Peranan pekerja outsourcing dalam pelayanan baca meter untuk meningkatkan kepuasan pelanggan PT. PLN (Persero) unit pelayanan Dinoyo Malang / Vita Sari Kusuma Wardani

 

Wardani, Vita Sari Kusuma. 2010. Peranan Pekerja Outsourcing Dalam Pelayanan Baca Meter Untuk Meningkatkan Kepuasan Pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang. Tugas Akhir, Jurusan Manajemen Program Studi D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Hj. Ita Prihatining Wilujeng, S.E., M.M. Kata kunci: pelayanan, kepuasan pelanggan. PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang merupakan salah satu perusahaan negara yang bergerak dalam bidang jasa kelistrikan di Indonesia yang menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum. Saat ini tenaga listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi manusia dan berperan sangat penting dalam penigkatan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Sebagai perusahaan yang bergerak pada bidang jasa kelistrikan, PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang diharuskan memberikan pelayanan yang prima kepada para pelanggan, calon pelanggan dan masyarakat umum lainnya untuk memuaskan kebutuhan mereka dalam pemenuhan kebutuhan akan tenaga listrik. Untuk pemberian pelayanan yang memuaskan kepada para pelangganya, pihak PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang ini harus mempunyai sumber daya manusia atau para pekerja yang ahli dalam bidang-bidang yang ada khususnya dalam pelayanan baca meter. Pelayanan baca meter ini merupakan pelayanan yang harus dilaksanakan dengan tepat, benar, dan akurat. Semakin banyaknya jumlah pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang ini maka, dalam kegiatan pelayanan ini pihak PT. PLN (Persero) menyerahkannya kepada perusahaan jasa outsourcing. Penyerahan pekerjaan kepada perusahaan outsourcing ini tentunya untuk meningkatkan kepuasan para pelanggan dalam bidang pelayanan baca meter khususnya. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui peranan para pekerja outsourcing dalam pelayanan baca meter untuk meningkatkan kepuasan pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang dan faktor yang menghambat dan mendorong pelayanan baca meter pelanggan. Hasil yang didapat adalah bahwa peranan para pekerja outsourcing selain sebagai ahli pengoperasian atau sebagai ahli dalam teknik pelayanan baca meter pelanggan, juga sebagai pemasar dan perantara utama antara pelanggan dengan PT. PLN (Persero) adalah untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dalam bidang pelayanan baca meter. Kesimpulan yang diperoleh adalah bahwa faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan itu salah satunya adalah kinerja/prestasi karyawan. Sehingga, peranan-peranan para pekerja outsourcing baca meter ini merupakan hal penting yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Dinoyo Malang. Dapat disarankan agar PT. PLN (Persero) ini mampu meningkatkan pelayanannya khususnya dalam pelayanan baca meter yang diperankan oleh pekerja outsourcing agar para pelanggannya yang semakin lama semakin meningkat dapat merasa puas dengan pelayanan baca meter ini.

Kaitan antara perkembangan obyek wisata dan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi mata pencaharian di sekitar obyek wisata Coban Rais kota Batu / Yayak Priasmara

 

ABSTRAK Priasmara, Yayak. 2010. Kaitan Antara Perkembangan Objek Wisata dan Kondisi Ekonomi Masyarakat dengan Diversifikasi Mata Pencaharian di Sekitar Objek Wisata Coban Rais Kota Batu . Skripsi, Program Studi Pendidikan Geografi Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariyani Wirahayu, M.Si (II) Drs. Marhadi Slamet Kistianto, M.Si Kata kunci: Pariwisata, Kondisi Ekonomi, dan Diversifikasi Kota Batu semakin mengukuhkan diri sebagai kota tujuan wisata terlengkap di Jawa Timur. Hal tersebut dibuktikan dengan pembangunan objek wisata baru seperti Museum Satwa dan peremajaan objek wisata yang telah ada. Tidak hanya objek wisata buatan saja yang dikembangkan melainkan juga objek wisata alam. Coban Rais merupakan objek wisata alam berupa air terjun yang ikut mengalami perkembangan. Dari perkembangan tersebut menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata ini. Keberadaan wisatawan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk membuka usaha sampingan. Hal itulah yang melatarbelakangi penelitian mengenai kaitan antara perkembangan objek wisata dan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi mata pencaharian di sekitar objek wisata Coban Rais. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah pertama, bagaimana bentuk diversifikasi mata pencaharian masyarakat disekitar objek wisata Coban Rais; kedua: bagaimana kaitan perkembangan objek wisata Coban Rais dengan diversifikasi mata pencaharian masyarakat Desa Oro-oro Ombo; ketiga: bagaimana kaitan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi mata pencaharian masyarakat Desa Oro-oro Ombo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk diversifikasi mata pencaharian masyarakat disekitar objek wisata Coban Rais serta kaitan antara perkembangan objek wisata dan kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan metode survey. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam mencari kaitan antara variabel bebas dan variabel terikat. Analisis yang digunakan adalah deskriptif dengan tabel persentase dan Chi Square untuk mencari korelasinya. Penelitian ini merupakan penelitian populasi, sejumlah 50KK yang melakukan diversifikasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1). Diversifikasi mata pencaharian di sekitar objek wisata Coban Rais dilakukan dengan menjual makanan, menjual non makanan dan menyediakan jasa. (2). Terdapat keterkaitan antara perkembangan objek wisata dengan diversifikasi mata pencaharian yang terjadi. (3) Terdapat keterkaitan antara kondisi ekonomi masyarakat dengan diversifikasi yang terjadi.

Peningkatan hasil belajar operasi pengurangan pecahan melalui pendekatan contextual teaching and learning (CTL) di kelas III SDN Soko I Bojonegoro / Nanik Widayati

 

ABSTRACT Widayati, Nanik. 2010. The raising learn result of piece ellviation operation with Contextual Teaching and Learning (CTL) pnenomelogical in class of III SDN Soko I Bojonegoro. Tessis. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. FIP. Universitas Negeri Malang. Advisors (I) Drs. Imam Hanafi, M.M. (II) Dr. H. M. Zainudin, M.Pd. Key Word: Learn result, piece ellviation operation, CTL. Reseach of action class execluted in class of III SDN Soko I Bojonegoro. The building on observation result of obtainable from student learn result know that students in class of III difficulty to draft ellviation operation. The students earn under Kreteria Ketuntasan Minimal (KKM) valua. KKM SDN Soko I is 60. From the result research then observer observation organizer. Observation doing as long as 3 mont is date is 1 February to 30 April 2010. The target reseatch for descriptioned of CTL phenomenological application at peace ellevation operation in class of III SDN Soko I and for to know that CTL phenomenological can up lift learn result of peace ellviation operation in class of III SDN Soko I Bojonegoro. Research type is PTK and relate spiral of model from Kemmis and Taggart. The resercher act as the teacher and observer. The technical data agregation is questionnaire, interview, observation, documentation, and test, as long as learn going on process. Analisys data bring about after meansure given every cycle. Research result refer to increase existence of students learn result in class of III SDN Soko I Bojonegoro. Increase of students learn result shown by phase complete students from 20 students, the more than valua 60. Whereas 6 student no complete with minus valua 60. Conclusion complete learn of 1cycle is 70%. At cycle of II increase students all complete 100%. Complete learn at phas of precycle complete 50%. Rise 20% become70%. Cycle of II increase rise 30% become 100%. Result rearch building can conclusion that with learning application CTL can proven to be increase of students learn result in class of III SDN Soko I Bojonegoro. The sucess reached so development existensi about learning variation in class to learning result to finist stuents can good constant. The students ought to, can benefitted long time to study at home. The teacher ought to, to exert variation phenomenological until the students wasn’t bored and students can learn result improve.

Pengembangan media audio video dalam pembelajaran praktik las oksi asetilin untuk siswa kelas X program studi mekanik otomotif SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen / Rusliansyah

 

ABSTRAK Rusliansyah. 2010. Pengembangan Media Audio Video dalam Pembelajaran Praktik Las untuk Siswa Kelas X Program Studi Mekanik Otomotif SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mardi Wiyono, S.T., M.Pd, (II) Drs. Andoko, M.T. Kata kunci: pengembangan, media audio video, pembelajaran praktik las, Pembelajaran pengelasan oksi asetilin, selama ini berlangsung dengan menggunakan buku manual dan perangkat las oksi asetilin masih sangat sederhana. Berdasarkan observasi sampai tahun 2007 kekurangan yang terdapat pada pembelajaran prosedur pengelasan dengan las oksi asetilin di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen adalah: (1) belum ada pengayaan presentasi pengajaran dengan audio video; (2) belum ada fasilitas multimedia untuk membantu pemahaman siswa secara lebih jelas dan nyata; (3) memerlukan banyak tambahan penjelasan sehingga waktu untuk proses belajar mengajar kurang efisien; (4) sajian tampilan media alat yang sebenarnya kurang variatif, sehingga kurang memberi ketertarikan dan kurang memberi keaktifan pada siswa. Pemilihan media audio video sebagai produk teknologi media pengajaran parktek las oksi asetilin adalah karena realita bahwa kita berada dalam era teknologi informasi. Penelitian yang dilaksanakan bertujuan mengembangkan produk media audio video untuk mendukung pembelajaran praktik las oksi asetilin pada posisi mengelas di bawah tangan, keefektifan media pembelajaran mengelas pada siswa yang menggunakan media audio video, dan yang tidak menggunakan media audio video, pada siswa kelas X Program Keahlian Mekanik Otomotif di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Rancangan pengembangan media pembelajaran ini dilakukan tahapan pengembangan melalui prosedur atau langkah yang dipersiapkan terlebih dahulu, yaitu: (1) melakukan analisis produk yang akan di kembangkan, (2) mengembangkan produk awal, (3) Validasi ahli dan revisi, (4) uji coba lapangan skala kecil, (5) uji coba lapangan skala besar. Tahapan yang diambil dimaksudkan untuk memperoleh media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dari hasil uji coba produk media kepada para ahli, guru dan siswa menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai, mengenai kesesuaian media dalam pembelajaran terutama kompetensi mengelas sambungan I menggunakan las oksi asetilin dengan posisi pengelasan di bawah tangan, sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X Program Keahlian Mekanik Otomotif pada SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, yang berjumlah 20 siswa sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas kontrol berjumlah 20 siswa. Sebagai responden Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi pembelajaran yang menggunakan media audio video (X1) dan pembelajaran yang tidak menggunakan media (X2) serta hasil belajar kompetensi mengelas sambungan I menggunakan las oksi asetilin (Y) sebagai variabel terikatnya. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah peneliti berhasil membuat/mengembangkan media audio video (keping VCD) dalam pembelajaran praktik las oksi asetilin dengan posisi mengelas di bawah tangan dengan durasi 50 menit. Dari hasil uji coba produk media kepada para ahli, guru dan siswa menunjukan bahwa produk media ini sudah cukup memadai. Sehingga media ini dapat digunakan sebagai alternatif ketersediaan media pembalajaran selain buku teks. Dengan menggunakan media dalam pembelajaran akan sangat membantu dan sangat besar keefektifannya dalam mengajar menggunakan media audio-video praktik las terhadap kompetensi mengelas pada siswa kelas X Program Keahlian Mekanik Otomotif di SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Hal ini dibuktikan dengan melihat nilai rata-rata kelas yang menggunakan media 3.13 dan nilai rata kelas yang tidak menggunakan media 2.43, dengan t-hitung sebesar 17.466, dan sig = 0.000.

Pengaruh pola belajar siswa terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran produktif siswa kelas XI jurusan tata boga SMK Negeri 7 Malang / Hardiansah

 

ABSTRAK Hardiansah. 2010 Pengaruh Pola Belajar Siswa Terhadap Prestasi belajar Pada mata Pelajaran Produktif Siswa kelas XI Jurusan Tata Boga SMKN 7 Malang (angkatan 2009/2010). Skripsi, Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof.Dr.H. Mohammad Efendi, M.Pd.,M.Kes, (2) Dra. Hapsari Kusumawardani, M. Pd. Kata Kunci : Pola Belajar & Prestasi Pada Mata Pelajaran Produktif Tata Boga Poal belajar adalah prilaku belajar seseorang yang dilakukan secara tetap atau sama dari waktu-kewaktu. Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan pola belajar siswa di rumah dan pola belajar siswa di sekolah pada siswa kelas XI SMKN 7 Malang dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pola belajar tersebut terhadap prestasi belajar pada mata pelajaran produktif Tata Boga siswa kelas XI SMKN 7 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif-korelasional. Variabel dalam penelitian ini adalah pola belajar dirumah sebagai variabel bebas (X1) dan pola belajar siswa disekolah (X2) dan prestasi belajar sebagai variabel terikat (Y). Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI Jurusan Tata Boga SMKN 7 Malang yang berjumlah 53 orang semester gasal dengan tingkat kesalahan 5%. Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan angket tertutup. Sedangkan analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan F. Hasil penelitian menunjukan bahwa 1).Terdapat pengaruh positif yang signifikan variabel pola belajar siswa di rumah (X1) secara parsial terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMKN 7 Malang. 2).Terdapat pengaruh positif yang signifikan variabel pola belajar di sekolah (X2) secara parsial terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMKN 7 Malang secara simultan terdapat pengaruh positif yang signifikan variabel pola belajar siswa di rumah(X1) dan pola belajar siswa di sekolah (X2) terhadap prestasi belajar siswa kelas XI SMKN 7 Malang dengan nilai F hitung 30,196. Adjusted R Square menunjukkan 52,9 % adanya pengaruh variabel pola belajar siswa di rumah dan disekolah terhadap prestasi belajar, dan sisanya 47,1 % dipengaruhi variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bawah terdapat pengaruh yang signifikan antara variable pola belajar siswa dan variable prestasi belajar siswa baik pengaruh secara parsial maupun pengaruh secara simultan. Berdasarkan kesimpulan tersebut siswa diharapkan agar lebih meningkatkan pola belajar mereka terutama pola belajar diruma dengan cara memanfaatkan waktu dirumah semaksimal mungkin untuk menerapkan pola belajar mereka. Sedangkan bagi pihak sekoal guru khususnya diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan rujukan supaya dapat meningkatkan pola belajar siswa disekolah.

Pengaruh kepedulian orang tua terhadap perilaku belajar siswa kelas XII program keahlian teknik perkayuan SMK Negeri 6 Malang tahun ajaran 2009/2010 / Eko Azwar Ramdan

 

ABSTRACT Azwar Ramdan, Eko. Effect of Parents Caring for Students' Learning Behavior Skills Program Class XII Timber Engineering SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010. Thesis, Technical Education Building, Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, State University of Malang. Advisors (I) Drs. Bambang Widarta, M.T., (II) Drs. Wahyo Hendarto Yoh, M.T. Key words: parents caring, student learning behavior. Student behavior is influenced by several factors. Among the factors that influence student behavior is parents caring. This study aimed to investigate the influence of parents caring for students' learning behavior, and expected to be used by parents as a basis for improving student learning behavior. This research was conducted at the Class XII students Timber Engineering Expertise Program SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010. The research design used was a quantitative correlational research design. The populations in this study are all Class XII students Timber Engineering Expertise Program SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010 as many as 19 students at the same time as samples. The sampling technique carried out with saturated sampling (census). To test the hypothesis of the research used simple linear regression analysis with significance level 5%. Results of analysis of data about the concerns of parents shows that parents who really care about their children learning behavior as much (16%), parents who care for their children as much as learning behavior (31%), parents are less concerned about the learning behavior of his son as many (37 %), and parents who do not care to learn the behavior of their children as much (16%). Thus, it can be said that the ± half the class XII students' parents Timber Engineering Expertise Program SMKN 6 Malang is still low concern for the behavior of their children to learn as much as 53%. While data on students' learning behavior indicates that students who have a very good learning behavior as much (22%), students who have good learning behavior as much (28%), students who have studied the behavior of less well as many (39%), and students who have learning behavior is not good as many (11%). Thus, we can say that half the students of class XII ± Skills Program Timber Engineering SMKN 6 Malang has a behavior which is still less well studied as much as 50%. Given the results showed that parents do not directly concern significantly influence the behavior of class XII students Skills Program Timber Engineering SMKN 6 Malang in Academic Year 2009/2010 but changes in the variation in student learning behavior amounted to 3.6% influenced by changes in caring person variation old, it is recommended that further research using the variables that still have not been studied among other talents, curriculum, facilities and infrastructure, as well as other factors that influence students' learning behavior.

Pelaksanaan bauran promosi dan penjualan produk telkom speedy pada PT. Telekomunikasi Kancatel Pasuruan / Devi Santiayu Primasari

 

Primasari, Devi Santiayu. 2010. Pelaksanaan Bauran Promosi dan Penjualan Produk Telkom Speedy pada PT. Telekomunikasi Kancatel Pasuruan . Tugas Akhir, Jurusan Manajemen Program Studi D-III Manajemen Pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Agus Hermawan, M. Si., M. Bus. Kata Kunci : Bauran Promosi, Penjualan. Mencermati kondisi persaingan yang demikian ini, Bauran Promosi perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan jumlah pelanggan perusahaan. Melalui bauran promosi perusahaan dapat mengkomunikasikan produk dan program perusahaan. Bauran promosi pada produk akses internet Telkom Speedy ini sangat perlu diperhatikan terlebih semakin banyak perusahaan perusahaan yang bergerak dibidang yang sama, tanpa adanya promosi suatu produk tidak akan dikenal oleh masyarakat. Penulisan TA ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan bauran promosi dan penjualan yang terus meningkat pada PT. Telkom kancatel Pasuruan terdapat tiga masalah yang dikaji yaitu: (1) Jenis bauran promosi apa saja yang diterapkan PT. Telkom Kancatel Pasuruan dalam mempromosikan Telkom Speedy (2) Bagaimana tingkat penjualan produk Telkom Speedy pada PT.Telkom kancatel Pasuruan (3) Faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat serta solusi oleh PT. Telkom Kancatel Pasuruan dalam mempromosikan Telkom Speedy. Jenis bauran promosi yang diterapkan PT. Telkom Kancatel Pasuruan dalam mempromosikan Telkom Speedy adalah dengan: (1) penjualan pribadi yang setiap hari dilakukan oleh PT. Telkom Kancatel Pasuruan yaitu Telemarketing merupakan kegiatan menawarkan produk langsung kepada pelanggan melalui media telepon. Jenis bauran promosi yang lain yaitu: (2) periklanan dan publisitas, (3) promosi penjualan, dan (4) hubungan masyarakat. Penjualan Telkom Speedy di daerah kancatel Pasuruan terus meningkat dari tahun ke tahun hingga tahun 2009 jumlah pelanggan mencapai angka 3.913 pelanggan. Hal ini dikarenakan strategi bauran promosi yang dilaksanakan perusahaan yang sangat tepat dan terbukti dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakan produk Telkom Speedy. Saran yang dikemukakan penulis antara lain: (1) Hendaknya PT. Telkom memasang umbul-umbul dan Spanduk Telkom Speedy di tempat strategis tidak hanya di depan kantor Telkom dan tidak pada saat adanya even saja agar masyarakat lebih mengenal Telkom Speedy, (2) Hendaknya PT. Telkom kancatel Pasuruan tidak hanya mengunggulkan Telkom Flexi dalam mensponsori suatu even, tetapi juga mengenalkan Telkom Speedy pada even yang di sponsori oleh PT. Telkom kancatel Pasuruan, dan (3) Dalam melakukan promosi Telkom Speedy melalui media telepon atau out bond call, hendaknya nomor telepon yang telah dihubungi dicatat agar tidak terjadi promosi kedua kalinya kepada orang yang sama.

Pelevelan penalaran aljabar siswa kelas X dalam memecahkan masalah berdasarkan Taksonomi Solo / Filda Febrinita

 

ABSTRAK Febrinita, Filda. 2015. Pelevelan Penalaran Aljabar Siswa Kelas X dalam Memecahkan Masalah Berdasarkan Taksonomi SOLO. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si. (II) Dr. Sisworo, M.Si. Kata Kunci: level penalaran aljabar, pemecahan masalah, taksonomi SOLO Siswa pasti akan dihadapkan pada masalah matematis ketika belajar matematika, khususnya ketika mempelajari aljabar.Aljabar merupakan salah satu cabang matematika yang sangat penting dipelajari siswa sebagai modal untuk membentuk keterampilan hidup yang bermanfaat, salah satunya adalah keterampilan pemecahan masalah. Untuk terampil dalam memecahkan masalah, salah satunya dibutuhkan keahlian dalam bernalar. Hasil belajar siswa dalam memecahkan masalah aljabar yang melibatkan kemampuan penalaran, dapat diketahui dan diases. Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengases hasil belajar aljabar adalah Taksonomi SOLO.Dalam Taksonomi SOLO, ketika siswa menjawab tugas yang diberikan, tanggapan mereka terhadap tugas tersebut dapat diringkas dalam lima level struktur respon yaitu: 1) prastruktural, 2) unistruktural, 3) multistruktural, 4) relasional dan 5) extended abstract. Dengan demikian, kemampuan bernalar siswa dalam memecahkan masalah aljabar dapat diketahui dengan lebih detail sehingga diharapkan dapat membantu guru untuk memilih strategi yang tepat dalam membelajarkan aljabar. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pelevelan penalaran aljabar siswa dalam memecahkan masalah berdasarkan Taksonomi SOLO. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian adalah penelitian deskriptif ekploratif. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen utama. Data penelitian adalah hasil kerja siswa dalam memecahkan masalah aljabar serta hasil rekaman wawancara peneliti dengan subjek terkait dengan aktivitas bernalar yang dilakukan subjek dalam memecahkan masalah aljabar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa level penalaran aljabar siswa kelas X dalam memecahkan masalah dapat diklasifikasikan dalam empat level, yaitu: (1) Level 1 (level unistruktural) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas bernalar siswa yang mampu menggunakan satu informasi dari masalah untuk menyusun strategi pemecahan masalah dan mampu menentukan suku selanjutnya dari suatu pola bilangan; (2) Level 2 (level multistruktural) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas bernalar siswa yang mampu menggunakan lebih dari satu informasi untuk menyusun strategi pemecahan masalah dan mampu mendaftar suku-suku dari suatu pola bilangan; (3) Level 3 (level relasional) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas bernalar siswa yang mampu memprediksikan penyelesaian masalah berdasarkan informasi yang dipahami dan mampu membuat kesimpulan dari penyelesaian masalah dengan membuat keterkaitan antara dua informasi; (4) Level 4 (level extended abstract) yang diantaranya ditandai dengan aktivitas siswa yang mampu menggeneralisasikan pola bilangan yang muncul dari masalah dan mampu mengubah dan menciptakan ilustrasi baru untuk suatu pola bilangan.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen di restoran Batavia Malang / Ricky Syahputra

 

ABSTRAK Syahputra, Ricky. 2010. Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen di Restoran Batavia Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra Rina Rifqie Mariana, M.P. (2) Anik Dwi Astuti, ST., MT. Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, kepuasan konsumen, restoran batavia. Pertumbuhan usaha disektor jasa yang cukup pesat ini sering kali masih diikuti dengan rendahnya kualitas jasa yang diberikan. Banyak konsumen yang mengeluhkan tentang rendahnya kualitas jasa yang mereka terima, hal ini dikarenakan banyaknya perusahaan yang bergerak dibidang jasa yang belum memahami tentang konsep modern kualitas jasa. Berdasarkan keadaan dilapangan tersebut peneliti ingin mengetahui kualitas pelyanan yang mempengaruhi kepuasan konsumen, Pelayanan atau jasa yang diberikan berpedoman pada dimensi kualitas jasa yang terdiri dari daya tanggap, keandalan, jaminan, empati dan bukti fisik. Penelitian ini mencoba mengangkat Restoran Batavia Malang karena restoran ini merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa yang mengedepankan kepuasan konsumen, restoran Batavia dapat mewakili restoran-restoran besar yang memiliki kualitas pelayanan yang baik yang ada di Malang dan animo masyarakat mengenai Restoran Batavia dalam hal kualitas pelayanan cukup baik dan ramah dan dikaitkan dengan kepuasan konsumen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan (X) yang terdiri dari keandalan (X1), daya tanggap (X2), jaminan (X3), empati (X4) dan bukti fisik (X5) terhadap kepuasan konsumen (Y) baik secara parsial maupun simultan. Rancangan penelitian korelasional dengan populasi konsumen restoran batavia pada bulan January 2010. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 100 responden dengan tingkat kesalahan 5%. Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan angket tertutup. Sedangkan analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan uji t dan F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Ada pengaruh kualitas pelayanan (keandalan sebesar 3.075, daya tanggap sebesar 3.826, jaminan sebesar 4.843, empati sebesar 2.139 dan bukti fisik sebesar 5.169) secara parsial terhadap kepuasan konsumen di restoran Batavia Malang dan; 2) Ada pengaruh kualitas pelayanan (keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik) sebesar 76.218 secara simultan terhadap kepuasan konsumen di restoran Batavia Malang. Berdasarkan penelitian ini saran yang dapat diberikan sehubungan dengan kesimpulan di atas adalah 1)Untuk Restoran Batavia sebaiknya lebih meningkatkan pada dimensi empati yaitu mengenai perhatian karyawan terhadap kebutuhan dan keluhan konsumen, keadilan layanan terhadap semua konsumen, sikap karyawan dalam memahami kebutuhan konsumen, oleh karena itu perusahaan harus tetap fokus terhadap kepuasan konsumen. 2)Untuk Peneliti Lain agar hasil penelitian ini dapat lebih mewakili populasi, maka sebaiknya penelitian selanjutnya mengambil ukuran sample yang lebih besar, dengan metode pengambilan sample yang benar.

Pengaruh air rebusan daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap pertumbuhan candida albicans yang diisolasi dari bahan usapan muara vagina penderita keputihan / Nissa Rosita

 

Tanaman pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman herba berbentuk pohon yang seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, kecantikan, dan pengobatan. Zat aktif yang terkandung dalam daun pepaya yang bersifat antifungi diantaranya ialah, flavonoid, karpain, papain, karposit, dan tanin.Masyarakat menggunakan tanaman papaya sebagai obat keputihan (Utami, 2008). C. albicans merupakan salah satu spesies khamir penyebab keputihan. C. albicans sering dijumpai dalam rongga mulut, tenggorokan, usus besar dan vagina (Pelczar dan Chan, 1988). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh air rebusan daun pepaya terhadap penghambatan pertumbuhan C. albicans. (2) Pengaruh perbedaan konsentrasi air rebusan daun pepaya terhadap penghambatan pertumbuhan C. albicans. (3) Konsentrasi air rebusan daun papaya yang paling efektif membunuh C. albicans. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2009 - Januari 2010 di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah tube dilution method untuk memperoleh nilai MIC air rebusan daun pepaya. Indikator yang digunakan untuk menentukan daya hambat pertumbuhan C. albicans adalah tidak terjadi kekeruhan pada campuran air rebusan daun papaya dan C. albicans dalam media Sabouraud cair, dan pertumbuhan koloni C. albicans dalam media Sabouraud agar. Perlakuan dalam penelitian ini menggunakan faktor konsentrasi air rebusan daun papaya, yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, 45%, dan 50%. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Ada pengaruh positif pemberian air rebusan daun papaya terhadap penghambatan pertubuhan C. albicans, yaitu dapat membunuh C. albicans. (2) Ada pengaruh perbedaan konsentrasi air rebusan daun pepaya terhadap penghambatan pertumbuhan C. albicans. (3) Air rebusan daun pepaya dengan konsentrasi 45% adalah konsentrasi minimum yang dapat membunuh C. albicans.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pengguna jasa CV Rahmat Tours and Travel Malang (Studi kasus pada mahasiswa fakultas ekonomi Universitas Negeri Malang) / Adiss Saifudin Zuhri

 

Menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat serta dalam menghadapi era globalisasi yang mengandung perubahan cepat dalam segala hal, maka perlulah bagi pelaku bisnis untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Untuk itu suatu agen travel and tours yang masuk dalam suatu persaingan hendaknya mampu memberikan kualitas pelayanan yang baik dan bahkan yang paling baik dengan harapan akan dapat mempengaruhi kepuasan konsumen serta dapat menjaring konsumen lain yang lebih banyak. Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu variabel bebas (kualitas pelayanan yang terdiri dari lima sub variabel yaitu bukti fisik, kandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati). Sedangkan variabel terikatnya adalah kepuasan konsumen. Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang pernah atau telah menggunakan jasa CV Rahmat Tours and Travel Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi non partisipatori dan kuesioner tertutup. Teknik pengambilan sampel dengan random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 85 responden. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 14.0. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap konsumen jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang. Data yang dianalisa berasal dari 85 responden yang merupakan konsumen jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang. Alat analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil dari regresi menunjukkan bahwa secara simultan kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen, dengan nilai Fhitung sebesar 16,348. Secara parsial variabel Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5) berpengaruh signifikan terhadap kepuasan konsumen. Hasil ini disebabkan karena jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang adalah jenis layanan tours and travel dimana varibel daya tanggap yang paling dibutuhkan konsumen. Nilai adjust R square sebesar 0,477 = 47,7% menunjukkan bahwa variabel Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5) berpengaruh secara simultan terhadap variabel Kepuasan Konsumen (Y) sebesar 0,715 = 71,5%. Sedangkan sisanya sebesar 0,523 = 52,3% dipengaruhi oleh variabel lain diluar lima variabel bebas yang diteliti seperti product, place, price, promotion. Variabel Bukti Fisik (X1), Keandalan (X2), Daya Tanggap (X3), Jaminan (X4), dan Empati (X5) mempunyai hubungan positif atau searah dengan Kepuasan Konsumen. Variabel Daya Tanggap (X3) merupakan variabel yang dominan dalam mempengaruhi kepuasan konsumen dengan nilai standardized coefficient 0,587 = 58,7%. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan untuk memperoleh kepuasan konsumen khususnya konsumen jasa layanan CV Rahmat Tours and Travel Malang. ========================================== In order to compete in business world which getting more difficult and also in the globalization era in which everything change quickly, the business subject have to adapt with the change itself. Therefore, it needs travel and tour agents nowadays that is one of the parts of the competition, it should give better and even the best service with the hope that it can affect consumer’s satisfaction and also to get the more consumers. The research has two variable, they are independent variable that consisting of five sub variable that are physical proof, ability, the ability to respond, guarantee, and empathy. Meanwhile, the dependent variable is consumers’ satisfaction. The population of the research is students of economy faculty that once use or have used CV. Rahmat Tours and Travel Malang service. The collection of data has been done by observing non participation and questioner. The technique of sampling is random sampling with 85 respondents. The data analysis has been done by using SPSS for Windows, version 14. The aim of the research is to know the effect of the service quality toward the consumers that use the service of CV.Rahmat Tour and Travels Malang. Data that have been analyzed come from 85 respondents in which they are the consumers of CV.Rahmat Tour and Travel Malang. The instrument of the research is double linier regression. The result of the regression shows that the service quality affects simultaneously to the consumers satisfaction, in which the result of the counting of F is 16.348. Partially physical proof variable (X1), the ability (X2), the ability to respond (X3), guarantee (X4), and empathy (X5) affects significantly toward the consumers’ satisfaction. This is due to the reason that the service of CV.Rahmat Tours and Travel Malang is one kind of the service in which the ability to respond variable is the highest demand of the consumers. The result of R square is 0.477= 47,7%, it shows that physical proof variable (X1), the ability (X2), the ability to respond (X3), guarantee (X4), and empathy (X5) affects simultaneously toward consumers’ satisfaction (Y) is 0,175 = 71,5%. The rest is 0,523 = 52,3 % that is affected by another variable out of the five of the independent variable in the research such as, product, place, price, promotion. Physical proof variable (X1), the ability (X2), the ability to respond (X3), guarantee (X4), and empathy (X5) have positive relation or in the same direction with the consumers’ satisfaction. The ability to respond variable (X3) is the dominant variable that affects consumers’ satisfaction with the result of standardized coefficient 0,587 = 58, 7% The result of the research can be used to keep and improve the service quality to make the consumers satisfied especially the consumers that use the service of CV.Rahmat Tours and Travel Malang

Pengaruh promosi onlie melalui twitter terhadap proses keputusan pembelian konsumen toko online Roadin Store (studi kasus pada followers twitter Roadin Store) / Ramya Daksa Mandhana

 

Mandhana, Ramya Daksa. 2014. Pengaruh Promosi Online Melalui Twitter Terhadap Proses Keputusan Pembelian Konsumen Toko Online Roadin Store (Studi Kasus pada Followers Twitter Roadin Store). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Aniek Indrawati, S.Si., M.M. (2) Dr. Wening Patmi Rahayu, SPd., M.M. Kata Kunci: Promosi Online, Proses Keputusan Pembelian, Roadin Store     Bisnis online sekarang banyak diminati, baik oleh perusahaan online maupun perusahaan konvensional. Bisnis online tidak berbeda jauh dengan bisnis konvensional lainnya, bisnis online tetap harus mengetahui dan memahami pelanggan dengan baik. Perusahaan dengan bisnis online juga menggunakan promosi dalam memasarkan produk atau jasa yang mereka tawarkan kepada pelanggan. Roadin Store adalah salah satu toko kaos online yang menggunakan media internet sebagai promosi produknya. Roadin Store juga menggunakan promosi online dalam menawarkan produknya kepada pelanggan. Roadin Store menggunakan media internet yaitu jejaring sosial twitter.     Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui apakah promosi online yang meliputi periklanan, pemsaran langsung dan promosi penjualan secara parsial dan simultan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pada pebelian kaos di Roadin Store melalui twitter.     Populasi dari penelitian ini diambil dari followers twitter Roadin Store dengan sampel berjumlah 100 orang, sebelumnya peneliti telah menyebar 30 try out kuesioner untuk memperoleh hasil uji validitas dan uji reliabilitas. Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan data primer. Dimana sumber data primer berasal dari sampel yang diambil dari konsumen pada followers twitter Roadin Store. Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner sedangkan data sekunder diperoleh melalui catatan, buku dan dokumen yang ada di Roadin Store. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui wawancara dan kuesioner. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis regresi berganda. Teknis ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.     Berdasarkan hasil analisis data tersebut menyimpulkan bahwa secara parsial (1) terdapat pengaruh variabel periklanan yang dilakukan oleh Roadin Store terhadap proses keputusan pembelian, (2) tidak terdapat pengaruh variabel pemasaran langsung yang dilakukan oleh Roadin Store terhadap proses keputusan pembelian, (3) terdapat pengaruh variabel promosi penjualan yang dilakukan oleh Roadin Store terhadap proses keputusan pembelian, dan secara simultan promosi online yang dilakukan oleh Roadin Store berpengaruh terhadap proses keputusan pembelian. Roadin Store diharapkan untuk terus meningkatkan kegiatan kegiatan promosi agar konsumen menjadi lebih tertarik. Terutama pada kegiatan periklanan dan promosi penjualan. Saran juga ditujukan kepada peneliti selanjutnya, agar penelitian diarahkan pada variabel-variabel lain selain bauran promosi seperti produk, harga, selera dan lain-lain yang memiliki pengaruh terhadap proses keputusan pembelian pada kaos di Roadin Store.

Peningkatan hasil belajar PKN melalui model pembelajaran kooperatif jigsaw di kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulunggagung / Dian Puspitasari

 

Peningkatan Hasil Belajar PKn Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Di Kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung Dian Puspitasari Abstract: The result of learning PKn in the 4 grade of public elementary school the first of Rejotangan has been less satisfying. From 24 studentswho achieved or passed standart of minimum learning passing grade. That is 65. To overcome this case, it needed the appropriate and suitable learning model choice for improving students’learning activity so it would help the students’score achievement. The purpose of the research is to understand the student’s improvement of the result of learning process after applying Jigsaw cooperative learning model. The result of research showed that in the pre applying stage, there were only nine students or 37,5% from 24 students who passed the standart of minimum learning passing grade. After applying Jigsaw cooperative learning model in the first cycle, it improved to 17 students or 71% from 24 students. But the result was far from the researcher’s hope so she applied the second cycle. In the second cycle the number of students who passed the standart of minimum learning passing grade showed improvement. Those were 22 students or 92% from 24 students who passed the standart of minimum learning passing grade. The studentas who were boring and not having high spirit became active and antusistic in learning the subject after applying and following the Jigsaw cooperative learning model. Kata Kunci: Peningkatan hasil belajar, pembelajaran PKn, model pembelajaran kooperatif Jigsaw Pendidikan adalah suatu proses interaksi antara pendidik dengan subyek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam kehidupan suatu negara pendidikan memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dang bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan yang semakin pesat menuntut lembaga pendidikan dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak perhatian khusus diarahkan kepada perkembangan dan kemajuan pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yaitu dengan merancang dan membangun suasana kelas sedemikian rupa, sehingga siswa mendapat kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Guru harus mampu membangkitkan motivasi siswa agar aktivitas siswa dalam proses pembelajaran berhasil dengan baik. Dengan demikian pemilihan model pembelajaran sangat penting guna meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa khususnya siswa SD. Hal ini juga berlaku di SDN 01 Rejotangan dimana pembelajaran PKn masih sering mengalamai kegagalan. Berdasarkan hasil pengamatan di SDN 01 Rejotangan pada mata pelajaran PKn di kelas IV diperoleh data bahwa hasil belajar siswa sering jatuh dan tidak mencapai KKM yang ditetapkan. Dari 24 siswa, hanya 9 atau 37,5% siswa yang tuntas belajar. Saat dilakukan diskusi kelompok biasa, terlihat adanya beberapa siswa tertentu saja yang aktif mengerjakan perintah guru. Dalam membentuk anggota kelompok para siswa lebih memilih teman-teman akrab yang umumnya duduk didekatnya. Beberapa siswa yang pandai berteman dengan siswa yang pandai, dan yang biasanya suka bergurau akan berteman dengan siswa lain yang suka bergurau. Oleh sebab itu pembelajaran menjadi tidak bermakna. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan merubah cara/model pembelajaran yang selama ini tidak diminati lagi oleh siswa, seperti pembelajaran dengan ceramah dan tanya jawab. Model pembelajaran ini membuat siswa jenuh dan tidak kreatif karena pembelajaran di dalam kelas selalu didominasi oleh guru. Suasana pembelajaran yang diharapkan adalah menjadikan siswa sebagai subjek yang berupaya menggali sendiri, memecahkan sendiri masalah-masalah dari suatu konsep yang dipelajari, sedangkan guru banyak bertindak sebagai motivator dan fasilitator. Situasi belajar yang diharapkan di sini adalah siswa yang lebih banyak berperan (kreatif). Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang berkembang saat ini. ”Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam model pembelajaran di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran”(Slavin, 2008:04). Salah satu bentuk dari pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Pembelajaran kooperatif model Jigsaw memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Setiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin maupun kemampuan akademiknya. Dalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw siswa dilatih untuk bekerja sama, saling mendengarkan pendapat teman, dan bertanggung jawab menunjukkan penguasaan terhadap materi yang ditugaskan kepadanya. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, perlu dilakukan penelitian yang berkaitan dengan model pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Peningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw di Kelas IV SDN 01 Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung”. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SDN Rejotangan 01 yang terletak di jalan Kandung Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) semester 1 tahun pelajaran 2009-2010 pada materi pemerintahan kabupaten dan kota. Subyek dari penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Rejotangan 01 Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung yang berjumlah 24 siswa, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Pelaksanaan penelitian dilakukan di kelas IV SDN Rejotangan 01 Desa Rejotangan Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung pada semester I Tahun Ajaran 2009-2010. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Sesuai dengan jenis penelitian tindakan, peneliti terlibat secara penuh dan langsung dalam setiap siklus selama penelitian. Adapun bentuk penelitian tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kolaboratif. Dalam penelitian kualitatif disebutkan bahwa peneliti merupakan instrumen kunci, maka dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Data dalam penelitian ini meliputi: (1) data hasil observasi selama pembelajaran, (2) skor hasil observasi kemampuan guru, (3) skor tes siswa yang berasal dari evaluasi, (4) data yang diperoleh dari catatan lapangan selama pembelajaran berlangsung. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa digunakan kriteria ketuntasan belajar berdasarkan ketentuan yang tercantum pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SDN Rejotangan 01 sebagai berikut : a. Siswa dianggap telah menuntaskan belajar pada suatu pokok bahasan tertentu apabila telah menguasai 60% dari pokok bahasan dengan skor minimal 65. Jika penguasaan kurang dari 60%, maka siswa masuk kelompok program perbaikan. Jika penguasaan siswa 60% ke atas pada suatu pokok bahasan, maka masuk kelompok program pengayaan. b. Kelas dianggap telah tuntas terhadap penguasaan pokok bahasan apabila 70% dari siswa suatu kelas telah mencapai Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM), yakni skor minimal 65 atau mencapai penguasaan 60% ke atas dari pokok bahasan yang dipelajari. Sesuai dengan jenis penelitian tindakan, penelitian ini menggunakan desain penelitian yang dikemukakan oleh Mulyasa (2009:73).. Untuk setiap siklus peneliti akan melakukan kegiatan yang diawali dengan perencanaan, kemudian melakukan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi. Dan apabila tindakan tersebut masih belum memenuhi target pemenuhan standar ketuntasan minimal maka dilakukan siklus berikutnya. Tahapan penelitian tindakan berdasarkan bagan yang telah dikemukakan oleh Mulyasa (2009:73) dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Tahap Pra Tindakan Kegiatan yang dilakukan peneliti pada tahap ini antara lain: melakukan observasi awal, yaitu mengobservasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru wali kelas IV, mengumpulkan data/permasalahan, hasil tes pada tahap pra tindakan, dan merefleksi. Data hasil dari refleksi tersebut didiskusikan bersama guru kelas IV untuk dapat menentukan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus I. Sebelum itu, peneliti juga berdiskusi dengan guru kelas IV untuk menentukan mata pelajaran apa yang akan diteliti, kapan pelaksanaan penelitian, metode yang akan digunakan, dan strategi yang akan digunakan dalam pembelajaran yang akan dilakukan oleh peneliti. Selain itu, peneliti bersama guru kelas IV juga mendiskusikan instrumen penilaian yang akan digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Peneliti juga menjelaskan kepada guru tersebut selaku obsever ketika peneliti melakukan pembelajaran siklus I tentang cara menilai aktivitas siswa pada saat melakukan dikusi dengan model Jigsaw. 2. Pelaksanaan Tindakan a. Siklus I 1) Perencanaan tindakan siklus I Perencanaan siklus I ini dilakukan berdasarkan refleksi pada tahap pra tindakan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:  Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw.  Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten dan kota.  Peneliti menyiapkan media dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran.  Peneliti menyusun lembar kerja Siswa (LKS)  Peneliti membuat evaluasi untuk siswa  Peneliti mengembangkan format penilaian  Peneliti mengembangkan format observasi pembelajaran yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam kelompok ahli, kemampuan bekerjasama dengan kelompok asal,penilaian keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan dari guru dan mengungkapkan pertanyaan, penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, dan penilaian ketepatan jawaban siswa. 2) Pelaksanaan tindakan siklus I Rencana yang telah disusun kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan siklus I ini adalah sebagai berikut:  Peneliti membuka pelajaran dengan salam, do’a dan memeriksa kehadiran siswa.  Peneliti menyampaikan apersepsi dengan bertanya jawab dengan siswa mengenai konsep pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran.  Peneliti menyampaikan materi tentang konsep pemerintahan kabupaten/kota dengan menggunakan bagan struktur pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok asal.  Peneliti membagikan lembar kerja yang terdiri dari 4 soal yang berbeda untuk tiap siswa dalam kelompok asal.  Peneliti berkumpul dalam kelompok ahli sesuai nomor soal yang diperolehnya.  Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli masing-masing.  Siswa kembali ke kelompok asal kemudian saling berdiskusi tentang hasil jawaban yang telah didiskusikan bersama kelompok ahli.  Peneliti bersama siswa membahas lembar kerja.  Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.  Siswa mengerjakan evaluasi secara individu kemudian hasil evaluasi tersebut dibahas bersama-sama. 3) Pengamatan/observasi siklus I Observasi ini dilakukan pada saat proses pembelajaran siklus I berlangsung. Observasi ini dilakukan untuk mengamati dan menilai tingkah laku siswa dalam pembelajaran. Hal-hal yang diobservasi antara lain mengenai kemampuan bekerjasama dalam mengerjakan soal secara kelompok (baik dalam kelompok ahli maupun dalam kelompok asal), tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas, keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban. Dalam mengobservasi, guru menggunakan instrumen yang telah dibuat sebelumnya. Hasil dari observasi ini digunakan sebagai bahan refleksi. 4) Refleksi siklus I Pada akhir siklus I diadakan refleksi terhadap kegiatan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi. Dari hasil refleksi akan diketahui kelebihan dan kekurangan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I yang akan digunakan untuk bahan perencanaan tindakan pada siklus II. b. Siklus II 1) Perencanaan tindakan siklus II Permasalahan-permasalahan baru yang muncul dari hasil releksi pada siklus I, selanjutnya akan dibuat suatu perencanaan tindakan untuk siklus II. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti sama dengan yang dilakukan pada tahap perencanaan tindakan siklus I, yaitu:  Peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw.  Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten dan kota.  Peneliti menyiapkan media dan sumber belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran.  Peneliti menyusun lembar kerja Siswa (LKS)  Peneliti membuat evaluasi untuk siswa  Peneliti mengembangkan format penilaian  Peneliti mengembangkan format observasi pembelajaran yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam kelompok ahli, kemampuan bekerjasama dengan kelompok asal,penilaian keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan dari guru dan mengungkapkan pertanyaan, penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, dan penilaian ketepatan jawaban siswa. 2) Pelaksanaan tindakan siklus II Di dalam tahap pelaksanaan siklus II, peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan perencanan yang telah dibuat, yaitu seabagai berikut:  Peneliti membuka pelajaran dengan salam, do’a dan memeriksa kehadiran siswa.  Peneliti menyampaikan apersepsi dengan bertanya jawab dengan siswa mengenai konsep pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran.  Peneliti menyampaikan materi tentang konsep pemerintahan kabupaten/kota dengan menggunakan bagan struktur pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok asal.  Peneliti membagikan amplop yang didalamnya terdapat kartu soal dengan nomor yang berbeda untuk masing-masing anggota pada kelompok asal.  Siswa berkumpul dalam kelompok ahli sesuai nomor amplop yang diperolehnya.  Siswa berdiskusi dalam kelompok ahli masing-masing.  Siswa kembali ke kelompok asal kemudian saling berdiskusi tentang hasil jawaban/pemecahan semua masalah, pada masing-masing surat yang terdapat pada amplop,yang telah didiskusikan bersama kelompok ahli.  Peneliti bersama siswa membahas lembar kerja.  Peneliti mengadakan permainan adu cepat memasang jawaban pada bagan struktur organisasi pemerintahan kabupaten/kota.  Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.  Siswa mengerjakan evaluasi secara individu kemudian dibahas bersama-sama. 3) Pengamatan/observasi siklus II Observasi ini dilakukan pada saat proses pembelajaran siklus II berlangsung. Observasi ini dilaksanakan berdasarkan lembar pengamatan yang telah disiapkan. Data yang peroleh dari observasi pada siklus II dikumpulkan untuk dijadian sebagai bahan refleksi. 4) Refleksi siklus II Pada akhir pembelajaran siklus II diadakan refleksi terhadap kegiatan tindakan yang telah dilakukan. Refleksi dilakukan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil observasi. Dari hasil refleksi akan diketahui kelebihan dan kekurangan hasil pelaksanaan tindakan pada siklus II. Apabila hasil yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan siklus II maih belum memuaskan, maka dapat dilaksanakan siklus III dan seterusnya. HASIL PENELITIAN 1. Penelitian Pra Tindakan Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa proses pembelajaran menggu-nakan pendekatan tradisional, yakni seorang guru secara aktif mengajarkan materi PKn, kemudian memberikan soal-soal dan latihan masih menekankan pada hafalan. Data hasil belajar siswa seperti yang terdapat pada tabel berikut: Tabel 4.1 Hasil Belajar Siswa Sebelum Pelaksanaan Tindakan No Nama Siswa Nilai Ketuntasan T BT 1. M. Muklis Hidayat 40 Belum Tuntas 2. Septi Ika Setyowati 40 Belum Tuntas 3. Yofi Yolanda 50 Belum Tuntas 4. Alroy Eko Ardinto 60 Belum Tuntas 5. Andre Baruna A. 60 Belum Tuntas 6. Angga Riski Hartiana 65 Tuntas 7. Anggi Anggraini 70 Tuntas 8. Aries Fajar Subeqi 70 Tuntas 9. Boby Hermawan 75 Tuntas 10. Desi Wahyuningsih 50 Belum Tuntas 11. Devita Dwi Lisanda 55 Belum Tuntas 12. Dian Puji Astuti 70 Tuntas 13. Elok Aprilia 40 Belum Tuntas 14. Frida Wahyu H. 50 Belum Tuntas 15. Inti Ginartyas 55 Belum Tuntas 16. Kevin Baruna A. 70 Tuntas 17. M. Ardan Dwicahya 50 Belum Tuntas 18. M. Abdul Gafur 75 Tuntas 19. Niken Dwi Ratnasari 45 Belum Tuntas 20. Novriyan Isroq A. 40 Belum Tuntas 21. Reza Nurbangga H.A 60 Belum Tuntas 22. Wahyu Ryan W. 45 Belum Tuntas 23. Reza Lutvi Andika 70 Tuntas 24. Satria Sabilillah 75 Tuntas Jumlah 1380 9 15 Rata-rata 57,5 % Ketuntasan 37,5% 62,5% Dari tabel 4.1 di atas, dapat dijelaskan bahwa pembelajaran PKn yang dilakukan guru kelas IV pada tahap pra tindakan (sebelum menggunakan model pemebalajaran kooperatif Jigsaw) belum berhasil. Hal ini dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa dari pembelajaran tersebut. Dari KKM yang ditentukan, yaitu 65, yang memperoleh nilai di atas KKM hanya 9 siswa sedangkan 15 siswa yang lain nilainya masih berada di bawah KKM. Rata-rata nilai keseluruhan siswa hanya 57,5. Itu berarti skor ketuntasan siswa kelas IV hanya 37,5% dari batas minimal ketuntasan rata-rata satu kelas, yaitu 70%. Berdasarkan data yang telah diperoleh dalam observasi kegiatan pembelajaran pada tahap pra tindakan, maka refleksi pada kegiatan ini yaitu: (1) proses belajar mengajar berlangsung dengan berpusat pada guru, (2) soal-soal yang diberikan guru pada kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung hanya berpusat pada buku paket, (3) guru belum menggunakan metode pembelajaran yang kreatif dan inovatif yang dapat membangkitkan aktifitas siswa dalam pembelajaran, (4) sumber utama belajar adalah guru, (5) hasil belajar yang diperoleh siswa tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan yaitu skor minimal 65. Dari hasil analisis refleksi pada tahap ini, maka perlu diadakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw pada siklus I dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa terkait dengan materi pemerintahan kabupaten dan kota. 2. Penelitian Siklus I a. Perencanaan Tindakan Siklus I Perencanaan ini dilakukan berdasarkan refleksi pada tahap pra tindakan. Kegiatan perencanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut: peneliti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) PKn dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Peneliti menyiapkan rangkuman materi tentang pemerintahan kabupaten/kota. Peneliti menyiapkan media yang akan digunakan dalam pembelajaran, yaitu berupa struktur pemerintahan kabupaten/kota pada kertas manila. Peneliti membuat lembar kerja siswa (LKS) yang terdiri dari 4 soal uraian dan evaluasi untuk masing-masing siswa yang terdiri dari 5 soal uraian. peneliti membuat format penilaian LKS dan evaluasi siswa, dan peneliti menyusun lembar observasi yang terdiri dari penilaian kemampuan bekerjasama dalam mengerjakan soal secara kelompok, penilaian keberanian siswa dalam bertanya dan mengungkapkan pertanyaan, penilaian keaktifan siswa ketika mengikuti pembelajaran, penilaian ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, penilaian sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan penilaian ketepatan jawaban siswa. b. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pertemuan pada siklus I dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 07 Januari 2010, materi yang disampaikan adalah pemerintahan kabupaten/kota. Pelaksanaan tindakan siklus I ini peneliti bertindak sebagai guru yang dibantu oleh seorang observer yaitu guru kelas IV. Pada pertemuan ini guru mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Rencana yang telah disusun kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan c. Observasi Observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Objek yang diobservasi adalah siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan yang berjumlah 24 siswa. Dalam melaksanakan kegiatan observasi ini, peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV sebagai mitra yang bertugas mencatat kelebihan ataupun kekurangan peneliti dalam melaksanakan pembelajaran dan mencatat segala hal yang dapat diamati, baik itu kegiatan siswa ketika di dalam kelas ataupun kegiatan guru ketika mengajar yang nantinya dijadikan sebagai catatan lapangan. Selama kegiatan kerja kelompok berlangsung guru secara teratur berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Guru juga memberikan motivasi pada beberapa siswa yang kurang aktif bekerja sama dalam kelompoknya. Pada kegiatan akhir pembelajaran guru memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan segala sesuatu terkait dengan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hal ini memberikan kesempatan pada siswa untuk mengekspresikan idenya terkait dengan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari hasil pembelajaran pada siklus I diperoleh data tentang kegiatan siswa selama pelajaran berlangsung. Pada saat siswa mengerjakan lembar kerja kelompok, guru menilai kegiatan siswa yang terdiri dari beberapa aspek yaitu, kerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, keaktifan siswa dalam pembelajaran, keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan guru dan mengungkapkan pendapat, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut. Tabel 4.2 Penilaian Kegiatan Siswa Pada Siklus I No Aspek yang Diamati Kriteria Penilaian Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 1. Kerjasama 7 8 7 2 - 2. Keaktifan 7 7 8 2 - 3. Keberanian 5 9 5 5 4. Menghargai pendapat teman - 7 7 8 2 5. Ketepatan jawaban 2 10 5 5 2 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang kerjasamanya sangat baik ada 7 siswa, yang skornya baik 8 siswa, cukup 7 siswa dan yang kerjasamanya masih kurang hanya ada 2 siswa. Pada aspek keaktifan, siswa yang sangat aktif dalam pembelajaran ada 7 siswa, yang mendapat skor baik ada 7 siswa, yang skornya cukup ada 8 siswa, dan yang mendapat skor kurang ada 2 siswa. Pada aspek keberanian, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 5 siswa, skor baik ada 9 siswa, skor cukup ada 5 siswa, dan siswa yang skornya masih kurang ada 5 siswa. Pada aspek menghargai pendapat teman, tidak ada siswa yang mendapat skor sangat baik. Siswa yang mendapat skor baik ada 7 siswa, yang mendapat skor cukup ada 7 siswa, skor kurang ada 8 siswa, dan siswa yang mendapat skor sangat kurang atau sama sekali tidak menghargai pendapat teman ada 2 siswa. Pada aspek ketepatan dalam mengerjakan tugas, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 2 siswa, skor baik ada 10 siswa, skor cukup ada 5 siswa, skor kurang ada 5 siswa, dan siswa yang mendapat skor sangat kurang hanya ada 2 siswa. Pada pembelajaran siklus I diperoleh nilai dari tugas yang diberikan oleh guru kelas IV secara kelompok maupun individu. Hasil nilai lembar kerja siswa yang dikerjakan secara kelompok baik kelompok ahli maupun kelompok asal tersebut dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut. Tabel 4.3 Penilaian Lembar Kerja Siswa Pada Siklus I No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 T BT 1. M. Muklis Hidayat 10 20 15 15 60 BT 2. Septi Ika Setyowati 10 20 15 15 60 BT 3. Yofi Yolanda 10 20 15 15 60 BT 4. Alroy Eko Ardinto 10 20 15 15 60 BT 5. Andre Baruna A. 20 15 15 20 70 T 6. Angga Riski Hartiana 20 15 15 20 70 T 7. Anggi Anggraini 20 15 15 20 70 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 15 15 20 70 T 9. Boby Hermawan 20 15 20 20 75 T 10. Desi Wahyuningsih 20 15 20 20 75 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 15 20 20 75 T 12. Dian Puji Astuti 20 15 20 20 75 T 13. Elok Aprilia 10 20 20 15 65 T 14. Frida Wahyu H. 10 20 20 15 65 T 15. Inti Ginartyas 10 20 20 15 65 T 16. Kevin Baruna A. 10 20 20 15 65 T 17. M. Ardan Dwicahya 25 10 20 15 70 T 18. M. Abdul Gafur 25 10 20 15 70 T 19. Niken Dwi Ratnasari 25 10 20 15 70 T 20. Novriyan Isroq A. 25 10 20 15 70 T 21. Reza Nurbangga H.A 20 20 10 10 60 BT 22. Wahyu Ryan W. 20 20 10 10 60 BT 23. Reza Lutvi Andika 20 20 10 10 60 BT 24. Satria Sabilillah 20 20 10 10 60 BT Jumlah 420 400 400 380 1600 16 8 Rata-rata 67 Keterangan: T : Tuntas BT : Belum Tuntas Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar dalam mengerjakan lembar kerja kelompok sebanyak 20 siswa dari 24 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar hanya 8 siswa dari 24 siswa. Rata-rata nilai pada lembar keja kelompok adalah 67. Hal tersebut menunjukkan nilai yang diperoleh dalam kerja kelompok sudah di atas KKM yang ditetapkan yaitu 65. Sedangkan hasil nilai belajar siswa pada lembar evaluasi yang dikerjakan secara individu dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut. Tabel 4.4 Penilaian Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 5 T BT 1. M. Muklis Hidayat 5 5 10 10 10 40 BT 2. Septi Ika Setyowati 10 10 10 10 10 50 BT 3. Yofi Yolanda 20 10 10 15 15 70 T 4. Alroy Eko Ardinto 10 20 15 20 5 70 T 5. Andre Baruna A. 20 10 20 10 20 80 T 6. Angga Riski Hartiana 20 20 20 10 15 85 T 7. Anggi Anggraini 20 10 20 10 20 80 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 20 10 20 20 90 T 9. Boby Hermawan 20 20 20 20 20 100 T 10. Desi Wahyuningsih 20 20 20 15 20 95 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 20 20 10 20 90 T 12. Dian Puji Astuti 10 10 20 10 20 70 T 13. Elok Aprilia 10 10 15 15 10 60 BT 14. Frida Wahyu H. 10 10 10 10 10 50 BT 15. Inti Ginartyas 20 10 10 15 15 70 T 16. Kevin Baruna A. 20 15 15 20 20 90 T 17. M. Ardan Dwicahya 15 15 10 15 20 75 T 18. M. Abdul Gafur 10 10 10 15 15 60 BT 19. Niken Dwi Ratnasari 10 10 10 15 10 55 BT 20. Novriyan Isroq A. 20 15 10 10 20 75 T 21. Reza Nurbangga H.A 20 20 20 20 20 100 T 22. Wahyu Ryan W. 15 20 20 15 20 90 T 23. Reza Lutvi Andika 10 10 15 15 10 60 BT 24. Satria Sabilillah 20 15 15 10 10 70 T Jumlah 375 335 355 335 375 1775 17 7 Rata-rata 74 % Ketuntasan 71% 29% Keterangan: T : Tuntas BT : Belum tuntas Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas belajar sejumlah 17 siswa atau 71% dari jumlah keseluruhan siswa yaitu 24 siswa. Siswa yang belum tuntas belajar sejumlah 7 siswa atau 29% dari 24 siswa. Nilai rata-rata kelas yaitu 74 dan sudah melebihi KKM yang ditetapkan, yaitu 65 Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan sudah berhasil karena siswa yang tuntas belajar sudah mencapai 70% lebih. Jika dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar baik secara individu ataupun secara klasikal. Peningkatan penguasaan pemahaman pada materi ini terlihat dari ketuntasan siswa baik ketuntasan individu ataupun ketuntasan secara klasikal yang telah ditetapkan. d. Refleksi Dari penelitian tindakan pada siklus I diperoleh beberapa temuan, diantaranya: (a) adanya siswa yang kurang bekerja sama dan pasif selama kegiatan pembelajaran berlangsung ataupun pada saat kerja kelompok. Hal ini dikarenakan selama ini siswa terbiasa dengan bekerja secara individu, sehingga kegiatan seperti ini dapat membuat siswa cenderung bersifat egois dan kurang menghargai pendapat orang lain, (b) siswa telah memahami konsep yang dipelajari, hanya saja siswa belum terbiasa menerapkan kerja kelompok, (c) siswa mampu memahami materi yang dipelajari karena kegiatan pembelajaran berlangsung dengan melibatkan pengalaman siswa, sehingga siswa mudah untuk menerima dan memahami materi yang dipelajari, (d) siswa telah memahami materi yang dipelajari, namun siswa kurang teliti dalam menjawab soal-soal yang diberikan, sehingga jawaban yang seharusnya tepat menjadi salah. Alangkah baiknya apabila siswa diingatkan untuk menulis jawabannya secara tepat dan teliti. Hal ini dilakukan agar siswa lebih teliti dalam mengisi jawaban yang ditulisnya, karena pada umumnya siswa sekarang selalu tegesa-gesa mengerjakan dan kurang memperhatikan ketepatan penulisan jawaban, (e) siswa kurang memaknai belajar dengan menggunakan pengalaman dan media. Penyebabnya adalah karena siswa terbiasa untuk belajar dengan mendengarkan penjelasan guru tanpa menggunakan pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Hasil refleksi dan temuan pada pelaksanaan tindakan dalam siklus I digunakan sebagai bahan acuan untuk membuat rancangan siklus berikutnya yaitu siklus II. Penelitian Siklus II a. Perencanaan Tindakan Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, peneliti merencanakan tindakan berikutnya yang dijabarkan pada siklus II. Pada siklus II ini yang akan dibahas adalah masalah-masalah yang dianggap belum tuntas pada siklus I. b. Pelaksanaan tindakan Siklus II dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 14 Januari 2010. Materi pokok yang disampaikan adalah Pemerintahan Kabupaten/Kota. Pelaksanaan tindakan siklus II ini peneliti bertindak sebagai guru yang dibantu oleh seorang observer yaitu guru kelas IV. Pada pertemuan ini guru mengajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Rencana yang telah disusun dalam perencanaan tindakan siklus II kemudian dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan. c. Observasi Observasi ini dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Objek yang diobservasi adalah siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan yang berjumlah 24 siswa. Dalam melaksanakan kegiatan observasi ini, peneliti bekerjasama dengan guru kelas IV sebagai mitra yang bertugas mencatat kelebihan ataupun kekurangan peneliti dalam melaksanakan pembelajaran dan mencatat segala hal yang dapat diamati, baik itu kegiatan siswa ketika di dalam kelas ataupun kegiatan guru ketika mengajar yang nantinya dijadikan sebagai catatan lapangan. Hasil observasi selama proses pembelajaran antara lain adalah siswa begitu antusias mengikuti pemebelajaran. Semua siswa memperhatikan pelajaran dengan baik. Dalam kegiatan kelompok siswa telah berkolaborasi dengan seluruh anggota kelompok baik dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, tidak nampak siswa yang pasif dalam kerja kelompok. Setiap guru memberikan sebuah permasalahan dan siswa dapat menjawabnya dengan tepat guru memberikan pujian pada siswa tersebut. Pada saat permainan adu cepat menentukan waktu, siswa begitu semangat untuk bekerja menyelesaikan tugas yang diberikan. Kegiatan pembelajaran berlangsung menyenangkan. Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat dilihat pada lampiran 5 halaman 113. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa guru telah melaksanakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan baik. Semua aspek kegiatan dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw telah dilakukan guru dengan baik sesuai dengan RPP yang telah direncanakan. Dari hasil pembelajaran pada siklus I diperoleh data tentang kegiatan siswa selama pelajaran berlangsung. Pada saat siswa mengerjakan lembar kerja kelompok, guru menilai kegiatan siswa yang terdiri dari beberapa aspek yaitu, kerjasama dalam mengerjakan tugas kelompok, keaktifan siswa dalam pembelajaran, keberanian siswa dalam bertanya, menjawab pertanyaan guru dan mengungkapkan pendapat, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian kegiatan siswa tersebut dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut. Tabel 4.5 Penilaian Kegiatan Siswa Pada Siklus I No Aspek yang Diamati Kriteria Penilaian Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 1. Kerjasama 10 8 3 - - 2. Keaktifan 12 10 2 - - 3. Keberanian 9 10 5 - - 4. Menghargai pendapat teman 5 10 9 - - 5. Ketepatan jawaban 8 9 7 - - Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa siswa yang kerjasamanya sangat baik meningkat menjadi 10 siswa, yang skornya baik 8 siswa, cukup 3 siswa. Pada aspek keaktifan, siswa yang sangat aktif dalam pembelajaran ada 12 siswa, yang mendapat skor baik ada 10 siswa, yang skornya cukup ada 2 siswa. Pada aspek keberanian, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 9 siswa, skor baik ada 10 siswa, skor cukup tetap 5 siswa. Pada aspek menghargai pendapat teman, siswa yang mendapat skor sangat baik ada 5 siswa, pdahal pada siklus I masih kosong. Siswa yang mendapat skor baik ada 10 siswa, yang mendapat skor cukup ada 9 siswa. Pada aspek ketepatan dalam mengerjakan tugas, siswa yang mendapat skor sangat baik 8 siswa, siswa yang mendapat skor baik ada 9 siswa, skor cukup ada 7 siswa. Hasil nilai lembar kerja siswa yang dikerjakan secara kelompok dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut. Tabel 4.6 Penilaian Lembar Kerja Siswa Pada Siklus II No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 T BT 1. M. Muklis Hidayat 15 25 20 10 70 T 2. Septi Ika Setyowati 15 25 20 10 70 T 3. Yofi Yolanda 15 25 20 10 70 T 4. Alroy Eko Ardinto 15 25 20 10 70 T 5. Andre Baruna A. 20 20 25 10 75 T 6. Angga Riski Hartiana 20 20 25 10 75 T 7. Anggi Anggraini 20 20 25 10 75 T 8. Aries Fajar Subeqi 20 20 25 10 75 T 9. Boby Hermawan 20 20 20 20 80 T 10. Desi Wahyuningsih 20 20 20 20 80 T 11. Devita Dwi Lisanda 20 20 20 20 80 T 12. Dian Puji Astuti 20 20 20 20 80 T 13. Elok Aprilia 15 20 20 15 70 T 14. Frida Wahyu H. 15 20 20 15 70 T 15. Inti Ginartyas 15 20 20 15 70 T 16. Kevin Baruna A. 15 20 20 15 70 T 17. M. Ardan Dwicahya 25 20 20 20 85 T 18. M. Abdul Gafur 25 20 20 20 85 T 19. Niken Dwi Ratnasari 25 20 20 20 85 T 20. Novriyan Isroq A. 25 20 20 20 85 T 21. Reza Nurbangga H.A 10 25 15 15 65 BT 22. Wahyu Ryan W. 10 25 15 15 65 BT 23. Reza Lutvi Andika 10 25 15 15 65 BT 24. Satria Sabilillah 10 25 15 15 65 BT Jumlah 420 520 480 360 1780 20 4 Rata-rata 74 Keterangan: T : Tuntas BT : Belum Tuntas Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar dalam mengerjakan lembar kerja siswa hanya ada 20 siswa dari 24 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 4 siswa dari jumlah siswa secara keseluruhan. Rata-rata nilai kerja kelompok dalam satu kelas ada 74. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata yang semula hanya 67 pada siklus I menjadi 74 pada siklus II. Hasil belajar siswa diperoleh dari nilai lembar evaluasi dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut. Tabel 4.7 Penialaian Hasil Belajar Siswa dalam Siklus II No Nama Siswa Skor tiap soal Nilai Ketuntasan 1 2 3 4 5 T BT 25. M. Muklis Hidayat 20 20 15 20 10 85 T 26. Septi Ika Setyowati 20 10 20 10 20 80 T 27. Yofi Yolanda 20 20 20 10 10 80 T 28. Alroy Eko Ardinto 20 10 20 15 20 85 T 29. Andre Baruna A. 20 20 20 20 20 100 T 30. Angga Riski Hartiana 20 20 20 20 20 100 T 31. Anggi Anggraini 20 20 20 15 20 95 T 32. Aries Fajar Subeqi 20 20 20 10 20 90 T 33. Boby Hermawan 10 10 20 15 20 75 T 34. Desi Wahyuningsih 20 15 15 20 10 80 T 35. Devita Dwi Lisanda 10 10 15 10 15 60 BT 36. Dian Puji Astuti 20 10 15 15 15 75 T 37. Elok Aprilia 20 15 15 20 20 90 T 38. Frida Wahyu H. 15 15 10 20 20 80 T 39. Inti Ginartyas 10 10 10 15 15 60 BT 40. Kevin Baruna A. 15 15 10 15 15 70 T 41. M. Ardan Dwicahya 20 15 15 10 20 80 T 42. M. Abdul Gafur 20 20 20 20 20 100 T 43. Niken Dwi Ratnasari 20 20 20 20 20 100 T 44. Novriyan Isroq A. 10 20 15 20 20 85 T 45. Reza Nurbangga H.A 20 15 15 20 10 80 T 46. Wahyu Ryan W. 20 20 15 20 10 85 T 47. Reza Lutvi Andika 20 10 20 10 20 80 T 48. Satria Sabilillah 20 20 20 10 10 80 T Jumlah 430 385 390 380 410 1995 22 2 Rata-rata 83 % Ketuntasan 92% 8% Keterangan: T : Tuntas BT : Belum tuntas Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa dari 24 siswa, 22 siswa telah dikategorikan tuntas belajar dengan kriteria ketuntasan individu 60%. Sedangkan ketuntasan kelas yang diharapkan adalah 70% telah tercapai 92%. Rata-rata nilai kelasnya juga mengalami peningkatan. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas 74 mengalami peningkatan pada siklus II yaitu 83. Nilai tertinggi pada siklus ini terdapat paa rentangan 85-100, sedangkan nilai terendah terdapat pada rentangan 55-60. Siswa yang belum tuntas belajar hanya ada 2 siswa atau 8% dari jumlah siswa secara keseluruhan. Apabila dibandingkan dengan siklus I telah terjadi peningkatan ketuntasan belajar baik secara individu ataupun secara klasikal. Peningkatan pemahaman konsep pada materi ini terlihat dari ketuntasan siswa baik ketuntasan individu ataupun ketuntasan secara klasikal yang telah ditetapkan. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa pembelajaran siklus II telah berhasil. d. Refleksi Siswa yang sebelumnya kurang aktif dan siswa yang membuat keramaian, pada pelaksanaan siklus II ini sikap mereka berubah. Siswa yang sebelumnya cenderung kurang aktif mulai aktif dengan kelompoknya, menggunakan media yang digunakan guru, dan bekerja sama dengan kelompoknya. Sedangkan siswa yang ramai saat kerja kelompok telah merubah sikapnya dengan ikut aktif bekerjasama dalam kelompok. Setiap anggota kelompok mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari guru bahwa dengan bekerja sama siswa akan dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru dengan cepat dan mudah. Siswa mampu memahami materi yang disampaikan, mampu menjawab soal-soal yang diberikan guru dengan melibatkan pengalamannya, berkolaborasi dengan teman satu kelompok dan melaporkan hasil kerja kelompoknya, mengevaluasi hasil kerja sendiri ataupun kelompok lain. 3. Peningkatan Hasil Belajar Dari Pra Tindakan Sampai Siklus III Pada tahap pra tindakan yang dilakukan oleh guru kelas IV, sama sekali tidak menerapkan metode pembelajaran yang menyenagkan dan menarik perhatian siswa. Pada tindakan siklus I, peneliti mulai menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw akan tetapi belum mencapai hasil yang maksimal maksimal. Pada tindakan siklus II, peneliti menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw yang dikombinasi dengan suatu permainan yang membangkitkan antusias murid dalam pembelajaran. Berikut ini adalah rekapitulasi hasil belajar siswa pada tahap pra tindakan, siklus I, siklus II, dan siklus III. Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa Pada Pra Tindakan, Siklus I, Siklus II Kegiatan Tuntas Belajar Belum Tuntas Persentase Ketuntasan Pra Tindakan 9 siswa 15 siswa 37,5% Siklus I 17 siswa 7 siswa 71% Siklus II 22 siswa 2 siswa 92% Berdasarkan tabel di atas ketuntasan belajar siswa pada tahap pra tindakan adalah 37,5% atau hanya 9 siswa yang tuntas belajar. Sedangkan siswa yang belum tuntas belajar sehingga mengalami perbaikan ada 15 siswa. Setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada siklus I oleh peneliti, terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa. Sebanyak 71% atau 17 dari 24 siswa telah tuntas belajar. Pada pembelajaran siklus I ini peneliti melakukan 7 kali penilaian, yang meliputi penilaian LKS, evaluasi, kerjasama siswa, keberanian siswa dalam bertanya, keaktifan dalam mengikuti pembelajaran, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban siswa. Pada pelaksanaan tindakan siklus II mengalami peningkatan lebih baik dibandingkan pada pelaksanaan tindakan siklus I. Nilai rata-rata kelas pada kegiatan evaluasi dari 74 pada siklus I meningkat menjadi 84 pada siklus II. Nilai hasil belajar juga mengalami peningkatan sebesar 21% yaitu dari 71% menjadi 92% pada siklus II. Siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa dan siswa yang belum tuntas belajar hanya ada 2 siswa. Siswa juga menjadi lebih aktif dan antusias mengikuti pembelajaran dari kegiatan awal hingga akhir. Pada siklus II, tidak siswa yang mendapat skor kurang ataupun sangat kurang pada penilaian prosesnya. Guru juga telah menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan baik. Semua kegiatan pembelajaran dari awal hingga akhir sudah sesuai dengan RPP yang telah direncanakan sebelum pembelajaran berlangsung. Semua aspek dalam model pembelajaran kooperatif Jigsaw telah dilaksanakan dengan baik. Dari hasil tersebut, dapat diketahui bahwa semangat siswa dalam belajar dapat meningkat dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran searta bersedia mendengarkan penjelasan guru dan melakukan kerjasama yang baik dengan teman-temannya. Setiap tugas yang diberikan guru mampu dilaksanakan siswa dngan baik, meskipun masih ada siswa yang kurang aktif tetapi jumlahnya sangat sedikit. PEMBAHASAN 1. Pelaksanaan Pembelajaran Pada Tahap Pra Tindakan Hasil pelaksanaan pembelajaran Pkn pada pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan pada tahap pra tindakan menunjukkan proses pembelajaran masih bersifat tradisional. Guru tidak membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebelum pembelajaran dimulai. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa terlihat malas/tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Banyak siswa yang mengantuk dan tidak bersemangat karena guru lebih sering lebih sering menggunakan metode ceramah, sehingga proses pembelajaran hanya terjadi satu arah yaitu dari guru kepada siswa karena pembelajaran berpusat pada guru. Siswa cenderung pasif dalam pembelajaran. Kegiatan siswa hanya mendengar, mencatat, dan mengerjakan soal/latihan yang diberikan guru. Kekurangan lain pada metode ceramah ini seperti yang dikemukakan Sumantri, dkk (1988:139), yaitu dapat menimbulkan kejenuhan peserta didik dan tidak merangsang kreativitas peserta didik. Guru hanya berpedoman pada buku paket dan tidak menggunakan berbagai sumber ilmu lainnya apalagi memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar bagi siswa. Kekurangan metode ceramah ini dapat ditutupi dengan penggunaan metode yang bervariasi. Tujuannya adalah supaya siswa tidak merasa bosan dan tertarik terhadap pembelajaran yang dilakukan. Dengan penggunaan mtode yang tepat, siswa dapat membangun konsep sendiri. Hal ini sesuai dengan teori belajar Piaget (dalam Hamalik, 1994:131) yang berbasis konstruktivisme, yaitu membangun konsep sendiri melalui pengalaman langsung (belajar penemuan). Pengalaman itu dapat siswa peroleh dari lingkungan sekitar ataupun media yang digunakan sebagai sumber belajar dalam pembelajaran. Pada pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV menunjukkan bahwa guru tidak menggunakan media sebagai sarana untuk menyampaikan informasi. Oleh sebab itu siswa kurang dapat menerima pelajaran yang disampaikan dengan baik karena siswa belum mengerti maksud dari pembelajaran tersebut. Hal ini dikarenakan siswa kelas IV SD yang berada pada rentang umur 9-10 tahun masih berada pada tahap berpikir operasionl konkrit yaitu siswa berpikir melalui apa yang dilihatnya. Penggunaan media terutama benda nyata sangat dianjurkan dalam dunia pendidikan untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi serta mempermudah siswa dalam menerima pelajaran. Manfaat lain dari media seperti yang dikemukakan oleh Sadiman, dkk (2006:17), yaitu dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan), mengatasi sifat pasif anak didik, menimbulkan kegairahan belajar, dan memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan. Dari hasil observasi awal pada tahap pra tindakan diperoleh data bahwa siswa tidak menunjukkan kerjasama dalam pembelajaran. Hal ini dikarenakan guru tidak membentuk kelompok untuk mengadakan diskusi. Guru hanya memberikan tugas individu kepada siswa. Keberanian siswa juga belum tampak karena siswa tidak diberi kesempatan untuk bertanya. Keaktifan siswa juga kurang karena guru hanya menggunakan metode ceramah di dalam melaksanakan pembelajaran. Sedangkan untuk soal yang dikerjakan siswa, guru hanya meneliti sekilas tanpa memberikan skor untuk ketelitian, dan ketepatan jawaban siswa. Penilaian yang dilakukan guru hanya penilaian dari tugas yang diberikan. Hasil dari tugas tersebut menunjukkan nilai yang diperoleh siswa sangat kurang, yaitu nilai rata-rata satu kelas hanya mencapai 57,5. Hal ini dapat disebabkan karena guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Untuk memperbaiki hasil belajar siswa, maka peneliti melakukan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw sebagai sarana untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga hasil belajarnya juga akan meningkat. 2. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Pada Pelajaran PKn di Kelas IV a. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus I ini sudah menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw. Kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran Jigsaw menjadikan siswa lebih aktif dalam pembelajaran terutama pada saat diskusi kelompok. Hal ini nampak dari antusias yang ditunjukkan siswa ketika melakukan diskusi kelompok dengan kelompok ahli maupun dengan kelompok asalnya . Setiap kelompok ahli mampu menjawab pertanyaan (memecahkan masalah) yang diberikan, sehingga ketika kembali pada kelompok asalnya, siswa mampu menjelaskan/ mengajarkannya pada siswa yang lain di kelompok asalnya. Selama kegiatan kerja kelompok berlangsung guru secara teratur berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Guru juga memberikan motivasi pada beberapa siswa yang kurang aktif bekerja sama dalam kelompoknya. Ketika melakukan pembelajaran, peneliti melakukan observasi untuk menilai aktivitas siswa yang meliputi: kerjasama, keberanian, keaktifan, ketelitian, sikap siswa, dan ketepatan jawaban. Kerjasama ini bertujuan untuk membangun jiwa sosial siswa dalam berhubungan dengan teman ataupun orang lain. Keberanian yang dimaksud pada observasi ini adalah keberanian dalam bertanya, mengungkapkan pendapat dan menjawab pertanyaan dari guru. Tujuannya adalah untuk membangun keberanian siswa dalam berpendapat. Penilaian keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran bertujuan untuk melihat seberapa besar perhatian siswa terhadap pembelajaran dari awal sampai akhir. Penilaian ketelitian ini bertujuan untuk meningkatkan ketelitian siswa dalam mengerjakan soal. Peneliti juga melakukan penilaian terhadap siskap siswa dalam menghargai pendapat temannya. Penilaian ini bermanfaat untuk melatih sikap moral siswa untuk selalu menghargai pendapat teman dalam kehidupan sehari-hari terutama pada saat bermusyawarah. Selain itu, aspek terakhir yang dinilai adalah kebenaran jawaban. Dalam hal ini yang dinilai hanya jawaban akhir saja tanpa melihat cara yang digunakan siswa dalam mengerjakan soal. Dari hasil penelitian pada sikus I dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw ternyata ada peningkatan nilai dari pembelajaran sebelumnya (sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw). Demikian juga pada keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapat, kerjasama siswa dalam mengerjakan soal, ketelitian siswa dalam mengerjakan soal, sikap siswa dalam menghargai pendapat teman, dan ketepatan jawaban juga mengalami peningkatan. Peningkatan nilai kerjasama siswa mencapai 64%, prosentase keaktifan siswa hanya 63%, prosentase keberanian siswa 60%, prosentase ketelitian siswa dalam mengerjakan soal hanya mencapai 54%, prosentase untuk sikap siswa dalam mengahargai pendapat teman dan ketepatan dalam nejawab pertanyaan nilainya sama yaitu hanya 51%. Akan tetapi dari data tersebut dapat diketahui bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran masih sangat rendah karena nilai rata-rata yang diperoleh masih kurang dari standar yang telah ditentukan, yaitu 70%. Sedangkan peningkatan nilai dari tes dapat diketahui dari nilai rata-rata siswa pada lembar kerja siswa yaitu 67 dan sebanyak 20 siswa atau 67% dari 24 siswa yang tuntas belajar. Nilai rata-rata siswa pada evaluasi adalah 74 dan sebanyak 17 atau 71% siswa yang tuntas belajar. Siswa dikategorikan tuntas belajar apabila sudah mencapai nilai KKM, yaitu 65. Adapun prinsip belajar tuntas pada materi pemerintahan kabupaten/kota ini adalah setiap siswa tuntas jika dapat mencapai hasil yang telah ditetapkan, yaitu 65 dalam menyelesaikan materi tersebut. Hal ini sesuai dengan teori belajar tuntas menurut Suryosubroto (2002:96) yang mengatakan bahwa ”belajar tuntas adalah belajar yang dilakukan dengan sistem pengajaran yang tepat semua siswa dapat belajar dengan hasil yang baik dari hampir seluruh materi pelajaran yang diajarkan”. Peneliti menyadari bahwa pada tindakan siklus I ini masih banyak hal yang harus dilakukan dan perlu ditingkatkan pada siklus berikutnya salah satunya adalah belum tercapainya ketuntasan belajar secara klasikal. Hasil refleksi dan temuan pada pelaksanaan tindakan dalam siklus I digunakan sebagai bahan acuan untuk membuat rancangan siklus berikutnya yaitu siklus II. b. Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pada pelaksanaan tindakan siklus II ini peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dengan diselingi permainan/game dalam penerapannya. Dalam pembelajaran siklus II ini, peneliti menggunakan media berupa empat amplop yang berisi soal yang berbeda untuk tiap siswa dalam satu kelompok yang nantinya dipecahkan bersama kelompok ahli. Media ini adalah media untuk permainan sehingga pembelajaran akan lebih menyenangkan. Dari hasil tindakan siklus II ini dapat diketahui nilai rata-rata siswa pada lembar kerja siswa adalah 74 dan ada 83% atau sebanyak 20 siswa yang tuntas belajar. Nilai rata-rata siswa pada evaluasi adalah 83 dan ada 92% atau sebanyak 22 siswa yang tuntas belajar. Ini berarti ada peningkatan nilai dari tindakan siklus I dengan pembelajaran pada tindakan siklus II. Peningkatan ini dapat terjadi karena peneliti telah menggunakan model pembelajaran Jigsaw dengan suatu permainan. Sedangkan untuk hasil observasi siswa sudah menunjukkan bahwa siswa sudah aktif dalam mengikuti pelajaran, adanya kerjasama yang baik antarsiswa, mereka juga sudah cukup berani dalam bertanya, menjawab pertanyaan dari guru, dan mengungkapkan pendapat. Dalam ketepatan menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru, siswa sudah mengalami peningkatan dari siklus I. Hal ini dapat dilihat dari nilai masing-masing aspek sudah lebih dari 70% dari skor maksimal yaitu 72. Nilai kerjasama siswa dalam mengerjakan tugas kelompok sudah cukup baik yaitu mencapai 89% dari skor maksimal. Nilai keseluruhan dalam satu kelas untuk aspek keaktifan sudah mencapai 85%. Itu menunjukkan bahwa siswa sudah aktif dalam mengikuti pembelajaran. Untuk 4 aspek yang lain, nilai keseluruhan untuk satu kelas sudah cukup baik, yaitu 71% dan 72% nilai keseluruhan yaitu 72. Selain penggunaan model pembelajaran kooperatif Jigsaw, ternyata metode permainan yang digunakan oleh peneliti dapat merangsang kreativitas siswa, membuat suasana pembelajaran menjadi tidak membosankan dan meningkatkan kerjasama dalam kelompok. Kenyataan ini sesuai dengan pendapat Sadiman (2006:17) tentang ”fungsi permainan dalam pembelajaran, yaitu untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan”. 3. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PKn Dari tabel 4.8, dapat diketahui bahwa semangat siswa dalam belajar meningkat sehingga berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Hal ini disebabkan karena peneliti telah menerapkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw dalam pembelajaran PKn dengan baik. Pada siklus I, penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw tidak dikombinasikan dengan kegiatan permaianan. Pada siklus II, penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw diselingi dengan permainan adu kecepatan waktu sehingga siswa lebih bersemangat dalam pembelajaran. Dalam setiap tindakan siklus I dan II menunjukkan adanya peningkatan pemahaman terhadap materi Pemerintahan Kabupaten/Kota yang sekaligus berimbas pada peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pelajaran PKn. Pembelajaran juga berlangsung aktif dan menyenangkan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas ini, dapat diperoleh beberapa kesimpulan antara lain: 1. Hasil belajar PKn pada pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan pada tahap pra tindakan belum mengalami ketuntasan belajar karena kurang dari 50% siswa yang mampu mencapai batas nilai KKM, yaitu 65. Siswa belum dapat melakukan kerjasama yang baik dengan teman dan tidak bersemangat dalam pembelajaran. 2. Penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw pada pelajaran PKn pokok bahasan pemerintahan kabupaten/kota di kelas IV SDN 01 Rejotangan kecamatan Rejotangan kabupaten Tulungagung terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap pra tindakan hanya 37,5% atau 9 siswa yang tuntas belajar. Sedangkan pada siklus I sebanyak 71 % atau 17 siswa dan pada siklus II sebanyak 92% atau 22 siswa dari 24 siswa yang tuntas belajar. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan mampu melakukan kerjasama yang baik dengan temannya baik dalam kelompok asal maupun kelompok ahli. 3. Peningkatan hasil belajar PKn pada siswa kelas IV SDN 01 Rejotangan kecamatan Rejotangan kabupaten Tulungagung terlihat dari persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada evaluasi pra tindakan 37,5% meningkat 33,5% pada siklus I menjadi 71%. Dari siklus I ke siklus II meningkat 21%, dari 71% menjadi 92%. Saran Berikut adalah beberapa saran yang diajukan dari hasil penelitian ini : 1. Berdasarkan hasil belajar pada tahap pra tindakan maka disarankanguru dalam menyampaikan materi hendaknya menerapkan model pembelajaran yang dalam pelaksanaannya mampu mengaktifkan siswa dalam memecahkan masalah yang berkaitan langsung dengan kehidupan siswa sehari-hari sehingga kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa. 2. Berdasarkan penerapan model pembelajarn kooperatif Jigsaw maka disarankan guru lebih aktif dalam mengembangkan model pembelajaran kooperatif Jigsaw ini untuk diterapkan pada mata pelajaran yang lain. 3. Berdasarkan peningkatan hasil belajar siswa setelah penerapan model pembelajaran kooperatif Jigsaw maka para guru disarankan untuk menerapkan model pembelajaran ini dalam kegiatan belajar mengajar.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan melalui corporate social responsibility pada perusahaan yang listing di BEI periode 2007 / Dwi Sulistyorini

 

ABSTRAK Sulistyorini, Dwi. 2010. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai Perusahaan Melalui Pengungkapan Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan Yang Listing Di BEI Periode 2007. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Yuli Widi Astuti, S.E, M.Si. Ak. Pembimbing II Triadi Agung, S.E, M.Si. Ak Kata Kunci: Kinerja Perusahaan, Nilai Perusahaan, dan Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan memerlukan informasi dalam bisnis, informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dan calon investor untuk pengambilan keputusan. Adanya informasi yang lengkap, akurat serta tepat waktu memungkinkan investor untuk melakukan secara rasional. Informasi tersebut berupa laporan keuangan (laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan) serta laporan pendukung lainnya seperti hasil analisis rasio keuangan, data saham perusahaan, laporan tanggung jawab sosial perusahaan disebut Corporate Social Responsibility yang merupakan pelaksanaan Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup dan Undang-undang No.40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas yang termuat dalam pasal 74 dan pasal 66. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan:(1). pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan, (2) pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan, (3) pengaruh kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan melalui Corporate Social Responsibility. Penelitian ini merupakan salah satu jenis dari penelitian penjelasan (eksplanatory). Penelitian menggunakan 78 perusahaan yang listing di BEI sebelum tahun 2007 sebagai sampel hipotesis adalah menggunakan pengujian analisis jalur (path analysis) untuk menemukan pengaruh interaksi dari antar variabel. Variabel Dependen adalah Nilai perusahaan diukur menggunakan Tobins’Q. Variabel Independen adalah Kinerja Keuangan yang diukur menggunakan Return On Assets sedangkan pengungkapan dari CSR dengan item pengungkapan mengacu pada instrumen yang digunakan oleh Sembiring (2005) yang terdiri atas 78 item pengungkapan. Return on asset terbukti berpengaruh pada nilai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan tingkat signifikansi sebesar 0,028, Besarnya Corporate Social Responsibility (X2) yang secara langsung berpengaruh Nilai Perusahaan (Y) adalah 0,087 atau 8,7%, kinerja keuangan (X2) yang mempengaruhi nilai perusahaan (Y) melalui CSR adalah 0,0339 atau 0,33 %, tingkat signifikansi keseluruhan sebesar 0,017 untuk kinerja keuangan terhadap nilai perusahaan melalui CSR lebih kecil daripada tingkat signifikansi ROA sebelum melalui CSR, maka variabel CSR dinilai kurang mampu menjadi variabel penghubung antara ROA dan Tobins Q. Hasil yang ditandai bahwa 1. ROA berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan,2. CSR berpengaruh langsung terhadap nilai perusahaan 3. ROA terhadap nilai perusahaan melalui CSR berpengaruh tidak langsung. Berdasarkan penelitian, saran bagi penelitian selanjutnya dapat menggunakan regresi berganda, menggunakan proksi kinerja yang lain, misalnya ROE, PBV, atau leverage. Proksi GCG dapat menggunakan ukuran dewan komisaris, komisaris independen, komite audit, atau kriteria lain.

Pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar siswa di SMK Negeri 1 Singosari Malang / Maxi Oktavianus Krangan

 

ABSTRAK Karangan, Maxi Oktavianus. 2010. Pemanfaatan Media Internet sebagai Sumber Belajar dalam Menunjang Hasil Belajar Siswa di SMK Negeri 1 Singosari Malang. Skripsi, jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Made Wena, M.Pd., M.T. (II) Hanni Elitasari Mahaputri, S.T., M.T. Kata Kunci: sumber belajar, internet, hasil belajar SMK merupakan sekolah yang berorientasi pada peningkatan mutu sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dituntut untuk mengembangkan sistem pembelajaran dan informasi yang berbasis IT. Salah satu usaha dalam meningkatkan sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan memanfaatkan media internet sebagai sumber belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar dalam menunjang hasil belajar siswa khususnya siswa kelas X program keahlian Teknik Konstruksi Bangunan di SMKN 1 Singosari Malang. Penelitian ini dilakukan di SMKN 1 Singosari Malang pada program keahlian Teknik Konstruksi Bangunan. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan teknik penelitian populasi. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas X program keahlian Teknik Konstruksi Bangunan sebanyak 51 siswa. Teknik pengambilan data berupa kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisa data berupa statistik deskriptif yang meliputi analisa frekuensi, prosentase, mean, dan diagram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) lokasi siswa dalam mengakses internet adalah di warnet. frekuensi pemanfaatan internet dalam satu minggunya tergolong jarang dan dalam satu kali mengakses selama 2 jam, (2) faktor yang memotivasi siswa memanfaatkan internet, yaitu internet menyediakan informasi dan materi pembelajaran yang up to date, dapat memperluas wawasan, internet lebih efisien dibandingkan dengan media lainnya, waktu lebih hemat, internet sebagai sarana berdiskusi, belajar lebih fleksibel dan mandiri, dan juga dapat membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah, (3) sedangkan faktor penghambatnya adalah lemahnya penguasaan bahasa Inggris, keterbatasan sumber informasi dalam bahasa Indonesia, guru kurang memotivasi siswa untuk menggunakan internet, dan akses internet yang masih tergolong mahal, (4) Ditinjau dari hasil belajar siswa, maka pemanfaatan media internet termasuk didalamnya potensi dan faktor pendukung internet sebagai sumber belajar belum optimal dalam meningkatkan hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan (1) agar siswa lebih giat dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar yang dapat menunjang hasil belajar secara optimal, (2) diharapkan guru lebih memotivasi siswa dalam meningkatkan frekuensi pemanfaatan internet bagi siswa dengan cara menugaskan siswa mencari sumber-sumber di internet, memberikan tugas melalui internet dalam upaya meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh persepsi siswa tentang fasilitas sekolah dan profesionalisme guru program keahlian akuntansi kelompok mata pelajaran kompetensi kejuruan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di SMK YP 17 Pare Kabupaten Kediri / Dewi Agustina

 

ABSTRAK Agustina, Dewi. 2009. “Pengaruh Persepsi Siswa Tentang Fasilitas Sekolah dan Profesionalisme Guru Program Keahlian Akuntansi Kelompok Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas XI di SMK YP 17 Pare Kabupaten Kediri”. Skripsi, Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. H. Tuhardjo, M. Si., Ak. (2) Dra. Trilaksiani, S. E, M. M. Kata kunci: fasilitas sekolah, profesionalisme guru, prestasi belajar Fasilitas sekolah dan profesionalisme guru merupakan salah satu diantara beberapa faktor yang berpengaruh dalam pencapaian prestasi belajar siswa. Fasilitas sekolah yang baik serta profesionalisme guru yang tinggi tentu akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini adalah penelitian sampel, dimana jumlah sampelnya adalah siswa-siswi kelas XI program keahlian akuntansi di SMK YP 17 Pare yaitu berjumlah 36 responden. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif korelasional dengan tujuan untuk menjelaskan pengaruh antara variabel bebas fasilitas sekolah (X1) dan Profesionalisme Guru (X2) dengan variabel terikat Prestasi Belajar Siswa (Y) dengan memproses lebih lanjut yang diperoleh dari penelitian kuantitatif. Teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuesioner (angket) kepada responden, dengan kuesioner jawaban tertutup berskala lima model Likert. Teknik tersebut didukung dengan dokumentasi guna melengkapi data yang tidak terakomodasi oleh instrumen kuesioner. Indikator yang dijadikan ukuran untuk variabel X1 yaitu gedung sekolah, ruang kelas, media pembelajaran, laboratorium akuntansi dan perpustakaan. Indikator untuk variabel X2 yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Hasil analisis data menunjukkan bahwa fasilitas sekolah, profesionalisme guru, dan prestasi belajar siswa kelas XI program keahlian akuntansi sudah pada tingkat kondisi yang baik. Fasilitas sekolah dan profesionalisme guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa sebesar 32,3% dan sisanya sebesar 67,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh penulis. Uji hipotesis dengan Fhitung sebesar 9,363 dengan signifikan F 0,001, ini menunjukkan bahwa nilai signifikan F lebih kecil dari 0,05 (0,001<0,05) sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara fasilitas sekolah dan profesionalisme guru terhadap prestasi belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas, saran-saran yang diberikan antara lain yaitu bagi pihak sekolah diharapkan untuk meningkatkan fasilitas sekolah dan profesionalisme guru sedangkan bagi peneliti berikutnya diharapkan dapat mengembangkan komponen-komponen lainnya yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa, serta dapat memperbarui dan menambah variabel penelitian sebelumnya. i

Analisis perbedaan kesehatan bank syariah dan bank konvensional / Rendra Cahya Samudra

 

Perusahaan menyusun laporan keuangannya atas dasar asumsi kelangsungan usaha. Suatu usaha akan tetap ada apabila perusahaan tersebut ada dalam kondisi yang sehat. Krisis ekonomi global banyak menyebabkan perusahaan-perusahaan khususnya perbankan menjadi tidak sehat dan akhirnya bangkrut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana melihat kesehatan bank dan membandingkan antara bank syariah dan bank konvensional.Sehubungan dengan mulai dilihatnya bank syariah sebagai bank sehat dengan minim resiko. Dalam penelitian ini digunakan sepuluh rasio untuk melihat kesehatan bank yaitu ROA, ROE, GOM, CG, LA, LE, LF, TE, DDM, CR. Dari sepuluh rasio di atas peneliti menggunakan alat analisis yaitu Multiple Discriminant Analysis. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI dan tiga perbankan syariah mulai tahun 2005-2008. Kemudian dengan mengunakan metode purposif sampling ditentukan bahwa sampel penelitian adalah 6 perusahaan dimana terdapat 3 perusahaan murni konvensional (tidak mempunyai unit syariah) dan 3 perusahaan murni syariah (bukan unit syariah dari bank konvensional). Penelitian ini menguji hipotesis dengan metode analisis discriminant.Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel yang paling bias mendiscriminankan adalah ROA dan GOM. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio ini dapat digunakan untuk melihat dan membandingkan kesehatan perusahaan perbankan. Dengan ketiga rasio di atas peneliti mendapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan kesehatan antara bank konvensional dan bank syariah. Hal ini ditunjukkan dengan bank syariah mempunyai nilai rata-rata Z-Score sebesar 0,449667dan bank konvensional sebesar -0,44567. Jadi dapat disimpulkan bahwa bank syariah dapat bersaing dengan bank konvensional.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran koopearatif strategi SQ4R pada siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang / Ika Setiandari

 

Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Melalui Pembelajaran Koopertif Strategi SQ4R Pada Siswa Kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang Ika Setiandari Abstrak: Pembelajaran membaca pemahaman dengan menggunakan strategi SQ4R dapat membuat menciptakan suasana yang menantang dan membuat siswa antusias dan aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Peneliti bertindak sebagai guru sedangkan guru bertindak sebagai pengamat. Penelitian ini bertujuaan untuk: 1) mendeskripsikan bagaimana merencanaan pembelajaran membaca pemahaman siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang dengan menggunakan strategi SQ4R; 2) mendeskripsikan implementasi penggunaan strategi SQ4R dalam proses membaca pemahaman siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang: 3) mendeskripsikan kemampuan membaca siswa kelas V SDN Saptorenggo 04 Kecamatan Pakis Kabupaten Malang setelah menggunakan strategi SQ4R. Hasil penelitian siklus I menunjukkan rata-rata nilai 62,12% dengan ketuntasan kelas 41,93%. Pada siklus I ini terdapat 18 siswa yang belum bisa memahami bacaan yang telah dibacanya dengan maksimal. Hasil penelitian siklus II menunjukkan rata-rata nilai kelas 77,70% dengan ketubtasan kelas mencapai 93,54%. Saran kepada guru hendaknya guru mampu menyajikan bahan pelajaran, pendekatan belajar, dan strategi yang tepat agar siswa berhasil dalam melaksanakan tugas belajarnya. Kata kunci: membaca pemahaman, strategi SQ4R, sekolah dasar.

Peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas II pada mata pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran: Picture and picture tahun ajaran 2010/2011 / Fitrianita Yuni Arista

 

Peningkatan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa Kelas II Pada Mata Pembelajaran PKn Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Picture And Picture Fitrianita Yuni Arista ABSTRAK: Pemilihan model pembelajaran inovatif picture and picture untuk peningkatkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas II SDN Landungsari 01 kecamatan Dau kabupaten malang.di latar belakangi oleh masalah hasil belajar PKn yang kurang dari standar ketuntasan yaitu 60, karena selama ini guru masih menggunakan cara tradisional, seperti menggunakan model pembelajaran konversional dengan metode ceramah. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang penggunaan model pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Penelitian ini dirancan dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam dua siklus, setiap siklus secara berdaur meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrument yang digunakan adalah tes dan lembar aktivitas siswa secara induvidu. Dari hasil penelitian dieroleh bahwa dengan menerapkan model pembelajarn picture and picture dapat meningkatkan proses pembelajaran PKn di kelas II sdn Landungsari 01 kecamatan Dau kabupaten Malang yaitu pada pra tindakan sebesar 27.59%, siklus I 74.48% dan siklus II 83.21% dari hal tersebut dapat diketahui bahwa kenaikan prosesnya dari pra tindakan ke siklus I sebesar 46.89% dan dari siklus I ke siklus II 8.66%. Dari hal tersebut dapat diketahui pula bahwa aktivitas siswa juga meningkat dari 0%, siklus I 66.75%, dan siklus II 80.72%. Dari hasil belajar siswa juga meningkat dari pra tindakan hasil belajar siswa juga meningkat dari pra tindakan ke siklus I 74.48% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 83.21%. Sehingga dapat di simpulkan bahwa model pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan aktivitas dan pterstasi belajar siswa. Kata Kunci: Aktivitas Belajar, Picture and picture, PKn, Prestasi belajar SD

Pengaruh gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Malang (Studi pada mata pelajaran ekonomi dalam IPS terpadu) / Cahyani Hidayah

 

ABSTRAK Hidayah, Cahyani. 2010. Pengaruh Gaya Belajar dan Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Malang (Studi Pada Mata Pelajaran Ekonomi dalam IPS Terpadu). Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Koperasi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahjoedi, ME. (2) Drs. Prih Hardinto, M.Si Kata Kunci: Gaya Belajar, Kondisi Sosial Ekonomi Orang Tua, Prestasi Belajar. Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, yang menjadi ciri khas dari masing-masing individu. Ada seorang siswa yang terbiasa belajar dengan suatu gaya tertentu yang telah menjadi suatu kebiasaan dalam hidupnya, akan tetapi belum tentu siswa yang lain akan bisa menerapkan gaya tersebut dalam kegiatan belajarnya, bahkan jika dipaksakan akan memperburuk konsentrasi penyerapan materi pelajaran yang berakibat pada menurunnya nilai atau prestasi belajarnya. Keadaan ekonomi orang tua juga banyak menentukan perkembangan dan pendidikan anak karena kebutuhan belajar anak memang memerlukan dana atau financial. Untuk mengantisipasi hal diatas, guru harus dapat mengenal masalah-masalah yang ada pada siswa didiknya dan upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan masalah tersebut. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) Sejauh mana pengaruh gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi, (2) Sejauh mana pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi, (3) Apakah ada pengaruh gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Pada penelitian ini populasi yang dipakai adalah siswa kelas VIII SMPN 7 Malang yang terdiri dari 7 kelas dengan jumlah keseluruhan 297 siswa. Sedangkan sampel yang diambil masing-masing kelas adalah 20% dari jumlah siswa, sehingga dapat diperoleh jumlah sampel 60 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket untuk variabel gaya belajar (X1) dan variabel kondisi sosial ekonomi orang tua (X2). Untuk variabel prestasi belajar (Y) digunakan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul di dalam uji coba validitas dan reliabilitas untuk mengetahui gugur tidaknya butir angket dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data SPSS For Windows 16.0. Selanjutnya data yang benar-benar valid dan reliabel dianalisis dengan menggunakan teknik persentase untuk analisisa deskriptif dan analisa regresi linear berganda serta uji hipotesis (Uji F) untuk mengetahui secara simultan pengaruh antara gaya belajar (X1) dan kondisi sosial ekonomi orang tua (X2) terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh: (1) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi ekonomi di SMPN 7 Malang yaitu sebesar 75.4%, (2) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi ekonomi di SMPN 7 Malang yaitu sebesar 75.2%, (3) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi ekonomi di SMPN 7 Malang yaitu sebesar 75.6%. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai F sebesar 92.393 dengan signifikan 0.000 < 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang simultan dan signifikan antara gaya belajar dan kondisi sosial ekonomi orang tua terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII di SMPN 7 Malang pada mata pelajaran ekonomi.

Pengembangan macam-macam permainan pengenalan air untuk pebelajar renang pemula di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang / Septyan Pradana

 

ABSTRAK Pradana, Septyan. 2010. Pengembangan Macam - Macam Permainan Pengenalan Air Untuk Pebelajar Renang Pemula Di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Agus Gatot Subijantoro, M.Kes (II) Drs. Tatok Sugiarto, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, permainan, pengenalan air, pebelajar renang pemula. Menurut Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah sudah terdapat materi aktivitas air yang meliputi permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya. Salah satu aktivitas air dalam materi pendidikan jasmani adalah berenang. Untuk belajar berenang hal yang paling utama adalah keberanian untuk masuk ke dalam air. Menyikapi dari hal ini maka sebelum berenang hendaknya di dahului dengan latihan pengenalan air. Berdasarkan pengamatan awal penelitian di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang, pada saat materi aktivitas air guru hanya mengajarkan renang gaya bebas dan pada saat pembelajaran dilaksanakan banyak siswa yang takut berenang dan masuk kedalam kolam renang. Dari 37 siswa kelas V yang takut masuk ke dalam kolam renang ada 19 siswa (51.35%). Mencermati kondisi yang demikian maka dibutuhkan cara agar membuat anak berani masuk ke dalam air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model permainan pengenalan air untuk pebelajar renang pemula di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang yang dapat digunakan sebagai bahan acuan oleh guru pendidikan jasmani untuk menangani anak yang takut berenang. Lokasi penelitian dilakukan di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Subyek uji coba terdiri dari (1) analisi kebutuhan 37 siswa dan guru pendidikan jasmani (2) tinjauan ahli, terdiri dari 3 orang ahli yaitu 2 guru pendidikan jasmani, 1 ahli kepelatihan renang (3) uji coba kelompok kecil menggunakan 16 siswa kelas V di SDN Kepuharjo II yang diambil secara random sampling, dan (4) uji coba kelompok besar atau uji coba lapangan yang terdiri dari 37 siswa kelas V di SDN Kepuharjo II. Hasil analisa uji kelompok besar (uji lapangan) terhadap 37 siswa kelas V di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Menyatakan bahwa: 1) Permainan Tepuk Air dapat digunakan (91,21%), 2) Permainan Serangan Air dapat digunakan (89,63%), 3) Permainan Berkeliling Kolam dapat digunakan (91,21%), 4) Permainan Terowongan Air dapat digunakan (90,09%), 5) Permainan Lari dari Ujung ke Ujung dapat digunakan (88,06%), 6) Permainan Hitam Hijau dapat digunakan (88,28%), 7) Permainan Roda Berputar dapat digunakan (87,61%), 8) Permainan Jaring Ikan Memanjang dapat digunakan (85,36%), 9) Permainan Terowongan Berjalan dapat digunakan (86,48%), 10) Permainan Menggiring Bola dengan Tangan dapat digunakan (86,48%), 11) Permaian Menembak Ikan dapat digunakan (88,73%), 12) Permainan Tawanan Perang dapat digunakan (84,01%), 13) Permainan Meluncur dengan Bola dapat digunakan (84,01%), 14) Permainan Bola Keberuntungan dapat digunakan (87,38%), 15) Permainan Mencari Bola Kembar dapat digunakan (88,51%), 16) Permainan Balap Pelampung dapat digunkan (81,75%), 17) Permainan Meluncur dengan Pelampung dapat digunakan (81,98%), 18) Permainan Mencari Piring dalam Air dapat digunakan (84,45%), 19) Permainan Lempar Tangkap Piring dapat digunakan (88,73%), 20) Permainan Memindah Bola dengan Piring dapat digunakan (78,18%), 21) Permainan Ban Balap dapat digunakan (78,60%), 22) Permainan Ban Apung dapat digunakan (78,82%), 23) Permainan Perahu Perang cukup dapat digunakan (73,42%), 24) Permainan Pindah Bola ke Ban dapat digunakan (88,73%), 25) Permainan Pindah Bola dengan Ban dapat digunakan (90,76%), 26) Permainan Batu Sembunyi dapat digunakan (92,34%), 27) Permainan Mencari Batu Kembar dapat digunakan (90,99%). Dari pengembangan dan prosedur yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil model permainan pengenalan air untuk pebelajar renang pemula di SDN Kepuharjo II Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang dan model permainan ini dapat digunakan. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan uji coba secara berulang-ulang pada subyek yang lebih besar dan diharapkan dapat disosialisasikan kepada guru pendidikan jasmani di sekolah lain sebagai tambahan pengetahuan untuk menangani siswa yang takut berenang.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas IV SDN Slorok 01 Kabupaten Blitar / Heny Zulaikah

 

ABSTRAK Zulaikah, Heny. 2010. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah pada Siswa Kelas IV SDN Slorok 01 Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan KSDP Prodi S1 PGSD, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Lilik Bintartik, M.Pd., (II) Dra. Wasih DS, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, hasil belajar, IPS Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan sebuah mata pelajaran yang mempelajari tentang hubungan antar manusia dan dunia sekelilingnya. Melalui pendidikan IPS siswa dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai, serta bagaimana bertindak. Namun pembelajaran IPS masih dianggap sebagai ma-ta pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Tidak jarang hasil belajar IPS yang diperoleh siswa masih rendah. Selain itu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih kurang. Untuk memperbaiki pembelajaran, peneliti mencoba menerapkan model pembelajaran yang inovatif yaitu menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengungkap (1) Pembelaja-ran IPS pada tahap pra tindakan, (2) Hasil belajar IPS pada tahap pra tindakan, (3) Penerapan PBM dalam pembelajaran IPS, (4) Hasil belajar IPS melalui PBM pada setiap siklus, (5) Peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan PBM. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang diperoleh dalam penelitian ini meliputi data pelaksanaan pem-belajaran pada tahap pra tindakan dan pelaksanaan penelitian dengan menerapkan PBM, dan data hasil belajar siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, tes, dan foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pembelajaran pada pra tindakan masih bersifat konvensional dimana pembelajaran berpusat pada guru, (2) Hasil belajar IPS pada pra tindakan memperoleh persentase rata-rata kelas 59,4%, (3) Penerapan model pembelajaran IPS sesuai dengan langkah-langkah PBM, (4) Hasil belajar siswa pada siklus I memperoleh persentase rata-rata kelas 69% sedangkan siklus II 82,2%, (5) siklus 1 persentase keberhasilan secara klasikal dari 59,4% menjadi 69% dengan peningkatan sebesar 9,6%. Sedangkan pada siklus II dari 69% menjadi 82,2% dengan peningkatan sebesar 13,2%. Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model PBM dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Slorok 01 Kabupaten Blitar. Berdasarkan penelitian ini, disarankan hendaknya guru dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan.

Perancangan komik pemberdayaan masyarakat tentang ajakan menolak golput dalam pemilihan umum / Dhevi Enlivena Irene Restia Mahelingga

 

ABSTRAK Enlivena, Dhevi. 2010. Perancangan Komik Pemberdayaan Masyarakat Tentang Ajakan Menolak Golput Dalam Pemilihan Umum. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni Dan Desain Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Andi Harisman, (2) Moch. Abdul Rohman, M.Sn Kata Kunci: Komik, Pemberdayaan, Ajakan Menolak Golput, Pemilihan Umum Pemilihan umum merupakan pesta demokrasi yang diselenggarakan untuk memilih orang-orang yang akan duduk dalam pemerintahan 5 tahun kedepan. Karena menentukan nasib dan roda pemerintahan, pemilihan umum menjadi sangat penting kehadirannya dalam kehidupan negara Indonesia yang demokratis. Namun, kenyataan yang terjadi adalah angka masyarakat Indonesia yang tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum atau umum dikenal dengan sebutan golput, sangat tinggi. Perancangan komik pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk mengurangi angka golput di masyarakat, baik golput karena niat, golput administratif, maupun golput secara teknis. Sehingga tercipta pemilu yang mendapat partisipasi masyarakat dan hasil pemilu yang lebih mewakili aspirasi masyarakat. Materi dan visualisasi komik pemberdayaan masyarakat dirancang sedemikian rupa agar mampu menyampaikan pesan yang informatif sekaligus persuasif, guna mengantisipasi ketiga jenis golput tersebut. Disesuaikan dengan target audience primer, yaitu pemilih pemula. Jenis perancangan komik pemberdayaan masyarakat ini menggunakan model perancangan prosedural. Dimana proses perancangan terdiri dari langkah-langkah yang harus ditempuh, meliputi kegiatan identifikasi masalah, pengumpulan data, hingga proses produksi yang berurutan dari awal hingga akhir. Produk yang dihasilkan adalah sebuah buku komik pemberdayaan masyarakat tentang ajakan menolak golput dalam pemilihan umum. Sebagai paduan media bagi komik pemberdayaan masyarakat ini maka dibuat juga media berupa X-Banner, Stiker, Pembatas Buku, dan Pin.

Peningkatan hasil belajar IPS kelas IV melalui pemanfaatan lingkungan di SDN Pojok 01 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar / Ike Yuli Andasari

 

ABSTRAK Andasari, Yuli, Ike. 2010. Peningkatan Hasil Belajar IPS Kelas IV Melalui Pemanfaatan Lingkungan di SDN Pojok 01 Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Suwarti, S.Pd, M.Pd, (II) Suminah, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: peningkatan hasil belajar, IPS, Media, Lingkungan Hasil belajar IPS pada pokok bahasan sumber daya alam dan kegiatan ekonomi di kelas IV SDN Pojok 01 kurang memuaskan, yaitu hanya sebanyak 8 siswa dari 21 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 70. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya media untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga nilainya juga dapat meningkat. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Pojok 01 kecamatan Ponggok kabupaten Blitar pada kelas IV karena sebagian besar guru di SD tersebut tidak menggunakan media dalam pembelajarannya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan, tes dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV, dapat diketahui bahwa nilai yang diperoleh siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 70. Hasil tes akhir, hanya ada 8 siswa dari 21 siswa sudah mencapai nilai di atas KKM. Hal ini berarti hanya ada 38% siswa yang tuntas belajar. Setelah menggunakan media lingkungan halaman sekolah dalam pembelajaran, nilai tes akhir siswa pada siklus I meningkat 24%, yaitu menjadi 62% dan pada siklus II meningkat 28%, yaitu menjadi 90% siswa yang tuntas belajar. Untuk LKS, pada siklus I diperoleh 62% siswa yang tuntas belajar. Sedangkan untuk siklus II diperoleh 81%. Ini berarti nilai LKS dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 19%. Hasil penilaian aktivitas untuk siswa juga meningkat, dari siklus I sebesar 59% meningkat 21%, yaitu menjadi 80% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media lingkungan dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada materi sumber daya alam. Untuk itu, hendaknya para guru lebih sering menggunakan media yang tepat dan sesuai dengan materi supaya hasil yang diperoleh lebih maksimal.

Peningkatan kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa dengan strategi ACA (amati, cermati, apresiasi) siswa kelas V SD Balerejo 01 Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar tahun pelajaran 2008/2009 / Eko Ribut Pratiwi

 

ABSTRAK Pratiwi, Eko Ribut. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Narasi Berbahasa Jawa dengan Strategi ACA (Amati, Cermati, Apresiasi) Siswa Kelas V SD Balerejo 01 Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar Tahun Pelajaran 2008/2009. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Anang Santoso M.Pd, (2) Dwi Sulistyorini S.S., M.Hum. Kata kunci: kemampuan menulis, karangan narasi, berbahasa Jawa, strategi ACA (Amati, Cermati, Apresiasi). Pembelajaran bahasa daerah sangat penting untuk menjaga kelestarian kebudayaan nasional. Bahasa Jawa merupakan salah satu dari ragam bahasa daerah. Oleh karena itu, bahasa Jawa perlu dilestarikan keberadaannya, apalagi di era globalisasi seperti saat ini. Maka dari itu pembelajaran bahasa daerah di sekolahsekolah sangat penting untuk dilakukan agar kelestarian bahasa daerah bisa tercapai. Pembelajaran bahasa Jawa meliputi empat aspek ketrampilan. Salah satu aspeknya adalah aspek menulis. Aspek menulis sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memiliki ketrampilan menulis, seseorang akan mudah dalam menuangkan ide, pikiran, perasaan, gagasan kepada orang lain melalui tulisannya. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembelajaran menulis karangan narasi berbahasa Jawa tidak dilaksanakan secara baik sehingga menyebabkan kemampuan menulis narasi siswa tidak bisa dilaksanakan secara maksimal. Dari observasi yang dilakukan di SD Balerejo 01 ditemukan masalah bahwa dalam pembelajaran ketrampilan menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Masalah utamanya adalah siswa sulit dalam mengembangkan imajinasi, diksi, meruntutkan isi karangan dan mengkreativitaskan isi karangan dalam menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Kesulitan tersebut menyebabkan rendahnya mutu dan kualitas tulisan siswa dalam menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Berdasarkan masalah tersebut, peneliti bekerjasama dengan guru bidang studi bahasa Jawa untuk merencanakan tindakan pembelajaran yang berlangsung dalam beberapa siklus pembelajaran. Tindakan yang akan dilaksanakan diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran menulis karangan narasi berbahasa Jawa, sekaligus juga meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi berbahasa Jawa. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Balerejo Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar pada tanggal 2 Oktober sampai 31 Oktober 2009. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Siswa yang diamati sebagai subjek penelitian yang berjumlah 18 siswa dengan rincian 11 siswa laki-laki, dan 7 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik pada kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa siswa kelas V SD Negeri 01 Balerejo setelah digunakannya strategi ACA. Hasil pretes menunjukkan 61% skor yang diperoleh siswa di bawah 60. Hasil tersebut belum mencapai standar minimal persentase keberhasilan yang dipersyaratkan. Siklus 1 menunjukkan 66,67% siswa mendapat skor di atas 60. Dan pada siklus II sebanyak 83,34% siswa yang mendapat skor di atas 60. Dari hasil peningkatan belajar siswa dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi ACA cukup efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan berbahasa Jawa dengan strategi ACA, siswa kelas V SD Negeri 01 Balerejo Kecamatan Panggungrejo Kabupaten Blitar. Untuk lebih meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi berbahasa Jawa tersebut diharapkan guru bahasa Jawa sering memberikan pelatihan kepada siswa secara intensif. Bagi peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian dengan kemampuan menulis paragraf selain menggunakan paragraf narasi misalnya paragraf deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi dengan menggunakan strategi belajar yang lain.

Kesetaraan gender dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T. / Nur Fadhilah

 

ABSTRAK Fadhilah, Nur. 2010. Kesetaraan Gender dalam Novel Bukit Gundaling Karya Marga T. Skripsi, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Maryaeni, M.Pd., (II) Dwi Sulistyorini, M.Hum. Kata Kunci: gender, kesetaraan, novel. Novel sebagai suatu karya sastra pada umumnya memiliki pesan tertentu dibalik estetika penyampaiannya. Hal ini dapat diartikan bahwa pengarang berusaha menarik pembaca untuk menerima gagasan-gagasannya tentang berbagai segi kehidupan. Begitu juga cara pengarang memandang tokoh perempuan sebagai salah satu bentuk nyata dari aspirasi, gagasan, pandangan dan nilai-nilai tentang perempuan itu sendiri. Perempuan sebagai makhluk sosial dan individu diciptakan dengan kedudukan dan peranan yang sejajar dengan laki-laki. Kesejajaran atau kesetaraan tersebut dapat dilihat melalui bagaimana pengarang mendeskripsikan tokoh, menyampaikan gagasan tokoh, baik laki-laki maupun perempuan dalam suatu karya sastra. Dalam setiap novel, baik novel serius maupun populer yang menggunakan tokoh manusia, khususnya tokoh perempuan, tentu akan ditemukan beberapa nilai yang terkait dengan gender dan aspek keperempuanan. Gender merupakan perbedaan antara laki-laki yang bersifat maskulin dan perempuan yang bersifat feminin yang dibentuk secara sosio-kultural. Bagaimana gender itu setara atau tidak dalam novel, akan dapat dilihat dengan menganalisis novel tersebut dengan pendekatan feminisme. Adapun nilai-nilai yang berhubungan dengan aspek keperempuanan itu dapat disebut dengan nilai feminisme yang pada nantinya akan mencerminkan suatu kehidupan antara tokoh perempuan dan laki-laki yang setara atau sederajat, maupun sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) karakter tokoh dilihat dari ciri-ciri fisik, sosial, dan psikologis dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T, dan (2) wujud kesetaraan gender yang diterapkan para tokoh dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini ialah menggunakan pendekatan struktural dan feminisme. Pendekatan struktural digunakan untuk menganalisis karakter tokoh, sedangkan pendekatan feminisme digunakan untuk menganalisis gender dalam novel. Teori strukturalisme merupakan pendekatan yang bersifat objektif, yakni menganggap karya sastra sebagai ”makhluk” yang berdiri sendiri. Novel tidak hanya merupakan tulisan yang menggairahkan ketika dibaca, namun merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur yang padu. Untuk mengetahui makna-makna tersebut, maka karya sastra harus dianalisis. Dalam mengkaji kesetaraan gender, digunakan pula pendekatan feminisme, yakni pendekatan yang menitikberatkan ”keperempuanan” dalam karya sastra. Membaca sebagai perempuan sangat diperlukan dalam penelitian ini. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata yang mencerminkan aspek nilai feminisme dalam kaitannya dengan kesetaraan gender yang diperoleh dari dialog, monolog, serta narasi dalam novel Bukit Gundaling karya Marga T. Data diperoleh dengan cara menandai (code) dan mentranskrip unsur-unsur yang mengandung nilai feminisme dalam novel tersebut. Adapun instrumen dalam penelitian ini menggunakan human instrument (peneliti sendiri), serta instrumen pembantu berupa tabel korpus data karakter tokoh dan tabel korpus data kesetaraan gender dalam novel Bukit Gundaling. Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang ada dalam novel Bukit Gundaling merupakan tokoh perempuan yang berkarakter cantik, cerdas, pandai, berpendidikan tinggi, mandiri, pemimpin rumah tangga, pemberani, tegar, tidak mudah dibohongi, dan tegas. Karakter tokoh perempuan tersebut sejajar dengan karakter tokoh laki-laki yang diceritakan dalam novel Bukit Gundaling. Kesetaraan gender yang terdapat dalam novel tersebut berupa perempuan sebagai makhluk mitra sejajar dengan laki-laki yang digambarkan dengan (1) aktualisasi kesetaraan dalam ruang lingkup keluarga (sektor domestik) yang diwujudkan dengan adanya kesetaraan dalam mengelola rumah tangga dan kesetaraan dalam memilih pergaulan. (2) Aktualisasi kesetaraan dalam konteks kehidupan masyarakat (sektor publik), yang diwujudkan dengan adanya kesetaraan dalam hak memperoleh pendidikan, kesetaraan dalam hak kesempatan kerja, kesetaraan dalam hak memperoleh hiburan (rekreatif), dan kesetaraan dalam hak mengeluarkan pendapat. Dengan adanya indikasi tentang karakter tokoh perempuan yang sejajar dengan laki-laki yang ada di dalamnya, menunjukkan bahwa novel yang berjudul Bukit Gundaling karya Marga T tersebut adalah novel populer yang mengandung kesetaraan gender. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut yang menggunakan sumber data berupa novel populer. Hal tersebut dikarenakan penelitian tentang novel populer belum banyak digunakan. Padahal, jika ditelusuri lebih lanjut, novel populer tidak hanya digunakan sebagai objek hiburan semata, namun memiliki nilai-nilai sastra dan kehidupan yang setara dengan novel serius.

Meningkatkan hasil belajar siswa melalui media specimen pada mata pelajaran IPA kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan / Erik Silamsari

 

ABSTRAK Silamsari, Erik. 2010. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Media Specimen Pada Mata Pelajaran IPA Kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan KSDP Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Ir. Endro Wahyuno, M.Si, (2) Dra. Sukamti, M.Pd. Kata Kunci: Media Specimen, Hasil Belajar, IPA, SD Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil observasi peneliti di kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi terhadap guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar diketahui bahwa terdapat permasalahan yang cukup kompleks pada pembelajaran IPA di kelas tersebut. Secara umum permasalahan tersebut dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah, yaitu model pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang tepat, kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan ceramah dan penggunaan media pembelajaran yang tersedia di sekolah kurang optimal, sehingga motivasi belajar siswa sangat rendah, yang ditandai oleh perilaku siswa yang kurang bersemangat dan kurang aktif dalam mencari pengetahuan sendiri dan hanya menunggu pemberian materi dari guru, hal ini mengakibatkan sebagian besar hasil belajar siswa yang dibawah SKBM dan nilai rata-rata hasil belajar IPA secara klasikal sebesar 64,5. Keadaan inilah yang membuat peneliti tertarik untuk menerapkan penggunaan media specimen sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media specimen, 2) Mendiskripsikan keaktifan belajar siswa belajar dengan menggunakan media specimen, dan 3) Mediskripsikan peningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan media specimen di kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan pada materi Penggolongan tumbuhan. Untuk itu rancangan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Mc. Taggart yang tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III MI Zainiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan sebanyak 22 siswa. Data penelitian diperoleh dari hasil observasi dan hasil tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media specimen pada materi penggolongan tumbuhan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Dari hasil observasi skor rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I 58,0 dan siklus II 73,4. Sehingga mengalami peningkatan dari hasil observasi siklus I ke siklus II sebesar 15,4. Sedangkan pada observasi awal nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 64,5 siklus I 73,3 dan pada siklus II 81,2. Sehingga mengalami peningkatan dari observasi awal ke siklus I sebesar 8,8 dan dari siklus I ke siklus II sebesar 7,9. hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media specimen dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, khususnya siswa kelas III MI Zianiyah Tempel Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan. Untuk itu disarankan bagi guru untuk menggunakan media pada saat pemebelajaran. Bagi sekolah disarankan dapat menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran.

Penggunaan media dekak-dekak untuk meningkatkan hasil belajar konsep penjumlahan bilangan cacah di kelas II SDN Minggir Winongan Pasuruan / Siti Aminah

 

ABSTRAK Aminah, S. 2010. Penggunaan Media Dekak-Dekak untuk Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Penjumlahan Bilangan Cacah Di Kelas II SDN Minggir Winongan Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Program Studi S1 PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Univesitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Usep Kustiawan, M. Sn. Pembimbing (II) Dra. Endang Setyo Winarni, M.Pd. Kata Kunci : Dekak-dekak, penjumlahan bilangan cacah, matematika SD. Dalam proses pembelajaran matematika di kelas 11 SDN Minggir peneliti menemukan beberapa permasalahan antara lain : (1) kecenderungan guru untuk mendominasi kegiatan pembelajaran ; (2) rendahnya penguasaan siswa pada konsep penjumlahan bilangan cacah ; (3) dan dalam proses pembelajaran tanpa menggunakan media. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan penggunaan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah pada siswa kelas II SDN Minggir, (2) peningkatan keaktifan siswa kelas II SDN Minggir dalam penggunaan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah, (3) peningkatan hasil belajar siswa kelas II SDN Minggir dengan penggunaan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah. Penelitian ini menggunakan rancangan PTK. Subyek penelitian ini siswa kelas II SDN Minggir Kecamatan Winongan sejumlah 39 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi,wawancara, tes dan catatan lapangan. Analisis data terdiri dari 3 komponen kegiatan yang dilakukan secara berurutan yaitu kegiatan reduksi, sajian data serta penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya pengaruh positif pada kegiatan pembelajaran di kelas 11 SDN M inggir . Pengaruh tersebut berupa peningkatan kualitas pembelajaran , peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran dan peningkatan pengusaan siswa pada konsep penjumlahan bilangan cacah. Hal ini terlihat dari peningkatan rata-rata skor hasil tes evaluasi. Peningkatan rata-rata skor hasil belajar siswa pada pra tindakan (55,6), siklus I (66,9), dan siklus II (81,0). Kesimpulannya penggunaan dekak-dekak sangat menarik dan menyenangkan untuk pembelajaran matematika khususnya untuk penerapan konsep penjumlahan bilangan cacah. Aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan media dekak-dekak terhadap konsep penjumlahan bilangan cacah menunjukkan peningkatan. Dan pembelajaran matematika tentang konsep penjumlahan bilangan cacah dengan menggunakan media dekak-dekak dapat meningkatkan hasil belajar. Dengan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa konsep penjumlahan bilangan cacah di kelas II sebaiknya menggunakan alat bantu berupa dekak-dekak agar siswa lebih aktif, kreatif dan tidak bosan dalam proses pembelajaran. Untuk kepala sekolah supaya menyediakan sarana dan media pembelajaran khusunya di kelas-kelas agar proses belajar mengajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan untuk siswa dalam setiap kegiatan belajar mengajar berlangsung hendaknya selalu aktif dan memperhatikan ketika guru memperagakan media khususnya dekak-dekak.

Kesulitan menerjemahkan teks "gebrauchsanweisung" pada matakuliah ubersetzung Deutsch-Indonesisch oleh mahasiswa semester 5 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Donna Yuan Alvitasari

 

ABSTRAK Alvitasari, Donna Yuan. 2010. Kesulitan Menerjemahkan Teks “Gebrauchsanweisung” Pada Matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch Oleh Mahasiswa Semester 5 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Rosyidah, M.Pd., (2) Dewi Kartika Ardiyani, S.Pd, M.Pd. Kata kunci: Kesulitan, menerjemahkan, teks Gebrauchsanweisung Menerjemahkan adalah suatu kegiatan mengalihkan pesan dari bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa) sehingga terjadi komunikasi antara pengarang, penerjemah, dan pembaca. Terjemahan yang baik harus memiliki ketepatan makna, kesejajaran bentuk, dan tingkat keterbacaan tinggi. Berdasarkan pengamatan peneliti, mahasiswa menghadapi kesulitan dalam menerjemahkan. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil terjemahan mahasiswa semester 5 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang yang mengikuti matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch tahun ajaran 2009/2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam menerjemahkan teks Gebrauchsanweisung. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah teks asli Gebrauchsanweisung berbahasa Jerman dan hasil terjemahannya oleh mahasiswa semester 5 Jurusan Sastra Jerman yang memprogram matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch tahun ajaran 2009/2010. Hasil wawancara digunakan sebagai sumber data pendukung. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi dan wawancara. Kemudian data diseleksi dan diklasifikasikan sesuai dengan jenisnya. Selanjutnya data dianalisis. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti yaitu (1) mengklasifikasikan data dan (2) mendeskripsikannya, yaitu dengan membandingkan antara terjemahan mahasiswa dengan konstruksi terjemahan yang disarankan. Dari hasil analisis ditemukan bahwa mahasiswa mengalami kesulitan dalam menerjemahkan teks Gebrauchsanweisung pada tataran kata, frasa, dan kalimat. Adapun kesulitan menerjemahkan pada tataran kata ditandai dengan penerjemahan kata-kata yang merupakan istilah teknis secara bebas dan menyimpang dari konteks. Kesulitan menerjemahkan pada tataran frasa ditandai dengan penerjemahan frasa yang tidak tepat pada frasa nominal, frasa preposisional, frasa adjektiva, dan frasa numeralia. Kesulitan menerjemahkan pada tataran kalimat ditandai dengan penerjemahan kalimat secara harfiah dan bebas. Kesulitan-kesulitan tersebut disebabkan oleh kurangnya penguasaan kosakata bahasa Jerman khususnya istilah-istilah teknis dan kurangnya penguasaan gramatika bahasa Jerman. Untuk mengatasi kesulitan dan mengurangi kesalahan dalam penerjemahan disarankan kepada mahasiswa untuk menambah kosakata bahasa Jerman dan mempelajari struktur gramatika bahasa Jerman. Selain itu, mereka seharusnya juga lebih banyak berlatih menerjemahkan teks-teks bahasa Jerman ke dalam bahasa Indonesia.

Peningkatan kemampuan mengarang melalui strategi tiru-olah-kembangkan (TOK) kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar / Lailatul Munawaroh

 

ABSTRAK Munawaroh, Lailatul. 2010. Peningkatan Kemampuan Mengarang Melalui Strategi Tiru-Olah-Kembangkan (TOK)Kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S1 PGSD, Jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sutansi, M. Pd, (II) Dra. LilikBintartik, M.Pd Kata kunci: mengarang, siswa, strategi TOK Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan penerapan strategi TOK (Tiru-Olah-Kembangkan) di kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar tahun ajaran 2009/2010, (2) mendeskripsikan peningkatkan kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan kebahasaan dalam sebuah karangan di Kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar dengan menerapkan strategi TOK (Tiru-Olah-Kembangkan), (3) mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa menuangkan gagasan dalam sebuah karangan di Kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar dengan menerapkan strategi TOK (Tiru-Olah-Kembangkan). Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar tahun ajaran 2009/2010. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi kegiatan guru dan siswa serta hasil karangan siswa. Teknis analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh data adanya peningkatan kemampuan mengarang siswa pada setiap siklus. Penerapan pembelajaran mengarang dengan strategi TOK dilakukan 2 siklus dan untuk mengetahui kemampuan dasar siswa maka dilaksanakan pra tindakan. Pada pra tindakan ketuntasan siswa adalah 29,17%, hal ini karena metode yang digunakan gur adalah ceramah dan penugasan. Pada siklus 1 aspek pengetahuan kebahasaan mencapai 41,67% dan aspek penuangan gagasan 45,83%. pada siklus 2, terjadi peningkatan yang cukup signifikan hingga mencapai 100%. Berdasarkan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi TOK dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas IV MI Darul Huda Tanggung Bence Kabupaten Blitar. Berdasarkan penelitian ini, disarankan guru memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang cocok agar tercapai hasil maksimal.

Analisa kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran dasar kompetensi kenuruan di SMKN 1 Singosari Malang / Eric Ulil Amri

 

ABSTRAK Amri, Eric Ulil. 2010. Analisa Kebiasaan Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan di SMKN 1 Singosari Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Made Wena, M.Pd., M.T, (2) Drs. Pribadi, S.T., M.T. Kata kunci: kebiasaan belajar, prestasi belajar. Mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan pada standar kompetensi menerapkan ilmu statika dan tegangan merupakan elemen yang penting di Teknik Sipil karena sebagai dasar dalam perencanaan sebuah bangunan, namun siswa masih merasa kesulitan dalam dasar kompetensi ini. Suatu kebiasaan belajar jika dilakukan secara efisien dan sistematis akan membantu kemudahan belajar yang akhirnya dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar. Dalam hal ini prestasi belajar menjadi ukuran seberapa besar hasil yang dicapai oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan di SMKN 1 Singosari Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif. Sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling yang berjumlah 55 siswa kelas X jurusan TGB SMKN 1 Singosari Malang. Teknik pengumpulan data dengan angket dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini adalah (1) kebiasaan belajar siswa di rumah pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan (Memahami Ilmu Statika dan Tegangan) di SMKN 1 Singosari Malang adalah cukup baik. Hal ini ditunjukkan bahwa banyaknya siswa yang menjawab sering maupun selalu sebesar 64% pada klasifikasi kebiasaan belajar di rumah. (2) kebiasaan belajar siswa di sekolah pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan (Memahami Ilmu Statika dan Tegangan) di SMKN 1 Singosari Malang adalah cukup baik. Hal ini ditunjukkan bahwa banyaknya siswa yang menjawab sering maupun selalu sebesar 68% pada klasifikasi kebiasaan belajar di rumah. (3) Kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan (Memahami Ilmu Statika dan Tegangan) di SMKN 1 Singosari Malang menunjukkan bahwa 40 deskriptor pada variabel kebiasaan belajar, hanya 14 deskriptor siswa yang mendapat nilai A dan B banyak menjawab jarang maupun tidak pernah. Sehingga tersisa 26 diskriptor siswa yang mendapat nilai A dan B banyak menjawab selalu maupun sering. Dengan demikian maka dapat dikatakan ada keterkaitan antara kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa. Saran yang bisa diberikan oleh peneliti adalah untuk siswa diharapkan bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya belajar dengan mengubah kebiasaan belajar yang kurang baik seperti kedisiplinan, mengatur waktu belajar di rumah, memantapkan hasil belajar dan selalu aktif belajar saat di kelas. Untuk kebiasaan belajar di rumah maupun di sekolah yang sudah cukup baik, siswa harus bisa mempertahankannya karena kebiasaan belajar adalah salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.

Hubungan daya tarik promosi, peran orang tua, da pemahaman informasi pendidikan dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK: suatu studi di Kabupaten Tuban / Basuki

 

ABSTRAK Basuki, 2010. Hubungan Daya Tarik Promosi, Peran Orangtua, dan Pemahaman Informasi Pendidikan dengan Keputusan Siswa Melanjutkan Studi ke SMK, Suatu Studi di Kabupaten Tuban. Tesis, Program Studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mardi Wiyono, ST., M.Pd., (II) Drs. Andoko, ST., MT. Kata Kunci: daya tarik promosi, peran orangtua, pemahaman informasi pendidikan, keputusan siswa. Salah satu tujuan Direktorat PSMK melakukan promosi melalui media iklan adalah mempengaruhi lulusan SMP/sederajat untuk memutuskan melanjutkan studi ke SMK. Lulusan SMP/sederajat dalam mengambil keputusan melanjutkan sekolah tidaklah mudah. Peran serta pihak lain seperti orangtua ikut memberi pengaruh. Dari sudut bimbingan, keputusan yang diambil seseorang seharusnya adalah keputusan yang tepat. Pengambilan keputusan merupakan proses, untuk mengambil keputusan diperlukan data dan informasi yang akurat. Penelitian ini bertujuan a) mengetahui hubungan antara daya tarik promosi dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK, b) mengetahui hubungan antara peran orangtua dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK, c) mengetahui hubungan antara pemahaman informasi pendidikan dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK, dan d) mengetahui hubungan daya tarik promosi, peran orangtua, dan pemahaman informasi pendidikan secara bersama-sama dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif korelasional dengan populasi sebesar 1243 kesemuanya adalah siswa kelas 1 yang menyebar pada empat SMK Negeri di Kabupaten Tuban yaitu: SMK Negeri 1 Tuban, SMK Negeri 2 Tuban, SMK Negeri 3 Tuban, dan SMK Negeri Tambakboyo. Jumlah Responden 189 yang dipilih dan ditetapkan menggunakan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen dan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear ganda dengan bantuan program komputer SPSS for windows. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat hubungan positif signifikan antara daya tarik promosi dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi (rx1y) sebesar 0,193 dan nilai p sebesar 0,004, 2) terdapat hubungan positif signifikan antara peran orangtua dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi (rx2y) sebesar 0,466 dan nilai p sebesar 0,000, 3) tidak terdapat hubungan positif dan signifikan antara pemahaman informasi pendidikan dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi (rx3y) sebesar 0,105 dan nilai p sebesar 0,075, dan 4) terdapat hubungan positif signifikan antara daya tarik promosi, peran orangtua, dan pemahaman informasi pendidikan secara bersama-sama dengan keputusan siswa melanjutkan studi ke SMK dengan koefisien korelasi R sebesar 0,508 dan hasil uji F menunjukkan nilai sig. F sebesar 0,000. Berdasar temuan penelitian, maka saran untuk Dir. PSMK adalah: perlu memperbaiki kualitas iklan agar sesuai dengan daya nalar calon siswa. Saran untuk orangtua adalah: perlu meningkatan kemampuan dalam membimbing anak. Saran untuk guru BK adalah: perlu mengoptimalkan semua saluran informasi yang tersedia sebagai sumber informasi pendidikan. Sedangkan untuk peneliti berikutnya saran yang diberikan adalah: perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor lain diluar variabel penelitian ini.

Prediksi niat nasabah bank untuk menolak dalam penggunaan internet banking pada PT Bank Mandiri Tbk. Kota Surabaya berdasarkan perspektif TTA (Theory of Technology Acceptance) / Adhitya Noor Syamsi

 

ABSTRAK Syamsi, Adhitya Noor. 2009. Prediksi Niat Nasabah Bank untuk Menolak Penggunaan Internet Banking pada PT. Bank Mandiri Tbk. Kota Surabaya (Berdasarkan Theory Of Technology Acceptance). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. F. Danardana Muwarni, M.M. (2) Rachmat Hidayat S.Pd. Kata Kunci: Kemanfaatan, Kemudahan, Sikap, dan Niat. Integrasi antar teknologi semakin membawa kemudahan bagi masyarakat. Salah satunya yang paling mudah dirasakan ialah kehadiran teknologi internet yang memberi manfaat komunikasi tanpa batasan tempat dan waktu. Perkembangan teknologi internet ini diadopsi oleh industri perbankan untuk mengembangkan pelayanan. Peluang ini digunakan oleh bank-bank yang ada di Indonesia baik bank pemerintah maupun swasta. Perkembangan pelayanan yang dilakukan perbankan berbasis teknologi (electronic transaction) dalam bentuk internet banking, dan lain sebagainya merupakan keharusan bagi bank-bank di Indonesia untuk merebut pangsa pasar. Saat ini internet banking menjadi perhatian utama dan senjata yang revolusioner strategis operasional bank, untuk mendelivery maupun untuk persaingan antar bank, karena dewasa ini ada kecenderungan berubahnya sikap nasabah karena faktor-faktor tertentu, dimana kegiatan Internet Banking ada beberapa nasabah yang enggan menggunakannya dikarenakan faktor-faktor tersebut, sehingga merubah niat nasabah dalam menggunakan layanan tersebut. Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang niat nasabah dalam menolak menggunakan fasilitas Internet Banking. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu kemanfaatan (X1), kemudahan (X2), variabel intervening yaitu sikap (Z), dan variabel terikat niat menolak menggunakan Internet Banking (Y). Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan Multy Stage Sampling yaitu menentukan sampel berdasarkan kebetulan, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 orang nasabah PT. Bank Mandiri Tbk yang berada di kota Surabaya dengan menggunakan rumus Daniel & Tarrel. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS Versi 16.00. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel yang mempengaruhi Faktor Kemanfaatan (X1), Faktor Kemudahan (X2) terhadap Niat nasabah bank (Y) dengan melalui Faktor Sikap (Z) secara parsial mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap Keputusan nasabah dalam Menolak Penggunaan Internet Banking. Adanya pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi dari uji t dari masing-masing variabel < 0,05. Dimana nilai tersebut berturut-turut sebagai berikut: untuk Faktor Kemanfaatan (X1) mempunyai nilai signifikansi 0,000, Faktor Kemudahan (X2) mempunyai nilai signifikansi 0,000, Faktor Sikap (Z) iii mempunyai nilai signifikansi 0,000, Faktor Niat (Y) mempunyai nilai signifikasi 0,000. Selain itu juga ditunjukkan dengan nilai t hitung untuk Faktor Kemanfaatan = 6,680 < nilai t tabel = 1,98, Faktor Kemudahan nilai t hitung = 3,914 > 1,98, Faktor Sikap nilai t hitung = 4,170. Secara simultan Faktor Kemanfaatan (X1), Faktor Kemudahan (X2) juga mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap Sikap (Z). Pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000 ≤ 0,05 dan ditunjukkan oleh nilai F hitung = 42,219 > F tabel = 3,09. Selain itu diketahui pula bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,454. Dapat diinterpretasikan bahwa hubungan dari variabel kemanfaatan, kemudahan, variabel intervening yaitu sikap, dan variabel terikat niat menolak menggunakan Internet Banking (Y) dalam mempengaruhi nasabah bank untuk menolak penggunaan internet banking pada PT. Bank Mandiri Tbk. Kota Surabaya sebesar 36,4 % dan sisanya sebesar 63,6 % dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian. Berdasar hasil penelitian ini dapat disarankan agar pihak pimpinan PT. Bank Mandiri Tbk kota Surabaya lebih memperhatikan aspek-aspek yang dapat menunjang segala fasilitas dari layanan internet banking. Begitu juga para nasabah, adanya penolakan tersebut terjadi karena adanya dorongan dari pihak luar maka itu sebaiknya nasabah dapat menilai keefektifan dalam melakukan transaksi perbankan mengingat pentingnya waktu luang. Peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya agar objek penelitian yang diambil lebih baik, yaitu nasabah bank yang sudah mapan, berusia lama, dan berwawasan lebih matang, tidak sekedar nasabah yang mengerti tentang internet banking melainkan yang lihai dan mengerti tentang pentingnya teknologi.

Metode konstruksi dan aproksimasi dengan algoritma Christofides heuristic pada permasalahan traveling salesman problem / Diana Rahmawati

 

ABSTRAK Faradina, Erta. 2009. Analisis Perbandingan Optimasi Jumlah Produksi Menggunakan Logika Fuzzy. Skripsi, Program Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Susy Kuspambudi Andaini, M.Kom., (II) Lucky Tri Oktoviana, S.Si., M.Kom. Kata kunci: optimasi, permintaan, persediaan, produksi, logika fuzzy, Tsukamoto, Mamdani Jumlah permintaan terhadap suatu barang dalam suatu perusahaan selalu mengalami perubahan pada periode selanjutnya. Penurunan jumlah permintaan yang cukup besar menyebabkan terjadinya penumpukan stok barang. Dalam masalah optimasi produksi, logika fuzzy diharapkan dapat dipergunakan untuk menentukan berapa banyak suatu barang sebaiknya diproduksi oleh suatu perusahaan. CV Wijaya Kusuma adalah industri yang bergerak dalam bidang industri pembuatan paving stone dan memproduksi 5 jenis paving stone setiap harinya. Pada penelitian ini digunakan logika fuzzy metode Tsukamoto dan metode Mamdani untuk menentukan jumlah produksi dari 5 jenis barang, yaitu Tiga Berlian, Diamond, Ring, Segi Empat, dan Segi Enam yang optimal. Perancangan sistem logika fuzzy metode Tsukamoto untuk menentukan jumlah barang yang optimal dilakukan tahap-tahap (a) fuzzifikasi, (b) penentuan basis aturan, (c) aplikasi fungsi implikasi, (d) Penentuan nilai -predikat, (e) inferensi Fuzzy, (f) defuzzifikasi. Sedangkan perancangan sistem logika fuzzy metode Mamdani untuk menentukan jumlah barang yang optimal dilakukan tahap-tahap (a) fuzzifikasi, (b) membentuk aturan-aturan, (c) aplikasi fungsi implikasi, (d) penegasan (defuzzifikasi). Dengan menginputkan data permintaan, persediaan, dan produksi, kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan uji statistik untuk membandingkan hasil penentuan jumlah produksi menggunakan logika fuzzy metode Tsukamoto dan metode Mamdani adalah metode Mamdani lebih optimal dibandingkan dengan metode Tsukamoto. Artinya, penentuan jumlah produksi menggunakan metode Mamdani lebih mendekati jumlah permintaan sebenarnya yang ada di perusahaan.

Perancangan buku cerita bergambar bilingual (Indonesia-Inggris) yang dilengkapi dengan seni melipat kertas berjudul "Si Pitung Yang Budiman" untuk anak-anak / Ahmad Muwafiq

 

Kata kunci : Perancangan, Buku Cerita Bergambar Bilingual, Seni Melipat Kertas, Si Pitung yang Budiman, Anak-anak Buku cerita bergambar adalah buku cerita yang dilengkapi dengan gambar ilustrasi. Maksud ’bilingual’ dari buku cerita bergambar adalah narasi teks cerita dengan menggunakan format dua bahasa. Seni melipat kertas atau biasa disebut origami adalah seni/ teknik melipat kertas menjadi bentuk-bentuk yang beraneka ragam. Dalam perancangan ini, buku cerita bergambar dilengkapi dengan seni melipat kertas dengan bentukbentuk tokoh yang ada di dalam cerita dengan tetap berkonsentrasi pada origami yang sederhana. Si Pitung merupakan tokoh cerita rakyat asli Betawi yang diambil sebagai tokoh utama dalam buku cerita bergambar ini. Tokoh Si Pitung disesuaikan dengan konsep cerita yang sederhana dan sesuai dengan segmen pembaca yaitu anak-anak. Anak merupakan bagian terpenting dari seluruh proses pertumbuhan manusia, karena pada masa anak-anaklah sesungguhnya karakter dasar seseorang dibentuk baik yang bersumber dari fungsi otak maupun emosionalnya. Perancangan ini ditujukan untuk membantu melatih otak depan anak secara lengkap, seperti meningkatkan kemampuan membaca dengan dua bahasa, meningkatkan imajinasi anak melalui gambar ilustrasi, dan tentu saja seni melipat kertas. Dengan membiasakan anak-anak untuk membaca dan berlatih origami bersamaan dengan kesenangan berkomunikasi dan berkreasi akan sangat berguna bagi perkembangan kesehatan otak anak. Kesimpulan yang dapat ditarik dalam perancangan ini adalah salah satu cara untuk mengembangkan kesehatan otak depan anak-anak adalah dengan membiasakan membaca dan berlatih origami. Buku Cerita Bergambar Bilingual (Indonesia-Inggris) yang Dilengkapi dengan Seni Melipat Kertas Berjudul “Si Pitung yang Budiman” Untuk Anak-anak merupakan media pendukung yang tepat untuk membatu orang tua dalam melatih otak depan putra-putrinya.

Peningkatan hasil belajar matematika dengan pendekatan pakem pada siswa kelas IV SDN Sumberdadi Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung / Nailul Fitriya

 

ABSTRAK Fitriya, Nailul. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Pendekatan PAKEM Pada Siswa Kelas IV SDN Sumberdadi 03 Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. HM. Zainudin, M.Pd., (II) Dra. Wasih DS, M.Pd. Kata kunci : hasil belajar, bilangan bulat, pendekatan PAKEM Matematika mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Dalam kesehariannya, segala tindakan dan tingkah laku manusia selalu berhubungan dengan matematika meskipun hanya sedikit. Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang diutamakan dalam proses pendidikan di sekolah. Kegiatan pembelajaran matematika di SDN Sumberdadi 03 masih menggunakan model pembelajaran ekspositori. Siswa hanya menerima pengetahuan dari guru tanpa terlibat secara aktif untuk menemukan pengetahuan tersebut. Akibatnya banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Berdasarkan hasil observasi dari 26 siswa, nilai rata-rata untuk pelajaran matematika masih kurang yaitu 50,8 dan belum mencapai SKM. Karena itulah peneliti melakukan penelitian tindakan kelas untuk mencapai ketuntasan siswa dalam belajar sesuai dengan SKM yang ditetapkan dalan KTSP SDN Sumberdadi 03. Tindakan yang dilakukan adalah dengan menerapkan pendekatan PAKEM. Penelitian dirancang dengan menggunakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian tindakan kelas. Tahapan penelitian dilakukan menurut tahap yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart. Subjek peneliti berjumlah 26 siswa. Data yang diambil adalah data tentang hasil belajar siswa, keterlaksanaan pendekatan PAKEM, kegiatan mengajar guru, dan respon siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, tes, dan angket. Teknik analisa data dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Analisa data merupakan proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstrasikan, dan mengorganisasi data secara sistematik dan rasional untuk menyusun jawaban terhadap tujuan penelitian. Untuk hasil belajar digunakan SKM sebagai standar ketuntasan siswa dalam belajar. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: hasil belajar siswa berupa pemahaman konsep secara klasikal mengalami peningkatan dari siklus I 42,30% dan siklus II 88,46%. Keterlaksanaan pendekatan PAKEM dalam kegaiatan pembelajaran juga mengalami peningkatan dari siklus I 30,76% dan siklus II 92,30%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan PAKEM dapat memberikan peningkatan hasil belajar siswa. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan pendekatan PAKEM untuk membantu mengatasi kesulitan siswa, sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Penerapan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar IPS perkembangan teknologi transportasi pada siswa kelas IV semester II SDN Pandean 1 Rembang Pasuruan / Ferry Hardiyanto

 

ABSTRAK Hardiyanto, Ferry. 2010. Penerapan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Perkembangan Teknologi Transportasi Pada Siswa Kelas IV Semester II SDN Pandean 1 Rembang Pasuruan Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing : ( I ) Drs. Imam Nawawi, M.Si ( II ) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn. Kata Kunci : Hasil Belajar, Pendekatan Kontekstual Pembelajaran kontekstual merupakan aktifitas pembelajaran yang dilakukan dengan cara melibatkan para siswa dalam aktifitas yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Kegiatan refleksi awal pada tahap observasi dan pratindakan yang dilakukan oleh peneliti, menunjukkan hal-hal sebagai sebagai berikut: (1) guru lebih dominan sebagai sumber belajar dan kurang kreatif dalam menyampaikan bahan ajar, (2) siswa tidak dapat memahami secara nyata maksud tujuan pembelajaran IPS yang disampaikan oleh guru, karena disampaikan secara klasikal dan (3) rendahnya hasil belajar siswa. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: (1) menggunakan pendekatan Kontekstual pada mata pelajaran IPS, (2) mengeksplorasi dan memberdayakan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, dan (3) meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab (1) bagaimanakah penerapan pembelajaran IPS SD kelas IV semester II SDN Pandean 1 kecamatan Rembang kab. Pasuruan materi perkembangan teknologi transportasi serta pengalaman menggunakannya dengan pendekatan kontekstual dan (2) apakah pembelajaran IPS SD kelas IV semester II SDN Pandean 1 kecamatan Rembang kab. Pasuruan materi perkembangan teknologi transportasi serta pengalaman menggunakannya dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar?, dengan berpijak pada hipotesis penggunaan pendekatan Kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Pandean 1 kecamatan Rembang kabupaten Pasuruan. Penelitian yang dilaksanakan dengan model Penelitian Tindakan Kelas ini, dilaksanakan di kelas IV SDN Pandean 1 kecamatan Rembang pada mata pelajaran IPS. Data penelitian ini dijaring melalui instrumen: observasi, wawancara dan tes. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Pandean 1 kecamatan Rembang kabupaten Pasuruan yang berjumlah 35 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi selama proses pembelajaran, wawancara dan post tes di akhir pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak satu siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini berupa hasil belajar yang dikumpulkan melalui tes tulis pada tahap pra tindakan dan nilai keterampilan proses dan nilai tes tulis pada siklus 1 dengan menggunakan pendekatan Kontekstual dan indikator pembelajaran IPS mengidintifikasi perkembangan teknologi transportasi serta pengalaman menggunakannya. ii Setelah melakukan proses obeservasi bersama guru kelas diperoleh hasil penelitian sebagai berikut : hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS dengan pokok bahasan perkembangan teknologi transportasi serta pengalaman menggunakannya mengalami peningkatan nilai rata-rata 56,6 pada pra tindakan, menjadi nilai rata-rata 79,8 dengan rincian nilai yang diperoleh yaitu dari nilai proses memperoleh rata-rata 80,0 dan nilai tes tulis memperoleh rata-rata 79,6 kemudian diperoleh data kembali pada siklus 2 dengan nilai rata-rata 83,9 dengan rincian nilai yang diperoleh dari nilai proses memperoleh rata-rata 87,6 dan nilai tes tulis memperoleh rata-rata80,1.. Secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru mencoba menggunakan pendekatan Kontekstual dalam kegiatan belajar mengajar.

Peningkatan kemampuan menulis pantun melalui model paikem dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas IV SDN Sebani Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan / Mahnunin

 

ABSTRAK Mahnunin. 2010. Peningkatan Kemampuan Menulis Pantun Melalui Model PAIKEM Dalam Pembelajarab Bahasa Indonesia di Kelas IV SDN Sebani Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S1 PGSD. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Muhana Gipayana, M.Pd. Pembimbing (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn. Kata Kunci: Kemampuan Menulis Pantun, PAIKEM, SD Kemampuan menulis pantun dapat mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas siswa dalam menyusun pantun secara benar. Keterampilan menulis pantun ini berhubungan karya sastra yang dihasilkan oleh siswa. Kemamapuan ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran PAIKEM. Strategi pembelajaran PAIKEM mendorong siswa untuk aktif bertanya, berlatih, berinteraktif, berprakarsa, siswa mempunyai kemampuan, menggunakan kartu, keberanian mengemukakan pendapat sehingga siswa merasa nyaman dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan: (1) perencanaan model PAIKEM dapat meningkatkan kemampuan dalam menulis pantun pada siswa kelas IV SDN Sebani Pandaan Pasuruan; (2) model PAIKEM dapat meningkatkan kemampuan dalam menulis pantun pada siswa kelas IV SDN Sebani Pandaan Pasuruan; (3) hasil kemampuan menulis pantun setelah diterapkannya model PAIKEM pada siswa kelas IV SDN Sebani Pandaan Pasuruan. Rancangan penelitian dilakukan dengan penelitian tindakan kelas. Lokasi penelitian di SDN Sebani Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Objek penelitian berjumlah 25 siswa kelas IV. Metode pengumpulan data melalui observasi, tes, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model PAIKEM dapat meningkatkan kemampuan menulis pantun jenaka kelas IV SDN Sebani Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya aktivitas siswa pada siklus I menunjukkan nilai (34%) dengan taraf keberhasilan baik. Sedangkan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi (65%) dengan taraf keberhasilan baik. Nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai pada siklus I rata-rata (69,2), dan siklus II rata-rata (81,2). Tanggapan siswa sangat senang terhadap model pembelajaran PAIKEM. Saran dalam penelitian ini: (1) bagi guru, jika aktivitas dan hasil belajar kemampuan menulis pantun ingin meningkat maka guru hendaknya menggunakan model pembelajaran PAIKEM; (2) bagi kepala sekolah, hendaknya memberikan bimbingan, pembinaan dan dukungan terhadap guru terutama dalam hal meningkatkan kemampuan menulis melalui model pembelajaran PAIKEM ini; (3) bagi peneliti lain, model PAIKEM yang dilaksanakan penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi dan menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya.

Pengaruh spiritualitas karyawan terhadap kinerja karyawan melalui motivasi kerja (studi pada klinik Prima Husada Singosari) / Ayub Wirasukma

 

ABSTRAK Wirasukma, Ayub. 2009. Pengaruh Spiritualitas Karyawan Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Motivasi Kerja (Studi pada Klinik Prima Husada Singosari). Skripsi, Jurusan manajemen, Progran Studi S1 manajemen Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Syihabudhin, S.E, M.si (2) Drs. I Nyoman Suputra, M.Si Kata Kunci : spiritualitas karyawan, motivasi kerja karyawan, kinerja karyawan. Peranan manusia (tenaga kerja/karyawan) dalam suatu perusahaan sangatlah penting dalam melaksanakan kegiatan operasional perusahaan. Apabila tenaga kerja memiliki semangat spiritual dan motivasi kerja yang tinggi, maka laju roda perusahaan pun akan berjalan dengan lancar, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja yang baik pula bagi perusahaan. Dengan tercapainya tujuan perusahaan dan terpenuhinya kebutuhan karyawan melalui motivasi, tentu saja kinerja mereka akan meningkat pula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh spiritualitas karyawan terhadap kinerja karyawan melalui motivasi kerja pada karyawan Klinik Prima Husada Singosari. Penelitian ini dilaksanakan di Klinik Prima Husada Singosari, Malang pada bulan Oktober-Nopember 2009. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Klinik Prima Husada, Singosari, Malang, yang berjumlah 35 karyawan dan teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling. Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu Spiritualitas karyawan (X), variabel intervening yaitu motivasi karyawan (Z), dan variabel terikat kinerja karyawan (Y). Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Pengujian Hipotesis memakai analisis jalur (Path Analysis). Tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung antar variabel. Hasil penelitian ini dapat diketahui : (1) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel spiritualitas (X) terhadap motivasi (Z) karyawan Klinik Prima Husada Singosari sebesar 0,858. (2) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel spiritualitas (X) terhadap kinerja karyawan Klinik Prima Husada Singosari sebesar 0,441. (3) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel motivasi karyawan (Z) terhadap kinerja karyawan Klinik Prima Husada Singosari sebesar 0,512. (4) terdapat pengaruh positif antara variabel spiritualitas (X) terhadap kinerja karyawan (Y) Klinik Prima Husada Singosari yang dimediatori oleh motivasi (Z) karyawan sebesar 0,439. Dengan demikian, variabel spiritualitas (X) mempunyai pengaruh total terhadap kinerja karyawan sebesar 0.880. Berdasar hasil penelitian ini dapat disarankan agar pihak Klinik Prima Husada, Singosari, Malang memperhatikan kondisi spiritualitas serta motivasi karyawannya, karena motivasi kerja yang tinggi tentunya kinerja juga tinggi. Untuk mewujudkan motivasi kerja dan kinerja yang tinggi dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti peningkatan jaminan hari tua, asuransi kesehatan, meminimalisir kecelakaan kerja, memperbaiki hubungan kerja baik atasan dengan bawahan maupun sesama rekan kerja yang akan membuat kebutuhan spiritual dan intelektual menjadi tinggi dan baik sebagai indikasi untuk membuat kinerja mereka menjadi maksimal.

Pengaruh debt to equity ratio (DER) dan debt to total asset ratio (DAR) terhadap harta saham melalui return on equity (ROE) pada saham perusahaan kelompok LQ 45 periode 2008/2009 / Yekie Senja Oktora

 

ABSTRAK Oktora, Yekie Senja. 2009. Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Debt to Total Asset Ratio (DAR) terhadap Harga Saham Melalui Return On Equity (ROE) Pada Saham Perusahaan Kelompok LQ 45 Periode Triwulan I Tahun 2008/2009. Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Manajemen Keuangan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Bambang Banu Siswoyo, M. M (II) Dr. H. Agung Winarno, M. M Kata Kunci: Debt to Equity Ratio (DER), Debt to Total Asset Ratio (DAR), Harga Saham, dan Return On Equity (ROE) Penelitian ini menguji dan mencari bukti empiris tentang: (1) Pengaruh DER terhadap harga saham perusahaan LQ 45 periode Triwulan I Tahun 2009, (2) Pengaruh DAR terhadap harga saham perusahaan LQ 45 periode Triwulan I Tahun 2009, (3) Pengaruh DER dan DAR secara simultan terhadap harga saham perusahaan LQ 45 periode Triwulan I Tahun 2009, (4) Pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap harga saham perusahaan LQ 45 periode Triwulan I Tahun 2009, dan (5) Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Debt to Total Asset Ratio (DAR), Return On Equity (ROE) secara simultan terhadap harga saham perusahaan LQ 45 periode Triwulan I Tahun 2009 Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang diklasifikasikan sebagai penelitian eksplanasi dan penelitian ex-post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan kelompok LQ 45 Periode Triwulan I Tahun 2008/2009 yang terdiri dari 45 emiten yang selanjutnya diambil 35 sampel penelitian. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, dengan teknik analisis path. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa secara parsial hanya DAR dan ROE yang memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham, serta secara simultan variabel DER, DAR dan ROE berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa DER tidak berpengaruh terhadap harga saham karena perusahaan menggunakan proporsi hutang yang relatif rendah pada tahun 2008/2009, namun perusahaan mempunyai tingkat DAR dan ROE yang cenderung tinggi yang dapat berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan. Sehingga disarankan bagi calon investor untuk tidak bertindak secara spekulatif akan tetapi lebih memperhatikan kinerja keuangan yang tercermin dari laporan keuangan perusahaan.

Studi evaluasi pekerjaan perancah dan bekisting pada proyek pembangunan rumah indah kav. 43-45 perumahan Araya Malang / Anggun Nadia Krisna

 

Kata Kunci : Evaluasi, perancah, bekisting. Dalam pelaksanaan pembangunan, beton membutuhkan sebuah bekisting (cetakan) baik untuk mendapatkan bentuk yang direncanakan maupun untuk pengerasannya. Perancah dan bekisting dapat dikatakan merupakan alat pembantu sementara, tetapi walaupun demikian, perancah dan bekisting memegang suatu peranan penting dalam pekerjaan konstruksi. Selain pembiayaan (biaya kerja dan biaya bahan), ternyata kualitas jenis materialnya juga menentukan bentuk dan rupa beton. Faktor biaya dalam pemilihan jenis material perancah dan bekiting memegang peranan penting dalam keseluruhan nilai proyek. Tujuan studi lapangan ini adalah untuk: (1) mengetahui bagaimana pelaksanaan pekerjaan perancah bambu pada bekisting kolom, balok, dan pelat lantai pada proyek; (2) mengetahui bagaimana pelaksanaan pekerjaan pemasangan bekisting kolom, balok, dan pelat lantai pada proyek; dan (3) mengetahui biaya yang dibutuhkan untuk pemasangan 1 m2 bekisting kolom, balok, dan pelat lantai. Untuk mendapatkan data yang valid pada studi lapangan ini diperlukan suatu metode studi lapangan, yaitu dengan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Setelah itu data-data yang diperoleh dianalisis untuk menjawab semua permasalahan yang ada. Hasil dari studi lapangan menyebutkan bahwa: (1) penggunaan papan landasan pada bagian bawah tiang perancah sangat penting, hal ini berguna untuk untuk menjaga tiang perancah agar tidak mengalami penurunan; (2) perakitan bekisting kolom, balok dan pelat lantai dilakukan secara bertahap, dimulai dari persiapan alat dan bahan, pemotongan bahan sesuai gambar rencana, perangkaian bahan, pendirian komponen bekisting kolom pada kedudukannya sesuai gambar rencana dilanjutkan pemasangan tiang penyangga, sedangkan pada balok dan pelat lantai pemasangan tiang perancah dilakukan terlebih dahulu kemudian dilanjutkan dengan pemasangan bekisting acuannya sesuai gambar rencana; (3) perakitan bekisting pelat lantai wafel dua arah dimulai dari pembuatan kerangka rusuk dua arah beserta tiang pendukungnya, pemasangan kotak wafel (kotak wafel dibuat di bawah sesuai dengan dimensi yang diinginkan kemudian dirangkai di atas); (4) pembersihan pada bekisting balok dan pelat lantai dilakukan dengan cara menggunakan magnet dan penyemprotan air pada permukaan bekisting, bekisting kolom dapat dilakukan dengan membuat lubang sementara di bagian samping dasar bekisting kolom, setelah bahan sisa bekisting dikeluarkan lubang pembersih tersebut ditutup kembali dan diperkuat; (5) biaya untuk bekisting kolom, balok, dan pelat lantai yang diperoleh dari perhitungan biaya pelaksanaan di lapangan lebih mahal daripada perhitungan biaya yang berdasarkan analisa SNI 2006.

Studi penelusuran banjir (flood routing) dengan metode muskingum antara stasiun debit banjir Gadang sampai stasiun debit banjir Sengguruh di sungai Brantas / Suyatmoko Sugiyanto

 

Sungai Brantas merupakan salah satu sungai di Jawa Timur yang luas Daerah pengalirannya 12.000 km2 dengan panjang sungai mencapai 320 km. Sungai Brantas mempunyai peran yang cukup besar dalam menunjang Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional yang memberi kontribusi diatas 30% dari stok pangan nasional. Selain bermanfaat sebagai penyangga lumbung pangan nasional, sungai Brantas juga mempunyai potensi daya rusak akibat banjir yang ditimbulkannya. Dimana setiap kejadian banjir selalu memakan korban baik materiil maupun jiwa, serta setiap kejadian banjir umumnya merusak dam dan merenggut korban jiwa serta menggenangi daerah aliran sungai (DAS). Hampir seluruh wilayah di Kota Malang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap terjadinya bencana alam utamanya banjir. Daerah yang rawan terjadi tanah longsor dan banjir adalah daerah di sepanjang DAS, baik itu di Sungai Brantas,Bangau, Metro, dan Amprong, mengingat di sepanjang DAS tersebut berdiri perumahan padat penduduk. Akibat padatnya permukiman dan bangunan di sepanjang DAS tersebut, membuat lebar sungai mengalami penyempitan, dan apabila terjadi penambahan debit air yang tinggi serta terjadi secara tiba-tiba tentunya air tersebut akan meluap ke perkampungan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan metode Muskingum guna memprediksi besarnya debit banjir yang melewati titik kontrol pada setiap stasiun debit banjir dengan populasi Sungai Brantas. Sebagai sampelnya diambil satu penggal sungai di bagian DAS Brantas Hulu dan DAS Brantas Tengah berdasarkan pertimbangan inflow awal banjir dari bagian DAS Brantas hulu dan outflow pada DAS Brantas Tengah. Sebagai sampel penggal sungai diambil antara stasiun debit banjir Gadang sebagai bagian dari stasiun DAS Brantas Hulu dan stasiun debit banjir Sengguruh sebagai bagian dari stasiun DAS Brantas Tengah.Tidak semua data debit banjir pada stasiun debit banjir yang berada di hulu Sungai Brantas di kaji dalam penelitian ini. Adapun data-data debit banjir diambil pada stasiun-stasiun debit banjir yang berada di DAS Brantas Hulu yang mencakup wilayah Malang Raya pada bulan Januari di tahun 2008 yaitu Stasiun Debit Banjir Gadang dan Stasiun Debit banjir Sengguruh. Data-data debit banjir tersebut merupakan data sekunder yang diperoleh dari PERUM Jasa Tirta I yang berada di Jl. Surabaya No. 2 A Malang. Alasan pengambilan data debit banjir pada dua stasiun debit banjir tersebut dikarenakan asumsi awal bahwa pada bulan Januari 2008 sering terjadi hujan yang sangat lebat, sehingga memungkinkan bahwa debit banjir yang mengalir di Sungai Brantas sangat besar. Analisa data dilakukan dengan bantuan software Microsoft Office Excel 2003. Berdasarkan pembahasan dari hasil penelitian, maka dapat diketahui karena adanya tampungan (storage) di sepanjang palung sungai diantara stasiun debit banjir Gadang dan stasiun debit banjir Sengguruh, maka puncak banjir di stasiun debit banjir sengguruh menjadi lebih kecil daripada di stasiun debit banjir Gadang. Karena adanya perbedaan di dalam pengambilan data pada tanggal dan jam yang tidak sama, maka perhitungan didalam penelitian ini tidak diperoleh hasil yang maksimal. Sehingga terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara debit hasil kalibrasi dengan debit hasil observasi serta debit hasil verifikasi dengan debit hasil observasi. Bagi para pengguna hasil penelitian ini, khususnya masyarakat di pinggiran DAS Sungai Brantas yang berada pada pemukiman padat penduduk untuk selalu berhati-hati apabila terjadi hujan lebat. Akibat padatnya permukiman dan bangunan di sepanjang DAS tersebut, membuat lebar sungai mengalami penyempitan, dan apabila terjadi penambahan debit air yang tinggi serta terjadi secara tiba-tiba tentunya air tersebut akan meluap ke perkampungan penduduk.Kepada para mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Malang yang akan mengambil judul skripsi serupa, disarankan agar dalam pengambilan data diteliti terlebih dahulu sesuai dengan syarat dan ketentuan teori yang sedang digunakan agar diperoleh hasil yang maksimal.

Perbedaan sikap profesionalisme dan semangat kerja guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi di SD negeri se-kecamatan Klojen Malang / Tita Oktavia

 

ABSTRAK Oktavia, Tita. 2010. Perbedaan Sikap Profesionalisme dan Semangat Kerja Guru Bersertifikasi dan Belum Bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang. Skripsi, Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd, (2) Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. Kata kunci: sikap profesionalisme, semangat kerja Profesionalisme guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan yaitu pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Sikap profesionalisme harus dimiliki guru guna meningkatkan pelayanan, pengetahuan, serta memberi arahan dan dorongan kepada peserta didiknya. Guru yang profesional harus memiliki semangat kerja dan kompetensi terhadap profesinya. Pada hakikatnya semangat kerja dan kegairahan kerja adalah perwujudan dari moral kerja yang tinggi, baik bagi guru yang sudah bersertifikasi maupun yang belum bersertifikasi. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Seberapa tinggi sikap profesionalisme guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang; (2)Seberapa tinggi tingkat semangat kerja guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang; (3)Adakah perbedaan sikap profesionalisme dan semangat kerja guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang. Tujuan Penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui sikap profesionalisme guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang; (2) Untuk mengetahui tingkat semangat kerja guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang; (3) Untuk mengetahui perbedaan sikap profesionalisme dan semangat kerja guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif komparatif. Populasi penelitian adalah guru SD Negeri se-Kecamatan Klojen Malang yang terdiri dari 17 sekolah dengan jumlah 207 responden, 71 orang guru bersertifikasi dan 136 orang guru belum bersertifikasi. Responden dalam penelitian ini adalah guru, untuk mendapatkan data dari guru digunakan angket tertutup yang sudah disediakan jawabannya. Teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis varian multivariat (MANOVA). Hasil penelitian dapat diketahui bahwa nilai rata-rata untuk sikap profesionalisme guru bersertifikasi sebesar 89,690 dan guru yang belum bersertifikasi sebesar 86,993, sedangkan nilai rata-rata untuk semangat kerja guru bersertifikasi sebesar 67,521 dan guru yang belum bersertifikasi sebesar 64,993. Jika dilihat dari rata-rata menunjukkan bahwa sikap profesionalisme dan semangat kerja guru bersertifikasi lebih tinggi daripada guru yang belum bersertifikasi. ii Kesimpulan dalam penelitian ini adalah jumlah sikap profesionalisme guru bersertifikasi rata-rata berada pada level tinggi dan tingkat sikap profesionalisme guru belum bersertifikasi rata-rata juga berada pada level tinggi jika dilihat dari nilai estimated mean. Jumlah semangat kerja guru bersertifikasi rata-rata berada pada level tinggi dan tingkat semangat kerja guru belum bersertifikasi rata-rata juga berada pada level tinggi jika dilihat dari nilai estimated mean. Terdapat perbedaan sikap profesionalisme guru dan semangat kerja guru antara yang bersertifikasi dan belum bersertifikasi, sikap profesionalisme guru bersertifikasi lebih tinggi dari yang belum bersertifikasi jika dilihat dari nilai reratanya (walau sangat sedikit) dan semangat kerja guru bersertifikasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang belum bersertifikasi di SD Negeri se-Kecamatan Klojen jika dilihat dari nilai reratanya, dengan perbedaan sangat signifikan. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada (1) bagi kepala sekolah agar selalu menambah informasi tentang sikap profesionalisme dan semangat kerja guru dengan cara melalui media cetak serta dengan menugaskan para guru untuk mengikuti seminar-seminar sehingga guru dapat melaksanakan tugas mengajar dengan maksimal, tanpa ada paksaan dan ikhlas membimbing peserta didik; (2) bagi guru agar senantiasa mengembangkan diri dengan mengikuti pelatihan dan seminar-seminar. Selain itu diharapkan mendidik dan membimbing peserta didik dengan iklhas karena menjadi guru memili tanggung jawab yang sangat besar. Meningkatkan sikap profesionalisme guru serta semangat kerja dengan penguasaan metode dan teknik mengajar sehingga peserta didik tertarik untuk mempelajari pelajaran yang diajarkan guru di sekolah; (3) bagi kepala dinas pendidikan Kota Malang, untuk meningkatkan sikap profesionalisme dan semangat kerja guru dengan lebih memperhatikan pemenuhan kebutuhan para guru. Selain itu juga diharapkan sering melakukan peninjauan ke sekolah untuk mengetahui kinerja guru serta membangun semangat kerja guru di sekolah; (4) bagi kepala penyelenggara program sertifikasi guru, disarankan agar memperbaiki sistem pelaksanaan dalam pemberian sertifikasi guru serta syarat-syarat yang digunakan untuk sertifikasi guru; (5) bagi peneliti lain, untuk penelitian sejenis yang akan datang lebih kongkrit dan luas disertai teknik pengumpulan data dan metode penelitian yang lebih bagus.

Penerapan STAD dalam upaya untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa SMP Negeri 8 Malang tahun pelajaran 2008/2009 / Evi Setiyaningsih

 

ABSTRAK Setiyaningsih, Evi. 2009. Penerapan STAD Dalam Upaya Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Fisika Siswa SMP Negeri 8 Malang Tahun Pelajaran 2008/2009. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sumarjono, dan (II) Drs. Purbo Suwasono, M.Si. Kata kunci: STAD, Penguasaan Konsep Berdasarkan observasi yang dilakukan di SMP Negeri 8 Malang, saat diadakan ulangan harian di kelas VIII E sebesar 60% siswa mempunyai nilai ulangan kurang dari 75. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa penguasaan konsep fisika siswa masih rendah. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran fisika perlu diterapkan suatu pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyampaikan berbagai konsep materi pelajaran sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa. Pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika adalah STAD. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui langkahlangkah STAD yang dapat meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa dan mengetahui ketercapaian penguasaan konsep fisika siswa setelah diterapkan pembelajaran STAD minimal sebesar 85%. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 8 Malang dilaksanakan 2 siklus dan masing-masing siklus terdiri atas 1 kali pertemuan. Hasil penelitian yang diperoleh dari siklus I ke siklus II menunjukkaan adanya peningkatan ketuntasan belajar kelas setelah diberi tindakan siklus I yaitu sebesar 68,18% , dan setelah diberi tindakan siklus II meningkat menjadi sebesar 86.36%. Langkah inti dalam pembelajaran STAD yang dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa adalah tahap penyajian kelas,diskusi kelompok, kuis, skor kemajuan, dan penghargaan. (a) Penyajian kelas, guru memberikan motivasi untuk menggali pengetahuan awal siswa dan melakukan demontrasi, membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen, (b) Diskusi kelompok, membagi LKK kepada setiap kelompok, siswa mengerjakan LKK secara kelompok, dan siswa melakukan kegiatan mengajukan masalah atau soal beserta penyelesaiannya. Kemudian hasil kerja siswa dipresentasikan didepan kelas sehingga terjadi diskusi kelas, (c) Kuis, siswa megerjakan kuis secara individu, (d) Skor kemajuan individu, dari hasil tes yang diperoleh, guru menghitung skor kemajuan siswa, (e) Penghargaan, guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang mendapat skor paling tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari siklus I ke siklus II membuktikan bahwa STAD dapat meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa. Oleh sebab itu, disarankan bagi guru bidang studi untuk menerapkan STAD sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa.

Implementasi pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) model inkuiri untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas-X Penjualan pada mata diklat membuka usaha kecil di SMK PGRI 02 Malang (studi pada siswa kelas X Penjualan SMK PGRI 02 Malang) / Yekie Senja Ok

 

ABSTRAK Oktora, Yekie Senja. 2009. Implementasi Pembelajaran Contextual Teaching and Learnig (CTL) Metode Inkuiri untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X- Penjualan Pada Mata Diklat Membuka Usaha Kecil di SMK PGRI 02 Malang (Studi Pada Siswa Kelas X- Penjualan SMK PGRI 02 Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi Pendidikan Tata Niaga, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Djoko Dwi K, M.Si (II) DR. Ludiwishnu W, S.T, S.E, S.Pd, M.M Kata Kunci: Pembelajaran Kontek, stual, Metode Inquiry, dan Prestasi Belajar Penelitian ini menguji dan mencari bukti empiris tentang: (1) Implementasi pembelajaran (CTL) metode Inkuiri pada mata diklat Membuka Usaha Kecil, (2) Peningkatan prestasi belajar siwa pada mata diklat Membuka Usaha Kecil, (3) Respon siswa kelas X- Penjualan SMK PGRI 02 Malang terhadap pembelajaran (CTL). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan jenis Penelitian Tindakan kelas (PTK). Penelitian ini berlangsung dalam II siklus, yaitu siklus I menggunakan materi Pengurusan Ijin Usaha dan Sumber Informasi & Cara Melihat Peluang; serta siklus II menggunakan materi Proses Pemilihan Bentuk Usaha Kecil dan Memilih Lokasi Usaha. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-Penjualan SMK PGRI 02 yang terdiri dari 46 siswa, selanjutnya siswa tersebut dibagi kedalam 7 kelompok heterogen. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, tes, angket dan catatan lapangan. Tahap-tahap dalam penelitian ini meliputi tahap pra tindakan penelitian, kegiatan tindakan penelitian dan pelaporan hasil penelitian. Berdasarkan hasil observasi aktivitas belajar siswa yang dilakukan, nampak bahwa rata-rata nilai aktivitas belajar kelas dalam pembelajaran kontekstual dengan pendekatan Inquiry menunjukkan peningkatan. Rata-rata nilai aktivitas belajar siswa pada siklus I sebesar 59,62 dan pada siklus II meningkat sebesar 70,67 menjadi sebesar 82,03. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual metode Inquiry dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa kelas X-Penjualan SMK PGRI 02 Malang. Sehinggga pembelajaran kontekstual metode Inquiry dapat menjadi salah satu pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan pada diklat Membuka Usaha Kecil atau mata diklat lainnya yang sesuai untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.

Perbedaan kinerja karyawan antara yang telah tersertifikasi dengan yang belum tersertifikasi pada perusahaan jasa konstruksi golongan kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB / Rini Febri Utari

 

ABSTRAK Febri Utari, Rini, 2010, Perbedaan Kinerja Karyawan antara yang Telah Tersertifikasi dengan yang Belum Tersertifikasi Pada Perusahaan Jasa Konstruksi Golongan Kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB,Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. H. Suparno, S.T., M.T., (II) Drs. H. Sugiyanto, S.T., M.T. Kata Kunci : Kinerja karyawan, Sertifikasi, Perusahaan Jasa Konstruksi Perusahaan jasa konstruksi di Indonesia secara langsung dalam aktivitas operasionalnya tidak lepas dari persaingan, di mana perusahaan selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada pengguna jasa konstruksi pelanggannya. Dalam usaha untuk memenuhi tujuan tersebut maka harus didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten, memiliki komitmen yang tinggi dan profesional di bidangnya. Salah satu usaha untuk memperoleh pengakuan formal kompetensi tersebut adalah melalui sertifikasi tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kinerja karyawan yang belum tersertifikasi pada perusahaan jasa konstruksi golongan kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB, (2) mendeskripsikan kinerja karyawan yang yang telah tersertifikasi pada perusahaan jasa konstruksi golongan kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB, (3) mengetahui perbedaaan kinerja karyawan antara yang telah tersertifikasi dengan yang belum tersertifikasi pada perusahaan jasa konstruksi golongan kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan jasa konstruksi grade 2, grade 3, dan grade 4. Kegiatan penelitian yang dilakukan adalah pertama tahap persiapan yaitu melakukan persiapan atas segala sesuatu yang diperlukan peneliti. Kedua, tahap pelaksanaan yaitu mulai mengumpulkan informasi maupun data yang digunakan untuk penelitian dan ketiga, tahap pengolahan dan analisis data dengan menggunakan Deskriptif Frequencies dan Independent sample T-Test. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa : (1) Karyawan yang belum tersertifikasi pada perusahaan jasa konstruksi golongan kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB memiliki skor penilaian kinerja sebesar 54,79% sehingga termasuk dalam kriteria cukup, (2) Karyawan yang telah tersertifikasi pada perusahaan jasa konstruksi golongan kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB memiliki skor penilaian kinerja sebesar 78,36% sehingga termasuk dalam kriteria sangat baik. (3) Terdapat perbedaan yang signifikan antara kinerja karyawan yang belum tersertifikasi dengan yang telah tersertifikasi pada perusahaan jasa konstruksi golongan kecil di Kabupaten Sumbawa-NTB. Beberapa saran yang dapat diajukan adalah : (1) Diharapkan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi lebih memperhatikan masalah sertifikasi karyawan agar tujuan dari pelaksanaan sertifikasi dapat tercapai. (2) Perusahaan sebaiknya lebih sering mengadakan kegiatan yang dapat meningkatkan kinerja dan motivasi karyawan misalnya melalui pelatihan-pelatihan.

Pengaruh kinerja keuangan yang diukur dengan economic value added (EVA) dan tingkat rentabilitas terhadap return saham pada perusahaan perbankan yang listing di BEI / Wahyu Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Wahyu.2009. Pengaruh Kinerja Keuangan yang Diukur Dengan Economic Value Added (EVA) dan Tingkat Rentabilitas Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Perbankan yang Listing Di BEI. Skripsi, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Bambang Sugeng, M.A., M.M., Ak (II) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: Economic Value Added (EVA), Net Profit Margin (NPM), Return On Equity (ROE), dan Return Saham Return Saham merupakan tingkat pengembalian yang diperoleh oleh investor atas penanaman modal pada suatu perusahaan. Hasil dari return dapat berupa dividen dan capital gain. Kinerja keuangan merupakan pengukur tingkat keberhasilan manajemen dalam mengelola sumberdaya keuangan yang dimiliki perusahaan. Economic Value Added (EVA) sebagai pengukur kinerja yang telah dibuktikan di Amerika Serikat sebagai pengukur kinerja terbaik bagi perusahaan bisnis. Economic Value Added (EVA) dianggap sebagai pengukur kinerja terbaik dibandingkan dengan pengukur kinerja keuangan tradisional yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja keuangan dengan Economic Value Added, Net Profit Margin dan Return On Equity terhadap Return Saham. Adapun hipotesis penelitian ini adalah economic value added, net profit margin dan return on equity mempunyai pengaruh terhadap return saham. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007. Sampel diambil berdasarkan teknik purposive sampling dengan kritria perusahaan yang berdagang di pasar modal lima hari sebelum dan lima hari setelah laporan keuangan dipublikasikan. Dari hasil purposive sampling ditemukan sebanyak 24 sampel perusahaan yang memenuhi kriteria. Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda untuk melihat kontribusi masing-masing variabel bebas dalam mempengaruhi return saham dengan menggunakan program SPSS 16. Berdasarkan hasil analisis Economic Value Added (EVA), Net Profit Margin (NPM) dan Return On Equity (ROE) tidak mempengaruhi return saham. EVA yang dianggap merupakan pengukur kinerja terbaik, ternyata belum dapat dibuktikan. Hal-hal yang membuat pengukuran-pengukuran ini tidak berpengaruh mungkin dikarenakan keterbatasan data peneltian, adanya faktor lain yang dipertimbangkan terlebih dahulu oleh investor sebelum melakukan transaksi dan lebih dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran saham. Terlabih lagi data untuk menentukan return didapatkan pada saat terjadi krisis ekonomi global dan memiliki imbas di Indonesia, hal ini yang menyebabkan return akan lebih terpengaruh oleh krisis daripada kinerja yang diperoleh perusahaan.

Kapasitas gaya geser maksimum model struktur portal bertulang bambu system ganda dikekang dilokasi sendi plastis / Virgyan Arum Perdani

 

ABSTRAK Virgyan, Arum P. 2009 : Kapasitas Gaya Geser Maksimum Model Struktur Portal Bertulang Bambu system Ganda Dikekang Dilokasi sendi Plastis. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, Program Study Pendidikan Teknik Bangunan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Pribadi, S.T., M.T. (II). Drs. Eko Setyawan, S.T., M.T. Kata Kunci : Portal Bertulang Bambu, Struktur Sistem Ganda, Sendi Plastis. Dalam merencanakan struktur beton bertulang, baja merupakan bahan yang paling mahal harganya, maka sebagai alternatif digunakan tulangan bambu yang memiliki kuat tarik yang lebih besar dibandingkan baja. Penelitian ini dilaksanakan atas dasar perlunya pengembangan struktur beton bertulang bambu. Sendi plastis merupakan perencanaan struktur yang memperkecil besarnya simpangan pada struktur, sebab sendi plastis mampu menyerap beban horizontal/gaya geser pada struktur. Dengan beban horizontal/gaya geser dapat menyebabkan struktur mengalami simpangan yang cukup besar, sehingga memungkinkan terjadinya keruntuhan pada struktur. Untuk mengatasi hal tersebut dicoba penambahan dinding geser (sistem ganda) pada struktur portal yang memiliki kekakuan lebih besar agar simpangan yang terjadi lebih kecil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kapasitas gaya geser dan simpangan struktur portal beton bertulang bambu sistem ganda tahan gempa dengan pengekangan sendi plastis. Besarnya gaya geser dan simpangan maksimum ini nantinya dibuat gambar histeris loop yang menunjukkan pola hubungan gaya geser dan simpangan. Metode penelitian ini mengunakan rancangan eksperimental, sedangkan data yang diperoleh dari hasil penelitian di deskripsikan. Model portal bertulang bambu sistem ganda dalam penelitian ini diberi beban horizontal untuk mengetahui besarnya kapasitas gaya geser dan simpangan. Pemberian beban gempa pada penelitian ini berdasarkan beban statik equivalen yaitu dengan memberikan beban statik horizontal pada struktur yang bertujuan untuk menirukan pengaruh gempa yag sesungguhnya akibat gerakan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya kapasitas gaya geser dan simpangan pada portal bertulang bambu system ganda sebesar 4050 kg dan 17,110 mm simpangan kolom, 26,483 mm simpangan dinding geser. Dengan analisa statik equivalen berdasarkan hasil kapasitas geser, portal bertulang bambu sistem ganda yang dikekang dilokasi sendi plastis dapat digunakan sebagai struktur penahan gempa diberbagai wilayah/zona gempa. Sehingga model struktur portal bertulang bambu system ganda yang dikekang dilokasi sendi plastis dapat digunakan sebagai bahan rekomendasi pembangunan struktur beton dalam rumah sederhana tahan gempa.

Pengaruh good corporate governance terhadap kinerja perusahaan yang tergabung dalam corporate governance perception index (CGPI) periode 2005-2007 / Ni Nyoman Denti Juwiani

 

ABSTRAK Kata Kunci : Penerapan good corporate governance, Kinerja Perusahaan, Corporate Governance Perception Index Setiap perusahaan memiliki visi dan misi dari keberadaannya. Visi dan misi tersebut merupakan pernyataan tertulis tentang tujuan-tujuan kegiatan usaha yang akan dilakukannya. Tentunya kegiatan terencana dan terprogram ini dapat tercapai dengan keberadaan sistem tatakelola perusahaan yang baik. Sistem tatakelola organisasi perusahaan yang baik ini menuntut dibangunnya dan dijalankannya prinsip-prinsip tata kelola perusahaan (GCG) dalam proses manajerial perusahaan. Dengan mengenal prinsip-prinsip yang berlaku secara universal ini diharapkan perusahaan dapat hidup secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi para stakeholdernya. Corporate governance merupakan tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah kinerja perusahaan. Perusahaan yang telah menerapkan good corporate governance terbukti berhasil dalam meningkatkan kinerjanya. Atas dasar hal ini maka penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui pengaruh penerapan good corporate governance terhadap kinerja perusahaan yang tergabung dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI). Penelitian merupakan penelitian eksplanasi (explanatory research). Variabel dalam penelitian ini yaitu kinerja perusahaan yang diukur dengan Tobin’s Q sebagai variabel terikat sedangkan variabel bebasnya adalah corporate governance. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di BEI yang tergabung dalam indeks CGPI (Corporate Governance Perception Index) tahun 2006-2008, sedangkan sampelnya adalah 10 perusahaan yang mememnuhi kriteria yang ditentukan dan pengambilannya dilakukan dengan metode purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari kepustakaan dan jurnal serta dokumentasi yang ada di PDB, yang pengumpulannya menggunakan metode dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik yaitu analisis regresi linier, pengujian hipotesis menggunakan uji t dengan  (sig) 0,05. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan good corporate governance terhadap kinerja perusahaan yang tergabung dalam corporate governance perception index Periode 2006 – 2008. Atas dasar hasil penelitian maka disarankan (1) agar dalam penelitian selanjutnya disempurnakan dengan menambah variabel dan sampel penelitian, (2) Agar perusahaan menerapkan prinsip GCG antara lain memberikan informasi relevan mengenai perusahaan kepada berbagai pihak yang berkepentingan, berlaku adil terhadap para pemegang saham, adanya kejelasan fungsi dalam pelaksanaan dan pertanggungjawaban masing-masing organ dan seluruh jajaran perusahaan dan melakukan pengelolaan perusahaan secara profesional dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.

Peningkatan kemampuan menggambar motif ragam hias melalui pengalaman berkreasi dengan menstilasi bentuk alam pada kelas V di SDIT Al-Ummah Jombang / Nurtul Fadillah

 

Penelitian dilakukan berawal dari rendahnya nilai siswa didalam materi menggambar motif ragam hias pada siswa kelas V di SDIT Al-Ummah Jombang pada tahun ajaran 2009/2010 nilai skor rata-rata siswa 65 dengan SKM minimal 70.Rendahnya nilai siswa diperkirakan metode yang digunakan adalah metode terpadu, serta kurangnya siswa didalam pengalaman berkreasi. Permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1) Apakah melalui pengalaman berkreasi dengan menstilasi bentuk alam dapat meningkatkan kemampuan menggambar ragam hias?, 2) Bagaimanakah aktifitas siswa setelah diterapkan pengalaman berkreasi?. Berdasarkan masalah yang dihadapi pada siswa kelas V di SDIT Al-Ummah Jombang maka pemecahan masalah peneliti adalah melalui pengalaman berkreasi dengan menstilasi bentuk alam siswa melakukan berbagai proses kreatif antara lain berfikir kreatif dan melakukan kegiatan kreatif dengan menerapkan teknik berkarya dimana siswa mendapat pengalaman yang pada akhirnya siswa dapat menemukan atau menciptakan teknik berkarya yang baru. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus , tiap-tiap siklus dilakukan tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian siswa kelas V SDIT Al-Ummah Jombang yang berjumlah 33 siswa. Pengumpulan data melalui pedekatan tindakan dengan model pelaksanaan guru sebagai model sekaligus peneliti dengan teman sejawat sebagai co-observer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pengalaman berkreasi dengan menganalogi pada materi pokok menggambar ragam hias tema bentuk alam pada siswa kelas V dapat meningkatkan kemampuan menggambar ragam hias,dapat diketahuidari masing –masing penilaian berupa 1) Penilaian proses kerja siswa dengan skor rata-rata pada siklus I mencapai 77 %, pada siklus II skor rata-rata 86 %.2) Penilaian hasil karya siswa pada siklus I mencapai skor rata-rata 75 %, pada siklus II mencapai skor rata-rata 85 %. Temuan peneliti bahwa melaui pengalaman berkreasi dengan menstilasi dapat meningkatkan kemampuan menggambar motif ragam hias. Dengan demikian perlu diterapkan dalam proses pembelajaran selanjutnya.

Nilai-nilai pendidikan dalam budaya organisasi sekolah (studi multi kasus di Madrasah Ibtidaiyah Rahmah, Sekolah Dasar Negeri Lestari, Sekolah Dasar Katolik Kasih Kota Bunga) / Sri Ummiaty Hartiningsih

 

ABSTRAK Hartiningsih, Sri Ummiaty. 2008. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Budaya Organisasi Sekolah (Studi Multi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah Rahmah, Sekolah Dasar Negeri Lestari, Sekolah Dasar Katolik Santa Kasih Kota Bunga). Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd., (II) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd, (III) Prof.Dr. H. Ibrahim Bafadhal, M.Pd. Kata kunci : budaya organisasi sekolah, nilai, artefak. Sekolah dasar merupakan fondasi bagi kelanjutan jenjang pendidikan anak selanjutnya. Keunggulan atau prestasi sebuah lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai variabel baik itu dilihat dari dimensi yang tampak, yang bisa diukur dan dikuantifikasikan, terutama perolehan nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) dan kondisi fisik sekolah tersebut dan dimensi yang tidak tampak, yaitu dimensi soft, yang mencakup nilai-nilai (values), keyakinan (beliefs), dan norma-norma perilaku. Dimensi terakhir ini disebut sebagai the human side of organization (sisi/aspek manusia dari organisasi), yang justru lebih berpengaruh terhadap kinerja individu dan organisasi. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah baik negeri maupun swasta tidak lepas dari nilai-nilai yang diimplementasikan dalam berbagai bentuk artefak yang menjadi budaya organisasi sekolah. Artefak yang merupakan wujud luar dari sebuah nilai-nilai yang diyakini oleh warga sekolah merupakan kunci masuk orang luar untuk mengetahui apa yang telah, sedang dan yang akan di lakukan oleh sebuah sekolah. Kemudian dari tinjauan Artefak yang mendalam dapat di ketahui nilai-nilai yang diyakini oleh sekolah kemudian menciptakan komitmen yang luas untuk kepentingan sekolah dan memantapkan sistem sosial sekolah. Secara umum tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah menemukan sekaligus mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam budaya organisasi sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Rahmah (MIR), Sekolah Dasar Negeri Lestari (SDN L), dan Sekolah Dasar Katolik Kasih (SDK K) Kota Bunga. Tujuan Umum tersebut dijabarkan menjadi tujuan khusus sebagai berikut; (1) mendeskripsikan nilai-nilai yang diyakini di ketiga sekolah dasar tersebut, (2) mendeskripsikan nilai-nilai yang menjadi kekuatan dari ketiga sekolah tersebut (3) mendeskripsikan jenis-jenis artefak sebagai implementasi dari nilai-nilai yang diyakni di MIR, SDN L dan SDK K di Kota Bunga. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multi kasus. Data yang diperoleh dari tiga sumber; peneliti, sekolah dan 20 orang informan kurang lebih selama satu tahun penelitian. Secara fenomenologis penelitian ini mengungkapkan fenomena kasus kajian secara holistic, komprehensif dan kontektual tentang makna interaksi warga sekolah di tempat penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan cara: (1) observasi partisipan, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi dan mengkaji artefak. Data yang terkumpul dari ketiga teknik tersebut diorganisir, ditasir dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus maupun analisis lintas kasus untuk menyusun konsep dan abstraksi temuan penelitian. Kredibilitas data dicek dengan prosedur triangulasi, pengecekkan anggota dan diskusi teman sejawat. Sedangkan dependabilitas fdan konformabilitas dilakukan oleh pembimbing sebagai dependent auditor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Nilai-nilai yang diyakini di Masing-masing Sekolah adalah pada Madrasah Ibtidaiyah Rahmah, nilai-nilai yang diyakini yaitu; (a) nilai kebersihan, (b) nilai kebersamaan, (c)nilai kedisiplinan, (d) nilai keimanan, (5) nilai pelayanan pada siswa dan (6) kekeluargaan. Pada Sekolah Dasar Negeri Lestari, nilai-nilai yang diyakini yaitu; (a) nilai partisipasi orangtua siswa dalam proses pembelajaran, (b) nilai partisipasi orangtua siswa dalam pendanaan sekolah, (c) keimanan dan (d) kedisiplinan. Pada Sekolah Dasar Katolik Kasih, nilai-nilai yang diyakini adalah; (a) nilai keimanan, (b) kedisiplinan, (c) cinta sesama dan diri sendiri dan (d) nilai ketauladanan suster,(2) Nilai-nilai yang menjadi kekuatan di masing-masing sekolah pada MIR adalah nilai kebersamaan, pada SDN Lestari adalah nilai partisipasi orangtua siswa dalam pembelajaran, pada SDK Kasih adalah nilai cinta sesama dan cinta diri sendiri, (3) Artefak-artefak sebagai manifestasi dan pendukung nilai-nilai yang diyakini adalah (a) bentuk-bentuk perilaku sebagai manifestasi dari nilai-nilai yang diyakini, (b) tata letak (lay out) benda sebagai sarana dan manifestasi nilai yang diyakini, (c) benda-benda sebagai alat untuk membantu merealisasikan nilai-nilai yang diyakini, (d) bangunan fisik sebagai realisasi dari nilai-nilai yang diyakini, (e) simbol-simbol sebagai wadah untuk mengkomunikasikan nilai-nilai yang diyakini dan (f) cerita-cerita bijak untuk memperkuat nilai-nilai. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada: (1) Kepada Kepala Sekolah hendaknya kebiasaan warga sekolah yang selama ini telah berlangsung sudah menjadi karakter dan kekuatan sekolah, sebaiknya dipertahankan dan ditingkatkan, (2) Kepada para penyelenggara pendidikan hendaknya dapat mengadopsi nilai-nilai dan artefak yang menjadi budaya organisasi ketiga sekolah dalam penelitian ini yang disesuaikan dengan karakter dasar sekolahnya, (3) Kepada Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota maupun Departemen Agama Kota hendaknya memberikan otonomi kepada sekolah secara penuh, sehingga sekolah dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki, sekaligus mendapatkan dukungan dan sumber daya dari para stake holders, (4) Kepada para pendidik yang setiap hari berhadapan dengan peserta didik dengan segala probematikannya, dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan nilai-nilai kemanusiaan untuk bekal para anak didik agar memiliki karakter kuat untuk bisa menjadi manusia yang tidak hanya memiliki kecerdasan intellektual tapi juga akhlak serta memiliki kepakaan sosial yang kuat. (5) Kepada peneliti berikutnya kiranya dapat mengembangkan lebih dalam aspek-aspek yang berkaitan dengan ‘the human side of organization’. Hasil penelitian di tiga sekolah yang telah dikemukakan diatas perlu dieksplor lagi, karena disini peneliti hanya sebatas mengangkat kepermukaan nilai-nilai serta artefak yang terdapat di tiga sekolah tersebut. Penelitian mendalam bisa masuk pada ranah basic assumption dan philosophical bases, sehingga hasil penelitian ini bisa lebih sempurna.

Meningkatkan hasil belajar IPA melalui pembelajaran berbantuan media internet pada siswa kelas VI SDN Mergosono 3 Kota Malang / Sigit Gunawan

 

ABSTRAK Gunawan, Sigit. 2010. Meningkatkan Hasil Belajar IPA Melalui Pembelajaran Berbantuan Media Internet Pada Siswa Kelas VI SDN Mergosono 3 Kota Malang. Skripsi, Jurusan KSDP Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negri Malang. Pembimbing : (I) Dra.Hj. Sukamti, M.Pd.,(II) Drs. Goenawan Roebyanto, M.Pd. Kata Kunci : pembelajaran IPA, internet, hasil belajar Salah satu faktor penyebab penguasaan materi pembelajaran IPA yang lemah di tingkat sekolah dasar adalah kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, sehingga peserta didik kesulitan dalam memahami materi pembelajaran IPA. Internet adalah salah satu media yang dapat membantu siswa dalam pembelajaran IPA. Selain pengunaan e-mail siswa sebagai sarana belajar dan komunikasi guru, pembelajaran mandiri menggunakan buku elektronik (BSE), dan penggunaan media animasi untuk memvisualisasikan materi, pembelajaran berbasis internet untuk KBM, dapat meningkatkan penguasaan materi khususnya pembelajaran IPA pada siswa kelas VI SDN Mergosono 3 Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penggunaan internet, peningkatan keaktivan, dan hasil belajar siswa kelas VI melalui pembelajaran IPA berbantuan internet di SDN Mergosono 3 kecamatan Kedungkandang kota Malang yang melibatkan 43 siswa Tahun Pelajaran 2009-2010. Penelitian ini dilakukan melalui siklus Kemis & MC. Taggart, dengan menggunakan 2 fase atau 2 siklus, yang setiap siklusnya terdiri dari: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan Data akan dilakukan dengan teknik observasi, tes, dan dokumentasi. 3 kali pertemuan untuk siklus I yang dilakukan pada tanggal 4 Maret 2010, 8 Maret 2010, Dan 9 Maret 2010. Dan 3 kali pertemuan untuk siklus II yang dilakukan pada tanggal 12 Maret 2010, 13 Maret 2010, Dan 17 Maret 2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan media internet sangat diperlukan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya prosentase peningkatan keaktifan, dan hasil belajar siswa setelah mengikuti PBM, dimana pada siklus I rata-rata keaktifan siswa mencapai 34,88%, dan hasil belajar 56 (pra tindakan). Sedangkan kenaikan yang cukup signifikan ditunjukkan pada siklus II, dimana rata-rata keaktifan siswa mencapai 75,97 % (meningkat 41,09%) dan hasil belajar 75,58 yang mengalami peningkatan sebanyak 19,58. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar guru Sekolah Dasar memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang pembelajaran berbasis IT, sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat mencapai hasil yang optimal.

Peningkatan hasil pembelajaran matematika melalui pembelajaran kontekstual pada siswa kelas II SDN Sidorejo 02 Kabupaten Blitar / Widya Prasetyowati

 

ABSTRAK Prasetyowati, Widya. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa Kelas II SDN Sidorejo 02 Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. HM. Zainudin, M. Pd., (II) Dra. Wasih DS, M. Pd. Kata kunci: Hasil Belajar, Matematika, Pembelajaran Kontekstual. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu diberikan kepada siswa dengan tujuan untuk membekali siswa dalam berpikir logis, kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan matematika. Pemahaman konsep yang benar terhadap matematika sangat diperlukan. Pengukuran berat merupakan salah satu materi dalam matematikan yang sulit dipahami oleh siswa. Dalam menyelesaikan soal tentang pengukuran berat, siswa kelas II SDN Sidorejo 02 mengalami kesulitan, sehingga hasil belajar sebagian besar siswa tidak dapat mencapai ketuntasan belajar minimal yang ditentukan. Untuk itu, peneliti melakukan penelitian tidakan kelas untuk mencapai ketuntasan siswa dalam belajar. Tindakan yang dilakukan yaitu dengan melaksanakan pembelajaran kontekstual. Penelitian dirancang dengan menggunakan penelitian kualitatif, yaitu penelitian tindakan kelas. Tahapan penelitian dilakukan sesuai dengan tahapan yang dikemukakan Kemmis dan Taggrat. Subjek penelitian 12 orang siswa. Data yang diambil adalah data keterlaksanaan pembelajaran kontekstual, kegiatan guru dalam pembelajaran kontekstual, respon siswa terhadap pembelajaran, dan hasil belajar siswa yang berupa tes akhir. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, angket, dan tes. Analisis data dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif, disajikan dalam bentuk kata-kata atau kualitatif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. Dalam penelitian ini, target pencapaian keberhasilan individu dan klasikal dalam pembelajaran yang dipatok adalah 65% dan 70%. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: keterlaksanaan pembelajaran kontekstual mengalami peningkatan dari siklus I 33% menjadi 67% pada siklus II. Hasil belajar siswa yang berupa tes akhir, secara klasikal juga mengalami peningkatan dari siklus I 67% menjadi 83% pada siklus II. Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas II dapat meningkat melalui pembelajaran kontekstual. Dari hasil penelitian tersebut hendaknya guru dalam menyampaikan materi pengukuran berat langsung berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Guru harus mampu mengembangkan dan menggunakan media nyata yang sesuai untuk mengajarkan materi pengukuran berat, sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan oleh guru.

Peningkatan prestasi belajar perkalian dan pembagian dasar pada siswa kelas IV SDN Kauman Bangil dengan menggunakan pendekatan educational game "garis perkalian" / Marianah

 

ABSTRAK Marianah. 2010. Peningkatan Prestasi Belajar Perkalian Dan Pembagian Dasar Pada Siswa Kelas IV SDN Kauman Bangil Dengan Menggunakan Pendekatan Educational Game Garis Perkalian. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tomas Irianto, M.Pd., (II) Dra.Hj. Endang Setyo Winarni, M.Pd. Kata Kunci: Garis Perkalian, Perkalian dan Pembagian Dasar, Prestasi Belajar. Matematika merupakan ilmu pengetahuan praktis yang menjabarkan tentang konsep-konsep hitung, akan tetapi dalam pelaksanaan sehari-hari dibutuhkan ketrampilan untuk mampu menerapkan konsep tersebut dalam memecahkan masalah, sehingga diperlukan banyak latihan. Hal ini berlawanan dengan kenyataan di kelas. Berkaitan dengan matematika di kelas IV SDN Kauman Bangil yang merupakan permasalahan adalah materi perkalian dan pembagian dasar. Masalahnya adalah siswa kurang hafal perkalian dan pembagian dasar, sehingga berakibat rendahnya hasil prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa materi perkalian dan pembagian dasar dengan menggunakan pendekatan educational game garis perkalian. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan rancangan PTK yang dilakukan selama 2 bulan sejak pertengahan Desember 2009 sampai dengan awal Januari 2010. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Kauman Bangil yang berjumlah 28 siswa. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: keaktifan siswa mengalami peningkatan 17,8% yaitu dari78,6% menjadi 96,4%, untuk aspek keberanian mengalami peningkatan 23,8% yaitu dari 67,9% menjadi 91,7%, sedangkan pada aspek sportifitas mengalami peningkatan 35,7% yaitu dari 48,8% menjadi 84,5%. Peningkatan Prestasi siswa juga relatif tinggi, dari nilai rata-rata kelas 58,5 siklus 1 menjadi 87,9 pada siklus 2, secara keseluruhan hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan mencapai target yang telah ditetapkan. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar semakin sering Educational Game Garis Perkalian diterapkan dalam KBM matematika, sebab semakin sering digunakan akan semakin meningkatkan daya tarik siswa terhadap matematika. Apabila anak sudah tertarik kepada matematika, dengan sendirinya mereka akan giat belajar dan berlatih dalam penerapan konsep perkalian dan pembagian. Kemauan belajar yang tinggi merupakan modal utama dalam mencapai peningkatan prestasi belajar siswa secara maksimal pada mata pelajaran matematika.

Peningkatan hasil belajar soal cerita dengan pendekatan penemuan terbimbing pada siswa kelas IV SDN Kolomayan 01 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar / Dedi Churniawan

 

ABSTRAK Churniawan, Dedi. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Soal Cerita dengan Pendekatan Penemuan Terbimbing Pada Siswa Kelas IV SDN Kolomayan 01 Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. HM. Zainuddin, M.Pd., (II) Dra. Hj. Lilik Bintartik, M.Pd. Kata kunci : pendekatan penemuan terbimbing, soal cerita, hasil belajar. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang perlu diberikan kepada semua siswa mulai sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kompetensi berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif. Berbagai kompetensi tersebut diberikan agar siswa mampu menerapkan konsep matematika dalam memecahkan masalah yang erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari. Soal cerita pecahan merupakan salah satu materi dalam matematika. Dalam menyelesaikan soal cerita pecahan, siswa kelas IV SDN Kolomayan 01 mengalami kesulitan sehingga hasil belajar siswa pada soal cerita pecahan sangat rendah dengan rata-rata 55,64. Karena itulah peneliti melakukan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar soal cerita pecahan. Tindakan yang dilakukan adalah menerapkan pembelajaran dengan pendekatan penemuan terbimbing. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu jenis penelitian tindakan kelas. Tahapan penelitian dilakukan sesuai tahap yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart. Subjek peneliti berjumlah 11 siswa. Data yang diambil adalah data tentang hasil belajar siswa, keterlaksanaan pendekatan penemuan terbimbing, kegiatan guru dalam mengajar dan respon siswa. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, tes, dan angket. Teknik analisa data dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Analisa data merupakan proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, dan mengorganisasi data secara sistematik dan rasional untuk menyusun jawaban terhadap tujuan penelitian. Untuk hasil belajar digunakan SKM sebagai standar ketuntasan siswa dalam belajar. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: hasil belajar siswa soal cerita pecahan mengalami peningkatan dari hasil tes akhir diperoleh prosentase ketuntasan belajar pada pra tindakan 27,27% dengan kategori sangat kurang, siklus I 81,81% dengan kategori baik dan siklus II 100% dengan kategori sangat baik. Keterlaksanaan pendekatan penemuan terbimbing dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan dari siklus I 54,45 % dengan kategori cukup dan siklus II 81,81% dengan kategori baik. Dari hasil penelitian tersebut diharapkan agar guru mencoba menerapkan pembelajaran dengan pendekatan penemuan terbimbing untuk mengatasi kesulitan siswa menyelesaikan soal cerita pecahan, sedangkan untuk peneliti lain diharapkan dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menerapkannya pada ruang lingkup yang lebih luas.

Komparasi desain poster film animasi produksi Amerika Serikat, Jepang, dan Korea (tahun 2000-2009) menurut tinjauan semiotika / Aniendya Christianna

 

ABSTRAK Christianna, Aniendya. 2010. Komparasi Desain Poster Film Animasi Produksi Amerika Serikat, Jepang, dan Korea (Tahun 2000-2009) menurut Tinjauan Semiotika. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Moeljadi Pranata, M.Pd, (II) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn. Kata kunci: komparasi, poster, film animasi, semiotika Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan desain poster-poster film animasi produksi Amerika Serikat, Jepang, dan Korea dengan menggunakan metode analisis teks (kajian semiotika). Peneliti mengambil satu teks poster film animasi terseleksi dalam satu tahun sepanjang tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 sebagai objek penelitian. Sehingga didapatkan sepuluh teks poster untuk satu negara. Sepuluh teks poster tersebut dipandang dapat merepresentasikan perkembangan film animasi selama 10 tahun. Adapun film animasi yang dipilih untuk mewakili setiap tahun merupakan film animasi yang memperoleh berbagai penghargaan berskala internasional, baik lokal maupun internasional. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan teknik semiotika struktural analisis. Dalam hal ini teks tanda-tanda tersebut diurai untuk dideskripsikan masing-masing maknanya, kemudian disintesis untuk dideskripsikan makna teksnya. Tanda-tanda tersebut meliputi ilustrasi, tipografi, warna, layout, dan gaya desain grafis yang digunakan dalam suatu poster film animasi. Dari hasil penelitian diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut (a) deskripsi tanda dan makna yang muncul dari visualisasi teks poster film animasi produksi Amerika Serikat, Jepang dan Korea mulai tahun 2000 sampai dengan tahun 2009, dan (b) deskripsi persamaan dan perbedaan teks poster film animasi produksi Amerika Serikat, Jepang dan Korea mulai tahun 2000 sampai dengan tahun 2009. Saran untuk penelitian lanjutan, pertama, disarankan pada penelitian lanjutan untuk melakukan berbagai eksplorasi pendekatan guna memperoleh hasil yang lebih variatif. Kedua, objek penelitian dapat dipersempit cakupannya, baik dari segi kuantitas poster maupun negara yang dikaji. Ketiga, pengkajian struktur visual poster film animasi dalam konteks pengaruh budaya terhadap visualisasi poster. Keempat, sudah saatnya praktisi desain untuk mengkaji poster film animasi sebagai salah satu media komunikasi visual yang menentukan tingkat keberhasilan film animasi. Karena selama ini, praktisi desain lebih terfokus pada film animasi itu sendiri dan kurang mengindahkan media-media pendukung lainnya. Sehingga tampilan poster film animasi perlu dikaji lebih mendalam untuk memperoleh suatu kesimpulan tentang poster film animasi yang efektif dalam mempromosikan film animasi.

Pengaruh sistem pembelajaran modul berbantuan komputer terhadap prestasi, motivasi dan pembelajaran individu pada kompetensi melakukan pekerjaan dengan mesin bubut / Toufik Julianto

 

Abstrak: Pekerjaan dengan mesin bubut merupakan salah satu standar kompetensi pada program keahlian teknik mesin perkakas di SMK PGRI 3 Malang. Standar kompetensi tersebut terdiri atas memperhatikan aspek keselamatan kerja, menentukan persyaratan kerja, mempersiapkan pekerjaan, pengoperasian mesin bubut, dan Periksa kesesuaian komponen dengan spesifikasi. Prestasi belajar, motivasi dan pembelajaran individu dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal diri siswa, faktor tersebut terdiri atas banyak aspek, untuk kedalaman pembahasan diperlukan pembatasan faktor-faktor tersebut sehingga hanya media pembelajaran yang sebagai salah satu aspek faktor eksternal. Kegiatan penelitian ini dilakukan di SMK PGRI 3 Malang, dalam situasi sekolah. Subjek penelitian adalah siswa kelas 1, tahun pelajaran 2009/ 2010 jumlah siswa adalah sebanyak 160 orang yang terdiri atas 4 kelas yakni Kelas 1TPA dan 1TPC menjadi kelas eksperimen dan kelas 1TPB dan 1TPD menjadi kelas kontrol, dan setiap kelas terdiri dari 40 siswa. Instrumen yang digunakan sebagai pengumpul data dalam penelitian ini terdiri dari; (1) tes formatif; (2) tes praktik di bengkel; (3) angket; (4) penilaian motivasi belajar diambil dari jawaban dari pertanyaan pada angket yang diberikan kepada siswa setelah siswa melalui proses pembelajaran modul dan komputer. Analisis data menggunakan teknik statistik uji T yang digunakan untuk menguji perbedaan pengaruh perlakuan. Hasilnya adalah; (1) sistem Modul Berbantuan Komputer berbeda dengan sistem modul terhadap nilai tes formatif; (2) terhadap hasil kompetensi memberikan pengaruh pencapaian kompetensi yang berbeda; (3) pada pembelajaran individu terdapat perbedaan; (4) terdapat perbedaan dalam motivasi belajar. Kata kunci: Pekerjaan Mesin Bubut, Modul Berbantuan Komputer

Penerapan model student teams achievement division pada pelaksanaan praktikum mata pelajaran pengolahan makanan (cookery) untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SMK Negeri 7 Malang / Febri Pratama

 

ABSTRAK Pratama, Febri. 2010. Penerapan Model Student Teams Achievement Division Pada Pelaksanaan Praktikum Mata Pelajaran Pengolahan Makanan (Cookery) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Di SMK Negeri 7 Malang. Skripsi. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I Prof. Dr. H. Mohammad Efendi, M. Pd, M. Kes. Pembimbing II Dra. Hj. Anti Asta Viani, M. Pd. Kata Kunci: model student teams achievement division, praktikum, hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model STAD dalam proses pelaksanaan praktikum mata pelajaran pengolahan makanan, mendiskripsikan hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran dengan model STAD di SMK Negeri 7 Malang. Jenis penelitian ini adalah PTK Partisipan. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas X restoran II. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes, pedoman observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Student Teams Achievement Division pada pelaksanaan praktikum mata pelajaran pengolahan makanan (Cookery) adalah; 1) kegiatan pembelajaran yaitu; a) kegiatan awal, b) kegiatan inti, c) kegiatan penutup. 2) model STAD yaitu; a) tahap penyajian materi, b) tahap kerja kelompok, c) tahap tes individu, d) tahap perhitungan skor perkembangan individu, e) tahap pemberian penghargaan. Peningkatkan hasil belajar siswa di SMK Negeri 7 Malang adalah; hasil belajar siswa secara klasikal meningkat terus menerus dari kedua siklus, sebelum tindakan ketuntasan belajar siswa sebesar 45% menjadi 88,70% pada siklus I meningkat menjadi 93,46% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Student Teams Achievement Division pada pelaksanaan praktikum mata pelajaran pengolahan makanan (Cookery) dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SMK Negeri 7 Malang, dengan ini diharapkan menjadikan pembelajaran kooperatif model STAD sebagai suatu alternatif dalam mata pelajaran pengolahan makanan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan pada mata pelajaran pengolahan makanan.

Meningkatkan kemampuan menemukan volume kubus dan balok melalui media benda konkret di kelas V SDN Jeladri II Kecamatan Winongan / Mansur

 

ABSTRAK Mansur. 2010.Meningkatkan Kemampuan Menemukan Volume Kubus dan Balok Melalui Media Benda Konkret di Kelas V SDN Jeladri II Kecamatan Winongan. Skripsi, Jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Harmini, S.Pd, M.Pd, (II) Drs. M. Imron Rosyadi HSy, S.Pd, M.Pd Kata Kunci: Inkuiri volume kubus, balok, media benda konkret. Permasalahan yang ditemukan peneliti pada kegiatan pembelajaran di kelas V SDN Jeladri II adalah: (1) kurangnya guru dalam penguasaan model-model pembelajaran inovatif; (2) Kecenderungan guru untuk mendominasi kegiatan pembelajaran; (3) rendahnya aktivitas siswa dalam pembelajaran; dan (4) rendahnya penguasaan siswa terhadap konsep volume kubus dan balok. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk meningkatkan: (1) kualitas pembelajaran; (2) kemampuan siswa dalam memahami konsep volume kubus dan balok; (3) aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Jerume Bruner untuk memahami pengetahuan baru diperlukan tahapan-tahapan yang runtut, meliputi ; tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Sebagai implelementasi dari tahapan tersebut, maka digunakan strategi pembelajaran berbasis penemuan/inkuiri. Penelitian ini dilakukan dengan cara bersiklus, yang masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Siklus I dan II masing-masing terdiri dari 3 pertemuan. Hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I dijadikan acuan untuk perencanaan tindakan pada siklus berikutnya. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan terhadap kegiatan pembelajaran di kelas V SDN Jeladri II. Peningkatan tersebut berupa peningkatan kualitas pembelajaran, peningkatan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran mencapai 95%, dan peningkatan prestasi siswa terhadap konsep volume kubus dan balok. Hal ini terlihat dari peningkatan rata-rata skor hasil tes setiap akhir pertemuan. Peningkatan rata-rata skor hasil tes dari pra tindakan sampai akhir pertemuan ke-3 siklus II mencapai 33,6 (80,2%) Disarankan kepada guru kelas V SDN Jeladri II agar menerapkan strategi pembelajaran ini untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya. Bagi Kepala SDN Jeladri II hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Bagi peneliti lain hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk penelitiannya.

Hubungan penguasaan materi hukum dalam mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan disiplin siswa dalam mematuhi tata tertib sekolah di SMP Negeri 3 Malang / Anindita Puspandari

 

ABSTRAK Puspandari, Anindita. 2009. Hubungan Penguasaan Materi Hukum dalam Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan Disiplin Siswa dalam Mematuhi Tata Tertib Sekolah di SMP Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Suparlan, M.Si, (II)Sutoyo, SH, M.Hum. Kata Kunci: Materi Hukum, Pendidikan Kewarganegaraan, Disiplin Siswa, Tata Tertib Sekolah Pendidikan Kewarganegaraan memuat materi mengenai hukum yang di dalamnya berisi mengenai nilai, norma, dan peraturan yang ada di masyarakat hingga dalam kehidupan bernegara. Dengan adanya materi mengenai hukum tersebut dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa diharapkaan mengetahui norma hukum yang ada di lingkungannya, mematuhinya dan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutamanya di sekolah. Tata tertib siswa adalah norma hukum di sekolah. Sehingga setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Walaupun tata tertib sekolah sudah diberlakukan, materi mengenai hukum juga sudah diterima siswa, kenyataannya masih tetap saja ada siswa yang melakukan pelanggaraan terhadap tata tertib sekolah, yang merentang dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan penguasaan siswa SMP Negeri 3 Malang terhadap materi hukum dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, (2) mendeskripsikan disiplin siswa SMP Negeri 3 Malang terhadap tata tertib sekolah, (3) menjelaskan hubungan antara penguasaan siswa terhadap materi hukum dalam mata melajaran Penddidikan Kewarganegaraan dengan disiplin siswa dalam mematuhi tata tertib sekolah di SMP Negeri 3 Malang. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Malang dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 3 Malang tahun ajaran 2008/2009. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan sampel adalah Proportional Stratified Random Sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 70 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, kuesioner, dan dokumentasi. Analisis penelitian menggunakan analisis deskriptif untuk mendeskripsikan penguasaan siswa terhadap materi hukum dan disiplin siswa. Analisis korelasi juga digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan hubungan antara penguasaan siswa terhadap materi hukum dengan disiplin siswa. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: Analisis prosentase dari 70 siswa menunjukkan sebesar 65,71% dengan jumlah siswa sebanyak 46 siswa mempunyai penguasaan yang baik terhadap materi hukum. Disiplin yang dimiliki tergolong sangat tinggi dengan prosentase 92,86%. Analisis korelasi dengan taraf signifikansi 5% menunjukkan rhitung > rtabel (0.670 > 0,2356). Kesimpulannya terjadi hubungan yang positif dan signifikan antara penguasaan materi hukum dan disiplin siswa dalam mematuhi tata tertib sekolah. Berdasarkan temuan hasil penelitian, dikemukakan saran sebagai berikut: (1) guru Pendidikan Kewarganegaraan hendaknya dapat memberikan keteladanan bagi siswa dengan memberikan contoh konkrit mengenai sikap disiplinnya terhadap tata tertib sekolah, misalnya tidak terlambat saat akan mengajar, guru juga hendaknya mensosialisasikan peraturan dan tata tertib sekolah yaitu melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya pada materi hukum; (2) bagi siswa SMP Negeri 3 Malang hendaknya menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dari pembelajaran mengenai materi hukum dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata berupa kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, khususnya di lingkungan sekolah; (3) orang tua hendaknya bekerja sama secara proaktif dengan pihak sekolah dalam memantau perilaku putra putrinya di sekolah; (4) kepada peneliti selanjutnya diharapkan lebih memvariasikan atau menambah variabel yang diteliti, menambah jumlah sampel, dan memvariasikan instrumen penelitian misalnya untuk variabel disiplin siswa menggunakan instrumen tes skala sikap, observasi, atau instrumen yang lain sehingga hasil yang diperoleh lebih baik.

Penerapan penilaian berbasis kelas dalam pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar fisika siswa kelas VII D SMP Negeri 8 Malang / Tinta Khasanah

 

ABSTRAK Khasanah, Tinta. 2010. Penerapan Penilaian Berbasis Kelas dalam Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Fisika Siswa kelas VII D SMP Negeri 8 Malang. Skripsi, Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muhardjito, M.S, (II) Sugiyanto, S.Pd, M.Si Kata kunci: Penilaian berbasis kelas, pembelajaran berbasis masalah, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 8 Malang, diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa masih rendah. Hal ini diduga disebabkan oleh kecenderungan guru hanya menggunakan metode ceramah dan diskusi. Guru jarang menggunakan metode eksperimen. Selain itu guru masih menggunakan model penilaian time-restiched model, yang hanya dilakukan setelah proses pembelajaran selesai. Aspek yang dinilai hanya aspek kognitif saja, tidak menyentuh aspek afektif dan psikomotorik serta kemampuan berpikir kritis. Sangat penting untuk diajukan suatu alternatif model pembelajaran dan penilaian yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar fisika siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan penilaian berbasis kelas pada pembelajaran berbasis masalah dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan berpikir kritis serta hasil belajar fisika siswa kelas VII D SMP Negeri 8 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Tindakan yang diberikan pada penelitian ini berupa penerapan penilaian berbasis kelas pada pembelajaran berbasis masalah. Pelaksanaan penilaian berbasis kelas terintegrasi dengan pelaksanaan pembelajaran masalah yang meliputi 5 tahap, yaitu (1) mengorientasikan siswa pada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individu dan kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Penilaian dilaksanakan pada semua proses pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII D SMP Negeri 8 Malang dengan jumlah 42 siswa, yang terdiri dari 25 siswa putri dan 17 siswa putra. Pokok bahasan yang dibelajarkan adalah kalor dengan rincian materi kalor dan perubahan suhu, hubungan kalor dengan jenis zat, perubahan wujud zat, dan perpindahan kalor. Instrumen penelitian yang digunakan berupa rubrik penilaian yang meliputi penilaian kemampuan berpikir kritis, hasil belajar yang meliputi aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik, lembar observasi keterlaksanaan penilaian berbasis kelas dan pembelajaran berbasis masalah. Instrumen tindakan yang digunakan meliputi LKS dan RPP. Penerapan penilain berbasis kelas dalam pembelajaran berbasis masalah dapat terlaksana dengan baik, dengan persentase keterlaksanaan semakin meningkat selama siklus I, II, dan III. Kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar mengalami peningkatan selama siklus I, II, dan III.

Pengaruh laba dan arus kas terhadap trading volume activity pada perusahaan LQ 45 di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007 / Asep Komarudin

 

ABSTRAK Komarudin, Asep. 2010. Pengaruh Laba dan Arus Kas Terhadap Trading Volume Activity Pada Perusahaan LQ 45 di BEI. Skripsi. Jurusan Akuntansi, Program Studi S1 Akuntansi FE Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., Ak., Pembimbing (II): Makaryanawati, S.E.,M.Si., Ak. Kata kunci:Laba, arus kas dan trading volume activity (TVA). Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi, Suatu informasi dianggap informatif jika informasi yang diberikan mampu mengubah kepercayaan pengambil keputusan. Adanya informasi yang baru akan membentuk suatu kepercayaan yang baru dikalangan investor sehingga kepercayaan ini akan mengubah harga melalui demand dan supply surat-surat berharga. Semakin banyak informasi yang didapat dan relevan maka semakin baik pula terhadap keputusan investasi yang akan diambil. Informasi yang diperoleh dari laporan keuangan arus kas dan laba rugi suatu perusahaan dapat membantu investor untuk menilai prospek perusahaan dimasa yang akan datang serta menambah preferensi investor tentang resiko dan return yang diharapkan oleh para investor, karena setiap investor pasti menginginkan return yang optimal dengan tingkat resiko yang pasti. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh laba dan arus kas terhadap Trading Volume Activity(TVA). Metode dalam penelitian ini adalah metode eksplanasi, penelitian eksplanasi adalah penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan LQ 45 yang terdaftar di BEI periode 2005-2007. Data penelitian berupa data sekunder yang terdiri dari: 1). Daftar nama perusahaan LQ 45 yang terdaftar di BEI, 2). laporan laba rugi perusahaan LQ 45, 3). laporan arus kas, dan 4). Laporan trading volume activity (TVA). Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik statistik parametrik yaitu uji regresi linier berganda, dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1). Berdasarkan uji regresi disimpulkan bahwa laba berpengaruh terhadap trading volume activity (TVA), 2). Berdasarkan uji regresi arus kas tidak berpengaruh terhadap trading volume activity (TVA). Saran yang bisa dikemukakan antara lain: 1). Menambah variabel-variabel lain yang diindikasikan berpengaruh terhadap trading volume activity dan 2). Penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang lebih variatif untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Penerapan model problem based learning untuk peningkatan aktifitas dan hasil belajar pembuatan blog pada siswa SMA Negeri 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan / Vebriyanti Dwi Anggraini

 

ABSTRAK Dwi Anggraini, Vebriyanti. 2010. Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Peningkatan Aktifitas dan Hasil Belajar Pembuatan Blog Pada Siswa SMA Negeri 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan. Skripsi, Jurusan Teknik elektro, Program Studi Pendidikan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Setiadi C.P., M.T., M.Pd., (2) Drs. Slamet Wibawanto, M.T. Kata Kunci: Problem Based Learning, Aktifitas Belajar, Hasil Belajar Pembuatan Blog. Berdasarkan pengalaman mengajar di kelas XI IPS2 SMA Negeri 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan diketahui terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran TIK. Permasalahan tersebut antara lain: (1) guru menggunakan metode ceramah, (2) aktifitas siswa kurang, (3) interaksi siswa dengan siswa kurang, dan (4) hasil belajar rendah. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL), melalui Penelitian tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas. Siklus yang dirancang adalah 2 siklus dengan menggunakan model siklus Kemmis dan Taggart (1997). Setiap siklus terdiri dari empat tahap: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan atau observasi, dan (4) refleksi. Target peningkatan nilai aktifitas pada siklus II direncanakan sebesar 20% dari pencapaian nilai aktifitas siklus I pada setiap tahap-tahap dalam PBL. Sedangkan target ketuntasan hasil belajar pada siklus I dan siklus II sebesar 80% dari jumlah siswa. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS2 SMA Negeri 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan sebanyak 30 siswa terdiri atas 16 siswa perempuan dan 14 siswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar pembuatan blog pada siswa SMA Negeri 1 Sukodadi Kabupaten Lamongan. Perolehan skor rata-rata komponen aktifitas siswa pada siklus I sebesar 56,7 meningkat sebesar 25,3 pada siklus II dengan perolehan skor rata-rata komponen aktifitas siswa sebesar 82. Sedangkan perolehan skor rata-rata formatif siswa meningkat dari rata-rata sebelumnya (pretest) sebesar 66 menjadi 72,4 pada siklus I dengan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 50% dan meningkat lagi menjadi 84,2 pada siklus II dengan persentase 100%. Dengan berpijak pada hasil penelitian, peneliti menyarankan agar dalam pelaksanaaan pembelajaran di sekolah, Problem Based Learning (PBL) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar khusunya pada mata pelajaran TIK di SMA, dan dapat digunakan sebagai acuan kerjasama lebih lanjut antara Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang dengan masyarakat umumnya dan para guru di sekolah khususnya dalam mensosialisasikan produk-produk dan kajian-kajian di Perguruan Tinggi.

Perancangan komik digital interaktif sebagai sarana sosialisasi mitigasi bencana tanah longsor / Enggar Ajar Adirasa

 

Tanah longsor adalah pergerakan massa tanah dan bebatuan yang menuruni lereng, merupakan bencana yang terjadi secara sporadis dan periodik. Penyebab bencana ini seringkali dikaitkan dengan aktivitas penduduk lokal sekitar tempat bencana tersebut, namun sedikit yang memahami bahwa masyarakat kota juga memberi kontribusi langsung atau tidak langsung terhadap terjadinya tanah longsor, contohnya adalah berdirinya villa-villa liar di daerah pinggir kota yang kebanyakan dibangun masyarakat kota. Oleh karena itu mitigasi tanah longsor yang merupakan tindakan penanganan menyeluruh saat pra-bencana, bencana hingga pasca bencana, perlu disosialisasikan kepada masyarakat kota. Salah satu media sosialisasi yang dapat digunakan untuk segmen masyarakat kota adalah komik digital interaktif. Media ini dipilih sebab sesuai dengan karakteristik masyarakat kota yang memiliki kemudahan dalam mengakses data digital melalui komputer, internet dan handphone. Komik digital interaktif adalah sebuah format komik dengan balutan audio visual berbasis software Flash yang terdiri atas 3 episode berkelanjutan yang mengangkat tema mengenai tanah longsor. Sementara aspek interaktivitas dalam media komik ini, misalnya adalah dengan melibatkan pembaca dalam memilih keputusan apa yang akan diambil oleh tokoh utama dalam komik, keputusan yang berbeda akan berimbas pada jalan cerita yang berbeda. Adapun saran yang dapat dikemukakan adalah bahwa dengan menggandeng lebih banyak pihak yang berkompeten, potensi media komik digital interaktif ini dapat lebih berkembang dan bermanfaat.

Studi tentang pemahaman pengetahuan peraturan pertandingan pencak silat kategori tanding hasil dari Munas IPSI XI tahun 2003 pada mahasiswa Jurusan PJK peserta mata kuliah T dan P pencak silat II Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Adi Prasetia

 

ABSTRAK Prasetia, Adi. 2009. Studi Tentang Pemahaman Pengetahuan Peraturan Pertandingan Pencak silat Kategori Tanding Hasil dari MUNAS IPSI XI Tahun 2003 pada Mahasoswa Jurusan PJK Peserta Mata Kuliah Teori dan Praktik Pencak Silat II Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Sulistyorini, M.Pd (2) Dra. Siti Nurrochmah, M.Kes Kata Kunci : Pemahaman, Pengetahuan, Peraturan Pertandingan Pencak Silat Pencak silat merupakan salah satu cabang olahraga pertandingan yang berkembang pesat saat ini. Hal ini dapat dilihat dengan adanya berbagai pertandingan yang ada. Silat adalah inti sari dari pencak, ilmu untuk perkelahian atau membela diri mati-matian yang tidak dapat dipertunjukkan di depan umum. Pencak silat juga sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan memiliki peraturan pertandingan yang lengkap, bahkan secara rinci untuk mengatur jalannya sebuah pertandingan. Pencak silat sebagai olahraga pertandingan, membutuhkan peraturan-peraturan untuk mengatur jalannya sebuah pertandingan. Tujuan dibuat peraturan ini adalah agar dalam pertandingan dapat berjalan lancar, dapat dinikmati dengan aman dan bagi pihak yang kalah dapat menerima kekalahannya. Selain itu para pelaku olahraga pertandingan pencak silat dapat terlindungi keselamatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pemahaman pengetahuan peraturan pertandingan pencak silat kategori tanding hasil dari MUNAS IPSI XI Tahun 2003 bagi mahasiswa Jurusan PJK peserta mata kuliah Teori dan Praktik Pencak Silat II Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (PJK) tahun 2009. Populasi dalam penelitian ini sebesar 187 orang mahasiswa Jurusan PJK peserta mata kuliah Teori dan Praktik Pencak Silat II. Sampel penelitian sebesar 47 orang mahasiswa melalui teknik randem sampling. Instrumen yang digunakan adalah instrumen nontes berupa angket dengan teknik analisis persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak (19,15%) mahasiswa memiliki pemahaman pengetahuan pertandingan pencak silat sangat baik. Terdapat (61,70%) mahasiswa yang memiliki pemahaman pengetahuan peraturan pertandingan pencak silat yang baik dan sebanyak (19,15%) mahasiswa yang memiliki pemahaman pengetahuan peraturan pertandingan pencak silat yang kurang baik. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa Jurusan PJK angkatan 2007 peserta mata kuliah Teori dan Praktik Pencak Silat II memiliki pemahaman pengetahuan yang baik tentang peraturan pertandingan pencak silat hasil dari MUNAS IPSI XI Tahun 2003. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada 1). Lembaga (dosen pembina mata kuliah pencak silat I dan II) untuk memberikan materi pencak silat I dan II dengan metode atau cara yang mudah dipahami oleh mahasiswa sehingga memiliki pemahaman pengetahuan yang sangat baik tentang peraturan pertandingan pencak silat, 2) mahasiswa untuk lebih menambah informasi atau pengetahuan tentang peraturan pertandingan pencak silat, 3) Peneliti selanjutnya hendaknya perlu mengembangkan aspek lain yang mempengaruhi tentang pemahaman pengetahuan peraturan peraturan pertandingan pencak silat.

Hubungan penguasaan komposisi warna dengan kemampuan melukis cat air siswa ekstrakurikuler lukis SMP Tamansiswa (Taman Dewasa) Malang / Noer Cholis

 

ABSTRAK Cholis, Noer. 2010. Hubungan Penguasaan Komposisi Warna Dengan Kemampuan Melukis Cat Air Siswa Ekstrakurikuler Lukis SMP Tamansiswa (Taman Madya)Malang. Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Iriaji, M. Pd, (II) Drs. Andi Harisman. Kata Kunci: Komposis Warna, Teori Warna, Melukis Cat Air. Kegiatan ekstrakurikuler Lukis di SMP merupakan pembelajaran diluar jam pelajaran terstruktur yang menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah, bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kreativitas dan menjadi profesional. Kegiatan ekstrakurikuler lukis di SMP Tamansiswa diajarkan dengan berbagai media dan tehnik, akan tetapi siswa mengalami kesulitan pada saat mewarnai obyek lukisan. Unsur seni rupa juga berpengaruh pada karya, apakah sudah diterapkan kepada siswa. Berdasarkan permasalahan tersebut dilakukan penelitian untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman teori warna, penguasaan komposisi warna, kemampuan melukis siswa, hubungan pemahaman teori warna dengan penguasaan komposisi warna, hubungan pemahaman teori warna dengan kemampuan melukis, hubungan penguasaan komposisi warna dengan kemampuan melukis cat air . Populasi sekaligus sampel (total) adalah siswa ekstrakurikuler lukis di SMP Tamansiswa Malang sebanyak 24 siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan korelasi deskriptif dan menggunakan teknik pengumpulan data dengan tes dan dokumentasi, selanjutnya data dihitung frekuensi dan prosentasenya, kemudian dicari korelasinya dengan formula koefisiensi korelasi produck moment dari Kalt Pearson dengan bantuan perangkat (SPSS) Statistical Product service Solution for windows versi 14.00. Hasil analisis deskriptif menunjukan, bahwa pemahaman teori warna dan penguasaan komposisi warna keseluruhan adalah sedang sebesar 37 %. Pemahaman teori warna (X) adalah sedang sebesar 46 %, untuk penguasaan komposisi warna (X1) adalah sedang sebesar 54 %. kemampuan melukis cat air sebagian besar 38 % adalah kurang dengan rata-rata kelas 74,83 adalah sedang. Mengenai hasil analisis statistik pada taraf signifikan 0,05. Hubungan pemahaman teori warna dengan penguasaan komposisi warna tidak ada hubungan yang signifikan hasil uji menunjukan 0,229 dengan nilai sig sebesar 0,141. Karena r hitung (0,229) < r tabel (0,404) korelasinya lemah pada tabel menunjukan nilai positif, maka makin tinggi pemahaman teori warna siswa juga akan membuat semakin tinggi pula penguasaan komposisisi warna. Hubungan pemahaman teori warna dengan kemampuan melukis tidak ada hubungan yang signifikan Hasil uji korelasi -0,40 dengan nilai sig sebesar 0,427. Karena r hitung (0,40) < r tabel (0,404) hubunganya moderat atau pada klasifikasi korelasi sedang dan tandanya negatif, jika pemahaman teori warna rendah maka kemampuan melukis pun juga rendah kareana pemahaman teori warna adalah penerapan dasar yang harus dikuasai (sifat warna: hue, value, croma) pada saat melukis. Dan hubungan penguasaan komposisi warna dengan kemampuan melukis tidak ada hubungan yang signifikan hasil uji korelasi 0,000 dengan nilai sig sebesar 0,500. Karena r hitung (0,000) < r tabel (0,404), jadi korelasinya lemah dan menunjukan nilai yang (positif), maka semakin makin tinggi penguasaan kompisisi warna akan berpengaruh semakin tinggi pula kemampuan melukis. siswa ekstrakurikuler SMP Tamansiswa beranggapan bahwa keberhasilan melukis adalah persoalan tehnik yang menentukan, hal ini bertolak belakang dengan era sekarang dimana perkembangan lukis kontemporer kemampuan teknis menjadi nomer sekian yang diutamakan pada era sekarang lukis adalah bisa merespon gagasan dengan komposisi warna yang menarik. Sebaiknya pada kegiatan ekstrakurikuler lukis guru pembimbing mengajarkan pemahaman teori warna, penguasaan komposisi warna lebih maksimal dengan metode sederhana,mudah, dan meningkatkan kreatifitas siswa.

Penerapan model quantum teaching dalam meningkatkan prestasi siswa kelas X bidang keahlian teknik komputer dan jaringan di SMKN 1 Purwosari / Faizatul Amalia

 

ABSTRAK Amalia, Faizatul. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Quantum Teaching Dalam Meningkatkan Prestasi Siswa Kelas X Bidang Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di SMKN 1 Purwosari. Skripsi, Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ir. Syaad Patmanthara, M.Pd., (II) Drs. Tri Atmadji Sutikno, M.Pd. Kata Kunci: PTK, model pembelajaran quantum teaching, prestasi belajar Kurangnya partisipasi dari siswa, menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa (Winkel, 1984). Menurut Walberg, untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan model pembelajaran yang lebih efektif. Salah satu model pembelajaran efektif adalah quantum teaching. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan : (1) Langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran quantum teaching, (2) Peningkatan prestasi siswa setelah diterapkan model pembelajaran quantum teaching. Rancangan pada penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Penelitian ini dilakukan di SMKN 1 Purwosari Kabupaten Pasuruan dalam kurun waktu Januari sampai dengan Maret 2010. Analisis data menggunakan analisis keberhasilan tindakan dan ketuntasan belajar untuk mengungkap besarnya persentase keberhasilan tindakan dan prestasi belajar. Hasil penelitian ini meliputi (1) Pada tindakan siklus I : (a) Aspek kognitif adalah sebesar 41,7%, (b) Ranah afektif dengan persentase 77,77% (aspek keaktifan adalah sebesar 58,3%; aspek keantusiasan adalah sebesar 75%; aspek keceriaan adalah sebesar 100%), (c) Ranah psikomotor dengan persentase 65,63% (aspek kreativitas adalah 75%; aspek proses adalah 56,25%), (d) Rata-rata keberhasilan tindakan ditinjau dari aspek siswa pada siklus I yaitu 76,9%, dan (e) Rata-rata keberhasilan tindakan ditinjau dari aspek guru pada siklus I yaitu 80,8%; (2) Pada tindakan siklus II : (a) Aspek kognitif adalah sebesar 81,8%, (b) Ranah afektif dengan persentase 80,57% (aspek keaktifan adalah sebesar 75%; aspek keantusiasan adalah sebesar 66,7%; aspek keceriaan adalah sebesar 100%), (c) Ranah psikomotor dengan persentase 78,1% (aspek kreativitas adalah 75%; aspek proses adalah 81,25%), (d) Rata-rata keberhasilan tindakan ditinjau dari aspek siswa pada siklus II yaitu 84,6%, dan (e) Rata-rata keberhasilan tindakan ditinjau dari aspek guru pada siklus II yaitu 80,8% Kesimpulan penelitian ini adalah mengungkap (1) Langkah-langkah menerapkan model pembelajaran quantum teaching dengan kerangka rancangan TANDUR adalah : (a) Tahap tumbuhkan dilakukan dengan pemberian pertanyaan yang berhubungan dengan konsep atau permainan crossword, (b) Tahap alami dilakukan dengan memberikan suatu pertanyaan atau mempraktikkan pengetahuan mereka, (c) Tahap namai dilakukan dengan penyampaian materi menggunakan media videoshow atau presentasi, (d) Tahap demonstrasi dilakukan dengan kegiatan praktik atau pengerjaan lembar kerja siswa secara berkelompok, (e) Tahap ulangi dilakukan dengan membuat kesimpulan atau guru memberikan penguatan materi, dan (f) Tahap rayakan dilakukan dengan mengangkat tangan atau membagikan hadiah, (2) Prestasi belajar siswa X TKJ 2 yang mengalami peningkatan sebesar 31,1% pada ranah kognitif, pada ranah afektif mengalami peningkatan sebesar 16,87%, dan pada ranah psikomotor mengalami peningkatan sebesar 12,47%.Saran: (1) Dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar dan aktivitas siswa, (2) Dapat digunakan oleh guru bidang studi lain sebagai salah satu variasi pendekatan dalam pembelajaran, (3) Siklus sebaiknya ditambahkan hingga siklus III untuk melihat hasil yang lebih relevan.

Kontribusi pajak hotel dan restoran dalam rangka meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) pada Kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Blitar / Inggal Tri Martina Sari

 

Kata Kunci: Pajak Hotel, Restoran dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pajak hotel dan restoran bagi daerah mempunyai potensi yang tinggi dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah, yang diharapkan mampu mendukung segala aktivitas pemerintah daerah dalam rangka menciptakan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan merata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi pajak hotel dan restoran dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada kantor Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Blitar. Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang relevan guna menunjang penelitian, peneliti menggunakan metode pengambilan data secara kepustakaan, dokumentasi dan interview. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan penyajian pendapatan regional untuk semua agregat pendapatan pada suatu daerah. Oleh sebab itu Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat digunakan sebagai ukuran kemampuan suatu daerah dalam menggunakan sektor-sektor produksi yang telah dimiliki daerah tersebut. Adapun pengertian pajak hotel dan restoran yaitu pajak yang dibebankan oleh wajib pajak atas penggunaan jasa fasilitas hotel dan restoran. Berdasarkan data hasil penelitian dapat diketahui bahwa pada tahun 2004 sampai 2008 secara umum Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Blitar mampu untuk mencapai atas target atau anggaran dalam pencapaian pendapatan pajak Hotel dan Restoran yang telah ditetapkan. Tingkat pencapaian penerimaan pajak Hotel dan Restoran menunjukkan kecenderungan peningkatan serta mampu memenuhi atas target yang telah ditetapkan, kondisi tersebut dapat dibuktikan bahwa tingkat prosentase penerimaan pajak masih di atas 100%. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kontribusi penerimaan pajak Hotel dan Restoran mulai tahun 2004 sampai 2008 menunjukkan angka yang meningkat, dimana kontribusi tertinggi yaitu pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,357%. Hasil tersebut dapat membuktikan bahwa pada tahun 2008 dinas mampu memaksimalkan pendapatan dari pajak hotel dan restoran. Beberapa saran yang dapat disajikan yaitu sebaiknya Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kabupaten Blitar memberikan fasilitas kepada para wajib pajak untuk menginformasikan keberadaan usaha di bidang perhotelan dan restoran yang dilakukan secara langsung dapat meningkatkan sumber penghasilan daerah atas penerimaan jenis pajak tersebut dan segera menetapkan Perda mengenai unit catering, hal tersebut dikarenakan unit tersebut memiliki potensi yang tinggi dalam meningkatkan pendapatan pajak restoran.

Perancangan company profile berbasis multimedia interaktif spesialis fotografi digital Studio 8 Malang / Nashihatun Nisak

 

Studio 8 Malang merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang dokumentasi fotografi. Perusahaan dengan segmen pasar kelas menengah atas di Malang Raya ini membutuhkan media company profile berbasis multimedia interaktif. Tujuan pembuatan company profile tersebut ialah untuk mempromosikan identitas perusahaan, spesialisasi jasa dan produk yang ditawarkan. Company profile tesebut dikemas dalam format digital dalam compact disc dan akan dibagikan kepada target market yang menjadi segmen pasarnya. Perancangan ini menggunakan model prosedural dengan pendekatan yang berorientasi proses-produk. Secara garis besar kegiatan perancangan dipilah menjadi tiga tahapan yaitu (a) pendefinisian masalah, tujuan dan konsep perancangan, (b) pengumpulan, analisis dan sintesis data referensi dan data lapangan, serta perumusan konsep perancangan, dan (c) penjabaran konsep perancangan dalam program visual mulai thumbnail sketsa sampai dengan dihasilkan desain final. Hasil perancangan ini berupa company profile berbasis multimedia interaktif spesialis fotografi digital Studio 8 Malang yang terdiri dari intro berupa animasi 3D dan enam buah halaman menu, yaitu home page, about, services, packages, portfolio dan contact yang dikemas dalam format digital dalam compact disk. Hasil perancangan ini direkomendasikan untuk didistribusikan kepada klien dan para calon pelanggan yang menjadi target market Studio 8 Malang. Selain itu, hasil perancangan ini dapat dikembangkan untuk diupload sebagai media promosi perusahaan berbasis web. Kelemahan produk yang dihasilkan ialah belum dilakukan validasi dan ujicoba selama perancangan. Untuk itu disarankan agar dilakukan ujicoba yang seksama terhadap keefektifan produk hasil perancangan

Studi komparasi profesionalisme guru yang sudah mengikuti dan belum mengikuti setifikasi (pada SMK Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kediri) / Novi Ratnawati

 

ABSTRAK Ratnawati, Novi. 2009. Studi Komparasi Profesionalisme Guru yang Sudah Mengikuti dan Belum Mengikuti Sertifikasi (Pada SMK Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen di Kabupaten Kediri). Skripsi, Program Studi S-1 Pendidikan Tata Niaga Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Gatot Isnani, M.Si, (II) Ely Siswanto, S.Sos, M.M, Kata kunci: Profesionalisme Guru, Sertifikasi. Kehidupan berbangsa dan bernegara tidak lebih bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Salah satu pihak yang berperan dalam dunia pendidikan adalah guru. Syarat menjadi guru adalah memiliki sertifikat pendidik yang didapat melalui empat uji kompetensi. Berdasarkan teori yang ada maka tingkat profesionalisme guru yang sudah megikuti dan belum mengikuti program sertifikasi akan berbeda. Kabupaten Kediri adalah salah satu kabupaten yang telah melaksanakan program sertifikasi. Dalam penelitian ini akan diketahui perbedaan profesionalisme guru SMK Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen di kabupaten Kediri tiap kompetensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profesionalisme guru yang belum dan sudah sertifikasi, serta untuk melihat perbedaan profesionalisme guru yang belum dan sudah sertifikasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru SMK Bidang keahlian Bisnis dan Manajemen yang sudah sertifikasi dan sebagian guru SMK Bidang keahlian Bisnis dan Manajemen yang belum sertifikasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan untuk responden yang belum sertifikasi adalah purposive sampling, sedangkan yang sudah sertifikasi diambil secara keseluruhan. Jumlah responden secara keseluruhan adalah 18 yang terdiri dari 9 responden yang belum sertifikasi dan 9 responden yang sudah sertifikasi. Skala yang digunakan adalah skala Likert 5 (lima) pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis inferensial non parametrik uji Mann Whitney dan keseluruhan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian responden yang sudah sertifikasi adalah: (1) 6 (66,67%) responden menyatakan selalu mengaplikasikan kompetensi pedagogik, (2) 4 (44,44%) responden menyatakan selalau mengaplikasikan kompetensi kepribadian, (3) 7 (77,78%) resonden menyatakan selalu mengaplikasikan kompetensi profesional; (4) 5 (55,56%) responden menyatakan selalu mengaplikasikan kompetensi sosial. Sedangkan responden yang belum sertifikasi adalah: (1) 4 (44,44%) responden menyatakan sering mengaplikasikan kompetensi pedagogik, (2) 4 (44,44%) responden menyatakan kadang-kadang mengaplikasikan kompetensi kepribadian, (3) 4 (44,44%) resonden menyatakan kadang-kadang mengaplikasikan kompeensi profesional; (4) 4 (44,44%) responden menyatakan kadang-kadang mengaplikasikan kompetensi sosial. Dari hasil analisis uji Mann Whitney didapatkan nilai z hitung = -2,789 > z tabel = +1,960 atau probabilitas (Asym.sig) 0,005< 0,05. Dengan demikian terdapat perbedaan profesionalisme guru yang sudah mengikuti sertifikasi dan belum mengikuti sertifikasi dibidang kompetensi pedagogik. Kompetensi kepribadian didapatkan nilai z hitung = -2,388> z tabel = +1,960 atau probabilitas (Asym.sig) 0,017< 0,05. Dengan demikian terdapat perbedaan profesionalisme guru yang sudah sertifikasi dan belum sertifikasi dibidang kompetensi kepribadian. Kompetensi profesional didapatkan nilai z hitung = -2,800> z tabel = +1,960 atau probabilitas (Asymp.sig) 0,005< 0,05. Dengan demikian terdapat perbedaan profesionalisme guru yang sudah sertifikasi dan belum sertifikasi dibidang kompetensi profesional. Kompetensi sosial didapatkan nilai z hitung = -2,225> z tabel = +1,960 atau probabilitas (Asymp.sig) 0,024< 0,05. Dengan demikian terdapat perbedaan profesionalisme guru yang sudah sertifikasi dan belum sertifikasi dibidang kompetensi sosial. Sehingga secara keseluruhan didapatkan nilai z hitung = -2,280> z tabel = +1,960 atau probabilitas (Asymp.sig) 0,004< 0,05. Dengan demikian terdapat perbedaan profesionalisme guru yang sudah sertifikasi dan belum sertifikasi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa: (a) Responden yang belum sertifikasi sering mengaplikasikan komponen pedagogik dalam proses belajar mengajar. Sedangkan responden yang sudah sertifikasi selalu mengaplikasikan komponen pedagogik dalam proses belajar mengajar; (b) Responden yang belum sertifikasi kadang-kadang mengaplikasikan komponen kepribadian dalam proses belajar mengajar. Sedangkan responden yang sudah sertifikasi sering mengaplikasikan komponen kepribadian dalam proses belajar mengajar; (c) Responden yang belum sertifikasi kadang-kadang mengaplikasikan komponen profesional dalam proses belajar mengajar. Sedangkan responden yang sudah sertifikasi selalu mengaplikasikan komponen profesional dalam proses belajar mengajar; (d) Responden yang belum sertifikasi kadang-kadang mengaplikasikan komponen sosial dalam proses belajar mengajar. Sedangkan responden yang sudah sertifikasi selalu mengaplikasikan komponen sosial dalam proses belajar mengajar. Sedangkan berdasarkan analisis Mann Whitney dapat diketahui komparasi profesionalisme guru bidang keahlian Bisnis dan Manajemen yang sudah mengikuti dan belum mengikuti sertifikasi yaitu: (a) dalam kompetensi pedagogik terdapat perbedaan antara guru yang sudah mengikuti dengan guru yang belum mengikuti sertifikasi; (b) dalam kompetensi kepribadian terdapat perbedaan antara guru yang sudah mengikuti dengan guru yang belum mengikuti sertifikasi; (c) dalam kompetensi profesional terdapat perbedaan antara guru yang sudah mengikuti dengan guru yang belum mengikuti sertifikasi; (d) dalam kompetensi sosial terdapat perbedaan antara guru yang sudah mengikuti dengan guru yang belum mengikuti sertifikasi. Sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan profesionalisme guru yang sudah mengikuti dengan guru yang belum mengikutisertifikasi. Saran untuk guru yang sudah sertifikasi hendaknya kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial guru dalam mengajar dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, sedangkan untuk guru yang belum sertifikasi hendaknya kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial terus ditingkatkan agar tujuan pendidikan nasional tercapai. Responden menyarankan agar program sertifikasi lebih tingkatkan dan pencairan tunjangan profesi diberikan secara teratur.

Penerapan metode diskusi syndicate group untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas VII A SMPN 24 Malang pada materi kaitan antara kondisi geografis dengan keadaan penduduk / Evy Agustina Rokhmawati

 

ABSTRAK Rokhmawati, Evy A. 2010. Penerapan Metode Diskusi Syndicate Group untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Kelas VII A SMPN 24 Malang pada Materi Kaitan antara Kondisi Geografis dengan Keadaan Penduduk. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Achmad Amirudin, M. Pd (II) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M. Pd., M. Si Kata Kunci: Metode Diskusi Syndicate Group, keaktifan belajar siswa Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 3 November 2009 di Kelas VII A SMPN 24 Malang, diketahui bahwa siswa masih kurang aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) masih didominasi oleh guru atau dapat dikatakan guru aktif, sedangkan siswa hanya duduk, mendengarkan, mencatat, bermain sendiri dan ada yang diam, sehingga terlihat pasif di dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Berdasarkan permasalahan tersebut penelitian ini diterapkan Diskusi Syndicate Group, yang merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif untuk melatih siswa aktif dalam pembelajaran, yakni bertanya, menjawab pertanyaan, dan memberi saran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa dengan menggunakan metode tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Prosedur penelitian tindakan kelas ini meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Kegiatan pembelajaran terdiri dari dua siklus, setiap siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data dilaksanakan dengan observasi. Penelitian dilaksanakan di Kelas VII A SMPN 24 Malang dengan jumlah siswa 51 orang, pada materi Kaitan antara Kondisi Geografis dengan Keadaan Penduduk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan keaktifan kelompok dan keaktifan belajar siswa Kelas VII A SMPN 24 Malang yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata persentase keaktifan kelompok pada siklus I sebesar 56,53% (cukup) meningkat menjadi 80,13% (sangat baik) pada siklus II. Peningkatan keaktifan belajar siswa pada siklus I sebesar 58,04% (cukup) meningkat menjadi 81,71% (sangat baik) pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut, diajukan saran-saran sebagai berikut: (1) Guru sebaiknya menerapkan Metode Diskusi Syndicate Group sebagai salah satu alternatif dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan materi problematik agar tujuan diskusi dapat tercapai, (2) Guru sebaiknya dapat mengelola kelas lebih baik terutama dalam mengatasi siswa yang sering membuat ramai dan gaduh, sehingga pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar, (3) Guru sebaiknya dapat mengatur alokasi waktu secara tepat, sehingga semua kegiatan pembelajaran Metode Diskusi Syndicate Group terlaksana, (4) Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya mendatangkan observer yang lebih banyak lagi agar keaktifan belajar siswa dapat diamati secara cermat.

Peningkatan kemampuan melukis cat air teknik Aquarel melalui metode pemodelan pada siswa kelas VIII F SMPN 1 Singosari / Susilaningtyas Amperawati

 

Amperawati, Susilaningtyas. 2010. Peningkatan Kemampuan Melukis Cat Air Teknik Aquarel Melalui Metode Pemodelan pada Siswa Kelas VIII F di SMPN 1 Singosari, Skripsi, Program Studi S1Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Disain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Drs. Triyono Widodo, M.Sn, (2) Drs.Andi Harisman. Kata Kunci : Kemampuan melukis, teknik aquarel,. metode pemodelan.. Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa siswa kelas VIII F SMPN 1 Singosari memiliki kemampuan yang sangat kurang dalam teknik melukis dengan cat air. Hal ini disebabkan melukis cat air dipandang sulit dan kurang menarik. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menuangkan idenya dan mengekspresikan keinginannya melalui alat dan media cat air. Untuk itu perlunya diadakan penelitian ini sebagai responsive terhadap rendahnya kemampuan melukis cat air teknik aquarel pada siswa kelas VIII F SMPN 1Singosari. Dan metode pemodelan sebagai salah satu solusi dalam pemecahan masalah tersebut. Permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah: 1) Apakah metode pemodelan bisa efektif dan efisien dalam pembelajaran melukis cat air teknik aquarel pada siswa kelas VIII F SMPN 1 Singosari, 2) Apakah metode pemodelan dapat meningkatkan kemampuan melukis cat air teknik aquarel pada siswa kelas VIII F SMPN 1 Singosari. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan melukis cat air teknik aquarel melalui metode pemodelan pada siswa kelas VIII F SMPN 1 Singosari. Penelitian ini adalah PTK dengan pendekatan deskriptif dan untuk menda patkan data serta analisisnya melalui aktivitas dan responsive siswa dalam PBM. Model pembelajaran yang digunakan dalam PBM adalah pembelajaran langsung ( explicit instruction ). Rencana penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, pada setiap siklusnya dilaksanakan tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII F di SMPN 1 Singosari. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode pemodelan pada pembelajaran melukis cat air teknik aquarel bagi siswa kelas VIII F di SMPN 1 Singosari pada siklus I mencapai rata-rata 77 % dan pada siklus II mengalami peningkatan rata-rata, yaitu 81 %. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran melukis cat air teknik aquarel melalui metode pemodelan lebih efisien dan dapat meningkatkan kemampuan melukis siswa. Dengan demikian metode pemodelan bisa dijadikan sebagai acuan dalam pembelajaran Seni Budaya, khususnya seni rupa..

Pengaruh kepuasan kerja karyawan terhadap intensi turnover melalui komitmen organisasi karyawan (Studi pada karyawan PT. Hero Sakti Motor Gemilang Malang) / Andri Kurniawan

 

ABSTRAK Kurniawan, Andri. 2009. Pengaruh Kepuasan Kerja Karyawan Terhadap Intensi Turnover Melalui Komitmen Organisasi Karyawan (Studi pada karyawan PT. Hero Sakti Motor Malang).Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs.M.Arief, M.si, (II) Drs.I. Nyoman Suputra,M.si. Kata Kunci : Kepuasan Kerja, Komitmen Karyawan, Intensi Turnover Kinerja suatu perusahaan sangat ditentukan oleh kondisi dan perilaku karyawan yang dimiliki perusahaan tersebut. Fenomena yang seringkali terjadi adalah kinerja suatu perusahaan yang telah demikian bagus dapat dirusak, baik secara langsung maupun tidak, oleh berbagai perilaku karyawan yang sulit dicegah terjadinya. Salah satu bentuk perilaku karyawan tersebut adalah keinginan berpindah (intensi turnover) yang berujung pada keputusan karyawan untuk meninggalkan pekerjaannya. Sebagai upaya untuk menekan terjadinya turnover karyawan, perusahaan dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang dapat menarik minat seorang karyawan untuk tetap bekerja dan berkarya dengan sumber daya yang dimilikinya. Usaha untuk mengurangi keinginan keluar kerja (turnover intentions) ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kepuasan kerja karyawan. faktor-faktor kepuasan kerja dapat mempengaruhi komitmen karyawan pada organisasi. Kepuasan kerja nampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya. Sebaliknya karyawan yang tidak terpuaskan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan nampak memiliki sikap negatif yang mencerminkan kurangnya komitmen mereka terhadap perusahaan seperti sering mangkir, produktivitas rendah, perpindahan karyawan, tingginya tingkat kerusakan, timbulnya kegelisahan serta terjadinya tuntutan-tuntutan yang berakhir dengan mogok kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap intensi turnover dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh komitmen organisasi karyawan sebagai variabel penengah (intervening variable). Sesuai dengan rancangan konsep penelitian ini, maka penelitian ini menggunakan analisis jalur, yang merupakan penerapan dari regresi berganda (multiple regression analysis). Dari teknik tersebut akan diketahui pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat baik secara langsung, maupun tidak langsung dengan melalui variabel intervening. Variabel penelitian ini terdiri dari variabel Kepuasan Kerja (X), variabel Komitmen Karyawan (Z), dan variabel Turnover intentions (Y). Untuk kepentingan ii penulis mengadakan suatu penelitian pada PT. Hero Sakti Motor Gemilang di Malang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tercatat 65 karyawan pada PT.HSMG.Sedangkan dalam penarikan sampel digunakan metode “Proportioned Stratified Random Sampling”dan diperoleh hasil sebesar 40 responden. Jumlah ini dianggap memenuhi batasan sampel yang telah diisyaratkan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan kuesioner (penyebran daftar pertanyaan). Adapun metode analisis yang digunakan dalam perhitungan adalah analisis inferensial dan analisis jalur. Pada pengujian hipotesis pertama, hasil uji analisis regresi antara variabel kepuasan kerja (X) dan variabel komitmen organisasi (Z), dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi korelasi positif atau searah antara variabel kepuasan kerja (X) dan variabel komitmen organisasi (Z). Artinya, bila kepuasan kerja meningkat maka komitmen organisasi karyawan juga akan meningkat. Dan terjadi pengaruh yang signifikan antara keduanya. Ini dibuktikan dengan besaran nilai b = 0,484, sig = 0,002 dan nilai R2 = 0,235. Pada pengujian hipotesis kedua, hasil uji analisis regresi antara variabel Kepuasan Kerja (X) Terhadap Intensi Turnover (Y), dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi korelasi negatif antara variabel Kepuasan kerja (X) Terhadap Intensi Turnover (Y). Artinya, bila kepuasan kerja meningkat maka intensi turnovernya akan menurun. Dan terjadi pengaruh yang signifikan antara keduanya. Ini dibuktikan dengan besaran nilai b= -0,404, sig= 0,010 dan nilai R2= 0,163. Dari hasil uji analisis regresi antara variabel komitmen organisasi (Z) Terhadap intensi turnover (Y), dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi korelasi negatif antara variabel komitmen organisasi (Z) terhadap intensi turnover (Y) tetapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan antara keduanya. Ini berarti, perubahan variabel komitmen organisasi tidak mempengaruhi secara signifikan perubahan intensi turnover. Ini dibuktikan dengan besaran nilai b= -0,252, sig= 0,116 dan nilai R2= 0,064. Dari hasil uji analisis jalur antara variabel kepuasan kerja (X) terhadap intensi turnover (Y) melalui komitmen organisasi (Z) sebagai variabel intervening didapatkanh koefisien determinasi yaitu sebesar 0,167 dapat disimpulkan bahwa 16,7% perubahan variabel Y (Intensi Turnover) disebabkan oleh perubahan variabel X (Kepuasan Kerja) dan Z (Komitmen Organisasi) sedangkan sisanya 83,3% disebabkan oleh faktor lain di luar perubahan variabel X (Kepuasan Kerja) dan Z (Komitmen Organisasi). Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa variabel komitmen organisasi (Z) tidak dapat memediasi pengaruh kepuasan kerja (X) terhadap intensi turnover (Y). Dari nilai interprestasi hasil analisis yang didapatkan yaitu 0,366, dapat ditarik kesimpulan bahwa model penelitian ini berinterprestasi korelasi rendah yaitu berada pada rentang skala 0,20-0,399. Artinya 36,6% data dapat dijelaskan oleh model penelitian ini, sedangkan sisanya 63,4% dijelaskan oleh variabel yang tidak ikut diteliti dalam penelitian ini. Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa komitmen terhadap organisasi yang dimiliki karyawan pada PT. Hero Sakti Motor Gemilang bukan merupakan faktor penentu yang dapat mempengaruhi niat karyawan untuk berhenti kerja. Intensi turnover yang terjadi lebih dapat disebabkan oleh kondisi kepuasan kerja yang dirasakan karyawan. Untuk menekan tingkat intensi turnover karyawan, perusahaan perlu memperhatikan tingkat kebutuhan dan keinginan (need and demand) karyawan yang terjadi selama ini, langkah nyata yang dapat dilakukan yaitu dengan berusaha melakukan pendekatan secara baik kepada karyawan dengan harapan segala bentuk permasalahan yang menyangkut kepuasan kerja karyawan di perusahaan dapat terselesaikan dengan baik sehingga tidak menghambat aktivitas yang dilakukan perusahaan dan dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan untuk kedepannya. Pihak manajemen diharapkan untuk tetap melakukan eveluasi atas kinerja yang telah dicapai oleh karyawan, hal tersebut dalam rangka untuk proses pengendalian atas komitmen para karyawan dalam bekerja di perusahaan dengan harapan dapat tercipta komitmen yang tinggi para karyawan selama bekerja di perusahaan.

Learning strategies of successful english learners at MAN 3 MAlang in improving their speaking ability / Shirly Rizki Kusumaningrum

 

This study was conducted to describe learning strategies of successful English learners at MAN 3 Malang in improving their speaking ability. Specifically, this study aimed at describing: (1) strategies used by successful English learners to assist in converting controlled processes into automatic ones, (2) strategies used by successful English learners when they got difficulty in expressing their idea orally using English, (3) strategies used by successful English learners in maintaining their speaking ability. This study was a descriptive study as it was intended to establish the existence of phenomena by explicitly describing them. Specifically, the design of this study was a case study as the researcher was interested in describing some aspects of the second language performance or development of subjects as individuals. The instruments used in collecting the data were questionnaires and interview guide. The data collected from those two instruments were selected, simplified, and organized to draw the conclusions. Based on the findings, successful English learners used these following strategies in assisting them in converting controlled processes to the automatic ones: structured reviewing and lowering anxiety counts 14% respectively; representing sounds, translating, self-monitoring, taking risk, and listening to the body counts 57% respectively; while repeating, formally practicing with sounds, recognizing and using formulas, recombining, practice naturalistically, transferring, paying attention, delaying speech production, seeking practice opportunity, and cooperating with others were the most preferred strategies used by the subjects as they count 100% respectively. Related to their effort in overcoming their limitation in speaking, they used these following strategies: switching to the mother tongue was used by 1 subject in this study; avoiding communication was used by 4 out of 7 subjects; 71% of the subjects used finding out about language learning and discussing feelings with others as their strategies in solving their difficulties in speaking; while placing words in context, formally practicing with sounds, using resources, reasoning deductively, getting help, using mime/gesture, selecting the topic, using synonym/circumlocution, identifying the purpose of a language, planning for a language task, self-evaluating, and asking correction were their preferred strategies in overcoming their limitation in speaking as all the subjects used these strategies. In addition, maintaining speaking ability is important, otherwise the learners will experience such kind of attrition. These following strategies were used by the subjects in maintaining their speaking ability: 43% of the subjects used organizing and rewarding oneself; making positive statements counts 86%; while seeking practice opportunity, using resources, overviewing the materials, setting aims, self-evaluating, developing cultural understanding, and becoming aware of other people’s thought and feeling count 100% which means that these strategies are the preferred strategies used by the subjects in maintaining their speaking ability. In conclusion, learning strategies gave great contribution to the learners’ success as shown in the findings in this study. In line with the findings of this study, it is recommended for the other English learners to use the appropriate strategies so that they become successful learners. Besides, it is hoped that the English teachers can teach those strategies to their students so that they can choose which was appropriate for them. Moreover, it is suggested for the parents to provide as much as practice opportunity for their children in learning a language. Finally, for the future researchers, it is hoped that they can investigate learning strategies of successful English learners in the same skill (i.e. speaking), or in the other language skills, i.e. listening, reading, and writing.

Penerapan metode simulasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI Al-Yasini Ngabar Kraton Pasuruan / Miftahurrohmah

 

ABSTRAK Miftahurrohmah. 2010. Penerapan metode simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V Dalam Pembelajaran PKn Di SDI AL-YASINI Ngabar Kraton Pasuruan. Skripsi jurusan Pendidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. FIP Universitas Negeri Malang. pembimbing: (1) Drs.Ir. Endro Wahyuno, M.Si (2) Dra. Nur Hanifah, M. Pd. Kata kunci: Penerapan Metode Simulasi, Hasil belajar, PKn SD Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertujuan untuk membentuk watak warga negara yang baik, yaitu warganegara yang tahu, mau, dan sadar akan hak serta kewajibannya. Untuk meningkatkan kemampuan dan kemauan siswa dalam pembelajaran PKn, perlu adanya pembelajaran yang sesuai dengan penerapan pembelajaran yang diharapkan untuk hasil belajar meningkat dan lebih baik. Hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa SDI al-yasini belum menerapkan metode simulasi. Sebagian siswa belum mampu mencapai kriteria ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah yaitu 65 ketuntasan individu. Berdasarkan hal ini, metode simulasi sangat tepat digunakan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan metode simulasi untuk siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI al-yasini Ngabar Kraton Pasuruan; 2) Mendeskripsikan aktifitas siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI al-yasini Ngabar Kraton Pasuruan; 3) Mendeskripsikan penerapan metode simulasi untuk peningkatan hasil belajar siswa kelas V dalam pembelajaran PKn di SDI al-yasini Ngabar Kraton Pasuruan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simulasi yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung sehingga siswa dapat memahami konsep, prinsip , sikap dan nilai didalamnya. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitataif dan deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDI al-yasini sebanyak 25 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan tes. Hasil analisis data setelah penerapan metode simulasi menunjukkan bahwa: 1) Pembelajaran PKn dengan penerapan metode simulasi, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP mencapai nilai 96,1dengan kategori A; 2) Untuk aktivitas belajar secara klasikal mencapai nilai 82,8 % dengan kategori A; 3) Hasil belajar siswa mencapai nilai 83,6 dengan ketuntasan belajar 88%. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan metode simulasi dalam pembelajaran PKn siswa kelas V SDI al-yasini dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa dapat dilihat dari rata-rata hasil tes mulai dari pre tes (62,72) dengan prosentase (32%), meningkat siklus I (73,6) dengan prosentase (48%), dan meningkat lagi siklus II (83,6) dengan prosentase (88%) yang terus mengalami peningkatan. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu lebih profesional dalam menjalankan tugas mengajar untuk merangsang minat belajar siswanya, serta melibatkannya secara utuh dalam pembelajaran

Studi pembelajaran tari jathil pada mata pelajaran muatan lokal seni reog di SMP 1 Jetis Ponorogo sebagai upaya pelestarian kesenian daerah setempat / Nanda Rochmahningtyas

 

Ponorogo merupakan kota yang terkenal dengan kesenian Reog. Salah satu usaha pemerintah daerah Ponorogo untuk melestarikan kesenian daerah setempat dengan memasukkannya pada mata pelajaran muatan lokal. SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo merupakan satu-satunya SMP yang menjadikan kesenian reog sebagai mata pelajaran muatan lokal. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran tari Jathil pada mata pelajaran muatan lokal serta mengetahui cara mengatasi factor penghambat. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian diskriptif. Subyek penelitian guru dan siswa. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi dan dokumen. Analisis yang dilakukan dengan mengorganisasikan data, mengelompokkan data serta klasifikasi data, memaparkan data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian mencakup empat hal mendasar yaitu: (1) Persiapan pembelajaran tari Jathil di SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo berlangsung sesuai dengan perangkat yang disusun yaitu SILABUS dan RPP, perangkat pembelajaran meliputi dua standart kompetensi yaitu yang pertama mengenal seni pertunjukan seni reog Ponorogo dan yang ke dua mengenal dan memahami ragam gerak tari pertunjukan reog; (2) Pelaksanaan pembelajaran tari Jathil dengan menggunakan strategi pengenalan dan dengan menggunakan metode demonstrasi, tanya jawab dan drill,media pembelajaran yang berupa kaset pita, tape, VCD player, kaset VCD, dan sampur telah digunakan secara maksimal serta sarana prasarana ruang kesenian yang telah memenuhi standart kelayakan, guru telah dapat mengelola kelas sehingga kelas menjadi nyaman untuk menjalani proses pembelajaran; (3) Evaluasi pembelajaran dalam bentuk ujian praktek dengan mempraktekkan ragam gerak tari Jathil dengan aspek yang dinilai wiraga, wirasa, dan wirama; (4) Faktor yang mempengaruhi pembelajaran adalah faktor intern yang tidak terdapat faktor penghambat dan minatyang tinggi sebagai faktor pendukung sedangkan faktor ekstern yang menghambat ada pada iringan, berupa kaset yang tidak ada cadangannya, sedangkan factor pendukung ada dari pihak sekolah dan keluarga berupa pemberian fasilitas semisal kaset pita, tape, VCD player, kaset VCD, dan sampur. Beberapa saran yang diberikan penulis, yaitu: bagi Diknas Kabupaten Ponorogo, diharapkan SMP Negeri 1 Jetis Ponorogo menjadi pelopor bagi SMPSMP lain untuk memasukkan kesenian reog pada mata pelajaran muatan lokal dan dari penelitian ini diharapkan menjadi salah satu wacana penambah informasi tentang pembelajaran yang berlangsung pada mata pelajaran muatan lokal

Penerapan pendekatan proses untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar / Heni Kartika Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Heni Kartika. 2010. Penerapan Pendekatan Proses untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Narasi Siswa Kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar. Penelitian Tindakan Kelas, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dra. Sri Nuryati, M.Pd, (II) Drs. Suhel Madyono, S.Pd, M.Pd Kata Kunci : pendekatan proses, menulis narasi, keterampilan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) penerapan pendekatan proses, (2) tahap prapenulisan, (3) tahap pengedrafan, (4) tahap perevisian, (5) tahap pengeditan, dan (6) tahap publikasi yang dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi di kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Plandirejo 03 Kabupaten Blitar. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara sebagai berikut observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif meliputi klasifikasi data dan penyajian data. Penerapan pendekatan proses untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi di SDN Plandirejo 03 Kecamatan Bakung Blitar dilakukan dengan menggunakan lima tahapan, yaitu prapenulisan, pengedrafan, perevisian, pengeditan dan publikasi. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan Siklus II. Pendekatan proses dapat meningkatkan keterampilan siswa menulis narasi di SDN Plandirejo 03 kecamatan bakung Blitar. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar siswa dari pratindakan ke siklus I dan siklus I ke siklus II. Pada pratindakan persentase ketuntasan 26,7 % pada siklus I meningkat menjadi 60 % dan pada siklus II meningkat menjadi 100 %. Berdasarkan kesimpulan di atas maka disarankan dalam menyampaikan materi hendaknya guru memilih pendekatan yang tepat. Dengan pendekatan yang tepat maka siswa akan lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu dengan menggunakan pendekatan yang tepat akan mempermudah guru dalam menyampaikan materi kepada siswa dan siswa pun juga mudah untuk menerima materi yang disampaikan oleh guru.

Peningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan pembelajaran tematik tema kesehatan di kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan / Eka Yunita

 

ABSTRAK Yunita, Eka. 2010. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Pembelajaran Tematik Tema Kesehatan di Kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Skripsi. Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. I Wayan Sutama, M.Pd; (2) Drs. Suharjo, M.S. M.A Kata Kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran Tematik, Tema Kesehatan Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya praktik pembelajaran di kelas III SDN Menyarik yang relatif rendah. Penyerapan materipun masih belum optimal dan nilai rata-rata kelas masih rendah karena banyak siswa yang mendapat nilai di bawah standar nilai ketuntasan yang ditetapkan oleh pihak sekolah, yaitu siswa mendapat skor minimal 70 dalam setiap pembelajarannya. Penelitian ini bertujuan: (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran tematik tema kesehatan di kelas III SDN Menyarik, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa setelah diajar melalui pembelajaran tematik tema kesehatan di kelas III SDN Menyarik. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaboratif. PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Pada siklus I dilaksanakan dalam 4 hari dan siklus II selama 2 hari. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan dengan jumlah 36 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, wawancara dan tes. Hasil penelitian pembelajaran tematik tema kesehatan ini dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas III SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil formatif yang meningkat yaitu dari skor pra tindakan mencapai rata-rata 51,67 sedangkan skor rata-rata 63,33 pada siklus I ke 83,61 pada siklus II. Pada siklus II ini sudah mencapai ketuntasan belajar di atas 75%, sehingga kegiatan penelitian dihentikan. Dampak dari penerapan metode pembelajaran tematik ini dapat meningkatkan tingkat aktivitas belajar siswa, standar nilai ketuntasan belajar siswa, dan cara menerapkan pembelajaran tematik. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran tematik di sekolah. Bagi siswa agar lebih aktif dalam proses pembelajaran serta siswa dapat menerapkan hasil dari pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Bagi peneliti selanjutnya dapat memberi informasi, wawasan serta dapat meningkatkan lagi hasil dari penelitian ini, dan pada penelitian tentang pembelajaran tematik dapat terlaksana lebih sempurna lagi.

Implementasi analisis faktor dengan metode komponen utama dalam menentukan faktor yang berpengaruh pada kepuasan nasabah BRI Martadinata Malang / Ariyanti Devita Sari

 

Analisis faktor merupakan kajian tentang ketersalingtergantungan antara variabel yang digunakan untuk membandingkan sejumlah faktor yang memiliki korelasi linear tinggi sehingga jumlah data dalam pengamatan dapat direduksi menjadi beberapa faktor yang jumlahnya lebih sedikit dari variabel asal. Pada penelitian ini, analisis faktor digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada kepuasan nasabah BRI martadinata Malang. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara menyebarkan kuesioner. Ada tujuh variabel yang diteliti yaitu: lingkungan, keamanan, bunga, hadiah, karyawan, sistem komputerisasi, dan antrian. Metode yang digunakan untuk menduga parameter adalah metode komponen utama. Metode ini digunakan untuk mencari faktor-faktor yang mencakup sebesar mungkin proporsi varian-kovarian peubah-peubah asal. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan analisis faktor diketahui bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kepuasan nasabah BRI Martadinata Malang adalah faktor fasilitas (37,516%), faktor pelayanan (16,669%), faktor keamanan (13,341%), faktor lingkungan (11,761%). Faktor yang paling dominan berpengaruh pada kepuasan nasabah adalah faktor fasilitas sedangkan yang paling kecil pengaruhnya adalah faktor lingkungan.

Studi tentang kegiatan ekstrakurikuler menggambar di kelas I SDN percobaan I Malang / Fithria Endah Eryani

 

ABSTRAK Eryani, Fithria Endah. 2010. Studi Tentang Kegiatan Ekstrakurikuler Menggambar di Kelas I SDN Percobaan I Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Iriaji M. Pd (2) Drs. Andi Harisman Kata kunci: Studi, Kegiatan Ekstrakurikuler, Menggambar, Kelas Awal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang kegiatan ekstrakurikuler menggambar di kelas I SDN Percobaan I Malang. Baik dari segi manajemen organisasi, kegiatan ekstrakurikuler menggambar, pembelajaran ekstrakurikuler menggambar mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan hasil pembelajaran, hingga faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam kegiatan ekstrakurikuler menggambar di kelas I SDN Percobaan I Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Deskriptif disini bersifat menjelaskan dan menerangkan, dan pendekatan kualitatif, peneliti berharap dapat menghasilkan gambaran sebagai jawaban dari permasalahan yang ada melalui data-data yang terkumpul. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa, manajemen organisasi di SDN Percobaan I didasari oleh RAPBS yang berisi aturan–aturan dasar sekolah termasuk untuk kegiatan ekstrakurikuler menggambar. Kegiatan ekstrakurikuler menggambar kelas I di SDN I Percobaan Malang diadakan pada hari Sabtu, pukul 10.00 - 11.00 WIB, bertempat di ruang-ruang kelas karena sekolah tidak dapat menyediakan ruang khusus untuk kegiatan eksrakurikuler mengambar. Pembelajaran menggunakan model akademik yang terbatas, dengan pendekatan fungsional yang memberikan kebebasan siswa untuk berkreasi melahirkan ide-idenya namun tetap dengan bimbingan guru, dan metode pembelajaran karya cipta terarah dimana guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa menjadi bersemangat dalam mengikuti kegiatan, terlebih melihat usia siswa berkisar antara 6-7 tahun. Hasil karya tiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda, dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda pula, dilihat dari tipe gambar, perkembangan hasil gambar, teknik menggambar dan warna yang digunakan dalam menggambar. Faktor-faktor yang menjadi pendukung dalam kegiatan ekstrakurikuler menggambar disini antara lain kondisi sekolah yang kondusif, dukungan dari sekolah, guru selalu berusaha mengembangkan pembelajaran, selain itu juga faktor-faktor penghambatnya adalah keterbatasan lahan untuk penyediaan ruang khusus kegiatan ekstrakurikuler menggambar, sangat kurangnya sumber data penunjang, kondisi siswa yang kurang fit, situasi di dalam ruang kelas yang kurang nyaman bagi siswa karena gangguan dari teman lainnya, dan juga karena ekstraurikuler ini hanya sebagai pelengkap, sehingga sekolah belum berpikir lebih jauh untuk melakukan pengembangan terhadap ekstrakurikuler menggambar.

Survei tentang keterampilan sosial siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri se kota Malang / Wiwiet Putrianingrum

 

ABSTRAK Putrianingrum, Wiwiet. 2009. Survei Tentang Keterampilan Sosial Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Se Kota Malang. Skirpsi. Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing, (1) Dr Dani M Handarini, M.Pd (2) Drs. Djoko Budi Santoso Kata Kunci: Keterampilan Sosial, Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Siswa SMK dicetak sebagai lulusan yang siap kerja dan mampu berkompetisi dengan masyarakat luas dengan berbagai keterampilan dan inovasi yang dimilikinya. Namun, pada kenyataanya banyak lulusan siswa SMK yang lulus dengan tidak siap kerja sebagaimana mestinya. Keterampilan sosial bagi siswa SMK sebagai bekal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya nanti. Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menjelaskan salah satu tugas perkembangan siswa SMK dalam bidang bimbingan sosial adalah siswa memahami dan mewujudkan aspek-aspek sosial dalam mempersiapkan karir. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMK negeri se kota Malang secara umum, 2) mendeskripsikan indikator-indikator keterampilan sosial siswa SMK negeri se kota Malang pada masing-masing jurusannya, 3) mendeskripsikan keterampilan sosial siswa SMK negeri se kota Malang ditinjau berdasarkan jenis kelamin Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMK negeri di Kota Malang. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, dengan pertimbangan banyaknya berbagai macam jurusan yang ada pada tiap-tiap SMK, hanya siswa kelas XII yang menjadi sampel penelitian, karena telah melaksanakan praktik industri dan pada tiap-tiap jurusan karakter siswa berbeda-beda. Berdasarkan teknik sampling ini, subyek penelitian sebanyak 509 orang siswa yang berasal dari 18 jurusan yang berbeda. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah inventori keterampilan sosial yang dikembangkan oleh Victoria Yonathan yang mengungkap 7 indikator keterampilan sosial. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa: 1) keterampilan sosial siswa jurusan pekerja sosial lebih tinggi dari pada siswa lainnya, sedangkan siswa jurusan mekanik otomotif memiliki keterampilan sosial paling rendah dari pada siswa jurusan lainnya, 2) indikator-indikator keterampilan sosial yang paling tinggi dimiliki oleh siswa jurusan pekerja sosial, sedangkan siswa jurusan mekank otomotif memiliki skor indikator yang paling rendah dari pada siswa jurusan lainnya, 3) siswa perempuan memiliki skor keterampilan sosial yang lebih tinggi dari pada siswa laki-laki. Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka disarankan kepada pihak kepala sekolah untuk lebih mengoptimalkan para guru SMK agar dapat meningkatkan keterampilan sosial para siswanya, mengingat sebagian besar siswa masih belum memiliki keterampilan sosial yang sangat baik. Disarankan kepada Guru SMK, khusunya guru pengajar mata pelajaran sosial, agar lebih giat lagi untuk meningkatkan keterampilan sosial para siswa karena keterampilan sosial sangat diperlukan bagi siswa SMK apalagi setelah lulus sekolah. Kepada siswa SMK, disarankan untuk lebih giat belajar khusunya pada pelajaran yang berkaitan dengan keterampilan sosial agar nantinya lebih mudah bersosialisasi dengan masyarakat umum. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian secara lebih mendalam dengan menggunakan pendekatan korelasional dan menambahkan variabel yang lain

Pembelajaran menulis kalimat sederhana melalui media gambar di kelas II SDN Tumpang 03 Kabupaten Blitar / Ervina Agustin

 

ABSTRAK Agustin, Ervina. 2010. Pembelajaran Menulis Kalimat Sederhana Melalui Media Gambar di Kelas II SDN Tumpang 03 Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Alif Mudiono, M.Pd, (II) Drs. Suhel Madyono, S.Pd, M.Pd Kata Kunci : media gambar, kalimat sederhana, hasil belajar Hasil observasi sementara menunjukkan bahwa guru SD dalam mengajar menulis kalimat sederhana tidak menggunakan media pembelajaran. Guru hanya menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan kepada siswa dengan pemberian contoh kalimat oleh guru, dilanjutkan dengan penugasan pada siswa untuk membuat kalimat secara tertulis untuk menulis beberapa kata menjadi kalimat pada buku tugas. Setelah pelaksanaan kegiatan ini siswa mengumpulkan hasil kerjanya dan diadakan penilaian oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan pembelajaran menulis kalimat sederhana melalui media gambar di kelas II SDN Tumpang 03 , (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pembelajaran menulis kalimat sederhana melalui media gambar di kelas II SDN Tumpang 03. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan (action research). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas II SDN Tumpang 03. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara sebagai berikut (1) pemberian angket/kuisioner, (2) observasi, (3) dokumentasi, (4) wawancara, (5) Tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu mencakup reduksi data, penyajian data, dan pemberian kesimpulan. Penerapan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada pra tindakan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 42%, pada siklus I ketuntasan belajar mencapai 62 % dan siklus II meningkat menjadi 100%. Hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal dari sebelum pelaksanaan tindakan (pra tindakan) ke siklus I sebesar 20%, dan peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal sebesar 38 %. Saran yang diberikan agar hasil mengajar bisa maksimal di dalam pelaksanaan pembelajaran hendaknya guru pandai memilih media yang cocok untuk karakter materi. Salah satu media yang cocok untuk mengajarkan menulis kalimat sederhana adalah digunakannya media gambar. Adapun fungsi media gambar dalam proses belajar mengajar untuk mengembangkan kemampuan visual, mengembangkan imajinasi anak, membantu meningkatkan penguasaan anak terhadap hal-hal yang abstrak, atau peristiwa yang tidak mungkin dihadirkan di dalam kelas, dan mengembangkan kreatifitas siswa dalam pembelajaran

Pelabelan total titik ajaib pada Graf Petersen 3P(n,m) / Irma Zuhria

 

ABSTRAK Zuhria, Irma. 2010. Pelabelan Total Titik Ajaib pada Graf Petersen 3P(n,m). Skripsi, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Dr. Subanji, S.Pd, M.Si. Kata kunci: graf, pelabelan total titik ajaib, graf Petersen Pelabelan total titik ajaib pada suatu graf G adalah pemetaan 1-1 dan pada (bijektif), :()1,2,3,...,fVGEGVGEG sehingga untuk setiap titik u berlaku fufuvk, dengan v merupakan titik yang berdekatan dengan titik u. Selanjutnya k adalah konstanta dan k disebut sebagai angka ajaib dari graf G. Pada skripsi ini dipelajari pelabelan total titik ajaib pada graf Petersen 3P(n,m). Graf Petersen 3P(n,m) adalah tiga buah graf Petersen yang diperumum P(n,m) yang saling isomorfik dan tidak terhubung. Graf Petersen yang diperumum P(n,m), 3n dan 211nm merupakan graf yang terdiri dari himpunan titik 110110,...,,,,...,,nnvvvuuuV, dan himpunan sisi |,,{1miiiiiivvvuuuEsemua indeksnya adalah modulo n} dengan 01in. Dari pembahasan diperoleh dua hasil yang menyatakan bahwa untuk n 3 , 211nm, 3 buah graf Petersen yang diperumum 3P(n,m) mempunyai pelabelan total titik ajaib dengan konstanta ajaib 229nk dan 230nk.

Peningkatan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran desain batik melalui pembelajaran kooperatif tipe stad kelas XB SMAN 1 Srengat Blitar / Siti Fatimah

 

Hasil belajar dan aktivitas siswa dalam suatu pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain; tingkat kesulitan materi pembelajaran, minat dan motivasi siswa dalam belajar, cara penyampaian materi, sarana belajar serta situasi belajar.Demikian halnya dengan pembelajaran desain batik. Rendahnya kinerja siswa dalam pembelajaran desain batik baik pada kualitas proses maupun produk belajarnya disebabkan oleh cara penyampaian materi yang terlalu konvensional, monoton, kurang menantang, serta kurang menyenangkan. Sehingga terjadi ketidaktuntasan belajar pada sebagian besar siswa dalam kelas atau siswa gagal mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).Agar tercipta suasana belajar yang menarik, menantang, menyenangkan dan bermakna, maka diperlukan suatu desain pembelajaran dengan pendekatan yang cocok dan efektif dengan materi pembelajaran desain batik. Oleh sebab itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk mencermati dan mengatasi rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran desain batik tersebut. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif interaktif, untuk mendapatkan data dan analisisnya melalui kajian-kajian reflektif, partisipatif dan kolaboratif. Pengembangan program didasarkan data-data dan informasi dari siswa, guru dan setting sosial kelas secara alamiah melalui tiga tahapan siklus penelitian tindakan kelas.Penelitian ini dilakukan di kelas XB SMAN 1 Srengat, Blitar, dengan jumlah siswa38 ternyata hanya 9 siswa yang tuntas nilainya. Berdasarkan data temuan tersebut, maka oleh peneliti diambil tindakan untuk dibuat kelompok belajar sesuai dengan prinsip kooperatif tipe STAD, yakni membagi kelas menjadi 8 kelompok heterogen.Siswa yang kompetensi seninya tinggi dipilih dan disebar rata pada tiap kelompok, demikian juga dengan yang kompetensi seninya kurang juga dibagi rata pada tiap kelompok. Pada siklus pertama sudah terjadi peningkatan tetapi belum bisa maksimal. Hal ini disebabkan sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi belajar desain batik melalui kooperatif tipe STAD, guru kolaborator yang juga merupakan guru seni rupa belum sepenuhnya dapat mengimplentatasikan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Maka untuk itu dilakukan tindakan dengan memberi penjelasan pada siswa tentang prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada siklus- 2 sudah menunjukkan adanya peningkatan, siswa dan guru kolaborator sudah mulai memahami pembelajaran desain batik melalui kooperatif tipe STAD. Hasil evaluasi belajar siswa dari rata-rata 70,89 (pra siklus/tanpa kooperatif tipe STAD) meningkat menjadi 78,89 (siklus-1), meningkat lagi menjadi 84,00 (siklus- 2 setelah diterapkan kooperatif tipe STAD dan meningkat tipis 0,40 yakni menjadi 84,40 setelah dikembalikan pada suasana belajar secara individual pada siklus-3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa pada pembelajaran desain batik kelas XB SMAN 1 Srengat Blitar. Oleh sebab itu sebagai guru seni rupa diharapkan kreatif, inovatif dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STADdalam penyampaian materi pembelajaran desain batik agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

Penerapan model pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan hasil belajar PKn tentang globalisasi pada siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan / Asrip Rianto

 

ABSTRAK Rianto, Asrip 2010. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar PKn Tentang Globalisasi Pada Siswa Kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Program Studi S1 PGSD FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd., (II) Drs. Imam Nawawi, M.Si Kata Kunci: Pembelajaran Inkuiri, PKn, Sekolah Dasar. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) bertujuan untuk membentuk watak warga negara yang baik, yaitu warganegara yang tahu, mau, dan sadar akan hak serta kewajibannya. Untuk meningkatkan kemampuan dan kemauan siswa dalam pembelajaran PKn, perlu adanya penerapan pembelajaran tang sesuai. Dengan penerapan pembelajaran yang sesuai diharapkan hasil belajar siswa menjadi meningkat dan lebih baik. Hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas pembelajaran PKn di SDN Kedungrejo adalah 56,38.Rendahnya nilai siswa disebabkan oleh pembelajaran yang dilakukan guru monoton. Guru jarang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan dalam pembelajaran PKn (2) menjelaskan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori belajar penemuan dari Bruner. Sedangkan model pembelajarannya adalah pembelajaran inkuiri, yaitu pembelajaran yang menekankan pada siswa untuk menemukan sendiri hasil belajarnya.Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitiannya adalah siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan sebanyak 26 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan model triangulasi yaitu penggabungan dari berbagai macam metode, antara lain wawancara,observasi, dan hasil tes. Analisis data dilakukan dengan mencari rata-rata kelas dan prosentase. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdapat empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan dalam pembelajaran PKn adalah penggunaan model pembelajaran yang cocok dan sesuai dengan materi. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah pembelajaran inkuiri. Penerapan pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil tes mulai pra tindakan (56,38), meningkat pada siklus I (63,36), dan meningkat lagi pada siklus II (75). Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran inkuir dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kedungrejo Winongan Pasuruan dalam pembelajaran PKn. Untuk itu peneliti menyarankan kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran yang bervariasi untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal.

Pengaruh kualitas sistem pencahayaan terhadap kenyamanan visual bangunan pada kantor terpadu (block office) Kota Malang / Dinny Saputri

 

ABSTRAK Saputri, Dinny. 2010. Pengaruh Kualitas Sistem Pencahayaan terhadap Kenyamanan Visual Bangunan pada Kantor Terpadu (Block Office) Kota Malang. Skripsi, Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ir. Dian Ariestadi, M.T., (II) Imam Alfianto, S.T., M.T. Kata kunci: Pencahayaan alami, pencahayaan buatan, kenyamanan visual. Sistem pencahayaan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kenyamanan visual suatu bangunan. Sistem pencahayaan sangat penting diperhatikan pada bangunan perkantoran guna meningkatkan produktifitas dan kenyamanan saat bekerja. Sistem pencahayaan meliputi sistem pencahayaan alami dan sistem pencahayaan buatan. Untuk mengetahui pengaruh sistem pencahayaan terhadap kenyamanan visual dilakukan dengan jalan menghitung faktor cahaya siang hari (daylight factor) untuk sistem pencahayaan alami, dan menghitung kuat cahaya/iluminansi untuk sistem pencahayaan buatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas sistem pencahayaan, mengetahui persepsi kenyamanan visual, dan mengetahui pengaruh sistem pencahayaan terhadap kenyamanan visual. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2010 di Kantor Terpadu (Block Office) Kota Malang mengenai kualitas sistem pencahayaan dan persepsi karyawan terhadap kenyamanan visual. Analisis penelitian menggunakan analisis statistik inferensial parametrik yakni dengan pengujian regresi linear sederhana. Hasil penelitian diperoleh: (1) kualitas sistem pencahayaan alami adalah baik untuk ruangan besar dengan banyak bukaan (R1) dan ruangan besar dengan bukaan sedang (R2), menggunakan kaca bening, kisaran daylight factor adalah 4,003%-5,957%. Untuk ruangan kecil dengan bukaan banyak, menggunakan kaca bening (R3), kurang baik dengan daylight factor adalah 12,259%. Untuk ruangan besar (R4) dan ruangan kecil (R5) dengan bukaan sedikit, menggunakan kaca es, kurang baik, nilai daylight factor berkisar antara 0,776%- 1,052%. (2) kualitas sistem pencahayaan buatan adalah baik, karena iluminansi berkisar antara 550,87 lux - 886,96 lux. (3) Persepsi karyawan terhadap kenyamanan visual bangunan pada Kantor Terpadu adalah baik, karena hasil analisa data menyebutkan bahwa karyawan merasa kualitas sistem pencahayaan untuk tiap ruang adalah baik. (4) Ada pengaruh yang signifikan antara kualitas sistem pencahayaan alami terhadap kenyamanan visual bangunan pada Kantor Terpadu, dengan harga R2 = 0,710. (5) Ada pengaruh yang signifikan antara kualitas sistem pencahayaan buatan terhadap kenyamanan visual bangunan pada Kantor Terpadu, dengan harga R2 = 0,694. Saran yang diajukan yaitu (1) pihak pengelola Kantor Terpadu agar lebih memperhatikan kualitas sistem pencahayaan alami pada R3, misal dengan pemberian tirai. (2) pihak pengelola Kantor Terpadu untuk memberikan perhatian pada R4 dan R5, agar mendapatkan pencahayaan alami, untuk kesehatan dan dapat peningkatan produktifitas kerja, misal dengan penggantian kaca pada bukaan, (3) Penelitian lanjutan sebaiknya menambahkan variabel-variabel lain seperti intensitas cahaya, luminansi, lama waktu pencahayaan yang dibutuhkan terhadap kenyamanan visual.

Pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap harga saham perusahaan manufaktur (Studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008) / Mohammad Khairul Rasyid

 

ABSTRAKSI Rasyid, Mohammad K. 2010. Pengaruh Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur. Skripsi. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) DR. Puji Handayati, S.E., MM., Ak, (II) Satia Nur Maharani, S.E., M.Sa. , Ak . Kata Kunci : tanggung jawab sosial perusahaan, harga saham, pasar modal Pengungkapan tanggung jawab sosial perlu dilakukan sebagai suatu wujud pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari aktivitas operasi perusahaan. Kewajiban perusahaan tidak hanya mencari keuntungan semata demi kepuasan investor yang divisualisasikan melalui harga saham, melainkan juga bertanggung jawab secara sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap harga saham. Penelitian ini merupakan penelitian kausal komparatif yang menguji variabel bebas dan terikat. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan regresi linier sederhana. Dengan teknik pemilihan sampel purposive sampling, didapatkan 30 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai sampel dalam rentang waktu penelitian 2006-2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh terhadap harga saham dengan nilai 32,7%. Diduga ada faktor lain diluar tanggung jawab sosial perusahaan yang mempengaruhi harga saham seperti volume perdagangan saham dan pengumuman merger. Saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah melakukan penambahan variabel independen seperti volume perdagangan saham dan pengumuman merger. Kemudian memperluas sampel penelitian tidak hanya pada perusahaan manufaktur, misalnya perusahaan perbankan. Dan memperpanjang periode waktu penelitian hingga 5 atau 10 tahun.

Kajian teknik pewarnaan lukisan potret karya John Howard Sanden sebagai model apresiasi pembelajaran seni rupa SMA / Hiannanta

 

ABSTRAK Hiannanta. 2010. Kajian Tehnik Pewarnaan Lukisan Potret Karya John Howard Sanden Sebagai Model Apresiasi Pembelajaran Seni Rupa SMA. Skripsi, Seni Desain, Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing 1: Drs Mistaram, M.Pd. Pembimbing 2 : Drs. Andi Harisman Kata kunci: Kajian, Teknik, Pewarnaan Pendidikan Seni Budaya tidak sekedar menjadikan anak didik bisa menggambar, terampil seni dan lainnya. Namun pendidikan seni dimaksudkan untuk tujuan-tujuan yang lebih luas, yakni menjadikan anak didik kreatif, apresiatif dan kritis. Hal ini tertuang dalam kurikulum KTSP, antara lain berupa Standar Kopetensi Apresiatif yang harus dicapai. Oleh karena itu Teknik pewarnaan lukisan potret ini menjadi model apresiasi dalam pembelajaran Seni Rupa SMA. Adapun masalah yang dikaji adalah tehnik pewarnaan lukisan portet karya John Howard Sanden. Karena karya-karyanya telah diakui dan banyak mendapat penghargaan serta sesuai dengan yang diperlukan dalam penelitian, sehingga layak untuk dijadikan bahan kajian. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi pada dokumentasi lukisan potret general Artur J. Poillen karya S.H Sanden. Identifikasi warna menggunakan komputer program photoshop. Analisis data menggunakan teori warna Albert Munsell. Dalam kajian ini diperoleh hasil berupa identifikasi dimensi warna dan elemen-elemen chiaroscuro pada lukisan potret general Arthur J. Poillen karya J.H. Sanden. Yang mana kajian ini dijadikan model apresiasi dalam pembelajaran Seni Rupa SMA Kelas XII. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut. Misalnya menggunakan analisis kritik pedagogic E.B. Fieldman dalam kaitannya dengan pertimbangan estetika.

Perancangan buku pop-up penerapan rambu-rambu lalu lintas dwi bahasa (Indonesia-Inggris) / Herlia Kurniawati

 

ABSTRAK Kurniawati, Herlia. 2010. Perancangan Buku Pop-up Penerapan Rambu-Rambu Lalu Lintas Dwi Bahasa (Indonesia-Inggris). Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Pranti Sayekti, S. Sn, M. Si Rambu-rambu lalu lintas hendaknya memang diajarkan sedini mungkin. Hal itu terjadi karena semakin banyaknya orang yang tidak menyadari tentang pentingnya rambu lalu lintas. Beberapa sekolah taman kanak-kanak juga sudah menerapkan beberapa cara yang dianggap efektif dan sesuai untuk anak didiknya. Mulai dari pembuatan taman lalu lintas, pembelajaran dengan buku pembelajaran tentang lalu lintas, bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melakukan penyuluhan ataupun pelatihan kepada anak-anak dalam rangka memperkenalkan rambu serta bagaimana sikap yang baik ketika berada di jalan. Rumusan masalah produk ini adalah bagaimana menghasilkan produk komunikasi visual berupa buku pop-up penerapan rambu-rambu lalu lintas dwi bahasa (Indonesia-Inggris) yang mampu meningkatkan apresiasi anak terhadap rambu-rambu lalu lintas sejak dini. Tujuan perancangan yang diharapkan adalah menghasilkan produk desain komunikasi visual berupa buku pop-up penerapan rambu-rambu lalu lintas dwi bahasa (Indonesia-Inggris) untuk anak , berbahasa Inggris-Indonesia dan juga dirancang untuk memecahkan masalah tentang minimnya kesadaran tentang rambu-rambu lalu lintas sekaligus mengenalkan anak sejak dini tentang ramburambu lalu lintas. Buku pop-up ini juga dapat bermanfaat untuk membantu pendidik untuk memberikan pengajaran tentang rambu-rambu lalu lintas serta membantu anak dalam mempelajari penerapan rambu lalu lintas di jalan raya. Metodologi perancangan menggunakan berdasar pada perancangan Bruce Archer yang dimulai dari pengumpulan data, analisis, pengembangan, sintesis, evaluasi hingga komunikasi produk. Produk menggunakan kertas art paper 260 gr, teknik pewarnaan dengan menggunakan komputerisasi dan tersaji full colours. Buku ini memiliki keistimewaan tersendiri dengan format pop-up yang dapat berdiri membentuk gambar tiga dimensi dan dapat digerakkan. Produk ini diharapkan mampu membuat anak lebih memahami tentang pentingnya rambu lalu lintas serta membuat anak akan lebih mengetahui pentingnya rambu lalu lintas sejak dini, sehingga dapat membantu mensukseskan kampanye sadar lalu lintas.

Pengembangan media pembelajaran CD interaktif sains kelas VI SD Sriwedari Malang / Yety Catur Kusumawati

 

ABSTRAK Kusumawati, Yety Catur. 2010. Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Sains Kelas VI SD Sriwedari Malang. Skripsi, Jurusan Teknologi Pendidikan FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Eka Pramono Adi, S.I.P., M.Si. (II) Yerry Soepriyanto, ST, MT Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, CD Interaktif, Sains Sebagai media informasi, media berbasis komputer tidak kalah dengan media massa. Terutama karena media komputer bisa bersifat multimedia, Multimedia dapat diklasifikasikan ke berbagai bentuk, pengembangan di SD Sriwedari Malang kelas VI lebih mengarah pada bentuk CD interaktif. CD interaktif memiliki kinerja yang positif, antara lain meningkatkan ketertarikan siswa untuk belajar sains, membangkitkan minat siswa dalam belajar sains, meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar sains baik pada proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Pembelajaran di SD Sriwedari Malang menggunakan metode ceramah. Metode ceramah cenderung tidak membuat siswa tertarik dan antusias untuk memperhatikan dan mengikuti jalannya proses pembelajaran. Sehingga kesulitan makin nampak jelas ketika seorang guru hanya mengandalkan kemampuannya untuk menjelaskan konsep-konsep sains tanpa menggunakan suatu media yang dapat merangsang siswa untuk lebih tertarik dan antusias. Dan hal tersebut terbukti dengan kurang memuaskannya hasil belajar sains. Menanggapi kenyataan tersebut di atas, peneliti perlu melakukan suatu pengembangan media guna membantu siswa dalam meningkatkan kualitas belajar sains. Metode pembelajaran menggunakan media interaktif adalah suatu solusi yang tepat dalam kegiatan pembelajaran di SD Sriwedari Malang Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media pembelajaran berupa CD interaktif yang telah melalui proses validasi pada mata pelajaran Sains pokok bahasan Sistem Tata Surya untuk siswa kelas VI SD Sriwedari Malang Subyek uji coba dalam pengembangan ini adalah siswa kelas VI semester II Tahun 2009 di SD Sriwedari Malang. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen angket ahli media, ahli materi, dan siswa. Berdasarkan hasil penelitian pengembangan media pembelajaran CD interaktif ini memenuhi kriteria valid/layak yakni, ahli media dengan nilai 97,5, ahli materi dengan nilai 95, audiens perseorangan denagan nilai 88,4%, dan audiens lapangan dengan nilai 85,5%. Saran yang diberikan berdasarkan hasil pengembangan media pembelajaran CD interaktif adalah diharapkan adanya penelitian eksperimen terlebih dahulu sebelum membuat media pembelajaran. Sehingga pengembang berikutnya dapat menghasilkan media pembelajaran CD interaktif yang lebih efektif dan efisien.

Manajemen implementasi kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah berprestasi nasional (Studi kasus pada Madrasah Ibtidaiyah Perwanida kota Blitar) / Adab Nur Huda

 

ABSTRAK Huda, Adib Nur. 2010. Manajemen Implementasi Kurikulum pada Madrasah Ibtidaiyah Berprestasi Nasional (Studi Kasus pada Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar). Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd., (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd. Kata kunci: manajemen, implementasi kurikulum, madrasah ibtidaiyah berprestasi Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar sebagai sebuah satuan pendidikan telah mengembangkan kurikulum yang menghasilkan model atau konstruksi kurikulum berkarakteristik. Program kurikulum/pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar secara garis besar dibagi menjadi dua program, yaitu program pendidikan inti dan program pendidikan ekstensi. Program inti menyangkut sistem pembelajaran reguler dan sistem pembelajaran kelas unggulan. Program ekstensi menawarkan berbagai macam program yang meliputi (1) kegiatan plus (mengaji, praktik ibadah, dan les plus); (2) kegiatan ekstrakurikuler yang beragam; dan (3) kegiatan remidial yang dilaksanakan dalam bentuk Lembaga Bimbingan Belajar. Program-program kurikulum di MI Perwanida, baik secara langsung maupun tidak langsung telah mendapatkan respon positif dari masyarakat. Indikatornya, berdasarkan data statistik perkembangan siswa, perkembangan jumlah pendaftar, dan perkembangan jumlah guru dan karyawan mengalami kenaikan yang cukup siginifikan. Dilihat dari beberapa indikator tersebut dan ditinjau dari pendekatan proses, pendekatan pencapaian tujuan, dan pendekatan respon lingkungan, MI Perwanida dapat digolongkan menjadi sekolah yang berprestasi, favorit, dan unggul. Secara legalitas formal, MI Perwanida pernah mendapatkan predikat sebagai Madrasah Ibtidaiyah Berprestasi Tingkat Nasional dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal inilah yang menjadi dasar MI Perwanida dijadikan subyek penelitian ini. Untuk mengetahui bagaimana program-program kurikulum yang sedemikian beragam dan kompleks di MI Perwanida diimplementasikan, maka penelitian ini memfokuskan masalah pada manajemen implementasi kurikulum di MI Perwanida. Fokus masalah tersebut diuraikan kedalam 6 subfokus, yakni (1) perencanaan dalam rangka implementasi kurikulum; (2) pengorganisasian dalam rangka implementasi kurikulum; (3) penggerakan dalam rangka implementasi kurikulum; (4) pengawasan/kontrol dalam rangka implementasi kurikulum; (5) faktor-faktor yang mendukung implementasi kurikulum; dan (6) faktor-faktor yang menghambat implementasi kurikulum di Madrasah Ibtidaiyah Perwanida Kota Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti sendiri sebagai key instrument, sedangkan untuk menentukan sumber data manusia menggunakan teknik snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara; (1) wawancara mendalam; (2) observasi berperanserta; dan (3) studi dokumentasi. Untuk analisis data menggunakan teknik deskriptif yang penerapannya dilakukan dalam tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Untuk mengetahui kredibilitas data, dilakukan dengan berbagai teknik, yaitu (1) triangulasi; (2) pengecekan sejawat; dan (3) pengecekan anggota (member check). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, perencanaan dalam rangka implementasi kurikulum, MI Perwanida melakukan kegiatan-kegiatan (a) menyusun rencana strategis, yang meliputi perumusan visi, misi, tujuan, program-program strategis, strategi pelaksanaan, pembiayaan, monitoring dan evaluasi; (b) menyusun rencana operasional, yang meliputi action plan per bidang, kalender pendidikan, program kegiatan kependidikan, alokasi jam belajar inti dan ekstensi, jadwal pembelajaran inti dan ekstensi, jadwal dan pelaksana tugas program ekstensi, anggaran pendapatan dan belanja sekolah, rencana penggunaan anggaran per jenis anggaran, dan pengurus komite; (c) menyusun deskripsi tugas umum; (d) menyusun tata tertib siswa; dan (e) menyusun pedoman teknis pelaksanaan kegiatan. Kedua, pengorganisasian dalam rangka implementasi kurikulum, kegiatan-kegiatannya (a) menyusun struktur organisasi dan peta penanggungjawab program; (b) menyusun tugas dan jabatan masing-masing personil; (c) menyusun tugas dan penanggung jawab pelaksana program; (d) menyusun tugas dan kewajiban masing-masing jabatan; dan (5) menyusun struktur program. Ketiga, penggerakan dalam rangka implementasi kurikulum, kegiatan-kegiatannya meliputi (a) memotivasi; (b) koordinasi; (c) kepemimpinan; dan (d) menjaga hubungan baik dengan guru dan staf. Keempat pengontrolan dalam rangka implementasi kurikulum, kegiatan-kegiatannya (a) monitoring dan evaluasi, (b) supervisi, dan (c) penilaian. Kelima faktor-faktor yang menjadi daya dukung dalam implementasi kurikulum ditemukan ada 23 faktor, beberapa faktor yang dominan adalah (a) otonomi daerah bidang pendidikan; (b) kewenangan pengembangan kurikulum; (c) input yang bagus; (d) staf pengajar yang memenuhi kualifikasi; (e) konsep madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas ke-Islaman; (f) sarana dan prasarana; (g) peran serta masyarakat; (h) ketersediaan finansial; (i) output yang memiliki outcome yang tinggi; (j) rencana program dan rencana operasional yang jelas terumuskan; (k) kegiatan pengembangan diri yang beragam; (l) letak sekolah yang strategis dan mudah diakses; (m) deskripsi pembagian tugas dan fungsi yang jelas. Keenam, faktor-faktor yang menjadi kendala dalam implementasi kurikulum ditemukan 11 faktor, faktor-faktor yang dominan diantaranya adalah (a) peran wali murid yang cenderung pada masalah finansial saja; (b) jam pembelajaran dan mata pelajaran yang overload; (c) supervisi dari pejabat berwenang kurang intensif; (d) koordinasi yang lemah antar pelaksana program; (e) monitoring dan evaluasi yang kurang komprehensif; (f) ekspektasi yang tinggi wali murid kepada madrasah dan anaknya. Dari hasil penelitian dapat disarankan (1) MI Perwanida hendaknya lebih intensif dalam mengatasi hambatan-hambatan yang muncul dan memberdayakan faktor-faktor pendukung dalam implementasi kurikulum; (2) MI Perwanida perlu merumuskan program-program kemitraan yang jelas untuk meningkatkan partisipasi masyarakat; (3) Kementerian Agama Kota Blitar perlu mengintensifkan supervisi dengan program kerja yang jelas; (4) hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum satuan pendidikan, terutama pada Madrasah Ibtidaiyah; dan (5) perlunya dilakukan penelitian pengembangan tentang implikasi-implikasi dari penerapan sebuah model/konstruksi kurikulum tertentu, khususnya kurikulum di MI Perwanida..

Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan (studi pada pabrik rokok Tiga Bola Malang) / Yayan Pernama Putra

 

ABSTRAK Putra, Yayan Pernama. 2009. Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Pabrik Rokok Tiga Bola Malang). Skripsi, Jurusan Manajemen, Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Nyoman Saputra, M.Si, (II) Drs. M arief, M.Si. Kata kunci:, Motivasi, Kinerja. Setiap perusahaan tentu ingin mencapi tujuannya. Untuk mencapi tujuan tersebut, peranan manusia yang terlibat di dalamnya sangat penting. Untuk menggerakkan manusia agar sesuai dengan yang dikehendaki hendaknya dipahami motivasi manusia didalam perusahaan tersebut, karena motivasi inilah yang menentukan perilaku orang-orang bekerja. Dengan kata lain perilaku merupakan cerminan yang sederhana dari motivasi. Untuk itu agar perilaku manusia sesuai dengan perusahaan maka ada perpaduan antara motivasi dan permintaan perusahaan. Disamping itu suasana batin atau psikologis karyawan yang tercermin dalam semangat kerja juga sangat berpengaruh terhadap hasil kerja karyawan. Karena dari segi psikologis menunjukkan bahwa bersemangatnya karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya, sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja yang mendorongnya. Selain itu persaingan global dan otomatisasi telah menggeser kunci sukses, yaitu bahwa kesuksesan tidak hanya dicapai dengan bekerja keras, tapi juga bekerja dengan tangkas (smart working). Oleh karena itu Manajemen pabrik pada umumnya selalu memberikan Motivasi kepada para karyawan untuk meningkatkan Kinerja organisasional mereka yang ditunjukkan dengan peningkatan produksi dan kualitas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan tetap yang ada di PR TIGA BOLA Malang yang berjumlah 68 karyawan. Selanjutnya dengan menggunakan teknik pengambilan sampel random sampling Berdasarkan hasil dan jumlah perhitungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel bebas yaitu motivasi (X), terhadap variabel terikat yaitu kinerja karyawan (Y). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi berpengaruh langsung terhadap kinerja dengan nilai sebesar 0,941 atau 94,1%. Artinya bahwa variabel Y dipengaruhi sebesar 94,1% oleh Kebutuhan Fisiologis (X1), Kebutuhan Rasa Aman (X2) Kebutuhan Sosial (X3), Kebutuhan Penghargaan (X4) dan Kebutuhan Aktualisasi Diri (X5), sedangkan sisanya 5,9% dipengaruhi oleh variabel lain di luar kelima variabel bebas tersebut. Pengaruh motivasi kerja yang hampir mendekati 100% menjadikan perlunya terus dilakukan evaluasi dan peningkatan terhadap upaya motivasi kerja dalam meningkatkan kinerja karyawan Saran yang dapat peneliti sampaikan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar pihak Manajemen PR. Tiga Bola malang lebih memperhatikan lagi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi antara lain menyangkut kenaikan gaji , evaluasi kinerja, kesempatan promosi dan bonus yang termasuk dalam 5 aspek Motivasi. Sedangkan variabel pemenuhan kebutuhan rasa aman (X2) dan pemenuhan kebutuhan sosial (X3) perlu terus ditingkatkan, karena belum nampak sama sekali pengaruhnya dalam meningkatkan kinerja karyawan di P.R. Tiga Bola Malang.

Pengembangan iklan televisi sebagai media pembelajaran menulis cerita pendek untuk siswa kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Manyar Kabupaten Gresik / Ratih Nurfianty A.

 

Menulis cerita pendek merupakan salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang wajib diajarkan pada kelas XI Program bahasa semester 1 dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam pembelajarannya, menulis cerpen diajarkan dengan menggunakan berbagai cara yang mendukung proses pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis cerpen tersebut bertujuan agar siswa dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik sehingga dapat menghasilkan hasil belajar yang baik pula, yaitu cerpen yang berkualitas. Hal tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran merupakan alat bantu yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Saat ini, telah banyak dikembangkan media pembelajaran untuk membantu kelancaran proses pembelajaran. Contoh media pembelajaran yang dapat digunakan untuk pembelajaran menulis cerpen, yaitu media VCD, media gambar, media lagu, media pembelajaran berbasis komputer dan lain-lain. Penerapan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis cerpen terbukti mampu meningkatkan motivasi siswa untuk menulis cerpen. Namun, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang enggan menggunakan menggunakan media pembelajaran. Banyak alasan mengapa masih banyak guru yang enggan menggunakan media pembelajaran, di antaranya merepotkan, canggih, mahal, tidak bisa mengoperasikan, tidak ada sarana dan prasarana yang mendukung, dan lain sebagainya. Seharusnya, sebagai guru yang baik keengganan tersebut harus dihilangkan demi tercapainya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, diperlukan pengembangan media pembelajaran yang bersifat interaktif dalam pembelajaran menulis cerpen. media yang dikembangkan tersebut, yaitu iklan televisi yang dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen untuk siswa kelas XI Program Bahasa. Pengembangannya menggunakan program Macromedia Flash. Iklan televisi yang dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen, yaitu iklan televisi naratif. Yang dimaksud dengan iklan televisi naratif adalah iklan televisi yang memiliki alur atau jalan cerita. Contohnya, iklan televise IM3 versi mogok, Gudang Garam versi wawancara kerja, kartu Simpati Series 1, 2, 3, 4, 5, dan lain-lain. Iklan-iklan televisi tersebut memiliki alur atau jalan cerita. Pemilihan iklan televisi naratif sebagai media pembelajaran karena iklan televise yang memiliki jalan cerita dapat merangsang dan menginspirasi siswa untuk menulis cerpen daripada iklan televisi yang bersifat informatif produk. Penelitian pengembangan ini merumuskan masalah sebagai berikut: (1) Melihat kondisi di lapangan yang menunjukkan bahwa masih banyak guru yang enggan menggunakan media pembelajaran dalam pembelajaran menulis cerpen karena banyak alasan. Salah satunya sulit menggunakan media pembelajaran. Padahal media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dikembangkan media iklan televisi sebagai media pembelajaran menulis cerpen yang menarik dan efektif serta mudah digunakan karena dilengkapi dengan buku petunjuk untuk kelas XI Program Bahasa. Dengan demikian, keengganan guru untuk menggunakan media pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen dapat teratasi; (2) Media iklan televisi dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen yang menarik untuk siswa kelas XI Program Bahasa. Dengan demikian, siswa akan lebih termotivasi dalam melaksanakan pembelajaran menulis cerpen sehingga akan diperoleh kemampuan menulis cerpen yang diharapkan; dan (3) Media iklan televisi dikembangkan sebagai media pembelajaran menulis cerpen yang efektif untuk siswa kelas XI Program Bahasa sehingga dengan penggunaan media iklan televisi dalam pembelajaran menulis cerpen, tujuan pembelajaran akan tercapai dan kemampuan menulis cerpen siswa akan meningkat. Pengembangan media interaktif ini, melibatkan tiga validator ahli untuk mevalidasi media interaktif yang dikembangkan dan enam siswa kelas XI SMA Negeri 1 Manyar Kabupaten Gresik sebagai responden uji coba kelompok kecil. Tiga validator ahli tersebut adalah (1) Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd., sebagai ahli materi 1; (2) Siti Khasanah, S.Pd., sebagai ahli materi 2; dan (3) Dody Priyatmono, S.Sn. Dari hasil angket model check list yang diisi oleh tiga validator dan responden uji coba kelompok kecil menghasilkan komentar, saran, dan kritik yang dijadikan acuan untuk menyempurnakan media interaktif. Berdasarkan komentar, saran, dan kritik tersebut, selanjutnya media interaktif direvisi. Revisi media interaktif tersebut menghasilkan tampilan media interaktif menulis cerpen yang dikembangkan dengan aplikasi program macromedia flash dengan dukungan materi cerpen, iklan televisi naratif sebagai inspirasi menulis cerpen siswa, gambar, permainan, animasi, dan latar musik. Adapun menu-menu dalam media interaktif adalah (1) Silabus, (2) Tentang Cerpen, (3) Latihan Menulis Cerpen, (4) Permainan, (5) Menulis Cerpen, (6) Refleksi, (7) Daftar Rujukan, (8) Tentang Pengembang, dan (9) Keluar. Setelah direvisi, selanjutnya media interaktif diuji coba pada responden keelompok besar, yaitu 22 siswa kelas XI Program Bahasa SMA Negeri Manyar 1 Kabupaten Gresik. Uji coba tersebut dilakukan untuk mengetahui kemenarikan dan efektivitas media interaktif yang telah dikembangkan. Pembelajaran dengan menggunakan media interaktif ini diterapkan dengan menggunakan model Think Pair and Share. siswa diminta untuk menulis cerpen berdasarkan iklan televise naratif yang telah ditayangkan secara berpasangan dengan teman sebangku. Sebelum pembelajaran menggunakan media interaktif, dilakukan pretes terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan awal menulis cerpen siswa. Selanjutnya pembelajaran menulis cerpen menggunakan media interaktif dilakukan postes. Dari hasil nilai pretes dan postes tersebut, kemudian dihitung dengan menggunakan uji t untuk mengetahui efektivitas media. Adapun hasil perhitungan uji t adalah nilai tthitung sebesar 5,90 dengan d.b = 21. Nilai thitung = 5,90 kemudian dibandingkan nilai ttabel = 2,08 pada taraf signifikan 5% (0,05) untuk menghitung koefisien perbedaan hasil belajar siswa pada uji coba kelompok besar sebelum dan sesudah menggunakan media interaktif dalam pembelajaran menulis cerpen. Dari perbandingan antara nilai thitung dan ttabel, maka nilai thitung lebih besar daripada nilai ttabel sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan media interaktif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa media interaktif yang dikembangkan merupakan media pembelajaran menulis cerpen yang efektif. Setelah pembelajaran siswa diberikan angket validasi siswa dan diminta untuk mengisinya. Dari hasil validasi angket pada aspek bahan penarik perhatian siswa dalam media interaktif diperoleh presentase rata-rata 79,16% pada kelompok kecil dan 74,99% pada kelompok besar dengan criteria cukup valid. Hal ini berarti media interaktif menulis cerpen yang dikembangkan cukup menarik dan telah mampu menarik perhatian dan memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran menulis cerpen.

Sistem pengadaan dan penyimpanan material pada pembangunan Apollo Super store Jl. PB Sudirman Pare Kediri Jawa Timur / Imam Nur Kolig

 

Kata Kunci: pengadaan, penyimpanan, material. Manajemen biaya dan pengadaan material merupakan bagian terbesar dari suatu proyek, sehingga sudah saatnya penyelenggara proyek memberikan perhatian yang lebih besar terhadap proses pengadaan material. Untuk mengetahui pentingnya pengadaan dan penyimpanan material maka dilakukan pengkajian dan pengamatan pada proyek pembangunan Apollo Super Store Kota Pare Kediri. Proyek Akhir ini bertujuan untuk mengetahui: (1) proses pengadaan material, (2) proses penyimpanan material, (3) kesesuaian pengadaan material, (4) kesesuaian penyimpanan material pada pelaksanaan proyek. Proyek Akhir dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data antara lain: pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, kemudian dipelajari dan dilakukan perbandingan dengan data yang ada di proyek. Hasil yang diperoleh dari Proyek Akhir ini menunjukkan bahwa (1) proses pengadaan material pada proyek dimulai dengan perencanaan kebutuhan material, tahapan seleksi terhadap calon pemasok, kemudian tahapan pembelian, penerimaan material, pembayaran dan tahapan evaluasi. Semua tahapan sudah dilakukan kecuali tahapan seleksi terhadap calon pemasok, (2) proses penyimpanan material pada proyek di lakukan pada gudang tertutup dan gudang terbuka, (3) proses pengadaan material pada proyek untuk keseluruhan pekerjaan beton, masuk kriteria sangat sesuai dengan skor 67 %, (4) proses penyimpanan material pada proyek masuk kriteria sesuai dengan skor 57 %. Saran yang diajukan pada Proyek Akhir ini adalah seharusnya dilakukan pengkajian dan pengembangan lebih lanjut untuk sistem pengadaan dan penyimpanan material pada pekerjaan yang lain, dan tidak mencakup pekerjaan tertentu saja, mengingat proses pengadaan material sangat besar peranannya bagi proyek.

Pengaruh DER, ROA, ROE, ATO terhadap return saham industri farmasi yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2007 / Asmiyati

 

The financial performance of companies is a fine achievement in a particular period which reflects health level. One way to measure the company's financial performance is using ratio analysis. The reasons about data limitations, this study's results is to measure financial performance based on five variables, DER, CR, ROA, ROE, ATO. Stock Return is the result of investment securities consist of dividend shares and capital gain from a change in stock prices. The purpose of this study are to determine (1) conditions of financial performance, (2) the condition of stock return, (3) the effect of DER on the return, (4) the effect of CR on the return, (5) the effect of ROA on the return, (6) the effect on ROE return, (7) the effect of ATO on the return, (8) influence the financial performance of the DER CAR, CR, ROA, ROE and ATO simultaneously on the return stock companies listed in Indonesia Stock Exchange in 2004-2007. The design used in this research is associative, ie research that aims to find out the relationship or influence between two or more variables. Data source is in the form of documentation. This research use analysis data multiple linear regression. The results showed, (1) The financial performance of companies listed in Indonesia Stock Exchange as measured by the DER, CR, ROA, ROE and the ATO in general tend to fluctuate, (2) Return the stock tends to decline, (3) DER did not affect return; (4) CR effect on return; (5) ROA effect on return; (6) ROE affect the return (7) ATO effect on return; (8) Simultaneously DER, CR, ROA, ROE and ATO effect on return shares. Based on these results, it can be suggested to investors that the financial performance was analyzed by using DER, CR, ROA, ROE, ATO can be used to predict stock returns. Companies must maintain the company's financial performance for the stock return increases, thereby increasing the value of corporate wealth. This research could be used to know other factors that affect stock returns. Researchers can add more variables outside of this variables research

Perancangan peta layanan interaktif sebagai media informasi untuk pengguna rumah sakit Pupuk Kaltim di Kota Bontang / Alia Pradita Rasanti

 

ABSTRAK Rasanti, Alia Pradita. 2010. Perancangan Peta Layanan Interaktif Sebagai Media Informasi Untuk Pengguna Rumah Sakit Pupuk Kaltim Di Kota Bontang. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Rudy Irawanto, S.Pd., M.Sn, Pembimbing (II) Andy Pramono, S.Kom, M.T Kata Kunci : Peta Layanan Interaktif, Rumah Sakit Pupuk Kaltim Rumah Sakit Pupuk Kaltim merupakan rumah sakit terakreditasi yang masih mengembangkan kinerja dan fasilitas-fasilitas yang menunjang. Hal ini dapat dilihat dari pembangunan yang mulai berjalan, perluasan wilayah, dan lokasi, sistem pendaftaran online dan penggunaan absensi elektrik. Perluasan wilayah dan pembentukan kembali tata ruang di Rumah Sakit ini mengakibatkan baik denah maupun petunjuk ruangan tidak dapat berlaku untuk masa sekarang. Hal ini perlu didukung fasilitas yang bergerak di bidang informasi dan komunikasi. Fasilitas tersebut dapat berupa media yang menarik dan mudah digunakan untuk memudahkan pengguna dan pengunjung menikmati fasilitas yang ada. Model perancangan yang dipakai adalah model perancangan prosedural. Model perancangan prosedural merupakan metode yang menghasilkan sebuah produk yang dapat memecahkan masalah. Dalam metode tersebut diperlukan identifikasi data perancangan yang dibagi menjadi data pustaka dan data lapangan. Data pustaka diambil dari buku-buku relevan dan internet, sedangkan data lapangan diambil dari hasil observasi, wawancara, dan kuisioner yang dilakukan langsung. Kemudian data perancangan diolah dan dihasilkan sebuah konsep perancangan. Kegiatan perancangan yang dilakukan bertujuan untuk menghasilkan sebuah paket media lengkap dengan audiovisual, animasi, grafis, teks dan video yang berupa Perancangan Peta Layanan Interaktif Sebagai Media Informasi Untuk Pengguna Rumah Sakit Pupuk Kaltim Di Kota Bontang. Peta layanan tersebut memiliki peta lokasi rumah sakit saat ini (terbaru) dan berbagai informasi tentang Rumah Sakit Pupuk Kaltim baik fasilitas yang tersedia maupun alamat unit layanan kesehatan yang dimiliki. Dikemas ke dalam sebuah CD interaktif dan ditempatkan pada boks sebagai wadah monitor 15 inch dan Processor. Dihasilkan pula media pendukung peta dalam mengembangkan fasilitas yang telah banyak berubah berupa petunjuk lokasi, petunjuk arah, papan nama, dan petunjuk lokasi peta. Diharapkan dengan perancangan peta layanan interaktif dan media pendukungnya menjadi salah satu penunjang pengembangan Rumah Sakit Pupuk Kaltim dalam menjawab kebutuhan pengguna dan pengunjung.

Problematika pemilihan metode pembelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) serta pemecahannya (Studi si SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang) / Ika Oktaviani Lusiana

 

ABSTRAK Lusiana, Ika Oktaviani. 2009. Problematika Pemilihan Metode Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) serta Pemecahannya (Studi di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang). Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Suparlan, M.Si, (2) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si. Kata Kunci: Problematika, Guru, Metode Pembelajaran PKn Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, metode pembelajaran memegang peran penting. Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap guru harus mampu menguasai metode-metode yang ada dan dapat memilih metode yang tepat agar bisa mencapai tujuan belajar. Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelemahan-kelemahan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Guru, tidak menguasai materi dan cara penyampaian; (2) Siswa, tidak mempunyai kemampuan, kesiapan dan kondisi yang baik; (3) Sarana dan prasarana untuk belajar mengajar kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), mengetahui problematika yang dihadapi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam memilih metode pembelajaran di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang, mengetahui upaya guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam mengatasi problematika pemilihan metode pembelajaran di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang. Informan terdiri dari guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data maka dilakukan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) meliputi: (a) aspek pengetahuan kewarganegaraan (civics knowledge), (b) aspek keterampilan kewarganegaraan (civics skills), (c) aspek nilai-nilai kewarganegaraan (civics values). Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan guru dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning = CTL), pendekatan konsep dan pendekatan individual; (2) setiap guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang mempunyai problematika masing-masing dalam memilih metode pembelajaran antara lain: (a) guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMA Negeri 1 Lawang problem yang dihadapi adalah minat dan motivasi belajar siswa yang rendah, kurang kesesuaian antara jumlah materi yang diajarkan dan alokasi waktu; (b) guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) SMK Merdeka Lawang problem yang dihadapi adalah Input nilai UAN (Ujian Akhir Nasional) yang rendah dan masalah di luar akademik yaitu siswa yang terhambat karena faktor ekonomi orang tua yang tidak mendukung. Selain itu, kurangnya sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. (3) Guru di SMA Negeri 1 Lawang dan SMK Merdeka Lawang telah melakukan upaya dalam mengatasi problematika yang sedang dihadapi, antara lain: (a) melakukan pengamatan secara langsung di kelas; (b) memilah-milah materi yang akan diajarkan, lebih kreatif dalam mencari sumber pembelajaran lain yang relevan dan berkonsultasi dengan sesama teman di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP); (c) memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber pelajaran, menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan menerapkan pembelajaran PAKEM; (d) guru dan pihak sekolah bekerja sama dengan pihak-pihak terkait berusaha memenuhi sarana dan prasarana sekolah. Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti dapat memberi saran bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional. Salah satunya adalah melalui pemilihan metode pembelajaran yang tepat agar nantinya dapat mencapai hasil belajar yang maksimal.

Kebijakan pengembangan pendidikan agama pasca undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah di Kabupaten Pasuruan / Moh. Syukron Aby

 

ABSTRAK Aby, Syukron Moh 2010. Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama Pasca UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah di Kabupaten Pasuruan. Tesis, Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing : (I) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M. Pd., (II) Dr. H. Imron Arifin, M. Pd. Kata Kunci : Kebijakan, Pendidikan Agama, UU Nomor 32 tahun 2004, District Regency Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah berdampak juga bagi otonomi pendidikan. Dengan demikian, konsekuensi logis bagi proses pembuatan kebijakan pendidikan oleh pemerintah Kabupaten/Kota adalah perlu dilakukan penyesuain diri dari paradigma lama manajemen pendidikan menuju paradigma baru manajemen pendidikan masa depan yang lebih bernuansa otonomi dan lebih demokratis. Otonomi di bidang pendidikan dipahami sebagai pemberian kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab secara profesional untuk mengambil prakarsa dan merumuskan perencanaan pendidikan secara partisipatif, koordinatif dengan memberdayakan segenap potensi sumber daya perencanaan yang dimiliki. Sejalan dengan hal tersebut, yang dimaksud dengan otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada. Dengan potensi itu Pemerintah Kabupaten Pasuruan ahirnya mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Bupati Nomor 13 Tahun 2001 tentang organisasi tata kerja dinas Pendidikan, yang didalamnya mengakomodir tentang pendidikan keagamaan pada satu subdinas/bidang tersendiri yaitu Pergurag. Mengapa Kebijakan tersebut ada di Kabupaten Pasuruan, sementara di Kabupaten dan Kota lain di Propinsi Jawa Timur belum ada. Penelitian tentang Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama Pasca UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah di Kabupaten Pasuruan.. Kemudian dielaborasi ke dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1). Bagaimana interpretasi dan formulasi para pengambil kebijakan di lingkungan pemerintah Kabupaten Pasuruan terhadap Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama ?, 2). Bagaimana implementasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan pelaksanaan dan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan ?, 3). Apakah sinkronsasi Peraturan-peraturan daerah (Perbup Nomor 13 Tahun 2001 tentang Organisasi dan tata kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan) dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terkait dengan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan ? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data utama adalah in depth interview kemudian dilengkapi dengan documentation study dan participant observation. Analisis data dilakukan secara terus menerus sejak pengumpulan data hingga penulisan, sebagai bagian dari proses trianggulasi. Dari penelitian ini, diperoleh temuan-temuan tentang : 1). Interpretasi dan formulasi para pengambil kebijakan di lingkungan pemerintah Kabupaten Pasuruan terhadap Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama, Setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten Pasuruan dalam hal ini Dinas Pendidikan mendapatkan alokasi tambahan anggaran yang cukup signifikan dibandingkan dengan dinas-dinas lain yang ada di Kabupaten Pasuruan, Bahkan dalam menanggapi pemberlakuan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut, pemerintah Kabupaten Pasuruan telah mengeluarkan Perda atau keputusan khusus dalam mengoperasionalisasikan isi undang-undang tersebut, yaitu Peraturan Bupati Nomor 13 tahun 2001 tentang organisasi dan tata kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan yang salah satu didalamnya memuat tentang Subdin PERGURAG (Perguruan Agama Islam) yang membawahi pendidikan Agama yaitu : a). RA-BA-TA ( Roudlatul Atfal, Bustanul Atfal dan Tarbiyatul Atfal), b). MI-MTs (Madrasah Ibtidaiyah-Madrasah Tsanawiyah), c). MA (Madrasah Aliyah), MADIN-PONTREN (Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren) , 2). Implementasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terkait dengan pelaksanaan dan kebijakan pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan, yang dikelompokkan ke dalam 4 bidang yang ingin dicapai selama 5 tahun, yaitu (a) pemerataan dan perluasan pendidikan, dengan melalui, peningkatan persentase penduduk yang dapat menyelesaikan pendidikan MI, MTs dalam program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (b) peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, serta daya saing lulusan, dengan melalui peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan dasar dan menengah (c) peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dengan melalui peningkatan proporsi pendidik dan tenaga kependidikan RA, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah yang memiliki kualifikasi pendidikan minimum D-IV/S1 dan (d) peningkatan mutu manajemen layanan pendidikan, dengan melalui Peningkatan kualitas manajemen layanan pendidikan di lingkungan Dinas Pendidikan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel., 3). Ada singkronisasi antara Peraturan Bupati Nomor 13 tahun 2001 tentang organisasi dan tata kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan yang salah satu didalamnya memuat tentang Subdin PERGURAG (Perguruan Agama Islam) dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Beberapa saran dalam penelitian ini adalah : (1) pembuat keputusan kebijakan tingkat daerah. Pertama, meningkatkan komitmen terhadap pembangunan di bidang pendidikan khususnya pengembangan pendidikan agama diharapkan terus diperkuat dengan menempatkan pembangunan bidang pendidikan sebagai prioritas utama. Kesediaan Kepala Daerah baik Bupati maupun DPRD terjun langsung dalam proses formulasi, implementasi, serta evaluasi kebijakan publik dibidang pendidikan akan berdampak pada respon “Gayung Bersambut “ baik dari iternal dan eksternal daerah. Dengan demikian sangat mendukung terhadap pencapaian keberhasilan pembangunan pendidikan secara maksimal, Kedua, meningkatkan komitmennya terhadap pembangunan sektor pendidikan, mendukung kepada seluruh satuan kerja untuk terus membangun koordinasi yang solid, memberi dukungan terhadap pengalokasian anggaran pendidikan, meningkatkan fungsi kontrol terhadap imlementasi kebijakan, (2) Kepala Dinas Pendidikan, agar melakukan hal-hal : Untuk menformat bahwa dampak Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama di Kabupaten Pasuruan tidak hanya dunia pendidikan dalam arti sempit, akan tetapi diharapkan berdampak lebih luas yaitu dampak tidak langsung terhadap sentuhan kehidupan yang nyata yakni pada sentuhan kebutuhan tenaga kerja sebagai upaya untuk mengatasi problem pengangguran, diharapkan penataan jabatan structural dan fungsional lebih professional, terus meningkatkan kompetensi di bidang kebijakan pendidikan, terus memberdayakan peranan dan fungsi Dewan Pendidikan, meneliti dan mengembangkan implementasi Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama melalui tim Litbang, terus meningkatkan fungsi koordinasi dan singkronisasi dengan satuan kerja terkait di bidang pendidikan, terus mengadakan koordinasi, konsultasi bidang pendidikan dengan Pemerintah, terus melakukan penuntasan sosialisasi lanjutan, memberikan kewenangan yang lebih luas kepada sekolah dalam mengelola pembelajaran, (3) Kepala Sekolah agar melakukan hal-hal : terus meningkatkan kompetensi di bidang perencanaan jangka pendek, menengah dan pendek, terus memberdayakan segala potensi khususnya dengan Komite Sekolah, bersama Komite Sekolah berupaya meningkatkan kompetensi teknis, personal dan sosial para tenag guru, (4) peneliti lain, masih sangat berpeluang untuk mengembangkan dan meneliti lebih dalam tentang Kebijakan Publik Bidang Pendidikan khusunya pendidikan agama dalam konteks Otonomi Daerah di Pemerintah Kabupaten / Kota daerah lain di Indonesia.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode pemberian tugas di kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar / Asna Nurrohmah Sirod

 

ABSRTAK Sirod, Asna Nurrohmah. 2010. Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Metode Pemberian Tugas di Kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Suwarti, S. Pd. M. Pd, (2) Suminah, S. Pd. M. Pd. Kata-kata kunci: hasil belajar, metode pemberian tugas, sumber daya alam. Pada penelitian ini penggunaan metode pemberian tugas dalam pembelajaran IPS adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SDN Tlumpu Kota Blitar. Pemilihan metode ini dilatarbelakangi masalah hasil belajar siswa yang masih rendah. Hal tersebut disebabkan dalam pelaksanaan pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah. Penelitian ini bertujuan umtuk mengetahui, mengungkapkan, dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Tlumpu Kota Blitar pada pokok bahasan sumber daya alam dengan menggunakan metode pemberian tugas. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian disusun dalam siklus sampai mendapatkan hasil yang diinginkan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi, dan catatan lapangan. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas IV, dapat diketahui bahwa nilai yang diperoleh siswa masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 70. Hanya ada 15 siswa dari 33 siswa sudah mencapai nilai di atas KKM. Sedangkan sisanya 18 siswa belum mencapai KKM. Hal ini berarti hanya ada 45,5% siswa yang tuntas belajar. Setelah menggunakan metode pemberian tugas dalam pembelajaran, nilai individu siswa pada siklus I meningkat, yaitu menjadi 69,7% dari 33 siswa telah tuntas belajar. Prosentase tersebut masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu 70% siswa dari 33 siswa telah tuntas belajar. Maka perlu dilakukan siklus II untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus II, nilai siswa juga meningkat menjadi 100% siswa sudah tuntas belajar. Sedangkan nilai pada tugas kelompok juga mengalami peningkatan. Pada siklus I persentase keberhasilan yang diperoleh yaitu 66,7% meningkat menjadi 100% pada siklus II. Aktivitas siswa dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan. Hal ini dapat diketahui dari persentase keberhasilan yang diperoleh pada siklus I yaitu 62,1% meningkat menjadi 78% pada sikus II. Demikian juga dengan kemampuan guru dalam menerapkan metode pemberian tugas juga mengalami peningkatan. Pada siklus I persentase keberhasilan yang diperoleh yaitu 63,6% meningkat pada siklus II menjadi 100%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode pemberian tugas pada pokok bahasan sumber daya alam terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik hasil tugas kelompok maupun tugas individu. Selain itu aktivitas siswa dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan. Oleh karena itu disarankan bagi guru agar menggunakan metode pemberian tugas dalam pembelajaran agar hasil yang diperoleh menjadi maksimal.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 |