The Implementation of webbing concept to improve seventh graders' performance in writing descriptive texts at SMPN 13 Malang / Indra Pratiwi

 

Key Words: writing, webbing concept, descriptive text, pictures, action research. Writing may be considered as the most difficult and complicated skill among the four language skills. Nevertheless, it should be mastered by Junior High School (JHS) students. According to the questionnaires given to the students in the preliminary study, it was found that the major problems they faced were how to generate and develop ideas, how to choose appropriate words, and how to write sentence grammatically and spelling correctly. The teacher also rarely gave model on how to write descriptive text because writing activities in class were dominated by arranging jumbled sentences, jumbled words, translating English sentences into Indonesian, and translating Indonesian sentences into English language. To overcome the problem, Webbing Concept was introduced to be applied in teaching writing. The concept was chosen since it helped the students to generate and develop their ideas. Moreover, based on previous studies, Webbing Concept was effective to help students in generating, developing, and organizing their ideas in writing composition. In this research, the concept was involved in writing process including prewriting, whilst writing, and post writing. The main objective of the study is improving seventh graders’ performance in writing descriptive text by using Webbing Concept. This study used Collaborative Classroom Action Research (CAR). This research was conducted in two cycles. Every cycle consisted of two meetings which covered four stages: planning the action, implementing the action observing the action, and reflecting the action. The researcher, at the same time, acted as the English teacher during teaching and learning process while the English teacher acted as observer in the class. The subjects were 39 students of VII-D in SMP Negeri 13 Malang in the second semester of 2009/2010 academic year. The instruments used to collect the data were questionnaires, teacher’s interview guides, observation sheet, field notes, and students’ final products. The data gained from the students’ writing scores were analyzed in terms of content, organization, and language use by using scoring rubric. The researcher introduced Webbing Concept during the implementation of the action. It was followed by modelling how to make word webs before starting writing, how to write the draft, how to revise the draft, how to edit the draft, and how to write the final composition. In addition, the students are also assigned to produce a descriptive text through the writing process: prewriting, drafting, revising, editing, and rewrite the final composition. The result of the research showed that Webbing Concept successfully improved the seventh graders’ performance in writing descriptive text especially in terms of content, organization, and language use. The students’ scores of the students writing compositions improve significantly from preliminary study to Cycle 1 and from Cycle 1 to Cycle 2 on content, organization, and language use. ii The students’ mean scores on content improved from 22.0 in preliminary study to 25.9 in Cycle 1 and it could reach 28.5 in Cycle 2. In addition, the students’ mean scores on organization improved from 17.9 in preliminary study to 19.7 in Cycle 1 and 21.7 in Cycle 2. On language use, the students’ mean scores also improved from 17.2 in preliminary study to 18.8 in Cycle 1 and 21.2 in Cycle 2. Based on the result of this study, it is suggested that the English teachers to use Webbing Concept in teaching descriptive writing and other kinds of text types. Moreover, further researchers are suggested to conduct research using Webbing Concept for different text types on different grades and levels of education to see whether the concept was effective to solve the problems of writing or not.

Pengaruh pengembangan karir terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (Studi pada karyawan PT. Taspen cabang Malang) / Intan Kumala Dewi

 

Kata kunci : Pengembangan Karir, Kepuasan Kerja, Kinerja Karyawan Pengembangan karir adalah peningkatan-peningkatan pribadi yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu rencana karir (Handoko, 1997:78). Sedangkan menurut Manurung (1989:66), pada hakekatnya pengembangan karir merupakan suatu kondisi tertentu yang berubah menjadi bentuk atau keadaan yang baru menuju ke arah positif (sesuai dengan yang dikehendaki), dan perubahan tersebut berkaitan dengan kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan. Terjadinya perubahan tersebut diiringi juga dengan bertambahnya tanggung jawab dan peningkatan hasil kerja atau produktivitas baik secara kualitas maupun kuantitas. Pengembangan karir berpengaruh dalam menciptakan kepuasan karyawan, pengembangan karir juga merupakan hal yang krusial karena manajemen dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan sikap karyawan terhadap pekerjaannya dan membangun kepuasan yang lebih tinggi (Rivai 2004:299). Menurut Flippo dalam Danta (2003:3), bahwa karyawan yang mempunyai persepsi positif terhadap pengembangan karirnya dalam perusahaan, cenderung mempunyai kepuasan untuk mendukung pencapaian tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Kemajuan karir sebagian besar tergantung pada prestasi kerja yang baik dan etis. Asumsi kinerja yang baik melandasi seluruh aktivitas pengembangan karir. Ketika kinerja dibawah standar, dengan mengabaikan upaya-upaya pengembangan karir lain, bahkan tujuan karir yang paling sederhana sekalipun biasanya tidak bisa dicapai. Kemajuan karir umumnya terletak pada kinerja dan prestasi (Rivai, 2004:291). Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui deskripsi pengembangan karir, kepuasan kerja dan kinerja karyawan di PT. TASPEN Cabang Malang, (2) mengetahui pengaruh secara langsung pengembangan karir terhadap kepuasan kerja karyawan PT. TASPEN Cabang Malang, (3) mengetahui pengaruh secara langsung pengembangan karir terhadap kinerja karyawan PT. TASPEN Cabang Malang, (4) mengetahui pengaruh secara langsung kepuasan kerja karyawan terhadap kinerja karyawan PT. TASPEN Cabang Malang, (5) mengetahui pengaruh secara tidak langsung pengembangan karir terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja karyawan PT. TASPEN Cabang Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian explanatory research. Populasi yang dipilih adalah karyawan PT. TASPEN Cabang Malang yang berdasarkan pada golongan atau pangkat dan berdasarkan bagian kerja sejumlah 31 karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian populasi atau penelitian dengan menggunakan Sampling Jenuh, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis).ii Hasil penelitian ini adalah: (1) Berdasarkan hasil analisis deskriptif, kondisi pengembangan karir baik, kinerja karyawan tinggi dan sangat puas pada kondisi deskriptif kepuasan kerja di PT TASPEN Cabang Malang, (2) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif pengembangan karir terhadap kepuasan kerja karyawan PT TASPEN Cabang Malang, (3) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif pengembangan karir terhadap kinerja karyawan PT TASPEN Cabang Malang (4) Terdapat pengaruh secara langsung yang positif kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan PT TASPEN Cabang Malang dan, (5) terdapat pengaruh secara tidak langsung yang positif pengembangan karir terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja karyawan PT TASPEN Cabang Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat disampaikan penulis adalah sebagai berikut: (1) Penelitian ini menunjukkan bahwa Pengembangan karir mampu meningkatkan pengaruh kinerja karyawan terhadap kepuasan kerja yang dimiliki oleh karyawan PT. TASPEN Cabang Malang. Oleh karena itu, PT. TASPEN Cabang Malang hendaknya merancang jalur karir bagi karyawan yang lebih jelas dan diketahui oleh karyawan, lebih meningkatkan pengadaan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan karyawan serta meningkatkan komunikasi antar atasan dan karyawan guna mendukung tujuan perusahaan, (2) Peneliti Lain: (a) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian terhadap variabel-variabel lain yang terkait dengan pengembangan karir yang meliputi perencanaan karir, motivasi, kepemimpinan trasformasional, kepemimpinan transaksional, komunikasi internal dan manajemen kinerja. Karena variabel-variabel tersebut belum tercakup dalam penelitian ini, (b) Peneliti selanjutnya diharapkan mengambil cakupan responden yang lebih luas. Karena keterbatasan waktu dan tempat penelitian sehingga penelitian ini hanya mencakup 31 responden

Analisis sistem pengendalian intern terhadap siklus penerimaan dan pengeluaran kas pada CV Cahaya Mustika / Linda Amalia Krisnawati

 

Aplikasi algoritma seleksi klon (clonal selection) pada travelling salesman problem (TSP) / Novi Tri Suhartini

 

Kata kunci: graph, Travelling Salesman Problem (TSP), optimasi, sistem imun, algoritma seleksi klon (Clonal Selection). seleksi positif/seleksi negatif. Traveling Salesman problem yang biasa disebut TSP merupakan salah satu aplikasi dari sikel Hamilton. Definisi dari travelling salesman problem adalah suatu permasalahan yang digunakan untuk menemukan sikel Hamilton pada graph komplit berbobot yang memiliki total bobot sisi minimum. TSP merupakan suatu permasalahan yang awalnya dialami oleh seorang sales yang harus mengunjungi beberapa kota dan harus melalui setiap kota tersebut tepat satu kali dan harus kembali lagi ke kota awal dengan jarak tempuh dan biaya seminimum mungkin. Seleksi klon (Clonal Selection) adalah mekanisme yang digunakan oleh sistem kekebalan tubuh (Immune system) untuk menyeleksi sel yang akan diperbanyak atau di klon berdasarkan kemampuan untuk mengenali antigen pada pantogen (benda asing yang berasal dari luar tubuh). Pada seleksi klon terjadi proses seleksi positif dan seleksi negatif, yaitu upaya untuk meningkatkan kemampuan untuk mengenali dan mengikat antigen. Algoritma seleksi klon (Clonal Selection) merupakan suatu algoritma yang terinspiasi oleh seleksi klon yang terjadi pada sistem kekebalan tubuh manusia untuk menemukan solusi optimum. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan TSP dengan menggunakan algoritma seleksi klon dimana solusi yang diberikan tidak tunggal dengan jarak tempuh yang sama. Untuk menunjukkan keoptimalan dari algoritma seleksi klon ini, maka algoritma koloni semut dan algoritma branch and bound digunakan sebagai algoritma pembanding. Pada beberapa kasus penyelesaian TSP dengan menggunakan algoritma seleksi klon dan algoritma koloni semut diperoleh hasil yang sama. Kelebihan dari algoritma seleksi klon adalah banyaknya variasi solusi yang dihasilkan, yang berupa banyak rute dengan afinitas yang sama. Sedangkan kelemahan algoritma ini terletak pada waktu yang relatif lama dalam menyelesaikan masalah dengan iterasi manual. Dalam setiap iterasinya algoritma seleksi klon menggunakan suatu fungsi yang random/tidak tetap. Oleh karena itu, algoritma seleksi klon merupakan algoritma yang berbasis komputasi. Untuk mempermudah dalam proses perhitungannya, maka dalam skripsi ini Algoritma seleksi klon dibuat dalam suatu bahasa program dengan bahasa pemrograman Delphi.

Implementasi strategi pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam pada Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya / Lilik Nur Kholidah

 

Kata Kunci: Strategi Pembelajaran, Pendidikan Agama Islam, Perguruan tinggi Negeri. Strategi pembelajaran merupakan bagian penting dari tindakan pembelajaran. Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat dan optimal akan dapat mendorong prakarsa dan memudahkan belajar mahasiswa. Oleh karena itu, kajian tentang implementasi strategi pembelajaran merupakan kebutuhan yang amat penting untuk dilakukan. Titik awal upaya ini diletakkan pada perbaikan proses pembelajaran atau pada variabel metode pengajaran yang diklasifikasi menjadi strategi pengorganisasian (organization strategy), strategi penyampaian (Delivery strategy), dan strategi pengelolaan (Management strategy). Strategi pengorganisasian mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, dan pembuatan diagram, format dan lainnya. Strategi penyampaian adalah metode untuk menyampaikan pengajaran kepada mahasiswa dan atau untuk menerima masukan dari mahasiswa. Strategi pengelolaan merupakan metode untuk menata interaksi antara mahasiswa dengan variabel metode lainnya. Masalah umum penelitian ini adalah bagaimanakah implementasi strategi pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam dilaksanakan pada Perguruan Tinggi Umum Negeri Di Surabaya? Secara khusus, masalah penelitian ini difokuskan pada empat hal, yaitu: (1) Bagaimana strategi pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum Negeri Di Kota Surabaya, (2) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi strategi pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam pada PTUN di kota Surabaya? (3) Bagaimana gambaran dampak implementasi mata kuliah pendidikan agama Islam oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari? (4) Bagaimana kualitas pembelajar dalam mengimplementasikan pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan mengunakan dengan rancangan studi multi kasus. Pendekatan ini digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur universal dari strategi pembelajaran dosen mata kuliah pendidikan agama Islam, bukan untuk memberikan gambaran umum tentang dunia objektif. Dengan demikian penelitian ini berusaha mencari dan menemukan gejala-gejala atau hal-hal apa saja yang nampak serta mencari makna dari apa yang nampak dalam implementasi strategi pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam di setiap situs. Data penelitian ini dipilah menjadi dua kelompok, yaitu: (1) bentuk perilaku sosial dan interaksi sosial sebagai akibat dari aktivitas dosen dalam penerapan strategi pengorganisasian, penyampaian (pemanfaatan media pembelajaran, interaksi mahasiswa dengan media pembelajaran, bentuk/struktur pembelajaran), dan strategi pengelolaan pembelajaran (penjadualan penggunaan strategi pembelajaran, pembuatan catatan kemajuan belajar mahasiswa, pengelolaan motivasional, dan kontrol belajar) dalam proses pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam pada perguruan tinggi umum negeri di surabaya. Data-data tentang faktor yang mempengaruhi dalam strategi pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam di PTUN juga masuk dalam kelompok ini. (2) Data tentang aksi perilaku sosial meliputi (a) tanggapan balik mahasiswa dengan penerapan strategi pembelajaran, (b) reaksi mahasiswa dengan tugas yang diberikan dosen. Kedua jenis data tersebut diperoleh peneliti melalui observasi yang dituangkan dalam catatan lapangan, wawancara mendalam dan dokumentasi, (c) data tentang penerapan mata kuliah pendidikan agama Islam oleh mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari diperoleh melalui angket dan (d) data tentang kualitas pembelajaran yang diterapkan dosen dalam pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam, secara khusus pada pemilihan strategi pembelajaran oleh dosen Analisa data yang dilakukan ada dua macam, yaitu analisis situs dan analisis antar situs. Analisis data situs di dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai analisa data terhadap setiap perguruan tinggi yang dijadikan situs penelitian. Penganalisisan datanya dilakukan sejak atau bersamaan dengan pengumpulan datanya. Penganalisisannya meliputi kegiatan-kegiatan (1) penyusunan paparan data tentang tipologi perguruan tinggi pada masing-masing situs penelitian; (2) menganalisis data dari setiap situs penelitian yang didasarkan pada hasil observasi, angket, wawancara dan dokumentasi untuk masing-masing rumusan masalah; (3) menganalisis dan membahas serta mengelompokkan data dari masing-masing situs; (4) membahas temuan yang ada pada masing-masing situs. Sedangkan analisis data antar situs dilakukan dengan 7 tahapan. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) pengorganisasian materi, menjabarkan isi bahan, mengurutkan isi materi menjadi menjadi sub-sub tema ;(2) Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses penyampaian pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam (dosen, pesan, bahan, alat, teknik dan latar) di ketiga situs terteliti, tampak sangat membantu proses pencapaian tujuan pembelajaran. (3) Pengelolaan motivasional dilakukan dengan cara memberikan penilaian secara langsung, memberikan kebebasan untuk memanfaatkan latar,media pembelajaran, memberikan bimbingan secara individual, dan memberikan penghargaan terhadap kegiatan positif yang dilakukan oleh mahasiswa. Dalam proses pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam kontrol belajar yang dilakukan dosen adalah dengan cara mengaktifkan semua mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugas praktek yang diberikan, mendampingi mahasiswa pada saat proses pembelajaran berlangsung. (4) Faktor internal yang mempengaruhi strategi pembelajaran dari sisi dosen adalah kemampuan dan keterampilan dosen dalam bidang pendidikan agama Islam, minat dan motivasi dosen dalam mengajar mata kuliah pendidikan agama Islam. Dari sisi mahasiswa adalah kemampuan, motivasi dan minat mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam. Sementara faktor eksternal yang mempengaruhi strategi pembelajaran adalah visi, misi perguruan tinggi, kurikulum, sarana prasarana yang ada pada setiap perguruan tinggi serta karakteristik mata kuliah pendidikan agama Islam yang cenderung bersifat afektif dan menekankan pada sikap.(5) Sebagian besar mahasiswa PTN di kota Surabaya telah menerapkan mata kuliah pendidikan agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.(6) Pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam telah menunjukkan kualitas yang tercermin dari kemampuan dosen memfasilitasi proses belajar dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikuler. Temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu referensi untuk mengembangkan strategi pembelajaran mata kuliah pendidikan agama Islam pada perguruan tinggi di masa-masa yang akan datang. Dengan implementasi strategi pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan secara baik, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

Perencanaan mesin pengupas kulit ari kedelai dengan sirkulasi air, guna meningkatkan produktivitas pengusaha tempe / Muhammad Saifudin, Agus Afandi

 

Kata Kunci : Mesin, Pengupas, Kulit, Ari, Kedelai Kacang - kacangan dan biji - bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, dan kelapa merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam kehidupan sebagai pengganti dari ikan. Asam amino yang terkandung dalam proteinnya tidak selengkap protein hewani. Kacang kedelai mengandung protein 35 % bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 - 43 % (Hardjo, 1964). Untuk mengolah kedelai menjadi beberapa jenis makanan tentunya tidak mudah, kita harus melalui berbagai tahap sehingga kedelai dapat diproses menjadi jenis makanan sesuai yang diinginkan misalnya tempe. Pengembangan produktifitas pedagang tempe dapat dilakukan dengan meningkat hasil produksi melalui pengolahan bahan yang pada awalnya dilakukan dengan tenaga tradisional menjadi tenaga mesin sehingga efesiensi waktu, dan meningkatnya kuantitas dapat diperoleh. Selain itu dapat diperoleh hasil produksi yang higienis. Pengupasan kulit kedelai secara manual menyebabkan proses produksi menjadi lama dan hasil yang diperoleh kurang terjaga kebersihannya. Adanya sentuhan teknologi menciptakan sebuah mesin pengupas kulit ari dengan sirkulasi air merupakan solusi yang tepat dalam pengupasan kedelai. Dengan tenaga konvensional pemisahannya terbatas hanya 20 – 25 kg/hari. Sedangkan dengan adanya teknologi mesin pengupas kulit ari kedelai dapat dihasilkan kupasan kedelai sekitar 50 kg/30 menit. Dengan mesin ini dapat menghemat waktu produksi dan juga meningkatkan mutu dari produk tempe yang bergizi tinggi.

Pengembangan media buku bergambar matematika siswa kelas 1 semester 2 di SDN 3 Plaosan Kepanjen-Malang / Dilarini Kartika Mulyo R.

 

Kata kunci: pengembangan media pembelajaran, buku bergambar, matematika. Media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Hal ini dikarenakan siswa lebih menyukai gambar daripada tulisan, apalagi jika gambar dibuat dan disajikan sesuai dengan persyaratan yang baik, sudah tentu akan menambah semangat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Tujuan dari pengembangan media buku bergambar ini adalah mengembangkan suatu media buku bergambar yang efektif dan efisien untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga bisa memberikan salah satu alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi pokok bahasan satuan berat benda. Subjek uji coba dalam pengembangan media buku bergambar ini adalah siswa kelas 1 SDN. 3 plaosan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi pengembangan media buku bergambar kepada ahli media, ahli materi, dan siswa atau audiens. Analisis data yang digunakan untuk mengolah hasil validasi ahli media, ahli materi dan audiens adalah prosentase. Hasil pengembangan media buku bergambar ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 82,5%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 87,5%, dan audiens mencapai tingkat kevalidan 94,54% Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media buku bergambar yang disajikan secara variatif dapat merangsang minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran Matematika pokok bahasan satuan berat benda, serta dapat digunakan sebagai alternatif sumber belajar bagi siswa. Saran yang diberikan berdasarkan hasil pengembangan media buku bergambar ini adalah diharapkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas penggunaan media buku bergambar yang telah dikembangkan. Sehingga pengembang berikutnya dapat menghasilkan media buku bergambar yang lebih efektif dan efisien. i

Peningkatan kemampuan sosial anak dengan pembelajaran kooperatif menggunakan teknik permainan index card match di kelompok B TK Qurrota A'Yun III Sawojajar malang / Laily Nur Aisyah

 

Kata Kunci : Kemampuan sosial, pembelajaran kooperatif, permainan index card match, TK Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan sosial anak di kelompok B TK Qurrota A’yun III Sawojajar Malang. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kecenderungan anak untuk tidak mau mengikuti aturan yang disepakati misalnya bergantian dalam menggunakan alat-alat permainan, membatasi diri dalam pergaulan, kecenderungan bermain dengan teman tertentu yang memiliki tingkat kemampuan kognitif yang setara, dan sikap merasa berkuasa terhadap teman lain bagi anak yang punya kelebihan fisik dari yang lain. Padahal kemampuan sosial merupakan hal sangat penting dimiliki oleh seseorang dan harus ditanamkan sejak dini pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sosial anak kelompok B di TK Qurrota A’yun III Sawojajar Malang dengan pembelajaran kooperatif menggunakan teknik permainan index card match dan untuk mengetahui bagaimana pembelajaran kooperatif menggunakan teknik permainan index card match dapat meningkatkan kemampuan sosial anak di TK Qurrota A’yun III Sawojajar Malang. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Kesimpulan dari penilaian selama penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif menggunakan teknik permainan index card match dapat meningkatkan kemampuan sosial anak di kelompok B TK Qurrota A’yun III Sawojajar Malang. Peningkatan kemampuan sosial tersebut ditandai dengan: (1) anak mau mengikui peraturan yang ada, yaitu peraturan sederhana selama permainan index card match; (2) rasa senang anak dalam bermain dengan teman secara berkelompok; (3) kemauan anak untuk mengerjakan tugas secara berkelompok; (4) anak mau menolong temannya yang lain selama berlangsung pembelajaran; (5) adanya komunikasi antar anak dan kemauan anak untuk mengajak temannya bermain. Disarankan di kelompok B TK Qurrota A’yun III Sawojajar Malang untuk diterapkan pembelajaran kooperatif dengan teknik permainan index card match sebagai alternatif atau variasi pembelajaran dalam peningkatan kemampuan sosial anak. Hasil penelitian ini juga sangat dimungkinkan untuk diterapkan di TK lain yang memiliki kemiripan latar penelitian ini.

Manajemen pelayanan perpustakaan keliling ke sekolah (studi kasus di Perpustakaan Umum Kabupaten Bojonegoro) / Putri Novitasari Listyaningtias

 

Kata Kunci: manajemen perpustakaan, layanan perpustakaan keliling ke sekolah Peran perpustakaan sebagai salah satu sarana dalam penyebarluasan pengetahuan, mempunyai arti yang sangat penting dalam meningkatkan sumberdaya masyarakat Indonesia. Dengan memberdayakan perpustakaan akan mendapatkan informasi dari sumber bacaan yang terseleksi, berupa karya tulis, karya cetak, karya rekam. Sehingga mampu mengembangkan potensi dan wawasan serta pengetahuan yang dimilikinya. Sebagaimana yang tertuang dalam Undang – undang RI no 43 tahun 2007. Bahwa perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat mengembangkan potensi masyarakat agar menjadi manusia yang berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Perpustakaan adalah institusi pengelolaan karya tulis, karya cetak, dan karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemusta (pengguna perpustakaan). Manajemen perpustakaan adalah ilmu atau seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen dari perpustakaan keliling ini di mulai dari perencanaan untuk mengadakan penambahan buku, struktur organisasi, dan cara pengadaan buku-buku tersebut, proses katalogisasi dan sampai pelaporan dan juga kapan saja jadwal untuk berkeliling di Kabupaten Bojonegoro. Dari fakta tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang akan membahas tentang proses manajemen perpustakaan yang khususnya pada manajemen perpustakaan keliling di Kabupaten Bojonegoro dengan fokus serta tujuan penelitian diantaranya tentang (1) manajemen ragam teknis; (2) pelaksanaan/penjadwalan keliling; (3) manajemen layanan pembaca; dan (4) pelaporan pada perpustakaan umum. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang tidak menguji hipotesis melainkan memaparkan dan mengolah data. Jenis penelitian ini adalah studi kasus karena merupakan serangkaian kegiatan penyelidikan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara intensif dan terperinci suatu gejala atau unit sosial tertentu, seperti individu, kelompok, komunitas atau lembaga., yaitu Perpustakaan Keliling Kabupaten Bojonegoro. Dalam penelitian ini, peneliti sendiri yang berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah kepala Perpustakaan Umum, dan Staf dari Penpustakaan Keliling. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan manajemen perpustakaan keliling. Setelah data tersebut diperoleh kemudian dilakukan pengecekan keabsahan data dengan menggunakan metode trianggulasi, ketekunan pengamatan, pemeriksaan sejawat melalui diskusi, dan pengecekan anggota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen perpustakaan keliling Kabupaten Bojonegoro, meliputi beberapa tahap-tahap yaitu: manajemen ragam teknis, pelaksanaan/penjadwalan keliling, manajemen layanan pembaca dan pelaporan pada perpustakaan umum. Manajemen ragam teknis dari perpustakaan keliling Kabupaten Bojonegoro meliputi: (1) pengadaan bahan pustaka; (2) klasifikasi bahan pustaka; (3) katalogisasi bahan pustaka; (4) pembuatan kelengkapan buku; dan (4) pengaturan bahan pustaka pada rak yang telah disediakan. Kegiatan dari manajemen ragam teknis berada dibawah pengawasan kepala perpustakaan umum. Pada tahap pelaksanaan/penjadwalan keliling dari perpustakaan keliling Kabupaten Bojonegoro dilakukan 40 kali selama satu tahun. Tahap selanjutnya adalah manajemen layanan pembaca yang dimiliki oleh perpustakaan keliling Kabupaten Bojonegoro meliputi; (1) peminjaman bahan pustaka; (2) pengembalian bahan pustaka; dan (3) pemberian informasi tentang bahan pustaka. Sistem yang digunakan untuk peminjaman dan pengembalian bahan pustaka adalah sistem terbuka dimana pengunjung dapat meninjam dan mengembaliakan buku melalui petugas sirkulasi. Tahap terakhir adalah pelaporan dari pustakawan kepada kepala perpustakaan umum dilakukan setiap selesai melaksanankan kegiatan keliling. Untuk laporan pertanggungjawaban dilapokan Triwulan pada Bupati Bojonegoro. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi (1) Kepala Perpustakaan Daerah di Kabupaten Bojonegoro, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan saran terhadap pengelolaan perpustakaan keliling untuk mengembangkan manajemen perpustakaan keliling tersebut; (2) Pustakawan Perpustakaan Keliling di Kabupaten Bojonegoro, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan dan kajian dalam pengelolaan perpustakaan keliling di Kabupaten Bojonegoro; (3) Pengelola Jurusan Administrasi Pendidikan hendaknya hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu Manajemen Perpustakaan serta dapat digunakan untuk menambah pengetahuan di bidang Manajemen Perpustakaan khususnya untuk perpustakaan keliling; 4) Mahasiswa Administrasi Pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan dan perbandingan antara perpustakaan sekolah, universitas, umum, dan perpustakaan keliling; dan (5) Peneliti Lain, hasil penelian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian yang sejenis tetapi dengan latar dan pendekatan yang berbeda.

Pengembangan media pembelajaran interaktif pelajaran ekonomi untuk Sekolah Menengah Pertama MTs Surya Buana Malang / Fatchullah Huda

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran Interaktif, Ekonomi Selama ini strategi pengajaran yang berlangsung di sekolah cenderung menggunakan buku teks yang ada. Buku teks bahkan menjadi sumber utama dalam proses pembelajaran. Buku teks adalah suatu sajian dalam bentuk bahan cetakan yang disusun secara logis dan sistematis tentang suatu cabang ilmu pengetahuan atau bidang studi atau mata pelajaran tertentu (Setyosari.P. dan Sikhabuddin, 2005: 138). ). Selain hanya berpedoman pada buku teks, pola pembelajaran tradisional yang hanya mengandalkan guru dan buku teks sebagai satu-satunya sumber informasi Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran Ekonomi pokok bahasan Pasar untuk siswa kelas VIII MTs Surya Buana Malang yang dapat membantu proses kegiatan belajar mengajar dan mempermudah penyampaian materi pelajaran yang lebih efektif dan efisien serta dapat memotivasi siswa dalam menerima pelajaranSubjek uji coba dari pengembangan media pembelajaran interaktif ini adalah siswa kelas VIII MTs Surya Buana Malang metode yang digunakan ialah metode tes yang berfungsi untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi, metode tes ini berupa soal pre-test dan pasca tes sedangkan angket digunakan untuk mengetahui pendapat siswa tentang penggunaan pembelajaran interaktif dalam pembelajaran. Media pembelajaran ini diujikan kepada ahli media sebanyak 2 orang, ahli materi sebanyak 1 orang dan audien (siswa) sebanyak 16 orang. Media pembelajaran interaktif untuk siswa di MTs Surya Buana Malang dinyatakan efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini dibuktikan bahwa hasil perhitungan statistik: dari data ahli media menunjukkan presentase 86.25%, dari ahli materi menunjukkan presentase 90%, dari audiens secara perorangan menunjukkan 75%, dari audien secara kelompok kecil menunjukkan 83.65%, maka ini menunjukkan bahwa para ahli setuju bahwa media pembelajaran interaktif ini efektif dapat digunakan dalam proses belajar mengajar mata pelajaran ekonomi kelas VIII di MTs Surya Buana Malang. Kesimpulan yang dapat diambil dari pengembangan ini adalah media pembelajaran Ekonomi SMP Kelas VIII Pokok Bahasan Pasar ini telah divalidasi oleh 2 orang ahli media, 1 orang ahli materi yakni guru/pengajar Mata Pelajaran Ekonomi Kelas VIII, dan Siswa Kelas VIII MTs Surya Buana Malang. Secara keseluruhan, validasi media ini dinyatakan valid artinya media pembelajaran yang dikembangkan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.

Penerapan teknik restrukturisasi kognitif dengan media metafora untuk mengubah persepsi prestasi akademik siswa di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Sitdiyah

 

Kata kunci: restrukturisasi kognitif, metafora, persepsi prestasi akademik Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap persepsi prestasi akademik sebagian siswa kelas XI SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM) yang cenderung kurang tepat. Pada survei awal masih ditemukan siswa yang memiliki pandangan tentang nilai (akademik) itu tidak penting dan guru menjadi sumber anjloknya prestasi siswa, mungkin dengan hal tersebut membawa dampak kepada siswa menjadi malas belajar, pasrah dengan nilai yang diperoleh, pasif dalam proses pembelajaran. Penelitian eksperimen ini menerapkan teknik restrukturisasi kognitif dengan menggunakan media metafora untuk mengubah persepsi siswa yang kurang tepat. Restrukturisasi kognitif adalah salah satu teknik pengubahan tingkah laku yang penekanannya pada penataan ulang kognitif individu. Dalam penerapan teknik restrukturisasi kognitif ini menggunakan teknik atau menggunakan metafora dalam penyampaiannya. Metafora merupakan suatu cara untuk berbicara dimana satu hal yang dinyatakan dalam bentuk lain, dimana menyatukan ini pada karakter baru yang sedang dijelaskan. Teknik restrukturisasi kognitif dengan menggunakan media metafora adalah salah satu strategi agar siswa dapat mengolah jalan cerita dari metafora dan menginterpretasinya dengan tepat. Penelitian yang dilaksanakan ini adalah penelitian eksperimen, dengan jenis penelitian pre experiment (pretest posttest one group design). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Laboratorium UM yang berjumlah 209 orang. Dengan menggunakan purposive sampling diperoleh 10 orang yang memiliki skor inventori persepsi prestasi akademik di bawah 30 dan nilai di bawah SKM sebagai sampel. Metode pengumpulan data dari penelitian ini, menggunakan inventori persepsi yang diberikan pada awal dan akhir perlakuan, yang telah diuji validitasnya dengan menggunakan analisis butir dan reliabilitasnya dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Analisis datanya menggunakan statistik non parametrik berupa uji wilcoxon. Dalam menguji hipotesis, digunakan data skor pretes dan skor postes dari kelompok eksperimen, hasil analisis menunjukkan nilai beda (z) -2,492 (tanda minus “diabaikan”, karena derajat signifikan yang menentukan hipotesis tersebut ditolak atau diterima) pada derajat signifikan 0,013(< 0,05), artinya H0 ditolak. Hal ini berarti hasil dari pretes dan postes tidak identik atau tidak sama. Hal tersebut menunjukkan penerapan teknik restrukturisasi kognitif efektif untuk mengubah persepsi prestasi akademik siswa di SMA Laboratorium UM. Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian eksperimen ini adalah penerapan teknik restrukturisasi kognitif efektif untuk mengubah persepsi ii    prestasi akademik siswa di SMA Laboratorium UM. Hal tersebut terlihat dari kenaikan skor pada postes dan pekerjaan rumah siswa. Oleh karena itu, maka diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) saran aplikasi teknik yaitu dalam mempermudah siswa dalam mengubah persepsinya, sebaiknya memberikan penyajian fenomena/pengalaman sehari-hari dengan menggunakan metafora yang sudah terlampir (lampiran 3), serta (2) saran pengembangan, untuk peneliti selanjutnya dapat menggunakan teknik dan media yang sama, akan tetapi menggunakan kelompok kontrol dan waktu pelaksanaan diperpanjang agar hasil yang dicapai lebih maksimal.

Pengaruh jenis asesmen biologi dalam pembelajaran kooperatif TPS (Think Pair Hsare) terhadap kemampuan kognitif, berpikir kritis, berpikir kreatif, dan kesadaran metakognitif siswa SMA di kota Malang / Yuni Pantiwati

 

Kata Kunci: Asesmen Autentik, Pembelajaran Kooperatif TPS (Think Pair Share), Kemampuan Kognitif, Bepikir Kritis, Berpikir Kreatif, Kesadaran Metakognitif. Asesmen mata pelajaran Biologi di SMA Kota Malang pada umumnya masih menggunakan paper and pencil test. Cara penilaian tersebut tidak dapat menilai secara berkesinambungan dan tidak mencakup seluruh aspek pada diri peserta didik, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Paper and pencil test hanya membuat anak pandai menghafal tetapi tidak terampil berpikir, oleh karena itu diperlukan asesmen yang baik dan bermakna. Asesmen autentik adalah salah satu alternatif solusi dalam menilai perkembangan belajar siswa secara lebih komprehensif, objektif, lebih menekankan pada pengembangan asesmen yang lebih akurat, dan dapat mencerminkan serta mengukur apa yang dinilai. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi sistem penilaian yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar mata pelajaran Biologi pada siswa di SMA Kota Malang, 2) menemukan perbedaan kemampuan kognitif, berpikir kritis, berpikir kreatif, dan kesadaran metakognitif siswa yang penilaiannya menggunakan asesmen autentik dengan asesmen konvensional pada sekolah dengan kategori tinggi dan kategori rendah dalam pembelajaran kooperatif TPS. Penelitian ini terdiri dari dua jenis penelitian, yaitu survai dan eksperimen. Tahap pertama survai di 11 sekolah SMA Kota Malang untuk mendapatkan gambaran sistem penilaian mata pelajaran Biologi yang digunakan oleh guru dan sekolah. Tahap kedua eksperimen dengan rancangan faktorial 2x2 desain eksperimen semu (Quasi Experimental Designs). Sampel penelitian adalah siswa kelas XI.1 dan kelas XI.2 SMAN I Kota Malang, siswa kelas XI SMA Muhammadiyah Kota Malang, dan siswa kelas XI SMA Wahid Hasyim Kota Malang. Teknik análisis data dilakukan secara deskriptif dan análisis statistik ANACOVA, yang dilanjutkan uji lanjut dengan uji beda menggunakan Least Significant Different (LSD). Hasil penelitian menunjukkan hal-hal berikut 1) Sistem penilaian yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar untuk mengukur pencapaian kompetensi dasar mata pelajaran Biologi pada siswa di SMA Kota Malang pada umumnya masih secara tradisional dengan lebih mengutamakan paper and pencil test, terutama di sekolah dengan kategori tinggi, sedang pada sekolah kategori rendah dan menengah sudah menggunakan sistem penilaian yang bervariasi tetapi asesmen belum digunakan dengan benar; 2) Ada perbedaan kemampuan kognitif antara siswa yang penilaiannya menggunakan asesmen autentik dengan asesmen konvensional dalam pembelajaran kooperatif TPS. Penggunaan asesmen autentik berpengaruh lebih tinggi dan berbeda signifikan terhadap kemampuan kognitif dibanding dengan penggunaan asesmen konvensional. Ada perbedaan kemampuan kognitif antara siswa yang belajar pada sekolah kategori tinggi dengan pada sekolah kategori rendah dalam pembelajaran kooperatif TPS. Pembelajaran pada sekolah kategori tinggi berpengaruh lebih tinggi dan berbeda signifikan terhadap kemampuan kognitif dibanding dengan pembelajaran pada sekolah kategori rendah. Secara interaksi, tidak ada interaksi antara jenis asesmen dengan kategori sekolah dalam pembelajaran kooperatif TPS yang menyebabkan perbedaan kemampuan kognitif; 3) Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang penilaiannya menggunakan asesmen autentik dengan asesmen konvensional dalam pembelajaran kooperatif TPS. Penggunaan asesmen autentik berpengaruh lebih tinggi dan berbeda signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis dibanding dengan penggunaan asesmen konvensional. Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang belajar pada sekolah kategori tinggi dengan pada sekolah kategori rendah dalam pembelajaran kooperatif TPS. Pembelajaran pada sekolah kategori tinggi berpengaruh lebih tinggi dan berbeda signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis dibanding dengan pembelajaran pada sekolah kategori rendah. Secara interaksi, tidak ada interaksi antara jenis asesmen dengan kategori sekolah dalam pembelajaran kooperatif TPS yang menyebabkan perbedaan kemampuan berpikir kritis; 4) Ada perbedaan kemampuan kreatif antara siswa yang penilaiannya menggunakan asesmen autentik dengan asesmen konvensional dalam pembelajaran kooperatif TPS. Penggunaan asesmen autentik berpengaruh lebih tinggi dan berbeda signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif dibanding dengan penggunaan asesmen konvensional Ada perbedaan kemampuan berpikir kreatif antara siswa yang belajar pada sekolah kategori tinggi dengan pada sekolah kategori rendah dalam pembelajaran kooperatif TPS. Pembelajaran pada sekolah kategori tinggi berpengaruh lebih tinggi dan berbeda signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif dibanding dengan pembelajaran pada sekolah kategori rendah Secara interaksi, ada interaksi yang signifikan antara jenis asesmen dengan kategori sekolah dalam pembelajaran kooperatif TPS yang menyebabkan perbedaan kemampuan berpikir kreatif; 5) Tidak ada perbedaan kesadaran metakognitif antara siswa yang penilaiannya menggunakan asesmen autentik dengan asesmen konvensional dalam pembelajaran kooperatif TPS. Tidak ada perbedaan kesadaran metakognitif antara siswa yang belajar pada sekolah kategori tinggi dengan pada sekolah kategori rendah dalam pembelajaran kooperatif TPS. Secara interaksi, ada interaksi yang signifikan antara jenis asesmen dengan kategori sekolah dalam pembelajaran kooperatif TPS yang menyebabkan perbedaan kesadaran metakognitif; 6) Asesmen autentik sebagai strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar, terbukti kelompok dengan kemampuan akademik rendah yang menggunakan asesmen autentik, memiliki kemampuan kognitif, berpikir kritis, dan berpikir kreatif sama dengan kelompok yang kemampuan akademiknya tinggi yang menggunakan asesmen konvensional; 7) guru harus merubah sistem penilaian dari konvensional dengan dominasi paper and pencil test menuju paradigma baru dengan menggunakan asesmen autentik dalam strategi pembelajaran di sekolah.

Penerapan pembelajaran konstruktivistik untuk meningkatkan penguasaan menyelesaikan soal-soal kontekstual bangun datar siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Gadang I Kota Malang tahun pelajaran 2007-2008 / Alfan Andri Chrisdianto

 

Kata kunci: Pembelajaran konstruktivistik, luas, matematika bangun datar. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur penguasaan menyelesaikan soal-soal kontekstual bangun datar siswa kelas V SDN Gadang I Kota Malang pada pokok bahasan Luas Bangun Datar yang menerapkan pembelajaran konstruktivistik. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan deskriptif. Penelitian tindakan kelas (PTK) digunakan untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang dialami siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini meliputi 2 siklus. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: (1) Perencanaan Tindakan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Gadang I Kota Malang yang berjumlah 33 siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan indikator keberhasilan kelas sebesar 85% dan indikator individu siswa dengan nilai minimal 75. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Penguasaan menyelesaikan soal-soal kontekstual bangun datar siswa kelas V SDN Gadang I meningkat, (2) Pembelajaran konstruktivistik membuat kegiatan belajar lebih terpusat pada siswa. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor tes yang meningkat, rata-rata ulangan harian pertama sebesar 67,57; rata-rata ulangan harian kedua sebesar 66,2; dan rata-rata nilai ujian tengah semester siswa sebesar 56,96. Pada siklus I dari 33 siswa yang berhasil memperoleh nilai  75 sebesar 78,78% dengan nilai rata-rata kelas 75,61. Siklus II sebesar 81,81% dengan rata-rata kelas 81,21. Pada siklus III indikator keberhasilan kelas tercapai sebesar 90,90% dengan rata-rata kelas 85,45. untuk pencapaian indikator individu masih terdapat tiga siswa yang belum mendapat nilai  75 dengan kisaran nilai 70. hal ini dikarenakan tiga siswa tersebut termasuk siswa yang kurang jika dibandingkan dengan yang lain, kurang bersemangat dalam mengikuti pembelajaran di kelas, dan kurang telitinya siswa dalam perhitungan perkalian, sehingga jawaban yang diberikan menjadi tidak tepat. Dampak dalam penggunaan Pendekatan Kontruktivisme adalah dapat meningkatkan penguasaan menyelesaikan soal-soal kontekstual bangun datar siswa kelas V SDN Gadang I Kota Malang.

Pengembangan instrumen penilaian IPA terpadu untuk mengukur hasil belajar siswa SMP kelas VII pada tema penentuan kadar suatu zat / Sudiro Asofi

 

ABSTRAK Asofi, Amak.2010.Pengembangan Instrumen Penilaian IPA Terpadu Untuk Mengukur Hasil Belajar Siswa SMP Kelas VII pada Tema Penentuan Kadar Suatu Zat.Skripsi, Prodi Pendidikan Fisika Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dr. Lia Yuliati,M.Pd, (2) Drs. Agus Suyudi,M.Pd Kata kunci : Instrumen Penilaian, IPA Terpadu, Hasil Belajar Berdasarkan wawancara dengan guru IPA di SMP Negeri 2 Tempeh, ditemukan bahwa pembelajaran IPA terpadu sudah mulai diterapkan. Salah satu tema yang digunakan guru untuk pembelajaran IPA Terpadu di kelas VII adalah penentuan kadar suatu zat. Namun belum ada instrumen penilaian untuk mengukur hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen penilaian sesuai dengan karakteristik IPA Terpadu untuk mengukur hasil belajar siswa SMP kelas VII pada tema penentuan kadar suatu zat dan menemukan kelebihan dan kekurangan instrumen penilaian IPA terpadu yang dikembangkan. Penelitian ini berdasarkan langkah-langkah penelitian dan pengembangan (reseach and development, R&D) yang dikemukakan oleh Borg and Gall yang telah dimodifikasi. Kegiatan pada langkah-langkah penelitian pengembangan ini adalah (1) Studi pendahuluan yang meliputi studi pustaka, survey lapangan dan penyusunan draf instrumen penilaian, dan (2) Pengembangan meliputi expert judgment, revisi draf instrumen penilaian, ujicoba terbatas, analisis butir soal, dan produk hasil pengembangan. Produk pengembangan ini adalah instrumen penilaian IPA Terpadu untuk mengukur hasil belajar siswa pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dalam bentuk pilihan ganda dan panduan proyek. Hasil evaluasi oleh evaluator menunjukan bahwa instrumen penilaian yang dikembangkan memenuhi kriteria baik dengan prosentase rata-rata 89,63 %. Hasil analisis reliabilitas, diketahui bahwa instrumen memenuhi kriteria baik dengan nilai 0,853. Instrumen panduan proyek memenuhi kriteria layak dengan nilai prosentase rata-rata 90,62 %. Kelebihan dariinstrumen penilaian IPA Terpadu tersebut antara lain : (1) untuk instrmen penilaian berupa pilihan ganda dapat menanyakan banyak materi dalam satu waktu ujian, dapat digunakan untuk mengukur semua jenjang proses berpikir, tetapi lebih tepat digunakan untuk mengukur proses berpikir ingatan, pamahaman, dan penerapan, dan hasil tes dapat diolah dengan tepat dan obyektif;(2)instrumen penilaian berupa panduan proyek dapat mengungkap tingkat pemahaman, pengetahuan, kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, bekerja sama, dan menuangkan ide naratif. Kelemahaninstrumen penilaian IPA Terpadu ini, antara lain: (1) padainstrumen penilaian IPA Terpadu berbentuk panduan proyek, validasi dilakukan sebatas validasi isi; (2)instrumen penilaian pilihan ganda terbatas sampai Ujicoba terbatas di satu sekolah, sehingga diperlukan ujicoba lebih luas dan implementasiproduk untuk dapat diperoleh suatuinstrumen yang memenuhi standar alat ukur yang baik.

Penerapan metode karya wisata untuk meningkatkan prestasi belajar tema perdagangan pada siswa kelas V SDN Baron V Nganjuk / Mardjuni

 

Kata Kunci: Metode Karya Wisata, Prestasi Belajar Pembelajaran Bahasa Indonesia selama ini masih menggunakan paradigma yang lama, guru memberikan pengetahuan kepada siswa sehingga siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Guru mengajar dengan metode konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, dengar, diam, catat, dan hafalkan, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa. Kondisi seperti itu tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami mata pelajaran Bahasa Indonesia. Akibatnya nilai akhir yang diharapkan di kelas V selama ini siswanya masih kurang aktif dalam hal bertanya dan menjawab. Hal ini dibuktikan dengan hasil dari tes awal yang diberikan oleh peneliti adalah dari 20 siswa hanya 7 siswa yang mendapat nilai di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Tujuan Penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan metode Karya Wisata untuk meningkatkan prestasi belajar tentang tema perdagangan pada siswa kelas V SDN Baron V Nganjuk. (2) Mendeskripsikan penggunaan metode karya wisata dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tema perdagangan pada siswa kelas V SDN Baron V Nganjuk. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi: hasil belajar siswa yang diambil dari lembar observasi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran yang diambil dari lembar obsrvasi. Indikator keberhasilan pada penelitian ini adalah: (1) apabila rata-rata hasil belajar siswa di atas 7,0 dengan ketuntasan belajar secara klasikal 85%, dengan ketuntasan individu sebesar 65. Hasil peneltian siswa pada siklus I menunjukkan rata-rata hasil belajar sebesar rata 7,70 dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 65%, Jadi, hasil dari siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan. Hasil dari siklus II adalah nilai rata-rata 9, 25 dan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 95% . Hasil dari siklus II ini jelas telah melampaui kriteria ketuntasan belajar yang mensyaratkan rata- rata hasil tes minimal 7,5 dengan prosentase ketuntasan ≥ 85 %. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan meode karya wisata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tema perdagangan. Saran yang perlu disampaikan kaitannya dengan hasil penelitian ini adalah Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan tema Perdaganngan guru disarankan menggunakan metode Karya wisata.

Survei kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani di Sekolah Menengah Atas se-Kecamatan kota di Kabupaten Pamekasan tahun 2009/2010 / Rahmad Andriyono

 

ABSTRAK Andriyono, Rahmad. 2010. Survei Kinerja Guru dalam Melaksanakan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Menengah Atas Se-Kecamatan Kota di Kabupaten Pamekasan Tahun 2009/2010. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Prof. Dr. M. E. Winarno, M.Pd. Pembimbing II: Drs. I Nengah Sudjana, M. Pd. Kata kunci: guru penjas, kinerja guru, pembelajaran penidikan jasmani. Banyak permasalahan yang dihadapi oleh seorang guru pendidikan jasmani, salah satunya adalah banyaknya peserta didik atau siswa yang tidak didukung dengan fasilitas sarana dan prasarana yang cukup, sehingga berdampak pada kualitas kegiatan belajar mengajar. Salah satu dampaknya adalah proses belajar mengajar kurang efektif. Oleh karena itu mengungkap bagaimana kinerja guru pendidikan jasmani dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani perlu dilakukan. Dengan melakukan itu, akan didapat pengetahuan tentang persiapan guru penjas, kinerja guru penjas dalam melaksanakan pembelajaran pada tahap pendahuluan, inti, dan penutup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mengkaji persiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani, serta pada tahap pendahuluan, tahap inti dan tahap penutup dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode survei yang dilakukan pada guru pendidikan jasmani di Sekolah Menegah Atas se-kecamatan Kota di kabupaten Pamekasan dengan jumlah subjek penelitian 15 guru yang tersebar di 5 Sekolah Menegah Atas se-kecamatan Kota di kabupaten Pamekasan dengan teknik pengumpulan data mengunakan observasi dan angket. Hasil penelitian ini sebagai berikut: pada tahap persiapan yaitu pembuatan perangkat pembelajaran diperoleh hasil 85,42% dengan kriteria cukup baik. Pada pelaksanaan pembelajaran tahap pendahuluan dilakukan selama 14,09 menit dengan kategori penelitian cukup baik. Pada tahap inti dilakukan selama 48,96 menit dengan kategori penelitian cukup baik. Pada tahap penutup dilakukan selama 14,22 menit dengan kriteria baik. Jadi kesimpulan dalam penelitian ini, bahwa kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah menengah atas se-kecamatan kota di kabupaten Pamekasan tahun 2009/2010 secara keseluruhan termasuk kategori baik dilihat dari hasil observasi. Saran berdasarkan hasil penelitian ini, maka diharapkan para guru harus lebih berani dalam berinovasi dan mengembangkan media atau alat bantu dalam proses pembelajaran. Karena tidak semua sekolah mempunyai sarana prasarana yang baik maka, kreatifitas guru dalam memanfaatkan sarana yang ada akan sangat menentukan keefektifan pembelajaran.

Pengembangan cerita bergambar untuk mengubah tingkah laku off-task siswa Sekolah dasar / Ani Wardah

 

Kata Kunci: Cerita Bergambar, Sekolah Dasar, Tingkah laku Off-task Tingkah laku off-task merupakan tingkah laku yang mengganggu kegiatan mengajar guru, dan siswa belajar. Apabila tingkah laku off-task secara tetap dan terus menerus dilakukan oleh siswa, maka hal tersebut dapat berimplikasi pada kegagalan akademiknya, dan lebih lanjut akan mengakibatkan siswa dapat tinggal kelas. Banyaknya kasus siswa Sekolah Dasar (SD) yang melakukan tingkah laku off-task dalam mengikuti proses belajar mengajar di kelas, mengharuskan guru untuk terampil dalam menangani permasalahan tingkah laku off-task siswa secara professional, sistematis dan terencana. Penelitian pengembangan ini dilakukan sebagai upaya alternatif yang dapat membantu para guru dalam menangani permasalahan tingkah laku off-task siswa SD. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah: 1) menghasilkan cerita bergambar untuk mengubah tingkah laku off-task siswa yang dapat diterima dari aspek kegunaan, kelayakan, dan ketepatannya; 2) mengetahui efektivitas penerapan cerita bergambar untuk mengubah tingkah laku off-task siswa SD, berdasarkan hasil LKS, diskusi kelompok, dan tugas rumah; dan 3) menghasilkan cerita bergambar untuk mengubah tingkah laku off-task siswa SD yang mendapat respon positif siswa, dari segi kemenarikan, menyenangkan, dan antusias. Desain pengembangannya mengadaptasi model Borg & Gall (1983). Prosedur pengembangan mencakup tiga kelompok tahapan yaitu tahap prapengembangan, pengembangan, dan pascapengembangan. Ketiga tahapan pengembangan tersebut mengikuti rangkaian langkah-langkah: 1) melakukan need assessment; 2) menetapkan prioritas; 3) merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus; 4)menyusun model dan teknik; 5) menyusun prototype cerita bergambar; 6) mengembangkan alat evaluasi, 7) penilaian awal/uji ahli, dan revisi produk pasca uji ahli; 8) uji coba kelompok pengguna (guru), dan revisi pasca uji kelompok pengguna; 9) uji kelompok terbatas, dan revisi produk pasca uji kelompok terbatas; dan 10) produk akhir. Hasil penelitian pengembangan ini berupa materi untuk siswa, dan buku panduan guru. Adapun topik yang ada dalam materi ini adalah: 1) Berjalan-jalan di kelas ketika pelajaran berlangsung; 2) Berbicara dengan teman ketika pelajaran berlangsung; 3) Mengabaikan mengerjakan PR yang diberikan oleh guru, 4) Menggoda teman ketika pelajaran berlangsung; dan 5) Melempari teman dengan kertas ketika pelajaran berlangsung. Materi disusun dalam bentuk cerita bergambar menggunakan teori vicarious learning. Hasil penilaian ahli dan pengguna produk (guru) menunjukkan bahwa: 1) materi cerita bergambar untuk siswa SD teruji keberterimaan pada aspek kegunaan, kelayakan, dan ketepatan; dan 2) buku Panduan guru teruji keberterimaannya pada aspek kegunaan, kelayakan, dan ketepatan. Hasil penilaian LKS dari kelima topik, sebesar 85,22%, termasuk dalam kategori efektif. Hasil penilaian diskusi kelompok dari kelima topik, sebesar 89,5% termasuk dalam kategori efektif. Hasil penilaian tugas rumah, sebesar 80,29% termasuk kategori efektif. Hasil penilai kedua pengamat terhadap aspek kemenarikan, menyenangkan, dan antusias ialah siswa dalam mengikuti bimbingan adalah sangat 86,7%, dan cukup, 13,3%, termasuk kategori sangat mendapat respon positif dari siswa. Hal ini menunjukkan cerita bergambar yang telah dihasilkan terbukti efektif setelah diterapkan pada siswa SD untuk mengubah tingkah laku off-task, dan mendapat respon positif yang sangat baik dari siswa.

Penerapan metode Newton interval untuk menentukan akar suatu fungsi dengan satu variabel / Yunita Oktavia Wulandari

 

Kata kunci : Metode Newton Interval, Pencarian Akar Suatu Fungsi dengan Satu Variabel, Metode Newton Klasik. Metode Newton Interval merupakan salah satu algoritma untuk menetukan semua akar dari suatu fungsi nonlinear. Algoritma Newton interval ini diturunkan dari teorema nilai rata-rata, metode Newton klasik, dan analisis interval. Algoritma Newton interval tergantung pada fungsi mulus f yang kontinu dan terdiferensiabel pada interval yang ditanyakan. Tulisan ini mendiskusikan tentang bagaimana menentukan akar dari suatu fungsi nonlinear menggunakan algoritma metode Newton interval, bukti dari teorema yang mendukung algoritma metode Newton interval dalam menentukan akar dari fungsi, contoh penerapan metode Newton interval, dan analisis kelebihan dan kekurangan dari metode Newton interval dan metode Newton klasik dalam penentuan akar dari fungsi. algoritma dari masing-masing permasalahan akan diimplementasikan dalam Matlab. Kita mengetahui bahwa jika suatu interval memuat akar x of f (x), maka begitu pula untuk semua k = 0, 1, 2, . . ., didefinisikan dengan dan . Lebih lanjut, interval membentuk suatu barisan bersarang yang konvergen ke x jika . Jika kosong, maka tidak ada akar dari f di X. Kemudian misalkan . If X memuat akar dari f , maka akar tersebut tunggal. Kita juga mengetahui bahwa metode Newton interval dapat menentukan semua akar yang ada pada interval awal. Sedangkan pada metode Newton klasik hanya dapat menentukan akar yang dekat dengan titik awal. Bahkan pada kasus khusus iterasi metode Newton klasik divergen untuk semua titik awal, kecuali solusinya sendiri. Akan tetapi, waktu metode Newton klasik dalam pencarian akar dari suatu fungsi lebih cepat dibandingkan dengan metode Newton interval.

Kajian latar belakang pendidikan, kultur sekolah, persepsi, sikap, motivasi intrinsik, dan kesadaran metakognitif guru serta dampaknya terhadap implementasi paradigma belajar pada pembelajaran IPA-Biologi: studi empiris pada sekolah binaan MBE-USAID Jawa Tengah / Andrea

 

Kata kunci: Latar Belakang Pendidikan, Kultur Sekolah, Persepsi, Sikap, Moti-vasi Intrinsik, Kesadaran Metakognitif, Paradigma Belajar, Pembelajaran IPA-Biologi. Usaha peningkatan mutu pendidikan IPA Sekolah Dasar, termasuk didalamnya Biologi (IPA-Biologi) melalui berbagai pelatihan guru pada dasarnya adalah usaha penerapan paradigma alternatif pembelajaran, suatu cara pandang baru tentang hakikat pembelajaran. Pembelajaran tidak lagi dimaknai sebagai usaha guru mengajar atau memberi ilmu kepada siswa (teaching paradigm), tetapi lebih merupakan usaha menciptakan proses belajar bagi siswa (learning paradigm). Sekalipun guru sering dilatih, umumnya guru kembali kepada paradigma lama yaitu paradigma mengajar. Masih sedikit informasi bahwa guru menerapkan paradigma belajar bagi peningkatan mutu belajar siswa. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji hubungan kasualitas (dampak) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap implementasi paradigma belajar yaitu latar belakang pendidikan guru, kultur sekolah yang dirasakan guru, persepsi, sikap, motivasi intrinsik, dan kesadaran metakognitif guru. Jenis penelitian adalah penelitian non-eksperimental dan konfirmatoris. Paradigma belajar diterjemahkan sebagai praktik pembelajaran yang mengaktifkan, kreatif, efektif, menyenangkan (PAKEM). Salah satu lembaga donor yang membantu implementasi PAKEM di Jawa Tengah adalah proyek Managing Basic Education (MBE)-USAID periode 2003-2007. Populasi adalah semua guru (458 orang) yang mengajar di kelas III, IV, V, dan VI di SD/MI binaan MBE-USAID dari kabupaten Pati, Semarang, Kota Magelang, Purworejo, Sukoharjo, Kebumen, Purbalingga dan Banyumas. Sampel penelitian adalah sebagian guru (187 orang) yang mengajar di sekolah-sekolah binaan MBE-USAID di kabupaten Purbalingga, Banyumas dan Pati. Teknik pen-gambilan sampel dilakukan secara random. Data latar belakang pendidikan di-himpun dengan instrumen angket. Kultur sekolah diukur dengan scaling pengu-kuran psikologi yang terdiri atas 39 item pernyataan. Persepsi diukur dengan scaling pengukuran psikologi yang terdiri atas 40 item. Sikap diukur dengan scaling pengukuran psikologi yang terdiri atas 39 item. Motivasi intrinsik diukur dengan scaling pengukuran psikologi yang terdiri atas 51 item yang dikembang-kan dari Instrinsic Motivation Inventory (IMI). Kesadaran Metakognitif diukur dengan scaling pengukuran psikologi yang terdiri atas 49 item yang dikembang-kan dari Metacognitive Awareness Inventory (MAI). Implementasi PAKEM IPA diukur dengan kuesioner yang tersusun atas 20 pertanyaan ketrampilan generik guru, 60 pertanyaan PAKEM IPA-Biologi pada materi mahluk hidup dan proses kehidupan kelas III, IV, V dan VI, dan 13 pernyataan aspek senang dalam PAKEM IPA-Biologi. Validitas instrumen diuji dengan analisis butir (corrected item-total correlation) dari Reliability Analysis program SPSS for Windows 16. Reliabilitas instrumen ditetapkan melalui uji α Alpha Cronbach pada Reliability Analysis program SPSS for Windows 16. Uji validitas dan reliabilitas instrumen menunjukkan bahwa semua instrumen menunjukkan validitas dan reliabilitas tinggi. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif dan inferensial. Analisis data deskriptif dilakukan dengan crosstab (tabulasi silang) bantuan pro-gram komputer SPSS for windows 16. Analisis statistik inferensial (uji hipotesis) dilakukan dengan analisis model regresi linier berganda dan analisis jalur (path analysis) dengan program aplikasi SPSS for Windows 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah guru dengan latar belakang pendidikan yang baik 39,6%, dengan kultur sekolah yang kondusif 39,6%, dengan persepsi positif 34,8%, sikap positif 41,2% dan kesadaran metakognitif kuat 41,7%. Hasil pengujian hipotesis menunjukkann latar belakang pendidikan, kultur sekolah, persepsi, sikap, motivasi intrinsik, dan kesadaran metakognitif secara simultan berdampak langsung signifikan terhadap tingkat implementasi PAKEM IPA-Biologi (F 4,389, p 0,000). Secara parsial,latar belakang pendidikan guru berdampak langsung signifikan pada tingkat penerapan PAKEM IPA-Biologi (Py1 0,149, p 0,039). Secara parsial, analisis model stepwise menunjukkan sikap dan motivasi intrinsik berdampak langsung signifikan terhadap implementasi PAKEM IPA-Biologi. Analisis jalur menunjukkan bahwa latar belakang pendi-dikan berdampak langsung signifikan terhadap tingkat penerapan PAKEM, kul-tur sekolah berdampak pada kesadaran metakognitif (P62 = 0,458, p = 0,000), kul-tur sekolah, persepsi dan sikap secara simultan berdampak signifikan terhadap motivasi intrinsik (F =154,139 p = 0,000). Besar sumbangan model regresi linier berganda 12,8 % yang berarti bahwa tingkat penerapan PAKEM IPA-Biologi da-pat diprediksi oleh variabel-variabel latar belakang pendidkan, kultur sekolah, persepsi, sikap, motivasi intrinsik dan kesadaran metakognitif, sebesar 12,8%. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan bahwa program pelatihan guru pada mata pelajaran IPA-Biologi perlu berfokus pada penerapan paradigma belajar (PAKEM) dan diintesifkan pengelolaannya untuk mendukung ketercapaian standar proses pembelajaran (PP No 19 Tahun 2005). Keberlanjutan suatu program pelatihan guru (sustainability) perlu mengintegrasikan faktor-faktor disposisi guru dan faktor eksternal lainnya, oleh sebab itu disarankan ketersediaan dukungan, fasilitas, dan kebijakan-kebijakan yang mendukung PAKEM perlu disediakan oleh pengambil kebijakan pendidikan.

Subjective well-being pada janda yang telah menikah lagi karena motif ekonomi dan janda yang telah menikah lagi karena motif seksual di lombok-Nusa Tenggara Barat / Novie Angga Dewi

 

Kata kunci: motif ekonomi, motif seksual, subjective well-being Kebiasaan kawin cerai (merariq-beseang) suku Sasak, Lombok, merupakan kebiasaan yang “fenomenal”, karena akan dilakukan hingga perkawinan benar-benar memberikan kebahagiaan yang sifatnya terus menerus. Motivasi seksual dan ekonomi diduga dapat mempengaruhi kebahagiaan dalam perkawinan. Melalui penelitian ini akan dilihat apakah janda yang menikah karena motivasi seksual atau karena motif ekonomi yang lebih bahagia dan bagaimana hubungannya masing-masing motif tersebut terhadap kebahagiaan (subjective well-being) janda di Lombok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah : 1) apakah ada perbedaan kebahagiaan pada janda yang menikah lagi berdasarkan variasi motif ekonomi dan variasi motif seksual, 2) apakah ada proses saling menyumbang antara menikah karena motif ekonomi dan menikah karena motif seksual dalam memperoleh kebahagiaan pada janda yang menikah lagi di Lombok, NTB. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, komparatif dan korelasional. Desain deskriptif untuk mendeskripsikan variaabel motif ekonomi, motif seksual dan subjective well-being. Metode komparatif untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan subjective well-being pad janda yang menikah lagi pada janda yang menikah lagi berdasarkan variasi motif ekonomi dan variasi motif seksual. Sedangkan desain korelasional untuk mengetahui adanya korelasi antara motif ekonomi dan motif seksual dengan subjective well-being. Populasi penelitian ini adalah janda yang telah menikah lagi di Nusa Tenggara Barat. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah sampel sebanyak 69 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala motif perkawinan yang memiliki nilai validitas item antara 0,243 – 0,733 dengan reliabilitas sebesar 0,935 dan skala subjective well-being yang memiliki nilai validitas item antara 245– 0,574 dengan reliabilitas sebesar 0,842. Hasil penelitian menunjukkan bahwa :1) tidak ada perbedaan subjective wellbeing pada janda yang menikah lagi berdasarkan variasi motif ekonomi dan seksual, 2) ada proses saling menyumbang antara menikah karena motif ekonomi dan motif seksual dalam memperoleh subjective well-being pada janda yang menikah lagi di Lombok- Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka diajukan saran-saran yaitu :1) kepada janda disarankan memperkuat motif ekonomi dan motif seksual dalam mengambil keputusan untuk menikah lagi dan bukan karena adanya dorongan dari pihak luar, seperti saudara, tetangga ataupun teman kerja, 2) kepada para peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema motif perkawinan lagi pada janda dan kebahagiaan subyektif, disarankan melakukan penelitian dengan menambahkan variabel motif yang lainnya, seperti motif keamanan, motif self esteem dan aktualisasi diri

Upaya meningkatkan aktivitas belajar dalam pembuatan media fisika melalui model pembalaran berbasis proyek bagi mahasiswa Jurusan Fisika PMIPA UM / Yudha Kristiawan

 

Kata kunci: aktivitas belajar, media fisika, pembelajaran berbasis proyek Salah satu permasalahan yang muncul pada perkuliahan Pengembangan Media Pembelajaran adalah rendahnya aktivitas belajar mahasiswa terkait bagaimana mengaktifkan diskusi kelompok. Cara belajar individual yang dilakukan mahasiswa menjadikan pembelajaran di kelas berlangsung pasif dan kualitas produk media yang dihasilkan menjadi rendah. Solusi yang diduga mengatasi permasalahan rendahnya aktivitas belajar mahasiswa adalah optimalisasi pembelajaran kolaboratif melalui model pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan keterlaksanaan model pembelajaran berbasis proyek, (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar mahasiswa dalam pembuatan media fisika melalui model pembelajaran berbasis proyek, dan (3) Mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar mahasiswa dalam pembuatan media fisika melalui model pembelajaran berbasis proyek. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang terdiri dari 2 siklus. Subyek penelitian adalah mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM offering D kelas B yang berjumlah 30 mahasiswa. Instrumen penelitian terdiri dari instrumen pembelajaran dan instrumen pengukuran penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis data kualitatif. Data kualitatif berupa proses perbaikan tindakan pada pembelajaran berbasis proyek dan keterlaksanaan pembelajaran berbasis proyek. Data kuantitatif berupa skor-skor aktivitas belajar lalu diolah dan dianalisis menjadi bentuk tabel atau diagram kemudian dilakukan pembahasan. Hasil penelitian pada siklus I dan siklus II menunjukkan aktivitas belajar mahasiswa mengalami peningkatan. Aktivitas belajar individu mengalami peningkatan sebesar 12,93%, yaitu dari 66% pada siklus I meningkat menjadi 78,93% pada siklus II. Sedangkan aktivitas belajar kelompok mahasiswa mengalami peningkatan sebesar 11,77% yaitu, dari 69,85% pada siklus I meningkat menjadi 81,62% pada siklus II. Hal ini berarti penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan aktivitas belajar individu dan aktivitas belajar kelompok.

Pembelajaran dengan missouri mathematic project pada siswa kelas VII untuk meningkatkan penguasaan konsep persigipanjang dan persegi / Raddin Nur Shinta

 

Kata Kunci: Missouri Mathematic Project (MMP), Penguasaan Konsep, Peningkatan Penguasaan Konsep Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah pembelajaran dengan model MMP yang dapat meningkatkan penguasaan konsep persegipanjang dan persegi pada siswa kelas VII?” Pembelajaran dengan model MMP ini berpijak pada penelitian Good dan Grouws (1979), Good, Grouws, dan Ebmeimer (1983), dan lebih lanjut Confrey (1986) yang memperoleh temuan bahwa guru yang merencanakan dan mengimplementasikan lima langkah pembelajaran matematikanya akan lebih sukses dibanding dengan mereka yang menggunakan pendekatan tradisional. Untuk mendukung penelitian, maka disusun perangkat pembelajaran dan instrumen. Perangkat pembelajaran yang disusun yaitu Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Instrumen yang disusun terdiri dari; (1) Lembar validasi perangkat dan instrumen, (2) Lembar observasi aktivitas siswa, (3) Lembar Kerja Siswa (LKS), (4) Worksheet, (5) Pedoman Wawancara, dan (6) Tes penguasaan materi. Perangkat dan instrumen yang telah disusun kemudian diperiksa oleh ahli dan divalidasi oleh dua praktisi. Hasil validasi RPP pertemuan 1 dan worksheet pertemuan 1 dalam kategori “valid” dan instrumen lainnya dalam kategori “sangat valid”. Berdarkan hasil validasi tersebut maka instrumen dan perangkat dapat digunakan untuk pembelajaran di kelas dengan sedikit perbaikan berdasarkan saran yang diberikan oleh validator. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu; (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Pengamatan/Observasi, dan (4) Refleksi. Sintak model MMP memuat lima tahapan yang dimodifikasi menjadi empat tahapan yang terdiri dari; (1) Reviu, (2) Pengembangan melalui latihan terkontrol, (3) Worksheet, dan (4) Pemberian Pekerjaan Rumah (PR). Pengembangan melalui latihan terkontrol dicapai melalui diskusi kelompok dengan sumber belajar yaitu LKS. Sedangkan worksheet merupakan kegiatan individu untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru secara mandiri. Keberhasilan tindakan dalam penelitian ini ditentukan oleh dua kriteria yaitu; (1) aktivitas siswa dan (2) penguasaan konsep siswa. Ketercapaian aktivitas siswa tercermin dari lembar observasi yang diperoleh dari dua observer dan penguasaan konsep tercermin dari nilai akhir yang didapat dari nilai LKS, worksheet, dan tes dengan pemberian bobot tertentu. Pada siklus I ketercapaian aktivitas siswa dalam kategori “cukup” dan prosentase banyaknya siswa yang mendapatkan nilai akhir lebih dari 65 yaitu 45%. Karena prosentase nilai akhir pada siklus I belum mencapai 75% maka penelitian perlu dilanjutkan pada siklus II dengan melakukan revisi terlebih dahulu berdasarkan hasil refleksi pada siklus I. Pada siklus II ketercapaian aktivitas siswa dalam kategori “aktif” dan prosentase banyaknya siswa yang mendapatkan nilai akhir lebih dari 65 yaitu 77%. Prosentase ini dicapai dengan tidak mengikutkan satu subjek dengan nilai pencilan pada hasil worksheet siklus II dan tes 2. Hasil ketercapaian aktivitas siswa dan prosentase nilai akhir pada siklus II masuk dalam kategori berhasil sehingga pemberian tindakan dapat dihentikan. Kriteria keberhasilan dalam meningkatkan penguasaan konsep pada siklus II ini diperoleh dengan pembelajaran model MMP yang terdiri dari empat tahapan yaitu; (1) Reviu, (2) Pengembangan melalui latihan terkontrol, (3) Worksheet, dan (4) Pemberian PR dengan menekankan pada aspek penguasaan materi baik secara konsep ataupun prosedural. Untuk mengetahui peningkatan penguasaan konsep tersebut, siswa diberikan latihan soal tentang pemahaman konsep dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari baik secara kelompok ataupun individu. Pembagian anggota kelompok diserahkan kepada siswa dengan tetap memperhatikan aspek heterogenitas dalam kelompok. Pemberian latihan soal ini diawali dengan pemberian contoh soal pengembangan konsep dan pembahasannya pada tahap reviu.

Pengembangan aplikasi software daftar cek masalah (DCM) siswa Sekolah Dasar / Agustina Dwi Ayu Permatasari

 

Kata kunci: aplikasi software, Daftar Cek Masalah (DCM), siswa Sekolah Dasar. Dewasa ini banyak sekali individu yang tugas perkembangnnya tidak tuntas dan banyak pula individu yang seharusnya menyelesaikan tugas perkembangannya pada masanya tetapi individu tersebut menyelesaikan tugas perkembangannya pada periode selanjutnya, walaupun setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangnnya masing-masing. Permasalahan yang terjadi tidk hanya pada orang dewasa dan remaja saja, namun saat ini anak usia 10-12 tahun sudah mengalami masalah. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa diperlukan suatu inovasi terbaru yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami permasalahan yang sedang dan telah dihadapinya. Inovasi ini dapat dilakukan dengan cara mengembangkan sebuah produk aplikasi software, dimana saat ini perkembangan teknologi semakin maju dan pada umumnya siswa Sekolah Dasar sudah mampu mengoprasikan komputer sebagai sarana belajar Penelitian ini bertujuan untuk membantu konselor dan guru BK mengetahui permasalahan yang sedang maupun telah dihadapi oleh siswa kelas 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar, serta membantu konselor atau guru BK dalam memudahkan pengumpulan data dan memudahkan dalam menganalisis data secara benar dan tepat. Kegiatan pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan Borg and Gall (1983), yang penerapannya dilakukan adaptasi, disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan penelitian. langkah paenelitian ini dilakukan mulai dari need assessment, kemudian penyususnan produk yang selanjutnya dilakukan validasi pada uji ahli dan uji kelompok kecil. Hasil dari kegiatan pengembangan ini adalah aplikasi software Daftar Cek Masalah (DCM) siswa Sekolah Dasar. hasil akhir menunjukan bahwa software ini telah memenuhi syarat ketepatan dan kelayakan sebagai produk hasil pengembangan. Software ini telah teruji validitasnya yang dilakukan oleh ahli bahasa, ahli content, dan ahli media serta uji kelompok kecil untuk mengetahui validitas dan kesesuaian isi pernyataan dengan dasar teori yang digunakan, yaitu modifikasi antara teori dari Hurlock (1978), Piaget (1967 dalam Santrock, 2002), Santrock (2002), Kholberg (1969 dalam Slavin, 2008), dan Vygotsky (1960). Penilaian dari ketiga ahli tersebut berupa penilaian terhadap isi, kesesuaian bahasa, bentuk media dan juga menilai buku petunjuk penggunaan media atau yang disebut dengan manual book. Penilaian ahli content menunjukkan rata-rata skor yang diberikan pada deskriptor tiap aspek perkembangan adalah “4”, hal ini menunjukkan bahwa deskriptor sesuai dengan teori yang digunakan. Untuk mengetahui kelayakan aplikasi software Daftar Cek Masalah (DCM) ini juga diuji cobakan pada uji ahli bahasa, uji ahli media dan uji kelompok kecil. Hasil uji coba produk yang diujikan pada ahli bahasa, media dan kelompok kecil menunjukan bahwa media ini layak untuk digunakan. Saran yang dapat disampaikan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) saran pemnfaatan produk yaitu untuk mengoptimalkan pemanfaatan Daftar Cek Masalah (DCM) siswa Sekolah Dasar dalam bentuk software ini disarankan jika mengalami kesulitan dalam mengoprasikan menu yang sudah ada, silahkan melihat buku panduan yang sudah ada. (2) bagi peneliti lanjutan, yaitu perlunya mengadakan pengembangan butir-butir pernyataan yang lebih luas dalam aspek perkembangan kreativitas, bermain, minat dan lain sebagainya dengan melakukan uji lapangan secara lebih luas lagi, perlu menyesuaikan dengan karakteristik dan problematik siswa Sekolah Dasar secara umum dan meluas, hendaknya perlu dilakukan pengembangan secara bertahap agar aplikasi software Daftar Cek Masalah (DCM) siswa Sekolah Dasar ini dapat dimanfaatkan dengan menggunakan fasilitas WEB (on-line), termasuk desain software yang ada sehingga lebih menarik bagi pengguna.

Pengaruh PMDN dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 1999-2008 / Harfi Widyananto

 

Kata Kunci: pertumbuhan ekonomi, PMDN, tenaga kerja. Pembangunan dikatakan berhasil jika pertumbuhan ekonominya tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan proses berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi. Karena penduduk bertambah terus-menerus yang berarti kebutuhan ekonomi juga terus bertambah, maka di butuhkan penambahan pendapatan setiap tahunnya. Untuk dapat memaksimalkan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, Pemerintah memiliki tugas yang sangat berat. Karena hal tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur harus diklarifikasi dan dikonfirmasi lebih lanjut untuk mengetahui faktor mana yang sebenarnya dominan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh PMDN dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 1999-2008. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kausal-komparatif. Sumber data adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik yang berupa PDRB Jawa Timur, Penanaman Modal Dalam Negeri dan Tenaga Kerja. Analisis yang digunakan adalah Partial Adjustment Model (PAM). Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa PMDN dan Tenaga Kerja berpengaruh signifikan secara positif terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Pemerintah Jawa Timur diharapkan agar lebih memberikan perhatiannya terhadap PMDN dan Tenaga Kerja, sehingga pada akhirnya dapat tercipta pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Pengelaan kegiatan pembelajaran triple R di Sekolah Alam Bilingual (Studi kasus di MTs Surya Buana Malang) / Dinda Juwita

 

Kata kunci: pengelolaan, kegiatan pembelajaran, reasoning, research, religius. Dewasa ini di Indonesia bermunculan sekolah model, diantaranya sekolah dengan sistem boarding, full day, natur based school, dan lain-lain. Surya Buana sebagai salah satu lembaga pendidikan formal berusaha untuk memadukan beberapa model tersebut dengan menerapkan sistem full day dan menyediakan asrama untuk siswa yang ingin memperdalam pengetahuan agama, dan juga menerapkan model pembelajaran alam sehingga MTs Surya Buana dikenal dengan nama Sekolah Alam Surya Buana. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini mengkaji lebih dalam tentang pengelolaan kegiatan pembelajaran sekolah alam bilingual di MTs Surya Buana Malang. Ada 3 fokus dalam penelitian ini, yaitu: (1) apa ciri khusus dari kegiatan pembelajaran sekolah alam bilingual di MTs Surya Buana Malang?; (2) kegiatan apa saja yang dilaksanakan oleh sekolah untuk mewujudkan ciri khusus sekolah alam bilingual?; dan (3) masalah apa saja yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran sekolah alam bilingual di MTs Surya Buana Malang untuk mewujudkan ciri khusus sekolah alam bilingual? Tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan: (1) ciri khusus dari kegiatan pembelajaran sekolah alam bilingual di MTs Surya Buana Malang; (2) kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah untuk mewujudkan ciri khusus sekolah alam bilingual; dan (3) masalah yang dihadapi dalam kegiatan pembelajaran sekolah alam bilingual di MTs Surya Buana Malang untuk mewujudkan ciri khusus sekolah alam bilingual. Jenis penelitian yang digunakan yakni penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan teknik/metode observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dilapangan dilakukan analisis data untuk mendapatkan temuan penelitian. Keabsahan data diuji dengan menggunakan teknik triangulasi dengan memanfaatkan penggunaan sumber dan ketekunan pengamatan untuk mengetahui keabsahan data. Temuan penelitian ini, yaitu: (1) konsep pembelajaran di MTs Surya Buana Malang menerapkan konsep Triple R dalam pembelajarannya yaitu research, reasoning, dan religius. Konsep inilah yang membedakan dengan sekolah-sekolah lain karena hanya di MTs Surya Buana Malang yang menerapkan konsep Triple R; (2) kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh sekolah alam bilingual MTs Surya Buana untuk mewujudkan ciri khusus sekolah alam bilingual, meliputi: (a) kegiatan reasoning yang diprogramkan di sekolah ini adalah pembuatan KIR dalam bidang matematika, fisika, biologi, dan IPS yang kemudian KIR ini dikirimkan untuk mengikuti lomba; (b) kegiatan penelitian yang pernah dilakukan yaitu studi empiris ke Jatim Park 1 dan 2 yang diikuti oleh seluruh siswa dari TK, SD, MTs, dan SMA serta kegiatan outbond yang dilaksanakan di lapangan sidomulyo Batu, Kebun Raya Purwodadi, serta kunjungan industri seperti ke pabrik tahu, plintiran, pabrik kripik dan kentang, dan agro anggrek; dan (c) kegiatan religius yang dilaksanakan di sekolah ini adalah kegiatan mengaji yang dilaksanakan sebelum siswa masuk sekolah pada jam 06.45-07.00 WIB kemudian dilanjutkan dengan sholat dhuha pada jam 07.00- 07.25 WIB. Selain itu, di sini juga dilaksanakan sholat dhuhur dan ashar secara berjamaah yang dimaksudkan agar siswa setelah sampai di rumah sudah menyelesaikan kewajiban sholat. Di samping kegiatan di atas, kegiatan religius yang diterapkan di sekolah ini adalah perayaan hari besar agama, zakat, pondok romadhon, dan hafalan Al Quran. Dari hasil penelitian ini disarankan sebagai berikut: (1) bagi kepala sekolah hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan tambahan untuk lebih meningkatkan kualitas pengelolaan kegiatan pembelajaran serta memperbaiki sarana dan prasarana sekolah agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar serta kepala sekolah selalu mengingatkan guru yamg lupa akan konsep Triple R dalam mendidik siswa; (2) bagi guru hendaknya harus lebih menguasai dan menerapkan konsep pembelajaran Triple R yang meliputi reasoning, research, dan religius sesuai dengan kurikulum yang ada agar siswa dapat belajar dan menerima ilmu yang diberikan guru dengan baik ; (3) bagi jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan dapat memberikan wawasan serta tambahan ilmu bagi jurusan agar mahasiswa dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran yang berkonsep Triple R; (4) bagi orangtua siswa hendaknya memberikan perhatian yang lebih intensif pada perkembangan anak dalam memperoleh pendidikan dari sekolah sehingga anak lebih termotivasi dalam belajar karena mendapat perhatian dan kontrol dari orangtua; dan (5) bagi peneliti selanjutnya agar lebih menyempurnakan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan informan siswa dan orangtua siswa.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe yhink pair share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-A MAN Lamongan pada pokok bahasan trogonometri / Arif Purwanto

 

Kata Kunci: Think Pair Share, Hasil Belajar, Trigonometri. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang studi matematika di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lamongan, diperoleh informasi bahwa hasil belajar sebagian besar siswa masih rendah dan proses pembelajaran matematika masih terpusat pada guru. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang belum mencapai persentase ketuntasan belajar secara klasikal yaitu 85% dari jumlah siswa yang mencapai nilai minimal 70. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Strategi pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran kooperatif tipe TPS. Pembelajaran ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu sama lain. Saat pertanyaan diajukan ke seluruh siswa, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan sebelum dilaporkan kepada kelompoknya. Adapun tahap-tahap dalam pembelajaran tipe TPS adalah: (1) tahap think, siswa berpikir secara individu untuk mengerjakan LKS, (2) tahap pair, siswa bersama pasangannya mendiskusikan masalah dalam LKS (3) tahap share, siswa bersama pasangannya mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pembelajaran tipe TPS dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-A MAN Lamongan pada pokok bahasan trigonometri. Dari hasil penelitian selama 2 siklus, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-A MAN Lamongan dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 18,18%, dari siklus I yaitu 72,73% ke siklus II yaitu 90,91%, sedangkan peningkatan rerata kelas sebesar 1,02, dari rerata kelas siklus I yaitu 72 ke rerata kelas siklus II yaitu 73,02. i

Grammatical errors made by the elevent graders of SMAN 8 Malang in writing spoof text / Maylita Fitria Ramadhani

 

Key words: Grammatical errors, spoof text, writing. This study is presented to find some students’ grammatical errors in writing a spoof text. The researcher collected the data at SMAN 8 Malang for the second year students. The subjects were 58 students of XI BHS and XI IPA 4. The design of this study is descriptive qualitative since this study is designed to describe errors the students made in spoof text writing products. The grammatical errors found were classified based on the surface strategy taxonomy proposed by Dulay et al. (1982); they are errors of omission, errors of addition, errors of misformation, and errors of misordering. The result shows that there were 1107 errors found from 58 composition made by the eleventh graders. The first highest frequency of errors was omission errors (47.9%) that consisted of: omission of verb inflection –ed/-d, omission of to be, omission of article, omission of preposition, omission of definite article, and other omission errors, including omission of pronoun, omission of –ing, possessive marker ‘s, omission of adjective clause, and omission of auxiliary verb. The second highest frequency was errors of misformation (39.4%) including misformation of past tense verb, misformation of to be, misformation of verb, misformation of modal auxiliary, misformation of preposition, and other misformation error including misformation of article, and misformation of pronoun. The next highest frequency was errors of addition, it made up (11.3%) that comprised of addition of to be, addition of preposition, addition of verb inflection –ed-d, addition of plural marker –s/-es, addition of –ing, and other addition including addition of adv -ly, addition of possessive marker ‘s, and addition of auxiliary verb. The lowest frequency of errors found from the data was misordering errors that only amount to (1.4%) from all data. Errors misordering consisted of misordering of adverb, misordering of preposition, misordering of to be, misordering of object pronoun, misordering of verb, misordering of subject, and misordering of article. Based on the research findings, some suggestion are given to the English teachers and the next researcher. The English teachers are expected to give more exposures to the English structure that often create difficulties for the students and paying more attention for the students’ problems. For the next researcher, they should investigate errors in more specific part of English Structure.

Meningkatkan hasil belajar IPA dengan pendekatan CTL pada kelas IV SDN Bajang I Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk / Mustakim

 

Kata kunci: hasil belajar,IPA, pendekatan CTL Berdasarkan hasil pengamatan di SDN Bajang II Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk, dengan pendekatan pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan oleh seorang guru, hasil pembelajaran yang diinginkan belum dapat tercapai secara optimal, karena siswa belum diberi kesempatan secara luas untuk mengembangkan minat, bakat, dan kemampuannya. Pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton dan tidak menggairahkan siswa untuk belajar lebih aktif lagi. Hal itu mengakibatkan siswa kurang berminat untuk mengikuti dan melaksanakan proses belajar-mengajar, sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan tidak dapat tercapai secara optimal Tujuan diadakan penelitian di SDN Bajang I Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk antara lain: Mendiskripsikan Implementasi Pendekatan CTL dalam pembelajaran IPA Materi energi alternatif dan mendiskripsikan peningkatan hasil belajar belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Bajang I Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk setelah diterapkan pendekatan CTL pada materi energi alternatif. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, dokumentasi dan pengamatan selama pembelajaran berlangsung. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan. Melalui penerapan pendekatan pembelajaran CTL, aktivitas belajar siswa dapat ditingkatkan. Hal ini ditunjukkan dari kegiatan siswa dalam proses pembelajaran dan dalam kelompok, dari 39 siswa pada siklus I yang aktif 28 siwa, pada siklus II 30 siswa, dan pada siklus III 36 siswa. Hasil belajar siswa kelas kelas IVSDN Bajang I Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk pada pokok bahasan energi alternatf dapat ditingkatkan. Hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai rata-rata tes akhir siklus I 69,4, nilai rata-rata tes akhir siklus II 76,2, dan nilai rata-rata tes akhir siklus III 85,6 ( melebihi 72,6 yang menjadi tolok ukur keberhasilan ), juga ditunjukkan dari ketuntasan belajar siswa siklus I, siklus II, dan siklus III masing-masing 58,97%, 76,92%, dan 89,74%. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar mata pelajaran IPA yang menggunakan pendekatan CTL mampu memberdayakan siswa dalam merekonstruksi pengetahuan, sikap, dan keterampilan belajarnya. Melalui refleksi diri siswa dilatih untuk memiliki kemampuan bersikap kritis, peka, dan peduli terhadap persoalan lingkungan dalam rangka pembentukan warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, kreatif, dan berkarakter.

Hubungan antara persepsi tentang kompetensi guru dengan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan etos kerja guru bersertifikat pendidik di SMK Kabupaten Indramayu / Cayono

 

Tesis, Program Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Amat Mukhadis, M.Pd, (II) Drs. Tri Atmadji Sutikno, M.Pd. Kata Kunci: persepsi, kompetensi guru, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, etos kerja. Guru memegang peran yang amat besar dalam proses pembelajaran di kelas, karena itu guru memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran, dan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Mutu pendidikan akan dapat terwujud apabila proses pembelajaran dilakukan oleh guru yang memahami kompetensi guru yang terdiri atas kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesi. Guru bersertifikat pendidik diharapkan memberi makna positif dalam mempersepsikan tentang kompetensi guru. Upaya yang dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan salah satunya adalah dengan memberlakukan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mewajibkan guru untuk memiliki kualifikasi akademik, menguasai kompetensi, dan memiliki sertifikat pendidik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara persepsi kompetensi guru dengan (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, (3) etos kerja, guru bersertifikat pendidik. Hasil analisis deskripsi tentang persepsi kompetensi guru menunjukkan kecenderungan yang positif. Perencanaan pembelajaran menunjukkan pada kategori baik. Pelaksanaan pembelajaran menunjukkan pada kategori baik. Etos kerja menunjukkan pada kategori tinggi. Sedangkan Hasil analisis korelasi membuktikan, terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi tentang kompetensi guru dengan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan etos kerja yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi secara berurutan: X dengan Y sebesar 0,720 atau 72%, X dan Y2 sebesar 0,617 atau 61,7%, dan X dan Y3 sebesar 0,733 atau 73,3% pada level 0,05. Hal ini berarti semakin positif persepsi tentang kompetensi guru, maka diikuti dengan perencanaan, pelaksanaan pembelajaran yang baik, dan etos kerja yang tinggi. Saran yang disampaikan adalah perlunya selektifitas rekrutmen yang ketat melalui Dinas Pendidikan Daerah dan penilaian oleh Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) hendaknya lebih memperhatikan motivasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran disamping memperhatikan aspek-aspek lain.

Perbedaan return, risiko, trading volume activity, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 / Muhammad Maliki A.

 

Kata kunci: stock split, return, risiko, trading volume activity, bid-ask spread. Harga saham yang terlalu rendah sering diartikan kinerja perusahaan kurang baik. Akan tetapi, jika harga saham terlalu tinggi, maka akan mengurangi kemampuan investor dalam membeli saham tersebut, sehingga saham yang bersangkutan menjadi tidak liquid dan memiliki risiko yang besar. Stock split akan menggeser harga saham ke dalam rentang harga saham tertentu yang dianggap optimal, sehingga diharapkan investor dapat lebih aktif bertransaksi dan akhirnya meningkatkan likuiditas saham. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi dan perbedaan actual return, abnormal return, beta, standar deviasi, trading volume activity, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split. Oleh karena itu, metode penelitian ini menggunakan event study berupa stock split. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia yang melakukan stock split pada periode 2006-2008 sebanyak 21 perusahaan. Sampel penelitian yang diperoleh sebanyak 16 perusahaan menggunakan metode purposive sampling atau sampel bertujuan dengan kriteria hanya melakukan stock split sekali, tidak melakukan corporate action lain, dan bukan merupakan perusahaan berjenis Persero. Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang berupa uji normalitas distribusi masing-masing variabel dengan menggunakan kolmogorof-smirnov test. Jika data terdistribusi dengan normal, maka alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah paired sample test. Jika data tidak terdistribusi normal, maka alat yang digunakan adalah wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa actual return sebelum stock split mengalami penurunan, namun sesudah stock split mengalami kenaikan. Pergerakan abnormal return sebelum stock split mengalami penurunan, namun sesudah stock split mengalami kenaikan. Terjadi penurunan beta dari sebelum hingga sesudah stock split. Terjadi penurunan standar deviasi dari sebelum hingga sesudah stock split. Pergerakan trading volume activity sebelum stock split mengalami penurunan, namun sesudah stock split mengalami kenaikan. Pergerakan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split sama-sama mengalami kenaikan. Terdapat perbedaan yang signifikan abnormal return dan TVA sebelum dan sesudah stock split. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada actual return, beta, standar deviasi, dan bid-ask spread sebelum dan sesudah stock split. Penemuan variabel lain yang terpengaruh oleh stock split dapat ditambahkan dalam penelitian selanjutnya, sehingga dapat memperkaya dan memperdalam wawasan mengenai peristiwa pemecahan saham (stock split).

Penerapan model pembelajaran synectics dipadukan teknik mind map untuk meningkatkan hasil belajar IPS dan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas IV SDN Jono II Bojonegoro / Ratna Widya Wijayanti

 

Kata Kunci: synectics, mind map, hasil belajar IPS, berpikir kreatif Penelitian ini dilakukan di SDN Jono II Bojonegoro. Hasil observasi pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Jono II Bojonegoro tanggal 6 Februari 2010, guru masih menggunakan metode konvensional dan jarang menggunakan media. Hasil belajar rata-rata siswa masih rendah yaitu 50,31 dan masih terdapat 28 siswa (87,5%) belum mencapai ketuntasan belajar individu yang ditetapkan yaitu 65. Pada tanggal 20 Februari 2010 dilaksanakan uji coba penerapan pembelajaran synectics dipadukankan teknik mind map diperoleh hasil belajar rata-rata 52,81. Hal ini berarti mengalami peningkatan dari hasil observasi. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran synectics dipadukankan teknik mind map. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran synectics dipadukankan teknik mind map dalam pembelajaran IPS (2) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran synectics dipadukankan teknik mind map untuk meningkatkan hasil belajar IPS, (3) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran synectics dipadukankan teknik mind map untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas IV SDN Jono II Bojonegoro. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Langkah penelitian terdiri dari dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Jono II Bojonegoro sebanyak 32 siswa. Materi yang dibahas adalah kegiatan ekonomi berdasarkan sumber daya alam dan potensi daerah. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan wawancara, observasi, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran synectics dipadukan teknik mind map dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor yang mengalami peningkatan dari nilai rata-rata pra tindakan 50,31 menjadi 67,34 pada siklus I yang dilaksanakan tanggal 25 Maret dan 3 April 2010 dan meningkat lagi menjadi 74,69 pada siklus II yang dilaksanakan tanggal 17 dan 19 April 2010 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 96,88%. Selain itu penerapan model pembelajaran synectics dipadukan teknik mind map juga dapat meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa. Prosentase rata-rata kemampuan berpikir kreatif siswa aspek berpikir lancar siklus I 48,03% (cukup) dan siklus II menjadi 72,7% (baik). Aspek berpikir luwes pada siklus I sebesar 19,8% (sangat kurang) meningkat menjadi 57,3% (cukup) pada siklus II. Aspek berpikir orisinil pada siklus I 25% (kurang) dan pada siklus II menjadi 58,6% (cukup). Aspek berpikir rinci pada siklus I 58,6% (cukup) meningkat menjadi 77,7% (baik) pada siklus II. Disarankan agar guru dapat memanfaatkan model pembelajaran synectics dipadukan teknik mind map pada pembelajaran IPS maupun pada mata pelajaran lain serta disarankan pada peneliti lain untuk mengembangkan penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan motivasi belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran synectics dan teknik mind map.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode tahun 2007-2009 / Bagoes Galih Satria

 

Kata kunci: Kinerja keuangan, return saham Pada dasarnya investasi adalah membeli suatu aset yang diharapkan di masa datang dapat dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Melihat risiko yang ada maka untuk pengambilan keputusan ekonomi, para investor membutuhkan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomi untuk memprediksi kemungkinan pendapatan atau return yang akan diterima di masa yang akan datang. Analisis kinerja perusahaan dapat diamati melalui analisis terhadap rasio keuangan. Rasio yang akan digunakan dalam penelitian ini kinerja keuangan perbankan LDR (Loan to Deposit Ratio), ROA (Return on Asset), ROE (Return on Equity), NPM (Net Profit Margin), dan CAR (Capital Adequacy Ratio), sedangkan tingkat return saham diindikasikan dengan capital gain. Dalam hal ini peneliti ingin memperoleh gambaran tentang pengaruh kinerja keuangan perbankan (LDR, ROA, ROE, NPM dan CAR) terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI periode tahun 2007-2009. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan dari perusahaan perbankan yang listing di BEI. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah regresi berganda, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis dengan dukungan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja keuangan perbankan secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Kinerja keuangan perbankan yang meliputi LDR, ROA, ROE, NPM dan CAR secara simultan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini ditunjukkan signifikansi 0,767 lebih besar dari 0,05. Sedangkan variabel LDR mempunyai pengaruh dominan terhadap return saham pada perusahaan perbankan. Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan maka saran yang dapat diajukan oleh peneliti adalah sebagai berikut: (1) Bagi investor dalam melakukan investasi agar mendapat return saham yang lebih optimal sebaiknya memperhatikan faktor kinerja keuangan perusahaan, (2) Bagi emiten berusaha meningkatkan kinerja keuangan perusahaan seoptimal mungkin agar kinerja keuangan bisa dijadikan acuan untuk penilaian investasi, (3) Bagi kalangan akademis hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan referensi tentang analisis return saham melalui pendekatan rasio keuangan, (4) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya mengembangkan variabel kinerja keuangan terhadap return saham dengan menambah rasio lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini serta mengembangkan pada perusahaan lain dan pada periode yang lebih panjang sehingga mendapat hasil yang lebih akurat.

Hubungan antara intensitas menonton sinetron dengan perilaku konsumtif oada siswa Sekolah Dasar / Debora Primawati Widayat

 

Kata Kunci: Perilaku konsumtif, intensitas menonton sinetron. Besarnya peran televisi bagi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini mempengaruhi perilaku dan pola pikir pemirsanya melalui beragam acaranya. Sinetron yang ditayangkan hampir setiap hari di televisi sebagian besar menampilkan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Gaya hidup yang mewah dan hedonis yang digambarkan melalui sinetron-sinetron diduga melalui “imitative learning” mempengaruhi pola pikir dan perilaku anak-anak. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui intensitas menonton sinetron di televisi pada anak-anak, (2) untuk memperoleh gambaran mengenai perilaku konsumtif pada anak-anak, (3) untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara intensitas menonton sinetron dengan perilaku konsumtif pada anak-anak. Penelitian dalam skripsi ini merupakan penelitian korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SDK Mardiwiyata 2 Malang. Subyek penelitian memiliki ciri-ciri (1) siswa kelas V SD; (2) memiliki televisi di rumahnya; (3) menonton sinetron setiap hari; (4) menonton televisi minimal 1 jam setiap hari dan sampel penelitian sebanyak 49 orang. Data perilaku konsumtif diperoleh dengan Skala Perilaku Konsumtif dan data intensitas menonton sinetron yang diperoleh dengan Kuesioner Intensitas Menonton Sinetron. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan intensitas menonton sinetron dengan perilaku konsumtif pada siswa sekolah dasar (rxy 0,477; p= 0,001 < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas menonton sinetron dengan perilaku konsumtif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki intensitas menonton sinetron yang tergolong cukup (75,51 %). Tingkat perilaku konsumtif sebagian besar siswa adalah tergolong cukup (77,55 %). Analisis menggunakan uji hipotesis yang dilakukan degan mengyunakan program SPSS 15 for windows. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan (1) bagi anak-anak adalah agar memperhatikan tayangan yang dilihatnya di televisi, belajar membatasi jam menonton sinetron, belajar memperhatikan barang yang dibutuhkan, dan keputusan pembelian barang atau jasa; (2) bagi orangtua adalah dengan mendampingi anak-anak menonton acara televisi, mengalihkan tontonan anak-anak dari sinetron ke film-film edukatif. Kerana semakin tinggi intensitas menonton sinetron dapat diikuti dengan semakin tinggi pula perilaku konsumtif, demikian sebaliknya. Oleh karena itu, orangtua disarankan pula bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menonton tayangan di televisi dan agar mempergunakan uang secara bijak. (3) bagi peneliti selajutnya disarankan agar melakukan penelitian secara lebih lengkap dan komprehensif. Dengan mengembangkan variabel-variabel lain yang mendukung penelitian ini yang berkaitan dengan intensitas menonton sinetron dengan perilaku konsumtif.

Hubungan persepsi tentang empati perawat dengan tingkat pain (nyeri) pada pasien rawat inap RS. Wava Husada Kepanjen, Malang / Nila Arifiah

 

Kata Kunci : persepsi, empati, tingkat pain (nyeri), Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran: (1) persepsi empati, (2) tingkat nyeri, (3) hubungan antara persepsi tentang empati perawat dengan tingkat nyeri. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi empati dan tingkat nyeri. Instrumen yang digunakan adalah skala persepsi empati menggunakan validitas isi dengan product moment pearson dengan rentang skor mulai 0,216-0,763 dan reliabilitas alpha cronbach 0,913. Sedangkan variabel tingkat nyeri menggunakan skor PRI dari McGill Pain Questionnaire menggunakan validitas cohen-kappa dengan 0,742 dan reliabilitas Alpha Cronbach 0,773. Populasi penelitian ini adalah pasien rawat inap bulan April, 2012 yang berjumlah 337 pasien dan Sampel menggunakan teknik purposive incidental sampling 40 pasien dengan golongan diagnosa umum pasien bedah, obstetrik, paru-paru, dan penyakit dalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi pasien tentang empati perawat sebagian besar positif (65%), (2) tingkat nyeri sebagian besar berada dalam klasifikasi rendah (67,5 %), (3) ada hubungan negatif antara persepsi tentang empati perawat dengan tingkat nyeri pada seluruh pasien subyek penelitian dengan koefisien korelasi spearman brown -0,739, (4) ada hubungan negatif antara persepsi tentang empati perawat dengan tingkat nyeri pada golongan pasien bedah dengan koefisien korelasi product moment -0,628, (5) ada hubungan negatif antara persepsi tentang empati perawat dengan tingkat nyeri pada golongan pasien obstetrik dengan koefisien korelasi product moment -0,629, (6) ada hubungan negatif antara persepsi tentang empati perawat dengan tingkat nyeri pada golongan pasien paru-paru dengan koefisien korelasi product moment -0,716, (7) ada hubungan negatif antara persepsi tentang empati perawat dengan tingkat nyeri pada golongan pasien penyakit dalam dengan koefisien korelasi product moment -0,676. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) pasien diharapkan dapat mengubah pandangan luhur terhadap perawat sebagai tugas mulia agar bisa menjadikan persepsi terhadap pelayanan perawat menjadi positif, (2) bagi perawat diharapkan meningkatkan pemahaman dan perhatian terhadap pasien serta sikap dan komunikasi yang baik dan percaya diri, ( 3) bagi rumah sakit diharapkan menambah pelatihan keterampilan interpersonal bagi perawat dan memperbarui kebijakan tentang penatalaksanaan diagnosa nyeri, ( 4) bagi peneliti berikutnya dapat meneliti faktor lain (selain persepsi tentang empati perawat).

Aplikasi software commulative records (CR) di SMA / Miatim Sumarti

 

Kata kunci: Cummulative Records, aplikasi software, siswa SMA Cummulative Records (CR) merupakan gudang data tentang diri siswa, yang menghasilkan informasi maksimal dalam tempat kecil. Di dalam penyimpanan dan pemeliharaan data perlu diperhatikan asas-asas kesederhanaan, kemudahan, dan berkesinambungan. Tujuan adanya CR adalah: 1) Agar konselor dapat menghimpun keterangan hasil pengumpulan data dengan tepat, 2) Agar konselor dapat mencatat data baru ke dalam buku catatan dengan benar, 3) Agar konselor dapat menggunakan data di dalam buku catatan dengan mudah, 4) Agar konselor dapat membuat simpulan gambaran umum mengenai diri individu berdasar pada buku catatan dengan tepat. Kegunaan CR secara umum adalah untuk membantu mencapai tujuan bimbingan, yaitu mengenali diri, memahami diri dan lingkungan serta dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Melihat kebutuhan di SMA Negeri 1 Malang Cummulative Records perlu dikembangkan melalui aplikasi software karena selama ini konselor mengalami kesulitan dalam melakukan himpunan datapribadi siswa. Himpunan data dilakukan secara manual, yaitu dengan menggunakan kertas isian yang disebarkan kepada siswa. Pelaksanaan himpunan data seperti ini membutuhkan banyak tenaga dan waktu, sehingga pengelolaan data juga membutuhkan waktu yang lama, akibatnya waktu untuk memberikan layanan kepada siswa menjadi berkurang. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah membuat software Cummulative Records untuk membantu konselor menghimpun data pribadi siswa, dengan mengaplikasikan program ini pekerjaan konselor dalam menghimpun data menjadi lebih ringan karena data diisi langsung oleh siswa. Selain itu dengan pengaplikasian program ini konselor dapat lebih mudah dan cepat untuk mengetahui gambaran tentang diri siswa. Model pengembangan yang digunakan adalah model Borg &Gall. Pada pengembangan yang dilakukan penulis adalah 1) Penelitian dan pengumpulan informasi, 2) Perencanaan, 3) Mengembangkan bentuk produk awal, 4) Pengujian dasar pendahuluan., 5) Revisi produk utama, 6) Tes dasar utama, 7) Revisi produk operasional, 8) Pengujian bidang operasional, dan 9) Revisi produk akhir. Penilaian terhadap produk dilakukan oleh seorang ahli Bimbingan dan Konseling, seorang ahli media, tiga dua orang calon pengguna produk (konselor), dan sekelompok siswa. Penilaian yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Penilaian produk dilihat dari tingkat kegunaan, kelayaka, ketepatan dan kemenarikan. Hasil uji produk software Cummulative Records menunjukkan bahwa alat ini mempunyai tingkat kegunaan, kelayakan, ketepatan dan kemenarikan yang cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan melihat hasil analisis angket penilaian yang diberikan oleh ahli BK, ahli Media, dan calon penguna produk yang menunjukkan skor rata-rata antara rentangan 2,01 – 3,00, yang artinya berguna, layak, tepat, menarik dan rentangan 3,01 – 4,00 yang artinya sangat berguna, sangat layak, sangat tepat, dan sangat menarik. Hasil penelitian disarankan penulis kepada (1) Konselor sebagai pelaksana layanan Bimbingan dan Konseling, menggunakan software Cummulative Records sebagai media himpunan data dan dalam melaksanakan aplikasi tetap menjaga kode etik Konselor, (2) Kepala sekolah perlu menyediakan beberapa komputer (yang memiliki fasilitas jaringan server terkait dengan aplikasi software) khusus untuk layanan Bimbingan dan Konseling agar kerahasiaan data siswa terjamin, serta kepala sekolah membantu konselor mensosialisasikan produk ini kepada siswa, (3) Penelitian lanjutan, dilakukan uji coba produk terhadap subyek yaitu konselor dan siswa yang jumlahnya lebih banyak agar diketahui keefektifan produk yang dihasilkan. i

Pengaruh rasio-rasio keuangan terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2003-2008 / Prisya Delviyanti Siregar

 

Kata-kata kunci: Rasio Keungan,Capital Adequacy Ratio (CAR) , Loan to Deposit Ratio (LDR), Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (ROE), Return on Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Non Performing Loans (NPL), Return Saham Analisis rasio keuangan sangat diperlukan bagi penilaian prestasi usaha yang telah dilakukan oleh sebuah perusahaan. Analisis rasio digunakan untuk menyajikan suatu cara guna mengungkapkan kondisi keuangan, kesehatan, dan prestasi usaha suatu bank.Variabel yang digunakan untuk mengukur Rasio keuangan dalam penelitian ini yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR) , Loan to Deposit Ratio (LDR), Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (ROE), Return on Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Non Performing Loans (NPL). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Capital Adequacy Ratio (CAR) , Loan to Deposit Ratio (LDR), Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (ROE), Return on Assets (ROA), Earning Per Share (EPS), Non Performing Loans (NPL) berpengaruh terhadap return saham perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2003-2008. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah CAR (X1) , LDR (X2), NPM (X3), ROE (X4), ROA (X5), EPS (X6), NPL (X7) sebagai variabel bebas dan return saham sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sedangkan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan 11 perusahaan perbankan yang dijadikan sampel. Pengumpulan data adalah dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data digunakan adalah analisis regresi berganda dan uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel CAR (X1) , LDR (X2), NPM (X3), ROE (X4), ROA (X5), EPS (X6), NPL (X7) berpengaruh terhadap Return saham. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk peneliti selanjutnya penambahan variabel lain yaitu suku bunga, inflasi dan nilai tukar. Implikasi dari penelitian ini diharapkan investor menganalisis laporan keuangan untuk memberikan gambaran keadaan dan financial suatu perusahaan sebelum melakukan investasi.

Perancangan iklan layanan masyarakat tentang perlindungan anak dari tindak kekerasan dalam rumah tangga di kota Malang / Angga Naha Dharma Surya

 

Kata Kunci: Perancangan, Iklan Layanan Masyarakat, Perlindungan Anak. Keluarga yang ideal adalah keluarga yang mampu menjalankan fungsi psikologis yaitu memberikan rasa aman, menerima semua anggotanya secara wajar apa adanya, dan memberikan dukungan psikologis sehingga dapat menjadi tempat untuk pembentukan identitas diri. Namun tidak semua keluarga bisa menjalankan fungsi-fungsinya dan membentuk keluarga yang ideal. Kekerasan pada anak (child abuse) adalah tindakan salah atau sewenang-wenang yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak, baik secara fisik, emosi maupun seksual. Iklan layanan masyarakat ini bertujuan menciptakan sebuah bentuk desain iklan layanan masyarakat yang mengajak dan mempengaruhi masyarakat dengan mengangkat tema sosial perlindungan anak dari tindak kekerasan untuk menimbulkan kesadaran kepada masyarakat dengan pesan moral akan pentingnya perlindungan hak- hak anak serta menghimbau dan dan merubah perilaku masyarakat untuk peduli terhadap perlindungan anak. Dengan demikian untuk tahap selanjutnya akan menciptakan sebuah lingkungan hidup yang aman dan nyaman sehingga dapat menjadi tempat bertumbuhkembang anak dengan baik karena anak adalah penerus bangsa yang nantinya akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan negaranya Salah satu cara dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlindungan ank yaitu melalui suatu perancangan media Iklan Layanan Masyarakat, dimana Iklan Layanan Masyarakat merupakan aktivitas periklanan yang berlandaskan gerakan moral dan mengemban tugas mulia dalam membangun masyarakat melalui pesan-pesan sosial yang dikemas secara kreatif. Sebuah kampanye iklan layanan masyarakat yaitu sekumpulan dari beberapa media yang mengusung pesan yang sama dalam satu konsep.

Penerapan pembelajaran matematika melalui model reciprocal teaching untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Pakisaji Malang / Ria Dian Paranti

 

Kata kunci: model pembelajaran Reciprocal Teaching, hasil belajar Paradigma pendidikan saat ini mengalami perubahan.Salah satu akibatnya, proses pembelajaran juga berubah. Proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan berpusat pada siswa di mana siswa terlibat langsung untuk menggali pengetahuan baru. Untuk itudiperlukan suatu variasi model pembelajaran yang sesuai agar siswa merasa nyaman untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Pada saat wawancara dengan guru matematika di SMP Negeri 1 Pakisaji Malang, pembelajaran untuk pokok bahasan bangun ruang sisi datar menggunakan metode ceramah.Siswa tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan materi dan ketika dilakukan evaluasi, banyak siswa yang tidak berhasil mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan persentase siswa yang mendapatkan nilai ulangan matematika nilai diatas 70 hanya 46,7%. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas SMP Negeri 1 Pakisaji Malang pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar melalui penerapan model pembelajaran Reciprocal Teaching. Dalam model pembelajaran Reciprocal Teaching, diterapkan empat strategi pemahamanya itu memprediksi, mengklarifikasi, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, dan merangkum bahan ajar. Pada kegiatan akhir, guru mengevaluasi pembelajaran untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajari melalui tes tertulis. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa meningkat melalui model pembelajaran Reciprocal Teaching. Hal ini didukung dengan hasil tes yang dilaksanakan pada akhir siklus. Persentase banyaknya siswa yang mendapatkan nilai minimal 70 adalah 90%. Padahal pada saat ulangan dengan metode ceramah siswa yang mendapat nilai minimal 70 hanya 46,7%. Hal ini berarti hasil belajar siswa meningkat sebesar43,3%.

Pemanfaat media tiruan kerangka untuk meningkatkan pembelajaran IPA di kelas IV SDN Ketawanggede 1 Kecamatan Lowokwaru Kota malang / Supriyatin

 

Kata Kunci : Media Tiruan, Pembelajaran IPA, Hasil belajar Pemilihan media tiruan kerangka ini disesuaikan dengan materi pokok yang akan diajarkan yaitu sistem rangka manusia karena sangat sulit untuk mengidentitifikasi tulang–tulang rangka manusia yang letaknya ada di dalam, dan sulit untuk diidentifikasi. Hal ini mengacu pada Sanaky (2009: 12)yang menyatakan penggunaan benda-benda tiruan perlu dilakukan pengajar dengan pertimbangan, benda asli tersebut sulit didapatkan, benda asli tersebut terlalu jauh tempatnya, benda asli tersebut terlalu kecil atau terlalu jauh tempatnya, benda asli tersebut terlalu kecil atau terlalu besar, dan mungkin benda tersebut merupakan benda yang dilindungi oleh cagar budaya. Hasil observasi awal di SDN Ketawanggede I Kota Malang ditemukan bahwa pembelajaran IPA kelas IV materi sistem rangka manusia masih kurang melibatkan siswa secara aktif. Guru mendominasi pembelajaran, melalui kegiatan ceramah dan mencatat. Hasil belajar siswa rata-rata 48,96 atau masih dibawah KKM yang telah ditentukan oleh pihak sekolah yakni 70. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan media tiruan kerangka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Penggunaan media tiruan kerangka (2) ) Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran menggunakan media tiruan kerangka.(3) Hasil belajar IPA siswa kelas IV menggunakan media tiruan kerangka. Penelitian ini dilakukan di SDN Ketawanggede I Kota Malang dengan subyek siswa kelas IV sebanyak 29 siswa yang terdiri dari 15 laki-laki dan 14 perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Tanggart, meliputi (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), (4) refleksi (reflecting). Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi,dan tes. Berdasarkan data yang diperoleh, penggunaan media tiruan kerangka. Langkah-langkahnya adalah,(1)Pemanfaatan media tiruan kerangka sebelum digunakan,(2) Pemanfaatan media tiruan kerangka selama digunakan,(3) Pemanfaatan media tiruan setelah digunakan. Pemanfaatan media tiruan kerangka dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rata-rata hasil belajar pra tindakan 48,96, siklus I 58,86 dan siklus II 79,77. Sedangkan secara klasikal diperoleh hasil 72,% siswa telah mencapai KKM dari 75% standar yang ditentukan. Penggunaan media tiruan dalam pembelajaran IPA di kelas IV terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Peningkatan skor rata-rata aktivitas siswa pada siklus I 63,98 dan siklus II 76,27.

Pelaksanaan budaya demokrasi di sekolah (di SMP Negeri 2 Cluring Kabupaten Banyuwangi) / Irva Nurul Hadining Larasati

 

ABSTRAK Larasati, IrvaNurul. 2012. PelaksanaanBudayaDemokrasi di Sekolah (Di SMP Negeri 2 CluringKabupatenBanyuwangi).Skripsi Program StudiPendidikanPancasiladanKewarganegaraan, FakultasIlmuSosialUniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (1) Dr. Sri Untari, M.Si (2) Dr. DidikSukriono, SH, M.Hum. Kata Kunci:Pelaksanaan,BudayaDemokrasi,Sekolah Sekolahmerupakantonggakdasarpenanamanbudayademokrasibagipenerusbangsa, karena di sinilahbertemudenganberbagaimacampikiran-pikiran, watak, karakter, budaya, dan agama.Sekolahsebagailembagapendidikanmemilikiperanutamadalammenumbuhkanbudayademokrasi di kalanganpelajar.Olehkarenaitu, sekolahharusmenampilkanbudayademokrasidalampendidikannya. Penelitianinibertujuanuntuk: (1) pelaksanaanbudayademokrasi di SMP Negeri 2 CluringBanyuwangi; (2) faktor-faktorpendukungdanpenghambatpelaksanaanbudayademokrasi di SMP Negeri 2 CluringBanyuwangi; (3) solusimengatasipermasalahanpelaksanaanbudayademokrasi di SMP Negeri 2 CluringBanyuwangi. Metode yang digunakandalampenelitianiniadalahpenelitiankualitatif.Subjekdalampenelitianadalahsiswa SMP Negeri 2 CluringKabupatenBanyuwangi.Data yang digunakanadalahobservasi, angket, wawancara, dokumentasi.Sedangkanteknikanalisis data menggunakanreduksi data, penyajian data. Hasilpenelitian yang diperolehdaripenelitiadalah: (1) Pelaksanaanbudayademokrasi di sekolahmelaluipemilihananggotakepengurusan OSIS, pemilihanpenguruskelas; (2) faktorpendukungdanpenghambatpelaksanaanbudayademokras di sekolah: Sekolahmenyediakansaranadanprasarana, sekolahmelibatkansiswasecaralangsungdalampelaksanaanpemilihananggotakepengurusan OSIS, program sekolahyaituOrganisasiSiswa Intra Sekolahbertujuanmencapaitujuanbersama di sekolah, tersedianyadanauntuk program kerja,siswatanpaditunjukmaumengajukandirimenjadipenguruskelas, saat proses pemilihanpenguruskelassiswamaumemberikansuaranya, adanyabermusyawarah, segiwaktu, golput, memilihlebihdarisatusuratsuara, perbedaanpendapat, siswaramaisaatpemilihanpenguruskelas, memilihpenguruskelaslebihdarisatu; (3) Solusiuntukmengatasipermasalahanpelaksanaanbudayademokrasi di sekolahsegiwaktu, pelaksanaankegiatandiadakanpadaharijum’atdansabtu,golputsekolahmemberikanabsendenganketeranganalfa; siswadiberibinaankesiswaan,perbedaanpendapatharussalingmenghargai; peringatan yang tegas agar tidakramai, diberibinaanolehwalikelas. Hasilpenelitiantersebutdisarankanpihaksekolahsebaiknyamembuatkebijakandanmemecahkanmasalahpelaksanaanbudayademokrasi, bergunasebagaisumberbelajarmelatihsikapkritisdanilmiahgunamenanggapipelaksanaanbudayademokrasi di sekolah, diharapkansebagaibahankajiandalammengembangkanmisipendidikanyang telahditerapkandansebagaipembandingpemecahanmasalahpelaksanaanbudayademokrasi di sekolah.

Motivasi berprestasi anak "Low Vision" (Sebuah penelitian fenomenologis atas remaja dalam asuhan single parent) / Fera Aoliyani

 

Kata kunci: Motivasi, Anak “Low Vision”, Single Parent Subjek (sebut Tina) adalah seorang mahasiswi yang memiliki cacat penglihatan sejak lahir. Meskipun subjek menyandang cacat penglihatan, subjek sangat gemar membaca dan sering membaca sambil tiduran. Subjek memiliki motivasi yang sangat tinggi untuk membaca. Tetapi motivasi tersebut tidak sebanding dengan nilai/prestasi yang selama ini diraih oleh subjek. Orang tua subjek sering memperlakukan subjek berbeda dengan saudara-saudaranya. Orang tua merasa kasihan melihat subjek yang menyandang cacat penglihatan. Oleh karena itu, ketika subjek berada di rumah, orang tua melarang subjek untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Selama di tempat kos, subjek terlihat sering melalaikan tanggung jawab dengan alasan tugas kuliah yang menumpuk. Selain itu subjek juga kurang mandiri mulai awal menempati tempat kos. Berdasarkan fenomena tersebut, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut; (1) bagaimanakah fluktuasi motivasi anak “low vision” untuk bisa berprestasi dalam hal membaca dan mengapa subjek memiliki motivasi yang demikian, (2) bagaimanakah deskripsi dan fluktuasi kemandirian anak “low vision” dalam menemukan makna hidup dan mengapa kemandiriannya demikian, (3) bagaimanakah deskripsi dan fluktuasi tanggung jawab anak “low vision” dari single parent. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis fenomenologi. Kesimpulan penelitian ini adalah motivasi anak “low vision” untuk bisa berprestasi yaitu dengan mencari kesempatan waktu untuk membaca, deskripsi kemandirian anak “low vision” dalam menemukan makna hidup yaitu hidup masih tergantung kepada orang tua, dan deskripsi tanggung jawab anak “low vision” baik di tempat kos atau di rumah masih kurang. Saran penelitian ini adalah perlu diadakan penelitian-penelitian lebih lanjut mengenai anak yang memiliki cacat fisik seperti penglihatan, pendengaran, dll. Dengan demikian akan segera diketahui bahwa anak yang menyandang cacat penglihatan pun bisa berprestasi dan bisa menunjukkan prestasi dengan membaca.

Efektivitas teknik modeling simbolis (Symbolic model) sebagai upaya peningkatan penerimaan diri siswa kelas XI SMA Negeri 1 Pakong Kabupaten Pamekasan / Iswatun Hasanah

 

Kata kunci: modeling simbolis, teknik pemodelan, penerimaan diri. Dalam rangka mencapai salah satu tujuan bimbingan yakni penerimaan diri dibutuhkan pendekatan pribadi dengan menggunakan berbagai teknik dan media bimbingan. Salah satu teknik bimbingan yang dapat dilakukan sebagai upaya meningkatkan penerimaan diri pada remaja yaitu melalui penggunaan “Teknik Modeling Simbolis (Symbolic Model)”. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di SMAN 1 Pakong, diketahui bahwa siswa-siswa memiliki penerimaan diri rendah, indikatornya adalah mengeluhkan kondisi fisik dan lingkungannya, sehingga siswa- siswa kesulitan dalam bergaul dan kurang memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas teknik modeling simbolis terhadap peningkatan penerimaan diri siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksprimen semu, dengan desain non randomized pretest and posttest control group. Adapun prosedur penelitian terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap persiapan meliputi observasi, pengurusan ijin penelitian, penyusunan instrumen, dan uji coba instrumen skala penerimaan diri dengan hasil 36 item valid serta reliabel. Tahap kedua yaitu seleksi subjek dan diperoleh subjek penelitian 23 siswa yang memiliki penerimaan diri rendah dengan pembagian 12 siswa dikelompokkan dalam kelas eksperimen dan 11 siswa dalam kelas kontrol dengan teknik purposive sampling. Tahap ketiga yaitu pelaksanaan pemberian treatment berupa tayangan film Ice Age II, Coraline, The Nutty Professor, Ekskul, dan video olimpiade cacat pada kelas eksperimen tanpa pengendalian kelas kontrol, tujuannya untuk melihat pengaruh teknik modeling simbolis berupa tayangan film dan video terhadap peningkatan penerimaan diri siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kovarians (ANCOVA) antar hasil uji akhir dengan menggunakan hasil uji awal sebagai kovariabel. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan uji ANCOVA dapat disimpulkan bahwa teknik modeling simbolis efektif untuk meningkatkan penerimaan diri pada siswa kelas XI SMAN 1 Pakong dengan nilai capaian sebesar 2.875. Dari nilai capaian dapat diketahui bahwa kelas kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan berupa penayangan film, skor penerimaan dirinya lebih rendah 2.875. Kesimpulan penelitian ini adalah teknik modeling simbolis efektif untuk meningkatkan penerimaan diri siswa kelas XI SMAN 1 Pakong Kabupaten Pamekasan. Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi konselor dan peneliti selanjutnya yaitu hendaknya melakukan assesment mengenai film yang diminati oleh siswa dengan tetap memperhatikan perilaku yang ingin diubah sebelum melakukan kegiatan treatment.

Perilaku seksual siswa kelas VIII SMP (Kasus transgender di SMP Negeri 1 Malang) / Rahmatika Kusumaningrum

 

Kata kunci: perilaku seksual, transgender Tugas perkembangan seksual remaja sama namun cara pelaksanaannya berbeda. Salah satunya adalah menjalankan peran gendernya dengan tepat. Artinya berperilaku sesuai dengan anatomi gendernya. Namun ada beberapa individu justru memainkan peran lawan gendernya. Hal ini terjadi karena ada konflik antara identitas gender dan anatomi gendernya. Individu yang mengalaminya disebut transgender. Transgender dapat terjadi pada siapa saja dan di mana saja. Tanpa melihat usia dan asal seseorang. Pada penelitian ini terjadi pada seorang remaja laki-laki yang ingin menjadi seorang perempuan. Ditunjukkan dengan harapannya menjadi perempuan dan tingkah lakunya yang mengikuti tingkah laku stereotip perempuan. Indonesia sudah mengenal Dorce sebagai salah seorang transgender. Dia mengubah kelaminnya saat dewasa. Di Amerika ada Jazz, seorang anak laki-laki berumur enam tahun yang memiliki identitas gender seorang perempuan yang akhirnya diterima oleh keluarganya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran atau uraian atas keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti. Dalam penelitian ini tetrjadi pada seorang remaja berumur 14 tahun yang sedang duduk di bangku kelas VIII SMP. Dia menunjukkan ciri-ciri seorang transgender seperti, ekspresi yang berulang dari hasrat untuk menjadi anggota dari gender lainnya (atau ekspresi dari kepercayaan bahwa dia adalah bagian dari gender lainnya), preferensi untuk mengenakan pakaian yang merupakan stereotpikal dari gender lainnya, adanya fantasi terus - menerus mengnai menjadi anggota dari gender lain, atau asumsi memainkan peranyang dilakukan oleh anggota gender lainnya dalam permainan “pura-pura”, hasrat untuk berpartisipasi dalam aktivitas waktu luang dan permainan yang merupakan stereotip dari gender lainnya, preferensi yang kuat untuk memiliki teman bermain dari gender lainnya (pada usia anak-anak biasanya memilih teman bermain dari gendernya sendiri). Saran untuk konselor adalah memberikan bimbingan pada siswanya mengenai peran gender yang sesuai. Saran untuk orang tua adalah lebih memperhatikan perkembangan anaknya agar meiliki peran gender yang sesuai. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk meneliti program apa yang sesuai untuk membantu seorang transgender agar dapat memerankan gender sesuai dengan anatomi gendernya.  iii  

Pengembangan modul dengan metode penemuan terbimbing pada materi teorema pythagoras / Titin Widayanti

 

Kata Kunci: modul, metode penemuan terbimbing, Teorema Pythagoras. Setiap siswa dalam suatu kelas memiliki kemampuan yang beraneka ragam, salah satunya adalah kemampuan dalam kecepatan belajar. Siswa dapat berkembang maksimal sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Oleh karena itu diperlukan bahan ajar yang dapat membantu siswa untuk mempelajari konsep sesuai dengan kecepatan belajarnya. Salah satu bahan ajar yang dapat digunakan adalah modul. Materi yang dipilih dalam pengembangan modul ini adalah Teorema Pythagoras. Modul ini diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih mendalami materi tentang Teorema Pythagoras. Dalam pengembangan modul ini diperlukan suatu metode, metode yang dipilih adalah penemuan terbimbing, karena siswa dapat mengkonstruksi konsep yang dipelajarinya, sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Kegiatan pembelajaran yang terdapat dalam modul ini disesuaikan dengan tahapan pada metode penemuan terbimbing, yaitu: (1) Siswa mempelajari suatu permasalahan, atau menelusuri suatu kejadian yang nantinya permasalahan ataupun kejadian ini akan menjadikannya termotivasi untuk mengikuti proses pembelajaran selanjutnya; (2) Siswa mengkategorikan permasalahan dan juga mengorelasikan dengan permasalahan serupa, yang telah didapatkan di tahap sebelumnya; (3) Siswa menyusun data dalam bentuk daftar atau tabel, atau mentabulasi data yang ada; (4) Siswa menganalisis data yang terkumpul berdasarkan permasalahan yang diberikan. Jika diperlukan, siswa dapat menambah data yang didapatkannya dari serangkaian percobaan; (5) Siswa menyimpulkan konsep atau gagasan, setelah siswa melalui empat tahapan sebelumnya dan melakukan verbalisasi. Siswa juga mengetes konsep yang telah dikemukakannya melalui soal latihan atau semacamnya. Pengembangan modul dengan metode penemuan terbimbing melalui beberapa tahap, yaitu: (1) Menentukan Materi; (2) Menyusun Kegiatan Belajar; (3) Tahap validasi dan revisi. Modul yang telah dihasilkan telah disesuaikan dengan tahapan pada metode penemuan terbimbing. Selanjutnya modul divalidasi oleh seorang dosen Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang serta dua orang guru Matematika SMP. Selain itu modul juga diujicobakan pada 10 orang siswa SMP. Hasilnya modul dinyatakan valid dengan nilai rata-rata hasil validasi 3,27 dari nilai maksimal 4, sehingga modul tidak perlu direvisi. Sedangkan dari hasil uji coba, nilai rata-rata yang diperoleh adalah 3,36 dari nilai maksimal 4, dan modul tidak perlu revisi. Akan tetapi masih diperlukan perbaikan untuk memperoleh bahan ajar yang lebih baik.

Analisis regresi komponen utama terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hipertensi anatara jenis kelamin laki-laki dan perempuan (Studi kasus di RSU Dr. Saiful Anwar Malang) / Asfiati

 

Kata kunci : regresi linear berganda, multikolinearitas, regresi komponen utama, variabel dummy. Analisis regresi linear berganda digunakan untuk menganalisis hubungan linear antara dua atau lebih variabel bebas secara bersama-bersama dengan satu variabel terikat. Adanya korelasi antar variabel yang cukup tinggi menimbulkan multikolinearitas yang menyebabkan model persamaan regresi yang diperoleh kurang layak. Pada penelitian ini analisis regresi linear berganda digunakan untuk mencari bagaimana pengaruh variabel-variabel bebas (usia, kandungan kolesterol, kandungan asam urat, dan gula darah) terhadap variabel terikat (tekanan darah). Data yang digunakan dalam pembahasan ini ada dua macam data. Data pertama yaitu data untuk jenis kelamin laki-laki, dan data kedua yaitu data untuk jenis kelamin perempuan. Dari variabel-variabel bebas tersebut diidentifikasi terdapat multikolinearitas. Untuk mengatasi multikolinearitas tersebut maka digunakan analisis regresi komponen utama. Regresi komponen utama menghasilkan variabel-variabel bebas baru yang tidak saling berkorelasi sehingga masalah multikolinearitas dapat diatasi. Dengan regresi komponen utama menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut : untuk data pertama ��1��35.52324��0.683457 ��1����0.296524 ��1���� 5.066496 ��30..115462159119 ����21��3.�� U0.n0t9u5k2 6d2a t��a 2k4 e. d ua Y 2��66.51672�� 0.652659 ��21��0.189447 ��12��2���� Selanjutnya, antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan dilakukan perbandingan dengan menggunakan variabel dummy, dan diperoleh bahwa variabel dummy tidak signifikan, artinya secara statistik tidak terdapat perbedaan yang nyata antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan.

Hubungan antara tingkat ekonomi dan kondisi sosial orangtua dengan motivasi belajar siswa SMAN 1 Maumere Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) / Desi Maria El Puang

 

Kata kunci: tingkat ekonomi, kondisi sosial orangtua, motivasi belajar siswa. Pendidikan memegang pengaruh yang besar bagi perkembangan anak, dimana pendidikan merupakan proses pendewasaan diri anak yaitu melalui pendidikan ini anak yang sebelumnya tidak tahu akan suatu hal menjadi tahu akan suatu hal. Pendidikan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Keadaan ekonomi dan status sosial orangtua sangatlah berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak terutama dalam hal belajar. Orangtua yang mempunyai status ekonomi sosial yang tinggi akan memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat mengembangkan dirinya, sebaliknya orangtua yang mempunyai status ekonomi sosial yang rendah tidak akan memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengembangkan dirinya dikarenakan terbatasnya tingkat ekonomi dan sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) tingkat ekonomi orangtua; (2) kondisi sosial orangtua; (3) motivasi belajar siswa; (4) hubungan antara tingkat ekonomi dan motivasi belajar siswa; (5) hubungan antara kondisi sosial orangtua dan motivasi belajar siswa; (6) hubungan antara tingkat ekonomi dan kondisi sosial orangtua, (7) hubungan antara tingkat ekonomi dan kondisi sosial orangtua dengan motivasi belajar siswa SMAN 1 Maumere. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Maumere dengan populasi berjumlah 930 orang dan yang menjadi sampelnya berjumlah 140 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah proporsional random sampling. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan instrumen angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat ekonomi orangtua siswa sebanyak 2 orang termasuk dalam kualifikasi sangat tinggi dengan persentase 1,43%, 54 orang termasuk dalam kualifikasi tinggi dengan persentase 38,57%, 76 orang termasuk dalam kualifikasi cukup dengan persentase 54,29%, dan 8 orang termasuk dalam kualifikasi rendah dengan persentase 5,71% dengan nilai mean sebesar 51, ini berarti bahwa rata-rata orangtua siswa SMAN 1 Maumere mempunyai tingkat ekonomi yang cukup; (2) kondisi sosial orangtua siswa sebanyak 41 orang termasuk dalam kualifikasi sangat tinggi dengan persentase 29,29%, 44 orang termasuk dalam kualifikasi tinggi dengan persentase 31,43%, 45 orang termasuk dalam kualifikasi cukup dengan persentase 32,14%, dan 10 orang termasuk dalam kualifikasi rendah dengan persentase 7,14% dengan nilai mean sebesar 32, ini berarti bahwa rata-rata orangtua siswa SMAN 1 Maumere mempunyai kondisi sosial yang cukup; (3) motivasi belajar siswa sebanyak 44 orang termasuk dalam kualifikasi sangat tinggi dengan persentase 31,43%, 45 orang termasuk dalam kualifikasi tinggi dengan persentase 32,14%, 51 orang termasuk dalam kualifikasi cukup dengan persentase 36,43%, dan tidak seorangpun termasuk dalam kualifikasi rendah dengan nilai mean sebesar 49, ini berarti bahwa rata-rata siswa SMAN 1 Maumere mempunyai motivasi belajar yang cukup; (4) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat ekonomi dan motivasi belajar siswa SMAN 1 Maumere; (5) terdapat hubungan yang signifikan antara kondisi sosial orangtua dan motivasi belajar siswa SMAN 1 Maumere; (6) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat ekonomi dan kondisi sosial orangtua; (7) terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat ekonomi dan kondisi sosial orangtua dengan motivasi belajar siswa SMAN 1 Maumere. Saran-saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian yang telah diperoleh adalah (1) bagi orangtua siswa SMAN 1 Maumere disarankan untuk membimbing, mengarahkan, dan menciptakan lingkungan yang baik pada anaknya agar dapat berprestasi dengan baik. Selain itu untuk selalu memberikan motivasi atau dorongan baik dari segi material salah satunya berupa penyediaan sumber-sumber belajar dan juga segi spiritual seperti memberikan semangat untuk berprestasi; (2) bagi siswa SMAN 1 Maumere disarankan agar dapat menyadari dan menumbuhkan motivasi belajar dalam diri masing-masing untuk belajar dengan rajin agar dapat mencapai prestasi yang diharapkan dengan kondisi ekonomi dan sosial yang bermacam-macam dapat mendukung kegiatan belajar anak. Selain itu hendaknya siswa yang belum memiliki atau kurang terpenuhi sumber belajarnya, dapat mengadakan suatu belajar kelompok atau belajar bersama dengan teman yang sekiranya dianggap telah menguasai pelajaran dan mempunyai sumber atau fasilitas belajar yang cukup memadai; (3) bagi kepala sekolah disarankan untuk mengadakan beasiswa bagi siswa yang tidak mampu sehingga siswa yang berasal dari golongan ekonomi lemah dapat memenuhi kebutuhan belajarnya. Selain itu mengambil kebijakan atau perencanaan program yang berkaitan dengan peningkatan motivasi belajar siswa; (4) bagi guru disarankan untuk selalu memberikan masukan atau informasi dalam hal pendekatan terhadap siswa sehingga proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan lancar dan tujuan yang ditetapkan sebelumnya dapat tercapai. Selain itu memiliki sifat keterbukaan terhadap siswa agar dapat menerima pendapat atau saran dari siswa sehingga motivasi belajar siswa menjadi meningkat untuk mencapai prestasi belajar yang lebih baik; (5) bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan disarankan untuk selalu menambah referensi yang berhubungan dengan Ekonomi Pendidikan sehingga bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian tentang ekonomi pendidikan dapat melihat referensi yang ada; (6) bagi peneliti lain yang menginginkan penelitian yang sama disarankan untuk bisa menggunakan metode penelitian yang lain dan meneliti juga variabel di luar variabel-variabel yang telah diteliti ini, dan diharapkan memberikan hasil yang lebih akurat, beragam dan bervariasi sebagai tambahan dalam penelitian berikutnya.

Keefektifan manajemen perkantoran terhadap kinerja tenaga administrasi sekolah (Studi kasus di SDN Percobaan 1 Malang) / Dwi Kristanti

 

Kata kunci: keefektifan, manajemen perkantoran, kinerja tenaga administrasi sekolah Kantor tata usaha khususnya dalam suatu lembaga pendidikan formal, merupakan bagian terpenting dari komponen yang tidak dapat dipisahkan di lingkungan sekolah. Keberadaan tenaga administrasi sekolah (TAS) sangat diperlukan untuk mengatasi pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan administrasi sekolah. Kantor tata usaha bagian dari lembaga pendidikan dan sebagai lembaga penyedia informasi akan memiliki kinerja yang baik apabila didukung dengan manajemen yang efektif. Keefektifan kerja akan tercapai apabila pegawai tata usaha mengerjakan tugas-tugasnya secara sungguh-sungguh disertai semangat kerja dan tanggung jawab. Fokus penelitian tentang: (1) bagaimana manajemen perkantoran di SDN Percobaan 1 Malang yang terdiri dari (a) perencanaan; (b) pengorganisasian; (c) penggerakan; (d) pengawasan; (2) bagaimana keefektifan kinerja tenaga administrasi sekolah di SDN Percobaan 1 Malang; (3) bagaimana keefektifan manajemen perkantoran di SDN Percobaan 1 Malang. Penelitan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi ini terletak di jalan Magelang No. 4 Malang. Peneliti berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian kepala sekolah, bendahara sekolah, bendahara komite sekolah, dan staf tata usaha. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut diorganisasikan, direduksi apabila tidak relevan dengan fokus penelitian, dianalisis guna menyusun dan mengasbstraksikan, serta menyimpulkan temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan: (1) memperpanjang kehadiran peneliti dilapangan; (2) triangulasi sumber; (3) member check; (4) berusaha menyajikan hasil secara lengakap dan rinci; (5) pengumpulan data dengan tidak mengandalkan pihak lain; (6) pemeriksaan oleh auditor yaitu dosen pembimbing penulisan skripsi.Kesimpulan penelitian ini meliputi: (1) manajemen perkantoran yang terdiri dari (a) perencanaan program kerja perkantoran direncanakan setiap akhir tahun pelajaran dan disesuaikan dengan masing-masing tugasnya. sekolah memfokuskan program jangka pendek yaitu perencanaan rencana kegiatan anggaran sekolah (RKAS) dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS); (b) Dalam menyusun struktur organisasi kepala sekolah yang menentukan kriterianya yaitu sesuai dengan keprofesionalannya dan jurusannya. Sekolah memberikan fasilitas komputer untuk masing-masing tenaga administrasi guna memperlancar pekerjaan; (c) kepala sekolah selalu memberikan arahan/penggerakan kepada pegawainya untuk mengajak bekerjasama dan memberikan motivasi agar para i pegawai lebih bersemangat dalam bekerja; (d) kepala sekolah mengadakan pengawasan rutin setiap bulan dan dimana perlu, pengawasan tersebut meliputi pembukuan dan laporan keuangan. Pengawasan dilakukan agar membantu para pegawai untuk mengetahui tingkat kinerja yang diharapkan dan meningkatkan produktivitas. (2) keefektifan kinerja tenaga administrasi di SDN Percobaan 1 Malang yaitu menggunakan waktu secara efektif dan efisien, karena semua pekerjaan dikerjakan secara tepat waktu dan mempunyai target tugas pekerjaan yang diselesaikan. (3) keefektifan manajemen perkantoran di SDN Percobaan 1 Malang meliputi: (a) perencanaan program kerja perkantoran dibuat pada libur semester II menjelang akhir tahun. Seluruh stakeholder yang ada misal kepala sekolah, staf tata usaha, guru, dan komite sekolah bisa mengusulkan pembelian barang-barang apa yang bisa meningkatkan proses belajar mengajar, (b) terciptanya kerja yang efektif maka para pegawai yang ada di dalam organisasi akan berusaha untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam penyelesaian tugas dan pekerjaan, (c) memberikan pengarahan atau penggerakan yang efektif dengan pembagian kerja yang jelas disertai dengan motivasi atau dukungan dan mengarahkan kerja yang sebaik-baiknya, (d) dilakukan pengawasan rutin setiap bulan oleh kepala sekolah dengan cara tidak formal sehingga bisa menciptakan hubungan kekeluargaan, nyaman dan tentram. Berdasarkan kesimpulan penelitian dapat disarankan bagi: (1) Kepala SDN Percobaan 1 Malang diharapkan dalam perencanaan program kerja perkantoran dibuat secara rinci seperti progam tahunan yang lain, selain itu juga diharapkan membuat bagan struktur organisasi untuk kantor tata usaha hal ini agar memudahkan untuk mengkoordinasikan terhadap bawahanya; (2) Tenaga administrasi di SDN Percobaan 1 Malang diharapkan tetap meningkatkan kemampuan dan semangat kinerja yang dimiliki serta tidak merasa cepat puas dengan keadaan yang dimiliki sekarang; (3) Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang agar menginformasikan hasil penelitian ini kepada mahasiswa, sehingga dapat menginspirasi mahasiswa untuk meneliti hal yang berkaitan dengan keefektifan manajemen perkantoran terhadap kinerja tenaga administrasi sekolah dengan lebih baik, (4) bagi peneliti lain dapat dijadikan bahan referensi untuk mengembangkan penelitian sejenis pada berbagai aspek lain yang bermanfaat yang lebih mendalam. ii

Evaluasi pembinaan olahraga prestasi persatuan tenis meja seluruh Indonesia pengurus kota Malang (PTMSI Pengkot Malang) periode 2007-2010 khususnya menghadapi Porprov Jatim II tahun 2009 / Rendy Erwantoko

 

Kata kunci: evaluasi, pembinaan olahraga prestasi, PTMSI Pengkot Malang PTMSI Pengkot Malang merupakan salah satu induk organisasi cabang olahraga prestasi di bawah naungan KONI Kota Malang yang meraih dua medali perunggu di ajang PORPROV Jatim II tahun 2009. Perolehan medali tersebut tidak berhasil memenuhi target dua medali emas yang diberikan oleh KONI Kota Malang di cabang olahraga tenis meja. Ketidakberhasilan tersebut berkaitan dengan pembinaan olahraga prestasi yang dilaksanakan oleh PTMSI Pengkot Malang dalam menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembinaan olahraga prestasi PTMSI Pengkot Malang periode 2007-2010 khususnya menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009. Evaluasi tersebut dilakukan pada aspek pengolahraga (atlet), tenaga keolahragaan (pelatih dan wasit), pengorganisasian, pendanaan, metode (kegiatan operasional), prasarana dan sarana, serta penghargaan keolahragaan. Model penelitian yang digunakan adalah model evaluasi CIPP (contect, input, process, product). Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni tahun 2010 , bertempat di sekretariat KONI Kota Malang dan di tempat latihan PTMSI Pengkot Malang. Subyek penelitian ini adalah 5 pengurus PTMSI Pengkot Malang dan 10 atlet tenis meja yang bertanding dalam PORPROV Jatim II tahun 2009. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembinaan olahraga prestasi yang dilakukan oleh PTMSI Pengkot Malang khususnya menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009 pada variabel input sudah efektif dengan persentase 100 % (efektif dengan tingkat keefektifan 81%-100%), hal tersebut didasarkan atas keberadaan dan terpenuhinya komponen-komponen dalam pembinaan olahraga prestasi, yaitu pengolahraga (atlet), tenaga keolahragaan (pelatih dan wasit), pengorganisasian, pendanaan, metode, prasarana dan sarana, serta penghargaan keolahragaan. Pada variabel proses sudah efektif dengan persentase 67,23 % (efektif dengan tingkat keefektifan 61%-80%), diperoleh dari: (1) Pengolahraga (atlet) 33,33 %, (2) Tenaga keolahragaan 92,86 %, (3) Pengorganisasian 58,15 %, (4) Pendanaan 48,61%, (5) Metode (kegiatan operasional) 62,67%, (6) Prasarana dan sarana 100 %, dan (7) Penghargaan keolahragaan 75 %. Pada variabel produk dalam pembinaan olahraga prestasi yang dilakukan oleh PTMSI Pengkot Malang khususnya menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009 adalah cukup efektif dengan persentase sebesar 52 % (cukup efektif dengan tingkat tingkat keefektifan 61%-80%) yang berasal dari aspek output (4 %), dan dari aspek outcome (100 %). Secara keseluruhan, pembinaan olahraga prestasi yang dilaksanakan oleh PTMSI Pengkot Malang khususnya untuk menghadapi PORPROV Jatim II tahun 2009 adalah efektif dengan persentase 73,08 % (efektif dengan tingkat keefektifan 61%-80%). Hasil persentase tersebut diperoleh dari persentase variabel input (100 %), variabel proses (67,23 %), dan variabel produk (52 %). Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar PTMSI Pengkot Malang: (1) Dari sisi pengolahraga (atlet) persentase yang diperoleh adalah 33,33 %, agar lebih efektif sebaiknya dalam proses perekrutan atlet juga melibatkan pengukuran pada karakteristik antropometri dan pengukuran kesegaran jasmani. Selain itu, Penjaringan atlet dapat juga dilakukan dengan mengadakan pertandingan tenis meja antar sekolah. (2) Dari sisi tenaga Keolahragaan persentase yang diperoleh adalah 92,86 %, untuk lebih efektif sebaiknya sebaiknya pelatih yang ada di PTMSI Pengkot Malang diikutsertakan pelatih dalam berbagai macam pelatihan berkaitan dengan kepelatihan, (3) Dari sisi pengorganisasian persentase yang diperoleh adalah 58,15 %, agar lebih efektif sebaiknya PTMSI Pengkot Malang perlu memantabkan organisasi dengan pemberdayaan sumber daya manusia atau pengurus yang ada di PTMSI Pengkot Malang. Untuk memperlancar kerja dari PTMSI Pengkot Malang, setiap pengurus sebaiknya melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan job description (pembagian tugas) yang ada. (4) Dari sisi pendanaan persentase yang diperoleh adalah 48,61%, agar lebih efektif sebaiknya PTMSI Pengkot Malang menjalin kerjasama dengan pihak sponsor, karena jika hanya menggantungkan bantuan dana dari KONI Kota Malang maka pendanaan yang ada kurang memadai atau representatif untuk pelaksanaan pembinaan olahraga prestasi, (5) Dari sisi metode (kegiatan operasional) persentase yang diperoleh adalah 62,67%, agar lebih efektif PTMSI Pengkot Malang sebaiknya melakukan pembinaan olahraga secara bertahap, teratur, dan berkesinambungan. Pembinaan yang dilakukan sebaiknya disusun berdasarkan periodesasi latihan agar perkembangan keterampilan, kemampuan biomotorik dan aspek-aspek mental dapat berkembang secara sistematis, metodis dan terencana. PTMSI Pengkot Malang sebaiknya memberikan makanan bergizi disertai dengan suplemen makanan kepada atlet selama pemusatan latihan agar kecukupan energi atlet terjaga dengan baik. Jika KONI Kota Malang dan PTMSI Pengkot Malang mempunyai kendala terbatasnya anggaran dana untuk mencukupi kebutuhan gizi atlet, maka sebaiknya PTMSI Pengkot Malang menghimbau atlet dan orang tua atlet untuk memenuhi kebutuhan gizi atlet sendiri. (6) Dari sisi prasarana dan sarana persentase yang diperoleh adalah 100 %, sudah efektif baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Prasarana dan sarana tersebut sebaiknya dipertahankan agar tetap dapat digunakan untuk mendukung proses pembinaan olahraga prestasi selanjutnya dan perlu ditingkatkan jika proses perekrutan atlet dilakukan secara professional. (7) Dari sisi tenaga keolahragaan persentase yang diperoleh adalah 75 %, agar lebih efektif sebaiknya PTMSI Penkot Malang mengoptimalkan dan meningkatkan prestasi atlet agar penghargaan keolahragaan yang diberikan kepada atlet yang berprestasi dan pelatih juga meningkat.

Pengembangan media pembeljaran interaktif belajar menggambar dan mewarna pada mata pelajaran ART untuk siswa kelas rendah di SDI Bantul Makmur Malang / Dhuana Putri PS

 

Kata Kunci : Pengembangan, Media Pembelajaran Interaktif, Menggambar dan Mewarna Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar merupakan bagian integral dari keseluruhan komponen pembelajaran dan pelatihan, menempati posisi yang penting dan akan turut menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran. Dengan media pembelajaran maka pembelajaran dan pelatihan akan berjalan lebih efektif dan efisien. Pengembangan ini bertujuan merancang dan membuat produk sajian dalam bentuk CD pembelajaran interaktif, sedangkan materi yang tertuang dalam CD pembelajaran interaktif yang dikembangkan ini adalah materi dasar tentang menggambar dan mewarna pada mata pelajaran Art hususnya seni rupa untuk siswa kelas rendah sekolah dasar di SDI Baitul Makmur Malang. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, serta pre-test dan post-test untuk subyek penelitian. Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis dan tujuan, (3) pengembangan materi, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) produksi, (6) menyusun petunjuk pemanfaatan, (7) validasi, (8) revisi. Pengembangan media pembelajaran CD interaktif ini dinyatakan digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini didasarkan pada hasil uji coba 4    perorangan perhitungan statistik uji t diperoleh dengan harga t hitung = 6.68 dan d.b = 2, selanjutnya dilakukan pengetesan pada t tabel 5% = 2,78 .Bila dibandingkan dengan harga t hitung = 6.68, maka 2,94 > 2,78. Dengan pengujian hipotesis rumus statistik H0 ditolak dan H1 diterima, karena ada perbedaan antara siswa yang belajar sebelum dan sesudah menggunakan media CD pembelajaran interaktif. Nilai rata-rata siswa yang diperoleh sebelum menggunakan media CD interaktif adalah 68.27, dan setelah menggunakan media CD interaktif adalah 92.2. Sedangkan pada uji coba lapangan didapat harga t hitung = 9.56 dan d.b = 14, selanjutnya dilakukan pengetesan pada t tabel.Pada d.b = 14 pengetesan pada t tabel 5%= 2,04. Bila dibandingkan dengan harga t hitung = 9.56 , maka 9.56 > 2,04. Dengan demikian apabila d.b = 14, maka pengujian hipotesis rumus statistik H1 diterima dan Ho ditolak, karena semakin besar d.b pengetesan pada t tabel akan semakin kecil, sehingga pada d.b = 14 dipastikan t hitung > t tabel dan dari uji tes diatas terdapat perbedaan antara siswa yang belajar sebelum dan sesudah menggunakan media CD pembelajaran interaktif . Nilai rata-rata siswa sebelum menggunakan media CD interaktif adalah 68.2 dan setelah menggunakan media CD interaktif adalah 84.59. Berdasarkan hasil evaluasi yang di dapat dari ahli media, ahli materi dan dari hasil lapangan maupun perorangan dapat disimpulkan bahwa media CD pembelajaran interaktif efektif dan efisien untuk digunakan dalam menunjang kegiatan pembelajaran. Saran yang diajukan, hendaknya produk CD pembelajaran interaktif yang dihasilkan ini dapat ditindak lanjuti dalam kegiatan pasca pengembangan baik sebagai media alternatif kebutuhan sumber belajar siswa kelas rendah sekolah dasar di SDI Baitul Makmur dijadikan media pembelajaran individu maupun sebagai media penunjang bagi guru pengajar mata pelajaran Art, sebagai media presentasi dalam proses pembelajaran di ruang kelas. Bagi pengembang berikutnya diharapkan dapat terus mengupdate materi yang ada dalam CD interaktif pembelajaran tersebut dan dapat memberikan tampilan yang menarik dan lebih memotifasi pengguna media.

Pengaruh inflansi, suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah terhadap suku bunga deposito berjangka I nulan pada Bank Umum Pemerintah periode 2007-2009 / Indah Wahyuni

 

Kata kunci: inflasi, suku bunga SBI, nilai tukar rupiah, suku bunga deposito berjangka 1 bulan. Stabilitas perekonomian adalah prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan rakyat melalui pertumbuhan yang tinggi dan berkualitas. Stabilitas perekonomian sangat penting untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pelaku ekonomi. Stabilitas ekonomi makro dicapai ketika hubungan variabel ekonomi makro yang utama berada dalam keseimbangan. Perekonomian yang tidak stabil menimbulkan biaya yang tinggi bagi perekonomian dan masyarakat. Ketidakstabilan akan menyulitkan masyarakat, baik swasta maupun rumah tangga, untuk menyusun rencana ke depan, khususnya dalam jangka lebih panjang yang dibutuhkan bagi investasi. Inflasi yang tinggi dan fluktuasi yang tinggi menimbulkan biaya yang sangat besar kepada masyarakat dan menyebabkan penurunan daya beli. Inflasi yang berfluktuasi tinggi menyulitkan pembedaan pergerakan harga dan juga mempengaruhi perbankan dalam menentukan suku bunga yang ditetapkan karena inflasi menyebabkan pendapatan riil masyarakat menurun sehingga menyebabkan menurunnya tabungan masyarakat. Mengingat pentingnya stabilitas ekonomi makro bagi kelancaran dan pencapaian sasaran pembangunan nasional, pemerintah bertekad untuk terus menciptakan dan memantapkan stabilitas ekonomi makro. Salah satu arah kerangka ekonomi makro dalam jangka menengah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan mencegah timbulnya fluktuasi yang berlebihan di dalam perekonomian. Perekonomian suatu negara dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi. Kondisi makro ekonomi yang stabil akan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi. Majunya pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari stabilitas keuangan yang tercermin dari kondisi perbankan. Perbankan sebagai lembaga intermediasi harus mampu menjalankan fungsinya untuk memperlancar arus keuangan di suatu negara. Salah satu kegiatan usaha perbankan adalah menghimpun dana, bank yang memiliki volume penghimpunan dana atau deposito secara luas adalah bank umum. Sedangkan bank umum yang dimiliki oleh negara adalah bank umum pemerintah. Penghimpunan dana akan tergantung pada tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank itu sendiri, penetapan suku bunga akan dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi. Dengan menempatkan inflasi, suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah sebagai variabel independen dan suku bunga deposito berjangka 1 bulan sebagai variabel dependen, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ii pengaruh inflasi, suku bunga SBI, dan nilai tukar rupiah terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan pada bank umum pemerintah. Penelitian ini menggunakan populasi bank-bank umum yang dimiliki pemerintah yaitu Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI dan Bank BTN. Karena populasi yang relatif kecil maka sampel dalam penelitian ini mengambil seluruh populasi. Data yang digunakan adalah data sekunder dalam perhitungan bulan dengan periode tahun 2007—2009. Metode yang digunakan adalah metode dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan uji regresi linier berganda dengan nilai α sebesar 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi inflasi, suku bunga SBI, nilai tukar rupiah dan suku bunga deposito berjangka 1 bulan mengalami peningkatan pada akhir tahun 2008. Hal ini disebabkan oleh capital outflow yang terjadi sebagai dampak dari kondisi ekonomi global. Namun di awal tahun 2009 keadaan sudah kembali stabil. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial suku bunga SBI dan nilai tukar rupiah berpengaruh positif signifikan terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan, sedangkan inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan bahwa inflasi, suku bunga SBI dan nilai tukar rupiah berpengaruh signifikan terhadap suku bunga deposito berjangka 1 bulan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya dengan menggunakan variabel bebas selain inflasi, suku bunga SBI dan nilai tukar rupiah seperti suku bunga the fed dan jumlah uang beredar. Tehnik analisis juga bisa diganti dengan tehnik analisis yang lain dan juga jumlah sampel perlu ditambah.

Peningkatan kemampuan menulis paragraf naratif melalui strategi peta pikiran (mind mapping) siswa kelas X SMA Kertanegara Malang / Dwi Fajarwati Febriani

 

Kata kunci: Kemampuan menulis, Paragraf naratif, Strategi Peta pikiran Kemampuan menulis pada siswa SMA seharusnya sudah mencapai taraf sangat baik mengingat pembelajaran menulis dimulai sejak siswa duduk di tingkat Sekolah Dasar (SD). Kemampuan menulis merupakan kemampuan yang kompleks, ekspresif dan produktif sehingga dalam pembelajaran kemampuan menulis siswa diharapkan mampu menghasilkan sebuah gagasan atau ide, faktafakta, dan ajakan dalam bentuk tulisan. Berdasarkan observasi awal melalui guru dan siswa SMA Kertanegara menunjukkan bahwa selama ini masih ada masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran menulis narasi. Dari permasalahan yang muncul tersebut ditemukan sebuah strategi untuk menyelesaikan masalah, yaitu strategi peta pikiran (Mind Mapping). Guru yang mengajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X belum pernah menggunakan strategi peta pikiran (Mind Mapping) dalam mengajar di SMA Kertanegara Malang. Permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh guru adalah hasil belajar yang kurang memuaskan. SMA Kertanegara Malang merupakan sekolah yang mempunyai siswa cenderung ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar. SKM individual yang ditetapkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 70, dari 14 siswa pada kelas X terdapat 6 siswa yang hasil belajarnya belum memenuhi SKM individual sebesar 70. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah strategi peta pikiran (Mind Mapping). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2009 sampai 25 Februari 2010. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir belajar. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X di SMA Kertanegara Malang yang terdiri dari 14 siswa. Adapun alasan pemilihan strategi ini ialah terdapat pemetaan ide secara sistematis yang dapat mempermudah siswa dalam membuat sebuah karangan narasi yang runtut dan sesuai dengan ejaan serta tanda baca. Selain itu, strategi peta pikiran dapat membantu siswa mengurutkan serentetan peristiwa, waktu, dan tempat dalam sebuah karangan. Dengan penerapan strategi peta pikiran (Mind Mapping) pada siswa kelas X diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang ada dan meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini, dipaparkan sebagai berikut. (1) Apakah strategi peta pikiran (mind mapping) dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis paragraf naratif yang meliputi aspek kesungguhan, kemampuan bekerja sama, dan keaktifan pada siswa kelas X SMA Kertanegara viii Malang, dan (2) Apakah strategi peta pikiran (mind mapping) dapat meningkatkan hasil pembelajaran menulis paragraf naratif yang meliputi menemukan ide, membuat kerangka karangan, mengembangkan kerangka menjadi paragraf naratif, dan mengembangkan paragraf menjadi karangan naratif yang utuh pada siswa kelas X SMA Kertanegara Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yaitu merupakan suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi soal tes, lembar observasi, lembar wawancara, dan angket. Untuk menjawab rumusan masalah, peneliti melaksanakan tindakan penelitian. Dalam penelitian ini guru Bahasa Indonesia bertindak sebagai guru pengajar, sedangkan peneliti bertindak sebagai observer. Dalam penelitian ini, dilakukan observasi terhadap keaktifan keaktifan guru dan siswa, tes pada tiap akhir siklus, melaksanakan wawancara serta merefleksi hasil penelitian. Peneliti menggunakan data kualitatif yang diperoleh dari observasi awal, wawancara, dan angket. Selain itu peneliti juga menggunakan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes siswa pada akhir tiap siklus. Peneliti melaksanakan penelitian pada siswa kelas X SMA Kertanegara Malang terfokus pada kompetensi dasar “Menulis gagasan dengan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif” pada siklus I dan pada siklus II. Adapun teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada penelitian ini, yakni dengan cara membandingkan persentase ketuntasan belajar secara keseluruhan sebelum diberikan tindakan yang diperoleh dari nilai siswa sebelum diberi tindakan, dengan ketuntasan belajar secara keseluruhan setelah diberikan tindakan pada siklus I maupun siklus II. Terdapat beberapa temuan penelitian diantaranya hasil belajar dapat meningkat, siswa tidak lagi ramai saat proses belajar mengajar berlangsung, dan siswa lebih semangat dalam membuat sebuah karagan narasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan strategi peta pikiran (Mind Mapping) yang dilakukan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kompetensi dasar menulis gagasan dengan pola urutan waktu dan tempat dalam bentuk paragraf naratif siswa kelas X di SMA Kertanegara Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar sebesar 6,32 % dari sebelum dilakukan tindakan dengan setelah dilaksanakan tes akhir siklus I. Sedangkan hasil belajar siswa dari siklus I telah meningkat sebesar 11,13 % ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disarankan bahwa dalam menerapkan strategi peta pikiran (Mind Mapping) hendaknya disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan oleh guru. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar tidak hanya menilai hasil belajar tapi juga menilai segala aktivitas atau keaktifan setiap siswa dalam melaksanakan langkah-langkah strategi ini.

Pengembangan metode online learning mata kuliah komputer pembelajaran (TEP 430) Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Akhmad Zakaria Akbar

 

Kata Kunci: Pengembangan, Metode, Online Learning Metode Online learning dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang menggunakan media komputer untuk berinteraksi dengan dosen Pembina matakuliah, atau pembelajaran yang tanpa dihadiri oleh dosen pembinanya, sehingga siswa dapat belajar dari materi yang yang telah disajikan dalam komputer. Mahasiswa tinggal mempelajarinya sendiri dan mengakses matakuliah sendiri. Peran komputer bisa sebagai media dalam penyampaian pesan pembelajaran. Pengembang melihat kondisi pada saat belajar di kelas perkuliahan, materi masih menggunakan metode diskusi, tanya jawab, dan ceramah dari pembelajar. Tingkat keefektifan pebelajar dalam hal bertanya, menjawab pertanyaan, menggungkapkan ide gagasan, menganalisis suatu masalah dan proses pembelajaran lainnya menurut pengembang kurang efektif,dan karena Komputer Pembelajaran (TEP 430) merupakan pelajaran yang berhubungan dengan Komputer yang melibatkan perangkat lunak Soft ware dan perangkat keras hard ware, sehingga tidak memungkinkan bagi mahasiswa untuk menggunakan media cetak saja untuk mengembangkan imajinasinya. pengembang bermaksud mengembangkan media pembelajaran alternatif yang dapat di akses oleh mahasiswa dalam bentuk online learning dan dengan tingkat kemenarikan tinggi untuk penguasaan konsep yang memuat strategi pembelajaran individual pada mata kuliah kompute pembelajaran di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan media online learning untuk tujuan menguasaan konsep yang menggunakan strategi pembelajaran individual dan memiliki tingkat kemenarikan yang tinggi pada mata kuliah komputer pembelajaran di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Media pembelajaran interaktif ini divalidasi oleh ahli materi sebanyak 1 orang, ahli media sebanyak 1 orang, dan audiens siswa sebanyak 20 orang. Setelah dianalisis media pembelajaran interaktif ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media 86,6%, ahli materi 85% dan siswa individual 89% serta siswa kelompok kecil 81%. Hal ini menunjukkan metode Online Learning cukup dapat memberikan efek positif terhadap peningkatan hasil belajar mahasiswa secara menyeluruh, maka dapat disimpulkan bahwa Online Learning sangat efektif digunakan dalam pembelajaran siswa. ix Kesimpulan lain yang dapat disarikan adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara metode Online Learning dan metode belajar yang lainnya seperti ceramah, serta memberikan kontribusi bahwa belajar dengan mengunakan metode Online Learning lebih baik dalam rangka upaya meningkatkan hasil belajar, sikap dan perilaku belajar siswa, serta situasi belajar yang kondusif pada matakuliah Komputer Pembelajaran (TEP 430). Berdasarkan hasil penelitian ini disaran bagi pihak Kepala Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang serta Universitas Negeri Malang, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengadaan sumber belajar di kelas perkuliahan, karena telah terbukti efektif meningkatkan hasil belajar siswa, serta membentuk sikap dan perilaku belajar siswa, dalam rangka situasi belajar yang kondusif.

Pengaruh konsentrasi ekstrak daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) terhadap daya hambat pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae dan Escherichia coli secara in vitro / Yusrotul Fariha

 

Kata kunci: Daun tempuyung, daya antibakteri, solutio petit, Shigella dysenteriae, Escherichia coli. Disentri dan diare merupakan penyakit yang banyak menyerang masyarakat terutama anak-anak dan orang lanjut usia. Bakteri penyebab penyakit disentri basiler ialah Shigella dysenteriae, sedangkan bakteri penyebab diare ialah Escherichia coli yang bersifat enteropatogen. Masyarakat menggunakan antibiotik sintetik untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk diare dan disentri. Saat ini beberapa spesies bakteri telah resisten terhadap antibiotik sintetik, sehingga perlu adanya alternatif obat lain, seperti tanaman berkhasiat obat. Daun tempuyung dapat digunakan untuk membantu mengatasi penyakit diare dan disentri. Adapun senyawa antibakteri yang terkandung dalam daun tempuyung ialah flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, glikosida dan polifenol (Winarto, 2004:7). Tujuan penelitian ini ialah untuk : 1) mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak daun tempuyung terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S.dysenteriae dan bakteri E. coli secara in vitro ; 2) mengetahui konsentrasi ekstrak daun tempuyung yang mempunyai daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan bakteri S. dysenteriae dan bakteri E. coli secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2010 - Mei 2010 di Laboratorium Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA UM. Jenis penelitian ialah penelitian eksperimen dan rancangan penelitian yang digunakan ialah Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 4 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANAVA Tunggal dan bila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf signifikasi 1%. Ekstraksi daun tempuyung dilakukan dengan maserasi menggunakan alkohol 95%, kemudian diuapkan dan dilarutkan menjadi berbagai konsentrasi dengan menggunakan solutio petit. Konsentrasi yang diujikan yaitu 0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% dan 100%. Daya antibakteri daun tempuyung ditentukan berdasarkan hasil pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan S. dysenteriae dan E. coli yang telah ditumbuhkan pada medium NA, dan diinkubasikan pada suhu 370C selama 1 x 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) ada pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak daun tempuyung terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri S. dysenteriae dan bakteri E. coli ; 2) konsentrasi 60% merupakan konsentrasi ekstrak daun tempuyung yang mempunyai daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan bakteri S.dysenteriae, sedangkan konsentrasi ekstrak daun tempuyung yang mempunyai daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan bakteri E.coli ialah konsentrasi 50%, tetapi tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 30%, 40% dan 60%. i

Pengaruh strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap perolehan belajar konsep dan prosedur atatistika / Rufi'i

 

Program Studi Teknologi Pembelajaran, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd., (II) Prof, Dr. H. Punadji Setyosari, M.Ed., M.Pd. dan (III) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata Kunci: algo-heuristic, konvensional, gaya kognitif, perolehan belajar Secara umum, pebelajar merasa sulit belajar Statistika sehingga tidak tertarik belajar. Ketidaktertarikan pebelajar dapat disebabkan oleh bentuk pembelajarannya di kelas. Sistem pembelajaran konvensional bukanlah hal yang salah, tetapi idealnya proses pembelajaran yang baik akan menempatkan dosen sebagai pengelola pembelajaran bukan sebagai pemberi informasi satu-satunya. Untuk mengatasi kendala-kendala dalam pembelajaran konvensional, maka perlu dikembangkan strategi pembelajaran algo-heurisitic yang memperhatikan perbedaan kemampuan pebelajar, mendukung pembelajaran perseorangan dan mandiri, dan yang dapat memudahkan belajar pebelajar. Tujuannya untuk dapat mengajarkan pada para pebelajar secara efektif tentang bagaimana cara menerapkan suatu pengetahuan dan memecahkan masalah-masalah yang sesuai. Strategi pembelajaran algo-heurisitic merupakan teknik untuk mengambil suatu pemikiran dan menyampaikannya pada bentuk pemikiran yang lain dan menjadikan proses itu bersifat otomatis, proses pemikiran itu adalah kognitif. Proses algo-heuristic secara langkah demi langkah memberikan suatu penjelasan setelah satu langkah dikuasai. Hal itu harus diterapkan bersama dengan semua langkah-langkah yang telah ada sebelumnya dalam algorithmic. Strategi pembelajaran digunakan dalam mengajarkan dengan cara: a) meminta para pebelajar untuk membuat sebuah penemuan secara mandiri mengenai apa yang seharusnya dipelajari dengan membimbing kepada pebelajar secara baik, dan b) mengajarkan pada pebelajar metode dan pengetahuan yang telah siap pakai. Selain strategi pembelajaran, hal yang perlu juga menjadi perhatian dosen dalam pembelajaran adalah kondisi pembelajaran, di antaranya gaya kognitif. Gaya kognitif menggambarkan kebiasaan berperilaku relatif tetap dalam diri seseorang dalam menerima, memikirkan, memecahkan masalah maupun dalam menyimpan informasi. Sejauh mana pengaruh utama dan pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap perolehan konsep dan prosedur statistika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil pengujian: (1) perbedaan perolehan belajar konsep Statistika antara pebelajar yang belajar dengan strategi pembelajaran algo-heuristic dan strategi pembelajaran konvensional, (2) perbedaan perolehan belajar konsep Statistika antara pebelajar yang belajar dengan gaya kognitif field independence dan field dependence, (3) interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap perolehan belajar konsep Statistika. (4) perbedaan perolehan belajar prosedur Statistika antara pebelajar yang belajar dengan strategi pembelajaran algo-heuristic dan strategi pembelajaran konvensional, (5) perbedaan perolehan belajar prosedur Statistika antara pebelajar yang belajar dengan gaya kognitif field independence dan field dependence, (6) interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap perolehan belajar prosedur Statistika. Penelitian ini dilaksanakan dengan desain non-equivalent control group dengan menerapkan desain faktorial 2x2 dalam rancangan eksperimennya. Subjek penelitian adalah pebelajar semester IV tahun akademik 2009/2010 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Jenjang S1 dan Program Studi Kebidanan Jenjang D-III Universitas PGRI Adi Buana Surabaya yang terdiri enam kelas sebesar 217 orang. Subjek diambil secara acak, di mana yang diambil acak adalah kelas. Subjek penelitian ditetapkan dua kelas PGSD dan dua kelas Kebidanan dengan jumlah 146 orang. Hipotesis penelitian diuji dengan uji statistika Multivariate Analysis of Variance (Manova). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan perolehan belajar konsep Statistika antara pebelajar yang belajar dengan strategi pembelajaran algo-heuristic dan strategi pembelajaran konvensional (F=13,459; p=0,00), (2) ada perbedaan perolehan belajar konsep Statistika antara pebelajar yang belajar dengan gaya kognitif field independence dan field dependence (F=4,994; p=0,027), (3) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap perolehan belajar konsep Statistika (F=0,767; p=0,383), (4) ada perbedaan perolehan belajar prosedur Statistika antara pebelajar yang belajar dengan strategi pembelajaran Algo-heuristic dan strategi pembelajaran konvensional (F=8,298; p=0,005), (5) ada perbedaan perolehan belajar prosedur Statistika antara pebelajar yang belajar dengan gaya kognitif field independence dan field dependence (F=21,438; p=0,000), (6) tidak ada pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap perolehan belajar prosedur Statistika (F=0,601; p=0,44). Berdasarkan temuan penelitian ini disarankan kepada para dosen menggunakan strategi pembelajaran algo-heuristic dalam matakuliah Statistika yang diampu dengan strategi pembelajaran yang direncanakan, diterapkan dan dilaksanakan secara baik. Dengan menggunakan strategi ini diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

Penerapan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar ekonomi siswa kelas X MAN 1 Tulungagung / Erni Sofia Puspita

 

Kata kunci: NHT (Numbered Head Together), Aktivitas, Hasil Belajar Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, maka hal tersebut berdampak pada perubahan kurikulum pendidikan, yaitu dengan diterapkannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada sekolah-sekolah sebagai penyempurnaan kurikulum sebelumnya yang cenderung teacher-oriented dari pada student-oriented. Selain itu permasalahan yang terjadi adalah siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran, masih banyak siswa yang tidak menyelesaikan tugas dengan tepat, hasil belajar yang dicapai masih rendah atau masih dibawah SKM. Dengan adanya penggunaan metode yang tepat, proses belajar mengajar diharapkan dapat memperoleh hasil yang memuaskan, dapat mencapai tujuan pembelajaran dan mendukung keberhasilan proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran ekonomi pada siswa kelas X MAN 1 Tulungagung, (2) meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X MAN 1 Tulungagung setelah penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran ekonomi, (3) meningkatkan hasil belajar siswa kelas X MAN 1 Tulungagung setelah penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran ekonomi, dan (4) mengetahui persepsi siwa kelas X MAN 1 Tulungagung terhadap penerapan model Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran ekonomi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini berlangsung selama dua siklus dengan pokok bahasan Uang dan Perbankan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-H MAN 1 Tulungagung yang berjumlah 44 siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, tes, angket, catatan lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, prosentase keterlaksanaan pembelajaran model Numbered Head Together (NHT) yang dilakukan oleh guru pada siklus I sebesar 83% dan pada siklus II sebesar 94%. Dengan demikian terjadi peningkatan keterlaksanaan pembelajaran dari siklus I ke siklus II sebesar 9%. Kedua, untuk variabel aktivitas belajar siswa diketahui terjadi peningkatan aktivitas dari siklus I ke siklus II. Hal ini dapat dilihat dari tiga aspek yang dinilai yaitu aspek keaktifan siswa, aspek partisipasi siswa, dan aspek kepatuhan siswa dalam mengerjakan soal yang mengalami peningkatan secara signifikan pada siklus II. Pada siklus I rata-rata nilainya sebesar 56,2% dan meningkat menjadi sebesar 79% pada siklus II. Sehingga dari siklus I ke siklus II mengalami kenaikan sebesar 22,8%. Aktivitas siswa pada saat penerapan model siklus I sebesar 50% dan siklus II sebesar 64,8%, sehingga hal ini mengalami kenaikan sebesar 14,8%. Ketiga, Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I prosentase ketuntasan sebesar 75% dengan jumlah siwa yang tuntas sebanyak 33 siswa dan yang tidak tuntas sebanyak 11 siswa. Pada siklus II prosentase ketuntasan sebesar 86,4% dengan siswa yang tuntas sebanyak 38 siswa dan yang tidak tuntas sebanyak 6 siswa. Ketuntasan belajar dari siklus I ke siklus II mengalami kenaikan sebesar 11,4%. Keempat, berdasarkan angket yang telah dijawab siswa dapat diketahui bahwa respon siswa terhadap penerapan model Numbered Head Together (NHT) adalah positif, siswa setuju jika diterapkan model tersebut. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa model Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X MAN 1 Tulungagung. Siswa kelas X-H memberikan respon yang positif terhadap penerapan model Numbered Head Together (NHT) pada mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan beberapa hal: (1) Guru matapelajaran ekonomi sebaiknya menerapkan pembelajaran model Numbered Head Together (NHT) pada materi pelajaran yang lain, (2) Guru mata pelajaran ekonomi MAN 1 Tulungagung, disarankan untuk sering memberikan tugas, sehingga dapat meningkatkan kerajinan dan kedisiplinan siswa dalam menyelesaikan tugas, dan (3) Dalam menerapkan pembelajaran model Numbered Head Together (NHT), guru perlu mengatur waktu, mempersiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat, sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efesien.

Penggunaan model pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita pecahan matematika pada siswa kelas V SDN Sambikerep II/480 Surabaya / Akhmad Fasih

 

Kata kunci : Contextual Teaching and Learning, soal cerita, pecahan, Matematika merupakan pelajaran yang selama ini menjadi momok bagi siswa, untuk itu peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas mata pelajaran matematika. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 - 30 April 2010. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V yang berjumlah 36 siswa. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sambikerep II/480 Surabaya yang beralamat di jalan Jelidro Surabaya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual mempunyai dampak positif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika pada pemahaman soal cerita. Itu semua dapat diketahui pada nilai rata-rata kelas yang diperoleh selama proses belajar mengajar dari siklus I sampai siklus II mengalami peningkatan yaitu pada siklus I sebesar 59,7 kemudian siklus II sebesar 91,2. Untuk itu diharapkan guru dapat meningkatkan kinerjanya agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan sebelumnya. Penggunaan metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran dapat dikatakan berhasil, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya kemampuan siswa dalam hasil belajar.

Penerapan problem based learning (PBL) dengan setting kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMPN 1 Sidayu kelas VIII / Lailatul Mufidah

 

Kata kunci: Penerapan, Pembelajaran Kooperatif, Prolem Based Learning (PBL), Hasil Belajar Dalam kegiatan pembelajaran di kelas, aktivitas belajar siswa SMPN 1 Sidayu Kabupaten Gresik masih kurang, hanya beberapa siswa tertentu saja yang aktif ketika pembelajaran berlangsung. Siswa kurang tertarik dengan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan. Pembelajaran yang dilakukan selama ini berpusat pada guru. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan suatu perubahan dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks belajar bagi siswa tentang cara berfikir kritis dan ketrampilan pemecahan masalah dengan melibatkan mereka pada situasi nyata. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa SMPN 1 Sidayu kabupaten Gresik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di SMPN 1 Sidayu Kabupaten Gresik dengan subjek penelitian 26 siswa kelas VIII A SMPN 1 Sidayu Kabupaten Gresik tahun 2009/2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan hasil tes dimana banyaknya siswa yang tuntas belajar pada siklus I 76,9% meningkat menjadi 100% pada siklus II. Berdasarkan pengamatan sikap, secara afektif banyak siswa yang mendapat nilai C pada siklus I ada 5 siswa dan 3 siswa pada siklus II. Selain itu, respon positif juga ditunjukkan siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dengan meningkatnya hasil belajar siswa maka dapat disimpulkan bahwa penerapan Problem Based Learnig (PBL) dengan setting kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dilakukan melalui langkah-langkah berikut: (1) tahap kooperatif dimana siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 4-5 siswa, (2) orientasi siswa pada masalah, yaitu pemberian masalah-masalah yang bersifat kontekstual kepada siswa, (3) pengorganisasian siswa untuk belajar mandiri berkelompok, (4) membimbing penyelidikan secara berkelompok dengan menggunakan LKS untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, (5) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (6) analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah yang digunakan oleh siswa, (7) penghargaan kelompok, dan (8) refleksi. Penerapan Problem Based Learning menunjukkan hasil yang positif, yaitu dari aktivitas siswa yang tergolong sangat baik dan hasil belajar siswa yang megalami peningkatan.

Perancangan film feature Kampoeng Wisata Keramik Dinoyo Malang / Wendy Goerid Ernanta

 

Kata Kunci : Film Feature, Kampoeng Wisata, Keramik Dinoyo Dinoyo adalah sebuah wilayah yang terkenal akan hasil kerajinannya yakni seni kerajinan keramik. Daerah Dinoyo terkenal akan sebutan “ kampoeng wisata keramik ”. Wilayah Dinoyo terletak di sebelah barat kota Malang, tepat di kecamatan Lowokwaru kelurahan Dinoyo. Tujuan dari skripsi perancangan ini adalah menghasilkan perancangan film feature yang membahas tentang Dinoyo sebagai kampoeng wisata keramik dalam upaya untuk mempromosikan kampoeng wisata keramik Dinoyo. Model perancangan yang digunakan dalam perancangan film feature ini adalah model perancangan konseptual, sesuai dengan model perancangan oleh Fred Wibowo yang meliputi standart prosedural perancangan. Kajian dari standart prosedural perancangan meliputi : proses pra produksi, produksi dan, pasca produksi. Pra produksi adalah proses penentuan ide dan selanjutnya melakukan riset, survey, dan observasi lokasi. Produksi adalah saat proses perancangan filmnya atau pada saat syuting pengambilan gambar, dan pasca produksi adalah hasil akhir dari perancangan. Metode perancangan dari skripsi ini menggunakan metode konseptual, yakni pematangan pembuatan konsep harus secara maksimal dimana proses Pengumpulan data berupa survey, wawancara dan dokumentasi lokasi. Hasil perancangan berupa film berjenis semi-dokumenter atau bisa disebut juga dengan feature yang alur ceritanya menceritakan tentang kampoeng wisata keramik Dinoyo dari sejarah hingga apa saja yang bisa ditemui disini. Menggunakan teknik pengambilan gambar sesuai dengan bidang sinematografi dan videografi oleh Bambang Semedhi. Aspek visualisasi dari film feature ini akan menampilkan cuplikan gambar pabrik keramik, hasil kerajinan dan cara pembuatan. Menggunakan Kamera Digital SLR sebagai media perekam gambar dan selanjutnya proses editing menggunakan software dari Adobe Premiere dan Audition Pro CS 6.

Pelaksanaan kode etik konselor di SMA/SMK se kota Malang / Yuanita Puspitasari

 

Kata kunci: Pelaksanaan, kode etik, konselor Kode etik konselor Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap anggota profesi bimbingan dan konseling Indonesia. Kodeetikkonselordiperlukanuntukmelindungianggotaprofesisendiridankepentinganpublik.Sebagaipenjaminmutulayanan yang diberikanolehkonselor, kodeetikberperansebagaipedomantingkahlakukonselordalammenjalankanaktifitasprofesionalnyadansetiapkonselorharusmelaksanakankodeeikprofesidengansebaik-baiknya.Beberapafenomena di lapangan yang diberitakandalam media cetakdanfenomenaselamamengikutikegiatan PPL II di salahsatusekolah di kota Malang mengindikasikanmasihadanyapenyimpangankodeetik yang dilakukankonselor. Tujuanpenelitianadalahuntuk: (1) Mengetahuigambaranpelaksanaankodeetikkonselor di SMA/SMK seKota Malang, (2) Mengetahuiadanyaperbedaanpelaksanaankodeetikkonselorberdasarkanjeniskelamin, masakerjadalamjabatan, dankualifikasipendidikan. Rancanganpenelitian yang digunakanadalahjenispenelitiandeskriptifeksploratif.Populasipenelitianadalahseluruhkonselor yang bekerja di SMA/SMK seKota Malang.Sampelpenelitianadalah 20 konselor SMA negeri/swastadan 20 konselor SMK negeri/swasta yang dipilihberdasarkanjeniskelamin, masakerjadalamjabatan, dankualifikasipendidikan. Teknikpengambilansampelmenggunakancluster sampleuntukmengelompokkankelas SMA, SMK dan purposive sampleyang digunakanuntukpengambilansampelpenelitian. Pengumpulan data menggunakanangket/kuisionerpelaksanaankodeetikdenganskalasangatsesuai, sesuai, kurangsesuai, dantidaksesuai. Teknikanalisis yang digunakanadalahpersentase. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa 1) 55% konselorberadapadataraftinggi, 45% konselorberadapadatarafcukup, 0% konselorberadapadatarafrendahdalampelaksanaankodeetik, 2) Padaaspekkualifikasidankegiatanprofesionalkonselor 42,5% konselorberadapadataraftinggi, 57,5% cukup, dan 0% rendah; padaaspekhubungankelembagaandanlaporankepadapihak lain 20% konselorberadapadataraftinggi, 80% cukup, dan 0% rendah; padaaspekketaatankepadaprofesi 95% konselorberadapadataraftinggi, 5% cukup, dan 0% rendah, 4) Berdasarkanhasilanalisisuji t yang telahdilakukan, tidakadapengaruhperbedaanjeniskelamin, masakerjadankualifikasipendidikandalampelaksanaankodeetikkonselor. i     ii    Berdasarkanhasilpenelitian, makapenelitimenyarankankepadaberbagaipihak: 1) KepalaSekolah: memberikankebijakandenganmemberikanfasilitaskepadaparakonseloruntuklebihmeningkatkanpengetahuandanketerampilanmelaluipendidikann-service trainingdanmeningkatkanpengawasanterhadapkinerjakonselor di sekolahmelaluikegiatansupervisi, 2) Konselor: hendaknyalebihmeningkatkanpengetahuandanketerampilanmelaluikegiatanpelatihan-pelatihanataupendidikanin-service trainingyangdapatmeningkatkankualitaskerjanyadandapatmeningkatkanevaluasidiriterhadaptindakan-tindakannyaterkaitdengankodeetikprofesi, 3)PenelitiLanjut: hendaknyamemperluaspopulasipenelitian agar diketahuihasilpenelitianmengenaipelaksanaankodeetikkonselor di lain populasi, mengembangkaninstrumenpenelitiansupayamampumengungkapinformasi yang ingindiperolehsecaralebihdalam, danmenggunakanteknikpengumpulan data lain, sepertiwawancaradanobservasi.

Pengaruh persentase kandungan etanol tetes tebu pada bahan bakar bensin dan variasi putaran mesin terhadap emisi gas buang mesin 4 tak / Yoga Pradipta

 

Kata kunci: persentase volume kandungan etanol tetes tebu, putaran mesin, emisi gas buang CO, CO2 dan HC. Etanol digunakan sebagai bahan campuran dalam bensin karena memiliki beberapa keunggulan yang diduga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang. Umumnya etanol yang beredar sekarang terbuat dari tetes tebu karena lebih mudah memproduksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan persentase volume etanol dari tetes tebu pada bensin dan variasi putaran mesin terhadap kadar emisi gas buang CO, CO2 dan HC yang terjadi. Etanol tetes tebu yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari distributor kimia Bratachem yang beralamat di jalan Hamid Rusdi nomor 11A dan bensin yang digunakan diperoleh dari SPBU Pertamina 54.651.13 daerah Rampal. Penelitian dilakukan di Laboratorium Otomotif PPPPTK/VEDC Malang tanggal 16 Juli 2010. Penelitian ini menggunakan engine stand mesin bensin 4 tak Toyota 5K keadaan standar. Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan disain faktorial 6x6. Persentase volume etanol tetes tebu perlakuan yang digunakan adalah 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Putaran mesin perlakuan yang digunakan adalah 800 rpm, 1000 rpm, 1500 rpm, 2000 rpm, 2500 rpm dan 3000 rpm. Analisis hasil penelitian menggunakan Anova dua jalan dengan taraf signifikansi 0,01 menggunakan fasilitas software SPSS 14 for windows Evaluation. Hasil penelitian ini menunjukkan variasi persentase volume kandungan etanol tetes tebu dalam bensin dan variasi putaran mesin mempengaruhi emisi gas buang yang dihasilkan. Semakin besar persentase volume etanol tetes tebu dalam bensin sampai batas 20% dan kenaikkan putaran mesin menyebabkan penurunan emisi CO dan HC dan kenaikkan emisi CO2. Pada persentase volume etanol tetes tebu 25% terjadi kenaikkan emisi CO dan HC dan penurunan emisi CO2. Hasil emisi CO dan HC terendah dan emisi CO2 tertinggi diperoleh pada campuran etanol tetes tebu-bensin 20% pada 3000 rpm.

Pengembangan software media pembelajaran materi bahan kimia dalam makanan untuk siswa SMP/MTs kelas VIII / Aprilia Indah Rusmita

 

Kata kunci : media pembelajaran, media pembelajaran berbasis komputer, bahan kimia dalam makanan. Ilmu kimia merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih baru bagi siswa SMP. Selain itu sebagian besar konsepnya bersifat informatif dan banyak memuat hafalan. Hal ini membuat siswa cepat merasa bosan jika materi tersebut dibelajarkan dengan menggunakan model konvensional (cemarah). Salah satu materi yang bersifat informatif dan banyak memuat hafalan adalah bahan kimia dalam makanan. Untuk membantu siswa dalam memahami materi tersebut, maka dibutuhkan suatu media pembelajaran yang menarik bagi siswa dan dapat meningkatkan keefektifan proses pembelajaran. Dengan demikian, penelitian pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran yang bersifat inovatif sebagai media alternatif pembelajaran untuk materi bahan kimia dalam makanan. Pengembangan media pembelajaran pada materi Bahan kimia dalam makanan ini dilakukan mengikuti model rancangan Tiagaradjan dengan model 4- D (four D models) yang telah dilakukan sedikit penyesuaian. Model ini lebih rinci dan sistematis. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) Define (pendefinisian), (2) Design (perancangan), dan (3) Develop (pengembangan). Validasi media pembelajaran dilakukan dengan memberikan angket/kuisioner kepada sejumlah validator. Validator terdiri dari dua orang dosen kimia Universitas Negeri Malang dan dua orang guru IPA SMP Negeri 15 Malang. Kelayakan hasil media yang dikembangkan ditentukan dari hasil validasi. Hasil penelitian pengembangan ini berupa media pembelajaran bahan kimia dalam makanan yang dikemas dalam CD (compact disc). Media pembelajaran yang dirancang digunakan guru sebagai alat bantu pembelajaran di kelas dan dapat digunakan untuk belajar mandiri siswa dengan bantuan guru sebagai fasilitator . Hasil uji kelayakan validasi isi menunjukkan bahwa media yang dihasilkan mempunyai tingkat kelayakan 86,00%. Dari hasil uji kelayakan ini diketahui bahwa media ini layak digunakan sebagai salah satu perangkat pembelajaran untuk materi bahan kimia dalam makanan di SMP/MTs Kelas VIII. Untuk mengetahui efektifitas media yang telah dikembangkan, perlu dilakukan uji lapangan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered head together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran melakukan prosedur administrasi (Studi pada siswa kelas X APK SMK PGRI 2 Malang tahun ajaran 2009/2010) / Nur Lia Liza

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, model pembelajaran Numbered Head Together (NHT), hasil belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran kooperatif yang dapat membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar adalah Numbered Head Together (NHT). Pembelajaran yang lebih memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan bertanggung jawab penuh untuk memahami materi pelajaran baik secara berkelompok maupun individual. Hal ini yang mendorong peneliti untuk memilih pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) di dalam melakukan penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan aktivitas siswa, dapat memaksimalkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar, dan mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran Melakukan Prosedur Administrasi yang mengintegrasikan kuis dengan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together tidak hanya memperdalam pemahaman peserta didik, tapi juga meningkatkan sikap positif terhadap pelajaran, rasa saling menghargai, saling memliki dan dapat pula mengembangkan keterampilan untuk menghargai orang lain oleh karena itu dengan penerapan pembelajaran Model Numbered Head Together (NHT) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga memperoleh hasil yang maksimal. Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini bagi guru, sedikit demi sedikit dapat meningkatkan kompetensinya dalam merancang model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan tidak membosankan. Bagi siswa, lama-kelamaan akan terbiasa terlibat aktif dalam pembelajaran dan tertarik dengan mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi khususnya dan mata pelajaran lain umumnya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dirancang dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui; 1) observasi, 2) tes, 3) angket, 4) catatan lapangan, 5) dokumentasi, dan 6)..wawancara. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dengan 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan yaitu; 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Pada siklus I diketahui bahwa pada rata-rata dari skor tes siswa sebelum tindakan adalah 55,5 dengan skor tertinggi 70 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (skor ≥70) sebanyak 8 siswa dengan presentase ketuntasan belajar sebesar 24,24% setelah diterapkan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) rata-rata skor siswa meningkat menjadi 69,09 dengan skor tertinggi sebesar 100 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (skor ≥70) sebanyak 20 siswa dengan presentase ketuntasan belajar sebesar 60,61%. Ini tentu saja belum memenuhi kriteria kelulusan secara kelompok yaitu lebih dari 80%. Pada siklus II, rata-rata dari skor tes siswa sebelum tindakan adalah 76,1 dengan skor tertinggi 100 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (skor ≥70) sebanyak 19 siswa dengan presentase tingkat ketuntasan belajar sebesar 57,6%. Setelah diterapkan pembelajaran Model Numbered Head Together (NHT) rata-rata skor tes siswa meningkat menjadi 93,33 dengan skor tertinggi sebesar 100 dan jumlah siswa yang tuntas belajar (skor ≥70) sebanyak 32 siswa dengan presentase ketuntasan belajar sebesar 97%. Ini membuktikan bahwa siklus II sudah dapat dikatakan memenuhi kriteria kelulusan secara kelompok. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi dengan menggunakan Pembelajaran Model Numbered Head Together (NHT) mengalami peningkatan. Sehingga model ini perlu untuk diimplementasikan, serta dikembangkan bukan hanya pada mata pelajaran Melakukan Prosedur Administrasi, akan tetapi juga pada mata pelajaran lain yang sesuai.

Penerapan model pembelajaran mind mapping sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pada mata diklat kewirausahaan di SMK Negeri 1 Turen / Fadalur Rahman

 

Kata kunci: Mind mapping, Hasil belajar siswa. Permasalahan pembelajaran yang dihadapi baik oleh guru maupun siswa adalah hasil belajar yang kurang memuaskan dikarenakan siswa kesulitan mengkonstruk ide-idenya sendiri dalam mengingat materi yang diberikan oleh guru sehingga berdampak pada kurang optimalnya hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata siswa kelas X PJ 1 tahun ajaran 2009/2010 adalah 72,69. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu diterapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Mind Mapping. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran mind mapping pada Mata Diklat Kewirausahaan di kelas X SMK Negeri 1 Turen, (2) Mengetahui hasil belajar setelah diterapkan model pembelajaran mind mapping pada Mata Diklat Kewirausahaan di kelas X SMK Negeri 1 Turen, (3) Mengetahui dan menganalisis peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran mind mapping pada Mata Diklat Kewirausahaan di kelas X SMK Negeri 1 Turen, (4) Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan model pembelajaran mind mapping pada Mata Diklat Kewirausahaan di kelas X SMK Negeri 1 Turen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas dan hasil belajar. Mata diklat yang digunakan pada penelitian ini adalah Kewirausahaan untuk kelas X PJ 1 semester genap tahun pelajaran 2009/2010, yaitu terfokus pada materi “Prinsip dasar risiko” dan "Manajemen risiko”. Penerapan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran) dilaksanakan dalam tiga tahap sesuai dengan rencana pembelajaran yang disusun, yakni tahap penyajian materi, tahap belajar kelompok dan tahap mind mapping, serta tahap akhir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X PJ 1 di SMK Negeri 1 Turen pada mata diklat Kewirausahaan. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan ketuntasan belajar secara keseluruhan (klasikal) pada siklus 1 sebesar 45,16% dan pada siklus 2 menjadi sebesar 87,10%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan pada guru-guru Kewirausahaan yang lain khususnya guru Kewirausahaan di SMK Negeri 1 Turen agar mencoba menerapkan model pembelajaran mind mapping sebagai variasi dalam proses pembelajaran di kelas. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan model pembelajaran mind mapping dalam pembelajaran mata pelajaran lainnya agar diperoleh hasil penelitian yang representatif.

Perbedaan perencanaan karier antara siswa program keahlian kria dan siswa program keahlian teknologi informasi dan komputer kelas XI di SMK Negeri 5 Malang / Denok Siti Fatimah

 

Kata kunci: Perencanaan Karier, keahlian kria, keahlian TIK Perencanaan karier merupakan proses untuk mengambil keputusan karier yang diterapkan siswa melalui tahapan memahami keadaan diri dan kondisi lingkungan, menentukan tujuan karier dan memprogramkan pendidikan dan pekerjaan. Perencanaan karier diperlukan untuk membuat keputusan karier yang tepat karena jika terjadi hambatan dalam pencapaian karier mengakibatkan penyimpangan tujuan karier dan kekecewaan. Tujuan penelitian adalah untuk (1) mendeskripsikan perencanaan karier siswa program keahlian kria kelas XI di SMKN 5 Malang, (2) mendeskripsikan perencanaan karier siswa program keahlian teknologi informasi dan komputer kelas XI di SMKN 5 Malang, (3) Membuktikan adanya perbedaan perencanaan karier antara siswa program keahlian kria dan siswa program keahlian teknologi informasi dan komputer kelas XI di SMKN 5 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian adalah siswa program keahlian kria dan siswa program keahlian TIK kelas XI SMKN 5 Malang. Sampel penelitian sejumlah 58 siswa program keahlian kria dan 65 siswa program keahlian TIK, berjumlah 123 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling untuk kedua program keahlian. Pengumpulan data menggunakan angket perencanaan katier dengan pilihan jawaban iya dan tidak. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Siswa program keahlian kria memiliki kecenderungan untuk merencanakan pekerjaan dalam perencanaan kariernya, 2) Siswa program keahlian TIK memiliki kecenderungan perencanaan karier yang beragam, yaitu pada perencanaan pendidikan, pekerjaan maupun keduanya, 3) berdasarkan hasil analisis uji-t, nilai t tabel adalah sebesar 1,9798 dan nilai t hitung sebesar 2,975 dengan signifikansi (Sig) = 0,896. Karena nilai t hitung (2,975) > t tabel (1,9798), dengan demikian hipotesis alternatif diterima pada taraf signifikansi 95%. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan perencanaan karier antara siswa program keahlian kria dan siswa program keahlian teknologi informasi dan komputer kelas XI di SMKN 5 Malang. Siswa program keahlian TIK lebih mampu dalam merencanakan karier. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan kepada berbagai pihak: 1) Kepala sekolah: hendaknya memprogramkan bimbingan karier yang sesuai dengan karakteristik siswa, 2) Konselor: hendaknya mengaplikasikan program bimbingan guna membantu siswa dalam mengembangkan diri dengan memberikan informasi dan mendorong siswa untuk memcari informasi yang luas dari berbagai media, 3) Orang tua: hendaknya memantau dan mendorong aktivitas ii siswa yang berkaitan dengan belajar dan berkarier, dan 4) Peneliti lanjut: hendaknya mengembangkan suatu paket bimbingan karier pada siswa yang memiliki kecenderungan dalam perencanaan pendidikan maupun pekerjaan.

Pengembangan model latihan penyerangan pola permainan 1-2-1 pada ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 1 Batu / Dodik Irfan Afandi

 

Kata kunci: pengembangan, latihan, penyerangan futsal, SMA Negeri 1 Batu. Permainan futsal merupakan hasil pengembangan dari permainan sepakbola. Futsal adalah permainan yang sangat cepat dan dinamis. Dengan kondisi lapangan futsal yang sempit, maka kemungkinan terjadinya gol akan semakin besar, sehingga diperlukan pergerakan yang cepat dari setiap pemain dan juga kerjasama antar pemain yang baik pula. Sesuai dengan tujuannya yakni untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan, maka pola penyerangan yang terorganisir harus dimiliki oleh setiap tim. Pergerakan pemain yang telah terorganisir dengan baik akan mempermudah dalam usaha untuk mencetak gol ke gawang lawan. Pelaksanaan latihan futsal untuk tingkat pemula terlebih dahulu diperkenalkan dengan teknik dasar yaitu teknik dasar passing, controlling, dan shooting. Sesuai dengan tujuan permainan futsal, maka pola penyerangan yang baik akan ikut menentukan seberapa besar tim tersebut memperoleh peluang untuk menghasilkan gol dan memperoleh kemenangan. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner dengan pihak yang bersangkutan di sekolah SMA Negeri 1 Batu (peserta dan pelatih ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 1 Batu) secara umum diperoleh hasil sebagai berikut: Peserta atau tim kurang menguasai pola penyerangan dalam permainan futsal, sedangkan teknik dasar yang dikuasai oleh peserta ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 1 Batu sudah cukup baik. Pelatih jarang memberikan latihan penyerangan futsal yang menarik dan sesuai dengan kondisi saat di lapangan, selama ini pola penyerangan yang diberikan oleh pelatih kurang menarik karena pelatih minimnya literatur yng dimiliki sang pelatih. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah belum atau minimnya model-model latihan penyerangan futsal yang diterima oleh peserta ekstrakurikuler futsal SMA Negeri 1 Batu. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan model-model latihan penyerangan futsal sehingga dapat memperbesar peluang tim untuk menciptakan gol dan membantu pelatih dalam penyampaian materi penyerangan. Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan research and development dari Borg dan Gall. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk para ahli dan siswa, serta justifikasi kepada 3 ahli futsal. Sedangkan untuk dilakukan uji coba (kelompok kecil) menggunakan sebanyak 10 siswa, dan uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 30 siswa. Hasil analisis data penelitian berupa pengembangan model latihan penyerangan futsal di SMA Negeri 1 Batu ini adalah sebagai berikut: 92,01% jumlah keseluruhan rata-rata presentase dari hasil evaluasi dari 3 ahli futsal, 82% jumlah keseluruhan rata-rata presentase dari hasil uji coba (kelompok kecil), dan 92,7% jumlah keseluruhan rata-rata presentase dari hasil uji lapangan (kelompok besar), sehingga produk penelitian pengembangan ini memperoleh kelayakan untuk digunakan oleh subjek penelitian. Secara garis besar hasil pengembangan model latihan penyerangan futsal ini terdiri dari 8 model latihan penyerangan futsal yang dinamis. Pengembangan model latihan penyerangan ini didasarkan oleh pola formasi dan unsur-unsur teknik yang dibutuhkan saat melakukan penyerangan futsal.

Pengembangan media pembeljaran kimia bilingual berbasis multimedia untuk materi sifat kologatif larutan pada pembelajaran kimia SMA kelas XII / Apriliyatan

 

Kata kunci: media pembelajaran, pembelajaran bilingual, sifat koligatif larutan Persaingan di dunia pendidikan saat ini semakin ketat. Ketersiapan lulusan SMA/MA/sederajat untuk dapat bersaing di dunia internasional dirasa masih kurang. Salah satu bentuk upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas lulusan agar mampu mensejajarkan mutu pendidikan pada level internasional direalisasikan melalui perintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Metode pembelajaran pada Sekolah Bertaraf Internasional menggunakan metode berbasis multimedia dengan bahasa pengantar bahasa Inggris. Ketersediaan fasilitas multimedia serta tuntutan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar mendorong penggunaan media pembelajaran berbasis multimedia berbahasa Inggris. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan komputer sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Oleh karena itu, penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan media pembelajaran bilingual berbasis multimedia untuk materi sifat koligatif larutan dan mengetahui validitas media pembelajaran yang dikembangkan sebagai media pembelajaran di SMA bertaraf internasional. Pengembangan media pembelajaran bilingual ini dilakukan mengikuti model pengembangan dalam Dick and Carrey dalam bukunya The Systematic Design of Instruction. Adapun langkah-langkah dengan beberapa penyesuaian yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) Mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran; (2) Melaksanakan analisis materi pembelajaran; (3) Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa; (4) Merumuskan tujuan performansi; (5) Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan; (6) Mengembangkan media pembelajaran; (7) Mendesain dan melaksanakan validasi pengembangan; (8) Merevisi hasil pengembangan; (9) Produksi hasil pengembangan. Uji coba produk media yang dihasilkan menggunakan uji ahli. Subyek uji coba dilakukan pada satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia yang berkompeten. Instrumen penelitian yang dipergunakan adalah angket yang menggambarkan data kuantitatif dan kualitatif. Angket ini mempergunakan skala likert. Pengambilan data dilakukan setelah media pembelajaran selesai dibuat. Hasil pengembangan media pembelajaran kimia bilingual berbasis multimedia untuk materi sifat koligatif larutan pada pembelajaran kimia SMA kelas XII berupa compact disk (CD). Media pembelajaran yang dihasilkan memiliki spesifikasi sebagai berikut: (1) Menggunakan 2 bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris; (2) Bersifat menarik dan interaktif; (3) Memiliki beberapa komponen yakni: (a) Standar Kompetensi, (b) Materi, (c) Animasi dan video, dan (d) Latihan dan tes evaluasi; (4) Mengkombinasikan variasi teks, gambar, animasi, gerak, suara, dan video; dan (5) Terdiri empat bagian utama yaitu: tampilan pembuka, pendahuluan, materi, dan tes. Validasi yang dilakukan hanya terbatas pada uji ahli, sedangkan uji kelompok kecil dan lapangan tidak dapat dilakukan dikarenakan ketidaktepatan waktu antara penyelesaian media dengan pembelajaran. Hasil validasi uji ahli oleh satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia diperoleh persentase rata-rata total kelayakan sebesar 94,2% yang memenuhi spesifikasi dengan kriteria layak sebagai media pembelajaran. Namun masih perlu dilakukan uji kelompok kecil dan uji lapangan untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini perlu dilakukan karena spesifikasi media untuk penggunaannya oleh siswa belum dapat diukur.

Penerapan metode diskusi untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas XI IPS semester II pada kompetensi menganilis pelestarian lingkungan hidup kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan di SMA terpadu Abdul Faidl Wonodadi Kabupaten Blitar / Rajif Hasan Ali

 

Kata kunci: Metode Diskusi, Keaktifan, Siswa Refleksi awal terhadap pembelajaran Geografi di Kelas XI IPS SMA Terpadu Abul Faidl teridentifikasi masalah-masalah pembelajaran; keaktifan siswa rendah, terbukti pada 10 menit pertama pembelajaran berlangsung tak satupun siswa yang merespon terhadap pertanyaan, sebagian besar siswa diam dan mendengarkan. Ketika diberi kesempatan bertanya hanya ada satu siswa yang mengajukan pertanyaan, sebagian besar siswa diam, mencatat, bahkan ada yang bergurau. Sebagian besar siswa kurang antusias. Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Pada pelaksanaannya PTK ini mengikuti langkah-langkah Kemmis dan M.c Taggart dengan langkah;1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, 4) Refleksi. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas XI IPS semester II tahun ajaran 2009/2010 SMA Terpadu Abul Faidl yang berjumlah 24 siswa terdiri 13 siswa perempuan dan 11 siswa laki-laki. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa data keaktifan siswa. Keaktifan belajar siswa diukur menggunakan deskriptor berupa data keaktifan siswa dalam diskusi dan keaktifan siswa dalam presentasi. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan: adanya peningkatan keaktifan belajar siswa Kelas XI IPS SMA Terpadu Abul Faid, ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase keaktifan belajar siswa dalam diskusi dari 41,67% pada siklus I pertemuan ke-2 menjadi 66,67% pada siklus II pertemuan ke-1dan menjadi 75% pada siklus II pertemuan ke-2, sedangkan persentase keaktifan belajar siswa dalam presentasi dari 54,17% pada siklus I pertemuan ke-2 menjadi 62,5% pada siklus II pertemuan ke-1dan menjadi 79,17 pada siklus II pertemuan ke-2. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas XI IPS SMA Terpadu Abul Faidl. Disarankan bagi guru Geografi di SMA Terpadu Abul Faidl untuk menjadikan metode diskusi sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran geografi untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa, Bagi peneliti selanjutnya disarankan dapat melakukan penelitian dengan menerapkan metode diskusi pada materi lain yang bersifat problematis.

Aplikasi metode garch untuk peramalan kunjungan wisatawan ke obyek wisata Gunung Bromo / Yuliana

 

Kata Kunci : GARCH, objek wisata, wisatawan Objek wisata alam di Indonesia terdiri atas wisata darat dan wisata laut. Wisata darat berupa wisata pegunungan dan wisata sejarah. Salah satu objek wisata alam kebanggaan Jawa Timur adalah objek wisata Gunung Bromo. Untuk mengetahui peramalan kunjungan wisatawan ke objek wisata Gunung Bromo pada waktu yang akan datang, berdasarkan data yang dicatat setiap bulan oleh Dinas Pariwisata mengandung penurunan jumlah pengunjung pada akhir tahun 2006 dikarenakan adanya kabar Gunung Bromo meletus. Peramalan ini bermanfaat untuk Dinas Pariwisata setempat untuk memprediksi kunjungan wisatawan ke objek wisata Gunung Bromo beberapa tahun kedepan, untuk melaksanakan program-program yang bermanfaat bagi perkembangan kepariwisataan. Selain itu dengan melakukan peramalan, dinas pariwisata dapat meningkatkan kesiapan tingkat keamanan serta sarana dan prasarana seperti kesiapan hotel dan alat transportasi. Dari hasil penelitian diperoleh model metode GARCH yang sesuai untuk data kunjungan wisatawan ke objek wisata Gunung Bromo adalah GARCH (3,1) dengan persamaan ���� =21,42843+0,275240��������+����, ������ =49006120,211388����������+0,039639����������−0,588526����������+0,646980����������, dimana+ ������ adalah varian residual. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa metode GARCH (3,1) digunakan dalam meramalkan kunjungan wisatawan ke objek wisata Gunung Bromo.

Peran serta orangtua siswa dalam pembiayaan satuan pendidikan (Studi multi situs di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Senduro dan Sekolah Menengah Atas PGRI 1 Lumajang) / Fitri Erviati

 

Kata kunci: peran serta, orangtua siswa, pembiayaan satuan pendidikan. Salah satu aspek dalam Manajemen Berbasis Sekolah adalah mengoptimalkan peran serta masyarakat terutama orangtua siswa yang menjadi pelanggan pendidikan tersebut. Keterlibatan orangtua siswa dalam manajemen sekolah sangat diperlukan guna menuju pendidikan berbasis masyarakat, yaitu pendidikan yang berdasarkan pada kebutuhan masyarakat. Salah satu peran serta orangtua siswa dalam pendidikan adalah mengenai pembiayaan satuan pendidikan. SMAN 1 Senduro merupakan sekolah baru yang berdiri sejak 20 Juni 2005. Biaya satuan pendidikan di sekolah baru maka yang dibutuhkan semakin besar karena memerlukan pengembangan yang lebih dari pada sekolah yang lama berdiri. Sebagai salah satu sekolah swasta tentu peran serta orangtua siswa menjadi hal yang utama bagi SMA PGRI 1 Lumajang. Peran serta orangtua siswa tentu masih sangat dibutuhkan dalam pengembangan SMA PGRI 1 Lumajang, apalagi sekolah ini merupakan sekolah swasta yang sangat menggantungkan biaya pendidikan pada orangtua siswa. Berdasarkan uraian tersebut, maka fokus dan tujuan penelitian yaitu tentang peran serta orangtua siswa dalam: (1) menetapkan biaya yang harus dibayar kepada sekolah; (2) perencanaan pembiayaan satuan pendidikan; (3) pelaksanaan pembiayaan satuan pendidikan; (4) pengawasan pembiayaan satuan pendidikan; dan (5) perbandingan peran serta orangtua siswa dalam pembiayaan satuan pendidikan di SMAN 1 Senduro dan SMA PGRI 1 Lumajang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dirancang dengan menggunakan rancangan studi multi situs, karena pada penelitian ini dilakukan di dua lokasi yaitu di SMAN 1 Senduro dan SMA PGRI 1 Lumajang. Peneliti sendirilah yang berperan sebagai instrumen kunci, dengan subjek penelitian adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian humas, ketua komite sekolah, bendahara sejolah dan komite sekolah, orangtua siswa, dan siswa. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan pembiayaan satuan pendidikan. Peneliti melakukan pengerjaan dan pengorganisasian data, setelah itu peneliti melakukan mengklasifikasi data, menyaring data, dan menarik kesimpulan. Data yang telah dianalisis kemudian dicek keabsahannya dengan menggunakan empat kriteria, yaitu (1) perpanjangan kehadiran peneliti; (2) ketekunan pengamatan; (3) wawancara terfokus; dan (4) triangulasi. Kesimpulan penelitian ini adalah peran serta orangtua siswa di SMAN 1 Senduro dalam: (1) penetapan biaya yang harus dibayar, orangtua terlibat saat ii rapat pengambilan keputusan. Terjadi musyawarah antara sekolah dan orangtua siswa; (2) penyusunan perencanaan pembiayaan, orangtua terlibat melalui komite sekolah, namun orangtua siswa mengetahui rincian rencana pembiayaan tersebut melalui rapat ketika pengambilan rapot; (3) pelaksanaan orangtua siswa berperan menyediakan biaya insidental non-gedung dan kegiatan tahunan siswa; dan (4) pengawasan orangtua siswa berperan melalui komite sekolah, namun laporan secara rinci diberitahuakan ketika ada pertemuan dengan orangtua siswa. Kesimpulan peran serta orangtua siswa di SMA PGRI 1 Lumajang dalam: (1) penetapan biaya yang harus dibayar, peran orangtua siswa melalui komite sekolah, komite akan mempertimbangkan kebutuhan sekolah dan keadaan ekonomi orangtua siswa; (2) penyusunan perencanaan pembiayaan, orangtua siswa tidak dilibatkan secara langsung ide, saran dan kritik mereka ditampung melalui wali kelas masing-masing ketika pertemuan pembagian rapot; (3) pelaksanaan, orangtua siswa menanggung seluruh pembiayaan satuan pendidikan dan kekurangan biaya operasional sekolah yang telah diberikan oleh Pemerintah Daerah; dan (4) pengawasan orangtua siswa terlibat melelui komite sekolah, komite sekolah mengawasi secara berkala dan tidak terjadwal yang bisa dilakukan sewaktu-waktu. Perbandingan peran serta orangtua siswa dalam pembiayaan satuan pendidikan di SMAN 1 Senduro terlihat ketika orangtua siswa terlibat dalam pengambilan keputusan penetapan biaya yang harus dibayar, perencanan hanya melibatkan komite sekolah, orangtua siswa menanggung biaya insidental non-gedung dan kegiatan tahunan siswa, serta pelaporan kepada orangtua siswa dilakukan ketika ada pertemuan dengan orangtua siswa, sedangkan di SMA PGRI 1 Lumajang peran serta orangtua siswa dalam penetapan biaya yang harus dibayar dan penyusunan perencanaan hanya melalui komite sekolah, orangtua siswa menanggung seluruh biaya sekolah, pengawasan juga melibatkan komite sekolah. Saran ditujukan untuk (1) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang hendaknya membuat kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan peran serta orangtua siswa pada segala aspek pembiayaan satuan pendidikan; (2) Kepala Sekolah SMAN 1 Senduro diharapkan lebih meningkatkan peran serta orangtua siswa dalam pelaksanaan pembiayaan satuan pendidikan, dan SMA PGRI 1 Lumajang diharapkan lebih meningkatkan peran serta orangtua siswa baik dalam perencanaan, dan pengawasan pembiayaan satuan pendidikan; (3) Orangtua Siswa SMAN 1 Senduro hendaknya lebih berperan dalam proses pelaksanaan pembiayaan satuan pendidikan. Orangtua siswa juga harus lebih memahami keadaan keuangan di sekolah, dan orangtua SMA PGRI 1 Lumajang hendaknya lebih berperan aktif dalam perencanaan dan pengawasan pembiayaan satuan pendidikan; (4) Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan para akademisi jurusan Administrasi Pendidikan mendorong mahasiswa agar lebih banyak meneliti tentang manajemen keuangan sekolah.; (5) Peneliti lain hendaknya melanjutkan penelitian ini karena masih banyak masalah dalam pembiayaan satuan pendidikan yang belum terkuak sehingga penting untuk diteliti.

Penerapan budaya disiplin dalam rangka pembentukan karakter siswa (Studi kasus di SDN Percobaan 1 Malang) / Ida Nuryanti

 

Kata kunci: budaya sekolah, disiplin Bidang pendidikan adalah salah satu bidang yang dijadikan sasaran dalam pengembangan pembangunan jangka panjang, terselenggaranya pendidikan yang berkualitas akan mewujudkan manusia yang bermutu tinggi, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu manusia. Dalam peningkatan mutu manusia, dalam suatu pendidikan terdapat beberapa aspek yang berkaitan erat dengan mutu sekolah yakni proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Kultur sekolah ini berkaitan dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah dalam menggembangkan sekolahnya di masa yang akan datang. Kultur/budaya sekolah dibangun dari pemikiran-pemikiran manusia yang ada dalam sekolah tersebut. Pemikiran yang paling besar porsinya adalah pemikiran kepala sekolah. Dari pemikiran tersebut kemudian menghasilkan apa yang disebut dengan suatu pemikiran organisasi, yang kemudian diyakini bersama dan akan menjadi bahan utama pembentuk budaya sekolah. Budaya sekolah yang diterapkan oleh pihak sekolah dalam lingkungan sekolah dapat mempengaruhi kepribadian siswa terutama dalam hal kedisiplinan dan kujujuran siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang (1) penanaman budaya disiplin yang ada di SDN Percobaan 1 Malang; (2) peran warga sekolah dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang; (3) faktor penghambat dan pendukung dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) pengamatan; (2) wawancara mendalam; dan (3) studi dokumentasi. Semua data yang diperoleh dari ketiga teknik tersebut diorganisasikan, ditafsirkan dan dianalisis guna menyusun dan mengabstraksikan temuan di lapangan. Sedangkan keabsahan data diuji dengan: (1) kepercayaan; (2) keteralihan; (3) kebergantungan; (4) kepastian. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) penanaman budaya disiplin siswa di SDN Percobaan 1 Malang di awali dengan pembuatan visi, misi, dan tujuan sekolah yang disusun bersamaan dengan pembuatan KTSP. Dari visi, misi, dan tujuan sekolah tersebut, maka budaya sekolah dapat dibentuk. Penyusunan visi, misi dan tujuan sekolah tersebut melibatkan stakeholder yang ada. Penerapan budaya sekolah tersebut juga diberlakukan kepada warga sekolah. Budaya sekolah yang paling menonjol di SDN Percobaan 1 Malang ini yaitu budaya kedisiplinan. Budaya kedisplinan ini tertuang dalam tata tertib sekolah, yang diberlakukan terhadap seluruh warga sekolah, (2) peran warga sekolah dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang ini sangat ii membantu. Para siswa SDN Percobaan 1 Malang ini sangat berperan aktif dalam melaksanakan penerapan budaya disiplin. Mereka mematuhi tata tertib yang telah dibuat oleh sekolah, dan mereka mengamalkan budaya disiplin tersebut disetiap kegiatan yang mereka lakukan. Guru juga sangat membantu dalam penerapan budaya disiplin tersebut, hal ini dapat dilihat dalam perilaku guru yang menjadi model bagi siswanya. Model dalam hal ini adalah contoh dalam penerapan budaya disiplin tersebut. Jadi guru tidak hanya memerintah siswanya untuk mematuhi tata tertib yang berlaku, melainkan guru juga melaksanakan tata tertib tersebut. Begitu juga orang tua siswa mereka sangat mendukung bahkan mensuport dengan diterapkannya budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang ini. Mereka berperan dalam menginggatkan dan mensuport anaknya agar senantiasa menjalankan budaya disiplin dimanapun mereka berada dan dalam mengerjakan kegiatan apapun, (3) faktor penghambat dalam penerapan budaya disiplin berasal dari para siswa itu sendiri. Lalu dengan adanya siswa ABK di SDN Percobaan 1 Malang itu juga sedikit menghambat penerapan budaya sekolah, karena perlu kerja keras agar siswa ABK tersebut bisa mematuhi dan menjalankan budaya disiplin tersebut. Begitu juga dengan masalah pribadi siswa yang terjadi di rumahnya, ataupun sikap siswa yang malas. Faktor pendukung dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang yaitu dengan adanya sarpras yang cukup menunjang untuk pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi penerapan budaya sekolah, lingkungan yang kondusif, dan dibantu dengan kekompakan warga sekolah dalam menerapkan dan menjalankan budaya sekolah yang ada terutama budaya kedisiplinannya. Peran orang tua juga sangat mendukung terlakasananya penerapan budaya sekolah yang ada.dalam penerapan budaya disiplin di SDN Percobaan 1 Malang. Saran yang disampaikan dari temuan penelitian ini yaitu: (1) bagi kepala sekolah dan Guru-guru SDN Percobaan 1 Malang diharapkan kepala sekolah ikut mengawasi jalannya penerapan budaya sekolah, jadi penerapannya tidak hanya dibebankan kepada guru saja. Agar kepala sekolah dapat mengetahui kendala yang ada dilapangan secara langsung, dan dapat mencari solusi akan kendala tersebut. Serta dapat meningkatkan kekompakan dan kerjasama antar guru maupun stakeholder yang ada dalam penerapan budaya disiplin agar dapat memberikan hasil yang lebih baik dan optimal. Diharapkan juga dapat lebih menonjolkan budaya disiplin ini dengan jalan memberlakukan adanya reward serta punishment, dan dapat dilaporkan secara berkala setiap akhir semester. Hal tersebut bertujuan agar para siswa antusias untuk berlomba menjadi yang terbaik dalam melaksankan budaya disiplin ini, (2) bagi orang tua siswa diharapkan orang tua siswa dapat menerapkan pola asuh yang tepat untuk anak-anaknya dalam rangka membentuk karakter anak yang lebih baik lagi, dan terus memberikan dukungan yang baik kepada putra-putrinya dalam menjalankan budaya disiplin dimanapun mereka berada, (3) bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti budaya sekolah yang lain agar dapat mengetahui kegunaan budaya sekolah tersebut, sehingga dapat membantu sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah. Misalnya meneliti pengaruh budaya membaca terhadap motivasi belajar siswa.

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi guru dan fasilitas laboratorium akuntansi terhadap motivasi dan prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK negeri 1 Pasuruan / Yozzevi Whina Aquareynica

 

Kata kunci: Persepsi Siswa, Kompetensi Guru, Fasilitas Laboratorium, Motivasi, Prestasi Belajar Siswa. Persepsi memiliki peranan penting dalam perilaku, yaitu sebagai pengembangan fungsi-fungsi kognitif, afektif, dan konatif sehingga berpengaruh terhadap penyesuaian yang lebih utuh dan proporsional. Dalam proses belajar mengajar, tidak lepas dari interaksi antara guru, murid dan lingkungan yang berupa laboratorium. Apabila persepsi siswa positif terhadap guru dan laboratorium maka dapat meningkatkan motivasi siswa yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: pengaruh langsung persepsi siswa tentang kompetensi guru dan fasilitas laboratorium terhadap motivasi belajar siswa; pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi guru dan fasilitas laboratorium terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa; dan pengaruh langsung motivasi belajar siswa terhadap peningkatan prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan (explanatory research). Teknik analisis yang digunakan adalah analisa jalur (path analysis).Variabel dalam penelitian ini meliputi persepsi siswa tentang kompetensi guru, fasilitas laboratorium, motivasi belajar siswa, dan prestasi belajar siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI jurusan akuntansi yang ada di SMK Negeri 1 Pasuruan pada tahun ajaran 2009/2010 yang terdiri dari 109 siswa. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampel random atau sampel acak yaitu sejumlah 52 siswa. Teknik pengumpulan data adalah angket dan dokumentasi. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh secara langsung yang signifikan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru terhadap motivasi belajar siswa sebesar 0,012. Persepsi siswa tentang kompetensi guru tidak berpengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar sebesar 0,0005. Persepsi siswa tentang fasilitas laboratorium berpengaruh secara langsung yang signifikan terhadap motivasi belajar siswa sebesar 0,347. Persepsi siswa tentang fasilitas laboratorium tidak berpengaruh tidak langsung terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa sebesar 0,0142. Motivasi belajar tidak berpengaruh secara langsung secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,041. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada universitas untuk selalu meningkatkan mutu lulusannya, pihak sekolah menambah fasilitas dan mengoptimalkan pemanfaatan laboratorium, guru untuk mampu menunjukkan kemampuan menguasai bahan yang diajarkan, antusiasisme, dan kemenarikan dalam mengajar sehingga menimbulkan persepsi positif pada siswa, serta bagi calon peneliti selanjutnya perlu menambah sampel dan variabel penelitian.

Penerapan pemahaman manajemen seni lukis mahasiswa pendidikan seni rupa angkatan 2005-2007 non reguler pada proses berkarya dan berpameran di Universitas Negeri Malang / Yuhan Dwi Prasetyo

 

Kata Kunci : pemahaman manajemen seni, proses berkarya, dan berpameran. Kegiatan berkarya maupun berpameran seni merupakan aktifitas yang wajib dilakukan oleh mahasiwa seni maupun seorang seniman. Kemampuan tata kelola atau manajemen seni baik dari proses berkarya sampai pada berpameran sangat penting untuk dipahami dan diterapkan oleh mahasiswa seni. Hal ini harus dilakukan agar hasil karya dapat maksimal dan penyajian karyanyapun sesuai dengan aturan-aturan yang profesional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) proses berkarya terdiri dari ide, proses berkarya dan finishing. 2) proses berpameran terdiri dari konsep kurasi, tim pelaksana, proposal, publikasi dan promosi, katalog, sponsor dan bujet, pengepakan karya, perawatan dan transportasi karya, display, ruang dan materi, acara pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi pameran. The purpose of this study is to determine: 1) process of work consists of ideas, processes and finishing work. 2) exhibiting the process consists of a curatorial concept of executive team, proposals, publications and promotions, catalogs, sponsors and budgets, packaging works, maintenance works and transport, display, space and matter, event execution, control and evaluation of the exhibition Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. pengumpulan datanya menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisa datanya menggunakan induksi (mengumpulkan dan menyajikan data), interpretasi (pencarian makna data dengan teori) dan konseptualisasi (penarikan kesimpulan). Populasinya adalah mahasiswa seni rupa. Sampel dan partisipan dilakukan secara khusus pada mahasiswa angkatan 2005-2007 Non Reguler. Berdasarkan analisa data secara umum dapat disimpulkan bahwa pemahaman mahasiswa seni rupa angkatan 2005-2007 Non Reguler terhadap manajemen proses berkarya dan berpameran sudah baik. Pada waktu proses berkarya masih belum memaksimal dalam pemanfaatan alat. Pameran secara garis besar sudah terorganisir dengan baik, mulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan sampai pada evaluasi hasil pameran berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Dalam pengepakan dan transportasi karya kurang maksimal dan tidak diterapkannya kuratorial. Dari hasil penelitian ini disarankan, (1) untuk mahasiswa agar selalu memperluas pengetahuannya tentang mengelola sebuah kegiatan. (2) pembiasaan diri untuk mengunjungi acara-acara pameran dan beraprisiasi seni untuk memperluas pengetahuan sekaligus menambah ide-ide kreatif untuk berkarya maupun dalam menyelenggarakan pameran. (3) untuk peneliti berikutnya, perlu diadakan penelitian tindak lanjut dengan subyek dan batasan-batasan yang lebih luas.(4) untuk jurusan seni desain Universitas Negeri Malang agar mengembangkan lebih lanjut penelitian ini.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa kelas XI-IA-6 SMAN 1 Pandaan / Puji Savvy Dian Faizati

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team-Assisted Individualization), Peningkatan Kemampuan Bertanya Siswa SMAN 1 Pandaan sering mengalami kesulitan dalam mengajukan pertanyaan. Hal ini dikarenakan siswa malu untuk bertanya, malas, merasa canggung, takut pertanyaan yang diajukan ditertawakan teman-temannya, takut kepada guru, tidak terbiasa bertanya, dan tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Guru juga belum pernah menggunakan variasi metode pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini berpusat pada guru dan apa yang diajarkan bersifat prosedural tanpa upaya membangkitkan kemauan siswa untuk bertanya selama pembelajaran.  Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan TAI untuk melihat aktivitas dan kemampuan bertanya siswa kelas XI-IA-6 SMAN 1 Pandaan pada materi Turunan Fungsi. Proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan pendahuluan, pembentukan kelompok berdasarkan hasil tes awal,selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar individu dan membimbing dalam belajar kooperatif kemudian diakhiri dengan mengkomunikasikan hasil dan tes keterampilan serta penutup. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus I persentase banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan adalah 46.15% sedangkan pada siklus II persentase banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan adalah 76.92%. Berdasarkan persentase pertanyaan tertutup yang muncul selama pembelajaran pada siklus I adalah 52.64% dan pada siklus II adalah 85%, sedangkan untuk pertanyaan terbuka, pada siklus I adalah 47.36% dan pada siklus II adalah 15%, dapat diketahui bahwa ada peningkatan banyaknya pertanyaan tertutup yang muncul, hal ini berarti siswa sudah terbiasa berpikir konvergen atau menarik kesimpulan yang logis dari informasi yang diberikan. Siswa sudah mengalami proses “penemuan kembali” konsep-konsep materi yang dipelajari melalui pembelajaran kooperati tipe TAI. Siswa tidak lagi mendapat transfer ilmu, namun menemukan sendiri pengetahuannya. Aktivitas siswa selama pembelajaran kooperatif tipe TAI pada siklus I skor rata-rata 67.17 dan skor rata- rata pada siklus II adalah 69.75. Dalam analisis skor rata-rata tersebut bahwa aktivitas siswa termasuk kategori sangat baik. Aktivitas guru selama pembelajaran kooperatif tipe TAI pada siklus I skor rata-rata 67.5 dan skor rata-rata pada siklus II adalah 68.5. Dalam analisis skor rata-rata tersebut bahwa aktivitas guru termasuk kategori sangat baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe TAI dalam penelitian ini berhasil.

Disiplin belajar siswa dalam mengikuti mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Studi kasus di SMPN 21 Malang) / Wiji Pramono

 

Kata kunci : Disiplin Belajar Siswa, Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan mempunyai peran penting dalam upaya mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Berbagai bentuk pembaharuan telah dilakukan untuk meningkatkan disiplin belajar siswa, diantaranya adalah memberikan hadiah, acungan jempol seperti “bagus“, pemberian nasehat yang membangun buat diri pribadi siswa, pemberian ancaman berupa tidak naik kelas dengan nilai C, serta pemberian hukuman yaitu berdiri didepan kelas, menjelaskan materi yang sudah disampaikan, membuat kliping dan lain-lain. Disiplin belajar di dalam kelas pada saat KBM berlangsung memungkinkan terjadinya suasana belajar yang nyaman dan kondusif, serta guru akan jauh lebih mudah menemukan kreasi dan inovasi pengelolaan kelas untuk menunjang proses belajar mengajar yang lebih efektif. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana disiplin belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PKn di SMPN 21 Malang. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan disiplin belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PKn di SMPN 21 Malang; (2) untuk mendeskripsikan bentuk disiplin belajar apakah yang diterapkan dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang; (3) untuk mendeskripsikan penyebab kedisiplinan siswa dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang; (4) untuk mendeskripsikan uapaya guru PKn dalam meningkatkan disiplin belajar siswa di SMPN 21 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (studi kasus di SMPN 21 Malang). Subyek penelitian ini adalah wakil kepala sekolah, guru Pendidikan Kewarganegaraan dan para siswa kelas 7 dan kelas 8 di SMPN 21 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada pendapat Miles dan Huberman dengan prosedur reduksi data, penyajian data dan verivikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) disiplin belajar siswa pada saat KBM berlangsung sudah baik, walaupun masih ada beberapa siswa dari berbagai kelas yang mengobrol sendiri, tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, mengerjakan tugas PKn di dalam kelas pada saat KBM berlangsung, tidak memakai kaos kaki SMPN 21 Malang, waktunya pelajaran PKn mengerjakan tugas mata pelajaran yang lain, bercanda gurau dengan teman sebangku, ada yang tertidur pada saat KBM berlangsung, asyik mainan HP, mainan kertas dan lain-lain; (2) disiplin belajar yang diterapkan dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang adalah siswa diwajibkan membawa buku catatan, LKS, buku pedoman, datang di dalam kelas tepat waktu, tidak boleh ramai dan mengumpulkan tugas tepat pada waktunya, rajin menjawab pertanyaan, rajin memberikan tanggapan, rajin bertanya kepada guru; (3) penyebab kedisiplinan siswa dalam mengikuti mata pelajaran PKn di SMPN 21 Malang meliputi penyebab siswa tidak disiplin belajar yaitu guru dalam mengajar tidak menarik, tidak sesuai dengan bakat dan minat siswa, tugas yang diberikan terlalu banyak dan sulit, serta penyebab siswa disiplin belajar yaitu kesadaran diri siswa akan aturan yang mengikat pada saat pelajaran PKn, bahwa pelajaran PKn sekarang berhubungan langsung dengan nilai kepribadian dan tingkah laku siswa, nilai kepribadian siswa diserahkan langsung kepada guru PKn bukan lagi guru BK; (4) upaya guru PKn dalam meningkatkan disiplin belajar siswa di SMPN 21 Malang adalah dengan memberikan hadiah, acungan jempol seperti “bagus“, pemberian nasehat yang membangun buat diri pribadi siswa, pemberian ancaman berupa tidak naik kelas dengan nilai C, serta pemberian hukuman yaitu berdiri di depan kelas, menjelaskan materi yang sudah disampaikan, membuat kliping dan lain-lain. Berdasarkan temuan penelitian disarankan perlunya meningkatkan hubungan antara guru dengan siswa karena masih banyak siswa atau guru yang kurang tahu diantara keduanya. Perlunya ditingkatkannya disiplin belajar siswa, karena dengan disiplin belajar yang tepat hasil yang akan diperoleh hasil maksimal. Orang tua perlu mengadakan pengawasan terhadap belajarnya siswa, karena dengan pengawasan tersebut siswa akan merasa diperhatikan oleh orang tuanya. Bagi guru SMPN 21 Malang hendaknya dalam memberikan pelajaran selalu memperhatikan sikap disiplin siswa karena hal ini akan berpengaruh terhadap tercapainya tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan sebelumnya. Dan biasakan dalam memberikan sanksi disertai dengan bimbingan secara kontinu. Kepada Dinas Pendidikan terkait hendaknya selalu memberikan pengawasan dalam pelaksanaan pendidikan agar berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Perancangan instalasi listrik masjid jami Al-Hurriyyah Tumpang, Kab. Malang / Yhendris Arief Aibe

 

Kata Kunci: masjid jami Al-Hurriyyah, instalasi listrik, standar, PUIL 2000. Instalasi listrik merupakan salah satu bagian terpenting dalam sebuah bangunan. Instalasi listrik dapat dibagi menjadi dua yaitu instalasi penerangan dan instalasi tenaga. Titik-titik beban dalam sebuah bangunan seperti lampu, piranti dan perlengkapan memerlukan aliran listrik yang terdistribusi. Distribusi aliran listrik yang baik berguna untuk mendukung kelancaran aktifitas pengguna di dalamnya. Masjid Jami Al-Hurriyyah sebagai salah satu tempat ibadah harus memiliki instalasi penerangan dan instalasi tenaga yang handal. Beban penerangan semakin meningkat karena kesadaran akan tingkat iluminasi yang memadai bagi kenyamanan melihat dan membaca. Peranti listrik yang digunakan pun semakin beragam sehingga persyaratan instalasi harus mencukupi untuk menghindari gangguan pemutusan sirkit karena beban lebih. Penggunaan komponen listrik yang tidak memenuhi standar dapat mengurangi kualitas penerangan maupun penyaluran tenaga. Faktor keamanan juga tidak boleh diabaikan karena hal tersebut menjadi alasan utama mengapa dilakukan perancangan sesuai dengan standar PUIL 2000. Standar lain yang tidak bertantangan dengan PUIL 2000 memungkinkan untuk digunakan dalam perancangan ini sebagai pendukung. Langkah perancangan di mulai dari pengumpulan data yang meliputi pencarian layout atau denah Masjid Jami Al-Hurriyyah, fungsi masing-masing ruang, dan dimensi ruang. Pengumpulan data instalasi yang sudah ada juga perlu dilakukan sebagai hasil evaluasi dan pembanding dari hasil perancangan. Untuk perancangan penerangan yang dilakukan meliputi perhitungan intensitas cahaya (E), efisiensi (η), faktor bentuk (K), fluksi (Φ) dan titik penerangan (N). Gawai proteksi meliputi pembagian beban, perhitungan sirkit akhir, sirkit cabang dan sirkit utama untuk penerangan dan tenaga. Pembagian beban harus seimbang agar saat penggunaan tidak mengalami permasalahan. Instalasi penerangan harus dipisahkan dengan instalasi tenaga, dikarenakan apabila terjadi gangguan pada penggunaan daya beban maka penerangan tidak mengalami pemadaman. Perancangan sirkit akhir instalasi tenaga meliputi pemilihan penampang penghantar dan arus pengenal gawai proteksi. Pemilihan penampang penghantar dilakukan dengan dua metode yaitu metode rapat arus dan metode rugi tegangan. Pemilihan gawai proteksi disesuaikan dengan penampang penghantar yang digunakan. Perancangan sistem pentanahan dilakukan dengan memperhatikan resistans jenis tanah di sekitar bangunan. Jumlah elektrode pentanahan yang dibutuhkan ditentukan dengan menyesuaikan resistans jenis tanah dengan resistans pembumian yang diinginkan. Dari perancangan ulang ini dihasilkan instalasi listrik Masjid Jami Al-Hurriyyah sesuai dengan denah masjid terbaru yang sesuai dengan PUIL 2000 dan persyaratan yang tidak bertantangan dengan PUIL 2000 dalam hal penentuan titik beban, tata letak lampu, penempatan kotak kontak masing-masing ruangan, gawai proteksi, PHB utama, PHB cabang, jenis dan penampang penghantar. Perancangan ini juga dapat digunakan sebagai referensi perancangan ulang instalasi listrik Masjid Jami Al-Hurriyyah Tumpang, Kab. Malang.

Tes rentang memori huruf alfabet sebagai pengganti tes rentang memori angka (Digit span) untuk mengukur rentang memori jangka pendek / Mardiyah Hasanati

 

Kata Kunci: tes rentang memori huruf alfabet, tes rentang memori angka (digit span), rentang memori jangka pendek Tes rentang memori angka (digit span) Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) banyak digunakan untuk mengukur rentang memori jangka pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah tes rentang memori huruf alfabet dapat dipakai sebagai alternatif pengganti tes rentang memori angka dalam mengukur rentang memori jangka pendek dan untuk memilih jenis tes rentang memori huruf alfabet yang terbaik. Penelitian dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Malang, tanggal 8 sampai 20 Maret 2010. Digunakan desain penelitian intersubject replication. Variabel amatan penelitian ialah 3 jenis tes rentang memori huruf alfabet (yaitu yang berisi 9 huruf pertama alfabet, huruf alfabet konsonan, dan seluruh huruf alfabet) dan variabel kriterianya ialah tes rentang memori angka. Sampel penelitian ialah 52 siswa (22 laki-laki dan 30 perempuan) kelas VII. Setiap subjek diberikan 4 jenis tes rentang memori jangka pendek. Urutan penyajian tes dikontrol dengan teknik counterbalance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara ketiga jenis tes rentang memori huruf alfabet dan tes rentang memori angka dalam skor total (F = 1,035; p > 0,05), skor rentang maju (F = 1,008; p > 0,05), dan skor rentang mundur (F = 0,814; p > 0,05). Ketiga jenis tes rentang memori huruf alfabet valid untuk mengukur rentang memori jangka pendek ditunjukkan dari adanya korelasi yang signifikan antara tes rentang memori angka dengan tes rentang memori 9 huruf pertama alfabet (r = 0,497; p < 0,05), huruf alfabet konsonan (r = 0,829; p < 0,05), dan seluruh huruf alfabet (r = 0,723; p < 0,05). Tes rentang memori huruf alfabet reliabel (koefisien reliabilitas Alpha Cronbach 0,810 pada subtes rentang maju dan 0,834 pada subtes rentang mundur). Tes rentang memori huruf alfabet konsonan terbukti paling valid dalam mengukur rentang memori jangka pendek sebagai pengganti tes rentang memori angka. Disarankan kepada praktisi psikologi agar dapat mempergunakan tes rentang memori huruf alfabet konsonan sebagai alternatif pengganti tes rentang memori angka untuk mengukur rentang memori jangka pendek, agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai reliabilitas tes-retes pada tes rentang memori huruf alfabet konsonan, dan agar dilakukan perhitungan validitas dan reliabilitas tes rentang memori huruf alfabet konsonan pada sampel yang heterogen.

Pengembangan bahan ajar IPA terpadu dengan tema pengaruh manusia dalam pelestarian ekosistem untuk siswa SMP/MTs kelas VII / Rima Pramita

 

Kata kunci: bahan ajar IPA Terpadu, IPA SMP/MTS, pelestarian ekosistem Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia terus dilakukan. Upaya tersebut adalah digunakannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun 2006. Pemberlakuan KTSP di sekolah menengah berdampak pada pembelajaran IPA di SMP/MTs yang menghendaki materi pelajaran IPA yang mencakup bidang kajian fisika, biologi dan kimia diajarkan secara terpadu. Oleh karena itu, bahan ajar IPA yang dikehendaki adalah bahan ajar IPA Terpadu. Sejauh ini bahan ajar IPA Terpadu berbasis riset belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar IPA Terpadu dan mengetahui validitas bahan ajar hasil pengembangan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Rancangan pengem- bangan yang digunakan mengikuti model Borg & Gall yang terdiri atas 7 tahap, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji ahli, (5) revisi produk awal, (6) uji lapangan skala kecil dan (7) revisi produk akhir. Draf hasil pengembangan divalidasi oleh 4 validator ahli menggunakan instrumen validasi berupa angket tertutup yang dikembangkan sendiri, serta divalidasi secara langsung oleh 10 orang siswa SMP Negeri 1 Malang. Data kuantitatif hasil validasi dianalisis dengan teknik rerata, sedangkan data kualitatif berupa tanggapan, saran, dan kritik dari validator yang kemudian digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan revisi terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Hasil pengembangan adalah bahan ajar IPA Terpadu untuk SMP/MTs kelas VII yang memiliki tema pengaruh manusia dalam pelestarian ekosistem yang merupakan perpaduan antara materi kimia dan biologi. Hasil pengembangan terdiri atas dua bagian, yaitu bagian pendahuluan dan bagian isi. Bagian pendahuluan mencakup halaman muka (cover), kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator kompetensi yang digunakan serta peta konsep. Bagian isi mencakup materi pengaruh manusia dalam pelestarian ekosistem, kegiatan praktikum, kegiatan diskusi, latihan soal, rangkuman materi, glosarium, evaluasi, kunci jawaban, dan daftar pustaka. Berdasarkan hasil uji validitas, bahan ajar yang dikembangkan memperoleh nilai total rerata 3,35 atau sebesar 83,75% yang berarti memenuhi kriteria valid. Produk hasil pengembangan mengalami satu kali revisi yang berkaitan dengan penyusunan peta konsep dan perbaikan indikator hasil belajar. Hasil dari revisi tersebut merupakan produk akhir dari pengembangan bahan ajar IPA Terpadu.

Peningkatan prestasi belajar siswa SMAN 2 Batu kelas X-2 melalui penerapan metode analisis kesalahan Newman pada pokok bahasan trigonometri / Sulis Candra Setiawan

 

Kata kunci: Prestasi Belajar, Metode Analisis Kesalahan Newman, Trigonometri Pada umumnya soal cerita lebih sulit diselesaikan oleh siswa daripada soal-soal yang melibatkan bilangan. Seringkali beberapa siswa yang memahami topik matematika secara teoritis mengalami kesulitan ketika permasalahan yang disajikan berbentuk soal cerita. Hasil wawancara dengan guru matematika kelas X SMA N 2 Batu, diperoleh informasi bahwa guru sering mengalami kesulitan ketika mengajar dikelas X-2. Beberapa metode pembelajaran pernah di coba dan hasilnya belum memuaskan ini dapat dilihat dari rata-rata nilai pada semester 1 yaitu 64,81. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Metode Analisis Kesalahan Newman yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa SMA N 2 Batu kelas X-2 pada pokok bahasan trigonometri, serta untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh siswa SMA N 2 Batu kelas X-2 dalam menyelesaikan soal cerita trigonometri melalui penerapan Metode Analisis Kesalahan Newman. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus belajar. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tindakan yang diberikan berupa pembelajaran Metode Analisis Kesalahan Newman yang memuat lima tahap analisis kesalahan newman, meliputi tahap membaca (reading), tahap memahami (comprehension), tahap transformasi (transformation), tahap ketrampilan proses (process skill) dan tahap penulisan akhir (encoding). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase siswa yang tuntas belajar adalah 75% (siklus I), 90% (siklus II) dengan rata-rata kelas sama dengan 77,64 (siklus I), 78 (siklus II). Tujuan penelitian pada siklus I maupun siklus II telah tercapai karena rata-rata dari hasil kuis dan tes seluruh siswa sudah mencapai minimal 65 dengan banyak siswa yang mendapat nilai standar minimal lulus yaitu 65 mencapai minimal 70% dari banyak siswa keseluruhan, dimana pada siklus II terjadi pemantapan hasil penelitian. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa kelas X-2 SMA N 2 Batu dalam menyelesaikan soal cerita trigonometri yaitu kesalahan membaca (reading) ada 26,88% (siklus I), 22,5% (siklus II), kesalahan memahami (comprehension) ada 11,57% (siklus I), 3,75% (siklus II), kesalahan transformasi (transformation) ada 23,74% (siklus I), 15,31% (siklus II), kesalahan keterampilan proses (process skill) ada 18,75% (siklus I), 36,25% (siklus II) dan kesalahan dalam menuliskan jawaban akhir (encoding) ada 30,93% (siklus I), 32,5% (siklus II).

Penggunaan media pembelajaran mata pelajaran seni budaya sub bidang studi seni rupa kelas X di SLTA Negeri 1 Tumpang Malang / Rizki Diana Safitri

 

Kata Kunci : Penggunaan, teknik, peranan, media pembelajaran. Dalam pembelajaran dikenal berbagai macam media yang digunakan sebagai pendukung berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Dengan adanya media, siswa akan lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar. Seorang guru harus bisa membuat perencanaan media. Perencanaan media merupakan keharusan dalam mencapai tujuan pembelajaranyang diharapkan. Perencanaan penggunaan media yang tepat akan mempengaruhi kualitas hasil pembelajaran. Oleh karena itu, dibutuhkan keahlian guru dalam penggunaan atau teknik dalam menggunakan maupun memilih media apa yang sesuai dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: perencanaan media, penggunaan media, dan evaluasi media pembelajaran. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif, sedangkan untuk pengumpulan datanya menggunakan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Proses analisis data terdiri atas: data dikelompokkan menurut kategorinya, data dianalisis langsung dan dikaitkan dengan data sejenis pada kelompok kategori yang sama, hasil analisis data dideskripsikan, dan data didinterprestasi dan disimpulkan. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa guru telah menggunakan media pembelajaran dalam setiap proses belajar mengajar, guru sudah menguasai semua teknik yang digunakan dalam pembelajaran, seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, dll. Dengan kondisi seperti ini maka guru sudah mampu untuk membuat media sendiri. Bertolak dari temuan penelitian ini disarankan diadakan penelitian lanjutan yang sejenis dengan menggunakan metode penelitian yang berbeda.

Hubungan antara dukungan sosial dengan perilaku altruistik pada narapidana wanita di lembaga permasyarakatan klas IIA Malang / Anggita Ika Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Anggita Ika. 2010.. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Perilaku Altruistik pada Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Malang. Skripsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si (II) Diyah Sulistyorini, S.Psi, M.Psi Kata Kunci: Dukungan Sosial , Perilaku Altruistik, Narapidana Wanita Menganalisa masalah kejahatan wanita merupakan suatu masalah sosial yang sangat meresahkan. Banyaknya kaum wanita yang melakukan tindak kejahatan semakin jelas terlihat dari jumlah angka tahanan dan narapidana yang bertambah setiap harinya di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Malang. Adanya dukungan dari lingkungan dapat mempengaruhi perilaku individu sehingga mencegah adanya ketegangan dan mengurangi resiko timbulnya gangguan fisik maupun psikis. Lingkungan sosial dan empati salah satu faktor pencetus adanya perilaku altruistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dukungan sosial, gambaran perilaku altruistik, dan hubungan antara dukungan sosial dengan perilaku altruistik pada narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan penelitian deskriptif-korelasional terhadap 100 narapidana wanita yang dipilih dengan metode purposive sampling dari populasi sebanyak 254 narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Malang. Data dikumpulkan dengan skala dukungan sosial dan skala perilaku altruistik. Reliabilitas skala dukungan sosial sebesar 0,834, sedangkan skala perilaku altruistik sebesar 0,912. Data dianalisis dengan uji analisa deskriptif dan analisa korelasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Malang dengan dukungan sosial rendah sebanyak 8 orang, sedang 80 orang dan tinggi 12 orang. Sedangkan narapidana wanita dengan tingkat perilaku altruistik tinggi sebanyak 84 orang dan rendah 5 orang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial dan perilaku altruistik pada narapidana wanita Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Malang masih kurang baik. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara dukungan sosial dengan perilaku altruistik dengan koefisien sebesar rxy = 0,568 dengan R2 = 0,323. Hal ini berarti ada hubungan positif antara dukungan sosial dan perilaku altruistik. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan (1) bagi narapidana wanita disarankan untuk membuka diri dan lebih beradaptasi dengan lingkungan baru di dalam Lapas. (2) bagi Lapas disarankan untuk memberi ruang, dukungan, serta adanya kegiatan positif seperti training keterampilan sosial pada narapidana wanita. Peran Psikolog di dalam LP juga dirasa penting untuk dapat mendampingi dan membimbing para narapidana. (3) bagi keluarga disarankan untuk dapat lebih memberi dukungan dalam bentuk moril maupun materiil, serta meningkatkan frekuensi kunjungan ke Lapas sehingga narapidana wanita tetap merasa dihargai dan dihormati. (4) bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan penelitian secara lebih lengkap dan komprehensif dengan menambahkan variabel-variabel yang mempengaruhi dukungan sosial dan perilaku altruistik.

Penerapan metode pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar PKn pada siswa kelas V SDN Gandul I Madiun / Suti

 

Kata Kunci: Metode bermain peran, Motivasi Belajar Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), guru harus memiliki kemampuan kepribadian, profesional dan sosial, yakni memahami, menghayati dan mengamalkan nilai–nilai Pancasila yang diharapkan mampu mengintegrasikan secara utuh hubungan antara tujuan pendidikan, materi, metode dan evaluasi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Pengintegrasian tersebut sesuai dengan tingkat perkembangan psikologi serta keberhasilan belajar dan sosial siswa.Berdasarkan pengamatan peneliti sebagai guru kelas V, bahwa hasil belajar pada pelajaran PKn tentang Peran serta dalam organisasi sekolah siswa mengalami kesulitan 67% dari 24 siswa, yaitu hasil belajar yang masih di bawah rata-rata 70 yaitu. Dengan kata lain hasil belajar belum menunjukkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan metode bermain peran pada pembelajaran PKn pada siswa kelas V SDN Gandul I Madiun dan mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn melalui metode bermain peran pada siswa kelas V SDN Gandul I Madiun. Penelitian dilaksanakan di kelas V SD Negeri Gandul I, sebanyak dua siklus. Setiap siklus kegiatan penelitian meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subyek penelitian adalah 24 siswa, metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan dan tes hasil belajar setiap akhir siklus, indikator keberhasilan secara individual yaitu mencapai nilai 70 dan klasikal yang mencapai nilai 70 sebanyak 85% lebih dikatakan berhasil. Hasil penelitian ini adalah bahwa dengan menggunakan metode bermain peran, motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn dapat ditingkatkan, peningkatan kemampuan siswa siklus I dengan rata-rata 6,79 menjadi 9,42 pada akhir siklus II. Berdasarkan temuan diatas, dapat disimpulkan dengan menggunakan metode bermain peran motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan. Saran yang perlu disampaikan kaitannya hasil penelitian ini adalah Pembelajaran PKn Tentang peran serta dalam berorganisasi guru disarankan untuk menggunakan metode

Penerapan model pembelajaran Van Hiele untuk meningkatkan kemampuan menentukan sifat-sifat bangun ruang di kelas V / Dwinoto

 

Kata Kunci : Penerapan, Teori Belajar Van Hiele, Bangun Ruang. Pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SD Jatigreges III masih rendah. Dari 9 siswa hanya 1 yang dapat menjawab di atas 80% dari 12 soal yang diberikan, sedang 6 siswa dapat menjawab < 50% dari 12 soal yang diberikan. Hal ini karena guru lebih sering menggunakan metode ceramah, pembelajaran yang kurang melibatkan aktivitas siswa dan pengalaman langsung pada diri siswa. Permasalahan tersebut dicoba dengan penerapan teori belajar van Hiele pada pembelajaran matematika tentang sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Jatigreges III. Penelitian bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penerapan teori Van Hiele untuk meningkatkan pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Jatigreges III, (2) mendekripsikan tingkat keberhasilan dan aktivitas belajar siswa dalam penerapan teori belajar Van Hiele pada pemahaman sifat-sifat bangun ruang siswa kelas V SDN Jatigreges III. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas secara bersiklus. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan kuantitatif. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek yang dikenai tindakan adalah seluruh siswa kelas V SDN Jatigreges III. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah pedoman wawancara, observasi, LKS, lembar tes, daftar nilai, dokumen penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan 1) Dengan penerapan Model Pembelajaran Van Hiele siswa mampu menentukan sifat-sifat bangun ruang. 2) Dengan penerapan Model Pembelajaran Van Hiele dapat meningkatkan aktivitas siswa memanipulasi model bangun ruang, menghitung bagian-bagian bangun ruang. Dengan selesainya penelitian ini saran ditujukan (1) bagi peneliti hendaknya belajar dan belajar hingga memiliki kompetensi yang nyata dalam kegiatan penelitian lanjutan, (2) bagi kepala sekolah hendaknya lembaga yang dipimpinnya dalam proses pembelajaran menggunakan metode dan media, serta model pembelajaran yang relevan sehingga meningkatkan kemampuan dan aktivitas siswa dalam belajarnya, (3) bagi guru hendaknya dalam pembelajaran matematika khusus tentang geometri sangatlah tepat dengan menerapkannya model pembelajaran Van Hiele, (4) bagi pembaca yang relevan dengan dunia penelitian pendidikan dimohon tidak segan-segan memberi masukan, kritik, saran yang bersifat membangun sehingga menjadi bahan pertimbangan / acuan bagi peneliti untuk mengadakan penelitian lanjutan yang lebih bermakna bagi dunia pendidikan.

Meningkatkan kemampuan mengerjakan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan siswa kelas IV melalui penerapan teori Jerome Bruner / Dian Hery Sucipto

 

Kata-kata kunci : Kemampuan, penjumlahan dan pengurangan pecahan Banyak siswa yang kurang tertantang untuk mempelajari dan menyelesaikan soal-soal matematika. Mereka merasa kesulitan bahkan banyak diantara siswa melakukan kesalahan pemahaman konsep matematika. Tujuan penelitian ini antara lain untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan teori Jerome Bruner dalam pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, untuk mendeskripsikan penerapan teori Jerome Bruner dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dan untuk mendeskripsikan penerapan teori Jerome Bruner dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Menurut Bruner, jika seseorang mempelajari suatu pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu, agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh jika pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga tahap yaitu enaktif (konkret), ikonik (semi abstrak) dan simbolik (abstrak). Subyek penelitian yaitu siswa kelas IV yang berjumlah 7 siswa dengan komposisi 4 putra dan 3 putri. Penelitian dilaksanakan secara bersiklus dengan 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan observasi dan tes evaluasi akhir siklus. Indikator keberhasilan penelitian ini adalah seorang siswa telah tuntas belajar apabila telah mencapai nilai minimal 75 dan kelas disebut tuntas belajar apabila terdapat 85% siswa telah mencapai ketuntasan belajar. Aktivitas siswa baik pada siklus I maupun siklus II sudah menunjukkan respon positif. Hal ini terkait dengan penerapan teori pembelajaran Jerome Bruner dimana dalam pembelajarannya dimulai dari kegiatan konkret menuju ke abstrak. Adanya benda konkret mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. Tahap-tahap pembelajaran baik pada siklus I maupun siklus II sudah mencerminkan penerapan teori Bruner. Implikasi penerapan teori ini yaitu adanya peningkatan hasil belajar siswa maupun aktivitas siswa dalam belajar. Dapat disimpulkan bahwa penerapan teori J. Bruner terdapat tahap-tahap pembelajaran yang dimulai dari enaktif, ikonik dan simbolik yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan, serta mampu meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar. Dan disarankan bagi guru untuk menerapkan teori pembelajaran agar dapat meningkatkan prestasi, aktivitas siswa dalam belajar. Serta guru hendaknya menggunakan benda konkret dalam pembelajaran sebagai jembatan agar fakta, konsep, operasi dan prinsip matematika dapat tertanam kuat dalam pikiran siswa

Perbedaan kualitas proses dan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan paduan model pembelajaran STAD-LC dan Learning Cycle (LC) dengan materi hidrokarbon pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar tahun ajaran 2009/2010 / Abrianti Ika Rindayani

 

Kata kunci: Pembelajaran Konstruktivistik, Learning Cycle (LC), STAD, Kualitas Proses Pembelajaran, Hasil Belajar, Respon Siswa Mata pelajaran kimia mencakup konsep-konsep yang bersifat abstrak sehingga dapat membuat siswa sulit memahaminya dalam pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran konstruktivistik yang dapat diterapkan adalah model pembelajaran STAD-learning cycle (LC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa kelas X semester 2 SMA Negeri 1 Garum yang dibelajarkan dengan model STAD-LC dengan siswa yang dibelajarkan dengan model LC pada materi pokok hidrokarbon. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan deskriptif dan eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Garum tahun ajaran 2009/2010. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling kelompok, sehingga diperoleh kelas X-F (34 siswa) sebagai kelas dengan pembelajaran model STAD-LC dan kelas X-G (34 siswa) sebagai kelas dengan pembelajaran model LC. Instrumen yang digunakan terdiri dari instrumen pembelajaran (berupa silabus, RPP, handout, dan LKS) dan instrumen pengukuran (berupa lembar observasi, tes, dan angket respon siswa). Analisis data terdiri atas analisis deskriptif kualitas proses pembelajaran dan respon siswa dan analisis statistik. Analisis statiatik dilakukan dengan menggunakan uji t dengan taraf signifikan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan kualitas proses pembelajaran antara siswa yang dibelajarkan dengan model STAD-LC dengan siswa yang dibelajarkan dengan model LC. Kualitas proses pembelajaran siswa yang dibelajarkan dengan model STAD-LC lebih baik dari siswa yang dibelajarkan dengan LC. (2) Ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan model STAD-LC dengan siswa yang dibelajarkan dengan model LC. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata pada kelas yang dibelajarkan dengan model STAD-LC sebesar 72,71, sedangkan nilai rata-rata pada kelas yang dibelajarkan dengan model LC sebesar 66,06. (3) Respon siswa terhadap mata pelajaran kimia dan model pembelajaran STAD-LC adalah positif. Hal ini ditunjukkan dengan persentase siswa yang memberikan respon sangat positif dan positif sebesar 100 %.

Analisis faktor citra merek (Studi pada pelanggan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Malang) / Tri Ajeng Prihatiningrum

 

Kata kunci: Faktor Citra Merek (Harga, Produk, Promosi dan Pelayanan) Sejak dahulu makanan menempati urutan teratas dalam pemenuhan kebutuhan manusia, sehingga masalah pangan dikategorikan kedalam kebutuhan primer atau kebutuhan pokok. Dengan alasan itu manusia dapat terus melangsungkan hidupnya. Kota Malang merupakan salah satu tujuan kota wisata dan pendidikan yang tidak luput dari perhatian produsen restoran untuk memasarkan produknya. Di Malang terdapat beberapa rumah makan yang menyajikan produk khas daerah, salah satunya yaitu rumah makan Ayam Bakar Wong Solo. Wong solo memiliki konsep memberikan kualitas layanan terbaik demi kepuasan konsumen dalam usahanya. Pada saat ini merek memiliki peranan yang sangat penting dalam pemasaran, merek bukan hanya dianggap sebagai sebuah nama, logo ataupun symbol. Lebih dari itu merek merupakan nilai yang ditawarkan sebuah produk bagi konsumen yang memakainya. Citra merek memiliki nilai posisi strategis dalam persaingannya yang tidak dapat diabaikan oleh perusahaan dalam rangka menarik minat konsumen untuk menggunakan produk yang ditawarkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan faktor citra merek yang variabelnya terdiri dari harga (X1), produk (X2), promosi (X3), pelayanan (X4) dan untuk mengetahui faktor dominan dari citra merek (harga, produk, promosi dan pelayanan). Penelitian ini dilakukan di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Malang. Menggunakan rumus dari Slovin, diperoleh sampel sebanyak 90 responden. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalah accidental sampling. Penelitian ini menggunakan analisis statistic deskriptif dan analisis faktor. Hasil analisis deskriptif data menunjukkan bahwa faktor citra merek yang terdiri dari harga, produk, promosi dan pelayanan, rata-rata dinyatakan baik oleh pelanggan. Hasil penelitian analisis faktor 1 meliputi kecepatan pelayanan dalam melayani pelanggan dan dalam menyajikan menu hidangan, keramahan karyawan dalam melayani pelanggan dan dalam menyapa pelanggan, kesiapan karyawan dalam melayani pesanan dan dalam menyiapkan menu makanan, faktor 2 meliputi harga yang sesuai dengan penghasilan dan produk yang ditawarkan, lebih murah dari rumah makan lainnya, citra rasa yang tetap dipertahankan dari awal pendirian dan di setiap cabangnya, faktor 3 meliputi pemilihan bahan baku, variasi produk, menu paketan, banyaknya variasi produk yang ditawarkan, faktor 4 meliputi pemilihan pemilihan bahan utama, pemilihan bahan baku yang selalu fresh, produk halal, sertifikat halal, citra rasa yang sesuai dengan lidah orang Indonesia, faktor 5 meliputi iklan yang disiarkan melalui radio lokal, ketertarikan dari radio lokal, iklan dari Koran lokal, faktor 6 meliputi ketertarikan dari Koran lokal, brosur untuk menarik pelanggan, dan dari 6 faktor di atas faktor 1 merupakan faktor yang dominan. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini. Penulis memberikan saran agar sebaiknya perusahaan dalam hal ini Rumah makan Ayam Bakar Wong Solo selalu melakukan inovasi dan kreasi dalam menambah produk makanan dan minuman agar pelanggan dapat memilih menu makanan yang telah ditawarkan. Selain itu harga, promosi sebaiknya perlu ditingkatkan agar dapat bersaing dengan produk-produk yang ditawarkan rumah makan lain yang i ii    sejenis. Dari sisi pelayanan juga perlu ditingkatkan agat tetap dapat menyeimbangkan dari kualitas produk yang diberikan oleh Rumah Makan Ayam Bakar wong Solo di Malang. Diharapkan dengan terpenuhinya semua faktor citra merek (harga, produk, promosi dan pelayanan) menjadikan citra merek pada Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo di Malang dapat bersaing dengan perusahaan lainnya

Hubungan antara stres kerja dan produktivitas kerja karyawan bagian marketing / Nita Kusumaningtyas

 

Kata Kunci : Stres Kerja, Produktivitas Kerja. Karyawan marketing dituntut untuk dapat terus meningkatkan penjualan ditengah krisis global yang terjadi saat ini sesuai target yang telah ditetapkan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran tingkat stres kerja, (2) gambaran tingkat produktivitas kerja, dan 3) hubungan antara stres kerja dan produktivitas karyawan marketing. Penelitian ini menggunakan desain korelasional terhadap 30 karyawan bagian marketing pada dealer Malang. Skala Stres Kerja yang digunakan mempunyai 31 aitem, koefisien validitas item 0,306-0,677 dan reliabilitas (α) = 0,879. Variabel produktivitas kerja diukur berdasarkan indeks perbandingan antara gaji total karyawan dengan gaji standar maksimal yang diberikan perusahaan kepada karyawan. Data dianalisis menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan negatif antara stres kerja dengan produktivitas kerja pada karyawan bagian Marketing pada Dealer Yamaha Sarana Mas Sejahtera motor Malang (rxy = -0,036sig = 0,425 < 0,05). Artinya, semakin tinggi stres kerja maka produktivitas kerjanya semakin rendah. Hasil analisis deskriptif terhadap tingkat stres kerja karyawan 2 orang (7%) termasuk tinggi, 23 orang (76%) termasuk sedang, dan 5 orang (17%) termasuk rendah. Dan hasil analisis tingkat produktivitas karyawan 6 orang (20%) termasuk tinggi, 19 orang (63.3%) termasuk sedang, dan 5 orang (16.7%) termasuk rendah. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada karyawan bagian marketing untuk meningkatkan produktivitas keja dengan menghindari terjadinya stres kerja yang tinggi. Produktivitas kerja ditingkatkan dengan mengadakan pelatihan kemampuan interpersonal di bidang marketing. KATA PENGANTAR

Pengembangan modul pembelajaran sub pokok bahasan jajargenjang dan trapesium yang berorientasi teori Van Hieli untuk SMP kelas VII / Puji Lestari

 

Kata kunci: modul, jajargenjang, trapesium, teori van Hiele Setiap anak memiliki kecepatan masing-masing dalam memahami materi. Untuk membuka kesempatan belajar menurut kecepatan masing-masing siswa, dibutuhkan bahan ajar yang salah satunya adalah modul. Menurut beberapa penelitian, pembelajaran dengan modul menunjukkan hasil yang baik. Dari berbagai cabang matematika,berdasarkan pada penelitian, hasil pembelajaran geometri siswa masih rendah. Siswa mengalami kesulitan memahami konsep geometri, salah satunya konsep jajargenjang dan trapesium. Hal ini membuat penulis tertarik untuk mengembangkan modul materi geometri khususnya tentang jajargenjang dan trapesium. Untuk memenuhi maksud ini penulis mengembangkan modul dengan berorientasi pada teori van Hiele untuk siswa SMP. Berdasarkan hal tersebut, dalam modul yang berorientasi teori van Hiele ini disajikan kegiatan pembelajaran yang melibatkan lima fase yaitu: (1) fase informasi, (2) fase orientasi berarah, (3) fase uraian, (4) fase orientasi bebas dan (5) fase integrasi. Modul pembelajaran yang dihasilkan telah diuji coba. Uji coba dilakukan dalam dua tahap. Uji coba tahap pertama, validasi modul oleh empat validator, yaitu dua dosen Matematika Universitas Negeri Malang dan dua guru Matematika SMP. Sedangkan uji coba tahap kedua melibatkan lima siswa SMP kelas VII. Hasil validasi modul menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan valid. Karakteristik modul ini yaitu (1) memuat materi jajargenjang dan trapesium, (2) ditujukan untuk siswa SMP kelas VII, (3) kegiatan belajar disusun berdasarkan pembelajaran lima fase menurut van Hiele, (4) terdiri dari dua kegiatan belajar, (5) setiap kegiatan belajar terdiri dari tinjauan umum materi, motivasi, mari mengamati, mari menemukan, cek pemahaman, review dan refleksi, (6) menuntun siswa untuk dapat menemukan sendiri, (7 ) menuntun siswa untuk belajar mandiri serta (8) valid, sehingga layak digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran. Adapun saran yang dikemukakan yaitu (1) bagi pengajar dapat mengembangkan modul ini sesuai dengan keadaan siswa dan sekolah, (2) bagi pengembang-pengembang lain disarankan untuk mengujicobakan modul pembelajaran ini di lapangan sehingga diketahui tingkat keefektifannya, serta (3) bagi pengembang lain untuk menguji produk sesuai dengan alokasi waktu yang digunakan untuk mempelajari modul tersebut.

Pemanfaatan peta konsep dan rangkuman untuk meningkatkan sikap, motivasi belajar, dan penguasaan konsep biologi di kelas VIII D SMPN 4 Kepanjen tahun pelajaran 2009/2010 / Ummul Hasanah

 

Kata Kunci: motivasi belajar, penguasaan konsep, peta konsep, rangkuman, sikap. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran biologi dan siswa kelas VIIID di SMPN 4 Kepanjen mulai tanggal 4 Februari sampai dengan 30 April 2010 terhadap kegiatan pembelajaran biologi, diperoleh informasi bahwa peran guru yang terlalu dominan membuat siswa kurang termotivasi untuk belajar dengan baik. Hanya sekitar 25 % siswa yang menunjukkan minatnya pada pelajaran biologi dengan menanggapi pertanyaan yang diberikan guru, sedangkan yang lain acuh tak acuh pada penjelasan yang diberikan guru. Kebanyakan dari mereka hanya duduk, mendengar, mencatat dan mengerjakan tugas. Hasil analisis angket tentang sikap siswa terhadap biologi yang telah diberikan pada tahap observasi diperoleh data bahwa terdapat 40% atau sebanyak 14 siswa menyukai pelajaran biologi, siswa yang biasa saja atau cenderung acuh tak acuh terhadap pelajaran Biologi = 16 siswa atau 46%, sedangkan siswa yang tidak suka pelajaran Biologi ada 5 siswa, atau sekitar 14%. Berdasarkan nilai ulangan pada materi sebelumnya, diperoleh data bahwa sebanyak 31,43% siswa yang belum tuntas, sehingga untuk meningkatkan motivasi dan sikap siswa dalam proses pembelajaran dan hasil belajar siswa perlu diadakan suatu perubahan dalam penggunaan strategi dan media pembelajarannya. Upaya untuk mengatasi permasalaan tersebut salah satunya dengan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dan rangkuman. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan sikap, motivasi dan penguasaan konsep Biologi siswa kelas VIIID SMPN 4 Kepanjen melalui penerapan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dan rangkuman. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimen dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Pengambilan data penelitian dilaksanakan mulai tanggal 6-29 Mei 2010. Data penelitian berupa sikap diperoleh dari hasil analisis angket yang diberikan pada awal sebelum perlakuan dan sesudah pemberian perlakuan, motivasi belajar siswa yang diperoleh melalui observasi selama penelitian, dan data penguasaan konsep dilihat dari hasil belajar siswa yang diperoleh melalui nilai peta konsep dan rangkuman serta hasil tes pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dan rangkuman dapat meningkatkan sikap, motivasi belajar biologi siswa kelas VIIID SMPN 4 Kepanjen, hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah siswa yang menyukai pelajaran biologi dari 14 siswa menjadi 19 siswa, menurunnya jumlah siwa yang acuh terhadap biologi dari 16 menjadi 13 siswa dan menurunnya jumlah siswa yang tidak suka pelajaran Biologi dari 5 menjadi 3 orang siswa. Motivasi secara klasikal meningkat dari 57% yang termasuk dalam kategori Cukup pada siklus I, menjadi 68% yang termasuk dalam kategori Baik pada siklus II. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dan rangkuman juga dapat meningkatkan penguasaan konsep biologi siswa kelas VIIID SMPN 4 Kepanjen, terlihat dari meningkatnya nilai rata-rata kelas dari 78,43 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 71,4% pada siklus I, menjadi 80 untuk nilai rata-rata kelas dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 80%. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dan rangkuman dapat meningkatkan sikap, motivasi dan penguasaan konsep biologi siswa kelas VIIID SMPN 4 Kepanjen. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa Guru dapat menerapkan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dan rangkuman pada pokok bahasan yang lain serta pada jenjang pendidikan yang lain untuk meningkatkan sikap, motivasi dan hasil belajar siswa. Dalam penerapan pembelajaran dengan menggunakan peta konsep dan rangkuman, guru bisa memberikan peta konsep tersebut sebagai tugas individu terlebih dahulu sebagai bahan acuan untuk pembuatan peta konsep kelompok. Penerapan peta konsep dan rangkuman bisa digabung dengan salah satu metode pembelajaran yang sesuai terutama yang mampu meningkatkan sikap siswa ke arah yang positif, karena sikap awal siswa pada suatu pelajaran akan menentukan persepsi mereka pada pelajaran tersebut.

Analisis diagram jaringan kerja dengan menggunakan metode crash program untuk mempercepat waktu penyelesaian proyek dan penerapannya / Masruri

 

Kata kunci: Penjadwalan, Crash Program, Jaringan Kerja, Manajemen Proyek Perencanaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu manajemen proyek. Salah satu perencanaan tersebut adalah penyusunan jadwal rencana kerja proyek. Penyusunan jadwal suatu proyek dilakukan agar proyek tersebut dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam penyusunan jadwal suatu proyek, ada beberapa model yang bisa dilakukan, yaitu dengan menggunakan diagram batang bagan Gantt dan memanfaatkan diagram jaringan kerja. Ada beberapa metode penjadwalan yang memanfaatkan diagram jaringan kerja, diantaranya Project Evaluation and Review Tecnique (PERT), Critical Path Method (CPM), dan Precedent Diagram Method (PDM). Hasil akhir dari ketiga metode tersebut adalah suatu jadwal rencana kerja proyek mulai kegiatan awal hingga kegiatan akhir proyek yang tersusun secara sistematis. Dalam jadwal rencana kerja proyek ada kegiatan-kegiatan yang tidak bisa ditunda (kegiatan kritis) dan ada yang bisa ditunda hingga batas waktu tertentu (kegiatan nonkritis). Namun tidak sedikit dalam suatu proyek, pemilik proyek dengan berbagai alasan meminta proyek harus diselesaikan lebih singkat dari waktu normalnya sehingga harus mengubah schedule yang sudah ada. Dalam mempercepat waktu penyelesaian proyek tersebut selain masalah waktu, biaya juga harus diperhatikan. Dengan demikian, tujuannya adalah menghasilkan jadwal yang lebih singkat dari segi waktu dengan penambahan biaya yang seoptimal mungkin. Salah satu metode yang digunakan dalam mempercepat jadwal proyek adalah dengan crash program. Dalam metode ini, penyingkatan waktu pertama kali dilakukan dengan memilih kegiatan yang mempunyai slope (besarnya biaya per satuan waktu) terendah hingga yang paling tinggi sehingga penambahan biaya terjadi secara berurutan. Data yang digunakan dalam contoh sebagai penerapan dari metode ini adalah berupa data sekunder (internet dan buku). Sebagai perbandingan, dalam skripsi ini selain hasil penyelesaian contoh dengan menggunakan cara manual, disertakan pula hasil penyelesaian dengan menggunakan software POM for Windows dan WinQSB. Penyelesaian secara manual, POM for Windows, dan WinQSB menghasilkan waktu proyek yang sama yaitu 21 hari (Contoh 3.1) dan 13 minggu (Contoh 3.2). Namun, dari segi biaya dengan cara manual dan software POM for Windows lebih efektif bila dibandingkan dengan WinQSB, yaitu terjadi selisih biaya sebesar Rp 20.500 untuk Contoh 3.1 dan $ 6.000 untuk Contoh 3.2.

Pengaruh pengetahuan konsumen terhadap keputusan pembelian laptop acer (Studi pada pengguna laptop acer di area hotspot Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya) / Lina Budiarti

 

Kata kunci: pengetahuan konsumen, keputusan pembelian Keberadaan laptop atau komputer jinjing sudah banyak membanjiri pasar perangkat keras di Indonesia. Dari banyaknya laptop yang beredar di pasar, diperlukan pengetahuan yang cukup dari pihak konsumen sebelum melakukan keputusan pembelian laptop. Pengetahuan konsumen yang memengaruhi keputusan pembelian ini terdiri dari tiga macam, yaitu pengetahuan produk, pengetahuan pembelian, dan pengetahuan pemakaian. Ketiga macam pengetahuan ini diaplikasikan oleh konsumen ketika membeli laptop Acer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui deskripsi keadaan pengetahuan konsumen dan keputusan pengguna laptop Acer di area hotspot FPIK Universitas Brawijaya dalam membeli laptop Acer, mengetahui pengaruh variabel pengetahuan konsumen (pengetahuan produk, pengetahuan pembelian, dan pengetahuan pemakaian) secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian laptop Acer, dan mengetahui sub variabel pengetahuan yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian. Penelitian ini dilakukan di area hotspot Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Variabel dalam penelitian ini, meliputi variabel bebas yaitu pengetahuan konsumen (X) dengan subvariabel pengetahuan produk (X1), pengetahuan pembelian (X2), serta pengetahuan pemakaian (X3), sedangkan variabel terikat (Y) adalah keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini yaitu pengguna laptop Acer di area hotspot FPIK Universitas Brawijaya dengan jumlah sampel sejumlah 100 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Sedangkan teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa pengetahuan produk (X1), pengetahuan pembelian (X2), dan pengetahuan pemakaian (X3) mempunyai nilai thitung masing-masing (2,206; 6,970; 2,111) sedangkan nilai Fhitung sebesar 38,236 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai = α 0,05. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan pengetahuan konsumen yang terdiri dari pengetahuan produk (X1), pengetahuan pembelian (X2) dan pengetahuan pemakaian (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian (Y) laptop Acer baik secara parsial maupun simultan. Sedangkan faktor berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian laptop Acer adalah pengetahuan pembelian (X2). i

Dampak implementasi kebijakan praktik industri terhadap kompetensi siswa kelas XII pada SMKN se-kota Malang untuk memasuki dunia kerja / Minar Adibi

 

Kata kunci: Implementasi, praktik industri, kompetensi , dunia kerja Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga yang berpotensi untuk mempersiapkan sumberdaya manusia yang memasuki dunia kerja, karena materi baik teori dan praktik yang bersifat aplikatif telah diberikan sejak dini, dengan harapan lulusan SMK memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Akan tetapi, hanya 60 % dari lulusan SMKyang dapat terserap lapangan kerja, lebih dilematis lagi ketika 60 % dari lulusan SMK tersebut tidak semuanya bekerja sesuai dengan jurusan yang ditekuni semasa SMK. Melihat fenomena ini, tentunya terdapat beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi, di antaranya adalah kurangnya kesiapan kerja dari lulusan SMK, belum adanya link and match antara SMK dengan dunia kerja serta tidak teridentifikasinya kebutuhan dunia kerja oleh SMK. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada siswa maupun lulusan SMK Program Keahlian Teknik Mesin dan pihak SMK untuk dapat memperbaiki program serta materi pengajaran agar lebih baik sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, sehingga dengan tersampaikannya informasi tersebut, dapat pula digunakan sebagai kerangka acuan untuk membangun hubungan yang baik serta saling tukar informasi dengan stakeholder. Dengan adanya link and match antara SMK dan dunia kerja, diharapkan pula dapat meningkatkan kualitas serta kesiapan kerja siswa SMK khususnya Program Keahlian Teknik Mesin. Rancangan penelitian digunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan penelitian evaluasi model CIPP, dengan kuesioner atau angket sebagai instrumen pengumpulan data Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) implementasi kebijakan praktik industri pada SMKN se-Kota Malang sudah baik. Adanya praktik industri dapat membantu siswa dalam menerapakan ilmu yang sudah di peroleh dari sekolah serta bisa memberikan gambaran tentang dunia industri yang sesungguhnya, (2) kurikulum SMKN se- Kota Malang sudah baik untuk mengimplementasikan kebijakan praktik industri. Hal ini terlihat sudah adanya penyesuaian antara kurikulum SMK dengan kebutuhan dunia industri, dan (3) Implementasi kebijakan praktik industri berdampak pada kompetensi siswa SMK, di mana siswa merasa setelah melaksanakan praktik industri kemampuan mereka meningkat serta lebih siap untuk memasuki dunia kerja. Dalam pelaksanaan kebijakan praktik industri pada SMK masih perlu adanya peningkatan pada beberapa aspek di antaranya: kemampuan dasar siswa, penempatan bidang pekerjaan sesuai dengan kemampuan siswa, pemanfaatan alat pelindung diri, serta kecepatan siswa dalam hal menyelesaikan tugas yang diberikan.

Perbedaan partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI dan non-RSBI kota Malang / Lika Mardliyah

 

Kata kunci: partisipasi, program sekolah, RSBI dan Non-RSBI. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang. Berbagai upaya terus dilakukan dalam dunia pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, karena pendidikan merupakan penentu bagi daya saing bangsa. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal harus senantiasa mampu meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu upaya sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan saat ini adalah peningkatan status sekolah secara bertahap ke arah Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Penyelenggaraan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), tidak hanya sekolah yang berperan dalam kesuksesan penyelenggaraan program ini, namun partisipasi dari pemerintah dan masyarakat khususnya orangtua siswa juga sangat dibutuhkan. Kerjasama yang baik antara sekolah dan masyarakat, baik dari segi pemikiran, tenaga, biaya sangat berguna bagi peningkatan mutu sekolah dan kesuksesan program RSBI menuju SBI ini. Partisipasi dari orangtua siswa sangat dibutuhkan dalam mencapai perkembangan-perkembangan di sekolah termasuk dalam peningkatan mutu sekolah. Namun demikian tingkat partisipasi orangtua dalam pelaksanaan program sekolah baik di sekolah RSBI maupun non-RSBI bervariasi sehingga membuat mutu tiap sekolah berbeda-beda. Tujuan penelitian ini, yakni: (1) Mengetahui tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI Kota Malang, (2) Mengetahui tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN Non-RSBI Kota Malang, (3) Mengetahui perbedaan partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI dan Non- RSBI Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif-komparatif dan dilaksanakan di SMAN RSBI dan Non-RSBI Kota Malang. Ada 5 sekolah dengan 511 orangtua siswa yang bersekolah di SMAN RSBI dan Non-RSBI Kota Malang sebagai sampel penelitian dengan rincian 269 orangtua siswa SMAN RSBI dan 242 orangtu siswa SMAN Non-RSBI. Sampel ini diambil dengan teknik purposive proporsional incidental sampling dari populasi yang terdiri dari 10 sekolah. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI Kota Malang termasuk dalam kategori tinggi, (2) Tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN Non-RSBI Kota Malang berada dalam kategori rendah, (3) Ada perbedaan yang signifikan antara tingkat partisipasi orangtua ii siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI dan Non-RSBI Kota Malang. Tingkat partisipasi orangtua siswa dalam pelaksanaan program sekolah di SMAN RSBI Kota Malang lebih tinggi daripada tingkat partisipasi orangtua siswa di SMAN Non-RSBI Kota Malang dengan selisih rata-rata sebesar 16,46. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagi guru dan Kepala SMAN RSBI Kota Malang hendaknya terus memberikan pengarahan kepada orangtua siswa agar tetap memberikan partisipasi aktif dalam pelaksanaan program sekolah, serta selalu memberikan kesempatan yang semakin luas kepada orangtua siswa untuk memberikan partisipasinya dalam pendidikan di sekolah. Bagi guru dan Kepala SMAN Non-RSBI Kota Malang, hendaknya selalu memberikan motivasi dan pengarahan kepada orangtua siswa agar mereka mengerti betapa pentingnya partisipasi mereka bagi peningkatan mutu sekolah, sehingga orangtua siswa mau memberikan partisipasi aktif dalam pelaksanaan program-program di sekolah. Serta selalu berusaha untuk dapat bekerjasama dan menjalin hubungan yang lebih harmonis lagi dengan orangtua siswa, (2) Bagi orangtua siswa SMAN RSBI, hendaknya mempertahankan partisipasi aktif yang telah diberikan dalam pelaksanaan program sekolah. Bagi orangtua siswa SMAN Non-RSBI, hendaknya lebih meningkatkan lagi partisipasi yang telah diberikan dalam pelaksanaan program di sekolah agar mutu pendidikan di sekolah lebih meningkat. Selain itu, hendaknya orangtua siswa SMAN Non-RSBI lebih aktif lagi dalam memberikan ide-ide atau masukan dalam perencanaan program sekolah serta lebih aktif lagi untuk hadir dalam setiap undangan dan kegiatan yang diadakan di sekolah yang melibatkan orangtua siswa, (3) Disarankan agar membantu memberikan pengertian kepada orangtua mengenai pentingnya partisipasi orangtua dalam pendidikan melalui pengadaan seminar atau workshop bagi orangtua, (4) Disarankan agar melakukan penelitian yang lebih mendalam dan lebih rinci tentang partisipasi orangtua siswa dalam pendidikan serta bagaimana pengaruhnya terhadap mutu pendidikan di sekolah.

Studi tentang pembinaan klub olahraga usia dini siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang / Beny Aris Firdaus

 

Kata kunci: pembinaan, klub olahraga, usia dini siswa sekolah dasar Dalam pembinaan olahraga terdapat hubungan antara kegiatan yang teratur dengan timbulnya perasaan nyaman dan sehat. Dengan kegiatan tersebut kita sebagai manusia harus menyadari bahwa dengan olahraga akan lebih tahan terhadap serangan penyakit dan pengaruh stres. Pembinaan olahraga harus mampu membangkitkan minat anak untuk menggali potensinya dalam hal gerak. Karena itu anak harus diberi dorongan untuk terus menerus melatih kemampuannya. Memang permasalahan yang harus disadari oleh semua Guru Penjas, tidak ada kemajuan dalam hal belajar gerak yang bersifat instan. Semua kemajuan mengikuti pola yang teratur. Harus sabar dan bersikap optimis bahwa murid kita akan mencapai kemajuan. Penelitian ini adalah tentang ” Studi tentang Pembinaan Klub Olahraga Usia Dini Siswa Sekolah Dasar (SD)di Kota Malang”. Permasalahannya yaitu bagaimana pembinaan klub olahraga usia dini Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang. Tujuannya untuk mengetahui pembinaan klub olahraga usia dini Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang. Populasi penelitian ini adalah klub olahraga usia dini di Kota Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik total sampel yaitu semua klub olahraga usia dini Sekolah Dasar (SD) yang ada di Kota Malang yaitu berjumlah 11 klub olahraga usia dini. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskiptif kuantitatif dengan persentase, pengumpulan data dengan menggunakan angket dan wawancara. Dari hasil penelitian tentang pembinaan klub olahraga usia dini rata-rata pembinaan klub olahraga usia dini dengan jumlah 11 klub olahraga usia dini Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang diperoleh hasil yaitu bahwa secara umum pembinaan klub olahraga usia dini Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang dalam tahap perencanaan klub olahaga usia dini memiliki persentase 92,72% masuk dalam kategori baik. Kemudian dalam tahap pengelolaan klub olahraga usia dini Sekolah Dasar (SD) di Kota Malang memiliki persentase 74,21% masuk dalam kategori baik, dan dalam tahap pengendalian dan pengawasan klub olahraga usia dini Sekolah Dasra (SD) di Kota Malang memiliki persentase 51,13% masuk dalam kategori kurang.

Pelayanan perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat baca siswa (Studi kasus di SD Negeri Percobaan 1 Malang) / Mohammad Suradi

 

Kata Kunci: pelayanan perpustakaan sekolah, peningkatan minat baca siswa Sekolah merupakan suatu tempat yang digunakan untuk aktivitas belajar mengajar. Aktivitas belajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas melainkan juga dapat dilakukan di luar kelas termasuk perpustakaan. Perpustakaan disebut sebagai jantung sekolah, yakni kunci pengetahuan dan inti dari proses kegiatan belajar. Adanya perpustakaan dapat memberikan perluasan ilmu pengetahuan yang mendorong siswa untuk maju dan berkembang melalui pengetahuan-pengetahuan baru yang tidak diajarkan di dalam kelas. Perpustakaan merupakan suatu tempat yang digunakan dan disediakan oleh sekolah untuk warga sekolah yang ingin membaca atau meminjam koleksi buku-buku perpustakaan. Oleh karena itu perpustakaan sekolah mutlak dibutuhkan oleh siswa sebab di dalam perpustakaan itulah mereka memperoleh banyak ilmu pengetahuan dan informasi. Berdasarkan landasan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pelayanan Perpustakaan Sekolah Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa (Studi Kasus di SD Negeri Percobaan 1 Malang)“. Selain itu perpustakaan sebagai sumber informasi akan sangat bermanfaat apabila perpustakaan tersebut dapat menyediakan informasi dengan mudah dan cepat, layanan yang diberikan baik dan berkualitas sehingga memberikan kenyamanan bagi pengguna perpustakaan dalam hal ini adalah siswa dan diharapkan dengan pelayanan yang baik maka siswa lebih sering mengunjungi perpustakaan untuk membaca, meminjam buku dan belajar sehingga manfaat perpustakaan dapat dirasakan oleh siswa. Berdasarkan uraian konteks penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka fokus penelitian ini adalah: (1) pelayanan sirkulasi perpustakaan sekolah di SD Negeri Percobaan 1 Malang. (2) pelayanan referensi perpustakaan sekolah di SD Negeri Percobaan 1 Malang, (3) kinerja petugas perpustakaan sekolah SD Negeri Percobaan 1 Malang. (4) Hambatan perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri Percobaan 1 Malang dan (6) ) Upaya perpustakaan sekolah dalam meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri Percobaan 1 Malang Penelitian ini dilakukan di perpustakaan sekolah SD Negeri Percobaan 1 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara mendalam; (2) observasi partisipasi; dan (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi, ditafsirkan, dan dianalisa guna penyusunan konsep dan abstraksi temuan lapangan. Teknik pengecekan keabsahan yang digunakan adalah ketekunan penelitian, trianggulasi metode dan trianggulasi sumber data. Temuan penelitian ini yaitu (1) pelayanan sirkulasi perpustakaan sekolah di SD Negeri Percobaan 1 Malang meliputi kegiatan peminjaman baca di tempat, peminjaman buku, pengembalian buku dan pelaksanaan peraturan dan tata tertib perpustakaan, (2) pelayanan referensi perpustakaan sekolah di SD Negeri Percobaan 1 Malang memiliki kegiatan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh siswa mengenai koleksi bahan pustaka dan memberikan bimbingan belajar dan membaca kepada siswa dengan bekerjasama dengan guru kelas, (3) kinerja petugas perpustakaan di SD Negeri Percobaan 1 Malang dalam memberikan pelayanan selalu ramah, sopan dan murah senyum selain itu petugas selalu berusaha meningkatkan kemampuanya melalui pelatihan-pelatihan tentang perpustakaan yang diadakan perguruan tinggi negeri atau swasta untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki, (4) hambatan perpustakaan untuk meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri Percobaan 1 Malang adalah kesibukan siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar, kurangnya waktu yang dimiliki siswa untuk mengunjungi perpustakaan dan kurangnya koleksi buku cerita bergambar dan ensiklopedia, (5) upaya perpustakaan untuk meningkatkan minat baca siswa di SD Negeri Percobaan 1 Malang adalah dengan memberikan hadiah bagi siswa yang sering meminjam buku melalui poin membaca, penambahan koleksi bahan pustaka, pengadaan kegiatan jam wajib kunjung perpustakaan untuk tiap-tiap kelas, memberikan kemudahan dalam mendapatkan berbagai bacaan yang menarik untuk pengguna perpustakaan, memberikan kebebasan membaca secara leluasa kepada pengunjung perpustakaan, dan memberikan motivasi-motivasi kepada siswa agar sering membaca melalui tulisan-tulisan yang berisi ajakan-ajakan untuk gemar membaca. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada (1) kepala sekolah untuk menambah petugas perpustakaan, menambah koleksi bahan pustaka dan pengadaan jam wajib kunjung perpustakaan, (2) petugas perpustakaan harus bisa memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung dan mampu mengelola perpustakaan secara maksimal, (3) Jurusan Administrasi Pendidikan disarankan sering mengadakan seminar atau pelatihan kepada petugas perpustakaan sekolah dalam meningkatkan kemampuanya untuk mengelola perpustakaan sekolah, (4) peneliti lain berdasarkan pentingnya hasil penelitian tentang Pelayanan Perpustakaan Sekolah dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa SD Negeri Percobaan 1 Malang, disarankan kepada peneliti yang akan datang untuk menyempurnakan temuan penelitian yang telah ditemukan, sehingga penelitian ini mempunyai nilai guna praktis dan teoritis pembangunan pendidikan di Indonesia.

Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing dan kooperatif stad untuk meningkatkan hasil belajar, kualitas proses pembelajaran dan motivasi belajar siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi hidrolis garam / Dian Rodiatul Husna

 

Kata Kunci: inkuiri terbimbing, kooperatif STAD, hasil belajar, kualitas proses, motivasi belajar. Pembelajaran yang dilakukan di sekolah disarankan menggunakan pembelajaran yang konstruktivistik. Pembelajaran konstruktivistik menuntut siswa untuk mengkonstruk atau menyusun pengetahuannnya sendiri, sehingga memerlukan berbagai model pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu model pembelajaran yang digunakan adalah inkuiri terbimbing dan kooperatif Student Teams Achievement Division (STAD). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh penerapan inkuiri terbimbing- kooperatif STAD terhadap hasil belajar siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi Hidrolisis Garam, (2) mengetahui pengaruh penerapan inkuiri terbimbing- kooperatif STAD terhadap motivasi belajar siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi Hidrolisis Garam, (3) mengetahui kualitas proses pembelajaran inkuiri terbimbing – kooperatif STAD pada siswa kelas XI semester II MAN Malang I pada materi Hidrolisis Garam. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan eksperimen semu. Rancangan deskriptif digunakan untuk mengetahui hasil belajar afektif, psikomotorik, kualitas proses pembelajaran dan motivasi belajar siswa. Penelitian ini menggunakan dua kelas yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen yaitu kelas yang diajar menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing - kooperatif STAD. Kelas kontrol diajar dengan ceramah-praktikum. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI MAN Malang I tahun ajaran 2009/2010. Data kemampuan awal siswa diperoleh dari ulangan harian Larutan Penyangga. Instrumen penelitian terdiri dari tes hidrolisis garam, lembar observasi, dan angket. Hasil uji coba tes diperoleh reliabilitas sebesar 0,63. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing- kooperatif STAD (1) tidak mempengaruhi hasil belajar kognitif siswa kelas XI MAN Malang I pada pokok bahasan hidrolisis garam, (2) dapat meningkatkan hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa kelas XI MAN Malang I pada pokok bahasan hidrolisis garam, (3) dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran, (4) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI MAN Malang I pada pokok bahasan hidrolisis garam.

Implementasi pembelajaran kooperatif metode problem solving untuk meningkatkan hasil belajar (Studi pada siswa penjualan kelas X SMK Muhammadiyah pada mata diklat kewirausahaan tahun ajaran 2009/2010) / Retno Wahyuning Tyastutik

 

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif metode problem solving, hasil belajar Guru memiliki peranan yang besar dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah. Berangkat dari fakta yang diperoleh peneliti selama observasi di SMK Muhammadiyah 2 Malang khususnya pada mata diklat kewirausahaan siswa kelas X masih disampaikan dengan metode ceramah. Dari sini peneliti mencoba menggunakan metode problem solving untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa akan meningkat dengan dikembangkannya metode ini dalam proses pembelajaran khususnya pada mata diklat kewirausahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa akan meningkat setelah diterapkan metode problem solving. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) perencanaan; (2) tindakan; (3) pengamatan; dan (4) refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang pada semester genap tahun ajaran 2009/ 2010, yang berjumlah 28 orang siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes, pedoman wawancara, catatan lapangan lembar penilaian ranah psikomotorik, lembar penilaian ranah afektif dan dokumentasi. Hasil penelitian yang dilakukan diperoleh adanya hasil belajar siswa dimana rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 79,82 dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa adalah 77,5. Ketuntasan klasikal ranah Psikomotorik mengalami peningkatan. Pada siklus I sebesar 42,85% dan siklus II 89,28%. Pada aspek afektif dapat dilaksanakan dengan baik. Pada siklus I dan siklus II dengan ketuntasan 100% Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengembangan metode problem solving dalam proses kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Penjualan SMK Muhammadiyah 2 Malang. Keberhasilan penelitian meningkat seiring dengan diterapkannya probelm solving sebagai alternatif pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Tetapi masih ada beberapa yang perlu dibenahi lagi yaitu alokasi waktu yang harus diperhatikan dalam setiap tahapan dalam problem solving dan adanya tindak lanjut dari peneliti berikutnya diharapkan usahanya untuk mengembangkan metode problem solving dalam mata diklat yang berbeda.

Perbedaan kreativitas antara siswa SD sekolah alam dan siswa SD sekolah konvensional / Chandra Dewi Yunita

 

Kata Kunci : kreativitas, sekolah alam, sekolah konvensional Kreativitas adalah kemampuan individu dalam menghasilkan gagasan baru yang orisinil maupun adaptasi dari yang sudah ada dalam usahanya memecahkan suatu masalah, menggunakan pola berpikir divergen dan pemikiran kreatif yang mencerminkan kelancaran, fleksibilitas, dan orisinalitas dalam berpikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan. Lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bakat kreatif adalah lingkungan yang memberi keamanan dan kebebasan psikologis pada anak untuk berkembang, baik kemampuan kognisi, kemampuan afeksi, maupun kemampuan psikomotoriknya secara bersama-sama. Penelitian yang dilakukan bertujuan 1) mengungkap kreativitas siswa SD pada sekolah alam, 2) mengungkap kreativitas siswa SD pada sekolah konvensional, 3) mengungkap perbedaan kreativitas antara siswa SD sekolah alam dan siswa SD sekolah konvensional. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian ini adalah siswa sekolah alam kelas IV, V, dan VI dan siswa sekolah konvensioanl kelas IV, V, dan VI di kota Blitar yang berumur 9-12 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 pada siswa sekolah alam dan 30 pada siswa sekolah konvensional. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Tes Kreativitas Figural (TKF) yang merupakan alat tes yang sudah baku dan terstandarisasi oleh Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Bagian Psikologi Pendidikan. Teknik analisis data menggunakan analisa deskriptif dan uji-t dengan independent sample test. Hasil penelitian ialah: (1) sebagian besar kreativitas siswa sekolah alam berada pada kategori rata-rata atas (2) sebagian besar kreativitas siswa sekolah konvensional berada pada kategori rata-rata (3) mean kreativitas siswa sekolah alam sebesar 113,37 dan mean siswa sekolah konvensional sebesar 106,80 dengan nilai t-hitung = 2,612; p = 0,021 < 0,05, berarti ada perbedaan kreativitas yang signifikan antara siswa sekolah alam dan siswa sekolah konvensional. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian tentang kreativitas hendaknya memperhatikan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kreativitas siswa misalnya, kondisi lingkungan siswa, intensitas siswa berada di sekolah, keadaan ekonomi siswa, dan upaya guru dalam meningkatkan kreativitas siswa.

Pengaruh penggunaan paket terpadu berbasis konstruktivitas dengan tema deterjen terhadap kompetensi IPA siswa kelas VII semester II SMP Negeri 1 Pakis Kabupaten Malang tahun ajaran 2009/2010 / Bayu Sasono Agung Nugroho

 

Kata kunci: Pengaruh, Paket IPA Terpadu, Kompetensi IPA. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah secara tegas menyatakan, bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/ MTs merupakan IPA Terpadu. Berdasarkan hasil survei yang diselenggarakan oleh proyek Managing Basic Education (MBE) 2006 menunjukkan bahwa sebagian besar guru mengalami kesulitan untuk merancang pembelajaran IPA Terpadu berdasarkan Standar Isi untuk kurikulum IPA. Selain itu, hasil pengamatan di beberapa toko buku di wilayah Malang menunjukkan bahwa belum ditemukan buku IPA SMP yang dirancang secara Terpadu. Pada tahun 2009 telah dikembangkan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme dengan berbagai tema, salah satunya adalah tema deterjen oleh Koes,dkk. yang telah diuji kelayakannya meliputi penilaian Paket IPA Terpadu oleh dosen dan guru serta uji keterbacaan buku panduan siswa oleh siswa SMP, tetapi belum diuji secara empirik untuk mengetahui keefektifannya di sekolah. Oleh karena itu perlu dilakukan pembelajaran IPA Terpadu menggunakan paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme yang diharapkan dapat meningkatkan kompetensi IPA siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kompetensi IPA (prestasi belajar, kerja ilmiah dan sikap ilmiah) pada tema deterjen antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan paket IPA terpadu berbasis kontruktivisme dan siswa yang mendapatkan pembelajaran menggunakan paket IPA yang tidak Terpadu. Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design). Jenis eksperimen semu yang digunakan adalah control group pre test and post test design. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah random sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji anakova dan uji lanjut LSD (Least Square Difference). Berdasarkan hasil uji analisis data menggunakan anakova, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar dan kerja ilmiah antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan paket IPA Terpadu dan siswa yang mendapat pembelajaran dengan paket IPA yang tidak Terpadu, sedangkan untuk sikap ilmiah antara siswa yang menggunakan Paket IPA Terpadu dan siswa yang menggunakan paket IPA yang tidak Terpadu tidak ada perbedaan

Korelasi antara self disclosure dengan kemampuan hubungan interpersonal pada remaja awal yang mengalami krisis psikososial / Eri Wiyati

 

Kata kunci: Self Disclosure, Kemampuan Hubungan Interpersonal, Remaja Awal. Remaja yang tidak dapat mengungkapkan perasaan dan kurang memiliki hubungan interpersonal yang baik, sering mengalami stres, baik di rumah, stres di sekolah maupun di jalanan. Salah satu faktor penyebab timbulnya tawuran atau perkelahian antar remaja adalah kurangnya kemampuan hubungan interpersonal pada remaja awal. Mereka kurang mampu untuk mengungkapkan perasaan dan ide-ide dalam dirinya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: (1) tingkat self disclosure pada remaja awal yang mengalami krisis psikososial, (2) tingkat kemampuan hubungan interpersonal pada remaja awal yang mengalami krisis psikososial, (3) hubungan antara self disclosure dengan kemampuan hubungan interpersonal pada remaja awal yang mengalami krisis psikososial. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional, dengan populasi penelitian siswa kelas VII SMPN 2 Blitar. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan Simple Random Sampling dengan subyek sebanyak 70 siswa. Pengumpulan data menggunakan instrumen skala Self Disclosure dan skala Kemampuan Hubungan Interpersonal. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik Korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dari 70 siswa, 52 siswa (74,29%) memiliki tingkat self disclosure sedang, (2) dari 70 siswa, 43 siswa (61,43%) memiliki tingkat kemampuan hubungan interpersonal sedang (3) Ada hubungan positif yang signifikan antara self disclosure dengan kemampuan hubungan interpersonal pada remaja awal yang mengalami krisis psikososial (r=0,572; p<0,05). Berdasar hasil penelitian ini, dapat disarankan agar remaja awal dapat lebih meningkatkan self disclosure dan kemampuan hubungan interpersonal, yaitu dengan mengikuti organisasi baik di sekolah maupun di luar sekolah, mengikuti klub olah raga maupun klub di bidang lain guna menjalin interaksi dengan orang lain. Bagi konselor sekolah dapat meningkatkan peranannya dalam membantu siswa menghadapi krisis psikososial yang berkaitan dengan self disclosure dan kemampuan hubungan interpersonal yaitu dengan memberikan layanan BK seperti melakukan konseling kelompok.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 |