Penerapan model pembelajaran bermain peran untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas III SDN Kedawung 02 Kabupaten Blitar / Kenes Wantiana

 

ABSTRAK Wantiana, Kenes. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Bermain Peran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Pada Siswa Kelas III SDN Kedawung 02 Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Suminah, S.Pd. M.Pd, (2) Drs. Hadi Mustofa, M.Pd. Kata Kunci: Bermain Peran, IPS, Hasil Belajar Selama pembelajaran IPS tampak guru-guru dalam pembelajaran hanya tergantung pada buku pegangan, cara pembelajaran yang konvensional.Sehingga banyak siswa mengalami kesulitan dan tidak semangat dalam mengikuti pelajaran. Akibatnya semester I nilai rata-rata pelajaran IPS sangat rendah yaitu dari 30 siswa yang mendapatkan nilai di atas 50 hanya 12 siswa (40%) dan yang di bawah 50 adalah 18 siswa (60%). Untuk itu diperlukan model pembelajaran yang bisa meningkatkan hasil belajar siswa yaitu model pembelajaran bermain peran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPS Kelas III di SDN Kedawung 02 dengan model pembelajaran bermain peran, mendeskripsikan penerapan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS, mendeskripsikan model pembelajaran bermain peran dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPS di Kelas III SDN Kedawung 02. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan. Rancangan yang digunakan adalah PTK yang terdiri dari tiga tahap yaitu prasiklus, siklus I, dan siklus II. Masing-masing siklus terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Instrumen yang digunakan adalah (1) observasi, (2) dokumentasi, (3) wawancara, dan (4) tes. Berdasarkan hasil kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan selama 2 siklus dapat diketahui bahwa Penerapan Model Pembelajaran Bermain Peran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Dalam setiap siklusnya ketuntasan hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu siklus I (66,67 %) dan siklus II (96,66 %). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Bermain Peran dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pelajaran IPS dengan materi jual beli. Dari hasil penelitian ini hendaknya guru menerapkan model pembelajaran bermain peran sehingga hasil belajar dan aktivitas belajar siswa meningkat dan dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah baik secara individu maupun kelompok.

Peningkatan belajar membaca dan menulis melalui pembelajaran kooperatif terpadu siswa kelas IV SDN Kotes 01 Kabupaten Blitar / Dwi Nurhandoko

 

ABSTRAK Nurhandoko, Dwi. 2010. Peningkatan Belajar Membaca dan Menulis Melalui Pembelajaran Kooperatif Terpadu Siswa Kelas IV SDN Kotes 01 Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Nuryati, M. Pd. (II) Dr. H. Alif Mudiono, M. Pd. Kata Kunci: kooperatif terpadu, membaca, menulis Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan membaca ditekankan pada aspek pemahaman makna kata, kesesuaian isi dan tata bahasa. Untuk kemampuan menulis ditekankan pada aspek koherensi antar kalimat, penulisan ejaan, dan pemilihan kata. Serta mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran kooperatif terpadu pada pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN Kotes 01. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran pembelajaran kooperatif terpadu dapat meningkatkan kemampuan menulis dan membaca. Hasil kemampuan membaca pada siklus I diperoleh persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 62% dan pada siklus II naik menjadi 93%. Sedangkan kemampuan menulis pada siklus I diperoleh persentase ketuntasan belajar sebesar 54% dan pada siklus II naik menjadi 89%. Berdasarkan data dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif terpadu dapat meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif terpadu untuk mengatasi kesulitan belajar siswa khususnya pada aspek membaca dan menulis. Sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Penerapan pembelajaran kooperatif model QWH-CHART sebagai upaya meningkatkan hasil belajar mata pelajaran geografi SUB bab pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan di Kelas XI-IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Blitar / Kartika Fajar Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Kartika Fajar. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model QWH-Chart Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Geografi Sub Bab Pemanfaatan Lingkungan Hidup dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan di Kelas XI-IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Blitar. Skripsi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1)Dr. Achmad Amirudin, M.Pd, (II)Drs. Hendri Purwito, M.Si Kata Kunci: QWH-Chart Metode ceramah memang tidak selalu membosankan, tetapi kebanyakan siswa cenderung kurang aktif apabila menggunakan metode tersebut. Di SMA Muhammadiyah 1 Blitar metode ceramah yang biasanya digunakan oleh guru Geografi dalam mengajar kurang cocok, karena sebagian siswa melakukan aktifitas lain diluar pembelajaran. Untuk itu peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran QWH-Chart yang merupakan model pembelajaran yang mengajak siswa untuk aktif membuat pertanyaan dan memecahkan masalah. Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah model pembelajaran QWH-Chart dapat meningkatkan hasil belajar Geografi pada materi Pemanfaatan Lingkungan Hidup dalam Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan siswa kelas XI-IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Blitar tahun ajaran 2009/2010? Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Goegrafi pada materi Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan siswa kelas XI-IPS 1 SMA Muhammadiyah 1 Blitar tahun ajaran 2009/2010 melalui penerapan pembelajaran kooperatif model QWH-Chart. Desain penelitian ini adalah kualitatif. Jumlah subjek sebanyak 25 siswa, 5 putra dan 20 putri. Alat pengumpulan data tersebut berupa rubik penilaian diskusi dan postes. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan hanya dalam satu siklus. Setelah melakukan diskusi dengan model pembelajaran QWH-Chart kemudian siswa diberi postes. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pembelajaran kooperatif model QWH-Chart dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kerja kelompok dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Sedangkan saran dalam penelitian ini adalah pemberian tugas kepada siswa untuk mencari artikel yang berhubungan dengan materi, sebaiknya dilakukan satu minggu sebelum pelaksanaan pembelajaran. Dalam penerapan model pembelajaran QWH-Chart guru membentuk siswa menjadi kelompok-kelompok kecil minimal 5 orang siswa tiap kelompok. Dalam satu kelompok, sebaiknya terdiri dari perempuan dan laki-laki, serta memiliki kepandaian yang heterogen (ada yang pandai dan ada yang kurang pandai). Pada saat pembelajaran, guru harus bisa mengatur siswa serta menciptakan suasana diskusi yang aktif dan kreatif, agar pembelajaran menjadi efektif.

Pengaruh debt to equity ratio (DER) dan resiko sistematis terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 / Andreas Rio Andika

 

ABSTRAK Andika, Andreas Rio. 2010. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) dan Resiko Sistematis Terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2008. Skripsi, Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Hj. Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak. (II) DR. Dyah Aju Wardhani, M.Si, Ak. Kata Kunci: Return Saham, Debt to Equity Ratio, Resiko Sistematis Investasi melalui pasar modal, khususnya dalam bentuk saham selain memberikan hasil juga mengandung risiko. Pengembalian (return) dan resiko merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena pertimbangan suatu investasi merupakan trade-off dari kedua hal tersebut (risk-return trade-off). Resiko dan return memiliki hubungan yang searah maka investasi yang mengandung resiko tinggi akan menawarkan return yang tinggi pula. Untuk itu, investor dapat memperkirakan return yang akan diperoleh berdasarkan resiko yang ditanggung atas investasi pada saham. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh perbandingan pendanaan perusahaan yang berasal dari hutang dengan modal sendiri (ekuitas) dan resiko sistematis yang melekat pada tiap saham emiten terhadap return saham, baik secara individual maupun simultan. Komposisi pendanaan perusahaan diukur menggunakan debt to equity ratio sedangkan resiko sistematis diukur dengan indeks beta. Return saham diukur dari persentase perubahan harga saham penutupan bulanan. Populasi dari penelitian ini adalah semua perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008. Dari populasi tersebut, kemudian digunakan metode purposive sampling agar kualifikasi sampel sesuai dengan kriteria-kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian. Hasilnya, terdapat 26 perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Nilai F sebesar 3,739 dengan tingkat signifikansinya 0,027 menunjukkan adanya pengaruh debt to equity ratio dan resiko sistematis terhadap return saham. Dari uji t hanya resiko sistematis yang mempengaruhi return saham ditunjukkan dari t hitung ≥ t tabel (2,574 ≥ 1,9908) dan signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,012 ≤ 0,05). Nilai Koefisien Determinasi (R Square) yang diperoleh sebesar 0,092 berarti bahwa 9,2% perubahan harga saham dapat dijelaskan oleh debt to equity ratio dan resiko sistematis sedangkan sisanya 91,8% dijelaskan sebab-sebab lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah secara simultan variabel debt to equity ratio dan resiko sistematis berpengaruh secara signifikan terhadap return saham. Secara parsial dari kedua variabel independent yang digunakan hanya variabel resiko sistematis yang mempengaruhi return saham secara signifikan. Berarti pada periode 2006-2008, investor dalam melakukan investasi saham kurang memperhatikan kondisi emiten khususnya perbandingan pendanaan perusahaan yang bersumber dari hutang dan ekuitas. i

Hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial waria pada ikatan waria Malang / Deny Candra Budi Hartini

 

ABSTRAK Candra, Deny. 2009. Hubungan Konsep Diri dengan Kecemasan Sosial waria pada Ikatan Waria Malang. Program Studi Psikologi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Sri Weni Utami , M.Si. (II) Nur Eva, S.Psi., M.Psi. Kata kunci: konsep diri, kecemasan sosial, waria Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan yang terus-menerus dan terdiferensiasi. Konsep diri berpengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang. Kecemasan sosial merupakan perasaan tidak nyaman atas kehadiran orang lain. Waria yang mempunyai bentuk tubuh berbeda dengan anatomi gendernya sangat rentan mengalami kecemasan sosial. Kecemasan yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh konsep diri yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengetahui konsep diri pada Ikatan Waria Malang 2) mengetahui kecemasan sosial pada Ikatan Waria Malang 3) mengetahui hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial pada Ikatan waria malang. Populasi penelitian ini adalah waria yang berdomisili didaerah Malang. Sampel diambil dengan tehnik purposive sampling. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan dua skala yaitu Skala Konsep Diri dan Skala Kecemasan Sosial. Tehnik analisis data untuk melihat gambaran Konsep Diri dan Kecemasan Sosial adalah Analisis Deskriptif , sedangkan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan kecemasan sosial adalah dengan analisis korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85% waria pada Ikatan Waria Malang memiliki konsep diri sedang dan 15% memiliki konsep diri rendah. Sebanyak 80% waria pada Ikattan Waria Malang memiliki kecemasan sosial sedang, 5% memiliki kecemasan sosial rendah dan 15% memiliki kecemasan sosial yang tinggi. Hasil analisis korelasional Product Moment menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara konsep diri dan kecemasan sosial (rxy = -0,687 dengan nilai p=0,000 <0,05), artinya semakin tinggi konsep diri maka kecemasan sosial yang dimiliki akan semakin rendah, sebaliknya semakin rendah konsep diri yang dimiliki maka kecemasan sosial yang dimiliki waria akan semakin tinggi. Berdasar hasil penelitian, peneiliti menyarankan kepada beberapa pihak yaitu: 1) bagi pengurus ikatan waria malang untuk mengikuti rehabilitasi psiko-sosial agar para waria bisa hidup bermasyarakat tanpa mengalami kecemasan sosial 2) bagi masyarakat diharapkan bisa menerima kehadiran waria 3) bagi peneliti selanjutnnya diharapkan bisa memperbanyak jumlah partisipan dan menggunakan metode lain dalam pengambilan data sehingga hasilnya bisa dijadikan sebagai pembanding atau pelengkap penelitian sebelumnya.

Peningkatan kreativitas dan hasil belajar siswa melalui metode mind mapping dalam pembelajaran IPS kelas V di SDN tepas 03 Kabupaten Blitar / Fitri Mahmudhah

 

ABSTRAK Mahmudhah, Fitri. 2010. Peningkatan Kreativitas dan Hasil Belajar Siswa melalui Metode Mind Mapping dalam Pembelajaran IPS Kelas V di SDN Tepas 03 Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Suwarti, S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Sutji Rahayu, M.Si. Kata kunci: Kreativitas, hasil belajar, mind mapping. Pembelajaran IPS di Kelas V SDN Tepas 03 disajikan oleh guru sebagai mata pelajaran yang tidak menarik. Berdasarkan daftar nilai UTS semester I, hasil belajar mata pelajaran IPS di Kelas V SDN Tepas 03 terdapat 15 siswa di bawah Standar Ketuntasan Minimal Belajar (SKMB) dengan nilai 60 (enam puluh). Kreativitas siswa juga belum tampak, hal ini terlihat dari adanya siswa yang belum berani mengungkapkan pendapatnya dan menghubungkan materi yang sudah ada sebelumnya.Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan perubahan metode pembelajaran yang inovatif seperti mind mapping. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kreativitas dan hasil belajar siswa. setelah menggunakan mind mapping. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian yaitu penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tepas 03 Kabupaten Blitar pada kelas V. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokementasi. Berdasarkan hasil UTS semester I pada pembelajaran IPS, diketahui bahwa hanya ada 10 siswa dari 25 siswa sudah mencapai nilai di atas SKMB. Hal ini berarti hanya ada 40% siswa yang tuntas belajar. Setelah menggunakan metode mind mapping pada siklus I kreativitas siswa mengalami peningkatan yaitu dari nilai rata-rata kreativitas pra tindakan 59% menjadi 66,2%. Peningkatan kretivitas dari pra tindakan dan siklus I sebanyak 7,2%. Pada siklus II, persentase kreativitas siswa menjadi 79,8%, peningkatan 20,8 % dari pra tindakan, dan peningkatan 13, 6 % dari siklus I. Pada siklus I sesudah menerapkan metode mind mapping, hasil belajar siswa mengalami peningkatan yaitu dari nilai rata-rata tes evaluasi pada pra tindakan 59,2% menjadi 70%. Peningkatan hasil belajar dari pra tindakan dan siklus I sebanyak 10,8%. Pada siklus II, persentase hasil belajar siswa menjadi 86%, peningkatan 26,8 % dari pra tindakan, dan peningkatan 16 % dari siklus I. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode mind mapping yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa kelas V di SDN Tepas 03. Untuk itu, hendaknya para guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang lebih inovatif seperti mind mapping, sehingga kreativitas siswa dapat berkembang dan hasil belajar siswa dapat meningkat.

Peningkatkan hasil belajar konsep perkalian melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL) pada siswa kelas III SDN Kepanjenlor 3 Kecamatan Kepanjenkidul kota Blitar / Eny Fajarwati

 

ABSTRAK Fajarwati, Eny. 2010.Peningkatan Hasil Belajar Konsep Perkalian Melalui Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Pada Siswa Kelas III SDN Kepanjenlor 3 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Zainudin, M. Pd, (2) Drs. Sunyoto, S. Pd, M.Si Kata Kunci : Hasil Belajar, Konsep Perkalian, CTL Berdasarkan data yang diperoleh peneliti, pada pembelajaran materi perkalian, pemahaman siswa terhadap konsep perkalian sangat kurang. Siswa mengerjakan soal konsep perkalian sebagai penjumlahan berulang dengan cara terbalik. Berdasarkan rekapitulasi pada akhir pembelajaran konsep perkalian (pembelajaran pratindakan), nilai rata-rata dari 23 siswa hanya 46,96 dan ketuntasan klasikal hanya 26%. Padahal KKM yang ditetapkan untuk pelajaran matematika di SD tersebut adalah 70. Pada pembelajaran tersebut guru hanya menggunakan metode ceramah dan kegiatan siswa ketika pembelajaran adalah mendengarkan kemudian mengerjakan soal-soal yang terdapat pada LKS. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran pada mata pelajaran matematika materi konsep perkalian perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan CTL. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan pendekatan CTL pada materi konsep perkalian siswa kelas III SDN Kepanjenlor 3 Kota Blitar, (2) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa melalui penerapan pendekatan CTL, dan (3) mendeskripsikan hasil belajar konsep perkalian melalui penerapan pendekatan CTL. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan tahap siklus. Subjek penelitian adalah semua siswa kelas III SDN Kepanjenlor 3 kecamatan Kepanjenkidul kota Blitar. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai pelaksana (pengajar), dan dibantu oleh mitra peneliti yang bertugas mengamati/mengobservasi kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar konsep perkalian siswa kelas III SDN Kepanjenlor 3 kota Blitar melalui penerapan pendekatan CTL dapat meningkat. Nilai rata-rata siswa pada pratindakan adalah 46,96, pada siklus I adalah 66,30 dan pada siklus II adalah 77,39. Sedangkan ketuntasan belajar klasikal pada pratindakan adalah 26%, pada siklus I adalah 65,22% dan pada siklus II adalah 82,61%. Sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran konsep perkalian dengan penerapan pendekatan CTL pada siswa kelas III SDN Kepanjenlor 3 kota Blitar telah berhasil. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan bahwa pada pembelajaran matematika hendaknya guru menerapkan pendekatan CTL dan menggunakan media benda-benda di sekitar, agar pembelajaran yang dilaksanakan melibatkan aktivitas siswa secara penuh baik fisik maupun mental. Sehingga proses pembelajaran di dalam kelas bisa optimal.

Hubungan antara persepsi tentang sertifikasi guru dengan motivasi menjadi guru mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Boga Bidang Keahlian usaha jasa restoran angkatan 2007 FT UM / Ni Ketut Sri Eka Utari

 

ABSTRAK Utari, Ni Ketut Sri Eka. 2010. Hubungan antara Persepsi tentang Sertifikasi Guru dengan Motivasi Menjadi Guru Mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Boga Bidang Keahlian Usaha Jasa Restoran Angkatan 2007 FTUM. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Dwi Agus Sudjimat, S. T., M. Pd, (II) Ir. Ummi Rohajatien, M. Pd. Kata kunci: persepsi, sertifikasi, guru, motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi tentang sertifikasi guru dengan motivasi menjadi guru mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Boga Bidang Keahlian UJR Angkatan 2007 FTUM sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan tujuan Prodi S1 Pendidikan Tata Boga Bidang Keahlian UJR yang mempersiapkan mahasiswa sebagai calon guru. Rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif-korelasional. Variabel dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru (X) dan motivasi mahasiswa menjadi guru (Y). Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Boga Bidang Keahlian UJR Angkatan 2007 FT UM. Jumlah mahasiswa yang dijadikan subjek penelitian adalah 25 orang. Penelitian ini menggunakan angket sebagai instrumen dalam pengumpulan data. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisi korelasi Product Moment Pearson. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa (1) 12% mahasiswa mempunyai persepsi sangat tinggi tentang setifikasi guru, (2) 88% mahasiswa mempunyai persepsi tinggi tentang setifikasi guru, (3) 60% mahasiswa mempunyai motivasi sangat tinggi untuk menjadi guru, (4) 40% mahasiswa mempunyai motivasi tinggi untuk menjadi guru (5) ada hubungan yang signifikan antara persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru dengan motivasi mereka untuk menjadi guru dengan koefisian korelasi (r) sebesar 0,759 (Sig. (p) 0,000). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa (1) persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru tergolong berkategori tinggi, (2) motivasi mahasiswa untuk menjadi guru tergolong berkategori sangat tinggi, dan (3) hubungan antara persepsi mahasiswa Prodi S1 Pendidikan Tata Boga Bidang Keahlian UJR Angkatan 2007 FT UM tentang sertifikasi guru dengan motivasi mereka untuk menjadi guru tergolong kuat, signifikan dan searah. Berdasarkan hasil penelitian ini, ada tiga saran yang dapat diberikan sebagai berikut: (1) bagi Universitas Negeri Malang Fakultas Teknik Jurusan Teknologi Industri diharapkan mempertahankan motivasi mahasiswa untuk menjadi guru dengan mempertahankan dan mengembangkan pola pembelajaran yang telah dilaksanakan, (2) bagi mahasiswa Prodi S1 Tata Boga Bidang Keahlian UJR agar meningkatkan kompetensi profesionalisme dengan memperdalam wawasan dan keterampilan mengenai profesi keguruan, dan (3) bagi peneliti selanjutnya, dapat diteliti bagaimana hubungan persepsi mahasiswa tentang sertifikasi guru terhadap tingkat pemilihan profesi keguruan oleh lulusan Prodi S1 Tata Boga Bidang Keahlian UJR.

Penerapan teori pengolah informasi untuk meningkatkan penguasaaan kosakata Bahasa Arab di MTs. KH. Hasyim Asy'ari Pakisaji Malang / Faidatul Chozinia

 

ABSTRAK Chozinia, Faidatul. 2010. Penerapan Teori Pengolah Informasi untuk Meningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Arab Siswa Kelas VII MTs KH Hasyim Asy’ari Sutojayan Pakisaji. Skripsi, Jurusan Sastra Arab FS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Drs. H, Muhaiban. Kata Kunci : mufrodat, kata kunci, pengulangan. Dalam pembelajaran bahasa Arab bagi siswa SMP atau MTs terdapat berbagai strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan penguasaan berbagai ketrampilan siswa,. Akan tetapi, masih sangat sedikit strategi pembelajaran yang diketahui secara spesifik dapat meningkatkan penguasaan kosakata (mufrodat) siswa, baik dalam hal menghafal, memahami, ataupun pengaplikasian dalam kalimat. Teori pengolah informasi merupakan teori yang menganggap bahwa otak manusia seperti komputer yang sangat canggih yang dapat menyimpan setiap informasi yang masuk. Dalam teori pengolah informasi dijelaskan bahwa pada otak manusia terdapat tiga macam memori, yaitu memori sensoris yang hanya dapat menyimpan informasi selama tak lebih dari lima menit, memori jangka pendek yang yang dapat menyimpan informasi selama sekitar 30 menit, dan memori jangka panjang yang memiliki kisaran waktu simpan tak terbatas. Setiap informasi berpotensi menjadi memori jangka panjang, tetapi memerlukan beberapa cara yaitu (1) atensi, (2) pengulangan (rehearsal), (3) pemrosesan mendalam, (4) pengkodean (elaborasi), (5) pengkonstruksi citra, dan (6) penataan. Penelitian ini dilakukan di MTs KH Hasyim Asyari Sutojayan Pakisaji Kabupaten Malang, tanggal 26 Oktober sampai 14 Desember 2009. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam tiga siklus tindakan dengan peneliti sebagai pengajar. Analisis data menggunakan (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) menarik kesimpulan. Sedangkan validasi data menggunakan trianguasi dan member cek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teori pengolah informasi berhasil meningkatkan penguasaan kosakata siswa yang ditandai dengan meningkatnya rata-rata nilai tes tulis siswa. Pada pretes, diperoleh nilai rata-rata siswa 44,10, dan pada postes pada siklus 1, rata-rata siswa adalah 82,95. pada postes siklus 2 nilai rata-rata siswa adalah 87,6 dan pada postes siklus ketiga nilai rata-rata siswa adalah 90,86. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa teori pengolah informasi telah berhasil meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Arab siswa. Selain itu, merujuk pada penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan sehingga efektifitas teori pengolah informasi dapat lebih terlihat.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui strategi pembelajaran inkuiri bagi siswa kelas IV SDN Plumbangan 03 Kecamatan Doko Kabupaten Blitar / Nopita Rupiani

 

Pemilihan strategi sangat penting dalam pembelajaran. Selama ini guru kurang memahami penentuan strategi pembelajaran, sehingga pembelajaran masih bersifat konvensional. Hal itu terjadi pada mata pelajaran IPS yang terbukti dari rata-rata nilai Ulangan Akhir Semester 1 siswa kelas IV SDN Plumbangan 03 adalah 50. Nilai tersebut rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah: 1)Mendeskripsikan penerapan strategi inkuiri dalam pembelajaran IPS, 2)Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS, dan 3)Mendeskripsikan faktor penghambat penerapan strategi inkuiri dalam pembelajaran IPS bagi siswa kelas IV SDN Plumbangan 03 Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari tiga siklus. Instrumen dalam penelitian ini adalah: lembar observasi, tes, dan pedoman wawancara. Data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan sampai siklus III diketahui persentase peningkatan aktivitas siswa, peningkatan pembelajaran, dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN Plumbangan 03 Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Persentase aktivitas siswa mengalami peningkatan sebesar 2,78% pada siklus I, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan 16,11%, dan pada siklus III mengalalami peningkatan lagi sebesar 18,89%. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I mengalami penurunan 6,00%, kemudian pada siklus II mengalami peningkatan 25,00%, dan pada siklus III mengalami peningkatan lagi 15,62%. Hasil belajar siswa pada siklus I mengalami penurunan sebesar 7,75%, pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 12,00%, dan pada siklus III terjadi peningkatan 12,75%. Hambatan-hambatan dalam penerapan strategi inkuiri adalah penggunaan media dan penilaian yang kurang optimal. Hambatan tersebut dapat diatasi pada siklus III. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi inkuiri dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Disarankan guru dan siswa menerapkan strategi inkuiri yang inovatif dalam pembelajaran IPS sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di SD serta meningkatkan cara berpikir kritis dan kreatif pada siswa.

Upaya meningkatkan keterampilan menulis melalui media gambar seri pada siswa kelas III SDN Soko I Kabupaten Bojonegoro / Juliana

 

ABSTRAK Juliana. 2010. Upaya Meningkatkan Keterampilan Menulis Melalui Media Gambar Seri Pada siswa Kelas III Di SDN Soko I Kabupaten Bojonegoro. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan KSDP S1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Suhel Madyono,S.Pd, M.Pd, (II) Dra. Sutansi, M.Pd. Kata kunci: menulis, siswa, media gambar seri Hasil pengamatan di SDN Soko I Kabupaten Bojonegoro tentang pembelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam aspek menulis masih kurang diperhatikan dan belum maksimal, siswa terlihat tidak aktif dalam pembelajaran dan hanya mengerjakan soal dan soal. Apabila siswa diminta ke depan kelas dan menulis sesuai dengan media gambar seri, sebagian besar siswa cenderung diam dan malu. Untuk mengatasi permasalah tersebut, maka dalam pembelajaran di kelas dapat diterapkan pembelajaran dengan media gambar seri. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan keterampilan menulis melalui media gambar seri pada siswa Kelas III di SDN Soko I Kabupaten Bojonegoro dan (2) untuk mendeskripsikan media gambar seri dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas III di SDN Soko I Kabupaten Bojonegoro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK temasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, di mana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Model penelitian ini kolaboratif, karena peneliti melaksakan mengidentifikasi masalah, analisis masalah, merancang tindakan, dan merefleksi tindakan bersama guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan menulis siswa kelas III SDN Soko I Kabupaten Bojonegoro yang ditunjukkan dari peningkatan prosentase ketuntasan keterampilan menulis siswa pada setiap siklus. Pada tahap pratindakan prosentase keterampilan menulis dijadikan dasar bagi siklus I, yaitu 25% menjadi 65 % (belum tuntas). Siklus I ke siklus II mengalami peningkatan dari 65% menjadi 100% (tuntas). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan media gambar seri dalam keterampilan menulis dengan aspek mengungkapkan gagasan, mengembangkan paragraf dan penggunaan EYD dapat meningkatkan keterampilan menulis siswa kelas III SDN Soko I Kabupaten Bojonegoro. Bertolak dari hasil penelitian dalam pembelajaran menulis seyogyanya menggunakan berbagai media antara lain media gambar seri. Dengan media gambar seri ternyata kemampuan menulis siswa dapat meningkat.

Peningkatan hasil belajar melalui media gambar dalam pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Tirtobinangun II Kecamatan Patianrowo Kabupaten Nganjuk / Rumiati

 

ABSTRAK Rumiati. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Melalui Media Gambar Dalam Pembelajaran IPS Siswa Kelas IV SDN Tirtobinangun II Kecamatan Patianrowo Kabupaten Nganjuk. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan KSDP S1 PGSD, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Suwarti, S.Pd, M.Pd., (II) Dra. Suminah, M.Pd Kata kunci: hasil belajar siswa, pembelajaran IPS, media gambar Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran IPS pra tindakan nilai rata-rata siswa hanya 59, nilai ini masih di bawah Kriteria ketuntasan mengajar (KKM) pada pembelajaran IPS yaitu 65. Hal ini disebabkan karena guru dalam menyampaikan materi hanya menggunakan metode ceramah saja, sehingga siswa menjadi kurang tertarik dengan materi yang disampaikan oleh guru. Dengan bantuan media pembelajaran yaitu media gambar diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat. Tujuan dari penelitian mendeskripsikan penggunaan media gambar dalam pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar IPS di kelas IV SDN Tirtobinangun II Kab. Nganjuk Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian siswa kelas IV SDN Tirtobinangun II Kab. Nganjuk dengan jumlah 27 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, dokumentasi dan pengamatan selama pembelajaran berlangsung. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada masing-masing siklus yang telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN. Tirtobinangun II Kab. Nganjuk. Aktivitas siswa pada pra siklus yaitu 22% meningkat menjadi 48% pada siklus I dan 67% pada siklus II. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra siklus sebesar 59, meningkat menjadi 64 pada siklus I dan 68 pada siklus II. Ketuntasan kelas pada pra siklus sebesar 22%, meningkat menjadi 56% pada siklus I dan 78% pada siklus II. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran IPS dengan mengunakan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa selama pembelajaran. Hal ini tampak dari peningkatan nilai rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal seperti yang dipaparkan di atas. Adanya variasi guru dalam menyampaikan materi pembelajaran sangat diperlukan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan adanya media gambar siswa menjadi tertarik dengan pembelajaran dan aktif mengikuti pembelajaran.

Kajian dan implemantasi regresi logistik ordunal untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai Pemerintah Kabupaten Pamekasan (Studi kasus pada pegawai pemerintah daerah Pamekasan) / Ameita Tarzia Suwardi

 

ABSTRAK Suwardi, Ameita Tarzia. 2009. Kajian dan Implementasi Regresi Logistik Ordinal untuk Menentukan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai Pemerintah Kabupaten Pamekasan (Studi Kasus pada Pemerintah Daerah Pamekasan). Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Ir. Hendro Permadi, M.Si., (II) Drs. Susiswo, M.Si. Kata kunci: regresi logistik ordinal, faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah : menentukan model regresi logistik ordinal antara faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja pegawai Pemerintah Kabupatan Pamekasan periode 2008-2009, menentukan dan menginterpretasikan faktor-faktor yang signifikan terhadap kinerja pegawai Pemerintah Kabupaten Pamekasan dengan menggunakan metode Regresi Logistik Ordinal. Faktor yang diamati dalam penelitian ini adalah variabel motivasi internal , variabel motivasi eksternal , variabel kejelasan peran , variabel kepemimpinan dan variabel dukungan organisasi . Dari hasil analisis data dapat ditunjukkan model yang terbentuk dengan menggunakan regresi logistik ordinal meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai diantaranya ada tiga model logit yaitu: a. Model logit 1 dapat dituliskan sebagai berikut: b. Model logit 2 dapat dituliskan sebagai berikut: c. Model logit 3 dapat dituliskan sebagai berikut: Diantara variabel-variabel tersebut diatas, variabel motivasi internal mempunyai pengaruh terhadap kinerja sebesar 18,04%, variabel motivasi eksternal mempunyai pengaruh terhadap kinerja sebesar 23,81%, variabel kejelasan peran mempunyai pengaruh terhadap kinerja sebesar 17,95%, variabel kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap kinerja sebesar 19,33% dan variabel dukungan organisasi mempunyai pengaruh terhadap kinerja sebesar 20,87%.

Peningkatan kemampuan menulis kalimat melalui media gambar seri siswa kelas II SDN Gandusari 02 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar / Anggit Rosadi

 

ABSTRAK Rosadi, Anggit. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Kalimat Melalui Media Gambar Seri Siswa Kelas II SDN Gandusari 02 Kecamatan Gandusarl Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Sutansi, M.Pd, (II) Dra. Sutji Rahayu, M.Si. Kata Kunci: kemampuan menulis, kalimat, media gambar seri Berdasarkan studi pendahuluan ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia tentang menulis kalimat di SDN Gandusari 02 antara lain: (1) pelaksanaan pembelajaran terlalu banyak menggunakan metode ceramah mengulangi apa isi yang ada dalam buku, (2) model pembelajaran bersifat satu arah, guru yang aktif dan siswa pasif, (3) pembelajaran Bahasa Indonesia dirasakan sulit dan membosankan bagi siswa, (4) kurangnya pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah, (5) belum tercapainya tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia, (6) hasil belajar siswa . Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan penerapan media gambar seri dalam peningkatan pembelajaran menulis kalimat siswa kelas II di SDN Gandusari 02 Kabupaten Blitar, (2) mendiskripsikan hasil penerapan media gambar seri dalam pembelajaran menulis kalimat siswa kelas II di SDN Gandusari 02 Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas II SDN Gandusari Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi kegiatan siswa, tes hasil belajar siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan siswa dalam penerapan media gambar seri dan menulis kalimat dengan media gambar seri tiap-tiap siklus.Untuk kegiatan siswa pada pra tindakan 77,7%, pada siklus I 845% dan pada siklus II 89,7%. Sedangkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis pada pra tindakan persentase kemampuan siswa masih di bawah ketuntasan yang ditetapkan yaitu 74,5%. Pada siklus I kegiatan pembelajaran guru sudah menggunakan media, sehingga persentase kemampuan siswa mengalami kenaikan yaitu mencapai 79,5%. Pada siklus II ini kemampuan siswa mengalami peningkatan yang signifikan yaitu 82,75% melebihi ketuntasan yang ditetapkan 75%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pebnerapan media gambar seri dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis kalimat. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang inovatif, menarik, dan komunikatif dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas untuk mencapai hasil yang maksimal.

Implementasi K3 pada praktikum program keahlian restoran di SMK Negeri 3 kota Malang / Then Nyuk Lim

 

ABSTRAK Lim, Then Nyuk. 2010. Implementasi K3 Pada Praktikum Program Keahlian Restoran di SMK Negeri 3 Kota Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Mohammad Efendi, M. Pd., M. Kes. (II) Dra. Rina Rifqie Mariana, M.P. Kata kunci: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Praktikum Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara kuantitatif bagaimana implementasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada praktikum program keahlian restoran di SMK Negeri 3 Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah ketua jurusan program keahlian restoran, guru produktif restoran, dan siswa kelas XII program keahlian restoran. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada praktikum program keahlian restoran di SMK Negeri 3 Malang sebagai berikut: a) fasilitas K3 pada ruang praktikum restoran di SMK Negeri 3 Malang rata-rata baik yang mencakup tata tertib penggunaan ruang praktik, penerangan buatan, suhu dalam ruangan, ventilasi udara alami dan buatan, jarak penyimpanan peralatan praktikum dengan ruang praktik, kelengkapan alat-alat praktikum, ketersediaan alat praktikum, dan tata letak (layout) mesin b) pelaksanaan K3 pada saat praktikum Restoran di SMK Negeri 3 Malang rata-rata baik yang mencakup melakukan praktek dengan ijin, menggunakan pakaian praktik lengkap, penggunaan peralatan yang standar, tidak membuang sampah sembarangan, hubungan yang baik dengan sesama rekan, praktik dengan kondisi fisik yang sehat, penggunaan pakaian yang khusus saat mengajar oleh guru dan c) terdapat kendala implementasi K3 yang dihadapi sekolah, guru dan siswa yaitu; minimnya dana yang dianggarkan untuk pengadaaan dan perbaikan sarana praktikum dan K3, masih terdapat kondisi lingkungan kerja yang tidak aman, jumlah siswa tiap kelas yang tidak proposional, dan ada sebagian siswa yang tidak mematuhi tata tertib saat praktikum. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa implementasi K3 pada saat praktikum Program Keahlian Restoran di SMK Negeri 3 Kota Malang tergolong kategori baik, terlihat dari implementasi K3 sudah mencakup sebagian besar aspek dari sub variabel yang meliputi fasilitas K3, pelaksanaan K3, namun masih terdapat kendala. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah aspek sarana dan prasarana praktikum, yaitu perlu adanya penambahan dan perbaikan khususnya sarana yang berhubungan dengan K3. Pengawasan yang ketat juga perlu ditingkatkan oleh guru selama kegiatan praktikum, mengingat siswa masih butuh pengawasan dan bimbingan secara kontinyu.

Implementasi manajemen berbasis sekolah studi kasus di SDN Mergosono I Kota Malang / M. Abdul Gafur Riwayanto

 

ABSTRAK Riwayanto, M. Abdul Gafur. 2010. Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Studi Kasus di SDN Mergosono I Kota Malang. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Musa Sukardi, M.Pd. (II) Dra. Nur Hanifah, M.Pd. Kata kunci: Manajemen Berbasis Sekolah, Program Pengembangan Sekolah, Pembelajaran, Partisipasi Masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan yang masih tergantung pada keputusan pusat merupakan salah satu faktor kurang berkembangnya pendidikan di Indonesia. Kebijakan yang tergantung pada keputusan pusat ini, memungkinkan kebijakan yang diberlakukan tidak sesuai dengan keadaan, potensi dan sumber daya sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SD Negeri Mergosono I, hambatan yang dialami, penyelesaian hambatannya dan dampak dari Implementasi MBS tersebut. Lokasi penelitian ini adalah SDN Mergosono I Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan kenyataan, maka peneliti menggunakan instrumen penelitian berupa lembar observasi, pedoman wawancara, penggunaan angket, dan diperkuat dengan dokumentasi. Analisis data dilaksanakan dengan kegiatan mereduksi data, melakukan penyajian data, dan mengambil kesimpulan. Dikarenakan penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka kriteria kepercayaan penelitian yang digunakan, yaitu Kredibilitas, Dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa secara umum SDN Mergosono I telah mengimplementasikan MBS. Pelaksanaan program pengembangan sekolah berpedoman pada rencana pengembangan sekolah dan rencana strategi sekolah. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, beberapa guru telah melaksanakan pembelajaran yang inovatif dan variatif. Sedangkan pada partisipasi masyarakat, peranannya masih pada biaya pendidikan, sedangkan pemikiran dan sumbangan keahlian masih belum terlihat. Hambatan dalam menerapkan MBS adalah peran serta masyarakat masih terbatas pada dana, dan sekolah juga hanya memanfaatkan dana BOS dalam pelaksanaan program. Pada pembelajaran, kurangnya minat baca siswa. Untuk mengatasi hambatan implementasi MBS di atas, SDN Mergosono I melakukan sosialisasi dan melakukan koordinasi, misalnya dalam pelaksanaan program pengembangan sekolah, kepala sekolah dan para guru mengadakan pertemuan dengan masyarakat khususnya wali murid melalui paguyuban kelas, sedangkan dalam menyelesaikan problematika yang terkait dengan pembelajaran di kelas, para guru mengadakan pertemuan KKG. Dampak implementasi MBS yang bisa dilihat secara langsung adalah penataan lingkungan sekolah, sarana dan prasarana sekolah, hasil kerja siswa yang dipajang disetiap kelas, serta prestasi siswa dalam berbagai bidang kejuaraan berupa piala yang menjadi dokumen berharga sekolah. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tersebut, disarankan: 1) supaya masyarakat bisa mendukung sekolah dengan optimal, SDN Mergosono I Kota Malang hendaknya lebih terbuka kepada masyarakat tentang program yang menjadi target sekolah dengan memajang perencanaan program dan membuat laporan dari hasil pelaksanaan program, 2) agar kepala sekolah dan para guru bisa lebih memahami konsep MBS dan pelaksanaannya sesuai dengan teori yang ada, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah (KSDP) diharapkan bisa mengadakan kegiatan berupa pelatihan atau seminar mengenai implementasi MBS yang sesuai dengan teori MBS dan kegunaannya bagi sekolah, 3) penelitian ini mendeskripsikan (memberikan gambaran) mengenai implementasi MBS di SDN Mergosono I Kota Malang, temuan penelitian menunjukkan bahwa program pengembangan sekolah sudah dilaksanakan dengan mengembangkan potensi yang ada, namun partisipasi masyarakat dalam penelitian ini masih terbatas pada dukungan finansial saja. Berdasarkan kenyataan-kenyataan yang telah diuraikan di atas, maka pada penelitian lanjut diharapkan adanya perbaikan dan inovasi yang bisa mengatasi permasalahan yang terjadi.

Penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Curahdukuh II / Supardi

 

ABSTRAK Supardi. 2010. Penerapan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Pembelajaran IPA Siswa Kelas V SDN Curadukuh II. Skripsi Program Studi S1 PGSD, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri malang. Pembimbing: (I) Dra. Hj. Harti Kartini M.Pd (II) DRs. Heru Agus Tri Widjaya, M.Pd Kata kunci: pendekatan kontekstual, pembelajaran IPA. Berdasarkan observasi terhadap pembelajaran IPA dan hasil wawancara dengan guru kelas serta beberapa siswa dapat diketahui selama ini pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Curahdukuh II masih berpusat pada guru, sehingga siswa cenderung pasif. Akibatnya hasil belajar yang dicapai tidak sesuai dengan harapan. Untuk itu perlu dilakukan PTK dengan menerapkan pembelajaran kontekstual. Tujuan dalam penelitian ini adalah 1) Mendeskripsikan kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan kontekstual pada pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Curahdukuh II , 2) Mendeskripsikan pendekatan kontekstual untuk meningktkan aktivitas belajar IPA kelas V, 3) Mendeskripsikan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas V, 4) Mendeskripsikan tenggapan guru terhadap penerapan pendekatan kontekstual, 5) Mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap penerapan pendekatan kontekstual. Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart dengan dua siklus ( siklus I dan siklus II ). Subjek penelitian tindakan adalah siswa kelas V yang yang berjumlah 30 siswa dan seorang guru kelas sebagai mitra peneliti. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, wawancara, catatan lapangan dan dolumentasi. Analisis data yang dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan : 1) Kemampuan guru dalam pemebelajaran meningkat yaitu pada siklus I ketegori B, pada siklus 2 termasuk kategori A. 2) Aktivitas belajar siswa meningkat dari sepuluh aktivitas mengalami peningkatan. 3) Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan, nilai rata-rata kelas naik dari pra tindakan sebesar 49,7 menjadi 61,3 pada siklus 1 dan 73,3 pada siklus 2, 4) Tanggapan guru kelas V terhadap penerapan pendekatan kontekstual mendapat respon positif, karena memudahkan siswa belajar. 5) Tanggapan siswa terhadap penerapan kontekstual pada pembelajaran IPA, siswa sangat senang dan menginginkan setiap pembelajaran IPA menerapkan pendekatan kontekstual. Kesimpulan dari penelitian ini adalah 1) Pendekatan kontekastual dapat meningkatkan kemampuan guru, 2) Aktivitas belajar IPA siswa kelas V, 3) Hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Curahdukuh II, 4) Mendapat respon positif dari guru kelas V, 5) Mendapat tanggapan yang menyenangkan dari siswa, sehingga siswa antusias dalam pembelajaran IPA. Disarankan kepada guru hendaknya menerapkan pendekatan kontekstual khususnya dalam pemebelajaran IPA, karena pendekatan kontekstual memberikan kebebasan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga siswa aktif dan antusias dalam pembelajaran. Bagi peneliti lain, dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam penelitian selanjutnya.

Perbedaan penggunaan media LCD terhadap motivasi belajar siswa kelas XI gambar pada mata pelajaran teknik gambar bangunan dengan menggunakan perangkat lunak auto cad di SMK Negeri 6 Malang / Cahyo Tri Anggoro

 

ABSTRAK Anggoro, Cahyo. 2009. Perbedaan Penggunaan Media LCD Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas XI GB pada Mata Pelajaran Teknik Gambar Bangunan Dengan Menggunakan Perangkat Lunak Auto CAD di SMK Negeri 6 Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Program Studi PTB, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Antelas Eka Winahyo, M. Pd (II) Imam Alfianto, S.T., M.T. Kata kunci: media LCD, motivasi belajar Seorang guru mempunyai peran yang penting dalam proses pembelajaran. Guru berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berkaitan dengan perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Terkait dengan perencanaan, bahwa seorang guru harus memilki rancangan srategi untuk mempermudah siswa dalam memahami materi yang diajarkan walaupun kemampuan diantara mereka tidak sama. Dengan kata lain pembelajaran yang dirancang mampu memenuhi kompetensi materi yang telah ditetapkan sebelumnya. Salah satu metode yang dimaksud adalah penggunaan media pembelajaran untuk proses belajar mengajar. Media yang dimaksud disini adalah alat,yaitu suatu perangkat keras (hardware) yang dapat mempermudah guru dalam menjelaskan materi pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penggunaan media LCD terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Teknik Gambar Bangunan dengan menggunakan perangkat lunak AutoCAD di kelas XI GB semester gasal tahun ajaran 2009/2010. Pada penelitian ini, variabel bebasnya adalah media LCD (X) dan variabel terikatnya adalah motivasi belajar(Y) dan diprediksikan bahwa perbedaan penggunaan variabel bebas akan sangat berpengaruh terhadap variabel terikat. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 54 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan population sampling, yaitu teknik pengambilan data yang dilakukan dengan mengambil semua sampel yang ada di dalam populasi karena jumlah sampel dari subjek penelitian ini tidak mencapai 100 orang. Dari hasil analisis data dapat diketahui bahwa: (1) hasil deskripsi data untuk variabel media LCD baik untuk kelas yang menggunakan media LCD maupun yang tidak menggunakan, rata-rata siswa memberikan jawaban sangat tertarik (2) hasil deskripsi data untuk variabel motivasi belajar untuk kelas yang menggunakan media LCD maupun tidak, rata-rata siswa memberikan jawaban sangat tinggi(3) dari hasil uji beda di dapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam motivasi belajar antara kelas control dengan kelas uji pada mata pelajaran Teknik Gambar Bangunan dengan menggunakan perangkat lunak AutoCAD di SMK Negeri 6 Malang.

Hubungan motivasi belajar dan lingkungan keluarga terhadap hasil belajar PKn di SMP Negeri 1 Singosari / Yustinus Hendry Adi

 

Adi, Yustinus Hendry. 2013. Hubungan Motivasi Belajar Dan Lingkungan keluarga terhadap Hasil Belajar PKN DI SMP Negeri 1 Singosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Jurusan Hukum Dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si. (II) Siti Awaliyah, S.Pd, M.hum. Kata kunci: motivasi belajar, lingkungan keluarga, hasil belajar Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena ada motivasi. Adanya motivasi yang kuat dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dan adanya lingkungan keluarga yang baik akan berdampak pada hasil belajar. Motivasi siswa dan lingkungan keluarga akan sangat menentukan tingkat pencapaian hasil belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1)motivasi belajar pada siswa siswi , 2) lingkungan keluarga pada siswa siswi, 3) ada tidaknya hubungan antara motivasi elajar dan lingkungan keluarga terhadap hasil belajar PKN di SMP Negeri 1 Singosari Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Desain deskriptif untuk mendeskripsikan variabel motivasi belajar, lingkungan keluarga dan hasil belajar. Sedangkan desain korelasional untuk mengetahui adanya korelasi antara motivasi belajar, dan lingkungan keluarga dengan hasil belajar. Populasi penelitian ini adalah siswa kelasVIII sebanyak 262 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling populasi sebanyak 72 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket motivasi belajar, dan lingkungan keluarga. Sedangkan data hasil belajar diambil dari nilai ujian tengah semester. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) motivasi belajar siswa-siswi kelas VIII cukup tinggi, 2) lingkungan keluarga siswa-siswi kelas VIII SMPN 1 Singosari tergolong sangat sejahtera, 3) terdapat hubungan yang positif pada variabel motivasi belajar dan lingkungan keluarga terhadap hasil belajar. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka diajukan saran-saran yaitu :1) kepada Kepala Sekolah agar lebih meningkatkan pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan siswa guna menunjang proses belajar siswa sehingga siswa dapat mencapai hasil yang maksimal dalam belajar dan selalu memotivasi siswa agar memiliki dan meningkatkan minat belajar siswa sehingga hasil belajar yang optimal dapat dicapai.2) disarankan kepada guru agar lebih meningkatkan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa sehingga siswa menjadi lebih tertarik pada pelajaran, selain itu guru dapat lebih meningkatkan pemberian motivasi kepada siswa sehingga siswa lebih giat untuk belajar, dan juga guru dapat lebih meningkatkan media pembelajaran agar siswa menjadi tertarik dan bersemangat dalam belajar , 3) untuk siswa disarankan agar dapat membiasakan diri untuk giat belajar baik dirumah maupun berdiskusi dengan teman, orang tua dan pihak lain yang bisa mendukung proses belajar siswa sehingga wawasan siswa menjadi semakin luas dan diharapkan hasil belajar siswa akan tercapai secara optimal. Selain itu, disarankan agar siswa dapat menyadari dan menumbuhkan motivasi dalam diri masing-masing untuk belajar dengan rajin, lebih fokus terhadap mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, 4) kepada para peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema, disarankan melakukan penelitian dengan menambahkan variabel bebas lainnya.

Penggunaan media pembelajaran "Pohon pintar" dengan teknik permainan untuk meningkatkan keaktifan dan penguasaan konsep FPB dan KPK pada siswa kelas IVA SDN Ngerong Kab. Pasuruan / Evin Dwi Angelina

 

ABSTRAK Angelina, Evin Dwi. 2010. Penggunaan Media Pembelajaran “Pohon Pintar” Dengan Teknik Permainan untuk Meningkatkan Keaktifan dan Penguasaan Konsep FPB dan KPK pada Siswa Kelas IV SDN Ngerong Kab.Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra-sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd, M.Pd. (II) Dra. Hj. Endang Setyo Winarni, M.Pd Kata kunci: Pohon pintar, teknik permainan, keaktifan, penguasaan konsep, FPB dan KPK Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas IVA selama ini pembelajaran matematika di SDN Ngerong menggunakan metode konvensional. Pembelajaran masih berpusat pada guru (teacher centered) dan belum berpusat pada siswa (student centered). Selain itu tidak adanya media pembelajaran yang dapat menarik minat belajar siswa. Sehingga dalam proses pembelajaran siswa terlihat kurang begitu aktif dan tidak banyak terlibat dalam kegiatan. Selain itu kemampuan siswa dalam pemahaman dan penguasaan konsep FPB dan KPK masih sangat kurang. Dari kondisi tersebut dapat diatasi dengan media pembelajaran pohon pintar dengan teknik permainan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) penggunaan media pembelajaran pohon pintar dalam meningkatkan keaktifan dan penguasaan konsep FPB dan KPK siswa kelas IVA SDN Ngerong Kab. Pasuruan, (2) keaktifan belajar siswa kelas IVA SDN Ngerong Kab. Pasuruan setelah menggunakan media pembelajaran pohon pintar, (3) penguasaan konsep FPB dan KPK siswa kelas IVA SDN Ngerong Kab. Pasuruan setelah menggunakan media pembelajaran pohon pintar. Standart Kompetensi yang ingin dicapai yaitu memahami dan menggunakan faktor dan kelipatan dalam pemecahan masalah, dengan kompetensi dasar yaitu Menentukan FPB dan KPK. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) atau PTK. Pelaksanaan tindakan dilakukan pada bulan Oktober 2009-Januari 2010 dengan 2 siklus, masing-masing siklus dilakukan sebanyak 6 kali pertemuan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi aktivitas siswa, catatan lapangan, angket wawancara guru, angket wawancara siswa, dan soal tes/evaluasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan penguasaan konsep FPB dan KPK yang telah dipelajari. Dari hasil analisis data diketahui bahwa pembelajaran matematika menggunakan media pembelajaran pohon pintar dengan teknik permainan dapat meningkatkan semangat serta motivasi siswa dalam belajar. Selain itu dapat meningkatkan kemampuan aktivitas siswa dengan rata-rata peningkatan semua aspek pada siklus 2 sebesar 24,1%. Untuk tingkat penguasaan konsep siswa pada siklus I materi KPK dan FPB ketuntasan yang didapatkan sebesar 56,5% dan 25% mengalami peningkatan pada siklus II dengan nilai ketuntasan sebesar 87,5% dan 83,3%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan hendaknya guru dapat menggunakan media pembelajaran serta metode atau teknik belajar yang dapat meningkatkan semangat dan motivasi siswa dalam belajar serta kemampuan siswa dalam bekerja sama. Selain itu dengan digunakannya media pembelajaran yang tepat diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami dan menguasai materi yang diajarkan.

Penerapan mind mapping untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas IV SDN Binangun 03 / Endang Setyaningsih

 

ABSTRAK Setyaningsih, Endang. 2010. Penerapan Mind Mapping Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Pembelajaran IPS Kelas IV SDN Binangun 03. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Suminah, M.Pd, (II) Drs. H. Hadi Mustofa, M.Pd. Kata kunci: Mind Mapping, hasil belajar, pembelajaran IPS, sekolah dasar Peneliti mengambil judul tersebut berdasarkan latar belakang beberapa hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di SDN Binangun 03 antara lain: pelaksanaan pembelajaran bersifat konvensional dan kurang menarik minat siswa, siswa bosan menghafalkan konsep pembelajaran dan hasil belajar siswa pada ulangan tengah semester I belum mencapai SKMB. Tujuan dari penelitian ini adalah mendiskripsikan penerapan metode Mind Mapping dan ingin mengetahui apakah Mind Mapping pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Binangun 03. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah 21 siswa kelas IV SDN Binangun 03 .Instrumen yang digunakan meliputi observasi kegiatan siswa, penilaian Mind Map kualitatif dan kuantitatif, tes hasil belajar, dan observasi kemampuan mengajar guru.Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Penelitian dilaksanakan dengan dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa terdapat peningkatan proses dan hasil belajar siswa sebagai berikut: keaktifan bertanya dan kerjasama siswa meningkat secara signifikan mencapai 72% dan 90%. penguasaan konsep dan kemampuan membuat hubungan antar konsep meningkat mencapai 72% dan 57%. Hasil belajar siswa meningkat pada akhir siklus II mencapai 77,33% dengan prosentase keberhasilan siswa mencapai 95%. kemampuan mengajar guru meningkat mencapai 95% dari 80% pada tahap pratindakan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran IPS dengan menggunakan metode Mind Mapping dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa SDN Binagun 03. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar guru memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang menarik dan komunikatif dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di dalam kelas untuk mencapai proses dan hasil belajar yang maksimal.

Penerapan konsep pemasaran berbasis kepuasan pelanggan pada dealer motor merk Honda "CV. Anugerah Sejati Probolinggo" / Bian Dhona Fransisca

 

Mencermati kondisi persaingan yang demikian ini, implementasi konsep pemasaran berbasis kepuasan pelanggan dengan berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction) merupakan pilihan strategis yang dapat dijadikan solusi dalam praktek penjualan suatu produk termasuk produk kendaraan roda 2 (dua). Pemasaran dengan perspektif pelanggan memaksa perusahaan memfokuskan perhatian pada pencapaian kepuasan pelanggan yang tinggi, karena pelanggan yang merasa puas pun mudah untuk berubah pikiran dan berpindah dari suatu merk ke merk lain atau dari suatu dealer ke dealer lain dengan merk sama yang memberikan penawaran yang lebih baik. Artinya, dalam dunia bisnis usaha intensitas pelanggan untuk beralih (customer switching intention) sangatlah tinggi. Terlebih saat ini dengan semakin banyaknya merk, varian produk dan dealer, maka pencapaian kepuasan pelanggan hanya dimungkinkan apabila suatu perusahaan (dealer) mampu menyampaikan value yang relativf berbeda dibandingkan pesaing melalui implementasi aktivitas pemasaran berbasis pelanggan dan kualitas layanan sangat membantu perusahaan (dealer) dalam jangka panjang, khususnya untuk mempertahankan pelanggan. Penulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep pemasaran berbasis kepuasan pelanggan yang digunakan di Dealer Motor Merk Honda "CV. Anugerah Sejati", terdapat tiga masalah yang dikaji yaitu: (1) Langkah-langkah apa yang telah dilakukan oleh Dealer Motor Honda "CV. Anugerah Sejati" dalam bidang Sumber Daya Manusia sehingga dapat memberikan pelayanan dengan orientasi kepuasan pelanggan (2) Strategi pelayanan apa yang telah dilakukan oleh Dealer Motor Merk Honda "CV. Anugerah Sejati" dalam menerapkan konsep pemasaran, khususnya yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan (3) Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat Dealer Motor Merk Honda "CV. Anugerah Sejati" dalam memberikan pelayanan dengan orientasi kepuasan pelanggan. Langkah-langkah dealer dalam memberdayakan sumber daya manusia sehingga dapat memberikan pelayanan dengan orientasi kepuasan pelanggan adalah terdapat (3) stakeholder yang harus terpuaskan dalam suatu organisasi perusahaan mereka adalah pemilik (share holder), karyawan dan pelanggan. Strategi pelayanan yang telah dilakukan adalah oleh dealer yang berkaitan dengan kepuasan pelanggan meliputi: (1) Strategi pemasaran meliputi segmenting, targeting, positioning. (2) Taktik terdiri atas differensiasi, marketing mix, selling. (3) Value terdiri atas brand, service, dan process. Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam memberikan pelayanan berorientasi kepuasan pelanggan yang diantaranya adalah lokasi usaha "CV. Anugerah Sejati" sangat strategis, sehingga saluran distribusi dari dealer sampai ke tujuan konsumen menjadi mudah dan cepat, di tengah gencarnya persaingan perdagangan motor, iklan serta even-even yang dilakukan oleh "CV. Anugerah Sejati" cukup gencar pula, sehingga baik merk honda maupun tempat "CV. Anugerah Sejati' melekat di benak konsumen/pelanggan. Kesimpulan yang dapat diambil penulis adalah pada penerapan konsep pemasaran berbasis kepuasan pelanggan, unsur utama dan yang paling dominan adalah kualitas sumber daya manusia (karyawan), karena berhubungan langsung dengan pelanggan adalah karyawan, sedangkan pemilik/manajemen "CV. Anugerah Sejati" sejauh ini telah berusaha maksimal untuk mendayagunakan (empowering) terhadap sumber daya manusia. Manajemen "CV. Anugerah Sejati" telah menerapkan konsep-konsep pemasaran serta telah berhasil menselaraskan dengan strategi pemasaran, taktik pemasaran, serta value yang telah dijalankan oleh "CV. Anugerah Sejati". Kemudian hubungan antara "CV. Anugerah Sejati" dengan lembaga pembiayaan sudah cukup baik, sehingga 80% pembeli yang tidak dapat membeli secara tunai dapat dibiayai oleh lembaya pembiayaan seperti: PT. Adira Finance, PT. SUMIT, PT.BAF. Saran yang dikemukakan penulis antara lain: agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan secara maksimal, maka "CV. Anugerah Sejati" harus dapat menjalin hubungan yang lebih baik lagi dengan PT. AHM, Main Dealer PT. Mitra Pinasthika Mustika, dan lembaga pembiayaan. Seluruh jajaran karyawan mulai dari manajer sampai posisi jabatan terendah agar lebih maksimal dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan, sehingga terjadi peningkatan hubungan yaitu tidak hanya sebatas kepuasan pelanggan tetapi lebih jauh lagi menjadi relasi, karena era saat ini marketing tidak hanya selesai pada customer satisfaction tapi sudah ke relationalaship marketing. Karena jika sudah menjadi relasi, pelanggan aka nada ikatan emosional dengan perusahaan dan terjadi ketergantungan kepada perusahaan.

Pengembangan inventori pribadi siswa SMP dalam layanan bimbingan dan konseling diadaptasi dengan nilai-nilai budaya Bima / Jafar

 

ABSTRAK Jafar, 2010. Pengembangan Inventori Pribadi Siswa SMP dalam layanan Bimbingan dan Konseling diadaptasi dengan Nilai-nilai Budaya Bima. Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Sutoyo Imam Utoyo, M. Pd. (II) Dr. Triyono, M. Pd. Kata-kata kunci: Inventori Pribadi Siswa, Nilai-nilai Budaya Bima Siswa SMP sedang berkembang ke arah kematangan. Untuk mencapai kematangan tersebut siswa memerlukan bimbingan. Bimbingan diperlukan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman dan wawasan tentang diri (self) dan lingkungan. Perkembangan siswa tidak terlepas dari pengaruh budaya dan lingkungan siswa berdomisili; baik itu fisik, psikis maupun sosial. Inventori pribadi siswa dipilih sebagai variabel yang akan dikaji dalam penelitian ini, mengingat bahwa pribadi mempengaruhi arah aktivitas perilaku individu (diri seseorang). James F. 1990, menggambarkan diri (self) sebagai keseluruhan dari apa yang telah ada pada diri seseorang; tubuh, prilaku, dan perasaan. Ada lima aspek dari diri seseorang; Pertama fisik-diri; semua aktifitas biologis berlangsung di dalamnya. Kedua diri-sebagai-proses. Ketiga diri-sosial. Keempat konsep-diri (self consept). Kelima, cita-diri (James F. 1990). Nilai budaya Bima diungkap dengan kata “Maja Labo Dahu”. “Maja Labo Dahu”, merupakan sistem nilai budaya Bima yang bersifat abstrak, artinya merupakan pandangan hidup yang dijadikan pedoman dalam berfikir, bertindak dan berkomunikasi dalam masyarakat Bima. Menurut M. Hillir (2001), bagi orang Bima “Maja Labo Dahu” merupakan norma adat yang harus dipegang teguh sebagai “ Fu’u mori ro woko” (tiang atau pedoman hidup). Maja Labo Dahu adalah sistem nilai yang sarat akan iman dan taqwa, kebajikan, martabat, dan harga diri yang selalu menjadi rujukan dalam bertindak. Selanjutnya M. Hillir, (2007) mengemukakan pada masa sekarang banyak generasi muda di Bima yang tidak kenal dengan nilai budayanya sendiri; contohnya pemudi tidak bisa membedakan berpakaian adat sarimpu mpida dan sarimpu colo, yang dipakai oleh para gadis dan ibu-ibu bila keluar rumah. Bila hal ini dibiarkan terus berlanjut, maka cepat atau lambat generasi muda Mbojo (Bima) akan kehilangan jati dirinya sebagai Dou Mbojo (orang Bima). James F. (1990) menggambarkan diri (self) sebagai keseluruhan dari apa yang telah ada pada diri seseorang; tubuh, prilaku, perasaan. Ada lima aspek dari diri seseorang; Pertama fisik-diri; semua aktifitas biologis berlangsung didalamnya. Kedua diri-sebagai-proses. Ketiga diri-sosial. Keempat konsep-diri (self consept). Kelima, cita-diri. (James F. 1990). Kelima aspek diri (self) tersebut sebagai dasar pengembangan inventori selanjutnya disesuaikan dengan perkembangan/keadaan siswa SMP yang diadaptasi dengan nilai-nilai budaya Bima. Pengembangan Inventori Pribadi Siswa yang diadaptasi dengan Nilai Budaya Bima (IP NiBBi) melalui enam langkah: (1) menentukan dan mendefinisikan bidang yang dikembangkan serta populasi sasarannya (2) mengidentifikasi sub-sub bidang yang dikembangkan (3) mengoperasio-nalisasikan substansi esensial inventori dan membuat kisi-kisi (4) membuat deskripsi item berdasarkan indikator dan deskriptor (5) penilaian dan penyem-purnaan item mencakup dua tahap kegiatan; pertama uji-ahli, dan uji kelompok kecil, kedua uji lapangan (6) menuliskan pernyataan butir-butir inventori yang telah disempurnakan berdasarkan uji lapangan, sebagai produk akhir pengembangan inventori pribadi siswa dalam layanan bimbingan dan konseling yang diadaptasi dengan nilai-nilai budaya Bima (IP NiBBi), serta membuat manual pengadministrasiannya. Inventori IP NiBBi terdiri dari 70 item pernyataan, baik positif maupun negatif. Hasil perhitungan menggunakan Korelasi Product Moment menunjukkan dari 70 item pernyataan dinyatakan valid 67 item dengan koefisien korelasi berkisar antara 0,341-0,686. Sedangkan 3 item dinyatakan tidak valid yaitu nomor 57 dengan koefisien korelasi 0,283, item nomor 58 dengan koefisien korelasi 0,291, dan nomor 65 dengan koefisien korelasi 0,274. Uji reliabilitas menggunakan Cronbach Alpha diperoleh koefisien 0,968. Hal ini menunjukkan inventori IP NiBBi memiliki reliabilitas yang tinggi. Hasil uji analisis faktor eksploratory dengan menggunakan metode Principal Component Analysis diperoleh inventori pribadi siswa SMP yang diadaptasi dengan nilai-nilai budaya Bima menerangkan 87,7% dari varian yang ada,sementara 12,3% diterangkan oleh faktor lain. Hasil penelitian ini menggunakan norma persentil dengan pengklasifikasian tingkat IP NiBBi yaitu; Tinggi sekali, tinggi, sedang, rendah dan rendah sekali. Penelitian ini berlaku untuk Daerah Kabupaten Bima dengan menggunakan norma lokal yaitu SMP di Kabupaten Bima. Hasil penelitian memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi, sehingga bisa digunakan oleh konselor di Kabupaten Bima sebagai salah satu alat pengumpul data. Inventori tersebut sangat membantu konselor dalam memberikan layanan bimbingan pribadi sosial yang tepat terhadap siswa. Apabila penelitian semacam ini ingin dilaksanakan, diharapkan mengambil subyek pada jenjang sekolah SMA/SMK/MA ataupun di SDN di Bima.

Peningkatan pembelajaran matematika dalam menentukan FPB melalui pendekatan pakem di kelas IV SDN Sananwetan 3 Kota Blitar / Ricky Ulanda Kostriono

 

ABSTRAK Ulanda, Ricky. 2010. Peningkatan Pembelajaran Matematika dalam Menentukan FPB melalui Pendekatan PAKEM di Kelas IV SDN Sananwetan 3 Kota Blitar. Skripsi Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Program studi Sarjana Kependidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. M. Zainudin, M. Pd, (II) Drs. Imam Hanafi, M. M Kata Kunci : Peningkatan hasil belajar, Menentukan FPB, Pendekatan PAKEM. Hasil pengamatan di SDN Sananwetan 3 tentang pembelajaran matematika masih kurang diperhatikan dan belum maksimal. Guru secara aktif memberikan informasi kepada siswa sedangkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran tidak nampak. Metode yang digunakan guru adalah ceramah dan penugasan (memberikan soal-soal) sehingga siswa merasa bosan dan memilih untuk melakukan kegiatan lain, misalnya ramai, bermain sendiri, sering ijin, makan dan minum di kelas, dan bermalas-malasan. Penyampaian informasi yang diberikan kepada siswa secara abstrak. Hal ini menyebabkan rendahnya pemahaman siswa untuk menguasai pembelajaran matematika materi menentukan FPB. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan dan mengkaji pembelajaran matematika dalam menentukan FPB di kelas IV SDN Sananwetan 3 Kota Blitar, (2) Untuk mendeskripsikan bahwa pendekatan PAKEM dapat meningkatkan hasil pembelajaran matematika siswa kelas IV SDN Sananwetan 3. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK temasuk penelitian kualitatif, meskipun data yang di kumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif, dimana uraiannya bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata. Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang telah dilaksanakan guru. Subjek penelitian ini adalah kelas IV SDN Sananwetan 3 dengan jumlah siswa 28 anak. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi: (1) lembar observasi keterlaksanaan PAKEM dalam pembelajaran, (2) lembar observasi proses aktivitas siswa, (3) tes formatif. Penerapan pendekatan PAKEM ini digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Penilaian aktivitas siswa dari siklus 1 sebesar 6% dan siklus 2 sebesar 89%, hal ini menunjukkkan peningkatan kualitas aktivitas belajar sebesar 43%. Ketuntasan belajar pada siklus 2 juga mengalami peningkatan dari 57% menjadi 89%, hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 32%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa melalui pendekatan PAKEM dapat meningkatkan pembelajaran matematika dalam menentukan FPB siswa kelas IV SDN Sananwetan 3. Saran guru seharusnya menyajikan kegiatan belajar yang bervariasi, menarik, membuat siswa lebih aktif serta kreatif dalam belajar dan bekerja. Selain itu dalam melaksanakan penilaian hendaknya tidak terpacu pada hasil tes tulis saja tetapi juga menerapkan penilaian proses (aktivitas siswa).

Peningkatan hasil belajar kelipatan persekutuan terkecil (KPK) dan faktor persekutuan terbesar (FPB) melalui pendekatan kooperatif model teams games tournaments (TGT) siswa kelas IV SDN I Tenggong Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung / Yeni Suryaningsih

 

ABSTRAK Suryaningsih, Yeni. 2010. Peningkatan Hasil Belajar KPK dan FPB Melalui Pendekatan Kooperatif Model TGT Siswa Kelas IV SDN I Tenggong Kecamatan Rejotangan Tulungagung . Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan PrasekolahProgram studi Sarjana Kependidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Imam Hanafi, M.M. (II) Dr. H. M. Zainuddin, M.Pd. Kata Kunci: hasil belajar, KPK dan FPB, TGT, Proses pembelajaran matematika di SDN I Tenggong yang selama ini digunakan oleh guru adalah dengan menggunakan cara konvensional yaitu ceramah, guru secara aktif memberikan informasi kepada siswa sedangkan partisipasi siswa selama proses pembelajaran tampak pasif. Kegiatan yang dilakukan oleh siswa hanya duduk, dengar, dan mencatat tugas. Penyampaian informasi yang diberikan kepada siswa secara abstrak. Hal ini menyebabkan rendahnya pemahaman siswa untuk mengusai konsep KPK dan FPB. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk (1) mendiskripsikan penerapan pendekatan kooperatif model TGT dalam pembelajaran KPK dan FPB siswa kelas IV SDN Tenggong 01 Kabupaten Tulungagung, (2) mendiskripsikan peningkatan hasil belajar KPK dan FPB melalui pendekatan kooperatif model TGT siswa kelas IV SDN I Tenggong Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN I Tenggong Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung dengan jumlah siswa sebanyak 9 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi: (1) Tes, (2) observasi, dan (3) dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Penerapan pendekatan kooperatif model TGT dalam pembelajaran KPK dan FPB diimplementasikan dengan lima tahap yaitu tahap persiapan, penyampaian materi, belajar tim, turnamen, dan rekognisi tim. Penerapan pendekatan kooperatif model TGT ini digunakan untuk meningkatkan penilaian proses siswa dan hasil belajar. Hal ini dapat diketahui dari peningkatan penilaian proses selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan peningkatan hasil belajar siswa. Penilaian proses dari siklus I sebanyak 56 % dan siklus II sebanyak 100 %, hal ini menunjukkan peningkatan kualitas proses sebesar 44 %. Ketuntasan belajar pada siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan dari 67 % menjadi 89 %, hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 22 %. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah dalam penerapan pendekatan kooperatif model TGT hendaknya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tim agar siswa mudah memahami materi dan selalu termotivasi belajar dengan adanya penghargaan dari guru atas hasil belajar yang diraih.

Pengembangan perangkat pembelajaran kimia pada materi bahan kimia di sekitar kita dan narkoba untuk kelas VIII SMP-BI dengan menggunakan strategi react / Tyan Dini Wahyunita

 

ABSTRAK Wahyunita, Tyan Dini. 2010. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kimia Pada Materi Bahan Kimia di Sekitar Kita dan Narkoba Untuk Kelas VIII SMP-BI Dengan Menggunakan Strategi REACT. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Prayitno, M.Pd., (II) Dra. Sri Rahayu, M.Ed. Kata kunci: perangkat pembelajaran, bahan kimia di sekitar kita dan narkoba, strategi REACT. Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) tingkat SMP mulai dirintis tahun 2007. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, pedoman penyelenggaraan SBI mengacu pada pola atau sistem pendidikan dari negara – negara maju. Dengan demikian paradigma pembelajaran , pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang dianut dan diterapkan harus bersifat lebih modern. Untuk mendukung terlaksananya beberapa hal tersebut diperlukan adanya pengembangan perangkat pembelajaran yang dapat mengakomodasi komponen - komponen pembelajaran di SBI. Akan tetapi, faktanya hal tersebut belum banyak dilakukan, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran untuk SBI khususnya SMP dengan menggunakan strategi inovatif yaitu REACT. Strategi REACT adalah strategi yang dalam aplikasinya menerapkan lima tahap yang merupakan akronim dari REACT, yaitu: relating (mengaitkan), experiencing (mengalami), applying (menerapkan), cooperating (bekerja sama), dan transferring (memindahkan). Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terbatas pada materi pokok Bahan Kimia Di Sekitar Kita dan Narkoba. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas dua bagian utama. Bagian pertama merupakan Panduan Guru (Teacher’s Guide) yang terdiri atas Silabus dan Sistem Penilaian, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Instrumen penilaian, serta Buku Guru (Teacher’s Book). Bagian kedua adalah Buku Siswa (Student’s Book) yang berisi uraian materi dan lembar kegiatan siswa sebagai panduan diskusi atau kegiatan laboratorium. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah survei kondisi lapangan, kemudian dilakukan pengembangan perangkat pembelajaran. Langkah selanjutnya dilakukan validasi sedangkan pengembangan produknya berdasarkan model pengembangan konseptual yang direkomendasikan oleh Dick dan Carey. Desain validasi penelitian yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah validasi formatif yang pelaksanaannya dievaluasi oleh validator. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis perhitungan persentase skor item kuesioner. Berdasarkan hasil validasi dari ke empat validator diperoleh kesimpulan bahwa skor rata-rata yang diperoleh untuk perangkat pembelajaran yang dikembangkan yaitu 86,70% dengan kriteria valid/baik/layak. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah layak untuk diujicobakan atau dilakukan validasi empirik (evaluasi sumatif) di sekolah.

Pengaruh faktor-faktor internal terhadap keputusan pembelian konsumen di restoran Batavia Malang / Suhendra Andi Saputra

 

ABSTRAK Saputra, Suhendra Andi. 2010. Pengaruh Faktor-Faktor Internal terhadap keputusan Pembelian konsumen di Restoran Batavia malang. Skripsi, Jurusan Teknologi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Etta Mamang Sangaji M.Si. (2) Anik Dwi Astuti, ST., MT. Kata Kunci: Faktor-Faktor Internal, keputusan Pembelian konsumen, restoran batavia. Berbagai macam analisis tentang prilaku konsumen diciptakan dalam rangka mengenali dan memahami kebutuhan konsumen. Salah satu analisis perilaku konsumen adalah analisis dari dalam diri konsumen atau analisis faktor internal. Faktor internal dianggap punya pengaruh yang kuat terhadap prilaku pembelian konsumen karena dalam pembelian konsumen sering kali dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam dirinya sendiri diduga hal ini juga berlaku bagi konsumen di sebuah restoran, untuk membuktikanya peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh Faktor-Faktor Internal Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian korelasional dengan pendekatan kuantitatif yang menggunakan angket sebagai alat pengumpul data dan mengambil sampel responden sebesar 100 orang yang merupakan konsumen Restoran Batavia. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling kemudian data mentah diolah dengan menggunakan analisis Staistik deskriptif yaitu dengan membuat tabel frekuensi dengan kelas interval-interval tertentu kemudian data mentah diolah lagi dengan menggunakan analisis Statistik Infrensial yang bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Faktor-Faktor Internal yang terdiri dari variabel sikap (X1), persepsi (X2), motivasi (X3), gaya hidup (X4), belajar (X5) Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen di Restoran Batavia (Y) baik secara simultan maupun secara parsial serta mencari tahu faktor (X) apa yang paling dominan terhadap (Y). Hasil uji hipotesis membuktikan bahwa terdapat pengaruh secara simultan dan parsial antara variabel sikap (X1), persepsi (X2), motivasi (X3) ,gaya hidup (X4), belajar (X5) terhadap keputusan pembelian konsumen (Y). Berdasarkan analisis data dengan menggunakan regresi linear berganda dapat diketahui bahwa variabel gaya hidup (X4) merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen sedangkan variabel persepsi (X2) merupakan variabel yang paling kecil pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen. Temuan dalam penelitian ini menunjukan bahwa kajian tentang faktor-faktor internal dan keputusan pembelian konsumen pada Restoran Batavia sesuai dengan dasar-dasar teoritis yang telah dikemukan oleh para ahli pemasaran.

Penerapan pembelajaran kooperatif model think pair share untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS bidang sejarah pada siswa kelas VII D Mts. Negeri Megaluh Jombang tahun ajaran 2009/2010 / Nur Laili Rahmawati

 

ABSTRAK Rahmawati, Nur Laili. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Think Pair Share Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS Bidang Sejarah Pada Siswa Kelas VII D MTS Negeri Megaluh, Jombang Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi, Jurusan Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hj. Siti Malikhah Towaf, M.A. Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, model Think Pair Share, hasil belajar. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal yang dilakukan peneliti pada guru dan siswa kelas VII D MTS Negeri Megaluh, menunjukkan bahwa selama ini guru yang mengajarkan mata pelajaran sejarah belum pernah menggunakan pendekatan kooperatif, termasuk model Think Pair Share dalam mengajar di MTS Negeri Megaluh. Metode yang sering digunakan guru dalam pembelajaran sejarah adalah metode konvensional (metode ceramah). Permasalahan pembelajaran yang dihadapi oleh guru adalah hasil belajar siswa yang rendah dan kurang memuaskan. Dan siswa kurang dapat bekerjasama dengan anggota kelompoknya serta kondisi kelas yang cenderung ramai pada saat kegiatan pembelajaran sejarah berlangsung. SKM individual yang ditetapkan pada mata pelajaran sejarah yaitu sebesar 70. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dibutuhkan suatu model pembelajaran yang bisa meningkatkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran yang bisa diterapkan adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif dengan model Think Pair Share. Model Think Pair Share ini terdiri atas tahapan-tahapan yaitu tahap berpikir secara individu, tahap berpasangan, dan tahap berbagi. Setiap tahapan dalam model tersebut menuntut siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat bekerja secara efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Penelitian ini mempunyai rumusan masalah sebagai berikut: 1) bagaimana pelaksanaan pembelajaran sejarah sebelum penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share, 2) bagaimana hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah di kelas VII D MTS Negeri Megaluh sebelum diterapkannya pembelajaran kooperatif model Think Pair Share, 3) bagaimana penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share pada mata pelajaran sejarah pada siswa kelas VII D MTS Negeri Megaluh, 4) bagaimana hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share pada siswa kelas VII D MTS Negeri Megaluh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIID MTS Negeri Megaluh yang berjumlah 30 orang siswa. Untuk menjawab rumusan masalah yang pertama dan kedua, peneliti menggunakan data kualitatif dengan melakukan observasi awal, wawancara, dan pengamatan langsung di kelas. Sedangkan untuk menjawab rumusan masalah yang ketiga dan keempat, peneliti melaksanakan tindakan penelitian bertindak sebagai pengamat dan guru yang melaksanakan tindakan, peneliti mengamati aktivitas guru dan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung, melakukan tes pada tiap akhir siklus, dan ii melakukan wawancara serta merefleksi hasil penelitian dengan guru mata pelajaran sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share yang dilakukan pada mata pelajaran sejarah pada siswa kelas VII D MTS Negeri Megaluh dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan kerjasama antar siswa dalam kelompok. Dibuktikan dengan adanya peningkatan jumlah siswa yang memenuhi SKM yaitu sebesar 70, sebelum tindakan dilakukan dengan melihat nilai hasil pre tes jumlah siswa yang memenuhi SKM atau tuntas belajarnya sebanyak 10 siswa (33,33%), sedangkan setelah dilaksanakan tes akhir pada siklus1jumlah siswa yang memenuhi SKM atau tuntas belajarnya dilihat dari aspek kognitif sebanyak 23 siswa (76,67%) dan pada siklus II mengalami peningkatan yang cukup signifikan, jumlah siswa yang tuntas belajar karena telah memenuhi SKM sebanyak 27 siswa (90%). Sedangkan pada aspek afektif jumlah siswa yang tuntas belajar karena telah memenuhi SKM juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebanyak 12 siswa (40%) pada siklus 1, dan pada siklus II jumlah siswa yang tuntas belajar meningkat menjadi 27 siswa (90%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan agar dilakukan penelitian lagi mengenai model Think Pair Share pada mata pelajaran sejarah untuk memantapkan hasil yang telah diperoleh sebelumnya.

Pengaruh struktur kepemilikan saham institusional ukuran perusahaan dan kebijakan dividen terhadap kebijakan hutang pada perusahaan yang listing di BEI tahun 2008: perspektif agency theory / Dewi Suryani

 

ABSTRAK Suryani, Dewi. 2010. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham Institusional, Ukuran Perusahaan dan Kebijakan Dividen Terhadap kebijakan Hutang Perusahaan yang Listing di BEI tahun 2008: Perspektif Agency Theory. Jurusan Manajemen. Program Studi S1 Manajemen Keuangan. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M. Pembimbing (II) Subagyo,S.E.,S.H.,M.M. Kata kunci : struktur kepemilikan saham institusional,ukuran perusahaan, kebijakan dividen kebijakan hutang, agency theory Teori Keagenan yang dikemukakan oleh Jensen Meckling menyebutkan bahwa konflik keagenan akan timbul jika manajer bertindak tidak sesuai dengan keinginan pemilik perusahaan termasuk dalam keputusan pendanaan. Konflik yang terjadi bisa menimbulkan biaya yang disebut dengan biaya keagenan. Beberapa cara untuk mengurangi biaya keagenan yaitu dengan peningkatan pendanaan melalui hutang, meningkatkan pembayaran dividen, meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh pihak manajemen dan peningkatan kepemilikan saham institusional sebagai monitoring agent. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) tingkat kebijakan hutang, (2) struktur kepemilikan saham institusional, (3) ukuran perusahaan, (4) kebijakan dividen, (5) pengaruh secara simultan struktur kepemilikan saham institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen terhadap kebijakan hutang, (6) pengaruh struktur kepemilikan saham institusional terhadap kebijakan hutang, (7) pengaruh ukuran perusahaan terhadap kebijakan hutang, (8) pengaruh kebijakan dividen terhadap kebijakan hutang. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan subyek penelitian pada semua perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini tergolong korelasi kausalitas yang menggambarkan hubungan sebab akibat, antara variabel struktur kepemilikan saham institusional, ukuran perusahaan dan kebijakan dividen terhadap kebijakan hutang dengan metode analisis regresi berganda. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory, dan Annual Report perusahaan yang listing di BEI tahun 2007 dan 2008. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) kebijakan hutang perusahaan sampel tergolong sedang 39%, tinggi 32%, dan rendah 29%, (2) struktur kepemilikan saham institusional perusahaan sampel tergolong sedang 42%, tinggi 50% dan rendah 8% (3) ukuran perusahaan, perusahaan sampel tergolong sedang 47%, tinggi 50% dan rendah 3%, (4) kebijakan dividen perusahaan sampel tergolong sedang 29%, tinggi 24%, dan rendah 47%, (5) struktur kepemilikan saham institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen berpengaruh secara simultan signifikan terhadap kebijakan hutang, (6) tidak terdapat pengaruh signifikan struktur kepemilikan saham institusional terhadap kebijakan hutang, (7) terdapat pengaruh positif signifikan ukuran perusahaan terhadap kebijakan hutang, (8) tidak terdapat pengaruh signifikan kebijakan dividen terhadap kebijakan hutang. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disarankan (1) bagi manajemen perusahaan hendaknya mempertimbangkan struktur kepemilikan saham institusional, ukuran perusahaan, dan kebijakan dividen sebagai dasar menentukan kebijakan hutang agar tidak menimbulkan konflik keagenan baik konflik dengan pemilik ataupun dengan kreditur, (2) bagi investor diharapkan sebelum melakukan investasi sebelumnya mampu melihat perilaku dari manajemen terkait dengan keputusan pendanaan perusahaan, (3) bagi penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan penggunaan variabel lain seperti free cash flow perusahaan, tingkat resiko maupun struktur kepemilikan manajerial.

Pengaruh tingkat likuiditas dan solvabilitas terhadap return saham yang diperkuat oleh return on equity (ROE) pada perusahaan-perusahaan yang ternasuk LQ-45 yang listing di bursa efek Indonesia periode 2006-2008 / Dessi Kusuma Widuri

 

ABSTRAK Widuri, Dessi Kusuma. 2010. Pengaruh Tingkat Likuiditas dan Solvabilitas terhadap Return Saham yang Diperkuat oleh Return on Equity (ROE) pada Perusahaan-Perusahaan yang Termasuk LQ-45 yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2008. Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M.M dan (II) Yuli Soesetio, S.E, M.M Kata kunci: Return Saham, Likuiditas, Solvabilitas, dan Return on Equity (ROE) Investasi di pasar modal memiliki daya tarik tersendiri bagi para investor, karena pasar modal memberikan berbagai pilihan alternatif instrumen keuangan dalam menciptakan portofolio investasi yang menguntungkan. Sebagai dasar pengambilan keputusan investasi, Investor perlu melakukan analisa mengenai informasi yang ada di pasar modal, salah satunya dengan menganalisis seberapa besar return saham itu bisa dipengaruhi oleh kinerja perusahaan. Return saham adalah hasil yang diperoleh dari investasi sekuritas saham yang merupakan indikator dari nilai perusahaan yang mengisyaratkan usahanya di pasar modal, yakni terdiri dari dividen dan capital gain yang terjadi dari adanya perubahan harga saham. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara likuiditas dan solvabilitas terhadap return saham yang diperkuat oleh return on equity (ROE). Penelitian ini menggunakan 10 perusahaan yang termasuk indeks LQ-45 sebagai sampel periode 2006 sampai 2008. Yang diambil dari populasi sebanyak 76 perusahaan. Metode analisis data menggunakan analisis path (analisis jalur). Berdasarkan atas pengujian hipotesis yang telah dilakukan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa likuiditas secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return on equity (ROE), solvabilitas secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return on equity (ROE), secara simultan likuiditas dan solvabilitas berpengaruh signifikan terhadap return on equity (ROE), likuiditas secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham, solvabilitas secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham, return on equity (ROE) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham, dan secara simultan likuiditas, solvabilitas dan return on equity (ROE) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada perusahaan untuk lebih meningkatkan kinerjanya baik pengelolaan terhadap likuiditas, solvabilitas, maupun return on equity (ROE). Bagi para investor diharapkan tidak hanya terpaku pada penilaian terhadap fundamental perusahaan saja melainkan melihat pada kondisi ekonomi secara makro serta hal-hal lain yang dianggap dapat mempengaruhi return saham. Bagi para peneliti lanjut, hendaknya menambahkan variabel yang telah ada, di mana banyak variabel yang bisa mempengaruhi return saham selain faktor yang disebutkan dalam penelitian ini.

Analisis teks pada materi litosfer dan pedosfer dalam buku teks pelajaran geografi SMA kelas X terbitan PT Phibeta aneka gama / Arif Susanto

 

ABSTRAK Susanto, Arif. 2010. Analisis Teks pada Materi Litosfer dan Pedosfer dalam Buku Teks Pelajaran Geografi SMA Kelas X Terbitan PT Phibeta Aneka Gama. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Edy Purwanto, M. Pd (II) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M. Si, M. Pd Kata kunci: analisis teks, kesesuaian isi materi dengan kurikulum, kebenaran konsep, kebenaran bahasa, fungsi gambar Perubahan kurikulum yang tidak diikuti dengan penyusunan teks yang terencana dengan baik, mengakibatkan permasalahan yaitu pada isi buku teks. Isi buku teks pelajaran secara umum sulit dipahami siswa, karena banyak mengandung kesalahan. Kesalahan tersebut antara lain dalam setiap paragraf mengandung banyak konsep dan penggunaan bahasa Indonesia yang kurang tepat. Oleh karena itu, untuk mengatasi kondisi teks seperti itu, para guru atau calon guru harus memiliki kemampuan menulis teks, mengkaji teks yang telah ada, dan merevisi sesuai hasil kajian. Untuk mengungkapkan kualitas dari buku teks, khususnya untuk buku teks Geografi SMA, maka penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. (1) bagaimana kesesuaian materi isi materi Litosfer dan Pedosfer dengan kurikulum yang berlaku? (2) bagaimana kebenaran konsep pada materi Litosfer dan Pedosfer? (3) bagaimana kebenaran bahasa pada materi Litosfer dan Pedosfer? (4) bagaimana fungsi gambar yang terdapat dalam materi Litosfer dan pedosfer? Untuk memecahkan masalah tersebut, penelitian dirancang dengan model analisis isi. Sumber data penelitian ini adalah buku teks pelajaran geografi SMA Kelas X terbitan PT Phibeta Aneka Gama. Data hasil analisis dikumpulkan dengan menggunakan instrumen berupa pedoman analisis. Dengan menggunakan pedoman tersebut dikumpulkan data sebagai berikut: pertama, kesesuaian materi Litosfer dan Pedosfer dengan kurikulum berlaku yang tergolong sesuai sebesar 100%; kedua, kebenaran konsep yang tergolong benar dengan rincian: (1) konsep terdefinisi sebesar 95,31%, dan (2) konsep konkrit sebesar 31,03%; ketiga, kebenaran bahasa yang tergolong benar dengan rincian: (1) kebenaran paragraf sebesar 79,59%, dan (2) kebenaran kalimat sebesar 74,02%; keempat, fungsi gambar dengan rincian: (1) tidak berfungsi sebesar 5,26%, (2) contoh fakta sebesar 10,53%, (3) contoh konsep sebesar 57,89%, dan (4) contoh generalisasi sebesar 26,32%. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan: pertama, kesesuaian isi materi Litosfer dan Pedosfer tergolong sesuai tetapi dari segi penyajian materi kurang lengkap; kedua, kebenaran konsep mengandung banyak kesalahan yang sulit dipahami siswa; ketiga, kebenaran bahasa mengandung banyak kesalahan yang mengganggu ketercernaan belajar; keempat, fungsi gambar tergolong berfungsi sebagai contoh konsep. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diajukan saran-saran: pertama, buku teks pelajaran geografi SMA kelas X terbitan PT Phibeta Aneka Gama hendaknya direvisi; kedua, bagi guru pengajar atau calon guru, sebelum mempergunakan buku teks, haruslah ditelaah terlebih dahulu mengenai penyajian materi. i

Penggunaan media foto untuk meningkatkan pemahaman siswa pada kompetensi dasar keanekaragaman bentuk muka bumi dan proses pembentukannya di kelas VII MTs.N Perak Kabupaten Jombang / Mohammad Andi Setiawan

 

Sejarah identik dengan peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Peristiwa dalam sejarah hanya terjadi satu kali dan sulit untuk diulang kembali. Untuk menghadirkan kembali peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada masa lalu, salah satunya dapat dilakukan melalui media foto. Untuk meningkatkan hasil belajar serta pemahaman siswa tentang sejarah dan juga membantu guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, dilakukan penelitian pengembangan media foto. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah proses pengembangan media foto yang baik untuk pembelajaran IPS (Sejarah) pada materi pertempuran di Surabaya (10 November 1945), (2) Bagaimanakah hasil belajar IPS (Sejarah) siswa kelas IX yang menggunakan media foto dalam proses pembelajaran, (3) Bagaimanakah hasil belajar IPS (Sejarah) siswa kelas IX yang tidak menggunakan media foto dalam proses pembelajaran, (4) Apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa kelas IX yang menggunakan media foto dalam proses pembelajaran dengan siswa yang tidak menggunakan media foto dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Ampelgading. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui proses pengembangan media foto yang baik untuk pembelajaran sejarah pada materi pertempuran di Surabaya (10 November 1945), (2) mengetahui hasil belajar IPS (Sejarah) siswa kelas IX yang menggunakan media foto dalam proses pembelajaran, (3) mengetahui hasil belajar IPS (Sejarah) siswa kelas IX yang tidak menggunakan media foto dalam proses pembelajaran, (4) mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa kelas IX yang menggunakan media foto dalam proses pembelajaran dengan siswa yang tidak menggunakan media foto dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Ampelgading. Di dalam pengembangan media foto untuk pembelajaran IPS (Sejarah) dilakukan beberapa tahapan pengembangan yaitu (1) analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, (2) analisis tujuan pembelajaran, (3) pengembangan materi pembelajaran, (4) pengembangan alat evaluasi, (5) penyusunan naskah, (6) produksi, (7) penyusunan petunjuk pemanfaatan dan (8) uji coba produk. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan media foto dengan siswa yang diajar dengan tidak menggunakan media foto digunakan rancangan eksperimen. Populasinya adalah siswa kelas IX SMP Negeri 2 Ampelgading Kabupaten Malang. Objek penelitian adalah 58 siswa yaitu kelas IX A sebagai kelas eksperimen dan kelas IX B sebagai kelas kontrol. Data berupa hasil belajar dikumpulkan melalui tes hasil belajar sebagai instrumen pengumpulan data. Media foto pembelajaran IPS yang dikembangkan, diproduksi dalam bentuk buku yang terdiri dari: sampul (cover) buku, petunjuk penggunaan, tujuan pembelajaran, peta konsep, materi pembelajaran, balikan (tugas/kerja mandiri, diskusi bersama), rubrik info, dan rangkuman. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kelas eksperimen untuk aspek kognitif sebesar 84,45 dan nilai rata-rata untuk aspek afektif sebesar 77,24. Sedangkan nilai rata-rata kelas kontrol untuk aspek kognitif sebesar 74,90 dan nilai rata-rata untuk aspek afektif sebesar 65,17. Hal ini menunjukkan kelas yang diajar dengan menggunakan media foto mempunyai hasil belajar yang lebih tinggi daripada kelas yang diajar dengan tidak menggunakan media foto. Dengan kata lain hasil belajar siswa yang memanfaatkan media foto dalam pembelajaran berbeda secara signifikan dengan hasil belajar siswa yang tidak memanfaatkan media foto dalam pembelajaran IPS (Sejarah). Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan mampu memberikan inspirasi bagi guru untuk menghasilkan media yang lebih menarik lagi. Bagi peneliti lain diharapkan dapat melakukan pengembangan yang lebih baik lagi, baik media pembelajaran yang akan dikembangkan, instrumen, prosedur serta pengambilan sampel yang lebih luas sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik lagi.

Peningkatan keterampilan berbicara melalui teknik bercerita pada siswa kelas III SDN Panggungrejo 05 Kabupaten Blitar / Mohammad Andi Cahyono

 

ABSTRAK Cahyono, Sapto, Hadi. 2010. Meningkatkan Keterampilan Berbicara melalui Teknik Bercerita Pada Siswa Kelas III SDN panggungrejo 05 Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suhel Madyono, S. Pd., M. Pd, (II) Dra. Sri Nuryati, M. Pd Kata Kunci: meningkatkan keterampilan, keterampilan berbicara, teknik bercerita Masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah tentang (1) Bagaimana pe-laksanaan pembelajaran menceritakan pengalaman melalui teknik bercerita pada siswa kelas III SDN Panggungrejo 05 Kabupaten Blitar? (2) Bagaimana hasil pembelajaran menceritakan pengalaman melalui teknik bercerita pada siswa kelas III SDN Panggungrejo 05 Kabupaten Blitar? Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan upaya meningkatkan keterampilan berbicara melalui teknik bercerita pada siswa kelas III SDN Panggungrejo 05 Kec. Panggungrejo Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan ke-berhasilan upaya peningkatan keterampilan berbicara dengan penerapan teknik bercerita pada siswa kelas III SDN Panggungrejo 05 Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian tindakan (action research), yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Dalam penelitian tindakan ini yang berperan sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian , observer, pengumpul dan penganalisis data, dan penyusun laporan penelitian adalah guru. Analisis data penelitian yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Berdasarkan hasil observasi dalam pembelajaran menceritakan pengalaman, siswa belum mencapai ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah. Dengan kriteria Ketuntasan Minimal dari sekolah adalah 6.00. Secara klasikal siswa belum mampu mencapai KKM tersebut. Namun, dengan menggunakan teknik bercerita dalam pembelajarannya, siswa mampu mencapai KKM yang ditentukan sekolah. Pada pelaksanaan siklus I, siswa mampu mencapai 60,86%. Dari 23 siswa, 15 siswa yang mampu mencapai nilai di atas 6,00. Pada siklus II, 100% siswa telah mencapai KKM yang ditentukan. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, dengan menggunakan teknik bercerita, siswa merasa lebih memahami cara bercerita dengan runtut dan mudah dipahami orang lain, sehingga siswa mampu mencapai KKM yang ditentukan oleh sekolah. Dari penelitian ini dapat disarankan bagi para guru agar menggunakan teknik bercerita. Dengan demikian hasil belajar siswa dapat meningkat.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model student teams achievement division (Stad) pada siswa kelas IV SDN Klodan III, Kec. Ngetos Kab. Nganjuk / Anang Agung Haries Setyanto

 

ABSTRAK Setyanto, Anang Agung Haries. 2010. Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Model Student Teams Achievement Division (STAD) pada Siswa Kelas IV SDN Klodan III,Kec. Ngetos, Kab. Nganjuk. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang, Pembimbing (1) Drs. Sunyoto, S. Pd, M. Si, (II) Dra. Widayati, M. H Kata Kunci: hasil belajar, PKn, cooperative learning tipe STAD Hasil observasi yang dilakukan di SDN Klodan III, Kabupaten Nganjuk yang dilakukan di kelas IV kurang memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas dalam pelajaran, guru dalam menyampaikan materi masih bersifat konvensional yaitu guru masih menggunakan metode ceramah dan penugasan. Guru menerangkan materi tentang lembaga-lembaga negara kemudian guru memberikan evaluasi berupa soal-soal yang harus dikerjakan oleh siswa. Metode ini terkesan sangat kaku, kurang demokratis, dan guru cenderung dominan sehingga kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber ilmu pengetahuan. Siswa hanya diharuskan untuk melihat, mendengar dan mencatat informasi dari guru saja. Penggunaan metode ceramah mengakibatkan hasil belajar siswa kurang optimal, bisa dilihat dari 30 siswa terdapat 22 siswa atau ada 73 % yang nilainya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh SDN Klodan III yaitu untuk mata pelajaran PKn KKM yang telah ditetapkan yaitu 65. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dalam pembelajaran di kelas dapat diterapkan model cooperative learning tipe STAD. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan pelaksanaan model cooperative learning tipe STAD dalam pembelajaran PKn pada siswa kelas IV SDN Klodan III, Nganjuk (2) untuk mendeskripsikan model pembelajaran cooperative learning tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa PKn di kelas IV. Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sedangkan rancangan penelitian ini mengacu pada model spiral dari Kemmis dan Taggart. Model penelitian ini adalah kolaboratif di mana penulis bertindak sebagai pengamat dan juga sebagai guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan berdiskusi siswa kelas IV SDN Klodan III Nganjuk. Pada siklus I proses diskusi di dalam tim sudah cukup baik, karena masih adanya siswa yang kurang bekerjasama dalam berdiskusi. Proses berdiskusi siswa secara klasikal sudah meningkat pada siklus II dan masuk dalam kategori sangat baik. Sedangkan hasil belajar siswa pada siklus I ketuntasan klasikal sebesar 56,67 % dan pada siklus II diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 90%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model cooperative learning tipe STAD dalam pembelajaran PKn maka dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Klodan III Nganjuk.

Hubungan anatara kepribadian, sikap, dan kompetensi keahlian multimedia terhadap motivasi berwirausaha bagi siswa kelas III SMK program keahlian multimedia se-Kabupaten malang tahun 2009 / Fathul Amin

 

ABSTRAK Amin, Fathul. 2010. Hubungan antara Kepribadian, Sikap, dan Kompetensi Multimedia terhadap Motivasi Berwirausaha bagi Siswa Kelas III SMK Program Keahlian Multimedia Se-Kabupaten Malang Tahun 2009. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Mardi Wiyono, S.T, M.Pd, (II) Drs. Slamet Wibawanto, M.T. Kata kunci: kepribadian, sikap, kompetensi multimedia, motivasi berwirausaha. Peminat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mengalami peningkatan yang luar biasa besar, untuk itu perlu adanya solusi yang bisa menyalurkan tenaga terampil dari SMK, berwirausaha merupakan alternatif lain untuk masalah lulusan SMK, yang perlu dilaksanakan di sekolah adalah memotivasi siswa untuk berwirausaha. Motivasi untuk berwirausaha dapat dimulai dari para pengajar, terutama pengajar produktif. Penelitian ini bertujuan: 1) untuk mengetahui hubungan antara kepribadian dengan motivasi berwirausaha siswa SMK, 2) untuk mengetahui hubungan antara sikap dengan motivasi berwirausaha siswa SMK, 3) untuk mengetahui hubungan antara kompetensi keahlian multimedia dengan motivasi berwirausaha siswa SMK, 4) untuk mengetahui hubungan antara kepribadian, sikap, dan kompetensi keahlian multimedia dengan motivasi berwirausaha siswa SMK. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK kelas III Program Keahlian Multimedia yang ada di Kabupaten Malang sebanyak 64 orang, yang berasal dari SMK Negeri 2 Turen, SMK Al-Islahiyah Singosari, SMK As-Salam Bantur. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumen. Data dianalisis dengan analisis deskriptif, regresi, korelasi parsial, dan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan: 1) terdapat hubungan yang positif signifikan antara kepribadian (X1) dengan motivasi berwirausaha (Y1), dengan koefisien korelasi r = 0,467, nilai signifikansi p = 0,000; 2) terdapat hubungan yang positif signifikan antara sikap (X2) dengan motivasi berwirausaha (Y1), dengan koefisien korelasi r = 0,452, nilai signifikansi p = 0,000; 3) terdapat hubungan negatif signifikan antara kompetensi multimedia (X3) dengan motivasi berwirausaha (Y1), dengan koefisien korelasi r = -0,252, nilai signifikansi p = 0,044; 4) terdapat hubungan yang positif signifikan antara kepribadian, sikap, dan kompetensi multimedia (X4) dengan motivasi berwirausaha (Y1), dengan persamaan regresi dan koefisien korelasi R = 0,614, nilai signifikansi p = 0,000. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan bagi: 1) Dinas Pendidikan, hendaknya memberikan perhatian yang lebih serius kepada siswa SMK karena siswa SMK program keahlian multimedia mempunyai kepribadian, sikap dan motivasi berwirausaha dengan kategori tinggi, dengan memberikan sarana workshop hasil produksi siswa SMK, 2) sekolah hendaknya memberikan fasilitas untuk latihan berwirausaha misalnya memberikan sarana untuk acara bazar sekolah guna menampilkan hasil karya siswa, 3) bagi siswa, mulailah dengan mencoba berwirausaha dibidang multimedia kecil-kecilan, misalnya setting, dan editing, dua sampai tiga tahun yang akan datang pasti sudah ada kemajuan, 4) dunia industri, menjalin kerja sama dengan SMK dalam pembuatan produk multimedia, 5) penelitian ini masih terbatas dalam lingkup dan kedalaman hendaknya ada penelitian yang lebih lanjut dalam bidang ini.

Peningkatan hasil belajar membandingkan bilangan pecahan melalui pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) pada siswa kelas IV SDN I Sumberagung Kabupaten Tulungagung / Fanandri Diyaulhaq

 

ABSTRAK Diyaulhaq, Fanandri. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Membandingkan Bilangan Pecahan Melalui Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Siswa Kelas IV SDN I Sumberagung Kabupaten Tulungagung. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan PrasekolahProgram studi Sarjana Kependidikan Guru Sekolah Dasar FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sunyoto, M.Si, (II) Drs. Imam Hanafi, M.M. Kata Kunci: hasil belajar, membandingkan pecahan, pembelajaran CTL Proses pembelajaran matematika di SDN I Sumberagung yang selama ini digunakan oleh guru adalah dengan menggunakan metode caramah, guru secara aktif menyampaikan informasi kepada siswa sedangkan aktivitas siswa pasif pada saat kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan oleh siswa hanya duduk, mendengar, mencatat, dan mengerjakan tugas. Penyampaian informasi yang diberikan kepada siswa secara abstrak. Hal ini menyebabkan rendahnya pemahaman siswa untuk mengusai konsep membandingkan pecahan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran CTL pada konsep membandingkan bilangan pecahan bagi siswa kelas IV SDN I Sumberagung Kabupaten Tulungagung, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar membandingkan bilangan pecahan bagi siswa kelas IV SDN I Sumberagung Kabupaten Tulungagung melalui pembelajaran CTL. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN I Sumberagung Kabupaten Tulungagung dengan jumlah siswa sebanyak 14 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi: (1) observasi, (2) angket, dan (3) dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Penerapan pembelajaran CTL dengan materi membandingkan bilangan pecahan diimplementasikan dengan tujuh komponen yang ada dalam pembelajaran CTL yaitu kontruktivis, inkuiri, bertanya, pemodelan, masyarakat belajar, refleksi, dan penilaian sebenarnya. Penerapan pembelajaran CTL ini digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat diketahui dari peningkatan ketuntasan belajar siswa setelah pembelajaran. Pada hasil belajar pratindakan ketuntasan klasikal mencapai 29 %, siklus I ketuntasan belajar mencapai 57 %, dan siklus II menjadi 86 %, hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal dari pra tindakan sampai siklus II sebesar 57 %. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah dalam penerapan pembelajaran CTL hendaknya guru memulai dengan membangun pengetahuan nyata siswa, dari pengetahuan awal akan ditemukan pola-pola tertentu. Dari pola akan terbentuk pertanyaan-pertanyaan. Dari pertanyaan siswa mampu memperagakan, mengaplikasikan ke dalam kehidupan nyata, dan akhirnya mampu menyimpulkan menjadi pengetahuan yang bermakna. Untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa, dilakukan dengan cara evaluasi.

Pengaruh bauran promosi terhadap keputusan pembelian pada toko star fashion Rejotangan Tulungagung / Agus Eko Supriono

 

One of the principal business of business in an effort to increase his efforts to face the increasingly competitive competition is to do promotions. Fashion is an important staple for the people, where the fashion people can be aware of the existence of social status, pleasure, behavior, character, and still many others. With the concept of the promotion mix is expected to be customers interested in and then make a purchase decision. Therefore, the research necessary to find out that the influence of the promotion mix of the purchase decision. This research was conducted at the store Star Fashion, Rejotangan Tulungagung in September 2009. Subjects in this study is consumers who make purchases at the store Star Fashion. Samples taken as many as 286 kosumen or customers with Accidental shooting technique where respondents Sampling was by chance that researchers encounter when consumers make purchases in shops Star Fashion. This study aims to determine the effect of advertising (X 1), sales promotion (X 2), public relations (X 3), personal selling (X 4), direct marketing (X 5) of the partial purchase decision, advertising (X 1 ), sales promotion (X 2), public relations (X 3), personal selling (X 4), direct marketing (X 5) for purchasing decisionssimultaneously. This study uses the technique of multiple linear regression analysis using SPSS14, 0 for windows. The results of this study is known: (1) there is significance influence of advertising on purchase decisions. (2) there is significance influence of sales promotions on purchase decisions. (3) there is significance influence of public relations for the purchase decision. (4) there is significance influence on decisionpersonal selling purchasing. (5) there is significance influence of direct marketing to purchasing decisions. (6) there is no significance influence of advertising, sales promotion, public relations, personal selling, direct marketing simultaneously on purchasing decisions. Based on the results of this study can be suggested that the Star Fashion store more creative and vigorous in the promotion mix to make consumers more interested in making a purchase at Star Fashion store.

Peningkatan keterampilan berbicara bahasa inggris dengan menggunakan kosakata "Things around the students" melalui metode role playing di kelas IVB SDN Tegalweru Dau-Malang / Ria Noor Hidayah

 

ABSTRAK Hidayah, Ria Noor. 2010. Peningkatan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris dengan Menggunakan Kosakata “Things Around the Students” Melalui Metode Role Playing di Kelas IVB SDN Tegalweru Dau-Malang. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Ratna Trieka Agustina, S.Pd, M.Pd, dan (2) Drs. H. M. Thoha A.R, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: keterampilan berbicara bahasa Inggris, kosakata “Things Around the Students”, metode Role Playing. Berdasar pada observasi awal dan pra tindakan yang dilaksanakan di SDN Tegalweru diketahui bahwa keterampilan berbicara bahasa Inggris peserta didik kelas IV masih rendah. Rendahnya keterampilan berbicara peserta didik ditandai dengan peserta didik kurang percaya diri, berbicara tersendat-sendat dan dengan suara yang sangat pelan ketika diminta menjawab pertanyaan maupun selama mengikuti pembelajaran bahasa Inggris. Hal ini disebabkan oleh metode dan teknik yang digunakan oleh guru kurang tepat, yaitu hanya ceramah dan mengerjakan soal-soal saja. Sehingga keterampilan berbicara peserta didik dari awal memang tidak dilatih. Untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris peserta didik perlu metode yang tepat disertai dengan media pembelajaran yang mendukung. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Role Playing (bermain peran). Terdapat tiga tahapan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing ini, yaitu: 1) tahap awal pembelajaran, 2) tahap inti pembelajaran, dan 3) tahap akhir pembelajaran. Ketiga tahap pembelajaran ini akan mendeskripsikan tujuan dari penelitian ini yaitu peningkatan keterampilan berbicara bahasa Inggris peserta didik dengan menggunakan kosakata Things Around the Students melalui metode Role Playing. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Tahap penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan, hasil tindakan, refleksi, dan peningkatan keterampilan berbicara. Keterbatasan peneliti membagi kelompok dalam penelitian ini yaitu peserta didik berasal dari kelompok tinggi, sedang, dan rendah, walaupun demikian tindakan tetap dilaksanakan pada semua peserta didik yang ada di kelas IVB SD Negeri Tegalweru. Data dalam penelitian ini merupakan keterampilan berbicara peserta didik pada aspek kelancaran, tekanan/volume suara, keberanian, pemahaman terhadap isi pembicaraan, penguasaan kosakata, kesesuaian cerita yang disampaikan dengan isi dialog yang diperankan, dan penyampaian informasi. Data penelitian ini diperoleh dari hasil pengamatan, catatan lapangan, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan berbicara bahasa Inggris pada semua kelompok meningkat setelah tindakan pembelajaran dengan menggunakan kosakata Things Around the Students melalui metode Role Playing dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I secara berturut-turut dari peserta didik kelompok rendah, sedang, dan tinggi mendapatkan nilai rata-rata 65, 78, 91 dan pada siklus II memperoleh nilai rata-rata 81, 86, 97. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara bahasa Inggris peserta didik melalui metode Role Playing meningkat dari siklus I ke siklus II. Guru disarankan untuk menggunakan metode Role Playing dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk meningkatakna keterampilan berbicara peserta didik dengan kompetensi atau tema-tema yang lain, dan tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing.

Pengaruh persepsi guru tentang penerapan kurikulum tingkaty satuan pendidikan terhadap kreativitas guru dalam mengajar pada SMKN 1 Malang / Irawati Dwi Ratna

 

ABSTRAK Ratna, Irawati Dwi. 2009. Pengaruh Persepsi Guru Tentang penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terhadap Kreativitas Guru Dalam Mengajar Pada SMK Negeri 1 Malang. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Bambang Sugeng, M.A, M.M., Ak. (II) Drs. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd, M.Si, Ak. Kata Kunci: Persepsi Guru Tentang Penerapan KTSP dan Kreativitas Guru Dalam Mengajar. Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan di negara kita, karena pendidikan merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan nasional, sehingga peningkatan mutu pendidikan perlu dilakukan agar tujuan nasional tersebut dapat diwujudkan. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan salah satunya melalui perubahan kurikulum yaitu dari KBK ke KTSP didunia pendidikan hal ini dikarenakan agar guru dapat lebih mandiri dalam menciptakan metode-metode baru untuk memberikan materi di dalam kelas. Kreativitas guru dalam mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah Persepsi guru tentang penerapan KTSP. Kreativitas guru dalam mengajar berperan penting dalam meningkatkan prestasi siswa. Agar dapat memperoleh prestasi yang baik, maka dalam kegiatan belajarnya guru harus mempunyai sikap dan cara penyampaian yang baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh antara persepsi guru tentang penerapan KTSP terhadap kreativitas guru dalam mengajar pada SMK Negeri 1 Malang.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SMK Negeri 1 Malang yang berjumlah 103 guru. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 31 guru. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksplanasi, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik analisis data menggunakan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi guru tentang penerapan KTSP mempunyai pengaruh positif terhadap kreativitas guru dalam mengajar pada SMK Negeri 1 Malang dengan diperoleh nilai Fhitung sebesar 1,362 Saran yang dapat diberikan yaitu: Bagi pihak sekolah, khususnya guru agar menciptakan inovasi-inovasi baru dalam memberikan materi dalam kelas, menciptakan suasana yang kondusif selama penyampaian materi berlangsung, fasilitas belajar di sekolah dilengkapi sehingga siswa dapat melaksanakan kegiatan belajar dengan lebih baik. Guru hendaknya memberikan arahan dan dorongan kepada siswa dalam rangka meningkatkan motivasi mereka dan agar siswa selalu meperbaiki kebiasaan belajar mereka.

Penggunaan metode pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa pada materi struktur atom di SMA Negeri I Montasik Aceh Besar / Hayaton

 

ABSTRAK Hayaton. 2010. Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Struktur Atom di SMA Negeri I Montasik Kabupaten Aceh Besar. Tesis, Jurusan Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Suhadi Ibnu, M.A, Ph.D., (II) Dr. H. Subandi, M.Si. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw. Proses dan Hasil Belajar Kimia. Proses belajar mengajar kimia di SMA Negeri I Montasik, Kabupaten Aceh Besar selama ini masih dilakukan dengan pendekatan konvensional (ceramah, tanya jawab, dan penugasan) dengan tidak melibatkan siswa secara aktif yang disebabkan pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered). Banyak perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan misal nya, dengan penambahan jumlah jam pelajaran dan juga penambahan waktu belajar sore, namun hasilnya belum memuaskan. Belajar kooperatif merupakan variasi dari metode pengajaran di mana siswa bekerja dalam suatu kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain, terlibat aktif dalam kelompok belajarnya, dan mempunyai wawasan yang bersifat penemuan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Dengan demikian penerapan pendekatan pembelajaran kooperatif yang berlandaskan teori konstruktivistik merupakan salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut, di mana dalam pembelajarannya menggunakan pendekatan kolaboratif. Pendekatan konstruktivistik di antaranya adalah: pendekatan kooperatif model jigsaw. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif model jigsaw terhadap kualitas proses belajar kimia, (2) untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kooperatif model jigsaw terhadap hasil belajar kimia, (3) untuk mengetahui persepsi siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu dan rancangan deskriptif dengan model rancangan pretes postes kontrol grup desain. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X dan siswa kelas XI SMA. Negeri 1 Montasik, Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam tahun pelajaran 2009/2010 sebanyak 240 siswa (tiga kelas X dan tiga kelas XI). Sampel terdiri dari dua kelas X dan dua kelas XI yang diambil secara acak sebanyak 120 siswa, kelompok sampel kelas eksperimen diajarkan dengan pembelajaran kooperatif model jigsaw dan kelompok sampel kelas kontrol diajarkan dengan pembelajaran metode ceramah. Instrumen yang digunakan meliputi instrumen teatment (instrumen perlakuan) dan instrumen pengukuran. Validitas instrumen dinilai oleh dua orang pakar pendidikan dari Universitas Negeri Malang dan satu orang guru SMA, untuk uji reliabilitas, uji tingkat kesukaran, dan uji daya beda menggunakan metode konsistensi internal, yang diolah dengan rumus Kuder-Richardson (KR -20). Hasil valididitas instrumen, penilaian skor dua oleh ke tiga penilai adalah 100%, hasil reliabilitas untuk kedua instrumen (r11) adalah 0,70, sedangkan rtabel 0,30, berarti rhitung > dari rtabel, sehingga instrumen reliabel. Hasil uji tingkat kesukaran butir soal, P = 0,31-0,70, berarti instrumen berkualifikasi sedang, dan hasil uji daya beda, instrumen rata-rata mempunyai harga D = 0,20-0,39, berarti daya beda instrumen berkualifikasi cukup. Data penelitian hasil belajar yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis uji t, sedangkan untuk observasi dan persepsi siswa terhadap penggunaan pembelajaran kooperatif model jigsaw dianalisis dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar kelompok siswa yang diajar dengan pendekatan kooperatif model jigsaw baik kelas X maupun kelas XI lebih baik dari pada hasil belajar kelompok siswa yang diajar dengan menggunakan metode ceramah, (2) proses pembelajaran terhadap penggunaan pendekatan pembelajaran kooperatif model jigsaw berlangsung dengan keaktifan yang lebih baik, baik kelas X maupun kelas XI siswa memberikan persepsi positif yang berarti dalam pembelajaran tersebut siswa terlibat secara lebih aktif dalam proses pembelajarannya, dan (3) persepsi siswa terhadap penggunaan pendekatan kooperatif model jigsaw baik kelas X maupun kelas XI berada pada skala positif, sedangkan persepsi siswa yang diajar dengan metode ceramah berada pada skala netral. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penggunaan metode pembelajaran kooperatif Model Jigsaw dapat dilihat dari segi proses pembelajaran, hasil belajar, dan persepsi siswa. Selanjutnya disarankan kepada guru kimia agar dalam proses belajar mengajar dapat menggunakan pembelajaran kooperatif model jigsaw sebagai salah satu strategi pembelajarannya.

Pengaruh current ratio, debt to total assets ratio, dan inventory turnover terhadap return saham perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI periode 2005-2007 / A Rizal Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, A.Rizal. 2009. Pengaruh Current Ratio, Debt To Total Assets Ratio, Inventory Turnover Terhadap Return Saham Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Listing Di BEI Periode 2005-2007. Skripsi, Jurusan Manajemen Keuangan FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Hadi Sriwiyana, M.M. (II) Drs. Mohammad Hari, S.E, M.Si. Kata kunci: Current Ratio, Debt To Total Assets Ratio, Inventory Turnover, Return Saham. Investasi di pasar modal merupakan salah satu pilihan investasi yang cukup marak untuk saat ini. Para investor atau calon investor mengharapkan pengembalian yang layak tehadap instrumen yang digunakan sebagai media investasi. Dalam penelitian ini yang diteliti adalah investasi pada saham. Investasi pada saham investor mengharapkan pengembalian berupa dividen dan capital gain, mengingat dividen tidak semua perusahaan secara rutin membagikan dividen maka capital gain dirasa cukup mewakili tingkat pengembalian yang diinginkan oleh investor. Sebagai pertimbangan sebelum mengivestasikan dananya dalam pembelian saham tiap investor perlu melakukan analisis, salah satu yang dapat digunakan adalah analisis rasio keuangan. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah metode current ratio, metode debt to total assets ratio, dan metode inventory turnover. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu apakah ada pengaruh secara parsial dan simultan antara rasio current ratio, debt to total assets ratio, dan inventory turnover terhadap return saham. Populasi yang digunakan adalah perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI, kemudian diambil sampel dengan menggunakan metode purposive sampling dengan beberapa kriteria selama tahun 2005-2007 sebanyak 12 perusahaan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi data sekunder. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Untuk penghitungan return saham digunakan metode lag time dengan menambahkan data penelitian sebanyak satu tahun ke depan. Agar dihasilkan data yang valid dan tidak bias maka dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji multikolinearitas, uji autokorelasi, uji heterokedastisitas dan uji normalitas. Penelitian ini menguji pengaruh secara parsial menggunakan uji t. Sedangkan untuk menguji pengaruh secara simultan digunakan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh baik secara simultan dan parsial antara variabel bebas (current ratio, debt to total assets ratio, dan inventory turnover) dengan variabel terikat. Semua hasil penelitian menunjukkan bahwa α > 0,05 sehingga H0 diterima sehingga variabel bebas tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Dimungkinkan ada variabel lain selain variabel yang diteliti memiliki pengaruh terhadap return saham. Saran bagi investor adalah diharapkan memperhatikan kemungkinan adanya informasi asimetris terhadap perusahaan sampel. Bagi perusahaan sebaiknya memperhatikan variabel lain yang mempengaruhi selain variabel yang sudah diteliti. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya lebih memperhatikan jumlah sampel serta rentang waktu penelitian agar didapat hasil yang lebih akurat.

Implementasi strategi display dan visualisasi barang dagangan pada divisi general merchandise giant hypermarket gajayana Malang / Dyah Pratiwi Kasumi

 

Kasumi, Dyah Pratiwi. 2010. Implikasi Strategi Display dan Visualisasi Barang Dagangan pada Divisi General Merchandise Giant Hypermarket Gajayana Malang. Tugas Akhir Praktek Kerja Lapangan, Program Studi D-III Manajemen Pemasaran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Sopiah M.M., M.Pd Kata Kunci: display, visualisasi, barang dagangan. Perkembangan dunia usaha saat ini semakin pesat dan mengalami perubahan di segala bidang. Perkembangan usaha yang sangat meningkat dipengaruhi oleh peningkatan jumlah konsumen tinggi, sebagian besar konsumen menuntut segala sesuatu yang serba praktis dan cepat dalam hal berbelanja. Hal tersebut dapat diperoleh dengan berbelanja di supermarket maupun hypermarket. Pesatnya perkembangan di dunia bisnis tersebut dapat dilihat dari pesatnya pusat-pusat perbelanjaan modern. Semua itu tidak terlepas dari keunggulan-keunggulan yang ditawarkan oleh masing-masing pusat perbelanjaan tersebut. Sebagai salah satu usaha yang bergerak dibidang penjualan maka keberhasilan juga ditentukan oleh cara penyusunan display dan visualisasi barang dagangan. Kedua hal tersebut mempunyai peran penting dalam penjualan karena akan berpengaruh pada kenyamanan konsumen dalam berbelanja. Display adalah pemajangan barang dagangan yang ditujukan untuk menarik perhatian konsumen dan mendorong konsumen dalam melakukan pembelian. Visualisasi barang dagangan adalah cara seseorang menampilkan barang-barang untuk dijual dalam cara yang paling menarik dengan tujuan akhir melakukan penjualan. Pelaksanaan strategi display dan visualisasi barang dagangan yang baik dan tepat dapat membuat konsumen tertarik untuk membeli barang dagangan. Hasil penelitian dari praktik kerja lapangan menunjukkan bahwa (1) metode yang digunakan dalam strategi display barang dagangan pada Divisi General Merchandise Giant Hypermarket Gajayana Malang adalah pertama, penentuan lini harga dimana strategi ini membantu para pelanggan mencari barang yang dicari dengan mudah pada harga yang ingin mereka bayar. Kedua, pengaturan barang dagangan secara vertikal dari kiri ke kanan, dan atas ke bawah dengan menggunakan gondola yang tinggi. Ketiga, perlengkapan tetap yang harus sesuai dan mendukung aspek fisik toko seperti kondisi lantai, pencahayaan, dan warna suasana ruang. (2) metode yang digunakan dalam strategi visualisasi barang dagangan pada Divisi General Merchandise Giant Hypermarket Gajayana Malang adalah Penerangan menggunakan lampu pijar untuk menerangi ruangan dan memberikan kesan hangat dan menyenangkan, Warna mempunyai dampak fisik dan psikologis pada persepsi konsumen terhadap lingkungan toko ritel, dan Latar belakang musik dalam toko sementara aktivitas lain terus berjalan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku. (3) Terdapat faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan strategi display barang dagangan pada Divisi General Merchandise Giant Hypermarket Gajayana Malang. Faktor pendukung antara lain penggunaan warna putih pada dinding dan lantai dapat menimbulkan kesan bersih, staff diberi kebebasan mendisplay barang dagangan sesuai dengan kreatifitasnya dengan aturan tertentu, pembersihan rak-rak dan ruangan yang dilakukan secara rutin oleh staff yang bertugas sehingga selalu terlihat rapi, bersih, dan menarik, tersedianya cctv di setiap lorong toko untuk memantau pengunjung yang berniat tidak baik, usaha Giant yang selalu buka tepat waktu, dimana kebanyakan toko di Mall Olympic Garden belum buka. Faktor penghambat antara lain penataan (layout) item produk sering berpindah tempat, sehingga mengakibatkan kebingungan konsumen dalam memilih dan mencari produk yang diinginkan, seringnya kesalahan yang dibuat karyawan dalam meletakkan price card, adanya keterlambatan penyetokan barang tertentu oleh pemasok. Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan, maka saran yang dapat disampaikan adalah (1) hendaknya dalam penataan (layout) item produk tidak sering berpindah tempat, sehingga mengakibatkan kebingungan konsumen dalam memilih dan mencari produk yang diinginkan, (2) hendaknya staff lebih teliti dalam meletakkan price card sehingga tidak mengakibatkan calon pembeli kebingungan melihat harga yang sesuai dengan produk yang dicari, (3) hendaknya Giant Hypermarket Gajayana Malang memperbaiki sistem pemesanan produk sehingga tidak terjadi keterlambatan pengiriman produk.

Peningkatan pembelajaran membaca melalui metode survey, question, read, recite, revirw siswa kelas V SDN 3 Manggis Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek / Guntur Wicaksono Sigit

 

ABSTRAK Sigit, Guntur Wicaksono. Peningkatan Pembelajaran Membaca Melalui Metode Survey, Question, Read, Recite, Review Siswa Kelas V SDN 3 Manggis Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Alif Mudiono, M.Pd, (II) Dra. Sri Nuryati, M.Pd. Kata Kunci: membaca, survey, question, read, recite, review Membaca merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang pembelajaran siswa. Untuk meningkatkan pembelajaran membaca dilakukan dengan menerapkan metode survey, question, read, recite, review tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penerapan metode survey, question, read, recite, review dalam pembelajaran membaca dan untuk mendeskripsikan hasil penerapan metode survey, question, read, recite, review dalam peningkatan pembelajaran membaca siswa kelas V SDN 3 Manggis Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian ini penelitian berlangsung sebanyak tiga putaran (siklus). Masing-masing putaran terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian pada penerapan metode survey, question, read, recite, review diperoleh rata-rata persentase kegiatan siklus I 71%, siklus II 76%, dan siklus III 87%. Untuk hasil penerapan metode survey, question, read, recite, review terhadap peningkatan pembelajaran membaca diperoleh persentase ketuntasan belajar siswa siklus I 63%, siklus II 68%, dan siklus III 79%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode survey, question, read, recite, review dapat meningkatkan pembelajaran membaca siswa. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk guru, hendaknya pembelajaran membaca dapat menggunakan metode survey, question, read, recite, review. Untuk siswa agar lebih berani, kreatif, dan tidak takut bertanya.

Peningkatan kemampuan berbicara melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL) siswa kelas IV SDN Tlumpu kota Blitar / Ambar Normasari

 

ABSTRAK Normasari, Ambar. 2010. Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Siswa Kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Alif Mudiono, M.Pd, (II) Drs. Suhel Madyono, S.Pd., M.Pd Kata Kunci : peningkatan kemampuan berbicara, CTL Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran berbicara melalui pendekatan CTL pada siswa kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar, (2) mendeskripsikan penerapan pendekatan CTL yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2009 sampai dengan 30 Nopember 2009 di SDN Tlumpu Kota Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode ini diharapkan mampu membantu peneliti dalam menemukan data yang layak dan dapat membantu peneliti untuk menemukan hal baru dalam dunia pendidikan. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data tentang penelitian didapat melalui angket, pedoman observasi, dan dokumentasi. Sebelum pendekatan CTL diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar, hasil pembelajaran yang dicapai siswa adalah 0%. Setelah dilakukan perbaikan melalui siklus I, hasil pembelajaran siswa meningkat dan ketuntasan siswa mencapai 45%. Kemudian setelah dilakukan perbaikan melalui siklus II hasil pembelajaran siswa meningkat dan ketuntasan siswa mencapai 78,8%. Berbagai macam pendekatan banyak digunakan dalam pembelajaran. Pendekatan yang sesuai digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas IV tentang kemampuan berbicara adalah pendekatan CTL karena pendekatan ini mempunyai berbagai macam komponen. Selain itu pendekatan ini mampu mengajak siswa untuk menemukan masalah dan mencoba untuk memecahkannya, serta menjadikan siswa aktif dalam mengikuti pembelajaran. Sehingga pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL mampu meningkatkan kemampuan berbicara siswa.

Efektivitas pemberian Surat Peringatan (SP) untuk membentuk karakter disiplin siswa di SMK PGRI 3 Malang / Danar Dwi Ayu Lestari

 

Lestari, Danar Dwi Ayu. 2010. Efektivitas Pemberian Surat Peringatan untuk Membentuk Karakter Disiplin Siswa, Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, FakultasIlmuSosial (FIS) UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono,M.Pd, M.Si (II) SitiAwaliyah, S.Pd, M.Hum Kata Kunci:SuratPeringatan, KarakterDisiplinSiswa Pendidikan merupakan kebutuhan utama setiap orang di masa sekarang dan yang akan datang. Pendidikan juga merupakan sebuah proses untuk mengubah jati diri peserta didik untuk lebih maju.Nilai-nilai pendidikan sendiri adalah suatu makna serta ukuran yang tepat dan akurat yang mempengaruhi adanya pendidikan itu sendiri.Terkait dengan pendidikan karakter disiplin, dewasa ini mulai banyak dibicarakan bentuk-bentuk alternatif pemecahannya. Salah satu topik yang menarik untuk dibahas adalah mengenai surat peringatan yang muncul sebagai bentuk alternatif pemecahan untuk membentuk karakter disiplin siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan bentuksuratperingatan; (2)mendeskripsikan pemberianSuratPeringatan; (3) mendeskripsikan efektivitaspemberianSuratPeringatanuntukmembentukkarakterdisiplinsiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif.Subjek dalam penelitian ini adalah siswa, guru, kepala sekolah di SMK PGRI 3 Malang.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dandokumentasi.Data yang telah terkumpul dan disusun selanjutnya dianalisis secara bertingkat, yaitu pada waktu peneliti masih ditempat penelitian atau pun sesudahnya dan dilakukan secara berulang-ulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Bentuk surat peringatan di SMK PGRI 3 Malang ada 3 yaitu; (a) SP 1diberikanjika siswa tidak masuk sekolah tanpa ijin 9 sampai dengan 17 jam pelajaran, tergantungperbuatan lain setaradenganperbuatanitu, misalnyasiswaramai di dalamkelas, tidakpiketkelas, terlambat, tidakmembawabukupaket. SP 1 keluar, diterimakan kepada siswa dan orang tua. Pemberian SP 1 berlaku dalamsatu semester sejak diberikan.(b) SP 2diberikanjika siswa tidak masuk sekolah tanpa ijin 18 sampai dengan 35 jam pelajaran. SP 2 keluar, diterimakan kepada siswa dan orang tua, disertai pemanggilan kepada orang tua untuk menghadap guru wali. Pemberian SP 2 apabila setelah SP 1 diberikan kemudian siswa masih melanggar peraturan.(c) SP 3diberikanjika siswa tidak masuk sekolah tanpa ijin 36 sampai dengan 59 jam pelajaran. SP 3 keluar, diberikan kepada siswa disertai pemanggilan orang tua untuk menghadap guru wali, dan membuatsuratpernyataanpenegasan kepada siswa dan orang tua apabila tidak ada perbaikan kehadiran, sehingga alpa mencapai 60 jam pelajaran dalam satu semester, maka akan dikeluarkan surat pemutusan studi. Pemberian SP 3 merupakan tahapan akhir apabila sudah mendapat SP1 dan SP 2. Dalam hal ini tergantung nilai perilaku dan akademik siswa jika baik maka akan perlu dipertimbangkan kembali sebelum pemutusan studi dilakukan. Prosedurpemberiansuratperingatan di SMK PGRI 3 Malang yaitumempunyai ketentuan yang sudah diatur dalam peraturan SMK PGRI 3 Malang yaitu; (a) tidak masuk sekolah tanpa ijin 9 sampai dengan 17 jam pelajaran, keluar SP 1. Diberikanolehkesiswaankepada guru walidansiswa; (b) tidak masuk sekolah tanpa ijin 18 sampai dengan 35 jam pelajaran, keluar SP 2. Diberikanolehkesiswaansertapemanggilan orang tua; (c) tidak masuk sekolah tanpa ijin 36 sampai dengan 59 jam pelajaran, keluar SP 3. Diberikankepada guru wali, orang tuadansiswa; (d) tidak masuk sekolah tanpa ijin 60 jam pelajaran, surat keputusan tentang pemutusan studi, keluar secara otomatis tanpa melalui proses pemanggilan orang tua; (e) keterangan; (1) Satu jam untuk kelas X dan XII: 45 menit; (2) Satu jam untuk siswa PRAKERIN: 60 menit (kelas XI). Efektivitaspemberiansuratperingatanuntukmembentukkarakterdisiplinsiswa. Pemberian surat peringatan efektif dalam membentuk karakter disiplin siswa. Salah satu tindakan untuk menetertibkan bebarapa siswa mengupayakan membuat surat peringatan yang jelas. Kepala sekolah yang disiplin dan teguh harus mampu mengarahkan dan mengkoordinasi para guru dan siswa agar bersikap tertib dan taat pada peraturan yang berlaku. Namun, sebagian dari beberapa siswa ada yang setuju dan tidak setuju dengan diterapkannya Surat Peringatan di SMK PGRI 3 Malang. Keefektifan Surat Peringatan di sekolah SMK PGRI 3 Malang tentunya tidak terpisahkan dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak sekolah. Misalnya, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, staf kesiswaan, guru, siswa dan orang tua murid. Semuanya diperlukan kerjasama yang baik guna untuk menciptakan kedisiplinan siswa. Saran agar pemberianSuratPeringatantetapdilaksanakanseefektifmungkin, serta kendala-kendala yang dihadapi terutama yang berkaitan dengan Surat Peringatan dapat dihindari dengan memberikan pembinaan atau sosialisasi kepada guru-guru dan orang tua.Bagi guru, untuk kedepan hendaknya meningkatkan kedisiplinan dan menjadi contoh yang baik untuk siswa.Bagi siswa, diharapkan untuk lebih disiplin dengan adanya pemberian Surat Peringatan.

Perbedaan kepribadian optimistik-pesimistik ditinjau dari minat musik rock dan musik pop pada mahasiswa Universitas Negeri Malang / Dilfia Fitriana Setiobudi

 

ABSTRAK Setiobudi, Dilfia Fitriana.2010. Perbedaan Kepribadian Optimistik-Pesimistik Ditinjau dari Minat Musik Pop dan Musik Rock pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Program Studi Psikologi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed. (II) Drs. Mochammad Bisri, M.Pd Kata kunci: Kepribadian Optimistik-Pesimistik, Musik Rock, Musik Pop Kesukaan pada musik, memberikan lebih pada kepribadian diri mereka juga orang lain daripada acara televisi kesukaan, buku-buku kesukaan, majalah kesukaan, dan film-film kesukaan. Keyakinan bahwa musik kesukaan dapat memberikan informasi psikologi secara akurat telah didukung oleh banyak penelitian-penelitian yang telah ditemukan korelasi secara signifikan antara musik kesukaan dan sifat kepribadian khusus (Perkins, 2008). Menurut Sukendro (2008), lirik lagu sangat mempengaruhi emosi. Baik negatif maupun positif. Lagu-lagu putus asa, katakatanya membuat kita lemah. Lagu-lagu perjuangan, kata-katanya membuat kita bersemangat. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap kepribadian optimistik-pesimistik mahasiswa peminat musik rock dan pop. Serta mengetahui perbedaan kepribadian optimistik-pesimistik mahasiswa Universitas Negeri Malang ditinjau dari minat musik rock dan pop. Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa angkatan tahun 2005. Mahasiswa angkatan 2005 telah memasuki masa dewasa awal yang menurut Wade (2008), dalam beberapa hal emerging adults, mereka menjadi kelompok yang paling mungkin menjalani hidup yang tidak stabil, merasa tidak memiliki akar yang kuat, dan tidak berani mengambil resiko. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan komparatif, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis hipotesis yang digunakan adalah teknik Mann_Whitney U. Jumlah subjek berjumlah 60 orang, dengan mahasiswa yang berminat terhadap musik pop sebanyak 30 subjek dan mahasiswa yang berminat terhadap musik rock sebanyak 30 subjek. Penelitian menggunakan angket optimisme yang dikembangkan oleh Seligman (1995). Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan antara mahasiswa yang berminat terhadap musik rock dan pop serta dapat dilihat dari hasil perhitungan p sebesar 0,000 < 0,05, dimana mahasiswa yang berminat terhadap musik pop memiliki kepribadian lebih optimis dibandingkan mahasiswa yang berminat terhadap musik rock. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada mahasiswa agar lebih cermat dalam pemilihan jenis musik yang ingin didengar, melihat pengaruhnya terhadap kepribadian dan dampaknya terhadap perilaku.

Peningkatan aktivitas dan kemampuan menyusun kalimat dalam karangan dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas V SDN Banjarkejen Pandaan / Syaichul Misbag

 

ABSTRAK Misbag, Syaichul. 2010. Peningkatan Aktivitas dan Kemampuan Menyusun Kalimat dalam Karangan dengan Menggunakan Media Gambar pada Siswa Kelas V SDN Banjarkejen Pandaan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Rumidjan, M. Pd, (2) Dra. Hj. Harti Kartini, M. Pd. Kata kunci: aktivitas, kemampuan, kalimat, karangan, gambar, SDN Banjarkejen. Pembelajaran mengarang di SD hendaknya disajikan secara menarik sehingga siswa termotivasi dan membuat aktivitas belajarnya menjadi efektif. Pembelajaran mengarang diawali dengan aktivitas menyusun kalimat yang sederhana menuju kalimat yang komplek untuk menjadi suatu karangan. Pembelajaran menyusun kalimat akan lebih efektif jika dibantu dengan gambar. Gambar sangat membantu siswa dalam memunculkan ide atau gagasan yang dapat dituangkan dalam bentuk tulisan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas siswa dan kemampuan menyusun kalimat yang pada akhirnya mampu menyusun karangan dengan menggunakan media gambar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan PTK dengan model siklus, dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Waktu pelaksanaan sejak bulan Pebruari sampai Maret 2010. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Banjarkejen Kecamatan Pandaan yang berjumlah 18 siswa. Dari hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan, yang semula pasif, banyak yang bergurau dengan temannya dan kurang memperhatikan penjelasan guru menjadi lebih aktif dalam diskusi kelompok, sering bertanya, sering menjawab pertanyaan dari guru dan bersemangat mengerjakan LKS. Begitu juga dengan kemampuan menyusun karangan juga mengalami peningkatan, yang semula hanya 4 siswa (22,2%) yang mencapai KKM yang telah ditetapkan yakni 70, setelah dilaksanakan tindakan, siswa yang mencapai KKM menjadi 14 siswa (77,8%). Oleh karena itu diharapkan dalam pembelajaran menyusun karangan hendaknya menggunakan media gambar.

Peningkatan hasil belajar keliling dan luas bangun datar melalui pendekatan penemuan terbimbing siswa kelas IV SDn Tumpang 02 Talun Kabupaten Blitar / Siti Nurjanah

 

ABSTRAK Nurjanah, Siti. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Keliling dan Luas Bangun Datar Melalui Pendekatan Penemuan Terbimbing Siswa Kelas IV SDN Tumpang 02 Talun kabupaten Blitar. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. M. Zaenudin, M.Pd. (2) Dra. Lilik Bintartik, M.Pd. Kata Kunci: Bangun Datar, Pendekatan PenemuanTerbimbing, Hasil Belajar Hasil musyawarah dengan guru bidang studi kelas IV SDN Tumpang 02 dan observasi pendahuluan sebelum melakukan penelitian ini, memberikan informasi bahwa kurang semangatnya siswa dalam pembelajaran matematika dikarenakan kurang tertariknya siswa dengan guru serta cara mengajar guru yang selalu mononton, yang hanya menyuruh siswa untuk memperhatikan pelajaran, tanpa diberi kesempatan bertanya tetapi langsung mengerjakan soal. Ketika pelajaran guru tidak begitu memperhatikan kesulitan siswa dalam belajar, meskipun sebenarnya siswa belum paham dengan materi yang disampaikan. Akan tetapi siswa takut untuk bertanya karena hardikan guru akan diterima jika siswa banyak bertanya. Dalam pembelajaran, metode yang digunakan guru dirasa siswa kurang menarik dan membosankan. Guru hanya menerangkan materi berdasarkan buku secara cepat dan singkat. Proses pemahaman materi tidak penting, yang utama siswa dapat memperoleh nilai hasil akhir dengan cepat dan tepat. Sesuatu yang membuat siswa bosan dalam pembelajaran yaitu tidak adanya media yang dapat menarik minat siswa untuk memahami materi yang diajarkan. Selain itu diketahui juga ternyata siswa kelas IV ini, masih belum memiliki pemahaman konsep bangun datar yang benar, terutama konsep keliling dan luas bangun jajar genjang dan segitiga. Dimana siswa masih bingung dan belum benar dalam mengidentifikasi bangun, menentukan rumus serta menghitung keliling dan luasnya. Berdasarkan hal-hal di atas mengakibatkan siswa merasa bosan, dan merasa sukar dalam memahami materi yang berimbas pada hasil belajar yang kurang memuaskan Dalam pembelajaran matematika diharapakan siswa memiliki konsep matematika yang benar, dapat menjelaskan keterkaitan konsep dan mengaplikasikan konsep secara tepat dalam pemecahan masalah demi meningkatkan hasil belajar yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu diperlukan adanya perubahan pembelajaran dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul Peningkatan Hasil Belajar Keliling dan Luas Bangun Datar melalui Pendekatan Penemuan Terbimbing. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penemuan terbimbing dengan menggunakan media papan panel. Dengan pendekatan ini siswa akan dapat memahami konsep melalui penyelidikan secara bebas, melakukan terkaan, intuisi, dan mencoba-coba (trial and error) serta menarik kesimpulan. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana pelaksanaan pendekatan penemuan terbimbing dengan menggunakan media papan panel untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang konsep keliling dan luas bangun datar, (2) apakah hasil belajar siswa dapat meningkat melalui pendekatan pendekatan penemuan terbimbing dengan menggunakan media papan panel. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) untuk mendiskripsikan pelaksanaan pendekatan penemuan terbimbing dengan menggunakan media papan panel dalam upaya meningkatakan hasil belajar siswa tentang konsep keliling dan luas bangun datar, (2) untuk mengetahui dan mendiskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui pendekatan penemuan terbimbing dengan menggunakan media papan panel. Tehnik pengumpulan data menggunakan observasi, tes dan dokumentasi. Sasaran penelitian adalah siswa kelas IV SDN Tumpang 02 Talun Kabupaten Blitar dengan jumlah siswa 24 anak. Dua macam data temuan dalam penelitian ini adalah (1) data keterlaksana- an pendekatan penemuan terbimbing dengan menggunakan media papan panel, (2) data peningkatan hasil belajar siswa melalui pendekatan penemuan terbimbing. Keterlaksanaan pembelajaran penemuan terbimbing melalui media papan panel dari siklus I ke siklus berikutnya semakin meningkat. Peningkatan keterlaksanaan pendekatan penemuan terbimbing meningkat dari skor 44 dengan persentase 73,3% pada siklus I, skor 53 dengan persentase 88,3% pada siklus II menjadi skor 60 dengan persentase 100% pada siklus III. Peningkatan keterlaksanaan tersebut termasuk dalam kategori cukup menjadi baik dan sangat baik. Hasil belajar siswa sudah mengalami peningkatan baik secara individu maupun secara klasikal. Rata-rata nilai hasil belajar yang menunjukkan ketuntasan individu sebesar 74,2 pada siklus I , 76,2 pada siklus II dan 82,5 pada siklus III. Sedangkan untuk ketuntasan hasil belajar secara klasikal pada siklus I mencapai 62,5%, pada siklus II mencapai 66,6% dan pada siklus III meningkat menjadi 79,1%. Dalam pembelajaran guru dapat menerapkan pendekatan penemuan terbimbing di kelas lain atau pada mata pelajaran yang lain untuk meningkatkan pemahaman materi serta hasil belajar. Sedangkan untuk siswa jangan belajar hanya mengahafal saja, akan tetapi harus benar-benar mampu memahami materi atau memiliki konsep belajar yang benar, sehingga apabila dihadapi suatu masalah atau soal dapat menyelesaikanya dengan baik dan benar.

Pelaksanaan pengembangan produk Flexi pada PT. Telkom Kancatel Pasuruan / Ragil Wijayanti

 

Wijayanti, Ragil.2009. Implementation of Product Development FLEXI at PT. Telkom Kancatel Pasuruan. Practicum Final Report III Marketing Management, Marketing Management Programs D III Faculty of Economics, State University of Malang . Advisors: Drs. Agus Hermawan, M. Si, Grad Dip MGT., M. Buses Keywords: Product development The essence of human beings have wants and needs are very diverse. Wants and needs a variety of both physical and non physical, so that if the desire nor the physical or non physical needs were met then be satisfied. But if not fulfilled it will lead to dissatisfaction. Communication is one of the current human needs, because every communication is needed whatever it necessary. Given that, in this era of globalization of communication has grown rapidly. Number of companies that compete with the tight in the field of communication, the more shows if the communication is very necessary. In Indonesia, a company engaged in telecommunications such as, PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk or PT. Telkom, in which one of its products is TELKOMFLEXI. Flexi is the telecommunications services of voice and data wirelessly with access based on CDMA technology (Code Division Multiple Access) use cost-effective because it refers to the rate of fixed telephone lines (fixed line). The definition of CDMA (Code Division Multiple Access) is a multiple access technology, where each customer uses a unique code contained in the access channel in the system. This product was launched by PT Telkom to meet the needs of the community and also faces competition in the telecommunications business is lately very strict. The author of this thesis aims to (1) to assess the Flexi product development at PT. Telkom Kancatel Pasuruan, (2) to know the purpose of the Flexi product development at PT. Telkom Kancatel Pasuruan, (3) to determine the factors to be supporting and Flexi products in development at PT. Telkom Kancatel Pasuruan. Implementation of the Flexi product development at PT. Telkom Kancatel Pasuruan, a company seeking the product or add products that are produced in accordance with the needs and desires of today's market and with new technologies as well. This is because consumer tastes are heterogeneous and always tend to be fickle, demanding the company to offer new products to satisfy consumer tastes and consumer needs of a particular product. Product development is done to maintain or build sales. Under this practice, the authors have done, so as for suggestions that the writer wanted to convey to PT. Telkom Kancatel Pasuruan, are (1) PT. Telkom Kancatel Pasuruan should be minimize the spread of the signal tower Telkom Flexi uneven in Pasuruan, (2), PT Telkom Kancatel Pasuruan look should be more promotion by other operators in terms of rates or the cost of new services, (3) PT. Pasuruan Kancatel Telkom should be able to pay more attention to the needs and desires of consumers today.

The implementation of the teaching of english at al Kautsar Kindrgarten Malang by Etty Rahmawati

 

ABSTRACT Rahmawati8, W.2003. The Implementationo f the Teachingo f Engtish at Al Kautsar Kindergarten Malang. Thesis, English Departrnent, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: (I) Prof Hj. Kasihani K.E. Suyanto, M.A., Ph.D.,( ID Dra. FuraidahM, .A. Keywordsi:m plementation,t he teachingo f English, Al Kautsark indergarten This study aimed at investigating the implementation of the teaching of Eng. lish at Al Kautsark indergartenc, omprising:( 1) the schoolp olicy in includingE nglish as an extracurriculars ubject,( 2) the syllabusu sed,( 3) the qualificationo f the Englisht eacher,( 4) the descriptiono f the teachinga nd leamingo f Engrish,( 5) instructional materials used, (6) teaching techniques used, (7) media used, (8) evaluation,( 9) problemsf acedb y the Englisht eacher,a nd (10) the parents'o pinions,s up ports,a nd expectationsto ward the English lesson. This study was a descriptive research in the form ofcase study. The subjects were the students ofgroup B (the higher grade), the English teacher, the school principal, and the students' parents. Data were collected through interviews, observation, and the use of questionnaire then they were descriptively analyzed. Some findings werep resentedu sing tabulationsa nd percentages. The findings showed that the aim of the teaching of English was to introduce English as another means of communication and to make the students familiar with English_beforest udlng in elementarys chool so that they would not havea ny sigmficant diffrculties in their leaming. Al Kautsar kindergarten did not have English syllabus. The teaching of English was based on the list of materials referred tothe topics in the 1994 Kindergarten Basic course outline. The qualification of the Engiish teacher, in generol, was still lacking. Her educational background was not engn*r education and she neverjoined seminars, trainings, or workshops on teaching English to young learners. Furthermore, her pronunciation needs improving and heiteaching attitude requires improvement as well. The materials, which were introduction to English words, were not creatively presented.T he techniquesw ere monotonous.T he media were not various and rarely used. The evaluation conducted did not serve nl_elsanst ituation.T he problemsf aced by the English teacherw ere teachingb oredom which was rooted in the unvaried teaching materials and the big class size. Apart from that, the.students' parents gave positive attitude toward the teaching ofEngiish and supported their children's leaming of English. The findings indicited that th€ teaching of English at Al Kautsar kindergarten was stiil insufficiently implemented

Penerapan strategi pelayanan sebagai usaha meningkatkan kepuasan pelanggan pada toko buku diskon Toga Mas Malang / Andik Prasetyo

 

Prasetyo, Andik. 2010 .Penerapan Strategi Pelayanan Sebagai Usaha Meningkatkan Kepuasan Pelanggan Pada Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang. Jurusan Mananajemen. Program Studi D3 Manajemen Pemasaran. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dr. Aniek Indrawati, S.Si, M.M. Kata kunci : strategi, kepuasan konsumen. Proses pelayanan konsumen dalam memenuhi kebutuhannya adalah bagian dari strategi bersaing. Strategi bersaing disini dimaksudkan yaitu bagaimana suatu perusahaan menerapkan strategi pelayanan yang optimal kepada konsumen, dimana pada saat ini banyak perusahaan bermunculan untuk menjadi pesaing dengan perusahaan yang telah berdiri sebelumnya. Hal ini dapat dilihat pada Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang yang melaksanakan berbagai strategi pelayanan untuk mendapatkan kepuasan dari konsumennya. Subyek yang dipergunakan sebagai sumber data penelitian adalah Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang. Tujuan penelitian ini pada Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang yaitu ” (1)Bagaimanakah bentuk layanan yang telah diberikan oleh Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang dalam upaya menciptakan kepuasan pelanggan, (2)Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan pelayanan pada Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang, (3)Bagaimana strategi pelayanan yang sesuai untuk dilakukan pada Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang dalam upaya meningkatkan kepuasan pelanggan”. Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang selalu untuk menciptakan dan meningkatkan kepuasan kepada konsumennya. Dalam hal ini kepuasan pelanggan terletak atau berfokus pada kualitas maupun kuantitas pelayanan yang diberikan. Dalam prosesnya ada lima hal yang mempengaruhi bentuk pelayanan yang terdapat di Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang yaitu: (1) bukti fisik (tangibles), (2) keandalan (realibility), (3) daya tanggap (responsiveness), (4) jaminan (assurance), (5) empati (emphaty). Faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang terbagi menjadi 2 bagian yang sangat berpengaruh guna kelangsungan usaha Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang kedepannya nanti yang digunakan sebagai acuan dan pedoman. Bagian tersebut yaitu faktor kekuatan yang dimiliki dan faktor kelemahan yang harus dihadapi Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang. Adapun beberapa keunggulan pelayanan yang dimiliki oleh Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang adalah sebagai berikut : (1) produk utama (primer) yaitu buku yang memiliki mutu keasliannya langsung dari penerbitnya dan Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang selalu memberikan harga yang langsung diskon, (2) Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang selalu mengetahui apa saja yang dibutuhkan konsumennya, (3) adanya karyawan yang cekatan dan siaga dalam melayani konsumen di setiap sudut Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang, (4) adanya fasilitas seperti adanya komputer dan telepon yang ada pada Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang, (5) fasilitas ruangan yang terisi dengan musik-musik yang membuat konsumen tidak bosan atau jenuh, (6) ada kamera pengintai yang dipasang di setiap sudut toko yang selalu memantau keadaan konsumen yang datang di Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang, (7) tersedianya toilet, (8) produk yang disediakan oleh Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang selalu baru, (9) penataan produk pada rak disusun sesuai dengan jenisnya. Walaupun memiliki kekuatan dalam pelayanan yang tidak diragukan lagi oleh para konsumen, penerapan strategi pelayanan konsumen pada Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang tentunya memiliki beberapa kelemahan yang perlu diatasi dengan segera. Beberapa kelemahan itu antara lain : (1) karyawan yang berada di setiap sudut toko terkadang membuat konsumen merasa kurang leluasa dalam pencarian produk yang dibutuhkan, (2) adanya area parkir yang kurang luas dan kurang nyaman untuk para konsumen dalam memarkir kendaraan mereka, (3) Fasilitas toilet yang tersedia kadang-kadang tidak diketahui oleh konsumen, (4) Tempat pengecekan ulang barang dari gudang ke lay out buku yang langsung terlihat konsumen, (5) Belum adanya pelatihan khusus untuk karyawan yang baru. Strategi pelayanan yang bertujuan untuk memuaskan konsumen sangatlah penting untuk diterapkan dalam suatu perusahaan dengan tujuan utama perusahaan itu sendiri yaitu mempertahankan suatu usaha. Ada beberapa strategi yang dapat dipadukan untuk menarik dan meningkatkan kepuasan konsumen yang datang di Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang : (1) strategi relationship marketing (hubungan baik), (2) strategi superior customer service (pelayanan konsumen yang unggul), (3) strategi unconditional guarantees atau extraordinary guarantees (jaminan tidak bersyarat), (4) strategi penanganan keluhan yang efektif. Strategi Pelayanan yang sesuai untuk diterapkan pada Toko Buku Toga Mas Malang adalah : (1) strategi relationship marketing (hubungan baik), (2) strategi superior customer service (pelayanan konsumen yang unggul), (3) strategi unconditional guarantees atau extraordinary guarantees (jaminan tidak bersyarat), (4) strategi penanganan keluhan yang efektif. Toko Buku Diskon TOGA MAS Malang masih mempunyai beberapa kelemahan-kelemahan yang harus segera untuk dibenahi untuk menjadikan Toko Buku Diskon TOGA MAS menjadi yang lebih baik, berikut solusi-solusinya : (1)Seharusnya karyawan di sana tidak perlu terlalu mengawasi konsumen di setiap sudut toko, (2) Perlu adanya pembaruan tentang area parkir dengan cara memperluas parkir disana agar lebih luas dan nyaman, (3)Seharusnya pihak toko membuatkan sendiri toilet khusus untuk konsumennya dan khusus untuk karyawannya sendiri, (4) Seharusnya pihak toko membuatkan sendiri tempat khusus untuk proses pengecekan barang, (5) Seharusnya pihak toko selalu mengadakan pelatihan untuk seluruh karyawan baru agar dapat meningkatkan kinerja karyawan dan sumber daya manusianya.

Pengembangan jaringan lokal di SMA Negeri 1 Kejayan menggunakan PC router mikrotik dan suse / Ribut Wahidi, Safi'udin

 

Wahidi, Ribut. 2009. Pengembangan Jaringan Lokal di SMA Negeri 1 Kejayan Menggunakan PC Router Mikrotik Dan Suse. Tugas Akhir, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: I Made Wirawan, S.T., S.S.T. Kata kunci : Proxy, PC router, bandwidth, Filterisasi Situs Porno. Teknologi Informasi atau Information Technology saat ini sudah menjadi kebutuhan mendasar dalam setiap organisasi terbukti saat ini hampir tidak ada organisasi bisnis atau perusahaan bahkan instansi pendidikan yang tidak menggunakan teknologi informasi khususnya komputer. Dengan perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat ini, SMA Negeri 1 Kejayan bisa dibilang tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi, karena di SMA Negeri 1 Kejayan sudah ada 2 Laboratorium Komputer. Pada Lab. Multimedia koneksi internet menggunakan Speedy, sedangkan Lab. Komputer satunya dan Ruang Guru Menggunakan koneksi internet dari Jardiknas. Melihat kenyataan ini penulis ingin membangun jaringan Intranet dan proxy server pada lab komputer dan Ruang Guru yang terkoneksi dengan Jardiknas, guna mengoptimalkan penggunaan internet dengan menggunakan PC Router berbasis Mikrotik dan SuSE. Pada perancangan PC router ini diawali instalasi mikrotik dan SuSE, dilanjutkan konfigurasi IP address, kemudian mengkonfigurasi mikrotik sebagai pusat filterisasi situs porno dengan cara memasukkan alamat situs dan keyword yang mengandung unsur pornografi/pornoaksi pada web proxy access list. Dari hasil pengujian PC router mikrotik dan SuSE secara keseluruhan diperoleh hasil bahwa piranti sesuai dengan rancangan, yaitu: (1) Membagi kedua jaringan Ruang Guru dan Lab Komputer untuk mencegah penyebaran virus atara kedua jaringan dan mengamankan file sharing pada Ruang Guru agar tidak bisa diakses dari Lab Komputer, (2) Membatasi akses situs porno berdasarkan daftar blacklist situs porno, (3) mengaktifkan DHCP Server pada jaringan Ruang Guru. Dengan melihat hasil yang dicapai, untuk pengembangan lebih lanjut disarankan: (1) Memperbarui daftar filterisasi alamat situs dan keyword seiring dengan perkembangan dari situs porno tersebut, (2) Perlu dilakukan upgrade mikrotik ke versi yang terbaru agar mendapatkan penyempurnaan sistem dan stabilitas dari PC Router, (3) Upgrade PC Router yaitu penambahan memory dan kapasitas hardisk untuk mendukung kinerja Proxy Server.

Listrik pra bayar (LPB) sebagai salah satu bentuk layanan prima dalam alternatif penghematan energi pada PT. PLN (Persero) UP. Dinoyo Malang / Ndari Agustin

 

Ndari Agustin, 2010.Listrik Pre-Paid (LPB) as one of the alternative forms of Prima Services Energy Savings at PT PLN (Persero) UP.Dinoyo Malang. Final Project, Department of Marketing Management, State University of Malang FE. Lecturer: Handri Dian Wahyudi, S.Pd., SE, M. Sc Keywords: Pre-Paid Electricity, excellent service, Technology The globalization of the economy had an impact on the business environment changes towards the importance of services as a source of competitive advantage a company. In the era of service-based economy, excellent service a key determinant of corporate success to build the strength of competition and won a very tight business competition. In order to provide excellent service simple for customers by exploiting advances in technology, the system created Pre-Paid Electricity Sales (LPB). Prepaid system will provide efficient impact of PT. PLN (Persero) from penyerdehanaan business processes and accuracy of recording and selling electricity. The purpose of this final author is to determine the ability of excellent service Pre-Paid Electricity (LPB) as an alternative to energy savings in the PT. PLN (Persero) UP. Dinoyo Malang, to know the procedure for Pre-Paid Electricity (LPB), which in the given PT. PLN (Persero) UP. Dinoyo Malang and to identify the supporting and inhibiting factors in implementing the Pre-Paid Electricity excellent service conducted PT PLN (Persero) UP. Dinoyo Malang. Based on the results of these activities during the street vendors can find the service provided by PT PLN (Persero) UP. Dinoyo Malang is excellent service based on the concept of Attitude (attitude), attention (attention) and action (action), which in this case the result of excellent service provided to consumers with made Pre-Paid Electricity sales system (LPB). With the use of prepaid electricity indirectly realized we could help one government program that is saving energy, which, in reality, the decrease in the energy supply in Indonesia today. As for the supporting factors of electric service for prepaid customers can easily monitor the use of electricity at any moment, can discipline yourself to use electricity on budget spending, no longer dealing with a recording meter and payment schedules of each month, can buy a token (the rechargeable electrical energy) the payment point, there are no delinquent term, customer privacy is not disturbed, are not subject to Guarantee Money Subscriptions, fast switching implementation. There are a few suggestions that can improve the quality of customer service excellence provided by PT. PLN (Persero) UP Dinoyo namely increasing the stock of prepaid meters and multiply the points of service network Token purchases.

Pelaksanaan strategi pelayanan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan pada bengkel rsmi Honda Ahass 1875 UMS motor I Pabelan Sukoharjo / Ari Indra Rahmawati

 

Sekarang ini persaingan dalam dunia bisnis sangat ketat sekali, maka setiap perusahaan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang terkait bagi konsumen yang optimal. Memberikan kepuasan pelanggan dengan pelayanan yang terbaik sangat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing perusahaan dalam menghadapi lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan kompetitif. Setiap strategi yang digunakan oleh perusahaan pada dasarnya bertujuan untuk menarik perhatian dan mempengaruhi konsumen agar mau menggunakan jasa yang ditawarkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pihak perusahaan dalam pelayanannya harus mendapatkan kepuasan. Kunci keberhasilan suatu perusahaan yakni mampu memahami kebutuhan konsumen atau nasabah, keinginan dan harapan pelanggan. Sebab dapat dikatakan bahwa jika pelayanan yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan pelanggan, maka pelayanan dapat dipersepsikan baik, begitu juga sebaliknya jika pelayanan yang diterima atau dirasakan lebih rendah atau kurang memuaskan dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan maka dapat dipersepsikan kualitas pelayanannya buruk. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas pelayanan dan menerapkan strategi-strategi pelayanan dalam memuaskan pelanggan. Adapun hal-hal yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah: (1). Bukti fisik/tangible, (2). Keandalan/reliability, (3). Daya tanggap/responsiviness, (4). Jaminan/assurance, (5). Empati/emphaty. Sedangkan cara yang bisa digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu: (1). Sistem keluhan dan saran, (2). Survey kepuasan pelanggan, (3). Belanja siluman, (4). Analisis pelanggan yang hilang. Ada pula strategi-strategi yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan adalah (1). Relationship Marketing, (2). Superior Customer Service, (3). Unconditional Guarantees atau Extraordinary Guarantees, (4). Strategi penanganan keluhan yang efektif, (5). Peningkatan kinerja perusahaan. Tujuan penulisan Laporan Tugas Akhir ini, untuk mengetahui bagaimana kualitas pelayanan yang diberikan oleh Bengkel Resmi Honda AHASS 1875 UMS Motor I Pabelan Sukoharjo dalam memberikan kepuasan pelanggan yang ada dan sudah mampukah mereka mempengaruhi suksesnya kegiatan pemasaran dan kualitas pelayanannya yang sesuai dengan harapan calon pelanggan ataupun pelanggan yang ada. Hasil yang didapat dari pengamatan yang dilakukan selama dilaksanakannya PKL di Bengkel Resmi Honda AHASS 1875 UMS Motor I Pabelan Sukoharjo menunjukkan bahwa strategi kepuasan pelanggan yang diterapkan oleh bengkel sudah cukup baik seperti kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan dalam pelayanan. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut disarankan agar bengkel resmi Honda AHASS dapat menjaga kestabilan waktu kerja servis secara fleksibel, dimana tergantung dengan apa yang menjadi tingkat kerusakan motor yang akan diperbaiki baik itu servis ringan maupun servis berat dengan catatan waktu pengerjaan servis secara standar dari AHM. Dengan menjaga tingkat waktu pelayanan atau bisa dikatakan jaminan mutu waktu untuk melayani konsumen di Bengkel Resmi Honda AHASS 1875 UMS Motor I tersebut maka akan diperoleh suatu kepuasan pelayanan pada pelanggan dan para calon pelanggan. Sehingga mampu menciptakan sebuah loyalitas di hati pelanggan dan menciptakan bisnis ulangan oleh pelanggan (repeat business)

Perbedaan kondisi sosial ekonomi pekerja sektor industri kerajinan batik tulis di Madura / Nila Eny Yustanti

 

ABSTRAK Yustanti, Nila Eny. 2010. Perbedaan Kondisi Sosial Ekonomi Pekerja Sektor Industri Kerajinan Batik Tulis di Madura. Skripsi, Jurusan Geografi, Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M. Si. (II) Drs. Djoko Soelistijo, M.SI. Kata Kunci: kondisi sosial,kondisi ekonomi, pekerja industri kerajinan. Pekerjaan dalam Industri kerajinan batik tulis ada dua yaitu sebagai pembatik dan pencelup, pekerjaan ini termasuk dalam home industri dan merupakan pekerjaan secara turun temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi pekerja sektor kerajinan industri batik tulis di Kabupaten Sumenep, mengetahui kondisi sosial ekonomi pekerja sektor kerajinan industri batik tulis di Kabupaten Pamekasan, dan Mengetahui perbedaan kondisi sosial ekonomi pekerja sektor kerajinan industri batik tulis di Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dalam bentuk survey dengan 187 populasi yang tersebar di Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Pamekasan pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposif sampling sehingga diperoleh 66 responden diantaranya 34 responden dari Kabupaten Sumenep dan 32 responden dari Kabupaten Pamekasan dengan menggunakan metode angket sebagai alat pengumpul data. Pengambilan datanya menggunakan 2 metode yaitu: dokumentasi dan angket. Analis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data sekunder terdiri dari kondisi geografis daerah penelitian, peta wilayah penelitian, dan keadaan penduduk yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Data primer terdiri dari kondisi sosial ekonomi pekerja sektor industri kerajinan batik tulis di Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Pamekasan yang dikumpulkan dengan teknik angket dan dokumentasi, analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis tabulasi tunggal dan uji t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pendidikan responden di Kabupaten Sumenep rata-rata SMP/ MTS, jenis pekerjaan terdiri dari pokok dan sampingan dimana pekerjaan pokok sebagai pencelup dan pembatik sedangkan sampingannya sebagai petani, tingkat produksi batik 12-55 lembar/bulan, pendapatan pengrajin perbulannya diperoleh dari hasil pendapatan sendiri dan pendapatan yang diperoleh anggota keluarga yang ikut bekerja (2) pendidikan responden di Kabupaten Pamekasan rata-rata SMP/ MTS, jenis pekerjaan terdiri dari pokok dan sampingan dimana pekerjaan pokok sebagai pencelup dan pembatik sedangkan sampingannya sebagai petani dan pedagang, tingkat produksi batik 12-55 lembar/bulan, pendapatan pengrajin perbulannya diperoleh dari hasil pendapatan sendiri dan pendapatan yang diperoleh anggota keluarga yang ikut bekerja (3) Berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep dengan menggunakan analisis tabulasi tunggal dan uji t-test diketahui ada perbedaan kondisi sosial ekonomi di kedua Kabupaten tersebut dimana dari tingkat pendidikan dan produksi lebih tinggi di Kabupaten Pamekasan. Sedangkan pendapatan tidak ada perbedaan.

Perbedaan pertumbuhan eksplan kotiledon tujuh genotipe jarak pagar (Jatropha curcas L.) pada media murashige skoog (MS) dengan penambahan IBA 0,4 mg/I dan BAP 0,5 mg/I secara in vitro / Haslinda Yasti Agustin

 

ABSTRAK Agustin, Haslinda Yasti. 2010. Perbedaan Pertumbuhan Eksplan Kotiledon Tujuh Genotipe Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) pada Media Murashige Skoog (MS) dengan Penambahan IBA 0,4 mg/l dan BAP 0,5 mg/l secara In Vitro. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Betty Lukiati, M.S., (II) Dr. Ir. Rully Dyah Purwati, M. Phil. Kata kunci: genotipe jarak pagar, pertumbuhan eksplan kotiledon. Cadangan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin menipis mendorong untuk memanfaatkan sumber-sumber bahan bakar alternatif yang dapat dikembangkan dan dapat diperbaharui (bahan bakar nabati). Tanaman jarak pagar (J. curcas) merupakan salah satu sumber bahan bakar nabati karena bijinya dapat digunakan sebagai bahan biodiesel. Pengembangan J. curcas dititikberatkan pada penyediaan bibit. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif perbanyakan tanaman yang mampu menghasilkan bibit dalam skala besar. Banyak genotipe J. curcas yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Genotipe yang dipilih untuk dikembangkan umumnya genotipe yang memiliki produksi yang tinggi tiap tahunnya, sehingga dapat dihasilkan bibit genotipe unggul. Penelitian ini menggunakan eksplan kotiledon tujuh genotipe J. curcas dari Balittas. Genotipe tersebut antara lain: B01, B48, B88, C72, D8, D28, dan D104. Penelitian dilakukan mulai bulan Oktober 2009 sampai dengan bulan Januari 2010 di Laboratorium Kultur Jaringan Pemuliaan Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas), Malang, Jawa Timur. Jenis penelitian adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan, tiap ulangan terdiri atas 5 botol kultur. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi: pertambahan berat eksplan, kecepatan munculnya kalus, persentase eksplan menjadi kalus, kecepatan munculnya tunas, persentase kalus membentuk tunas, dan jumlah tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum ada perbedaan pertumbuhan eksplan kotiledon tujuh genotipe J. curcas pada media MS dengan penambahan IBA 0,4 mg/l dan BAP 0,5 mg/l, dengan parameter: kecepatan pembentukan kalus, persentase eksplan menjadi kalus, kecepatan pembentukan tunas, dan persentase kalus membentuk tunas, tetapi tidak ada perbedaan untuk parameter pertambahan berat eksplan dan jumlah tunas. Genotipe yang mampu merespon pertumbuhan eksplan paling baik adalah genotipe D28, memiliki kelebihan dalam hal: semua eksplannya membentuk kalus, munculnya kalus rata-rata 9 hari, persentase pembentukan tunas paling tinggi, dan munculnya tunas paling cepat kedua dibawah genotipe D104. Saran yang dapat diusulkan berdasarkan hasil penelitian, sebaiknya dilakukan pengukuran kadar klorofil, serta anatomi kalus yang dihasilkan untuk melihat perbedaan pertumbuhan eksplan dan memperkuat hasil penelitian. Waktu penelitian sebaiknya dilakukan lebih dari 2 bulan untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. ii KATA PENGANTAR

Peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas IV SDN Karangsari 3 Kota Blitar / Purwo Hadi Saputro

 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DI KELAS IV A SDN KARANGSARI 3 KOTA BLITAR Oleh : Purwo Hadi Saputro ABSTRAK: Pemilihan model pembelajaran kooperatif STAD untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV A SDN Karangsari 3 Kota Blitar dalam pembelajaran IPS dilatarbelakangi oleh masalah rendahnya hasil belajar yaitu 65, karena selama ini guru menggunakan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus, setiap siklus secara berdaur meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah tes dan lembar observasi aktifitas siswa baik individ maupun kelompok. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan proses pembelajaran IPS di kelas III SDN Karangsari 3 Kota Blitar yaitu pada pratindakan sebesar 33%, siklus I 76% dan siklus II 100%dari hal tersebut dapat diketahui bahwa kenaikan prosesnya dari pra tindakan ke siklus I sebesar 43% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 24%. Dari hal tersebut dapat diketahui pula bahwa aktivitas siswa juga meningkat dari pra tindakan 0%, siklus I 74%, dan siklus II 80%. Hasil belajar siswa juga meningkat dari pra tindakan ke siklus I sebesar 43 % dan dari siklus I ke siklus II sebesar 24%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar atau aktivitas siswa. Kata kunci: model pembelajaran kooperatif STAD, hasil belajar, pembelajaran IPS

Efektivitas permainan tradisional untuk meningkatkan kreativitas verbal pada siswa sekolah dasar di MI Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang / Lily Maulidiyah

 

EFEKTIVITAS PERMAINAN TRADISIONAL UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS VERBAL PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI MI MAMBA’UL MA’ARIF DENANYAR JOMBANG ABSTRAK Kata kunci: permainan tradisional, kreativitas verbal Kreativitas verbal adalah suatu hal yang sangat penting bagi anak yang mulai belajar berinteraksi dengan orang lain yaitu mempunyai kemampuan verbal yang baik dan bersifat komunikatif terhadap orang lain. Dalam hal ini perlu pembelajaran yang dilakukan dengan cara bermain. Bermain erat kaitannya dengan tumbuhnya kemampuan untuk menciptakan gagasan baru, bersuka cita terhadap hal-hal baru, dan menciptakan suatu keadaan yang baru. Tujuan penelitian ini adalah a). untuk mengetahui kreativitas verbal kelompok kontrol, b). untuk mengetahui kreativitas verbal kelompok eksperimen, c). untuk mengetahui apakah permainan tradisional efektif untuk meningkatkan kreativitas verbal pada anak sekolah dasar. Subjek penelitian adalah anak MI Mamba’ul Ma’arif, berjumlah 60 anak yang berasal dari kelas yaitu Va dan Vb. Kelas Va menjadi kelompok kontrol sedangkan kelompok Vb menjadi kelompok ekpserimen. Masing-masing kelompok beranggotakan 30 orang yang kemudian dibagi menjadi kelompok kecil yang beranggotakan 5 anak pada setiap kelompok permainan. Desain penelitian yang digunakan adalah Static Group Design, jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa Tes Kreativitas Verbal yang dikembangkan oleh Utami Munandar yang terdiri dari enam sub tes kreativitas verbal adalah: permulaan kata, menyusun kata, membentuk kalimat tiga kata, sifat-sifat yang sama, macam-macam penggunaan dan apa akibatnya dan analisis data menggunakan uji beda non-parametrik Mann Whitney (Uji-U). Hasil penelitian menunjukan bahwa: a). kreativitas verbal kelompok kontrol dengan klasifikasi sebagai berikut: sebanyak 6 orang subyek (20,00%) memiliki kreativitas verbal yang tinggi, 16 orang (53,33%) memiliki kreativitas verbal yang cukup, 8 orang subyek (26,67%) memiliki kreativitas verbal yang 1   rendah, b) kreativitas verbal kelompok eksperimen memiliki mean sebesar 61.800, dengan klasifikasi sebagai berikut: sebanyak 22 orang subyek (73,33%) memiliki kreativitas verbal yang tinggi, 8 orang (26,67%) memiliki kreativitas verbal yang cukup, dan tidak ada subyek penelitian kelompok eksperimen yang memiliki kreativitas verbal yang rendah, c) hasil analisis Uji-U dengan signifikansi 0,000 menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang berarti dan berpengaruh pada peningkatan kreativitas verbal pada siswa sekolah dasar melalui pemberian permainan tradisional. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada: a) guru bidang studi bahasa Indonesia diharapkan menggunakan permainan tradisional cublak-cublak suweng dan gotri ala gotri yang telah dipraktikkan oleh peneliti untuk meningkatkan kreativitas, terutama kreativitas verbal pada siswa sekolah dasar, b) peneliti lanjutan disarankan melakukan uji ahli terlebih dahulu terhadap permainan tradisional yang akan di gunakan.

Penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran sejarah di SMP Islam As Shidiq Bululawang Malang / Muhammad Agus Wahyudi

 

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TPS (Think-Pair-Share) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII PADA MATA PELAJARAN SEJARAH DI SMP ISLAM AS SHODIQ BULULAWANG MALANG Muhammad Agus Wahyudi ABSTRAK: Hasil observasi awal pada siswa kelas VII SMP Islam As Shodiq, Kuwolu, Bululawang, Malang, diketahui bahwa: (1) Selama ini, metode yang digunakan dalam pembelajaran sejarah adalah ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Metode ceramah masih menjadi pilihan dalam penyampaian materi, sehingga siswa cenderung bosan, dan kurang bersemangat untuk belajar; (2) SMP Islam As Shodiq, Kuwolu, Bululawang, Malang, belum pernah menerapkan pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran sejarah di SMP Islam As Shodiq, Kuwolu, Bululawang, Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dalam dua kali tindakan, (2X40 menit) dan siklus II juga dilakukan dalam dua kali tindakan (2X40 menit). Tahapan pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model TPS (Think-Pair-Share) pada mata pelajaran sejarah di SMP Islam As Shodiq, Bululawang, Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil belajar siswa yang memperoleh nilai A pada siklus I hanya 4 siswa, sedangkan pada siklus II siswa yang mendapat nilai A berjumlah 8 siswa. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan pada ranah kognitif siswa dengan kriteria nilai A dengan jumlah siswa 12 anak. Pada nilai B terjadi penurunan. Siklus I, siswa yang memperoleh nilai B berjumlah 18 siswa. Nilai 4 rata-rata hasil pre tes pada siklus I adalah 48,0; pada post tes siklus I adalah 80; dan pada tes hasil belajar siswa siklus I adalah 83,46. Sedangkan nilai rata-rata hasil pre tes pada siklus I adalah 47,30; pada siklus II adalah 76,92; dan pada tes hasil belajar siswa siklus II adalah 89,23. Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Think-Pair-Share, Hasil Belajar. Pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share terdiri dari tiga tahap

Pelaksanaan pembelajaran program keahlian teknik konstruksi bangunan pada siswa kelas X SMK Negeri 1 Singosari Malang / Yundi Kurniawati

 

ABSTRAK Kurniawati, Yundi. 2010. Pelaksanaan Pembelajaran Program Keahlian Teknik Konstruksi Bangunan Pada Siswa Kelas X SMK Negeri 1 Singosari Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Made Wena, M.Pd., M.T (II) Drs. Pribadi, S.T., M.T. Kata Kunci: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi Sekolah Menengah Kejuruan merupakan sekolah yang mendidik siswa-siswanya untuk dapat terjun langsung ke dunia kerja. Untuk membentuk siswa yang terampil dan siap kerja, diperlukan kecapakan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran agar dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran Program Keahlian Teknik Konstruksi Bangunan adalah dengan membuat perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran khususnya pada siswa kelas X Program Keahlian Teknik Konstruksi Bangunan SMK Negeri 1 Singosari Malang. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Singosari Malang pada Program Keahlian Teknik Konstruksi Bangunan. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan teknik penelitian populasi. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X Program Keahlian Teknik Konstruksi Bangunan sebanyak 51 siswa. Teknik pengambilan data menggunakan kuesioner. Sedangkan teknik analisa data berupa statistik deskriptif yang meliputi analisa frekuensi, prosentase, mean dan grafik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran Program Keahlian Teknik Konstruksi Bangunan secara keseluruhan termasuk dalam kualifikasi sangat baik. Pada pelaksanaan pembelajaran mayoritas termasuk dalam kualifikasi sangat baik dan baik. Indikator lainnya yang termasuk dalam kualifikasi kurang baik atau jarang dilakukan adalah membangun suasana kelas sehingga menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan memberi kesempatan siswa untuk melakukan self-assessment (penilaian diri sendiri) peer-assessment (penilaian antar teman). Sedangkan Evaluasi hasil belajar siswa termasuk dalam kualifikasi sangat baik. Untuk indikator lainnya adalah guru lebih sering menggunakan format evaluasi pembelajaran sebagai jenis evaluasinya. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar guru sering membangun suasana yang menyenangkan sebelum memasuki pelajaran seperti mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari dengan topik/bahasan yang disukai siswa agar kegiatan pembelajaran tidak membosankan dan membangkitkan motivasi siswa agar lebih giat lagi di dalam proses pembelajaran, serta memberikan kesempatan siswa untuk melakukan kegiatan self-assessment (penilaian diri sendiri) peer-assessment (penilaian antar teman) dengan kriteria yang telah ditetapkan dalam proses pembelajaran agar guru mengetahui data-data umum tentang siswa seperti karakteristik, hobi, latar belakang individual siswa dan lain sebagainya.

Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS bagai siswa kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk / Dany Murjianto

 

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN IPS BAGI SISWA KELAS V SDN KEDUNGDOWO I KABUPATEN NGANJUK Dany Murjianto Abstract: Base on the observation output and experience so far, students are less active in the IPS teaching learning activity, they tend not to be so interested with the IPS lesson because up to know IPS lesson is supposed as a lesson that only need memorize, and the using of discourse method in teaching this lesson make the student boring so that the student output study become low. This can also be seen at the output UASBN got by the student during the last two years, year study 2007 – 2008 and 2008 – 2009, show the average mark only 6, 00 and 6, 50. This shows that IPS Mark is lower than the other lessons such as Indonesia language, which UASBN average mark in 2008 – 2009 reach 7, 25 and Math 7, 00. The aim of this research at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk is to describe the applying of the discussion method for teaching IPS at the fifth year students in SDN KedungdowoI Kab. Nganjukwhich can increase output study. The design of this research uses the qualitative descriptive approach; the kind of research is Class Action Research (PTK). The subject is the fifth year student at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk with total student is 32. The technique of collecting data is using test, documentation and observation during the lesson. Data analysis is carried out after giving the action for each cycle which has been done. From this output research shows that discussion method can increase the student output study the fifth year students at SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. It proves that there is an increasing output study and student activity for each its cycle. The increasing student activity on pre cycle is 0% increase to 46, 8% at cycle I and 87, 5% at cycle II. The average increase of student output study at pre cycle is 57, 75 increase to be 71 at cycle I and 77, 6 at cycle II. The increasing of class mastering, ketuntasan kelas, at pre cycle is 25% increase to be 65, 5% at cycle I and 90, 6 at cycle II’ It can be said that IPS teaching uses discussion method can increase the student output study and student activity during the lesson. This can be seen at the average class mark and the classical mastering, ketutasan klasikal, as shown above. The existence of teacher variation in conveying their teaching material is much needed so it can increase the student output study. Kata Kunci : pembelajaran IPS, metode diskus, hasil belajar siswa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan mempunyai posisi strategis dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia (Sujana, 2000). Posisi yang strategis tersebut dapat tercapai apabila pendidikan yang dilaksanakan mempunyai kualitas . Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal yaitu kualitas proses dan produk (Sudjana, 2000:5). Suatu pendidikan dikatakan berkualitas proses apabila proses belajar mengajar (PBM) dapat berlangsung secara efektif dan siswa akan mengalami proses pembelajaran yang bermakna. Pendidikan disebut berkualitas produk apabila siswa dapat menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan sasaran dan tujuan pendidikan. Dua kualitas tersebut dapat dilihat pada hasil belajar yang dinyatakan dalam proses akademik. Pembelajaran yang selama ini dilakukan lebih banyak menggunakan metode ceramah (klasikal) karena dianggap mudah dan murah. Dengan menggunakan metode ceramah, banyak kelemahan yang diperoleh di antaranya siswa menjadi jenuh jika guru tidak pandai menjelaskan. Pada saat menggunakan metode ceramah, materi yang disampaikan terbatas pada yang diingat guru dan tidak dapat mengembangkan kreatifitas siswa. Selain itu dengan metode ceramah hanya terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa. Keadaan yang seperti ini sangat merugikan bagi siswa yang memiliki ketrampilan mendengarkan terbatas, sehingga hasil UASBN (Ujian Akhir Sekolah Bersetandar Nasional) nilai IPS lebih rendah dari mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, khususnya di SDN Kedungdowo I siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar IPS. Siswa cenderung tidak begitu tertarik dengan mata pelajaran IPS karena selama ini pelajaran IPS dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa pada mata pelajaran masih kurang. Hal ini juga terjadi pada siswa yang ada di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk. Pada tanggal 24 April 2010 peneliti melakukan pengamatan pada saat guru menggunakan metode ceramah. Peneliti menemukan permasalahan antara lain: Pada saat guru menjelaskan materi dengan menggunakan metode ceramah, siswa tidak bersemangat mengikuti pembelajaran serta pembelajaran menjadi kurang bermakna. Selain itu dilihat dari hasil UASBN yang diperoleh siswa selama 2 tahun terakhir yaitu pada tahun pelajaran 2007-2008 dan tahun pelajaran 2008-2009 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hanya mencapai nilai 6,00 dan 6,50. Hal tersebut menunjukkan bahwa IPS nilainya masih rendah dan dari mata pelajaran yang lain seperti Bahasa Indononesia yang rata-rata nilai UASBN tahun pelajaran 2008-2009 mencapai 7,25 dan Matematika dengan rata-rata nilai 7,00. Kondisi ini menggambarkan hasil belajar yang diperoleh siswa SDN Kedungdowo I, dan keadaan ini juga menjadi gambaran kondisi pembelajaran di kelas lain pada sekolah ini. Misalnya seperti kondisi yang peneliti amati yaitu hasil belajar yang diperoleh siswa pada saat ulangan harian dan Ulangan Tengah Semester (UTS) rata-rata nilainya hanya 6,0 dan siswa yang memperoleh nilai baik tidak lebih dari separuh jumlah siswa kelas V yaitu hanya 12 siswa yang mendapatkan nilai baik. Kenyataan tersebut perlu adanya perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Guru hendaknya mampu menentukan dan mengembangkan salah satu metode pembelajaran yang dapat menarik kretifitas dan motivasi siswa untuk belajar serta baik dalam pembelajaran IPS. Dari alasan tersebut, dan sesuai dengan KTSP, untuk melatih agar anak memiliki kecakapan-kecakapan terhadap materi yang dipelajari perlu diadakan latihan-latihan melalui penerapan metode diskusi. Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Digunakannya metode ini dengan tujuan, agar siswa tidak merasa bosan, jemu dan jenuh. Dalam pembelajarannya juga harus menggunakan metode yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi anak untuk mengikuti pelajaran dengan baik dengan harapan hasil belajar siswa dapat meningkat. Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti mengambil judul”Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk”. Hasil pengamatan ini diharapkan nantinya guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan siswa menjadi lebih aktif dengan digunakannya metode diskusi sebagai salah satu metode pembelajaran. Identifikasi masalah 1)Dalam penyampaian materi mata pelajaran IPS, guru masih bersifat konvensional, 2)Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan, 3)Pada saat pembelajaran IPS, siswa cenderung menjadi bosan dan tidak menyukai mata pelajaran IPS, 4)Hasil belajar mata pelajaran IPS kurang optimal, nilai rata-rata di bawah nilai KKM Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)Siswa Menciptakan rasa senang dan lebih bersemangat serta termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. 2)Guru Sebagai sumber informasi dan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di sekolah, khususnya dalam penerapan metode diskusi. 3) Sekolah Sebagai salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah sehingga sekolah dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik serta dapat meningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Agar didapatkan keterangan yang lebih jelas maka diperlukan pengertian terhadap beberapa istilah yang ada pada judul adalah sebagai berikut: 1) Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah, 1998:99). 2)Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik (siswa) yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. 3) IPS adalah mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaran (Suradisastra, 1992:3). 4)Peningkatan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dari penampilan orang yang belajar ( Ibsik 1998:2) Rencana penelitian diperlukan untuk memudahkan kegiatan penelitian. Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui informasi secara lengkap tentang pemahaman siswa kelas V SDN Kedungdowo I terhadap mata pelajaran IPS Kompetensi dasar perjuangan dari tokoh-tokoh perjuangan di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun rancangan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis, Taggart dan Hopkins (Wiriaatmadja, 2006:66). Menurut ketiga ahli tersebut, pelaksanaan penelitian meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Alur pelaksanaan tindakan ini dapat di lihat pada gambar di bawah ini. Berikut ini adalah model PTK Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja, 2006:66) Berikut uraian dari bagan di atas. 1)Perencanaan (plan) mencakup rancangan apa yang akan dibuat dalam pelaksanaan pemecahan masalah, yaitu merancang rencana pembelajaran yang di-dalam skenario terdapat metode ceramah dan diskusi.2)Tindakan (act) yang dimaksud adalah pelaksanaan yang dilakukan berdasarkan rancangan yang dibuat, yaitu mempraktekkan sesuai rencana pembelajaran yang dibuat.3)Pengamatan (observe) dilakukan ketika tindakan itu terjadi dengan mencatat permasalahan apa lagi yang perlu diperbaiki. yaitu mengamati kekurangan yang harus diperbaiki dalam proses pembelajaran. Kekurangan yang timbul di antaranya kurang tepatnya metode yang diterapkan pada proses pembelajaran tersebut. Refleksi (reflect) tindakan mengevaluasi uji coba yang telah dilakukan, yaitu tinjauan kembali dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran. Memperbaikinya dengan menerapkan metode yang sesuai pada siklus ke 2. Instrumen penelitian ini berfungsi sebagai panduan pelaksanaan pengumpulan data yang dipilih. Untuk mendapatkan data data yang dimaksud dalam penelitian ini, maka digunakan instrument berupa 1) pedoman observasi untuk guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran berlangsung serta 2) soal tes yang dibuat oleh guru yang disesuaikan dengan materi dan kurikulum yang berlaku. Untuk keperluan tes, peneliti menggunakan instrument panduan tes yang memuat sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden yaitu siswa. Prosedur tes yang dipakai adalah peneliti memberikan tes kepada siswa sesudah pembelajaran selesai. Tes ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan Metode Diskusi pada siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif yaitu analisis yang disajikan dalam bentuk kata-kata atau kualitatif (Arikunto, 2003). Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti yaitu kegiatan memilah dan memilih data yang pantas untuk dipaparkan, kedua melakukan pemaparan data, dan ketiga pengambilan kesimpulan. Analisis data dilakukan sebelum dan sesudah penelitian tindakan kelas dilakukan. Dari penjelasan di atas, maka dapat dilakukan beberapa tindakan penelitian sebagai berikut : a)Data hasil belajar diambil dengan memberikan tes kepada siswa.b)Data tentang pelaksanaan pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan kelas ini diambil dari lembar pengamatan.c)Data tentang refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas diambil dari catatan pengamat dan peneliti.d)Tes akhir siklus dianalisa dengan menggunakan teknik analisa deskriptif persentase. Kriteria yang digunakan adalah apabila siswa memperoleh nilai 70 berarti siswa telah tuntas belajar, dan apabila siswa memperoleh nilai kurang dari 70 berarti siswa belum tuntas belajar. Dari hasil tes tersebut, dapat diketahui tentang ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dilihat dari skor pencapaian hasil belajar. Hasil belajar dari observasi pra siklus, siklus I dan siklus II dianalisis untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dan daya serap klasikal. Caranya dengan menganalisis nilai tes menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Tujuannya untuk mengetahui daya serap siswa dimana seorang siswa disebut tuntas belajar jika mencapai rerata skor ≥ 70 dan daya serap klasikal ≥ 70 %, artinya jika 70 % siswa mencapai nilai ≥ 70. Berdasarkan standar ketuntasan minimal yang dimiliki oleh SDN Kedungdowo I Nganjuk (Tim Penyusun KTSP, 2006: 32), rumus pencapaian rata-rata skor dan daya serap klasikal dapat diperoleh sebagai berikut: Nilai ketuntasan individu = B adalah skor siswa (2 x butir soal yang dijawab benar) N adalah total skor Nilai ketuntasan klasikal = I adalah jumlah siswa yang tuntas K adalah jumlah siswa dalam kelas Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan rumus P adalah angka persentase f adalah frekuensi yang sedang dicari persentasenya n adalah jumlah frekuensi/banyak individu (Sudijono, 2005:43) Setelah dianalisis kemudian dikonsultasikan dengan kriteria sebagai berikut: No Nilai Kriteria 1 ≤ 60 Sangat Kurang 2 60,1 – 70 Kurang Baik 3 70,1 – 80 Cukup Baik 4 80,1 – 90 Baik 5 90,1 – 100 Sangat Baik Observasi dilakukan oleh guru kelas dan teman sejawat. Observasi ini dilakukan untuk mengamati kegiatan guru maupun siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengobservasi kegiatan guru digunakan APKG yang dapat dilihat pada tabel 3.2 untuk menilai kegiatan prasiklus, siklus I dan siklus II. Sedangkan untuk mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran digunakan lembar observasi aktivitas siswa untuk observasi pra siklus, siklus I dan siklus II. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS di Kelas V bertujuan untuk melatih siswa dalam menemukakan ide, keaktifan, kerja sama serta tanggung jawab siswa terhadap tugas yang di berikan. Metode diskusi dilaksanakan dengan membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen yaitu dengan memperhatikan tingkat intelektual siswa. Hal ini dilakukan agar dalam setiap kelompok terdapat keheterogenan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Dalam melaksanakan pembelajaran guru harus mampu menerapkan metode yang sesuai dalam pembelajaran. Penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS merupakan salah satu cara yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Sudjana, 2000:91) yang mengungkapkan bahwa “metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan, juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain, seperti: tanya jawab, pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa, untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa”. Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi di awali dengan menemukan permasalahan yaitu dalam hal ini akan meningkatkan hasil belajar siswa. Setelah merumuskan permasalahan, peneliti menyusun perencanaan tindakan untuk siklus I. Dari perencanaan tersebut kemudian dilaksanakan. Pada saat pelaksanaan, guru didampingi guru kelas melakukan pengamatan terhadap jalannya pembelajaran. Pengamatan yang telah diperoleh di refleksi untuk perbaikan pelaksanaan pembelajaran disiklus berikutnya. Begitu seterusnya sampai tercapainya tujuan pembelajaran berhasil. Temuan penelitian tentang peningkatan aktifitas pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi disajikan dalam tabel berikut: memberikan informasi bahwa pengelolaan pembelajaran dari setiap siklus menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik. Jika pada siklus I guru tidak menggunakan metode diskusi dalam pelaksanaan pembelajaran skor pembelajaran medapatkan nilai 13, hal ini tidak terjadi pada siklus I maupun siklus II. Hal ini disebabkan karena pada siklus I dan II guru melakukan persiapan pembelajaran secara matang, selain itu dalam pelaksanaan siklus I dan siklus II ini guru menjadi mengerti apa-apa saja yang harus dilakukannya dalam pembelajaran sesuai dengan prosedur menerapkan metode diskusi. Pelaksanaan proses diskusi dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam menggungkapkan gagasan, menjalin kerja sama serta melatih siswa untuk bertanggung jawab. Hal in dibuktikan adanya persentase peningkatan dari 46,8% menjadi 87,5%. Pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi, khususnya pada mata pelajaran IPS yang di laksanakan di Kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya., peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57,75 prasiklus, pada 71 siklus I menjadi 77,6 pada siklus II, peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus, 65,6% pada siklus I menjadi 90,6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Walaupun keadaan ini belum mencapai 100% paling tidak ¾ dari jumlah siswa di kelas V sudah bisa di kategorikan tuntas belajar. Paparan di atas memberikan informasi bahwa apabila metode diskusi diterapkan sesuai dengan prosedur yang berlaku maka akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik secara kelompok maupun individu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan, juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain, seperti: tanya jawab, pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa, untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Dalam pembelajaran IPS sangat mendukung sekali dalam pencapaian tujuan pembelajaran dikarenakan dalam pembelajaran IPS siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar karena dipandang pembelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak penting. Dengan menggunakan metode diskusi pembelajaran IPS siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. Karena dalam pembelajaran melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif melakukan diskusi dalam pembelajaran Peneliti membuktikan bahwa dengan menerapkan metode diskusi pada pembelajaran IPS denagn materi pokok ”Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan”, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Terbukti dari hasil kegiatan penelitian mulai dari pra tindakan ke siklus I sampai siklus II, hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya., peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57,75 prasiklus, pada71 siklus I menjadi 77,6 pada siklus II, peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus, 65,6% pada siklus I menjadi 90,6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Tentunya disertai dengan metode yang tepat untuk memperlihatkan keaktifan siswa mengikuti pelajaran sebagai bentuk meningkatnya motivasi siswa. Saran Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan penarikan kesimpulan adalah dengan menerapkan Metode dikusi dalam pembelajaran IPS di kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa, sehingga metode pembelajaran ini hendaknya dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa baik pada mata pembelajaran IPS maupun pada pembelajaran lainnya, sehingga akan menambah referensi guru dalam memfasilitasi siswa mencapai tujuan pembelajaran. UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE DISKUSI DALAM PEMBELAJARAN IPS BAGI SISWA KELAS V SDN KEDUNGDOWO I KABUPATEN NGANJUK Dany Murjianto Abstract: Base on the observation output and experience so far, students are less active in the IPS teaching learning activity, they tend not to be so interested with the IPS lesson because up to know IPS lesson is supposed as a lesson that only need memorize, and the using of discourse method in teaching this lesson make the student boring so that the student output study become low. This can also be seen at the output UASBN got by the student during the last two years, year study 2007 – 2008 and 2008 – 2009, show the average mark only 6, 00 and 6, 50. This shows that IPS Mark is lower than the other lessons such as Indonesia language, which UASBN average mark in 2008 – 2009 reach 7, 25 and Math 7, 00. The aim of this research at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk is to describe the applying of the discussion method for teaching IPS at the fifth year students in SDN KedungdowoI Kab. Nganjukwhich can increase output study. The design of this research uses the qualitative descriptive approach; the kind of research is Class Action Research (PTK). The subject is the fifth year student at SDN Kedungdowo I Kab. Nganjuk with total student is 32. The technique of collecting data is using test, documentation and observation during the lesson. Data analysis is carried out after giving the action for each cycle which has been done. From this output research shows that discussion method can increase the student output study the fifth year students at SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. It proves that there is an increasing output study and student activity for each its cycle. The increasing student activity on pre cycle is 0% increase to 46, 8% at cycle I and 87, 5% at cycle II. The average increase of student output study at pre cycle is 57, 75 increase to be 71 at cycle I and 77, 6 at cycle II. The increasing of class mastering, ketuntasan kelas, at pre cycle is 25% increase to be 65, 5% at cycle I and 90, 6 at cycle II’ It can be said that IPS teaching uses discussion method can increase the student output study and student activity during the lesson. This can be seen at the average class mark and the classical mastering, ketutasan klasikal, as shown above. The existence of teacher variation in conveying their teaching material is much needed so it can increase the student output study. Kata Kunci : pembelajaran IPS, metode diskus, hasil belajar siswa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan mempunyai posisi strategis dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia (Sujana, 2000). Posisi yang strategis tersebut dapat tercapai apabila pendidikan yang dilaksanakan mempunyai kualitas . Kualitas pendidikan dapat diketahui dari dua hal yaitu kualitas proses dan produk (Sudjana, 2000:5). Suatu pendidikan dikatakan berkualitas proses apabila proses belajar mengajar (PBM) dapat berlangsung secara efektif dan siswa akan mengalami proses pembelajaran yang bermakna. Pendidikan disebut berkualitas produk apabila siswa dapat menunjukkan tingkat penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar sesuai dengan sasaran dan tujuan pendidikan. Dua kualitas tersebut dapat dilihat pada hasil belajar yang dinyatakan dalam proses akademik. Pembelajaran yang selama ini dilakukan lebih banyak menggunakan metode ceramah (klasikal) karena dianggap mudah dan murah. Dengan menggunakan metode ceramah, banyak kelemahan yang diperoleh di antaranya siswa menjadi jenuh jika guru tidak pandai menjelaskan. Pada saat menggunakan metode ceramah, materi yang disampaikan terbatas pada yang diingat guru dan tidak dapat mengembangkan kreatifitas siswa. Selain itu dengan metode ceramah hanya terjadi interaksi satu arah yaitu dari guru kepada siswa. Keadaan yang seperti ini sangat merugikan bagi siswa yang memiliki ketrampilan mendengarkan terbatas, sehingga hasil UASBN (Ujian Akhir Sekolah Bersetandar Nasional) nilai IPS lebih rendah dari mata pelajaran yang lain. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, khususnya di SDN Kedungdowo I siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar IPS. Siswa cenderung tidak begitu tertarik dengan mata pelajaran IPS karena selama ini pelajaran IPS dianggap sebagai pelajaran yang hanya mementingkan hafalan semata, kurang menekankan aspek penalaran sehingga hasil belajar siswa pada mata pelajaran masih kurang. Hal ini juga terjadi pada siswa yang ada di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk. Pada tanggal 24 April 2010 peneliti melakukan pengamatan pada saat guru menggunakan metode ceramah. Peneliti menemukan permasalahan antara lain: Pada saat guru menjelaskan materi dengan menggunakan metode ceramah, siswa tidak bersemangat mengikuti pembelajaran serta pembelajaran menjadi kurang bermakna. Selain itu dilihat dari hasil UASBN yang diperoleh siswa selama 2 tahun terakhir yaitu pada tahun pelajaran 2007-2008 dan tahun pelajaran 2008-2009 menunjukkan bahwa nilai rata-rata hanya mencapai nilai 6,00 dan 6,50. Hal tersebut menunjukkan bahwa IPS nilainya masih rendah dan dari mata pelajaran yang lain seperti Bahasa Indononesia yang rata-rata nilai UASBN tahun pelajaran 2008-2009 mencapai 7,25 dan Matematika dengan rata-rata nilai 7,00. Kondisi ini menggambarkan hasil belajar yang diperoleh siswa SDN Kedungdowo I, dan keadaan ini juga menjadi gambaran kondisi pembelajaran di kelas lain pada sekolah ini. Misalnya seperti kondisi yang peneliti amati yaitu hasil belajar yang diperoleh siswa pada saat ulangan harian dan Ulangan Tengah Semester (UTS) rata-rata nilainya hanya 6,0 dan siswa yang memperoleh nilai baik tidak lebih dari separuh jumlah siswa kelas V yaitu hanya 12 siswa yang mendapatkan nilai baik. Kenyataan tersebut perlu adanya perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Guru hendaknya mampu menentukan dan mengembangkan salah satu metode pembelajaran yang dapat menarik kretifitas dan motivasi siswa untuk belajar serta baik dalam pembelajaran IPS. Dari alasan tersebut, dan sesuai dengan KTSP, untuk melatih agar anak memiliki kecakapan-kecakapan terhadap materi yang dipelajari perlu diadakan latihan-latihan melalui penerapan metode diskusi. Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Digunakannya metode ini dengan tujuan, agar siswa tidak merasa bosan, jemu dan jenuh. Dalam pembelajarannya juga harus menggunakan metode yang dapat menumbuhkan minat dan motivasi anak untuk mengikuti pelajaran dengan baik dengan harapan hasil belajar siswa dapat meningkat. Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti mengambil judul”Upaya meningkatkan hasil belajar melalui metode diskusi dalam pembelajaran IPS siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk”. Hasil pengamatan ini diharapkan nantinya guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan siswa menjadi lebih aktif dengan digunakannya metode diskusi sebagai salah satu metode pembelajaran. Identifikasi masalah 1)Dalam penyampaian materi mata pelajaran IPS, guru masih bersifat konvensional, 2)Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan, 3)Pada saat pembelajaran IPS, siswa cenderung menjadi bosan dan tidak menyukai mata pelajaran IPS, 4)Hasil belajar mata pelajaran IPS kurang optimal, nilai rata-rata di bawah nilai KKM Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)Siswa Menciptakan rasa senang dan lebih bersemangat serta termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. 2)Guru Sebagai sumber informasi dan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran IPS di sekolah, khususnya dalam penerapan metode diskusi. 3) Sekolah Sebagai salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran di sekolah sehingga sekolah dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik serta dapat meningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Agar didapatkan keterangan yang lebih jelas maka diperlukan pengertian terhadap beberapa istilah yang ada pada judul adalah sebagai berikut: 1) Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah, 1998:99). 2)Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik (siswa) yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. 3) IPS adalah mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaran (Suradisastra, 1992:3). 4)Peningkatan hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dari penampilan orang yang belajar ( Ibsik 1998:2) Rencana penelitian diperlukan untuk memudahkan kegiatan penelitian. Dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui informasi secara lengkap tentang pemahaman siswa kelas V SDN Kedungdowo I terhadap mata pelajaran IPS Kompetensi dasar perjuangan dari tokoh-tokoh perjuangan di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun rancangan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis, Taggart dan Hopkins (Wiriaatmadja, 2006:66). Menurut ketiga ahli tersebut, pelaksanaan penelitian meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Alur pelaksanaan tindakan ini dapat di lihat pada gambar di bawah ini. Berikut ini adalah model PTK Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja, 2006:66) Berikut uraian dari bagan di atas. 1)Perencanaan (plan) mencakup rancangan apa yang akan dibuat dalam pelaksanaan pemecahan masalah, yaitu merancang rencana pembelajaran yang di-dalam skenario terdapat metode ceramah dan diskusi.2)Tindakan (act) yang dimaksud adalah pelaksanaan yang dilakukan berdasarkan rancangan yang dibuat, yaitu mempraktekkan sesuai rencana pembelajaran yang dibuat.3)Pengamatan (observe) dilakukan ketika tindakan itu terjadi dengan mencatat permasalahan apa lagi yang perlu diperbaiki. yaitu mengamati kekurangan yang harus diperbaiki dalam proses pembelajaran. Kekurangan yang timbul di antaranya kurang tepatnya metode yang diterapkan pada proses pembelajaran tersebut. Refleksi (reflect) tindakan mengevaluasi uji coba yang telah dilakukan, yaitu tinjauan kembali dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran. Memperbaikinya dengan menerapkan metode yang sesuai pada siklus ke 2. Instrumen penelitian ini berfungsi sebagai panduan pelaksanaan pengumpulan data yang dipilih. Untuk mendapatkan data data yang dimaksud dalam penelitian ini, maka digunakan instrument berupa 1) pedoman observasi untuk guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran berlangsung serta 2) soal tes yang dibuat oleh guru yang disesuaikan dengan materi dan kurikulum yang berlaku. Untuk keperluan tes, peneliti menggunakan instrument panduan tes yang memuat sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk mendapatkan informasi dari responden yaitu siswa. Prosedur tes yang dipakai adalah peneliti memberikan tes kepada siswa sesudah pembelajaran selesai. Tes ini digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dengan menggunakan Metode Diskusi pada siswa kelas V di SDN Kedungdowo I Kab Nganjuk. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif yaitu analisis yang disajikan dalam bentuk kata-kata atau kualitatif (Arikunto, 2003). Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti yaitu kegiatan memilah dan memilih data yang pantas untuk dipaparkan, kedua melakukan pemaparan data, dan ketiga pengambilan kesimpulan. Analisis data dilakukan sebelum dan sesudah penelitian tindakan kelas dilakukan. Dari penjelasan di atas, maka dapat dilakukan beberapa tindakan penelitian sebagai berikut : a)Data hasil belajar diambil dengan memberikan tes kepada siswa.b)Data tentang pelaksanaan pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan kelas ini diambil dari lembar pengamatan.c)Data tentang refleksi diri serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas diambil dari catatan pengamat dan peneliti.d)Tes akhir siklus dianalisa dengan menggunakan teknik analisa deskriptif persentase. Kriteria yang digunakan adalah apabila siswa memperoleh nilai 70 berarti siswa telah tuntas belajar, dan apabila siswa memperoleh nilai kurang dari 70 berarti siswa belum tuntas belajar. Dari hasil tes tersebut, dapat diketahui tentang ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dilihat dari skor pencapaian hasil belajar. Hasil belajar dari observasi pra siklus, siklus I dan siklus II dianalisis untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dan daya serap klasikal. Caranya dengan menganalisis nilai tes menggunakan kriteria ketuntasan belajar. Tujuannya untuk mengetahui daya serap siswa dimana seorang siswa disebut tuntas belajar jika mencapai rerata skor ≥ 70 dan daya serap klasikal ≥ 70 %, artinya jika 70 % siswa mencapai nilai ≥ 70. Berdasarkan standar ketuntasan minimal yang dimiliki oleh SDN Kedungdowo I Nganjuk (Tim Penyusun KTSP, 2006: 32), rumus pencapaian rata-rata skor dan daya serap klasikal dapat diperoleh sebagai berikut: Nilai ketuntasan individu = B adalah skor siswa (2 x butir soal yang dijawab benar) N adalah total skor Nilai ketuntasan klasikal = I adalah jumlah siswa yang tuntas K adalah jumlah siswa dalam kelas Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan rumus P adalah angka persentase f adalah frekuensi yang sedang dicari persentasenya n adalah jumlah frekuensi/banyak individu (Sudijono, 2005:43) Setelah dianalisis kemudian dikonsultasikan dengan kriteria sebagai berikut: No Nilai Kriteria 1 ≤ 60 Sangat Kurang 2 60,1 – 70 Kurang Baik 3 70,1 – 80 Cukup Baik 4 80,1 – 90 Baik 5 90,1 – 100 Sangat Baik Observasi dilakukan oleh guru kelas dan teman sejawat. Observasi ini dilakukan untuk mengamati kegiatan guru maupun siswa selama proses pembelajaran. Untuk mengobservasi kegiatan guru digunakan APKG yang dapat dilihat pada tabel 3.2 untuk menilai kegiatan prasiklus, siklus I dan siklus II. Sedangkan untuk mengamati kegiatan siswa selama pembelajaran digunakan lembar observasi aktivitas siswa untuk observasi pra siklus, siklus I dan siklus II. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pada penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS di Kelas V bertujuan untuk melatih siswa dalam menemukakan ide, keaktifan, kerja sama serta tanggung jawab siswa terhadap tugas yang di berikan. Metode diskusi dilaksanakan dengan membagi siswa dalam beberapa kelompok yang heterogen yaitu dengan memperhatikan tingkat intelektual siswa. Hal ini dilakukan agar dalam setiap kelompok terdapat keheterogenan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Dalam melaksanakan pembelajaran guru harus mampu menerapkan metode yang sesuai dalam pembelajaran. Penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS merupakan salah satu cara yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Sudjana, 2000:91) yang mengungkapkan bahwa “metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan, juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain, seperti: tanya jawab, pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa, untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa”. Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan metode diskusi di awali dengan menemukan permasalahan yaitu dalam hal ini akan meningkatkan hasil belajar siswa. Setelah merumuskan permasalahan, peneliti menyusun perencanaan tindakan untuk siklus I. Dari perencanaan tersebut kemudian dilaksanakan. Pada saat pelaksanaan, guru didampingi guru kelas melakukan pengamatan terhadap jalannya pembelajaran. Pengamatan yang telah diperoleh di refleksi untuk perbaikan pelaksanaan pembelajaran disiklus berikutnya. Begitu seterusnya sampai tercapainya tujuan pembelajaran berhasil. Temuan penelitian tentang peningkatan aktifitas pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi disajikan dalam tabel berikut: memberikan informasi bahwa pengelolaan pembelajaran dari setiap siklus menunjukkan peningkatan ke arah yang lebih baik. Jika pada siklus I guru tidak menggunakan metode diskusi dalam pelaksanaan pembelajaran skor pembelajaran medapatkan nilai 13, hal ini tidak terjadi pada siklus I maupun siklus II. Hal ini disebabkan karena pada siklus I dan II guru melakukan persiapan pembelajaran secara matang, selain itu dalam pelaksanaan siklus I dan siklus II ini guru menjadi mengerti apa-apa saja yang harus dilakukannya dalam pembelajaran sesuai dengan prosedur menerapkan metode diskusi. Pelaksanaan proses diskusi dapat meningkatkan ketrampilan siswa dalam menggungkapkan gagasan, menjalin kerja sama serta melatih siswa untuk bertanggung jawab. Hal in dibuktikan adanya persentase peningkatan dari 46,8% menjadi 87,5%. Pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi, khususnya pada mata pelajaran IPS yang di laksanakan di Kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya., peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57,75 prasiklus, pada 71 siklus I menjadi 77,6 pada siklus II, peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus, 65,6% pada siklus I menjadi 90,6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Walaupun keadaan ini belum mencapai 100% paling tidak ¾ dari jumlah siswa di kelas V sudah bisa di kategorikan tuntas belajar. Paparan di atas memberikan informasi bahwa apabila metode diskusi diterapkan sesuai dengan prosedur yang berlaku maka akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik secara kelompok maupun individu. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian informasi atau materi pelajaran yang selain dilakukan secara lisan, juga divariasikan (dikombinasikan) penggunaanya dengan cara penyampaian lain, seperti: tanya jawab, pemberian tugas dan sebagainya. Adanya kombinasi dari beberapa metode ini adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai oleh siswa, untuk merangsang siswa aktif dan untuk lebih memantapkan penguasaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan sehingga dapat berpengaruh baik terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Dalam pembelajaran IPS sangat mendukung sekali dalam pencapaian tujuan pembelajaran dikarenakan dalam pembelajaran IPS siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar karena dipandang pembelajaran IPS merupakan pelajaran yang tidak penting. Dengan menggunakan metode diskusi pembelajaran IPS siswa lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPS. Karena dalam pembelajaran melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang aktif melakukan diskusi dalam pembelajaran Peneliti membuktikan bahwa dengan menerapkan metode diskusi pada pembelajaran IPS denagn materi pokok ”Menghargai peranan tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan”, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Terbukti dari hasil kegiatan penelitian mulai dari pra tindakan ke siklus I sampai siklus II, hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari pencapaian hasil belajar yang diperoleh siswa yaitu meningkat pada tiap siklusnya., peningkatan rata-rata hasil belajar siswa sebesar pada 57,75 prasiklus, pada71 siklus I menjadi 77,6 pada siklus II, peningkatan ketuntasan kelas dari 25% pada prasiklus, 65,6% pada siklus I menjadi 90,6% pada siklus II. Maka penerapan metode diskusi dalam pembelajaran IPS dapat membawa dampak yang baik bagi peningkatan hasil prestasi belajar siswa. Tentunya disertai dengan metode yang tepat untuk memperlihatkan keaktifan siswa mengikuti pelajaran sebagai bentuk meningkatnya motivasi siswa. Saran Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan penarikan kesimpulan adalah dengan menerapkan Metode dikusi dalam pembelajaran IPS di kelas V SDN Kedungdowo I Kabupaten Nganjuk dapat meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa, sehingga metode pembelajaran ini hendaknya dapat diterapkan oleh guru untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran pada siswa baik pada mata pembelajaran IPS maupun pada pembelajaran lainnya, sehingga akan menambah referensi guru dalam memfasilitasi siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Hubungan persepsi siswa tentang keterampilan dasar mengajar guru dengan hasil belajar siswa kelas X restoran di SMK Negeri 7 Malang / Agus Gazali Rahman

 

ABSTRAK Rahman, Agus Gazali. 2010. Hubungan Persepsi Siswa tentang Keterampilan Dasar Mengajar Guru dengan Hasil Belajar Siswa Kelas X Restoran Di SMK Negeri 7 Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Program Studi S1 Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Etta Mamang Sangadji, M. Si. (II) Dra. Rina Rifqie Mariana, M.P. Kata Kunci: Persepsi siswa, keterampilan dasar mengajar guru, hasil belajar. Kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar memerlukan adanya tanggapan, penilaian, dan koreksi oleh pihak siswa agar tetap bisa menciptakan suasana belajar yang memungkinkan siswa untuk berprestasi secara maksimal sehingga siswa memiliki hasil belajar yang baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan persepi siswa tentang keterampilan dasar mengajar guru yang terdiri dari keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, dan keterampilan mengelola kelas baik secara parsial maupun simultan dengan hasil belajar siswa. Penelitian ini termasuk penelitian eksplanatory (explanatory research) dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah korelasional. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas X Restoran SMK Negeri 7 Malang yang berjumlah 67 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket dan dokumentasi. Hasil penelitian diketahui: (1) Persepsi siswa tentang keterampilan membuka dan menutup pelajaran berhubungan secara parsial dengan hasil belajar siswa, (2) Persepsi siswa tentang keterampilan menjelaskan pelajaran berhubungan secara parsial dengan hasil belajar siswa, (3) Persepsi siswa tentang keterampilan bertanya berhubungan secara parsial dengan hasil belajar siswa, (4) Persepsi siswa tentang keterampilan memberi penguatan berhubungan secara parsial dengan hasil belajar siswa, (5) Persepsi siswa tentang keterampilan mengadakan variasi berhubungan secara parsial dengan hasil belajar siswa, (6) Persepsi siswa tentang keterampilan mengelola kelas berhubungan secara parsial dengan hasil belajar siswa, (7) Persepsi siswa tentang keterampilan dasar mengajar guru berhubungan secara simultan dengan hasil belajar siswa. Berdasarkan penelitian ini saran yang dapat diberikan sehubungan dengan kesimpulan di atas adalah (1) Bagi pihak sekolah diharapkan dapat memberikan pembinaan terhadap guru dalam meningkatkan keterampilan dasar mengajar, (2) Bagi guru produktif kelas X Restoran berusaha untuk meningkatkan keterampilan dasarnya dalam mengajar, (3) Bagi siswa untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimilikinya untuk meningkatkan hasil belajar yang baik dengan cara selalu mengikuti KBM (kegiatan belajar mengajar), (4) Bagi pembaca yang berminat melanjutkan penelitian ini diharapkan untuk menyempurnakan yaitu dengan menggunakan/memperluas variabel yang akan diteliti. Sehingga hasil ini diharapkan dapat mengungkap lebih banyak permasalan dan memberikan hasil dalam temuan penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Implementasi strategi pelayanan melalui program PPOB dalam rangka meningkatkan kepuasan pelanggan PT> PLN (Persero) distribusi Jatim A&PJ MAlang unit pelayanan Dinoyo / Endang Novianingsih

 

Saat ini tenaga listrik mempunyai peranan yang sangat penting dalam peningkatan kesejahteraan dan kemkmuran rakyat pada umumnya, serta mendorong peningkatan kegiatan ekonomi pada khusunya. PT. PLN memberikan pelayanan jasa yang bertujuan untuk melayani pelanggan, calon pelanggan secara sistematis untuk menghindari kekeliuran dan mempermudah dalam pelayanaan pelanggan sehingga menjadikan lebih efektif dan efisien. Dengan memberikan bentuk pelayanan yang jelas, maka akan memberikan kemudahan bagi pelanggan. PPOB merupakan salah satu wujud dari kecanggihan teknologi yang dipadukan dengan tingkat pengetahuan SDM yang dimiliki PT. PLN (Persero) sehingga terwujudlah suatu kemudahan yang dicapai pelanggan melalui program PPOB dalam hal sistem pembayaran listrik. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui strategi pelayanan pada PT. PLN melalui program PPOB, mengidentifikasi serta mengkaji penyosialisasian penerapan PPOB dan mengetahui faktor pendukung dan penghambat penerapan PPOB yang telah terjadi dalam memberikan pelayanan guna meningkatkan kepuasan pelanggan pada PT. PLN (Persero) Penerapan pelayanan guna meningkatakan kepuasan pelanggan pada PT. pln adalah untuk meningkatakan strategi pelayanan antara lain (1) strategi layanan pada PPOB berdasarkan karakteriskik pelayanan, intangibility,inseparability, variability, perishability dan untuk menciptakan kepuasan pelaggan yang terdiri dari strategi relationship marketing, superior customer, extraordinary, strategi penanganan keluhan (2) sistem komunikasi penyampaian PPOB yang terdiri dari mengidentifikasi pendengar,menentukan tujuan komunikasi, merancang pesan yang akan disampaikan, memilih saluran komunikasi, membuat anggaran total untuk promosi, menetapkan bauran promosi (3) faktor pndukung dan penghambat dalam memberikan layanan pelanggan, beberapa faktor pendukung memberikan pelayanan cepat, tepat, aman, ramah-tamah, dan nyaman sedangkan faktor penghambat yaitu komunikasi terjadi secara simultan, intensitas tenaga kerja yang tinggi, dukungan terhadap pelanggan internal, kesenjangan komunikasi, memperlakukan konsumen dengan cara sama, pengembangan jasa berleihan dan visi bisnis jangka pendek. Berdasarkan hasil penulisan, disarankan semua elemen pada PT. PLN menerapkan strategi pelayanan dengan baik serta dapat mempertahankan kualitas pelayanan yg sudah diterapkan sebelumnya dan tetap menjaga kondisi kerja yang kondusif dan harmonis.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) bagai siswa kelas IV SDN Dawuhan I Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk / Rike Dewi Puspitasari

 

ABSTRACT Puspitasari, Rike Dewi. 2010. Improvement of result social science by Teams Games Tournament model (TGT) for the fourth class of SDN Dawuhan I Jatikalen Nganjuk. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar Pra Sekolah, FIP, University of Education Malang, Counsellor (I) Drs. H. Hadi Mustofa, M.Pd, (II) Dra. Suminah, M.Pd. Kata kunci : result of learn, study of TGT, social studies Pursuant to result of perception, model used by study is teacher of social science more predominated by direct study model by using combination some method that is discourse, discussion, duty, and question and answer. So that stu-dent seen less active and affect at result learn student showing mean under 6,00. This research aim to described (1) study of Teams Games Tournament (TGT) of social science lesson, and (2) make-up of result social science of the fourth class in SDN Dawuhan I Jatikalen-Nganjuk. Method which is used in this research use descriptive qualitative method. Research type the used is penelitian tindakan kelas (PTK) by 2 cycle. Each cycle consist of 4 phase that is: a) planning, b) act, c) observation, and d) reflection. Result of this research indicate that model study of type cooperative of TGT can improve result learn class student of IV SDN Dawuhan I Jatikalen-Nganjuk. This proven by existence of the make-up of result learn and livelines of student at every its cycle. Make-Up of result learn student at action pre phase that is 0% mounting to become 23% and from cycle of I to cycle of II go up equal to 25%. From the result can be concluded that study of IPS by using type coopera-tive model of TGT proven can improve result learn student during study. Model study of TGT can be applied by teacher to improve; repair study of IPS in order to become more better.

Studi kekerabatan berbagai macam Uwi di Jawa Timur, Berdasarkan morfologi vegetatif / Novie Ary Priyanti

 

STUDI KEKERABATAN BERBAGAI MACAM UWI di JAWATIMUR, BERDASARKAN MORFOLOGI VEGETATIF Novie Ary Priyanti Abstrak: Uwi merupakan tumbuhan semacam umbi-umbian yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan termasuk anggota Dioscoreaceae. Uwi memiliki banyak kultivar dan tumbuh di berbagai daerah di Pulau Jawa. Berdasarkan pengamatan beberapa tumbuhan uwi yang dilakukan pada mata kuliah Biosistematik Tumbuhan, ditemukan variasi penampakan morfologi daun, batang serta umbi pada tumbuhan uwi.Variasi yang banyak ditemukan pada tumbuhan uwi ini mendorong keingintahuan yang lebih untuk mengetahui apakah dari beberapa macam tumbuhan uwi tersebut memiliki kekerabatan yang dekat atau justru sebaliknya. Di JawaTimur,uwi banyak dikenal dan dapat digunakan sebagai bahan pangan alternative bagi masyarakat. Berbagai macam uwi di Jawa Timur pada khususnya masih belum banyak diteliti sehingga belum diketahui secara pasti pola kekerabatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi dari cirri morfologi vegetatif yang ditemukan pada tumbuhan uwi, karakter dari ciri yang ditemukan, serta jarak hubungan kekerabatan antar tumbuhan uwi yang ditemukan di JawaTimur. Tumbuhan uwi yang digunakan dalam penelitian ini ialah tumbuhan uwi yang diperoleh dari empat daerah di JawaTimur yaitu, Malang, Pacitan, Tulungagung dan Probolinggo. Ciri morfologi vegetatif yang diamati dari tumbuhan uwi yang diperoleh meliputi ciri batang, daun serta umbi. Penelitian ini ialah penelitian deskriptif, dengan mengamati ciri-ciri morfologi vegetative dari berbagai macam tumbuhan uwi menggunakan mikroskop cahaya dan mikrometer sekrup pada aspek daun dan batang. Dilaksanakan pada bulan Oktober 2009 sampai dengan Januari 2010.Tahapan yang digunakan dalam penelitian ialah observasi, koleksi, deskripsi, identifikasi dan klasifikasi. Hasil pengamatan kemudian dianalisis untuk dibuat karakter dan dendogram. Hasil penelitian terdapat 13 kultivar,cirri morfologi vegetative uwi terdapat 112 ciri, ciri khas dari tumbuhan uwi ini ialah terdapatnya sayap pada batang dan tangkai daun, batang yang bersegi, serta helaian daun berbentuk jantung. Ciri yang dapat dijadikan karakter ada 63 ciri.Jarak hubungan kekerabatan terdekat ditemukan pada uwi ular Malang dan uwi ulo Pacitan sebesar 0,70 dan hubungan kekerabatan terjauh ditemukan pada uwi putih Tulungagung dan uwi etem Probolinggo yaitu sebesar 0,39. Uwi katak Tulungagung dengan uwi katak Pacitan memiliki tingkat kesamaan sebesar 0,55 tetapi tidak memiliki hubungan dengan tumbuhan uwi lainnya yang ditemukan di Jawa Timur. Penelitian selanjutnya disarankan untuk daerah yang lebih luas dan ciri yang berbeda pula seperti ciri morfologi generatif, ciri anatomi dan molekuler, sehingga didapatkan hasil yang lebih akurat. Kata kunci : kekerabatanuwi, JawaTimur, cirimorfologivegetatif

Peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas IV melalui pendekatan pakem di SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul kota Blitar / Dista Sovia Anggraini

 

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV MELALUI PENDEKATAN PAKEM DI SDN BENDO 2 KECAMATAN KEPANJENKIDUL KOTA BLITAR Dista Sovia Anggraini Abstract: This research is aimed to: to describe and to know the application of PAKEM approach at the fraction increment and and to describe and to know the increase of mathematics achievement about fraction increment and decrease subject of the fourth grade. This research uses classroom action research descriptive qualitative approach with collaboration participation model. The subject of this research is the fourth grade students. The result of this research shows the application to the PAKEM approach to the fourth grade student’s mathematic subject is very good. It is supported and indicated by all of the PAKEM aspects have been full filled as long as teaching learning process. It is also follows by significant increase of the student’s achievement. Kata Kunci: Hasil Belajar, Matematika, Pendekatan PAKEM Pembelajaran matematika operasi hitung bilangan di sekolah dasar berbeda dengan di sekolah lanjutan dan perguruan tinggi. Bila pembelajaran operasi hitung bilangan di sekolah lanjutan dan perguruan tinggi bersifat deduktif dan formal, maka pembelajaran operasi hitung bilangan di SD bersifat induktif. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan objek konkrit di lingkungan siswa. Dengan melalui pengamatan pada objek konkrit di lingkungannya siswa dapat memecahkan masalah berkaitan dengan bilangan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pengalaman yang dilakukan terhadap proses pembelajaran matematika yang berlangsung di SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar diperoleh hasil yang kurang memuaskan, yaitu dari 30 siswa hanya 8 siswa saja yang nilainya dapat mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal) atau > 61,79, sedangkan 28 siswa lainnya masih belum dapat mencapai KKM atau < 61,79. Hal ini dikarenakan: (1) guru menunjukkan contoh-contoh pengerjaan bilangan secara langsung dan cepat di papan tulis tanpa memberitahukan tahapan-tahapan pengerjaannya dan kemudian siswa diberikan soal latihan, (2) siswa belum paham betul materi sebelumnya, (3) siswa jarang sekali bertanya pada guru tentang materi yang belum mereka kuasai, (4) tidak tampak siswa mengungkapkan gagasannya, (5) suasana belajar yang tercipta di dalam kelas kurang menyenangkan dan beberapa siswa terlihat tegang dalam menerima pelajaran, dan (6) guru mengabaikan pengetahuan siswa sebelumnya. Rumusan masalah yang ditentukan adalah: (1) bagaimana penerapan pendekatan PAKEM pada mata pelajaran Matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar, dan (2) bagaimana peningkatan hasil belajar Matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan melalui pendekatan PAKEM di kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Tujuan yang diharapkan adalah: (1) untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan pendekatan PAKEM pada mata pelajaran Matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan di kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar, dan (2) untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar Matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan melalui pendekatan PAKEM di Kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Pengertian Matematika Herman Hudoyo (1994:4) menjelaskan bahwa: matematika itu berkenaan dengan ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan penalarannya didasarkan sistem deduktif, berpangkal dari pengertian dasar yang tidak didefinisikan kemudian diturunkan dalam aksioma-aksioma yang dikembangkan dan akhirnya menghasilkan teorema-teorema yang dibuktikan berdasarkan teorema definisi terdahulu. Dengan demikian dapat diketahui bahwa matematika berasal dari ide-ide yang abstrak yang tersusun secara runtut dan penalarannya didasarkan pada pemikiran yang dimulai dari cara berpikir umum ke khusus, kemudian dikem-bangkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian yang akhirnya menghasilkan teori yang dibuktikan berdasarkan teori terdahulu. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Matematika Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan sekolah dasar meliputi aspek-aspek sebagai berikut: (1) bilangan, (2) Geometri dan pengukuran serta (3) Pengolahan data (Depdiknas, 2006:35). Cakupan bilangan antara lain bilangan dan angka, perhitungan serta perkiraan. Cakupan geometri antara lain bangun dua dimensi, tiga dimensi, transformasi, simetri, lokasi dan susunan berkaitan dengan koordinat. Cakupan pengukuran berkaitan dengan perbandingan kuantitas suatu objek penggunaan satuan ukuran dan pengukuran. Hakikat PAKEM Sekolah dapat dimisalkan sebagai suatu pabrik yang menghasilkan suatu hasil. Sebagai suatu pabrik sekolah menerima masukan/bahan mentah yaitu calon siswa. Calon siswa tersebut diolah melalui proses pembelajaran agar menjadi hasil atau lulusan yang baik. Dengan demikian, bagian proses inilah yang sangat penting, sehingga dari waktu ke waktu dicermati untuk terus ditingkatkan kualitasnya. Pengelolaan, pengembangan dan penerapan PAKEM dimaksudkan untuk memperbaiki proses pembelajaran dengan keyakinan akan meningkatkan mutu hasil lulusan. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. calon siswa lulusan Menurut Oemar Hamalik (1994:57) pembelajaran adalah “suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran”. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga perpustakaan. Material antara lain buku-buku, papan tulis, dan kapur tulis. Fasilitas dan perlengakapan antara lain ruang kelas dan komputer. Prosedur antara lain jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, dan ujian. Berbicara tentang pembelajaran, menurut Supriono dan Ahmad Sapari (2001:21) menyatakan bahwa “pembelajaran tidak akan lepas dengan pengalaman belajar yang mesti diberikan kepada peserta didik agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup maupun untuk meningkatkan kualitas dirinya sehingga mampu menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat (life long education)”. Dengan demikian maka pembelajaran tidak akan lepas dengan pengalaman-pengalaman belajar siswa terdahulu dengan pengalaman belajar saat ini dan hal itu sangat berhubungan satu sama lain. Pengalaman belajar tersebut diberikan kepada siswa agar siswa memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk hidupnya kelak sehingga belajar akan terus dilaksanakan sepanjang hayat. Matematika merupakan salah satu pelajaran yang berguna untuk masa depan siswa. Tetapi banyak siswa beranggapan bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi guru untuk dapat menciptakan pembelajaran yang baik sehingga dapat membuat siswa tidak lagi menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Menurut Tim Penyusun (2005:54), secara umum PAKEM dapat digambar-kan sebagai berikut: Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa seperti aktif dalam memantau kegiatan belajar siswa, memberikan pertanyaan yang menantang, memberi umpan balik, dan mempertanyakan gagasan siswa. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan pembelajaran yang beragam serta dapat menciptakan alat bantu belajar sederhana. Efektif bilamana pembelajaran yang dilaksanakan mencapai tujuan pembelajaran sehingga siswa dapat menguasai dan memperoleh ketrampilan yang diperlukan dari tujuan ketrampilan pembelajaran tersebut. Menyenangkan adalah suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu dan pusat perhatiannya tinggi serta pembelajaran yang dapat memungkinkan siswa untuk berani mencoba/berbuat, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat/gagasan dan berani mempertanyakan gagasan orang lain. Pernyataan di atas merupakan tujuan penerapan PAKEM dari segi guru. Sebagai seorang guru dalam menerapkan PAKEM hendaknya memenuhi beberapa kriteria yang ditentukan dalam penerapan PAKEM dan sebisa mungkin menciptakan suatu kondisi belajar mengajar yang sesuai dengan hakikat PAKEM. Di sini peran guru adalah sebagai fasilitator yang bertugas memberikan kemudah-an bagi siswanya. Peran aktif dari siswa tersebut sangat penting yaitu untuk membentuk generasi yang kreatif yang mampu menghasilkan sesuatu yang ber-guna baik berguna untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam PAKEM juga menuntut adanya kreatifitas guru dalam menciptakan pembelajaran yang beragam. Guru yang kreatif salah satu contohnya dalam pembelajaran dapat me-manfaatkan sumber-sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar. Misalnya, Koran, lingkungan sekitar, orang tua, atau tokoh masyarakat. Hal itu dapat di-wujudkan dengan adanya pembelajaran yang dilaksanakan di luar kelas dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar siswa. Dengan demikian, maka pem-belajaran yang berlangsung akan menarik keaktifan siswa, dapat mengembangkan kreatifitas siswa dan menyenangkan bagi semua siswa karena banyaknya sumber belajar yang bisa dimanfaatkan secara kreatif oleh guru. Hasil karya siswa dapat dipasang dan dipamerkan sebagai bukti dari kreatifitas dan ketrampilan siswa. Selain itu, hasil karya siswa tersebut merupakan bagian dari kegiatan akhir pem-belajaran yang telah dilakukan dan dapat disimpan anak sebagai wujud laporan kepada orang tua selain rapor sekolah. Menurut pembelajaran PAKEM, pembelajaran yang baik adalah pem-belajaran yang didalamnya mengandung keaktifan siswa. Tim Penyusun (2005: 54) menjelaskan secara umum PAKEM dari segi siswa dapat digambarkan sebagai berikut: Aktif dimaksudkan sebagai kegiatan siswa terlibat aktif dalam mengemukakan pertanyaan, mengemukakan gagasan, mempertanyakan gagasan orang lain dan gagasannya. Kreatif artinya siswa kreatif merancang, membuat sesuatu, melaporkan dan sebagainya. Efektif dari segi siswa dimaksudkan bahwa siswa memiliki berbagai keterampilan yang diperlukan. Menyenangkan dari segi siswa maksudnya siswa berani mencoba, berani bertanya, berani mengemukakan gagasan, berani mempertanyakan gagasan orang lain, senang dalam melakukan kegiatan sehingga terdorong untuk belajar terus sepanjang hayat dan mandiri. Dengan siswa melakukan kegiatan dalam pembelajaran secara langsung maka pembelajaran tersebut akan bermakna bagi siswa dan siswa akan terus mengingat dari apa yang telah dipelajarinya. Dengan demikian konsep-konsep yang telah dipelajari oleh siswa akan tertanam dalam pikiran siswa sehingga siswa tidak mudah lupa. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif jenis penelitian tindakan kelas dengan model kolaboratif partisipatoris. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV. Lokasi penelitian adalah kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar yang beralamat di Jl. Cimedang no.37 Kelurahan Bendo Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian ini dilaksanakan pada semester Genap 2009-2010 SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. Penelitian dilaksanakan selama 5 bulan mulai bulan Desember 2009 hingga terselesaikannya penelitian yaitu bulan April 2010. Berdasarkan pendekatan dan jenis penelitian, maka kehadiran peneliti di lapangan sangat diperlukan. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai guru (pengajar) dan dibantu oleh mitra peneliti yaitu guru kelas IV yang bertindak sebagai pengamat (observer). Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan 4 cara yaitu, observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan dilakukan dengan cara: (1) membandingkan data hasil pengamatan dan data hasil wawancara, (2) membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil pekerjaan siswa, (3) konsultasi dengan dosen pembimbing yang dimaksudkan untuk memperoleh masukan tentang rancangan pembelajaran, proses pelaksanaan dan data yang diperoleh dari hasil penelitian. Selanjutnya penggunaan teknik pengecekan dengan mitra peneliti (diskusi) bertujuan untuk membicarakan proses yang dilakukan dalam tindakan maupun tentang hasil penelitian. HASIL Berikut ini adalah rekapitulasi hasil kegiatan pembelajaran pada tahap pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Peningkatan terhadap hasil belajar siswa pada tahap pra tindakan, siklus I, dan siklus II sangat terlihat. Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Kegiatan Pembelajaran Pada Pra Tindakan, Siklus I, danSiklus II. Tindakan Aspek Penilaian Pra Tindakan Siklus I Siklus II Evaluasi 26,67% 86,67% 100% Observasi aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran - 92,08% 96,15% Observasi aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran - 87,50% 95,83% Dari tabel 4.8 di atas, dapat diketahui bahwa pada tahap pra tindakan, guru tidak melakukan penilaian pada aktivitas guru dan siswa. Pada pra tindakan guru hanya mengajar dengan menggunakan buku paket tanpa media pembelajaran apapun. Sehingga di akhir pembelajaran diperoleh ketuntasan belajar siswa pada tahap pra tindakan adalah 26,67%. Pada kegiatan siklus I dan II selain penilaian evaluasi siswa di akhir pembelajaran juga diadakan penilian terhadap aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran oleh mitra peniliti sebagai observer. Hasil belajar siswa pada pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 60% atau dari 26,67% menjadi 86,67%, dan hasil belajar pada silus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 13,33% atau dari 86,67% menjadi 100%. Penilaian aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 4,07% atau dari 92,08% menjadi 96,15%. Penilaian aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dari siklus I ke siklus II juga meningkat yaitu sebesar 8,33% atau dari 87,50% menjadi 95,83%. PEMBAHASAN Penerapan Pendekatan PAKEM pada Mata Pelajaran Matematika Tentang Penjumlahan dan Pengurangan di Kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar Pelaksanaan tindakan siklus I ini sudah dilakukan dengan menggunakan pendekatan PAKEM. Bahan yang diajarkan pada siklus I adalah standar kompetensi: menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah, kompetensi dasar: penjumlahan pecahan. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan hasil refleksi dan rekomendasi bersama guru mitra pada saat pra tindakan. Di awal pembelajaran guru mengucapkan salam, doa, absensi, melakukan apersepsi, menyampaikan tujuan, dan manfaat pembelajaran. Pada kegiatan inti guru membagi siswa menjadi 6 kelompok untuk melakukan diskusi. Selanjutnya dengan panduan LKS dan media nyata berupa kertas lipat dan spidol siswa diminta untuk melakukan percobaan/pembuktian sendiri tentang penjumlahan pecahan. Hal ini sesuai dengan pendapat Supriono dan Ahmad Sapari (2001:21) menyatakan bahwa “pembelajaran tidak akan lepas dengan pengalaman belajar yang mesti diberikan kepada peserta didik agar memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup maupun untuk meningkatkan kualitas dirinya sehingga mampu menerapkan prinsip belajar sepanjang hayat (life long education)”. Selanjutnya siswa diminta untuk bersama anggota kelompoknya melakukan kegiatan tersebut. Namun kenyataannya belum keseluruhan anggota kelompok dapat bekerja sama dengan baik. Hal ini terjadi karena guru tidak menyampaikan petunjuk pengerjaan LKS secara klasikal di depan kelas. Beberapa siswa melamun dan ada pula yang ngobrol dengan teman disampingnya. Kemudian satu per satu perwakilan kelompok diminta untuk mengkomunikasikan/mempresentasikan hasil kerjanya di depan dan kelompok lain yang tidak maju diminta untuk menanggapi presentasi kelompok yang maju. Selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya apa yang belum mereka pahami dan membahas permasalahan tersebut secara klasikal. Ketika siswa diberi kesempatan bertanya tidak sedikit siswa yang mengangkat tangannya dan berani bertanya tentang apa yang belum mereka kuasai. Setelah semua siswa paham, kemudian diberikan suatu permainan agar siswa lebih termotivasi atau semangat belajar. Siswa diminta untuk menggabungkan potongan-potongan nama dan menjumlahkan bilangan-bilangan pecahan yang ada pada potongan nama-nama itu. Siswa yang cepat dan benar dalam menyelesaikannya sebagai pemenangnya. Metode permainan dapat merangsang kreativitas siswa, membuat suasana pembelajaran menjadi tidak membosankan dan meningkatkan kerjasama dalam kelompok. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Sadiman (2006:17) tentang ”fungsi permainan dalam pembelajaran, yaitu untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan”. Kegiatan seperti di atas sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Maryono (2005:11) yang menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi komponen PAKEM, antara lain: (1) siswa didorong untuk berani melakukan sesuatu, antara lain melakukan pengamatan, percobaan, penyelidikan, dan wawancara, (2) adanya komunikasi yang baik, dan (3) adanya interaksi yang baik, dalam bentuk diskusi, tanya jawab, dan lempar perntanyaan. Sehingga dapat dilihat dengan jelas bahwa pelaksanaan tindakan pada siklus I ini sudah menerapkan 3 komponen PAKEM sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Bekti Maryono di atas. Hal ini didukung dengan hasil evaluasi siswa di akhir pembelajaran yaitu ketuntasan belajar individual sebesar 86,67%. Namun peneliti masih merasa perlu untuk melaksanakan pembelajaran siklus selanjutnya agar ketuntasan belajar individu siswa dapat mencapai hasil yang lebih maksimal. Untuk itu guru (peneliti) melaksanakan siklus lanjutan yaitu siklus II. Pada tindakan siklus II ini guru secara optimal mengusahakan agar pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PAKEM dapat memperoleh hasil yang memuaskan. Semua aspek yang terdapat dalam PAKEM seperti aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan diupayakan muncul pada pembelajaran siklus II ini. Pada siklus II ini aspek aktif sudah teramati dengan cukup baik. Siswa aktif dalam bertanya dan menanggapi, setiap anggota kelompok sudah dapat bekerja sama dengan baik dengan sesama anggota kelompoknya. Aspek kreatif teramati dengan baik dimana siswa berani untuk melakukan atau mencoba sesuatu yaitu melakukan pembuktian tentang pengurangan dengan menggunakan media buah apel dan gambar tabung, serta berani untuk melaporkan hasil kerjanya di depan kelas. Penggunaan media berupa benda nyata ini sangat cocok untuk mengajarkan matematika pada siswa kelas IV. Manfaat media ini selain untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi juga mempermudah siswa untuk menerima pelajaran. Manfaat lain dari media seperti yang dikemukakan oleh Sadiman, dkk (2006:17), yaitu dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan), mengatasi sifat pasif anak didik, menimbulkan kegairahan belajar, dan memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. Aspek efektif teramati dengan cukup baik dimana siswa mempunyai bekal keterampilan untuk dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah berkaitan dengan pengurangan pecahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun efektif dari segi guru seperti pengelolaan kelas masih kurang. Aspek menyenangkan sudah muncul dengan baik. Selama pembelajaran berlangsung tidak ada siswa yang takut lagi untuk bertanya dan tidak malu-malu lagi ketika diminta untuk melaporkan hasil kerjanya. Siswa merasa senang selama pembelajaran, apalagi saat tiba waktu permainan. Semua siswa antusias untuk melakukan permainan. Tim Penyusun (2005:54) menjelaskan secara umum PAKEM digambarkan sebagai berikut: Aktif dimaksudkan sebagai kegiatan siswa terlibat aktif dalam mengemukakan pertanyaan, mengemukakan gagasan, mempertanyakan gagasan orang lain dan gagasannya. Kreatif artinya siswa kreatif merancang, membuat sesuatu, melaporkan, dan sebagainya. Efektif dimaksudkan bahwa siswa memliki berbagai keterampilan yang diperlukan. Menyenangkan maksudnya siswa berani mencoba, berani bertanya, berani mengemukakan gagasan, berani mempertanyakan gagasan orang lain, senang dalam melakukan kegiatan sehingga terdorong untuk belajar terus sepanjang hayat dan mandiri. Maka sesuai dengan hal di atas, penerapan PAKEM pada siklus II ini sudah sangat baik. Hal ini ditunjang dengan hasil evaluasi siswa diakhir pembelajaran mencapai ketuntasan belajar individual dengan sangat baik yaitu 100%. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Penjumlahan Dan Pengurangan Pecahan Melalui Pendekatan PAKEM di Kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar Peningkatan hasil belajar siswa dapat diketahui dengan membandingkan hasil belajar siswa (tes akhir) pada pra tindakan, siklus I, dan Siklus II. Menurut Djamarah, dkk (2006:105) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Berikut rekapitulasi hasil belajar siswa pada pra tindakan, siklus I, dan siklus II untuk menjelaskan peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas IVdengan menerapkan pendekatan PAKEM. Tabel Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Pada Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II No Nama Siswa Hasil Belajar Pra Tindakan Siklus I Siklus II 1. Fredy Wiyanto 70 80 100 2. Wahyu Agung Nugroho 40 40 100 3. Ristia Mery Aprilia 50 80 100 4. Nita Dwijayanti 50 80 80 5. Sandu Bachtiar Rahman 55 100 100 6. Aditia Dwi Sukma P 50 100 80 7. Ageta Verta Yanggara 2,5 100 100 8. Alvian Dwi Gantara 50 100 100 9. Andini 47,5 80 80 10. Apriliani Nurma Putri 25 100 80 11. Dyah Ayu Kharisma Sri D 100 100 80 12. Dyah Safitriani 0 70 90 13. Elizabeth Angel Christina 65 100 100 14. Fita Kusuma Mukholifah 90 100 90 15. Hendrikus Valentino 50 80 100 16. Heni Rahmatul Cholifah 80 100 100 17. M. Azmi Ash Shidiqi 45 100 100 18. M. Iqbal Ismuhadi 45 90 100 19. M. Nasyir 55 30 100 20. M. Sirojul Umam 45 100 100 21. Roby Valazona 50 100 100 22. Sifa Aisyah 70 100 100 23. Ulfa Ana Ronijar 45 80 100 24. Vioni Rahayu 90 100 80 25. Yeni Ulfa Riana 70 100 100 26. Mega Sofiana Dewi 10 20 100 27. Ananda Lahiri Ridho M 45 100 70 28. Satria Yongky Ghozali 50 80 80 29. Muchammad Saiful 55 40 80 30. Sima Ayunina 50 100 80 Jumlah 1550 2550 2770 Rata-rata 51,67 85 92,33 Jumlah siswa tuntas 8 26 30 Jumlah siswa belum tuntas 22 4 0 % Ketuntasan 26,67% 86,67% 100% Kriteria Tingkat Keberhasilan Kurang Baik Sangat Baik Sangat Baik Tabel diatas menginformasikan bahwa ada perubahan nilai dalam belajar yang meningkat terhadap hasil belajar siswa. Pada pra tindakan hanya 8 siswa yang tuntas belajar dan 22 siswa lainnya belum tuntas belajar. Siswa yang tuntas belajar adalah siswa yang nilainya mencapai KKM, yaitu Fredy Wiyanto, Dyah Ayu K, Elizabeth Angel, Fita Kusuma M, Heni Rahmatul C, Sifa Aisyah, Vioni Rahayu, dan Yeni Ulfa Riana. Pada siklus I menunjukkan peningkatan hasil belajar yang tajam. Dari 30 siswa, terdapat 26 siswa tuntas belajar dan 4 siswa saja masih belum tuntas belajar. Siswa yang belum tuntas diantaranya Wahyu Agung N, M.Nasyir, Mega Sofiana D, dan Muhammad Saiful. Pada siklus II keseluruhan siswa sudah tuntas belajar. Persentase ketuntasan belajar pada pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 60% atau dari 26,67% (8 siswa tuntas belajar) menjadi 86,67% (26 siswa tuntas belajar). Persentase ketuntasan belajar pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 13,33% atau dari 86,67% (26 siswa tuntas belajar) menjadi 100% (30 siswa tuntas belajar). Sehingga, kriteria tingkat keberhasilan yang semula pada pra tindakan kurang baik meningkat pada siklus I dengan kriteria sangat baik, begitu juga pada pembelajaran pada siklus II yang menunjukkan kriteria tingkat keberhasilan sangat baik pula. Peningkatan hasil belajar ini disebabkan karena peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan PAKEM. Pembelajaran dengan pendekatan PAKEM merupakan pembelajaran yang cocok diterapkan di Kelas IV SDN Bendo 2 Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar karena pendekatan PAKEM menjasikan suasana belajar yang lebih efektif, anak menjadi lebih kritis dan kreatif pada pembelajaran. Sesuai dengan pendapat Tim Penyusun (2005:55) yang menyatakan bahwa PAKEM dapat menciptakan suasana dan pengalaman belajar lebih bervariasi, dapat meningkatkan emosional/sosial, sehingga meningkatkan produktivitas siswa tinggi yang siap menghadapi perubahan dan berpartisipasi dalam proses perubahan.

Peningkatan kualitas hasil belajar pendidikan kewarganegaraan (PKn) melalui metode role playing pada siswa kelas II SDN 03 Manggis Panggul Trenggalek / Ajib Gono Puspito

 

ABSTRAK Puspito, Ajib Gono. 2010. Peningkatan Kualitas Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Melalui Metode Role Playing Pada Siswa Kelas II SDN 03 Manggis Panggul Trenggalek. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sutji Rahaju, M.SI, (II) Suwarti, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, gotong royong, role playing Hasil belajar PKn pada pokok bahasan saling hidup rukun di kelas 2 SDN 3 Manggis kurang memuaskan, yaitu hanya sebanyak 3 siswa dari 13 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya metode pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa sehingga nilainya juga dapat meningkat. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kualitas hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran melalui bermain peran. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 3 Manggis Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek dengan subyek penelitian siswa kelas 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata kelas 63 ada 5 siswa yang tuntas belajar dan 8 siswa belum tuntas belajar atau persentase ketuntasan 38%. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata siswa 82 dan semua siswa tuntas belajar yaitu 13 siswa dengan persentase ketuntasan 100%. Peningkatan hasil belajar menggunakan metode role playing nilai siswa pada siklus I yaitu 63 meningkat menjadi 82 atau persentase ketuntasan 38% meningkat menjadi 100% pada siklus II. Dari 5 siswa yang tuntas belajar pada siklus I meningkat menjadi 13 siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan metode role playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn pada tema hidup gotong royong. Untuk itu, hendaknya para guru disarankan menerapkan metode role playing kepada siswa supaya hasil yang diperoleh maksimal.

Peranan pekerja outsourcing dalam pelayanan baca meter untuk meningkatkan kepuasan pelanggan PT. PLN (Persero) unit pelayanan Dinoyo Malang / Vita Sari Kusuma Wardani

 

Wardani, Vita Sari Kusuma. 2010. Peranan Pekerja Outsourcing Dalam Pelayanan Baca Meter Untuk Meningkatkan Kepuasan Pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang. Tugas Akhir, Jurusan Manajemen Program Studi D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hj. Ita Prihatining Wilujeng, S.E., M.M. Kata kunci: pelayanan, kepuasan pelanggan. PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang merupakan salah satu perusahaan negara yang bergerak dalam bidang jasa kelistrikan di Indonesia yang menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum. Saat ini tenaga listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi manusia dan berperan sangat penting dalam penigkatan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Sebagai perusahaan yang bergerak pada bidang jasa kelistrikan, PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang diharuskan memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan, calon pelanggan dan masyarakat umum lainnya untuk memuaskan kebutuhan mereka dalam pemenuhan kebutuhan akan tenaga listrik. Untuk pemberian pelayanan yang memuaskan kepada para pelangganya, pihak PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang ini harus mempunyai sumber daya manusia atau para pekerja yang ahli dalam bidang-bidang yang ada khususnya dalam pelayanan baca meter. Pelayanan baca meter ini merupakan pelayanan yang harus dilaksanakan dengan tepat, benar, dan akurat. Semakin banyaknya jumlah pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang ini maka, dalam kegiatan pelayanan ini pihak PT. PLN (Persero) menyerahkannya kepada perusahaan jasa outsourcing. Penyerahan pekerjaan kepada perusahaan outsourcing ini tentunya untuk meningkatkan kepuasan para pelanggan dalam bidang pelayanan baca meter khususnya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui peranan para pekerja outsourcing dalam pelayanan baca meter untuk meningkatkan kepuasan pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang dan faktor yang menghambat dan mendorong pelayanan baca meter pelanggan. Hasil yang didapat adalah bahwa peranan para pekerja outsourcing selain sebagai ahli pengoperasian atau sebagai ahli dalam teknik pelayanan baca meter pelanggan, juga sebagai pemasar dan perantara utama antara pelanggan dengan PT. PLN (Persero) adalah untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dalam bidang pelayanan baca meter. Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan itu salah satunya adalah kinerja/prestasi karyawan. Sehingga, peranan-peranan para pekerja outsourcing baca meter ini merupakan hal penting yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang. Dapat disarankan agar PT. PLN (Persero) ini mampu meningkatkan pelayanannya khususnya dalam pelayanan baca meter yang diperankan oleh pekerja outsourcing agar para pelanggannya yang semakin lama semakin meningkat dapat merasa puas dengan pelayanan baca meter ini.

Kaitan antara perkembangan obyek wisata dan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi mata pencaharian di sekitar obyek wisata Coban Rais kota Batu / Yayak Priasmara

 

ABSTRAK Priasmara, Yayak. 2010. Kaitan Antara Perkembangan Objek Wisata dan Kondisi Ekonomi Masyarakat dengan Diversifikasi Mata Pencaharian di Sekitar Objek Wisata Coban Rais Kota Batu . Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariyani Wirahayu, M.Si (II) Drs. Marhadi Slamet Kistianto, M.Si Kata kunci: Pariwisata, Kondisi Ekonomi, dan Diversifikasi Kota Batu semakin mengukuhkan diri sebagai kota tujuan wisata terlengkap di Jawa Timur. Hal tersebut dibuktikan dengan pembangunan objek wisata baru seperti Museum Satwa dan peremajaan objek wisata yang telah ada. Tidak hanya objek wisata buatan saja yang dikembangkan melainkan juga objek wisata alam. Coban Rais merupakan objek wisata alam berupa air terjun yang ikut mengalami perkembangan. Dari perkembangan tersebut menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata ini. Keberadaan wisatawan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk membuka usaha sampingan. Hal itulah yang melatarbelakangi penelitian mengenai kaitan antara perkembangan objek wisata dan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi mata pencaharian di sekitar objek wisata Coban Rais. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah pertama, bagaimana bentuk diversifikasi mata pencaharian masyarakat disekitar objek wisata Coban Rais; kedua: bagaimana kaitan perkembangan objek wisata Coban Rais dengan diversifikasi mata pencaharian masyarakat Desa Oro-oro Ombo; ketiga: bagaimana kaitan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi mata pencaharian masyarakat Desa Oro-oro Ombo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk diversifikasi mata pencaharian masyarakat disekitar objek wisata Coban Rais serta kaitan antara perkembangan objek wisata dan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan metode survey. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam mencari kaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Analisis yang digunakan adalah deskriptif dengan tabel persentase dan Chi Square untuk mencari korelasinya. Penelitian ini merupakan penelitian populasi, sejumlah 50KK yang melakukan diversifikasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1). Diversifikasi mata pencaharian di sekitar objek wisata Coban Rais dilakukan dengan menjual makanan, menjual non makanan dan menyediakan jasa. (2). Terdapat keterkaitan antara perkembangan objek wisata dengan diversifikasi mata pencaharian yang terjadi. (3) Terdapat keterkaitan antara kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi yang terjadi.

Peningkatan hasil belajar operasi pengurangan pecahan melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL) di kelas III SDN Soko I Bojonegoro / Nanik Widayati

 

ABSTRACT Widayati, Nanik. 2010. The raising learn result of piece ellviation operation with Contextual Teaching and Learning (CTL) pnenomelogical in class of III SDN Soko I Bojonegoro. Tessis. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. FIP. Universitas Negeri Malang. Advisors (I) Drs. Imam Hanafi, M.M. (II) Dr. H. M. Zainudin, M.Pd. Key Word: Learn result, piece ellviation operation, CTL. Reseach of action class execluted in class of III SDN Soko I Bojonegoro. The building on observation result of obtainable from student learn result know that students in class of III difficulty to draft ellviation operation. The students earn under Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) valua. KKM SDN Soko I is 60. From the result research then observer observation organizer. Observation doing as long as 3 mont is date is 1 February to 30 April 2010. The target reseatch for descriptioned of CTL phenomenological application at peace ellevation operation in class of III SDN Soko I and for to know that CTL phenomenological can up lift learn result of peace ellviation operation in class of III SDN Soko I Bojonegoro. Research type is PTK and relate spiral of model from Kemmis and Taggart. The resercher act as the teacher and observer. The technical data agregation is questionnaire, interview, observation, documentation, and test, as long as learn going on process. Analisys data bring about after meansure given every cycle. Research result refer to increase existence of students learn result in class of III SDN Soko I Bojonegoro. Increase of students learn result shown by phase complete students from 20 students, the more than valua 60. Whereas 6 student no complete with minus valua 60. Conclusion complete learn of 1cycle is 70%. At cycle of II increase students all complete 100%. Complete learn at phas of precycle complete 50%. Rise 20% become70%. Cycle of II increase rise 30% become 100%. Result rearch building can conclusion that with learning application CTL can proven to be increase of students learn result in class of III SDN Soko I Bojonegoro. The sucess reached so development existensi about learning variation in class to learning result to finist stuents can good constant. The students ought to, can benefitted long time to study at home. The teacher ought to, to exert variation phenomenological until the students wasn’t bored and students can learn result improve.

Pengembangan media audio video dalam pembelajaran praktik las oksi asetilin untuk siswa kelas X program studi mekanik otomotif SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen / Rusliansyah

 

ABSTRAK Rusliansyah. 2010. Pengembangan Media Audio Video dalam Pembelajaran Praktik Las untuk Siswa Kelas X Program Studi Mekanik Otomotif SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mardi Wiyono, S.T., M.Pd, (II) Drs. Andoko, M.T. Kata kunci: pengembangan, media audio video, pembelajaran praktik las, Pembelajaran pengelasan oksi asetilin, selama ini berlangsung dengan menggunakan buku manual dan perangkat las oksi asetilin masih sangat sederhana. Berdasarkan observasi sampai tahun 2007 kekurangan yang terdapat pada pembelajaran prosedur pengelasan dengan las oksi asetilin di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen adalah: (1) belum ada pengayaan presentasi pengajaran dengan audio video; (2) belum ada fasilitas multimedia untuk membantu pemahaman siswa secara lebih jelas dan nyata; (3) memerlukan banyak tambahan penjelasan sehingga waktu untuk proses belajar mengajar kurang efisien; (4) sajian tampilan media alat yang sebenarnya kurang variatif, sehingga kurang memberi ketertarikan dan kurang memberi keaktifan pada siswa. Pemilihan media audio video sebagai produk teknologi media pengajaran parktek las oksi asetilin adalah karena realita bahwa kita berada dalam era teknologi informasi. Penelitian yang dilaksanakan bertujuan mengembangkan produk media audio video untuk mendukung pembelajaran praktik las oksi asetilin pada posisi mengelas di bawah tangan, keefektifan media pembelajaran mengelas pada siswa yang menggunakan media audio video, dan yang tidak menggunakan media audio video, pada siswa kelas X Program Keahlian Mekanik Otomotif di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Rancangan pengembangan media pembelajaran ini dilakukan tahapan pengembangan melalui prosedur atau langkah yang dipersiapkan terlebih dahulu, yaitu: (1) melakukan analisis produk yang akan di kembangkan, (2) mengembangkan produk awal, (3) Validasi ahli dan revisi, (4) uji coba lapangan skala kecil, (5) uji coba lapangan skala besar. Tahapan yang diambil dimaksudkan untuk memperoleh media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dari hasil uji coba produk media kepada para ahli, guru dan siswa menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai, mengenai kesesuaian media dalam pembelajaran terutama kompetensi mengelas sambungan I menggunakan las oksi asetilin dengan posisi pengelasan di bawah tangan, sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X Program Keahlian Mekanik Otomotif pada SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, yang berjumlah 20 siswa sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas kontrol berjumlah 20 siswa. Sebagai responden Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran yang menggunakan media audio video (X1) dan pembelajaran yang tidak menggunakan media (X2) serta hasil belajar kompetensi mengelas sambungan I menggunakan las oksi asetilin (Y) sebagai variabel terikatnya. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah peneliti berhasil membuat/mengembangkan media audio video (keping VCD) dalam pembelajaran praktik las oksi asetilin dengan posisi mengelas di bawah tangan dengan durasi 50 menit. Dari hasil uji coba produk media kepada para ahli, guru dan siswa menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai. Sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Dengan menggunakan media dalam pembelajaran akan sangat membantu dan sangat besar keefektifannya dalam mengajar menggunakan media audio-video praktik las terhadap kompetensi mengelas pada siswa kelas X Program Keahlian Mekanik Otomotif di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Hal ini dibuktikan dengan melihat nilai rata-rata kelas yang menggunakan media 3.13 dan nilai rata kelas yang tidak menggunakan media 2.43, dengan t-hitung sebesar 17.466, dan sig = 0.000.

Pengaruh pola belajar siswa terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran produktif siswa kelas XI jurusan tata boga SMK Negeri 7 Malang / Hardiansah

 

ABSTRAK Hardiansah. 2010 Pengaruh Pola Belajar Siswa Terhadap Prestasi belajar Pada mata Pelajaran Produktif Siswa kelas XI Jurusan Tata Boga SMKN 7 Malang (angkatan 2009/2010). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof.Dr.H. Mohammad Efendi, M.Pd.,M.Kes, (2) Dra. Hapsari Kusumawardani, M. Pd. Kata Kunci : Pola Belajar & Prestasi Pada Mata Pelajaran Produktif Tata Boga Poal belajar adalah prilaku belajar seseorang yang dilakukan secara tetap atau sama dari waktu-kewaktu. Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan pola belajar siswa di rumah dan pola belajar siswa di sekolah pada siswa kelas XI SMKN 7 Malang dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pola belajar tersebut terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran produktif Tata Boga siswa kelas XI SMKN 7 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif-korelasional. Variabel dalam penelitian ini adalah pola belajar dirumah sebagai variabel bebas (X1) dan pola belajar siswa disekolah (X2) dan prestasi belajar sebagai variabel terikat (Y). Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI Jurusan Tata Boga SMKN 7 Malang yang berjumlah 53 orang semester gasal dengan tingkat kesalahan 5%. Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan angket tertutup. Sedangkan analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan F. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1).Terdapat pengaruh positif yang signifikan variabel pola belajar siswa di rumah (X1) secara parsial terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMKN 7 Malang. 2).Terdapat pengaruh positif yang signifikan variabel pola belajar di sekolah (X2) secara parsial terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMKN 7 Malang secara simultan terdapat pengaruh positif yang signifikan variabel pola belajar siswa di rumah(X1) dan pola belajar siswa di sekolah (X2) terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMKN 7 Malang dengan nilai F hitung 30,196. Adjusted R Square menunjukkan 52,9 % adanya pengaruh variabel pola belajar siswa di rumah dan disekolah terhadap prestasi belajar, dan sisanya 47,1 % dipengaruhi variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bawah terdapat pengaruh yang signifikan antara variable pola belajar siswa dan variable prestasi belajar siswa baik pengaruh secara parsial maupun pengaruh secara simultan. Berdasarkan kesimpulan tersebut siswa diharapkan agar lebih meningkatkan pola belajar mereka terutama pola belajar diruma dengan cara memanfaatkan waktu dirumah semaksimal mungkin untuk menerapkan pola belajar mereka. Sedangkan bagi pihak sekoal guru khususnya diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan supaya dapat meningkatkan pola belajar siswa disekolah.

Pengaruh kepedulian orang tua terhadap perilaku belajar siswa kelas XII program keahlian teknik perkayuan SMK Negeri 6 Malang tahun ajaran 2009/2010 / Eko Azwar Ramdan

 

ABSTRACT Azwar Ramdan, Eko. Effect of Parents Caring for Students' Learning Behavior Skills Program Class XII Timber Engineering SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010. Thesis, Technical Education Building, Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisors (I) Drs. Bambang Widarta, M.T., (II) Drs. Wahyo Hendarto Yoh, M.T. Key words: parents caring, student learning behavior. Student behavior is influenced by several factors. Among the factors that influence student behavior is parents caring. This study aimed to investigate the influence of parents caring for students' learning behavior, and expected to be used by parents as a basis for improving student learning behavior. This research was conducted at the Class XII students Timber Engineering Expertise Program SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010. The research design used was a quantitative correlational research design. The populations in this study are all Class XII students Timber Engineering Expertise Program SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010 as many as 19 students at the same time as samples. The sampling technique carried out with saturated sampling (census). To test the hypothesis of the research used simple linear regression analysis with significance level 5%. Results of analysis of data about the concerns of parents shows that parents who really care about their children learning behavior as much (16%), parents who care for their children as much as learning behavior (31%), parents are less concerned about the learning behavior of his son as many (37 %), and parents who do not care to learn the behavior of their children as much (16%). Thus, it can be said that the ± half the class XII students' parents Timber Engineering Expertise Program SMKN 6 Malang is still low concern for the behavior of their children to learn as much as 53%. While data on students' learning behavior indicates that students who have a very good learning behavior as much (22%), students who have good learning behavior as much (28%), students who have studied the behavior of less well as many (39%), and students who have learning behavior is not good as many (11%). Thus, we can say that half the students of class XII ± Skills Program Timber Engineering SMKN 6 Malang has a behavior which is still less well studied as much as 50%. Given the results showed that parents do not directly concern significantly influence the behavior of class XII students Skills Program Timber Engineering SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010 but changes in the variation in student learning behavior amounted to 3.6% influenced by changes in caring person variation old, it is recommended that further research using the variables that still have not been studied among other talents, curriculum, facilities and infrastructure, as well as other factors that influence students' learning behavior.

Pelaksanaan bauran promosi dan penjualan produk telkom speedy pada PT. Telekomunikasi Kancatel Pasuruan / Devi Santiayu Primasari

 

Primasari, Devi Santiayu. 2010. Pelaksanaan Bauran Promosi dan Penjualan Produk Telkom Speedy pada PT. Telekomunikasi Kancatel Pasuruan . Tugas Akhir, Jurusan Manajemen Program Studi D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Agus Hermawan, M. Si., M. Bus. Kata Kunci : Bauran Promosi, Penjualan. Mencermati kondisi persaingan yang demikian ini, Bauran Promosi perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan jumlah pelanggan perusahaan. Melalui bauran promosi perusahaan dapat mengkomunikasikan produk dan program perusahaan. Bauran promosi pada produk akses internet Telkom Speedy ini sangat perlu diperhatikan terlebih semakin banyak perusahaan perusahaan yang bergerak dibidang yang sama, tanpa adanya promosi suatu produk tidak akan dikenal oleh masyarakat. Penulisan TA ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan bauran promosi dan penjualan yang terus meningkat pada PT. Telkom kancatel Pasuruan terdapat tiga masalah yang dikaji yaitu: (1) Jenis bauran promosi apa saja yang diterapkan PT. Telkom Kancatel Pasuruan dalam mempromosikan Telkom Speedy (2) Bagaimana tingkat penjualan produk Telkom Speedy pada PT.Telkom kancatel Pasuruan (3) Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat serta solusi oleh PT. Telkom Kancatel Pasuruan dalam mempromosikan Telkom Speedy. Jenis bauran promosi yang diterapkan PT. Telkom Kancatel Pasuruan dalam mempromosikan Telkom Speedy adalah dengan: (1) penjualan pribadi yang setiap hari dilakukan oleh PT. Telkom Kancatel Pasuruan yaitu Telemarketing merupakan kegiatan menawarkan produk langsung kepada pelanggan melalui media telepon. Jenis bauran promosi yang lain yaitu: (2) periklanan dan publisitas, (3) promosi penjualan, dan (4) hubungan masyarakat. Penjualan Telkom Speedy di daerah kancatel Pasuruan terus meningkat dari tahun ke tahun hingga tahun 2009 jumlah pelanggan mencapai angka 3.913 pelanggan. Hal ini dikarenakan strategi bauran promosi yang dilaksanakan perusahaan yang sangat tepat dan terbukti dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakan produk Telkom Speedy. Saran yang dikemukakan penulis antara lain: (1) Hendaknya PT. Telkom memasang umbul-umbul dan Spanduk Telkom Speedy di tempat strategis tidak hanya di depan kantor Telkom dan tidak pada saat adanya even saja agar masyarakat lebih mengenal Telkom Speedy, (2) Hendaknya PT. Telkom kancatel Pasuruan tidak hanya mengunggulkan Telkom Flexi dalam mensponsori suatu even, tetapi juga mengenalkan Telkom Speedy pada even yang di sponsori oleh PT. Telkom kancatel Pasuruan, dan (3) Dalam melakukan promosi Telkom Speedy melalui media telepon atau out bond call, hendaknya nomor telepon yang telah dihubungi dicatat agar tidak terjadi promosi kedua kalinya kepada orang yang sama.

Pelevelan penalaran aljabar siswa kelas X dalam memecahkan masalah berdasarkan Taksonomi Solo / Filda Febrinita

 

ABSTRAK Febrinita, Filda. 2015. Pelevelan Penalaran Aljabar Siswa Kelas X dalam Memecahkan Masalah Berdasarkan Taksonomi SOLO. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si. (II) Dr. Sisworo, M.Si. Kata Kunci: level penalaran aljabar, pemecahan masalah, taksonomi SOLO Siswa pasti akan dihadapkan pada masalah matematis ketika belajar matematika, khususnya ketika mempelajari aljabar.Aljabar merupakan salah satu cabang matematika yang sangat penting dipelajari siswa sebagai modal untuk membentuk keterampilan hidup yang bermanfaat, salah satunya adalah keterampilan pemecahan masalah. Untuk terampil dalam memecahkan masalah, salah satunya dibutuhkan keahlian dalam bernalar. Hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah aljabar yang melibatkan kemampuan penalaran, dapat diketahui dan diases. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengases hasil belajar aljabar adalah Taksonomi SOLO.Dalam Taksonomi SOLO, ketika siswa menjawab tugas yang diberikan, tanggapan mereka terhadap tugas tersebut dapat diringkas dalam lima level struktur respon yaitu: 1) prastruktural, 2) unistruktural, 3) multistruktural, 4) relasional dan 5) extended abstract. Dengan demikian, kemampuan bernalar siswa dalam memecahkan masalah aljabar dapat diketahui dengan lebih detail sehingga diharapkan dapat membantu guru untuk memilih strategi yang tepat dalam membelajarkan aljabar. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelevelan penalaran aljabar siswa dalam memecahkan masalah berdasarkan Taksonomi SOLO. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian adalah penelitian deskriptif ekploratif. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Data penelitian adalah hasil kerja siswa dalam memecahkan masalah aljabar serta hasil rekaman wawancara peneliti dengan subjek terkait dengan aktivitas bernalar yang dilakukan subjek dalam memecahkan masalah aljabar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level penalaran aljabar siswa kelas X dalam memecahkan masalah dapat diklasifikasikan dalam empat level, yaitu: (1) Level 1 (level unistruktural) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas bernalar siswa yang mampu menggunakan satu informasi dari masalah untuk menyusun strategi pemecahan masalah dan mampu menentukan suku selanjutnya dari suatu pola bilangan; (2) Level 2 (level multistruktural) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas bernalar siswa yang mampu menggunakan lebih dari satu informasi untuk menyusun strategi pemecahan masalah dan mampu mendaftar suku-suku dari suatu pola bilangan; (3) Level 3 (level relasional) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas bernalar siswa yang mampu memprediksikan penyelesaian masalah berdasarkan informasi yang dipahami dan mampu membuat kesimpulan dari penyelesaian masalah dengan membuat keterkaitan antara dua informasi; (4) Level 4 (level extended abstract) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas siswa yang mampu menggeneralisasikan pola bilangan yang muncul dari masalah dan mampu mengubah dan menciptakan ilustrasi baru untuk suatu pola bilangan.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen di restoran Batavia Malang / Ricky Syahputra

 

ABSTRAK Syahputra, Ricky. 2010. Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen di Restoran Batavia Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra Rina Rifqie Mariana, M.P. (2) Anik Dwi Astuti, ST., MT. Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, kepuasan konsumen, restoran batavia. Pertumbuhan usaha disektor jasa yang cukup pesat ini sering kali masih diikuti dengan rendahnya kualitas jasa yang diberikan. Banyak konsumen yang mengeluhkan tentang rendahnya kualitas jasa yang mereka terima, hal ini dikarenakan banyaknya perusahaan yang bergerak dibidang jasa yang belum memahami tentang konsep modern kualitas jasa. Berdasarkan keadaan dilapangan tersebut peneliti ingin mengetahui kualitas pelyanan yang mempengaruhi kepuasan konsumen, Pelayanan atau jasa yang diberikan berpedoman pada dimensi kualitas jasa yang terdiri dari daya tanggap, keandalan, jaminan, empati dan bukti fisik. Penelitian ini mencoba mengangkat Restoran Batavia Malang karena restoran ini merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa yang mengedepankan kepuasan konsumen, restoran Batavia dapat mewakili restoran-restoran besar yang memiliki kualitas pelayanan yang baik yang ada di Malang dan animo masyarakat mengenai Restoran Batavia dalam hal kualitas pelayanan cukup baik dan ramah dan dikaitkan dengan kepuasan konsumen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan (X) yang terdiri dari keandalan (X1), daya tanggap (X2), jaminan (X3), empati (X4) dan bukti fisik (X5) terhadap kepuasan konsumen (Y) baik secara parsial maupun simultan. Rancangan penelitian korelasional dengan populasi konsumen restoran batavia pada bulan January 2010. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 100 responden dengan tingkat kesalahan 5%. Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan angket tertutup. Sedangkan analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Ada pengaruh kualitas pelayanan (keandalan sebesar 3.075, daya tanggap sebesar 3.826, jaminan sebesar 4.843, empati sebesar 2.139 dan bukti fisik sebesar 5.169) secara parsial terhadap kepuasan konsumen di restoran Batavia Malang dan; 2) Ada pengaruh kualitas pelayanan (keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik) sebesar 76.218 secara simultan terhadap kepuasan konsumen di restoran Batavia Malang. Berdasarkan penelitian ini saran yang dapat diberikan sehubungan dengan kesimpulan di atas adalah 1)Untuk Restoran Batavia sebaiknya lebih meningkatkan pada dimensi empati yaitu mengenai perhatian karyawan terhadap kebutuhan dan keluhan konsumen, keadilan layanan terhadap semua konsumen, sikap karyawan dalam memahami kebutuhan konsumen, oleh karena itu perusahaan harus tetap fokus terhadap kepuasan konsumen. 2)Untuk Peneliti Lain agar hasil penelitian ini dapat lebih mewakili populasi, maka sebaiknya penelitian selanjutnya mengambil ukuran sample yang lebih besar, dengan metode pengambilan sample yang benar.

Pengaruh air rebusan daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap pertumbuhan candida albicans yang diisolasi dari bahan usapan muara vagina penderita keputihan / Nissa Rosita

 

Tanaman pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman herba berbentuk pohon yang seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, kecantikan, dan pengobatan. Zat aktif yang terkandung dalam daun pepaya yang bersifat antifungi diantaranya ialah, flavonoid, karpain, papain, karposit, dan tanin.Masyarakat menggunakan tanaman papaya sebagai obat keputihan (Utami, 2008). C. albicans merupakan salah satu spesies khamir penyebab keputihan. C. albicans sering dijumpai dalam rongga mulut, tenggorokan, usus besar dan vagina (Pelczar dan Chan, 1988). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh air rebusan daun pepaya terhadap penghambatan pertumbuhan C. albicans. (2) Pengaruh perbedaan konsentrasi air rebusan daun pepaya terhadap penghambatan pertumbuhan C. albicans. (3) Konsentrasi air rebusan daun papaya yang paling efektif membunuh C. albicans. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2009 - Januari 2010 di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah tube dilution method untuk memperoleh nilai MIC air rebusan daun pepaya. Indikator yang digunakan untuk menentukan daya hambat pertumbuhan C. albicans adalah tidak terjadi kekeruhan pada campuran air rebusan daun papaya dan C. albicans dalam media Sabouraud cair, dan pertumbuhan koloni C. albicans dalam media Sabouraud agar. Perlakuan dalam penelitian ini menggunakan faktor konsentrasi air rebusan daun papaya, yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%, dan 50%. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Ada pengaruh positif pemberian air rebusan daun papaya terhadap penghambatan pertubuhan C. albicans, yaitu dapat membunuh C. albicans. (2) Ada pengaruh perbedaan konsentrasi air rebusan daun pepaya terhadap penghambatan pertumbuhan C. albicans. (3) Air rebusan daun pepaya dengan konsentrasi 45% adalah konsentrasi minimum yang dapat membunuh C. albicans.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pengguna jasa CV Rahmat Tours and Travel Malang (Studi kasus pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang) / Adiss Saifudin Zuhri

 

Menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat serta dalam menghadapi era globalisasi yang mengandung perubahan cepat dalam segala hal, maka perlulah bagi pelaku bisnis untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Untuk itu suatu agen travel and tours yang masuk dalam suatu persaingan hendaknya mampu memberikan kualitas pelayanan yang baik dan bahkan yang paling baik dengan harapan akan dapat mempengaruhi kepuasan konsumen serta dapat menjaring konsumen lain yang lebih banyak. Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu variabel bebas (kualitas pelayanan yang terdiri dari lima sub variabel yaitu bukti fisik, kandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati). Sedangkan variabel terikatnya adalah kepuasan konsumen. Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang pernah atau telah menggunakan jasa CV Rahmat Tours and Travel Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi non partisipatori dan kuesioner tertutup. Teknik pengambilan sampel dengan random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 85 responden. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 14.0. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap konsumen jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang. Data yang dianalisa berasal dari 85 responden yang merupakan konsumen jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang. Alat analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil dari regresi menunjukkan bahwa secara simultan kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen, dengan nilai Fhitung sebesar 16,348. Secara parsial variabel Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5) berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen. Hasil ini disebabkan karena jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang adalah jenis layanan tours and travel dimana varibel daya tanggap yang paling dibutuhkan konsumen. Nilai adjust R square sebesar 0,477 = 47,7% menunjukkan bahwa variabel Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Kepuasan Konsumen (Y) sebesar 0,715 = 71,5%. Sedangkan sisanya sebesar 0,523 = 52,3% dipengaruhi oleh variabel lain diluar lima variabel bebas yang diteliti seperti product, place, price, promotion. Variabel Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5) mempunyai hubungan positif atau searah dengan Kepuasan Konsumen. Variabel Daya Tanggap (X3) merupakan variabel yang dominan dalam mempengaruhi kepuasan konsumen dengan nilai standardized coefficient 0,587 = 58,7%. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan untuk memperoleh kepuasan konsumen khususnya konsumen jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang. ========================================== In order to compete in business world which getting more difficult and also in the globalization era in which everything change quickly, the business subject have to adapt with the change itself. Therefore, it needs travel and tour agents nowadays that is one of the parts of the competition, it should give better and even the best service with the hope that it can affect consumer’s satisfaction and also to get the more consumers. The research has two variable, they are independent variable that consisting of five sub variable that are physical proof, ability, the ability to respond, guarantee, and empathy. Meanwhile, the dependent variable is consumers’ satisfaction. The population of the research is students of economy faculty that once use or have used CV. Rahmat Tours and Travel Malang service. The collection of data has been done by observing non participation and questioner. The technique of sampling is random sampling with 85 respondents. The data analysis has been done by using SPSS for Windows, version 14. The aim of the research is to know the effect of the service quality toward the consumers that use the service of CV.Rahmat Tour and Travels Malang. Data that have been analyzed come from 85 respondents in which they are the consumers of CV.Rahmat Tour and Travel Malang. The instrument of the research is double linier regression. The result of the regression shows that the service quality affects simultaneously to the consumers satisfaction, in which the result of the counting of F is 16.348. Partially physical proof variable (X1), the ability (X2), the ability to respond (X3), guarantee (X4), and empathy (X5) affects significantly toward the consumers’ satisfaction. This is due to the reason that the service of CV.Rahmat Tours and Travel Malang is one kind of the service in which the ability to respond variable is the highest demand of the consumers. The result of R square is 0.477= 47,7%, it shows that physical proof variable (X1), the ability (X2), the ability to respond (X3), guarantee (X4), and empathy (X5) affects simultaneously toward consumers’ satisfaction (Y) is 0,175 = 71,5%. The rest is 0,523 = 52,3 % that is affected by another variable out of the five of the independent variable in the research such as, product, place, price, promotion. Physical proof variable (X1), the ability (X2), the ability to respond (X3), guarantee (X4), and empathy (X5) have positive relation or in the same direction with the consumers’ satisfaction. The ability to respond variable (X3) is the dominant variable that affects consumers’ satisfaction with the result of standardized coefficient 0,587 = 58, 7% The result of the research can be used to keep and improve the service quality to make the consumers satisfied especially the consumers that use the service of CV.Rahmat Tours and Travel Malang

Pengaruh promosi onlie melalui twitter terhadap proses keputusan pembelian konsumen toko online Roadin Store (studi kasus pada followers twitter Roadin Store) / Ramya Daksa Mandhana

 

Mandhana, Ramya Daksa. 2014. Pengaruh Promosi Online Melalui Twitter Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen Toko Online Roadin Store (Studi Kasus pada Followers Twitter Roadin Store). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Aniek Indrawati, S.Si., M.M. (2) Dr. Wening Patmi Rahayu, SPd., M.M. Kata Kunci: Promosi Online, Proses Keputusan Pembelian, Roadin Store     Bisnis online sekarang banyak diminati, baik oleh perusahaan online maupun perusahaan konvensional. Bisnis online tidak berbeda jauh dengan bisnis konvensional lainnya, bisnis online tetap harus mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik. Perusahaan dengan bisnis online juga menggunakan promosi dalam memasarkan produk atau jasa yang mereka tawarkan kepada pelanggan. Roadin Store adalah salah satu toko kaos online yang menggunakan media internet sebagai promosi produknya. Roadin Store juga menggunakan promosi online dalam menawarkan produknya kepada pelanggan. Roadin Store menggunakan media internet yaitu jejaring sosial twitter.     Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah promosi online yang meliputi periklanan, pemsaran langsung dan promosi penjualan secara parsial dan simultan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada pebelian kaos di Roadin Store melalui twitter.     Populasi dari penelitian ini diambil dari followers twitter Roadin Store dengan sampel berjumlah 100 orang, sebelumnya peneliti telah menyebar 30 try out kuesioner untuk memperoleh hasil uji validitas dan uji reliabilitas. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan data primer. Dimana sumber data primer berasal dari sampel yang diambil dari konsumen pada followers twitter Roadin Store. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner sedangkan data sekunder diperoleh melalui catatan, buku dan dokumen yang ada di Roadin Store. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara dan kuesioner. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis regresi berganda. Teknis ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.     Berdasarkan hasil analisis data tersebut menyimpulkan bahwa secara parsial (1) terdapat pengaruh variabel periklanan yang dilakukan oleh Roadin Store terhadap proses keputusan pembelian, (2) tidak terdapat pengaruh variabel pemasaran langsung yang dilakukan oleh Roadin Store terhadap proses keputusan pembelian, (3) terdapat pengaruh variabel promosi penjualan yang dilakukan oleh Roadin Store terhadap proses keputusan pembelian, dan secara simultan promosi online yang dilakukan oleh Roadin Store berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian. Roadin Store diharapkan untuk terus meningkatkan kegiatan kegiatan promosi agar konsumen menjadi lebih tertarik. Terutama pada kegiatan periklanan dan promosi penjualan. Saran juga ditujukan kepada peneliti selanjutnya, agar penelitian diarahkan pada variabel-variabel lain selain bauran promosi seperti produk, harga, selera dan lain-lain yang memiliki pengaruh terhadap proses keputusan pembelian pada kaos di Roadin Store.

Peningkatan hasil belajar PKN melalui model pembelajaran kooperatif jigsaw di kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulunggagung / Dian Puspitasari

 

Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Di Kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung Dian Puspitasari Abstract: The result of learning PKn in the 4 grade of public elementary school the first of Rejotangan has been less satisfying. From 24 studentswho achieved or passed standart of minimum learning passing grade. That is 65. To overcome this case, it needed the appropriate and suitable learning model choice for improving students’learning activity so it would help the students’score achievement. The purpose of the research is to understand the student’s improvement of the result of learning process after applying Jigsaw cooperative learning model. The result of research showed that in the pre applying stage, there were only nine students or 37,5% from 24 students who passed the standart of minimum learning passing grade. After applying Jigsaw cooperative learning model in the first cycle, it improved to 17 students or 71% from 24 students. But the result was far from the researcher’s hope so she applied the second cycle. In the second cycle the number of students who passed the standart of minimum learning passing grade showed improvement. Those were 22 students or 92% from 24 students who passed the standart of minimum learning passing grade. The studentas who were boring and not having high spirit became active and antusistic in learning the subject after applying and following the Jigsaw cooperative learning model. Kata Kunci: Peningkatan hasil belajar, pembelajaran PKn, model pembelajaran kooperatif Jigsaw Pendidikan adalah suatu proses interaksi antara pendidik dengan subyek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dang bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak perhatian khusus diarahkan kepada perkembangan dan kemajuan pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yaitu dengan merancang dan membangun suasana kelas sedemikian rupa, sehingga siswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Dengan demikian pemilihan model pembelajaran sangat penting guna meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa khususnya siswa SD. Hal ini juga berlaku di SDN 01 Rejotangan dimana pembelajaran PKn masih sering mengalamai kegagalan. Berdasarkan hasil pengamatan di SDN 01 Rejotangan pada mata pelajaran PKn di kelas IV diperoleh data bahwa hasil belajar siswa sering jatuh dan tidak mencapai KKM yang ditetapkan. Dari 24 siswa, hanya 9 atau 37,5% siswa yang tuntas belajar. Saat dilakukan diskusi kelompok biasa, terlihat adanya beberapa siswa tertentu saja yang aktif mengerjakan perintah guru. Dalam membentuk anggota kelompok para siswa lebih memilih teman-teman akrab yang umumnya duduk didekatnya. Beberapa siswa yang pandai berteman dengan siswa yang pandai, dan yang biasanya suka bergurau akan berteman dengan siswa lain yang suka bergurau. Oleh sebab itu pembelajaran menjadi tidak bermakna. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan merubah cara/model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab. Model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif karena pembelajaran di dalam kelas selalu didominasi oleh guru. Suasana pembelajaran yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif). Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang berkembang saat ini. ”Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam model pembelajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran”(Slavin, 2008:04). Salah satu bentuk dari pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Pembelajaran kooperatif model Jigsaw memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Setiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin maupun kemampuan akademiknya. Dalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw siswa dilatih untuk bekerja sama, saling mendengarkan pendapat teman, dan bertanggung jawab menunjukkan penguasaan terhadap materi yang ditugaskan kepadanya. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw di Kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung”. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Rejotangan 01 yang terletak di jalan Kandung Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) semester 1 tahun pelajaran 2009-2010 pada materi pemerintahan kabupaten dan kota. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Rejotangan 01 Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 24 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Pelaksanaan penelitian dilakukan di kelas IV SDN Rejotangan 01 Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung pada semester I Tahun Ajaran 2009-2010. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Sesuai dengan jenis penelitian tindakan, peneliti terlibat secara penuh dan langsung dalam setiap siklus selama penelitian. Adapun bentuk penelitian tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kolaboratif. Dalam penelitian kualitatif disebutkan bahwa peneliti merupakan instrumen kunci, maka dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Data dalam penelitian ini meliputi: (1) data hasil observasi selama pembelajaran, (2) skor hasil observasi kemampuan guru, (3) skor tes siswa yang berasal dari evaluasi, (4) data yang diperoleh dari catatan lapangan selama pembelajaran berlangsung. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa digunakan kriteria ketuntasan belajar berdasarkan ketentuan yang tercantum pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SDN Rejotangan 01 sebagai berikut : a. Siswa dianggap telah menuntaskan belajar pada suatu pokok bahasan tertentu apabila telah menguasai 60% dari pokok bahasan dengan skor minimal 65. Jika penguasaan kurang dari 60%, maka siswa masuk kelompok program perbaikan. Jika penguasaan siswa 60% ke atas pada suatu pokok bahasan, maka masuk kelompok program pengayaan. b. Kelas dianggap telah tuntas terhadap penguasaan pokok bahasan apabila 70% dari siswa suatu kelas telah mencapai Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM), yakni skor minimal 65 atau mencapai penguasaan 60% ke atas dari pokok bahasan yang dipelajari. Sesuai dengan jenis penelitian tindakan, penelitian ini menggunakan desain penelitian yang dikemukakan oleh Mulyasa (2009:73).. Untuk setiap siklus peneliti akan melakukan kegiatan yang diawali dengan perencanaan, kemudian melakukan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi. Dan apabila tindakan tersebut masih belum memenuhi target pemenuhan standar ketuntasan minimal maka dilakukan siklus berikutnya. Tahapan penelitian tindakan berdasarkan bagan yang telah dikemukakan oleh Mulyasa (2009:73) dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Tahap Pra Tindakan Kegiatan yang dilakukan peneliti pada tahap ini antara lain: melakukan observasi awal, yaitu mengobservasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru wali kelas IV, mengumpulkan data/permasalahan, hasil tes pada tahap pra tindakan, dan merefleksi. Data hasil dari refleksi tersebut didiskusikan bersama guru kelas IV untuk dapat menentukan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus I. Sebelum itu, peneliti juga berdiskusi dengan guru kelas IV untuk menentukan mata pelajaran apa yang akan diteliti, kapan pelaksanaan penelitian, metode yang akan digunakan, dan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran yang akan dilakukan oleh peneliti. Selain itu, peneliti bersama guru kelas IV juga mendiskusikan instrumen penilaian yang akan digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Peneliti juga menjelaskan kepada guru tersebut selaku obsever ketika peneliti melakukan pembelajaran siklus I tentang cara menilai aktivitas siswa pada saat melakukan dikusi dengan model Jigsaw. 2. Pelaksanaan Tindakan a. Siklus I 1) Perencanaan tindakan siklus I Perencanaan siklus I ini dilakukan berdasarkan refleksi pada tahap pra tindakan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:  Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw.  Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten dan kota.  Peneliti menyiapkan media dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran.  Peneliti menyusun lembar kerja Siswa (LKS)  Peneliti membuat evaluasi untuk siswa  Peneliti mengembangkan format penilaian  Peneliti mengembangkan format observasi pembelajaran yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam kelompok ahli, kemampuan bekerjasama dengan kelompok asal,penilaian keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan dari guru dan mengungkapkan pertanyaan, penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, dan penilaian ketepatan jawaban siswa. 2) Pelaksanaan tindakan siklus I Rencana yang telah disusun kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan siklus I ini adalah sebagai berikut:  Peneliti membuka pelajaran dengan salam, do’a dan memeriksa kehadiran siswa.  Peneliti menyampaikan apersepsi dengan bertanya jawab dengan siswa mengenai konsep pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran.  Peneliti menyampaikan materi tentang konsep pemerintahan kabupaten/kota dengan menggunakan bagan struktur pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok asal.  Peneliti membagikan lembar kerja yang terdiri dari 4 soal yang berbeda untuk tiap siswa dalam kelompok asal.  Peneliti berkumpul dalam kelompok ahli sesuai nomor soal yang diperolehnya.  Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli masing-masing.  Siswa kembali ke kelompok asal kemudian saling berdiskusi tentang hasil jawaban yang telah didiskusikan bersama kelompok ahli.  Peneliti bersama siswa membahas lembar kerja.  Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.  Siswa mengerjakan evaluasi secara individu kemudian hasil evaluasi tersebut dibahas bersama-sama. 3) Pengamatan/observasi siklus I Observasi ini dilakukan pada saat proses pembelajaran siklus I berlangsung. Observasi ini dilakukan untuk mengamati dan menilai tingkah laku siswa dalam pembelajaran. Hal-hal yang diobservasi antara lain mengenai kemampuan bekerjasama dalam mengerjakan soal secara kelompok (baik dalam kelompok ahli maupun dalam kelompok asal), tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas, keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban. Dalam mengobservasi, guru menggunakan instrumen yang telah dibuat sebelumnya. Hasil dari observasi ini digunakan sebagai bahan refleksi. 4) Refleksi siklus I Pada akhir siklus I diadakan refleksi terhadap kegiatan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi. Dari hasil refleksi akan diketahui kelebihan dan kekurangan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I yang akan digunakan untuk bahan perencanaan tindakan pada siklus II. b. Siklus II 1) Perencanaan tindakan siklus II Permasalahan-permasalahan baru yang muncul dari hasil releksi pada siklus I, selanjutnya akan dibuat suatu perencanaan tindakan untuk siklus II. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti sama dengan yang dilakukan pada tahap perencanaan tindakan siklus I, yaitu:  Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw.  Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten dan kota.  Peneliti menyiapkan media dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran.  Peneliti menyusun lembar kerja Siswa (LKS)  Peneliti membuat evaluasi untuk siswa  Peneliti mengembangkan format penilaian  Peneliti mengembangkan format observasi pembelajaran yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam kelompok ahli, kemampuan bekerjasama dengan kelompok asal,penilaian keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan dari guru dan mengungkapkan pertanyaan, penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, dan penilaian ketepatan jawaban siswa. 2) Pelaksanaan tindakan siklus II Di dalam tahap pelaksanaan siklus II, peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanan yang telah dibuat, yaitu seabagai berikut:  Peneliti membuka pelajaran dengan salam, do’a dan memeriksa kehadiran siswa.  Peneliti menyampaikan apersepsi dengan bertanya jawab dengan siswa mengenai konsep pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran.  Peneliti menyampaikan materi tentang konsep pemerintahan kabupaten/kota dengan menggunakan bagan struktur pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok asal.  Peneliti membagikan amplop yang didalamnya terdapat kartu soal dengan nomor yang berbeda untuk masing-masing anggota pada kelompok asal.  Siswa berkumpul dalam kelompok ahli sesuai nomor amplop yang diperolehnya.  Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli masing-masing.  Siswa kembali ke kelompok asal kemudian saling berdiskusi tentang hasil jawaban/pemecahan semua masalah, pada masing-masing surat yang terdapat pada amplop,yang telah didiskusikan bersama kelompok ahli.  Peneliti bersama siswa membahas lembar kerja.  Peneliti mengadakan permainan adu cepat memasang jawaban pada bagan struktur organisasi pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.  Siswa mengerjakan evaluasi secara individu kemudian dibahas bersama-sama. 3) Pengamatan/observasi siklus II Observasi ini dilakukan pada saat proses pembelajaran siklus II berlangsung. Observasi ini dilaksanakan berdasarkan lembar pengamatan yang telah disiapkan. Data yang peroleh dari observasi pada siklus II dikumpulkan untuk dijadian sebagai bahan refleksi. 4) Refleksi siklus II Pada akhir pembelajaran siklus II diadakan refleksi terhadap kegiatan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi. Dari hasil refleksi akan diketahui kelebihan dan kekurangan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus II. Apabila hasil yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan siklus II maih belum memuaskan, maka dapat dilaksanakan siklus III dan seterusnya. HASIL PENELITIAN 1. Penelitian Pra Tindakan Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa proses pembelajaran menggu-nakan pendekatan tradisional, yakni seorang guru secara aktif mengajarkan materi PKn, kemudian memberikan soal-soal dan latihan masih menekankan pada hafalan. Data hasil belajar siswa seperti yang terdapat pada tabel berikut: Tabel 4.1 Hasil Belajar Siswa Sebelum Pelaksanaan Tindakan No Nama Siswa Nilai Ketuntasan T BT 1. M. Muklis Hidayat 40 Belum Tuntas 2. Septi Ika Setyowati 40 Belum Tuntas 3. Yofi Yolanda 50 Belum Tuntas 4. Alroy Eko Ardinto 60 Belum Tuntas 5. Andre Baruna A. 60 Belum Tuntas 6. Angga Riski Hartiana 65 Tuntas 7. Anggi Anggraini 70 Tuntas 8. Aries Fajar Subeqi 70 Tuntas 9. Boby Hermawan 75 Tuntas 10. Desi Wahyuningsih 50 Belum Tuntas 11. Devita Dwi Lisanda 55 Belum Tuntas 12. Dian Puji Astuti 70 Tuntas 13. Elok Aprilia 40 Belum Tuntas 14. Frida Wahyu H. 50 Belum Tuntas 15. Inti Ginartyas 55 Belum Tuntas 16. Kevin Baruna A. 70 Tuntas 17. M. Ardan Dwicahya 50 Belum Tuntas 18. M. Abdul Gafur 75 Tuntas 19. Niken Dwi Ratnasari 45 Belum Tuntas 20. Novriyan Isroq A. 40 Belum Tuntas 21. Reza Nurbangga H.A 60 Belum Tuntas 22. Wahyu Ryan W. 45 Belum Tuntas 23. Reza Lutvi Andika 70 Tuntas 24. Satria Sabilillah 75 Tuntas Jumlah 1380 9 15 Rata-rata 57,5 % Ketuntasan 37,5% 62,5% Dari tabel 4.1 di atas, dapat dijelaskan bahwa pembelajaran PKn yang dilakukan guru kelas IV pada tahap pra tindakan (sebelum menggunakan model pemebalajaran kooperatif Jigsaw) belum berhasil. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa dari pembelajaran tersebut. Dari KKM yang ditentukan, yaitu 65, yang memperoleh nilai di atas KKM hanya 9 siswa sedangkan 15 siswa yang lain nilainya masih berada di bawah KKM. Rata-rata nilai keseluruhan siswa hanya 57,5. Itu berarti skor ketuntasan siswa kelas IV hanya 37,5% dari batas minimal ketuntasan rata-rata satu kelas, yaitu 70%. Berdasarkan data yang telah diperoleh dalam observasi kegiatan pembelajaran pada tahap pra tindakan, maka refleksi pada kegiatan ini yaitu: (1) proses belajar mengajar berlangsung dengan berpusat pada guru, (2) soal-soal yang diberikan guru pada kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung hanya berpusat pada buku paket, (3) guru belum menggunakan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang dapat membangkitkan aktifitas siswa dalam pembelajaran, (4) sumber utama belajar adalah guru, (5) hasil belajar yang diperoleh siswa tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan yaitu skor minimal 65. Dari hasil analisis refleksi pada tahap ini, maka perlu diadakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw pada siklus I dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa terkait dengan materi pemerintahan kabupaten dan kota. 2. Penelitian Siklus I a. Perencanaan Tindakan Siklus I Perencanaan ini dilakukan berdasarkan refleksi pada tahap pra tindakan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut: peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) PKn dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten/kota. Peneliti menyiapkan media yang akan digunakan dalam pembelajaran, yaitu berupa struktur pemerintahan kabupaten/kota pada kertas manila. Peneliti membuat lembar kerja siswa (LKS) yang terdiri dari 4 soal uraian dan evaluasi untuk masing-masing siswa yang terdiri dari 5 soal uraian. peneliti membuat format penilaian LKS dan evaluasi siswa, dan peneliti menyusun lembar observasi yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam mengerjakan soal secara kelompok, penilaian keberanian siswa dalam bertanya dan mengungkapkan pertanyaan, penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, penilaian sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan penilaian ketepatan jawaban siswa. b. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pertemuan pada siklus I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 07 Januari 2010, materi yang disampaikan adalah pemerintahan kabupaten/kota. Pelaksanaan tindakan siklus I ini peneliti bertindak sebagai guru yang dibantu oleh seorang observer yaitu guru kelas IV. Pada pertemuan ini guru mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Rencana yang telah disusun kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan c. Observasi Observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Objek yang diobservasi adalah siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan yang berjumlah 24 siswa. Dalam melaksanakan kegiatan observasi ini, peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV sebagai mitra yang bertugas mencatat kelebihan ataupun kekurangan peneliti dalam melaksanakan pembelajaran dan mencatat segala hal yang dapat diamati, baik itu kegiatan siswa ketika di dalam kelas ataupun kegiatan guru ketika mengajar yang nantinya dijadikan sebagai catatan lapangan. Selama kegiatan kerja kelompok berlangsung guru secara teratur berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Guru juga memberikan motivasi pada beberapa siswa yang kurang aktif bekerja sama dalam kelompoknya. Pada kegiatan akhir pembelajaran guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan segala sesuatu terkait dengan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan idenya terkait dengan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari hasil pembelajaran pada siklus I diperoleh data tentang kegiatan siswa selama pelajaran berlangsung. Pada saat siswa mengerjakan lembar kerja kelompok, guru menilai kegiatan siswa yang terdiri dari beberapa aspek yaitu, kerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, keaktifan siswa dalam pembelajaran, keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan guru dan mengungkapkan pendapat, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut. Tabel 4.2 Penilaian Kegiatan Siswa Pada Siklus I No Aspek yang Diamati Kriteria Penilaian Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 1. Kerjasama 7 8 7 2 - 2. Keaktifan 7 7 8 2 - 3. Keberanian 5 9 5 5 4. Menghargai pendapat teman - 7 7 8 2 5. Ketepatan jawaban 2 10 5 5 2 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang kerjasamanya sangat baik ada 7 siswa, yang skornya baik 8 siswa, cukup 7 siswa dan yang kerjasamanya masih kurang hanya ada 2 siswa. Pada aspek keaktifan, siswa yang sangat aktif dalam pembelajaran ada 7 siswa, yang mendapat skor baik ada 7 siswa, yang skornya cukup ada 8 siswa, dan yang mendapat skor kurang ada 2 siswa. Pada aspek keberanian, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 5 siswa, skor baik ada 9 siswa, skor cukup ada 5 siswa, dan siswa yang skornya masih kurang ada 5 siswa. Pada aspek menghargai pendapat teman, tidak ada siswa yang mendapat skor sangat baik. Siswa yang mendapat skor baik ada 7 siswa, yang mendapat skor cukup ada 7 siswa, skor kurang ada 8 siswa, dan siswa yang mendapat skor sangat kurang atau sama sekali tidak menghargai pendapat teman ada 2 siswa. Pada aspek ketepatan dalam mengerjakan tugas, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 2 siswa, skor baik ada 10 siswa, skor cukup ada 5 siswa, skor kurang ada 5 siswa, dan siswa yang mendapat skor sangat kurang hanya ada 2 siswa. Pada pembelajaran siklus I diperoleh nilai dari tugas yang diberikan oleh guru kelas IV secara kelompok maupun individu. Hasil nilai lembar kerja siswa yang dikerjakan secara kelompok baik kelompok ahli maupun kelompok asal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut. Tabel 4.3 Penilaian Lembar Kerja Siswa Pada Siklus I No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 T BT 1. M. Muklis Hidayat 10 20 15 15 60 BT 2. Septi Ika Setyowati 10 20 15 15 60 BT 3. Yofi Yolanda 10 20 15 15 60 BT 4. Alroy Eko Ardinto 10 20 15 15 60 BT 5. Andre Baruna A. 20 15 15 20 70 T 6. Angga Riski Hartiana 20 15 15 20 70 T 7. Anggi Anggraini 20 15 15 20 70 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 15 15 20 70 T 9. Boby Hermawan 20 15 20 20 75 T 10. Desi Wahyuningsih 20 15 20 20 75 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 15 20 20 75 T 12. Dian Puji Astuti 20 15 20 20 75 T 13. Elok Aprilia 10 20 20 15 65 T 14. Frida Wahyu H. 10 20 20 15 65 T 15. Inti Ginartyas 10 20 20 15 65 T 16. Kevin Baruna A. 10 20 20 15 65 T 17. M. Ardan Dwicahya 25 10 20 15 70 T 18. M. Abdul Gafur 25 10 20 15 70 T 19. Niken Dwi Ratnasari 25 10 20 15 70 T 20. Novriyan Isroq A. 25 10 20 15 70 T 21. Reza Nurbangga H.A 20 20 10 10 60 BT 22. Wahyu Ryan W. 20 20 10 10 60 BT 23. Reza Lutvi Andika 20 20 10 10 60 BT 24. Satria Sabilillah 20 20 10 10 60 BT Jumlah 420 400 400 380 1600 16 8 Rata-rata 67 Keterangan: T : Tuntas BT : Belum Tuntas Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar dalam mengerjakan lembar kerja kelompok sebanyak 20 siswa dari 24 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar hanya 8 siswa dari 24 siswa. Rata-rata nilai pada lembar keja kelompok adalah 67. Hal tersebut menunjukkan nilai yang diperoleh dalam kerja kelompok sudah di atas KKM yang ditetapkan yaitu 65. Sedangkan hasil nilai belajar siswa pada lembar evaluasi yang dikerjakan secara individu dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut. Tabel 4.4 Penilaian Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 5 T BT 1. M. Muklis Hidayat 5 5 10 10 10 40 BT 2. Septi Ika Setyowati 10 10 10 10 10 50 BT 3. Yofi Yolanda 20 10 10 15 15 70 T 4. Alroy Eko Ardinto 10 20 15 20 5 70 T 5. Andre Baruna A. 20 10 20 10 20 80 T 6. Angga Riski Hartiana 20 20 20 10 15 85 T 7. Anggi Anggraini 20 10 20 10 20 80 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 20 10 20 20 90 T 9. Boby Hermawan 20 20 20 20 20 100 T 10. Desi Wahyuningsih 20 20 20 15 20 95 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 20 20 10 20 90 T 12. Dian Puji Astuti 10 10 20 10 20 70 T 13. Elok Aprilia 10 10 15 15 10 60 BT 14. Frida Wahyu H. 10 10 10 10 10 50 BT 15. Inti Ginartyas 20 10 10 15 15 70 T 16. Kevin Baruna A. 20 15 15 20 20 90 T 17. M. Ardan Dwicahya 15 15 10 15 20 75 T 18. M. Abdul Gafur 10 10 10 15 15 60 BT 19. Niken Dwi Ratnasari 10 10 10 15 10 55 BT 20. Novriyan Isroq A. 20 15 10 10 20 75 T 21. Reza Nurbangga H.A 20 20 20 20 20 100 T 22. Wahyu Ryan W. 15 20 20 15 20 90 T 23. Reza Lutvi Andika 10 10 15 15 10 60 BT 24. Satria Sabilillah 20 15 15 10 10 70 T Jumlah 375 335 355 335 375 1775 17 7 Rata-rata 74 % Ketuntasan 71% 29% Keterangan: T : Tuntas BT : Belum tuntas Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas belajar sejumlah 17 siswa atau 71% dari jumlah keseluruhan siswa yaitu 24 siswa. Siswa yang belum tuntas belajar sejumlah 7 siswa atau 29% dari 24 siswa. Nilai rata-rata kelas yaitu 74 dan sudah melebihi KKM yang ditetapkan, yaitu 65 Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan sudah berhasil karena siswa yang tuntas belajar sudah mencapai 70% lebih. Jika dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar baik secara individu ataupun secara klasikal. Peningkatan penguasaan pemahaman pada materi ini terlihat dari ketuntasan siswa baik ketuntasan individu ataupun ketuntasan secara klasikal yang telah ditetapkan. d. Refleksi Dari penelitian tindakan pada siklus I diperoleh beberapa temuan, diantaranya: (a) adanya siswa yang kurang bekerja sama dan pasif selama kegiatan pembelajaran berlangsung ataupun pada saat kerja kelompok. Hal ini dikarenakan selama ini siswa terbiasa dengan bekerja secara individu, sehingga kegiatan seperti ini dapat membuat siswa cenderung bersifat egois dan kurang menghargai pendapat orang lain, (b) siswa telah memahami konsep yang dipelajari, hanya saja siswa belum terbiasa menerapkan kerja kelompok, (c) siswa mampu memahami materi yang dipelajari karena kegiatan pembelajaran berlangsung dengan melibatkan pengalaman siswa, sehingga siswa mudah untuk menerima dan memahami materi yang dipelajari, (d) siswa telah memahami materi yang dipelajari, namun siswa kurang teliti dalam menjawab soal-soal yang diberikan, sehingga jawaban yang seharusnya tepat menjadi salah. Alangkah baiknya apabila siswa diingatkan untuk menulis jawabannya secara tepat dan teliti. Hal ini dilakukan agar siswa lebih teliti dalam mengisi jawaban yang ditulisnya, karena pada umumnya siswa sekarang selalu tegesa-gesa mengerjakan dan kurang memperhatikan ketepatan penulisan jawaban, (e) siswa kurang memaknai belajar dengan menggunakan pengalaman dan media. Penyebabnya adalah karena siswa terbiasa untuk belajar dengan mendengarkan penjelasan guru tanpa menggunakan pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Hasil refleksi dan temuan pada pelaksanaan tindakan dalam siklus I digunakan sebagai bahan acuan untuk membuat rancangan siklus berikutnya yaitu siklus II. Penelitian Siklus II a. Perencanaan Tindakan Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, peneliti merencanakan tindakan berikutnya yang dijabarkan pada siklus II. Pada siklus II ini yang akan dibahas adalah masalah-masalah yang dianggap belum tuntas pada siklus I. b. Pelaksanaan tindakan Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 14 Januari 2010. Materi pokok yang disampaikan adalah Pemerintahan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan tindakan siklus II ini peneliti bertindak sebagai guru yang dibantu oleh seorang observer yaitu guru kelas IV. Pada pertemuan ini guru mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Rencana yang telah disusun dalam perencanaan tindakan siklus II kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan. c. Observasi Observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Objek yang diobservasi adalah siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan yang berjumlah 24 siswa. Dalam melaksanakan kegiatan observasi ini, peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV sebagai mitra yang bertugas mencatat kelebihan ataupun kekurangan peneliti dalam melaksanakan pembelajaran dan mencatat segala hal yang dapat diamati, baik itu kegiatan siswa ketika di dalam kelas ataupun kegiatan guru ketika mengajar yang nantinya dijadikan sebagai catatan lapangan. Hasil observasi selama proses pembelajaran antara lain adalah siswa begitu antusias mengikuti pemebelajaran. Semua siswa memperhatikan pelajaran dengan baik. Dalam kegiatan kelompok siswa telah berkolaborasi dengan seluruh anggota kelompok baik dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, tidak nampak siswa yang pasif dalam kerja kelompok. Setiap guru memberikan sebuah permasalahan dan siswa dapat menjawabnya dengan tepat guru memberikan pujian pada siswa tersebut. Pada saat permainan adu cepat menentukan waktu, siswa begitu semangat untuk bekerja menyelesaikan tugas yang diberikan. Kegiatan pembelajaran berlangsung menyenangkan. Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 113. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa guru telah melaksanakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan baik. Semua aspek kegiatan dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw telah dilakukan guru dengan baik sesuai dengan RPP yang telah direncanakan. Dari hasil pembelajaran pada siklus I diperoleh data tentang kegiatan siswa selama pelajaran berlangsung. Pada saat siswa mengerjakan lembar kerja kelompok, guru menilai kegiatan siswa yang terdiri dari beberapa aspek yaitu, kerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, keaktifan siswa dalam pembelajaran, keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan guru dan mengungkapkan pendapat, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut. Tabel 4.5 Penilaian Kegiatan Siswa Pada Siklus I No Aspek yang Diamati Kriteria Penilaian Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 1. Kerjasama 10 8 3 - - 2. Keaktifan 12 10 2 - - 3. Keberanian 9 10 5 - - 4. Menghargai pendapat teman 5 10 9 - - 5. Ketepatan jawaban 8 9 7 - - Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang kerjasamanya sangat baik meningkat menjadi 10 siswa, yang skornya baik 8 siswa, cukup 3 siswa. Pada aspek keaktifan, siswa yang sangat aktif dalam pembelajaran ada 12 siswa, yang mendapat skor baik ada 10 siswa, yang skornya cukup ada 2 siswa. Pada aspek keberanian, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 9 siswa, skor baik ada 10 siswa, skor cukup tetap 5 siswa. Pada aspek menghargai pendapat teman, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 5 siswa, pdahal pada siklus I masih kosong. Siswa yang mendapat skor baik ada 10 siswa, yang mendapat skor cukup ada 9 siswa. Pada aspek ketepatan dalam mengerjakan tugas, siswa yang mendapat skor sangat baik 8 siswa, siswa yang mendapat skor baik ada 9 siswa, skor cukup ada 7 siswa. Hasil nilai lembar kerja siswa yang dikerjakan secara kelompok dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut. Tabel 4.6 Penilaian Lembar Kerja Siswa Pada Siklus II No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 T BT 1. M. Muklis Hidayat 15 25 20 10 70 T 2. Septi Ika Setyowati 15 25 20 10 70 T 3. Yofi Yolanda 15 25 20 10 70 T 4. Alroy Eko Ardinto 15 25 20 10 70 T 5. Andre Baruna A. 20 20 25 10 75 T 6. Angga Riski Hartiana 20 20 25 10 75 T 7. Anggi Anggraini 20 20 25 10 75 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 20 25 10 75 T 9. Boby Hermawan 20 20 20 20 80 T 10. Desi Wahyuningsih 20 20 20 20 80 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 20 20 20 80 T 12. Dian Puji Astuti 20 20 20 20 80 T 13. Elok Aprilia 15 20 20 15 70 T 14. Frida Wahyu H. 15 20 20 15 70 T 15. Inti Ginartyas 15 20 20 15 70 T 16. Kevin Baruna A. 15 20 20 15 70 T 17. M. Ardan Dwicahya 25 20 20 20 85 T 18. M. Abdul Gafur 25 20 20 20 85 T 19. Niken Dwi Ratnasari 25 20 20 20 85 T 20. Novriyan Isroq A. 25 20 20 20 85 T 21. Reza Nurbangga H.A 10 25 15 15 65 BT 22. Wahyu Ryan W. 10 25 15 15 65 BT 23. Reza Lutvi Andika 10 25 15 15 65 BT 24. Satria Sabilillah 10 25 15 15 65 BT Jumlah 420 520 480 360 1780 20 4 Rata-rata 74 Keterangan: T : Tuntas BT : Belum Tuntas Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar dalam mengerjakan lembar kerja siswa hanya ada 20 siswa dari 24 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 4 siswa dari jumlah siswa secara keseluruhan. Rata-rata nilai kerja kelompok dalam satu kelas ada 74. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata yang semula hanya 67 pada siklus I menjadi 74 pada siklus II. Hasil belajar siswa diperoleh dari nilai lembar evaluasi dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut. Tabel 4.7 Penialaian Hasil Belajar Siswa dalam Siklus II No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 5 T BT 25. M. Muklis Hidayat 20 20 15 20 10 85 T 26. Septi Ika Setyowati 20 10 20 10 20 80 T 27. Yofi Yolanda 20 20 20 10 10 80 T 28. Alroy Eko Ardinto 20 10 20 15 20 85 T 29. Andre Baruna A. 20 20 20 20 20 100 T 30. Angga Riski Hartiana 20 20 20 20 20 100 T 31. Anggi Anggraini 20 20 20 15 20 95 T 32. Aries Fajar Subeqi 20 20 20 10 20 90 T 33. Boby Hermawan 10 10 20 15 20 75 T 34. Desi Wahyuningsih 20 15 15 20 10 80 T 35. Devita Dwi Lisanda 10 10 15 10 15 60 BT 36. Dian Puji Astuti 20 10 15 15 15 75 T 37. Elok Aprilia 20 15 15 20 20 90 T 38. Frida Wahyu H. 15 15 10 20 20 80 T 39. Inti Ginartyas 10 10 10 15 15 60 BT 40. Kevin Baruna A. 15 15 10 15 15 70 T 41. M. Ardan Dwicahya 20 15 15 10 20 80 T 42. M. Abdul Gafur 20 20 20 20 20 100 T 43. Niken Dwi Ratnasari 20 20 20 20 20 100 T 44. Novriyan Isroq A. 10 20 15 20 20 85 T 45. Reza Nurbangga H.A 20 15 15 20 10 80 T 46. Wahyu Ryan W. 20 20 15 20 10 85 T 47. Reza Lutvi Andika 20 10 20 10 20 80 T 48. Satria Sabilillah 20 20 20 10 10 80 T Jumlah 430 385 390 380 410 1995 22 2 Rata-rata 83 % Ketuntasan 92% 8% Keterangan: T : Tuntas BT : Belum tuntas Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa dari 24 siswa, 22 siswa telah dikategorikan tuntas belajar dengan kriteria ketuntasan individu 60%. Sedangkan ketuntasan kelas yang diharapkan adalah 70% telah tercapai 92%. Rata-rata nilai kelasnya juga mengalami peningkatan. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas 74 mengalami peningkatan pada siklus II yaitu 83. Nilai tertinggi pada siklus ini terdapat paa rentangan 85-100, sedangkan nilai terendah terdapat pada rentangan 55-60. Siswa yang belum tuntas belajar hanya ada 2 siswa atau 8% dari jumlah siswa secara keseluruhan. Apabila dibandingkan dengan siklus I telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar baik secara individu ataupun secara klasikal. Peningkatan pemahaman konsep pada materi ini terlihat dari ketuntasan siswa baik ketuntasan individu ataupun ketuntasan secara klasikal yang telah ditetapkan. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran siklus II telah berhasil. d. Refleksi Siswa yang sebelumnya kurang aktif dan siswa yang membuat keramaian, pada pelaksanaan siklus II ini sikap mereka berubah. Siswa yang sebelumnya cenderung kurang aktif mulai aktif dengan kelompoknya, menggunakan media yang digunakan guru, dan bekerja sama dengan kelompoknya. Sedangkan siswa yang ramai saat kerja kelompok telah merubah sikapnya dengan ikut aktif bekerjasama dalam kelompok. Setiap anggota kelompok mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari guru bahwa dengan bekerja sama siswa akan dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru dengan cepat dan mudah. Siswa mampu memahami materi yang disampaikan, mampu menjawab soal-soal yang diberikan guru dengan melibatkan pengalamannya, berkolaborasi dengan teman satu kelompok dan melaporkan hasil kerja kelompoknya, mengevaluasi hasil kerja sendiri ataupun kelompok lain. 3. Peningkatan Hasil Belajar Dari Pra Tindakan Sampai Siklus III Pada tahap pra tindakan yang dilakukan oleh guru kelas IV, sama sekali tidak menerapkan metode pembelajaran yang menyenagkan dan menarik perhatian siswa. Pada tindakan siklus I, peneliti mulai menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw akan tetapi belum mencapai hasil yang maksimal maksimal. Pada tindakan siklus II, peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw yang dikombinasi dengan suatu permainan yang membangkitkan antusias murid dalam pembelajaran. Berikut ini adalah rekapitulasi hasil belajar siswa pada tahap pra tindakan, siklus I, siklus II, dan siklus III. Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Pada Pra Tindakan, Siklus I, Siklus II Kegiatan Tuntas Belajar Belum Tuntas Persentase Ketuntasan Pra Tindakan 9 siswa 15 siswa 37,5% Siklus I 17 siswa 7 siswa 71% Siklus II 22 siswa 2 siswa 92% Berdasarkan tabel di atas ketuntasan belajar siswa pada tahap pra tindakan adalah 37,5% atau hanya 9 siswa yang tuntas belajar. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sehingga mengalami perbaikan ada 15 siswa. Setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada siklus I oleh peneliti, terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa. Sebanyak 71% atau 17 dari 24 siswa telah tuntas belajar. Pada pembelajaran siklus I ini peneliti melakukan 7 kali penilaian, yang meliputi penilaian LKS, evaluasi, kerjasama siswa, keberanian siswa dalam bertanya, keaktifan dalam mengikuti pembelajaran, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban siswa. Pada pelaksanaan tindakan siklus II mengalami peningkatan lebih baik dibandingkan pada pelaksanaan tindakan siklus I. Nilai rata-rata kelas pada kegiatan evaluasi dari 74 pada siklus I meningkat menjadi 84 pada siklus II. Nilai hasil belajar juga mengalami peningkatan sebesar 21% yaitu dari 71% menjadi 92% pada siklus II. Siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa dan siswa yang belum tuntas belajar hanya ada 2 siswa. Siswa juga menjadi lebih aktif dan antusias mengikuti pembelajaran dari kegiatan awal hingga akhir. Pada siklus II, tidak siswa yang mendapat skor kurang ataupun sangat kurang pada penilaian prosesnya. Guru juga telah menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan baik. Semua kegiatan pembelajaran dari awal hingga akhir sudah sesuai dengan RPP yang telah direncanakan sebelum pembelajaran berlangsung. Semua aspek dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw telah dilaksanakan dengan baik. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa semangat siswa dalam belajar dapat meningkat dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran searta bersedia mendengarkan penjelasan guru dan melakukan kerjasama yang baik dengan teman-temannya. Setiap tugas yang diberikan guru mampu dilaksanakan siswa dngan baik, meskipun masih ada siswa yang kurang aktif tetapi jumlahnya sangat sedikit. PEMBAHASAN 1. Pelaksanaan Pembelajaran Pada Tahap Pra Tindakan Hasil pelaksanaan pembelajaran Pkn pada pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan pada tahap pra tindakan menunjukkan proses pembelajaran masih bersifat tradisional. Guru tidak membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebelum pembelajaran dimulai. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa terlihat malas/tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Banyak siswa yang mengantuk dan tidak bersemangat karena guru lebih sering lebih sering menggunakan metode ceramah, sehingga proses pembelajaran hanya terjadi satu arah yaitu dari guru kepada siswa karena pembelajaran berpusat pada guru. Siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Kegiatan siswa hanya mendengar, mencatat, dan mengerjakan soal/latihan yang diberikan guru. Kekurangan lain pada metode ceramah ini seperti yang dikemukakan Sumantri, dkk (1988:139), yaitu dapat menimbulkan kejenuhan peserta didik dan tidak merangsang kreativitas peserta didik. Guru hanya berpedoman pada buku paket dan tidak menggunakan berbagai sumber ilmu lainnya apalagi memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar bagi siswa. Kekurangan metode ceramah ini dapat ditutupi dengan penggunaan metode yang bervariasi. Tujuannya adalah supaya siswa tidak merasa bosan dan tertarik terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dengan penggunaan mtode yang tepat, siswa dapat membangun konsep sendiri. Hal ini sesuai dengan teori belajar Piaget (dalam Hamalik, 1994:131) yang berbasis konstruktivisme, yaitu membangun konsep sendiri melalui pengalaman langsung (belajar penemuan). Pengalaman itu dapat siswa peroleh dari lingkungan sekitar ataupun media yang digunakan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran. Pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV menunjukkan bahwa guru tidak menggunakan media sebagai sarana untuk menyampaikan informasi. Oleh sebab itu siswa kurang dapat menerima pelajaran yang disampaikan dengan baik karena siswa belum mengerti maksud dari pembelajaran tersebut. Hal ini dikarenakan siswa kelas IV SD yang berada pada rentang umur 9-10 tahun masih berada pada tahap berpikir operasionl konkrit yaitu siswa berpikir melalui apa yang dilihatnya. Penggunaan media terutama benda nyata sangat dianjurkan dalam dunia pendidikan untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi serta mempermudah siswa dalam menerima pelajaran. Manfaat lain dari media seperti yang dikemukakan oleh Sadiman, dkk (2006:17), yaitu dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan), mengatasi sifat pasif anak didik, menimbulkan kegairahan belajar, dan memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. Dari hasil observasi awal pada tahap pra tindakan diperoleh data bahwa siswa tidak menunjukkan kerjasama dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru tidak membentuk kelompok untuk mengadakan diskusi. Guru hanya memberikan tugas individu kepada siswa. Keberanian siswa juga belum tampak karena siswa tidak diberi kesempatan untuk bertanya. Keaktifan siswa juga kurang karena guru hanya menggunakan metode ceramah di dalam melaksanakan pembelajaran. Sedangkan untuk soal yang dikerjakan siswa, guru hanya meneliti sekilas tanpa memberikan skor untuk ketelitian, dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian yang dilakukan guru hanya penilaian dari tugas yang diberikan. Hasil dari tugas tersebut menunjukkan nilai yang diperoleh siswa sangat kurang, yaitu nilai rata-rata satu kelas hanya mencapai 57,5. Hal ini dapat disebabkan karena guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Untuk memperbaiki hasil belajar siswa, maka peneliti melakukan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw sebagai sarana untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga hasil belajarnya juga akan meningkat. 2. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Pada Pelajaran PKn di Kelas IV a. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus I ini sudah menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran Jigsaw menjadikan siswa lebih aktif dalam pembelajaran terutama pada saat diskusi kelompok. Hal ini nampak dari antusias yang ditunjukkan siswa ketika melakukan diskusi kelompok dengan kelompok ahli maupun dengan kelompok asalnya . Setiap kelompok ahli mampu menjawab pertanyaan (memecahkan masalah) yang diberikan, sehingga ketika kembali pada kelompok asalnya, siswa mampu menjelaskan/ mengajarkannya pada siswa yang lain di kelompok asalnya. Selama kegiatan kerja kelompok berlangsung guru secara teratur berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Guru juga memberikan motivasi pada beberapa siswa yang kurang aktif bekerja sama dalam kelompoknya. Ketika melakukan pembelajaran, peneliti melakukan observasi untuk menilai aktivitas siswa yang meliputi: kerjasama, keberanian, keaktifan, ketelitian, sikap siswa, dan ketepatan jawaban. Kerjasama ini bertujuan untuk membangun jiwa sosial siswa dalam berhubungan dengan teman ataupun orang lain. Keberanian yang dimaksud pada observasi ini adalah keberanian dalam bertanya, mengungkapkan pendapat dan menjawab pertanyaan dari guru. Tujuannya adalah untuk membangun keberanian siswa dalam berpendapat. Penilaian keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran bertujuan untuk melihat seberapa besar perhatian siswa terhadap pembelajaran dari awal sampai akhir. Penilaian ketelitian ini bertujuan untuk meningkatkan ketelitian siswa dalam mengerjakan soal. Peneliti juga melakukan penilaian terhadap siskap siswa dalam menghargai pendapat temannya. Penilaian ini bermanfaat untuk melatih sikap moral siswa untuk selalu menghargai pendapat teman dalam kehidupan sehari-hari terutama pada saat bermusyawarah. Selain itu, aspek terakhir yang dinilai adalah kebenaran jawaban. Dalam hal ini yang dinilai hanya jawaban akhir saja tanpa melihat cara yang digunakan siswa dalam mengerjakan soal. Dari hasil penelitian pada sikus I dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw ternyata ada peningkatan nilai dari pembelajaran sebelumnya (sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw). Demikian juga pada keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat, kerjasama siswa dalam mengerjakan soal, ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban juga mengalami peningkatan. Peningkatan nilai kerjasama siswa mencapai 64%, prosentase keaktifan siswa hanya 63%, prosentase keberanian siswa 60%, prosentase ketelitian siswa dalam mengerjakan soal hanya mencapai 54%, prosentase untuk sikap siswa dalam mengahargai pendapat teman dan ketepatan dalam nejawab pertanyaan nilainya sama yaitu hanya 51%. Akan tetapi dari data tersebut dapat diketahui bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran masih sangat rendah karena nilai rata-rata yang diperoleh masih kurang dari standar yang telah ditentukan, yaitu 70%. Sedangkan peningkatan nilai dari tes dapat diketahui dari nilai rata-rata siswa pada lembar kerja siswa yaitu 67 dan sebanyak 20 siswa atau 67% dari 24 siswa yang tuntas belajar. Nilai rata-rata siswa pada evaluasi adalah 74 dan sebanyak 17 atau 71% siswa yang tuntas belajar. Siswa dikategorikan tuntas belajar apabila sudah mencapai nilai KKM, yaitu 65. Adapun prinsip belajar tuntas pada materi pemerintahan kabupaten/kota ini adalah setiap siswa tuntas jika dapat mencapai hasil yang telah ditetapkan, yaitu 65 dalam menyelesaikan materi tersebut. Hal ini sesuai dengan teori belajar tuntas menurut Suryosubroto (2002:96) yang mengatakan bahwa ”belajar tuntas adalah belajar yang dilakukan dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi pelajaran yang diajarkan”. Peneliti menyadari bahwa pada tindakan siklus I ini masih banyak hal yang harus dilakukan dan perlu ditingkatkan pada siklus berikutnya salah satunya adalah belum tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil refleksi dan temuan pada pelaksanaan tindakan dalam siklus I digunakan sebagai bahan acuan untuk membuat rancangan siklus berikutnya yaitu siklus II. b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pada pelaksanaan tindakan siklus II ini peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan diselingi permainan/game dalam penerapannya. Dalam pembelajaran siklus II ini, peneliti menggunakan media berupa empat amplop yang berisi soal yang berbeda untuk tiap siswa dalam satu kelompok yang nantinya dipecahkan bersama kelompok ahli. Media ini adalah media untuk permainan sehingga pembelajaran akan lebih menyenangkan. Dari hasil tindakan siklus II ini dapat diketahui nilai rata-rata siswa pada lembar kerja siswa adalah 74 dan ada 83% atau sebanyak 20 siswa yang tuntas belajar. Nilai rata-rata siswa pada evaluasi adalah 83 dan ada 92% atau sebanyak 22 siswa yang tuntas belajar. Ini berarti ada peningkatan nilai dari tindakan siklus I dengan pembelajaran pada tindakan siklus II. Peningkatan ini dapat terjadi karena peneliti telah menggunakan model pembelajaran Jigsaw dengan suatu permainan. Sedangkan untuk hasil observasi siswa sudah menunjukkan bahwa siswa sudah aktif dalam mengikuti pelajaran, adanya kerjasama yang baik antarsiswa, mereka juga sudah cukup berani dalam bertanya, menjawab pertanyaan dari guru, dan mengungkapkan pendapat. Dalam ketepatan menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru, siswa sudah mengalami peningkatan dari siklus I. Hal ini dapat dilihat dari nilai masing-masing aspek sudah lebih dari 70% dari skor maksimal yaitu 72. Nilai kerjasama siswa dalam mengerjakan tugas kelompok sudah cukup baik yaitu mencapai 89% dari skor maksimal. Nilai keseluruhan dalam satu kelas untuk aspek keaktifan sudah mencapai 85%. Itu menunjukkan bahwa siswa sudah aktif dalam mengikuti pembelajaran. Untuk 4 aspek yang lain, nilai keseluruhan untuk satu kelas sudah cukup baik, yaitu 71% dan 72% nilai keseluruhan yaitu 72. Selain penggunaan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, ternyata metode permainan yang digunakan oleh peneliti dapat merangsang kreativitas siswa, membuat suasana pembelajaran menjadi tidak membosankan dan meningkatkan kerjasama dalam kelompok. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Sadiman (2006:17) tentang ”fungsi permainan dalam pembelajaran, yaitu untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan”. 3. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Dari tabel 4.8, dapat diketahui bahwa semangat siswa dalam belajar meningkat sehingga berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Hal ini disebabkan karena peneliti telah menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam pembelajaran PKn dengan baik. Pada siklus I, penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw tidak dikombinasikan dengan kegiatan permaianan. Pada siklus II, penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw diselingi dengan permainan adu kecepatan waktu sehingga siswa lebih bersemangat dalam pembelajaran. Dalam setiap tindakan siklus I dan II menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap materi Pemerintahan Kabupaten/Kota yang sekaligus berimbas pada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pelajaran PKn. Pembelajaran juga berlangsung aktif dan menyenangkan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini, dapat diperoleh beberapa kesimpulan antara lain: 1. Hasil belajar PKn pada pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan pada tahap pra tindakan belum mengalami ketuntasan belajar karena kurang dari 50% siswa yang mampu mencapai batas nilai KKM, yaitu 65. Siswa belum dapat melakukan kerjasama yang baik dengan teman dan tidak bersemangat dalam pembelajaran. 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada pelajaran PKn pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan kecamatan Rejotangan kabupaten Tulungagung terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap pra tindakan hanya 37,5% atau 9 siswa yang tuntas belajar. Sedangkan pada siklus I sebanyak 71 % atau 17 siswa dan pada siklus II sebanyak 92% atau 22 siswa dari 24 siswa yang tuntas belajar. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan mampu melakukan kerjasama yang baik dengan temannya baik dalam kelompok asal maupun kelompok ahli. 3. Peningkatan hasil belajar PKn pada siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan kecamatan Rejotangan kabupaten Tulungagung terlihat dari persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada evaluasi pra tindakan 37,5% meningkat 33,5% pada siklus I menjadi 71%. Dari siklus I ke siklus II meningkat 21%, dari 71% menjadi 92%. Saran Berikut adalah beberapa saran yang diajukan dari hasil penelitian ini : 1. Berdasarkan hasil belajar pada tahap pra tindakan maka disarankanguru dalam menyampaikan materi hendaknya menerapkan model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya mampu mengaktifkan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan langsung dengan kehidupan siswa sehari-hari sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. 2. Berdasarkan penerapan model pembelajarn kooperatif Jigsaw maka disarankan guru lebih aktif dalam mengembangkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini untuk diterapkan pada mata pelajaran yang lain. 3. Berdasarkan peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw maka para guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran ini dalam kegiatan belajar mengajar.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan melalui corporate social responsibility pada perusahaan yang listing di BEI periode 2007 / Dwi Sulistyorini

 

ABSTRAK Sulistyorini, Dwi. 2010. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan Melalui Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan Yang Listing Di BEI Periode 2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Yuli Widi Astuti, S.E, M.Si. Ak. Pembimbing II Triadi Agung, S.E, M.Si. Ak Kata Kunci: Kinerja Perusahaan, Nilai Perusahaan, dan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan memerlukan informasi dalam bisnis, informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dan calon investor untuk pengambilan keputusan. Adanya informasi yang lengkap, akurat serta tepat waktu memungkinkan investor untuk melakukan secara rasional. Informasi tersebut berupa laporan keuangan (laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan) serta laporan pendukung lainnya seperti hasil analisis rasio keuangan, data saham perusahaan, laporan tanggung jawab sosial perusahaan disebut Corporate Social Responsibility yang merupakan pelaksanaan Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan Undang-undang No.40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas yang termuat dalam pasal 74 dan pasal 66. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan:(1). pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan, (2) pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan, (3) pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan melalui Corporate Social Responsibility. Penelitian ini merupakan salah satu jenis dari penelitian penjelasan (eksplanatory). Penelitian menggunakan 78 perusahaan yang listing di BEI sebelum tahun 2007 sebagai sampel hipotesis adalah menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis) untuk menemukan pengaruh interaksi dari antar variabel. Variabel Dependen adalah Nilai perusahaan diukur menggunakan Tobins’Q. Variabel Independen adalah Kinerja Keuangan yang diukur menggunakan Return On Assets sedangkan pengungkapan dari CSR dengan item pengungkapan mengacu pada instrumen yang digunakan oleh Sembiring (2005) yang terdiri atas 78 item pengungkapan. Return on asset terbukti berpengaruh pada nilai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan tingkat signifikansi sebesar 0,028, Besarnya Corporate Social Responsibility (X2) yang secara langsung berpengaruh Nilai Perusahaan (Y) adalah 0,087 atau 8,7%, kinerja keuangan (X2) yang mempengaruhi nilai perusahaan (Y) melalui CSR adalah 0,0339 atau 0,33 %, tingkat signifikansi keseluruhan sebesar 0,017 untuk kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan melalui CSR lebih kecil daripada tingkat signifikansi ROA sebelum melalui CSR, maka variabel CSR dinilai kurang mampu menjadi variabel penghubung antara ROA dan Tobins Q. Hasil yang ditandai bahwa 1. ROA berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan,2. CSR berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan 3. ROA terhadap nilai perusahaan melalui CSR berpengaruh tidak langsung. Berdasarkan penelitian, saran bagi penelitian selanjutnya dapat menggunakan regresi berganda, menggunakan proksi kinerja yang lain, misalnya ROE, PBV, atau leverage. Proksi GCG dapat menggunakan ukuran dewan komisaris, komisaris independen, komite audit, atau kriteria lain.

Pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar siswa di SMK Negeri 1 Singosari Malang / Maxi Oktavianus Krangan

 

ABSTRAK Karangan, Maxi Oktavianus. 2010. Pemanfaatan Media Internet sebagai Sumber Belajar dalam Menunjang Hasil Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Singosari Malang. Skripsi, jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Made Wena, M.Pd., M.T. (II) Hanni Elitasari Mahaputri, S.T., M.T. Kata Kunci: sumber belajar, internet, hasil belajar SMK merupakan sekolah yang berorientasi pada peningkatan mutu sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dituntut untuk mengembangkan sistem pembelajaran dan informasi yang berbasis IT. Salah satu usaha dalam meningkatkan sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan memanfaatkan media internet sebagai sumber belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar dalam menunjang hasil belajar siswa khususnya siswa kelas X program keahlian Teknik Konstruksi Bangunan di SMKN 1 Singosari Malang. Penelitian ini dilakukan di SMKN 1 Singosari Malang pada program keahlian Teknik Konstruksi Bangunan. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan teknik penelitian populasi. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X program keahlian Teknik Konstruksi Bangunan sebanyak 51 siswa. Teknik pengambilan data berupa kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisa data berupa statistik deskriptif yang meliputi analisa frekuensi, prosentase, mean, dan diagram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) lokasi siswa dalam mengakses internet adalah di warnet. frekuensi pemanfaatan internet dalam satu minggunya tergolong jarang dan dalam satu kali mengakses selama 2 jam, (2) faktor yang memotivasi siswa memanfaatkan internet, yaitu internet menyediakan informasi dan materi pembelajaran yang up to date, dapat memperluas wawasan, internet lebih efisien dibandingkan dengan media lainnya, waktu lebih hemat, internet sebagai sarana berdiskusi, belajar lebih fleksibel dan mandiri, dan juga dapat membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah, (3) sedangkan faktor penghambatnya adalah lemahnya penguasaan bahasa Inggris, keterbatasan sumber informasi dalam bahasa Indonesia, guru kurang memotivasi siswa untuk menggunakan internet, dan akses internet yang masih tergolong mahal, (4) Ditinjau dari hasil belajar siswa, maka pemanfaatan media internet termasuk didalamnya potensi dan faktor pendukung internet sebagai sumber belajar belum optimal dalam meningkatkan hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) agar siswa lebih giat dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar yang dapat menunjang hasil belajar secara optimal, (2) diharapkan guru lebih memotivasi siswa dalam meningkatkan frekuensi pemanfaatan internet bagi siswa dengan cara menugaskan siswa mencari sumber-sumber di internet, memberikan tugas melalui internet dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh persepsi siswa tentang fasilitas sekolah dan profesionalisme guru program keahlian akuntansi kelompok mata pelajaran kompetensi kejuruan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di SMK YP 17 Pare Kabupaten Kediri / Dewi Agustina

 

ABSTRAK Agustina, Dewi. 2009. “Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Fasilitas Sekolah dan Profesionalisme Guru Program Keahlian Akuntansi Kelompok Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI di SMK YP 17 Pare Kabupaten Kediri”. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Tuhardjo, M. Si., Ak. (2) Dra. Trilaksiani, S. E, M. M. Kata kunci: fasilitas sekolah, profesionalisme guru, prestasi belajar Fasilitas sekolah dan profesionalisme guru merupakan salah satu diantara beberapa faktor yang berpengaruh dalam pencapaian prestasi belajar siswa. Fasilitas sekolah yang baik serta profesionalisme guru yang tinggi tentu akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini adalah penelitian sampel, dimana jumlah sampelnya adalah siswa-siswi kelas XI program keahlian akuntansi di SMK YP 17 Pare yaitu berjumlah 36 responden. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif korelasional dengan tujuan untuk menjelaskan pengaruh antara variabel bebas fasilitas sekolah (X1) dan Profesionalisme Guru (X2) dengan variabel terikat Prestasi Belajar Siswa (Y) dengan memproses lebih lanjut yang diperoleh dari penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner (angket) kepada responden, dengan kuesioner jawaban tertutup berskala lima model Likert. Teknik tersebut didukung dengan dokumentasi guna melengkapi data yang tidak terakomodasi oleh instrumen kuesioner. Indikator yang dijadikan ukuran untuk variabel X1 yaitu gedung sekolah, ruang kelas, media pembelajaran, laboratorium akuntansi dan perpustakaan. Indikator untuk variabel X2 yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Hasil analisis data menunjukkan bahwa fasilitas sekolah, profesionalisme guru, dan prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian akuntansi sudah pada tingkat kondisi yang baik. Fasilitas sekolah dan profesionalisme guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa sebesar 32,3% dan sisanya sebesar 67,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis. Uji hipotesis dengan Fhitung sebesar 9,363 dengan signifikan F 0,001, ini menunjukkan bahwa nilai signifikan F lebih kecil dari 0,05 (0,001<0,05) sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara fasilitas sekolah dan profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas, saran-saran yang diberikan antara lain yaitu bagi pihak sekolah diharapkan untuk meningkatkan fasilitas sekolah dan profesionalisme guru sedangkan bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat mengembangkan komponen-komponen lainnya yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, serta dapat memperbarui dan menambah variabel penelitian sebelumnya. i

Analisis perbedaan kesehatan bank syariah dan bank konvensional / Rendra Cahya Samudra

 

Perusahaan menyusun laporan keuangannya atas dasar asumsi kelangsungan usaha. Suatu usaha akan tetap ada apabila perusahaan tersebut ada dalam kondisi yang sehat. Krisis ekonomi global banyak menyebabkan perusahaan-perusahaan khususnya perbankan menjadi tidak sehat dan akhirnya bangkrut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana melihat kesehatan bank dan membandingkan antara bank syariah dan bank konvensional.Sehubungan dengan mulai dilihatnya bank syariah sebagai bank sehat dengan minim resiko. Dalam penelitian ini digunakan sepuluh rasio untuk melihat kesehatan bank yaitu ROA, ROE, GOM, CG, LA, LE, LF, TE, DDM, CR. Dari sepuluh rasio di atas peneliti menggunakan alat analisis yaitu Multiple Discriminant Analysis. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI dan tiga perbankan syariah mulai tahun 2005-2008. Kemudian dengan mengunakan metode purposif sampling ditentukan bahwa sampel penelitian adalah 6 perusahaan dimana terdapat 3 perusahaan murni konvensional (tidak mempunyai unit syariah) dan 3 perusahaan murni syariah (bukan unit syariah dari bank konvensional). Penelitian ini menguji hipotesis dengan metode analisis discriminant.Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel yang paling bias mendiscriminankan adalah ROA dan GOM. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio ini dapat digunakan untuk melihat dan membandingkan kesehatan perusahaan perbankan. Dengan ketiga rasio di atas peneliti mendapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan kesehatan antara bank konvensional dan bank syariah. Hal ini ditunjukkan dengan bank syariah mempunyai nilai rata-rata Z-Score sebesar 0,449667dan bank konvensional sebesar -0,44567. Jadi dapat disimpulkan bahwa bank syariah dapat bersaing dengan bank konvensional.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran koopearatif strategi SQ4R pada siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Ika Setiandari

 

Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Pembelajaran Koopertif Strategi SQ4R Pada Siswa Kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang Ika Setiandari Abstrak: Pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan strategi SQ4R dapat membuat menciptakan suasana yang menantang dan membuat siswa antusias dan aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Peneliti bertindak sebagai guru sedangkan guru bertindak sebagai pengamat. Penelitian ini bertujuaan untuk: 1) mendeskripsikan bagaimana merencanaan pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang dengan menggunakan strategi SQ4R; 2) mendeskripsikan implementasi penggunaan strategi SQ4R dalam proses membaca pemahaman siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang: 3) mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang setelah menggunakan strategi SQ4R. Hasil penelitian siklus I menunjukkan rata-rata nilai 62,12% dengan ketuntasan kelas 41,93%. Pada siklus I ini terdapat 18 siswa yang belum bisa memahami bacaan yang telah dibacanya dengan maksimal. Hasil penelitian siklus II menunjukkan rata-rata nilai kelas 77,70% dengan ketubtasan kelas mencapai 93,54%. Saran kepada guru hendaknya guru mampu menyajikan bahan pelajaran, pendekatan belajar, dan strategi yang tepat agar siswa berhasil dalam melaksanakan tugas belajarnya. Kata kunci: membaca pemahaman, strategi SQ4R, sekolah dasar.

Peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas II pada mata pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran: Picture and picture tahun ajaran 2010/2011 / Fitrianita Yuni Arista

 

Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Kelas II Pada Mata Pembelajaran PKn Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Picture And Picture Fitrianita Yuni Arista ABSTRAK: Pemilihan model pembelajaran inovatif picture and picture untuk peningkatkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas II SDN Landungsari 01 kecamatan Dau kabupaten malang.di latar belakangi oleh masalah hasil belajar PKn yang kurang dari standar ketuntasan yaitu 60, karena selama ini guru masih menggunakan cara tradisional, seperti menggunakan model pembelajaran konversional dengan metode ceramah. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang penggunaan model pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Penelitian ini dirancan dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus, setiap siklus secara berdaur meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrument yang digunakan adalah tes dan lembar aktivitas siswa secara induvidu. Dari hasil penelitian dieroleh bahwa dengan menerapkan model pembelajarn picture and picture dapat meningkatkan proses pembelajaran PKn di kelas II sdn Landungsari 01 kecamatan Dau kabupaten Malang yaitu pada pra tindakan sebesar 27.59%, siklus I 74.48% dan siklus II 83.21% dari hal tersebut dapat diketahui bahwa kenaikan prosesnya dari pra tindakan ke siklus I sebesar 46.89% dan dari siklus I ke siklus II 8.66%. Dari hal tersebut dapat diketahui pula bahwa aktivitas siswa juga meningkat dari 0%, siklus I 66.75%, dan siklus II 80.72%. Dari hasil belajar siswa juga meningkat dari pra tindakan hasil belajar siswa juga meningkat dari pra tindakan ke siklus I 74.48% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 83.21%. Sehingga dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan aktivitas dan pterstasi belajar siswa. Kata Kunci: Aktivitas Belajar, Picture and picture, PKn, Prestasi belajar SD

Pengaruh gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang (Studi pada mata pelajaran ekonomi dalam IPS terpadu) / Cahyani Hidayah

 

ABSTRAK Hidayah, Cahyani. 2010. Pengaruh Gaya Belajar dan Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Malang (Studi Pada Mata Pelajaran Ekonomi dalam IPS Terpadu). Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Koperasi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahjoedi, ME. (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata Kunci: Gaya Belajar, Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua, Prestasi Belajar. Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, yang menjadi ciri khas dari masing-masing individu. Ada seorang siswa yang terbiasa belajar dengan suatu gaya tertentu yang telah menjadi suatu kebiasaan dalam hidupnya, akan tetapi belum tentu siswa yang lain akan bisa menerapkan gaya tersebut dalam kegiatan belajarnya, bahkan jika dipaksakan akan memperburuk konsentrasi penyerapan materi pelajaran yang berakibat pada menurunnya nilai atau prestasi belajarnya. Keadaan ekonomi orang tua juga banyak menentukan perkembangan dan pendidikan anak karena kebutuhan belajar anak memang memerlukan dana atau financial. Untuk mengantisipasi hal diatas, guru harus dapat mengenal masalah-masalah yang ada pada siswa didiknya dan upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan masalah tersebut. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Sejauh mana pengaruh gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi, (2) Sejauh mana pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi, (3) Apakah ada pengaruh gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Pada penelitian ini populasi yang dipakai adalah siswa kelas VIII SMPN 7 Malang yang terdiri dari 7 kelas dengan jumlah keseluruhan 297 siswa. Sedangkan sampel yang diambil masing-masing kelas adalah 20% dari jumlah siswa, sehingga dapat diperoleh jumlah sampel 60 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket untuk variabel gaya belajar (X1) dan variabel kondisi sosial ekonomi orang tua (X2). Untuk variabel prestasi belajar (Y) digunakan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul di dalam uji coba validitas dan reliabilitas untuk mengetahui gugur tidaknya butir angket dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data SPSS For Windows 16.0. Selanjutnya data yang benar-benar valid dan reliabel dianalisis dengan menggunakan teknik persentase untuk analisisa deskriptif dan analisa regresi linear berganda serta uji hipotesis (Uji F) untuk mengetahui secara simultan pengaruh antara gaya belajar (X1) dan kondisi sosial ekonomi orang tua (X2) terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh: (1) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi ekonomi di SMPN 7 Malang yaitu sebesar 75.4%, (2) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi ekonomi di SMPN 7 Malang yaitu sebesar 75.2%, (3) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi ekonomi di SMPN 7 Malang yaitu sebesar 75.6%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai F sebesar 92.393 dengan signifikan 0.000 < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang simultan dan signifikan antara gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi.

Pengembangan macam-macam permainan pengenalan air untuk pebelajar renang pemula di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Septyan Pradana

 

ABSTRAK Pradana, Septyan. 2010. Pengembangan Macam - Macam Permainan Pengenalan Air Untuk Pebelajar Renang Pemula Di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Gatot Subijantoro, M.Kes (II) Drs. Tatok Sugiarto, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, permainan, pengenalan air, pebelajar renang pemula. Menurut Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah sudah terdapat materi aktivitas air yang meliputi permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya. Salah satu aktivitas air dalam materi pendidikan jasmani adalah berenang. Untuk belajar berenang hal yang paling utama adalah keberanian untuk masuk ke dalam air. Menyikapi dari hal ini maka sebelum berenang hendaknya di dahului dengan latihan pengenalan air. Berdasarkan pengamatan awal penelitian di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang, pada saat materi aktivitas air guru hanya mengajarkan renang gaya bebas dan pada saat pembelajaran dilaksanakan banyak siswa yang takut berenang dan masuk kedalam kolam renang. Dari 37 siswa kelas V yang takut masuk ke dalam kolam renang ada 19 siswa (51.35%). Mencermati kondisi yang demikian maka dibutuhkan cara agar membuat anak berani masuk ke dalam air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model permainan pengenalan air untuk pebelajar renang pemula di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang yang dapat digunakan sebagai bahan acuan oleh guru pendidikan jasmani untuk menangani anak yang takut berenang. Lokasi penelitian dilakukan di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Subyek uji coba terdiri dari (1) analisi kebutuhan 37 siswa dan guru pendidikan jasmani (2) tinjauan ahli, terdiri dari 3 orang ahli yaitu 2 guru pendidikan jasmani, 1 ahli kepelatihan renang (3) uji coba kelompok kecil menggunakan 16 siswa kelas V di SDN Kepuharjo II yang diambil secara random sampling, dan (4) uji coba kelompok besar atau uji coba lapangan yang terdiri dari 37 siswa kelas V di SDN Kepuharjo II. Hasil analisa uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 37 siswa kelas V di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Menyatakan bahwa: 1) Permainan Tepuk Air dapat digunakan (91,21%), 2) Permainan Serangan Air dapat digunakan (89,63%), 3) Permainan Berkeliling Kolam dapat digunakan (91,21%), 4) Permainan Terowongan Air dapat digunakan (90,09%), 5) Permainan Lari dari Ujung ke Ujung dapat digunakan (88,06%), 6) Permainan Hitam Hijau dapat digunakan (88,28%), 7) Permainan Roda Berputar dapat digunakan (87,61%), 8) Permainan Jaring Ikan Memanjang dapat digunakan (85,36%), 9) Permainan Terowongan Berjalan dapat digunakan (86,48%), 10) Permainan Menggiring Bola dengan Tangan dapat digunakan (86,48%), 11) Permaian Menembak Ikan dapat digunakan (88,73%), 12) Permainan Tawanan Perang dapat digunakan (84,01%), 13) Permainan Meluncur dengan Bola dapat digunakan (84,01%), 14) Permainan Bola Keberuntungan dapat digunakan (87,38%), 15) Permainan Mencari Bola Kembar dapat digunakan (88,51%), 16) Permainan Balap Pelampung dapat digunkan (81,75%), 17) Permainan Meluncur dengan Pelampung dapat digunakan (81,98%), 18) Permainan Mencari Piring dalam Air dapat digunakan (84,45%), 19) Permainan Lempar Tangkap Piring dapat digunakan (88,73%), 20) Permainan Memindah Bola dengan Piring dapat digunakan (78,18%), 21) Permainan Ban Balap dapat digunakan (78,60%), 22) Permainan Ban Apung dapat digunakan (78,82%), 23) Permainan Perahu Perang cukup dapat digunakan (73,42%), 24) Permainan Pindah Bola ke Ban dapat digunakan (88,73%), 25) Permainan Pindah Bola dengan Ban dapat digunakan (90,76%), 26) Permainan Batu Sembunyi dapat digunakan (92,34%), 27) Permainan Mencari Batu Kembar dapat digunakan (90,99%). Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil model permainan pengenalan air untuk pebelajar renang pemula di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang dan model permainan ini dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada guru pendidikan jasmani di sekolah lain sebagai tambahan pengetahuan untuk menangani siswa yang takut berenang.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas IV SDN Slorok 01 Kabupaten Blitar / Heny Zulaikah

 

ABSTRAK Zulaikah, Heny. 2010. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Siswa Kelas IV SDN Slorok 01 Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan KSDP Prodi S1 PGSD, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Bintartik, M.Pd., (II) Dra. Wasih DS, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, hasil belajar, IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan sebuah mata pelajaran yang mempelajari tentang hubungan antar manusia dan dunia sekelilingnya. Melalui pendidikan IPS siswa dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai, serta bagaimana bertindak. Namun pembelajaran IPS masih dianggap sebagai ma-ta pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Tidak jarang hasil belajar IPS yang diperoleh siswa masih rendah. Selain itu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih kurang. Untuk memperbaiki pembelajaran, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran yang inovatif yaitu menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengungkap (1) Pembelaja-ran IPS pada tahap pra tindakan, (2) Hasil belajar IPS pada tahap pra tindakan, (3) Penerapan PBM dalam pembelajaran IPS, (4) Hasil belajar IPS melalui PBM pada setiap siklus, (5) Peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan PBM. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi data pelaksanaan pem-belajaran pada tahap pra tindakan dan pelaksanaan penelitian dengan menerapkan PBM, dan data hasil belajar siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, tes, dan foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pembelajaran pada pra tindakan masih bersifat konvensional dimana pembelajaran berpusat pada guru, (2) Hasil belajar IPS pada pra tindakan memperoleh persentase rata-rata kelas 59,4%, (3) Penerapan model pembelajaran IPS sesuai dengan langkah-langkah PBM, (4) Hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh persentase rata-rata kelas 69% sedangkan siklus II 82,2%, (5) siklus 1 persentase keberhasilan secara klasikal dari 59,4% menjadi 69% dengan peningkatan sebesar 9,6%. Sedangkan pada siklus II dari 69% menjadi 82,2% dengan peningkatan sebesar 13,2%. Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBM dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Slorok 01 Kabupaten Blitar. Berdasarkan penelitian ini, disarankan hendaknya guru dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan.

Perancangan komik pemberdayaan masyarakat tentang ajakan menolak golput dalam pemilihan umum / Dhevi Enlivena Irene Restia Mahelingga

 

ABSTRAK Enlivena, Dhevi. 2010. Perancangan Komik Pemberdayaan Masyarakat Tentang Ajakan Menolak Golput Dalam Pemilihan Umum. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni Dan Desain Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Andi Harisman, (2) Moch. Abdul Rohman, M.Sn Kata Kunci: Komik, Pemberdayaan, Ajakan Menolak Golput, Pemilihan Umum Pemilihan umum merupakan pesta demokrasi yang diselenggarakan untuk memilih orang-orang yang akan duduk dalam pemerintahan 5 tahun kedepan. Karena menentukan nasib dan roda pemerintahan, pemilihan umum menjadi sangat penting kehadirannya dalam kehidupan negara Indonesia yang demokratis. Namun, kenyataan yang terjadi adalah angka masyarakat Indonesia yang tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum atau umum dikenal dengan sebutan golput, sangat tinggi. Perancangan komik pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk mengurangi angka golput di masyarakat, baik golput karena niat, golput administratif, maupun golput secara teknis. Sehingga tercipta pemilu yang mendapat partisipasi masyarakat dan hasil pemilu yang lebih mewakili aspirasi masyarakat. Materi dan visualisasi komik pemberdayaan masyarakat dirancang sedemikian rupa agar mampu menyampaikan pesan yang informatif sekaligus persuasif, guna mengantisipasi ketiga jenis golput tersebut. Disesuaikan dengan target audience primer, yaitu pemilih pemula. Jenis perancangan komik pemberdayaan masyarakat ini menggunakan model perancangan prosedural. Dimana proses perancangan terdiri dari langkah-langkah yang harus ditempuh, meliputi kegiatan identifikasi masalah, pengumpulan data, hingga proses produksi yang berurutan dari awal hingga akhir. Produk yang dihasilkan adalah sebuah buku komik pemberdayaan masyarakat tentang ajakan menolak golput dalam pemilihan umum. Sebagai paduan media bagi komik pemberdayaan masyarakat ini maka dibuat juga media berupa X-Banner, Stiker, Pembatas Buku, dan Pin.

Peningkatan hasil belajar IPS kelas IV melalui pemanfaatan lingkungan di SDN Pojok 01 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar / Ike Yuli Andasari

 

ABSTRAK Andasari, Yuli, Ike. 2010. Peningkatan Hasil Belajar IPS Kelas IV Melalui Pemanfaatan Lingkungan di SDN Pojok 01 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Suwarti, S.Pd, M.Pd, (II) Suminah, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, IPS, Media, Lingkungan Hasil belajar IPS pada pokok bahasan sumber daya alam dan kegiatan ekonomi di kelas IV SDN Pojok 01 kurang memuaskan, yaitu hanya sebanyak 8 siswa dari 21 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 70. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya media untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga nilainya juga dapat meningkat. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Pojok 01 kecamatan Ponggok kabupaten Blitar pada kelas IV karena sebagian besar guru di SD tersebut tidak menggunakan media dalam pembelajarannya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, tes dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV, dapat diketahui bahwa nilai yang diperoleh siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 70. Hasil tes akhir, hanya ada 8 siswa dari 21 siswa sudah mencapai nilai di atas KKM. Hal ini berarti hanya ada 38% siswa yang tuntas belajar. Setelah menggunakan media lingkungan halaman sekolah dalam pembelajaran, nilai tes akhir siswa pada siklus I meningkat 24%, yaitu menjadi 62% dan pada siklus II meningkat 28%, yaitu menjadi 90% siswa yang tuntas belajar. Untuk LKS, pada siklus I diperoleh 62% siswa yang tuntas belajar. Sedangkan untuk siklus II diperoleh 81%. Ini berarti nilai LKS dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 19%. Hasil penilaian aktivitas untuk siswa juga meningkat, dari siklus I sebesar 59% meningkat 21%, yaitu menjadi 80% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media lingkungan dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada materi sumber daya alam. Untuk itu, hendaknya para guru lebih sering menggunakan media yang tepat dan sesuai dengan materi supaya hasil yang diperoleh lebih maksimal.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa dengan strategi ACA (amati, cermati, apresiasi) siswa kelas V SD Balerejo 01 Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar tahun pelajaran 2008/2009 / Eko Ribut Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Eko Ribut. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Narasi Berbahasa Jawa dengan Strategi ACA (Amati, Cermati, Apresiasi) Siswa Kelas V SD Balerejo 01 Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Anang Santoso M.Pd, (2) Dwi Sulistyorini S.S., M.Hum. Kata kunci: kemampuan menulis, karangan narasi, berbahasa Jawa, strategi ACA (Amati, Cermati, Apresiasi). Pembelajaran bahasa daerah sangat penting untuk menjaga kelestarian kebudayaan nasional. Bahasa Jawa merupakan salah satu dari ragam bahasa daerah. Oleh karena itu, bahasa Jawa perlu dilestarikan keberadaannya, apalagi di era globalisasi seperti saat ini. Maka dari itu pembelajaran bahasa daerah di sekolahsekolah sangat penting untuk dilakukan agar kelestarian bahasa daerah bisa tercapai. Pembelajaran bahasa Jawa meliputi empat aspek ketrampilan. Salah satu aspeknya adalah aspek menulis. Aspek menulis sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki ketrampilan menulis, seseorang akan mudah dalam menuangkan ide, pikiran, perasaan, gagasan kepada orang lain melalui tulisannya. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran menulis karangan narasi berbahasa Jawa tidak dilaksanakan secara baik sehingga menyebabkan kemampuan menulis narasi siswa tidak bisa dilaksanakan secara maksimal. Dari observasi yang dilakukan di SD Balerejo 01 ditemukan masalah bahwa dalam pembelajaran ketrampilan menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Masalah utamanya adalah siswa sulit dalam mengembangkan imajinasi, diksi, meruntutkan isi karangan dan mengkreativitaskan isi karangan dalam menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Kesulitan tersebut menyebabkan rendahnya mutu dan kualitas tulisan siswa dalam menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti bekerjasama dengan guru bidang studi bahasa Jawa untuk merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung dalam beberapa siklus pembelajaran. Tindakan yang akan dilaksanakan diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran menulis karangan narasi berbahasa Jawa, sekaligus juga meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Balerejo Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar pada tanggal 2 Oktober sampai 31 Oktober 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Siswa yang diamati sebagai subjek penelitian yang berjumlah 18 siswa dengan rincian 11 siswa laki-laki, dan 7 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik pada kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa siswa kelas V SD Negeri 01 Balerejo setelah digunakannya strategi ACA. Hasil pretes menunjukkan 61% skor yang diperoleh siswa di bawah 60. Hasil tersebut belum mencapai standar minimal persentase keberhasilan yang dipersyaratkan. Siklus 1 menunjukkan 66,67% siswa mendapat skor di atas 60. Dan pada siklus II sebanyak 83,34% siswa yang mendapat skor di atas 60. Dari hasil peningkatan belajar siswa dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi ACA cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan berbahasa Jawa dengan strategi ACA, siswa kelas V SD Negeri 01 Balerejo Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar. Untuk lebih meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa tersebut diharapkan guru bahasa Jawa sering memberikan pelatihan kepada siswa secara intensif. Bagi peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian dengan kemampuan menulis paragraf selain menggunakan paragraf narasi misalnya paragraf deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi dengan menggunakan strategi belajar yang lain.

Kesetaraan gender dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T. / Nur Fadhilah

 

ABSTRAK Fadhilah, Nur. 2010. Kesetaraan Gender dalam Novel Bukit Gundaling Karya Marga T. Skripsi, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Maryaeni, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, M.Hum. Kata Kunci: gender, kesetaraan, novel. Novel sebagai suatu karya sastra pada umumnya memiliki pesan tertentu dibalik estetika penyampaiannya. Hal ini dapat diartikan bahwa pengarang berusaha menarik pembaca untuk menerima gagasan-gagasannya tentang berbagai segi kehidupan. Begitu juga cara pengarang memandang tokoh perempuan sebagai salah satu bentuk nyata dari aspirasi, gagasan, pandangan dan nilai-nilai tentang perempuan itu sendiri. Perempuan sebagai makhluk sosial dan individu diciptakan dengan kedudukan dan peranan yang sejajar dengan laki-laki. Kesejajaran atau kesetaraan tersebut dapat dilihat melalui bagaimana pengarang mendeskripsikan tokoh, menyampaikan gagasan tokoh, baik laki-laki maupun perempuan dalam suatu karya sastra. Dalam setiap novel, baik novel serius maupun populer yang menggunakan tokoh manusia, khususnya tokoh perempuan, tentu akan ditemukan beberapa nilai yang terkait dengan gender dan aspek keperempuanan. Gender merupakan perbedaan antara laki-laki yang bersifat maskulin dan perempuan yang bersifat feminin yang dibentuk secara sosio-kultural. Bagaimana gender itu setara atau tidak dalam novel, akan dapat dilihat dengan menganalisis novel tersebut dengan pendekatan feminisme. Adapun nilai-nilai yang berhubungan dengan aspek keperempuanan itu dapat disebut dengan nilai feminisme yang pada nantinya akan mencerminkan suatu kehidupan antara tokoh perempuan dan laki-laki yang setara atau sederajat, maupun sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) karakter tokoh dilihat dari ciri-ciri fisik, sosial, dan psikologis dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T, dan (2) wujud kesetaraan gender yang diterapkan para tokoh dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini ialah menggunakan pendekatan struktural dan feminisme. Pendekatan struktural digunakan untuk menganalisis karakter tokoh, sedangkan pendekatan feminisme digunakan untuk menganalisis gender dalam novel. Teori strukturalisme merupakan pendekatan yang bersifat objektif, yakni menganggap karya sastra sebagai ”makhluk” yang berdiri sendiri. Novel tidak hanya merupakan tulisan yang menggairahkan ketika dibaca, namun merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur yang padu. Untuk mengetahui makna-makna tersebut, maka karya sastra harus dianalisis. Dalam mengkaji kesetaraan gender, digunakan pula pendekatan feminisme, yakni pendekatan yang menitikberatkan ”keperempuanan” dalam karya sastra. Membaca sebagai perempuan sangat diperlukan dalam penelitian ini. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata yang mencerminkan aspek nilai feminisme dalam kaitannya dengan kesetaraan gender yang diperoleh dari dialog, monolog, serta narasi dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T. Data diperoleh dengan cara menandai (code) dan mentranskrip unsur-unsur yang mengandung nilai feminisme dalam novel tersebut. Adapun instrumen dalam penelitian ini menggunakan human instrument (peneliti sendiri), serta instrumen pembantu berupa tabel korpus data karakter tokoh dan tabel korpus data kesetaraan gender dalam novel Bukit Gundaling. Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang ada dalam novel Bukit Gundaling merupakan tokoh perempuan yang berkarakter cantik, cerdas, pandai, berpendidikan tinggi, mandiri, pemimpin rumah tangga, pemberani, tegar, tidak mudah dibohongi, dan tegas. Karakter tokoh perempuan tersebut sejajar dengan karakter tokoh laki-laki yang diceritakan dalam novel Bukit Gundaling. Kesetaraan gender yang terdapat dalam novel tersebut berupa perempuan sebagai makhluk mitra sejajar dengan laki-laki yang digambarkan dengan (1) aktualisasi kesetaraan dalam ruang lingkup keluarga (sektor domestik) yang diwujudkan dengan adanya kesetaraan dalam mengelola rumah tangga dan kesetaraan dalam memilih pergaulan. (2) Aktualisasi kesetaraan dalam konteks kehidupan masyarakat (sektor publik), yang diwujudkan dengan adanya kesetaraan dalam hak memperoleh pendidikan, kesetaraan dalam hak kesempatan kerja, kesetaraan dalam hak memperoleh hiburan (rekreatif), dan kesetaraan dalam hak mengeluarkan pendapat. Dengan adanya indikasi tentang karakter tokoh perempuan yang sejajar dengan laki-laki yang ada di dalamnya, menunjukkan bahwa novel yang berjudul Bukit Gundaling karya Marga T tersebut adalah novel populer yang mengandung kesetaraan gender. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang menggunakan sumber data berupa novel populer. Hal tersebut dikarenakan penelitian tentang novel populer belum banyak digunakan. Padahal, jika ditelusuri lebih lanjut, novel populer tidak hanya digunakan sebagai objek hiburan semata, namun memiliki nilai-nilai sastra dan kehidupan yang setara dengan novel serius.

Meningkatkan hasil belajar siswa melalui media specimen pada mata pelajaran IPA kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan / Erik Silamsari

 

ABSTRAK Silamsari, Erik. 2010. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Media Specimen Pada Mata Pelajaran IPA Kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan KSDP Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Ir. Endro Wahyuno, M.Si, (2) Dra. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci: Media Specimen, Hasil Belajar, IPA, SD Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi peneliti di kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi terhadap guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar diketahui bahwa terdapat permasalahan yang cukup kompleks pada pembelajaran IPA di kelas tersebut. Secara umum permasalahan tersebut dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah, yaitu model pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang tepat, kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan ceramah dan penggunaan media pembelajaran yang tersedia di sekolah kurang optimal, sehingga motivasi belajar siswa sangat rendah, yang ditandai oleh perilaku siswa yang kurang bersemangat dan kurang aktif dalam mencari pengetahuan sendiri dan hanya menunggu pemberian materi dari guru, hal ini mengakibatkan sebagian besar hasil belajar siswa yang dibawah SKBM dan nilai rata-rata hasil belajar IPA secara klasikal sebesar 64,5. Keadaan inilah yang membuat peneliti tertarik untuk menerapkan penggunaan media specimen sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media specimen, 2) Mendiskripsikan keaktifan belajar siswa belajar dengan menggunakan media specimen, dan 3) Mediskripsikan peningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan media specimen di kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan pada materi Penggolongan tumbuhan. Untuk itu rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc. Taggart yang tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan sebanyak 22 siswa. Data penelitian diperoleh dari hasil observasi dan hasil tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media specimen pada materi penggolongan tumbuhan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Dari hasil observasi skor rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I 58,0 dan siklus II 73,4. Sehingga mengalami peningkatan dari hasil observasi siklus I ke siklus II sebesar 15,4. Sedangkan pada observasi awal nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 64,5 siklus I 73,3 dan pada siklus II 81,2. Sehingga mengalami peningkatan dari observasi awal ke siklus I sebesar 8,8 dan dari siklus I ke siklus II sebesar 7,9. hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media specimen dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, khususnya siswa kelas III MI Zianiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Untuk itu disarankan bagi guru untuk menggunakan media pada saat pemebelajaran. Bagi sekolah disarankan dapat menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran.

Penggunaan media dekak-dekak untuk meningkatkan hasil belajar konsep penjumlahan bilangan cacah di kelas II SDN Minggir Winongan Pasuruan / Siti Aminah

 

ABSTRAK Aminah, S. 2010. Penggunaan Media Dekak-Dekak untuk Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Penjumlahan Bilangan Cacah Di Kelas II SDN Minggir Winongan Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Program Studi S1 PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Univesitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Usep Kustiawan, M. Sn. Pembimbing (II) Dra. Endang Setyo Winarni, M.Pd. Kata Kunci : Dekak-dekak, penjumlahan bilangan cacah, matematika SD. Dalam proses pembelajaran matematika di kelas 11 SDN Minggir peneliti menemukan beberapa permasalahan antara lain : (1) kecenderungan guru untuk mendominasi kegiatan pembelajaran ; (2) rendahnya penguasaan siswa pada konsep penjumlahan bilangan cacah ; (3) dan dalam proses pembelajaran tanpa menggunakan media. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan penggunaan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah pada siswa kelas II SDN Minggir, (2) peningkatan keaktifan siswa kelas II SDN Minggir dalam penggunaan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah, (3) peningkatan hasil belajar siswa kelas II SDN Minggir dengan penggunaan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subyek penelitian ini siswa kelas II SDN Minggir Kecamatan Winongan sejumlah 39 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi,wawancara, tes dan catatan lapangan. Analisis data terdiri dari 3 komponen kegiatan yang dilakukan secara berurutan yaitu kegiatan reduksi, sajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif pada kegiatan pembelajaran di kelas 11 SDN M inggir . Pengaruh tersebut berupa peningkatan kualitas pembelajaran , peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dan peningkatan pengusaan siswa pada konsep penjumlahan bilangan cacah. Hal ini terlihat dari peningkatan rata-rata skor hasil tes evaluasi. Peningkatan rata-rata skor hasil belajar siswa pada pra tindakan (55,6), siklus I (66,9), dan siklus II (81,0). Kesimpulannya penggunaan dekak-dekak sangat menarik dan menyenangkan untuk pembelajaran matematika khususnya untuk penerapan konsep penjumlahan bilangan cacah. Aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah menunjukkan peningkatan. Dan pembelajaran matematika tentang konsep penjumlahan bilangan cacah dengan menggunakan media dekak-dekak dapat meningkatkan hasil belajar. Dengan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa konsep penjumlahan bilangan cacah di kelas II sebaiknya menggunakan alat bantu berupa dekak-dekak agar siswa lebih aktif, kreatif dan tidak bosan dalam proses pembelajaran. Untuk kepala sekolah supaya menyediakan sarana dan media pembelajaran khusunya di kelas-kelas agar proses belajar mengajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan untuk siswa dalam setiap kegiatan belajar mengajar berlangsung hendaknya selalu aktif dan memperhatikan ketika guru memperagakan media khususnya dekak-dekak.

Kesulitan menerjemahkan teks "gebrauchsanweisung" pada matakuliah ubersetzung Deutsch-Indonesisch oleh mahasiswa semester 5 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Donna Yuan Alvitasari

 

ABSTRAK Alvitasari, Donna Yuan. 2010. Kesulitan Menerjemahkan Teks “Gebrauchsanweisung” Pada Matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch Oleh Mahasiswa Semester 5 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Rosyidah, M.Pd., (2) Dewi Kartika Ardiyani, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Kesulitan, menerjemahkan, teks Gebrauchsanweisung Menerjemahkan adalah suatu kegiatan mengalihkan pesan dari bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa) sehingga terjadi komunikasi antara pengarang, penerjemah, dan pembaca. Terjemahan yang baik harus memiliki ketepatan makna, kesejajaran bentuk, dan tingkat keterbacaan tinggi. Berdasarkan pengamatan peneliti, mahasiswa menghadapi kesulitan dalam menerjemahkan. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil terjemahan mahasiswa semester 5 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang yang mengikuti matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch tahun ajaran 2009/2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam menerjemahkan teks Gebrauchsanweisung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah teks asli Gebrauchsanweisung berbahasa Jerman dan hasil terjemahannya oleh mahasiswa semester 5 Jurusan Sastra Jerman yang memprogram matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch tahun ajaran 2009/2010. Hasil wawancara digunakan sebagai sumber data pendukung. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi dan wawancara. Kemudian data diseleksi dan diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya. Selanjutnya data dianalisis. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti yaitu (1) mengklasifikasikan data dan (2) mendeskripsikannya, yaitu dengan membandingkan antara terjemahan mahasiswa dengan konstruksi terjemahan yang disarankan. Dari hasil analisis ditemukan bahwa mahasiswa mengalami kesulitan dalam menerjemahkan teks Gebrauchsanweisung pada tataran kata, frasa, dan kalimat. Adapun kesulitan menerjemahkan pada tataran kata ditandai dengan penerjemahan kata-kata yang merupakan istilah teknis secara bebas dan menyimpang dari konteks. Kesulitan menerjemahkan pada tataran frasa ditandai dengan penerjemahan frasa yang tidak tepat pada frasa nominal, frasa preposisional, frasa adjektiva, dan frasa numeralia. Kesulitan menerjemahkan pada tataran kalimat ditandai dengan penerjemahan kalimat secara harfiah dan bebas. Kesulitan-kesulitan tersebut disebabkan oleh kurangnya penguasaan kosakata bahasa Jerman khususnya istilah-istilah teknis dan kurangnya penguasaan gramatika bahasa Jerman. Untuk mengatasi kesulitan dan mengurangi kesalahan dalam penerjemahan disarankan kepada mahasiswa untuk menambah kosakata bahasa Jerman dan mempelajari struktur gramatika bahasa Jerman. Selain itu, mereka seharusnya juga lebih banyak berlatih menerjemahkan teks-teks bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia.

Peningkatan kemampuan mengarang melalui strategi tiru-olah-kembangkan (TOK) kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar / Lailatul Munawaroh

 

ABSTRAK Munawaroh, Lailatul. 2010. Peningkatan Kemampuan Mengarang Melalui Strategi Tiru-Olah-Kembangkan (TOK)Kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sutansi, M. Pd, (II) Dra. LilikBintartik, M.Pd Kata kunci: mengarang, siswa, strategi TOK Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan penerapan strategi TOK (Tiru-Olah-Kembangkan) di kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar tahun ajaran 2009/2010, (2) mendeskripsikan peningkatkan kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan kebahasaan dalam sebuah karangan di Kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar dengan menerapkan strategi TOK (Tiru-Olah-Kembangkan), (3) mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa menuangkan gagasan dalam sebuah karangan di Kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar dengan menerapkan strategi TOK (Tiru-Olah-Kembangkan). Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar tahun ajaran 2009/2010. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi kegiatan guru dan siswa serta hasil karangan siswa. Teknis analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh data adanya peningkatan kemampuan mengarang siswa pada setiap siklus. Penerapan pembelajaran mengarang dengan strategi TOK dilakukan 2 siklus dan untuk mengetahui kemampuan dasar siswa maka dilaksanakan pra tindakan. Pada pra tindakan ketuntasan siswa adalah 29,17%, hal ini karena metode yang digunakan gur adalah ceramah dan penugasan. Pada siklus 1 aspek pengetahuan kebahasaan mencapai 41,67% dan aspek penuangan gagasan 45,83%. pada siklus 2, terjadi peningkatan yang cukup signifikan hingga mencapai 100%. Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi TOK dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar. Berdasarkan penelitian ini, disarankan guru memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang cocok agar tercapai hasil maksimal.

Analisa kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran dasar kompetensi kenuruan di SMKN 1 Singosari Malang / Eric Ulil Amri

 

ABSTRAK Amri, Eric Ulil. 2010. Analisa Kebiasaan Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan di SMKN 1 Singosari Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Made Wena, M.Pd., M.T, (2) Drs. Pribadi, S.T., M.T. Kata kunci: kebiasaan belajar, prestasi belajar. Mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan pada standar kompetensi menerapkan ilmu statika dan tegangan merupakan elemen yang penting di Teknik Sipil karena sebagai dasar dalam perencanaan sebuah bangunan, namun siswa masih merasa kesulitan dalam dasar kompetensi ini. Suatu kebiasaan belajar jika dilakukan secara efisien dan sistematis akan membantu kemudahan belajar yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Dalam hal ini prestasi belajar menjadi ukuran seberapa besar hasil yang dicapai oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan di SMKN 1 Singosari Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif. Sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling yang berjumlah 55 siswa kelas X jurusan TGB SMKN 1 Singosari Malang. Teknik pengumpulan data dengan angket dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini adalah (1) kebiasaan belajar siswa di rumah pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan (Memahami Ilmu Statika dan Tegangan) di SMKN 1 Singosari Malang adalah cukup baik. Hal ini ditunjukkan bahwa banyaknya siswa yang menjawab sering maupun selalu sebesar 64% pada klasifikasi kebiasaan belajar di rumah. (2) kebiasaan belajar siswa di sekolah pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan (Memahami Ilmu Statika dan Tegangan) di SMKN 1 Singosari Malang adalah cukup baik. Hal ini ditunjukkan bahwa banyaknya siswa yang menjawab sering maupun selalu sebesar 68% pada klasifikasi kebiasaan belajar di rumah. (3) Kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan (Memahami Ilmu Statika dan Tegangan) di SMKN 1 Singosari Malang menunjukkan bahwa 40 deskriptor pada variabel kebiasaan belajar, hanya 14 deskriptor siswa yang mendapat nilai A dan B banyak menjawab jarang maupun tidak pernah. Sehingga tersisa 26 diskriptor siswa yang mendapat nilai A dan B banyak menjawab selalu maupun sering. Dengan demikian maka dapat dikatakan ada keterkaitan antara kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa. Saran yang bisa diberikan oleh peneliti adalah untuk siswa diharapkan bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar dengan mengubah kebiasaan belajar yang kurang baik seperti kedisiplinan, mengatur waktu belajar di rumah, memantapkan hasil belajar dan selalu aktif belajar saat di kelas. Untuk kebiasaan belajar di rumah maupun di sekolah yang sudah cukup baik, siswa harus bisa mempertahankannya karena kebiasaan belajar adalah salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.

Hubungan daya tarik promosi, peran orang tua, da pemahaman informasi pendidikan dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK: suatu studi di Kabupaten Tuban / Basuki

 

ABSTRAK Basuki, 2010. Hubungan Daya Tarik Promosi, Peran Orangtua, dan Pemahaman Informasi Pendidikan dengan Keputusan Siswa Melanjutkan Studi ke SMK, Suatu Studi di Kabupaten Tuban. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mardi Wiyono, ST., M.Pd., (II) Drs. Andoko, ST., MT. Kata Kunci: daya tarik promosi, peran orangtua, pemahaman informasi pendidikan, keputusan siswa. Salah satu tujuan Direktorat PSMK melakukan promosi melalui media iklan adalah mempengaruhi lulusan SMP/sederajat untuk memutuskan melanjutkan studi ke SMK. Lulusan SMP/sederajat dalam mengambil keputusan melanjutkan sekolah tidaklah mudah. Peran serta pihak lain seperti orangtua ikut memberi pengaruh. Dari sudut bimbingan, keputusan yang diambil seseorang seharusnya adalah keputusan yang tepat. Pengambilan keputusan merupakan proses, untuk mengambil keputusan diperlukan data dan informasi yang akurat. Penelitian ini bertujuan a) mengetahui hubungan antara daya tarik promosi dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK, b) mengetahui hubungan antara peran orangtua dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK, c) mengetahui hubungan antara pemahaman informasi pendidikan dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK, dan d) mengetahui hubungan daya tarik promosi, peran orangtua, dan pemahaman informasi pendidikan secara bersama-sama dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif korelasional dengan populasi sebesar 1243 kesemuanya adalah siswa kelas 1 yang menyebar pada empat SMK Negeri di Kabupaten Tuban yaitu: SMK Negeri 1 Tuban, SMK Negeri 2 Tuban, SMK Negeri 3 Tuban, dan SMK Negeri Tambakboyo. Jumlah Responden 189 yang dipilih dan ditetapkan menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen dan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear ganda dengan bantuan program komputer SPSS for windows. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat hubungan positif signifikan antara daya tarik promosi dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi (rx1y) sebesar 0,193 dan nilai p sebesar 0,004, 2) terdapat hubungan positif signifikan antara peran orangtua dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi (rx2y) sebesar 0,466 dan nilai p sebesar 0,000, 3) tidak terdapat hubungan positif dan signifikan antara pemahaman informasi pendidikan dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi (rx3y) sebesar 0,105 dan nilai p sebesar 0,075, dan 4) terdapat hubungan positif signifikan antara daya tarik promosi, peran orangtua, dan pemahaman informasi pendidikan secara bersama-sama dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi R sebesar 0,508 dan hasil uji F menunjukkan nilai sig. F sebesar 0,000. Berdasar temuan penelitian, maka saran untuk Dir. PSMK adalah: perlu memperbaiki kualitas iklan agar sesuai dengan daya nalar calon siswa. Saran untuk orangtua adalah: perlu meningkatan kemampuan dalam membimbing anak. Saran untuk guru BK adalah: perlu mengoptimalkan semua saluran informasi yang tersedia sebagai sumber informasi pendidikan. Sedangkan untuk peneliti berikutnya saran yang diberikan adalah: perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor lain diluar variabel penelitian ini.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 |