Pengembangan media CD pembelajaran sejarah materi peristiwa menjelang proklamasi siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Malang / Widya Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Widya. 2010. Pengembangan Media CD Pembelajaran Sejarah Materi Peristiwa Menjelang Proklamasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 16 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing :Drs. Marsudi, M.Hum Kata kunci : pengembangan media, CD pembelajaran, dan hasil belajar Matapelajaran Sejarah merupakan matapelajaran yang identik dengan hapalan. Hal ini semakin menyurutkan siswa untuk mempelajari matapelajaran Sejarah. Salah satu langkah yang bisa ditempuh untuk menumbuhkan minat siswa dalam mempelajari matapelajaran Sejarah adalah dengan penggunaan media dalam menyampaikan matapelajaran Sejarah. Salah satu media yang bisa digunakan adalah media CD Pembelajaran. Lokasi yang dipilih sebagai tempat uji coba media CD Pembelajaran adalah di SMP Negeri 16 Malang. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah proses pengembangan media CD Pembelajaran Sejarah siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Malang pada materi Peristiwa Menjelang Proklamasi (2) Bagaimakah hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Malang yang menggunakan media CD Pembelajaran pada materi Peristiwa Menjelang Proklamasi. Penelitian ini bertujuan , (1) Untuk memaparkan proses pengembangan media CD Pembelajaran Sejarah siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Malang pada materi Peristiwa Menjelang Proklamasi (2) Untuk memaparkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 16 Malang yang menggunakan media CD Pembelajaran pada materi Peristiwa Menjelang Proklamasi Didalam pengembangan media CD Pembelajaran ini menggunakan Metode R&D ( research and development) . Tahapan pengembangan yaitu: (1)analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, (2)analisis tujuan pembelajaran, (3)pengembangan materi pembelajaran, (4)pengembangan alat evaluasi, (5)penyusunan naskah, (6)produksi, (7)penyusunan petunjuk pemanfaatan, (8)uji coba produk. Pada penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen. Sasaran dari penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 16 Malang kelas VIII. Sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas VIIIC dan VIIID. Instrumen pengumpulan data pada penelitian ini adalah angket dan soal tes. Media diproduksi dalam bentuk CD yang terdiri dari: cover, petunjuk penggunaan, materi pembelajaran, item info, tokoh dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata untuk kelas kontrol sebesar 65,71, sedangkan untuk kelas eksperimen sebesar 81,1429. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan media CD Pembelajaran mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak menggunakan media CD Pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi guru maupun pembaca untuk menghasilkan media yang lebih baik lagi. Selain itu bagi peneliti lain diharapkan mampu melakukan pengembangan media yang lebih kreatif dan mengambil sampel yang lebih luas.

Pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan kebijakan dividen terhadap kebijakan hutang pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI) / Nande Katrisnawati

 

ABSTRAK Katrisnawati, Nande. 2010. Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional dan Kebijakan Dividen terhadap Kebijakan Hutang pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dyah Aju Wardhani, S.E., M.Si., Ak., (II) Drs. H. Sumadi, S.E., M.M. Kata kunci: kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan dividen, kebijakan hutang Dalam menentukan kebijakan hutang, manajer harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, termasuk didalamnya potensi terjadinya agency problems. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan kebijakan dividen. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya pengaruh variabel independen kepemilikan manajerial (MOWN), kepemilikan institusional (INST) dan kebijakan dividen (DPR) terhadap variabel dependen yaitu kebijakan hutang (DEBT). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda. Untuk menguji pengaruh secara parsial variabel independen terhadap variabel dependen digunakan uji t. Berdasarkan hasil uji t (parsial) menunjukkan bahwa variabel independen yaitu kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional mempunyai pengaruh yang signifikan dan berhubungan negatif terhadap variabel dependen kebijakan hutang, sedangkan variabel kebijakan dividen tidak berpengaruh signifikan dan berhubungan positif. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,22 menunjukkan bahwa varian dari kebijakan hutang yang dapat dijelaskan oleh variasi kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan kebijakan dividen perusahaan hanya sebesar 22% sedangkan sisanya sebesar 78% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. Variabel lain tersebut dapat berupa free cash flow, ukuran perusahaan, profitabilitas, risiko, struktur aktiva, pajak. Berdasar hasil penelitian, dapat disarankan sebagai berikut: (1) bagi perusahaan hendaknya dalam pengambilan keputusan tentang kebijakan hutang sebaiknya memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan hutang terkait agency cost (2) bagi para investor dan kreditor dalam mengambil keputusan hendaknya memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan hutang terkait agency costs dan variabel-variabel lain di luar variabel pembentuk agency theory yang dapat mempengaruhi kebijakan hutang. (3) untuk penelitian selanjutnya sebaiknya menambah variabel lain yang mempengaruhi hutang seperti free cash flow, ukuran perusahaan, profitabilitas, risiko, struktur aktiva, pajak dan menggunakan sampel dengan wilayah populasi yang lebih besar.

Perancangan paket media pembelajaran interaktif untuk memudahkan pembelajaran bahasa Inggris di kelas 3 sekolah dasar / Mahendra Purna

 

ABSTRAK Purna, Mahendra. 2010. Perancangan Paket Media Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Memudahkan Pembelajaran Bahasa Inggris Di Kelas 3 Sekolah Dasar. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd. (II) Andi Pramono S,.Kom M.T. Kata Kunci: Perancangan, Media pembelajaran, Bahasa Inggris, Sekolah Dasar. Urgensi buku atau media pembelajaran bahasa Inggris untuk Sekolah Dasar saat ini semakin terasa dengan mulai diperkenankannya bahasa Inggris pada jenjang pendidikan dasar. Ini berguna agar siswa memiliki dasar yang kuat dalam mempelajari bahasa Inggris di jenjang selanjutnya. Kurikulum yang disusun pemerintah sebagai suatu aturan dalam kegiatan pembelajaran masih berupa muatan lokal (mulok). Kurikulum yang digunakan masih merujuk pada kurikulum Kanwil setiap daerah, yang dalam hal ini daerah mempunyai karakteristik tersendiri. Banyaknya materi dalam kegiatan pembelajaran bahasa Inggris yang meliputi beberapa gambar, bunyi pelafalan, dan kosakata, maka diperlukan sebuah media yang dapat memudahkan dan menunjang siswa dalam kegiatan pembelajaran. Media yang diperlukan dalam hal ini adalah media pembelajaran interaktif bahasa Inggris yang mampu memberikan kemudahan sekaligus dapat meningkatkan pembelajaran menurut kurikulum berbasis kompetensi. Hal ini bertujuan untuk mengajak siswa belajar aktif dan berpikir kritis serta sistematis yang dapat menstimulus kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan mereka. Perancangan ini menggunakan model prosedural dan terdeskripsi langkah-langkah kerjanya. Dalam model perancangan prosedural, langkah-langkah perancangan dilakukan secara sistematik dan terstruktur, berurutan dari awal sampai dengan akhir. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data yang bersumber dari observasi dan dokumentasi, serta wawancara secara langsung kepada pihak sekolah SDN Wonokusumo IX/ 595 Surabaya sebagai tempat pengambilan data lapangan. Produk ini berupa paket media pembelajaran interaktif dengan konsep bermain dan belajar diluar rumah, yakni memberikan suasana bermain yang menyenangkan namun tetap dalam konteks belajar. Judul tema media pembelajaran interaktif ini adalah have fun learn English 3, yang memberikan kesan senang belajar bahasa Inggris, tidak kaku dan menyenangkan ditingkatan kelas 3 Sekolah Dasar. Paket media pembelajaran interaktif ini terdiri dari CD pembelajaran, buku panduan dan smart PVC (kartu pintar). Perancangan masing-masing media pembelajaran ini saling berkaitan dan menyangkut materi yang sama yaitu materi bahasa Inggris kelas 3 semester I Sekolah dasar. Media pembelajaran interaktif ini dapat digunakan untuk belajar secara mandiri atau individual. Tema-tema isi paket media pembelajaran interaktif ini didesain secara tematis sesuai indikator dan materi yang ada dalam silabus dan RPP.

Proses kreativitas siswa dalam menggambar pada mata pelajaran seni budaya di SMA Negeri 1 Pasuruan / Ivan Martioni

 

ABSTRAK Martioni, Ivan. 2010. Proses Kreativitas Siswa Dalam Menggambar Pada Mata Pelajaran Seni Di SMA Negeri 1 Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Ida Siti Herawati, M. Pd Kata Kunci: proses kreativitas, berkarya seni rupa bentuk gambar, SMA. Proses merupakan runtutan atau perkembangan dalam menciptakan sesuatu. Dalam hal ini adalah penciptaan sebuah karya seni bentuk gambar. Proses kreativitas pada tiap individu pada pembuatan sebuah karya gambar berbeda antara satu dengan yang lain. Kreativitas merupakan kemampuan mengembangkan suatu potensi yang ada pada diri seseorang dengan menggunakan media tertentu yang digunakan dalam menciptakan sebuah karya atau kreasi yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Proses kreativitas siswa dalam menggambar, 2) Hasil gambar siswa pada pembelajaran seni budaya sub bidang studi seni rupa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif, sedangkan untuk pengumpulan datanya menggunakan angket terstruktur. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik prosentase. Populasinya adalah siswa SMA Negeri 1 Pasuruan. Sampel dilakukan secara purposive sample pada kelas XII SMAN 1 Pasuruan, selanjutnya dilakukan sampel kelas dengan cara mengambil kelas XII yang memiliki jumlah keseluruhan siswa sebanyak 33 siswa. Hasil penelitian tentang proses kreativitas siswa dalam bentuk gambar ini adalah: Proses pencarian ide dengan mengamati keadaan atau fenomena sekitar dengan kriteria sering memiliki prosentase sebesar 45,45 %, sebesar 54,55 % siswa memiliki kesulitan dalam menerjemahkan ide yang didapat, sebesar 42,42 % siswa sering memiliki perencanaan untuk dituangkan dalam sebuah karya, sebesar 42,42 % tidak memiliki alat yang digunakan dalam membuat karya dengan lengkap, sebesar 48,48 % siswa sering membuat sket dalam menggambar, sebesar 42,42 % siswa memperhatikan komposisi garis yang telah dibuat, sebesar 36,36 % siswa memperhatikan komposisi warna yang dibuat, sebesar 54,55 % siswa tidak pernah memberikan pelindung pada karya yang dibuat. Hasil karya gambar yang dibuat oleh siswa di SMA Negeri 1 Pasuruan memiliki hasil gambar yang bervariasi. Hal ini dikarenakan siswa memiliki perbedaan dalam proses berkreasi, dalam hal ini membuat sebuah karya gambar. Dari hasil penelitian yang telah di dapat dapat disimpulkan bahwa hampir dari seluruh siswa selalu membuat karya gambar berupa gambar kartun dalam setiap tugas menggambar yang diberikan oleh pengajar. Hal ini dimungkinkan karena dalam menggambar kartun siswa hanya sedikit memiliki kesulitan dalam pembuatan karya gambar yang dibuat. Sedangkan tema yang terdapat pada karya gambar yang dibuat bersifat bebas atau bervariasi. Selain itu dalam pembuatan sebuah gambar yang dibuat siswa cenderung menggunakan pensil warna dan crayon sebagai alat dalam pewarnaan terhadap karya gambar yang dibuat. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar (1) Sebagai seorang guru/ pendidik hendaknya perlu meningkatkan keprofesionalan seorang guru dalam membantu siswa dan mendukung proses berkarya dalam bentuk gambar sehingga dapat tercapai sebuah hasil gambar siswa yang maksimal, (2) Kepala sekolah bekerjasama dengan guru untuk dapat meningkatkan tingkat kreativitas siswa dengan memfasilitasi dan melengkapi sarana dan prasarana pada pelaksanaan mata pelajaran seni budaya (seni rupa), (3) Siswa dapat mengetahui dan lebih meningkatkan proses kreativitas siswa dalam berkarya dengan cara memfasilitasi segala sesuatu yang dapat mendukung peningkatan kreativitas siswa dalam menggambar, sehingga kualitas hasil gambar siswa dapat meningkat, (4) Orang tua diharapkan dapat menyikapi perkembangan anak dengan cara membimbing, mendidik, dan membantu mengarahkan siswa dalam proses sebuah kreasi karya gambar, (5) Bahwa penelitian ini perlu diadakan tindak lanjut penelitian lagi yang serupa pada subjek yang berbeda.

Fungsi trigonometri dengan pendekatan barisan fungsi / Rizal Winarko

 

ABSTRAK Winarko, Rizal, 2010. Fungsi Trigonometri Dengan Pendekatan Barisan Fungsi. Skripsi. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: ( I ) Dr. Sisworo, M.Si., (II) Drs. H. Imam Supeno, M,S. Kata kunci : barisan fungsi, fungsi trigonometri. Pada umumnya, pendefinisian fungsi trigonometri dilakukan pada segitiga referensi (reference triangle) untuk sudut dalam posisi standar. Misalkan adalah panjang sisi depan , adalah panjang sisi samping dan adalah jari-jari atau jarak dari titik asal ke . Diberikan dan dengan Selain itu, fungsi trigonometri dapat dibahas dengan pendekatan yang berbeda, yaitu dengan barisan fungsi. Awalnya, diberikan suatu teorema tentang eksistensi fungsi trigonometri. Pada pembuktian, pertama, didefinisikan suatu barisan fungsi yang kontinu secara induktif. Barisan fungsi tersebut konvergen seragam ke suatu fungsi dan limit dari barisan fungsi tersebut didefinisikan sebagai fungsi trigonometri, yaitu dan untuk . Setelah itu, teorema eksistensi tersebut dibuktikan ketunggalannya. Berikut beberapa sifat fungsi trigonometri yang telah dibuktikan dangan terminologi barisan fungsi. 1. dan untuk . 2. untuk 3. Jika sedemikian sehingga maka ada bilangan real sehingga untuk . 4. dan untuk . 5. Jika , maka dan . 6. Jika , maka 7. Terdapat akar dari fungsi cosinus pada interval . Selain itu, untuk . Bilangan adalah akar positif terkecil . 8. Fungsi dan mempunyai periode . 9. untuk .

Istihda:mu uslub "at-tafkir-al kalam-al-kitabah (tafkala:bah) "litarqiyati maha:ratu at-tala:midz fil kitabah bil madrasah a-mutawasithoti al-Isla:miyyati Sunan Kalijaga Malang / Futikhatin Azizah

 

Di antara problematika pembelajaran bahasa Arab di Indonesia adalah kurangnya penerapan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Dari hasil wawancara diketahui bahwa keterampilan menulis bahasa Arab (kitabah) adalah keterampilan yang sulit bagi siswa MTs Sunan Kalijaga Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode Think Talk Write (TTW) pada pembelajaran bahasa Arab dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa. Hal ini dapat diketahui dari peningkatan nilai rata-rata siswa. Pada pretest nilai rata-rata siswa adalah 44,05, siklus I 58,05, dan siklus II 76,23.

Penyelesaian masalah pewarnaan simpul pada graph dengan algoritma gabungan dan implementasinya / Nia Prastuti Ardhian

 

ABSTRAK Ardhian, Nia Prastuti. 2010. Penyelesaian Masalah Pewarnaan Simpul pada Graph dengan Algoritma Gabungan dan Implementasinya. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si, (II) Darmawan Satyananda, S.T, M.T Kata kunci: pewarnaan simpul, bilangan kromatik, algoritma gabungan, penjadwalan ujian Dalam Teori Graph, masalah pewarnaan graph terdiri dari tiga macam, yaitu pewarnaan simpul, pewarnaan sisi, dan pewarnaan wilayah. Teknik pewarnaan simpul merupakan salah satu subyek yang menarik dalam bidang graph. Pewarnaan simpul adalah mewarnai semua simpul di sehingga setiap pasang simpul yang terhubung langsung diberi warna yang berbeda. Jumlah warna minimum yang diperlukan disebut bilangan kromatik Terdapat beberapa algoritma heuristik yang digunakan untuk menemukan bilangan kromatik suatu graph. Di antaranya adalah Algoritma First Fit (FF), Largest Degree Ordering (LDO), Saturated Degree Ordering (SDO), dan Incident Degree Ordering (IDO). Teknik ini memusatkan bagaimana cara pengambilan simpul yang akan diwarnai berikutnya secara hati-hati. Aplikasi dari teknik pewarnaan simpul telah banyak diterapkan di berbagai bidang yang memiliki karakteristik yang analog dengan masalah pewarnaan simpul. Salah satunya adalah penentuan jadwal ujian. Diperlukan suatu metode yang lebih baik dari algoritma heuristik untuk menemukan bilangan kromatik suatu graph. Salah satunya adalah Algoritma Gabungan. Langkah pertama pada Algoritma Gabungan adalah membangun spanning tree. Pada akhir langkah ini, spanning tree dapat diwarnai dengan dua warna. Langkah berikutnya adalah memeriksa sisi-sisi yang bermasalah, yaitu sisi yang tidak termasuk ke dalam spanning tree. Bila warna kedua simpul sama, maka warna salah satu simpul harus diubah. Untuk mengubah warna simpul, digunakan algoritma modifikasi dari Algoritma Largest Degree Ordering (LDO) dan Saturated Degree Ordering (SDO). Kelebihan menggunakan Algoritma Gabungan bila dibandingkan dengan menggunakan polinom kromatik adalah selain mengetahui bilangan kromatik juga dapat diketahui warna yang diberikan pada setiap simpul sehingga kita dapat menyusun jadwal ujian sehingga tidak ada jadwal yang bertabrakan, yaitu tidak ada mahasiswa yang harus menempuh dua ujian dalam waktu yang bersamaan. Sekilas terlihat bahwa algoritma gabungan ini menjadi lebih rumit, tetapi berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, algoritma-algoritma yang digabung akan memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan masing-masing algoritma heuristik yang berdiri sendiri. Untuk menyelesaikan masalah penjadwalan ujian, dibuat program yang menggunakan software Delphi 7. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan Algoritma Gabungan yang dilakukan secara manual maupun menggunakan implementasi program diperoleh hasil yang sama.

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di industri konveksi busana CV Jaya Indah Collection Desa Kebon Agung Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / Choirul Nur Hayati

 

Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya merupakan gambarkan tentang kondisi dalam perusahaan, baik untuk tenaga kerja atau perlatan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan variabel bebas, dan terdiri dari dua sub variabel yaitu keselamatan kerja dan kesehatan kerja, pada keselamatan kerja adalah yang berhubungan dengan peralatan, tempat kerja, lingkungan kerja serta cara-cara melakukan pekerjaan, sedangkan kesehatan kerja adalah suatu usaha dan aturan-aturan untuk menjaga kondisi tenaga kerja dari kejadian dan keadaan yang merugikan kesehatan dan kesusilaan, baik keadaan yang sempurna fisik, mental, maupun sosial, sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal. Analisis data yang digunakan deskriptif. Variabel dalam penelitian ini yaitu: penerapan keselamatan dan kesehatan kerja . Penelitian ini merupakan penelitian total sampling atau penelitian populasi karena subjek penelitian kurang dari 100 orang, yakni 23 orang karyawan CV Jaya indah Collection. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket (kuesioner tertutup) berbentuk pilihan ganda . Hasil penelitian diketahui bahwa penerapan keselamatan kerja terdiri dari (1) lingkungan kerja secara fisik menunjukan kecenderungan cukup baik artinya berdasarkan pernyataan responden, perusahaan sudah menerapkan standard keselamatan kerja yang seharusnya seperti tata letak mesin dan peralatan kerja (70,46%),perlindungan mesin dan perlatan kerja (73,06%), penyediaan perlengkapan sebagai alat pencegahan dan pertolongan (69,56%). (2) Lingkungan kerja secara psikologis menunjukan kecenderungan cukup baik, artinya kenyamanan yang baik bagi karyawan(59,43%), terdapat perlakukan yang adil bagi seluruh karyawan (67,4%), serta suasana dan hubungan kerja (52,2%). Sedangkan pada kesehatan kerja terdiri dari (1)lingkungan kerja secara medis menunjukan kecenderungan yang cukup baik, artinya peran di lingkungan perusahaan sangat menudukung dari segi kebersihan lingkungan kerja di perusahaan (71,75%), pengaturan suhu dan ventiliasi (67,4%), dan sistem pembuangan sampah (71,3%) sudah sesuai dengan standard kesehatan kerja, (2) sarana pemeliharaan kesehatan tenaga kerja menunjukan kecenderungan yang cukup baik artinya dalam penyediaan air bersih (73,9%)dan pelayanan kesehatan tenaga kerja (60,87%) sudah di tersedia dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah : 1) Bagi perusahaan CV Jaya Indah Collection, Pada hasil temuan sebagian besar karyawan menyatakan baik terhadap penerapan keselamatan dan kesehatan kerja, tetapi perlunya perhatian terhadap perawatan fasilitas-fasilitas perusahaan, seperti mesin-mesin produksi, peralatan produksi, serta sarana dalam perusahaan. Dan yang kedua meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan terhadap karyawan. 2) Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya peneliti dapat menambahkan tentang bagaimana program keselamatan dan kesehatan kerja dalam perusahaan, tujuannya untuk melengkapi dan menyempurnakan khsanah penelitian yang sudah ada.

Pemanfaatan media pembelajaran kartun dalam meningkatkan kemampuan membaca nyaring siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Sumberejo Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan / Fatkah

 

ABSTRAK Fatkah. 2010. Pemanfaatan Media Pembelajaran Kartun dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Nyaring Siswa Kelas II SDN Sumberejo Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Purwendarti, M.Pd, (II) Drs. A. Badawi, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: kartun, media pembelajaran, membaca nyaring, SD. Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan membaca nyaring siswa kelas II SDN Sumberejo Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Di samping itu, pembelajaran di kelas kurang memanfaatkan media yang ada dan aktivitas siswa dalam belajar membaca nyaring juga rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media pembelajaran kartun yang dapat meningkatkan kemampuan membaca nyaring dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca nyaring dengan memanfaatkan media pembelajaran kartun bagi siswa kelas II SDN Sumberejo. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaborasi, mulai dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan penilaian, serta refleksi. Dalam melaksanakan tindakan digunakan metode pengamatan, dokumentasi, tes, dan wawancara. Adapun instrumen yang digunakan adalah panduan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran, alat penilaian kemampuan guru, alat tes yang berupa teks bacaan dari kartun, panduan penilaian kemampuan membaca nyaring, dan panduan wawancara. Sedangkan data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran kartun dapat meningkatkan kemampuan membaca nyaring siswa kelas II SDN Sumberejo Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Peningkatan kemampuan membaca nyaring tersebut ditandai dengan meningkatnya aspek-aspek keterampilan membaca nyaring dari siklus I ke siklus II, yang antara lain: nilai kenyaringan suara dari 3,44 menjadi 4,07, ketepatan pelafalan dari 3,63 menjadi 4,30, ketepatan pemenggalan frase dari 3,04 menjadi 4,41, ketepatan penggunaan intonasi dari 2,67 menjadi 3,93, ketepatan penggunaan tanda baca dari 3,30 menjadi 4,33, dan kelancaran membaca dari 3,81 menjadi 4,15. Di samping itu, pemanfaatan media pembelajaran kartun juga dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran dari siklus I ke siklus II. Siswa lebih aktif, terbukti dari nilai 2,81 pada siklus I menjadi menjadi 2,85 pada siklus II, ketertarikan terhadap media pembelajaran cukup besar dari 3,85 menjadi 3,93, keingintahuan siswa terhadap isi media pembelajaran juga tetap besar yaitu 2,74, dan sikap duduk siswa ketika membaca menjadi lebih baik dari 3,48 menjadi 3,55. Disarankan bahwa dalam pembelajaran membaca nyaring untuk siswa kelas II, hendaknya menggunakan media pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan membaca nyaring, seperti kartun, yaitu media pembelajaran yang telah dimanfaatkan peneliti dalam penelitian ini.

Pengaruh earning per share (EPS) dan price earning ratio (PER) terhadap harga saham perusahaan real estate and property yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 / Danova Silvana

 

ABSTRAK Silvana, Danova. 2010. Pengaruh Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) terhadap Harga Saham Perusahaan Real Estate and Property yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2005 - 2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: DR. Nurika Restuningdiah, S.E, M.Si. Ak. Pembimbing II: Diana Tien Irafahmi, S.Pd, M.Ed Kata Kunci: Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) , dan Harga Saham Dalam setiap pengambilan keputusan investasi, investor selalu dihadapkan pada suatu ketidakpastian. Untuk memperkecil adanya suatu resiko maka investor perlu melakukan suatu analisis terhadap kinerja keuangan perusahaan, sehingga investor dapat menilai prospek dari perusahaan yang menjual sekuritas tersebut dalam rangka mendapatkan return yang sesuai dengan harapan. Salah satu bentuk investasi yang banyak diminati investor adalah saham. Ada beberapa rasio keuangan yang digunakan investor untuk menilai kinerja perusahaan. Dalam penelitian ini diambil dua variabel yang berpengaruh terhadap harga saham yaitu Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data saham, penjualan, laba bersih dan EPS. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Real Estate and Property yang Listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 sebanyak 40 perusahaan. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh sampel dalam penelitian adalah berjumlah 27 perusahaan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) terhadap variabel harga saham secara parsial maupun secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan variabel Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh terhadap harga saham pada periode penelitian, sedangkan secara parsial hanya variabel Earning Per Share (EPS) yang mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel harga saham, seperti misalnya tingkat inflasi, suku bunga Bank Indonesia, kebijakan pemerintah, serta kondisi pasar. Disarankan juga untuk menambah periode observasi, dan jumlah sampel penelitian, misalnya untuk semua perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia, sehingga hasilnya lebih mencerminkan keadaan pasar modal di Indonesia yang sesungguhnya.

Regresi linear nonparametrik melalui metode Theil / Sir Rumakey

 

ABSTRAK Rumakey, Sir 2010. Regresi Linear Non Parametrik Melalui Metode Theil. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Susiswo, M.Si Kata kunci: regresi linear parametrik, regresi linear nonparametrik, metode Theil Analisis regresi linear sederhana adalah analisis terhadap hubungan satu variabel tak bebas (Y) dengan satu variabel bebas (X). Estimasi parameter biasanya diselesaikan dengan metode kuadrat terkecil. Salah satu asumsi yang harus dipenuhi dalam metode kuadrat terkecil adalah kenormalan dari galat, yaitu galat berdistribusi normal dengan rata-rata nol dan simpangan baku konstan. Jika asumsi kenormalan galat tidak dapat dipenuhi maka metode kuadrat terkecil tidak dapat digunakan untuk mengestimasi parameter-parameternya. Untuk mengatasi penyimpangan asumsi kenormalan galat dapat digunakan prosedur nonparametrik, yaitu metode Theil. Metode Theil adalah metode nonparametrik yang digunakan untuk mengestimasi parameter-parameter dan menganalisis garis-garis regresi linear dengan data sampel yang teramati dikarenakan galat tidak menyebar NID (0, σ2). Skripsi ini membahas tentang metode Theil. Metode Theil mengestimasi koefisien kemiringan (slope) dengan median kemiringan dari seluruh pasangan garis dari titik-titik variabel X dan Y. Semua nilai Xi harus berbeda, jika ada nilai yang sama maka dicari rata-ratanya pada nilai yang sama tersebut. Uji signifikansi parameternya didasarkan pada statistik tau kendall. Interval kepercayaannya hanya untuk koefisien kemiringan (slope). Hasil analisis untuk data penjualan harga tanah di bali dengan peubah terikat Yi adalah harga tanah dan peubah bebas Xi adalah luas tanah dapat disimpulkan: (1) model regresi Theil yang diperoleh adalah = 153 + 0.16Xi, (2) luas tanah sangat berpengaruh pada harga tanah, (3) selang kepercayaan regresi Theil, yaitu (0.09,0.79).

Pronunciation problems of English segmental sounds among the first graders of SMA Islam Malang / Siti Fatimah

 

ABSTRACT Fatimah, Siti. 2010. Pronunciation Problems of English Segmental Sounds Among the First Graders of SMA Islam Malang. Sarjana’s thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang, Advisor: Drs. Setyadi Setyapranata, M.Pd. Key Words: pronunciation, segmental sounds, consonants, vowels, sounds This study is aimed to know the pronunciation problems of certain significant English segmental sounds among the first graders of SMA Islam Malang and in what position of words the problems occur. The instruments were (1) 70 words, containing 11 segmental sounds, which were put in 24 sentences; each contains two or three intended sounds in different position of words to test the students, and (2) a recorder to record the pronunciation of the students. The transcription which was used in this study is based on IPA OXFORD Advanced Learner’s Dictionary seventh edition by A. S. Hornby (2005). In developing the instruments, the researcher used Syafei’s book (1988) as the guidance for the most problematic sounds to be pronounced. In order to know one of the reasons of the most mispronounced sounds, the research compared the charts of vowels and consonants of English and Indonesian pronunciation. The researcher compared English and Indonesian using English Phonetic (Ramelan, 1988) and Tata Bahasa Baku Indonesia (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993). The results showed that the most problematic sounds to be pronounced by the students were the vowels /i:/ in initial, medial, and final positions contrasted with /ɪ/, /e/, /ə/, and /eu/; /u:/ in medial and final positions contrasted with /ʊ/, /ʌ/, /ɔ/; /ę/ in initial and medial positions contrasted with /ʌ/, /e/, /a/, /ə/, /ɪ/, /ɔ/, the aspirated consonant /p/, /t/, /k/ which appeared in initial positions of word; /θ/ which appeared in initial, medial, and final positions of word contrasted with /t/; /š/ which appeared in final positions of word contrasted with /t/; /v/ which appeared in initial, medial, and final positions of word contrasted with /f/; /ʃ/ which appeared in initial, medial, and final positions of word contrasted with /s/; /ʒ/ which appeared in initial and medial positions of word contrasted with /g/, /dʒ/, /s/, /ʃ/. The comparison of both Indonesian and English for the most problematic words showed that one factor that might cause the pronunciation problems of English segmental sounds are: (1) There are sounds in English which are phonemic, but they are not phonemic in Indonesian, (2) There are some sounds which do not exist in Indonesian, but they exist in English, (3) There are sounds which are voiced in English but they are voiceless in Indonesian, (4) There are sounds which pronounced with aspiration in English, but not in Indonesian. Another indication of the cause is the unfamiliarity of the students toward the words. The results are hoped to be the feedback for the teachers to give model in minimal pairs to the students. Other future researchers are hoped to investigate other problems of pronunciation for supra segmental sounds and do more researches in other schools.

Peningkatan hasil belajar IPA tentang sifat-sifat cahaya dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri di kelas V SDN Gading II Winongan Pasuruan / Henry Setio Wiyono

 

ABSTRAK Wiyono, H S. 2010. Peningkatkan Hasil Belajar IPA Tentang Sifat-Sifat Cahaya Dengan Menggunakan Model Inkuiri Di Kelas V SDN Gading II Kecamatan Winongan Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn; (2) Dra. Hj. Sri Estu Winahyu, M.Pd Kata Kunci : Hasil Belajar IPA Tentang Sifat-Sifat Cahaya, SD, Model Inkuiri Berdasarkan observasi awal ditemukan permasalahan bahwa dari 19 siswa Kelas V SDN Gading II Kecamatan Winongan Pasuruan ada 18 siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi sifat-sifat cahaya sehingga mendapat hasil belajar dibawah KKM yang ditetapkan oleh SDN Gading II Kecamatan Winongan Pasuruan. Menurut Sund dan Trowbridge dalam http://viplab.if.its.ac.id/Nikki/ Catatan-Harian-Lab-VIP » Blog Archive » Model-Pemb-Inkuiri.htm Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Dengan kata lain siswa merumuskan sendiri penemuannya tetapi dengan bimbingan guru. Untuk mengatasi hal itu, perlu diadakan penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Inkuiri dalam pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya di kelas V SDN Gading II, mendeskripsikan hasil belajar IPA kelas V SDN Gading II tentang sifat-sifat cahaya setelah penerapan model Inkuiri, mendeskripsikan tanggapan guru kelas V SDN Gading II terhadap penerapan model inkuiri dalam mempelajari materi IPA tentang sifat-sifat cahaya dan mendeskripsikan tanggapan siswa kelas V SDN Gading II terhadap penerapan model inkuiri dalam mempelajari materi IPA tentang sifat-sifat cahaya. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK), dengan rincian pelaksanaan : pratindakan yang terdiri dari satu kali pertemuan, siklus I dua kali pertemuan, siklus II dua kali pertemuan dan siklus III satu kali pertemuan. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dibagi dalam empat siklus, masing-masing siklus terdiri dari (1) perencanaan (2) tindakan (3) observasi dan (4) refleksi. Subjek penelitian adalah 19 siswa kelas V SDN Gading II Kecamatan Winongan Pasuruan Semester II tahun pelajaran 2009/2010. Instrumen penelitian ini meliputi pedoman observasi, lembar evaluasi (tes), dan pedoman wawancara. Teknik yang dipakai adalah analisis data dan persentase. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, penerapan pembelajaran IPA dengan menggunakan model inkuiri terbimbing pada materi sifat-sifat cahaya diawali dengan memancing siswa dengan memberikan pertanyaan agar siswa dapat merumuskan masalah. Rumusan masalah dari siswa berupa pertanyaan. Selanjutnya siswa memberikan jawaban sementara dari rumusan masalah yang telah dibuat. Kemudian siswa melakukan percobaan untuk menguji jawaban sementara atau hipotesis yang telah dibuat siswa. Hasil percobaan yang didapatkan kemudian di simpulkan oleh siswa. Simpulan yang telah dibuat akan mendapat penguatan dari guru sehingga siswa dapat menerapkan hasil percobaan yang telah dilakukan menunjukkan terjadinya peningkatan hasil belajar siswa menggunakan model Inkuiri, yaitu pada siklus I, nilai rata-rata kelas 68,42; siklus II 73,42; dan siklus III meningkat menjadi 82,11. Tanggapan guru terhadap penerapan model inkuiri dalam pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya adalah sangat senang. Guru menjadi percaya diri dalam mengajar. Guru menjadi termotivasi untuk menambah pengetahuannya dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran maupun hasil pembelajaran. Tanggapan siswa dalam penerapan model inkuiri terbimbing, adalah siswa senang, karena siswa dapat bekerja sama dengan teman-temannya dalam kelompok, siswa melakukan pengamatan sendiri, dan siswa dapat menuangkan ide dan pikirannya. Berdasarkan hasil penelitian ini, simpulan yang diperoleh ialah model pembelajaran Inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa SDN Gading II Kecamatan Winongan Pasuruan. Adapaun saran yang diberikan yaitu dalam Proses Belajar Mengajar guru sebaiknya menggunakan model Inkuiri terbimbing untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu guru hendaknya menggunakan model pembelajaran yang tepat sehingga hasil belajar siswa akan meningkat.

Penerapan pendekatan kooperatif model investigasi kelompok untuk meningkatkan hasil belajar IPA di SDN Plintahan I Pandaan Pasuruan / Tsalis Fatmawati

 

ABSTRAK Tsalis.2010. Penerapan Pendekatan Kooperatif Model Investigasi Kelompok Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA di kelas V SDN Plintahan I Pandaan Pasuruan. Fakultas Ilmu Pendidikan. Jurusan KSDP, Program Studi SI PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hj. Sri Estu Winahyu M.Pd (2) Dra. Ratna Trieka Agustina, M.Pd Kata Kunci: Pendekatan, Kooperatif, Investigasi Kelompok Hasil observasi awal ditemukan bahwa pembelajaran IPA di kelas V menunjukkan (1) pembelajaran masih didominasi guru, (2) hasil belajar rendah (3) kurang memaksimalkan aktifitas siswa , (4) siswa cepat bosan mengikuti pelajaran (5) guru sulit menanamkan konsep. Hal ini ditunjukkan dengan data hasil belajar dari dokumentasi guru yang menyatakan nilai rata-rata IPA masih di bawah KKM. Hasil dokumentasi tersebut tes awal menunjukkan bahwa 69,4% siswa mengalami ketuntasan belajar dan 30,6% belum tuntas dalam belajarnya, hal ini karena belum mencapai ketuntasan individu yang telah ditetapkan yaitu 65. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) penerapan Pendekatan Kooperatif Model Investigasi Kelompok pada pembelajaran IPA di kelas V SDN Plintahan I (2) hasil belajar siswa setelah melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan Kooperatif Investigasi Kelompok (3) aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan investigasi kelompok (4) tanggapan siswa terhadap penerapan pendekatan Kooperatif model Investigasi Kelompok (5) tanggapan guru terhadap penerapan pendekatan Kooperatif model Investigasi Kelompok. Subjek yang dikenai tindakan adalah siswa kelas V SDN Plintahan I kecamatan Pandaan kabupaten Pasuruan yang berjumlah 36 orang, yang terdiri dari 17 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Taggart, meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Investigasi kelompok berhasil diterapkan dalam pembelajaran IPA, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN. Plintahan I kec. Pandaan, Kab. Pasuruan. Hal ini dapat ditunjukkan hasil observasi pembelajaran dari siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 18,9% , hasil belajar pada akhir siklus II terjadinya peningkatan sebesar 19,5% dan hasil observasi aktivitas siswa siklus I dan siklus II terjadi peningkatan aktivitas siswa sebesar 21%, dari tanggapan siswa menunjukkan kalau siswa merasa senang mengikuti pembelajaran dengan model investigasi kelompok dan dari tanggapan guru menunjukkan bahwa guru lebih mudah menyampaikan materi dengan menggunakan model investigasi kelompok Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa dengan Investigasi kelompok tentang cara tumbuhan hijau membuat makannya pada siswa kelas V SDN. Plintahan I Pandaan Pasuruan telah mencapai tujuan yang diharapkan. Saran yang bisa penulis sampaikan adalah penerapan model investigasi kelompok ini hendaknya bisa digunakan pada semua mata pelajaran.

Peningkatan kemampuan berargumentasi dalam pembelajaran berbicara siswa kelas VIII SMP negeri 13 Malang dengan menggunakan model NHT (Numbered Head Together) / Ismiati

 

Speaking is one aspect of language skill that has to be mastered by student. One standard of competence that must be achieved in learning of speaking is ability to express idea, thought, notion, and feeling verbally and giving proposition, expressing disagreement, and refusing suggestion. The implementation of learning of speaking at school is often neglected by teacher, due to time constraint. Therefore, students are not able to speak in informal and formal situation fluently, because lack of confidence, disorganized composition of Bahasa Indonesia, has little understanding of discussion ethic, inappropriate substance of conversation. Those statements refer to speaking aspect that must be accomplished by student in learning situation namely the student are giving opinion in a discussion forum. One of learning models which can improve students’ speaking ability especially expressing ideas is NHT learning model. The implementation of NHT model is well organized so students have motivation in learning which can influence the development in outcome of study especially in expressing ideas.This study aims to know the process and result of development ability in expressing ideas, class VIIIH SMP Negeri 13 Malang in conveying agreement and disagreement, giving evidence, delivering proposition or background knowledge, and also drawing conclusion by using NHT model. This study was class action research in SMPN 13 Malang, consist of 36 students, male students was 18 and female students was 18. This study was using class action research with two cycles. Class procedure research action consists of (1) preface study, (2) planning action, (3) implementing action, (4) observation, (5) reflection. While research data of this study consist of pre-action, action data, and action result data. Form of pre-action data was a result from preface study namely results of data taken from interview and pre-researcher and also observation in class before measure is given. Action data or researcher process data is field note about result of study in classroom and also student-opinion data during on-going discussion. Collection of data action result is data verbal which is produced by students, the form of data is argumentation discourse which is delivered by students and also reflection result.

Kapasitas gaya geser maksimum pada model portal beton bertulang bambu sistem ganda dengan penempatan 1 dinding geser dibentang tengah yang dikekang dengan jalur gaya tekan pada struktur rumah sederhana tahan gempa / Mohamad Ikhsan Himawan

 

ABSTRAK Himawan, Mohamad Ikhsan. 2010. Kapasitas Gaya Geser Maksimum Pada Model Portal Beton Bertulang Bambu Sistem Ganda Dengan Dinding Geser Di Bentang Tengah Yang Di Kekang Pada Jalur Gaya Tekan Kotsovos Pada Struktur Rumah Sederhana Tahan Gempa. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Adjib Karjanto, S.T., M.T. (2) Drs. Prijono Bagus Susanto, S.T., M.T. Kata Kunci: Portal Bertulangan Bambu, Kapasitas Gaya Geser, Pengekangan Jalur Tekan Kotsovos. Bambu sangat menarik sebagai pengganti baja untuk tulangan struktur beton bertulang karena memiliki kuat tarik yang cukup tinggi menyamai kuat tarik baja yang memiliki kuat tarik yang berkisar antara 240 MPa sampai dengan melebihi 400 MPa. Terutama bambu ori memiliki kuat tarik 417 MPa. Dari segi ekonomi, harga bambu jauh lebih murah dari harga tulangan baja dan juga bambu mudah didapat disamping itu juga bambu dapat diperbaharui. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui kapasitas gaya geser maksimum yang mampu ditahan oleh struktur model portal sistem ganda dengan penempatan dinding geser pada bentang tengah yang dikekang jalur gaya tekan kotsovos pada kondisi dorong dan kondisi tarik. (2) Untuk mengetahui grafik hubungan beban dengan simpangan pada kondisi dorong dan pada kondisi tarik (3) Untuk mengetahui besar simpangan pada saat kondisi leleh. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan eksperimen, sedangkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dideskripsikan. Untuk mendeskripsikan data dari hasil pengujian 2 buah benda uji model portal bertulangan bambu, parameter yang digunakan adalah pembacaan beban horisontal tekan dan beban horisontal tarik, pembacaan besar simpangan yang terjadi akibat pemberian beban tersebut, serta besar gaya geser yang mampu diterima oleh model portal bertulangan bambu sistem ganda dengan penempatan dinding geser pada bentang tengah dengan pengekangan pada jalur gaya tekan kotsovos . Dari hasil penelitian didapatkan data (1) kapasitas gaya geser maksimum pada model portal sistem ganda bertulangan bambu dengan penempatan dinding geser pada bentang tengah yang dikekang pada jalur gaya tekan kotsovos sebesar 2025 kg pada model portal 1 dan 4860 kg pada model portal 2, dari hasil pengujian ini menunjukkan gaya geser hasil pengujian lebih besar bila dibandingkan dengan hasil analisis statik eqivalen berdasarkan SNI 1726-2002 pada disain struktur tahan gempa sebesar 510,47 kg model portal 1pada zone gempa 6 dan 661,29 kg model portal 2 pada zone gempa 6. (2) Simpangan maksimum pada portal 1 sebesar 11,905 mm dengan beban maksimum 2025 kg dan pada portal 2 simpangan maksimum 30,583 mm dengan beban maksimum 4860 kg. Menurut SNI 1726-2002 pada desain struktur tahan gempa, simpangan maksimum antar tingkat tidak boleh melampaui 0,02 kali tinggi tingkat yang bersangkutan untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur gedung yang menimbulkan korban jiwa manusia. Tinggi tingkat model portal bertulang bambu yang diuji sebesar 90 cm, dengan ketentuan menurut SNI 1726-2002 maka simpangan maksimum yang terjadi tidak boleh melebihi 1,8 cm atau 18 mm. Pada benda uji 1 simpangan maksimum yang terjadi sebesar 11,210 mm, sedangkan pada benda uji 2 simpangan maksimum sebesar 30,583 mm. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa besar simpangan yang terjadi pada benda uji 1 masih memenuhi syarat. Sedangkan pada benda uji 2 simpangan yang terjadi lebih besar dari simpangan ijin tetapi meskipun simpangan yang terjadi pada benda uji 2 lebih besar dari simpangan ijin kondisi portal masih berdiri kokoh atau tidak mengalami keruntuhan. Hal ini dikerenakan tulangan pondasi yang tidak direncanakan. (3) Simpangan yang terjadi pada portal saat kondisi leleh sebesar 4,609 mm untuk portal 1 dan 18,412 mm untuk benda uji 2. Dari hasil gaya geser dan simpangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa portal bertulangan bambu sistem ganda dengan penempatan dinding geser dibentang tengah yang dikekang dijalur gaya tekan Kotsovos mampu meningkatkan kapasitas geser portal dan dapat digunakan sebagai struktur penahan gempa untuk struktur bangunan sederhana diberbagai wilayah/zona gempa di Indonesia.

Hubungan penerimaan diri dan minat baca dengan motivasi berprestasi pada anak tunarungu di SLB-B di Malang / Monika Mitrasari

 

ABSTRAK Mitrasari, M. 2010. Hubungan Penerimaan Diri dan Minat Baca dengan Motivasi Berprestasi Pada Anak Tunarungu Di SLB-B Di Malang. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si. (II) Ika Andrini Farida, S.Psi, M.Si. Kata Kunci : penerimaan diri, minat baca, motivasi berprestasi, tunarungu Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi diataranya adalah penerimaan diri dan minat baca siswa. Penerimaan diri dan minat baca siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerimaan diri dan minat baca dengan motivasi berprestasi anak tunarungu di SLB-B di Malang, serta mengetahui hubungan antara penerimaan diri dan minat baca dengan motivasi berprestasi anak tunarungu di SLB-B di Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, subyek penelitian ini menggunakan uji terpakai karena jumlah subyek hanya berjumlah 42 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala penerimaan diri, skala minat baca, skala motivasi berprestasi. Subyek penelitian berasal dari SLB Pembina Tingkat Nasional dan di Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data menggunakan analisa deskriptif dan korelasi Product Moment,dan regresi linier berganda. Hasil penelitian ialah: (1) secara umum penerimaan diri dan minat baca anak tunarungu termasuk dalam kategori tinggi, sedangkan motivasi berprestasi anak tunarungu termasuk dalam kategori sedang, (2) hasil korelasi antara penerimaan diri dan motivasi berprestasi bahwa terdapat hubungan positif =0.755, (3) hasil korelasi antara minat baca dengan motivasi berprestasi bahwa terdapat hubungan positif =0.469, (4) faktor penerimaan diri lebih banyak memberi sumbangan efektif daripada minat baca bagi motivasi berprestasi, (5) hasil regresi terdapat hubungan positif antara penerimaan diri dan minat baca dengan motivasi berprestasi pada siswa tunarungu di SLB di Malang yang ditunjukkan dengan koefesien determinasi atau nilai R adj sebesar 0.583 dan nilai F (29.707) berada pada signifikansi (p=0,000 < 0,01). Dari hasil penelitian disarankan agar siswa dapat meningkatkan penerimaan diri mereka, dengan memperbanyak mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan disekolah dan bersosialisasi dengan orang lain, bagi orang tua dapat memberikan dukungan kepada anak tunarungu, sedangkan bagi pihak sekolah dapat dilakukan dengan cara memberikan fasilitas yang mendukung tumbuh kembangnya penerimaan diri dan minat baca siswa.

Analisis sistem pemungutan pajak restoran Kabupaten Pasuruan / Naning Diah Lestari

 

Kata kunci : Sistem pemungutan, Pajak Restoran Upaya pemerintah daerah Kabupaten Pasuruan dalam meningkatkan PAD adalah melalui pajak daerah. Pajak daerah terdiri atas beberapa macam, namun dalam penelitian ini hanya difokuskan pada pajak restoran. Pajak restoran adalah pajak yang dipungut atas pelayanan restoran, rumah makan dan warung. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan prosedur pemungutan pajak restoran Kabupaten Pasuruan, efektifitas sistem pemungutan pajak restoran serta perbaikan sistem pengendalian intern atas pemungutan pajak restoran. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan antara lain: (1) studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, dan (2) riset lapangan yaitu denga melakukan peninjauan langsung pada objek ditempat PKL. Riset lapanga terdiri atas wawancara dan dokumentasi. Sedangkan metode pemecahan masalah yang digunakan penulis adalah dengan mendeskripsikan prosedur pemungutan pajak restoran, efektifitas sistempemungutan pajak restoran serta perbaika sistem pengendalian intern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemungutan pajak restoran Kabupaten Pasuruan yang telah dilaksanakan selama ini sudah cukup baik, yang terdiri atas prosedur pendaftaran dan pendataan, prosedur penetapan, prosedur penyetoran, prosedur pembukuan dan pelaporan, serta prosedur penagihan. Secara umum perhitungan efektifitas pemungutan pajak restoran yang berdasar pada target sudah cukup efektif. Namun, terdapat penurunan pada tahun 2006 dan 2007 dikarenakan oleh target yang ditetapkan semakin besar, sedangkan potensi pajak yang dimliki belum mengalami peningkatan.Masih terdapat kelemahan pada sistem pengendalian intern DPKD Kabupaten Pasuruan. Hal ini terbukti dengan adanya sruktur organisasi yang belum efektif. Selain itu penggunaan formulir-formulir yang belum bernomor urut cetak, tidak terdapat salinan kartu data, serta kurangnya tenaga akuntansi sehingga akan berpengaruh khususnya terhadap kinerja bidang pendapatan. Perlu dilakukan beberapa perbaikan atas kelemahan-kelemahan tersebut antara lain : (1) hendaknya DPKD terus menigkatkan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya membayar pajak, khususnya pajak restoran, (2) melakukan pendataan ulang guna menggali potensi-potensi yang ada, (3) melakukan penagihan dan memberikan sanksi yang tegas, (4) melakukan kerja sama dengan instansi lain misalnya, Dinas Pariwisata sehingga dapat meningkatkan peneriamaan pajak restoran, dan (5) melekukan perbaikan atas sistem pengendalian intern dengan menyusun struktur organisasi yang baik, penggunaan formulir-formulir yang bernomor urut cetak, salinan kartu data serta penambahan tenaga akuntansi.

Pengembangan model pelatihan keterampilan pengambilan keputusan pilihan karier siswa Sekolah Menengah Atas / Agus Kurniawan Wibowo

 

ABSTRAK Kurniawan, W. Agus. 2010. Pengembangan Model Pelatihan Keterampilan Pengambilan Keputusan Pilihan Karier Siswa Sekolah Menengah Atas. Skripsi, Jurusan BKP, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd, (II) Drs. Harmiyanto. Kata kunci: keterampilan pengambilan keputusan, problem solving, pilihan karier Siswa SMA sebagian besar adalah individu dalam lingkup usia masa remaja akhir memiliki karakteristik, kebutuhan, dan tugas perkembangan yang khas. Menurut Super secara teori siswa SMA dituntut untuk memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan kariernya (Van Aalst, 1979:38). Selaras dengan Havighurst bahwa salah satu tugas perkembangan remaja atau siswa SMA adalah mempersiapkan karier dan ekonomi (dalam Hurlock, 2006:10). Bimbingan dan konseling diharapkan dapat mengoptimalkan tuntutan tugas perkembangan tersebut dengan memanfaatkan media tepat guna, sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang mampu menyesuaikan diri sepanjang hayatnya. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan suatu model pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling bidang karier, berupa model pelatihan keterampilan pengambilan keputusan pilihan karier siswa SMA dengan mengadaptasi prosedur pelaksanaan teknik problem solving. Research and Development adalah metode penelitian untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji produk tersebut (Sugiyono, 2008:407). Rancangan penelitian ini mengadaptasi model prosedural research and development Borg and Gall, meliputi penggalian potensi dan masalah, pengumpulan data, pembuatan prototipe produk, validasi produk, dan revisi produk. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Blitar, sebagai populasi penelitian adalah siswa kelas X. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling, dan diperoleh anggota sampel sejumlah 45 siswa. Data kuantitatif dianalisis secara statistik deskriptif dan data kualitatif dipaparkan apa adanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata dari penilaian ahli untuk tiap aspek penilaian produk meliputi kegunaan, kemudahan, kelayakan, kemenarikan, dan kesesuaian secara berurutan adalah (1) Rerata 2,5 diartikan sangat berguna, (2) Rerata 2 diartikan mudah untuk dilaksanakan, (3) Rerata 2,25 diartikan sangat layak sebagai model pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling bidang karier, (4) Rerata 2 diartikan menarik untuk dilaksanakan, dan (5) Rerata 2,25 diartikan sangat sesuai dengan rumusan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling bidang karier di SMA. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa model pelatihan keterampilan pengambilan keputusan pilihan karier siswa SMA telah berterima secara teoritis. Rekomendasi penelitian adalah (1) Produk hasil pengembangan dapat dimanfaatkan oleh konselor untuk melaksanakan layanan bimbingan dan konseling bidang karier di SMA, konselor sebagai pengguna untuk melaksanakan produk bagi siswa kelas X, (2) Untuk pengembangan produk lebih lanjut diharapkan peneliti selanjutnya dapat melanjutkan kegiatan penelitian yaitu untuk tahapan uji kelompok kecil dan uji lapangan guna mengetahui praktis penggunaan produk, diharapkan juga peneliti selanjutnya untuk memperluas subjek dan wilayah penelitian guna memperluas tingkat keberterimaan produk atas spesifikasi produk yang diharapkan.

Penerapan model pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan hasil belajar PKn materi sistem pemerintahan pusat di kelas IV SDN Candibinangun 01 Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan / Siti Maisaroh

 

ABSTRAK Maisaroh, Siti. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Bermain Peran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar PKn Materi Sistem Pemerintahan Pusat Di Kelas IV SDN Candibinangun 01 Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Pra Sekolah. Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing: (I) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd, (II) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum Kata kunci : Model pembelajaran, bermain peran, hasil belajar PKn, sistem pemerintahan pusat, SD Model pembelajaran PKn materi sistem pemerintahan pusat yang dilaksanakan di kelas IV SDN Candibinangun 01 Kecamatan Sukorejo masih terpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa secara aktif. Siswa menjadi jenuh dan hasil belajarnya rendah. Dari 25 siswa, hanya 8 orang (32%) yang tuntas belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran bermain peran dalam pembelajaran PKn, (2) Mendeskripsikan dampak penerapan model pembelajaran bermain peran terhadap keaktifan, kreatifitas dan rasa senang siswa, dan (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn siswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas model Kemis dan Taggart secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas IV dengan menerapkan model pembelajaran bermain peran selama 2 (dua) siklus. Siklus I dilaksanakan tanggal 17 April 2010 dan siklus II dilaksanakan tanggal 24 April 2010. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Candibinangun 01 Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 25 orang. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan tes, observasi, dan wawancara. Data dianalisa secara deskriptif prosentase dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan: (1) Keaktifan siswa yang pada siklus I sebesar 62,5% menjadi 72,5% pada siklus II atau meningkat 10%, (2) Kreatifitas siswa pada siklus I sebesar 52,5% menjadi 75% pada siklus II atau meningkat 22,5%, dan (3) Rasa senang siswa pada siklus I sebesar 67,5% menjadi 77,5% pada siklus II atau meningkat 10%. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 62 pada tahap pra penelitian menjadi 71 pada siklus I dan 76 pada siklus II. Kesimpulan penelitian ini yaitu model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar PKn materi sistem pemerintahan pusat siswa kelas IV SDN Candibinangun 01 Kecamatan Sukorejo. Peneliti menyarankan agar para guru menerapkan model pembelajaran bermain peran pada pembelajaran lain sesuai situasi dan kondisi sekolah. Dalam penelitian ini, masih ada 3 siswa yang belum tuntas belajar. Hal ini dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh peneliti lain untuk lebih mengoptimalkan kegiatan serupa sehingga hasilnya lebih baik.

Pengaruh strategi pembelajaran kooperatif disertai media peta dan globe terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS geografi kelas VII semestar II di Sekolah Menengah Pertama Laboraturium Universitas Negeri Malang / Eka Sari Wahyuni

 

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF DISERTAI MEDIA PETA DAN GLOBE TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN IPS GEOGRAFI KELAS VII DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LABORATORIUM MALANG Eka Sari Wahyuni Abstrak: Strategi pembelajaran kooperatif disertai media peta dan globe dalam pembelajaran IPS di SMP adalah memungkinkan siswa untuk mengerti posisi dari kesatuan politik, daerah kepulauan dan sungai; memberikan keterangan tentang wilayah, jarak, arah, bentuk luas, dan hubungan. Di samping itu metode mengajar ini akan lebih bervariasi, sehingga siswa tidak bosan karena lebih banyak melakukan kegiatan serta aktivitas lainnya seperti mengamati, melakukan, dan mendemonstrasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembalajaran kooperatif disertai media peta dan globe dengan metode ceramah terhadap hasil belajar. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret - April 2010 dengan sampel penelitian yaitu siswa kelas VII di SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Kata Kunci: pengaruh, pembelajaran kooperatif, hasil belajar, IPS.

Penerapan strategi produk tabungan plus (Taplus) untuk meningkatkan jumlah nasabah pada PT. Bank Negera Indonesia (Persero) TBK Cabang Malang / Novita Yuli Astutik

 

Astutik, Novita Yuli, 2010. Penerapan Strategi Produk Taplus Untuk Meningkatkan Jumlah Nasabah Pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang. Tugas Akhir, D-III Manajemen Pemasaran, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Lulu Nurul Istanti, S.E., M.M., Ak. Kata kunci: Produk, Strategi produk Kebutuhan masyarakat selalu mengalami perkembangan di dalam pemenuhannya baik dari segi ekonomi, politik, sosial dan budaya. Hal tersebut tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi era globalisasi. Seiring dengan keadaan tersebut maka turut mempengaruhi kondisi perekonomian, dimana persaingan antar perbankan semakin ketat. PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang hadir dengan tujuan melayani negeri kebanggaan bangsa, hal ini dimaksudkan bahwa bank secara optimal akan memberikan pelayanan kepada nasabah dengan berbagai jasa dan produk yang ditawarkan, sehingga kebutuhan nasabah dapat terpenuhi. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mendeskripsikan strategi produk pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang antara lain (1) Untuk Untuk mengetahui bagaimana prosedur Tabungan Plus pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Cabang Malang (2) Untuk mengetahui bagaimana penerapan strategi produk Tabungan Plus untuk meningkatkan jumlah nasabah pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang. Hasil dari penulisan ini adalah (1) prosedur Tabungan Plus pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang antara lain seperti ketentuan kriteria nasabah Taplus, prosedur pembukaan rekening Taplus, sarana Tabungan Plus yang diperoleh nasabah, ketentuan bunga, insentif dan fasilitas, manfaat BNI Taplus, keunggulan BNI Taplus, serta prosedur penutupan rekening Taplus. (2) Penerapan strategi produk pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang dilakukan melalui analisis pasar dengan pendekatan SWOT, yang kedua dengan menentukan tujuan produk Taplus yaitu untuk memenuhi sumber dana bank yang berasal dari tabungan. Ketiga PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang menentukan target sasaran produk Taplus. Keempat dengan penentuan anggaran sesuai dengan kebijakan pihak bank tidak melebihi jumlah yang ditetapkan. Kelima pelaksanaan strategi produk dilaksanakan dengan memberikan kemudahan kepada nasabah dari pembukaan rekening sampai penutupan rekening, insentif dan hadiah Rejeki Durian Runtuh, serta fasilitas-fasilitas kemudahan lain yang bisa dinikmati nasabah. Keenam melakukan evaluasi pelaksanaan strategi terhadap produk Taplus apakah sesuai dengan rencana yang telah disusun. Ada beberapa saran yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Malang yaitu: (1) Strategi Produk Taplus hendaknya dilakukan sesuai dengan rencana yang telah disusun. (2) Apabila ada koreksi atau perubahan dalam pelaksanaan kebijakan strategi produk Taplus, hendaknya pihak bank memberikan sosialisasi kepada nasabah

Persepsi guru pamong dan siswa SMKN 3 Malang terhadap pelaksanaan praktik pengalaman lapangan (PPL) mahasiswa prodi S1 Pendidikan Tata Boga / Pipit Kristina Hidayat

 

ABSTRAK Kristina, Pipit Hidayat. 2010. Persepsi Guru Pamong dan Siswa SMK N 3 Malang terhadap Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Boga. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Widiyanti, M.P.d. (II) Dra. Teti Setiawati, M.P.d Kata kunci : Persepsi, Guru pamong dan Siswa, PPL Praktik Pengalaman lapangan (PPL) merupakan program pelatihan yang bertujuan untuk menerapkan dan menanamkan berbagai pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam rangka pembentukan guru yang profesional. PPL adalah program pendidikan yang memasyarakatkan kemampuan aplikatif dan terpadu dari seluruh pengalaman belajar sebelumnya ke dalam program pelatihan dari semua hal yang berkaitan dengan jabatan keguruan,baik kegiatan belajar mengajar maupun tugas-tugas keguruan lainnya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang di dukung dengan data kuantitatif. Pengambilan data di lakukan dengan penyebaran angket kepada 6 guru Pamong, dan 33 siswa yang diambil secara acak.wawancara terhadap guru pamong dilakukan untuk memperkuat hasil data. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi guru Pamong, dan siswa SMK N3 Malang terhadap pelaksanaan PPL Mahasiswa Prodi Pendidikan Tata Boga. Setelah hasil data di ketahui kemudian dilakukan perhitungan rata-rata dari setiap jawaban responden dan menganalisa dengan teknik persentase dan kemudian mentabulasinya. Hasil penelitian menunjukkan hasil persepsi guru Pamong terhadap mahasiswa PPL Prodi Pendidikan Tata Boga yang terdiri dari sub variabel pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional adalah baik, sedangkan persepsi siswa terhadap mahasiswa PPL Prodi Pendidikan Tata Boga yang terdiri dari sub variabel pedagogik, kepribadian, dan sosial adalah baik. Dengan melihat secara umum persepsi yang diberikan oleh guru pamong, dan siswa terhadap pelaksanaan praktik pengalaman lapangan mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Boga adalah baik. Diharapkan bagi sekolah, jurusan dapat mempertahankan dalam mendidik, membimbing dan mengarahkan mahasiswa dalam memahami, menjalankan tugas dan tanggung jawab seorang guru.

Penerapan model pembelajaran eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Kandung Pasuruan / Lukman Hakim

 

ABSTRAK Hakim, L. 2019. Penerapan Model Pembelajaran Eksperimen untuk meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa kelas V SDN Kandung Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S I PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M. Pd. Pembimbing (II). Dr. Musa Sukardi. M. Pd. Kata Kunci: Model eksperimen, pembelajaran, IPA, SD. Berdasarkan pengalaman penulis di kelas V SDN Kandung Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan, kurang berhasilnya siswa dalam belajar IPA dapat disebabkan oleh beberapa fakor, yaitu: guru kurang melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar sehinga siswa kurang aktif dan tidak termotivasi untuk belajar, selain itu peran guru yang masih menjadi penyampai informasi, bukan pengarah bagi siswanya yang mencari informasi. Hal tersebut menjadikan siswa pasif dan hanya menerima informasi dari guru, sehingga informasi yang siswa dapat tidak bertahan lama. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil tes pra tindakan yang dilakukan penulis terhadap siswa kelas V SDN Kandung Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Dari 28 anak yang diberi pertanyaan sebanyak 10 butir soal pra tindakan, hanya 1 anak yang bisa menjawab 6 butir soal dengan benar, 5 anak menjawab 5 butir soal sengan benar, 8 anak menjawab 4 butir soal dengan benar, 11 anak menjawab 3 butir soal dengan benar, 2 anak menjawab 2 butir soal dengan benar, dan 1 anak hanya bisa menjawab 1 butir soal dengan benar. Model eksperimen merupakan cara penyajian bahan pelajaran dimana siswa melakukan eksperimen (percobaan) dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajari, dalam proses pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu obyek dan keadaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) penerapan model eksperimen.dalam pembelajaran IPA di kelas V, (2) aktivitas belajar siswa, (3) hasil belajar siswa, dan (4) tanggapan siswa terhadap penerapan model eksperimen. Penelitian ini menggunaka rancangan PTK. Subyek penelitian ini adalah siswa SDN Kandung Winongan Pasuruan sebanyak 28 siswa. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah dokumentasi, lembar observasi, lembar wawanxara, dan tes. Kemudian data dianalisis secara kualitatif. Penelitian ini dilakukan oleh peneliti sendiri dengan dibantu oleh guru wali kelas V SDN Kandung Pasuruan dan teman mahasiswa sebagai observer, penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan yaitu : Pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN kandung. Hal ini dapat ditunjukkan pada kemampuan guru dalam membuat RPP mengalami peningkatan dari (87, 5) pada siklus I menjadi (89) pada siklus II, sedangkan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran eksperimen menunjukkan peningkatan dari (84, 1) pada siklus I menjadi (87, 5) pada siklus II. Aktivitas belajar siswa pada siklus I terdapat 9 siswa yang mendapatkan skor antara (56-70) dengan tingkat keberhasilan cukup, dan 19 siswa yang mendapatkan skor antara (71-85) dengan tingkat keberhasilan baik. Pada siklus II terdapat 4 siswa yang mendapatkan skor antara (56-70) dengan taraf keberhasilan cukup, 21 siswa yang mendapatkan skor antara (71-85) dengan taraf keberhasilan baik, dan 3 siswa yang mendapatkan skor antara (86-100) dengan taraf keberhasilan baik sekali. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan adalah (36, 1), dan terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar pada siklus I menjadi (77, 6), rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II meningkat lagi menjadi (87, 7) Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) penerapan model eksperimen dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran, (2) meningkatkan aktivitas belajar siswa, (3) meningkatkan hasil belajar siswa, serta (4) siswa meras senang dengan penerapan model eksperimen.Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) Penelitian ini merupakan salah satu bentuk tindakan yang dapat digunakan sebagai acuan kepala sekolah dalam menentukan kebijakan yang tepat dalam upaya peningkatan kompetensi siswa dalam pembelajaran IPA, (2) Hasil penelitian ini merupakan salah satu bentuk tindakan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran IPA di sekolah bahwa untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif kreatif dan menyenangkan serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus mampu menggunakan model pembelajaran yang efektif khususnya pada mata pelajaran IPA terutama model pembelajaran eksperimen,(3) Rancangan dalam penelitian ini masih sangat sederhana, sehingga hanya sedikit menjawab permasalahan. Untuk mendapatkan jawaban yang lebih mendalam, bagi peneliti lain perlu penelitian lanjutan dengan rancangan yang komprehensif terutama dengan menggunakan teori-teori yang lebih komplek,4) Penelitian ini belum menjawab konsep perubahan wujud tentang penyubliman dikarenakan terdapat keterbatasan alat dan bahan serta waktu dalam melakukan penelitian, untuk itu bagi peneliti lain diharapkan dalam melakukan penelitian hendaknya mampu menjawab semua konsep dalam perubahan wujud benda.

Penerapan role playing untuk meningkatkan pemahaman teks cerita rakyat pada pembelajaran bahasa indonesia siswa kelas V SDN Tegalweru Kabupaten Malang / Rika Evalia Ariyanti

 

ABSTRAK Ariyanti, Rika Evalia. 2010. Penerapan Role Playing untuk Meningkatkan Pemahaman Teks Cerita Rakyat pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SDN Tegalweru Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Moh. Shochib, M.Pd, dan (II) Drs. Sjafruddin A. Rahman, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: metode pembelajaran Role Playing, aktivitas belajar, pemahaman teks cerita rakyat Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang menuntut siswa untuk menguasai aspek-aspek yang terdapat dalam mata pelajaran ini yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Oleh sebab itu dalam membelajarkan Bahasa Indonesia guru perlu mengenal dan dapat melaksanakan dengan baik berbagai pedoman tentang strategi, pendekatan, metode dan media pembelajaran yang mampu menggali kemampuan siswa pada saat pembelajaran sehingga aspek-aspek dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dikuasai oleh siswa. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Tegalweru masih menggunakan pembelajaran konvensional yaitu guru masih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Dari hasil obsevasi yang dilakukan penulis pada pembelajaran Bahasa Indonesia materi Teks Cerita Rakyat pada siswa kelas V SDN Tegalweru, dapat diketahui bahwa Kriteria Ketuntasan Minimum untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 60. Namun pada kenyataanya masih banyak siswa yang belum mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum. Hasil evaluasi siswa yang dilakukan pada kegiatan akhir pembelajaran menunjukkan bahwa hanya 9 dari 29 siswa yang mendapatkan nilai diatas Kriteria Ketuntasan Minimum. Kegiatan pembelajaran tersebut harus segera diperbaiki oleh guru dengan cara memilih metode pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan menyenangkan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan fakta tersebut peneliti mengadakan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan langkah-langkah penerapan metode pembelajaran Role Playing, peningkatan aktivitas belajar siswa dan peningkatan pemahaman teks cerita rakyat siswa kelas V melalui metode pembelajaran Role Playing pada pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Tegalweru Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Role Playing mampu meningkatkan aktivitas dan pemahaman teks cerita rakyat siswa kelas V SDN Tegalweru. Peningkatan rata-rata aktivitas belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 13,6%, peningkatan prosentase ketuntasan belajar kelas yang menunjukkan tingkat pemahaman siswa terhadap teks cerita rakyat dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 20,7%. Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan aktivitas, dan pemahaman teks cerita rakyat siswa kelas V di SDN Tegalweru Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Saran kepada guru-guru hendaknya memilih metode pembelajaran yang sesuai dan efektif dalam penyampaian materi pelajaran Bahasa Indonesia. Guru dapat menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran bermain peran pada pembelajaran Bahasa Indonesia ke dalam kompetensi atau tema-tema yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing karena terbukti dengan menerapkan metode pembelajaran Role Playing dapat meningkatkan aktivitas dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan selalu memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Peningkatan kemampuan menulis kratif naskah drama dengan strategi konversi cerpen pada siswa kelas VIII SMPN 04 Malang / Heni Dwi Arista

 

ABSTRAK Arista, Heni Dwi. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Kreatif Naskah Drama dengan Strategi Konversi Cerpen Pada Siswa Kelas VIII SMPN 04 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing: (I) Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd. (II) Drs. Sunoto, M.Pd Kata Kunci: menulis kreatif, naskah drama, strategi konversi, cerpen. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII, terdapat kompetensi dasar (KD) tentang kemampuan menulis kreatif naskah drama. Melalui KD ini, dimaksudkan siswa dapat mengenal, memahami, dan dapat menulis naskah drama. Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis kreatif naskah drama diperlukan strategi pembelajaran yang tepat. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis naskah drama adalah strategi konversi cerpen. Dengan strategi konversi ini, siswa dibelajarkan dan dibimbing untuk mengembangkan suatu karya sastra berdasarkan bentuk karya sastra yang lain.Dalam penelitian ini, strategi konversi digunakan untuk membelajarkan siswa dalam menyusun kerangka naskah drama dan mengembangkannya menjadi naskah drama yang utuh berdasarkan cerpen yang dibacanya Secara umum, penelitian ini berupaya menjawab masalah tentang proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis kreatif naskah drama dengan strategi konversi cerpen pada siswa kelas VIII SMPN 04 Malang. Sesuai dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis kreatif naskah drama dengan strategi konversi cerpen. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Sesuai dengan rancangan itu, penelitian disusun dalam siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pelaksanaan, pengamatan, hasil tindakan, dan refleksi. Penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti. Subjek umum yang diberi tindakan adalah seluruh siswa dalam kelas VIII G SMPN 04 Malang, sedangkan subjek khusus adalah 20 siswa yang memperoleh skor penilaian proses dan hasil di bawah KKM (kriteria ketuntasan minimal) yang telah ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10 Maret 2010 sampai dengan 14 April 2010 dalam dua siklus. Data penelitian meliputi data verbal yang berwujud tuturan lisan dan data nonverbal yang berupa rekaman tindakan siswa dalam foto dan tindakan yang ditranskripsikan dan dimasukkan dalam pedoman observasi dan catatan lapangan. Dalam penelitian ini, peneliti sebagai instrumen kunci yang didukung dengan instrumen penunjang berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dan catatan lapangan. Bertolak dari proses dan hasil tindakan kelas, dapat dikemukakan bahwa penggunaan strategi konversi cerpen dapat meningkatkan kemampuan siswa SMPN 4 Malang dalam menulis kreatif naskah drama. Hal ini dapat dilihat dari skor yang dicapai siswa, yakni di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan sekolah. Dengan cara membaca cerpen dan menganalisis unsur ii intrinsik cerpen, kemampuan siswa pada tahap perencanaan naskah yang berwujud kerangka naskah drama mengalami peningkatan. Dengan memanfaatkan dan mengembangkan ide, gagasan, dan imajinasi dari membaca cerpen, kemampuan siswa pada tahap penulisan kreatif naskah drama, yakni pengembangan kerangka naskah drama menjadi naskah drama yang utuh, juga mengalami peningkatan. Begitu juga dalam hal penyuntingan dan revisi naskah, kemampuan siswa mengalami peningkatan. Peningkatan kemampuan siswa dalam penyuntingan dan revisi naskah dapat dilihat dari kemampuan mereka menggunakan tanda baca, ejaan, dan huruf kapital. Peningkatan kemampuan siswa dalam menulis kreatif naskah drama dapat dilihat dari persentase siswa yang mencapai KKM. Pada tahap prates, siswa yang mencapai KKM sebanyak 48,7%, pada siklus I, siswa yang mencapai KKM sebanyak 76,9%. dan siklus II, siswa yang mencapai KKM meningkat menjadi 94,8%. Berdasarkan persentase tersebut, dapat dikemukakan bahwa persentase peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM dari prates ke siklus I sebesar 28,2% dan peningkatan siklus I ke siklus II sebesar 17,9%. Peningkatan tersebut sangat signifikan dan terjadi pada hampir seluruh siswa di kelas. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa strategi konversi cerpen dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis kreatif naskah drama. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk menggunakan strategi konversi cerpen dengan lebih kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis kreatif naskah drama. Untuk mendukung terlaksananya pembelajaran yang inovatif dan kreatif, kepada Kepala SMPN 4 Malang, disarankan agar memberikan dukungan kepada guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih variatif dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah. Kepada peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan dan mengembangkan strategi konversi cerpen sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain dengan cara lebih kreatif.

Pengembangan modul pembelajaran qawa'id Bahasa Arab siswa kelas XI program Bahasa Madrasah Aliyah / Manda Putri Pavilyun

 

ABSTRAK Pavilyun, Manda Putri. 2010. Pengembangan Modul Pembelajaran Qawa’id Bahasa Arab Siswa Kelas XI Madrasah Aliyah. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Moh. Khasairi, M.Pd., (2) Ali Ma‟sum, S.Pd, M.A Kata kunci: modul pembelajaran bahasa Arab, qawa’id, Madrasah Aliyah. Dewasa ini para pembelajar dituntut untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Sistem pembelajaran kuno seperti teacher centered sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan dalam pembelajaran masa kini. Hal tersebut memberi pengaruh tersendiri bagi para pembelajar, khususnya dalam hal alat atau sumber belajar, karena sumber belajar merupakan salah satu komponen yang bisa digunakan untuk meningkatkan kemandirian siswa. Sumber belajar yang banyak digunakan untuk menunjang pemahaman siswa dalam belajar qawa’id bahasa Arab adalah buku paket. Tetapi buku paket belum semuanya memberikan tempat yang memadai pada siswa untuk dapat memahami materi secara spesifik dan menyeluruh. Para siswa tersebut membutuhkan komponen penunjang pembelajaran qawa’id untuk lebih mudah dalam memahami dan sebagai paket belajar mandiri yang menyenangkan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan: (a) pengembangan modul pembelajaran qawa’id bahasa Arab siswa kelas XI Madrasah Aliyah, (b) kelayakan modul pembelajaran qawa’id bahasa Arab siswa kelas XI Madrasah Aliyah, dan (c) kelemahan dan kelebihan modul pembelajaran qawa’id bahasa Arab siswa kelas XI Madrasah Aliyah. Modul yang dihasilkan berupa buku yang disusun secara sistematis untuk belajar mandiri siswa. Modul pembelajaran ini didesain full colour mulai depan sampai belakang. Modul pembelajaran ini memiliki beberapa bagian. Bagian depan yang meliputi cover, daftar isi, dan kata pengantar, bagian kedua adalah bagian inti yaitu isi, dan bagian akhir adalah evaluasi menyeluruh dari materi yang telah dipelajari dalam modul. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan. Uji lapangan dilaksanakan di MAN Gondanglegi, Malang, Jawa Timur. Prosedur penelitian ini adalah: (1) menganalisis kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, (3) mengembangkan materi, (4) memproduksi media, (5) memvalidasi, (6) melakukan uji coba perorangan dan uji coba lapangan, dan (7) merevisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul ini mencapai tingkat kelayakan 85,42% atau bisa dikatakan valid dan telah memenuhi kriteria modul pembelajaran yang cocok untuk siswa. Selain itu modul yang dikembangkan ini melalui beberapa kali revisi. Revisi dilakukan atas dasar saran, kritik, dan komentar dari masing-masing validator. Berdasarkan hasil uji coba di MAN Gondanglegi yang telah peneliti lakukan, diketahui bahwa modul pembelajaran qawa’id bahasa Arab ini mempunyai beberapa kelebihan diantaranya: (a) sistematika penulisan dari segi teks, font, ukuran dan warna mudah dan jelas dibaca, (b) mudah dipahami, (c) siswa mendapatkan pemahaman yang lebih banyak dibandingkan dengan hanya menggunakan buku ajar, (d) siswa lebih senang menggunakan modul ini sebagai sumber belajar qawa’id, dan (e) skematika penyusunan modul tidak jauh beda dengan buku ajar, sehingga memudahkan siswa dalam menggunakannya. Meskipun mempunyai kelebihan, modul pembelajaran ini juga mempunyai kelemahan, antara lain: (a) sedikitnya soal yang terdapat pada setiap materi, (b) beberapa penjelasan dari materi kurang bisa memahamkan siswa, dan (c) kurangnya variasi soal disetiap materinya. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mengkaji, memodifikasi dan memperkecil kekurangan pada modul pembelajaran qawa’id bahasa Arab ini sehingga modul ini dapat digunakan sebagai referensi dan salah satu sumber belajar bagi siswa. Selain itu modul ini diharapkan dapat menjadi salah satu model pembelajaran bahasa Arab oleh guru yang lebih menarik dan variatif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Metode pelaksanaan dan rencana anggaran biaya pekerjaan balok dan pelat lantai pada proyek pembangunan rumah sakit Universitas Muhammadiyah Malang Jln. Raya Tlogomas No. 246 Malang / Edi Arwanto

 

Kata Kunci: Pelaksanaan, analisa biaya, balok dan pelat lantai Pada era sekarang ini, pembangunan rumah sakit banyak dibuat lebih dari 2 lantai, hal tersebut dimaksudkan untuk meluaskan bangunan kearah vertikal dari pada ke arah horizontal. Hal ini dikarenakan lahan yang semakin terbatas, sehingga untuk mengatasi masalah tersebut dilaksanakanya bangunan bertingkat menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan lahan. Seperti kita ketahui bahwa bangunan bertingkat salah satunya rumah sakit membutuhkan konstruksi balok dan pelat lantai sebagai dasar untuk lantai 2, 3 dan seterusnya. Karena balok adalah bagian struktur yang berfungsi untuk menahan gaya lentur sedangkan pelat lantai berfungsi sebagai lantai pada lantai 2, 3 dan seterusnya. Maka di dalam pelaksanaan bangunan rumah sikit perlu pengawasan yang cukup, untuk menghasilkan ketepatan dalam konstruksi tersebut. Studi pelaksanaan ini bertujuan untuk mengetahui: (1) metode pelaksanaan konstruksi balok dan pelat lantai; (2) rencana anggaran biaya pekerjaan balok dan pelat lantai jika dihitung dengan menggunakan metode SNI-2002; (3) rencana anggaran pelaksanaan pekerjaan balok dan pelat lantai dan (4) selisih biaya dari rencana anggaran biaya yang dihitung menggunakan metode SNI-2002 dengan biaya riil pada proyek Pembangunan Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi (pengamatan), tanya jawab (wawancara), dan dokumentasi. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan balok dan pelat lantai. Dari studi lapangan pelaksanaan konstruksi balok dan pelat lantai pada umumnya sudah sesuai dengan kajian pustaka, kecuali pada pekerjaan pemadatan beton dan pembongkaran bekisting kurang sesuai dengan kajian pustaka. Hasil dari perhitungan RAB yang dihitung menggunakan metode SNI-2002 dengan RAP menunjukkan perhitungan RAB lebih besar dari pada perhitungan RAP, Selisih antara kedua perhitungan tersebut sekitar 44,7 %.

Employing the picture series strategy to improve the writing ability of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang / Nugrahaningtyas Fatma Anyassari

 

ABSTRACT Anyassari, Nugrahaningtyas Fatma. 2010. Employing the Picture Series Strategy to Improve the Writing Ability of the Eighth Graders of MTs Surya Buana Malang. Thesis, Undergraduate program in English Education State University of Malang. Advisor: Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd, M.Ed. Key Words: Picture Series, Senyum Itu Sehat rubric, Narrative Class of 8A in MTs Surya Buana felt that writing in English was a hard task to do. They had to think of many things, such as spelling, punctuation, tense, and word order. When they had to start writing, most of the eighth graders were both idle and confused of what to write. As a result, the students’ writing products were not sufficient to assess. They got low score in this case. Based on rubric employed in the preliminary study, the students got 2,95; 2,91; and 2,47 as the mean of content, organization, and language; respectively. This is in line with what many scholars state—that writing is the most complex skill amongst others. However, writing skill based on Depdiknas (2006) is one of skills that should be taught in Junior High Schools in Indonesia. Regarding the importance and the problems happening in practice, this research was conducted to improve the students’ ability in writing narrative by employing picture series strategy. To do this, the series were taken from Senyum Itu Sehat rubric in daily newspaper Jawa Pos. The reasons of choosing the particular series were ubiquitous, inexpensive, easy to prepare, contextual, and amusing. Furthermore, the series had not been utilized in the particular school before this research was conducted. This research was conducted in MTs Surya Buana Malang. The school is located at Jalan Gajayana IV/ 631. The subject of this research was class of 8A 2009/2010 academic year which consisted of 29 students varying from 13 females and 16 males. Classroom Action Research (CAR) was chosen as the methodology. Therefore, the research was done through four stages namely planning an action, implementing the action, observing the action, and reflecting on the observation. In order to gain data, four instruments were utilized. They were observation checklist, questionnaire, rubric, and field notes. The instruments were to get collaborator’s reflection, students’ feedback, students’ writing scores, and the researcher’s reflection; respectively. After the data were gained, they were analyzed quantitatively by calculating the mean and qualitatively by data sensemaking. It took two cycles to meet criteria of success. In Cycle I, which consisted of three meetings, the students performed well. They showed positive attitude towards writing ability. The students who used to be confused felt awakened by the picture series so that they could have thoughts of what they were going to write. The writing scores in Cycle I were increasing from the preliminary study. The mean of content, organization, and language were 3,43; 3,41; 3,2; respectively. From the treatment in Cycle I, 90% of the students were good in content, 93% good in organization, and only 73% good in language. Since the criteria of success told that each aspect had to reach 90% and one aspect which is i 6 language had not met the criteria, Cycle II was conducted. In Cycle II, the students were exposed to write with good punctuation. Two branches of punctuation matter which were focused on were capital letters and full stop. Moreover, to promote the students’ cognitive aspect the last pictures of each series employed were omitted. The students could make their own ending based those incomplete picture series. After four meetings, the students performed well in writing ability. It could be seen from the mean of content, organization, and language. They were 3,51; 3,46; 3,47. More than 90% of the students were good in them. Moreover, they performed positively since they were not confused and idle in the beginning of writing. Most of them were inspired to make stories by the picture series. The result of this research improved the writing ability of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang. They were not reluctant to start writing because they could easily generate ideas to write. The picture series assisted them. Moreover, the teaching methodology utilized helped them in writing process. They were inductive style, teaching punctuation, narrative scaffolding, personal guidance and reinforcement. It was recommended to the English teachers to employ the picture series taken from Senyum Itu Sehat rubric from daily newspaper Jawa Pos to teach writing especially narrative to the students of junior high schools. However, careful selection should be done first. The series should be easily understood and should reflect narrative structure. For other researcher, it was suggested to conduct similar research in higher lever, senior high school or vocational school levels. Different methodology and genre could be employed. ii

Membangun forum diskusi siswa menggunakan moodle untuk E-Learning SMP Negeri 1 Panggul Trenggalek / Affian Khoirul Anam

 

Kata Kunci : Forum Didkusi Siswa Untuk meningkatkan standar proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Panggul mulai saat ini telah memulai dengan membangun sistem pembelajaran mengunakan teknoligi informasi dengan cara membangun e-learning berbasis web. Dengan tujuan agar proses belajar mengajar bisa dilakukan secara efektif dan efisien. Dengan e-learning tersebut proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Panggul tidak bergantung pada kehadiran guru dikela. Dalam membangun e-learning berbasis web dengan mengunakan forum didkusi siswa ini dilakukan beberapa proses untuk mewujudkanya dengan cara melakukan pengembangan diskusi siswa dan guru, membentuk tim pengembang e-learning, melaksanakan rencana-rencana yang telah diprogramkan yaitu: Merencanakan dan membangun jaringan computer untuk mendukung proses e-learning, merencanakan seperti apa e-learning yang akan dikembangkan, memilih aplikasi sang digunakan yaitu dengan mengunakan aplikasi xampp untuk web servernya dan moodle untuk membangun e-learning. Dengan hal tersebut bisa telaksana e-learning berbasis web tersebut. Dengan adanya e-learning tersebut guru bisa menjadwalkan sendiri tambahan jam pelajarannya diluar jadwal mengajar di kelas, guru bisa memasukan materi yang akan diajarkan atau guru bisa memberikan penilaian kepada siswa secara on-line dan guru bisa memberikan tanggapan atas pertanyaan siswa. Sedang untuk siswa bisa melihat jadwal jam tambahan materi dari guru mata pelajaran tersebut, siswa bisa langsung mengikuti forum diskusi, siswa bisa melihat nilai, siswa bisa mengirim tugas atau jawaban yang diberikan guru melalui media e-learning tersebut, siswa juga dapat memberikan tanggapan atas materi yang di upload oleh guru, dan siswa juga bisa mendownload materi.

English club as an extracurricular program at SMPN 3 Malang / Siti Faizatul Himmatul Khoiriyah

 

ABSTRAK Khoiriyah, S. F. H. 2010. English Club As an Extracurricular Program at SMPN 3 Malang. Thesis, English Department. Faculty of Letters. Sarjana Program. State University of Malang. Advisor: Dr. Arwijati Wahyudi, Dip. TESL, M.Pd. Kata kunci: English Club, Extracurricular program Menguasai Bahasa Inggris dirasa penting untuk kepentingan komunikasi global. Sayangnya, Bahasa Inggris adalah bahasa asing di Indonesia yang hanya digunakan di ruang kelas. Siswa tidak memiliki kesempatan untuk mempraktikkannya di luar kelas, terutama untuk kehidupan sehari-hari. Karena itu, beberapa sekolah membentuk suatu kegiatan extracurricular yang memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih kemampuan Bahasa Inggris dan menggunakannya. Tujuan dari pembentukan kegiatan ini bergantung pada tujuan masing-masing sekolah dan kemampuan sekolah-sekolah tersebut. SMPN 3 Malang adalah sekolah yang mengadakan English Club sebagai kegiatan extracurricular. Dalam kegiatan ini, siswa dilatih untuk menyampaikan debate, story telling dan speech agar mereka siap menghadapi lomba-lomba dalam bidang tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian descriptive. Penelitian ini dirancang untuk memberi gambaran tentang bagaimana pelaksanaan English Club di SMPN 3 Malang. Sekolah tersebut terpilih menjadi tempat dilaksanakannya penelitian ini karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah terbaik di Kota Malang yang telah memenangkan beberapa kejuaraan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang: (1) macam-macam teknik mengajar, material dan media yang digunakan oleh guru dalam kegiatan English Club, (2) syarat untuk menjadi peserta dalam English Club, (3) pendapat dan masalah yang dihadapi guru-guru dalam pelaksanaan English Club, dan (4) pendapat dan masalah yang dihadapi siswa dalam English Club. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kerja kelompok paling sering digunakan, dengan topik yang berupa isu terkini sebagai material dalam pengajaran dengan media visual maupun audio visual. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa siswa-siswa diseleksi dengan menggunakan tes wawancara. Guru dan siswa berpendapat bahwa kegiatan tersebut memberi manfaat yang baik pada kemampuan Bahasa Inggris siswa. Mereka berpendapat bahwa kegiatan tersebut mampu mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris siswa.

Peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas V melalui pembelajaran berbasis masalah di SDN Kerjen Kabupaten Blitar / Ali Mahfud Budi Santoso

 

ABSTRAK SANTOSO, A.M.B. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah Di SDN Kerjen Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Zaenudin, S.Pd., M.Pd., (II) Dra. Wasih D.S, S.Pd, M. Pd. Kata Kunci: Hasil Belajar, Soal Cerita, Pembelajaran Berbasis Masalah Hasil pengamatan di SDN Kerjen kelas V pada mata pelajaran matematika siswa belum memahami cara dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya belajar matematika merupakan belajar untuk memecahkan suatu masalah. Oleh sebab itu pembelajaran matematika hendaknya di mulai dengan pengenalan suatu masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Untuk menciptakan suatu pembelajaran yang sesuai dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk melatih memecahkan suatu permasalahan yaitu dengan menerapkan Pembelajaran Berbasis Masalah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan pembelajaran berbasis masalah soal cerita kelas V tentang pecahan di SDN Kerjen Kabupaten Blitar? (2) Apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar pada soal cerita siswa kelas V tentang pecahan di SDN Kerjen Kabupaten Blitar? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah pada soal cerita kelas V di SDN Kerjen Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar soal cerita siswa kelas V di SDN Kerjen Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang di bantu guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam memecahkan suatu masalah dan hasil belajar siswa. Rata-rata keterampilan dalam memecahkan masalah pada pra tindakan mencapai 11.4% meningkat menjadi 66.4% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 77%. Sedangkan hasil belajar yang di peroleh setelah kegiatan pembelajaran juga mengalami peningkatan. Rata-rata hasil belajar pada pra tindakan adalah 58.2% meningkat menjadi 68.4% pada siklus I dan pada siklus II meningkatan menjadi 80.4%. Sedangkan ketercapaian belajar secara klasikal pada pra tindakan 37.04% meningkat menjadi 62.96% dan pada siklus II meningkat menjadi 85.2%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Kerjen Kabupaten Blitar. Dalam membelajarkan siswa guru disarankan menciptakan pembelajaran dengan menghadirkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan.

Meningkatkan hasil belajar konsep perkalian melalui penerapan pendekatan discovery terbimbing di kelas II SDN Bendosewu 01 Blitar / Titim Prihana Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, Titim Prihana. 2010. Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Perkalian Melalui Pendekatan Discovery Terbimbing Di Kelas II SDN Bendosewu 01 Blitar. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Imam Hanafi, M.M, (2) Dr. Zainuddin M. Pd. Kata kunci: hasil belajar, pendekatan discovery terbimbing, perkalian Hasil wawancara dengan guru kelas I dan observasi pendahuluan sebelum melaksanakan penelitian ini memeberikan informasi bahwa hasil belajar pembelajaran yang digunakan monoton dan pembelajaran berpusat pada guru. Guru hanya menggunakan metode ceramah dalm pembelajaran. Tidak adanya media yang menunjang sehingga siswa tidak tertarik terhadap materi yang diajarkan guru. Dalam pendidikan matematika diharapkan proses pembelajarannya lebih menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung agar kompetensi siswa dapat berkembang dan siswa dapat memahami konsep. Karena itu diperlukan perubahan pembelajaran dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Perkalian Melalui Pendekatan Discovery Terbimbing Di Kelas II SDN Bendosewu 01 Blitar. Pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah pendekatan discovery terbimbing. Dengan pendekatan ini siswa dihadapkan kepada situasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepermasalahan sehingga siswa bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial dan error) hendaknya dianjurkan. Merangsang kreatifitas siswa dan membantu mereka dalam menemukan pengetahuan baru. PTK ini adalah bagaimana penerapan pendekatan discovery terbimbing pada konsep perkalian dan bagaimana hasil belajar siswa pada konsep perkalian dengan menggunakan pendekatan discovery terbimbing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar konsep perkalian melalui pendekatan discovery terbimbing di kelas II SDN Bendosewu 01 Blitar. Berdasarkan analisis terhadap data yang diperoleh dan pembahasan dari hasil refleksi serta temuan-temuan yang ada diperoleh suatu kesimpulan yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan tindakan selanjutnya. Penerapan pendekatan discovery terbimbing dapat membawa pengaruh positif terhadap kualitas belajar siswa. Penerapan pendekatan discovery terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar dan kualitas proses siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar siswa pada pratindakan ketuntasan belajar mencapai 40% dan siklus I meningkat menjadi 70% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 90%. Hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar dari pratindakan ke siklus I sebesar 30% sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 20%. Aktivitas siswa dari siklus I ke siklus II meningkat dari 63,9% menjadi 78,0%. Hal ini menunjukkan peningkatan aktivitas siswa sebesar 14,1%. Saran yang disampaikan dalam penelitian ini adalah pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan discovery terbimbing agar dilaksanakan dengan pembimbingan yang mengarah. Sehingga terjadi i

Using adapted numbered heads together to improve reading comprehension and participation of VIII-A students at MTs Negeri 1 Bangsal Mojokerto in reading narrative texts / Ahmad Abid Sholeh

 

Based on a preliminary study in MTs Negeri 1 Bangsal Mojokerto, it was identified that VIII-A students found it hard to understand texts, especially narrative texts. As a result, they had difficulty to answer questions following the texts. Besides, they did not participate actively in classroom activities. To solve the problems, Adapted Numbered Heads Together was proposed to be applied in teaching reading because some researchers have proven that the technique was effective to help students to both comprehend materials and participate in classroom activities. The objective of this study was to describe how the implementation of Adapted Numbered Heads Together can improve the students’ reading comprehension and participation. This study used collaborative classroom action research. The collaborative English teacher acted as the observer when the researcher implemented the adapted technique. The research was conducted in one cycle, which consisted of three meetings and covered planning, implementing, observing, and reflecting. The subjects were 44 students of VIII-A in MTs Negeri 1 Bangsal Mojokerto in 2009/2010 academic year. The instruments used to collect the data were interview guides, questionnaires, observation sheets, field notes, and a reading quiz. The result of the research showed that Adapted Numbered Heads Together improved the students’ reading comprehension and participation. The number of students getting score equal or above 66 in Cycle 1 increased 67.36% from preliminary study. In addition, the students’ participation improved from preliminary study of Cycle 1. The students’ participation in paying attention to the explanation improved 34.09% from the preliminary study to the first meeting of Cycle 1 and 45.45% from the preliminary study to the second meeting of Cycle 1. The students’ participation in answering the researcher’s questions improved 40.91% from the preliminary study to the first meeting of Cycle 1 and 50 % from the preliminary study to the second meeting of Cycle 1. The students’ participation in discussing and presenting the group’s work improved 100% from the preliminary study to both the first meeting and the second meeting of Cycle 1. Finally, the students’ participation in asking the researcher questions improved 52.27% from the preliminary study to the first meeting of Cycle 1 and 56.82% from the preliminary study to the second meeting of Cycle 1. The researcher implemented Adapted Numbered Heads Together in this study. First, the lesson is explained briefly. Second, students were grouped and each member was given a different number. Then, each group was given the same set of questions. Each group member was responsible to answer question(s) whose number was the same as their number. Next, all members tried to answer the questions they were responsible for. After that, they were assigned to discuss their answers with their teammates in order to find the most accurate answer. When the group discussion was over, a number was called. All members in every group whose numbers were the same as the called number raised their hands. One of the students was asked to present and to answer the question. The other students who had the same number as the presented students were encouraged to give response towards the presented student’s answer. Finally, the answers were concluded. Based on the result of this study, it is recommended that English teachers implement Adapted Numbered Heads Together if their classes face similar problems. For the other researchers, they are recommended to use Adapted Numbered Heads Together on different grades, levels of education, and subjects with better scoring grid which only assesses reading comprehension and accommodates an answer having more than one option.

Pengendalian internal pelaksanaan pengajuan klaim program jaminan kesehatan masyarakat (Studi kasus di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi) / Dwiani Riastuti

 

Kata Kunci: Pengendalian Internal, Klaim, Jamkesmas. Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) merupakan program pemerintah dalam rangka memantapkan penjaminan kesehatan bagi masyarakat miskin. Penggantian dana pasien Jamkesmas diperoleh melalui pelaksanaan klaim pihak rumah sakit secara berkala kepada pihak penanggung dana. Sistem pengajuan klaim secara baik akan memperlancar pencairan dana. Salah satu hal penting untuk menjaga integritas sistem adalah pengendalian internal dalam perusahaan. Tujuan yang terdapat dalam Tigas Akhir ini adalah untuk mengetahui sistem dan pengendalian internal serta perbaikan pengendalian internal terkait pelaksanaan pengajuan klaim Jamkesmas. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem pelaksanaan pengajuan klaim Jamkesmas serta pengendalian internalnya mencakup pemisahan fungsi antara penerima pasien dengan verifikasi pasien, pemberi kode kesehatan dengan pengentri data, pelaksana klaim dengan penyimpan kucuran dana, dan penerima dana dengan pencatat pendapatan. Penyediaan informasi tentang data pasien, berkas klaim, jumlah klaim, dan otorisasi. Perangkapan dokumen Status Pasien melebihi kebutuhan. Prosedur-prosedur berupa prosedur penerimaan pasien, prosedur administrasi klaim, dan prosedur pencairan dana sesuai kesepakatan dengan penanggung dana. Tarif pelayanan kesehatan ditentukan penanggung dana. Ada pemeriksaan independen. Pembuatan kuitansi untuk Jamkesmas MTT. Menggunakan jasa Bank sebagai penyimpan pendapatan. Sedangkan langkah perbaikan yang disarankan adalah dengan penghematan biaya, tenaga, dan waktu dalam pembuatan perangkapan dokumen Status Pasien, pembentukan verifikator independen untuk Jamkesmas MTT, pengembangan karyawan, dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

The speaking skill of the eighth graders of RSBI and regular programs at SMPN 5 Malang / Lita Cempaka

 

ABSTRACT Cempaka, Lita. 2010. The Speaking Skill of the Eighth Graders of RSBI and Regular Programs at SMPN 5 Malang. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. Key words: Speaking Skill, RSBI Program, Regular Program This study is aimed to describe the difference of the speaking skill of the eighth graders of RSBI and Regular Programs in SMPN 5 Malang. The RSBI Program is known for the use of English in Science, Math and Technology subjects, while the Regular Program uses English only in General English subject. Thus, it can be seen that there are more hours for RSBI students to practice English. Because of the effective hours for English are different, this study is also aimed to give evidence on the assumption about the higher level of competence achieved by RSBI students. This study is quantitative. The aspects which were used to determine the quality of the speaking skill are fluency, accuracy, pronunciation, stress and intonation. There are four instruments which were used in this study: an interview list, a tape recorder, a speaking rubric, and a scoring guide. The interview list consists of questions used in the interview, and the speaking of the students were recorded by a tape recorder; while speaking rubric and scoring guide were used for the basis to rating the speaking skill. The findings of the study reveal that the speaking skill of the students from RSBI and Regular Program are in the same position: good. Around 44% RSBI students and 43.1% Regular students attained good. The others varied with excellent, very good, and fair quality. The means within both classes (84 and 82) also show that they belonged to the same quality: good. Though most of the students from both programs attained good, there are more Regular students who attained excellent than those from RSBI program. It is influenced by some factors. There are around 94% Regular students who like English and around 88% RSBI students who like English. In addition, 98% Regular students do practices, and only 93% RSBI students who do it. The students also have additional lessons outside the school, but the percentages of the students who take it are quite small. The teaching techniques used in two programs are different. Thus, interest, practices, teaching techniques and additional lessons influence the development of the speaking skill. From the findings, it can be concluded that the speaking skill of RSBI students is not higher than Regular students. Their qualities are almost the same. It is possible that the practice and the effort of the students in learning English are not maximum. Thus, it is suggested for the teachers to always monitor the development of the students’ communicative competence, discuss together the appropriate techniques and facilities used in the class in order to increase the students interest and motivation towards learning English, make a “learning-trip” or invite native speakers to train the students with the real situation, and try to use 100% English in the classroom. Following the suggestions, the level of competence of the students is hoped to be better than now. i

Panduan pelatihan pengenalan diri siswa SMA untuk konselor / Iqlima

 

ABSTRAK Iqlima. 2010. Panduan Pelatihan Pengenalan Diri Siswa SMA untuk Konselor. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Lutfi Fauzan, M.Pd. (II) Dra. Ella Faridati Zen, M.Pd. Kata kunci: pengenalan diri, panduan, bimbingan dan konseling Permasalahan yang terjadi pada siswa kelas X-3 di SMA Negeri 1 Malang, yaitu siswa memiliki pengetahuan yang kurang terhadap dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat bahwa masih banyak siswa yang belum bisa mengerjakan tugas-tugas modul BK yang terkait dengan pemahaman dirinya dengan baik, siswa kesulitan untuk menyebutkan sifat-sifat yang dimilikinya, kesulitan menggambarkan dirinya (konsep diri) dan mengalami kesulitan untuk mengenali perubahan emosi pada dirinya sendiri. Konselor dalam membimbing siswa mengenali dirinya tidak cukup hanya dengan memberikan informasi saja, tetapi juga dibutuhkan praktik langsung dalam bentuk pelatihan pengenalan diri agar bimbingan menjadi lebih efektif. Sementara bimbingan pengenalan diri di BK SMA Negeri 1 Malang diberikan dalam bentuk pemberian informasi secara ceramah (ekspository) dan mengerjakan tugas dimodul sehingga peneliti mengembangkan panduan pelatihan pengenalan diri siswa SMA untuk konselor. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan panduan untuk konselor mengenai pelatihan pengenalan diri Siswa SMA. Panduan pelatihan ini dapat membantu konselor dalam memberikan pelatihan pengenalan diri kepada siswa. Rancangan pengembangan penelitian ini mengadaptasi model research and development yang dikemukakan oleh Borg and Gall (1983). Tahap-tahap pengembangan ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah persiapan, yang terdiri dari pelaksanaan penilaian kebutuhan (need assessment), menganalisis data dan menetapkan proritas kebutuhan, serta merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus panduan pelatihan. Tahap kedua adalah menyusun prototipe panduan pelatihan pengenalan diri siswa SMA untuk konselor. Tahap ketiga adalah evaluasi, yang terdiri dari penilaian produk oleh ahli BK, revisi produk berdasarkan penilaian ahli BK, penilaian produk oleh calon pengguna produk dan revisi produk berdasarkan penilaian calon pengguna produk. Produk yang peneliti kembangkan adalah panduan pelatihan pengenalan diri siswa SMA untuk konselor yang terdiri dari tiga aspek pengenalan diri, yaitu pengenalan sikap diri, emosi diri, dan konsep diri. Teknik yang digunakan dalam pelatihan ini adalah ceramah (ekspository), latihan pengenalan sikap introvert-ekstrovert dan latihan pengungkapan diri. Berdasarkan penilaian ahli terhadap produk didapatkan data bahwa panduan pelatihan ini termasuk memiliki kategori sangat tepat, sangat menarik dan sangat efisien. Sementara berdasarkan penilaian produk oleh calon pengguna produk (konselor) didapatkan data bahwa panduan pelatihan ini termasuk memiliki kategori sangat tepat, sangat menarik dan sangat efisien sehingga panduan pelatihan ini layak untuk dijadikan panduan bagi konselor SMA dalam memberikan pelatihan pengenalan diri kepada siswa. ii Penelitian ini dilaksanakan sampai pada penilaian oleh ahli dan calon pengguna produk, sehingga peneliti selanjutnya dapat mengujicobakan produk ini ke lapangan (siswa) untuk mengetahui efektivitas dari panduan pelatihan ini. Selain itu, peneliti yang lain dapat mengembangkan aspek pelatihan pengenalan diri yang lainnya sebab produk yang peneliti kembangkan ini terbatas untuk mengenali aspek pengenalan sikap diri, emosi diri, dan konsep diri siswa. Sementara untuk konselor dapat mempergunakan panduan pelatihan ini dalam membantu siswa mengenali dirinya sendiri, khususnya dalam mengenali sikap diri, emosi diri, dan konsep diri siswa. Konselor juga dapat menerapkan pelatihan ini dalam model PTK sehingga konselor dapat mengembangkan produk ini.

Studi implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) oleh guru SMK Program Keahlian Teknik Pemesinan dan Teknik Mekanik Otomotif se-kota Malang tahun ajaran 2009/2010 / I Gusti Ngurah Agung Widya Atmaja

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan persiapan pembelajaran dalam implementasi KTSP oleh Guru SMK Program Keahlian Teknik Pemesinan dan Teknik Mekanik Otomotif di Kota Malang; (2) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dalam implementasi KTSP oleh Guru SMK Program Keahlian Teknik Pemesinan dan Teknik Mekanik Otomotif di Kota Malang; dan (3) Mendeskripsikan penilaian pembelajaran dalam implementasi KTSP oleh Guru SMK Program Keahlian Teknik Pemesinan dan Teknik Mekanik Otomotif di Kota Malang. Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang mendeskripsikan variabel-variabel penelitian (persiapan pembelajaran dalam implementasi KTSP, pelaksanaan pembelajaran dalam implementasi KTSP, dan penilaian pembelajaran dalam implementasi KTSP) secara sistematik ke dalam sebuah nilai/kriteria berdasarkan data faktual pada saat penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi KTSP oleh guru SMK Program Keahlian Tekik Pemesinan dan Teknik Mekanik Otomotif di Kota Malang pada tahun ajaran 2009/2010 sudah baik meskipun dengan karakteristik yang berbeda-beda dilihat dari segi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, serta lama mengajar. Kualifikasi baik yaitu dengan nilai kriteria 72,75% dari para guru dapat dilihat dari persiapan pembelajaran (penyusunan, pengembangan, dan pemahaman rencana pembelajaran). Untuk pelaksanaan pembelajaran (meliputi penyampaian materi pembelajaran, penggunaan metode pembelajaran, pemakaian media pembelajaran, serta penerapan strategi pembelajaran) pada kegiatan pembelajaran teori dan praktek, digambarkan dengan kualifikasi sangat baik yaitu dengan nilai kriteria 82,68% dari para guru. Sedangkan penilaian pembelajaran (meliputi kriteria penilaian, komponen, jenis penilaian, serta bentuk penilaian) yang digunakan dan diterapkan oleh para guru dalam pembelajaran selama ini digambarkan dengan kualifikasi baik yaitu dengan nilai kriteria 77,91%. Dan penjabaran lain dari implementasi pembelajaran KTSP oleh para guru tersebut juga sudah tergolong pada klasifikasi tinggi. Saran yang dapat diberikan mengenai hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pada tahun ke-4 penerapan KTSP sebagai kurikulum nasional, dalam implementasi KTSP hendaknya setiap guru memiliki kemampuan individu dalam mengembangkan perangkat pembelajaran sesuai dengan tujuan dan prosedur pengembangan KTSP untuk menunjang dalam menyeimbangkan antara kemampuan internal dan eksternal sekolah serta input dan output dari peserta didik. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) intinya adalah sekolah yang mencetak lulusan yang siap kerja. Kerjasama yang baik, flexibel, dan berkelanjutan antara sekolah dan Dunia Usaha atau Dunia Industri (DU/DI) sangat berpengaruh dalam proses dan hasil pembelajaran di SMK. Para guru dalam pelaksanaan pembelajaran dalam KTSP juga harus memperhatikan ketercapaian proses dan hasil pembelajaran peserta didik dalam arah tersebut (DU/DI). Sedangkan faktor-faktor yang terkait dalam penilaian pembelajaran dalam KTSP di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hendaknya disesuaikan dengan ketercapaian peserta didik dalam memenuhi standar DU/DI.

Efektivitas model think pair share dan numbered head together untuk meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran IPS-Sejarah di SMK Negeri 3 Blitar kelas VIII semester I tahun ajaran 2009/2010 / Rifi Agustina

 

ABSTRAK Rifi, Agustina. 2008. Efektivitas Model Think Pair Share dan Numbered Head Together Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dalam Pembelajaran IPSSejarah di SMP Negeri 3 Blitar Kelas VIII Semester I Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi. Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Hj. Siti Malikhah Towaf, M.A Kata kunci: Model Think Pair Share, Numbered Head Together Metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar mempunyai andil besar pada hasil belajar siswa. Banyak sekali metode pembelajaran yang dapat diterapkan dikelas, diantaranya adalah metode struktural. Metode ini dikembangkan oleh Kagan dengan maksud agar para siswa bekerjasama dalam kelompok. Metode struktural yang dapat meningkatkan penguasaan akademik terdiri atas model Think Pair Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT). Kedua model pembelajaran kooperatif ini merupakan strategi belajar mengajar yang mengedepankan kerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pembelajaran. Di SMP Negeri 3 Blitar model penerapan NHT dan TPS belum pernah dilakukan di SMP Negeri 3 Blitar. Selain itu berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 3 Blitar diketahui bahwa (1) Model yang digunakan dalam pembelajaran masih bersifat konvensional yaitu model ceramah, guru menyampaikan materi dengan ceramah sedangkan siswa mencatat hasil keterangan materi di papan tulis, (2) Guru kurang memberikan pertanyaan yang dapat memacu proses berpikir siswa karena pertanyaan yang diberikan guru masih pada tingkat mengingat, (3) Dalam melakukan kegiatan belajar megajar guru kurang memanfaatkan media pembelajaran yang ada, (4) Dalam proses belajar mengajar guru belum pernah menerapkan pembelajaran kelompok didalam kelas, (5) Skor kemampuan bekerja ilmiah siswa hanya diambil dari tugas siswa dan catatan, bukan dari keaktifan siswa dalam hal berfikir dan belajar bersama. Peneliti memilih menggunakan dua model pembelajaran yaitu model Think Pair Share dan Numbered Head Together di dalam pembelajaran di SMP Negeri 3 Blitar khususnya kelas VIII dikarenakan peneliti ingin membandingkan keefektifan kedua model pembelajaran tersebut di dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) penerapan model Think Pair Share dan hasil belajar siswa yang diajar dengan model Think Pair Share, 2) penerapan model Numbered Head Together dan hasil belajar siswa yang diajar dengan model Numbered Head Together, 3) perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan model Think Pair Share dan Numbered Head Together pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 3 Blitar. ii Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) karena digunakan untuk memperoleh gambaran tentang hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini dilakukan dalam 3 siklus untuk tiap model pembelajaran yaitu NHT dan TPS. Dalam setiap siklusnya terdiri dari 4 tahap kegiatan. Tahap tersebut meliputi: 1) rencana; 2) tindakan; 3) observasi; 4) refleksi. Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 3 Blitar yang terletak di Jalan Sudancho Supriyadi No.30. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII B dan J SMP Negeri 3 Blitar yang masingmasing berjumlah 37 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa respon siswa tentang penerapan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT) cukup positif. Untuk kelas TPS dan NHT nilai ratarata pretest adalah 65,37 dan 65,54, sedangkan nilai ratarata posttest adalah 77,36 dan 84,12. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai siswa yang diajar menggunakan model NHT lebih baik dibandingkan nilai siswa yang diajar menggunakan model TPS. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model Numbered Head Together (NHT) lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dari pada model Think Pair Share (TPS). Oleh karena itu, hendaknya guru bidang studi IPSSejarah dapat menerapkan model Numbered Head Together (NHT) dan Think Pair Share (TPS) agar lebih dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Blitar.

Peningkatan pembelajaran PKN melalui pendekatan pakem pada materi peraturan perundang-undangan di kelas V C SDN Sananwetan 2 kota Blitar / Anik Farikah

 

ABSTRAK Farikah, Anik. 2010. Peningkatan Pembelajaran PKn Melalui Pendekatan Pakem pada Materi Peraturan Perundang Perundang-Undangan di Kelas V C SDN Sanawetan 2 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si., (II) Dra. Widayati, M. H Kata Kunci: PKn, Pendekatan, Pakem, Peraturan, Perundang-undangan. Pendidikan adalah suatu proses interaksi manusia antara pendidik dengan subjek pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan juga merupakan salah satu sarana yang tepat dalam rangka membangun dan memajukan bangsa. Dalam pendidikan khususnya penyelenggaraan pendidikan sekolah dasar, terdapat salah satu mata pelajaran yang mampu menumbuhkembangkan nili-nilai kehidupan. Mata pelajaran yang dimaksud adalah mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan ). PKn di sekolah dasar adalah tahap awal di saat anak mulai belajar aktif terhadap objek disekitarnya. Anak membutuhkan dasar pemikiran yang yang dapat menjadikan anak saling menghargai dan menhormati orang lain, dapat berkomunikasi dengan baik dan saling mengenal satu sama lain. Dari sinilah pembelajaran PKn sangat penting, karena berhubungan dengan sikap dan nilai anak dimasa mendatang. Melalui pembelajaran PKn diharapkan siswa selain memiliki pengetahuan (kognitif) yang tinggi tentang nilai-nilai kehidupan dan sistem ketatanegaraan,juga memiliki aspek afektif terhadap nulai-nilai kehidupan tersebut yang akan diterapkan dalam kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat, dan bangsa. Dari hasil observasi yang dilakukan penulis pada pembelajaran PKn di kelas V C SDN Sanawetan 2 kota Blitar yaitu pada pra siklus ternyata terdapat suatu kendala (problematika) pembelajaran yang harus segera dipecahkan. Adapun problematika yang dihadapi siswa kelas V C dengan jumlah siswa 31 siswa ini adalah kurangnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian dengan judul Peningkatan Pembelajaran PKN Melalui Pendekatan Pakem pada Materi Peraturan Perundang-undangan di kelas V C SDN Sananwetan 2 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V C SDN Sananwetan 2 Kota Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, dokumentasi, wawancara, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif, meliputi proses, makna tindakan, dan pemaknaan. Kegiatan analisis meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus. Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan pada pra tindakan, siklus I, dan siklus II, dapat disimpulkan bahwa melalui pendekatan pakem, kegiatan pembelajaran PKn Kelas V C pada materi peraturan perundang-undangan di SDN Sananwetan 2 Kota Blitar dapat meningkatkan pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Siswa menjadi lebih aktif, senang dan bersemangat dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung, sehingga nilai hasil belajar siswa pun meningkat pula. Untuk itu, hendaknya para guru lebih kreatif dalam memilih menggunakan petode dan pendekatan pembelajaran dan guru mampu menggunakan model pembelajaran yang inovatif yang sesuai dengan pembelajaran dan menarik, salah satunya adalah dengan pendekatan pakem. Selain itu guru hendaknya bisa meminimalisir kelemahan atau kekurangan dari media pembelajaran yang telah dipilih demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Pengembangan paket bimbingan konsep diri untuk siswa kelas VIII di SMP Negeri 18 Malang / Rini Ratnaningsih

 

Siswa yang duduk di bangku SMP telah menginjak masa remaja dan mulai mencari identitas diri. Pada masa remaja ini terjadi perubahan fisik maupun psikologis. Perubahan fisik tersebut terkadang menimbulkan ketidaksiapan pada sebagian remaja sehingga ketidaksiapan itu membuat remaja menjadi kurang memahami jati diri. Remaja yang kurang memahami jati diri, akan selalu takut dan ragu untuk melangkah atau bertindak. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa jati diri atau identitas diri merupakan proses terbentuknya konsep diri remaja. Terkait dengan konsep diri, konselor mempunyai tugas untuk membimbing siswa agar menemukan konsep diri serta menumbuhkan konsep diri yang positif pada diri siswa tersebut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memberikan layanan bimbingan tentang konsep diri. Salah satu media yang dapat digunakan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dalam memahami konsep diri adalah dengan dikembangkannya paket bimbingan kionsep diri untuk siswa. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan paket bimbingan konsep diri untuk siswa SMP kelas VIII yang berterima secara teoritis dan praktis digunakan oleh konselor Sekolah Menengah Pertama sebagai media pemberian informasi tentang konsep diri. Pengembangan paket bimbingan konsep diri mengadaptasi langkah-langkah model pengembangan sistem instruksional Dick & Carey yang terdiri dari tahap (1) melakukan need assesment,(2) penyusunan paket bimbingan konsep diri, (3) uji ahli BK, uji ahli media (4) revisi dari uji ahli BK dan uji ahli media, (5)Uji coba calon pengguna produk, (6) revisi dari hasil uji coba calon pengguna produk yaitu konselor. Penilaian dilakukan oleh ahli bimbingan konseling, dan ahli media. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan angket untuk penilaian uji ahli dan calon pengguna produk. Tehnik analisis data yang digunakan adalah tehnik analisis deskriptif jenis tendensi sentral (mode). Produk yang dikembangkan adalah Paket Bimbingan Konsep Diri untuk siswa kelas VIII SMP Negeri 18 Malang yang terdiri atas (1) panduan Paket Bimbingan Konsep Diri untuk konselor; dan (2) materi bimbingan konsep diri untuk siswa, yang terdiri dari tiga penggalan yaitu: (1) konsep diri (2) peranan konsep diri (3)membangun konsep diri. Hasil pengembangan menunjukkan tingkat kevalidan Paket Bimbingan Konsep Diri pada aspek kegunaan diperoleh skor 3 (uji ahli dan uji calon pengguna produk) dengan kriteria berguna. Pada aspek kemudahan diperoleh skor 3 (uji ahli dan calon pengguna produk) dengan kriteria mudah. Pada aspek ketepatan diperoleh skor 3 (uji ahli dan calon pengguna produk) dengan kriteria tepat. Pada aspek kemenarikan diperoleh skor 3 (uji ahli dan calon pengguna produk) dengan kriteria menarik. Hasil analisis data kualitatif menunjukkan bahwa terdapat beberapa komponen paket yang harus direvisi: (1) penggunaan istilah "kamu" pada langkah langkah kegiatan dalam paket bimbingan konsep diri diganti dengan istilah "anda", (2) Tampilan visual pada paket bimbingan terutama pada penggunaan frame di pinggir atau keliling isi , (3), warna teks font atau sub judul terlalu lemah, (4) ilustrasi atau gambar perlu ditambahkan, (5) bahasa sesuai dengan tingkatan siswa SMP, (6) perbanyak contoh-contoh yang berhubungan dengan materi konsep diri. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang diberikan adalah: (1) konselor sebagai pembimbing hendaknya harus memahami prosedur bimbingan dan materi bimbingan agar siswa dapat mencapai tujuan bimbingan yang dikehendaki, (2) konselor dapat menambahkan media lain agar dapat menarik perhatian siswa dalam mempelajari materi konsep diri, (3) sebagai kelanjutan maka perlu uji coba produk kepada sasaran yaitu siswa agar mengetahui keefektifan produk yang dihasilkan.

Pemanfaatan perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS B di SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar / Chuzaifah Septiani

 

ABSTRAK Septiani, Chuzaifah. 2010. Pemanfaatan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam Pembelajaran Sejarah Kelas XI IPS B di SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Marsudi, M.Hum. Kata Kunci: Pemanfaatan perpustakaan, sumber belajar, pembelajaran sejarah Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Kota Blitar merupakan salah satu sumber belajar, khususnya sumber belajar sejarah yang memiliki berbagai macam koleksi baik buku maupun non buku. Mengingat pentingnya Perpustakaan Bung Karno sebagai sumber belajar untuk menunjang pembelajaran sejarah dan belum pernah diteliti tentang bagaimana pelaksanaannya, maka peneliti merasa perlu dilakukan penelitian tentang pemanfaatan Perpustakaan Bung Karno. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah 1) Bagaimana kesiapan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah, 2) Bagaimana memanfaatkan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS B SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar, 3) Apa saja Kendala dan kelebihan dalam pemanfaatan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS B SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Kesiapan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah, 2) Pemanfaatan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS B SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar, 3) Kendala dan kelebihan dalam pemanfaatan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS B SMA Negeri 1 Garum Kabupaten Blitar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena penelitian ini memaparkan dan mendeskripsikan data secara objektif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Adapun Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi. Lokasi penelitian ini adalah Perpustakaan Proklamator Bung Karno yang beralamat di Jln. Kalasan no 1 Kota Blitar dan SMA Negeri 1 Garum yang beralamat di Jln. Raya Bence Kabupaten Blitar. Hasil penelitian menunjukkan Perpustakaan Proklamator Bung Karno cukup memadai untuk pembelajaran sejarah. Kegiatan pemanfaatan Perpustakaan Proklamator Bung Karno yang diketahui melalui observasi adalah siswa mencari referensi untuk dijadikan sumber belajar. Kendala yang ditemukan dalam pemanfaatan Perpustakaan Proklamator Bung Karno sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah kelas XI IPS B SMA Negeri 1 Garum adalah keterbatasan jumlah tiap eksemplar pada tiap-tiap jenis buku, kurangnya informasi, dan kebiasaan buruk dari siswa. Sedangkan kelebihan dari kegiatan pembelajaran di Perpustakaan Proklamator Bung Karno memberikan tambahan variasi bagi guru dalam mengajar pelajaran sejarah, wawasan siswa bertambah, siswa lebih aktif dibandingkan di kelas, dan meningkatkan kreatifitas siswa dalam menggali sumber belajar. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, dikelas dan pokok bahasan yang lain serta pembelajaran di Perpustakaan Proklamator Bung Karno diharapkan mampu menambah variasi pembelajaran bagi guru sejarah.

Pengaruh keaktifan berorganisasi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi akuntansi di SMAN 1 Blitar / Yan Nurulitasari

 

Sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk menuntut ilmu akademik, tetapi juga ilmu non akademik. Karena pada dasarnya seorang siswa tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelegensi, tetapi juga kecerdasan emosional. Dengan aktif berorganisasi, siswa akan belajar bertanggung jawab dalam mengelola waktu. Sehingga, meskipun aktif berorganisasi tetapi siswa tersebut tetap dapat belajar dengan baik. Organisasi merupakan wadah bagi siswa untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya. Namun, kekhawatiran muncul saat beberapa siswa kesulitan membagi waktu. Siswa terlalu sibuk berorganisasi sehingga sering meninggalkan pelajaran dan kesulitan untuk mengejar ketinggalan pelajaran. Motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak dari siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, dan memberi arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa itu dapat tercapai. Jadi, walaupun siswa tersebut mempunyai kemampuan intelektual tinggi tetapi jika motivasi belajarnya rendah maka proses belajarnya tidak berlangsung optimal sehingga akan berpengaruh terhadap prestasi belajarnya. Penilaian prestasi belajar terhadap siswa sangat penting karena dapat diketahui sejauh mana taraf pengetahuan siswa yang dicapai selama mengikuti proses kegiatan belajar. Dalam penelitian ini, prestasi belajar yang dimaksud adalah hasil belajar siswa yang diambil dari nilai raport siswa. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menganalisa secara parsial dan simultan pengaruh keaktifan berorganisasi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IS di SMAN 1 Blitar pada bidang studi akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa variabel keaktifan berorganisasi berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar akuntansi dan motivasi belajar juga berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar akuntansi. Kepala sekolah dan guru diharapkan selalu memberikan bimbingan dan dukungan kepada anak didiknya untuk lebih meningkatkan keaktifan berorganisasi agar dapat menyalurkan bakat dan minat siswa serta dapat mengembangkan aspek kepribadian siswa secara optimal. Siswa sendiri diharapkan dapat memilih kegiatan organisasi yang sesuai dengan kemampuan dan bakat yang dimiliki serta dapat mengelola waktu dengan baik. Sedangkan untuk peneliti lain hendaknya mengambil sampel tidak hanya dari kelas IS tetapi juga kelas IA di SMAN 1 Blitar, sehingga dapat diketahui pengaruh keaktifan berorganisasi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar secara menyeluruh.

Evaluasi atas prosedur penjualan energi listrik pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Jaringan Ngunut / Elik Sasmito

 

Kata Kunci: Prosedur penjualan Kegiatan utama akuntansi yaitu pengidentifikasi, pemrosesan data dan pengkomunikasian informasi. Prosedur merupakan bagian dari suatu sistem. Prosedur penjualan merupakan bagian dari sistem akuntansi penjualan yang terbentuk pada PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut. Penerapan sistem penjualan yang baik akan mampu memberikan perlindungan, pengendalian dan pengawasan terhadap penjualan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur penjualan yang ada pada PT. PLN (Persero) UPJ Ngunut. Untuk menganalisa data peneliti menggunakan metode pemecahan masalah sebagai berikut: (1) Menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menggunakan kata- kata atau kalimat sesuai dengan masalah yang dibahas baik menggunakan teori atau pemikiran yang logis maupun teori yang dilakukan perusahaan, (2) Menggunakan metode bagan alir atau flowchart yaitu menggambarkan struktur pengendalian intern perusahaan secara keseluruhan dengan menunjukkan bagian tugas serta pengendalian lain yang terdapat dalam suatu sistem, (3) Melakukan koreksi dan memberikan saran terhadap kekurangan atau kelebihan yang mungkin ditemukan pada pelaksanaan sistem penjualan. Berdasarkan hasil analisa dapat disimpulkan bahwa Prosedur penjualan yang telah dimiliki PLN masih kurang baik karena terdapat kelemahan- kelemahan. Bila dilihat dari segi pencatatan, dokumen yang digunakan pada penjualan sudah cukup lengkap tetapi masih terdapat kekurangan dimana bagian penjualan membuat kuitansi rangkap tiga, sementara bagian penjualan ini tidak menyimpan arsipnya. Dengan tidak adanya kuitansi pembayaran di bagian penjualan akan sulit jika suatu saat ada pengecekan transaksi penjualan dari bagian administrasi dan keuangan. Karena apabila bagian administrasi dan keuangan melakukan kesalahan pencatatan terhadap transaksi penjualan dan ingin mengecek dokumen transaksi penjualan maka bagian penjualan tidak bisa menunjukkan salinan kuitansi bukti pembayaran. Sistem Pengendalian Intern yang ada di PLN juga masih kurang baik karena masih terdapat kelemahan- kelemahan, terutama pada keamanan data. Setiap karyawan memiliki password masing- masing untuk mengakses data, dimana password tersebut juga diketahui oleh karyawan lain. Hal ini sangat rawan sekali karena data- data, dokumen- dokumen atau catatan yang tersimpan menjadi kurang terjamin keamanannya. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) adanya tambahan dokumen yang diarsip agar tidak terjadi kesalahan atau kekeliruan pada saat pencatatan, (2) diadakan pembaharuan password agar kemungkinan tindakan kecurangan yang dilakukan oleh pegawai 1 dengan yang lainnya dapat diminimalisir.

Indirectness in women's language seen in Mary Boleyn's utterances in "The Other Boleyn Girl" movie / Rizka Rahmawati

 

ABSTRACT Rahmawati, Rizka. 2010. Indirectness in Women’s Language seen in Mary Boleyn’s Utterances in “The Other Boleyn Girl” Movie. Thesis, English Department. Faculty of Letters State University of Malang. Advisor: Dr. Emalia Iragiliati, M.Pd Keywords: Indirectness, Women’s Language, The Other Boleyn Girl The main part in communication is delivering a meaning from speaker to the hearer. In communication, people not concern only on the speaker’s meaning but also on the hearer’s interpretation. A mismatch can occur between the expressed meaning and the implied meaning, whereas indirectness appeared. Thus, this study is concerned on the indirectness that is carried out by Mary Boleyn in “The Other Boleyn Girl” movie. Mary Boleyn, in her utterances, brings up a phenomenon that is called as women’s language. The aim of this study is answering the statement of problem on indirectness in women’s language that is used by Mary Boleyn. Therefore, the research design of this study is descriptive qualitative and it also deals with content analysis. The reason is that the primary data of this study is the written form of Mary Boleyn’s utterances in the script and in the movie itself. In analyzing the data, the researcher used the theory of women’s language by Lakoff. The results showed that Mary Boleyn applied indirectness in her women’s language in the movie. She used her indirectness in the application of: (a) question intonation of women’s language; (b) hedges of women’s language; (c) intensive “so” of women’s language; (d) hypercorrect grammar of women’s language; (e) in the application of super polite form of women’s language; and (f) strengthened utterance of women’s language. Mary also applied the indirectness in women’s language as a strategy to gain her purposes. Hence, other study is still needed to give additional information about the use of indirectness in women’s language in other era or other setting of place.

Dampak faktor latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru terhadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium pada sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Aceh Besar / Amir Hamzah

 

ABSTRAK Hamzah, Amir. 2010. Dampak faktor latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru terhadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium pada Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Aceh Besar. Tesis, Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati, M.S., (II) Dr. Hedi Sutomo, S.U. Kata kunci: latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, peng- alaman mengajar, kemampuan kognitif, keprofesionalan guru biologi, laboratorium. Upaya meningkatkan kualitas dan keprofesionalan guru, merupakan sebuah keharusan bagi setiap guru seiring dengan perubahan kurikulum yang mensyaratkan siswa menjadi subyek aktif dalam sebuah proses pembelajaran. Keprofesionalan guru tentang laboratorium menjadi salah satu hal yang penting diperhatikan. Permasalahan yang sedang dihadapi di Aceh Besar sekarang ini adalah kurang memadainya per- alatan laboratorium serta rendahnya sumberdaya manusia khususnya guru. Keadaan tersebut, menyebabkan pelaksanaan pembelajaran di sekolah kurang efektif. Ke- kurangefektifan pelaksanaan pembelajaran berakibat menurunnya kualitas pendidi- kan. Rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai beri- kut: (1) Adakah dampak faktor latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru secara bersama-sama terhadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium pada SMA di Kabupaten Aceh Besar? (2) Manakah dari dampak faktor latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru yang paling berdampak terhadap keprofesionalan guru biologi tentang labora- torium pada SMA di Kabupaten Aceh Besar? Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional kausal dengan mengguna- kan pendekatan Ex post facto. Variabel bebas yang dilibatkan dalam penelitian ini meliputi latar Belakang Pendidikan Guru Biologi, Pengalaman Pelatihan, Beban Kerja, Pengalaman Mengajar, dan Kemampuan Kognitif Guru Biologi tentang Labo- ratorium, sedangkan Keprofesionalan Guru Biologi tentang Laboratorium sebagai variabel terikat. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru PNS yang mengajar biologi. Responden berjumlah 54 orang dan SMA Negeri yang terdapat di Aceh Besar sebanyak 19 sekolah. Instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data penelitian adalah berupa tes dan angket. Pengumpulan data pada penelitian ini yaitu penyebaran angket latar belakang pendidikan guru biologi, pengalaman pelatihan, beban kerja, dan pengalaman mengajar, tes kemampuan kognitif tentang labora- torium, penyebaran angket keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium, tes penguasaan landasan pendidikan, tes penguasaan bahan pembelajaran, dan tes pelaksanaan program pembelajaran. Teknik analisis data menggunakan regresi ganda, dengan taraf signifikansi p= 0,05. Hasil analisis regresi ganda terungkap bahwa lima variabel bebas (latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru) tersebut secara bersama-sama mempunyai dampak yang cukup dan sangat signifikan terhadap keprofesionalan guru biologi tentang labora- torium (R= 0,66; p= 0,000). Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan ada dampak latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru secara bersama-sama terhadap keprofesi- onalan guru biologi tentang laboratorium diterima. Terungkap bahwa besarnya dampak 5 variabel bebas (latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru) tersebut berdampak sebesar 43,60% terhadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium. Hal ini dapat dilihat dari koefisien determinasi (R square) yaitu sebesar 0,44. Dengan demikian, faktor lain yang juga ikut berdampak terhadap keprofesionalan guru tentang laboratorium masih sebesar 56,40%. Hasil uji lanjut dengan metode stepwise terungkap bahwa 2 variabel bebas (latar belakang pendidikan dan kemampuan kognitif guru) tersebut secara bersama-sama mempunyai dampak yang cukup dan sangat signifikan terhadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium (R= 0,63; p= 0,000). Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan ada dampak latar belakang pendidikan dan kemampuan kognitif guru secara bersama-sama terhadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium diterima. Terungkap bahwa besarnya dampak 2 variabel bebas (latar belakang pendidikan dan kemampuan kognitif guru) tersebut berdampak sebesar 40,00% terhadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium. Hal ini dapat dilihat dari koefisien determinasi (R square) yaitu sebesar 0,40. Dengan demikian, faktor lain yang juga ikut berdampak terhadap keprofesionalan guru tentang laboratorium masih sebesar 60,00%. Sum- bangan efektif masing-masing variabel bebas yang berpengaruh secara signifikan yaitu kemampuan kognitif guru biologi tentang laboratorium menunjukkan sumbang- an efektif yang paling besar yaitu sebesar 20,70%, sedangkan variabel latar belakang pendidikan sebesar 4,30%. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Ada dampak yang cukup dan sangat signifikan faktor latar belakang pendidikan, pengalaman pelatihan, beban kerja, pengalaman mengajar, dan kemampuan kognitif guru secara bersama-sama terhadap keprofesionalan guru biologi tentang labora- torium pada SMA di Kabupaten Aceh Besar. (2) Dampak yang paling efektif ter-hadap keprofesionalan guru biologi tentang laboratorium pada SMA di Kabupaten Aceh Besar adalah kemampuan kognitif guru. Bagi pemerintah daerah kabupaten Aceh Besar agar lebih meningkatkan lagi proses penyekolahan guru ke tingkat yang lebih tinggi, agar mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Kepada penyelenggara pen- didikan agar dapat lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas pelatihan labora- torium, agar para guru dapat lebih meningkatkan kompetensinya tentang laboratori- um. Kualitas model pelatihan laboratorium hendaknya merujuk pada kurikulum yang ada di sekolah, sehingga para guru dapat langsung mempraktekannya disekolah. Kepada para guru agar tidak hanya mengejar target kognitif, tetapi hendaknya juga memperhatikan kompetensi psikomotor siswa, dengan memanfaatkan fasilitas labora- torium, sehingga dapat memenuhi jumlah jam minimal yang ditetapkan yaitu 24 jam. Pengalaman yang diperoleh seseorang selama melaksanakan tugas diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kerjanya.

Persepsi siswa tentang pelaksanaan metode pembelajaran team teaching terhadap hasil belajar siswa pada mata diklat teknik gambar bangunan di SMK Negeri 6 Malang / Joko Abukhori

 

ABSTRAK Abukhori, Joko. 2010. Persepsi Siswa tentang Pelaksanaan Metode Pembelajaran Team teaching terhadap Hasil belajar siswa pada Matadiklat Teknik Gambar Bangunan di SMK Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Boedi Rahardjo, M.Pd., M.T.; Pembimbing (II) Hanni Elitasari Mahaputri, S.T., M.T. Kata kunci: persepsi, metode, team teaching, hasil belajar Dalam meningkatkan kualitas SMKN 6 Malang, proses pembelajaran mata diklat teknik gambar bangunan dilakukan dengan metode team teaching, masalahnya adalah apakah metode tsb dapat diterima oleh siswa, atau bagaimanakah pandangan siswa terhadap metode pembelajaran tersebut. Demikian penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mendiskripsikan persepsi siswa tentang pelaksanaan metode pembelajaran team teaching dan mengetahui pengaruh metode pembelajaran team teaching terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian populasi, subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Gambar Bangunan. Metode angket dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Analisis data menggunakan uji regresi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, (1) mayoritas siswa menyatakan setuju dengan rencana pengajaran yang dilakukan oleh guru, namun ada beberapa siswa merasa kurang sesuai dengan kurikulum sekolah. (2) Mayoritas siswa menyatakan setuju dengan prosedur mengajar yang dilakukan oleh guru, namun ada beberapa siswa merasa pelaksanaan prosedur berkomunikasi, evaluasi dan pengorganisasian ruang kurang sesuai dengan harapan siswa. (3) Mayoritas siswa menyatakan setuju dengan hubungan antar pribadi yang dilakukan oleh guru, namun ada beberapa siswa merasa kurang nyaman dengan sikap guru dalam mengembangkan sikap positif pada diri siswa. Kemudian hasil belajar siswa pada mata diklat teknik gambar bangunan dinyatakan lulus dengan nilai baik, dilihat dari standar minimal kelulusan yang ditetapkan oleh SMKN 6. Ada pengaruh yang signifikan antara variabel variabel bebas, metode pembelajaran team teaching dengan variabel terikat yaitu hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan (1) kepada guru diharapkan untuk lebih diperhatikan lagi dalam penyusunan RP, melaksanakan PM dan, membina HAP sehingga tidak ada pernyataan siswa menyatakan kurang sesuai dengan penyusunan RP, pelaksanaan PM yang kurang sesuai dengan harapan siswa dan pembinaan HAP yang kurang nyaman pada pelaksanaan metode pembelajaran team teaching dikemudian hari.(2) Guru hendaknya lebih membantu siswa dalam memahami dan memanfaatkan potensi atau kelebihan yang ada pada diri siswa, menumbuhkan rasa percaya diri dan merangsang siswa agar belajar secara optimal untuk meningkatkan hasil belajar. (3) Bagi peneliti lain, hasil penelitian yang berkaitan dengan hasil belajar siswa yang dikaitkan dengan faktor lain yang belum diteliti, hendaknya dijadikan masukkan untuk penelitian selanjutnya. Hasil penelitian-penelitian sejenis akan sangat bermanfaat sebagai dasar pengembangan metode pembelajaran dan upaya lainnya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Alat pengaturan putaran motor universal 1 fasa berbasis inverter / Langgeng Wahyu Wibowo

 

Kata kunci: Putaran, Motor Universal 1 Fasa, Inverter Dalam dunia industri sekarang ini dibutuhkan suatu alat yang mampu bekerja secara efektif dan efisien. Peralatan yang biasa digunakan oleh industri yaitu berupa penggunaan motor AC seri atau yang biasa disebut dengan Motor Universal. Motor Universal 1 fasa ini banyak dimanfaatkan untuk alat-alat keperluan rumah tangga, misalnya: mesin jahit, kipas angin, dan mixer. Motor ini juga memiliki kecepatan yang tinggi sehingga menghasilkan daya kuda yang tinggi pada setiap satuan ukuran motor. Sebagai inovasinya alat ini dapat dipergunakan untuk mengatur kecepatan putaran motor universal 1 fasa dan ada tambahan catu daya bila sumber PLN padam, sehingga motor tetap dapat dioperasionalkan. Perancangan proyek akhir ini merupakan implementasi dari inverter yang digunakan pada alat ini. Rangkaian pengatur tegangan ini memperoleh supply dari sumber accu 24 Volt DC, sebelum supply tegangan diumpankan ke motor besarnya tegangan yang diinginkan dikemudikan oleh inverter. Inverter ini mengubah daya sumber yang semula dari DC menjadi AC. Kemudian output dari inverter menuju rangkaian pengatur triac bekerja setelah mendapatkan sulutan tegangan dari diac. Besarnya tegangan sulut dari diac ditentukan oleh VR (Potensio). Kedudukan tahanan VR (Potensio) diatur sedikit demi sedikit sehingga tahanannya menjadi berkurang, menyebabkan tegangan kapasitor terpenuhi dan memberikan pengapian pada diac. Karena diac sudah ON maka akan memicu triac yang selanjutnya triac akan bekerja. Hasil akhir yang diperoleh dari proyek akhir ini adalah alat pengaturan putaran motor universal 1 fasa yang berbasis pada inverter. Alat yang dapat dimanfaatkan oleh industri dan rumah tangga untuk melayani berbagai macam putaran kecepatan yang variable. Selain itu juga dapat dimanfaatkan pada keadaan seperti pemadaman bergilir yang dilakukan oleh PLN karena adanya alat pengubah tegangan DC ke tegangan AC (inverter) dengan supply daya dari accu 24 V DC.

Peningkatan kemampuan menganalis unsur-unsur instrinsik cerpen dengan menggunakan metode two stay two stray siswa kelas XII MAN Bangkalan / Uswatun Hasanah

 

ABSTRAK Hasanah, Uswatun. 2010. Peningkatan Kemampuan Menganalisis Unsur-unsur Instrinsik Cerpen dengan Menggunakan Metode Two Stay Two Stray Siswa Kelas XII MAN Bangkalan. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Djoko Saryono, M.Pd, (II) Azizatuz Zahro, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran kooperatif, two stay two stray, unsur-unusr instrinsik cerpen Salah satu permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh guru bahasa Indonesia di MAN Bangkalan adalah hasil belajar yang kurang memuaskan terutama pada kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur instrinsik cerpen. Selain itu, pada saat belajar kelompok siswa cenderung ramai dan tugas yang diberikan oleh guru hanya dikerjakan oleh beberapa orang saja. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya pembagian kerja yang merata dalam kelompok sehingga berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur instrinsik cerpen. Kondisi ini yang ditemukan di kelas XII IPA-1 yang menjadi tempat dilakukannya tindakan. Nilai siswa IPA-1 yang belum memenuhi SKM juga dijadikan pertimbangan dijadikannya IPA-1 sebagai tempat melakukan penelitian. Hal tersebut diketahui berdasarkan nilai siswa yang belum memenuhi SKM individual sebesar 70. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23-31 Oktober 2009. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa di dalam kelas. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganlisis unsur-unsur instrinsik cerpen. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode Two Stay Two Stray dalam pembelajaran menganalisis unsur-unsur instrinsik cerpen. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus masing-masing terdiri dari dua kali pertemuan. Siklus kedua dilakukan berdasarkan pertimbangan refleksi yang dilakukan pada siklus I. Hasil penelitian ini menunjukkan kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur instrinsik cerpen mengalami peningkatan setelah diterapkannya metode Two Stay Two Stray. Peningkatan terjadi setelah dilakukannya proses pembelajaran dengan menggunakan Two Stay Two Stray yaitu dari 61,77% menjadi 78,12%. Peningkatan juga terjadi dari siklus I ke siklus II, yaitu dari persentase rata-rata skor siswa secara individu 78,12% menjadi 80, 52%, sedangkan secara kelompok 73,7% menjadi 76,12%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan metode Two Stay Two Stray hendaknya diterapkan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam bekerja kelompok. Bagi peneliti selanjutnya disarankan agar dilakukan penelitian yang sama terhadap kompetensi dasar yang lain dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Evaluasi kinerja pada PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. berdasarkan analisis keuangan / Ahmad Farid

 

Kata Kunci: Rasio Likuiditas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, Kinerja Keuangan. Suatu perusahaan didirikan salah satu tujuannya adalah untuk kelangsungan hidup usahanya. Pada kondisi ini manajemen dituntut untuk beroperasi secara efektif dan efisien serta berusaha meningkatkan kinerja perusahaan agar dapat mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya. Salah satu cara untuk mengetahui kinerja keuangan adalah dengan menggunakan perhitungan analisis rasio keuangan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menilai kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan analisis rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. dari tahun 2006 s/d 2008. Dalam memecahkan masalah digunakan perhitungan analisis rasio dengan membandingkan pos-pos yang terkait dalam neraca dan laporan laba / rugi. Sedangkan pendekatan rasio keuangan dengan menggunakan pendekatan time series analysis. Tingkat rasio keuangan yang dicapai perusahaan pada tahun 2006 s/d 2008 yaitu rasio likuiditas, terdiri dari rasio lancar, yang dicapai termasuk tinggi diatas standar yaitu 200%, rasio cepat juga masih diatas standar umum 100%, rasio net working capital dari tahun ke tahun semakin naik. Rasio solvabilitas relatif baik tetapi kurang stabil karena mengalami kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun, maka perusahaan harus mewaspadai tingkat solvabilitasnya. Jika dilihat dari rasio profitabilitas, tingkat profitabilitas perusahaan mengalami kenaikan terus menerus, dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas dari perusahaan dapat dikatakan sangat baik. Dari analisis yang dilakukan diketahui bahwa kinerja keuangan PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. jika dinilai dengan rasio keuangan cukup baik tetapi kurang stabil karena terjadi kenaikan dan penurunan rasio disetiap tahunnya. Jadi PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. harus dapat bekerja secara efektif dan efisien guna mencapai kinerja yang lebih baik dan lebih stabil untuk tahun-tahun berikutnya. Maka dari itu, disarankan oleh penulis bahwa untuk menjamin tingkat likuiditas perusahaan agar tetap baik, manajemen perusahaan sebaiknya melakukan investasi dengan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Untuk menjamin tingkat solvabilitas perusahaan tetap baik, manajemen diharapkan dalam kegiatan pendanaan produksi, perusahaan melakukan pembiayaan dengan kas dari pada memilih melakukan hutang. Untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, manajemen perlu melakukan langkah-langkah seperti: meningkatkan jumlah penjualan, melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Perancangan website 27" Islan sebagai media promosi / Fikri Fakhri

 

ABSTRAK Fakhri, Fikri. 2010. Perancangan Website 27th Island Sebagai Media Promosi. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Drs. Imam Muhadjir. (II) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn. Kata kunci: Perancangan, Website, 27th Island, Promosi. Internet menyimpan berbagai macam potensi yang bila dimanfaatkan serta digunakan dengan sebagaimana mestinya akan memberikan manfaat yang positif kepada para penggunanya. Saat ini internet rata-rata sudah bisa diakses oleh kebanyakan masyarakat dengan harga dan biaya yang relatif murah. 27th Island adalah web development firm atau perusahaan yang menyediakan jasa mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan website, mulai dari desain, coding, hosting sampai dengan maintenance (pemeliharaan dan pengelolaannya). Perusahaan ini belum memiliki media promosi yang tepat. Pelaksanaan proses promosinya juga kurang efektif. Tujuan perancangan website untuk 27th Island ini adalah untuk mengenalkan 27th Island kepada target audience serta mengangkat citra perusahaan. Hasil akhir perancangan ini adalah website 27th Island yang berfungsi sebagai media promosi dan sebagai alat untuk berinteraksi dengan target audience.Disamping website, dihasilkan juga kartu nama, kop surat, amplop, x-banner, poster, leaflet, pin dan stiker untuk keperluan pameran. Diharapkan media-media tersebut berkolaborasi sebagai satu kesatuan untuk mempromosikan 27th Island secara efektif dan efisien.

Hubungan prestasi akademik matakuliah keahlian berkarya, matakuliah keilmuan keterampilan, dan matakuliah pengembangan kepribadian dengan kemampuan mengajar dalam praktik pengalaman lapangan mahasiswa pendidikan teknik otomotif / Arief Eko Setiawan

 

ABSTRAK Setiawan, Arief Eko. 2010. Hubungan Prestasi Akademik Matakuliah Keahlian Berkarya, Matakuliah Keilmuan Keterampilan, dan Matakuliah Pengembangan Kepribadian dengan Kemampuan Mengajar dalam Praktik Pengalaman Lapangan Mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd; (2) Drs. H. Darmadji Adi Suseno, M.Pd. Kata Kunci: hubungan, matakuliah keahlian berkarya, matakuliah keilmuan keterampilan, matakuliah pengembangan kepribadian, kemampuan mengajar Salah satu upaya yang dilakukan Universitas Negeri Malang dalam meningkatkan kualitas lulusan khususnya calon tenaga pendidik adalah melalui Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). PPL merupakan muara dari semua teori yang pernah didapatkan selama belajar di kampus. Persyaratan yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan PPL yaitu lulus 100% MPK, 90% MKK, dan 80% MKB. MPK merupakan kelompok matakuliah yang bertujuan untuk membentuk kepribadian mahasiswa calon guru. MKK merupakan kelompok matakuliah yang bertujuan untuk memberikan landasan ilmu dan keterampilan tertentu, sedangkan MKB merupakan kelompok matakuliah yang bertujuan menghasilkan tenaga ahli berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah terdapat hubungan yang signifikan secara parsial dan simultan antara prestasi akademik MKB, MKK, dan MPK dengan kemampuan mengajar mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif dalam PPL. Penelitian ini menggunakan pendekatan survey dengan subyek penelitian mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif yang melaksanakan PPL pada semester genap 2009/ 2010 di SMK se-Kota Malang yang berjumlah 34 mahasiswa yang tersebar di 7 SMK di kota Malang. Penelitian ini menggunakan penelitian populasi yang meneliti seluruh subyek penelitian. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa 1) hasil analisis thitung untuk MKB dengan kemampuan mengajar sebesar 3,938 dengan signifikansi t sebesar 0,000; 2) hasil analisis thitung untuk MKK dengan kemampuan mengajar sebesar 3,448 dengan signifikansi t sebesar 0,002; 3) hasil analisis thitung untuk MPK dengan kemampuan mengajar sebesar -0,610 dengan signifikansi t sebesar 0,547; dan 4) hasil analisis Fhitung untuk MPK, MKK, dan MPK dengan kemampuan mengajar sebesar 22,932 dengan probabilitas atau signifikansi 0,000 dengan nilai R Square 0,696. Hal ini dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik MKB, MKK, dan MPK secara simultan mempunyai hubungan yang signifikan dengan kemampuan mengajar mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif dengan kontribusi 69,6% sedangkan hubungan yang signifikan secara parsial adalah variabel prestasi akademik MKB dan MKK. Saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu 1) prestasi akademik dalam belajar di kampus perlu ditingkatkan baik oleh mahasiswa maupun dosen, 2) guna pembentukan profesionalisme mahasiswa calon guru, diharapkan kepada UPT PPL untuk menempatkan mahasiswa Pendidikan Teknik Otomotif di SMK tempat praktik untuk mengajar program keahlian otomotif, 3) bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengadakan penelitian sejenis diharapkan meneliti semua mahasiswa pendidikan yang melaksanakan PPL, menambah variabel lain yang dimungkinkan berhubungan dengan kemampuan mengajar seperti motivasi mengajar dan kemampuan bersosialisasi.

Perjuangan sengketa tanah rakyat Kabupaten Sampang tahun 2000-2004 / A. Rofiq Iskandar

 

ABSTRAK Iskandar, A. Rofiq. 2010. Perjuangan Sengketa Tanah Rakyat Kabupaten Sampang Tahun 2000-2004. Skripsi, Jurusan Sejarah, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Nurhadi, M.Pd M.Si (II) Dr. Abd. Latif Bustami, M.Si Jurusan Pendidikan Jasmani FIK Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sulistyorini, M Kata kunci: Sengketa Tanah, Perjuangan, Kepemilikan Tanah Pengaraman, Sampang (Madura) Dilandasi oleh kesadaran yang selama ini tertekan oleh kekuasaan yang selalu tidak memihak pada petani, serta didasari oleh latar belakang historis, maka rakyat di tiga desa Kecamata Torjun Kabupaten Sampang yakni Desa Ragung, Pangarengan, dan Apa’an mulai mengorganisir diri melalui kekuatan yang berbasis pada rakyat/warga pewaris hak tanah dari leluhurnya. Pada tanggal 15 Oktober 2000, resmilah terbentuk (GRPT Gerakan Rakyat Pembebasan Tanah), yang merupakan satu-satunya wadah yang mewakili perjuangan masyarakat dalam menuntut dikembalikannya hak-hak tanah pada tiga desa. Hanya satu tujuanya adalah menuntut dikembalikannya hak-hak tanah rakyat yang dulu dirampas atau dibebaskan paksa oleh Pemerintah Kolonial Belanda dan kini dikuasai oleh PT. Garam. Peneliti mengambil periode Tahun 2000 karena jatuhnya pemerintahan Soeharto merupakan titik awal bagi masyarakat Indonesia meraih kemerdekaannya kembali, dan terbentuk GRPT (Gerakan Rakyat untuk Pembebasan Tanah) yang merupakan satu-satunya wadah yang mewakili perjuangan masyarakat dalam menuntut kembalikannya hak-hak tanah pada tiga desa dan Tahun 2004 GRPT adanya kesepakatan bersama penyelesaian sengketa kepemilikan tanah pengaraman dengan PT. Garam Kabupaten Sampang yang persetujuan rapat kerja TIM Penaganan Permasalahan Tanah Pengarman di Madura pada hari senin, 12 April 2004. Tujuan Penelitian ini dengan cara menjawab rumusan masalah (1) Bagaimana kondisi Geografi dan Kependudukan Kabupaten Sampang? (2) Bagaimana latar belakang penguasaan tanah rakyat Kabupaten Sampang tahun 2000-2004? (3) Bagaimana proses perjuangan sengketa tanah rakyat Kabupaten Sampang tahun 2000-2004?. Metode yang digunakan penulisan karya ilmiah ini menggunakan metode penelitian sejarah melalui pendekatan sejarah sosial dengan bentuk penulisan deskriptif naratif. Langkah-langkahnya terdiri dari lima tahap, yaitu: (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber), (4) Interpretasi, dan (5) penulisan. Hasil penelitian, ditemukan fakta bahwa masyarakat tiga desa: Ragung, Pangarengan, dan Apa’an dengan didirikannya perusahaan garam pemerintah, semakin nyatalah adanya indikasi akan dikuasai ladang-ladang garam rakyat yang sudah mereka kelola turun-temurun secara tradisional. Tindak lanjut yang nyata dari indikasi ini, pada tahun 1921 secara resmi pemerintah Hindia Belanda mendirikan Jawatan Ragie Garam dengan fasilitas Zout Monopoli Ordonantie, yang disempurnakan pada tahun 1921 itu juga dengan Staatblad no. 140. Istilah tersebut kemudian oleh masyarakat Torjun dikenal dengan nama jaman ”rigiek”. Pada tahun 1934, pemerintah Hindia Belanda melarang rakyat tiga desa untuk memproduksi garam. Khusus di Desa Ragung, penduduknya dilarang membuat garam di perladangan mereka pada kawasan areal yang sudah ditentukan. Tak ada satupun penduduk yang menentang kebijakan yang dibuat oleh pemerintah kolonial ini, menentang berarti akan berhadapan dengan hukuman kurungan, penyiksaan, bahkan penghilangan jiwa. Antara tahun 1937-1938 pemerintah Hindia Belanda melakukan pemetaan (pemasangan patok-patok batas) dan rehabilitas lahan sesuai dengan metode yang akan dikembangkan dalam pengelolaan produksi garam. Dan pada tahun 1939 diterbitkan peta buatan Hindia Belanda pada masing-masing desa (di ketiga desa). Sengketa kepemilikan tanah pengaraman di Desa Ragung, Pangarengan, dan Apa’an Kecamatan Torjun Kabupaten Sampang Madura dilakukan oleh petani garam dan keturunan pemilik tanah yang tergabung dalam GRPT yang tujuan gerakan ini menuntut dikembalikannya hak-hak tanah yang dulu dirampas atau dibebaskan paksa oleh pemerintah kolonial Belanda dan kini dikuasai PT. Garam (Persero). Kembalikan tanah rakyat kepada pemiliknya, rakyat yang juga dipengaruhi oleh faktor segi sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Meskipun perlawanan petani tidak berhasil direbut kembali tanahnya, tetapi pada tanggal 12 April 2004 muncul kesepakatan antara petani dan PT. Garam serta beberapa unsur institusi pemerintah Jawa Timur bahwa, tanah yang dikuasai oleh PT. Garam, disarankan bagi peneliti selanjutnya meneliti dampak sengketa tanah pengaraman bagi masyarakat tiga Desa Ragung, Pangarengan, dan Apa’an baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Disarankan bagi semua yang terlibat langsung atau tidak, mampu jadi pihak netral dan penengah dari pihak yang bersengketa dalam pertimbangan dalam mengambil suatu kebijakan.Terutama kebijakan yang berkaitan dengan pengaraman III di Kecamatan Torjun Sampang. Sehingga pengambilan kebijakan bukan hanya untuk kepentingan politik yang menguntungkan salah satu kelompok tetapi juga untuk kesejahteraan bersama.

Teknik persuasi dalam iklan provider seluler di radio / Budi Utomo

 

Iklan merupakan salah satu bentuk wacana yang mempunyai dayapersuasif yang tinggi. Penelitian ini difokuskan pada penggunaan teknik persuasidalam iklan provider seluler di radio Kota Malang. Alasan pemilihan teknikpersuasi dikarenakan iklan yang ditayangkan selalu menggunakan teknik-teknikuntuk mempersuasi calon konsumen. Sementara itu, alasan digunakannya iklanprovider seluler sebagai bahan kajian karena sampai saat ini masih minimnyapenelitian mengenai iklan tersebut sehingga, perlu adanya tindak lanjut.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis-jenis teknikpersuasi yang digunakan dalam iklan provider seluler di radio; (2) jenis teknikpersuasi yang paling sering digunakan dalam iklan provider seluler di radio; dan(3) penggunaan teknik persuasi dalam iklan provider seluler di radio. Penelitianini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah iklanprovider seluler yang diputar di radio selama bulan Februari sampai Maret 2010.Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara merekam iklan providerseluler di radio, mentranskrip rekaman ke bentuk tulisan, kemudian dipilihsejumlah data yang memenuhi kecukupan. Setelah data terkumpul, dilanjutkananalisis data yang terdiri dari (1) reduksi data, yang meliputi menyeleksi data, klasifikasi data, dan kodifikasi data; (2) penyajian data yang disesuaikan denganrumusan masalah; (3) penarikan kesimpulan sementara; (4) verifikasi dengan caramembaca kembali hasil analisis dan melakukan diskusi dengan teman sejawat;dan (5) penyimpulan akhir analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iklan provider seluler di radiomenggunakan delapan teknik persuasi. Kedelapan teknik persuasi tersebutmeliputi (1) teknik ketidaksesuaian perilaku, (2) teknik dengan hadiah, (3) teknikpenonjolan keunggulan, (4) teknik pemfokusan perhatian, (5) teknikmembungkus, (6) teknik mengelak, (7) teknik menempel, dan (8) teknikkolaborasi/gabungan. Teknik persuasi yang sering muncul dalam iklan providerseluler di radio adalah teknik penonjolan keunggulan. Sementara itu,teknikkolaborasi yang sering muncul dalam iklan provider seluler di radio adalahpenggabungan antara teknik penonjolan keunggulan dengan teknik membungkus.Deskripsi penggunaan teknik persuasi dalam iklan provider seluler di radio adalahsebagai berikut. Pertama, teknik ketidaksesuaian perilaku digunakan dalam iklanprovider seluler di radio dengan mengubah perilaku pendengar yang bertentangandengan hati nuraninya sendiri, pendengar digiring oleh pengiklan agar seolah-olahpendengar memang membutuhkan produk yang diiklankan. Kedua, teknikpenonjolan keunggulan digunakan dalam iklan provider seluler di radio denganmenyampaikan keunggulan/kelebihan dan manfaat dari produk. Ketiga, teknikdengan hadiah digunakan dalam provider seluler di radio dengan memberikanhadiah atau bonus setelah membeli produk dengan syarat dan ketentuan yangberlaku. Keempat, teknik pemfokusan perhatian digunakan dalam iklan providerseluler di radio dengan mencantumkan tokoh publik sebagai contoh penggunaproduk, atau menonjolkan prestasi yang telah diraih agar pendengar juga dapatmerasakan prestasi yang serupa. Kelima, teknik membungkus digunakan dalamiklan provider seluler di radio dengan membungkus atau mengemas iklanmenggunakan kata-kata yang singkat, bermakna, dan menarik bagi pendengar.Keenam, teknik mengelak digunakan dalam iklan provider seluler di radio denganmengelakkan argumen yang lemah, ke argumen yang dikuasai oleh pengiklan.Ketujuh, teknik menempel digunakan dalam iklan provider seluler di radio denganmenempelkan objek atau sesuatu yang sedang aktual di masyarakat saat ini.Kedelapan, teknik kolaborasi digunakan dalam iklan provider seluler di radiodengan menggabungkan dua atau lebih teknik persuasi yang ada, tujuannya untukmeningkatkan kepersuasifan iklan.

The questioning strategies used by the biology teacher of SMA RSBI Negeri 1 Kepanjen / Demik Sri Rejeki

 

ABSTRACT Rejeki, S.D. 2010. The Questioning Strategies Used by the Biology Teacher of SMA RSBI Negeri 1 Kepanjen. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang, Advisor: Dra. Sri Andreani, M.Ed. Key Words: types of questions, questioning strategies, purposes of posing questions, RSBI Questioning strategy is crucial in teaching and learning process. It is stated that 30-60% percent of time is spent by the teacher to ask questions to the students. Therefore, the questioning strategy used should be effective. This study was undertaken in order to investigate the questioning strategies used by the Biology teacher in SMA RSBI Negeri 1 Kepanjen. specifically, it was intended to answer three questions; (1) What types of questions does the Biology teacher give to the students in SMA RSBI Negeri 1 Kepanjen?; (2) What are the questioning strategies used by the Biology teacher in SMA RSBI Negeri 1 Kepanjen?; (3) What are the teacher’s purposes in posing the questions?. The design of the study was descriptive qualitative. It was also a case study since it was aimed at describing special and unique features of a teaching situation or the method used by a particular teacher in a specific setting. The setting of the study was SMA RSBI Negeri 1 Kepanjen. The subject of the study was a Biology teacher teaching in three classes of RSBI, namely X7, X8 and X9, in which this study was conducted. The data were collected from the three meeting observations in each class. The instruments used in the study are: the researcher, a handy cam, and an interview guide. The collected data were then sorted out and organized. Afterward, the data were transcribed and translated. Then, the data were analyzed based on the question types, questioning strategies, and the purposes of the questions. The percentage of questioning types and questioning strategies were counted afterward. The last step was drew the conclusions. The findings showed that the teacher posed 619 questions and applied 624 strategies during the observations. The study found that the teacher utilized both divergent and convergent questions. But, she posed more convergent questions in the classroom instruction. There were 355 or 57.35 % convergent questions. The rest 264 questions or 42.65% were divergent questions. The teacher used all types of questions in Bloom’s taxonomy. The teacher used knowledge level questions at most frequent (251 questions or 40.55%), followed by comprehension level (197 questions or 31.82%), analysis level (96 questions or 15.51%), evaluation level (52 questions or 8.4), synthesis level (17 questions or 2.75%), and application level (6 questions or 0.97%). From these findings, it can be inferred that the teacher posed lower level questions more often. The study found that the most frequent strategy used is focusing strategy. The teacher applied it 233 times or 37.35 % of the 624 total strategies used, followed by redirection strategy (163 times or 26.12%), probing strategy (141 times or 22.6 %), prompting strategy (46 times or 7.4%), and rephrasing (41 times or 6.5%). The amount of wait time 1 spent by the teacher was 12.3 seconds in average. Whereas the amount of wait time 2 spent by the teacher was 0.85 seconds. From the interview, the teacher stated that there were some purposes of posing the questions, she mentioned that there are three purposes of posing questions: to encourage students to think more deeply about the material being presented, remind the students about what they have learned in the past, and stimulate students to interact with their peers to solve problems. In addition, it was found that the teacher used Indonesian as the language of instruction. From the interview, she admitted that she got difficulties in using English and ICT. It is suggested for the teacher to learn more about the questioning theory to improve her quality. She also should pose high level questions more often. Besides, she also should shorten the amount of wait time 1 and lengthened the amount of wait time 2.

Persepsi guru SMA Katolik Kota Malang tentang kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran ekonomi kelas X semester I / Isabel Coryunitha Panis

 

ABSTRAK Panis, Isabel C. 2010. Persepsi Guru SMA Katolik Kota Malang tentang Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Ekonomi kelas X semester I. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : ( I) Dr. A.J.E. Toenlioe,M. Pd.(II) Dra. Susilaningsih Kata Kunci : Persepsi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum operasional dalam konteks desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah. KTSP dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah/ daerah, karakteristik sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan karakteristik peserta didik. KTSP merupakan upaya dalam meyempurnakan kurikulum agar lebih familiar dengan guru, oleh karena itu guru banyak dilibatkan sehingga para guru diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Penyempurnaan kurikulum yang berkelanjutan merupakan keharusan agar sistem pendidikan selalu relevan dan kompetitif. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 dan 36 yang menekankan perlunya peningkatan Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai acuan kurikulum secara berencana dan berkala dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tujuan Penelitian: (1)Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang Standar kompetensi dalam pelajaran Ekonomi dalam KTSP. (2) Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang kompetensi Dasar pelajaran Ekonomi dalam KTSP. (3) Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang Strategi Pembelajaran Ekonomi dalam KTSP. (4) Mendeskripsikan persepsi guru ekonomi SMA katolik di kota Malang tentang Evaluasi Pembelajaran Ekonomi dalam KTSP. Berdasarkan penelitian ini yang lebih ditekankan adalah bagaimana prosesnya bukan semata-mata bagaimana hasilnya. Oleh karena itu pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan obyek atau sasaran dari penelitian ini yaitu persepsi guru ekonomi tentang KTSP. Isu yang diangkat dalam penelitian ini yaitu didasarkan pada adanya ketidakseimbangan pemahaman guru/ para penyelenggara, dan para pelaksana, termasuk kepala sekolah terhadap kurikulum. Menurut Yin (1981), penelitian dijadikan kajian studi kasus harus memenuhi dua syarat. Dua syarat tersebut adalah spesifik dan mempunyai batasan yang tegas. Subyek spesifik dan batasan yang tegas dari persepsi guru SMA katolik Kota Malang mengenai KTSP ekonomi ialah guru ekonomi SMA Katolik Kota Malang yang memiliki batasan materi pelajaran di kelas X semester I, Selain itu penelitian ini lebih difokuskan pada standar kompetensi, kompetensi dasar, strategi pengembangan dan evaluasi pembelajaran mengenai KTSP mata pelajaran ekonomi. Dalam penelitian ini sampel yang dipilih adalah para guru ekonomi di SMA Katolik kota Malang sebanyak 10 Orang ( 4 orang guru SMA St. Albertus, 2 orang Guru SMA St. Yusuf, 2 Orang guru SMA Santa Maria, dan 2 Orang guru SMA Frateran). Berdasarkan sumber data yang ada dalam penelitian ini, data yang ingin diperoleh yaitu : Data Primer. Data Primer merupakan data yang diperoleh dengan cara mengumpulkan secara langsung dari sumbernya, diamat dan dicatat langsung dari objeknya dalam hal ini adalah 10 Orang guru ekonomi di SMA Katolik kota Malang( 4 Guru SMAK St.Albertus, 2 Guru SMAK St. Yusuf, 2 Guru SMAK Santa Maria, 2 Guru SMAK Frateran). Data yang diperoleh dari sumber primer yaitu data mengenai persepsi guru ekonomi tentang KTSP. Data Sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari buku, foto-foto dan dokumen lainnya yang terkait dengan persepsi guru ekonomi SMA Katolik Kota Malang. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan yakni: (1) Persepsi guru tentang Standar kompetensi pada materi pokok mata pelajaran ekonomi yang dibahas dalam standar kompensi pada KTSP penting untuk dipertahankan dan dikembangkan sebab materi tersebut merupakan materi dasar untuk memahami pengetahuan tentang ekonomi secara keseluruhan. Dalam pelaksanaannya para guru mengalami kesulitan sebab penekanan KTSP yang memberikan wewenang kepada sekolah untuk berkreatif dalam pembelajaran, akan berbenturan dengan sarana pembelajaran yang terbatas pada sekolah. Selain itu masalah waktu yang sangat singkat akan mempersulit para guru dalam mengaplikasi materi tersebut dalam tindakan nyata. (2) penjabaran materi dari KTSP khususnya dalam kompetensi dasar sangat menarik perhatian para guru dan siswa. Materi yang ditawarkan oleh KTSP akan memampukan siswa untuk memahami dunia ekonomi. Dalam mengembangkan materi pada kompetensi dasar para guru lebih banyak memberikan contoh dalam tindakan dan realita kehidupan harian siswa sehingga dengan demikian pengetahuan tersebut benar-benar terserap oleh siswa. (3) persepsi guru mengenai strategi pengembangan pendidikan yang dikembangkan dalam KTSP, pada dasarnya program ini dapat diterima dan dipertahankan sebab point-point yang ada dalam program tersebut mampu menciptakan mutu pendidikan yang lebih baik. Namun tidak dapat diingkari suatu kenyataan bahwa dalam pelaksanaan program ini pemerintah melaksanakannya dengan setengah hati, hal ini terlihat jelas dalam program peningkatan sarana pembelajaran bagi sekolah dimana pemerintah menerapkan program sistem komputerisasi tetapi pemerintah sendiri tidak mengalokasikan dana pengadaan sarana pembelajaran bagi sekolah khusunya, sekolah swasta.(4) Sikap dan kepribadian yang ditampilkan oleh seseorang dalam kehidupan bermasyarakat akan menjadi tolak ukur penilai pribadi dari orang tersebut. Orang yang bersikap baik dalam kehidupan bermasyarakat selalu dipandang sebagai orang yang sukses karena itu, semestinya dalam penetapan kriteria kelulusan harus mempertimbangkan kemampuan psikomotorik dan afektif. Kebijakan kriteria kelulusan harus mempertimbangkan kemampuan kognitif, psikomotorik, afektif dan kreatifitas. Di samping itu eksistensi sekolah yang mengetahui secara jelas tentang kemampuan siswa harus diberi wewenang untuk menentukan kelulusan siswa.

Penerapan model concept sentence untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS di SDN Ranggeh Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Dessy Maria Kaidel

 

ABSTRAK Kaidel, Dessy Maria. 2010. Penerapan Model Concept Sentence Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Pada Mata Pelajaran IPS di SDN Ranggeh Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1). Drs. Toha Mashudi, S.Pd, M.Pd. (2). Drs. Ahmad Samawi, M.Hum. Kata Kunci: concept sentence, hasil belajar IPS sekolah dasar. Ilmu Pengetahuan Sosial bertujuan untuk membentuk siswa agar memiliki kemampuan dasar untuk berpikir kritis, rasa ingin tahu, menemukan, memecahkan permasalahan dan memiliki keterampilan bekerjasama dalam kehidupan sosial. Selain itu siswa dituntut mampu berkomunikasi, bekerjassama, dan bersaing dengan sehat dalam masyarakat yang majemuk ditingkat lokal, nasional, maupun global. Permasalahan yang terjadi di kelas IV SDN Ranggeh Gondangwetan adalah rendahnya hasil belajar siswa, kurangnya pengetahuan siswa tentang kata kunci, dan kerjasama siswa dalam belajar. Sehingga perlu adanya tindakan yang inovatif dalam pembelajaran. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan pendekatan pembelajaran kooperatif model Concept Sentence pada kelas IV SDN Ranggeh. (2) mengetahui apakah penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif model Concept Sentence pada kelas IV SDN Ranggeh. Rencana penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif , jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Ranggeh kecamatan Gondangwetan kabupaten Pasuruan yang berjumlah 31 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian yang diperoleh adaah sebagai berikut; hasil belajar siswa yang merupakan pemahaman konsep IPS materi pokok perkembangan teknologi produksi, komunikasi, transportasi secara klasikal mengalami peningkatan dari 62.96% pada pra tindakan menjadi 67.41% kemudian menjadi 75.06% pada siklus II. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran koperatif model concept sentence diterapkan. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pendekatan pembelajaran kooperatif mode concept sentence dalam mengajarkan mata pelajaran IPS. Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Karakteristik tokoh utama kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri (pendekatan objektif terhadap jenis, teknik pelukisan, dan prinsip identifikasi tokoh) / Esa Kharisma Muhammad Nakti

 

ABSTRAK Nakti, Esa Kharisma Muhammad. 2010. Karakteristik Tokoh Utama Kumpulan Cerpen Lukisan Kaligrafi Karya A. Mustofa Bisri (Tinjauan Jenis, Teknik Pelukisan, dan Prinsip Identifikasi Tokoh). Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd, (II) Dr. Maryaeni, M.Pd Kata Kunci: tokoh utama, jenis dan ciri tokoh, teknik pelukisan tokoh, teknik identifikasi tokoh, kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi Tokoh merupakan unsur terpenting dalam suatu karya sastra. Tokoh selalu mengemban peristiwa dalam karya fiksi sama seperti halnya peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sikap, pola pikir, tingkah laku, dan percakapan tokoh, pembaca memperoleh gambaran cerita secara utuh. Elemen-elemen yang termasuk dalam karakteristik tokoh adalah: (1) jenis dan ciri tokoh, (2) teknik pelukisan tokoh, dan (3) prinsip identifikasi tokoh. Berdasarkan hal tersebut, tinjauan tentang tokoh dapat dijadikan dasar untuk mengkaji karakteristik tokoh utama kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakteristik tokoh utama yang meliputi: (1) jenis dan ciri tokoh, (2) teknik pelukisan tokoh utama, dan (3) prinsip identifikasi tokoh utama yang terdapat dalam cerpen kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan teori yang dipakai adalah tinjauan jenis dan ciri tokoh, teknik pelukisan tokoh, dan prinsip identifikasi tokoh dengan objek kajian kumpulan cerpen Lukisan Kaligrafi karya A. Mustofa Bisri. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode analisis tekstual terhadap data kebahasaan. Langkah kerja dalam penelitian ini meliputi (1) peneliti membaca setiap cerpen yang diteliti secara intensif dan berulang-ulang untuk memahami struktur cerita yang berupa dialog, monolog, dan narasi, (2) memberi kode berbagai hal tentang karakteristik tokoh dari tinjauan jenis dan ciri tokoh, teknik pelukisan tokoh, dan prinsip identifikasi tokoh sesuai dengan permasalahan, (3) mendaftar data yang diperoleh dari setiap cerpen berdasarkan kriteria yang sesuai dengan permasalahan, (4) mengklasifikasikan data berdasarkan permasalahan, (5) mendeskripsikan hasil klasifikasi berdasarkan masalah yang dikaji, (6) menginterpretasikan korpus data, selanjutnya dianalisis sesuai dengan teori yang telah disusun. Korpus data berupa satuan kutipan yang meliputi tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, dialog tokoh, dan deskripsi pengarang yang membentuk paparan kebahasaan yang memuat jenis dan ciri tokoh, teknik pelukisan tokoh, dan prinsip identifikasi tokoh. Hasil penelitian terdiri tediri atas tiga simpulan. Pertama, berdasarkan jenis dan ciri tokoh yang dibagi berdasarkan perwatakan tokoh, pada umumnya dalam kumpulan cerpen ini teridentifikasi sebagai tokoh protagonis. Hal ini dikarenakan tokoh utama dalam kumpulan cerpen ini tidak bertentangan dengan amanat dan tema. Selain itu, tokoh utama dalam kumpulan cerpen ini tak ada konflik fisik dengan tokoh lain. Konflik yang terjadi pada diri tokoh-tokoh tersebut merupakan pertentangan antara diri tokoh dengan pikiran atau perasaan mereka sendiri ketika i mengalami suatu peristiwa besar. Berdasarkan kadar kompleksitas karakter, tokoh utama dalam kumpulan cerpen ini merupakan tokoh bulat. Karakter mereka bisa berubah dan adakalanya bersifat tak terduga. Berdasarkan sifat perkembangan karakter, tokoh utama dalam kumpulan cerpen ini umumnya merupakan tokoh dinamis. Hal ini dikarenakan pengategorian ini masih ada hubungannya dengan tokoh datar dan tokoh bulat. Berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap manusia dari kehidupan nyata, tokoh utama tiap cerpen dalam kumpulan cerpen ini merupakan tokoh tipikal. Tokoh-tokoh ini merupakan gambaran jelas sosok masyarakat yang hidup dalam lingkungan pesantren. Kedua, dilihat dari teknik pelukisan tokoh yang dibagi menjadi teknik ekspositori dan teknik dramatik yang pada umumnya terdapat dalam setiap cerpen dalam kumpulan cerpen ini. Dan ketiga, berdasarkan prinsip identifikasi tokoh yang dibagi menjadi prinsip pengulangan, ditelusuri dari banyaknya intensitas narasi pengarang dalam menggambarkan kedirian seorang tokoh, prinsip pengumpulan, dan prinsip kemiripan dan pertentangan antartokoh dalam cerpen. Berdasarkan simpulan tersebut, diharapkan penelitian dapat digunakan oleh: (1) peneliti lanjutan, sebagai salah satu landasan untuk melakukan penelitian terhadap tokoh dalam prosa yang berbeda dengan latar kehidupan pesantren; (2) pembaca sastra, dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk menambah wawasan pembaca sastra mengenai karakter tokoh utama yang bertipikal lingkungan pesantren; (3) guru, dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk pengembangan materi pelajaran sastra khususnya pengajar sastra terutama dalam pengajaran materi atau analisis terhadap prosa yang berlatar religi; dan (4) kritikus sastra, dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk membandingkan dan menilai karya sastra yang sejenis.

Peningkatan minat belajar siswa dengan menggunakan metode sosiodrama dalam pembelajaran IPS sejarah di SMP Negeri 10 Malang / Andrias Nugroho

 

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti di SMPN 10 Malangpada saat PPL ( 28 Januari – 25 April 2009), observasi awal tanggal 5 – 7 Februari 2010,dan wawancara dengan guru dan siswa memperlihatkan bahwa siswa-siswi di sekolah inilebih menyenangi pelajaran yang bersifat praktek. Masalah yang timbul dikelas adalahpada saat pembelajaran di kelas berlangsung 70% siswa dikelas menjadi ramai sendiri,karena siswa kurang diajak aktif sehingga murid menjadi jenuh dan kurangmemperhatikan materi yang diajarkan. Hal ini berimbas juga pada mata pelajaran IPSSejarah yang banyak dipandang siswa sebagai mata pelajaran yang berupa teori-teori,cerita-cerita, dan hafalan saja. Akibatnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran IPSSejarah menurun. Menurut data dan pandangan dari guru IPS Sejarah hasil belajar siswabelajar pada IPS Sejarah masih cukup baik, 70% dari jumlah siswa telah mencapai SKMsebesar 66. Pembelajaran sejarah yang ada di SMP Negeri 10 Malang sendiri pada umumnyaguru masih menggunakan metode ceramah dan diskusi serta pemberian tugas. Metodetersebut kurang bisa meningkatkan minat belajar kepada siswa dalam mengikuti pelajaranIPS Sejarah. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti mengajukan alternatif metodepembelajaran lain yaitu metode sosiodrama. Penelitian akan minat belajar diharapkandapat mengetahui daya tarik siswa didalam pembelajaran sejarah dengan menggunakanmetode sosiodrama ini. Untuk mendeskripsikan minat belajar siswa, penelitian inimenggunakan indikator unsur-unsur minat belajar yang berupa pengetahuan (kognisi),daya tarik (emosi), serta tindak lanjut (konasi), ( Abror, 1989: 34), dalam pembelajaransejarah menggunakan metode sosiodrama. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitiantindakan (action reserch) kualitatif, dan beberapa data yang diolah secara kuantitatif.Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)atau Classroom Action Research (CAR). Subyek yang digunakan dalam penelitian inidimungkinkan adalah kelas VIII-A dan guru pengajar SMP Negeri 10 Malang. Teknik pengumpulan data dalam proses penelitian ini menggunakan 5 (lima) cara sesuai dengankebutuhan penelitian, yaitu (1) wawancara, (2) observasi, (3) angket minat belajar, (4),pengamatan partisipan, dan (5) catatan lapanganTahap pelaksanaan penelitian untuk penggunaan metode sosiodrama dalampembelajaran IPS Sejarah terdapat langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagaiberikut: 1. identifikasi masalah, yang didalamnya terdapat (a) observasi awal, dan (b)wawancara; 2. siklus I, yang didalamnya terdapat (a) tahap perencanaan, (b) tahappelaksanaan tindakan: (1) kegiatan awal, (2) kegiatan sosiodrama, (3) kegiatan diskusi,dan (4) pemberian angket; dan (c) tahap refleksi. Kemudian pelaksanaan siklus IIberdasarkan kelemahan dan kelebihan pada pelaksanaan siklus I. Pelaksanaan siklus IImengikuti tahapan seperti pada siklus II yaitu: (a) tahap perencanaan, (b) tahappelaksanaan tindakan, dan (c) tahap refleksi. Pada awalnya unsur kognisi, emosi dan konasi sebagai sebuah tahapan minatbelajar masih belum diperlihatkan oleh siswa, seperti siswa kurang dapat memahamimateri yang diberikan oleh guru, siswa kurang aktif dalam mencari informasi danpengetahuannya secara mandiri, (3) siswa kurang aktif dan sungguh-sungguh dalammengikuti kegiatan belajar mengajar, dan (4) kurang adanya ketertarikan siswa untukmempelajari materi sejarah yang lainnya.Berdasarkan hasil observasi dan pemberianangket minat menunjukkan bahwa secara keseluruhan prosentase keberhasilan tindakanuntuk minat siswa dengan menggunakan metode sosiodrama pada siklus I dan siklus IIyaitu 73,10 % dan 73,86 %, mencapai kriteria Baik. Ini membuktikan bahwapenggunaan metode sosiodrama dalam pembelajaran IPS Sejarah dapat meningkatkanminat belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS Sejarah. Saran bagi guru bidang studi IPS, diharapkan dapat menerapkan pembelajarandengan menggunakan metode sosiodrama dalam pembelajaran di kelas dan menjadikansuatu pilihan metode pembelajaran untuk dapat mengatasi kekurangan dan kelemahandalam pembelajaran IPS Sejarah. Bagi peneliti lain, dapat mengembangkan penelitian inipada pokok bahasan yang lain. Bagi pembaca, dapat digunakan khususnya mahasiswajurusan sejarah sebagai informasi tentang penerapan metode sosiodrama pada siswakelas VIII di tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Kajian grafik pengendali dan analisis kemampuan proses statistik berbasis distribusi lognormal (studi kasus pada data kadar air gula di PG Krebet Baru II Malang) / Amalia Itsna Yunita

 

ABSTRAK Yunita, Amalia Itsna. 2010. Kajian Grafik Pengendali dan Analisis Kemampuan Proses Statistik Berbasis Distribusi Lognormal (Studi Kasus pada Data Kadar Air Gula di PG Krebet Baru II Malang). Skripsi, Program Studi Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Drs.Susiswo, M.Si, (II) Ir. Hendro Permadi, M.Si. Kata kunci : distribusi lognormal, grafik pengendali lognormal, analisis kemampuan proses distribusi lognormal. Pengendalian kualitas statistik yaitu teknik penyelesaian masalah yang digunakan untuk memonitor, mengendalikan , menganalisis, mengelola, dan memperbaiki produk dan proses menggunakan metode-metode statistik. Pengendalian kualitas dapat dilakukan dengan analisis grafik pengendali dan analisis kemampuan proses statistik. Sebelum melakukan pengendalian kualitas terlebih dahulu harus diketahui distribusi data yang sesuai. Dalam skripsi ini, data yang digunakan adalah data kadar air gula yang berdistribusi lognormal. Dengan menggunakan software minitab, diperoleh parameter lokasi (μ) = -2,2589 dan parameter skala (σ) = 0,999848. Sedangkan batas-batas grafik pengendali distribusi Lognormal yaitu UCL = 2.10356, CL = 0.172727168 dan LCL = 0.0052192 dengan membangun grafik pengendali diperoleh data kadar air terkendali secara statistik. Hasil analisis kemampuan proses distribusi Lognormal diperoleh nilai PPM > USL = 518625 berarti bahwa apabila menghasilkan 1.000.000 produk maka 518625 produk berada di luar batas spesifikasi atas yang telah ditentukan perusahaan (USL = 0.1). Untuk nilai PPM Total = 518625 berarti bahwa jumlah produk yang berada di luar batas spesifikasi atas dan batas spesifikasi bawah yang telah ditentukan oleh perusahaan adalah sebesar 518625 produk dari 1.000.000 yang dihasilkan oleh perusahaan.

Metode dan rencana anggaran pelaksanaan pekerjaan balok dan pelat pada proyek pembangunan gedung SD-SMP Laboratorium UM rahap I / Respati Wijaya

 

Kata kunci: metode, rencana, anggaran, pelaksanaan, balok dan pelat Balok dan pelat adalah salah satu elemen struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur di atasnya ke struktur di bawahnya. Kegagalan pelaksanaan akan berakibat langsung pada runtuhnya struktur lain yang berhubungan dengannya. Oleh karena itu dalam mendirikan bangunan diperlukan metode yang tepat. Studi lapangan ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pelaksanaan balok dan pelat Proyek Pembangunan Gedung SD-SMP Lab UM Tahap I, dan (2) untuk mengetahui rencana anggaran pelaksanaan balok dan pelat pada Proyek Pembangunan Gedung SD-SMP Lab UM Tahap I. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada studi lapangan ini adalah: (1) observasi lapangan, (2) wawancara/interview, dan (3) dokumentasi. Setelah semua data terkumpul, kemudian dianalisa dan selanjutnya dideskripsikan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan pelaksanaan balok dan pelat sudah sesuai dengan kajian teori yang ada, namun pada pelaksanaaan pengecoran khususnya pemadatan kurang sesuai karena dilakukan menggunakan vibrator dan kayu. Terdapat perbedaan antara RAP dan RAB pekerjaan balok dan pelat pada Proyek Pembangunan Gedung SD-SMP Laboratorium UM Tahap I. Besar selisih harga tersebut sejumlah Rp. 17.867.502,3 dimana RAP lebih besr dari RAB. Berdasarkan studi ini disarankan dalam pelaksanaan balok dan pelat lebih memperhatikan ketentuan dalam kajian teori yang ada, sehingga tidak terjadi kesalahan atau penyimpangan. Begitu juga dengan penggunaan biayanya, sehingga pelaksanaan proyek dapat mencapai kualitas beton yang baik dengan biaya yang efisien.

Evaluasi anggaran biaya pekerjaan atap pada proyek pembangunan laboratorium kimia Politeknik Negeri Malang / Charisma Eva Rosalina

 

Kata kunci: volume pekerjaan, atap Pada pembangunan gedung Laboratorium Kimia POLITEKNIK Negeri Malang model atap yang digunakan mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bangunan yang lain yaitu berbentuk datar dengan penutup atap gelombang baja galvanis. Hal ini akan berpengaruh terhadap volume pekerjaan atau Bill of Quantity (BQ), sehingga akan mempengaruhi dalam perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Terkait dengan masalah tersebut, maka diperlukan pendekatan yang tepat dan teliti untuk menghitung volume pekerjaan atap, agar apabila terjadi selisih pada Rencana Anggaran Biaya (RAB) tidak terlalu jauh. Perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) akan dilakukan dengan menghitung volume pekerjaan menggunakan pendekatan isometrik, kemudian dibandingkan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) atap yang dibuat oleh Konsultan Perencana yang bertujuan untuk mengetahui berapakah perbedaan RAB yang dihitung oleh Konsultan Perencana dengan RAB berdasarkan volume pekerjaan yang dihitung dengan pendekatan isometrik. Data diperoleh dengan cara melakukan wawancara, observasi (pengamatan secara langsung) dan dokumentasi. Data yang diambil dalam wawancara adalah bagaimana cara mengukur, dimensi/ukuran atap dan juga metode perhitungan yang dipakai. Observasi diperlukan untuk memperoleh data tentang volume pekerjaan atap yaitu ukuran riil dari atap. Data yang diambil dalam dokumentasi adalah soft drawing ataupun ass build drawing serta RAB yang dihitung oleh Konsultan Perencana. Rencana Anggaran Biaya (RAB) atap yang dihitung oleh Konsultan Perencana pada proyek pembangunan gedung Laboratorium Kimia POLITEKNIK Negeri Malang adalah sebesar Rp. 300,447,127.77 (tiga ratus juta empat ratus empat puluh tujuh ribu seratus dua puluh tujuh rupiah), sedangkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) atap berdasarkan volume pekerjaan yang dihitung dengan pendekatan isometrik pada proyek pembangunan gedung Laboratorium Kimia POLITEKNIK Negeri Malang adalah sebesar Rp. 294,544,751.87 (dua ratus sembilan puluh empat juta lima ratus empat puluh empat ribu tujuh ratus lima puluh satu rupiah) maka selisih yang terjadi sebesar Rp. 5,902,375.90 (lima juta Sembilan ratus dua ribu tiga ratus tujuh puluh lima rupiah) atau 2.003898 % dimana Rencana Anggaran Biaya (RAB) atap berdasarkan volume pekerjaan yang dihitung dengan pendekatan isometrik lebih kecil dari Rencana Anggaran Biaya yang dihitung oleh Konsultan Perencana.

Pelaksanaan tata tertib dengan scorsing system dalam menegakkan disiplin siswa di SMA Negeri 2 Malang / Nisaul Lathifah

 

Abstrak: Dalam pembentukan, pembinaan dan pengembangan kedisiplinan, setiap sekolah sebagai lembaga pendidikan yang bersifat formal, negeri maupun swasta perlu mempunyai aturan atau tata tertib. Hal ini dikarenakan peranan tata tertib di sekolah dapat mengatur kehidupan para pelajar baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Tata tertib sekolah adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi atau hukuman terhadap yang melanggarnya. Pada kenyataan sehari-hari masih banyak ditemukan para pelajar yang melanggar tata tertib sekolah, untuk itu sekolah perlu membuat strategi untuk mengurangi jumlah pelanggaran serta dapat mengukur jenis pelanggarannya dan strategi ini menggunakan scorsing system yang dianggap mampu menegakkan disiplin siswa di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pemaknaan personel sekolah dan siswa terhadap scorsing system, (2) mengetahui mekanisme pelaksanaan scorsing system dalam menegakkan disiplin siswa, (3) mendeskripsikan bentuk perilaku pelanggaran disiplin yang dilakukan siswa, (4) mendeskripsikan perubahan perilaku siswa atas pelanggaran dari sanksi pelaksanaan scorsing system, dan (5) mengetahui faktor yang menyebabkan siswa melakukan pelanggaran disiplin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Sumber data penelitian ini adalah pihak yang bertangung jawab menangani tata tertib siswa (guru tata tertib) dan personel sekolah (guru, wakil kepala sekolah, guru, konselor, dan siswa). Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi partisipatif, wawancara, dan studi dokumentasi. Prosedur analisis data dilakukan selama pengumpulan data dan sesudah proses pengumpulan data berlangsung. Prosedur analisis data selama pengumpulan adalah dengan menggunakan koding (kode data), sedangkan prosedur analisis sesudah proses pengumpulan data meliputi reduksi data, penyajian data (display data), dan penarikan kesimpulan (verfikasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemaknaan personel sekolah terhadap scorsing system scorsing system dapat dipakai sebagai alat menjadikan siswa jera, menjadikan siswa lebih tertib dan disiplin, scorsing system dapat menghasilkan perubahan pada siswa, pembobotan sanksi/ hukumannya seimbang dengan pelanggarannya, menjadikan siswa takut untuk melakukan pelanggaran, dan jumlah pelanggaran menjadi berkurang, sedangkan pemaknaan siswa terhadap scorsing system adalah siswa memandang scorsing system sebagai suatu hukuman atas pelanggaran tata tertib, scorsing system merupakan upaya preventif atas pelanggaran disiplin siswa, dan scorsing system membuat siswa takut mengulangi pelanggaran, (2) mekanisme pelaksanaan scorsing system dalam menegakkan disiplin siswa adalah a) mensosialisasikan scorsing system yang telah dipakai di sekolah ini pada masa orientasi atau pada tahun ajaran baru untuk siswa kelas X, b) sekolah memberikan buku tata tertib bagi setiap siswa yang di dalamnya terdapat berbagai peraturan yang ada di sekolah ini, jenis pelanggaran beserta bobot/ skornya, dan kolom jenis pelanggaran yang bisa diisi oleh siswa ketika siswa yang bersangkutan melakukan pelanggaran, c) kepala sekolah membentuk Tim Piket Sekolah yang bertugas memantau dan mengawasi sikap, ucapan dan tindakan siswa di sekolah, d) personel sekolah (guru bidang studi, wali kelas, dan konselor) bersama-sama mencermati, mengawasi, dan menegur setiap siswa yang bermasalah, dan membantu yang bersangkutan untuk memecahkan masalahnya, dan e) pada setiap akhir tahun   *Nisaul Lathifah adalah Mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang. Artikel ini diangkat dari skripsi, Program Sarjana UM, 2010. pelajaran, hasil penilaian pemantauan dan penilaian budi pekerti siswa sebagai salah satu bahan untuk menentukan apakah siswa yang bersangkutan layak naik kelas atau tamat belajar, (3) bentuk perilaku pelanggaran disiplin yang dilakukan siswa meliputi a) kelompok pelanggaran berat atau pelanggaran A yang pernah dilakukan oleh siswa adalah berkelahi, dengan sengaja merusak raport, memalsukan tanda tangan kepala sekolah dan guru, membawa dan mengedarkan narkoba, dan merusak sarana dan prasarana sekolah, b) kelompok pelanggaran sedang atau pelanggaran B yang pernah dilakukan siswa adalah berperilaku jorok, bertindak tidak sopan terhadap kepala sekolah/ guru/ karyawan dan sesama teman, melakukan sesuatu yang bisa mencemarkan nama baik sekolah dan personel sekolah, melakukan sesuatu yang dapat mengancam keselamatan orang lain dan diri sendiri, membawa atau membunyikan petasan, dan membawa atau merokok di sekolah dan sekitarnya, c) kelompok pelanggaran ringan atau pelanggaran C yang pernah dilakukan siswa adalah meninggalkan sekolah atau pembelajaran tanpa ijin, mengganggu kelancaran KBM, membaca komik/ bacaan yang tidak sesuai dengan pelajaran pada saat jam pelajaran berlangsung, nyontek atau kerjasama pada saat ulangan, tidak mmbawa buku yang sesuai dengan mata pelajaran, berada di tempat parkir pada saat pelajaran/ jam istirahat, tidak mengindahkan panggilan kepala sekolah dan personel sekolah, membawa dan menggunakan handphone saat KBM berlangsung, dan berada di kantin saat KBM berlangsung tanpa alasan jelas, d) kelompok pelanggaran rendah atau pelanggaran D yang dilakukan oleh siswa adalah tidak masuk sekolah tanpa alasan, terlambat masuk sekolah pada jam pertama, datang terlambat mengikuti KBM tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak mengikuti pelajaran tanpa ijin, tidak mengerjakan tugas guru/ PR, (4) perubahan perilaku siswa atas pelanggaran dari sanksi pelaksanaan scorsing system adalah siswa menjadi lebih tertib pada peraturan yang telah ada, siswa menjadi berdisiplin tinggi, siswa menjadi jera atas sanksi atau hukuman yang diterima, selain itu perubahan perilaku pelanggaran disiplin siswa dapat menggunakan strategi pengelolaan diri (self-management) berpengaruh terhadap peningkatan kedisiplinan siswa sehingga strategi self-management tersebut dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk mengurangi perilaku pelanggaran disiplin siswa, dan (5) faktor yang menyebabkan siswa melakukan pelanggaran disiplin adalah a) faktor keluarga, antara lain tidak ada yang bisa membantu bila mengalami kesulitan, kurang perhatian orangtua, suasana rumah yang tidak menyenangkan, dan orangtua bercerai, b) faktor teman sebaya, seperti bergaul dengan orang yang malas melakukan aktivitas (belajar/ sekolah/ bekerja), c) faktor media massa, antara lain pengaruh dari tv, internet, media massa, dan sebagainya sangat berdampak buruk pada perilaku anak terutama ketika di sekolah, dan d) faktor intern (dalam diri siswa), antara lain karena siswa tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolah, sulit menangkap pelajaran, malas belajar, bosan dalam mengikuti pelajaran, sulit memahami pelajaran, kesulitan belajar sendiri di rumah, dan merasa kesulitan dalam mengatur waktu. Berdasarkan hasil penelitian ini, pelaksanaan tata tertib dengan scorsing system yang telah diterapkan di sekolah ini dapat membantu siswa mengurangi melakukan pelanggaran di sekolah maupun di kelas, yaitu dengan membuat suatu program di kelas yang memungkinkan siswa bersangkutan dapat melakukannya tanpa adanya rasa terpaksa atau tertekan atau takut sehingga siswa tersebut benar-benar menyadari bahwa tingkah laku yang dilakukannya tidak baik bagi dirinya dan tidak ingin untuk mengulangi, dan konselor sebaiknya lebih banyak memberikan informasi tentang disiplin, dampak dan pengaruh orang disiplin/ tidak disiplin, memberikan pendekatan secara personel kepada siswa yang sering melanggar dengan memberikan bimbingan pribadi secara intensif, selain itu konselor hendaknya menggunakan strategi self management karena dapat berpengaruh dalam peningkatan disiplin siswa.

Utilizing picture cue technique to improve the speaking ability of the seventh year students of SMP Negeri 13 Malang / Sitta Setyaningsih

 

ABSTRACT Setyaningsih, Sitta. 2010. Utilizing Picture Cue Technique to Improve The Speaking Ability of The Seventh Year Students of SMP Negeri 13 Malang. Thesis, English Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Drs. Murdibjono, M.A. Key words: picture cue technique, speaking ability The speaking ability of the seventh year students of SMP Negeri 13 Malang was unsatisfactory. Most of the students were unable to express their ideas freely in speaking activities. They were unmotivated to speak because of several reasons: they were afraid of making mistakes, they did not know about the English words (vocabulary), and they did not know how to construct them into meaningful phrases and sentences in order to deliver their ideas. As a result, less than 50% of the students scored below minimal score 3 within the range score 1-5. Picture cue technique was selected as an alternative strategy to solve the problems. Picture cue technique is a single or series of pictures that implies meaning. This study was aimed at finding out whether picture cue technique can improve the students’ speaking ability at SMP Negeri 13 Malang. In this study, the researcher expected that at least 75% of the students achieved score 3 for fluency, accuracy, and confidence. This study was a collaborative classroom action research, which consisted of two cycles; each cycle consisted of two meetings. The second cycle was done with some improvement on the activity. Each cycle consisted of three stages: pre-speaking, whilst-speaking, and post-speaking stage. The subject of the study was the students of VII C SMP Negeri 13 Malang. The result of this study showed that the picture cue technique effectively improved the students’ speaking ability, particularly in form of descriptive. It can be seen from the result of the implementation of picture cue technique in Cycle 2. It was found that 79.48 % (31 out of 39 students) could achieve score 3.00 (minimum score) for “good” qualification. Moreover, most of them gave positive response towards the implementation of picture cue technique. They were excited in speaking activities. In addition, it was found that the students improved their fluency, accuracy, and confidence. Picture cue technique can be used to improve the students’ speaking ability at SMP Negeri 13 Malang. It helped students express their ideas freely based on the picture they choose. It is suggested that the teacher use picture cue technique in teaching speaking since it can solve students’ problems in speaking. It is also suggested that other researchers conduct other research that applies picture cue technique in other skills, genres and in different grade.

Meningkatkan kemampuan menemukan kalimat utama dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas IV SDN Candibinangun IV Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan / M. Yasin

 

ABSTRAK Yasin, M. 2010. Meningkatkan Kemampuan Menemukan Kalimat Utama Dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD di Kelas IV SDN Candibinangun IV Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Pra Sekolah. Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing : (I) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd, (II) Dra. Wiwik Dwi Hastuti, M.Pd Kata kunci : Kemampuan menemukan, kalimat utama, pembelajaran kooperatif tipe STAD. Kemampuan siswa kelas IV SDN Candibinangun IV Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia materi menemukan kalimat utama dalam paragraf sangat rendah. Hasil belajar dari 30 siswa, hanya 7 (20%) yang memiliki taraf ketuntasan penguasaan menemukan kalimat utama dalam paragraf ≥70. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa kelas IV SDN Candibinangun IV Kecamatan Sukorejo menemukan kalimat utama dalam paragraf. (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa kelas IV SDN Candibinangun IV Kecamatan Sukorejo dalam menemukan kalimat utama dalam paragraf melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Lokasi penelitian di SDN Candibinangun IV Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan dengan subyek penelitian siswa kelas IV yang berjumlah 30 orang. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan tes, observasi, dan wawancara. Data dianalisa secara deskriptif prosentase dan deskriptif kualitatif. Hasil PTK membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan kalimat utama dalam paragraf. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 64 pada pra penelitian menjadi 70 pada siklus I, atau meningkat 6 poin dan meningkat kembali menjadi 75 pada siklus II, atau meningkat 5 poin. Ketuntasan belajar klasikal pada siklus I sebesar 63% (19 siswa), dan pada siklus II menjadi 87% (26 siswa), atau meningkat 24% dan memenuhi indikator keberhasilan penelitian. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan kemampuan menemukan kalimat utama dalam paragraf siswa kelas IV SDN Candibinangun IV Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Peneliti menyarankan kepada para guru agar menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai variasi dalam proses belajar mengajar. Dalam penelitian ini, masih ada 4 siswa (13%) yang belum tuntas belajar secara individu, karena itu, diharapkan kepada peneliti lain yang melaksanakan kegiatan penelitian serupa agar lebih meningkatkan hasil tersebut menjadi lebih maksimal.

Pengaruh kepuasan terhadap loyalitas pelanggan pos express di kantor pos besar malang / Bangkitlahia Wira Egara

 

ABSTRAK Egara, Bangkitlahia Wira, 2010. Pengaruh Kepuasan Terhadap Loyalitas Pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang. Skripsi, Program Studi S1 Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si.; (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, SE, M.Si Kata Kunci : Kepuasan, Loyalitas Pelanggan Loyalitas pelanggan (konsumen) secara umum dapat diartikan kesetiaan seseorang atas suatu produk, baik barang maupun jasa tertentu. Dalam membentuk loyalitas pelanggan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada pelanggannya Kepuasan pelanggan merupakan suatu hal yang sangat berharga demi mempertahankan keberadaan konsumen tersebut untuk tetap berjalannya suatu bisnis atau usaha. Loyalitas pelanggan tidak terbentuk dalam waktu yang singkat, tetapi melalui proses belajar atau proses pencarian informasi dan berdasarkan pengalaman pelanggan dari pembelian yang konsisten sepanjang waktu. Kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan. Jika kinerja berada dibawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan pelanggan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan sangat puas atau senang. Oleh karena itu, Loyalitas konsumen merupakan manifestasi dan kelanjutan dari kepuasan konsumen dalam menggunakan fasilitas maupun jasa pelayanan yang diberikan oleh pihak perusahaan, serta untuk tetap menjadi konsumen dari perusahaan tersebut. Loyalitas adalah bukti konsumen yang selalu menjadi pelanggan, yang memiliki kekuatan dan sikap positif atas perusahaan itu. Penelitian ini dilakukan untuk: (1) mengetahui tingkat kepuasan dan loyalitas pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang; (2) mengetahui pengaruh kepuasan pelanggan yang terdiri dari atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian terhadap loyalitas pelanggan secara parsial pada Pos Express di Kantor Pos Besar Malang; (3) mengetahui pengaruh kepuasan pelanggan yang terdiri dari atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian terhadap loyalitas pelanggan secara simultan pada pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang; (4) mengetahui Faktor manakah yang memiliki pengaruh dominan terhadap loyalitas pelanggan pada Pos Express di Kantor Pos Besar Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua konsumen yang pernah dan sedang menggunakan jasa Pos Express di Kantor Pos Besar Malang yang berjumlah 100 orang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuisioner, observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda, sedangkan untuk menguji kelayakan regresi, dilakukan uji asumsi klasik. Hasil analisis data responden dilakukan dengan bantuan SPSS 16.00 for Windows. ii Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang merasa puas ditinjau dari Atribut produk, atribut pelayanan dan atribut pembelian sekaligus pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang yang dijadikan responden dalam penelitian ini loyal terhadap Kantor Pos Besar Malang; (2) Terdapat pengaruh yang signifikan variabel kepuasan yang meliputi atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian secara parsial atau sendiri-sendiri terhadap loyalitas pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang ; (3) Terdapat pengaruh yang signifikan variabel kepuasan yang meliputi atribut produk, atribut pelayanan, dan atribut pembelian secara simultan atau bersama-sama terhadap loyalitas pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang; (4) Faktor yang Dominan mempengaruhi loyalitas pelanggan Pos Express di Kantor Pos Besar Malang adalah atribut produk (X1). Saran bagi peneliti selanjutnya mengharapkan meneliti tentang variabel bebas lain yang mempengaruhi loyalitas pelanggan seperti kualitas layanan, citra perusahaan, switching barriers , harga, promosi, dan psikologis. Bagi perusahaan diharapkan Perlu mempertahankan dan meningkatkan lagi kepuasan dan loyalitas pelanggan yang sudah tercipta, karena mayoritas pelanggan beranggapan baik terhadap reputasi perusahaan, harga yang dibayarkan, kecepatan dan ketepatan dalam pengiriman barang, dan lebih banyaknya tempat tujuan pengiriman dibandingkan dengan penyedia jasa yang lain. Kemudian lebih meningkatan pelayanan dalam hal sumber daya manusia, dengan peningkatkan keramahan, kesopanan, dan perhatian karyawan dalam melayani konsumen dan hendaknya selalu meningkatkan kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman yang telah tercipta.

The effect of using flip charts on the ability to identify grammatical structures of the sixth graders of SDN Rek-Kerrek II Palengaan Pamekasan / Henni Herawati

 

Teaching English to young learners is not easy. One of the most significantproblems faced by English teachers of elementary schools is deciding the suitablemedia in teaching English. Therefore, the teacher should find appropriate media inteaching English. Teaching English may mean teaching all aspects: skills andcomponents. Grammar is one of the essential components in English in order to beable to communicate acceptably and effectively by using that language. There areseveral media used in teaching and learning grammar; one of them is flip charts.Flip charts refer to colorful pictures that can be used to illustrate grammar in theforms of picture and words.This study is aimed to examine whether there is a significance differenceon the ability to identify grammatical structures (preposition and adjective phrase)of the sixth graders of SDN Rek-Kerrek II Palengaan Pamekasan between thosewho were taught by using flip charts and those who were taught without using flipcharts. This study was a quasi experimental design with the procedures includingthe pre-experimental stage, the experimental stage, and the post experimentalstage. The instrument used to get the data was the grammatical structures testsconsisting of 20 items for preposition test and 20 items for adjective test. They arein the form of multiple choice types with four options. Each of the test items wereconsidered valid from the view of test content and the representation of thematerials tested since the test used content validity. The reliability was found to be0.808. Meaning that the reliability of the test was very high.This study was conducted to the sixth grade of SDN Rek-Kerrek IIKecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan in academic year 2009-2010. Thesubjects were two classes of the sixth grade. One class was used as theexperimental group and the other one was used as the control group. Theexperimental group consisted of 33 students and the control group consisted of 32students. So, the total number was 65 students.The finding shows that the experimental group got better mean score thanthe control group. For preposition test, the mean score of the posttest for theexperimental group was 81.36 and for the control group was 55.46. Meanwhile,for adjective test, the mean score of the posttest for the experimental group was82.57 and for the control group was 63.90. Based on ANCOVA analysis with thehelp of the SPSS 14.0 program and pretest as covariates, it was found that theobserved value (Fov ) is 75.760 for Preposition Test and F ov = 58.070 forAdjective Test. Both Fov is higher than F cv at 0.05 level of significance. Itindicates that there is a significant difference on the ability of students to identifygrammatical structures between those taught using flip charts and those taughtwithout using flip charts.In conclusion, the finding of the research shows that the flip charts areeffective to be used in teaching and learning grammatical structures. Thus, thewriter suggests that flip charts be used in the teaching and learning grammaticalstructures in elementary schools.

Penerapan model pembelajaran kooperatif numbered head together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Sukolilo II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan / Anis Muftisyah

 

ABSTRAK Muftisyah,Anis. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas V SDN Sukolilo II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Imam Nawawi, M.Si, (2) Dra. Purwendarti, M.Pd. ABSTRACT Muftisyah, Anis. 2010. Implementation of Cooperative Learning Model Numbered Heads Together To Enhance Student Learning Outcomes IPS SDN Sukolilo II Class V Sub Prigen Pasuruan. Elementary School Teacher Education Programs Faculty of Education, State University of Malang. Advisors: (1) Drs. Imam Nawawi, M. Si, (2) Dra. Purwendarti, M.Pd. Kata Kunci: penerapan, model, pembelajaran, Numbered Head Together, hasil belajar Berdasarkan hasil wawancara, observasi, tes, maupun dokumentasi didapatkan bahwa banyak siswa yang mengalami permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan dalam kegiatan pembelajaran tersebut bermacam-macam, diantaranya adalah pembelajaran yang terlalu banyak menggunakan metode ceramah terlebih pada mata pelajaran IPS yang memiliki materi lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran lain, atau kurangnya variasi model pembelajaran yang inovatif sehingga menyebabkan siswa cepat bosan. Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Sukolilo II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan masih di bawah kriteria ketuntasan. Penyebab utama dari permasalahan tersebut adalah kurangnya variasi model pembelajaran sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dengan pembelajaran yang ada. Untuk itu perlu adanya penyelesaian dalam permasalahan tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together pada pembelajaran IPS siswa kelas V SDN Sukolilo II Kecamatan Prigen Kabupaten pasuruan; 2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Sukolilo II Kecamatan Prigen kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sukolilo II Kecamatan Prigen Kabupaten pasuruan. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SDN Sukolilo II. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan observasi, panduan wawancara, soal tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sukolillo II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan hasil belajar siswa dari pra tindakan yaitu nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 63,85 dengan ketuntasan belajar 25%. Dengan demikian pada pra tindakan dinyatakan belum tuntas. Kemudian pada siklus I dinyatakan belum tuntas dengan perolehan rata-rata kelas 74,55 dan ketuntasan belajar 50%. Pada siklus I dinyatakan belum tuntas dikarenakan kriteria ketuntasan minimal 80% belum terpenuhi. Pada sisklus II perolehan nilai rata-rata kelas 85,85 dan ketuntasan belajar mencapai 85%. Siklus II ini dinyatakan tuntas karena jumlah siswa yang memperoleh nilai minimal 75 sebanyak 85% (17 anak dari 20 siswa). Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) Penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: a) siswa dibagi dalam kelompok. Setiap siswa dalam kelompok diberikan nomor; b) guru member tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya; c) kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawabanya; dan d) guru memanggil salah satu nomor. Siswa dnegan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerja sama mereka. 2) Penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Togethe dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat terlihat dari bertambah banyaknya siswa yang menjawab benar sehingga nilai rata-rata kelas juga mengalami peningkatan. Saran dari penelitian ini adalah: 1) Bagi guru: Sebaiknya guru menerapkan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together sebagai variasi model pembelajaran. Hal ini dikarenakan model pembelajaran ini dapat meningkatkan kreatifitas, aktivitas, interaksi siswa dengan siswa, interaksi siswa dengan guru, dan meningkatkan pula hasil belajar siswa; 2) Bagi siswa: Siswa hendaknya diberi kesempatan yang lebih luas untuk lebih mengembangkan potensi diri dengan cara mengemukakan pendapatnya atau menyampaikan sanggahan dan lebih aktif dalam mengikuti jalannya diskusi; 3) Bagi peneliti lain: Model pembelajaran ini selain dapat diterapkan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial juga dapat diterapkan dalam mata pelajaran lain.

Peningkatan kemampuan menulis resensi novel melalui metode peer assessment pada siswa SMAN 10 Malang / Anna Fatul Ulum

 

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, diketahui bahwadari 42 siswa kelas XI IPS 1 yang mendapatkan nilai dari menulis resensi hanyaada 14 siswa. Adapun karakter resensi siswa sebagai berikut: resensi yang dibuatsiswa tidak ada judul, pembukaan resensi tidak dikaitkan dengan isi karya yangdiresensi, penutup resensi tidak menjelaskan target pembaca dan tidak jelas.Berdasarkan hasil wawancara dengan guru pengajar, ditemukan kesulitan dariguru pengajar saat memberikan materi adalah kurangnya metode yang dapatmembangkitkan semangat siswa dan memberikan pemahaman kepada siswa.Peneliti juga melakukan wawancara dengan siswa. Informasi yang didapat dan siswa bahwa keterampilan yang paling sulit bagi mereka adalah menulis terutamaresensi, karena resensi harus menempuh 2 proses yaitu membaca dan menilaidalam bentuk tulisan. Maka dari itu perlu ada metode praktis untuk memberikansolusi pada permasalahan yang dialami oleh siswa dan guru. Metode yangditawarkan adalah metode peer assessment. Metode peer assessment ini akan membantu siswa menilai pekerjaantemannya sendiri sekaligus belajar membuat resensi yang bagus setelah membacaresensi teman yang lainnya. Metode ini menuntut adanya perbaikan-perbaikanpada resensi atau suatu karya yang dibuat oleh siswa. Metode ini juga membantuguru untuk mengurangi bebannya dalam proses pembelajaran.Tujuan umum dari penelitian ini adalah mampu meningkatkan kemampuanmenulis resensi novel melalui metode peer assessment pada Siswa Kelas XI SMAN 10 Malang. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah mampu meningkatkan kemampuan merumuskan judul, bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup resensi novel melalui metode peer assessment pada siswa SMAN10 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas(PTK). Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus. Ada beberapa alasan penelitian inihanya dilakukan 2 siklus, yakni: 1) nilai rata-rata siswa pada siklus II sudahmengalami peningkatan, 2) siswa sudah mulai jenuh dengan materi resensi, dan 3)pihak sekolah menginginkan pergantian materi untuk siswa kelas yang dijadikansubjek penelitian. Subjek penelitian pada penelitian ini adalah siswa kelas IX IPS1 SMAN 10 Malang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalahobservasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode peer assessment dapatmeningkatkan nilai resensi novel siswa. Hal ini tampak bahwa dari hasil penilaianyang dilakukan oleh peneliti yang sekaligus bertindak sebagai guru penggantimenunjukkan bahwa rata-rata nilai/skor siswa pada siklus II masuk pada kategori“Baik” yaitu 83,2. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan dari siklus I yangrata-rata nilainya hanya 79,57 dari 33 siswa, meningkat menjadi 83,2 dari 37walaupun peningkatannya tidak terlalu tinggi yaitu 3,63. Pada siklus II ini nilaiterendah 79 dan nilai tertinggi 97. Sementara pada siklus I nilai terendah siswa 65yang terdiri dari 2 siswa, dan nilai tertinggi 95. SKM untuk SMAN 10 Malangadalah 75, jadi dapat disimpulkan bahwa pada siklus I ada 2 siswa yang belumtuntas, sedangkan pada siklus II tidak ada siswa yang tidak tuntas. Dari setiapaspek yang membangun resensi, pada siklus II siswa mengalami peningkatan.Pada siklus II tidak ada satu pun siswa yang tidak membuat judul resensi. Judulresensi siswa sudah tergolong bagus. Pada bagian pembuka, siswa sudah mampumembuat bagianpembukaan resensi dengan sangat bagus. Dalam bagian isi, siswapun mengalami peningkatan, walaupun peningkatannya tidak signifikan. Bagian penutup resensi, siswa juga mengalami peningkatan. Hampir semua unsure pembangun resensi siswa mengalami peningkatan, begitu pula bagian pendukung resensi seperti bahasa dan ejaan yang digunakan oleh siswa dalam resensinya. Penilaian siswa juga mengalami peningkatan, pada siklus I penilaian siswa sangat sederhana, sedangkan pada siklus II siswa mampu memberikan komentar yang lebih kritis sesuai dengan pemahaman mereka Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan hendaknya para guru dapat menggunakan metode ini dalam pembelajaran yang mengandung aktivitas proses kreatif, dan melakukan perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan sasaran yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif.

Analisis akuntansi persediaan pada kantor pengawasan dan pelayanan bea dan cukai tipe madya cukai Malang / Syst Kariyanti Ika Kartika

 

Kata Kunci: Persediaan, Penilaian, Pencatatan, Pelaporan Setiap perusahaan, baik BUMS maupun BUMN/BUMD yang bergerak dalam bidang perdagangan dan industri pasti memiliki persediaan untuk mendukung kegiatan operasinya dan beberapa BUMN/BUMND yang bergerak dalam bidang jasa juga memiliki persediaan. Berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)Tahun 2005 tentang persediaan, penilaian persediaan berdasarkan cara perolehannya yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu dinilai dengan harga perolehan apabila diperoleh dengan membeli, diperoleh dengan memproduksi sendiri dinilai dengan biaya standard dan menggunakan nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya (donasi/rampasan). Kesalahan penilaian dan pencatatan akan berpengaruh pada pelaporan. Penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian akuntansi persediaan pada laporan keuangan KPPBC Tipe Madya Cukai Malang berdasarkan SAP No. 1 dan No. 5 Tahun 2005. Metode yang digunakan dalam perolehan data adalah interview dan dokumentasi. Teknik pemecahan masalah dilakukan dengan membandingkan antara teori akuntansi persediaan (SAP Tahun 2005) dengan data-data yang diperoleh selama PKL, khususnya mengenai pencatatan, penilaian dan pelaporan persediaan. Jika terdapat penyimpangan, maka akan dilakukan koreksi. Hasil penelitian tersebut, KPPBC Tipe Madya Cukai Malang menilai persediaan berdasarkan harga perolehan (nilai pembelian terakhir). Pencatatan persediaan dilakukan dengan menggunakan metode perpetual saat terjadi mutasi, Dalam neraca, persediaan hanya disajikan sebesar nilai pada tahun pelaporan, dan dalam catatan atas laporan keuangan hanya dilaporkan berupa meliputi nilai keseluruhan persediaan dan nilai persediaan berdasarkan bagan perkiraan standar SABMN. Sehingga hal tersebut mengurangi informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi persediaan pada KPPBC Tipe Madya Cukai Malang telah mengakomodir dari SAP Tahun 2005, meskipun masih terdapat beberapa kelemahan.

Pelaksanaan manajemen organisasi belajar pada usaha jasa konstruksi di Kabupaten Sumenep / Yulian Andri Purwanto

 

Menjawab tantangan persaingan usaha dalam era globalisasi antara lainsemakin banyaknya usaha jasa konstruksi, bagaimana memenuhi keinginanpelanggan, bagaimana meningkatkan kualitas produk dan pelayanan maka setiapperusahaan dituntut untuk memiliki keunggulan kompetitif yang didukungintelegensi organisasi untuk mengeola pengetahuan melalui proses belajarberkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan pelaksanaanmanajemen organisasi beajar pada perusahaan jasa konstruksi di KabupatenSumenep serta kendala implementasi organisasi belajar dalam manajemenorganisasi.Variabel yang diangkat dalam penelitian ini adalah tentang organisasibelajar. Dimensi organisasi belajar terdiri dari kemampuan belajar organisasi,transformasi organisasi, pemberdayaan stakeholder (sumber daya manusia),pengelolaan pengetahuan, aplikasi teknologi. Instrumen penelitian yangdigunakan yaitu kuesioner untuk mengukur penerapan organisasi belajar danmengetahui kendala dalam implementasi organisasi belajar dalam manajemen. Penelitian ini bersifat deskriptif dan analisis data yang diperoleh diolahmenggunakan statistik. Populasi penelitian ini 880 perusahaan jasa konstruksi diKabupaten Sumenep. Sedangkan sampel terdiri dari 42 perusahaan yangtergabung dalam Asosiasi GAPEKNAS. Pemilihan sampel penelitian dilakukanmelalui metode purposive sampling dengan kriteria yang telah ditentukan dengantingkat kesalahan sebesar 15 %. Berdasarkan distribusi frekuensi hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)pemimpin perusahaan memiliki kecenderungan menerapkan dimensi kemampuanbelajar organisasi sebanyak tujuh puluh delapan koma enam persen dan yang tidakmenerapkan sebanyak dua puluh satu koma empat persen; (2) pemimpinperusahaan memiliki kecenderungan menerapkan dimensi transformasi organisasisebanyak delapan puluh lima koma tujuh persen dan yang tidak menerapkansebanyak empat belas koma tiga persen; (3) pemimpin perusahaan memilikikecenderungan menerapkan dimensi pemberdayaan stakeholder sebanyak limapuluh tujuh koma satu persen dan yang tidak menerapkan sebanyak empat puluhdua koma sembilan persen; (4) pemimpin perusahaan memiliki kecenderunganmenerapkan dimensi pengelolaan pengetahuan sebanyak delapan puluh lima komatujuh persen dan yang tidak menerapkan sebanyak empat belas koma tiga persen;(5) pemimpin perusahaan memiliki kecenderungan menerapkan dimensi aplikasiteknologi sebanyak delapan puluh lima koma tujuh persen dan yang tidakmenerapkan sebanyak empat belas koma tiga persen (6) pemimpin perusahaanmenyetujui adanya kendala implementasi organisasi belajar sebanyak enam puluhsembilan persen dan yang tidak menyetujui sebanyak tiga puluh satu persen.Maka dapat disimpulkan sebagian besar pemimpin perusahaan menerapkandimensi pembentuk organisasi belajar untuk perbaikan strategi manajemen danmeningkatkan efektifitas kerja namun masih ada kendala antara lain adanyakonflik dalam berorganisasi, kurangnya kepercayaan, keterbatasan sumber dayamanusia, dana serta teknologi informasi. Saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan temuan yang diperolehselama penelitian adalah untuk mengimplementasikan organisasi belajar danpengembangan diperlukan adanya komitmen untuk perubahan yang didukungkepemimpinan yang efektif dan bersikap melayani. Para karyawan juga perludidukung untuk memotivasi diri agardapat dan mau belajar serta tumbuh danberkembang. Melalui organisasi belajar akan dihasilkan manajer dan karyawanyang memiliki motivasi dan kompetensi tinggi serta berorientasi pada pelanggan,sehingga pada gilirannya mendukung peningkatan kinerja perusahaan. Kemajuanteknologi informasi canggih khususnya yang berbasis elektronik untuk mengelolapengetahuan dalam organisasi perlu dimanfaatkan secara optimal.

Kontrol motor DC penggerak roda pada robot cerdas / Titis Aribowo

 

Pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha mahasiswa (studi pada mahasiswa Program Studi D3 Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang angkatan 2009) / Annisa Nurul

 

ABSTRAK Nurul, Annisa. 2010. Pengaruh Lingkungan Keluarga terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa.(Studi pada Mahasiswa Program Studi D3 Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang) Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Maftuchin Romlie, M. Pd. (2) Dra. Titi Mutiara K, M. P. Kata Kunci: Lingkungan Keluarga, Minat Berwirausaha. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lingkungan keluarga (X) terhadap minat berwirausaha (Y). Penelitian ini menggunakan penelitian Assosiatif dengan populasi seluruh mahasiswa Program Studi D3 Tata Boga Universitas Negeri Malang angkatan 2009. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 26 responden dengan menggunakan sampel total. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan angket tertutup. Data pada penelitian ini di analisis menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan melalui uji prasyarat yaitu uji normalitas dan uji linieritas hubungan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa angket untuk mengumpulkan data valid dan reliabel dengan nilai α (alpha) 0.858 untuk angket lingkungan keluarga dan nilai α (alpha) 0.903 untuk angket minat berwirausaha. Mahasiswa memiliki minat berwirausaha tinggi dan berasal dari lingkungan keluarga yang mendukung dalam hal berwirausaha. Hal ini di buktikan pula dari hasil analisis yang menunjukkan bahwa lingkungan keluarga berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa Program Studi D3 Tata Boga Jurusan Teknologi Industri Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang Angkatan 2009. Kontribusi lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha tersebut dilihat dari nilai R Square sebesar 0,445 dengan R (koefisien korelasi) sebesar 0,667. Artinya semakin besar peranan lingkungan keluarga dalam mendukung dan memberikan perilaku mendidik manusia wirausaha pada anak, maka minat berwirausaha anak akan semakin tinggi. Berdasarkan penelitian ini saran yang dapat diberikan sehubungan dengan kesimpulan di atas adalah 1) Bagi Jurusan TI diharapkan jurusan dapat memberikan motivasi lebih bagi mahasiswa yang latar belakang pekerjaan orang tuanya bukan berwirausaha. 2) Bagi mahasiswa sebaiknya dapat mengaplikasikan minat berwirausaha yang dimiliki dalam bentuk nyata, seperti: konsisten dalam bekerja, kreatif dan inovatif. 3) Bagi orang tua sebaiknya memberikan dukungan dan perilaku mendidik wirausaha kepada anak sejak mereka masih kecil. 4) Bagi peneliti lain agar tidak hanya membahas variabel lingkungan keluarga tetapi juga membahas faktor lain yang mempengaruhi minat berwirausaha seseorang. Misalnya, faktor lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat yang juga mempengaruhi minat berwirausaha sehingga penelitian menjadi kaya akan ilmu pengetahuan di bidang wirausaha.

Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi konsumen dalam memilih Japanese food do Saboten Shokudo restoran / Heti Kusmiati

 

ABSTRAK Kusmiati, Heti.2010. Faktor-Faktor Eksternal yang Mempegaruhi Konsumen dalam Memilih Japanesse Food Di Saboten Shokudo Restoran. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S.T, M.Pd, (II) Ir. Ummi Rohajatien, M.P. Kata Kunci: Faktor Eksternal, Konsumen, Japanesse Food. Analisis terhadap perilaku konsumen dilakukan untuk mengenali kebutuhan dan keinginan konsumen, salah satunya adalah faktor eksternal konsumen. Bagi pengelola usaha dalam hal ini restoran, faktor eksternal yang terdiri dari budaya, kelas sosial, keadaan ekonomi, kelompok referensi, dan keluarga memiliki arti penting dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Pengelola usaha juga dapat memperoleh informasi yang berharga dari faktor eksternal yang berhubungan dengan apa yang diinginkan konsumen, dan juga harus tahu faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam memilih Japanesse Food di Saboten Shokudo Restoran. Penelitian ini mengambil Saboten Shokudo Restoran sebagai obyek penelitian. Saboten Shokudo Restoran mempunyai kelebihan dalam hal tempatnya yang strategis, dekorasi bertema suasana Jepang, tempat parkir luas, suasana restoran nyaman, dan tersedianya menu Japanesse Food. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor eksternal (1) budaya, (2) kelas sosial, (3) keadaan ekonomi, (4) kelompok referensi, dan (5) keluarga yang mempengaruhi konsumen dalam memilih Japanesse Food di Saboten Shokudo Restoran secara parsial, simultan maupun faktor eksternal yang paling dominan. Rancangan penelitian adalah penelitian korelasional, variabel penelitian adalah faktor eksternal (Budaya X1, kelas sosial X2, keadaan ekonomi X3, kelompok referensi X4, keluarga X5) dan memilih Japanesse Food (Y). Populasi adalah semua pengujung yang datang di Saboten Shokudo Restoran pada bulan Februari 2010 berjumlah 3000 orang, jumlah sampel 100 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah metode aksidental sampling, yaitu dengan membagikan kuesioner kepada konsumen yang datang ke Saboten Shokudo Restoran yang kebetulan peneliti temui saat melakukan transaksi di Shaboten Shokudo Restoran. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan inferensial. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda menunjukan bahwa terdapat pengaruh faktor eksternal meliputi budaya sebesar 2,538, kelas sosial sebesar 3,333, keadaan ekonomi sebesar 3,697, kelompok referensi sebesar 3,216, dan keluarga sebesar 3,180 dalam memilih Japanesse Food di Saboten Shokudo Restoran. Secara simultan juga terdapat pengaruh faktor eksternal meliputi budaya, kelas sosial, keadaan ekonomi, kelompok referensi dan keluarga dalam memilih Japanesse Food di Saboten Shokudo Restoran sebesar 57,9%. Ditemukan pula bahwa di antara variabel bebas yang mempunyai pengaruh dominan adalah variabel kelompok referensi yang meliputi pengaruh tetangga, pengaruh teman, dan pengaruh kelompok keanggotaan sebesar 14,47%. Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagi Saboten Shokudo Restoran perlunya perbaikan terus-menerus untuk mempertahankan konsumen dari segi budaya sehingga pada akhirnya konsumen tidak hanya sampai pada titik puas saja, tapi lebih dari itu, bahkan melebihi harapan mereka, (2) Bagi Universitas Negeri Malang diharapkan dapat digunakan sebagai bahan kajian untuk memperluas pengetahuan serta dapat dijadikan bahan acuan untuk penelitian di bidang restoran, dan (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan agar penelitian-penelitian selanjutnya dapat menggali variabel-variabel lain dari faktor eksternal. Misalnya faktor internal, sehingga dapat dijadikan temuan baru dalam penelitian-penelitian selanjutnya.

Peningkatan kemampuan memahami isi bacaan melalui media gambar ilustrasi di kelas II SDN Sukorejo 03 Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan / Siti Fatimah

 

ABSTRAK Fatimah, Siti. 2010. Peningkatan Kemampuan Memahami Isi Bacaan Melalui Media Gambar Ilustrasi di Kelas II SDN Sukorejo 03 Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Program Studi S1 PGSD. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing : (I) Drs. Rumidjan, M.Pd, (II) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd Kata kunci : Peningkatan kemampuan memahami, isi bacaan, media gambar ilustrasi, sekolah dasar. Hasil pengamatan pada siswa kelas II SDN Sukorejo 03, ditemukan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia aspek membaca, belum terlaksana secara optimal. Siswa terlihat kurang berminat dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru, karena: 1) siswa belum memahami kosakata dalam bacaan. 2) siswa belum memahami kalimat dalam bacaan. 3) siswa belum memahami isi bacaan. Karena itu, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: 1) mendeskripsikan proses penggunaan media gambar ilustrasi untuk meningkatkan kemampuan memahami isi teks bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa, 2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami isi teks bacaan melalui media gambar ilustrasi dalam pembelajaran memahami isi bacaan siswa. Pemecahan masalah dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas II dengan menggunakan media gambar ilustrasi. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa Kelas II SDN Sukorejo 03 Kecamatan Sukorejo tahun pelajaran 2009-2010 yang berjumlah 23 siswa. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan tes, observasi, dan wawancara. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisa secara deskriptif prosentase dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian siklus I dan II menunjukkan perubahan positif terhadap hasil belajar siswa. Penggunaan gambar ilustrasi dapat meningkatkan keaktifan siswa yang pada siklus I sebesar 66% menjadi 78% pada siklus II, atau meningkat 12%, meningkatkan kreatifitas siswa yang pada siklus I sebesar 60% menjadi 76% pada siklus II, atau meningkat 16%, meningkatkan minat belajar siswa yang pada siklus I sebesar 66% menjadi 88% pada siklus II, atau meningkat 22%, dan meningkatkan hasil belajar siswa yang pada siklus I nilai rata-rata kelasnya 68 menjadi 75 pada siklus II. Hasil tes pada akhir siklus II menunjukkan peningkatan ketuntasan belajar klasikal sebesar 87% dari 70% pada siklus I dan mencapai angka ketuntasan klasikal yang ditetapkan (≥80%), karena itu penelitian tindakan kelas ini dinyatakan berhasil dan dihentikan pada siklus II. Guru disarankan untuk menerapkan dan mengembangkan penggunaan media gambar ilustrasi tersebut ke dalam kompetensi atau materi lain sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Dalam penelitian tindakan kelas ini, masih ada 3 siswa yang belum mencapai ketuntasan individu (13%). Hal ini disarankan untuk dapat ditingkatkan oleh peneliti-peneliti lain dalam kegiatan serupa, sehingga hasil belajar yang dicapai bisa lebih baik.

Pengembangan media animasi pembelajaran interaktif pada matapelajaran ilmu pengetahuan alam pokok bahasan gaya kelas IV semester II do SDN Percobaan 2 Malang / Muzakki

 

ABSTRAK Muzakki, 2010. Pengembangan Media Animasi Pembelajaran Interaktif Pada Matapelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Pokok Bahasan Gaya Kelas IV Semester II di SDN Percobaan 2 Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Mohammad Efendi, M. Pd,. M. Kes,. (II) Drs. Abdul Manan, M. Pd. Kata kunci : pengembangan, animasi pembelajaran, interaktif. Mata pelajaran ilmu pengetahuan alam merupakan salah satu materi yang diajarkan pada siswa sekolah dasar. Dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam terdapat konsep-konsep yang abstrak. Karakteristik siswa sekolah dasar masuk dalam tahap operasional konkret. Menurut Edgar Dale bahwa simbol dan gagasan yang abstrak lebih mudah dipahami dan diserap oleh siswa manakala diberikan dalam bentuk pengalaman yang konkret. Oleh karena itu dalam pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah dasar diperlukan sebuah media atau perantara untuk mengkonkretkan materi yang abstrak. Salah satu media tersebut adalah media animasi pembelajaran interaktif. Tujuan dari pengembangan media animasi pembelajaran interaktif ini adalah menghasilkan sebuah media animasi pembelajaran interaktif pada matapelajaran ilmu pengetahuan alam pokok bahasan gaya kelas IV semester II. Serta mengetahui hasil validasi dari media animasi pembelajaran interaktif yang dikembangkan. Untuk mengetahui hasil validasi dari media tersebut dilakukan dengan cara memberikan angket kepada para responden yang meliputi tiga orang ahli media di jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang, seorang ahli materi guru matapelajaran ilmu pengetahuan alam di SDN Percobaan 2 Malang dan tiga puluh siswa kelas IV di SDN Percobaan 2 Malang. Model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan media animasi pembelajaran interaktif ini adalah model pengembangan dari Sadiman tahun 2008 yang meliputi: identifikasi kebutuhan, perumusan tujuan, perumusan butir-butir materi, perumusan alat pengukur keberhasilan, penulisan naskah media, produksi, tes/uji coba, revisi jika diperlukan dan media siap dimanfaatkan. Hasil pengembangan media animasi pembelajaran interaktif yang dikembangkan memenuhi kriteria valid dengan diperoleh data dari masing-masing responden: ahli media tingkat validitas sebesar 90,56%, ahli materi sebesar 91,11% dan siswa perorangan sebesar 95,56%, siswa kelompok kecil sebesar 94,44% serta siswa kelompok besar sebesar 91,17%. Berdasarkan analisis data hasil validasi, disimpulkan bahwa media animasi pembelajaran interaktif pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam pokok bahasan gaya valid atau layak. Saran yang diberikan berdasarkan hasil pengembangan media animasi pembelajaran interaktif adalah perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keefektifan dari media animasi pembelajaran interaktif yang telah dikembangkan bagi proses pembelajaran khususnya matapelajaran ilmu pengetahuan alam pokok bahasan gaya.

Pengembangan media pembelajaran kimia berbasis komputer pada materi bahan kimia rumah tangga untuk siswa SMP kelas VIII / Elvia Chusnul Chotimah

 

Pendidikan merupakan proses yang kompleks yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan yang dikembangkan melalui proses belajar dan pembelajaran. Agar didapatkan suatu proses pembelajaran yang optimal, maka diperlukan alat bantu atau media yang mampu menumbuhkan pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satu kajian dalam ilmu kimia di SMP adalah bahan kimia rumah tangga. Dalam materi ini terdapat sebagaian konsep abstrak yang dapat menyebabkan kesulitan belajar siswa, sehingga pembelajaran kurang berjalan optimal. Untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak tersebut, maka dibutuhkan media yang dapat memvisualisasikan materi secara makroskopis, seperti media pembelajaran berbasis komputer. Oleh sebab itu, penelitian pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer yang menarik, interaktif, dan mudah dipahami untuk materi bahan kimia rumah tangga. Model pengembangan media pembelajaran ini adalah model Dick and Carey dengan beberapa penyesuaian yang diperlukan. Validasi media pembelajaran yang dikembangkan menggunakan instrumen berupa angket/kuisioner tertutup. Validasi meliputi validasi isi yang melibatkan validator dua Dosen Kimia UM, dan dua Guru SMPN 20 Malang. Uji terbatas dilakukan pada 37 siswa SMPN 20 Malang. Setelah melalui tahap validasi, media pembelajaran diperbaiki berdasarkan saran-saran yang diberikan validator. Hasil penelitian pengembangan ini berupa media pembelajaran bahan kimia rumah tangga yang dikemas dalam CD. Media pembelajaran yang dirancang digunakan guru sebagai alat bantu pembelajaran di kelas dan dapat digunakan untuk belajar mandiri siswa dengan bantuan guru sebagai fasilitator . Hasil uji kelayakan menunjukkkan bahwa media yang dihasilkan mempunyai tingkat kelayakan 83,60% untuk validasi isi, dan 87,1% untuk uji terbatas. Dengan demikian media ini telah layak digunakan sebagai salah satu perangkat pembelajaran untuk materi bahan kimia rumah tangga di SMP Kelas VIII. Walaupun demikian, efektivitas media ini masih perlu diteliti lebih lanjut melalui kegiatan validasi empiris di kelas.

Pengaturan kecepatan motor pengaduk pada aerasi diffuser untuk mengolah limbah tahu berbasis mikrokontroler ATMega8 / Nanda Fithra Rahman

 

Kata kunci: Sistem Kontrol, Aerasi Diffuser, Pengolahan Limbah Tahu, Flowmeter. Aerasi diffuser merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mengolah limbah tahu. Salah satu komponen aerasi diffuser adalah motor pengaduk. Motor pengaduk ini dapat dikontrol kecepatannya sehingga dapat disesuaikan dengan laju alir limbah. Tujuan dari pembuatan Tugas Akhir ini adalah : (1) mengatur kecepatan putaran motor pengaduk pada aerasi diffuser.(2) setting hardware dan software untuk sistem kontrol kecepatan motor pengaduk. (3) menunjukkan performa dari sistem kontrol kecepatan motor pengaduk. Metode perancangan meliputi : (1) perancangan aerasi diffuser, (2) perancangan sistem kontrol (hardware), (3) perancangan program (software). Prinsip kerja dari sistem kontrol ini adalah laju alir limbah diukur oleh flowmeter dan dideteksi oleh sensor photodiode. Data laju alir kemudian diolah oleh mikrikontroler sehingga kecepatan motor listrik dapat berubah sesuai laju alir limbah. Hasil dari analisis tersebut antara lain:(1) aerasi diffuser dapat bekerja pada laju alir 0-10 liter/menit, (2) kecepatan motor pengaduk berkisar antara 500-1000 rpm, (3) aerasi diffuser yang telah dirancang bekerja pada laju alir 0-3 liter/menit dan kecepatan motor listrik 500-650 rpm. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan : (1) untuk mengatur kecepatan putaran motor menggunakan sistem terprogram, dimana kecepatan motor berubah sesuai dengan laju alir limbah(2) setting hardware dan software sistem kontrol kecepatan motor pengaduk pada aerasi diffuser, menggunakan rangkaian sensor dan komparator sebagai sensor posisi skala bandul pada flowmeter, yang diolah secara terprogram oleh mikrokontroler ATMega, (3) untuk menunjukkan performa dari sistem kontrol kecepatan motor pengaduk pada aerasi diffuser, menggunakan tachometer sebagai pembanding untuk mengetahui bahwa sistem dapat mengatur kecepatan motor pengaduk pada range 500-1000 rpm.

Pengembangan kartu kuartet sebagai media pembelajaran kosakata bahasa Arab siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah / Miranda Setiawaty

 

ABSTRAK Setiawaty, Miranda, 2010. Pengembangan Kartu Kuartet Sebagai Media Pembelajaran Kosakata Siswa Kelas V MI. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. H. Ahmad Fuad Effendy, MA. Kata kunci : permainan kartu, kartu kuartet, pembelajaran kosakata Di Madrasah Ibtidaiyah (MI), bahasa Arab mulai diajarkan pada kelas tinggi, yaitu mulai kelas empat sampai dengan kelas enam. Pada usia 7-12 tahun anak-anak dalam tahap perkembangan, baik perkembangan psikologis ataupun perkembangan fisik. Sehingga pembelajaran bahasa Arab untuk anak tingkat MI tidak terlepas dari perhatian terhadap karakteristik individual dan perkembangan psikologis anak. Salah satu media yang sering digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab untuk anak adalah kartu. Penggunaan kartu dalam pembelajaran bahasa Arab untuk anak cukup efisien, disamping membantu anak untuk berpikir konkrit juga dapat menimbulkan rasa senang bagi anak. Hanya saja penggunaan kartu dalam pembelajaran ini bisa menjadi monoton karena tidak adanya variasi. Penelitian pengembangan ini ditujukan untuk mengembangkan variasi bentuk permainan dan penggunaan kartu sebagai media pembelajaran. Hasil dari produk permainan kartu diharapkan dapat bermanfaat dan digunakan untuk pembelajaran bahasa Arab untuk anak, khususnya untuk siswa MI kelas V. Pengembangan ini menggunakan model pengembangan R&D menurut Borg dan Gall yang telah dimodifikasi, yaitu (a) analisis kebutuhan, (b) pemilihan materi, (c) pengembangan produk awal, (d) uji validitas oleh ahli materi dan ahli media, (e) revisi pertama dari produk awal berdasarkan saran dan masukan dari para ahli, (f) menghasilkan produk kedua setelah revisi, (g) pengujian lapang di sekolah dan (h) revisi terakhir berdasarkan hasil uji coba lapangan. Semua prosedur pengembangan telah dilaksanakan. Hasil akhir pengembangan adalah kartu kuartet yang mencakup 3 bagian yaitu tema kartu, 4 pasang kosakata, dan gambar yang mewakili salah satu kosakata. Setiap tema memiliki warna dasar yang berbeda-beda. Selain itu terdapat panduan penggunaan permainan kartu kuartet sehingga memudahkan guru atau siswa untuk melaksanakan kegiatan permainan. Produk awal kartu diuji kevalidan oleh ahli materi dan ahli media. Hasil uji kevalidan oleh ahli materi secara keseluruhan mendapat nilai kualifikasi valid. Sedangkan berdasarkan hasil validasi dari ahli media secara keseluruhan mendapat nilai analisis kualifikasi cukup valid. Berdasarkan saran dan masukan para ahli produk awal direvisi dan hasil dari revisi diuji coba lapangkan di MI Khodijah dan MIN 2 Malang. Hasil keseluruhan analisis dari data yang diperoleh dari guru mata pelajaran bahasa Arab adalah kualifikasi valid sedangkan hasil analisis keseluruhan data dari siswa adalah kualifikasi valid. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kualifikasi produk kartu kuartet yang telah dikembangkan adalah valid. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada guru untuk menggunakan permainan kartu kuartet sebagai salah satu alternatif media pembelajaran. Pengembang berikutnya disarankan dapat meneliti lebih lanjut i ii tentang pengembangan kartu kuartet dengan variasi yang berbeda, misalnya teknis permainan yang berbeda, penggunaan kemahiran berbahasa yang berbeda atau kosakata yang digunakan dalam kartu kuartet.

Pengaruh faktor fundamental terhadap harga saham di Bursa Efek Indonesia (studi pada perusahaan manufaktur periode 2005-2007) / Sandra Prastiwi

 

ABSTRAK Prastiwi, Sandra. 2010. Pengaruh Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham di Bursa Efek Indonesia (Studi pada Perusahaan Manufaktur Periode 2005- 2007). Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Ika Putri Larasati S.E, M Com, (2) Makaryanawati S.E, M.Si, Ak. Kata Kunci: Fundamental (Produk Domestik Bruto (PDB), Inflasi, Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Harga Saham Saham merupakan alternatif bentuk investasi di pasar modal yang memiliki tingkat likuiditas tinggi. Saham memberi kemungkinan bagi investor untuk menjual sahamnya setiap saat ketika membutuhkan dana atau ketika hendak mengubah alternatif investasinya. Untuk itu diperlukan penilaian terhadap saham. Penilaian harga saham dapat dilakukan dengan menggunakan analisis fundamental yang berhubungan dengan kondisi keuangan perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor fundamental yang terdiri dari: Produk Domestik Bruto (PDB), infasi, Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham perusahaan manufaktur periode 2005-2007 baik secara parsial maupun simultan. Metode pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumentasi yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Analisis data yang digunakan adalah analisis data kuantitatif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan manufaktur sedangkan variabel Produk Domestik Bruto dan inflasi tidak berpengaruh signifikan. Secara simultan variabel Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, Earning Per Share (EPS), dan Price Earning Ratio (PER) bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini adalah: (1) Dalam melakukan penilaian atas saham, para investor hendaknya lebih mempertimbangkan faktor Earning Per Share dan Price Earning Ratio. Dengan memahami Earning Per Share dan Price Earning Ratio lebih dalam dapat memiliki bekal lebih baik dalam menentukan pilihan investasi di pasar modal, (2) Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperbanyak periode penelitian, jumlah sampel, dan menambahkan faktor-faktor fundamental perusahaan seperti pertumbuhan penjualan, Price to Book Value Ratio pertumbuhan Return On Equity, Dividend Payout Ratio, total hutang, maupun kondisi eksternal perusahaan misalnya kurs valuta asing.

Variasi zipper pada busana pesta berbahan blue denim / Ni'matu Sholihah

 

Kata Kunci: variasi zipper, busana pesta, blue denim. Perkembangan busana berjalan sesuai dengan berkembangnya peradaban manusia di bumi ini. Tujuan dan fungsi busana juga perlahan-lahan bergeser lebih kompleks dari sekedar penutup tubuh dan perhiasan. Busana adalah segala sesuatu yang dikenakan oleh seseorang dari ujung rambut sampai ujung kaki, termasuk pelengkap busana, tata rias wajah, dan tata rias rambutnya. Busana akan terlihat lebih indah dan menarik jika dilengkapi dengan hiasan, hiasan busana berfungsi untuk memperindah dan mempertinggi mutu busana tersebut. Pada Tugas Akhir ini Penulis mencoba memunculkan zipper untuk membuat hiasan yang unik yaitu sebagai aksesoris atau hiasan pada busana pesta. Zipper di sini dipilih sebagai variasi hiasan karena zipper mempunyai keunikan tersendiri, mulai dari warna, besar kecilnya ukuran (teksturnya), bahan, dan teknik pemasangannya. Selama ini mindset (pola pikir) seseorang tentang blue denim sangatlah sempit, banyak yang beranggapan bahwa blue denim hanya bisa digunakan untuk acara santai saja. Blue denim sebenarnya juga dapat digunakan sebagai busana pesta, yang semua itu tergantung dari kreativitas perancang busananya. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menciptakan suatu desain busana pesta yang menerapkan variasi zipper pada bahan dasar blue denim. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi bagi pembaca untuk membuat busana pesta dari bahan blue denim dan menggunakan zipper sebagai variasinya. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing, dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 253.700,- Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa strapless dan celana dari bahan blue denim yang didesain menggunakan variasi zipper yang diatur sedemikian rupa seperti bunga yang sedang mekar, yang dapat menimbulkan kesan feminin yang penuh gaya, selalu ceria, semangat, nyaman, santai tetapi tetap mewah dan glamour yang akan melengkapi kesempurnaan dan kecantikan bagi pemakainya. Aksesoris dan millinaries yang digunakan adalah aksesoris rambut, anting dan sepatu,. Saran yang dapat diberikan adalah sebaiknya dipilih zipper yang berkualitas bagus, serta denim yang kaku dan tidak elastis (mulur), sehingga dapat dihasilkan kelopak yang bagus dan tegak. Selain itu pada saat proses teknik jahit dilakukan, untuk membentuk bagian kelopak agar bisa melengkung dan dapat dirol (digulung) sebaiknya tepi tindasan dimasuki kawat dengan diameter 1 mm.

Penggunaan media papan magnetik untuk meningkatkan penguasaan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat siswa kelas IV SDN Pungging, Pasuruan / Lilik Churiyati

 

ABSTRAK Churiyati, Lilik. 2010. Penggunaan Media Papan Magnetik untuk Meningkatkan Penguasaan Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat Siswa Kelas IV SDN Pungging, Tutur, Pasuruan. Skripsi jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Sutrisno, S. Pd. M. Pd. (II) Drs. Tomas Iriyanto, S. Pd. M. Pd. Kata kunci: penjumlahan dan pengurangan papan magnetik, penguasaan siswa, bilangan bulat. Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas praktik pembelajaran di kelas IV SDN Pungging yang relatif rendah. Kurang aktifnya siswa dalam proses pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat disebabkan guru kurang kreatif dalam penggunaan media pembelajaran pada penanaman penguasaan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Keaktifan siswa dalam belajar masih rendah, siswa-siswa kurang kreatif, kurang menyenangkan, dan pemahaman terhadap penguasaan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat juga relaitf rendah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penggunaan media papan magnetik yang dapat meningkatkan penguasaan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada siswa kelas IV SDN Pungging Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. (2) Mendeskripsikan peningkatan penguasaan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat pada siswa kelas IV SDN Pungging Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan setelah diterapkan media papan magnetik. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian kelas (PTK) yang dilakukan melalui 4 tahap: mulai dari tahap proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Tehnik pengambilan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Analisis data ketuntasan individu mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 85. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan prestasi belajar matematika setelah mendapat pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dengan menggunakan media papan magnetik. Peningkatan ini dilihat dari partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dan hasil belajar yang ditunjukkan oleh skor hasil tes. Pertemuan pada siklus I nilai rata-rata 6,61dengan prosentase 61,11% dan nilai rata-rata pada siklus II yaitu 8,11 dengan prosentase 88,88%. peningkatan nilai yang diperoleh siswa secara klasikal menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan minimal belajar sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu 85%. Berdasarkan hasil penelitian ini, pembelajaran dengan menggunakan media papan magnetik dapat dipertimbangkan sebagai alternatif media pembelajaran penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Hasil ketuntasan belajar siswa mencapai 88,8% di atas ketentuan yang ditetapkan yaitu 85%. Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan dapat diterapkan di kelas IV sekolah lain jika kondisinya relatif sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini.

Analisis kinerja keuangan dengan metode radar pada perusahaan rokok yang terdaftar di BEI tahun 2006-2008 / Galuh Yanu Setyanto

 

ABSTRAK Setyanto, Galuh, Yanu. 2010. Analisis Kinerja Keuangan Dengan Metode Radar (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2006-2008, Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sunaryanto, M.Ed. (II) Dr. Dyah Ayu W, S.E., M. Si., Ak. Persaingan antar perusahaan rokok yang semakin ketat, memaksa manajemen untuk membuat suatu terobosan baru untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan menemukan ide-ide yang inovatif agar tetap eksis dan berkembang. Cara yang dapat digunakan untuk mengukur kondisi keuangan perusahaan adalah dengan melakukan evaluasi kinerja keuangan perusahaan. Evaluasi kinerja merupakan suatu metode untuk mengawasi kegiatan operasional perusahaan, dimana hal ini dapat membantu pihak manajemen dalam mengambil keputusan sesuai dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan serta membantu pihak manajemen dalam menentukan strategi apa yang tepat yang harus diambil oleh perusahaan. Analisis kinerja keuangan bertujuan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan dimana salah satu metode yang digunakan untuk analisis kinerja keuangan adalah metode radar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan perusahaan rokok yang terdaftar di BEI dengan menggunakan metode radar, yang dikembangkan oleh APO (Asian Productivity Organization) di Jepang. Rasio-rasio radar terbagi ke dalam 5 kelompok utama, yaitu: rasio profitabilitas, rasio produktivitas, rasio utilisasi aktiva, rasio stabilitas, dan rasio potensi pertumbuhan. Penelitian ini menggunakan data time series dengan periode penelitian tahun 2006 sampai dengan tahun 2008. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan yang terbaik adalah milik PT. HM Sampoerna Tbk., posisi kedua adalah PT. Bentoel Internasional Investama Tbk., posisi ketiga diperoleh oleh PT. Gudang Garam Tbk., dan posisi yang paling buruk adalah milik PT. BAT Indonesia Tbk. Secara keseluruhan perusahaan rokok yang terdaftar di BEI masih kurang optimal dalam mengelola persediaan yang dimiliki sehingga diharapkan untuk periode mendatang perusahaan bisa meningkatkan kemampuan mengelola persediaannya. Kata Kunci: metode radar, analisis kinerja keuangan

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen (studi kasus pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung) / Kalista Istifadah

 

ABSTRAK Istifadah, Kalista. 2009. Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Konsumen (Studi Pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung ). Skripsi, Jurusan Manajemen Program Studi Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Supriyanto, M.M. (II) Rachmad Hidayat, S.Pd. Kata kunci: Kualitas Pelayanan, Kepuasan Konsumen Seiring semakin berkembangnya pertumbuhan informasi dan teknologi, semakin mendorong pertumbuhan usaha di sektor jasa. Bisnis sektor jasa sangat berpengaruh dalam kehidupan kita, hal ini dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari yang sangat membutuhkan dan bergantung pada berbagai jenis pelayanan jasa. Dengan kondisi persaingan yang semakin ketat dan pesat saat ini, hanya badan usaha yang beroperasi secara efektif dan efisien diandingkan dengan para pesaingnya yang akan tetap bertahan, jika tidak maka badan usahanya atau perusahaannya akan mengalami kegagalan atau kemunduran. Dimensi kualitas jasa digunakan perusahaan sebagai kerangka perencanaan strategis dan analisis tentang kualitas jasa yang ditawarkan kepada konsumen terhadap jasa yang ditawarkan perusahaan tersebut. Dalam Hal ini meliputi: bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati. Kelima dimensi kualitas pelayanan tersebut memiliki peranan penting dalam membentuk kepuasan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana Kualitas Pelayanan terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung, pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen dalam melakukan pelayanan kesehatan pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung baik secara parsial maupun simultan dan dimensi kualitas pelayanan yang mempunyai pengaruh dominan terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional yaitu pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen dalam melakukan pelayanan kesehatan pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Populasi yang diambil adalah para pasien yang melakukan rawat jalan pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling, dengan sampel sebanyak 100 responden. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitias dengan sampel uji coba sebanyak 30 responden. Data diperoleh melalui responden menggunakan kuesioner/angket tertutup dan diukur menggunakan skala Likert dengan skor 1-5. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Kualitas pelayanan yang meliputi bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati berpengaruh terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Kelima variabel itu merupakan alasan responden untuk melakukan pelayanan kesehatan pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. (2) Berdasarkan analisis sebagian konsumen merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Konsumen merasa puas karena pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit sudah sangat bagus, fasilitas penunjang medis juga sudah lengkap, rumah sakit sudah dirasa sangat bersih dan petugasnya juga ramah-tamah. (3) Terdapat pengaruh signifikan kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati secara parsial terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. (4) Terdapat pengaruh signifikan kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati secara simultan terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. (5) Berdasarkan koefisien beta masing-masing variabel bebas maka dapat disimpulkan bahwa empati merupakan variabel yang dominan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: (1) Diharapkan pihak RSUD Dr. Iskak Tulungagung untuk memperhatikan kualitas pelayanan bagi konsumen untuk melakukan pelayanan kesehatan pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung. Hal tersebut dikarenakan faktor kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung (2) Empati merupakan faktor yang dominan terhadap kepuasan konsumen, untuk itu unsur dalam empati yang meliputi dokter yang memberikan perhatian khusus pada pasien, memberikan perlakuan yang sama terhadap pasien, bagaimana perawat memahami keinginan pasien dan sifat dokter dalam menjalin hubungan dengan psien harus diperhatikan oleh RSUD Dr. Iskak tulungagung apabila ingin meningkatkan kepuasan konsumen. (3) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk menggunakan variabel bebas diluar variabel bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan empati seperti kelompok referensi, usia, budaya, motivasi dan lainnya yang berhubungan dengan kepuasan konsumen pada RSUD Dr. Iskak Tulungagung.

Antecedent prestasi pendidikan anak petani tambak (studi pada keluarga petani tambak di Sidoarjo) / Mashudi

 

ABSTRAK Mashudi. 2010. Antecedent Prestasi Pendidikan Anak Petani Tambak (Studi Pada Keluarga Petani Tambak Di Sidoarjo). Disertasi, Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Djumilah Zain, SE., (II) Prof. Armanu Thoyib, SE., M.Sc., Ph.D., dan (III) Dr. Hari Wahyono, M.Pd. Kata kunci : budaya, pendidikan, perilaku produktif, pendapatan, dan prestasi pendidikan. Berangkat dari sebuah fenomena yang berupa tingkat pendidikan formal anak petani tambak di dikawasan pesisir tapal kuda lebih rendah dibanding dengan tingkat pendidikan formal anak petani padi palawija di kawasan subkultur Mataraman serta berdasarkan kajian hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap), penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh budaya, terhadap pendidikan orang tua, terhadap perilaku produktif dan terhadap prestasi pendidikan anak. Perilaku produktif dilihat pengaruhnya terhadap pendapatan rumah tangga. Selanjutnya, budaya, pendidikan orang tua, dan pendapatan rumah tangga secara simultan dilihat pengaruhnya terhadap prestasi pendidikan anak petani tambak. Penelitian ini termasuk jenis penelitian suvey dengan rancangan explanatory reserach dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner kepada 122 responden yang merupakan pemilik dan pengelola bisnis keluarga (family business) di bidang tambak dan minimal berumur 46 tahun serta sudah mempunyai anak atau anak asuh. Sampel diambil dengan menggunakan teknik area sampling acak (area random sampling). Untuk menguji pola hubungan yang dibangun peneliti menggunakan alat analisis Structural Equation Modelling (SEM) dengan bantuan program Analysis of Moment Structures (AMOS) versi 6.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) makin kuat dimensi budaya, makin tinggi tingkat pendidikan orang tua; 2) makin kuat dimensi budaya, makin tinggi tingkat perilaku produktif; 3) makin kuat dimensi budaya, makin tinggi prestasi pendidikan anak; 4) makin tinggi tingkat perilaku produktif, makin tinggi tingkat pendapatan rumah tangga; 5) makin tinggi tingkat pendidikan orang tua, makin tinggi tingkat pendapatan rumah tangga; 6) makin tinggi tingkat pendidikan orang tua, makin tinggi prestasi pendidikan anak; dan 7) makin tinggi tingkat pendapatan rumah tangga, makin rendah tingkat prestasi pendidikan anak. Dibanding dengan pendidikan orang tua, perilaku produktif memberi kontribusi paling besar terhadap pendapatan rumah tangga. Dibanding budaya dan pendapatan rumah tangga, pendidikan orang tua memberi kontribusi paling besar terhadap prestasi pendidikan anak. Temuan bahwa perilaku produktif memberi kontribusi paling besar terhadap pendapatan rumah tangga, memberi implikasi praktis bagi pendidikan ekonomi, artinya jika seseorang menginginkan memperoleh pendapatan yang tinggi maka harus berperilaku produktif, bukan konsumtif dan bermalas-malasan. Temuan bahwa pendidikan orang tua memberi kontribusi paling besar terhadap prestasi pendidikan anak, memberi implikasi secara praktis bagi pemilik dan pengelola usaha tambak, agar dalam meningkatkan prestasi pendidikan anaknya, para petani tambak sadar bahwa pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal berpengaruh kuat terhadap keberhasilan pendidikan anaknya. Dengan demikian temuan-temuan penelitian ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran para petani tambak untuk senantiasa meningkatkan pendidikannya. Temuan bahwa makin tinggi tingkat pendapatan rumah tangga, makin rendah tingkat prestasi pendidikan anak dan sebaliknya temuan dalam penelitian pendahuluan menyatakan bahwa para petani di kawasan subkultur Mataraman, meskipun tingkat sosial ekonominya tergolong rendah dibanding petani tambak dikawasan pesisir, namun tingkat pendidikan formal anaknya tinggi. Temuan penelitian ini memberi implikasi bagi pendidikan ekonomi, bahwa untuk mencapai tingkat pendidikan formal anak yang tinggi, orang tua tidak harus menyediakan dana dalam jumlah yang sangat besar. Dengan demikian, meskipun orang tua tingkat sosial ekonominya tergolong rendah, namun jika motivasinya tinggi dalam menyekolahkan anaknya dan semangat belajar anaknya juga tinggi, maka prestasi pendidikan anaknya cenderung tinggi pula.

Pengaruh penggunaan strategi foscom (Focusing and camparing) terhadap kemampuan menulis resensi novel siswa kelas XI SMA Laboraturium UM / Riva Rizqiyah Masfahani

 

ABSTRAK Masfahani, Riva Rizqiyah. 2010. Pengaruh Penggunaan Strategi Foscom (Focusing and Comparing) terhadap Kemampuan Menulis Resensi Novel Siswa Kelas XI SMA Laboratorium UM. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suyono, M.Pd., (II) Dr. Heri Suwignyo M.Pd. Kata kunci: pembelajaran menulis resensi, pengaruh hasil belajar, strategi Foscom (focusing and comparing) Pembelajaran menulis resensi penting diajarkan oleh siswa, karena menulis resensi adalah salah satu kompetensi yang ada dalam KTSP jenjang SMA/MA yang harus dikuasai oleh siswa kelas XI. Namun pada kenyataannya, minat dan kemampuan menulis resensi siswa masih rendah. Menulis resensi masih dianggap sulit oleh siswa. Kesulitan ini terefleksi pada ketidaktahuan siswa tentang apa yang harus ditulis dalam resensi dan bagaimana format yang baik dalam menulis resensi. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya strategi pembelajaran yang dapat mengarahkan siswa untuk menghasilkan resensi yang baik dan menarik. Strategi pembelajaran merupakan serangkaian daya dan upaya tindakan guru dalam merealisasikan terwujudnya kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Fungsi dari strategi itu sendiri adalah untuk memperlancar jalannya proses pembelajaran sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Salah satu bentuk strategi dalam pembelajaran menulis resensi adalah strategi Foscom. Strategi ini adalah gabungan dari dua kata, yaitu focusing dan comparing. Focusing berkaitan dengan kegiatan memusatkan perhatian kepada satu komponen yang disajikan oleh sebuah buku yang tetap berpangkal pada apa yang merupakan sesuatu yang menonjol, atau yang disebut dengan eye catching. Kegiatan pemusatan perhatian ini difokuskan terhadap hal-hal yang terdapat dalam unsur-unsur resensi, yakni judul resensi, data/identitas buku, pembuka (lead) resensi, isi/tubuh resensi, dan penutup resensi. Sedangkan comparing merupakan kegiatan untuk melakukan pembandingan atas hal-hal yang ada di dalam novel yang diresensi dengan novel lain yang sama tema atau pengarangnya agar peresensi dapat menilai sebuah novel. Kegiatan pembandingan ini berkaitan dengan unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam sebuah novel, diantaranya latar, perwatakan atau penokohan, cerita, alur, bahasa, dan tema dalam novel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan strategi Foscom terhadap kemampuan menulis resensi dalam merumuskan judul resensi, menentukan data/identitas resensi, menulis paragraf pembuka (lead) resensi, menulis paragraf isi/tubuh resensi, dan menulis paragraf penutup resensi novel oleh siswa kelas XI SMA Laboratorium UM. Sedangkan metode penelitiannya menggunakan eksperimen sungguhan. Alat untuk menjaring data kemampuan menulis resensi novel yaitu dengan menggunakan strategi Foscom. Data dalam penelitian ini adalah hasil prates pada tahap awal kemampuan menulis resensi dan hasil postes kemampuan akhir dalam menulis resensi novel siswa kelas XI SMA Laboratorium UM. Jumlah sampel adalah 30 siswa siswa, ii sedangkan jumlah populasi keseluruhan adalah 236 siswa. Kriteria penilaian difokuskan pada lima aspek unsur-unsur dalam menulis resensi novel, yakni judul resensi, data/identitas novel, paragraf pembuka (lead) resensi, isi resensi, dan paragraf penutup resensi. Kemudian untuk melihat pengaruh ada tidaknya pengaruh penggunaan strategi Foscom terhadap kemampuan menulis resensi novel siswa, data yang telah diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan strategi Foscom memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan menulis resensi novel siswa SMA. Nilai rata-rata kelas siswa kelompok eksperimen sebesar 81,00. Sedangkan nilai uji statistik didapat 2, 562 lebih besar dari nilai tabel t 1,701 maka 1 H diterima. Sedangkan skor siswa dilihat dari aspek merumuskan judul resensi memiliki nilai uji statistik 2,165 lebih besar dari nilai tabel t 1,701 maka 1 H diterima. Skor siswa dilihat dari aspek kelengkapan data/identitas resensi memiliki nilai uji statistik 2,609 lebih besar dari nilai tabel t 1,701 maka 1 H diterima. Skor siswa dilihat dari aspek paragraf pembuka (lead) resensi memiliki nilai uji statistik 2,684 lebih besar dari nilai tabel t 1,701 maka 1 H diterima. Skor siswa dilihat dari aspek paragraf isi/tubuh resensi memiliki nilai uji statistik 1,744 lebih besar dari nilai tabel t 1,701 maka 1 H diterima. Skor siswa dilihat dari aspek paragraf penutup resensi memiliki nilai uji statistik 6,634 lebih besar dari nilai tabel t 1,701 maka 1 H diterima. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada penggunaan strategi Foscom terhadap kemampuan menulis resensi novel siswa SMA. Begitu pula hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan pada aspek merumuskan judul resensi, menentukan data/identitas resensi, menulis pembuka (lead) resensi, menulis isi/tubuh resensi, dan menulis penutup resensi novel. Strategi ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan menulis resensi novel siswa SMA.

Pengaruh kemampuan menggambar sketsa terhadap prestasi menggambar bentuk pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo (The Influence of sketches drawing ability to the achievement of shape drawing in VII grade of SMP 1 Jetis Ponorogo) / Lisa Sidyawati

 

ABSTRAK Sidyawati, Lisa. 2010. Pengaruh Kemampuan Menggambar Sketsa terhadap Prestasi Menggambar Bentuk pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Triyono Widodo M.Sn, (2) Drs. Andi Harisman Kata kunci: Kemampuan menggambar sketsa, prestasi menggambar bentuk Dalam suatu proses menggambar hendaknya harus diperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi kegiatan menggambar. Faktor yang penting yang biasa tidak diperhatikan antara lain adalah menggambar sketsa. Menggambar sketsa adalah sebuah media latihan tahap awal yang bertujuan untuk melatih gerak-gerak otot tangan untuk menggambar sesuai dengan kehendak hatinya. Dalam pendidikan menggambar sekarang ini menggambar sketsa merupakan sebuah materi sampingan yang lebih mengutamakan pokok mata pelajaran menggambar lainnya, seperti menggambar bentuk, menggambar model, menggambar ilustrasi dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh kemampuan menggambar sketsa terhadap prestasi menggambar bentuk. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo, pada siswa kelas VII. Penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan teknik purposive sampel dan sampel yang diambil sebanyak 60 siswa. Penelitian ini terdiri dari dua variabel utama yaitu kemampuan menggambar sketsa sebagai variabel bebas terhadap prestasi menggambar bentuk sebagai variabel terikat. Selain itu kemampuan menggambar sketsa sebagai variabel bebas terhadap variabel terikat yang terdiri dari: kemampuan membuat spontanitas garis, kemampuan membuat kemiripan bentuk, kemampuan mengkomposisi objek, kemampuan menggunaan garis, sedangkan prestasi menggambar bentuk sebagai variabel bebas terhadap variabel terikat antara lain: kemampuan membuat kemiripan bentuk, kemampuan membuat proporsi, kemampuan membuat komposisi, kemampuan membuat bayangan benda. Pengumpulan data dengan metode test. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik regresi, sedangkan untuk mencari koefisien korelasi menggunakan rumus product moment. Hasil analisis statistik menyatakan bahwa, prestasi menggambar bentuk dipengaruhi oleh kemampuan menggambar sketsa sebesar 0,456 dan kontribusi kemampuan memggambar sketsa terhadap prestasi menggambar bentuk sebesar 19,6% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Bagian dari kemampuan menggambar sketsa yang paling berpengaruh adalah spontanitas garis sebesar 23,6% dan kontribusinya terhadap prestasi menggambar bentuk adalah 10%, sedangkan spontanitas garis sendiri sangat mempengaruhi proporsi pada prestasi menggambar bentuk sebesar 31,1% dan kontribusinya sebesar 8,9%. Sehingga dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara kemampuan menggambar sketsa terhadap prestasi menggambar bentuk. Karena hipotesis yang menyatakan tidak adanya pengaruh kemampuan menggambar sketsa terhadap prestasi menggambar bentuk ditolak, dan hipotesis yang menyatakan ada pengaruh kemampuan menggambar sketsa terhadap prestasi menggambar bentuk diterima. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan masukan data yang telah dianalisis secara statistik sebagai bahan pertimbangan dalam program pengajaran yang telah lanjut dan menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya seni rupa dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, terutama disekolah yang bersangkutan.

Penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual model studen teams achievement division (Stad) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar fisika kelas XI SMA Negeri 7 Malang / Anindya Noviantari Devi

 

ABSTRAK Devi, Anindya Noviantari. 2010. Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual Model Student Teams Achievement Division (STAD) Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas XI Sma Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Purbo Suwasono, M.Si, (II) Drs. Mudjihartono. Kata kunci: STAD, pendekatan kontekstual, motivasi, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada Februari sampai maret 2010 di kelas XI IPA-3 SMA Negeri 7 Malang diketahui bahwa motivasi belajar fisika siswa sangat rendah yang ditandai dengan banyak siswa yang mengobrol saat KBM berlangsung, ada juga yang sedang bermain handphone, bahkan siswa yang duduk di belakang sedang tidur, serta hasil belajar fisika siswa rendah yaitu hanya sebesar 53.13% siswa yang mencapai standar ketuntasan minimal yaitu 70. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Salah satu tindakan perbaikan adalah dengan penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual model Student Teams Achievement Division (STAD) untuk meningkatkan motiva-si dan hasil belajar fisika siswa kelas XI SMA Negeri 7 Malang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendes-kripsikan penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual model STAD dalam upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA-3 SMA Negeri 7 Malang. Penelitian ini mengacu pada model penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Setiap siklus terdiri atas 5 jam pelajaran. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI IPA-3 semester genap tahun ajaran 2009-2010 SMA Negeri 7 Malang yang berjumlah 32 siswa. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa moti-vasi dan hasil belajar kognitif dan afektif siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru dan catatan lapangan. Motivasi belajar siswa diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase motivasi belajar siswa dan taraf keberhasilan tindakan, sedangkan hasil belajar kognitif siswa diukur berdasarkan selisih skor antara pre test dan post test serta ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Untuk hasil belajar afektif diukur berdasarkan nilai rata-rata tiap siklus dan taraf keberhasilan tindakan. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes, lembar observasi motivasi siswa, afektif, aktivitas guru, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian motivasi belajar siswa meningkat dari 49.94% menjadi 68.27%, daya serap klasikal aspek kognitif meningkat dari 60.71% menjadi 96.43%, nilai rata-rata aspek afektif juga meningkat dari 72.43 menjadi 76.97. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual model STAD dapat meningkatkan motivasi belajar fisika dan hasil belajar fisika siswa kelas XI IPA-3 SMA Negeri 7 Malang.

Pengaruh kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Dagangan Madiun / Yuli Ekawati

 

ABSTRAK Ekawati, Yuli. 2010. Pengaruh Kecerdasan Intelektual (IQ) dan Kecerdasan Emosional (EQ) Terhadap Prestasi Belajar Fisika Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Dagangan Madiun Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Fisika, FMIPA UM. Pembimbing (I) Drs. Bambang Tahan Sungkowo, M.Pd, (II) Drs. Mudjihartono. Kata kunci: kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, prestasi belajar fisika IQ dan EQ adalah sumber-sumber daya sinergis tanpa yang satu, yang lain menjadi tidak sempurna dan tidak efektif. IQ hanyalah salah satu unsur pendukung keberhasilan seseorang, keberhasilan seseorang tergantung pada kemampuan memadukan IQ dan EQ. Begitu pula dalam kaitannya dengan keberhasilan belajar siswa yang tercermin dalam prestasi belajar fisika, juga tidak lepas dari peranan IQ dan EQ. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh IQ dan EQ terhadap prestasi belajar fisika serta mengetahui sumbangan yang lebih besar antara IQ dan EQ terhadap prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA Negeri 1 Dagangan Madiun Tahun Ajaran 2009/2010. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Variabel yang terlibat dalam penelitian ini adalah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional sebagai variabel bebas, serta prestasi belajar fisika sebagai variabel terikat. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA N 1 Dagangan. Pengambilan sampel digunakan teknik cluster random sampling. Kelas sampel yaitu X-A, X-C, X-D, dan X-F yang berjumlah 120 siswa.Instrumen yang digunakan adalah tes kecerdasan emosional dalam bentuk skala Likert untuk memperoleh data EQ, sedangkan data IQ dan prestasi belajar fisika diperoleh dari dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Dari analisis data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) secara parsial IQ mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar fisika, ditunjukkan dari nilai thitung = 7.788 > 1,98 (t117 ; 0,05); (2) secara parsial EQ mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar fisika, ditunjukkan dari nilai thitung = 3.018 > 1,98 (t117 ; 0,05); (3) secara simultan IQ dan EQ mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar fisika yang ditunjukkan dengan nilai Fhitung = 43.447 > 3.0764 (F2;117;0.05 ). Nilai adjusted R2 sebesar 0.416, ini berarti prestasi belajar fisika siswa kelas X SMA N 1 Dagangan Madiun dipengaruhi oleh IQ dan EQ sebesar 41.6%. Dari nilai Sumbangan Efektif (SE) dan Sumbangan Relatif (SR) dapat diketahui variabel mana yang lebih berpengaruh terhadap variabel terikat. Nilai SE dan SR IQ masing-masing 34.21% dan 81.55% yang lebih besar dari nilai SE dan SR EQ masing-masing besarnya 7.39% dan 18.45%. Hal ini berarti IQ lebih berpengaruh daripada EQ terhadap prestasi belajar fisika bagi siswa kelas X SMA Negeri 1 Dagangan Madiun.

Efektivitas implementasi modul IPA terpadu melalui pembelajaran model integrasi terhadap prestasi belajar siswa kelas VII-C SMP Negeri 2 Tugu-Trenggalek / Rodiah

 

ABSTRAK Rodiah. 2010. Efektivitas Implementasi Modul IPA Terpadu Melalui Pembelajaran Model Integrasi Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VII-C SMP Negeri 2 Tugu-Trenggalek. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Agus Sujudi, M.Pd (2) Dra. Endang Purwaningsih, M.Si Kata Kunci: efektivitas, modul IPA terpadu, model integrasi, prestasi belajar IPA merupakan mata pelajaran wajib bagi jenjang pendidikan SMP. Sebagian besar siswa pada jenjang SMP berada pada tahap transisi dari fase operasional kongkrit ke fase operasional formal, maka diharapkan sudah mulai dilatih untuk mampu berpikir abstrak. Artinya, pembelajaran IPA di SMP secara utuh mengajak peserta didik untuk mulai ke arah berpikir abstrak dengan mengenalkan IPA secara utuh dengan harapan muncul upaya penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Penelitian ini bertujuan mengukur perbedaan prestasi belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran menggunakan modul IPA terpadu melalui model integrasi dan mengukur efektivitas implementasi modul IPA terpadu tema Pengukuran kadar zat. Model pembelajaran mengintegrasikan materi pelajaran fisika dan kimia dalam satu tema yaitu Pengukuran Kadar Zat, diharapkan siswa dapat mempelajarai fenomena dari sisi kimia dan fisika secara bersamaan. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kuantitatif. Jenis penelitian dipilih quasi eksperimental dengan rancangan penelitian control group pre-test-post-test design. Implementasi pembelajaran menggunakan modul IPA terpadu sebagai perlakuan dan prestasi belajar sebagai variabel terikat. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Tugu-Trenggalek semester II tahun ajaran 2009/2010. Sampel penelitian ditentukan berdasarkan purposive cluster sampling yaitu kelas VII-B sebagai kelas kontrol dan kelas VII-C sebagai kelas eksperimen. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda dengan empat alternatif pilihan, sebelum digunakan instrumen diujicobakan pada siswa kelas VII-D SMP Laboratrium UM. Hasil uji coba soal dianalisis validitas, reliabilitas, daya beda, dan derajat kesukaran. Nilai hasil pretes diuji prasyarat yaitu homogenitas dan reliabilitas. Uji hipotesis menggunakan Analisis Variansi dua jalur (ANAVA AB), yang kemudian dilanjutkan dengan scheefe-test. Berdasarkan analisis data diperoleh Fhitung= 5,170 >3,986 F(1;.05) nilai rerata postes kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol, ditunjukkan dengan nilai t hitung = 11,205 > 1,976 t(76;.05). Hasil analisis menunjukkan bahwa Terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang menggunakan modul IPA terpadu dan siswa yang menggunakan buku teks IPA. Berdasarkan scheffe-test thitung untuk kelompok tinggi = 3,560 > 2,039 t(31;.05) dan thitung untuk kelompok rendah = 2,640 >2,108 t(43;.05). Jadi, modul IPA terpadu efektif untuk diterapkan pada siswa kelompok tinggi maupun rendah.

Otomatisasi penyalaan lampu dan bel pada industri rokok berbasis mikrokontroler / Achmad Safi'i

 

Kata kunci: otomatisasi, penyalaan, lampu dan bel, industri Industri adalah suatu tempat yang digunakan oleh perusahaan untuk memproduksi barang. Salah satu faktor penting dari lingkungan industri adalah dapat memberikan kenyamanan kepada pegawai dalam beraktivitas. Untuk itu dapat diatasi dengan adanya sistem penerangan yang baik. ”Penerangan yang baik dalam suatu pabrik atau perusahaan akan membantu terciptanya suatu tempat kerja yang aman dan nyaman, sehingga dalam melaksanakan kegiatan produksi dapat menghemat penglihatan, tenaga, serta memberikan semangat kerja yang tinggi pada pegawai” (Rawan, 2009). Tujuan pembuatan Tugas Akhir ini untuk menciptakan suatu sistem otomatisasi penyalaan lampu dan bel untuk menggantikan sistem manual pada industri rokok sehingga dengan adanya alat ini membantu pekerja dan perusahaan agar lebih efektif dan efisien dalam melakukan kegiatan produksi. Metode perancangan meliputi: (1) perancangan perangkat keras (hardware) meliputi rangkaian sensor cahaya, sensor PIR, rangkaian minimum sistem, dan rangkaian driver, (2) perancangan perangkat lunak (software), (3) perancangan mekanik. Hasil yang didapat adalah penyalaan lampu berdasarkan intensitas cahaya dan aktivitas pekerja yang ada didalam ruangan. Lampu didalam ruangan hanya akan menyala bila intensitas cahaya kurang dan ada aktivitas pekerja, bila kedua kondisi itu tidak terpenuhi maka lampu didalam ruangan akan mati. Bel akan berbunyi dan LCD akan menampilkan karakter pada waktu yang telah ditentukan yaitu pada pukul 08.00 (selamat bekerja), 12.00 (selamat istirahat) dan 17.00 (selamat pulang). Lampu teras akan menyala otomatis pada pukul 17.15 dan akan mati pada pukul 06.00. Semua sistem tersebut akan bekerja secara otomatis. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah (1) dalam perancangan otomatisasi penyalaan lampu dan bel pada industri rokok agar dapat bekerja secara efektif dan efisien adalah (a) menentukan sistem kerja alat yang akan dibuat, (b) menentukan input dan, (c) menentukan output yang diinginkan. (2) Dalam pembuatan sistem otomatisasi penyalaan lampu dan bel pada industri rokok agar dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan adalah (a) menentukan komponen yang akan dipakai , (b) membuat skema rangkaian, (c) membuat PCB (Printed Circuit Board), (d) melakukan pengeboran PCB dan (e) penyolderan komponen. (3) Pengujian sistem kontrol penyalaan lampu dan bel otomatis pada industri rokok dilakukan berdasarkan perbandingan antara hasil perhitungan teori dan pengukuran. Hasil perbandingan menunjukkan sistem yang telah dibuat dapat bekerja dan hasilnya mendekati kesamaan antara teori dengan pengukuran.

Efek pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar insulin growth factor-1 (IGF-1) pada tikus putih (Rattus novergicus) strain wistar jantan dengan diet kurang energi protein(KEP) / Julia Kristin

 

ABSTRAK Kristin, Julia. 2009. Efek Pemberian Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) terhadap Kadar Insulin Growth Factor-1 (IGF-1) pada Tikus Putih (Rattus novergicus) Strain Wistar Jantan dengan Diet Kurang Energi Protein (KEP). (1) Dr Abdul Gofur, M.Si, (2) Dra. Sri Rahayu Lestari, M.Si. Kata Kunci : Tepung daun kelor, Kadar IGF-1, Tikus wistar, KEP. Dalam penelitian ini diteliti tentang efek pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar insulin growth factor-1 (IGF-1) pada tikus putih (Rattus novergicus) strain wistar jantan dengan diet kurang energi protein (KEP). Tujuan penelitian untuk mengetahui efek pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar insulin growth factor-1 (IGF-1) pada tikus putih (Rattus novergicus) strain wistar jantan dengan diet kurang energi protein (KEP). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium Fisiologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, pada bulan Agustus 2009–Februari 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan (Normal, KEP, P180, P360, P720, P1440), masing-masing diulang sebanyak enam kali. Data berupa panjang absorbansi yang terbaca pada alat pembaca ELISA dianalisis menggunakan analisis variansi tunggal (ANAVA tunggal), dan apabila berpengaruh dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hewan coba yang digunakan adalah tikus wistar jantan umur 8-12 minggu dengan berat badan 200-300 gram dan dibuat KEP selama 60 hari. Pemberian tepung daun kelor diberikan secara oral sebanyak 1 ml/hr selama 30 hari dengan dosis 180g/hr, 360g/hr, 720g/hr, dan 1440g/hr. Pada hari ketiga puluh satu, tikus dibius dengan kloroform kemudian dibedah. Lemak visceral diambil dan dibersihkan dalam larutan NaCl 0,9 % kemudian diawetkan dalam lemari pendingin. Selanjutnya diukur kadar IGF-1 dengan menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) berpengaruh positif terhadap kadar insulin growth factor-1 (IGF-1) pada tikus wistar dengan diet Kurang Energi Protein (KEP) pada dosis optimal 360 g/hr.

Catu daya digital terkendali / Happy Sholihul Fathoni

 

Kata kunci: Catu Daya, Potensiomotor, Analog to Digital Converter (ADC). Tujuan pembuatan Tugas Akhir yang berjudul Catu Daya Digital Terkendali antara lain: (1) mengatur ADC pada catu daya dengan baik, (2) menyusun program pengendali tegangan output catu daya dengan baik, (3) menyetabilkan tingkat keakurasian output catu daya terhadap perbedaan beban. Metode penelitian meliputi: (1)penelitian hardware; (2) penelitiain software; (3) pengalibrasian ADC terhadap tegangan output. Catu daya dilengkapi dengan sensor ADC yang berfungsi untuk mengetahui nilai tegangan keluaran. Data nilai tegangan keluaran diolah dalam mikrokontroler ATMega32 dan ditampilkan melalui LCD. Aktuator pada catu daya digital adalah potensiomotor. Tombol pengunci digunakan untuk menghentikan pergerakan potensiomotor ketika tegangan telah mencapai nilai yang diinginkan. Hasil yang didapat yaitu daya maksimal catu daya digital adalah sebesar 14.792 Watt. Range tegangan yang dapat diatur adalah antara 0 sampai 9 volt dengan ketelitian sebesar 0.1 V. Untuk penyetelan tegangan digunakan keypad yang dimasukkan ke mikrokontroler yang telah dikalibrasi ADC-nya. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah (1) perancangan catu daya digital ini telah dapat bekerja dengan baik, mempunyai range tegangan antara 0 sampai 9 volt dan daya maksimal 14.792 watt. (2) pengujian setiap blok pada catu daya digital telah dilakukan dan setiap bloknya dapat bekerja dengan baik.

Otomatisasi pengambilan data website untuk keperluan pemeringkatan berbasis sound approach / Eko Fujianto

 

ABSTRAK Fujianto, Eko. 2010. Otomatisasi Pengambilan Data Website untuk Keperluan Pemeringkatan Berbasis Sound Approach. Skripsi, Program Studi Fisika, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Johanis A. Rampisela, M.S., (II) Daeng Achmad Suaidi, S.Si., M.Kom. Kata Kunci: Otomatisasi, Pengambilan Data, Website, Pemeringkatan, Sound Approach Pemeringkatan merupakan salah satu cara untuk mengetahui kualitas dari masing-masing komponennya. Pemeringkatan berbasis Sound Approach adalah salah satu metode pemeringkatan yang dapat dijadikan model dalam suatu pemeringkatan tertentu terutama dalam bidang fisika. Metode pemeringkatan berbasis Sound Approach dalam skripsi Dona Harinda Sasongko berjudul “Metode Pemeringkatan Berbasis Sound Approach” diterapkan pada pemeringkatan website dan menggunakan beberapa indikator yang mengacu pada indikator yang digunakan oleh Webometrics (http://webometrics.info). Webometrics adalah lembaga yang melakukan pemeringkatan terhadap website perguruan tinggi di seluruh dunia. Indikator yang dipakai oleh Webometrics antara lain size atau jumlah halaman website, visibility atau jumlah total tautan unik yang diterima dari situs lain, rich files atau jumlah file yang ada di suatu situs, dan scholar atau jumlah tulisan-tulisan ilmiah berdasarkan Google scholar. Keempat data indikator di atas diperoleh dari empat mesin pencari, diantaranya Google, Yahoo, Bing, dan Exalead . Pengambilan data secara manual dilakukan dengan memasukkan key tertentu dalam mesin pencari dan mencatat jumlah hasil pencarian sebagai data. Key yang dimasukkan pada mesin pencari berbeda-beda untuk masing-masing jenis data indikator yang akan diambil. Proses pengambilan data secara manual membutuhkan waktu yang sangat banyak. Program otomatisasi pengambilan data website ini secara otomatis akan menjalankan mesin pencari dengan key yang telah ditentukan dan melakukan pengambilan data size, visibility, rich files, dan scholar dari mesin pencari. Dengan menggunakan function file_get_contents(), program mengambil page source dari halaman hasil pencarian mesin pencari. Setelah itu program melakukan pencocokan string angka jumlah hasil pencarian pada page source tadi dan mengubahnya menjadi sebuah variabel dengan menggunakan function preg_match(), kemudian menampilkan variabel tersebut pada sebuah tabel. Program ini menghasilkan data size, visibility, rich files, dan scholar yang sama dengan hasil pengambilan data yang dilakukan secara manual. Dengan menggunakan program ini, proses pengambilan data website akan lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan dengan melakukan pengambilan secara manual. Pengambilan data manual membutuhkan waktu 3 menit untuk satu URL, sedangkan pengambilan data dengan program hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 menit.

Improving subconscious grammar competence using semantico-syntactic translation practice for students of accounting departement state polytechnic of Malang / Futuh Handoyo

 

ABSTRACT Handoyo, Futuh. 2010. Improving Subconscious Grammar Competence using Semantico- syntacticTranslation Practice for Students of Accounting Department, State Polytechnic of Malang. Thesis, English Education, Graduate Program of State University of Malang. Advisors: (1). Prof. Ali Saukah, MA., Ph.D. (2). Prof. M. Adnan Latief, M.A., Ph.D Key words: subconscious grammar competence, Semantico-Syntactic Translation Practice The present study was conducted to respond to the students’ low ability to process English language syntactically. This was likely due to their lack of grammatical competence, particularly subconscious grammar competence. Therefore, the study was aimed at improving the competence. The research question, then, was formulated as: How can the studennts’ subconscious grammar competence be improved using semantico-syntactic practice? Subconscious grammatical competence refers to grammar knowledge that has undergone an internalization process to a degree that the learners are able to string words into sentences in a relatively good speed. It is also often referred to as implicit or procedural knowledge of grammar. Semantico-syntactic translation practice refers to the activity of converting various kinds of Indonesian expressions they are likely to use for everyday communication, not necessarily grammatical Indonesian, into grammatical English. It is a sort of L1sense-to-L2 form translation. The research design used was classroom action research. The subjects were one class out of six classes of the first year students of Accounting Department. The class consisted of 26 students. The initial procedure of the treatment was planned to consist of the following stages: First, a grammar topic was presented using contrastive linguistic explanation and then followed with the subjects translating Indonesian propositions into grammatical English slowly to reinforce their conscious understanding. The step was repeated until all the topics under study were covered. Second, some sentences and/ or short dialogues covering all the topics under study were dictated to the students to translate by writing the English version on a piece of paper. Along this process the speed was gradually increased with the purpose of internalizing their conscious grammar knowledge and to see whether or not the technique worked. Finally, the subjects were to orally translate sentences, short dialogue, and short text and their performance was scored to judge whether the criteria of success established in advance was met. Since subconscious grammar competence has something to do with the speed of stringing words into sentences correctly, the indicator of improvement was measured in terms of the students’ ability to translate various styles of Indonesian sentences into grammatical English quickly and correctly. The research would be said to succeed when the oral performance of 60 % of the subjects’, or 15.6 students ( rounded 16 students) reached 70 % accuracy, with the speed of 70% of the average speed of the three English teachers’ performance used as a parameter. When the goal was not yet achieved at this point, some extra internalization practices were given until the end of the semester. However, when the goal was still not achieved by then, the first cycle would have to stop and reflection would be made to design a new plan for a new cycle. The result of the implementation showed that the goal was finally reached in fifteen meetings within one cycle with some extra meetings for oral internalization practice. The first seven meetings were used for upgrading the subjects’ conscious grammar. The next four meetings were used to internalize the knowledge. The goal of this stage was to ensure that the technique worked. For this purpose, their performance of the first out of the four meetings were measured and used as the baseline, and their performance of the last day was also measured and used as the target line. The two groups of the scores were compared to see whether their performance significantly increased. The resulted scores indicated there was statistically significant increase. The average scores increased from 59.26 to 77.88, with the t value of 5.386 significant at the level of .0005(one tailed). Convinced with the result, the researcher moved on to the next stage, namely, measuring the subjects’ oral performance. However, the result indicated that they still could not reach the goal. Only eleven of them could get 70 or more. Finally, after they had additional oral internalization practice for two meetings, the goal was reached. Sixteen subjects managed to get 70 or more, with the slowest speed of 35.63 w.p.m, which was slightly above the calculated speed used as a parameter, which was as much as 35.40 w.p.m. The discussion on the finding, then, generated the following conclusions :(1) Subconscious grammar competence can be developed deductively using semantic-syntactic translation practice through the following procedure. First, the learners’ conscious knowledge of grammar is upgraded by the teacher’s explaining about the grammar rules and then followed with the students’ practicing translating messages expressed in different styles of L1 into grammatical L2 to reinforce the knowledge. Second, the conscious knowledge, then, is internalized through further practice of the same task with gradually increased speed and task difficulty—from written increased to oral task.(2). However, as indicated in some related literatures, the developed subconscious grammar competence is not automatically activated in authentic communicative performance, but needs activating in a transitional process of ‘noticing gap’. To this point, the subconscious grammar competence performs two crucial functions. First, it can reduce the students’ tendency to forget previous grammar lessons when learning new ones, but help them accumulate the lessons and use them for the act of noticing gap. Second, it can help the students to optimize the input exposed to them by their noticing act, because the input being noticed will be more likely to turn into intake and to be processed to enhance further acquisition process.

Penerapan cognitive style mapping (CSM) untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Prodo Wonongan Pasuruan / Indri Susanti

 

ABSTRAK Susanti, I. 2010. Penerapan Cognitive Style Mapping (CSM) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Prodo Winongan Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program, Program Studi S1 PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Univesitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Sutama, M. Pd. Pembimbing (II) Dra. Hj. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci : Pembelajaran IPA di SD, Cognitive Style Mapping (CSM), Hasil Belajar. Dalam proses pembelajaran IPA di sekolah dasar diharapkan ada penekanan pembelajaran salingtemas yang diarahkan pada pengalaman belajar siswa. Pembelajaran IPA di SD seharusnya lebih menekankan pada proses pembelajaran dan mengaktifkan siswa. Kenyataannya pembelajaran IPA di SDN Prodo kurang mengaktifkan siswa, kurang konstruktif, dan tidak berpusat pada guru. Hal tersebut mengakibatkan hasil belajar IPA siswa SDN Prodo rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan Cognitive Style Mapping (CSM) dalam pembelajaran IPA di kelas IV SDN Prodo Winongan Pasuruan, (2) peningkatan aktivitas siswa kelas IV SDN Prodo dengan diterapkannya Cognitive Style Mapping (CSM) dalam pembelajaran IPA di kelas IV SDN Prodo Winongan Pasuruan , (3) peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Prodo dengan diterapkannya Cognitive Style Mapping (CSM) dalam pembelajaran IPA di kelas IV SDN Prodo Winongan Pasuruan. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subyek penelitian ini siswa kelas IV SDN Prodo Kecamatan Winongan sejumlah 21 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi,wawancara, tes dan dokumentasi. Analisis data terdiri dari 3 komponen kegiatan yang dilakukan secara berurutan yaitu kegiatan reduksi, sajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan Cognitive Style Mapping (CSM) mencapai prosentase 89,6% dan dapat meningkatkan aktivitas siswa dengan rata-rata siklus I 63,3% dan siklus II 83,5%. Peningkatan ini juga diikuti peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar siswa yang terdiri atas tes dengan rata-rata pratindakan 54,9, siklus I 67,0, dan siklus II 80,6, dan hasil karya siswa meningkat dari 76,5 (siklus I) menjadi 88,5 (siklus II). Sedangkan ketuntasan klasikal siswa mencapai 90,5%, 19 dari 21 siswa telah mencapai SKM yang ditentukan di SDN Prodo yakni 65. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa CSM dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Untuk para guru disarankan untuk menerapkan pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa, konstruktif, menekankan pada pengembangan diri siswa dengan memberikan kesempatan yang cukup bagi siswa untuk mengaktualisasikan diri dan lebih berpusat pada siswa. Penelitian ini hendaknya dapat digunakan sebagai acuan dalam memperbaiki kondisi atau kesulitan belajar siswa.

Pengembangan permainan berbasis macromedia direktor MX sebagai media belajar dan pembelajaran bahasa arab untuk SD/MI kelas IV / Nurhidayati Ainur Rohmah

 

ABSTRAK Ainur Rohmah, Nurhidayati. 2010. Pengembangan Permainan Berbasis Macromedia Director MX sebagai Media Belajar dan Pembelajaran Bahasa Arab untuk SD/MI Kelas IV. Skripsi, Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. H. Imam Asrori, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, media permainan, bahasa Arab untuk anak. Perkembangan teknologi komunikasi dapat dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar, di antaranya dalam pembelajaran bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran dan menjadi salah satu alat komunikasi internasional. Karena itu mempelajari bahasa Arab menjadi kebutuhan setiap ummat Islam. Namun pada kenyaataannya motivasi siswa untuk belajar bahasa Arab masih rendah. Oleh sebab itu perlu adanya media pembelajaran bahasa Arab yang menarik dan bisa memotivasi siswa untuk belajar bahasa Arab. Untuk itu peneliti memilih mengembangkan permainan sebagai media belajar dan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena Game/ permainan adalah salah satu hiburan yang saat ini digemari anak-anak dan sampai saat ini belum adanya game/ permainan yang dikembangkan dalam bahasa Arab. Tujuan penelitian adalah (a) mendeskripsikan pengembangan permainan berbasis macromedia director MX sebagai media belajar dan pembelajaran bahasa Arab untuk SD/MI kelas IV, (b) mendeskripsikan penggunaan permainan berbasis macromedia director MX sebagai media pembelajaran bahasa Arab untuk SD/MI kelas IV, (c) mendeskripsikan penggunaan permainan berbasis macromedia director MX sebagai media belajar bahasa Arab untuk SD/MI kelas IV Metode pengembangan yang digunakan dalam permainan berbasis macromedia director MX ini adalah model pengembangan Dick and Carey (1990). Dan untuk menguji kelayakan media dilakukan proses validasi oleh ahli media dan ahli materi sebagai penguji ahli dan uji lapangan oleh guru bahasa Arab kelas IV SD/MI serta 20 siswa kelas IV SD/MI. Uji lapangan tersebut berupa penggunaan permainan berbasis macromedia director MX dalam proses pembelajaran bahasa Arab kelas IV, dalam hal ini guru sebagai validator. Sedangkan penggunaan permainan dalam proses belajar bahasa Arab, penilaian dilakukan oleh 20 siswa SD/ MI kelas IV. Uji coba oleh siswa tersebut dilakukan di rumah masing-masing dengan bantuan komputer atau laptop. Hasil akhir dari media yang dihasilkan adalah berupa CD permainan dan buku panduan. CD tersebut menampilkan enam menu pilihan yaitu mufradat, kuis, play, cerita, profil dan keluar. Menu mufradat menampilkan 20 kosa kata tentang بعض الأشياء في المدرسة dan المهنة, begitu juga dengan menu kuis. Namun pada menu kuis ini kosa kata ditampilkan dalam bentuk kuis yang menampilkan skor kuis. Menu play menampilkan permainan kosa kata yang menarik dan menantang tentang dua tema di atas. Sedangkan menu cerita menampilkan kosa kata dari kedua tema tersebut dalam bentuk cerita bersambung. Penggunaan ii permainan berbasis macromedia director MX sebagai media belajar bisa diawali dengan mempelajari kosa kata pada menu mufradat kemudian dilanjutkan ke menu “kuis” atau “play”. Begitu juga dalam pembelajaran. Penggunaan media ini diawali dengan menampilkan mufradat untuk mengenalkan kosa kata kepada siswa dan dilanjutkan menu “kuis” atau “play” sebagai evaluasi. Berdasarkan hasil uji ahli dan uji lapangan, hasil pengembangan permainan berbasis macromedia director MX sebagai media belajar dan pembelajaran bahasa Arab untuk SD/MI kelas IV diperoleh skor sebesar 81% atau bisa dikatakan bahwa media tersebut valid dan telah memenuhi kriteria media belajar dan pembelajaran yang cocok.

Pengembangan media video pembelajaran pokok bahasan pengenalan perangkat kamera untuk produksi video dan film / Wahyu Ariyanti

 

Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar dan merupakan bagian integral dari keseluruhan komponen pembelajaran yang menempati posisi penting dan akan turut menentukan keberhasilan penyelenggaraan pembelajaran. Dengan media pembelajaran maka proses pembelajaran akan berjalan lebih efektif. Pengembangan ini bertujuan merancang, membuat dan menguji keefektifan produk sajian mata kuliah pada Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang angkatan 2006 dalam bentuk media video pembelajaran. Sedangkan materi yang tertuang dalam media video pembelajaran yang dikembangkan ini adalah materi tentang pengenalan perangkat produksi video dan film pada Mata Kuliah Pengembangan Media Video dan TV, Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pengembangan ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan. Pengembangan produk ini dilanjutkan dengan kegiatan validasi pada ahli media, ahli materi, audiens perorangan dan audiens kelompok kecil. Untuk menentukan keefektifan produk media pembelajaran yang dikembangkan, ditempuh tahap uji coba 15 orang mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang angkatan 2006 sebagai audiens. Berdasarkan hasil perhitungan statistik yang diperoleh dari data ahli media menunjukkan presentase 92,7%, dari ahli materi 75%, dari audiens secara perorangan 90% dan dari audiens secara kelompok kecil 85%. Sedangkan dari data perbandingan hasil belajar mahasiswa secara keseluruhan diperoleh peningkatan skor hasil belajar rata-rata sebesar 30. Sehingga dari data-data tersebut menunjukkan bahwa media media video pembelajaran ini efektif digunakan dalam proses belajar mengajar pada perkuliahan. Saran yang diajukan, hendaknya produk media video pembelajaran yang telah dikembangkan ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang membantu dosen maupun mahasiswa dalam proses belajar mengajar pada perkuliahan. Sedangkan saran untuk peneliti berikutnya, agar mengembangkan materi secara lebih detail.

Pengembangan multimedia interaktif berbasis komputer tentang pengenalan dasar-dasar fotografi untuk mahasiswa teknologi pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang / Fitri Kurnia

 

Multimedia interaktif berbasis komputer merupakan perwujudan dari multimedia pembelajaran, karena penyampaiannya memadukan unsur audio, visual serta interaktifitas, sehingga dapat menarik minat pengguna. Berdasarkan hasil observasi di Jurusan Teknologi Pendidikan- Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, penggunaan multimedia interaktif berbasis komputer pada mata kuliah foto dan slide pembelajaran masih kurang. Hal ini dibuktikan dengan adanya buku teks sebagai penunjang mahasiswa dalam memahami materi. Karena itu pengembang membuat alternatif pilihan media pembelajaran melalui pengembangan multimedia interaktif berbasis komputer. Media ini dirancang semenarik mungkin yang bertujuan untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam belajar, mempermudah mahasiswa dalam memahami materi, dan meningkatkan efektifitas pembelajaran. Pengembangan ini bertujuan merancang dan membuat produk sajian dalam bentuk CD interaktif pembelajaran, sedangkan materi yang tertuang dalam media pembelajaran yang dikembangkan ini adalah materi tentang dasars-dasar fotografi dan edit gambar digital sederhana dengan Photoshop CS3 pada matakuliah Pengembangan Media Foto Pembelajaran jurusan Teknologi Pendidikan khususnya angkatan 2006/2007. Pengembangan yang dilaksanakan di Jurusan Teknologi Pendidikan pada mahasiswa Angkatan 2006-2007. Pengambilan data yang digunakan meliputi: instrumen angket untuk ahli media, ahli materi, audiens, serta pre-test dan post-test untuk subyek penelitian. Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilalui guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan, (2) analisis tujuan, (3) pengembangan materi pembelajaran, (4) mengembangkan alat evaluasi, (5) penulisan naskah (6) produksi, (7) menyusun petunjuk pemanfaatan, (8) validasi, (9) revisi. Multimedia interaktif merupakan salah satu media alternatif yang dapat digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. Kepraktisan dan kemudahan penggunaan multimedia interaktif ini membantu mahasiswa untuk belajar sesuai dengan yang diharapkan, karena media ini mempunyai alur komunikasi dua arah. Multimedia interaktif juga dapat dijadikan penunjang dalam model pembelajaran individual. Media berbasis komputer memiliki pengertian yaitu menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk menyampaikan materi dalam proses belajar mengajar. Penggunaan komputer dalam bidang pendidikan bukanlah hal yang baru lagi. Dengan menggunakan komputer diharapkan para siswa akan lebih bersemangat dalam mempelajari sesuatu dengan demikian proses belajar akan lebih bermakna dan pengetahuan yang diperoleh siswa akan tertanam lebih dalam serta tidak mudah hilang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 |