Penerapan pembelajaran pendidikan matematika realistik untuk meningkatkan penguasaan konsep perkalian bilangan cacah pada siswa kelas II SDN Gunungrejo 01 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Sri Wahyu Hidayati

 

Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas praktik pembelajaran di kelas II SDN Gunungrejo 01 yang relatif rendah, disamping pembelajaran matematika di kelas II belum menggunakan model, praktek pembelajaran masih sangat tergantung pada buku teks, terpusat pada guru, belum memanfaatkan situasi kehidupan riil dan situasi kurang kondusif, disamping itu juga: keaktifan siswa dalam belajar masih rendah, siswa-siswi kurang kreatif, kurang senang dan pemahaman konsep perkalian bilangan cacah juga relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas II SDN Gunungrejo 01 yang ditandai dengan pembelajaran yang menerapkan model Pendidikan Matematika Realistik, tidak tergantung pada buku teks, memanfaatkan situasi kehidupan riil, situasi pembelajaran yang kondusif, terjadi peningkatan keaktifan siswa, kreativitas siswa meningkat, menyenangkan dan pemahaman konsep perkalian bilangan cacah. Untuk mencapai tujuan diatas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian kelas (PTK) dengan model kolaborasi. Peneliti melakukan kolaborasi dengan ibu Sih Linipur, guru kelas II SDN Gunungrejo 01, mulai dari tahap proses identifitas masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik dalam konsep perkalian bilangan cacah dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di SDN Gunungrejo 01 Kecamatan Singosari. Peningkatan kualitas pembelajaran tersebut ditandai dengan : (1) terterapkannya model pembelajaran RME dalam konsep perkalian bilangan cacah sesuai desain yang disusun secara kolaboratif dengan baik, (2) ketergantungan guru pada buku teks sangat berkurang karena guru dalam membelajarkan siswa lebih banyak menggunakan benda-benda riil terdekat disekitar anak, (3) pembelajaran lebih terpusat pada siswa dan lebih bersifat konstruktivistik, (4) penilaian hasil belajarnya lebih komprehensif yaitu tidak hanya melalui tes tertulis, (5) dan situasi pendidikan terasa lebih kondusif. Disamping itu, penerapan pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik di kelas II SDN Gunungrejo 01 dapat meningkatkan (1) aktivitas belajar siswa, (2) kreativitas siswa, (3) menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, (4) kualitas interaksi dalam proses pembelajaran dan belajar, (5) pemahaman penguasaan konsep perkalian bilangan cacah. Disarankan dalam pembelajaran konsep perkalian bilangan cacah guru SDN Gunungrejo 01 hendaknya menggunakan model Pendidikan Matematika Realistik. Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan dapat diterapkan di kelas II sekolah lain jika kondisinya relatif sama.

Coping stress istri pertama dalam pernikahan poligami / Yesi Sevien Marita

 

Kata Kunci : coping stress, istri pertama, pernikahan poligami Poligami di indonesia akhir-akhir ini membuat kaum wanita semakin khawatir. Belum lagi pemberitaan mengenai masyarakat penganut poligami, mulai dari selebritis, pejabat pemerintah, hingga pemuka agama. Hal ini menyebabkan kasus poligami semakin banyak bermunculan. Bird dan Melville (1994) juga mempertegasnya dengan mengatakan bahwa wanita lebih memiliki kecenderungan dibanding pria untuk mengalami stres akibat permasalahan pada pernikahan atau pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model penelitian basic and generic study yakni bertujuan untuk mendapatkan pemahaman dan makna, kedudukan peneliti sebagai pengumpul data utama dan instrumen analisis, menggunakan catatan lapangan, menggunakan analisis induktif, dan menghasilkan temuan deskripif yang sangat jelas. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode snowball sampling. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, dengan kriteria 1.) Berstatus istri pertama dalam pernikahan poligami 2.) Menyadari atau mengetahui bahwa suaminya memiliki istri selain dirinya dan menimbulkan stres atau tekanan bagi partisipan3.) Telah menjalani kehidupan berpoligami minimal satu tahun. Alat pengumpul data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi. Keseluruhan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, dan disusun menjadi kesimpulan penelitian. Hasil temuan penelitian ini mendapatkan jenis coping stress yang dilakukan oleh partisipan bertahap yakni pada awal suaminya akan menikah lagi partisipan cenderung melakukan problem focused coping, sedangkan setelah pernikahan poligami, partisipan cenderung melakukan jenis emotion focused coping. Dari ketiga partisipan penelitian, coping stress sangat dipengaruhi oleh faktor keyakinan dari para partisipan itu sendiri yakni ajaran-ajaran agama islam yang memperbolehkan poligami. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan (1) Kepada penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif agar dapat memperoleh data yang lebih kaya mengenai topik penelitian, (2) Untuk hal yang sensitif seperti ini, peneliti menyarankan agar pembinaan rapport tidak hanya dengan partisipan saja, tetapi juga dengan keluarga agar wawancara dapat berjalan lancar (3) sebagai saran praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gambaran coping stress istri pertama pada pernikahan poligami agar bagi pelaku poligami dapat lebih serius dalam mengatasi stres yang mungkin terjadi.

Persepsi guru ekonomi tentang penilaian portofolio dalam penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) (studi kasus pada guru ekonomi di SMA Negeri Srengat) / Fitri Puji Astuti

 

Kata Kunci: Persepsi, Portofolio, KTSP Kurikulum terbaru tahun 2006 lebih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) membawa konsekuensi adanya pengembangan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran serta sistem penilaian yang berbasis kompetensi. Salah satu jenis penilaian yang ada dalam KTSP adalah penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan salah satu bentuk penilaian yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik secara optimal dan mendorong peserta didik bertanggung jawab atas proses belajar mengajar. Keberhasilan pelaksanaan portofolio akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mempersepsikan, dan menerapkannya dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi guru ekonomi tentang persiapan penilaian portofolio, untuk mendeskripsikan persepsi guru ekonomi dalam pelaksanaan penilaian portofolio, untuk mendeskripsikan persepsi guru ekonomi tentang evalusi penilaian portofolio, untuk mendeskripsikan persepsi guru ekonomi tentang implementasi penilaian portofolio dalam pembelajaran sesuai dengan KTSP. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri Srengat. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang bersifat studi kasus. Sumber data yang digunakan sebanyak lima orang guru ekonomi. Instrumen yang digunakan berupa angket/ kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis deskripsi presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru tentang persiapan penilaian portofolio rata-rata mempunyai tingkat persepsi yang baik yaitu 69,50%. Persepsi guru tentang pelaksanaan penilaian portofolio rata-rata mempunyai tingkat persepsi yang baik yaitu 65,50%. Persepsi guru tentang evaluasi penilaian portofolio rata-rata mempunyai tingkat persepsi yang baik yaitu sebesar 77,14%. Sedangkan persepsi guru tentang implementasi penilaian portofolio rata-rata mempunyai tingkat persepsi yang baik yaitu sebesar 65,00%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada guru ekonomi hendaknya dapat lebih meningkatkan kompetensinya agar dapat memiliki kemampuan dalam merancang dan mengimplementasikan lebih baik lagi. Guru sebagai pelaksana kegiatan belajar mengajar harus memahami dan dapat menerapkan penilaian sebagaimana mestinya sehingga akan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta meningkatan prestasi belajar peserta didik.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Team Assistes Individualization (TAI) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Islam Almaarif Singosari Malang tahun ajaran 2009/2010 / Irma Romdhoniah

 

Kata kunci: hasil belajar, motivasi belajar, pembelajaran kooperatif model TAI Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran di SMA Islam Almaarif Singosari yang menggunakan metode ceramah dengan power point, diselingi tanya jawab, kurang menggunakan pembelajaran kooperatif, praktikum yang pembentukan kelompoknya tanpa memperhatikan kemampuan akademik, sehingga dalam proses pembelajaran siswa cenderung belajar dengan teman sebangku atau teman bermain. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif model Team Assisted Individualization (TAI). Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Islam Almaarif Singosari, pengambilan data pada bulan Pebruari-April 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 SMA Islam Almaarif Singosari yang berjumlah 30 orang. Data penelitian ini berupa motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa diukur dengan lembar observasi di setiap pertemuan, sedangkan hasil belajar siswa diperoleh dari selisih skor pos tes pada siklus I dan siklus II. Ketuntasan belajar berdasarkan hasil skor pos tes dengan kriteria ketuntasan belajar minimal (SKM) yang ditentukan SMA Islam Almaarif Singosari. Siswa mencapai ketuntasan belajar minimal jika telah mencapai skor 70 dan daya serap klasikal 85% siswa yang mencapai skor 70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menununjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan persentase masing-masing indikator yaitu indikator minat sebesar 18,2%, perhatian 1,7%, ketekunan 17,4%, dan indikator konsentrasi mengalami penurunan 4,9%. Skor motivasi rata-rata angket sebelum tindakan 67,3 meningkat menjadi 74,7 setelah pelaksanaan tindakan. Hasil belajar juga mengalami peningkatan antara pos tes di siklus I dan II, rerata pos tes pada siklus I sebesar 73,6 dan rerata pos tes pada siklus II sebesar 75,7. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 86,7% dan pada siklus II meningkat menjadi 90%. Bagi peneliti model pembelajaran TAI selanjutnya, sebaiknya dalam pelaksanaan model pembelajaran ini terutama pengaturan alokasi waktu setiap tahap TAI lebih memperhatikan kondisi siswa, kondisi lingkungan sekolah atau tempat tinggal siswa, materi yang akan dipelajari. Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, sebaiknya memberikan penghargaan pada siswa yang berprestasi selain kepada kelompok yang berprestasi dan untuk meningkatkan hasil belajar sebaiknya lebih sering menerapkan soal-soal tes tingkat C1-C6.

Redesain kemasan minuman serbuk instan tradisional rengganis produksi Christine Sri Harini (CSH) sebagai media promosi di Kota Malang / Muhammad Noor

 

Kata Kunci: Redesain Kemasan, Minuman Serbuk Instan Tradisional “Rengganis”, Media Promosi. Produk minuman instan “Rengganis” yang diproduksi oleh Christine Sri Harini (CSH) sangat berpotensi untuk menjadi minuman instan yang digemari konsumen target. Hal positif dari produk adalah terbuat dari bahan dasar alami tanpa campuran kimiawi. Hanya sayang bila ditinjau dari sisi desain kemasan masih belum optimal. Desain kemasan belum mempunyai nilai estetika, tidak standar dari sisi pemasaran. Kemasan tidak mencerminkan produk. Hal ini membuat awareness konsumen rendah akan produk “Rengganis”. Berdasarkan itu diperlukan redesain kemasan “Rengganis” sebagai upaya berpromosi sehingga mampu menarik minat konsumen terhadap produk Rengganis“. Dari 10 produk Rengganis yang ada, hanya tiga produk yang diambil sebagai sampel desain kemasan baru. Desain kemasan bertujuan untuk menghasilkan konsep dan visualisasi kemasan minuman instan “Rengganis” yang mampu menarik perhatian konsumen. Hasil akhir yang dicapai adalah bentuk kemasan baru ditambah media promosinya. Desain kemasan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model perancangan prosedural yang sifatnya deskriftif. Sistematika perancangan merujuk pada model sistematika Sadjiman E. Sanyoto. Prosedur yang ditempuh memetakan latar belakang dan rumusan masalah, identifikasi data, mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisa menggunakan analisa SWOT dan analisa kategori melalui analisa image kemasan. Berlanjut tahap proses desain meliputi sintesa, perencanaan media, perencanaan keratif, visualisasi desain, dan hasil akhir berupa media kemasan dan media promosi terpilih. Media yang dihasilkan adalah desain kemasan “Rengganis” yang baru (100 gram dan 250 gram), kaos karyawan dan sales, mug (merchandise), kantngan keresek, leaflet, dan banner. Saran penulis untuk kedepan diharapkan agar ada desain kemasan lanjutan untuk menyesuaikan dengan permintaan pasar. Terfokus pada produk yang diminati dan terus berpromosi. Produsen harus lebih meningkatkan komunikasi dengan pemerintah untuk mengatasi masalah dasar perusahaan terkait modal. Adanya mitra kerja yang membantu produsen untuk mengatasi permasalahan dasar dan pemasaran.

Hubungan antara pola penguatan guru otomotif, prestasi belajar mata diklat chasis dengan kesiapan mengikuti praktik industri pada siswa kelas X otomotif di SMK Negeri 6 Malang / Aditia Sam Akbar

 

Kata Kunci : Hubungan, Pola Penguatan Guru, Prestasi Belajar, Kesiapan Mengikuti Praktik Industri Penguatan yang diberikan oleh guru pada mata diklat poros penggerak roda berkaitan dengan motivasi siswa dalam mengikuti mata diklat poros penggerak roda. Penguatan yang positif cenderung memotivasi siswa sedangkan penguatan yang negatif cenderung menjatuhkan semangat siswa. Begitu pula halnya bila kita lihat dalam proses belajar mengajar mata diklat chasis. Siswa yang memiliki motivasi yang tinggi dalam mempelajari mata diklat chasis akan melakukan kegiatan lebih cepat dibandingkan dengan siswa yang kurang termotivasi dalam mempelajari mengajar mata diklat chasis. Siswa yang yang memiliki motivasi yang tinggi dalam mempelajari mata diklat chasis maka prestasi yang diraih juga akan lebih baik dan memiliki kesiapan yang lebih tinggi dalam mengikuti praktik industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1). Pola penguatan yang dilakukan guru otomotif pada siswa kelas X SMK Negeri 6 Malang. 2). Prestasi belajar mata diklat chasis siswa kelas X SMK Negeri 6 Malang. 3). Kesiapan siswa kelas X SMK Negeri 6 Malang dalam mengikuti praktik industri. 4). Hubungan antara Pola Penguatan Guru Otomotif dan Prestasi Belajar Mata Diklat Chasis dengan Kesiapan Mengikuti Praktik Industri Pada Siswa Kelas X di SMK Negeri 6 Malang Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimen , terdiri dari tiga variabel, yaitu pola penguatan guru otomotif dan prestasi belajar sebagai variabel bebas, sedangkan kesiapan mengikuti praktik industri sebagai variabel terikat. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi product moment dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS 10 for Windows. Dalam hal ini yang menjadi populasi adalah siswa kelas X SMK Negeri 6 Malang. Sampel yang diambil sebanyak 49.658% dari jumlah populasi sebanyak 277 siswa, yaitu 103 siswa. Ada hubungan yang signifikan antara pola penguatan guru otomotif, dengan kesiapan mengikuti praktik industri pada siswa SMK Negeri 6 Malang nilai signifikansi p (0,000). Ada hubungan positif yang signifikan antara prestasi belajar matadiklat chasis dengan kesiapan mengikuti praktik industri dengan nilai signifikansi p (0,023). Ada hubungan positif yang signifikan antara pola penguatan guru otomotif dengan prestasi belajar matadiklat chasis dengan taraf signifikansi p (0,000). Hal ini ditunjukkan dengan hasil analisis korelasi berganda terhadap hubungan antara variabel pola penguatan guru otomotif , prestasi belajar chasis dan kesiapan mengikuti praktik industri secara bersama-sama. Dari tabel tersebut tampak bahwa signifikansi F (0,000) < α (0, 05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pola penguatan guru otomotif dan prestasi belajar chasis berhubungan secara simultan terhadap variabel kesiapan mengikuti praktik industri. Disarankan kepada Untuk SMK Negeri 6 Malang seyogyanya untuk melengkapi sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran, melengkapi perpustakaan, pengenalan atau uji coba metode-metode pembelajaran baru yang inovatif supaya tujuan dari sekolah bisa tecapai secara maksimal. Bagi pihak sekolah diharapkan lebih meningkatkan cara pembelajaran yang efektif untuk mampu mengembangkan kemampuan yang dimilki siswa dan pihak sekolah harus peka terhadap perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat. Bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat mengembangkan komponen-komponen lainnya yang dapat mempengaruhi tingkat penyelesaian tugas. Serta dapat memperbaharui dan menambah variabel penelitian yang sebelumya yang belum pernah diteliti.

Tathwir al-qursh al-maghghuth al-tafa'ali li-ta'lim al-khoth al-Aroby / Aunoer Rahmah

 

ملخص البحث الرحمة، عون. 2010 م. تطویر القرص المضغوط التفاعلي لتعلیم الخط العربي. البحث العلمي. قسم الأدب العربي كلیة الآداب جامعة مالانج الحكومیة. المشرف: الأستاذ الدوكتورندس مھیبان. الكلمات المفتاح: تطویر القرص المضغوط التفاعلي، الخط العربي استخدام وسائل التعلیم في التعلیم مھم جدّا. الغرض من استخدام وسائل التعلیم ھو تسھیل الطلاب على فھم الدرس. في عصر العولمة، یستخدم الناس في أيّ مجال، بل في تعلیم اللغة العربیة. (multimedia) الوسائل المتعددة والقرص المضغوط التفاعلي نوع من أنواع الوسائل المتعددة. القرص المضغوط التفاعلي ھذا یكون أحد مصادر التعلیم ویزداد مصدر التعلیم بھ باستفادة تكنولوجیا المعلومات والاتصالات. یھدف ھذا البحث إلى: ( 1) وصف عملیة تطویر القرص المضغوط التفاعلي، و( 2) وصف نتیجة تطویر القرص المضغوط التفاعلي ، و( 3) وصف استخدام القرص المضغوط التفاعلي. .(102 ،1986) Sadiman تستخدم الباحثة تصمیم التطویر لسادیمن ویتكون من الخطوات التالیة: ( 1) تعیین الاحتیاجات ( 2) تعیین أھداف التعلیم 3) اختیار مواد التعلیم ( 4) تعیین التقویم الدراسي ( 5) تطویر الوسائل التعلیمیة ) 6) الإختبار ( 7) التصحیح ( 8) وسائل التعلیم الجیّدة. ) تُنقسم القرص المضغوط التفاعلي إلى ثلاثة فصول. الفصل الأوّل ھو الحروف المنفردة، والفصل الثاني ھو الحروف المتصلة، والفصل الثالث ھو الكاساد. لكل الفصل تدریبات. ونتیجة الإختبار أنّ ھذا القرص التفاعلي صحیح من ناحیة الوسائل والمواد، وذلك بعد إجراء التحكیم مع الخبراء والإختبار الفردي والمیداني. ویمكن استخدامھ كوسیلة تعلیم خط النسخ. وھذا یمكن فتح ھذا البرنامج .(.EXE) application یحفظ ھذا القرص بنوع في أيّ حاسوب، رغم لا یملك حاسوب برنامج مكرومیدیا فلاش. ویستخدم متدربي الخط ھذا القرص خارج الفصل أو داخلھ. وظھر دلیل الإستخدام في القرص لتسھیل المستخدِم لیمارس الخط. واقترحت الباحثة لقسم الأدب العربي كلیة الآداب جامعة مالانج الحكومیة أن یرقي تربیتھ في درس الوسائل المتعددة في تعلیم اللغة العربیة. حتى تُطوَّر وسیلة التعلیم في تعلیم اللغة العربیة. وللطلاب أن یستخدموا ھذا القرص التفاعلي خارج الفصل أو داخلھ لیمارسوا الخط. ینجح الطلاب في تعلم الخط بكثرة الممارسة.

Analisis perbedaan harga saham dan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah pengumuman Indonesia CSR Award 2008 pada perusahaan pemenang Indonesia CSR Award yang listing di BEI / Farida Widyastuti

 

Kata kunci: harga saham, volume perdagangan saham, Indonesian CSR Award 2008 Indonesian CSR Award 2008 merupakan suatu bentuk penghargaan yang diberikan kepada perusahaan yang telah melaksanakan program CSR dengan baik. Pihak penyelenggara event tiga tahunan ini terdiri dari tiga lembaga, yaitu Majalah SWA, Corporate Forum for Community Development (CFCD), serta Surindo dan Mark Plus & Co yang bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Indonesian CSR Award 2008 merupakan event kedua setelah sebelumnya diselenggarakan pertama kalinya pada tahun 2005. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui reaksi pasar modal terhadap adanya pengumuman Indonesian CSR Award 2008. Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu harga saham yang diproksikan melalui closing price dan volume perdagangan saham yang diproksikan melalui Trading Volume Activity (TVA) saham. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif komparatif dimana penelitian ini membandingkan harga saham dan volume perdagangan saham sebelum dan sesudah diselenggarakannya event Indonesian CSR Award 2008 pada perusahaan pemenang award yang listing di BEI. Periode pengamatan dilakukan selama 10 hari bursa, yaitu 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah event Indonesian CSR Award 2008. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah harga saham harian (closing price) selama periode pengamatan, jumlah saham yang diperdagangkan selama periode pengamatan, serta jumlah saham yang beredar selama periode pengamatan pada perusahaan pemenang Indonesian CSR Award 2008. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wilcoxon Signed Ranks Test dengan taraf signifikansi α=5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan baik untuk harga saham maupun volume perdagangan saham sebelum dan sesudah event Indonesian CSR Award 2008 pada perusahaan pemenang Indonesian CSR Award 2008 yang listing di BEI. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kandungan informasi Indonesian CSR Award 2008 kecil sehingga tidak dapat mempengaruhi keputusan investor atau pasar modal tidak bereaksi akan adanya event Indonesian CSR Award 2008 tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan antara lain: (a) peneliti selanjutnya hendaknya menggunakan jenis, variabel, serta periode penelitian yang berbeda, (b) sinvestor hendaknya merespon informasi pengumuman Indonesian CSR Award 2008 sebagai suatu good news, dan (c) pihak penyelenggara hendaknya terus melakukan perbaikan untuk penyelenggaraan event Indonesian CSR Award berikutnya.

Perancangan profil kesenian tradisional Banyuwangi / Irham Anis Ma'arif

 

Kata Kunci: perancangan, profil kesenian, kesenian tradisional Banyuwangi Kesenian tradisional merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Peran pemerintah dan masyarakat dalam membangun, mengelola serta mengembangkan kesenian tradisional sangat diharapkan guna menjaga kelestarian kesenian tradisional. Segala usaha pelestarian kesenian tradisional dengan dukungan berbagai pihak yang dilakukan secara terus-menerus dan penuh kesadaran diharapkan dapat menjaga kesenian tradisional dari kepunahan. Kabupaten Banyuwangi yang diwarnai oleh budaya Jawa, Bali, Madura, Melayu, Eropa dan budaya lokal yang saling mengisi dan menjadi tipikal yang tidak ditemui di wilayah manapun (Pulau Jawa). Kabupaten Banyuwangi memiliki kekayaan kesenian tradisional yang sangat beragam, misalnya Gandrung Banyuwangi, Seblang Banyuwangi, Janger Banyuwangi, Rengganis Banyuwangi, Hadrah Kunthulan Banyuwangi, Patrol Banyuwangi, Mocopatan Pacul Goang Banyuwangi, Jaranan Butho Banyuwangi, Barong Banyuwangi, Kebo-Keboan Banyuwangi, Angklung Caruk Banyuwangi dan Gedhogan Banyuwangi. Kurangnya kegiatan promosi dan sosialisasi kesenian tradisional Banyuwangi selama ini mengakibatkan masyarakat melupakan kesenian tradisional wilayahnya sendiri. Oleh karena itu, diperlukan media yang mampu mempromosikan kesenian tradisional Kabupaten Banyuwangi secara efisien yang mampu menarik minat masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai kesenian tradisional Banyuwangi. Tujuan dari perancangan ini adalah merancang profil Kesenian Tradisional Banyuwangi secara kreatif, estetik, efisien dan dapat disampaikan secara visual sehingga menarik minat masyarakat untuk mengenal, mencintai dan melestarikan. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif diawali dari penulisan latar belakang, perumusan masalah dan pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari data perusahaan dan data pemasaran, dengan cara observasi, dokumentasi, dan wawancara. Data yang didapat kemudian dianalisis dan akhirnya menjadi konsep perancangan. Perancangan ini terdiri dari media utama berupa profil kesenian berbasis audiovisual, dan media komunikasi visual alternatif lainnya yang digunakan sebagai pendukung. Media pendukung terdiri dari: iklan surat kabar, billboard, poster, brosur, x-banner, kalender dan kaus. i

Pengaruh tingkat bunga kredit dan rasio tingkat kredit bermasalah (NPLs) terhadap jumlah kredit yang ditawarkan oleh bank umum di Indonesia tahun 2005:1-2009:12 / Baiq Mega Suci Arini

 

Kata Kunci : tingkat suku bunga kredit, rasio tingkat kredit bermasalah (NPLs), dan jumlah kredit yang ditawarkan. Dalam mekanisme kerja bank berkaitan dengan peranannya sebagai lembaga perantara keuangan, penyaluran dana kepada masyarakat merupakan aktivitas yang dilakukan setelah penghimpunan dana dari masyarakat. Terdapat beberapa alternatif penyaluran dana bank, dan yang terbesar proporsinya adalah dalam bentuk kredit (Pinjaman kepada debitur). Mengingat pentingnya keberadaan kredit sebagai pelumas bagi sektor rill maka banyak penelitian yang dilakukan oleh berbagai kalangan untuk melihat bagaimana kondisi yang dihadapi oleh bank umum dalam menentukan besarnya kredit yang akan ditawarkan. Dalam berbagai penelitian terdahulu telah banyak diulas sejumlah variabel yang mempengaruhi jumlah kredit yang ditawarkan, tetapi dalam penelitian kali ini variabel hanya akan diwakili oleh suku bunga kredit dan rasio tingkat kredit bermasalah (NPLs). Pemilihan suku bunga kredit sebagai salah satu variabel yang langsung mempengaruhi jumlah kredit yang ditawarkan dikarenakan bahwa tingkat suku bunga kredit merupakan salah satu variabel penting yang menentukan pendapatan yang akan diperoleh bank. Di sisi lain pemilihan rasio tingkat kredit bermasalah dikarenakan angka tersebut dapat dijadikan indikator bagi bank dalam melihat risiko dari kredit yang ditawarkan. Pemilihan kedua variabel ini juga mengacu pada teori-teori tentang penawaran kredit yang telah ada. Tujuan Penelitian ini adalahu ntuk mengetahui: (1) apakah variabel tingkat bunga kredit berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah kredit yang ditawarkan pada bank umum di Indonesia, (2) apakah variabel rasio tingkat kredit bermasalah (NPLs) bepengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah kredit yang ditawarkan pada bank umum di Indonesia, (3) apakah variabel tingkat suku bunga kredit dan rasio tingkat kredit bermasalah secara bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan terhadap jumlah kredit yang ditawarkan pada bank umum di Indonesia. Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Laporan Tahunan Bank Indonesia, Indikator Pebankan Nasional yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda untuk mengetahui ada tidaknya dampak dari masing-masing variabel. Penelitian ini menghasilkan suatu kesimpulan bahwa secara parsial variabel tingkat bunga kredit berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah kredit yang ditawarkan dan rasio tingkat kredit bermasalah (NPLs) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap jumlah kredit ii yang ditawarkan. Sedangkan secara simultan tingkat bunga kredit, NPLs, dan dana perbankan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah kredit yang ditawarkan oleh bank umum di Indonesia tahun 2005:1-2009:12.

Minat siswa program studi keramik SMK Negeri 5 Malang terhadap wirausaha keramik / Tiyas Purbo Lelani

 

Kata Kunci : Minat, wirausaha keramik, SMK Minat merupakan suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap sesuatu yang disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari sesuatu. Wirausaha keramik merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dalam bidang seni kriya keramik. Berdasarkan pengamatan peneliti dilapangan terdapat kecenderungan bahwa masih ada siswa lulusan sekolah kejuruan yang masih meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan minat siswa program studi keramik SMK 5 Malang terhadap wirausaha keramik dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi minat siswa program studi keramik terhadap wirausaha keramik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, dalam pengumpulan data menggunakan angket terstruktur. Sedangkan dalam teknik analisis data menggunakan teknik prosentase. Penelitian ini merupakan penelitian populasi yang semua jumlah populasinya dijadikan objek dalam penelitian. Populasi yang dimaksud adalah siswa program studi keramik SMK Negeri 5 Malang, yang berjumlah 20 siswa. Hasil penelitian tentang minat siswa program studi keramik SMK Negeri 5 Malang wirausaha keramik adalah, dengan jumlah responden 20 siswa, dapat diketahui dengan jelas yaitu prosentase lebih dari separuh (55%) memiliki minat yang sangat tinggi terhadap wirausaha keramik. Selanjutnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi minat siswa terhadap wirausaha keramik dapat diketahui yaitu, (1) Dengan kriteria prosentase sangat tinggi, terdiri dari faktor harapan siswa (50%), orientasi keberhasilan siswa (65%), dan kreativitas siswa terhadap wirausaha keramik (60%). (2) dengan kriteria prosentase timggi, terdiri dari faktor perhatian siswa (55%), lingkungan keluarga (65%), lingkungan sekolah (65%), lingkungan masyarakat (65%), prestasi siswa (65%), dan inovativitas siswa dalam berkarya keramik (60%). (3) Dengan kriteria prosentase kurang terdapat pada faktor kehadiran siswa dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan wirausaha keramik 45%. Berdasarkan pada analisis data dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat minat siswa program studi keramik SMK Negeri 5 malang terhadap wirausaha keramik adalah tinggi. Dapat disarankan dari hasil penelitian ini agar sebagai seorang guru hendaknya perlu menggali dan meningkatkan keprofesionalannya dalam membimbing, mengarahkan, dan tentunya meningkatkan minat siswa program studi keramik terhadap wirausaha keramik, untuk kepala sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan guru/ pihak sekolah untuk dapat meningkatkan minat siswa dengan mengembangkan potensi yang ada pada diri para siswa, misalnya dengan cara memfasilitasi/ menyediakan sarana prasarana dalam kegiatan belajar, untuk siswa yang tingkat minat tinggi diharapkan dapat diwadahi/ disalurkan dalam mengikutkan berbagai lomba dan juga mengadakan kegiatan ekstrakurikuler dalam bidang seni, bagi orang tua diharapkan dapat menyikapi perkembangan anak dengan cara membimbing, mendidik dan dapat mengarahkan minat ataupun bakat yang dimiliki dan yang ingin dicapai anak, dan juga bahwa penelitian ini perlu diadakan tindak lanjut lagi dalam penelitian yang serupa, tetapi pada objek yang berbeda.

Opnaissel sebagai hiasan pada busana pria berbahan denim / Reni Erawati

 

Kata Kunci: Opnaissel sebagai hiasan, busana pria, denim. Opnaissel adalah hiasan berupa lipit-lipit kecil yang dibuat secara berkelompok yang disetik bagian luar bahan dengan lebar minimal 0.5 cm atau sesuai dengan keinginan. Opnaissel tidak harus selalu dibuat dengan arah vertikal, karena opnaissel dapat dibuat dengan berbagai arah. Busana pria adalah apapun yang dipakai pria mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Denim adalah kain yang terbuat dari serat kapas yang ditenun secara diagonal dengan benang lungsin berwarna biru dan umumnya memiliki lebar kain 140 cm. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah penulis mencoba untuk membuat busana pria juga menarik dan unik dengan hiasan opnaissel yang dibuat beragam dengan bahan berupa denim. manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menambah pengetahuan dan inspirasi bagi pembaca untuk membuat busana pria berbahan denim dengan opnaissel sebagai hiasannya. Proses pembuatan yang dilakukan meliputi cutting, sewing, dan finishing. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pria ini adalah berupa baju pria tanpa lengan dan celana panjang yang dibuat dengan bahan denim dengan hiasan berupa opnaissel. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 145.000.

Keterlaksanaan penilaian hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA-kimia serta kendala-kendala yang dihadapi guru di SMP/MTs negeri se-kabupaten Pamekasan / Enny Musrifah

 

Kata kunci: penilaian hasil belajar, pembelajaran IPA-Kimia, kendala. Salah satu aspek yang penting dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sistem penilaian yang disempurnakan dari kurikulum sebelumnya. Informasi yang didapat dari proses penilaian tidak saja penting untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran dan hasil belajar siswa, tetapi juga untuk mengukur efektifitas kegiatan pembelajaran. Dalam KTSP, terdapat materi IPA-Kimia yang tergabung dalam bidang studi IPA. Peningkatan porsi materi kimia dalam kurikulum SMP/MTs membuat sebagian sekolah merasa tidak siap karena diantaranya belum mempunyai guru IPA-Kimia. Selain itu, sebagian guru merasa kesulitan dalam melaksanakan penilaian hasil belajar siswa yang mengacu pada KTSP. Penilaian dalam KTSP diukur dari 3 aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik. Hal ini menjadi hal yang baru bagi guru karena pada paradigma lama guru lebih mengedepankan aspek kognitif, akibatnya aspek afektif dan aspek psikomotorik cenderung terabaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) keterlaksanaan penilaian hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA-Kimia ditinjau dari persiapan sebelum dilakukan penilaian hasil belajar, pelaksanaan penilaian hasil belajar, dan ketuntasan hasil belajar dalam pembelajaran IPA-Kimia di SMP/MTs Negeri se-Kabupaten Pamekasan, dan (2) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru IPA-Kimia dalam melaksanakan penilaian hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA-Kimia di SMP/MTs Negeri se-Kabupaten Pamekasan. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah guru IPA-Kimia dan/atau guru yang mengajar bidang studi IPA-Kimia di SMP/MTs Negeri se-Kabupaten Pamekasan tahun ajaran 2009/2010. Teknik pengambilan sampel adalah purposive area sampling. Sampel penelitian berjumlah 47 guru. Data diambil dengan instrumen angket dan dokumentasi, wawancara terstruktur serta observasi untuk menguatkan data yang diperoleh dari angket. Sebelum disebarkan, angket divalidasi terlebih dahulu dan diperoleh tingkat validasi sebesar 94%. Data yang diperoleh pada tiap-tiap item jawaban diberi bobot dengan mengacu pada kriteria penyekoran angket. Skor yang diperoleh kemudian dihitung persentasenya yaitu dibagi dengan skor ideal kemudian hasilnya dikalikan 100%. Skor tiap item yang diperoleh diakumulasikan menjadi skor tiap deskriptor, indikator, dan tiap sub variabel, dan hasilnya digolongkan berdasarkan klasifikasi tertentu. Hasil penelitian menunjukkan penilaian hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA-Kimia ditinjau dari persiapan sebelum dilakukan penilaian hasil belajar, pelaksanaan penilaian hasil belajar, dan ketuntasan hasil belajar dalam pembelajaran IPA-Kimia di SMP/MTs Negeri se-Kabupaten Pamekasan 1 sudah terlaksana dengan baik, hal ini terlihat dari persiapan sebelum dilakukan penilaian hasil belajar yang sudah dilaksanakan dengan baik dengan persentase 78%, pelaksanaan penilaian hasil belajar sebesar 78%, dan ketuntasan hasil belajar yang juga sudah dilaksanakan dengan baik dengan persentase sebesar 78%. Kendala yang paling banyak dihadapi dalam melaksanakan penilaian hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA-Kimia di SMP/MTs Negeri se-Kabupaten Pamekasan dalam melakukan penilaian adalah kendala keterbatasan waktu, jam mengajar guru yang terlalu banyak, kesulitan melakukan penskoran instrumen, kesulitan memilih berbagai jenis dan teknik penilaian serta sarana dan prasarana sekolah yang kurang memadai untuk kegiatan praktikum.

Pengembangan bahan ajar cetak muatan lokal kelas XI MAN 3 Kediri / Zulfa Husnawati

 

ABSTRAK Husnawati, Zulfa. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Cetak Muatan LokalKelas XIMAN3 Kediri. Tesis. Program Studi TeknologiPembelajaran, PascasarjanaUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sulton, M.Pd, (II)Dr. Sihkabuden, M.Pd Kata kunci: Pengembangan, Bahan Ajar Cetak, Muatan Lokal Pertanian merupakan mata pelajaran muatan lokal di MAN 3 Kediri dengan karakateristik mata pelajaran yang berisi teori dan praktek. Berdasarkan karakteristik mata pelajaran, praktis mata pelajaran pertanian memerlukan media yang sesuai dan berisi teori maupun panduan praktikum. Tidak adanya bahan ajar sebagai media yang digunakan dalam pembelajaran menjadikan pembelajaran muatan lokal pertanian MAN 3 Kediri menjadi kurang optimal dan berdampak pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran.Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dikembangkan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik siswa dan mata pelajaran. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalahmenghasilkan bahan ajar cetak yang sistematis, menarik, dan layak digunakan dalam pembelajaran muatan lokal pertanian MAN 3 Kediri. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan adalah model Dick et al. (2009). Prosedur pengembangan yang dilakukan hanya sampai pada tahap evaluasi formatif. Instrumen yang digunakan adalah angket, dokumentasi, observasi, dan wawancara. Pada evaluasi formatif angket digunakan untuk mengumpulkan data review ahli isi, ahli media, ahli desain dan uji coba pada pengguna baik siswa maupun guru yang meliputi uji coba perorangan, kelompok kecil, dan lapangan. Perolehan hasil reviewpara ahli meliputi: 1) ahli isi pada bahan ajar 87,5%, panduan guru 89,58%, dan panduan siswa 90,90%, 2) ahli media terhadap bahan ajar 97,9 %, panduan guru 98%, panduan siswa 97,2%, dan 3) ahli desain terhadap bahan ajar sebesar 94,23%, panduan guru 95,83%, dan panduan siswa 93,75%. Perolehan uji coba perorangan terhadap bahan ajar sebesar 89,58%, dan panduan siswa 87,5%.Berdasarkan review para ahli dan uji coba perorangan, produk pengembangan termasuk pada kualifikasi sangat layak, dan dapat digunakan tanpa revisi. Hasil uji coba kelompok kecil pada bahan ajar sebesar 80,55 % dan panduan siswa 80 %, berdasarkan perolehan tersebut, bahan ajar cetak termasuk pada kualifikasi sangat layak, dan panduan siswa termasuk pada kategori layakdigunakan dengan revis kecil. Hasil uji coba lapangan pada bahan ajar sebesar 79,89% dan panduan siswa 74,37%, berdasarkan perolehan tersebut produk pengembangan termasuk pada kualifikasi layak digunakan dengan revisi kecil. Tanggapan guru pada bahan ajar 87,7 % dan panduan guru 86,36% sehingga produk pengembangan termasuk pada kualifikasi sangat layak. Langkah dalam pemanfaatan bahan ajar secara klasikal yaitu: 1) mempelajari materi yang akan diajarkan, 2) memastikan kesesuaian strategi pembelajaran dengan alokasi waktu yang disediakan, 3)mempersiapkan perlengkapan praktikum, 4) melakukan rangkaian kegiatan pembelajaran, 5) mencatatmateri yang belum dipahami untuk dipelajari dan didiskusikan ulang.

Penerapan pembelajaran kooperatif two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa kelas XI IPA 1 MAN Malang 2 Kota Batu / Santi Amalia Rizki

 

Kata kunci : pembelajaran Two Stay Two Stray, motivasi, prestasi belajar Berdasarkan observasi awal di MAN Malang 2 kota Batu, diketahui bahwa motivasi dan prestasi belajar siswa kelas XI IPA 1 masih relatif rendah. Rendahnya motivasi belajar siswa dapat dilihat dari ketidak aktifan siswa dalam kegiatan diskusi serta sikap siswa dalam mengikuti pelajaran sedangkan prestasi belajar siswa dapat dilihat dari Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM) klasikal pada data awal kelas XI IPA 1 MAN Malang 2 Kota Batu untuk mata pelajaran Biologi sebesar 32,14%. Prestasi belajar yang masih rendah ini disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Masalah tersebut dapat diatasi dengan model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif dan termotivasi dalam belajar. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan dan memotivasi siswa salah satunya adalah pembelajaran Two Stay Two Stray. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 MAN Malang 2 kota Batu semester 2 tahun ajaran 2009/2010. Jumlah 28 siswa dalam satu kelas. Pokok bahasan sistem koordinasi dan sistem reproduksi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lembar observasi motivasi belajar siswa, lembar keterlaksanaan tindakan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray, tes akhir siklus. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray dapat meningkatkan : 1) motivasi belajar siswa dari siklus I ke siklus II yaitu, minat siswa dalam belajar mengalami peningkatan sebesar 25,65%, perhatian 22,15%, konsentrasi sebesar 29,87% dan ketekunan 24,7%, dan 2) Prestasi belajar siswa yang diukur dengan skor rata-rata dan persentase ketuntasan belajar secara klasikal dari data awal, siklus I, dan siklus II. Skor ratarata diperoleh hasil (62.5, 70 dan 79.7) dan ketuntasan belajara klasikal diperoleh hasil (32.14%, 60.71%, dan 89.28%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model TSTS dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Saran dari penelitian ini adalah: Guru harus memberikan apersepsi pada siswa setiap kali awal pembelajaran yang terkait dengan kehidupan seharihari sehingga menumbuhkan minat, perhatian , ketekunan dan konsentrasi belajar siswa. Guru perlu memberikan soal tes mulai tingkat kognitif C1 sampai dengan C6 sehingga tingkat kognitif yang dimiliki anak dapat berkembang sesuai dengan usianya.

The implementation of the teaching of speaking to the first grade students at SMA Islam Malang / Marita Kusuma

 

Key words: Teaching Speaking, SMA Islam Malang This study was conducted to describe the teaching speaking to the first grade students of SMA Islam Malang in terms of (1) the schedule of teaching speaking English, (2) the methods used in teaching speaking English, (3) the media used in teaching speaking English, (4) the students’ practice in speaking English, and (5) the students’ ability to speak English. This study employed a descriptive study because it was designed to describe the teaching of speaking at SMA Islam Malang to construct certain information about the real phenomena faced by the school. The data were obtained through four research instruments; observations, questionnaires, interview guide, and field notes, and they were presented descriptively after being classified into related aspects. The findings showed that the implementation of teaching speaking English in this school did not have any specific schedule. The school used two different English teachers with the consideration that one teacher taught reading and writing skills, while the other taught listening and speaking skills. This differentiation was not effective because when the topic of reading and writing skills were too much, then listening, especially speaking would be taught as the non-required activity. In the teaching and learning process, the teacher used various activities and media in the classroom but the most activity used was role play while the most media used was realia. Besides learning English at school, there were several activities outside the class that students could do such as joining a group discussion or a private course to enhance their ability to speak English. Thus, there were few of students who joined such kind of courses. Joining a group discussion or a private course might affect the students’ ability to speak. They were more confident in sharing and expressing their ideas. Moreover, when it came to the students who did not join a course, they tended to keep silent and always refused to answer the teacher’s question. Finally, it is suggested that the teacher should use creative and various activities and media in the teaching and learning English to make the students more confident in expressing their ideas. Then the suggestion is also delivered to the students that they need a lot of practice speaking English into their daily activities with their friends. Other suggestion is delivered to the school that SMA Islam Malang should provide many facilities of teaching media. The school should reevaluate the English teacher’s competence by conducting a test in order to develop the student’s competence. Last, this research hopefully beneficial to the further researchers that will give more information about teaching speaking English at school.

Penggunaan media pembelajaran peta kabupaten setempat untuk meningkatkan hasil belajar IPS kelas IV tentang kegiatan ekonomi dan sumber daya alam di SDM Ampelsari III Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Surtini

 

Kata Kunci: Peta, Hasil Belajar, IPS, SD Hasil observasi ditemukan bahwa siswa di SDN Ampelsari III Kecamatan Pasrepan tidak pernah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan media peta. Sebagian siswa merasa bosan dan kurang bergairah dalam pembelajaran sehingga siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan kelas 70%. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan menggunakan media sangat tepat dan dianjurkan sebagai alternative proses pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Mendiskripsikan cara memanfaatkan media peta Kabupaten tentang kegiatan ekonomi dan sumber daya alam mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Ampelsari Kecamatan Pasrepan. 2) Mendiskripsikan dampak penggunaan media peta Kabupaten terhadap aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Ampelsari III Kecamatan Pasrepan. 3) Mendiskripsikan hasil belajar siswa tentang kegiatan ekonomi dan sumber daya alam mata pelajaran IPS dengan menggunakan media peta Kabupaten. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan MC.Taggart dengan 2 (dua) siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Ampelsari III Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan tes. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa pedoman wawancara, pengamatan guru dan postes. Hasil dari penelitian setelah dilakukan tindakan data menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa pada pra tindakan rata-rata 50,3. Pada siklus I mencapai rata-rata kelas 67,73, sedangkan pada siklus II mencapai rata-rata kelas 91,36, sehingga ketuntasan belajar mencapai 100% Kesimpulan ini sesuai dengan bab V dari penelitian ini yaitu penggunaan media peta dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa serta hasil belajar siswa dari pra tindakan mendapat rata-rata 50,3 menjadi 67,73 pada siklus I. Kemudian mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus II menjadi 91,36 dengan ketuntasan belajar 100%. Selanjutnya peneliti menyarankan kepada guru, agar dapat menggunakan media peta kabupaten setempat pada pembelajaran IPS pokok bahasan kegiatan ekonomi dan sumber daya alam. Alokasi waktu untuk pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media perlu diperhatikan karena hal itu yang menentukan keberhasilan dari pembelajaran tersebut. Pembelajaran dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan perbandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Studi faktor pendorong perkembangan dan kerusakan ekosistem savana bekol dan hutan mangrove resort bama Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo / Nur Fattatin

 

Kata kunci: perkembangan, kerusakan ekosistem, hutan mangrove, savana, taman nasional. Taman Nasional memiliki fungsi utama yaitu sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemya. Jika fungsi tersebut tidak telaksana atau bahkan terjadi kerusakan, maka akan terjadi konflik yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam ekosistem, seperti yang telah terjadi di Savana Bekol yang terganggu dengan tumbuhnya Akasia duri (Acacia Nilotica). Taman Nasional Baluran yang masuk dalam salah satu tujuan wisata Kabupaten Situbondo yang dikhawatirkan mengganggu tujuan dari Taman Nasional itu sendiri dengan tujuan pariwisata yang cenderung mengekploitasi demi komersialisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab savana dan hutan mangrove dapat berkembang di Taman Nasional Baluran, mengetahui apakah ada kerusakan di savana dan hutan mangrove, dan mengetahui pola sebaran kerusakan savana dan hutan mangrove tersebut. Metode penelitian ini menggunakan metode survey atau pengamatan dan pengukuran langsung ke Taman Nasional Baluran. Penentuaan titik sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling dari hasil overlay peta. Savana Bekol dan Hutan Mangrove Resort Bama dipilih sebagai titik sampel karena kedua daerah ini yang sangat khas dari Taman Nasional Baluran dan merupakan zona pemanfaatan intensif/pariwisata. Analisis penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa savana di Taman Nasional Baluran terjadi secara alami, faktor pendorongnya yaitu curah hujan, suhu, dan api/kebakaran yang alami dan terkendali. Savana Bekol terjadi kerusakan disebabkan tumbuhnya Acacia Nilotica yang sekarang telah menutupi 78,24% dari kawasan Savana Bekol yang luasnya 420 Ha. Berdampak pada berkurangnya penyediaan hijauan (pakan) bagi satwa. Pola kerusakan mengelompok yaitu di daerah pinggir savana. .Hutan mangrove Resort Bama mengalami perkembangan, faktor penyebabnya adalah kondisi substrat, tipe pesisir landai, terpaan ombak yang tenang, dan jenis mangrove yang tumbuh yaitu jenis Bakau atau Rhizophora yang memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. tingkat kerapatan 1.845,45 pohon / ha, masuk dalam kriteria baik. Pola kerusakan Resort Bama yaitu mengelompok. Ekosistem yang berada di kawasan Taman Nasional Baluran hendaknya tetap dijaga, khususnya savana yang tingkat kerusakannya tergolong parah Hutan mangrove yang masuk kriteria baik tersebut harus dipertahankan jangan sampai pengembangan pariwisata mengganggu ekosistem yang ada.

Pengaruh persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru, fasilitas belajar, dan nilai ujian nasional (NUN) SMP terhadap mutu lulusan melalui motivasi belajar siswa di SMA Negeri 8 Malang / Risa Rosiana

 

Kata kunci : persepsi, kemampuan mengajar guru, fasilitas belajar, NUN SMP, motivasi belajar, dan mutu lulusan. Salah satu isu penting dalam penyelenggaraan pendidikan di negara kita saat ini adalah peningkatan mutu pendidikan. Realita yang ada telah terjadi kemerosotan mutu pendidikan baik di tingkat dasar, menengah maupun tingkat pendidikan tinggi. Hal ini berlangsung akibat penyelenggraaan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada aspek kuantitas dari pada aspek kualitasnya. Mutu pendidikan tidaklah ditentukan oleh faktor tunggal, ada sejumlah variabel yang dianggap sering berhubungan atau mempengaruhi. Hal ini menggugah peneliti untuk melakukan suatu kajian yang akan mengidentifikasi secara empiric hubungan langsung atau tidak langsung dalam suatu rangkaian dari sistem pendidikan input-proses-output yang mengacu pada sejumlah variabel bebas yaitu persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru, fasilitas belajar, NUN SMP, dan motivasi belajar terhadap mutu lulusan khususnya di SMA Negeri 8 Malang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis jalur (path analysis) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung antara persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru, fasilitas belajar, dan NUN SMP terhadap motivasi belajar serta pengaruh langsung dan tidak langsung antara persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru, fasilitas belajar, NUN SMP, dan motivasi belajar terhadap mutu lulusan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XII di SMAN 8 Malang. Sampel yang digunakan yaitu simple random sampling dan di dapat ada 62 siswa sebagai sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) persepsi siswa tentang kemampuan mengajar guru dan NUN SMP berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap motivasi belajar dan mutu lulusan. (2) motivasi belajar berpengaruh secara langsung terhadap mutu lulusan. (3) sedangkan fasilitas belajar tidak memiliki pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap motivasi belajar dan mutu lulusan. Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan untuk peneliti selanjutnya agar memperluas variabel yang ingin diteliti, misalnya: latar belakang sosial ekonomi, lingkungan belajar, atau minat siswa terhadap pelajaran sehingga dapat lebih banyak mengungkapkan permasalahan dan memberikan hasil dari temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh analisis prediksi kebangkrutan dengan model Z-score terhadap harga saham perusahaan pertambangan yang g0-public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) / Nena Prasetyo Prihatiningdyah

 

Kata-kata kunci: Kebangkrutan Perusahaan, Analisis Z-Score, dan Harga Saham Perusahaan Pertambangan. Kebangkrutan merupakan suatu keadaan atau situasi dalam hal ini perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajiban kepada debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai yaitu profit tidak tercapai. Hal ini dikarenakan laba yang diperoleh perusahaan digunakan untuk mengembalikan pinjaman, membiayai operasi perusahaan dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebangkrutan perusahaan pertambangan dengan model Z-Score dan untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara kebangkrutan dengan model Z-Score terhadap harga saham perusahaan pertambangan yang go-public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan Pertambangan di BEI yang listing periode 2006-2008, sedangkan sampel yang diambil sebanyak 11 perusahaan dengan teknik purposive sampling, dimana teknik pengumpulan datanya adalah dengan teknik dokumentasi sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis Z-Score dan analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 2006 terdapat 2 perusahaan yang termasuk dalam kategori tidak bangkrut, 4 perusahaan dalam kategori gray area, dan 5 perusahaan dalam kategori bangkrut. Pada tahun 2007 terdapat 5 perusahaan dalam kategori tidak bangkrut, 2 perusahaan dalam kategori gray area, dan 4 perusahaan dalam kategori bangkrut. Pada tahun 2008 terdapat 3 perusahaan dalam kategori tidak bangkrut, 6 perusahaan dalam kategori gray area, dan 2 perusahaan dalam kategori bangkrut. Analisis kebangkrutan dengan model Z-Score berpengaruh terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk penelitian selanjutnya yaitu dapat menambah periode penelitian, mengganti objek penelitian, dan mengganti metode analisis yang digunakan selain model Z-Score.

Pengaruh mekanisme good coorporate governance dan leverage keuangan terhadap manajemen laba perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2008 / Eko Yulianto

 

Kata Kunci: Mekanisme GCG, Leverage Keuangan, Manajemen Laba Laporan keuangan merupakan jembatan penghubung antara pihak manajer dengan pihak di luar perusahaan untuk mengetahui perkembangan kinerja keuangan perusahaan. Pihak manajer yang kadang bersikap opportunistik memanfaatkan kondisi asimetri informasi yang ada dengan melakukan tindakan manajemen laba dengan berbagai maksud dan tujuan. Namun, tindakan tersebut dapat dikendalikan atau bahkan diminimumkan dengan penerapan GCG yang konsisten dan kebijakan tingkat leverage yang ada dalam perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari mekanisme GCG berupa kepemilikan institusional, ukuran dewan komisaris, komposisi komisaris independen, dan dewan direksi serta leverage keuangan terhadap manajemen laba perusahaan yang diproksikan dengan nilai discretionary accrual. Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2006- 2008, sehingga diperoleh sampel 21 perusahaan yang dipilih dengan purposive samping. Dengan pooled data didapatkan sebanyak 42 data observasi (21 x 2). Analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik dan uji hipotesis t secara parsial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kepemilikan institusi, ukuran komisaris, komisaris independen dan tingkat leverage keuangan berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap manajemen laba, (2) ukuran dewan direksi berpengaruh posistif tidak signifikan terhadap manajemen laba. Belum signifikannya pengaruh tersebut disebabkan masih rendahnya kesadaran penerapan GCG serta masih melekatnya budaya KKN dalam organisasi bisnis di Indoesia. Saran dalam penelitian ini untuk peneliti selanjutnya diharapkan, (1) perlu menambah jumlah sampel, tidak terbatas pada bank yang terdaftar di BEI, bahkan jika perlu bisa disertakan lembaga keuangan lain seperti lembaga asuransi dan sebagainya, (2) ditambahkan variabel penelitian, misal komite audit, karakteristik dewan direksi yang lain serta leverage operasional, (3) perlu menambah periode pengamatan agar manfaat GCG dan leverage keuangan yang hanya dapat dirasakan dalam jangka panjang dapat diketahui (4) perlu dicari dan dikembangkan model baru yang sesuai jika di terapkan di Indonesia dan pada instansi perbankan khususnya. Bagi perusahaan diharapkan dapat mengurangi tindak manajemen laba dengan menerapkan GCG secara konsisten. Bagi investor diharapkan juga memperhatikan pelaksanaan GCG dalam perusahaan selain hanya laporan laba rugi dan bagi pemerintah agar lebih ketat mengawasi perbankan di Indonesia untuk menekan manipulasi laporan keuangan serta memberikan sangsi terhadap pelanggaran yang terjadi.

Pengaruh pengungkapan coorporate social responsibility (CSR) dan kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2008) / Nina Safitri

 

Kata Kunci: Pengungkapan Corporate Social Responsibiity, Kepemilikan Manajerial dan Manajemen Laba. Adanya perbedaan kepentingan dalam perusahaan antara shareholder dan stakeholder membuat manajer sebagai pengelola perusahaan harus memperhatikan kepentingan seluruh pihak tanpa mengabaikan salah satu pihak. Bentuk perhatian yang diberikan kepada shareholder ialah berupa peningkatan keuntungan atas investasi pada perusahaan, sedangkan perhatian kepada stakeholder diwujudkan dalam bentuk pengungkapan corporate sosial responsibility yaitu pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan dan sosial. Perhatian besar yang diberikan masyarakat terhadap perusahaan yang visible terhadap aktivitas pertanggungjawaban lingkungan dan sosial membuat manajer harus memberikan informasi pengungkapan sebanyak-banyaknya. Hal ini memungkinkan manajer yang bertindak sebagai pengelola perusahaan maupun yang memiliki saham dalam perusahaan atau kepemilikan manajerial melakukan manajamen laba terhadap pelaporan keuangan agar informasi yang diberikan terlihat baik dan sekaligus dapat meningkatkan keuntungan manajer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel pengungkapan corporate social responsibility dan kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba secara parsial. Data yang digunakan bersumber dari ICMD (Indonesian Capital Market Directory) dan annual repot perusahaan tahun 2007-2008. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia yaitu sebanyak 124 perusahaan, namun setelah digunakan metode purposive sampling dengan teknik pooled data, didapatkan sampel sebanyak 21 sampel perusahaan dengan jumlah data observasi sebanyak 42 data. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS. Uji yang dilakukan adalah uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial, variabel pengungkapan corporate sosial responsibility dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap manajemen laba dengan nilai signifikansi masing-masing sebesar 0.059 dan 0.068 Berdasarkan penelitian ini, maka disarankan dalam penelitian selanjutnya untuk menggunakan sektor lain sebagai sampel, dan memperpanjang periode penelitian. Bagi investor, pengungkapan corporate social responsibility dapat digunakan sebagai pertimbangan berinvestasi dan bagi perusahaan dapat menggunakan ISO 26000 sebagai dasar penggungkapan corporate social responsibility.

Nilai-nilai akhlak mulia dalam cerita pendek anak-anak "Kecil-kecil Punya Karya" / Sri Rahayu

 

Kata kunci: nilai akhlak, tokoh, cerpen anak Sastra anak dapat diartikan sebagai sastra yang ditanggapi dan dipahami secara emosional psikologis oleh anak-anak sebagai konsumen utama. Bacaan anak mempertimbangkan segi dunia anak, segi tingkat pendidikan, segi normatif yang terkandung dalam bacaan tersebut dan sesuai dengan kebutuhan dasar anak-anak. Kehadiran sastra anak tidak hanya bersifat kesenangan, tetapi juga indah dan bermanfaat (dulce et utile) bagi anak-anak karena mengandung nilai-nilai yang termuat di dalamnya. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai akhlak mulia yang terkandung dalam kumpulan cerita anak Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK). Tujuan khusus penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai akhlak mulia yang meliputi nilai akhlak terhadap Tuhan, akhlak terhadap keluarga dan akhlak terhadap masyarakat yang terdapat dalam teks cerita anak KKPK. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif untuk menyatakan nilai-nilai yang terdapat dalam teks cerita anak KKPK. Sumber data dalam penelitian ini adalah tiga teks kumpulan cerita Nasi untuk Kakek (NuK) karya Qurrota Aini, Asyiknya Outbound (AO) karya Qurrota Aini dan Mawar Raksasa (MR) karya Nada Aghnia Shabira tahun 2008 dan 2009 penerbit DAR! Mizan Bandung. Data penelitian ini berupa data verbal dan nonverbal dari tokoh. Data verbal berupa dialog dan monolog tokoh dalam cerita. Sedangkan data nonverbal berupa tindakan atau perilaku tokoh, komentar pengarang dan pikiran tokoh dalam teks cerita anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai akhlak mulia dalam teks cerita KKPK. Nilai akhlak mulia terhadap Tuhan meliputi (1) bersyukur kepada Tuhan, (2) meyakini balasan terhadap semua amal perbuatan, (3) iman terhadap Tuhan, dan (4) beribadah kepada Tuhan. Nilai akhlak mulia terhadap keluarga meliputi menjalankan amanah orangtua dan menyayangi saudara. Nilai akhlak terhadap masyarakat meliputi akhlak terhadap teman, yang meliputi (1) menjalin dan memelihara persahabatan, (2) menyayangi teman, (3) menjaga perasaan teman, (4) menolong teman, (5) dapat dipercaya, dan (6) tidak melupakan kebaikan teman.

Pengembangan media animasi pembelajaran tema alat komunikasi di TK A Negeri Pembina Asembagus-Situbondo / Heni Safitri

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Animasi, Pembelajaran, Taman Kanak-kanak. Media pembelajaran merupakan alat bantu yang digunakan agar dalam proses belajar mengajar agar berjalan sesuai yang diharapkan, selama ini dalam proses pembelajaran khususnya alat komunikasi hanya menggunakan penjelasan guru. Tujuan pembelajaran di TK untuk mengembangkan potensi baik secara psikis dan fisik meliputi bahasa,kognitif dan seni maka dari itu penulis pengembangan media animasi pembelajaran. Dengan dikembangkannya media pembelajaran dikelas siswa dalam proses pembelajaran aspek-aspek yang dibutuhkan anak TK bisa terpenuhi sehingga pembelajaran berjalan efektif sesuai dengan tujuan yang ada. Dalam menampilkan media animasi pembelajaran membutuhkan responden untuk menilai keefektifan dalam pembelajaran. Dalam hal ini tidak hanya animasi media pembelajaran, media pembelajaran lain bisa menjadi alternatif dalam pembelajaran. Agar dalam pembelajaran terdapat beberapa alternatif dalam menyampaikan materi pembelajaran sehingga membuat siswa termotivasi dalam belajar. Dari prosedur pengembangan yang dilakukan diperoleh hasil perhitungan interpretasi hasil validasi yang diperoleh dari data ahli media menunjukkan persentase 80%, dari ahli materi 80,8%, dari audiens secara perorangan 76,6%, dari audiens kelompok kecil 84,7% dan dari audiens klasikal/lapangan 80,2%. Sedangkan dari peningkatan skor hasil belajar rata-rata sebesar 92%, sehingga dari data tersebut bertujuan bahwa media animasi pembelajaran ini efektif digunakan dalam proses belajar mengajar di TK Negeri Pembina. Dapat disimpulkan bahwa media animasi pembelajaran yang dikembangkan di TK Negeri Pembina dinyatakan valid sesuai dengan SKM. Saran yang diajukan bagi guru, hendaknya perlu dipersiapkan beberapa hal diantaranya TV dan VCD, memperhatikan petunjuk pemanfaatan sehingga diharapkan proses pembelajaran dapat berjalan lancar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Saran yang diajukan bagi kepala sekolah dapat dijadikan bahan pertimbangan sebagi alternatif media yang digunakan untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran, supaya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa

Ta'tsir tathbiq al-thoriqoti al-ta'awuniyah bi-ushlub majmu'il al-tahqiq ala dafi'i taallum al-lughotil arabiyyah wa nataidihi bi tholabati ash-shof al asyir fil madrasatil tsnawiyah al hukumiyyah al amnah ats tsaminah Malang / Imroatul Khurriyyah

 

ملخص البحث الحرية، إمرأة. ٢٠١٠ م. تأثيرتطبيق الطريقة التعاونية بأسلوب مجموعة التحقيق على دافع تعلم اللغة العربية ونتائجه بطلبة الصف العاشر في المدرسة الثانوية الحكومية العامة الثامنة مالانج. بحث علمي. قسم الأدب العربي كلية الآداب بجامعة مالانج الحكومية. المشرف الأول: الأستاذ الدكتوراندوس محمد قشيري الماجستير الحاج، المشرف الثاني: الأستاذ على معصوم الماجستير. كلمات المفتاح: أسلوب مجموعة التحقيق، دافع تعلم اللغة العربية ونتائجه ، المدرسة الثانوية الحكومية العامة الثامنة مالانج المنهج على مستوى الوحدة التربوية الذي هيجته الحكومة إندونيسيا يؤكد على استقلال التربية. منحت الحكومُة المدارس الفرصة لتطوير مالها من الكفاءة، الأمل، وغير ذلك. فيطالب هذا المنه  ج المعلمين المؤهلين. والأهلية تحتوي على محاولام من أجل الحصول على الأهداف. ومن المحاولة هي تنويع طريقة التدريس من أجل إنشاء وتشجيع دافع تعلم الطلبة حتى يتعلموا بحماس. ذا الحال يرجى أن تتحسن نتائج تعلم الطلبة. والطريقة التي يمكن للمعلم أن يطبقها هي الطريقة التعاونية بأسلوب مجموعة التحقيق. حسب ملاحظة الباحثة على عملية تدريس اللغة العربية الجارية في المدرسة الثانوية الحكومية العامة الثامنة مالانج التي تستخدم الالطريقة الإلقائية، و بناء على كثير من نتائج الطلبة في تعلم اللغة العربية أدنى من نتيجة معيار النجاح الأقل، فأرادت الباحثة أن تطبق الطريقة التعاونية، بأسلوب مجموعة التحقيق بمنهج التجريبة وليس المنهج الصفى الإجرائي. لأن هذا الأسلوب لم يطبق مسبقا في مجال اللغة خصوصا اللغة العربية. ويهدف هذا البحث إلى ( ١) وصف التأثير من تطبيق أسلوب مجموعة التحقيق إذا ما قورن بتطبيق الطريقة الإلقائية على دافع تعلم اللغة العربية بطلبة الصف العاشر من المدرسة الثانوية الحكومية العامة الثامنة مالانج و ( ٢) وصف التأثير المعنوي من تطبيق أسلوب مجموعة التحقيق تقارن بتطبيق الطريقة الإلقائية على نتيجة تعلم اللغة العربية بطلبة الصف العاشر من المدرسة الثانوية الحكومية العامة الثامنة مالانج. ب منهج البحث المستخدم هو منهج البحث التجريبي بتصميم البحث التجريبي الشبهي. يتكون التصميم من العاملين، هما العامل المستقل وهو الطريقة التعاونية بأسلوب مجموعة التحقيق والعامل التابع هو دافع تعلم اللغة العربية ونتائجه. ويتكون من اموعتين هما اموعة التجريبية جرى تطبيق الطريقة في اموعة التجريبية مرتين. ويتكون . (X - واموعة الضابطة ( ٦ (X – ٥) من الاختبار القبلي والاختبار البعدي. كانت الباحثة أداة رئيسة بحيث اشتركت في عملية التدريس وجمع البيانات وتحليلها. والتي تكون أداة إضافية هي ورقة الاستبانة، وورقة الاختبار والوثائق. ولتحليل البيانات استخدمت الباحثة الطريقة الكمية والكيفية. أما نتائج البحث فإن ( ١) هناك التأثير من تطبيق الطريقة التعاونية بأسلوب مجموعة اموعة التجريبية) الذين ) X – التحقيق على دافع تعلم الطلبة. دل عليه عدد الطلبة الصف ٥ المدموعة الضابطة) وهو ٢٤ و ٢٠ ) X – يرغبون كثيرا في التعلم أكثر من عدد طلبة الصف ٦ طالبا ( ٢) هناك التأثير المعنوي من تطبيق الطريقة التعاونية بأسلوب مجموعة التحقيق على نتيجة تعلم الطلبة. دل عليه النتيجة المعنوية أصغر من ٠،٠٢٥ وهي ٠،٠١٩ . وعدد طلبة الصف .X – الناجحين أعلى من عدد الطلبة الناجحين في الصف ٦ X – ٥ اعتمادا على نتائج البحث، كانت الاقتراحات هي ( ١) على المدرس أن يزيد تنويع طريقة تدريسه من أجل تشجيع الطلبة على التعلم وكذلك من أجل ترقية نتيجة تعلمهم، وأن يستفيذ كثيرا من هذا الأسلوب في عملية التدريس ( ٢) على الباحثين اللاحقين أن يقوموا بالبحث عن تطبيق الطريقة الأخرى في تعلم اللغة العربية. وكذلك أن يوسعوا موضوع بحثهم. على سبيل المثال نتيجة التعلم في اال الوجداني واال النفسحركي. وأن يكْثر من تطبيق الطريقة المطبقة.

Analisis tokoh balong, pethak, tangsil, dan cawek dalam mantra seni pertunjukan sandur Dukuh Randupokak Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban / Mukhlis Riza

 

Kata kunci: analisis tokoh, mantra, Sandur Sastra sudah ada sejak dahulu dan telah dipakai oleh nenek moyang kita. Sastra digunakan dalam pengungkapan mengenai suatu hal yang dianggap perlu untuk disampaikan dalam bentuk bahasa. Beberapa seni maupun budaya yang berbau tradisi, akhirnya menjadikan sastra sebagai salah satu faktor penting yang membangun.Salah satu tradisi yang mengandung sastra adalah seni pertunjukan Sandur yang ada di dukuh Randu Pokak desa Prunggahan Kulon kecamatan Semanding kabupaten Tuban Jawa Timur. Pada awalnya, Sandur merupakan sebuah permainan anak-anak yang kemudian berkembang menjadi sebuah seni pertunjukan. Sandur mempunyai beberapa nilai seni dan sastra, salah satu diantaranya adalah mantra yang selalu dinyanyikan setiap kali pertunjukan dilaksanakan. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) kajian mantra seni Pertunjukan Sandur Dukuh Randu Pokak Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban (2) karakter tokoh Balong, Cawek, Petak, dan Tangsil dalam mantra pertunjukan Sandur Dukuh Randu Pokak Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban. (3) Pesan yang hendak disampaikan melalui penokohan Balong, Cawik, Pethak, dan Tangsil dalam mantra pertunjukan Sandur Dukuh Randu Pokak Desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban. Hasil dari penelitian ini antara lain: (1) mantra seni pertunjukan Sandur dukuh Randupokak desa Prunggahan Kulon Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban mengandung makna-makna nilai kehidupan. Manusia takkan pernah bisa lepas dari kodratnya sebagai makhluk sosial. Hal ini tercermin dari hubungan masing-masing tokoh yang saling berkaitan erat dan saling membutuhkan. Manusia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini tercermin dari perjuangan Balong, Pethak dan Cawik dalam mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya. Manusia harus memiliki unggah-ungguh dan tata karma. Hal ini tercermin dari keberadaan tokoh Tangsil sebagai sosok yang dituakan dan harus diperlakukan sebagaimana seseorang yang dihormati dan disegani. (2) Tokoh Balong memiliki watak penyayang dan pekerja keras. Tokoh Pethak memiliki watak rendah hati, ulet dan tidak mudah putus asa.. Tokoh Cawik memiliki watak lemah lembut dan mandiri. Tokoh Tangsil memiliki watak kerja keras, penyayang, dan cekatan. (3)Beberapa pesan terkandung dalam penokohan keempat tokoh tersebut, antara lain pesan tentang manusia yang saling membutuhkan, kasih sayang sesama manusia, sikap saling menghormati dan kerja kera

Laporan kerja praktek pengecoran logam di Romas Jaya Blimbing
disusun oleh Debora

 

Analisis pengaruh komponen ekuitas merek terhadap minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Fera Kartika Retno

 

Kata Kunci : komponen ekuitas merek, minat beli Merek mengandung nilai-nilai yang bersifat intangible, emosional, keyakinan, harapan, serta sarat dengan persepsi pelanggan. Untuk itu, agar suatu perusahaan dapat sukses, intangible asset-nya, seperti ekuitas merek, perlu dikelola secara terus-menerus. Perusahaan atau produk yang memiliki merek yang kuat cenderung lebih mudah memenuhi kebutuhan dan keinginan sesuai dengan persepsi pelanggan. Perusahaan tersebut juga akan lebih mudah menempatkan (positioning) produk yang lebih baik di benak pelanggan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabel-variabel ekuitas merek yang mempengaruhi minat pembelian. Penelitian ini mempuyai dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas (X) terdiri dari sub variabel, yaitu kesadaran merek (X1), persepsi kualitas (X2), dan asosiasi merek (X3) sedangkan variabel terikatnya (Y) adalah minat pembelian. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif kausalitas. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengaruh komponen ekuitas merek secara parsial maupun secara simultan terhadap minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang berminat untuk membeli ponsel merek Sony Ericsson. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 150 responden. Sampel diambil dengan menggunakan teknik Accidental sampling. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) terdapat pengaruh kesadaran merek secara parsial terhadap minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan nilai B=0,383; thitung=5,516; dan Signifikansi t=0,000; (2) terdapat pengaruh persepsi kualitas secara parsial terhadap minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan nilai B=0,452; thitung=5,176; dan Signifikansi t=0,000; (3) tidak terdapat pengaruh asosiasi merek secara parsial terhadap minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan nilai B=0,173; thitung=1,555; dan Signifikansi t=0,122; dan (5) terdapat pengaruh ekuitas merek (kesadaran merek, persepsi kualitas, dan asosiasi merek) secara simultan terhadap minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dengan nilai Fhitung=74,750; dan Signifikansi F=0,000; R=0,778; R square =0,606; dan Adjusted R Square=0,598. Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa ekuitas merek dapat mempengaruhi minat pembelian baik secara parsial maupun secara simultan. Kesadaran merek, persepsi kualitas, dan asosiasi merek mempengaruhi minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang sebesar 59,8%, sedangkan sisanya 40,2% dipengaruhi oleh faktorfaktor lain diluar penelitian. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah (1) Ponsel merek Sony Ericsson telah memiliki ekuitas merek yang baik sebagai produk yang berkualitas. Oleh karena itu ekuitas merek tersebut harus tetap dijaga dan dipertahankan dengan cara menciptakan produk yang mengutamakan standar mutu, unik, dan kualitas yang bagus ketika barang hendak dipasarkan. Dengan ekuitas merek yang baik dapat meningkatkan minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson, (2) Ketatnya persaingan di pasar ini, maka produsen ponsel merek Sony Ericsson harus tetap menjaga konsistensi merek dan mengikuti perubahan yang terjadi dengan tetap menjaga keunggulan dan kekuatan merek tersebut. Perusahaan harus secara inovatif memperbaiki dan meningkatkan mutu produk sesuai dengan perkembangan yang disesuaikan dengan permintaan pasar, (3) Peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya agar objek penelitian yang diambil lebih baik, yaitu masyarakat umum dari berbagai golongan baik usia dan tempat penelitian yang lebih luas supaya data penelitian yang diperoleh lebih valid dan ruang lingkupnya lebih luas, (4) Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah variabel penelitian yang dapat mempengaruhi minat pembelian selain komponen ekuitas merek. Selain itu menyempurnakan kekurangankekurangan dalam penelitian ini dan dapat dijadikan dasar pertimbangan ilmiah bagi kesempurnaan yang ada. Perlu perhatian lebih mengenai permasalahan mengapa variabel asosiasi merek tidak berpengaruh terhadap minat pembelian ponsel merek Sony Ericsson dalam penelitian ini, dan (5) Karakteristik populasi yang beragam lebih baik distratakan dengan menggunakan purposive sampling.

The translation of metaphors in the book The Mysteries of the Qur'an from English to Indonesia / Agus Eko Cahyono

 

Key words: translation, metaphorical expression, translation appropriateness, metaphor translation strategies. Translation work has a mouthful significant importance in translating culture, in revitalizing language, in interpreting texts, in distributing knowledge, in suggesting the relationship between thought and language and its contribution towards understanding between nations. However, in spite of its importance, translation is a very difficult work, namely on making decision which principle to refer to; whether the translation should incline to the source or the target language, be faithful or beautiful, literal or free, and whether to attempt to and struggle for the form or the content. Metaphors or expressions with metaphorical meanings, because of their nature of using a figurative word to denote meaning, are among the potential areas of translation problem. This study aims to describe how metaphors or expressions with metaphorical meanings in the book The Mysteries of the Qur’an are translated from English to Indonesian. In addition, it is also intended to analyze how appropriate the metaphors have been translated from English to Indonesian. The study takes a descriptive qualitative research design. The data of the research are all the English metaphorical expressions found in the original book that consists of 272 pages and their Indonesian translation version Dari Balik Lembaran Suci consisting of 337 pages. From the analysis, it is found that the translation of English metaphors to Indonesian have been attempted through various strategies. Of the 185 English metaphors in the book, 84 metaphors or 45% are adopted or reproduced to Indonesian, 29 metaphors or 16% are adapted or replaced with Indonesian metaphors, 10 metaphors or 5% are changed to simile, 26 metaphors or 14% are adopted or reproduced and combined with sense, 4 metaphors or 2% are translated to simile combined with sense, 27 metaphors or 15% are converted to sense, and 5 or 3% are deleted. These findings indicate that the translator is familiar with the metaphor translation strategies commonly found or written in translation textbooks or other translation references. Familiarity or knowledge of the metaphor translation strategies gives benefit to help translators solve metaphor translation problems. Second, after conducting an analysis of the metaphor translation by examining the referential and contextual accuracies (faithfulness to the SL text and acceptability in the TL text), the result of the analysis of metaphor translation is: of the 185 English metaphor translations to Indonesian, 173 metaphors or 94% are marked appropriate metaphor translation, 7 metaphors or 4% are marked less appropriate metaphor translation, and 5 metaphors or 2% are marked inappropriate metaphor translation. The judgment or evaluation of the metaphor translation appropriateness is based on the evaluator's, in this case the researcher's, own standard of referential and pragmatic accuracy. From the research findings, some suggestions may be made. First, for translation teachers; they should give specific attention and manage at least one separate class meeting for discussing explicitly issues related to metaphor translation for metaphor translation has its specific problems which are different from other aspects of language. Second, for translation students; they must have fine mastery of English, the source language, and Indonesian, the target language, if he or she wants to translate from English to Indonesian, for an advanced mastery linguistic, social and cultural aspects of the source language is a dead price for understanding the language and the style, the literal meaning and the metaphorical meaning, the surface meaning and the deep or hidden meaning of the text to be translated. Third, for translators; before translating a text, a translator should first make an analysis of the original text in order to be well informed of the author's purpose of writing the text (to persuade, to prohibit, to express feeling, to transfer knowledge, to entertain, etc.), the characteristic of the readership (who the target readers are), and an indication of the text type (expressive, informative, vocative, or other text types). In addition, in order to achieve success in translating metaphors, a translator should consider the referential and contextual accuracies of the translation. Fourth, for future researchers; for those who are interested specifically in the matter of metaphor translation studies, this research suggests that they may conduct research on more specific metaphor translation problems related to universal and culture-specific natures of the metaphors.

Upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar fisika melalui model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share (TPS) berbasis praktikum siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Kotaanyar Kabupaten Probolinggo / Yossi Krisdiana

 

Kata kunci: Keaktifan, prestasi belajar, model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share, Praktikum. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Kotaanyar, yang sebagian besar (55%) menyatakan bahwa fisika itu sulit dan membosankan. Keadaan ini didukung masih rendahnya prestasi belajar siswa yang ditunjukkan dari hasil tes ulangan harian dengan nilai rata-rata sebesar 51,2. Selain itu ada kecenderungan siswa kelas VIII-A saat mengikuti pelajaran fisika, yaitu: (1) aktivitas yang dilakukan siswa kurang aktif, (2) kurang merespon, (3) kurang bersemangat, (4) bila diberi pertanyaan asal menjawab saja, dan (5) bila diberi tugas tidak dikerjakan serta kurang percaya diri. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa, dan meningkatkan Prestasi belajar fisika siswa kelas VIII- A SMP Negeri 1 Kotaanyar Probolinggo melalui model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) Berbasis Praktikum. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Kotaanyar Probolinggo dengan subyek penelitian kelas VIII-A dengan jumlah 40 siswa, terdiri dari 18 siswa perempuan dan 22 siswa laki-laki. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), LKS, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar keaktifan siswa, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) Berbasis Praktikum dapat meningkatkan meliputi: (1) Keaktifan guru dari siklus I sebesar 84,1% dan siklus II sebesar 92,8%, pada siklus I guru masih sulit mengendalikan kelas dan kurangnya memenejemen waktu, pada siklus II guru sudah bisa mengendalikan kelas. (2) Keaktifan siswa meningkat dari 68,59% menjadi 82,5%. (3) nilai ratarata prestasi belajar siswa pada siklus I sebesar 63,25 dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 55% dari 40 siswa dan pada siklus II sebesar 76,75 dengan jumlah siswa yang tuntas belajar sebanyak 85% dari 40 siswa. Peningkatan nilai rata-rata prestasi siswa pada siklus I dan II sebesar 14,25%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair and Share (TPS) Berbasis Praktikum dapat meningkatkan Keaktifan dan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-A SMP Negeri 1 Kotaanyar Probolinggo.

Pengaruh penggunaan metode trifokus Steve Snyder terhadap kecepatan efektif membaca (KEM) siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang / Yoga Rakhmad Setiaji

 

Kata kunci: pembelajaran, membaca cepat, metode Trifokus Steve Snyder Di era globalisasi ini sarana bacaan semakin bertambah, sementara waktu yang dimiliki seseorang tetap tidak bertambah. Lantas bagaimana seseorang dapat menyerap berbagai informasi dalam bacaan dengan waktu yang relatif singkat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kecepatan membaca. Maka dengan meningkatkan kemampuan membaca cepat, seseorang akan dapat menyerap berbagai informasi bacaan dalam waktu yang relatif singkat. Artinya, membaca dengan kecepatan tinggi namun tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya sehingga antara waktu dan hasil akan benar-benar efektif Pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) ketrampilan membaca diajarkan sejak awal yaitu sejak kelas X. Hal ini tertera dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), disebutkan bahwa terdapat kompetensi yang wajib dikuasai siswa yaitu mengungkapkan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kata per menit. Pada proses pembelajaran ini siswa dituntut supaya siswa bisa mengungkapkan isi teks dengan kecepatan 300 kata per menit. Kemampuan membaca cepat siswa SMA kelas XI perlu ditingkatkan untuk memenuhi standar kompetensi yang dituntut lebih dari 300 kata per menit. Untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat siswa kelas XI SMA diperlukan sebuah metode pelatihan membaca cepat. Kecepatan membaca seseorang sesungguhnya dapat ditingkatkan, yaitu dengan banyak berlatih membaca dan memahami isi bacaan. Akan tetapi berlatih saja tidaklah cukup, harus ada metode yang efektif dalam proses belajar. Metode pembelajaran yang tepat dan efektif akan dapat membantu seseorang menjadi cepat dalam meningkatkan kemampuan membacanya. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pembelajaran membaca cepat, terdapat berbagai macam metode yang dapat diterapkan. Setiap metode tentunya memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kecepatan membaca siswa. Penggunaan metode yang tepat tentunya akan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kecepatan membacanya tanpa mengurangi pemahamannya terhadap bacaan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Tri fokus Steve Snyder. metode Trifokus Steve Snyder ini adalah metode yang digunakan untuk meningkatkan kecepatan membaca siswa dengan mengajarkan siswa untuk mengembangkan pelatihan periferal mereka dengan latihan "tri fokus", Maksudnya titik konsentrasi pandangan mata terpusat tiga fokus setiap barisnya. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 9 Malang dengan sample dua kelas yang setiap kelas berjumlah 40 siswa, yaitu kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 1 sebagai kelas kontrol. Penelitian ini dilaksanakan untuk melihat pengaruh penggunaan metode Trifokus Steve Snyder terhadap Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang tahun i ii pelajaran 2009/2010. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu, karena penelitian ini hanya menggunakan satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penggunaan metode Trifokus Steve Snyder pada kelas eksperimen. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah ada pengaruh positif penggunaan metode Trifokus Steve Snyder terhadap Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang. Hal ini terbukti karena terdapat perbedaan yang signifikan hasil postes antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada aspek Kecepatan Efektif Membaca (KEM), yaitu diketahui t0 4,08 > ttabel 2,02 Nilai Sig (0,00 < 0,05). Berdasarkan uji statistik tersebut, berarti rata-rata postes Kecepatan Efektif Membaca siswa kelas eksperimen adalah 239 kpm lebih tinggi dari rata-rata postes kecepatan membaca siswa kelas kontrol 187 kpm. Rata rata Kecepatan Efektif Membaca kelas eksperimen sebelum perlakuan adalah 177 kpm dan setelah mendapat perlakuan meningkat menjadi 239 kpm Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Trifokus Steve Snyder dapat meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang Tahun Pelajaran 2009/2010. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diajukan oleh penulis kepada guru dan peneliti selanjutnya. Kepada guru diharapkan dapat menjadikan hasil temuan penelitian ini sebagai bahan masukan untuk merencanakan pembelajaran. Bagi peneliti lain yang hendak meneliti pengaruh penggunaan metode Trifokus Steve Snyder disarankan untuk meneliti tentang perlakuan penempatan titik fokus pada bacaan, jumlah kata dalam setiap fokus, serta jumlah fokus dalam bacaan.

Pengaruh persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Malang / Euis Kantarinata

 

Kata kunci : Persepsi Siswa atas Keterampilan Mengajar Guru, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar Akuntansi Mutu pendidikan saat ini perlu ditingkatkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan keberhasilan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Peranan guru sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan karena guru adalah pihak yang paling dekat berhubungan dengan peserta didik dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Dengan kata lain keterampilan mengajar guru diperlukan dalam proses kegiatan belajar mengajar yang berimplikasi terhadap kualitas prestasi belajar siswa dan motivasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh baik secara parsial maupun simultan persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi. Data diambil dari populasi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 2 Malang. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan proportional random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis datanya menggunakan Pearson Product Moment untuk uji validitas, Alpha Cronbanch untuk uji reliabilitas, dan regresi berganda untuk mengetahui pengaruh baik secara parsial maupun simultan dari variabel-variabel dalam penelitian. Dari hasil analisis data diketahui terdapat pengaruh parsial antara persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru terhadap prestasi belajar dengan nilai sig t (0,011) < α 0,050 dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa dengan nilai sig t (0,021) < α 0,050. Terdapat pula pengaruh simultan antara persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar akuntansi siswa dengan nilai sig F (0,039) < α 0,050. Nilai R square sebesar 0,141 menunjukkan bahwa variabel persepsi siswa atas keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar secara bersama-sama mempengaruhi prestasi belajar siswa sebesar 14,1%. Sedangkan sisanya dipengaruhi variabel lain di luar penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan para guru untuk mengikuti diklat pendidikan tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional untuk menambah wawasan dan kemampuan mengajar, yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan guru di kelas dalam mengajar serta menjadi salah satu sumbangan informasi bagi guru bahwa keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

Kajian tentang pemahaman konsep kesetimbangan kimia pasa tingkat makroskopik, mikroskopik, dan simbolik siswa kelas XI IPA akselerasi SMA Negeri 3 Malang / Valency Femintasari

 

Kata kunci: Pemahaman konsep, makroskopik, mikroskopik, simbolik. Ilmu kimia sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah mempelajari tentang komposisi materi, perubahan komposisi, serta energi sehingga melibatkan konsep-konsep abstrak. Salah satu konsep kimia yang sarat akan konsep abstrak adalah konsep kesetimbangan kimia. Diperlukan pemahaman pada tingkat makroskopik, mikroskopik, dan simbolik dalam mempelajari konsep kesetimbangan kimia yang abstrak. Pembelajaran kimia pada umumnya lebih menekankan pada pemahaman konsep pada tingkat makroskopik dan simbolik sedangkan pemahaman pada tingkat mikroskopik jarang dikaitkan dalam setiap konsep yang diajarkan. Keberadaan kelas akselerasi yang memiliki masa studi lebih singkat memungkinkan pembelajaran kimia yang mencakup tingkat pemahaman makroskopik, mikroskopik, dan simbolik tidak disampaikan secara proporsional. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan: (1) Pemahaman konsep kesetimbangan kimia pada tingkat makroskopik siswa kelas XI IPA Akselerasi SMA Negeri 3 Malang; (2) Pemahaman konsep kesetimbangan kimia pada tingkat mikroskopik siswa kelas XI IPA Akselerasi SMA Negeri 3 Malang; (3) Pemahaman konsep kesetimbangan kimia pada tingkat simbolik siswa kelas XI IPA Akselerasi SMA Negeri 3 Malang; (4) Tingkat pemahaman siswa kelas XI IPA Akselerasi SMA Negeri 3 Malang yang paling baik pada konsep kesetimbangan kimia. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif sehingga tidak dilakukan manipulasi terhadap variabel-variabel penelitian. Penelitian deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa yang sedang urgen saat ini. Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA Akselerasi SMA Negeri 3 Malang tahun ajaran 2009/2010 yang terdiri dari 17 orang siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampling jenuh dengan semua anggota populasi dijadikan sebagai sampel. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa tes obyektif sebanyak 18 butir soal dengan lima pilihan alternatif jawaban. Berdasarkan hasil uji validasi diketahui bahwa instrumen memiliki validitas isi sebesar 92,59% dan hasil uji reliabilitas menggunakan program SPSS. 15 for Windows menunjukkan bahwa instrumen memiliki harga reliabilitas 0,683. Setelah pengambilan data, dilakukan analisis data yang terdiri dari 2 tahap yaitu (1) pemberian skor, skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk jawaban salah; (2) penentuan nilai pemahaman konsep siswa pada tingkat makroskopik, mikroskopik, dan simbolik yang diperoleh dari persentase jumlah siswa yang menjawab benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsep kesetimbangan kimia pada tingkat makroskopik, mikroskopik, dan simbolik siswa kelas XI IPA ii Akselerasi SMA Negeri 3 Malang tergolong sedang dengan persentase rata-rata siswa yang menjawab benar berturut-turut adalah 57,84%, 52,94%, dan 58,82%. Nilai persentase rata-rata siswa yang menjawab benar tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemahaman simbolik siswa pada konsep kesetimbangan kimia adalah yang paling tinggi sedangkan tingkat pemahaman mikroskopik siswa adalah paling rendah. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan pendapat beberapa ahli yang menyatakan bahwa pembelajaran kimia pada umumnya hanya mengutamakan pemahaman konsep pada tingkat makroskopik dan simbolik. Namun demikian persentase rata-rata siswa yang menjawab benar untuk setiap tingkat pemahaman hampir sama besar sehingga diduga ada hubungan antara tingkat pemahaman makroskopik, mikroskopik, dan simbolik.

Peningkatan kemampuan menulis surat dinas kelas VIII SMP Negeri 2 Bantur dengan menggunakan teknik kartu ilustrasi / Titah Ikaning Rahayu

 

Kata Kunci: peninngkatan, kemampuan menulis surat dinas, kartu ilustrasi Menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses belajar yang dialami siswa selama menuntut ilmu di sekolah. Dengan tulisan, mereka dapat mengungkapkan berbagai informasi, pengetahuan, dan gagasan yang mereka miliki. Dengan banyaknya latihan, pembelajaran menulis diharapkan keterampilan siswa dalam menulis lebih meningkat. Kegiatan pembelajaran menulis dalam penelitina ini difokuskan pada kompetensi dasar menulis surat dinas. Menulis surat dinas merupakan materi yang ada dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) untuk jenjang SMP dan SMA. Penelitian ini dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa kemampuan siswa dalam menulis surat dinas masih rendah. Kenyataan ini disebabkan beberapa hal (1) siswa masih kesulitan untuk menyusun format surat dinas dengan baik dan benar, (2) siswa masih kesulitan untuk menulis kalimat dengan baik dan benar dan (3) siswa masih kesulitan dalam penulisan ejaan. Tujuan peneliti dalam penelitian tersebut adalah (1) agar siswa dapat menyusun format surat dinas dengan baik dan benar, (2) agar siswa dapat menulis kalimat dengan baik dan benar dan (3) agar siswa dapat menggunakan ejaan dengan baik dan benar. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis surat dinas dengan baik dan benar diperlukan sebuah metode pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu, penelitian menggunakan metode kartu ilustrasi. Dengan menggunakan metode ini siswa lebih mudah belajar dalam menyusun format surat dinas, menulis kalimat dan penggunaan ejaan dengan baik dan benar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam satuan siklus yang meliputi perancanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Penetapan subjek didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan dan wawancara oleh peneliti. Subjek umum yang diberi tindakan, seluruh siswa kelas VIII A. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2010 sampai dengan 24 Mei 2010. Data diperoleh melalui instrumen utama yaitu melalui observasi, pedoman, wawancara dan dokumentasi. Hasil penilaian hasil menunjukkan bahwa menggunakan metode kartu ilustrasi, kemampuan siswa dalam menulis surat dinas meningkat.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT (Teams Games Tournament) pada pokok bahasan logika matematika untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMK Negeri 8 Malang / Islami Nurhayati

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Model TGT, Prestasi Belajar Siswa Berbagai pembaharuan telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu SDM, salah satunya adalah dengan meningkatkan mutu Pendidikan Nasional. Sebagai akibatnya, proses pembelajaran juga berubah. Saat ini banyak dikembangkan strategi pembelajaran alternatif yang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Berdasarkan hasil observasi, pembelajaran di SMK Negeri 9 Malang menggunakan pembelajaran konvensional. Siswa cenderung pasif dalam mengikuti pelajaran dan kondisi hasil belajar siswa belum mencapai Standar Ketuntasan Belajar Mengajar (SKBM). Karena itu, dalam penelitian ini akan dikaji pembelajaran matematika dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model TGT. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 9 Malang pada bulan Mei sampai dengan Juni 2010 dalam 2 tahap, yaitu tahap pra tindakan dan tahap tindakan. Tahap tindakan dilaksanakan dalam 2 siklus, yaitu siklus I terdiri dari 2 pertemuan dan siklus II terdiri dari 3 pertemuan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TGT yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMK Negeri 9 Malang melalui beberapa tahapan, yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kegiatan turnamen dan pemberian penghargaan kelompok. Selanjutnya dilakukan tes akhir tindakan, hasil tes menunjukkkan terjadi peningkatan rata-rata nilai tes dan peningkatan ketuntasan belajar siswa (tes materi sebelumnya adalah 44%, siklus I adalah 50%, dan siklus II adalah 75%). Hal tersebut diperkuat dengan hasil observasi aktivitas guru masuk dalam kategori “Sangat Baik” pada siklus I dan II dan hasil observasi aktivitas siswa masuk dalam kategori “Baik” pada siklus I sedangkan pada siklus II termasuk dalam kategori ”Sangat Baik”. Berdasarkan hasil angket dan wawancara diperoleh bahwa siswa senang dan memberikan respon atau tanggapan yang positif terhadap pembelajaran kooperatif model TGT. Sehingga penerapan pembelajaran ini layak untuk dikembangkan sebagai alternatif dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu peneliti menyarankan dalam rangka untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, hendaknya guru dapat meningkatkan penguasaan pengelolaan kelas agar siswa dapat berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Guru harus bisa membangkitkan motivasi belajar siswa pada saat menyampaikan materi pelajaran dengan cara menggunakan model mengajar yang bervariasi, menarik perhatian siswa, dan melatih keaktifan siswa. Pembelajaran kooperatif model TGT dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran matematika yang menyenangkan bagi siswa.

Pewarnaan titik pada graph dengan algoritma backtracking dan aplikasinya / Purwanti Hidayati

 

Kata kunci: pewarnaan titik, pewarnaan peta, bilangan kromatik, algoritma backtracking Dalam teori graph, masalah pewarnaan graph terdiri dari tiga macam, yaitu pewarnaan titik, pewarnaan sisi, dan pewarnaan wilayah. Teknik pewarnaan titik merupakan topik yang paling sering dibahas pada graph. Masalah utama pewarnaan titik adalah mewarnai semua titik sehingga tidak ada titik yang terhubung langsung memiliki warna yang sama. Contoh masalah yang dapat diselesaikan dengan pewarnaan titik salah satunya adalah pewarnaan peta. Sebenarnya pewarnaan peta ini merupakan bentuk lain dari pewarnaan titik karena pewarnaan peta merupakan pewarnaan wilayah dengan daerahnya dianggap sebagai titik dan wilayah yang berdekatan dihubungkan dengan sisi. Tujuan utama pewarnaan adalah mendapat bilangan jumlah warna minimum untuk mewarnai graph atau yang disebut bilangan kromatik. Algoritma yang digunakan pada pewarnaan biasanya menghasilkan satu solusi, contohnya algoritma Welch-Powell. Terdapat algoritma yang dapat menghasilkan semua kemungkinan solusi yaitu algoritma backtracking. Algoritma backtracking adalah algoritma yang menyelesaikan persoalan pewarnaan dengan mengubah bentuk graph menjadi pohon dengan tiap titik pohon menyatakan status persoalan sedangkan cabang pada pohon diberi label yang merupakan kemungkinan warna untuk setiap titik pada graph. Kemudian pohon tersebut ditelusuri secara DFS (Depth First Search) sampai semua solusi dihasilkan. Pohon yang terbentuk ini disebut pohon ruang status. Kelebihan algoritma ini dibandingkan dengan menggunakan teorema empat warna yang berisi setiap graph planar dapat diwarnai dengan empat warna yaitu dapat diketahui warna yang diberikan pada tiap titik sehingga dapat digunakan untuk mewarnai peta. Sekilas algoritma backtracking terlihat rumit tetapi algoritma ini dapat menghasilkan semua kemungkinan solusi, dari semua kemungkinan solusi itu dicari warna yang paling minimum. Untuk menyelesaikan masalah pewarnaan peta, dibuat program yang menggunakan software Delphi 7. Berdasarkan perhitungan dengan algoritma backtracking secara manual maupun menggunakan aplikasi program diperoleh hasil yang sama.

Pengaruh indeks Dow Jones industrial average (DJIA), indeks Hang Seng (HSI) dan kurs rupiah terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) / Novita Yuriantini

 

Kata Kunci: Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), Indeks Hang Seng (HSI), Kurs Rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Perubahan nilai kurs sangat berhubungan dengan iklim pasar modal, karena berpengaruh terhadap harga indeks saham. Terdapat dua pendekatan untuk menganalisis hubungan variabel indeks harga saham dan kurs. Pendekatan yang pertama adalah pendekatan tradisional yang menyatakan bahwa pergerakan kurs akan mempengaruhi daya saing internasional dan neraca pembayaran. Pengaruh ini pada akhirnya akan berimbas pada aliran kas perusahaan dan harga saham. Kedua adalah pendekatan portofolio, menyatakan bahwa pasar modallah yang mempengaruhi kurs melalui permintaan akan uang. Pendekatan ini menekankan adanya hubungan positif antara harga saham dan kurs, bahwa fluktuasi harga sahamlah yang mempengaruhi fluktuasi kurs. Harga saham yang turun akan membuat permintaan uang turun, yang pada akhirnya menyebabkan suku bunga juga turun. Mata uang yang suku bunganya turun selanjutnya akan mengalami depresiasi (pelemahan nilai tukar). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), indeks Hang Seng (HSI), kurs rupiah, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tanggal 3 Mei sampai dengan 18 Juni tahun 2010 serta untuk menguji pengaruh langsung indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pengaruh secara tidak langsung indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui kurs rupiah indeks Hang Seng (HSI), pengaruh secara langsung indeks Hang Seng (HSI) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan pengaruh secara tidak langsung indeks Hang Seng (HSI) terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui kurs rupiah. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis). Analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas (X) terhadap veriabel terikat (Y). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Indeks Dow Jones Industrial Average (X1), Indeks Hang Seng (X2) dan kurs rupiah (X3) sebagai variabel bebas terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (Y) sebagai variabel terikat, baik pengaruh secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif kausalitas. Penelitian asosiatif kausalitas merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk menghubungkan dua variabel penelitian atau lebih dan hubungan antar variabelnya bersifat sebab akibat. Populasi dalam penelitian ini adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sampel yang diambil adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pada tanggal 3 Mei sampai dengan 18 Juni tahun 2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh secara tidak langsung antara DJIA terhadap IHSG melalui kurs rupiah; (2) terdapat pengaruh langsung antara indeks DJIA terhadap IHSG; (3) terdapat pengaruh langsung antara indeks DJIA terhadap kurs rupiah; (4) terdapat pengaruh langsung antara kurs rupiah terhadap IHSG; (5) terdapat pengaruh secara tidak langsung antara indeks Hang Seng terhadap IHSG melalui kurs rupiah; (6) terdapat pengaruh langsung antara indeks Hang Seng terhadap IHSG; dan (7) terdapat pengaruh langsung antara indeks Hang Seng terhadap kurs rupiah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa indeks DJIA dan indeks HSI dapat mempengaruhi IHSG baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kurs rupiah. Pengaruh tidak langsung indeks DJIA terhadap IHSG melalui kurs rupiah adalah sebesar 0,093 sedangkan pengaruh tidak langsung indeks HSI terhadap IHSG melalui kurs rupiah adalah sebesar 0,076. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka disarankan agar dalam penelitian lebih lanjut dapat menambah jumlah waktu atau periode pengamatan dari sampel penelitian. Hal ini karena jumlah waktu penelitian dirasa kurang untuk melihat adanya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Selain itu juga disarankan untuk menambah variabel bebas selain indeks DJIA, indeks Hang Seng, dan kurs rupiah yang termasuk dalam faktor yang dapat mempengaruhi IHSG. Misalnya faktor ekonomi makro domestik seperti tingkat suku bunga atau inflasi serta faktor perekonomian global seperti indeks selain indeks DJIA dan indeks Hang Seng atau aksi jual beli-asing.

Pengaruh tingkat suku bunga deposito, inflasi, nilai tukar rupiah (terhadap dolar US, Yen, Bath) terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI tahun 2007-2009 / Dini Setiyowati

 

Kata Kunci: Tingkat Suku Bunga Deposito, Inflasi, Nilai Tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indeks harga saham membandingkan perubahan harga saham dari waktu ke waktu apakah suatu harga saham mengalami penurunan atau kenaikan dibandingkan dengan suatu waktu tertentu. Indeks Harga Saham Gabungan merupakan salah satu indeks pasar saham yang digunakan oleh Bursa Efek Indonesia. IHSG sebagai indikator pergerakan harga saham di BEI, Indeks ini mencakup pergerakan harga seluruh saham biasa dan saham preferen yang tercatat di BEI. Pergerakan indeks saham di suatu negara sudah tentu tidak terlepas dari kondisi perekonomian negara itu secara makro. Indeks harga saham sangat dipengaruhi variabel-variabel makro seperti suku bunga, kurs mata uangnya, dan inflasi. Perubahan faktor makro ekonomi tidak akan dengan seketika mempengaruhi kinerja perusahaan, tetapi secara perlahan dalam jangka panjang. Sebaliknya, harga saham akan terpengaruh dengan seketika oleh perubahan faktor makro ekonomi karena para investor lebih cepat bereaksi. Reaksi investor terhadap perubahan variabel makro tidak sama, ada yang memberikan reaksi positif dan reaksi negatif yang kesemuanya tergantung pada kekuatan investor yang paling dominan. Untuk menguji hipotesis tentang kekuatan variabel independen (tingkat suku bunga deposito, inflasi dan nilai tukar terhadap IHSG, penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda (multiple regression analysis model) dengan persamaan kuadrat terkecil (Ordinary Least Square). Dilihat dari objek yang dikaji, penelitian ini menurut tingkat eksplanasinya termasuk jenis asosiatif kausalitas. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi ada variabel independent (variabel yang mempengaruhi) dan dependen (dipengaruhi). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi yang diambil dalam penelitian ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun 2007-2009. Dalam penelitian ini, teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh atau sensus dimana semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sehingga sampel dalam penelitian ini adalah Indeks Harga saham gabungan (IHSG) tahun 2007-2009. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Variabel Suku Bunga Deposito berpengaruh signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).; (2) Variabel Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).; (3) Variabel Nilai Tukar Rupiah berpengaruh signifikan terhadap Indeks Harga Saham gabungan (IHSG); (4) Variabel Suku Bunga Deposito, Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah (terhadap USD, Yen dan Bath) secara simultan berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka disarankan Untuk memperbaiki penelitian ini diharapkan peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menambah kajian teori dan empirisnya. Adanya keterbatasan dalam pengambilan periode penelitian yang hanya 3 tahun, diharapkan untuk pengembangan penelitian selanjutnya dapat memperpanjang periode penelitian agar hasil yang diperoleh dapat lebih merefleksikan pergerakan IHSG di BEI secara historikal. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menambah variabel makro lain, misalnya pertumbuhan ekonomi, jumlah uang beredar dan lain-lain serta objek penelitian dilakukan di Indeks Harga Saham (IHS) lain. Investor sebaiknya memperhatikan informasi-informasi mengenai tingkat suku bunga deposito, inflasi dam nilai tukar rupiah karena dengan adanya informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memprediksi IHSG di BEI yang kemudian untuk mengambil keputusan yang tepat sehubungan dengan investasinya.

Penerapan metode pembelajaran talking stick dalam upaya meingkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar siswa kelas X Pemasaran pada mata pelajaran memahami prinsip bisnis di SMK Islam Batu / Avita Anggi Purwaningtias

 

ABSTRAK Purwaningtias, Avita, Anggi. 2010. Penerapan Metode Pembelajaran Talking Stick Dalam Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X Pemasaran pada Mata Pelajaran Memahami Prinsip Bisnis di SMK Islam Batu. Skripsi, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suwarni, M.Si (II) Imam Bukhori, S.Pd., M.M. Kata kunci: Talking Stick, Motivasi, Prestasi Belajar. Bidang pendidikan merupakan salah satu sektor yang mendapat perhatian dari pemerintah. Salah satu masalah yang dirasakan dunia pendidikan adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yang dapat membantu siswa agar dapat berperan aktif adalah metode pembelajaran Talking Stick. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran Talking Stick, motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran Talking Stick , dan prestasi belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran Talking Stick, yaitu pada materi Memahami Prinsip Bisnis kelas X Pemasaran. Penelitian ini dilakukan di SMK Islam Batu, tanggal 20 Mei 2010 sampai 6 Juni 2010. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Alat pengumpulan data menggunakan soal tes, lembar observasi, catatan lapangan, dokumentasi dan pedoman wawancara. Pengisian pada lembar observasi aktivitas guru dan siswa serta lembar catatan lapangan dilakukan dengan bantuan 3 (tiga) orang teman sejawat mahasiswa Universitas Negeri Malang program pendidikan Tata Niaga yaitu, Aprilia Rukmana, Arizki Wahyudiono, dan Niken Dewi Hastika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) penerapan metode pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Islam Batu, (2) motivasi siswa setelah diterapkan metode pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Islam Batu, (3) hasil belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran Talking Stick pada siswa kelas X Pemasaran di SMK Islam Batu. Penelitian ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus. Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan sebanyak 2 (dua) kali pertemuan selama 2 (dua) jam pelajaran. Pertemuan siklus I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 6 Mei 2010 dan 20 Mei 2010. Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksanakan sebanyak 2 (dua) kali pertemuan selama 2 (dua) jam pelajaran pada hari Kamis tanggal 27 Mei 2010 sampai 3 Juni 2010. Siklus I dan Siklus II diikuti oleh 35 siswa kelas X Pemasaran. Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan terhadap motivasi siswa pada siklus I dan siklus II. Hasil ini dapat dibuktikan melalui hasil dari angket motivasi siswa. (1) pada siklus I taraf motivasi belajar siswa mencapai 3,96, (2) pada siklus II taraf motivasi siswa meningkat menjadi 4,16. Hasil ini diperoleh berdasarkan angket motivasi yang diberikan oleh guru pada siswa pada akhir siklus I dan siklus II. Metode pembelajaran Talking Stick juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Melalui pre test dan post test diperoleh hasil: (1) rata-rata skor pre test siswa pada siklus I adalah 68,28 dengan skor tertinggi 80 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (Skor > 70) sebanyak 27 siswa, rata-rata skor post test meningkat menjadi 89,71 dengan skor tertinggi sebesar 100 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (skor > 70) sebanyak 33 siswa. (2) rata-rata skor pre test siswa pada siklus II adalah 80 dengan skor tertinggi 90 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (Skor > 70) sebanyak 33 siswa, rata-rata skor post test siswa meningkat menjadi 86,57 dengan skor tertinggi 100 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (Skor > 70) sebanyak 34 siswa. Kesimpulan dari penelitian ini antara lain: (1) Penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode pembelajaran Talking Stick pada mata pelajaran Memahami Prinsip Bisnis dilaksanakan dalam 2 siklus. Langkah-langkah penerapan metode pembelajaran Talking Stick yaitu: a) guru menyiapkan tongkat, b) guru menyiapkan materi pokok yang akan dipelajari kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya atau paketnya, c) setelah selesai membaca buku dan mempelajari materi, guru mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya, d) guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh guru mengenai materi pembelajaran, e) guru memberikan kesimpulan, f) evaluasi, g) penutup. (2) Penerapan metode pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Pemasaran. Hasil ini dapat dibuktikan melalui hasil dari angket motivasi siswa. Pada siklus I taraf motivasi belajar siswa mencapai 3,96 pada siklus II taraf motivasi siswa meningkat menjadi 4,16. (3) Penerapan metode pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X Pemasaran. Melalui pre test dan post test diperoleh hasil rata-rata skor pre test siswa pada siklus I adalah 68,28 dengan skor tertinggi 80, rata-rata skor post test meningkat menjadi 89,71 dengan skor tertinggi sebesar 100. Rata-rata skor pre test siswa pada siklus II adalah 80 dengan skor tertinggi 90, rata-rata skor post test siswa meningkat menjadi 86,57 dengan skor tertinggi 100. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini anata lain: (1) Bagi Kepala SMK Islam Batu, untuk memberikan motivasi kepada guru mata pelajaran baik Memahami Prinsip Bisnis maupun yang lainnya agar menerapkan metode pembelajaran Talking Stick dalam proses belajar mengajarnya. (2) Bagi guru mata pelajaran Memahami Prinsip Bisnis SMK Islam Batu untuk mencoba menerapkan pembelajaran metode Talking Stick pada bahasan yang lain karena siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran metode ini dan dapat mengimplementasikan metode Talking Stick pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. (3) Dalam menerapkan metode ini, guru perlu mengatur waktu, menyiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efisien sehingga tuntutan kurikulum tercapai. (2) Guru perlu menyebutkan indikator-indikator yang ada dalam tahap pembelajaran Talking Stick agar yang diajarkan lebih optimal. (3) Bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini disarankan untuk menerapkan metode pembelajaran Talking Stick pada mata pelajaran yang berbeda.

Implementasi promotion mix gadai iB pada PT. Bank BRI Syariah Cabang Malang / Istighfarrini M.U.

 

Kata Kunci: Promotion Mix, Gadai iB Promotion mix atau biasa disebut juga bauran promosi yaqng terdiri atas 6 cara komunikasi utama yaitu, advertising (periklanan), personal selling, promosi penjualan, PR (Public Relation), WOM (Word Of Mouth), direct marketing. Bauran promosi merupakan gabungan dari berbagai jenis promosi yang ada untuk suatu produk yang sama agar hasil dari kegiatan promo yang dilakukan dapat memberikan hasil yang maksimal. Gadai iB BRI Syariah, merupakan pinjaman dana (Qardh) dengan menggadaikan barang berharga, termasuk penyimpanan yang aman (Ijarah) dan berasuransi. Keunggulan Gadai iB yaitu, proses lebih cepat, kenyamanan karena sesuai syariah dan lebih berkah, persyaratan sangat mudah, jangka waktu pinjaman maksimal 120 hari dan dapat diperbaharui, penyimpanan yang aman dan berasuransi, Dapat dilunasi sebelum jatuh tempo pinjaman, biaya administrasi dan biaya sewa tempat yang terjangkau. Berdasarkan kedua pengertian diatas, data Tugas Akhir ini dikumpulkan melalui observasi selama PKL dan dinalisis dengan teknis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis tersebut diketahui tentang: (1) karakteristik produk Gadai iB pada PT Bank BRI Syariah Cabang Malang, (2) implementasi promotion mix pada produk Gadai iB, (3) faktor pendukung dan penghambat promotion mix pada produk Gadai iB. PT Bank BRI Syariah Cabang Malang selalu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik efektif dan efisien yang sesuai syariah islam dengan mengkombinasikan perangkat promosi seperti keenam cara komunikasi promotion mix diatas yaitu advertising (periklanan), personal selling, promosi penjualan, PR (Public Relation), WOM (Word Of Mouth), direct marketing pada produk Gadai iB dengan berbagai perangkat seperti iklan di Televisi, mengundang Malang Post pada peluncuran pertama produk Gadai iB, menggunakan brosur dan membuka stan tes uji kadar emas gratis sebagai upaya peningkatan jumlah nasabah. Hal tersebut tidak lepas dari faktor pendukung nama besar Bank BRI sebagai perusahaan induk yang sudah merakyat di masyarakat menengah ke bawah, sedangkan faktor penghambat promotion mix adalah informasi yang diberikan masih sulit dipahami oleh calon nasabah yang dituju. Berdasarkan analisis yang dilakukan pada produk Gadai iB tersebut diketahui faktor penghambat sehingga PT. Bank BRI Syariah sebaiknya menambah armada pemasar dan meningkatkan kompetensi pemasar produk Gadai iB, menggunakan pesan yang mudah dipahami, memilih media promosi yang tepat, membuat rencana jangka panjang yang baik, mengadakan perbaikan dan peningkatan dalam meneliti mengenai promotion mix dengan mengikutsertakan pendapat dan persepsi nasabah.

Pengembangan model latihan passing dalam permainan sepakbola untuk usia 11 tahun di Sekolah Spakbola Jaguar Kabupaten Malang / Tubagus Ragil Santoso

 

Kata kunci: pengembangan, model latihan, passing dalam permainan sepakbola Passing adalah salah satu ketrampilan individu dalam permainan sepakbola dengan tujuan untuk mengoper atau memberikan umpan kepada teman. Langkah perbuatan yang dimaksud berupa melakukan sebuah tendangan sederhana dengan jarak yang relatif pendek dengan tingkat ketepatan yang tinggi. Passing merupakan salah satu komponen penting dalam sepakbola yang harus dilatihkan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas permainan individu. Kenyataan yang ada di lapangan khususnya pada Sekolah Sepakbola Jaguar Kabupaten Malang, model latihan passing masih belum mendapatkan perhatian secara khusus, sehingga diperlukan model-model latihan pasing yang terprogram. Untuk itu peneliti akan mengembangkan model latihan passing dalam permainan sepakbola yang nantinya dapat dijadikan sebagai acuan oleh pelatih dalam memerikan materi latihan passing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model latihan passing dalam permainan sepakbola Untuk Usia 11 Tahun di Sekolah Sepakbola Jaguar Kabupaten Malang yang dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan latihan passing. Prosedur pengembangan model latihan passing dalam permainan sepakbola melalui tahap-tahap sebagai berikut: (1) penentuan ide-ide, (2) penulisan naskah media (produk), di dalamnya berisi sketsa-sketsa model-model latihan shooting, (3) evaluasi produk, (4) revisi produk I, (5) produksi prototipe, dengan memberikan model latihan passing pada kelompok kecil maupun kelompok besar, (6) uji coba prototipe, dengan mengujicobakan hasil revisi produk I, (7) revisi produk II, (8) reproduksi, penyempurnaan produk untuk menuju produk akhir yang diharapkan pada pengembangan. Lokasi penelitian dilakukan di lapangan sepakbola Desa Kendalpayak Kec. Pakisaji, Kab Malang. Subyek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli, terdiri dari 3 orang ahli yaitu 2 ahli Sepakbola dan 1 ahli Kepelatihan (2) uji coba kelompok kecil adalah menggunakan 10 orang pemain sepakbola Sekolah Sepakbola Jaguar Kabupaten Malang yang diambil secara random sampling, dan (3) uji coba kelompok besar atau uji coba lapangan yang terdiri dari 21 orang pemain Sekolah Sepakbola jaguar Kabupaten Malang. Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, pengembangan model latihan passing dalam permainan sepakbola pada pemain sepakbola usia 11 tahun di Sekolah Sepakbola Jaguar Kabupaten Malang dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada persatuan sepakbola yang ada di sekitar tempat pengembangan produk, peneliti sendiri dan peneliti lain untuk dikembangkan ke arah lebih lanjut.

Tanggapan siswa kelas XII Jurusan Tata Busana tahun ajaran 2009/2010 terhadap pelaksanaan pendidikan sistem ganda (PSG) di SMK Negeri 1 Panji-Situbondo / Ika Oktaviarti

 

Kata kunci: Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI). Sekolah Menengah Kejuruan merupakan sekolah yang menyiapkan agar lulusan peserta didiknya untuk dapat dan mampu bekerja pada bidang pekerjaan tertentu sesuai dengan jurusannya. Salah satu program SMK yaitu Pendidikan Sistem Ganda (PSG) yang merupakan program bersama antara SMK dengan dunia usaha/dunia industri dimana penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di dua tempat yaitu di sekolah dan di industri. Menurut Kepmendikbud, program penyelenggaraan PSG pada SMK perlu dikembangkan agar tamatan SMK memperoleh kemampuan profesional untuk dapat melaksanakan pekerjaan dalam proses produksi yang menghasilkan barang dan jasa. Program PSG ini diharapkan dapat dikelola bersama-sama antara pihak SMK dengan pihak industri/asosiasi profesi sebagai institusi pasangan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan hingga tahap evaluasi dan sertifikasi. Program PSG menggunakan berbagai bentuk alternatif pelaksanaan seperti day release dan block release, yang dilaksanakan selama antara 4 bulan sampai 12 bulan pada industri dalam dan luar negeri baik itu industri skala kecil, menengah maupun skala besar. Subjek penelitian ini adalah SMK Negeri 1 Panji-Situbondo. SMK Negeri 1 Panji-Situbondo ini merupakan SMK SBI yang telah memiliki lisensi ISO 9001: 2008 yang salah satu tujuannya untuk dapat menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan tenaga kerja. Topik yang dipilih dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Tanggapan Siswa Kelas XII Jurusan Tata Busana Tahun Ajaran 2009/2010 terhadap Pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di SMK Negeri 1 Panji-Situbondo. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan tanggapan siswa kelas XII jurusan tata busana tahun ajaran 2009/2010 terhadap pelaksanaan PSG yang telah dilaksanakan di SMK Negeri 1 Panji-Situbondo. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XII jurusan tata busana tahun 2009/2010 SMK Negeri 1Panji-Situbondo dengan sampel kelas XII yang berjumlah 29 siswa dengan teknik yang dipilih yaitu teknik sampling jenuh. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa persentase untuk variabel pelaksanaan PSG, terdapat 21 responden menyatakan pelaksanaan PSG dilaksanakan sangat baik yaitu sebesar 72,41%, baik dari segi persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini yaitu, 72,41% dari siswa kelas XII Jurusan Tata Busana Tahun Ajaran 2009/2010 menyatakan sangat baik pada pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) di SMK Negeri 1 Panji-Situbondo. Pelaksanaan PSG yang diselenggarakan di SMK Negeri 1 Panji-Situbondo ini telah memberikan banyak manfaat dan sesuai dengan tujuan yang telah diharapkan yaitu menciptakan dan meningkatkan tenaga kerja yang mandiri, ulet dan berkualitas. Sedangkan saran untuk hasil penelitian ini yaitu untuk terus meningkatkan kualitas kompetensi yang telah dimiliki siswa guna peningkatan mutu pendidikan dan bekal menghadapi dunia kerja yang akan datang, hendaknya lebih memperluas jaringan kerja sama terhadap dunia usaha/dunia industri guna terciptanya peningkatan mutu pendidikan, serta dunia industri atau perusahaan diharapkan dapat bekerja sama dengan pihak SMK baik dalam proses pelatihan dan pendidikan guna terciptanya peningkatan mutu pendidikan.

Peningkatan motivasi dan prestasi belajar fisika pokok bahasan kalor melalui penerapan pembelajaran model peoblem based learning (PBL) di kelas VII-G SMP Negeri 10 Malang tahun ajaran 2009/2010 / Ratna Anggraini

 

Kata Kunci : model PBL, motivasi, prestasi Hasil observasi awal yang dilakukan di kelas VII-G SMP Negeri 10 Malang, menunjukkan pembelajaran fisika pada umumnya masih berpusat pada guru dan menggunakan metode ceramah. Motivasi belajar siswa dilihat dari aspek perhatian, lama belajar, usaha, irama perasaan, ekstensi, dan penampilan selama pembelajaran masih rendah. Demikian pula prestasi belajar fisika siswa juga masih rendah. Prestasi belajar siswa yang rendah ditunjukkan dari hasil ulangan siswa pada bab wujud zat, dari hasil ulangan tersebut hanya 8 siswa yang tuntas dari 41 siswa, dengan nilai rata-rata kelas 58,22. Keadaan ini akan dicoba diperbaiki dengan penerapan pembelajaran Model Problem Based Learning (PBL). Model pembelajaran ini diprediksi dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar fisika siswa dengan menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. Ada beberapa tahap pokok dalam pembelajaran Model PBL yaitu: Orientasi pada Masalah, Mengorganisasi Siswa untuk Belajar, Membimbing Penyelidikan Individual dan Kelompok, Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya, Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah. Penelitian di kelas VII-G SMP Negeri 10 Malang pada bulan Maret-April tahun pelajaran 2009/2010, pada materi pokok Kalor. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pada penelitian ini peneliti terlibat langsung dalam seluruh proses penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, pengumpulan data hingga pelaporan data. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi, dan tes tulis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran Model PBL di kelas VII-G telah terlaksana 66,82% pada Siklus I dan 88,89% pada Siklus II. Motivasi belajar siswa level individu selama Siklus I dan Siklus II mengalami peningkatan pada semua aspek, yaitu perhatian adalah 36,58%, pada lama belajar sebesar 35,77%, usaha sebesar 36,58%, irama perasaan sebesar 22,87%, ekstensi 25,60% dan penampilan sebesar 30,49%. Pada level kelas motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan bertambahnya jumlah siswa yang berperilaku positif yang menggambarkan motivasi selama pembelajaran berlangsung seperti yang dihipotesiskan Lampiran II. Sedangkan prestasi belajar siswa level individu mengalami peningkatan sebesar 46,34%, dan pada Siklus II sebesar 19,52%. Prestasi belajar siswa level kelas juga mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan bertambahnya jumlah siswa yang berperilaku positif yang menggambarkan prestasi selama pembelajaran berlangsung seperti yang dihipotesiskan Lampiran II.

Survei tentang tingkat kapasitas oksigen maksimal (VO, Maks) wasit bolabasket Pengcab Perbasi Kabupaten Probolinggo / Ahmad Afandy

 

Kata kunci : bolabasket, wasit bolabasket, VO2 maks. Perkembangan bolabasket masa kini sangat popular dan digemari di seluruh dunia tetapi sekarang bolabasket tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas teknik dan permainan suatu tim bolabasket, tetapi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas wasit sebagai pemimpin pertandingan yang baik. Seorang wasit bolabasket harus mampu menguasai peraturan permainan dan memiliki keterampilan perwasitan yang baik dan mengerti penerapa-nya di lapangan. Wasit bolabasket itu sendiri berdasarkan lisensi yang mereka punya terbagi menjadi lima yaitu C, B2, B1, A, FIBA. Selain harus mampu menguasai peraturan permainan, wasit bolabasket juga harus memiliki kondisi fisik atau kesegaran jasmani yang baik sebagai salah satu sarat untuk dapat mencapai kesuksesan dalam memimpin pertandingan. Komponen kondisi fisik yang penting adalah kesegaran jasmani seorang wasit dalam hal ini adalah tingginya konsumsi oksigen maksimal atau biasanya disebut VO2 maks. Walaupun VO2 maks bukan satu-satunya, namun hal ini nampaknya kurang disadari dan cenderung diabaikan. Penelitian ini ingin mengungkap tingkat VO2 maks wasit bolabasket Pengcab PERBASI Kab. Probolinggo agar dalam memimpin suatu pertandingan tidak ada kendala dan bisa berjalan dengan lancar sampai akhir pertandingan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan subyek 15 wasit. Subyek dalam penelitian ini diambil dari wasit bolabasket Pengcab PERBASI Kab. Probolinggo yang masih aktif dalam kompetisi dicabang sampai nasional, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan tes lari multitahap yang dikonversi pada table prediksi VO2 maks. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan rata-rata VO2 Maks wasit bolabasket Pengcab PERBASI Kab. Probolinggo keseluruhan dalam kondisi sedang dengan rata-rata sebesar 37,7 ml/kg/min. Oleh karena sering terjadi miskomunikasi antar wasit dan keputusan-keputusa yang merugikan salah satu team. Disarankan kepada komisi wasit Pengcab PERBASI Kab. Probolinggo agar mengetahui kesegaran jasmani anak didiknya sebagai kelayakan menjadi seorang wasit bolabasket dan untuk meningkatkan VO2 Maks para wasit sehingga dapat melaksanakan tugas dengan baik dalam memimpin suatu pertandingan.

Upaya lembaga Paud dalam meningkatkan partisipasi orang tua pada pendidikan anak usia dini (Studi parenting di kelompok bermain Restu Malang) / Dian Putri Vindiastuti

 

Keywords: Efforts to institute early childhood, parent participation, child early age, Parenting education Early childhood education institutions as a source of learning is one important component in determining the success of early childhood education programs. Early childhood education institutions play a role in improving the quality of early childhood education and roles in the teaching process to educate parents. Participation of parents to their children's education is to provide basic education, attitudes and basic skills such as religious education, manners, manners, aesthetics, compassion, sense of security, the basics to comply with regulations, and inculcate habits. The purpose of this study were (1) describe the efforts in improving early childhood institutions parent participation in early childhood education (2) describe the level of parent participation in early childhood education. Kind research used is descriptive quantitative. The population in this study sample are 45 people with 45 people is by using total.Instrumen samples used in this study were questionnaire, interview. Techniques used in data analysis (1) X100%,(2) The survey results revealed that efforts are Directed early childhood institutions (Meeting) by 77.5%, the percentage value can be categorized very well, efforts are Undirected early childhood institutions (Publications) by 72.3%, the percentage can be categorized as well. So we can conclude lembga ECD efforts in improving the effective participation of parents is uapaya early childhood institutions that are directed (meetings). Participation of parents in early childhood education is parent participation in providing infrastructure, facilities and learning facilities by 83.1 percentage %, it can be categorized as excellent, motivating participation in learning is by the percentage of 81%, it can be categorized as very kind, participation in the facilitation of learning and playing a score that is the percentage of 78.9%, it can be categorized as very good. So we can conclude that the level of parent participation is most effective is to provide infrastructure, facilities and learning facilities. Based on these data, the findings suggested (1) For Parent, as the primary educator and the first should be more active in the activities held in school (meeting) and give more participation to early childhood education, (2) Institute for Play Group Restu To extend the related activities of parenting education, (3) Out of School Education Programs For results of this study can be used as contribution in the field of development of learning about early childhood education (4) Continue For Researchers who want to develop similar research should be developed with a broader scope of both variables or population, thus can be used as reference for researchers the future.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS) berbasis praktikum untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Brawijaya Smart School tahun ajaran 2009/2010 / Lija Oktya Artanti

 

Kata kunci: model Two Stay Two Stray berbasis praktikum, kemampuan kerja ilmiah, prestasi belajar. Siswa masih terkesan malu-malu ketika akan menyampaikan pendapatnya. Siswa yang belum paham pun hanya terkesan diam dan tidak berani mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum mereka pahami. Hal ini menunjukkan kemampuan kerja ilmiah siswa rendah. Sebanyak 13 siswa dari 25 siswa dalam satu kelas yang mengikuti ulangan, harus mengikuti remidi karena nilainya belum memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah karena keterbatasan alat-alat praktikum. Metode diskusi pernah digunakan, tetapi dalam diskusi kelas, siswa banyak yang pasif, hanya beberapa siswa yang aktif berpresentasi dan menjawab pertanyaan. Upaya mengatasi masalah tersebut, diperlukan dilakukan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa. Model pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray berbasis praktikum. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 26 April sampai 7 Mei 2010. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar Fisika siswa yang diperoleh dari kegiatan praktikum, diskusi, dan tes akhir belajar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X3 SMA Brawjaya Smart School yang terdiri dari 25 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray berbasis praktikum yang dilakukan dalam mata pelajaran Fisika siswa kelas X3 di SMA Brawijaya Smart School dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar Fisika. Kemampuan kerja ilmiah siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 25,72 %. Prestasi belajar mengalami peningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 20 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar Fisika siswa mengalami peningkatan melalui penerapan pembelajaran model Two Stay Two Stray berbasis praktikum.

A comparative analysis of phonetic transcriptions of vowels in the al bhed language in final fantasy X: International Version / Adi Wicaksono

 

Key words: phonetics, phonetic transcriptions, vowels, the Al Bhed language The Al Bhed language is a fictional language used in the 2001’s famous Role Playing Game Final Fantasy X: International Version. Being a second language that is widely used in the gameplay after English, the Al Bhed language possessed unique system of coding and word choices, but lack of official pronunciation guide. This is the reason for the existence of this study: to find the correct phonetic transcriptions of vowels used in the Al Bhed language by comparing the phonetic transcriptions with the list of 12 English vowels stated by Roach (1991: 14-19) and Aitchison (1992: 40). The study employs a Qualitative Comparative Approach. The data of this study are the Al Bhed language audibly-spoken monologues and dialogues in Final Fantasy X: International Version. In collecting the data, the researcher played Final Fantasy X: International Version using PlayStation2 from the beginning until the end and recorded all sessions of dialogues and monologues in the Al Bhed Language throughout the gameplay then chose the clearest and the least noise recordings of each sessions to get the most accurate data, and finally writes the accurate phonetic transcriptions of the recordings. The transcriptions then further compared with the list of 12 English vowels stated by Roach (1991: 14-19) and Aitchison (1992: 40). The result of the study reveals the correct phonetic transcriptions used in the AL Bhed language in Final Fantasy X: International Version. While there are vowels similar to the 12 English vowels list by Roach (1991: 14-19) and Aitchison (1992: 40), there are several vowels that are not listed in the 12 English vowels. The study is basically expected to enrich the knowledge of Linguistics student in analyzing and determining phonetic transcriptions of a language and motivating English students to conduct more research related to languages not only in common subjects like movies and/or books, but also in new subjects such as in video games.

Pengaruh financial leverage, dan struktur modal terhadap return on equity pada perusahaan food and beverages yang go public di BEI (periode pengamatan tahun 2006-2009) / Galuh Yudha Adhi Tama

 

Kata Kunci: Financial Leverage, Struktur Modal dan Return On Equity. Setiap perusahaan pada dasarnya didirikan untuk menghasilkan laba atau profit. Perusahaan dapat terus menjalankan kegiatan operasionalnya dan dapat bertahan dalam ketatnya persaingan, apabila perusahaan tersebut memiliki profitabilitas yang tinggi. Profitabilitas ini dicerminkan dari Return on Equity. Return on Equity menggambarkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan neto. Untuk dapat menghasilkan ROE yang tinggi, dibutuhkan modal, baik modal sendiri maupun modal asing. Rasio DER, TIER, LDER dan EAR bertujuan untuk menghitung komposisi modal yang proporsional sehingga diharapkan mampu meningkatkan ROE perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel financial leverage, dan struktur modal terhadap ROE. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 14 perusahaan yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi Financial Leverage, dan Struktur Modal yang fluktuatif. Secara parsial Time Interest Earned Ratio (TIER) berpengaruh secara signifikan terhadap ROE, sedangkan Debt To Equity Ratio (DER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) dan Equity To Asset Ratio (EAR) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROE. Kemudian dari penelitian ini didapatkan hasil secara simultan Debt To Equity Ratio (DER), Time Interest Earned Ratio (TIER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) dan Equity To Asset Ratio (EAR) berpengaruh secara signifikan terhadap ROE. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi perusahaan untuk perlu menganalisis dan mempertimbangkan ketiga faktor yaitu DER, TIER, LDER dan EAR. Sedangkan Peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan ROE. Selain itu, dapat juga menggunakan sampel perusahaan sektor usaha tertentu dan menambah periode observasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih signifikan. Selanjutnya bagi investor dapat menjadikan ROE sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi khususnya pada perusahaan Food And Beverages. Tama, Galuh Y.A . 2010. The influence of Financial Leverage and Capital Structure to Return To Equity (ROE) in Food and Beverages Companies Which Are Listed Indonesian Stock Exchange ((Observation Year Period from 2006 to 2009). Minithesis, Bachelor degree of Finance Concentration Management, Economy Faculty State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. Agung Winarno, M. M (II) Drs. Mohammad Hari, M. Si. Keyword: Financial Leverage, Capital Structure and Return On Equity Every company basically set up to generate income or profit. The company can continue its operations and can survive in competition, if the company has high profitability. Profitability is reflected from the Return on Equity. Return on Equity illustrates the ability of the capital invested in the total assets to generate net profits. To be able produce a high ROE, the company need capital, either equity or debt. The ratio as DER, TIER, LDER and EAR The purpose of this study are to know the influence of partial and simultaneous financial leverage variable, and capital structure to ROE. The data used are secondary data such as financial statements. Sampling was done by purposive sampling and the resulting 14 companies designated as eligible for the study sample. Analysis of data used are multiple linear regression test. The results of this study indicate the condition of Financial Leverage and Capital structure is volatile. Partially Time Interest Earned Ratio (TIER) significantly affect to ROE, while the Debt To Equity Ratio (DER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) and Asset To Equity Ratio (EAR) did not significantly affect to ROE. Then, from this study, the results of simultaneous Debt To Equity Ratio (DER), Time Interest Earned Ratio (TIER), Long Term Debt To Equity Ratio (LDER) and Asset To Equity Ratio (EAR) significantly affect the ROE. Based on the results, it can be advisable for companies to need to analyze and consider all three factors, DER, Tier, LDER and EAR. While researchers should further add other variables which potentially contribute to changes in ROE. In addition, companies can also use a sample of certain business sectors and increase the period of observation so that it can provide more significant results. Furthermore, investors can make the ROE as a material consideration in decisions to invest in companies, especially the Food And Beverages.

Pengaruh siklus belajar (Learning cycle) model Lawson terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang / Sahesty Andriani

 

Kata kunci: siklus belajar (learning cycle), hasil belajar. Peningkatan hasil belajar dapat dilakukan dengan meningkatan kualitas proses pembelajaran. Salah satu jenis strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar adalah siklus belajar. Pembelajaran menggunakan siklus belajar, terdiri dari 3 fase yaitu: eksplorasi, eksplanasi, dan ekspansi. Pada dasarnya model ini dapat meningkatkan pelaksanaan pendekatan keterampilan proses yaitu aktivitas yang berujung pada meningkatnya keterampilan kognitif siswa yaitu hasil belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh siklus belajar (learning cycle) model Lawson terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment). Subjek penelitian berjumlah 64 orang siswa yang terbagi dalam dua kelas yaitu kelas X5 sebagai kelas eksperimen dan kelas X6 sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes untuk prates dan pascates. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar geografi dengan menggunakan siklus belajar memiliki rata- rata nilai lebih baik dibandingkan dengan tanpa menggunakan siklus belajar. Rata- rata hasil belajar (gain score) siswa pada kelas eksperimen sebesar 36,29 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 24,11. Hasil uji statistik yang diterapkan dalam penelitian ini diperoleh t hitung sebesar 4,385 dengan probabilitas (sig.) yaitu 0,000. Merujuk pada hasil analisis data dan temuan penelitian maka dapat disimpulkan bahwa siklus belajar (learning cycle) model Lawson berpengaruh terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Bertolak dari hasil penelitian dan kesimpulan tersebut, maka dikemukakan saran untuk meningkatkan hasil belajar geografi, guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan siklus belajar. Bagi peneliti lanjutan disarankan mengembangkan model siklus belajar dengan mengujicobakan kombinasi model dan media pembelajaran yang lebih variatif sehingga, tampak pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa dan memperoleh manfaat dari siklus belajar.

Hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja pada guru sekolah dasar di kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang / Anggun Sistyo Winarko

 

Kata Kunci : Dukungan Sosial, Stres Kerja, Guru SD Semua jenis pekerjaan memiliki potensi untuk memunculkan stres kerja pada pegawai atau karyawan tanpa terkecuali guru. Stres kerja dapat terjadi karena kurangnya dukungan sosial. Dukungan sosial adalah sumber daya sosial dalam menghadapi suatu peristiwa yang menekan dan perilaku menolong yang diberikan pada individu yang membutuhkan dukungan. Dukungan yang dirasakan oleh individu dalam kehidupannya membuat ia merasakan arti dicintai, dihargai, dan diakui serta membuat dirinya menjadi lebih berarti dan dapat mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) besarnya dukungan sosial yang di terima oleh guru SD; (2) besarnya stres kerja yang di alami oleh guru SD; (3) hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja pada guru SD di Kecamatan Kunir Kab. Lumajang. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif korelasional. Subyek penelitian adalah 74 guru SD yang berdinas di wilayah Kecamatan Kunir Kab. Lumajang yang diperoleh dengan metode purposive sampling. Untuk menguji instrumen penelitian digunakan uji coba valliditas dan reliabilitas. Teknik analisis menggunakan analisis korelasional Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 72,79% atau 54 guru menerima dukungan sosial pada tingkat sedang dan 82, 43% atau 61 guru mengalami stres pada tingkat yang sedang. Hasil uji linearitas hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja guru menunjukkan nilai F = 42,291 (p = 0,000 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara dukungan sosial dan stres kerja guru adalah linear. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dan stres kerja dengan r = -0,608 ( p < 0,05). Dari hasil penelitian ini disarankan kepada guru SD untuk meningkatkan hubungan sosial dengan lingkungan kerja maupun masyarakat, dengan demikian guru merasa menjadi bagian dari kelompok itu. Bagi kepala sekolah, agar lebih meningkatkan komunikasi dengan guru. Bagi UPT Pendidikan untuk lebih sering melakukan pembekalan managemen stres kepada guru SD. Bagi penelitian selanjutnya untuk lebih mengembangkan instrumen penelitian serta menambahkan variabel lain serta dengan menambahkan metode wawancara.  

Pengaruh diversifikasi produk terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha (Studi pada warga kecamatan Junrojo yang menggunakan sepeda motor merk Yamaha) / Wahyu Widayat

 

Kata kunci: diversifikasi produk dan keputusan pembelian. Strategi pemasaran pada dasarnya adalah rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu di bidang pemasaran yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan. Sepeda motor menempati peran utama dalam sendi kehidupan masyarakat. Riset menunjukkan pasar di Indonesia telah lama diperhitungkan sebagai salah satu pasar terbesar di dunia. Sejak mulai beroperasi tahun 1974 Yamaha telah menghasilkan berbagai macam produk dan telah memproduksi lebih dari 5 juta unit sepeda motor. Peluang Yamaha untuk mendominasi pasar dimasa depan terbentang luas, karena Yamaha mengutamakan kualaitas, kesempurnaan produk, inovasi tanpa henti, termasuk aspek pelayanan pada konsumen. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha mempengaruhi diversifikasi konsentris, diversifikasi horizontal dan diversifikasi sinergis. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif korelasional, penelitian ini berusaha untuk menjelaskan apakah variabel diversifikasi konsentris, diversifikasi horizontal dan diversifikasi sinergis memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha pada warga Kecamatan Junrejo. Populasi dlam penelitian ini adalah seluruh penggunaan sepeda motor merk Yamaha pada warga Kecamatan Junrejo, teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling. Dalam menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus infinite dari Daniel & Terrel dengan hasil sebanyak 78 responden. Dua buah variabel digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel bebas (X) diversifikasi produk yang terdiri dari beberapa sub variabel yaitu; diversifikasi konsentris (X1), diversifikasi horizontal (X2), dan diversifikasi sinergis (X3). Sedangkan variabel terikatnya (Y) yaitu keputusan pembelian konsumen Hasil penelitian melalui proses pengolahan data diperoleh: (1) ada pengaruh yang positif dan signifikan antara diversifikasi konsentris terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha sebesar (Beta) B = 0,164, t hitung 2,642 dan sig F 0,010. (2) ada pengaruh positif dan signifikan antara diversifkasi horizontal terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha sebesar (Beta) B = 0,161, t hitung = 3,033 dan sig t = 0,003. (3) ada pengaruh yang positif dan signifikan antara diversifikasi sinergis terhadap keputusan pembelian sepeda motor merk Yamaha sebesar (Beta) B = 0,766, t hitung = 5,410, ii dan Sig t = 0,00. (4) secara simultan variabel diversifikasi konsentris, diversifikasi horizontal dan diversifikasi sinergis memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian sepeda motor merk Yamaha dengan nilai Adjusted R square = 0,607, dan sig f = 0,00. (5) Variabel diversifikasi sinergis (X3) mempunyai pengaruh yang dominan terhadap keputusan pembelian konsumen karena mempunyai nilai B terbesar yaitu 0,482 dan nilai SE (Sumbangan Efektif) terbesar yaitu 28,30% Saran-saran yang dapat dikemukakan sehubung dengan hasil penelitian yang telah diperoleh adalah (1) Perusahaan perlu melakukan penlitian ulang kembali tentang kelemahan produk-produknya, sehingga perusahaan akan mengetahui keluhan-keluhan dari konsumen dan dapat melakukan perbaikan- perbaikan terhadap produknya (2) Perusahaan diharapkan bekerja lebih baik lagi, yaitu dengan cara mengembangkan atau menambah produk-produk baru yang memiliki strategi atau kaitannya dengan teknologi dalam hal pemasaran (3) Variabel diversifikasi horizontal juga menjadi variabel yang memiliki pengaruh paling kecil. Hal ini perlu perhatian melalui perbaikan-perbaikan pada setiap produk Yamaha, sehingga produk dari Yamaha akan semakin lebih baik lagi. (4) Variabel diversifikasi sinergis juga menjadi variabel yang dominan di antara variabel yang lain. Hal ini harus menjadi perhatian perusahaan untuk dapat memotivasi perusahaan untuk lebih baik lagi, dengan cara selalu mengutamakan kepuasan pelanggan sebagai tujuan dan visi yang melandasi kinerja perusahaan.

Studi tentang hubungan secara statistik antara kemampuan menyusun kalimat Matematika dan kemampuan Komputasi terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri seKecamatan Megaluh Kabupaten Jombang
oleh N. Joko Sulaksono

 

Efektivitas pendekatan perubahan konseptual berbasis teks dengan model core untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas XI SMK kompetensi keahlian kimia analisis pada materi elektrokimia / Inung Setyowati

 

Setyowati, Inung. 2015. Efektivitas Pendekatan Perubahan Konseptual Berbasis Teks Dengan Model CORE Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Kelas XI SMK Kompetensi Keahlian Kimia Analisis Pada Materi Sel Elektrokimia. Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia . Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Rahayu, M.Ed, Ph.D, (II) Dr. Munzil, S.Pd, M.Si. Kata kunci: teks perubahan konseptual, CORE, pemahaman konsep Elektrokimia adalah salah topik yang banyak mengandung konsep. Hal ini menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari topik sel elektrokimia serta rentan menimbulkan kesalahan konsep. Kesalahan konsep dapat terjadi karena strategi pembelajaran dan buku yang digunakan dalam proses belajar. Kesalahan konsep bersifat resisten. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mencegah terjadinya kesalahan konsep. Salah satu upaya tersebut adalah dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan perubahan konseptual berbasis teks dengan model CORE. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pemahaman konsep dan retensi pemahaman konsep antara siswa yang diajar menggunakan pendekatan perubahan konseptual berbasis teks dengan model CORE dan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional pada materi sel elektrokimia. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experimental design) model pretest-postest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Negeri 7 Malang Kompetensi Keahlian Kimia Analisis tahun ajaran 2014/2015. Pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan teknik Cluster random sampling. Dari tiga kelas yang ada, dipilih secara acak dua kelas yang masing-masing untuk dijadikan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol terdiri dari 28 siswa diajar dengan pembelajaran konvensional, sedangkan kelas eksperimen yang terdiri dari 27 siswa diajar dengan pendekatan perubahan konseptual berbasis teks dengan model CORE. Pemahaman konsep siswa diidentifikasi menggunakan Tes Pemahaman Konsep Elektrokimia (TPKE). TPKE yang digunakan berupa instrumen tes two tier elektrokimia. TPKE memiliki koefisien reliabilitas tes yang dihitung dengan rumus Kuder Richardson-21, sebesar 0,86. Keefektifan pendekatan perubahan konseptual berbasis teks dengan model CORE dianalisis menggunakan uji ANCOVA. Hasil-hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Ada perbedaan yang signifikan antara pemahaman konsep siswa yang diajar menggunakan pendekatan perubahan konseptual berbasis teks dengan model CORE dan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional pada materi sel elektrokimia; (2) Ada perbedaan yang signifikan retensi pemahaman konsep antara siswa yang diajar menggunakan pendekatan perubahan konseptual berbasis teks dengan model CORE dan siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional pada materi sel elektrokimia.

Penerapan pembelajaran kooperatif group investigation (GI) untuk meningkatkan ketrampilan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto / Vivin Mufidatu Zuroida

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, group investigation, keterampilan proses, hasil belajar biologi. Observasi awal yang dilakukan pada bulan januari menunjukkan bahwa pembelajaran Biologi di kelas VII-C SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto ada beberapa masalah antara lain: (1) Siswa ramai dan berbicara dengan temannya ketika pembelajaran berlangsung, (2) Siswa kurang memperhatikan guru pada saat mengajar, (3) Sebagian siswa bercanda dengan temannya dan tidak menghiraukan penyampaian materi yang disampaikan oleh guru di depan kelas. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Biologi dalam belajar biologi kinerja siswa dalam melakukan pengamatan dengan ikut mengalami secara langsung masih kurang. Siswa lebih sering belajar di dalam kelas mengerjakan LKS, sehingga hasil belajar siswa kurang baik. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diterapkan Pembelajaran Kooperatif Group Investigation (GI) dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas VII-C SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII-C semester genap tahun ajaran 2009-2010 SMP Negeri 2 Gedeg Mojokerto yang berjumlah 30 orang. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada awal April sampai akhir Mei 2010. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi kegiatan guru, catatan lapangan, lembar observasi keterampilan proses, dan soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI) dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar Biologi siswa. Keterampilan proses belajar siswa meningkat sebesar 16% yaitu dari 57,8% pada siklus I menjadi 73,8% pada siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, terlihat dari nilai rata-rata siswa sebesar 74,2% pada siklus I menjadi 82,6% pada siklus II dan siswa yang tuntas belajar juga mengalami peningkatan dari 83,3% pada siklus I menjadi 93,3 % pada siklus II. Berdasarkan penelitian tersebut sebaiknya guru Biologi menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dalam kegiatan pembelajaran agar keterampilan proses dan hasil belajar siswa meningkat. Salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif Group Investigation (GI), sehingga pembelajaran ini disarankan untuk diterapkan.

Adolf Hitler dan Naziisme di Jerman / oleh Edy Farkhan

 

Isolasi dan identifikasi senyawa golongan flavonoid dari daun beluntas (Pluchea Indica L.) serta uji aktivitas antibakteri / Vincentius Johar W.P.

 

Johar, Vincentius. 2014. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Golongan Flavonoid dari Daun Beluntas (Pluchea indica L.) Serta Uji Aktivitas Antibakteri. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Aman Santosa, M.Si., (II) Dedek Sukarianingsih, M.Pd.,M.Si. Kata kunci: antibakteri, beluntas , flavonoid, kromatografi, isolasi.     Penelitian mengenai kandungan flavonoid dan potensi daun beluntas sebagai antibakteri telah banyak dilakukan. Kajian lebih lanjut tentang kespesifikan flavonoid yang terkandung dalam komponen polar daun beluntas dan uji aktivitas antibakteri dari komponen polar ekstrak daun beluntas tersebut belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi senyawa golongan flavonoid ekstrak metanol dalam daun beluntas (Pluchea indica L.) dan uji aktivitasnya sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengisolasi senyawa golongan flavonoid dalam ekstrak daun beluntas dengan pelarut metanol; 2) Mengidentifikasi senyawa golongan flavonoid dari ekstrak daun beluntas; 3) Mengetahui aktivitas antibakteri dari fraksi polar ekstrak daun beluntas.     Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang bertujuan untuk memperoleh senyawa golongan flavonoid dari ekstrak daun beluntas dan uji aktivitas antibakteri. Penelitian ini terdiri atas beberapa tahapan meliputi: 1) Proses ekstraksi, dan isolasi senyawa flavonoid; 2) Karakterisasi dan identifikasi zat yang dihasilkan, meliputi analisis sifat fisik, uji flavonoid, analisis secara spektrofotometri UV-Vis (Ultraviolet-Visible), dan analisis secara spektrofotometri IR (Infrared); 3) Uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Isolasi senyawa golongan flavonoid terhadap ekstrak metanol dari daun beluntas memperoleh 2 fraksi yang positif flavonoid berupa zat padat berwarna kuning kecoklatan larut sempurna dalam pelarut polar, menghasilkan warna merah jambu pada penambahan serbuk Mg dan HCl, serta warna jingga pada penambahan 2 tetes NaOH 10%; 2) Kedua zat isolat ini termasuk dalam golongan flavonoid dengan karakter mempunyai dua panjang gelombang maksimum yang berada pada rentang antara 240-285 nm dan 330-550 nm dan gugus fungsi -O-H fenolik, -C=O- karbonil dan -C-H- aromatic; 3) Uji aktivitas antibakteri dengan metode peredaman Kirby Baeur terhadap zat isolat berpotensi sebagai antibakteri.

Hubungan antara persepsi terhadap gaya kepimpinan dan kinerja profesional melalui disiplin kerja guru SDN se-Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk / Intan Fitri Anna

 

Kata Kunci : persepsi gaya kepemimpinan, disiplin kerja, kinerja profesional Arahan dan koordinasi yang dilakukan kepala sekolah melalui gaya kepemimpinan, akan dipersepsi yang berbeda-beda antara guru satu dengan guru yang lain. Persepsi gaya kepemimpinan kepala sekolah merupakan suatu upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam rangka merangsang dan mendorong guru untuk aktif dan kreatif dalam menjalankan tugasnya. Keberhasilan guru itu tidak lepas dari keberhasilan proses manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah, yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan fungsi sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) tingkat persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan sekolah, (2) tingkat disiplin kerja guru, (3) tingkat kinerja profesional, (4) ada tidaknya hubungan langsung antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dengan disiplin kerja, (5) ada tidaknya hubungan langsung antara disiplin kerja dengan kinerja profesional, (6) ada tidaknya hubungan langsung antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dengan kinerja profesional dan (7) ada tidaknya hubungan tidak langsung antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dan kinerja profesional melalui disiplin kerja guru SD Negeri Se-Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan korelasional dengan populasi tersebar di seluruh SDN Se-Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk yang terbagi atas 7 gugus. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling dengan sampel sebanyak 72 guru yang mewakili 7 gugus sekolah dasar negeri. Data persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan (koefisien validitas item antara 0,63 sampai 0,89 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,98). Data disiplin kerja guru dikumpulkan menggunakan kuesioner disiplin kerja guru (koefisien validitas item antara 0,50 sampai 0,88 dan koefisien reliabilitas 0,95). Data kinerja profesional guru dikumpulkan menggunakan kuesioner kinerja profesional guru (koefisien validitas item antara 0,61 sampai 0,91 dan koefisien reliabilitas 0,95) Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi terhadap gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas lebih dominan daripada manusia sebanyak 49 orang (68.06%), (2) sebagian besar guru memiliki disiplin kerja pada tingkat tinggi, (3) sebagian besar guru memiliki kinerja profesional pada tingkat sedang, (4) terdapat hubungan langsung yang signifikan, baik secara simultan ataupun secara parsial antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan kepala ii sekolah yang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada manusia dengan disiplin kerja guru profesional guru, (5) terdapat hubungan langsung yang signifikan antara disiplin kerja guru dengan kinerja profesional guru, (6) tidak terdapat hubungan langsung yang signifikan, baik secara parsial maupun secara simultan antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dengan kinerja profesional guru, (7) terdapat hubungan tidak langsung yang signifikan, baik secara parsial maupun secara simultan antara persepsi guru terhadap gaya kepemimpinan dan kinerja profesional melalui disiplin kerja guru SD Negeri Se- Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada : (1) kepala sekolah disarankan agar mempergunakan kemampuannya untuk menerapkan gaya kepemimpinan demi meningkatkan kedisiplinan guru. Selain meningkatkan kedisiplinan guru, gaya kepeimpinan yang diterapkan akan dapat meningkatkan kinerja profesional guru. Namun, tidak semua gaya kepemimpinan memberikan pengaruh yang sama. Dalam penelitian ini, gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap kedisiplinan guru dari pada gaya kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Untuk itu disarankan kepada kepala sekolah agar menerapkan gaya kepemimpinan yang lebih berorientasi pada tugas dari pada lebih berorientasi pada manusia, (2) Bagi guru, disarankan agar meningkatkan kedisiplinan kerja agar dapat meningkatkan kinerja profesionalnya. Hal ini menjadikan saran karena hasil penelitian telah membuktikan bahwa kinerja profesional memiliki hubungan yang signifikan dengan kedisiplinan kerja guru, dan (3) Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, disarankan agar memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai tambahan kajian pustaka matakuliah Kepemimpinan Jurusan Administrasi Pendidikan, (4) bagi peneliti lanjutan agar melakukan penelitian secara berkesinambungan yang lebih komprehensif tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan kinerja profesional guru, gaya kepemimpinan dan kedisiplinan kerja guru. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah instrumen yang digunakan, misalnya dengan wawancara (untuk penelitian kualitatif) dan menambah butir instrumen sehingga hasil penelitian akan lebih sempurna. Selain itu, disarankan agar menambah populasi penelitian, misalnya guru sekolah menengah pertama dan guru sekolah menengah atas dalam satu wilayah propinsi sebagai tempat penelitian.

Studi pemahaman konsep materi dan perubahannya pada siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu / Ferry Budi Prasetya

 

Kata kunci: pemahaman konsep, materi dan perubahannya, makroskopik, Mikroskopik Kimia adalah salah satu bidang ilmu eksakta yang termuat di dalam KTSP SMA yang secara simultan dan terintegrasi mengkaji berbagai fenomena alam, seperti susunan (komposisi), struktur, sifat, perubahan materi yang melibatkan reaksi-reaksi kimia serta energi yang menyertainya. Kajian-kajian kimia tersebut umumnya terdiri atas konsep-konsep yang berjenjang dan berkaitan dengan konsep lainnya, sehingga untuk memahami konsep yang kompleks perlu pemahaman yang benar dan tepat terhadap konsep-konsep sederhana yang mendasarinya. Konsep-konsep ilmu kimia mayoritas juga bersifat abstrak yang memiliki skala mikroskopik dan sulit untuk diinderakan serta melibatkan perhitungan matematika. Oleh karena itu, dimungkinkan siswa mengalami hambatan dalam mempelajari kimia. Ketidakmampuan siswa dalam memahami konsep-konsep kimia akan mengakibatkan masalah yang luas dalam mempelajari konsep-konsep ilmu kimia secara umum serta dapat menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan konseptual siswa dengan keterampilannya dalam memecahkan soal. Salah satu konsep penting dalam kimia dan memerlukan pemahaman pada tingkat makroskopik dan mikroskopik dengan baik adalah materi dan perubahannya. SMA Negeri 1 Batu merupakan tempat peneliti melakukan penelitian. SMA tersebut merupakan salah satu sekolah berstatus RSBI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya; (2) hubungan antara pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya untuk tingkat makroskopik dan mikroskopik; dan (3) kesalahan-kesalahan konsep yang dialami siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu tahun ajaran 2010/2011. Instrumen yang digunakan berupa multiple-choice two-tier sebanyak 24 butir soal. Berdasarkan hasil validasi isi dan uji coba, instrumen tersebut memiliki validitas sebesar 94,44% dan reliabilitas tes sebesar 0,711 yang dihitung menggunakan SPSS 16 for Windows. Data penelitian berupa persentase pemahaman dan kesalahan-kesalahan konsep siswa pada konsep materi dan perubahannya yang diperoleh melalui analisis data perbandingan jumlah siswa yang menjawab benar dengan jumlah siswa secara keseluruhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya tergolong sedang (54,02%); (2) pemahaman siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu pada konsep materi dan perubahannya untuk tingkat makroskopik (55,28%) ii lebih baik daripada tingkat mikroskopik (49,31%); dan (3) kesalahan-kesalahan konsep yang dialami siswa kelas XII IPA 1 dan IPA 4 SMA Negeri 1 Batu, yaitu partikel padatan (paku) berwarna hitam, keras, dan tidak bergerak (5,00%), partikel air berwarna putih dan bersifat lentur sehingga dapat bergerak (6,67%), partikel gas dalam balon bukan termasuk materi karena tidak berwarna dan tidak terlihat (5,00%), senyawa berasal dari gabungan atom-atom yang berbeda tanpa terjadi interaksi kimia diantara atom-atomnya (1,67%), partikel kamper mengecil (36,67%) dan menghilang ke udara (3,33%) saat terjadi proses penyubliman, partikel air menghilang ke udara (10,00%) dan mengecil (18,33%) dalam peristiwa penguapan, partikel es terselubung oleh lapisan tertentu (3,33%) dan mengecil saat es mencair (10,00%), gelembung-gelembung yang dihasilkan pada proses penguraian air adalah uap air (26,67%), siswa menganggap hanya terjadi perubahan warna (5,00%) pada perkaratan besi dan tidak terbentuk zat baru karena memiliki wujud yang tetap, yaitu padatan (13,33%).

Penerapan model pembelajaran learning cycle 5 fase berbantuan LKS terstriktur untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang / Rika Retnaning

 

Kata kunci: Learning Cycle 5 fase, LKS terstruktur, prestasi belajar siswa Siswa kelas XB2 SMA Negeri 2 Malang masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika. Salah satu penyebabnya adalah karena pembelajaran matematika cenderung berorientasi pada guru. Padahal seharusnya dalam proses pembelajaran guru hanya berperan sebagai fasilitator saja sedangkan siswa berperan sebagai pebelajar aktif yang membangun pengetahuannya sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut, pelaksanaan proses pembelajaran matematika diharapkan menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Salah satu model pembelajaran tersebut adalah Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur. Penggunaan LKS terstruktur dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada siswa untuk menemukan konsep berdasarkan pemahamannya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas X SMAN 2 Malang pada materi trigonometri yaitu aturan kosinus dan luas segitiga. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMA Negeri 2 Malang dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas X B2 semester genap tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2010 dalam 2 tahap, yaitu (1) tahap pra tindakan dan (2) tahap tindakan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XB2 SMAN 2 Malang. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaran Learning Cycle 5 fase berbantuan LKS terstruktur yang dapat meningkatkan prestsi belajar siswa kelas X SMAN 2 Malang adalah: (a) engagement, yaitu siswa diberikan masalah awal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang mendorong siswa untuk mengungkapkan pengetahuan awal yang mereka miliki; (b) exploration, yaitu siswa bekerja dalam kelompok menyelesaikan masalah yang ada pada LKS terstruktur dan diberi arahan seperlunya untuk membantu siswa berpikir aktif menyelesaikan masalah yang ada pada LKS; (c) explanation, yaitu siswa melakukan presentasi di depan kelas, memberikan tanggapan atau pertanyaan saat presentasi dan di akhir presentasi peneliti bersama siswa membuat kesimpulan; (d) elaboration, yaitu siswa mengerjakan latihan soal pada LKS terstruktur mulai dari soal yang mudah hingga soal yang sulit untuk menerapkan konsep yang telah diperoleh; (e) evaluation, yaitu siswa diberikan tugas, kuis atau tanya jawab untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah diperoleh. i Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang mencapai nilai KKM yaitu nilai 75 yang terus meningkat (pada tes awal adalah 65,78% pada tindakan I adalah 78,94% pada tindakan II adalah 94,73%). Hal tersebut diperkuat dengan hasil observasi aktivitas siswa masuk dalam kategori “baik” pada tindakan I dan “sangat baik” pada tindakan II dan hasil observasi aktivitas guru masuk dalam kategori “sangat baik” pada tindakan I dan II.

Penerapan sulam pita pada busana pesta berbahan denim / Tiwi Rimah Wati

 

Kata Kunci: Busana Pesta, Denim, Penerapan Sulam pita. Busana merupakan komponen penting yang tidak bisa ditinggalkan, tetapi fungsi dari busana adalah untuk Memenuhi kebutuhan kesusilaan, memenuhi kebutuhan kesehatan, memberi rasa nyaman, memberi rasa percaya diri, dan memenuhi kebutuhan keindahan yang artinya busana dapat membuat diri seseorang kelihatan indah, karena dapat menutupi bagian-bagian badan yang kurang ideal. Mode busana sangat beragam dan senantiasa berubah serta berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Diantara salah satu mode busana yang banyak mendapat perhatian khusus adalah busana pesta. Busana pesta ini menggunakan model two pieces, yaitu terdiri dari bustier dan rok pias 8 dan menerapkanan hiasan sulam pita dan penerapan warna kontras (warna ungu, orange, kuning, dan hijau) pada busana pesta berbahan denim membuat busana terkesan lebih feminim, unik, dan romantik. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah Menjelaskan tentang busana pesta berbahan denim dengan penerapan sulam pita. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah Sebagai bahan informasi bagi masyarakat tentang pembuatan busana pesta dengan hiasan sulam pita dan menambah pengetahuan tentang penerapan sulam pita pada busanapesta berbahan denim. Pada pembuatan busana pesta ini terdapat 4 proses, yaitu proses desain, proses pewarnaan kain, proses menjahit, dan proses penyulaman pita. Biaya yang dikeluarkan pada pembuatan busana pesta ini adalah Rp. 763.950.00 Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa busana two pieces, yaitu bustier dengan kerah dan rok pias 8. Bagian dalam menggunakan furing silky pada bagian bustier, kerah, dan rok. Aksesoris dan millinaries yang digunakan adalah anting dan sepatu (terbuat dari bahan utama). Saran yang dapat diberikan adalah Penerapan hiasan sulam pita pada bagian rok bagian bawah sebaiknya diperbanyak/lebih padat, sehingga busana pesta terkesan lebih feminim dan romantik dengan hiasan sulam pita yang padat dan Proses penyulaman dilakukan terlebih dahulu (sebelum pemasangan furing).

Peningkatan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada anak kelompok A di TK Qurrota A'yun Malang dengan media wayang / Ruly Dwi Anjarsari

 

Kata Kunci : Menceritakan pengalaman secara sederhana, media wayang, PAUD media wayang Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada kelompok A di TK Qurrota A’Yun. Guru belum memberikan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana, disamping itu keberanian bercerita di depan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita serta imajinasi anak dalam bercerita juga relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan bercerita dengan media wayang dalam pengembangan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada anak kelompok A di Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang serta mendiskripsikan peningkatan kemampuan menceritakan pengalaman swcara swderhana pada anak kelompok A di Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang yang di tandai dengan keberanian anak bercerita di depan kelas, kelancaran bahasa anak dalam bercerita serta kemampuan anak berimajinasi dalam bercerita. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian kelas (PTK) dengan model kolaborasi peneliti melakukan kolaborasi dengan ibu Marghfirlana Silmi, guru kelompok A Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang, mulai dari tahap proses identifikasi masalah,perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan menceritakan pengalaman secara sederhana dengan media wayang dapat meningkatkan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana pada anak kelompok A di Taman Kanak-Kanak Qurrota A’Yun Malang. Penelitian berlangsung 2 (2) siklus dengan menggunakan observasi. Proses peningkatan kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana dikatakan meningkat apabila prosentase mencapai 75% ata lebih dan dikatakan berhasl jika hasil siklus 2 lebi baik dari siklus sebelumnya. Keberhasilan penelitian ini ditandai dengan: (1) Anak berani bercerita di depan kelas; (2) Anak lancar dalam bercerita dan;(3) Anak mampu berimajinasi dalam bercerita. Berdasarkan penelitian ini, dapat di simpulkan bahwa menceritakan pengalaman secara sederhana dengan media wayang dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menceritakan pengalaman secara sederhana. Hal ini di buktikan dengan prosentase rata-rata mencapai 82% pada siklus 2.

Penciptaan karya tari dhodhog yang bersumber dari reyog Tulungagung sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat / Roosita Dewi Suriasih

 

Kata kunci: Reyog Tulungagung, Variasi Gerak, Penciptaan Karya Tari “Dhodhog” Reyog Tulungagung merupakan tarian arakan-arakan yang dipersembahkan kepada raja. Gerakan tari dilakukan bersama-sama dengan memainkan alat musik yang disebut kendang dhodhog. Reyog Tulungagung memiliki keunikan tersendiri karena selain melakukan gerakan yang sederhana, penari juga memainkan alat musik berupa kendang dhodhog. Karena menari sambil bermain musik, maka konsekuensi gerak tarinya sangat terbatas pada gerakan kepala dan kaki. Oleh karena itu gerak tari Reyog Tulungagung sangat terbatas. Kesederhanaan gerak yang terdapat dalam Reyog Tulungagung berpotensi untuk disajikan dalam bentuk gerak-gerak yang lebih variatif dan menarik. Dalam pembuatan karya tari “Dhodhog”, gerakan dan properti Reyog Tulungagung menjadi sumber utama. Gerak dalam karya tari dhodhog merupakan pengembangan dari Reyog Tulungagung. Penari menggunakan kendhang dhodhog sebagai properti , sehingga penguasaan alat atau teknik membawa dan menabuh kendang dhodhog harus benar dan terampil. Gerak dalam tari ini banyak mengeksplorasi gerak tangan yang membawa kendang dhodhog, gerak tangan yang tidak membawa kendang dhodhog, gerak kaki, dan kepala. Kata Dhodhog mengambil dari properti yang digunakan, yaitu kendang dhodhog. Namun, disini kendang bukan hanya sebagai properti pelengkap, tetapi dalam koreografinya juga mempunyai makna khusus. Kendang dhodhog dalam tarian ini melambangkan suatu tanggung jawab seniman yang ikut melestarikan kesenian tradisi Reyog Tulungagung. Koreografi Dhodhog menceritakan tentang sekelompok seniman tradisi yang sangat mencintai kesenian tradisinya. Dimana secara bersama mereka berusaha mempertahankan hidup dengan kesenian yang mereka miliki ditengah-tengah terjangan kontradiksi yang beredar di masyarakat. Namun ketika kecintaan tersebut dihadapkan pada masalah ekonomi (tanggapan dengan hasil minim) yang harus mereka hadapi, mulai munculah sebuah pemikiran untuk meninggalkan keseniannya. Namun dengan keteguhan hatinya, dia memilih untuk mempertahankan kesenian daerah bersama teman-temannya yang lain meskipun hasil yang ia dapatkan kurang dari cukup untuk menghidupi keluarganya Sumber iringan dalam tari Dhodhog adalah musik Reyog Tulungagung yang didasarkan pada musik yang dapat memberikan dinamika sehingga merangsang timbulnya suatu ide gerak. Musik dalam tari ini memberikan nuansa bunyi yang dinamis, sehingga mampu memberiakan sesuatu yang artistik. Selain itu, musik dalam tarian ini juga ditujukan untuk memberikan motivasi pada penari untuk dapat mengungkapkan rasa melalui gerak yang natural. ii Penentuan busana tari Dhodhog menggunakan pendekatan cerita atau tema. Tata busana didesain dengan pengembangan dari konsep tradisi, namun tidak kaku dan tetap komunikatif. Konsep warna pada busana mengambil tiga warna utama, yaitu merah, hitam dan emas. Ketiga warna tersebut memiliki maksud dan makna tersendiri. Tata rias pada tarian ini menggunakan teknik rias yang mengacu pada penataan rias tradisi Tulungagung, dengan beberapa inovasi dan pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan penggarapan koreografi. Tujuannya agar komunikatif dengan penonton. Dalam koreografi ini, mode penyajian yang digunakan adalah simbolis representasional, karena sajian tari yang digunakan dalam garapan ini adalah penggabungan dari mode penyajian secara abstrak atau simbolis dan representatif.

Meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPA kelas V SDN Bandulan I dengan pendekatan STM / Bambang Tri Kuntoyo

 

Kata Kunci : Hasil belajar, Pembelajaran IPA, Pendekatan STM Pembelajaran IPA di SD dapat dilaksanakan secara aktif, kreaktif, efektif dan menyenangkan dengan memanfaatkan sarana atau sumber belajar yang ada di lingkungan sekolah atau anak, serta didukung kemampuan guru untuk menciptakan dan menggunakan alat peraga yang ada dilingkungan sekitar. Pembelajaran di SD yang menggunakan metode imposisi dan tidak dimanfaatkan- nya lingkungan serta masyarakat sekitar secara optimal untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, termasuk di SD Negeri Bandulan I. Karenanya dilakukan Penelitian Tindakan Kelas melalui kolaborasi dengan guru dan kepala sekolah. Tujuan menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat yaitu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Pendekatan sains teknologi masyarakat dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu meningkatnya hasil belajar siswa dalam menyelesai- kan soal IPA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan rancangan PTK yang terdiri dari tiga siklus, masing-masing siklus meliputi langkah: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dari penelitian ini adalah siswa dan guru kelas V SDN Bandulan I Kec. Sukun Kota Malang . Waktu semester II tahun pelajaran 2009 / 2010. Pengumpulan data dengan observasi langsung selama tin- dakan dan hasil tes kemampuan siswa. Hasilnya: (1) Untuk pembelajaran IPA kelas V model pendekatan STM sangat cocok sesuai dengan KTSP (2) Pengguna- an lingkungan dan masyarakat sebagai media dapat meningkatkan mutivasi belajar siswa.(3) Perbaikan pembelajaran IPA kelas V SD dapat dilakukan melalui PTK sehingga proses pembelajaran maupun hasilnya dapat lebih meningkat dan bermutu. (4) Kendalanya adalah keterbatasan waktu, media, serta kemampuan guru dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan sains teknologi masyarakat dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Bandulan I Kota Malang dalam pelajaran IPA. Disarankan agar guru IPA kelas V SD dapat menggunakan pendekatan STM dalam pembelajaran IPA.

Pengaruh program sertifikasi terhadap kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare / Devi Dyah Kusumawardhani

 

Kata kunci : Program Serifikasi Guru, Kinerja Guru Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang berarti tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, maka prospek guru di masa mendatang sebagai guru yang profesional, sejahtera dan terlindungi akan terwujud. Pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui uji sertifikasi (UUGD No. 14 Tahun 2005 pasal 2 dan 3). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan : 1)bagaimana kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare ; 2) pengaruh antara program sertifikasi guru terhadap kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare. Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksplananasi dengan pendekatan kuantitatif. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linear sederhana. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 35 orang. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuesioner atau angket dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sertifikasi guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru yang telah tersertifikasi di SMA Negeri 2 Pare. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai koefisien beta bernilai positif yaitu sebesar 0.892, sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Berhubung nilai R square yaitu sebesar 0,795 atau 79,5%, artinya bahwa variabel kinerja guru (Y) dipengaruhi oleh program sertifikasi guru (X) sebesar 79,5% dan sisanya 20,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan mengacu pada hasil temuan yang menyatakan bahwa program sertifikasi guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru maka hendaknya semua guru tetap menjaga dan harus meningkatkan kompetensi profesionalitas guna terciptanya peningkatan terhadap mutu pendidikan. Selain itu Kepala Sekolah hendaknya selalu melakukan pengawasan kepada guru yang telah tersertifikasi agar keprofesionalitasnya/kinerjanya terus meningkat.

Studi tentang keaktifan belajar siswa kelas akselerasi di SMAN 1 Malang / Manila Jayanti

 

Kata Kunci: Keaktifan belajar, kelas akselerasi. Program akselerasi merupakan program pendidikan yang ditujukan bagi siswa-siswa yang memiliki bakat istimewa, memiliki kemampuan intelegensi di atas rata-rata, memiliki kreatifitas dan keterikatan terhadap tugas dalam menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar mereka. Siswa akselerasi dituntut untuk selalu aktif dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan di luar pembelajaran agar dapat berkompetisi dengan siswa-siswa yang lain di kelas akselerasi. Keaktifan belajar siswa kelas akselerasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran maupun kegiatan di luar pembelajaran sangat tinggi karena ada banyak faktor yang mempengaruhi keaktifan siswa akselerasi tersebut. Hal ini mendorong peneliti melakukan penelitian mengenai keaktifan belajar siswa kelas akselerasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang jelas dan rinci mengenai: (1) jenis-jenis keaktifan belajar siswa kelas akselerasi, (2) pemaknaan siswa kelas akselerasi terhadap keaktifan belajar, (3) faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa kelas akselerasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan ancangan studi kasus. Subyek penelitian adalah siswa akselerasi kelas XI. Teknik pengumpulan data menggunakan: (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) studi dokumentasi. Data yang diperoleh diorganisasikan, ditafsirkan, dan dianalisis guna menyusun dan mengabstraksikan temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) ketekunan pengamatan, dan (3) teknik triangulasi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis keaktifan belajar siswa kelas akselerasi di SMAN 1 Malang meliputi keaktifan akademik yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran, keaktifan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan kegiatan ekskul, olimpiade dan organisasi, serta keaktifan sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial. Adapun keaktifan belajar menurut siswa akselerasi diartikan sebagai suatu kegiatan keikutsertaan ataupun partisipasi siswa yang diikuti dengan pemikiran yang baik. Beberapa siswa akselerasi memaknai keaktifan belajar sebagai kegiatan yang tidak hanya bertumpu pada kegiatan pembelajaran di kelas saja namun keaktifan juga bisa dilakukan di luar kegiatan pembelajaran untuk mencapai hasil yang baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa akselerasi meliputi faktor motivasi terdiri dari motivasi yang berasal dari dalam dan diri siswa, faktor nilai yang mendukung prestasi siswa, faktor kesiapan dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, penghargaan sosial terhadap siswa, pengetahuan dan cita-cita yang ingin dicapai siswa, serta kesehatan fisik siswa. Berdasarkan temuan-temuan penelitian, disarankan bagi jurusan Bimbingan dan Konseling untuk memberikan bekal kepada mahasiswa sebagai calon konselor berupa pengetahuan mengenai anak berbakat, sehingga mahasiswa Bimbingan dan Konseling dapat menerapkannya dalam dunia kerja guna memberikan layanan bimbingan yang tepat bagi siswa berbakat. Dan bagi konselor dapat melakukan pengamatan secara lebih intensif pada keaktifan siswa kelas akselerasi baik pada kegiatan pembelajaran maupun kegiatan di luar pelajaran serta memonitor keaktifan siswa kelas akselerasi pada kegiatan di luar pembelajaran sehingga siswa akselerasi mampu berkembang secara optimal tentunya dengan tetap menjaga keseimbangan dan keserasian dalam perkembangan intelektual, emosional, dan sosial siswa akselerasi.

Pengaruh penerapan strategi think pair share dalam pembelajaran problem posing (PP-TPS) terhadap prestasi belajar, kemampuan problem posing, dan motivasi belajar siswa kelas XI IPA SMAN 1 Probolinggo pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan tahun ajaran 2009

 

Kata Kunci: Problem Posing-Think Pair Share (PP-TPS), motivasi belajar, prestasi belajar kimia Pembelajaran yang dilakukan di sekolah disarankan menggunakan pembelajaran yang konstruktivistik. Untuk itu diperlukan berbagai strategi dan pendekatan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu strategi yang digunakan adalah strategi Think Pair Share dalam pembelajaran Problem Posing (PP-TPS). Strategi PP-TPS merupakan gabungan dari strategi Problem Posing (pengajuan masalah) dan Think Pair Share (berpikir-berpasangan-bertukar pendapat). Variasi pembelajaran dengan menggunakan strategi PP-TPS diharapkan dapat membantu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi Think Pair Share dalam pembelajaran Problem Posing terhadap prestasi belajar, motivasi belajar, dan kemampun Problem posing siswa pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) dan rancangan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Probolinggo tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah empat kelas yaitu kelas XI-IPA 1 sampai dengan XI- IPA 4 sedangkan sampel penelitian ini adalah kelas XI IPA 3 (kelas kontrol) dan kelas XI IPA 4 (kelas eksperimen). Kelas eksperimen yang berjumlah 32 siswa dibelajarkan dengan strategi Problem Posing-Think Pair Share (PP-TPS) dan kelas kontrol yang berjumlah 33 siswa dengan pembelajaran Problem Posing (PP). Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen pembelajaran dan instrumen pengukuran. Sesuai tujuan penelitian, analisis data prestasi belajar kognitif dilakukan dengan Uji t dua ekor pada taraf signifikansi 0,05. Data kemampuan problem posing, dan motivasi dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan PP-TPS (84,41) lebih tinggi daripada siswa yang dibelajarkan dengan PP (61,30). Prestasi belajar siswa kelompok atas yang dibelajarkan dengan PP-TPS (84,13) lebih tinggi daripada kelompok atas yang dibelajarkan dengan strategi PP (67,47), begitu juga dengan kelompok bawah yang dibelajarkan dengan strategi PP-TPS (84,69) lebih tinggi dari pada kelompok bawah yang dibelajarkan dengan srategi PP. Kemampuan problem posing dan motivas belajar siswa yang dibelajarkan dengan strategi PP-TPS terbukti lebih baik dari pada siswa yang dibelajarkan dengan strategi PP.

Rancang bangun pertanahan saluran udara tegangan rendah pada gardu trafo tiang 20 KV / Irwan Apriyanto

 

Kata kunci: ohm, elektroda, triangle, tahanan pentanahan. Penyaluran tenaga listrik di Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang akan membangun Gardu Trafo Tiang 20 kV yang rencananya sebagai Laboratorium Sistem Tenaga Listrik dan sebagai penyuplai listrik pada gedung G2 sampai G6. Mengantisipasi ketidakstabilan dan kontinyuitas tenaga listrik pada Gardu Trafo Tiang (GTT), salah satunya dilakukan dengan cara sistem pentanahan saluran udara tegangan rendah. Pengetanahan ini meliputi pentanahan peralatan yang pada kerja normal tidak dilalui arus. Bilamana terjadi hubung singkat suatu penghantar dengan suatu peralatan, maka akan terjadi beda potensial (tegangan) dan bila seseorang berdiri ditanah dan memegang peralatan yang bertegangan, maka akan ada arus yang mengalir melalui tubuh orang tersebut yang dapat membahayakan oleh karena itu rancang bangun tentang besarnya nilai tahanan pentanahan itu diarahkan kepada usaha pemenuhan tahanan pentanahan sekecil mungkin, yaitu  5 ohm (PUIL 2000 pasal 3.13.2.10). Sistem pentanahan yang digunakan adalah metode batang dan pita dalam mencari nilai tahanan pentanahan tersebut. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data dilapangan dengan cara melakukan pengukuran tahanan jenis tanah menggunakan alat ukur earth tester sebagai dasar penentuan ukuran elektroda yang akan digunakan; (2) melakukan perhitungan dan mengolah data untuk mencari nilai tahanan pentanahan untuk elektroda batang tembaga dan pita; (3) pemasangan elektroda untuk mendapatkan nilai pengukuran tahanan pentanahan; (4) Analisa hasil pengambilan data, untuk disesuaikan dengan perencanaan; (5) Evaluasi dan pembuatan laporan untuk hasil analisa sesuai dengan perencanaan. Hasil percobaan menunjukan nilai pengukuran dan perhitungan tahanan pentanahan untuk pemasangan elektroda batang tembaga tunggal dan pita masing-masing sebesar 7,2 dan 5,6 ohm sedangkan perhitungan 9,8 dan 9,9 ohm, ini tidak memenuhi standart pengamanan  5 ohm yang sesuai dengan standart PUIL 2000. Oleh karena itu dilakukan pemasangan konfigurasi triangle yang menggunakan 3 elektroda batang tembaga dihubungkan secara paralel menggunakan kabel BC yang nilai tahanan pentanahannya mencapai 3,2 ohm.

Studi kasus keefektifan sosialisasi program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar di Kecamatan Klojen Kota Malang / Findha Priandari

 

Kata Kunci : sosialisasi, penuntasan, wajib belajar pendidikan dasar. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia. Padahal berkualitas atau tidaknya sumberdaya manusia (SDM) di suatu negara tergantung bagaimana penanganan pendidikan di negara tersebut. Oleh karenanya, pendidikan merupakan kunci keberhasilan pembangunan di Indonesia. Dalam upaya membangun SDM yang berkualitas, pemerintah Indonesia melalui Inpres Nomor 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Pemantapan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara mewajibkan semua warga negara usia pendidikan dasar (7–15 tahun) tanpa memandang status sosial, etnis, dan jenis kelamin untuk menempuh minimal pendidikan dasar sembilan tahun. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan profil Kecamatan Klojen (2) mendeskripsikan sosialisasi program penuntasan WAJAR DIKDAS pada kelompok sosial ekonomi tinggi, sedang, dan rendah di Kecamatan Klojen; (3) mendeskripsikan media/cara yang digunakan dalam sosialisasi program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen; (4) mendeskripsikan faktor pendukung dalam program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen; (5) mendeskripsikan faktor penghambat yang dihadapi dalam program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen; (6) mendeskripsikan upaya untuk mengatasi kendala dalam program penuntasan WAJAR DIKDAS di Kecamatan Klojen. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang menafsirkan dan menjelaskan suatu fenomena/peristiwa sosial di masyarakat secara ilmiah, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Dalam penelitian ini, peneliti sendirilah yang berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah kepala UPT Pendidikan Dasar, kepala sekolah, guru, dan wali murid yang berada di wilayah kecamatan Klojen Kota Malang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara dan dokumen yang berkaitan dengan wajib belajar pendidikan dasar. Setelah data tersebut diperoleh kemudian dilakukan pengecekan keabsahan data dengan metode triangulasi dan kecukupan referensial. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kecamatan Klojen membawahi 11 Kelurahan yaitu: Kasin, Sukoharjo, KidulDalem, Kauman, Bareng, Gading Kasri, Oro-Oro Dowo, Klojen, Rampal Celaket, Samaan, dan Penanggungan. Kecamatan Klojen secara geografis terletak pada 112036’14” – 112040’42” BT dan 077036’38” – 008001’37” LS, sedangkan secara administratif Kecamatan Klojen sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Lowokwaru, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kecamatan Kedungkandang dan Kecamatan Blimbing, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sukun, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Lowokwaru dan Kecamatan Sukun; (2) Sekolah yang berada di wilayah Kecamatan Klojen Kota Malang sangat merespon baik dengan adanya sosialisasi program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar, selain itu Kecamatan Klojen juga dapat menjadi contoh bagi kecamatan-kecamatan lain yang ada di Kota Malang dalam penyelenggaraan wajib belajar. Kesuksesan Kecamatan Klojen dalam penyelenggaraan sosialisasi wajib belajar ini ditandai dengan kecamatan yang memiliki persentase angka mengulang dan putus sekolah yang paling kecil untuk tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sasaran dari sosialisasi program wajib belajar pendidikan dasar di wilayah Kecamatan Klojen ini yaitu seluruh siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama terutama siswa kelas VI dan siswa yang baru memasuki jenjang SMP yang nantinya akan melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Adapun tujuan yang didapat dari pelaksanaan sosialisasi ini adalah agar kualitas lulusan dapat meningkat sehingga mereka dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya; (3) Media/cara yang digunakan dalam sosialisasi program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar di Kecamatan Klojen ini adalah menyampaikan langsung informasi yang berhubungan dengan wajib belajar langsung kepada murid setiap 2-3 bulan sekali terutama siswa kelas VI dan siswa SMP. Narasumber dalam sosialisasi ini langsung dari kepala sekolah atau wali kelas; (4) Faktor pendukung kesuksesan program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar dapat berupa dukungan dari pemerintah dan sekolah; (5) faktor penghambat program penuntasan wajib belajar pendidikan dasar yaitu: masih terbatas dan belum meratanya bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat yang berasal dari keluarga kurang mampu dan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat tentang pentingnya menempuh pendidikan; (6) solusi yang diambil untuk mengatasi faktor penghambat antara lain mengupayakan subsidi silang, bantuan dari pihak swasta, memberikan pemahaman kepada orangtua/masyarakat tentang pentingnya menempuh pendidikan untuk jangka panjang. Berdasarkan kesimpulan atau hasil temuan penelitian, berikut ini dikemukakan saran bagi pihak terkait yaitu: (1) kepala sekolah/guru di wilayah kecamatan Klojen Kota Malang dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk secara aktif memberikan sosialisasi kepada siswa, terutama siswa kelas VI yang berkaitan dengan pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar; (2) orangtua murid, dapat memberikan pemahaman kepada orangtua murid bahwa betapa pentingnya menempuh pendidikan untuk jangka panjang dan orangtua murid dapat bekerjasama dalam rangka menyukseskan program wajib belajar pendidikan dasar; (3) jurusan administrasi pendidikan, hendaknya hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi bagi penelitian dalam ruang lingkup yang memiliki keterkaitan dengan wajib belajar pendidikan dasar; (4) peneliti lain, hendaknya para peneliti lain agar dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain dengan latar yang berbeda yang nantinya dapat bermanfaat untuk ditelit.

Pengaruh persepsi bauran promosi terhadap ketelibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah (studi pada pemilik rumah di Griya Tawangsari Indah Blitar) / Henny Widia Sari

 

Kata Kunci: Persepsi bauran promosi, keterlibatan konsumen, proses keputusan pembelian rumah Konsep penyampaian pesan secara umum disebut dengan bauran promosi, karena biasanya pemasar sering menggunakan berbagai jenis promosi secara simultan dan terintregasi dalam suatu rencana promosi produk. Bauran promosi terdiri dari periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan presonal, yang kesemuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan. Efektif tidaknya bauran promosi yang dijalankan perusahaan, sangat dipengaruhi oleh persepsi konsumen terhadap bauran promosi tersebut. Keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian, dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat kepentingan konsumen akan produk tersebut. Prospek bisnis perumahan di Indonesia juga masih bagus, mengingat saat ini kebutuhan akan perumahan terus meningkat, sementara penyediaan masih terbatas. Berdasarkan data yang dirilis terakhir oleh pemerintah terdapat backlog (kekurangan pasokan) perumahan antara 4,5 juta hingga 6 juta unit dengan pertumbuhan permintaan rumah tahunan 800.000 unit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Keadaan persepsi bauran promosi (periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan personal) dan tingkat keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah di Griya Tawangsari Indah Blitar. (2) Pengaruh persepsi bauran promosi (periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan personal) yang dilakukan oleh Griya Tawangsari Indah Blitar secara parsial dan simultan terhadap tingkat keterlibatan konsumen dalam proses pembelian rumah. Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah variabel bebas yaitu bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan penjualan personnal. Sedangkan variabel terikatnya adalah keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah. Populasi pada penelitian ini adalah adalah individu atau orang yang melakukan pembelian unit rumah di Griya Tawangsari Indah Blitar,terhitung mulai tahun 2004 hingga 2008 populasi penelitian berjumlah 150 kepala keluarga, yang menempati rumah tipe 27/60 sebanyak 100 kepala keluarga dan tipe 36/84 sebanyak 50 kepala keluarga. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin, sehingga ditemukan jumlah sample sebanyak 120 responden. Adapun teknik pengambilan sampel adalah menggunakan teknik Proporsional Sampling, yang dilanjutkan dengan pengambilan sampel yang dengan cara randon sampling. Analisis data penelitian yang dipakai adalah uji t dan uji F dalam menguji hipotesisnya. Hasil analisis data menunjukan bahwa: (1) Keadaan persepsi bauran promosi dan tingkat keterlibatan proses pembelian rumah pada Griya Tawangsari Indah Blitar adalah bahwa berdasarkan distribusi frekuensi responden memberikan penilaian setuju atau cukup tinggi terhadap faktor periklanan, hubungan masyarakat,penjualan personal dan keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah yang terdiri dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi berbagai alternatif, keputusan pem;belian serta perilaku pasca pembelian. (2) Persepsi bauran promosi berpengaruh positif dan signifikan baik secara parsial maupun simultan terhadap keterlibatan konsumen dalam proses keputusan pembelian rumah. Adapun saran yang dapat diberikan adalah: (1) Pengembang Griya Tawangsari Indah Blitar. (a) Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan mengenai bauran promosi. (b) Penjualan Personal mempunyai pengaruh paling kuat pada persepsi bauran promosi, sehingga kiranya perusahaan dapat mengoptimalkan fungsi penjualan personal, karena dari beberapa unsur bauran promosi, penjualan personal biayanya lebih ringan dibanding 3 unsur lainnya yaitu periklanan, promosi penjualan maupun humas. Peningkatan efektivitas penjualan personal ini antara lain dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dibidang penjualan personal. (2) Peneliti. Hasil penelitian ini diperoleh dari keterbatasan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di wilayah kabupaten dan kota Blitar. Oleh karena itu peneliti menyarankan agar peneliti lain dapat meneruskan penelitian ini pada obyek dan variabel lain yang belum disebutkan.

Rancang bangun alat pembengkok pipa besi berdiameter satu inchi sistim hidrolik / Panji Suharmanto, Mukti Sunanuddin Nur

 

Kata Kunci: alat pembengkok pipa besi Dalam dunia industri saat ini peranan pipa besi sangat penting dalam pengguaannya dikarenakan kegunaannya dan manfaat pipa besi bervariasi mulai dari saluran air, minyak, gas dan penggunaan lain yang mendukung pada dunia industri serta penggunan pipa besi yang membutuhkan bengkokkan untuk pagar atau pun komponen-komponen mesin. Pembengkokkan pipa besi untuk saat ini masih manual yaitu menggunakan tenaga manusia langsung. Pembengkokkan pipa besi secara manual mempunyai babarapa kalemahan jika dibandingkan menggunakan istim hidrolik. Jika kita menggunakan sistim hidrolik kekuatan yang digunakan untuk membengkokkan pipa besi sangat tinggi dibanding manual yaitu menggunakan tanaga manusia langsung dan belum juga tenaga yang digunakan untuk membengkokkan pipa besi sangat kuat sehingga saat kerja cepat lelah. Untuk itu diganti menggunakan sistim hidrolik yang kecil tenaga yang digunakan sehingga tidak cepat lelah pada saat kerja. Kesimpulan, pembengkokkan pipa besi menggunakan sistim hodrolik tenaga untuk membengkokan sangat tinggi dan energi yang dikeluarkan kecil sehingga tidak cepat lelah saat kerja.

Pengaruh gender dan jumlah semester terhadap persepsi sensitivitas etis akademis mahasiswa akuntansi Universitas Negeri Malang / Santi Dwi Juli Karuniawati

 

Kata Kunci: gender, jumlah semester dan persepsi sensitivitas etis akademis Dunia pendidikan tinggi mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku etika akuntan karena pendidikan yang baik akan mencetak mahasiswa menjadi calon akuntan yang mempunyai sikap profesional dan berlandaskan pada standar moral dan etika. Dalam pendekatan sosialisasi gender, pria dan wanita memiliki perbedaan nilai dan perlakuan pada pekerjaan mereka. Mahasiswa semester akhir juga mempunyai perbedaan persepsi etika dibanding mahasiswa semester awal karena mahasiswa akhir telah memperoleh muatan matakuliah yang berorientasi etis lebih banyak dibandingkan mahasiswa yang masih awal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan persepsi sensitivitas etis akademis pada mahasiswa Akuntansi pria dan wanita dan perbedaan persepsi sensitivitas etis akademis pada mahasiswa Akuntansi semester awal dan mahasiswa Akuntansi semester akhir Penelitian ini menggunakan sampel mahasiswa Akuntansi program studi S1 Akuntansi Universitas Negeri Malang yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner model. Chekclist yang diperoleh dari mahasiswa Akuntansi Universitas Negeri Malang dengan menggunakan 5 point skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini menguji dua hipotesis menggunakan Independent Samples T-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sensitivitas etis secara signifikan antara mahasiswa akuntansi pria dan mahasiswa akuntansi wanita dan tidak terdapat perbedaan sensitivitas etis secara signifikan antara mahasiswa akuntansi semester awal dan mahasiswa akuntansi semester akhir. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk lebih menanamkan nilai etika kepada mahasiswa terutama kepada mahasiswa pria yang memiliki persepsi sensitivitas etis akademis yang lebih rendah dibanding wanita,salah satu caranya adalah dengan menerapkan disiplin. Dan menambah matakuliah baru tentang etika (selain etika bisnis) serta pada setiap mata kuliah akuntansi didiskusikan isu-isu etika yang sering dihadapi oleh akuntan dan mengundang dosen tamu dari kalangan akademisi maupun praktisi sehingga memberikan nuansa baru bagi mahasiswa. Untuk penelitian di masa mendatang perlu dilakukan penelitian dengan menambah variabel dan sampel. Selain itu diharapkan untuk melakukan penelitian dengan kondisi yang berbeda dan responden yang berbeda pula untuk memperkuat hasil penelitian ini.

Pengembangan awal modul pembelajaran kimia SMK kelas X semester 1 pada pokok bahasan ikatan kimia model learning cycle 5-E / Nurul Hidayati

 

Kata kunci: modul, Learning Cycle 5-E, Ikatan Kimia Kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan dengan menggunakan bahan ajar yang tepat. Salah satu bahan ajar yang dapat dipakai adalah modul sehingga perlu dilakukan pengembangan modul. Paradigma pembelajaran yang digunakan dalam modul adalah konstruktivistik dengan menggunakan model Learning Cycle 5-E. Fase-fase dalam model Learning Cycle 5-E, yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Materi yang dikembangkan dalam pengembangan modul adalah Ikatan Kimia dengan menggunakan model Learning Cycle 5-E karena materi pelajaran tersebut erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari dan bersifat abstrak sehingga dirasa cukup sulit untuk dipelajari siswa. Modul Ikatan Kimia dilengkapi dengan RPP untuk membantu guru dalam menggunakan modul dalam proses pembelajaran, selain itu soal-soal uji kompetensi yang digunakan memenuhi kriteria valid karena sudah diujicobakan ke lapangan. Tujuan dari penelitian pengembangan adalah 1) untuk menghasilkan modul dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Ikatan Kimia dengan model Learning Cycle 5-E Sekolah Menengah Kejuruan dan 2) untuk mengetahui kesesuaian modul dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Ikatan Kimia dengan model Learning Cycle 5-E dan kelayakannya untuk digunakan sebagai salah satu bahan ajar kimia untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Strategi pengembangan modul yang digunakan adalah strategi pengembangan Borg dan Gall. Dalam strategi Borg dan Gall terdapat sepuluh langkah pengembangan, namun karena keterbatasan waktu dan biaya untuk penelitian dan pengembangan modul Ikatan Kimia dibatasi sampai langkah ketiga. Ketiga langkah pengembangan modul tersebut yaitu: (1) Penelitian dan pengumpulan data, (2) Perencanaan pengembangan produk, dan (3) Pengembangan produk awal. Desain validasi pada pada pengembangan modul ini hanya sampai pada validasi isi saja. Validator terdiri dari 1 dosen kimia dan 2 guru kimia SMK. Tempat penelitian adalah SMK Negeri 2 Malang, instrument pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis nilai persentase rata-rata. Hasil penelitian diperoleh 1) Susunan modul hasil pengembangan terdiri dari beberapa komponen yaitu cover, kata pengantar, petunjuk penggunaan modul, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, kompetensi dasar, indikator hasil belajar, materi, gambar, tabel, kegiatan belajar siswa, rangkuman, daftar pustaka, uji kompetensi, umpan balik, dan kunci jawaban. Susunan RPP terdiri dari identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, uraian materi, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, sumber belajar, serta lembar penilaian. 2) Data hasil validasi ii untuk modul menunjukkan bahwa bentuk modul yang dikembangkan sesuai dengan model Learning Cycle 5-E dengan nilai persentase rata-rata untuk penilaian tiap fase-fase dalam Learning Cycle 5-E sebesar 90%, keseluruhan dari modul menunjukkan nilai persentase rata-rata sebesar 88,40%. RPP sesuai dengan model Learning Cycle 5-E dengan nilai persentase rata-rata untuk penilaian tiap fase-fase dalam Learning Cycle 5-E sebesar 90%, keseluruhan dari RPP menunjukkan nilai persentase rata-rata sebesar 87,22%. Modul dan RPP yang dikembangkan telah sesuai dan layak digunakan sebagai alternatif bahan ajar untuk SMK.

Validitas tes ujian akhir semester bahasa Jerman kelas XI Bahasa SMA Negeri Lamongan tahun 2009 / Nur Indah Anggraini

 

Kata kunci : Validitas, Ujian Akhir Semester, Bahasa Jerman. Bahasa Jerman merupakan bahasa asing yang diminati di Indonesia. Dewasa ini banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang mencantumkan bahasa Jerman sebagai mata pelajaran, baik sebagai program pilihan maupun sebagai program bahasa. Pembelajaran bahasa Jerman di Indonesia bertujuan supaya para peserta didik memiliki kemampuan dasar untuk mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis untuk komunikasi secara sederhana. SMA Negeri I Lamongan merupakan salah satu sekolah yang mencantumkan bahasa Jerman ke dalam kurikulum pembelajaran. Ujian Akhir Semester adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kemajuan belajar peserta didik dan merupakan proses penilaian hasil belajar yang dilaksanakan pada akhir semester. Untuk memperoleh soal UAS yang valid digunakan pengukuran yang bertujuan untuk memperoleh soal yang sesuai dengan kriteria tes yang baik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang validitas soal tes UAS bidang studi bahasa Jerman kelas XI bahasa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada validitas isi terdapat soal yang valid dan soal yang tidak valid, baik pada semester gasal maupun pada semester genap. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan adanya tingkat penyimpangan materi pelajaran antara KTSP dan soal UAS. Penelitian ini juga menunjukkan adanya validitas empirik. Data validitas empirik pada semester gasal dan genap menunjukkan validitas sangat rendah, untuk selebihnya data tersebar pada interpretasi cukup,rendah, dan sangat tinggi. Sementara itu validitas empirik dengan bandingan ulangan harian menunjukkan bahwa soal UAS tersebut tergolong rendah validitasnya. Berdasarkan temuan tersebut disarankan kepada guru pengajar bahasa Jerman supaya memperhatikan pedoman-pedoman pembuatan tes yang baik, supaya soal dan data yang diperlukan valid adanya. Selain itu, disarankan bagi para peneliti selanjutnya agar lebih baik dalam meneliti soal tes, baik tes standar maupun tes terstandar.

Pengembangan media CD pembelajaran interaktif mata pelajaran IPS untuk siswa kelas 3 semester II SD Laboratorium Universitas Negeri Malang / Okmar Sulaiman

 

ABSTRAK Kata kunci : Pengembangan, Media, CD Interaktif, Ilmu Pengetahuan Sosial Media CD Interaktif merupakan salah satu media yang dapat digunakan sebagai sumber belajar, karena penyampaiannya menggunakan unsur audiovisual meliputi gambar, suara, dan animasi serta interaktifitas sehingga dapat menarik minat pengguna. Berdasarkan hasil observasi di SD Laboratorium Universitas Negeri Malang, dalam penyampaian materi pelajaran khususnya Ilmu Pengetahuan Sosial guru menggunakan metode pemberian tugas dengan modul. Pengembang ingin membuat alternatif pilihan media pembelajaran melalui penmgembangan media CD Interaktif pembelajaran. Media ini dibuat secara menarik dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas dalam belajar. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan CD Pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang layak bagi siswa kelas III SD dan mempunyai kualitas teknis untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran. Karakteristik dari media CD Interaktif adalah terdapat komunikasi yang interaktif antara media dengan pengguna, sehingga mendorong tingkat keaktifan siswa dalam belajar. Pengembang menggunakan model pengembangan Sadiman S. Arif. Pengembangan Media CD Interaktif ini diujicobakan pada siswa kelas III pada mata pelajaran IPS. Hal ini dirasakan sesuai karena karakter siswa SD kebanyakan masih senang belajar yang diikuti dengan sesuatu yang menarik, misalnya : gambar, musik, atau permainan. Subyek uji coba dalam pengembangan media CD Interaktif Pembelajaran ini adalah siswa kelas III SD Laboratorium Universitas Negeri Malang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara serta menggunakan instrumen berbentuk angket ahli media, ahli materi, dan audiens. Untuk hasil belajar siswa digunakan tes dalam bentuk pre-test dan pos-test. Analisis data yang digunakan untuk mengolah data hasil validasi ahli media, ahli materi, dan audiens adalah prosentase, sedangkan untuk mengolah data hasil belajar siswa digunakan uji tes t. Untuk mengetahui validitas dari media CD Interaktif dilakukan pengujian hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan media. Maka dari itu dikemukakan hipotesis tentang ada dan tidaknya perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah menggunakan media. Hasil pengembangan media CD Interaktif pembelajaran ini memenuhi kriteria valid yakni ahli media 87,5%, ahli materi 95%, audiens kelompok kecil 84,5%, dan audiens kelompok klasikal 83,4% sedangkan untuk hasil belajar baik kelompok kecil maupun klasikal menunjukkan t hitung > t tabel. Dalam pengujian hipotesis rumus statistik H0 ditolak dan H1 diterima karena ada perbedaan antara sebelum dan sesudah menggunakan media CD Interaktif Pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa media CD Interaktif Pembelajaran ini mampu merangsang minat siswa dalam mempelajari pelajaran IPS dan dapat dijadikan pilihan sumber belajar bagi guru dan siswa. Saran yang diajukan adalah untuk senantiasa merawat dan membersihkan CD karena CD mudah sekali rusak dan tergores apabila dalam keadaan terbuka.

Studi pengembangan resep baku ayam bakar taliwang (makanan khas lombok) / Riza Maria Tiarsih

 

Kata Kunci: Pengembangan, Resep Baku, dan Ayam Bakar Taliwang Resep tradisional yang merupakan resep turun temurun dari nenek moyang. Kendala dari pengenalan resep tradisional adalah ukuran dari bahan-bahan dalam resep tradisional yang belum standar. Untuk itu penstandaran ukuran dilakukan studi pada resep ayam bakar Taliwang, dalam hal ini dilakukan pembakuan ukuran dan resep ayam bakar Taliwang sebagai idebtitas budaya Lombok. Dengan adanya pembakuan standar ukuran diharapkan memudahkan pengenalan dan penerapan. Penelitian ini untuk mengetahui (I) resep tradisional ayam bakar Taliwang yang digunakan selama ini, (II)hasil uji coba produk ayam bakar Taliwang yang diolah dengan resep tradisional, ditinjau dari warna, aroma, rasa, dan tekstur, (III)resep baku yang telah dikembangkan, dan (IV) perbandingan kualitas hasil uji produk resep baku dari warna, aroma, rasa, dan tekstur. Uji coba resep mengunakan 7 panelis terlatih berasal dari dosen yang ahli di bidang boga dan 25 panelis agak terlatih ditentukan mengunakan purposive sampling (sample bertujuan) mahasiswa tata boga 2006-2007. Instrumen yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah kuisioner atau angket. Uji coba pertama warna ayam bakar coklat gelap namun tidak memiliki warna khas ayam bakar, hasilnya tidak terdapat perbedaan nyata warna pada tingkat 5 %. Artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua produk. Aroma ayam bakar tidak tercemar bau minyak tanah, namun aroma asap khas ayam bakar yang seharusnya dimiliki tidak muncul, hasilnya tidak terdapat perbedaan aroma kedua produk pada tingkat 5%. Artinya tidak terdapat perbedaan signifikan pada keduanya. Rasa bumbu lebih meresap pada produk pengembangan, terdapat perbedaan nyata rasa kedua produk pada tingkat 0,1%. Artinya terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada rasa kedua produk. Tekstur sudah empuk. tekstur dari kedua produk berbeda nyata pada tingkat 0,1%. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua produk. Uji coba kedua warna ayam bakar coklat gelap berkesan mengkilap telah didapatkan, tidak terdapat perbedaan nyata warna kedua produk pada tingkat 5%. Artinya tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua produk. Aroma asap khas ayam bakar telah didapat, tidak terdapat perbedaan nyata aroma kedua produk pada tingkat 5%. Rasa bumbu meresap hasil menyatakan terdapat perbedaan nyata rasa kedua produk pada tingkat 1 %. Artinya terdapat perbedaan nyata antara kedua produk. Tekstur empuk. menunjukkan tekstur dari kedua produk berbeda nyata pada tingkat 0,1%. Artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua produk. Saran yang dapat diberikan (I). Perlunya pertimbangan langkah-langkah untuk memperoleh hak paten terhadap resep baku (II) Dapat disosialisasikan lewat Dinas Pariwisata. (II) Dapat dikembangkan menjadi salah satu makanan beku

Hubungan perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto / Fitthiyatul Kholqiyah Astani

 

Kata Kunci: Hubungan, Perilaku Asertif, Prestasi Belajar. Berdasarkan teori Sikone (2007) yang menyatakan bahwa asertifitas akan membantu para siswa untuk meningkatkan kemampuan kognitifnya, memperluas wawasannya tentang lingkungan, dan tidak mudah berhenti pada sesuatu yang tidak diketahuinya (memiliki rasa ingin tahu yang tinggi). Kemampuan kognitif siswa dalam hal ini berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran. Selain itu adanya teori Hurlock (1980) yang menyatakan bahwa siswa SMA memasuki masa remaja, yang pada masa itu siswa mulai mengembangkan dirinya dan memikirkan prestasi belajarnya di sekolah, karena dengan prestasi yang baik dapat memberikan kepuasan pribadi dan menimbulkan harga diri dalam kelompok sebaya. Begitu pentingnya memiliki prestasi belajar yang baik bagi seorang siswa SMA serta adanya teori yang menyatakan bahwa asertifitas dapat meningkatkan prestasi belajar siswa maka dari itu diperlukan penelitian ini agar diketahui sejauh mana asertifitas mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku asertif dan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto serta untuk menguji adakah hubungan perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif korelasional. Penelitian jenis ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai suatu hal serta untuk menemukan apakah ada hubungan (pengujian hipotesis) dan apabila ada hubungan berapa tingginya hubungan serta berarti tidaknya hubungan tersebut. Subyek penelitian ini yaitu siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan Stratified Random Sampling yaitu pengambilan sampel secara acak dari masing-masing tingkatan kelas tertentu. Instrumen penelitian berupa angket skala perilaku asertif yang dilengkapi dengan validitas dan memiliki reliabilitas sebesar 0,948. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik analisis korelasi product-moment menggunakan program SPSS 16.00 for windows korelasi product-moment Pearson. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa cukup banyak siswa (60%) SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto yang mempunyai kategori perilaku asertif sedang dan hanya sedikit siswa dengan persentase 40% yang perilaku asertifnya dalam kategori tinggi. Tidak ada siswa yang kategori perilaku asertfinya rendah. Sedangkan deskripsi mengenai prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto diketahui bahwa tidak ada siswa yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori baik sekali dan sangat kurang, sangat sedikit sedikit siswa dengan persentase 0,8% yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori baik dan 5,6% siswa yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori kurang, sangat banyak siswa dengan persentase 93,6% yang mempunyai prestasi belajar dengan kategori cukup. Perilaku asertif mempunyai hubungan yang positif dengan nilai r sebesar 0,066. Nilai r menjauhi 1 sehingga hubungan perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa dikatakan lemah. Kesimpulan penelitian ini adalah Perilaku asertif siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010 persentase tertinggi (60%) adalah pada kategori sedang. Sedangkan persentase tertinggi (93,6%) prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010 adalah pada kategori cukup. Ada hubungan antara perilaku asertif dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto tahun ajaran 2009/2010 namun hubungannya lemah. Saran pada penelitian ini adalah konselor sebaiknya lebih meningkatkan pemberian layanan assertive training yang dapat mengembangkan perilaku asertif pada siswa. Kepada peneliti selanjutnya untuk lebih menambah jumlah siswa sampel dan menyempurnakan instrument penelitian sehingga dapat menyempurnakan data penelitian.

Strategi kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan di SDN Percobaan I Malang / Yolla Anita Seqyon

 

Kata kunci: strategi, kepemimpinan kepala sekolah, inovasi, KTSP. Kepala Sekolah merupakan salah satu komponen yang sangat berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana dikemukakan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 1990 Pasal 12 Ayat 1 bahwa: Kepala Sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Dengan adanya kepemimpinan kepala sekolah tersebut maka akan memberikan pengaruh yang besar bagi seluruh warga sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah harus mempunyai strategi atau cara agar menghasilkan sesuatu yang baru dan bermakna di dalam kehidupan sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan dapat terlaksana apabila didukung oleh seluruh warga sekolah. Kepala Sekolah berusaha mewujudkan keberhasilan pendidikan melalui bekerjasama dengan stakeholder yang ada demi mewujudnya tujuan pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang: (1) strategi kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan KTSP di SDN Percobaan I Malang, (2) proses inovasi dalam penerapan KTSP di SDN Percobaan I Malang ,(3) faktor-faktor yang mempengaruhi proses inovasi dalam penerapan KTSP beserta pemberdayaannya di SDN Percobaan I Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Lokasi dalam penelitian ini adalah SDN Percobaan I Malang. Alasan peneliti memilih sekolah ini karena kepemimpinan kepala sekolah sangat efektif dalam melakukan inovasi-inovasi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan untuk memperoleh data menggunakan teknik sampling yaitu mencari informan yang memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan fokus penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah: Kepala Sekolah SDN Percobaan I malang,Wakil Kepala Sekolah, Bagian Hubungan Masyarakat, Guru kelas IVA, dan Staf Kantor Tata Usaha. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) strategi kepemimpinan kepala sekolah melakukan inovasi dalam penerapan KTSP terdiri dari empat langkah yaitu: kepala sekolah melibatkan stakeholder dalam merencanakan visi, misi, tujuan sekolah, struktur dan muatan KTSP, sosialisasi KTSP dilakukan melalui kegiatan lokakarya, seminar, pelatihan, adanya pembagian tugas untuk masing-masing guru, kepala sekolah memberikan masukan dan penilaian untuk setiap tugas yang telah dilaksanakan, (2) proses inovasi dalam penerapan KTSP terdiri dari dua tahap yakni: (a) langkah-langkah yang dipersiapkan dalam rangka penerapan KTSP adalah sebagai berikut: melibatkan stakeholder mulai dari guru, orang tua siswa, masyarakat, sosialisasi KTSP melalui: seminar, lokakarya, pelatihan KTSP, pembagian tugas mulai dari membentuk tim KTSP, mengembangkan KTSP, struktur dan muatan kurikulum, pengembangan silabus, RPP dan format penilaian untuk setiap bidang studi; (b) penerapan KTSP di SDN Percobaan I Malang diawali pada semester II tahun ajaran 2006/2007 dengan menggelompokkan Kelas I, II, dan III menggunakan pendekatan tematik sedangkan Kelas IV, V, dan VI menggunakan pendekatan bidang studi, implementasi KTSP diterapkan pada siswa mulai dari struktur kurikulum sampai pendekatan pembelajaran yang diterapkan, sistem pembelajaran yang diterapkan di SDN Percobaan I Malang sangat beragam yaitu pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, terkait dengan pendekatan tematik dan kontekstual sekolah mengadakan kegiatan pembelajaran diluar sekolah yaitu sinau wisata. (3)Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Inovasi dalam Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Di SDN Percobaan I Malang: faktor-faktor pendukung: (1) tingginya motivasi dan kesadaran dari kepala sekolah beserta para guru dan staffnya untuk menjadikan SDN Percobaan I Malang menjadi sekolah yang unggul dan lebih baik ke depannya, (2) tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pembelajaran siswa, (3)masuknya peran serta masyarakat yaitu orang tua siswa, kebijakan pemerintah, kerjasama dengan pihak luar, faktor-faktor penghambat antara lain: (1) SDM dalam hal ini kurangnya pengetahuan tentang KTSP, (2) jumlah siswa kurang ideal, (3) tempat yang terbatas. Peneliti memberikan saran kepada: (1) kepala SDN Percobaan I Malang dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya mampu mempertahankan inovasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang telah dicapai saat ini, (2) para guru di SDN Percobaan I Malang untuk lebih meningkatkan keberhasilan dalam penerapan KTSP dan juga bersikap terbuka untuk setiap perubahan yang terjadi, (3) mahasiswa jurusan administrasi pendidikan, dapat digunakan sebagai bahan informasi dan dapat digunakan sebagai salah satu kajian untuk mengembangkan ilmu manajemen pendidikan, (4) jurusan administrasi pendidikan sebagai kajian khususnya yang berkaitan dengan ilmu manajemen pendidikan secara umum dan secara khusus ilmu kepemimpinan pendidikan. (5) peneliti lain, sebagai bahan referensi yang dapat dijadikan sebagai dasar melakukan penelitian yang serupa atau penelitian lanjutan dengan mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan penelitian ini.

Peningkatan keterampilan passing bawah bolavoli pada siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Panggungrejo tahun ajaran 2009/2010 dengan menggunakan metode bermain / Atik Setyawati

 

Kata kunci: peningkatan, keterampilan passing bawah bolavoli, metode bermain, SMP Negeri 1 Panggungejo Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses belajar mengajar, memegang peranan penting dalam rangka pembentukan sikap dan pengetahuan serta budi pekerti yang dapat menunjang proses pertumbuhan serta mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik yang lebih baik dari apa yang telah mereka dapatkan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pendidikan Jasmani dan kesehatan merupakan salah satu bidang studi yang menjadi muatan dalam kurikulum SMP, Permainan dan olahraga merupakan salah satu ruang lingkup dari mata pelajaran Pendidikan Jasmani olahraga dan kesehatan yang terdapat di dalam standar kompetensi Sekolah Menengah Pertama Kelas VII semester Gasal. Salah satu kompetensi dasarnya yaitu permainan bolavoli pada kelas VII Semester Gasal salah satu materi pokoknya adalah passing bawah. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan bahwa dalam melakukan permainan bolavoli siswa kesulitan saat melakukan passing bawah, kesulitan ini karena kesalahan pada gerakan teknik dasar passing bawah. Kesalahan yang sering terjadi yaitu pada teknik cara pegangan tangan dan perkenaan bola. Kesalahan gerakannya cenderung pada saat bola datang lengan tidak lurus dan teknik pegangan tangan yang dilakukan salah, banyak siswa yang melakukan pegangan tangan dengan cara mengepalkan kedua tangannya, ada juga yang satu tangannya dibuka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan passing bawah bolavoli pada siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Panggungrejo tahun ajaran 2009/2010 dengan menggunakan metode bermain. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas, Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Panggungrejo dengan jumlah subyek penelitian yaitu 39 orang siswa kelas VII F. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan persentase. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada siklus pertama adalah tingkat kesalahan paling tinggi pada teknik perkenaan bola yaitu 38,46% dan untuk gerakan perkenaan bola yang sudah benar adalah 61,54% dengan kategori cukup baik, kemudian naik menjadi 74,36% masih dengan kategori cukup baik yang tingkat kesalahannya adalah 25,64%. Kemudian masih ada beberapa teknik dasar passing bawah yang lain yang juga tingkat kesalahannya banyak yaitu pada arah bola 15,38%, cara pegangan tangan 10,26%, lengan lurus 13,89%, sikap kaki 5,13%. Pada siklus 1 tingkat kesalahan yang pada umumnya terjadi pada gerakan perkenaan bola dari 38,46% menjadi 25,64% dapat diartikan gerakan yang benar adalah dari 61,54% menjadi 74,36% dan dikategorikan cukup baik, meskipun dalam siklus 1 ini masih tetap dalam kategori cukup baik akan tetapi sudah mulai ada peningkatan pada teknik gerakan perkenaan bola. Pada siklus 2 tingkat kesalahan yang pada umumnya terjadi pada gerakan perkenaan bola dari 17,95% menjadi 0% dapat diartikan gerakan yang benar adalah dari 82,05% menjadi 100% dan dikategorikan baik. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa metode bermain dapat meningkatkan keterampilan passing bawah bolavoli siswa kelas VII F SMP Negeri 1 Panggungrejo, yang dilakukan selama enam kali tindakan. Dalam peningkatan keterampilan passing bawah atau keterampilan yang lainnya pada siswa, hendaknya guru memberikan banyak variasi metode bermain yang lebih seru, lebih disukai siswa, dan lebih baik serta lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan passing bawah siswa.

Pengembangan multimedia pembelajaran sains pokok bahasan sumber daya alam di SD Muhammadiyah Sidayu Gresik / Nur Yanita

 

Kata Kunci: Pengembangan, Multimedia Pembelajaran, Sains Media CD Interaktif merupakan perwujudan dari multimedia. Multimedia merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan manfaat atau nilai tertentu, karena dalam penyampaianya memadukan unsur audio, visual serta interaktifitas sehingga dapat menarik minat pengguna. Berdasarkan observasi awal di lapangan di sekolah SD Muhammadiyah Sidayu Gresik hanya menggunakan metode ceramah atau lisan dan media sederhana yang berupa buku cetak dalam proses pembelajaran meskipun di sana tersedia sarana belajar yang memadahi, selain itu juga metode lain yang digunakan adalah dengan memberikan tugas yang ada dalam buku cetak. Penyampaian materi dengan menggunakan metode-metode tersebut dirasa kurang efektif karena hanya neningkatkan kemampuan kognitif verbalnya saja. Waktu yang terbatas dan banyaknya materi-materi sumber daya alam jika hanya menggunakan media sederhana dan metode lisan dalam penyampaianya akan terasa menoton dan membosankan. Dalam materi sumber daya alam juga terdapat pokok bahasan mengenai macam-macam sumber daya alam, materi tersebut banyak terdapat gambar macam-macam sumber daya alam beserta hasilnya yang apabila visualnya dipadukan dengan gerakan-gerakan dan audio akan lebih menarik dan meningkatkan motivasi serta hasil belajar siswa sehingga mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pengembangan multimedia dirasakan cocok untuk memecahkan masalah tersebut di atas, karena multimedia mempunyai unsur-unsur yang berupa teks, gambar serta audio sehingga banyaknya materi akan tersampaikan dalam waktu yang tidak lama. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan sumber belajar yang berupa multimedia yang didesain dalam bentuk CD Interaktif . Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan suatu produk multimedia pembelajaran Sains SD kelas IV yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang ditentukan. Subyek penelitian dalam uji coba pengembangan ini adalah siswa SD Muhammadiyah Sidayu Gresik kelas IV A. jenis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari vaidasi ahli media, ahli materi dan siswa. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil pre-test dan post-test. Hasil dari penelitian pengembangan ini berupa CD interaktif Mata pelajaran Sains pokok bahasan “ Sumber Daya Alam” yang tevalidasi atau layak digunakan. Validasi tersebut dilakukan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi tersebut adalah 1) data ahli media berdasarkan kriteria kelayakan multimedia pembelajaran dikatakan valid/layak digunakan dengan hasil persentase 83,75%, 2) data ahli materi berdasarkan kriteria kelayakan multimedia pembelajaan dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran dengan hasil persentase 84,6%, 3) data siswa perseorangan, kelompok kecil dan uji coba lapangan hasil yang diperoleh adalah 83,3%, 89% dan 90,5% sehingga berdasarkan kriteria kelayakan multimedia pembelajaran dikatakan valid/layak digunakan dalam pembelajaran, 4) pada data hasil pre-test dan post-test perseorangan terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 66,7% menjadi 100% dengan demikian menurut kriteria kelayakan multimedia yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran, 5) pada data hasil pre-test dan post-test siswa kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 66,7% menjadi 99,8%, 6) pada data hasil pre-test dan post-test uji coba lapangan terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 37,1% menjadi 80% dengan demikian menurut kriteria kelayakan multimedia yang dikembangkan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Kesimpulan dari pengembangan ini adalah multimedia pembelajaran yang dikembangkan termasuk valid atau layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembangan secara umum adalah: (1)bagi Kepala Sekolah, menginstruksikan kepada guru untuk menggunakan atau mengembangkan media-media yang sesuai(termasuk multimedia),(2) bagi Guru, guru mata pelajaran hendaknya segera menggunakan multimedia pembelajaran dan lebih terampil dalam menggunakan dengan cara berlatih. (3) bagi Siswa, siswa sebelum menggunakan media ini harus terlebih dahulu menguasai dalam mengoperasikan komputer. (4) bagi Pengembang yang lain, diharapkan mengembangkan untuk pembelajaran yang lain (di kelas, mata pelajaran, materi pokok yang lain). Sedangkan saran secara khusus, sebelum pelaksanaan hendaknya guru membaca pedomaan penggunaan, menyiapkan sarana yang akan digunakan, berlatih dalam menggunakan media. Selama pelaksanaan harus sesuai dengan pedoman pemanfaatan, selalu mengecek siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Setelah pelaksanaan guru memperhatikan perubahan hasil belajar siswa.

Kolerasi antara persepsi gaya kepimpinan transformasional dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom cabang Blimbing Malang / Aminatul Zuhriyah

 

Kata Kunci : Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional, Komitmen Organisasi Komitmen organisasi karyawan merupakan orientasi seseorang pada organisasi tempatnya bekerja, sehingga bersedia menyumbangkan tenaganya dan mengikat dirinya melalui aktivitas-aktivitas dan keterikatan dalam organisasi untuk mencapai tujuan atau kesuksesan organisasi. Persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan transformasional sangat diperlukan untuk meningkatkan komitmen organisasi dan tercapainya tujuan organisasi dengan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan transformasional pimpinan (2) tingkat komitmen organisasi pada karyawan (3) korelasi antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang. Rancangan penelitian yang digunakan deskriptif-korelasional dengan subyek penelitian karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang berjumlah 52 orang. Instrumen yang digunakan adalah Skala Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Skala Komitmen Organisasi model Likert. Analisis deskriptif menggunakan mean dan standar deviasi. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan transformasional pimpinan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang pada tingkat sedang yaitu sebesar 63,46% (33 orang), (2) tingkat komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang pada tingkat sedang yaitu sebesar 61,54% (32 orang), (3) terdapat korelasi positif antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dengan komitmen organisasi pada karyawan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang (rxy= 0,355; p=0,010). Ini berarti hipotesis penelitian ini diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang diberikan adalah: (1) pimpinan PT. Telkom Cabang Blimbing Malang hendaknya memperhatikan gaya kepemimpinan transformasional sebagai salah satu faktor penunjang komitmen organisasi pada karyawan, (2) diharapkan kepada karyawan untuk lebih melibatkan diri dan bersedia memberikan segala kemampuannya, (3) diharapkan kepada perusahaan merealisasikan satu set etika kerja yang dikenal sebagai The TELKOM Way 135.

Penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran manajemen perkantoran (studi pada siswa kelas X SMK ardjuna 01 Malang) / Rani Setyowati

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran kooperatif yang dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar adalah Teams Games Tournament (TGT). Pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan bertanggung jawab penuh untuk memahami materi pelajaran baik secara berkelompok maupun individual. Penelitian ini bertujuan untuk pemilihan model Teams Games Tournament (TGT) sebagai focus penelitian ini, disebabkan model TGT memiliki potensi lebih daripada pembelajaran konvensional dalam meningkatkan hasil belajar siswa melalui system saling membantu. Suasana belajar kooperatif menghasilkan hasil belajar yang lebih baik, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik daripada suasana belajar konvensioanl. Hal ini yang mendorong peneliti untuk memilih pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) di dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui; 1) Penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) pada mata pelajaran Manajemen Perkantoran kelas X APK di SMK Ardjuna 01 Malang, 2) Penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) terhadap hasil belajar siswa di SMK Ardjuna 01 Malang, dan 3) Hambatan-hambatan dan solusi-solusi dalam pelaksanaak pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) di SMK Ardjuna 01 Malang. Subyek penelitian adalah siswa kelas X APK di SMK Ardjuna 01 Malang dengan jumlah 21 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dirancang dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui; 1) observasi, 2) tes, 3) catatan lapangan, 4) dokumentasi, dan 5) wawancara. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan yaitu; 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; 1) Berdasarkan hasil observasi pada aktivitas belajar siswa yang dilakukan di setiap siklus, diketahui adanya peningkatan yang “sangat baik” terhadap penerapan pembelajran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT), 2) setelah adanya penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT), hasil belajar siswa lebih baik dibandingkan dengan sebelum adanya penerapan pembelajarn iv   kooperatif model TGT, 3) Hamabatan yang dialami peneliti dalam penelitian penerapan pembelajaran kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) adalah; 1) Tahapan proses belajar yang cukup banyak, 2) Alokasi waktu yang kurang efektif pada siklus I, 3) Metode ini membutuhkan pengalokasian waktu yang tidak sedikit, 4) Membutuhkan media belajar yang cukup banyak, dan 5) Adanya perilaku dan karakteristik siswa yang mengarah pada keterlambatan belajar secara personal. Solusi untuk mengatasai hambatan yang dihadapi adalah; 1) Perencanaan alokasi waktu secara matang, 2) Membantu siswa dalam pengaturan tempat duduk dalam kelompok dan memberi pengarahan kepada siswa untuk membagi tugas dalam mengerjakan diskusi kelompok, 3) Persiapan media belajar, dan 4) Melakukan pendekatan secara personal. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu; 1) Bagi Kepala SMK Ardjuna 01 Malang, untuk memberikan motivasi kepada semua guru mata pelajaran agar menerapkan pembelajaran kooperati model TGT dalam proses belajar mengajarnya, 2) Bagi guru mata pelajaran Manajemen Perkantoran SMK Ardjuna 01 Malang untuk mencoba menerapkan pebelajaran kooperatif model TGT pada bahasan yang lain karena siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran metode ini dan dapat mengimplementasikan metode TGT pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, 3) Bagi siswa hendaknya mengikuti pembelajaran tersebut dengan sungguh-sungguh, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan 4) Bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan situasi dan kondisi sekolah yang sama, hendaknya menerapkan model pembelajaran kooperatif yang lebih bervariasi sehingga kemampuan dan hasil belajar siswa lebih meningkat lagi.

Penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas III-B SDN Pagentan 02 Singosari - Malang / Witayah

 

Kata Kunci : Meningkatkan prestasi hasil belajar dan metode eksperimen. Pembelajaran IPA merupakan pelajaran yang kurang menyenangkan bagi siswa karena guru hanya menerapkan metode ceramah, sehingga nilai hasil belajar siswa rendah sesuai dengan dokumen ulangan harian siswa kelas III SDN Pagentan 02 Singosari tahuan pelajaran 2009/2010 tentang ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup nilai rerata siswa mencapai 50,00 yang tidak dapat memenuhi SKM untuk mata pelajaran IPA 65. Permasalah tersebut dicoba diatasi dengan penerapan metode eksperimen pada pembelajaran IPA kelas III untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA dalam pembelajaran ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup. Metode eksperimen adalah metode yang memungkinkan siswa terlibat aktif secara fisik dan mental dalam pembelajaran. Eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian sederhana yang dikembangkan oleh Yang meliputi tiga langkah yaitu : (1) pengajuan masalah, (2) pelaksanaan percobaan untuk pengamatan, dan (3) pengambilan kesimpulan. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas model siklus yang dikembangkan oleh Lewin, Kurt dalam Akbar, Sa’dun (2009:27) dengan model guru sebagai peneliti. Alur setiap siklus PTK meliputi 4 kegiatan yaitu : (1) planning, (2) action, (3) observing, dan (4) reflekcting. Dalam setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas III SDN Pagentan 02 Singosari Malang. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, dan soal tes. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini meliputi tiga siklus. Keaktifan kelompok siklus I adalah 65,82, siklus II adalah 74,71, siklus III adalah 86,20 dengan peningkatan dari siklus I ke siklus II 8,89%. Nilai individu sebelum tindakan 50,00, siklus I adalah 80,00, siklus II adalah 88,57. Peningkatan sebelum siklus ke siklus I 30,00% kategori tinggi, siklus I ke siklus II 8,57% kategori rendah. Meskipun peningkatan setiap tindakan menurun tetapi dalam setiap tindakan tetap mengalami peningkatan. Berdasarkan peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa pembelajaran IPA tentang ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup yang diterapkan pada siswa kelas III SDN Pagentan 02 Singosari Malang dengan menggunakan metode eksperimen. Maka layaklah metode eksperimen dijadikan alternatif dalam pembelajaran untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.

Implementasi kebijakan pendidikan sistem ganda untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMK Negeri 2 Blitar / Aprilia Susanti

 

Kata kunci: implementasi kebijakan PSG, kualitas pendidikan Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat Indonesia untuk menghadapi era globalisasi dan dapat bersaing dengan negara lain. Kualitas sumber daya manusia ini dalam pelaksanaanya diutamakan untuk peningkatan kualitas lulusan pendidikan. Untuk mewujudkan hal terebut, pemerintah menciptakan suatu kebijakan terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah kejuruan, kebijakan tersebut adalah implementasi program pendidikan sistem ganda. Pendidikan sistem ganda adalah suatu penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematik antara pendidikan di sekolah dengan program yang ada di dunia industri melalui praktik secara langsung dan sesuai dengan bidang keahlian tertentu juga untuk mencapai suatu tingkat keahlian tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implementasi kebijakan pendidikan sistem ganda untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif oleh peneliti, sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus yang digunakan adalah studi kasus observasional. Teknik pengambilan data yang digunakan ada tiga metode yaitu observasi nihil, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Teknis analisis data yang digunakan adalah model Miles dan Huberman meliputi reduksi data, sajian data, penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan triangulasi, meliputi triangulasi sumber dan metode. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukan bahwa: (1) implementasi kebijakan PSG dilaksanakan dengan acuan UU yang berlaku. Kegiatan yang ada dalam proses perencanaan adalah penyusunan program kerja, penyusunan proposal kegiatan, pembagaian tugas pokja PSG untuk prakerin, penjelasan prakerin kepada siswa, pembagian kelompok calon peserta prakerin, pencarian DU/DI untuk prakerin, kemudian persiapan surat, buku panduan prakerin dan administrasi untuk prakerin. Seluruh kegiatan penyelenggaraan PSG diatur oleh Tim pokja sekolah. Kegiatan pelaksanaan diantaranya adalah pembekalan dan pendalaman terhadap siswa yang mengikuti prakerin, upacara pemberangkatan siswa ke industri, mengantarkan siswa ke pihak industri, siswa melaksanakan kegiatan prakerin di industri dengan dimonitoring oleh guru pembimbing, dan iv penjemputan siswa yang selesai melaksanakan kegiatan prakerin di industri. Kegiatan penilaian dalam hal ini ada 2 yaitu penilaian program dan penilaian terhadap kinerja siswa di industri. Penilaian program dilakukan oleh ketua pokja dibantu dengan kepala sekolah, sedangkan penilaian kinerja siswa dilakukan oleh industri dengan format penilaian dari sekolah. (2) Pelaksanaan PSG di SMK Negeri 2 Blitar dilakukan selama 6 bulan secara full di dunia kerja atau industri dilaksanakan dengan 2 periode dengan waktu dan tempat yang berbeda. (3) Terdapat beberapa faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan PSG di sekolah. (4) Terdapat indikator-indikator implementasi kebijakan PSG yang dapat meningkatkan kualitas siswa seperti halnya kedisiplinan dan ketrampilan siswa dan juga kesesuaian pihak yang diajak kerjasama. (5) Penyelenggaraan kebijakan PSG di sekolah memberikan dampak bagi ketrampilan siswa sehingga dapat meningkatkan kemandirian siswa, kualitas sumber daya manusia, produktivitas kerja dan juga menghasilkan kompetensi terhadap siswa. Berdasarkan kesimpulan dapat disarankan kepada pihak-pihak yang terkait, yaitu: (1) bagi kepala sekolah untuk memberikan arahan, bimbingan dan juga optimalisasi kegiatan agar dapat berjalan lancar dan barmanfaat, (2) bagi ketua jurusan administrasi pendidikan untuk lebih mengembangkan mata kuliah yang berhubungan dengan penelitian ini dengan pengetahuan yang lebih mengacu pada perkembangan yang ada, (3) bagi guru sekolah untuk menjadi seorang pembimbing yang melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan sesuai dengan ketentuan yang ada, sehingga dapat memperlancar program, (4) bagi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Blitar untuk membantu mempermudah sekolah dalam menciptakan kerjasama dengan pihak DUDI yang berkembang dan berkualitas, (5) bagi peneliti lain untuk lebih memperkuat hasil penelitian dengan menggunakan variabel dan pendekatan yang berbeda agar memperoleh hasil penelitian yang lebih sempurna.

Pengembangan bahan ajar tekstual berbantuan rekaman audio sebagai audio acaffolds mata pelajaran bahasa inggris bagi siswa kelas VII SMP/MTs di lingkungan Lemabaga Pendidikan Maarif NU Sidoarjo / Sugeng Susilo Adi

 

Kata Kunci: Pengembangan, rekaman audio, scaffolding, audio lingual Pengembangan ini bertujuan untuk pertama, meneliti, mengembangkan, menguji, dan memvalidasi bahan ajar mata pelajaran bahasa Inggris berbantuan audio sebagai scaffolds untuk siswa kelas VII SMP dan MTs di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Sidoarjo. Kedua, pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk pembelajaran berupa bahan ajar tekstual berbantuan rekman audio yang terdiri dari komponen-komponen pembelajaran berupa: (1) produk audio pembelajaran berupa rekaman suara Bahasa Inggris yang disimpan dalam Compact Disks (CD) dan kaset, (2) bahan ajar tekstual, dan (3) panduan guru. Alasan pengembang melakukan pengembangan ini adalah karena adanya permasalahan bahan ajar mata pelajaran Bahasa Inggris di beberapa SMP dan MTs khususnya di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Sidoarjo yang tidak menyediakan aktivitas berbantuan audio untuk latihan keterampilan menyimak (listening), sehingga siswa tidak mendengar bahasa otentik (authentic language). Beberapa bagian bab yang berisi tentang aktifitas listening yang ada dalam buku tersebut hanya berupa perintah kepada siswa untuk menyimak atau menirukan suara guru. Pengembang beranggapan bahwa pemecahan masalah dengan produk (solution by product) akan menjadi salah satu alternatif pemecahan atas ketidakberhasilan pengajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah menengah umum khususnya Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain itu, pengembang juga beranggapan bahwa perlu dikembangkan bahan ajar berbantuan audio yang berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang memudahkan belajar siswa karena input bahasa yang paling mudah untuk diproses adalah input suara yang diterima melalui proses listening. Pada awal proses pembelajaran, sebelum siswa belajar membaca dengan baik, adalah listening yang merupakan keterampilan yang paling mempunyai kedekatan hubungan dengan makna dalam bahasa baru yang dipelajari. Metode pengembangan ini menggunakan silklus penelitian dan pengembangan (R&D Cycle) dari Borg & Gall (1983) yang dimodifikasi. Alasan pemilihan R & D cycle ini adalah karena pertama, tujuan pengembangan ini adalah mengembangkan, menguji, dan memvalidasi produk pembelajaran, dan R & D cycle adalah metode tepat yang sesuai dengan tujuan pengembangan ini; dan kedua, R & D cycle memiliki beberapa karakter yang sesuai dalam proses pengembangan produk bahan ajar yang ideal, diantaranya: R & D cycle dapat melibatkan kolaboroasi berkelanjutan antara praktisi dan peneliti, dan R & D cycle dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek. Data yang diperoleh dari uji coba produk bahan ajar tekstual berbantuan audio ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa tanggapan dan saran perbaikan yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. Sedangkan data kuantitatif diperoleh melalui nilai pretest dan posttest dari uji lapangan. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dokumentasi, diskusi dan konsultasi, wawancara, dan kuesioner. Data yang dihimpun melalui serangkaian uji coba dibedakan berdasarkan fungsinya menjadi: (1) data dari uji coba ahli yaitu review untuk merevisi produk pengembangan, (2) data dari uji coba lapangan awal dan dari subjek guru mata pelajaran dipergunakan untuk merevisi produk, dan (3) data dari uji coba lapangan utama berfungsi untuk mengetahui kelayakan dan efektifitas produk. Dalam analisis data digunakan dua teknik analisis yang diperoleh dari hasil review ahli dan uji coba produk, yaitu dengan menggunakan analisis isi dan analisis statistik deskriptif. Analisis isi digunakan untuk mengolah data dan hasil wawancara dan diskusi dengan guru pengajar mata pelajaran serta hasil uji coba lapangan awal dan uji coba lapangan utama. Analisis isi ini dilakukan dengan mengelompokkan informasi-informasi dari data kualitatif yang berupa masukan, tanggapan, kritik, saran perbaikan yang terdapat di dalam kuesioner. Hasil analisis ini kemudian digunakan sebagai dasar merevisi produk pengembangan. Sedangkan analisis statistik deskriptif dipergunakan untuk mengolah data hasil uji coba yang bersifat kuantitatif yang dihimpun dari pretest, posttest dan nilai unjuk kerja individu siswa. Untuk menganalisis data dari uji lapangan utama digunakan rumus uji t sampel independen dengan bantuan software SPSS terbaru. Berdasarkan hasil penilaian ahli, guru, dan ujicoba lapangan atas produk pengembangan berupa bahan ajar berbantuan rekaman audio, telah diperoleh hasil bahwa produk pengembangan ini dinilai layak dan telah mampu memfasilitasi pencapaian tujuan pembelajaran. Hasil uji lapangan terhadap kelas eksperimen dalam pengembangan ini menunjukkan bahwa penilaian siswa menunjukkan prosentasi sebesar 86,75% untuk bahan ajar tekstual dan 87,19 % untuk rekaman audio. Hasil posttest kelas eksperimen yang menggunakan produk pengembangan juga menunjukkan perbedaan yang signifikan dibanding kelas kontrol yang menggunakan paket pembelajaran yang lain. Selain itu, hasil unjuk kerja individu siswa kelas eksperimen menunjukkan bahwa mereka mempunyai unjuk kerja berbahasa Inggris yang baik dengan angka-angka prosentasi sebagai berikut: Siswa yang menunjukkan unjuk kerja sangat baik adalah yang paling tinggi prosentasenya yaitu sebesar 53,88%, sedangkan yang baik sebesar 30,38 %. Siswa yang menunjukkan unjuk kerja cukup sebesar 15,08%. Produk pengembangan yang telah dikembangkan dan direvisi berdasarkan uji coba memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan perangkat pembelajaran lain. Hal ini dapat dilihat dari 2 hal. Pertama, produk pengembangan berupa media rekaman audio yang dihasilkan dari pengembangan ini mampu berfungsi sebagai scaffolds karena memberikan bantuan belajar kepada siswa khususnya untuk mampu melafalkan kata, frasa dan kalimat dengan akurasi dan kejelasan yang berterima. Selain itu, rekaman audio juga mampu memberikan input yang memadai unuk pengkonstruksian pengetahuan dan keterampilan berbahasa Inggris siswa. Kedua, strategi pembelajaran Audio Lingual Communicative (ALC) yang memadukan metode Audio Lingual Method dengan Communicative Language Teaching (CLT) yang diterapkan dalam desain pembelajaran dari pengembangan ini dapat disimpulkan sebagai strategi yang tepat untuk konteks pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs di lingkungan LP Ma’arif NU Sidoarjo. Konteks tersebut adalah kelas besar yang terdiri dari sedikitnya 40 orang siswa, sekolah yang tidak memiliki laboratorium bahasa, siswa yang terbiasa dengan bahan ajar yang berbasis latihan tertulis (written based exercises), dan guru yang menjadi figur sentral dalam pengajaran.

Pengaruh minyak biji jarak pagar (Japropha curcas L.) aksesi HS 35 dan SP 115 sebagai insektida nabati terhadap mortalitas ulat buah Helicoverpa armigera hubner / Emi Yuliastuti

 

Kata kunci: Minyak biji jarak pagar, Insektisida nabati, Mortalitas, Ulat buah Minyak biji jarak pagar memiliki kandungan senyawa kimia, yaitu kursin, forbol ester dan trigliserida. Senyawa kimia tersebut dapat mengendalikan hama utama pada tanaman kapas (Helicoverpa armigera Hubner). Hama ini merusak tanaman kapas pada stadia larva/ulat dengan cara memakan daun, bunga dan buah kapas. Pengendalian hama dengan menggunakan insektisida nabati lebih baik dibandingkan dengan menggunakan insektisida sintetik. Insektisida nabati merupakan insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan dan bersifat mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian berbagai konsentrasi larutan minyak biji jarak pagar (J. curcas) terhadap mortalitas ulat buah H. armigera, untuk mengetahui pada konsentrasi dan waktu berapakah minyak biji jarak pagar (J. curcas) dan interaksinya yang efektif berpengaruh terhadap mortalitas ulat buah H. armigera, serta mengetahui pengaruh efek lanjutannya. Jenis penelitian ini adalah adalah eksperimen faktorial. Penelitian dilakukan di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso-Malang, pada bulan Februari-Mei 2010. Perlakuan terdiri atas dua aksesi minyak biji jarak pagar (aksesi HS 35 dan SP 115 dengan berbagai konsentrasi yaitu: (1) kontrol air, (2) kontrol air+detergen, (3) 5 ml MJP, (4) 10 ml MJP, (5) 20 ml MJP, (6) 40 ml MJP. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, dengan 4 ulangan. Setiap perlakuan terdiri dari 25 botol vial, masing-masing botol vial terdiri dari 1 ekor ulat. Pengamatan dilakuan pada 24 jam, 48 jam, 72 jam, 96 jam dan 120 jam setelah perlakuan, dengan variabel pengamatan mortalitas, berat ulat pre pupa (instar 6), berat pupa dan persentase telur tetas. Objek dalam penelitian ini berupa ulat instar dua. Analisis data menggunakan anava ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: konsentrasi insektisida nabati minyak biji jarak pagar (J. curcas) berpengaruh terhadap mortalitas ulat buah H. armigera. Perlakuan dengan minyak biji jarak pagar (MJP) aksesi HS 35 asal Nusa Tenggara Timur dan aksesi SP 115 asal Sulawesi Selatan pada konsentrasi 20 ml MJP sudah cukup efektif mengakibatkan mortalitas ulat buah H. armigera dengan mortalitas masing-masing 43 % dan 48 %. Waktu 96 jam setelah penyemprotan mengakibatkan mortalitas ulat buah H. armigera. Interaksi antara konsentrasi dan waktu berpengaruh terhadap mortalitas ulat buah H. armigera. Bahan kimia yang terdapat dalam minyak biji jarak pagar dapat mempengaruhi serangga H. armigera mulai larva/ulat, pre pupa (instar 6), pupa, imago dan persentase telur tetas. Nilai LC50 dapat digunakan sebagai rekomendasi penggunaan insektisida nabati minyak biji jarak pagar.

Pengembangan media pembelajaran dalam bentuk buku paket digital untuk mata pelajaran seni budaya bidang seni rupa kelas VIII di SMP Negeri 1 Malang / Hendrik Kiswanto

 

Kata kunci: pengembangan, media pembelajaran, buku paket digital, Seni Budaya, Seni Rupa. Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah menciptakan berbagai media pembelajaran baru yang dianggap lebih menunjang proses pembelajaran. Salah satu hal yang menunjang proses pembelajaran adalah adanya sumber belajar yang mendukung. Seni rupa sebagai salah satu bidang dalam mata pelajaran Seni Budaya memiliki peranan sendiri dalam mengembangkan sensitivitas dan kretivitas perlu media yang lebih mendukung untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Dalam observasi yang dilakukan di SMP Negeri 01 Malang ditemukan bahwa terdapat masalah kurangnya pemahaman siswa dari penjelasan guru Seni Budaya karena metode yang digunakan masih terbatas pada metode konvensional, yakni ceramah. Perihal penggunaan media pembelajaran pun masih terbatas pada contoh-contoh gambar serta bahan ajar yang dikembangkan sendiri oleh guru Seni Budaya. Oleh karena itu guna meningkatkan kualitas pembelajaran, maka diupayakan mengembangkan sebuah media yang dapat membantu peserta didik untuk dapat memahami esensi materi Seni Budaya bidang Seni Rupa. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan mengembangkan dan menghasilkan suatu rancangan media pembelajaran dalam bentuk buku paket digital sebagai sumber belajar, diujicobakan keefektifan prototype-nya untuk siswa kelas VIII dalam mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa di SMP Negeri 01 Malang. Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan hasil adaptasi dari model pengembangan milik Sadiman. Subjek uji coba media pembelajaran ini adalah seorang ahli media pembelajaran selaku validator media, seorang ahli materi, yaitu guru mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 01 Malang, dan responden yang terdiri dari siswa kelas VIII yang dipilih secara acak. Instrumen dalam penelitian pengembangan ini adalah format penilaian berupa angket. Hasil pengembangan media pembelajaran ini berupa satu keping CD berisi buku paket digital yang memuat mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa cakupan semester satu. Hasil uji coba produk dalam pengembangan media ini berupa data kuantitatif dengan prosentase ahli media mencapai tingkat kevalidan 91%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 97%, dan uji kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 95%. Berdasarkan hasil pengembangan media pembelajaran ini, dapat disarankan untuk dimanfaatkan secara maksimal baik oleh siswa dan guru Seni Budaya terkait dan untuk pengembang selanjutnya agar memaksimalkan esensi materi daripada visualisasi media demi menghindari efek redudansi agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang antara yang tinggal di rumah dan yang tinggal di asrama / Khairul Bariyyah

 

Kata kunci: Kemandirian, Tinggal di Rumah, Tinggal di Asrama. Kemandirian adalah aktivitas seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian diperoleh siswa tentu berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Perbedaan kemandirian dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah tempat tinggal yang memungkinkan individu memiliki pengalaman yang berbeda. Tempat tinggal anak dalam penelitian ini dibedakan antara tempat tinggal di rumah dan tempat tinggal di asrama. Masalah dalam penelitian ini yaitu (1) Bagaimanakah keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah? (2) Bagaimanakah keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di Asrama? (3) Adakah perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dengan yang tinggal di Asrama. Tujuan penelitian ini adalah (1) Diperoleh deskripsi mengenai keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah. (2) Diperoleh deskripsi mengenai keragaman tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di Asrama. (3) Diperoleh deskripsi mengenai perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dengan yang tinggal di Asrama. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan deskriptif komparatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dan siswa yang tinggal di asrama. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode stratifield proportional random sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala kemandirian. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan persentase tingkat kemandirian siswa yang tinggal di rumah sedikit (37,7%) pada tingkat kemandirian tinggi, banyak (61,4%) pada tingkat kemandirian sedang dan sangat sedikit (9%) pada tingkat kemandirian rendah. Untuk tingkat kemandirian siswa yang tinggal di asrama banyak (70,1%) pada tingkat kemandirian tinggi, sedikit (29,9%) pada tingkat kemandirian sedang dan sangat sedikit (0%) siswa yang berada pada tingkat kemandirian rendah. Sedangkan uji T diketahui bahwa nilai p sebesar 0,000 < 0,05 diartikan hipotesis berbunyi ada perbedaan tingkat kemandirian siswa MAN 3 Malang yang tinggal di rumah dan yang tinggal di asrama dapat di terima. Bertitik tolak dari hasil penelitian ini, diajukan saran (1) hendaknya konselor memberikan layanan konseling kepada siswa yang memiliki tingkat kemandirian rendah serta dapat menjadikan asrama sebagai alternatif membantu siswa yang berada pada kategori tersebut. Konselor juga dapat memberikan layanan pemeliharaan dan pengembangan bagi siswa yang berada pada kategori tingkat kemandirian tinggi. (2) Khususnya peneliti dengan topik yang sama hendaknya menggunakan instrumen pengumpul data yang lain seperti observasi dan wawancara sehingga dapat diperoleh data yang lebih lengkap dan akurat.

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika materi keliling dan luas segi empat dan segitiga pada siswa kelas VII SMP Negeri 7 Malang / Ratih Mufidah Kusfianti

 

Kata Kunci : TSTS, Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Melalui kegiatan observasi dan wawancara, diketahui bahwa motivasi belajar siswa SMP Negeri 7 Malang sangat kurang. Hal disebabkan kurangnya motivasi ekstrinsik yakni perhatian dari orang tua. Kurang termotivasinya siswa dalam belajar berdampak pula pada hasil belajar siswa. Lebih dari 50% siswa mendapatkan nilai di bawah SKM yaitu minimal 67. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan penerapan model pembelajaran yang bervariasi dan mulai mengurangi metode ceramah. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TSTS. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ke dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar matematika siswa SMP Negeri 7 Malang serta untuk mendapatkan deskripsi tentang proses pembelajaran tipe TSTS yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 7 Malang pada bulan April – Mei 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 7 Malang yang berjumlah 40 orang. Motivasi belajar siswa diketahui dari hasil angket motivasi, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil tes yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor tes yang dilaksanakan di setiap siklus. Siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai nilai minimal 67 dan daya serap klasikal minimal 85% dari jumlah siswa yang mengikuti tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Skor motivasi rata- rata angket sebelum tindakan 154,6 atau 77,3% meningkat menjadi 170,86 atau 85% setelah pelaksanaan tindakan. Rerata kelas dari hasil evaluasi di siklus II juga mengalami peningkatan, pada saat siklus I sebesar 57,8 dan hasil belajar setelah tindakan sebesar 78,8 dengan peningkatan sebesar 11,4. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 25% dan pada siklus II meningkat menjadi 85%. Jadi, ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 60%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa guru dapat menerapkan pembelajaran kooperatif tipe TSTS dalam proses pembelajaran sebagai variasi dalam pembelajaran Matematika.

Penerapan media teka-teki silang untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Kiduldalem 2 Kota Malang / Dewi Masullah

 

Hubungan prestasi belajar mata diklat pengelolaan usaha jasa boga dengan motivasi berwirausaha siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang / Veronika Prihatiningsih

 

Kata kunci: prestasi belajar, motivasi berwirausaha Prestasi belajar merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi siswa baik dari dalam maupun luar individu ketika mengikuti pembelajaran. Prestasi belajar berfungsi sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai. Mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga bertujuan untuk menumbuhkan motivasi berwirausaha siswa. Motivasi berwirausaha siswa terbagi menjadi dua jenis yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui prestasi belajar mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga, (2) mengetahui motivasi berwirausaha siswa, dan (3) mengetahui hubungan prestasi belajar mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga dengan motivasi berwirausaha siswa. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian ex-postfacto correlational. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang yang terdiri dari dua kelas dengan total populasi 66 orang. Pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik korelasi Product Moment. Dari hasil analisis data deskriptif menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang adalah cukup baik. Motivasi berwirausaha siswa kelas XI Resto SMK Negeri 7 Malang pada umumnya cukup tinggi. Sedangkan berdasarkan korelasi Product Moment diperoleh koefisien korelasi 0,575, jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara prestasi belajar mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga dengan motivasi berwirausaha siswa kelas XI resto SMK Negeri 7 Malang dengan keeratan hubungan sedang. Disarankan agar siswa tetap mempertahankan prestasi belajar dalam mata diklat Pengelolaan Usaha Jasa Boga dan mewujudkan motivasi berwirausaha dengan memulai berwirausaha. Untuk guru agar lebih memotivasi siswa untuk berwirausaha dengan memberikan materi dan media pembelajaran yang mendukung. Saran untuk sekolah agar melengkapi fasilitas yang mendukung siswa untuk berwirausaha.

Pengembangan modul logika matematika kelas X beracuan konstruktivis sebagai penunjang pembelajaran pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) / Selviana Resti Riani

 

Kata kunci: Konstruktivis, Modul Matematika, Logika Matematika, RSBI. Pembelajaran konstruktivis merupakan pembelajaran yang lebih berpusat pada pembelajar di mana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan pengajar hanya sebagai fasilitator belajar. Salah satu bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran konstruktivis adalah modul. Pada lingkungan RSBI, kurikulum yang dilaksanakan adalah kurikulum reguler dan kurikulum luar seperti Cambridge yang mengharuskan pemakaian bahasa Inggris dalam setiap perangkat pembelajaran. Dipilihnya materi logika dalam pengembangan modul ini adalah karena pokokbahasan logika tidak termasuk dalam kurikulum Cambridge tetapi diajarkan pada RSBI, sehingga jarang ditemui bahan ajar materi logika dalam bahasa Inggris. . Modul dikembangkan dengan menggunakan pendekatan konstruktivis (pada aktivitas let’s try it) sebagai media pembelajaran pada pokok bahasan logika matematika. Modul disajikan dalam bahasa Inggris dan dilengkapi dengan gambar untuk meningkatkan motivasi siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada pada modul. Modul terdiri dari lima kegiatan. Masing-masing kegiatan terdiri dari beberapa aktivitas antara lain check capability, recall, let’s try it, let’s complete it, student worksheets dan evaluation. Modul dilengkapi dengan umpan balik (follow up) di mana siswa dapat membandingkan hasil kerjanya dengan kunci jawaban dan menilainya sendiri. Prosedur dalam pengembangan modul terdiri dari tiga tahap yaitu (1) analisis pendahuluan, (2) penyusunan modul, dan (3) validasi dan revisi. Tahap analisis pendahuluan terdiri dari aktivitas mengkaji masalah modul, KTSP dan Cambridge, serta pendekatan konstruktivis. Tahap penyusunan modul terdiri dari aktivitas menentukan materi, merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun rancangan kegiatan belajar siswa, menyusun perangkat evaluasi, dan menyusun komponen kelengkapan modul. Tahap validasi dan revisi terdiri dari aktivitas validasi dan uji coba. Modul logika matematika telah divalidasi oleh 1 dosen Matematika Universitas Negeri Malang, 2 guru matematika pada RSBI yaitu guru SMA Negeri 4 Malang. Uji coba melibatkan 7 siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang. Hasil validasi maupun uji coba menunjukkan modul logika matematika sebagai penunjang pembelajaran pada RSBI adalah valid.

Gaya penyelesaian konflik narapidana lembaga pemasyarakatan klas IIA Mataram / Anugrawuri Handayani

 

Kata kunci: gaya penyelesaian konflik, narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram adalah salah satu lembaga pemasyarakatan yang ada di Indonesia. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada staf Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas, dapat diketahui bahwa sering terjadi konflik antar narapidana di lapas ini. Penyebab konflik yang terjadi cukup beragam, seperti penggunaan barang tanpa izin, salah paham, dan kehilangan barang. Salah satu hal yang patut untuk diperhatikan adalah bagaimana narapidana menyelesaikan konflik yang dialaminya di dalam lapas. Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui konflik yang terjadi pada narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram, 2) Untuk mengetahui sumber-sumber konflik yang terjadi pada narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram, 3) Untuk mengetahui gaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian basic or generic qualitative study. Lokasi penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Mataram. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sample. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi nonpartisipan. Keseluruhan data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik analisis basic or generic qualitative study. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan 1) ketekunan pengamatan, 2) triangulasi sumber dan metode, 3) generalisasi empiris, 4) verifikasi teori. Hasil penelitian ini menunjukkan 1) Konflik yang terjadi pada narapidana adalah konflik antar individu dan konflik dalam diri individu, 2) Sumber-sumber konflik yang terjadi pada narapidana adalah tindakan salah satu pihak yang merugikan orang lain, salah paham, dan perasaan malu, 3) Gaya penyelesaian konflik narapidana adalah kompromi, memaksa, bantuan pihak ketiga, menghindar, memendam, dan pemecahan masalah. Gaya penyelesaian konflik memendam adalah meredam emosi negatif dengan mengalihkan ke hal lain sehingga tidak menjadi sumber konflik kembali. Berdasarkan hasil penelitian disarankan 1) Bagi narapidana, hendaknya dapat memilih gaya penyelesaian konflik yang efektif dan menghindari cara kekerasan dalam menyelesaikan konflik, seperti kompromi, bantuan pihak ketiga, dan pemecahan masalah, 2) Bagi lembaga pemasyarakatan, hendaknya dapat meredam sumber konflik sedini mungkin dan lebih intensif mengadakan kegiatan bagi narapidana, seperti pelatihan keterampilan kerja, kegiatan rohani, dan olahraga, 3) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya lebih memahami kehidupan narapidana di dalam lapas sehingga mempermudah pengumpulan data.

Penerapan media belajar multi dimensi untuk meningkatkan aktivitas dan pemahaman konsep pada pelajaran IPA kelas III di SDN Lakarsantri III - 474 Surabaya / Wahyu Supriyati

 

Kata kunci : Multi dimensi, aktivitas pemahaman konsep Rendahnya nilai hasil belajar IPA materi kenampakan permukaan bumi siswa kelas III dari perolehan data peneliti menjadi masalah yang perlu dicari penyebabnya, dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan meningkatkan aktivitas dan pemahaman konsep, serta diharapkan dapat digunakan dalam pengajaran pendidikan IPA di sekolah, yaitu pada materi IPA kelas III SD Bab kenampakan permukaan bumi. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas (PTK). Langkah PTK meliputi 2 siklus, setiap siklus terdiri dari (1) perencanaan; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi; (4) refleksi. Tehnik pengumpulan data yang digunakan: observasi, wawancara, dokumentasi, instrumen penelitian berupa LKS, lembar observasi siswa, format kerja kelompok. Analisis data yang digunakan berupa deskriptif kualitatif maupun deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SDN Lakarsantri III – 474 Surabaya mulai tanggal 05 April – 28 Juni 2010. Rancangan yang digunakan adalah rancangan PTK ”guru sebagai peneliti”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan media multi dimensi dapat meningkatkan hasil belajar siswa IPA kelas 3 SDN Lakarsantri III – 474 Surabaya. Hal ini dapat dilihat pada hasil belajar pada siklus I. Aktivitas 75% menjadi 91,75%. Pemahaman konsep pada siklus II 65% menjadi 75% pada siklus II. Berdasarkan hasil temuan dan simpulan dalam penelitian ini adalah bahwa penerapan pembelajaran dengan media tiga dimensi dapat meningkatkan aktifitas dan pemahaman konsep pembelajaran tentang kenampakan permukaan bumi.

Hubungan antara minat membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita (studi pada siswa kelas XI di SMK Negeri 7 Malang) / Heny Purnamawati

 

Kata Kunci : Minat, Membuat Pola, Menjahit, Kemampuan belajar, Membuat Busana Wanita Tuntutan pendidikan di bidang kejuruan yaitu SMK, merupakan bekal siswa dalam mencapai keberhasilan dalam menempuh masa depan. Semua hal tersebut dikembalikan lagi pada siswa sebagai seorang pelajar dan kepada guru sebagai orang yang memberikan pengajaran, karena berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar tergantung dari siswa dan guru, oleh karena itu minat dan kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu hal, khususnya dalam bidang busana sangatlah diperlukan, baik untuk pelajaran teori maupun praktek. Faktor- faktor yang mempengaruhi minat adalah perhatian, disiplin, dan ketertarikan. Dari faktor tersebut dapatlah diukur minat siswa dalam membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara minat membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita baik secara parsial maupun secara simultan. Sedangkan responden dari penelitian ini adalah siswa kelas XI jurusan Tata Busana di SMK Negeri 7 Malang dengan jumlah siswa sebanyak 34 orang. Penelitian ini termasuk dalam jenis rancangan penelitian Kolerasional. Peneliti menggunakan rumus korelasi Product Moment untuk mencari hubungan secara parsial dan menggunakan rumus Regresi berganda untuk mencari hubungan secara simultan. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan relibilitas dengan sampel uji coba sebanyak 34 responden. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Minat membuat pola memiliki nilai sig t = 0,000 lebih kecil dari nilai signifikan (α=0,05) sehingga pada peluang kesalahan 5% mempunyai hubungan terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita (2) Minat menjahit memiliki nilai sig t = 0,000 lebih kecil dari nilai signifikan (α=0,05) sehingga pada peluang kesalahan 5% mempunyai hubungan terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita (3)Secara simultan kedua variabel minat membuat pola dan minat menjahit memiliki hubungan yang signifikan terhadap kemampuan membuat busana wanita. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) terdapatnya hubungan positif signifikan antara minat membuat pola terhadap kemampuan membuat busana wanita, (2) terdapatnya hubungan positif signifikan antara minat menjahit terhadap kemampuan membuat busana wanita, dan (3) terdapatnya hubungan antara minat membuat pola dan menjahit terhadap kemampuan belajar membuat busana wanita. Untuk saran- saran yang dapat peneliti berikan antara lain: (1) dari pihak sekolah meningkatkan sarana dan prasarana untuk menunjang proses belajar mengajar (2) pengajar lebih memberikan dorongan dan semangat dalam proses belajar mengajar

Peningkatkan prestasi belajar dengan pendekatan berbasis aktivitas mata pelajaran IPA pada siswa kelas IV semester 2 SDN menanggal 601 surabaya / Ani Rosuliyah

 

Pengaruh penerapan model pembelajaran cooperative script terhadap hasil belajar geografi pada topik hidrosfer kelas X SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek / Wulan Dwi Permatasari

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Model Cooperative Script, hasil belajar Berdasarkan pengamatan yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Durenan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kurang aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut terjadi karena pola pembelajaran yang masih kurang bervariasi. Selain itu, hal tersebut juga berdampak pada hasil belajar siswa yang tidak optimal. Siswa tidak dapat menerima dan mengendapkan materi belajar lebih banyak yang disajikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar Geografi pada topik hidrosfer kelas X SMA Negeri 1 Durenan Trenggalek. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan mengambil subjek penelitian dua kelas yaitu kelas X B sebagai kelas eksperimen dan kelas X A sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes untuk prates dan pascates. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan (Independent Samples Test) yang dapat diselesaikan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kntrol. Dari hasil analisis data diketahui bahwa hasil belajar siswa pada kelas eksperimen memiliki rata-rata sebesar 29,21 sedangkan pada kelas kontrol memiliki rata-rata 16,97 dengan nilai probabilitas (p) 0,000, sehingga ada pengaruh penerapan model pembelajaran Cooperative Script terhadap hasil belajar Geografi siswa pada topik Hidrosfer. Disarankan bagi guru Geografi untuk menggunakan model pembelajaran Cooperative Script sebagai variasi model pembelajaran karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan model ini untuk materi selain topik Hidrosfer.

Manajemen pemasaran sekolah gratis (Studi kasus di SMP PGRI 1 Batu) / Syaiful Anwar

 

Kata kunci: manajemen, pemasaran sekolah, sekolah gratis Pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara Indonesia. Untuk itu seluruh masyarakat harus bisa merasakannya, jika dari masyarakat ada yang berkeberatan tentang biaya pendidikan yang mahal dari pihak pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan berupa pemberian dana bantuan operasional sekolah (BOS). Dengan adanya BOS diharapkan sekolah tidak memungut biaya dari siswa. Tetapi dalam kenyataanya banyak sekolah masih memungut biaya dari siswa. Untuk mengatasi hal ini harus ada sekolah gratis yang tidak memungut biaya dari siswa sama sekali atau gratis. Tetapi ada pendapat di kalangan masyarakat bahwa sekolah gratis tidak mutu dan tidak berkualitas. Untuk menepis pandangan ini maka sekolah harus melakukan kegiatan pemasaran dan promosi sekolah untuk memaparkan program-program sekolah yang dimiliki, seperti prestasi yang diraih, dan keunggulan sekolah. Kegiatan pemasaran bertujuan untuk menarik minat calon peserta didik. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk menelaah lebih dalam tentang manajemen pemasaran sekolah gratis. Ada enam tujuan dalam penelitian ini: (1) mendeskripsikan prosedur perencanaan pemasaran sekolah gratis, (2) prosedur pengorganisasian pemasaran sekolah gratis, (3) mendeskripsikan prosedur pelaksanaan pemasaran sekolah gratis, (4) mendeskripsikan prosedur evaluasi pemasaran sekolah gratis, (5) mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pemasaran sekolah, (6) mendeskripsikan pemberdayaan faktor pendukung dan strategi penanggulangan faktor penghambat dalam pemasaran sekolah gratis. Penelitian ini dilakukan di SMP PGRI 1 Batu dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan (1) observasi; (2) wawancara mendalam; (3) studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini adalah (1) reduksi data; (2) dispay data; (3) verifikasi data. Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan beberapa cara yaitu: (1) ketekunan pengamatan; (2) triangulasi; (3) pengecekan anggota. Hasil penelitian menunjukkan: (1) prosedur perencanaan pemasaran sekolah gratis di SMP PGRI 1 Batu, diawali dengan rapat koordinasi antara guru dan kepala sekolah dalm rapat yang yang dibicarakan adalah teknik pemasaran, dana yang digunakan untuk pemasaran, (2) prosedur pengorganisasian pemasaran sekolah gratis, proses ini adalah pembagian tugas dan penerbitan SK kepanitiaan kegiatan pemasaran, (3) prosedur pelaksanaan pemasaran sekolah gratis. Proses pelaksanaan dilakukan dengan 3 cara. Yaitu dengan media (brosur, spanduk, plakat), melibatkan orang (siswa, alumni, orangtua siswa), dan kegiatan yang diselenggarakan sekolah (pembagian daging kurban dan zakat fitrah, rapat semesteran). (4) prosedur evaluasi pemasaran sekolah gratis, dilakukan dengan tiga cara: evaluasi menyeluruh, pengawasan supervisi, dan pengawasan monitoring. (5) faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan pemasaran sekolah. Faktor pendukung mendapatkan dukungan dari Dinas Pendidikan Kota Batu, dukungan dari siswa, alumni, dan kepala sekolah dasar. Faktor penghambat dana yang terbatas, letak yang tidak strategis, dan tidak ada dukungan masya yang kuat. (6) mendiskripsikan pemberdayaan faktor pendukung dan strategi penanggulangan faktor penghambat dalam pemasaran sekolah gratis. Pemberdayaan dengan cara kerjasama dan meningkatkan tali persaudaran. Penanggulangan dilakukan dengan penambahan pencarian dana, pembuatan penunjuk arah letak sekolah, dan sering dilakukuan rapat sesama anggota PPLP PGRI Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian sasaran-saran diajukan adalah (1) bagi Kepala SMP PGRI 1 Batu, diharapkan secara terus menerus melakukan perbaikan dalam menyelenggarakan kegiatan pemasaran sekolah gratis yang dilakukan oleh sekolah, sehingga dapat meningkatkan jumlah siswa, (2) bagi guru SMP PGRI 1 Batu, dapat meningkatkan kinerjanya dan saling bekerja sama, (3) bagi Dinas Pendidikan Kota Batu, lebih memperhatikan lagi sekolah swasta yang berada diwilayah Kota Batu. (4) bagi Jurusan Administrasi Pendidikan Jurusan mengkaji pemasaran yang dilakukan lembaga pendidikan secara luas, untuk pendalaman ilmu manajemen pendidikan, khususnya manjemen humas dan kurikulum, (5) Peneliti lain kepada para peneliti lain dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagi aspek lain yang bermanfaat dari penyelenggaran kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh sekolah yang dapat meningkatkan jumlah siswa.

Pembelajaran fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa kelas VIII-4 semester II di SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep / Nurhidayati

 

Kata kunci: peta konsep, eksperimen, pemahaman konsep Upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep bagi siswa merupakan hal penting yang perlu diupayakan perbaikannya. Pentingnya perbaikan tersebut karena konsep-konsep Fisika merupakan konsep berjenjang, berkembang dari konsep sederhana ke konsep yang lebih kompleks. Perbaikan bisa dimulai dari perbaikan strategi pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memahami suatu konsep. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Fisika dan hasil observasi di kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Kalianget, siswa kurang aktif dan kurang memahami konsep-konsep Fisika. Adapun strategi pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen. Adapun tujuan pada penelitian ini, diantaranya (1) mengetahui proses pembelajaran Fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa kelas VIII-4 semester II SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep dan (2) mengetahui proses pembelajaran Fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa kelas VIII-4 semester II SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa yang ada di dalam kelas dengan SKM 60. Berdasarkan kondisi di atas, maka dilakukan penelitian tindakan kelas dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa. Oleh karena itu, dalam penelitian tindakan kelas ini tindakan yang diberikan adalah memberi tindakan proses pembelajaran Fisika dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen. Penelitian ini menggunakan dua siklus. Pada masing-masing siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep berjumlah 28 siswa. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan memberi tindakan meliputi: proses pembelajaran dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen dan memberikan tes untuk mengetahui peningkatkan pemahaman konsep Fisika siswa kelas VIII-4 SMP Negeri 2 Kalianget Kabupaten Sumenep. Peningkatan pemahaman konsep Fisika dibuktikan dengan hasil siklus I ketuntasan belajarnya adalah 60, 7 % dan mengalami peningkatan pada siklus II yang ketuntasan belajarnya adalah 85,71%. Atas dasar hasil penelitian, maka disarankan: (1) bagi guru-guru IPA khususnya Fisika hendaknya dalam pembelajaran menggunakan peta konsep disertai eksperimen dan (2) guru yang melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan peta konsep disertai eksperimen harus bisa mengelolah kelas dengan baik.

Capitalist exploitation on Oompa-Loompas in Charlie and the Chocolate Factory the movie / Ayu Liskinasih

 

Key terms: capitalism, exploitation, labor, false consciousness. Capitalism generates different classes in society: the passive owner (bourgeoisie) and the proletariats. The proletariats are forced to work for living and sell her/his labor power to capitalist, while the capitalists enjoy the profit from the labors’ product. Exploitation happens when the labors get less equivalent compensation than the actual amount of work done. It is almost impossible for the proletariats to refuse their conditions, since their consciousnesses are constructed by the capitalist that they will survive if only they work. Tim Burton’s movie Charlie and the Chocolate Factory (2005) depicts the phenomenon of exploited proletariat from the relation of the Wonka’s factory worker, Oompa-Loompas and the capitalist, Willy Wonka. The foci of this study are to analyze how the movie represents capitalist exploitation on the workers and how the exploitation happens. The story is interpreted using Marxist approach. Previous studies had been conducted to discuss the movie from various approaches. Unfortunately, critics are rarely talking about Oompa-Loompas. The topic of labor exploitation is actually important to discuss further in this analysis; for this issue is connected to the world today’s labor exploitation problem. This study has proven that Wonka, the capitalist had exploited his workers, Oompa-Loompas. This matter could be shown from Oompa-Loompas’ wages, which are unequal to the amount of work they have done. Oompa-Loompas also lost their freedom to interact with outer world, since Wonka owned them exclusively and put them in a giant “prison”—Wonka’s chocolate factory. Single actor which performed the whole Oompa-Loompas shows capitalist depiction of labor. The whole Oompa-Loompas were identical; this feature fits to typical capitalist who ignores individual variation. Oompa-Loompas acted only as production machine. Their working motivations were only economic compulsion to survive and to keep the capitalist system work. Oompa-Loompa always looked happy working in the factory, though they were exploited. This happiness was a pseudo condition; since the false consciousness had made Oompa-Loompas not realize their condition as exploited workers. Wonka had shaped Oompa-Loompas’ thoughts, ideas, and frameworks and developed a system in such a way as to generate false consciousness and ideology: Oompa-Loompa would not survive without Wonka’s help and to work in Wonka’s factory was their fate, therefore they had to sincerely accept their condition in the factory; Oompa-Loompas were kept in ignorance of what was wrong with them. This condition created a status quo, which made the workers think their condition was normal, while in reality they were actually exploited by capitalist.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 |