Pengaruh kepuasan kerja karyawan terhadap intensi turnover melalui komitmen organisasi karyawan (Studi pada karyawan PT. Hero Sakti Motor Gemilang Malang) / Andri Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, Andri. 2009. Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan Terhadap Intensi Turnover Melalui Komitmen Organisasi Karyawan (Studi pada karyawan PT. Hero Sakti Motor Malang).Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.M.Arief, M.si, (II) Drs.I. Nyoman Suputra,M.si. Kata Kunci : Kepuasan Kerja, Komitmen Karyawan, Intensi Turnover Kinerja suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku karyawan yang dimiliki perusahaan tersebut. Fenomena yang seringkali terjadi adalah kinerja suatu perusahaan yang telah demikian bagus dapat dirusak, baik secara langsung maupun tidak, oleh berbagai perilaku karyawan yang sulit dicegah terjadinya. Salah satu bentuk perilaku karyawan tersebut adalah keinginan berpindah (intensi turnover) yang berujung pada keputusan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya. Sebagai upaya untuk menekan terjadinya turnover karyawan, perusahaan dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang dapat menarik minat seorang karyawan untuk tetap bekerja dan berkarya dengan sumber daya yang dimilikinya. Usaha untuk mengurangi keinginan keluar kerja (turnover intentions) ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepuasan kerja karyawan. faktor-faktor kepuasan kerja dapat mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi. Kepuasan kerja nampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya. Sebaliknya karyawan yang tidak terpuaskan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan nampak memiliki sikap negatif yang mencerminkan kurangnya komitmen mereka terhadap perusahaan seperti sering mangkir, produktivitas rendah, perpindahan karyawan, tingginya tingkat kerusakan, timbulnya kegelisahan serta terjadinya tuntutan-tuntutan yang berakhir dengan mogok kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap intensi turnover dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh komitmen organisasi karyawan sebagai variabel penengah (intervening variable). Sesuai dengan rancangan konsep penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan analisis jalur, yang merupakan penerapan dari regresi berganda (multiple regression analysis). Dari teknik tersebut akan diketahui pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat baik secara langsung, maupun tidak langsung dengan melalui variabel intervening. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel Kepuasan Kerja (X), variabel Komitmen Karyawan (Z), dan variabel Turnover intentions (Y). Untuk kepentingan ii penulis mengadakan suatu penelitian pada PT. Hero Sakti Motor Gemilang di Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tercatat 65 karyawan pada PT.HSMG.Sedangkan dalam penarikan sampel digunakan metode “Proportioned Stratified Random Sampling”dan diperoleh hasil sebesar 40 responden. Jumlah ini dianggap memenuhi batasan sampel yang telah diisyaratkan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan kuesioner (penyebran daftar pertanyaan). Adapun metode analisis yang digunakan dalam perhitungan adalah analisis inferensial dan analisis jalur. Pada pengujian hipotesis pertama, hasil uji analisis regresi antara variabel kepuasan kerja (X) dan variabel komitmen organisasi (Z), dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi korelasi positif atau searah antara variabel kepuasan kerja (X) dan variabel komitmen organisasi (Z). Artinya, bila kepuasan kerja meningkat maka komitmen organisasi karyawan juga akan meningkat. Dan terjadi pengaruh yang signifikan antara keduanya. Ini dibuktikan dengan besaran nilai b = 0,484, sig = 0,002 dan nilai R2 = 0,235. Pada pengujian hipotesis kedua, hasil uji analisis regresi antara variabel Kepuasan Kerja (X) Terhadap Intensi Turnover (Y), dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi korelasi negatif antara variabel Kepuasan kerja (X) Terhadap Intensi Turnover (Y). Artinya, bila kepuasan kerja meningkat maka intensi turnovernya akan menurun. Dan terjadi pengaruh yang signifikan antara keduanya. Ini dibuktikan dengan besaran nilai b= -0,404, sig= 0,010 dan nilai R2= 0,163. Dari hasil uji analisis regresi antara variabel komitmen organisasi (Z) Terhadap intensi turnover (Y), dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi korelasi negatif antara variabel komitmen organisasi (Z) terhadap intensi turnover (Y) tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan antara keduanya. Ini berarti, perubahan variabel komitmen organisasi tidak mempengaruhi secara signifikan perubahan intensi turnover. Ini dibuktikan dengan besaran nilai b= -0,252, sig= 0,116 dan nilai R2= 0,064. Dari hasil uji analisis jalur antara variabel kepuasan kerja (X) terhadap intensi turnover (Y) melalui komitmen organisasi (Z) sebagai variabel intervening didapatkanh koefisien determinasi yaitu sebesar 0,167 dapat disimpulkan bahwa 16,7% perubahan variabel Y (Intensi Turnover) disebabkan oleh perubahan variabel X (Kepuasan Kerja) dan Z (Komitmen Organisasi) sedangkan sisanya 83,3% disebabkan oleh faktor lain di luar perubahan variabel X (Kepuasan Kerja) dan Z (Komitmen Organisasi). Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa variabel komitmen organisasi (Z) tidak dapat memediasi pengaruh kepuasan kerja (X) terhadap intensi turnover (Y). Dari nilai interprestasi hasil analisis yang didapatkan yaitu 0,366, dapat ditarik kesimpulan bahwa model penelitian ini berinterprestasi korelasi rendah yaitu berada pada rentang skala 0,20-0,399. Artinya 36,6% data dapat dijelaskan oleh model penelitian ini, sedangkan sisanya 63,4% dijelaskan oleh variabel yang tidak ikut diteliti dalam penelitian ini. Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa komitmen terhadap organisasi yang dimiliki karyawan pada PT. Hero Sakti Motor Gemilang bukan merupakan faktor penentu yang dapat mempengaruhi niat karyawan untuk berhenti kerja. Intensi turnover yang terjadi lebih dapat disebabkan oleh kondisi kepuasan kerja yang dirasakan karyawan. Untuk menekan tingkat intensi turnover karyawan, perusahaan perlu memperhatikan tingkat kebutuhan dan keinginan (need and demand) karyawan yang terjadi selama ini, langkah nyata yang dapat dilakukan yaitu dengan berusaha melakukan pendekatan secara baik kepada karyawan dengan harapan segala bentuk permasalahan yang menyangkut kepuasan kerja karyawan di perusahaan dapat terselesaikan dengan baik sehingga tidak menghambat aktivitas yang dilakukan perusahaan dan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan untuk kedepannya. Pihak manajemen diharapkan untuk tetap melakukan eveluasi atas kinerja yang telah dicapai oleh karyawan, hal tersebut dalam rangka untuk proses pengendalian atas komitmen para karyawan dalam bekerja di perusahaan dengan harapan dapat tercipta komitmen yang tinggi para karyawan selama bekerja di perusahaan.

Learning strategies of successful english learners at MAN 3 MAlang in improving their speaking ability / Shirly Rizki Kusumaningrum

 

This study was conducted to describe learning strategies of successful English learners at MAN 3 Malang in improving their speaking ability. Specifically, this study aimed at describing: (1) strategies used by successful English learners to assist in converting controlled processes into automatic ones, (2) strategies used by successful English learners when they got difficulty in expressing their idea orally using English, (3) strategies used by successful English learners in maintaining their speaking ability. This study was a descriptive study as it was intended to establish the existence of phenomena by explicitly describing them. Specifically, the design of this study was a case study as the researcher was interested in describing some aspects of the second language performance or development of subjects as individuals. The instruments used in collecting the data were questionnaires and interview guide. The data collected from those two instruments were selected, simplified, and organized to draw the conclusions. Based on the findings, successful English learners used these following strategies in assisting them in converting controlled processes to the automatic ones: structured reviewing and lowering anxiety counts 14% respectively; representing sounds, translating, self-monitoring, taking risk, and listening to the body counts 57% respectively; while repeating, formally practicing with sounds, recognizing and using formulas, recombining, practice naturalistically, transferring, paying attention, delaying speech production, seeking practice opportunity, and cooperating with others were the most preferred strategies used by the subjects as they count 100% respectively. Related to their effort in overcoming their limitation in speaking, they used these following strategies: switching to the mother tongue was used by 1 subject in this study; avoiding communication was used by 4 out of 7 subjects; 71% of the subjects used finding out about language learning and discussing feelings with others as their strategies in solving their difficulties in speaking; while placing words in context, formally practicing with sounds, using resources, reasoning deductively, getting help, using mime/gesture, selecting the topic, using synonym/circumlocution, identifying the purpose of a language, planning for a language task, self-evaluating, and asking correction were their preferred strategies in overcoming their limitation in speaking as all the subjects used these strategies. In addition, maintaining speaking ability is important, otherwise the learners will experience such kind of attrition. These following strategies were used by the subjects in maintaining their speaking ability: 43% of the subjects used organizing and rewarding oneself; making positive statements counts 86%; while seeking practice opportunity, using resources, overviewing the materials, setting aims, self-evaluating, developing cultural understanding, and becoming aware of other people’s thought and feeling count 100% which means that these strategies are the preferred strategies used by the subjects in maintaining their speaking ability. In conclusion, learning strategies gave great contribution to the learners’ success as shown in the findings in this study. In line with the findings of this study, it is recommended for the other English learners to use the appropriate strategies so that they become successful learners. Besides, it is hoped that the English teachers can teach those strategies to their students so that they can choose which was appropriate for them. Moreover, it is suggested for the parents to provide as much as practice opportunity for their children in learning a language. Finally, for the future researchers, it is hoped that they can investigate learning strategies of successful English learners in the same skill (i.e. speaking), or in the other language skills, i.e. listening, reading, and writing.

Penerapan metode simulasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI Al-Yasini Ngabar Kraton Pasuruan / Miftahurrohmah

 

ABSTRAK Miftahurrohmah. 2010. Penerapan metode simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Dalam Pembelajaran PKn Di SDI AL-YASINI Ngabar Kraton Pasuruan. Skripsi jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. FIP Universitas Negeri Malang. pembimbing: (1) Drs.Ir. Endro Wahyuno, M.Si (2) Dra. Nur Hanifah, M. Pd. Kata kunci: Penerapan Metode Simulasi, Hasil belajar, PKn SD Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertujuan untuk membentuk watak warga negara yang baik, yaitu warganegara yang tahu, mau, dan sadar akan hak serta kewajibannya. Untuk meningkatkan kemampuan dan kemauan siswa dalam pembelajaran PKn, perlu adanya pembelajaran yang sesuai dengan penerapan pembelajaran yang diharapkan untuk hasil belajar meningkat dan lebih baik. Hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa SDI al-yasini belum menerapkan metode simulasi. Sebagian siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah yaitu 65 ketuntasan individu. Berdasarkan hal ini, metode simulasi sangat tepat digunakan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan metode simulasi untuk siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI al-yasini Ngabar Kraton Pasuruan; 2) Mendeskripsikan aktifitas siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI al-yasini Ngabar Kraton Pasuruan; 3) Mendeskripsikan penerapan metode simulasi untuk peningkatan hasil belajar siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI al-yasini Ngabar Kraton Pasuruan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simulasi yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung sehingga siswa dapat memahami konsep, prinsip , sikap dan nilai didalamnya. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitataif dan deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDI al-yasini sebanyak 25 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil analisis data setelah penerapan metode simulasi menunjukkan bahwa: 1) Pembelajaran PKn dengan penerapan metode simulasi, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP mencapai nilai 96,1dengan kategori A; 2) Untuk aktivitas belajar secara klasikal mencapai nilai 82,8 % dengan kategori A; 3) Hasil belajar siswa mencapai nilai 83,6 dengan ketuntasan belajar 88%. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan metode simulasi dalam pembelajaran PKn siswa kelas V SDI al-yasini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa dapat dilihat dari rata-rata hasil tes mulai dari pre tes (62,72) dengan prosentase (32%), meningkat siklus I (73,6) dengan prosentase (48%), dan meningkat lagi siklus II (83,6) dengan prosentase (88%) yang terus mengalami peningkatan. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu lebih profesional dalam menjalankan tugas mengajar untuk merangsang minat belajar siswanya, serta melibatkannya secara utuh dalam pembelajaran

Studi pembelajaran tari jathil pada mata pelajaran muatan lokal seni reog di SMP 1 Jetis Ponorogo sebagai upaya pelestarian kesenian daerah setempat / Nanda Rochmahningtyas

 

Ponorogo merupakan kota yang terkenal dengan kesenian Reog. Salah satu usaha pemerintah daerah Ponorogo untuk melestarikan kesenian daerah setempat dengan memasukkannya pada mata pelajaran muatan lokal. SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo merupakan satu-satunya SMP yang menjadikan kesenian reog sebagai mata pelajaran muatan lokal. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran tari Jathil pada mata pelajaran muatan lokal serta mengetahui cara mengatasi factor penghambat. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian diskriptif. Subyek penelitian guru dan siswa. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi dan dokumen. Analisis yang dilakukan dengan mengorganisasikan data, mengelompokkan data serta klasifikasi data, memaparkan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian mencakup empat hal mendasar yaitu: (1) Persiapan pembelajaran tari Jathil di SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo berlangsung sesuai dengan perangkat yang disusun yaitu SILABUS dan RPP, perangkat pembelajaran meliputi dua standart kompetensi yaitu yang pertama mengenal seni pertunjukan seni reog Ponorogo dan yang ke dua mengenal dan memahami ragam gerak tari pertunjukan reog; (2) Pelaksanaan pembelajaran tari Jathil dengan menggunakan strategi pengenalan dan dengan menggunakan metode demonstrasi, tanya jawab dan drill,media pembelajaran yang berupa kaset pita, tape, VCD player, kaset VCD, dan sampur telah digunakan secara maksimal serta sarana prasarana ruang kesenian yang telah memenuhi standart kelayakan, guru telah dapat mengelola kelas sehingga kelas menjadi nyaman untuk menjalani proses pembelajaran; (3) Evaluasi pembelajaran dalam bentuk ujian praktek dengan mempraktekkan ragam gerak tari Jathil dengan aspek yang dinilai wiraga, wirasa, dan wirama; (4) Faktor yang mempengaruhi pembelajaran adalah faktor intern yang tidak terdapat faktor penghambat dan minatyang tinggi sebagai faktor pendukung sedangkan faktor ekstern yang menghambat ada pada iringan, berupa kaset yang tidak ada cadangannya, sedangkan factor pendukung ada dari pihak sekolah dan keluarga berupa pemberian fasilitas semisal kaset pita, tape, VCD player, kaset VCD, dan sampur. Beberapa saran yang diberikan penulis, yaitu: bagi Diknas Kabupaten Ponorogo, diharapkan SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo menjadi pelopor bagi SMPSMP lain untuk memasukkan kesenian reog pada mata pelajaran muatan lokal dan dari penelitian ini diharapkan menjadi salah satu wacana penambah informasi tentang pembelajaran yang berlangsung pada mata pelajaran muatan lokal

Penerapan pendekatan proses untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar / Heni Kartika Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Heni Kartika. 2010. Penerapan Pendekatan Proses untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Narasi Siswa Kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar. Penelitian Tindakan Kelas, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Sri Nuryati, M.Pd, (II) Drs. Suhel Madyono, S.Pd, M.Pd Kata Kunci : pendekatan proses, menulis narasi, keterampilan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan pendekatan proses, (2) tahap prapenulisan, (3) tahap pengedrafan, (4) tahap perevisian, (5) tahap pengeditan, dan (6) tahap publikasi yang dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi di kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara sebagai berikut observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif meliputi klasifikasi data dan penyajian data. Penerapan pendekatan proses untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi di SDN Plandirejo 03 Kecamatan Bakung Blitar dilakukan dengan menggunakan lima tahapan, yaitu prapenulisan, pengedrafan, perevisian, pengeditan dan publikasi. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan Siklus II. Pendekatan proses dapat meningkatkan keterampilan siswa menulis narasi di SDN Plandirejo 03 kecamatan bakung Blitar. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa dari pratindakan ke siklus I dan siklus I ke siklus II. Pada pratindakan persentase ketuntasan 26,7 % pada siklus I meningkat menjadi 60 % dan pada siklus II meningkat menjadi 100 %. Berdasarkan kesimpulan di atas maka disarankan dalam menyampaikan materi hendaknya guru memilih pendekatan yang tepat. Dengan pendekatan yang tepat maka siswa akan lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu dengan menggunakan pendekatan yang tepat akan mempermudah guru dalam menyampaikan materi kepada siswa dan siswa pun juga mudah untuk menerima materi yang disampaikan oleh guru.

Peningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan pembelajaran tematik tema kesehatan di kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan / Eka Yunita

 

ABSTRAK Yunita, Eka. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Pembelajaran Tematik Tema Kesehatan di Kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd; (2) Drs. Suharjo, M.S. M.A Kata Kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran Tematik, Tema Kesehatan Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya praktik pembelajaran di kelas III SDN Menyarik yang relatif rendah. Penyerapan materipun masih belum optimal dan nilai rata-rata kelas masih rendah karena banyak siswa yang mendapat nilai di bawah standar nilai ketuntasan yang ditetapkan oleh pihak sekolah, yaitu siswa mendapat skor minimal 70 dalam setiap pembelajarannya. Penelitian ini bertujuan: (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran tematik tema kesehatan di kelas III SDN Menyarik, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah diajar melalui pembelajaran tematik tema kesehatan di kelas III SDN Menyarik. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaboratif. PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Pada siklus I dilaksanakan dalam 4 hari dan siklus II selama 2 hari. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah 36 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian pembelajaran tematik tema kesehatan ini dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil formatif yang meningkat yaitu dari skor pra tindakan mencapai rata-rata 51,67 sedangkan skor rata-rata 63,33 pada siklus I ke 83,61 pada siklus II. Pada siklus II ini sudah mencapai ketuntasan belajar di atas 75%, sehingga kegiatan penelitian dihentikan. Dampak dari penerapan metode pembelajaran tematik ini dapat meningkatkan tingkat aktivitas belajar siswa, standar nilai ketuntasan belajar siswa, dan cara menerapkan pembelajaran tematik. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran tematik di sekolah. Bagi siswa agar lebih aktif dalam proses pembelajaran serta siswa dapat menerapkan hasil dari pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Bagi peneliti selanjutnya dapat memberi informasi, wawasan serta dapat meningkatkan lagi hasil dari penelitian ini, dan pada penelitian tentang pembelajaran tematik dapat terlaksana lebih sempurna lagi.

Implementasi analisis faktor dengan metode komponen utama dalam menentukan faktor yang berpengaruh pada kepuasan nasabah BRI Martadinata Malang / Ariyanti Devita Sari

 

Analisis faktor merupakan kajian tentang ketersalingtergantungan antara variabel yang digunakan untuk membandingkan sejumlah faktor yang memiliki korelasi linear tinggi sehingga jumlah data dalam pengamatan dapat direduksi menjadi beberapa faktor yang jumlahnya lebih sedikit dari variabel asal. Pada penelitian ini, analisis faktor digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada kepuasan nasabah BRI martadinata Malang. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner. Ada tujuh variabel yang diteliti yaitu: lingkungan, keamanan, bunga, hadiah, karyawan, sistem komputerisasi, dan antrian. Metode yang digunakan untuk menduga parameter adalah metode komponen utama. Metode ini digunakan untuk mencari faktor-faktor yang mencakup sebesar mungkin proporsi varian-kovarian peubah-peubah asal. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis faktor diketahui bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan nasabah BRI Martadinata Malang adalah faktor fasilitas (37,516%), faktor pelayanan (16,669%), faktor keamanan (13,341%), faktor lingkungan (11,761%). Faktor yang paling dominan berpengaruh pada kepuasan nasabah adalah faktor fasilitas sedangkan yang paling kecil pengaruhnya adalah faktor lingkungan.

Studi tentang kegiatan ekstrakurikuler menggambar di kelas I SDN percobaan I Malang / Fithria Endah Eryani

 

ABSTRAK Eryani, Fithria Endah. 2010. Studi Tentang Kegiatan Ekstrakurikuler Menggambar di Kelas I SDN Percobaan I Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Iriaji M. Pd (2) Drs. Andi Harisman Kata kunci: Studi, Kegiatan Ekstrakurikuler, Menggambar, Kelas Awal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kegiatan ekstrakurikuler menggambar di kelas I SDN Percobaan I Malang. Baik dari segi manajemen organisasi, kegiatan ekstrakurikuler menggambar, pembelajaran ekstrakurikuler menggambar mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran, hingga faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam kegiatan ekstrakurikuler menggambar di kelas I SDN Percobaan I Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Deskriptif disini bersifat menjelaskan dan menerangkan, dan pendekatan kualitatif, peneliti berharap dapat menghasilkan gambaran sebagai jawaban dari permasalahan yang ada melalui data-data yang terkumpul. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa, manajemen organisasi di SDN Percobaan I didasari oleh RAPBS yang berisi aturan–aturan dasar sekolah termasuk untuk kegiatan ekstrakurikuler menggambar. Kegiatan ekstrakurikuler menggambar kelas I di SDN I Percobaan Malang diadakan pada hari Sabtu, pukul 10.00 - 11.00 WIB, bertempat di ruang-ruang kelas karena sekolah tidak dapat menyediakan ruang khusus untuk kegiatan eksrakurikuler mengambar. Pembelajaran menggunakan model akademik yang terbatas, dengan pendekatan fungsional yang memberikan kebebasan siswa untuk berkreasi melahirkan ide-idenya namun tetap dengan bimbingan guru, dan metode pembelajaran karya cipta terarah dimana guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa menjadi bersemangat dalam mengikuti kegiatan, terlebih melihat usia siswa berkisar antara 6-7 tahun. Hasil karya tiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda, dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda pula, dilihat dari tipe gambar, perkembangan hasil gambar, teknik menggambar dan warna yang digunakan dalam menggambar. Faktor-faktor yang menjadi pendukung dalam kegiatan ekstrakurikuler menggambar disini antara lain kondisi sekolah yang kondusif, dukungan dari sekolah, guru selalu berusaha mengembangkan pembelajaran, selain itu juga faktor-faktor penghambatnya adalah keterbatasan lahan untuk penyediaan ruang khusus kegiatan ekstrakurikuler menggambar, sangat kurangnya sumber data penunjang, kondisi siswa yang kurang fit, situasi di dalam ruang kelas yang kurang nyaman bagi siswa karena gangguan dari teman lainnya, dan juga karena ekstraurikuler ini hanya sebagai pelengkap, sehingga sekolah belum berpikir lebih jauh untuk melakukan pengembangan terhadap ekstrakurikuler menggambar.

Survei tentang keterampilan sosial siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri se kota Malang / Wiwiet Putrianingrum

 

ABSTRAK Putrianingrum, Wiwiet. 2009. Survei Tentang Keterampilan Sosial Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Se Kota Malang. Skirpsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing, (1) Dr Dani M Handarini, M.Pd (2) Drs. Djoko Budi Santoso Kata Kunci: Keterampilan Sosial, Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Siswa SMK dicetak sebagai lulusan yang siap kerja dan mampu berkompetisi dengan masyarakat luas dengan berbagai keterampilan dan inovasi yang dimilikinya. Namun, pada kenyataanya banyak lulusan siswa SMK yang lulus dengan tidak siap kerja sebagaimana mestinya. Keterampilan sosial bagi siswa SMK sebagai bekal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya nanti. Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjelaskan salah satu tugas perkembangan siswa SMK dalam bidang bimbingan sosial adalah siswa memahami dan mewujudkan aspek-aspek sosial dalam mempersiapkan karir. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMK negeri se kota Malang secara umum, 2) mendeskripsikan indikator-indikator keterampilan sosial siswa SMK negeri se kota Malang pada masing-masing jurusannya, 3) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMK negeri se kota Malang ditinjau berdasarkan jenis kelamin Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK negeri di Kota Malang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, dengan pertimbangan banyaknya berbagai macam jurusan yang ada pada tiap-tiap SMK, hanya siswa kelas XII yang menjadi sampel penelitian, karena telah melaksanakan praktik industri dan pada tiap-tiap jurusan karakter siswa berbeda-beda. Berdasarkan teknik sampling ini, subyek penelitian sebanyak 509 orang siswa yang berasal dari 18 jurusan yang berbeda. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah inventori keterampilan sosial yang dikembangkan oleh Victoria Yonathan yang mengungkap 7 indikator keterampilan sosial. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa: 1) keterampilan sosial siswa jurusan pekerja sosial lebih tinggi dari pada siswa lainnya, sedangkan siswa jurusan mekanik otomotif memiliki keterampilan sosial paling rendah dari pada siswa jurusan lainnya, 2) indikator-indikator keterampilan sosial yang paling tinggi dimiliki oleh siswa jurusan pekerja sosial, sedangkan siswa jurusan mekank otomotif memiliki skor indikator yang paling rendah dari pada siswa jurusan lainnya, 3) siswa perempuan memiliki skor keterampilan sosial yang lebih tinggi dari pada siswa laki-laki. Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka disarankan kepada pihak kepala sekolah untuk lebih mengoptimalkan para guru SMK agar dapat meningkatkan keterampilan sosial para siswanya, mengingat sebagian besar siswa masih belum memiliki keterampilan sosial yang sangat baik. Disarankan kepada Guru SMK, khusunya guru pengajar mata pelajaran sosial, agar lebih giat lagi untuk meningkatkan keterampilan sosial para siswa karena keterampilan sosial sangat diperlukan bagi siswa SMK apalagi setelah lulus sekolah. Kepada siswa SMK, disarankan untuk lebih giat belajar khusunya pada pelajaran yang berkaitan dengan keterampilan sosial agar nantinya lebih mudah bersosialisasi dengan masyarakat umum. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih mendalam dengan menggunakan pendekatan korelasional dan menambahkan variabel yang lain

Pembelajaran menulis kalimat sederhana melalui media gambar di kelas II SDN Tumpang 03 Kabupaten Blitar / Ervina Agustin

 

ABSTRAK Agustin, Ervina. 2010. Pembelajaran Menulis Kalimat Sederhana Melalui Media Gambar di Kelas II SDN Tumpang 03 Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Alif Mudiono, M.Pd, (II) Drs. Suhel Madyono, S.Pd, M.Pd Kata Kunci : media gambar, kalimat sederhana, hasil belajar Hasil observasi sementara menunjukkan bahwa guru SD dalam mengajar menulis kalimat sederhana tidak menggunakan media pembelajaran. Guru hanya menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan kepada siswa dengan pemberian contoh kalimat oleh guru, dilanjutkan dengan penugasan pada siswa untuk membuat kalimat secara tertulis untuk menulis beberapa kata menjadi kalimat pada buku tugas. Setelah pelaksanaan kegiatan ini siswa mengumpulkan hasil kerjanya dan diadakan penilaian oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pembelajaran menulis kalimat sederhana melalui media gambar di kelas II SDN Tumpang 03 , (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pembelajaran menulis kalimat sederhana melalui media gambar di kelas II SDN Tumpang 03. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas II SDN Tumpang 03. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara sebagai berikut (1) pemberian angket/kuisioner, (2) observasi, (3) dokumentasi, (4) wawancara, (5) Tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu mencakup reduksi data, penyajian data, dan pemberian kesimpulan. Penerapan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada pra tindakan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 42%, pada siklus I ketuntasan belajar mencapai 62 % dan siklus II meningkat menjadi 100%. Hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal dari sebelum pelaksanaan tindakan (pra tindakan) ke siklus I sebesar 20%, dan peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 38 %. Saran yang diberikan agar hasil mengajar bisa maksimal di dalam pelaksanaan pembelajaran hendaknya guru pandai memilih media yang cocok untuk karakter materi. Salah satu media yang cocok untuk mengajarkan menulis kalimat sederhana adalah digunakannya media gambar. Adapun fungsi media gambar dalam proses belajar mengajar untuk mengembangkan kemampuan visual, mengembangkan imajinasi anak, membantu meningkatkan penguasaan anak terhadap hal-hal yang abstrak, atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan di dalam kelas, dan mengembangkan kreatifitas siswa dalam pembelajaran

Pelabelan total titik ajaib pada Graf Petersen 3P(n,m) / Irma Zuhria

 

ABSTRAK Zuhria, Irma. 2010. Pelabelan Total Titik Ajaib pada Graf Petersen 3P(n,m). Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Dr. Subanji, S.Pd, M.Si. Kata kunci: graf, pelabelan total titik ajaib, graf Petersen Pelabelan total titik ajaib pada suatu graf G adalah pemetaan 1-1 dan pada (bijektif), :()1,2,3,...,fVGEGVGEG sehingga untuk setiap titik u berlaku fufuvk, dengan v merupakan titik yang berdekatan dengan titik u. Selanjutnya k adalah konstanta dan k disebut sebagai angka ajaib dari graf G. Pada skripsi ini dipelajari pelabelan total titik ajaib pada graf Petersen 3P(n,m). Graf Petersen 3P(n,m) adalah tiga buah graf Petersen yang diperumum P(n,m) yang saling isomorfik dan tidak terhubung. Graf Petersen yang diperumum P(n,m), 3n dan 211nm merupakan graf yang terdiri dari himpunan titik 110110,...,,,,...,,nnvvvuuuV, dan himpunan sisi |,,{1miiiiiivvvuuuEsemua indeksnya adalah modulo n} dengan 01in. Dari pembahasan diperoleh dua hasil yang menyatakan bahwa untuk n 3 , 211nm, 3 buah graf Petersen yang diperumum 3P(n,m) mempunyai pelabelan total titik ajaib dengan konstanta ajaib 229nk dan 230nk.

Peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran desain batik melalui pembelajaran kooperatif tipe stad kelas XB SMAN 1 Srengat Blitar / Siti Fatimah

 

Hasil belajar dan aktivitas siswa dalam suatu pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain; tingkat kesulitan materi pembelajaran, minat dan motivasi siswa dalam belajar, cara penyampaian materi, sarana belajar serta situasi belajar.Demikian halnya dengan pembelajaran desain batik. Rendahnya kinerja siswa dalam pembelajaran desain batik baik pada kualitas proses maupun produk belajarnya disebabkan oleh cara penyampaian materi yang terlalu konvensional, monoton, kurang menantang, serta kurang menyenangkan. Sehingga terjadi ketidaktuntasan belajar pada sebagian besar siswa dalam kelas atau siswa gagal mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).Agar tercipta suasana belajar yang menarik, menantang, menyenangkan dan bermakna, maka diperlukan suatu desain pembelajaran dengan pendekatan yang cocok dan efektif dengan materi pembelajaran desain batik. Oleh sebab itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk mencermati dan mengatasi rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran desain batik tersebut. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif interaktif, untuk mendapatkan data dan analisisnya melalui kajian-kajian reflektif, partisipatif dan kolaboratif. Pengembangan program didasarkan data-data dan informasi dari siswa, guru dan setting sosial kelas secara alamiah melalui tiga tahapan siklus penelitian tindakan kelas.Penelitian ini dilakukan di kelas XB SMAN 1 Srengat, Blitar, dengan jumlah siswa38 ternyata hanya 9 siswa yang tuntas nilainya. Berdasarkan data temuan tersebut, maka oleh peneliti diambil tindakan untuk dibuat kelompok belajar sesuai dengan prinsip kooperatif tipe STAD, yakni membagi kelas menjadi 8 kelompok heterogen.Siswa yang kompetensi seninya tinggi dipilih dan disebar rata pada tiap kelompok, demikian juga dengan yang kompetensi seninya kurang juga dibagi rata pada tiap kelompok. Pada siklus pertama sudah terjadi peningkatan tetapi belum bisa maksimal. Hal ini disebabkan sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar desain batik melalui kooperatif tipe STAD, guru kolaborator yang juga merupakan guru seni rupa belum sepenuhnya dapat mengimplentatasikan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Maka untuk itu dilakukan tindakan dengan memberi penjelasan pada siswa tentang prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada siklus- 2 sudah menunjukkan adanya peningkatan, siswa dan guru kolaborator sudah mulai memahami pembelajaran desain batik melalui kooperatif tipe STAD. Hasil evaluasi belajar siswa dari rata-rata 70,89 (pra siklus/tanpa kooperatif tipe STAD) meningkat menjadi 78,89 (siklus-1), meningkat lagi menjadi 84,00 (siklus- 2 setelah diterapkan kooperatif tipe STAD dan meningkat tipis 0,40 yakni menjadi 84,40 setelah dikembalikan pada suasana belajar secara individual pada siklus-3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa pada pembelajaran desain batik kelas XB SMAN 1 Srengat Blitar. Oleh sebab itu sebagai guru seni rupa diharapkan kreatif, inovatif dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STADdalam penyampaian materi pembelajaran desain batik agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

Penerapan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar PKn tentang globalisasi pada siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan / Asrip Rianto

 

ABSTRAK Rianto, Asrip 2010. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar PKn Tentang Globalisasi Pada Siswa Kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd., (II) Drs. Imam Nawawi, M.Si Kata Kunci: Pembelajaran Inkuiri, PKn, Sekolah Dasar. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertujuan untuk membentuk watak warga negara yang baik, yaitu warganegara yang tahu, mau, dan sadar akan hak serta kewajibannya. Untuk meningkatkan kemampuan dan kemauan siswa dalam pembelajaran PKn, perlu adanya penerapan pembelajaran tang sesuai. Dengan penerapan pembelajaran yang sesuai diharapkan hasil belajar siswa menjadi meningkat dan lebih baik. Hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas pembelajaran PKn di SDN Kedungrejo adalah 56,38.Rendahnya nilai siswa disebabkan oleh pembelajaran yang dilakukan guru monoton. Guru jarang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan dalam pembelajaran PKn (2) menjelaskan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori belajar penemuan dari Bruner. Sedangkan model pembelajarannya adalah pembelajaran inkuiri, yaitu pembelajaran yang menekankan pada siswa untuk menemukan sendiri hasil belajarnya.Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitiannya adalah siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan sebanyak 26 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan model triangulasi yaitu penggabungan dari berbagai macam metode, antara lain wawancara,observasi, dan hasil tes. Analisis data dilakukan dengan mencari rata-rata kelas dan prosentase. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdapat empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan dalam pembelajaran PKn adalah penggunaan model pembelajaran yang cocok dan sesuai dengan materi. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah pembelajaran inkuiri. Penerapan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil tes mulai pra tindakan (56,38), meningkat pada siklus I (63,36), dan meningkat lagi pada siklus II (75). Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran inkuir dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan dalam pembelajaran PKn. Untuk itu peneliti menyarankan kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran yang bervariasi untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Pengaruh kualitas sistem pencahayaan terhadap kenyamanan visual bangunan pada kantor terpadu (block office) Kota Malang / Dinny Saputri

 

ABSTRAK Saputri, Dinny. 2010. Pengaruh Kualitas Sistem Pencahayaan terhadap Kenyamanan Visual Bangunan pada Kantor Terpadu (Block Office) Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Dian Ariestadi, M.T., (II) Imam Alfianto, S.T., M.T. Kata kunci: Pencahayaan alami, pencahayaan buatan, kenyamanan visual. Sistem pencahayaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kenyamanan visual suatu bangunan. Sistem pencahayaan sangat penting diperhatikan pada bangunan perkantoran guna meningkatkan produktifitas dan kenyamanan saat bekerja. Sistem pencahayaan meliputi sistem pencahayaan alami dan sistem pencahayaan buatan. Untuk mengetahui pengaruh sistem pencahayaan terhadap kenyamanan visual dilakukan dengan jalan menghitung faktor cahaya siang hari (daylight factor) untuk sistem pencahayaan alami, dan menghitung kuat cahaya/iluminansi untuk sistem pencahayaan buatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas sistem pencahayaan, mengetahui persepsi kenyamanan visual, dan mengetahui pengaruh sistem pencahayaan terhadap kenyamanan visual. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2010 di Kantor Terpadu (Block Office) Kota Malang mengenai kualitas sistem pencahayaan dan persepsi karyawan terhadap kenyamanan visual. Analisis penelitian menggunakan analisis statistik inferensial parametrik yakni dengan pengujian regresi linear sederhana. Hasil penelitian diperoleh: (1) kualitas sistem pencahayaan alami adalah baik untuk ruangan besar dengan banyak bukaan (R1) dan ruangan besar dengan bukaan sedang (R2), menggunakan kaca bening, kisaran daylight factor adalah 4,003%-5,957%. Untuk ruangan kecil dengan bukaan banyak, menggunakan kaca bening (R3), kurang baik dengan daylight factor adalah 12,259%. Untuk ruangan besar (R4) dan ruangan kecil (R5) dengan bukaan sedikit, menggunakan kaca es, kurang baik, nilai daylight factor berkisar antara 0,776%- 1,052%. (2) kualitas sistem pencahayaan buatan adalah baik, karena iluminansi berkisar antara 550,87 lux - 886,96 lux. (3) Persepsi karyawan terhadap kenyamanan visual bangunan pada Kantor Terpadu adalah baik, karena hasil analisa data menyebutkan bahwa karyawan merasa kualitas sistem pencahayaan untuk tiap ruang adalah baik. (4) Ada pengaruh yang signifikan antara kualitas sistem pencahayaan alami terhadap kenyamanan visual bangunan pada Kantor Terpadu, dengan harga R2 = 0,710. (5) Ada pengaruh yang signifikan antara kualitas sistem pencahayaan buatan terhadap kenyamanan visual bangunan pada Kantor Terpadu, dengan harga R2 = 0,694. Saran yang diajukan yaitu (1) pihak pengelola Kantor Terpadu agar lebih memperhatikan kualitas sistem pencahayaan alami pada R3, misal dengan pemberian tirai. (2) pihak pengelola Kantor Terpadu untuk memberikan perhatian pada R4 dan R5, agar mendapatkan pencahayaan alami, untuk kesehatan dan dapat peningkatan produktifitas kerja, misal dengan penggantian kaca pada bukaan, (3) Penelitian lanjutan sebaiknya menambahkan variabel-variabel lain seperti intensitas cahaya, luminansi, lama waktu pencahayaan yang dibutuhkan terhadap kenyamanan visual.

Pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap harga saham perusahaan manufaktur (Studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008) / Mohammad Khairul Rasyid

 

ABSTRAKSI Rasyid, Mohammad K. 2010. Pengaruh Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur. Skripsi. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) DR. Puji Handayati, S.E., MM., Ak, (II) Satia Nur Maharani, S.E., M.Sa. , Ak . Kata Kunci : tanggung jawab sosial perusahaan, harga saham, pasar modal Pengungkapan tanggung jawab sosial perlu dilakukan sebagai suatu wujud pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas operasi perusahaan. Kewajiban perusahaan tidak hanya mencari keuntungan semata demi kepuasan investor yang divisualisasikan melalui harga saham, melainkan juga bertanggung jawab secara sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap harga saham. Penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif yang menguji variabel bebas dan terikat. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan regresi linier sederhana. Dengan teknik pemilihan sampel purposive sampling, didapatkan 30 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai sampel dalam rentang waktu penelitian 2006-2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh terhadap harga saham dengan nilai 32,7%. Diduga ada faktor lain diluar tanggung jawab sosial perusahaan yang mempengaruhi harga saham seperti volume perdagangan saham dan pengumuman merger. Saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan penambahan variabel independen seperti volume perdagangan saham dan pengumuman merger. Kemudian memperluas sampel penelitian tidak hanya pada perusahaan manufaktur, misalnya perusahaan perbankan. Dan memperpanjang periode waktu penelitian hingga 5 atau 10 tahun.

Kajian teknik pewarnaan lukisan potret karya John Howard Sanden sebagai model apresiasi pembelajaran seni rupa SMA / Hiannanta

 

ABSTRAK Hiannanta. 2010. Kajian Tehnik Pewarnaan Lukisan Potret Karya John Howard Sanden Sebagai Model Apresiasi Pembelajaran Seni Rupa SMA. Skripsi, Seni Desain, Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing 1: Drs Mistaram, M.Pd. Pembimbing 2 : Drs. Andi Harisman Kata kunci: Kajian, Teknik, Pewarnaan Pendidikan Seni Budaya tidak sekedar menjadikan anak didik bisa menggambar, terampil seni dan lainnya. Namun pendidikan seni dimaksudkan untuk tujuan-tujuan yang lebih luas, yakni menjadikan anak didik kreatif, apresiatif dan kritis. Hal ini tertuang dalam kurikulum KTSP, antara lain berupa Standar Kopetensi Apresiatif yang harus dicapai. Oleh karena itu Teknik pewarnaan lukisan potret ini menjadi model apresiasi dalam pembelajaran Seni Rupa SMA. Adapun masalah yang dikaji adalah tehnik pewarnaan lukisan portet karya John Howard Sanden. Karena karya-karyanya telah diakui dan banyak mendapat penghargaan serta sesuai dengan yang diperlukan dalam penelitian, sehingga layak untuk dijadikan bahan kajian. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi pada dokumentasi lukisan potret general Artur J. Poillen karya S.H Sanden. Identifikasi warna menggunakan komputer program photoshop. Analisis data menggunakan teori warna Albert Munsell. Dalam kajian ini diperoleh hasil berupa identifikasi dimensi warna dan elemen-elemen chiaroscuro pada lukisan potret general Arthur J. Poillen karya J.H. Sanden. Yang mana kajian ini dijadikan model apresiasi dalam pembelajaran Seni Rupa SMA Kelas XII. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut. Misalnya menggunakan analisis kritik pedagogic E.B. Fieldman dalam kaitannya dengan pertimbangan estetika.

Perancangan buku pop-up penerapan rambu-rambu lalu lintas dwi bahasa (Indonesia-Inggris) / Herlia Kurniawati

 

ABSTRAK Kurniawati, Herlia. 2010. Perancangan Buku Pop-up Penerapan Rambu-Rambu Lalu Lintas Dwi Bahasa (Indonesia-Inggris). Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Pranti Sayekti, S. Sn, M. Si Rambu-rambu lalu lintas hendaknya memang diajarkan sedini mungkin. Hal itu terjadi karena semakin banyaknya orang yang tidak menyadari tentang pentingnya rambu lalu lintas. Beberapa sekolah taman kanak-kanak juga sudah menerapkan beberapa cara yang dianggap efektif dan sesuai untuk anak didiknya. Mulai dari pembuatan taman lalu lintas, pembelajaran dengan buku pembelajaran tentang lalu lintas, bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melakukan penyuluhan ataupun pelatihan kepada anak-anak dalam rangka memperkenalkan rambu serta bagaimana sikap yang baik ketika berada di jalan. Rumusan masalah produk ini adalah bagaimana menghasilkan produk komunikasi visual berupa buku pop-up penerapan rambu-rambu lalu lintas dwi bahasa (Indonesia-Inggris) yang mampu meningkatkan apresiasi anak terhadap rambu-rambu lalu lintas sejak dini. Tujuan perancangan yang diharapkan adalah menghasilkan produk desain komunikasi visual berupa buku pop-up penerapan rambu-rambu lalu lintas dwi bahasa (Indonesia-Inggris) untuk anak , berbahasa Inggris-Indonesia dan juga dirancang untuk memecahkan masalah tentang minimnya kesadaran tentang rambu-rambu lalu lintas sekaligus mengenalkan anak sejak dini tentang ramburambu lalu lintas. Buku pop-up ini juga dapat bermanfaat untuk membantu pendidik untuk memberikan pengajaran tentang rambu-rambu lalu lintas serta membantu anak dalam mempelajari penerapan rambu lalu lintas di jalan raya. Metodologi perancangan menggunakan berdasar pada perancangan Bruce Archer yang dimulai dari pengumpulan data, analisis, pengembangan, sintesis, evaluasi hingga komunikasi produk. Produk menggunakan kertas art paper 260 gr, teknik pewarnaan dengan menggunakan komputerisasi dan tersaji full colours. Buku ini memiliki keistimewaan tersendiri dengan format pop-up yang dapat berdiri membentuk gambar tiga dimensi dan dapat digerakkan. Produk ini diharapkan mampu membuat anak lebih memahami tentang pentingnya rambu lalu lintas serta membuat anak akan lebih mengetahui pentingnya rambu lalu lintas sejak dini, sehingga dapat membantu mensukseskan kampanye sadar lalu lintas.

Pengembangan media pembelajaran CD interaktif sains kelas VI SD Sriwedari Malang / Yety Catur Kusumawati

 

ABSTRAK Kusumawati, Yety Catur. 2010. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Sains Kelas VI SD Sriwedari Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Eka Pramono Adi, S.I.P., M.Si. (II) Yerry Soepriyanto, ST, MT Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, CD Interaktif, Sains Sebagai media informasi, media berbasis komputer tidak kalah dengan media massa. Terutama karena media komputer bisa bersifat multimedia, Multimedia dapat diklasifikasikan ke berbagai bentuk, pengembangan di SD Sriwedari Malang kelas VI lebih mengarah pada bentuk CD interaktif. CD interaktif memiliki kinerja yang positif, antara lain meningkatkan ketertarikan siswa untuk belajar sains, membangkitkan minat siswa dalam belajar sains, meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar sains baik pada proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Pembelajaran di SD Sriwedari Malang menggunakan metode ceramah. Metode ceramah cenderung tidak membuat siswa tertarik dan antusias untuk memperhatikan dan mengikuti jalannya proses pembelajaran. Sehingga kesulitan makin nampak jelas ketika seorang guru hanya mengandalkan kemampuannya untuk menjelaskan konsep-konsep sains tanpa menggunakan suatu media yang dapat merangsang siswa untuk lebih tertarik dan antusias. Dan hal tersebut terbukti dengan kurang memuaskannya hasil belajar sains. Menanggapi kenyataan tersebut di atas, peneliti perlu melakukan suatu pengembangan media guna membantu siswa dalam meningkatkan kualitas belajar sains. Metode pembelajaran menggunakan media interaktif adalah suatu solusi yang tepat dalam kegiatan pembelajaran di SD Sriwedari Malang Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media pembelajaran berupa CD interaktif yang telah melalui proses validasi pada mata pelajaran Sains pokok bahasan Sistem Tata Surya untuk siswa kelas VI SD Sriwedari Malang Subyek uji coba dalam pengembangan ini adalah siswa kelas VI semester II Tahun 2009 di SD Sriwedari Malang. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen angket ahli media, ahli materi, dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan media pembelajaran CD interaktif ini memenuhi kriteria valid/layak yakni, ahli media dengan nilai 97,5, ahli materi dengan nilai 95, audiens perseorangan denagan nilai 88,4%, dan audiens lapangan dengan nilai 85,5%. Saran yang diberikan berdasarkan hasil pengembangan media pembelajaran CD interaktif adalah diharapkan adanya penelitian eksperimen terlebih dahulu sebelum membuat media pembelajaran. Sehingga pengembang berikutnya dapat menghasilkan media pembelajaran CD interaktif yang lebih efektif dan efisien.

Manajemen implementasi kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah berprestasi nasional (Studi kasus pada Madrasah Ibtidaiyah Perwanida kota Blitar) / Adab Nur Huda

 

ABSTRAK Huda, Adib Nur. 2010. Manajemen Implementasi Kurikulum pada Madrasah Ibtidaiyah Berprestasi Nasional (Studi Kasus pada Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd., (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. Kata kunci: manajemen, implementasi kurikulum, madrasah ibtidaiyah berprestasi Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar sebagai sebuah satuan pendidikan telah mengembangkan kurikulum yang menghasilkan model atau konstruksi kurikulum berkarakteristik. Program kurikulum/pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar secara garis besar dibagi menjadi dua program, yaitu program pendidikan inti dan program pendidikan ekstensi. Program inti menyangkut sistem pembelajaran reguler dan sistem pembelajaran kelas unggulan. Program ekstensi menawarkan berbagai macam program yang meliputi (1) kegiatan plus (mengaji, praktik ibadah, dan les plus); (2) kegiatan ekstrakurikuler yang beragam; dan (3) kegiatan remidial yang dilaksanakan dalam bentuk Lembaga Bimbingan Belajar. Program-program kurikulum di MI Perwanida, baik secara langsung maupun tidak langsung telah mendapatkan respon positif dari masyarakat. Indikatornya, berdasarkan data statistik perkembangan siswa, perkembangan jumlah pendaftar, dan perkembangan jumlah guru dan karyawan mengalami kenaikan yang cukup siginifikan. Dilihat dari beberapa indikator tersebut dan ditinjau dari pendekatan proses, pendekatan pencapaian tujuan, dan pendekatan respon lingkungan, MI Perwanida dapat digolongkan menjadi sekolah yang berprestasi, favorit, dan unggul. Secara legalitas formal, MI Perwanida pernah mendapatkan predikat sebagai Madrasah Ibtidaiyah Berprestasi Tingkat Nasional dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal inilah yang menjadi dasar MI Perwanida dijadikan subyek penelitian ini. Untuk mengetahui bagaimana program-program kurikulum yang sedemikian beragam dan kompleks di MI Perwanida diimplementasikan, maka penelitian ini memfokuskan masalah pada manajemen implementasi kurikulum di MI Perwanida. Fokus masalah tersebut diuraikan kedalam 6 subfokus, yakni (1) perencanaan dalam rangka implementasi kurikulum; (2) pengorganisasian dalam rangka implementasi kurikulum; (3) penggerakan dalam rangka implementasi kurikulum; (4) pengawasan/kontrol dalam rangka implementasi kurikulum; (5) faktor-faktor yang mendukung implementasi kurikulum; dan (6) faktor-faktor yang menghambat implementasi kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri sebagai key instrument, sedangkan untuk menentukan sumber data manusia menggunakan teknik snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara; (1) wawancara mendalam; (2) observasi berperanserta; dan (3) studi dokumentasi. Untuk analisis data menggunakan teknik deskriptif yang penerapannya dilakukan dalam tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk mengetahui kredibilitas data, dilakukan dengan berbagai teknik, yaitu (1) triangulasi; (2) pengecekan sejawat; dan (3) pengecekan anggota (member check). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, perencanaan dalam rangka implementasi kurikulum, MI Perwanida melakukan kegiatan-kegiatan (a) menyusun rencana strategis, yang meliputi perumusan visi, misi, tujuan, program-program strategis, strategi pelaksanaan, pembiayaan, monitoring dan evaluasi; (b) menyusun rencana operasional, yang meliputi action plan per bidang, kalender pendidikan, program kegiatan kependidikan, alokasi jam belajar inti dan ekstensi, jadwal pembelajaran inti dan ekstensi, jadwal dan pelaksana tugas program ekstensi, anggaran pendapatan dan belanja sekolah, rencana penggunaan anggaran per jenis anggaran, dan pengurus komite; (c) menyusun deskripsi tugas umum; (d) menyusun tata tertib siswa; dan (e) menyusun pedoman teknis pelaksanaan kegiatan. Kedua, pengorganisasian dalam rangka implementasi kurikulum, kegiatan-kegiatannya (a) menyusun struktur organisasi dan peta penanggungjawab program; (b) menyusun tugas dan jabatan masing-masing personil; (c) menyusun tugas dan penanggung jawab pelaksana program; (d) menyusun tugas dan kewajiban masing-masing jabatan; dan (5) menyusun struktur program. Ketiga, penggerakan dalam rangka implementasi kurikulum, kegiatan-kegiatannya meliputi (a) memotivasi; (b) koordinasi; (c) kepemimpinan; dan (d) menjaga hubungan baik dengan guru dan staf. Keempat pengontrolan dalam rangka implementasi kurikulum, kegiatan-kegiatannya (a) monitoring dan evaluasi, (b) supervisi, dan (c) penilaian. Kelima faktor-faktor yang menjadi daya dukung dalam implementasi kurikulum ditemukan ada 23 faktor, beberapa faktor yang dominan adalah (a) otonomi daerah bidang pendidikan; (b) kewenangan pengembangan kurikulum; (c) input yang bagus; (d) staf pengajar yang memenuhi kualifikasi; (e) konsep madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas ke-Islaman; (f) sarana dan prasarana; (g) peran serta masyarakat; (h) ketersediaan finansial; (i) output yang memiliki outcome yang tinggi; (j) rencana program dan rencana operasional yang jelas terumuskan; (k) kegiatan pengembangan diri yang beragam; (l) letak sekolah yang strategis dan mudah diakses; (m) deskripsi pembagian tugas dan fungsi yang jelas. Keenam, faktor-faktor yang menjadi kendala dalam implementasi kurikulum ditemukan 11 faktor, faktor-faktor yang dominan diantaranya adalah (a) peran wali murid yang cenderung pada masalah finansial saja; (b) jam pembelajaran dan mata pelajaran yang overload; (c) supervisi dari pejabat berwenang kurang intensif; (d) koordinasi yang lemah antar pelaksana program; (e) monitoring dan evaluasi yang kurang komprehensif; (f) ekspektasi yang tinggi wali murid kepada madrasah dan anaknya. Dari hasil penelitian dapat disarankan (1) MI Perwanida hendaknya lebih intensif dalam mengatasi hambatan-hambatan yang muncul dan memberdayakan faktor-faktor pendukung dalam implementasi kurikulum; (2) MI Perwanida perlu merumuskan program-program kemitraan yang jelas untuk meningkatkan partisipasi masyarakat; (3) Kementerian Agama Kota Blitar perlu mengintensifkan supervisi dengan program kerja yang jelas; (4) hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum satuan pendidikan, terutama pada Madrasah Ibtidaiyah; dan (5) perlunya dilakukan penelitian pengembangan tentang implikasi-implikasi dari penerapan sebuah model/konstruksi kurikulum tertentu, khususnya kurikulum di MI Perwanida..

Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan (studi pada pabrik rokok Tiga Bola Malang) / Yayan Pernama Putra

 

ABSTRAK Putra, Yayan Pernama. 2009. Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Pabrik Rokok Tiga Bola Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Saputra, M.Si, (II) Drs. M arief, M.Si. Kata kunci:, Motivasi, Kinerja. Setiap perusahaan tentu ingin mencapi tujuannya. Untuk mencapi tujuan tersebut, peranan manusia yang terlibat di dalamnya sangat penting. Untuk menggerakkan manusia agar sesuai dengan yang dikehendaki hendaknya dipahami motivasi manusia didalam perusahaan tersebut, karena motivasi inilah yang menentukan perilaku orang-orang bekerja. Dengan kata lain perilaku merupakan cerminan yang sederhana dari motivasi. Untuk itu agar perilaku manusia sesuai dengan perusahaan maka ada perpaduan antara motivasi dan permintaan perusahaan. Disamping itu suasana batin atau psikologis karyawan yang tercermin dalam semangat kerja juga sangat berpengaruh terhadap hasil kerja karyawan. Karena dari segi psikologis menunjukkan bahwa bersemangatnya karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya, sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja yang mendorongnya. Selain itu persaingan global dan otomatisasi telah menggeser kunci sukses, yaitu bahwa kesuksesan tidak hanya dicapai dengan bekerja keras, tapi juga bekerja dengan tangkas (smart working). Oleh karena itu Manajemen pabrik pada umumnya selalu memberikan Motivasi kepada para karyawan untuk meningkatkan Kinerja organisasional mereka yang ditunjukkan dengan peningkatan produksi dan kualitas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan tetap yang ada di PR TIGA BOLA Malang yang berjumlah 68 karyawan. Selanjutnya dengan menggunakan teknik pengambilan sampel random sampling Berdasarkan hasil dan jumlah perhitungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel bebas yaitu motivasi (X), terhadap variabel terikat yaitu kinerja karyawan (Y). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh langsung terhadap kinerja dengan nilai sebesar 0,941 atau 94,1%. Artinya bahwa variabel Y dipengaruhi sebesar 94,1% oleh Kebutuhan Fisiologis (X1), Kebutuhan Rasa Aman (X2) Kebutuhan Sosial (X3), Kebutuhan Penghargaan (X4) dan Kebutuhan Aktualisasi Diri (X5), sedangkan sisanya 5,9% dipengaruhi oleh variabel lain di luar kelima variabel bebas tersebut. Pengaruh motivasi kerja yang hampir mendekati 100% menjadikan perlunya terus dilakukan evaluasi dan peningkatan terhadap upaya motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja karyawan Saran yang dapat peneliti sampaikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar pihak Manajemen PR. Tiga Bola malang lebih memperhatikan lagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi antara lain menyangkut kenaikan gaji , evaluasi kinerja, kesempatan promosi dan bonus yang termasuk dalam 5 aspek Motivasi. Sedangkan variabel pemenuhan kebutuhan rasa aman (X2) dan pemenuhan kebutuhan sosial (X3) perlu terus ditingkatkan, karena belum nampak sama sekali pengaruhnya dalam meningkatkan kinerja karyawan di P.R. Tiga Bola Malang.

Pengembangan iklan televisi sebagai media pembelajaran menulis cerita pendek untuk siswa kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Manyar Kabupaten Gresik / Ratih Nurfianty A.

 

Menulis cerita pendek merupakan salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang wajib diajarkan pada kelas XI Program bahasa semester 1 dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam pembelajarannya, menulis cerpen diajarkan dengan menggunakan berbagai cara yang mendukung proses pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis cerpen tersebut bertujuan agar siswa dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang baik pula, yaitu cerpen yang berkualitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Saat ini, telah banyak dikembangkan media pembelajaran untuk membantu kelancaran proses pembelajaran. Contoh media pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran menulis cerpen, yaitu media VCD, media gambar, media lagu, media pembelajaran berbasis komputer dan lain-lain. Penerapan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis cerpen terbukti mampu meningkatkan motivasi siswa untuk menulis cerpen. Namun, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang enggan menggunakan menggunakan media pembelajaran. Banyak alasan mengapa masih banyak guru yang enggan menggunakan media pembelajaran, di antaranya merepotkan, canggih, mahal, tidak bisa mengoperasikan, tidak ada sarana dan prasarana yang mendukung, dan lain sebagainya. Seharusnya, sebagai guru yang baik keengganan tersebut harus dihilangkan demi tercapainya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, diperlukan pengembangan media pembelajaran yang bersifat interaktif dalam pembelajaran menulis cerpen. media yang dikembangkan tersebut, yaitu iklan televisi yang dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen untuk siswa kelas XI Program Bahasa. Pengembangannya menggunakan program Macromedia Flash. Iklan televisi yang dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen, yaitu iklan televisi naratif. Yang dimaksud dengan iklan televisi naratif adalah iklan televisi yang memiliki alur atau jalan cerita. Contohnya, iklan televise IM3 versi mogok, Gudang Garam versi wawancara kerja, kartu Simpati Series 1, 2, 3, 4, 5, dan lain-lain. Iklan-iklan televisi tersebut memiliki alur atau jalan cerita. Pemilihan iklan televisi naratif sebagai media pembelajaran karena iklan televise yang memiliki jalan cerita dapat merangsang dan menginspirasi siswa untuk menulis cerpen daripada iklan televisi yang bersifat informatif produk. Penelitian pengembangan ini merumuskan masalah sebagai berikut: (1) Melihat kondisi di lapangan yang menunjukkan bahwa masih banyak guru yang enggan menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis cerpen karena banyak alasan. Salah satunya sulit menggunakan media pembelajaran. Padahal media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dikembangkan media iklan televisi sebagai media pembelajaran menulis cerpen yang menarik dan efektif serta mudah digunakan karena dilengkapi dengan buku petunjuk untuk kelas XI Program Bahasa. Dengan demikian, keengganan guru untuk menggunakan media pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen dapat teratasi; (2) Media iklan televisi dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen yang menarik untuk siswa kelas XI Program Bahasa. Dengan demikian, siswa akan lebih termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran menulis cerpen sehingga akan diperoleh kemampuan menulis cerpen yang diharapkan; dan (3) Media iklan televisi dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen yang efektif untuk siswa kelas XI Program Bahasa sehingga dengan penggunaan media iklan televisi dalam pembelajaran menulis cerpen, tujuan pembelajaran akan tercapai dan kemampuan menulis cerpen siswa akan meningkat. Pengembangan media interaktif ini, melibatkan tiga validator ahli untuk mevalidasi media interaktif yang dikembangkan dan enam siswa kelas XI SMA Negeri 1 Manyar Kabupaten Gresik sebagai responden uji coba kelompok kecil. Tiga validator ahli tersebut adalah (1) Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., sebagai ahli materi 1; (2) Siti Khasanah, S.Pd., sebagai ahli materi 2; dan (3) Dody Priyatmono, S.Sn. Dari hasil angket model check list yang diisi oleh tiga validator dan responden uji coba kelompok kecil menghasilkan komentar, saran, dan kritik yang dijadikan acuan untuk menyempurnakan media interaktif. Berdasarkan komentar, saran, dan kritik tersebut, selanjutnya media interaktif direvisi. Revisi media interaktif tersebut menghasilkan tampilan media interaktif menulis cerpen yang dikembangkan dengan aplikasi program macromedia flash dengan dukungan materi cerpen, iklan televisi naratif sebagai inspirasi menulis cerpen siswa, gambar, permainan, animasi, dan latar musik. Adapun menu-menu dalam media interaktif adalah (1) Silabus, (2) Tentang Cerpen, (3) Latihan Menulis Cerpen, (4) Permainan, (5) Menulis Cerpen, (6) Refleksi, (7) Daftar Rujukan, (8) Tentang Pengembang, dan (9) Keluar. Setelah direvisi, selanjutnya media interaktif diuji coba pada responden keelompok besar, yaitu 22 siswa kelas XI Program Bahasa SMA Negeri Manyar 1 Kabupaten Gresik. Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui kemenarikan dan efektivitas media interaktif yang telah dikembangkan. Pembelajaran dengan menggunakan media interaktif ini diterapkan dengan menggunakan model Think Pair and Share. siswa diminta untuk menulis cerpen berdasarkan iklan televise naratif yang telah ditayangkan secara berpasangan dengan teman sebangku. Sebelum pembelajaran menggunakan media interaktif, dilakukan pretes terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan awal menulis cerpen siswa. Selanjutnya pembelajaran menulis cerpen menggunakan media interaktif dilakukan postes. Dari hasil nilai pretes dan postes tersebut, kemudian dihitung dengan menggunakan uji t untuk mengetahui efektivitas media. Adapun hasil perhitungan uji t adalah nilai tthitung sebesar 5,90 dengan d.b = 21. Nilai thitung = 5,90 kemudian dibandingkan nilai ttabel = 2,08 pada taraf signifikan 5% (0,05) untuk menghitung koefisien perbedaan hasil belajar siswa pada uji coba kelompok besar sebelum dan sesudah menggunakan media interaktif dalam pembelajaran menulis cerpen. Dari perbandingan antara nilai thitung dan ttabel, maka nilai thitung lebih besar daripada nilai ttabel sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan media interaktif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa media interaktif yang dikembangkan merupakan media pembelajaran menulis cerpen yang efektif. Setelah pembelajaran siswa diberikan angket validasi siswa dan diminta untuk mengisinya. Dari hasil validasi angket pada aspek bahan penarik perhatian siswa dalam media interaktif diperoleh presentase rata-rata 79,16% pada kelompok kecil dan 74,99% pada kelompok besar dengan criteria cukup valid. Hal ini berarti media interaktif menulis cerpen yang dikembangkan cukup menarik dan telah mampu menarik perhatian dan memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran menulis cerpen.

Sistem pengadaan dan penyimpanan material pada pembangunan Apollo Super store Jl. PB Sudirman Pare Kediri Jawa Timur / Imam Nur Kolig

 

Kata Kunci: pengadaan, penyimpanan, material. Manajemen biaya dan pengadaan material merupakan bagian terbesar dari suatu proyek, sehingga sudah saatnya penyelenggara proyek memberikan perhatian yang lebih besar terhadap proses pengadaan material. Untuk mengetahui pentingnya pengadaan dan penyimpanan material maka dilakukan pengkajian dan pengamatan pada proyek pembangunan Apollo Super Store Kota Pare Kediri. Proyek Akhir ini bertujuan untuk mengetahui: (1) proses pengadaan material, (2) proses penyimpanan material, (3) kesesuaian pengadaan material, (4) kesesuaian penyimpanan material pada pelaksanaan proyek. Proyek Akhir dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data antara lain: pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, kemudian dipelajari dan dilakukan perbandingan dengan data yang ada di proyek. Hasil yang diperoleh dari Proyek Akhir ini menunjukkan bahwa (1) proses pengadaan material pada proyek dimulai dengan perencanaan kebutuhan material, tahapan seleksi terhadap calon pemasok, kemudian tahapan pembelian, penerimaan material, pembayaran dan tahapan evaluasi. Semua tahapan sudah dilakukan kecuali tahapan seleksi terhadap calon pemasok, (2) proses penyimpanan material pada proyek di lakukan pada gudang tertutup dan gudang terbuka, (3) proses pengadaan material pada proyek untuk keseluruhan pekerjaan beton, masuk kriteria sangat sesuai dengan skor 67 %, (4) proses penyimpanan material pada proyek masuk kriteria sesuai dengan skor 57 %. Saran yang diajukan pada Proyek Akhir ini adalah seharusnya dilakukan pengkajian dan pengembangan lebih lanjut untuk sistem pengadaan dan penyimpanan material pada pekerjaan yang lain, dan tidak mencakup pekerjaan tertentu saja, mengingat proses pengadaan material sangat besar peranannya bagi proyek.

Pengaruh DER, ROA, ROE, ATO terhadap return saham industri farmasi yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2007 / Asmiyati

 

The financial performance of companies is a fine achievement in a particular period which reflects health level. One way to measure the company's financial performance is using ratio analysis. The reasons about data limitations, this study's results is to measure financial performance based on five variables, DER, CR, ROA, ROE, ATO. Stock Return is the result of investment securities consist of dividend shares and capital gain from a change in stock prices. The purpose of this study are to determine (1) conditions of financial performance, (2) the condition of stock return, (3) the effect of DER on the return, (4) the effect of CR on the return, (5) the effect of ROA on the return, (6) the effect on ROE return, (7) the effect of ATO on the return, (8) influence the financial performance of the DER CAR, CR, ROA, ROE and ATO simultaneously on the return stock companies listed in Indonesia Stock Exchange in 2004-2007. The design used in this research is associative, ie research that aims to find out the relationship or influence between two or more variables. Data source is in the form of documentation. This research use analysis data multiple linear regression. The results showed, (1) The financial performance of companies listed in Indonesia Stock Exchange as measured by the DER, CR, ROA, ROE and the ATO in general tend to fluctuate, (2) Return the stock tends to decline, (3) DER did not affect return; (4) CR effect on return; (5) ROA effect on return; (6) ROE affect the return (7) ATO effect on return; (8) Simultaneously DER, CR, ROA, ROE and ATO effect on return shares. Based on these results, it can be suggested to investors that the financial performance was analyzed by using DER, CR, ROA, ROE, ATO can be used to predict stock returns. Companies must maintain the company's financial performance for the stock return increases, thereby increasing the value of corporate wealth. This research could be used to know other factors that affect stock returns. Researchers can add more variables outside of this variables research

Perancangan peta layanan interaktif sebagai media informasi untuk pengguna rumah sakit Pupuk Kaltim di Kota Bontang / Alia Pradita Rasanti

 

ABSTRAK Rasanti, Alia Pradita. 2010. Perancangan Peta Layanan Interaktif Sebagai Media Informasi Untuk Pengguna Rumah Sakit Pupuk Kaltim Di Kota Bontang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rudy Irawanto, S.Pd., M.Sn, Pembimbing (II) Andy Pramono, S.Kom, M.T Kata Kunci : Peta Layanan Interaktif, Rumah Sakit Pupuk Kaltim Rumah Sakit Pupuk Kaltim merupakan rumah sakit terakreditasi yang masih mengembangkan kinerja dan fasilitas-fasilitas yang menunjang. Hal ini dapat dilihat dari pembangunan yang mulai berjalan, perluasan wilayah, dan lokasi, sistem pendaftaran online dan penggunaan absensi elektrik. Perluasan wilayah dan pembentukan kembali tata ruang di Rumah Sakit ini mengakibatkan baik denah maupun petunjuk ruangan tidak dapat berlaku untuk masa sekarang. Hal ini perlu didukung fasilitas yang bergerak di bidang informasi dan komunikasi. Fasilitas tersebut dapat berupa media yang menarik dan mudah digunakan untuk memudahkan pengguna dan pengunjung menikmati fasilitas yang ada. Model perancangan yang dipakai adalah model perancangan prosedural. Model perancangan prosedural merupakan metode yang menghasilkan sebuah produk yang dapat memecahkan masalah. Dalam metode tersebut diperlukan identifikasi data perancangan yang dibagi menjadi data pustaka dan data lapangan. Data pustaka diambil dari buku-buku relevan dan internet, sedangkan data lapangan diambil dari hasil observasi, wawancara, dan kuisioner yang dilakukan langsung. Kemudian data perancangan diolah dan dihasilkan sebuah konsep perancangan. Kegiatan perancangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan sebuah paket media lengkap dengan audiovisual, animasi, grafis, teks dan video yang berupa Perancangan Peta Layanan Interaktif Sebagai Media Informasi Untuk Pengguna Rumah Sakit Pupuk Kaltim Di Kota Bontang. Peta layanan tersebut memiliki peta lokasi rumah sakit saat ini (terbaru) dan berbagai informasi tentang Rumah Sakit Pupuk Kaltim baik fasilitas yang tersedia maupun alamat unit layanan kesehatan yang dimiliki. Dikemas ke dalam sebuah CD interaktif dan ditempatkan pada boks sebagai wadah monitor 15 inch dan Processor. Dihasilkan pula media pendukung peta dalam mengembangkan fasilitas yang telah banyak berubah berupa petunjuk lokasi, petunjuk arah, papan nama, dan petunjuk lokasi peta. Diharapkan dengan perancangan peta layanan interaktif dan media pendukungnya menjadi salah satu penunjang pengembangan Rumah Sakit Pupuk Kaltim dalam menjawab kebutuhan pengguna dan pengunjung.

Problematika pemilihan metode pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) serta pemecahannya (Studi si SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang) / Ika Oktaviani Lusiana

 

ABSTRAK Lusiana, Ika Oktaviani. 2009. Problematika Pemilihan Metode Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) serta Pemecahannya (Studi di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang). Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Suparlan, M.Si, (2) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si. Kata Kunci: Problematika, Guru, Metode Pembelajaran PKn Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, metode pembelajaran memegang peran penting. Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap guru harus mampu menguasai metode-metode yang ada dan dapat memilih metode yang tepat agar bisa mencapai tujuan belajar. Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelemahan-kelemahan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Guru, tidak menguasai materi dan cara penyampaian; (2) Siswa, tidak mempunyai kemampuan, kesiapan dan kondisi yang baik; (3) Sarana dan prasarana untuk belajar mengajar kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), mengetahui problematika yang dihadapi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam memilih metode pembelajaran di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang, mengetahui upaya guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam mengatasi problematika pemilihan metode pembelajaran di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang. Informan terdiri dari guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data maka dilakukan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) meliputi: (a) aspek pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge), (b) aspek keterampilan kewarganegaraan (civics skills), (c) aspek nilai-nilai kewarganegaraan (civics values). Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan guru dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning = CTL), pendekatan konsep dan pendekatan individual; (2) setiap guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang mempunyai problematika masing-masing dalam memilih metode pembelajaran antara lain: (a) guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMA Negeri 1 Lawang problem yang dihadapi adalah minat dan motivasi belajar siswa yang rendah, kurang kesesuaian antara jumlah materi yang diajarkan dan alokasi waktu; (b) guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMK Merdeka Lawang problem yang dihadapi adalah Input nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) yang rendah dan masalah di luar akademik yaitu siswa yang terhambat karena faktor ekonomi orang tua yang tidak mendukung. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. (3) Guru di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang telah melakukan upaya dalam mengatasi problematika yang sedang dihadapi, antara lain: (a) melakukan pengamatan secara langsung di kelas; (b) memilah-milah materi yang akan diajarkan, lebih kreatif dalam mencari sumber pembelajaran lain yang relevan dan berkonsultasi dengan sesama teman di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP); (c) memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber pelajaran, menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan menerapkan pembelajaran PAKEM; (d) guru dan pihak sekolah bekerja sama dengan pihak-pihak terkait berusaha memenuhi sarana dan prasarana sekolah. Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti dapat memberi saran bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional. Salah satunya adalah melalui pemilihan metode pembelajaran yang tepat agar nantinya dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

Kebijakan pengembangan pendidikan agama pasca undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah di Kabupaten Pasuruan / Moh. Syukron Aby

 

ABSTRAK Aby, Syukron Moh 2010. Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama Pasca UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah di Kabupaten Pasuruan. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing : (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M. Pd., (II) Dr. H. Imron Arifin, M. Pd. Kata Kunci : Kebijakan, Pendidikan Agama, UU Nomor 32 tahun 2004, District Regency Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah berdampak juga bagi otonomi pendidikan. Dengan demikian, konsekuensi logis bagi proses pembuatan kebijakan pendidikan oleh pemerintah Kabupaten/Kota adalah perlu dilakukan penyesuain diri dari paradigma lama manajemen pendidikan menuju paradigma baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan lebih demokratis. Otonomi di bidang pendidikan dipahami sebagai pemberian kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab secara profesional untuk mengambil prakarsa dan merumuskan perencanaan pendidikan secara partisipatif, koordinatif dengan memberdayakan segenap potensi sumber daya perencanaan yang dimiliki. Sejalan dengan hal tersebut, yang dimaksud dengan otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Dengan potensi itu Pemerintah Kabupaten Pasuruan ahirnya mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Bupati Nomor 13 Tahun 2001 tentang organisasi tata kerja dinas Pendidikan, yang didalamnya mengakomodir tentang pendidikan keagamaan pada satu subdinas/bidang tersendiri yaitu Pergurag. Mengapa Kebijakan tersebut ada di Kabupaten Pasuruan, sementara di Kabupaten dan Kota lain di Propinsi Jawa Timur belum ada. Penelitian tentang Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama Pasca UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah di Kabupaten Pasuruan.. Kemudian dielaborasi ke dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1). Bagaimana interpretasi dan formulasi para pengambil kebijakan di lingkungan pemerintah Kabupaten Pasuruan terhadap Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama ?, 2). Bagaimana implementasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan pelaksanaan dan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan ?, 3). Apakah sinkronsasi Peraturan-peraturan daerah (Perbup Nomor 13 Tahun 2001 tentang Organisasi dan tata kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terkait dengan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan ? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data utama adalah in depth interview kemudian dilengkapi dengan documentation study dan participant observation. Analisis data dilakukan secara terus menerus sejak pengumpulan data hingga penulisan, sebagai bagian dari proses trianggulasi. Dari penelitian ini, diperoleh temuan-temuan tentang : 1). Interpretasi dan formulasi para pengambil kebijakan di lingkungan pemerintah Kabupaten Pasuruan terhadap Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama, Setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam hal ini Dinas Pendidikan mendapatkan alokasi tambahan anggaran yang cukup signifikan dibandingkan dengan dinas-dinas lain yang ada di Kabupaten Pasuruan, Bahkan dalam menanggapi pemberlakuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut, pemerintah Kabupaten Pasuruan telah mengeluarkan Perda atau keputusan khusus dalam mengoperasionalisasikan isi undang-undang tersebut, yaitu Peraturan Bupati Nomor 13 tahun 2001 tentang organisasi dan tata kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan yang salah satu didalamnya memuat tentang Subdin PERGURAG (Perguruan Agama Islam) yang membawahi pendidikan Agama yaitu : a). RA-BA-TA ( Roudlatul Atfal, Bustanul Atfal dan Tarbiyatul Atfal), b). MI-MTs (Madrasah Ibtidaiyah-Madrasah Tsanawiyah), c). MA (Madrasah Aliyah), MADIN-PONTREN (Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren) , 2). Implementasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan pelaksanaan dan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan, yang dikelompokkan ke dalam 4 bidang yang ingin dicapai selama 5 tahun, yaitu (a) pemerataan dan perluasan pendidikan, dengan melalui, peningkatan persentase penduduk yang dapat menyelesaikan pendidikan MI, MTs dalam program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (b) peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, serta daya saing lulusan, dengan melalui peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan dasar dan menengah (c) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dengan melalui peningkatan proporsi pendidik dan tenaga kependidikan RA, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah yang memiliki kualifikasi pendidikan minimum D-IV/S1 dan (d) peningkatan mutu manajemen layanan pendidikan, dengan melalui Peningkatan kualitas manajemen layanan pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel., 3). Ada singkronisasi antara Peraturan Bupati Nomor 13 tahun 2001 tentang organisasi dan tata kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan yang salah satu didalamnya memuat tentang Subdin PERGURAG (Perguruan Agama Islam) dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Beberapa saran dalam penelitian ini adalah : (1) pembuat keputusan kebijakan tingkat daerah. Pertama, meningkatkan komitmen terhadap pembangunan di bidang pendidikan khususnya pengembangan pendidikan agama diharapkan terus diperkuat dengan menempatkan pembangunan bidang pendidikan sebagai prioritas utama. Kesediaan Kepala Daerah baik Bupati maupun DPRD terjun langsung dalam proses formulasi, implementasi, serta evaluasi kebijakan publik dibidang pendidikan akan berdampak pada respon “Gayung Bersambut “ baik dari iternal dan eksternal daerah. Dengan demikian sangat mendukung terhadap pencapaian keberhasilan pembangunan pendidikan secara maksimal, Kedua, meningkatkan komitmennya terhadap pembangunan sektor pendidikan, mendukung kepada seluruh satuan kerja untuk terus membangun koordinasi yang solid, memberi dukungan terhadap pengalokasian anggaran pendidikan, meningkatkan fungsi kontrol terhadap imlementasi kebijakan, (2) Kepala Dinas Pendidikan, agar melakukan hal-hal : Untuk menformat bahwa dampak Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan tidak hanya dunia pendidikan dalam arti sempit, akan tetapi diharapkan berdampak lebih luas yaitu dampak tidak langsung terhadap sentuhan kehidupan yang nyata yakni pada sentuhan kebutuhan tenaga kerja sebagai upaya untuk mengatasi problem pengangguran, diharapkan penataan jabatan structural dan fungsional lebih professional, terus meningkatkan kompetensi di bidang kebijakan pendidikan, terus memberdayakan peranan dan fungsi Dewan Pendidikan, meneliti dan mengembangkan implementasi Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama melalui tim Litbang, terus meningkatkan fungsi koordinasi dan singkronisasi dengan satuan kerja terkait di bidang pendidikan, terus mengadakan koordinasi, konsultasi bidang pendidikan dengan Pemerintah, terus melakukan penuntasan sosialisasi lanjutan, memberikan kewenangan yang lebih luas kepada sekolah dalam mengelola pembelajaran, (3) Kepala Sekolah agar melakukan hal-hal : terus meningkatkan kompetensi di bidang perencanaan jangka pendek, menengah dan pendek, terus memberdayakan segala potensi khususnya dengan Komite Sekolah, bersama Komite Sekolah berupaya meningkatkan kompetensi teknis, personal dan sosial para tenag guru, (4) peneliti lain, masih sangat berpeluang untuk mengembangkan dan meneliti lebih dalam tentang Kebijakan Publik Bidang Pendidikan khusunya pendidikan agama dalam konteks Otonomi Daerah di Pemerintah Kabupaten / Kota daerah lain di Indonesia.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemberian tugas di kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar / Asna Nurrohmah Sirod

 

ABSRTAK Sirod, Asna Nurrohmah. 2010. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Metode Pemberian Tugas di Kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Suwarti, S. Pd. M. Pd, (2) Suminah, S. Pd. M. Pd. Kata-kata kunci: hasil belajar, metode pemberian tugas, sumber daya alam. Pada penelitian ini penggunaan metode pemberian tugas dalam pembelajaran IPS adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SDN Tlumpu Kota Blitar. Pemilihan metode ini dilatarbelakangi masalah hasil belajar siswa yang masih rendah. Hal tersebut disebabkan dalam pelaksanaan pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah. Penelitian ini bertujuan umtuk mengetahui, mengungkapkan, dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar pada pokok bahasan sumber daya alam dengan menggunakan metode pemberian tugas. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam siklus sampai mendapatkan hasil yang diinginkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV, dapat diketahui bahwa nilai yang diperoleh siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 70. Hanya ada 15 siswa dari 33 siswa sudah mencapai nilai di atas KKM. Sedangkan sisanya 18 siswa belum mencapai KKM. Hal ini berarti hanya ada 45,5% siswa yang tuntas belajar. Setelah menggunakan metode pemberian tugas dalam pembelajaran, nilai individu siswa pada siklus I meningkat, yaitu menjadi 69,7% dari 33 siswa telah tuntas belajar. Prosentase tersebut masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu 70% siswa dari 33 siswa telah tuntas belajar. Maka perlu dilakukan siklus II untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus II, nilai siswa juga meningkat menjadi 100% siswa sudah tuntas belajar. Sedangkan nilai pada tugas kelompok juga mengalami peningkatan. Pada siklus I persentase keberhasilan yang diperoleh yaitu 66,7% meningkat menjadi 100% pada siklus II. Aktivitas siswa dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan. Hal ini dapat diketahui dari persentase keberhasilan yang diperoleh pada siklus I yaitu 62,1% meningkat menjadi 78% pada sikus II. Demikian juga dengan kemampuan guru dalam menerapkan metode pemberian tugas juga mengalami peningkatan. Pada siklus I persentase keberhasilan yang diperoleh yaitu 63,6% meningkat pada siklus II menjadi 100%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pemberian tugas pada pokok bahasan sumber daya alam terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik hasil tugas kelompok maupun tugas individu. Selain itu aktivitas siswa dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan. Oleh karena itu disarankan bagi guru agar menggunakan metode pemberian tugas dalam pembelajaran agar hasil yang diperoleh menjadi maksimal.

Hubungan antara pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala madrasah dengan kompetensi guru dalam mengajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) se Kabupaten Pamekasan Madura / Kiswaty Zubdatun Nikmah

 

ABSTRAK Nikmah, Kiswaty Zubdatun. 2010. Hubungan Pelaksanaan Pendekatan Supervisi oleh Kepala Madrasah dengan Kompetensi Guru dalam Mengajar di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Se Kabupaten Pamekasan Madura. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd. (2) Dra. Maisyaroh, M.Pd Kata kunci: pendekatan supervisi, kompetensi guru Dalam upaya meningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru merupakan salah satu faktor yang amat penting. Kompetensi guru tersebut meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dapat dilakukan melalui pelaksanaan supervisi dengan menggunakan pendekatanpendekatan diantaranya adalah pendekatan ilmiah, pendekatan artistik, dan pendekatan klinis. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala madrasah di MTsN se-Kabupaten Pamekasan ?, (2) bagaimana tingkat kompetensi guru dalam mengajar di MTsN se-Kabupaten Pamekasan?, (3) apakah ada hubungan pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala madrasah dengan kompetensi guru dalam mengajar di MTsN se-Kabupaten Pamekasan? Sedangkan penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala sekolah di MTsN se- Kabupaten Pamekasan, (2) mengetahui tingkat kompetensi guru dalam mengajar di MTsN se-Kabupaten Pamekasan, (3) mengetahui hubungan pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala madrasah dengan kompetensi guru dalam mengajar di MTsN se-Kabupaten Pamekasan. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebasnya yakni pelaksanaan pendekatan supervisi (X) yang terdiri dari variabel pendekatan ilmiah (X1), pendekatan artistik (X2) dan pendekatan klinik (X3). Sedangkan variabel terikatnya adalah kompetensi guru dalam mengajar (Y). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah guru MTsN se Kabupaten Pamekasan, sedangkan sampel yang diambil 50% dari jumlah populasi yaitu 82 orang guru. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik proportional random sampling (sampel random proporsional). Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik deskriptif dan korelasi person product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala madrasah dalam klasifikasi baik, pelaksanaan pendekatan ilmiah dalam klasifikasi baik, pelaksanaan pendekatan artistik dalam klasifikasi cukup, serta pelaksanaan pendekatan klinik juga dalam klasifikasi baik, (2) kompetensi guru dalam mengajar termasuk dalam klasifikasi baik. Hasil pengujian hipotesis menyimpulkan bahwa ada hubungan yang positif dan Generated by Foxit PDF Creator © Foxit Software http://www.foxitsoftware.com For evaluation only. ii signifikan antara pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala sekolah dengan kompetensi guru dalam mengajar di MTsN se Kabupaten Pamekasan. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mengajukan saran: (1) Bagi kepala sekolah, secara keseluruhan pelaksanaan pendekatan supervisi oleh kepala madrasah sudah baik, diharapkan pelaksanaan tersebut tetap dipertahankan untuk pelaksanaan supervisi selanjutnya, dan untuk salah satu pendekatan, yaitu pendekatan artistik yang belum masuk dalam kategori baik, diharapkan untuk lebih ditingkatkan lagi seperti pendekatan-pendekatan lainnya. Dalam melaksanakan pendekatan supervisi, kepala madrasah hendaknya lebih terbuka dan disesuaikan dengan keadaan dan kondisi guru sehingga tidak menimbulkan persepsi yang salah atau persepsi yang negatif dari pihak guru terhadap pelaksanaan supervisi yang dilakukan oleh kepala madrasah. (2) Bagi Guru, hendaknya setiap pengelola pendidikan khususnya para guru harus lebih memperhatikan pelaksanaan supervisi dan mengetahui pentingnya pendekatan supervisi agar bisa membantu dalam upaya pengembangan dan peningkatan kompetensi sehinggga bisa memperbaiki kualitas pengajaran yang diterapkan terhadap peserta didik dan dikomunikasikan dengan teman sejawat. Hendaknya para guru selalu berusaha untuk lebih memahami faktor-faktor yang dapat mendorong ataupun menghambat terjadinya proses belajar mengajar. (3) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dalam melakukan penelitian dengan variabel yang sama, hendaknya lebih mendalami pelaksanaan supervisi yang dilakukan setiap sekolah yang akan diteliti.

Hubungan antara keefektifan kegiatan akstrakurikuler dengan presrasi bidang ekstrakurikuler siswa di sekolah menengah tingkat atas negeri se-kecamatan Turen Kabupaten Malang / Farid Listyanto

 

ABSTRAK Listyanto, Farid. 2009. Hubungan antara Keefektifan Kegiatan Ekstrakurikuler dengan Prestasi Bidang Ekstrakurikuler Siswa di Sekolah Menengah Tingkat Atas Negeri Se-Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Skripsi. Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Agus Timan, M.Pd, (II) Dra. Mustiningsih, M.Pd. Kata kunci: keefektifan, ekstrakurikuler, prestasi Tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan hal tersebut maka diperlukan pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik tidak hanya dilakukan dengan pelajaran regular. Untuk menambah pengetahuan peserta didik maka perlu adanya kegiatan tambahan yang berguna untuk memberikan ketrampilan dan juga menunjang pada pelajaran sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di sekolah hendaknya dikelola dengan baik agar ketrampilan peserta didik berkembang dengan maksimal. Kadang pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler kurang mendapatkan perhatian, padahal kegiatan ekstrakurikuler diperlukan siswa untuk mengembangkan diri pada hal yang positif, hanya sekolah-sekolah tertentu saja yang mau mengembangkan ekstrakurikuler. Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) seberapa efektif pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Tingkat Atas Negeri di Kecamatan Turen?; (2) seberapa tinggi prestasi bidang ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Tingkat Atas Negeri di Kecamatan Turen?; (3) adakah hubungan antara keefektifan kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi bidang ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Tingkat Atas Negeri Se-Kecamatan Turen? Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1)mengetahui keefektifan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler; (2) untuk mengetahui tingkat prestasi bidang ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Tingkat Atas Negeri di Kecamatan Turen; (3) untuk mengetahui apakah ada hubungan antara keefektifan kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi bidang ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Tingkat Atas Negeri se-Kecamatan Turen Kabupaten Malang; Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Menegah Tingkat Atas Negeri se-Kecamatan Turen peserta kegiatan ekstrakurikuler baik di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) se–Kecamatan Turen yang meliputi tiga sekolah. Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak masing-masing sekolah, jumlah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler ada di SMKN dan SMUN berjumlah 812 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling sebanyak 89 responden yang terbagi pada masing-masing sekolah: SMKN 1Turen = 47 responden, SMKN 2 Turen =11 responden, dan SMAN 1Turen = 31 responden. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan korelasi product moment dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS for Wndows seri 17.0. Kesimpulan hasil penelitian ini yaitu: (1) kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di Sekolah Menegah Tingkat Atas Negeri se-Kecamatan Turen efektif, (2) peserta kegiatan ekstrakurikuler cukup berprestasi, (3) terdapat hubungan yang signifikan antara keefektifan kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi bidang ekstrakurikuler di Sekolah Menegah Tingkat Atas Negeri se-Kecamatan Turen. Hal ini berarti bahwa semakin efektif kegiatan ekstrakurikuler maka akan semakin baik prestasi bidang ekstrakurikuler. Setelah diketahui adanya hubungan kedua variabel kemudian diregresikan untuk mengetahui besarnya hubungan keduanya, sehingga dapat diketahui sumbangan efektif kegiatan ekstrakurikuler terhadap pencapaian tujuan sekolah sebesar 0,325. Saran yang dapat dikemukakan oleh peneliti bagi sekolah adalah: (a)kegiatan ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Tingkat Atas Negeri se-Kecamatan Turen sudah efektif, untuk itu pembina ekstrakurikuler dan pihak sekolah yang menaungi ekstrakurikuler selaku pengelola kegiatan ekstrakurikuler mempertahankan dan terus mengembangkan kegiatan serta sarana dan prasarana. (b)Pada prestasi bidang ekstrakurikuler siswa cukup berprestasi untuk meningkatkan prestasinya maka sebaiknya sekolah tidak hanya memberikan latihan tetapi lebih sering melakukan latih tanding sehingga saat mengikuti kegiatan diluar sekolah dalam rangka mewakili sekolah para siswa sudah lebih siap. (c)Terdapat hubungan yang signifikan antara keefektifan kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi bidang ekstrakurikuler, untuk itu pembina ekstrakurikuler perlu mempertahankan dan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler untuk memupuk prestasi bidang ekstrakurikuler. selain itu juga untuk mengasah bakat dan ketrampilan siswa. Bagi Jurusan Administrasi Pendidikan sebagai jurusan yang bergerak dalam bidang pendidikan maka sebaiknya jurusan Administrasi Pendidikan lebih memperbanyak referensi tentang kegiatan ekstrakurikuler baik buku maupun hasil penelitian yang dapat digunakan untuk mengembangakan bidang keilmuan khususnya tentang pengelolaan ekstrakurikuler. Sedangkan bagi Peneliti lain diharapkan dengan hasil penelitian ini maka peneliti lain dapat meneliti tentang bahasan ekstrakurikuler dengan lebih mendalam dengan menggunakan teknik penelitian yang lain sehingga dapat menghasilkan temuan-temuan baru.

Perbandingan metode pelaksanaan konstruksi pekerjaan surface pada proyek jalan lingkar Kota Bangkinang dengan pekerjaan run way Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Propinsi Riau / Muhammad Aris I.

 

Kata kunci : metode pelaksanaan surface, jalan arteri, dan run way. Surface adalah bagian konstruksi dari jalan raya yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Sementara pada landas pacu (run way) bandara, pekerjaan surface sangat menentukan kualitas dan keselamatan penerbangan. Apakah ada perbedaan metode pelaksanaan pada proyek jalan raya dan landas pacu bandara. Tujuan studi lapangan ini adalah: (1) mengetahui proses pelaksanaan pekerjaan surface pada proyek jalan lingkar kota Bangkinang dengan pekerjaan run way bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru; (2) mengetahui perbedaan metode pelaksanaan pekerjaan surface pada proyek jalan lingkar kota Bangkinang dengan pekerjaan run way bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Hasil dari studi lapangan menyebutkan bahwa: (1) urutan pelaksanaan pekerjaan surface pada jalan lingkar kota Bangkinang dan pekerjaan Run Way Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru adalah percobaan lapangan (trial mix), kesiapan kerja, pembuatan dan produksi campuran beraspal, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan campuran aspal, quality control; (2) pada pekerjaan surface jalan lingkar kota Bangkinang pekerjaan trial mix tidak dilaksanakan; (3) agregat yang digunakan pada pekerjaan overlay run way bandara Sultan Syarif Kasim II melalui proses pembersihan sedangkan pada proyek jalan lingkar kota Bangkinang tidak; (4) jam kerja pada proyek jalan lingkar kota Bangkinang pekerjaan dimulai pukul 08.00-17.00 WIB sedangkan pada pekerjaan overlay run way bandara Sultan Syarif Kasim II dibatasi yaitu mulai pukul 21.00-05.00 WIB; (5) adanya tes kerataan pada pekerjaan overlay run way bandara Sultan Syarif Kasim II, sedangkan pada pekerjaan surface jalan lingkar kota Bangkinang tidak ada tes kerataan. Berdasarkan hasil studi lapangan ini, disarankan: (1) pada proyek jalan lingkar kota Bangkinang hendaknya pekerjaan trial mix dilaksanakan sebelum memulai pekerjaan jalan; (2) agregat yang akan digunakan pada proyek jalan lingkar kota Bangkinang sebagai campuran aspal hendaknya dalam keadaan bersih; (3) proses pemadatan hendaknya urut dan utuh, yaitu pemadatan awal, pemadatan antara, dan pemadatan akhir; (4) untuk quality control pada proyek jalan lingkar kota Bangkinang hendaknya meliputi core drill, ketebalan perkerasan, ekstraksi, kepadatan, serta kerataan permukaan jalan.

Fungsi manajemen kegiatan ekstrakurikuler palang merah remaja (PMR): Studi multi situs di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang / Hani Atus Sholehah

 

ABSTRAK Sholehah, Hani Atus. 2010. Fungsi Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR): Studi Multi Situs di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Agus Timan, M.Pd, (II) Dra. Mustiningsih, M.Pd Kata kunci : manajemen, ekstrakurikuler palang merah remaja Manajemen Kegiatan Ekstrakurikuler PMR adalah proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan kegiatan ekstrakurikuler PMR untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Kegiatan ekstrakurikuler PMR merupakan kegiatan yang bersifat positif karena siswa dilatih untuk menjadi seseorang yang peka terhadap lingkungan sosial dan dapat membantu memberikan pertolongan pertama jika di lingkungan sekitar mereka membutuhkan pertolongan tersebut. Kegiatan ekstrakurikuler PMR menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler unggulan yang ada di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang, hal tersebut dapat dilihat dari tingginya antusias siswa kedua sekolah itu untuk mengikuti kegiatan PMR di masing-masing sekolah tersebut. Berdasarkan informasi tersebut, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui fungsi manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang. Adapun fokus penelitian meliputi bagaimana fungsi manajemen (fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan) dan apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat serta langkah-langkah yang dilakukan dalam mendayagunakan faktor pendukung dan mengurangi faktor penghambat dalam manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi tentang fungsi manajemen (fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan) dan faktor-faktor pendukung dan penghambat serta langkah-langkah yang dilakukan dalam mendayagunakan faktor pendukung dan mengurangi faktor penghambat dalam manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang berupa kata-kata tertulis atau lisan yang diperoleh dari beberapa informan yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, Pembina PMR serta siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang dan informan lain yang terlibat dalam manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR di kedua lembaga tersebut dengan menggunakan alat bantu berupa catatan lapangan, alat rekam, maupun dokumentasi yang diarahkan pada latar dan individu terhadap fenomena sosial. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu umumnya digunakan oleh peneliti untuk mendeskripsikan keadaan lapangan, melukiskan atau menggambarkan dan memaparkan situasi sosial dan peristiwa yang terjadi di lapangan tersebut dan sasaran yang dideskripsikan pada penelitian ini adalah segala peristiwa yang ada kaitannya dengan manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang dapat berupa manusia, peristiwa, latar dan dokumen. i   ii   Penelitian ini dirancang dengan menggunakan rancangan studi multi situs, karena penelitian ini dilakukan di dua lokasi penelitian yang berbeda namun memiliki persamaan dalam penelitian, yakni manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR. Penelitian dilakukan secara langsung dan bertahap di SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang, dengan menggunakan catatan, alat rekam ataupun alat untuk dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan, Pembina PMR dan siswa yang mengikuti kegiatan PMR serta informan lain, yaitu Pelatih PMR kedua sekolah tersebut. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler PMR. Data yang diperoleh dianalisis selama pengumpulan data dan setelah pengumpulan data. Pada saat pengumpulan data, peneliti melakukan pengerjaan dan pengorganisasian data, dan setelah pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah mengklasifikasi data, menyaring data, dan menarik kesimpulan. Data yang telah dianalisis kemudian dicek keabsahannya dengan menggunakan empat kriteria, yaitu (1) ketekunan pengamatan; (2) triangulasi; dan (3) kecukupan referensial. Penelitian tentang manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR yang dilakukan di SMA negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang ini menghasilkan temuan-temuan penelitian yaitu, (1) fungsi perencanaan, meliputi penyusunan program-program kegiatan, jadwal latihan dan tata tertib PMR disusun oleh anggota PMR sendiri dengan bimbingan dari masing-masing Pembina dan Korbid PMR; (2) fungsi pengorganisasian, adanya struktur organisasi PMR dan adanya pembagian tugas kepada anggota PMR; (3) fungsi penggerakan, adanya pembinaan dan pemberian motivasi kepada anggota PMR dari Pembina PMR; (4) fungsi pengawasan, meliputi tidak adanya prosedur dan kriteria khusus untuk mengukur keberhasilan dalam melakukan pengawasan, pengawasan dilakukan pada kegiatan yang akan, sedang dan telah berlangsung, adanya tim pengawas untuk melakukan pengawasan kegiatan ekstrakurikuler PMR; dan (5) faktor pendukung, terpenuhinya seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk kegiatan dan bekerjasama dengan PMI cabang Malang; serta (6) faktor penghambat, waktu untuk latihan yang menjadi penghambat dalam kegiatan tersebut dan latihan dilaksanakan sore hari setelah pulang sekolah. Sedangkan saran bagi (1) Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang agar kegiatan ekstrakurikuler PMR ini dapat bertahan menjadi program kegiatan ekstrakurikuler unggulan di kedua sekolah tersebut dan supaya dapat lebih berkembang lagi hendaknya dilakukan koordinasi dan komunikasi yang lebih maksimal lagi antara pihak sekolah dengan penanggungjawab kegiatan ekstrakurikuler PMR; (2) Pembina PMR SMA Negeri 3 Malang dan MAN 3 Malang agar pembinaan terhadap anggota PMR lebih dimaksimalkan kembali supaya kegiatan yang dilakukan anggota PMR lebih terarah dan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan seefektif dan seefisien mungkin; dan (3) Peneliti lain agar dapat melanjutkan penelitian yang sejenis pada berbagai aspek lain yang bermanfaat dari manajemen kegiatan ekstrakurikuler PMR. Penelitian sejenis yang dapat bermanfaat untuk diteliti misalnya, peningkatan manajemen sarana prasarana atau manajemen sumber daya manusia dalam menunjang kegiatan ekstrakurikuler PMR di sekolah.

Pengaruh metode pembelajaran teams games tournament terhadap hasil belajar teknologi informasi dan komunikasi pada materi fungsi logika IF kelas XI SMA Negeri 1 Ngoro Mojokerto / Khoirul Anam

 

ABSTRAK Anam, Khoirul. 2010. Pengaruh Metode Pembelajaran Teams Games Tournament Terhadap Hasil Belajar Teknologi dan Komunikasi pada Materi Fungsi Logika IF Kelas XI SMA Negeri I Ngoro, Skripsi, Prodi Pendidikan Teknik Informatika, Fakultas Teknik Elektro, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. H. Syaat Patmanthara, M.Pd., (II) Drs. Wahyu Sakti G.I., M.Kom. Kata kunci :TGT, hasil belajar, dan eksperimen Pendidikan merupakan bagian penting untuk menciptakan suatu bangsa yang berkualitas. Untuk itu pemerintah selalu berupaya meningkatkan dan memperbarui kualitas pendidikan melalui penyempurnaan kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannya. SMA Negeri I Ngoro Mojokerto adalah sekolah yang menerapkan KTSP . Selama ini guru belum pernah melakukan pembelajaran Teams Games Tournament (TGT), guru masih menerapkan metode pembelajaran konvensional. Hasil belajar yang selama ini didapat masih dibawah nilai rata-rata standar minimum yang ditentukan, karena dalam proses pembelajaran hanya didominasi oleh beberapa siswa saja dan siswa yang lain mengandalkan temanya saat mengerjakan tugas dari guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari kelompok siswa yang diterapkan pembelajaran metode TGT pada siswa kelas XI di SMA Negeri I Ngoro Mojokerto, mengetahui hasil belajar dari kelompok siswa yang diterapkan pembelajaran konvensional pada siswa kelas XI di SMA Negeri I Ngoro Mojekorto, dan mengetahui pengaruh hasil belajar TIK kelompok siswa yang diterapkan metode pembelajaran TGT pada siswa kelas XI di SMA Negeri I Ngoro Mojokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen yang menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experiment). Rancangan penelitian yang digunakana melibatkan dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada kedua kelompok diawali dengan pre test setelah itu diberi perlakuan, penerapan metode pembelajaran TGT pada kelompok eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol. Setelah itu dilakukan post test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik dari pada kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran TGT dapat mempengaruhi hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Metode pembelajaran TGT dapat digunakan untuk mengajar pada mata pelajaran Corel Draw dan Algoritma

Pengaruh kualitas ventilasi terhadap kenyamanan termal ruang pada Kantor Terpadu (Block Office) Kota Malang / Achmad Fauzi

 

ABSTRAK Fauzi, Achmad. 2010. Pengaruh Kualitas Ventilasi Terhadap Kenyamanan Termal Ruang Pada Kantor Terpadu (Block Office) Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Ir. Dian Ariestadi, M.T., (2) Imam Alfianto, S.T., M.T. Kata kunci: kualitas ventilasi, PMV, PPD, kenyamanan termal, kantor terpadu. Ventilasi pada bangunan diperlukan untuk mengolah udara secara serempak dengan mengendalikan temperatur, kelembaban, kebersihan, dan distribusinya untuk memperoleh kenyamanan penghuni dalam ruang yang dikondisikan. Indikator yang digunakan untuk mengetahui kualitas ventilasi adalah PMV (Predicted Mean Vote) dan PPD (Predicted Percentage of Dissatisfied. Kenyamanan termal yang dinilai dengan menggunakan pendekatan psikologis yang mengartikan kenyamanan termal sebagai kondisi pikiran yang mengekspresikan tingkat kepuasan seseorang terhadap lingkungan termalnya. Indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat kenyamanan termal antara lain kualitas udara dalam bangunan, sick building syndrome, dan personal. Penelitian ini dilakukan pada Kantor Terpadu (Block Office) yang merupakan kantor pusat pelayanan publik di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan statistik inferensial. Sampelnya terdiri dari dua jenis, yaitu sampel ruang yang diambil dengan teknik purposive sampling, kemudian dari ruang-ruang tersebut dipilih 50% dari penghuninya dengan cara random sampling. Instrumen yang dipakai adalah kuesioner dan lembar observasi. Analisis yang digunakan adalah regresi linear sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas udara untuk tiap ruang adalah baik, karyawan tidak merasa terganggu dengan adanya sick building syndrome, dan karyawan juga merasa aktivitas kerja dan jenis pakaian yang digunakan untuk bekerja tidak mengganggu kenyamanan lingkungan kerja. Nilai PMV untuk ruang berventilasi alami berkisar antara 0,06-0,80 yang berarti suhu ruangan tersebut agak hangat. Nilai PMV untuk ruang berventilasi buatan berkisar antara -0,05 sampai -0,10 yang berarti suhu ruangan agak sejuk. Nilai PPD pada ruang berventilasi alami berkisar antara 5,27%-43,12. Nilai PPD pada ruang berventilasi buatan berkisar antara 5,17%-5,73%. Hasil analisis regresi linear sederahana tentang pengaruh kualitas ventilasi terhadap kenyamanan termal ruang adalah 0,657 yang menunjukkan bahwa kualitas ventilasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kenyamanan termal ruang. Saran yang diperkirakan dapat meningkatkan kenyamanan termal ruang pada Kantor Terpadu Kota Malang yaitu penataan ulang ruangan untuk membuat sirkulasi udara menjadi lancar, pengupayaan penghijauan pada lingkungan sekitar bangunan, dan pemberian elemen pembayangan untuk ruang yang berpotensi menerima panas berlebih. Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan cara menambahkan variabel orientasi bangunan, letak bangunan, tinggi plafon, dan variabel lain yang potensial dalam memberikan pengaruh positif terhadap kenyamanan termal bangunan.

Peningkatan kemampuan menulis laporan perjalanan dengan menggunakan strategi contoh noncontoh siswa kelas VIII D SMP Negeri 2 Malang / Ucik Suharmiati

 

research. ABSTRAK Suharmiati, Ucik. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Laporan Perjalanan dengan Menggunakan Strategi Contoh Noncontoh Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 2 Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing : (1) Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd (2) Dr. Kusubakti Andajani, S.Pd. M.Pd Kata kunci: strategi contoh noncontoh, menulis, laporan perjalanan Keterampilan menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa yang dikembangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Menulis laporan perjalanan merupakan salah satu kompetensi dasar yang diajarkan di kelas VIII SMP. Kompetensi ini bertujuan untuk mengungkapkan informasi perjalanan siswa dalam bentuk tulisan laporan perjalanan. Kenyataan di lapangan menunjukkan siswa mengalami kesulitan dalam menulis laporan perjalanan. Kesulitan tersebut antara lain, siswa kurang mampu menuliskan sistematika laporan perjalanan dengan lengkap, menulis narasi laporan perjalanan secara rinci, memilih kata-kata untuk menulis kalimat santun, penulisan ejaan, dan tanda baca. Penelitian dengan judul Peningkatan Kemampuan Menulis Laporan Perjalanan dengan Menggunakan Strategi Contoh Noncontoh Siswa Kelas VIII D SMP Negeri 2 Malang dimaksudkan untuk memperbaiki kemampuan menulis khususnya pada kemampuan menulis laporan perjalanan. Penerapan strategi contoh noncontoh dalam pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis laporan perjalanan dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan menulis laporan perjalanan dengan menggunakan strategi contoh noncontoh pada fase atensi, retensi, reproduksi, dan motivasi pada pembelajaran menulis laporan perjalanan di kelas VIII D SMP 2 Malang. Strategi contoh noncontoh menyajikan contoh dan noncontoh secara berpasangan. Hal ini memungkinkan siswa untuk dapat membuat perbandingan persamaan dan perbedaan secara langsung antarkonsep contoh noncontoh, sehingga siswa mampu mengidentifikasi konsep contoh dan bukan contoh. Penggunaan strategi pengajaran ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dan kekreatifan siswa dalam mengkontruksi pemahaman konsep baru yang mereka pelajari. Strategi contoh noncontoh mendorong guru untuk mengembangkan kemampuan mengidentifikasi setiap contoh dan noncontoh yang disajikan. Dengan membantu siswa mencari sendiri konsep yang akan dipelajari, maka dapat ditingkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sesuai dengan rancangan itu, penelitian disusun dalam siklus yang meliputi perencanaan (penyusunan Rencana Peningkatan Pembelajaran), pelaksanaan, pengamatan, hasil tindakan dan refleksi. Penetapan subjek penelitian didasarkan pada hasil analisis studi pendahuluan oleh peneliti. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMPN 2 Malang yang berjumlah 35 i ii siswa yang seluruhnya memperoleh skor penilaian proses dan hasil di bawah KKM (kriteria ketuntasan minimal). Data penelitian meliputi data proses pembelajaran menulis laporan perjalanan pada fase atensi, retensi, reproduksi, dan motivasi. Data hasil dalam penelitian ini berupa hasil narasi laporan perjalanan siswa pada aspek sistematika, isi, penulisan kalimat santun, ejaan, tanda baca, dan kekreativitasan. Bertolak dari proses dan hasil pembelajaran menulis laporan perjalanan siklus I dan siklus II dapat dikemukakan bahwa penggunaan strategi contoh noncontoh dapat meningkatkan kemampuan menulis laporan perjalanan di kelas VIII D SMP Negeri 2 Malang. Hal ini dapat dilihat dari skor yang dicapai siswa, yakni di atas KKM (kriteria ketuntasan minimal) yang telah ditetapkan oleh sekolah yang bersangkutan untuk pelajaran Bahasa Indonesia, yakni 75. Penulisan narasi laporan perjalanan oleh siswa pada aspek sistematika, isi, kebahasaan, dan kekreatifitasan mengalami peningkatan. Pada tahap pratindakan, tidak ada siswa yang mendapat skor di atas KKM. Pada siklus I, siswa yang mendapat skor di atas KKM sebesar 28,6% dan siklus II, siswa yang mendapat skor di atas KKM meningkat menjadi 97,2%. Pada siklus I nilai rata-rata kelas sebesar 70,7. Proses pembelajaran dengan strategi contoh noncontoh belum tercapai sepenuhnya. Terbukti pada proses pembelajaran siswa meniru contoh yang diberikan guru. Pada pelaksanan tindakan siklus II, rata-rata kelas meningkat menjadi 88,9. Proses pembelajaran berlangsung dengan serius dan konsentrasi dalam menulis laporan perjalanan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi contoh noncontoh kemampuan menulis laporan perjalanan siswa kelas VIII D SMP 2 Malang meningkat. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk untuk menggunakan strategi contoh noncontoh dengan lebih kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis laporan perjalanan. Untuk mendukung terlaksananya pembelajaran yang kreatif dan inovatif, kepada Kepala SMPN 2 Malang, disarankan agar memberikan dukungan kepada guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Malang. Kepada peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, diharapkan dapat menggunakan dan mengembangkan strategi contoh noncontoh sebagai dasar untuk melakukan penelitian lain dengan cara lebih kreatif.

Peningkatan kemampuan menulis respons melalui pembelajaran membaca dan menulis terpadu di kelas VI MI Miftahul Ulum Gondangwetan Pasuruan / Ulfatun Khasanah

 

ABSTRAK Khasanah, U. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Respon Melalui Pembelajaran Membaca dan Menulis Terpadu di Kelas VI MI Miftahul Ulum Bajangan Gondangwetan Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S1 PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd., (II) Drs. Harry Purwanto, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: menulis respon, pembelajaran membaca dan menulis terpadu, SD Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berkomunikasi dengan orang lain baik secara lisan maupun tulis. Oleh karena itu manusia harus mampu berkomunikasi sesuai fungsi dan etika yang berlaku dalam kehidupan masyarakat (terampil berbahasa) termasuk terampil menulis. Kemampuan berkomunikasi melalui bahasa tulis sangat dibutuhkan oleh setiap anggota masyarakat, apalagi dewasa ini perkembangan teknologi komunikasi sangat cepat. Oleh karena itu pembelajaran menulis sangat perlu diajarkan mulai di Sekolah Dasar (SD). Berdasarkan hasil observasi di kelas VI MI Miftahul Ulum Bajangan Gondangwetan Pasuruan, ditemukan permasalahan kemampuan menulis siswa yang masih rendah. Salah satu penyebabnya diduga karena penggunaan pendekatan pembelajaran dan bahan ajar yang kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) perencanaan pembelajaran membaca dan menulis terpadu untuk meningkatkan kemampuan menulis respon siswa kelas VI, (2) implementasi pembelajaran membaca dan menulis terpadu untuk meningkatkan kemampuan menulis respon siswa kelas VI, (3) hasil implementasi pembelajaran membaca dan menulis terpadu untuk meningkatkan kemampuan menulis respon siswa kelas VI. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Subyeknya 15 siswa kelas VI MI Miftahul Ulum Bajangan Gondangwetan Pasuruan. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi, lembar penilaian proses, lembar penilaian kemampuan menulis, tes dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan mengelompokkan data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari instrumen penilaian proses dan wawancara, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari tes, instrumen observasi dan penilaian kemampuan menulis. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Hal ini diketahui dari ketuntasan belajar kelas mulai dari pra tindakan sebesar 13,3%. Setelah dilakukan tindakan siklus 1 menjadi 66,7% atau meningkat sebesar 53,4%. Kemudian di siklus 2 meningkat sebesar 20% menjadi 86,7%. Secara keseluruhan peningkatan yang diperoleh mulai dari pratindakan sampai tindakan siklus 2 sebesar 73,4%. Secara umum disimpulkan pembelajaran membaca dan menulis terpadu dapat meningkatkan kemampuan menulis respon siswa kelas VI melalui tahap prabaca, saatbaca, pascabaca pada proses membaca dan tahap pramenulis, menulis, merevisi, mengedit, dan mempublikasikan. Disarankan kepada guru untuk menjadikan pembelajaran membaca dan menulis terpadu sebagai alternatif dalam meningkatkan kemampuan menulis di kelas VI maupun di kelas yang lain.

Studi pembelajaran tari warahanggana pada kegiatan ekstrakurikuler seni tari di SMP 4 Blitar / Lutfa Rosana

 

ABSTRAK Lutfa Rosana. 2010. Studi Pembelajaran Tari Warahanggana Pada Kegiatan Ekstrakurikuler Seni Tari di SMPN 4 Blitar. Skripsi, Jurusan Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Iriaji, M.Pd. (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran Tari Warahanggana, Kegiatan Ekstrakurikuler Tari Warahanggana adalah tari yang membawakan tari dengan gerak yang memiliki nilai-nilai etis dan artistik yang bersifat luhur. Simbolisme gerak yang terekspresikan memiliki nilai yang yang bersifat dinamis, penuh energi yang mampu mengikat emosi sosial. Tari Warahanggana konon diperankan oleh penari putri yang suci. Tari Warahanggana ini dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 4 Blitar yang dilaksanakan pada sore hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan kegiatan pembelajaran ekstrakurikuler Tari Warahanggana di SMPN 4 Blitar. Selain itu untuk mendeskripsikan pengelolaan pembelajaran yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler Tari Warahanggana di SMPN 4 Biltar. Untuk mendeskripsikan bentuk evaluasi dari pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler Tari Warahanggana di SMPN 4 Blitar dan Untuk mendeskripsikan penghambat dan pendukung yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler Tari Warahanggana di SMPN 4 Blitar Untuk mendeskripsikan kendala-kendala dan pendukung yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran ekstrakurikuler Tari Warahanggana di SMPN 4 Blitar. Kegiatan Tari Warahanggana cukup diminati siswa-siswi di SMPN 4 Blitar. Hal ini terlihat pada banyaknya siswa yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler ini. Penelitian ini dilakukan di SMPN 4 Blitar, tanggal 17 Maret sampai 1 Mei 2010. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk memperoleh informasi deskriptif (penggambaran apa adanya). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif yaitu kegiatan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler seni Tari Warahanggana di SMPN 4 Blitar dengan mengatur program pembelajaran dan mengkordinasikan pelaksanaan kegiatan tari. Merencanakan kebutuhan sarana prasarana untuk menunjang proses pembelajaran Tari Warahanggana, mengelolah perawatan, perbaikan, mengatur pembukuan dan pelaporan. Selain itu mengendalikan perkembangan kemampuan siswa dalam pembelajaran tari yang ditunjang dengan alat peraga dalam bentuk sampur dan ditunjang tape recorder yang dilakukan di ruang praktik serba guna. Dalam pengelolaan Pembelajaran Tari Warahanggana, guru mengawali dengan menyusun rencana kegiatan yang dijadikan pegangan bagi guru tari dalam melaksanakan pembelajaran. Mencantumkan materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan ditunjang metode pembelajaran yang disesuaikan. Sedangkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan dengan mencantumkan sumber belajar, dalam mengajarkan materi seni tari tidak hanya menggunakan satu metode saja, tetapi mengkombinasikan beberapa metode yang tepat dan sesuai dengan materi pelajaran. Bentuk evaluasi dari pelaksanaan pembelajaran Tari Warahanggana di SMPN 4 Blitar adalah di lakukan dari proses kegiatan selama berlangsung dan melalui absensi siswa. Penilaian kegiatan yang dinilai adalah kemampuan mendemonstrasikan pembelajaran tari dan daya kreasi siswa, sehingga bisa diketahui aspek apa saja yang perlu dikembangkan dan diperbaiki. Oleh karena itu bentuk evaluasi yang sering digunakan adalah evaluasi proses. Kendala- Kendala dan Pendukung yang dihadapi dalam Pelaksanaan Pembelajaran Tari Warahanggana di SMPN 4 Blitar adalah ketika guru menyampaikan materi tapi siswa belum bisa menangkap apa yang diajarkan, karena terhambat dalam kondisi ruangan yang ramai. Sedangkan faktor pendukungnya adalah minat siswanya sangat tinggi dalam mengikuti ekstrakurikuler seni Tari Warahanggana. Selain itu peserta didik di SMPN 4 Blitar, khususnya yang mengikuti kegiatan tari banyak kemajuan, khususnya semangat belajar, karena dengan mengikuti pementasan siswa dapat meningkatkan kemampuan dan dapat mengembangkan potensinya.

Persepsi guru SMK Negeri 1 Batu terhadap pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan / Aulina Yukebel

 

ABSTRAK Yukebel, Aulina. 2010. Persepsi Guru SMK Negeri 1 Batu Terhadap Pelaksanaan Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Skripsi, Jurusan Tata Busana, Program Studi S1 Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : 1) Dra. Sri Eko Puji Rahayu, M. Si. 2) Dra. Idah Hadijah. Kata Kunci: Persepsi, Guru, Sertifikasi Guru. Salah satu komponen pendidikan adalah guru, karena guru memiliki peranan yang penting dalam mencerdaskan Warga Negara melalui pendidikan. Guru merupakan sumber yang menguasai ilmu pengetahuan dan perilaku baik, sehingga guru menjadi teladan bagi semua orang, dengan semua itu diharapkan tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan Warga Negara akan terwujud dengan baik. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan guru. Salah satu upayanya yakni adanya Sertifikasi guru. Penelitian ini membahas tentang bagaimana persepsi guru SMK negeri 1 Batu terhadap Pelaksanaan Sertifikasi Guru dalam Jabatan, dengan tujuan-tujuan sebagai berikut yaitu : 1) Untuk mengetahui persepsi guru SMK Negeri 1 Batu terhadap pelaksanaan Sertifikasi guru dalam jabatan yang berkaitan dengan: a) Pendapat guru terhadap Sertifikasi guru, b) Persiapan Sertifikasi guru, c) Pelaksanaan Sertifikasi guru, d) Hasil Sertifikasi guru. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Analisis yang digunakan adalah analisis data deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Variabel dalam penelitian ini yaitu: Persepsi guru terhadap Sertifikasi guru. Penelitian ini merupakan penelitian total sampling atau penelitian populasi karena subjek penelitian kurang dari 100 orang, yakni 74 orang guru SMK Negeri 1 Batu, 15 orang diantaranya telah tersertifikasi dan 59 orang belum tersertifikasi. Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan angket (kuesioner tertutup) berbentuk Chek list. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa variabel persepsi guru SMK Negeri 1 batu terhadap Sertifikasi guru, sebagian besar guru mempunyai persepsi yang baik terhadap Sertifikasi guru dengan memberikan kontribusi nilai sebesar 59,46%, kemudian untuk sub variabel a) Pendapat guru terhadap Sertifikasi guru, para guru SMK Negeri 1 Batu memberikan persepsi yang sangat baik dan baik dengan memberikan kontribusi yang sama masing-masing sebanyak 44,6%, b) Persiapan Sertifikasi guru, sebagian besar guru di SMK Negeri 1 Batu mempunyai persepsi yang baik dengan memberikan kontribusi sebesar 78,38%, c) Pelaksanaan Sertifikasi, sebagian besar guru di SMK Negeri 1 Batu mempunyai persepsi yang baik dengan memberikan kontribusi sebesar 52,70%, dan d) Hasil Sertifikasi guru, sebagian besar guru di SMK Negeri 1 Batu mempunyai persepsi yang baik dengan memberikan kontribusi sebesar 62,2%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah : 1) Bagi Guru SMKN 1 Batu, Pada hasil temuan yang menyatakan bahwa sebagian besar guru di SMKN 1 Batu mempunyai persepsi yang Baik terhadap Sertifikasi, maka hendaknya semua guru terus meningkatkan kualitas diri dalam proses belajar mengajar, agar benar-benar siap dalam mengikuti Sertifikasi, menyambut dengan baik terhadap Sertifikasi baik melalui jalur portofolio maupun jalur prestasi, tetap meningkatkan kompetensi profesionalismenya guna terciptanya peningkatan mutu pendidikan dan selalu mengikuti perkembangan informasi tentang Sertifikasi guru dalam jabatan setiap tahunnya, 2) Bagi penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan dalam melaksanakan penelitian yang sama baik tema dan latar belakang dengan objek yang berbeda, 3) Bagi pemerintah, monitoring terhadap para peserta yang telah lulus Sertifikasi, apakah para guru betul-betul professional/meningkat kinerjanya setelah mendapatkan tunjangan Sertifikasi tersebut.

Penerapan pembelajaran kooperatif dengan think pair share untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-E SMAN 1 Turen tahun ajaran 2009/2010 / Wulan Setyorini

 

ABSTRAK Setyorini, Wulan. Judul: Penerapan Pembelajaran Biologi dengan Think Pair Share untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas X-E SMAN 1 Turen Tahun Ajaran 2009/2010. Jurusan Biologi. Program Studi: Pendidikan Biologi. pembimbing (I) Dra. Sunarmi, M.Pd., Pembimbing (II) Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si., M.Si. Kata Kunci: Pembelajaran TPS (Think Pair Share), motivasi belajar, hasil belajar. Salah satu tujuan negara kita dalam UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan tersebut dapat tercapai melalui pembangunan dalam bidang pendidikan. Pembangunan dalam bidang pendidikan ditandai dengan adanya perubahan kurikulum, sarana, dan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan laju pembangunan. Guru pada kenyataannya masih mengalami kesulitan dalam mewujudkan tujuan KTSP yang sebenarnya. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas X-E SMA Negeri 1 Turen, guru cenderung menggunakan metode ceramah dan kerja kelompok dalam jumlah anggota yang besar sehingga kurang mengoptimalkan kemampuan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan mengenai kurangnya motivasi siswa dan hasil belajar siswa kelas X-E SMA Negeri 1 Turen. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas X-E Semester Gasal Tahun Ajaran 2009-2010 SMA Negeri 1 Turen yang berjumlah 35 siswa, terdiri dari 20 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki. Data yang diperoleh di dalam penelitian ini berupa motivasi dan hasil belajar siswa serta data pendukung berupa aktivitas guru dan catatan lapangan. Motivasi belajar diukur berdasarkan peningkatan rata-rata persentase motivasi siswa pada setiap deskriptor sedangkan hasil belajar siswa diukur berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada tiap akhir siklus serta ketuntasan belajar pada masing-masing siklus. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi motivasi siswa, lembar pelaksanaan pembelajaran oleh guru, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penerapan model pembela-jaran kooperatif TPS (Think Pair Share) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X-E SMA Negeri 1 Turen. Motivasi belajar siswa secara umum dari siklus I sebesar 63% menjadi 82% sehingga mengalami peningkatan sebesar 16,36%. Pada siklus I dengan ketuntasan belajar secara klasikal sebesar 75% (32 dari 35 siswa), sedangkan pada siklus II dengan ketuntasan belajar 93,5% (32 siswa dari 35 siswa). Kelas X-E pada siklus II dapat dinyatakan tuntas belajar karena suatu kelas dapat dinyatakan tuntas belajar apabila ketuntasan belajar secara klasikal minimal 85%.

Hubungan sosial ekonomi orang tua, konsep diri, dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa program keahlian teknik bangunan di SMK Negeri 1 Singosari Malang / Vila Karyawati

 

ABSTRAK Karyawati, Vila. 2010. Hubungan Sosial Ekonomi Orang Tua, Konsep Diri, dan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Program Keahlian Teknik Bangunan di SMK Negeri 1 Singosari Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sutrisno, S.T., M. Pd. (II) Drs. Made Wena, M. Pd., M.T. Kata kunci: sosial ekonomi orang tua, konsep diri, motivasi belajar, prestasi belajar Prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, diantaranya sosial ekonomi orang tua, konsep diri, dan motivasi belajar siswa. Orang tua memegang peranan penting terhadap proses belajar siswa. Orang tua juga berkewajiban memenuhi segala kebutuhan anak untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. Dengan memiliki konsep diri yang positif dan motivasi belajar yang tinggi, maka prestasi belajar yang dicapai akan baik dan sebaliknya konsep diri yang negatif dan motivasi yang rendah maka prestasi belajar yang dicapai juga kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) ada tidaknya hubungan sosial ekonomi orang tua dengan prestasi belajar siswa Program Keahlian Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang, (2) ada tidaknya hubungan konsep diri siswa dengan prestasi belajar siswa Program Keahlian Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang, (3) ada tidaknya hubungan motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa Program Keahlian Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang, (4) ada tidaknya hubungan antara sosial ekonomi orang tua, konsep diri, dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa Program Keahlian Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang. Penelitian ini menggunakan instrumen berupa dokumentasi dan kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Program Keahlian Teknik Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang angkatan 2009/2010. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan proporsional random sampling. Jumlah populasi sebesar 145 siswa, sedangkan sampelnya adalah sebesar 60 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada hubungan positif yang signifikan secara langsung antara sosial ekonomi orang tua dengan prestasi belajar siswa, (2) ada hubungan positif yang signifikan antara konsep diri siswa dengan prestasi belajar siswa, (3) ada hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajar siswa, (4) secara bersama-sama ada hubungan antara sosial ekonomi orang tua, konsep diri, dan motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran yang dapat diberikan adalah: (1) disarankan kepada guru untuk meningkatkan konsep diri dan motivasi belajar siswa, karena konsep diri dan motivasi belajar merupakan faktor yang penting dalam peningkatan prestasi belajar, (2) bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian sejenis, disarankan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas, sehingga dapat mengungkapkan lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil dari temuan penelitian yang lebih berarti serta bermanfaat bagi banyak pihak.

Pembelajaran tari jathilan kopyok dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 10 Kota Blitar / Retna Triwidyawati

 

ABSTRAK Triwidyawati, Retna. 2010. Pembelajaran Tari Jathilan Kopyok dalam Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP Negeri 10 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1): Drs. Iriaji, M. Pd, Pembimbing (2): Wida Rahayuningtyas,S.Pd Kata Kunci: Pembelajaran, Tari Jathilan Kopyok, Kegiatan Ekstarkurikuler Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Kegiatan ekstrakurikuler mengandung pengertian yang menunjukkan segala macam aktifitas di sekolah atau lembaga pendidikan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran wajib bagi setiap anak dan aktifitas itu termasuk dalam kurikulum yang telah tersusun. Kegiatan ekstrakurikuler yang peneliti pilih sebagai obyek penelitian adalah Tari Jathilan Kopyok karena merupakan perpaduan antara tari jaranan dan tari tayub yang hanya menampilkan sosok wanita yang cantik (endel dan kenes) juga menampilkan gerak yang lemah gemulai namun tegas dengan iringan musik jaranan dikolaborasikan dengan musik tayuban,. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) pengelolaan kegiatan tari Jathilan Kopyok dalam ekstrakurikuler, (2) persiapan pembelajaran tari Jathilan Kopyok dalam kegiatan ekstrakurikuler, (3) proses pembelajaran tari Jathilan Kopyok dalam kegiatan ekstrakurikuler, (4) evaluasi pembelajaran tari Jathilan Kopyok dalam kegiatan ekstrakurikuler, (5) faktor-faktor pendukung dan penghambat tari Jathilan Kopyok dalam kegiatan ekstrakurikuler. Khususnya di SMP Negeri 10 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bersamaan pada saat penelitian dengan tahap-tahap penelitian sebagai berikut (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap reduksi, (3) tahap penyajian data, (4) tahap penarikan simpulan dan verifikasi. Peneliti mengambil lokasi penelitian di SMPN 10 Kota Blitar dengan sumber data guru pembimbing kegiatan ekstrakurikuler dan siswa peserta kegiatan ekstrakurikuler serta foto hasil dokumentasi. Prosedur pengumpulan data dilakukan berdasarkan jenis data antara lain (1) observasi langsung, (2) Mencatat dokumen, (3) Metode wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) guru pembimbing telah membuat perencanaan pembelajaran, (2) pada penerapan pembelajaran materi unsur gerak guru menyampaikan secara bertahap agar siswa dapat lebih mudah untuk memahami materi unsur gerak yang disampaikan, sedangkan pada materi pola lantai, guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengeksplorasi kreativitas siswa dalam mengolah pola lantai. Penerapan metode dalam penyajian materi menggunakan metode yang bervariasi meliputi : (1) guru menggunakan metode ceramah, (2) tanya jawab, (3) demonstrasi, dan (4) penugasan. Kesemuanya itu dilakukan oleh guru sebagai cara untuk berinteraksi dengan siswa untuk mendukung proses pembelajaran. Dari hasil penelitian pembelajaran tari Jathilan Kopyok dalam kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 10 Kota Blitar, sekiranya pihak sekolah dapat menyediakan ruang khusus serta sarana dan prasarana yang memadai untuk kegiatan ekstrakurikuler seni tari di SMP Negeri 10 agar pembelajaran kegiatan ekstrakurikuler dapat berjalan lebih optimal sehingga nantinya dapat memberikan prestasi dalam bidang seni bagi sekolah.

Pengaruh penambahan limbah onix pada bahan dasar keramik (Kaolin, Feldspar dan silika terhadap kuat tekan, porositas dan susut bakar) / Evi Setiyaningsih

 

ABSTRAK Setiyaningsih, Evi. 2010. Pengaruh Penambahan Limbah Onix Pada Bahan Dasar Keramik (Kaolin, Feldspar Dan Silika) terhadap Kuat Tekan, Porositas Dan Susut Bakar. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Hartatiek, M.si, dan (II) Drs.Yudyanto, M.Si. Kata kunci: Bahan Dasar Keramik, Limbah Onix Limbah onix merupakan limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kerajinan yang terbuat dari batuan marmer. Kandungan unsur terbesar pada limbah onix yaitu Kalsium. Kalsium dalam pembuatan keramik berfungsi sebagai bahan pelebur, yaitu akan mengisi rongga-rongga udara. Dengan terisinya ronggarongga udara tersebut, maka permukaan akan menjadi lebih rapat sehingga keramik menjadi benar-benar padat, air semakin sulit meresap dan penyusutan dapat dikurangi. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan limbah onix pada bahan dasar keramik terhadap kuat tekan, porositas, dan susut bakar. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keramik dengan bahan dasar (kaolin 15%, silika 60% dan feldspar 25%) dan bahan penambah limbah onix sebesar 0 - 2,5%. Pembakaran dilakukan pada suhu 1100oC selama 12 jam. Pengukuran nilai porositas dan susut bakar di Laboratorium Fisika Dasar FMIPA, dan pengukuran kuat tekan dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kuat tekan pada sampel keramik semakin meningkat seiring dengan penambahan kadar limbah onix, nilai porositas dan nilai susut bakar menurun seiring dengan penambahan kadar limbah onix. Berdasarkan hasil penelitian ini hendaknya memperhatikan kondisi persiapan dalam proses pembuatan sampel karena sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam penelitian. Selain itu variasi terhadap kadar limbah onix juga perlu diperbanyak lagi agar diperoleh hasil yang optimal.

Perbedaan kebiasaan belajar dan motivasi belajar serta pengaruhnya terhadap prestasi belajar pada mata kuliah keilmuan keterampilan antara mahasiswa reguler dan non reguler Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang angkatan 20

 

ABSTRAK Muhtadin, Muhammad Zainul. 2010. Perbedaan Kebiasaan Belajar dan Motivasi Belajar Serta Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Pada Mata Kuliah Keilmuan Keterampilan Antara Mahasiswa Reguler dan non Reguler Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM angkatan 2006. Skripsi, Jurusan Teknik Mesin, FT, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Suharmanto, M.Pd., (II) Heru Suryanto, S.T., M.T Kata kunci: Perbedaan, Kebiasaan Belajar, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar, Mahasiswa Reguler dan Non Reguler. Kebiasaan belajar merupakan hasil dari cara seseorang untuk melakukan kegiatan belajar yang biasa dilakukan secara teratur dan konsisten. Kebiasaan belajar yang baik akan meningkatkan prestasi belajar yang baik pula. Motivasi belajar merupakan suatu dorongan yang ada pada diri individu terhadap proses belajar yang dapat menyebabkan perubahan tingkat prestasi belajar. Mahasiswa yang mempunyai motivasi belajar akan bertindak dan menggunakan seluruh kemampuan yang ada pada dirinya untuk mendapatkan prestasi belajar yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kebiasaan belajar, motivasi belajar, dan prestasi belajar antara mahasiswa reguler dan mahasiswa non reguler Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif Teknik Mesin FT UM angkatan 2006. Penelitian ini menggunakan kuantitatif statistik Inferensial dengan pendekatan deskriptif korelasional . Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM angkatan 2006, sedangkan besarnya sampel diambil semua sehingga menjadi sampel total yang berjumlah 59 mahasiswa reguler dan non reguler. Untuk analisis data digunakan persentase dan uji-t dengan taraf signifikansi 0,05 (5%) untuk mengetahui perbedaan variabel antara mahasiswa reguler dan non reguler serta regresi linier berganda untuk mengetahui pengaruhnya terhadap prestasi belajar dengan dibantu komputer program SPSS for Windows versi 15. Dari hasil penelitian diketahui terdapat perbedaan yang signifikan kebiasan belajar, motivasi belajar dan prestasi belajar mahasiswa reguler dan non reguler. Hasil penelitian yang selanjutnya yaitu secara parsial tidak ada pengaruh yang signifikan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar dan secara parsial yang kedua ada pengaruh yang signifikan motivasi belajar terhadap prestasi belajar mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Otomotif FT UM Angkatan 2006. Dan yang terakhir secara simultan ada pengaruh signifikan kebiasaan belajar dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Variabel prestasi belajar dan motivasi belajar memberikan kontribusi sebesar 36% terhadap prestasi belajar, sedangkan sisanya dijelaskan variabel lain yang tidak digunakan dalam penelitian. Bagi dosen diharapkan untuk dapat menanamkan kebiasaan belajar yang baik, serta menumbuhkan semangat dan motivasi belajar mahasiswa sehingga dapat meningkatan prestasi akademik mahasiswa tersebut. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas variabel yang diteliti sehingga faktor-faktor lain dapat memberikan kontribusi prestasi belajar yang lebih baik, misalnya faktor uang saku kuliah, jarak kampus, faktor keluarga, profesionalisme dosen, dan lain sebagainya.

Meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia menyusun paragraf melalui morfologi bahasa jawa bagi siswa kelas III SDN Pogar II kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Mas'udah

 

ABSTRAK Mas’udah, 2010. Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Indonesia Menyusun Paragraf Melalui Morfologi Bahasa Jawa Bagi Siswa Kelas III SDN Pogar II Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Program Study S I PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Rumidjan, M.Pd., (II) Drs. Sumanto, M.Pd.. Kata kunci: kemampuan berbahasa indonesia, morfologi bahasa SD. Disadari atau tidak Penggunaan Bahasa sangat penting dikalangan Masyarakat, Dari beberapa bahasa yang ada di Indonesia memiliki sistem yang berbeda-beda hal ini tergantung pada penggunaan fonologi, morfologi, dan Sintaksis bahasa yang berbeda pulu, namun sebagaian besar perbedaan itu terletak pada morfologinya. Hal ini terjadi pula pada Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Karena itu peneliti ingin meneliti kemampuan berbahasa Indonesia melalui morfologi bahasa Jawa. Permasalahan yang ingin dikaji dalam penelitian ini adalah: (a) Bagaimanakah kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas III SDN Pogar II melalui penguasaan morfologi bahasa Jawa yang tepat.(2) Ingin mengetahui Adakah Peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia melalui penguasaan morfologi yang tepat . Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah: (a) kemampuan berbahasa Indonesia siswa kelas III SDN Pogar II melalui penguasaan morfologi bahasa Jawa yang tepat. (b) Adakah Peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia melalui penguasaan morfologi yang tepat . Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak 2 putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas III SDN Pogar II Bangil Kabupaten Pasuruan Penelitian ini dilaksanakan pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2009-2010. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II yaitu, siklus yaitu siklus I (70,2%) siklus II (89,18%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan morfologi bahasa daerah yang tepat dapat meningkatkan kemampuan Berbahasa Indonesia agi siswa kelas III SDN Pogar II Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan, serta pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran Bahasa Indonesia

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share untuk meningkatkan hasil belajar geografi pada materi permasalahan kependudukan dan upaya penanggulangannya pada siswa kelas 8 I SMP Negeri 10 Malang / Romi Hidayatullah

 

ABSTRAK Hidayatullah, Romi. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Geografi Pada Materi Permasalahan Kependudukan dan Upaya Penanggulangannya Pada Siswa Kelas 8 I SMPN 10 Malang. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Timotius Suwarna, M.Pd, (II) Drs. Djoko Soelistijo, M.Si. Kata Kunci: penerapan, think pair share, hasil belajar. Adanya perubahan paradigma dalam pembelajaran, menuntut guru agar dapat menyesuaikan pembelajaran dengan dinamika masyarakat saat ini. Perubahan tersebut harus diikuti oleh guru untuk menyelenggarakan pembelajaran yang efektif . Guru harus bijaksana dalam menentukan suatu model yang sesuai, agar dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif dalam proses pembelajaran sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran IPS geografi guru harus mengikuti dinamika pembelajaran dan dituntut lebih kreatif dalam menggunakan model-model pembelajaran agar aktivitas belajar siswa meningkat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap aktivitas belajar siswa di kelas diketahui bahwa pembelajaran IPS geografi yang berlangsung selama ini menggunakan metode ceramah, pemberian tugas, dan kerja kelompok. Pada waktu diskusi kelompok suasana kelas menjadi ramai dikarenakan siswa lebih banyak membicarakan hal-hal lain di luar topik kerja kelompok dan cenderung banyak bermain. Selain itu, siswa yang mendapat nilai sama dengan atau lebih dari 66 sebanyak 20 siswa dan sebanyak 20 siswa yang mendapatkan nilai di bawah ketuntasan minimum (SKM) yang ditetapkan SMP Negeri 10 Malang sebesar 66. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS geografi dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus pembelajaran yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Penelitian ini dilakukan di Kelas 8 I SMPN 10 Malang pada bulan Desember 2009, dan data yang diperoleh dianalisis dengan membandingkan nilai pra tindakan dengan siklus I dan siklus I dengan siklus II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I skor aktivitas belajar siswa sebesar 18,6 meningkat menjadi 31,2 pada siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari pra tindakan ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan tersebut terlihat dari rata-rata kelas siklus I sebesar 58 pada pra tindakan meningkat menjadi 68,5 pada siklus I, dan meningkat menjadi 75,38 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share mampu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS geografi siswa Kelas 8 I SMPN 10 Malang. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan untuk menggunakan model Think Pair Share dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran Geografi khususnya materi yang membutuhkan penalaran atau analisis.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student team achievement division untuk meningkatkan kerjasama dan hasil belajar IPS siswa kelas V NI Miftahul Huda Kec. Prigen Kab. Pasuruan / Nanik Widiawati

 

Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran IPS di kelas V MI Miftahul Huda Kec. Prigen Kab. Pasuruan ditemukan fakta bahwa banyak siswa yang bermain sendiri saat belajar kelompok berlangsung, ada siswa yang mencontek jawaban teman sekelompok, dan satu siswa yang mengerjakan tugas kelompok. Perolehan nilai pada materi pengajarannya sebesar 61,18. Siswa dalam kegiatan kelompok belum nampak dalam bekerjasama, oleh karena itu akan diterapkan pembelajaran kooperatif model STAD. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran aktivitas siswa, peningkatan kerjasama, dan hasil belajar IPS siswa dengan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD di kelas V MI Miftahul Huda Kec. Prigen Kab. Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain PTK model siklus. Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan 2 siklus, yang masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap kegiatan, yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V MI Miftahul Huda Prigen, sebanyak 28 siswa. Data dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes tulis. Instrumen yang digunakan meliputi: lembar observasi, pedoman wawancara, catatan lapangan, kamera, soal pilihan ganda, dan esai. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif, dan kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif digunakan untuk data gambaran aktivitas, dan kerjasama siswa dalam kelompok. Sedangkan analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk data hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran aktivitas yang ditunjukkan siswa selama pembelajaran meningkat. Hal ini nampak dengan ditunjukkannya aktivitas siswa, seperti: siswa tanya jawab tentang materi pengajaran, saling berbagi tugas dan bekerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, mengerjakan tes individu, menyimpulkan materi pengajaran, memberikan kesan dan saran atas pembelajaran yang dilakukan. Adapun kerjasama siswa dalam kelompok meningkat. Indikasinya siswa saling berpartisipasi dalam mengerjakan tugas kelompok, berkomunikasi antar anggota kelompok, dan bertanggung jawab. Hal itu nampak dilakukan siswa dengan saling berbagi tugas, berdiskusi, membantu temannya yang kurang memahami tugas atau materi pengajaran, dan tanya jawab untuk memastikan pemahaman anggota kelompok terhadap materi pengajaran. Rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa meningkat, pada siklus I 64,41, dan siklus II 75,31. Berdasarkan temuan diatas, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan kerjasama, dan hasil belajar IPS siswa. Oleh karena itu, agar kegiatan kerjasama siswa dalam kelompok efektif, disarankan untuk adanya pengorganisasian dan penekanan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa dalam kelompok, yang salah satunya dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model STAD.

Pengaruh pelatihan terhadap prestasi kerja karyawan bagian SDM dan organisasi PT. PLN (Persero) distribusi Bali / Ni Luh Sita Ariestia

 

ABSTRAK Ariestia, Ni Luh Sita. 2010. “Pengaruh Pelatihan Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Bagian SDM dan Organisasi PT. PLN (Persero) Distribusi Bali.” Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si (2) Drs. M. Arief, M.Si Kata kunci : pelatihan, prestasi kerja Pelatihan karyawan merupakan kewajiban setiap manajer dan juga semua pihak yang terkait dalam pengembangan dan perencanaan usaha. Hal ini dikarenakan dengan diadakannya pelatihan, maka perusahaan tersebut telah melakukan investasi jangka panjang terhadap pengembangan nilai yang dimiliki perusahaan. Dengan adanya pelatihan, perusahaan dapat mengembangkan serta menambah pengetahuan dan ketrampilan karyawan sehingga dapat semakin mengefisienkan dan mengefektifkan kinerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan pelatihan yang terdiri dari kurikulum pelatihan, metode pelatihan dan kemampuan pelatih secara simultan terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN (Persero) Distribusi Bali, mengetahui pengaruh kurikulum pelatihan secara parsial terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN (Persero) Distribusi Bali, mengetahui pengaruh metode pelatihan secara parsial terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN (Persero) Distribusi Bali, mengetahui pengaruh kemampuan pelatih secara parsial terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN (Persero) Distribusi Bali, mengetahui mana diantara pelatihan yang terdiri dari kurikulum pelatihan, metode pelatihan dan kemampuan pelatih yang berpengaruh dominan terhadap prestasi kerja karyawan PT. PLN (Persero) Distribusi Bali. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa (1) variabel kurikulum pelatihan secara parsial didapatkan nilai thitung 2,097 > ttabel 2,042 atau signifikansi t 0,044 < 0,05, hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan kurikulum pelatihan terhadap prestasi kerja; (2) variabel metode pelatihan secara parsial didapatkan nilai thitung 2,851 > ttabel 2,042 atau signifikansi t 0,008 < 0,05, hal ini menunjukkan ada pengaruh positif yang signifikan metode pelatihan terhadap prestasi kerja; (3) variabel kemampuan pelatih secara parsial didapatkan nilai thitung 2,664 > ttabel 2,042 atau signifikansi t 0,012 < 0,05, hal ini menunjukkan ada pengaruh positif yang signifikan kemampuan pelatih terhadap prestasi kerja. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda secara simultan (uji F) dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan kurikulum pelatihan, metode pelatihan, dan kemampuan pelatih terhadap prestasi kerja. Sedangkan variabel yang berpengaruh dominan terhadap prestasi kerja karyawan yaitu metode pelatihan. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah tetap mempertahankan dan meningkatkan metode pelatihan, serta memperbaiki kurikulum pelatihan yang sudah ada, agar prestasi kerja karyawan dapat semakin meningkat dimana jika prestasi kerja karyawan meningkat maka ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawan juga meningkat, sehingga diharapkan semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lebih efektif dan efisien sehingga tingkat kesalahan yang dilakukan karyawan dapat diperkecil dengan demikian mutu dan kualitas dapat ditingkatkan.

Pengembangan bahan ajar matadiklat praktik teknik gambar bangunan berbasis strategi training within industry (TWI) di sekolah menengah kejuruan (SMK) program keahlian teknik gambar bangunan / Arika Rizki G.A

 

ABSTRAK Gidiandayani, Arika, Rizki. 2010. Pengembangan Bahan Ajar Matadiklat Praktik Gambar Bangunan Berbasis Strategi Training Within Industry Di Sekolah Menengah Kejuruan Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Made Wena, M.Pd.,M.T., (II) Hanni Elitasari Mahaputri,S.T.,M.T. Kata Kunci: Bahan Ajar, Gambar Bangunan, Training Within Industry Ada dua masalah pokok dalam pembelajaran praktik di SMK yaitu (l) tidak adanya bahan ajar pembelajaran praktik yang inovatif, dan (2) model mengajar praktik dengan ceramah (konvensional) masih menjadi kebiasaan guru. Adanya dua masalah pokok dalam matadiklat praktik tersebut ternyata berdampak pada efektifitas hasil pembelajaran yang rendah. Untuk memecahkan kondisi pembelajaran tersebut perlu diterapkan metode pembelajaran Training Within Industry. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar matadiklat Teknik Gambar Bangunan pada Jurusan Teknik Bangunan di SMK yang berbasis strategi Training Within Industry (TWI), yang berupa bahan ajar untuk guru, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan job sheet untuk siswa. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam usaha perbaikan efektifitas hasil pembelajaran, khususnya bahan ajar matadiklat praktik. Uji validitas bahan ajar ini dilakukan di SMK Negeri yang mempunyai jurusan Teknik Bangunan yang ada di Malang Raya. Adapun SMK yang dijadikan lokasi penelitian adalah SMK Negeri 1 Singosari dan SMK Negeri 6 Kota Malang. Sesuai PPKI edisi ketiga, peneliti hanya berhenti pada tahap uji perseorangan, sehingga subjek uji coba yang dipakai adalah 1 orang Dosen Teknik Sipil sebagai pakar/ahli, 5 Guru matadiklat praktik SMK (3 orang guru SMKN 6 Malang dan 2 orang guru SMKN 1 Singosari), dan 9 siswa SMK (4 orang siswa SMKN 1 Singosari dan 5 orang siswa SMKN 6 Malang). Jenis data menggunakan data kuantitatif melalui angket dan wawancara. Analisis data yang dilakukan menggunakan skala pengukuran Rating Scale. Dari hasil penelitian ini didapatkan validitas untuk Pegangan Guru 81.3%, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 85.9%, dan Job Sheets 96.7%. Dari hasil validitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar valid. Berdasarkan penelitian ini, disarankan (1) bagi peneliti: penelitian ini perlu diperluas cakupannya, (2) bagi peneliti lain: mengingat uji coba penelitian pengembangan bahan ajar ini hanya sampai uji perseorangan, maka perlu dilakukan uji lapangan, dan (3) bagi SMK: bahan ajar ini disarankan untuk di uji cobakan pada pembelajaran praktik di sekolah.

Redesign corporate identity shania bakery Malang / Nurina Mayoke Elpidia

 

ABSTRAK Elpidia, Nurina Mayoke. 2010. “Redesign Corporate Identity Shania Bakery Malang”. Skripsi Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn (II) Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si Kata kunci : Redesign, Corporate Identity, Shania Bakery Shania Bakery merupakan salah satu industri food and baverage di Malang yang telah lama berdiri sejak tahun 2002, tetapi belum memiliki logo yang dapat mencerminkan visi dan misi perusahaan serta belum mempunyai sebuah corporate identity yang kuat. Berdasarkan pada hal tersebut, maka perancangan ini bertujuan untuk melakukan sebuah redesign pada logo dan atribut pendukung corporate identity Shania Bakery serta media aplikasi corporate identity sebagai salah satu upaya optimalisasi pemasaran dalam memperkuat brand image perusahaan sebagai industri food and baverage kepada masyarakat umum selaku target audience. Model perancangan yang dipakai merupakan model perancangan deskriptif kualitatif yang menggariskan langkah-langkah dalam menghasilkan sebuah produk, dengan menggunakan paduan sistematika perancangan yang dimiliki oleh Karl Popper dan Sadjiman Ebdi Sanyoto. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi data, wawancara, studi dokumentasi dan kuesioner sebagai metode penelitian untuk mendapatkan data perusahaan terkait dan kompetitor. Analisis data dilakukan dengan menggunakan sistem content analysis dan sistem analisis SWOT. Hasil dari perancangan ini berupa sebuah corporate identity baru dan media aplikasi corporate identity tersebut dalam buku pedoman sistem identitas (Grid Standard Manual), stationary set, media promosi, signage, seragam, kemasan, branding store dan mobil operasional. Perubahan pada corporate identity adalah pada bentuk logo yang lebih sesuai dengan karakteristik Shania Bakery dibandingkan dengan logo awal. Logo baru tersebut terdiri dari logogram berupa deformasi dari bentuk seorang pembuat roti atau lebih dikenal dengan sebutan baker, serta logotype yang bertuliskan nama dari perusahaan yaitu Shania dan bidang usaha yang dimilikinya yaitu Bakery. Aplikasi pada media, dibuat dengan tujuan untuk memperkenalkan logo dan identitas perusahaan yang baru tersebut kepada masyarakat yang menjadi calon konsumen. Visualisasi media dibuat dengan berdasarkan pada karakter yang dimiliki oleh logo, supaya dapat terwujud identitas perusahaan yang tampak memiliki kesatuan dan dapat memperkuat brand image perusahaan sebagai industri food and baverage kepada masyarakat umum selaku target audience.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui metode sosiodrama pada siswa kelas VI di SDN Suwayuwo I Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan / Siti Khalimah

 

ABSTRAK Khalimah, Siti. 2010. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Metode Sosiodrama pada Siswa Kelas VI di SDN Suwayuwo I Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1). Drs. H. Rumidjan, M.Pd (2) Drs. H. Ahmad Samawi, M.Hum Kata-kata Kunci : Keterampilan Berbicara, Metode Sosiodrama, Sekolah Dasar Sebagian besar guru dalam menyampaikan pelajaran Bahasa Indonesia kepada siswa menggunakan metode yang konvensional. Metode yang kurang memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan berbicara dengan menggali potensi siswa itu sendiri melalui metode pembelajaran yang tepat. Siswa cenderung dituntut untuk meningkatkan keterampilan berbicaranya sendiri tanpa diberi alternatif-alternatif metode pembelajaran yang tepat untuk menumbuhkan kreativitas-nya. Hal ini menyebabkan siswa kurang dapat meningkatkan keterampilan berbicara baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan pelaksanaan metode sosiodrama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VI di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Suwayuwo I Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan, (2) Untuk mendeskripsikan pembelajaran Bahasa Indonesia melalui metode sosiodrama dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri (SDN) Suwayuwo I Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Tujuan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas aplikasi pembelajaran secara berkesinambungan sehingga dapat meningkat-kan mutu hasil belajar siswa, mengembangkan ketrampilan guru, dan me-numbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang cara penggalian datanya menggunakan pedoman wawancara, pengamatan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pelaksanaan metode sosiodrama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VI di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Suwayuwo I berjalan dengan baik. (2) Pembelajaran Bahasa Indonesia melalui metode sosiodrama dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa Kelas VI di SDN Suwayuwo I Kec. Sukorejo Kab. Pasuruan. Beberapa hal yang dapat disarankan kepada guru untuk menggunakan metode sosiodrama. Kepala sekolah memberikan kebijakan menggunakan metode sosiodrama untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa di sekolahnya.

Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pengukuran luas bangun datar melalui penerapan pohon matematika di kelas V SDN Sebandung II Pasuruan / Era Penida

 

ABSTRAK Penida, Era. 2010. Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Pengukuran Luas Bangun Datar Melalui Penerapan Pohon Matematika Di Kelas V SDN Sebandung II Pasuruan. Skripsi Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. Ir. Endro Wahyuno, M.Si Kata kunci: Memecahkan Masalah, Pohon Matematika, Luas Bangun Datar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelas III SDN Sebandung II Pasuruan pada waktu pelajaran matematika, pembelajaran berpusat pada guru, pembelajaran berlangsung satu arah, penjelasan materi yang digunakan metode ceramah tanpa menggunakan media pembelajaran, dan penilaian hasil belajar masih rendah belum memenuhi standar ketuntasan minimal sekolah. Oleh karena itu pembelajaran dengan penerpan pohon matematika diharapkan dapat meningkatkan proses dan hasil belajar matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan, kemampuan dan tanggapan (respon) siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran pemecahan masalah pengukuran luas bangun datar melalui penggunaan pohon matematika Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SDN Sebandung II Pasuruan. Dalam penelitian ini peneliti sebagai observer dan guru kelas (mitra peneliti) sebagai pengajar. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Setiap silkus dilaksanakan tiga pertemuan. Analisis data secara deskriptif melalui instrumen penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulan bahwa pembelajaran dengan penerapan pohon matematika dapat meningkatkan kemampuan proses belajar siswa kearah lebih baik, siswa terdorong dan termotivasi untuk belajar lebih giat dan kreatif. Aktivitas dan interaksi siswa dalam kegiatan belajar mengajar lebih bergairah dan optimal. Meningkatkan kemampuan hasil belajar kearah yang lebih optimal. Peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa dari siklus I sebesar 58,7% meningkat menjadi 64,25%. Respon siswa terhadap pembelajaran baik karena dapat menambah pengalaman baru dalam memecahkan atau menyelesaikan masalah/soal-soal pengukuran luas bangun datar melalui gambar pohon matematika. Berdasarkan hasil penelitian disarankan pembelajaran menggunakan media pohon matematika bisa dijadikan alternatif pembelajarn di kelas, peran guru dan pembimbingan siswa untuk bekerja sama dalam pelaksanaan diskusi hendaknya diperhatikan agar siswa lebih dapat mengembangkan hasil belajarnya secara maksimal dan menyediakan waktu yang cukup bagi siswa untuk menyelesaikan soal-soal baik LKS maupun ulangan harian (post test).

Penerapan model discovery untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Kiduldalem I Kecamatan Bangil Kabupaten Psuruan / Endang Melati

 

ABSTRAK Melati, Endang. 2010. Penerapan Model Discovery Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV SDN Kiduldalem I Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan Pembimbing: ( I ) Drs. Sutarno, M.Pd, ( II ) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd Kata Kunci: Hasil Belajar, Aktivitas, Model Discovery Berdasarkan hasil observasi awal di SDN Kiduldalem I Kec. Bangil Kab. Pasuruan ditemukan: (1) guru lebih sering menggunakan ceramah dalam pembelajaran IPA dan jarang menggunakan model-model pembelajaran, ( 2 ) siswa sulit memahami konsep-konsep IPA yang disampaikan guru, karena disampaikan secara klasikal dan ceramah, (3) rendahnya tingkat aktivitas dan hasil belajar siswa. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian dicoba untuk menangani rendahnya kemampuan belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA melalui model discovery.. Model pembelajaran ini cocok diterapkan untuk menjawab permasalahan diatas karena siswa menemukan (discover) suatu konsep dengan menganalisa dan mengidentifikasi suatu masalah. Guru hanya sebagai fasilitator dengan memberi contoh-contoh dan pertanyaan yang membantu siswa untuk fokus pada aspek-aspek penting pada sebuah data Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1)mendeskripsikan penerapan model discovery pada pembelajaran IPA,(2) mendeskripsikan penerapan model discovery untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Kiduldalem I,(3) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa kelas IV SDN Kiduldalem I Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan Penelitian yang dilaksanakan mulai tanggal 4 Desember 2009 sampai 15 Desember 2009 di kelas IV SDN Kiduldalem I Kec. Bangil Kab. Pasuruan dengan menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas melalui empat tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaantindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA dengan kompetensi dasar mendeskripsikan perubahan wujud benda mengalami peningkatan nilai rata-rata 54,4 pada pra tindakan menjadi nilai dengan rata-rata 71,4 pada siklus I dan kemudian meningkat lagi menjadi 82,4 Dari hasil penelitian ini diharapkan agar; (1) guru menggunakan model pembelajaran discovery dalam kegiatan mengajar mengajar, (2) guru dapat mengembangkan kreatifitas dan aktivitas siswa dengan menggunakan model discovery dalam pembelajaran IPA demi meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa

Studi tentang pertunjukan jaranan jawa sebagai sumber rancangan bahan ajar apresiasi seni tari bagi siswa kelas VII SMPN 4 Kepanjen Kabupaten Malang / Yogik Andriyanto

 

ABSTRAK Andriyanto, Yogik. 2010. Studi Tentang Pertunjukan Jaranan Jawa Sebagai Sumber Rancangan Bahan Ajar Apresiasi Seni Tari Bagi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni Dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Wara Suprihatin, (II) Drs. Supriyono. Kata kunci: pertunjukan jaranan, bahan ajar, apresiasi seni tari. Kesenian tradisional jaranan merupakan jenis kesenian rakyat yang telah ada sejak dahulu, yang sampai saat ini tidak diketahui sejak kapan keberadaannya. Tari Jaranan tersebut saat ini menjadi tari pertunjukan rakyat yang ditandai oleh penggambaran sekelompok penari berkuda (menggunakan properti kuda tiruan). Dalam hal ini dijelaskan oleh Hidajat (2003: 35) bahwa ”salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat berupa tari berkuda yang umumnya disebut jaranan”. Sementara itu, dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, terdapat sistem atau kurikulum yang lebih dikenal dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Pada kurikulum ini memuat mata pelajaran Seni Budaya dengan kompetensinya apresiasi dan kreasi. Pembelajaran Apresiasi yang pelaksanaannya belum maksimal dan bahan ajar yang kurang mendukung juga menjadi latar belakang penelitian ini. Untuk tujuan dari penelitian ini adalah; (1) Mengetahui Bentuk Pertunjukan Jaranan Jawa, dan (2) Menyusun Rancangan Bahan Ajar Apresiasi Seni Tari Bagi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Kepanjen yang bersumber dari Bentuk Pertunjukan Jaranan Jawa. Dalam rencana penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu suatu pendekatan penelitian yang dalam mengkaji suatu fenomena kehidupan sosial dalam bentuk karakteristik yang bersifat spesifik. Penelitian dilaksanakan di kelompok Jaranan Turonggo Cipto Dwi Manunggal Krapyak dan SMP Negeri 4 Kepanjen. Nara sumber dalam penelitian ini diantaranya adalah seniman daerah setempat serta guru seni budaya SMP Negeri 4 Kepanjen Kabupaten Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan telaah dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, sajian data serta penarikan kesimpulan. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi yang terdiri dari triangulasi metode, triangulasi sumber, dan triangulasi waktu. Dalam merancang bahan ajar meliputi beberapa tahapan, yaitu: 1)Konsep dan Analisis Kurikulum, 2)Analisis Sumber Data dan 3)Prosedur Penyusunan. Hasil dari penelitian ini diwujudkan dalam bentuk bahan ajar cetak yang berupa buku yang berisi gambar atau foto. Pada bahan ajar tersebut berisi tentang bentuk pertunjukan jaranan jawa beserta unsur-unsur pendukungnya yang meliputi: ritual dan magis, musik iringan, kostum dan tata rias, serta ragam geraknya.

Penjamin mutu pendidikan pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Jawa Timur (Studi multivisitus di Universitas Sukiyanto, Universitas Suherman, dan Universitas Madjedi) / Sri Uchitiawati

 

ABSTRAK Sri Uchtiawati, 2010. Penjaminan Mutu Pendidikan pada Perguruan Tinggi Muhmmadiyah di Jawa Timur (studi multisitus pada Universitas Sukiyanto, Universitas Suherman, dan Universitas Madjedi). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd, (2) Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd, dan (3) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd Kata kunci: penjaminan mutu, akreditasi perguruan tinggi, instrumen akreditasi. Universitas merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang melakukan proses pendidikan tinggi, peneliti melakukan penelitian tentang Penjaminan Mutu Pendidikan pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Jawa Timur, Saat ini telah memasuki era Globalisasi, yang menuntut sumber daya manusia mampu menghadapi persaingan secara global, oleh karena itu pendidikan di negara Indonesia harus, mampu menghadapi persaingan, dengan meningkatkan kualitas dan melakukan penjaminan mutu. penelitian ini difokuskan pada penjaminan mutu eksternal dan internal, mengingat mutu merupakan bentuk layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga perlu dipersiapkan oleh pengelola agar mutu tidak hanya merupakan suatu ‘simbul’ saja. Terdapat dua cara pelaksanaan penjaminan mutu secara eksternal yaitu dengan mengikuti akreditasi institusi, dan akreditasi program studi, yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Higer Education Long Term Strategy 2003-2010 yang salah satu visinya adalah meningkatkan kesehatan organisasi, dan dari kesehatan organisasi tersebut tertera penjaminan mutu internal di Perguruan Tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang (1) penjaminan mutu melalui akreditasi, sebagai audit mutu pendidikan secara eksternal yang dilakukan oleh (BAN-PT), (2) pelaksanaan penjaminan mutu internal sebagai inisiatif sendiri, pada Universitas Sukiyanto, Universitas Suherman, dan Universitas Madjedi. Pendekatan yang digunakan kualitatif, hal ini sesuai dengan alasan serta tujuan lebih berorientasi pada pengembangan teori, dengan rancangan studi multisitus, yang didasarkan pada persamaan yang terjadi pada lokasi penelitian, maka peneliti membuat rancangan penelitian metode komparatif konstan. (the constant comparative method) yang artinya bahwa “rangkaian langkah-langkah yang berlangsung sekaligus dan analisisnya selalu berbalik kembali ke pengumpulan data dan melakukakan pengkodean”, “Instrument penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrument kunci (the key instrument), dan untuk memperoleh informasi yang relevan, maka dalam penelitian ini selain memilih informan yang dianggap paling mengetahui masalah yang dikaji, juga cara memilih informan bersifat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam mengumpulkan data”. dengan tehnik sampling bola salju, tiga tehnik yaitu; (1) Wawancara mendalam, (2) Observasi pertisipasi, (3) Studi dokumentasi. Setelah data diperoleh maka untuk menjaga kesahihan data, i maka dilakukan trianggulasi data, sedangkan analisis data melalui 2 (dua) tahap yaitu; (1) Analisis data masing-masing situs, dan (2) Analisis data lintas situs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjaminan mutu eksternal pada pendidikan tinggi yang dilakukan oleh Universitas adalah dengan melalui akreditasi Institusi dan akreditasi program studi, yang dipersiapkan dengan mengikuti ketentuan dari standar akreditasi dari BAN-PT, dengan melengkapi pengisian borang akreditasi, dan melakukan EPSBED sebagaia validasi data untuk menetapkan status akreditasi dilakukan visitasi oleh asesor dari BAN-PT, untuk melakukan hal ini diperlukan suatu perencanaan yang diprogramkan dalam tugas dan tanggung jawab pimpinan, yang dimulai dari tingkatan program studi, fakultas kemudian koordinasi dengan pimpinan pada tingkatan ‘Rektorat’, pimpinan mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan akreditasi oleh karena itu strategi yang dilakukan harus dapat mewujudkan tercapainya tujuan, sedangkan secara tehnis akreditasi memerlukan persiapan yang memakan waktu relatif lama karena berbagai komponen yang harus dinyatakan dan dibuktikan secara fisik sesuai dengan standar akreditasi, kebijakan pergantian pimpinan dapat mempengaruhi kesiapan dari pelaksanaan akreditasi, persiapan akreditasi dilakukan oleh pengelola dengan mempbentukan ‘tim’ yang didasarkan atas ‘task force’ melalui surat keputusan dekan, koordinasi anggota tim menjadi bagian penting untuk dapat melakukan akreditasi, begitu juga dukungan dan loyalitas dari anggota tim. Akreditasi merupakan program yang direncanakan dan dilakukan secara berkesinambungan, dengan mencantumkan status terakreditasi pada ijazah yang diperoleh mahasiswa dapat memberikan peluang untuk mencari kerja, Jika pengelola program studi tidak mempersiapkan status terakreditasi, maka akan berdampak tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pengguna jasa, dan jika ini terjadi, maka untuk melakukan pengajuan akreditasi pada BAN-PT semakin mengalami kesulitan, dan ketentuan ini tidak dapat ‘direkayasa’ karena adanya laporan Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED) yang dilakukan setiap semester. Penjaminan mutu secara internal, juga dilakukan oleh Universitas yang diteliti, dengan menetukan model pelaksanaan yang disesuaikan pada kondisi masing-masing universitas, sehingga terjadi perbedaan dari universitas satu dengan yang lain, tetapi pada hakekatnya dilakukan penjaminan mutu internal ini untuk memberikan jaminan kualitas pada pengguna jasa pendidikan tinggi, yang ditekankan pada pencapaian ‘mutu’ yang sudah ditetapkan pada standar mutu, pelaksanaan ini berhubungan dengan visi dan misi universitas, dalam melakukan penjaminan mutu internal, para pimpinan universitas berperan penting, dengan memahami kebutuhan pengguna jasa pendidikan tinggi dapat memberikan wawasan yang berharga dan mempengaruhi keputusan strategi, peranan PHKI, melalui hibah kompetisi yang diberikan oleh Dikti mempunyai pengaruh dalam kelangsungan penjaminan mutu. Jadi dalam penjaminan mutu ini: (1) Strategi pimpinan untuk mengelola universitas yang melakukan penjaminan mutu harus direncanakan dalam program kerja, (2) Masa jabatan pimpinan mempengaruhi kesiapan untuk melakukan akreditasi, (3) Standar akreditasi dipersiapkan, (4) Asesor yang melakukan tugas akreditasi dengan obyektif, dapat memberikan hasil peringkat akreditasi yang sesuai,

Implementasi mode insertion heoristic dalam penyelesaian multiple trip vehicle routing problem (MTVRP) dan analisanya / Gladis Dwi Oktavia

 

Oktavia, Gladis Dwi. 2010. Implementasi Metode Insertion Heuristic dalam Penyelesaian Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP) dan Analisanya. Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si., (II) Mohamad Yasin, S.Kom, M.Kom. Kata Kunci: Vehicle Routing Problem, Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP), Metode insertion heuristic Distribusi merupakan suatu proses pengiriman barang atau jasa dari produsen (depot) ke konsumen (customer). Pada umumnya proses distribusi dilakukan untuk pemenuhan permintaan customer dimana jarak yang ditempuh relative jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Salah satu konsep pada teori graph yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut adalah Vehicle Routing Problem (VRP). Salah satu pengembangan dari permasalahan VRP yaitu Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP). MTVRP merupakan salah satu varian VRP dengan penambahan kendala kapasitas dan waktu dimana kendaraan (vehicle) dapat melalui satu rute atau lebih pada periode perencanaan. Permasalahan MTVRP yang dibahas diselesaikan dengan menggunakan metode insertion heuristic dan digambarkan dengan suatu graph. Proses pencarian rute minimum dengan metode insertion heuristic, dimulai dengan pembentukan rute awal pada setiap kendaraan yang tersedia. Kemudian dilakukan pemilihan dan penyisipan customer pada rute yang didasarkan pada minimum waktu tempuh dan profitability. Metode lain untuk menyelesaikan permasalahan MTVRP yaitu metode Brandao and Mercers. Proses pencarian rute minimum dengan metode Brandao and Mercers dengan pembentukan stage, layer dan melakukan pertukaran titik antar rute dengan insert moves. Pembahasan mengenai permasalahan MTVRP ini memberikan beberapa analisa yaitu analisa mengenai persamaan dan perbedaan metode insertion pada MTVRP dan VRP lainya serta analisis keoptimuman metode insertion heuristic pada MTVRP. Persamaan metode insertion pada MTVRP, VRP, VRPTW, dan VRPSDP adalah sama-sama melakukan perluasan rute dengan menyisipkan customer dalam rute. Sedangkan perbedaan MTVRP, VRP, VRPTW, dan VRPSDP terletak pada proses penyisipan customer dalam rute. Pada permasalahan VRP dan VRPTW, penyisipan titik customer didasarkan pada jarak antar customernya. Sedangkan pada permasalahan VRPSDP, penyisipan titik customer didasarkan pada jumlah permintaan maupun pengembalian barang tiap customernya. Lain halnya pada permasalahan MTVRP penyisipan titik customer didasarkan pada waktu tempuh. Analisis keoptimuman metode insertion heuristic pada MTVRP memberikan solusi yang lebih optimal dari pada metode Brandao and Mercers. Akan tetapi metode insertion heuristic melakukan proses pencarian solusi yang lebih panjang dibandingkan metode Brandao and Mercers karena didasarkan pada dua hal yaitu waktu tempuh dan profitability.

Penerapan model stad untuk meningkatkan keterampilan membaca pada siswa kelas 4 SDN Kebonagung 6 Pakisaji Malang / Citra Anugrah Hendra

 

ABSTRAK Hendra, Citra Anugrah.2009. Penerapan Model STAD Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Siswa Kelas 4 SD SDN Kebon agung 6 Pakisaji Malang. Skripsi, Program Studi Keguruan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidkan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) : Drs. A. Badawi, M.Pd., (II) : Dra. Wiwik Dwi Hastuti, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, Student Teams Achievement Division (STAD), keterampilan membaca, Mata pelajaran Bahasa Indonesia, SD Pembelajaran merupakan inti dalam proses pendidikan, karena melelui pembelajaran akan tercipta suatu proses belajar mengajar. Untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar perlu adanya suatu pemilihan Model pembelajaran yang tepat dengan berpusat pada siswa (child oriented) tidak lagi berpusat pada guru (teacher center) sehingga pembelajaran didalam kelas benar-benar mengexplorasi seluruh kemampuan siswa, dan tugas guru hanya sebagai fasilitator saja (memfasilitasi, mengarahkan dan mengoptimalkan kemampuan siswa untuk mengkonstruksi pemahamannya sendiri), salah satunya adalah model pembelajaran STAD untuk meningkatkan keterampilan membaca. Membaca merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena dengan membaca dapat memperkaya dan memperluas wawasan kehidupan, sehingga semakin mampu untuk mendewasakan diri Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan model STAD dalam keterampilan membaca kelas IV SDN Kebon agung 6 Pakisaji Malang, (2) mendeskripsikan perkembangan kemampuan membaca siswa kelas IV Kebon agung 6 Pakisaji Malang dengan model STAD, dan (3) mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca siswa kelas IV SDN Kebon agung 6 Pakisaji Malang dengan penerapan model STAD. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV di SDN Kebon agung 6 Pakisaji Malang yang berjumlah 50 siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes, lembar observasi, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Sedangkan proses analisis data penelitian ini berpedoman pada langkah-langkah analisis data penelitian kualitatif, yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang dilakukan secara bersamaan yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa keterampilan membaca siswa melalui model STAD pada siswa kelas IV SDN Kebon agung 6 Pakisaji Malang mengalami peningkatan. Hal ini dapat diketahui dari keterampilan membaca aspek kognitif siswa mulai dari pra tindakan yang tuntas belajar sebesar 28% dengan jumlah siswa sebanyak 14 siswa, pada siklus 1 keterampilan membaca dengan penerapan model STAD mengalami peningkatan sebesar 16% dengan jumlah siswa 22 siswa dengan persentase ketuntasan belajar aspek kognitif sebesar 44%. Dari aspek afektif 27 siswa tuntas belajar dengan persentase 54%, selanjutnya dari aspek psikomotorik siswa tuntas belajar sebanyak 9 siswa persentase ketuntasan 18%. Sedangkan pada siklus 2 keterampilan membaca aspek kognitif keterampilan membaca siswa dengan penerapan model STAD pada siklus 2 yang tuntas belajar atau mencapai KKM sebanyak 46 siswa dengan persentase sebesar 92% dari aspek afektif keterampilan membaca siswa yang tuntas belajar atau mencapai KKM sebanyak 44 siswa dengan persentase sebesar 88% dan dari aspek psikomotorik jumlah siswa tuntas belajar atau mencapai KKM sebanyak 39 siswa dengan persentase sebesar 78%. Penelitian ini tergolong dalam jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus yang diawali dengan studi pendahuluan kemudian diikuti dengan tahapan-tahapan pada setiap siklus yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan kelas, pengamatan, dan refleksi. Dalam tahap pelaksanaan tindakan guru menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD yang terdiri dari beberapa kegiatan antara lain class presentation, pembentukan kelompok, pemberian tugas, tes atau kuis, pemberian evaluasi, poin peningkatan individual, penutup.

Pengaruh strategi pembelajaran (tematik versus konvensional) dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar siswa kelas III Sekolah Dasar / Dwi Ilham Rahardjo

 

ABSTRAK Rahardjo, Dwi Ilham. 2010. Pengaruh Strategi Pembelajaran (Tematik Versus Konvensional) dan Gaya Kognitif terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas III Sekolah Dasar. Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wayan Ardhana, M.A., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (III) Prof. Dr. H.M. Dimyati. Kata kunci: pembelajaran tematik, pembelajaran konvensional, gaya kognitif, prestasi belajar Siswa SD memiliki ciri-ciri utama yang spesifik. Beberapa di antara ciri tersebut adalah: (1) pada umumnya mereka masih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan, (2) perkembangan fisiknya tidak pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial, dan emosional, dan (3) perkembangan itu akan terpadu dengan kehidupan, pengalaman, dan lingkungannya. Penggunaan strategi pembelajaran di SD dapat efektif apabila memperhatikan ciri-ciri tersebut. Dengan demikian strategi pembelajaran yang dipakai hendaknya yang utuh, sesuai dengan pengalaman dunia yang nyata, dan sesuai pula dengan kehidupan siswa. Di lapangan selama ini, guru SD kurang memperhatikan strategi pembelajaran yang digunakannya. Guru memusatkan perhatian pada isi mata pelajaran, tidak utuh atau tidak holistik. Isi pelajaran diajarkan dengan strategi pembelajaran secara terpisah-pisah melalui ceramah atau sering disebut pembelajaran konvensional. Tujuan dari strategi pembelajaran yang terpisah yakni agar siswa memperoleh informasi dan ide-ide yang terdapat dalam tiap-tiap mata pelajaran yang diajarkan. Di sisi lain, strategi pembelajaran tematik merupakan strategi pembelajaran yang memperhatikan siswa SD yang kerangka berpikirnya masih utuh, dan pemahaman terhadap suatu konsep masih melalui dunia nyata, serta sesuai dengan kehidupan siswa. Strategi pembelajaran ini beranjak dari suatu tema sebagai pusat perhatian atau permasalahan yang harus dipecahkan. Pemecahan tema yang merupakan permasalahan dengan cara mengaitkan atau menghubungkan berbagai fakta dan konsep dari berbagai bidang studi (relations among domains). Fakta dan konsep tersebut diperoleh melalui pengalaman dunia nyata siswa, sehingga proses pembelajaran sesuai dengan kehidupan siswa. Sebagai pembanding keefektifan strategi pembelajaran tematik, digunakan strategi pembelajaran konvensional karena strategi ini sangat lazim digunakan oleh para guru SD. Selain strategi pembelajaran, hal penting yang perlu juga menjadi perhatian guru dalam pembelajaran adalah kondisi pembelajaran, di antaranya adalah gaya kognitif. Gaya kognitif merupakan bagian dari fungsi mental dalam memperoleh fakta atau konsep. Gaya kognitif menggambarkan kebiasaan berperilaku relatif tetap dalam diri seseorang dalam menerima, memikirkan, memecahkan masalah maupun dalam menyimpan informasi. Sejauh mana pengaruh utama dan pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar merupakan konsentrasi penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah (1) menentukan pengaruh strategi pembelajaran (tematik dan konvensional) terhadap prestasi belajar pada kelas III SD, (2) menentukan pengaruh gaya kognitif (Field Depedence dan Field Indepedence) terhadap prestasi belajar pada kelas III SD, dan (3) menentukan pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar pada kelas III SD. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen. Desainnya merupakan versi nonequivalent control group design. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III SD di Kota Mojokerto pada tahun pelajaran 2009/2010. Sampelnya berjumlah 166 siswa berasal dari empat SD (tiap SD, satu kelas) yang ada di Gugus Sekolah II Kota Mojokerto. Pemilihan sampel gugus sekolah dan sampel SD dilakukan dengan menggunakan teknik sampel kelompok acak, dimana yang diacak terlebih dahulu adalah gugus sekolah, kemudian sekolahnya. Data yang dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik analisis varian (anava) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan prestasi belajar antara kelompok siswa yang diberi perlakuan menggunakan strategi pembelajaran tematik dan kelompok siswa yang diberi perlakuan menggunakan strategi pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD, (2) tidak ada perbedaan prestasi belajar antara kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif field independent dan kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent pada siswa kelas III SD, (3) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap prestasi belajar pada siswa kelas III SD. Statistik desriptif menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran tematik (rerata 68,09) memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap prestasi belajar siswa dibandingkan dengan penerapan strategi pembelajaran konvensional (rerata 61,06). Berdasarkan temuan penelitian, kepada para guru SD, khususnya kelas III disarankan menggunakan strategi pembelajaran tematik dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Karakteristik pembelajaran tematik dapat memberdayakan siswa untuk belajar secara maksimal dan menunjang pencapaian prestasi belajar siswa.

Perancangan county profile wisata religi Gunung Kawi / Hari Prasetyo

 

ABSTRAK Prasetyo, Hari. 2009. Perancangan County Profile Wisata Religi Gunung Kawi Sebagai Media Promosi. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Pujiyanto, M.Sn. Kata Kunci: Perancangan, County Profile, Gunung Kawi. Pariwisata yang berkembang cukup pesat mendorong terjadinya perubahan di dalam suatu masyarakat, terutama dalam bidang ekonomi. Seperti halnya berbagai masyarakat diseluruh dunia, yang berubah karena adanya pariwisata, demikian pula masyarakat di sekitar Kawasan Wisata Ziarah Pasarean Gunung Kawi. Kawasan ini telah ramai sejak tahun 1960-an, tidak mengherankan jika kawasan ini telah berkembang menjadi salah satu objek wisata ziarah yang terkenal di Indonesia. Pasarean Gunung Kawi adalah tempat pemakaman bagi dua tokoh kharismatis yang hingga saat ini masih tetap di ziarahi, bahkan pada saat-saat tertentu ribuan orang berziarah ke tempat ini. Di pasarean tersebut dimakamkan tokoh yang berasal dari keraton Mataram abad ke-19, yakni Kanjeng Kyai Zakaria II dan Raden Mas Iman Soedjono. Sebagai usaha untuk lebih mengenalkan potensi wisata yang dimilikinya kepada masyarakat luas, Yayasan Ngesti Gondo sebagai pengelola wisata Religi Gunung Kawi membutuhkan media terpadu yang mampu mempromosikan kawasan wisata Religi Gunung Kawi. Dalam hal ini, Yayasan Ngesti Gondo selaku pengelola Wisata Religi Gunung Kawi menginginkan sebuah County Profile. Tujuan perancangan ini adalah untuk menciptakan sebuah county profile yang menarik dan efektif bagi target audience, sebagai alat untuk mempromosikan wisata religi Gunung Kawi. Media dibuat dengan ilustrasi dan desain yang menarik bagi target audience dengan tidak melupakan unsur komunikatif dan persuasif., sehingga wisata religi Gunung Kawi dikenal sebagai sebuah tujuan wisata religi yang dikenal oleh masyarakat luas. Model perancangan yang digunakan dalam perancangan County Profile wisata religi Gunung Kawi ini adalah model perancangan prosedural, yaitu model yang bersifat deskriptif, dimana menggariskan langkah-langkah yang harus di ikuti untuk menghasilkan sebuah produk. Model perancangan deskriptif diawali dari penulisan latar belakang, perumusan masalah dan pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari data klien, dengan cara observasi, dokumentasi, wawancara. Data yang didapat kemudian di analisis dan akhirnya menjadi konsep dari perancangan. Perancangan Media terdiri dari iklan surat kabar, poster, horizontal banner, vertical banner, kartu pos, sticker, X-banner, mug, banner selamat datang, sign system,brosur, kalender, dan pembatas buku. Beberapa saran yang dapat diberikan pada Yayasan Ngesti Gondo selaku yayasan pengelola wisata religi Gunung Kawi adalah diharapkan dapat meneruskan kegiatan promosinya agar dapat mencapai visi dan misi yang dimiliki.

Pengaruh loan to deposit ratio, return on asset, capital adequacy ratio, non peforming loan, earning per share, dan ukuran perusahaan terhadap return saham (Studi kasus pada perusahaan perbankan yang listing di BEI tahun 2004-2008) / Vita Prabawati

 

ABSTRAK Lestari, Vita Prabawati. 2010. Pengaruh Loan to Deposit Ratio, Return On Asset, Capital Adequacy Ratio, Non Peforming Loan, Earning Per Share, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Return Saham (Studi Kasus pada Perusahaan Perbankan yang Listing di BEI Tahun 2004-2008). Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si. Ak, (2) Sriyani Mentari, S.Pd, M.M. Kata Kunci: LDR, ROA, NPL, CAR, EPS, SIZE, dan Return Saham, Perbankan sebagai lembaga yang bergerak di bidang keuangan memiliki peran yang penting dalam perekonomian Indonesia. Peran perbankan yang strategis tersebut menjadikan penilaian terhadap kinerja perusahaan menjadi sesuatu yang vital. Penilaian kinerja perbankan dapat dilakukan melalui analisis laporan keuangan dengan menggunakan rasio keuangan yang sesuai dengan peraturan Bank Indonesia. Kinerja yang baik akan dapat menarik minat investor untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut, sehingga dapat meningkatkan harga saham yang selanjutnya meningkatkan return saham. Penelitian ini juga menggunakan variabel firm size (ukuran perusahaan). Pertimbangan ukuran perusahaan perlu dilakukan karena adanya perbedaan risiko usaha dan kinerja antara perusahaan besar dengan perusahaan kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar LDR, ROA, CAR, NPL, EPS, dan SIZE secara parsial sehingga informasi tersebut dapat mempengaruhi besarnya return saham Populasi yang digunakan adalah semua perusahaan perbankan yang listing di BEI dan aktif melakukan perdagangan saham selama periode 2004-2008, dimana dari populasi tersebut terpilih 15 perusahaan sebagai sampel yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Data penelitian yang digunakan adalah polling data antara deret jumlah (cross section) dengan deret waktu (time series) sehingga diperoleh sebanyak 75 data. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan dan Indonesian Capital Market Directory dan dari internet dengan website www. Idx.co.id. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier sederhana SPSS. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa ROA dan CAR berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap return saham pada tingkat signifikansi sebesar 5%. Variabel LDR, NPL, EPS, dan SIZE tidak berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan penelitian ini maka disarankan pada peneliti lebih lanjut untuk melakukan pertimbangan krisis ekonomi dan menambah variabel bebas lain yang memberikan kontribusi terhadap perubahan variabel return saham seperti tingkat suku bunga, pengumuman merger, pengumuman deviden, dan informasi lainnya. Selain itu juga dapat melakukan pemisahan berdasarkan ukuran perusahaan sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.

Aplikasi basis Grobner untuk modul / Dewi Ismiarti

 

ABSTRAK Ismiarti, Dewi. 2010. Aplikasi Basis Gröbner untuk Modul. Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. rer.nat. I Made Sulandra, M.Si, (II) Dr. Hery Susanto, M.Si. Kata kunci: basis Gröbner, modul, modul bagian, polinomial. Setiap ideal di gelanggang polinomial senantiasa mempunyai himpunan pembangun yang “baik” yang disebut basis Gröbner. Hal ini karena Teorema Basis Hilbert menjamin bahwa setiap ideal di dibangun secara hingga. Dengan teori basis Gröbner, berbagai permasalahan yang muncul dalam ideal polinomial dapat lebih mudah diselesaikan. Setiap ideal dari gelanggang adalah modul bagian dari gelanggang sebagai modul atas dirinya sendiri, sedangkan modul bagian dari gelanggang komutatif sebagai modul atas dirinya sendiri adalah suatu ideal dari gelanggang. Dengan demikian karena perkalian skalar pada modul didefinisikan per komponen, maka modul bagian dari -modul dapat diperhatikan dari sudut pandang ideal. Hal ini memberikan pandangan bahwa teori basis Gröbner yang diterapkan di gelanggang polinomial juga dapat diperluas untuk modul . Tulisan ini mengkaji tentang bagaimana menyelesaikan masalah keanggotaan modul dan menentukan kombinasi liniernya, serta masalah kesamaan modul menggunakan teori basis Gröbner secara algoritmik. Algoritma penyelesaian dari setiap permasalahan akan diimplementasikan dalam sistem aljabar komputer Singular. Dari pembahasan diketahui bahwa sisa pembagian dari suatu vektor oleh himpunan vektor di tidak tunggal. Namun sisa pembagian akan tunggal jika himpunan vektornya adalah basis Gröbner. Sifat keanggotaan vektor di modul bagian dari diketahui dengan dua langkah: (1) menghitung basis Gröbner untuk ; dan (2) membagi oleh . Dari langkah kedua, jika sisanya tak nol, maka tidak di , jika sisanya nol, maka di . Berdasarkan algoritma untuk menghitung basis Gröbner tersebut diperoleh juga matriks transisi yang digunakan untuk mencari kombinasi linier dari terhadap vektor-vektor pembangun awal dari . Selanjutnya setelah diketahui bahwa ada di , kombinasi linier dari dapat dicari dengan langkah: (1) mencari matriks koordinat dari terhadap ; dan (2) mengalikan dengan . Masalah kesamaan modul dapat diselesaikan menggunakan definisi kesamaan himpunan. Misalkan adalah modul bagian lain dari . Untuk menentukan apakah adalah himpunan bagian dari yakni dengan langkah: (1) menghitung basis Gröbner untuk ; dan (2) membagi setiap vektor pembangun dari oleh . Jika setiap vektor pembangun dari tereduksi oleh ke nol, maka dapat disimpulkan bahwa , namun jika terdapat vektor yang tereduksi oleh ke vektor tak nol maka . Terdapat cara lain untuk menyelesaikan masalah kesamaan modul yakni dengan menghitung basis Gröbner tereduksi untuk dan (terhadap order term yang sama). Jika basis Gröbner tereduksinya sama, maka , jika tidak sama, maka . Algoritma untuk menyelesaikan masalah di atas diimplementasikan dalam sistem aljabar komputer Singular.

Peningkatan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa kelas VII melalui penerapan pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman / Ciptianingsari Ayu Vitantri

 

ABSTRAK Vitantri, Ciptianingsari, Ayu. 2010. Peningkatan Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Siswa Kelas VII melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif dengan Tahapan Newman. Skripsi, Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si, (II) Dra. Tri Hapsari Utami, M.Pd Kata kunci: Peningkatan, Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Matematika, Pembelajaran Kooperatif dengan Tahapan Newman Siswa kelas VII SMP Negeri 4 Malang masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika. Hal ini diakibatkan siswa tidak terbiasa dalam menyelesaikan soal cerita. Pembelajaran soal cerita akan melatih siswa untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan menghargai pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih siswa dalam menyelesaikan soal cerita adalah pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman. Tahapan dalam pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman diadaptasi dari metode Analisis Kesalahan Newman, dimana dalam menyelesaikan soal cerita melalui lima tahapan yaitu membaca (reading), memahami (comprehension), metode (transformation), prosedur (process skill) dan penulisan jawaban akhir (encoding). Karena itu dalam penelitian ini akan dikaji pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa kelas VII. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SMP Negeri 4 Malang dan subyek penelitiannya adalah siswa kelas VIIA semester genap tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2010 dalam 2 tahap, yaitu (1) tahap pra tindakan dan (2) tahap tindakan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi himpunan pada siswa kelas VII SMP Negeri 4 Malang dan dapat memacu siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran melalui pemberian penghargaan terhadap setiap aktivitas positif yang dilakukan siswa. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang mencapai nilai SKM (tes tindakan I 75%, tes tindakan II 87,5%). Hal tersebut diperkuat dengan peningkatan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman dalam setiap tahapannya serta hasil observasi selama pembelajaran yang berjalan lancar dan interaktif. Adapun langkah-langkah pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif dengan tahapan Newman yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa SMP kelas VII yaitu siswa secara berkelompok (a) mengungkapkan dan menuliskan semua kata kunci yang ada pada soal cerita dalam LKS (reading); (b) menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal dengan lengkap (comprehension); (c) menuliskan metode yang digunakan untuk menyelesaikan soal (transformation); (d) menuliskan prosedur dan perhitungan untuk menyelesaikan soal dengan menggunakan fakta, konsep, atau formula yang sesuai (process skill); (e) menuliskan jawaban soal secara tepat (encoding); (f) membandingkan dan mendiskusikan jawaban.

Model matematika kadar alkohol darah dalam tubuh manusia / Rohmat Yusufa

 

ABSTRAK Yusufa, Rohmat.2010. Model Matematika Kadar Alkohol Darah dalam Tubuh Manusia. Skripsi, Jurusan Matematika, FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Toto Nusantara, M. Si, (II) Drs. Rustanto Rahardi, M.Si. Kata kunci: model matematika, kadar alkohol darah Model matematika kadar alkohol darah ( KAD) ini melibatkan persamaan diferensial yang diperoleh berdasarkan jenis kelamin, fungsi ginjal, fungsi hati, jumlah alkohol yang dikonsumsi, berat tubuh, dan periode konsumsi yang alkohol dilakukan. Dinamika perubahan kadar alkohol darah dalam tubuh dapat diketahui dangan cara mencari selesaian dari model matematika yang terbentuk dan perilaku grafik di sekitar titik kesetimbangan dari model ini diperoleh melalui program Maple 6. Pada tahap selama konsumsi alkohol (periode bermabukan) : , 0 £ £ , (0) = 0 + = - t s x x u x dt dx b v a , nilai titik kesetimbangannya adalah pada x(s) = M . Titik kesetimbangan ini menunjukkan nilai puncak kadar alkohol darah, sehingga nilai puncak ini akan menjadi nilai awal untuk persamaan pada tahap selanjutnya yaitu tahap kesembuhan. Pada tahap setelah konsumsi alkohol berakhir (periode kesembuhan) : s t x s M x x dt dx v < = + = - , , ( ) b a , dimana nilai (a , b ,v > 0) dan nilai x(s) = M sesuai dengan persamaan tahap sebelumnya. Persamaan tahap ini menjelaskan bahwa setelah mencapai titik puncak akan terjadi penurunan hingga mencapai titik kesetimbangan ( x = 0 ) atau kembali ke kondisi normal yaitu pada T . Sehingga model matematika ini dapat digunakan untuk menginformasikan kepada masyarakat mengenai penggunaan alkohol yang bertanggung jawab, yaitu dapat menentukan nilai puncak kadar alkohol darah dari minuman beralkohol yang dikonsumsi dan besar efek yang ditimbulkan. Dengan demikian seseorang tersebut dapat menghindari kerugian terburuk yang mungkin terjadi setelah mengkonsumsi alkohol.Berdasarkan hasil pembahasan ini, dapat disarankan penentuan kadar alkohol dan panjangnya waktu alkohol dalam darah manusia yang berhubungan dengan efek alkohol terhadap sel otak dan organ/ bagian tubuh lainnya.

Pengelolaan ekstrakurikuler jaring-jaring komunikasi pemantau kualitas air (JKPKA) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Malang I / Dedy Kuswanto

 

ABSTRAK Kuswanto, Dedy. 2010. Pengelolaan Ekstrakurikuler Jaring-jaring Komunikasi Pemantau Kualitas Air (JKPKA) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Malang I. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. H.Ali Imron, M.Pd, M.Si, (II) Dra. Mustiningsih, M.Pd Kata kunci : pengelolaan ekstrakurikuler, jaring-jaring komunikasi pemantau kualitas air Pengelolaan ekstrakurikuler memerlukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengevaluasian, dan pengembangan segala upaya dalam mendayagunakan sumber daya manusia dan non manusia agar dapat tercapai tujuan ekstrakurikuler secara efektif dan efisien. Berbagai macam jenis eksrakurikuler yang dapat diikuti dan diminati oleh siswa, salah satunya ekstrakurikuler jenis baru ini yaitu Jaring-jaring Komunikasi Pemantau Kualitas Air (JKPKA). Ekstrakurikuler ini melakukan serangkaian kegiatan penelitian yang memantau secara berkala keadaan baik kualitas maupun kuantitas sumber daya air yang ada. Dengan mengikuti kegiatan ini diharapkan siswa dapat mengembangkan kreatifitas serta menambah ilmu yang dimilikinya khususnya bidang penelitian. Penelitian berperan memberikan gambaran pengetahuan kepada masyarakat tentang pengelolaan layanan khusus yang ada di sekolah serta berupaya memberikan pengetahuan tentang pentingnya kualitas air bagi kehidupan manusia. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) perencanaan kegiatan ekstrakurikuler JKPKA yang diselenggarakan di MAN Malang I, (2) pengorganisasian kegiatan ekstrakurikuler JKPKA yang diselenggarakan di MAN Malang I, (3) pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler JKPKA yang diselenggarakan di MAN Malang I, (4) pengevaluasian kegiatan ekstrakurikuler JKPKA yang diselenggarakan di MAN Malang I. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan kegiatan ekstrakurikuler JKPKA di MAN Malang I, pengorganisasian kegiatan ekstrakurikuler JKPKA di MAN Malang I, pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler JKPKA di MAN Malang I dan pengevaluasian kegiatan ekstrakurikuler JKPKA di MAN Malang I. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, rancangan penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi. Penelitian ini pengecekan keabsahan data dilakukan dengan memperpanjang waktu penelitian, sehingga memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Dilakukan pula trianggulasi sumber dan metode, yaitu mengecek kebenaran data dengan membandingkan data dari sumber dan metode lain. ii Analisis data dalam penelitian ini dibedakan menjadi analisis data di lapangan selama proses pengumpulan data dan analisis data setelah selesai pengumpulan data. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa (1) hasil penyusunan perencanaan ekstrakurikuler JKPKA di MAN Malang I berupa program kerja selama satu periode kepengurusan, (2) pengorganisasian JKPKA di MAN Malang I menggambarkan tentang kedudukan atau wewenang secara hirarki dari setiap unit kerja, dan deskripsi tugas pokok dan fungsi masing-masing jabatan, (3) pelaksanaan ekstrakurikuler JKPKA adalah realisasi program-program yang ada dalam ekstrakurikuler JKPKA serta pelaksanaan latihan yang telah terjadwal sebelumnya, (4) pengevaluasian berupa penilaian kepada masing-masing anggota dan berupa laporan pertanggungjawaban di akhir periode jabatan, rapat koordiansi dewan harian dan rapat koordinasi umum. Saran yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah Kepala MAN Malang I hendaknya lebih mengembangkan program-program yang berkaitan dengan layanan khusus yang diberikan kepada siswa. Kepada pembina JKPKA MAN Malang I untuk selalu meningkatkan kegiatan pengelolaan ekstrakurikuler JKPKA yang sudah berjalan cukup baik. Kepada siswa di MAN Malang I, dengan pengelolaan ekstrakurikuler yang baik dapat memberikan motivasi kepada siswa dalam rangka peningkatan prestasi, baik itu di sekolah ataupun di luar sekolah. Kepada Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang untuk lebih memperbanyak pengembangan ilmu dan utamanya sering mengadakan sosialisasi dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (diklat), seminar, simposium yang berhubungan dengan manajemen layanan khusus di sekolah/madrasah khususnya pentingnya ekstrakurikuler. Kepada masyarakat agar lebih aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah melalui layanan khusus yang ada, terutama pengetahuan tentang pentingnya kualitas air bagi kehidupan manusia di masa sekarang dan yang akan datang.

Multiple trip vehicle routing problem (MTVRP) dengan algoritma self-developed dan saving procedure for multiple use of vehicles (SPMU) / Ricky Budiarto

 

ABSTRAK Budiarto, Ricky. 2010. Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP) dengan Algoritma Self-Developed dan Saving Procedure for Multiple Use of Vehicle (SPMU). Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si, (II) Muhammad Yasin, S.Kom, M.Kom. Kata Kunci: customer, depot, rute, saving, Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP), algoritma Self-Developed, Saving Procedure for Multiple Use of Vehicle (SPMU) Masalah pengangkutan dan pengiriman barang dari produsen ke konsumen merupakan salah satu aspek penting dalam proses produksi. Permasalahan pengangkutan dan pengiriman barang dapat dimodelkan dalam suatu graph. Secara lebih khusus permasalahan pengangkutan dan pengiriman barang dapat dikelompokkan sebagai permasalahan Vehicle Routing Problem (VRP). Vehicle Routing Problem (VRP) adalah permasalahan untuk mencari sejumlah rute minimum dimana setiap customer dilayani tepat satu kali yang berawal dan berakhir di depot. Salah satu varian VRP yaitu Multiple Trip Vehicle Routing Problem (MTVRP) yang merupakan permasalahan VRP dengan penambahan kendala kapasitas dan waktu, dimana kendaraan dapat melayani satu rute atau lebih. Permasalahan MTVRP dapat diselesaikan dengan menggunakan algoritma Self-Developed dan Saving Procedure for Multiple Use of Vehicle (SPMU). Proses pencarian rute minimum algoritma Self-Developed dan SPMU, terdiri dari dua langkah umum yaitu langkah inisialisasi dan langkah iterasi. Pada algoritma Self-Developed, langkah inisialisasi dimulai dengan pembentukan rute penjemputan yang dipasangkan dengan kendaraan berdasarkan permintaan tiap rute. Kemudian dilanjutkan pada langkah iterasi pengkombinasian rute penjemputan berdasarkan penghitungan saving dan metode Farthest Insertion (FI). Sedangkan pada SPMU, langkah inisialisasi dimulai dengan pembentukan rute penjemputan dan memasangkannya dengan kendaraan menggunakan algoritma First-Fit-Decreasing (FFD). Kemudian dilanjutkan langkah iterasi dengan mengkombinasikan rute penjemputan berdasarkan saving terbesar. Keunggulan algoritma Self-Developed terletak pada langkah iterasi. Ini dikarenakan adanya proses penentuan urutan customer yang hendak dilayani terlebih dahulu dengan menggunakan metode FI. Penggunaan metode FI di sini, dimaksudkan untuk memperoleh suatu rute dengan jarak tempuh minimum. Sedangkan pada SPMU, keunggulan terletak pada langkah inisialisasi. Hal ini dikarenakan pada langkah inisialisasi SPMU, pemasangan rute penjemputan dengan kendaraan menggunakan algoritma FFD. Algoritma FFD ini memperhatikan waktu tempuh tiap customer sehingga dapat memaksimalkan pemasangan rute dengan kendaraan yang tersedia.

Perancangan website sebagai media komunikasi visual share tour and travel di kota Malang / Rahmat Dwi Cahyono

 

ABSTRAK Cahyono, Rahmat Dwi. 2010. Perancangan Website Sebagai Media Komunikasi Visual Share Tour and Travel . Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi M.Sn (II) Mohamad Sigit S.Sn. Kata kunci : Perancangan, website, media komunikasi visual, Share Tour and Travel Share Tour and Travel adalah sebuah perusahaan penyedia jasa perjalanan wisata yang sedang berkembang di kota Malang. Potensi yang ada pada perusahaan yang begitu besar sangat disayangkan tanpa didukung media komunikasi visual yang tepat dan efektif. Website sebagai salah satu media elektronik menawarkan bermacam kemudahan yang tidak dimiliki media konvensional yang telah ada sebelumnya. Web menawarkan sejumlah informasi yang relatif sangat kaya dibandingkan media lain. Maka dipilihlah website sebagai media komunikasi visual utama Share Tour and Travel. Sedangkan media komunikasi visual pendukung digunakan untuk memperkanalkan website Share Tour and Travel pada khususnya dan keseluruhan perusahaan pada umumnya kepada masyarakat selaku target audience. Tujuan dari perancangan ini adalah membuat website sebagai media komunikasi visual Share Tour and Travel beserta media pendukungnya sehingga mampu mengkomunikasikan tentang keberadaan Share Tour and Travel serta menawarkan produk jasa dari Share Tour and Travel yang berupa paket perjalanan wisata. Model perancangan yang digunakan adalah deskriptif dengan menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk berupa rancangan website sebagai media komunikasi visual beserta media pendukungnya. Proses perancangan media dengan observasi langsung untuk melihat perilaku dan kebutuhan target audience dari Share Tour and Travel. Konsep desain dari perancangan website sebagai media komunikasi visual Share Tour and Travel beserta media pendukungnya menggunakan desain yang menarik dengan menampilkan foto-foto tujuan wisata yang merupakan daya tarik untuk mengkomuniksikan Share Tour and Travel beserta produk jasa perjalanan wisata yang ditawarkan. Perancangan tersebut menghasilkan media utama berupa Website serta media pendukungnya berupa: Brosur, Horisontal Banner, Iklan Koran, Kartu Nama, Poster, Sticker, dan X-Banner. Media komunikasi visual yang dihasilkan dari perancangan yang telah dibuat kemudian bisa langsung di aplikasikan oleh Share Tour and Travel sebagai finish advertising.

Kesesuaian penerapan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap sistem manajemen K3 di PT. Ipmomi PLTU Paiton Unit 7 & 8 / Hendy Umar Sulaiman

 

Kata Kunci : Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8 Pelaksanaan program K3 di berbagai bidang sangatlah penting oleh karena menyangkut berbagai sub sistem. Berbagai usaha lewat jalur pendidikan dalam upaya mengatasi masalah K3 dilakukan. Sekolah kejuruan yang bertugas untuk mencetak tenaga kerja juga harus bisa menanamkan sikap mengutamakan K3. keberhasilan program K3 tidak lepas dari pihak manajerial yang dengan aktif merencanakan program K3. Sistem manajemen yang baik dari pihak manajerial sekolah sangat mendukung program K3 di sekolah. Baik dari perencanaan K3, tanggung jawab pelaksana, prosedur pelaksana, penerapan K3, pengawasan dan evaluasi. Tetapi apakah sistem manajemen K3 yang merupakan dasar pelaksanaan K3. Sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik dari pihak manajemen sangat mendukung pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Baik dimulai dari perencanaan K3, tanggung jawab pelaksana, prosedur pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Secara umum tujuan penelitian diarahkan untuk mengetahui sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8 melalui (1) Deskripsi perencanaan dan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja , (2) Deskripsi supervisi pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8. Sampel yang diambil dengan metode random sampling sebesar 30% dari PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8. Penelitian ini menggunakan metode angket dan observasi sebagai instrumen pengumpulan data. Sebelum pengumpulan data dilakukan, terlebih dahulu dialakukan pengujian instrumen. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa : (1) Perencanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8 sekitar separuhnya ( 45,83%) tergolong selalu merencanakan dengan baik. Tetapi untuk perancangan format laporan kecelakaan kerja sekitar sebagian (50%) PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8 tidak membuat format laporan kecelakaan. Para pihak yang terkait akan melakukan pelaporan apabila terjadi kecelakaan saja. Dan pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagian kecil (39,58%11,96) selalu dilakukan di PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8 dengan kategori baik, (3) Supervisi pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagian kecil (40%11,66) kadang dilakukan di PT. IPMOMI PLTU Paiton Unit 7 & 8 dengan kategori baik.

Kesenian gandrung Banyuwangi dan nilai-nilai yang bermanfaat bagi pendidikan / Ratna Oktavianing Tyas

 

ABSTRAK Tyas, Ratna Oktavianing. Kesenian Gandrung Banyuwangi Dan Nilai-Nilai Yang Bermanfaat bagi Pendidikan. Skripsi Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Purwatiningsih, M.Pd. Kata kunci : Kesenian gandrung, Nilai-nilai kesenian gandrung. Kesenian gandrung merupakan kesenian tradisional Kabupaten Banyuwangi yang hingga saat ini masih berkembang pesat baik di dalam wilayah Kabupaten Banyuwagi maupun di luar wilayah Kabupaten Banyuwangi. Pada dasarnya kesenian gandrung merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang pribumi. Dalam rangkaian pertunjukannya, kesenian gandrung menyimpan banyak nilai yang terlihat maupun tidak, oleh karena itu penulisan ini bertujuan untuk mendiskripsikan sejarah kesenian gandrung, bentuk penyajian kesenian Gandrung serta memaparkan nilai-nilai yang terdapat pada kesenian gandrung. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dalam penelitian ini prosedur pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Seluruh data dideskripsikan dalam bentuk kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Lokasi penelitian berada di Desa Sumber Agung Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi, Desa Krajan Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi serta Desa Gladag Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. Subyek penelitiannya adalah pertunjukan kesenian gandrung, sedangkan analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, sajian data serta penarikan kesimpulan. Dan untuk mengecek keabsahan data dilakuakan dengan trianggulasi yang terdiri dari trianggulasi metode dan trianggulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian gandrung Banyuwangi muncul sejak tahun 1771 yaitu pada masa penjajahan belanda. Hal itu pula yang menjadikan kesenian gandrung sebagai kesenian tradisional kerakyatan karena lahirnya kesenian gandrung berawal dari rakyat Blambangan yang waktu itu sedang di jajah belanda. Pada mulanya kesenian gandrung mengadakan pertunjukannya dengan berkeliling kampung guna menghibur masyarakat yang sedang berduka karena anggota keluarganya meninggal dunia dalam perang melawan penjajah. Di akhir pertunjukan tersebut biasanya para pemain kesenian gandrung khususya penari mendapat imbalan berupa beras. Dalam perkembangannya kesenian gandrung tetap berfungsi sebagai penghibur masyarakat, dalam acara-acara tertentu misalnya hajatan. Sedangkan bentuk penyajiannya meliputi pembukaan yang di sebut dengan babak jejer kemudian dilanjutkan dengan babak paju dan di akhir pertunjukan di tutup dengan babak seblang subuh. Pada pertunjukan awal hingga akhir serta mengacu pada latar belakang sejarah kesenian gandrung, terdapat beberapa nilai, yaitu nilai perjuangan, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai seni, nilai hiburan, nilai ketrampilan, nilai kepercayaan, nilai kekeluargaan, nilai cinta budaya daerah, nilai ilmu budaya, nilai moral, nilai keindahan, dan nilai persatuan.

Studi eksplorasi tentang motif batik tulis "Sekar Jagad" di Kelurahan Sumbergedong kecamatan Trenggalek / Dwi Oktavia Wulandari

 

ABSTRAK Wulandari, Dwi Oktavia. 2010. Studi Eksplorasi tentang Motif Batik Tulis ”Sekar Jagad” di Kelurahan Sumbergedong Kecamatan Trenggalek. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Eko Puji Rahayu M.Si, (2) Dra. Hapsari Kusumawardhani M.Pd Kata kunci: Batik, Motif Batik, Sekar Jagad Batik merupakan salah satu peninggalan sejarah dari nenek moyang. Keberadaan tentang asal-usul batik itu sendiri belum ada yang mengetahui secara pasti. Batik yang terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama Jawa. Pengakuan batik sebagai hasil budaya asli Indonesia telah diakui dan disahkan oleh dunia khusunya oleh UNESCO. Motif-motif batik pada zaman dahulu diciptakan oleh Raja beserta keluarganya sehingga mengandung makna dan filosofi yang tersimpan secara mendalam. Perkembangan arus global yang secara cepat memungkinkan generasi muda kurang menghargai bahkan meninggalkan budaya nenek moyangnya. Tanpa ada tindakan preventif untuk melestarikan budaya bangsa maka cepat atau lambat warisan budaya tersebut akan hilang dari arena kehidupan masyarakat. Kecamatan Trenggalek merupakan salah satu daerah yang mempunyai seni tradisi antara lain batik Sekar Jagad yang mempunyai karakteristik tersendiri dibanding daerah lain. Dengan adanya penelitian tentang motif batik Sekar Jagad yang di Trenggalek maka dapat dipaparkan ciri dan makna tersendiri dari batik Sekar Jagad yang ada di kelurahan Sumbergedong kecamatan Trenggalek. Pendekatan penelitian yang digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi (pengamatan), wawancara, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan Trianggulasi sumber data dan ketekunan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) sejarah tentang keberadaan batik Trenggalek menunjukkan bahwa masyarakat khususnya pengrajin, pengusaha, dinas maupun budayawan tidak ada yang mengetahui dengan pasti, karena sampai saat ini belum ada sumber yang menuliskan tentang batik tersebut. Batik dianggap sebagai warisan yang diperoleh secara turun temurun dari nenek moyangnya; (2) motif batik Sekar Jagad yang ada di Trenggalek mempunyai ciri khusus yaitu adanya penambahan motif yang menunjukkan karakteristik daerah Trenggalek yaitu penambahan motif cengkeh; (3) warna yang ada pada batik Tenggalek sangat bervariasi karena produksi batik ditekankan untuk bahan pembuatan busana. Variasi warna tersebut berasal dari pewarnaan sintetis yaitu pewarnaan dari naphtol. Warna-warna tersebut tidak mempunyai makna dan filosofi yang mendalam bagi kehidupan namun hanya mempunyai makna secara umum. Saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah: (1) bagi masyarakat Trenggalek khususnya pengusaha, pengrajin batik untuk selalu menanamkan kreatifitas dalam penciptaan motif dan pewarnaan; (2) bagi penelitian yang akan datang, sebagai bahan referensi dalam penelitian lebih lanjut mengenai batik yang merupakan salah satu hasil karya peninggalan nenek moyang; (3) bagi Jurusan Teknologi Industri Universitas Negeri Malang, sebagai bahan masukan agar bisa mengungkap sejauh mana keberadaan batik yang ada di tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia; (4) bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Trenggalek, diharapkan agar selalu memperhatikan dan memberikan bantuan kepada industri terkait sebagai wujud untuk mengembangkan dan memperkenalkan tentang batik Trenggalek kepada masyarakat luas; (5) bagi Dinas Budaya dan Pariwisata Trenggalek sebagai bahan masukan untuk menelusuri tentang keberadaan batik Trenggalek.

Studi pelaksanaan dan anggaran biaya pekerjaan pondasi Strouss dan pile cap pada proyek pembangunan gedung kewirausahaan Politeknik Negeri Malang / Dimas Hangga V.V.

 

Kata kunci: Pelaksanaan, anggaran, pekerjaan, pondasi strouss dan pile cap. Seiring dengan perkembangan zaman, dunia konstruksi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Sebagian besar dari hidup/aktifitas manusia berada disekitar bangunan seperti gedung perkuliahan, perkantoran, pabrik, rumah sakit, sekolah, tempat ibadah dan sebagainya. Suatu bangunan yang didirikan harus kokoh, ekonomis dan aman. Maka dari itu dalam mendirikan bangunan memerlukan metode yang tepat. Studi lapangan ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pelaksanaan pekerjaan pondasi strouss dan pile cap pada Proyek Pembangunan Gedung Kewirausahaan Politeknik Negeri Malang, (2) Mengetahui anggaran biaya pelaksanaan pekerjaan pondasi strouss dan pile cap pada Proyek Pembangunan Gedung Kewirausahaan Politeknik Negeri Malang. Studi lapangan pelaksanaan pekerjaan pondasi strouss dan pile cap pada Proyek Pembangunan Gedung Kewirausahaan Politeknik Negeri Malang. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada studi lapangan ini adalah: (1) observasi lapangan, (2) wawancara/interview, dan (3) dokumentasi. Analisa data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang didapat dari berbagai sumber, kemudian dipelajari dan dilakukan pembahasan. Hasil studi yang duperoleh dari proyek akhir ini, menunjukkan bahwa terdapat beberapa ketidak sesuaian pelaksanaan pekerjaan pondasi strouss dan pile cap. Pada pelaksanaaan pengecoran pile cap, (1) tidak dipasang bekisting (2) waktu perawatan beton juga kurang. Berdasarkan studi ini dapat disarankan dalam pelaksanaan pekerjaan pondasi strouss dan pile cap agar dilakukan dengan memperhatikan ketentuan dalam kajian teori yang ada, sehingga tidak terjadi kesalahan atau penyimpangan dalam pelaksanaan proyek, yang pada akhirnya dapat mencapai kualitas beton yang baik. Begitu juga dengan penggunaan biayanya, sehingga pelaksanaan proyek dapat mencapai kualitas beton yang baik dengan biaya yang efisien.

Penerapan strategi pembelajaran kooperatif kodel STAD untuk meningkatkan keterampilan bertanya siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia kelas II di SDN Gadang I Kecamatan Sukun Kota Malang / Komsatun

 

ABSTRAK Komsatun. 2009. “Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Model STAD Untuk Meningkatkan Keterampilan Bertanya Siswa Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II di SD Negeri Gadang I Kota Malang.. Skripsi, Jurusan KSDP Program S1 PGSD, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd, (II) Drs. Abdul Huda, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif model STAD, Bahasa Indonesia, kemampuan berbicara, keterampilan bertanya, SD. Kemampuan berbicara khususnya ketrampilan bertanya siswa kelas II di SDN Gadang I Kota Malang masih rendah, disebabkan siswa kurang mendapatkan kesempatan. Selain itu pendekatan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah merupakan faktor lain penyebabnya. Perlu tindakan untuk meningkatkan ketrampilan bertanya yang masih rendah, oleh karena itu perlu diterapkan strategi pembelajaran Kooperatif Model STAD. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan (desain) penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas II SD Negeri Gadang I Kecamatan Sukun Kota Malang tahun pelajaran 2008/2009, sebanyak 36 siswa. Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya, dengan alokasi waktu 105 menit (3 x 35 menit). Penelitian tindakan ini dirancang dalam dua siklus (siklus I dan siklus II). Tiap siklus terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi tindakan. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan adalah lembar pengamatan (observasi), dan lembar penilaian tes keterampilan bertanya kepada siswa pada akhir pembelajaran. Lembar pengamatan (observasi) dipergunakan untuk menilai kemampuan kerjasama siswa dalam proses belajar. Sedangkan lembar tes keterampilan bertanya dipergunakan untuk menilai pemahaman pengetahuan dan tingkat keterampilan bertanya siswa berkaitan dengan pokok bahasan pelajaran yang diberikan guru. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti selaku guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan dibantu oleh seorang observer pendamping (teman sejawat). Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan (analisis triangulasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui penerapan strategi pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Division) pada pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya pada siswa kelas II SD Negeri Gadang I Kecamatan Sukun Kota Malang tahun pelajaran 2008/2009 adalah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan kerjasama siswa dalam proses belajar, dan pemahaman serta keterampilan bertanya siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan nilai rata-rata tergolong baik, jika dibandingkan dengan hasil pembelajaran bahasa Indonesia sebelum dilaksanakan tindakan (pra tindakan). Dampak pelaksanaan tindakan pembelajaran kooperatif model STAD terhadap hasil belajar siswa melalui dua siklus (siklus I dan siklus II) pada pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya adalah dapat mendorong dan memotivasi siswa untuk kerjasama yang positif dalam proses belajar, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan berbicara khususnya keterampilan bertanya dalam bahasa Indonesia baik secara individual maupun kelompok ke arah yang lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi guru agar menerapkan strategi pembelajaran Kooperatif Model STAD apabila ingin meningkatkan ketrampilan bertanya siswa . ABSTRAK Komsatun. 2009. “Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Model STAD Untuk Meningkatkan Keterampilan Bertanya Siswa Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II di SD Negeri Gadang I Kota Malang.. Skripsi, Jurusan KSDP Program S1 PGSD, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd, (II) Drs. Abdul Huda, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif model STAD, Bahasa Indonesia, kemampuan berbicara, keterampilan bertanya, SD. Kemampuan berbicara khususnya ketrampilan bertanya siswa kelas II di SDN Gadang I Kota Malang masih rendah, disebabkan siswa kurang mendapatkan kesempatan. Selain itu pendekatan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah merupakan faktor lain penyebabnya. Perlu tindakan untuk meningkatkan ketrampilan bertanya yang masih rendah, oleh karena itu perlu diterapkan strategi pembelajaran Kooperatif Model STAD. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan (desain) penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas II SD Negeri Gadang I Kecamatan Sukun Kota Malang tahun pelajaran 2008/2009, sebanyak 36 siswa. Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya, dengan alokasi waktu 105 menit (3 x 35 menit). Penelitian tindakan ini dirancang dalam dua siklus (siklus I dan siklus II). Tiap siklus terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi tindakan. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan adalah lembar pengamatan (observasi), dan lembar penilaian tes keterampilan bertanya kepada siswa pada akhir pembelajaran. Lembar pengamatan (observasi) dipergunakan untuk menilai kemampuan kerjasama siswa dalam proses belajar. Sedangkan lembar tes keterampilan bertanya dipergunakan untuk menilai pemahaman pengetahuan dan tingkat keterampilan bertanya siswa berkaitan dengan pokok bahasan pelajaran yang diberikan guru. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti selaku guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan dibantu oleh seorang observer pendamping (teman sejawat). Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan (analisis triangulasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui penerapan strategi pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Division) pada pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya pada siswa kelas II SD Negeri Gadang I Kecamatan Sukun Kota Malang tahun pelajaran 2008/2009 adalah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan kerjasama siswa dalam proses belajar, dan pemahaman serta keterampilan bertanya siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan nilai rata-rata tergolong baik, jika dibandingkan dengan hasil pembelajaran bahasa Indonesia sebelum dilaksanakan tindakan (pra tindakan). Dampak pelaksanaan tindakan pembelajaran kooperatif model STAD terhadap hasil belajar siswa melalui dua siklus (siklus I dan siklus II) pada pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya adalah dapat mendorong dan memotivasi siswa untuk kerjasama yang positif dalam proses belajar, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan berbicara khususnya keterampilan bertanya dalam bahasa Indonesia baik secara individual maupun kelompok ke arah yang lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi guru agar menerapkan strategi pembelajaran Kooperatif Model STAD apabila ingin meningkatkan ketrampilan bertanya siswa . ABSTRAK Komsatun. 2009. “Penerapan Strategi Pembelajaran Kooperatif Model STAD Untuk Meningkatkan Keterampilan Bertanya Siswa Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas II di SD Negeri Gadang I Kota Malang.. Skripsi, Jurusan KSDP Program S1 PGSD, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd, (II) Drs. Abdul Huda, M.Pd. Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif model STAD, Bahasa Indonesia, kemampuan berbicara, keterampilan bertanya, SD. Kemampuan berbicara khususnya ketrampilan bertanya siswa kelas II di SDN Gadang I Kota Malang masih rendah, disebabkan siswa kurang mendapatkan kesempatan. Selain itu pendekatan pembelajaran konvensional dengan metode ceramah merupakan faktor lain penyebabnya. Perlu tindakan untuk meningkatkan ketrampilan bertanya yang masih rendah, oleh karena itu perlu diterapkan strategi pembelajaran Kooperatif Model STAD. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan (desain) penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas II SD Negeri Gadang I Kecamatan Sukun Kota Malang tahun pelajaran 2008/2009, sebanyak 36 siswa. Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya, dengan alokasi waktu 105 menit (3 x 35 menit). Penelitian tindakan ini dirancang dalam dua siklus (siklus I dan siklus II). Tiap siklus terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu : perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi tindakan. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan adalah lembar pengamatan (observasi), dan lembar penilaian tes keterampilan bertanya kepada siswa pada akhir pembelajaran. Lembar pengamatan (observasi) dipergunakan untuk menilai kemampuan kerjasama siswa dalam proses belajar. Sedangkan lembar tes keterampilan bertanya dipergunakan untuk menilai pemahaman pengetahuan dan tingkat keterampilan bertanya siswa berkaitan dengan pokok bahasan pelajaran yang diberikan guru. Penelitian ini dilaksanakan oleh peneliti selaku guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan dibantu oleh seorang observer pendamping (teman sejawat). Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan (analisis triangulasi). Hasil penelitian menunjukan bahwa melalui penerapan strategi pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Division) pada pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya pada siswa kelas II SD Negeri Gadang I Kecamatan Sukun Kota Malang tahun pelajaran 2008/2009 adalah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan kerjasama siswa dalam proses belajar, dan pemahaman serta keterampilan bertanya siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia dengan nilai rata-rata tergolong baik, jika dibandingkan dengan hasil pembelajaran bahasa Indonesia sebelum dilaksanakan tindakan (pra tindakan). Dampak pelaksanaan tindakan pembelajaran kooperatif model STAD terhadap hasil belajar siswa melalui dua siklus (siklus I dan siklus II) pada pembelajaran bahasa Indonesia pokok bahasan kemampuan berbicara tentang keterampilan bertanya adalah dapat mendorong dan memotivasi siswa untuk kerjasama yang positif dalam proses belajar, sehingga siswa dapat meningkatkan kemampuan berbicara khususnya keterampilan bertanya dalam bahasa Indonesia baik secara individual maupun kelompok ke arah yang lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi guru agar menerapkan strategi pembelajaran Kooperatif Model STAD apabila ingin meningkatkan ketrampilan bertanya siswa .

Perancangan iklan layanan masyarakat tentang pentingnya belajar untuk anak SD dalam bentuk komik / Zaini Nur Hadi

 

ABSTRAK Hadi, Zaini Nur. 2010. Perancangan Iklan Layanan Masyarakat Tentang Pentingnya Belajar Untuk Anak SD Dalam Bentuk Komik. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Muhadjir, (II) Moch. Abdul Rachman, M.Sn Kata Kunci: perancangan, iklan layanan masyarakat, komik, anak sekolah dasar Masa kecil adalah masa dimana manusia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dalam hal apapun yang mereka pikir itu adalah hal baru dan menyenangkan, hal ini kadang membuat mereka melupakan kewajibannya untuk belajar, akhirnya munculah sebuah permasalahan bagi kita sebagai orang tua atau pun seorang kakak yang memiliki anak atau pun adik yang masih duduk di bangku sekolah dasar dalam memberi mereka sebuah motifasi yang bertujuan untuk membuat mereka memiliki kemauan untuk belajar dengan cara yang menurut mereka adalah hal yang baru dan menyenangkan. Untuk mengatasi permasalahan di atas maka di susunlah perancangan iklan layanan masyarakat dalam bentuk komik ini, komik digunakan untuk memberikan informasi kepada masyarakat khususnya anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar (SD) tentang pentingnya belajar dalam kehidupan mereka. Perancangan komik ini bertujuan untuk memberikan pengarahan akibat kurang di perhatikannya minat belajar seorang anak sekolah dasar yang nantinya dapat berakibat fatal untuk masa depan mereka, kemudian dengan memasukan unsur iklan layanan masyarakat di dalamnya penulis akan mampu mengaplikasikan pesan moral dalam komik ini kedalam diri pembaca yang kemudian sedikit banyak akan tertanam ke alam bawah sadar mereka dan membuatnya memiliki motifasi untuk terus belajar. Komik ini juga menyertakan konsep identifikasi, informasi, serta persuasi dalam komponen-komponennya. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data berupa beberapa isi dari informasi serta penggunaan konsep-konsep tersebut yang kemudian diaplikasikan dalam komik ini, sehingga dengan demikian penyampaian informasi akan menjadi lebih efektif. Komik disini dipilih karena komik merupakan salah satu media komunikasi visual yang dapat dipakai untuk mempengaruhi pembaca dengan cerita dan ilustrasinya, selain itu komik atau cerita bergambar adalah media yang tepat untuk membuat anak-anak tertarik. Komik dengan kekuatan visual dan cerita yang terkandung didalamnya dapat memberikan informasi kepada pembaca tentang sesuatu, dalam hal ini adalah pesan moral yang terkandung di dalamnya. Dengan memasukkan suatu informasi positif dan pesan moral dalam karya yang akan kita hasilkan, akan memberi kan dampak positif untuk kehidupan bangsa kita di masa yang akan datang, dan disarankan untuk perancangan selanjutnya agar terus mengangkat tema iklan layanan masyarakat dengan melalui berbagai macam media yang lain, khususnya untuk anak sekolah dasar (SD) yang saat ini masih sangat minim di indonesia.

Perancangan media promosi TK Al Azhar Kids World Malang / Aditya Nirwana

 

ABSTRAK Nirwana, Aditya. 2010. Perancangan Media Promosi TK Al Azhar Kids World Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Muhadjir, (II) Moch. Abdul Rahman, M.Sn Kata kunci : perancangan, media promosi, TK Al Azhar Kids World TK Al Azhar Kids World merupakan salah satu lembaga PAUD berkurikulum ”Nasional Plus” yang terdapat di kota Malang. Namun masyarakat kota Malang masih kurang mengenal TK Al Azhar Kids World, dan kesadaran wali murid untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran maupun sekolah masih kurang. Permasalahan tersebut dijawab dengan merancang media promosi yang relevan dan tepat sasaran, untuk mempromosikan TK Al Azhar Kids World kepada masyarakat kota Malang. Dalam perancangan media promosi ini telah dilakukan penelitian dengan cara observasi, dokumentasi, dan wawancara terhadap obyek secara langsung, untuk dilakukan identifikasi data, sehingga dapat dilihat bahwa target audience dari TK Al Azhar Kids World secara sosial adalah kalangan menengah ke atas. Selain itu juga dilakukan analisa SWOT kepada TK Al Azhar Kids World agar media promosi dihasilkan dapat benar-benar sesuai dengan karakteristik dan bisa memecahkan/menjawab masalah yang ada di sekolah, dengan tujuan jangka pendek yaitu meningkatkan jumlah pendaftar di tahun ajaran baru, dan tujuan jangka panjang yaitu TK Al Azhar Kids World menjadi TK unggulan yang populer di kota Malang dan mampu bersaing dengan TK lainnya. Melalui proses sintesis tersebut maka dihasilkan beberapa media promosi yaitu website, poster, brosur, iklan koran, kartu nama, x-banner, mug, celengan, mousepad, jam dinding, id card guru, kop surat, amplop serta tas sekolah, dimana perancangan tersebut melalui beberapa tahapan, yaitu perencanaan media, perencanaan kreatif, dan perencanaan tata desain.

Pengembangan panduan pelayanan konseling melalui media facebook / Siti Saroh

 

ABSTRAK Saroh, Siti. 2010. Pengembangan Panduan Pelayanan Konseling Melalui Media Facebook. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. M. Ramli, M.A, (II) Dr. Blasius Boli Lasan, M.Pd. Kata kunci : layanan konseling, facebook, panduan. Facebook adalah sebuah website jaringan sosial dimana para pengguna dapat bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan interaksi dengan orang lain. Banyak orang memanfaatkan facebook sebagai media komunikasi tak terkecuali para siswa di sekolah berbagai kalangan. Selain itu di sekolah telah memiliki fasilitas komputer yang dapat mengakses internet dan membuka facebook tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh konselor. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan panduan pelayanan konseling melalui media facebook yang memiliki tingkat keberterimaan yang tinggi menurut penilaian ahli dan calon pengguna produk (konselor) dari segi tingkat kegunaan yang tinggi, kelayakan yang tinggi dan ketepatan yang tinggi. Panduan pelaksanaannya terdiri atas : (1) pendahuluan, (2) konselor sebagai pelaksana konseling melalui facebook, (3) keanggotaan konseling, (4) pelaksanaan konseling melalui facebook. Model pengembangan yang digunakan adalah model Borg&Gall. Pada pengembangan ini penulis menyusun panduan dengan langkah yaitu : (1) need assesment, (2) mendesain produk, (3) uji ahli, (4) revisi paket dan uji coba kelompok kecil calon pengguna produk yaitu konselor. Penilaian dilakukan oleh seorang ahli dan calon pengguna produk (konselor). Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan angket untuk penilaian uji ahli dan calon pengguna produk serta wawancara. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan penilaian ahli, panduan pelayanan konseling melalui media facebook berguna, terlaksana, dan tepat. Selain itu bahasanya sudah bagus sehingga dapat mudah dimengeti dan dipahami konselor sedangkan penilaian dari calon pengguna produk (konselor) panduan pelayanan konseling melalui media facebook berguna, terlaksana, dan tepat. Hasil penelitan disarankan penulis kepada (1) konselor sebagai pelaksana kegiatan hendaknya menerapkan panduan pelayanan konseling melalui media facebook dengan pendekatan penelitian tindakan dan dapat menambahkan bahan bacaan yang menunjang proses konseling melalui media facebook, (2) kepala sekolah perlu menyediakan komputer yang memiliki fasilitas pengaksesan internet terkait dengan penggunaan panduan yang memerlukan anggaran dan mensosialisasikan konseling melalui media facebook, (3) penelitian lanjutan yaitu perlu diadakan uji coba produk kepada sasaran siswa agar diketahui keefektifan produk yang dihasilkan dengan pendekatan penelitian tindakan.

Penggunaan media kongkrit dan gambar untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas I SDNU Bangil / Saidah Misdiana

 

ABSTRAK Misdiana, Saidah.2009. Penggunaan Media Konkrit Dan Gambar Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas I SDNU Bangil. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Heru Agus T., M.Pd, (2) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn Kata kunci : Media Konkrit dan Gambar, Aktivitas belajar, Hasil Belajar Berdasarkan observasi dan wawancara yg dilaksanakan terhadap guru kelas, kepala sekolah serta beberapa siswa kelas I pada 16 Juli 2009 ditemukan adanya permasalahan pada pembelajaran IPA. Permasalahan yang dijumpai adalah rendahnya aktivitas siswa yang ditunjukkan dengan siswa tidak memperhatikan, bicara sendiri, dan pembelajaran bersifat tradisional dengan metode ceramah dan latihan soal.sedangkan hasil belajar IPA siswa kelas I. dg nilai rata-rata IPA adalah 50,83. Hal ini menggambarkan hasil belajar siswa kelas I belum mencapai KKM yang ditetapkan sekolah yaitu 65. karena itu perlu diupayakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut dengan cara memperbaiki proses pembelajaran salah satunya dengan penggunaan media konkret dan gambar pada pembelajaran IPA. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah proses dan hasil penggunaan media konkrit dan gambar dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas I SDNU Bangil. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan mulai bulan Juli sampai akhir Oktober 2009. Tindakan kelas dilaksanakan sejak awal Agustus sampai Oktober 2009. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri atas empat fase, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas I SDNU Bangil yang terdiri dari 30 siswa. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media konkrit dan gambar pada pembalajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas belajar di buktikan pada siklus I (a).Kegiatan visual: membaca 73%, memperhatikan pelajaran 83% , pada siklus II kegiatan visual: membaca 83% (+10%), memperhatikan pelajaran 93% (+10%). (b). Kemudian pada siklus I kegiatan lisan: melapor 73%, bertanya 20%, menjawab pertanyaan 26%), dan pada siklus II ada peningkatan (kegiatan lisan: melapor 100% (+16%), bertanya 33% (+13%), menjawab pertanyaan 43% (+17%)). (c). Pada siklus I untuk kegiatan mendengarkan: mendengar penjelasan 81% dan meningkat pada siklus II, kegiatan mendengar penjelasan 100% (+10%). (d). Untuk kegiatan menulis pada siklus I : mengerjakan LKS 50% dan pada siklus II untuk kegiatan menulis : mengerjakan LKS 83% (+33%). Kegiatan emosional pada siklus I (berdiskusi 60%, merasa senang dan gembira 90%), pada siklus II meningkat (berdiskusi 100% (+40%), merasa senang dan gembira 100%(+7%)). Dan Hasil Belajar siswa kelas I SDNU Bangil pada siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 58.87 dan pada siklus II 80,4 (diatas 60 sesuai dengan indikator keberhasilan) mengalami kenaikan skor 21,53. Dengan kata lain, telah terjadi peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa setelah menggunakan media konkrit dan gambar dalam pembelajaran IPA Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa hasil implementasi di kelas tentang penggunaan media konkret dan gambar dalam peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas I SDNU adalah berhasil meski tidak 100% dan disarankan pada guru materi IPA agar pada pembelajaran IPA tidak saja menggunakan media konkret dan gambar, tetapi juga menggunakan media lain yang bervariasi hingga lebih dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar, serta memberikan siswa kesempatan untuk memunculkan pernyataan, pendapat maupun pertanyaan untuk memacu proses kreatifitas siswa dan kemampuan mereka.

Pengembangan buku petunjuk pembelajaran praktik keterampilan dasar atletik untuk siswa MTsN Gandusari Blitar / Syamsul Arifin

 

ABSTRAK Syamsul Arifin. 2010. Pengembangan Buku Petunjuk Praktik Keterampilan Dasar Atletik Untuk Siswa MTsN Gandusari Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Mardianto, M.kes (II) Drs. I nengah Sudjana, M.Pd Kata kunci: Pengembangan, Media, Buku Petunjuk praktik, Keterampilan Dasar Atletik Atletik adalah merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada proses pembelajaran pendidikan jasamani. Gerak yang terdapat pada atletik juga terdapat pada cabang olahraga lainnya. Oleh karena itu atletik juga dikatakan sebagai induk dari semua cabang olahraga. Dalam atletik di ajarkan gerak dasar yang dapat diaplikasaikan kepada cabang olahraga lainnya. Namun kenyataannya atletik tidak disenangi olah para siswa dan lebih menyenagi cabang olahraga lainnya khususnya pada olahraga permainan. Akibatnya pelaksanaan pembelajaran atketik tidak menarik. Tujuan buku petunjuk pembelajaran praktik keterampilan dasar atletik dapat menjadi sebuah alternatif masalah yang dihadapi dan membantu siswa dalam belajar gerak pada nomor-nomor teknik dasar atletik sehingga proses pembelajaran atletik di sekolah berlangsung lancar dan menarik Buku ini berisi mengenai petunjuk pembelajaran atletik yang dimulai dari peregangan, pemansan, dan pembelajaran yang dikhusukan pada nomor yang dipelajari. Model pengembangan yang digunakan adalah menggunakan penelitian pengembangan (reasearch & development) yang dilakukan oleh Borg & Gall dengan langkah-langkah meliputi; (1) pedahuluan (observasi dan analisis kebutuhan) (2) perencanaan pengembangan (3) pengembangan produk (4) uji coba kelompok kecil (5) revisi produk (6) uji lapangan (7) revisi produk & hasil akhir. Teknik analisis data menggunakan teknis analisis data deskriptif berupa presentase. Hasil penelitian berupa buku petunjuk praktik keterampilan dasar atletik yang berisi tentang proses pembelajaran atletik yang dilengkapi dengan (foto) gambar sebagai petunjuk gerakan. Berdasarkan penelitian ini, disarankan untuk melakukan uji coba dengan subyek yang lebih besar, sosialisasi dan pengembangan lebih lanjut demi kesempurnaan pengembangan sehingga di dapatkan produk yang lebih sempurna dan bermanfaaat.

Studi tentang alasan siswa memilih program keahlian teknik gambar bangunan / Muslimatul Mufida

 

ABSTRAK Mufida, Muslimatul, 2010. Studi Tentang Alasan Siswa dalam Memilih Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sutrisno, S.T., M.Pd (II) Drs. Mujiono, M.Pd. Kata Kunci: Bakat, Minat, Cita-cita, Pemilihan Program Keahlian Teknik Terdapat indikasi bahwa jumlah siswa SMK jurusan bangunan di daerah Malang kurang, hal ini terbukti dengan sedikitnya SMK jurusan bangunan di Malang. Salah satu SMK jurusan bangunan yang ada di Malang yaitu SMKN 1 Singosari yang terdapat beberapa program keahlian antara lain Teknik Konstruksi Bangunan, Teknik Gambar Bangunan, Teknik Survei Pemetaan, dan Teknik Perkayuan. Banyak faktor yang mempengaruhi atau yang dijadikan alasan siswa untuk memilih bidang keahlian tersebut, faktor tersebut dibagi atas dua bagian yaitu faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal merupakan faktor yang ada pada diri siswa sendiri, sedangkan faktor eksternal berasal dari pengaruh luar diri siswa. Untuk pemilihan program keahlian faktor internal merupakan faktor yang lebih mempengaruhinya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui alasan siswa dalam memilih program keahlian dilihat dari faktor bakat, minat, dan cita-cita. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas gambar bangunan angkatan 2009/2010 di SMKN 1 Singosari. Sampel diambil dari seluruh populasi yaitu 50 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuisioner. Untuk memperoleh keakuratan data maka perlu dilakukan uju validitas dan reliabilitas instrumen dan dalam penelitian ini telah diuji dengan hasil Valid. Sedangkan untuk pengolahan data menggunakan teknik analisa yaitu Statistik Deskriptif dan uji beda non parametrik chi scuare. Hasil penelitian, alasan siswa dalam memilih program keahlian teknik gambar bangunan dalam faktor bakat, minat dan cita-cita. Faktor bakat adalah faktor terendah dengan persentase 22%. Faktor Minat adalah faktor tertinggi dengan persentase yaitu 52%, sedangkan cita-cita diantara keduanya yaitu 26%. Dapat diketahui faktor minat yang paling berpengaruh. Untuk peneliti selanjutnya penelitian ini dapat dikembangkan dengan menghubungkan faktor tersebut dengan prestasi belajarnya.

Problematika guru dalam pelaksanaan mata pelajaran seni budaya sub bidang seni tari di SMP Negeri Kota Malang / Winda Istiandini

 

ABSTRAK Istiandini, Winda. 2010. Problematika Guru Dalam Pelaksanaan Mata Pelajaran Seni Budaya Sub Bidang Seni Tari Di SMP Negeri Kota Malang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Hj. Ida Siti Herawati, M. Pd dan Wida Rahayuningtyas, S.Pd Kata Kunci: Problematika, Guru, Seni Tari, SMP Guru memiliki peranan yang sangat berat dan penting, karena guru harus bertanggungjawab atas terbentuknya moral siswa untuk menciptakan anak didiknya menjadi terdidik, terbimbing, dan terlatih jasmani rohaninya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya masih banyak kesulitan yang dialami oleh guru. Problematika dalam pelaksanaan mata pelajaran seni budaya sub bidang seni tari ini bisa berasal dari dalam guru tersebut (intern), siswa, lingkungan sekitar yang mencakup sekolah, keadaan sekitar, dan masyarakat, bisa juga berasal dari pelaksanaan pembelajaran yang menyangkut kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Selain itu, kurikulum juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembelajaran seni tari Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi problematika yang muncul pada guru Seni Budaya di SMP Negeri Kota Malang dalam pelaksanaan pembelajaran seni tari yang terdiri atas problematika instruksional dan non instruksional yang dialami guru dalam pelaksanaan mata pelajaran seni budaya sub bidang seni tari di SMP Negeri Kota Malang Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bersamaan pada saat penelitian. Peneliti mengambil lokasi penelitian di SMP Negeri 4 Malang, SMP Negeri 8 Malang, SMP Negeri 10 Malang, dan SMP Negeri 20 Malang dengan sumber data guru seni tari. Tahap-tahap penelitian anatara lain (1) Tahap Persiapan, (2) Tahap Pelaksanaan, dan (3) Tahap Penyusunan Laporan Penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru seni tari mengalami problematika antara lain yang berasal dari faktor instruksional dan non instruksional. Pada tahap perencanaan, problematika yang dialami menyangkut materi bahan ajar, tujuan, dan strategi pembelajaran. Pada tahap pelaksanaan problematika yang dialami guru berhubungan dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah yang kurang mendukung dalam pelaksanaan metode serta penggunaan media dalam pembelajaran. Selain itu, faktor lingkungan yang mencakup sekolah dan kondisi di sekitar sekolah juga memberi pengaruh besar dalam pembelajaran seni tari yaitu kurangnya dukungan dari kepala sekolah, guru, serta sarana prasarana yang dimiliki sekolah kurang memadai akan menimbulkan kesulitan bagi guru. Faktor non instruksional lain yang menimbulkan kesulitan antara lain berasal dari guru yang tidak memiliki latar belakang pendidikan seni, kurangnya minat dan motivasi guru dalam tari, serta minimnya pengalaman tari yang dimiliki guru. Kurikulum yang menjadi landasan dasar bagi guru dalam mengajar juga menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam pelaksanaan mata pelajaran seni budaya sub bidang seni tari ini.

Perancangan katalog Snigel's Distro sebagai media promosi di Kota Malang / Yoga Enggar Agustha

 

ABSTRAK Enggar, Yoga. 2010. Perancangan Katalog Snigel’s Distro Sebagai Media Promosi di Kota Malang . Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sarjono, M.Sn, (II) Mohammad Sigit S,Sn Kata kunci: perancangan, Snigel’s Distro, katalog, dan distro. Bisnis fashion di Indonesia pada saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya produk-produk fashion yang muncul hampir di setiap kota besar. Saat ini pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh saja, namun merupakan salah satu cerminan kepribadian, gaya hidup, dan status sosial. Distro merupakan kepanjangan dari distribution store atau distribution outlet meruapakan sarana atau tempat yang menjual dan memasarkan produk fashion clothing, baik produk-produk lokal yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal oleh masyarakat khususnya remaja Berbagai jenis produk-produk ditawarkan oleh distro, mulai dari baju, celana, jaket, dan berbagaimacam aksesoris kesemuanya diperdagangkan di tempat ini. Di kota Malang, industri ini mengalami kemajuan yang sangat segnifikan dari tahun ketahun. Hal ini ditunjukkan dengan menjamurnya usaha dalam bidang distro dan clothing di kota ini. Sebagai salah satu andalan kota pariwisata di Indonesia, tentunya kota Malang ingin menyajikan sesuatu yang beda. Hal ini ditunjukan dengan antusiasme wisatawan yang datang, baik wisatawan lokal maupun domestik. Salah satu distro yang ada di kota Malang adalah Snigel’s Distro. Model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural atau model perancangan bersifat deskriptif yang menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data yang bersumber dari observasi dan pengumpulan gambar foto langsung dari lokasi, dan wawancara secara langsung kepada manager Snigel’s Distro, serta pengumpulan data tidak langsung dari majalah, internet, buku atau artikel-artikel lainnya.    Hasil perancangan adalah berupa katalog Snigel’s Distro yang berisikan tentang spesifikasi produk, mulai dari bahan, teknik cetak, ukuran, sampai harga. Terdapat pula foto yang menjelaskan spesifikasi produk tersebut. Diharapkan hasil perancangan tersebut dapat berguna sebagai referensi serta motivasi kepada Snigel’s Distro untuk meningkatkan promosi distronya kepada masyarakat.

Studi pelaksanaan dan analisa biaya kolom dan balok pada proyek pembangunan SD-SMP Laboratorium Universitas negeri Malang / Ahmad Faris Riza Kurniawan

 

Kata kunci: studi, pelaksanaan, analisa, biaya, kolom, dan balok beton. Bangunan memegang peranan penting dalam kehidupan. Permasalahannya adalah bagaimana cara mendirikan suatu bangunan dengan prosedur yang benar. Kolom dan balok adalah salah satu elemen struktur bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari struktur di atasnya ke struktur di bawahnya. Kegagalan pelaksanaannya akan berakibat langsung pada runtuhnya stuktrur lain yang berhubungan dengannya. Maka dari itu dalam mendirikan bangunan memerlukan metode dan pengawasan yang ketat. Seperti pada bangunan SD-SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Studi lapangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana metode pelaksanaan kolom dan balok, tahapan-tahapan pekerjaan kolom dan balok, beserta perbedaan biaya yang terjadi pada laporan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan biaya pelaksanaan menurut kajian teori. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan pekerjaan beton khususnya pekerjaan kolom dan balok bertulang di lapangan. Metode pengumpulan data yaitu metode dokumentasi dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan memeriksa kelengkapan data. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan kajian pustaka sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Hasil studi pelaksanaan kolom dan balok adalah sebagai berikut. Tahapan pekerjaan kolom dan balok dimulai dari pekerjaan pekerjaan penulangan, bekisting, pengecoran, pembongkaran bekisting dan perawatan beton umumnya telah sesui dengan teori. Namun terjadi ketidaksesuaian pelaksanaan kolom dan balok beton bertulang dari segi pelaksanaan. Dimisalkan pada pelaksanaaan pengecoran penuangannya langsung 4 meter. Untuk analisa biaya terdapat selisih antara yang ada pada Rencana Anggaran Biaya yang berdasarkan SK SNI 2002 dengan Analisa Biaya Pelaksanaan berdasarkan SK SNI 2008. Hasilnya biaya pelaksanaan lebih besar dari pada biaya perencanaan. Berdasarkan studi ini dapat disarankan dalam pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok beton bertulang agar dilakukan pengawasan yang lebih teliti, begitu juga dengan penggunaan biayanya, sehingga pelaksanaan proyek dapat mencapai kualitas beton yang baik dengan biaya yang efisien.

Studi pelaksanaan dan analisa biaya tentang pemasangan rel dan bantalan kereta api lintas Surabaya-Solo di Stasiun Baron Kabupaten Nganjuk Km 101 + 900-104 + 400 (2500 <'sp) / Victo Bayuangga

 

Kata kunci: analisa biaya, pelaksanaan, rel dan bantalan kereta api. Kepadatan penduduk di Indonesia mempengaruhi kemacetan lalu lintas. Untuk mengurangi kemacetan tersebut maka dipergunakanlah jasa angkut Kereta Api. Kebutuhan akan jasa kereta api semakin meningkat sehingga jumlah lalu-lintas kereta api semakin banyak. Stasiun Baron adalah Lintas Surabaya-Solo yang merupakan jalur utama, untuk mendukung jumlah lalu lintas kereta api maka dilaksanakan peningkatan kelas jalan sehingga dalam peningkatan tersebut dibutuhkan pemilihan konstruksi dan pelaksanaan yang matang agar konstruksi jalan kereta api sesuai dengan umur yang diharapkan. Untuk itu perlu dilaksanakan studi lapangan tentang peningkatan kelas jalan yaitu pemasangan rel dan bantalan pada lintas Surabaya-Solo petak jalan stasiun Kertosono-Baron Kabupaten Nganjuk. Studi pelaksanaan ini bertujuan untuk menjelaskan tentang pelaksanaan dan RAB pemasangan rel dan bantalan beton lintas Surabaya-Solo pada petak jalan stasiun Kertososno-Baron Kabupaten Nganjuk km 101 + 900-104 + 400 (2500 m’sp). Ada 2 hal yang akan dijelaskan sehubungan dengan hal tersebut, yaitu: (1) RAB dan pemilihan konstruksi jalan kereta api dalam peningkatan kualitas jalan pada proyek PT. KA lintas Surabaya-Solo petak jalan stasiun Kertosono-Baron Kabupaten Nganjuk, (2) pelaksanaan pemasangan rel dan bantalan beton kereta api pada proyek PT KA lintas Surabaya-Solo petak jalan stasiun Kertosono-Baron Kabupaten Nganjuk. Metode pendekatan yang digunakan dalam studi lapangan ini adalah metode penelitian. Untuk mendapatkan data yang akurat dapat dilakukan dengan cara obsevasi (pengamatan), wawancara, dokumentasi, buku pedoman. Hasil studi lapangan menyebutkan bahwa: (1) RAB yang digunakan adalah dari Daop VII Madiun yaitu tentang pemasangan bantalan beton dengan rel R.54. Konstruksi yang dipakai adalah rel tipe R.54, bantalan beton, alat penambat elastis, balas kricak ukuran 2-6 cm, (2) pelaksanaan pemasangan rel dan bantalan beton kereta api dilaksanakan pada km 101 + 900-104 + 400 (2500 m’sp) petak jalan stasiun Kertosono-Baron yang dikerjakan oleh PT. RAHARJA PERSADA. Pelaksanaan ini meliputi mengganti bantalan kayu dengan bantalan beton, mengganti rel R.42 dengan rel R.54, pekerjaan profil balas dengan PBR, angkat dan listringan dengan HTT dan MTT. Berdasarkan hasil studi lapangan tersebut maka saran yang dapat diberikan antara lain: (1) sebaiknya setiap setasiun harus melengkapi peralatan kerja agar tidak mengganggu jalannya pelaksanaan, (2) pengawasan harus lebih ditekankan karena proses pelaksanaan ada yang masih kurang sempurna.

Penerapan model pembelajaran stad untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas V SDN Pungging Kecamatan tutur Kabupaten Pasuruan / Ani Suprini

 

ABSTRAK Suprini, Ani. 2010. Penerapan Model Pembelajaran STAD Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Di SDN Pungging Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Skripsi jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Ahmad Samawi, M. Hum. (II) Muchtar, S.Pd, M.Si. Kata kunci: penerapan model pembelajaran STAD, hasil belajar siswa, PKn SD. Penggunaan model pembelajran ATAD ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal itu dikarenakan dalam pembelajaran STAD siswa menjadi aktif, pembelajaran tidak lagi didominasi guru, guru menjadi kreatif dan inovatif. Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran STAD dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pembelajaran STAD yang dapat meningkatkan belajar siswa, STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu: Presentasi kelas materi dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi di dalam kelas, Pembentukan Tim (merupakan fitur yang penting dalam STAD) fungsi utama dari tim ini adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, Mengerjakan Kuis (dalam STAD untuk mengetahui seberapa banyak materi yang dikuasai tiap siswa setelah belajar dalam tim), Menghitung Skor kemajuan individual, Rekognisi Tim. Tim akan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Hasil penelitian 1) Penerapan model pembelajaran STAD pada mata pelajaran PKn meliputi: guru memberi penjelasan kepada siswa tentang pembelajaran STAD, guru menyampaikan tujuan belajar dan garis besar materi, guru membagi kelompok berdasar pertimbangan kemampuan akademis dan jenis kelamin, siswa mengerjakan tugas kelompok , guru melakukan observasi dan membimbing kegiatan kelompok, siswa mempresentasikan hasil kelompok dengan bimbingan guru, siswa mengerjakan kuis individu, siswa menulis skor kemajuan, guru memberikan penghargaan berdasarkan skor yang diperoleh. 2) Hasil belajar meningkat menjadi 85,3pada siklus II. Peningkatan nilai yang diperoleh siswa secara klasikal menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa sesuai nilai KKM yang ditentukan oleh sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini, Penerapkan model pembelajran STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan dapat diterapkan di kelas V sekolah lain jika kondisinya relatif sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model learning together siswa kelas II di SDN Kuningan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / Zaenal Arifin

 

ABSTRAK Arifin, Zaenal. 2010. Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Learning Together Siswa Kelas II di SDN Kuningan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan KSDP S 1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Widayati, M.H (2) Drs. Sunyoto, S.Pd, M.Si. Kata Kunci : hasil belajar siswa, learning together, PKn sekolah dasar. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan siswa agar mereka secara lahir dan batin dapat menghayati dan mengamalkan Pancasila dalam segala aspek kehidupan. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran PKn di SDN Kuningan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar diketahui bahwa pembelajaran PKn di SDN Kuningan belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan oleh SDN Kuningan, KKM yang ditentukan untuk mata pelajaran PKn di SD tersebut adalah 65. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa, peneliti mengangkat judul penelitian Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Learning Together siswa kelas II di SDN Kuningan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian siswa kelas II SDN Kuningan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar dengan jumlah siswa 12 anak. Tehnik pengumpulan data menggunakan tes, dokumentasi, dan observasi selama proses pembelajaran berlangsung. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran dengan model Learning Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas II SDN Kuningan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Ini terbukti dengan adanya peningkatan hasil belajar, dari nilai rata-rata kelas pada pra tindakan yang mencapai 62,08, pada siklus I peningkatan nilai rata-rata kelas mencapai 66,91, dan pada siklus II nilai rata-kelas meningkat menjadi 75,83. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar pada siklus I meningkat dibandingkan dengan Pra Tindakan. Pada siklus I ada 8 siswa atau 67% siswa dari 12 siswa yang tuntas belajar, sedangkan siswa yang belum tuntas pada siklus I ada 4 siswa atau 33%. Pada siklus II ada 10 siswa atau 83,33% dari 12 siswa yang tuntas belajar, sedangkan 2 siswa atau 16,67% siswa yang belum tuntas dalam belajar. Dengan menggunakan pendekatan model pembelajaran Learning Together ada peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar dalam siklus I dan siklus II. Selain ada peningkatan nilai secara individu, hasil nilai belajar secara kelompokpun juga mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari perolehan nilai rata-rata kelompok pada siklus I dan siklus II. Dengan demikian terbukti bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Learning Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara individu maupun kelompok.

Pendidikan matematika realistik Indonesia untuk meningkatkan kemampuan menghitung luas bangun datar di kelas III SDN Pakukerto 1 / Sutiyani

 

ABSTRAK Sutiyani. 2010. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia untuk Meningkatkan Kemampuan Menghitung Luas Bangun Datar di Kelas III SDN Pakukerto 1 Kecamatan Sukorejo Pasuruan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Pembimbing 1) Dra. Sri Harmini, M.Pd, 2) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn Kata Kunci: Matematika Realistik, Luas Bangun Datar Penelitian ini berlatar belakang adanya guru yang masih mendominasi pembelajaran di dalam kelas dengan menenerapkan pendekatan pembelajaran konvensional, dimana kegiatan masih terpusat pada guru. Hal ini menyebabkan aktivitas belajar siswa kurang maksimal dan hasil belajarnya dibawah standar ketuntasan belajar minimal, situasi belajar kurang menyenangkan serta siswa kurang berani bertanya dan menyampaikan pendapat. Penelitian ini bertujuan untuk Mendeskripsikan penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia, untuk meningkatkan kemampuan menghitung Luas Persegi dan Persegi Panjang, Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia pada Kompetensi Dasar Menghitung Luas Persegi dan Persegi Panjang dan mendapatkan data empiris tentang peningkatan hasil belajar menghitung persegi dan persegi panjang melalui Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Penerapan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dilakukan dengan langkah-langkah yaitu: penyelesaian masalah, penalaran, komunikasi, kepercayaan diri, dan representasi Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model kolaborasi antara peneliti dan guru kelas III SDN Pakukerto 1 mulai dari proses identiffikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran matematika reaslistik dapat meningkatkan kemampuan menghitng luas persegi dan persegi panjang, meningkatkan aktifitas siswa, dan meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I 67,7% dan siklus II 83,6% Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa. Hal ini terbukti pada hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam mengajarkan matematika disarankan pada guru-guru hendaknya menggunakan pendekatan PMRI

Pewarnaan simpul graph dengan algoritma Welch-Powell untuk penjadwalan / Muhammad Saleh Daeng Parany

 

Saleh daeng parany, Muhammad. 2010. Pewarnaan simpul graph dengan algoritma welch-powell untuk penjadwalan . Skripsi, Program Studi Matematika Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Sapti Wahyuningsih, M. Si. Kata Kunci : Graph, Penjadwalan, Pewarnaan Titik, GRIN. Teori graph merupakan cabang matematika terapan yang penting dan banyak manfaatnya karena teori-teorinya dapat diterapkan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah penerapan pewarnaan simpul graph (vertex colouring) untuk menentukan jadwal perkuliahan agar tidak ada mahasiswa yang mengikuti dua mata kuliah dalam waktu yang sama. Skripsi ini membahas pewarnaan simpul graph (vertex colouring) untuk penjadwalan. Dalam kajian ini pembahasannya meliputi: pewarnaan simpul dengan Algoritma Welch-Powell, pewarnaan simpul dengan Algoritma Welch-Powell untuk penjadwalan penitipan bayi, pewarnaan simpul dengan Algoritma Welch-Powell untuk penjadwalan kuliah, penggunaan program komputer yaitu GRIN untuk mencari warna minimum. Pewarnaan simpul graph (vertex colouring) tersebut dapat digunakan untuk menentukan jadwal perkuliahan, dengan berbagai kondisi tertentu yang harus dipenuhi seperti jumlah ruang kuliah, mahasiswa yang mengambil mata kuliah, serta dosen yang memberikan mata kuliah yang ada. Dalam prosesnya, dari kondisi yang diberikan dibuat representasi dalam bentuk graph. Selanjutnya graph tersebut diwarnai untuk mencari warna minimum. Kemudian hasil dari pewarnaan tersebut dicek apakah telah sesuai dengan kondisi lain yang harus dipenuhi. Jika tidak maka harus dibenahi atau diubah lagi supaya memenuhi semua kondisi. Warna yang berbeda pada hasil pewarnaan graph menyatakan perbedaan waktu kuliah tiap mata kuliah. Sehingga akhirnya diperoleh bentuk pewarnaan graph yang memenuhi semua kondisi yang ada dan dapat dibuat jadwal kegiatan kuliah yang efektif.

Kesenian tayub di desa Beber Kecamatan Saradan dan Kabupaten Madiun (Kajian fungsi dalam komunikasi etika moral pandangan ulama di Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun) / Diah Ayu Kumala Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Diah Ayu Kumala. 2010. Kesenian Tayub di Desa Bener Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun (Kajian Fungsi Dalam Komunikasi Etika Moral Pandangan Ulama di Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun). Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Program Pendidikan Seni Tari, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Tri Wahyuningtiyas.S.Pd,M.Si (II) Drs.Imam Muhadjir. Kata kunci: Ulama, Kesenian Tayub, Pandangan. Ulama adalah seorang manusia yang terpilih menjadi ahli agama, dengan kewajiban untuk mensyiarkan Agama Islam. Oleh karena itu seorang ulama haruslah seorang yang bijaksana dalam menentukan pendapatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan (1) keberadaan Kesenian Tayub di desa Bener Kecamatan Saradan Kabupaten Madiun (2) pandangan para ulama terhadap Kesenian Tayub terkait etika moral (3) usaha para pengguna Kesenian Tayub agar Kesenian tersebut sesuai dengan etika moral. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif pada 2 orang ulama dari 2 pondok pesantren, pengayom paguyuban Kesenian Tayub dan seniman Tayub. Pemilihan ulama, pengayom paguyuban Kesenian Tayub dan seniman Tayub atau informan di dasarkan atas tujuan penelitian. Data diperoleh melalui wawancara mendalam. Sedangkan analisis data menggunakan analisis dengan pola interaktif. Hasil penelitian ini dapat dipaparkan: (1) Kesenian Tayub di desa bener difungsikan sebagai hiburan dan upacara bersih desa yang dipercaya bisa mendatangkan berkah (2) Ulama menyatakan bahwa di dalam agama Islam diperbolehkan menari asal tidak menyimpang dari ajaran agama, seperti tari saman, dll. (3) Penari lelaki dan penari perempuan tidak diperbolehkan menari bersama, kecuai muhrimnya (4) Kesenian Tayub yang difungsikan sebagai upacara ritual dan hiburan dipandang ulama kurang layak, karena menyimpang dari ajaran agama, seperti minum-minuman keras, sawer-menyawer dll (5) Para pengguna Kesenian Tayub tetap ingin melestarikan, karena Kesenian Tayub adalah seni yang indah dan dipercaya masyarakat setempat bisa memberi berkah dalam acara bersih desa. (6) Para pengguna Kesenian Tayub berupaya untuk mengemas kesenian tayub menjadi sebaik mungkin agar kesenian tersebut sesuai dengan etika moral dan bisa diterima dengan baik oleh semua pihak. Saran-saran yang disampaikan peneliti antara lain: (1) Bagi para ulama seyogyanya lebih membuka diri dalam melihat realitas di masyarakat tepatnya tentang Kesenian Tayub. Sehingga para ulama yang sekaligus pengasuh pesantren bisa hidup saling berdampingan dengan tidak ada pro dan kontra dengan masyarakat khususnya terhadap Kesenian Tayub, dan tetap memberikan wawasan tentang ajaran Islam. (2) Bagi pengguna Kesenian Tayub dalam mengemas karya tarinya disesuaikan dengan kepercayaan agamanya, yang sesuai etika moral, khususnya penari perempuan yang beragama Islam bisa mengetahui batas-batas norma agama (3) Bagi Jurusan Seni dan Desain khususnya Program Pendidikan Seni Tari, mahasiswa tetap diberi kebebasan berkarya tari yang disesuaikan dengan kepercayaan agamanya.

Pengaruh persepsi siswa tentang pengelolaan studi gambar terhadap prestasi belajar siswa pada kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan di SMKN 1 Singosari Malang / Widya Atika Sari

 

ABSTRAK Sari, Widya Atika. 2010. Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Pengelolaan Studio Gambar terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Siswa Kelas XI Program Keahlian Teknik Gambar Bangunan Di SMKN 1 Singosari Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Boedi Rahardjo, M. Pd, M.T. (II) Drs. H. Sugiyanto, S. T., M. T. Kata Kunci : pengelolaan studio gambar, prestasi belajar. Pengelolaan studio gambar merupakan salah satu aspek penting agar kenyamanan dalam belajar dapat tercipta sehingga prestasi belajar dapat meningkat. Pengelolaan studio gambar yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang baik. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang telah dicapai dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dalam waktu tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengelolaan studio gambar terhadap prestasi belajar siswa pada program keahlian teknik gambar bangunan di SMKN 1 Singosari Malang. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas XI program keahlian teknik gambar bangunan di SMKN 1 Singosari Malang yang totalnya 36 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan kuesioner. Untuk uji hipotesis menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan studio gambar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian teknik gambar bangunan di SMKN 1 Singosari Malang sebanyak 72,9% dipengaruhi olehpersepsi siswa tentang pengelolaan studio gambar sedangkan sebanyak 27,1% dipengaruhi oleh variabel lain. Sebanyak 58,1% siswa menyatakan bahwa persepsi siswa tentang pengelolaan studio gambar secara fisik sudah baik dan 45,7% siswa menyatakan bahwa persepsi siswa tentang pengelolaan studio gambar secara psikis sudah baik. Dari hasil penelitian ini disarankan: (1) Kepada pihak sekolah untuk lebih memperhatikan pengelolaan studio gambar baik secara fisik maupun secara psikis untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, (2) Pihak sekolah agar lebih memperhatikan ketersediaan peralatan gambar yang layak dan kelengkapan peralatan gambar agar dapat membantu siswa dalam belajar dan memanfaatkan potensi pada dirinya secara optimal untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, (3) Penelitian lanjutan sebaiknya menambahkan variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan pengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa.

Pola pembalajaran teknik gerak tari beskalan sebagai meteri bahan ajar ekstrakurikuler tari di SMPN 6 Malang / Arina Restian

 

ABSTRAK Restian, Arina. 2010. Pola Pembelajaran Teknik Gerak Tari Beskalan Sebagai Materi Bahan Ajar Ekstrakurikuler. Di SMPN 6 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Tari Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Tri Wahyuningtyas, S.Pd M.Si (II) Tjijtik Sri Wardani, Dra. M.Pd. Kata Kunci: Pola Pembelajaran, Teknik Gerak Tari Beskalan, Ekstrakurikuler, SMP Tari Beskalan adalah tari tradisi daerah Malang yang sering di pentaskan dan di ajarkan pada siswa- siswi kegiatan ekstrakurikuler pada usia tingkat SMP di Malang. Jenis tarian ini di sajikan tunggal, tetapi bisa di sajikan secara kelompok. Kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 6 Malang adalah kegiatan ekstrakurikuler yang mempunyai program untuk tari tradisional yang memilih materi tari Beskalan dari guru yang berpengalaman. Guna melestarikan tari tradisional yang berkembang di Malang. Sehingga terjadi regenerasi agar tarian ini tidak sampai punah. Penulisan ini bertujuan mendiskripsikan Teknik tari Beskalan sebagai materi bahan ajar, serta memaparkan pola pembelajaran kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 6 Malang. Penelitian ini merupakan jenis deskriptif dengan pendekatan kualitatif karena penelitian yang memperoleh datanya di lakukan secara alami di mana hasil penelitian tersebut di deskripsikan dalam bentuk kata- kata, gambar, bukan angka- angka. Lokasi penelitian ini berada di SMPN 6 Malang dengan subyek guru ekstrakurikuler serta seniman. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkanTari Beskalan bahwa (A) Konsep Teknik Gerak tari Beskalan etnik Malang ada 5 bagian pedoman menari tari beskalan yaitu: 1) Patrap, 2) Solah, 3) Greged, 4) Ulat 5) Pandeleng dan tidak mengubah adanya konsep teknik tari Beskalan (B) Teknik Gerak Tari Beskalan Sebagai Materi Bahan Ajar yaitu ada 1) Mengetahui struktur bentuk gerak, antara lain: 6 (enam) unsur teknik gerak kepala, 21 (dua puluh satu) unsur teknik gerak tangan, 3 (tiga) unsur teknik gerak badan, 9 (sembilan) unsur teknik gerak kaki, Mempunyai 30 (Tigapuluh) Motif Ragam. Motif gerak: 37 (tiga puluh tujuh) Deskripsi gerak. Penyederhanaan gerak (Tujuh): antara lain: Ragam Njluwat, Ragam Gedrukan, Ragam Seblak Sampur, Ragam Gejug Mapah, Ragam Gejug rangkep, Ragam Langit, Ragam Kepat Sampur. Struktur Musik: yang digunakan dalam tari Beskalan 10 (Sepuluh) Gending jawa. Busana Tari Beskalan yang digunakan (19) Sembilan belas macam busana. (C) Pola Pembelajaran kegiatan Ekstrakurikuler tari Beskalan pada siswa SMPN 6 mempunyai perencanaan kegiatan dan mempunyai 3 tahapan dan di lakukan dalam tahapan yang terdiri dari 1. Persiapan (Tempat kegiatan ekstrakurikuler, Penggunaan media, Pemanasan), 2. Pelaksanaan ( Tujuan Pengajaran, Penyampaian materi, Penerapan metode, Keaktifan siswa ), 3. Evaluasi (penilaian). Pola pembelajaran tari Beskalan bertujuan selain membentuk murit dengan teknik gerak yang benar, siswa juga dapat memahami musik iringan tari, dan mengetahui busana tari Beskalan, Siswa di sini di tuntut lebih aktif, pemberian motivasi dari guru sangat berpengaruh supaya kepercayaan diri siswa akan muncul, sehingga kegiatan ekstrakurikuler dapat optimal dalam pencapaian kegiatan ekstrakurikuler dan terekam dengan sebaik- baiknya dalam setiap gerakan yang di lakukan oleh siswa.

Peningkatan motivasi dan hasil belajar menggambar bentuk siswa kelas VII-B SMP Negeri I Tutur Kabupaten Pasuruan melalui pembelajaran kontekstual berbasis multikultural / Danang Anjar Hymawanto

 

ABSTRAK Hymawanto, Danang Anjar. 2010. Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Menggambar Bentuk Siswa Kelas VII-B SMP Negeri I Tutur Kabupaten Pasuruan Melalui Pembelajaran Kontekstual Berbasis Multikultural. Skripsi. Program Studi S1 Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Iriaji, M.Pd (II) Drs. Eko Budi Winarno Kata Kunci: Motivasi, Hasil Belajar, Menggambar Bentuk, Pembelajaran Kontekstual, Pendekatan Multikultural. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMP Negeri I Tutur Kabupaten Pasuruan. Dari hasil wawancara dengan guru seni budaya ditemukan bahwa para siswa belum pernah diajarkan menggambar bentuk secara langsung, belum pernah mendapatkan pengalaman belajar dari lingkungan mereka sendiri, motivasi dan hasil belajar siswa dalam pelajaran Seni Budaya masih kurang. Tujuan penelitian ini adalah dengan pembelajaran kontekstual berbasis multikultural dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar menggambar bentuk siswa kelas VII-B SMP Negeri I Tutur Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan Tahun Ajaran 2009 / 2010. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII-B SMP Negeri I Tutur Kabupaten Pasuruan dengan jumlah 36 siswa. Setiap siklus terdiri dari Perencanaan, Pelaksanaan, Pengamatan/Observasi, dan Refleksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Lembar Penilaian Motivasi Siswa, Tes Unjuk Kerja, Angket Tanggapan Siswa, Lembar Ketepatan Guru, Wawancara, Catatan Lapangan dan dokumentasi. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) Hasil Belajar pada tiap siklus terjadi peningkatan, yaitu nilai rata-rata kelas Siklus I mencapai 68,58 dengan siswa yang tuntas belajar 19 siswa atau 52,77 %. Siklus II nilai rata-rata kelas mencapai 78, siswa yang mengalami tuntas belajar sebanyak 30 siswa atau 83,33 %. (2) Motivasi belajar terjadi peningkatan, pada Siklus I aspek keaktifan skor yang diperoleh adalah 13 dari 20 skor maksimal dengan presentase 65%, dengan nilai B (aspek keaktifan baik). Aspek keseriusan siswa dalam kegiatan belajar skor yang diperoleh 24 dari 35 skor maksimal, dengan presentase 68,57% dengan nilai B (aspek keseriusan baik). Dari aspek keceriaan skor yang diperoleh adalah 8 dari 10 skor maksimal dengan presentase 80% dengan nilai A (aspek keceriaan sangat baik). Pada Siklus II aspek keaktifan skor yang diperoleh adalah 17 dari 20 skor maksimal dengan presentase 85% dengan nilai A (aspek keaktifan sangat baik). Dari aspek keseriusan skor yang diperoleh adalah 29 dari 35 skor maksimal dengan presentase 82,85% dengan nilai A (aspek keseriusan sangat baik). Dari aspek keceriaan skor yang diperoleh adalah 9 dari skor maksimal 10 skor dengan presentase 90% dengan nilai A (aspek keceriaan sangat baik). Saran dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dengan menggunakan pembelajaran kontekstual berbasis multikultural dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam menggambar bentuk.

Pengembangan media pembelajaran berbasiskan multi media interaktif materi apresiasi seni rupa pada mata pelajaran seni budaya kelas VIII semester I / Lulus Arief Basuki

 

ABSTRAK Arief Basuki, Lulus. 2010. Pengembangan Media Pembelajaran Berbasiskan Multi Media Interaktif Untuk Materi Apresiasi Seni Rupa Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Kelas VIII Semester I. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Iriaji, M.Pd, (II) Drs. Didiek Rahmanadji. Kata Kunci: media pembelajaran interaktif, pengembangan, apresiasi seni rupa. Kemajuan di bidang teknologi pendidikan menuntut digunakannya berbagai media pembelajaran serta peralatan-peralatan yang semakin canggih. Boleh dikatakan bahwa dunia pendidikan dewasa ini hidup dalam dunia media, di mana kegiatan pembelajaran telah bergerak menuju dikuranginya sistem penyampaian bahan pembelajaran secara konvensional yang lebih mengedepankan metode ceramah, dan diganti dengan sistem penyampaian bahan pembelajaran modern yang lebih mengedepankan peran pebelajar dan pemanfaatan teknologi multi media. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran berbasiskan multi media interaktif yang dapat meningkatkan keefektifan belajar dan motivasi siswa pada pembelajaran materi apresiasi seni rupa pada mata pelajaran Seni Budaya kelas VIII semester I. Media pembelajaran berbasis multi media interaktif yang sudah dikembangkan telah diaplikasikan di SMP Negeri 1 Jombang untuk dilakukan uji konseptual sebagai evaluasi untuk proses penyempurnaan berdasarkan masukan serta saran dari ahli media pembelajaran, ahli materi apresiasi seni rupa, dan siswa sebagai pengguna media. Setelah dilakukan uji konseptual serta melalui proses analisis data hasil evaluasi ahli media pembelajaran, ahli materi apresiasi seni rupa dan siswa, produk media pembelajaran interaktif yang dikembangkan mengalami revisi untuk sub. aspek kurang layak dengan rerata skor 50% dan bisa digunakan dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil penelitian diatas, produk pengembangan ini dapat digunakan sebagai masukan untuk lebih mewadahi dan memberikan wahana yang lebih luas kepada para guru, instruktur dan mahasiswa Jurusan Seni dan Desain untuk menunjukkan kinerja dan kapasitasnya dalam memanfaatkan dan menghasilkan produk media tayangan lainnya secara lebih bervariasi, kreatif dan inovatif. i

Pengaruh latar belakang pendidikan guru terhadap kinerja guru (studi pada guru mata pelajaran adaptif, normatif, dan produktif busana butik di SMK Negeri 7 dan SMK Kartika IV-I Kota Malang) / Kurnia Fatmawati

 

Success in education is influenced by many factors one of which is a factor of educators or teachers. Teachers' educational background is in education that has been achieved by a teacher in completing his studies at an educational institution which has been proved with a diploma or equivalent and have a variety of educational competence, for example, Diploma, Degree and Postgraduate. While performance in the context of the teaching profession is the result of the quality and quantity of work accomplished by the person in carrying out their duties in accordance with the responsibilities given to him which includes pedagogical competence, professional competence, personal competence and social competence. The study was descriptive correlational. Research subjects in this study is subject teachers productive fashion boutiques, adaptive, and normative in SMK Negeri 7 and SMK Kartika IV-I Malang City which includes: 2 people have the educational background of teachers D3 without a teaching certificate, six teachers have a background D3 with a teaching certificate, and 47 teachers have the educational background of S1 so the total is 55 teachers. This study uses a questionnaire instrument (questionnaire) and documentation. Data was analyzed with table percentages and simple linear regression analysis tested the assumption of normality and linieritasnya. Results showed that (1) most teachers are always improving our potential through training, education and training, courses, and enhance the background to pursue higher education, (2) Teachers of subjects productive fashion boutiques, normative and adaptive in SMK Negeri 7 and SMK Kartika IV-I, Malang has a good performance, and teacher performance is the best teacher performance in terms of pedagogical competence and personal competence of teachers evidenced by 80% or 44 respondents who have a personal and pedagogical competence in both categories, (3) Known for teacher education background variables (X) on the performance of teachers (Y) obtained sig 0.567> 0.05 that came with the t = 0.576

Perancangan media komunikasi visual warnet clic 'N Go / Fajar Waluya Nugraha

 

ABSTRAK Nugraha, Fajar Waluya. 2010. Perancangan Media Komunikasi Visual Warnet Click 'n Go. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni dan Desain Fakulatas S Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarwahyudi, M.Sn., (II) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn. Kata kunci: perancangan, media komunikasi visual, warnet, Click 'n Go. Click 'n Go Internet-GameOnline merupakan warnet dengan akses yang cepat dan penyedia aplikasi game online yang lengkap di Kota Malang. Seiring perkembangan teknologi yang ada, Click 'n Go hadir dengan penyediaan voucher game online, frenchise dan seluruh aplikasi game online di dalamnya. Karena kompetitor yang begitu banyak dengan munculnya satu persatu warnet, maka semakin ketat juga kompetisi untuk unggul dalam persaingan. Namun, karena Click 'n Go merupakan satu-satunya warnet baru yang berada di tengah kota, tepatnya di Ruko Panglima Sudirman kav 4, depan Lapangan Rampal Malang dan dengan tarif paling murah mulai dari Rp 2000,00-3000,00 per jam.. Perancangan ini bertujuan untuk memperkenalkan, mempromosikan dan mengkomunikasikan citra dari Click 'n Go Internet-GameOnline secara efektif dan efisien melalui konsep desain yang sesuai dengan program promosi Click 'n Go Internet-GameOnline serta wujud karya desain yang sesuai dengan target market yaitu pelajar dan mahasiswa yang gemar bermain game dan diharapkan dapat terus mencoba merasakan teknologi terbaru. Perancangan yang terbentuk berupa media komunikasi visual warnet Click 'n Go. Berdasarkan data yang terkumpul dapat diketahui bahwa Click 'n Go Internet-GameOnline membutuhkan media yang mampu memperkenalkan dan mengkomunikasikan melalui sebuah launching Cosplay Event “Be a Nice Characters” yaitu kontes kostum tokoh karakter di dalam game online . Dipilihnya event ini sebagai salah satu media komunikasi visual adalah karena Click 'n Go Internet-GameOnline mempunyai fasilitas dan sarana yang cukup lengkap di bidang jaringan serta lokasi yang berada di daerah kota dengan jalur pendidikan yang memungkinkan untuk mencapai target. Saran penulis adalah perlunya media promosi yang tepat dan efektif sehingga tujuan untuk menjadi warnet yang terbaik, unggul, bermutu dan berkualitas di Kota Malang dapatlah terwujud.

Penerapan model peta konsep untuk meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan siswa kelas IV SDN Dermo I Bangil - Pasuruan / Djaelani

 

ABSTRAK Djaelani, 2010, Penerapan Model Peta Konsep untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas IV SDN Dermo I Bangil – Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. Ruminiati, M.Si., (II) Dra Harti Kartini, M.Pd. Kata Kunci : Hasil belajar, PKn, Peta konsep, Kelas IV, SDN Dermo I. Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan pada saat ini dianggap sebagai pelajaran yang kurang menarik dan membosankan, sehingga pada umumnya nilai yang diperoleh kurang memuaskan. Sesuai hasil observasi awal di kelas IV SDN Dermo I Bangil – Pasuruan, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi “Sistem Pemerintahan Kabupaten, Kota, dan Propinsi”. Hal itu diduga disebabkan oleh pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat. Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah, penugasan yang monoton, sehingga siswa merasa jenuh dan kurang bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Oleh karena itu penerapan model peta konsep dianggap sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan dengan materi “Sistem Pemerintahan Kabupaten, Kota, dan Propinsi”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas, dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas IV SDN Dermo I Bangil – Pasuruan, sejumlah 41 anak. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari nilai rata-rata 55,36 pada siklus I menjadi 88,17 pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Maka berdasarkan temuan penelitian disarankan kepada guru sekolah dasar untuk menerapkan pembelajaran model Peta Konsep pada pelajaran PKn maupun pelajaran yang lainnya.

Penerapan matriks dalam algoritma hill cipher / Aryani S. Rumakey

 

ABSTRAK Rumakey, Aryani, S. 2010. Penerapan Matriks dalam Algoritma Hill Cipher. Skripsi, Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. rer.nat. I Made Sulandra, M.Si. Kata kunci: kriptografi, Hill Cipher, matriks. Masalah keamanan pada komputer menjadi hal penting dalam era teknologi informasi. Dalam proses pengiriman pesan dari seseorang ke orang lain, masalah keaslian dan keamanan pesan menjadi hal yang penting. Keamanan pengiriman pesan atau informasi tersebut dapat ditingkatkan dengan menggunakan kriptografi, karena pesan-pesan atau informasi yang akan dikirim tersebut diubah terlebih dahulu menjadi sandi yang sulit dimengerti oleh pihak lain. Kriptografi menyediakan kumpulan teknik (algoritma) yang berguna untuk mengkode pesan sehingga pesan tersebut dapat disimpan dan ditransmisikan dengan aman. Hill Cipher merupakan satu dari beberapa algoritma kriptografi kunci simetris yang menggunakan aritmetika modulo matriks. Teknik kriptografi ini menggunakan matriks persegi yang mempunyai invers sebagai kunci untuk melakukan enkripsi dan dekripsi. Proses enkripsi menggunakan perkalian matriks, yaitu PKC⋅= dimana C merupakan matriks untuk cipherteks, K merupakan matriks kunci, dan P merupakan matriks untuk plainteks. Sedangkan proses dekripsi menggunakan perkalian oleh invers matriks tersebut, yaitu . CKP⋅=−1 Skripsi ini membahas mengenai penerapan matriks berukuran dan sebagai kunci untuk melakukan enkripsi dan dekripsi. Matriks kunci tersebut adalah matriks yang inversnya memuat unsur-unsur bilangan bulat. Untuk proses enkripsi pada penggunaan matriks berukuran 33×44×33×, jika banyak huruf pada plainteks bukan kelipatan 3, maka plainteks ditambahkan beberapa huruf sehingga banyaknya huruf merupakan kelipatan 3. Huruf-huruf yang ditambahkan pada plainteks akan ditentukan melalui aturan yang dibuat berdasarkan tanggal pengiriman pesan dengan menggunakan aritmetika modulo. Sedangkan untuk proses dekripsi, angka 3 dan banyaknya huruf yang ditambahkan pada plainteks akan dimunculkan pada cipherteks. Untuk mengetahui huruf manakah yang ditambahkan digunakan cara yang berdasarkan tanggal pengiriman pesan dengan menggunakan arimetika modulo. Proses enkripsi pada penggunaan matriks berukuran tidak jauh berbeda dengan proses enkripsi pada penggunaan matriks berukuran . Pada penggunaan matriks berukuran , plainteks akan ditambahkan huruf jika banyak huruf pada plainteks tersebut bukan kelipatan 4. Untuk proses dekripsinya, karena matriks kunci yang digunakan berukuran maka angka 4 yang akan dimunculkan pada cipherteks sebagai angka pertama.

Penerapan metode role playing untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan / Jumadi

 

ABSTRAK JUMADI, 2009. Penerapan Metode Role Playing Untuk Meningkatkan hasil belajar IPS Siswa Kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum, (II) Dra. Purwendarti, M.Pd Kata Kunci: Metode, Role Palaying, IPS, Sekolah Dasar. Pembelajaran IPS di kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan, kurang diminati oleh siswa. Kegiatan pembelajaran hanya terfokus pada penyampaian materi oleh guru sehingga perhatian siswa tertuju pada guru. Kondisi ini mengakibatkan aktivitas belajar siswa menjadi berkurang, yang pada akhirnya berdampak terhadap rendahnya minat belajar siswa dalam memahami dan menguasai bahan pelajaran dan hasil belajar kurang memuaskan. Oleh karena itu hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan memerlukan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan metode role playing pada pembelajaran IPS kelas V,dan (2) Mendeskripsikan penggunaan metode role playing untuk meningkatkan hasil pembelajaran IPS siswa kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dan sumber data penelitian adalah siswa kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten pasuruan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan observasi, panduan wawancara, dan soal tes.. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Guru mampu dengan baik menerapkan pembelajaran dengan metode role playing pada pembelajaran IPS di kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan dengan langkah-langkah: memilih situasi bermain peran, memilih pemain, memilih pemain peran, mempersiapkan penonton sekaligus pengamat, menata panggung, memainkan peran, diakhiri dengan diskusi dan evaluasi, dan (2) Metode role playing dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Ledug II Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan melalui tindakan bersiklus tergolong baik, dengan taraf kemampuan 72,64%. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, dapat dapat dikemukakan beberapa saran, antara lain: (1) Guru dapat menerapkan dan mengembangkan metode pembelajarn bermain peran (role playing) pada pembelajaran IPS ke dalam kompetensi atau tema-tema yang lain, yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing (2) Bagi kepala sekolah, perlu peningkatan kegiatan supervisi dan bimbingan kepada para guru berkaitan dengan pembelajaran inovatif suatu metode (motode role playing) pada pembelajaran IPS dan pembelajaran lainnya sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, dan hasil belajar siswa ke arah yang lebih baik, dan (3) bagi pengawas TK/SD, perlu adanya peningkatan pembinaan guru melalui pendidikan dan latihan (Diklat) berkaitan dengan kompetensi dan profesionalisme guru. Dengan upaya ini diharapkan dapat meiningkatkan keinerja dan prestasi guru yang lebih baik dari sebelumnya.

Pemilihan materi pembelajaran seni budaya oleh guru bidang seni tari SMA Negeri kota Malang / Rifayanti

 

ABSTRAK Rifayanti. 2010. ”Pemilihan Materi Pembelajaran Seni Budaya Bidang Seni Tari Guru SMA Negeri Kota Malang”. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Program Studi Pendidikan Seni Tari, FS. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Ida Siti Herawati, M.Pd. Kata kunci: Pemilihan Materi Pembelajaran, Seni Budaya, Seni Tari. Kurikulum pembelajaran merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Adapun tujuan dari pemilihan judul ini yaitu setiap guru memiliki cara dan permasalahan sendiri dalam memilih sebuah materi pembelajaran, hal ini bisa dikarenakan dari karakter siswa, kurangnya waktu, lingkungan sekolah dan lain sebagainya. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini secara umum yaitu Bagaimana pemilihan materi pembelajaran seni budaya bidang seni tari di SMA Negeri kota Malang? Secara khusus yaitu:(1) Bagaimana cara guru merencanakan materi pembelajaran seni tari di SMA Negeri kota Malang? (2) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi guru dalam menentukan materi pembelajaran seni tari di SMA Negeri kota Malang? Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Lokasi penelitian yaitu SMA 3 Negeri Malang dan SMA Negeri 5 Malang. Teknik analisis data yang dipakai adalah teknik analisis dari Miles dan Huberman yang terdiri dari tahap reduksi data, penyajian data dan tahap penarikan kesimpulan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah wawancara yang dilakukan pada guru mata pelajaran seni budaya bidang seni tari. Dari hasil penelitian diketahui bahwa dalam perencanaan materi pembelajaran Seni Budaya bidang Seni Tari, ada beberapa cara yang dilakukan guru dalam merencanakan materi pembelajaran, diantaranya guru harus mengetahui kriteria pemilihan materi pembelajaran, mengidentifikasi aspekaspek yang terdapat di dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, mengidentifikasi jenis materi bahan ajar, memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan SK dan KD, yang terakhir yaitu memilih sumber ajar. Faktorfaktor yang mempengaruhi pemilihan materi pembelajaran yaitu faktor internal yang terdiri keterampilan guru, pengalaman dan pendidikan formal dan faktor eksternal yang terdiri dari kemampuan siswa itu sendiri, faktor lingkungan luar sekolah yaitu seniman atau narasumber, serta dari media pembelajaran, yaitu media audio, media visual, dan media audio visual.

Studi tentang minat dan sikap belajar siswa kelas VIII reguler, RSBI dan akselerasi terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa) di SMP Negeri 1 Malang / Triano Nanda Setiabudi

 

ABSTRAK Nanda Setiabudi, Triano. 2010. Studi Tentang Minat dan Sikap Belajar Siswa Kelas VIII Reguler, RSBI dan Akselerasi Terhadap Mata Pelajaran Seni Budaya (seni rupa) di SMP Negeri 1 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Iriaji, M. Pd., (II) Drs. Ponimin, M. Hum. Kata Kunci : Minat, sikap, mata pelajaran seni budaya (seni rupa), SMP Negeri 1 Malang Minat merupakan suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap sesuatu yang disertai dengan keinginan untuk mengetahui dan mempelajari sesuatu. Sikap merupakan suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan mendukung atau menolak terhadap sesuatu sehingga timbul derajat efek positif atau negatif. Berdasarkan pengamatan dilapangan terdapat kecenderungan bahwa mata pelajaran seni budaya (seni rupa) kurang diperhatikan siswa sehingga dapat mempengaruhi prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) minat belajar siswa kelas VIII Reguler terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa), 2) minat belajar siswa kelas VIII RSBI terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa), 3) minat belajar siswa kelas VIII Akselerasi terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa), 4) sikap belajar siswa kelas VIII Reguler terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa), 5) sikap belajar siswa kelas VIII RSBI terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa), 6) sikap belajar siswa kelas VIII Akselerasi terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa), 7) perbandingan/ perbedaan minat belajar siswa kelas VIII Reguler, RSBI dan Akselerasi terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa), 8) perbandingan/ perbedaan sikap belajar siswa kelas VIII Reguler, RSBI dan Akselerasi terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dalam pengumpulan data menggunakan angket terstruktur. Sedangkan dalam teknik analisis data menggunakan teknik prosentase. Populasinya adalah siswa SMP Negeri 1 Malang. Sampel dilakukan secara purposive sample (sampel pertimbangan) pada kelas VIII SMP Negeri 1 Malang yang berjumlah 275 siswa, selanjutnya dilakukan sampel kelas dengan cara random sampling (secara acak) dengan mengambil sebagian siswa dari pola pembelajaran/ kelas VIII Reguler, kelas VIII RSBI dan kelas VIII Akselerasi. Jadi jumlah keseluruhan sampel 90 siswa. Hasil penelitian tentang minat dan sikap siswa terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa) adalah : dengan prosentase lebih dari separuh (68,8 %) siswa kelas VIII Reguler memiliki tingkat minat belajarnya tinggi, pada prosentase sebagian besar (86,4 %) siswa kelas VIII RSBI memiliki tingkat minat belajarnya tinggi, dalam prosentase sebagian besar (85,7 %) siswa kelas VIII Akselerasi memiliki tingkat minat belajarnya tinggi, dengan prosentase kurang dari separuh (46,9 %) siswa kelas VIII Reguler memiliki tingkat sikap belajarnya tinggi, dalam prosentase lebih dari separuh (79,5 %) siswa kelas VIII RSBI memiliki tingkat sikap belajarnya tinggi, pada prosentase lebih dari separuh (78,6 %) siswa kelas VIII Akselerasi memiliki tingkat sikap belajarnya tinggi, kemudian dengan prosentase sebagian besar (80,0 %) siswa kelas VIII Reguler, VIII RSBI dan VIII Akselerasi memiliki tingkat minat belajarnya tinggi, dalam prosentase lebih dari separuh (67,8 %) siswa kelas VIII Reguler, VIII RSBI dan VIII Akselerasi memiliki tingkat sikap belajarnya tinggi. Berdasarkan pada analisis data dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat minat belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Malang terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa) tinggi, dan tingkat sikap belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Malang terhadap mata pelajaran seni budaya (seni rupa) tinggi. Dapat disarankan dari hasil penelitian ini agar sebagai seorang guru hendaknya perlu menggali dan meningkatkan keprofesionalannya dalam membimbing, mengarahkan, dan tentunya meningkatkan minat dan sikap belajar siswa terhadap mata pelajaran seni budaya, untuk kepala sekolah diharapkan dapat bekerja sama dengan guru/ pihak sekolah untuk dapat meningkatkan minat dan sikap belajar siswa dengan mengembangkan potensi yang ada pada diri para siswa, misalnya dengan cara memfasilitasi/ menyediakan sarana prasarana dalam kegiatan belajar mengajar seni budaya, untuk siswa yang tingkat minat dan sikapnya tinggi diharapkan dapat diwadahi/ disalurkan dalam mengikutkan berbagai lomba dan juga mengadakan kegiatan ekstrakurikuler dalam bidang seni, bagi orang tua diharapkan dapat menyikapi perkembangan anak dengan cara membimbing, mendidik dan dapat mengarahkan minat ataupun bakat yang dimiliki dan yang ingin dicapai anak, dan juga bahwa penelitian ini perlu diadakan tindak lanjut lagi dalam penelitian yang serupa, tetapi pada objek yang berbeda.

Telaah unsur-unsur budaya Indonesia dalam buku teks BIPA "Living Indonesian" / Dian Tyas Nurqolila

 

BIPA merupakan kepanjangan dari Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. BIPA diperuntukkan bagi pelajar asing, yaitu pelajar yang tidak berbahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Keberhasilan pembelajaran BIPA ditentukan oleh berbagai aspek, salah satunya adalah buku teks. Materi yang disajikan dalam buku teks BIPA hendaknya sesuai dengan tujuan dan motivasi pelajar serta memuat beberapa aspek penting. Aspek budaya merupakan salah satu aspek penting yang hendaknya ada dalam pembelajaran BIPA, sebab mempelajari bahasa suatu bangsa sama dengan mempelajari budayanya. Buku teks BIPA “Living Indonesian” (untuk selanjutnya disingkat BTLI) merupakan salah satu buku teks BIPA yang memuat materi budaya Indonesia. Unsur-unsur budaya Indonesia tentunya disajikan dalam setiap buku teks yang memuat budaya Indonesia, tidak terkecuali buku teks “Living Indonesian”. Oleh karena itu, penyajian materi tentang unsur-unsur budaya Indonesia sangatlah menarik untuk diteliti demi pengembangan buku teks tersebut. Memang telah banyak penelitian tentang materi budaya dalam BIPA, namun belum ada penelitian tentang materi unsur-unsur budaya dalam buku teks BIPA “Living Indonesian”. Materi unsur-unsur budaya tersebut meliputi (1) materi tentang sistem religi dan upacara keagamaan dalam BTLI, (2) materi tentang sistem dan organisasi kemasyarakatan dalam BTLI, (3) materi tentang sistem pengetahuan dalam BTLI, (4) materi tentang perilaku sosial berbahasa dalam BTLI, (5) materi tentang kesenian dalam BTLI, (6) materi tentang sistem mata pencaharian hidup dalam BTLI, serta (7) materi tentang sistem teknologi dan peralatan hidup dalam BTLI. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah buku teks BIPA karangan Widodo Hs, Gatut Susanto, dan Teresa Woods- Hunt yang berjudul “Living Indonesian: Textbook Bipa for Beginning Level Intensive Indonesian Language Course”. Obyek penelitian ini adalah unsur-unsur budaya Indonesia (sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, perilaku sosial berbahasa, kesenian, system mata pencaharian hidup, serta sistem teknologi dan peralatan hidup) dalam buku teks BIPA “Living Indonesian”. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal. Pertama, materi tentang sistem religi dan upacara keagamaan dalam BTLI meliputi tempat beribadah (kuil, masjid, gereja), tokoh agama (kiai), perlengkapan keagamaan (jilbab, salib, sajadah, beduk), kegiatan keagamaan (tentang shalat, perayaan hari Raya Idul Fitri, upacara pernikahan menurut hukum Islam), dan sistem kepercayaan tentang nasib. Materi tersebut lebih banyak menyajikan hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam dibandingkan dengan sistem religi lainnya. Kedua, materi tentang sistem dan organisasi kemasyarakatan dalam BTLI meliputi sistem kekerabatan (istilah-istilah yang menunjukkan kekerabatan dalam keluarga, keeratan kekerabatan dalam aktivitas keluarga, struktur keluarga), struktur social masyarakat Indonesia (toleransi dalam keterikatan struktur sosial masyarakat Indonesia dan konsep kerja sama dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia), sistem hukum, dan sistem perkawinan. Materi tersebut lebih banyak menyajikan contoh dari kehidupan masyarakat Jawa dan tidak menyajikan struktur organisasi kemasyarakatan secara umum. Ketiga, materi tentang sistem pengetahuan penduduk Indonesia dalam BTLI meliputi pengetahuan tentang pembuatan jamu, pengetahuan tentang pembuatan layang-layang, pengetahuan tentang pakaian tradisional, pengetahuan tentang makanan dan minuman khas Indonesia, pengetahuan tentang perkawinan dan pelangsungannya serta pengetahuan tentangmusim di Indonesia. Keempat, materi tentang perilaku sosial berbahasa masyarakat Indonesia dalam BTLI meliputi pengungkapan canda, penyebutan gelar, pertanyaan-pertanyaan pribadi, ungkapan-ungkapan khusus, dan komunikasi dalam keluarga. Kelima, materi tentang sistem kesenian Indonesia dalam BTLI meliputi seni gerak (permainan tradisional, tari remo, tari topeng, kuda lumping, ludruk), seni rupa (Keraton Solo, Keraton Yogya, Candi Borobudur), dan seni suara (lagu-lagu dari Indonesia). Sajian materi tersebut lebih banyak menampilkan kesenian masyarakat Jawa. Keenam, materi tentang system mata pencaharian penduduk Indonesia dalam BTLI meliputi tenaga pengajar, penjual, penarik becak, tukang pijat, resepsionis penginapan, petani dan perawat. Ketujuh, materi tentang sistem teknologi dan peralatan hidup masyarakat Indonesia dalam BTLI meliputi aspek peralatan (peralatan rumah tangga, peralatan sekolah, transportasi) dan teknologi (teknologi bangunan). Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penyempurnaan materi dalam BTLI. Dengan demikian materi-materi tentang unsur-unsur budaya Indonesia dalam BTLI akan lebih berimbang, lebih mewakili masyarakat Indonesia secara luas (budaya nasional), dan tidak terlalu banyak menyajikan budaya lokal (budaya Jawa). Selain itu, perlu pula dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya pembelajaran tentang wujud budaya dalam buku teks BIPA. Penelitian ini dapat menjadi landasan bagi penelitian wujud budaya dalam buku teks BIPA tersebut.

Pembelajaran pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar pengukuran satuan waktu di kelas IV SD Negeri Pogar III Pasuruan / Siti Rochmah

 

ABSTRAK Rochmah, S 2010. Pembelajaran Pemecahan Masalah Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pengukuran Satuan Waktu di Kelas IV SD Negeri Pogar III Pasuruan. Skripsi Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd (II) Drs. Sumanto, M.Pd Kata kunci: pembelajaran, waktu, pemecahan masalah, matematika, sekolah dasar. Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih menerapkan pendekatan dan metode untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi awal ditemukan bahwa hasil belajar siswa di SDN Pogar III dengan materi pokok pembelajaran “ pengukuran” yang berkenaan dengan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan satuan waktu. Sebagian besar (85%) dari 23 siswa nilai hasil belajarnya masih tergolong rendah. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan pembelajaran pemecahan masalah tentang pengukuran satuan waktu pelajaran matematika kelas IV SD Negeri Pogar III Pasuruan, (2) Mendeskripsikan hasil belajar pengukuran satuan waktu pelajaran matematika dengan diterapkannya pembelajaran pemecahan masalah di kelas IV SD Negeri Pogar III Pasuruan, dan (3) Mendeskripsikan persepsi siswa terhadap pembelajaran pemecahan masalah tentang pengukuran satuan waktu pelajaran matematika kelas IV SD Negeri Pogar III Pasuruan. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) melalui empat tahapan: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. Penelitian ini direalisasikan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga kali pertemuan meliputi: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Secara teknis pelaksanaan tindakan pembelajaran ini dilakukan oleh peneliti selaku guru mata pelajaran matematika, dan dibantu seorang guru (teman sejawat) sebagai observer. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Pogar III Pasuruan, mulai bulan Mei 2010 sampai dengan bulan Juli 2010 sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV, sebanyak 23 orang siswa. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan adalah lembar tes soal, lembar observasi (pengamatan) dan catatan lapangan, dan lembar angket. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis data kualitatif, yang meliputi tahapan menelaah data, mereduksi data, memaparkan data, dan menyimpulkan data. Evaluasi keberhasilan tindakan dengan menggunakan tolok ukur yang ditetepkan 70%. Hasil observasi awal masih di bawah KKM. Setelah dilaksanakan siklus 1 mengalami peningkatan 21,04% dan di akhir siklus 2 mengalami peningkatan 78,96% Saran yang dilakukan dengan hasil penelitian ini: (1) Guru perlu memberikan alokasi waktu yang memadai, (2) Bagi kepala sekolah perlu adanya bimbingan dan supervisi, (3) Bagi peneliti lain perlu dilakukan penelitian lanjut terhadap aspek-aspek yang belum berhasil.

Penerapan model pembelajaran CTL untuk meningkatkan hasil belajar IPA di kelas IV SDN Kandung Pasuruan / Arif Wicaksono

 

ABSTRAK Wicaksono , A. 2010. Penerapan Model Pembelajaran CTL Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA di Kelas IV SDN Kandung Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S1 PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Heru Agus Triwidjaja, M.Pd. Pembimbing (II) Muchtar , S.Pd, M.Si. Kata Kunci: model Contextual Teaching and Learning , Pembelajaran, IPA, SD Pembelajaran IPA adalah suatu kegiatan membelajarkan siswa tentang ilmu pengetahuan yang tersusun secara sistematis dari hasil kegiatan siswa berupa fakta, konsep, prinsip dan teori tentang pristiwa alam sekitar yang diperoleh melalui metode ilmiah. Berdasarkan pengamatan dilapangan, kurang berhasilnya pembelajaran IPA disebabkan guru kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran, sehinga siswa kurang aktif dan tidak termotivasi untuk belajar. Terbukti dari hasil tes yang dilakukan, diperoleh rata-rata nilai kelas (57,7), ada 17 siswa nilainya tidak sesuai SKM serta 6 siswa yang sudah sesuai SKM Untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung. Model Contextual Teaching and Learning merupakan model pembelajaran yang membuat siswa menghubungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat, sehingga diharapkan, apa yang didapat siswa lebih bertahan lama dan siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran IPA kelas IV, (2) aktivitas belajar siswa, (3) peningkatan hasil belajar siswa, Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV SDN kandung Winongan Pasuruan sebanyak 23 siswa. Sedang instrumen yang digunakan adalah dokumentasi, lembar observasi, , dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Contextual Teaching and Learning dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Kandung . Hal ini terjadi karena guru telah melakukan langkah langkah CTL dengan baik. Untuk aktivitas siswa pada siklus I menunjukkan nilai (38,4) Sedangkan pada siklus II meningkat menjadi (50,4). Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai pada pra tindakan (57,7), siklus I (68,0), dan siklus II (74,4). Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) penerapan model Contextual Teaching and Learning telah dilaksanakan dengan baik, (2) meningkatkan aktivitas siswa, dan (3) meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) Guru dapat mengembangkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran IPA khususnya di kelas IV. (2) Peneliti lainnya agar dapat mengembangkan penelitian ini di sekolah atau tempat yang lain agar mendapatkan temuan yang lebih komprehensif

Kemampuan siswa SMP kelas VIII di Kota Malang dalam menyelesaikan soal cerita matematika ditinjau dari tahapan analisis kesalahan Newman / Siti Suaibah

 

ABSTRAK Suaibah, Siti. 2010. Kemampuan Siswa SMP Negeri Kelas VIII di Kota Malang dalam Menyelesaikan Soal Cerita Matematika Ditinjau dari Tahapan Analisis Kesalahan Newman. Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si., dan (II) Dra. Rini Nurhakiki, M.Pd. Kata kunci: Soal Cerita Matematika, Tahapan Analisis Kesalahan Newman. Belajar matematika tidak hanya dituntut untuk menguasai konsep-konsep dalam matematika, akan tetapi siswa juga dituntut untuk bisa menerapkan konsep dalam pemecahan masalah sehari-hari. Pemecahan masalah dalam matematika sekolah biasanya diwujudkan melalui soal cerita. Hingga saat ini, keterampilan berpikir dan menyelesaikan soal cerita matematika masih cukup rendah. Metode analisis kesalahan Newman merupakan salah satu metode yang digunakan untuk menganalisis kesalahan penyelesaian soal cerita matematika. Metode ini mempunyai lima tahapan yaitu: (1) membaca masalah (reading), (2) memahami masalah (comprehension), (3) transformasi masalah (transformation), (4) keterampilan proses (process skill),(5) penulisan jawaban (encoding) Hingga saat ini penelitian yang berkaitan dengan metode analisis kesalahan Newman masih sedikit dijumpai khususnya di Kota Malang. Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui bagaimana kemampuan siswa SMPN 1, SMPN 8 dan SMPN 12 kelas VIII di kota Malang dalam menyelesaikan soal cerita ditinjau dari tahapan: (a) membaca masalah (reading), (b) memahami masalah (comprehension), (c) transformasi masalah (transformation), (d) keterampilan proses (process skill),(e) penulisan jawaban (encoding), dan (2) bagaimana bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan oleh siswa SMPN 1, SMPN 8 dan SMPN 12 kelas VIII di kota Malang dalam menyelesaikan soal cerita matematika dengan menggunakan tahapan analisis kesalahan Newman. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian yang dilakukan adalah deskriptif. Populasi pada penelitian yaitu semua siswa kelas VIII dari SMPN 1 Malang yang berjumlah 122 siswa, siswa SMPN 8 Malang yang berjumlah 282 siswa, dan siswa SMPN 12 Malang yang berjumlah 240 siswa. Sampel yang diambil untuk SMPN 1 yaitu siswa kelas VIII A yang berjumlah 42 siswa, untuk SMPN 8 sampel yang digunakan adalah siswa kelas VIII A yang berjumlah 45 siswa dan untuk SMPN 12 sampel yang digunakan yaitu kelas VIII D yang berjumlah 39 siswa. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tes yang dilakukan dua kali dan wawancara. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca (reading) siswa kelas VIII SMPN 1 Malang tergolong baik yaitu sebesar 67.03%, siswa SMPN 8 Malang tergolong kurang yaitu sebesar 53.11%, dan siswa SMPN 12 Malang tergolong kurang yaitu sebesar 47.57%, kemampuan memahami masalah (comprehension) siswa kelas VIII SMPN 1 Malang tergolong baik yaitu sebesar 78.17%, siswa SMPN 8 Malang tergolong baik yaitu sebesar 68.41%, dan siswa SMPN 12 Malang tergolong baik yaitu sebesar 74.62%, kemampuan mentraformasikan masalah (transformation) siswa kelas VIII SMPN 1 Malang tergolong baik yaitu sebesar 74.05%, siswa SMPN 8 Malang tergolong baik yaitu sebesar 72.97%, dan siswa SMPN 12 Malang tergolong kurang yaitu sebesar 47.48%, kemampuan proses (process skill) siswa kelas VIII SMPN 1 Malang tergolong baik yaitu sebesar 68.97%, siswa SMPN 8 Malang tergolong baik yaitu sebesar 71.22%, dan siswa SMPN 12 Malang tergolong sangat kurang yaitu sebesar 37.99%, kemampuan penulisan jawaban yang tepat (encoding) siswa kelas VIII SMPN 1 Malang tergolong cukup yaitu sebesar 60.87%, siswa SMPN 8 Malang tergolong cukup yaitu sebesar 59.85%, dan siswa SMPN 12 Malang tergolong sangat kurang yaitu sebesar 26.41%. Bentuk-bentuk kesalahan dalam membaca masalah (reading) antara lain: (a) siswa mengerti konteks kalimat soal tetapi siswa tidak dapat menuliskan makna secara tepat, (b) hanya menuliskan makna kata tertentu, (c) tidak menuliskan semua makna kata yang diminta. Bentuk-bentuk kesalahan dalam memahami masalah (comprehension) antara lain: (a) menuliskan hal yang diketahui dan yang ditanyakan dengan singkat sehingga tidak jelas, (b) menuliskan yang ditanyakan tidak sesuai dengan permintaan soal, (c) menuliskan yang diketahui ( tidak menuliskan yang ditanya), (d) menuliskan yang diketahui dalam bentuk simbol-simbol yang mereka buat sendiri tanpa ada keterangan, (e) tidak menuliskan hal yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal. Bentuk-bentuk kesalahan dalam mentraformasikan masalah (transformation) antara lain: (a) menuliskan metode yang tidak tepat, (b) langsung menuliskan simbol tanpa ada keterangan untuk memperjelas, (c) tidak lengkap menuliskan metode karena tidak menuliskan rumus matematik yang diperlukan untuk menyelesaikan soal, (d) tidak menuliskan tahapan metode yang diperlukan untuk menyelesaikan soal. Bentuk-bentuk kesalahan dalam kemampuan proses (process skill) antara lain: (a) kesalahan konsep, (b) kesalahan dalam komputasi, (c) tidak melanjutkan prosedur penyelesaian (macet), (e) tidak menuliskan tahapan keterampilan proses. Bentuk-bentuk kesalahan dalam penulisan jawaban yang tepat (encoding) antara lain: (a) menuliskan encoding yang salah karena perhitungan akhir tidak tepat, (b) menuliskan encoding yang tidak sesuai dengan konteks soal, (c) tidak menuliskan satuan yang sesuai, (e) tidak menuliskan encoding.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 |