Pengaruh cara menggunakan modul dan cara belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa akuntansi kelas XI di SMK NEGERI 1 TUREN./Silvi Nofrianti

 

ABSTRAK Nofrianti, Silvi. 2009. “Pengaruh Cara Siswa Menggunakan Modul dan Cara Belajar Siswa terhadap Prestasi Siswa Akuntansi Kelas XI di SMK Negeri 1 Turen”. Skripsi, program studi pendidikan akuntansi jurusan akuntansi fakultas ekonomi universitas negeri malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Sumadi, SE. M.M., (II) Ika Putri Larasati, SE. M.com. Kata kunci: Cara Siswa Menggunakan Modul, Cara Belajar dan Prestasi Siswa. Cara siswa menggunakan modul adalah cara siswa mempelajari modul yang disesuaikan dengan petunjuk penggunaan modul yang di dalamnya dicantumkan bagaimana cara mempelajari materi, bagaimana cara mengerjakan soal, cara mendiskusikan permasalahan dengan teman atau fasilitator (guru) serta bagaimana melakukan evaluasi melalui pembahasan soal-soal yang dikerjakan. Cara belajar adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada suatu situasi sebagai bentuk usaha belajar yang dilakukan. Cara belajar siswa meliputi persiapan belajar, cara mengiluti pelajaran, dan cara mengikuti ujian. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) cara siswa menggunakan modul, cara belajar siswa dan prestasi belajar siswa akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, (2) menganalisis pengaruh positif yang signifikan dari variabel X1 terhadap Y, (3) menganalisis pengaruh positif yang signifikan dari variabel X2 terhadap Y, (4) menganalisis pengaruh positif yang signifikan dari variabel X1 dan X2 terhadap Y. Jenis penelitian ini merupakan penelitian asosiatif atau hubungan dengan rancangan ex post facto, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Variabel dalam penelitian ini meliputi dua variabel bebas yaitu cara siswa menggunakan modul modul (X1) dan cara belajar siswa (X2), dan satu variabel terikat yaitu prestasi belajar siswa(Y). Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Turen, dengan populasi seluruh siswa kelas XI Jurusan Akuntansi tahun ajaran 2009/2010 dengan jumlah 78 siswa. Pengambilan sampil menggunakan teknik propotional random sampling, yaitu 50% dari jumlah populasi.. Analisis yang digunakan untuk mengolah data adalah analisis regresi ganda, dengan syarat terpenuhinya uji asumsi klasik. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variabel (X1) terbukti mempengaruhi variabel (Y) secara positif signifikan (menolak Ho, menerima Ha), dan variabel (X2) terbukti mempengaruhi variabel (Y) secara positif signifikan (menolak Ho, menerima Ha). Sehingga variabel (X1) dan variabel (X2) terbukti mempengaruhi secara simultan terhadap variabel (Y). Saran peneliti ini adalah: (1) Untuk sekolah yang menerapkan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar modul, sebaiknya menetapkan standar pembuatan modul untuk setiap mata pelajaran, (2) Untuk peneliti selanjutnya hendaknya mengamati secara langsung proses pembelajaran dengan modul di dalam kelas. Dengan cara tersebut peneliti dapat mengetahui bagaimana guru menerapkan pembelajaran modul, bagaimana siswa menggunakan modul, dan bagaimana cara belajar siswa di dalam kelas.

Pengaruh aspek-aspek pelatihan kerja terhadap prestasi kerja karyawan pada hotel pelangi malang./Anugrah Dwi Cahyadi

 

ABSTRAK Cahyadi, Anugrah Dwi. 2009. Pengaruh Aspek-Aspek Pelatihan Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada Hotel Pelangi Malang. Skripsi, S-1 Manajemen, Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia, Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi Malang. Pembimbing : (1) Drs. Muhammad Arief, M.Si, (2) Drs. I Nyoman Saputra, M.Si. Kata Kunci : Aspek Pelatihan, Pelatihan Kerja Karyawan. Sumber Daya Manusia dalam organisasi atau dalam perusahaan merupakan salah satu aset berharga bagi perkembangan organisasi. Dikatakan sebagai aset berharga karena sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan itulah nantinya akan menentukan apakah perusahaan akan berkembang pesat atau malah mengalami kemunduran. Oleh sebab itu, banyak manajer perusahaan yang memprioritaskan para karyawan dan sebisa mungkin memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Salah satu bentuk perhatian terhadap para karyawan adalah dengan mengikutsertakan mereka dalam pelatihan, melalui pelatihan karyawan akan menjadi lebih terampil dan berkembang lebih cepat serta bekerja lebih efisien. Selain itu dapat meningkatkan prestasi kerja karyawan. Penelitian ini dilakukan di Hotel Pelangi Malang. Aspek-aspek yang akan diteliti adalah kurikulum, metode pelatihan, pemateri/pelatih, media, prestasi pelatihan dan pengaruhnya terhadap prestasi kerja karyawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang (1) Kondisi pelatihan yang dijabarkan dalam lima variabel yaitu kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan, (2) Kondisi prestasi kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang, (3) Menjelaskan pengaruh aspek-aspek pelatihan kerja yang terdiri dari kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan terhadap prestasi kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang,(4) Aspek pelatihan yang dominan dalam meningkatkan prestasi kerja karyawan. Sampel dalam penelitian ini adalah 34 karyawan dengan menggunakan teknik purposif sampling yaitu yang pernah mengikuti program pelatihan dan diambil keseluruhan sehingga diambil istilah subjek penelitian. Metode yang dipakai untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode angket dimana responden diberikan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, prestasi pelatihan dan prestasi kerja. Analisa data menggunakan program SPSS for windows 15,0. Hasil perhitungan dari penelitian ini diperoleh bahwa secara parsial dan simultan tedapat pengaruh yang signifikan antara aspek pelatihan (X), (kurikulum (X1), metode pelatihan(X2), pelatih/pemateri(X3), media pelatihan(X4), dan prestasi pelatihan(X5)) terhadap prestasi kerja (Y). Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan. Dengan perhitungan tersebut maka hipotesis alternatif (Ha) pertama yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan positif antara kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan terhadap prestasi karyawan di Hotel Pelangi Malang dapat diterima hal ini dapat dilihat dari perhitungan regresi linier berganda dimana (X1)= 0,161, (X2)=0,202, (X3)=0,231, (X4)=0,179, (X5)=0,177. Sementara hipotesis alternatif (Ha) kedua yang menyatakan bahwa aspek pelatih/pemateri berpengaruh dominan dalam meningkatkan prestasi kerja karyawan di Hotel Pelangi Malang dapat diterima. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisien regresi yakni aspek pelatih/pemateri memiliki pengaruh yang paling besar yakni sebesar 0,231. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa variable kurikulum, metode pelatihan, pelatih/pemateri, media pelatihan, dan prestasi pelatihan dalam kondisi baik dapat memiliki pengaruh baik secara parsial maupun simultan terhadap prestasi kerja karyawan. Saran dalam penelitian ini adalah terus meningkatkan kemampuan pelatih, memperbanyak metode yang digunakan, memperbaiki media yang digunakan dan meneruskan program pelatihan.

Mengukur tingkat keaktifan siswa dalam praktikum kimia berbasis inkuiri untuk pembelajaran laju reaksi. / Lutfiah Fitriya Ningrum

 

ABSTRAK Ningrum, Luthfiah Fitriya. 2010. Mengukur Tingkat Keaktifan Siswa Dalam Praktikum Kimia Berbasis Inkuiri Untuk Pembelajaran Laju Reaksi. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si., (II) Drs. Muhadi. Kata kunci: tingkat keaktifan, praktikum kimia, inkuiri, laju reaksi Pembelajaran dengan penemuan (inkuiri) merupakan suatu proses yang bergerak dari langkah observasi sampai langkah pemahaman. Siswa adalah ilmuan yang mencari kebenaran ilmiah melaui langkah-langkah yang sistematis. Kegiatan praktikum berbasis inkuiri belum banyak dilakukan. Pada umumnya kegiatan laboratorium dipandu dengan menggunakan petunjuk praktikum sangat lengkap sehingga siswa hanya melakukan kegiatan sesuai dengan yang ada pada petunjuk yang diberikan guru. Oleh karena itu, dengan kegiatan praktikum secara inkuiri diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan aktivitas siswa dalam melakukan kegiatan laboratorium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) tingkat keaktifan siswa dalam menyusun prosedur praktikum kimia berbasis inkuiri untuk pembelajaran laju reaksi, (2) tingkat keaktifan siswa dalam melaksanakan praktikum, (3) tingkat kemampuan siswa dalam menganalisis hasil praktikum dalam praktikum kimia berbasis inkuiri untuk pembelajaran laju reaksi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sampel penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 2 MAN Malang 1 tahun ajaran 2009-2010 yang berjumlah 39 orang dan siswa kelas XI IPA 5 SMAN 8 Malang tahun ajaran 2009-2010 yang berjumlah 40 orang, diambil secara acak. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar eksperimen, lembar catatan untuk guru, contoh laporan praktikum, instrumen untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam menyusun prosedur praktikum, instrumen untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam melaksanakan praktikum, dan instrumen untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam menganalisis hasil praktikum. Analisis data dilakukan dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat keaktifan siswa MAN Malang 1 dan SMAN 8 Malang dalam praktikum kimia berbasis inkuiri. Rata-rata tingkat keaktifan siswa kelas XI IPA 2 MAN Malang 1 dalam menyusun prosedur praktikum tergolong cukup dengan persentase 51,28%, merumuskan masalah tergolong cukup dengan persentase 71,79%, merumuskan hipotesis tergolong kurang dengan persentase 51,28%, melakukan pengamatan tergolong baik dengan persentase 61,54%, melaksanakan praktikum tergolong baik dengan persentase 74,36%, mencatat data hasil praktikum tergolong baik dengan persentase 74,36%, menganalisis data tergolong baik dengan persentase 71,79%, dan menarik kesimpulan tergolong baik dengan persentase 74,36%. Sedangkan rata-rata tingkat keaktifan siswa kelas XI IPA 5 SMAN 8 Malang dalam menyusun prosedur praktikum tergolong cukup dengan persentase 62,50%, merumuskan masalah tergolong baik dengan persentase 65,00%, merumuskan hipotesis tergolong baik dengan persentase 67,50%, melakukan pengamatan tergolong baik dengan persentase 67,50%, melaksanakan praktikum tergolong cukup dengan persentase 47,50%, mencatat data hasil praktikum tergolong baik dengan persentase 62,50%, menganalisis data tergolong baik dengan persentase 70,00%, dan menarik kesimpulan tergolong sangat baik dengan persentase 95,00%.

Pengaruh struktur modal dan leverage terhadap rentabilitas pada perusahaan food and beverages yang listing di bursa efek indonesia (BEI)./Novianto Wahyu Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Novianto Wahyu. Pengaruh Struktur Modal dan Leverage Terhadap Rentabilitas Perusahaan Food and Beverages Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Bambang Sugeng, S.E., M.A., M.M., Ak. (II) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: Debt to Equity Ratio (DER), Leverage dan Return on Equity (ROE). Struktur modal dari suatu perusahaan menggambarkan pendanaan operasional perusahaan dengan menggunakan modal sendiri atau hutang jangka panjang. Perusahaan dapat memilih alternatif, apakah perusahaan akan lebih banyak menggunakan modal sendiri atau lebih banyak menggunakan hutang jangka panjang. Kedua alternatif tersebut memiliki pengaruh terhadap rentabilitas yang akan diperoleh perusahaan. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi terhadap pengujian salah satu model teoritik yang menjelaskan tentang struktur modal suatu perusahaan. Bagi perusahaan penelitian ini diharapkan juga bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan pihak manajemen dalam menentukan langkahlangkah yang akan diambil untuk perkembangan usahanya di masa yang akan datang, khususnya yang terkait dengan penentuan struktur modal perusahaan. Rumusan hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) diduga bahwa variabel DER berpengaruh negatif terhadap ROE, (2) diduga variabel leverage berpengaruh negatif terhadap ROE. Penelitian ini digolongkan kedalam penelitian eksplanasi yaitu jenis penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 16 perusahaan Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan, yaitu perusahaan harus melaporkan laporan keuangannya selama periode 2005-2007. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari ICMD (Indonesia Capital Market Directory) periode 2005-2007. Analisis data menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS. Uji yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengujian hipotesis yang dilakukan menujukkan hasil yang positif antara variabel DER terhadap ROE dan variabel leverage terhadap ROE, walaupun hasil penelitian ini menunjukkan arah yang tidak sesuai dengan yang diindikasikan dalam perumusan hipotesis penelitian yaitu terdapat pengaruh negatif antara masing-masing variabel bebas yaitu DER dan leverage terhadap ROE pada perusahaan food and beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia.

Peningkatan prestasi belajar IPS kelas IV Menggunakan media ritatoon di SDN Sadaeng II Tosari Kabupaten Pasuruan / Sukartini

 

ABSTRAKSI Sukartini, 2009. Peningkatan Prestasi Belajar IPS kelas IV Menggunakan Media Ritatoon di SDN Sedaeng II Tosari Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Juruasan Keilmuan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I (1) Drs Usep Kustiawan, M.Sn, Pembimbing II (2) Drs Toha Mashudi,S.Pd, M.Pd Kata Kunci : Hasil Belajar IPS, Media Ritatoon Berdasarkan hasil pengamatan di SDN Sedaeng II, Permasalahan yang sering timbul diantaranya, 1) Fokus pembelajaran hanya berpusat pada guru, 2) Rendahnya tingkat aktivitas siswa didalam proses pembelajaran, 3) Guru belum menggunakan alat bantu media yang sesuai dengan materi yang diajarkan khususnya mata pelajaran IPS Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1) Mendeskripsikan penerapan media pembelajaran Ritatoon dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Sedaeng II Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui media pembelajaran Ritatoon pada siswa kelas IV SDN Sedaeng II Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan Dalam penelitian ini penerapan media pembelajaran Ritatoon pada siswa kelas IV SDN Sedaeng II menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Guru menjelaskan suatu materi kepada siswa , 2) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dalam kerja kelompok , 3) Mengevaluasi hasil kerja siswa Data penelitian berupa hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan metode tes, observasi, dan wawancara. Penerapan media pembelajaran Ritatoon memiliki dampak positif dapat meningkatkan hasil pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari hasil sebelum dilaksanakn media Ritatoon diketahui nilai rata-rata kelas 51,1 dengan ketuntasan belajar klasikal 22,2%, meningkat menjadi silai rata-rata 67,7 dengan ketuntasan belajar klasikal 50%. Pada siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 82,8 dengan ketuntasan belajar kalsikal 82,5% Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran Ritatoon adalah siswa masih belum terbiasa dengan media pembelajaran Ritatoon sehingga siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah. Hasil belajar siswa kelas IV SDN Sedaeng II Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan masih perlu ditingkatkan lasi melalui upaya-upaya terencana dan kesinambungan. Hasil penelitian ini akan dijadikan landasan bagi peneliti lain untuk penelitian sejenis yang akan datang. Berdasarkan hasil penelitian kelas ini, maka saran yang kami ajukan adalah : 1) Kepada guru disarankan menerapkan media pembelajaran Ritatoon pada pembelajaran IPS atau mata pelajaran yang lain, 2) Bagi lembaga Pendidikan SD disarankan menerapkan media Ritaoon untuk meningkatakan kualitas atau mutu prestasi siswa dan kinerja guru, 3) Bagi peneliti lain disarankan dapat mengembangkan media Ritatoon pada mata pelajaran yang lain sehingga diperoleh kualitas pendidikan yang baik.

Perbedaan prestasi belajar anatara mahasiswa yang diterima melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I, Mandiri II angkatan 2008 di jurusan teknik mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Akhmad Afandi

 

ABSTRAK Akhmad, Afandi. 2010. Perbedaan Prestasi Belajar Antara Mahasiswa Yang Diterima Melalui Jalur PMDK, SNMPTN MANDIRI I Dan MANDIRI II Angkatan 2008 Di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing I).Drs.H. Sunomo, M.Pd. 2). Drs.H. Suwarno, M.Pd Kata Kunci: Seleksi, Mahasiswa Seleksi merupakan suatu alat untuk menjaring calon siswa mana yang paling cocok untuk jenis pendidikan tertentu. Dari tahun ketahun peminat untuk masuk perguruan tinggi terutama yang berbasis negeri semakin meningkat dengan daya tampung pendidikan yang terbatas , maka perlu diadakan seleksi calon mahasiswa baru yang baik dan benar-benar mampu memisahkan antara calon mahasiswa yang berpotensi dan kurang berpotensi. Alat seleksi tersebut haruslah alat seleksi yang mempunyai daya prediksi yang baik dalam memprediksi keberhasilan study mahasiswa di perguruan tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:1).Prestasi belajar mahasiswa jalur PMDK,2).Prestasi belajar mahasiswa jalur SNMPTN,3). Prestasi belajar mahasiswa jalur Mandiri I, 4). Prestasi belajar mahasiswa jalur Mandiri II, 5). Perbedaan prestasi belajar mahasiswa yang masuk melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I dan Mandiri II. Analisis ANOVA digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan prestasi belajar antara mahasiswa yang masuk melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I dan MandiriI II. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa fakultas teknik jurusan teknik mesin program study pendididikan teknik mesin angkatan 2008 semester I dan semester II sebanyak 146 mahasiswa. Sampel untuk penelitian ini adalah seluruh populasi yang ada. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Berdasarkan analisis data yang telah dilaksanakan, diperoleh kesimpulan:1). Pertasi belajar mahasiswa fakultas teknik jurusan teknik mesin program study pendidikan teknik mesin angkatan 2008 yang masuk melalui jalur PMDK memiliki rata-rata prestasi yang lebih tinggi jika dibanding dengan SNMPTN, Mandiri I dan Mandiri II dengan klasifikasi taraf penguasaan/kemampuan 77 – 83 apabila dalam huruf mendapat nilai B+. 2).Mahasiswa yang masuk melalui jalur SNMPTN dengan taraf penguasaan/kemampuan 71 - 76 jika diklasifikasikan dalam nilai huruf B ,3).Mahasiswa masuk melalui jalur Mandiri I dengan taraf penguasaan/kemampuan 71 - 76 diklasifikasikan dalam nilai huruf B, 4).Mahasiswa yang masuk melalui jalur Mandiri II pada taraf penguasaan/kemampuan 66 – 70 apabila diklasifikasikan dalam huruf B-,5). Ada Perbedaan prestasi belajar mahasiswa yang diterima melalui jalur PMDK, SNMPTN, Mandiri I dan Mandiri II. Dari hasil penelitian ini penulis adapat memberikan saran:1). Universitas Negeri Malang hendaknya memperbesar untuk seleksi masuk melalui jalur PMDK dan memperkecil seleksi masuk Mandiri I terutama Mandiri II, 2). Perlu diadakan penelitian sejenis denagn menggunakan sampel dan semester yang lebih banyak sehingga dapat menghasilkan data yang lebih valid dan representatif.

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Memecahkan Masalah pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan./ Agus Wahyu H.S

 

ABSTRAK Wahyu, Agus. H.S. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Problem Posing untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Kemampuan Memecahkan Masalah pada Mata Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan. Skripsi, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Achmad Fatchan, M.Pd, M.P (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: pembelajaran kooperatif problem posing, hasil belajar, memecahkan masalah. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada 27 dan 29 Juli 2009 di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 2 Bangkalan, diketahui siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, guru menjadi satu-satunya sumber belajar bagi mereka, dan hanya ada 5 siswa (10,64%) yang bertanya atau menjawab pertanyaan yang diajukan guru, sehingga kemampuan siswa memecahkan masalah kurang, karena siswa tidak terbiasa berfikir analisis. Selain itu hasil belajar yang dicapai siswa juga masih banyak yang belum memenuhi SKM yaitu 65, ketuntasan klasikalnya pun hanya 10,64% dan masih jauh dari KKM yang ditentukan sekolah yaitu 85%. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan, dimana pada pertemuan pertama dilakukan kegiatan pembelajaran dan pada pertemuan kedua dilakukan tes. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas XI IPS 2 semester gasal tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 2 Bangkalan yang berjumlah 47 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes pada siklus I dan siklus II, sedangkan kemampuan siswa memecahkan masalah dilihat dari jawaban tes siswa pada siklus I dan siklus II. Instrumen yang digunakan yaitu soal tes, lembar observasi dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa adanya peningkatan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan maslah. Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai tes pada siklus I yaitu 61,70 dan meningkat menjadi 75,10 pada siklus II, ketuntasan belajar siswa pada siklus I meningkat menjadi 44,68% kemudian meningkat lagi menjadi 91,48% pada siklus II. Rata-rata kemampuan siswa memecahkan masalah juga meningkat dari 61,70 pada siklus I menjadi 75,11 pada siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif Problem Posing dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan bagi guru bidang studi IPS Geografi di SMA Negeri 2 Bangkalan untuk menjadikan pembelajaran kooperatif Problem Posing sebagai salah satu pembelajaran alternatif, agar hasil belajar dan kemampuan siswa memecahkan masalah dapat lebih baik, dan bagi peneliti selanjutnya yang berminat menggunakan pembelajaran kooperatif Problem Posing, agar dapat dikembangkan lebih lanjut pada materi lain dan mengukur aspek yang lainnya.

Peningkatan prestasi belajar matematika pengukuran debit dengan penerapan model pakem pada siswa klas VI SDN Karangduren 03 kec. Pakisaji kab. Malang / Syamsul Yani Nurdiyah

 

ABSTRAK Nurdiyah SY , 2008. Peningkatan prestasi belajar matematika pengukuran debit dengan penerapan model pakem pada siswa klas VI SDN Karangduren 03 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang th 2007- 2008 Kata Kunci: Peningkatan prestasi, Model pembelajaran Pakem Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Dalam pembelajaran matematika agar mudah dimengerti oleh siswa, proses penalaran deduktif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten. Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya metode tujuan dari penelitian ini adalah: (a) Ingin mengetahui peningkatan pembelajaran model pakem ? (b) Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran pakem terhadap motivasi belajar siswa? Sedangkan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran pakem . (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran pakem . Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Karangduren 03 th 2007-2008 Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II yaitu, Penerapan pembelajaran inovatif model PAKEM memiliki dampak positif dalam usaha meningkatkan prestasi belajar peserta didik yang dapat dilihat dari penilaian proses dan hasil evaluasi siklus I dan siklus II yang mengalami peningkatan yaitu dari 47,32 % meningkat menjadi 80,35 % . Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran pakem dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar Siswa Klas VI SDN Karangduren 03 Kec Pakisaji Kab Malang Th 2007-2008 , serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran matematika.

Peningkatan hasil belajar matematika melalui penerapan pendekatan pemecahan di kelas 4 SDN Sananwetan 2 kota Blitar / Sugianto

 

ABSTRAK Sugianto, 2009. Peningkatan Hasil Belajar Matematika melalui Penerapan Pendekatan Pemecahan Masalah di kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010. Pembimbing : Drs. I Wayan Sutama, M.Pd. Kata Kunci : Hasil Belajar, Pendekatan Pemecahan Masalah Pembelajaran matematika merupakan pembelajaran yang sulit bagi siswa pada umunya. Hal ini ditandai dengan hasil ulangan yang nilai rata-ratanya sangat rendah. Untuk itu perlu kiranya ada penelitian-penelitian agar hal tersebut dapat diatasi. Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah menerapkan pendekatan pemecahan masalah pada siswa kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar, (2) untuk mengetahui apakah penerapan pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan empat tahapan yaitu : (1) tahap perencanaan tindakan awal, (2) tahap pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi, (4) tahap refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas 4 SDN Sananwetan 2 Kota Blitar. Sedangkan data yang diperoleh berupa hasil tes evaluasi, lembar observasi dalam kegiatan belajar mengajar dan catatan kegiatan lapangan. Hasil penelitian didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, dilihat dari nilai rata-rata pra tindakan 58,50 pada siklus I 68,4 dan pada siklus II 77,9. Dengan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : (1) Penerapan pendekatan pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar, (2) Penerapan pendekatan pemecahan masalah dapat memberi motivasi belajar. Berdasarkan hasil analisis penelitian diatas, guru diharapkan dapat menyampaikan materi pelajaran yang bervariatif agar siswa dapat menerima dan memahami materi pelajaran yang diberikan dengan baik. Salah satunya adalah dengan penerapan pendekatan pemecahan masalah. Dan diharapkan penerapan pendekatan pemecahan masalah ini dapat digunakan salah satu alternative dalam pembelajaran matematika, karena dengan penerapan pendekatan pemecahan masalah ini dihubungkan dengan permasalahan yang dialami siswa.

Penerapan pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 kec. Garum kab. Blitar / Idha Yusani

 

ABSTRAK Yusani, Idha, 2009, Penerapan Pembelajaran Jigsaw Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pkn Siswa Kelas IV SDN Karangrejo 05 Kec. Garum Kab. Blitar. Penelitian Tindakan Kelas, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Musa Sukardi, M.Pd Kata kunci : Pembelajaran Jigsaw, Hasil Belajar PKn. Proses pembelajaran di sekolah dasar saat ini kurang meningkatkan kreativitas siswa, terutama dalam pembelajaran Pkn. Pembelajaran Jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran cooperatif learning yang mudah dilaksanakan dan lebih praktis. Di SDN Karangrejo 05 Kec. Garum Kab. Blitar, dalam kegiatan pembelajaran guru masih menggunakan metode lama yang didominasi dengan ceramah. Siswa tidak terlibat aktif belajar, hal itu terlihat dalam pembelajaran siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan guru dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji analisa penerapan pembelajaran Jigsaw . Data yang dideskripsikan meliputi data kegiatan praktik pembelajaran, data hasil observasi keaktifan siswa, data hasil observasi prestasi siswa dan data pembelajaran Jigsaw yang dicapai pada tiap siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Karangrejo 05 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Hasil penelitian diketahui bahwa prestasi belajar siswa cukup baik. Pada siklus 1 ada 23 siswa (65,71%) yang tuntas dalam belajar sedangkan 12 siswa (34,29%) belum tuntas dengan nilai rata-rata 77,18. Nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 50. Pada siklus II 32 siswa (91,43%) tuntas dalam belajar dan 3 siswa (8,57%) belum tuntas dalam belajarnya dengan nilai rata-rata 82,88 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60. Selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I dan siklus II telah menerapkan pembelajaran Jigsaw. Praktik pembelajaran dan aktifitas belajar siswa juga mengalami peningkatan setelah menerapkan pembelajaran Jigsaw.

Isolasi, karakterasi, identifikasi komponen, dan uji aktivitas minyak atsiri bunga cempaka putih ( Michelia alba. ) terhadap escherichia coli dan staphylococcus aureus / Dina Krisdiana

 

ABSTRAK Krisdiana, Dina. 2010. Isolasi, Karakterisasi, Identifikasi Komponen, dan Uji Aktivitas Minyak Atsiri Bunga Cempaka Putih (Michelia alba) terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Siti Marfu’ah M.S, (II) Evi Susanti S.Si., Msi. Kata-kata kunci: isolasi, minyak atsiri, cempaka putih, dan antibakteri. Minyak atsiri banyak terkandung dalam bunga, biji, buah, dan daun tanaman. Bunga cempaka putih adalah salah satu jenis bunga yang banyak terdapat di Indonesia terutama di pulau Jawa. Meskipun begitu pemanfaatan bunga cempaka putih masih sangat terbatas. Disisi lain kebutuhan masyarakat akan minyak atsiri sebagai bahan parfum dan antiseptik semakin meningkat. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengisolasi, mengkarakterisasi, mengidentifikasi, dan menguji aktivitas minyak atsiri bunga cempaka putih (Michelia alba) sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris, dengan sampel yang digunakan adalah bunga cempaka putih basah dan kering. Adapun tahap penelitian antara lain persiapan sampel, isolasi minyak atsiri dengan metode destilasi uap-air, karakterisasi, identifikasi komponen penyusunnya dengan menggunakan GC-MS, serta menguji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Rendemen minyak atsiri bunga cempaka putih basah dengan metode destilasi uap-air sebesar 0,041 %, sedangkan dari bunga cempaka putih kering 0,084 %, (2) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah memiliki ciri berwarna kuning jernih, berat jenis 1,25 g/mL, indeks bias 1,49374, sedangkan dari bunga cempaka putih kering memiliki ciri berwarna coklat jernih, berat jenis 1,44 g/mL, indeks bias 1,51722, (3) Senyawa-senyawa yang terkandung di dalam minyak atsiri bunga cempaka putih basah ada 30 senyawa dengan 10 senyawa terbanyak antara lain 3,7-dimetil-1,6-Oktadien-3-ol; miristcin; 1-etenil-1-metil-2,4-bis(1-metiletenil)-sikloheksana; etil-2-metilbutirat; 1,2-dimetoksi-4-(2-propenil)- Benzena; Bicyclo[7.2.0]undec-4-ene, 4,11,11- trimethyl-8-methylene; 5-(2-ropenil)-1,3-Benzodioksol; 1,2,4a,5,6, 8a-heksahidro-4,7-dimetil-1-(1-metiletil)-Naphthalene; 3,7-dimetil-1,3,7oktatriena dan 3,7-dimetil-1,3,6-Oktatriena, sedangkan dari bunga kering ada 61 senyawa dengan 10 senyawa terbanyak antara lain ; trans-isocroweacin; 5-(2-propenil)- 1,3-Benzodioksol; 1-etenil-1-metil-2,4-bis(1-metiletenil)-sikloheksana; 1-metil-4- (5-metil-1-metilen-4-heksenil sikloheksena; beta-selinene; 1,2,3,5,6,8aheksahidro- 4,7-dimetil-1-(1-metiletil)-naftalena; kariophillen oksida; alfa-kopaene atau 1,3-dimetil-8-(1-metiletil) Trisiklo[4.4.0.0(2,7)]dec-3-ene; Linalol; dan nonadekana, (4) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah dan kering bersifat antibakteri terhadap E.coli pada konsentrasi 120 ppm dengan persen hambat masing-masing 47,606% dan 42,287 %, (5) Minyak atsiri bunga cempaka putih basah dan kering bersifat antibakteri terhadap S.aureus pada konsentrasi 500 ppm dengan persen hambat masing-masing 10,267 % dan 23,889 %.

Meningkatkan hasil belajar konsep volum siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Blitar dengan pendekatan kontekstual / Endang Supartini

 

ABSTRAK Endang Supartini, 2010. Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Volum Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Sukorejo 3 Blitar Dengan Pendekatan Kontekstual. Skripsi, Jurusan PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Heru Agus Triwidjaya, M.Pd. Kata kunci: pendekatan kontekstual, aktivitas, dan hasil. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Blitar. SDN Sukorejo 3 Blitar adalah SD yang terletak di Jalan Mawar nomor 40 Kota Blitar. Berdasarkan observasi dan study documenter serta hasil wawancara dengan guru kelas V yang dilakukan pada tanggal 15 – 16 Oktober 2009 diketahui bahwa terdapat permasalahan yang terjadi di kelas tersebut. Secara umum dapat diidentifikasi ada masalah yaitu aktivitas belajar dan hasil belajar siswa rendah. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa melalui Penelitihan Tindakan Kelas (PTK). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pendekatan kontekstual mempunyai kelebihan yang dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan di SDN Sukorejo 3 Blitar. Diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Oktober sampai Desember 2009. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Hoptkins yang berbentuk spiral yang terdiri dari empat langkah, yaitu Perencanaan, Pelaksanaan Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Subyek Penelitian adalah siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Bl;itar yang berjumlah 20 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kontektual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika kelas V SDN Sukorejo 3 Blitar.

Pengaruh debt to equity ratio (DER) dan debt to asset ratio (DAR) terhadap harga saham melalui retrunt on equity (ROE) pada perusahaan food and beverage yang listing di bei periode 2006-2008 / Shodiqul Hadi

 

ABSTRAK Hadi, Shodiqul. 2009. Pengaruh Debt to Equity Rasio (DER) dan Debt to Asset Rasio (DAR) terhadap Harga Saham melalui Return on Equity (ROE) pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI tahun 2006-2008. Skripsi, jurusan manajemen, konsentrasi keuangan, fakultas ekonomi, universitas negeri malang, pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. (2) Drs. M. Hari, M.Si. Kata Kunci: Debt to Equity Rasio (DER), Debt to Asset Rasio (DAR), Return on Equity (ROE), dan Harga Saham. Tujuan perusahaan secara umum yaitu mencapai tingkat laba yang optimal. Diukur dengan return on equity (ROE). Banyak variabel yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya ROE, diantaranya yaitu debt to equity rasio (DER) dan debt to asset rasio (DAR). Kedua struktur modal ini dapat mempengaruhi ROE perusahaan. Semakin effisien penggunaan hutang maka ROE perusahaan juga semakin baik. Selain mencapai tingkat laba optimal, tugas lain perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada tingkat pengembalian yang akan didapat dari aktivitas investasinya. Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan keuntungan di masa mendatang, maka banyak investor yang akan menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan tersebut. Sehingga akan menaikan harga saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung dan tidak langsung pengaruh DER dan DAR terhadap harga saham yang diperkuat oleh ROE pada perusahaan Food and Beverages yang listing di BEI tahun 2006-2008. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah DER, DAR, dan ROE. Sementara itu, variabel terikat adalah harga saham. Penelitiaan ini merupakan jenis penelitian explanatory research, sampel dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling dan teknik analisis data menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel DER dan DAR, baik secara simultan maupun parsial tidak berpengaruh terhadap ROE. Sedangkan DER, DAR, dan ROE secara simultan maupun parsial berpengaruh terhadap Harga Saham. Secara tidak langsung DER dan DAR tidak berpengaruh terhadap Harga Saham melalui ROE. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan bagi manajemen perusahaan agar lebih memperhatikan kegiatan operasional perusahan sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan. Sedangkan para investor disarankan untuk melihat segala aspek baik internal maupun eksternal sebelum menanamkan dananya untuk membeli saham. serta untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah variabel dan periode pengamatan, sehingga hasil penelitian dapat lebih baik lagi.

Karakterisasi sifat mekanik stainless stel aisi 304 setelah mengalami proses annealing dan laju korosi nya dalam media 10% H2SO4 / Umi Safa'ah

 

ABSTRAK Safaah, Umi. 2009. Karakterisasi Sifat Mekanik Stainless Steel AISI 304L Setelah Mengalami Proses Annealing dan Laju Korosinya dalam Media 10% H2SO4. Skripsi. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sunaryono, S.Pd.,M.Si, (II) Drs. Abdulloh Fuad, M.Si. Kata kunci : Annealing, Kekerasan (hardness), Stainless steel, Korosi, H2SO4. Telah dilakukan penelitian tentang Karakterisasi Sifat Mekanik Stainless Steel AISI 304 Setelah Mengalami Proses Annealing dan Laju Korosinya dalam Media 10% H2SO4. Baja yang digunakan adalah baja Austenitik jenis AISI 304 yang mengandung unsur krom 18%, nikel 8% dan 0,08% karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi sifat mekanik stainless steel AISI 304 setelah mengalami proses annealing dan laju korosinya dalam media 10% H2SO4. Sampel mengalami proses annealing dengan variasi suhu 7500C, 8000C, 8500C, 9000C, 9500C selama ± 15 menit, selanjutnya dilakukan uji kekerasan dengan menggunakan alat uji kekerasan Rockwell B. Dari hasil uji kekerasan diperoleh nilai kekerasan untuk sampel tanpa annealing sebesar 61,6275 HRB dan nilai kekerasan untuk suhu annealing 7500C, 8000C, 8500C, 9000C, 9500C adalah 62,1275 HRB; 61,21 HRB; 63,5825 HRB; 58,5 HRB; 62,1675 HRB. Setelah dilakukan uji kekerasan, sampel direndam dalam larutan 10% H2SO4 selama 18 jam, 36 jam, 54 jam, 72 jam, kemudian dihitung laju korosinya dengan menggunakan rumus selisih berat dan didapatkan laju korosi untuk sampel tanpa annealing adalah 0,068 mm/year; 0,036 mm/year; 0,023 mm/year; 0,020 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 750oC adalah 1,109 (mm/year); 0,559 (mm/year); 0,388 (mm/year); 0,273 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 800oC adalah 1,104 (mm/year); 0,535 (mm/year); 0,363 (mm/year); 0,314 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 850oC adalah 1,111 (mm/year); 0,871 (mm/year); 0,781(mm/year); 0,744 (mm/year). Laju korosi untuk suhu 900oC adalah 1,158 (mm/year); 0,779 (mm/year); 0,777 (mm/year); 0,632 (mm/year). Dan laju korosi pada suhu 950oC adalah 0,117 (mm/year); 0,005 (mm/year); 0,081 (mm/year); 0,007 (mm/year). Selanjutnya sampel dietsa untuk mengetahui struktur morfologi setelah sampel terkorosi yaitu pada suhu annealing 7500C, 8000C, 8500C, 9000C terjadi korosi bats butir dan pada suhu 950oC selain terjadi korosi batas butir juga terjadi korosi sumuran.

Penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar tahun 2009/2010 / Suyati

 

Suyati. 2009. Penerapan Pendekatan Pembelajaran komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun Kabupaten Blitar, PTK, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi S1 PJJ PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd. Kata Kunci : Penerapan, Pendekatan Pembelajaran Komunikatif, keterampilan berbicara. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD sangat vital karena erat kaitannya dengan mata pelajaran lainnya. Dengan demikian peserta didik harus mampu menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, baik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, maupun mata pelajaran lainnya. Pembelajaran Bahasa Indonesia harus diajarkan secara terpadu yang meliputi aspek menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Namun demikian di SDN Kendalrejo 04, aspek berbicara dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kurang mendapatkan porsi sebagaimana mestinya, akibatnya kemampuan siswa dalam berbicara atau berkomunikasi lisan menggunakan Bahasa Indonesia sangat rendah. Hal ini berpengaruh pula pada Mata Pelajaran lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif yang dapat meningkatkan ketrampilan berbicara pada siswa kelas II SDN Kendalrejo 04. Instrumen penelitian berupa lembar observasi dan soal-soal tes. Data yang dideskripsikan meliputi data kegiatan pembelajaran, data hasil observasi keaktifan siswa, data hasil observasi unjuk kerja siswa, dan data hasil tes belajar siswa. Penelitian ini menggunakan langkah-langkah : perencanaan, pelaksanaan / tindakan, observasi, dan refleksi. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas II SDN Kendalrejo 04 Kecamatan Talun yang berjumlah 28 siswa. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa melalui penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif ada peningkatan keaktifan siswa dan peningkatan ketuntasan belajar siswa berupa ketrampilan berbicara. Keaktifan siswa pada siklus I adalah 76%, pada siklus II meningkat menjadi 81%, prosentase keaktifan ini lebih tinggi dari indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Ketuntasan belajar siswa pada siklus I adalah 59%, pada siklus II meningkat menjadi 82%. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pendekatan pembelajaran komunikatif dapat meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan ketrampilan berbicara siswa.

Pengembangan vcd pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang / Marsudi

 

ABSTRAK Marsudi. 2010. Pengembangan VCD Pembelajaran Teknik Dasar Menggiring (dribble) Bola Basket Untuk Siswa Kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Saichudin. M.Kes (II) Drs. Sapto Adi. M.Kes Kata kunci: pengembangan, Vcd pembelajaran, Menggiring (dribble) Bola Basket. Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan yang bertujuan mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, ketrampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, ketrampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktifitas jasmani yang direncanakan secara sistematis dalam kerangka sistem pendidikan nasional. Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang, sebanyak 60% siswa merasa kesulitan dengan materi yang di berikan dan 66% siswa menyatakan tidak senang dengan materi yang diberikan oleh guru. Dari hasil analisis didapat 100% setuju di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang dikembangkan VCD pembelajaran teknik dasar menggiring bola basket. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana pengembangan model yang efektif dalam VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen. Tujuan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Dan diharapkan dengan adanya VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang ini dapat mempermudah pemahaman siswa tentang teknik dasar menggiring (dribble) bola basket. Dalam pengembangan VCD pembelajaran ini peneliti menggunakan model pengembangan intruksional dari Sadiman (2003:38), yaitu yang terdiri dari: (1) Penemuan ide, pengumpulan berbagai informasi sebagai kajian pustaka dan observasi lapangan, (2) Penulisan naskah media (hasil produk) berisi rancangan pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble bolabasket, (3) Evaluasi Produk oleh ahli, (4) Revisi Produk I, dilakukan oleh ahli, (5) Produk prototipe, dilakukan dengan pengambilan gambar produk dengan media audio visual (video), (6) Uji coba prototipe, ujicoba (kelompok kecil), (7) Revisi Produk II, revisi dari ujicoba (kelompok kecil), (8) Uji lapangan (kelompok besar), (9) Reproduksi, penyempurnaan produk. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang. Subjek uji coba terdiri dari (1) tinjauan ahli terdiri dari 3 ahli yaitu 1 ahli pembelajaran pendidikan jasmani, 1 ahli bolabasket dan 1 ahli media, (2) uji coba kelompok kecil menggunakan 15 siswa kelas VII, dan (3) uji coba kelompok besar menggunakan 30 siswa kelas VII, yang semuanya diambil secara random sampling. Hasil evaluasi model pembelajaran ini yaitu sebagai berikut: dari ahli pembelajaran yaitu: 97,22% (valid), dari ahli bola basket yaitu: 75% (cukup valid), ahli media yaitu: 85% (valid), dari uji coba kelompok kecil yaitu: 89,6% (valid) dan dari uji coba kelompok besar yaitu: 97,7% (valid). Dari penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengembangan yang berupa VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket untuk siswa kelas VII di SMP Negeri 2 Kepanjen Kabupaten Malang sebagai sumber untuk mempermudah pemahaman siswa ii tentang teknik dasar menggiring (dribble) bola basket. Hasil penelitian ini hanya sebuah produk VCD pembelajaran teknik dasar menggiring (dribble) bola basket, belum sampai pada tingkat efektifitas produk yang dikembangkan, jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektifitas produk yang dikembangkan.

Pengembangan model pengelolaan hasil need assesment berbasis teknologi informasi di SMA Shalahuddin Malang / Niken Puspitasari

 

Kata Kunci: Pengembangan, Pengelolaan, Hasil Need Assessment, Teknologi Informasi Pelaksanaan assessmen di sekolah di samping memerlukan penguasaan, praktik dan sintesis juga sangat menyita waktu dan tenaga konselor di sekolah. Oleh karena itu, dimungkinkan untuk untuk menggunakan komputer sebagai alat bantu assessment untuk memperlancar kegiatan assessment tersebut. Tujuan dikembangkannya pengembangan model pengelolaan hasil need assessment berbasis TI adalah untuk menghasilkan aplikasi instrumentasi bimbingan dan konseling berbasis TI yang dapat digunakan untuk pengelolaan hasil need assessment siswa. Dengan adanya pengelolaan need assessment berbasis TI dapat membantu konselor dalam pemetaan kebutuhan siswa. Penelitian dilakukan di SMA Shalahiddin Malang. Rancangan yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan menggunakan model pengembangan dari Borg dan Gall (1983). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 85 siswa yang terdiri dari 47 siswa kelas X, serta 38 siswa kelas XI. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap uji lapangan awal dan tahap uji lapangan utama. Uji lapangan awal dilakukan kepada kelompok siswa, ahli bimbingan dan konseling, ahli informasi teknologi, konselor, sedangkan uji lapangan utama dilakukan kepada sekolompok siswa SMA kelas X, XI. Berdasarkan hasil uji lapangan awal didapatkan 38 butir item pernyataan yang valid dan tiga pernyataan tidak valid sehingga pernyataan-peryataan tersebut harus diperbaiki. Karena dari uji lapangan awal sudah dilakukan revisi terhadap produk maupun pernyataan-pernyataan yang tidak valid, maka di dalam penelitian utama semua pernyataan need assessment dinyatakan valid. Dengan adanya pengembangan model pengelolaan hasil need assessment berbasis TI ini, disarankan agar konselor dapat memanfaatkan pengelolaan hasil need assessment berbasis TI untuk pemetaan kebutuhan siswa.

Pengaruh penggunaan internet terhadap prestasi akademik bagi mahasiswa prodi S1 pendidikan ekonomi angkatan 2007 dan 2008 jurusan ekonomi pembangunan fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang / Ariesta Miftriana S

 

ABSTRAK Susanti, Ariesta Miftriana. 2009. Pengaruh Penggunaan Internet terhadap Prestasi Akademik bagi Mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang.. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Hj.Dra Sri Umi Mintarti W, SE, Ak, Mp (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata Kunci: penggunaan internet, prestasi akademik Internet sebagai sebuah jaringan raksasa yang menghubungkan berjuta-juta komputer di dunia tidak saja berfungsi sebagai medium untuk tukar menukar informasi secara cepat dan murah, namun telah menjadi gudang pengetahuan yang tak ternilai harganya. Internet atau komputer seperti juga peralatan yang dibuat oleh manusia lainnya mempunyai kemampuan yang sangat banyak. Akan tetapi manfaat yang dapat kita peroleh dari Internet menjadi beragam tergantung persepsi dan kemampuan atau kebutuhan yang ada.. Beragamnya motif menggunakan internet tentunya memberikan pengaruh yang beragam kepada pengguna. Berkembangnya informasi dan internet itu sendiri tentu akan menyebabkan terjadinya kelimpahan informasi (information overload) atau kebingungan pengguna dalam memilih, menyaring, dan menilai informasi yang ditemukan di internet sehingga akan mempengaruhi kepuasan pengguna. Variabel bebas dalam penelitian ini pemanfaatan internet terdiri dari sub variabel internet sebagai sumber belajar (X1), penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas (X2), dan persepsi mahasiswa tentang pemanfaatan internet (X3), sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi akademik mahasiswa (Y). Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 289 mahasiswa dan sampel berjumlah 74 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multy stage sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner. Tahap pertama purposive sampling yaitu menentukan sampling berdasarkan tujuan penelitian. Tahap kedua yaitu Proportional Sampling yaitu untuk menentukan jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian berdasarkan kelas. Skala yang digunakan skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Sedangkan untuk menguji kelayakan regresi dilakukan uji asumsi klasik dan keseluruhan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS Versi 13.00. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel mengenal internet (X1) memiliki nilai B = 0,027; nilai t hitung = 24,564. Nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,9930 sehingga t hitung > t tabel atau dengan signifikansi t = 0,0000 dimana sig t < 0,05. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui variabel internet sebagai sumber belajar berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa. Untuk variabel penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas (X2) memiliki nilai B = 0,025; nilai t i ii hitung = 23,861. Nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,9330 sehingga t hitung > t tabel atau signifikansi t = 0,000 dimana sig t < 0,05. Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diketahui variabel penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas berpengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi akademik mahasiswa. Sedangakan untuk variabel persepsi mahasiswa tentang penggunaan internet diketahui bahwa mahasiswa prodi pendidikan ekonomi mempunyai persepsi yang cukup tinggi atau baik. Hal ini dikonfirmasikan berdasarkan distribusi frekuensi yang menunjukkan bahwa sebesar 54 responden (72,97%) mempunyai persepsi yang baik tentang penggunaan internet untuk menunjang prestasi akademiknya. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan: (1) sebagian besar responden menyatakan setuju untuk penggunaan internet sebagai sumber belajar, (2) sebagian besar responden menyatakan setuju untuk penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas , (3) sebagian besar responden meenyatakan setuju untuk persepsi mahasiswa tentang penggunaan internet. Secara parsial ada pengaruh positif yang signifikan penggunaan internet sebagai sumber belajar terhadap prestasi akademik mahasiswa, ada pengaruh positif penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas terhadap prestasi akademik mahasiswa. Sedangkan secara simultan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan penggunaan internet sebagai sumber belajar, penggunaan internet sebagai motivasi penyelesaian tugas terhadap prestasi belajar mahasiswa. Sedangkan penggunaan internet sebagai sumber belajar merupakan sub variabel yang memberikan pengaruh paling dominan. Berdasarkan kesimpulan di atas disarankan (1) Dalam penelitian ini pemanfaatan internet berpengaruh terhadap prestasi mahasiswa. Oleh karena itu pemanfaatan internet dalam proses belajar mengajar hendaknya semakin ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga nantinya terjadi peningkatan prestasi belajar mahasiwa, (2) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang diharapkan untuk memperbaiki fasilitas internet yang sudah ada sekarang ini, (3) Pemanfaatan internet bagaikan minum air laut yang tiada habisnya, maka hendaknya mahasiswa sebagai subjek belajar mampu menjaga diri agar terhindar dari dampak negatif penggunaan internet.

Peningkatan hasil belajar matematika tentang perkalian melalui pendekatan kooperatif learning metode pemecahan masalah siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan / Sri Rahayu Hartatik

 

ABSTRAK Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Perkalian Melalui Pendekatan Cooperative learning Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan. Oleh : Sri Rahayu Hartatik Kata Kunci : Pendekatan Cooperative Learning, Pemecahan Masalah Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1) Bagaimanakanh penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan dalam pembelajaran matematika ? 2) Bagaimanakah penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang perkalian siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan ? 3) Apakah dengan menggunakan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas III SDNTembokrejo I Pasuruan ? Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas III SDN Tembokrejo I Pasuruan sebanyak 25 orang siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan perkalian yang hasilnya bilangan tiga angka. Dari 25 orang siswa, hasil tes diperoleh nilai rata-rata 52 dengan perincian nilai sebagai berikut : 1 orang siswa memperoleh nilai 100, 5 orang siswa memperoleh nilai 80, 9 orang siswa memperoleh nilai 60, 3 orang siswa memperoleh nilai 40, dan 7 orang memperoleh nilai 20. Pada kompetensi dasar di atas telah ditentukan KKM nya 70, artinya siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila telah memperoleh nilai minimal 70. Dari hasil tes dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas belajar 6 orang siswa (24% ), sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 19 orang siswa (76% ). Sehingga pembelajaran dikatakan belum berhasil. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1 ) Hasil observasi aktivitas siswa siklus I adalah 74,6 % dengan kategori baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II adalah78,7 %. Aktivitas siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 4,1 %, secara keseluruhan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dikategorikan baik. Pada penilaian proses untuk siklus I adalah kualifikasi amat baik ada 3 orang siswa, yang mencapai kualifikasi baik ada 12 orang siswa ,dan kualifikasi cukup ada 10 orang siswa. Pada siklus II diperoleh kualifikasi amat baik ada 6 orang siswa, yang mencapai kualifikasi baik ada 18 orang siswa, dan kualifikasi cukup ada 1 orang siswa. Pada penilaian hasil untuk siklus I adalah nilai rata-rata76,8. Siswa yang tuntas belajar 15 orang siswa, sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 10 orang siswa. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 84,8, siswa yang tuntas belajar 25 orang siswa (100 % ). Berdasarkan hasil temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa sebelum penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah jauh dari kriteria keberhasilan yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil observasi peneliti pada pra tindakan. Pada pra tindakan diperoleh nilai rata-rata 49,6, 19 siswa belum mencapai ketuntasan belajar dan 6 siswa mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 76,8, 15 siswa belum mencapai ketuntasan belajar dan 10 siswa mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 84,8, 25 siswa (100%) mencapai ketuntasan belajar. Disimpulkan bahwa hasil belajar sebelum penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah perlu adanya peningkatan. Hasil belajar setelah penerapan pendekatan cooperative learning metode pemecahan masalah dikatakan meningkat. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi siswa selama tindakan pada siklus I dan siklus II.

Pembenahan kesalahn konsep perbandingan bilangan pecahan SDN Sukorejo 3 Kota Blitar malalui media tiga dimensi / Siti Munawaroh

 

ABSTRAK Siti Munawaroh, 2010. Pembenahan Kesalahan Konsep Perbandingan Bilangan Pecahan SDN Sukorejo 3 Kota Blitar melalui Media Tiga Demensi. ETA PJJ SI PGSD Universitas Negeri Malang Angkatan Pertama . Pembimbing Drs. HERU AGUS TRI W IJAYA,M.Pd Kata Kunci: Konsep Perbandingan Bilangan Pecahan Sederhana, Media 3 Dimensi Pembelajran Matematika di Sekolah Dasar menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika bertujuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau alogaritme, secara luwes, akurat, dan tepat dalam pemecahan masalah . Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa guru dalam mengajarkan perbandingan bilangan pecahan cenderung verbal, tanpa menggunakan alat peraga. Berdasarkan kenyataan itu, serta observasi terhadap siswa kelas III SDN Sukorejo 3 Kota Blitar yang masih banyak terdapat kesalahan konsep perbandingan pecahan yang berpenyebut tidak sama. Penelitian bertujuan untuk pembenahan kesalahan konsep perbandingan bilangan pecahan di SDN Sukorejo 3 Jln Mawar 40 Kelurahan sukorejo Kecamatan Sukorejo Kota Blitar yang dilakukan akhir semester I tahun ajaran 2009/2010 , Subyek penelitian adalah siswa kelas III A. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang berbentuk tindakan kelas dan dilakukan 2 siklus masing-masing siklus dua pertemuan. PTK ini dilaksanakan dalam pembelajaran untuk pembenahan kesalahan konsep perbandingan bilangan pecahan yang berpenyebut tidak sama yaitu pertama siswa diarahkan untuk memahami pecahan sederhana, langkah-langkah yang dilakukan adalah siswa harus memahami dulu konsep perbandingan bilangan pecahan berpenyebut tidak sama. Pembelajaran dilakukan dengan metode tanya jawab, demontrasi, dan menggunakan alat bantu media tiga demensi yang ada di sekitar dan mudah dipotong seperti buah apel, roti, tempe, kertas. Pembelajaran pertama adalah memaparkan konsepsi awal tentang perbandingan pecahan. Kedua memaparkan pengurangan kesalahan konsep perbandingan pecahan menggunakan media tiga demensi. Ketiga memaparkan konsepsi akhir siswa setelah diajarkan dengan media tiga demensi.Keempat memaparkan tangapan siswa terhadap pembelajaran setelah menggunakan media tiga demensi. Hasil penelitian ini dilakukan terhadap 25 siswa menunjukkan sebagai berikut hasil tes awal penelitian perbandingan bilangan pecahan berpenyebut tidak sama siswa yang relatif tidak mengalami kesulitan belajar. Setelah dilakukan tindakan sampai dengan siklus II diperoleh hasil sebagai berikut: (1)Tindakan siklus I pertemuan satu siswa masih banyak yang kurang memahami konsep perbandingan pecahan. (2) Tindakan pada siklus kedua membandingkan bilangan pecahan dengan menggunakan gambar. (3) Tindakan siklus II pertemuan pertama membandingkan bilangan pecahan menggunakan media tiga demensi dan meletakkan tanda pembanding. (4) Tindakan siklus II pertemuan 2 membandingkan bilangan pecahan dengan hasil yang diperoleh siswa tidak mengalami kesulitan . Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bahwa kegiatan pembelajaran perbandingan pecahan , guru hendaknya menggunakan media tiga demensi berupa benda-benda yang mudah dipotong seperti roti, apel, tempe untuk membandingkan bilangan pecahan

Penerapan pendekatan pakem untuk meningkatakan kemampuan membaca dan menulis melalui permulaan kelas I SD Negeri kauman 2 kota blitar / indri ariani

 

ABSTRAKSI Ariani, Indri. 2009. Penerapan Pendekatan Pakem untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Permulaan di Kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar. Penelitian Tindakan Kelas PJJ S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Heru Agus Triwijaya, M.Pd Kata kunci: pendekatan pakem, kemampuan membaca dan menulis Bahasa Indonesia Penelitian ini berlatar belakang kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar yang masih belum memperlihatkan hasil yang maksimal sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal yang diharapkan. Pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat pada guru. Peserta didik belum diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya sesuai potensi yang dimiliki. Peserta didik seharusnya difasilitasi untuk dapat mengembangikan dirinya melalui pengenalan dan keterlibatan terhadap alam sekitar khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia. Peserta didik perlu ditingkatkan terus pengetahuan dan keterampilannya, sehingga mampu menghadapi perkembangan IPTEK. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar dengan Penerapan Pendekatan Pakem, tidak tergantung pada buku teks, memanfaatkan situasi kehidupan riil lingkungan terdekat, situasi pembelajaran yang kondusif, terjadi peningkatan keaktivan peserta didik, kreativitas peserta didik meningkat, menyenangkan, dan pemahaman terhadap lingkungan juga meningkat. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaborasi. Peneliti melakukan kolaborasi dengan Ibu Purdiati, guru kelas 2 SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar, mulai dari tahap proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan Pendekatan Pakem dengan tema lingkungan dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar. Peningkatan kualitas pembelajaran ditandai dengan: (1) Penerapan Pendekatan Pakem tema lingkungan oleh guru kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar yang disusun secara kolaboratif berhasil dengan baik; (2) ketergantungan guru pada buku teks sangat berkurang karena guru banyak menggunakan situasi kehidupan riil terdekat dengan sekolah; (3) pembelajaran berpusat pada peserta didik dan bersifat konstruktivistik; (4) penilaian hasil belajar lebih komprehensif yaitu tidak hanya melalui tes tertulis; dan (5) situasi pembelajaran terasa lebih kondusif. Penerapan Pendekatan Pakem di kelas I SD Negeri Kauman 2 Kota Blitar dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik, kreativitas peserta didik, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, kualitas interaksi dalam proses pembelajaran, dan pemahaman tentang konsep lingkungan. Hasil penelitian membuktikan penerapan pendekatan pakem dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis permulaan peserta didik kelas I SD Negeri Kauman 2 tahun pelajaran 2009/2010 dibuktikan dengan adanya peningkatan kemampuan membaca dan menulis permulaan mulai pra tindakan, ketuntasan belajar dengan jumlah 33 peserta didik 17 peserta didik tuntas atau mencapai 52%, siklus I 22 peserta didik tuntas atau mencapai 67% dan pada siklus II 28 peserta didik tuntas 85%. Disarankan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas I menggunakan Penerapan Pendekatan pakem. Pendekatan ini juga dapat dipergunakan untuk mata pelajaran lainnya.

Pembalajaran kontekstual dengan model InQuiry untuk meningkatkan hasil dan aktivitas belajar ipa pada siswa kelas V SD negeri karangtengah 2 kota blitar / ganis sri rejeki

 

Hasil belajar IPA pada kelas V SDN Karangtengah 2 Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, berdasarkan hasil evaluasi kegiatan pembelajaran [pra tindakan masih belum tuntas. Hal ini disebabkan metode pembelajaran guru mayoritas menggunakan metode ceramah dan kurang melibatkan partisipasi siswa. Guna meningkatkan hasil belajar siswa di SDN Karangtengah 2 tersebut, peneliti mengujicobakan model inkuiri. Tujuan penelitian ini adalah : (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri untuk meningkatkan proses pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Karangtenag 2 Kota Blitar, (2) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual model inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Karangtengah 2 Kota Blitar, (3) mendeskripsikan penerapan model inkuiri untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar IPA pada siswa kelas V SDN Karangtengah 2 Kota Blitar. Jenis Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan motode pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Peneliti terlibat secara penuh dalam kegiatan penelitian baik perencanaan, pelaksanaan maupun refleksi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan sebanyak 2 siklus diketahui ketuntasan belajar siswa yang ditunjukkan oleh hasil prestasi siswa. Dengan menerapkan model inkuiri, ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siklus I 78,57%, siklus II 92,87%, sehingga tidak perlu dilakukan kegiatan siklus III. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar guru dapat memilih model-model pembelajaran yang sesuai agar pembelajaran berhasil dengan baik. Dengan menerapkan model inkuiri akan dapat meningkatkan hasil dan akivitas belajar siswa.

Peningkatan pemahaman membaca permulaan melalui penerapan CTL ( Contextual Teaching and Learning ) Dalam pembelajaran bahasa indonesia kelas I SDN tumpakoyot 02 kecamatan bakung kabupaten blitar / Siti Asiyah

 

ABSTRAK Asiyah, Siti. 2010 Peningkatan Pemahaman Membaca Permulaan Melalui Penerapan CTL ( Contextual Teaching And Learning ) dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas I Di SDN Tumpakoyot 02 Kecamaan Bakung Kabupaten Blitar. Jurusan KSDP, Program Studi S1 PJJ PGSD FIP Universitas Negeri Malang Pembimbing : Drs. Tomas Iriyanto, M.Pd Kata kunci : CTL, Pemahaman, Membaca Permulaan, SD Dalam proses pembelajaran kelas I di SDN Tumpakoyot 02 Kecamatan Bakung Kabupaten Blitar yang mempunyai jumlah siswa 15 anak, hanya ada 5 siswa yang mempunyai kemampuan mencapai penguasaan materi 33,33 % keatas, sedangkan sisanya 10 siswa atau 66, 77 % belum menguasai materi. Selama proses pembelajaran berlangsung siswa kurang memperhatikan terhadap penjelasan guru tentang materi yang diberikan. Ketika ditanya apakah materi sudah paham, hampir semua anak serentak menjawab sudah, dan ketika ditanya apakah ada yang belum mengerti semua siswa diam. Kekurangan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar adalah : perhatian siswa terhadap materi pembelajaran sangat kurang, siswa kurang memahami penjelasan guru, hasil belajar siswa rendah. Penulis melakukan penelitian perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran CTL ( Contextual Teaching and Learning ) untuk meningkatkan pemahaman membaca permulaan pada siswa kelas I terhadap materi Bahasa Indonesia tentang deskripsi benda-benda Beradasarkan hasil penelitian aktivitas belajar siswa yang dilihat selama proses pembelajaran pada siklus I mencapai 64,58 % sedangkan pada siklus II mencapai 79,16 %. Berarti aktivitas pada siklus II meningkat dari aktivitas belajar siswa pada siklus I, yaitu mengalami peningkatan 14,58 %. Prestasi belajar siswa pada siklus I mencapai 61,33 % , sedangkan pada siklus II mencapai 70,33 %. Hal ini mengalami peningkatan 9 %. Penerapan Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Membaca Permulaan pada pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan ketepatan tindakan guru Sehingga siswa merasa tertantang untuk mengetahui pembelajaran lebih lanjut sehingga penerapan pembelajaran kontekstual dalam membaca permulaan merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan prestasi dan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I mencapai 67 % yang dikategorikan dengan nilai baik, sedangkan pada siklus II mencapai 80 % yang dikategorikan dengan nilai baik. Hal ini berarti penerapan pembelajaran kontekstual pada pembelajaran membaca permulaan efektif untuk diterapkan , karena dapat menambah semangat siswa untuk giat ,aktif dalam belajar dan menambah penguasaan siswa terhadap pemahaman membaca sehingga siswa mampu memahami suatu kata atau kalimat.Siswa dapat menemukan kebermaknaan dalam belajar apabila materi yang disampaikan guru berkaitan dengan kehidupan sehari-hari

Dampak kebijakan sekolah gratis terhadap perkembangan sekolah-sekolah menengah pertama di kota malang / Syaiful Rohman

 

ABSTRAK Rohman, Syaiful. 2010. Dampak Kebijakan Sekolah Gratis Terhadap Perkembangan Sekolah-Sekolah Menengah Pertama Di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing. Dr. Hari Wahyono, M.Pd (I), Drs. Prih Hardinto, M. Si (II): Kata Kunci: Sekolah gratis, BOS, RAPBS, Pemerataan pendidikan, kualitas. Pendidikan gratis dapat dimaknai sebagai upaya membebaskan biaya pendidikan bagi peserta didik di sekolah sebagai perwujudan dari upaya membuka akses yang luas bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang merupakan hak dari setiap warga negara sebagaimana amanat UUD 1945. Pendidikan gratis yang dikeluarkan oleh pemerintah itu diaplikasikan dalam program BOS. Secara umum, program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu. Kebijakan pendidikan merupakan kebijakan publik. Melalui kebijakan ini bisa dilihat sejauh mana pemerintah melakukan kewajibannya untuk memenuhi hak setiap warganegara untuk mendapatkan pendidikan. Karena itu, hanya memberitakan ribuan lulusan SD tidak mendapat kursi di SMP Negeri tidak cukup. Kebijakan tersebut sangat sempurna, tetapi ketika berada di lapangan pasti akan mengalami penyesuaian situasi dan kondisi sekolah. Berdasarkan studi fenomena yang terjadi ketika kebijakan sekolah gratis turun pada tahun 2009. Banyak sekali dampak yang telah ditimbulkan oleh kebijakan tersebut baik itu pada pihak sekolah sebagai lembaga yang melaksanakan kebijakan sekolah gratis maupun masyarakat yang menerima kebijakan tersebut. Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan adalah untuk mendeskripsikan tanggapan sekolah-sekolah menengah pertama di Kota Malang mendengar adanya kebijakan sekolah gratis untuk pendidikan dasar, arah pengembangan sekolah menengah negeri dengan adanya kebijakan sekolah gratis, dan arah kebijakan sekolah swasta untuk mempertahankan eksistensinya dan perkembangannya dalam dunia pendidikan dengan adanya kebijakan sekolah gratis. Studi penelitian yang dilakukan pada SMP-SMP di Kota Malang. Subyek penelitian yang di ambil untuk dijadikan informan utama dalam mengkaji dampak kebijakan sekolah gratis tersebut berdasarkan data rekapitulasi NUN SMP tahun ajaran 2008/2009 untuk sekolah negeri dan pendapat masyarakat tentang kualitas sekolah swasta serta sebaran lokasi sekolah. Sekolah tersebut yaitu SMP Negeri 3 Malang, SMP Negeri 16 Malang, SMP Negeri 17 Malang, SMP K. Kolese St. Yusup 2 Malang, SMP NU Hasyim Asy’ari, dan SMP Kr. 1 YPK. Dengan sumber informasi adalah masing-masing kepala sekolah. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Karena terkait langsung dengan gejala-gejala yang muncul di sekitar lingkungan manusia terorganisasir dalam satuan pendidikan formal. Penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologis berusaha untuk memahami makna peristiwa serta interaksi pada orang-orang dalam situasi tertentu Pendekatan ini menghendaki adanya sejumlah asumsi yang berlainan dengan cara yang digunakan untuk mendekati perilaku orang dengan maksud menemukan “fakta” atau “penyebab”. Dengan cara pengumpulan data wawancara, observasi dan dokementasi. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan yaitu pertama dari segi penganggaran pendidikan sekolah negeri, telah mengalami penyesuian sehubungan dengan bertambahnya dana yang masuk ke dalam kas sekolah dari sumber BOS. BOS tidak digunakan untuk menggratiskan biaya pendidikan tetapi meringankan biaya pendidikan sekolah negeri. Setelah penambahan dana BOS tersebut, sekolah mengalihkan beban tarikannya kepada hal-hal pengembangan siswa. dengan alasan yang cukup masuk akal yaitu demi berjalannya program pengembangan sekolah. Pada sekolah-sekolah swasta dengan adanya kenaikan dana BOS 2009 semakin terbantu aktifitas pendidikannya karena dana yang didapatkan dari pemerintah bertambah. Lalu program kerja untuk pengembangan sekolah dapat berjalan dengan baik. Serta untuk menaikkan kualitas sekolah untuk menjadi sekolah yang go public akan tercapai dengan baik. Kedua, penyesuaian RAPBS setelah turunnya kebijakan sekolah gratis, sekolah mengadakan koordinasi dengan pengurus sekolah, komite sekolah dan yayasan (untuk swasta). Ini menunjukkan bahwa sekolah telah memberi peluang kepada masyarakat luas untuk berperan serta dalam mensukseskan pendidikan. Karena dengan bergabungnya komite sekolah maka sekolah akan lebih banyak mendapatkan saran dan evaluasi. Ketiga, Untuk perkembangan sekolah dalam hal pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas. Peningkatan pemerataan pendidikan, dengan adanya dan BOS 2009 berdampak sangat bagus, Karena dengan adanya BOS masyarakat menjadi termotivasi untuk meneruskan ke jenjang pendidikan selanjutya, karena asumsi mereka pendidikan sudah mulai murah. Program pemerintah untuk mengurangi kebodohan telah tercapai dengan banyaknya siswa yang mau meneruskan, sampai-sampai pada sekolah negeri melebihi kuota. Untuk peningkatan kualitas guru karyawan, siswa, sarana dan prasaran telah terbantu dengan adanya bantuan dana BOS. Dana BOS tersebut terpakai dengan baik untuk peningkatan kualitas guru melalui pelatihan dan seminar. Lalu untuk siswa, dana BOS digunakan untuk peningkatan kualitas pembelajaran siswa baik itu perlengkapan sebagai penunjang maupun untuk remedial dan pengayaan. Dana BOS juga digunakan untuk biaya pengembangan bakat diri siswa seperti pramuka, KIR, PMR. Untuk sarana penunjang kebanyakan dana BOS digunakan untuk perlengkapan penunjang pendidikan.

Pemahaman gambaran mikroskopis dan konsep-konsep dasar kesetimbangan kimia pada siswa kelas IX semester I SMA negeri 8 malang / Faqul Linnas

 

ABSTRAK Linnas, Faqul. 2010. Pemahaman Gambaran Mikroskopis dan Konsep-Konsep Dasar Kesetimbangan Kimia Pada Siswa Kelas XI Semester I SMA Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Moh Sodiq Ibnu, M.Si, (II) Drs. Muhadi. Kata kunci: gambaran mikroskopis, konsep-konsep dasar, kesetimbangan kimia Sebagian besar konsep dalam ilmu kimia merupakan konsep-konsep yang abstrak, untuk memahami konsep abstrak ini diperlukan kemampuan intelektual yang tinggi, yang oleh Piaget disebut sebagai kemampuan berpikir formal. Berdasarkan hasil penelitian tidak semua siswa SMA telah mencapai taraf berpikir formal sehingga untuk mempermudah siswa memahami konsep kimia yang abstrak maka digunakan suatu gambaran mikroskopis. Gambaran mikroskopis merupakan visualisasi dari obyek sebenarnya yang mikroskopis yang disusun sedemikian rupa sehingga ciri-cirinya diusahakan semirip mungkin dengan obyek mikroskopis tersebut (Bent, 1984: 774). Dalam gambaran mikroskopis ini, konsep kimia yang bersifat abstrak diilustrasikan melalui gambar. Pokok bahasan kesetimbangan merupakan salah satu materi yang sebagian besar konsepnya bersifat mikroskopis. Tingginya tingkat keabstrakan konsep-konsep dalam bahasan ini dapat menghasilkan kesalahan konsep, padahal kesalahan konsep adalah sesuatu yang harus dihindarkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) pemahaman siswa tentang gambaran mikroskopis kesetimbangan kimia pada siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang, 2) mengetahui pemahaman konsep-konsep dasar siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang tentang kesetimbangan kimia, 3) mengetahui hubungan tentang pemahaman gambaran mikroskopis dengan pemahaman konsep-konsep dasar kesetimbangan kimia pada siswa kelas XI SMA. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 8 Malang yang terdiri dari 6 kelas jurusan IPA. Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan teknik sampling sederhana dengan dasar pemikiran bahwa setiap subyek dalam populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi anggota sampel, hingga didapatkan siswa kelas XI-IA 1 dan XI-IA 2. Instrumen yang digunakan adalah tes obyektif dengan empat pilihan jawaban yang terdiri dari 22 soal hasil uji validasi terhadap tes pemahaman konseptual menunjukkan validitas butir tes berkisar antara 0,30-0,72, dan dengan menggunakan rumus Kuder-richardson 20 atau KR-20 diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,68. Untuk tes penggambaran mikroskopis kesetimbangan kimia hasil uji validasi menunjukkan validitas isi tes = 97% dan koefisien reliabilitas sebesar 0,59. Teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) pemberian skor, (2) pengelompokan butir soal kedalam konsep berdasarkan kisi-kisi soal, (3) menghitung persentase jumlah siswa yang menjawab benar untuk penentuan pemahaman konsep, (4) menghitung persentase tiap butir pilihan jawaban benar, (5) penentuan tingkat pemahaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pemahaman gambaran mikroskopis untuk kesetimbangan dinamis, diperoleh persentase jawaban benar ii siswa sebesar 82,2% ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa termasuk dalam kategori sangat tinggi dan untuk pergeseran kesetimbangan memberikan persentase sebesar 76,3% yang menunjukkan pemahaman siswa berada dalam kategori tinggi, 2) Pemahaman konseptual kesetimbangan dinamis, diperoleh persentase jawaban benar siswa sebesar 95,7% ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa termasuk dalam kategori sangat tinggi dan untuk pergeseran kesetimbangan memberikan persentase sebesar 73,8% yang menunjukkan pemahaman siswa berada dalam kategori tinggi, 3) terdapat hubungan antara pemahaman gambaran mikroskopis dengan pemahaman konseptual kesetimbangan kimia siswa dengan koefisien korelasi sebesar 0,38.

Pengaruh stres kerja terhadap komitmen organisasi melalui kepuasan kerja karyawan RSAB Muslimat Jombang / Baihaqi Anhar

 

Perusahaan merupakan lembaga yang memiliki tujuan menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian mengenai pengaruh kinerja keuangan dalam hal ini rasio yang digunakan adalah return on asset (ROA) terhadap nilai perusahaan menunjukkan hasil yang tidak konsisten, dengan mereplikasi penelitian sebelumnya peneliti menduga ada faktor lain. Oleh karena itu, peneliti memasukkan pengungkapan good corporate governance (GCG) sebagai variabel moderasi yang diduga ikut memperkuat atau memperlemah pengaruh tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan dan pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan yang dimoderasi oleh good corporate governance, populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang masuk dalam CGPI dan listing di BEI periode 2005-2007. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penemuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang representative. Dengan demikian sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di BEI, masuk pemeringkatan CGPI, dan menerbitkan laporan keuangan selama periode pengamatan yaitu tahun 2005-2007. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan, harga saham bulanan (closing price) dan indeks GCG. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik moderated regression analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan menggunakan signifikansi 5 % menunjukkan (1) variabel ROA berpengaruh terhadap nilai perusahaan, (2) GCG bukanlah variabel pemoderasi. Hal ini disebabkan investor tidak mempercayai kebijakan good corporate governance yang dijalankan di Indonesia karena masih semata-mata menunjukkan ketaatan kepada hukum dan bukan menjadi suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel dan memperpanjang waktu pengamatan sehingga penelitian dapat digeneralisasi. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi kinerja yang lain, misalnya ROE, PBV, atau leverage. Proksi GCG dapat menggunakan ukuran dewan komisaris, komisaris independen, komite audit, atau kepemilikan manajerial.

Pengaruh latihan pliometrik bervariasi terhadap prestasi tendangan jauh permainan sepakbola peserta ekstrakurikuler sepakbola pada SMA Negeri 1 Tegaldlimo Banyuwangi / Rizki Fajar Irawan

 

Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan dengan pengungkapan GOOD CORPORATE GOVERMENT sebagai variabel pemoderasi / Miarti

 

ABSTRAK Miarti. 2010. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Pengungkapan Good Corporate Governance Pada Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi, Jurusan S1 Akuntasi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Bambang Sugeng, M.A., M.M. Ak, Pembimbing (2) Dra. Hj. Sutatmi, SE, M.pd., M.Si. Ak Kata kunci : return on asset, good corporate governance, tobins’q, nilai perusahaan Perusahaan merupakan lembaga yang memiliki tujuan menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian mengenai pengaruh kinerja keuangan dalam hal ini rasio yang digunakan adalah return on asset (ROA) terhadap nilai perusahaan menunjukkan hasil yang tidak konsisten, dengan mereplikasi penelitian sebelumnya peneliti menduga ada faktor lain. Oleh karena itu, peneliti memasukkan pengungkapan good corporate governance (GCG) sebagai variabel moderasi yang diduga ikut memperkuat atau memperlemah pengaruh tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan dan pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan yang dimoderasi oleh good corporate governance, populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang masuk dalam CGPI dan listing di BEI periode 2005-2007. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik penemuan sampel dengan pertimbangan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sampel yang representative. Dengan demikian sampel dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di BEI, masuk pemeringkatan CGPI, dan menerbitkan laporan keuangan selama periode pengamatan yaitu tahun 2005-2007. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan, harga saham bulanan (closing price) dan indeks GCG. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik moderated regression analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa dengan menggunakan signifikansi 5 % menunjukkan (1) variabel ROA berpengaruh terhadap nilai perusahaan, (2) GCG bukanlah variabel pemoderasi. Hal ini disebabkan investor tidak mempercayai kebijakan good corporate governance yang dijalankan di Indonesia karena masih semata-mata menunjukkan ketaatan kepada hukum dan bukan menjadi suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah sampel dan memperpanjang waktu pengamatan sehingga penelitian dapat digeneralisasi. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi kinerja yang lain, misalnya ROE, PBV, atau leverage. Proksi GCG dapat menggunakan ukuran dewan komisaris, komisaris independen, komite audit, atau kepemilikan manajerial.

Penerapan Pembelajaran kooperatif type stad untuk meningkatkan penguasaan konsep waktu pada mata pelajaran matematika kelas 1 SDN Mronjo 02 kecamatan selopuro kabupaten Blitar / Umi niswatin

 

Matematika merupakan salah satu faktor pendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Rendahnya prestasi belajar matematika salah satu penyebabnya terletak pada daya tarik siswa terhadap mata pelajaran matematika masih kurang. Anggapan yang terjadi pada kehidupan masyarakat matematika merupakan mata pelajaran yang sangat sulit dan membingungkan, terutama dalam menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan perhitungan waktu jam secara bulat.Peneliti berasumsi bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD anak akan bersemangat dan mengikuti pembelajaran matematika tentang perhitungan waktu jam secara bulat dapat meningkatkan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan penguasaan konsep perhitungan waktu jam secara bulat siswa kelas 1 SDN Mronjo 2 Kecamatan. Selopuro Kabupaten. Blitar. (2) Peningkatan penguasaan perhitungan waktu jam secara bulat dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas I SDN Mronjo 02 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD Subyek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN.Mronjo 02 sebanyak 20 siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK Instrumen yang digunakan adalah tes dan lembar observasi. Tehnik analisis data yang dipakai adalah rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas I SDN Mronjo 02. Peningkatan prestasi belajar siswa ditunjukkan dari nilai rata-rata pre tes dan post tes, pada siklus I dengan hasil 70%. Sedangkan pada siklus II nilai pre tes dan post tes meningkat menjadi 95 %. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembelajaran ini adalah: a). Proses Pembelajaran Matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat siswa menjadi lebih berani tampil ke depan kelas dan lebih berani bertanya juga menjawab pertanyaan yang di berikan oleh guru. b). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar matematika pada penguasaan konsep perhitungan waktu jam secara bulat.

Penerapan strategi pemecahan masalah heuristik II untuk meningkatkan balajar hitung penjumlahan di kelas I SD / Neni Lita Herminati

 

ABSTRAK Herminati, L. N. Penerapan Strategi Pemecahan Masalah Heuristik II untuk Meningkatkan Belajar Hitung Penjumlahan di Kelas I SD Fakultas Ilmu Pendidikan Jurusan KSDP Program PJJ S1 PGSD. Pembimbing : Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL), Strategi Pemecahan Heuristik II, Penjumlahan, Matematika, SD. Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih dan menerapkan berbgai pendekatan dan metode untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi awal diketemukan bahwa hasil belajar siswa di SDN Ngemplakrejo dari 30(100%) siswa sebanyak 23 (76.6%) siswa belum mencapai kriteria ketentuan kelas yang diharapkan minimal 80%. Berdasarkan hal itu, pendekatan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan strategi pemecahan masalah heuristik dalam pembelajaran matematika sangat tepat sebagai alternatif dalam proses pembelajaran, karena siswa dilibatkan secara aktif, efektif dan menyenangkan dalam pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika melalui penerapan strategi pemecahan masalah heuristik II; (2) Meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran matematikan melalui penerapan strategi pemecahan masalah heuristik II; (3) Meningkatkan kemampuan belajar hitung penjumlahan pada siswa kelas I SDN Ngemplakrejo. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dengan metode Kemmis dan Taggart yang terdiri dari empat fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dengan teknik tes dan non tes (observasi dan wawancara), sedangkan instrumen pengumpulan data berupa: pedoman observasi untuk menilai aktivitas, kreativitas, efektivitas, dan pembelajaran menyenangkan bagi siswa, soal pre test dan post test untuk menilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pemecahan masalah heuristik II. Dari hasil analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika dengan menerapkan strategi pemecahan masalah heuristik II terjadi beberapa peningkatan yaitu: (1) untuk aktivitas, kreativitas, efektivitas, dan rasa senang siswa terhadap pembelajaran yang diperoleh mulai siklus I sampai siklus II mengalami peningkatkan yang signifikan. Yaitu dari 30 (100%) siswa seluruhnya sudah mencapai kriteria aktif, kreatif, efektif dan rasa senang dalam pembelajaran; (2) hasil belajar pada waktu pre test adalah 46,7 dengan kriteria sangat rendah mengalami peningkat pada siklus I yaitu 74,6 dengan kriteria cukup tinggi dan mengalami peningkatan yang signifikan lagi pada siklus II 87,6 dengan kriteria tinggi. Meskipun ada 3 (10%) yang tidak mencapai kriteria ketuntasan individu namun ketuntasan belajar kelas sudah tercapai yaitu minimal 80%. Namun demikian, nampaknya masi sangat di perlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam usaha memperbaiki dan menngkatkan hasil belajar siswa di sekolah tersebut.

Penerapan metode experimen untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas 4 sekolah dasar negri bendogerit 2 kota blitar./Tri harjani

 

ABSTRAK Harjani, Tri. 2010. Penerapan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar. Penelitian Tindakan Kelas. PJJ S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. I Wayan Sutama, M. Pd Kata kunci: Metode eksperimen, hasil belajar matematika Proses pembelajaran melibatkan keseluruhan potensi psikis dan fisik peserta didik. Maka dari itu, pembelajaran harus berpusat pada peserta didik yang sesuai dengan karakteristik masing-masing. Di samping itu, dalam pembelajaran seorang pendidik harus dapat menggunakan multimetode untuk pengorganisasian kelas yang bervariasi. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode eksperimen. Sebab metode eksperimen ini menuntut siswa untuk lebih aktif sehingga dapat merangsang potensi daya fikir siswa serta kreativitas daya nalar mereka. Dengan demikian siswa menjadi termotivasi dalam belajar, sehingga dapat mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan harapan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar; (2) untuk mendeskripsikan apakah metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan empat tahapan yaitu: (1) tahap perencanaan tindakan; (2) tahap pelaksanaan tindakan; (3) tahap observasi; (4) tahap refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas 4 SD Negeri Bendogerit 2 Kota Blitar. Sedangkan, data yang diperoleh berupa hasil tes evaluasi dan lembar obeservasi kegiatan belajar mengajar. Hasil dari keseluruhan analisis menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata 59,25 pada pra-tindakan naik menjadi 65,50 pada siklus I dan 75,00 pada siklus II. Adapun ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 55%, pada siklus I meningkat menjadi 80%, kemudian pada siklus II meningkat lagi menjadi 95%. Berdasarkan hasil analisis di atas, guru diharapkan bisa menyampaikan materi dengan cara yang variatif, tidak hanya dengan keterangan lisan melainkan juga dengan menggunakan eksperimen dengan benda-benda kongkrit agar siswa bisa memahami materi dengan baik. Selain itu, diharapkan model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Matematika karena dengan metode ini siswa menjadi lebih aktif berfikir dan berbuat selama kegiatan belajar mengajar.

Peningkatan hasil belajar matematika tentang pengukuran panjang melalui pendekatan kontekstual metode pemecahan masalah siswa kelas III SDN MANDARANREJO./Sukarsih

 

ABSTRAK Sukarsih, 2010.Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Pengukuran Panjang Melalui Pendekatan Kontekstual Metode Pemecahan Masalah Siswa Kelas III UPT SDN Mandaranrejo II Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program PJJ-SI PGSD. Pembimbing : Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd Kata Kunci:Pembelajaran Kontekastual, Pemecahan Masalah Pengukuran Panjang Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pendekatankontekstual metode pemecahan masalah. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1) Apakah pembelajaran kontekstual dengan metode pemecahan masalah dapat meningktkan aktivitas siswa kelas III UPT SDN Mandanrejo II Pasuruan dalam pembelajaran matematika ?,2) Apakah pembelajaran kontekstual dengan metode pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang pengukuran panjang siswa kelas III UPT SDN Mandanrejo II Pasuruan ?, 3)Bagaimana penerapan pembelajaran Matematika kontekstual dapat meningkatkan kemapuan pemecahan masalah siswa kelas III UPT SDN mandaranrejo II Pasuruan ? Subjek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas III UPT SDN Mandaranrejo II Pasuruan sebanyak 32 siswa. Penelitian ini diawali dengan pemberian tes awal yang bertujuan untuk memperoleh gambaran awal kemampuan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan menggunakan alat ukur. Dari 32 siswa 5 orang siswa memperoleh nilai 100, 4 orang siswa memperoleh nilai 80, 8 orang siswa memperoleh nilai 60, 13 orang siswa memperoleh nilai 40, dan 2 orang siswa memperoleh nilai 20. KKM sekolah sebesar 70, artinya siswa dikatakan tuntas belajarnya apabila telah memperoleh nilai minimal 70. Dari hasil tes awal dapat disimpulkan bahwa siswa yang tuntas belajar 9 orang siswa (28% ), sedangkan siswa yang tidak tuntas belajar ada 23 orang siswa (72%). Sehingga pembelajaran dikatakan tidak berhasil. Perbaikan yang dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan (1), Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I diperoleh prosentase 79% dengan kiteria tingkat keberhasilan baik. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus II diperoleh prosentase 88, 1 %, dengan criteria keberhasilan amat baik. Hal ini mebuktikan bahwa aktivitas siswa meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 9,1%, (2) Hasil belajar pada akhir I diperoleh nilai rata-rata 72,8 siswa yang tuntas belajar 21 siswa dan siswa tidak tuntas belajar 11 siswa. Hasil belajar pada akhir siklus II diperoleh nilai rata-rata 84.3 siswa yang tuntas belajar 32 siswa (100%). (3) Kemapuan pemecahan masalaha meningkat, dengan kiteria keberhasilan amat baik, karena itu dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran matematika kontekstual kemapuan pemecahan masalah siswa kelas II SDN mandaranrejo II Pasuruan mengalami peningkatan

Persepsi kepala sekolah dan teman sejawat terhadap guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK PROBOLINGGO./Maya Faradilla Puspa

 

ABSTRAK Puspa, Maya Faradilla. 2009. “Persepsi Kepala Sekolah Dan Teman Sejawat Terhadap Guru Ekonomi Yang Tersertifikasi Di Sma Dan Smk Probolinggo”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj Lisa Rokhmani. M.Si (2) Dr. Nasikh, S.E.,M.P., M.Pd Kata kunci: Profesionalisme guru, Kompetensi guru, Kinerja guru Guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, sehingga mereka harus mendapatkan perhatian yang utama.Guru juga sangat menentukan keberhasilan peserta didik terutama dalam kaitannya dalam proses belajar mengajar. Perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) dinyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan persyaratan memiliki kualifikasi akademik minimal S1 atau Diploma IV yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran. Sebagai agen pembelajaran, seorang guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial yang dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sertifikasi guru merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu guru sehingga pembelajaran di sekolah juga akan berkualitas. Peningkatan mutu dan peningkatan kesejahteraan guru diharapkan dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan secara berkelanjutan melalui sebuah kinerja guru yang baik.Tujuan sertifikasi adalah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional; meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan; meningkatkan martabat guru; dan meningkatkan profesionalise guru. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan variabel dalam penelitian yaitu profesionalisme guru, kompetensi guru dan kinerja guru. Populasi dalam penelitian ini adalah guru ekonomi tersertifikasi di Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Probolinggo. Responden dalam penelitian ini adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah dan guru (teman sejawat) dari guru yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 37 orang. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode angket/kuesioner tertutup. Analisis data yang digunakan untuk menguji adalah dengan analisis distribusi frekuensi. Hasil penelitian untuk tingkat Profesionalisme guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat sudah sangat tinggi atau baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data menyatakan bahwa masing-masing sub profesionalisme yaitu: 83,8 % guru memiliki tingkat ahli bidang teori dan praktek yang sangat tinggi atau baik, 75,7 % guru memiliki tingkat latar belakang kependidikan yang sangat tinggi atau baik, 78,4% guru melaksanakan kode etik guru yang sangat tinggi atau baik, 91,9% guru memiliki tingkat otonom dan rasa tanggungjawab yang sangat tinggi atau baik, 83,8% guru memiliki kerelaaan memberikan bimbingan yang sangat tinggi atau baik, serta 62,2% guru memiliki rasa bekerja berdasarkan panggilan hati nurani yang sangat tinggi atau baik. Hasil penelitian untuk tingkat Kompetensi guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat adalah sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data menyatakan bahwa masing-masing sub kompetensi yaitu: 83,8 % guru memiliki tingkat kompetensi kepribadian yang tinggi, 83,8 % guru memiliki tingkat kompetensi sosial yang tinggi, 75,7% guru memiliki tingkat kompetensi pedagogik yang tinggi, serta 78,4% guru memiliki tingkat kompetensi profesional yang tinggi. Sedangkan untuk kinerja guru ekonomi yang tersertifikasi di SMA dan SMK Probolinggo menurut persepsi kepala sekolah dan teman sejawat juga sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data masing-masing sub variabel. Dari sub variabel penyusunan program pembelajaran yaitu: 91,9 % guru menyusun program pembelajaran, 83,8 % guru melaksanakan pelaksanaan evaluasi, 62,2 % guru melakukan analisis evaluasi, 78,4 % guru melakukan pelaksanaan perbaikan dan pengayaan, 56,8 % guru melakukan pelaksanaan pembelajaran dengan sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada para guru ekonomi tersertifikasi di Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan Probolinggo untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dan kinerjanya dalam dunia kependidikan. Sehingga tujuan Sertifikasi guru untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Berbagai program untuk meningkatkan kompetensi dan kinerjanya, hendaknya tidak berhenti begitu saja setelah sertifikat pendidik didapatkan, melainkan tetap membekali diri dengan berbagai program peningkatan pendidikan seperti pelatihan dan seminar yang bermanfaat untuk menambah wawasan di dunia pendidikan.

Analisis potensi retribusi pasar terhadap pendapatan asli daerah (PAD) kota Malang tahun 2004-2008./ Firghansa Ulil Rizky

 

ABSTRAK Rizky, Firghansa Ulil. 2010. Analisis Potensi Retribusi Pasar Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Malang Tahun 2004-2008. Skripsi, Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hari Wahyono, M.Pd, (II) Drs. Sapir, S.Sos, M.Si. Kata kunci: otonomi daerah, potensi, retribusi pasar, PAD. Otonomi daerah merupakan aplikasi dari suatu kebijakan yang menetapkan bahwa kabupaten maupun kota sebagai titik beratnya. Inti dari pelaksanaan otonomi daerah adalah upaya untuk memaksimalkan hasil yang akan dicapai sekaligus menghindari kerumitan dan hal-hal yang menghambat pelaksanaan otonomi daerah. Dengan demikian, tuntutan masyarakat dapat diwujudkan secara nyata dengan penerapan otonomi daerah luas dan kelangsungan pelayanan umum tidak diabaikan, serta memelihara kesinambungan fiskal secara nasional. Meskipun bukan penerimaan retribusi yang utama, namun retribusi pasar Kota Malang memiliki peranan yang cukup penting, yakni sebagai salah satu penyumbang dalam penerimaan retribusi daerah pada khususnya dan PAD pada umumnya. Untuk mengetahui fokus dari penelitian ini, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Bagaimanakah perkembangan retribusi pasar dan PAD Kota Malang tahun 2004-2008? (2) Bagaimanakah hubungan antara retribusi pasar dengan PAD Kota Malang tahun 2004-2008? (3) Bagaimanakah potensi retribusi pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang tahun 2004-2008? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini dirancang dengan rancangan deskriptif kuantitatif. Penelitian dilakukan di Dinas Pendapatan Asli Daerah (Dispenda) dan Dinas Pasar Kota Malang dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Populasi terdiri dari retribusi pasar selama 8 (delapan) tahun, yakni mulai tahun 2001 hingga tahun 2008 sedangkan sampel terdiri dari retribusi pasar Kota Malang selama 5 (lima) tahun, yakni mulai tahun 2004 hingga tahun 2008. Sampel diambil dengan teknik sampling purposive. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Prosentase perkembangan retribusi pasar Kota Malang dari tahun ke-tahun mengalami ketidakstabilan. Rata-rata perkembangan penerimaan retribusi pasar menunjukkan angka 10,18% pertahun, sedangkan rata-rata prosentase realisasi retribusi pasar atas targetnya adalah sebesar 100,87% pertahun, (2) PAD Kota Malang mengalami perkembangan setiap tahunnya, namun tidak selalu mengalami peningkatan. Rata-rata perkembangan PAD Kota Malang cukup, yakni 5,97% per-tahun, sedangkan rata-rata prosentase realisasi retribusi pasar atas targetnya adalah sebesar 101,89% pertahun, (3) Retribusi pasar memiliki hubungan linier positif yang menunjukkan bahwa dengan naiknya pendapatan retribusi pasar, maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) akan naik pula. Namun demikian, retribusi pasar memiliki tingkat korelasi yang rendah dengan Pendapatan Asli Daerah Kota Malang. Korelasi antara dua variabel tersebut menunjukkan angka 0,345, (4) Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, retribusi pasar cukup memiliki potensi dalam menyumbang penerimaan retribusi daerah dan PAD Kota Malang. Menurut perhitungan melalui analisa kontribusi, potensi retribusi pasar dalam menyumbang PAD Kota Malang adalah sebesar 3,66%. Adapun saran yang dapat dijadikan pertimbangan dalam mengoptimalkan retribusi pasar dalam kaitannya dengan PAD Kota Malang adalah: (1) Bagi Pemerintah: (a)Perlu diadakan upaya yang lebih intensif lagi dalam pemungutan retribusi pasar sehingga penerimaan retribusi pasar akan selalu mengalami peningkatan yang lebih besar dan stabil setiap tahunnya, dengan cara pengoptimalan kembali usaha intensifikasi dan ekstensifikasi pasar, (b)Pemerintah sebagai stakeholder perlu untuk lebih memperhatikan lagi dan membantu kemajuan sektor penerimaan retribusi pasar, dengan cara memberikan penyuluhan dan bantuan materiil terhadap pedagang melalui kebijakan yang lebih baik lagi agar krisis ekonomi global tidak mengakibatkan kelesuan perdagangan pasar, (c)Penerimaan atas PAD harus lebih dioptimalkan kembali dengan cara mengembangkan potensi dan keunggulan daerahnya sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap Pemerintah Pusat dan bantuan lainnya; (2) Bagi peneliti lain: mengingat adanya keterbatasan dalam penelitian ini yaitu mengenai teknik pengambilan data yang lebih menitikberatkan pada data sekunder, maka penelitian selanjutnya perlu dilakukan untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih baik dan mendalam dengan menggali sumber data primer.

Isolasi, karakterasi, dan uji aktivitas antibakteri minyak biji buah kelengkeng lokal dan impor serta identivikasi asam lemak penyusunnya / Mahfudhoh Syarifah

 

ABSTRAK Syarifah, Mahfudhoh. 2010. Isolasi, Karakterisasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Minyak Biji Buah Kelengkeng Lokal dan Impor serta Identifikasi Asam Lemak Penyusunnya. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Marfu’ah, M.S., (2) Evi Susanti, S.Si., M.Si., Kata-kata kunci: asam lemak, biji buah kelengkeng, antibakteri Minyak dari biji buah-buahan adalah salah satu bahan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan suatu produk industri. Pohon kelengkeng adalah salah satu jenis tanaman buah berbiji yang banyak terdapat di Indonesia. Meskipun begitu pemanfaatan biji buah kelengkeng masih sangat terbatas. Padahal dimungkinkan didalam minyak ada senyawa yang bersifat antibakteri yang diperoleh dari hasil isolasi minyak dari biji buah kelengkeng. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tujuan mengisolasi, mengkarakterisasi, dan mengidentifikasi, serta menguji aktivitas minyak biji buah kelengkeng sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli. Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Biji buah kelengkeng yang digunakan berasal dari tanaman kelengkeng jenis lokal (bibit Indonesia) dan jenis impor (bibit luar). Tahap-tahap penelitian ini adalah isolasi minyak biji buah kelengkeng dengan cara ekstraksi soxhlet dengan pelarut n-heksana; karakterisasi sifat fisika (berat jenis dan indeks bias) dan sifat kimia (bilangan asam, bilangan iod, dan bilangan penyabunan); identifikasi asam lemak minyak biji buah kelengkeng menggunakan GC-MS; dan sifat antibakteri ditentukan dengan metode tube dillution test terhadap Escherichia coli. Data-data yang diperoleh dalam penelitian, dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rendemen minyak biji buah kelengkeng lokal agak basah, lokal kering, impor agak basah, dan impor kering yang diekstraksi dengan n-heksana berturut-turut adalah 0,777%; 1,429%; 2,746%; 2,832%, (2) minyak biji buah kelengkeng lokal agak basah memiliki berat jenis 1,423; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,50; bilangan penyabunan 140,25; dan bilangan iod 101,286, minyak biji buah kelengkeng lokal kering memiliki berat jenis 1,270; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,83; bilangan penyabunan 137,500; dan bilangan iod 114,210, minyak biji buah kelengkeng impor agak basah memiliki berat jenis 1,293; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,663; bilangan penyabunan 139,324; dan bilangan iod 105,8097, minyak biji buah kelengkeng impor kering memiliki berat jenis 1,380; indeks bias 1,469; bilangan asam 16,609; bilangan penyabunan 139,787; dan bilangan iod 104,167. (3) asam lemak penyusun utama minyak biji buah kelengkeng adalah asam palmitat, asam linoleat, asam oleat, asam oktadekanoat, asam siklopropanaoktanoat, dan asam eikosanoat. (4) uji aktivitasnya terhadap bakteri Escherichia coli dengan metode tube dillution test menunjukkan minyak biji buah kelengkeng lokal agak basah memiliki potensi paling besar dibandingkan dengan yang lainnya, sebesar 45,74%, sedangkan dari minyak biji buah kelengkeng lokal kering, impor agak basah, dan impor kering hanya 31,38%; 13,30%; dan 23,67%.

Hubungan antara kualitas layanan petugas koperasi siswa dan kepuasasn siswa kelas XI Sekolah Menengah Atas ( SMA ) Negeri se-kota Malang / Winda Restuning Suminar

 

ABSTRAK Suminar, Winda. 2009.Hubungan Antara Kualitas Layanan Petugas Koperasi Siswa dan Kepuasan Siswa Kelas XI Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Se-Kota Malang, Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Hendyat Soetopo M. Pd (2) Drs. Agus Timan, MPd. Kata Kunci: Kualitas Pelayanan dan Kepuasan Sebagai wadah pengembangan usaha ekonomi rakyat, koperasi diharapkan dapat menjadi pilar utama peningkatan kesejahteraan anggota dan sekaligus menumbuhkan semangat kehidupan demokrasi ekonomi dalam masyarakat. Perkembangan koperasi dari tahun ke tahun memang terjadi di semua sektor, salah satunya adalah pelayanan bagi anggota koperasi. Bahwa pelayanan yang diberikan oleh koperasi merupakan program saling memanfaatkan bagi anggota. Dalam pemberian layanan terhadap anggotanya harus memberikan manfaat ekonomis atau keuntungan yang dapat dinikmati oleh anggota. Disamping itu, pelayanan pegawai yang maksimal akan membuat anggota merasakan kepuasan yang pada akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan anggota koperasi tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang; mendeskripsikan tingkat kepuasan siswa terhadap layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang dan mengetahui hubungan antara kualitas layanan petugas koperasi siswa dengan kepuasan siswa kelas XI SMAN se-Kota Malang. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut maka untuk menjawab masalah yang pertama dan kedua menggunakan teknik analisis data deskriptif/persentase dan untuk menjawab pertanyaan ketiga menggunakan teknik analisis data korelasi Product Moment dari Pearson. Populasi dalam penelitian ini adalah 2910 siswa dan sampel yang diambil adalah 351 yang terdiri dari siswa kelas XI di SMAN se-Kota Malang. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan suatu kesimpulan bahwa kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang masuk dalam kategori baik. Tingkat kepuasan siswa atas kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang. masuk dalam kategori baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat kepuasan siswa dengan kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang.. Hasil tersebut dapat dibuktikan bahwa nilai harga r hitung sebesar 5,29 dan nilai r tabel 0,113. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara variabel tingkat kepuasan siswa dengan kualitas layanan petugas koperasi siswa di SMAN se-Kota Malang.. Saran yang dapat diajukan yaitu bagi siswa, diharapkan untuk melakukan suatu evaluasi atas kualitas pelayanan yang diberikan oleh pihak koperasi sehingga pihak manajemen koperasi selalu melakukan perbaikan atas kualitas pelayanan yang diberikan. Usaha nyata yaitu dengan selalu memberikan suatu tanggapan yaitu dengan mengisi kotak saran sesuai dengan kondisi yang mereka rasakan. Bagi Peneliti Selanjutnya, bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakannya yaitu dengan menggunakan variabel lain yang terkait dengan kepuasan para siswa dalam menggunakan jasa koperasi sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan memperluas wawasan. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kualitas pelayanan dengan kepuasan para siswa dalam menggunakan jasa koperasi.

Penerapan model pembelajaran inquiri sebagai upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Blitar tahun pelajaran 2009/2010 / Nanik Guntariati

 

ABSTRAK GUNTARIATI, N. 2009. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010 Penelitian Tindakan. Pembimbing Dr. Musa Sukardi M.Pd Kata kunci: Inquiry, Prestasi Belajar Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi unsur penentu dalam kelangsungan hidup manusia. Untuk menghadapi tantangan pada masa mendatang, pendidikan nasional dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya. Upaya meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya tidak hanya menjadi tugas dan tanggung jawab para pakar, birokrat dan politisi saja, melainkan juga menjadi tugas dan tanggung jawab guru dan orang yang berkiprah di bidang pendidikan dan pengajaran. Kunci dari meningkatkannya kualitas manusia Indonesia seutuhnya adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu diperlukan usaha peningkatan kualitas guru dalam melakukan strategi kegiatan belajar. Berdasarkan fenomena tersebut, ada permasalahan yang perlu dijawab berkaitan dengan masalah peningkatan prestasi. Bagaimanakah Penerapan Model Pembelajaran Inquiry terhadap aktivitas siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009/2010 dalam pembelajaran Matematika?, dan Bagaimanakah hasil belajar matematika siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009/2010 dalam Penerapan Model Pembelajaran Inquiry? Metode yang digunakan dalam pendekatan penyelesaian permasalahan ini adalah model pembelajaran Inquiry dengan rancangan penelitian tindakan perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Hasil dari penelitian ini adalah; (1) siswa pada umumnya masih kesulitan dalam beradaptasi dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hal ini dapat dimaklumi sebab siswa belum pernah melakukan praktek pembelajaran matematika secara mandiri. (2) Guru masih belum secara optimal mengkondisikan kelas, sehingga siswa lebih banyak bermain bersama siswa yang lain daripada memperhatikan guru, dan (3) Siswa pada umumnya masih belum aktif untuk bertanya atau mengambil peran dalam menjelaskan menyampaikan pertanyaan materi maupun menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru. Sedangkan hasil nyata dari evaluasi belajar menunjukkan bahwa model inquiri sangat efektif dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IV SD Negeri Pagergunung 03 Kesamben Blitar dalam belajar mata pelajaran matematika. Hal ini dibuktikan bahwa diawali dari pra tindakan penelitian Dari 15 siswa yang tuntas dalam belajar ada 4 siswa (26,67%). Tindakan berikutnya pada siklus 1 meningkat yang mengalami ketuntasan dalam belajar ada 9 siswa (60%). Selanjutnya tindakan pada siklus 2, didapatkan hasil belajar dari 15 siswa 13 siswa (86,67%) dinyatakan tuntas dalam pembelajaran.

Analisis perpustakaan sekolah dalam memfasilitasi siswa belajar biologi si SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Fendy Hardian Permana

 

Permana, Fendy Hardian. 2013. Analisis Perpustakaan Sekolah Dalam Memfasilitasi Siswa Belajar Biologi Di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Istamar Syamsuri, M.Pd.,(II) Drs. H. M. Noviar Darkuni, M.Kes. Kata kunci: Perpustakaan Sekolah, Memfasilitasi, Belajar Biologi.     Perpustakaan sekolah merupakan jendela dunia dalam mengakses segala informasi yang ada di dunia. Perpustakaan sekolah dapat dikatakan sebagai jantung kegiatan pembelajaran di sekolah. Kenyataannya masih ada sekolah di negara Indonesia belum memperhatikan secara optimal keberadaan perpustakaan sekolah dalam menunjang pendidikan. Penelitian ini dilakukan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang karena sekolah ini merupakan sekolah swasta yang ada di bawah naungan Universitas Negeri Malang, sehingga SMA laboratorium Universitas Negeri Malang dapat dijadikan sebagai contoh sekolah yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana perpustakaan SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang dalam memfasilitasi siswa belajar biologi.     Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X, XI IPA, XII IPA, guru biologi, kepala sekolah, dan kepala perpustakaan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Instrument penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini difokuskan pada bagaimana pengelolaan perpustakaan dan peran warga sekolah sehingga dapat dilihat bagaimana perpustakaan sekolah tersebut dalam memfasilitasi siswa belajar biologi.     Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perpustakaan SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang sudah melaksanakan perannya dalam memfasilitasi siswa belajar biologi, dimana dari segi: (1) pengelolaan sarana prasarana dan koleksi sudah berjalan maksimal dan dilakukan berdasarkan ketentuan yang ada, (2) peran dari warga sekolah (Kepala sekolah, Kepala Perpustakaan, Guru Biologi, Siswa kelas X, XI IPA, dan XII IPA) sudah menjalankan perannya dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, bahwa perpustakaan SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang sudah dapat menjalankan perannya dalam memfasilitasi siswa untuk belajar biologi. Perpustakaan sekolah juga merupakan salah satu sarana untuk siswa belajar mencari informasi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa. Oleh karena itu, dalam pembelajaran terutama biologi sebaiknya guru mengajak siswa untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah dalam kegiatan pembelajaran, serta semua warga sekolah juga berupaya untuk memajukan perpustakaan sekolah agar perpustakaan tersebut berjalan maksimal dalam menjalankan perannya.

Pembelajaran pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar matematika tentang luas bangun datar siswa kelas V SDN Karanganyar Pasuruan / Tutik Suharti

 

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan pembelajaran pemecahan masalah. Dalam penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah Pembelajaran Pemecahan Masalah dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas V SDN Karanganyar Pasuruan dalam pembelajaran matematika? 2) Bagaimanakah Pembelajaran Pemecahan Masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang luas bangun datar siswa kelas V SDN Karanganyar Pasuruan? 3) Apakah Pembelajaran Pemecahan Masalah dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas V SDN Karanganyar Pasuruan dalam pembelajaran matematika materi luas bangun datar? Hasil pembelajaran menunjukkan bahwa menggunakan pembelajaran pemecahan masalah pada luas bangun datar (persegi, persegi panjang, trapesium, dan layang-layang) dapat meningkatkan pemahaman siswa. Disamping itu siswa masih memerlukan latihan-latihan sebagai penguatan. Sebagai saran agar hasil pembelajaran menjadi maksimal dan menarik maka guru hendaknya perlu menyeimbangkan antara waktu untuk drill, penggunaan media dan diskusi.

Penelitian tindakan kelas penerapan metode demontrasi dalan ilmu pengetahuan alam tentang sifat-sifat cahaya dapat meningkatkan prestasi belajar pada siswa kelas V SDN Kolomayan 02 kecamatan Wonodadi kabupaten Blitar / Komsatun

 

Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak factor diantaranya adalah facktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina, dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan diatas dan guna mencapi tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru mempunyai cara /model mengajar yang baik, dan mampu memilih model pembelajaran yng tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan metode Demonstrasi dalam Ilmu Pengetahuan Alam tentang sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SDN Kolomayan 02 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar? (2) Apakah penerapan metode demostrasi dapat meningkatkan hasil prestasi belajar IPA tentang sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SDN Kolomayan 02 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar? Tujuan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah (1)Untuk mendiskripsikan penerapan metode demonstrasi Ilmu Pengetahuan Alam tentang sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V SDN Kolomayan 02 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar. (2)Untuk meningkatkan hasil prestasi belajar siswa ilmu pengetahuan alam tentang sifat-sifat cahaya pada siswa kelas V di SDN Kolomayan 02 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (Action Recear CH) sebanyak 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kolomayan 02 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2009. Data yang diperoleh berupa hasil tes Formatif, lembar Observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II yaitu siklus I (72,00), siklus II (86,66)

SMS gateway nilai siswa di SMA Negeri 1 Bangil / Herman Sutanggal

 

Perkembangan dunia teknologi membuat sistem komputer ikut berkembang. Perkembangan ini berdampak luas pada semua sektor, termasuk dalam bidang pendidikan. Dengan mengacu pada pelayanan informasi sekolah, SMA NEGERI 1 BANGIL ingin memiliki aplikasi yang dapat berfungsi sebagai fasilitator yang berbasis Short Message Service guna mendukung tercapainya tujuan pendidikan yang lebih maju. Sekolah ini ingin menggunakan teknologi mobile phones yang sudah berkembang luas dikalangan masyarakat dengan memanfaatkan jasa layanan operator seluler, maka timbul gagasan untuk membuat sistem SMS Gateway Nilai Siswa Di SMAN 1 Bangil yang dapat memberikan pelayanan informasi tentang nilai siswa di SMAN 1 Bangil. Operasi yang berjalan pada sistem SMS gateway ini adalah Auto Respond maksudnya sistem dapat menerima SMS dan dapat membalas SMS tersebut secara otomatis. Dalam hal ini memberikan fasilitas untuk nilai murid ulangan siswa/siswi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian yaitu metode pengumpulan data dan pengembangan database. SMS dengan menggunakan database MySQL-Front serta menggunakan HP NOKIA Type 6300 yang digunakan sebagai modem alat untuk menghubungkan aplikasi ke mobile phones orangtua/wali siswa. Hasil system yang dikembangkan berefek positif dalam sistem akademik di SMAN 1 Bangil. Hasil uji dari pembuatan sms gateway ini bisa dikatakan sudah valid. Ini terbukti dengan adanya pengiriman sms dari wali murid ke SMAN 1 Bangil yang ingin tahu berapa nilai ulangan harian anaknya. Dan itu sudah terbalas secara otomatis oleh server center.

Meningkatkan kemampuan menemukan ide pokok paragraf melalui cooperative learning tipe stad siswa kelas V SDN Bangilan Pasuruan / Sulistyowati

 

ABSTRAK Sulistyowati, 2010. Meningkatkan Kemampuan Menemukan Ide Pokok Paragraf melalui Pendekatan Cooperative Learning Tipe STAD Siswa Kelas V SDN Bangilan Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program PJJ-SI PGSD. Pembimbing : Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Ide Pokok Paragraf, Cooperative Learning Tipe STAD Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok paragraf bacaan melalui pembelajaran analisis isi paragraf. Penelitian ini didasarkan atas rumusan masalah berikut: (1) Bagaimanakah proses pembelajaran melalui pendekatan cooperative learning tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas V SDN Bangilan Pasuruan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ? (2) Bagaimanakah proses pembelajaran melalui pendekatan cooperative learning tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa Kelas V SDN Bangilan dalam menemukan ide pokok paragraf ? Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas V yang berjumlah 31 orang dengan 16 siswa dan 15 siswi. Penelitian ini diawali dengan pemberian pre-tes atau tes awal dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menemukan ide pokok paragraf. Hasil yang diperoleh dari tes awal ini sangat memprihatinkan, karena dari 31 siswa, hanya terdapat 1 siswa atau 3% siswa yang mencapai ketuntasan belajar minimal, sedangkan 30 siswa atau 97% siswa tidak mencapai ketuntasan belajar minimal. Rendahnya nilai tersebut dikarenakan siswa belum memahami langkah-langkah menentukan ide pokok paragraf. Siswa juga masih kesulitan untuk membedakan antara kalimat utama dan ide pokok paragraf. Perbaikan pembelajaran dilakukan melalui Pnenelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Setiap siklus mengikuti tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan peningkatan kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok paragraf, karena setelah dilakukan tindakan perbaikan, hasil post- tes menunjukan bahwa siswa yang belum tuntas dalam mencapai kompetensi hanya berjumlah 5 orang atau hanya berkisar 16%. 26 siswa atau 84% lainnya sudah mencapai ketuntasan dalam belajar. Sedangkan dari hasil observasi aktivitas siswa diketahui bahwa aktivitas siswa dalam belajar kelompok mengalami kenaikan. Pada siklus II pertemuan 1, (1) Tingkat keaktifan siswa yang tergolong baik mengalami kenaikan sebesar 12% dari, yang tergolong cukup mengalami kenaikan sebesar 13%, dan tidak terdapat siswa yang tergolong kurang tingkat keaktifannya, (2) Tingkat ketepatan siswa yang tergolong baik mengalami kanaikan sebesar 22%, yang tergolong cukup mengalami kenaikan sebesar 3%, dan tidak terdapat siswa yang kategori ketepatannya kurang, (3) Tingkat keberanian siswa yang tergolong baik mengalami kenaikan sebesar 32%, yang tergolong cukup mengalami penurunan sebesar 7%, dan tidak terdapat siswa yang kategori ketepatannya kurang.

Pengaruh return on asset (ROA) dan loan to deposit batio (LDR) terhadap retrurn saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007 / Erik Susilowati

 

ABSTRAK Susilowati, Erik. 2010. Pengaruh Return On Asset (ROA), dan Loan To Deposit Ratio (LDR) terhadap Return Saham pada Perusahaan Perbankan yang Listing di bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007. Skripsi. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Nurika Restuningdiah, S.E., M.Si,. Pembimbing (2) Triadi Agung Sudarto, S.E, Ak., M.Si, Kata kunci : Return On Asset (ROA), Loan To Deposit Ratio (LDR) dan Return Saham. Tujuan umum dari perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan. Diukur dari kinerja keuangan perbankan, banyak variabel yang dapat digunakan untuk menentukan kinerja keuangan perbankan, diantaranya adalah Return On Asset (ROA) dan Loan To Deposit Ratio (LDR). Semakin efisien penggunaan rasio LDR maka nilai perusahaan juga akan semakin baik. Sedangkan semakin tinggi ROA akan meningkatkan nilai perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ROA dan LDR berpengaruh secara parsial maupun secara simultan terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2007. Jenis penelitian ini adalah penelitian assosiatif. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ROA (X1), dan variabel LDR (X2) sebagai variabel bebas dan return saham (Y) sebagai variabel terikatnya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI), sedangkan teknik pengambilan sampel menggunakan tehnik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan 10 perusahaan perbankan yang dijadikan sampel. Pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data digunakan adalah analisis regresi berganda dan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial bahwa variabel ROA (X1) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Rerurn saham (Y).dan bahwa variabel LDR (X2) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Return saham.(Y). sedangkan secara simultan bahwa seluruh variabel ROA, dan LDR secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap Return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini ada beberapa saran untuk peneliti selanjutnya diharapkan menambahkan tahun pengamatan. namun dengan memilih sampel yang mempunyai nilai return saham, dan menambahkan variabel lain yaitu arus kas operasi, dan ukuran perusahaan yang dapat dimasukkan sebagai variabel dalam penelitian ini.

Meningkatkan kemampuan operasi hitung campuran melalui pembelajaran pemecahan masalah matematika kelas III SDN Kebonagung Pasuruan / Puji Mulyati

 

ABSTRAK Mulyati, P. 2010. Meningkatkan Kemampuan Operasi Hitung Campuran melalui Pembelajaran Pemecahan Masalah Matematika Kelas III SDN Kebonagung Pasuruan. E-Tugas Akhir Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah (KSDP) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran Pemecahan Masalah, Operasi Hitung Campuran Penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan operasi hitung campuran ini dilakukan atas dasar rumusan masalah berikut: (1) Bagaimanakah proses pembelajaran pemecahan masalah matematika untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan operasi hitung campuran?, (2) Apakah proses pembelajaran pemecahan masalah matematika dapat meningkatkan kemampuan siswa melakukan operasi hitung campuran? Subyek penelitian adalah siswa kelas III yang berjumlah 25 orang. Perbaikan pembelajaran dilakukan melalui Penelitian Tindakan Kelas dengan 2 siklus dan tiap siklus terdiri dari 3 pertemuan. Setiap siklus mengikuti tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lembar observasi, lembar catatan lapangan, dan pedoman wawancara. Berdasarkan penelitian diperoleh data bahwa hasil kerja kelompok pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I. Pada siklus I diketahui terdapat 4 kelompok mendapatkan kriteria kurang, 1 kelompok mendapatkan kriteria cukup, dan 1 kelompok mendapatkan kriteria baik. Sedangkan pada siklus II, terdapat 1 kelompok yang mendapatkan kriteria cukup, 1 kelompok yang mendapatkan kriteria baik sekali, dan 4 kelompok lain mendapatkan kriteria baik. Sedangkan jumlah subyek yang dapat mencapai ketuntasan belajar setelah pemberian evaluasi tanpa bantuan penyusunan prosedur pemecahan masalah oleh guru terus mengalami peningkatan dari Siklus I pertemuan 3, dan Siklus II pertemuan 1, 2, dan 3. Pada Siklus I pertemuan 3, diperoleh data bahwa dari 25 subyek hanya terdapat 5 siswa atau 20% siswa yang mencapai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) 70. Sedangkan pada siklus II pertemuan 1 diketahui terdapat 10 siswa atau 40% siswa yang mencapai SKM. Pada pertemuan 2 diketahui terdapat 22 siswa atau 88% siswa yang mencapai SKM. Pada pertemuan 3 diketahui tidak terdapat seorang siswa pun yang tidak mencapai SKM. Sementara itu jika diperhatikan perubahan atau perbandingan hasil tes antara tes awal (pre-tes) dengan tes akhir (post-tes) diperoleh data bahwa hasil tes awal (pre-tes) menunjukkan tidak seorang siswa pun yang dapat mencapai SKM, namun pada tes akhir (post-tes) diketahui bahwa semua siswa telah mencapai SKM.

Penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan prestasi belajar matematika konsep penjumlahan bilangan bulat pada siswa kelas IV SDN Karangrejo 01 kec. Garum Kab. Blitar / Siti Mahmudah

 

ABSTRAK Mahmudah, Siti. 2009. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Konsep Penjumlahan Bilangan Bulat Pada Siswa Kelas IV SDN Karangrejo 01 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Tugas Akhir. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang . Pembimbing : Drs Tomas Iriyanto, M.Pd Kata Kunci : Pembelajaran Kontekstual (CTL), Prestasi Belajar, Penjumlahan, Bilangan Bulat . Di SDN Karangrejo 01 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar, guru belum begitu mengenal pendekatan kontekstual. Bardasarkan observasi awal terlihat kurang berkembangnya potensi siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan pendekatan Kontekstual (CTL) dalam meningkatkan prestasi belajar matematika konsep penjumlahan bilangan bulat dalam pembelajaran . Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar observasi dan soal tes . Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode Kemmis dan M.C.Taggart, dengan rancangan 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Jenis Penelitian yang diginakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Data yang dideskripsikan meliputi data hasil observasi penerapan pembelajaran kontekstual dan data hasil prestasi belajar siswa dengan pendekatan kontekstual (CTL ) yang dicapai pada setiap siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Karangrejo 01 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar. Hasil penelitian, menunjukkkan bahwa penerapan pembelajaran kontekstual pada siklus II mengalami peningkatan yang cukup baik dibanding pada siklus I dan peningkatan prestasi belajar belajar siswa cukup baik. Pada siklus I ada 19 siswa ( 63,33% ) memperoleh nilai ≥ 65 dan dapat dikatakan tuntas belajar yang 11 siswa (36.67%) memperoleh nilai ≤ 65 dan dinyatakan belum tuntas belajar . Pada siklus II yang berhasil memperoleh nilai ≥ 65 sebanyak 28 siswa (93,33 %) dan dinyatakan tuntas belajar dan 2 siswa (6,67 %) memperoleh nilai ≤ 65 dan dinyatakan belum tuntas belajar . Nilai tertinggi adalah 100 dan terendah adalah 60. dari data nilai tes tersebut diperoleh rata-rata kelas adalah 85,33. Nilai ini lebih tinggi dari nilai rata-rata yang ditetapkan. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual dilaksanakan dengan menekankan berkembangnya keaktifan siswa dalam pembelajaran dan memperbaiki metode serta strategi guru dalam mengajar dengan menggunakan media yang nyata sehingga menghasilkan pesan yang menarik dan meningkatkan penguasaan siswa terhadap konsep penjumlahan bilangan bulat. Dan dengan penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar matematika konsep bilangan bulat siswa kelas IV SDN Karangrejo 01 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar

Peningkatan hasil belajar matematika melalui pemberian tugas tambahan siswa kelas II SD Negeri Kepanjenlor 3 Blitar / Sri Indrayaningsih

 

Hasil pengamatan di SDN Kerjen kelas V pada mata pelajaran matematika siswa belum memahami cara dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya belajar matematika merupakan belajar untuk memecahkan suatu masalah. Oleh sebab itu pembelajaran matematika hendaknya di mulai dengan pengenalan suatu masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Untuk menciptakan suatu pembelajaran yang sesuai dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk melatih memecahkan suatu permasalahan yaitu dengan menerapkan Pembelajaran Berbasis Masalah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan pembelajaran berbasis masalah soal cerita kelas V tentang pecahan di SDN Kerjen Kabupaten Blitar? (2) Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar pada soal cerita siswa kelas V tentang pecahan di SDN Kerjen Kabupaten Blitar? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah pada soal cerita kelas V di SDN Kerjen Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar soal cerita siswa kelas V di SDN Kerjen Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang di bantu guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam memecahkan suatu masalah dan hasil belajar siswa. Rata-rata keterampilan dalam memecahkan masalah pada pra tindakan mencapai 11.4% meningkat menjadi 66.4% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 77%. Sedangkan hasil belajar yang di peroleh setelah kegiatan pembelajaran juga mengalami peningkatan. Rata-rata hasil belajar pada pra tindakan adalah 58.2% meningkat menjadi 68.4% pada siklus I dan pada siklus II meningkatan menjadi 80.4%. Sedangkan ketercapaian belajar secara klasikal pada pra tindakan 37.04% meningkat menjadi 62.96% dan pada siklus II meningkat menjadi 85.2%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Kerjen Kabupaten Blitar. Dalam membelajarkan siswa guru disarankan menciptakan pembelajaran dengan menghadirkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan.

Penerapan model pembelajaran mind mapping sebagai upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI SD Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar tahun pembelajaran 2009/2010 / Misti Dwiana

 

ABSTRAK DWIANA, M., 2009. Penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VI SD Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian Tindakan. Pembimbing Dr. Musa Sukardi M.Pd Kata kunci: mind mapping, prestasi belajar Pemilihan model pembelajaran yang cocok dengan materi pembelajaran, maka akan diperoleh suatu pembelajaran yang efektif, sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai dengan baik. Pertanyaan yang muncul adalah Apakah pemilihan model pembelajaran itu harus mutlak diperlukan oleh guru? model merupakan suatu upaya, ataupun langkah-langkah pendekatan untuk mencapai sesuatu tujuan secara optimal. Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dilakukan untuk menghasilkan pembelajaran tersebut tercapai sesuai dengan pendekatan tujuan yang direncanakan. Berdasarkan pada fenomena tersebut di atas, peneliti akan mencoba melakukan suatu penelitian tindakan (action research) yang mengarah pada upaya meningkatkan hasil belajar siswa dengan pendekatan yang lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar. Sehingga hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan. Strategi pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran mind mapping. Mengapa harus model pembelajaran mind mapping? Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Mind Mapping dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009-2010? Apakah dengan penerapan model pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri Tepas 01 Kesamben Blitar tahun pelajaran 2009-2010? Hasil dari penelitian tindakan yang dilakukan oleh peneliti, menunjukkan bahwa model mind maping sangat efektif dalam meningkatkan prestasi belajar. Hal ini dibuktikan bahwa dari 16 siswa, pada pembelajaran pra tindakan (belum menggunakan model mind mapping) hanya ada 7 siswa (43,75%) yang tuntas. Berikutnya melalui tindakan 1 (siklus 1) meningkat dari 16 siswa yang tuntas ada 14 siswa (87,50%). Tindakan berikutnya pada siklus 2, diperoleh hasil 15 siswa (93,75%) yang tuntas dari 16 siswa yang melakukan kegiatan pembelajaran. Untuk itun berdasarkan catatan penerapan pendekatan mind mapping dalam pembelajaran, maka, (a) pendekatan model pembelajaran mind mapping perlu dikembangkan pada kegiatan belajar mengajar pada semua mata pelajaran, (b) implementasi pendekatan mind mapping memerlukan guru yang kreatif, inovatif dalam proses belajar mengajar di kelas, dan (c) dengan pendekatan model pembelajaran mind mapping dalam kegiatan belajar mengajar, maka diharapkan dampak dari hasil penelitian tidak hanya terfokus pada motivasi belajar siswa, melainkan dapat dikembangkan pada cara berfikir siswa

Tata ruang sebagai faktor penunjang proses belajar pada hunian komunal mahasiswa / Wiwil Yulianto

 

ABSTRAK Yulianto, Wiwil. 2010. Tata Ruang Sebagai Faktor Penunjang Proses Belajar Pada Hunian Komunal Mahasiswa. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Hanni Elitasari Mahaputri, S.T., M.T. (II) Ir. Dian Ariestadi, M.T. Kata Kunci : tata ruang dalam, tata ruang luar, proses belajar. Setiap mahasiswa memiliki perbedaan dalam hal selera penataan ruang dan pengaruhnya pada proses belajar. Suasana ruangan yang nyaman dan kondusif, mendukung mahasiswa untuk beraktifitas dengan baik khususnya berkaitan dengan aktifitas belajar. Pada hunian komunal, mahasiswa dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan komunal yang ada. Oleh karena itu faktor kenyamanan pada hunian komunal perlu diperhatikan untuk menunjang proses belajar dalam bangunan dengan baik. Penelitian ini dilaksanakan di kos-kosan yang berada pada kawasan-kawasan yang cukup padat dihuni mahasiswa. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data mengenai kenyamanan kos-kosan berkaitan dengan proses belajarnya. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dalam bentuk survei lapangan dan angket kuesioner. Untuk uji hipotesis yang digunakan dalam penelitian menggunakan uji Regresi Berganda Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang siginfikan antara tingkat kenyamanan tata ruang hunian komunal dengan proses belajar mahasiswa sebesar 73,9%. Sedangkan sebesar 26,1% dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Dari hasil penelitian tersebut, faktor kenyaman hunian komunal perlu diperhatikan guna menunjang proses belajar yang dilakukan oleh mahasiswa. Selain itu disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti kenyamanan tata ruang terhadap proses belajar pada hunian rumah tinggal.

Pengaruh laju GDP per kapita, tingkat pengangguran dan tingkat partisipasi angkatan kerja wanita terhadap ketimpangan distribusi pendapatan di Propinsi Jawa Timur / Bayu Permana Putra

 

ABSTRAK Bayu Permana Putra, 2009. Pengaruh Laju GDP Per Kapita, Tingkat Pengangguran dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Wanita Terhadap Ketimpangan Distribusi Pendapatan Di Propinsi Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Ekonomi pembangunan, Program Studi S1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Sugeng Hadi Utomo M.Sc (II) Drs. Mardono M.Si Kata Kunci : Rasio Gini Berdasarkan data dari BPS Jawa Timur, pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur masih relatif rendah dengan laju pertumbuhan yang rendah pula sehingga membawa kepada persoalan yang krusial. Konsekuensi dari laju pertumbuhan ekonomi yang rendah adalah pendapatan per kapita masyarakatnya masih tergolong rendah. Bahkan terdapat kecenderungan bahwa pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan per kapita. Hal ini menggambarkan adanya pertumbuhan penduduk miskin ataupun peningkatan tingkat pengangguran yang cukup cepat di Jawa Timur Laju pertumbuhan ekonomi yang rendah, kemiskinan dan pengangguran yang makin meningkat merupakan masalah yang saling berkaitan di antara keduanya dan berpengaruh terhadap distribusi pendapatan di propinsi Jawa Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010 dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat propinsi Jawa Timur. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah seluruh warga provinsi Jawa Timur usia 15 tahun keatas yang menganggur maupun bekerja yang tercatat di Biro Pusat Statistik (BPS) propinsi Jawa Timur. Analisis data yang digunakan dengan model analisis regresi linier berganda dan di olah dengan menggunakan SPSS 15.00. Tingkat pengangguran, tingkat partisipasi angkatan kerja wanita dan laju GDP per kapita merupakan tolak ukur untuk mengetahui tingkat rasio gini di propinsi Jawa Timur. Bila rasio gini sama dengan nol berarti distribusi pendapatan amat merata sekali. Namun, bila rasio gini sama dengan satu menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang sempurna. Prosentase data sekunder yang diperoleh dalam penelitian ini dapat mewakili keseluruhan besaran tingkat pengangguran, tingkat partisipasi angkatan kerja wanita dan laju GDP per kapita di propinsi Jawa Timur yang berpengaruh terhadap tingkat rasio gini di propinsi Jawa Timur Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pengangguran, tingkat partisipasi angkatan kerja wanita dan laju GDP per kapita berpengaruh terhadap distribusi pendapatan di propinsi Jawa Timur. Diantara variabel-variabel tersebut terdapat variabel yang paling dominan yaitu variabel tingkat partisipasi angkatan kerja wanita. Dalam penelitian ini disarankan untuk lebih memperhatikan tingkat partisipasi angkatan kerja wanita di propinsi Jawa Timur karena terbukti merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap distribusi pendapatan di provinsi Jawa Timur, sehingga mampu mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan di provinsi Jawa Timur.

Penerapan pembelajaran dengan pendekatan scaffolding pada pembelajaran ekonomi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-2 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Bayu Permana Putra

 

ABSTRAK Bayu Permana Putra, 2009. Penerapan Pembelajaran Dengan Pendekatan Scaffolding Pada Pembelajaran Ekonomi Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X-2 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi, Program Studi Pendidikan Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Moch Ichsan, S.E.,M.Pd.,M.Si (II) Agus Sumanto, S.E, M.S.A. Kata Kunci : Scaffolding, Ketuntasan Belajar Siswa Berdasarkan hasil wawancara yang diperoleh dari guru ekonomi kelas X.2 SMA laboratorium UM, pembelajaran ekonomi selama ini yang digunakan oleh guru ekonomi di SMA Laboratorium UM sebenarnya telah memakai beberapa metode pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar (misalnya ; Jigsaw, Number Head Togheter, Problem Solving), karena SMA laboratorium Universitas Negeri Malang merupakan SMA percontohan dalam penggunaan berbagai metode pembelajaran tersebut. Namun diketahui bahwa nilai atau hasil belajar siswa SMA laboratorium Universitas Negeri Malang dirasa masih kurang atau belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimum. Dari hal ini mungkin dalam pembelajaran masih perlu pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa serta masih diperlukannya penambahan beberapa metode pembelajaran agar terdapat berbagai variasi metode pembelajaran terhadap siswa sehingga proses pembelajaran akan lebih menyenangkan dan lebih variatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Laboratorium UM pada semester genap tahun pelajaran 2008/2009 dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X.2 SMA Laboratorium UM dan dilaksanakan pada 18 Mei 2009 sampai dengan 08 Juni 2009. Analisis data yang digunakan dengan model alir yang meliputi tahap mereduksi data, menyajikan data, verifikasi data atau menarik kesimpulan. Pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembelajaran ekonomi, sebab disamping untuk pencapaian tujuan juga harus mempertimbangkan karakteristik dan setting pembelajaran ekonomi tersebut. Pembelajaran ekonomi merupakan suatu siklus sehingga ketrampilan yang satu berkaitan dengan ketrampilan yang lain dan mengutamakan target pencapaian melalui pelatihan yang dialami langsung oleh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendekatan scaffolding perlu digunakan sebagai upaya peningkatan proses belajar mengajar sehingga siswa memiliki kemampuan dalam memahami konsep materi, sikap positif juga ketrampilan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran dengan pendekatan Scaffolding dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.2 SMA Laboratorium UM. Penerapan pembelajaran ini disarankan sebaiknya disesuaikan dengan materi dan lingkungan belajar serta ketersediaan waktu yang cukup. Hal ini dikarenakan dengan waktu yang optimal pelaksanakan pembelajaran yang dilakukan akan mendapatkan hasil yang efektif dan efisien. Bagi guru mata pelajaran ekonomi, disarankan untuk memberikan perhatian dan bimbingan kepada siswa yang mempunyai hasil belajar dibawah SKM.

Penerapan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Panggungrejo 01 kec.Panggungrejo Kab.Blitar tahun pelajaran 2009/2010./Djoko Prajitno

 

Prajitno,Djoko.2009.Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw Untuk meningkatkan Hasil Belajar IPS Pada Siswa kelas V SDN Panggungrejo 01 Kec.Panggungrejo Kab.Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010.Penelitian Tindakan Kelas(PTK),Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang.Pembimbing Dr.Musa Sukardi,M.Pd. Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif,Teknik Jigsaw,Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil sehingga siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan pembelajaran mereka dan antara mereka (Johnson & Johnson,1989).Inti dari pembelajaran kooperatif adalah adanya kerjasama.Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah teknik Jigsaw,yaitu suatu pembelajaran yang mengutamakan aktifitas dan kreatifitas berfikir siswa dalam kegiatan kelompok. Berdasarkan observasi di SDN Panggungrejo 01 Kec.Panggungrejo Kab.Blitar menunjukkan bahwa hasil belajar anak pada mata pelajaran IPS sangat rendah,dimana masih banyak siswa yang nilainya dibawah SKBM perorangan maupun kelompok yang sudah ditentukan dalam kurikulum sekolah sebesar 65 % untuk SKBM perorangan dan 85 % untuk SKBM kelompok.Disamping itu minat dan aktifitas siswa dalam pembelajaran sangat rendah sekali. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penerapan model pembelajaran teknik Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan instrumen penelitian menggunakan lembar observasi dan soal tes.Sedangkan data yang dideskripsikan meliputi data hasil observasi keaktifan siswa dan data hasil belajar siswa yang diperoleh mulai pertemuan 1 dan 2 pada siklus 1 dan pertemuan 3 dan 4 pada siklus 2 dengan subyek siswa kelas V SDN Panggungrejo 01 Kec.Panggungrejo Kab.Blitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw ,keaktifan siswa dalam bertanya ,menjawab pertanyaan,dan berdiskusi mengalami peningkatan dengan kriteria yang semula sedang menjadi sangat baik.Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan diman pada pra tindakan hasil belajar siswa menunjukkan hanya ada 53 % siswa yang tuntas belajarnya,kemudian setelah penerapan pembelajaran dengan teknik Jigsaw menunjukkan kenaikkan yaitu pada pertemuan 1 siklus 1 mencapai 75 %, pertemuan 2 siklus 1 mencapai 81 %,pertemuan 3 siklus 2 mencapai 84 % dan pada pertemuan 4 siklus 2 mencapai 87 % ,Hal ini menunjukkan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya semakin berkurang. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dapat meningkatkan minat dan aktifitas belajar siswa serta hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Panggungrejo Kec.Panggungrejo Kab.Blitar.

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dan siswa kelas V SDN Wonorejo IV kecamatan Singosari kabupaten Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Umi Wahyuni

 

Peningkatan kualitas pendidikan menjadi pusat perhatian bagi pemerintah dan pemerhati pendidikan. Seiring dengan itu pemerintah sudah menerbitkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006 (KTSP). KTSP sebagai perbaikan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 (KBK). Penelitian ini dilakukan berdasarkan masalah-masalah konkrit yang terdapat di kelas diantaranya, rendahnya hasil prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA, siswa kurang mendapat bimbingan dari orang tua, latar belakang pendidikan siswa tidak menempuh pendidikan di TK dan siswa terbiasa tidak mengerjakan PR. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan pada satu kelas agar diperoleh pengamatan yang mendalam. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Evaluasi dilaksanakan dua kali setelah pertemuan 2 dan pertemuan 4 selesai. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu tahap rencana tindakan (planning, pelaksanaan tindakan (action), mengamati (observasi) dan melakukan refleksi (reflection). Ketuntasan belajar yang dapat dicapai oleh siswa pada pra tindakan adalah 24 % (6 siswa), pada siklus 1 ketuntasan belajar siswa mencapai 32 % (8 siswa) dan pada siklus 2 nilai ketuntasan belajar siswa mencapai 84 %. (21 siswa). Nilai rata-rata yang dapat dicapai oleh siswa adalah 69,92 % SKBM untuk mata pelajaran IPA adalah 60 %. Ini berarti sudah mencapai SKBM yang telah ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kecamatan Singosari. Pada penelitian ini rata-rata nilai IPA yang diperoleh siswa mencapai > 70, ini berarti secara klasikal dianggap telah tuntas belajar. Hendaknya guru tidak menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran, agar tidak terkesan membosankan, tetapi sebaiknya guru menggunakan beberapa metode yang inovatif, serta menggunakan model pembelajaran yang dapat menarik motivasi siswa dalam belajar aktif, kreatif dan inovatif, contohnya dengan menerapkan metode eksperimen dan menggunakan benda sebenarnya dalam pembelajaran. Karena dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif bertanya, aktif menemukan sendiri, aktif untuk melakukan percobaan sendiri, serta aktif menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dan kreatif untuk merefleksi hasil belajar yang sudah dilakukannya

Pembelajaran kontekstual dengan model inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN TANJUNGSARI 02 kota Blitar./ Kasiati

 

ABSTRAK Kasiati, 2009 : Pembelajaran kontekstual dengan model inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar. Penelitian Tindakan Kelas, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Heru Agus Triwijaya, M.Pd. Kata kunci : kontekstual, inkuiri, aktivitas, hasil. SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar adalah salah satu sekolah dasar yang terletak pada pinggiran kota berbatasan langsung dengan Kabupaten Blitar. Berdasarkan observasi dan study dokumenter serta hasil wawancara dengan guru kelas III yang dilakukan pada tanggal 2-3 Agustus 2009 bahwa terdapat permasalahan yang terjadi di kelas tersebut. Secara umum dapat diindentifikasi ada masalah yaitu aktifitas belajar dan hasil belajar siswa rendah. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri mempunyai kelebihan yang dapat mengatasi permasalahan yang ditemukan di SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar. Diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober 2009. Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan model Hipkins yang berbentuk spiral yang terdiri dari empat langkah, yaitu Perencananaan, Pelaksanaan Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar yang berjumlah 28 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual dengan model inkuiri dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA kelas III SDN Tanjungsari 2 Kota Blitar.

Kualitas cerpen berdasarkan kehidupan orang lain karya sisa kelas XII SMA Negeri 1 Pesanggrahan Kabupaten Banyuwangi / Adelia Widyaratri

 

Kata kunci: kualitas cerpen, cerpen berdasarkan kehidupan orang lain, pembelajaran menulis cerpen Dalam kegiatan pembelajaran menulis cerpen di sekolah, setiap siswa memiliki cara yang unik dan berbeda dalam mengembangkan ceritanya, baik dalam penggambaran tokoh, alur, dan latar. Dengan kompetensi dasar menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain kelas XII semester I, siswa belajar hal baru dalam menulis cerpen, yaitu menulis cerpen berdasarkan kisah nyata seseorang. Bertolak dari masalah tersebut, maka penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kualitas cerpen yang mencakup penggambaran tokoh, alur, dan latar karangan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Pesanggaran. Data dalam penelitian ini adalah unit teks cerpen siswa yang menggambarkan tokoh, unit teks cerpen siswa yang menggambarkan alur, dan unit teks cerpen siswa yang menggambarkan latar. Sumber data adalah cerpen berdasarkan kehidupan orang lain yang dikarang oleh siswa kelas XII siswa kelas XII SMA Negeri 1 Pesanggaran. Peneliti sebagai human instrument bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis data, penafsir data, serta sebagai pelapor hasil penelitian. Pengambilan data dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pesanggaran dengan subjek penelitian siswa kelas XII semester 1. Pengambilan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan menggunakan ceklis untuk mencari variabel yang sudah ditentukan. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaahan data, identifikasi data, meng-coding data, dan menginterpretasikan data. Analisis data disesuaikan dengan kriteria permasalahan cerpen siswa dengan aspek yang diteliti meliputi penggambaran tokoh, penggambaran alur, dan penggambaran latar. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggambaran tokoh pada cerpen siswa berdasarkan kehidupan orang lain sudah menunjukkan kualitas yang baik, sebab 63% cerpen siswa sudah memenuhi aspek-aspek ketentuan penggambaran tokoh. Aspek-aspek tersebut, yaitu 1) penggunaan metode langsung, tidak langsung, atau campuran; 2) kesesuaian tokoh dalam cerpen dengan tokoh di kisah nyata; dan 3) perubahan tokoh dalam kisah nyata menjadi tokoh dalam cerpen. Kedua, penggambaran alur pada cerpen siswa berdasarkan kehidupan orang lain menunjukkan kualitas yang tidak baik, sebab 42% cerpen siswa tidak ada klimaks dan penyelesaian dari konflik yang ada. Aspek-aspek pengaluran meliputi: 1) kesesuaian tahap eksposisi dalam cerpen dengan eksposisi dalam kisah nyata; 2) kesesuaian konflik dalam cerpen dengan konflik dalam kisah nyata; 3) kesesuaian klimaks dalam cerpen dengan klimaks dalam kisah nyata; 4) kesesuaian penyelesaian dalam cerpen dengan penyelesaian dalam kisah nyata; 5) kesinambungan antarperistiwa; dan 6) perubahan alur dalam kisah nyata ketika menjadi alur dalam cerpen. Ketiga, penggambaran latar cerpen siswa berdasarkan kehidupan orang lain menunjukkan kualitas yang tidak baik, sebab 58% cerpen siswa tidak ada penggambaran latar sosial dan tidak ada kesinambungan antara latar dalam cerpen dengan latar dalam kisah nyata. Aspek-aspek pelataran meliputi: 1) kesesuaian penggambaran latar tempat dalam cerpen dengan latar tempat dalam kisah nyata; 2) kesesuaian penggambaran latar waktu dalam cerpen dengan latar waktu dalam kisah nyata; 3) kesesuaian penggambaran latar sosial dalam cerpen dengan latar sosial dalam kisah nyata; 4) kesinambungan antarlatar; dan 5) perubahan dari latar dalam kisah nyata ketika menjadi latar dalam cerpen. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang bisa diberikan adalah (1) guru hendaknya menggunakan kehidupan orang lain yang benar-benar dekat dengan kehidupan siswa dalam pembelajaran menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain agar siswa benar-benar memahami karakter tokoh, urutan peristiwa, dan latar yang akan diceritakan, (2) dalam pembelajaran menulis cerpen berdasarkan kehidupan orang lain, hendaknya siswa memilih kehidupan orang lain yang benar-benar dipahami peristiwa maupun tokohnya, dan (3) hendaknya peneliti lain lebih konsisten dalam mengembangkan instrumen dan menentukan aspek yang akan diteliti agar tidak menimbulkan kerancuan.

Penerapan metode penemuan terbimbing untuk meningkatkaan hasil dan motifasi belajar tentang saling hubungan antara suhu ,sifat hantaran dan kegunaan benda ,pada siswa kelas VI SDN Karangduren 02 kabupaten Malang./ Mokhamad Samsul

 

ABSTRAK Samsul, Mokhamad. 2010 Penerapan Metode Penemuan Terbimbing untuk meningkatkan hasil dan motivasi belajar tentang saling hubungan antara suku, sifat antara suku, sifat hantaran dan kegunaan benda, pada siswa kelas VI SDN Karangduren 02 Kabupaten Malang Kata kunci : Metode Penemuan Terbimbing Pembelajaran ditujukan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan. IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. Pembelajaran terbimbing dapat meningkatkan prestasi belajar dengan memberian pengalaman langsung pada siswa Pada penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus, siklus pertama dan kedua masing-masing dua kali pertemuan. Instrumen yang digunakan RPP, lembar obsevasi kegiatan belajar mengajar dan tes formatif Hasil penelitian pada siklus I aktifitas belajar siswa melakukan percobaan 22,5%, bekeja sama dengan kelompok 18,7% diskusi 14,4% dan mempelajari buku 11,5%, sedangkan hasil tes formatif nilai rata-rata 70,00. jumlah siswa yang tuntas 15 (65,52% ). Pada siklus II aktifitas belajar siswa melakukan percobaan 24,5%, bekerja sama dengan kelompok 21%, diskusi 15,5%, mempelajari buku 9,7%, hasil tes formatif nilai rata-rata 85,45%, siswa tuntas belajar 20 prestasi ketuntasan belajar 95,86%. Motifasi dan hasil belajar meningkat. Agar motifasi dan prestasi belajar siswa meningkat guru hendaknya kreatif untuk menggunakan berbagai metode pembelajaran walaupun taraf sedehana yang mendorong siswa dan menemukan konsep dan ketrampilan sehingga siswa mampu memecahkan masalah yang dihadapi.

Penerapan pembelajaran paken untuk meningkatkan penguasaan konsep perkalian siswa kelas II SDN Pakisrejo 2 kecamatan Sregat kabupaten Blitar / Umar

 

ABSTRAK Umar, 2010. Penerapan Pembelajaran Pakem Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Perkalian Siswa Kelas II SDN Pakisrejo 2 Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs. Tomas Iriyanto, M. Pd, (II) Drs. Musa Sukardi, M.Pd Kata Kunci : PAKEM, Perkalian Untuk mewujudkan tujuan pendidikan perlu adanya upaya-upaya dalam penyelenggaraan Pendidikan, seperti peningkatan interaksi timbal balik antar siswa dan guru, ataupun interaksi antar satu siswa dengan siswa lainnya. Interaksi timbal balik tersebut dapat berupa perlakuan khusus pada saat proses belajar mengajar berlangsung atau atau pemberian metode pendekatan pakem terhadap hasil yang dicapai siswa. Yang dimaksud dengan interaksi timbal balik guru murid adalah respon langsung maupun tidak langsung dalam proses belajar mengajar dari guru ke siswa ke guru. Guru hendaknya menggunakan berbagai variasi dalam proses belajar mengajar, satu proses yang monoton saja akan tidak hidup, siswa menjadi pasif, sehingga keberanian tidak berkembang. Untuk mewujudkan suatu pembelajaran yang menyangkan dan sejalan dengan tingkat perkembangan berfikir anak yaitu dengan penerapan pembelajaran Pakem. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan penerapan model pakem dalam pembelajaran matematika kelas II SDN Pakisrejo 02 Kabupaten Blitar. (2) Untuk mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas II SDN Pakisrejo 02 Kabupaten Blitar setelah diterapkan model pembelajaran pakem. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK temasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan guru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas II SDN Pakisrejo 02 yang ditunjukkan dari peningkatan prosentase ketuntasan belajar setiap siklus. Pada siklus pertama nilai rata-rata yang diperoleh siswa 69.4 atau 69.4% dan ketuntasan kelas 62.5%. Sedangkan pada siklus kedua rata-rata nilai yang diperoleh siswa 82.5 atau 82.5% sedangkan ketuntasan kelas mencapai 87.5%. Rata-rata perolehan nilai yang diperoleh siswa pada siklus kedua sudah diatas ketercapaian nilai yang telah ditetapkan yaitu untuk ketuntasan individu sebesar 70% dan Ketuntasan kelas 75%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan PAKEM dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang perkalian pada siswa kelas II SDN Pakisrejo 02 Kabupaten Blitar. Guru seharusnya menggunakan berbagai macam metode, media pembelajaran serta memahami kemampuan dan karakteristik peserta didiknya, karena setiap peserta didik memiliki kemampuan dan karakteristik yang berbeda dengan lainnya, sehingga tujuan pendidikan bisa tercapai.

Penerapan metode actual learning untuk belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas III SDN Tlumpu kecamatan Sukorejo kota Blitar / Sumamik

 

ABSTRAK Sumamik, 2010. Penerapan Metode Actual Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar Negeri Tlumpu Blitar. Penelitian Tindakan Kelas. PJJ S1 PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Drs. I. Wayan Sutama, M.Pd. Kata Kunci : Metode Actual Learning,hasil belajar Sistim pendidikan di Indonesia mengalami perubahan dalam berbagai aspek, meliputi kurikulum, metode, materi, dan aspek lain. Dengan adanya perubahan yang menimbulkan inovasi pendidikan, guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif terutama dalam memilih metode yang tepat dalam mencapai pengetahuan. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah metode actual learning sebab metode ini menuntut siswa untuk lebih aktif sehingga dapat merangsang daya pikir siswa sehingga menjadi termotivasi dalam belajar. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendiskripsikan apakah metode actual learning dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas 3 SDN Tlumpu Kota Blitar (2) dapat mendiskripsikan bagaimana peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode actual learning. Dengan demikian pembelajaran dapat mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan harapan. Karena proses belajar merupakan suatu kegiatan yang melibatkan keseluruhan potensi anak didik pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. Keaktifan peserta didik harus diutamakan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas sebanyak 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan 4 tahapan yaitu (1) tahap perencanaan tindakan,(2) tahap pelaksanaan tindakan,(3) tahap observasi,(4) tahap refleksi. Hasil analisis didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu dari nilai rata-rata 59,14 pada pra tindakan naik menjadi 62,17 pada siklus I pertemuan pertama, 66,12 pada siklus I pertemuan kedua, 70,00 pada siklus II pertemuan pertama, dan 75,40 pada siklus II pertemuan kedua. Berdasarkan hasil analisis di atas, guru diharapkan bisa menyampaikan materi dengan cara atau metode yang sesuai agar siswa bisa memahami materi dengan baik. Selain itu diharapkan metode pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran IPS, karena dengan metode ini siswa menjadi lebih aktif dan kreatif.

Meningkatkan pemahaman fakta dasar penjumlahan siswa kelas I SDN Lesanpuro III dengan model permainan interaktif / Sumarni

 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS MENINGKATKAN PEMAHAMAN FAKTA DASAR PENJUMLAHAN SISWA KELAS I SDN LESANPURO III DENGAN MODEL PERMAINAN INTERAKTIF Oleh : Nama: Sumarni NIM : 606151406771 S1 PGSD Program PJJ Unversitas Negeri Malang

Penerapan pembelajaran Contextual Teaching & Learning (CTL) untuk meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan penjumlahan pada siswa kelas II SDN Pohgaji 03 kecamatan Selorejo kabupaten blitar / Sri Winarti

 

Pembelajaran yang konvensional dengan metode ceramah yang mendominasi pembelajaran saat ini sudah mulai beralih pada pembelajaran yang inovatif berpusat pada siswa. Salah satunya adalah penerapan pembelajaran kontekstual yaitu konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya untuk menghidupkan kelas secara maksimal agar siswa memperoleh pengalaman belajar dengan menemukan serta membangun suatu konsep dengan mengalami sendiri. Tujuan penelitian adalah untuk (1)mendeskripsikan jika CTL diterapkan dalam penguasaan konsep Pembagian siswa kelas II SDN Puspo V, (2)mendeskripsikan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V sebelum digunakan CTL, (3)mendeskripsikan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V setelah digunakan CTL, (4)mendeskripsikan peningkatan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V setelah diterapkannya CTL. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri atas empat tahap yaitu (1)perencanaan, (2)tindakan, (3)observasi, dan (4)refleksi. Hasil penelitian pada siklus I berdasarkan nilai yang diperoleh siswa dengan ketuntasan individu 60% dari 18 siswa dikategorikan tuntas. Sedangkan untuk ketuntasan kelas 70% sudah tercapai dengan nilai rata-rata kelas 83,5 nilai tertinggi 94 dan nilai terendah 71 siklus I sudah tuntas. Siklus II sebagai siklus konfirmasi tujuannya untuk memantapkan apakah ketuntasan siklus I hanya kebetulan saja atau ada faktor yang lain, dari 18 siswa dengan ketuntasan individu 70%, 16 siswa dikategorikan tuntas dan 2 siswa dikategorikan tidak tuntas, ketuntasan kelas 80% sudah tercapai dengan nilai rata-rata kelas 81,8, nilai tertinggi 91, dan nilai terendah 63 siklus II dikategorikan tuntas. Kesimpulan (1)pembelajaran konvensional dengan metode ceramah dalam pembelajaran tentang penguasaan konsep pembagian belum memperoleh hasil yang maksimal dari 18 siswa dan ketuntasan individu 60%, 6 siswa dikategorikan tuntas, 12 siswa dikategorikan belum tuntas, sedangkan untuk ketuntasan kelas 70% dengan nilai rata-rata 58,1, nilai tertinggi 81, dan nilai terendah 41, (2)penerapan pembelajaran kontekstual menjadikan siswa aktif dan siswa memperoleh pengalaman belajar dengan mengalami sendiri, (3)penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan penguasaan konsep pembagian siswa kelas II SDN Puspo V. Dengan demikian penerapan pembelajaran kontekstual bisa diterapkan oleh guru dalam pembelajaran matematika pada materi pembagian.

Penggunaan metode inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V pada pokok bahasan magnet SDN Pisangcandi 2 kecamatan Sukun kota Malang / Sri Handayani

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan adanya perolehan pengalaman langsung melalui proses pembelajaran. Untuk mata pelajaran kimia, metode inkuiri terbimbing merupakan salah satu alternatif untuk memberikan pengetahuan secara langsung kepada siswa untuk melakukan kerja ilmiah. Metode inkuiri terbimbing adalah salah satu metode pembelajaran yang sesuai untuk mencapai tujuan dari kurikulum tingkat satuan pendidikan. Akan tetapi metode tersebut mempunyai beberapa kelemahan, salah satunya dalam penyampaian konsep yang tidak terjangkau inderawi oleh karena itu diperlukan media pembelajaran berbasis komputer untuk menutupi kekurangan dari metode tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan media pembelajaran berbasis komputer dalam metode inkuiri terbimbing terhadap prestasi dan motivasi belajar siswa pada materi kimia koloid. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimen semu. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI MAN 3 Malang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling dengan postes only design. Kelas yang dijadikan kelas sampel adalah kelas XI-IPA4 dan XI-IPA3. Kelas XI-IPA4 dijadikan sebagai kelas ekperimen yang dibelajarkan menggunakan metode inkuiri terbimbing berbantuan media pembelajaran berbasis komputer sedangkan kelas XI-IPA3 dijadikan sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan menggunakan metode inkuiri terbimbing. Instrumen pengukuran yang digunakan adalah soal tes yang valid dengan reliabilitas 0,865 dan angket. Instrumen diberikan setelah perlakuan. Analisis data dengan menggunakan uji t dan uji u dengan bantuan SPSS Seri 17 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi dan motivasi belajar yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan menggunakan metode inkuiri terbimbing berbantuan media pembelajaran berbasis komputer dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode inkuiri terbimbing. Siswa yang dibelajarkan menggunakan metode inkuiri terbimbing berbantuan media pembelajaran berbasis komputer mempunyai nilai rata-rata prestasi belajar sebesar 80,74 dan rata-rata skor motivasi sebesar 105,68. Sedangkan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode inkuiri terbimbing mempunyai nilai rata-rata prestasi belajar 71,12 dan rata-rata skor motivasi sebesar 98,59.

Penerapan pembelajaran IPA dengan media gambar untuk meningkatkan prestasi siswa kelas II SDN Gunungsari kecamatan Tajinan kabupaten Malang / Luluk Miftakhul Ulumiyah

 

ABSTRAK Ulumiyah, Luluk Miftakhul. 2010. Pembelajaran IPA Dengan Media Gambar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN Gunungsari Keacamatan Tajinan Kabupaten Malang. E-TA, Jurusan KSDP Program PJJ S1 PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. Lia Yuliati M.Pd. Kata-kunci : Media belajar, Prestasi belajar IPA. Rendahnya prestasi belajar IPA siswa kelas II SDN Gunungsari menarik untuk diteliti, ada beberapa faktor yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah. Rendahnya prestasi belajar IPA diduga karena penerapan model pembelajaran yang kurang tepat dengan karakteristik pelajaran IPA. Pengamatan awal membuktikan bahwa guru dalam pembelajaran IPA hanya menginformasikan konsep-konsep IPA saja pada siswa, padahal IPA berkembang dari mengamati, mencoba memahami apa yang diamati, meramalkan dan akhirnya menyimpulkan. Berdasarkan hal tersebut maka diadakan penelitian dengan menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran IPA. Media pembelajaran disini adalah berupa Gambar. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2009/2010 di SDN Gunungsari Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang di kelas II dengan jumlah siswa 25 anak yang terdiri dari 15 anak laki – laki dan 10 anak perempuan. Penelitian ini berlangsung dua siklus dan setiap akhir siklus dilaksanakan tes formatif untuk mengetahui penguasaan konsep IPA pada pokok bahasan pertumbuhan hewan dan tumbuhan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada siklus 1 siswa yang tingkat penguasaannya di bawah 65 sebanyak 9 siswa atau 36 % dan tingkat penguasaannya diatas 65 sebanyak 16 siswa atau 64 %. Dari hasil prestasi belajar IPA dengan media gambar pada siklus 1 sudah menunjukkan tingkat penguasaan yang cukup,tetapi masih perlu mendapat perhatian dalam penggunaan media gambar untuk perbaikan 36 % siswa. Pada siklus II siswa yang tingkat penguasaannya di bawah 65 sebanyak 2 siswa atau 8 % dan tingkat penguasan diatas 65 sebanyak 23 siswa atau 92 %. Dari hasil prestasi belajar IPA dengan media gambar pada siklus II sudah menunjukkan tingkat penguasaan yang baik.Di tinjau dari nilai terendah pada siklus 1 adalah 45, sedangkan nilai terndah pada siklus II adalah 60. untuk nilai tertinggi siklus 1 adalah 80 ada 2 siswa, sedang nilai tertinggi pada siklus II adalah 100 ada 3 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan media gambar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SDN Gunungsari Kecamatan Tajianan Kabupaten Malang.

Penerapan model role-playing untuk meningkatkan pemahaman kedisiplinan tema kehidupan sehari-hari siswa kelas 2 SDN Kauman 3 kecamatan Klojen kota Malang / Harnanik

 

ABSTRAK Harnanik. 2010. Penerapan metode Role-Playing untuk meningkatkan pemahaman kedisiplinan tema kehidupan sehari-hari siswa kelas 2 SDN Kauman 3 Kecamatan Klojen Kota Malang. Penelitian Tindakan Kelas. SDN Kauman 3 Klojen Kota Malang. Kata Kunci: Metode, Role-Playing, Kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: mendeskripsikan penerapan metode Role-Playing dalam pembelajaran di SD, mendeskripsikan pemahaman siswa tentang pentingnya kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari, mendeskripsikan dampak penggunaan metode role playing terhadap pembelajaran kreativitas dan daya pikirnya, mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan matode role-playing, dan mendeskripsikan usaha dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan metode role- playing siswa kelas 2 SDN Kauman 3. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) rancangan 2 siklus. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, masing- masing siklus dilaksanakan dalam 2 hari. Siklus tindakan pembelajaran dihentikan jika telah mencapai kriteria ketuntasan sebesar 70 % dari jumlah keseluruhan subyek penelitian dengan rata-rata skor minimal 75. Subyek penelitian adalah siswa kelas 2 SDN Kauman 3 Kecamatan Klojen Kota Malang yang berjumlah 23 anak. Penelitian ini menggunakan alat pengumpulan data berupa: lembar observasi (pengamatan) untuk mengamati kegiatan siswa, catatan lapangan, LKS, studi dokumentasi dengan hasil tes dan foto-foto pada saat pembelajaran, serta lembar evaluasi untuk menilai pemahaman siswa terhadap konsep keluarga. Hasil penelitian menunjukkan: (a) pelaksanaan pembelajaran role- playing pada siklus I masih banyak kekurangan. Kekurangannya yaitu masih ada beberapa siswa yang merasa malu untuk bermain peran di depan kelas sehingga kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan dengan baik. Pada siklus II diberi perbaikan sehingga pemahaman siswa dan keberanian siswa dalam bermain peran di depan kelas menjadi meningkat. (b) model pembelajaran tematik dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep kedisiplinan dari skor rata-rata pre tes 51,7 menjadi 61,3 pada siklus I dan pada siklus II menjadi 80,4; (c) model pembelajaran role-playing dapat meningkatkan keaktifan, kerjasama, keberanian dan rasa senang siswa dalam belajar. Jumlah siswa yang aktif dalam belajar meningkat dari 55% pada siklus I menjadi 67% pada siklus II. Kerjasama siswa dari 51% pada siklus I meningkat menjadi 70% pada siklus II. Keberanian siswa juga mengalami peningkatan dari 49% pada siklus I menjadi 67% pada siklus II. Serta rasa senang dalam belajar siswa juga meningkat dari 54% pada siklus I menjadi 70% pada siklus II. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa pertama pembelajaran tematik dengan metode role-playing dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengajarkan tentang kedisiplinan. Yang kedua penggunaaan metode role-playing dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang kedisiplinan dalam kegiatan sehari-hari siswa kelas 2 di SDN Kauman 3, yang iv ketiga adalah dampak penggunaan metode role-playing dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan keaktifan, kerjasama, keberanian dan rasa senang siswa dalam belajar. Yang keempat adalah usaha untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam penggunaan metode role playing pada pembelajaran kedisiplinan yaitu memotivasi, memberi kesempatan dan selalu memberi bimbingan supaya siswa terampil dan berani dalam bermain peran. Berdasarkan kesimpulan di atas dapat diberikan saran kepada (a) guru agar menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran role-playing dalam kegiatan belajar mengajar dengan tema-tema yang lain ataupun bagi peneliti lain, (b) bagi kepala sekolah agar selalu memberikan motivasi dan dorongan kepada guru-guru untuk menerapkan pembelajaran role-playing dalam pembelajaran.

Penerapan model pembeljaran pakem untuk meningkatkan hasil belajar IPA pokok bahasan penyesuaian diri mahluk hidup dengan lingkungannyan pada siswa kelas V SDN Sumberboto 03 kec. Wonotirto kab. Blitar tahun pelajaran 2009/2010 / Teguh Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Teguh. 2010. Penerapan Model Pembelajaran PAKEM untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa Kelas V SDN Sumberboto 03 Kec. Wonotirto Kab. Blitar Tahun Pelajaran 2009/2010. Tugas Akhir, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci : Pakem, Hasil Belajar Pembelajaran PAKEM adalah proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran PAKEM dirancang agar mengaktifkan peserta didik, mengembangkan kreatifitas sehingga proses pembelajaran efektif dalam suasana yang menyenanglan. Berdasarkan observasi di SDN Sumberboto 03 Kec.Wonotirto Kab.Blitar menunjukan bahwa hasil belajar anak pada mata pelajaran IPA sangat rendah, dimana masih banyak siswa yang nilainya dibawah SKBM perorangan maupun kelompok yang sudah ditentukan dalam kurikulum sekolah sebesar 65% untuk SKBM perorangan dan 85% untuk SKBM kelompok. Disamping itu minat dan aktifitas siswa dalam pembelajaran sangat rendah sekali. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah penerapan model PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA. Dalam penenlitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan instrument penelitian menggunakan lembar pengamatan dan soal test. Sedangkan data yang di deskripsikan meliputi data hasil pengamatan dan data hasil belajar siswa yang diperoleh melalui pertemuan silklus I dan siklus II dengan subjek siswa kelas V SDN Sumberboto 03 Kec.Wonotirto Kab.Blitar. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan penerapan model pembelajaran PAKEM, keaktifan siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan, dan berdiskusi mengalami peningkatan dengan kriteria yang semula sedangh menjadi sangat baik. Sedangkan hasil belajar sisa juga mengalami peningkatan dimana pada pra tindakan hasil belajar siswa hanya ada 35% siswa yang tuntas belajarnya, kemudian setelah penerapan pembelajaran PAKEM menunjukan kenaikan yaiti pada siklus I mencapai 77% dan pada siklus II mencapai 90%. Hal ini menunjukkan jumlah siswa yang belum tuntas belajarnya semakin berkurang. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan minat dan aktifitas belajar siswa serta hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Sumberboto 03 Kec.Wonotirto Kab.Blitar.

Menggunakan medi jari tangan untuk meningkatkan kemapuan perkalian bilangan mata pelajaan matematika siswa kelas III di SDN Sawojajar 3 Malang / Sugeng. A

 

ABSTRAK MENGGUNAKAN MEDIA JARI TANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PERKALIAN BILANGAN MATA PELAJARAN MATEMATIKA ‘Siswa Kelas III di SDN Sawojajar 3 Malang’ Setiap kegiatan yang dilakukan manusia pasti memiliki tujuan yang hendak dicapai, adapun tujuan penelitian ini adalah menemukan strategi pembelajaran yang dapat memudahkan siswa dalam menghitung perkalian bilangan 6 sampai 9. Menemukan strategi pembelajaran yang dapat mempercepat siswa dalam menghitung perkalian bilangan 6 sampai 9 tanpa menggunakan penjumlahan berulang. Menemukan media pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman dan keterampilan bagi siswa dalam menghitung perkalian bilangan 6 sampai 9. Permasalahan yang dapat peneliti ajukan adalah dengan menggunakan media berupa jari tangan diharapkan dapat memberikan pengalaman beru serta kebebasan siswa sehingga siswa dapat menikmati proses belajar pembelajaran yang sedang berlangsung. Disamping itu juga dengan menerapkan strategi pembelajaran berupa demonstrasi.sehingga para siswa lebih mudah dalam penangkapan/ pemahaman dengan tujuan mempermudah siswa dalam penerapannya. Hasil penelitian menunjukkan keterlaksanaan pada tes awal penelitian siswa rata-rata dapat memberikan 33% jawaban benar, tes akhir dari semua siklus pembelajaran rata-rata dapat memberikan jawaban benar 81% berarti meningkat 48%. Dengan demikian pembelajaran dengan media berupa jari tangan bisa disimpulkan berjalan dengan baik.

Upaya peningkatan hasil belajar IPA melalui pendekatan kooperatif model tutor sebaya pada siswa kelas V SDN Kauman 2 kota Blitar / Seger Hariyanto

 

Pendekatan kooperatif merupakan pendekatan yang mengutamakan kerjasama diantara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran.. Kemampuan anak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dikembangkan secara optimal melalui belajar kelompok, sehingga membentuk kreativitas dan meningkatkan hasil belajar. Model tutor sebaya adalah model pembelajara yang menggunakan jasa seorang tutor sebaya untuk memimpin kelompoknya dalam belajar dan menjembatani antara siswa dan guru. Jadi Pembelajaran kooperatif model tutor sebaya adalah pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok, siswa dalam satu kelas dijadikan kelompok -kelompok kecil terdiri dari 4 sampai 5 orang, untuk memahami konsep menggunakan jasa seorang tutor sebaya dalam belajar dan menjembatani antara siswa dan guru. Namun pelaksanaan belajar kelompok di SDN Kauman 2 Kota Blitar masih belum seperti yang diharapkan. Secara umum belajar kelompok menjadi belajar individual dengan cara bebas, dengan duduk berkelompok. Belajar dengan model duduk berkelompok tentulah bukan belajar kelompok yang sesungguhnya. Namun belajar dengan model seperti ini sering terjadi pada saat guru berhalangan hadir di depan kelas. Pada jam-jam kosong seperti inilah model belajar kelompok semua tadi diadakan. Anak belajar sendiri sementara guru kelasnya tidak ada di dalam kelas. Haruskah dirangkap guru kelas lain ? Guru kelas lain ternyata cukup sibuk mengelola kelasnya sendiri sehingga memberi tugas belajar kelompok, model seperti itu dirasa cukup memadai. bagaimana mungkin tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan cara demikian? Para peneliti ( dalam penelitian ini ) beranggapan bahwa Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif model tutor sebaya merupakan jawaban bagi kendala tadi. Tutor sebaya yang telah mendapatkan pembinaan secara khusus dapat bertindak sebagai pengelola, pemimpin dalam belajar sekaligus menjadi pengantara guru dan murid. Langkanya pengadaan tutor sebaya di sekolah dasar mendorong peneliti untuk menjawab dan membuktikan masalah yang telah dirumuskan bersama. Kegiatan penelitian pada siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan (2x35 menit) targetnya adalah hasil belajar IPA siswa kelas V dapat ditingkatkan. Langkah-langkah kegiatanya diawali dengan apersepsi kemudian siswa dibagi menjadi 5 kelompok untuk membahas permasalahan, akhir kegiatan diadakan test formatif. Kegiatan penelitian pada siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan (2x35 menit). Targetnya adalah hasil belajar IPA dapat lebih ditingkatkan. Langkah-langkah kegiatannya diawali dengan persepsi kemudian semua siswa membahas permasalahan dengan menggunakan pendekatan kooperatif model tutor sebaya, akhir kegiatan diadakan test formatif Kesimpulan yang dapat di tarik dari hasil penelitian ini adalah (1) melalui penerapan pendekatan kooperatif model tutor sebaya dengan menggunakan siklus belajar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar IPA kelas V semester I di SDN Kauman 2 Kota Blitar yang ditunjukkan hasil observasi/kegiatan lapangan. (2) Pendekatan kooperatif model tutor sebaya dapat peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas V semester I di SDN Kauman 2 Kota Blitar, yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu pra tindakan (36,8%), siklus I (68,4%), dan siklus II (78,9%). (3) Pendekatan kooperatif model tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa kelas V dalam belajar IPA semester I di SDN Kauman 2 Kota Blitar, yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata dalam penilaian proses siswa pada setiap siklus (pra tindakan 56,7 ; siklus I 61,5 ; siklus II 76,2).

Penggunaan pendekatan lingkungan alam untuk meningkatkan penguasaan konsep sifat-sifat benda pada siswa kelas IV SDN. Urek-urek 02 kecamatan Gondanglegi kabupaten Malang / Eri Yuniati

 

ABSTRAK Yuniati,Eri.2010. Penggunaan Pendekatan Lingkungan Alam Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Sifat-Sifat Benda Pada Siswa Kelas IV SDN. Urek-urek 02 Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang. Elektronik Tugas Akhir. Program Study PGSD. Jurusan KSDP. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Kata Kunci : Keaktifan Belajar, Pendekatan Lingkungan Alam, Penguasaan Konsep. Dalam kegiatan pembelajaran, guru selalu menemukan kesulitan baik dari pihak guru maupun dari pihak siswa. Kurangnya kreatifitas guru dalam memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi adalah salah satunya. Pendekatan lingkungan alam merupakan salah satu pembelajaran yang berorientasi pada alam, sehingga memudahkan anak untuk menguasai materi pembelajaran IPA. Penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas yang mempunyai tujuan untuk memperbaiki pembelajaran yang memungkinkan terjadinya kerjasama antara peneliti, guru sebagai teman sejawat dan kepala sekolah. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus pembelajaran. Data yang dideskripsikan meliputi data hasil observasi keaktifan siswa selama proses pembelajaran dan data observasi hasil evaluasi pada akhir pembelajaran. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN. Urek-urek 02 Kecamatan Gondanglegi Kabupaten Malang yang berjumlah 16 siswa. Hasil penelitian diketahui bahwa keaktifan belajar siswa cukup baik. Pada siklus I ada 2 (12 %) anak yang berani mengajukan pertanyaan, tetapi pada siklus II ada 6 (32 %) siswa sudah berani mengajukan pertanyaan. Dalam kegiatan diskusi pada siklus I ada 6 ( 32 %) yang aktif, sedangkan dalam siklus II ada 8 ( 50 % ) siswa aktif dalam diskusi. Pada siklus I ada 12 (75%) siswa memusatkan perhatian pada pelajaran, tetapi pada siklus II 14 (85%) siswa memusatkan perhatian pada pelajaran. Dari observasi hasil evaluasi pembelajaran diketahui bahwa nilai rata-rata siswa adalah 60 pada siklus I atau ada 5 (25%) siswa tidak mencapai ketuntasan belajar, tetapi pada siklus II meningkat yaitu ada 15 (94%) siswa dinyatakan tuntas dalam belajar dengan nilai rata-rata kelas mencapai 80. Penggunaan pendekatan lingkungan alam ternyata dapat meningkatkan penguasaan konsep sifat-sifat benda pada siswa kelas IV, tetapi hal ini tidak lepas dari kreatifitas guru dalam proses pembelajaran. Metode ceramah bukanlah pilihan yang tepat dalam pembelajaran IPA. Dengan menggunakan metode variatif akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan yang diiringi dengan meningkatnya prestasi dan keaktifan belajar siswa , sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

Femina Magazine And the modern Indonesian women / Galih Arumsari Sriwardhani

 

One important goal of feminist scholarship is describing of how gender is defined through cultural practices, and in this thesis, how women are being positioned in a society through Femina magazine. This study focuses on how Femina’s ideology of the modern Indonesian women is considered to enlighten women understanding about personal identity and social values. Femina operates as an ideological institution attempts to shape their readers’, women in this case, lives in particular ways. Thereby, women would willingly come into their position as the subordinate status in the society. At this point, the concept of modernity redefines individuals within the society, which is when individual is no longer defined as what they inherited but as the product of conscious agency. The analysis of Femina magazine’s ideology of the modern Indonesian women is conducted by a further study toward the cover of the magazine, the cover story and the editorial. Those three aspects are considered as the crystallization of the whole magazine content. The cover of magazine is the most important part for magazines since it is the first ‘marketing agent’ of the magazine. The features of the magazine cover; headline, logo, cover line and the model, would be significant objects of analyzing the ideology provided by the magazine. In this case, image reading analysis is being applied. Furthermore, the analysis continues to a close reading analysis of what is written on the cover story and the magazine’s editorial. Through its front cover, Femina provides the first material existence of its ideology. The embodiment is fortified by further elaboration of the issue on the editorial and another elaboration on the cover story about the image of ‘Femina woman’ in every edition. This particular representation, however, operates as the ideological state apparatus that interpellates women as the subject of the dominant ideology within the patriarchal society. This media representation reinforces the traditional construction of women as the submissive social subject.

Evaluasi rugi daya travo 20 KV pada gardu travo tiang (GTT) di Fakultas Teknik Universitas negeri Malang dengan menggunakan edsa 2005 / Dwi Yansyah Putra

 

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan energi listrik, dibutuhkan sistem tenaga listrik yang memiliki tingkat efisiensi yang baik. Salah satu faktor yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat keefisiensinya adalah dengan mengetahui besar rugi-rugi daya harian yang terjadi pada sistem distribusi 20 kV. Tugas akhir ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui besar rugi-rugi daya yang terjadi dengan menggunakan simulasi aliran daya dengan program komputer EDSA Technical 2005 demi mendapatkan hasil yang cepat dan akurat untuk selanjutnya hasil akan dianalisa untuk mendapatkan hasil akhir yaitu jumlah rugi-rugi daya sistem distribusi 20 kV. Berdasarkan perhitungan total rugi-rugi daya dari rugi saluran dan rugi trafo, didapatkan nilai rugi-rugi daya harian sistem distribusi. Adapun total rugi-rugi daya terbesar terjadi pada hari Senin dengan P sebesar (6.232 kW). Sedangkan rugi-rugi daya terkecil terjadi pada hari Jumat dengan P sebesar (2.587 kW).

Pengaruh dimensi kualitas jasa terhadap loyalitas melalui kepuasan pekanggan (studipada siswa lembaga pendidikan bahasa asing EF English First Malang)

 

ABSTRAK Lisnasari, Iftitah. 2008. Pengaruh Dimensi Kualitas Jasa Terhadap Loyalitas Melalui Kepuasan Pelanggan (Studi Pada Siswa Lembaga Pendidikan Bahasa Asing EF English First Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Arief, M.Si. (II) Titis Shinta Dhewi, S.P., M.M. Kata kunci: Kualitas Jasa, Kepuasan Pelanggan, Loyalitas. Dengan berkembangnya Lembaga Pendidikan Bahasa Asing dikota Malang, membuat setiap lembaga menentukan berbagai strategi untuk dapat bersaing dengan kompetitor. Sebagai salah satu alternatif untuk meraih pelanggan, lembaga berusaha memperbaiki kualitas jasa (service quality), yang akhir-akhir ini dianggap sebagai sesuatu yang vital harus dimiliki perusahaan/lembaga, karena dengan pelayanan yang baik setelah produk/jasa yang berkualitas, perusahaan/lembaga beranggapan dapat membuat pelanggan puas, dan setelah itu mengharapkan agar pelanggan tersebut akan loyal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey. Jumlah sampel sebanyak 85, sedangkan pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk mendeskripsikan variabel bebas kualitas jasa yang terdiri dari bukti fisik (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), empati (X5), variabel intervening kepuasan pelanggan (Y), serta variabel terikat loyalitas pelanggan (Z). untuk menentukan besar pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari variabel kualitas jasa, kepuasan pelanggan, dan loyalitas menggunakan teknik analisis jalur (path analysis). Hasil perhitungan pada pengujian simultan diperoleh bahwa F hitung (9,648) > dari F tabel (5,79), sedangkan signifikansi (0,000) < dari alpha pada taraf 5 % atau 0,05, artinya variabel kualitas jasa (X) berpengaruh secara simultan terhadap variabel kepuasan pelanggan (Y). sedangkan untuk koefisien determinan (Adjusted R Square) sebesar 0,379 atau 37,9 %. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel bukti fisik (X1) memiliki t hitung X1 0,639 < t tabel 1,990, X1 tidak berpengaruh secara parsial. Variabel keandalan (X2) didapat t hitung 2,603 > t tabel 1,990, X2 berpengaruh secara parsial. Variabel daya tanggap (X3) didapat t hitung -1,200 < t tabel 1,990, X3 tidak berpengaruh secara parsial. Variabel jaminan (X4) didapat t hitung 3,365 > t tabel 1,990, X4 berpengaruh secara parsial. Variabel empati (X5) didapat t hitung 3,081 > t tabel 1,990, X5 berpengaruh secara parsial. Variabel Kualitas Jasa (X) dan kepuasan pelanggan (Y) memiliki pengaruh sebesar 41,1 % terhadap variabel loyalitas (Z). Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada Lembaga Pendidikan Bahasa Asing EF English First Malang agar melakukan survei berkala yang dapat dilakukan tiap triwulan atau tiap semester untuk mengukur tingkat harapan dan persepsi siswa mengingat tumtutan konsumen terhadap kualitas jasa terus berkembang seiring kemajuan jaman dan menghadapi persaingan antar lembaga pendidikan bahasa asing, selanjutnya untuk mencapai loyalitas perlu meningkatkan kepuasan siswa dengan cara pemberian reward kepada siswa yang berprestasi.

Membangun sistem informasi pelanggan siswa menggunakan PHP dan database MySQL pada MTS N 1 Bojonegoro / Faerry Dwi Laksono

 

Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat menyebabkan setiap aktifitas manusia tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teknologi. Komputer, dan jaringan salah satu teknologi yang cepat berkembang dan merupakan sarana cara mendapatkan informasi dengan cepat, mudah dan efisien. Hal ini berpengaruh terhadap aktifitas antara lain pada sektor pendidikan. Pelanggaran terhadap peraturan sekolah merupakan kondisi yang sering dihadapi setiap instansi atau lembaga sekolah dalam menegakkan disiplin. MTS Negeri 1 Bojonegoro adalah salah satu lembaga sekolah yang sering menemui pelanggaran yang di lakukan oleh siswa. Dengan banyaknya pelanggaran yang di lakukan maka di tuntut pula dengan sistem manajemen yang baik. Hal ini akan memudahkan dalam pengambilan tindakan apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. Sehingga masalah dapat segera di selesaikan. Oleh karena itu perlu di buat sistem informasi tentang pelanggaran di sekolah yang nantinya akan memudahkan guru untuk mengambil tindakan dan memudahkan orang tua untuk memantau anaknya di sekolah. Untuk memudahkan pemberitahuan kepada orang tua maka di dalam tugas akhir ini di buat sistem informasi pelanggaran siswa, yang dapat diakses melalui internet dalam memberikan informasi pelanggaran siswa kepada orang tua. Perancangan sistem informasi pelanggaran siswa yang di buat ini terdiri dari dua unit utama yaitu, unit Hardware yang terdiri dari jaringan internet sebagai media penghubung komputer lokal ke komputer server Web hosting. Dan Software berupa Bahasa pemrograman PHP 5.2.9 dan PHPMyAdmin 3.1.2, dan MySQL 5.0.5 sebagai pengolah database informasi pelanggaran siswa. Dengan adanya sistem informasi pelanggaran siswa ini. Orang tua dapat aktif memantau perkembangan anaknya. Sehingga di harapkan siswa dapat disiplin di Sekolah. Dan nantinya akan berdampak pada prestasi siswa tersebut.

Pengaruh persepsi siswa tentang mata pelajaran ekonomi terhadap prestasi belajar siswa SMAN 5 Malang / Indra Syahidi Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, Indra Syahidi. 2010. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Mata Pelajaran Ekonomi Terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Mit Witjaksono, M.S. Ed (II) Drs. Moch. Ichsan SE. M.Pd. M.Si, Kata Kunci : Persepsi Belajar, Prestasi Belajar Suatu proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif bila seluruh komponen yang berpengaruh dalam proses belajar mengajar saling mendukung dalam rangka mencapai tujuan. Semua komponen yang dimaksud akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di dalam pelaksanaannya, proses belajar mengajar tidak seluruhnya berjalan secara efektif dan efisien seperti apa yang diharapkan. Salah satu masalah yang muncul yaitu seringkali terdapat siswa yang tidak suka mengikuti mata pelajaran tertentu. Siswa yang tidak suka mengikuti proses belajar mengajar mata pelajaran tertentu misalnya ekonomi salah satunya disebabkan karena tingkat persepsi yang rendah sehingga tidak suka terhadap mata pelajaran ekonomi itu sendiri. Persepsi disini bukan hanya sebagai kesan maupun tanggapan saja setelah proses pembelajaran ekonomi dilakukan tetapi persepsi ini juga mencakup dari pokok pikiran siswa di dalam mempelajari ilmu ekonomi. Hal inilah yang mendasari penelitian ini dilakukan, dalam rangka menjawab masalah : (a) Bagaimana persepsi siswa terhadap mata pelajaran ekonomi, (b) Bagaimana prestasi siswa dalam mata pelajaran ekonomi, dan (c) Bagaimana pengaruh persepsi siswa terhadap prestasi siswa dalam mata pelajaran ekonomi di SMAN 5 Malang. Dengan menggunakan analisis Chi-Square diperoleh hasil bahwa secara parsial persepsi siswa berbeda secara signifikan antara mereka yang mempersepsi “tinggi” terhadap mata pelajaran ekonomi dengan mereka yang mempersepsi “rendah”. Beda persepsi ini juga ditunjukkan pada latar belakang prestasi belajar pada mata pelajaran ekonomi. Kesimpulan pokok hasil penelitian ini adalah bahwa terdapat hubungan bahwa siswa yang persepsinya “tinggi” pada mata pelajaran ekonomi cenderung memiliki prestasi yang “tinggi” pula. Saran yang penting untuk ditindaklanjuti adalah bahwa guru perlu meningkatkan motivasi siswa di dalam belajar ekonomi sesuai dengan indikator persepsi yang tergolong tinggi.

The villian in spiderman movie I: a deconstructive analysis / Tino Agus Salim

 

ABSTRACT Salim, Tino Agus. 2009. The Villain in Spiderman Movie I: A Deconstructive Analysis. Thesis. English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Arif Subiyanto, M.A. Key Words: Deconstruction, Undecidable Meaning, Spiderman, Green Goblin Nowadays, analyzing movie is an important study to do as we can gain a lot of advantages from the movie such as ideas, concepts, and values of life. The literary criticism no longer limits its study in canonical works such as Dickens’ novels, Shakespeare’s dramas, or Lord Byron’s poems. This idea is also strengthened in Key Concepts in Literary Theory (2002) that a criticism is the act of analyzing and evaluating literary texts, films and images, cultural forms and phenomena. One and the first most successful film based on a comic book is Spiderman Movie I with the villain named Green Goblin. This movie tells about Spiderman in being a hero by helping others in New York City and defeating Green Goblin. This study focuses on analyzing Green Goblin’s characterizations from the perspective of Deconstruction. The character of Green Goblin will be observed by using Propp’s Morphology of Folk Tale and later dismantled by deconstructive reading strategy. The analysis of this study has demonstrated that even Spiderman Movie I still uses the idea of traditional plot of folk tale. However, it is very worthwhile to show how the deconstructive reading strategy applies because the boundary of being a hero and a villain is obviously exposed. Green Goblin, in this particular movie, is always considered as a bad guy. Viewers are forced to munch roughly how this idea is given from the director and producer of the movie. Ignoring the motives or causes of being Green Goblin leads viewers to judge that he is a villain in New York City and must be eliminated. Nevertheless, by using deconstructive reading strategy, the idea of Green Goblin will be dismantled and built again to find some undecidable meanings.

Pengaruh kadar beban kognitif dan gaya belajar terhadap hasil belajar pada pembelajaran multimedia / Francisca Haryanti Chandra

 

ABSTRAK Chandra, F.H. 2009, Pengaruh Kadar Beban Kognitif dan Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar pada Pembelajaran Multimedia, Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Promotor Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., Co-Promotor I, Prof. Dr. I Wayan Ardhana, M.A., Co-Promotor II, Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Ed., M.Pd. Kata-kata kunci: Pembelajaran Multimedia, Beban Kognitif, Gaya Belajar, PowerPoint Pembelajaran multimedia memanfaatkan dua saluran modalitas visual dan auditori. Dalam pembelajaran multimedia sering dijumpai kondisi dimana terjadi kelebihan beban kognitif. Salah satu media yang saat ini banyak dipakai oleh pengajar adalah PowerPoint. Dalam pembelajaran menggunakan PowerPoint sering dijumpai keadaaan dimana slide hanya berisi tulisan saja atau tulisan dengan gambar yang tidak relevan, hal ini tentunya menimbulkan kelebihan beban kognitif. Tujuan penelitian ini untuk menginvestigasi pengaruh kadar beban kognitif dan gaya belajar VAK (Visual, Auditori, Kinestetik) terhadap hasil belajar baik secara secara sendiri-sendiri maupun dalam pembelajaran multimedia, yang dalam hal ini menggunakan PowerPoint. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi-eksperimen, Nonequivalent Alternate Groups Posttest-Only Design. Subjek adalah mahasiswa STTS (Sekolah Tinggi Teknik Surabaya) semester IV yang sedang mengambil mata Kuliah Sistem Informasi Manajemen (SIM), yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen masing-masing mempelajari modul PowerPoint dengan kadar beban kognitif tinggi (hanya berisi tulisan), dan modul PowerPoint dengan kadar beban kognitif rendah (berisi tulisan dan gambar). Pada awal eksperimen dilakukan tes untuk mengetahui gaya belajar VAK dari subjek. Modul PowerPoint digunakan untuk belajar mandiri (self-paced learning). Hasil belajar adalah hasil tes retensi yang dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer. Hasil belajar dianalisa dengan metode Analisa Varians (ANAVA) Dua Jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang siginifikan hasil tes retensi antara kelompok yang mempelajari PowerPoint dengan kadar beban kognitif rendah dan kadar beban kognitif tinggi. Sedangkan berdasarkan gaya belajar VAK perbedaan hasil tes retensi tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Selanjutnya secara bersama-sama kadar beban kognitif dan gaya belajar keduanya mempengaruhi hasil belajar dalam hal ini hasil tes retensi. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, berikut beberapa saran yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran multimedia dengan menggunakan PowerPoint adalah (1) Dalam mendesain pembelajaran menggunakan PowerPoint seyogyanya pengajar mengimplementasikan teori beban kognitif. (2) Menyusun buku panduan bagi pengajar untuk mendesain modul PowerPoint sesuai dengan teori kognitif pada pembelajaran multimedia, (3) Untuk penelitian selanjutnya diukur pengetahuan sebelumnya (prior knowledge), (4) Hasil belajar yang diukur bukan hanya hasil tes retensi tetapi hasil tes transfer, (5) Hasil belajar yang diukur ditinjau dari segi efficiency (efisiensi) yang biasanya diukur melalui rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai pebelajar dan/atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan, (6) Untuk mengakomodasi pebelajar dengan gaya belajar auditori dalam penelitian selanjutnya menggunakan modul PowerPoint yang menggunakan narasi.

Studi kelayakan busbar gardu trafo tiang 20 Kv (baru) pada jurusan teknik Universitas Negeri Malang / Nuril Anwar

 

Adanya beban puncak secara tidak menentu yang berasal dari gedung-gedung kuliah khususnya di Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang, akan menimbulkan pengaruh dari kinerja busbar yang ada dalam Perangkat Hubung Bagi Tegangan Rendah (PHB) TR gardu trafo tiang 20 kV dengan daya 100 kVA di Jurusan Teknik Elektro. Oleh karena itu, diperlukan adanya penghitungan dan analisis terhadap beban dari gedung-gedung yang akan dialiri arus dan daya dari sebuah gardu trafo tiang, khususnya yang ada di Jurusan Teknik Elektro agar kinerja dari gardu trafo tiang khususnya pada busbar dapat bekerja sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai pengumpulan arus dari sumber dan membagi-bagikannya ke beban. Hasil analisis perhitungan beban dan penentuan ukuran busbar bertujuan dapat membuktikan hasil teori dan praktek di lapangan khususnya dalam bidang elektro. Metode yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir ini adalah (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data dan melakukan penghitungan untuk menentukan ukuran busbar; (4) melakukan simulasi dengan software Edsa Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan diperoleh dengan pendataan arus pada setiap gedung. Dengan melakukan analisis perancangan pada busbar yang akan dipasang pada gardu trafo tiang khususnya yang ada di Jurusan Teknik Elektro, maka dapat diketahui sebelum dipilih ukuran dan bahan busbar yang akan dipasang harus dilakukan analisis dan perhitungan terlebih dahulu dengan mengacu pada aturan-aturan yang di pakai di Indonesia, dengan harapan umur pemakaian suatu alat dapat bertahan lama. Kesimpulan hasil analisis, busbar yang berukuran 40mm x 5mm maupun busbar yang berukuran 12mm x 5mm mampu memikul gaya tekanan (stressing) akibat dari arus beban penuh, arus beban 50%, arus hubung singkat maksimum, dan arus hubung singkat minimum karena gaya tekan yang muncul lebih kecil atau sama dengan kekuatan mulur busbar (yield strenght)

Pemanfaatan fasilitas pembelajaran ekonomi di SMA Negeri 01 Srengat / Fifin Lailatul Masrurah

 

ABSTRAK Masrurah, Fifin. L. 2010. Pemanfaatan Fasilitas Pembelajaran Ekonomi Di SMA Negeri 01 Srengat. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Mit Witjaksono. MS.Ed., (II) Dr. Nasikh, S.E.,M.P.,M.Pd. Kata Kunci : Pemanfaatan Fasilitas Pembelajaran Ekonomi Dalam proses belajar mengajar di sekolah perlu adannya fasilitas belajar yang menunjang. Fasilitas belajar ini dapat berupa ruang kelas, ruang media,perpustakaan, buku-buku pelajaran, alat tulis menulis, laboratorium dan masih banyak lagi penyediaanya. Fasilitas belajar merupakan salah satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu agar dapat mencapai tujuan secara maksimal maka sekolah perlu melengkapi fasilitas belajar.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan fasilitas belajar ekonomi, pemanfaatan fasilitas belajar ekonomi, dan hasil pemanfaatan fasilitas belajar ekonomi yang ada di sekolah, di lingkungan sekolah dan di lingkungan tempat tinggal siswa. Penelitian ini di lakukan di SMA Negeri 01 Srengat. Jln. Raya bagelanan Srengat Blitar. Waktu penelitian mulai tanggal 16 November 2009 -4 Januari 2010. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan dua tahap melalui survei yang dilakukan oleh peneliti yaitu survei awal dan survei lanjutan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga yaitu: angket, observasi, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Dari hasil penelitian bahwa pemanfaatan fasilitas belajar oleh guru dan siswa masih sebagian, dan yang banyak dimanfaatkan adalah fasilitas belajar yang ada di sekolah hal ini terbukti untuk guru kelas X dan kelas XI serta siswa kelas X dan kelas XI selama proses belajar mengajar menggunakan buku paket dan buku penunjang. Kesan dalam memanfaatkan fasilitas belajar guru dan siswa kesannya bermanfaat karena fasilitas belajar dapat menunjang proses belajar mengajar. Hambatan yang dialami dalam pemanfaatan fasilitas belajar oleh guru dan siswa dikarenakan jumlah fasilitas belajar yang terbatas. Jadi dalam pemanfaatan fasilitas belajar guru dan siswa masih memanfaatkan sebagian fasilitas belajar karena keterbatasan jumlah fasilitas belajar, dan dalam pemanfaatannya fasilitas belajar bermanfaat dalam proses belajar mengajar karena guru lebih mudah menyampaikan materi dan siswa lebih mudah memahami materi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar melakukan penelitian lebih lanjut tentang fasilitas belajar misalnya seberapa penting manfaat fasilitas belajar bagi guru dan siswa. Bagi sekolah untuk menyediakan fasilitas belajar yang beragam dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, sehingga dapat dimanfaaatkan oleh siswa dan guru dalam proses belajar mengajar sebagaimana mestinnya. Untuk guru dan siswa sebaiknya memanfaatkan fasilitas belajar yang ada di sekolah, di lingkungan sekolah, dan di lingkungan tempat tinggal siswa yang sesuai dengan pokok bahasan ekonomi. Agar proses belajar mengajar berjalan lebih optimal.

Pengembangan bahan ajar kimia SMA kelas XI pada pokok bahasan gaya antarmolekuldengan menggunakan model 4-D / Rizky Annisa Kusumastuti

 

ABSTRAK Kusumastuti, Rizky Annisa. 2010. Pengembangan Bahan Ajar Kimia SMA/MA kelas XI pada Pokok Bahasan Gaya Antarmolekul dengan Menggunakan Model 4-D. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. H. Effendy, Ph.D, (2) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D Kata kunci: pengembangan, bahan ajar, gaya antarmolekul, model 4-D. Salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran adalah bahan ajar yang digunakan. Bahan ajar memiliki peranan yang penting antara lain sebagai pedoman bagi guru untuk mengarahkan semua aktivitasnya dalam pembelajaran dan sebagai sumber belajar utama bagi siswa. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang merupakan badan standarisasi, penjamin, dan pengendali mutu pendidikan Indonesia mengeluarkan suatu pedoman untuk menelaah buku teks pelajaran yang meliputi kelayakan isi (kesesuaian materi dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar, keakuratan materi, materi pendukung pelajaran) dan kelayakan penyajian (teknik penyajian, penyajian pembelajaran, kelengkapan penyajian). Oleh karena itu, bahan ajar harus memenuhi persyaratan tersebut agar layak pakai. Salah satu pokok bahasan yang diajarkan di SMA/MA adalah pokok bahasan gaya antarmolekul. Pokok bahasan gaya antarmolekul memiliki keluasan dan kedalaman materi yang dikembangkan berdasarkan standar isi KTSP 2006. Hasil pengkajian terhadap beberapa buku teks pelajaran kimia SMA/MA menunjukkan bahwa buku-buku tersebut masih memiliki kelemahan-kelemahan dari segi keluasan dan kedalaman materi gaya antarmolekul. Berdasarkan temuan tersebut, maka diperlukan perbaikan terhadap bahan ajar pokok bahasan gaya antarmolekul. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk menghasilkan suatu produk berupa bahan ajar untuk SMA/MA kelas XI pada pokok bahasan gaya antarmolekul yang sesuai dengan butir instrumen penilaian buku teks pelajaran yang diterbitkan oleh BNSP, (2) untuk mengetahui validitas bahan ajar yang telah dikembangkan menurut para ahli pembelajaran kimia dan guru sebagai pengguna produk. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model 4-D (define, design, develop, disseminate) yang direkomendasikan oleh Thiagarajan, dkk (1974). Namun, tahapan yang dilakukan hanya meliputi tiga tahap yaitu define, design, dan develop. Langkah yang dilakukan pada tahap define yaitu: (1) mengkaji kurikulum, (2) analisis kebutuhan siswa, (3) analisis tugas, dan (4) analisis konsep. Langkah yang dilakukan pada tahap design yaitu: (1) merumuskan indikator, (2) menyusun bahan ajar, dan (3) revisi oleh pembimbing. Langkah yang dilakukan pada tahap develop yaitu: (1) validasi, (2) revisi, dan (3) memproduksi bahan ajar. Validasi isi bahan ajar dilakukan oleh dua orang dosen dan satu orang guru mata pelajaran kimia SMA. Instrumen yang digunakan berupa angket yang mengadaptasi butir instrumen penilaian buku teks pelajaran yang dikeluarkan oleh BSNP. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa perhitungan rata-rata dan persentase yang diperoleh dari hasil penskoran yang kemudian diterjemahkan kevalidannya, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan/saran dari validator terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Hasil validasi isi terhadap bahan ajar menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan rata-rata dari keseluruhan skor angka perhitungan rata-rata yaitu 3,5 dan rata-rata skor persentase kevalidan sebesar 88,3%. Hasil pengembangan bahan ajar yang telah direvisi meliputi: (1) silabus yang memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar, (2) bahan ajar yang terdiri dari komponen-komponen yaitu halaman depan (cover), kata pengantar, panduan bagi pengguna bahan ajar, standar isi 2006, daftar isi, indikator pembelajaran, uraian materi, “chem-info”, soal latihan, tugas, rangkuman, soal evaluasi, dan glosarium.

Pengaruh indikasi income smoothing, earning per share dan price earning ratio terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang listing di bursa efek indonesia periode 2006-2008 / Dwi Handoyo

 

ABSTRAK Handoyo, Dwi. 2009. Pengaruh Indikasi Income Smothing, Earning Per Share, Price Earning Ratio Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006 – 2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dyah Aju Wardhani, S.E., M.Si., Ak., (2) Ika Putri Larasati, S.E., M.Com. Kata Kunci: Income Smothing, Earning Per Share, Price Earning Ratio, Harga Saham. Saham merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor karena mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Banyaknya investor yang bersedia menanamkan dananya pada sekuritas (saham) dan perusahaan yang bersedia menerbitkan sekuritas setelah go public merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan berjalannya transaksi jual beli sekuritas (saham) di pasar modal. Sebelum menentukan saham mana yang akan dipilih sebagai wahana investasi, para investor tentunya telah mempertimbangkan berbagai aspek yang ada pada saat itu. Salah satunya adalah dengan melihat ada tidaknya income smoothing dalam penyajian laba akuntansi perusahaan, selain itu juga dapat mempertimbangkan nilai laba yang terkandung ke dalam lembar saham atau lebih dikenal dengan Earning Per Share kemudian rasio yang menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam mengahasilkan laba yang biasa di sebut Price Earning Ratio. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara Income Smoothing, Earning Per Share dan Price Earning Ratio terhadap Harga Saham. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data saham, penjualan, laba bersih dan EPS. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 sebanyak 135 perusahaan. Sampel yang digunakan adalah sebagian dari jumlah populasi berjumlah 72 perusahaan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel Income Smoothing, Earning Per Share dan Price Earning Ratio mempunyai pengaruh terhadap Harga Saham pada periode penelitian. Sedangkan secara parsial hanya variabel Earning Per Share dan Price Earning Ratio yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel-variabel lain yang potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel harga saham, menambah periode observasi, dan jumlah sampel penelitian, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya.

Perbedaan hasil belajar penerapan pembelajaran kontekstual model react dan pembelajaran konvensional mata pelajaran geografi kelas XI SMA Negeri 7 Malang / Elly Mulia

 

ABSTRAK Mulia, Elly. 2009. Perbedaan Hasil Belajar Penerapan Pembelajaran Kontekstual Model REACT dan Pembelajaran Konvensional Mata Pelajaran Geografi Kelas XI SMA Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran Kontekstual model REACT, hasil belajar. Pembelajaran mempunyai peran yang penting dalam perbaikan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Memajukan kemampuan anak didik tidaklah mudah, karena sifat pembelajaran yang semakin kompleks. Guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana yang termasuk di dalam proses pembelajaran saling berhubungan.Guru mempunyai tugas memilih metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik siswa serta materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan, khususnya belajar geografi. Model pembelajaran merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk peningkatan kemampuan anak didik dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran REACT merupakan singkatan dari Relating (menghubungkan), Experiencing (mengalami), Applying (Mengaplikasikan), Cooperating (bekerjasama, Transfering (memindahkan). Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedaan hasil belajar antara penerapan pembelajaran kontekstual model REACT denngan pembelajaran konvensional mata pelajaran geografi kelas XI SMA Negeri 7 Malang. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang semester Genap tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini mengambil dua kelas, satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Data penelitian dikumpulkan dengan cara pemberian tes kemampuan awal (prates) dan tes kemampuan akhir (pascates). Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata tes kemampuan awal (prates) kelas eksperimen sebesar 49,428 dan nilai rata-rata tes kemampuan akhir (pascates) sebesar 79. Selisih skor hasil kemampuan awal (prates) dan kemampuan akhir (pascates) atau gain score sebesar 29,571. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hasil belajar Geografi siswa yang menggunakan pembelajaran kontekstutual model REACT lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. Rata-rata hasil belajar untuk kelas eksperimen adalah 29,5714, sedangkan rata-rata untuk kelas kontrol adalah 17,8571. tesAnalisis data dilakukan dengan uji Paired Sample Test dengan bantuan SPSS 14.0 for Windows.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kontekstual model REACT berpengaruh terhadap hasil belajar Geografi.Saran yang diajukan bagi guru bidang studi Geografi hendaknya menggunakan pembelajaran kontekstual model REACT agar hasil belajar siswa lebih baik.

Peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran matematika kelas 1 SDN Krapyakrejo 1 melalui media penjumlahan sederhana / Anik Trihariani

 

Pembelajaran matematika Di SDN Kademangan 05 pada umumnya masih menggunakan metode konvensional. Apabila ada kesulitan siswa terlihat diam saja dan tidak mempunyai keinginan untuk bertanya dengan gurunya maupun ber-tukar pendapat dengan temannya. Selain itu media yang digunakan tidak menarik dan sulit dipahami oleh siswa. Akibatnya hasil belajar matematika pada pra tinda-kan sangat rendah yaitu dari 20 siswa hanya ada 1 siswa yang memperoleh skor 70 atau 5% dari jumlah siswa dan 19 siswa lain memperoleh skor antara 20 - 60. Berbagai kekurangan dan kelemahan tersebut perlu diadakan upaya per-baikan untuk pembelajaran selanjutnya dengan menerapkan model pembelajaran yang bisa meningkatkan hasil belajar siswa yaitu model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Model ini dipilih karena sesuai dengan keadaan siswa di SDN Kademangan 05 yang pada umumnya hete-rogen baik kemampuan individunya maupun jenis kelaminnya, selain itu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memotivasi siswa khususnya dalam hal bertanya dan mengeluarkan pendapat sehingga siswa dapat memahami materi dengan mudah dan hasil belajar dapat meningkat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) bagai-manakah pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas IV SDN Kademangan 05 pada pra tindakan? (2) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas IV SDN Kademangan 05 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada tiap siklus? (3) bagaimanakah peningkataan hasil belajar matematika di kelas IV SDN Kademangan 05 dari pra tindakan, siklus I dan siklus II dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD?. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas IV SDN Kademangan 05 pada tahap pra tindakan, (2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I dan siklus II, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dari pra tindakan, siklus I dan silklus II. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualititatif. Rancangan yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tiga tahap yaitu pra tindakan, siklus I dan siklus II. Masing-masing tahap terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Data dan sumber yang dibutuhakan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang meliputi produk dan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara (1) teknik observasi, (2) teknik kuis, (3) teknik kuisioner/angket. Instrumen yang digunakan berupa (1) lembar observasi, (2) kuisioner/angket, (3) kuis/tes, (4) catatan lapangan (field note). Teknik analisa data dipilah menjadi 4 kelompok data, (1) data hasil belajar siswa, (2) data pengamatan pembelajaran kooperatif tipe STAD, (3) data kegiatan mengajar guru, dan (4) data yang diperoleh dari angket siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh pada saat pos tes pra tindakan adalah 49 kualifikasi nilai kurang, pada siklus I adalah 71,65 kualifikasi nilai baik, sedang-kan pada siklus II adalah 85,5 kualifikasi nilai sangat baik. Dari hasil belajar ter-sebut dapat diketahui peningkatan dari pra tindakan ke siklus I sebesar 22,65%, sedangkan dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 13,85%. Aktivitas siswa pada pra tindakan memperoleh skor 9,42 atau kualifikasi nilai sangat kurang, aktivitas siswa pada siklus I memperoleh skor 76,42 atau kualifikasi nilai baik, dan aktivitas siswa pada siklus II memperoleh skor 95,28 atau kualifikasi nilai sangat baik. Sedangkan aktivitas guru pada pra tindakan memperoleh skor 19,1 atau kualifikasi nilai sangat kurang, aktivitas guru pada siklus I memper-oleh skor 83,50 atau kualfikasi nilai baik, dan aktivitas guru pada siklus II memperoleh skor 94,50 atau kualifikasi nilai sangat baik. Kesimpulan berdasarkan temuan dari peneliatian ini, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran selama pra tindakan, siklus I dan siklus II dengan mene-rapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika, serta dapat meningkatkan aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam mengembangkan keterampilan kooperatif dalam hal (1) menghargai pendapat orang lain, (2) mengambil giliran dan berbagi tugas, (3) mengundang orang lain untuk bicara, (4) bertanya, (5) mendengarkan dengan aktif, (6) tidak berbeda dalam tugas, (7) bersama-sama memeriksa jawaban. Saran yang diberikan berdasarkan kesimpulan diatas adalah (1) bagi siswa, setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengapli-kasikan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kehidupan sehari-hari khususnya dalam hal bekerjasama dan mengeluarkan pendapat, (2) bagi guru, dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran lainnya berdasarkan hasil peningkatan yang telah dicapai pada mata pelajaran matematika, (3) bagi peneliti lain, penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki keku-rangan dan memperoleh hasil yang memuaskan, (4) bagi peneliti, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Meningkatkan hasil belajar siswa kelas III tentang pecahan sederhana melalui manipulasi benda konkret di UPT SDN Panggungrejo Kota Pasuruan / Lik Anah

 

ABSTRAK Lik’anah, 2009, Meningkatkan hasil belajar siswa kelas III tentang pecahan sederhana melalui manipulasi benda konkret di UPT SDN Panggungrejo Kota Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP. Program PJJ-S1 PGSD. Pembimbing : Sri Harmini, M.Pd Kata Kunci : pecahan sederhana, manipulatif benda konkret, aktivitas siswa. Pendidikan matematika pada jenjang pendidikan dasar, mempunyai peranan yang sangat penting. Sebab jenjang ini merupakan pondasi yang sangat menentukan dalam membentuk sikap, kecerdasan dan kepribadian anak, yang akan digunakan dalam kehidupan sehari – hari maupun untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Adapun tujuan penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut : 1. Untuk mendapatkan data empiris tentang pembelajaran siswa kelas 3 SDN Panggungrejo khususnya pada pembelajaran matematika pokok bahasan mengenal pecahan sederhana dengan menggunakan manipulasi benda konkret; 2. Untuk mendeskripsikan aktivitas siswa selama pembelajaran matematika pada pokok bahasan mengenal pecahan sederhana dengan menggunakan manipulasi benda konkret. 3. Untuk mendapatkan data empiris tentang peningkatkan hasil belajar siswa kelas 3 SDN Panggungrejo khususnya pada pembelajaran matematika pokok bahasan mengenal pecahan sederhana dengan menggunakan manipulasi benda konkret; Penanaman konsep pecahan pada anak kelas III sekolah dasar dengan manipulasi benda konkret dapat kita lakukan dengan cara sebagai berikut : Kita akan menunjukkan contoh bahwa 1 = 2 = 4 dengan menggunakan 3 lembar kertas yang berbentuk persegipanjang Dalam Perbaikan Pembelajaran ini dilakukan di UPT SDN Panggungrejo yang terletak di Jl. Letjen S.Parman No. Kecamatan bugul Kidul Kota Pasuruan. Secara geografis, sekolah ini terletak di daerah pinggir pantai ( + 3 kilometer dari pusat kota ). Dengan mata pencaharian penduduk sekitar adalah nelayan, kebanyakan masyarakatnya kurang mampu dan tingkat kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak kurang. Hasil pengolahan tes formatif siklus II yang dibandingkan dengan siklus I serta kriteria ketuntasan minimal didapatkan adanya peningkatan dari siklus I rata-rata nilai 6,15. Setelah diadakan perbaikan pembelajaran nilai rata-rata menjadi 7,95. Nilai perbaikan siklus II dapat melampaui kriteria ketuntasan minimal yaitu 6,5. Sedangkan jumlah siswa yang tuntas dalam belajar dari siklus I 50% terjadi peningkatan menjadi 95%, yang telah melebihi harapan peneliti Dalam pembelajaran hendaknya selalu menggunakan alat peraga yang lebih berfariatif dan menarik diharapkan dapat menarik perhatian siswa dalam belajar, merencanakan penggunaan fasilitas pembelajaran secara sistematis dan terarah sehingga akan berfungsi sebagaimana mestinya, dan agar suasana tidak tegang, berilah sedikit humor dari guru untuk menciptakan suasana yang menyenangkan

Peningkatan hasil belajar matematika konsep pengukuran melalui pembelajaran kontekstual metode inkuirisiswa kelas III SDN Kobonagung Pasuruan / Ida Herlina Hari Suwati

 

ABSTRAKSI Peningkatan Hasil Belajar Matematika Konsep Pengukuran melalui Pembelajaran Kontekstual Metode Inkuiri Siswa Kelas III SDN Kebonagong Pasuruan Oleh : Ida Herlina Hari Suwati Permasalahan umum di bidang pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah rendahnya kualitas pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Saat ini, pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional(Permendiknas) yang mengatur standar isi pendidikan di Indonesia, tidak tanggung-tanggung pemerintah mengeluarkan tiga permendiknas sekaligus, yaitu Permendiknas RI No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permendiknas RI No 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permendiknas RI No 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan kedua Permendiknas di atas. Terbitnya Permendiknas tersebut merupakan angin segar dalam dunia pendidikan di Indonesia, khususnya bagi mata pelajaran matematika. Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : (1) memahami konsep matamatika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.; (2) menggunakan penalaran pada pola atau dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika ; (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) mengkomunikasikan gagasan dalam simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah ; (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Sementara itu dalam kehidupan sehari-hari matematika masih dipandang sebagai suatu mata pelajaran yang sulit, menakutkan dan membosankan bagi siswa. Begitu pula dengan siswa kelas III D SDN Kebonagung Pasuruan, selama pembelajaran matematika di kelas, menurut pengamatan penulis selaku guru kelas dirasakan hasil belajarnya sangat kurang memuaskan Terbukti setelah usai pembelajaran materi menyelesaikan masalah yang berkaitan menggunakan alat ukur dalam pemecahan masalah diadakan tes tertulis secara individu dengan jumlah soal 5 butir. Dari 31 orang siswa, hasil tes diperoleh nilai rata-rata 59 dengan perincian nilai sebagai berikut : 2 orang siswa memperoleh nilai 100, 4 orang siswa memperoleh nilai 90, 4 orang siswa memperoleh nilai 80, 5 orang siswa memperoleh nilai 60, dan 16 orang siswa memperoleh nilai 40. Dari 10 butir soal yang paling banyak siswa yang salah adalah soal nomor 2 dan 4 tentang hubungan antar satuan panjang. Bertitik tolak dari latar belakang permasalahan tersebut di atas maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Peningkatan Hasil Belajar Matematika Konsep Pengukuran melalui Pembelajaran Kontekstual Metode Inkuiri Siswa Kelas III SDN Kebonagung Pasuruan” Mengingat metode inkuiri mempunyai kelebihan-kelebihan, maka metode inkuiri digunakan dalam pembelajaran matematika untuk lebih mudah menanamkan konsep pengukuran di kelas III SDN Kebonagung Pasuruan. Pembelajaran dengan metode inkuiri tidak selalu menggunakan sarana dan prasarana yang dibeli dengan harga mahal, akan tetapi lingkungan di sekitar daat digunakan sebagai penunjang pembelajaran matematika. Diharapkan dengan pembelajaran yang diterapkan melalui penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika konsep pengukuran pada siswa kelas III SDN Kebonagung Pasuruan.

Penerapan pakem dengan menggunakan tabel prediksi akar pangkat tiga untuk meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa kelas VI SDN Paggungrejo KOta Pasuruan / Hasan Bisri

 

ABSTRAK PENERAPAN PAKEM DENGAN MENGGUNAKAN TABEL PREDIKSI AKAR PANGKAT TIGA UNTUK MENINGKATKAN PROSES DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VI SDN PANGGUNGREJO KOTA PASURUAN HASAN BISRI SDN. Panggungrejo Kec.Bugul Kidul Kota Pasuruan adalah satu-satunya sekolah yang terletak di wilayah pesisir paling utara,mempunyai cirii khusus yang bernafas islami. Berdasarkan observasi di kelas VI pada tahun ajaran 2007/2008 menunjukkan nilai ulangan harian/semester matematika rata-rata 5,8 (lima,delapan) di bawah KKM ( 6,0). Permasalahan tersebut sebenarnya cukup kompleks pada pembelajaran matematika di kelas VI,akan tetapi secara umun dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah yaitu proses belajar dan hasil belajar siswa sangat rendah terhadap pelajaran matematika. Pembelajaran konvensional yang selalu didominasi oleh guru,cenderung ceramah, dan tidak memberi kesempatan untuk bertanya,sementara siswa hanya sebagai pendengar yang baik,sehingga kurang termotivasi untuk berfikir aktif dan kreatif terhadap materi pelajaran matematika.Oleh karena itu penulis mencoba untuk menangani masalah pembelajaran tersebut dengan strategi yang tepat dan metode pembelajaran yang sesuai sehingga penulis perlu mengadakan penelitian tindakan kelas PTK). Melihat berbagai hasil penelitian tentang strategi PAKEM dengan menggunakan tabel prediksi menentukan akar pangkat tiga penulis optimis bahwa dengan mengubah pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran yang aktif,kreatif,dan inovatif akan dapat meningkatkan proses belajar dan hasil belajar siswa,sehingga nilai pelajaran matematika terutama pada kompetensi dasar bilangan kubik dan akar pangkat tiga meningkat mencapai nilai di atas KKM .

Survei tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru prodi pjk fakultas ilmu keolahragaan Universitas Negeri Malang input SNMPTN tahun 2009 / Novi Erista Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Novi Erista. 2009. ”Survei Tingkat Kebugaran Jasmani Bagi Calon Mahasiswa Baru Prodi PJK Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang Input SNMPTN Tahun 2009” Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I). Dra. Siti Nurrochmah, M.Kes, (II) dr. Rias Gesang Kinanti, M.Kes Kata kunci: Kebugaran Jasmani, Calon Mahasiswa Baru Prodi PJK Pencapaian tingkat kebugaran jasmani saat ini menjadi salah satu tujuan pembelajaran pada bidang pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (penjasorkes). Artinya melalui pembelajaran pendidikan jasmani seseorang akan memperoleh tingkat kebugaran jasmani yang sesuai dengan yang diharapkan. Calon mahasiswa baru yang mengikuti seleksi melalui jalur SNMPTN adalah siswa-siswa yang baru lulus dari tngkat pendidikan SMA atau sederajat, para calon mahasiswa tersebut jarang dan bahkan kadang kala tidak banyak melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Berkurangya aktivitas fisik yang dilakukan berdampak pada berkurangnya tingkat kebugaran jasmani para calon mahasiswa tersebut. Tingkat kebugaran jasmani yang rendah akan menjadi masalah, karena aktivitas jasmani tidak dapat dilakukan de ngan baikdan maksimal. Untuk mengetahui keadaan tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 20009 perlu dilakukan pengkajian. Peneliti tertarik untuk mengkaji permasalahan tentang kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan mengkaji tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru Jurusan PJK Fakultas Ilmu Keolahragan Universitas Negeri Malang Input SNMPTN tahun 2009. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan survei, survei adalah salah satu jenis pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dengan maksud untuk mengetahui status gejala dan juga bermaksud untuk menentukan keamanan status dengan standart yang sudah ditentukan. Subyek dalam penelitian ini adalah calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009 sebanyak 531 orang mahasiswa, sedangkan dalam pengumpulan data ini peneliti menggunakan teknik observasi berbentuk tes yang dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaaan tes. Tes tersebut adalah tes versi TKJI untuk remaja umur 16 sampai 19 tahun yang dikeluarkan oleh pusat Kebugaran Jasmani dan Rekreasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1992, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani mahasiswa tersebut. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009 berada pada kategori sedang. Hal ini ditunjukan pada hasil tes dengan menggunakan versi tes TKJI dengan 38 orang mahasiswa atau 7,95% tingkat kebugaran jasmani berada pada kategori baik, 269 orang mahasiswa atau 56,28% tingkat kebugaran jasmani berada pada kategori sedang, 157 orang mahasiswa atau 32,84% tingkat kebugaran jasmani berada pada kategori kurang, sedangkan pada tingkat kebugaran jasmani kurang sekali terdapat 14 orang mahasiswa atau 2,93% dan pada tingkat kebugaran jasmani baik sekali tidak terdapat satupun mahasiswa yang berada pada kategori ini. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kebugaran jasmani calon mahasiswa baru input SNMPTN tahun 2009 berada pada kategori sedang yaitu 56,28% atau 269 orang mahasiswa dari 478 mahasiswa.

Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing melalui model pembelajaran kooperatif GI (Group Investigation) untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang pada topik ruang lingkup biologi / Triana Endahsari

 

ABSTRAK Endahsari, Triana. 2009. Penerapan Pembelajaran Inkuiri Terbimbing melalui Pembelajaran Kooperatif GI (Group Investigation) untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang. Skripsi, Program Studi Biologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hadi Suwono, M. Si., (II) Drs. Fathurrachman, M. Si. Kata kunci: inkuiri terbimbing, GI (Group Investigation), keterampilan proses sains, hasil belajar. SMA Negeri 2 Malang menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun ajaran 2007/2008. Upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan di sekolah melalui adanya perubahan orientasi pembelajaran, dari belajar yang terpusat pada guru menjadi belajar yang terpusat pada siswa. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti di SMA Negeri 2 Malang pada tanggal 14 dan 21 Juli 2009, sebagian siswa di kelas X kurang menyukai pelajaran Biologi yang cenderung menghafal dan membosankan serta penuh dengan istilah-istilah yang masih asing. Siswa juga belum dibiasakan untuk melakukan keterampilan proses, hal ini dibuktikan dengan ketidaktahuan siswa tentang apa yang dimaksud dengan keterampilan proses itu. Hasil belajar siswa juga masih rendah, rata-rata di bawah ketuntasan klasikal. Hal ini disebabkan siswa merasa kurang senang dalam mengikuti pembelajaran yang dianggap membosankan dan kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang melalui pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran GI. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas dengan subjek siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Malang selama bulan Juli hingga Agustus 2009. Penelitian tindakan kelas dilakukan selama 2 siklus. Sebelum dilaksanakan siklus 1 terlebih dulu dilakukan tahap observasi awal dan refleksi awal. Setelah pelaksanaan tindakan dilakukan, semua data akan dianalisis untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan pada siklus pertama. Kelebihan akan dipertahankan, sedangkan kekurangan akan diperbaiki pada siklus kedua. Data penelitian yang dikumpulkan adalah keterlaksanaan pembelajaran yang berupa skor yang diperoleh melalui lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan untuk memonitor keterlaksanaan pembelajaran yang dilakukan peneliti; data keterampilan proses sains yang berupa skor yang diperoleh melalui lembar observasi keterampilan proses sains siswa yang diisi oleh observer selama pembelajaran berlangsung serta data hasil belajar kognitif siswa yang berasal dari hasil tes awal dan tes akhir yang dilaksanakan di awal dan akhir siklus. Data tentang keterampilan proses terdiri dari tiga komponen, yaitu merencanakan investigasi, melaksanakan investigasi, serta mengkomunikasikan hasil investigasi. Komponen mengkomunikasikan hasil investigasi terdiri dari dua jenis, yaitu secara lisan yang dinilai dengan menggunakan lembar observasi, dan secara tertulis dengan menggunakan rubrik penilaian laporan kelompok. Data penunjang lain berupa angket pembelajaran i ii yang digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai metode dan model pembelajaran yang dilakukan. Angket pembelajaran diberikan pada siswa pada akhir siklus 1 agar hasilnya juga dapat digunakan sebagai bahan refleksi siklus 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran kooperatif Group Investigation dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar kognitif siswa. Peningkatan keterampilan proses terjadi pada komponen“merencanakan penyelidikan ilmiah” pada siklus 1 sebesar 55,74 %dan pada siklus 2 sebesar 65,15 %. Pada komponen “melaksanakan penyelidikan ilmiah” siklus 1 mencapai 70,03 % dan pada siklus 2 mencapai 80,13 %. Sedangkan pada komponen “mengkomunikasikan hasil penyelidikan ilmiah” siklus 1 tercapai persentase keberhasilan sebesar 58,91 % dan pada siklus 2 sebesar 87,71 %. Perolehan nilai rata-rata laporan hasil investigasi secara tertulis pada siklus 1 adalah sebesar 67,56 sedangkan untuk siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 12,9 menjadi 80,46. Hasil belajar kognitif mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, hal ini tampak melalui nilai tes awal dan tes akhir yang dilakukan oleh siswa pada siklus 1 dan siklus 2. Perolehan skor hasil belajar siswa yang dilakukan melalui tes awal dan tes akhir mengalami peningkatan dari siklus 1 dan siklus 2, dengan peningkatan skor untuk hasil belajar kognitif dari tes awal ke tes akhir pada siklus 1 adalah sebesar 14,59, dan pada siklus 2 adalah sebesar 8,25. sedangkan persentase siswa yang tuntas pada siklus 1 adalah 75,60 %, dan di siklus 2 sebesar 100 %. Tanggapan siswa mengenai metode dan model pembelajaran yang dilakukan adalah 82,18 % dari 41 siswa memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran yang dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing melalui pembelajaran kooperatif GI dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif siswa kelas X-1 SMA Negeri 2 Malang.

Pengaruh kemampuan (kompetensi) guru dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Turen / Nasrullah Helmy Dwi Putra

 

ABSTRAK Helmy, Nasrullah D. P. 2009. Pengaruh Persepsi Siswa tentang Kemampuan (Kompetensi) Guru dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Prodi S1 Pendidikan Akuntansi. Pembimbing: (I) Dr. H. Tuhardjo, S.E., M.Si.Ak. (II) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. Kata Kunci: Persepsi Siswa tentang Kemampuan (Kompetensi) Guru, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Masalah pendidikan seringkali dikaitkan dengan kemampuan guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan yang secara langsung berinteraksi dalam mengajar, mendidik, dan membimbing siswa di sekolah. Ada faktor lain yang harus diperhatikan selain kompetensi guru yaitu motivasi belajar siswa. Kedua hal ini harus berjalan seimbang agar prestasi belajar siswa dapat dicapai secara optimal. Tujuan penelitian: (1) untuk mengetahui kemampuan (kompetensi) guru dalam mengajar, (2) untuk mengetahui motivasi belajar siswa kelas XI jurusan akuntansi, (3) untuk mengetahui pengaruh secara parsial kompetensi guru dan motivasi belajar terhadap prestasi siswa kelas XI Jurusan Akuntansi, (4) untuk mengetahui pengaruh secara simultan kompetensi guru dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Jurusan Akuntansi. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI Jurusan Akuntasi SMK Negeri 1 Turen tahun ajaran 2009/2010 yaitu sebanyak 78 siswa. Teknik sampling adalah teknik acak sederhana (simple random) sehinga sample berjumlah 39 siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kompetensi guru (X1), motivasi belajar (X2), dan variabel terikatnya prestasi belajar siswa (Y). Analisis data dengan regresi linear berganda dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows Releasa 16,0 dengan taraf signifikansi 5%. Hasil yang diperoleh: variabel kompetensi guru (X1) berpengaruh positif signifikan dengan nilai B=0,402 thitung 4,278 dengan Sig t 0,000. Variabel motivasi belajar (X2) berpengaruh positif signifikan dengan nilai B=0,524 thitung 5,418 dengan Sig t 0,000. selain itu didapat juga nilai Fhitung sebesar 21,924 dengan Sig t 0,000 serta nilai koefisien determinan (Adjuster R2) sebesar 0,524 yang berarti bahwa variabel kompetensi guru dan motivasi belajar mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas XI Jurusan Akuntansi SMK Negeri 1 Turen sebesar 52,4% sedangkan sisanya sebesar sisanya 47,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Disarankan bagi pihak sekolah terutama guru, untuk terus mempertahankan profesionalitasnya sebagai guru agar persepsi siswa tetang kompetensinya dalam mengajar, baik kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Pihak sekolah khususnya para guru harus mampu mencari solusi agar siswa lebih termotivasi dalam belajar. Baik dengan melakukan model pembelajaran yang inovatif, maupun dengan memberikan stimulus berupa penghargaan kepada siswa yang berprestasi di kelas dan memberi hukuman kepada siswa yang berperilaku kurang baik. Pihak sekolah tidak boleh hanya memperhatikan dari satu sisi, baik kompetensi guru maupun motivasi belajar siswa. Maka dari itu perlu dipertimbangkan keselarasan antara kemampuan (kompetensi) guru dalam mengajar dan motivasi belajar siswa agar pembelajaran dapat terlaksana secara optimal. Saran untuk penelitian selanjutnya yang sejenis hendaknya peneliti menambah bahasan mengenai kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Sehingga dari penelitian tersebut dapat dilihat seberapa besar kontribusi tingkat kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional dalam hubungannya dalam pencapaian prestasi belajar siswa.

Peranan MGMP pendidikan kewarganegaraan (Pkn) dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang / Sudirman

 

ABSTRAK Sudirman. 2009. Peranan MGMP Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru SMA di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Drs. H. Suparlan, M. Si, Pembimbing (II): Drs. H. Edi Suhartono, SH., M. Pd Kata Kunci: MGMP, Profesionalisme Guru, Pendidikan Kewarganegaraan. Guru mempunyai peran yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan profesional. Guru profesional akan menghasilkan proses dan hasil pendidikan yang berkualitas dalam rangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Oleh karena itu, peningkatan kemampuan profesional guru harus segera dilakukan. Salah satu terobosan yang sedang dilakukan adalah pemberdayaan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). MGMP merupakan suatu wadah yang disediakan bagi para guru mata pelajaran sejenis untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam upaya peningkatan kualitas profesionalnya. Untuk mewujudkan peran MGMP dalam pengembangan profesionalisme guru, maka peningkatan kinerja MGMP merupakan masalah yang mendesak untuk dapat direalisasikan. Demikian halnya dengan MGMP PKn SMA yang ada di Kota Malang. Peranan MGMP PKn SMA Kota Malang sebagai wadah bagi guru PKN untuk meningkatkan profesionalnya harus segera direalisasikan. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul “Peranan MGMP dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru PKn SMA Kota Malang” untuk kembali mempertegas eksitensi MGMP sebagai organisasi profesi yang benar-benar mampu meningkatkan profesionalisme guru. Berdasarkan permasalahan yang dijabarkan di atas, ditarik suatu rumusan masalah yaitu (1) bagaimana eksistensi MGMP PKn dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? (2) mengapa MGMP PKn harus berperan serta dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? (3) apa kendala yang dihadapi MGMP PKn dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? (4), bagaimana upaya memecahkan masalah MGMP PKn dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang? Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: (1) mendiekripsikan eksistensi Musyawarah MGMP PKn dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang, (2) mendeskripsikan alasan MGMP harus berperan serta dalam meningkatkan profesionalisme guru PKn SMA di Kota Malang, (3) mendeskripsikan kendala yang dihadapi MGMP dalam berperanserta meningkatkan profesionalisme guru PKn SMA di Kota Malang, (4) mendeskripsikan upaya memecahkan masalah yang dihadapi MGMP PKn dalam meningkatkan profesionalisme guru SMA di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dasar teori fenomenologis. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu berusaha mengungkapan dan menelaah kasus yang terjadi pada MGMP PKn Kota Malang dalam meningkatkan profesionalisme guru PKn. Dalam penelitian ini lokasi penelitian ditetapkan di Organisasi MGMP Pkn SMA di Kota Malang. Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Sedangkan pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu: tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan, tahap pelaporan Dari hasil penelitian diketahui bahwa MGMP PKn SMA Kota Malang pada pengurusan periode 2006-2009 dapat dikatagorikan sebagai organisasi yang aktif. Kegiatan yang direncanakan mampu dilaksanakan dengan baik berupa kegiatan rutin, maupun kegiatan pengayaan. Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya: (1) pembahasan perangkat pembelajaran berupa (silabus, dan RPP), (2) model-model pembelajaran, (3) media pembelajaran. Sedangkan kegiatan pengayaan yang dilakukan MGMP PKn Kota Malang diantaranya: (1) Studi banding ke Jakarta, (2) Studi banding ke Yogyakarta, (3) studi banding ke Surabaya, (4) kunjungan Dubes Finlandia, dan (5) Lomba Cerdas Cermat Keterlibatan di forum MGMP PKn SMA Kota Malang berdampak pada baiknya kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar ditunjukkan dari baiknya kemampuan guru dalam mempersiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pengajaran. Baiknya kemampuan guru dalam mempersiapkan pembelajaran ditunjukkan dari pengetahuan guru tentang garis-garis besar program pengajaran secara baik serta kemampuan guru dalam menyusun analisis materi pengajaran, menyusun program pengajaran tahunan, menyusun program semester, membuat rencana pembelajaran, memahami tujuan pengajaran yang hendak dicapai serta mempersiapkan alat evaluasi untuk penilaian guna mencapai tujuan pembelajaran secara baik pula. Namun, MGMP PKn Kota Malang tidak mendapatkan alokasi dana dari pemerintah. Sehingga untuk membiayai kegiatan dan operasional organisasi diperoleh dari sumbangan anggota. Kondisi keuangan yang sulit menjadikan MGMP PKn Kota Malang kesulitan dalam mengadakan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan profesionalsme guru. Solusi yang dilakukan untuk mensiasati kesulitan dana dengan mencari sponsor terhadap perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi. Solusi lain yang dilakukan adalah menjalin kerjasama dengan universitas-universitas yang ada di Kota Malang. Saran dalam skripsi ini sebagai berikut: (1) bagi pemerintah, perlu adanya dukungan dana terhadap MGMP, dan pemberian penghargaan, (2) bagi universitas-universitas yang ada di Kota Malang untuk menjalin kerjasama dan akses networking dengan para anggota MGMP, pengarahan dan pembinaan dalam bidang Ilmu pengetahuan dan teknologi, (3) bagi mahasiswa, perlu ditingkatkan kajian yang mendalam mengenai MGMP, (4) bagi guru PKn sebagai anggota MGMP harus terus meningkatkan keaktifannya dalam forum-forum MGMP, (5) bagi kepala sekolah, harus lebih aktif dalam mengawasi dan mendorong guru PKn untuk aktif dalam forum MGMP.

Dampak aktivitas neurobik terhadap kecepatan impuls saraf pada cerebrum untuk anak-anak usia dini / M. Nur Fafa

 

ABSTRAK Fafa, M. Nur. 2009. Dampak Aktivitas Neurobik Terhadap Kecepatan Impuls Saraf Pada Cerebrum Untuk Anak-Anak Usia Dini. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Saichudin, M. Kes., (2) dr. Hartati Eko Wardani, M. Si.Med Kata kunci : Neurobik, Kecepatan Impuls Saraf, Anak Usia Dini Aktivitas olahraga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dengan berolahraga tidak hanya membuat tubuh bugar dan sehat, dan diyakini dengan berolahraga mampu meningkatkan kemampuan otak membangun sel-sel yang baru. Otak manusia memiliki bermilyar-milyar neuron yang akan terus tumbuh bila sering digunakan. Sejumlah teori menyatakan bahwa sel otak akan terus tumbuh sampai usia berapapun, sehingga peluang untuk mengoptimalkan potensi otak sejak dini seolah tidak ada batasnya. Otak selalu beradaptasi terhadap lingkungan terlebih lagi hingga usia 2 tahun adalah masa peluang emas untuk mengoptimalkan fungsi dan jumlah sel pada anak-anak. Otak memegang peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Karena organ ini merupakan pusat pengendali berbagai aktivitas fisik maupun mental. Otak memiliki sistem komunikasi yang dapat bereaksi cepat dalam mengorganisasikan dan merencanakan respons terhadap informasi atau rangsangan yang masuk, pada anak-anak rangsang informasi yang masuk akan memicu suatu reaksi kimia dari neurotransmiter. Reaksi ini mendukung terjadinya proses plastisitas pada otak, sehingga kemampuan otak dapat ditingkatkan Namun seringkali juga informasi yang diterima otak tidak dapat diekspresikan kembali secara utuh, akibatnya ketidakmampuan untuk mengungkapkan apa yang telah dipelajari akan menimbulkan perasaan gagal dan stres, sehingga kemampuan belajar pada anak-anak berkurang. Bila terjadi, tentu prestasi yang akan didapat kian merosot dan perasaan gagal akan terus mendera. Karena itulah, otak perlu juga diajak beraerobik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan sampel siswa sekolah dasar usia 6-8 tahun. Sampel dalam penelitian ini diambil dari SDN Tompokersan 3 Lumajang, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan tes kecepatan reaksi yang diukur berdasarkan lama waktu untuk merespon stimulus pada seluruh sampel yang diambil sebagai kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol. Hasil tes pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan hasil tes pada kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu bereaksi pada kelompok perlakuan sebesar 0.836 detik, sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata waktu yang diperoleh sebesar 1.729 detik. Oleh karena itu untuk memaksimalkan fungsi otak perlu dilakukan suatu aktivitas yang menstimulus fungsi otak melalui aktivitas neurobik atau minimal berolahraga untuk meningkatkan asupan nutrisi pada otak.

Penerapan pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang / Yeni Ernawati

 

ABSTRAK Ernawati, Yeni. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Susetyoadi Setjo, M.Pd dan (II) Dra. Hawa Tuarita, M.S. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Numbered Heads Together (NHT), Motivasi Belajar, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas VIII-D SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang mulai bulan Juli 2009 sampai bulan Agustus 2009 menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa masih rendah. Rendahnya motivasi belajar siswa dapat diketahui dari tingkah laku siswa pada saat kegiatan pembelajaran, antara lain 1) pada saat pembelajaran sebagian besar siswa menunjukkan sikap kurang berminat mengikuti pelajaran. Siswa kurang aktif bertanya, menjawab serta mengungkapkan pendapatnya selama kegiatan pembelajaran berlangsung walaupun guru sudah sering memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, 2) ada beberapa siswa yang memicu kegaduhan misalnya mengganggu temannya, celometan sehingga memicu kegaduhan kelas, 3) pada saat kegiatan diskusi, tidak semua siswa antusias mengikuti pelajaran, hanya beberapa siswa yang aktif mengerjakan tugas sedangkan siswa yang lain banyak yang mengobrol dan bergurau di luar materi pelajaran, 4) beberapa siswa tidak mendengarkan pendapat temannya dan tidak mendengarkan penjelasan guru. Guru sudah berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan beberapa metode pembelajaran misalnya dengan praktikum dan diskusi kelas tetapi belum menunjukkan hasil yang maksimal. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang masih rendah, yaitu rata-rata skor tes 69,27 dan ketuntasan klasikal hanya 68,29%. Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut, untuk mengatasinya diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif NHT. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatan motivasi dan hasil belajar Biologi siswa kelas VIII SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang melalui penerapan pembelajaran kooperatif NHT. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2009 sampai tanggal 18 November 2009. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa yang diperoleh melalui observasi selama penelitian, sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes setiap akhir siklus. Hasil penelitian penerapan pembelajaran kooperatif NHT dapat: (1) meningkatkan motivasi belajar siswa dari sebesar 62,46% (kategori cukup) pada siklus I menjadi 80,77% (kategori baik) pada siklus II; (2) meningkatkan hasil belajar siswa dari skor rata-rata kelas sebesar 69,27 dan ketuntasan klasikal 68,29% sebelum siklus I meningkat menjadi 77,93 dan ketuntasan klasikal 82,93% setelah siklus I dan meningkat lagi menjadi 83,78 dan ketuntasan klasikal 92,68% setelah siklus II.

Pengaruh larva plutella xylostella L yang terparasit dan tidak terparasit oleh diadegmasemiclausum (Hellen) terhadap luas kerusakan daun kubis (Brassica oleracae L.) / Novy Kurniasih

 

ABSTRAK Kurniasih, Novy. 2009. Pengaruh Larva P. xylostella yang Terparasit dan Tidak Terparasit oleh D. semiclausum Terhadap Luas Kerusakan Daun Kubis (Brassicca oleraceae). Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sofia Ery Rahayu, S. Pd., M.Si, (II) Ir. Handoko, M.Sc. Kata kunci: Diadegma semiclausum, Plutella xylostella, kerusakan daun kubis. Parasitoid Diadegma semiclausum merupakan musuh alami dari larva P. xylostella. Gejala yang ditimbulkan oleh serangan larva P. xylostella pada kubis adalah adanya lubang pada daun kubis. Untuk mengetahui pengaruh D. semiclausum pada larva P. xylostella terhadap kerusakan daun kubis dilakukan dengan jalan menghitung luas kerusakan daun kubis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh tingkat instar larva Plutella xylostella yang berbeda terhadap kerusakan daun kubis (Brassica oleraceae), (2) pengaruh tingkat instar larva Plutella xylostella yang terparasit dan tidak terparasit oleh Diadegma semiclausum terhadap kerusakan daun kubis (Brassica oleraceae) dan (3) hubungan antara tingkat instar larva Plutella xylostella yang berbeda dengan kondisi terparasit dan tidak terparasit oleh Diadegma semiclausum terhadap kerusakan daun kubis (Brassica oleraceae). Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan rancangan penelitian Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 6 perlakuan yaitu larva P. xylostella instar 2,3 dan 4 yang terparasit oleh D. semiclausum serta larva P. xylostella instar 2,3 dan 4 yang tidak terparasit oleh D. semiclausum. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2009 dan Lokasi Penelitian di laksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman BPTP Jatim dan di Screen BPTP Jatim Jl. Raya Karangploso Malang. Obyek dalam penelitian ini adalah larva P. xylostella instar 2,3 dan 4 sebanyak 150 larva. Perlakuan dalam penelitian ini dengan cara meletakkan selembar daun kubis pada cawan petri kemudian diberi 5 larva P. xylostella yang terparasit oleh D. Semiclausum dan larva P. xylostella yang tidak terparasit pada setiap cawan petri perlakuan. Setelah aplikasi selama 24 jam kemudian lubang kerusakan pada daun kubis dijiplak pada kertas yang sudah ditentukan berat dan luasnya, hasil jiplakan tersebut ditimbang. Data berupa luas kerusakan dianalisis dengan menggunakan uji analisis variansi ganda (ANAVA GANDA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat instar P. xylostella berpengaruh terhadap kerusakan daun kubis (B. oleraceae). Tingkat instar pada kondisi larva P. xylostella yang terparasit dan tidak terparasit oleh D. semiclausum berpengaruh terhadap kerusakan daun kubis (B. oleraceae) dan tidak ada hubungan antara tingkat instar larva P. xylostella yang terparasit dan tidak terparasit oleh D. semiclausum terhadap kerusakan daun kubis (B. oleraceae).

Pengaruh return on equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Dividen Payout Ratio (DPR), terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang listing di bei periode 2005-2007 / Taufiq Fatkhur Rahman

 

ABSTRAK Rahman,Taufiq, F. 2009. Pengaruh Return On Equity (ROE), Earning Per Share(EPS) dan Devidend Payout Ratio (DPR) terhadap Harga Saham pada perusahaan Manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2007. Skripsi, Jurusan S1 Manajemen Konsentrasi Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Mohammad Hari, M.Si, (2) Ely Siswanto, S.Sos, M.M. Kata kunci: Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Devidend Payout Ratio (DPR), Harga Saham Harga Saham Merupakan nilai dari penyertaan atau kepemilikan seseorang dalam suatu perusahaan.Untuk melihat nilai buku, nilai pasar, dan nilai instrinsik saham maka diperlukan analisis yang tepat. Dalam penelitian ini menggunakan analisis fundamental karena analisis ini melakukan pendekatan ekternal dan internal perusahaan. Kondisi internal perusahaan bisa dilihat dari kinerja keuangannya yang diukur dengan rasio keuangan. Rasio-rasio keuangan yang digunakan adalah ROE, EPS dan DPR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel ROE, EPS dan DPR terhadap Harga saham baik secara parsial dan secara simultan. Data yang digunakan bersumber dari ICMD (Indonesian Capital Market Directory) tahun 2008. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang listing di BEI yakni sebanyak 152 perusahaan, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 10 perusahaan, dengan periode pengamatan selama 3 tahun (2005-2007). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program SPSS. Uji yang digunakan adalah Uji F dan Uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial ROE tidak berpengaruh terhadap harga saham, secara parsial EPS berpengaruh terhadap harga saham, dan DPR tidak berpengaruh terhadap harga saham. Secara simultan ketiga variabel bebas berpengaruh terhadap Harga saham. Berdasarkan penelitian ini maka akan disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel bebas yang lain yang dapat diindikasikan berpengaruh terhadap Harga saham dan meneliti jenis perusahaan lain. Bagi investor penelitian ini dapat dijadikan gambaran tentang pengaruh ROE, EPS dan DPR terhadap Harga saham sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum berinvestasi.

Perbedaan pendapatan dan aktivitas pekerja songkok perkotaan dan perdesaan di Kabupaten Gresik / Syafitri Rahmadina Purima

 

ABSTRAK Rahmadina, Syafitri. 2009.Perbedaan Aktivitas dan Pendapatan Pekerja Industri Songkok di Perkotaan dan Perdesaan di Kabupaten Gresik. Skripsi. Jurusan Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing : (I) Drs. Budi handoyo M.Si (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata Kunci : aktivitas,pendapatan, pekerja industri Songkok. Industri songkok beroperasi dengan didukung tenaga kerja atau pekerja yang tetap. Pekerja memiliki aktivitas kerja yang bervariasi sehingga pendapatannya bervariasi pula. Pendapatan mereka yang berbeda ditiap jenis pekerjaan dan juga masih tergolong rendah. Hal ini berpengaruh pada sumbangan pendapatan yang diberikan pada keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan aktivitas pekerja songkok yang meliputi: aktivitas dan pendapatan. Rancangan Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan Pengambilan sampel responden menggunakan teknik purposive random sampling, seluruhnya 100 responden diantaranya 50 responden pedesaan dan 50 responden perkotaan dengan menggunakan metode angket sebagai alat pengumpul data. Pengambilan datan menggunakan 3 metode yaitu: observasi, dokumentasi dan angket. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis uji-t. Lokasi penelitian yang diambil pada Kelurahan Kroman dan Kecamatan Bungah Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Aktivitas pekerja industri songkok di pedesaan dan perkotaan meliputi pembuat sekaligus menjahit hiasan, dengan jam kerja rata-rata 7 sampai 8 jam perhari. Pengalaman pekerja songkok lebih dari 10 tahun dan paling sedikit adalah kurang dari 1 tahun dan mempelajari jenis pekerjaan sebagian besar adalah dari tetengga dan saudara sendiri, hal ini dapat dilihat dari banyaknya pekerja yang berusia muda yaitu 20 sampai 30 tahun.Hasil analisis uji- t dengan bantuan program SPSS 14 for windows diperoleh nilai t hitung sebesar 1,501 dengan signifikan 0,137 maka dapat diambil kesimpulan jenis pekerjaan yang dilakukan pekerja songkok di perkotaan maupun pedesaan sama saja. Artinya jenis pekerjaan yang dilakukan tergantung pekerja. (2) Pendapatan perkotaan lebih tinggi yang rata-ratanya Rp 25.000,00. sedangkan pendapatan yang dimiliki responden pedesaan berpendapatan rendah yaitu rata-rata Rp 20.000,00. pekerja songkok di Kabupaten Gresik memiliki pendapatanpokok perhari, sedangkan pendapatan sampingan yang mereka peroleh tidak dapatdihitung, Dari hasil analisis uji t test diperoleh nilai t hitung sebesar 2,208, t tabel 1,984 dengan signifikan 0,030, karena thitung > t tabel dengan signifikan <0,05 yaitu 2,208 > 1,984 dengan signifikan 0,030 < 0,05. Perlunya meningkatkan keahlian pekerja songkok untuk dapat bisa belajar melakukan semua aktivitas pembuatan songkok karena hal itu akan meningkatkan pendapatan mereka. Diharapkan dari inisiatif dan meningkatnya motivasi kerja dapat menentukan produktivitas kerja para pekerja songkok di perkotaan dan pedesaan Kabupaten Gresik. i

Meningkatkan kemampuan membaca intensif melalui metode SQ3R di kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil Pasuruan / Siti Hidayatul Mukaromah

 

ABSTRAK Mukaromah Hidayatul, Siti. 2010. Meningkatkan Kemampuan Membaca Intensif melalui Metode SQ3R di Kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil Pasuruan.Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. FIP. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Dr. Muhana Gipayana M.Pd, (2)Drs. Bambang Soerjono, M.Ed Kata kunci : Metode SQ3R, Kemampuan Membaca Intensif, MI Riyadlul Ulum MI Riyadlul Ulum Bangil adalah salah satu Madrasah Ibtidaiyah swasta yang terletak di Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan observasi di kelas V dan wawancara terhadap guru kelas, kepala sekolah dan siswa kelas V yang dilakukan pada 10 Agustus 2009 diketahui bahwa terdapat permasalahan yang cukup kompleks pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas tersebut. Secara umum permasalahan tersebut dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah, yaitu kemampuan belajar, kemampuan berpikir dan sikap siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia yang dapat berimbas pada hasil belajar siswa yang diperoleh rendah. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah-masalah tersebut dengan menggunakan penerapan membaca intensif dengan metode SQ3R, melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan; (1) mendiskripsikan bagaimana penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R (survey, question, reading, recite dan review) di kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil, (2) mendiskripsikan apakah penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R (survey, question, reading, recite dan review) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan mulai Nopember 2009 sampai awal Pebruari 2010. Tindakan kelas dilaksanakan bulan Desember 2009 sampai Januari 2010. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri atas 2 pertemuan dan setiap pertemuan terdapat empat fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V MI Riyadlul Ulum Bangil yang terdiri dari 15 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R pada mata pelajaran bahasa Indonesia ternyata dapat meningkatkan kemampuan belajar, meningkatkan kemampuan berfikir siswa dan juga dapat meningkatkan rasa senang siswa kelas V MI Riyadlul Ulum Kecamatan Bangil Pasuruan pada pembelajaran bahasa Indonesia. Dengan melalui 5 tahapan yaitu: (1) siswa membaca dan mengamati dahulu bacaan yang diberikan sehingga menemukan istilah-istilah yang sulit dimengerti, (2) siswa membuat pertanyaan, (3) siswa membaca kembali bacaan yang diberiakan serta mencari jawaban dari pertanyaan yang dibuat, (4) siswa merecall atau menceritakan inti dari setiap paragraf, dan (5) siswa melihat kembali apakah kesimpulan yang diambil dari setiap paragraf sudah sesuai. Kemampuan belajar siswa sesuai dengan tahapan SQ3R meningkat dari 71.25% menjadi 98.75%, kemampuan berpikir dari membuat pertanyaan pada setiap siklus mengalami peningkatan dan penurunan, pada kategori pertanyaan menurun 25%, pada kategori pertanyaan 2 menurun 11.25%, pada kategori pertanyaan 3 meningkat 21.25%, pada kategori pertanyaan 4 meningkat sebesar 5.25% dan pada kategori pertanyaan 5 juga meningkat sebesar 9.75%, sedangkan kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan juga mengalami peningkatan dan penurunan pada setiap siklus yakni, kategori jawaban 1 mengalami peningkatan 2%, kategori pertanyaan 2 mengalami penurunan 32%, kategori jawaban 3 naik 23% dan kategori pertanyaan 4 naik 7%, akan tetapi pada kategori jawaban 5 tidak mengalami perubahan, dan juga rasa senang siswa terhadap mata pelajaran bahasa Indonesia rata-rata nilai menunjukkan nilai 4 dan 5 yang berarti siswa melakukan sesuai deskriptor rasa senang pada instrument.Dengan penerapan membaca intensif melalui metode SQ3R pada mata pelajaran bahasa Indonesia juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V MI Riyadlul Ulum Kecamatan Bangil Pasuruan peningkatan hasil belajar sebesar 24.8 poin (dari siklus I dengan siklus II). Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada kepala sekolah agar dapat memotifasi guru-gurunya untuk menerapkan metode ini dan juga memperhatikan kelebihan dan kekurangannya, sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi siswanya. serta dapat meningkatkan mutu pencapaian tujuan pendidikan

Penerapan pakem melalui pencari pasangan untuk meningkatkan motivasi dan hasil balajar IPA pada siswa kelas III SDN Pengetahuan I Kota Pasuruan / Iskandar

 

Berdasarkan hasil pengamatan dan studi dokumenter terhadap siswa kelas III pada awal tahun pelajaran 2009 / 2010 menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada saat ulangan harian / formatif yang dilakukan penulis hanya mencapai 68 ( enam puluh delapan ) dibawah KKM (71). Guru melakukan pendekatan pembelajaran konvensional yang selalu dii dominasi oleh guru, sementara siswa hanya sebagai pendengar yang baik, sehingga siswa kurang memahami konsep-konsep materi pelajaran. Penggunaan strategi dan metode pembelajaran yang kurang sesuaii dengan kebutuhan siswa. Karena siswa seusia itu masih membutuhkan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, sehingga anak tidak cepat bosan dan jenuh. Hal ini membuat siswa kesulitan memahami materi pelajaran. Mengingat pentingnya metode pembelajaran yang tepat, agar pembelajaran menjadi aktif, kreatif dan menyenangkan, sehingga prestasi belajar siswa meningkat perlu segera di aplikasikan, salah satunya dengan Metode Pakem dan Mencari Pasangan dalam pembelajaran IPA dikelas III SDN Petahunan. Bertolak dari apa yang disampaikan, maka penulis mengajukan usulan penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan pembelajaran dalam PTK ini dilaksanakan dua siklus, selama 3 bulan dengan menggunakan kompetensi dasar makhluk hidup.Kurikulum acuan dalam melaksanakan PTK ini adalah kurikulum 2006

Strategi coorperatif learning (CL) dalam pembelajaran matematika untuk meningkatan pemahaman pengubinan di kelas V C SDN Gadang 1 Malang / Veronica Eti Yuli Herawati

 

The quality of science learning on the subject form of objects at the 4th grade students of SDN Bendomungal II Bangil is still low. Based on the learning outcomes of 16, only 44% (7 students) had learning mastery with an average score 63. This research was conducted with the aim to: 1) Describing the application of discovery approach in the science learning on the subject identifying the form of solids, liquids and gases have certain properties at the 4th grade students of SDN Bendomungal II Bangil, 2) Describing the increase in student learning activities in science learning on the subject identifying the form of solids, liquids and gases have certain properties at the 4th grade students of SDN Bendomungal II Bangil through discovery approach, 3) Describing the learning outcomes in the science learning on the subject identifying the form of solids, liquids and gases have certain properties at the 4th grade students of SDN Bendomungal II Bangil through discovery approach. The problem solving was done by classroom action research (CAR), collaboratively between researcher and collaborator by using discovery approach. The reseacher takes the 4th grade students of SDN Bendomungal II Bangil, on the first semester that consists of 16 students as the subject of the research. In gathering the data, the researcher does some ways to collect the data, such as doing tests, observation, and documentation. The data were analyzed by descriptive percentages and descriptive qualitative. The results of this study were: (1) Step-by-step implementation of the science learning on the subject the form of objects through discovery approach at the 4th grade students of SDN Bendomungal II Bangil in this study are as follows: a) Formulate the problem, b) Collecting the data, c) Analyzing the data, d) Presenting the data, e) Communicating the data, and f) Conclusions. (2) Level of student learning activities in the first cycle of the first meeting was 65.3% and in the first cycle of the second meeting increased to 73.3% or an increase of 8%. In the second cycle of the first meeting, students' learning activity increased again to 80% or an increase of 6.7%. In the second cycle of the second meeting, students' learning activity increased again 84% or an increase of 4%. (3) Student learning outcomes during the pre action, who scored ≥ 70 only 44% or 7 students with an average score of 63. In the first cycle of the first meeting, the average score increased to 68.1 (up 5.1 points) with learning completeness 62.5% (an increase of 18.5%). In the first cycle of the second meeting, the average score increased to 69.4 (up 1.3 points) with learning completeness 68.75% (up 6.25%). In the second cycle of the first meeting, the average score increased to 72.5 (up 3.1 points) with learning completeness 75% (up 6.25%). In the second cycle of the second meeting, the average value increased to 76.9 (up 4.4 points) with learning completeness 81.25% (an increase of 6.25%). The test results obtained in the second cycle of the second meeting in compliance with the indicators of research success, so this research was discontinued in the second cycle of the second meeting. Researchers suggest that the discovery approach can be applied as a variation of learning in the classroom so that students do not feel bored in lessons and more active and creative. In the implementation of discovery approach undertaken in this study, there are 3 students (18.75%), which has not been thoroughly studied individually, therefore, expected that other researchers conducting research through the same approach to improve the result even better.

Pengaruh lingkungan keluarga dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa SMK program studi akutansi di SMK Ardjuna 1 Malang / Wahyu Angga Tugas Kurniafindi

 

ABSTRAK Kurniafindi, Wahyu Angga Tugas. Pengaruh Lingkungan Keluarga dan Motivasi Belajar terhadap Prestasi belajar siswa SMK progran studi akuntansi di SMK Ardjuna 1 Malang. Skripsi, Program Studi Akuntansi, Jurusan Pendidikan Ekonomi Konsentrasi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Suparti, MP., (II).Dr. H. Tuhardjo, SE., M.Si., Ak. Kata Kunci: Lingkungan Keluarga, Motivasi belajar, Prestasi belajar Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, diantaranya adalah lingkungan keluarga. Keluarga adalah tempat dan sumber pendidikan awal bagi seorang anak. Sifat dan kebiasaan orang tua dapat mempengaruhi sikap anak dan mempengaruhi prestasi anak. Faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa disamping lingkungan keluarga adalah motivasi belajar sangat membantu dan mutlak dibutuhkan, semakin baik motivasi belajar siswa maka prestasinya juga semakin baik pula. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kondisi lingkungan keluarga siswa-siswi SMK Program Studi Akuntansi semetser genap tahun ajaran 2008/2009, (2) Motivasi belajar siswa-siswi SMK Program Studi Akuntansi semester genap tahun ajaran 2008/2009, dan (3) Pengaruh lingkungan keluarga dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa di SMK Program Studi Akuntansi tahun ajaran 2008/2009. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kausalis. Analisis deskriptif digunakan untuk mendiskripsikan kondisi lingkungan keluarga sebagai variabel (X1), motivasi belajar(X2) dan prestasi belajar siswa (Y). Metode regresi linier berganda digunakan untuk menentukan basarnya pengaruh lingkungan keluarga sebagai variabel (X1), motivasi belajar(X2) dan prestasi belajar siswa (Y) di SMK Ardjuna 1 Malang. Populasi dalam penelitian adalah siswa SMK Ardjuna 1 Malang. Sampel dari penelitian ini adalah siswa Program Studi Akuntansi yang berjumlah 44 siswa. Sample dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Program Studi Akuntansi yang ada di kelas XI semester genap tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah 44 siswa. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu angket dan dokumentasi data. Data angket diperoleh dari lembar kuisoner yang diisi oleh siswa sedangkan dokumentasi data yang berupa keterangan mengenai jumlah siswa dan nilai rapor yang diperoleh dari arsip data Tata Usaha SMK Ardjuna 1 Malang. Lingkungan keluarga siswa SMK Ardjuna 1 Malang berdasarkan pada penilaian siswa secara umum (41%) menunjukkan lingkungan keluarga mendukung keberhasilan belajar siswa. Motivasi belajar secara umum (34,5%) menunjukkan kondisi yang mendukung prestasi belajar siswa.

Implementasi model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan team games turnament (TGT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi pada siswa kelas XI program keahlian pemasaran SMK Negeri 1 Turen) / Iftitah Lisnasari

 

ABSTRAK Lisnasari, Iftitah. 2009. Implementasi Model Pembelajaran Kolaborasi Jigsaw dan Teams Games Tornament (TGT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Diklat Kewirausahaan (Studi Pada Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Turen). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si., M.Bus. (II) Madziatul Churiyah, S.Pd., M.M. Kata kunci: Model pembelajaran Jigsaw, Team Games Tournament (TGT), Hasil Belajar Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini adalah melalui perbaikan kurikulum. Dengan perbaikan kurikulum, diharapkan kualitas proses pembelajaran akan meningkat yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Tetapi kurikulum bukanlah satu-satunya faktor pendukung keberhasilan pendidikan di Indonesia. Guru juga memegang peranan yang penting dalam proses pembelajaran, sehingga guru sering disebut sebagai ujung tombak dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu guru dituntut untuk dapat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dengan metode dan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus dilaksanakan pada bulan Desember. Dalam setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan melalui 4 tahapan yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Subyek yang diteliti adalah kelas XI Program Keahlian Pemasaran di SMK Negeri 1 Malang, sebanyak 40 siswa. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber langsung pada subyek yang diteliti. Tehnik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, wawancara, catatan lapangan, rubrik penilaian, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis hasil belajar menunjukkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif pada hasil nilai pre test dan post test pada siklus I dan siklus II. Dalam siklus I nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 62,12 menjadi 73,37 sebesar 18%. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata pre test dan post test meningkat dari 67,12 menjadi 75,25 dengan persentase kenaikan 12%. Hasil belajar pada aspek afektif menunjukkan peningkatan pada tiap siklusnya yaitu pada siklus I sebesar 68,8% menjadi 74% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun saran yang dapat diberikan yaitu: 1) Bagi Guru, Guru di SMK Negeri 1 Turen disarankan untuk mencoba mengimplementasikan model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT serta model-model pembelajaran kooperatif yang lain sebagai alternatif pilihan dalam praktek pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam menerapkan model pembelajaran kolaborasi Jigsaw dan TGT serta model pembelajaran kooperatif lainnya, guru perlu mengatur waktu, mempersiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal, efektif dan efisien. 2) Bagi Peserta Didik, dengan implementasi pembelajaran model kolaborasi Jigsaw dan TGT diharapkan siswa dapat bekerjasama dengan baik antar peserta didik, saling menghargai, berani mengungkapkan ide dan pendapatnya serta dapat saling membantu antar peserta didik dalam belajar. Peserta didik hendaknya mempelajari materi sebelum proses pembelajaran berlangsung, sehingga peserta didik mempunyai kesiapan kognitif yang baik. 3) Bagi Peneliti Selanjutnya, dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan implementasi model pembelajaran Jigsaw dan Team Games Tournament (TGT) dengan menggunakan mata diklat dan subyek penelitian yang berbeda.

Pengembangan bahan ajar kimia pada materi sifat fisika zat dengan menggunakan strategi pembelajaran react untuk smk program keahlian analisis kimia / Endang Sunarni

 

ABSTRAK Sunarni, Endang. 2010. Pengembangan Bahan Ajar Kimia pada Materi Sifat Fisika Zat dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran REACT untuk SMK Program Keahlian Analisis Kimia. Skiripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata kunci: SMK, bahan ajar, strategi pembelajaran REACT, model pengembangan. Kualitas hasil belajar di SMK yang masih rendah merupakan masalah yang sering dibicarakan dalam dunia pendidikan saat ini, terutama dalam pembelajaran kimia sehingga guru berupaya untuk meningkatkan hasil belajar dengan mengembangkan bahan ajar yang digunakan. Bahan ajar merupakan bahan-bahan atau materi kegiatan pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan siswa dan guru dalam proses pembelajaran yang berupa buku siswa dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari bahan ajar yang dikembangkan. Pengembangan bahan ajar dengan menggunakan strategi pembelajaran REACT yang terdiri dari fase relating, experiencing, applying, cooperating and transferring. Tujuan dari pengembangan bahan ajar untuk mengetahui: (1) bentuk dan isi bahan ajar kimia yang berupa buku siswa di SMK serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari pengembangan bahan ajar kimia pada materi sifat fisika zat, (2) kelayakan bahan ajar kimia yang berupa buku siswa di SMK dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari pengembangan bahan ajar kimia pada materi sifat fisika zat dengan strategi pembelajaran REACT. Model pengembangan bahan ajar yang digunakan adalah model pengembangan menurut Borg and Gall. Ada tiga langkah pelaksanaan yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar yaitu: (1) penelitian dan pengumpulan data (research and information colleting), (2) perencanaan (planning), (3) pengembangan draf produk (develop preliminary form of product). Instrumen pengumpulan data berupa angket. Angket yang diberikan terdiri dari 2 bagian yaitu angket penilaian buku siswa dan angket penilaian untuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diberikan ke guru. Teknik analisis data menggunakan analisis persentase rata-rata, data hasil validasi diperoleh dari 3 validator melalui angket yang telah diberikan. Hasil pengembangan bahan ajar berupa buku siswa dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai pelengkap dari pengembangan bahan ajar kimia di SMK. Buku siswa yang dikembangkan terdiri dari halaman sampul/cover, kata pengantar, tahap-tahap penggunaan buku siswa, strategi pembelajaran, petunjuk guru, petunjuk siswa, standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, indikator hasil belajar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, peta konsep, kegiatan belajar yang menggunakan strategi REACT, ringkasan materi, suplemen materi, soal evaluasi, daftar pustaka, kunci jawaban. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terdiri dari identitas mata diklat, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi ajar, uraian materi, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran yang disusun dengan strategi pembelajaran REACT, sumber/alat/bahan belajar, penilaian Berdasarkan hasil analisis dengan teknik persentase rata-rata diperoleh persentase rata-rata hasil validasi terhadap buku siswa sebesar 88,46% sehingga buku siswa dikatakan valid yang berarti tidak perlu direvisi tetapi jika ada komentar dan saran dari masing-masing validator sebaiknya digunakan acuan untuk merevisi buku siswa yang telah dikembangkan, sedangkan persentase rata-rata hasil validasi terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebesar 82,72% yang berarti valid. Hal ini menunjukkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan telah layak dan tidak perlu revisi tetapi jika ada saran dan komentar dari validator sebaiknya digunakan sebagai pertimbangan untuk memperbaiki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dikembangkan. Dengan demikian bahan ajar yang dikembangkan telah layak diuji cobakan atau dilakukan validasi empirik di sekolah.

Percampuran budaya Islam, Jawa, dan Cina dalam membangun kolaborasi sosial pada masyarakat daerah gunung kawi kabupaten Malang / Ahmad Badri

 

ABSTRAK Badri, Ahmad. 2009. Percampuran Budaya Islam, Jawa, dan Cina Dalam Membangun Kolaborasi Sosial Pada Masyarakat di Daerah Gunung Kawi Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suwarno Winarno (2) Drs.Suparlan Al – Hakim, M.Si Kata kunci : percampuran budaya, islam, jawa, cina, masyarakat, Percampuran budaya pada masyarakat Gunung Kawi antara budaya Islam, Jawa, dan Cina merupakan fenomena yang unik. Percampuran tersebut terjadi sejak dulu kala, dan merupakan suatu tradisi sehingga perlu untuk dilestarikan keberadaannya. Tentu saja bukan hanya dari segi budayanya saja yang perlu dilestarikan tetapi juga nilai – nilai moral yang terkandung di dalamnya. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah trejadinya percampuran budaya antara Islam, Jawa, dan Cina, mengetahui bentuk percampuran budaya Islam, Jawa, dan Cina pada masyarakat Gunung Kawi, mengetahui dampak apa saja yang muncul dari adanya percampuran budaya, serta mengetahui persepsi yang muncul dari masyarakat dari adanya proses percampuran budaya. Dengan tujuan tersebut, penelitian ini dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan yaitu untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang adanya percampuran budaya yang muncul di masyarakat, sedangkan bagi pihak pemerintah daerah merupakan bahan penunjang dan sumber acuan bagi pengembangan kebudayaan tersebut, bagi masyarakat sebagai sumber yang dapat menunjang proses pembangunan budaya daerah, dan bagi peneliti sendiri sebagai sarana untuk mendapatkan pengalaman baru dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut maka peneliti memperoleh data dari masyarakat Desa Wonosari Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Data diperoleh dengan menggunakan metode observasi, wawancara tak berstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara analisis domain dan analisis taksonomi. Dari hasil analisis ditemukan jawaban bahwa percampuran budaya antara Islam, Jawa, dan Cina disikapi positif oleh masyarakat sekitar Gunung Kawi. Percampuran budaya tersebut meliputi banyak hal, mulai dari bentuk tempat peribadatan, pertunjukan seni, kepercayaan, dan sebagainya. Semuanya itu mengandung nilai-nilai luhur yang perlu dilestarikan dan dikembangkan yaitu nilai keanekaragaman, nilai religius, nilai gotong royong, nilai kebersamaan, nilai kerukunan, dan nilai persatuan. Hal yang mendorong terwujudnya percampuran budaya Islam, Jawa, dan Cina pada masyarakat Gunung Kawiadalah perasaan cinta, hormat, dan bakti kepada leluhur mereka. Percampuran budaya merupakan hasil pengendapan dari pengalaman hidup dan penghayatan luhur dari nilai – nilai yang terkandung dan dapat menjamin kerukunan dan ketentraman kehidupan sosial.

Pengaruh aspek kompetensi professionalisme terhadap kinerja guru ekonomi (Studi pada guru bersertifikasi di kota kediri) / Suprapti Ningsih

 

ABSTRAK Ningsih, Suprapti.2009. “Pengaruh Aspek Kompetensi Profesionalisme Terhadap Kinerja Guru Ekonomi (Studi Pada Guru Bersertifikasi di kota Kediri)”. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hari Wahyono, M.Pd (2) Farida Rachmawati S.E,M.E Kata Kunci: aspek kompetensi profesionalisme, kinerja guru Sertifikasi guru merupakan suatu upaya dari pemerintah untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, meningkatkan martabat guru, meningkatkan profesionalitas guru, dan meningkatkan kesejahteraan guru. Hal ini dengan harapan bahwa dengan sertifikasi guru maka kinerja guru juga akan semakin meningkat sehingga mutu pendidikan juga semakin baik. Guru dikatakan profesional jika memiliki aspek kompetensi profesionalisme yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Dengan kompetensi yang dimiliki tersebut akan berdampak pada kinerja guru untuk menambah kualitas pendidikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kinerja guru ekonomi yang lulus sertifikasi khususnya di kota Kediri. Terutama pengaruh aspek kompetensi profesionalisme yang dimiliki oleh guru yang lulus sertifikasi terhadap kinerja mereka, apakah ada perubahan antara sebelum dan sesudah lulus sertifikasi. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Variabel dalam penelitian ini adalah Aspek Kompetensi Profesionalisme (X) dan Kinerja Guru Ekonomi (Y). penelitian ini dilakukan kepada para guru ekonomi yang bersertifikasi di SMA Negeri se-kota Kediri. Respondennya adalah kepala sekolah atau wakil kepala sekolah dan para siswa dari guru yang diteliti. Dalam penelitian ini guru yang diteliti sebanyak 30 orang yang tersebar dalam 8 Sekolah Menengah Atas Negeri se-kota Kediri. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kuesioner/angket tertutup yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan uji t dan uji F pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat profesionalisme guru yang dilihat dari aspek kompetensi profesionalisme yang dimiliki cukup baik. Hal ini terbukti dari penyebaran kuesioner/angket dengan masing-masing aspek kompetensi yaitu: 56,7% (17 orang guru) memiliki tingkat kompetensi kepribadian yang tinggi, 40% (12 oarang guru) memiliki tingkat kompetensi pedagogik yang tinggi, 80% (24 orang guru) memiliki tingkat kompetensi profesional yang tinggi, dan 53,3% (16 orang guru) memiliki tingkat kompetensi sosial yang tinggi. Sedangkan untuk kinerja guru ekonomi yang bersertifikasi di kota Kediri diketahui 59,4% (19 orang guru) memiliki tingkat kinerja yang tinggi. Secara parsial kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial tidak berpengaruh yang signifikan secara statistik terhadap kinerja guru ekonomi di kota Kediri meskipun guru ekonomi di kota Kediri rata-rata mempunyai tingkat kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial yang tinggi, sedangkan untuk kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap kinerja guru ekonomi bersertifikasi di kota Kediri. Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara aspek kompetensi profesionalisme terhadap kinerja guru ekonomi bersertifikasi di Kediri. Terbukti dari hasil analisis menunjukkan bahwa besaran probabilitas (Sig.) 0,043 < 0,05 dan Fhitung (2,889) > Ftabel (2,76). Berdasarkan hasil penelitian diharapkan guru ekonomi yang lulus sertifikasi di SMA Negeri se-kota Kediri hendaknya dapat mencerminkan 4 kompetensi yang ada dalam kegiatan belajar mengajar agar mutu pendidikan di Indonesia dapat meningkat. Bagi guru yang kurang memenuhi keempat kompetensi tersebut hendaklah merubah diri agar keempat kompetensi tersebut dapat dipenuhi, sehingga kinerja guru dalam proses belajar mengajar juga akan meningkat. Jika kinerja seorang guru meningkat maka output yang dihasilkan, disini yang dimaksud adalah peserta didik, tentu juga akan lebih baik. Dengan begitu cita-cita bangsa untuk mencerdaskan masyarakatnya juga akan terpenuhi. Selain itu, berbagai program untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dan kinerjanya, hendaknya tidak berhenti begitu saja setelah sertifikat pendidik didapatkan, melainkan tetap membekali diri dengan berbagai program peningkatan pendidikan seperti pelatihan dan seminar di dalam maupun di luar area guru tersebut berada.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |