Tingkat partisipasi orangtua terhadap pembelajaran anak ditinjau dari status sosial ekonomi di Sekolah Dasar Negeri Ketapang I Probolinggo / Putri Permata Sari

 

ABSTRAK Sari, Putri Permata. 2010.Tingkat Partisipasi Orangtua Terhadap Pembelajaran Kata kunci: partisipasi orangtua, status sosial, ekonomi dan pembelajaran anak. Keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan tidak hanya tergantung pada kemampuan guru dalam mengajar, tetapi juga tergantung dari ada tidaknya kesadaran masyarakat yang ada di sekolah. Disamping itu keberhasilan belajar siswa juga ditentukan orangtua dan masyarakat. Setiap orangtua ikut memberikan partisipasi dalam kegiatan belajar putra-putrinya dengan cara yang berbeda-beda. Adanya perbedaan tersebut disebabkan karena latar belakang keluarga yang berbeda pula. Keadaan status sosial ekonomi orangtua penting terhadap perkembangan pendidikan anak-anaknya, karena dengan perekonomian yang cukup di dalam keluarga tersebut, maka anak mendapat kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan fasilitas sebagai bagian dari partisipasi orang tua dalam pembelajaran anak. Oleh karena itu keadaan status sosial ekonomi orangtua akan dijadikan pertimbangan dalam menentukan tingkat partisipasi orangtua dalam pembelajaran anak. Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana partisipasi orangtua terhadap pembelajaran anak ditinjau dari status sosial ekonomi di SDN Ketapang I Probolinggo ? (2) Bagaimana tingkat status sosial ekonomi orangtua siswa di SDN Ketapang I Probolinggo ? (3) Apakah terdapat hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari pendidikan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo ? (4) Apakah terdapat hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari penghasilan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo ? (5) Apakah terdapat hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari pekerjaan dan penghasilan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo? Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) partisipasi orangtua terhadap pembelajaran anak ditinjau dari status sosial ekonomi di SDN Ketapang I Probolinggo. (2) tingkat status sosial ekonomi orangtua siswa di SDN Ketapang I Probolinggo. (3) hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari pendidikan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo. (4) hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari penghasilan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo. (5) hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari pekerjaan dan penghasilan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo. i Teknik analisis yang digunakan dalam penulisan ini terdiri atas (1) analisis deskripitif, (2) analisis korelasi Tau Kendall’s dan (3) analisis koefisien kontingensi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan suatu kesimpulan sebagai berikut: (1) Partisipasi orangtua terhadap pembelajaran anak ditinjau dari status sosial ekonomi di SDN Ketapang I Probolinggo masuk dalam kategori sangat tinggi. (2) Tingkat status sosial ekonomi orangtua siswa di SDN Ketapang I Probolinggo, orangtua siswa yang memiliki penghasilan sebesar Rp. 500.000,- sampai dengan 750.000, berada pada persentase tertinggi bekerja sebagai wirausaha/wiraswasta dan memiliki tingkat pendidikan SMU. (3) Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari pendidikan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo. (4) Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari penghasilan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo. (5) Terdapat hubungan antara tingkat partisipasi orangtua ditinjau dari pekerjaan dan penghasilan terhadap pembelajaran anak di SDN Ketapang I Probolinggo. Berdasarkan kesimpulan, maka disampaikan saran kepada: (1) kepala sekolah yaitu hendaknya dalam usaha meningkatkan partisipasi orangtua diharapkan berupaya untuk memberikan dukungan sepenuhnya kepada orangtua siswa. Usaha nyata yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan bea siswa kepada siswa yang benar-benar membutuhkan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang diharapkan; (2) Bagi orangtua yaitu hendaknya orangtua selalu berupaya untuk berpartisipasi sesuai dengan penghasilan yang diperoleh, pekerjaan, dan tingkat pendidikan yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran anak; (3) Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi tambahan untuk jurusan dalam pengembangan perkuliahan manajemen hubungan masyarakat; (4) Bagi peneliti selanjutnya yang berminat untuk melanjutkan penulisan ini diharapkan untuk menyempurnakannya yaitu dengan menggunakan variabel lain yang terkait dengan pembelajaran siswa sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan memperluas wawasan.

Penerapan strategi diversifikasi produk sebagai upaya meningkatkan cakupan pasar pada perusahaan "MUlya" Tulungagung / Astri Damayanti

 

Kata kunci: strategi, diversifikasi produk Perubahan selera konsumen ditunjang oleh perkembangan percepatan teknologi dan informasi, mengakibatkan perusahaan berlomba dalam lingkungan usaha yang kompetitif untuk menambah ragam dan jumlah produknya. Upaya ini yang dilakukan oleh perusahaan ‘’MULYA’’ Tulungagung, juga memproduksi barang yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen yang sebagian besar adalah kontaraktor rumah dan juga individu yang ingin membangun rumah. Hal inilah yang membuat penulis mengambil judul ‘’Penerapan Strategi Diversifikasi Produk Sebagai Upaya Meningkatkan Cakupan Pasar pada Perusahaan ‘’MULYA’’ Tulungagung’’ di dalam pemenuhan tugas akhir. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakyukan ada dua implementasi diverasifikasi yang dilaksanakan oleh perusahaan’’MULYA’’ Tulungagung, yakni strategi diversifikasi horizontal strategi untuk menciptakan produk baru. Hal tersebut terbukti dengan variasi jenis produk genteng, paving, batako, beton yang dihasilkan oleh perusahaan. Strategi diversifikasi konsentris; suatu strategi untuk mencari produk baru yang dihasilkan dengan teknologi baru pula, merupakan pengembangan kedepan perusahaan, sebagai contoh memproduksi keramik, tetapi hal ini belum dilaksanakan karena berbagai kendala yang ada. Strategi ini bertujuan untuk memepertahankan dan memperluas pasar. Ini semua tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendorong perusahaan ‘’MULYA’’ Tulungagung dalam menerapkan strategi ini yang tidak lain adalah adanya sikap konsumen yang semakin selektif, persaingan pasar yang semakin ketat dan semakin tingginyapermintaan pasar terhadap suatu produk sehingga menuntut perusahaan untuk melakukan penyesuaian akan produk yang dihasilkan terhadap permintaan pasar. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa suatu perusahaan yang memiliki keinginan untuk mengembangkan pasarnya dapat menerapkan strategi dengan jalan mendiversifikasi produk yang dihasilkannya. Pada intinya strategi ini bertujuan untuk menghilangkan kejenuhan konsumen pada suatu produk yang imbasnya konsumen diharapkan tidak berpindah ke produk lain yang pilihan produknya lebih bervariasi. Dengan adanya strategi diversifikasi produk maka perusahaan ‘’MULYA’’ Tulungagung dapat memproduksi produk yang lebih beragam. Untuk kedepannya diharapkan perusahaan ‘’MULYA’’ Tulungagung dapat mengoptimalkan kinerja perusahaan dengan ditunjang sarana dan prasarana yang memadai .

Implementasi pembelajaran kooperatif think pair share (TPS) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata diklat siklus akuntansi kelas X AK SMK PGRI 6 Malang / Nilasari Firda Kurnia

 

Kata kunci : metode pembelajaran Think Pair Share(TPS), kemampuan berpikir kritis siswa Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru mata diklat, dapat disimpulkan bahwa masalah yang teridentifikasi antara lain siswa kelas XAK cenderung menghafalkan konsep Akuntansi seperti apa yang tertuang dalam buku, masih kurang aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru, tidak berani bertanya, dan memberi tanggapan serta ketekunan sebagian siswa dalam menyelesaikan tugas masih rendah sehingga kemampuan siswa dalam hal menganalisis masih rendah, siswa juga sulit bekerja sama dalam kelompok dan cenderung bersifat individualis. Masalah-masalah yang terjadi di kelas X Ak tersebut menunjukkan ciri-ciri rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemamuan berpikir kritis. Metode pembelajaran yang dapat diterapkan adalah salah satu pembelajaran kooperatif metode TPS. Berdasarkan tindakan pada siklus I dan siklus II diperoleh hasil bahwa jumlah siswa yang dapat memenuhi indikator keberhasilan tindakan kemampuan berpikir kritis tingkat pengetahuan meningkat dari 13 siswa menjadi 23 siswa, tingkat pemahaman meningkat dari 17 siswa menjadi 24 siswa, tingkat penerapan dari 12 siswa menjadi 26 siswa, tingkat analisis dari 15 siswa menjadi 28 siswa. Sedangkan pada kemampuan komunikasi yang diperoleh pada siklus I dan siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode TPS pada siswa kelas X AK SMK PGRI 6 Malang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa yaitu pada tahap diskusi, karena separuh jumlah siswa dari sejumlah 45 siswa kelas X AK dapat memenuhi indikator keberhasilan tindakan kemampuan berpikir kritis, peningkatan ini terjadi dari siklus I ke II. Sedangkan hal yang disarankan adalah bahwa dalam menerapkan metode TPS guru harus lebih merata dan teliti dalam mengelola kelas supaya setiap siswa dalam kelompok dapat lebih aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran. Siswa hendaknya bisa lebih aktif lagi dalam kegiatan pembelajaran, peneliti harus dapat membagi waktu yang tepat dan mengeloa kelas dengan baik agar tahapan dalam penelitian dapat terlaksana dengan baik dan selesai tepat waktu, dan sekolah hendaknya dapat memberikan dukungan terhadap penggunaan metode kooperatif khususnya model Think Pair Share (TPS) agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat meningkat.

Fenomena kawin kontrak di kalangan masyarakat desa Kalisat Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan / Nurika Rachma Anggraeni

 

Kata Kunci : Fenomena Kawin Kontrak, Masyarakat Desa Kalisat Perkawinan sebagai aktifitas individu merupakan fitrah bagi setiap manusia di muka bumi ini. Perkawinan dilihat dari aspek sosial mempunyai suatu kepentingan untuk memelihara kelangsungan hidup manusia baik itu dari segi pemeliharaan keturunan, menjaga keselamatan masyarakat dari dekadensi moral, dan menjaga ketentraman jiwa. Di Indonesia perkawinan merupakan ikatan yang bersifat sakral dan suci. Karena merupakan ikatan yang bersifat sakral dan suci maka Negara Republik Indonesia membentuk suatu peraturan tertulis yang mengatur tentang masalah-masalah perkawinan seperti yang dicantumkan dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dimana di dalamnya terkandung makna bahwa suatu perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ditinjau dari sudut pandang agama Islam, perkawinan merupakan salah satu bentuk ibadah yang dilakukan oleh manusia dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Terdapat pengaruh agama yang cukup kuat terkait dengan pelaksanaan perkawinan. Dewasa ini pelaksanaan perkawinan semakin bervariasi bentuknya, di masyarakat sendiri sudah sejak lama dikenal perkawinan siri, perkawinan bawa lari, sampai dengan kawin kontrak(mut’ah). Perkawinan sebagai bagian hidup yang sakral sudah semestinya harus memperhatikan norma dan kaidah hidup yang ada dan berkembang dalam masyarakat, namun kenyataannya tidak semua orang berprinsip demikian dengan berbagai alasan pembelaan yang masuk akal dan dapat diterima oleh masyarakat, perkawinan seringkali tidak dihargai kesakralannya. Begitu pula yang terjadi dalam pelaksanaan pernikahan siri dan kawin kontrak. Kawin kontrak merupakan perkawinan atau akad yang terjadi antara seorang laki-laki dan perempuan untuk jangka waktu tertentu, setelah jangka waktu yang telah disepakati habis maka perkawinan dianggap telah berakhir dengan sendirinya. Pelaksanaan kawin kontrak(mut’ah) dapat ditemukan di Desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Kawin kontrak di Desa Kalisat sudah ada dan terjadi sejak tahun 1990, sifat dari perkawinan tersebut hanya bertahan untuk sementara waktu saja sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak yaitu pihak laki-laki dan pihak perempuan dari pelaku kawin kontrak. Kajian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1)faktor yang melatar belakangi seorang wanita di Desa Kalisat melakukan kawin kontrak, (2)awal mula terjadinya kawin kontrak di Desa Kalisat, (3)pelaksanaan kawin kontrak di Desa Kalisat, dan(4)persepsi masyarakat sekitar terhadap fenomena kawin kontrak yang terjadi di Desa Kalisat Kecamatan Rembang. Metode yang digunakan adalah kualitatif, digunakan metode kualitatif karena sifat dari data yang dikumpulkan sesuai dengan keadaan lapangan, wajar dan sebagaimana adanya tanpa diatur sebelumnya. Dengan pendekatan kualitatif ini peneliti menggambarkan tentang fenomena kawin kontrak yang terjadi di Desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Tujauan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1)faktor yang melatarbelakangi seorang wanita di Desa Kalisat melakukan kawin kontrak antara lain latar belakang ekonomi, latar belakang agama, latar belakang pendidikan, latar belakang sosial, (2)kawin kontrak sudah ada dan terjadi di Desa Kalisat sejak tahun 1990. Berita mengenai adanya kawin kontrak di Desa Kalisat juga turut disebarkan oleh media cetak dan elektonik, sehingga sampai saat ini masyarakat luas mengetahui bahwa kawin kontrak benar terjadi di Desa Kalisat, (3)pelaksanaan kawin kontrak di Desa Kalisat didahului dengan adanya pengajuan beberapa persyaratan yang diajukan oleh pihak laki-laki dan pihak perempuan persyaratan tersebut nantinya akan menjadi kesepakatan diantara kedua belah pihak pelaku kawin kontrak,(4)muncul berbagai persepsi dikalangan masyarakat terkait fenomena kawin kontrak di Desa Kalisat. Berdasarkan hasil temuan diatas, disampaikan pula beberapa saran yakni (1)pihak LSM setempat, dan Tokoh agama hendaknya melakukan penyuluhan tentang masalah kawin kontrak, (2)pihak Pemerintah Daerah segera mengeluarkan aturan resmi terkait dengan fenomena kawin kontrak yang ada di Desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, (3)kaum wanita hendaknya dapat melangsungkan pernikahan yang sesuai dengan Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, (4)pemuka agama seperti Kyai sebaiknya dapat mengkaji lebih lanjut tentang kawin kontrak dan hubungannya dengan ajaran yang ada dalam Agama Islam.

Peningkatan kemampuan membuat teks percakapan mata pelajaran bahasa Indonesia melalui penggunaan wayang tokoh idola siswa kelas VI SDN Simomulyo V/102 Surabaya / Dewi Arsanti

 

Kata Kunci: menulis, percakapan, media, wayang tokoh idola. Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang seharusnya dikuasai oleh seluruh bangsa Indonesia. Salah satu fungsi dari mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar adalah siswa mampu menyusun karangan dalam berbagai bentuk. Akan tetapi dalam kenyataannya, berdasarkan hasil observasi pendahuluan yang telah dilakukan, ternyata guru mengalami kendala dalam proses dan hasil pembelajaran menyusun karangan berupa teks percakapan dalam berbagai topik. Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui proses pembelajaran dengan penggunaan media wayang tokoh idola (2) apakah penggunaan media wayang tokoh idola dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam membuat teks percakapan, (3) apakah penggunaan media wayang tokoh idola dapat meningkatkan kreatifitas siswa dalam membuat teks percakapan, (4) apakah penggunaan media wayang tokoh idola dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membuat teks percakapan. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di kelas VI di Sekolah Dasar Negeri Simomulyo V/102, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kelas, dengan menggunakan model Kemmis dan Tagart (1990) (dalam Sa’dun:2008). Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, yang masing-masing siklus terdiri atas 4 kegiatan melalui prosedur: (a) perencanaan, (b) tindakan dan pengamatan, (c) refleksi, dan (d) perbaikan perencanaan. Hasil dari pelaksanaan dan observasi pembelajaran telah menunjukkan peningkatan kemampuan siswa baik dari segi sistematika penulisan, aspek kebahasaan, maupun kalimat yang dihasilkan siswa dalam pembelajaran yang diteliti. Sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran sudah memenuhi apa yang diharapkan yaitu adanya peningkatan kualitas pembelajaran.

Pengaruh kualitas input, ketersediaan fasilitas sekolah, dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS mata pelajaran akuntansi di SMA Laboratorium UM tahun ajaran 2009/2010 / Devi Dwi Novitasari

 

Kata Kunci: Kualitas Input, Ketersediaan Fasilitas Sekolah, Ketersediaan Sumber Belajar di Rumah, Prestasi Belajar Peningkatan mutu pendidikan selalu diupayakan agar dapat mencetak Sumber Daya Manusia yang berguna bagi pembangunan. Untuk mencapai tujuan peningkatan mutu pendidikan tersebut maka harus ada keseimbangan antara sistem, tenaga pendidik, peserta didik, dan sarana pendukung kegiatan belajar mengajar. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan baik internal maupun eksternal. Faktor eksternal diantaranya kualitas input, ketersediaan fasilitas sekolah, dan ketersediaan sumber belajar di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara kualitas input, ketersediaan fasilitas sekolah, dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi di SMA Lab UM. Penelitian ini dilakukan di SMA Lab UM. Sampel penelitian ini adalah 53 siswa dari populasi 111 siswa kelas XI IPS SMA Lab UM. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan proportional random sample. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasional. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial ada pengaruh positif antara kualitas input, ketersediaan fasilitas sekolah, dan ketersediaan sumber belajar di rumah terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS mata pelajaran akuntansi di SMA Lab UM tahun ajaran 2009/2010 sebesar 70,4% sedangkan 29,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Saran yang dapat diberikan yaitu: (1) Pihak sekolah khususnya kepala sekolah hendaknya dalam melaksanakan seleksi penerimaan siswa baru, SMA Lab UM tidak hanya sebatas melihat dari segi Nilai Ujian Nasional (NUN) saja, namun sebaiknya juga memperhatikan hal-hal lain seperti tes yang diadakan di sekolah, agar memperoleh kualitas input yang benar-benar berkualitas, (2) Pihak sekolah hendaknya menyediakan atau memperbaiki sumber belajar atau fasilitas belajar di sekolah sebagai pengganti sumber belajar siswa yang tidak tersedia di rumah, (3) Pihak sekolah (guru), untuk selalu menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah seperti penggunaan internet dalam pemberian tugas kepada para siswanya, (4) Bagi siswa, untuk selalu menggunakan atau memanfaatkan fasilitas sekolah yang sudah tersedia dengan semaksimal mungkin, (5) Para orang tua, perlu memperhatikan fasilitas belajar dan aktivitas belajar anak serta membimbingnya agar giat dalam belajar dan mencapai prestasi yang lebih baik, (6) Bagi siswa, untuk selalu melengkapi sumber belajarnya yang ada di rumah dan memanfaatkan semaksimal mungkin.

Perbandingan kemampuan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) antara guru akuntansi yang sudah bersertifikasi dan yang belum bersertifikasi di beberapa SMA Negeri di Kabupaten Ngawi / Arina Yustin Sabayingrum

 

Kata Kunci: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru akuntansi yang sudah bersertifikasi dan yang belum bersertifikasi Perencanaan pembelajaran melalui penyusunan RPP merupakan tahapan penting yang harus dilakukan guru sebelum melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, RPP harus disusun secara rinci dan sistematis serta jelas isi dan maksudnya sehingga mudah dipahami dan dapat dijadikan pedoman guru pada saat pelaksanaan pembelajaran, serta dapat digunakan untuk mengadakan evaluasi terhadap proses pembelajaran di kelas. Guru memegang peranan penting dalam menentukan kompetensi dan keberhasilan peserta didik terutama dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar, sehingga harus didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas pula. Sehubungan dengan itu, pemerintah terus meningkatkan kualitas dan kinerja profesi guru melalui sertifikasi guru. Sertifikasi merupakan pengakuan kepada guru sebagai tenaga profesional. Hal tersebut yang menimbulkan dugaan bahwa seharusnya ada perbedaan kemampuan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) antara guru akuntansi yang sudah bersertifikasi dan yang belum bersertifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemampuan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat antara guru akuntansi yang sudah bersertifikasi dengan yang belum bersertifikasi di beberapa SMA Negeri di kabupaten Ngawi Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan studi komparatif, sedangkan kasus penelitian ini adalah guru akuntansi yang sudah bersertifikasi dan yang belum bersertifikasi di beberapa SMA Negeri di kabupaten Ngawi. Kasus penelitian sebanyak 8 guru akuntansi, 4 sudah bersertifikasi dan 4 belum bersertifikasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi berupa hasil penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikembangkan guru. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dengan tabel persentase Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan kemampuan dalam penyusunan RPP antara guru akuntansi yang sudah bersertifikasi dan yang belum bersertifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar guru akuntansi baik yang sudah bersertifikasi maupun belum bersertifikasi menyusun RPP dengan benar dan lebih terperinci dan juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut, dengan menggunakan kasus yang lebih luas dalam penelitian.

Penerapan model pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) dengan pendekatan contextual teaching and learning (CTL) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang / Enik Cholifah

 

ABSTRAK Cholifah, Enik. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Biologi Program Studi Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Soedjono Basoeki, M.Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si Kata kunci: contextual teaching and learning, numbered heads together, aktivitas belajar, hasil belajar Biologi. Berdasarkan hasil observasi di SMAN 6 Malang peneliti menemukan beberapa hal antara lain metode yang sering diterapkan di kelas X-6 adalah ceramah dan diskusi secara klasikal. Aktivitas belajar yang dilakukan siswa kurang, siswa kurang aktif dalam belajar, kurang memperhatikan pendapat teman, dan terdapat beberapa siswa yang sering mendominasi, sehingga menyebabkan siswa kurang paham terhadap materi pelajaran dan berpengaruh terhadap hasil belajar yang relatif lebih rendah dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 70. Cara mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, salah satunya dengan penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus, pada siklus I terdiri dari lima pertemuan, dan siklus II terdiri dari empat pertemuan. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan (planning), tahap pelaksanaan tindakan (action), tahap observasi (observation), dan tahap refleksi (reflection). PTK ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X SMAN 6 Malang. Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa kelas X-6 SMAN 6 Malang semester I tahun ajaran 2009/2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan persentase aktivitas belajar siswa dari siklus I sebesar 59,5% dengan taraf keberhasilan cukup, ke siklus II meningkat menjadi 67,3 % dengan taraf keberhasilan baik. Peningkatan hasil belajar kognitif siswa diketahui dari ketuntasan belajar klasikal, dari siklus I sebesar 47,1 % dengan rata-rata nilai siswa sebesar 61,8 ke siklus II meningkat menjadi 73,5 % dengan rata-rata nilai siswa 75. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X-6 SMAN 6 Malang. Saran dari penelitian ini adalah sebaiknya dalam penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning melakukan secara berkesinambungan dan teratur sehingga mampu mempercepat adaptasi/ penyesuaian siswa terhadap kondisi belajar. Penelitian ini dapat dijadikan alternatif oleh guru/peneliti yang lain untuk melaksanakan penelitian yang serupa pada materi dan sekolah yang berbeda sehingga dapat dijadikan pembanding bagi penelitian sebelumnya.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair square untuk meningkatkan kemampuan inkuiri siswa pada mata pelajaran siklus akuntansi: studi kasus pada siswa kelas X Program Akuntansi SMK PGRI Pakisaji tahun ajaran 2009/2010 / Nina Dismita

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, model Think Pair Square, kemampuan inkuiri siswa. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal, maka dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di kelas X Ak-C yaitu siswa pasif, siswa tidak mampu menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan yang diajukan guru, siswa tidak memahami konsep-konsep dasar dan tidak mampu mengaplikasikannya, serta siswa tidak mampu menarik kesimpulan atau generalisasi. Masalah-masalah tersebut cenderung mengacu pada ciri-ciri rendahnya kemampuan inkuiri. Maka perlu dilakukan suatu tindakaan perbaikan dalam proses pembelajaran yaitu dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Square untuk meningkatkan kemampuan inkuiri siswa. Pada siklus I diketahui bahwa siswa yang mampu berhipotesis berjumlah 16 siswa, kemampuan latihan hanya berjumlah 7 siswa, siswa yang mampu menyimpulkan pada tahap Pair dan Square berjumlah 22 siswa. Sedangkan pada siklus II diketahui siswa mengalami peningkatan kualitas berinkuiri, kemampuan berhipotesis meningkat menjadi 21 siswa, kemampuan latihan meningkat menjadi 19 siswa, siswa yang mampu menyimpulkan pada tahap Pair dan Square berjumlah 22 siswa meningkat menjadi 26 siswa. Hasil tersebut menyatakan bahwa penerapan model TPS dapat meningkatkan kemampuan inkuiri siswa melalui aktivitas berhipotesis dan latihan secara individu dan aktivitas menyimpulkan pada tahap Pair dan Square. Aktivitas tersebut membuat kemampuan inkuiri siswa meningkat karena selama proses pembelajaran siswa harus mengemukakan hipotesis di depan kelas, menyelesaikan soal latihan dengan kemampuan berpikir kritis, berdiskusi dengan pasangan dan kelompoknya, bersama-sama menyelesaikan masalah yang dihadapi, membawa sumber belajar dan menggunakannya sebagai referensi belajar, serta aktif bertukar pikiran dan informasi dengan anggota kelompoknya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model TPS dapat meningkatkan kemampuan inkuiri siswa. Keterbatasan penelitian ini adalah peneliti tidak mengamati aktivitas siswa selama proses diskusi, waktu yang dialokasikan tahap Think (siklus I dan siklus II), tidak mampu mengidentifikasi secara detail sikap dan perkataan setiap siswa dari masing-masing aktivitas berhipotesis, latihan dan meyimpulkan. masih belum cukup. Peneliti menyarankan kepada: (1) Siswa diharapkan berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar, (2) Guru diharapkan untuk menerapkan model TPS karena siswa memberikan respon postif, (3) Bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk mengamati aktivitas siswa selama berdiskusi, memperhatikan alokasi waktu pada tahap Think dan perlu mengidentifikasi secara detail sikap dan perkataan setiap siswa dari masing-masing aktivitas berhipotesis, latihan dan meyimpulkan (4) Sekolah diharapkan menerapkan model TPS sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu pembelajaran.

Studi penerimaan masyarakat Malang terhadap gence ruan khas Kalimantan Timur / Prastiawan Wicaksono

 

Kata kunci: penerimaan, masyarakat Malang, Gence Ruan khas Kalimantan Timur Berdasarkan dari kemiripan selera makan masyarakat Malang dan masyarakat Kalimantan Timur maka peneliti berkepentingan untuk mengenalkan Gence Ruan khas Kalimantan Timur kepada masyarakat luas terutama masyarakat Malang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerimaan masyarakat Malang terhadap warna, aroma, tekstur dan rasa pada Gence Ruan khas Kalimantan Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat Malang terhadap warna Gence Ruan khas Kalimanta Timur adalah 76,2% kategori suka, terhadap aroma Gence Ruan khas Kalimantan Timur 75,6% kategori suka, terhadap tekstur Gence Ruan khas Kalimantan Timur 77,9% kategori suka, dan terhadap rasa Gence Ruan khas Kalimantan Timur 78,1% kategori suka. Dengan demikian dapat disimpulkan Dengan bahwa masakan daerah dari Kalimantan Timur yaitu Gence Ruan khas Kalimantan Timur dapat diterima oleh masyarakat Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai prospek usaha Gence Ruan khas Kalimantan Timur di Malang.

Korelasi antara kemampuan menyusun kalimat matematika dan berhitung dasar matematika dengfan hasil belajar fisika siswa kelas I SLTP Negeri 3 Mojokerto tahun pelajaran 1996/1997 / oleh Poedji Rahajoe

 

Manajemen kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada program akselerasi (studi kasus di SMA Negeri 2 Lumajang) / Rena Istri Wangi

 

Kata kunci: manajemen KTSP, program akselerasi Kurikulum adalah harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah. Isi dari kurikulum adalah pengetahuan ilmiah, termasuk pengalaman dan kegiatan belajar yang disusun sesuai dengan taraf perkembangan siswa. Program akselerasi sendiri adalah suatu program percepatan yang diperuntukkan untuk peserta didik cerdas istimewa, dengan mengembangkangkan kurikulum nasional dan lokal yang dimodifikasi dengan penekanan materi yang esensial. KTSP adalah kurikulum dengan menekankan potensi satuan pendidikan tertentu, sehingga satuan pendidikan tersebut dapat mengembangkan kurikulum sendiri berdasarkan potensi yang terdapat dalam satuan pendidikan tertentu dan potensi daerah berada. Manajemen sendiri adalah suatu proses menggerakkan segala sumber daya yang ada agar mencapai tujuan yang diharapkan. Pentingnya manajemen sendiri bagi program akselerasi dan ktsp agar mencapai tujuan pendidikan yang efektif, yang berarti mendatangkan hasil yang baik dan tepat, sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen KTSP pada program akselerasi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta pelaporan di SMAN 2 Lumajang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang dalam pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi KTSP pada program akselerasi SMAN 2 Lumajang, sehingga dapat diperoleh gambaran manajemen KTSP pada program akselerasi di SMAN 2 Lumajang. Penelitian menggunakan jenis studi kasus, yang pada akhirnya peneliti dapat mendeskripsikan dan menganalisis secara rinci pengelolaan KTSP pada program akselerasi SMAN 2 Lumajang. Diperoleh hasil bahwa manajemen KTSP pada program akselerasi tidak berbeda dengan manajemen KTSP pada program reguler, perbedaannya hanya terletak pada pemampatan waktu penyelesaian materi pada program akselerasi SMAN 2 Lumajang. Perencanaan KTSP pada program akselerasi dilakukan sebelum tahun ajaran untuk menyusun program KTSP melalui rapat yang di dalamnya terdapat tim penyusun KTSP, pengembangan muatan lokal sekolah, dan penuangan program kurikulum ke dalam silabus dan RPP. Pelaksanaan KTSP pada program akselerasi, dengan melihat kesesuaian perangkat pembelajaran yang sudah dibuat dengan yang diterapkan guru dalam kelas. Pembelajaran pada program akselerasi SMAN 2 Lumajang menggunakan metode “Belajar Menantang”, karena yang diberikan pengajaran adalah anak cerdas istimewa. Selain itu ada pembelajaran kontektual dan outbond bagi siswa akselerasi. Dalam pelaksanaan KTSP di SMAN 2 Lumajang juga terdapat program remidi bagi yang tidak tuntas, bagi siswa yang tuntas akan diberikan program pengayaan. KKM akselerasi di SMAN 2 Lumajang adalah 75. Evaluasi KTSP pada program akselerasi mengenai bagaimana kesesuaian antara perencanaan yang sudah dibuat dengan pelaksanaan KTSP, dan dapat diperoleh hasil 90 % sesuai antara perencanaan dan pelaksanaan. Pelaporan KTSP program akselerasi dapat dibagi menjadi dua yaitu pelaporan dari sekolah ke dinas kabupaten dan provinsi, dengan pelaporan sekolah ke wali murid. Manajemen KTSP yang diterapkan di SMAN 2 Lumajang tidak jauh berbeda dengan yangsudah ditetapkan oleh pemerintah. Saran yang diberikan berkaitan dengan hasil penelitian yaitu (1) bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, harus ada peningkatan pengawasan terhadap berjalannya KTSP di seluruh sekolah Kabupaten Lumajang, sehingga diharapkan sekolah mampu menunjukkan potensi lembaganya masing-masing. (2) bagi SMAN 2 Lumajang, harus dan peningkatan kerjasama dengan seluruh stakeholders dalam manajemen KTSP agar tetap memberikan hasil yang lebih baik dan optimal, (3) bagi orangtua, diharapkan orangtua siswa dapat terus mendukung, dan memberikan masukan dan kritik yang membangun baik yang bersifat materiil maupun spiritual kepada program yang telah dilaksananakan sekolah dalam rangka meningkatkanmutu pendidikan di sekolah. Kemudian, diharapkan juga agar orangtua selalu mendukung putra-putrinya yang masuk program akselerasi, untuk selalu mendukung proses belajar baik di sekolah maupun di rumah, (4) bagi Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan penelitian ini menjadi salah satu tambahan pengetahuan khususnya dalam mata kuliah manajemen kurikulum, agar nantinya dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap perkembangan jurusan administrasi pendidikan, (5) bagi peneliti lain, perlu melakukan penelitian sejenis menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan sasaran yang lebih luas.

Pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru ekonomi terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPS pada semester genap tahun ajaran 2009/2010 di SMA Negeri 1 Campurdarat Kabupaten Tulungagung / Titis Laksono

 

Kata kunci: persepsi siswa, keterampilan mengajar guru ekonomi, motivasi belajar siswa. Persepsi merupakan stimulus untuk menggambarkan pemahaman tentang peristiwa yang telah terjadi yang dapat dijadikan media informasi. Dalam kegiatan belajar mengajar disekolah persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru sangat penting sekali untuk mengetahui sejauhmana keterampilan mengajar yang dimiliki oleh seorang guru. Adapun keterampilan mengajar dalam penelitian ini yaitu (1) Keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (2) Keterampilan menjelaskan materi, (3) Keterampilan bertanya, (4) Keterampilan memberi penguatan, (5) Keterampilan mengadakan variasi, (6) Keterampilan mengelola kelas, (7) Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil. Jika keterampilan mengajar yang dimiliki oleh seorang guru tinggi maka motivasi belajar seorang siswa juga tinggi. Motivasi belajar bisa tumbuh jika ada dorongan baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa yang diistilahkan dengan motivasi intristik dan motivasi ekstristik. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru ekonomi di kelas, untuk mendiskripsikan seberapa besar tingkat motivasi belajar siswa, dan untuk mendiskripsikan pengaruh persepsi siswa tentang keterampilan keterampilan mengajar guru ekonomi secara parsial dan simultan terhadap motivasi belajar siswa di SMA Negeri 1 Campurdarat Kabupaten Tulungagung. Rancangan penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh informasi dan untuk menemukan ada tidaknya suatu pengaruh tentang variabel-variabel yang sudah ditentukan sebelumnya. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Campurdarat Kabupaten Tulungagung pada bulan Mei 2010. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS yang berjumlah 36 siswa. Untuk memperoleh data tentang keterampilan mengajar guru dan motivasi belajar digunakan teknik angket yang diukur dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Persepsi siswa tentang keterampilan mengajar guru ekonomi di kelas masuk dalam klasifikasi baik terutama pada variabel X3, X5, X6, dan X7, dan variabel X2 masuk dalam klasifikasi sangat baik, sedangkan pada variabel X1 masuk dalam klasifikasi cukup, dan X4 masuk dalam klasifikasi kurang baik. (2) Tingkat motivasi belajar siswa cukup, hal ini dapat diketahui dari nilai prosentase tertinggi yaitu 33.34% yang terletak pada klasifikasi baik. (3) Secara parsial tidak semua variabel mempengaruhi motivasi belajar siswa. (4) Secara simultan variabel keterampilan mengajar guru yang meliputi keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan menjelaskan materi, keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi dalam mengajar, keterampilan mengelola kelas, dan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil mempengaruhi motivasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan oleh nilai F= 5.091 pada α 5% dan diperoleh dari probabilitas (p) sebesar 0.001 sehingga p < 0.05 menunjukkan adanya pengaruh sehingga variabel terikat motivasi belajar dapat di pengaruhi oleh tujuh variabel bebas tersebut. Saran yang diberikan oleh peneliti, guru diharapkan agar lebih meningkatkan keterampilan mengajar yang sudah dimiliki terutama pada variabel keterampilan memberi penguatan agar kedepannya bisa menjadi tenaga pendidik yang profesional, dan menghilangkan suasana tegang dalam mengajar, sehingga siswa dapat merasa nyaman dalam belajar. Siswa diharapkan untuk terus meningkatkan motivasi belajarnya, karena motivasi yang tinggi merupakan faktor yang penting untuk meraih prestasi dalam belajar dan untuk menghindari hal-hal negatif yang dapat mengurangi motivasi dalam belajar. Dengan demikian guru bersama-sama siswa harus bisa menjalin komunikasi yang baik agar tercapai tujuan pembelajaran yang baik.

Pembelajaran learning cycle 5E berbantuan modul pada materi reaksi oksidasi reduksi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMAN 3 Malang / Pipiet Karuniawati

 

Kata Kunci : pembelajaran, Learning Cycle 5E, modul, reaksi oksidasi reduksi. Pembelajaran IPA khususnya kimia lebih menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan kerja ilmiah. Materi kimia yang berjenjang membuat siswa sulit memahami konsep-konsep kimia. Salah satu upaya untuk mengatasi kesulitan belajar siswa adalah dengan menerapkan metode pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan modul. Tujuan penelitian ini, adalah untuk mengetahui : (1) keterlaksanaan pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan modul, (2) perbedaan hasil belajar siswa kelas X MAN 3 Malang yang dibelajarkan dengan menggunakan metode Learning Cycle 5E dengan siswa yang dibelajarkan dengan metode konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian diskriptif dan eksperimen semu. Populasi penelitian adalah siswa kelas X MAN 3 Malang tahun ajaran 2008/2009 yang terdiri dari 7 kelas. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yaitu kelas X-A, X-B diambil dengan teknik random rumpun (Cluster Random Sampling). Jumlah siswa kedua kelas tersebut masing-masing adalah 36 siswa. Instrumen yang digunakan adalah tes pilihan ganda yang terdiri dari 15 soal yang valid, dengan realibilitas α sebesar 0,801. Data dianalisis dengananalisis presentase dan uji t dengan taraf signifikansi α=0.05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan modul mendapatkan respon yang positif, hal ini dilihat dari keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, (2) terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil belajar kelas eksperimen 84,27 dan kelas kontrol 77,70. Begitu juga nilai psikomotorik dan afektif siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai psikomotorik dan efektif siswa kelas kontrol, (3) persepsi siswa terhadap wujud fisik modul dan pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan modul mendapat respon baik, diketahui berdasarkan angket yang diberikan kepada siswa.

Pengaruh persepsi bauran promosi terhadap ketertiban konsumen dalam proses pembuatan keputusan pembelian kosmetik Pon's White Beauty (Survey pada mahasiswi Universitas Negeri Malang yang tinggal di Kelurahan Subersari RT 5 RW 3 Kecamatan Lowokwaru kota Malang) / Alfonsi

 

Kata kunci : Persepsi bauran promosi, keterlibatan konsumen, proses pembuatan keputusan pembelian Pond’s White Beauty. Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi yang semakin maju, dunia bisnis pun juga semakin berkembang, khususnya dalam bidang pemasaran yang saat ini makin banyak pesaingnya. Salah satu strategi pemasaran adalah bauran promosi yang terdiri dari periklanan, promosi penjualan, public relation dan personal selling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Keadaan persepsi bauran promosi dan keterlibatan konsumen dalam proses pembuatan keputusan pembelian kosmetik Pond’s White Beauty di Kelurahan Sumbersari RT 5 RW 3 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang (2) pengaruh persepsi bauran promosi terhadap keterlibatan konsumen dalam proses pembuatan keputusan pembelian Pond’s White Beauty baik secara parsial maupun simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi Universitas Negeri Malang yang tinggal di Kelurahan Sumbersari Rt 5 Rw 3 Kecamatan Lowokwaru kota Malang yang menggunakan Pond’s White Beauty. Dari rumus Slovin, diperoleh sampel sebanyak 83 orang dengan menggunakan teknik simple random sampling. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner. Skala yang digunakan adalah skala likert dengan 5 pilihan jawaban. Untuk uji kelayakan instrument digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan uji F. Untuk menguji kelayakan regresi menggunakan uji asumsi klasik dengan bantuan SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian ini adalah bahwa (1) Mahasiswi Universitas Negeri Malang setuju dengan periklanan, public relation, personal selling dan sangat setuju dengan promosi penjualan yang dilakukan Pond’s White Beauty (2) persepsi periklanan dan promosi penjualan berpengaruh secara signifikan sedangkan personal selling dan public relation tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keterlibatan Mahasiswi Universitas Negeri Malang yang Tinggal di Kelurahan Sumbersari RT 5 RW 3 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dalam proses pembuatan keputusan pembelian Pond’s White Beauty. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan : (1) perusahaan Pond’s White Beauty meningkatkan personal selling dengan memberi pelatihan kepada SPG agar melayani konsumen lebih ramah, sehingga konsumen merasa nyaman dan dapat meningkatkan penjualan. (2) perusahaan Pond’s White Beauty lebih meningkatkan publikasi misalnya dengan menerbitan majalah tentang perusahaan Unilever sebagai perusahaan yang memproduksi Pond’s White Beauty, sehingga konsumen bisa lebih mengenal strategi yang dilakukan perusahaan untuk mengembangkan produknya.

Perancangan desain kemasan "petis udang windu" dan media promosi pendukungnya / Arif Rachman Hakim

 

Kata kunci: Kemasan, Promosi, Petis Udang Windu Produk “Petis Udang Windu” merupakan bahan atau pendukung makanan yang berasal dari kota Pasuruan dan dapat dipadukan menjadi berbagai macam makanan yang lezat. Petis terbuat dari bahan baku asli udang dan dioalah secara tradisional sehingga mempunyai nilai produk yang tinggi. Sayangnya, kemasan yang ada pada saat ini masih kurang memadai. Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan suatu perancangan desain kemasan yang dapat lebih mengenalkan produk “Petis Udang Windu” kepada masyarakat. Selain sebagai media promosi, fungsi utama kemasan sebagai wadah pelindung dan dapat mengkomunikasikan pesan secara efektif dan efisien sehingga dapat membagun citra positif akan produk lokal, terutama produk “Petis Udang Windu”. Perancangan desain kemasan ini bertujuan untuk menghasilkan konsep identitas dan bentuk visualisasi kemasan yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan produk “Petis Udang Windu”. Perancangan yang dibentuk berupa desain kemasan dan media promosi pendukung produk “Petis Udang Windu”. Perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural atau perancangan yang bersifat deskriptif. Berdasarkan data yang terkumpul, baik melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi diketahui bahwa produk “Petis Udang Windu” memerlukan media promosi berupa desain kemasan, antara lain kemasan primer, sekunder, box, dan tas plastik belanja. Selain kemasan, untuk meningkatkan pencapaian tujuan pemasaran dari produk “Petis Udang Windu”, perancangan desain kemasan didukung dengan dua belas media promosi yang bertujuan untuk meningkatkan tingkat penjualan produk. Media promosi tersebut adalah tas kertas untuk pembelian produk “Petis Udang Windu” lebih dari tiga biji, billboard, flying advertising, iklan Koran, kartu nama, neon box, souvenir gantungan kunci, stationery set, voucher, poster, nota pembelian, dan x banner.

Penerapan model pembelajaran two stay two stray (dua tinggal dua tamu) dalam rangka meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran geografi siswa kelas X.9 SMA Negeri 1 Kepanjen tahun ajaran 2009/2010 / Nurul Huda

 

Kata Kunci: pembelajaran Two Stay Two Stray, keaktifan belajar siswa Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada tanggal 3 September 2009, yang dilakukan pada siswa kelas X.9 SMA Negeri 1 Kepanjen dapat diketahui bahwa proses belajar mengajar masih didominasi oleh guru meski sudah menggunakan media LCD untuk menampilkan slide-slide materi yang diajarkan. Guru yang bersangkutan masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, ini merupakan salah satu faktor yang mengindikasikan sebagian besar siswa kurang aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar. Mayoritas siswa hanya diam dan melihat tayangan slide materi pada layar, dan bila guru memberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum jelas siswa juga kurang berani dan tetap diam. Pada observasi awal ini juga diperoleh data tentang nilai ulangan harian 1 pada kompetensi dasar 1. Sebanyak 11 orang siswa dari 31 jumlah total siswa atau sekitar 35%, harus mengikuti remidi untuk bisa mencapai nilai ketuntasan minimal 75. Rumusan masalah dalam penelitian ini mengkaji tentang penerapan pembelajaran model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas X.9 SMA Negeri 1 Kepanjen dalam pelajaran geografi. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penerapan pembelajaran model Two Stay Two Stray dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas X.9 SMA Negeri 1 Kepanjen pada mata pelajaran geografi. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, dan tiap siklusnya dilaksanakan pada satu kali pertemuan. Teknik pengumpulan data keaktifan belajar siswa menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I keaktifan belajar siswa secara klasikal masih rendah hanya mencapai 45,16% atau 14 siswa yang aktif. Pada siklus II ada peningkatan yang signifikan pada keaktifan belajar siswa secara klasikal yaitu mencapai 90.32 atau 28 siswa yang aktif. Hasil keaktifan belajar siswa secara klasikal juga di uji menggunakan t-test dan hasilnya diperoleh, thitung > ttabel (24,265 > 2,571) dan pvalue Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka sarannya sebagai berikut: < signifikansi (0,000 < 0,05) yang berarti ada peningkatan secara signifikan dari penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray terhadap keaktifan belajar siswa secara klasikal dari siklus I ke siklus II. (1) bagi guru bidang studi Geografi di SMA Negeri 1 Kepanjen disarankan untuk menjadikan Two Stay Two Stray (TSTS) sebagai salah satu model pembelajaran alternatif, agar dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa yang pada akhirnya akan berdampak pula pada meningkatnya prestasi belajar siswa, (2) dalam ii menerapkan model pembelajaran TSTS diperlukan manajemen waktu yang baik terutama pada tiap tahapan, agar penerapan model ini bisa berjalan lancar, (3) bagi penelitian selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat dikembangkan untuk materi selain menganalisis dinamika dan kecenderungan perubahan litosfer dan pedosfer serta dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi. Selain itu diharapkan adanya variasi dan penggunaan media, agar siswa lebih tertarik dan termotivasi dalam kegiatan pembelajaran, (4) bagi penelitian selanjutnya, diharapkan untuk lebih memotivasi siswa dalam aspek writing activities, karena aspek ini merupakan aspek yang paling kecil perolehan prosentasenya pada penelitian ini.

Peningkatan kemampuan menyimak berita menggunakan strategi STAD (Student Teams Achievement Divisions) pada siswa kelas VIII MTs Hasyim Asy'ari Batu / Nur Qomariyah

 

Kata kunci : peningkatan kemampuan menyimak, berita, strategi STAD. Salah satu ragam keterampilan menyimak yang diajarkan di SMP adalah menyimak berita. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, pembelajaran menyimak berita menjadi salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa SMP secara maksimal. Oleh karena itu, peran guru sangat besar selama proses pembelajaran menyimak berita. Guru dituntut dapat menggunakan strategi dan media pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan menyimak berita siswa. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada studi pendahuluan di MTs Hasyim Asy’ari Batu, diketahui bahwa strategi dan media pembelajaran yang digunakan dalam menyimak berita masih konvensional. Kondisi seperti ini menyebabkan kegiatan belajar siswa tidak aktif dan hasil belajar siswa belum maksimal. Selain itu, siswa juga mengalami kendala dalam menyimak berita. Kendala yang dialami siswa dalam menyimak berita adalah (1) kurangnya konsentrasi siswa dalam menyimak berita, (2) menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana), (3) mengungkapkan secara tertulis isi berita dengan kalimat yang padu serta ejaan yang benar. Hambatan atau kesulitan ini muncul karena berita yang disimak adalah teks berita dibacakan. Hal ini merupakan pembelajaran menyimak yang kurang menarik bagi siswa sehingga menyebabkan siswa kurang konsentrasi dalam menyimak dan hasilnya kurang maksimal. Masalah tersebut disebabkan oleh penggunaan strategi dan media pembelajaran menyimak berita yang digunakan guru kurang tepat. Oleh karena itu, perlu dicarikan sebuah strategi yang inovatif dalam mengatasi masalah tersebut. Peneliti dan guru mata pelajaran sepakat untuk menerapkan strategi STAD sebagai upaya dalam meningkatkan kemampuan menyimak berita siswa. Kooperatif STAD memiliki komponen-komponen utama dalam pembelajaranya, yaitu (1) presentasi kelas/penyajian materi, (2) tim/kegiatan kelompok, (3) tes individu/ kuis, (4) penghitungan skor perkembangan individu, dan (5) rekognisi tim/pemberian penghargaan kelompok. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menyimak berita pada tiga aspek, yakni (1) menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana), (2) mengungkapkan kembali secara tertulis isi berita dengan kalimat yang padu, (3) mengungkapkan kembali secara tertulis isi berita dengan ejaan yang benar. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif karena peneliti berusaha menggambarkan fakta, objek, dan data-data sebagaimana adanya. Oleh karena itu, sebagian data tersebut berupa data kualitatif yang tidak perlu dikuantifikasikan atau nonnumerik yang berupa angka. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pemilihan ii    rancangan ini sesuai dengan karakteristik PTK, yaitu permasalahan penelitian yang diangkat untuk dipecahkan bermula dari persoalan pembelajaran sehari-hari. Penelitian ini meliputi lima langkah pokok yaitu (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi hasil tindakan. Penelitian ini berlokasi di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Hasyim Asy’ari Batu yang terletak di Jalan Semeru no. 22 Batu. Penelitian ini lebih dikhususkan pada kelas VIII A. Kelas VIII di MTs Hasyim Asy’ari Batu terdiri dari 5 kelas yaitu kelas VIII A sampai VIII E. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan 30 dari 32 siswa VIII A MTs Hasyim Asy’ari Batu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan siswa menyimak berita dilakukan dengan menggunakan strategi STAD. Peningkatan kemampuan siswa menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan bagaimana) dilakukan dengan proses latihan menyimak di awal pemelajaran, apersepsi, pemanfaatan kartu panduan diskusi, dan diskusi kelompok. Peningkatan kemampuan siswa mengungkapkan kembali secara tertulis isi berita dengan kalimat yang padu dilakukan dengan cara merangkai pokok-pokok berita hasil diskusi kelompok dengan memperhatikan kepaduan kalimat. Peningkatan kemampuan mengungkapkan kembali secara tertulis isi berita dengan ejaan yang benar dilakukan dengan cara guru menjelaskan ejaan yang benar, penggunaan tanda baca, penulisan kata, dan penggunaan huruf kapital dalam kata dan awal kalimat sebelum kegiatan tes dimulai sehingga siswa memperhatikan ejaan yang benar ketika mengungkapkan kembali secara tertulis isi berita. Peningkatan kemampuan menyimak berita juga ditunjukkan dengan bertambahnya persentase kemampuan menyimak berita siswa dari studi pendahuluan, ke tahap siklus I dan siklus II. Nilai Standar Kompetensi Minimal (SKM) yang ditentukan sekolah, yaitu (70). Pada studi pendahuluan, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai dengan SKM adalah 14 (46,6%) siswa. Itu berarti sebanyak 16 (53%) siswa memperoleh skor di bawah SKM. Pada tahap siklus I, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai SKM sebanyak 25 (83,3%) siswa. Siswa yang belum mencapai nilai SKM hanya 5 (16%) siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menyimak berita siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahap siklus II, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai SKM sebanyak 30 (100%). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh nilai di bawah SKM dan kemampuan siswa menyimak berita sudah sangat baik. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menggunakan strategi STAD dalam pembelajaran menyimak berita. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan strategi STAD dalam pembelajaran menyimak berita pada jenjang yang berbeda misalnya jenjang SMA. Dengan demikian, hasil penelitian selanjutnya dapat memperkaya pengetahuan mengenai upaya meningkatkan kemampuan menyimak berita siswa.

Pengembangan bahan ajar keterampilan menulis naskah drama dengan strategi pemodelan transformasi cerpen untuk siswa SMP / Retno Dwi Prastianik

 

Key words: writing, script, drama, modeling, transformation short stories Writing scripts is one of the four skills are taught in junior compose. Attainment of writing plays can be used as an indicator of skill acquisition by students compose. Therefore, learning to write scripts in the junior high school are expected to be maximal in order to compose the mastery of skills students are also maximal. One way that can be achieved so that learning can be a maximum of writing plays is to develop teaching materials writing plays. Teaching materials developed writing plays in this research uses modeling strategy of transformation short stories. This strategy was chosen to facilitate the students get the sample stages of writing plays from short stories have ever read. This research produced a textbook. Draft materials produced in this research then tested by the learning specialist drama scriptwriting, expert writing instructional materials, two Bahasa Indonesia teacher and junior high school students. Tests conducted to determine the feasibility and gather suggestions for improvement to the revision of teaching materials for use in the field. From the trial results are found for some parts of the teaching materials should be revised. Revision of teaching materials include materials and short stories taken as a model. After the revision of teaching materials, produced the expected product could be used for learning skills of writing plays based on stories he had read in junior high. It is recommended to conduct further research on the competence of writing plays as well as other language skills and compose.

Implemenating picture series to improve tenth grade studentss ability in writing narrative texts at MABI Program of MAN 3 Malang / Fifin Naili Rizkiyah

 

Kata kunci: gambar berseri, kemampuan menulis. Kemampuan menulis siswa kelas X program MABI (Madrasah Aliyah Bertaraf Internasional) MAN 3 Malang tidak memuaskan. Mayoritas siswa memiliki masalah dalam penggunaan bahasa, pemilihan kata, dan organisasi. Siswa sering mengeluhkan betapa sulitnya menulis dalam bahasa asing dan menuangkan ide-ide dari pikiran ke dalam bentuk tulisan. Alhasil, kurang dari 50% siswa mendapatkan nilai di bawah 3 antara rentangan nilai 1-4. Gambar berseri diusulkan sebagai strategi alternatif untuk mengatasi masalah siswa dalam menulis. Gambar berseri adalah serial gambar yang menunjukkan beberapa kejadian atau aksi dalam bentuk serupa yang saling berkaitan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan apakah penerapan gambar berseri ini dapat meningkatkan kemampuan menulis teks narasi siswa kelas X MABI MAN 3 Malang. Dalam penelitian ini peneliti berharap bahwasanya 100% siswa mendapatkan nilai 3 dari rentangan nilai 1-4 dalam penggunaan bahasa, pemilihan kata, dan organisasi. Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif yang terdiri dari dua siklus, dengan siklus pertama terdiri dari dua pertemuan dan siklus ke dua terdiri dari 4 pertemuan. Satu siklus terdiri dari empat tahapan yang dinamai: perencanaan aksi, pelaksanaan rencana, pengamatan aksi dan refleksi pengamatan. Subjek dalam penelitian ini adalah 21 siswa kelas X MABI MAN 3 Malang, tahun ajaran 2009/2010. Adapun instrumen-instrumen yang digunakan yaitu tabel observasi, catatan pengamat, kuesioner, rubrik penilaian dan hasil tulisan siswa. Data dari observasi, rubrik penilaian dan kuesioner dianalisa dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabel dan deskripsi, sedangkan data dari catatan pengamat serta hasil tulisan siswa dianalisa dan dilaporkan dalam bentuk deskripsi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambar berseri dapat meningkatkan kemampuan menulis teks narasi siswa secara efektif. Seluruh siswa telah mencapai nilai minimal 3. Lebih lagi, mayoritas siswa memberi respon positif terhadap penerapan gambar berseri ini, terbukti 70% dari seluruh siswa menunjukkan ketertarikan terhadap gambar berseri ini. Mereka menyatakan bahwa gambar berseri menarik, mudah dipahami, lebih dari itu, gambar berseri sangat membantu mereka menyusun paragraph serta mengembangkan ide-ide dalam menulis teks narasi. Kesimpulannya, gambar berseri dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks narasi siswa kelas X MABI MAN 3 Malang. Gambar berseri sangat membantu dalam mengembangkan ide-ide dan kreatifitas siswa. Para siswa menikmati kegiatan menulis dengan menggunakan gambar berseri karena menarik, menyenangkan dan tidak membosankan. Disarankan supaya guru menggunakan gambar berseri dalam mengajar menulis karena ini terbukti dapat mengatasi masalah siswa dalam menulis. Serta disarankan supaya peneliti- peneliti lain mengadakan penelitian terkait dengan penerapan gambar berseri dalam skill dan genre yang berbeda. iiiv i

Pengembangan e-modul mata pelajaran sains kelas V materi daur air dan peristiwa alam di MI Al-Azhaar Kecamatan Bandung Tulungagung / Nurin Rahmawati

 

Kata Kunci: Pengembangan, E-modul, Sains. Kecanggihan komputer saat ini memberikan alternatif media pembelajaran yang dapat memperlancar proses belajar mengajar di sekolah. Pemanfaatan komputer ini dalam bentuk komputer interaktif dimana e-modul yang ada saat ini masih dalam bentuk modul cetak. Berdasarkan observasi di MI Al Azhaar Bandung Tulungagung saat ini proses pembelajaran di kelas khususnya mata pelajaran Sains masih belum menggunakan media komputer, walaupun telah tersedia ruang komputer yang memadai dan siswa yang telah menguasai penggunaan komputer. Selain itu, proses belajar masih belum bervariasi hanya guru menjelaskan, mengerjakan latihan, dan tanya jawab sehingga siswa yang berbeda-beda terabaikan. Untuk itu diperlukan media pembelajaran yang memanfaatkan komputer yang telah tersedia dan memperhatikan karakteristik siswa yang berbeda-beda yaitu dengan pengembangan e-modul yang di desain berbentuk komputer interaktif. Tujuan pengembangan e-modul mata pelajaran Sains kelas V untuk memberikan alternatif pembelajaran dengan proses belajar mandiri sehingga siswa dapat mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya serta dapat mengukur kemampuan belajar yang telah diperoleh. Agar proses pembelajaran lebih menarik, variatif dan dapat lebih memotivasi siswa dalam belajar mata pelajaran Sains sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Subjek uji coba dari pengembangan e-modul adalah siswa kelas VA MI Al Azhaar Kecamatan Bandung Tulungagung. Jenis data yang digunakan jenis data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan e-modul dengan acuan pendapat ahli media, ahli materi, dan audiens/siswa menggunakan angket. Sedangkan data kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan e-modul digunakan dalam pembelajaran dengan menggunakan tes setelah belajar menggunakan e-modul. Data-data tersebut diolah untuk dianalisis, diinterpretasi, dan disimpulkan tingkat kevalidan dan efektivitasnya. Hasil penelitian pengembangan ini berupa CD e-modul mata pelajaran Sains kelas V materi “daur air dan peristiwa alam”. Berdasarkan hasil uji coba dapat dikemukakan sebagai berikut: uji coba ahli media di dapat persentase 83,75% berdasarkan kriteria kelayakan, e-modul ini termasuk kualifikasi valid, uji coba ahli materi didapat persentase 83,33% berdasarkan kriteria kelayakan, e-modul ini termasuk kualifikasi valid, uji coba siswa perseorangan didapat persentase 90% berdasarkan kriteria kelayakan, e-modul ini termasuk kualifikasi valid, uji coba siswa kelompok kecil didapat persentase 85% berdasarkan kriteria kelayakan, e-modul ini termasuk kualifikasi valid, serta uji coba siswa lapangan (klasikal) di dapat persentase 81,98% berdasarkan kriteria kelayakan, e-modul ini termasuk kualifikasi valid. Sedangkan hasil belajar dibandingkan dengan SKM pada mata pelajaran Sains. Uji coba peorangan, menunjukkan bahwa semua siswa berhasil memenuhi SKM, uji coba kelompok kecil, menunjukkan bahwa 1 siswa belum berhasil memenuhi SKM dan 9 siswa telah memnuhi SKM, serta uji coba lapangan/klasikal, menunjukkan bahwa 1 siswa belum berhasil memenuhi SKM dan 23 siswa telah berhasil memenuhi SKM. Kesimpulan pengembangan e-modul mata pelajaran Sains kelas V materi daur air dan peristiwa alam valid dan efektif untuk dimanfaatkan sebagai media alternatif untuk pembelajaran di sekolah dasar khususnya kelas V. Saran dari pengembang sebagai berikut: (1) bagi Guru, hendaknya memanfaatkan e-modul mata pelajaran Sains kelas V ini sebagai media pembelajaran namun guru juga harus memperhatikan persiapan peralatan sebelum proses pembeajaran di mulai, membaca petunjuk pemanfaatan dengan cermat, dan juga selalu membimbing siswa agar proses pembelajaran tetap lancar dan kondusif. (2) sekolah, dapat dijadikan sumber belajar dan memiliki perangkat komputer yang memadai, (3) siswa, dengan menggunakan e-modul dapat belajar secara mandiri dengan jadwal yang dipelajari agar lebih menguasai materi, (4) pengembang selanjutnya diharapkan menambahkan tayangan video dan audio untuk lebih melengkapi e-modul.

Hubungan pemanfaatan suber belajar, gaya belajar dan minat belajar dengan prestasi belajar mata diklat sepeda motor siswa kelas X program keahlian mekanik otomotif SMK Muhammadiyah I Kepanjen / Andika Anggi Saputra

 

Kata Kunci: Sumber Belajar, Gaya Belajar, Minat Belajar, Prestasi Belajar Prestasi belajar sampai saat ini menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar. Pemanfaatan sumber belajar yang optimal mempengaruhi prestasi belajar. Prestasi belajar yang baik dapat mencerminkan gaya belajar yang baik karena dengan mengetahui dan memahami gaya belajar yang terbaik bagi dirinya akan membantu siswa dalam belajar sehingga prestasi yang dihasilkan akan maksimal. Di samping gaya belajar dan pemanfaatan sumber belajar minat belajar juga mempunyai peranan penting terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemanfaatan sumber belajar, gaya belajar dan minat belajar dengan prestasi belajar mata diklat sepeda motor siswa kelas X program keahlian mekanik otomotif SMK Muhammadiyah I Kepanjen baik secara parsial maupun secara simultan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Muhammadiyah I Kepanjen dengan jumlah total 240 siswa, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 48 siswa. Data diperoleh dengan menyebarkan angket dan dokumentasi berupa nilai raport responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Pemanfaatan sumber belajar mata diklat sepeda motor siswa kelas X program keahlian mekanik otomotif SMK Muhammadiyah I Kepanjen tinggi. 2) Gaya belajar mata diklat sepeda motor siswa kelas X program keahlian mekanik otomotif SMK Muhammadiyah I Kepanjen sedang. 3) Minat belajar mata diklat sepeda motor siswa kelas X program keahlian mekanik otomotif SMK Muhammadiyah I Kepanjen sangat tinggi. 4) Prestasi belajar mata diklat sepeda motor siswa kelas X program keahlian mekanik otomotif SMK Muhammadiyah I Kepanjen tinggi. 5)Ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar dengan prestasi belajar siswa di SMK Muhammadiyah I Kepanjen karena nilai signifikan 0,598, 6) ada hubungan yang signifikan antara gaya belajar dengan prestasi belajar siswa di SMK Muhammadiyah I Kepanjen karena nilai signifikan 0,644. 7) Ada hubungan yang signifikan minat belajar dengan prestasi belajar siswa di SMK Muhammadiyah I Kepanjen karena nilai signifikan 0,641. Dan 8) Ada hubungan yang signifikan antara pemanfaatan sumber belajar, gaya belajar dan minat belajar dengan prestasi belajar mata diklat sepeda motor siswa kelas x program keahlian mekanik otomotif SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen.

Meningkatkan hasil belajar berhitung siswa kelas III SDN Mergosono 3 Kota Malang melalui pembelajaran dengan model jigsaw / Sumini

 

Kata Kunci : Jigsaw, hasil belajar, Berhitung Penelitian ini dilandasi tidak tercapainya ketuntasan pembelajaran terutama pada mata pelajaran berhitung pada SDN Mergosono 3, sehingga perlu adanya pengembangan model pembelajaran yang dapat meningkat hasil belajar siswa Kelas III dan kualitas pembelajaran di dalam kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan mendiskripsikan penerapan model jigsaw, peningkatan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran Berhitung (Matematika) bagi siswa kelas Kelas III SDN Mergosono 3 Kota Malang dengan menggunakan model Jigsaw. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan melalui 4 tahapan yaitu perencanaan, tindakan, refleksi dan revisi. Subjek penelitian adalah siswa kelas Kelas III SDN Mergosono 3 Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dan tes. Analisis dilakukan pada data yang diperoleh dilakukan secara diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Berhitung (Matematika). Peningkatan ini ditunjukkan oleh perbandingan rata-rata hasil belajar yang dicapai antara siklus I (67,2), siklus II (80,6) peningkatan prosentase 13,4. Dan juga adanya peningkatan aktivitas siswa dari siklus I yang hanya 61,90 menjadi 84,76 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan dapat menjadi jembatan bagi munculnya penelitian baru. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan dalam dunia penelitian pendidikan agar mutu pendidikan di Indonesia baik.

Pengaruh citra terhadap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian (Studi pada konsumen persada swalayan Malang) / Hervy Kurnianingtiyas

 

Kata kunci: Citra Toko, Keterlibatan Konsumen, Keputusan Pembelian. Berkembangnya bisnis eceran atau ritel di Indonesia beberapa tahun terakhir ini cukup tinggi. Banyaknya perusahaan yang terjun pada bisnis eceran, tidak lepas dari banyaknya tuntutan konsumen untuk memenuhi kebutuhannya sehingga persaingan yang terjadi semakin ketat yang pada akhirnya perusahaan yang memiliki citra yang baik yang akan mampu mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Citra toko biasanya diukur dengan menanyakan kepada konsumen seberapa baik dan seberapa penting berbagai macam dari operasional suatu toko eceran bagi mereka. Dimensi citra toko yang bisa dipelajari diantaranya barang dagangan, layanan yang diberikan, fasilitas fisik, promosi, kenyamaan dan suasana toko. Persada Swalayan sebagai salah satu Swalayan yang terkenal di kota Malang yang mempunyai strategi yang tepat untuk mempertahankan keberadaannya, salah satunya dengan cara menerapkan strategi citra toko yang positif. Karena citra toko sangat menentukan kelangsungan dan keberhasilan sebuah toko tersebut. Sebuah toko yang berorientasi pada keinginan, permintaan dan kebutuhan konsumen, memiliki potensi besar untuk berhasil. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan bagaimana keadaan citra toko dan keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian serta bagaimana pengaruh variabel citra toko terhadap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan kegiatan pembelian di Persada Swalayan. Dalam penelitian ini menggunakan 100 sampel yang penentuan jumlah minimalnya ditentukan berdasarkan rumus Slovin. Sampel tersebut diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian ini terdiri atas dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah citra toko yang mempunyai sub variabel 1) pelayanan, 2) harga, 3) suasana, 4) promosi toko, sedangkan variabel terikatnya adalah keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian. Analisis data menggunakan regresi linier berganda (multiple regression) dengan program SPSS for Windows seri 16.0. Hasil dari penelitian adalah sebagai berikut: (1) Pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai B = 0,181, nilai t_(hitung )= 2,223 dan nilai signifikan = 0,029. (2) Harga mempunyai pengaruh positif terhadap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai B = 0,143, nilai t_hitung= 1,998 dan nilai signifikan = 0,049. (3) Suasana mempunyai pengaruh positif terhadap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai B = 0,483, nilai t_hitung= 6,428 dan nilai signifikan = 0,000. (4) Promosi toko mempunyai pengaruh positif terhadap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai B = 0,189, nilai t_hitung= 2,242 dan nilai signifikan = 0,027. (5) Secara simultan variabel citra toko yang terdiri pelayanan, harga, suasana, dan promosi toko memiliki pengaruh positif terhadap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian dengan nilai F_hitung sebesar 62,905 dengan tingkat signifikan 0,000 hal ini berarti terdapat pengaruh yang signifikan. Peneliti memberikan saran Variabel citra toko (pelayanan, harga, suasana, promosi toko) hendaknya selalu dievaluasi dan lebih ditingkatkan agar tetap mampu mempertahankan konsumen serta dapat menarik konsumen baru. Perlu adanya pengembangan SDM untuk para karyawan, agar SDM yang ada lebih potensial dalam menghadapi persaingan dan tantangan jaman yang selalu berubah.

Perbedaan kematangan emosi anak yang gemar mendengarkan lagu lirik dewasa dan anak yang gemar mendengarkan lagu lirik anak / Devi Nurrisna Wardani

 

Kata Kunci: kematangan emosi anak, lagu lirik dewasa, lagu lirik anak. Lagu dan musik memiliki manfaat sangat besar bagi perkembangan intelegensi anak-anak. Lagu bisa merangsang otak anak supaya lebih mudah dan cepat berkembang terutama dalam hal bahasa, membentuk sensitivitas anak dan mempermudah anak menangkap ilmu pengetahuan dari setiap arti bait lirik lagu yang mereka dengar. Konsep yang ada dalam “perkembangan” adalah proses bagi seluruh organ tubuh untuk menjadi sempurna, termasuk di sini salah satunya adalah kematangan emosi, dalam hal ini berkaitan dengan lagu lirik dewasa dan lagu lirik anak. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengungkap tingkat kematangan emosi anak yang gemar mendengarkan lagu lirik dewasa, (2) Untuk mengungkap tingkat kematangan emosi anak yang gemar mendengarkan lagu lirik anak, (3) Untuk mengungkap ada atau tidaknya perbedaan kematangan emosi pada anak yang gemar mendengarkan lagu lirik dewasa dan anak yang gemar mendengarkan lagu lirik anak. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada perbedaan antara kematangan emosi antara anak yang gemar mendengarkan lagu lirik dewasa dan anak yang gemar mendengarkan lagu lirik anak. Penelitian ini berjenis analisis deskriptif dan komparatif. Instrument yang digunakan yaitu skala kematangan emosi anak dengan nilai koefisien validitas item sebesar 0,275-0,582 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,701. Berdasarkan hasil analisis deskriptif anak yang gemar mendengarkan lagu lirik dewasa dan anak yang gemar mendengarkan lagu lirik anak memiliki kematangan emosi yang cukup. Dari hasil analisis independent samples test menghasilkan nilai t = -1,438 dengan nilai p= 0,157 (p > 0,05). Maka dapat disimpulkan tidak ada perbedaan kematangan emosi anak yang gemar mendengarkan lagu lirik dewasa dan anak yang gemar mendengarkan lagu lirik anak. Dari penelitian disarankan bagi Orang tua untuk bekerjasama dengan para pendidik (Guru) hendaknya lebih memantau perkembangan emosi anak, dengan menggunakan pengukuran self repot tentang kemasakan emosi anak.. Bagi Peneliti selanjutnya hendaknya lebih mengembangkan penelitian mengenai pengaruh lagu terhadap kematangan emosi dengan mengembangkan skala yang lebih sesuai dengan fenomena, indikator dan teori, menambah variabel lainnya, misalnya jenis kelamin atau dengan kategori pemilihan jenis lagu, seberapa intensitas mendengarkan lagu, dan koleksi-koleksi kaset VCD atau DVD yang dimiliki. Memperbanyak jumlah sampel yang akan diteliti sehingga hasil penelitian lebih mencerminkan keadaan yang ada. ii 

Pengembangan instrumen penilaian IPA terpadu tema pemuaian pada berbagai wujud zat untuk mengukur hasil belajar siswa kelas VII SMP / Dian Kartika Sari

 

Kata kunci : instrumen penilaian, IPA terpadu, hasil belajar Diterapkannya KTSP di SMP menuntut digabungkannya mata pelajaran fisika, biologi, dan kimia menjadi IPA terpadu. Salah satu tema yang digunakan dalam pelajaran IPA adalah Pemuaian pada Berbagai Wujud Zat. Namun, instrumen penilaian untuk mengukur hasil belajar siswa pada tema tersebut masih belum ada. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan instrumen penilaian untuk mengukur ranah kognitif dan instrumen penilaian proyek yang sesuai dengan karakteristik IPA terpadu untuk mengukur hasil belajar. Penelitian ini berdasarkan langkah-langkah penelitian dan pengembangan (research and development, R&D) yang telah dimodifikasi. Kegiatan pada langkah-langkah penelitian pengembangan ini adalah (1) studi pendahuluan yang meliputi studi pustaka, survey lapangan dan penyusunan draf instrumen penilaian, dan (2) pengembangan, meliputi penilaian pakar, revisi draf instrumen penilaian, ujicoba, dan produk hasil pengembangan. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini berupa angket. Teknik analisis data menggunakan teknik persentase, uji validitas, daya beda, taraf kesukaran, dan reliabilitas. Produk pengembangan ini adalah instrumen penilaian IPA terpadu berbentuk soal pilihan ganda untuk mengukur ranah kognitif dalam bentuk pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban dan instrumen penilaian berbentuk panduan proyek yang mengukur hasil belajar. Panduan proyek yang dikembangkan terdiri dari halaman judul, dasar teori proyek, indikator proyek, kemampuan yang harus dimiliki, batasan pelaksanaan proyek, sistematika penulisan laporan proyek, penilaian, format penilaian, dan rubrik penilaian proyek. Hasil penilaian pakar menunjukkan bahwa instrumen penilaian berbentuk soal pilihan ganda memenuhi kriteria cukup baik dengan persentase rata-rata 78,58% dan instrumen penilaian berbentuk panduan proyek memenuhi kategori baik dengan persentase rata-rata 90,39%. Berdasarkan hasil analisis butir soal yang meliputi validitas, taraf kesukaran, dan daya beda, diketahui bahwa dari 93 butir soal, 20 butir soal (21,51%) diterima tanpa revisi, 13 butir soal (13,98%) diterima dengan revisi, dan 60 butir soal (64,51%) ditolak. Kelebihan dari instrumen penilaian ini adalah dapat mengukur hasil belajar dan dapat dijadikan pelengkap dalam penilaian siswa. Kelemahannya adalah instrumen penilaian berbentuk soal pilihan ganda diujicobakan terbatas pada satu sekolah dan instrumen penilaian berbentuk panduan proyek sampai penilaian pakar. i

Hubungan latar belakang pendidikan guru dan pengalaman mengajar dengan kinerja guru di sekolah menengah pertama negeri Kecamatan Balerejo Madiun / Ika Cyntia Rismawati

 

Kata kunci: latar belakang pendidikan guru, pengalaman mengajar, dan kinerja guru. Pendidikan di Indonesia pada umumnya sampai saat ini belum mampu secara optimal membentuk masyarakat Indonesia yang berkualitas dan memiliki daya saing dengan masyarakat global. Hal ini dikarenakan, kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia masih rendah sebagai akibat dari rendahnya mutu pendidikan. Upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan antara lain dengan adanya Undang-undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam UU tersebut dinyatakan bahwa guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik pendidikan tinggi program sarjana. Selain itu, masih ada UU Nomor 20 Tahun 1999 tentang otonomi daerah yang berakibat pada otonomi penyelenggaraan pendidikan dalam konteks otonomi sekolah. Otonomi sekolah ini dapat menumbuhkembangkan potensi yang dimiliki guru. Untuk mewujudkan hal tersebut salah satu upaya peningkatan kualitas guru yaitu melalui latar belakang pendidikan Strata 1 (S1) dan juga didukung dengan pelatihan/penataran bagi guru di sekolah. Selain latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar yang cukup juga mempengaruhi peningkatan kualitas kinerja guru. Tujuan penelitian yang diajukan meliputi: (1) mendeskripsikan tingkat latar belakang pendidikan guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun; (2) mendeskripsikan pengalaman mengajar guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun; (3) mendeskripsikan seberapa tinggi kinerja guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun; (4) mendeskripsikan hubungan latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar dengan kinerja guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional, yang bertujuan untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis serta menginterprestasikan data. Lebih lanjut didalam penelitian yang dilakukan memiliki 3 variabel. Variabel bebas adalah latar belakang pendidikan guru (X1) dan pengalaman mengajar (X2), serta variabel terikat yaitu kinerja guru (Y). Populasi penelitian sebanyak 98 guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun. Untuk menjaring data menggunakan metode angket. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan secara parsial dan secara simultan. Secara parsial yaitu adanya hubungan antara latar belakang pendidikan guru (X1) dengan kinerja guru (Y), yang ditunjukkan dengan nilai ii thitung (6,682) > ttabel (1,084). Adanya hubungan yang signifikan antara pengalaman mengajar (X2) dengan kinerja guru (Y) yang ditujukan dengan nilai thitung (5,778) > ttabel (1,084). Sedangkan secara simultan yaitu adanya hubungan antara latar belakang pendidikan guru (X1) dan pengalaman mengajar (X2) dengan kinerja guru (Y) yang ditunjukkan dengan nilai F hitung (53,993) > F tabel (3,092). Dari hasil analisis regresi berganda diperoleh nilai Adjusted R Square 0,522. Hal ini berarti variabel latar belakang pendidikan guru (X1), pengalaman mengajar (X2), terhadap kinerja guru (Y) sebesar 52,2%, sedangkan sisanya sebesar 47,8% oleh faktor di luar hubungan variabel (X1, X2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan latar belakang pendidikan guru dan pengalaman mengajar dengan kinerja guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian tersebut, dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) seharusnya pimpinan Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun Diharapkan berguna untuk merumuskan kebijakan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia, khususnya bagi guru Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun, serta melakukan pengembangan bagi guru melalui pendidikan berlanjut, pendidikan lanjutan, dan pengembangan staf agar kinerja guru baik; (2) seharusnya kepala sekolah Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun mengembangkan kinerja guru yang sudah baik dengan cara mengikut sertakan guru pada pelatihan/penataran yang sesuai dengan mata pelajaran yang dikuasai, sehingga kinerja guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun akan lebih meningkat; (3) seharusnya guruguru Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun mempertahankan dan mengembangkan metode pembelajaran yang telah dilakukan selama ini dengan mengikuti pelatihan/penataran bagi guru untuk meningkatkan kemampuan pelaksanaan tugas-tugasnya sesuai dengan lingkup pekerjaannya sebagai seorang guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri Kecamatan Balerejo Madiun; (4) dosen Administrasi Pendidikan disarankan mengadakan kegiatankegiatan pelatihan/penataran mengenai kinerja guru agar pekerjaan yang dilaksanakan oleh guru dapat dijalankan dengan baik dan penuh semangat; (5) bagi peneliti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan atau acuan untuk melakukan penelitian selanjutnya. Apabila ingin melakukan penelitian yang sejenis sebaiknya penelitian ini, lebih dikembangkan secara lengkap dengan subyek yang berbeda serta lebih mengembangkan variabel, sub variabel dan indikatornya, misalnya meneliti tentang kualitas diklat yang diikuti guru, untuk variabel kinerja guru angket disebarkan pada siswa.

Peningkatan kemampuan menyimak dan berbicara siswa kelas X.8 SMAN 1 Pagak dengan teknik puri hening (puzzle story and happy listening) berbasis cooperative learning / Yesicha Magdhalena

 

Kata Kunci: menyimak, berbicara, Puzzle Story Keterampilan menyimak dan berbicara merupakan keterampilan dasar yang dimiliki oleh setiap individu. Melalui teknik Puri Hening (Puzzle Story and Happy Listening) diharapkan keterampilan menyimak berbciara siswa dapat ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan menyimak berbicara siswa dalam kegiatan bercerita dan mengidentifikasi unsur instrinsik dan ekstrinsik cerita yang diperdengarkan. Peningkatan kemampuan siswa dengan teknik Puri Hening (Puzzle Story and Happy Listening) dikembangkan untuk beberapa aspek, yang pertama adalah aspek identifikasi unsur instrinsik, kedua identifikasi unsur ekstrinsik ketiga aspek kebahasaan dan keempat aspek non kebahasaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena merupakan gambaran hasil penelitian. Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas X.6 SMAN 1 Pagak yang berjumlah 33 orang. Sumber data pada penelitian ini adalah hasil observasi berdasarkan paparan pengamatan dan hasil wawancara peneliti dengan guru pamong dan hasil belajar siswa dalam menyimak berbicara dengan teknik Puri Hening (Puzzle Story and Happy Listening), serta hail observasi respon guru pamong dan siswa dalam pembelajaran menyimak berbicara dengan teknik Puri Hening. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus dilakukan dalam dua kali pertemuan. Kegiatan yang dilakukan dalam masing-masing siklus antara lain (1) tahap pratindakan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) evaluasi tindakan dan (5) refleksi. Dalam masing-masing siklus penerapan pembelajaran menyimak berbicara dengan teknik Puri Hening mengalami peningkatan pada hasil pembelajaran menyimak berbicara. Hasil pembelajaran menyimak dengan menggunakan teknik Puri Hening menglamai peningkatan. Pada pretest kemampuan menyimak (mengidentikasi unsur instrinsik) rata kemampuan 59% setelah mengalami perbaikan menjadi 61% di siklus 1 dan 84% di siklus ke 2. kemampuan menyimak (mengidentifikasi unsur esktrinsik) rata-rata 36% setelah mengalami perbaikan menjadi 39% si siklus 1 dan 75 % di siklus ke 2. hasil kemampuan berbicara (aspek kebahasaan) rata-rata kemampuan 53% setelah mengalami perbaikan menjadi 71 % di siklus 1 dan rata-rata kemampuan 87% di siklus ke 2. Sedangkan hasil kemampuan berbicara (aspek nonkebahasaan) rata-rata kemampuannya 52% setelah mengalami perbaikan menjadi 72% di siklus 1 dan 93% di siklus ke 2. Maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menyimak berbicara dengan teknik Puri Hening berhasil diterapkan dan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyimak berbicara dengan persentase hasil akhir pembelajaran lebih dari 60%. Respon siswa dalam pembelajaran menyimak berbicara dengan teknik Puri Hening cukup baik. Hal tersebut terbukti dengan persentase jawaban yang di atas rata-rata 50% menjawab bahwa teknik Puri Hening dapat meningkatkan kemampuan menyimak berbicara.

Penerapan model discovery untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Minggir dalam mengidentifikasi daur hidup hewan / Ahmad Sufiyan

 

Kata Kunci: Model Discovery, Hasil Belajar, IPA. Pembelajaran IPA pada pelaksanaannya haruslah diupayakan dalam kondisi pembelajaran yang kondusif dalam arti pembelajaran itu harus bersifat aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan. Hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas pada pembelajaran IPA di SDN Minggir hanya 53,2. Sedangkan Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditetapkan pada pembelajaran IPA adalah 70,00. Rendahnya nilai siswa diduga karena pembelajaran yang dilakukan secara monoton tanpa menggunakan model dan media pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk : (1). Mendeskripsikan penerapan model discovery dalam mengidentifikasi daur hidup hewan. (2). Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA dengan menerapkan model discovery. (3). Mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SDN Minggir pada materi mengidentifikasi daur hidup hewan setelah diajarkan dengan model discovery. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 (dua) siklus karena dalam materi daur hidup hewan terdapat dua indikator. Masing-masing siklus terdiri atas tahapan : Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi, dan Refleksi. Nilai Standar Ketuntasan Minimal (SKM) individu 70% dan Standar Ketuntasan Minimal (SKM) klasikal (kelas) 75% dari jumlah subjek penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Minggir sebanyak 30 anak. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian penerapan model discovery pada pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Minggir adalah sebagai berikut : (1). Pelaksanaan Pembelajaran IPA dengan menggunakan model discovery membuat guru lebih kreatif dalam melaksanakan pembelajaran IPA sehingga membuat siswa lebih aktif karena siswa belajar menemukan sendiri permasalahan yang dihadapi. (2). Aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 secara keseluruhan adalah rata-rata 2,3 dan pada pertemuan 2 meningkat menjadi 2,5 dengan kriteria baik. Sedangkan aktivitas siswa pada siklus II pertemuan 1 secara keseluruhan adalah rata-¬rata 2,6 dan terus mengalami peningkatan pada pertemuan 2 menjadi 2,7 dengan kriteria baik. (3). Hasil belajar siswa yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan mulai dari pra tindakan sampai dengan data pada tindakan siklus II. Data pra tindakan yang tidak menerapkan model discovery menunjukkan rata-rata kelas hanya mencapai 53,2. Data tersebut menjadi gambaran bahwa pembelajaran konvensional yang dilaksanakan di kelas tidak maksimal. Sedangkan rata-rata kelas pada tindakan siklus I yang menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model discovery mencapai 69,2 dan mengalami peningkatan pada tindakan siklus II dengan rata-rata mencapai 81,7.

Penerapan pembelajaran model think-pair-share untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada matematika di kelas IV MI Ma'arif Kraton Pasuruan / Ririn Wulandari

 

Kata Kunci : Model Think Pair Share, Pemecahan Masalah Soal pemecahan masalah matematika dirasakan sulit oleh siswa. Untuk menyelesaikan soal pemecahan matematika digunakan model Think Pair Share. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan pemecahan masalah matematika dengan menggunakan model Think Pair Share. Model Think Pair Share terdiri dari tiga tahap yaitu guru mengajukan pertanyaan siswa diminta berfikir secara individu (Thinking), setiap siswa mendiskusikan jawaban dengan jawaban dengan pasangannya (Pairing) dan siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas (Sharing). Penelitian ini dilakukan di MI Ma’arif Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan, pada tanggal 19 Oktober sampai 9 Nopember 2010. Subyek penelitian adalah kelas IV yang terdiri dari 15 siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Standar ketuntasan matematika < 65 untuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran model Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal pemecahan masalah matematika pada siswa kelas IV MI Ma’arif Kraton Pasuruan. Terbukti dari nilai rata-rata kelas yang semakin meningkat yaitu pada saat pra tindakan (57,7), pada siklus I (60,7) dan pada siklus II (76,7). Begitu juga pada saat proses pembelajaran minat, partisipasi dan kerjasama semakin baik terlaksana.

A descriptive study on the implementation of speaking program at MTs (Madrasah Tsanawiyah) Darul Hikmah Kedungwaru Tulungagung / Fatatul Yulik Kolipah

 

Key words: Fluid, Pressure, Specific Mass, Surface Stress, Capillarity, Viscosity, Bernoulli Law, Pascal Law, Archimedes Law Fluid or liquid is substance that flow all of its part to other places in the same time. The substance shapes in general divided into three, solid substance, liquid and gaseous substance. Based on their size and form, substances have fixed shape and volume, but its form changes suitable with the container, while gas do not has fixed form so both have abilities to flow. Substance that able to flow or give little barrier toward the form change when be pressed is called as flow substance, where flow substance is substance that flow all of its parts to other place in the same time. Based on its movement, there is two kinds of fluid, that is static and dynamic fluids. Pascal law to increase the elevation of water surface is instrument that can be used to visualize work principle of Pascal law. Useful for education and society is expected be useful for readers and able to open insight about hydraulic aspects. Based on Pascal law, it is obtained principle that with small force able to produce larger force. Airplane able to be lifted to air because the air rate that pass through the airplane wings and airplane is not like rocket that is lifted up because of action and reaction between gas that spurt by the rocket. The rocket spurt the gas to backward, and as reaction the gas push the rocket forward. So, rocket can be lifted while no air, but airplane unable to fly if no air. The wing sections of airplane have more sharper rear side and upper side that is more curved than the lower side.

Upaya meningkatkan kemampuan mendesain dan aspek psikomotorik dalam pembuatan media fisika melalui model pembelajaran berbasis proyek secara kolaboratif bagi mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM / Andi Kurniawan Eko Supriyadi

 

Kata kunci : Berbasis proyek, kemampuan mendesain, aspek psikomotorik. Berdasarkan diskusi dan konsultasi dengan dosen pembina, bahwa dalam perkuliahan pengembangan media pembelajaran terjadi permasalahan yakni rendahnya hasil belajar pada kemampuan mendesain dan ranah psikomotorik dalam membuat media by design. Permasalahan ini terjadi disebabkan oleh cara pembelajaran yang dilakukan masih kurang tepat dan pembelajaran yang selama ini dilakukan dalam pembuatan media masih bersifat individual. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk memberi kesempatan kepada setiap individu untuk belajar dan berkreasi dalam membuat media adalah model pembelajaran berbasis proyek secara kolaboratif. Model pembelajaran berbasis proyek memungkinkan mahasiswa untuk berakomodasi dalam kreatif membuat desain media. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan keterlaksanaan model pembelajaran berbasis proyek secara kolaboratif pada pembuatan media fisika bagi mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM, (2) Mendeskripsikan perkembangan kemampuan mendesain media fisika mahasiswa selama dilakukan model pembelajaran berbasis proyek secara kolaboratif bagi mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM, (3) Mendeskripsikan perkembangan aspek psikomotorik mahasiswa dalam pembuatan media fisika selama dilakukan model pembelajaran berbasis proyek secara kolaboratif bagi mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Kegiatan pembelajaran terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, temuan dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan observasi, lembar kerja mahasiswa, dan uji produk. Penelitian dilaksanakan di Jurusan Fisika dengan jumlah mahasiswa 30 orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan mendesain media fisika mahasiswa mengalami peningkatan, yaitu dari 61,79 pada siklus I menjadi 81,43 pada siklus II. Sedangkan peningkatan aspek psikomotorik mahasiswa dalam pembuatan media fisika juga mengalami peningkatan, yaitu dari 70,74% pada siklus I menjadi 85,91% pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek secara kolaboratif dapat meningkatkan kemampuan mendesain dan aspek psikomotorik dalam pembuatan media fisika mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UM.

Komparasi kinerja keuangan antara bank konvensional dan bank syariah periode 2005-2009 / Nindy Arissa

 

Kata kunci: Kinerja Keuangan Bank, CAMEL, Bank Konvensional dan Syariah Perbankan merupakan lembaga yang mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia. Kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode waktu tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas dan profitabilitas bank. Dalam penelitian ini menggunakan metode CAMEL, karena metode ini dapat mengukur dan membandingkan kinerja bank-bank secara lebih tepat, objektif dan konsisten. Rasio-rasio CAMEL yang digunakan adalah CAR, KAP, NPM, ROA, ROE, LR dan LDR. Subyek dalam penelitian ini adalah bank konvensional dan bank syariah. Bank konvensional merupakan bank yang memakai sistem bunga, sedangkan bank syariah merupakan syariat islam yang memakai sistem bagi hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kinerja keuangan bank konvensional metode CAMEL(2) kinerja keuangan bank syariah metode CAMEL (3) perbedaan kinerja keuangan bank konvensional dan bank syariah metode CAMEL. Data yang digunakan bersumber dari laporan keuangan bank konvensional dan bank syariah periode 2005-2009. Populasi yang digunakan adalah semua bank konvensional dan bank syariah di Indonesia yang terdaftar dalam Bank Indonesia selama periode 2005-2009. Sehingga terdaftar 12 bank, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan sampel 6 bank yang terdiri bank konvensional 3 bank dan bank syariah 3 bank.Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik statistik dengan metode One-Sampel Kolmogorov-Smirnov Test pada program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan yang signifikan kinerja keuangan antara bank syariah dan bank konvensional ditinjau dariCapital (CAR), (2) tidak terdapat perbedaan yang signifikan kinerja keuangan antara bank syariah dan bank konvensional ditinjau dari Asset (KAP), Management (NPM), Earning Ability (ROA, ROE), Liquidity (LR, LDR). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah sampel, terutama sampel bank syariah yang dibutuhkan pada peneliti selanjutnya agar mendapat sampel yang dapat mewakili kondisi perbankan yang diteliti. Bagi pihak perbankan, nasabah serta investor, penelitian ini dapat dijadikan informasi hasil kinerja bank konvensional dan bank syariah ditinjau dari rasio CAMEL sehingga perbankan, nasabah serta investor dapat mengambil keputusan yang tepat untuk investasi.

Implementing problem-based learning to improve the speaking ability of the eleventh grade students of SMAN 1 Gondang Mojokerto / Sholahuddin Athoillah

 

Key words: speaking ability, group discussion, problem-based learning. The objective of the study was to describe the use of problem-based learning in improving the speaking ability of the eleventh grade students of SMAN I Gondang Mojokerto. The preliminary study showed that students got difficulties to speak in English. It was found that the major problems of students speaking were in their unconfidence to speak in English. Consequently, the classroom situation remained passive so that the teacher was forced to work harder to motivate the students to speak up. Moreover, the class was dominated by only some students. Finally, an activity like group discussion or other activities which needed to do by more than one student would be difficult to apply. The most crucial problem was the possibility of having underestimation of students’ capability in speaking English. Underestimation happens when a student actually deserved to get better score while in fact, he gets lower score. For this purpose, the researcher, then, formulated the research problem as how the students’ speaking ability could be improved through problem-based learning technique. This study employed collaborative classroom action research. The subjects of this research were students of XI IA-I class of SMAN I Gondang Mojokerto who were studying in the second semester. This study only focused on improving students’ speaking ability in group discussion. On the basis of preliminary study, it was found that group discussion activities could not run well since many students remained passive and there were only some students were active that sometimes dominated the discussion. Group discussion was actually aimed at giving chance for students to increase their ability with other students in one circumstance (their own group). In many cases, the discussion run with one or two students speaking while the other members tent to keep silent and became dependant to the others.This study was conducted in one cycle consisting of two meetings. The procedures of the action included planning, implementing, observing, and reflecting. To collect the data, the researcher used observation sheet for observing both teaching-learning process and students speaking ability, field notes and camera. The finding of the research showed that problem-based learning was effective to be employed in improving the students’ speaking ability. The result showed that the criteria of success had been achieved, that more than 70% of all the students who were present during the research were categorized good (got minimum score 3). At the second meeting, it was found that 17.5% (7 students) were categorized fair, 62.5% (25 students) were categorized good, , 20% (20 students) were categorized very good, and 2,5% (1 student) was categorized excellent. By the minimum score of 3, it can be concluded that the criteria ii ii achieved 85% from the criteria 70%. Moreover, in terms of students’ motivation, it was found that students at the second meeting showed improvement as seen by more students responding the teacher’s questions. Furthermore, the group discussion at the second meeting was also effective for students to share their ideas in problem-solving by using English. At last, there are three aspects that should be paid attention in order to implement the improved model problem-based learning to improve the students’ speaking ability in group discussion; the instructional activities, materials, and teacher’s role during the learning process. For the writer, it is expected that the writer will implement the technique in his teaching under the same problem of speaking ability by considering the students’ level of comprehension and students’ speaking ability. For the English teachers, it is recommended that they can consider the use of problem-based learning for speaking activities especially in group discussion. Moreover, they will be more active during the teaching and learning. For the school, it is expected that the technique will be considered to be implemented in speaking class by using problem-based learning for a better students’ achievement in the future. For future researchers, the writer suggests to conduct a research focusing among other things on students’ writing skill.

Pembelajaran membaca pemahaman kelas IV Sekolah Dasar Negeri Kota Malang semester II tahun ajaran 2009/2010 / Auliatin Amin Fardia

 

Kata kunci: Pembelajaran membaca pemahaman, membaca pemahaman. Kualitas hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas IV, khususnya pada keterampilan membaca pemahaman masih tergolong sangat rendah. Hal ini diperkuat dengan hasil data tes PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) adalah studi internasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia yang disponsori oleh The International Association for The Evaluation Achievement (IEA) yang dilakukan pada siswa kelas IV tahun 2006, yang diikuti oleh 45 negara, Indonesia berada pada urutan ke empat dari bawah. Salah satu yang menjadi sorotan tentang fenomena rendahnya kualitas membaca pemahaman ini yaitu guru. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran guru memegang peranan penting dalam membimbing, mengembangkan serta meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca. Secara umum penelitian ini bertujuan mengkaji tentang pelaksanaan pembelajaran membaca pemahaman kelas IV SDN Kota Malang. Secara khusus penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran membaca pemahaman yang dibuat dan dilakukan oleh guru. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran membaca kelas IV SDN Kota Malang dengan subjek penelitian adalah guru bidang studi bahasa Indonesia dan siswa kelas IV Sekolah Dasar. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dibantu dengan catatan lapangan yang diperoleh melalui kegiatan observasi, wawancara, studi dokumentasi dan angket yang kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran yang disusun oleh kedua guru di SDN P 2 dan di SDN W 1 kurang lengkap dan kurang tepat. Komponen perencanaan yang kurang lengkap mencakup indikator dan tujuan pembelajaran membaca pemahaman yang dirumuskan guru kurang menjabarkan kompetensi dasar yang dicapai, materi yang dipilih guru kurang lengkap. Kurang tepatnya komponen yang disusun oleh guru mencakup penyusunan alat evaluasi yang kurang memenuhi kriteria penilaian membaca yang baik. Pada tahap pelaksanaan, secara umum pembelajaran yang dilakukan oleh kedua telah mengarah pada pembelajaran membaca, akan tetapi secara khusus langkah pembelajaran membaca pemahaman yang dimulai pada tahap prabaca, saat baca, dan pascabaca masih belum dilakukan secara maksimal dan terpadu di kelas, hal ini dikarenakan guru kurang memiliki kekreatifan untuk menggunakan strategi membaca pemahaman dengan berbagai aktivitas yang bervariasi dalam setiap tahapnya dan kurang mampu menggunakan strategi atau metode yang mampu menumbuhkan siswa lebih aktif di kelas. Lemahnya guru dalam membelajarkan membaca pemahaman, disebabkan oleh beberapa faktor (1) faktor latar belakang pendidikan guru dan (2) sikap guru dalam membelajarkan ii membaca pemahaman. Pada tahap evaluasi pembelajaran membaca pemahaman yang dilakukan oleh kedua guru dipandang kurang berhasil secara maksimal, hal ini dikarenakan alat evaluasi yang digunakan oleh guru kurang memenuhi kriteria penilaian membaca yang baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, guru dipandang masih lemah dalam menyusun perencanaan pembelajaran membaca pemahaman (RPP), sehingga disarankan kepada guru (1) mempelajari dengan teliti cara menyusun RPP membaca pemahaman yang lengkap dan tepat berdasarkan teori yang berlaku, (2) mengikuti workshop, lokakarya, diklat, atau seminar tentang pengembangan RPP, (3) memperdalam ilmu atau teori tentang membaca, khususnya membaca pemahaman. Pada tahap pelaksanaan, guru masih tampak lemah dalam hal menumbuhkan siswa aktif dalam kelas dan aktivitas yang dilakukan oleh guru pada tahap prabaca, saat baca, pascabaca terlihat kurang bervariasi dan kurang sesuai dengan teori, sehingga disarankan kepada guru (1) menggunakan metode atau strategi yang mampu menumbuhkan keaktifan siswa di kelas, misalnya metode inquiry atau kooperatif, (2) menggunakan strategi yang lebih bervariasi dalam kegiatan prabaca, saat baca, atau pasca baca, misalnya menggunakan strategi KWL atau DRTA, (3) melatih siswa membaca dalam hati dengan menggunakan teknik yang bervariasi, misalnya teknik skimming. Penelitian ini bisa dimanfaatkan sebagai referensi penelitian selanjutnya, misalnya penelitian pengembangan bahan ajar membaca dan penelitian tindakan kelas untuk menciptakan strategi-strategi membaca pemahaman yang baru. Dengan harapan, melalui penelitian-penelitian tersebut mampu meningkatkan kualitas membaca pemahaman siswa. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti kasus-kasus sejenis mengenai pembelajaran membaca pemahaman diharapkan memiliki waktu yang relatif lama dalam melaksanakan penelitian, agar segala informasi tentang pembelajaran dapat diperoleh peneliti secara mendetail.

Penerapan metode role playing untuk meningkatkan empati pada siswa kelas IV MI Yaspuri Malang / Nutfah A.M. Arif

 

Kata Kunci: Penerapan, Metode Role Playing, Empati. Dewasa ini fenomena kekerasan sudah menjadi suatu tradisi yang melekat dalam masyarakat Indonesia. Tak seharipun media massa melewatkan pemberitaan tentang kekerasan, kekejaman, atau kejahatan. Kekerasan memang meningkat, baik dalam jumlah, jenis, maupun kualitasnya. Lebih dari itu, pelaku maupun korban makin beragam, baik ditinjau dari jenis kelamin, latar belakang, maupun tingkatan usia. Hampir setiap persoalan di negeri ini diselesaikan dengan kekerasan dan kekerasan sudah menjadi budaya yang tertanam kuat dalam masyarakat dan sangat di sayangkan budaya kekerasan ini sampai merambah kedunia pendidikan dan yang menjadi aktor dari kekerasan tersebut adalah para siswa sendiri. Bahkan kekerasan tidak hanya terjadi di jenjang pendidikan tinggi akan tetapi sudah merambah sampai pendidikan yang paling rendah seperti sekolah dasar. Hal ini memberikan potret suram bagi dunia pendidikan. Siswa sekolah dasar (SD) adalah kelompok usia anak-anak yang sedang mengalami perubahan dan perkembangan diri dalam segala aspek. Salah satu perkembangan diri yang dialami mereka adalah pekembangan sosioemosional. Empati merupakan satu konstruk yang membantu perkembangan sosioemosinal anak. Dengan empati anak dapat memahami, merasakan, menghayati orang lain karena dalam proses empati ini berlangsung proses pengertian dan perasaan yang dinyatakan bentuk hubungang antar pribadi. Dengan kemampuan empati yang dimiliki oleh anak membantu mereka untuk mencegah perilaku yang mengarah pada kekerasan. Berdasarkan hal ini, sekolah dapat mencegah kekerasan yang terjadi disekolah dengan meningkatkan empati pada diri siswa. Salah satu metode yang paling efektif untuk meningkatkan empati siswa yaitu metode Role Playing. Role playing merupakan salah satu metode pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. Pengalaman belajar yang diperolehya dari metode ini meliputi, kemampuan kerja sama, komunikatif, dan menigterpretasikan suatu kejadian. Penerapan metode Role playing dimaksudkan untuk memperoleh gambaran bagaimanakah metode Role playing berpengaruh untuk meningkatkan empati siswa. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam penelitian ini ditemukan gambaran dari metode Role Playing. Gambaran metode Role Playing yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) proses belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai sikus III hal ini di lihat dari tahapan metode yang di terapkan yaitu warm up, memilih partisipan, bermain peran, diskusi dan evaluasi serta berbagi pengalaman dan kesimpulan, (2) respon siswa terhadap metode Role playing menunjukkan respon yang sangat positif dengan nilai rata-rata 86,7 %, (3) sikap empati siswa menunjukkan katergori tinggi dengan nilai rata-rata 68,16 %. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penerapan metode Role playing dapat meningkatkan proses belajar dan empati siswa dan ditunjukkan dengan respon sangat positif siswa terhadap metode pembelajaran.

Pelaksanaan sistem keamanan lingkungan (siskamling) sebagai upaya peningkatan moral dan disiplin warga masyarakat (studi di Desa Arjosari Kecamatan Rejoso Kabupaten Pasuruan) / Irma Maisaro

 

Kata Kunci: Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling), Moral, Disiplin. Menjaga keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama sebagai warga negara yang baik. Salah satu bagian terpenting dalam pemeliharan keamanan lingkungan adalah peran serta masyarakat. Dalam hal ini bentuk partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan diwujudkan dalam bentuk Sistem Keamanan Lingkungan. Siskamling dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan moral dan disiplin warga. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat lepas dari interaksinya dengan manusia lain. Dalam interaksinya dengan manusia lain, maka tercipta suatu masyarakat dan suatu peradapan serta kebudayaan manusia yang didalamnya terdapat nilai-nilai yang mendasari dan menuntun tindakan-tindakan dalam hidup bermasyarakat Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan tujuan diadakannya kegiatan Siskamling di desa Arjosari kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan. (2) mendeskripsikan manfaat kegiatan Siskamling bagi warga desa Arjosari kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan. (3) mendeskripsikan tingkat kesadaran warga desa Arjosari kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan dalam melaksanakan Siskamling. (4) Mendeskripsikan upaya meningkatkan kesadaran warga desa Arjosari kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan untuk melaksanakan Siskamling sebagai upaya peningkatan moral dan disiplin warga masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dasar teori fenomenologis. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu berusaha mengungkapan dan menelaah kasus yang terjadi. Dalam penelitian ini lokasi penelitian dipilih di desa Arjosari kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan. Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Sedangkan pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yaitu: tahap persiapan penelitian, tahap pelaksanaan, tahap pelaporan Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tujuan diadakannya Siskamling di desa Arjosari kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan adalah untuk menjaga keamanan lingkungan desa Arjosari, mengurangi tingkat kriminalitas, mempererat tali silatuhrahmi antar warga, pembinaan moral atau kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh warga, membangun disiplin warga masyarakat. Warga desa Arjosari yang tergolong usia muda cenderung jarang mengikuti kegiatan Siskamling. (2) Manfaat yang dapat diambil dari dilaksanakannya kegiatan Siskamling di desa Arjosari kecamatan Rejoso kabupaten Pasuruan diantaranya adalah: (a) Keamanan lingkungan desa Arjosari terjaga dengan baik, manfaatnya sudah mulai dirasakan oleh warga yaitu lingkungan tempat tinggal mereka terjamin keamanannya ketika Siskamling dilaksanakan; (b) jalinan tali silatuhrahmi antar warga menjadi lebih baik; (c) memperbaiki komunikasi antar warga; (d) kewaspadaan dan tanggung jawab warga juga telah mulai meningkat ketika ikut berpartisipasi dalam melaksanakan Siskamling. Tingkat kesadaran warga desa Arjosari dalam melaksanakan Siskamling cukup baik. Warga cukup antusias dalam menjalankan tugasnya, bahkan ketika belum memasuki waktu yang telah ditentukan untuk jaga malam, warga sudah mulai berdatangan ke pos ronda. Dengan membangun kesadaran dalam diri warga, maka dengan sendirinya tujuan yang awalnya ingin dicapai melalui kegiatan ini dapat dicapai dengan baik. Upaya yang dilakukan oleh Kepala Desa Arjosari untuk meningkatkan kesadaran warga antara lain yaitu: Kepala Desa menginstruksikan kepada masing-masing kepala dusun untuk menghimbau kepada warga dusunnya agar melaksankaan kegiatan Siskamling, saling mengingatkan antar warga ketika mendapat giliran jaga, membuat peraturan yang dibuat kepala desa bersama-sama dengan warga, secara umum peraturan dalam melaksanakan Siskamling menjadi tanggung jawab bersama antara warga, petugas, dan pengurus. Meningkatkan kerjasama dan komunikasi yang baik antar warga. Saran dalam skripsi ini sebagai berikut: (1) Bagi warga desa Arjosari, warga perlu memberikan dukungan yang lebih terhadap terlaksananya kegiatan Siskamling. Tanpa ada dukungan dari setiap warga Siskamling tidak akan terlaksana dengan baik, pemuda desa Arjosari perlu untuk ikut serta dalam pelaksanaan kegiatan Siskamling, sehingga keamanan desa dapat lebih terjaga dengan baik, setiap warga perlu meningkatkan disiplin terhadap segala bentuk kegiatan yang di buat oleh desa, warga harus terus meningkatkan kerjasama dalam melaksanakan Siskamling. Dengan terus meningkatnya kerjasama antar warga maka pelaksanaan kegiatan Siskamling akan berjalan lebih baik lagi. (2) Bagi petugas keamanan, petugas keamanan perlu untuk terus meningkatkan kewaspadaan ketika berjaga, petugas jaga harus mengetahui jadwal jaga yang telah dibuat oleh pengurus agar setiap petugas mengetahui kapan mendapat giliran jaga, petugas jaga harus datang tepat waktu apabila mendapat giliran jaga malam, hal ini perlu dilakukan agar kedisiplinan warga lebih meningkat, petugas jaga perlu memberikan teguran apabila ada petugas jaga lain yang tidak melaksanakan jaga. (3) Bagi pengurus atau pengawas keamanan, pengawas keamanan perlu untuk membuat daftar hadir petugas jaga agar pengawas dapat mengetahui petugas jaga yang tidak hadir, sanksi perlu dibuat dan diberikan kepada petugas jaga yang tidak melaksanakan tugasnya, pos jaga perlu untuk diberikan fasilitas penerangan atau lampu oleh pengurus.

Tathbiq ushlub thorh al-is'ilah fi ta'lim al-qiro'ah li-tarqiyah al-rughbah wal-tahshil al-dirosy lada thulabah al-shinl al-tsani fi madrasah al-tsanawiyah al-ammah dar al-qur'an Singosari / Rohmatuz Zuhroh

 

ملخص البحث رحمة الزهرة. ٢٠١٠ . "تطبيق أسلوب "طرح الأسئلة" في تعليم القراءة لترقية رغبة و كفاءة طلبة الص  ف الثاني في المدرسة الثانوية العامة "دار القرآن " سنغاسارى.ا لبحث العلمي، قسم الأدب العربي، كلية الآداب بجامعة مالانج الحكومية. الأستاذ الدكتوراندوس فؤاد إفندى الماجستير. الكلمات الرئيسية: أسلوب "طرح الأسئلة "، مهارة القراءة، رغبة الطلبة، و الكفائة أسلوب طرح الأسئلة هو الن  شاط اّلذي يمارسه الطلبة لتكوين الأسئلة و الأجوبة خلال العمل الدراسية لفهم نصوص مقروءة تحت موضوع معين في أوقات محدودة. طرح الأسئلة أحد أساليب التعليم اّلذي يستطيع أن ينمي و يرقي قدرة التلاميذ الفكرية و رغبتهم في التعلم. هذا الأسلوب يستطيع أن يكون طريقة لحل مشكلات تعليمية في المدارس. يهدف هذا البحث إلى وصف ترقية الرغبة و الكفاءة في تعليم القراءة باستخدام أسلوب"طرح الأسئلة" لطلبة الص  ف الثاني في المدرسة الثانوية العامة "دار القرآن " سنغاسارى. و أسئلة البحث كما يلي: ( ١) كيف تطبيق أسلوب "طرح الأسئلة" في تعليم القراءة للطلبة الصف الثاني في المدرسة الثانوية العامة "دار القرآن " سنغاساري، ( ٢) كيف نتيجة تعليم الطلبة بعد تطبيق أسلوب "طرح الأسئلة" في الصف الثاني في المدرسة الثانوية العامة "دار القرآن" سنغاسارى، ( ٣) كيف رغبة الطلبة بعد تطبيق أسلوب "طرح الأسئلة" في الصف الثاني في المدرسة الثانوية العامة "دار القرآن" سنغاسارى منهج البحث الذي يستخدمها الباحثة هو منهج البحث الصفى الإجرائي. هذا البحث يتكون من دورين، و في ك ّ ل دور أربع خطوات، هي: ( ١) تخطيط العمل و ( ٢) تطبيق العمل و ٣) الملاحظة من عملية التدريس و ( ٤) الانعكاس. يتم إجراء البحث في المدرسة الثانوية العامة ) "دار القرآن" سنغاسارى من شهر نوفمبر إلى سبتمبر سنة ٢٠٠٩ م، مجتمع البحث هو طلبة الصف الثاني الثانوية في المدرسة الثانوية العامة "دار القرآن" سنغاسارى. معلومات رغبة الطلبة تنال من الملاحظة، ثم تحلل المعلومات لتعريف رغبة الطلبة. أما معلومات التحصيل الدراسي تتكون من ناحيتين، هي: جانب فهم المقرؤء، و مهارة القراءة الجهرية. نتيجة البحث تد ّ ل على أ ّ ن تطبيق أسلوب"طرح الأسئلة" و رغبة الطلبة وتحصيلهم الدراسي ترقى كل الدور، ( ١) يجرى أسلوب "طرح الأسئلة" في تعليم مهارة القراءة في الدور ٢٠٠٩ بمدة الوقت مائة وستون دقيقة للقائين بالموضوع "النظافة" الأول في التاريخ ١٧ و ٢٤ و في الدورالثاني بجري في التاريخ الأ  ول و التاريخ ٨ من ديسمبر بالموضوع المختار هو "قضاء الوقت الفراغ" ٢٠٠٩ . في عملية أسلوب "طرح الأسئلة" يفهم الطلبة مادة القراءة ّ ثم يبدأ الطلبة لتكوين الأسئلة من المادة لقياس فهم الطلبة بعد خطوة تقديم الفصل والمناقشة، وبعدها يبادل الطلبة الأسئلة إلى زملائهم ليجيبها. و الدرجة في الدور الأول "جيد"، وفي الدور الثاني يجرى بالدرجة "ممتاز". ( ٢) تطبيق أسلوب " يستطيع أن يرقى التحصيل الدراسي، تنال في الدور الأول من جهة القراءة الجهرية بمعدل النتيجة % ٥٤,١٨ ، و في الدور الثاني تحصل نتيجة الدراسي على معدل النتيجة % ٧٤,٧٨ . و تحصل نتيجة الدراسي من الاختبار القبلي على معدل النتيجة % ٦٥,٢ ، و في الدور الأول من ناحية جانب فهم المقرؤء تحصل نتيجة الدراسي من الاختبار آخر الدور على معدل النتيجة % ٧٣,٣١ ، و من الوظيفة لكل الدور تحصل على معدل النتيجة % ٧٧,٢٧ و في الدور الثاني تحصل نتيجة الدراسي من الاختبار آخر الدور على معدل النتيجة % ٣) تطبيق أسلوب ) . ٨٨,٠٤ و من الوظيفة لكل الدور تحصل على معدل النتيجة% ٨٦,٥٢ "طرح الأسئلة" يستطيع أن يرقى رغبة الطلبة في التعلم بمعدل النتيجة في الدور الأول تنال النتيجة . ٥٨,٣١ ، في الدور الثاني تنال النتيجة % ٧٣,٢١ %

Peran humas dalam membangun persepsi mahasiswa untuk memperoleh informasi dan mendapatkan layanan akademik (studi pada mahasiswa S1 Universitas Negeri Malang) / Evita Maya Susanti

 

Kata kunci: strategi hubungan masyarakat (public relations), persepsi mahasiswa. Dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan di Perguruan Tinggi juga mengalami persaingan yang ketat. Berbagai Universitas di Malang khususnya berlomba-lomba memberikan pendidikan yang baik kepada mahasiswanya dengan fasilitas yang memadai, SDM yang handal, sistem manajemen yang baik dan citra perusahaan yang baik. Dari citra perusahaan yang baik maka dapat menimbulkan persepsi positif di kalangan mahasiswa S1 khususnya. Oleh karena itu, Universitas Negeri Malang sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Malang berusaha memberikan pendidikan yang baik kepada para mahasiswanya agar dalam langkah ke depan dapat mencapai kesuksesan. Di mana hal ini akan terwujud apabila didukung dengan adanya strategi hubungan masyarakat (public relations) dalam mempublikasikan/memberikan informasi dan layanan akademik yang ada di Universitas Negeri Malang dengan berbagai kemudahan. Untuk itu Universitas Negeri Malang perlu menerapkan dan meningkatkan strategi hubungan masyarakat (public relations). Strategi-strategi yang diterapkan Universitas Negeri Malang di antaranya publication, event, news, community involvement dan identity media yang diharapkan dapat menimbulkan persepsi positif di kalangan mahasiswa S1 yang ada di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran hubungan masyarakat (public relations) dalam membangun persepsi mahasiswa S1 dalam memperoleh informasi dan mendapatkan layanan akademik di Universitas Negeri Malang. Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi hubungan masyarakat (public relations) (X) dengan sub variabelnya publication (X1), event (X2), news (X3), community involvement (X4) dan identity media (X5). Sedangkan variabel terikat dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa (Y). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Universitas Negeri Malang yang jumlahnya sebesar 19.151. Sampel dalam penelitian ini adalah sebesar 99 orang mahasiswa. Teknik pengambilan sampel adalah proportionate stratified random sampling, di mana teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data adalah dengan penyebaran angket/kuesioner, dokumentasi dan wawancara. Skala yang digunakan adalah skala Likert dengan lima pilihan jawaban. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression) dengan uji hipotesis yang menggunakan uji t dan uji F, serta uji asumsi klasik. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) nilai β1 = 0,194; nilai t = 2,336 dengan taraf signifikansi nilai t = 0,022 ≤ t = 0,05, (2) nilai β2 = 0,297; nilai t = 3,079 dengan taraf signifikansi nilai t = 0,003 ≤ t = 0,05, (3) nilai β3 = 0,188; nilai t = 2,180 dengan taraf signifikansi nilai t = 0,032 ≤ t = 0,05, (4) nilai β4 = 0,194; nilai t = 2,683 dengan taraf signifikansi nilai t = 0,009 ≤ t = 0,05, (5) nilai β5 = 0,199; nilai t = 2,466 dengan taraf signifikansi nilai t = 0,015 ≤ t = 0,05, (6) nilai F = 22,725; nilai signifikansi F = 0,000 dan Rsquare = 0,550 hal ini berarti bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan secara simultan antara publication, event, news, community involvement dan identity media dalam membangun persepsi mahasiswa S1 untuk memperoleh informasi dan mendapatkan layanan akademik di Universitas Negeri Malang, (7) Event merupakan variabel yang dominan mempengaruhi persepsi mahasiswa S1 untuk memperoleh informasi dan mendapatkan layanan akademik di Universitas Negeri Malang, hal ini dapat dilihat dari nilai β2 > β1, β3, β4, β5 yaitu sebesar 3,079. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan: (1) Sebaiknya pihak humas Universitas Negeri Malang memberikan media tambahan dalam mempublikasikan tentang informasi dan layanan akademik yang ada di Universitas Negeri Malang salah satunya melalui media billboards yang dipasang di tempat-tempat ramai yang dapat dijangkau dan dilihat semua orang; (2) Event yang diadakan humas Universitas Negeri Malang lebih ditingkatkan lagi misalnya: mensponsori acara-acara kesenian, kebudayaan dan amal; (3) Dalam hal tanggapan keluhan mahasiswa, sudah cukup baik akan tetapi masih ada beberapa karyawan yang kurang ramah dalam memberikan informasi dan layanan akademik sehingga pihak humas Universitas Negeri Malang agar lebih memperhatikan hal tersebut karena ada beberapa mahasiswa yang mengeluh bahwa layanan yang diberikan karyawan di TU FIP, FS, FMIPA, FE, FT, FIK, FIS dan RR sebagian masih kurang ramah; (4) Public Relations Officer Universitas Negeri Malang agar lebih meningkatkan kegiatan-kegiatan sosial lainnya seperti: pemeriksaan kesehatan gratis kepada masyarakat yang tidak mampu, rehabilitasi remaja nakal, pemeliharaan kaum lanjut usia, pemeliharaan anak-anak jalanan, pemeliharaan lingkungan hidup dan khitanan massal; dan (5) Untuk identity media khususnya dalam masalah bangunan, pihak Universitas Negeri Malang lebih memperhatikan terhadap bangunan-bangunan yang tidak layak supaya dapat dikelola dan diperbaiki menjadi tempat atau sarana yang dibutuhkan di universitas serta ada beberapa bangunan yang dalam proses pembangunan masih kurang baik. Sehingga proses renovasi perlu dilakukan agar dapat memberikan rasa kenyamanan pada mahasiswa maupun pihak universitas yang menikmati fasilitas bangunan tersebut.

Pengembangan layanan dasar BK bertema manajemen stres berbasis web / Weni Kurnia Rahmawati

 

Kata Kunci: Layanan Dasar, Bimbingan dan Konseling, Manajemen Stres, Web. Bimbingan dan Konseling sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu (siswa), dilaksanakan melalui berbagai macam layanan, salah satu layanan dasar. Salah satu cara untuk membuat proses pemberian layanan bimbingan menarik dan tidak membosankan adalah dengan media pembelajaran komputer berbasis web. Di SMAN 10 Malang pemberian layanan dalam bimbingan dan konseling lebih banyak terfokus secara tatap muka dan belum memiliki media berbasis web. Layanan dasar memiliki topik yang bermacam-macam, salah satunya layanan dasar manajemen stres. Manajemen stres merupakan suatu kemampuan yang dimiliki individu untuk mengurangi stres dan mencari cara untuk bisa mengelola stres. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk layanan dasar BK bertema manajemen stres berbasis web yang bisa digunakan oleh siswa maupun konselor di sekolah. Metode penelitian pengembangan ini menggunakan Borg and Gall. Model Borg and Gall meliputi tahapan: 1) melakukan penilaian kebutuhan (need assesment), 2) analisis data dan penetapan prioritas kebutuhan, 3) merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, 4) menyusun isi materi bertema manajemen stres, 5) penilaian produk oleh ahli media dan materi, 6) revisi produk dari hasil uji ahli, 7) hasil revisi produk, 8) diskusi calon pengguna produk yang terdiri atas 10 orang siswa kelas X-1 SMAN 10 Malang), 9) revisi produk calon pengguna, 10) produk akhir. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini angket untuk penilaian kebutuhan, penilaian kelayakan item soal pengukuran stres, uji ahli media dan materi serta uji kelompok kecil. Produk berupa aplikasi website yang diakses melalui online dengan alamat www.manajemenstressweni.fienixcode.com. Produk perangkat lunak ini dirancang dengan menggunakan software joomla. Produk ini berisi tentang menu utama yang terdiri dari pendahuluan tentang latar belakang sebelum memasuki materi inti, petunjuk pemanfaatan, latar belakang penulis, daftar rujukan, buku tamu yang berisi saran atau kritikan, forum diskusi untuk bertukar pendapat antar teman dan konselor. Selain itu juga terdapat menu anggota yang berisi detail profil user yang mengakses, pengukuran stres, materi dan kuis manajemen stres. Menu laporan yang berisi tentang perkembangan pengukuran stres dan laporan perkembangan kuis manajemen stres. Sebelum intrumen pengukuran stres digunakan dalam web terlebih dahulu diuji kevalidan yang dilaksanakan oleh 25 siswa kelas X-1 dengan hasil valid dengan skor rata-rata valid 0.57292. Uji ahli media yaitu satu dosen TEP dan asisten dosen TEP, dengan hasil validasi dari ahli media I mendapatkan skor rata-rata 3,5 dengan interpretasi sangat sesuai. Sedangkan dari validasi ahli media II mendapatkan skor rata-rata 3,4 dengan interpretasi sangat sesuai. Jadi total skor rata-rata keseluruhan dari ahli media I dan II adalah 3,45 yang berarti sangat sesuai. Ahli materi yaitu salah satu dosen BK dan konselor SMAN 10 Malang, dengan hasil validasi dari ahli materi I mendapatkan skor rata-rata 3,2 dengan interpretasi sangat berguna. Sedangkan dari validasi ahli materi II mendapatkan skor rata-rata 3,7 dengan interpretasi sangat berguna. Jadi total skor rata-rata secara keseluruhan dari ahli media I dan II adalah 3,45 yang berarti sangat berguna. Jadi berdasarkan hasil penilaian ahli media dan ahli materi, dapat disimpulkan bahwa web yang disusun berklasifikasi sangat berguna dan dapat digunakan oleh siswa. Sedangkan hasil penilaian calon pengguna (uji kelompok kecil) menghasilkan jumlah skor 3,5 yang berarti sangat berguna/akurat. Berdasarkan hasil penilaian ahli media, ahli materi, dan uji kelompok kecil dapat disimpulkan bahwa produk yang dihasilkan dalam pengembangan ini yaitu web telah memenuhi kevalidan dan layak digunakan oleh siswa. Saran dari kepada pihak sekolah khususnya konselor hendaknya memanfaatkan software online untuk mengetahui keefektifan produk yang dihasilkan sehingga pemberian layanan bimbingan lebih maksimal.

Peningkatan kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC pada siswa kelas VIIIC SMP Negeri 20 Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Dian Kiswarini

 

Kata kunci: metode CIRC, menulis, teks berita. Kemampuan berbahasa meliputi empat aspek, yakni membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Keempat kemampuan tersebut sangatlah penting untuk dikuasai oleh siswa. Salah satu aspek yang diangkat dalam penelitian ini adalah aspek menulis. Kemampuan menulis sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menyampaikan ide atau gagasan melalui bahasa tulis. Kegiatan menulis dalam kehidupan sehari-hari ada bermacam-macam, salah satunya adalah menulis teks berita. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis berita dengan menggunakan metode CIRC siswa kelas VIIIC SMP Negeri 20 Malang Tahun Pelajaran 2009/2010. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan: (1) kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC pada aspek penulisan judul berita, (2) kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC pada aspek menyusun kerangka berita yang mencakup unsur 5W+1H, (3) kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC pada aspek penulisan teras berita , (4) kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC pada aspek penulisan tubuh berita , (5) kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC pada aspek bahasa yang digunakan, dan (6) kemampuan menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC pada aspek penggunaan ejaan dan tanda baca. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas karena difokuskan untuk memecahkan permasalahan pembelajaran di kelas terkait dengan menulis teks berita. Pengambilan data dilakukan dalam dua siklus. Hal ini dikarenakan hasil yang didapat pada siklus I masih belum memenuhi nilai SKM. Sumber data dalam penelitian ini, yaitu siswa kelas VIIIC SMP Negeri 20 Malang yang berjumlah 42 siswa. Data di peroleh dari hasil kerja siswa berupa kerangka berita dan teks berita. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, pedoman wawancara, dan pedoman penilaian hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode CIRC dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks berita. Selain itu, melalui tes yang dilakukan dapat diketahui bahwa siswa kelas VIIIC SMP Negeri 20 Malang Tahun Pelajaran 2009/2010 mampu menulis teks berita dengan menggunakan metode CIRC. Hal ini dapat dilihat dari nilai akhir yang diperoleh siswa yang merupakan pengolahan jumlah skor yang diperoleh siswa dalam tiap aspek dan subaspek. Melalui nilai akhir tersebut juga dapat dilihat kategori ketuntasan belajar yang dicapai oleh siswa dalam pembelajaran menulis berita menggunakan metode CIRC. Hasil penelitian menggambarkan kemampuan siswa dalam menulis berita menggunakan metode CIRC mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Standar Kelulusan Minimal (SKM) yang telah ditetapkan oleh SMP Negeri 20 Malang, yaitu 75. Adapun rincian hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pada siklus I (a) siswa yang mendapatkan nilai 80−100 dengan kategori sangat baik sebesar23,08%, (b) siswa yang mendapatkan nilai 66−79 dengan kategori baik sebesar33,33 %, (c) siswa yang mendapatkan nilai 56−65 dengan kategori cukup sebesar 28,21 %, (d) siswa yang mendapatkan nilai 40−55 dengan kategori sangat kurang sebesar15,38 %, dan (e) siswa yang mendapatkan nilai 0—39 dengan kategori gagal sebesar 0%. Pada pelaksanaan siklus II (a) siswa yang mendapatkan nilai 80−100 dengan kategori sangat baik sebesar 68,42%, (b) siswa yang mendapatkan nilai 66−79 dengan kategori baik sebesar26,32 %, (c) siswa yang mendapatkan nilai 56−65 dengan kategori cukup sebesar 2,63%, (d) siswa yang mendapatkan nilai 40−55 dengan kategori sangat kurang sebesar 2,63%, dan (e) siswa yang mendapatkan nilai 0—39 dengan kategori gagal sebesar 0%. Kemampuan menulis teks berita dibagi dalam beberapa aspek penilaian. Uraian tentang peningkatan masing-masing aspek dari siklus I dan siklus II dapat dilihat sebagai berikut. Hasil pada pelaksanaan siklus I kemampuan menulis judul berita siswa sebesar 67,7% dan mengalami peningkatan menjadi 77,4% setelah pelaksanaan siklus II. Kemampuan menulis teks berita dari segi penyusunan kerangka berita yang mencakup unsur 5W+1H mengalami peningkatan dari 96,4% pada hasil siklus I menjadi 96,8% pada siklus II. Kemampuan menulis teks berita dari segi penulisan teras berita mengalami peningkatan dari 66,7% pada hasil siklus I menjadi 81,6% setelah pelaksanaan siklus II. Kemampuan menulis teks berita dari segi penulisan tubuh berita mengalami peningkatan dari 55,9% pada hasil siklus I menjadi 82,6% setelah pelaksanaan siklus II. Kemampuan menulis teks berita dari segi mengalami peningkatan dari bahasa yang digunakan 62,6% pada hasil siklus I menjadi 76,3% setelah pelaksanaan siklus II. Kemampuan menulis teks berita dari segi penggunaan ejaan dan tanda baca mengalami peningkatan dari 62,1% pada hasil siklus I menjadi 77,4% setelah pelaksanaan siklus II. Mengingat pentingnya pembelajaran menulis, disarankan kepada guru Bahasa dan Sastra Indonesia untuk lebih memperhatikan kondisi siswa, sehingga strategi atau metode pembelajaran yang digunakan dan pengembangan materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan keadaan siswa. Selain itu penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran juga dapat memudahkan guru dalam proses pembelajaran, sehingga materi yang disampaikan akan lebih mudah diterima oleh siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa metode CIRC bisa digunakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pembelajaran menulis teks berita pada kelas VIII.

Penggunaan benda kongkrit dalam menghitung bilangan pecahan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN Ardimulyo 01 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Refridawati

 

Kata Kunci : Pecahan Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas praktik pembelajaran Matematika pada pecahan di kelas III SDN Ardimulyo 01 Singosari, Malang yang relatif masih sangat kurang/rendah. Masih banyaknya masalah-masalah yang terjadi sehari-hari di kelas III SDN Ardimulyo 01 Singosari, Malang, yaitu masih banyak siswa mengalami kesulitan ketika belajar matematika khususnya pada materi pecahan. Praktik pembelajaran belum mengguanakan benda kongkrit, masih sangat tergantung pada buku teks, tepusat pada guru, disamping itu keaktifan siswa dalam belajar masih rendah., kurang kreatif, kurang senang, metode pembelajaran kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penguasaan materi pecahan pada siswa kelas III SDN Ardimulyo 01 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang dengan pembelajaran yang menerapkan benda kongkrit, tidak tergantung pada buku teks, terjadi peningkatan keaktifan siswa, kreatifitas siswa meningkat, menyenangkan, metode pembelajaran bervariasi dan pemahaman konsep pecahan meningkat. Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sangat berperan dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam proses kegiatan ini, guru terlibat langsung secara penuh dalam proses identifikasi masalah, perencanaan, tindakan observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran benda kongkrit pada pecahan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai materi pecahan pada siswa kelas III SDN Ardimulyo 01 Singosari, Malang. peningkatan kemampuan siswa tersebut ditandai dengan: (1) pembelajaran berpusat pada siswa; (2) metode pembelajaran bervariasi. Disamping itu, penerapan pembelajaran pecahan pada siswa kelas III SDN Ardimulyo 01 Singosari, Malang dapat meningkat; (3) keaktifan belajar siswa (4) rasa senang dalam belajar. Disarankan bahwa dalam pembelajaran dengan menggunakan benda kongkrit pada pecahan, guru SDN Ardimulyo 01 hendaknya menggunakan benda kongkrit pada pecahan. Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan dapat diterapkan di kelas III sekolah lain jika kondisinya relatif sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini.

Pengaruh penempatan kerja terhadap kinerja karyawan (studi pada karyawan bagian produksi PT. Agar Sehat Makmur Lestari, Pasuruan) / Ahmad Gilang Ramadhan

 

Kata Kunci : Penempatan Karyawan, Kinerja Karyawan Sumber daya manusia dalam organisasi atau dalam perusahaan merupakan salah satu asset berharga bagi perkembangan organisasi. Dikatakan demikian karena sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan itulah yang nantinya akan menentukan apakah perusahaan akan berkembang atau mengalami kemunduran. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sumber daya manusia agar dapat diberdayakan secara optimal. Pengelolaan sumberdaya manusia diantaranya rekeutment, seleksi, pelatihan, dan penempatan karyawan yang sesuai. Dari serangkaian kegiatan itu, penempatan karyawan yang tepat merupakan hal yang sangat penting dan sangat berpengaruh terhadap tercapainya tujuan perusahaan, salah satunya adalah meningkatkan kinerja karyawan. Penelitian ini dilakukan di PT Agar Sehat Makmur Lestari (ASML) Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penempatan karyawan terhadap kinerja karyawan. Varibel bebas dalam penelitian ini terdiri dari kesesuaian pengetahuan dengan pekerjaan (X1) dan kesesuaian keterampilan dengan pekerjaan (X2). Sedangkan variable terikatnya adalah kinerja karyawan (Y). jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini berjumlah 93 orang. Teknik pengambilan sample yang digunakan adalah simple random sampling. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Analisa data yang digunakan adalah analisa regresi linear berganda dan menggunakan program SPSS for Windows versi 13.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Penempatan karyawan yang terdiri dari kesesuaian pengetahuan dengan pekerjaan (X1) dan kesesuaian keterampilan dengan pekerjaan (X2) pada karyawan bagian produksi di PT Agar Sehat Makmur Lestari tergolong sangat baik. (2) Karyawan bagian produksi PT Agar Sehat Makmur Lestari memiliki kinerja yang baik. (3) Secara parsial ada pengaruh yang signifikan antara kesesuaian pengetahuan dengan pekerjaan (X1) dan kesesuaian keterampilan dengan pekerjaan (X2) terhadap kinerja karyawan dalam pelaksanaan penempatan karyawan bagian produksi PT Agar Sehat Makmur Lestari. (4) Secara simultan ada pengaruh signifikan antar penempatan karyawan (variabel kesesuaian pengetahuan dengan pekerjaan (X1) dan variabel kesesuaian keterampilan dengan pekerjaan (X2)) terhadap kinerja karyawan bagian produksi PT Agar Sehat Makmur Lestari. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: (1) Adanya kesesuaian pengetahuan dengan pekerjaan pada karyawan bagian produksi PT Agar Sehat Makmur Lestari maka manajemen harus lebih memperhatikan proses penempatan karyawan, mulai dari perkrutan dan seleksi karyawan, mengadakan pendidikan dan pelatihan, dan tentunya menempatkan karyawan pada pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang ii dimiliki. (2) Agar kinerja karyawan dapat lebih dioptimalkan hendaknya selain adanya kesesuaian pengetahuan dan keterampilan dengan pekerjaan, perusahaan harus lebih memperhatikan kesejahteraan, meningkatkan kepuasan karyawan itu sendiri dengan memperhatikan fasilitas-fasilitas kerja yang memuaskan dan adanya kontribusi yang baik terhadap kinerja karyawan, meningkatkan motivasi kerja, semangat kerja karyawan, mental kerja, bahkan kreativitas kerja karyawan.

Analisis pergeseran struktur ekonomi dan penyerapan tenaga kerja dalam pembangunan ekonomi kota Batu 2002-2008 / Sundari Kartika Sari

 

Kata Kunci: pergeseran, struktur ekonomi, tenaga kerja. Secara umum keberhasilan pembangunan diukur dengan pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan struktur ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Pembangunan ekonomi nasional mempunyai dampak atas struktur ekonomi nasional dan struktur ekonomi daerah. Pembangunan yang berorientasi pada sektor industri menyebabkan prestasi sektor industri menjadi lebih meningkat dan pembangunan yang berorientasi pada sektor jasa menyebabkan prestasi sektor jasa menjadi lebih meningkat. Struktur ekonomi Kota Batu sangat spesifik dan mempunyai karakteristik tersendiri dibandingkan dengan Kota lain di Jawa Timur. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi nilai tambah sektor perekonomian yang sebagian besar didominasi oleh sektor tersier, terutama sub sektor jasa kepariwisataan (perdagangan dan perhotelan) yang telah menjadi tulang punggung (back bone) pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh sektor primer pada sub sektor pertanian sebagai leading sector dan sektor sekunder. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pergeseran struktur ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja di Kota Batu tahun 2002-2008. Perangkat analisis yang digunakan adalah analisis sektor basis dengan menggunakan LQ (Location Quotient) dan analisis Shift Share dengan menggunakan variabel tenaga kerja. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa menurunnya kontribusi dan pertumbuhan sektor primer dan sekunder berdasarkan pembentukan nilai tambah berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja dengan indikator menurunnya kontribusi dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sektor primer dan sekunder. Menurunnya peruntukan lahan untuk sektor primer akan menurunkan kontribusi dan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja sektor primer. Adanya peningkatan harga BBM dan inflasi menurunkan kontribusi dan pertumbuhan sektor sekunder. Meningkatnya pertumbuhan dan kontribusi sektor tersier berpengaruh terhadap meningkatnya penyerapan tenaga kerja. Namun demikian pegeseran struktur ekonomi tersebut tidak diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja secara proposional dan cenderung tidak berubah. Untuk itu, pemerintah Kota Batu dapat mengatasi terjadinya penumpukan tenaga kerja yang tidak proposional pada masing-masing sektor melalui pengembangan industri berbasis pedesaan (lokal), dengan harapan di satu sisi mampu menyerap kelebihan tenaga kerja tersebut dan di sisi lain mampu mendatangkan nilai tambah bagi produk pertanian. Sehingga pada akhirnya proses percepatan kemiskinan di sektor pertanian dapat dihambat.

Peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual (CD) pada siswa kelas V SDN Sumberanyar 1 Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Cepo Balsin Wemaf

 

Kata Kunci: Keterampilan Menulis Cerpen, Media Audio Visual (CD) Pada umumnya, dalam situasi resmi siswa SD masih mengalami kesulitan untuk menuliskan gagasan serta ide-idenya dengan baik dan benar. Hal ini juga dialami oleh siswa kelas V SDN Sumberanyar I. Kesulitan menulis cerpen disebabkan oleh 3 faktor yaitu: faktor guru, faktor siswa, faktor media beserta teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Masalah-masalah yang dialami siswa meliputi sulit mengeluarkan ide-ide, kehabisan bahan, tidak tahu bagaimana memulai menuliskan sebuah cerita, dan sulit menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Masalah yang dialami guru yaitu kurang memberi respons terhadap pelajaran menulis cerpen sehingga sering dilewati, tidak memanfaatkan media yang tersedia, kurang kreatif dalam pengembangan potensi diri para siswa. Berdasarkan uraian di atas, tujuan penelitian yaitu 1) Untuk mendeskripsikan penggunaan media audio visual dalam meningkatkan keterampilan menulis cerpen pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas V SD, 2) Untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis cerpen pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan menggunakan media audio visual, siswa kelas V SD. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah proses investigasi terkendali untuk menemukan dan memecahkan masalah pembelajaran di kelas, proses pemecahan masalah tersebut dilakukan secara bersiklus, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas tertentu. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sumberanyar I, kecamatan Nguling, kabupaten Pasuruan yang berjumlah 22 siswa, terdiri dari 6 putra dan 16 putri. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas V SDN Sumberanyar I mengalami peningkatan. Peningkatan menulis cerpen siswa pada kegiatan pra tindakan ketuntasan yang diperoleh sebesar 18.18 %, siklus I sebesar 54,54 %, dan siklus II sebesar 86,36 %. Peningkatan yang diperoleh sebesar 77,72 %. Dari data di atas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media audio visual (CD) dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa kelas V SDN Sumberanyar I membuahkan hasil yang baik atau dapat dikatakan berhasil dengan baik. Guru dalam melaksanakan pembelajaran menulis cerpen hendaknya dapat menggunakan media audio visual karena merupakan perpaduan antara media Audio(suara) dengan media Visual (gambar) yang sangat memungkinkan terjalinnya komunikasi dua arah antara guru sebagai tenaga pengajar dan siswa.

Aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi lesson study berbasis sekolah: studi kasus di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Nunuk Hariyati

 

Kata kunci : aktualisasi kepemimpinan, Lesson Study Berbasis Sekolah (LSBS) Keberhasilan sekolah dalam implementasi dan pengembangan Lesson study (LS) sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru dan kualitas pembelajaran menjadi trademark sekolah. Keberhasilan LS tidak terlepas dari aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah. Aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah termanifestasi dalam peran, kompetensi serta komitmen dalam mengimplementasikan LS didasarkan atas basis sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) profil LSBS yang mencakup: (a) profil sekolah; (b) implementasi LSBS; (c) faktor-faktor pendukung implementasi LSBS; (d) faktor-faktor penghambat implementasi LSBS; (e) upaya kepala sekolah dalam memberdayakan faktor-faktor pendukung implementasi LSBS; (f) upaya kepala sekolah dalam mengatasi faktor-faktor penghambat implementasi LSBS aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam merancang program LSBS; (2) aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam: (a) merancang program LSBS; (b) pelaksanaan LSBS; dan (c) mengevaluasi LSBS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang memaparkan dan mengolah data. Jenis penelitian ini adalah studi kasus eksplanatoris yaitu untuk mejawab mengapa LSBS diimplementasikan yang dijelaskan dengan profil LSBS, dan bagaimana aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi LSBS. Instrumen kunci adalah peneliti sendiri, dengan subjek penelitian adalah kepala sekolah, Tim Pengembang Akademik dan Evaluasi (Tim Akadasi), para guru, siswa, dan pengawas. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan aktualisasi kepala sekolah dan implementasi LSBS. Data yang diperoleh dianalisis selama dan setelah pengumpulan data, kemudian diklasifikasikan, disaring, dan ditarik kesimpulannya. Keabsahan data yang telah dianalisis menggunakan kriteria kredibilitas data dengan triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan data. Kesimpulan penelitian meliputi: (1) profil LSBS di SMA Laboratorium UM ditunjukkan melalui: (a) profil sekolah dengan kekhasan yang dimiliki yaitu terbentuknya masyarakat belajar (learning society) dan sebagai ”gudang pengembangan model belajar”. Sekolah sebagai salah satu pilot project implementasi Lesson Study di Indonesia; (b) implementasi LSBS dilatarbelakangi oleh upaya pembentukan budaya kolaboratif dan pendistribusian kepemimpinan sekolah dalam membentuk learning community. Implementasi LSBS berdampak positif terhadap peningkatan profesionalisme guru, kualitas pembelajaran dan citra ii sekolah; (c) faktor-faktor pendukung LSBS lebih menyentuh pada aspek human resources, yaitu tingkat aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah, komitmen dan kemampuan guru dan berfungsinya TU sebagai unit penunjang; (d) faktor-faktor penghambat LSBS juga terkait aspek human resources, yaitu sikap guru yang kurang mendukung LSBS karena belum memahami secara benar manfaat LSBS; (e) upaya kepala sekolah dalam memberdayakan faktor pendukung didasarkan pada pemahaman potensi para guru dan situasi yang ada di sekolah. Kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan situasional dengan perilaku suportif rendah dan direktif rendah. Pengawasan dan pengarahan dilakukan seperlunya sesuai dengan kondisi dan situasi; (f) upaya kepala sekolah dalam mengatasi faktor penghambat LSBS, yaitu dengan melakukan pendekatan personal dan kelompok kepada para guru serta bekerjasama dengan ahli dari perguruan tinggi serta berkoordinasi pengawas; (2) aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam: (a) merancang kegiatan LSBS diwujudkan dengan membentuk Tim Akadasi, mengalokasikan dana LSBS dalam RAKS (Rencana Anggaran Kegiatan Sekolah) dan memetakan LSBS dalam fase-fase secara berkelanjutan; (b) aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam pelaksanaan LSBS yaitu membimbing para guru melaksanakan pembelajaran konstruktivistik, mengadakan workshop dan rapat dinas, memotivasi para guru dengan pendekatan personal dan pendekatan kelompok; (c) aktualisasi kepemimpinan kepala sekolah dalam mengevaluasi LSBS yaitu melakukan penilaian guru sejawat dan penilaian dari siswa, evaluasi program LSBS pada rapat dinas tanggal 15 setiap bulan, serta mengikuti kegiatan see secara langsung. Secara umum aktualisasi kepemimpinan Kepala SMA Laboratorium UM dalam implementasi LSBS secara integratif merepresentasikan kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 13 Tahun 2007 dan peran kepala sekolah sebagai personal, educator, manager, administrator, supervisor, social, leader, intrepreneur, dan climator (PEMASSLEC). Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, dapat disarankan bagi: (1) Dinas Pendidikan Kota Malang agar mendukung keberlanjutan dan deseminasi LSBS melalui pengawas dalam kegiatan supervisi pendidikan dan inisiasi program Education for Sustainable Development; (2) Kepala SMA Laboratorium UM untuk melaksanakan supervisi pendidikan secara konsisten; (3) guru-guru SMA Laboratorium UM agar mengembangkan sikap inovatif, kolaboratif serta prinsip belajar sepanjang hayat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (4) sekolahsekolah laboratorium UM perlu memperhatikan faktor-faktor situasional dan karakteristik sekolah dalam mengimplementasikan LSBS; (5) peneliti lain dapat melanjutkan penelitian sejenis pada berbagai aspek dan aksentuasi berbeda misalnya: (a) pembentukan dan pengelolaan budaya organisasi sekolah sebagai organisasi pembelajar, atau (b) dampak implementasi LSBS terhadap manajemen keahlian (knowledge management) guru.

Pengaruh tingkat pendidikan, latar belakang ekonomi dan apresiasi orang tua atas pendidikan terhadap prestasi belajar siswa (Studi pada siswa kelas XI SLTA di Kecamatan Tortoyudo Kabupaten Malang tahun ajaran 2009-2010) / Muhamad Zainul Muttaqin

 

Kata Kunci : Tingkat Pendidikan, Latar Belakang Ekonomi, Apresiasi Orang Tua atas Pendidikan, Prestasi Belajar. Pendidikan merupakan hal mutlak yang harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tantangan dalam dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang nantinya mampu bersaing dalam era global yang menuntut keterampilan serta kreatifitas tinggil. Pendidikan dapat dikatakan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spriritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar itu sendiri yaitu faktor ekstern dan faktor intern. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh tingkat pendidikan, latar belakang ekonomi, dan apresiasi orang tua atas pendidikan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SLTA di Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang tahun ajaran 2009 - 2010 (2) Untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor dominan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kelas XI SLTA di Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang tahun ajaran 2009 - 2010. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan metode observasi, kuisioner dan dokumentasi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SLTA di Kecamatan Tirtoyudo Kabupaten Malang tahun ajaran 2009 – 2010 yang berjumlah 54 siswa. penelitian ini merupakan penelitian populasi yaitu meneliti keseluruhan populasi yangada. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa latar belakang sosial ekonomi orang tua siswa terdiri dari tingkat pendidikan orang tua, jenis pekerjaan orang tua, tingkat pendapatan orang tua dan jumlah tanggungan orang tua. Masing-masing menunjukkan bahwa tingkat pendidikan orang tua yang paling dominan untuk orang tua laki-laki sebesar 72,5% berpendidikan tamat SD – SMP dan untuk orang tua perempuan sebesar 57,5% berpendidikan tamat SD - SMP, jenis pekerjaan orang tua yang paling dominan untuk orang tua laki-laki adalah sebesar 73,75% yaitu memiliki pekerjaan tani/buruh sedangkan untuk orang tua perempuan sebesar 65% dengan pekerjaan tani/buruh. Untuk pendapatan orang tua adalah sebesar 51,25% dan jumlah tanggungan orang tua sebesar 45%. Sedangkan prestasi belajar siswa sebesar 85% tidak mendapatkan pengaruh dari keseluruhan variabel X. Dari hasil penelitian ini penulis dapat memberikan saran kepada para siswa untuk terus meningkatkan prestasi akademik yang telah dicapainya tetapi juga mengembangkan prestasi non akademik yang telah ditawarkan oleh pihak sekolah. Sedangkan untuk orang tua dan pihak sekolah hendaknya memotivasi dan mempertahankan apa yang telah dicapai oleh para siswa untuk lebih ditingkatkan.

Pengaruh minat pada profesi guru ekonomi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Epos Mahardhika

 

Kata Kunci: Minat Pada Profesi Guru Ekonomi, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar Prestasi Belajar yang maksimal merupakan jalan yang dapat memudahkan proses kelanjutan studi dan dalam mencapai cita-cita. Sama halnya dengan usaha untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal, usaha untuk mengatasi belajarpun tidak mudah dilakukan karena proses belajar merupakan suatu belajar yang komplek dan dipengaruhi bayak faktor. Antara lain faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas negeri Malang, baik faktor internal maupun faktor eksternal atau dari luar diri mahasiswa dalam penelitian ini adalah Minat pada Profesi Guru Ekonomi dan Motivasi Belajar. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: 1) adakah pengaruh minat pada profesi guru ekonomi terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi ekonomi FE UM, 2) adakah pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi ekonomi FE UM, 3) adakah pengaruh minat pada profesi guru ekonomi dan Motivasi Belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa program studi ekonomi FE UM. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pendidikan Ekonomi angkatan 2008 dan 2009 dengan jumlah 225 mahasiswa dengan mengambil sampel sejumlah 58 mahasiswa. Pengumpulan data yang digunakan penelitian ini adalah menggunakan angket dan metode dokumentasi yaitu dalam pengambilan nilai Indek Prestasi Komulatif (IPK). Hasil penelitian ini dari uji F menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,242 memiliki arti bahwa Variabel X1 dan X2 bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar sebesar 24,2%. Sedangkan sisanya 75,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini, dan pada uji t menunjukkan bahwa X1 mempunyai pengaruh secara parsial sebesar 12,9% terhadap prestasi belajar dan X2 mempunyai pengaruh secara parsial sebesar 12,8% terhadap prestasi belajar. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disarankan agar mahasiswa meningkatkan minatnya pada profesi guru ekonomi dengan cara antara lain mempelajari dan menyayangi hal-hal yang berkaitan dengan profesi guru dan dosen diharapkan menanamkan jiwa idialisme guru sehingga mahasiswa lebih tertarik, merasa mantap dan bangga terhadap Profesi Guru Ekonomi, untuk mendukung hal tersebut, pihak FE meningkatkan kualitas sarana pembelajaran dan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman sebagai tempat belajar mahasiswa lebih termotivasi untuk belajar.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian notebook merek Axioo (Studi pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang) / Anda Teguh Amanda

 

Kata Kunci: Atribut Produk, Keputusan Pembelian Di era pendidikan modern saat ini, penggunaan notebook telah mendorong para produsen notebook berusaha untuk bisa menguasai pasar sebesar-besarnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya tempat pendidikan dan aktivitas bisnis yang ada sekarang menggunakan notebook. Mempunyai notebook ibarat mempunyai seorang asisten yang selalu siaga membantu kita dimanapun dan kapanpun. Pada saat ini perkembangan notebook di Indonesia menunjukkan peningkatan yang signifikan, salah satunya notebook Axioo. Hal ini menunjukkan respon masyarakat terhadap notebook Axioo sangat tinggi yang ditandai dengan gencarnya promo dan pameran yang rutin digelar, sehingga menjadikan tingkat pembelian masyarakat terhadap notebook Axioo juga tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1). Untuk mengetahui kondisi atribut produk notebook merek Axioo; 2). Untuk mengetahui pengaruh atribut produk secara parsial terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 3). Untuk mengetahui pengaruh atribut produk secara simultan terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 4). Untuk mengetahui variabel yang dominan dan berpengaruh terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Penelitian ini termasuk penelitian berjenis korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dengan jumlah sampel yang diambil adalah 87 orang yang diperoleh dari populasi penelitian. Teknik pengambilan sampel adalah Teknik accidental sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, artinya siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel. Analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan program komputer SPSS Versi 15.0 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1). ada pengaruh positif yang signifikan harga terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 2). ada pengaruh positif yang signifikan kualitas terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 3). ada pengaruh positif yang signifikan merek terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 4). ada pengaruh positif yang signifikan desain terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 5). ada pengaruh positif yang signifikan garansi terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 6). ada pengaruh positif yang signifikan atribut produk secara simultan terhadap keputusan pembelian notebook Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang; 7). variabel bebas yang memiliki pengaruh dominan terhadap keputusan pembelian notebook merek Axioo pada mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang adalah harga. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar pihak perusahaan meningkatkan dan memperhatikan kualitas notebook Axioo yang dalam penggunaannya masih mengalami gangguan seperti mudah panas, LCD sering mengalami gangguan dan processor sering mengalami hang. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian dengan variabel lain seperti reputasi, layanan pendukung, dan lain-lain.

Analisis pengaruh pendidikan dan latihan (diklat) akuntansi sebagai upaya peningkatan pengendalian intern koperasi di Jawa Timur (studi pada koperasi yang telah mengikuti diklat di UPT Diklat Koperasi dan UMKM Jawa Timur) / Hetik Yuliati

 

Kata kunci: pendidikan dan latihan akuntansi, kognitif, afektif, psikomotorik, peningkatan pengendalian intern koperasi Koperasi memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan ekonomi di Indonesia. Informasi akuntansi dalam koperasi berperan dalam mencapai keberhasilan usaha dan dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomis dalam pengelolaan usaha. Informasi akuntansi merupakan salah satu komponen pengendalian internal perusahaan. Penerapan akuntansi dalam koperasi yang sesuai dengan standarisasi, dapat menciptakan sistem pengendalian intern yang baik. Pembelajaran akuntansi untuk koperasi perlu dilakukan sebagai upaya peningkatan kinerja dan perkembangan koperasi di Indonesia untuk memberikan pengarahan dan pembelajaran kepada koperasi tentang akuntansi. Dalam menganalis penelitian ini, penulis merumuskan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui apakah peserta diklat akuntansi untuk koperasi di UPT Diklat Koperasi dan UMKM Jawa Timur telah memenuhi pencapaian tujuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. dan untuk mengetahui apakah diklat akuntansi dengan tujuan kognitif, tujuan afektif, dan tujuan psikomotorik di UPT Diklat Koperasi dan UMKM Jawa Timur berpengaruh untuk meningkatkan pengendalian intern koperasi di Jawa Timur. Dalam mendukung pencapaian dari rumusan tersebut penulis menggunakan metode penelitian penjelasan atau explanatory research. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh koperasi yang pernah menjadi peserta didik dalam diklat akuntansi pada tahun 2008 dan 2009 di UPT Diklat Koperasi dan UMKM Jawa Timur yaitu bejumlah 120 peserta. Sampel yang diambil dari penelitian ini adalah 55 responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket atau kuesioner. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan jenis analisis statistik deskriptif dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan kognitif dan efektif diklat akuntansi tidak berpengaruh terhadap peningkatan pengendalian intern koperasi di Jawa Timur. Sedangkan untuk tujuan psikomotorik diklat akuntansi di UPT diklat Koperasi dan UMKM berpengeruh secara signifikan dan positif dalam peningkatan pengendalian intern koperasi di Jawa Timur. Dengan adanya hasil penelitian diatas, maka penulis emembeikan beberapa saran, yaitu UPT Diklat hendaknya memberikan pengajaran yang lebih spesifik sesuai dengan akuntansi yang digunakan oleh koperasi dan memperbanyak jumlah peserta diklat, peserta diklat lebih bertanggungjawab dan mengaplikasikan pelajaran, adanya seleksi dari dinas koperasi di masing-masing kabupaten, dan adanya reward untuk koperasi yang berhasil mengaplikasikan akuntansi dengan baik.

Survei tingkat kesegaran jasmani pada peserta kegiatan ekstrakurikuler tenis lapangan di SMA Negeri 1 Blitar / Dita Amalia

 

Kata kunci : kesegaran jasmani, siswa, ekstrakurikuler tenis lapangan. Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan-kegiatan di luar jam pelajaran sekolah yang mempunyai fungsi pendidikan dan biasanya berupa klub-klub, misalnya: olahraga, kesenian, ekspresi, dan lain-lain. Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk memperluas pengetahuan siswa mengenai hubungan antara berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya. Jadi sekolah merupakan tempat di mana siswa dapat mengembangkan bakat dan minatnya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Untuk mencapai tujuan pendidikan jasmani, dan untuk mengembangkan bakat dan minat siswa pihak sekolah menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Blitar meliputi badminton 52 siswa, sepak bola 34 siswa, bolabasket 26 siswa, futsal 23 siswa, bolavoli 22 siswa, tenis lapangan 19 siswa dengan jumlah putri 4 siswi dan 15 siswa putra. Keenam ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Blitar, ekstrakurikuler tenis lapangan memiliki peserta paling sedikit tetapi memiliki prestasi yang paling banyak. Pada tahun 2009 ada penurunan prestasi. Pelatih menyatakan bahwa kesegaran jasmani peserta ekstarkurikuler tenis lapangan di SMA Negeri 1 Blitar menjadi semakin menurun. Untuk itu pelatih ingin mengetahui tingkat kesegaran jasmani peserta ekstrakurikuler tenis lapangan di SMA Negeri 1 Blitar untuk disesuaikan dengan penyusunan program latihan yang akan diberikan nantinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat kesegaran jasmani pada kegiatan ekstrakurikuler tenis lapangan siswa SMA Negeri 1 Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan instrumen tes kesegaran jasmani yaitu multistage fitness test yang bertujuan mengetahui prediksi VO2 maks pada siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta kegiatan ekstrakurikuler tenis lapangan di SMA Negeri 1 Blitar yang berjumlah 19 siswa dengan jumlah siswa putri 4 dan 15 siswa putra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kesegaran jasmani siswa peserta ekstrakurikuler tenis lapangan di SMA Negeri 1 Blitar adalah 36,4 ml/min/kg yang menunjukkan pada kategori kesegaran jasmani sedang. Oleh karena itu disarankan pada para siswa untuk lebih meningkatkan kesegaran jasmani agar dapat berprestasi lebih maksimal.

Penggunaan ground penetrating radar (GPR) untuk mendeteksi permukaan bawah tanah di depan Perpustakaan Universitas Negeri Malang / Myrna Nurul Iman

 

Kata kunci: Geofisika, Metode Ground Penetrating Radar (GPR), Permukaan bawah tanah, GeoScan32. Metode Ground Penetrating Radar (GPR) adalah metode yang menggunakan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan kedalam tanah untuk mendeteksi objek-objek yang terkubur di dalam tanah melalui antena pemancar (transmitter) dan pemantulannya antena penerima (receiver). Penelitian Geofisika ini menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR ) merupakan teknik eksplorasi yang relatif baru dibandingkan dengan metode yang lain, yang manfaatnya telah tersebar luas di berbagai bidang seperti: geologi, konstruksi, rekayasa, ilmu forensik, geoteknik, masalah lingkungan dan lainnya. Pengolahan dan interpretasi data menggunakan software GeoScan32 untuk mengetahui kandungan apa saja yang terdapat di dalam tanah. Dari hasil interpretasi, menunjukkan bahwa nilai permitivitas dan kecepatan dari gelombang yang terekam dapat memperkirakan kandungan yang terdapat di dalam tanah. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai permitivitas dan kecepatan gelombang yang terukur dapat diketahui struktur apa saja yang berada dalam tanah. Jadi melalui penelitian ini diharapkan menghasilkan peta bawah tanah lokasi di depan Perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Perbandingan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan NHT (Numbered Head Together) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi bagi siswa kelas X SMA Laboratorium UM / E

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, STAD (Student Teams Achievement Divisions), NHT (Numbered Heads Together), Aktivitas Belajar, Prestasi Belajar Peranan guru merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Guru dituntut mampu secara profesional untuk mengelola kelas, menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pembelajan. Dengan adanya perubahan kurikulum yang telah dilakukan oleh pemerintah diharapkan pola pembelajaran tidak hanya terpaku pada guru saja namun siswa juga dituntut untuk aktif dalam pembelajaran agar hasil belajar yang diperoleh siswa juga dapat meningkat karena siswa menemukan jawabannya sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan antara: (1) hasil belajar siswa antara model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan NHT (Numbered Heads Together) pada materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi, (2) aktivitas belajar siswa antara model STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan NHT (Numbered Heads Together) pada materi pada materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Variabel penelitian ini antara lain: STAD (Student Teams Achievement Divisions) (X1), NHT (Numbered Heads Together) (X2), aktivitas belajar (Y1) dan prestasi belajar (Y2). Populasi yang dipilih adalah adalah siswa kelas X SMA Laboratorium UM berjumlah 235 siswa. Dalam penelitian bertujuan untuk mencari manakah model pemebelajaran yang sesuai diantara kedua model pembelajaran di atas. Pengambilan sampel dengan menggunakan random sampling dan terplih kelas X-2 dan Kelas X-4 untuk menjadi subyek dalam penelitian, dalam metode analisis data menggunakan uji rata-rata dua sampel bebas. Teknik pengumpulan data yang digunakan penelitian ini adalah observasi dan penggunaan tes evaluasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Terdapat perbedan model secara signifikan antara model STAD dibandingkan dengan NHT yang ditunjukkan dengan analisis deskriptif yang menunjukkan nilai kelas dengan model STAD lebih tinggi 14 angka dan uji thitung sebesar 4,440 > ttabel 2,026, (2) Terdapat perbedan model secara signifikan antara model STAD dibandingkan dengan NHT yang ditunjukkan dengan analisis deskriptif yang menunjukkan nilai kelas dengan model STAD lebih tinggi 4,4% dan uji thitung sebesar 3,775 > ttabel 2,776. Disarankan agar: (1) Guru mata pelajaran ekonomi SMA Laboratprium UM, disarankan untuk lebih menekankan dalam menerapkan model STAD (Student Teams Achievement ii Division) dari pada metode pembelajaran model NHT (Numbered Heads Together) pada materi fungsi konsumsi, tabungan dan investasi dikarenakan siswa dapat menunjukkan hasil dan aktivitas belajar yang lebih baik pada model pembelajaran STAD, (2) Guru hendaknya memberi pengawasan penuh terhadap proses diskusi siswa agar proses belajar kelompok dapat benar-benar kooperatif, (3)Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan untuk menggunakan sampel penelitian yang berbeda, hal tersebut bertujuan untuk memperoleh hasil yang dapat digunakan untuk menggeneralisasikan model pembelajaran keseluruh SMA Laboratorium UM.

Ketuntasan program wajib belajar sembilan tahun dan model sosialisasinya di Kabupaten Blitar / Anisa Laili Dewi Nurdiana

 

Kata kunci: ketuntasan, wajib belajar sembilan tahun, sosialisasi Penuntasan Wajar Sembilan Tahun adalah tingkat capaian pelayanan wajib belajar untuk menguasai kemampuan dasar yang dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau masuk ke dalam kehidupan di masyarakat. Sedangkan Wajar Sembilan Tahun adalah kewajiban anak usia 7-15 tahun untuk memperoleh pendidikan dan menamatkan Sekolah Dasar atau yang sederajat dan mengikuti Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau sederajat sampai tamat. Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu untuk memahami program yang disampaikan oleh pemerintah agar dapat berperan dan berfungsi dengan kelompoknya sehingga program tersebut dapat berjalan. Secara geografis Kabupaten Blitar terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi. Keadaan geografis demikian mempengaruhi kelancaran komunikasi dan transportasi. Lokasi SMP pada umumnya berada di kota-kota jauh dari jangkauan anak didik yang bertempat tinggal di daerah-daerah terpencil. Untuk itu pemerintah Kabupaten Blitar perlu lebih mensosialisasikan kepada masyarakat terhadap pentingnya pendidikan di Kabupaten Blitar agar diketahui faktor penghambat demi menuntaskan Program Wajar Sembilan Tahun. Selama ini, sosialisasi Wajar Sembilan Tahun belum menyentuh semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan. Di daerah Blitar pada kecamatan yang jauh dari kota belum mendapatkan akses sosialisasi Wajib Belajar. Hal ini dibuktikan oleh pengakuan sebagian masyarakat yang secara nyata tidak mengetahui, bahwa belajar di tingkat SD dan SMP itu wajib. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk menelaah tentang Ketuntasan Program Wajar Sembilan Tahun Dan Model Sosialisasinya di Kabupaten Blitar. Ada lima tujuan dalam penelitian ini: (1) Untuk mengetahui ketuntasan program Wajib Belajar pada Pendidikan Dasar di Kabupaten Blitar, (2) Untuk mengetahui sosialisasi pelaksanaan program Wajar Sembilan Tahun yang telah dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat, (3) Untuk mengetahui faktor apa yang mendukung sosialisasi dari pihak pemerintah, masyarakat, sekolah,dan siswa terhadap program Wajar Sembilan Tahun, (4) Untuk mengetahui faktor apa yang penghambat sosialisasi dari pihak pemerintah, masyarakat, sekolah, dan siswa terhadap program Wajar Sembilan Tahun, (5) Untuk mengetahui model sosialisasi yang efektif untuk menuntaskan program Wajar Sembilan Tahun. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Blitar dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan dikembangkan melalui penelitian pengembangan (R&D) untuk mengetahui model sosialisasi yang efektif untuk menuntaskan Program Wajib Belajar Sembilan Tahun di Kabupaten Blitar. ii Teknik pengumpulan data dilakukan dengan: (1) Wawancara mendalam; (2) Studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini adalah: (1) Reduksi data; (2) Display data; (3) Verifikasi data. Pengecekan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Ketuntasan Program Wajar Sembilan Tahun di Kabupaten Blitar untuk tingkat SD adalah tuntas paripurna karena memiliki persentase Angka Partisipasi Kasar 98,98%. Sedangkan untuk tingkat SMP adalah tuntas madya karena memiliki persentase Angka Partisipasi Kasar 88,13%; (2) Sosialisasi Program Wajar Sembilan Tahun kepada masyarakat Kabupaten Blitar, yaitu: (a) Pembentukan tim wajib belajar tingkat Kabupaten Blitar, (b) Pendataan usia Wajar Sembilan Tahun (7-15 tahun), (c) Pendataan usia Wajar Sembilan Tahun yang belum dan yang sudah tertampung di pendidikan dasar, (d) Pendataan jumlah lembaga sekolah, jumlah ruang kelas, jumlah guru kelas, (e) Memasukkan anggaran Wajar Sembilan Tahun di APBD tingkat II, (f) Pelaksanaan sosialisasi, (g) Evaluasi; (3) Faktor yang mendukung proses sosialisasi adalah: (a) Bantuan Dana BOS, (b) Letak geografis (daerah perkotaan), (c) Pendirian SD Kecil dan SMP Terbuka, (d) Rehabilitasi gedung sekolah yang rusak, (e) Kerjasama dengan pusat telekomunikasi untuk melaksanakan Siaran Radio Pendidikan untuk siswa, (f) Melaksanakan Paket A/B, (g) merekrut guru swasta dan tutor paket A/B, (h) Mengikuti rapat-rapat Dinas, (i) mengikuti seminar dan diklat , (j) Mengadakan kegiatan-kegiatan; (4) Faktor yang menghambat adalah: (a) Keadaan geografis, (b) Dukungan orangtua rendah, (c) Faktor ekonomi, (d) Kurangnya partisipasi masyarakat, (e) Perlu adanya dana untuk kegiatan sosialisasi, (f) Pendidikan orangtua rendah, (g) Kesalahan persepsi masyarakat tentang pendidikan, (h) motivasi belajar anak rendah, (i) SMP di daerah kurang, (j) Karena tingkat kemampuan akademik peserta didik kurang, (k) Karena banyaknya fasilitas yang merugikan; (5) Model Sosialisasi yang cocok adalah pengadaan SD dan SMP satu atap dan pengadaan kegiatan-kegiatan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian sasaran-saran diajukan adalah (1) Bagi Masyarakat Kabupaten Blitar, hendaknya ikut aktif berperan serta dalam pelaksanaan proses sosialisasi demi ketuntasan program Wajar Sembilan Tahun. Kepada masyarakat terutama orangtua yang berekonomi rendah hendaknya menyekolahkan anaknya dengan memanfaatkan bantuan dana bantuan khusus siswa miskin; (2) Bagi Kepala Bagian Bina Program Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, hendaknya memprioritaskan penuntasan Wajar Sembilan Tahun di Kecamatan yang tertinggal. (3) Bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan lebih banyak mengkaji lembaga pendidikan informal yang bersinggungan langsung dengan ranah pendidikan berbasis masyarakat sebagai pendalaman pada ilmu manajemen pendidikan; (4) Bagi peneliti lain, disarankan kepada peneliti yang akan datang untuk menyempurnakan teori hasil penelitian yang telah ditemukan, sehingga penelitian ini mempunyai nilai guna praktis dan teoritis pembangunan pendidikan di Indonesia.

Penerapan pembelajaran model mind mapping untuk meningkatkan hasil belajar membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Kotalama V Malang / Ida Hamzah

 

Kata-kata kunci: pembelajaran, mind mapping, hasil belajar, membaca pemahaman. Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam proses pembelajaran. Membaca harus dipandang sebagai proses pemahaman dan merupakan bentuk khusus dari penalaran, bukan semata-mata mengenali atau mengucapkan kata-kata. Pengertian membaca sebagai proses mencari makna itu bukan berarti mengabaikan huruf dan kata. Huruf dan kata harus diidentifikasi oleh pembaca. Pengidentifikasian itu bertujuan untuk mencari makna. Hasil studi pendahuluan terhadap kompetensi siswa dalam membaca pemahaman menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan makna dari bacaan. Hal ini dikarenakan antusiasisme siswa yang masih rendah dan kurang tepatnya guru dalam pemilihan cara dan media dalam pembelajaran membaca pemahaman. Oleh karena itu, peneliti memandang perlu untuk menerapkan model pembelajaran baru yang kreatif dan inovatif dalam membaca pemahaman. Peneliti memilih mind mapping sebagai model yang akan diterapkan pada pembelajaran tersebut. Sejalan dengan rumusan masalah yang dibuat, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran mind mapping dalam pembelajaran membaca pemahaman dan mendeskripsikan hasil belajar siswa dalam membaca pemahaman. Penelitian ini dilakukan di SDN Kotalama 5 mulai bulan Juli minggu ke-4 sampai Agustus minggu ke-5 tahun 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus pembelajaran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, tes hasil belajar, dan angket. Analisis hasil penelitian dilakukan secara bersamaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya keterampilan membaca pemahaman dengan model pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa. Jika pada kegiatan pratindakan nilai rata-rata siswa 55,7, pada siklus I menjadi 66,3 dan pada siklus II naik menjadi 77,9. Berdasarkan hasil penelitian ini agar guru membiasakan menerapkan model pembelajaran mind mapping dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya membaca pemahaman dan mencoba menggunakannya pada mata pelajaran yang lain. Dalam kegiatan belajar mengajar guru perlu memperhatikan hal-hal yang mendukung hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran.

Pengaruh persentase kandungan campuran bioetanol tetes tebu dengan bahan bakar bensin pada berbagai variasi putaran mesin terhadap kebisingan mesin bensin 4 tak / Ranu Miharja

 

Kata kunci : Kebisingan mesin bensin, Penambahan bioetanol, Putaran mesin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bioetanol dari bioethanol tetes tebu pada bahan bakar bensin terhadap kebisingan mesin bensin empat langkah, yang diharapkan dari hasil penelitian dapat dijadikan sebagai referensi bagi mahasiswa teknik mesin khususnya dan bagi mahasiswa pada umumnya serta bagi pemakai kendaraan berbahan bakar bensin. Kebisingan mesin bensin yang dimaksud adalah terjadinya kebisingan mesin bensin empat langkah akibat penambahan bioetanol pada bahan bakar bensin dengan indikator yang meliputi kebisingan (decibel). Penambahan bioetanol adalah menambahkan bioetanol dari tetes tebu pada bensin dengan cara dicampurkan dalam satuan persen yang kemudian digunakan untuk bahan bakar mesin bensin empat langkah. Persentase bioetanol yang dicampurkan pada bensin yaitu bioetanol 0% + bensin 100%, bioetanol 5% + bensin 95%, bioetanol 10% + bensin 90%, Bioetanol 15% + bensin 85%, bioetanol 20% + bensin 80%, dan bioetanol 25% + bensin 75%. Bioetanol yang digunakan adalah jenis absolut yang dapat diperoleh dari toko-toko kimia. Penelitian ini dilakukan pada mesin bensin dalam kondisi standar yang dilaksanakan di laboratorium otomotif Pusdiklat Suzuki Universitas Negeri Malang Kabupaten Malang pada tanggal 12 April 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bioetanol pada bahan bakar bensin berpengaruh terhadap kebisingan mesin bensin empat langkah. Kebisingan mesin paling tinggi diperoleh pada persentase 10% pada putaran mesin 2400 rpm yaitu 90.5800 dB sedangkan untuk tingkat kebisingan yang paling rendah dicapai pada persentase 0 % dengan putaran mesin 800 rpm yaitu 74.2700 dB.

Kegiatan hubungan masyarakat di Pesantren Salaf (Studi kasus di Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiayah Ketitang Pajaran Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang) / Isommudin

 

Kata Kunci: kegiatan hubungan masyarakat, pesantren salaf. Pendidikan dengan segala persoalannya tidak mungkin diatasi hanya oleh lembaga pendidikan. Demi melaksanakan sebuah kegiatan pendidikan yang optimal sekolah harus melibatkan semua pihak, terutama masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam bidang pendidikan merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan bidang pendidikan, yang berarti mengikutsertakan masyarakat dalam setiap aspeknya baik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan. Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan non-formal yang sudah lama ada dalam lingkungan masyarakat di Indonesia. Pondok pesantren mempunyai ragam kegiatan hubungan masyarakat, yang tidak terlepas dari faktor penghambat kegiatan dan upaya mengatasinya, faktor pendukung dan upaya pendayagunaannya dan bagaimana pesantren meningkatkan kualitas hubungan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ragam kegiatan hubungan masyarakat, yang tidak terlepas dari faktor penghambat kegiatan dan upaya mengatasinya, faktor pendukung dan upaya pendayagunaannya dan bagaimana pesantren meningkatkan kualitas hubungan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah Ketitang Pajaran Kecamatan Poncokusmo Kabupaten Malang sebagai salah satu lembaga pendidikan non formal di Kabupaten Malang yang merupakan salah satu pesantren salaf yang besar di daerah Kabupaten Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan landasan fenomenologis dalam konteks kehidupan nyata. Dalam penelitian ini dilakukan tanpa mengisolasi subyek penelitian dan dilakukan secara langsung di lapangan, guna mengumpulkan data yang relevan dan menjawab fokus penelitian, maka skripsi ini menggunakan beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Kesimpulan penelitian ini adalah ragam kegiatan hubungan masyarakat yang dilaksanakan antara lain (1) kegiatan yang langsung berhubungan dengan masyarakat, kegiatan ini antara lain: a) haul Kyai Hamid; b) maulid Nabi; c) pembagian daging kurban. Sedangkan (2) kegiatan yang tidak langsung berhubungan dengan masyarakat antara lain: a) pengajian hari senin; b) pengajian shohih bukhori; c) pembacaan rotibul haddad ; d) pembacaan tahlil dan sholawat. Faktor penghambat dalam kegiatan hubungan masyarakat yaitu: a) perbedaan aliran keagamaan di masyarakat; b) tuntutan masyarakat terhadap pesantren agar berperan lebih dalam pembangunan masyarakat. Strategi pemecahannya antara lain: a) pesantren melibatkan pihak atau kelompok yang di nilai merugikan pesantren dalam setiap kegiatan; b) membuat program baru yang bertujuan mengoptimalkan peran serta pesantren dalam pembangunan masyarakat. Faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan hubungan masyarakat di PP Nurul Hikmah Assalafiyah, yaitu: a) masyarakat Desa Ketitang Pajaran; b) kepemimpinan KH.Ikhsan. 1 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. Cara pemberdayaannnya adalah: a) mengoptimalkan semua aspek, dan merencanakan program baru yang lebih bermanfaat bagi masyarakat; b) menjaga ahlak di tengah masyarakat; c) melibatkan KH.Ikhsan dalam kegiatan pembangunan di desa Ketitang. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada pengasuh dan pengurus pesantren agar perbaikan dan penyempurnaan dalam kegiatan hubungan manusia terus dilakukan seiring dengan perkembangan dan perubahan yang terus terjadi di masyarakat dan dunia pendidikan. Diharapkan bagi para pengurus pesantren di PP Nurul Hikmah Assalafiyah Ketitang Pajaran Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang sebagai lembaga pendidikan non formal yang berlandaskan agama dapat segera meningkatkan wawasan dan kemampuan dalam kegiatan hubungan masyarakat. 2 Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only.

Penerapan model pembelajaran problem based learning pada mata pelajaran kewirausahaan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X program keahlian administrasi perkantoran 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari / Ariska Kurniawati

 

Kata kunci: Problem Based Learning, Hasil Belajar. Pendidikan mempunyai peranan penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Oleh karena itu, bidang pendidikan merupakan salah satu sektor yang mendapat perhatian dari pemerintah. Perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan dewasa ini semakin meningkat, hal ini ditunjukkan oleh usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang telah dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan melakukan penyempurnaan kurikulum dari KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), yang telah disempurnakan menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), pada tahun 2004 dan 2006. Dengan penyempurnaan kurikulum, maka proses pembelajaran harus didukung oleh metode pembelajaran yang berkualitas. Salah satu metode tersebut adalah Model Pembelajaran Problem Based Learning. Melalui Model Pembelajaran Problem Based Learning siswa diwajibkan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator. Berdasarkan observasi awal diketahui proses pembelajaran pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari masih didominasi oleh metode ceramah dan tanya jawab, artinya guru hanya memindahkan informasi yang diketahui oleh guru dan siswa diminta mencatat. Selama ini kebanyakan guru hanya mengejar target mengajar saja, apabila seluruh materi dalam buku sudah diajarkan berarti tugas guru sudah selesai. Proses pembelajaran yang monoton berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran yang dapat menambah variasi pembelajaran adalah Model Pembelajaran Problem Based Learning yang diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Kewirausahaan kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari, (2) Hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari pada mata pelajaran Kewirausahaan sebelum pelaksanaan Model Pembelajaran Problem Based Learning, (3) Hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 di SMK Muhammadiyah 3 Singosari pada mata pelajaran Kewirausahaan sesudah pelaksanaan Model Pembelajaran Problem Based Learning, dan (4) Respon siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 setelah adanya penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu: (1) Perencanaan tindakan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi hasil tindakan. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 SMK Muhammadiyah 3 Singosari, dimana siswa yang mengikuti pembelajaran pada mata pelajaran Kewirausahaan berjumlah 31 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, observasi, kuesioner, catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning terdiri dari lima tahapan yaitu (a) Tahap orientasi siswa kepada masalah, (b) Tahap mengorganisasi siswa untuk belajar, (c) Tahap membimbing penyelidikan individual dan kelompok, (d) Tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (e) Tahap menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah; (2) Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari terbukti dengan rata-rata nilai pre test siklus I dan siklus II yang meningkat sebesar 6,97 dari 53,67 pada siklus I menjadi 60,64 pada siklus II; (3) Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 pada mata pelajaran Kewirausahaan di SMK Muhammadiyah 3 Singosari terbukti dengan rata-rata nilai rata-rata post test siklus I dan siklus II yang meningkat sebesar 7,43 dari 79,67 pada siklus I menjadi 87,1 pada siklus II; (4) Hasil respon menunjukkan respon yang positif dari para siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Siswa menyatakan senang mengikuti pembelajaran, lebih mudah memahami materi pembelajaran, dapat melatih diri untuk saling bekerjasama, dan lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat diberikan saran yaitu: (1) Guru mata pelajaran Kewirausahaan disarankan untuk menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa, (2) Penerapan dan pelaksanaan Model Pembelajaran Problem Based Learning, hendaknya lebih variatif, misalnya dengan mengajak para siswa terjun langsung ke lapangan untuk mengamati obyek yang dipelajari, (3) Permasalahan yang digunakan dalam Model Pembelajaran Problem Based Learning, hendaknya lebih aktual dan beragam, dan (4) Kepada peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian pada mata pelajaran yang lain guna mengetahui keberhasilan penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa. KATA

Pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan konsumen dalam pembelian handphone Nokia di Kecamatan Blimbing Malang / Listyorini Pramuningtyas

 

Key words: Marketing Diffused, consumer’s buying decision This is kind of research is survey research which is conducted by the researcher through observation during collecting data to the 100 respondents who use nokia mobile phone in Blimbing, Malang, with the title “The influence of Marketing Diffused to the Buying Decision of Nokia Mobile Phone (A studi of nokia mobile phone users in Blimbing, Malang)”. Blimbing was chosen because it becomes the main track that connects Malang and Surabaya. So, the society in Blimbing is dynamic and complex, thus, it is interesting to examine how is the attitude of the society in using technology especially mobile phone. Nokia mobile hone was chosen because this brand is so well known and unbroken in applying innovation and promotion through mass media. So, the use of thin mobile phone is far-ranging. The aim of this research is to figure out the effects of variable marketing diffused including product, price, promotion, and distribution to the buying decision of nokia mobile phone in Blimbing, Malang. The achieved advantage of the research especially for the company, it is expected gives additional information in order to increase the amount of selling, based on the consumer’s attitude analysis. According to the above explanation, the researcher attracted to conduct a research about marketing diffused. This research aims to find out the effects of marketing diffused (X) including product (X1), price (X@), promotion (X3), and distribution (X4), partially and simultaneously to the customer’s buying decision. on this research, the sampling technique used is Accidental Sampling. Accidental sampling is deciding sample based on the accidental event, which the sample taken is 100 nokia mobile phone users in Blimbing, Malang. the scale used is likert skale with five options of answers. To test the feasibility of the instrument, the researcher uses validity and reliability test. Data collection technique uses in this research are questionnaire, documentation, and interview. This research uses descriptive and multiple linier regression technique analysis through SPSS 13.00 version. Based on the result of the research, it is found that the marketing diffused variable(X) consisting of product (X1), price (X2), promotion(X3) and distribution(X4) factors partially and significantly give positive effects to the buying decision of Nokia Mobile Phone in Blimbing Malang. those effects is shown with significant value by t test from each variable, which the values are shown as follows: product(X1) has 4.979 significant value, price (X2) has 2.740 significant value, promotion(X3) has 2.883 significant value and distribution (X4) has 5.804 significant value. Simultaneously product (X1), price (X2), promotion (X3), and distribution (X4) also significantly have positive effects to the buying decision of nokia mobile phone in Blimbing, Malang. That effect is shown with significant value of F is 41.317. Besides, it is also known that the adjusted R square 0, 635. it can be interpreted that the variable of marketing defused consisting of product, price, promotion and distribution give impact to the buying decision of nokia mobile phone in Blimbing, Malang 63.5% and the rest is 36.5% which is influenced by other variable out side the research. Based on the result of the research, it is suggested to the personnel marketing of nokia mobile phone to improve level of distribution channel in order to be wider, so the consumer can reach nokia easily, product factor has to be easier to use and long durable, promotion has to be practices more incessantly, finally, the price has to be more competitive with offered product quality. besides the company should pay attention to the other factures to attract consumers which are not explain in this research. other factor can be from internal consumer factors such as culture, social, personal and psychology, and also external consumer

Manajemen laboratorium komputer di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Malang 2 / Restiana Raraswati

 

Kata Kunci : manajemen, laboratorium komputer Manajemen adalah suatu proses pengadaan dan pengkombinasian sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang efektif dan efisien. Dalam pendidikan dibutuhkan manajemen pendidikan. Salah satu manajemen pendidikan yaitu manajemen layanan khusus yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada seluruh personil yang ada di sekolah (guru, tenaga tata usaha, siswa) agar lebih optimal dalam menjalankan tugas sekolah. MIN Malang 2 memiliki manajemen layanan khusus yang dimiliki lembaga pendidikan dalam hal ini adalah laboratorium komputer. Manajemen laboratorium komputer adalah usaha merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinir serta mengawasi kegiatan belajar-mengajar dalam laboratorium komputer sebagai praktik dalam mata pelajaran komputer agar tercapai tujuan yaitu menunjang pembelajaran dan dapat dimanfaatkan untuk mata pelajaran lain. MIN Malang 2 memiliki laboratorium komputer yang sudah dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang mendukung sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan efektif. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) perencanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, (2) pengorganisasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, (3) pelaksanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, (4) pengawasan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, dan (5) pengevaluasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2. Berkaitan dengan laboratorium komputer yang ada di MIN Malang 2 maka penelitian dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen laboratorium komputer yang ada di MIN Malang 2 ditinjau dari fungsi manajemen adalah perencanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, pengorganisasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, pelaksanaan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2, pengawasan manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2 dan pengevaluasian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Kehadiran peneliti sebagai instrumen kunci yaitu memerankan dirinya secara aktif dalam keseluruhan proses studi. Sumber data dalam penelitian ini kepala MIN Malang 2, waka kurikulum, waka sarana dan prasarana dan guru komputer. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi. Penelitian ini pengecekan keabsahan data dilakukan dengan derajat kepercayaan, keteralihan, kebergantungan, dan kepastian. Analisis data pada penelitian ini menggunakan reduksi data, display data, verifikasi data. Tahap-tahap penelitian terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa (1) perencanaan laboratorium komputer di MIN Malang 2 dilaksanakan pada saat penyusunan program laboratorium komputer pada setiap awal tahun ajaran baru, (2) pengorganisasian laboratorium komputer di MIN Malang 2 menggambarkan tentang kedudukan atau wewenang secara hirarki dari setiap unit kerja, dan deskripsi tugas pokok dan fungsi masing-masing jabatan. Penanggung jawab pada laboratorium komputer adalah kepala MIN Malang 2, waka kurikulum, waka sarana dan prasarana dan guru komputer, (3) pelaksanaan laboratorium komputer adalah realisasi program-program yang ada dalam laboratorium komputer. Pelaksanaan ini lebih mengarah pada kegiatan pembelajaran komputer, sistem pembelajaran di sini yaitu dengan sistem gelombang, (4) pengawasan pembelajaran dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pengawasan langsung dilakukan oleh guru komputer sedangkan pengawasan tidak langsung dilakukan oleh waka kurikulum. Sedangkan pengawasan sarana dan prasarana dilakukan oleh waka sarana dan prasarana, dan (5) pengevaluasian dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Pada akhir pengevaluasian dibuat laporan evaluasi akhir yang berisi dari nilai tugas, ulangan harian, UTS dan UAS. Berdasarkan hasil penelitian manajemen laboratorium komputer di MIN Malang 2 belum maksimal dikarenakan masih ada program yang belum bisa mencapai tujuan yang direncanakan. Oleh karena itu peneliti menyarankan kepada pihak-pihak yang terkait yaitu kepada Kepala MIN Malang 2 untuk Mengingat laboratorium komputer keberadaanya sangat penting dalam menunjang kegiatan pembelajaran, maka disarankan bagi kepala madrasah untuk terus memberikan pengarahan serta masukan atau kritik yang membangun kepada guru komputer agar dapat mengembangkan program-program yang berkaitan yang terdapat pada laboratorium komputer agar berjalan dengan baik mulai dari pembelajaran serta sarana dan prasarana yang ada. Kepada guru komputer MIN Malang 2 Agar laboratorium komputer berjalan dengan baik, disarankan untuk terus meningkatkan kinerjanya, memelihara, merawat komputer agar dalam kondisi yang lebih baik, diharapkan guru komputer terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya tentang manajemen laboratorium dengan mengikuti pelatihan dan terus mengembangkan keterampilannya mulai dari perencanaan sampai evaluasi. Kepada pengelola jurusan AP untuk Diharapkan lebih mengkaji tentang manajemen laboratorium komputer sekolah. Hasil penelitian ini hendaknya menjadi tambahan referensi bagi jurusan administrasi pendidikan dan lebih meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memahami manajemen pembelajaran khususnya dalam pelajaran komputer. Kepada peneliti lain Agar lebih menyempurnakan hasil penelitian yang telah dilakukan sehingga dapat bermanfaat meningkatkan kualitas pendidikan dan disarankan bagi peneliti lain agar dapat meneliti manajemen laboratorium komputer dari substansi lain dengan latar yang berbeda.

Kemampuan menulis paragraf eksposisi siswa kelas X SMAN 1 Nganjuk / Febrian Adi Laksono

 

Kata kunci: kemampuan, menulis, eksposisi Pengembangan kemampuan menulis perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sejak tingkat sekolah khususnya tingkat SMA. Karena sebagai aspek kemampuan berbahasa, menulis memang dapat dikuasai oleh siapa saja yang memiliki kemampuan intelektual memadai. Namun, berbeda dengan kemampuan menyimak dan berbicara, menulis tidak dikuasai oleh seseorang secara alami. Menulis harus dipelajari dan dilatihkan secara sungguh-sungguh. Eksposisi merupakan suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan objek sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca. Menulis paragraf eksposisi perlu diajarkan pada siswa SMA agar siswa terlatih untuk mengembangkan pola pikir mereka dalam mengamati, memahami, serta mengatasi sebuah permasalahan dengan cara menulis paragraf eksposisi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan bagaimana kemampuan siswa kelas X SMAN 1 Nganjuk dalam menulis paragraf eksposisi, yang dapat dilihat dari aspek (1) merumuskan judul, (2) pemaparan informasi, (3) kepaduan, (4) penggunaan piranti kohesi yang meliputi penggunaan kata ganti, penggunaan kata penghubung, serta diksi, (5) aspek teknik penulisan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Nganjuk. Sampel penelitian sebanyak 1 kelas yaitu kelas X-1 dengan anggota kelas sebanyak 36 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling. Untuk mengukur kemampuan keseluruhan siswa digunakan pedoman penilaian kelas yaitu sebesar 75% keberhasilan dalam tiap kompetensi, dalam hal ini adalah menulis paragraf eksposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pada aspek merumuskan judul, kemampuan siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif kemampuan siswa dalam memberi judul paragraf eksposisi memperoleh skor 6 dengan kategori baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel. Secara keseluruhan judul yang dibuat siswa sudah memenuhi kriteria judul sesuai dengan isi dan ringkas, namun belum memenuhi unsur menarik yang harus ada dalam judul sebuah paragraf; (2) aspek pemaparan informasi dalam paragraf siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif memperoleh skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel. Pada umumnya informasi yang dipaparkan oleh siswa sudah faktual, jelas, dan rinci. Sehingga informasiinformasi yang dipaparkan tersebut cukup untuk menjelaskan objek yang dibahas; (3) aspek kepaduan dalam paragraf siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif siswa tergolong mampu dengan rincian kumulatif memperoleh skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel. Pada umumnya paragraf eksposisi yang dibuat siswa sudah mengandung satu ide pokok, ide penjelas tidak menyimpang dari ide pokok, dan ide penjelas sudah mampu menunjang ide pokok; (4) aspek penggunaan perangkat kohesi siswa tergolong mampu yang meliputi subaspek penggunaan kata ganti dengan ii rincian kumulatif mendapatkan skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel, subaspek penggunaan kata penghubung dengan rincian kumulatif mendapatkan skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel, dan subaspek pilihan kata atau diksi dengan rincian kumulatif eksposisi mendapatkan skor 12 dan 16 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 36 siswa atau 100% siswa sampel, serta (5) aspek teknik penulisan kemampuan siswa tergolong tidak mampu dengan rincian kumulatif mendapatkan skor 9 dan 12 dengan kategori baik dan sangat baik sebanyak 21 siswa atau 58,33% siswa sampel. Pada umumnya siswa menulis paragraf eksposisi dengan tidak memperhatikan ejaan dan tanda baca yang telah ada dalam EYD. Misalnya penggunaan huruf besar atau kapital, serta penggunaan tanda baca koma dan titik. Disarankan kepada guru untuk membantu dan membimbing siswa secara lebih intensif dalam penggunaan ejaan dan tanda baca yang baik dan benar sesuai dengan EYD. Untuk peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian tentang menulis paragraf eksposisi disarankan untuk menggunakan metode yang dapat mengetahui kemampuan siswa secara lebih detail dalam penelitiannya. Misalnya dengan menyertakan metode tertentu untuk mengukur kemampuan siswa. Peneliti lebih lanjut juga bisa menggunakan rancangan penelitian yang lain seperti eksperimen ataupun PTK untuk mengetahui kemampuan menulis paragraf eksposisi siswa SMA kelas X.

Pengaruh quick ratio, cash ratio, ROI, dan ROE terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2004-2008 / Alex Widyantoro

 

Kata Kunci: Likuiditas, Profitabilitas, Dividend Payout Ratio. Likuiditas dan Profitabilitas merupakan pertimbangan sebelum melakukan investasi. Dividen Payout Ratio adalah prosentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada pemegang saham. Likuiditas menunjukkan kesiapan dari perusahaan untuk dapat memenuhi kewajibannya, sedangkan profitabilitas menunjukkan seberapa besar perusahaan mampu memberi kesejahteraan terhadap pemegang saham dan menjaga kelangsungan hidup perusahaannya. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa likuiditas dan profitabiliatas merupakan aspek utama untuk mendorong investasi, going concern, dan kemakmuran baik untuk manajemen, karyawan, pemegang saham dan pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan rasio keuangan yang diukur dengan Quick Ratio (QR), Cash Ratio (CSR), Return on Investment (ROI), dan Return on Equity (ROE) terhadap Dividen Payout Ratio pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2004-2008. Populasi yang digunakan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2004-2008, dimana dari populasi tersebut terpilih 9 perusahaan berdasarkan metode purposive sampling dengan pooled data menggunakan laporan keuangan tahunan perusahaan diperoleh jumlah sampel sebanyak 45 data observasi. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perusahan yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda dengan menggunakan program SPSS 16 for windows, dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel Quick Ratio dan Cash Ratio mempunyai hubungan searah dan tidak berpengaruh signifikan terhadap Dividen Payout Ratio. Return on Investment (ROI) mempunyai hubungan berlawanan arah dan tidak berpengaruh signifikan terhadap Dividen Payout Ratio. Return on Equity (ROE) mempunyai hubungan searah dan berpengaruh signifikan terhadap Dividen Payout Ratio pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2008. Rasio keuangan yang berupa Quick Ratio (QR), Cash Ratio (CSR), Return on Investment (ROI), dan Return on Equity (ROE) mempunyai pengaruh secara simultan terhadap Dividen Payout Ratio (DPR) pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2004-2008

Survei tingkat kebugaran jasmani peserta ekstrakurikuler olahraga SMA Negeri 1 Sumberpucung tahun ajaran 2009/2010 / Mohamad Bhaskara Dwi Saputra

 

Kata kunci: tingkat kebugaran jasmani, peserta ekstrakurikuler olahraga, SMAN 1 Sumberpucung. Salah satu faktor tercapainya sebuah prestasi adalah dengan mempunyai kondisi kebugaran jasmani yang baik, dengan modal kebugaran jasmani yang baik seorang atlet akan dapat menjalankan segala aktivitasnya tanpa merasakan kelelahan yang berarti. Di SMAN 1 Sumberpucung pada tahun ajaran 2009/2010 prestasi ekstrakurikuler olahraganya telah mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya, dengan konsep dan latar belakang tersebut pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui berapa tingkat kebugaran jasmani peserta ekstrakurikuler olahtaga SMAN 1 Sumberpucung tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini menggunakan instrumen TKJI (Tes Kesegaran Jasmani Indonesia) yang terdiri dari lima rangkaian tes secara berurutan dan berkelanjutan dengan jumlah sampel sebanyak 40 dari 148 peserta. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dan hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjawab apakah penurunan prestasi ekstrakurikuler olahraga di SMAN 1 Sumberpucung dikarenakan oleh tingkat kebugaran jasmani para atletnya. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat kebugaran jasmani peserta ekstrakurikuler olahraga SMAN 1 Sumberpucung berada pada kategori baik, hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata yang diperoleh peserta putra sebesar 209 dan nilai rata-rata pada peserta putri sebesar 159. Dari hasil tersebut maka penurunan prestasi ekstrakurikuler olahraga SMAN 1 Sumberpucung tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh tingkat kebugaran jasmani para atletnya, namun ada faktor lain yang mempengaruhinya, karena pencapaian prestasi memang tidak hanya membutuhkan kondisi fisik yang baik saja, akan tetapi terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pencapaian sebuah prestasi. Untuk menambah kebermaknaan skripsi ini, pada penelitian ini juga akan dibandingkan antara ekstrakurikuler olahraga bulutangkis dan bolavoli putra mupun putri SMAN 1 Sumberpucung dengan ekstrakurikuler olahraga bulutangkis dan bolavoli putra maupun putri SMAN 6 Malang. Pada perbandingan tersebut merupakan suatu hal yang menarik karena letak dari kedua SMAN tersebut masing-masing berada di kota dan kabupaten.

Penerapan model pembelajaran group investigation untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 5 Malang pada mata pelajaran geografi / Ana Sulthonah Mutmainah

 

Kata Kunci: Penerapan, Group Investigation, Kemampuan Berpikir Kritis. Upaya pencapaian tujuan pendidikan secara khusus dalam konteks pembelajaran adalah dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas serta kemampuan berpikir kritis peserta didik. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan dalam mata pelajaran geografi karena dalam mata pelajaran ini siswa tidak hanya belajar untuk mampu menghafal konsep melainkan juga mampu menerapkannya dalam memahami serta menyelesaikan permasalahan dari suatu fenomena yang ada di sekitar. Berdasarkan hasil observasi awal, kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 di SMAN 5 Malang rendah. Hal ini tampak pada rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kritis siswa hanya 65 dengan daya serap klasikal 7%. Oleh karena itu diperlukan sebuah tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan menerapkan pembelajaran Group Investigation (GI). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 6 kali pertemuan. Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPS 2 SMAN 5 Malang pada bulan Februari sampai Maret 2013. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran GI mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 5 Malang pada materi Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata tes kemampuan berpikir kritis siswa yang meningkat sebesar 10,77 % dari pra siklus ke siklus I dengan rata-rata nilai 65 pada pra siklus menjadi 72 pada siklus I. Sedangkan dari siklus I ke siklus II rata-rata nilai tes kemampuan berpikir kritis siswa semakin meningkat sebesar 15,3 % dengan nilai rata-rata 72 pada siklus I menjadi 83 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada para guru geografi untuk mencoba menerapkan model ini agar kualitas pembelajaran geografi semakin meningkat. Kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran Group Investigation (GI) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada materi pembelajaran lain yang sesuai dengan variabel, subyek, waktu, dan masalah yang berbeda.

Pengaruh training kewirausahaan pada mata pelajaran kewirausahaan terhadap tumbuhnya motivasi dan minat berwirausaha siswa SMK PGRI 3 Malang (Studi pada siswa kelas X Program Keahlian Teknik Permesinan) / Pambayu Kristanto

 

Kata Kunci: pengaruh, training kewirausahaan, motivasi, minat. Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini telah meningkatkan jumlah pengangguran. Menyikapi hal tersebut pemerintah memfokuskan pada pengembangan SMK sebagai institusi yang menghasilkan lulusan-lulusan yang siap bekerja, dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Akan tetapi banyak lulusan SMK yang belum siap bekerja dan menjadi pengganguran, beberapa diantaranya lebih senang menjadi pegawai atau buruh dan hanya sedikit sekali yang tertarik untuk berwirausaha. Mereka tidak mau mengambil resiko, takut gagal, tidak memiliki modal dan lebih menyukai bekerja pada orang lain, mereka kurang memiliki motivasi dan minat untuk berusaha sendiri. Akibatnya mereka berfikir bahwa berwirausaha merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Motivasi dan minat seseorang timbul dan dipengaruhi faktor-faktor internal dan eksternal masing-masing individu. Training Kewirausahaan adalah salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi dan minat berwirausaha, yang termasuk dalam faktor eksternal. Training secara langsung akan memberikan suatu stimulus pemikiran kepada siswa yang bisa merubah pola pikir dan pandangan siswa mengenai kewirausahaan. Atas dasar itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh training kewirausahaan terhadap tumbuhnya motivasi dan minat berwirausaha siswa SMK. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X program keahlian teknik pemesinan SMK PGRI 3 Malang. Penelitian ini dilakukan di dua kelas, kelas XTPA sebagai kelas perlakuan dan kelas XTPB sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan angket dengan skala pengukuran skala Likert. Pengumpulan data dilakukan dua kali pada masing-masing kelas yakni dengan pretest dan posttest. Hasil analisis data menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan minat berwirausaha siswa kelas XTPA sebesar 5,43%, sedangkan dikelas XTPB motivasi dan minat berwirausahanya terjadi peningkatan sebesar 0,83%. Dengan membandingkan hasil pengukuran di kelas XTPA dan XTPB terjadi pertumbuhan motivasi dan minat berwirausaha yang signifikan pada kelas yang mendapatkan perlakuan training kewirausahaan dibandingkan dengan kelas yang tidak mendapat training kewirausahaan. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar pada mata pelajaran kewirausahaan dilakukan kegiatan training kewirausahaan yang bisa menarik perhatian siswa yang bisa menumbuhkan motivasi dan minat berwirausaha siswa untuk menghasilkan lulusan-lulusan SMK yang bisa menciptakan suatu lapangan pekerjaan sendiri tanpa harus tergantung pada bekerja untuk orang lain.

Peningkatan kemampuan menggambar benda silindris mata pelajaran seni budaya dengan menggunakan pendekatan kooperatif dengan metode stad kelas VII A SMPN 2 Pandaan-Pasuruan / Dwi Endah Sulasminiati

 

Kata Kunci : Kemampuan, Bentuk Silindris, Seni Budaya, Kooperatif, STAD, SMP. Penelitian ini dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa kemampuan siswa SMP Negeri 2 Pandaan dalam kegiatan menggambar bentuk benda silindris masih tergolong rendah. Rendahnya kemampuan tersebut terlihat dari hasil gambar siswa pada pembelajaran sebelumnya belum maksimal yang disebabkan oleh siswa yang sebagian besar belum memahami materi dan langkah- langkah menggambar bentuk benda silindris dengan baik. Oleh karena itu berdasarkan hasil refleksi dan diskusi dengan guru sejenis terhadap kondisi tersebut pemberian pengetahuan dengan pemberian materi gambar bentuk benda silindris melalui pendekatan Kooperatif metode STAD diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menggambar pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Pandaan Pasuruan. Tujuan penelitian meningkatkan pemahaman dalam menggambar bentuk benda silindris, meningkatkan aktivitas siswa dalam menggambar bentuk benda silindris dan meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar bentuk benda silindris. Pendekatan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Instrumen yang digunakan ialah lembar analisis aktivitas siswa, lembar penilaian unjuk kerja, lembar penilaian produk karya, dan lembar wawancara siswa. Pengumpulan datanya meliputi teknik Pengamatan / observasi, teknik Wawancara dan teknik Dokumentai. Dengan subjek penelitian siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Pandaan. Hasil dalam penelitian ini adalah bahwa melalui pendekatan kooperatif metode STAD dalam proses pembelajaran dapat : (1) meningkatkan pemahaman tentang gambar bentuk benda silindris pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Pandaan sebesar 25% dari siklus I ke siklus II, (2) Meningkatkan aktifitas menggambar bentuk benda silindris pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Pandaan sebesar 9,17 dari siklus I ke siklus II, (3) Meningkatkan kemampuan menggambar bentuk benda silindris pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 2 Pandaan. Sebesar 16,75 dari siklus I ke siklus II. Peningkatan kemampuan siswa menggambar bentuk benda silindris sebesar 7,88 poin atau 11,96 %, dan kenaikan jumlah siswa belajar tuntas sebesar 11 siswa atau 42,31 %. Temuan dalam penelitian ini adalah bahwa melalui pendekatan kooperatif dengan metode STAD dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil prestasi belajar siswa dalam menggambar bentuk benda silindris. Sebagai implikasinya sebaiknya perlu dilakukan upaya peningkatan hasil prestasi belajar seni rupa pada siswa melalui pendekatan kooperatif dengan metode STAD.

Pengaruh inflasi dan modal koperasi terhadap penyaluran kredit pada koperasi kredit Kosayu di Kota Malang (periode 2005-2008) / Octavia Stevie Chris Natalin Selvyanto

 

Kata kunci: inflasi, modal koperasi, penyaluran kredit, koperasi kredit Kosayu. Penyaluran kredit pada lembaga keuangan komersial tidaklah terlepas dari pengaruh inflasi yang sedang terjadi maupun pengaruh modal yang dimiliki. Secara umum, adanya inflasi akan berdampak pada kenaikan suku bunga kredit pada lembaga keuangan komersial sehingga akan menurunkan permintaan kredit. Namun khusus dalam koperasi kredit, penentuan suku bunga kredit ditetapkan pada awal tahun buku berdasarkan kebutuhan anggotanya dan berlaku selama satu tahun buku sehingga adanya inflasi tidak mempengaruhi nilai suku bunga kredit di koperasi dan selanjutnya tidak mempengaruhi penyaluran kredit pada koperasi secara signifikan. Dalam penyaluran kredit, modal koperasi memiliki peranan yang sangat penting karena dana untuk menyalurkan kredit berasal dari modal yang berhasil dihimpun pihak koperasi. Semakin tinggi modal, maka kesempatan dalam menyalurkan kredit dapat semakin optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inflasi dan modal koperasi terhadap penyaluran kredit baik secara parsial maupun secara simultan. Subyek penelitian adalah koperasi kredit Kosayu karena adanya keunikan yang dimiliki Kosayu dalam hal penawaran suku bunga dan pelaksanaan pembayaran angsuran yang dapat mendobel pokok. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dengan teknik dokumentasi. Periode penelitian yang digunakan adalah tahun 2005-2006. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan SPSS 14.00 for windows. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial, inflasi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penyaluran kredit pada Koperasi Kredit Kosayu dan modal koperasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penyaluran kredit pada Koperasi Kredit Kosayu. Sedangkan secara simultan, inflasi dan modal koperasi berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit pada Koperasi Kredit Kosayu. Inflasi dalam hal ini tidak mampu mempengaruhi penyaluran kredit pada koperasi karena suku bunga sebagai alat dalam mempengaruhi kredit ketika inflasi berlangsung telah ditetapkan koperasi untuk satu tahun buku sehingga suku bunga tidak akan berfluktuasi. Modal mampu mempengaruhi penyaluran kredit karena sumber dana dalam penyaluran kredit adalah berasal dari modal yang terdiri dari modal sendiri dan modal hutang. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar Kopdit Kosayu semakin meningkatkan pelayanan dan pemberian manfaat bagi anggota koperasi dalam hal penyaluran kredit dan dapat menawarkan suku bunga kredit berdasarkan produk pinjaman sesuai kebutuhan anggotanya. Selain itu dapat berupaya meningkatkan modal baik modal sendiri maupun modal hutang untuk mendukung penyaluran kredit dengan cara memberlakukan suku bunga simpanan diatas pesaing.

Using suggestopedia to improve the second year students' reading comprehension achievement at SMP Muhammadiyah 1 Jember / Masruroh Insani Rahim

 

Key words: suggestopedia, improve, comprehension This study is intended to use suggestopedia to help students of class VIII.E, of SMP Muhammadiyah 1 Jember to improve their ability in comprehending narrative texts. The study was conducted because 90.6% of the students scored below the minimum mastery learning standard (Standar Ketuntasan Belajar Minimal/SKBM). The study was designed as a Collaborative Classroom Action Research (CAR). The subject of this study was thirty two students of class VIII.E of SMP Muhammadiyah 1 Jember. The study was conducted in two cycles, each of which consisted of four steps, namely planning, implementation, observation, and reflection. In the planning stage the researcher preparing the lesson plan, the research instrument, and prepared criteria of success. In the implementation stage the researcher conducted what had been designed in the lesson plans. In the observation stage the researcher collected data concerning suggestopedia implementation. In the reflection stage, the researcher decided whether or not suggestopedia met the criteria of success. There were four lesson plans, two in each cycle. The instrument used to collect data were interview guide for the teacher, questionnaire, reading test, observation checklist, and field notes. The criterion of success was 60% out of the students scored above the SKBM with the gain equal to above 15. The result of this study showed that suggestopedia upgraded the students’ scores in reading narrative texts, hence, their reading; 68.75 % students of class VIII.E scored above the minimum mastery learning (Standar Ketuntasan Belajar Minimal/SKBM) with the gain equal to above 15. It can be concluded, then, that the study fulfilled the criteria of success. The finding also showed that suggestopedia also activates the students as well as the teacher, thus make the class run more effectively. Based on finding, the researcher recommended the teacher to use suggestopedia as the media to improve the students’ comprehension of narrative text which cover word comprehension, sentence comprehension, paragraph comprehension and text comprehension.

Bentuk sapaan bahasa jawa dalam komunikasi keluarga di Kelurahan Tompokersan Kabupaten Lumajang / Akhmad Fauzi

 

Kata kunci: Sapaan, Bahasa Jawa Bentuk sapaan adalah satuan bahasa yang dipakai menyapa berdasarkan tingkatan penuturnya atau seperangkat kata-kata atau ungkapan- ungkapan yang dipakai untuk menyebut dan memanggil para pelaku dalam suatu peristiwa bahasa.Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah di wilayah Indonesia yang hidup dan berkembang dan dipakai oleh sebagian besar masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Luasnya wilayah pemakaian bahasa Jawa menyebabkan munculnya berbagai ragam dialek bahasa Jawa. Bentuk Sapaan Bahasa Jawa dalam Komunikasi Keluarga di Kelurahan Tompokersan Kabupaten Lumajang meliputi bentuk sapaan bahasa Jawa yang digunakan anak- anak, bentuk sapaan bahasa Jawa yang digunakan remaja, dan bentuk sapaan bahasa Jawa yang digunakan orang tua. Masalah yang diangkat adalah penjelasan tentang bentuk- bentuk sapaan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh deskripsi bentuk sapaan bahasa Jawa yang digunakan anak- anak, remaja, dan orang tua di Kelurahan Tompokersan Kabupaten Lumajang Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa berdasarkan tingkatan usia anak-anak, bentuk sapaan yang diucapkan oleh anak-anak kepada orang yang diajak berbicara dalam tuturan sehari-harinya dapat dibedakan atas sapaan anak kepada anak-anak, kepada remaja, dan anak kepada orang tua. Berdasarkan tingkatan usia remaja, bentuk sapaan yang diucapkan oleh remaja kepada orang yang diajak berbicara dalam tuturan sehari-harinya dapat dibedakan atas sapaan remaja kepada anak-anak, kepada remaja, dan anak kepada orang tua. Bentuk sapaan tersebut ditujukan kepada petutur, baik laki-laki maupun perempuan. Berdasarkan tingkatan orang tua, bentuk sapaan yang diucapkan oleh orang tua kepada orang yang diajak berbicara dalam tuturan sehari-harinya dapat dibedakan atas sapaan orang tua kepada anak-anak dan remaja, serta orang tua kepada orang tua. Bentuk sapaan tersebut ditujukan kepada petutur, baik laki-laki maupun perempuan. ii

Dampak keberadaan objek wisata terhadap eksternalitas ekonomi dalam pembangunan daerah (Studi kasus pada objek wisata bahari Lamongan) / Laely Trianawati Wilujeng

 

Kata Kunci : Eksternalitas Ekonomi, Objek Wisata, Pembangunan Daerah Keberadaan suatu objek wisata tidak terlepas dari adanya eksternalitas yaitu efek positif yang timbul diluar kegiatan ekonomi, tidak terkecuali Wisata Bahari Lamongan. Keberadaan Objek Wisata Bahari Lamongan telah memberikan banyak kontribusi bagi perekonomian daerah. Eksternalitas yang timbul karena keberadaan Wisata Bahari Lamongan dapat mendorong terciptanya kesempatan kerja serta peningkatan perekonomian masyarakat sekitar. Pada akhirnya hal tersebut dapat memicu pembangunan daerah yang berkesinambungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak keberadaan objek Wisata Bahari Lamongan terhadap eksternalitas ekonomi dalam pembangunan daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekskriptif kualitatif. Tujuan penulis menggunakan pendekatan kualitatif adalah berusaha memberikan yang sistematis, factual dan akurat tentang eksternalitas ekonomi yang muncul. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan, Dinas Pendapatan Kabupaten Lamongan, Manajemen Wisata Bahari Lamongan dan BPS Kabupaten Lamongan dan data primer yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis dokumentasi, teknik wawancara dan teknik observasi. Hasil dari penelitian ini menerangkan bahwa objek Wisata Bahari Lamongan mempunyai kontribusi yang penting dalam penyerapan tenaga kerja. Dampak keberadaan objek Wisata Bahari Lamongan terhadap eksternalitas ekonomi adalah munculnya eksternalitas ekonomi di bidang (1) tumbuhnya unit ekonomi baru dan (2) kenaikan harga tanah di sekitar objek Wisata Bahari Lamongan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keberadaan suatu objek wisata tidak terlepas dari adanya eksternalitas ekonomi yang muncul akibat adanya keterkaitan aktivitas satu dengan yang lain. Eksternalitas ekonomi yang timbul dari keberadaan Objek Wisata Bahari Lamongan diantaranya adalah, tumbuhnya unit-unit usaha baru dan peningkatan nilai jual tanah di beberapa lokasi. Hal tersebut secara langsung berdampak pada kegiatan perekonomian masyarakat Kecamatan Paciran yang ditandai dengan peningkatan pendapatan serta penyerapan tenaga kerja. Dalam hubungannya dengan pembangunan daerah, eksternalitas ekonomi yang timbul akibat keberadaan objek wisata dapat mendorong pembangunan daerah. Karena pariwisata merupakan sektor padat karya sehingga penyerapan tenaga kerja cukup tinggi yang tentunya berakibat pada penurunan angka, peningkatan pendapatan pelaku usaha yang pada akhirnya dapat mendorong pembangunan daerah. Disarankan Pemerintah Kabupaten Lamongan hendaknya dalam perkembangannya memperhatikan dampak yang timbul dari keberadaan suatu objek wisata, baik dampak positif maupun dampak negatif. Sehingga setelah mengetahuinya dampak negatif yang ada dapat diminimalisir dan mendorong peningkatan pada dampak positif yang terjadi sehingga nantinya dapat digunakan sebagai penentu kebijakan dan keputusan Pemerintah Kabupaten Lamongan.

Penerapan model pembelajaran kooperatif two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar geografi pokok bahasan atmosfer pada siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Gurah kabupaten Kediri / Linda Ranita Siswayanti

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (TSTS), aktivitas, hasil belajar. Pengalaman belajar yang diberikan guru dalam penerapan pembelajaran menentukan tingkat pencapaian keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Pengalaman belajar tersebut dapat mengembangkan semua potensi siswa dalam penerapan model pembelajarannya. Data dari hasil observasi dan wawancara di SMA Negeri 1 Gurah pada tanggal 25 Agustus 2009 menunjukkan bahwa 1) pembelajaran didominasi oleh guru (teacher centered). 2) siswa kurang memahami konsep yang ada, 3) hasil tes geografi rendah. Berdasarkan permasalahan tersebut diterapkan model pembelajaran yang dapat mendorong siswa aktif selama proses pembelajaran dan saling membantu untuk memperoleh pemahaman. Model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif TSTS. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar geografi siswa kelas X-3 SMA Negeri 1 Gurah Kabupaten Kediri dengan melakukan penerapan pembelajaran kooperatif model TSTS. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Gurah Jln. Pamenang 1. Waktu pelaksanaan penelitian bulan Maret-April tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam dua siklus. Tahapan penelitian persiklusnya yaitu: 1) perencanaan tindakan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, 4) refleksi.Teknik pengumpulan data dilakukan selama pembelajaran berlangsung melalui 1) observasi, 2) tes, 3) dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan dapat dilihat pada deskriptor persiapan belajar yaitu sebesar (2,63%), mengambil giliran dan berbagi tugas (22,8%), keterlibat dalam diskusi kelompok (3,75%), keaktifan (10,53%), dan menghargai atau respon terhadap guru (19,29%). Secara keseluruhan peningkatan aktivitas termasuk dalam kategori baik. Sedangkan pada hasil belajar juga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I nilai rata-rata siswa secara keseluruhan yaitu sebesar 72,89 dengan daya serap klasikal siswa 68,42 %, sedangkan pada siklus II nilai rata-ratanya adalah 75,79 dengan daya serap klasikal siswa sebesar 86,84%. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II sebesar 2,9 dan daya serap klasikal siswa yang dianggap tuntas sebesar 85% dapat tercapai. 1

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TS-TS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas X akuntansi di SMK Ardjuna 1 Malang / Denis Yulyaningtyas

 

Kata kunci: Metode Two Stay Two Stray (TS-TS), Aktivitas belajar dan Hasil Belajar Kegiatan pembelajaran akuntansi kelas X Akuntansi di SMK Ardjuna 1 Malang masih menggunakan metode ceramah, dan pemberian tugas-tugas. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dan hanya sedikit siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hal ini akan berdampak pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengikuti remidi karena skor yang diperoleh kurang memenuhi standar ketuntasan minimum yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 70. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa . Tujuan dari penelitian ini adalah melalui penerapan metode pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TS-TS) diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa kelas X Akuntansi SMK Ardjuna 1 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SMK Ardjuna 1 Malang, semester 2 tahun pelajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan materi membukukan jurnal penyesuaian. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Ak yang terdiri dari 17 siswa. Teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, tes, angket, cacatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan persentase skor aktivitas dan hasil belajar aspek kognitif dan aspek afektif di tiap-tiap siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode Two Stay Two Stray (TS-TS), dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Persentase skor rata-rata aktivitas siswa meningkat sebesar 14,07%,. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, persentase rata-rata nilai siswa aspek kognitif meningkat sebesar 17,02%, sedangkan hasil belajar aspek afektif meningkat sebesar 3,34%. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat dikemukakan antara lain (1) Bagi Sekolah yang diteliti, Pembelajaran Kooperatif metode Two Stay Two Stray (TS-TS) dapat menjadi alternative pertimbangan dalam upaya perbaikan strategi pembelajaran yang ada di SMK Ardjuna 1 Malang, (2) Bagi guru mata pelajaran akuntansi, metode Two Stay Two Stray (TS-TS) dapat menjadi pilihan variasi metode pembelajaran untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar, (3) Bagi siswa, setelah diterapkan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajarnya, berani mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan dan dapat mempersiapkan diri sebelum kegiatan belajar mengajar berlangsung, dan (4) Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian dengan situasi dan kondisi sekolah yang sama, hendaknya menerapkan model pembelajaran kooperatif yang lebih bervariasi sehingga kemampuan dan hasil belajar siswa lebih meningkat lagi, selain meneliti hasil belajar secara kognitif dan afektif meneliti juga hasil belajar secara psikomotorik. Serta bisa memasukkan unsur kuantitatif dengan uji t pada hasil belajar antara sebelum diterapkan metode pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TS-TS) dan sesudah mendapat tindakan untuk lebih memperkuat hasil penelitian.

Faktor-faktor yang mempengaruhi rasionalitas ekonomi siswa SMA di Malang Raya / Purwaningrum Puji Lestari

 

Kata Kunci: Status Sosial Ekonomi, Pengetahuan dasar Ekonomi (Economic Literacy), Persepsi, Minat belajar, Rasionalitas Ekonomi Rasionalitas ekonomi sebagai sikap yang mencerminkan kecenderungan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi, pada dasarnya telah dikenal oleh siswa SMA sejak mereka mengenal aktivitas ekonomi di lingkungan keluarga, maupun masyarakat di sekitar kehidupannya. Pemahamannya kemudian diperkaya melalui pendidikan ekonomi di sekolah, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga kelas akhir di SMA. Meskipun demikian secara umum nampak bahwa sikap dan perilaku ekonomi siswa SMA, kurang rasionalitas. Bila ditelaah, penyebabnya dapat berasal dari lingkungan keluarga dan masyarakat, karena di lingkungan tersebut, selain belajar, siswa SMA juga memperoleh pengaruh negatif terkait dengan nilai-nilai rasionalitas ekonomi. Kelemahan pendidikan ekonomi di sekolah, dapat pula menjadi penyebab kurang rasionalnya siswa SMA dalam sikap dan perilaku ekonomi. Penelitian ini secara umum dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi rasionalitas ekonomi siswa SMA di jenjang kelas akhir, secara spesifik penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis: pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); pengaruh minat pada mata pelajaran ekonomi terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); pengaruh persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi; pengaruh minat siswa pada pelajaran ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; pengaruh persepsi siswa atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; pengaruh pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) terhadap rasionalitas ekonomi; dan pengaruh tidak langsung status sosial ekonomi orangtua, minat pada mata pelajaran ekonomi, persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) siswa SMA di Malang Raya. Penelitian eksplanatori ini dirancang dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitiannya adalah seluruh siswa SMA kelas XII Jurusan IPS yang ada di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu). Sampel berjumlah 305 orang, dan dipilih dengan teknik multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket dan tes. Teknik angket dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang status sosial ekonomi orang tua, minat siswa SMA pada mata pelajaran ekonomi, persepsi siswa atas kompetensi guru ekonomi, dan rasionalitas ekonomi siswa SMA. Sementara teknik tes dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy). Analisis data dilakukan dengan teknik analisis jalur dan hubungan variabelnya distrukturkan berdasar SEM (Structural Equation Modeling). Analisis dilakukan dengan menggunakan program aplikasi LISREL 8.30 for Windows NT. Hasil penelitian menyimpulkan: (1) tidak ada pengaruh yang signifikan status sosial ekonomi orang tua terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); (2) terdapat pengaruh yang signifikan minat pada pelajaran ekonom terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); (3) terdapat pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy); (4) terdapat pengaruh yang signifikan status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi; (5) terdapat pengaruh yang signifikan minat pada mata pelajaran ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; (6) tidak ada pengaruh yang signifikan persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi; (7) terdapat pengaruh yang signifikan pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) terhadap rasionalitas ekonomi; (8) tidak ada pengaruh tidak langsung yang signifikan status sosial ekonomi orangtua, terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy), (9) terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan minat pada mata pelajaran ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) dan (10) terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan persepsi atas kompetensi guru ekonomi terhadap rasionalitas ekonomi melalui pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) siswa SMA di Malang Raya. Dari temuan penelitian dapat diajukan saran sebagai berikut: Guru ekonomi sebaiknya meningkatkan intensitasnya dalam mengembangkan pembelajaran melalui telaah kritis kurikulum, mengembangkan pengetahuan tentang fenomena-fenomena ekonomi terkini, dan meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan komputer dan mengakses internet. Sekolah perlu mengembangkan laboratorium ekonomi, sebagai pusat sumber belajar ekonomi bagi siswa, untuk itu sekolah perlu menjalin kerjasama dengan pergurun tinggi. Kerjasama tersebut juga dimaksudkan untuk melakukan penelitian bersama dalam kaitannya dengan pengembangan pembelajaran ekonomi di sekolah. Perguruan Tinggi Khususnya Jurusan Pendidikan Ekonomi disarankan untuk memprakarsai dilakukannya kajian dan revisi kurikulum pelajaran ekonomi. Selain itu Jurusan Pendidikan Ekonomi disarankan pula untuk mengembangkan strategi dan model-model pembelajaran ekonomi inovatif yang mampu memberikan pengaruh positif bagi peningkatan intensitas siswa untuk meningkatkan rasionalitas ekonomi, sesuai dengan konteks Indonesia.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar pada materi trigonometri kelas X.3 di SMAN 1 Malang / Pungky Rahmawati

 

Kata kunci: Penerapan, Pembelajaran Berbasis Masalah, Trigonometri Dalam kegiatan pembelajaran guru matematika SMAN 1 Malang menggunakan metode pembelajaran dengan pemberian lembar kegiatan kepada siswa yang berupa latihan soal. Siswa secara mandiri menyelesaikan lembar kegiatan tersebut. Pada pembelajarannya, masih ada siswa yang bingung ketika kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa-siswa tersebut mengalami kesulitan untuk memahami materi matematika. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya perbaikan dalam kegiatan pembelajaran siswa. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapan pembelajaran berbasis masalah yang dapat meningkatkan hasil belajar pada materi trigonometri di kelas X. 3 SMAN 1 Malang dan mengetahui respon siswa terhadap penerapan pembelajaran berbasis masalah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 1 Malang dengan subjek penelitian yaitu 39 siswa kelas X. 3 tahun 2009/2010. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi selama pembelajaran, catatan lapangan, tes, angket, wawancara dan studi dokumen. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah yang meningkatkan hasil belajar pada materi trigonometri dilakukan melalui langkah-langkah berikut: (1) pendahuluan yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran, motivasi, apersepsi dan pembentukan kelompok secara heterogen yang beranggotakan 4-5 orang, (2) pemberian masalah dari kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan trigonometri dan disiplin ilmu lain, (3) diskusi kelompok kecil untuk memahami, mendefinisikan dan menyelesaikan masalah, (4) membandingkan hasil diskusi kelompok dengan kelompok lain, (5) melakukan analisa dan evaluasi proses penyelsaian masalah, dan (6) penutup yaitu menyimpulkan kegiatan pembelajaran dan melakukan tes. Berdasarkan hasil tes, terjadi peningkatan ketuntasan belajar dari 71,79% sebelum pembelajaran berbasis masalah dengan nilai rata-rata 78,05 menjadi 100% ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 97,13 pada siklus I dan 100% ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 99,21 pada siklus II. Sedangkan berdasarkan hasil observasi, terjadi pula peningkatan hasil observasi aktifitas guru dari skor 85,71 berkategori ”Sangat baik” pada siklus I menjadi 91,96 berkategori ”Sangat baik” pada siklus II dan hasil observasi aktifitas siswa dari skor 78,12 berkategori ”Baik” pada siklus I menjadi 88,54 berkategori ”Sangat baik” pada siklus II. Selain itu, berdasarkan angket respon dan wawancara diperoleh bahwa siswa antusias mengikuti pembelajaran berbasis masalah. Secara garis besar, pembelajaran berbasis ii masalah dapat memperbaiki tahapan-tahapan yang kurang dari pembelajaran yang diterapkan guru, dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa dan mendapatkan respon positif dari siswa terhadap pembelajaran ini sesuai dengan kriteria keberhasilan penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan sebaiknya pembelajaran berbasis masalah dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran karena menunjukkan hasil yang positif. Selain itu penentuan masalah yang digunakan dalam pembelajaran sangat menentukan pelaksanaan pembelajaran.

Kajian uji perbandingan berganda (Multiple Comparisons) pada analisis varians satu jalur (One-Way Anova) untuk data yang ditransformasikan / Fina Rusdiyana Dewi

 

Kata kunci : uji perbandingan berganda, analisis varians satu jalur, transformasi data Sebagian besar prosedur pengujian hipotesis berdasarkan asumsi bahwa sampel diambil dari populasi normal. Apabila asumsi kenormalan tersebut tidak terpenuhi, maka dapat dilakukan transformasi data. Apabila dengan transformasi ini data memenuhi asumsi kenormalan, maka dapat dianalisis dengan menggunakan analisis varians satu jalur. Jika hipotesis nol pada analisis varians satu jalur ditolak, maka akan dilakukan pengujian lanjutan yaitu menggunakan uji perbandingan berganda. Oleh karena itu diperoleh rumusan masalah yaitu bagaimana menggunakan uji perbandingan berganda (multiple comparisons) sebagai pengujian lanjutan pada analisis varians satu jalur (One-Way ANOVA) untuk data yang ditransformasikan Analisis varians adalah teknik analisis data untuk menguji kesamaan beberapa rataan. Analisis varians satu jalur adalah analisis varians untuk variabel tunggal. Jika asumsi pada analisis varians satu jalur tidak terpenuhi, maka dapat dilakukan transformasi data yaitu mengubah skala pengukuran mula-mula ke dalam skala pengukuran yang baru sesuai dengan transformasi yang digunakan. Apabila pada analisis varians satu jalur mengarah pada penolakan H0, maka dilakukan uji perbandingan berganda yang merupakan pengujian lanjutan untuk membandingkan rataan perlakuan mana saja yang berbeda. Dalam skripsi ini, data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data mortalitas ikan zebra berdasarkan konsentrasi limbah mie instan. Data tersebut tidak memenuhi asumsi kenormalan, tetapi setelah dilakukan transformasi akar kuadrat, data tersebut dapat memenuhi asumsi kenormalan. Hasil analisis data menggunakan analisis varians satu jalur mengarah pada penolakan H0, sehingga dilakukan uji perbandingan berganda menggunakan uji Dunnett, uji Fisher, uji Tukey dan uji Duncan. Hasil pada uji Fisher sama dengan hasil uji Duncan yaitu terdapat 5 kelompok rata-rata mortalitas ikan zebra yang tidak berbeda antar perlakuan. Pada uji Dunnett hanya membandingkan terhadap kontrol (konsentrasi limbah mie instan 0 ppm) dan hasilya menunjukkan hanya konsentrasi limbah mie instan 1 ppm dan 2 ppm yang tidak berbeda dengan kontrol. Pada uji Tukey terdapat 8 kelompok rata-rata mortalitas ikan zebra yang tidak berbeda antar perlakuan. Oleh karena itu pada uji Tukey yang menunjukkan terdapat perbedaan rata-rata mortalitas ikan zebra antar perlakuan lebih sedikit dibandingkan hasil dari uji Fisher dan uji Duncan. Berdasarkan hasil analisis data, dapat disarankan agar dilakukan pengujian rataan perlakuan yang lain, misalnya menggunakan metode analisis gerombol Scott-Knott. Penulis juga memberikan saran untuk menggunakan data-data lain yang serupa.

Implementasi masalah pewarnaan graph pada penjadwalan kuliah dengan algoritma Welch-Powell / Tatik Octiarsih Kartika Puji Rahayu

 

Kata kunci: pewarnaan simpul, bilangan kromatik, algoritma Welch-Powell, penjadwalan kuliah Ada beberapa masalah pewarnaan dalam Teori Graph, tiga diantaranya adalah pewarnaan simpul, pewarnaan sisi, dan pewarnaan wilayah. Teknik pewarnaan yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah pewarnaan simpul. Salah satu kegunaan pewarnaan simpul dalam kehidupan sehari-hari adalah membantu menyelesaikan masalah penyusunan jadwal kuliah. Pewarnaan simpul adalah mewarnai semua simpul pada graph G, sehingga setiap pasang simpul yang terhubung langsung memiliki warna yang berbeda. Banyaknya warna minimum yang digunakan untuk mewarnai disebut dengan bilangan khromatik. Terdapat banyak algoritma yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah penjadwalan. Salah satunya adalah algoritma Welch-Powell. Langkah pertama algoritma ini adalah menentukan derajat setiap simpul, kemudian mengurutkan mulai dari simpul yang derajatnya terbesar. Langkah selanjutnya, simpul yang memiliki derajat terbesar diberi warna terlebih dahulu. Kemudian dicari simpul mana yang tidak terhubung langsung dengan simpul yang telah diwarna dan beri warna simpul tersebut dengan warna yang sama. Algoritma ini dapat digunakan untuk menyusun jadwal kuliah, sehingga tidak ada jadwal yang bertabrakan. Artinya, tidak ada dua matakuliah yang diambil oleh seorang mahasiswa dilaksanakan pada waktu yang bersamaan. Sesuai dengan langkah-langkahnya, algoritma ini hanya memberikan informasi tentang banyak warna yang digunakan, bukan bilangan khromatiknya. Dengan demikian dapat ditentukan banyak waktu untuk melaksanakan perkuliahan. Untuk menyelesaikan masalah penjadwalan kuliah, dibuat program dengan memanfaatkan software Delphi 7. Setelah diamati, proses pengerjaan dengan algoritma Welch-Powell secara manual ataupun menggunakan implementasi program memberikan hasil yang sama.

Pengembangan model pembelajaran bidang manufaktur berbasis siklus aktivitas proses manufaktur / Wahono

 

Kata kunci: pengembangan model, pembelajaran, proses manufaktur Pembelajaran praktik proses manufaktur di Jurusan Teknik Mesin (TM), Fakultas Teknik (FT), Universitas Negeri Malang (UM), cenderung berorientasi pada keterampilan mengeksekusi material belaka. Pembelajaran demikian tidak mampu mengintegrasikan matakuliah praktik dengan matakuliah prasyaratnya, sehingga tidak mampu membuka wawasan mahasiswa untuk mengenal lingkup proses manufaktur secara total. Pembelajaran yang mengintegrasikan seluruh aktivitas proses manufaktur, mulai dari perancangan hingga perakitan dan instalasi, diprediksi mampu menjawab masalah pembelajaran praktik proses manufaktur tersebut. Penelitian ini bertujuan ini untuk mengembangkan model pembelajaran bidang manufaktur dengan melakukan simplifikasi aktivitas riil industri manufaktur. Simplifikasi aktivitas tersebut diharapkan dapat dikomunikasikan kepada mahasiswa dalam bentuk aktivitas pembelajaran di kelas. Tujuan khusus kajian ini adalah untuk (1) merancang paket pembelajaran, (2) mengembangkan panduan evaluasi pembelajaran, (3) melakukan verifikasi kelayakan fasilitas pendukung pembelajaran, dan (4) menyusun panduan penerapan paket pembelajaran berbasis siklus aktivitas proses manufaktur. Prosedur pengembangan, meliputi (1) pengumpulan informasi awal, (2) perancangan paket pembelajaran, pengembangan panduan evaluasi pembelajaran, verifikasi fasilitas pendukung pembelajaran, dan penyusunan panduan penerapan paket pembelajaran, (3) uji coba paket pembelajaran dan panduan evaluasi, serta (4) merevisi paket pembelajaran dan panduan evaluasi pembelajaran berdasarkan hasil uji coba. Panduan penerapan paket pembelajaran tidak diuji coba, karena sekedar sebagai pelengkap. Data informasi awal tentang estimasi kebutuhan (need assessment) kompetensi proses manufaktur diambil dari pendapat 11 mahasiswa D3 Teknik Mesin (TM) dan 11 mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Mesin (PTM), FT, UM, yang dipilih secara acak. Isi dan urutan materi pembelajaran bidang manufaktur, paket pembelajaran, dan panduan evaluasi di-judgement oleh pakar yang kompeten di bidangnya. Paket pembelajaran diuji cobakan pada kelompok kecil untuk dilakukan one-to-one evaluation. Subjek uji coba adalah satu mahasiswa S1 PTM, dua mahasiswa D3 TM, dan dua mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif (PTO), FT, UM. Data informasi awal, uji coba paket pembelajaran, dan kelayakan fasilitas pendukung pembelajaran, serta panduan evaluasi dianalisis menggunakan teknik deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan, bahwa (1) informasi awal mengindikasikan ada kesenjangan (gap) kompetensi, sehingga diestimasi mahasiswa Jurusan TM, FT UM membutuhkan kompetensi aktivitas proses manufaktur untuk melengkapi tujuan pembelajaran proses manufaktur, (2) isi dan urutan materi pembelajaran proses manufaktur cukup memadai untuk dikonstruk menjadi paket pembelajaran berbasis siklus aktivitas proses manufaktur, (3) paket pembelajaran memiliki konstruk memadai untuk dilakukan uji coba, (4) paket pembelajaran memiliki kejelasan informasi dasar dari tinjauan vocabullary dalam hubungannya dengan konteks, kompleksitas kalimat dalam hubungannya dengan ikhtisar materi, kompleksitas pesan dalam hubungannya dengan analogi, pengantar dalam hubungannya dengan ilustrasi, dan prosedur, (5) fasilitas di jurusan TM memiliki potensi besar untuk mendukung implementasi paket pembelajaran ini, (6) panduan evaluasi pembelajaran memiliki kejelasan informasi dasar, teknik evaluasi, jenis data, dan aspek yang dievaluasi, sehingga layak digunakan untuk model pembelajaran ini. Temuan penelitian ini direkomendasikan untuk dimanfaatkan (1) isi dan urutan materi pembelajaran proses manufaktur dapat dimanfaatkan sebagai pembanding materi pembelajaran praktik manufaktur di jurusan TM, FT, UM, (2) isi dan urutan materi pembelajaran proses manufaktur dan potensi dukungan fasilitas pembelajaran yang besar dapat digunakan untuk mengonstruk matakuliah baru yang mampu memberi pengalaman berlajar yang utuh kepada mahasiswa S1 PTM tentang proses manufaktur, (3) paket pembelajaran projek dan subprojek memiliki kejelasan informasi dasar, sehingga dapat diterapkan secara parsial pada matakuliah Menggambar Mesin, Manajemen Produksi, Praktik Manufaktur, Metrologi Industri, Statistik, dan Perakitan Mesin, (4) segmentasi, ragam topik, dan tuntutan fasilitas dalam paket pembelajaran ini identik dengan matakuliah Lab. Produksi, sehingga paket belajar maupun panduan evaluasinya disarankan untuk diimplementasikan pada matakuliah Lab. Produksi tersebut, (5) paket pembelajaran dan panduan evaluasinya dapat digunakan sebagai langkah awal untuk diteruskan dalam pekerjaan pengembangan pembelajaran sejenis berikutnya, (6) penggunaan paket pembelajaran dalam setting pembelajaran sebenarnya dimaksudkan untuk mengumpulkan data evaluasi formatif, dan (8) penerapan paket pembelajaran dalam setting pembelajaran sebenarnya harus di bawah kendali dosen pendamping.

Penerapan the 5E learning cycle model dengan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran fisika untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII-G SMP Negeri 17 Malang / Evi Puji Astutik

 

Kata kunci: hasil belajar, pendekatan inkuiri, The 5E Learning Cycle Model Pelaksanaan pembelajaran yang didominasi guru dengan metode ceramah, kurangnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran, rendahnya rata-rata nilai siswa dan anggapan bahwa fisika sulit mengakibatkan hasil belajar siswa rendah, hasil ujian yang tidak mencapai SKM juga merupakan salah satu indikator hasil belajar rendah pada aspek kognitifnya. Siswa masih menganggap bahwa pelajaran fisika adalah pelajaran sulit, penuh hitungan dan menghafal rumus-rumus. Oleh karena itu perlu adanya penerapan model pembelajaran yang dapat meningkatkan semangat dan melibatkan siswa dengan obyek nyata (melakukan percobaan). Model pembelajarannya adalah penerapan The 5E Learning Cycle Model dengan Pendekatan inkuiri. Penerapan ini terdiri atas 5 tahapan yaitu pendahuluan, eksplorasi, eksplanasi, elaborasi, dan evaluasi yang setiap tahapan selalu melibatkan siswa. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar siswa (aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik) siswa dengan penerapan The 5E Learning Cycle Model dengan pendekatan inkuiri. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII-G SMP Negeri 17 Malang tahun ajaran 2009/2010, berjumlah 41 siswa. Teknik analisa yang digunakan adalah analisis gain score ternormalisasi untuk hasil belajar siswa aspek kognitif, sedangkan analisis hasil belajar aspek afektif dan aspek psikomotorik menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan The 5E Learning Cycle Model dengan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran fisika dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMP Negeri 17 Malang. Berdasarkan data pada Siklus I dan Siklus II diperoleh peningkatan hasil belajar. Besar peningkatan hasil belajarnya pada aspek kognitif gain score meningkat 0,32, aspek afektif meningkat sebesar 17,50 %, dan aspek psikomotorik meningkat sebesar 19,81 %.

Esterifikasi eugenol dalam minyak atsiri bunga cengkeh hasil isolasi dari bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan asam asetat / Estu Mulyaningsih

 

Kata kunci: isolasi, minyak atsiri bunga cengkeh, reaksi esterifikasi. Minyak atsiri bunga cengkeh merupakan salah satu minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri farmasi, parfum, dan sabun karena memiliki bau oriental. Minyak ini diisolasi dari bunga cengkeh kering. Kandungan utama minyak atsiri bunga cengkeh adalah eugenol (70-90%), eugenil asetat (7-17%) dan kariofillen (5-12%). Secara teori eugenil asetat adalah ester yang dapat terbentuk dari reaksi esterifikasi eugenol dengan asam asetat atau turunannya. Keberhasilan reaksi esterifikasi linalool dalam minyak kenanga hasil isolasi dari bunga kenanga dengan anhidrida asetat oleh Yulianita (2009) mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang upaya esterifikasi eugenol dalam minyak atsiri bunga cengkeh hasil isolasi dari bunga cengkeh dengan asam asetat. Melalui penelitian ini diharapkan hasil esterifikasi dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebagai bahan tambahan dalam pembuatan parfum. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi minyak atsiri dari bunga cengkeh dan melakukan reaksi esterifikasi eugenol dalam minyak atsiri bunga cengkeh yang diperoleh dari hasil isolasi. Penelitian yang bersifat survei laboratoris ini terdiri dari 6 tahapan, yaitu: (1) isolasi minyak atsiri dari bunga cengkeh dengan metode destilasi uap-air dan penentuan rendemen minyak atsiri bunga cengkeh hasil isolasi, (2) karakterisasi minyak atsiri bunga cengkeh meliputi penentuan massa jenis dan indeks bias, (3) reaksi esterifikasi minyak atsiri bunga cengkeh dengan asam asetat berkatalis asam klorida pekat, (4) pemurnian campuran hasil esterifikasi melalui pencucian berulang dengan menggunakan aquades dan teknik kromatografi kolom, (5) karakterisasi campuran hasil esterifikasi meliputi penentuan indeks bias dan massa jenis, (6) identifikasi komponen penyusun minyak atsiri bunga cengkeh dan campuran hasil esterifikasi dengan Kromatografi Gas-Spektrometer Massa (Gas Chromatography-Mass Spectrometer, GC-MS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri bunga cengkeh hasil isolasi dari bunga cengkeh memiliki rendemen 10,034 %. Minyak hasil isolasi tersebut memiliki massa jenis sebesar 1,0315 g/mL dan indeks bias 1,53128. Reaksi esterifikasi minyak atsiri bunga cengkeh dengan asam asetat menyebabkan terjadinya perubahan aroma dan warna minyak tersebut. Campuran hasil esterifikasi mempunyai aroma yang lebih tajam dengan warna yang semula kuning pucat menjadi kecoklatan. Campuran hasil esterifikasi memiliki massa jenis 1,0160 g/mL dan indeks bias 1,531535. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa esterifikasi menyebabkan kandungan eugenil asetat dalam minyak atsiri bunga cengkeh meningkat, yang semula 24,21% menjadi 33,38%.

Pengaruh keaktifan berorganisasi dalam organisasi ekstrakurikuler kemahasiswaan dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan periode 2009/2010 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Helmi Barliansyach

 

Kata kunci: keaktifan berorganisasi, Motivasi Belajar, prestasi belajar mahasiswa, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi. Dunia perguruan tinggi merupakan tempat pendidikan yang mengedepankan kemandirian bagi individu yang terlibat di dalamnya, sehingga kebebasan dalam bidang akademik maupun non akademik sangat terasa bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan di bawahnya. Aspek kegiatan dalam dunia perkuliahan, yaitu kegiatan intrakurikuler (akademik) dan kegiatan ekstrakurikuler (keaktifan dalam berorganisasi) menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan seorang mahasiswa begitu pula dengan adanya Motivasi Belajar yang tinggi pula sebagai kunci awal untuk membuka kesuksesan, yang mana motivasi belajar yang tinggi dan selalu adanya keinginan untuk menjadi yang terbaik maka Prestasi Belajar yang tinggi dan baik akan tercapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk : 1) Mendiskripsikan pengaruh keaktifan berorganisasi mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan terhadap prestasi belajar Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi UM 2) Mendiskripsikan Pengaruh Motivasi Belajar terhadap prestasi belajar Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi UM 3) Mendiskripsikan pengaruh Kekatifan berorganisasi ekstrakurikuler dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa jurusan ekonomi pembangunan Fakultas Ekonomi UM Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode Eksplanasi Kuantitatif, Populasi penelitiannya adalah seluruh mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang angkatan 2007,2008 dan 2009 yang aktif dalam Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi UM periode 2009 dan 2010. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian populasi, hal ini dikarenakan jumlah populasi dari subjek penelitian tidak lebih dari 100 responden. Tepatnya 75 responden , Maka daripada itu Penelitian ini menggunakan Penelitian Populasi dengan tingkat kesalahan sebesar 5% Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket dan dokumentasi. Sedangkan untuk analisis datanya menggunakan analisis statistik deskriptif, analisis regresi linier berganda, dan pengujian hipotesis (uji t). Program komputer yang digunakan adalah SPSS 13.00 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan berorganisasi dalam Organisasi Kemahasiswaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. pengaruh antara variabel X1 (Keaktifan Berorganisasi) dengan variabel Y (Prestasi Belajar) dengan uji signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari α 0,05. berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa keaktifan berorganisasi memberikan pengaruh secara parsial sebesar 36,60% terhadap prestasi belajar mahasiswa. Untuk Variabel kedua Motivasi belajar secara parsial nilai β sebesar 0,583, t hitung sebesar 7,149 , signifikan t variabel X2 (Motivasi Belajar) adalah sebesar 0.000 yang lebih kecil dari α 0,05. Hal ini merupakan bukti kuat bahwa Variabel Motivasi Belajar berpengaruh signifikan terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang (Y) dan motivasi belajar mempunyai pengaruh secara parsial sebesar 41,60% terhadap prestasi belajar, dengan demikian maka H0 ditolak dan H2 diterima Hasil dari Penelitian ini dari Uji F nilai F = 55,781 dengan taraf sig = 0,000. Karena sig < 0,05 maka H0 ditolak atau Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara serentak keaktifan berorganisasi dan motivasi belajar mahasiswa berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa. Sehubungan dengan hasil penelitian di atas, maka saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah kepada mahasiwa, yaitu hendaknya lebih bias membagi waktu antara organisasi dan akademik, melibatkan diri secara aktif dalam Organisasi Kemahasiswaan di lingkungan kampus, baik tingkat Universitas maupun tingkat Fakultas karena akan memperoleh pengalaman edukatif yang akan mempengaruhi sikap dan cara berpikirnya, melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas serta memanfaatkan ilmu yang didapat dari organisasi untuk digunakan dalam suasana perkuliahan, Sedangkan untuk peneliti berikutnya perlu mengadakan penelitian kembali dengan mengambil sampel yang lebih luas lagi dan menghubungkan variabel lain di luar variabel yang telah ada.

Hubungan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran berbasis proyek matapelajaran biologi kelas X di Malang / Yan Surachman

 

Kata Kunci: Pemahaman Konsep, Berpikir Kritis, Pembelajaran Berbasis Proyek Kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep merupakan dua aspek yang perlu dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran. Kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep dapat ditingkatkan melalui Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP). Peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam PBP diikuti oleh peningkatan pemahaman konsep siswa sehingga dimungkinkan adanya hubungan antar keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemahaman konsep dan berpikir kritis dalam PBP. Penelitian ini merupakan penelitian di Malang dengan mengambil sampel sejumlah 104 siswa yang berasal dari kelas X-7, X-8 SMAN 9 Malang, X-3 SMAN 7 Malang dan X-A SMAN Gondanglegi. Metode yang digunakan adalah penelitian survai. Adapun analisis data menggunakan regresi linear. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep dalam PBP memiliki hubungan yang kuat dengan nilai keterandalan 73,4%. PBP memiliki sintaks yang memberdayakan kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis dalam PBP merupakan alat yang digunakan siswa untuk mengkonstruk pemahamannya. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah perlu ada penelitian serupa untuk mengetahui faktor lain yang berhubungan dengan pemahaman konsep siswa dalam PBP.

Pengaruh return on investment (ROI), return on equity (ROE), economic value added (EVA), dan market value added (MVA) terhadap return saham perusahaan yang tergabu7ng dalam LQ 45 yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2009 / Denyka Arga Diputra

 

Kata Kunci : Return On Invesment (ROI), Return On Equity (ROE), Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA) dan Return Saham. Investor dalam menanamkan modalnya selalu mengharapkan return saham yang tinggi. Oleh karena itu para investor harus dapat menilai perusahaan mana yang memiliki laba yang tinggi, sehingga return sahamnya juga tinggi. Untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, diperlukan analisis rasio keuangan diantaranya Return On Invesment (ROI), Return On Equity (ROE), Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kinerja perusahaan berdasarkan analisis ROI, ROE, EVA dan MVA. Disamping itu juga untuk mengetahui pengaruh ROI, ROE, EVA dan MVA terhadap return saham perusahaan LQ 45 yang listing di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 84 perusahaan yang tergabung dalam indeks LQ 45 dengan periode pengamatan tahun 2006-2009. Sedangkan pengambilan sampel berjumlah 9 perusahaan dilakukan dengan purposive sampling. Data yang digunakan terdiri dari laporan keuangan dalam annual report dan index capital market directory, dan closing price tahun 2006-2009 yang dianalisis dengan tehnik regresi linier berganda yang didukung oleh program SPSS 16. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa nilai ROI dari 9 sampel penelitian memiliki nilai positif. Nilai ROE menunjukkan hal yang sama yaitu dari 9 sampel perusahaan memiliki nilai positif. Nilai EVA juga menunjukkan nilai yang positif selama periode penelitian yaitu dari tahun 2006-2009. Sedangkan Nilai MVA menunjukkan dari 9 sampel penelitian hanya 2 perusahaan yang bernilai positif dan 7 perusahaan memiliki MVA negatif. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel ROI, ROE, EVA dan MVA berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan secara parsial hanya ROI, ROE dan MVA yang berpengaruh signifikan terhadap return saham. Berdasarkan temuan penelitian disarankan kepada para investor dalam menanamkan modalnya dapat menggunakan ROI, ROE, EVA dan MVA untuk memprediksi return sahamnya, selain memprediksi return saham, para investor juga harus memperhatikan faktor lain, misalnya beta, ukuran perusahaan, rasio harga buku dan harga pasar, saham asing, periode kenaikan dan kemunduran pasar, maupun kondisi sosial, politik, dan ekonomi. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk memasukkan variabel-variabel yang mempengaruhi return saham perusahaan sehingga hasil penelitian dapat lebih baik dan lengkap.

Pengaruh motivasi belajar dan pola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) dalam pembelajaran akuntansi terhadap kemampuan berpikir kritie pada siswa kelas XI SMA Negeri 9 Malang / Weny Dwi Oktaria

 

Kata kunci : Motivasi Belajar, Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP), Kemampuan Berpikir Kritis. Motivasi pada umumnya merupakan dorongan dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Motivasi belajar memiliki peran dalam perkembangan kemampuan berpikir kritis siswa. Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penyusunan pertanyaan dengan pembelajaran konstruktivistik mampu mengkonstruksi pengetahuan siswa terhadap mata pelajaran akuntansi dan diharapkan siswa dapat membangun sendiri konsep pengetahuan, pengalaman, dan keahlian yang dimlikinya. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini bertujuan mengetahui seberapa besar pengaruh motivasi belajar dan pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dalam pembelajaran akuntansi terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMA Negeri 9 Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Skala yang digunakan adalah skala likert dengan 4 (empat) pilihan jawaban. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan observasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil analisis data motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMA Negeri 9 Malang pada pembelajaran akuntansi. Pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMA Negeri 9 Malang pada pembelajaran akuntansi. Motivasi belajar dan pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) dalam pembelajaran akuntansi berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMA Negeri 9 Malang. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,11 menunjukkan bahwa variabel motivasi belajar dan pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) secara bersama-sama mempengaruhi kemampuan berpikir siswa sebesar 11%. Sedangkan sisanya 89% dipengaruhi veriabel lain di luar penelitian. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Guru hendaknya lebih memperhatikan motivasi siswa dan menggunakan berbagai strategi atau pola yang dapat memberdayakan pertanyaan dalam proses pembelajaran. (2) Sekolah hendaknya selalu mendukung motivasi belajar siswa dengan menyediakan sarana dan prasarana dan menjadikan pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) menjadi alternatif pembelajaran pada mata pelajaran akuntansi mamupun mata pelajaran lainnya. (3) Siswa hendaknya senantiasa untuk meningkatkan motivasi belajarnya dan mengikuti pola Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan dengan baik dan penuh konsentrasi. (4) Bagi peneliti lain disarankan menggunakan wilayah populasi dan sampel yang lebih luas.

Kajian pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pembelajaran tenatik matematik di kelas II ICP (International Class Programme) SD Laboratorium Universitas Negeri Malang / Nia Wahyu Damayanti

 

Kata kunci:KTSP, ICP, silabus, SD Laboratorium UM KTSP memberikan keleluasaan sekolah untuk mengembangkan kurikulum yang digunakan di sekolah. Oleh karena itu, muncul beragam pengembangan KTSP di sekolah dengan berbagai kelebihan dan kelemahan dalam pelaksanaannya. Sebagai sekolah berstandar internasional, SD Laboratorium UM yang mengembangkan secara mandiri kurikulum yang digunakan sekolah. Hal ini dilakukan dalam rangka pencapaian visi dan misi serta tujuan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan KTSP di kelas II ICP jika ditinjau dari penilaian, peran guru dan fasilitas pada mata pelajaran matematika dan model silabus matematika di SD Laboratorium UM. Penelitian ini dilakukan di kelas II ICP (International Class Programme) selama bulan April sampai Juni 2010. Pendekatan penelitian yang digunakan termasuk penelitian kualitatif. Kegiatan yang dilakukan selama penelitian adalah penggalian data kepada beberapa orang yang merupakan tim pengembang kurikulum di SD Laboratorium UM, observasi fasilitas yang terdapat di sekolah dan observasi kegiatan belajar mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SD Laboratorium UM membagi KTSP menjadi 2 standar yaitu standar nasional dan internasional. Hal ini menyebabkan adanya 2 kelompok belajar yaitu kelas ICP dan kelas reguler/bilingual. KTSP untuk mata pelajaran matematika di kelas ICP merupakan hasil sintesis dari KTSP berdasarkan standar nasional dan CIPP (Cambridge International Primary Programme). CIPP merupakan suatu program kurikulum yang berasal dari Cambridge University yang diberikan untuk anak usia pendidikan dasar yang difokuskan pada mata pelajaran matematika, sains dan bahasa Inggris. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah mastery learning dan continuous progress. Secara umum, peran guru yang utama di kelas adalah sebagai fasilitator dan agen kognitif. Selain menjadi fasilitator, guru juga berperan sebagai motivator, pembimbing dan agen moral. Hal ini terlihat pada saat kegiatan belajar mengajar. Penilaian pada mata pelajaran matematika di kelas II ICP dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) dan terus-menerus saat pembelajaran. Aspekaspek yang menjadi sasaran penilaian oleh guru adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tes akhir semester untuk mata pelajaran matematika di kelas II ICP terdapat dua macam yaitu tes dari Diknas dan tes berdasarkan kurikulum Cambridge. Fasilitas yang berada di SD Laboratorium dibagi menjadi tiga, yaitu fasilitas pembelajaran, fasilitas kelas dan fasilitas sekolah. Dalam mengembangkan silabus, SD Laboratorium mengembangkan secara mandiri ii dengan tetap berpedoman pada pedoman penyusunan silabus. Komponen yang terdapat pada silabus matematika kelas II ICP adalah komponen identitas yang meliputi mata pelajaran, kelas, semester dan alokasi waktu satu semester. Komponen yang terdapat pada kolom silabus adalah nomor pertemuan, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, alokasi waktu, kegiatan belajar mengajar dan penilaian. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai muatan/isi KTSP secara keseluruhan yang digunakan di sekolah berstandar internasional.

Sifat organoleptik sirup jahe (Zingiber officinale roscoe) dengan lama blanching yang berbeda / Shinta Ika Prastiwi

 

Kata kunci: Jahe, Sirup, Blanching Jahe (Zingiber officinale roscoe) merupakan tanaman rempah-rempah yang sangat luas dipakai, antara lain sebagai bumbu masak pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai jenis minuman. Jahe juga digunakan dalam industri obat, minyak wangi,dan jamu tradisional (bandrek, sekoteng, sirup). Sifat khas minyak atsiri dan kandungan oleoresin yang banyak terdapat pada jahe dimanfaatkan sebagai pembuatan sirup jahe yang menimbulkan rasa pedas khas jahe. Dalam penelitian ini pembuatan sirup jahe dilakukan dengan proses blanching. Tujuan diblanching yaitu untuk mengeluarkan warna alami dari jahe sehingga membuat sirup jahe menjadi lebih kuat warnanya. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang dilakukan terhadap sirup jahe dengan waktu blanching yang berbeda.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik sirup jahe yang meliputi flavour, warna,dan aroma melalui uji mutu hedonik dan uji hedonik oleh panelis. Analisis data yang digunakan adalah analisis sidik ragam dan apabila ada perbedaan maka dilanjutkan dengan Duncan´s Multiple Range Test (DMRT). Hasil uji mutu hedonik sirup jahe menunjukkan sirup jahe dengan flavour paling pedas adalah blanching 3 menit dengan skor (2,72) sirup jahe dengan aroma paling kuat dihasilkan pada blanching 3 menit dengan skor (3,22) sedangkan sirup jahe dengan blanching 9 menit menghasilkan warna kuning kecoklatan dengan skor (3,55). Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa Flavour yang paling disukai panelis (66,67 %) adalah flavour dengan blanching 3 menit yang mempunyai flavour cukup pedas.Warna yang paling disukai panelis (91,67 %) adalah warna dengan lama blanching 9 menit yang mempunyai warna kuning kecoklatan. Aroma yang disukai panelis (61,67 %) adalah aroma dengan blanching 0 menit yang mempunyai aroma agak kuat. Kesimpulan penelitian ini adalah lama waktu blanching pada pembuatan sirup jahe berpengaruh terhadap flavour, warna, dan aroma.Untuk penelitian lebih lanjut perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui daya simpan (keawetan).

Persepsi siswa tentang kualitas layanan pembelajaran di SMK Negeri 1 Purwosari / Izzuddin Raviedz Helmy

 

Kata Kunci: kualitas layanan pembelajaran Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa tentang kualitas layanan pembelajaran, yang meliputi layanan kegiatan belajar mengajar, layanan fasilitas pembelajaran, layanan perpustakaan dan lingkungan sekolah. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 93 siswa. Sampel yang diambil yaitu keseluruhan dari jumlah populasi. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik deskriptif. Pengambilan data dilakukan di SMK Negeri 1 Purwosari. Instrumen yang digunakan untuk proses pengumpulan data adalah angket (a) layanan kegiatan belajar mengajar, (b) layanan fasilitas pembelajaran, (c) layanan perpustakaan dan (d) lingkungan sekolah. Validitas instrumen melalui expert justment (content, contract, face), kemudian dilanjutkan analisis statistik uji validitas butir dan reliabilitas (r 0,747, r 0,757, r 0,750, dan r 0,793). Hasil analisis data menunjukkan bahwa siswa rata-rata mempersepsikan kualitas layanan pembelajaran baik, siswa rata-rata mempersepsikan kualitas layanan fasilitas pembelajaran baik, siswa rata-rata mempersepsikan kualitas layanan perpustakaan baik dan siswa rata-rata mempersepsikan kualitas lingkungan sekolah baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semua layanan dalam pembelajaran dipersepsikan baik. Hal ini dikarenakan metode, media dan sumber belajar serta strategi yang digunakan oleh guru mempermudah siswa dalam memahami materi yang disampaikan dan juga guru dalam memberikan penguatan perlu untuk meyakinkan siswa terhadap suatu teori dengan memberikan penghargaan secara lisan maupun tertulis. Fasilitas pembelajaran yang dimiliki lengkap dan memadai serta pengelolaan yang baik sehingga interaksi belajar mengajar akan semakin efektif dan efisien serta memperlancar jalannya proses pembelajaran. Koleksi perpustakaan yang berkualitas yang dapat dimanfaatkan siswa untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuannya serta akses layanan yang tepat yang membuat siswa dapat memilih dan meminjam bahan pustaka yang diinginkan dengan mudah. Lingkungan yang baik yang membuat siswa nyaman dan aman dalam belajar serta tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai. Selanjutnya dapat disarankan bagi: 1) Untuk mempertahankan dan menjaga fasilitas sekolah yang sudah ada untuk menunjang kelancaran proses pembelajaran serta memberikan motivasi kepada guru agar selalu menjaga kualitas layanan pembelajaran yang sudah baik, 2) guru untuk mengembangkan potensi yang telah ada dan sudah baik, 3) siswa lebih berani untuk mengeluarkan pendapat apabila kualitas layanan pembelajaran di sekolah tidak sesuai dengan harapan/kebutuhan siswa dan ikut serta menjaga kualitas layanan di sekolah dengan sebaik-baiknya, 4) Peneliti lain perlu melaksanakan penelitian selanjutnya dengan memperluas wilayah peneliti, selain itu juga memperbanyak subyek penelitian serta juga melengkapi penelitian dengan observasi dan wawancara sehingga akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan data-data yang lebih lengkap.

Analisis rasio keuangan untuk menilai kinerja pada PT. Semen Gresik (Persero) Tbk / Aldilah Hernanto

 

Kata Kunci: Rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, kinerja keuangan Dalam penulisan Tugas ahkir ini penulis memilih PT. SEMEN GRESIK sebagai tempat penelitian untuk mengetahui kinerja keuanganya. Dalam penilaian kinerja perusahaan terdapat aspek yang dapat dilihat yaitu finansial, dalam sudut pandang financial keberhasilan suatu perusahaan dalam menjalankan operasionalnya dapat dilihat dari laporan keuangan yang disusun pada setiap ahkir periode, dengan tujuan dapat mengetahui seberapa besar tingkat kinerja keuangan perusahaan jika dilihat dari rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan pertumbuhan perusahaan baik untuk jangka panjang maupun untuk jangka pendek. Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibanya, solvabilitas diukur dengan membuat perbandingan seluruh kewajiban terhadap seluruh aktiva dan perbandingan seluruh kewajiban terhadap ekuitas. Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya yang diukur dengan menggunakan perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar. PT. SEMEN GRESIK jika dilihat dari rasio-rasio likuiditas dari tahun 2005-2007 mengalami kenaikan, dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financialnya masih dikatakan baik. Jika dilihat dari rasio-rasio solvabilitas dari tahun 2005-2007 mengalami penurunan, dapat disimpulkan bahwa tingkat solvabilitas perusahaan dikatakan baik. Jika dilihat dari rasio-rasio profitabilitas dari tahun 2005-2007 mengalami peningkatan dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas dari perusahaan dapat dikatakan baik karena menghasilkan laba. Disarankan bahwa untuk menjamin tingkat likuiditas perusahaan agar tetap baik, dan manajemen diharapkan mampu meningkatkan jumlah aktiva lancar berupa kas. Untuk menjamin tingkat solvabilitas perusahaan agar tetap baik, manajemen diharapkan dalam kegiatan pendanaan produksi perusahaan melakukan pembiayaan dengan kas dari pada memilih melakukan hutang. Untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, manajemen perlu melakukan langkah-langkah seperti: meningkatkan jumlah penjualan, melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan

Dinamika kelompok chums tomat, chums wartelity dan clique J-force pada siswa Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) di SMAN 4 Malang / Ayu Puspita Sari

 

Kata Kunci : Dinamika Kelompok, RSBI Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan kehadiran dan bantuan orang lain dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesamanya. Melalui hubungan dengan sesama dan interaksi tersebut dapat terbentuk suatu kelompok sosial dalam masyarakat. Kelompok merupakan hal penting dalam kehidupan remaja. Dengan kelompok, remaja dapat mengekspresikan dirinya. Penelitian ini bertujuan untuk : (I). Untuk mengetahui bentuk kelompok sosial siswa RSBI di SMAN 4 Malang. (II) Untuk mengetahui latar belakang terbentuknya kelompok sosial siswa RSBi di SMAN 4 Malang. (III) Untuk mengetahui proses terebentuknya kelompok sosial siswa RSBI di SMAN 4 Malang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dalam pelaksanaannya. Pada hakikatnya, penelitian fenomenologi adalah upaya untuk menjawab pertanyaan : Bagaimanakah struktur dan hakikat pengalaman terhadap suatu gejala bagi sekelompok manusia? Penelitian dilakukan di SMAN 4 Malang, Jl. Tugu Utara no 1, Malang. Waktu penelitian 22 Maret-28 April 2010. Subjek penelitian sejumlah 9 orang siswa kelas X RSBI yang merupakan anggota dari chums Tomat, chums Wartelity dan clique J-Force. Temuan penelitian yang didapat adalah, bentuk kelompok sosial siswa RSBI yang menonjol tidak berbeda jauh dengan kelompok sosial kelas reguler. Kelompok yang tampak adalah chump, kelompok terorganisir, club dan clique. Namun, dari kesemuanya, yang paling menonjol adalah geng dan club. Pada siswa RSBI terdapat 2 chuns, yaitu Tomat dan Wartelity. Terdapat 1 clique yang menonjol, yaitu J-Force. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian yang telah dilakukan adalah, masih adanya sedikit kesenjangan antara anggota kelompok sosial siswa RSBI dan antar kelompok sosial siswa RSBI. Labeling yang dilakukan telah membentuk kelompok-kelompok siswa dan menimbulkan dinamika kelompok yang berbeda-beda. Hendaknya pihak sekolah juga memperhatikan hal tersebut, tidak hanya perkembangan akademis, tetapi juga perkembangan sosial dari warga sekolahnya.

Latihan dalam buku teks bahasa dan sastra Indonesia untuk SMP dan MTs kelas VII terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional 2008 / Mukhlison Lahudin

 

Kata kunci: deskripsi, latihan, buku teks . Salah satu komponen isi buku teks adalah latihan-latihan yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Latihan tersebut ditujukan untuk memperoleh informasi tentang ketercapaian tujuan pembelajaran, yaitu untuk mengetahui tingkat kemampuan pembelajar terhadap materi yang telah dipelajari. Penelitian ini tergolong jenis penelitian kualitatif yang secara spesifik memiliki karakteristik sebagai penelitian deskriptif evaluatif. Dikatakan deskriptif evaluatif karena penelitian ini memberikan evaluasi terhadap objek yang dideskripsikan. Data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa latihan-latihan yang bersumber dari buku Teks Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP dan MTs Kelas VII Terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional 2008. Peneliti sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen kreatif yang berperan serta untuk menentukan perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan data, penganalisisan data, dan akhirnya menjadi pelapor data. Dalam pengumpulan data tersebut, peneliti dibantu oleh perangkat alat bantu berupa tabel pemandu yang telah ditentukan sebelumnya. Hasil analisis menunjukan bahwa dalam buku teks ini memiliki (1) lebih banyak menekankan pada bentuk soal subjektif, bila dibandingkan dengan bentuk objektif. (2) Isi latihan sesuai atau relevan dengan tema unit dan berfungsi sebagai pemantapan materi, (3) Latihan-latihan yang tersaji 80% sudah memenuhi kriteria kevalidan, reliabilitas dan praktibilitas, hanya sebagian saja yang belum memenuhi standar kulifikasi di atas. (4) Penyebaran latihan dalam BTBI ini mengikuti kebutuhan dalam unitnya, unit yang memiliki uji kompetensi paling banyak adalah unit I dan VI sebanyak 6 latihan, dan paling sedikit adalah unit II, IV, dan IX sebanyak 3 latihan. Berdasarkan kesimpulan yang telah diperoleh tentang deskripsi latihan dalam buku teks Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP dan MTs Kelas VII Terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008, dapat disarankan 1) untuk para guru dan pengguna buku agar dapat menggunakan latihan yang lebih bervariasi tidak terbatas pada latihan dalam buku ini, 2) saran untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan penelitian yang serupa. Dari penelitan yang serupa diharapkan dapat mengungkap lebih dalam tentang buku teks yang beredar, meskipun sedah lulus dari BSN, Hal ini bertujuan untuk perbandingan dan pendalaman.3) Bagi penulis buku teks diharapkan untuk mengintegrasikan beberapa latihan tambahan dan metode dalam latihan yang lebih bervariatif.

Wacana Tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa Provinsi Gorontalo / Fatimah AR. Umar

 

Kata Kunci: wacana tujaqi, prosesi adat perkawinan, masyarakat Suwawa. Penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa provinsi Gorontalo sekarang ini sudah meluas dan merakyat. Akan tetapi apa, bagaimana, dan untuk apa belum dipahami secara mendalam oleh sebahagian pemiliknya. Wacana tujaqi merupakan salah satu wacana budaya masyarakat Suwawa provinsi Gorontalo yang merepresentasikan ideologi budaya, baik melalui untaian kata-katanya, tata cara penuturannya, personil aktornya, tugas dan posisi aktornya, tindakan aktornya, serta simbol adat yang menyertainya, baik pada tahap motolobalango,tahap momanato, maupun tahap moponikah. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hakikat wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa, yang meliputi (1) skema, (2) aktor, (3) latar, dan (4) tema. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian adalah kata-kata tujaqi dan tindakan para aktor serta simbol adat yang menyertainya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan perekaman, pengamatan berperan serta, studi dokumen, dan wawancara. Instrumen utama adalah peneliti sendiri dan pedoman pengumpulan data. Untuk menjaga kesahihan data dilakukan triangulasi terhadap sumber data dan metode pengumpulan data. Analisis data menggunakan teknik analisis wacana kritis dengan menggunakan model interaktif yang di dalamnya terdapat kegiatan reduksi, penjajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan, pertama skema penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa menggunakan alur maju bertahap dari awal, tengah, dan akhir, baik pada tahap motolobalango, momanato, maupun moponikah. Skema tahap motolobalango bagian awal adalah (i) menyapa audiens, (ii) menghormati pemimpin, (iii) memaklumkan, (iv) memohon maaf, (v) memohon izin, (vi) mengagungkan asma Allah SWT, (vii) menunjung tinggi nabi Muhammad SAW, (viii) mengecek kehadiran audeisn, (ix) memperjelas identitas utoliya wolato, dan (x.) menyerahkan dan menerima simbol adat. Skema tahap motolobalango bagian tengah adalah (i) mencari informasi tentang calon mempelai perempuan , (ii) melamar calon mempelai perempuan, (iii) menyerahkan dan menerima simbol adat pelamaran. Skema tahap motolobalango bagian akhir adalah (i) memperjelas pembicaraan awal, (ii) berjabatan tangan. Skema tahap momanato bagian awal adalah (i) mempersiapkan hantaran harta, (ii) membawa hantaran harta, (iii) membawa masuk hantaran harta ke rumah mempelai perempuan, (iv) menghidangkan hantaran harta, dan (v) membuka dan memperlihatkan hantaran harta kepada audiens. Skema tahap momanato bagian tengah adalah (i) memohon menyerahkan hantaran harta, dan (ii) menyerahkan dan menerima hantaran harta. Skema tahap momanato bagian akhir adalah (i) berjabatan tangan, dan (ii) menyerahkan mahar dan tapagola kepada mempelai perempuan di kamar wadaka (adat). Skema tahap moponikah bagian awal adalah (i) memaklumkan dan memohon izin, (ii) menuntun mempelai laki-laki turun dari kenderaan adat , (iii) menuntun mempelai melangkah ke gapura rumah mempelai perempuan, (iv) menuntun mempelai laki-laki memasuki halaman rumah mempelai perempuan, (v) menuntun mempelai laki-laki menaiki tangga adat rumah mempelai peremuan , (vi) menuntun mempelai laki-laki memasuki rumah mempelai perempuan, dan (vi) menuntun mempelai laki-laki duduk di kursi kerajaan. Skema tahap moponikah bagian tengah adalah (i) memaklumkan dan memohon izin, (ii) membaeat, (iii) menikahkan, dan (iv) membatalkan air wudlu. Skema tahap moponikah bagian akhir adalah berdoa. Kedua, aktor yang terlibat dalam penuturan wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan adalah (i) aktor abstrak, (ii) aktor sebagai narator, (iii) aktor terlibat, (iv) aktor sasaran utama, dan (v) aktor sebagai kreator. Aktor (i) berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, sedangkan aktor (ii – v) di sisi lain berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, tetapi di sisi lain mereka juga berada pada posisi yang didominasi dan dihegemoni. Tindakan para aktor adalah (i) tindakan sesuai aturan, (ii) tindakan taktik, (iii) tindakan move, dan (iv) tindakan heuristik. Ketiga, latar penuturan wacana tujaqi adalah (i) latar terpola, dan (ii) latar spontanitas. Latar terpola meliputi (a) latar agama, dan (b) latar budaya dan adat istiadat, (ii) latar spontanitas, meliputi (a) latar waktu, (b) latar situasi, dan (c) pengalaman nyata. Keempat, tema khusus pada tahap motolobalango adalah (1) ketauhidan, (ii) kepemimpinan, (iii) kesusahan, (iv) kesungguhan dan keberanian, (v) ketawudluaan, (vi) kesatuan dan persatuan, (vii) kehadiran, (viii) kedemokratisan, (ix) kesepakatan awal, (x.) kearifan dan kebijaksanaan, (xi) ketangguhan, (xii) kegelisahan, (xiii) perencanaan awal, (xiv) kejujuran, (xv) kecekatan dan ketelitian, (xvi) keyakinan, (xvii) kewaspadaan, (xviii) kepercayaan diri, (xix) kehormatan diri, (xx) keikhlasan, (xxi) keraguan, (xxii) kesaksian, (xxii) kedisiplinan.Tema umumnya adalah perjuangan. Tema khusus tahap momanato adalah (i) penjagaan dan pengamalan adat istiadat, (ii) pemenuhan hak dan kewajiban, (iii) kesabaran, (iv) keadilan, dan (v) kepedulian. Tema umumnya adalah pengorbanan. Tema khusus tahap moponikah adalah (i) kepemimpinan, (ii) ketauhidan, (iii) keterbatasan, (iv) ketaatan, ((v) pedoman dan pegangan, (vi) peradaban, (vii) pembaeatan, (viii) pengakuan, dan (ix) pengukuhan.Tema umumnya adalah pengakuan dan pengukuhan. Berdasarkan temuan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa wacana tujaqi pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa pada hakikatnya bukan sekedar hiburan dan pemecah kesunyian. Akan tetapi di dalamnya terdapat berbagai ideologi budaya yang dapat dijadikan pedoman dan pandangan hidup dalam berbagai sendi kehidupan bukan saja oleh kedua mempelai tetapi juga oleh seluruh audiens yang terlibat di dalamnya. Untuk itu perlu ditemukan, digali, dipelihara dan dilestrikan secara terus menerus oleh semua pihak yang terkait di dalamnya.

Peningkatan kemampuan menulis pantun sesuai dengan syarat-syarat pantun siswa kelas VII Mts Al Hidayah Karangploso Malang dengan menggunakan media daftar kosakata / Erna Fitriyah

 

Kata kunci: pantun, daftar kosakata Mata pelajaran Bahasa Indonesia dilaksanakan melalui pengembangan empat ketrampilan berbahasa, yakni mendengarkan, menulis, membaca, dan berbicara. Menulis pantun merupakan salah satu kompetensi berbahasa dan bersastra kurikulum 2006 SMP/MTS mata pelajaran bahasa dan sastra indonesia. Pembelajaran menulis pantun menekankan pada kemampuan siswa dalam menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat tertentu pantun yang perlu dikuasai oleh siswa. Proses pembelajaran yang menarik dan menyenagkan siswa dapat menghasilkan siswa yang kompeten dalam menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat pantun yaitu terdiri atas empat larik atau baris pada tiap bait, bersajak silang atau a-b-a-b, dua baris pertama merupakan sampiran, dua baris terakhir merupakan isi, dan banyaknya suku kata tiap larik atau baris antara delapan sampai du belas suku kata sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai pada kurikulum 2006. Untuk mencapai tujuan tersebut guru harus memiliki media yang tepat dalam pembelajaran menulis pantun. Media tersebut digunakan untuk membantu siswa dalam menulis pantun yang sesuai dengan syarat-syarat pantun. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, (1) bagaimana proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun siswa kelas VII MTs Al Hidayah Karangploso-Malang dengan menggunakan media daftar kosakata, pada tahap pramenulis?, (2) bagaimana proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun siswa kelas VII MTs Al Hidayah Karangploso-Malang dengan menggunakan media daftar kosakata, pada tahap menulis?, dan (3) bagaimana proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis pantun yang sesuai dengan syarat pantun siswa kelas VII MTs Al Hidayah Karangploso-Malang dengan menggunakan media daftar kosakata, pada tahap pascamenulis? Penelitian ini dilakukan di MTs Al Hidayah Karangploso-Malang, difokuskan pada siswa kelas VII sebagai subjek penelitian. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang digunakan berupa data verbal, data perilaku siswa dalam pembelajaran menulis, data numerik yang berupa skor hasil pada tahap pramenulis, menulis, dan pasca menulis, dan data nonverbal yang berupa dokumentasi foto siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, yakni lembar observasi dan angket. Penelitian ini dilakukan hingga dua siklus untuk mencapai tujuan penelitian, yaitu peningkatan kemampuan menulis pantun dengan menggunakan media daftar kosakata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media daftar kosakata dapat meningkatkan kemampuan menulis pantun. Pada siklus I tahap pramenulis dari 24 siswa yang mendapat tindakan 18 siswa dikatakan berhasil mencapai nilai rata- ii rata kelas di atas SKM (>70), dengan rincian 9 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-90, 7 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 89-80 dan 1 siswa mencapai kriteria cukup dengan rentangan nilai 79-71. Dalam tahap pramenulis masih terdapat 6 siswa yang mendapat nilai rata-rata kelas di bawah SKM (<70), dengan rincian 2 siswa mencapai kriteria kurang, serta 4 siswa mencapai kriteris sangat kurang dengan nilai terendah 40. Pada tahap menulis didapatkan hasil dari 24 siswa yang mendapat tindakan hanya 17 siswa yang mendapat nilai rata-rata kelas di atas SKM (>70), dengan rincian 10 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-90, 6 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 89-80 dan 1 siswa mencapai kriteria cukup dengan rentangan nilai 79-71. Dalam tahap ini ditemukan 7 siswa yang mencapai nilai rata-rata kelas di bawah SKM (<70), dengan rincian 4 siswa mencapai kriteria kurang dengan rentang nilai 70-60 dan 3 siswa yang mencapai kriteria sangat kurang dengan nilai terendah 54 Siklus II pada tahap pramenulis didapatkan hasil 20 siswa mencapai kriteria sangat baik dengan rentangan nilai 100-90, dan 4 siswa mencapai kriteria baik dengan rentangan nilai 89-80. Pada tahap menulis tidak ditemui siswa yang mencapai kriteria cukup, kurang dan sangat kurang. Seluruh siswa memperoleh nilai rata-rata kelas di atas SKM (>70), dengan rincian 20 siswa mencapai kriteria sangat baik, dan4 siswa mencapai kriteria baik. Pada siklus II didapatkan hasil semua siswa mengalami peningkatan nilai rata-rata kelas di atas SKM (>70). Berdasarkan data-data yang sudah dicapai pada siklus I dan siklus II, siswa sudah mampu menulis pantun secara utuh dan tepat sesuai dengan syarat pantun dengan menggunakan media daftar kosakata. Media daftar kosakata dapat menjadi inspirasi bagi siswa, dengan bukti siswa mampu menulis pantun dengan utuh dan tepat sesuai dengan syarat pantun. Tema yang sudah dipilih dan syarat-syarat pantun yang telah ditentukan membantu siswa untuk menuangkan gagasanya menjadi pantun yang utuh dan tepat sesuai dengan syarat pantun. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan untuk kepala sekolah dan guru agar menggunakan media daftar kosakata sebagai salah satu media pembelajaran menulis pantun atau puisi, sebab daftar kosakata merupakan sebuah daftar yang berisi sejumlah nama benda yang sering ditemui dalam kehidupan siswa sekaligus dapat memperluas kosakata siswa dan mudah dipahami serta dapt membantu siswadalam mengatur pola sajak pantun yang harus a b a b.

Diksi dan gaya bahasa dalam syair lagu campusari karya cak Dikin / Fridian Bawin Riyanto

 

KataKunci:diksi,gayabahasa,syairlagu Diksi adalah pilihan katayangtepatdansesuaiuntukmenyampaikangagasandanperasaankepadaoranglain.Pilihankatayangtepatakanmemudahkanpemahamankelancarandalamberkomunikasi.Gayabahasaadalahcaramengungkapkanpikiranatauperasaanmelaluibahasasecarakhasyangmemperlihatkanjiwadankepribadianpenulis(pemakaibahasa).Laguataunyanyianadalahpuisiyangdidendangkan.Dalamlaguterdapatpaparanbahasayangdigunakanpenggubah(penciptalagu)untukmengungkapkanpikiran,perasaan,dankeinginannya.Syairdalamlagudigunakanolehseorangpenggubahlaguuntukmenimbulkanefekkeindahantertentu.Syairadalahsalahsatucabangkaryasastrayangmenggunakankata-katasebagaimediapenyampaianuntukmembuahkanilusidanimajinasi.Laguyangdijadikanobjekpenelitianadalah10lagucampursarikaryaCakDikin. Masalahyangdikajidalampenelitianiniadalah(1)pilihankatakonkretdanpilihankataabstrak,(2)maknadenotasidanmaknakonotasi,dan(3)gayabahasa.Penelitianinimemilikitujuankhususdantujuanumum.TujuankhususpenelitianiniadalahuntukmemperolehdeskripsitentangdiksidangayabahasadalamsyairlagucampursarikaryaCakDikin.Tujuanumumpenelitianinidiantaranya(1)untukmendeskripsikanpilihankatakonkretdankataabstrakdalamsyairlagucampursarikaryaCakDikin,(2)untukmendeskripsikanmaknadenotasidanmaknakonotasidalamsyairlagucampursarikaryaCakDikin,dan(3)untukmendeskripsikangayabahasadalamsyairlagucampursarikaryaCakDikin. Penelitianinimenggunakanmetodepenelitiankualitatif.DatadiperolehdarimembacaseluruhisilagucampursarikaryaCakDikin,kemudianmengidentifikasidenganmencatat10liriklagu.Penyeleksiandatadankodifikasidatadenganmenggunakantabelklasifikasidiksidangayabahasa.Sumberdatapenelitianiniadalah10judullagucampursarikaryaCakDikinyangtelahdisalinkedalambentukteks,diantaranyaGuluPedhot,SitiBadriah,TragediTaliKutang,DukunAsmara,Mr.Mendem,SidoRondho,SusuMurni,PenakMlumah,Manten-mantenan,danGimunMendeman.Pemilihan10lagutersebutdikarenakanlagu-lagutersebutsudahbanyakdikenalolehkalanganmasyarakatterutamapecintacampursari.Datadalampenelitianiniberupakata-katayangterdapatdalamsyairlagucampursarikaryaCakDikin.Instrumenpenelitianiniadalahpenelitisendirikarenadatayangdiperolehberwujudtekstualatautulisan. Setelahdatadiperoleh,dilakukanprosesinterpretasidatayangtelahditemukan.Setelahtahapinterpretasiselesai,dilakukanpenyusunanlaporanpenelitian.Penelitisebagaiinstrumenutamamemanfaatkanalatpemanduberupatabelspesifikasidankodifikasidiksidangayabahasauntukmenjaringdata.Langkah-langkahpengumpulandatadalampenelitianinidiantaranya(1)penemuandatapenelitian,padatahapinidilakukandenganmembacaseluruhisilagucampursari karyaCakDikin,(2)pencatatan,padatahapinidilakukanidentifikasidenganmencatat10lagucampursarikaryaCakDikin,dan(3)penyeleksiandatayangdilakukandenganmembacasecaratelitiuntukmengidentifikasidatayangsesuaidenganrumusanmasalahdantujuanyanginginicapaidalampenelitianini.Analisisdatadalampenelitianinidilakukandengantigalangkah,yaitu(1)identifikasiterhadapunsur-unsurdiksidangayabahasadalamsyairlagucampursari,(2)kodifikasidataunsur-unsurdiksidangayabahasadalamsyairlagucampursari,dan ( 3)penafsirandataunsur-unsurdiksidangayabahasadalamsyairlagucampursari.Pengecekankeabsahandatabertujuanagardatayangdiperolehdapatterjaminke validannya.Langkah-langkahnyaadalah(1)perpanjangankeikutsertaanpenelitiyangbertujuanuntukmeningkatkanderajatkepercayaandatayangdikumpulkan,(2)ketekunanpengamatan,dan(3)pemeriksaandengantemansejawatmelaluidiskusi.Prosedurpenelitianinidilakukanmelaluitigatahap,yaitutahappersiapan,tahappelaksanaan,dantahappenyelesaian.Hasilpenelitianiniyaitu(1)penggunaanpilihankatakonkretdanabstrak,(2)penggunaanmaknadenotasidanmaknakonotasi,dan(3) penggunaangayabahasadalamsyairlagucampursarikaryaCakDikin.HasildaripenelitianinidiharapkandapatmemberikansumbanganbagipembacadanpenelitilanjutantentangsyairlagukhususnyalaguberbahasaJaw.

Persepsi, sikap, dan harapan siswa terhadap ujian nasional di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri sekota malang tahun 2009/2010 / Fitria Ratna Adi Putri

 

ABSRAK Putri, Fitria Ratna Adi. 2010. Persepsi, Sikap, dan Harapan Siswa Terhadap Ujian Nasional di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Se-Kota Malang Tahun 2009/2010. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. M. Huda A.Y, M.Pd, (II) Dr. H. Ali Imron, M.Pd, M.Si. Kata Kunci: persepsi, sikap, harapan, ujian nasional Persepsi adalah suatu proses dimana seorang individu memberi arti terhadap suatu fenomena yang terjadi berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan kesan yang ditangkap oleh indera sehingga hal itu memberikan makna bagi lingkungan mereka. Terkait dengan adanya persepsi, hal itu dapat menumbuhkan sikap. Sikap adalah kesiapan bereaksi karena adanya stimulus atau rangsangan yang menghendaki adanya respon dari individu tersebut. Dengan adanya persepsi dan sikap maka muncul harapan, keinginan agar sesuatu terjadi. Fenomena yang memunculkan persepsi, sikap, dan harapan dalam konteks ini adalah ujian nasional di tanah air. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi siswa terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010, (2) sikap siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010, (3) harapan siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010, (4) perbedaan antara persepsi, sikap, dan harapan siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian kausal komperatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Se-Kota Malang dengan sampel sebanyak 300 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Random Sampling. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dan teknik analisis Kai Kuadrat (Chi Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010 (17,7%) sangat setuju, (67,7%) setuju, dan (14,6%) tidak setuju, (2) sikap siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010 (11,3%) sangat setuju, (76,7%) setuju, dan (12%) tidak setuju, (3) harapan siswa terhadap pelaksanaan Ujian Nasional di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010 sebagian besar (71,7%) baik (sesuai harapan), (0%) sangat baik dan (28,3%) tidak baik (tidak sesuai harapan), (4) terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi, sikap, dan harapan siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti memberikan saran kepada: (1) guru SMK Negeri Se-Kota Malang, hendaknya mempertahankan ii persepsi positif siswa, sehingga siswa dapat memperoleh prestasi yang tinggi terhadap pelaksanaan ujian nasional, sedangkan guru hendaknya mempertahankan sikap positif siswa terhadap pelaksanaan UN, dan guru hendaknya mempertahankan harapan positif siswa terhadap UN, (2) siswa SMK Negeri Se-Kota Malang, siswa hendaknya mempertahankan persepsi, sikap, dan harapan positif sehingga dapat meraih prestasi tinggi terhadap pelaksanaan ujian nasional, (3) dosen jurusan Administrasi pendidikan, penelitian ini di harapkan menjadikan tambahan kajian pustakan dan wawasan tentang persepsi, sikap, dan harapan terhadap ujian nasional, (4) peneliti lain, hendaknya meneliti variabel-variabel lain dan memperluas lokasi penelitian serta memperbanyak subjek yang diteliti, sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang, bermanfaat dan berkualitas.

Keefektifan bibliokonseling untuk meningkatkan sikap altruisme pada siswa SMP Negeri 7 Probolinggo / Arien Tithasari

 

Abstract : Effectiveness bibliocunseling to increasing altruism behaviour of Junior High School 7 Probolinggo. The purpose of this study is to tested the effectiveness of bibliocounseling in increasing altruism behavior of Junior High School students. This study is an experiment study with pretest posttest one group design. The subject of this study consist of six junior high students with altruism criteria low. Treatment given by using bibliocounseling that consist of short stories six times in a meeting that started with founding good connection/rapport. While for five time meetings treatment given and then continued with discussion and reflection also in this meetings a homework is given for evaluation purpose. Research instruments to obtain data in this study is using altruism scale of junior high students before and after treatment. Analysis of data is using nonparametric statistics wilcoxon test. The conclusion is bibliocounseling technique effective for increasing altruism behavior of Junior High School students. Key word: attitude of altruism, bibliocounseling and Junior High School Student

Peningkatan prestasi belajar IPA tentang sifat-sifat cahaya melalui metode eksperimen di kelas V SDN Tulusrejo I Lowokwaru malang / Sukilah

 

Keyword : Improving Learning Achievement, Natural Scienc, Experimental Method. Education is an effort to raise the dignity of a systematic learning process that one of them is learning science as a compulsory education program in schools. In learning science teacher should place students as individuals who should be appreciated that the students' understanding of science concepts more clearly and can improve learning outcomes. The experimental method is a learning method in accordance with the principles of science learning.. The purpose of this study is the first, wanted to know the nature of science learning achievement - the nature of light. Second, wanted to know the experimental method can improve the academic achievement of science properties - properties of light. The study uses a classroom action research (CAR) with the descriptive approach. data collection technique used observation and testing methods. Informants in this study is the fifth-grade teachers and students of SDN Tulusrejo Lowokwaru First District, Malang. Assessment of Reference Data analysis using the benchmark (PAP), which is the minimum percentage. The results of this study is the first, V-class student achievement SDN Tulusrejo I rise. Lessons are held the second using the experimental method on the properties of light can improve student achievement kelasw V SDN Tulusrejo I Malang.

Pembelajaran berbasis inkuiri sains dengan pola pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP) untuk meningkatkan life skills dan prestasi belajar IPA siswa kelas VII C SMPN 7 malang / Diana Sitasari

 

Kata Kunci: persepsi, sikap, harapan, ujian nasional Persepsi adalah suatu proses dimana seorang individu memberi arti terhadap suatu fenomena yang terjadi berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan kesan yang ditangkap oleh indera sehingga hal itu memberikan makna bagi lingkungan mereka. Terkait dengan adanya persepsi, hal itu dapat menumbuhkan sikap. Sikap adalah kesiapan bereaksi karena adanya stimulus atau rangsangan yang menghendaki adanya respon dari individu tersebut. Dengan adanya persepsi dan sikap maka muncul harapan, keinginan agar sesuatu terjadi. Fenomena yang memunculkan persepsi, sikap, dan harapan dalam konteks ini adalah ujian nasional di tanah air. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi siswa terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010, (2) sikap siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010, (3) harapan siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010, (4) perbedaan antara persepsi, sikap, dan harapan siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian kausal komperatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Se-Kota Malang dengan sampel sebanyak 300 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Random Sampling. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif dan teknik analisis Kai Kuadrat (Chi Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) persepsi siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010 (17,7%) sangat setuju, (67,7%) setuju, dan (14,6%) tidak setuju, (2) sikap siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010 (11,3%) sangat setuju, (76,7%) setuju, dan (12%) tidak setuju, (3) harapan siswa terhadap pelaksanaan Ujian Nasional di SMK Negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010 sebagian besar (71,7%) baik (sesuai harapan), (0%) sangat baik dan (28,3%) tidak baik (tidak sesuai harapan), (4) terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi, sikap, dan harapan siswa terhadap pelaksanaan UN di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) negeri se-Kota Malang tahun 2009/2010. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti memberikan saran kepada: (1) guru SMK Negeri Se-Kota Malang, hendaknya mempertahankan ii persepsi positif siswa, sehingga siswa dapat memperoleh prestasi yang tinggi terhadap pelaksanaan ujian nasional, sedangkan guru hendaknya mempertahankan sikap positif siswa terhadap pelaksanaan UN, dan guru hendaknya mempertahankan harapan positif siswa terhadap UN, (2) siswa SMK Negeri Se-Kota Malang, siswa hendaknya mempertahankan persepsi, sikap, dan harapan positif sehingga dapat meraih prestasi tinggi terhadap pelaksanaan ujian nasional, (3) dosen jurusan Administrasi pendidikan, penelitian ini di harapkan menjadikan tambahan kajian pustakan dan wawasan tentang persepsi, sikap, dan harapan terhadap ujian nasional, (4) peneliti lain, hendaknya meneliti variabel-variabel lain dan memperluas lokasi penelitian serta memperbanyak subjek yang diteliti, sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang, bermanfaat dan berkualitas.

Pengaruh penggunaan peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif STAD terhadap prestasi dan motivasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri 1 Kedungwaru pada materi minyak bumi / Adhimas Wahyu Agung Wijaya

 

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif STAD, peta konsep, prestasi belajar kimia, motivasi belajar kimia, minyak bumi. Peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan dengan penggunaan variasi dan inovasi model pembelajaran sehingga terjadi pembelajaran yang efektif. Salah satu alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD-Peta Konsep. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif STAD terhadap prestasi belajar dan motivasi belajar siswa SMA Negeri 1 Kedungwaru pada materi pokok minyak bumi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu (quasy experimental design) dan deskriptif kuantitatif. Kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD-Peta Konsep dan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas X SMA Negeri 1 Kedungwaru tahun pelajaran 2009/2010. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik pertimbangan sehingga diperoleh dua kelas sampel yaitu kelas X-C (kelas eksperimen) dan kelas X-B (kelas kontrol). Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen pembelajaran (silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), bahan ajar, lembar kerja siswa (LKS), dan kuis) dan instrumen pengukuran (lembar observasi, tes, dan angket motivasi). Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis statistik kuantitatif. Instrumen pengukuran hasil belajar mempunyai tingkat realibilitas 0,881. Hasil penelitian menunjukan penggunaan peta konsep dalam model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata kelas eksperimen 86,41 lebih baik dibanding nilai ratarata kelas kontrol yaitu 77,05. Selain itu diperoleh nilai thitung (4,563) dan nilai ttabel (1,685) atau thitung > ttabel. Penggunaan model pembelajaran kooperatif STADPeta Konsep dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat diketahui dari kriteria motivasi belajar siswa kelas eksperimen yang sangat termotivasi dan termotivasi berturut-turut adalah 53,85% dan 46,15% lebih baik daripada kelas kontrol berturut-turut adalah 33,33% dan 66,67%. Selain itu diperoleh nilai thitung (2.842) dan nilai ttabel (1,685) atau thitung > ttabel.

Upaya meningkatkan prestasi belajar IPA dengan metode "penemuan terbimbing" pada siswa kelas VI SDN Ardimulyo I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Sugiarti

 

Kata Kunci : prestasi belajar IPA, metode penemuan terbimbing Hasil penelitian kegiatan kerja ilmiah dalam sains menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI SDN Ardimulyo I yang ditandai dengan peningkatan prestasi belajar siswa setiap putaran. Serta dengan menggunakan metode pembelajaran penemuan terbimbing terjadi peningkatan pola berpikir kritis dan kreatif pada kelas yang berdampak positif terhadap hasil belajar yang dicapai lebih baik daripada tanpa diberi metode pembelajaran serupa. Penelitian ini berdasarkan permasalahan : (a) Bagaimanakah keaktifan siswa dalam pembelajaran IPA melalui metode penemuan terbimbing di kelas VI SDN Ardimulyo I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang ? (b) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya metode pembelajaran penemuan terbimbing pada siswa kelas VI SDN Ardimulyo I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang ? Tujuan dari penelitian ini adalah : (a) Mengetahui keaktifan siswa dalam proses belajar setelah diterapkannya metode pembelajaran penemuan terbimbing pada siswa kelas VI SDN Ardimulyo I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. (b) Mengetahui peningkatan prestasi siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran penemuan terbimbing pada siswa kelas VI SDN Ardimulyo I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu : rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas VI SDN Ardimulyo I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I dan siklus II yaitu, siklus I (78,57 %), siklus II (89,28 %). Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran penemuan terbimbing dapat meningkatkan keaktifan belajar dan peningkatan prestasi siswa kelas VI SDN Ardimulyo I Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, serta metode pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran IPA.

Perbedaan tingkat penyesuaian sosial antara siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga orangtua tunggal di SMK Negeri 2 Malang / Indah Novita

 

Kata Kunci: penyesuaian sosial, keluarga utuh, orangtua tunggal Penyesuaian sosial adalah kemampuan seseorang untuk berinteraksi secara tepat dan efektif serta menyeluruh terhadap relitas sosial dan orang lain yang mencakup enam aspek: penampilan nyata, penyesuaian terhadap diri sendiri, penyesuaian terhadap orang lain, penyesuaian terhadap kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi. Penyesuaian sosial merupakan salah satu hal yang penting untuk dimiliki individu sebagai syarat hidup bermasyarakat. Hubungan orangtua dan anak yang penuh kasih sayang adalah faktor yang mempengaruhi tercapainya penyesuaian sosial yang baik. SMK Negeri 2 merupakan sekolah yang memiliki fenomena yang melatarbelakangi penelitian, dimana di sekolah tersebut memiliki jumlah siswa yang besar dengan latar belakang keluarga yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat penyesuaian sosial siswa dari keluarga utuh di SMK Negeri 2 Malang, (2) tingkat penyesuaian sosial siswa dari keluarga orangtua tunggal di SMK Negeri 2 Malang, serta (3) perbedaan tingkat penyesuaian sosial antara siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga orangtua tunggal di SMK negeri 2 Malang. Penelitian ini dilakukan dengan desain deskriptif dan komparatif pada populasi siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang tahun ajaran 2009/2010. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan angket dan dianalisis dengan teknik persentase dan uji-t. Hasil penelitian siswa dari keluarga utuh yang memiliki tingkat penyesuaian sosialnya tinggi sebesar 73,4%, tingkat penyesuaian sosial sangat tinggi sebesar 13,3%, tingkat penyesuaian sosialnya sedang sebesar 13,3%. Siswa dari keluarga orangtua tunggal yang memiliki tingkat penyesuaian sosial tinggi sebesar 66,1%, tingkat penyesuaian sosial sedang sebesar 19,6%, tingkat penyesuaian sosialnya sangat tinggi sebesar 14,3%. Hasil analisis komparatif menunjukkan adanya perbedaan tingkat penyesuaian sosial antara siswa dari keluarga utuh dengan siswa dari keluarga orangtua tunggal (t = 1,175 dan p = 0,010 < 0,05).Tingkat penyesuaian sosial siswa dari keluarga utuh lebih tinggi daripada siswa dari keluarga orangtua tunggal (mean jawaban siswa keluarga utuh = 188,5667; mean jawaban siswa keluarga orangtua tunggal = 184,7857; selisih mean = 3,78095). Disarankan bagi konselor hendaknya tetap memelihara dan mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial yang telah ada pada siswa melalui pengembangan layanan informasi bidang pribadi-sosial siswa, dan juga peningkatan layanan konseling kelompok yang memungkinkan untuk membantu siswa memecahkan permasalahan yang dialaminya melalui interaksi kelompok. Selain itu konselor juga perlu memberikan layanan penempatan dalam kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai bakat dan minat siswa melalui kerja sama dengan ii guru di sekolah sehingga, dengan demikian diharapkan dapat lebih menunjang kemampuan penyesuaian sosial siswa. Sejalan dengan upaya konselor, guru hendaknya dapat mengkondisikan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah untuk menunjang tetap terpeliharanya kemampuan penyesuaian sosial yang telah ada pada siswa, salah satunya dengan meningkatkan kegiatan diskusi kelompok, misalnya dalam ekstrakurikuler kerohanian. Melalui kegiatan ini diharapkan siswa akan terlibat dalam interaksi kelompok sehingga kemampuan penyesuaian sosial yang telah ada dapat lebih berkembang. Bagi peneliti lain yang tertarik dengan penelitian ini diharapkan dapat membantu mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial siswa, misalnya dengan menggunakan teknik sosiodrama.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |