih; (3) Pengelola Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya melakukan kajian ulang atau mengembangkan hasil terhadap penelitan ini, sehingga penelitian ini dapat menambah keilmuan dalam bidang manajemen pendidikan yang terkait dalam salah satu substansi, yaitu manajemen peserta didik; dan (4) Peneliti Lain, penelitian ini dapat dijadikan referensi terhadap penelitian yang sejenis. Tetapi apabila dari hasil penelitian ini terdapat motif-motif yang tidak seluruhnya benar, sebaiknya disanggah dengan menggunakan teori motivasi baru yang menentukan siswa memilih jurusan.

Penggunaan unggah-ungguh Basa Jawa dalam tuturan siswa SMP Negeri 1 Geneng Kabupaten Ngawi tahun ajaran 2009/2010 / Muh. Sidiq Amin

 

ABSTRAK Amin, Muh. Sidiq. 2009. Penggunaan Unggah-Ungguh Basa Jawa dalam Tuturan Siswa SMP Negeri 1 Geneng Tahun Ajaran 2009/ 2010. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sunaryo HS, S.H., M.Hum., (II) Drs. Masnur Muslich M.Si. Kata Kunci: penggunaan, unggah-ungguh dan bahasa Jawa Unggah-ungguh berarti sopan santun. Sedangkan unggah-ungguh basa berarti tataran ngoko krama, ini berkembang mungkin karena keinginan bawahan untuk menunjukkan sikap hormatnya terhadap atasan. Namun beberapa dekade belakangan ini penerapan unggah-ungguh dalam bahasa Jawa mulai mengalami kemerosotan dan ter-marginal-kan. Oleh karena itu, demi pelestarian budaya Jawa, sekolah-sekolah di Jawa terutama Jawa tengah dan Jawa timur mulai berlomba-lomba dalam menerapkan pembelajaran bahasa Jawa yang lebih efektif dan menarik. Dari sini peneliti ingin melakukan penelitian tentang penggunaan unggah-ungguh basa dalam tuturan siswa di lingkungan sekolah terkait dengan adanya peraturan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar pendidikan sekaligus pelestarian dan pembelajaran bahasa Jawa secara langsung. Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah data transkrip tuturan komunikasi dan rekaman yang diperoleh dari hasil perekaman atau penyadapan peneliti dalam tuturan komunukasi dalam interaksi siswa SMP Negeri 1 Geneng. Bedasarkan analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa Ada enam (6) jenis pihak yang dijadikan sasaran siswa dalam mengaplikasikan ragam tingkat tutur bahasa ngoko lugu. Keenam itu diantaranya adalah (1) guru, (2) penjual di kantin, (3) peneliti, (4) petugas kebersihan (tukang kebun), (5) siswa lain yang setingkat kelas, dan (6) siswa lain yang lebih rendah tingkatan kelasnya. Ada tiga (3) pihak yang dijadikan sasaran siswa dalam berkomunikasi dengan ragam ngoko lugu. Ketiga kelompok itu adalah guru, petugas kebersihan tukang kebun dan siswa lain yang lebih tinggi tingkat kelasnya. Untuk ragam krama lugu hanya ada tiga (3) pihak yang dijadikan lawan komunikasi siswa, yaitu guru, Ibu kantin dan siswa yang lebih tinggi tingkatnya. Sedangkan untuk ragam bahasa krama alus hanya ada satu (1) pihak yang manjadi lawan komunikasi siswa yaitu guru. Semua pihak-pihak ini secara umum mempunyai hubungan vertikal ke atas dengan siswa. Meskipun sudah ada kesamaan penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa siswa dengan kaidah yang ada namun, masih ada banyak penyimpangan penggunaan unggah-ungguh bahasa siswa dengan kaidah yang ada dalam tuturan siswa. Penyimpangan itu termasuk di dalamnya kesalahan penggunaan tingkat kata, tingkat kata jadian (andhahan), dan pengunaan tingkat tutur berkaitan dengan pengunaanya dalam tataran kaidah sosiolinguistiknya. Adapun beberapa saran yang bisa peneliti sampaikan sehubungan dengan masih terdapatnya kesalahan penggunaan kaidah unggah-ungguh basa Jawa dalam tuturan siswa adalah sebagai berikut. (1) Pihak sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga siswa dapat bekerja sama, memberikan perhatian dan dukungannya, untuk kembali memperhatikan dan memelihara penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. (2) Pihak sekolah harus lebih bersemangat lagi dalam mengaplikasikan dan menjalankan kegiatan java days sebagai wahana pengaplikasian unggah-ungguh bahasa Jawa siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. (3) Perlu adanya dukungan seluruh warga sekolah dalam menjalankan progam sekolah Java days. (4) Guru bahasa Jawa lebih berusaha lagi dalam mengarahkan dan membimbing siswa untuk tidak meninggalkan bahasa Jawa, terutama ragam krama, dalam tuturan sehari-hari. (5) Guru bahasa Jawa memberikan perhatian yang lebih dalam pembelajaran unggah-ungguh bahasa Jawa, sehingga siswa dapat benar-benar memahami dan menguasai kaidah penggunaan unggah-ungguh basa Jawa. (6) Guru bahasa Jawa mengembangkan pembelajaran bahasa jawa yang terkait tentang penggunaan unggah-ungguh basa Jawa, seperti bermain drama, berpidato, ceramah, membaca berita, menulis surat, menulis cerpen dalam bahasa Jawa. (7) Guru bahasa Jawa menciptakan peluang-peluang baru dimana siswa dapat mengaplikasikan dan membiasakan diri dengan bahasa Jawa terutama ragam krama.

Peningkatan kemampuan menulis puisi bertema khusus dengan teknik merespon puisi model pada siswa kelas VIIc SMP Negeri 18 Malang / Chanifatul Munthi Zahriani

 

ABSTRAK Zahriani, Chanifatul Munthi. 2009. Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Bertema Khusus dengan Menggunakan Teknik Merespon Puisi Model pada Siswa Kelas VIIC SMP Negeri 18 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. Kata kunci: peningkatan, kemampuan menulis puisi bertema khusus, teknik merespon puisi model. Menulis puisi merupakan salah satu bentuk kegiatan menulis yang merupakan kegiatan aktif dan produktif. Dengan menulis puisi seseorang telah melakukan proses berpikir dan menghasilkan sebuah tulisan yang dapat dinikmati oleh orang lain. Namun, dalam kenyataan di lapangan, pembelajaran menulis puisi terutama dengan batasan tema tertentu acap kali menjadi pembelajaran yang kurang menyenangkan. Salah satunya karena menulis puisi merupakan salah satu kegiatan menulis kreatif yang sangat mengedepankan keluwesan, sehingga siswa akan mengalami kesulitan apabila menulis puisi dibatasi oleh tema tertentu. Hal ini dapat terjadi bila pada saat siswa dituntut untuk menulis puisi dengan tema tertentu, sedangkan perasaannya tidak sedang ingin menulis tentang itu. Pada kondisi ini guru sebagai fasilitator harus memfasilitasi siswa dengan metode yang cocok yang dapat merangsang siswa untuk mendapatkan mood tentang tema yang akan dijadikan acuan dalam menulis puisi. Terkait dengan meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis puisi, dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah proses peningkatan kemampuan menulis puisi bertema khusus siswa kelas VIIC SMP Negeri 18 Malang dengan menggunakan teknik merespon puisi model pada tahap: (a) pratulis, (b) saat tulis, dan (c) pascatulis?; dan (2) bagaimanakah hasil peningkatan kemampuan menulis puisi bertema khusus siswa kelas VIIC SMP Negeri 18 Malang dengan menggunakan teknik merespon puisi model pada tahap: (a) pratulis, (b) saat tulis, dan (c) pascatulis? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 18 Malang pada kelas VIIC. Subyek yang diteliti sebanyak 31 siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan teknik observasi dan pengumpulan data hasil dilakukan dengan analisis karya siswa. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan metode merespon puisi model terbukti dapat meningkatkan proses dan hasil menulis puisi siswa dengan memuaskan. Proses peningkatan kemampuan menulis puisi dengan tema tertentu pada tahap pratulis dilakukan kegiatan berikut: (1) guru memberikan puisi model kepada siswa, (2) siswa membaca dan memahami puisi model, dan (3) siswa menganalisis butir-butir ide dalam puisi model. Pada saat tulis dilakukan kegiatan berikut: (1) siswa menuliskan respon terhadap puisi model dalam bentuk paragraf, (2) siswa merevisi kalimat-kalimat respon yang telah disusun sebelumnya menjadi baris-baris puisi dengan memperhatikan pemilihan diksi, penggunaan bahasa kias, penggunaan pengimajian, dan penataan rima, (3) siswa dengan bimbingan guru menata baris-baris puisi tersebut ke dalam bait-bait puisi, dan (4) siswa memberi judul puisi masing-masing. Pada tahap pascatulis dilakukan kegiatan berikut: (1) siswa menukarkan hasil pekerjaannya dengan teman sebangku untuk diberi masukan, (2) siswa mengedit puisinya sesuai masukan teman, (3) perwakilan siswa membacakan hasil puisi yang telah ditulis di depan kelas secara bergantian dengan dinilai oleh teman sekelas, dan (4) siswa diberi penghargaan. Dari hasil peningkatan kemampuan menulis puisi pada tahap pratulis pada siklus I diketahui bahwa siswa yang mencapai skor >65 sebanyak 51,61%, sedangkan untuk siklus II siswa yang mencapai skor >65 sebanyak 100%. Pada tahap ini diketahui ada peningkatan kemampuan siswa sebesar 48,39%. Dari hasil peningkatan kemampuan menulis puisi pada saat menulis siklus I diketahui bahwa siswa yang mencapai skor >65 sebanyak 19,35%. Hal ini membuktikan adanya peningkatan sebesar 3,23% dari skor siswa pada penelitian pendahuluan. Pada siklus II siswa yang mencapai skor >65 sebanyak 100%, hal ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa sebesar 80,65% dibandingkan siklus I. Pada tahap pascatulis siswa telah mempunyai kepercayaan diri untuk membacakan puisinya di depan kelas. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menulis puisi dengan metode merespon puisi model dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis puisi dengan tema tertentu dengan menggunakan metode merespon puisi model dapat meningkat pada aspek diksi, rima, majas/bahasa kias, citraan/pengimajian pada proses dan hasil tahap pratulis, saat tulis, dan pascatulis. Berdasarkan simpulan penelitian ini disarankan kepada Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan di lingkungan sekolah untuk menerapkan penelitian tindakan kelas agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan dapat mengetahui kelemahan pembelajaran. Kepada guru sebagai pembina mata pelajaran Bahasa dan Sastra Inodnesia disarankan agar menggunakan metode merespon puisi model atau yang lain secara lebih kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mencapai suatu kompetensi pembelajaran. Kepada peneliti berikutnya disarankan agar menggunakan dan mengembangkan metode merespon puisi model sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain dengan lebih kreatif atau mengembangkan keterampilan berbahasa lainnya.

Peningkatan kemampuan mengapresiasi novel remaja dengan strategi cooperative learning jigsaw pada siswa kelas VIII SMP Islam Nurul Huda Malang / Alifia Agustin

 

ABSTRAK Agustin, Alifia. 2009. Peningkatan Kemampuan Mengapresiasi Novel Remaja dengan Strategi Cooperative Learning Jigsaw pada Siswa Kelas VIII SMP Islam Nurul Huda Malang Tahun Ajaran. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Mujianto, M.Pd. Kata kunci: kemampuan mengapresiasi novel remaja, cooperative learning, jigsaw. Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk dapat meningkatkan sumber daya manusia dan mengembangkan potensi diri. Salah satu jalur pendidikan yang dapat ditempuh adalah jalur pendidikan formal yang memiliki beberapa jenjang dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Perguruan Tinggi. Jenjang pendidikan tersebut memiliki tingkatan dalam memberikan materi pembelajaran guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Demikian pula yang terjadi dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah. Dalam pembelajarannya, ada empat keterampilan yang harus dikuasai siswa sebagaimana tercantum dalam materi sosialisasi Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yakni keterampilan mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara. Sebagaimana tercantum dalam standar Isi, salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa adalah keterampilan bebricara. Adapun salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mengasah keterampilan berbicara adalah kemampuan mengapresiasi novel remaja pada siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran mengapresiasi novel remaja adalah model cooperative learning dengan strategi jigsaw. Untuk mengetahui kemampuan mengapresiasi novel siswa kelas VIII dilaksanakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengapresiasi novel ramaja dengan penerapan cooperative learning dengan strategi jigsaw pada siswa kelas VIII SMP Islam Nurul Huda Malang. Adapun fokus penelitian terletak pada apakah penerapan cooperative learning dengan strategi jigsaw dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menentukan tokoh dan penokohan, setting/latar, tema, dan mengomentari novel remaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif pada dan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas digunakan untuk meningkatkan kemampuan mengapresiasi novel siswa dengan memberikan sebuah tindakan berupa penerapan cooperative learning dengan strategi jigsaw. Penelitian dilakukan di SMP Islam Nurul Huda Malang pada bulan Oktober 2009. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah lembar penilaian proses, human instrumen, dan catatan lapangan aktivitas siswa dan guru. Adapun data penelitian ini adalah nilai kemampuan menentukan tokoh dan penokohan novel, menentukan setting/latar novel, tema novel, dan kemampuan mengomentari novel yang dibaca secara lisan. Hasil penelitian penerapan cooperative learning dengan strategi jigsaw terhadap kemampuan mengapresiasi novel siswa menunjukkan hasil yang positif. Penerapan cooperative learning dengan strategi jigsaw dapat meningkatkan kemampuan mengapresiasi novel remaja pada tahap menentukan tokoh dan penokohan, tahap menentukan setting/latar, tahap menentukan tema, dan tahap mengomentari novel yang telah dibaca. Penelitian ini menunjukkan adanya hasil yang baik pada perkembangan penggunaan model dan strategi pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar. Saran bagi guru adalah hendaknya model cooperative learning dengan strategi jigsaw ini diterapkan dalam pembelajaran mengapresiasi novel dengan lebih inovatif dan kreatif. Saran bagi peneliti lain, hendaknya mencoba mengembangkan model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan kemampuan mengapresiasi novel siswa agar ada perkembangan ke arah yang lebih baik dalam dunia pendidikan kita.

Perancangan video dokumentasi sebagai media promosi pariwisata Jember / Wisnu Indra Pratama

 

ABSTRAK Pratama, Wisnu, Indra. 2010. Perancangan Video Dokumentasi Sebagai Media Promosi Pariwisata Jember. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Sarjono M.Sn. Kata Kunci: Perancangan, Dokumentasi, Media Promosi Jember memiliki banyak potensi wisata, tetapi kurang promosi sehingga pariwisata yang ada kurang dikenal. Maka diperlukan media promosi yang dapat mengenalkan dan memberikan gambaran secara langsung. Video dokumentasi dapat memberikan gambaran tentang keindahan obyek-obyek wisata dan memberikan informasi serta pengetahuan kepada wisatawan. Tujuan dan manfaat dari perancangan adalah menghasilkan media dokumentasi yang dapat mengenalkan dan memberikan informasi tentang keindahan dan keberagaman pariwisata Jember. Perancangan ini menggunakan model prosedural yang bersifat deskriptif. Proses perancangan yang prosedural tersebut berorientasi pada pemecahan masalah bagi dihasilkannya video dokumentasi tentang pariwisata Jember yang sesuai dengan karakter produk yang diharapkan. Perumusan masalah dan identifikasi serta tujuan, pengambilan data melalui cara observasi, dokumentasi dan wawancara kemudian di analisis dan akhirnya menjadi konsep dari perancangan. Perancangan menghasilkan media utama yang berupa video dokumentasi yang berdurasi sepuluh menit dalam format DVD dan VCD yang menampilkan dua obyek wisata unggulan Jember. Video dokumentasi menggunakan visualisasi artistik, diiringi dengan narasi tutur yang menjelaskan tentang seluk beluk obyek wisata unggulan Jember. Media promosi dilengkapi media pendukung poster, stiker, x-banner dan kalender wisata. Hasil perancangan menampilkan keindahan pariwisata Jember melalui penyajian audio-visual yang artistik dan menarik dalam bentuk video dokumentasi wisata. Saran yang diberikan pada perancangan media promosi diharapkan untuk pengembangan selanjutnya.

Peningkatan kemampuan menulis karangan argumentasi siswa kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang dengan menggunakan metode mind mapping / Novira Sagitta Pangemanan

 

ABSTRAK Pangemanan, Novira Sagitta. 2009. Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang dengan Menggunakan Metode Mind Mapping. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sunaryo HS, S.H., M.Hum. Kata kunci: kemampuan menulis, argumentasi, mind mapping. Berdasar pada standar isi Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006, keterampilan menulis telah diajarkan kepada siswa mulai jenjang SD/MI sampai jenjang SMA/MA. Pada jenjang SMA/MA, kompetensi dasar menulis karangan argumentasi diajarkan pada siswa kelas X semester 2. Walaupun telah dilaksanakan pembelajaran menulis argumentasi di kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang, hasil pembelajaran menulis argumentasi di kelas tersebut tidak maksimal. Dari kegiatan studi pendahuluan, diketahui adanya permasalahan dalam proses pembelajaran menulis argumentasi. Selain itu, ditemukan adanya kelemahan siswa kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang dalam menulis karangan argumentasi, baik pada aspek isi dan kebahasaan, sehingga nilai yang diperoleh belum mampu mencapai standar ketuntasan yang disyaratkan, yakni 72%. Untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan, peneliti bekerjasama dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang merencanakan tindakan melalui penelitian dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis karangan argumentasi siswa kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang setelah menggunakan metode mind mapping, baik pada tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis. Dengan menggunakan metode mind mapping, diharapkan kemampuan siswa kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang dalam menulis karangan argumentasi mengalami peningkatan, baik pada tahap pramenulis, tahap menulis, dan tahap pascamenulis, sehingga nilai yang diperoleh mampu mencapai standar keberhasilan yang disyaratkan. Penelitian ini dilaksanakan bulan September-Oktober 2009 di SMA Avicenna Jombang, dengan subjek penelitian siswa kelas X. Penelitian ini difokuskan pada kemampuan siswa dalam menulis karangan argumentasi dengan menggunakan metode mind mapping. Data penelitian ini adalah data hasil wawancara, rekaman aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran menulis argumentasi di kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang, dan hasil karya siswa berupa karangan argumentasi. Sumber data penelitian ini adalah siswa dan guru bahasa Indonesia kelas X SMA Avicenna Kabupaten Jombang. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan dalam menulis karangan argumentasi pada tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari pemerolehan skor siswa. Pada siklus I tahap pramenulis persentase kemampuan siswa mencapai 40%. Rata-rata siswa kurang mampu pada aspek kemenarikan judul dan kesesuaian ide. Pada tindakan siklus II, kemampuan siswa dalam tahap pramenulis mengalami peningkatan. Persentase rata-rata kemampuan siswa adalah 91,25%. Jumlah ini meningkat sebanyak 51,25% jika dibandingkan dengan rata-rata pada siklus I. Berdasarkan hasil penilaian karangan argumentasi siswa dengan mengacu pada pedoman penyekoran dan standar keberhasilan yang telah ditentukan, diketahui bahwa pada tahap menulis siklus I persentase kemampuan siswa mencapai 44,28%. Rata-rata siswa kurang mampu pada aspek kepaduan antarkalimat, kosakata, struktur kalimat, ejaan dan tanda baca. Pada tindakan siklus II, kemampuan siswa dalam tahap menulis mengalami peningkatan. Persentase rata-rata kemampuan siswa adalah 76,42%. Jumlah ini meningkat sebanyak 32,14% jika dibandingkan dengan rata-rata pada siklus I. Hasil penelitian juga menunjukkan terjadi peningkatan dalam menulis karangan argumentasi pada tahap pascamenulis. Pada siklus I tahap pascamenulis persentase kemampuan siswa mencapai 43,75%. Rata-rata siswa kurang mampu menyunting pada aspek kosakata dan kalimat, serta aspek ejaan dan tanda baca. Pada tindakan siklus II, kemampuan siswa dalam tahap pramenulis mengalami peningkatan. Persentase rata-rata kemampuan siswa adalah 72,5%. Jumlah ini meningkat sebanyak 28,75% jika dibandingkan dengan rata-rata pada siklus I. Berdasarkan hasil penelitian ini, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia disarankan: (1) menggunakan mind mapping dalam pembelajaran menulis argumentasi, dan (2) membimbing siswa untuk melakukan tahapan-tahapan dalam menghasilkan sebuah karangan dalam setiap pembelajaran menulis, yakni tahap pramenulis, menulis, dan pascamenulis. Untuk peneliti lanjutan disarankan melaksanakan penelitian dengan menggunakan mind mapping untuk meningkatkan kemampuan siswa pada keterampilan berbahasa yang lain.

Pengaruh variasi rasio bambu petung dan kayu sengon terhadap kapasitas tekan kolom laminasi dari bahan bambu petung dan kayu sengon / Lezian Arsina

 

ABSTRAK Arsina, Lezian. 2009. Pengaruh Variasi Rasio Bambu Petung dan Kayu Sengon Terhadap Kapasitas Tekan Kolom Laminasi Laminasi dari Bahan Bambu Petung dan Kayu Sengon. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Karyadi, S.Pd., M.P., M.T., (II) Drs. Sutrisno, S.T., M.Pd. Kata kunci: Bambu petung, kayu sengon, kapasitas tekan, kolom laminasi Peningkatan penggunaan kayu dalam bangunan sipil menyebabkan kesenjangan antara kebutuhan kayu dan kemampuan suplai kayu, permintaan akan kayu tidak terpenuhi akibat kurangnya kayu dalam diameter besar. Di sisi lain pemanfaatan bambu petung dan kayu sengon selama ini belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi rasio bambu petung dan kayu sengon terhadap kapasitas tekan kolom panjang sehingga dapat dimanfaatkan sebagai material konstruksi dan memenuhi kebutuhan kayu. Benda uji dalam penelitian ini adalah kolom laminasi yang tersusun atas bambu petung (Dendrocalamus asper) dan kayu sengon (Albizia falcataria) dengan rasio bambu petung terhadap kayu sengon sebesar 1 : 3, 1 : 1, dan 3 : 1. Adapun panjang kolom bervariasi sebesar 17,32 cm; 51,56 cm; 86,60 cm; 121,24 cm; 155,88 cm; 190,53 cm; 225,15 cm; dan 259,81 cm. Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah kapasitas tekan kolom berbagai rasio. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan eksperimen. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah nilai kapasitas tekan kolom laminasi, sedangkan variabel bebasnya adalah rasio bahan penyusun dan panjang kolom. Berdasarkan hasil penelitian, pada kolom laminasi dengan rasio bambu petung terhadap kayu sengon sebesar 1 : 3 kapasitas tekan berkisar antara 105,36 kg/cm2 hingga 247,51 kg/cm2, untuk rasio bambu petung dan kayu sengon sebesar 1 : 1 kapasitas tekan berkisar antara 126,10 kg/cm2 hingga 284,51 kg/cm2, untuk rasio bambu petung dan kayu sengon sebesar 3 : 1 kapasitas tekan berkisar antara 85,41 kg/cm2 hingga 371,22 kg/cm2. Secara umum seluruh kapasitas tekan tiga variasi rasio kolom laminasi menunjukkan penurunan seiring kenaikan panjang kolom. Berdasarkan perbandingan trendline antara ketiga variasi kolom laminasi diketahui bahwa kolom dengan rasio bambu petung terhadap sengon 1 : 1 memiliki kapasitas tekan lebih tinggi daripada kolom dengan rasio 1 : 3 untuk seluruh kelangsingan, sedangkan kolom dengan rasio 3 : 1 memiliki kapasitas tekan lebih rendah daripada kolom dengan rasio 1 : 1 kecuali untuk dua kelangsingan pertama.

Penerapan unsur disiplin diri pada pola pembelajaran tari pendet di Sanggar Tari Bali Kerta Buwana Kota Batu / Arny Dwi Asmara

 

ABSTRAK Asmara, Arny Dwi. 2009. Penerapan Unsur Disiplin Diri Pada Pola Pembelajaran Tari Pendet Di Sanggar Tari Bali Kerta Buwana Kota Batu. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing; (I) Drs. Supriyono, (II) Tri Wahyuningtyas S.Pd, M.Si. Kata Kunci: Disiplin, Tari Pendet Tari Pendet merupakan tari dasar putri yang harus dikuasai penari sebelum mempelajari tari putri Bali yang lain. Gerak Tari Pendet mempunyai aturan yang baku dan wajib dipatuhi, karena adanya aturan tersebut maka Tari Pendet memiliki unsur-unsur disiplin. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui struktur gerak yang menyusun Tari Pendet, (2) untuk mengetahui aturan-aturan yang ada pada gerak Tari Pendet dan (3) untuk mengetahui penerapan disiplin dalam pembelajaran Tari Pendet di Sanggar tari Bali Kerta Buwana Kota Batu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilaksanakan di Sanggar Tari Bali Kerta Buwana yang beralamatkan di Jalan Terusan Flamboyan Blok N nomer 8 Kecamatan Batu Kota Batu. Narasumber utama penelitian ini adalah I Ketut Sudiarta seorang seniman asli Bali yang membina dan melatih tari di sanggar tersebut, sedangkan narasumber pendukungnya adalah Ni Nyoman Darmawati seorang seniman dan penata rias tari Bali serta beberapa anggota sanggar yang mendapatkan materi Tari Pendet. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik telaah dokumen, observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, sajian data serta penarikan kesimpulan. Dan untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi yang terdiri dari triangulasi metode, triangulasi sumber dan triangulasi waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Struktur gerak Tari Pendet terdiri dari unsur gerak, motif gerak dan ragam gerak. Unsur gerak kaki meliputi Piles/miles, Nyilat, Mehbeh ngajeg, Ngethek, Ngumbang, Nyeregsek, dan Tampak sirangpada. Unsur gerak tangan meliputi gerak Ngelukun, Mentang laras, Ngaweh, Luk nagasatru.Unsur gerak jari tangan meliputi Jeriring, Nyempurit , Ulap-ulap, Manganjali. Unsur gerak badan meliputi Ngotag pinggang, Lelok, Neregah, Ngotag pala.Unsur gerak mata meliputi Sirr/ngeliyer, Sledet, Pong. Unsur gerak mimik/air muka meliputi Kenyungmanis, Kwera dan Manis crengu. Motif gerak meliputi ngumbang, agem, ngelung, malincer, tabur bunga, ulap-ulap, dan manganjali. Dari beberapa motif gerak tersusun menjadi ragam gerak yang meliputi ngumbang, agem , ngelung, malincer, tabur bunga bawah, tabur bunga atas, angsel, piles ngethek, piles i sogok.(2) Aturan utama yang mengatur Tari Pendet adalah tapaksirang satu tapak, ugel siku sipatpala dan ugel serangsusu. (3) Penerapan disiplin pada pola pembelajaran Tari Pendet di Sanggar Tari Kerta Buwana Kota Batu bertujuan membentuk murid yang dapat menari dengan baik sesuai dengan aturan. Disiplin pada gerak Tari Pendet dibentuk oleh aturan baku Tari Pendet itu sendiri yang diterapkan pada pola pembelajarannya dengan memenuhi tiga unsur disiplin yaitu unsur kesadaran, unsur keteladanan dan unsur penegakan aturan. Dari hasil penelitian maka kepada mahasiswa Program Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Malang dan juga siapapun yang sedang belajar menari Pendet disarankan agar mempelajari Tari Pendet bukan hanya sebagai usaha menambah perbendaharaan tari tradisi saja melainkan dapat memanfaatkan unsur-unsur yang ada di dalamnya secara maksimal untuk membentuk sikap disiplin diri. Bagi guru seni tari disarankan dapat menerapkan unsur-unsur Tari Pendet juga tari tradisi yang lain pada pola pembelajaran di sekolah untuk membentuk sikap disiplin siswa dan diharapkan untuk terus menggali lebih lanjut tentang unsur-unsur tari tradisi yang bisa dimanfaatkan untuk membentuk sikap yang baik pada siswa.

Penerapan model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite (Recall), and Review) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang pada mata pelajaran sejarah tahun ajaran 2009/2010 / Estiwin Lukitasari

 

ABSTRAK Lukitasari, Estiwin. 2009. Penerapan Model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite (Recall), And Review) Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang Pada Mata Pelajaran Sejarah Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Siti Malikhah Towaf, M. A., Ph. D. Pembimbing (2) Drs. Nur Hadi, M. Pd., M. Si Kata Kunci: Model SQ3R, Prestasi Mata pelajaran sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan serta cinta tanah air. Mengingat sangat strategisnya fungsi pengajaran/pembelajaran sejarah, maka guru sejarah dituntut untuk memiliki semangat dan gairah yang tinggi serta mampu melibatkan siswa dalam dimensi proses berpikir masa lampau-masa kini dan masa depan. Di SMA Negeri 1 Ngantang guru sejarah masih sering menggunakan metode pembelajaran konvensional, yaitu ceramah dan kemudian memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan LKS. Hal ini menyebabkan prestasi belajar siswa kurang optimal. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi siswa adalah dengan penerapan model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite (Recall), and Review). Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama dan cermat. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimana penerapan model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite (Recall), and Review) pada siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang, (2) dan Apakah prestasi belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang meningkat setelah model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite (Recall), and Review) diterapkan pada mata pelajaran Sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan penerapan model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite (Recall), and Review) pada siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang, (2) dan Mengetahui apakah prestasi belajar siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang mengalami peningkatan setelah penerapan model SQ3R (Survey, Question, Read, Recite (Recall), and Review). Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang sebanyak 26 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, catatan lapangan, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model SQ3R berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar kognitif siswa pada tahap pra tindakan hanya mencapai 63,8 hal ini meningkat menjadi 82,3 pada siklus 1, dan meningkat lagi menjadi 90,42 pada siklus 2. Prestasi belajar afektif siswa meningkat sebesar 5,38% dari 72,88 pada siklus 1 dan 78,26 pada siklus 2. Tampak bahwa penerapan model SQ3R dalam mata pelajaran Sejarah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 Ngantang. Saran yang dapat diberikan yaitu bagi guru diharapkan mampu menerapkan pembelajaran yang lebih mengutamakan pengembangan diri siswa dengan memberikan ruang gerak yang cukup bagi siswa untuk mengaktualisasikan diri dan lebih terpusat pada siswa, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan dapat meningkatkan prestasi belajar dan mampu memberikan pembelajaran yang lebih bermakna pada diri siswa. Untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih maksimal, dalam penerapannya model SQ3R ini guru dapat pula memadukannya dengan metode-metode yang lainnya misalnya diskusi, tanya jawab maupun konstektual dan lain-lain. Sedangkan bagi peneliti lain hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan penelitian selanjutnya sehingga diperoleh temuan-temuan yang baru yang berguna bagi peningkatan kualitas maupun prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran sejarah.

Pemanfaatan mikrotik untuk mengelola bandwidth dan filter web di SMKN 1 Cerme Gresik / Yoyon Rudi Harto, Luluk Fauziyah

 

Pada era teknologi informasi saat ini, pencarian dan pengumpulan informasi menjadi lebih cepat. Teknologi informasi telah merambah keseluruh dunia, membuat setiap orang dapat terhubung ke segala penjuru dunia tanpa harus bertemu di suatu tempat. Fasilitas-fasilitas yang telah disebutkan tidak akan bisa terlaksana tanpa adanya internet. Dikarenakan internet menjadi pusat informasi yang mudah dijangkau oleh semua kalangan dan karena informasi yang terdapat pada internet tidak terbatas sehingga pemberian filter terhadap jaringan lokal sangat diperlukan agar terhindar dari pengaruh negatif dari internet. Dibuatlah router dengan sistem operasi MikroTik untuk web filter dan sekaligus pengelola bandwidth. MikroTik adalah sistem operasi yang berjalan diatas linux sebagai inti pengelola jaringan agar terjaganya situasi kondusif dalam kegiatan belajar-mengajar. Proses pembuatan MikroTik sebagai bandwidth manager dan filter web memiliki beberapa tahapan. Tahap pertama adalah tahap mempersiapkan PC yang akan dijadikan router. Kemudian tahap selanjutnya proses install MikroTik dan konfigurasi router, konfigurasi pada router yang pertama adalah konfigurasi web filter dengan memanfaatkan proxy sebagai server blokir situsnya, dan yang kedua konfigurasi bandwidth manager dengan menggunakan Queue untuk mengatur bandwidth ke komputer klien. Tahap ketiga adalah pengujian hasil konfigurasi terhadap web filter dan pengelolaan bandwidth tersebut. Hasil pembangunan router di SMKN 1 Cerme Gresik ini menunjukan bahwa kehandalan MikroTik yang memiliki arsitektur dari linux sebagai pengelola jaringan mampu menangani pengelolaan jaringan, filter web, dan pengelola bandwidth sangat bagus meski hanya menggunakan PC dengan spesifikasi rendah Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya mengganti PC menjadi Routerboard, dari segi efisiensi daya dan ruang lebih hemat dan lebih ringkas. Dengan adanya hal tersebut maka akan memberikan peluang atau kesempatan bagi pengembang sistem untuk melakukan pengembangan sistem lanjutan menuju ke arah yang lebih baik.

Rancang bangun web di SMPN 7 Bojonegoro menggunakan Joomla / Afen Kurniawan, Arip Rahman

 

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat menyebabkan setiap aktifitas manusia tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teknologi. Komputer, dan jaringan salah satu teknologi yang cepat berkembang dan merupakan simbol cara mendapatkan informasi dengan cepat, mudah dan efisien. Hal ini berpengaruh terhadap aktifitas antara lain pada sektor pendidikan terutama di SMPN 7 Bojonegoro. Di SMPN 7 Bojonegoro yang muridnya sebagian besar telah mengenal dunia teknologi dan informasi sangat membutuhkan suatu sarana yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada di sekolah secara online baik antar siswa maupun dengan guru. Oleh karena itu perlu dibuat sarana informasi bagi siswa agar dapat memperlancar proses pembelajaran. Salah satunya dengan membangun website di sekolah yang dibangun dengan aplikasi Joomla. Pembangunan website sekolah dengan aplikasi joomla ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi pada SMP Negeri 7 Bojonegoro dalam bidang informasi data akademik siswa dan berguna sebagai salah satu media penunjang untuk mempermudah sarana informasi data akademik siswa antara siswa dengan guru kelas di sekolah.

Membangun sistem informasi nilai akademik siswa berbasis LAN dengan Microsoft Visual Basic 6.0 di UPT SDN Pohjentrek I Kota Pasuruan / Ninik Islami Rahayu, Wahyu Hariyono

 

Pembangunan sistem informasi nilai akademik siswa di UPT SDN Pohjentrek I ini dilatarbelakangi kendala yang dihadapi pengajar dan staf tata usaha dalam mengolah data siswa, data guru, dan khususnya proses rekapitulasi nilai akademik siswa. Pembangunan sistem informasi ini bertujuan untuk mencapai akurasi data dalam merekapitulasi nilai siswa dan efisiensi waktu bagi pengajar dan staf tata usaha di UPT SDN Pohjentrek I Kota Pasuruan. Salah satu alternatif untuk mengatasi hal ini yaitu dengan melakukan Perancangan Aplikasi Sistem Informasi dengan menggunakan Microsoft Visual Basic 6.0 dalam suatu jaringan lokal (LAN) dengan sistem sharing data dari 1 komputer server dan 6 komputer client. Pengembangan Sistem Informasi Nilai Akademik Siswa ini dilakukan di laboratorium komputer UPT SDN Pohjentrek I Kota Pasuruan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah teknik observasi sistematik atau berkerangka, observasi dan analisis data. Hasil pengembangan ini menunjukkan bahwa pembangunan aplikasi sistem informasi nilai akademik siswa dapat mempercepat proses rekapitulasi nilai siswa sehingga nilai siswa dapat lebih cepat juga dilaporkan kepada kepala sekolah dan wali murid pada setiap akhir semester. Selain itu, pihak sekolah juga mempunyai arsip nilai keseluruhan siswa dalam bentuk soft data, sehingga relative lebih aman. Berdasarkan hasil pengembangan ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya sistem informasi dibuat dalam bentuk website sekolah sehingga mempunyai interface yang lebih menarik dan wali murid juga dapat meng-akses website tersebut untuk memantau perkembangan akademis putra-putri mereka.

Implementasi PC router di UPT SD Negeri Purworejo 3 Pasuruan dengan menggunakan sistem operasi Linux Mandriva / Shofiyah, Umartinus Pujo Widodo

 

Tujuan dari Implementasi teknologi informasi di UPT SD Negeri Purworejo 3 selain untuk meningkatkan mutu pendidikan juga bertujuan untuk mengkonfigurasi PC router yang menggunakan sistem operasi linux mandriva di UPT SD Negeri Purworejo 3,untuk mengkonfigurasi pengaturan manajemen IP addres dengan menggunakan DHCP (Dynamic Host Control Protocol), dan sebagai filterisasi situs porno dengan cara blocking alamat situs. Dalam pengembangan sistem jaringan ini penulis akan membahas lebih rinci tentang konfigurasi linux mandriva. Dalam perancangan PC router tahapan-tahapannya yang pertama dengan menginstall sistem operasi pada PC router, kedua konfigurasi router linux mandriva. Ketiga konfigurasi NAT (Network Address Translation). Keempat konfigurasi DHCP, dan yang terakhir filterisasi situs porno dengan menggunakan squid, membatasi user dalam mengakses situs yang sudah di blacklist. Hasil pengujian dari setting IP address PC router dapat disimpulkan bahwa proses routing untuk menghubungkan ke gateway dapat berjalan dan diterima dengan baik oleh PC router tersebut. Pada hasil pengujian DHCP server dapat disimpulkan bahwa setiap komputer client dapat terisi secara otomatis sesuai dengan konfigurasi DHCP server. Sedangkan hasil dari filterisasi situs porno dapat disimpulkan bahwa setiap komputer client tidak dapat mengakses situs porno maupun melakukan pencarian dengan kata kunci yang telah terdaftar di dalam file blacklist. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah sebagai berikut : (1) PC router dapat meneruskan paket IP sehingga semua komputer client dapat terhubung ke internet meskipun memiliki IP yang berbeda kelas; (2) PC router dapat mengkonfigurasi IP client secara otomatis dengan menggunakan DHCP; (3) PC router dapat memberikan perlindungan, baik menyaring, membatasi atau bahkan menolak aliran paket data yang tidak sesuai dengan konfigurasi, maka akses browsing dan searching dapat diblokir jika alamat situs atau kata kunci tersebut mengandung unsur pornografi/pornoaksi dan terdaftar di blacklist situs porno sesuai dengan data yang telah di blokir oleh administrator; dan (4) Hasil dari pengujian PC router bahwa klien dapat terkoneksi ke internet, klien dapat konfigurasi IP address secara otomatis, dan klien tidak dapat mengakses situs porno karena adanya filterisasi situs porno.

Pelaksanaan mata pelajaran seni tari pada siswa kelas X di SMA Negeri 5 Malang semester ganjil tahun pelajaran 2009/2010 / Fitria Uciana Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Fitria Uciana. Pelaksanaan Mata Pelajaran Seni Tari dan Permasalahan pada Siswa Kelas X di SMA Negeri 5 Malang Semester Satu Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Hj. Ida Siti Herawati, M.Pd Pembimbing (II) Wida Rahayuningtyas, S.Pd Kata kunci: Pelaksanaan, permasalahan, seni tari SMA Negeri 5 Malang merupakan salah satu dari tiga SMA Negeri se-kota Malang yang menerapkan seni tari sebagai mata pelajaran intrakukikuler. Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana perencanaan pengajaran seni tari di SMA Negeri 5 Malang, penyampaian pengajaran seni tari di SMA Negeri 5 Malang, permasalahan dalam mata pelajaran seni di SMA Negeri 5 Malang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perencanaan pengajaran, penyampaian pengajaran seni tari, permasalahan dalam mata pelajaran seni tari di SMA Negeri 5 Malang. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 5 Malang,bulan Oktober sampai dengan Desember 2009. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian adalah penelitian deskriotif. Subyek poenelitian adalah guru mata pelajaran seni tari dan siswa-siswi. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi, dokemen. Analisis yang dilakukan adalah reduksi data, penyajian data, mengambil keputusan dan verifikasi. untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan trianggulasi sumber, waktu, metode. Hasil penelitian adalah mencakup 3 hal mendasar yaitu 1)perencanaan pengajaran, perencanaan pengajaran yang disusun oleh guru mata pelajaran seni adalah SILABUS dan RPP. Dalam SILABUS dan RPP dapat diperoleh data yaitu materi pengajaran terbagi dua yaitu ekspresi seni dan apresiasi seni. Untuk materi ekspresi seni tujuan pengajarannya adalah mengekspresikan diri melalui seni tari tunggal daerah setempat, metode yang digunakan adalah metode mencontoh, imitasi dan drill, sumber belajar dari video tari, guru tari, evaluasi yang digunakan evaluasi dengan cara praktek. Untuk materi apresiasi seni tujuan pengajarannya adalah mengidentifikasi dan menampilkan sikap apresiatif terhadap jenis dan keunikan seni tari tunggal daerah setempat, metode yang digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan karya cipta, sumber belajar dari buku panduan, guru tari dan video tari, evaluasi yang digunakan adalah evaluasi teori dan praktek. 2)penyampaian pengajaran yang terdiri dari a)pengunaan media oleh guru dan siswa yang dilakukan dengan baik dan efektif, b)guru telah membangun interaksi belajar mengajar yang efektif selama pengajaran, c) guru telah memiliki ketrampilan mengajar yang baik, d)evaluasi, evaluasi pengajaran dilakukan di akhir pengajaran dan juga pada akhir semester. 3)permasalahan dalam mata pelajaran seni tari yaitu a)masalah yang terjadi pada siswa berkenaan dengan pemahaman materi yang di terima, b)cara guru mengatasi dengan pendekatan individual. Sesuai dengan hasil penelitian hendaknya guru menyusun PROTA dan PROMES agar kegiatan pengajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pihak SMA Negeri 4 Malang hendaknya menyediakan sarana belajar praktek agar proses belajar mengajar berlangsung lebih baik. Berdasar dari penelitian yang dilaksanakan peneliti hendaknya pihak Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Negeri Malang memberikan materi tentang pembelajaran dengan lebih maksimal dan meluas lagi, agar mahasiswa dapat lebih berkualitas.

Kajian struktur tari topeng getak dan pembelajarannya pada siswa SMP di Sanggar Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang / Ratih Endah Wahyuning Tyas

 

ABSTRAK Tyas, Wahyuning, Endah, Ratih. 2009. Kajian Struktur Tari Topeng Getak dan Pembelajarannya pada Siswa SMP di Sanggar Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Purwatiningsih, M.Pd, (II) Drs. Supriyono. Kata Kunci: tari topeng getak, struktur tari, pembelajaran tari. Tari Topeng Getak adalah satu-satunya tari yang paling menonjol dan masih sering dipentaskan dan diajarkan pada siswa-siswa usia SMP di Lumajang. Bentuk tari ini bisa disajikan tunggal, berpasangan dan ditarikan secara kelompok atau massal. Sanggar Sekar Arum adalah satu-satunya sanggar yang mempunyai program untuk mendatangkan seniman Topeng Getak guna mengajarkan tari Topeng Getak langsung kepada siswa-siswa sanggar untuk melestarikan tari tradisional yang berkembang di Lumajang sehingga terjadi regenerasi agar tari ini tidak sampai punah. Penulisan ini bertujuan mendeskripsikan sejarah tari Topeng Getak, struktur tari Topeng Getak serta memaparkan pembelajaran tari Topeng Getak pada siswa SMP di Sanggar Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena penelitian yang memperoleh datanya dilakukan secara alami dimana hasil dari penelitian tersebut di deskripsikan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Lokasi penelitian ini berada di Sanggar Tari Sekar Arum Desa Pasirian Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Tari Topeng Getak yang ada di Lumajang muncul dan berkembang karena adanya pengaruh kebudayaan yang dibawa oleh masyarakat Madura yang beremigrasi ke Lumajang. Perkembangan tari Topeng Getak tersebut terbagi menjadi dua periode yaitu periode pertama (tahun 1980- 1990) dan periode kedua (tahun 1991-2009). Struktur bentuk gerak meliputi unsur, motif, frase, kalimat dan paragraf gerak. Tari Topeng Getak terdiri dari 4 unsur gerak kepala, 7 unsur gerak tangan, 3 unsur gerak badan, 4 unsur gerak kaki. Tari ini juga memiliki 24 frase gerak, 14 kalimat gerak dan 3 paragraf/ gugus gerak. Iringan musik yang digunakan dalam tari Topeng Getak ini yaitu kendang dan jidor, tiga buah kenong, sronen atau terompet, gong. Tari Topeng Getak tidak menggunakan tata rias. Tata busana yang dipakai yaitu bagian atas: irah-irahan, bagian tengah: selempang, stagen, sabuk, ilat-ilatan, sampur, deker. Bagian bawah: rapek, celana panji, boro-boro, kaos kaki. Properti: sapu tangan dan gongseng. Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran tari Topeng Getak terdiri dari persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan penutup. Pengelolaan pembelajaran tari Topeng Getak terdiri dari interaktif, menyenangkan, menantang dan motivasi. Manfaat pembelajaran tari Topeng Getak yaitu siswa dapat mempelajari tari tradisional yaitu tari Topeng Getak dari narasumber secara langsung sehingga pakem-pakem yang ada dalam setiap gerakan tari Topeng Getak dapat terekam dengan baik di dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh siswa.

Using semantic mapping technique to improve reading ability of IX - grade students of MTs Maarif Sukorejo - Pasuruan / Robet Aprillianto

 

ABSTRACT Aprillianto, Robet. 2009. Using Semantic Mapping Technique to Improve Reading Ability of IX - Grade of MTs Maarif Sukorejo - Pasuruan. Thesis Graduate Program in English Language Education, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd, M.A., Ph.D. (II) Dr. Suharmanto, M.Pd. Keywords: reading comprehension, English texts, semantic mapping technique. This study was carried out based on the problems faced by the researcher as the English teacher at MTs Sukorejo - Pasuruan. The result of the preliminary study at the IX Grade showed that the students’ achievement in comprehending English texts was still unsatisfactory. Besides they had low involvement to participate in the reading activities. To solve the problems, the technique called semantic mapping was chosen. The research problems of this study: (1) How can semantic mapping technique improve the reading ability of the IX Grade students of MTs Maarif Sukorejo? (2) How can semantic mapping technique improve the involvement of IX Grade students of MTs Maarif Sukorejo – Pasuruan in reading comprehension activities? The study employed a collaborative action research design which was intended to improve both reading comprehension and involvement in reading comprehension activities of IX Grade students of MTs Maarif Sukorejo through semantic mapping technique. The technique is selected since it helps students in enabling to comprehend English texts effectively. Further, the technique has been proven, through many studies, to have been able to improve the students’ reading comprehension achievement. The subjects of this research were 36 students (IX A Grade) of MTs Maarif Sukorejo – Pasuruan in the 2008/2009 academic year. This research study was conducted in two cycles by following the procedure of action research, i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle of the research study encompassed three meetings of the technique implementation and one meeting for the quiz. The data of this research study were obtained through reading quizzes, observation checklist and field notes at the end of the cycle. The findings of the study showed that the appropriate procedure of semantic mapping technique in teaching reading comprehension consisted of the following steps: (1) explaining the students to the specific goals of learning and leading the students to the topic by showing pictures; (2) asking the students to make a group and discuss unfamiliar vocabularies; (3) asking the students to find information related with the topic by questioning the pictures; (4) asking the students to map the information or write the information down in the form of phrases in the circles of mapping; (5) informing the students to read a text silently; (6) explaining and asking the students to find and discuss unfamiliar vocabulary meanings contextually in a group; (7) asking the students to find important detailed information of a text by questioning and put the information in the form of phrases into the circles of mapping; (8) asking the students to find and discuss the center of idea or topic in a paragraph by classifying and categorizing with lines then write it into a sentence as a main idea of paragraph; (9) guiding the students to find other vocabulary meanings contextually, important detailed information and main idea in the next paragraphs (10) asking the students to find a topic of a text by identifying the information in the form of phrases or words which frequently appear in the mapping as a topic of the text; (11) asking the students to share and complete mapping with other group by comparing with own group mapping; (12) asking to the students to answer the reading comprehension questions individually then discuss or compare in a group; (13) asking to students to present the answers of reading comprehension individually; (14) asking the students to make a summary of a text they have learnt; and (15) giving feedbacks to the students by checking the right answers of the previous reading comprehension questions. Furthermore, the findings of this research study indicate that the semantic mapping technique is successful in improving both the students’ ability in comprehending English texts (report texts) and the students’ involvement in reading activities. The improvement can be seen from the increase of students’ mean scores and the students’ individual score percentage from preliminary study to Cycle 2. The students’ mean score had improved greatly from 35.00 to 68.33. Besides, The students’ individual score percentage had achieved to a great extent from 0% to 44.44% equal or greater than 70. Those scores obtained by the students in the two cycles were shown by reading comprehension tests or quizzes. Dealing with the students’ involvement, most of students (93.75%) were involved actively in the reading activities in the third meeting of Cycle 2. The students’ involvements in reading activities were shown by the observations checklists and field notes. Based on the effectiveness of the implementation of semantic mapping technique in comprehending English texts, it is suggested that the English teachers should focus on the followings aspects in the reading activities: (1) preparing the aiding tools or pictures in the brainstorming activities; (2) combining the semantic mapping technique with other reading technique (questioning) in order to find important detailed information; (3) asking the students to find vocabulary meaning contextually in order to get the right meaning of words in a text; (4) asking the students to identify the center of idea or main idea of a paragraph by categorizing and classifying the information in the map with lines; (5) asking the students to identify the frequent words or phrases as the topic of a text; (6) explaining the students’ individual tasks in a group clearly; and (7) asking the students to make a summary of a text and present it in the classroom. To the future researcher teachers, particularly those who are interested in applying semantic mapping technique in their research, it is suggested that they conduct classroom action research and implement this technique in the teaching of reading to other English text types (descriptive, narrative, recount, procedure) and other language skills, for instance writing.

A study on the problems faced by English teachers in teaching writing for grade VIII at SMPN 1 Kasembon Malang / Tri Windiyati

 

ABSTRACT Windiyati, Tri. 2010. A Study on the Problems Faced by English Teachers in Teaching Writing for Grade VIII at SMPN 1Kasembon Malang. Thesis, English Education Department of Undergraduate Program, State University of Malang. Advisor: Harits Masduqi, M.Pd., M.Ed. Key words: teaching writing, problems, SMPN 1 Kasembon Malang Writing is very essential to be taught since ignoring the skills to write means not only ignoring writing skills themselves but also ignoring the contribution of writing skills toward the development of other skills. Compared to the other three skills, writing is considered to be the most difficult skill to master. Therefore, teaching writing is not an easy job because teachers might face several problems in the process of teaching writing in the classroom. The significance of this study was to reveal that problems in writing were not only faced by the students but also by the teachers. This study was also intended to find out how the teachers coped and managed their problems in order to help the students to write better. By doing so, it was hoped that the findings of this study can give recommendations for English junior high school teachers so that they can have teaching practice better. This study was a descriptive-qualitative research which was aimed at describing the problems faced by English teachers in teaching writing for grade VIII at SMPN 1 Kasembon Malang. More specifically, it was conducted to find out and analyze (1) the teachers’ problems in relation to the teaching preparation, (2) the teachers’ problems in relation to the teaching techniques, (3) the teachers’ problems in relation to the textbooks used, and (4) the teachers’ strategies to overcome the problems faced in the teaching of writing. The subjects of this study were two English teachers who taught for grade VIII at SMPN 1 Kasembon Malang. The instruments to collect the data were questionnaires, observation sheet, interview guide, and field notes. The data obtained from questionnaires, observation, interview, and field notes was classified then tallied. All the data were analyzed descriptively. This study revealed that problems faced by the teachers in teaching writing were various. The teachers face problems in relation to teaching preparation, teaching techniques, and the textbook used. However, they had strategies to overcome the problems faced. Both teachers made teaching preparation before they taught. However, they only made lesson plans and a semester program for one year in the early semester. As a consequence, the teachers got difficulties in (1) understanding the instructional objectives, (2) choosing themes and topics, (3) combining materials from the textbook and the workbook used, and (4) having insufficient time to prepare all the instructional preparation. In the process of teaching writing, the techniques used by the teachers were almost the same for every meeting. Both teachers rarely used other techniques because of their lack of knowledge on teaching writing and they got difficulties in (1) determining an appropriate technique for the students who had low ability and interest in writing, (2) choosing an activity that could encourage and attract students’ attention to write better, and (3) arranging the activities which were going to be used in the class. To overcome this problematic condition, the teachers explained the materials for several times until the students understood. In relation to the textbook used, the teachers got difficulties because there was not any clear guidance and the instruction given was unclear.

Perancangan komik superhero "Arlang: the Spirit of Malang" sebagai media promosi dan pengenalan Kota Malang / Kresnha Adhitya Zulkarnaen

 

ABSTRAK Zulkarnaen, Kresnha Adhitya. 2009. Perancangan Komik Superhero ARLANG: The Spirit of Malang sebagai media promosi dan pengenalan Kota Malang. Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didiek Rahmanadji (II) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn Kata Kunci: Perancangan, Komik , Promosi, kota Malang. Saat ini sangat sedikit komik Indonesia, terutama tema superhero yang menyertakan unsur- unsur local genius atau kebudayaan nasional dalam penciptaannya begitu juga dengan karakter- karakter yang dimunculkan dalam komik tersebut. Padahal hal tersebut sangat penting, dikarenakan untuk memperkenalkan aset kebudayaan nasional maupun tempat- tempat bersejarah Indonesia kepada pembaca terutama generasi muda. Malang merupakan salah satu kota yang cukup penting di Jawa Timur. Kota Malang dikenal sebagai kota pariwisata dan pendidikan. Cukup banyak aset utama di kota Malang yang menjadi ciri khas kota Malang. Saksi sejarah Indonesia pun juga banyak ditemukan di kota yang dikenal dengan kota pendidikan dan kota bunga ini. Dilatar belakangi oleh hal tersebut di atas, maka penulis ingin mengangkat tema kekayaan dan profil daerah atau kota dalam bentuk komik superhero lokal yang tidak hanya bersifat sebagai hiburan yang menarik semata, melainkan juga sebagai media informasi dan media promosi yang efektif untuk memperkenalkan kota Malang kepada publik. Tujuan dari perancangan ini adalah untuk menghasilkan suatu komik superhero kota Malang yang bersifat sebagai media promosi dan pengenalan kota Malang. Selain itu juga untuk menciptakan suatu bentuk karakter superhero komik kota Malang. Model perancangan yang dipakai adalah model perancangan prosedural yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk, diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data, perancangan konsep hingga pembuatan karya final. Data yang menjadi acuan adalah data-data yang bersumber dari hasil survei, wawancara, dan buku-buku literatur. Berdasarkan perancangan ini, saran penulis adalah dalam perancangan media komik, bukan hanya memperhatikan segi visualisasi namun juga memperhatikan jalinan cerita yang menarik sehingga tujuan dari komik itu sendiri dapat terwujud.

Analisis penggunaan ICT sebagai media pembelajaran kelas X standar kompetensi mengoperasikan dan mengamati mesin/proses Program Keahlian Teknik Permesinan di SMK Negeri 1 Singosari / Much. Nur Khalim

 

ABSTRAK Khalim, Much. Nur. 2009. Analisis Penggunaan ICT sebagai Media Pembelajaran Kelas X Standar Kompetensi Mengoperasikan dan Mengamati Mesin/Proses Program Keahlian Teknik Pemesinan di SMK Negeri 1 Singosari. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sukarni, S.T., M.T., (2) Dr. Eddy Sutadji, M.Pd. Kata Kunci: ICT, media pembelajaran, mengoperasikan dan mengamati mesin/proses. Proses pembelajaran adalah kegiatan dari proses belajar mengajar yang bertujuan merubah tingkah laku yang secara komprehensif, yang ditunjang dengan adanya media pembelajaran. Media pembelajaran adalah alat alat bantu untuk menyampaikan pesan belajar kepada siswa. Information and Communication Technology (ICT) dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan informasi atau bahan ajar. Penggunaan ICT untuk pembelajaran berlaku apabila ICT digunakan sebagai media untuk mengakses informasi dari internet. Interconnecting Network (Internet) merupakan sumber informasi untuk mencari dan menyebarkan segala ilmu pengetahuan keseluruhan penjuru dunia dengan mudah. Dengan demikian, segala informasi yang berkaitan dengan pembelajaran di internet itu dapat dijadikan sumber belajar dan sumber informasi. ICT berguna sebagai media penunjang dalam pembelajaran pada standar kompetensi mengoperasikan dan mengamati mesin/proses. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penggunaan ICT bagi guru sebagai media pembelajaran, (2) penggunaan ICT bagi siswa sebagai media pembelajaran, (3) faktor pendukung penggunaan ICT sebagai media pembelajaran, (4) faktor penghambat penggunaan ICT sebagai media pembelajaran, dan (5) bentuk solusi untuk mengatasi hambatan dalam penggunaan ICT sebagai media pembelajaran. Penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X yang berjumlah 33 orang dan 7 orang guru program keahlian. Hasil penelitian ini adalah (1) penggunaan ICT sebagai media pembelajan bagi guru dan siswa, sebagai alat mengakses informasi dan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran, (2) faktor pendukung penggunaan ICT sebagai media pembelajaran adalah sumber informasi dan sumber belajar bagi guru dan siswa, (3) faktor penghambat dalam penggunaan ICT sebagai media pembelajaran adalah kurangnya waktu luang serta kurangnya fasilitas baik ruang maupun komputer, dan (4) bentuk solusi untuk mengatasi hambatan dalam penggunaan ICT sebagai media pembelajaran adalah melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan proses belajar mengajar yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar sekolah melengkapi fasilitas-fasilitas ICT, memberikan jadwal tetap dalam penjagaan, penggunaan laboratorium setiap harinya, sehingga memberikan kesempatan kepada yang berkepentingan.

Analisis semantik teks humor berbahasa Indonesia / Novita Dwi Kusumawati

 

ABSTRAK Kusumawati, Novita Dwi. 2009. Analisis Semantik Teks Humor Berbahasa Indonesia. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sunaryo HS, SH, M. Hum Kata Kunci: folklor, humor, perubahan makna Humor merupakan bagian dari tradisi rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu humor juga termasuk folklor karena bersifat anonim, yang diciptakan, disebarluaskan, dan diwariskan turun-temurun dalam bentuk lisan dan bukan lisan. Humor merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat untuk melepaskan kepenatan pikiran, kebosanan, dan untuk mendapatkan hiburan. Humor sebagai salah satu bagian dari ungkapan tradisional selain dapat diwujudkan dari bentuk dan fungsinya, juga dapat dilihat dari isi dan perubahan makna yang terkandung dalam humor itu. Humor adalah segala bentuk folklor yang menimbulkan atau menyebabkan pendengarnya tergelitik perasaannya, lucu sehingga membuat tertawa. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh deskripsi isi berdasarkan topik dan perubahan makna yang terdapat dalam teks humor. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena datanya berupa paparan bahasa. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi dokumentasi. Studi dokumentasi digunakan untuk meneliti teks-teks yang berupa teks-teks humor. Data penelitian ini adalah data verbal yaitu berupa kata, frase maupun kalimat yang terdapat dalam teks humor. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks humor yang terdapat dalam dua buku kumpulan humor Tertawa Bahagia, KUHP (Kitab Undang-undang Humor Pilihan) dan Humor Van Java Temennya Pak Bambang. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara koleksi dan pencatatan dokumen data yang dijadikan objek penelitian. Kemudian dilanjutkan dengan membaca seluruh isi dari teks humor, pencatatan, penyeleksian data, dan kodifikasi data untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam tabel klasifikasi agar tidak terpisah-pisah. Oleh karena itu, instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga langkah, yaitu (1) identifikasi terhadap unsur-unsur isi berdasarkan topik dan perubahan makna dalam teks humor, (2) kodifikasi data unsur-unsur isi berdasarkan topik dan perubahan makna dalam teks humor, dan (3) penafsiran data unsur-unsur isi berdasarkan topik dan perubahan makna dalam teks humor. Dengan menggunakan metode kualitatif dan studi dokumentasi, maka isi berdasarkan topik yang ditemukan dalam teks humor berbahasa Indonesia adalah (1) humor kritik, (2) humor meringankan beban, (3) humor hiburan, (4) humor etnis, (5) humor seks, (6) humor politik, (7) humor agama, dan (8) humor pergaulan. Selanjutnya perubahan makna yang ditemukan dalam teks humor berbahasa Indonesia adalah (1) perluasan makna, (2) penyempitan makna, (3) perubahan makna total, (4) penghalusan makna, dan (5) pengasaran makna.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |