Pengaruh EVA (Economic Value Added), MVA (Market Value Added) dan ROI (Return On Investment) terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang listing di bei periode 2006-2008 /Febrianto Frans Deni

 

ABSTRAK Deni, Febrianto. 2009. Pengaruh EVA (Economic Value Added), MVA (Market Value Added) dan ROI (Return On Investment) terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang Listing Di BEI Periode 2006-2008. Skripsi, Jurusan S1 Manajemen Keuangan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mohammad Hari, M.Si. (II) Lulu Nurul Istanti, S.E., M.M. Kata Kunci: EVA (Economic Value Added), MVA (Market Value Added), ROI (Return On Investment) dan Harga Saham. EVA (Economic Value Added) merupakan analisis kinerja keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan nilai tambah bagi para investor. MVA (Market Value Added) merupakan selisih antara nilai pasar dengan modal yang diinvestasikan oleh investor. ROI (Return On Investment) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan guna menghasilkan keuntungan. Harga Saham adalah jumlah yang sebenarnya bersedia dibayar oleh investor untuk selembar saham yang diperdagangkan di bursa efek. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi, karena penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja perusahaan berdasarkan analisis EVA, MVA, dan ROI. Disamping itu juga untuk mengetahui bagaimana pengaruh EVA, MVA, dan ROI terhadap harga saham. Populasi penelitian ini meliputi semua perusahaan yang termasuk dalam perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia. Sedangkan sampel dalam penelitian ini terdiri dari 11 perusahaan yang masuk dalam 50 biggest market capitalization. Periode pengamatan penelitian ini selama 3 tahun yaitu 2006-2008 menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perusahaan sampel memiliki nilai EVA positif. Nilai MVA menunjukkan bahwa dari 11 sampel 4 perusahaan memiliki nilai MVA positif. Seluruh perusahaan sampel memiliki nilai ROI positif. Nilai harga saham dari 11 perusahaan sampel, yang memiliki harga saham tertinggi adalah saham perusahaan Semen Gresik (Persero) (SMGR). Sedangkan saham yang memiliki harga terendah adalah saham perusahaan Indah Kiat Pulp And Paper (INKP). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa variabel EVA, MVA, dan ROI secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan secara parsial dari 3 variabel bebas tersebut hanya variabel EVA dan MVA yang memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Saran bagi penelitian selanjutnya sebaiknya meningkatkan cara mengukur atau mendeteksi faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham serta mengamatinya untuk periode waktu yang berbeda dengan jangka waktu pengamatan yang lebih lama dari penelitian ini dan memperbanyak jumlah perusahaan yang dijadikan sampel.

Pengembangan modul pembelajaran fisika pokok bahasan energi dan usaha untuk siswa kelas VIII semester I tahun 2009 SMP Negeri I Pujon /Yulia Dewiani

 

ABSTRAK Dewiani, Yulia. 2009. Pengembangan Modul Pembelajaran Fisika Pokok Bahasan Energi dan Usaha Untuk Siswa Kelas VIII Semester I Tahun 2009 SMP Negeri I Pujon. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Pr of. Dr. H. Punaji Setyosari, M. Ed, (2) Eka Pramono Adi, S. IP, M. Si. Kata kunci: pembelajaran individual, modul pembelajaran, fisika Salah satu tanda keberhasilan dalam proses belajar adalah perubahan yang baik dalam bentuk prestasi. Prestasi tersebut dapat berupa penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar dalam berbagai bidang. Keberhasilan dalam belajar tidak akan mudah dicapai oleh siswa karen a ada beberapa faktor yang dapat menghambat, yakni: (1) hasil belajar siswa pada umumnya renda h, karena pada umumnya siswa belajar dengan teknik menghafal penjelasan dari guru-guru atau dari buku-buku. (2) sumber-sumber yang digunakan siswa terbatas pada penjelasan dari guru dan dari buku -buku. (3) dalam kegiatan belajar guru kurang merangsang aktivitas belajar siswa secara optimal, metode yang digunakan terbatas pada ceramah dan tanya jawab. Salah satu media yang dapat merangsang siswa untuk belajar secara mandiri adalah modul pembelajaran dengan menggunakan metode belajar problem solving (pemecaha n masalah). Tujuan dari pengembangan media modul ini adalah: 1) Menghasilkan modul pembelajaran individual yang memiliki kriteria sebagai media yang layak untuk meningkatkan pembelajaran Fisika kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. 2) Menghasilkan modul pembelajaran yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama. Modul yang akan dikembangkan memiliki spesifikasi sebagai berikut: 1) judul atau topi k, 2) identitas program, 3) kata pengantar, 4) petunjuk umum penggunaan modul, 5) petunjuk khusus yang terdiri dari: tujuan umum pembelajaran, tujuan khusus pembelajaran , waktu, kemampuan prasyarat, pokok-pokok isi pembelajaran, cara kerja, 6) bahan pembelajaran, 7) rangkuman, 8) peta konsep, 9) soal latihan, 10) kunci jawaban soal, pedoman penilaian dan riteria keberhasilan. Prosedur pengembangan modul pembelajaran individual ini meliputi: 1) identifikasi tujuan pembelajaran, 2) analisis tujuan pembelaja ran, 3) identifikasi tingkah laku awal dan karakteristik siswa, 4) merumuskan TKP, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran, 8) mendesain dan melakukan eval uasi formatif, 9) revisi produk. Kegiatan validasi meliputi kegiatan uji coba ahli materi, ahli media dan siswa. Subyek uji coba lapangan dari pengembangan modul pembelajaran individual ini adalah siswa SMP Negeri 1 Pujon kelas VIII semester I . Instrumen pengumpulan data adalah dengan diskusi, angket penilaian dan tes. Jenis data pada pengembangan ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari kajian ahli materi, ahli media dan siswa yang berupa data hasil diskusi, kritik dan saran yang berupa catatan pada angket serta data yang ii dihimpun dari angket penilaian dan dianalisis dengan teknik persentase. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pre -test dan post-test siswa. Hasil pengembangan membuktikan bahwa media modul memiliki kriteria: a. Ahli materi dan ahli media sebagian besar menilai bahwa modul pembelajaran yang dikembangkan cukup baik karena semua komponen modul mendapatkan penilaian lebih dari kriteria yang ditetapkan (60%) sehingga layak untuk digunakan dalam pembelajaran. b. Siswa sebagian besar menilai bahwa modul yang dikembangkan baik, karena dapat menarik perhatian, menyenangkan, memberi kemudahan siswa dalam belajar. Siswa memberikan penilaian di atas kriteria yang ditetapkan (60%) sehinggga layak untuk digunakan dalam pembelajaran. c. Hasil tes baik pre-test maupun post-test yang diberikan pada siswa menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar, karena 100% dari responden mendapatkan nilai diatas KKM( Kriteria Ketuntasan Minimum) yang telah ditentukan. Sehinggga dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran lebih efektif dan efisian sebagai media pembelajaran individual. Saran yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan modul pembelajaran ini adalah: 1) agar pemanfaatan modul pembelajaran ini dapat berhasil secara optimal, siswa harus memahami secara jelas tata cara penggunaan modul, 2) dalam situasi dan kondisi tertentu guru dapat menugaskan siswa untuk belajar mandiri, 3) guru diharapkan siap dengan program pengayaan bagi siswa yang cepat menyelesaikan modul, memantau dan memberikan bim bingan bagi siswa yang mengalami kesulitan. 4) siswa disarankan untuk belajar secara mandiri, karena belajar dengan modul adalah upaya untuk melatih kemandirian siswa. 5) tahap pengembangan yang dilakukan oleh pengembang barulah pada tingkat uji coba lapangan terbatas, untuk itu diharapkan bagi pengembang lain agar pengujian terhadap format penilaian atau instrumen pengembangan lebih dicermati

Peningkatan prestasi belajar matematika materi sifat bangun ruang pendekatan inquiry pada siswa kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan /Tatik Sulistyani

 

ABSTRAK Sulistyani, Tatik. 2010. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Materi Sifat Bangun Ruang Dengan Pendekatan Inquiry Pada Siswa Kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. PTK Program S1 PGSD PJJ. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dra. Hj. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci : Prestasi, Matematika, Pendekatan Inquiry Berdasarkan kenyatan yang ada di SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan, proses pembelajaran Matematika di kelas IV, masih menggunakan paradigma yang lama, dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru mengajar dengan metode ceramah, dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, dan hafal, sehingga KBM menjadi monoton dan kurang menarik perhatian siswa, serta jarangnya digunakan strategi pembelajaran. Maka dari itu, penulis tertarik untuk melakukan perbaikan pembelajaran secara kolaboratif dengan mengadakan penelitian tindakan kelas mengenai “Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Materi Sifat Bangun Ruang dengan Pendekatan Inquiry Pada Siswa Kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan”. Tujuan dari penelitian ini adalah pertama mendiskripsikan prestasi belajar Matematika materi sifat bangun ruang pada siswa kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Kedua, mendiskripsikan penerapan pendekatan inquiry dalam meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran Matematika pada siswa kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Ketiga, mendiskripsikan peningkatan prestasi belajar Matematika materi Bangun Ruang dengan diterapkannya pendekatan inquiry pada siswa kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas terdiri 2 siklus dengan rincian siklus I terdiri dua kali pertemuan dan siklus II terdiri dua kali pertemuan. Setiap siklus meliputi (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Adapun instrumen yang digunakan dalam penilaian ini adalah pedoman observasi dan soal – soal tes. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu (1) Hasil tes (analisis) penerapan pendekatan inquiry dalam meningkatkan prestasi belajar Matematika Materi Sifat Bangun Ruang Pada Siswa Kelas IV SDN Lemahbang II, pada siklus I didapatkan 48 % pada kelompok nilai cukup. Untuk kategori baik 52 %. Pada siklus II kategori baik meningkat menjadi 72 %, kenaikannya adalah 20 %. (2) Hasil observasi aktivitas siswa pada penerapan pendekatan inquiry dalam meningkatkan prestasi belajar Matematika Materi Sifat Bangun Ruang Pada Siswa Kelas IV SDN Lemahbang II Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Mencapai nilai rata – rata 90 pada siklus I, pada siklus II mencapai nilai rata – rata 97, ada kenaikan 7,8 %. Peningkatan ini menegaskan bahwa aspek strategi pembelajaran merupakan faktor penting dalam keberhasilan proses pembelajaran.

Desain dan pembuatan alat pembuat kunci duplikat dengan penggerak motor /Roksun Saefulloh, Yudhi Harianto

 

Pada masa sekarang ini kunci menjadi barang yang dimiliki oleh setiap orang. Pada saat ini proses penggandaan kunci masih dilakukan secara manual dengan kikir. Masalah terletak pada lamanya waktu dalam proses penggandaan kunci. Tujuan dari pembuatan alat ini adalah untuk mempercepat proses penggandaan kunci. Metode yang digunakan meliputi : menentukan prinsip kerja alat, membuat sket gambar alat, membuat gambar detail alat, membuat alat, menghitung harga jual alat. Hasilnya berupa pembuat kunci duplikat berdimensi 250mm x 200mm x 162mm dengan penggerak motor 60 Watt dengan harga Rp.2.500.000,-.

Meningkatkan motivasi dan hasil belajar persamaan garis lurus siswa kelas VIII melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) / Moh. Nasrul Fuad

 

ABSTRAK Fuad, Moh. Nasrul. 2009. Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Persamaan Garis Lurus Siswa Kelas VIII Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together). Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Cholis Sa’dijah, M.Pd, M.A. dan (II) Aning Wida Yanti, S.Si, M.Pd. Kata Kunci: Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads Together), Motivasi Belajar, Hasil Belajar. Berdasarkan observasi awal melalui wawancara dengan guru mata pelajaran Matematika kelas VIII-A MTs Surya Buana Malang, diperoleh informasi bahwa motivasi dan hasil belajar sebagian besar siswa pada mata pelajaran Matematika masih tergolong rendah. Proses pembelajaran Matematika di MTs Surya Buana Malang sering menggunakan metode ceramah dan pengerjaan soal secara individu. Siswa kurang termotivasi untuk belajar Matematika. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak nilai tes hasil belajar siswa yang belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimum (SKM) yang ditetapkan di MTs Surya Buana Malang. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatan motivasi dan hasil belajar Matematika siswa kelas VIII-A MTs Surya Buana Malang melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together). Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada bulan November 2009. Data penelitian berupa motivasi belajar siswa yang diperoleh melalui observasi selama penelitian, sedangkan data hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus I sebesar 55,82% yang termasuk dalam kategori kurang, sedangkan pada siklus II motivasi belajar siswa meningkat menjadi 78,44% yang termasuk dalam kategori baik. Motivasi belajar siswa mengalami persentase peningkatan sebesar 22,62%. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa pada siklus I skor rata-rata kelas sebesar 65,34 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 65,52%, sedangkan pada siklus II skor rata-rata kelas meningkat menjadi 87,52 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 89,66%. Skor rata-rata kelas mengalami peningkatan sebesar 22,18 sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal mengalami persentase peningkatan sebesar 24,14%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar Matematika siswa kelas VIII-A MTs Surya Buana Malang.

Pengembangan multimedia interaktif mata pelajaran TIK pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis untuk siswa kelas XII semester I di MAN Gresik /Bahrur Rosyidi Duraisy

 

ABSTRAK Duraisy, Bahrur Rosyidi. 2009. Pengembangan Multimedia Interaktif Matapelajaran TIK Pokok Materi Penggunaan Perangkat Lunak Grafis untuk Siswa Kelas XII Semester 1 di MAN Gresik 1. Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Eka Pramono Adi, S.I.P., M.Si., (II) Drs. Zainul Abidin, M.Pd. Kata kunci: Pengembangan, Multimedia Interaktif, TIK, Grafis Teknologi komputer dengan elemen multimedianya sangat memberikan dorongan untuk para guru/pengajar dalam menyajikan tugas-tugas dan bahan yang lebih kompleks. Sehingga multimedia interaktif menjadi salah satu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran untuk pengajaran di sekolah khususnya untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Madrasah Aliyah Negeri Gresik 1. Berdasarkan hasil observasi di Madrasah Aliyah Negeri Gresik 1, penyampaian pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dilaksanakan dengan metode ceramah dan praktek. Disisi lain, Pembelajaran TIK di MAN Gresik 1 sudah menggunakan sistem Computer Based Learning dimana pembelajaran dilakukan dengan media komputer sebagai media pembelajaran. Walaupun begitu, sistem ini masih belum dimanfaatkan secara maksimal, karena berdasarkan hasil observasi hanya beberapa materi tertentu yang menggunakan media tersebut. Disamping itu masih terdapat sedikit kekurangan pada segi konten dan media yang digunakan, yaitu konten atau isi yang disajikan kurang menyeluruh (tidak tuntas). Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media pembelajaran berupa multimedia interaktif yang telah melalui proses validasi pada mata pelajaran TIK di Madrasah Aliyah Negeri Gresik 1. Multimedia interaktif ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari media ini adalah (1) dapat digunakan secara individu sehingga siswa lebih leluasa dalam pengerjaannya, (2) tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengerjakan media ini, (3) multimedia bersifat interaktif sehingga siswa langsung mendapatkan feedback (balikan) dari media ini, dan (4) dilengkapi fitur-fitur pendukung seperti backsound, volume yang dapat diatur besar kecilnya suara, (5) tampilan media disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas XII SMA yaitu dengan penggunaan warna yang cerah dan animasi yang dapat membuat siswa tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan memanfaatkan media ini, (6) multimedia interaktif ini disertai dengan fasilitas blended learning. siswa bisa mengakses internet dari tombol link. Siswa akan mendapat sajian situs-situs grafis baik situs nasional maupun internasional, (7) dilengkapi bahan evaluasi berupa soal latihan atau quiz. Sedangkan kekurangan dari media ini adalah (1) multimedia interaktif ini hanya terbatas pada pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis, (3) hanya bisa digunakan secara individual saja, tidak dalam bentuk kelompok. ii Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi, pre-test dan pos-test, pengembangan multimedia pembelajaran kepada ahli media dan ahli materi kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan multimedia pembelajaran. Hasil pengembangan multimedia interaktif untuk matapelajaran TIK pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 94%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 95%, Siswa/audiens perseorangan mencapai tingkat kevalidan 95%, dan siswa/audiens mencapai tingkat kevalidan 91,9%. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia interaktif untuk matapelajaran TIK pokok materi penggunaan perangkat lunak grafis, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Hubungan antara kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing pada peserta ekstrakulikuler panjat tebing di SMK Negeri 1 Lumajang / Afida Rofiqotur Riza

 

ABSTRAK Rofiqotur Riza, Afida. 2010. Hubungan antara Kekuatan Otot Lengan dan Daya Ledak otot Tungkai dengan Kecepatan Memanjat Tebing pada Peserta Ekstrakurikuler Panjat Tebing di SMK Negeri 1 Lumajang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. M. E. Winarno, M. Pd., (2) Drs. Mahmud Yunus, M.Kes. Kata kunci: panjat tebing, ekstrakurikuler, kecepatan memanjat tebing. Panjat tebing merupakan olahraga petualangan yang relatif aman bila dilakukan sesuai dengan prosedur pemanjatan. Kecepatan memanjat tebing dalam penelitian ini adalah kemampuan melakukan gerakan memanjat tebing buatan secara berkesinambungan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antara kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing pada peserta ekstrakurikuler panjat tebing di SMK Negeri 1 Lumajang, serta seberapa besar kekuatan hubungan dan sumbangan efektif tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan positif antara kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing pada peserta ekstrakurikuler panjat tebing di SMK Negeri 1 Lumajang, serta seberapa besar kekuatan hubungan, dan sumbangannya. Penelitian ini dilakukan di Stadion Semeru dan Lembaga Kajian Pengembangan Remaja Lumajang, tanggal 6 Nopember 2009 sampai 30 Desember 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah non eksperimental berupa observasional. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis regresi sederhana, berganda, dan analisis korelasi. Variabel dalam penelitian ini adalah kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai sebagai variabel bebas, serta kecepatan memanjat tebing sebagai variabel tergantung. Alat ukur yang digunakan dalam pengambilan data berupa tes dan pengukuran kekuatan otot lengan dengan butir tes pull up, daya ledak otot tungkai dengan butir tes vertical jump, dan kecepatan memanjat tebing dengan butir tes memanjat tebing. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh peserta ekstrakurikuler panjat tebing di SMKN 1 Lumajang yang berjumlah 20 orang, terdiri dari 11 putra dan 9 putri. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kekuatan otot lengan dengan kecepatan memanjat tebing, persamaan regresi yang diperoleh yaitu Ŷ = 25,34+0,867X1; ditemukan sig. r > α = 0,05 berarti antara variabel bebas kekuatan otot lengan dengan variabel tergantung kecepatan memanjat tebing terdapat hubungan yang signifikan; variabel kekuatan otot lengan telah memberikan sumbangannya (r2) terhadap variabel tergantung sebesar 75,17%. Berarti 75,17% kecepatan memanjat tebing ditentukan oleh variabel bebas kekuatan otot lengan (X1). Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang positif antara antara daya ledak otot tungkai dengan kecepatan memanjat tebing, persamaan regresi yang diperoleh yaitu Ŷ = 28,68+0,477X2; ditemukan sig. r > α = 0,05 berarti antara variabel bebas daya ledak otot tungkai dengan variabel tergantung kecepatan memanjat tebing terdapat hubungan yang signifikan; variabel daya ledak otot tungkai telah memberikan sumbangannya (r2) terhadap variabel tergantung sebesar 22,75%. Berarti 22,75% kecepatan memanjat tebing ditentukan oleh variabel bebas daya ledak otot tungkai (X2). Kemudian keterkaitan komponen kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai ditunjukkan dengan garis persamaan regresi yang dihasilkan oleh kedua variabel bebas. Adapun bentuk garis persamaan regresi yang dimaksud adalah Ŷ = a+b1X1+b2X2 dimana a = 23,35 jadi Ŷ = 23,35+(-0,933X1)+0,106X2; ditemukan Fhit = 24,078, Ftab(α = 0,05) = 3,20. Oleh karena Fhit > Ftab, berarti garis persamaan regresi tersebut di atas menunjukkan ”berarti” secara signifikan; koefisien R2 ditemukan sebesar 0,827, artinya variabel tergantung kecepatan memanjat tebing 68,39% ditentukan atau tergantung pada kekuatan otot lengan dan daya ledak otot tungkai. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dalam pencarian bibit pemanjat tebing kategori kecepatan perlu mempertimbangkan kekuatan otot lengan dengan sumbangan efektif 75,17%, dan perlu mempertimbangkan daya ledak otot tungkai untuk memperoleh prestasi yang baik perlu pembinaan lebih terprogram dan terencana; bagi peneliti lain yang hendak mengadakan penelitian sejenis, hendaknya mengembangkan variabel bebas lebih banyak dari komponen fisik yang lain dan jumlah sampel yang banyak pula.

Masalah dan solusi guru dalam mengembangkan bahan ajar ekonomi di MTS Hasyim Asy'ari Batu / Sulistyawati

 

ABSTRAK Sulistyawati. 2010. Masalah dan solusi guru dalam mengembangkan bahan ajar ekonomi di MTs Hasyim Asyari Batu. Skripsi, jurusan ekonomi Pembanguanan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Mit Witjaksono, MS.Ed. (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata kunci: pengembangan bahan ajar, masalah, solusi Saat ini banyak anggapan yang menilai guru kurang serius dalam mengembangkan profesinya. Hal ini dapat dilihat dari guru yang tidak mempunyai persiapan mengajar dan kurang minatnya guru dalam mengembangkan kualitas dirinya. Guru dituntut untuk dapat mengembangkan bahan ajar, namun saat ini banyak guru yang kurang antusias dalam menjalankan profesinya khususnya dalam mengembangkan bahan ajar. Menurunnya produktivitas guru ini sangat disayangkan mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh dari pengembangan bahan ajar. Pentingnya pengembangan bahan ajar ini karena bahan ajar harus sesuai dengan tuntutan kurikulum, karakteristik siswa, dan dapat memecahkan masalah dalam pembelajaran. Menurunnya kualitas dan produktivitas guru dalam memenuhi tuntutan pengembangkan bahan ajar mungkin disebabkan karena adanya masalah dan keterbatasan. Hal ini berkaitan dengan situasi yang dialami oleh pribadi guru sehari-hari. Salah satu cara untuk mengatasi masalah atau keterbatasan dalam pengembangkan bahan ajar oleh guru adalah dengan memposisikan individu, dalam hal ini guru untuk menggambarkan situasi/ pengalaman dimana mereka merasa dapat mengembangkan bahan ajar dan dimana mereka tidak mampu mengembangkannya. Untuk mengetahui sejauh mana masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan bahan ajar ekonomi serta solusi untuk mengatasi hal tersebut diperlukan perekaman informasi yang berasal dari guru mata pelajaran ekonomi di MTS Hasyim Asy’Ari Batu. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Masalah apa yang dihadapi guru dalam mengembangkan bahan ajar ekonomi, (2) Solusi apa yang ditempuh guru untuk mengatasi masalah dalam pengembangan bahan ajar ekonomi. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Mendeskripsiskan masalah yang dihadapi guru dalam mengembangkan bahan ajar ekonomi, (2) Mengetahui solusi yang ditempuh guru untuk mengatasi masalah pengembangan bahan ajar ekonomi. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan prosedur wawancara yang ditujukan kepada guru mata pelajaran ekonomi untuk mendapatkan respon responden tentang pengalaman mengajar selama menjadi guru mata pelajaran ekonomi, masalah yang dihadapi dalam mengembangkan bahan ajar ekonomi, dan solusi untuk mengatasinya.Penelitian ini diteliti dengan menggunakan metode kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah guru mata pelajaran ekonomi di MTs Hasyim Asyari Batu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar yang telah digunakan guru MTs Hasyim Asyari Batu bervariasi, antara lain buku, LKS, Modul, gambar, CD/ bahan ajar elektronik. Dalam mengembangan bahan ajar, guru mengidentifikasi dan mempertimbangkan potensi peserta didik dan relevansinya dengan karakteristik daerah serta tidak melenceng dari struktur i keilmuan. Guru juga mempertimbangkan potensi peserta didik, tingkat perkembangan peserta didik, perkembangan dunia, relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan. Cara guru memilih dan mengadaptasi bahan ajar yang ada, sesuai dengan kurikulum, standar kompetensi dan kompetensi dasar. Yang melatarbelakangi guru untuk mengembangkan bahan ajar terutama yang berhubungan dengan pembuatan bahan ajar baru adalah inovasi dan kesesuaian dengan tingkat kesulitan dan kemudahan siswa, termasuk kesesuaian juga dengan materi. Sumber bahan ajar yang digunakan guru sebagai referensi dalam pengembangan bahan ajar adalah buku pegangan, media elektronika, multimedia, internet, koran, lingkungan, pasar, koperasi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Bahan ajar penting dikembangkan karena agar sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, serta sesuai dengan kurikulum dan karakter siswa. Pengembangan bahan ajar juga harus mempertimbangkan potensi peserta didik, tingkat perkembangan peserta didik, perkembangan dunia, relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan;(2) Masalah guru dalam mengembangkan bahan ajar ekonomi adalah konsumsi waktu, guru masih ada yang belum bisa mengakses internet. Dalam pembuatan bahan ajar baru, masalah yang dihadapi guru adalah sulitnya menuangkan ide dan sulitnya pengambilan gambar yang bisa menerangkan transaksi/ kegiatan ekonomi serta kurangnya referensi. Masalah pengembangan bahan ajar lainnya adalah sarana prasarana, dana; (3) Untuk mengatasi kurangnya waktu guru dalam mengembangkan bahan ajar, guru memberi tugas kepada siswa untuk mencari informasi dan pengetahuan baru di internet. Guru lebih banyak membaca literature, pembuatan peta konsep, produk layak jual. Solusi dari masalah dana pembuatan bahan ajar baru yaitu dengan menyebarkan bahan ajar baru secara bertahap. Solusi untuk mengatasi masalah dalam sulitnya mencari gambar tentang kegiatan ekonomi adalah guru mencari di internet tentang gambar-gambar yang sesuai dan adanya kerjasama dalam pencarian gambar dengan rekan guru lainnya agar saling melengkapi. Masalah tentang kurangnya referensi, solusinya guru mencari tambahan lewat internet, koran, buku-buku, juga mempelajari perubahan yang terjadi di masyarakat atau negara kita, khususnya yang menyangkut perubahan ekonomi. Untuk dapat mengembangkan bahan ajar dengan lebih baik, guru lebih banyak mengikuti pelatihan/seminar, terutama tentang pengembangan bahan ajar. Guru hendaknya lebih dapat mengembangkan bahan ajar dengan cara mengikuti lebih banyak seminar pendidikan maupun pelatihan pengembangan bahan ajar guru harus aktif mencari sumber bahan ajar agar menambah pengetahuan dan pengembangan materi bagi siswa. Guru harus lebih aktif mengakses sumber bahan ajar agar mendapatkan pengeathuan yang komplit. Sekolah diharapkan menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung pengembangan profesi keguruan . Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian insentif dana bagi guru untuk mengikuti pelatihan maupun seminar. Dan untuk pemerintah diharapkan lebih menunjang ekonomi guru, khususnya guru di sekolah swasta, sehingga mereka dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. ii

Pengaruh penggunaan media animasi terhadap peningkatan hasil belajar materi tentang konstruksi dan cara kerja mesin 4 tak pada siswa kelas X jurusan teknik otomotif di SMK Negeri 1 Woja Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat / Al Adhar Teguh Laksana

 

ABSTRAK Laksana, Al Adhar Teguh. 2010. Pengaruh Penggunaan Media Animasi terhadap Peningkatan Hasil Belajar Materi Tentang Konstruksi dan Cara Kerja Mesin 4 Tak pada Siswa Kelas X Jurusan Teknik Otomotif di SMK Negeri 1 Woja Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sunomo, M.Pd, (II) Drs. Sumarli, M.Pd., M.T. Kata kunci: media gambar, media animasi, hasil belajar. Model pembelajaran yang diterapkan di SMK N 1 Woja Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat sampai sekarang ini masih menggunakan metode ceramah dan metode demontrasi, sedangkan media pembelajarannya adalah media gambar. Siswa yang diajar menggunakan media gambar seperti ini dinilai kurang mampu memahami maksud dari gambar yang bersifat kompleks, khususnya gambar yang menunjukkan sebuah peristiwa yang tidak dapat dilihat secara langsung. Penggunaan media animasi diharapkan dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam memahami prinsip kerja mesin 4 tak maupun cara kerja komponen-komponen utama yang terdapat dalam mesin tersebut. Penelitian ini selain bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar antara kelompok siswa yang diajar dengan media gambar dan kelompok siswa yang diajar dengan media animasi, juga untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar kompetensi konstruksi dan cara kerja mesin 4 tak antara kelompok siswa yang diajar dengan media gambar dan kelompok siswa yang diajar dengan media animasi. Penelitian ini menggunakan Pre-Experimental Design, karena desain ini memiliki banyak desain bila dilihat subjek yang akan diteliti, maka secara khusus desain dalam penelitian ini menggunakan desain Pre-test and Post-test Group. Subjek dalam penelitian ini diambil dari siswa kelas X jurusan Teknik Otomotif yang berjumlah 40 siswa. Hasil belajar diambil dari hasil pre-tes dan post-test. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis Uji-t. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 65% siswa yang diajar menggunakan media animasi berhasil memperoleh hasil belajar secara maksimal dengan rentangan skor 81-100. Sedangkan siswa yang diajar menggunakan media gambar hanya berjumlah 10%. Dari hasil analisis diketahui bahwa ada perbedaan hasil belajar untuk taraf signifikansi (α = 0,05) antara dua kelompok tersebut. Dengan demikian penggunaan media animasi berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil belajar materi tentang konstruksi dan cara kerja mesin 4 tak. Melihat adanya pengaruh positif dari penggunaan media animasi. Disarankan guru hendaknya menerapkan media animasi sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran yang materinya membahas suatu peristiwa atau proses kerja dari sebuah mesin yang tidak bisa dilihat secara langsung.

Pengaruh opini audit tahun sebelumnya, kondisi keuangan, dan pertumbuhan perusahaan terhadap opini audit going concern (pengamatan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia) / Ambar Khristanty

 

ABSTRAK Khristanty, Ambar. 2009. Pengaruh Opini Audit Tahun Sebelumnya, Kondisi Keuangan, dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Opini Audit Going Concern. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Hj. Endang Sri Andayani, S.E, M.Si, Ak., (II) Dra. Hj. Sutatmi, S.E, M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci: Opini Audit, Going Concern, Kondisi Keuangan Perusahaan, Pertumbuhan Perusahaan, Regresi Logistik. Asumsi going concern adalah asumsi dasar yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan. Asumsi ini mengharuskan perusahaan secara operasional memiliki kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern). Akuntan publik sebagai auditor eksternal atau auditor independen memiliki tanggung jawab untuk memberikan opini audit going concern kepada perusahaan yang menjadi pemakai jasa profesionalnya. Selain memberikan jasa audit terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen perusahaan, independensi auditor dalam memberikan opini atas laporan keuangan yang diauditnya juga harus mengevaluasi apakah ada kesangsian terhadap kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam kurun waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit. Apabila auditor tidak yakin dengan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya maka auditor harus menyampaikan masalah tersebut dalam laporan audit setelah paragraf opini. Jika tidak, banyak masyarakat yang menganggap bahwa kelalaian auditor yang menyebabkan bangkrutnya perusahaan.Oleh karena itu, bagi banyak pihak masalah pemberian opini audit going concern ini sangatlah penting. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh opini audit tahun sebelumnya, kondisi keuangan perusahaan dan pertumbuhan perusahaan terhadap opini audit going concern. Pemilihan sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method dan diperoleh sebanyak 37 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengaruh antara opini audit tahun sebelumnya, kondisi keuangan perusahaan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Z-score Altman dan pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan rasio pertumbuhan penjualan terhadap opini audit going concern dianalisis dengan menggunakan regresi logistik (logistic regression) karena adanya variabel dummy baik pada variabel dependen maupun pada variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opini audit tahun sebelumnya dan kondisi keuangan perusahaan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Altman Model (1968) berpengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Namun penelitian ini tidak dapat memberikan bukti adanya pengaruh pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan pertumbuhan penjualan terhadap pemberian opini audit going concern.

Pengaruh penerapan strategis sisnacalisting terhadap kemampuan menulis artikel mahasiswa prodi bahasa dan sastra Indonesia jurusan sastra indonesia fakultas sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2008 /Aida Fithriyah Yuningtyas

 

ABSTRAK Yuningtyas, Aida Fithriyah. 2009. Pengaruh Penerapan Strategi Sisnacalisting terhadap Kemampuan Menulis Artikel Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Suyono, M.Pd. Kata kunci: strategi sisnacalisting, kemampuan menulis artikel, produktivitas menulis artikel, kualitas hasil menulis artikel. Menulis penting bagi kehidupan manusia. Menulis dikatakan penting karena: (1) menulis adalah proses berpikir, (2) menulis merupakan kegiatan berkomunikasi, dan (3) menulis merupakan kemampuan yang perlu dimiliki seorang pembelajar, terutama mahasiswa. Kemampuan menulis artikel perlu dikembangkan. Hal ini dilakukan karena: (1) dengan menulis artikel seseorang dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, (2) dengan menulis artikel seseorang dapat memperoleh keuntungan secara finansial, dan (3) menulis artikel dianggap sebagai suatu kegiatan yang intelek. Kemampuan menulis memiliki peran penting dalam keberhasilan mahasiswa untuk menyelesaikan studinya. Beberapa pembelajaran dalam perkuliahan, menuntut mahasiswa dapat menghasilkan sebuah tulisan. Bahkan, di akhir masa studinya, mahasiswa harus membuat laporan penelitian. Namun, aktivitas menulis di kalangan mahasiswa dapat dikatakan belum berjalan baik. Hal ini disebabkan menulis dianggap kegiatan yang sulit dan kurangnya kesadaran membaca di kalangan mahasiswa untuk meningkatkan kualitas tulisan mereka. Melihat fenomena tersebut, perlu adanya strategi untuk memacu semangat mahasiswa dalam menulis artikel. Salah satu strategi tersebut adalah strategi sisnacalisting. Strategi ini dapat diterapkan karena menulis merupakan suatu proses yang di dalamnya memerlukan beberapa tahapan menulis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pre eksperimental dengan desain one shot case study. Penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok yang dijadikan sebagai kelompok tanpa perlakuan (Kelompok A) dan kelompok dengan perlakuan (kelompok B). Kelompok yang sama ini diteliti dua kali dalam waktu yang berlainan. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang angkatan 2008, yang sedang menempuh matakuliah Menulis Artikel dan Makalah. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ceklis dan rubrik penilaian yang tercantum dalam RPP. Adapun data penelitian ini adalah (1) produktivitas menulis artikel mahasiswa, dan (2) kualitas artikel mahasiswa pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data tersebut dianalisis menggunakan dua teknik analisis data, yaitu (1) Kolmogorof Smirnov untuk menguji hipotesis ada tidaknya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap produktivitas menulis artikel mahasiswa, dan (2) Uji T (desain one shot case study) untuk menguji hipotesis ada tidaknya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kualitas artikel mahasiswa. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa ada pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap produktivitas menulis artikel mahasiswa. Produktivitas ini dilihat dari jumlah atau banyaknya artikel karya mahasiswa yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu. Untuk jumlah karya yang dihasilkan, masing-masing siswa di kedua artikel hanya menghasilkan sebuah artikel. Namun, di kelompok A ada lima belas mahasiswa (50%) yang tidak menghasilkan sebuah artikel, sedangkan semua mahasiswa pada kelompok B menghasilkan sebuah artikel. Berdasarkan lamanya waktu yang diperlukan untuk menghasilkan sebuah artikel, mahasiswa kelompok B juga dapat dikatakan lebih produktif dari pada mahasiswa kelompok A. Hal ini dilihat dari waktu yang diperlukan oleh kelompok A dan kelompok B. Kelompok A membutuhkan waktu yang relatif lebih lama dibanding dengan kelompok B dalam menyelesaikan sebuah artikel. Kelompok A membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu untuk menulis sebuah artikel, sedangkan kelompok B membutuhankan waktu 1-2 minggu untuk menulis sebuah artikel. Selain itu, pengujian hipotesis untuk kedua aspek produktivitas menulis artikel menunjukkan Dhitung lebih besar dari Dtabel, sehingga H0 ditolak, diterima HA. Jadi, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa lebih produktif setelah diterapkan strategi sisnacalisting dalam menulis artikel. Pengujian hipotesis yang kedua menunjukkan ada pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kualitas artikel mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Kualitas artikel mahasiswa dilihat dari mutu artikel karya mahasiswa yang dinilai berdasarkan aspek perumusan judul, pengembangan gagasan, organisasi isi, pengungkapan pendapat, penggunaan tata bahasa, penggunaan kosakata, serta pemakaian ejaan dan tanda baca. Adanya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kualitas artikel mahasiswa dilihat dari pengujian hipotesis yang menunjukkan thitung lebih besar dari ttabel, sehingga H0 ditolak, diterima HA. Selain itu, jumlah rata-rata kelompok B lebih tinggi dari pada jumlah rata-rata kelompok A. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kualitas artikel mahasiswa lebih baik setelah diterapkan strategi sisnacalisting dalam menulis artikel. Berdasarkan analisis data dan pembahasan secara keseluruhan disimpulkan bahwa ada pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kemampuan menulis artikel mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Dampak penerapan strategi sisnacalisting terhadap kemampuan menulis mahasiswa adalah mahasiswa lebih produktif dan artikel mahasiswa lebih berkualitas. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap produktivitas menulis artikel mahasiswa dan kualitas artikel mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Angkatan 2008. Penelitian ini memberikan hasil yang baik bagi perkembangan media pengajaran dalam pembelajaran menulis artikel. Saran bagi peneliti lain, hendaknya peneliti lain dapat menjadikan penelitian ini sebagai masukan demi tercapainya penelitian berikutnya. Hal ini dikarenakan penelitian ini hanya merupakan penelitian pelacakan tentang ada-tidaknya pengaruh penerapan strategi sisnacalisting terhadap kemampuan menulis artikel. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian lebih lanjut, yaitu penelitian eksperimen murni. Saran bagi pengajar atau dosen, hendaknya penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran menulis artikel. Saran bagi mahasiswa, mahasiswa hendaknya lebih meningkatkan kemampuan menulis karena menulis menjadi salah satu penunjang keberhasilan studi.

Membangun LAN pada laboraturiun komputer dengan sistem diskless di SMPK Elkana Pasuruan /Debi Oktafianto, Catur Niken Sanjaya

 

Membangun LAN pada laboratorium komputer dengan sistem diskless di SMP Kristen Elkana Pasuruan dilatarbelakangi oleh lambatnya kinerja komputer sehingga para siswa dan guru yang menggunakan komputer tersebut banyak yang mengeluh. Tujuan dibangunnya LAN dengan sistem diskless ini adalah untuk meningkatkan kinerja komputer dengan spesifikasi rendah namun memiliki performa yang baik layaknya komputer baru tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar dan agar tercipta suatu sistem jaringan yang baik. Perancangan sistem diskless ini diawali dengan membuat jaringan lokal (LAN), topologi jaringan menggunakan topologi star, terdiri 1 server dan 7 client. Dilanjutkan dengan installasi Linux RedHat 9.0, dilanjutkan dengan installasi dan konfigurasi LTSP pada komputer server dan client. Hasil perancangan jaringan dengan menggunakan sistem diskless ini terbukti dapat mengurangi beban biaya dibandingkan menggunakan jaringan biasa. Keamanan data lebih aman, karena terpusat pada server. Oleh karenanya, jika terjadi masalah keamanan, hanya perlu terfokus ke sistem pada server. Penghematan hardware untuk komponen seperti CD ROM, tape driver, modem, UPS, floppy (jika menggunakan bootrom) dan terutama parallel serta serial port untuk printer, modem, dan lain-lain. Kesimpulan yang dapat diambil dari perancangan dan hasil pengujian adalah sebagai berikut: (1) Biaya yang dikeluarkan sangat rendah dibandingkan menggunakan jaringan biasa. (2) client tidak bisa jalan jika server belum dihidupkan dahulu, atau kerusakan server akan mengakibatkan semua client tidak berfungsi. Disinilah pentingnya perawatan ekstra terhadap server.

Pengembangan modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI progran keahlian analisis kimia / Vina Ariana

 

ABSTRAK Ariana, Vina. 2010. Pengembangan Modul Analisis Elektrokimia dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5 Fase untuk Sekolah Menengah Kejuruan Kelas XI Program Keahlian Analisis Kimia. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Si, (II) Dra. Nazriati, M.Si. Kata kunci: Modul, Analisis Elektrokimia, Learning Cycle 5 fase. Pendidikan yang merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperan aktif dalam meningkatkan kualitas maupun kuantitas sumber daya manusia. Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM di Indonesia adalah dengan meningkatkan jumlah dari SMK yang berkualitas. Namun, ternyata sebagian besar lulusan SMK kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kurang bisa mengembangkan diri sehingga banyak lulusan SMK yang belum mampu masuk dalam dunia kerja. Salah satu cara untuk mengatasinya yaitu dengan meningkatkan kualitas dan relevansi kompetensi pendidikan kejuruan dengan dunia kerja, yang dapat dilakukan dengan mengembangkan modul yang berstandar nasional maupun internasional. Pembelajaran bermodul memungkinkan guru untuk menilai kinerja siswa secara berkesinambungan dan memungkinkan untuk diketahuinya siswa yang kompeten atau belum kompeten. Pengembangan modul mengacu pada model pembelajaran Learning Cycle 5 fase, yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Tujuan pengembangan modul adalah (1) untuk mengetahui bentuk dan isi modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia, (2) untuk mengetahui kelayakan modul hasil pengembangan untuk digunakan sebagai salah satu modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia, (3) untuk mengetahui bentuk dan isi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai pelengkap dari pengembangan modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia, dan (4) untuk mengetahui kelayakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) hasil pengembangan untuk digunakan sebagai pelengkap modul analisis elektrokimia dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase untuk sekolah menengah kejuruan kelas XI program keahlian analisis kimia. Penelitian pengembangan ini merupakan penelitian pengembangan prosedural yang mengacu pada 10 langkah Borg dan Gall. Langkah-langkah yang dilakukan hanya sampai pada langkah ketiga karena adanya keterbatasan waktu dan biaya, yaitu (1) penelitian dan pengumpulan data, yaitu diketahui bahwa di Malang belum tersedia bahan ajar untuk SMK program keahlian analisis kimia (2) perencanaan, yaitu dihasilkan rancangan komponen-komponen yang ada dalam modul dan RPP, dan (3) pengembangan draf produk, yaitu dihasilkan modul dan RPP analisis elektrokimia yang siap untuk divalidasi dan dianalisis. Validasi isi dilakukan oleh 1 dosen kimia UM dan 2 guru SMK program keahlian ii Analisis Kimia. Instrumen pengumpulan data berupa angket dan teknik analisis data menggunakan analisis persentase. Hasil pengembangan berupa modul dan Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP) sebagai pelengkap dari pengembangan modul di SMK program keahlian analisis kimia. Modul analisis elektrokimia yang dikembangkan terdiri dari beberapa bagian, yaitu (1) bagian prapendahuluan, (2) bagian pendahuluan, dan (3) bagian isi. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan terdiri dari beberapa bagian, yaitu (1) identitas mata diklat, (2) standar kompetensi, (3) kompetensi dasar, (4) indikator pencapaian kompetensi, (5) tujuan pembelajaran, (6) materi ajar, (7) alokasi waktu, (8) metode pembelajaran, dan (9) kegiatan pembelajaran yang meliputi (a) pendahuluan, (b) inti, dan (c) penutup. Hasil validasi terhadap modul menunjukkan persentase 80,32% yang termasuk dalam kriteria valid, sedangkan hasil validasi terhadap Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menunjukkan persentase 78,94% dengan kriteria valid. Dengan demikian, modul analisis elektrokimia yang dikembangkan sudah layak untuk dilakukan uji lapangan awal atau diterapkan dalam pembelajaran dan RPP analisis elektrokimia yang dikembangkan telah sesuai dengan model pembelajaran learning cycle 5 fase dan sudah layak digunakan guru dalam proses pembelajaran. Dilihat dari data persentase hasil validasi, modul yang dikembangkan tidak perlu direvisi. Namun, berdasarkan komentar dan saran dari validator ada beberapa bagian modul yang harus direvisi.

Peningkatan hasil belajar PKn cinta lingkungan melalui pembelajaran tematik siswa kelas II Tlumpu kota Blitar / Kiking Duana Tara

 

ABSTRAK Duana Tara, Kiking. 2009. Peningkatan Hasil Belajar PKn Tentang Cinta Lingkungan Melalui Pembelajaran Tematik Pada Siswa Kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Widayati, M.H. (2). Suwarti, S.Pd, M.Pd. Kata kunci : peningkatan hasil belajar, Pkn, pembelajaran tematik Peningkatan keberhasilan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar merupakan tantangan yang selalu dihadapi oleh seorang guru. Masalah yang muncul dalam kegiatan pembelajaran yang dialami oleh siswa kelas II khususnya yaitu sangat rendahnya hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn yang berada di bawah nilai KKM yaitu 70. Tindakan yang dilakukan guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui upaya penerapan pembelajaran tematik pada pembelajaran PKn Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara dan hasil yang diperoleh dari penerapan pembelajaran tematik pada pembelajaran PKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar. Pembelajaran tematik merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Proses pembelajarannya mengintregrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam sebuah topik atau tema. Pelaksanaan pembelajaran dengan penerapan pendekatan tematik dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi dalam kurikulum. Dengan penerapan pembelajaran tematik akan dapat memberikan peluang terjadinya proses pembelajaran secara terpadu yang akan lebih menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran dan dapat menumbuhkan kreatifitas siswa dalam memecahkan suatu masalah sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitisn adalah siswa kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar. Dilaksanakan dalam pembelajaran PKn yang dipadukan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia, tujuannya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan teknik dokumen, observasi, tes. Penelitian dilakukan selama tiga kali yaitu pada siklus I, siklus II, dan siklus III. Masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pada penelitian awal yang dilakukan diperoleh hasil masih banyak siswa yang belum memahami materi yang telah diberikan oleh guru, dan nilai yang diperoleh masih dibawah KKM. KKM yang ditentukan dalam pelajaran PKn yaitu 70. Siswa dikategorikan tuntas belajar apabila nilai siswa yang dicapai berada di atas KKM dan siswa dikategorikan belum tuntas belajar apabila nilai yang diperoleh siswa berada di bawah KKM. Pada siklus I dapat dilihat perolehan hasil belajar siswa secara keseluruhan masih berada di bawah KKM. Pada siklus II hasil belajar siswa sudah mulai meningkat berada di atas KKM tetapi belum secara keseluruhan yaitu dari 37 siswa terdapat 15 siswa yang mendapat nilai di atas KKM, sehingga pada siklus II siswa dikatakan belum tuntas belajar. Pada siklus III terdapat 27 siswa yang mendapat nilai di atas KKM, sehingga pada siklus III ini dikatakan siswa sudah tuntas dalam belajar. Ketika sudah dilakukan tahapan-tahapan penelitian, dan mulai menggunakan pembelajaran tematik dalam kegiatan pembelajaran, diperoleh hasil yang sangat berbeda dari semula, yaitu terjadinya peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas II SDN Tlumpu Kota Blitar.

The implentation of the 5E model of vocabulary for vocabulary course at Balikpapan foreign language academy / Muhammad Rochman

 

ABSTRAK Rochman, Muhammad. 2010. Penerapan Kosa Kata Model 5E untuk Mata Kuliah Vocabulary di Akademi Bahasa Asing Balikpapan . Thesis, Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) A. Effendi Kadarisman, M.A. Ph.D, (II) Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. Kata kunci: implementasi, kosa kata, mata kuliah Vocabulary, dan 5E model. Mempelajari bahasa asing menuntut mahasiswa untuk mempelajari kosa kata. Tanpa pengetahuan yang cukup tentang kosa kata bahasa Inggris, mahasiswa tidak dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Inggris. Mahasiswa tidak akan mampu menyampaikan atau menerima pesan secara efektif. Kosa kata memiliki peran yang penting dalam pembelajaran bahasa asing, sebab kosa kata adalah komponen bahasa dalam kemampuan berkomunikasi. Kosa kata adalah unsur yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa; sebab ia menunjang empat ketrampilan berbahasa (membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis). Namun demikian tidak banyak guru bahasa Inggris di Indonesia yang meluangkan waktunya untuk mengembangkan pengajaran kosa kata. Berkenaan dengan pernyataan di atas, berdasarkan pengalaman pribadi penulis sebagai dosen di Akademi Bahasa Asing Balikpapan, pengajaran kosa kata tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Hal ini tampak pada kenyataan bahwa pengajaranya cenderung berpusat pada dosen dengan penggunaan metode ceramah, dan juga mahasiswa cenderung tidak memberikan perhatian yang cukup pada kosa katanya. Mereka mengangap bahwa pengajaran kosa kata dipandang tidak terlalu penting dibandingkan dengan pengajaran mata kuliah membaca, berbicara, mendengarkan, dan menulis. Disebabkan kurangnya perhatian untuk mata kuliah ini; maka nilai mahasiswa dalam mata kuliah ini sering mengecewakan. Dengan adanya persoalan tersebut, maka di pandang perlu adanya perubahan metode mengajar yang selama ini digunakan dengan metode mengajar yang baru. Penerapan 5E model dalam Mata Kuliah Vocabulary harus diawali dengan adanya studi apakah metode yang baru tersebut memang benar lebih baik dari metode sebelumnya. Oleh karena itu, tujuan utama dari studi ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan 5E model untuk meningkatkan kosa kata bahasa Inggris mahasiswa di Akademi Bahasa Asing Balikpapan. Persoalan umum yang sering terjadi dalam pembelajaran kosa kata adalah kurangnya motivasi dan keterlibatan mahasiswa pada materi yang disampaikan. Masalah ini berdampak pada kesulitan mahasiswa untuk mendapatkan perbendaharaan kata-kata baru. Mahasiswa sering kurang terarah untuk mendapatkan kata-kata baru. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri hanya dari dua siklus. Masing-masing siklus terdapat; tiga pertemuan, latihan rekognisi awal, dan latihan rekognisi akhir. Dalam tiap pertemuan terdapat 5 tahapan dari strategi 5E. Kelima tahapan itu adalah; tahap engage, explore, explain, elaborate, dan evaluate. Subyek penelitian adalah mahasiswa tingkat dua Akademi Bahasa Asing Balikpapan. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian seperti observasi, kuisoner, catatan lapangan dan latihan-latihan (pre-recognition exercise, recognition, and post-recognition exercise). Data dianalisis menggunakan Rubrik Penilaian, sementara itu data yang berasal dari observasi, catatan lapangan dan kuisoner diklasifikasikan dan dijabarkan secara jelas. Nilai-nilai mahasiswa dalam pemahaman kosa kata selama penelitian ini adalah nilai-nilai kosa kata mahasiswa yang berasal dari mengerjakan latihan rekognisi awal dan latihan rekognisi akhir. Latihan rekognisi awal dan latihan rekognisi akhir yang diberikan memiliki kesetaraan dalam tingkat penilaian, tingkat kesukaran, bentuk tes, dan fokus kosa-kata pilihan. Nilai mahasiswa dalam latihan rekognisi akhir meningkat secara signifikan. Hasil nilai mereka meningkat rata-rata 49.9 dibandingkan dengan latihan rekognisi awal. Hasil ini diperoleh setelah mahasiswa diberikan perlakuan dengan menggunakan strategy pengajaran kosa kata 5E. Kriteria keberhasilannya berupa; kriteria pertama adalah minimal 60% mahasiswa mencapai pemahaman 40 kata pilihan dari 60 kata yang ditargetkan, dan kriteria kedua adalah minimal 70% mahasiswa memperoleh nilai diatas 6.0. Hasil dari penelitian ini adalah kedua kriteria terpenuhi sekaligus. Berdasarkan hasil temuan penelitian ini, disimpulkan bahwa metode pengajaran 5E adalah dapat diterapkan untuk meningkatkan kosa-kata mahasiswa semester dua Akademi Bahasa Asing Balikpapan. Penerapan 5E model harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: pertama, 5 tahapan dalam 5E model harus diikuti secara berurutan sebagai sebuah proses belajar-mengajar dalam kelas kosa kata oleh para dosen yang ingin menerapkan model tersebut; kedua, materi yang dipilih harus konstektual, disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, dan disesuaikan dengan tingkat kepandaian mahasiswa; ketiga, alokasi waktu untuk tiap tahapan dalam 5E model harus disesuaikan dengan aktivitas yang diberikan. Bagi para dosen yang akan menerapkan metode 5E dalam mata kuliah Vocabulary, mereka harus mengikuti langkah-langkah sebagai berikut; pertama, kelima tahapan dalam 5E model harus diikuti secara berurutan sebagai sebuah proses belajar-mengajar dalam kelas kosa-kata; kedua, materi yang dipilih harus konstektual, disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, dan disesuaikan dengan tingkat kepandaian mahasiswa; dan ketiga, alokasi waktu untuk tiap tahapan di dalam 5E model harus disesuaikan dengan kegiatan yang diberikan. Disarankan pada para dosen bahasa Inggris, khususnya yang mengajarkan kosa kata untuk menggunakan model pengajaran kosa kata 5E ini, karena strategi ini dapat meningkatkan pemahaman kosa kata mahasiswa. Pengajaran bahasa Inggris menggunakan model pengajaran 5E akan memberikan tantangan bagi para guru maupun dosen untuk menyesuaikan materinya ke dalam 5 tahapan yang ada. Juga disarankan bagi peneliti yang akan datang untuk menguji aplikasi teknik yang serupa secara lebih intensif.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian sabun mandi kesehatan "lifebouy" (Studi pada ibu-ibu pkk RW 03 Kelurahan Bunulrejo Malang) / Selly Febrilia

 

ABSTRAK Febrilia, Selly 2009. “Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Sabun Mandi Kesehatan Lifebuoy (Studi Pada Ibu-ibu RW 03 Sanansari Kelurahan Bunulrejo Malang)”. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Djoko Dwi K., M.Si, (II) Rachmad Hidayat, S.Pd. Kata kunci: atribut produk, keputusan pembelian Dizaman modern ini pemikiran manusia semakin berkembang dan kebutuhan semakin bertambah. Perekonomian yang semakin sulit mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan fital yaitu memelihara kebutuhan jasmani nya yaitu menjaga kebersihan badan. Untuk itu PT. Unilever membuat produk sabun mandi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. PT. Unilever membuat sabun mandi ini dengan harga yang ekonomis dan terjangkau oleh masyarakat mulai menengah atas sampai kebawah. Manfaat dari yang diperoleh dari sabun ini juga sangat banyak. Selain kemasan yang ekonomis, sabun ini juga ramah lingkungan dan kualitasnya terjamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel atribut produk terhadap keputusan pembelian sabun mandi kesehatan Lifebuoy. Penelitian ini mempunyai dua variabel yaitu variabel independen (X) yang terdiri dari Harga (X1), Kualitas (X2), Merek (X3), Label (X4), dan Kemasan (X5), dan variabel dependen (Y) Keputusan Pemberian. Penelitian ini dilakukan pada ibu-ibu PKK RW 03 Sanansari Kelurahan Bunulrejo dengan menggunakan tehnik Judgement Sampling dan kuesioner tertutup. Populasi dapat diketahui jumlahnya dengan menggunakan tehnik Judgement Sampling dan sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 59 orang. Setelah dilakukan proses pengolahan data dan analisis regresi berganda diketahui hasil penelitian menyatakan (1) Harga, dari hasil analisis dapat diperoleh nilai thitung 2.884 > ttabel 2.001 atau signifikansi t 0.006 < 0.05. Hal ini menunjukkan harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (2) Kualitas dari hasil analisis dapat diperoleh nilai thitung 3.672 > ttabel 2.001 atau signifikansi t 0.001 < 0.05. Hal ini menunjukkan kualitas berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (3) Merek, dari hasil analisis dapat diperoleh nilai 6.1088 > ttabel 2.001 atau signifikansi t 0.000 < 0.05. Hal ini menunjukkan merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (4) Label, dari hasil analisis dapat diperoleh nilai thitung 9.201 > ttabel 2.001 atau signifikansi t 0.000 < 0.05. Hal ini menunjukkan label berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (5) Kemasan, dari hasil analisis dapat diperoleh nilai thitung 4.669 > ttabel 2.001 atau signifikansi t 0.000 < 0.05. Hal ini menunjukkan kemasan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian,. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan secara simultan terdapat 5 variabel yang menunjukkan pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian yaitu Harga, Kualitas, Merek, Label, dan Kemasan. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah (1) Sebaiknya perusahaan selalu memperlihatkan harga produk Lifebuoy, hal tersebut didasarkan atas dasar temuan dari penelitian ini dimana variabel harga mempunyai pengaruh yang tinggi dalam penelitian ini, tetapi perusahaan juga tidak boleh mengesampingkan atribut-atribut lainnya dalam membuat produk diantaranya kualitas dll, (2) Dikarenakan persaingan dalam memasarkan suatu produk sangat ketat, sebaiknya perusahaan lebih memperhatikan kemasan agar nantinya kemasan lebih dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.

Meningkatkan pembelajaran menulis deskripsi dengan model pakem pada siswa kelas V SDN Tlumpu kota Blitar / Ulya Hasanah

 

ABSTRAK Hasanah, Ulya. 2010. Meningkatkan Pembelajaran Menulis Deskripsi dengan Model PAKEM pada Siswa Kelas V SDN Tlumpu Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Nuryati, M. Pd, (II) Drs. Suhel Madyono, S. Pd., M. Pd. Kata Kunci: meningkatkan pembelajaran, menulis deskripsi, PAKEM. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan pelaksanaan menulis deskrip-si dengan model PAKEM pada siswa kelas V SDN Tlumpu kota Blitar, (2) men-deskripsikan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran model PAKEM dapat me-ningkatkan hasil belajar menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Tlumpu kota Blitar. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2009 sampai dengan 30 Nopember 2009 di SDN Tlumpu kota Blitar. Rancangan penelitian dilakukan melalui tahap siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observa-si, dan refleksi. Sebelum me-laksanakan siklus, peneliti melakukan observasi ter-lebih dahulu untuk mengetahui masalah yang ada di kelas V SDN Tlumpu kota Blitar. Analisis data penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah tentang (1) Bagaimana pe-laksanaan pembelajaran menulis deskripsi dengan model PAKEM pada siswa ke-las V SDN Tlumpu kota Blitar? (2) Bagaimana hasil pembelajaran menulis des-kripsi dengan model PAKEM pada siswa kelas V SDN Tlumpu kota Blitar? Berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaran menulis, siswa belum mencapai ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah. Dengan kriteria Ketuntasan Minimal dari sekolah adalah 75%, namun secara klasikal, siswa belum mampu mencapai KKM tersebut. Namun, dengan menggunakan model PAKEM dalam pembelajarannya, siswa mampu mencapai KKM yang ditentukan sekolah. Pada pelaksanaan siklus I, siswa hanya mampu mencapai 50%. Dari 24 siswa, 12 siswa yang mampu mencapai 75% penguasaan materi. Pada siklus II, 20 siswa telah mencapai KKM yang ditentukan, keberhasilan penelitian ini adalah 83,3% siswa telah mencapai KKM. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, dengan menggunakan model PAKEM, siswa merasa senang dan bisa lebih aktif da-lam pembelajaran, sehingga siswa mampu mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah. Dari pene-litian ini dapat disarankan bagi para guru untuk menggunakan model PAKEM pa-da pembelajaran menulis deskripsi, bagi sekolah untuk lebih bekerja keras dalam mengembangkan metode ataupun model pembelajaran yang lebih kreatif agar mu-tu pendidikan di SDN Tlumpu juga dapat meningkat, bagi pemerintah agar me-nambah motivasi dan sarana prasarana yang mendukung seko-lah, bagi peneliti la-in agar menggunakan model PAKEM untuk penelitiannya da-lam pembelajaran menulis deskripsi.

Pengaruh persepsi siswa tentang penggunaan media dan metode pembelajaran terhadap sikap dan prestasi belajar siswa SMK Negeri 1 Turen / Sefi Miftahul Aflih

 

i ABSTRAK Aflih, Sefi, Miftahul. 2010. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Penggunaan Media dan Metode Pembelajaran Terhadap Sikap dan Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sriyani Mentari S, Pd. , M. M, dan (2) Dra. Suparti M. P Kata kunci: Persepsi Siswa Tentang Penggunaan Media Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Sikap Belajar dan Prestasi Belajar Siswa. Prestasi belajar merupakan hasil belajar siswa yang diperoleh siswa dalam menyerap atau menerima ilmu pengetahuan dan materi pelajaran yang diberikan oleh guru selama proses belajar mengajar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk tes atau angka nilai. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain yaitu media pembelajaran, metode pembelajaran dan sikap belajar siswa. Dengan demikian, penelitian ini mengkaji tentang pengaruh langsung persepsi siswa tentang penggunaan media dan metode pembelajaran terhadap sikap belajar, pengaruh langsung sikap belajar terhadap prestasi belajar, dan pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang penggunaan media dan metode pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa di SMK Negeri 1 Turen. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap sikap belajar, pengaruh langsung metode pembelajaran terhadap sikap belajar, pengaruh langsung sikap belajar terhadap prestasi belajar, pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar, pengaruh tidak langsung metode pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa, dan pengaruh secara simultan persepsi siswa tentang penggunaan media, metode pembelajaran, dan sikap belajar terhadap prestasi belajar siswa Akuntansi di kelas XI SMK Negeri 1 Turen. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanatory. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi dan kuesioner (angket). Penelitian ini menggunakan populasi dalam menentukan responden yaitu berjumlah 78 siswa. Metode analisa data yang digunakan adalah path analysis dengan uji 2 asumsi klasik (normalitas dan linearitas). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Ada pengaruh langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 2) Ada pengaruh langsung metode pembelajaran tehadap sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 3) Ada pengaruh langsung sikap belajar tehadap prestasi belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 4) Ada pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, 5) Ada pengaruh tidak langsung metode pembelajaran terhadap prestasi belajar melalui sikap belajar siswa kelas XI Akuntansi di SMK Negeri 1 Turen, dan 6) Ada pengaruh secara simultan persepsi siswa tentang penggunaan media, metode ii pembelajaran, dan sikap belajar terhadap prestasi belajar siswa Akuntansi di kelas XI SMK Negeri 1 Turen Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan 1) Sekolah perlu meningkatkan ketersediaan sarana yang dapat membantu guru dalam peningkatan media dan metode pembelajaran, hal ini dilakukan agar dalam proses belajar mengajar dapat tercipta suasana yang kondusif dan terjadi interaksi yang positif antara guru dan peserta didik. Suasana yang kondusif ini dapat membentuk sikap belajar yang baik dan berdampak pada peningkatan prestasi belajar siswa; 2) Guru perlu meningkatkan penggunaan media maupun metode pembelajaran agar lebih bervariasi, meskipun metode dan media pembelajaran yang dipakai selama ini sudah mendukung dalam peningkatan prestasi belajar siswa, namun langkah untuk pengembangan media dan metode diperlukan agar peserta didik tidak merasa bosan, dengan media ataupun metode pembelajaran yang selama ini dipakai. Penggunaan media papan tulis yang selama ini dipakai bisa dikembangkan dengan menggunakan OHP atau media yang lain, penggunaan media yang beranekaragam dapat menumbuhkan rasa ingin tahu siswa terhadap isi dari materi pelajaran. Demikian pula dengan metode pembelajaran yang bervariasi dapat menumbuhkan semangat yang belajar yang baik dari diri peserta didik; 3) Bagi Siswa sebaiknya memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia baik di rumah maupun di sekolah secara optimal guna menunjang kegiatan belajar. Selain itu siswa sebaiknya lebih memperhatikan lagi sikapnya didalam maupun diluar kelas tersebut menjadi lebih baik agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri; dan 4) Penelitian berikutnya, Penelitian berikutnya, apabila meneliti mengenai hal yang sama dengan penelitian ini diharapkan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas lagi, dan jika pengambilan data menggunakan pengamatan langsung (observasi) lebih baik menggunakan penskoran agar hasil yang didapatkan akan lebih valid dengan kenyataan yang ada.

Penerapan model belajar investigasi kelompok (group investigation) untuk meningkatkan pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Soso 03 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar / Nining Ramadani Apriliana

 

Kata Kunci : Investigasi Kelompok (Group Investigation), Pembelajaran, IPA, SD Dalam proses belajar, siswa belajar dari pengalaman sendiri mencari pengetahuan kemudian memberi makna pada pengetahuan itu melalui proses belajar dengan mengalami sendiri, menemukan sendiri, secara berkelompok seperti bermain, maka siswa menjadi senang, sehingga tumbuhlah minat untuk belajar, khususnya belajar IPA. Dalam observasi awal ditemukan bahwa siswa kelas V SDN Soso 03 hasil belajar dan aktivitas siswa dalam belajar dan berkelompok masih rendah, keegoisan dalam memilih kelompok masih tinggi, komunikasi antar anak laki-laki dengan perempuan sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menerapkan model pembelajaran investigasi kelompok pada siswa kelas V SDN Soso 03; (2) meningkatkan aktivitas siswa kelas V SDN Soso 03 dalam belajar IPA menggunakan model GI; (3) meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Soso 03 dalam belajar IPA menggunakan model GI. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemis & Taggart. Langkah Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan & observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Soso 03 Kec. Gandusari Kab. Blitar dengan jumlah siswa 25 anak. Intrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan pada siklus I rata-rata penerapan model pembelajaran GI diperoleh 76%. Pada siklus II meningkat menjadi 83,6% kenaikan dari siklus I ke siklus II pada penerapan pembelajaran IPA dengan model GI sebesar 7,6%. Aktivitas pada siklus I rata-rata klasikal yang didapat yaitu 53,5 aktivitas siswa meningkat pada siklus II yang mendapatkan rata-rata klasikal 70,5. Rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I meningkat, dari rata-rata 57,5 menjadi 70,5 pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pembelajaran IPA secara bertahap pada siswa kelas V SDN Soso 03 Kec. Gandusari Kab. Blitar Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan penerapan pembelajaran dengan model belajar GI meningkat. Penulis memberikan saran agar dpat dipertimbangkan penerapan model pembelajaran GI sebagai salah satu alternatif dalam memilih dan menggunakan model pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap mordibitas balita (kasus di kampung pemulung Sidomulyo kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang) / Ismi Nurianti

 

ABSTRAK Nurianti, Ismi. 2010. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Morbiditas Balita (Kasus di Kampung Pemulung Sidomulyo Kelurahan Tanjungrejo Kecamatan Sukun Kota Malang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si, (II) Drs. Budijanto, M.S. Kata Kunci: morbiditas, balita. Kesehatan mempunyai peran yang sangat penting untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pemeliharaan kesehatan sedini mungkin terhadap balita sangat perlu karena dapat mengurangi kematian anak balita disamping itu karena balita merupakan kekuatan bangsa sebagai penerus pembangunan. Pada Umumnya, musim pancarobah dijadikan alasan orang tua dari balita sebagai penyebab dari sakitnya balita, padahal tidak hanya kesalahan musim tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Permasalahan inilah yang perlu untuk diteliti yakni morbiditas pada balita melalui lama sakit dan frekuensi sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui morbiditas balita di Kampung Sidomulyo dan mengetahui beberapa faktor yang berpengaruh terhadap morbiditas. Faktor-faktor tersebut antara lain: sanitasi, tingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan ibu, konsumsi gizi, jarak kelahiran, perawatan balita dan jumlah tanggungan keluarga. Metode penelitian yang digunakan survey dengan populasi seluruh balita di Kampung sidomulyo. Pengambilan data menggunakan metode sensus yaitu pengambilan data yang mempergunakan keseluruhan populasi. Teknik pengambilan data menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan dalan penelitian ini adalah analisa tabulasi dan statisti. Hasil penelitian menunjukkan: 1) morbiditas balita di Kampung Sidomulyo termasuk kriteria tinggi, 2) ada pengaruh yang tidak signifikan antara sanitasi, tingkat pendapatan dengan morbiditas balita, 3) ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pendidikan Ibu, jarak kelahiran, konsumsi gizi, perawatan balita, jumlah tanggungan keluarga dengan morbiditas balita. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, mengatur kelahiran melalui KB, lebih memperhatikan kebutuhan balita baik gizi maupun perawatan. Disamping itu untuk ibu-ibu balita lebih mencari dan menambah pengetahuan tentang kesehatan balita, gizi balita, dan perawatan balita.

Peningkatan kemampuan dasar "gambar perspektif" siswa kelas X SMA islam "terakreditasi A" Malang melalui kegiatan kelompok (penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw) / Zeni Rachmawati

 

ABSTRAK Rachmawati, Zeni. 2009. Peningkatan Kemampuan Dasar Gambar Perspektif Siswa Kelas X SMA Islam”Terakreditasi A” Malang melalui Metode Belajar Kelompok (Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw). Skripsi Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. Hj. Purwatiningsih, M.Pd. Kata Kunci : kemampuan, gambar perspektif, belajar kelompok, SMA Berdasarkan data hasil belajar Gambar Perspektif pada mata pelajaran Kesenian/ Seni Budaya di kelas X SMA Islam “Terakreditasi A” Malang, diketahui bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran yang berlangsung masih rendah. Hal tersebut dapat diamati dari hasil penilaian karya siswa yang masih di bawah nilai ketuntasan minimal. Rendahnya hasil belajar siswa tersebut mengindikasikan bahwa siswa kelas X mengalami kesulitan dalam memahami teknik perspektif. Untuk merngatasi permasalahan tersebut di atas, guru mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan metode belajar kelompok yang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran kooperatif. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah 1) meningkatkan kemampuan dalam menerapkan teknik perspektif pada siswa kelas X SMA Islam Malang melalui kegiatan belajar kelompok, 2) meningkatkan hasil belajar teknik gambar perspektif siswa kelas X SMA Islam Malang melalui kegiatan belajar kelompok. Prosedur penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam dua siklus dengan empat langkah penenlitian yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi, lembar penilaian gambar perspektif, kuis atau tes prestasi belajar, dan catatan/ agenda guru. Adapun sampel penelitian adalah kelas X SMA Islam “Terakreditasi A” Malang. Hasil penelitian berupa penjelasan hasil belajar siswa pada saat observasi awal, pelaksanaan siklus pertama dan pelaksanaan siklus kedua yang masing-masing memberikan gambaran pencapaian keberhasilan belajar yang berbeda. Hasil belajar siswa yang rendah pada observasi awal dapat dilihat peningkatannya menjadi lebih baik setelah dilaksanakan penelitian siklus pertama. Refleksi pelaksanaan tindakan pada siklus pertama yang masih menyisakan kekurangan, maka diadakan penelitian ulang pada siklus kedua. Hasil pelaksanaan penelitian pada siklus pertama dan siklus kedua dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif melalui kegiatan belajar kelompok ini mampu menciptakan iklim kegiatan belajar yang saling membantu dan menyenangkan, sehingga dapat mencapai ketuntasan hasil belajar secara optimal.

Penggunaan kartu perkalian untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN Kebonagung 05 kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang / Prasdian Yudha Bhakti

 

ABSTRAK Bhakti, PY. 2010. Penggunaan Kartu Perkalian Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas III SDN Kebonagung 05 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Skripsi, jurusan S1 PGSD Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Harmini, S. Pd, M. Pd, (II) Drs Bambang Soerjono, M.Ed. Kata Kunci : Penggunaan kartu perkalian, Pembelajaran matematika, Hasil Belajar Anak usia dini seperti kelas 1 sampai dengan kelas 3 SD sangat dominan kegiatan bermainnya. Permainan berperan penting bagi anak-anak karena hal itu melatih kemampuan bahasa, kognitif, kreativitas, dan sosial mereka dan memberi andil bagi perkembangan kepribadian umum mereka, kita perlu memfasilitasi pembelajaran matematika yang sesuai dengan karakteristik anak SD. Salah satu strategi pembelajaran matematika yang dapat digunakan yaitu belajar sambil bermain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan kartu perkalian di kelas III, (2) Mendeskripsikan penggunaan kartu perkalian dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas III, (3) Mendeskripsikan penggunaan kartu perkalian dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III SDN Kebonagung 05 Kecamatan Pakisaji Penelitian yang dilaksanakan ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang merupakan upaya untuk meningkatkan hasil belajar yang ada di kelas III SDN Kebonagung 05. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan model Kemmis dan Mc. Taggart yang mempunyai 4 tahap, yakni : Perencanaan (Planning), Tindakan (Action), Pengamatan (Observation), Refleksi (Reflektive). Dalam penelitian ini siswa diberi tindakan, yakni berupa pembelajaran menggunakan kartu perkalian. Hasil Belajar matematika siswa pada pokok bahasan perkalian dengan penggunaan kartu perkalian menunjukkan ada peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa sebelum penerapan penggunaan kartu perkalian hanya mencapai 52,12 meningkat pada siklus I menjadi 61,87 dan pada siklus II mencapai 71,69 dari hasil belajar yang dicapai siswa pada siklus I yang memenuhi ketuntasan individu terdapat 15 siswa (45,45%) yang tuntas dan 18 siswa (54,54) yang belum tuntas, pada siklus II ketuntasan individu mencapai 29 siswa atau yang mencapai ketuntasan sebesar (87%) Penggunaan kartu perkalian dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas III di SDN Kebonagung 05 Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Hal ini dapat dilihat dari siklus I (61,87%) ke siklus II (71,69%) yang mengalami peningkatan 9,82% Saran dari adanya penelitian ini adalah guru dapat menggunakan kartu perkalian pada pembelajaran dengan cara memberikan bimbingan pada siswa dengan cara belajar melalui bermain yang menyenangkan sehingga siswa tidak akan merasa bosan dan konsep akan tertanam dengan sendirinya pada diri siswa.

Analisis gaya hidup konsumen dan citra toko (store image) pitstop cafe kota Malang / Muzaki Al Riza

 

ABSTRACT Al Riza, Muzaki, 2009. Consumer of Life Style and Store Image Analysis of Pitstop Café Kota Malang. Paper, Major Management of Economic Faculty, State University of Malang. Counsellor: (I) Drs. Agus Hermawan, M.Si.,M.Bus, (II) Dr. Syihabbudin, SE, M, Si. Key word: lifestyle, store image Growth of the business world in Malang from year to year has increased very significantly. From various kinds of businesses in Malang, café was selected by the entrepreneur as one of the promising field of business profits. Lifestyle is one factor that can affect consumers in their purchases, amid the growing variety and number of services provided to café consumers. Beside that, the store's image is the reason for a consumer to come to a café. With the many cafés in Malang, the burden of Pitstop café Malang, next will be more difficult. Whereas, consumers begin to be selective in determining the cafe of his choice. Based on the description above, and the importance of consumers for Pitstop café Malang, then the problem formulation adopted in this study is how consumer of lifestyle and store’s image of Pitstop café Malang. This research was conducted by taking as many as 100 respondents. While analysis used is descriptive analysis which used to draw life style and store image of Pitstop Café Kota Malang. From result of research, indicating that consumer life style of Pitstop Café Kota Malang if seen from activity, interest, value and opinion and their life style, can be concluded from their activity which they do. Consumer of PitStop Café Kota malang like to involve with social activity, planning to having the day off, taking a fancy to to go to entertainment place, chose club that matching with himself , active in performed activity of community, in the case of going shopping, chose goods which good quality, and they is people who do sport routinely. From interest, consumer of Pitstop Café Kota Malang have habit for recreation, like to follow style mode, prefer food of fast food, and like to follow news or get information from television . From opinion, consumer of Pitstop Café Kota Malang assume people with higher education more have opportunity in searching job, and chose the quality of goods that they want to buy. From life style and value, consumer of Pitstop Café Kota Malang is middle-weight people, like to go shopping, esteem education, and have higher education. While store image of Pitstop Café Kota Malang from result of research known that store image in Pitstop Café Kota Malang which most felt by their consumer is menu of food and beverage, free internet, exterior design, and special discount for certain events is representing reason of consumer of Pitstop Café Kota Malang to come and purchasing in Pitstop Café Kota Malang. This Matter also mean that fourth the image which most planted in consumer of Pitstop Café Kota Malang in this time. Based on research, have been known how consumer life style of Pitstop Café Kota Malang and store image in consumer of Pitstop Café Kota Malang, this matter shall be more be paid attention by management of Pitstop Café Kota Malang. This matter will be good for the next marketing program in Pitstop cafe Kota Malang. Because its consumer most formed by this factor. While for the next research, suggested to used cluster analysis after used factor analysis to be able to group again consumer according to existing theory and using level of significant to 5%, to get level higher level result 95%.

Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja karyawan (studi pada karyawan bagian manajemen (persero) PT Indra Karya cabang-1 Malang) / Nony Ayu Dwi Damsyah

 

An organization, either in a form of enterprise or instance, needs a leader that can lead his underling to achieve a targeted goal. A leader is one of the factors which determine the development of an enterprise because within leadership does occur a process in which an individual influence other group members to achieve the goal of the group or organization. In the process, a leader changes the attitude or behavior of his underling using some influencing techniques which is not compulsive. In the other words, the underlings receive the influence of their leader to create a positive system and positive work result. This is why the attitude and leadership style of a manager have great influence on the organization he leads. There are tree leadership styles: directive, supportive, and participative. This research is aimed to: (1) know how is the leadership style of the manager in PT. Indra Karya Branch-I Malang and working motivation of his employees, (2) know whether there is a significant and positive relation between directive, supportive, or participative leadership style and the working motivation of the employees partially, (3) know whether there is a significant and positive relation between directive, supportive, or participative leadership style and the working motivation of the employees simultaneously, (4) know which of the three leadership styles that has dominant influence on the working motivation of the employees. The research conducted is an explanatory research. The instruments used for primer data taking are questionnaire with linkert scale, 5 alternative answers, and questions and answers which are put in a form of 30 questionnaires and given to 42 employees of management department of PT. Indra Karya Branch-I Malang. To ensure that the data from research instruments was valid, the researcher conducts a validity and reliability test using SPSS 16.00 for windows. This research is a quantitative research because it explains the influence of the independent variables on the dependent variable. Besides questionnaire, the data taking technique also occupies observation, documents, and interview. This research uses descriptive analysis technique and double regression analysis. The descriptive analysis technique is used to describe the three leadership styles variable and working motivation of the employees of PT. Indra Karya Branch-I Malang. The double regression analysis is used to know the influence of independent variables, which are the three leadership styles, on dependent variable, which is the working motivation of the employees of PT. Indra Karya Branch-I Malang either partially or simultaneously. The result of the research are : (1) There is a significant positive influence from directive leadership style (X1) on the working motivation of the employees (Y) with significance value 0,001, significance level (α = 0,05), and standardized coefficient B = 0,356 (positive), (2) There is a significant positive influence from supportive leadership style (X2) on the working motivation of the employees (Y) with significance value 0,000, significance level (α = 0,05), and standardized coefficient B = 0,499 (positive), (3) There is a significant positive influence from participative leadership style (X3) on the working motivation of the employees (Y) with significance value 0,016, significance level (α = 0,05), and standardized coefficient B = 0,270 (positive), (4) There is significant positive influence from directive (X1), supportive (X2), and participative (X3) leadership styles simultaneously on the working e (motivation of the employees (Y) with F = 0,000 and R = 0,821 (positive), (5) Effective Contribution (EC) of directive leadership style (X1) is 32, 7% , effective contribution of supportive leadership style (X2) is 18,5% and participative contribution of leadership style (X3) is 20,8%. Therefore, it is concluded that the effective contribution percentage of supportive leadership style variable (X2) is bigger than directive contribution percentage of directive leadership style variable (X1) and participative leadership style variable (X1). It means supportive leadership style (X2) has more dominant influence on working motivation of the employees of PT. Indra Karya Branch-I Malang. Based on the research, it is expected that leader keep on and improve the implementation of supportive leadership style because it does give positive contribution to the enterprise and the employees shown by the rise of working motivation both in the short term or long term. Besides, a leader has to give full attention and support to the employees in doing their assignments so that they feel trusted. Such harmonic working atmosphere between the boss and the employees encourage the employees to improve their working motivation.

Pengaruh perasan daun pepaya (carica papaya L) terhadap mortalitas ascaridia galli schrank secara in vitro / Ratih Purwitaningrum

 

i ABSTRAK Purwitaningrum, Ratih. 2009. Pengaruh Perasan Daun Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Mortalitas Cacing Ascaridia galli Schrank secara In Vitro. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Endang Suarsini, M. S ; (II) Drs. Sulisetijono, M, Si. Kata kunci: mortalitas cacing Ascaridia galli, perasan daun pepaya, in vitro. Salah satu cacing Nematoda yang parasit pada hewan adalah Ascaridia dan penyakit yang ditimbulkan oleh cacing Ascaridia disebut askaridiasis. Di Indonesia askaridiasis sering disebabkan spesies Ascaridia galli, yang menyerang unggas ayam. Ayam yang terserang Ascaridia galli dapat menimbulkan kematian. Salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan cacing usus ayam (askaridiasis) adalah tanaman pepaya. Senyawa yang terkandung dalam daun pepaya adalah alkaloid karpaina, saponin, dan enzim papain yang mampu membunuh cacing parasit. Daun pepaya oleh masyarakat belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mengobati parasit cacing pada unggas ayam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi perasan daun pepaya pada mortalitas cacing Ascaridia galli secara in vitro dan untuk mengetahui konsentrasi perasan daun pepaya yang paling efektif pada mortalitas cacing Ascaridia galli secara in vitro. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 7 kali ulangan. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2008 di ruang penelitian jurusan BIO FMIPA UM. Variabel terikat penelitian adalah mortalitas cacing Ascaridia galli dan variabel bebas adalah konsentrasi perasan daun pepaya yaitu 0%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%. Perasan daun pepaya dilarutkan dalam medium cairan usus ayam kemudian medium tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri. Setiap cawan petri diisi dengan 6 ekor cacing dan setiap perlakuan terdiri dari 7 ulangan. Data berupa jumlah cacing yang mati, kemudian dianalisis dengan ANAVA Tunggal dan dilanjutkan dengan uji BNT0,01. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi perasan daun pepaya (Carica papaya L.) berpengaruh pada pada mortalitas cacing Ascaridia galli secara in vitro konsentrasi yang efektif adalah 15%. Kondisi cacing Ascaridia galli yang mati akibat pemberian perasan daun pepaya tidak kaku (lemas) dan warna tubuhnya kusam disebabkan dalam daun pepaya terkandung enzim papain yang dapat merusak protein tubuh cacing.

Penerapan model pembelajaran jigsaw untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas X B SMA Negeri 2 Bangkalan / Moh. Imam Jasuli

 

ABSTRAK Jasuli, Moh. Imam. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas X B SMA Negeri 2 Bangkalan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Timotius Suwarna, M.Pd, (II) Drs. Marhadi Slamet Kistiyanto, M.Si. Kata kunci: jigsaw, aktivitas, hasil belajar. Percepatan arus tekhnologi informasi dalam era globalisasi dewasa ini menuntut semua bidang kehidupan untuk menyesuaikan visi, misi, tujuan dan strateginya agar sesuai dengan kebutuhan dan dapat mengikuti perkembangan tidak terkecuali pada bidang pendidikan. Perkembangan dalam bidang pendidikan ini menuntut adanya perubahan paradigma pembelajaran dari behavioristik ke konstruktivistik. Paham konstruktivisme merupakan landasan berpikir pembelajaran kooperatif yang tidak hanya menekankan pada hasil namun juga pada proses pembelajaran, sehingga dituntut adanya perbaikan aktivitas belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran masih rendah hal ini ditunjukkan dengan jarangnya siswa bertanya dan apabila ada pertanyaan hanya didominasi oleh 5-8 siswa saja. Hasil belajar siswa juga kurang optimal hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata kelas yang diperoleh hanya sebesar 57,55 dan ketuntasan klasikal yang diperoleh sebesar 38,3%. Ketuntasan belajar tersebut kurang dari standar ketuntasan minimal (SKM) yang ditentukan yaitu sebesar 65 dan ketuntasan belajar klasikal sebesar ≥85% siswa mencapai SKM. Penelitian ini bertujuan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa agar mencapai kompetensi pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan tes. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X B yang berjumlah 47 siswa. Jenis data dalam penelitian ini berupa data aktivitas belajar siswa dan data hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan ke siklus I dan siklus I ke siklus II. Peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan persentase rata-rata jumlah deskriptor aktivitas yang diperoleh sebesar 62,9% pada siklus I meningkat menjadi 75,5% pada siklus II. Peningkatan hasil belajar dilihat dari peningkatan rata-rata kelas dan ketuntasan belajar siswa. Rata-rata kelas pada pra tindakan sebesar 57,5 meningkat menjadi 67,7 pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 73,8. Ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan sebesar 38,3%, pada siklus I meningkat menjadi 70,2% dan siklus II meningkat menjadi 87,2%. Berdasarkan hasil tersebut disarankan kepada Sekolah agar model pembelajaran Jigsaw diterapkan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yang berupa pengembangan kompetensi dasar mendiskripsikan atau kompetensi sejenis. Bagi guru bidang studi Geografi di SMA Negeri 2 Bangkalan disarankan untuk menjadikan model Jigsaw sebagai salah satu pembelajaran alternatif, agar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pengaruh dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan PLN (studi pada PT. PLN (persero)-UP Madiun Kota) / Yogie Dian Rumingga

 

ABSTRAK Rumingga, Yogie Dian. 2009. Pengaruh Dimensi Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Pelanggan PLN Pada PT PLN (Persero)-UP Madiun Kota. Skripsi. Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr, Supriyanto M.M; (II) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.Si. Kata Kunci : Dimensi Kualitas Layanan, Kepuasan Pelanggan Kepuasan pelanggan adalah harapan utama PT PLN (Persero) Area Pelayanan Madiun yang sedang menjalankan usahanya dalam jasa penerangan di bidang kelistrikan, termasuk Unit Pelayanan Madiun Kota. Pelanggan merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam berdirinya suatu perusahaan, maka keberadaannya harus diperhatikan, salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam perusahaan adalah bagaimana memahami kebutuhan (needs) dan keingginan (wants) dari setiap pelanggan. Sehingga hal ini, merupakan suatu bentuk tuntutan bagi para manajer dalam memahami karakteristik perilaku pelanggannya, kepuasan pelanggan bukan hal yang mudah dicapai, karena setiap pelanggan memiliki penilaian masing-masing tentang kepuasan. Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan, seperti dimensi kualitas layanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi (1) pengaruh dimensi kualitas layanan yang meliputi: keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik atau langsung secara parsial terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota, (2) pengaruh dimensi kualitas layanan yang meliputi: keandalan, daya tanggap, jaminan, empati dan bukti fisik atau langsung secara simultan terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan dinoyo, (3) Dimensi kualitas layanan apakah yang dominan pengaruhnya terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelanggan PLN yang menggunakan daya 450-900 watt yang terdaftar di PT PLN (Persero)-UP Madiun Kota per 31 November 2009 sebanyak 33.359 pelanggan PLN. Penyebaran kuisionernya menggunakan teknik accidental. Jumlah sampel yang telah ditentukan 100 pelanggan PLN, jumlah ini diperoleh dengan menghitung berdasarkan rumus Slovin. Peneliti ini mempunyai dua variabel, yaitu variabel X adalah Dimensi kualitas layanan yang merupakan variabel independen, yang terdiri dari Keandalan (X1), Daya tanggap (X2), Jaminan (X3), Empaty (X4), Bukti fisik/ atau langsung (X5). Sedangkan variabel Y adalah Kepuasan pelanggan rekening listrik yang merupakan variabel dependen. Data diperoleh dari responden dengan menggunakan alat pengumpulan data berupa angket tertutup. Setelah melalui proses pengolahan data dan analisis regresi berganda, diperoleh temuan: (1) bahwa terdapat pengaruh signifikan secara parsial antara keandalan, jaminan, dan bukti fisik atau langsung terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota, dan terdapat pengaruh tidak signifikan secara parsial antara daya tanggap dan empati terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan Madiun Kota. Adapun kontribusi besarnya pengaruh setiap variabel dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan PLN unit pelayanan Madiun Kota dimulai dari yang dominan adalah koefisien beta standart untuk variabel bukti fisisik β1= 0,261, variabel keandalan β2=-0,434, variabel daya tanggap β3= 0,196, variabel jaminan β4= 0.188 dan variabel empati β5= 0,166; (2) Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel dimensi kualitas layanan terhadap kepuasan pelanggan rekening listrik unit pelayanan Madiun Kota, dengan hasil analisis regresi yang menunjukkan nilai bahwa nilai adjusted R Square sebesar 0,469, yang dapat diartikan bahwa variabel keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik atau langsung dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan rekening listrik adalah sebesar 46,9% dan sisanya sebesar 53,1% dipengaruhi hal-hal lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Pernyataan ini diperkuat dengan nilai Sig. Fhitung sebesar 0,000; nilai F sebesar 519,371 (signifikansi F<0,05). Berdasarkan hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa pelayanan yang berkualitas dapat kita lihat dengan adanya kinerja yang baik dari petugas PLN dapat menumbuhkan kepuasan yang maksimal. Sementara disarankan kepada PT PLN (Persero) Unit Pelayanan Madiun Kota dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanannya dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1) Respon yang cepat dari petugas PLN. (2) Kinerja petugas yang baik dan profesional (3) Cepat tanggap terhadap keluhan dari pelanggan PLN. Dari ketiga hal tersebut memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kepuasan pelanggan PLN pada PT PLN (Persero) Unit Pelayanan Madiun Kota.

Peningkatan kemampuan membaca siswa kelas IV melalui pembelajaran pakem di SDN Pucangsimo 2 Bandarkedungmulyo Jombang / Anita Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Anita. 2010. Peningkatan Kemampuan Membaca Siswa Kelas IV Melalui Pembelajaran PAKEM di SDN Pucangsimo 2 Bandarkedungmulyo Jombang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dra. Sutansi, M. Pd, (II) Drs. Suhel Madyono, S. Pd, M. Pd. Kata Kunci : membaca, siswa, pembelajaran PAKEM. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran yang masih bersifat konvensional menyebabkan lemahnya tingkat kemampuan membaca siswa, sehingga diperlukan suatu pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa agar termotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Untuk itulah digunakan pembelajaran PAKEM sebagai solusi pemecahannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas IV melalui pembelajaran PAKEM di SDN Pucangsimo 2 Bandarkedungmulyo Jombang. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. PTK ini terdiri dari dua siklus yang terdiri dari empat tahapan penting, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas IV di SDN Pucangsimo 2 tahun ajaran 2009/2010. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan informasi dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan pengetahuan kebahasaan persentase 0% pada pra tindakan meningkat menjadi 68,97% pada siklus I dan mencapai ketuntasan belajar sebesar 100% pada siklus II, (2) penerapan pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan kemampuan memahami kata-kata dengan persentase 51,72% pada pra tindakan meningkat menjadi 79,31% pada siklus I dan mencapai ketuntasan belajar sebesar 100% pada siklus II, (3) penerapan pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan kemampuan intelektual dengan persentase 48,26% pada pra tindakan meningkat menjadi 75,86% pada siklus I dan mencapai ketuntasan belajar sebesar 100% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa dilaksanakan dalam bentuk kegiatan yang memaksimalkan potensi siswa, diantaranya melalui pembelajaran yang melibatkan siswa dalam pembelajaran, misalnya dalam kegiatan diskusi, tanya jawab, refleksi, dan sebagainya yang didukung oleh suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Membangun jaringan komputer di SMP Islam Pule Trenggalek untuk meningkatkan proses belajar mengajar / Mukhlasul 'Abidin, Mimin Dwi Utami

 

Perkembangan bidang teknologi saat ini semakin pesat, salah satunya adalah perkembangan teknologi informasi yang menyebabkan setiap aktifitas manusia tidak dapat dipisahkan dari penggunaan teknologi, internet sebagai salah satu teknologi yang cepat berkembang dan merupakan simbol cara berkomunikasi secara bebas, tanpa dibatasi ruang, jarak dan waktu. Maka dari itu dunia pendidikan juga harus mengikuti perkembangan teknologi dewasa ini. Berdasar keadaan pada SMP Islam Pule, Trenggalek yang pada saat ini telah memiliki komputer sebagai media pembelajaran akan tetapi belum terhubung jaringan lokal apalagi internet. Karena letak yang jauh dari pusat kota dan terkendala keadaan geografis yang berada pada daerah pegunungan, fasilitas schoolnet juga tidak bisa dipasang, sehingga fasilitas tersebut belum bisa dirasakan, padahal materi pada siswa SMP telah mencakup dunia maya tersebut. Jumlah Komputer di SMP Islam Pule Trenggalek ada 20 unit rinciannya 2 Unit komputer tata usaha, 1 unit komputer kepala sekolah dan 17 unit komputer laboratorium. Kemudian pada laboratorium komputer dibangun Local Area Network 1 unit komputer digunakan sebagai server dan 16 unit sebagai user dan pada ruang tata usaha dan ruang kepala sekolah dikoneksikan dengan internet. Mengingat begitu sulit akses internet di SMP Islam Pule Trenggalek pemecahanya adalah jaringan internet yang dipakai didapat dari perusahaan jasa celuller Telkomsel, dengan membeli modem USB Telkomsel Flash kemudian dihubungkan dengan komputer tata usaha 1 yang digunakan sebagai server, dan selanjutnya terhubung dengan komputer tata usaha 2 dan komputer kepala sekolah sebagai komputer client. Adapun topologi yang digunakan adalah topologi star, alasannya karena topologi star mudah dikerjakan dan keunggulan dari topologi tipe star ini adalah bahwa dengan adanya kabel tersendiri untuk setiap workstation ke server, maka bandwidth atau lebar jalur komunikasi dalam kabel akan semakin lebar sehingga akan meningkatkan unjuk kerja jaringan secara keseluruhan, juga bila terdapat gangguan di suatu jalur kabel maka gangguan hanya akan terjadi dalam komunikasi antara workstation yang bersangkutan dengan server saja. Setelah proyek selesai dikerjakan dilakukan pengujian koneksi jaringan dan dapat disimpulkan pengerjaan proyek berhasil dengan memuaskan yang diperkuat dengan pernyataan yang dibuat oleh bapak kepala sekolah. Selanjutnya bisa dirasakan manfaat dari pembangunan internet tersebut sangat membantu pekerjaan pada kantor dan akademik.

Design jaringan LAN dengan Windows XP di MTs N 1 Bojonegoro / Endah Rahmawati

 

Pada saat ini manfaat dari jaringan komputer sudah sangat banyak dirasakan apalagi dalam dunia komunikasi yang serba cepat ini. Jaringan komputer sering kali berperan vital dalam kegiatan pendistribusian informasi yang cepat tersebut. Semua dari komponen yang tergabung dalam jaringan komputer tersebut haruslah mampu saling mendukung untuk menghasilkan satu sistem yang kokoh dan handal untuk melayani setiap permintaan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Seiring dengan perkembangan tersebut, maka perlu adanya pembangunan terhadap jaringan komputer LAN di sekolah Mts N 1 Bojonegoro. Agar jaringan komputer tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai pendukung proses belajar mengajar, terutama kebutuhan informasi tentang data siswa khususnya sistem informasi Bimbingan Konseling (BK). Ruang lingkup yang akan di sajikan dalam tugas akhir ini adalah sistem pembangunan jaringan LAN berbasis kabel pada MTs N 1 Bojonegoro. Jaringan komputer yang penulis bangun di MTs N 1 Bojonegoro adalah sebuah Workgroup dimana masing - masing komputer mempunyai fungsi dan kemampuan yang hampir sama, baik dalam jaringan maupun stand alone. Dalam Tugas Akhir ini dipilih jaringan Workgroup karena spesifikasi yang dimiliki oleh masing-masing komputer adalah sama, sehingga siswa diharapkan dapat menggunakan laboratorium komputer untuk praktek dalam jaringan maupun secara personal. Perangkat lunak atau sistem operasi yang digunakan dalam membangun jaringan ini adalah Microsoft Windows Xp Profesional SP2, sedangkan jaringan yang dibangun menggunakan media kabel. Bentuk atau topologi jaringan yang akan dibangun adalah menggunakan Topologi Star. Dari data hasil pengujian baik setting komputer server, setting komputer client, pengujian jaringan LAN, dapat dianalisis yaitu penggunaan Topologi Star pada pembangunan jaringan LAN ini sangat memudahkan untuk dikembangkan, karena setiap node hanya memiliki kabel-kabel yang langsung terhubung ke central node.Hasil pengujian seluruh konfigurasi TCP/IP antara server dan client, client dengan client, dan koneksi jaringan LAN ke internet yang dilakukan kesemuanya berhasil dengan baik.Kesimpulan dari tugas akhir ini dapat disimpulkan beberapa hal yaitu Jaringan komputer LAN yang dirancang di MTs N 1 Bojonegoro sangat memberi kemudahan dalam pembangunan jaringan untuk mengkoneksiakan jaringan komputer. Jaringan komputer LAN yang dibangun di MTs N 1 Bojonegoro, dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang diinginkan. Jaringan komputer LAN yang diuji,sharing data dan sharing printer di MTs N 1 Bojonegoro, kesemuanya berhasil terkoneksi dengan baik.

Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) terhadap aktivitas dan prestasi belajar kimia siswa kelas X SMA Negeri 1 Nglames pada pokok bahasan hidrokarbon / Ika Prasetyaningsih

 

ABSTRAK Prasetiyaningsih, Ika. 2010. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament) Terhadap Aktivitas dan Prestasi Belajar Kimia Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Nglames Pada Pokok Bahasan Hidrokarbon. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Parlan, M.Si. (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd, M.Si. Kata kunci: model pembelajaran kooperattif tipe TGT (Teams Games Tournament), aktivitas dan prestasi belajar. Penerapan KTSP yang diiringi dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan. Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat untuk memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan, karena itulah pembelajaran harus mampu mendorong aktivitas siswa. Berdasarkan survey yang dilakukan peneliti diketahui bahwa proses pembelajaran yang digunakan di SMA Negeri 1 Nglames adalah pembelajaran yang belum banyak variasi, diantaranya guru mengajar dengan metode ceramah dan atau kelompok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) Apakah penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Nglames pada pokok bahasan hidrokarbon. (2) Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Nglames pada pokok bahasan hidrokarbon. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan eksperimental. Rancangan eksperimental digunakan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar. Sampel penelitian diambil dua kelas secara acak dengan undian yang keduanya mendapatkan perlakuan yang sama dari segi tujuan dan materi yang diajarkan. Perbedaannya terletak pada model pembelajaran yang digunakan. Kelas eksperimental yaitu kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament). Kelas kontrol diajar menggunakan metode yang biasa digunakan oleh gurunya untuk mengajar yaitu pembelajaran kelompok. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMAN 1 Nglames Kabupaten Madiun tahun ajaran 2008/2009, sampel adalah siswa kelas X-A dan X-C. Instrumen penelitian terdiri atas post test dan lembar observasi. Hasil uji coba diperoleh 30 soal valid dengan reliabilitas = 0,861. Data penelitian dianalisis menggunakan uji-t dua pihak dengan taraf signifikan α = 0,05. Aktivitas siswa dianalisis dengan cara perhitungan persentase ketercapaian aktivitas siswa selama pembelajaran dari hasil observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Nglames pada pokok bahasan hidrokarbon. Hal ini terlihat dari persentase ketercapaian aktivitas siswa selama pembelajaran untu siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada tiap aspek cenderung naik dan lebih tinggi dibandingkan siswa yang diajar dengan pembelajaran kelompok. (2) ada pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Nglames pada pokok bahasan hidrokarbon. Prestasi belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) lebih baik (rata-rata 83,2) dari pada siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kelompok (rata-rata 76,8). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournament) dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Nglames pada pokok bahasan hidrokarbon. Disarankan agar guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam pembelajaran di kelas untuk materi lain yang sesuai sebagai variasi dalam mengajar.

Pengembangan perangkat penilaian kinerja laboratorium (laboratory performance assesment) mata pelajaran kimia kelas XI semester 2 / Ratih Andhika Noer Yuniati

 

ABSTRAK Yuniati, Ratih Andhika Noer. 2010. Pengembangan Perangkat Penilaian Kinerja Laboratorium (Laboratory Performance Assessment) Mata Pelajaran Kimia Kelas XI Semester 2. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutrisno. M.Si., (II) Drs. Muhadi Kata kunci : pengembangan, penilaian kinerja, praktikum, laboratorium. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) termasuk salah satu jenis kurikulum yang baru diterapkan di Indonesia. Sebagai kurikulum yang baru diterapkan tentunya ada beberapa perbedaan dengan kurikulum yang lama. Salah satunya dalam sistem penilaiannya. KTSP menggunakan sistem penilaian berbasis kelas yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan asesmen. Kimia merupakan salah satu ilmu yang didasarkan pada percobaan. Oleh karena itu kegiatan praktikum sangat penting diterapkan pada kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan praktikum yang dilaksanakan oleh seorang guru diperlukan sebuah sistem penilaian yang benar-benar menilai kemampuan siswa. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah: (1) menyusun sebuah perangkat penilaian yang diharapkan dapat digunakan dalam kegiatan praktikum, yaitu untuk Kelas XI Semester 2 dan (2) mengetahui tingkat validitas dari perangkat penilaian yang dikembangkan. Metode pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model 4D. Model ini meliputi 4 tahap yakni: define (pembatasan), design (penyusunan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Dalam pengembangan ini hanya dilakukan sampai pada D yang ketiga. Hal tersebut disebabkan karena adanya keterbatasan waktu dan dana sehingga langkah keempat yaitu disseminate tidak dilakukan. Data diperoleh dari 4 validator yang terdiri dari 1 dosen kimia dan 3 guru SMA/MA. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Hasil penelitian pengembangan ini adalah perangkat penilaian laboratorium untuk Kelas XI Semester 2. Perangkat penilaian ini terdiri dari 2 pokok bahasan yaitu asam-basa dan kesetimbangan ion dalam larutan. Berdasarkan hasil analisis data hasil validasi, perangkat hasil pengembangan memperoleh tingkat validitas sebesar 90,3% dan termasuk dalam kriteria valid. Adanya saran dan tanggapan dari validator digunakan sebagai pertimbangan untuk merevisi perangkat hasil pengembangan.

Pengaruh inflasi dan perubahan kurs terhadap gross domestic product (GDP) di Indonesia (tahun 1997-2008) / Dedik Eko Purwanto

 

ABSTRAK Purwanto, Dedik. 2009. Pengaruh Inflasi dan Perubahan Kurs terhadap GDP Indonesia (periode 1997 – 1998). Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Hari Wahyono, M.Pd., (II) Dra. Hj.Lisa Rokhmani, M.Si. Kata Kunci: Inflasi, Kurs dan GDP Pada pertengahan tahun 1997, Indonesia dan sebagian beberapa negara Asia Tenggara dan Timur mengalami krisis ekonomi yang berdampak negatif pada kondisi perekonomian dan krisis ekonomi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor baik yang bersifat eksternal maupun internal.. Dampak krisis tersebut ditandai dengan situasi perekonomian Indonesia pada tahun setelah terjadinya krisis mengalami pasang surut, hal ini ditunjukkan dengan perubahan Gross Domestic Product (GDP) riil, tingkat pengangguran, jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia, pada awal tahun 1998 GDP riilnya turun 13,01 % dan jumlah orang dewasa yang bekerja menurun dari 95,3 % ke 94,5 % dan tingkat pengangguran meningkat dari 4,7 % ke 5,5 %. Satu tahun kemudian (1999) GDP riil tumbuh sebesar 0,31 % dan jumlah penduduk dewasa yang bekerja menurun sebesar 93,7 % dan tingkat pengangguran meningkat kembali ke 6,3 % (BPS, 2000). Dan Dengan diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang penuh/bebas (freely floating system) yang dimulai sejak Agustus 1997, posisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing (khususnya US$) ditentukan oleh mekanisme pasar. Jenis data dalam peneltian ini adalah data kuantitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh tingkat pengangguran, inflasi dan perubahan kurs terhadap pertumbuhan GDP. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah inflsi (X1) dan perubahan kurs (X2) dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah GDP (Y). Data yang digunakan dalam penelitian ini data sekunder. Data itu meliputi data tahunan inflasi, perubahan kurs dan GDP peride 1997 sampai 2008. Data tersebut diperoleh dari BPS, Laporan Bank Indonesia (1998-2008). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda model OLS dengan uji asumsi klasik . Proses pengolahan data ini menggunakan SPSS 15 for Windows. Hasil penelitian ini mengindikasikan ada pengaruh inflasi(X1), dan perubahan kurs (X2) terhadap GDP (Y) secara simultan berdasarkan nilai Fhitung sebesar 23,881 dengan tingkat signifikansi 0.000. Selain itu tidak ada pengaruh yang signifikan perubahan kurs (X2) terhadap GDP (Y) dan ada pengaruh negatif antara inflasi dengan GDP (Y) secara parsial dengan nilai β1 = -0,251 dan sig t = 0,000, β2=0,000 dan sig t= 0.882 Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan terdapat pengaruh negatif tingkat inflasi terhadap pertumbuhan PDB atau GDP .Tidak ada pengaruh yang signifikan perubahan kurs terhadap pertumbuhan PDB atau GDP Berdasarkan pada Uji F dimana diperoleh Fhitung >Ftabel yang menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan inflasi dan perubahan kurs secara simultan terhadap PDB atau GDP . Saran dalam penelitian ini adalah : (1) Penelitian ini perlu dilakukan lebih lanjut dan mendalam perihal signifikansi kurs terhadap PDB. (2) Untuk meningkatkan PDB di Indonesia pemerintah diharapkan menekan angka menekan inflasi dan nilai kurs agar tidak terus mengalami kenaikan yang signifikan.

Daya antibakteri ekstrak patikan kebo (Euphorbia hirta L.) dalam bebarapa macam konsentrasi terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Shigella dycentriae / Nurul Fajari

 

ABSTRAK Fajari, Nurul. 2010. Daya Antibakteri Ekstrak Alkohol 95% Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) dalam Beberapa Macam Konsentrasi terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Shigella dycentriae. Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M. Pd, (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si. Kata kunci: ekstrak alkohol 95%, daya antibakteri, patikan kebo, Escherichia coli, Shigella dycentriae Penyakit diare dan disentri merupakan suatu penyakit yang umum di derita oleh penduduk Indonesia, terlebih lagi daerah yang terkena bencana banjir. Bakteri penyebab diare ialah Escherichia coli varietas patogen, sedang penyebab penyakit disentri ialah Shigella dycentriae. Banyak orang menggunakan antibiotik untuk berbagai penyakit, termasuk diare dan disentri. Saat ini beberapa spesies bakteri telah resisten terhadap antibiotik sintetik, oleh karena itu perlu adanya alternatif obat lain, seperti tanaman berkhasiat obat. Patikan kebo dapat digunakan untuk membantu mengatasi penyakit diare dan disentri Adapun senyawa antibakteri yang terkandung dalam tumbuhan patikan kebo ini adalah flavonoid dan tanin (Hariana, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak patikan kebo terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri E. coli dan bakteri S. dycentriae, mengetahui konsentrasi ekstrak patikan kebo yang mempunyai daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan bakteri E. coli dan bakteri S. dycentriae. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2009 - Maret 2009 di Lab. Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA UM. Jenis penelitian eksperimen dan rancangan penelitian yang digunakan adalah RAL. Patikan kebo yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh bagian tanaman patikan kebo dan diperoleh dari sekitar kampus UM. Bakteri uji yaitu E. coli dan S. dycentriae diperoleh dari Lab. Mikrobiologi jurusan Biologi FMIPA UM. Metode ekstrak yang digunakan termasuk ekstrak cair yang dilarutkan dalam alkohol 95%. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis statistik uji Anava tunggal dilanjutkan dengan uji BNT 1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak patikan kebo terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri E. coli dan bakteri S. dycentriae, konsentrasi 100% merupakan konsentrasi ekstrak patikan kebo yang mempunyai daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan bakteri E. coli dan konsentrasi ekstrak patikan kebo yang mempunyai daya hambat tertinggi terhadap pertumbuhan bakteri S. dycentriae adalah konsentrasi 100%, tetapi tidak berbeda nyata dengan konsentrasi 60% dan 80%.

Penerapan pemberian motivasi model ARCS ke dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas XI MA Muhammadiyah 2 Malang / Nurul Fajari

 

ABSTRAK Fajari, Nurul. 2009. Penerapan Pemberian Motivasi Model ARCS ke dalam Pembelajaran untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI MA Muhammadiyah 2 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc.,Ph.D. (II) Dra. Titi Judani, M.Kes. Kata kunci: Hasil belajar, Motivasi belajar, Model ARCS. Melalui kegiatan observasi dan wawancara yang dilaksanakan pada bulan November hingga bulan Desember 2009, diketahui pembelajaran di MA Muhammadiyah 2 Malang, motivasi siswa kurang disebabkan input siswa dari kemampuan menengah kebawah dan kurangnya media yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran. Siswa juga menyatakan guru bidang studi selalu memberikan materi pembelajaran berdasarkan LKS yang dimiliki oleh siswa, sehingga siswa merasa ilmu yang diperoleh sangat kurang. Kurang termotivasinya siswa dalam belajar berdampak pula pada hasil belajar siswa, yang ditunjukkan dengan kurangnya hasil belajar siswa dari Standar Ketuntasan Minimal yang berlaku di MA Muhammadiyah 2 Malang (≥ 65) yaitu sebesar 54,54%. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan penerapan pemberian motivasi model ARCS ke dalam pembelajaran. Pemberian motivasi model ARCS ke dalam pembelajaran bertujuan supaya setiap guru berusaha untuk merencanakan pembelajaran yang mampu membangkitkan semangat belajar siswa dan dapat menghasilkan pembelajaran yang menarik, bermakna dan memberikan tantangan bagi siswa sehingga pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru melainkan berpusat pada siswa (student centered). Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan pemberian motivasi model ARCS ke dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa MA Muhammadiyah 2 Malang serta untuk mengetahui persepsi siswa akan penerapan pemberian motivasi model ARCS ke dalam pembelajaran. Jenis Penelitian adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Penelitian dilaksanakan di MA Muhammadiyah 2 Malang pada bulan Desember 2009-Januari 2010. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MA Muhammadiyah 2 Malang yang berjumlah 11 orang. Data penelitian berupa motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa diketahui dari hasil angket dan lembar observasi, sedangkan hasil belajar siswa diketahui dari hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap akhir siklus. Ketuntasan belajar dianalisis dengan menggunakan hasil skor evaluasi yang dilaksanakan di setiap siklus menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Siswa mencapai ketuntasan belajar jika telah mencapai skor ≥65 dan daya serap klasikal 85% siswa yang mencapai skor ≥65. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan persentase masing-masing indikator yaitu indikator Attention sebesar 18,19%, indikator Relevance sebesar 20,01%, indikator Confidence sebesar 9,09%, indikator Satisfaction sebesar 25%. Skor motivasi rata-rata angket sebelum tindakan 3,06 meningkat menjadi 3,22 setelah pelaksanaan tindakan. Rerata kelas ii dari hasil evaluasi di setiap siklus juga mengalami peningkatan, sebelum tindakan sebesar 67,36 dan hasil belajar setelah tindakan sebesar 75,36 dengan peningkatan sebesar 9,27. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 81,82% dan pada siklus II meningkat menjadi 90,91%. Jadi, ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 9,09%, serta melalui hasil angket dan observasi menunjukkan persepsi siswa terhadap pemberian motivasi model ARCS dalam pembelajaran cukup baik serta lebih disukai siswa karena siswa merasa lebih tertarik untuk belajar dan lebih percaya diri dalam berpendapat akan materi terkait. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa guru dapat menerapkan pemberian motivasi model ARCS dalam proses pembelajaran sebagai variasi dalam pembelajaran Biologi. Bagi peneliti selanjutnya hendaknya dapat dijadikan masukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut, misalnya dengan memasukkan pemberian motivasi model ARCS untuk pembelajaran biologi materi yang lain akan dapat lebih meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Pengembangan program bimbingan dan konseling di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Attaraqqie Malang / Lia Eka O.Mormiasih

 

ABSTRAK Lia Eka.O.M. Pengembangan Program Bimbingan dan Konseling di MTs Attaraqqie Malang. Skripsi Program Studi Bimbingan dan Konseling, Univesrsitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. M. Ramli, M.A, Pembimbing (II) Drs. Hariyadi Kusuma Kata-kata Kunci: Pengembangan, Program Bimbingan dan Konseling Bimbingan merupakan bagian yang tida terpisahkan dengan pendidikan dan pengajaran. Bimbingan dan Konseling merupakan suatu kegiatan yang sangat membantu lembaga pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan. Keberadaan Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan disamping administrasi dan penagjaran. Pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling harus sistematis dan dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dilasanakan di sekolah. Tujuan Bimbingan dan Konseling adalah membantu siswa dalam perkembangan dirinya secara optimal, sehingga memandirikan siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu mengoptimalkan layanan Bimbingan dan Konseling secara komprehensif. Program Bimbingan dan Konseling yang komprehensif adalah program yang disusun berdasarkan kebutuhan siswa dan warga sekolah yang teruji proses pengembangannya. Berdasaran penjajagan awal di MTs Attaraqqie Malang belum terdapat program BK yang dikembangkan berdasar pada kebutuhan siswa. Berdasar pada latar belakang tersebut tujuan pengembangan ini adalah bagaimana mengembangkan program Bimbingan dan Konseling berdasarkan analisis kebutuhan siswa dan warga sekolah yang teruji proses pengembangannya oleh uji ahli. Produk pengembangan yang dihasilkan adalah program Bimbingan dan Konseling di MTs Attaraqqie, yang isinya meliputi: definisi, rasionel, visi dan misi, layanan dasar, perencanaan individual, layanan responsif, dan layanan dukungan sistem. Kedua, panduan pelaksanaan program BK di MTs Attaraqqie Malang, yang isinya meliputi: pendahuluan, tujuan umum, tujuan khusus, strategi pelaksanaan, organisasi dan model pelaksanaan, implementasi program, dan sstrategi evaluasi pelaksanaan program. Pengembangan ini menggunakan prosedur Gysbers dan Henderson yang di dalamnya terdapat empat tahap yaitu: perencanaan, perancangan, penyusunan, dan evaluasi. Untuk menghasilan suatu produk yang teruji proses pengembangannya dan mempunyai tingkat kegunaan (utility), kelayakan (feasibility), dan ketepatan (accuracy), maka perlu dilakukan penilaian produk atau uji ahli. Kesimpulan penilaian dari uji ahli program BK memberi penilaian sangat tinggi terhadap tingkat kegunaan (utility), kelayakan (feasibility), dan ketepatan (accuracy). Hal ini menggambarkan bahwa produk pengembangan program Bimbingan dan Konseling layak untuk diseminasikan di MTs Attaraqqie Malang.

Pengaruh metode pemberian tugas berbasis inkuiri terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran akuntansi siswa kelas X AK di SMKN 1 Turen / Ari Afriyawan

 

ABSTRAK Afriyawan, Ari. 2010. Pengaruh Metode Pemberian Tugas Berbasis Inkuiri Terhadap Mata Pelajaran Akuntansi Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas X AK di SMKN 1 Turen. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Endang Sri Andayani, S.E, M.Si, Ak., (II) Drs. Cipto Wardoyo, S.E, M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci : Metode Pemberian Tugas Berbasis Inkuiri, Prestasi Belajar. Efektivitas suatu sistem pembelajaran sangat tergantung pada metode pembelajaran yang digunakan. Metode pemberian tugas berbasis inkuiri merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, karena siswa diajak dan dipaksa untuk dapat menyelesaikan tugas yang diberikan melalui siklus yang ditetapkan. Siklus inkuiri menjadikan siswa sebagai pelaku aktif dalam belajar melakukan penelitian, sehingga siswa berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah yang mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dicobakan metode pembelajaran melalui pemberian tugas berbasis inkuiri pada kelas X.2 jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Turen, dengan tujuan penelitian untuk mengetahui prestasi belajar siswa yang ditinjau dari ranah kognitif dan ranah afektif siswa pada mata pelajaran akuntansi yang diajar melalui metode pemberian tugas berbasis inkuiri lebih baik dari prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan metode konvensional (ceramah dan tanya-jawab). Pembahasan materi pada penelitian ini dibatasi pada persamaan dasar akuntansi dan laporan keuangan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan tujuan melihat nilai post tes dan ranah afektif akhir siswa kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X.2 jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Turen yang berjumlah 36 siswa sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X.1 jurusan akuntansi SMK Negeri 1 Turen yang berjumlah 36 siswa sebagai kelas kontrol. Analisis data yang dilakukan meliputi uji normalitas, uji homogenitas dan uji t. Hasil analisis diperoleh tingkat signifikansi (0,000) < (0,05) untuk prestasi belajar yang ditinjau dari ranah kognitif dan signifikansi (0,000) < (0,05) untuk prestasi belajar yang ditinjau dari ranah afektif siswa. Berdasarkan nilai

Penggunaan pemodelan untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada kelas V SDN Wonokoyo 2 Malang / Saiful

 

ABSTRAK Saiful. 2010. Penggunaan Pemodelan untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA pada Kelas V SDN Wonokoyo 2 Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Musa Sukardi, M.Pd, (II) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd. Kata kunci: Pemodelan, Hasil belajar, IPA Pendekatan pembelajaran yang diterapkan oleh guru merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Pemilihan metode pembelajaran sangat menentukan kualitas pengajaran. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa metode pembelajaran yang diterapkan di SDN Wonokoyo 2 pada pelajaran IPA masih konvensional menggunakan metode ceramah. Metode seperti ini menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dalam kelas dan kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Penelitian ini bertujuan 1) mendeskripsikan penggunaan pemodelan pada pembelajaran IPA dikelas V SDN Wonokoyo 2 Malang; 2) mendeskripsikan ada tidaknya peningkatan hasil belajar pada pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Wonokoyo 2 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan selama 2 siklus, setiap siklus ada 2 kali pertemuan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data proses diperoleh melalui lembar observasi, dokumentasi dan wawancara sedangkan data hasil belajar diperoleh melalui tes. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dari hasil penerapan pemodelan dengan tiga kategori skala penilaian yaitu Baik, Cukup, dan Kurang. Skala penilaian ini menggunakan 10 (sepuluh) indikator yaitu: (1) terlibat dalam pembelajaran, (2) aktif bertanya, (3) aktif melakukan eksperimen, (4) bekerja dalam kelompok, (5) melakukan kerjasama, (6) menyampaikan pendapat, (7) menterjemah perintah guru, (8) melakukan langkah-langkah ilmiah, (9) mancatat hasil eksperimen, dan (10) membuat kesimpulan. Dari indikator tersebut menunjukkan pada siklus ke-1 hasil penerapan pemodelan, 6 indikator menghasilkan kurang, 1 indikator dengan hasil baik dan 3 indikator menghasilkan cukup. Sedangkan pada siklus ke-2, hasil penerapan pemodelan didapatkan 8 indikator baik dan hanya 2 indikator cukup Dari hasil penerapan pemodelan yang diperoleh menunjukkan penggunaan pemodelan dapat dilakukan dengan cara guru memberikan contoh, siswa melakukan eksperimen, dan membuat kesimpulan. Disamping itu, prestasi siswa juga mengalami peningkatan. Rata-rata skor siswa sebelum tindakan yaitu 56,9 kemudian setelah diberi tindakan pada siklus I diperoleh skor 63 dan pada siklus II yaitu 72. Dari skor yang diperoleh menunjukkan penggunaan pemodelan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Wonokoyo 2 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, terutama bagi guru IPA dapat disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang sejenis, sebaiknya menerapkan rancangan penelitian dengan menggunakan langkah-langkah lain.

Penggunan model discovery untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Menyarik Winongan Pasuruan / Zainul Arifin

 

ABSTAK Arifin, Z. 2010. Penggunaan Model Discovery untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Siswa Kelas IV SDN Menyarik Winongan Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S1 PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. Toha Mashudi, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: model discovery, pembelajaran, IPA, SD Pelajaran IPA adalah suatu kegiatan membelajarkan siswa tentang ilmu pengetahuan yang tersusun secara sistematis dari hasil kegiatan siswa berupa fakta, konsep, prinsip dan teori tentang peristiwa alam sekitar yang diperoleh melalui metode ilmiah. Berdasarkan pengalaman di lapangan, kurang berhasilnya pembelajaran IPA disebabkan guru kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa kurang aktif dan tidak termotivasi untuk belajar. Terbukti dari hasil tes yang dilakukan, diperoleh rata-rata nilai kelas (58,6), dan masih ada 15 siswa yang nilainya masih di bawah SKM mata pelajaran IPA SDN Menyarik, yaitu 4 siswa mendapatkan nilai (60), 7 siswa mendapatkan nilai (55), 1 siswa mendapatkan nilai (50), dan 3 siswa mendapatkan nilai (45). Untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang baik. Model discovery merupakan model pembelajaran yang membuat siswa menemukan sendiri apa yang dipelajarinya, sehingga diharapkan, apa yang didapat siswa lebih bertahan lama dan siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) penerapan model discovery dalam pembelajaran IPA kelas IV, (2) aktivitas belajar siswa, (3) peningkatan hasil belajar siswa, (4) tanggapan siswa tentang penerapan model discovery dengan menggunakan rancangan PTK. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV SDN Menyarik Winongan Pasuruan sebanya 21 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah dokumentasi, lembar observasi, angket, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model discovery dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Menyarik. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya kemampuan guru dalam pembelajaran IPA, pada siklus I skor pada APKG adalah 108 dengan nilai (75), sedang pada siklus II meningkat menjadi 188 dengan nilai (88,6). Untuk aktivitas siswa pada siklus I siswa yang mencapai taraf keberhasilan cukup sebanyak 7 siswa, yang mencapai taraf keberhasilan baik sebanyak 14 siswa, dan yang mencapai taraf keberhasilan baik sekali 0 siswa. Sedangkan pada siklus II mengalami kenaikan, siswa yang mencapai taraf keberhasilan cukup sebanyak 0 siswa, yang mencapai taraf keberhasilan baik 17 siswa, dan yang mencapai taraf keberhasilan baik sekali sebanyak 4 siswa. Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai pada pra tindakan (58,6), siklus I (78,8), dan siklus II (92,1). Tanggapan siswa sangat senang terhadap penerapan model discovery. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) penerapan model discoveridapat meningkat kemampuan guru pembelajaran, (2) meningkatkan aktivitas siswa, (3) meningkatkan hasil belajar siswa, dan (4) siswa merasa senang dengan penerapan model discovery. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) Penelitian dapat dijadikan pedoman untuk penentu kebijakan bagi kepala sekolah dalam upaya meningkatkan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPA. (2) Untuk menggunakan model discovery hendaknya mempersiapkan persiapan yang cukup matang, karena tidak setiap topik dapat menggunakan model discovery, dan memperhatikan kelemahan-kelemahannya, agar mendapatkan pembelajaran yang diharapkan. (3) Untuk peneliti lain, perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, untuk mendapatkan temuan yang lebih signifikan.

Analisa pengaruh ROE, EPS, PER dan DPR terhadap harga saham pada perusahaan otomotif yang go public di BEI tahun 2008 / Awang Akbar Perdana

 

ABSTRAK Perdana, Awang Akbar. 2010. Analisa Pengaruh ROE, EPS, PER dan DPR Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Otomotif yang Go Public di BEI Tahun 2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dyah Aju Wardhani, SE, M.Si, Ak., (II) Makaryanawati, SE, M.Si, Ak. Kata Kunci : Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Dividend Payout Ratio (DPR), harga saham. Harga saham merupakan indikator nilai dan pencerminan yang relevan dari kondisi perusahaan. Fluktuasi harga saham dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan internal perusahaan. Pergerakan saham di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi makro dan stabilitas ekonomi. Indikator untuk mengukur besarnya harga saham diantaranya adalah Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan modal tertentu, Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar keuntungan yang diperoleh investor atau pemegang saham per sahamnya, Price Earning Ratio (PER) merupakan rasio yang menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam mengahasilkan laba, Dividend Payout Ratio (DPR) merupakan rasio yang menggambarkan besarnya laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap harga saham, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini merupakan penelitian populasi dengan obyek perusahaan otomotif tahun 2008 sebanyak sembilan belas (19) perusahaan. Alat analisis yang digunakan adalah Analisis Regresi Berganda. Uji regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap harga saham baik secara parsial maupun secara simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial hanya Earning Per Share (EPS) dan Dividend Payout Ratio (DPR) berpengaruh terhadap harga saham. Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Dividend Payout Ratio (DPR) berpengaruh secara simultan terhadap Harga Saham. Penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan terhadap seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sehingga dapat diperoleh jumlah populasi yang lebih banyak dan mendapatkan hasil yang lebih mencerminkan pengaruh Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap harga saham.

Pemberdayaan masyarakat melalui program life skills dengan pola penguatan jaringan usaha hulu hilir (studi kasus pada budidaya murbei di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan) / Hernawan

 

ABSTRAK Hernawan, 2008. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Life Skills dengan Pola Penguatan Jaringan Usaha Hulu Hilir (Studi Kasus pada Budidaya Murbei di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan). Tesis Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (i) Prof. Drs. H.M. Saleh Marzuki, M.Ed (ii) Dr. Sanapiah S. Faisal Kata Kunci: Life Skills, Jaringan Usaha Salah satu kesimpulan yang disepakati pada kegiatan Temu Evaluasi Program PNF tahun 2006 yang diselenggarakan di Solo dan diikuti oleh Jajaran PNF di tingkat pusat dan daerah seluruh Indonesia serta hasil monitoring evaluasi BPPLSP Regional IV tahun 2006 adalah penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup (life skills) PNF belum mampu mencapai hasil yang optimal. Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, maka pada tahun 2007 BPPNFI Regional IV telah mengembangkan sebuah model pendidikan kecakapan hidup dengan Pola Penguatan Jaringan Usaha Hulur Hilir Budidaya Murbei di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Anggota kelompok melibatkan 20 orang yang menekuni berbagai macam usaha kecil yang berbahan satu komoditi yaitu tanaman murbei dan usaha-usaha lain yang mendukung. Keberhasilan program dalam masa uji coba, dilanjutkan oleh anggota kelompok untuk tetap mempertahankan kelompok usaha dengan pola jaringan, dan selama 1 (satu) tahun pelaksanaannya telah mampu memberikan dampak yang positif bagi hidup anggota. Fenomena keberhasilan program life skills dengan Pola Penguatan Jaringan Usaha Hulu Hilir Budidaya Murbei di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan menarik untuk dikaji secara mendalam dalam sebuah penelitian. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana penyelenggaraan model pendidikan kecakapan hidup dengan Pola Penguatan Jaringan Usaha Hulu Hilir di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan? (2) alasan apa yang mendorong anggota kelompok mengikuti program? (3) perubahan apa yang dialami anggota kelompok setelah menerapkan model life skills dengan Pola Penguatan Usaha Jaringan Hulu Hilir? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik: (1) wawancara, (2) observasi dan (3) studi dokumentasi. Pengambilan sampel dilakukan dengan snow ball sampling. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap: (1) reduksi data, (2) penyajian data (display data) dan (3) pengambilan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan model pendidikan kecakapan hidup dengan Pola Penguatan Jaringan Usaha Hulu Hilir Budidaya Murbei di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan terdiri atas 13. Jenis usaha yang saling terkait dengan budidaya dan pengolahan hasil budidaya tanaman murbei yaitu budidaya murbei, budidaya bibit murbei, usaha pembuatan pupuk organik, usaha sari buah murbei, usaha es murbei, usaha sirup murbei, usaha selai murbei, usaha manisan murbei, usaha dodol murbei, usaha cuka murbei, usaha sablon/pengemasan, usaha pengumpulan botol bekas dan pemasaran. Sebanyak 20 orang yang bergerak dalam ketigabelas jenis usaha tersebut, membentuk satu kelompok usaha. Untuk memajukan kelompok, mereka secara rutin mengadakan kegiatan harian yaitu proses kegiatan sehari-hari dan juga pertemuan rutin bulanan yang kadang-kadang mendatangkan Nara Sumber Teknis (NST) dari luar guna menambah wawasan anggota kelompok. Adapun alasan-alasan yang mendorong anggota bergabung dalam kelompok adalah: (1) keinginan untuk bersosialisasi, (2) harapan untuk maju, termasuk didalamnya harapan untuk menambah penghasilan. Sedangkan pemberdayaan anggota kelompok melalui penerapan model life skills dengan penguatan usaha jaringan hulu hilir di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan dapat dilihat dari dampak ekonomi seperti pendapatan dan kesejahteraan sebagian besar anggota jaringan meningkat, dampak sosial seperti kerjasama antara anggota jaringan semakin meningkat dan dampak lingkungan seperti perencanaan program penghijauan melalui penanaman pohon murbei di setiap villa yang ada di Kelurahan Pecalukan Kecamatan Prigen. Dari hasil penelitian ini, saran-saran yang diajukan yaitu: (1) pihak pemerintah daerah hendaknya memberikan pembinaan yang lebih intensif kepada kelompok, sementara bagi kelompok hendaknya dapat lebih memasarkan produk dalam skala yang lebih luas, (2) bagi kelompok usaha program life skills dengan Pola Penguatan Jaringan Usaha Hulu Hilir di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan dapat menambah anggota yang memiliki jenis usaha lain misalnya perkreditan untuk dapat menambah modal usaha dan meningkatkan pendapatan.

Making use of secret topic game to improve the speaking ability of the third year students of MA Zainul Anwar Kraksaan Probolinggo / Jamaludin

 

ABSTRACT Jamaludin. 2009. Making Use of Secret Topic Game to Improve the Speaking Ability of the Third Year Students MA Zainul Anwar Kraksaan Probolinggo. Thesis, Graduate Program in English Education, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. Arwijati Wahyudi Murdibjono, M. Pd., Dip. TESL (II) Dr. Yazid Basthomi, M.A Key Words: secret topic game, improve, speaking ability The speaking ability of the third year students at MA Zainul Anwar still needed improvement. Based on the teacher’s experience and the results of preliminary study, it was revealed that the students were reluctant to express their ideas in English verbally. They lacked confidence to communicate in English because they were afraid of being underestimated when they made mistakes, meaning that they could not make a spontaneous conversation, therefore they were hardly involved actively in the teaching and learning process. A collaborative classroom action research was employed in this study and was done in three Cycles. The study used three instruments in the forms of observation form, field notes, and students’ self assessment to collect the data. The implementation of Secret Topic Game to teach speaking hopefully could overcome the problems stated above so that the students’ participation and the students’ speaking ability improved. Each Cycle consisted of four stages: (1) planning, (2) action, (3) observation, and (4) reflection. Cycle 1 and 2 took three meetings while Cycle 3 took two meetings. Secret Topic Game procedures that proved to be able to improve are as follows: (1) Students are divided into groups done by the teacher randomly. Each group can consist of five or six students, and two of the members of each group are as the conversation participants chosen by the other group. (2) The conversation participants agree on a topic given by the teacher without telling the other member what it is, then the conversation participants start discussing their hidden topics without mentioning the topics. The topics used are different from the topics used in Cycle 1 and 2. If one member in each group could guess the secret topic, the conversation participants are directly changed with different topic, and so forth. (3) The others listen to the two conversation participants or topics they are talking about. (4) Anyone in the rest of the group who thinks s/he knows what they are talking about, have to write it on a small piece of paper and show it to the two conversation participants before s/he is accepted. (5) The conversation participants look at her/his word(s) written on a small paper, if her/his answer is right, the conversation participants accept her/him to join in the conversation. However, if her/his answer is wrong, s/he is not accepted to join in the conversation, and s/he have to listen again to the conversation. (6) When all of the members of each group have joined in, the game is stopped. (7) Points are awarded according to the number of people who find out the secret topics. After conducting Cycle 3, the result of this study using Secret Topic game procedures indicated the fact that there was an increase in the number of the students’ participation up to 70 % for the group participation, from 17% (4 students) in Cycle 1 to 87% (21 students) in Cycle 3. The students’ individual participation also gradually increased from 2 students (33%) out of 6 students in Cycle 1 to 4 students (67%) in Cycle 2 and 5 students (80%) in Cycle 3 for group 1, from 0 students (0%) out of 6 students in Cycle 1 to 2 students (33%) in Cycle 2 and 5 students (80%) in Cycle 3 for group 2, from 2 students (33%) out of 6 students in Cycle 1 to 3 students (50%) in Cycle 2 and 5 students (80%) in Cycle 3 for group 3, and from 0 student (0%) out of 6 students in Cycle 1 to 2 students (33%) in Cycle 2 and 6 students (100%) in Cycle 3 for group 4. From appendix 5a and appendix 9 we can see that there are a number of significant improvements of the students’ speaking scores assessed in Cycle 3. Applying Secret Topic Games is one of successful and interesting ways that can help teachers in overcoming speaking problem the students have. Games are used not only for fun, but more notably, for the useful practice and review of language lessons, thus leading to the goal of improving learners’ communicative competence. Therefore, it is recommended that the English teachers apply Secret Topic Game as an alternative in teaching speaking to make students actively involved, and for the future researcher it will be a reference and a proof that such game can improve students’ participation and speaking ability.

Evaluasi lingkungan budidaya tanaman hortikultura di Desa Sumberejo Kecamatan Batu Kota Batu / Hervina Sovia Rosa

 

ABSTRAK Rosa, Hervina Sovia. 2009. Evaluasi Lingkungan Budidaya Tanaman Hortikultura Di Desa Sumberejo Kecamatan Batu Kota Batu. Skripsi, Jurusan Geografi, Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs.Dwiyono Hari Utomo, M. Pd, M. Si. (II) Ir. Juarti, M. P. Kata Kunci: Pertanian Berwawasan Lingkungan, Tanaman Hortikultura. Bentuk aktivitas pertanian dalam pengelolaan lahan di Indonesia beragam sesuai dengan kondisi alam yang dimiliki pada tiap daerah. Dalam jangka waktu yang lama, petani telah mampu memahami dengan baik dan mendalam terhadap kondisi dan karakter lahannya. Ketepatan dalam pengolahan tanah serta penentuan varietas yang cocok merupakan akumulasi pengalaman dan pembelajaran yang terjadi secara terus menerus. Kondisi lingkungan yang dinamis dan berbeda di wilayah Desa Sumberejo selanjutnya menimbulkan pemahaman yang lebih spesifik, sehingga memunculkan sikap petani yang berwawasan lingkungan dalam menghadapi permasalahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lingkungan petani dalam membudidayakan tanaman hortikultura dan cara bertani yang memenuhi kriteria pertanian yang berwawasan lingkungan di Desa Sumberejo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan 69 responden. Sampel responden yang digunakan yaitu petani tanaman hortikultura yang memiliki lahan dan menggarap sendiri lahan pertaniannya. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu: observasi, kuesioner, wawancara,dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik penskoran. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 69 petani tanaman hortikultura yang terdiri dari 9 Kelompok Tani di Dusun Sumberejo, Dusun Sumbersari, dan Dusun Santrean memiliki wawasan lingkungan yang berbeda dalam aktivitas pertaniannya. Kondisi lingkungan mempengaruhi cara bertani yang diterapkan petani dalam pembudidayaan tanaman. Penyesuaian cara-cara bertani dengan kondisi lingkungan memberikan wawasan bagi petani dalam mengembangkan cara-cara bertani dengan tetap menjaga kualitas lingkungan hidup. Secara keseluruhan, pertanian berwawasan lingkungan yang diterapkan petani di Desa Sumberejo memiliki skor 4. Dusun Sumbersari melakukan aktivitas pertanian berwawasan lingkungan yang sangat baik dari petani di Dusun Santrean dan Dusun Sumberejo. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa cara bertani petani Desa Sumberejo memiliki beberapa perbedaan, dikarenakan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap cara-cara bertani seperti: penggunaan alat-alat pertanian, pemupukan, dan jenis tanaman yang dibudidayakan. Pertanian berwawasan lingkungan masih diterapkan petani diperdesaan dengan tetap menggunakan pupuk alam dan alat-alat pertanian yang sederhana (seperti cangkul) masih dipertahankan karena terbukti efektifitasnya digunakan pada kondisi tanah apapun, sehingga petani tidak hanya mementingkan cara-cara dalam meningkatkan hasil pertanian tetapi juga menjaga kualitas lingkungan hidup.

Kontribusi pemahaman dan sikap guru tentang K3 terhadap pelaksanaan K3 pada pembelajaran praktek di bengkel mekanik otomotif SMK se-kota Malang / Bambang Triatmidi

 

ABSTRAK Triatmidi, Bambang. 2010. Kontribusi Pemahaman dan Sikap Guru tentang K3 terha-dap Pelaksanaan K3 pada Pembelajaran Praktek di Bengkel Teknik Mekanik Otomotif SMK se-Kota Malang. Tesis Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syaad Patmanthara, M.Pd., (II) Drs. H. Tri Atmadji Sutikno, M.Pd. kata kunci: pemahaman, sikap, pelaksanaan K3, pembelajaran praktek otomotif Guru memiliki fungsi sebagai motivator, fasilitator, dan perancang proses pembelajaran. Karena itu guru memegang peran penting dalam penciptaan kondisi pembelajaran di bengkel Teknik Mekanik Otomotif. Selama melaksanakan pembelajaran di bengkel, siswa berinteraksi dengan berbagai alat, perkakas, media, juga berhadapan dengan bahaya yang terkandung di dalamnya. Karenanya pemahaman dan sikap guru tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) menjadi amat penting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kontribusi pemahaman guru tentang K3 terhadap pelaksanaan K3 pada pembelajaran praktek di bengkel Teknik Mekanik Otomotif pada SMK Se-Kota Malang, (2) kontribusi sikap guru tentang K3 terhadap pelaksanaan K3 pada pembelajaran praktek di bengkel Teknik Mekanik Otomotif pada SMK Se-Kota Malang, dan (3) kontribusi Pemahaman dan Sikap Guru tentang K3 secara bersama-sama terhadap Pelaksanaan K3 pada Pembelajaran Praktek di Bengkel Teknik Mekanik Otomotif SMK se-Kota Malang. Populasi pada penelitian ini adalah guru program keahlian Teknik Mekanik Otomotif di SMK se-Kota Malang yang mengajar pada tahun pembelajaran 2008-2009 berjumlah 72 orang. Semua guru dalam populasi menjadi responden pengam-bilan data. Pengumpulan data variabel pemahaman guru tentang K3 (X1) dilakukan dengan menggunakan Tes, sikap guru tentang K3 (X2) menggunakan kuesioner, dan pelaksanaan K3 pada pembelajaran (Y) menggunakan lembar observasi. Data penelitian dialisis secara deskriptif, korelasi parsial dan regresi ganda. Hasil analisis diskriptif terhadap data responden menunjukan bahwa pema-haman guru Teknik Mekanik Otomotif (TMO) se-Kota Malang tentang K3 dalam kategori cukup, sikap guru tentang K3 berada pada kategori baik, dan pelaksanaan K3 pada pembelajaran praktek berada pada kategori baik. Hasil analisis korelasional menunjukkan bahwa: (1) ada hubungan yang signifikan antara pemahaman guru tentang K3 dengan pelaksanaan K3, (2) ada hubungan yang signifikan antara sikap guru tentang K3 dengan pelaksanaan K3 (Y), (3) ada hubungan yang signifikan secara bersama pemahaman guru dan sikap guru tentang K3 dengan pelaksanaan K3. Kedua variabel secara bersama memberi kontribusi sebesar 77% terhadap perubahan pelak-sanaan K3. Kontribusi sebesar itu berasal dari sumbangan efektif variabel pemahaman guru sebesar 51,35% dan variabel sikap guru tentang K3 memberikan kontribusi efektif sebesar 25,87%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis menyampaikan saran: (1) bagi pihak sekolah (SMK) agar mengusahakan suatu diklat khusus bagi guru untuk meningkatkan pemahaman tentang K3 di bidang Teknik Otomotif, dan melakukan pengembangan kurikulum sekolah agar materi tentang K3 dapat dirumuskan serta ditetapkan sebagai mata diklat tersendiri, (2) bagi guru agar secara aktif meningkatkan pengetahuan tentang K3 otomotif dengan mencari dan mengakses berbagai sumber yang relevan.

Peningkatan keterampilan berbicara dengan pendekatan komunikatif pada siswa kelas V di SDN Drenges I Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk / Elmy Arifina

 

ABSTRAK Arifina, Elmy. 2010. Peningkatan Keterampilan Berbicara Dengan Pendekatan Komunikatif Pada Siswa Kelas V Di SDN Drenges I Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan KSDP S1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sutansi, M. Pd, (II) Dra. Sri Nuryati, M. Pd. Kata kunci : berbicara, kelancaran, keruntutan, komunikatif. Permasalahan dalam penelitian yang dilakukan di SDN Drenges I Kecama-tan Kertosono Kabupaten Nganjuk adalah guru di dalam meningkatkan keteram-pilan berbicara siswa masih menggunakan metode konvensial. Dalam pembel-ajaran anak belum terampil berbicara secara lancar dan runtut. Sehingga perlu diterapkan pendekatan komunikatif di dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pendekatan ko-munikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Drenges I, mendeskripsikan penerapan komunikatif yang dapat meningkatkan kelancaran berbicara siswa kelas V SDN Drenges I dan mendeskripsikan penerapan pendekatan komunikatif untuk meningkatkan keruntutan berbicara siswa kelas V SDN drenges I. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuali-tatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilakukan da-lam 2 siklus. Untuk menjaring data diperoleh dengan cara observasi, tes dan doku-mentasi. Teknik analisis data dengan cara metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Pada masing-masing siklus ter-jadi peningkatan nilai hasil belajar pada aspek kelancaran dan keruntutan berbica-ra siswa. Hal ini terbukti dengan peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I, persentase ketuntasan belajar siswa dalam aspek kelancar-an berbicara adalah 72,72% dan pada siklus II, persentase ketuntasan belajar ada-lah 100%. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan hasil kelancaran berbicara sis-wa sebesar 27,28%. Penerapan pendekatan komunikatif juga meningkatkan kerun-tutan berbicara siswa. Pada siklus I, persentase ketuntasan belajar siswa dalam aspek keruntutan dalam berbicara adalah 81,81% dan pada siklus II, persentase ketuntasan belajarnya adalah 100%. Ini berarti telah terjadi peningkatan hasil ke-runtutan berbicara siswa sebesar 18,19%. Dari hasil PTK ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan pendekatan komunikatif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Drenges I dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang memaksimalkan potensi siswa untuk berbicara/berkomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti berdialog, berdiskusi, tanya jawab, mengungkapkan pendapat/sanggahan, menanggapi peristiwa/persoalan, bercerita dan lain sebagainya. Penerapan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan kelancaran dan keruntutan berbicara siswa kelas V SDN Drenges I, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk.

Penerapan kolaborasi model numbered heads together (NHT) dengan two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kewirausahaan siswa kelas XII Jurusan Listrik II SMK Negeri 2 Probolinggo / Nabila Titis Hermindina

 

ABSTRAK Hermindina, Nabila Titis. 2010. Penerapan Kolaborasi Model Numbered Heads Together (NHT) Dengan Two Stay Two Stray (TSTS) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Kewirausahaan Siswa Kelas XII Jurusan Listrik II SMK Negeri 2 Probolinggo. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suwarni, M.Si (II) Madziatul Churiyah, S.Pd, M.M. Kata Kunci : Model Numbered Heads Together (NHT), Model Two Stay Two Stray (TSTS), Aktivitas Belajar, Hasil Belajar Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru selalu monoton. Dalam setiap pembelajaran guru selalu menggunakan metode ceramah. Dengan metode ceramah ini, guru selalu menguasi kelas sedangkan siswa hanya duduk diam mendengarkan penjelasan dari guru dan siswa tidak dituntut aktif. Padahal dalam proses pembelajaran yang sebenarnya, guru diharapkan mampu mengembangkan suatu kondisi kelas yang kondusif dalam arti bahwa guru mampu mengajak dan memotivasi para siswa untuk turut berpartisipasi dalam tiap kegiatan pembelajaran dalam kelas. Dalam hal ini guru harus lebih kreatif lagi untuk menggunakan model-model pembelajaran dalam kelas. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhatikan hal tersebut adalah pembelaran model Numbered Heads Together (NHT) Dan Two Stay Two Stray (TSTS). Dengan menerapkan model Numbered Heads Together (NHT) Dan Two Stay Two Stray (TSTS) siswa tidak hanya duduk diam. Siswa harus menjadi lebih aktif lagi sehingga mereka bisa menguasai materi dan mereka dituntut untuk bisa bekerja sama dengan teman sekelas. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Kewirausahaan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) Dan Two Stay Two Stray (TSTS).. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Penelitian ini dilakukan di kelas XII Jurusan Listrik II SMKN 2 Probolinggo, pada bulan Desember 2009 sampai Januari 2010, dan data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu aktivitas siswa mengalami peningkatan dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Pada pra tindakan siswa dibagi menjadi dua kelompok di mana persentase masing-masing kelompok termasuk kategori kurang yaitu 33,3% dan 27%. Sedangkan pada siklus I dan siklus II siswa dibagi menjadi 8 kelompok dan masing-masing kelompok mengalami peningkatan. Untuk kelompok 1 meningkat sebesar 58,3%, kelompok 2 meningkat sebesar 33,4%, kelompok 3 meningkat sebesar 45,8%, kelompok 4 sebesar 33,3%, kelompok 5 meningkat sebesar 48%, kelompok 6 meningkat sebesar 52,1%, kelompok 7 meningkat sebesar 35,5%, dan kelompok 8 meningkat sebesar 46,7%. Selain itu iii hasil belajar siswa juga meningkat setelah penerapan pembelajaran kooperatif kolaborasi model Numbered Heads Together (NHT) dan Two Stay Two Stray (TSTS). Nilai rata-rata ranah kognitif pada pra tindakan 67,88 kemudian siklus I meningkat menjadi 79,1 dan siklus II meningkat menjadi 85,5. Ketuntasan klasikal ranah kognitif juga mengalami peningkatan. Pada pra tindakan sebesar 34,38%, meningkat pada siklus I menjadi 71,9% dan siklus II menjadi 90,6%. Untuk ketuntasan klasikal pada ranah afektif juga mengalami peningkatan pada setiap siklus. Untuk pra tindakan ketuntasan klasikal hasil belajar ranah afektif siswa sebesar 40,63%, siklus I sebesar 68,8% dan siklus II 93,8%. Adapun saran yang dapat diajukan yaitu: 1) Bagi guru kewirausahaan, diharapkan dapat menerapkan model Numbered Heads Together (NHT) dan Two Stay Two Stray (TSTS) ) di dalam proses pembelajaran, karena dengan menggunkan model pembelajaran akan menuntut siswa menjadi lebih aktif; 2) Bagi siswa, diharapkan mempersiapkan diri dengan belajar telebih dahulu sebelum mengikuti pembelajaran, sehingga pada saat diskusi kelas siswa mudah mengikuti pembelajaran dan siswa harus bisa bersosialisasi dengan teman dalam satu kelas; 3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian dengan menerapkan kolaborasi model Numbered Heads Together (NHT) dan Two Stay Two Stray (TSTS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan.

Penerapan teknik reinforcement untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar bahasa daerah dengan pokok bahasan tembung lan seselan siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang / Slamet Ponidi

 

ABSTRAK Ponidi, Slamet. 2010. Penerapan Teknik Reinforcement untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Bahasa Daerah dengan Pokok Bahasan Tembung Lan Seselan Siswa Kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. M. Sochib, M.Pd., (II) Drs. Tomas Iriyanto, M. Pd. Kata kunci: reinforcement, bahasa daerah, motivasi belajar, hasil belajar. Tiga masalah pokok penyebab rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang dalam mempelajari bahasa Daerah adalah (1) terjadinya pergeseran bahasa ibu, (2) minimnya media pembelajaran, dan (3) rendahnya minat belajar siswa. Dampak lebih jauh muncul berbagai perilaku siswa yang tidak adaptif seperti tidak bergairah, menyontek, mengganggu temannya, usil dsb. Salah satu cara untuk mengurangi perilaku siswa yang tidak adaptif ialah menggunakan pengukuhan positif atau reinforcement. Tindakan yang dilakukan berupa reinforcement (1) sosial seperti pujian, senyuman, anggukan setuju, acungan jempol, gerakan jari telunjuk, penepukan punggung dan bahu siswa dsb, (2) nyata, berupa bonus permen, nilai dan kepulangan lebih awal, (3) tanda atau lambang berupa nilai-nilai dari tes harian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan teknik reinforcement dalam kerangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar (2) peningkatan motivasi belajar, dan (3) peningkatan hasil belajar Bahasa Daerah siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Kota Malang setelah penerapan teknik reinforcement dalam pembelajaran Bahasa Daerah. Penelitian dilakukan melalui desain tindakan kelas. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai fasilitator yang berupaya menumbuhkan motivasi internal bagi subjek yang terlibat. Selama di kancah, peneliti menggunakan pendekatan kesejawatan melalui diskusi dengan guru kelas. Pengecekan keabsahan data digunakan teknik triangulasi. Dengan tiga siklus tindakan disimpulkan: (1) Motivasi belajar siswa mengalami kenaikan yang cukup berarti. Pada siklus pertama rata-rata motivasi belajar siswa adalah 74,63%. Pada siklus kedua naik menjadi 86,93%. Dengan demikian melalui teknik reinforcement, motivasi siswa telah tuntas dalam pembelajaran Bahasa Daerah. (2) Hasil belajar siswa mengalami kenaikan yang cukup berarti. Pada siklus pertama rata-rata hasil belajar siswa adalah 82,33. Pada siklus kedua naik menjadi 84,24. Sedang pada siklus ketiga rata-rata hasil belajar siswa tetap 84,24. Tidak adanya perubahan hasil belajar antara siklus II dan siklus III karena ada kaitan antara kuantitas soal-soal antara kedua siklus. Kendati demikian, hasil belajar siswa telah tuntas dalam pembelajaran Bahasa Daerah. Dari kesimpulan di atas diberikan saran-saran: (1) Guru perlu memberikan pengertian pada para siswa bahwa belajar bukan melulu mencari nilai-nilai yang bagus. (2) Agar siswa tidak jenuh diperlukan berbagai variasi dalam memberikan teknik reinforcement. (3) Teknik reinforcement yang telah digunakan perlu dikembangkan pada materi ketrampilan penulisan huruf Jawa. Artinya penggunaan teknik reinforcement untuk pokok bahasan yang lain, perlu penelitian lebih lanjut. (4) Agar kondisi pembelajaran yang disajikan oleh guru Bahasa Daerah dapat membuat siswa merasa senang terhadap matapelajaran yang diajarkan, perlu dibuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. (5) Penelitian tindakan kelas ini perlu dikembangkan lebih lanjut melalui tindakan serupa dengan teknik reinforcement yang berbeda. (6) Agar hasil yang diperoleh melalui penelitian ini lebih bermanfaat dan bernilai ganda, perlu dilakukan penelitian lain dengan sasaran yang lebih luas.

Pemanfaatan lingkungan sekitar untuk meningkatkan prestasi belajar bahasa Indonesia tentang menulis surat undangan kelas V SDN Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan / Wahyoe Nisfuanah

 

Pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V di SD Negeri Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan cenderung didominasi oleh guru. Metode mengajar yang digunakan oleh guru kurang bervariasi, kurang bisa mengaktifkan siswa. Proses Pembelajaran menjadi monoton yang pada akhirnya hasil belajar siswa tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) penerapan lingkungan sekitar pada materi menulis surat undangan dalam meningkatkan keaktifan siswa kelas V SD Negeri Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan, (2) mendiskripsikan penerapan pemanfaatan lingkungan sekitar dalam menulis surat undangan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V di SD Negeri Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas atau PTK yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Sudimulyo I Kec. Nguling Kab. Pasuruan yang berjumlah 28 siswa, terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari tes hasil belajar dan pedoman observasi proses pembelajaran pemanfaatan lingkungan sekitar. Instrumen tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa, sedangkan pedoman observasi digunakan untuk mengamati proses pembelajaran dari aspek keaktifan Hasil penelitian ini adalah: 1) proses pembelajaran Bahasa Indonesia ditinjau dari keaktifan siswa pada saat pembelajaran dengan pemanfaatan lingkungan sekitar berlangsung aktif, dan 2) penerapan pembelajaran dengan pemanfaatan lingkungan sekitar dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada standar kompetensi mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan dan dialog tertulis. Hasil observasi aktivitas guru pada siklus I adalah 90,3%, siklus II sebesar 94,6%, mengalami peningkatan 4,3% secara keseluruhan aktivitas guru dalam proses pembelajaran dikategorikan sangat baik. Hasil observasi aktivitas siswa siklus I 79,6%, siklus II adalah 84,7%, mengalami peningkatan sebesar 5,1% secara keseluruhan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dikategorikan baik. Pada penilaian hasil tes akhir siklus I adalah nilai rata-rata 70,5, pada siklus II nilai rata-rata 79,8 siswa yang tuntas belajar 28 orang siswa (100%). Berdasarkan temuan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar pada siswa kelas V SDN Sudimulyo I Kecamatan Nguling Kabupaten Pasuruan dikatakan sudah berhasil.

Membangun firewall jaringan komputer berbasis Windows Server 2003 di SMA Islam Kota Pasuruan / Pandu Trapsila Adi

 

Dalam dunia pendidikan sangat diperlukan adanya Kemajuan dan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terutama dalam bidang jaringan komputer. Hal itulah yang mendorong Lembaga Pendidikan seperti SMA Islam Kota Pasuruan untuk melengkapi sarana pendidikan dengan membangun laboratorium Teknologi Informatika Komputer (TIK) yang dilengkapi dengan internet agar para guru dan siswa bisa mengakses segala informasi yang akurat dengan cepat. Namun demikian tidak menutup kemungkinan para siswa akan menggunakan kebebasan berinternet untuk browsing situs-situs atau download file yang kurang bermanfaat. Karena itulah diperlukan suatu sistem security dengan menggunakan PC Server menggunakan Windows Server 2003 untuk mengatur akses pemakaian dan penggunaan aplikasi-aplikasi pada PC Client oleh tiap-tiap user yang ada. Pada SMA Islam Kota Pasuruan digunakan PC Server untuk mengkonfigurasi firewall jaringan. PC server yang dipakai menggunakan sistem operasi Windows Server 2003. Beberapa kelebihan yang dimiliki Windows Server 2003 sebagai sistem operasi yaitu instalasinya tidak rumit dan administrasinya lebih familier, selain itu sistemnya sudah relatif stabil sehingga lebih meyakinkan dalam hal keamanannya. Salah satu fitur yang ditawarkan oleh Windows Server 2003 adalah Active Directory yang didalamnya terdapat banyak sekali hal yang bisa dikembangkan. Bagaimana mengkonfigurasi security menggunakan Active directory windows server 2003 dalam pembangunan jaringan, akan penulis bahas secara bertahap. Tahap pertama yang harus dilakukan, dengan membangun jaringan LAN., instalasi jaringan LAN, pengaturan jaringan LAN, instalasi Windows Server 2003 pada PC server dan pengaturan PC server. Tahap kedua dengan cara mengkonfigurasi firewall pada PC server agar diperoleh security akses sehingga pengaksesan PC Client dan penggunaan aplikasi di PC Client oleh user yang nantinya dibuat dapat dikontrol dengan baik. Dari perancangan dan hasil pengujian di laboratorium TIK dan ruang dewan guru SMA Islam Kota Pasuruan dapat disimpulkan bahwa sistem security menggunakan firewall yaitu dengan cara scheduling access user dan Program Limiter.

Pengaruh informasi arus kas terhadap return saham pada perusahaan perbankan dan pembiayaan yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2008 / Ferly Festyana

 

ABSTRAK Festyana, Ferly. 2009. Pengaruh Informasi Arus Kas Terhadap Return Saham pada Perusahaan Perbankan dan Pembiayaan yang Listing di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Endang Sri Andayani, S.E., M.Si., Ak., (II) Dra. Suparti, M.P. Kata kunci: Informasi arus kas, return saham Laporan arus kas dikatakan mempunyai kandungan informasi apabila dengan disertakannya informasi arus kas dalam laporan keuangan akan menyebabkan investor bereaksi untuk melakukan penjualan ataupun pembelian saham, dimana selanjutnya reaksi tersebut akan tercermin dalam return saham di sekitar tanggal publikasi laporan arus kas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh dari kandungan informasi laporan arus kas terhadap return saham. Arus kas dikatakan berpengaruh jika mampu mengubah keputusan investor dalam bertransaksidi dalam pasar modal. Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan perbankan dan pembiayaan mulai tahun 2007-2008 sebagai sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan didapat sampel sejumlah 30 perusahaan. Jenis data adalah kuantitatif. Ukuran variabel yang digunakan untuk total arus kas dan return saham adalah prosentase kenaikan (penurunan) untuk mengetahui pengaruh masing-masing informasi terhadap variabel terikat. Model analisis yang digunakan dalam pengujian hipotesis penelitian ini adalah regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari kandungan informasi tentang arus kas yang dikeluarkan oleh perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return saham. Data statistik menunjukkan bahwa uji t memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,276 lebih besar dari taraf signifikansi yang telah ditetapkan yaitu 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa informasi total arus kas dalam penelitian ini tidak begitu berpengaruh terhadap pengambilan keputusan oleh investor dalam bertransaksi saham. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan periode pengamatan atau windows period yang lebih panjang, menambah variabel-variabel atau faktor-faktor yang sekiranya nanti berpengaruh terhadap return saham.

Penerapan model contextual teaching and learning untuk meningkatkan hasil belajar dan kedisiplinan siswa pembelajaran PKn di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Turi I Kecamatanm Sukorejo Kota Blitar / Surati

 

Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu masalah nasional yang mendapat perhatian serius setiap kalangan masyarakat. Pendidikan diharapkan agar dapat menjadi saran yang tepat dalam rangka pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia.Oleh karena itu PKn merupakan mata pelajaran di sekolah yang mampu mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Salah satu metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran PKn adalah metode Contextual Teaching And Learning (CTL), karena CTL dinilai mampu meningkatkan prestasi dan kedisiplinan siswa. Berdasarkan kenyataan tersebut penulis akan mengkaji permasalahan-permasalahan diantara rumusan masalahnya adalah (1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) pada kelas IV di SDN Turi I Kecamatan Sukorejo Blitar? (2) bagaimana hasil belajar PKn dengan dengan menggunakan model Contextual Teaching And Learning (CTL) terhadap aktivitas dan partisipasi siswa kelas IV SDN Turi I Kec. Sukorejo Kota Blitar? (3)apakah penerapan model Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan hasil belajar dan kedisiplinan siswa? Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui penerapan model Contextual Teaching And Learning (CTL) pada kelas IV di SDN Turi I Kec. Sukorejo Kota Blitar, (2)untuk memperoleh gambaran tentang hasil belajar penggunaan model Contextual Teaching And Learning (CTL) pada kelas IV di SDN Turi I Kec. Sukorejo Kota Blitar, (3) untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar bidang studi PKn siswa kelas IV SDN Turi I Kec. Sukorejo Kota Blitar. Pengumpulan data dilakukan dengan tes, observasi, pengamatan, refleksi, dan Revisi. Teknik tersebut dilakukan secara berulang sesuai dengan perlakuan pada siklus yang telah dilaksanakan dalam kelas. Data yang terkumpul dianalisis. Berdasarkan analisis data disimpulkan bahwa berdasarkan rentangan nilai, perolehan hasil belajar dan kedisiplinan siswa dengan menggunakan pembelajaran model Contextual Teaching And Learning (CTL) didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, yaitu dari rata-rata 60,71 pada pra tindakan naik menjadi 67,14 pada siklus I dan 75,14 pada siklus II , Sedangkan peningkatan ketuntasan belajar siswa adalah dari 42,85 pada pra tindakan menjadi 71,42 pada siklus I dan 97,14 pada siklus II jadi tiap siklus mengalami kenaikan 28,57% pada Pra tindakan ke siklus I dan mengalami peningkatan 25,72% pada siklus II. Berdasarkan analisis di atas, dapat disarankan agar (1)guru lebih berinovatif dalam menggunakan model pembelajaran dan menyampaikan materi pelajaran khususnya dengan model Contextual Teaching And Learning (CTL). (2) guru perlu memperhatikan pembelajaran model Contextual Teaching And Learning (CTL) dan beberapa model lainnya untuk meningkatkan hasil belajar dan persepsi siswa tentang belajar untuk meraih pendidikan yang lebih baik.

Hubungan kebiasaan menonton acara televisi dengan tingkat pengungkapan diri siswa / Shinta Permata

 

ABSTRAK Permata, Shinta. hubungan kebiasaan menonton acara televisi dengan tingkat pengungkapan diri siswa SMKN 1 Pogalan. Skripsi, Program Studi Bimbingan dan konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr Andi Mappiare AT M..Pd (II) Drs. H Widada, M.Si Kata Kunci : kebiasaan menonton acara televisi, pengungkapan diri Pengungkapan diri dapat membantu seseorang berkomunikasi dengan orang lain, meningkatkan kepercayaan diri serta hubungan menjadi lebih akrab. Remaja dapat mempelajari pola tutur kata, berbagai kosa kata baru dan sikap melalui percakapan artis dalam setiap adegan di dalam acara yang mereka tonton. Setiap individu melakukan pengungkapan diri karena setiap individu selalu ingin menyampaikan pendapat, keinginan dan perasaanya pada orang lain. Oleh karena terdapat kemungkinan adanya hubungan kebiasaan menonton televisi terhadap pengungkapan diri peneliti ingin melakukan penelitian terhadap dua variabel tesebut Penelitian ini memiliki tujuan untuk: (1) mengetahui kebiasaan menonton acara televisi siswa SMKN 1 Pogalan; (2) mengetahui tingkat pengungkapan diri siswa SMKN 1 Pogalan; (3) mengetahui hubungan antara kebiasaan menonton acara televisi dengan tingkat pengungkapan diri siswa SMKN 1 Pogalan Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif korelasional. Bersifat deskriptif karena bertujuan memperoleh gambaran tentang kebiasaan menonton acara televisi dan pengungkapan diri. Bersifat korelasional karena penelitian ini bertujuan untuk menentukan ada tidaknya hubungan. Populasi dalam penelitian ini memiliki ciri-ciri : Siswa kelas XI SMK Negeri 1 Pogalan, Masih tercatat sebagai siswa di SMK Negeri 1 Pogalan, Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Berdasarkan ciri-ciri terdapat 270 Orang. Teknik sampling penelitian yang digunakan adalan teknik proporsional random sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 159 orang. Sedangkan instrumen dalam penelitian ini menggunakan kuesioner Kebiasaan menonton televisi dan kuesioner pengungkapan diri. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) siswa SMKN 1 Pogalan memiliki kebiasaan menonton televisi dengan klasifikasi sering. (2) Secara umum, siswa SMKN 1 Pogalan memiliki kemampuan pengungkapan diri dengan klasifikasi buruk,(3) Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan menonton televisi dengan pengungkapan diri. Hubungan tersebut bersifat positif dengan r korelasi sebesar 0,398 dengan signifikansi sebesar 0,000. Disarankan kepada para konselor untuk memberikan informasi yang tepat tentang acara televisi yang baik dan memberikan latihan agar siswa dapat menggunakan pengungkapan diri secara tepat. Untuk orang tua hendaknya memberikan bimbingan kepada anaknya tentang acara yang mereka tonton dan bersedia mendengar dan memperhatikan ketika anaknya ingin melakukan pengungkapan diri.

Peningkatan hasil belajar pembagian bersusun pada mata pelajaran matematika melalui penguatan di kelas IV SDN Kemloko 01 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar / Fahtim Choirunnisak

 

ABSTRAK Choirunnisak, Fahtim. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Pembagian Bersusun Pada Mata Pelajaran Matematika Melalui Penguatan di Kelas IV SDN Kemloko 01 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sutji Rahaju, M.Si, (II) Suwarti, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, pembagian bersusun, penguatan Hasil belajar matematika pada pokok bahasan pembagian bersusun di kelas IV SDN Kemloko 01 kurang memuaskan, yaitu hanya sebanyak 7 siswa dari 25 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya penguatan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga nilainya juga dapat meningkat. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diberikan penguatan dengan bervariasi. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kemloko 01 kecamatan Nglegok kabupaten Blitar pada kelas IV karena sebagian besar guru di SD tersebut belum menerapkan penguatan dalam pembelajarannya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV, dapat diketahui bahwa nilai yang diperoleh siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Hanya ada 7 siswa dari 25 siswa sudah mencapai nilai di atas KKM. Hal ini berarti hanya ada 28% siswa yang tuntas belajar. Setelah menggunakan penguatan dalam pembelajaran, nilai siswa pada siklus I meningkat, yaitu menjadi 68% dari 25 siswa telah tuntas belajar. Prosentase tersebut masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu 70% siswa dari 25 siswa telah tuntas belajar. Maka perlu dilakukan siklus II untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus II, nilai siswa juga meningkat menjadi 84% siswa yang telah tuntas belajar. Pada siklus III, 100% siswa sudah tuntas belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian penguatan pada siswa dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika pada materi pembagian bersusun. Untuk itu, hendaknya para guru lebih sering menerapkan penguatan kepada siswa supaya hasil yang diperoleh lebih maksimal.

Penerapan pembelajaran kontekstual metode problem-based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat public relations (studi pada siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 kelas X di SMK Negeri 1 Turen - Malang tahun ajaran 2009/2010) /

 

ABSTRAK Prasetyo, Haris Dimas. 2010. Penerapan Pembelajaran Kontekstual Metode Problem-Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Diklat Public Relations (Studi Pada Siswa Program Keahlian Administrasi Perkantoran 2 Kelas X di SMK Negeri 1 Turen-Malang Tahun Ajaran 2009-2010). Skripsi. Jurusan Manajemen Program Studi S-1 Pendidikan Administrasi Perkantoran. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Mohammad Arief, M.Si, (2) Madziatul Churiyah, S.Pd, M.M Kata Kunci: Penerapan metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), hasil belajar Salah satu upaya yang terus dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini adalah melalui perbaikan kurikulum. Dengan perbaikan kurikulum, diharapkan kualitas proses pembelajaran akan meningkat yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan metode pembelajaran berbasis masalah (Problem-based learning), untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat public relations serta untuk mengetahui faktor penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning). Sebagai subyek penelitian, peneliti memilih siswa kelas X APK 2 di SMK Negeri 1 Turen. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang berusaha mengkaji dan merefleksikan secara mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini terdiri dari siklus I dan siklus II, yang masing-masing siklus dilakukan dalam 2 kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan (observasi) serta tahap analisis dan refleksi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengenal berbagai macam hubungan dalam masyarakat dan menjelaskan tugas humas. Data yang diperoleh meliputi pengelolaan pembelajaran guru, penilaian kinerja kelompok, hasil belajar siswa didik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik, respon peserta didik dan guru terhadap proses pembelajaran. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, wawancara, tes, dan pengamatan partisipan. Pada penelitian ini dibagi menjadi 3 tahap kegiatan yaitu: menentukan kelompok, merencanakan kegiatan belajar metode problem-based learning, dan merencanakan diskusi antar kelompok. Dalam siklus I nilai rata-rata pre-test dan post-test meningkat dari 5,92 menjadi 7,15 sebesar 20,8 %. Siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 28 siswa (71,79%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 11 siswa (28,21%). Hasil belajar pada siklus I belum memenuhi ketuntasan belajar secara klasikal. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata pre-test dan post-test meningkat dari 5,64 menjadi 7,74 dengan persentase kenaikan 37,3%. Siswa yang tuntas belajar pada siklus II sebanyak 37 siswa (94,87%) dan jumlah siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 2 siswa (5,13%). Hasil belajar pada siklus II sudah memenuhi ketuntasan belajar secara klasikal. Sedangkan nilai rata-rata post test pada siklus I sebesar 7,15 meningkat menjadi 7,74 pada siklus II. Pencapaian ketuntasan belajar pada siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I yaitu sebesar 23.08%. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah pertama, bagi Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Turen, perlu adanya literatur mata diklat public relations yang lebih lengkap, fasilitas pembelajaran yakni laboratorium ADP agar lebih di perlengkap, serta perlu adanya pemberian diklat mengenai metode pengajaran terhadap guru di SMK Negeri 1 Turen yang dimaksudkan untuk memperkaya variasi pengajaran di Kelas. Kedua, bagi guru mata diklat public relations SMK Negeri 1 Turen, perlu adanya usaha untuk membiasakan siswa berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya ketika pembelajaran berlangsung pada mata diklat public relations. Ketiga, bagi peserta didik,perlu adanya keberanian bertanya dan motivasi yang tinggi untuk terus membiasakan diri berpikir kritis tidak hanya pada saat mata diklat public relations saja. Hal tersebut juga dihapkan dapat terus ditingkatkan melalui diskusi-diskusi mata diklat lainnya. Dan keempat, bagi peneliti selanjutnya, peneliti selanjutnya dapat menerapkan metode pembelajaran kontekstual yang menarik lainnya yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar mereka.

Pengaruh variasi konsentrasi ion fe2+ dan suhu reaktor terhadap uji aktivitas zeolit-fe sebagai katalis pada konversi metanol menjadi gasolin / Erna Krisna Setyawati

 

ABSTRAK Setyawati, Erna Krisna. Pengaruh Variasi Konsentrasi Ion Fe2+ dan Suhu Reaktor Terhadap Uji Aktivitas Zeolit-Fe sebagai Katalis pada Konversi Metanol menjadi Gasolin. Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si (II) Adilah Aliyatulmuna, S.T, MT. Kata kunci: Zeolit, Impregnasi, MTG Mamasuki abad ke dua puluh ini, para ahli minyak sedang disibukkan dengan penelitian untuk mencari bahan bakar alternatif menggantikan minyak bumi. Hal ini terjadi karena ketersediaan sumber bahan bakar alam yang semakin menipis dan bersifat non renewable. kekhawatiran tentang belum optimalnya pengganti minyak bumi, sedikit terungkap setelah beberapa peneliti dan ahli geologi melakukan penelitian merubah peran metanol menjadi bahan bakar dengan cara mengkonversinya menjadi gasolin (MTG = methanol to gasolin) dengan menggunakan katalis zeolit. Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan zeolit alam dengan sifat-sifat yang memungkinkan untuk dimodifikasi menjadi katalis. Bila dipandang dari sudut modifikasi zeolit alam, pengembanan logam tersebut diharapkan dapat memperbaiki sifat zeolit alam, yaitu dapat membuat ukuran pori lebih seragam dengan menutupi pori-pori kecil dan meningkatkan stabilitas termal pada katalis logam/zeolit terhadap perlakuan panas yang tinggi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, dan Laboratorium Teknik Kimia Poli Teknik Negeri Malang serta Perum Jasa Tirta Malang. Ukuran sampel zeoit yang digunakan adalah 8-10 mesh. Zeolit alam yang telah diaktivasi diimpregnasi menggunakan garam Fe dari larutan FeSO4.6H2O dengan variasi konsentrasi ion Fe2+ dalam zeolit 5%,10% dan 15%. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi, preparasi katalis dari bahan dasar zeolit alam meliputi, proses dealuminasi melalui proses perlakuan asam dan hidrotermal serta pengembanan logam Fe. Selama perlakuan asam tersebut, larutan asam yang digunakan adalah larutan HF 1% , HCl 6 M dan NH4NO3 0,1 M. Perlakuan asam dilakukan dengan cara merendam zeolit alam ke dalam larutan tersebut diatas. Selanjutnya proses hidrotermal dilakukan dengan mengalirkan uap air pada temperatur kalsinasi, sehingga zeolit alam yang diperoleh diharapkan akan stabil pada temperatur yang relatif tinggi jika digunakan sebagai katalis. Selanjutnya pada teknik pengumpulkan data pada katalis zeolit yang diperoleh dilakukan uji keasaman, uji persen ion Fe2+ teradsorpsi dan uji katalitik dan uji karakterisasi gasolin. Hasil penelitian ini menunjukan keasaman zeolit alam (Z-Al), Z-Ak, Z-Fe 5, Z-Fe 10 dan Z-Fe 15 berturut-turut adalah 1,176; 2,337; 2,335; 3,130 dan 5,850 mmol/gram. Persen ion Fe2+ teradsorp secara 16,87% pada Z-Fe 5, 83,07% pada Z-Fe 10 dan tertinggi Z-Fe5 15 sebesar 90,79%. Pada uji katalitik gasolin data hasil konversi yang dominan adalah C5-C6. Pada Z-Al diperoleh persen konversi 83,66% pada suhu 400oC, pada Z-Ak persentase konversi terbesar pada suhu 450oC dengan persen konversi 84,57, dan pada Z-Fe persentase terbesar juga pada suhu 400oC dengan persentase sebesar 87,38. Hal ini menunjukkan bahwa besar konsentrasi ion Fe2+ pada proses impregnasi mempengaruhi persen produk konversi metanol menjadi gasolin, semakin tinggi konsentrasi ion Fe dalam zeolit makin tinggi pula persen metanol terkonversi. Suhu reaktor optimum pada penelitian ini adalah pada suhu 400oC. i

Manajemen kurikulum dan pembelajaran pondok pesantren Mu'adalah dan ghoiru mu'adalah (studi multi kasus di madrasah aliyah pondok pesantren salafiyah pasuruan dan madrasah aliyah pondok pesatren darul karomah gunung jati pasuruan) / Ninik Nur Muji Astutik

 

ABSTRAK Astutik, Ninik Nur Muji. 2009. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Pondok Pesantren Mu’adalah dan Ghoiru Mu’adalah: (Studi Multi Kasus di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan dan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah Gunung Jati Pasuruan). Tesis, Jurusan Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M. Pd., (II) Prof. Dr. H. Salladien. Kata kunci: Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran, Pondok Pesantren, Mu’adalah, Ghoiru Mu’adalah. Pondok pesantren didirikan oleh masyarakat (ulama/kyai) dengan asas kemandirian dan keikhlasan. Pada era pra kemerdekaan pesantren telah berperan besar dalam melahirkan pejuang-pejuang yang tangguh dalam memperjuangkan kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, pondok pesantren terus berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hingga kini lembaga ini tetap konsisten sebagai pusat pengajaran dan pendalaman ilmu-ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) yang berfungsi menyiapkan tenaga-tenaga yang menguasai ilmu-ilmu keislaman, sebagai kader ulama, muballigh, dan guru agama yang dibutuhkan oleh masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, pendidikan pondok pesantren mengalami perubahan khususnya dalam penyelenggaraan pendidikan, sebagian pondok pesantren kini telah menggunakan sistem klasikal/madrasah yang kurikulumnya disusun dan dikembangkan dengan mengkolaborasikan materi agama dan materi umum. SK Ditjen bimbagais No; DJ/II/PP-01.1/AZ/9/02 telah mempersiapkan lulusan pondok pesantren untuk dapat menempuh studi di perguruan tinggi yang dikehendaki melalui program pemberian status kesetaraan. Manajemen kurikulum dan pembelajaran menjadi salah satu item penilaian dalam pemberian status kesetaraan/mu’adalah tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan manajemen kurikulum dan pembelajaran pondok pesantren. Ada 4 hal yang dideskripsikan sehubungan dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran pondok pesantren dalam memperoleh status kesetaraan/mu’adalah, yaitu (1) perencanaan kurikulum dan pembelajaran, (2) pengorganisasian kurikulum dan pembelajaran, (3) implementasi kurikulum dan pembelajaran, (4) evaluasi kurikulum dan pembelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Data penelitian yang banyak menggunakan kata-kata subyek, baik lisan maupun tulisan ini diperoleh dari dua macam sumber, yakni diri peneliti dan 8 orang informan dalam kasus Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah dan 3 orang informan dalam kasus Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah Gunung Jati Pasuruan. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam, observasi berperan pasif dan metode dokumentasi. Dalam analisis data Peneliti menggunakan 3 komponen kegiatan, yaitu reduksi data (data reduction), display data (data display), dan pengambilan kesimpulan dan verifikasi (conclusion drawing verification). Untuk memperoleh keabsahan temuan Peneliti melakukan 4 teknik keabsahan data, yaitu kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, perencanaan kurikulum dan pembelajaran merupakan kunci awal dalam pelaksanaan manajemen kurikulum dan pembelajaran. Perencanaan kurikulum dan pembelajaran madrasah aliyah pondok pesantren dengan memperhatikan visi, misi dan tujuan dari madrasah aliyah dan pondok pesantren. Dalam penyusunan kurikulum dan pembelajaran Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah membentuk tim penyusun yang terdiri dari pengasuh, sesepuh dan guru senior. Sedangkan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah Gunung Jati membentuk tim penyusun yang terdiri dari kepala madrasah, dewan guru dan pengasuh. Kurikulum lokal yang digunakan oleh kedua pondok pesantren tersebut mengantarkan mereka pada kreatifitas pengembangan, Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah telah lebih dulu mendapatkan status kesetaraan dari Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah karena sudah dapat mengkolaborasikan materi agama dan materi umum dalam penyusunan kurikulum. Kedua, pengorganisasian kurikulum dan pembelajaran madrasah aliyah pondok pesantren dimulai dari pengorganisasian elemen pelaksananya yaitu guru dan elemen lainnya agar dapat melaksanakan fungsi berdasarkan tugas masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan pengorganisasian materi-materi umum dan agama agar dapat dikemas secara rapi dalam suatu pembelajaran dan kemudian disajikan dalam jenjang-jenjang yang sudah disiapkan. Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah memiliki jenjang-jenjang Ula, Tsanawiyah, Wustho dan Aliyah. Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah yang sudah dilaksanakan memiliki kegiatan pendidikan non formal saja (diniyah) yang jenjangnya terdiri dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Musyawirin. Ketiga, pelaksanaan Kurikulum dan pembelajaran diselenggarakan dalam bentuk klasikal/madrasah. Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan telah membuat serangkaian perangkat pembelajaran dengan beberapa metode pembelajaran, media dan strategi pembelajaran sebagai pendukung keefektivan dan efisiensi pelaksanaannya. Sedangkan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah hanya mengembangkan materi agama secara spesifik yang hanya menggunakan target hafal dan khatam dengan menggunakan 2 metode yaitu metode sorogan dan bandongan. Keempat, penilaian yang dilakukan oleh Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Salafiyah diambil dari segi input, proses dan output. Keberhasilan output dibuktikan dengan pemberian ijazah mu’adalah yang dapat digunakan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sementara Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah hanya melakukan penilaian dari proses dan output saja. Khusus bagi santri yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi akan diikutkan ujian kejar paket C, sehingga ijazah yang akan diperoleh oleh lulusan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darul Karomah Gunung Jati Pasuruan ada 2 macam, yaitu ijazah lokal dan ijazah formal.

"Pengaruh persepsi tentang kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru terhadap produktivitas sekolah SMA Negeri 2 Bangkalan / Andriani Ayu Yustiana

 

ABSTRAK Yustiana, Andriani Ayu. 2009. Pengaruh Persepsi tentang Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinrja guru terhadap Produktivitas Sekolah SMA Negeri 2 Bangkalan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Hj. Yuli Widi Astuti S.E, M.Si, Ak. Pembimbing II: Dr. Bambang Sugeng M.A, M.M, Ak. Kata Kunci: Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kinerja Guru, Produktivitas Sekolah. SMA Negeri 2 Bangkalan merupakan salah satu sekolah favorit dan telah meraih banyak prestasi dibidang akademik maupun non akademik. Prestasi akademik diraih dalam olimpiade Fisika, Kimia, Biologi, Komputer, Astronomi, Ekonomi,dan Kebumian. Produktivitas sekolah merupakan keseluruhan proses penataan dan penggunaan sumber daya manusia untuk merealisasikan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Produktivitas sekolah meliputi 3 dimensi yaitu segi administratif, segi keluaran (prestasi peserta didik), dan segi ekonomis (sistem pembiayaan di sekolah). Untuk meningkatkan produktivitas sekolah maka tidak lepas dari pengaruh indikator kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan antara variabel kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru terhadap produktivitas sekolah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMA Negeri 2 Bangkalan. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 orang guru yang dipilih secara acak (random sampling). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa angket kualitas kepemimpinan kepala sekolah, kinerja guru, dan produktivitas sekolah. Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi linier berganda. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Kualitas kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh positif signifikan terhadap produktivitas sekolah SMA Negeri 2 Bangkalan. Kinerja guru berpengaruh positif signifikan terhadap produktivitas sekolah SMA Negeri 2 Bangkalan. Kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru secara simultan berpengaruh positif signifikan terhadap produktivitas sekolah SMA Negeri 2 Bangkalan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang baik akan menyebabkan peningkatan produktivitas sekolah, karena kualitas kepemimpinan kepala sekolah menentukan keberhasilan sekolah. Semakin baik kualitas kepemimpinan kepala sekolah maka semakin tinggi pula tingkat produktivitas sekolah. Begitu pula dengan variabel kinerja guru, semakin baik tingkat kinerja guru akan menyebabkan peningkatan produktivitas sekolah. Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Bagi sekolah perlu dilaksanakan upaya-upaya peningkatan produktivitas sekolah dengan memperhatikan berbagai faktor pendorong atau motivasi seperti disiplin kerja dan budaya organisasi sekolah, sehingga dapat menghasilkan produktivitas secara optimal, (2) bagi kepala sekolah perlu mengadopsi gaya kepemimpinan transformasional, agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal, (3) penelitian selanjutnya diharapkan menambah variabel lain yang lebih potensial memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel produktivitas sekolah yaitu diplin kerja, budaya organisasi sekolah, sikap, situasi dan keadaan lingkungan, motivasi, dan lain-lain.

Penerapan strategi harga pada divisi fresh departemen meat dan chiken di giant hypermarket gajayana Malang / Kukuh Ardianto

 

Giant Hypermarket adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan eceran (retail). Giant Hypermarket memiliki beberapa divisi, salah satunya adalah divisi Fresh atau bagian yang menangani produk segar, di mana dalam divisi ini segala macam kegiatan penjualan dituntut untuk menjaga tingkat kelayakan konsumsi pada konsumen (kadaluarsa pada makanan). Penerapan kebijakan strategi harga yang tepat merupakan salah satu kunci kesuksesan seorang pemasar dalam menentukan pangsa pasar, profitabilitas dan citra perusahaan. Sedangkan bagi konsumen harga merupakan salah satu faktor penentu utama dari pilihan konsumen ketika akan mengambil keputusan untuk membeli. Praktikum ini bertujuan untuk (1) Menggambarkan dan menjelaskan penerapan strategi harga yang dilakukan oleh Divisi Fresh Departemen Meat & Chicken di Giant Hypermarket Gajayana Malang, (2) Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penerapan strategi harga pada Divisi Fresh Departemen Meat & Chicken di Giant Hypermarket Gajayana Malang. Dari hasil pengamatan selama melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL), dapat diketahui strategi harga yang diterapkan oleh Divisi Fresh Departemen Meat & Chicken di Giant Hypermarket Gajayana Malang, yaitu (1) Harga Produk (Price of Product), (2) Harga Label (Price Card), (3) Harga Gasal (Odd Price), dan (4) Harga Pemikat. Adapun faktor pertimbangan strategi harga meliputi, (1) Keadaan ekonomi, (2) Jumlah permintaan, (3) Tingkat biaya, (4) Tingkat daya beli, (5) Pesaing, (6) Jumlah penduduk, (7) Segmen pasar yang dituju, dan (8) Tujuan Manajer. Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan, maka saran yang dapat disampaikan adalah efektifitas dan efisiensi dalam penerapan sistem Comcheck (Competitor check list) serta SDM berkualitas yang peka terhadap perubahan harga produk pesaing

membangun jaringan internet untuk pengintegrasi fitur forum ke dalam E-LEARNING berbasis moodle di SMP 2 YPK Malang / Kana Setya Aikhoka, Paul R. Sayangbati

 

Perkembangan teknologi yang ada saat ini terutama komputer dan jaringan mengalami peningkatan yang sangat cepat dari waktu ke waktu. Sejalan dengan berkembangnya kemajuan teknologi terutama di bidang internet. Telah menciptakan banyak perubahan. Salah satu diantaranya adalah gaya belajar dan metode pengajaran secara online. Penggunaan media pembelajaran ataupun sistem pembelajaran yang berbasiskan teknologi informasi ini juga didukung oleh semakin banyaknya tersedia fasilitas-fasilitas dan media-media pembelajaran yang dirasa sangat menarik oleh Siswa dan Guru sebagai pengguna untuk lebih banyak atau sering menggunakannya, contohnya Moodle. Moodle adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment. Moodle berupa paket software (perangkat lunak) yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan website. Moodle tersedia dan dapat digunakan secara bebas sebagai produk open source di bawah lisensi GNU. Rumusan masalah dalam perancangan ini adalah bagaimana membangun koneksi jaringan internet untuk proses e-learning menggunakan Aplikasi Moodle? dan bagaimana melakukan integrasi fitur forum berdasarkan kelas? Sedangkan tujuan perancangan adalah memperoleh koneksi jaringan internet untuk proses e-learning menggunakan Aplikasi Moodle dan melakukan integrasi fitur forum berdasarkan kelas. Spesifikasi sistem dalam metode perancangan ini adalah membangun web server untuk mendukung e-learning. Menggunakan piranti perangkat lunak XAMPP dan membuat database untuk perangkat lunak Moodle (Moodle data). Sedangkan uji coba sistem yang digunakan adalah trial and error. Hasil perancangan ini diimplementasikan secara online melalui alamat situs www.smp2ypk.co.cc. Hosting dan domain yang digunakan masih yang bersifat gratis yaitu melalui http://www.100webspace.com. Setelah proses instalasi selesai maka dilakukan pengaturan-pengaturan pada manajemen admin dan pengguna situs. Situs dapat diakses dengan tampilan setelah dilakukan penggantian theme. Pada pengujian menu home, halaman utama dari situs tersebut dapat tampil setelah melakukan login, baik sebagai admin, sebagai pengajar, maupun sebagai siswa dengan masing-masing hak akses/privilege. Menu mata pelajaran adalah peng-uplodan materi oleh admin ataupun pengajar yang sudah mendapatkan hak akses. Materi-materi yang di-upload tersebut dapat berupa file Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft Power Point, Macromedia Flash, dan Portable Data Format/PDF. Integrasi fitur forum dilakukan dengan membuat perkelas siswa. Terdapat jadwal forum diskusi pada tiap kelas dengan materi dan topik yang sudah ditentukan. Berdasarkan hasil perancangan maka dapat disarankan yaitu: (1) Pengembangan lebih lanjut dapat menggunakan domain khusus untuk sekolah, yaitu sch.id; (2) Pengajar yang ada di SMP 2 YPK Malang diberi pelatihan untuk mengelola situs ini sehingga dapat lebih optimal dalam penggunaannya, tidak hanya menyerahkan materi kepada Admin untukmeng-upload tetapi dapat melakukannya sendiri; (3) Dapat diadakan penambahan komponen lainnya, seperti Quiz dan Chatting untuk lebih mengoptimalkan penggunaan sistem e-learning ini.

Pengaruh pH terhadap adsorpsi ion Cd2+ dari larutan Cd(NO3)2 oleh arang sekam padi dengan metode kolom / Widya Dwi Kartika Putri

 

ABSTRAK Putri, Widya D.K. 2009. Pengaruh pH terhadap Adsorpsi Ion Cd2+ dari Larutan Cd(NO3)2 oleh Arang Sekam Padi dengan Metode Kolom. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Neena Zakia, S.Si., M.Si. Kata kunci: adsorpsi, pH, ion Cd2+, arang sekam padi. Adsorpsi adalah mekanisme pengumpulan molekul-molekul atau ion-ion suatu zat (adsorbat) pada permukaan zat lain (adsorben) sebagai akibat dari ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaan tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Rivone (2004) menggunakan arang sekam padi sebagai adsorben dari ion Cd2+ dalam larutan Cd(NO3)2 secara batch menunjukkan bahwa semakin besar pH (1; 2,5; 5,1; dan 7) menyebabkan ion Cd2+ yang teradsorpsi semakin besar pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi pH terhadap adsorpsi ion Cd2+ dengan metode kolom. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dengan melakukan analisis kimia terhadap objek penelitian sampel larutan Cd(NO3)2. Adsorben yang digunakan adalah arang sekam padi. Arang sekam padi diperoleh dengan cara karbonasi sekam padi pada temperatur 350oC selama 1,5 jam. Arang sekam padi tersebut berukuran 30–40 mesh. Karakterisasi terhadap adsorben meliputi kadar air, kadar abu, berat jenis, dan daya serapnya terhadap larutan iod. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kolom. Pengaruh pH dilakukan dengan membuat variasi pH pada larutan Cd(NO3)2, yaitu pH 1; 3,5; dan 6. Larutan Cd(NO3)2 yang telah diketahui pH-nya diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 228,8 nm pada saat sebelum dan sesudah proses adsorpsi. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa pada pH yang semakin tinggi, yaitu pH 1; 3,5; dan 6 maka daya adsorpsi arang sekam padi terhadap ion Cd2+ semakin besar pula. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan arang sekam padi dapat menyerap ion Cd2+ dengan optimum pada pH 6. Pada tiap-tiap fraksi pada tiap-tiap pH daya adsorpsi terhadap ion Cd2+ semakin kecil, yaitu pada pH 1 fraksi pertama sebesar 99,26%, fraksi kedua sebesar 16,78%, dan fraksi ketiga sebesar 0; pada pH 3,5 fraksi pertama sebesar 99,49%, fraksi kedua sebesar 94,35%, dan fraksi ketiga sebesar 31,77%; serta pada pH 6 fraksi pertama sebesar 99,75%, fraksi kedua sebesar 99,94%, dan fraksi ketiga sebesar 99,85%.

Membangun server gateway menggunakan router mikrotik di SMK Islam 1 Durenan / Ali Makruf, Tika Rahmawati

 

Abstrak Makruf, Ali dan Ratnawati Tika 2009. Membangun Server Gateway Menggunakan Router Mikrotik. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs.Wahyu Sakti.GI, M. Kom dan Drs. Slamet Wibawanto, M.T Kata kunci: Server, Gateway, Router SMK Islam 1 Durenan selain sebagai lembaga pendidikan juga menjadi pusat pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Trenggalek dengan sebutan ICT Center. SMK Islam 1 Durenan juga sebagai sister dari center Universitas Negeri Malang untuk tempat perkuliahan Mahasiswa PJJ D3 TKJ yang sekarang masih berjalan. Tujuan yang hendak di capai dalam penulisan tugas akhir ini adalah melakukan pengembangan jaringan LAN yang ada di SMK Islam 1 Durenan, melakukan pengembangan server gateway menggunakan Router Mikrotik, melakukan manajemen bandwidth yang di miliki SMK Islam 1 Durenan agar bisa terbagi dengan baik, dan memanfaatkan server gateway untuk kegiatan belajar siswa di SMK Islam 1 Durenan. Pada saat ini di SMK Islam 1 Durenan Trenggalek sudah memiliki topologi jaringan lokal yang terkoneksi dengan internet Telkom Speedy, kemudian di hubungkan dengan komputer sebanyak 67 unit yang terbagi menjadi tiga Ruang Laboratorium dan satu Ruang Tata Usaha dengan Topologi Star. Setelah pengadaan PC Router Mikrotik ini walaupun dengan bandwidth 386 Kbps sudah bisa terbagi dengan baik sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap ruang. Dengan pembagian bandwidth untuk Lab. Internet karena jumlah komputer lebih banyak dari Lab. Lain dan juga kebutuhan pengguna yang memang lebih besar maka bandwidth untuk Lab. Internet yaitu 200 Kbps. Untuk Lab. TKJ karena jumlah komputer sedikit dan hanya untuk praktek koneksi saja tanpa aktifitas lain maka bandwidth untuk Lab. TKJ yaitu 32 Kbps. Untuk Lab. KKPI karena jarang di pakai akses internet maka bandwidth untuk Lab. KKPI hanya 32 Kb. Untuk komputer Kantor Tata Usaha yang terdiri dari 4 komputer, tiap-tiap komputer diberi bandwidth 30 Kbps, sedangkan untuk HotSpot SMK Islam tidak dilimit. Berdasarkan proses perancangan, dan pembahasan maka dapat diperoleh kesimpulan yaitu jaringan LAN yang ada di SMK Islam 1 Durenan terkoneksi jaringan internet sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap ruangan sehingga semua kegiatan yang ada di SMK Islam 1 Durenan yang berkaitan dengan internet meningkat lebih baik.

Perbedaan prestasi belajar akuntansi antara model pembelajaran siklus (learning cycle) dengan stad (student teams achievement divisions) di smk tekstil padaan / Rasyid Ridha

 

ABSTRAK Ridha, Rasyid. 2009. Perbedaan prestasi belajar akuntansi antara model pembelajaran siklus (Learning Cycle) dengan STAD (Student Teams Achievement Divisions) di SMK TEKSTIL PANDAAN. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Sri Pujiningsih, S.E., M.Si. Pembimbing (2) Dra. Endang Sri Andayani, S.E., M. Si. Ak. Kata Kunci: Prestasi Belajar Akuntansi, Model Siklus (Learning Cycle), Model STAD (Student Teams Achievement Divisions). Secara umum kegiatan pembelajaran yang selama ini diterapkan di sekolah masih didominasi oleh pandangan yang menganggap bahwa pengetahuan merupakan seperangkat fakta-fakta yang harus dihafal sehingga sebagian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan atau dimanfaatkan. Dalam mengajar guru hendaknya lebih tepat dalam memilih metode-metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan siswa adalah metode pembelajaran konstruktivisme model Siklus (Learning Cycle), dan metode kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Divisions). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan perbedaan prestasi belajar akuntansi antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Siklus (Learning Cycle) dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions ). Penelitian ini merupakan Penelitian Eksperimen Semu (Quasi Eksperimental Design). Rancangan penelitian ini menggunakan pre test dan post test. Penelitian ini menggunakan tes awal untuk mengetahui bahwa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebelum diberi perlakuan mempunyai kemampuan awal sama atau tidak jauh berbeda. Kemudian diberikan perlakuan yaitu model Siklus untuk kelas eksperimen dan model STAD untuk kelas kontrol. Selanjutnya dilakukan tes prestasi untuk mengetahui prestasi belajar setelah perlakuan. Dari hasil analisis data terbukti bahwa ada perbedaan prestasi belajar akuntansi yang signifikan antara siswa yang diajar menggunakan model Siklus (Learning Cycle) dengan siswa yang diajar menggunakan model STAD (Student Teams Achievement Divisions). Siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Siklus (Learning Cycle) menunjukkan prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions). Hal tersebut dibuktikan dari rata-rata peningkatan prestasi belajar untuk kelas Siklus sebesar 82,17 sedangkan untuk kelas STAD lebih rendah yaitu sebesar 76,63. Saran yang diajukan adalah (1) Bagi guru akuntansi hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran Siklus untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. (2) Bagi siswa, pembelajaran siklus menghendaki siswa untuk belajar sendiri dan bisa menggali potensi dirinya agar bisa lebih aktif dan mandiri. (3) Bagi peneliti, disarankan dapat melakukan penelitian semacam ini dengan menambah aspek afektif dan psikomotorik untuk mengukur prestasi belajar siswa setelah perlakuan.

Studi kemampuan adsorpsi ion Cr(VI) oleh serbuk arang tempurung kelapa dan serbuk biji buah kelor / Retnaningtyas dewi Lestyana

 

ABSTRAK Lestyana, Retnaningtyas Dewi. 2010. Studi Kemampuan Adsorpsi Ion Cr(VI) oleh Serbuk Arang Tempurung Kelapa dan Serbuk Biji Buah Kelor. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Hayuni Retno Widarti, M.Si. (II) Neena Zakia, S.Si., M.Si. Kata kunci: adsorpsi, arang tempurung kelapa, biji buah kelor, ion Cr(VI) Adsorpsi merupakan proses penarikan komponen dari campuran gas atau cairan dimana komponen yang akan dipisahkan ditarik oleh permukaan adsorben. Proses adsorpsi dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain massa adsorben, waktu kontak adsorben, dan konsentrasi adsorben. Adanya sumber pencemar yang berasal dari proses industri berupa logam berat seperti Cr(VI) dapat menimbulkan masalah terhadap lingkungan dan makhluk hidup lainnya sehingga diperlukan suatu cara untuk mengurangi kadar Cr(VI) di lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum analisis (berat adsorben, waktu kontak dan konsentrasi adsorben) dan berapa besar kemampuan daya adsorpsi pada serbuk arang tempurung kelapa dan serbuk biji kelor dalam menurunkan kadar ion logam Cr(VI) dengan metode batch (perendaman). Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dan dilakukan di laboratorium Kimia Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang dengan analisis AAS di laboratorium Kimia Analitik FMIPA Universitas Gajah Mada. Variabel bebas dalam penelitian adalah arang tempurung kelapa dan biji buah kelor, sedangkan variabel terikatnya adalah massa optimum, waktu kontak optimum, dan konsentrasi optimum. Arang tempurung kelapa yang digunakan diperoleh dengan cara karbonasi pada 350°C selama 1,5 jam. Ukuran arang tempurung kelapa dan biji buah kelor adalah 20-40 mesh, dengan variasi massa 0,5; 1; dan 2 gram, waktu kontak 0,5; 1; dan 2 jam dan konsentrasi sebesar 5, 10, 25, dan 50 ppm. Teknik yang digunakan adalah batch, yaitu larutan adsorbat yang telah dicampur dengan adsorben (serbuk arang tempurung kelapa atau serbuk biji buah kelor) dikocok menggunakan shaker berkecepatan 100 rpm dengan masing-masing variasi massa adsorben, waktu kontak, dan konsentrasi yang telah ditentukan. Konsentrasi ion Cr(VI) sebelum dan sesudah proses adsorpsi diukur menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan pada kondisi optimum analisis serbuk arang tempurung kelapa diperoleh massa optimum sebesar 1,009 gram, waktu kontak pada 1,0 jam, konsentrasi optimum pada 10 ppm dan persen teradsorpsi sebesar 52,94 %, sedangkan pada kondisi optimum analisis serbuk biji buah kelor diperoleh data massa optimum pada 2,032 gram, waktu kontak pada 1,0 jam dan konsentrasi optimum pada 5 ppm dengan kemampuan adsorpsi sebesar 94,58 %.

Lexically-based language teaching to improve young learners' ability in producing classroom lexico-grammatical units at 3 to 6 cec kawi malang /Anisa Risatyah

 

Abstract Risatyah, Anisa. Pengajaran Bahasa Inggris Berbasis Leksikon untuk Meningkatkan Kemampuan Pebelajar Usia Muda dalam Memproduksi Classroom Lexico-grammatical Units di 3 to 6 CEC Kawi Malang. Skripsi. Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Siusana Kweldju, M.Pd. Kata kunci: Pengajaran Bahasa Inggris Berbasis Leksikon, pebelajar usia muda, classroom lexico-grammatical units, penelitian tindakan kelas. Seiring dengan keharusan menguasai Bahasa Inggris dalam berbagai bidang, pengajaran Bahasa Inggris untuk pebelajar usia muda semakin mendapatkan perhatian dewasa ini, terbukti dengan banyaknya lembaga pra-sekolah yang memperkenalkan Bahasa Inggris kepada murid-muridnya. Meskipun Bahasa Inggris telah mulai dikenalkan pada murid-murid sejak usia dini, pengajar harus memperhatikan bahwa pengenalan ini harus dilakukan dengan benar. Ketrampilan bahasa yang bisa dikembangkan pada anak-anak usia prasekolah adalah ketrampilan berbicara. Para pebelajar usia muda ini telah mengenal Bahasa Inggris, akan tetapi mereka mengalami kesulitan untuk menggunakannya dengan baik dan benar. Sebuah studi pendahuluan yang dilakukan di sebuah kelas anak-anak usia tiga sampai enam tahun di 3 to 6 Children Education Center, menunjukkan permasalahan yang hampir sama yang dihadapi para pebelajar usia muda ini. Mereka kerap membuat kesalahan dalam memproduksi kalimat lengkap, terutama dalam memproduksi bahasa yang diucapkan di kelas (classroom language). Untuk meningkatkan kemampuan pebelajar usia muda ini, pengajaran Bahasa Inggris berbasis Leksikon digunakan dalam penelitian ini. Masalah yang ada kemudian dirumuskan sebagai berikut: “Apakah pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon mampu meningkatkan kemampuan pebelajar usia muda untuk memproduksi classroom lexico-grammatical units di 3 to 6 CEC Kawi Malang?” Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas dalam satu siklus. Siklus ini terdiri dari perencanaan, implementasi, observasi, analisa dan refleksi. Peneliti, berkolaborasi dengan Koordinator 3 to 6, melakukan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di 3 to 6 CEC Kawi, berlokasi di Jl. Kawi no 44, Malang. Dengan mengacu pada teori pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon, classroom lexico-grammatical units diperkenalkan melalui cerita. Classroom lexico-grammatical units ini kemudian digunakan selama aktifitas dan interaksi di kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak semakin terbiasa dengan ‘chunk’ atau ‘gumpalan’ bahasa. Mereka juga menunjukkan peningkatan dalam ketrampilan berbicara dan memproduksi classroom lexixo-grammatical units secara lancar dan akurat. Para pebelajar usia muda ini juga menunjukkan peningkatan dalam pengucapan (pronunciation). Dapat disimpulkan bahwa pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon dapat diberikan di 3 to 6 CEC Kawi Malang. Karena keberhasilan implementasi tindakan dapat dicapai pada siklus pertama, tahapan perencanaan dan implementasi adalah sebagai jawaban dari rumusan masalah ini. Tahap perencanaan terdiri dari pemilihan classroom lexico-grammatical units, perencanaan instrumen penelitian, mendesain rencana pembelajaran dan menetapkan kriteria keberhasilan tindakan. Tahap selanjutnya adalah implementasi. Peneliti mengajar di kelas sebagaimana yang terencana dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. Sebelum menilai hasil ketrampilan berbicara siswa, peneliti memperkenalkan classroom lexico-grammatical units melalui kegiatan bercerita. Tindakan selanjutnya adalah memperkuat penggunaan classroom lexico-grammatical units melalui aktifitas dan interaksi kelas. Para pengajar dan praktisi pendidikan diharapkan mampu menerapkan prosedur yang ada dalam penelitian ini. Prosedur yang kurang lebih sama dapat diberikan pada pebelajar pada tingkat yang lebih tinggi, menyesuaikan dengan kemampuan dan kondisi belajar mereka. Peneliti selanjutnya diharapkan mampu melaksanakan penelitian menggunakan pengajaran Bahasa Inggris berbasis leksikon pada pebelajar pada tingkat yang lebih tinggi untuk meningkatkan ketrampilan berbicara mereka.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model student team achievement division (STAD) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI dalam mata diklat teknologi perkantoran pada program keahlian administrasi perkantoran di SMK Ardjuna 01 Malang tahun 2008/2009 / M

 

ABSTRAK Lestari, Mega Ratih Indra Mulyaning. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Student Team Achievement Division (STAD) untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI dalam Mata Diklat Teknologi Perkantoran pada Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Ardjuna 01 Malang Tahun 2008/2009. Sripsi, Jurusan Pendidikan S-1 Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Gatot Isnani, M.Si (II) Drs. Djoko Dwi Kusumajanto, M.Si. Kata kunci: model pembelajaran STAD dan prestasi Pendidikan merupakan hal yang fundamentalis dalam mencetak generasi muda. Kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa. Dunia pendidikan Indonesia telah mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut sesuai dengan perkembangan kurikulum yang ada. Kurikulum yang berkembang saat ini adalah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Metode pembelajaran kooperatif dirasa efektif dilakukan karena pada dasarnya di sekolah terdapat latar belakang dan kemampuan belajar siswa yang berbeda-beda. Melalui pembelajaran kooperatif diharapkan siswa dapat bekerja sama saling membantu antara siswa satu dengan siswa lainnya dalam hal yang positif, yaitu dalam mempelajari suatu materi dan memecahkan permasalahan secara bersama-sama. Berdasarkan wawancara pada tanggal 20 Maret 2009 dengan Kepala Sekolah dan Guru khususnya pada Program Keahlian Administrasi Perkantoran dalam mata diklat Teknologi Perkantoran di SMK Ardjuna 01 Malang. Metode yang digunakan oleh guru masih menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan sehingga guru menyampaikan materi masih secara teoritis. Dalam penelitian ini peneliti berusaha agar prestasi belajar siswa kelas XI pada Program Keahlian Administrasi Perkantoran dapat meningkat sesuai yang diharapkan. Namun harapan dengan kenyataan tidak sama, banyak faktor penghambat di antaranya yaitu keadaan fasilitas sekolah yang kurang memadai dapat mengakibatkan kurang efektif dalam proses belajar. Sehingga untuk mempermudah dalam penyampaian materi sekaligus materi tersebut dapat diterima oleh siswa maka diperlukan cara yang efektif dalam mengajar dengan menggunakan variasi metode pembelajaran yang digunakan. Metode pembelajaran yang digunakan peneliti dalam menyampaikan materi yaitu metode pembelajaran kooperatif model STAD. Model pembelajaran STAD dipilih peneliti untuk diterapkan pada mata diklat Teknologi Perkantoran kerena mata diklat ini mampu menghadirkan pertanyaan yang mempermudah siswa berlatih berfikir kritis untuk memunculkan ide kreatif mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan model pembelajaran STAD, prestasi siswa sebelum penerapan model pembelajaran STAD, prestasi siswa setelah model pembelajaran STAD dan pendapat siswa mengenai penerapan model pembelajaran STAD pada siswa kelas XI di SMK Ardjuna 01 Malang. Dengan penerapan model pembelajaran STAD pada mata diklat Teknologi Perkantoran diharapkan dapat membantu meningkatkan prestasi siswa. Jenis penelitiannya yaitu Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus, tiap siklus dilaksanakan 2 kali pertemuan. Tahap Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari empat langkah yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. Objek penelitian ini adalah siswa kelas XI Administrasi Perkantoran SMK Ardjuna 01 Malang yang berjumlah 37 siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan data dianalisis secara deskriptif. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data dilakukan melaui observasi saat pembelajaran berlangsung, memberikan angket pada siswa, wawancara, dokumentasi, catatan lapangan, pre test dan post test. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan prestasi belajar. Peningkatan prestasi belajar siswa dapat dilihat pada aspek kognitif nilai pre test pada siklus I sebesar 43,89 mengalami peningkatan sebesar 45,97 menjadi 89,86 pada siklus II dan nilai post test pada siklus I sebesar 52,56 mengalami peningkatan sebesar 41,41 menjadi 93,97 pada siklus II. Aspek afektif pada siklus I sebesar 61,15 mengalami peningkatan sebesar 12,06 menjadi 73,21 pada siklus II. Aspek psikomotorik pada siklus I sebesar 63,82 mengalami peningkatan sebesar 7,01 menjadi 70,83 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut: (1) Guru mata diklat Teknologi Perkantoran disarankan untuk menggunakan model pembelajaran STAD dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan prestasi siswa. (2) Penerapan dan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran STAD hendaknya lebih variatif sehingga siswa lebih termotivasi dalam belajar. (3) Metode yang digunakan dalam pembelajaran hendaknya lebih aktual dan beragam. (4) Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dikembangkan untuk materi lain pada mata diklat Teknologi Perkantoran atau pada mata diklat yang berbeda dan dapat dikembangkan di sekolah lain.

Pengaruh inflasi, suku bangsa obligasi, nilai tukar rupiah dan pertumbuha terhadap harga saham pada perusahaan indek LQ 45 periode 2006-2008 / Rety Kurnia Sari

 

ABSTRAK Sari, Rety Kurnia. 2006. ”Pengaruh Inflasi, Suku Bunga Obligasi, Nilai Tukar Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Indek LQ 45 Periode 2006-2008”. Skripsi, Jurusan Manajemen FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) DR. Heri Pratikto, M. Si. (II) Yuli Soesetio, S.E.,M.M. Kata kunci: Inflasi, Suku Bunga Obligasi, Nilai Tukar Rupiah, Pertumbuhan Ekonomi dan Harga Saham Sebagai suatu intrumen ekonomi, pasar modal tidak lepas dari berbagai pengaruh lingkungan, terutama lingkungan ekonomi dan lingkungan politik. Pengaruh lingkungan ekonomi mikro seperti kinerja perusahaan, perubahan strategi perusahaan (misalnya kebijakan merger maupun divestasi), pengumuman laporan keuangan atau dividen perusahaan, selalu mendapat tanggapan dari pelaku pasar modal. Selain itu perubahan lingkungan ekonomi makro yang terjadi seperti perubahan tingkat inflasi, suku bunga tabungan dan deposito, nilai tukar Rupiah, pertumbuhan ekonomi dan berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan perusahaan turut berpengaruh pada fluktuasi harga saham di pasar modal. Maka dari itu, investor hendaknya mencermati setiap perubahan indikator perekonomian makro, karena baik buruknya keadaan ekonomi mikro tergantung dari keadaan ekonomi makro negara tersebut. Keadaan ini dalam perusahaan dapat mempengaruhi naik turunnya harga saham, karena harga saham terbentuk dari dividen yang diberikan oleh perusahaan dan besar kecilnya dividen tergantung pada besar kecil laba perusahaan yang merupakan identifikasi dari keberhasilan ekonomi mikro perusahaan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif yang bertujuan untuk melihat pengaruh variabel bebas yaitu tingkat inflasi, tingkat suku bunga obligasi, nilai tukar Rupiah dan pertumbuhan ekonomi terhadap variabel terikat yaitu harga saham perusahaan Indek LQ 45. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang kemudian dianalisis melalui uji asumsi klasik, uji regresi regresi berganda dan uji parsial serta uji simulatan dengan menggunakan analisis SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel bebas yaitu tingkat inflasi, tingkat suku bunga obligasi, nilai tukar Rupiah dan pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat yaitu harga saham perusahaan Indek LQ 45, baik secara parsial maupun secara bersama-sama. Dimana inflasi mempunyai hubungan negatif terhadap harga saham, suku bunga obligasi mempunuyai hubungan negatif tehadap harga saham, nilai tukar rupiah mempunyai hubungan positif terhadap harga saham dan pertumbuhan ekonomi mempunyai hubungan positif terhadap harga saham.

Penerapan pembelajaran kooperatif model tgt (team game tournament) untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas V SDN Kauman 3 kecamatan kepanjen kidul kota Blitar / Wiji Wijayanti

 

Abstrak : Wijayanti, Wiji. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Team Game Tournament) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SDN Kauman 3 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program Studi Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Zainudin, M. Pd, (II) Dra. Wasih. D.S, M.Pd. Hasil observasi yang dilakukan di kelas V SDN Kauman 3 Kota Blitar menunjukkan bahwa guru dalam mengajar tidak menggunakan metode yang bervariasi, yang digunakan selalu metode ceramah dan pemberian tugas. Sehingga siswa menganggap bahwa matematika tidak lebih dari sekedar berhitung dan bermain dengan rumus-rumus dan angka-angka.Siswa menganggap matematika sulit dipelajari Salah satu metode pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif belajar adalah metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa aktif menemukan sendiri pengetahuannya melalui ketrampilan proses. Model pembelajaran kooperatif yang cocok yaitu model TGT (Teams Games Tournaments). TGT adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dengan dibentuk kelompok-kelompok kecil dalam kelas yang terdiri tiga sampai lima siswa yang heterogen baik dalam prestasi akademik, jenis kelamin, ras, maupun etnis. TGT ini memuat komponen komponen yaitu penyajian materi, tim, game, turnamen dan penghargaan kelompok. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap. Subjek penelitian adaah siswa kelas V. Model penelitian adalah kolaboratif yang memerlukan kerjasama antara peneliti dan guru yang memungkinkan lahirnya kesamaan pemahaman dan kesepakatan tindakan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar baik secara individu maupun klasikal. Peningkatan tersebut adalah dari 65,6% menjadi 90% berarti terjadi peningkatan sebesar 24,4%. Hasil yang diperoleh pada pelaksanaan diskusi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif pada siklus I menunjukkan bahwa dari 32 siswa terdapat 26 siswa yang dinyatakan tuntas dan 6 siswa dari 32 siswa dinyatakan tidak tuntas dalam berdiskusi dengan skor dibawah kriteria yaitu 7. Secara klasikal hasil aktivitas siswa mencapai persentase 68% dan termasuk dalam kriteria tidak tuntas. Sedangkan hasil yang diperoleh dari pelaksanaan siklus II secara klasikal mencapai 90% dan dikatakan tuntas Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pengelolaan waktu saat pelaksanaan turnamen dan pemilahan soal sesuai tingkat akademik siswa.

An analysis of reading questions in english e-book entitled "developing english competencies" for grade XI / Radina Anggun Nurisma

 

ABSTRACT Nurisma, Radina Anggun. 2010. An Analysis of Reading Questions in English e- Book entitled “Developing English Competencies” for Grade XI. Thesis, English Language Education Program, Faculty of Letter, State University of Malang. Advisor: S. Nurul Muthmainnah, Dra. M.A. Key words: reading questions analysis, Bloom’s taxonomy Reading comprehension is the primary emphasis in the teaching of English at senior high school Grade XI. The objectives of teaching english is to provide senior high school students with reading ability that will enable them to comprehend the information of English written texts mostly by responding to the reading questions. Hence, the quality of reading questions are important. Therefore, the writer wants to analyze whether the reading questions in the textbook have been constructed well. This study is intended to know the types of reading questions and the frequency of each type of reading questions in English e-book based on reading comprehension level in Bloom’s Taxonomy. Thus, this study was conducted to analyze the reading questions in the textbook Developing English Competencies for senior high school Grade XI. This study was conducted by describing the data with the design of descriptive qualitative. The criteria of Bloom’s taxonomy was chosen for analyzing the data. The analysis were done after data collection. Each reading question in each textbook is analyzed based on the taxonomy in order to find out its type and the frequency of each type of reading questions. The results of the data analysis revealed that the reading questions in the textbook of Developing English Competencies covered five levels of reading comprehension based on Bloom’s taxonomy, namely knowledge, comprehension, application, analysis and evaluation. The knowledge questions dominated in the reading questions of Developing English Competencies followed by application, analysis, and evaluation which are presented in a few questions. It is recommended that the English teachers of senior high school use more higher levels of questions in order to improve students’ comprehension. The textbook writers may take these findings into consideration for further revision of reading questions to develop higher levels of questions on the basis of the level of the students. It is also recommended to conduct further researches with different focuses and designs.

Perkembangan keterampilan komunikasi dan relasi interpersonal pada anak autis di sekolah inklusi SDN Sumbersari 1 Malang / Putri Rizkiyana

 

ABSTRAK Rizkiyana, Putri. 2010. Perkembangan Keterampilan Komunikasi dan Relasi Interpersonal Pada Anak Autis di Sekolah Inklusi SDN Sumbersari 1 Malang. Program Studi Psikologi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Alwisol, M. Pd (II) Anies Syafitri, S. Psi, M. Psi. Psikolog Kata kunci: komunikasi, relasi interpersonal, autisme, inklusi Pendidikan inklusi adalah termasuk hal yang baru di Indonesia, dimana anak berkebutuhan khusus dapat belajar di sekolah umum yang ada di lingkungan mereka dan sekolah tersebut dilengkapi dengan layanan pendukung serta pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Autisme ditandai dengan kegagalan dalam menjalin hubungan sosial dan komunikasi serta adanya tindakan ritual dan kompulsif (Sugiarto, 2004). Seperti anak-anak pada umumnya, kehidupan sosial anak-anak berkebutuhan khusus dalam hal ini anak autisme di sekolah inklusi mereka juga dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif, dengan atau tanpa bantuan shadow. Dengan bersekolah di tempat yang sama dengan anak yang “normal”, anak-anak autisme mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan keterampilan komunikasi dan relasi interpersonal anak autisme di sekolah inklusi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif termasuk dalam studi perkembangan dengan metode cross sectional, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis hipotesis yang digunakan adalah uji Jonckheere Terpstra. Penelitian dilakukan di sekolah inklusi SDN Sumbersari 1 Malang dengan jumlah subjek 9 anak autisme. Penelitian menggunakan skala observasional keterampilan komunikasi dan relasi interpersonal yang dikembangkan oleh peneliti, yang disusun berdasarkan bentuk keterampilan komunikasi dari Aubrey Fisher dan keefektifan relasi interpersonal dari Joseph Devito. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan keterampilan komunikasi dan relasi interpersonal anak autisme di sekolah inklusi dengan signifikansi pada 0,042 < 0,05 dan signifikansi pada 0,013 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi pihak sekolah untuk merencanakan pembelajaran yang dapat meningkatkan komunikasi dan kebersamaan semua siswa baik siswa reguluer atau siswa berkebutuhan khusus. Untuk orang tua diharapkan memberikan perhatian penuh terhadap anak baik di sekolah atau dirumah dan merangsang keterampilan komunikasi anak dengan selalu mengajak anak untuk berbicara. Dan untuk peneliti selanjutnya, agar membuat alat pengukur data penelitian yang lebih cermat, memperluas wilayah penelitian, melakukan penelitian secara longitudinal karena akan menghasilkan penelitian yang lebih maksimal.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui pembelajaran kooperatif model STAD di kelas III SDN Kuncir I kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk / Sri Kurniati Kusumaningsih

 

ABSTRAK Kusumaningsih, Sri, Kurniati. 2010. Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD di Kelas III SDN Kuncir I Kecamatan Ngetos Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Pra Sekolah Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Suminah, M.Pd, (II) Drs. H. Hadi Mustofa, M.Pd Kata Kunci : pembelajaran kooperatif, model STAD , hasil belajar, pkn sekolah dasar Selama proses pembelajaran PKn metode pembelajaran yang digunakan guru masih bersifat konvensional sehingga siswa menjadi bosan dan penyampaiannya tidak dapat membangkitkan minat belajar siswa. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn tergolong rendah. Rata-rata hasil belajar PKn siswa kelas III hanya mencapai 5. Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran PKn dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas III, (3) mendeskripsikan peningkatan pelaksanaan pembelajaran PKn. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Rancangan yang digunakan adalah PTK yang terdiri dari tiga tahap yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II. Masing-masing siklus terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Instrumen yang digunakan adalah (1) observasi, (2) tes, (3) angket, dan (4) wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD dapat dilaksanakan dengan baik terlihat pada kenaikan hasil belajar siswa, (2) pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa, yaitu berdasar pada paparan data prasiklus jumlah rerata skor 64,33 dan daya serap klasikal 33,33%, dan setelah diadakan tindakan pada siklus I rerata skor meningkat 72,3 dan daya serap klasikal meningkat menjadi 53,3%. Jumlah rerata skor dan daya serap mengalami peningkatan lagi pada siklus II yaitu 79,9 dan 86,67%, pada siklus II ini siswa terdapat dua siswa yang tidak dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar karena kemampuan dua siswa ini sangat rendah, (3) pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran terbukti dengan peningkatan aktivitas siswa baik secara kelompok maupun individu. Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan selama 2 siklus dapat diketahui bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat dilaksanakan dengan baik, dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran PKn kelas III. Disarankan kepada guru (1) hendaknya guru menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD dalam pembelajaran PKn maupun pembelajaran yang lain, (2) guru hendaknya selalu merefleksi pembelajaran dan melakukan tindakan-tindakan perbaikan sehingga pembelajaran semakin berkembang, (3) guru hendaknya selalu memotivasi siswa untuk belajar agar siswa semangat dalam belajar.

Pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja melalui komitmen organisasi (studi pada karyawan PT. Larasati Multisentosa, Pasuruan) / Mardian Wicaksono

 

ABSTRAK Wicaksono, Mardian. Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Melalui Komitmen Organisasi (Studi Pada Karyawan P.T. Larasati Multisentosa, Pasuruan). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1). Dr. Sopiah, M.Pd., M.M (2). Dr. Ludhiwisnu Wardhana, S.T., S.E., S.Pd., M.M. Kata Kunci: Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasi, Kinerja Kepuasan kerja adalah suatu sikap emosional dari seorang karyawan terhadap perusahaan terkait dengan apa yang telah diberikan oleh perusahaan kepada karyawan. Setiap karyawan yang bekerja pada sebuah organisasi pasti memiliki beberapa harapan yang ingin dipenuhi. Kepuasan akan muncul di dalam diri karyawan apabila beberapa harapannya dapat dipenuhi oleh organisasi tempat karyawan tersebut bekerja. Semakin banyak harapan yang terpenuhi maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan dalam bekerja. Sejalan dengan perasaan puas tersebut maka akan muncul komitmen terhadap organisasi di dalam diri seorang karyawan. Semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan maka akan semakin tinggi pula komitmen kayawan terhadap organisasi. Jika karyawan telah merasa puas terhadap pemenuhan akan kebutuhannya dan telah tercipta komitmen yang tinggi antara karyawan dengan organisasi, maka kinerja yang tinggi juga akan tercipta di dalam tubuh organisasi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja melalui komitmen organisasi pada karyawan P.T. Larasati Multisentosa, Pasuruan. Penelitian ini dilaksanakan di P.T. Larasati Multisentosa, Pasuruan pada bulan November-Desember 2009. Obyek penelitian ini adalah karyawan P.T. Larasati Multisentosa, Pasuruan yang berjumlah 151 orang, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 109 orang dan tehnik pengambilan sampelnya dengan menggunakan metode Simple Random Sampling. Dalam penelitian terdapat variabel bebas kepuasan kerja (X), variabel intervening komitmen organisasi (Z), dan variabel terikat kinerja (Y). Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (Path Analysis). Tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung antar variabel. Hasil penelitian ini dapat diketahui: (1). Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasi, (2). Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan komitmen organisasi terhadap kinerja, (3). Terdapat pengaruh secara langsung yang signifikan kepuasan kerja terhadap kinerja, (4). Terdapat pengaruh secara tidak langsung yang signifikan kepuasan kerja terhadap kinerja melalui komitmen organisasi

Aplikasi metode geolistik konfigurasi schlumberger secara sounding untuk penyelidikan air tanah di Desa Ngarukaheri Nusa Tenggara Timur / Bayu Rahendra Purbantoko

 

ABSTRAK Purbantoko, Bayu, Rahendra. 2010. Aplikasi Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger Secara Sounding Untuk Penyelidikan Air Tanah di Desa Ngarukaheri Nusa Tenggara Timur. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Burhan Indriawan, S.Si, M. Si., (II) Daeng Achmad Suaidy, S.Si., M. Kom Kata kunci: Air Tanah, Konfigurasi Schlumberger, Progress, IPI2Win Pulau Sumba sebagai lokasi penelitian merupakan salah satu pulau terbesar yang berada di dalam wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur. Desa Ngarukaheri merupakan desa yang terletak di Kabupaten Sumba Timur. Wilayah ini memiliki keunikan meskipun diliputi oleh kegersangan dengan curah hujan yang kurang, akan tetapi sungai-sungai maupun sumber-sumber mata air cukup tersebar pada setiap wilayah dan tidak kering pada musim kemarau. Pada penelitian ini, pengukuran resistivitas dilakukan dengan menggunakan metode resistivitas sounding. Resistivitas sounding menggunakan konfigurasi Schlumberger dilakukan di Desa Ngarukaheri sebanyak 10 lintasan pengukuran dengan jarak antar lintasan 25 meter. Tujuannya adalah menyelidiki keberadaan air tanah dengan melakukan pemetaan resistivitas pada daerah penelitian. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat alat geolistrik dengan interpretasi dan analisis data menggunakan software Progress dan IPI2Win. Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa jenis material yang terkandung di daerah penelitian secara umum didominasi oleh material kelompok chert. Berdasarkan error, kedalaman, dan hasil analisis titik duga yang sangat memungkinkan adanya air tanah baik dengan IPI2Win maupun Progress adalah NG1, NG3, NG5, dan NG7. Nilai resistivitas dan kedalaman titik duga tersebut dengan menggunakan software IPI2Win masing-masing adalah 39,5 Ω.m dan 71,9 m (NG1), 80,8 Ω.m, 53,2 Ω.m, 76,3 Ω.m, 59 Ω.m dan 52,4 m, 89,1 m, 98,5 m, 110 m (NG3), 47,6 Ω.m dan 110 m (NG5), dan 59,1 Ω.m dan 52,8 m (NG7). Sedangkan nilai resistivitas dan kedalaman titik duga dengan menggunakan software Progress masing-masing adalah 39,55 Ω.m dan 49,65 m (NG1), 80,79 Ω.m, 53,17 Ω.m, 76,29 Ω.m, 58,99 Ω.m dan 42,20 m, 62,10 m, 91,10 m, 100,41 m (NG3), 47,63 Ω.m dan 87,89 m (NG5), dan 59,10 Ω.m dan 25,02 m (NG7).

Meningkatkan kemampuan bercerita dengan menerapkan teknik senam otak (brain gym) pada mata pelajaran bahasa indonesia kelas III SDN Sumberingin 3 Kabupaten Trenggalek / Ratna Arumsari

 

ABSTRAK Arumsari, Ratna. 2010. Meningkatkan Kemampuan Bercerita Dengan Menerapkan Teknik Senam Otak (Brain Gym) Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas III SDN Sumberingin 3 Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Program S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd (2) Dra. Wiwik Dwi Hastuti, M.Pd. Kata kunci: bercerita, teknik senam otak (brain gym), bahasa Indonesia Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas III SDN Sumberingin 3 selama ini masih dilaksanakan secara klasikal dimana guru hanya menjelaskan dan siswa hanya mendengarkan penjelasan guru sehingga siswa kurang aktif berbicara. Selama pembelajaran berlangsung guru memegang otoritas penuh, sedanglan siswa hanya pasif saja. Ini menyebabkan kemampuan bercerita siswa rendah. Berdasarkan hasil orientasi tersebut, untuk meningkatkan kemampuan bercerita siswa di SDN Sumberingin 3 perlu diterapkan teknik pembelajaran yang menarik dan baru untuk siswa, yaitu dengan menerapkan teknik senam otak (Brain Gym). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan perencanaan teknik Brain Gym untuk meningkatkan kemampuan bercerita di kelas III SDN Sumberingin 3; (2) mendeskripsikan penerapan teknik Brain Gym untuk meningkatkan kemampuan bercerita di kelas III SDN Sumberingin 3; (3) mendeskripsikan peningkatan kemampuan bercerita di kelas III SDN Sumberingin 3 teknik Brain Gym. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang mana peneliti bertindak sebagai pengajar langsung sedangkan guru kelas sebagai pengamat. Penelitian dilaksanakan di SDN Sumberingin 3 Kabupaten Trenggalek, dengan obyek penelitian yang berjumlah 16 siswa. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan rata-rata nilai kelas 73,75 dengan ketuntasan kelas mencapai 62,5% dengan. Pada siklus I masih terdapat 6 siswa yang belum tuntas karena siswa belum bisa bercerita dengan lancar. Hasil pada siklus II menunjukkan rata-rata kelas 80,62 dengan ketuntasan kelas mencapai 93,75%. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa penerapan teknik Brain Gym dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam bercerita. Pembelajaran bercerita menggunakan teknik Brain Gym juga dapat menciptakan suasana yang menyenangkan dan siswa dapat aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Saran kepada guru, hendaknya dalam mengajar tidak sekadar mengajarkan buku dan menggunakan teknik pembelajaran yang monoton. Guru SD hendaknya lebih cermat dalam pemilihan teknik maupun metode pembelajaran agar siswa agar siswa terlibat aktif dalam pembelajaran serta dapat menambah pengetahuan siswa. Bagi pihak sekolah hendaknya dapat mengembangkan wawasan dalam penggunakan dan penerapan variasi pembelajaran baik dalam metode, teknik maupun strategi. Diharapakan pada penelitian selanjutnya dapat lebih mengembangkan teknik maupun metode pembelajaran bercerita yang lebih baik.

Peningkatan keterampilan manulis paragraf melalui model pembelajaran cooperative integrated reading and composition siswa kelas IV SDN Baradan 6 Kabupaten Nganjuk / Ika Yuliasari

 

ABSTRAK Yuliasari, Ika. 2010. Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Melalui Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition Siswa Kelas IV SDN Babadan 6 Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Nuryati, M.Pd, (II) Dr. Alif Mudiono, M.Pd. Kata kunci: menulis paragraf, kooperatif, CIRC Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis paragraf dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition bagi siswa kelas IV SDN Babadan 6 dan mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SDN Babadan 6 dalam menulis paragraf dengan model pembelajaran CIRC. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 16 Nopember 2009 hingga 9 Januari 2010. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis des-kripsi kualitatif. Hasil penelitian dari data yang didapatkan menunjukkan bahwa siswa telah dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model CIRC. Terjadi pening-katan keterampilan menulis paragraf dengan model pembelajaran CIRC bagi sis-wa kelas IV SDN Babadan 6 yakni dari 50% pada siklus 1 menjadi 100% pada si-klus 2 dan perkembangan hasil belajar siswa dalam menulis paragraf meningkat dari 40% pada pratindakan menjadi 60% pada siklus 1 dan 100% pada siklus 2. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan keterampilan me-nulis paragraf dengan model pembelajaran CIRC bagi siswa kelas IV SDN Baba-dan 6 tahun pelajaran 2009/2010 melalui proses pembelajaran telah berhasil dica-pai. Selain itu hasil belajar siswa kelas IV SDN Babadan 6 dalam menulis para-graf dengan model pembelajaran CIRC juga dapat meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dalam meningkat-kan keterampilan menulis paragraf guru dapat melaksanakan pembelajaran koo-peratif model CIRC karena selain dapat meningkatkan hasil belajar siswa, kegiat-an kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan SIMAset pada materi laporan penerimaan dan pendistribusian sarana dan prasarana untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XII Administrasi Perkantoran SMKN 1 Malang / Novi Damayanti

 

ABSTRAK Damayanti, Novi. 2016. Penerapan SIMAset pada Materi Laporan Penerimaan dan Pendistribusian Sarana dan Prasarana untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas XII Administrasi Perkantoran SMKN 1 Malang. Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Heny Kusdiyanti, S.Pd, M.M, (II) Dr. Sopiah, M.Pd, M.M. Kata Kunci: SIMAset, motivasi belajar, hasil belajar Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Administrasi Sarana dan Prasarana kelas XII, kelas XII APK 1 memiliki permasalahan yaitu motivasi belajar yang relatif rendah pada materi penerimaan dan pendistribusian sarana dan prasarana. Siswa kurang berantusias selama pembelajaran, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa kelas XII APK 1, sikap kurang berantusias disebabkan karena laporan penerimaan dan pendistribusian memiliki komponen yang banyak, sehingga dalam penyusunannya membutuhkan ketelitian, ketepatan, dan kerapian. Oleh sebab itu, diperlukan media pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa yaitu SIMAset. SIMAset adalah sistem informasi manajemen aset yang digunakan untuk input data dan penyusunan laporan penerimaan dan pendistribusian sarana dan prasarana. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus, setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XII APK 1 di SMKN 1 Malang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SIMAset pada materi laporan penerimaan dan pendistribusian sarana dan prasarana dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siklus I sebesar 72,60% dan siklus II sebesar 87,96%. Hasil belajar aspek kognitif pada siklus I mencapai rata-rata sebesar 99,06 dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 99,09. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa (1) penerapan SIMAset pada materi laporan penerimaan dan pendistribusian sarana dan prasarana kelas XII APK 1 dapat dilaksanakan dengan lancar dan sangat baik, siswa mampu mengoperasikan SIMAset sesuai prosedur pengoperasian; (2) penerapan SIMAset pada materi laporan penerimaan dan pendistribusian sarana dan prasarana dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XII APK 1 SMKN 1 Malang; dan (3) penerapan SIMAset pada materi laporan penerimaan dan pendistribusian sarana dan prasarana dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII APK 1 SMKN 1 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan yaitu (1) bagi guru Administrasi Sarana dan Prasarana sebaiknya memanfaatkan berbagai macam media pembelajaran salah satunya yaitu SIMAset, (2) bagi siswa XII APK 1 hendaknya mempersiapkan diri sebelum mengikuti pembelajaran serta berperan aktif dan memiliki kemauan untuk bertanya jika ada hal yang belum dipahami pada saat penerapan SIMAset, dan (3) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk menerapkan dan mengembangkan SIMAset sebagai media pembelajaran.

Penerapan strategi inkuiri dalam pembelajaran biologi untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar siswa kelas XI SMA Islam Malang / Nanik Nurhayati

 

ABSTRAK Nurhayati, Nanik. 2010. “Penerapan Strategi Inkuiri dalam Pembelajaran Biologi untuk Meningkatkan Keterampilan Proses dan Hasil Belajar Siswa Kelas XI SMA Islam Malang”. Skripsi, Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Soedjono Basoeki, M.Pd, (II) Nuning Wulandari, S.Si, M.Si Kata kunci : inkuiri, keterampilan proses, hasil belajar. Pembelajaran biologi adalah pembelajaran tentang makhluk hidup dan lingkungannya yang berupa benda atau gejala alam yang keberadaannya atau kejadiannya dapat diamati dengan indera. Kegiatan belajar mengajar biologi di sekolah tempat penelitian berlangsung, secara umum belum berlangsung sesuai harapan, yaitu mengaktifkan siswa untuk memperoleh konsep sendiri, melainkan kegiatan ceramah masih dominan, di samping mengerjakan LKS, dan presentasi kelompok. Hal itu tampak kurang menarik siswa yang terlihat dari sikap atau perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung, seperti bicara sendiri, kurang aktif, mengantuk, jarang bertanya, serta saat ditanya banyak yang belum bisa menjawab. Akibatnya hasil belajar siswa tidak mencapai target yang diharapkan, karena pengetahuan siswa tidak terbemtuk melalui proses ilmiah. Dari kenyataan di atas, maka sangat penting guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, menanamkan pemahaman konsep sebelum menghafal serta terampil dalam proses untuk memperoleh konsep yang baru. Strategi tersebut adalah strategi inkuiri. Penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) tujuan, yaitu (1) Meningkatkan keterampilan proses siswa. (2) Meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA Islam Malang dalam mempelajari sistem sirkulasi pokok bahasan Darah dan Alat Peredaran Darah Manusia melalui metode inkuiri. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif karena data penelitian dinyatakan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa teknik statistik (Ibnu, 2003). Adapun jenis penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA1¬¬¬ SMA Islam Malang. Analisis data berupa analisis kualitatif yang dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif model alir (flow) (Milles dan Huberman dalam Wahyono, 2004). Model ini terdiri dari tiga komponen yang dilakukan berurutan yaitu, mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus 2 keterampilan proses siswa melakukan observasi mengalami peningkatan 6.12% dari siklus 1, merumuskan masalah meningkat 2 %, menyusun hipotesis pada siklus1 dan siklus 2 sama sebesar 96%, melakukan pengamatan meningkat 1.39%, mengumpulkan data meningkat sebesar 23.32%, menyimpulkan meningkat sebesar 15.12%, membuat laporan meningkat sebesar 15.97%, dan mengkomunikasikan meningkat sebesar 13.24%. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus 2 dibandingkan dengan siklus 1. Hasil belajar siswa pada aspek kognitif mengalami peningkatan 25.5% pada siklus 2 dari siklus 1. Hasil belajar siswa pada aspek afektif mengalami peningkatan 6.74% pada siklus 2 dari siklus 1. Hasil belajar siswa pada aspek psikomotor mengalami peningkatan 13.5% pada siklus 2 dari siklus 1. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan akhirnya dapat disimpulkan bahwa pengembangan strategi inkuiri dalam proses kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Tetapi masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi lagi yaitu alokasi waktu yang harus diperhatikan dalam setiap tahapan pada strategi inkuiri ini, motivasi dan arahan siswa perlu diberikan secara intens, untuk memacu semangat dan keberanian siswa, kegiatan diskusi kelompok sebaiknya mendapat porsi yang lebih besar lagi dan adanya tindak lanjut dari peneliti berikutnya sangat diharapkan dalam usahanya untuk mengembangkan strategi inkuiri ini dalam KBM.

Hubungan pola asuh autoritarian, persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS, dan perilaku seksual remaja SMA / Ainul Natalia Primi Harlan

 

ABSTRAK Harlan, Ainul Natalia Primi. 2010. Hubungan Pola Asuh Autoritarian, Persepsi Tentang Resiko Terkena HIV/AIDS dan Perilaku Seksual Remaja SMA. Skripsi, Program Studi Psikologi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed, (II) Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Si. Kata kunci: pola asuh autoritarian, persepsi HIV/AIDS, perilaku seksual. Perilaku seksual pada remaja muncul sebagai konsekuensi perkembangan remaja dalam kehidupannya. Tingkat perilaku seksual remaja dapat diprediksi melalui pola asuh dan persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS. Sehingga dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk perilaku seksual berhubungan dengan tipe pola asuh orang tua dan persepsi tentang tingkat resiko untuk terkena HIV/AIDS yang dimiliki oleh masing-masing remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap (1) gambaran pola asuh autoritarian, (2) gambaran persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS, (3) gambaran perilaku seksual, (4) hubungan pola asuh autoritarian dan perilaku seksual, (5) hubungan persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS dan perilaku seksual (6) hubungan pola asuh autoritarian, persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS, dan perilaku seksual. Penelitian dengan rancangan deskriptif dan korelasional dengan subyek penelitian 30 siswa SMA ini menggunakan instrumen skala pola asuh autoritarian, skala persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS, dan skala perilaku seksual dengan model Likert. Hasil analisis deskriptif menunjukkan sebanyak 16 remaja memiliki orang tua dengan pola asuh autoritarian tinggi, dan sebanyak 14 remaja memiliki orang tua dengan pola asuh autoritarian rendah. Dari hasil analisis juga diperoleh sebanyak 15 remaja memiliki persepsi beresiko tinggi terkena HIV/AIDS dan sebanyak 15 remaja persepsi beresiko rendah terkena HIV/AIDS. Frekuensi jenis perilaku seksual dalam kategori tinggi pada jenis awakening and exploration sebanyak 14 orang, pada jenis autosexuality sebanyak 5 orang, pada jenis necking and petting sebanyak 0 orang, pada jenis heavy petting 2 orang, dan pada jenis copulation sebanyak 9 orang. Dari hasil analisis korelasi antara pola asuh autoritarian dengan perilaku seksual dapat diambil kesimpulan ada hubungan negatif dan signifikan antara pola asuh autoritarian dan perilaku seksual. Dan dari hasil analisis korelasi antara persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS dan perilaku seksual dapat disimpulkan ada hubungan negatif dan signifikan antara persepsi tentang resiko terkena HIV/AIDS dan perilaku seksual. Saran yang dikemukakan: (1) bagi siswa untuk dapat lebih kritis dalam menyerap informasi dari media mengenai HIV/AIDS untuk menghindarkan diri dari perilaku seksual, (2) bagi guru hendaknya dapat memberikan pengetahuan seksual dan pemahaman tentang penyakit-penyakit seksual yang berbahaya seperti HIV/AIDS kepada siswa, sehingga siswa dapat membentuk persepsinya tentang resiko terkena HIV/AIDS yang kaitannya dengan perilaku seksual, (3) bagi orang tua hendaknya pengawasan, kontrol, supervisi yang bijak pada remaja agar remaja terhindar dari perilaku seksual yang beresiko atau menyimpang.

Peningkatan kemampuan menyimak berita dengan menggunakan terapi earobics siswa kelas VII SMP Negeri 19 Malang / Desy Maria Damayanti

 

Penulis 5 ABSTRAK Damayanti, Desy Maria. 2009. Peningkatan Kemampuan Menyimak Berita dengan Menggunakan Terapi Earobics Siswa Kelas VII SMP Negeri 19 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. H. Imam Machfudz, M.Pd. dan Azizatus Zahro, S.Pd, MPd. Kata Kunci: peningkatan kemampuan, terapi earobics, menyimak berita Menyimak merupakan keterampilan dasar yang mempunyai peranan yang sangat penting dalam menguasai suatu bahasa. Oleh karena itu, pembelajaran keterampilan menyimak yang menarik bagi siswa diperlukan untuk memaksimalkan kemampuan siswa dalam menyimak. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia SMP Negeri 19 Malang, diperoleh informasi bahwa masih terdapat permasalahan dalam pembelajaran menyimak berita untuk siswa kelas VII-i. Permasalahan tersebut antara lain (1) mengenai penyampaian materi simakan, (2) kejenuhan siswa dalam menyimak, (3) siswa kurang bisa konsentrasi sehingga mengalami kesulitan dalam menangkap dan mengingat isi materi simakan. Dari permasalahan tersebut, maka dibutuhkan suatu teknik belajar yang mampu mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menyimak berita kelas VII-i SMP Negeri 19 Malang melalui penerapan terapi earobics. Terapi earobics merupakan suatu terapi senam telinga yang berupaya untuk menemukan keajaiban pendengaran dalam meningkatkan keterampilan mendengar secara aktif. Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Sebelum pelaksanaan siklus 1 dan 2, peneliti terlebih dahulu melaksanakan tahap pretes untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2009, 4 November 2009, 11 November 2009, dan 18 November 2009. Pada tahap pretes, pembelajaran dilaksanakan menggunakan metode yang biasa diterapkan oleh guru Bahasa Indonesia. Pada tahap ini, rata-rata nilai siswa untuk kemampuan menuliskan kembali isi berita yang disimak secara lengkap (aspek kelengkapan), rata-ratanya yaitu 45,9. Sedangkan kemampuan siswa dalam menuliskan kembali isi berita secara sesuai berdasarkan teks berita yang disimak (aspek kesesuaian), hasil rata-ratanya yaitu 46,1. Dan kemampuan siswa dalam menuliskan kembali isi berita dengan menggunakan ejaan dan susunan kalimat yang tepat (aspek kebahasaan), hasil rata-ratanya yaitu 48,1. Dari hasil pretes tersebut, peneliti menyusun kegiatan pembelajaran dengan pemberian tindakan pada siklus 1. Pada tahap ini, peneliti menerapkan terapi earobics sebagai solusi atas permasalahan yang ada pada tahap pretes. Pada siklus 1, hasil rata-rata nilai siswa untuk kemampuan menuliskan kembali isi berita yang disimak secara lengkap, rata-ratanya yaitu 74.9. Sedangkan kemampuan siswa dalam menuliskan kembali isi berita secara sesuai berdasarkan teks berita yang disimak, hasil rata-ratanya yaitu 75.5. Dan kemampuan siswa dalam menuliskan kembali isi berita dengan menggunakan ejaan dan susunan kalimat yang tepat, hasil rata-ratanya yaitu 71.2. 6 Dari pembelajaran siklus 1, masih terdapat beberapa kekurangan, yaitu kurang terkendalinya sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung, siswa mengalami kebingungan dalam memahami instruksi terapi earobics, rekaman berita yang diputar kurang jelas, dan kelas menjadi gaduh ketika kegiatan memutar bangku. Oleh karena itu, peneliti membuat perencanaan pembelajaran siklus 2 untuk mengatasi permasalahan siklus 1. Siklus 2 merupakan tahap postes untuk kegiatan pembelajaran siswa. Pada siklus 2, didapat hasil nilai rata-rata 92,7 untuk kemampuan menuliskan kembali isi berita yang disimak dengan lengkap, 90,6 untuk kemampuan siswa dalam menuliskan kembali isi berita secara sesuai berdasarkan teks berita yang disimak, dan 80 untuk kemampuan menuliskan kembali isi berita dengan menggunakan ejaan dan susunan kalimat yang tepat. Setelah pelaksanaan postes, didapatkan hasil untuk kemampuan menuliskan kembali isi berita yang disimak secara lengkap, mengalami peningkatan sebesar 46,8%. Untuk kemampuan siswa dalam menuliskan kembali isi berita secara sesuai berdasarkan teks berita yang disimak, mengalami peningkatan sebesar 44,5%. Dan kemampuan siswa dalam menuliskan kembali isi berita dengan menggunakan ejaan dan susunan kalimat yang tepat, mengalami peningkatan sebesar 31,9%. Dari pengolahan data secara menyeluruh, maka kemampuan siswa dalam menyimak berita mengalami peningkatan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terapi earobics terbukti mampu meningkatkan kemampuan menyimak berita siswa kelas VII-i SMP Negeri 19 Malang.

Perencanaan jaringan internet dengan simulator packet tracer 5.1 di SMP Negeri 2 Ngasem Bojonegoro / Lindung Srianam Huda, Subagiyo

 

Salah satu model pembelajaran yang dinilai dapat meningkatkan hasil belajar siswa, aktivitas siswa, serta kemampuan bekerja sama antar siswa adalah pembelajaran menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Disini siswa lebih diberdayakan dalam pembelajaran dari pada guru karena guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar kompetensi menyelesaikan desain LAN siswa yang diajar menggunakan model Problem Based Learning lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan metode ceramah bermakna pada siswa kelas XI TKJ di SMKN 1 Turen. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan eksperimental semu (quasy experimental design ) dengan Pretest-Posttest Group Desain. Pengambilan sampel dalam penelitian menggunakan teknik sampling pertimbangan (purposive sampling) yang terdiri dari dua kelas, yaitu: kelas XI TKJ2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI TKJ1 sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen adalah kelas yang diajar menggunakan model PBL berbantuan program paket tracer dan kelas kontrol adalah kelas yang diajar menggunakan metode ceramah bermakna berbantuan program paket tracer. Instrumen penelitian terdiri dari instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Teknik analisis data menggunakan analisis statistik kuantitatf untuk menganalisis data kemampuan awal siswa dan hasil belajar siswa yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, uji kesamaan dua rata-rata dan uji hipotesis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nilai hasil belajar secara signifikan antara siswa kelas eksperimen dengan siswa kelas kontro, berdasarkan hasil uji-t yang memperoleh thitung. (6,074) > ttabel (1,658). Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari hasil belajar siswa kelas kontrol. Diperoleh nilai rata rata hasil belajar kelas eksperimen (83,92) lebih tinggi dari nilai rata-rata hasil belajar kelas kontrol (78,27) dengan selisih sebesar 5,65 poin dan selisih tingkat ketuntasan sebesar 21,2%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning berbantuan program paket tracer dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar menyelesaikan desain jaringan LAN.

Perencanaan media komunikasi visual radio RCB FM Malang / Bagus Ruszajo

 

ABSTRAK Ruszajo, Bagus. 2007. Perancangan Media Komunikasi Visual Radio RCB FM Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Pujiyanto, M.Sn., (II) Pranti Sayekti, S. Sn, M.Si. Kata kunci: perancangan, media komunikasi, radio, RCB FM Malang. Salah satu siaran radio swasta yang cukup eksis di Malang adalah RCB FM. Radio ini merupakan salah satu radio yang memiliki segmen audience keluarga.Ada sebuah semangat yang tetap dipegang oleh Radio Chakra Bhuwana Malang ( RCBFM ) adalah mengembangkan dan menjaga Budaya Indonesia . Radio Chakra Bhuwana yang didirikan sejak tahun 1971 terus mengemban sebagai media yang menjaga Budaya Indonesia (Ringkasan Eksekutif PT. Radio RCB FM, 1995). Dengan visi dan misi memajukan budaya nasional, RCB tetap mengetengahkan sajian yang kental dengan budaya lokal dan hanya menyajikan lagu-lagu Indonesia. Perjalanan lebih dari 30 th telah memberikan pelajaran dan pengalaman yang berharga bagi pendiri maupun pengelola Radio Chakra Bhuwana ( RCBFM ). Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah stasiun pemancara radio yang ada di Malang, Radio RCB FM menyadari pentingnya kampanye iklan (advertising campaign) yang efektif untuk mengkomunikasikan jasa atau produk yang ditawarkan. Berdasarkan latar belakang dan analisis data, maka muncul permasalahan bahwa dibutuhkan media komunikasi yang efektif untuk memperkenalkan serta menginformasikan keberadaan radio RCB FM kepada masyarakat. Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan dari penulisan ini adalah merancang media komunikasi yang efektif untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang Radio RCB FM. Secara prosedural, perancangan ini menggunakan metode deskriptif, yaitu cara atau prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan urutan langkah yang telah ditentukan untuk menghasilkan suatu produk yang diharapkan. Produk yang dihasilkan berupa media yang tepat, menarik dan komunikatif sesuai dengan kebutuhan klien. Diantaranya adalah Poster, Sign Board, Iklan Koran, Spanduk, Billboard, Leaflet, Stationary set, Kartu nama, ID card, Member card, Stiker, Flag Chain, Booklet (Buku Profil), Banner.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui pendekatan komunikatif siswa kelas III di SDN Kemirigede Kabupaten Blitar / Wakhid Budi Santoso

 

ABSTRAK Santosa,Wakhid Budi. 2010. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Pendekatan Komunikatif pada Kelas III di SDN Kemirigede Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Suhel Madyono, S.Pd., M.Pd., (II) Dra. Sri Nuryati, M.Pd. Kata kunci : berbicara, siswa, pendekatan komunikatif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa yang meliputi aspek kelancaran berbicara siswa, kenyaringan berbicara siswa, dan keruntutan berbicara siswa. Serta mendiskripsikan pelaksanaan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia di kelas III SDN Kemirigede. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdidri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut. (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa, yaitu pada aspek kelancaran berbicara hasil yang diperoleh pada siklus I persentase nilai rata-rata siswa 67% dan pada siklus II naik menjadi 86%. Pada aspek kenyaringan berbicara hasil yang diperoleh pada siklus I persentase nilai rata-rata siswa 69% dan pada siklus II naik menjadi 85%. Pada aspek keruntutan berbicara hasil yang diperoleh pada siklus I persentase nilai rata-rata siswa 72% dan pada siklus II naik menjadi 85%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatif dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan pendekatan komunikatif untuk membantu mengatasi kesulitan siswa pada pembelajaran berbicara, sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Penerapan metode proyek dalam upaya meningkatkan prestasi belajar geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bululawang Kabupaten Malang / Mahbubatul Khovivi

 

Abstrak : Khovivi, Mahbubatul. 2009. Penerapan Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) Dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas VIII SMPN 1 Bululawang Kabupaten Malang.Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M. Pd (II) Dr. Anselmus. J. E Toenlioe,M.Pd Kata kunci: penerapan Metode Pelbelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning),Prestasi Belajar Metode pembelajaran berbasis proyek yaitu salah satu metode yang kegiatannya bersifat riil, mempunyai arti dan manfaat bagi siswa, mempunyai hubungan dengan tujuan pembelajaran, hasil proyek sepadan dengan waktu yang disediakan, bahan dan peralatan mudah diperoleh dan biaya yang dikeluarkan relatif murah sehingga kelas menjadi efektif dan siswa menjadi aktif, kreatif dan inovatif karena ada suatu proyek yang di hasilkan dan kemudian dipamerkan dalam kelas. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran berbasis proyek mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. (2) Untuk mengetahui dampak yang muncul dari penerapan metode berbasis proyek pada pembelajaran geografi.Untuk mencapai maksud tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 1 Bululawang Kabupaten Malang.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah Observasi / Pengamatan, Tes hasil belajar yaitu: pre - pos tes, Angket Pendapat Siswa. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriprif yaitu menghitung prosentase angket pendapat siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Penerapan metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) dapat meningkatkan prestasi belajar geografi siswa. Hal ini dibuktikan dari adanya peningkatan rata-rata skor siswa dari tes pada masing-masing siklus, yaitu pad hasil tes awal 49,5% meningkat menjadi 60,2% hal ini berarti terjadi peningkatan skor sekitar 10,7% pada post tes siklus I. Sedangkan pada siklus II hasil tes awal siswa adalah 51,3% dan pada post tes meningkat menjadi 81,4% ini menunjukkan telah terjadi peningkatan skor siswa sebanyak 30.1%. Dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa ada peningkatan prestasi belajar siswa yang lebih tinggi pada siklus II jika dibandingkan pada siklus I. Peningkatan prestasi belajar pada siklus I sebesar 10,7% dan pada siklus II menjadi 30,1% (2) Dampak-dampak yang ditimbulkan dalam penerapan metode pembelajaran berbasis proyek (Project based Learning) ini tergolong menjadi 2, yaitu dampak positif dan dampak negatif . Dari berbagai temuan dalam penelitian ini, disampaikan beberapa saran: (1)Saran untuk pemanfaatan penelitian antara lain : (a) Metode pembelajaran berbasis proyek perlu dilakukan oleh guru bidang studi IPS Geografi karena telah terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa,(b) Penelitian ini perlu dikembangkan untuk materi serta mata pelajaran yang lain agar dapat meningkatkan prestasi akademik lainnya, (c) Penelitian Metode pembelajaran berbasis proyek semacam ini perlu lebih dikembangkan lagi untuk mengukur variabel terikat lainnya, Penelitian ini masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan observasi lapangan karena terbatasnya waktu untuk penyelidikan sehingga diharapkan penelitian berikutnya dapat memaksimalkan dan menyempurnakan proses pembelajaran. (2) Saran untuk penelitian lanjutan antara lain : Bagi penelitian mendatang disarankan dapat lebih memodivikasi dan mengembangkan proyek yang dihasilkan agar lebih menarik untuk dipelajari, Bagi penelitian mendatang disarankan guru memberi kebebasan siswa untuk berkreasi dalam membuat proyek agar proyek yang dihasilkan lebih bagus, Bagi penelitian mendatang disarankan guru memberikan kesempatan yang banyak untuk siswa berkonsultasi, Bagi penelitian mendatang diharapkan sudah tidak ada dampak negatif yang ditemukan dalam penerapan metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) pada penelitian ini.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep teori atom pada siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2009/2010 / Ikromil Habibi

 

ABSTRAK Habibi, Ikromil. 2010. Identifikasi Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep Teori Atom pada Siswa Kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang Tahun Ajaran 2009/ 2010. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fariati, M.Sc., (II) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, teori atom. Kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) dan juga dengan teori (deduktif). Salah satu materi kimia yang dikembangkan melalui teori adalah teori atom. Sebagian besar konsep kimia pada materi teori atom merupakan konsep yang bersifat abstrak, contohnya adalah proton, neutron, elektron, ion, dan atom. Karakter materi kimia yang sangat abstrak dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam belajar kimia. Kesulitan tersebut dapat menyebabkan terjadi konsep sukar, apabila pemahaman konsep yang tidak tepat ini terjadi secara konsisten maka disebut sebagai kesalahan konsep. Konsep sukar adalah konsep dengan persentase jawaban salah siswa (PJS) dari butir soal suatu konsep sama dengan atau lebih besar dari 61%. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi: (1) jenis konsep sukar; dan (2) konsep yang paling sukar berdasarkan PJS; serta (3) jenis kesalahan konsep; dan (4) kesalahan konsep paling besar yang dialami siswa kelas X dan XI berdasarkan konsistensi jawaban salah (%K). Penelitan ini merupakan penelitian deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan XI-IPA SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2009/2010 semester ganjil yaitu siswa kelas X-6 dan X-7 serta kelas XI-IPA1 dan kelas XI-IPA2 sebanyak 137 siswa, yaitu 73 siswa dari kelas X dan 64 siswa dari kelas XI. Hasil wawancara digunakan sebagai triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa:(1) jenis konsep sukar yang dialami oleh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang berdasarkan PJS adalah (a) hubungan antara hukum kekekalan massa dengan teori atom Dalton di kelas X dan XI; (b) percobaan tabung sinar katode di kelas XI; (c) definisi elektron kelas XI; (d) hubungan percobaan tabung sinar katode dengan sinar kanal di kelas XI; (e) percobaan hamburan sinar-α pada konsep pemantulan sinar di kelas XI; (f) percobaan hamburan sinar-α pada konsep pembelokan dan penerusan sinar di kelas X dan XI; (g) identifikasi proton kelas X dan XI; (h) identifikasi neutron di kelas XI; (i) hubungan antara model atom Thompson dengan percobaan hamburan sinar-α di kelas X dan XI dan (j) hubungan antara percobaan hamburan sinar-α Rutherford dengan sinar katode di kelas X dan XI. (2) Konsep yang paling sukar untuk siswa kelas X adalah konsep hubungan antara hukum kekekalan massa dengan teori atom Dalton sebesar 95%. Konsep yang paling sukar bagi siswa kelas XI adalah identifikasi neutron di kelas XI sebesar 100%. (3) Jenis kesalahan konsep yang terjadi pada siswa kelas X dan XI berdasarkan konsistensi jawaban salah adalah: (a) sinar katode, sebesar 4,69% siswa kelas XI; (b) sinar kanal, dengan tingkat kekonsistenan 1,37% di kelas X; (c) identifikasi inti atom melalui percobaan hamburan sinar-α di kelas X sebesar 1,37%; (d) pembelokan sinar-α karena mengalami gaya tolak inti atom, dimiliki 17,81% siswa kelas X dan 4,69% siswa kelas XI.(4) Kesalahan konsep yang paling besar pada siswa kelas X adalah pembelokan sinar-α karena mengalami gaya tolak inti atom soal nomor 12 dan 14 dengan persentase konsistensi jawaban salah (%K) sebesar 17,81%. Kesalahan konsep paling besar pada siswa kelas XI adalah konsep sinar katode dan pembelokan sinar-α karena mengalami gaya tolak inti atom masing-masing sebesar 4,69% .

Pengembangan bahan ajar menulis cerpen dengan strategi pemodelan untuk siswa SMA/MA kelas X / Ruli Andayani

 

ABSTRAK Andayani, Ruli. 2010. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Cerpen dengan Strategi Pemodelan untuk Siswa SMA/MA Kelas X. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd., (II) Azizatus Zahro’, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: pengembangan bahan ajar, menulis cerpen, strategi pemodelan Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh sejumlah masalah, yakni cerpen-cerpen karya siswa sebagai penulis pemula masih memiliki banyak kelemahan. Kelemahan-kelemahan umum yang sering dilakukan adalah (1) masalah pembukaan cerpen yang terlalu bertele-tele, (2) komposisi yang tidak proporsional, (3) bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan zaman dan tidak memerhatikan ketepatan ejaan, (4) penutup cerpen yang mudah ditebak, dan (5) judul yang tidak sesuai dengan isi. Selain itu, siswa juga sering mengalami kesulitan dalam menulis cerpen, terutama dalam hal mencari ide sehingga acapkali siswa malas untuk menulis. Agar proses pembelajaran menulis cerpen dapat berlangsung dengan baik sehingga dapat mencapai tujuan, yakni siswa memiliki keterampilan menulis cerpen, paling tidak ada dua hal harus dipenuhi oleh para guru sebagai pembimbing. Pertama, guru harus mampu menyusun strategi pembelajaran menulis cerpen yang tepat dan mendukung kelancaran proses pembelajaran. Strategi adalah suatu pola umum interaksi kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang telah ditargetkan. Strategi ini harus tercermin dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Kedua, guru dituntut agar mampu menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan (1) model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menulis cerpen dan (2) model bahan ajar pembelajaran menulis cerpen dengan strategi pemodelan yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Dalam teori pemodelan, pembelajaran dilakukan dalam 4 fase, yakni fase attention (perhatian), fase retensi (mengulang kembali), fase reproduksi (menghasilkan karya), dan fase motivasi (pemberian semangat kepada siswa dalam bentuk pujian, penghargaan, dan hadiah agar siswa tetap giat belajar). Rancangan penelitian ini diadaptasi dari model desain sistem pembelajaran Dick dan Carey tahun 2005. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 4 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) tahap prapengembangan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap uji coba, dan (4) tahap revisi. Pelaksanaan pengembangan dilakukan berdasarkan temuan analisis kebutuhan bahan ajar yang dilakukan pada tahap prapengembangan. Produk hasil pengembangan selanjutnya diujicobakan untuk mengetahui kelayakan produk, yakni melalui uji ahli, uji praktisi, dan uji kelompok kecil (siswa SMA). Data dalam penelitian ini berupa data numerik dan data verbal. Data numerik diperoleh dari hasil penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk, yakni berupa skor. Data verbal dibedaakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa vi vii informasi lisan ketika wawancara langsung dengan ketiga kelompok uji. Hasil wawancara selanjutnya ditranskripsikan agar dapat dianalisis. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Sebagai instrumen penunjang digunakan angket penilaian dan pedoman wawancara bebas. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal lisan, (3) menghimpun, menyeleksi, dan mengklasifikasi data verbal tulis dan hasil transkrip verbal lisan berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan terhadap produk yang dikembangkan, apakah harus direvisi atau diimplementasi. Penelitian pengembangan ini menghasilkan dua produk, yakni (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menulis cerpen dan (2) bahan ajar menulis cerpen. Kedua produk tersebut disusun berdasarkan strategi pemodelan Albert Bandura. Kegiatan pembelajaran dalam RPP dibagi menjadi 3 tahap, yakni tahap pembuka, inti, dan penutup. Sedangkan fase-fase pemodelan dijabarkan sebagai berikut: fase perhatian (attention) dan retensi tercermin pada pertemuan pertama, fase reproduksi pada pertemuan kedua, sedangkan fase motivasi pada pertemuan ketiga. Pada fase perhatian, kegiatan yang dilakukan siswa adalah membaca contoh cerpen yang menarik secara bergantian. Pada fase retensi, kegiatan yang dilakukan adalah menuliskan kembali cerpen yang sudah dibaca. Pada fase reproduksi kegiatan yang dilakukan adalah latihan menulis cerpen sampai benar-benar menghasilkan cerpen utuh. Kegiatan pada tahap motivasi adalah memajang cerpen karya siswa yang dilanjutkan dengan pemberian hadiah kepada siswa yang paling aktif selama pembelajaran dan siswa yang dengan karya cerpen terbaik. Bahan ajar ini berisi petunjuk-petunjuk menulis cerpen secara bertahap, yakni sejak mencari ide, mengembangkan ide menjadi tahapan-tahapan alur, latihan mendeskripsikan tokoh, latar, peristiwa, sampai pada tahap menghasilkan cerpen secara utuh. Sistematika penulisan bahan ajar dilakukan secara berurutan mengikuti langkah-langkah menulis cerpen. Bahasa yang digunakan adalah ragam formal dan komunikatif, tampilan bahan ajar dibuat menarik dan dicetak di kertas A4 80 gram dengan dominasi warna biru. Dari penelitian pengembangan yang telah dilakukan, diperoleh simpulan bahwa RPP dan bahan ajar yang dikembangkan disusun berdasarkan teori pemodelan. Produk pengembangan ini dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan siswa dalam menulis cerpen sebab di dalam produk tersebut ditawarkan sejumlah solusi pemecahan masalah. Bahan ajar yang dikembangkan telah sesuai dengan kebutuhan siswa. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, disarankan siswa menggunakan bahan ajar ini dalam pembelajaran menulis cerpen, mencermati setiap langkah-langkah pembelajaran, dan menanyakan kepada guru jika ada yang tidak dimengerti. Sedangkan guru disarankan untuk menggunakan bahan ajar ini sebagai sumber utama dalam pembelajaran menulis cerpen. Selanjutnya, produk pengembangan dapat disebarluaskan dalam forum MGMP, dan ditulis dalam jurnal penelitian. Langkah-langkah pengembangan yang dilakukan pada penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam pengembangan bahan ajar menulis kreatif lain, baik menulis sastra, karya tulis ilmiah, maupun karya tulis ilmiah populer.

Implementasi sistem penjaminan mutu layanan akademik di perguruan tinggi Muhammadiyah Jawa Timur (Studi multisitus di Universitas Metropolis, Universitas Beachapolis, dan Universitas Agropolis) / M.Ridlwan

 

ABSTRAK Ridlwan, M. 2009. Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Layanan Akademik di Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jawa Timur (Studi Multisitus di Universitas Metropolis, Universitas Beachapolis, Universitas Agropolis). Disertasi, Program Studi Mana¬je¬men Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pem¬bim¬bing: (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D., (II) Prof. Dr. Ibra-him Bafadal, M.Pd, (III) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd Kata kunci: sistem penjaminan mutu, layanan akademik, pendidikan tinggi, perguruan tinggi Muhammadiyah Penyelenggaraan penjaminan mutu merupakan bagian dari upaya untuk membangun kemampuan persaingan bangsa melalui pengembangan kelembagaan yang sehat. Pendidikan tinggi tidak bisa lepas untuk terus berupaya meningkatkan mutu dan tanggung jawab sebab anggaran belanja perguruan tinggi terutama yang BHMN maupun swasta sepenuhnya bergantung pada sumbangan dari stakeholder. Mengingat dunia pendidikan merupakan salah satu lembaga yang membina, men¬ciptakan perubahan dan perkembangan, serta kemajuan kebudayaan suatu bangsa. Demikian juga Universitas Metropolis, Universitas Beachapolis, Universitas Agro¬polis sebagai lembaga pendidikan juga turut serta me¬majukan kebudayaan bang¬sa Indonesia. Untuk itu, sudah sewajarnya ketiga PTM tersebut mening¬katkan kualitas layanan akademiknya terhadap maha¬siswa dengan menerapkan Sistem Penjaminan Mutu (SJM). Fokus penelitian ini (1) Proses penetapan standar mutu perguruan tinggi Muhammadiyah; (2) Proses pemenuhan standar mutu di Universitas Metropolis, Universitas Beachapolis, dan Universitas Agropolis. Se¬¬dangkan tujuannya adalah (1) mendeskripsikan proses penetapan standar mutu perguruan tinggi Muham¬madiyah; (2) mendeskripsikan proses pemenuhan standar mutu di Universitas Metro¬polis, Universitas Beachapolis, dan Universitas Agropolis. Mutu adalah karakteristik dari suatu produk atau pelayanan yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan pelanggan sehingga pelanggan terpuaskan. Unsur utama kualitas dalam penjaminan mutu difahami sebagai proses adanya kepastian bahwa telah terdapat standar yang spesifik dan secara terus menerus diupayakan dicapai untuk sebuah produk atau layanan yang unggul. Dengan demikian mutu pem¬belajaran menunjuk pada tinggi rendahnya standar. Ditegaskan oleh Ellis (1993) bahwa pemikiran tentang bentuk kualitas dalam pembelajaran yang penting bahwa kualitas selalu terkait dengan kepu¬asaan konsumen atau pelanggan, yang dalam hal ini primary customer adalah mahasiswa. Mutu kini semakin populer karena dianggap sebagai langkah terbaik untuk membantu memperoleh sistem pendidikan yang efektif dan efisien. Kalau saja dapat disarikan bahwa pendidikan yang efektif dan efisien sesungguhnya fo¬kusnya adalah pembelajaran maka penjaminan mutu dalam pembelajaran (qu¬a¬li¬ty assurance in teaching) akan sangat terkait dengan aspek-aspek di bawah ini ka¬rena dipandang sumber-sumber mutu pendidikan berawal dari (1) pemahaman ten¬tang guru; (2) nilai moral tinggi; (3) hasil ujian yang unggul; (4) dukungan orang tua dan masyarakat sekitar; (5) kecukupan sumber; (6) penerapan teknologi mutakhir; (7) kekuatan dan tujuan pemimpin; (8) care dan berperhatian terhadap siswa; (9) kurikulum yang menantang. (Middlehurst, 2001). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini didasarkan pada permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai yaitu berusaha untuk men¬des¬kripsikan secara komprehensif mengenai data yang diperoleh di lapangan secara apa adanya (taken for granted) melalui pemahaman, interpretasi, dan pendalaman tentang praktek sistem penjaminan mutu (SJM) yang diim¬ple¬men¬tasikan oleh Universitas Metropolis, Universitas Beachapolis, dan Universitas Agropolis dalam rangka me¬ning¬katkan kualitas layanan akademiknya kepada para pelanggan (mahasiswa) dengan cara peneliti terlibat langsung dengan subjek di lingkungan penelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) Proses penetapan standar mutu perumusan tujuan yang melibatkan semua pi¬¬¬hak di uni¬ver¬si¬t¬as menjadikan komponen-komponen yang ada di universitas berkomitmen melak¬sa¬na¬kannya ; (2) Proses penetapan standar mutu pengambilan kepu¬tusan melalui musyawarah mufakat dapat meminimalisir per-masalahan-permasalahan yang muncul di universitas ; (3) Etika dosen yang berkepribadian Muhammadiyah berupa a¬mar makruf nahi mungkar akan memunculkan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam melaksanakan tugas ; (4) Kurikulum yang disusun berdasarkan kurikulum nasi¬o¬nal, institu¬sio¬nal, dan dunia kerja meningkatkan kompetensi dan daya saing lulu¬san ; (5) Proses pemenuhan standar mutu perencanaan program studi/¬kepena¬si¬ha¬tan akademik membantu kesulitan pribadi yang berhubungan dengan studi dan memahami sikap ilmiah mahasiswa; (6) Proses pemenuhan standar mutu pe¬lak¬sanaan per¬kuliahan dengan metode penyajian materi yang variatif memunculkan sikap M-M yaitu memotivasi dan menyenangkan mahasiswa; (7) Proses peme¬nuhan standar mutu pelaksanaan pe¬nilaian yang terbuka, transparan, menye¬nang¬kan dapat meningkatkan mutu perkuliahan; (8) Proses pemenuhan standar mutu pembimbingan dan praktikum yang sesuai ketentuan dalam bu¬ku pedoman mengoptimalkan pencapaian tujuan dan tidak adanya waktu yang terbuang sia-sia.

Perbedaan motivasi menyelesaikan skripsi mahasiswa yang memiliki pasangan pada mahasiswa FMIPA Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru / Nidya Trisna Ningsih

 

ABSTRAK Ningsih, Nidya Trisna. 2010. Perbedaan Motivasi Menyelesaikan Skripsi Mahasiswa yang Memiliki Pasangan dan Mahasiswa yang Tidak Memiliki Pasangan pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Skripsi, Program Studi Psikologi Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si, M.Ed, (II) Diyah Sulistyorini, S,Psi, M.Psi. Kata Kunci: motivasi menyelesaikan skripsi, mahasiswa. Motivasi merupakan salah satu variabel yang sangat mempengaruhi kuantitas performasi seseorang dan proses hasil belajar. Motivasi merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi tersebut dapat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya keterlibatan peserta didik (mahasiswa) dalam kegiatan akademik dan dalam hasil kegiatan belajar. Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu yang merangsang timbulnya tingkah laku, dan terus mempertahankan tingkah laku tersebut guna mencapai tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi menyelesaikan skripsi antara mahasiswa yang memiliki pasangan dan mahasiswa yang tidak memiliki pasangan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Subyek penelitian sebanyak 60 orang yaitu 30 mahasiswa yang memiliki pasangan dan 30 orang mahasiswa yang memiliki pasangan pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam angkatan 2005 Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru, dengan menggunakan teknik sampling purposif. Metode yang digunakan untuk menyusun skala motivasi adalah metode Rating yang Dijumlahkan dari Likert. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Uji-t yaitu Uji t-test independent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai uji t 15,287 dengan nilai Sig. (2-tailed) 0,000 (p<0,05). Oleh karena signifikansi 0,000 kurang dari 0,05 (sig <0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan tingkat motivasi menyelesaikan skripsi antara mahasiswa yang memiliki pasangan dan mahasiswa yang tidak memiliki pasangan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti topik yang sama hendaknya menggunakan mengkaji lebih dalam mengenai hubungan motivasi menyelesaikann skripsi dengan perilaku dan melihat faktor-faktor yang melatarbelakanginya, mampu menjabarkan perbedaan perbedaan tersebut sehingga hasil penelitian yang diperoleh menjadi semakin detail dan akurat.

Pengembangan bahan ajar komplementer menulis puisi dalam bentuk verbal dan audio-visual untul siswa SMP/MTs kelas VII / Reni Diah Anggawati

 

ABSTRAK Anggawati, Reni Diah. 2009. Pengembangan Bahan Ajar Komplementer Menulis Puisi dalam Bentuk Verbal dan Audio-Visual untuk Siswa SMP/MTs Kelas VII. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Widodo, Hs. M. Pd, (II) Dra. Hj. Ida Lestari, M. Si. Kata kunci: pengembangan bahan ajar, komplementer, menulis puisi, verbal, dan audio-visual KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing dengan kurikulum yang berbeda pada tiap sekolah. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah maka bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan. Diantara beberapa jenis bahan ajar, bahan ajar modul memiliki beberapa kelebihan. Dengan bahan ajar modul, siswa dapat mempelajari materi ajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing karena dapat dipelajari secara mandiri. Dalam bahan ajar modul terdapat penyajian materi dengan menggunakan metode tertentu sehingga mempermudah siswa dalam mempelajarinya. Selain itu, bahan ajar modul menyajikan rangkuman materi pembelajaran dan sejumlah latihan yang dapat digunakan sebagai alat ukur bagi siswa seberapa jauh mereka menguasai materi pembelajaran. Dengan adanya beberapa kelebihan bahan ajar modul maka peneliti mengembangkan bahan ajar berbentuk modul untuk mengembangkan kemampuan menulis puisi siswa SMP. Namun mengingat dasar penyusunan bahan ajar ini adalah untuk memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki gaya belajar visual dan auditorial, maka diperlukan bahan ajar penunjang yakni CD Interaktif untuk mempermudah siswa yang memiliki gaya belajar auditorial dalam mempelajari bahan ajar tersebut. Masalah dalam penelitian ini difokuskan pada penyusunan bahan ajar menulis puisi dalam bentuk verbal dan audio-visual (modul dan CD Interaktif) dengan memenuhi kriteria kelayakan isi, ketepatan bahasa, kelayakan penyajian, dan kelayakan kegrafikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yakni penelitian yang datanya dinyatakan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa menggunakan teknik statistik yang mendetail namun hasil yang diperoleh tetap dinyatakan dalam presentase. Sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Subjek uji coba produk pengembangan bahan ajar terdiri atas tiga kelompok yakni kelompok ahli, praktisi, dan kelompok siswa. Lokasi uji coba bahan ajar ini dilakukan di SMP Laboratorium UM. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data uji coba produk berupa angket dan wawancara. i ii Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa bahan ajar komplementer menulis puisi dalam bentuk verbal dan audio-visual harus melalui tahap revisi untuk mencapai kriteria penyusunan bahan ajar. Adapun kriteria yang telah terpenuhi dalam bahan ajar ini adalah sebagai berikut. Kelayakan isi: bahan ajar berisi materi pembelajaran dan tahapan menulis puisi dengan tingkat kualitas dan kuantitas yang telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa SMP/MTs kelas VII. Ketepatan bahasa: bahan ajar menggunakan bahasa yang komunikatif dan interaktif. Kelayakan sajian: penyajian bahan ajar telah urut dan runtut untuk mempermudah proses belajar siswa. Kelayakan kegrafikan: lay out, gambar, dan jenis tulisan dipilih untuk menambah kemenarikan bahan ajar. Bahan ajar ini telah disusun sedemikian rupa sehingga dalam pemanfaatan akan sangat optimal jika dipergunakan secara bersamaan antara bahan ajar teks dan CD Interaktif. Bahan ajar CD Interaktif nantinya dapat diakses oleh siswa sehingga dapt digunakan kapan saja dan dimana saja dalam mempelajari proses penulisan puisi. Saran-saran yang dapat dikemukakan penulis setelah melaksanakan penelitian ini ditujukan untuk guru, penyusun bahan ajar, dan peneliti lain. Bahan ajar dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa dan guru dalam menunjang proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas karena sesuai dengan proses penulisan puisi dan merupakan bahan ajar yang menarik dengan memperhatikan kedua aspek tersebut. Penulis bahan ajar lain dapat menjadikan bahan ajar ini sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan materi puisi yang sesuai dan yang mampu mengembangkan kemampuan menulis puisi siswa SMP kelas VII. Latihan-latihan menulis puisi dengan beberapa tahapan sistematis yang sesuai dengan indikator yang terdapat pada bahan ajar ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penyusunan bahan ajar yang lebih kreatif. Bahan ajar yang dikembangkan pada penelitian ini dapat digunakan peneliti lain sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian pada bidang yang sejenis.

Implementasi pakem melalui olah pikir sejoli untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis pantun di kelas IV SDN Kepanjenlor III kota Blitar / Hari Tutik Purwanti

 

Dari hasil pengamatan pada beberapa sekolah dasar di kota Blitar menunjukkan bahwa pengajaran pantun di tingkat sekolah dasar khususnya kelas IV masih sering dijumpai siswa mengalami kesulitan untuk memahami dan membuat pantun anak-anak sederhana. padahal Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan guru adalah 71. Pencapaian ini masih kurang dari target. Maka dari itu penulis akan melakukan perbaikan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia dengan materi pantun anak-anak. Alternatif pemecahan masalah tersebut adalah dengan implementasi PAKEM melalui olah pikir sejoli dan mencari pasangan untuk merangsang pikiran dan meningkatkan daya pikir siswa untuk menemukan permasalahan dengan memberikan stimulus-stimulus tertentu. Dengan hal yang demikian guru dapat menjajaki sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang telah disampaikan. Sehingga KBM yang telah berlangsung bisa terlaksana sesuai dengan apa yang diharapakan/sesuai dengan targetnya. Berdasarkan harapan peneliti, maka penelitian ini akan mengkaji permasalahan sebagai berikut: (1). Apakah hnplementasi PAKEM melalui Olah Pikir Sejoli dan Mencari Pasangan dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis pantun anak dalam berbagai tema di kelas IV SDN Kepanjenlor 3 Kota Blitar (2). Apakah pembelajaran PAKEM melalui Olah Pikir Sejoli dan Mencari Pasangan dapat meningkatkan aktivitas siswa? Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk : (1). Mengetahui apakah penerapan pembelajaran PAKEM melalui metode Olah Pikir Sejoli dan Mencari Pasangan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis pantun anak dalam berbagai tema (2) Mengetahui penerapan pembelajaran PAKEM melalui Olah Pikir Sejoli dan Mencari Pasangan dapat meningkatkan aktivitas siswa atau tidak?. Penelitian ini mengunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari satu pertemuan dan empat tahapan observasi, yaitu : (1) tahap perencanaan tindakan; (2) tahap pelaksanaan tindakan; (3) tahap observasi; (4) tahap refleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas 4 SD Negeri Kepanjenlor 3 Kota Blitar. Sedangkan, data yang diperoleh berupa hasil tes evaluasi dan lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Hasil analisis didapatkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata 66, pada siklus I atau pra tindakan. setelah mengalami tindakan yaitu pengimplementasian metode yang di pakai oleh peneliti, hasil belajar siswa meningkat ditandai dengan meningkatnya hasil rata-rata evaluasi pada siklus II yaitu : 80. Berdasarkan hasil analisa PTK ini, guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan cara yang variatif, tidak hanya dengan keterangan lisan atau tulisan yang ada di buku malainkan dengan menggunakan alat bantu pembelajaran seperti kartu atau dengan membuat kelompok berpasangan agar siswa menjadi lebih aktif dan merasa senang selama kegiatan belajar mengajar

Representasi budaya indonesia dalam buku teks bipa living indonesian karya Widodo HS, Gatut Susanto, dan Teresa Woods-Hunt / Resmita Muktyana

 

ABSTRAK Muktyana, Resmita. 2009. Rrepresentasi Budaya Indonesia dalam Buku Teks BIPA Living Indonesian. Skripsi. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Imam Suyitno, M.Pd, (II) Drs. Gatut Susanto, M.M., M.Pd. Kata Kunci: Budaya, Buku Teks, BIPA, Topik Sajian, Bentuk Sapaan, Pilihan Kata Saat mempelajari suatu bahasa, secara tersirat pula pada dasarnya adalah mempelajari bahasa serta budaya dari suatu bangsa. Keseluruhan budaya itu meliputi budaya ide, filsafat, nilai, norma, perilaku dan budaya material yang dapat dikaji melalui keseluruhan sistem bahasa. Bahasa tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya masyarakat penuturnya, karena selain merupakan fenomena sosial, bahasa juga merupakan fenomena budaya. Bahasa merupakan salah satu unsur budaya dan bahasa sendiri juga merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya. Pemahaman terhadap unsur-unsur budaya suatu masyarakat sangat berkaitan dengan mempelajari suatu bahasa. Mempelajari bahasa Indonesia bagi para penutur asing sama halnya mempelajari dan menghayati perilaku dan tata nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Dalam kegiatan belajar mengajar, bahasa tidak akan pernah lepas dari buku teks. Hal tersebut juga tercermin dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing, karena tanpa buku teks mereka akan sulit untuk mengerti apa yang kita ajarkan. Buku teks memiliki peranan penting dalam pencapaian tujuan dari pembelajaran, maka dari itu pemilihan buku teks dapat menunjang dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan buku teks Living Indonesian yang karya Widodo Hs, Gatut Susanto, Dan Teresa Woods-Hunt berupa (1) topik-topik dalam sajian materi, (2) bentuk Sapaan, dan (3) pilihan kata yang dipergunakan dalam buku teks Living Indonesian. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, karena nantinya data akan berupa kata-kata, bukan angka. Pada penelitian ini peneliti nantinya akan mengumpulkan informasi menggunakan dokumentasi untuk menjelaskan berbagai hal berkaitan dengan topik-topik, bentuk sapaan, dan pilihan kata dalam buku teks BIPA Living Indonesian. Untuk itu, instrument yang dipakai adalah peneliti sendiri. Peneliti di sini bertindak sebagai orang yang mengelompokkan dan menjawab masalah yang dikaji dalam penelitian ini. Dari hasil analisis data, hal-hal yang akan diperoleh dapat dijabarkan sebagai berikut. 1. topik-topik pada buku teks Living Indonesian tersebut tampak pada (1) adat atau kebiasaan masyarakat Indonesia, (2) aktivitas kemasyarakatan, (3) hiburan, dan (4) seni. 2. bentuk sapaan pada buku teks Living Indonesian tersebut terbagi atas (1) sapaan kekerabatan, (2) sapaan penghormatan, dan (3) sapaan umum. 3. pilihan kata yang dilatihkan dalam buku tersebut meliputi pilihan kata yang mengambarkan budaya Indonesia yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu iv (1) kata benda, (2) kata sifat, dan (3) kata kerja. Pilihan kata dalam buku teks tersebut juga terbagi atas ragam baku (menggunakan bahasa resmi dan ejaan yang disesuaikan) dan kata non baku (tidak menggunakan bahasa dan ejaan yang resmi dan menggunakan bahasa Jawa). 4. aspek keterampilan berbahasa yang dilatihkan dalam buku teks Living Indonesian meliputi aspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. 5. kaidah bahasa yang terdapat dalam buku teks meliputi (1) pembentukkan kata berupa pengimbuhan (afiksasi); (2) pembentukan kata dasar dan macam kalimat yang meliputi (1) pembentukkan kata kerja, (2) kata sifat, (3) kata depan, (4) kata hubung, (5) subjek dan predikat, (6) kalimat tanya, dan (7) kata perintah. v

Pelaksanaan program praktik industri: studi kasus pada SMK Negeri 6 dan SMK PU Malang / Galih Hadi Setyawarman Saputra

 

ABSTRAK Saputra, Galih Hadi Styawarman, 2009. Pelaksanaan Program Praktik Industri: Studi Kasus pada SMK Negeri 6 Malang dan SMK PU Malang. Kata kunci : Praktik Industri; Pembelajaran Praktik Dengan dilaksanakannya program Praktik Industri di SMK, kegiatan pembelajaran praktik dilakukan di sekolah dan di industri. Program Praktik Industri merupakan usaha untuk meningkatkan keterampilan kerja siswa SMK. Walaupun porsi kegiatan pembelajaran praktik jauh lebih besar dari pembelajaran yang bersifat teori, mengapa kualitas/kemampuan kerja lulusan SMK masih dianggap belum memadai? Tentu hal ini terkait dengan kegiatan pembelajaran praktik di SMK. Berpijak pada uraian di atas maka perlu diteliti tentang kualitas pelaksanaan program pembelajaran praktik di SMK. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah penelitian ini adalah: bagaimanakah pelaksanaan program pembelajaran praktik di SMK Malang? Masalah penelitian tersebut dijabarkan menjadi (l) bagaimanalah kualitas perencanaan pembelajaran praktik?, (2) bagaimanakah kualitas pelaksaan pembelajaran praktik?, (3) bagaimanakah kualitas pelaksanaan evaluasi pembelajaran praktik?, (4) bagaimanakah kualifikasi guru praktik/instruktur industri?, (5) apakah terdapat perbedaan kualitas pelaksanaan program pembelajaran praktik di SMK Negeri dan SMK Swasta?, (6) apakah terdapat perbedaan kualitas pelaksanaan program pembelajaran praktik ditinjau dari karakteristik guru praktik? Berpijak tujuan penelitian di atas, rancangan penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriptif. Metode yang digunakan untuk menentukan sampel sekolah adalah teknik random sampling. Dari masing-masing SMK yang menjadi sampel penelitian ini, diambil sebagai responden guru dan instruktur industri, yaitu guru yang mengajar praktik, dan instruktur yang membimbing siswa di industri dengan teknik random sampling. Sedangkan siswa yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah satu kelas siswa yang mengikuti pembelajaran praktik pada guru yang menjadi sampel ini. Adapun instrumen-instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Teknik analisis data digunakan teknik deskriptif dan untuk menguji hipotesis digunakan teknik uji t-tes untuk sample terpisah dan analisis varian satu jalan dengan taraf siginifikansi 0,05. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan sebagai berikut: (l) kualitas perencanaan pembelajaran praktik di sekolah termasuk dalam kategori baik, dengan skor rata-rata 3,68, sedangkan kualitas perencanaan pembelajaran praktik industri termasuk dalam kategori cukup baik, dengan rata-rata skor 2,83, (2) Kualitas pelaksanaan pembelajaran praktik di sekolah termasuk dalam kategori cukup baik, dengan skor rata-rata 3,15, sedangkan kualitas pelaksanaan pembelajaran praktik di industri termasuk dalam kategori cukup baik, dengan rata-rata skor 3,19, (3) kualitas evaluasi pembelajaran praktik di sekolah termasuk dalam kategori cukup baik, dengan skor rata-rata 3,13, sedangkan kualitas pelaksanaan pembelajaran praktik di industri termasuk dalam kategori cukup baik, dengan rata-rata skor 2,82, (4). Kualifikasi Guru Praktik (a) Ditinjau dari tingkat pendidikan: 100% pendidikan S1 sesuai bidangnya, (b) Ditinjau dari pengalaman pelatihan 5 tahun terakhir sebanyak 11 orang mengikuti pelatihan 1 kali, 7 v orang mengikuti pelatihan 2 sampai 3 kali dan 12 orang guru mengikuti pelatihan diatas 12 kali (c) Ditinjau dari pengalaman mengajar, sebanyak 8 orang dengan pengalaman mengajar antara 1 – 5 tahun, 11 0rang dengan pengalaman mengajar antara 5 – 10 tahun dan 11 orang dengan pengalaman mengajar di atas 10 tahun, (5)Terdapat perbedaan kualitas pelaksnaaan program pembelajaran praktik di sekolah antara SMK Negeri dan SMK Swasta, (6) Terdapat perbedaan kualitas pelaksanaan pembelajaran ditinjau dari pengalaman pelatihan profesional yang pernah diikuti. Skor rata-rata guru yang mengikuti pelatihan profesional sebanyak 1 kali adalah 2,95, yang mengikuti pelatihan profesional sebanyak 2 sampai 3 kali adalah 3,51 dan yang mengikuti pelatihan profesional sebanyak lebih dari 4 kali adalah 3,75., demikian pula terdapat perbedaan kualitas pelaksanaan pembelajaran ditinjau dari pengalaman mengajar guru. Skor rata-rata guru dengan pengalaman mengajar antara 1 sampai 5 tahun adalah 2,87, guru dengan pengalaman mengajar antara 5 sampai 10 tahun adalah 3,40, dan guru dengan pengalaman mengajar diatas 10 tahun adalah 3,78. Mengacu dari beberapa kesimpulan penelitian tersebut diajukan beberapa saran sebagai berikut: (l) perencanaan pembelajaran baik yang dilakukan oleh guru maupun instruktur industri perlu lebih ditingkatkan, sehingga dengan demikian proses pelaksanaan pembelajaran praktik di industri dapat ditingkatkan kualitasnya., (2) pelaksanaan pembelajaran praktik baik di sekolah maupun di industri perlu lebih dioptimalkan, sehingga siswa-siswa SMK yang telah selesai mengikuti praktik betul-betul memiliki kemampuan profesional yang memadai, (3) evaluasi pembelajaran praktik juga masih perlu dioptimalkan dan hasil evaluasi perlu dijadikan pijakan dalam mengembangkan program Praktik Industri pada masa-masa mendatang., (4) temuan penelitian menemukan bahwa ada perbedaan proses pelaksaan program pembelajaran praktik yang dilakukan SMK Negeri dan SMK Swasta. Oleh karena itu disarankan agar ada kerjasama lebih baik antara SMK Negeri dan SMK Swasta dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran praktik kualitas pembelajaran praktik antara SMK Negeri dan Swasta sama., (5) temuan penelitian menemukan bahwa guru yang lebih berpengalaman (dalam mengajar, dan mengikuti pelatihan profesional) lebih berkualitas dalam melakukan pembelajaran praktik. Oleh karena itu disarankan perlu ada program, yang sistematis untuk memberikan pelatihan profesional pada guru-guru SMK secara berkelanjutan. Dengan demikian kinerja guru-guru SMK akan lebih berkualitas.

Sifat organoleptik kerupuk subtitusi tepung pisang kepok / Dewi Mastukha Nurdiastri

 

Kerupuk buah adalah jenis makanan kering yang bahan dasarnya adalah pati dan bahan perasa. Kandungan pati buah pisang kepok yang banyak memungkinkan pisang dijadikan tepung. Tepung pisang kepok memiliki warna bahan yang lebih baik. Tujuan pengolahan buah pisang adalah untuk mempermudah dan memperluas pemanfaatn, meningkatkan nutrisi dan meningkatkan kualitas produk. Pada penelitian ini tepung tapioka disubstitusi tepung pisang kepok sebanyak 10%, 20% dan 30%. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari proses pembuatan serta mengetahui sifat organoleptik kerupuk yang disubstitusi tepung pisang kepok. Uji organoleptik yang dilakukan meliputi uji perbedaan dan uji perbedaan tingkat kesukaan terhadap warna, flavour dan tekstur dari kerupuk pisang. Data diperoleh dari hasil pengisian format penilaian yang dilakukan oleh panelis agak terlatih sebanyak 20 orang dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Data akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam dan Duncan’s Mutiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian untuk uji mutu hedonik menunjukkan ada perbedaan yang nyata pada warna, flavour dan tekstur kerupuk pisang yang disubstitusi tepung pisang kepok. Kerupuk dengan perlakuan penambahan tepung pisang kepok sebesar 10% menghasilkan warna coklat terang, kerenyahannya sangat renyah dan flavour yang tidak kuat. Semakin banyak persentase tepung pisang kepok, kerupuk yang dihasilkan warnanya semakin coklat tidak terang, flavour yang kuat dan tidak renyah. Uji perbedaan tingkat kesukaan menunjukkan bahwa warna yang paling disuka adalah perlakuan substitusi tepung pisang kepok sebesar 10%, flavour kerupuk yang paling disuka adalah perlakuan persentase sebesar 30%, kerenyahannya yang paling disuka persentase tepung pisang kepok sebesar 10%. Kesimpulan penelitian ini adalah substitusi tepung pisang kepok yang berbeda menghasilkan sifat organoleptik yang berbeda. Pada penelitian ini disarankan menggunakan kerupuk dengan substitusi tepung pisang kepok sebesar 10% untuk menghasilkan warna dan tekstur yang baik, sedangkan untuk mendapatkan flavour yang kuat diperoleh substitusi tepng pisang kepok sebesar 30%.

Perencanaan paket permainan baca, tulis, hitung, dan doa ("calistunga") untuk anak-anak usia 4-6 tahun / Dwi Setyo Rini

 

ABSTRAK Rini, Dwi Setyo. 2010. Perancangan Paket Permainan Baca, Tulis, Hitung, dan Berdoa (”Calistunga”)Untuk Anak-Anak Usia 4-6 Tahun. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. H. Purwatiningsih, MPd, (II) Dody Priyatmono, S. Sn Kata Kunci : Permainan Calistunga, Anak usia 4-6 tahun Dalam perkembangan dunia pendidikan anak usia dini, pembelajaran ”calistung” (baca, tulis, dan hitung) menjadi perdebatan masyarakat karena seharusnya anak pada usia dini tidak boleh diajarkan ”calistung”. Padahal saat masuk ke sekolah dasar, anak diharuskan menguasai “calistung”. Karena itulah belajar dan bermain dapat menjadi solusinya. Selain membaca, menulis, dan berhitung anak harus dibiasakan untuk berdoa dimanapun dia berada. Pada pembahasan kali ini metode pengajaran “calistung” akan ditambahkan dengan pembelajaran doa sehari-hari. Sehingga metode belajar anak menjadi “calistunga” (baca, tulis, hitung, dan doa). Sesuai dengan penjelasan diatas maka perancangan paket permainan baca, tulis, hitung dan berdoa (“calistunga”) untuk anak-anak usia 4- 6 tahun beserta media promosinya diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Perancangan paket permainan “calistunga” ini bertujuan untuk memberikan salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan pembelajaran untuk anak usia dini (4-6 tahun). Model perancangan yang dipakai adalah model perancangan prosedural. Untuk menghasilkan sebuah produk yang dapat memecahkan masalah diperlukan identifikasi data perancangan yang dibagi menjadi data pustaka dan data lapangan. Data pustaka diambil dari buku-buku relevan dan internet. Data lapangan diambil dari wawancara pengajar di salah satu institusi pendidikan. Setelah itu data perancangan disentesis dan dihasilkan sebuah konsep perancangan. Hasil perancangan adalah paket kartu “calistunga” yang terdiri dari 92 kartu (baca, tulis, hitung, dan doa) yang dapat digunakan untuk bermain dan belajar, kemasan akrilik yang di desain agar anak dapat memilih dan menentukan materi apa yang akan dia pelajari dengan memutar lingkaran pemutar diatasnya, tas jinjing yang digunakan untuk membawa kemasan serta buku panduan untuk orang tua atau pengajar yang ada di sekolah dan buku mewarna. Selain itu media promosi yang dihasilkan adalah poster, sticker, leaflet, brosur, spanduk, X-Banner, kaos, iklan koran, pin, katalog, merchandise (puzzle), dan backdrop. Kesimpulan dari hasil perancangan paket kartu “calistunga” adalah penyajian permainan “calistunga” dapat menjadi solusi permasalahan pembelajaran untuk anak usia dini. Perancangan ini disarankan agar diuji lebih lanjut misalnya dengan mengujicobakan pada anak usia dini.

Analisis sifat histerisis dan struktur kristal bahan ferroelektrik Ba1-xSrxTIO3 / Winarsih

 

ABSTRAK Winarsih. 2009. Analisis Sifat Histerisis dan Struktur Kristal Bahan Ferroelektrik Ba1-xSrxTiO3. Skripsi, Program Studi Fisika Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Abdullah Fuad, M.Si, (2) Dra. Hartatiek, M.Si Ferroelektrik termasuk bahan dielektrik yang memiliki polarisasi spontan kuat. Kelebihan bahan ferroelektrik adalah kemampuan mengubah polarisasi internal dengan menggunakan medan listrik yang sesuai dan polarisasi spontan. Bahan ferroelektrik memiliki beberapa sifat unik diantaranya sifat hysterisis dan konstanta dielektrik yang tinggi, sifat piezoelektrik, sifat pyroelektrik, sifat optik linier untuk film tipis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat histerisis dan struktur kristal bahan ferroelektrik Ba1-xSrxTiO3. Bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah BaCO3 (99,9%), SrCO3 (99,99%), TiO2 (99,9%). Sampel disintesis dengan metode reaksi padatan (solid state reaction), dikalsinasi pada temperatur 8000C selama 4 jam dan disintering pada temperatur 11000C selama 4 jam. Sampel diukur sifat histerisisnya menggunakan metode sawyer tower dan dikarakterisasi menggunakan Difraksi Sinar -X (XRD). Analisis data ferroelektrik Ba1-xSrxTiO3 dengan space group (grup ruang) Pm3m dengan menggunakan software Crystalmaker, GSAS dan Microcal Origin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penambahan konsentrasi molar Sr berpengaruh terhadap nilai polarisasi remanen dan medan listrik koersif bahan. Dari kesembilan sampel dapat diketahui bahwa nilai polarisasi remanen dan medan listrik koersif terbesar terjadi pada x = 0.6 yaitu masing-masing 3.687 x 10-11 C/m2 dan 141,6667 V/m. Hal ini menandakan bahwa pada saat x = 0.6, bahan memiliki sifat elektrik yang kuat. Penambahan konsentrasi Sr tidak menyebabkan perubahan fase kristal karena masih berada dalam satu kerangka grup ruang Pm3m, dengan struktur kristal kubik walaupun volume dan kisi kristal berubah . Kata Kunci: Konsentrasi Molar, ferroelektrik, Histerisis, Ba1-xSrxTiO3, Struktur Kristal.

Perencanaan fasilitas umtuk pembelajaran KKPI dengan software net-support di SMK Negeri 1 Nguling Kab. Pasuruan / Syauqi Bay Roes, Muhli Chamim

 

Teknologi Informasi saat ini sudah menjadi kebutuhan mendasar dalam setiap organisasi terbukti saat ini nyaris tidak ada organisasi bisnis atau perusahaan bahkan instansi pendidikan yang tidak menggunakan teknologi informasi khususnya komputer. Dengan perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat ini, SMK Negeri 1 Nguling bisa dibilang tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi, karena SMK Negeri 1 Nguling telah memiliki 25 unit komputer yang terbagi menjadi 2 Laboratorium Komputer. Tetapi dalam pembelajaran para siswa bermainmain sendiri dan tidak menghiraukan guru pembimbing menerangkan. Melihat kenyataan ini penulis ingin membantu para guru pembimbing menyediakan fasilitas untuk pembelajaran internet, guna mengoptimalkan pembelajaran yang lebih baik lagi yang ada di SMK Negeri 1 Nguling dengan menggunakan software Net - Support. Program Net Support ini dapat membantu para guru pembimbing agar dapat memberikan materi yang diajarkan secara optimal dan para siswa dapat mengerti materi apa saja yang diberikan oleh guru pembimbing. Dalam pelaksanaan tugas akhir ini penulis menguji coba jaringan komputer yang berbasis intranet dan software Net Support ini memberikan kemudahan untuk guru, dengan fitur yang ada di Net Support seperti (1) Dapat mengamati software yang dioperasikan oleh siswa, (2) Dapat memblokir software yang tidak di ingikan dalam pembelajaran KKPI (3) Dapat memblokir situs (4) Dapat mengendalikan komputer client (5) Dapat memblokir komputer client

Implementasi kebijakan retribusi samaph di kota Pasuruan (Studi pada pemerintah Kota Pasuruan) / Santi Septyowati

 

i ABSTRAK Septyowati, Santi. 2009. Implementasi Kebijakan Retribusi Sampah di Kota Pasuruan (Studi pada Pemerintah Kota Pasuruan). Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si (2) Rusdianto Umar, S.H, M.Hum. Kata kunci: Implementasi, Kebijakan, Retribusi sampah PAD salah satu komponen sumber penerimaan keuangan daerah, disamping penerimaan lainnya yang berupa bagi hasil pajak dan bukan pajak, sumbangan dan bantuan dari penerimaan dari pemerintah diatasnya, serta pinjaman daerah. Guna menunjang peningkatan PAD, khususnya sektor retribusi daerah perlu adanya kebijakan-kebijakan tertentu dari pemerintah daerah yang mendukung terhadap pemungutan retribusi agar mampu memberikan kontribusi yang berarti. Kebijakan tersebut hendaknya disesuaikan dengan kondisi potensi yang dimiliki daerah yang bersangkutan, sehingga mampu dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan. Retribusi pelayanan persampahan/kebersihan sebagai salah satu jenis retribusi jasa umum dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sehingga masyarakat akan merasakan manfaatnya dan tentunya didukung dengan kesadaran yang tinggi maka akan mencapai visi, misi dan tujuan dari Kota Pasuruan. Permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana implementasi kebijakan retribusi sampah di Kota Pasuruan? (2) Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi dalam pemungutan retribusi sampah tersebut? (3) Bagaimana upaya Pemerintah Kota Pasuruan untuk mengatasi kendalakendala yang selama ini menghambat kelancaran pemungutan retribusi sampah tersebut? Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang mencoba mendeskripsikan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Penelitian ini dilakukan di Pemerintah Kota Pasuruan. Informan terdiri dari para pegawai Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pasuruan. Analisis data dilakukan dengan cara menggunakan teknik model interaktif yaitu reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data maka dilakukan: perpanjangan kehadiran, ketekunan pengamatan, dan triangulasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan retribusi sampah di Kota Pasuruan menggunakan pedoman Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2000 tentang retribusi pelayanan persampahan/kebersihan dan Keputusan Walikota Pasuruan No. 658.1/101/423.012/2006 tentang pelaksanaan pemungutan retribusi pelayanan kebersihan/persampahan sebagai acuannya. Kendala-kendala yang dihadapi dalam mengimplementasikan kebijakan retribusi sampah di Kota Pasuruan antara lain: (a) kurangnya kesadaran wajib retribusi dan upaya masyarakat untuk membayar retribusi sampah/kebersihan, terutama PKL (Pedagang Kaki Lima); (b) tingkat pelayanan pengelolaan persampahan yang ada belum maksimal, hal tersebut disebabkan keterbatasan sarana dan prasarana yang ii ada. Sarana dan prasarana yang pada saat ini sebagian telah mengalami kerusakan dan perlu mendapat perbaikan maupun penggantian; (c) belum efektifnya sanksi terhadap Pelanggaran Hukum mengenai kebersihan; (d) sering terjadi keterlambatan dalam pengangkutan sampah sehingga warga enggan untuk membayar retribusi kebersihan secara teratur; (e) masih kurangnya penerangan jalan dan kurang tertatanya taman-taman di Kota Pasuruan, sehingga masyarakat enggan untuk membayar retribusi kebersihan secara teratur; (f) minimnya biaya operasional pemeliharaan. Sementara upaya yang dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang selama ini menghambat kelancaran pemungutan retribusi sampah / kebersihan: (a) meningkatkan kualitas prasarana dan sarana pendukung wilayah seperti pembangunan dan pemeliharaan saluran limbah domestik, pengadaan sarana sanitasi limbah cair/padat; (b) menciptakan tata ruang kota yang berwawasan lingkungan; (c) meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan hidup. Berdasarkan temuan penelitian di atas, dikemukakan saran sebagai berikut: (1) mendorong peran aktif masyarakat, peran media massa, organisasi pemuda dan kemasyarakatan serta pimpinan informal dipandang sangat strategis untuk dapat menjadi motivator dilingkungan masing-masing; (2) adanya penambahan sarana dan prasarana kebersihan sehingga dapat meningkatkan pelayanan kebersihan dan keindahan kota; (3) perlu peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi petugas sehingga dapat meningkatkan kinerjanya dan penambahan personil khususnya untuk pelayanan kebersihan; (4) penyiapan kelengkapan produk-produk hukum yang memadai, serta adanya koordinasi yang baik antara lembaga terkait yang ada di Kota Pasuruan utamanya alat penegak hukum. 8 8

Penggunaan media benda asli dan model untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas II SDN I Gandusari kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek / Hendratna Setiawan

 

ABSTRAK Setiawan, Hendratna. 2010. Penggunaan Media Benda Asli dan Model untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas II SDN I Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Dan Prasekolah, Program Studi S1 PGSD, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Sumanto, M. Pd, (2) Drs. Heru Agus Tri Widjaja, M. Pd Kata kunci: Media benda asli, model, hasil belajar IPA Pembelajaran IPA di kelas II yang selama ini dilakukan guru merupakan cara pengajaran yang konvensional. Selama pembelajaran berlangsung guru memegang otoritas penuh, sedangkan siswa hanya pasif saja. Pembelajaran yang seperti itu menyebabkan hasil belajar yang diperoleh siswa rendah. Sehingga peneliti merasa perlu mengadakan perbaikan pembelajaran IPA dengan menggunakan media benda asli dan model. Tujuan pada penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan media benda asli dan model di kelas II SDN I Gandusari, (2) hasil belajar siswa di kelas II SDN I Gandusari setelah diajarkan menggunakan media benda asli dan model, (3) aktivitas belajar siswa di kelas II SDN I Gandusari pada saat diajarkan menggunakan media benda asli dan model, (4) tanggapan siswa terhadap pembelajaran IPA setelah diajarkan menggunakan benda asli dan model. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bentuk kolaboratif partisipatoris, dimana peneliti bekerjasama dengan guru kelas sebagai pengajar. Pembelajaran IPA dengan menggunakan media benda asli dan model dapat dilaksanakan dengan baik dan terjadi kenaikan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus. Pada pre tes ketuntasan belajar secara klasikal hanya 30 %, sedangkan rata-rata kelasnya adalah 55,35. Pada siklus I ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 60%, sedangkan rata-rata kelasnya adalah 71,9. Pada siklus II ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 87,5% dan nilai rata-rata kelas 87,53. Dampak dari pembelajaran ini terhadap aktivitas belajar siswa adalah siswa nampak lebih aktif, berani dan dapat bekerjasama dengan siswa yang lain. Hal ini dapat dilihat dari penilaian aktivitas siswa saat pembelajarn berlangsung, pada siklus I nilai rata-rata kelas dalam penilaian aktivitas siswa adalah 66,04. Pada penilaian aktivitas belajar siswa di siklus II nilai rata-rata kelas terhadap penilaian aktivitas siswa adalah 76,25. Tanggapan siswa kelas II SDN I Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek terhadap terhadap penggunaan media benda asli dan model cukup positif. Materi yang diajarkan dapat diterima dengan baik oleh siswa. Siswa merasa senang karena siswa dapat bermain dan belajar sehingga mendapatkan pengalaman secara langsung. Disarankan guru perlu menggunakan berbagai media pembelajaran yang memberikan suasana pembelajaran aktif sehingga memberikan pengalaman langsung kepada siswa agar menumbuhkan minat belajar siswa.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia dengan strategi react untuk SMP bertaraf internasional pada materi pokok unsur, senyawa, campuran dan pemisahan campuran / Sucahyono Adhi R

 

ABSTRAK Adhi, Sucahyono. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Dengan Strategi REACT Untuk SMP Bertaraf Internasional Pada Materi Pokok Unsur, Senyawa, Campuran dan Pemisahan Campuran. Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Prayitno, M.Pd., (2) Dra.Sri Rahayu, M.Ed. Kata Kunci: perangkat pembelajaran, strategi REACT, SMP bertaraf internasional (SMP-BI), unsur senyawa, campuran dan pemisahan campuran. Untuk memenuhi tuntutan SDM berdaya saing internasionla, dalm bidang pendidikan pemerintah mengembangkan sekolah yang sudah memenuhi standar nasional penddikan (SNP) menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Pengembangan sekolah ini dilakukan pada berabagai jenjang endidikan termasuk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). SAlah satu mata pelajaran dalam kurikulum SMP-BI adalah kimia yang terintegrasi dengan pelajaran biologi dan fisika dalam mata pelajaran sains. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran kimia untuk SMP-BI terutama pada pokok bahasan unsur, senyawa, campuran dan pemisahan campuran. Pengembangan perangkat pembelajaran ini didasari oleh pembelajaran yang sifatnya konstruktivistik dan kontekstual. Dalam menerapkan pembelajaran kontekstual digunakan strategi REACT yang mempunyai lima tahap pembelajaran yaitu relating (mengaitkan), experiencing (mengalami), applying (menerapkan), cooperating (bekerja sama), dan transfering (memindahkan) Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian utama. Bagian pertama merupakan Panduan Guru (Teacher’s Guide) yang terdiri atas Silabus dan Sistim Penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Instrumen penilaian, serta Buku Guru (Teacher’s Book) yang didalamnya terdapat media berupa video dan powerpoint. Bagian kedua adalah Buku Siswa (Student’s Book) yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah survei kondisi lapangan, kemudian dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran. Langkah selanjutnya dilakukan validasi sedangkan pengembangan produknya berdasarkan model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Langkah-langkah model pengembangan Dick dan Carey yaitu mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum, melakukan analisis materi pelajaran, mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa, menuliskan pengalan belajar, mengembangkan item tes berbasis kriteria, pemilihan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih perangkat pembelajaran, melakukan evaluasi formatif (validasi), melakukan revisi, dan memproduksi perangkat pembelajaran. Desain validasi penelitian yang digunakan dalam penelitian i ii pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis persentase. Berdasarkan hasil validasi dari ke empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 88,64% dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah. Namun, untuk mengetahui efektivitas perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan perlu dilakukan uji lapangan. Perangkat pembelajaran berbasis konstruktivistik dan kontekstual juga perlu dikembangkan untuk topik yang lain.

Penerapan pembelajaran kooperatif teknik stad untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa kelas VIII di SMP Sriwedari Malang / Siti Faiqotul Himmah

 

ABSTRAK Himmah, Siti Faiqotul. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Teknik STAD Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Ekonomi Siswa Kelas VIII Di Smp Sriwedari Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof . Dr. H. Punaji Setyosari, M.Ed (II) Eka Pramono Adi, S. IP., M.Si Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, STAD, Motivasi, Hasil Belajar Upaya peningkatan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. STAD Student Team Achievement Division merupakan pendekatan pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran kelompok, pembelajaran yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. Pada pembelajaran ini siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat-lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjannya, jenis kelamin dan suku, sehingga siswa lebih termotivasi belajar dan hasil belajarnya akan meningkat. Penelitian ini bertujuan (1) untuk memaparkan penerapan model pembelajaran tipe STAD dalam meningkatkan motivasi belajar ekonomi siswa kelas VIII di SMP Sriwedari Malang (2) untuk memaparkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam meningkatkan prestasi belajar ekonomi siswa kelas VIII di SMP Sriwedari Malang Untuk mencapai maksud tersebut, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas PTK yang terdiri dari dua siklus. Siklus I dan siklus II ditempuh selama empat pertemuan. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada siklus I dan siklus II berupa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar, angket motivasi belajar siswa, lembar observasi serta dokumentasi. Hasil penelitian penerapan pembelajaran kooperatif model STAD adalah sebagai berikut: (1) penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari perolehan jumlah siswa yang menjawab sangat setuju dan setuju penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar jumlahnya lebih banyak dibanding dengan yang menjawab, kurang setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju(2) pembelajaran dengan implementasi model kooperatif tipe STAD, dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Sriwedari Malang tahun ajaran 2009-2010, yakni sebelum diberi tindakan rata-rata kelas 52,76 %,setelah diberi tindakan pada siklus I, rata-rata kelas meningkat menjadi 73,43 %. Demikian juga pada siklus II, terdapat peningkatan sebelum diberi tindakan rata-rata kelas 77,81 %, setelah diberi tindakan pada siklus II rata-rata kelas meningkat yakni menjadi 92,22%. Berdasarkan hasil penelitian maka peneliti mengajukan saran:(1) bagi sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam upaya memperbaiki penerapan strategi pembelajaran di SMP Sriwedari Malang. Karena pembelajaran kooperatif tipe STAD telah terbukti dapat meningkatkan motivasi siswa dan hasil belajar siswa. (2) bagi guru, karena pembelajaran STAD telah terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, dan diharapkan guru hendaknya lebih memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran, sehingga peningkatan aktivitas siswa dapat meningkatkan hasil belajar.(3) bagi siswa hendaknya lebih meningkatkan aktivitas dalam pembelajaran karena aktivitas siswa sangat penting dalam pembelajaran Ekonomi dengan jalan diskusi.(4) bagi peneliti berikutnya, dapat melakukan penelitian dengan pendekatan model pembelajaran STAD secara lebih lanjut. Misalnya pada sampel yang lebih luas, jenjang pendidikan yang berbeda atau materi yang lain, sehingga pembelajaran dengan model pembelajaran STAD dapat diakui sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap lovalitas pelanggan pada ajb bumi putera 1912 kantor operasional celaket Malang / Andi Chamaludin

 

ABSTRAK Chamaludin, Andi. 2007. Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Pelangggan Pada AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang, Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) DR. Eri Try Djatmika Rudijanto W.W, MA, M.Si (2) Afwan Hariri Agus Prohimi, S.E., M.Si Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Loyalitas Pelanggan. Setiap strategi yang digunakan oleh perusahaan pada dasarnya bertujuan untuk menarik perhatian dan mempengaruhi konsumen agar mau membeli produk yang ditawarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pihak perusahaan dalam hal ini harus memahami perilaku konsumen sehingga dalam pelayanannya konsumen mendapatkan keloyalan. Kunci keberhasilan suatu perusahaan yakni mampu memahami kebutuhan konsumen atau nasabah, keinginan dan harapan pelanggan. Sebab dapat dikatakan bahwa jika pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan pelanggan, maka pelayanan dapat dipersepsikan baik, begitu juga sebaliknya jika pelayanan yang dirasakan lebih rendah atau kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan yang apa yang diharapkan maka dapat dipersepsikan kualitas pelayanannya buruk. Tujuan skripsi untuk mengetahui bagaimana strategi seorang agen Perusahaan AJB Bumi Putera 1912 Kantor Operasional Malang Celaket dalam memberikan kepuasan pelayanan bagi para calon pelanggan (nasabah), pelanggan yang ada dan sudah mampukah mereka mempengaruhi suksesnya kegiatan pemasaran dan kualitas pelayanannya yang sesuai dengan harapan calon pelanggan ataupun pelanggan yang ada. Hasil yang didapat dari pengamatan yang dilakukan selama dilaksanakannya observasi di Perusahaan AJB Bumi Putera 1912 Kantor Operasional Malang Celaket menunjukkan bahwa strategi kepuasan pelanggan yang diterapkan oleh agen sudah cukup baik seperti kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan dalam pelayanan, namun masih terdapat beberapa agen yang masih belum melaksanakannya dengan baik. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, disarankan agar para agen harus dapat meningkatkan kualitas pelayanan melalui pendekatan diantaranya ekspresi dengan senyuman, komunikasi, penampilan, dan kebiasaan pelayanan yang lebih effektif demi tercapainya kepuasan pelanggan dan para calon pelanggan atau nasabah, sehingga mampu menciptakan loyalitas dihati pelanggan dan menciptakan bisnis ulangan oleh pelanggan (repeat business). v Dalam penelitian ini mengkaji pengaruh variabel bebas (X) kualitas layanan dengan sub variabel bukti langsung (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan empati (X5) terhadap variabel terikat loyalitas pelanggan (Y). populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah nasabah AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang pada tahun 2007. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 orang dan pengambilan sampel diukur dengan menggunakan teknik Raandom Samping. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji f. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Ada pengaruh yang signifikan antara bukti langsung terhadap loyalitas pelanggan pada AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang. (2) Adapengaruh yang signifikan antar keandalan terhadap loyalitas pelanggan pada AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang. (3) Ada pengaruh yang signifikan antar daya tanggap terhadap olyalitas pelanggan pada AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang. (4) Ada pengaruh yang signifikan antar jaminan terhadap loyalitas pelanggan pada AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang. (5) Ada pengaruh yang signifikan antara empati terhadap loyalitas pelanggan pada AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang. Variabel bukti langsung merupakan variabel yang dominan pengaruhnya terhadap loyalitas pelanggan . solusi yang dapat diberikan yang berkaitan dengan temuan dalam penelitian ini adalah hendaknya pihak AJB Bumiputera 1912 Kantor Operasional Celaket Malang lebih meningkatkan hubungan baik dengan nasabah, memahami kebutuhan para nasabah. vi

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |