Aplikasi transformasi fourier dan fuzzy histogram hyperbolization untuk memperbaiki citra digital hasil radiografi / Wafiq Umam Fakhrudin

 

Kata kunci: radiografi, radiograf, Transformasi Fourier, fuzzy histogram hyperbolization, GUI Radiografi ialah penggunaan sinar pengionan (sinar X dan sinar gama) untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film atu citra digital. Radiografi umumnya digunakan untuk melihat benda tak tembus pandang, misalnya bagian dalam tubuh manusia. Gambaran benda yang diambil dengan radiografi disebut radiograf. Radiografi dapat digunakan untuk membantu mendiagnosis penyakit dalam bidang medis. Umumnya citra radiograf masih tampak kabur untuk memperbaikinya memerlukan peningkatan kualitas untuk menghilangkan atau mengurangi kekaburan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan komputer. Program komputer dapat diciptakan untuk melakukan proses peningkatan kualitas citra digital. Sehingga didapatkan radiograf yang lebih baik, mudah dilihat dan dianalisa. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengaplikasikan teori-teori matematika sebagai metode perbaikan citra digital. Metode yang digunakan adalah Transformasi Fourier dan Fuzzy Histogram Hyperbolization. Transformasi Fourier bekerja meningkatkan kualitas citra digital yang bekerja melalui manipulasi nilai-nilai pixel . Fuzzy histogram hyperbolization bekerja meningkatkan kualitas citra digital melalui tiga, yaitu fuzzifikasi citra, modifikasi nilai keanggotaan dan fuzzifikasi balik. Tahap-tahap tersebut telah dilakukan dalam penelitian. Pada skripsi ini penulis mempresentasikan aplikasi transformasi citra dengan menggunakan Matlab 6.5 yang disajikan berupa aplikasi berbasis Graphical User Interface (GUI). Hasil penelitian dengan objek empat citra digital dari hasil CT Scan menunjukkan bahwa metode Transformasi Fourier dan fuzzy histogram hyperbolization dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas citra dengan baik. Citra yang diolah menggunakan metode Transformasi Fourier berjumlah satu, memiliki karakteristik warna merah kehitaman, tepi lebih cerah dan background hitam. Sedangkan citra yang diolah menggunakan Fuzzy Histogram Hiperbolyzation berjumlah empat dan masing-masing citra memilki intensitas yang berbeda dan memilki warna kecoklatan. Pembimbing I, Darmawan Satyananda, S. T, M. T NIP. 19730724 199903 1 001 Pembimbing II, Mahmudin Yunus, S. Kom NIP. 19721208 200003 1 001 Dewan Penguji, Muhamad Yasin, S. Kom, M. Kom NIP. 1322 31 728

Perencanaan mesin pemecah batu granit jenis roll kapasitas 106,26 m3/jam / oleh Moh. Puguh Prasetiyo

 

Sistem otomatis penerangan taman menggunakan tenaga surya sebagai solusi hemat energi / Atika Miranti Iswara

 

ABSTRAK Miranti I, Atika. 2015. Sistem Otomatis Penerangan Taman Menggunakan Tenaga Surya Sebagai Solusi Hemat Energi. Tugas Akhir, Program Studi D3 Teknik Elektro. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Arif Nur Afandi, S.T., M.T., MIAENG, MIEEE, Ph.D. (II) Yuni Rahmawati, S.T., M.T. Kata Kunci : Solar Cell, Sistem Otomatis , Renewable Energy, Sensor PIR, Arduino. Renewable energy (energi terbarukan) didefinisikan sebagai energi yang dapat diperoleh ulang seperti sinar matahari dan angin. Sumber energy terbarukan adalah sumber energi ramah lingkungan yang tidak mencemari lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global seperti pada sumber-sumber tradisional lain. Aplikasi renewable energi untuk pembangkit listrik menggunakan tenaga surya pada penerangan lampu taman masih belum begitu marak diaplikasikan. Mengingat hal tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan studi kasus oleh mahasiswa, maupun masyarakat umum. Perancangan prototype system otomatis penerangan taman menggunakan tenaga surya sebagai solusi hemat energy ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu: (1) studi pustaka; (2) proses perancangan; (3) pembuatan alat; (4) pengujian tiap-tiap komponen pada alat; (5) pengujian keseluruhan; dan (6) hasil pengujian.Uji kinerja rancangan terdiri dari: (a) Solar cell; (b) Sensor cahaya; (c) Sensor PIR; (d) Mikrokontroler Arduino. Hasil dari rancangan tersebut berupa prototype system otomatis penerangan taman menggunakan tenaga surya yang pengujian rangkaian keseluruhannya dapat berfungsi dengan baik dan menjadi solusi hemat energi.

Persepsi pengunjung berdasarkan konsep essensial geografi, sapta pesona, dan sarana pada wisata makam Bung Karno di Kota Blitar / Soffatul Faridah

 

Kata Kunci : Persepsi, Pengunjung, Wisata Sektor pariwisata menempati urutan keempat dalam meningkatkan PAD Kota Blitar setelah perdagangan/jasa, perhubungan/komunikasi, dan industri. Dalam rangka maningkatkan PAD Kota Blitar, dilakukan pembangunan pada Makam Bung Karno yang notabene sebagai ikon pariwisata di Kota Blitar. Pe-ngembangan yang telah dilaksanakan pada objek wisata Makam Bung Karno selama ini menunjukkan hasil yang tidak maksimal tentang pertumbuhan jumlah pengunjung. Dibuktikan dengan data jumlah pengunjung pada tahun 2001 ber-jumlah 408.833 jiwa dan tahun 2008 menjadi 447.067 jiwa. Pengembangan dae-rah tujuan wisata tidak hanya berorientasi pada fasilitas yang dapat ditawarkan, kemampuan yang dimiliki, tetapi juga respon dari pengunjung, karena pada dasarnya pengunjung sebagai unsur yang paling penting dalam usaha pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Persepsi pengunjung berda-sarkan konsep essensial geografi pada objek wisata Makam Bung Karno; 2) Persepsi pengunjung berdasarkan Sapta Pesona pada objek wisata Makam Bung Karno; 3) Persepsi pengunjung berdasarkan sarana pada objek wisata Makam Bung Karno. Penelitian ini menggunakan metode survey. Populasi penelitian ini adalah seluruh pengunjung yang ada di lokasi Makam Bung Karno pada saat pengam-bilan sampel. Pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan po-pulasi target 100 responden. Teknik pengambilan data menggunakan metode ob-servasi, dokumentasi dan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisis meng-gunakan teknik indek komposit skor. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Persepsi pengunjung terhadap konsep essensial geografi cukup baik, (kesesuaian lokasi dipersepsikan jelek, sedangkan jarak, aglomerasi, keterjangkauan, interaksi, diferensiai area, nilai kegunaan dan keterkaitan ruang dipersepsi cukup baik); 2) Persepsi pengunjung terhadap sapta pesona cukup baik, (keamanan, keindahan, keramahan termasuk baik, ketertiban, kebersihan, dan kenangan termasuk cukup baik, kesejukan termasuk jelek); 3) Persepsi pengun-jung terhadap sarana baik (persepsi pengunjug tentang sarana pokok cukup baik sarana penunjang, dan pelengkap termasuk baik). Dari hasil penelitian dapat disarankan: 1) Kepada Dinas Perhubungan disarankan untuk membuat jaringan jalan khusus wisata; 2) Kepada pengelola MBK disarankan untuk mengimbangi pembangunan fisik dengan penanaman dan tidak menebang pohon disekitar MBK; 3) Kepada Dinas Kominfoparda dan pihak penyelenggara kesenian dan kebudayaan disarankan agar lebih sering mengadakan pertunjukan kesenian dan kebudayaan asli masyarakat Kota Blitar.

Karakteristik tulisan narasi fiksi berbahasa arab mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia / Nurhidayati

 

Kata kunci: karakteristik, narasi fiksi, bahasa Arab, penutur asli, bahasa Indonesia. Narasi fiksi merupakan salah satu genre tulisan yang mempunyai karakteristik tertentu. Narasi fiksi merupakan bentuk perwujudan produksi bahasa tulis mahasiswa, yang dipengaruhi oleh faktor kompetensi berbahasa, pemahaman genre tulisan, dan pengetahuan tentang topik yang ditulis. Penulis narasi fiksi adalah mahasiswa sebagai pebelajar pemula yang sedang berada pada tahap transisi dari penguasaan bahasa Indonesia ke tahap penguasaan bahasa target yaitu bahasa Arab (sebagai pebelajar bahasa antara). Narasi fiksi yang ditulis mahasiswa pada masa transisi tersebut menarik untuk dikaji karena narasi fiksi tersebut merupakan refleksi pola pikir, kreativitas kebahasaan penulis, ciri khas pemerolehan bahasa yang telah dipelajari, dan sebagai penanda tingkat kemampuan berbahasa mahasiswa. Hal itu berguna untuk menambah wawasan teoretis dan praktis bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran menulis bahasa kedua/asing. Berdasarkan urgensi penelitian tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah sebagai berikut. (1) Bagaimana karakteristik unsur-unsur intrinsik tulisan narasi fiksi berbahasa Arab mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia? (2) Bagaimana karakteristik kesalahan kebahasaan tulisan narasi fiksi berbahasa Arab mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia? (3) Bagaimana karakteristik strategi komunikasi yang digunakan mahasiswa penutur asli bahasa Indonesia pada tulisan narasi fiksi berbahasa Arab? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosio-psiko-struktural. Data penelitian merupakan data verbal yang berupa data: (1) narasi fiksi tulis, (2) transkripsi wawancara, dan (3) catatan observasi. Data narasi fiksi tulis diambil dari portofolio tugas akhir semester. Data transkripsi wawancara dan catatan observasi proses pembelajaran merupakan data yang digunakan untuk mengklarifikasi dan melengkapi data narasi fiksi tulis. Data dianalisis dengan analisis interaktif. Prosedur analisis data penelitian ini sebagai berikut: (1) pereduksian data, (3) penyajian data, dan (4) verifikasi temuan penelitian. Temuan penelitian ini dikemukakan sebagai berikut. Unsur-unsur intrinsik tulisan narasi fiksi subjek penelitian ini tampak pada kekhasan plot, tokoh, dan latar. Plot didominasi oleh jenis plot linier yang tidak semuanya memaparkan klimaks. Tokoh yang ditampilkan dan mendominasi temuan adalah tokoh dengan peran mahasiswa dan siswa, dengan dominasi temuan pada pelukisan aspek fisik tokoh. Latar tempat yang ditemukan bervariasi, tetapi bermuara pada lingkungan sekitar mahasiswa. Latar waktu bervariasi, tetapi semua waktu yang digunakan menunjuk pada waktu yang biasa digunakan dalam kehidupan-sehari-hari. Latar sosial mengacu pada lingkungan sosial yang terkait dengan dunia kampus, sekolah, rumah indekos, pedesaan, dan pesantren. Latar suasana mengacu pada hal-hal yang sering dialami oleh penulis sebagai mahasiswa. Karakteristik kesalahan tulisan narasi fiksi berwujud: (1) penghilangan unsur kebahasaan (omission), (2) penambahan unsur kebahasaan (additions), (3) kesalahan bentukan unsur kebahasaan (misformation), dan (4) kesalahan penggunaan unsure kebahasaan dengan sumber kesalahan interlingual mencapai 6% dan kesalahan intralingual mencapai 94%. Karakteristik strategi komunikasi tampak pada kekhasan penggunaan strategi parafrase, strategi peminjaman, dan strategi penghindaran. Strategi parafrase yang ditemukan berupa: (1) rekonstruksi kata, frasa, dan kalimat, (2) pendeskripsian, (3) pemakaian contoh, (4) pendefinisian, (5) penggunaan sinonim, (6) penggunaan simile, dan (7) personifikasi. Strategi peminjaman yang ditemukan berupa: (1) terjemahan literal, (2) campur kode, dan (3) permintaan bantuan. Adapun strategi penghindaran yang ditemukan berupa: (1) penghindaran penggunaan bentuk morfologis yang kompleks, (2) penghindaran penggunaan struktur kalimat kompleks, dan (3) penghindaran variasi tema tulisan. Berdasarkan temuan tersebut, dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut. Pertama, plot, tokoh, dan latar sebagai unsur intrinsik narasi fiksi yang ditemukan menggambarkan karakteristik penulis sebagai penulis pemula yang masih belum sempurna penguasaan kompetensi bahasanya dan pengetahuannya akan genre tulisan narasi fiksi. Kedua, penghilangan unsur kebahasaan, penambahan unsur kebahasaan, kesalahan bentukan unsur kebahasaan, serta kesalahan penggunaan unsur kebahasaan yang ditemukan merupakan wujud kesalahan yang bersumber dari kesalahan interlingual dan intralingual. Dari dua sumber kesalahan tersebut, kesalahan intralingual mendominasi temuan. Kesalahan intralingual menggambarkan karakteristik khusus bahasa Arab yang belum dikuasai dengan sempurna oleh penulis pemula. Ketiga, strategi parafrase, strategi peminjaman, dan strategi penghindaran yang ditemukan merupakan usaha penulis untuk menghindari kemacetan tulisan, memperlancar tulisan akibat belum dikuasai kaidah-kaidah bahasa sasaran secara sempurna, dan untuk memvariasikan tulisan. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi teoretis tentang tulisan narasi fiksi dan pemerolehan bahasa kedua yang meliputi kesalahan bahasa dan strategi komunikasi. Hasil penelitian ini juga mempunyai implikasi praktis sebagai bahan penjelas dan penyelesai masalah-masalah dalam pembelajaran bahasa kedua atau asing di perguruan tinggi, khususnya dalam hal pembelajaran menulis narasi fiksi. Hasil penelitian ini juga sebagai acuan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran menulis narasi fiksi. Bagi program studi bahasa Indonesia, hasil penelitian ini merupakan bahan pembanding dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran bahasa Indonesia untuk pebelajar bahasa asing.

Penerapan assessment portofolio dalam pembelajaran geografi kelas XI IPS-IV SMA Negeri 3 Jombang / Efi Wijayanti

 

Kata Kunci: Portofolio, Hasil Belajar, Pengelolaan Lingkungan Hidup Portofolio adalah penilaian autentik berupa kumpulan pekerjaan siswa yang representativ menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu. Dengan mengenal dan mendokumentasikan hasil belajar siswa, guru dapat menggunakan portofolio untuk perkembangan hasil belajar siswa. Portofolio digunakan sebagai bukti belajar siswa baik pada proses belajar berlangsung dan diluar pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 3 Jombang , pembelajaran geografi dilakukan dengan metode ceramah dan menggunakan OHP. Padahal dengan metode tersebut siswa cenderung sulit untuk memahami materi yang diberikan dan cepat bosan karena metode tersebut. Tujuan lain dari pengembangan penilaian portofolio yaitu portofolio dapat meningkatkan hasil belajar, karena dalam belajar mandiri siswa termotivasi secara intrinsik untuk belajar dan terbantu untuk mengorganisasi dan menyusun hasil belajarnya. Siswa tidak cukup hanya menghafal catatan pelajaran dan bahan pelajaran, tetapi mereka harus mengorganisir materi, dan mendiskripsikan apa yang belum dipahami dan apa yang sudah dipamahi sehingga dapat dijadikan gambaran untuk mengetahui kemampuan mereka sendiri. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS-IV SMA Negeri 3 Jombang. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus pembelajaran. Pengumpulan data untuk hasil belajar siswa menggunakan soal tes evaluasi, yang terdiri dari pre tes dan postes, pekerjaan rumah, eveluasi pembelajaran, tugas kliping. Untuk mengetahui pengalaman belajar siswa yang didapt peneliti menggunakan jurnal belajar dan refleksi akhir pembelajaran. Dan untuk mengukur keefektifan penggunaan metode penilaian portofolio menggunakan angket untuk siswa. Hasil penelitian membuktikan meningkatnya hasil belajar geografi kelas XI IPS-IV SMA NEGERI 3 JOMBANG. Data pengamatan menunjukkan bahwa nilai rata-rata postes siklus I adalah sebesar 72,6 yaitu sebanyak 27 siswa atau sebesar 87,1 % di atas nilai Standar Kelulusan Minimal (SKM) dan pada siklus II persentase siswa yang mendapat nilai di atas rata-rata adalah sebanyak 31 siswa atau 100% dari jumlah siswa keseluruhan dengan nilai rata-rata sebesar 84,5. Kenaikan rata-rata nilai dari siklus I ke siklus II sebesar 14,7%. Peningkatan nilai akhir portofolio juga mengalami kenaikan sebesar 11,9% yaitu rata-rata pada siklus I sebesar 72,6 atau sebanyak 27 orang siswa (87,1%) tuntas belajar dan 4 orang siswa (12,9%) belum tuntas belajar. Pada siklus II nilai rata-rata akhir portofolio adalah sebesar 84,5 atau sebanyak 31 orang siswa (100%) dinyatakan tuntas belajar. ii Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa penerapan assessment portofolio dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS-IV SMA NEGERI 3 JOMBANG, maka disarankan agar dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, assessment portofolio dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif bagi guru dalam penilaian untuk meningkatkan hasil belajar khususnya pada mata pelajaran geografi. Bagi guru atau pratisi pendidikan lainnya yang tertarik untuk menerapkan assessment portofolio dalam pembelajaran, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) Selalu memberikan umpan balik yang positif dan bersifat membangun terhadap hasil pekerjaan siswa yang dimasukkan dalam portofolio, b) Mengingatkan kepada siswa bahwa segala hasil karya yang dihasilkan dan dikumpulkan akan dinilai oleh guru dan peneliti, c) Tidak meremehkan hasil karya pekerjaan siswa yang dikumpulkan dalam portofolio, d) Penerapan assessment portofolio memerlukan waktu yang lama, sehingga guru harus memperhitungkan waktu agar efektif dalam pembelajaran, e) Guru harus siap dengan kritik dan saran yang diungkapkan oleh siswa, f) Demi menyempurnakan proses pembelajaran dengan portofolio, g) Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan berupa bukti belajar dua dimensi (tugas rumah, kliping, lembar aktifitas siswa, evaluasi, jurnal belajar, dan lembar refleksi diri).

Lembar kerja siswa berbantuan komputer pada materi penyajian data dan ukuran pemusatan untuk siswa kelas VI Sekolah Dasar / Eka Farida Ariyani

 

Kata kunci: lembar kerja siswa, komputer, penyajian data, ukuran pemusatan. Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu bahan ajar yang dapat digunakan dalam pengkonstruksian pengetahuan siswa. Namun, beberapa LKS yang digunakan di sekolah, khususnya pada materi penyajian data dan ukuran pemusatan hanya digunakan untuk melatih ketrampilan saja. Oleh karena itu disusunlah Lembar Kerja Siswa (LKS) berbantuan komputer yang membantu siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui masalah-masalah konstekstual yang disajikan. Pengembangan LKS berbantuan komputer ini meliputi beberapa tahapan yaitu: (1) identifikasi kebutuhan; (2) spesifikasi tujuan; (3) penyusunan LKS dan media; (4) validasi LKS berbantuan komputer yang terdiri dari validasi ahli materi, ahli media, praktisi, dan siswa; (5) analisis dan revisi. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam validasi LKS berbantuan komputer berupa angket. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yang dianalisis dengan persentase. Produk yang dihasilkan adalah Lembar Kerja Siswa (LKS) tertulis dan media pembelajaran Penyajian Data dan Ukuran Pemusatan yang disimpan dalam Compact Disk (CD). LKS berbantuan komputer ini terdiri dari 2 bagian yaitu LKS 1 dan LKS 2. LKS 1 memuat tentang penyajian data dalam bentuk tabel, diagram gambar, diagram batang, diagram garis, dan diagram lingkaran. LKS 2 memuat tentang rata-rata hitung (mean), modus, dan median. LKS berbantuan komputer ini dilengkapi dengan latihan soal yang terdiri dari 10 soal mengenai penyajian data dan 10 soal mengenai ukuran pemusatan. Hasil penskoran dari instrumen penilaian yang dilakukan ahli materi dan siswa mencapai nilai masing-masing 91,7% dan 94,5% yang menunjukkan bahwa LKS berbantuan komputer yang disusun bersifat sangat valid dan tidak memerlukan revisi. Hasil penskoran dari instrumen penilaian yang dilakukan ahli media dan guru memperoleh nilai masing-masing 84,4% dan 80,25% yang menunjukkan bahwa LKS berbantuan komputer yang dirancang bersifat valid dan tidak memerlukan revisi. Namun LKS berbantuan komputer ini mengalami revisi berdasarkan saran dari validator yaitu revisi isi materi penyajian data dalam bentuk tabel, isi materi median, serta tentang beberapa tampilan dalam media. Saran pengembangan LKS selanjutnya untuk mengujicobakan LKS berbantuan komputer ini kepada siswa dalam kelompok besar dan menambahkan suara pada LKS berbantuan komputer ini agar lebih menarik.

Penerapan model pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD untuk meningkatkan pelajaran IPA lingkungan fisik terhadap daratan siswa kelas IV SDN Lakarsantri III/474 Surabaya / Nunuk Nularsih

 

Kata Kunci : kontekstual,media VCD,lingkungan fisik Penerapan model pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD untuk meningkatkan pelajaran IPA lingkungan fisik terhadap daratan Kelas IV SDN Lakarsantri III/474 Surabaya” memuat permasalahan, yaitu :Apakah penerapan model pembelajaran kontekstual dengan berbantuan media VCD dapat meningkatkan aktivitas ,kreativitas ,hasil belajar siswa kelas IV pada pelajaran IPA SDN Lakarsantri III/474 Surabaya? Sesuai dengan permasalahan diatas tujuan umum yang ingin dicapai adalah mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD dengan kompetensi dasar lingkungan fisik terhadap daratan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas IV SDN Lakarsantri III/474 Surabaya . Penelitian ini menggunakan rancangan PTK model Kemmis &Mc.Taggart digambarkan sebagai suatu proses dinamis ,meliputi empat aspek ,yaitu perencanaan ,tindakan,observasi dan refleksi yang dilakukan selama dua siklus Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV di SDN Lakarsantri III/474 Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus1 skor rata-rata pemahaman siswa sebesar 64% ,keaktivan siswa mencapai skor rata-rata 75%, kerativitas siswa mencapai skor rata-rata 57,5% Pada siklus 2 keaktivan siswa rata-rata mencapai 90,75% ,kreativitas siswa mencapai skor rata-rata 84,5%,nilai pemahaman siswa mencapai 75% Penerapan pembelajaran kontekstual berbantuan media VCD dapat meningkatkan aktivitas ,kreativitas dan hasil belajar siswa kelas IV pada pelajaran IPA SDN Lakarsantri III/474 Surabaya

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa terhadap matakuliah spesialisasi pilihan program studi pendidikan seni rupa angkatan tahun 2006-2007 jurusan seni dan desain Universitas Negeri Malang / Mohammad Faris Himawan

 

Kata kunci: Minat, Matakuliah Spesialisasi Pilihan, Seni dan Desain, UM. Matakuliah spesialisasi pilihan (MSP) adalah matakuliah paket yang wajib ditempuh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Malang. Setiap mahasiswa memiliki minat yang berbeda-beda terhadap matakuliah spesialisasi pilihan. Minat tersebut dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Sehingga tidak jarang mahasiswa yang telah menempuh sebuah MSP tertentu harus memilih MSP lain karena sadar minatnya tidak pada MSP yang ditempuhnya, tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap masa studinya. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi minat mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan tahun 2006-2007 Universitas Negeri Malang terhadap matakuliah spesialisasi pilihan. 2) mendeskripsikan faktor paling dominan yang mempengaruhi minat mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa angkatan tahun 2006-2007 Universitas Negeri Malang terhadap matakuliah spesialisasi pilihan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif dimana teknik analisis datanya menggunakan prosentase. Pengumpulan datanya menggunakan angket. Sampel penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Angkatan 2006-2007 Universitas Negeri Malang. Hasil dari penelitian menunjukkan faktor kebutuhan akan pengetahuan adalah faktor yang paling mempengaruhi minat mahasiswa terhadap MSP. Dengan prosentase tertinggi sebesar 57,3%. Sedangkan faktor yang paling tidak mempengaruhi adalah faktor pengaruh pacar. Faktor paling dominan yang mempengaruhi minat mahasiswa terhadap matakuliah spesialisasi pilihan berturut- turut adalah sebagai berikut: faktor kebutuhan akan pengetahuan, faktor memiliki cita-cita yang sesuai dengan MSP, faktor sesuai dengan hobi, faktor memiliki keterampilan, faktor fasilitas kampus, faktor dosen pembimbing, faktor ingin menguasai keterampilan, faktor pengaruh orang tua, faktor memiliki bakat, faktor pengaruh lingkungan yang sama dengan bidang MSP, faktor pengaruh teman, faktor pengaruh pacar. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar mahasiswa sebelum memilih matakuliah spesialisasi pilihan tidak terpengaruh oleh hal-hal yang nantinya akan merugikan, diharapkan hubungan mahasiswa dengan dosen pembimbing akademik agar lebih diintensifkan lagi agar dosen pembimbing akademik bisa memberikan pengarahan kepada mahasiswa. Karena fasilitas sarana dan prasarana mempengaruhi mainat mahasiswa untuk memilih matakuliah spesialisasi pilihan diharapkan jurusan menambah fasilitas tersebut, juga agar fasilitas tersebut dapat menunjang jalannya perkuliahan secara maksimal.

Peningkatan hasil belajar matematika konsep bilangan pecahan melalui CTL pada siswa kelas IV SDN Ciptomulyo 2 Malang / Subiati

 

Kata kunci: Peningkatan hasil belajar melalui CTL Tujuan pendidikan harus dicapai dengan melalui tujuan yang lebih kecil. Adapun tujuan yang paling kecil adalah tujuan pembelajaran khusus (TPK). Agar dapat mencapai TPK yang baik untuk semua mata pelajaran maka semua siswa harus memiliki tiga kemampuan dasar yakni kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Dalam hal kemampuan berhitung maka pelajaran matematika memegang peranan penting. Dengan menguasai berhitung beserta seluk beluknya diharapkan anak dapat memahami semua materi mata pelajaran dari masing-masing mata pelajaran. Setelah dikuasainya seluruh materi pelajaran, tentunya prestasi belajar siswa akan baik, dan jika prestasi belajarnya baik tentunya pencapaian tujuan pendidikan tinggal masalah waktu. Penelitian tindakan kelas ini berlokasi di SD Negeri Ciptomulyo 2 Malang. Obyek penelitian ini adalah siswa kelas IV yang berjumlah 32 anak. Materi pelajarannya ialah peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika dengan pendekatan pembelajaran kontekstual dipadu dengan alat peraga konkrit pada konsep bilangan pecahan. Adapun waktu pelaksanaan penelitian adalah pada bulan Mei minggu pertama sampai minggu keempat. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada peningkatan yang signifikan pada hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika konsep bilangan pecahan dari tes awal ke siklus I ke siklus II melalui CTL. Hal ini didukung dengan nilai rata-rata setelah siklus II sebesar 85,2%. Sedangkan pada siklus I didapatkan rata-rata kelas sebesar 73,3%. Ini menandakan bahwa dengan melalui pendekatan CTL maka hasil belajar matematika pada siswa kelas IV SD Negeri Ciptomulyo 2 Malang dapat meningkat secara signifikan.

Pertimbangan investor berinvestasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan corporate social responsibility perusahaan yang go publik di Bursa Efek Indonesia / Luqman Hakim

 

Kata Kunci : Investasi, ukuran dewan komisaris, tingkat leverage, ukuran perusahaan, Tipe Industri, profitabilitas, struktur kepemilikan saham dan pengungkapan corporate social responsibility Pengungkapan corporate social responsibility merupakan proses pengkomunikasian dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan ekonomi organisasi terhadap kelompok khusus yang berkepentingan dan terhadap masyarakat secara keseluruhan. Suatu perusahaan dapat mewujudkan corporate social responsibility secara baik, kalau perusahaan tersebut mampu menerapkan kewajibanya secara berimbang antara kepentingan stakeholders primer dan sekunder. Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin bagus (good corporate governance) semakin memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya. Masyarakat maupun investor membutuhkan informasi mengenai sejauh mana perusahaan sudah melaksanakan aktivitas sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengungkapan corporate social responsibility digunakan sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam berinvestasi. Selain itu, mengetahui pengaruh ukuran dewan komisaris, tingkat leverage, ukuran perusahaan, tipe industri, tingkat profitabilitas, struktur kepemilikan saham terhadap pengungkapan corporate social responsibility. Jenis penelitian adalah penelitian eksplanatori, sampel yang terkait dengan para investor didapat 36 investor yang ada di Kota Malang, sedangkan yang terkait dengan laporan keuangan dalam penelitian ini berjumlah 73 perusahaan yang mengungkapkan corporate social responsibility. Data persepsi investor terhadap pengungkapan corporate social responsibility dengan penyebaran kuesioner kepada investor yang dijadikan sebagai responden, sedangkan data tentang ukuran dewan komisaris, tingkat leverage, ukuran perusahaan, tipe industri, profitabilitas perusahaan dan struktur kepemilikan saham diperoleh dari annual report tiap perusahaan yang di publikasikan PT. Bursa Efek Indonesia tahun 2007 dan 2008. Analisis yang digunakan analisis deskriptif, regresi berganda. Hasil analisis deskripif, menemukan bukti bahwa investor sudah mulai merespon dengan baik informasi-informasi sosial yang disajikan perusahaan dalam laporan tahunan. Hal ini berarti pengungkapn sosial dalam laporan tahunan sudah direspon positif oleh investor sebagai salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam malakukan investasi. Hasil analisis regresi berganda, menemukan bukti bahwa ukuran dewan komisaris, leverage dan struktur kepemilikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility, Sedangkan ukuran perusahaan, tipe industri, profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengungkapan corporate social responsibility.

Peningkatan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada siswa kelas VII SMPN 8 Kediri / Ana Mariatul Kiftiyah

 

Kata Kunci: membaca indah, puisi, teknik creative reading, pembelajaran Pembelajaran membaca indah puisi dengan menggunakan irama, volume suara, mimik, kinesik yang sesuai dengan isi puisi sudah diajarkan kepada siswa kelas VII SMPN 8 Kediri. Berdasarkan studi pendahuluan, masalah yang muncul pada aspek proses pembelajaran membaca indah puisi adalah (1) pembelajaran membaca indah puisi kurang menumbuhkan minat siswa dalam membaca indah puisi, (2) guru belum memiliki teknik yang tepat untuk membelajarkan membaca indah puisi, (3) siswa memiliki kesulitan dalam memahami serta mengekspresikan isi puisi secara kreatif, (4) siswa tidak diberi pelatihan khusus oleh guru dalam membaca indah puisi, dan (5) siswa belum diberikan contoh oleh guru tentang cara membaca indah puisi secara baik dan benar. Masalah yang muncul pada aspek hasil membaca indah puisi adalah kurangnya kepercayaan diri dan pemahaman mengenai isi puisi yang menyebabkan siswa kurang optimal dalam mengekspresikan isi puisi. Oleh karena itu, permasalahan tersebut diatasi dengan penerapan teknik creative reading yang dapat memotivasi siswa untuk mau menyalurkan imajinasi dan kreativitas dalam mengekspresikan isi puisi sehingga isi puisi dapat dipahami oleh pembaca dan ditangkap oleh audien dengan lebih mudah dan mendalam. Masalah penelitian adalah bagaimana meningkatkan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada siswa kelas VII SMPN 8 Kediri. Secara khusus, terdapat dua masalah yaitu menyangkut aspek proses dan hasil. Pertama, bagaimana proses peningkatan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada tahap praperformansi, performansi, dan pascaperformansi. Kedua, bagaimana hasil peningkatan keterampilan membaca indah puisi dengan teknik creative reading pada aspek irama, volume suara, mimik, kinesik, dan kekreatifan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi empat hal pokok, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, dan (4) refleksi tindakan. Kumpulan data dalam penelitian ini berupa data proses dan hasil. Data proses adalah data interaksi proses pembelajaran membaca indah puisi yang dilakukan siswa dan guru di kelas berupa catatan lapangan sedangkan data hasil berupa data hasil penilaian performansi membaca indah puisi siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi menggunakan pedoman observasi yaitu checklist mengenai kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa serta pencapaian tiap indikator pembelajaran. Selain itu, digunakan catatan lapangan untuk merekam semua kejadian yang terjadi dalam proses pembelajaran. Data ii proses tersebut kemudian direduksi, disajikan berdasarkan tahapan pembelajaran (praperformansi, performansi, dan pascaperformansi) kemudian diolah dan disimpulkan. Analisis data hasil dilakukan dengan studi dokumen menggunakan lembar penilaian hasil membaca indah puisi. dianalisis dengan mengorganisasi, mengelompokkan berdasarkan klasifikasi baik sekali, baik, cukup, kurang baik untuk kemudian dipaparkan dan ditarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data proses, diketahui pada tahap praperformansi guru memberikan materi tentang membaca indah puisi dengan teknik creative reading, menampilkan model yang mencontohkan dan melatihkan pembacaan indah puisi dengan teknik creative reading. Guru melatih olah gerak dan vokal, membagikan judul puisi, menjadi fasilitator ketika siswa mengerjakan LKS, dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk berlatih secara mandiri. Pada tahap performansi, guru mempersilakan siswa tampil ke depan kelas membaca indah puisi secara bergantian. Pada tahap pascaperformasi guru dan siswa merefleksi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan menyampaikan kesan, kesulitan-kesulitan yang dialami selama proses pembelajaran, dan merancang kegiatan lanjutan dalam upaya menumbuhkan kecintaan siswa terhadap karya sastra, khususnya puisi. Secara umum, dari ketiga tahapan pembelajaran tersebut siswa terlihat semangat dan antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, terutama pada tahap praperformansi. Berdasarkan hasil analisis data hasil, diketahui keterampilan membaca indah puisi siswa dengan teknik creative reading mengalami peningkatan. Dalam aspek irama, tingkat ketuntasan siswa mencapai 94,5% dengan 52,8% berkategori baik, 41,7% berkategori baik sekali, dan sisanya ada pada kategori cukup (siklus I) meningkat menjadi 100% dengan 77,8% berkategori baik sekali (siklus II). Dalam aspek volume suara, tingkat ketuntasan siswa mencapai 72,2% dengan 50% berkategori baik sekali (siklus I) meningkat menjadi 88,9% dengan 58,3% berkategori baik sekali (siklus II). Dalam aspek mimik, tingkat ketuntasan siswa mencapai 72,2% dengan 66,6% berkategori baik (siklus I) meningkat menjadi 88,9% dengan 61,1% berkategori baik (siklus II). Dalam aspek kinesik, tingkat ketuntasan siswa mencapai 75% dengan 38,9% berkategori baik sekali (siklus I) meningkat menjadi 91,7% dengan 47,2% berkategori baik sekali (siklus II). Dalam aspek kekreatifan dalam menggunakan tatarias, kostum, properti, dan iringan musik yang mendukung penyampaian isi puisi, tingkat ketuntasan siswa mencapai 88,9% dengan 55,6% berkategori baik sekali (siklus I) meningkat menjadi 100% dengan 66,7% berkategori baik sekali (siklus II). Secara keseluruhan, tingkat ketuntasan siswa mencapai 83,3% dengan 50% berkategori baik, 33,3% berkategori sangat baik, dan sisanya ada pada kategori cukup (siklus I) meningkat menjadi 94,5% dengan 66,7% berkategori sangat baik (siklus II). Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada kepala sekolah untuk senantiasa memberikan dukungan baik moril maupun fasilitas terhadap upaya peningkatan kualitas pembelajaran.Guru sebaiknya lebih berani dalam memilih dan menerapkan teknik pembelajaran baru yang efektif, kreatif, dan inovatif agar kualitas pembelajaran dapat senantiasa ditingkatkan, misalnya dengan penerapan teknik creative reading untuk meningkatkan keterampilan membaca indah puisi siswa. Bagi peneliti lain disarankan untuk terus melakukan penelitian agar dapat menambah ragam teknik pembelajaran baru yang lebih kreatif, efektif, dan inovatif agar terjadi peningkatan mutu pembelajaran.

Penggunaan metode twin (tawar informasi) untuk meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicara pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro / Dia Purwo Rini

 

Kata Kunci: keterampilan berbicara, keterampilan menyimak, metode TWIN Pembelajaran bahasa Indonesia saat ini, terutama di SMP masih perlu ditingkatkan lagi, terutama pembelajaran menyimak dan berbicara. Untuk melatih kedua keterampilan tersebut memerlukan usaha keras karena banyak hambatan yang ditemui saat proses pembelajaran. Hambatan tersebut dapat diminimalkan dengan adanya alat bantu yang dapat merangsang tumbuhnya kedua keterampilan tersebut. Misalnya, dengan menggunakan media gambar dan pancingan per-tanyaan. Metode TWIN sebagai metode baru yang menggunakan strategi tanya-jawab dan media gambar ini ditawarkan untuk mengatasi hambatan dalam pembelajaran menyimak dan berbicara. Selain itu, metode ini berdasarkan pada metode Questioning, Learning Community, Inquiry, Constructivism, dan Autentic Assesment. Peneliti memilih SMP Negeri 1 Ngoro sebagai lokasi penelitian karena dalam pembelajaran menyimak dan berbicara di sekolah tersebut masih ditemukan kesulitan. Masalah penelitian ini terbatas pada penerapan metode TWIN untuk meningkatkan kemampuan menyimpulkan hasil wawancara pada pembelajaran menyimak dan berbicara siswa kelas VII. Kemampuan yang ingin ditingkatkan pada penelitian ini meliputi kemampuan menyimak (memahami, menyimpulkan, dan menanggapi informasi) dan kemampuan berbicara (menggunakan kosakata; menyusun kalimat; menggunakan intonasi, nada, lafal; dan bercerita). Pada pene-litian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan metode TWIN dalam meningkat-kan keterampilan menyimak dan berbicara siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ngoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Data penelitian ini terdiri atas: (1) data utama berupa hasil observasi, hasil rekaman, dan hasil evaluasi, serta (2) data sekunder berupa hasil wawancara, hasil angket, dan dokumentasi. Pengumpulan data menggunakan tiga teknik, yaitu observasi, wawancara, dan angket, sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa format catatan lapangan, rubrik penilai-an, pedoman wawancara, angket, perekam, dan kamera, selain peneliti sebagai instrumen kunci. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Penelitian ini meliputi lima tahap, yaitu (1) studi pen-dahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan, dan (5) refleksi dan evaluasi. Hasil penelitian ini terdiri atas proses dan hasil tindakan. Pada proses penggunaan metode TWIN pada siklus I dan II meliputi tahap pendahuluan, inti, dan penutup. Pada siklus I, siswa kurang memperhatikan selama proses pembel-ajaran berlangsung, antara lain siswa masih bergurau, siswa kurang memahami penjelasan guru, dan siswa kurang merespon tugas dari guru. Pada siklus II terjadi i peningkatan pada siswa. Peningkatan tersebut terlihat dari siswa sudah mulai memperhatikan selama proses pembelajaran. Sedangkan, hasil penggunaan meto-de TWIN meliputi kemampuan menyimak (memahami, menyimpulkan, dan me-nanggapi informasi) dan kemampuan berbicara (menggunakan kosakata; menyu-sun kalimat; menggunakan intonasi, nada, lafal; dan bercerita). Pada kemampuan memahami informasi meningkat 3,7%. Pada kemampuan menyimpulkan informa-si meningkat 26%. Pada kemampuan menanggapi informasi meningkat 11,1%. Pada kemampuan menggunakan kosakata meningkat 11,1 %. Pada kemampuan menyusun kalimat meningkat 29,6%. Pada kemampuan menggunakan intonasi, nada, dan lafal meningkat 59,3%. Pada kemampuan bercerita meningkat 14,8%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode TWIN dapat meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada pembaca untuk memanfaatkan metode TWIN ini sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan atau memperbaiki keterampilan menyimak dan berbicara.

Analisis pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sektor potensial di Kabupaten Kediri (pendekatan model basis ekonomi dan SWOT) / Wiwit Tantiani

 

Kata Kunci: Pertumbuhan Ekonomi, Sektor Ekonomi, Pengembangan Sektor Potensial, Model Basis Ekonomi, SWOT Pembangunan Ekonomi hendaknya sesuai dengan kondisi potensi yang dimiliki suatu daerah dan pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tolok ukur pembangunan ekonomi. Penggalian sektor potensial dibutuhkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi sehingga dibutuhkan suatu strategi pengembangan yang tepat. Serta keterkaitan antar daerah sebagai pelengkap. Sektor industri yang bukan termasuk sektor basis di Kabupaten Kediri menunjukkan geliat industrialisasi yang cukup baik, sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan karena sektor pertanian sudah tidak mungkin lagi dikembangkan secara optimal. Penelitian ini berkaitan dengan kondisi Kabupaten Kediri tahun 2004-2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sektor ekonomi yang strategis untuk dikembangkan, (2) keterkaitan Kabupaten Kediri dengan daerah sekitarnya, (3) strategi yang seharusnya diambil pemerintah untuk pengembangan sektor potensial dengan analisis SWOT. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah PDRB sektoral Kabupaten Kediri dan Provinsi Jawa Timur yang dihitung berdasarkan atas dasar harga konstan tahun 2000 kurun waktu 2004-2008 dengan menggunakan metode dokumentasi, observasi, dan wawancara. Skripsi ini menggunakan model basis ekonomi, yaitu analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share. Analisis gravitasi dan SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) sektor yang stratgis untuk dikembangkan di Kabupaten Kediri adalah sektor industri. Sektor basis di Kabupaten Kediri adalah sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor jasa-jasa, (2) keterkaitan Kabupaten Kediri paling kuat dengan Kabupaten Nganjuk dan paling lemah dengan Kabupaten Malang, keunggulan yang dimiliki Kabupaten Kediri diantaranya sebagai pusat distribusi perdagangan, pusat pertumbuhan pertokoan, dan perkembangan infrastruktur yang baik, (3) dengan menggunakan analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, dan threat) strategi yang direkomendasikan pada pemerintah untuk sektor industri (industri kecil) diantaranya: menyediakan outlet-outlet atau ruang pamer yang dapat memberikan pelayanan one stop service, memberikan bantuan permodalan, meningkatkan SDM dengan melakukan studi banding keluar daerah, dan adanya pembinaan secara berkesinambungan dengan peningkatan pelatiahan untuk membangkitkan jiwa kewirausahaan serta Peningkatan penganekaragaman komoditi industri kecil, kontak dagang, dan peningkatan informasi pasar. Saran dari peneliti untuk pengembangan sektor potensial di Kabupaten Kediri adalah hendaknya pemerintah membantu dalam penguatan permodalan dan jaringan pemasaran, serta membangun outlet-outlet atau ruang pamer untuk lebih memperkenalkan produk-produk unggulan Kabupaten Kediri.

Penerapan pembelajaran matematika berbantuan media logika aktif untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa kelas V SD Negeri Tulungrejo 2 Wates Blitar / Eva Wahyu Puspita Wulandari

 

Kata kunci: Pembelajaran Matematika, Media Logika Aktif, Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis Siswa kelas V SD Negeri Tulungrejo 2 masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita matematika tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan. Hal ini diakibatkan siswa tidak terbiasa dalam menyelesaikan soal cerita. Pembelajaran soal cerita akan melatih siswa untuk menyelesaikan masalah secara sistematis dan menghargai pentingnya matematika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan untuk membelajarkan siswa dalam menyelesaikan soal cerita adalah pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif. Media Logika Aktif ini berisi soal-soal serta langkah penyelesaiannya yang dapat membantu siswa untuk berpikir matematis dalam menyelesaikannya. Karena itu dalam penelitian ini akan dikaji pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif materi penjumlahan dan pengurangan pecahan pada siswa kelas V SD. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan di SD Negeri Tulungrejo 2 dan subyek penelitiannya adalah siswa kelas V semester genap tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2010 dalam 2 tahap, yaitu (1) tahap pra tindakan dan (2) tahap tindakan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematis siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. Kriteria keberhasilan penelitian ada dua, keberhasilan proses dan keberhasilan hasil. Keberhasilan proses dinilai saat proses pembelajaran melalui lembar observasi yang menunjukkan hasil “baik”. Kriteria keberhasilan hasil berdasarkan hasil tes akhir siswa menunjukkan 86% siswa di kelas memenuhi Standar Kelulusan Minimum (SKM). Adapun langkah-langkah pembelajaran matematika berbantuan media Logika Aktif adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran dengan ekspositori; (2) tes awal; (3) pembentukan kelompok; (4) pengenalan media logika aktif; (5) pelaksanaan aktivitas; (6) penilaian kerja siswa dan perekapan nilai; (7) tes akhir.

Penerapan pembelajaran langsung (direct instruction) menggunakan media logico piccolo untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Laboratorium UM pada materi segitiga dan segi empat / Devi Indah Merdekasari

 

Kata kunci: pembelajaran langsung, media logico piccolo, hasil belajar Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti di SMP Laboratorium UM menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa kelas VII B SMP Laboratorium UM masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari persentase ketuntasan belajar siswa masih sekitar 35%. Melihat permasalahan di atas maka diperlukan sistem pembelajaran yang tepat dan dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran di mana guru berperan penuh dalam menentukan kegiatan pembelajaran, sehingga guru dapat mengendalikan isi dan urutan materi yang akan diterima oleh siswa. Pembelajaran langsung juga memiliki kelemahan, misalnya saja: siswa kurang terlibat secara aktif, siswa akan bercanda dengan temannya, dan sebagainya. Untuk menghindari hal tersebut, pembelajaran langsung akan dikombinasikan dengan media ‘Logico Piccolo’. Dengan model pembelajaran langsung dan media logico piccolo, siswa diajak belajar sambil bermain. Diharapkan siswa lebih senang dan termotivasi untuk belajar matematika, sehingga terjadi peningkatan hasil belajar. Penelitian ini dilakukan di SMP Laboratorium UM, pada tanggal 21 Mei sampai 4 Juni 2010. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas dua siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran langsung menggunakan media logico piccolo dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa di mana dilihat dari rata-rata evaluasi dan persentase ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus. Rata-rata nilai evaluasi pada siklus I adalah 88,2 dan pada siklus II adalah 93,94. Sedangkan persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan II adalah 91,43 %. Sehingga terjadi peningkatan rata-rata evaluasi sebesar 5,74. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) pembelajaran langsung menggunakan media logico piccolo dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan guru-guru untuk membelajarkan matematika di sekolah, (2) sebaiknya memodifikasi langkah pembelajaran langsung ketika berlatih dengan media logico piccolo agar tidak terjadi kecurangan.

Using pictorial word puzzles to improve the vocabulary mastery of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang / Nurul Aulia

 

Key words: vocabulary mastery and pictorial word puzzles. This research was intended to improve the vocabulary mastery of the eighth graders of MTs Surya Buana Malang in reading recount texts. Based on the preliminary study, 19 (65.52%) out of 29 students of grade eighth of MTs Surya Buana Malang got score below the SKBM set up by the school for English vocabulary. Furthermore, it also showed that the students’ difficulties lay upon the problem of memorizing new vocabulary. To overcome the problem, pictorial word puzzles were applied in vocabulary learning. This research was classroom action research. The subjects were class VIII– A in the first semester of 2009/2010 academic year. Class VIII–A consisted of 29 students with 13 females and 16 males. This research was conducted in two cycles. Every cycle consisted of four stages: planning the action, implementing the action, observing the action, and reflecting the action. In the planning step, the researcher planned and made some preparation for this action. Then, she conducted a vocabulary pre-test to measure the students’ vocabulary mastery. Next step, the researcher observed the situation of the implementation of pictorial word puzzles in the classroom. Based on the observation, the researcher made a reflection about what happened in the classroom in cycle I. After that, she re-planned the activities that were going to do in cycle II. The criterion of success was 75% of the students’ get the minimum passing grade of 75. The instruments used to collect the data were observation sheets, questionnaire, and vocabulary quizzes. The data gained from the observation sheets were teaching–learning process and students’ attitude towards the implementation of pictorial word puzzles. Students’ responses on the use of pictorial word puzzles were gained from questionnaire. It took two cycles to meet criteria of success. In cycle I, the implementation of the action was not fully successful; it was proven by 19 (65.52%) out of 29 students’ got score above minimum passing grade of 75. Since the criteria of success told that 75% of students had to reach the minimum passing grade of 75, Cycle II was conducted. The implementation of the action was fully successful in cycle II. The students’ score was better and had met the criteria of success. In cycle II, after the students play pictorial word puzzles, 25 (86.21%) out of 29 students got score above minimum passing grade of 75. To sum up, the students’ scores had suppressed the criteria of success determined by the school. The increasing number of students got score above minimum passing grade showed that pictorial word puzzles was very helpful for improving students’ vocabulary mastery at the eighth graders of MTs Surya Buana Malang. The research findings showed that the implementation of pictorial word puzzles makes the class more active and alive. The use of pictorial word puzzles during vocabulary learning improves the vocabulary mastery of the eight grades of MTs Surya Buana Malang. The pictorial word puzzles make the vocabulary ii learning more enjoyable and interesting because students can memories the meaning of the difficult words without asking their teacher or looking them up in the dictionary all the time. The result of observation sheets and questionnaire showed that students were interested in this media because it was enjoyable, the class atmosphere became relaxed and created cooperation between partners with challenging task. The research findings show that the using of pictorial word puzzles during vocabulary learning could be implemented to improve the vocabulary mastery of the eighth grades of MTs Surya Buana Malang. It is suggested to the English teachers to apply pictorial word puzzles to improve their students’ vocabulary mastery. For other researchers, it is suggested that the similar research can be conducted using different methodology in other schools or vocational schools with different genre of text.

Studi pemahaman fenomena pemanasan global (Global Warming) siswa kelas XI IPA SMA Islam Al Maarif Singosari tahun ajaran 2009/2010 / Umi Nurhidayah

 

Kata kunci: pemahaman, pemanasan global (global warming) Ilmu kimia merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam mempelajari lingkungan hidup, karena dalam lingkungan hidup selalu ada bahan-bahan kimia dan peristiwa-peristiwa kimia. Kehadiran bahan-bahan kimia di dalam lingkungan hidup di samping meningkatkan terpenuhinya berbagai kebutuhan hidup manusia, juga dapat menimbulkan masalah, salah satunya adalah masalah pemanasan global. Berbagai media seperti internet, televisi, surat kabar, dan radio juga marak membicarakan hal ini. Dalam KTSP masalah pemanasan global tidak dibahas secara terperinci. Hal ini mungkin akan berdampak terhadap kurangnya pemahaman siswa mengenai fenomena pemanasan global, yang selanjutnya akan berdampak terhadap kurangnya kepedulian siswa mengenai masalah yang berkaitan dengan pemanasan global. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pemahaman siswa terhadap gas rumah kaca, (2) pemahaman siswa terhadap efek rumah kaca, (3) pemahaman siswa terhadap penyebab pemanasan global, (4) pemahaman siswa terhadap dampak pemanasan global, (5) pemahaman siswa terhadap penanggulangan pemanasan global, (6) kesulitan siswa dalam memahami fenomena pemanasan global. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA Islam Al Maarif Singosari tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 61 siswa. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa tes objektif sebanyak 20 butir soal dengan validitas isi 100% dan reliabilitas yang dihitung dengan persamaan Kuder Richardson-20 sebesar 0,64. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemahaman siswa terhadap gas rumah kaca termasuk dalam kategori rendah, (2) pemahaman siswa terhadap efek rumah kaca termasuk dalam kategori rendah, (3) pemahaman siswa terhadap penyebab pemanasan global termasuk dalam kategori tinggi, (4) pemahaman siswa terhadap dampak pemanasan global termasuk dalam kategori sangat tinggi, (5) pemahaman siswa terhadap penanggulangan pemanasan global termasuk dalam kategori tinggi, (6) kesulitan siswa dalam memahami fenomena pemanasan global terletak pada: (a) siswa menganggap gas nitrogen, gas hidrogen sulfida, dan gas hidrogen sianida adalah gas rumah kaca, (b) siswa menganggap bahwa efek rumah kaca alami sama dengan efek rumah kaca yang diakibatkan oleh peningkatan gas rumah kaca, (c) siswa memahami sumber energi alternatif seperti biogas, biofuel, dan energi listrik tenaga surya.

Survei manajemen pengurus kota (Pengko) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Malang musim kompetisi 2009-2010 / Ardi Putro Wibowo

 

Kata Kunci : Manajemen, Pengko PSSI Kota Malang Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang tingkat perkembangan dan pembinaan sepakbolanya maju, hal itu dapat dilihat dari prestasi sepakbola Jawa Timur pada tingkat nasional. Prestasi Sepakbola Jawa Timur pada tingkat nasional untuk kategori tim senior antara lain : AREMA Malang Juara COPA Indonesia 2005 dan 2006, PERSEBAYA dan PERSIK pernah menjadi juara liga Indonesia sebanyak 2 kali. Untuk mengatur, membina dan meningkatkan sepakbola di Jawa Timur terdapat puluhan Pengurus Kota (Pengko) dan Pengurus Kabupaten (Pengkab). Pengko PSSI Malang adalah salah satu contohnya, organisasi ini berada dibawah naungan Pengurus Provinsi (Pengprov). Pengko PSSI Malang, Pada musim kompetisi tahun 2009 -2010 banyak prestasi yang sudah diperoleh diantaranya pada awal tahun 2009 tim PERSEMA berhasil promosi dari divisi utama menuju Liga Super Indonesia (Kasta tertinggi sepak bola indonesia), Pada tahun 2009 tim sepak bola PORPROV Kota Malang juga berhasil menjadi juara umum, berikutnya tim sepak bola U-21 PERSEMA berhasil menjadi yang terbaik dalam dalam kejuaraan U-21 Nasional pada tahun 2009. Prestasi ini yang tidak terlihat di musim 2008-2009. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif melibatkan instrumen tunggal yang diteliti, yaitu pengko PSSI Malang yang bertujuan untuk menggambarkan tentang bagaimana manajemen pengko PSSI Malang. Data yang diperoleh terdiri dari beberapa variabel yaitu : Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, Pengawasan, Penyusunan staf, Anggaran. Data tersebut disajikan melalui angket yang disebarkan ke pengurus kota PSSI Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa diperoleh hasil persentase aspek perencanaan diperoleh hasil 96,87 % yang berarti sangat baik, aspek pengorganisasian diperoleh hasil 98,75% yang berarti sangat baik, aspek pelaksanaan diperoleh hasil 95 % yang berarti baik, aspek pengawasan diperoleh hasil 96,87 % yang berarti sangat baik, aspek penyusunan staf diperoleh 100% yang berarti sangat baik, aspek anggaran diperoleh hasil 96,87% yang berarti sangat baik. Dari seluruh aspek diperoleh rata-rata 97,39 %, dengan demikian secara keseluruhan manajeman Pengko PSSI Malang musim kompetisi 2009-2010 adalah sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan adalah lebih membenahi aspek perencanaan seperti pertemuan rutin antar pengurus. Aspek pengorganisasian seperti penyusunan AD/ART dan perubahan AD/ART. Dari aspek pelaksanaan, pertemuan rutin dengan klub anggota internal sangat perlu diperhatikan, aspek pengawasan juga perlu adanya pembenahan terutama yang berkaitan dengan pembandingan antara pelaksanaan dengan perencanaan.

Pola interferensi morfologi, sintaksis, dan leksikal bahasa Inggris (B1) terhadap bahasa Indonesia (B2) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing tingkat advanced program CLS-UM tahun 2010 / Nur Aini H.S.

 

Kata Kunci : Interferensi Morfologis, Interferensi Sintaktis, Interferensi Leksikal, Ragam Bahasa Tulis Penguasaan bahasa pertama seringkali memengaruhi penguasaan bahasa kedua pembelajar asing. Hal tersebut juga terjadi pada mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010 terutama pada pola penggunaan bahasa dalam bentuk ragam bahasa tulis. Pengaruh itulah yang akhirnya menyebabkan terjadinya interferensi bahasa sehingga ketika mahasiswa asing menulis kalimat dalam bahasa Indonesia, struktur dan pola pikir kalimat masih menggunakan struktur dan pola pikir kalimat bahasa Inggris. Interferensi bahasa dapat terjadi pada beberapa aspek tata bahasa Indonesia, baik secara gramatikal maupun secara leksikal. Secara gramatikal, interferensi bahasa dapat terjadi pada aspek morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat. Secara leksikal, interferensi bahasa dapat terjadi pada pemaknaan kata atau satuan bahasa yang bermakna (leksem). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk 1) menjelaskan pola interferensi morfologis bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010, 2) menjelaskan pola interferensi sintaktis bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010, dan 3) menjelaskan pola interferensi leksikal bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010. Karena berhubungan dengan ragam tulis, maka penelitian ini tidak memasukkan fonologis ke dalam tujuan penelitian. Selain itu, di dalam fonologis yang dikaji antara lain mengenai fonetik artikulatoris, fonetik akustik, dan fonetik audiotoris dan ketiganya lebih mengarah pada bentuk ragam bahasa lisan. Penelitian mengenai interferensi ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif deskripstif. Sumber data dalam penelitian berupa hasil tulisan mahasiswa asing selama mengikuti program CLS-UM, yaitu tugas harian, kuis mingguan, dan ujian akhir semester. Data penelitian berwujud kalimat-kalimat hasil tulisan mahasiswa yang didalamnya terdapat interferensi bahasa. Untuk proses pengumpulan data, metode yang digunakan berupa pengamatan perilaku mahasiswa asing di dalam kelas. Analisis data dilakukan dengan cara menentukan apakah interferensi bahasa yang terjadi termasuk dalam interferensi morfologis, sintaktis, dan leksikal, baru kemudian dijabarkan apa saja pola interferensi tersebut. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 1) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing ditemukan interferensi morfologis pada aspek penerapan ii proses afiksasi dan reduplikasi dalam kalimat bahasa Inggris ke dalam kalimat bahasa Indonesia; 2) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing masih ditemukan penggunaan struktur dan pola pikir bahasa Inggris sehingga terjadi interferensi sintaktis pada klausa, kalimat sederhana, dan kalimat luas; dan 3) pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing ditemukan interferensi leksikal pada aspek pemaknaan kata dari bahasa Inggris yang kurang tepat dalam suatu konteks kalimat bahasa Indonesia dan penggunaan langsung kata dari bahasa Inggris dalam kalimat bahasa Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola interferensi pada ragam bahasa tulis mahasiswa asing program CLS-UM tahun 2010 terjadi pada tiga tataran, yaitu tataran morfologis, sintaktis, dan leksikal. Interferensi morfologis terjadi pada aspek penerapan proses afiksasi dan reduplikasi dalam kalimat bahasa Inggris ke dalam kalimat bahasa Indonesia. Interferensi sintaktis terjadi pada penggunaan struktur dan pola pikir bahasa Inggris pada klausa, kalimat sederhana, dan kalimat luas bahasa Indonesia. Interferensi leksikal terlihat pada pemaknaan kata dari bahasa Inggris yang digunakan kurang tepat dalam suatu konteks kalimat bahasa Indonesia dan penggunaan langsung kata dari bahasa Inggris dalam kalimat bahasa Indonesia. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan kepada mahasiswa asing agar lebih meningkatkan penguasaan struktur kalimat bahasa Indonesia dan memperbanyak penguasaan kosakata dalam bahasa Indonesia. Kemudian, kepada guru kelas BIPA tingkat advanced disarankan untuk lebih memperbanyak materi yang dapat meningkatkan penguasaan struktur kalimat bahasa Indonesia dan lebih diperbanyak lagi latihan untuk meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Indonesia. Kepada penyelenggara program BIPA, disarankan untuk tidak hanya memfokuskan kemampuan berbahasa Indonesia pada ragam lisan tetapi pada ragam tulis juga karena kedua bentuk ragam bahasa tersebut merupakan sarana berkomunikasi yang saling melengkapi satu sama lain. Kepada peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengadakan penelitian interferensi bahasa dengan menggunakan metode yang berbeda dan pengkajian mengenai penyebab terjadinya interferensi.

Penerapan sulaman terawang pada gaun pesta berbahan dasar denim / Faudliah Rahmah

 

Kata Kunci: Sulaman Terawang, Gaun Pesta, Denim Melihat dari tren busana 2010 yang masih mengacu pada denim, maka penulis ingin membuat sebuah busana berbahan dasar denim. Dari masa ke masa denim masih menjadi sebuah tren mode busana. Namun selama ini denim hanya digunakan untuk busana sehari-hari, tetapi masih jarang ditemui denim digunakan untuk acara formal atau busana pesta. Dari hal inilah yang mendorong penulis untuk membuat sebuah busana berbahan denim dengan desain yang menarik sehingga bisa digunakan untuk acara-acara seperti pesta. Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah menciptakan suatu desain busana pesta yang berupa gaun dengan penerapan sulaman terawang pada bahan denim. Sulaman yang biasanya diterapkan pada tenunan polos, pada kesempatan ini sulaman terawang diterapkan pada bahan denim yang mempunyai tenunan kepar. Manfaat yang diperoleh dalam pembuatan Tugas Akhir ini adalah dapat dijadikannya sumber inspirasi bagi pembaca untuk membuat gaun pesta dengan penerapan sulaman terawang pada bahan denim. Proses pembuatan yang dilakukan adalah pattern, cutting, sewing dan finishing. Biaya yang dikeluarkan adalah Rp 156.000,00. Hasil yang diperoleh dari pembuatan busana pesta ini adalah berupa gaun bersiluet A yang semuanya menggunakan bahan denim putih, yang diproses pewarnaan menjadi warna turquoise dengan perbandingan 3:1 hijau (60% kuning : 40% biru) : biru primer. Dengan hiasan sulaman terawang dan cabutan serat. Saran yang dapat diberikan adalah saat proses pewarnaan pada bahan denim, perebusan bahan sebaiknya waktunya lebih lama (± 45 menit), supaya warna lebih meresap dan hasilnya lebih baik.

Survei kegiatan latihan bolavoli di klub bolavoli Gajayana Kota Malang / Danny Perdana Putra

 

Kata Kunci: Bentuk latihan bolavoli Masalah pokok dalam penelitian ini yaitu berkenaan dengan bentuk latihan bolavoli yang digunakan di klub bolavoli Gajayana Kota Malang. Dari beberapa bentuk latihan bolavoli yang ada antara lain: (1) bentuk latihan fisik, (2) bentuk latihan teknik, (3) bentuk latihan taktik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk latihan di klub bolavoli Gajayana Kota Malang. Dalam penelitian ini peneliti hanya melakukan pengamatan langsung terhadap bentuk latihan yang digunakan di klub bolavoli Gajayana Kota Malang. Subyek dalam penelitian ini terdiri dari: ketua klub, pelatih tim putra dan anggota klub sejumlah 15 atlet putra senior. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis datanya menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survei. Hasil dari bentuk latihan bolavoli di klub bolavoli Gajayana Kota Malang antara lain: (a) bentuk latihan fisik yang dilakukan memiliki tujuan yang mengacu pada daya tahan, kekuatan, kelentukan, keseimbangan, stamina, power, daya tahan otot, kelincahan, kecepatan, seperti: latihan fisik lompat pagar, latihan kekuatan otot lengan, drill passing, drill smash, drill block, dan drill touser, (b) bentuk latihan teknik dasar bolavoli yang digunakan dan dirangkai oleh pelatih agar menghasilkan suatu permainan yang kompetitif dan terjadi peningkatan penguasaan teknik bagi setiap atletnya, seperti: latihan teknik passing dengan tembok, latihan teknik smash (foles) dengan tembok, latihan teknik sliding, latihan kombinasi teknik dasar bolavoli, dll, (c) bentuk latihan taktik (menyerang dan bertahan) seperti: latihan penyerangan tunggal, latihan pertahanan dan memberikan umpan, latihan kekompakan dan reaksi, dll yang kesemuanya memiliki tujuan agar tim tersebut dapat melakukan pertahanan dan penyerangan yang lebih sempurna dalam menghadapi suatu pertandingan sehingga mencapai prestasi yang maksimal. Kesimpulannya bahwa bentuk latihan fisik di klub bolavoli Gajayana mengacu pada unsur-unsur kesegaran jasmani antara lain: daya tahan, kekuatan, kelentukan, keseimbangan, stamina, power, daya tahan otot, kelincahan, kecepatan. Bentuk latihan teknik di klub bolavoli Gajayana dengan menggabungkan teknik dasar bolavoli yang bervariasi dengan tujuan terjadi peningkatan penguasaan teknik bagi setiap atletnya. Bentuk latihan taktik di klub bolavoli Gajayana memiliki tujuan agar dapat melakukan pertahanan dan penyerangan yang lebih sempurna dalam menghadapi suatu pertandingan sehingga mencapai prestasi yang maksimal. Disarankan kepada pelatih dalam penyusunan bentuk latihan dapat memperhatikan   dan memahami pedoman ilmu pelatihan, sehingga program latihan yang telah disusun benar-benar bermanfaat bagi para atlet bolavoli, untuk pembuatan periode latihan tidak terlalu panjang sehingga latihan yang dilakukan akan lebih efisien, untuk pemberian beban latihan kepada atlet sesuai dengan kemampuan dan kondisi atlet.

Perancangan event promosi berupa roadshow bina vokal Swara Narwastu / Dwika Resti Putri

 

Kata kunci: perancangan, event, promosi, bina vokal, Swara Narwastu. Bina Vokal Swara Narwastu adalah bina vokal tertua di kota Malang. Kualitas dan prestasinya tidak hanya diukur secara nasional, tapi juga internasional. Selama ini, BVSN mengadakan acara rutin seperti konser dan recital, serta juga mengadakan pengajaran singkat. Karena kurangnya promosi, BVSN tidak begitu dikenal oleh masyarakat awam. Promosi yang dilakukannya selama ini, cenderung merupakan promosi dari mulut ke mulut. Untuk lebih mengenalkan BVSN dan juga mempertahankan citra sebagai bina vokal terbaik, maka perancangan media promosi dilakukan dengan membuat perancangan event roadshow yang dijadwalkan untuk dilaksanakan pada bulan Maret tahun 2011 di Malang Town Square dan Araya Mall. Roadshow dipilih menjadi cara yang dianggap efektif untuk bisa menjangkau masyarakat secara luas karena siapapun bisa menyaksikan tanpa dibatasi dengan pembayaran tiket. Perancangan dilakukan dengan menggunakan pendekatan Desain Komunikasi Visual dan dibatasi hanya pada perancangan tata panggung dan campaign media roadshow.

Developing interactive listening comprehension materials in self-learning center (SLC) for the students at Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri / Ria Fakhrurriana

 

Pengembangan project work sebagai sistem evaluasi produktif SMK Program Keahlian Elektronika di Kota Blitar / Eko Bakti Syamsuningtyas

 

Tesis, Program studi Pendidikan Kejuruan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Waras Kamdi, MPd. (II) Drs. Setiadi Cahyono P.,MT.,MPd. Kata kunci: Penilaian autentik, pengembangan sistem evaluasi, project work. Penilaian autentik adalah penilaian yang mengukur kemampuan peserta didik dalam kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian diri sendiri dalam kehidupan nyata, bahwa para siswa bertanggung jawab untuk mengevaluasi diri mereka. Bahan evaluasi dapat dikumpulkan sebagai produk yang sebenarnya, sebagai contoh tes prestasi standar yang didasarkan pada beberapa kriteria. Penilaian unjuk kerja juga memiliki norma-norma, namun pendekatan filsafatnya jauh berbeda dengan tes standar pada umumnya. Konsep dasarnya adalah para siswa harus menghasilkan bukti pemenuhan tujuan kurikulum yang dapat digunakan sebagai kumpulan bukti prestasi. Penskoran dengan rubrik adalah salah satu metode yang digunakan untuk evaluasi penilaian unjuk kerja. Pengembangan sistem evaluasi menggunakan metode Borg dan Gall yang dibagi menjadi empat tahap pengembangan, yaitu: studi pendahuluan, perencanaan, oji coba dan uji validasi. Di industri penerapan sistem evaluasi dengan mengutamakan hasil kerja dengan produk mutu setara tidak hanya memerlukan penyesuaian dengan kondisi sebenarnya, tetapi juga praktik bengkel di sekolah. Kreativitas peserta dengan dasar ide kompetensi yang telah ditempuh selama studi menjadi target yang bisa diimplementasikan di lingkungan kerja. Secara nyata. Penerapan hasil studi dalam ranah kognitif berfungsi penting sebagai aktifitas motorik para peserta didik yang ditunjukkan dengan sikap kerja. Project work menerapkan pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek yang menghasilkan suatu hasil proyek yang dapat diamati secara langsung dan nyat. Peserta didik membuat laporan hasil kerja secara tertulis kemudian menyampaikannya secara lisan dalam bentuk presentasi. Metode tersebut tidak hanya meningkatkan kreativitas peserta didik tetapi juga kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi.Metode analisis inter-rater digunakan untuk menguji kehandalan sistem evaluasi project work. Dari hasil analisis inter-rater diperoleh 0,7982. Hal ini menunjukkan bahwa project work cukup handal untuk evaluasi. Hasil pengamatan dan pembahasan dari pengembangan sistem evaluasi ini dapat disimpulkan bahwa project work lebih tepat digunakan sebagai sistem evaluasi produktif untuk program keahlian elektronika, dan mampu meningkatkan hasil kerja siswa. Sarana dan prasarana yang memadai serta peningkatan kerjasama dengan dunia industri dibutuhkan agar evaluasi produktif dengan metode project work ini lebih efektif.

Pengaruh penggunaan paket IPA terpadu berbasis konstruktivisme dengan tema pestisida terhadap kompetensi IPA siswa kelas VII semester genap SMP Negeri 10 Malang tahun pelajaran 2009/2010 / Helmid Hiteria

 

Kata kunci: Paket IPA Terpadu, pestisida, kompetensi IPA IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dihadapi. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 secara tegas dinyatakan bahwa substansi mata pelajaran IPA pada SMP/ MTs merupakan IPA Terpadu. Namun hasil wawancara dengan guru IPA SMP Negeri 10 Malang menunjukkan bahwa guru merasa kesulitan dalam menerapkan kurikulum baru yang ditetapkan oleh pemerintah, karena IPA harus disajikan secara terpadu yang meliputi Fisika, Kimia, dan Biologi. Untuk mengatasi kesulitan ini telah dibuat paket IPA Terpadu berbasis konstruktivisme dengan beberapa tema, salah satunya bertema “Pestisida”. Namun paket IPA Terpadu dengan tema “Pestisida” ini belum diterapkan dalam pembelajaran, sehingga belum diketahui apakah paket IPA Terpadu dengan tema “Pestisida” dapat meningkatkan kompetensi IPA siswa atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan paket IPA Terpadu dengan tema pestisida terhadap kompetensi IPA yang meliputi prestasi belajar, kerja ilmiah, dan sikap ilmiah untuk siswa SMP Negeri 10 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (Quasi Eksperimental Design) dengan sampel penelitian yang digunakan adalah siswa kelas VII SMP Negeri 10 Malang. Jenis eksperimen semu yang digunakan adalah the pretest-postest nonequivalent control group design. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster random sampling. Banyaknya sampel penelitian 72 siswa yang terdiri dari dua kelas, yaitu 36 siswa kelas eksperimen dan 36 siswa kelas kontrol. Instrumen perlakuan meliputi paket IPA Terpadu yang meliputi paket untuk siswa dan panduan guru. Dalam penelitian ini instrumen pengukuran berupa tes tertulis untuk mengukur kompetensi IPA siswa yang meliputi prestasi belajar dan kerja ilmiah sedangkan untuk sikap ilmiah digunakan skala sikap. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji anakova dan uji lanjut LSD (Least Square Difference). Berdasarkan hasil uji analisis data menggunakan anakova, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar dan kerja ilmiah pada tema pestisida antara siswa yang mendapat pembelajaran menggunakan paket IPA Terpadu dan siswa yang mendapat pembelajaran secara konvensional. Hasil uji lanjut LSD menyatakan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar dan kerja ilmiah kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol. Sedangkan untuk sikap ilmiah berdasarkan hasil uji analisis data menggunakan anakova tidak ada perbedaan, sehingga tidak dilakukan uji lanjut.

Penggunaan ragam bahasa eufemisme dalam berita di media massa online / Hendri Eko Setiawan

 

Kata Kunci: eufemisme, berita, media massa online Media massa merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan informasi. Penyampaian informasi tersebut menggunakan bahasa yang memiliki ciri-ciri yang khas yaitu singkat, jelas, padat, sederhana, lancar, lugas, dan menarik. Ciri khas ini tentunya juga harus terkait dengan etika komunikasi atau kesantunan dalam berbahasa. Akan tetapi, dalam praktiknya penyampaian informasi yang santun dengan penghalusan bahasa dapat mengaburkan makna pesan sekaligus memanipulasi fakta yang hendak disampaikan pada khalayak. Konsekuensi penggunaan bahasa eufemisme adalah kaburnya fakta yang pada akhirnya, membuat pembaca tidak dapat menangkap dengan pasti apa yang disampaikan oleh media. Dalam penelitian ini dikaji penggunaan ragam bahasa eufemisme dalam berita di media massa online. Aspek eufemisme yang dikaji meliputi (a) bentuk eufemisme, (b) makna eufemisme, dan (c) fungsi eufemisme. Penelitian ini menggunakan rancangan analisis wacana. Data penelitian ini berupa teks berita di media massa online. Teks berita dikumpulkan dari internet di situs kompas.com, tvone.co.id, dan pikiran-rakyat.com. Berdasarkan hasil analisis data bentuk eufemisme yang ditemukan dalam penelitian ini berupa (a) pelabelan positif dan negatif, (b) pengonotasian, dan (c) pengiasan. Penggunaan pelabelan, pengonotasian dan pengiasan merupakan bentuk penggunaan eufemisme dalam berita di media massa online. Makna eufemisme yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi (a) makna eufemisme bentuk pelabelan positif yang meliputi makna komisif, ekspresif, representatif , dan makna bentuk pelabelan negatif meliputi makna ekspresif, representatif, direktif; (b) makna eufemisme bentuk pengonotasian meliputi makna komisif, representatif,direktif; dan (c) makna eufemisme bentuk pengiasan yang ditemukan berupa makna representatif, direktif. Fungsi eufemisme yang ditemukan dalam penelitian ini berupa (a) pelabelan positif (untuk menggugah rasa simpati dan kesan positif) dan pelabelan negatif (untuk menggugah rasa benci dan kesan negatif); dan (b) pengonotasian (meninggikan, merendahkan, menguatkan, dan melemahkan) dan (c) pengiasan untuk menimbulkan atau menciptakan efek tertentu pada informasi yang disampaikan. Penggunaan gaya bahasa eufemisme dalam teks berita untuk menghaluskan informasi menyebab makna yang diterima tidak jelas dan bertafsir. Penggunaan eufemisme dalam berita politik dan hukum belum tentu bertujuan baik karena bisa saja gaya bahasa eufemisme dijadikan alat untuk menutupi atau menyamarkan realitas yang sebenarnya demi kepentingan pribadi dan golongan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan kepada wartawan dan pengelola media massa, pembaca media massa, lembaga atau instansi pendidikan dan peneliti berikutnya. Wartawan dan pengelola media massa diharapkan dapat ii menggunakan gaya bahasa eufemisme dengan tepat agar informasi yang disampaikan kepada khalayak tetap obyektif, benar, menyeluruh dan berimbang. Pembaca media massa perlu mengkonfirmasi kebenaran informasi karena informasi dengan penghalusan bahasa atau eufemisme dapat mengaburkan makna dan memanipulasi fakta. Lembaga atau instansi pendidikan diharapkan dengan hasil penelitian ini dapat dijadikan cerminan dalam menemukan fenomena penggunaan eufemisme. Peneliti berikutnya yang melakukan penelitian sejenis, diharapkan dapat menggunakan penelitian ini sebagai dasar atau referensi penelitian lebih lanjut disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda.

Pelabelan total titik tak beraturan pada gabungan dua graf K2,n atau (2K2,n) / Ni'mah Hermawati

 

Kata kunci: graf, pelabelan total titik tak beraturan, graf 2K2,n. Misalkan G suatu graf dengan himpunan titik Vdan himpunan sisi E. Untuk suatu bilangan bulat k. Pelabelan- total didefinisikan sebagai suatu pemetaan . Pelabelan dikatakan pelabelan- total titik tak beraturan jika untuk setiap titik k{..,2kVf.,,1:→E∪fkyx,)(x yang berbeda berlaku dengan Σ+xyxyx))w∈Ef(=fxw()()(wy≠. Pada skripsi ini dipelajari pelabelan total titik tak beraturan pada gabungan dua graf atau 2K2,n . Graf nK,22,2nK merupakan penggabungan dari 2 graf dengan jumlah n sama. Salah satu titik yang berderajat n dari masing-masing graf saling dihimpitkan sehingga didapatkan nK,2nK,22,2nK dengan n 4. Dari pembahasan diperoleh hasil yang menyatakan bahwa untuk setiap titik di graf 2K2,n dimana n 4, bentuk umum dari nilai bobotnya berbeda sehingga mengakibatkan nilai bobot masing-masing titik juga berbeda.

Peningkatan proses dan hasil belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran karya wisata tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjati II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan / Elisa Diah Oktarina

 

Kata kunci: karya wisata, proses belajar, hasil belajar, IPS Pembelajaran IPS bertujuan agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan tersebut tidak akan tercapai apabila siswa hanya mendengarkan ceramah dari guru di dalam kelas. Sehingga kegiatan pembelajaran kurang menarik, berpusat pada guru dan hasil belajar siswa rendah. Hasil nilai tersebut dapat dilihat melalui hasil pra tindakan. Nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 52, sedangkan bagi siswa yang mencapai KKM ada 6 siswa (20%) dan 14 siswa (80%) masih belum mencapai KKM yang sudah ditentukan. Dari data tersebut perlu adanya pembelajaran yang lebih menarik dan menyenangkan, yaitu siswa secara langsung dihadapkan pada permasalahan yang ada di sekelillingnya. Salah satu bentuk belajar mengajar yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan belajar mengajar di luar kelas. Dengan kegiatan karya wisata dapat mengarahkan siswa untuk mencocokkan hal-hal yang mereka peroleh di dalam kelas dengan kenyataan di masyarakat maupun kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan metode karya wisata dalam pembelajaran IPS tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjajti II, (2) mendeskripsikan peningkatan proses belajar IPS dengan menggunakan metode karya wisata tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjati II, dan (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan metode karya wisata tentang aktivitas ekonomi pada siswa kelas IV SDN Gejugjati II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) menurut Kemmis dan Mc Teggart (dalam Aqib, 2006:22) yang pelaksanaannya terdiri dari 4 tahap, yaitu (1) tahap perencanaan, (2) tahap tindakan, (3) tahap observasi, dan (4) tahap refleksi. Penelitian tersebut dilaksanakan sebanyak dua siklus, siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan dan siklus yang kedua dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan. Kedua siklus tersebut menggunakan metode yang sama yaitu karya wisata dengan materi aktivitas ekonomi. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Gejugjati II Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan yang terdiri dari 30 siswa. Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan karya wisata yang dilakukan oleh siswa kelas IV SDN Gejugjati II sesuai dengan tahapan-tahapan dalam karya wisata yang meliputi persiapan, pelaksanaan, dan tindak lanjut. Hasil pengamatan terhadap kemampuan guru dalam menerapkan metode karya wisata meningkat 15,8%. Untuk aktivitas siswa dalam kegiatan karya wisata dari siklus I ke siklus II meningkat 22,8%. Sedangkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS juga meningkat dari siklus I ke siklus II menjadi 10,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode karya wisata dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas IV tentang aktivitas ekonomi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru-guru yang lain untuk menggunakan metode karya wisata ini sebagai metode pembelajaran.

Pengaruh perputaran modal kerja terhadap profitabilitas (studi pada 50 leading companies in market capitalization yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008) / Ratna Tri Wahyuni

 

Kata-kata kunci: Perputaran Kas, Perputaran Piutang, Perputaran Persediaan, Profitabilitas Keberadaan modal kerja sangat penting bagi perusahaan karena modal kerja digunakan perusahaan untuk memperlancar kegiatan operasionalnya. Modal kerja harus dikelola dengan baik supaya tidak terjadi kelebihan atau kekurangan modal kerja. Kelebihan modal mengakibatkan adanya dana menganggur dan kekurangan modal membuat perusahaan tidak dapat beroperasi. Modal kerja harus dalam keadaan berputar agar perusahaan dapat beroperasi secara terus menerus sehingga profitabilitasnya meningkat. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksplanasi. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perputaran kas (X1), perputaran piutang (X2) dan perputaran persediaan (X3) sebagai variabel bebas dan Return on Equity/ROE sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang masuk dalam 50 Leading Companies in Market Capitalization di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan 12 perusahaan yang dijadikan sampel. Pengumpulan data dengan teknik dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perputaran kas (X1), perputaran piutang (X2) dan perputaran persediaan (X3) secara parsial berpengaruh terhadap Return on Equity/ROE serta perputaran kas (X1), perputaran piutang (X2) dan perputaran persediaan (X3) secara simultan berpengaruh terhadap Return on Equity/ROE.Dimana ROE digunakan untuk mengukur profitabilitas. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan bagi perusahaan hendaknya mengelola modal kerja dengan baik agar perusahaan memperoleh keuntungan yang maksimal. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah menambah variabel bebas yang diduga berpengaruh terhadap profitabilitas seperti leverage, aktivitas dan likuiditas. Selanjutnya saran untuk investor adalah sebelum melakukan investasi, investor diharapkan untuk menganalisis laporan keuangan untuk memberikan gambaran keadaan perusahaan.

Perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang yang pembelajarannya menggunakan inkuiri terbimbing dengan pembelajaran ekspositori / Wuli Oktiningrum

 

Kata kunci: inkuiri terbimbing, ekspositori, hasil belajar Masih banyak siswa SMP Negeri 13 Malang mengalami kesulitan dalam memahami konsep dasar geometri, padahal ide –ide atau konsep – konsep geometri sudah dikenal siswa dalam kehidupan sehari – hari. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran matematika masih menggunakan metode ekspositori . Metode ekspositori menyebabkan siswa lebih cendrung pasif karena kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru, sehingga siswa dalam proses belajar hanya mengandalkan ingatannya dan hal ini menyebabkan kemampuan mental siswa untuk berproses secara analitis sangat minim. Salah satu metode pembelajaran yang secara teoritis dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dialami siswa SMP Negeri 13 Malang adalah menerapkan metode pembelajaran inkuiri terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hasil belajar matematika antara siswa dengan pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik daripada ekspositori pada pokok bahasan segitiga pada kelas VII SMP Negeri 13 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental semu. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 13 Malang tahun ajaran 2009/2010 dan sampelnya adalah 78 yang terbagi 2 kelas. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling, sehingga terpilih kelas VII-D sebagai kelas kontrol dan kelas VII-C sebagai kelas eksperimen. Kelas kontrol dalam penelitian ini adalah kelas yang diajar dengan menggunakan pembelajaran ekspositori dan kelas eksperimen adalah kelas yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terbimbing. Kedua kelas diberikan postes dengan soal yang sama setelah perlakuan berakhir. Hasil penelitian eksperimen ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil belajar matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol . Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai postes, rata-rata nilai postes pada kelas eksperimen adalah 87 dan rata-rata nilai postes kelas kontrol adalah 74. Rata-rata nilai postes dari kedua kelas tersebut menunjukkan bahwa rata-rata nilai postes matematika kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.

Pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe learning together terhadap hasil belajar sains kimia siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang pada pokok bahasan bahan kimia dalam makanan / Shanti Welfriyanti

 

Kata kunci : pembelajaran kooperatif, learning together, sains. Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.Untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik, diharapkan ada komponen yang dapat menunjang pendidikan. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together. Model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together berperan penting membantu tercapainya proses belajar mengajar, penyelenggaraannya mencakup interaksi belajar mengajar antara guru dan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran dan kebutuhan belajar siswa. Penelitian bertujuan (1) Mengetahui apakah hasil belajar sains kimia menggunakan model pembelajaran tipe Learning Together lebih baik dibanding pembelajaran konvensional(ceramah). (2)Mengetahui keterlaksanaan proses belajar dan mengajar sains menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe learning together. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental semu. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster sample. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas VII SMP Negeri 18 Malang, kelas VII B adalah kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together dan kelas VII E adalah kelas yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rerata hasil belajar siswa kelas yang diajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together adalah 77,73. Rerata hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah) adalah 69,97. Analisis data menggunakan uji-t menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together lebih baik dibanding siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah) pada pokok bahasan bahan kimia dalam makanan. Keterlaksanaan pembelajaran kooperatif dilakukan dengan (1) mengisi lembar observasi keterlaksanaan 5 unsur pembelajaran kooperatif , diperoleh data bahwa pada pertemuan keempat semua siswa telah melaksanakan 5 unsur pembelajaran kooperatif. (2)Lembar observasi keaktifan siswa diperoleh data bahwa pada pertemuan keempat semua kelompok telah memperoleh skor dengan kriteria baik dengan besar persentase 91,67%. Dan keterlaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Learning Together telah berjalan dengan baik.

Pengembangan buku panduan model latihan quick smash depan di unit Kreatifitas mahasiswa Unit Aktivitas Bolavoli Universitas Negeri Malang / Nurrul Riyad Fadhli

 

Kata kunci: pengembangan, permainan bolavoli, quick smash, model, latihan. Dalam permainan bolavoli banyak orang beranggapan bahwa smash adalah bagian yang paling menarik, tetapi permainan bolavoli tidak cukup hanya dengan smash yang monoton, harus disertai variasi-variasi serangan yang bagus. Variasi serangan akan lebih sempurna jika ada quick smash di dalamnya, selain menjadikan permainan lebih menarik, aksi quick smash lebih dapat menghasilkan banyak poin untuk mencapai tujuan utama, yaitu sebuah kemenangan. Berdasarkan hasil observasi pada kejuaran bolavoli PORPROV II Jatim dan kejuaraan antar PTN/PTS Se-Jawa Bali yang diikuti oleh tim UKM UABV UM, smash quick masih sangat rendah digunakan dan tingkat kegagalan cukup tinggi serta hasil wawancara dengan pelatih tim UKM UABV Universitas Negeri Malang, latihan smash secara umum sudah diberikan namun untuk latihan quick smash depan belum muncul, maka akan dilakukan penerapan model latihan quick smash depan di UKM UABV Universitas Negeri Malang. Rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu belum adanya bentuk-bentuk latihan quick smash depan di UKM UABV Universitas Negeri Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menerapkan latihan quick smash depan yang baik dan sesuai untuk pemain bolavoli di UKM UABV Universitas Negeri Malang Model pengembangan dalam penelitian ini menggunakan research and development dari Borg dan Gall. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk para ahli dan pemain. Dengan kualifikasi, 3 ahli kepelatihan bolavoli dan 2 ahli media, sedangkan untuk pemain dilakukan uji coba (kelompok kecil) sebanyak 10 pemain, dan uji lapangan (kelompok besar) sebanyak 25 pemain. Hasil penelitian berupa bentuk-bentuk latihan quick smash depan ini adalah sebagai berikut: dari 3 ahli bolavoli sudah sesuai di berikan kepada siswa, dari 2 ahli media sudah sesuai dengan produk buku model latihan quick smash depan, dari uji coba (kelompok kecil) yaitu persentasenya 83.2% untuk hasil angket dan 76.18% untuk hasil observasi, serta dari uji lapangan (kelompok besar), yaitu persentasenya 89.77% dan 82.23% dari hasil observasi uji kelompok besar. Produk pengembangan berupa buku panduan quick smash depan, diharapkan dapat dijadikan referensi baik oleh pelatih maupun atlit bolavoli UKM UABV Universitas Negeri Malang.

Penggunaan teknik Euclides untuk meningkatkan hasil belajar faktor persekutuan terbesar (FPB) dan kelipatan persekutuan terkecil (KPK) pada siswa kelas IV SDN Kedungpengaron II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan / Hari Purwanto

 

Kata kunci: Teknik Euclides, Hasil belajar matematika, FPB dan KPK Pembelajaran matematika sebagai proses terdiri atas berbagai ketrampilan dasar hitung seperti menjumlahkan, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Hasil belajar matematika tentang FPB dab KPK di SDN Kedungpengaron II masih belum memenuhi SKM yang telah ditentukan . Oleh karena itu penulis melaksanakan perbaikan metode pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas dengan menerapkan teknik Euclides pada penyelesaiaan soal tentang FPB dan KPK. Adapun rumusan masalah yang diajukan adalah: Apakah penggunaan teknik Euclides dapat meningkatkan hasil belajar matematika faktor persekutuan terbesar dan kelipatan persekutuan terkecil pada siswa kelas IV SDN Kedungpengaron II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan? Dalam penelitian ini penulis mengambil sasaran di semester II SDN Kedungpengaron II, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Siswa kelas IV sebanyak 25 siswa sebagai subyek penelitian ini, dengan alasan bahwa siswa kelas IV diharapkan dapat menyelesaikan masalah FPB dan KPK dengan cepat dan benar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). yang dikembangkan oleh Kemmis dam Mc Tanggart.meliputi empat jalur (langkah), yaitu: 1) Planning –perencanaan; 2) acting & observing – tindakan dan pengamatan; 3) reflecting – perefleksian; dan 4) revise plan – perbaikan rencana. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknik Euclides dapat meningkatkan hasil belajar matematika tentang FPB dan KPK pada siswa kelas IV SDN Kedungpengaron II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 69 ,sedangkan rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 76 , dan pada siklus II rata-rata prestasi mencapai 88. Sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata hasil belajar dari pra tindakan dan Siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar (19 %) . 2. Ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan sebesar 58% dan ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 72% sedangkan pada siklus II mencapai 100 %, sehingga dapat dikatakan ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan yang lebih tinggi lagi. Peningkatan ketuntasan belajar dari pra tindakan dan siklus I, ke siklus II sebesar 42 %. Hasil tersebut dirasa sudah memenuhi kriteria yang diharapkan peneliti. Hal ini berarti siklus III dinyatakan berhasil dan terbukti penggunaan teknik Euclides mampu meningkatkan ketuntasan belajar siswa.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model think-talk-write (TTW) di kelas ID SDN Ranggeh Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Roswita Tabavmolo

 

Kata kunci: keterampilan menulis deskripsi, Think-Talk-Write (TTW), siswa kelas IV SD Siswa Sekolah Dasar (SD), khususnya kelas IV diharapkan dapat memiliki keterampilan menulis deskripsi. Berdasarkan hasil observasi awal di kelas IV SD Negeri Ranggeh ditemukan bahwa kemampuan menulis siswa masih rendah. Hal ini dilihat dari tugas-tugas dan nilai ulangan harian yang berkaitan dengan materi pelajaran menulis karangan deskripsi yang ditulis yaitu masih sulit dibaca guru karena tulisan siswa masih belum rapi, penempatan huruf besar dan kecil tidak teratur dan penggunaan tanda baca belum maksimal, siswa kurang mampu menggunakan dan memilih kata dalam menuangkan buah pikirnya, sering mengulang kata “lalu” dan “terus”, isi kalimat relatif tidak menggambarkan topik, dan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain tidak sinambung, paragraf yang satu dengan paragraf yang lain tidak koheren. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan cara penerapan model TTW sebagai upaya meningkatkan kemampuan menulis karangan deskripsi pada siswa kelas IV SD, (2) mendiskripsikan peningkatan keterampilan menulis deskripsi dengan model TTW pada siswa kelas IV SD. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Instrumen penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Ranggeh yang berjumlah 26 siswa. Penelitian ini dilaksanakan tiga siklus, tiap siklus dilakukan dalam dua pertemuan yang melalui tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Model TTW dalam penelitian ini dilaksanakan melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap think, pada tahap think siswa melaluinya dengan bentuk pengamatan terhadap lingkungan sekolah, wawancara dengan guru-guru SDN Ranggeh, dan pengamatan terhadap apotik hidup. Tahap ke 2 yaitu tahap talk, pada tahap ini yang dilakukan siswa adalah berdiskusi dengan teman sendiri setelah melakukan pengamatan, dan tahap ke 3 yaitu tahap write, tahap Write terlihat pada saat siswa mulai menulis karangan deskripsi berdasarkan hasil pengamatan. Dari tahap-tahap dalam model ini terlihat ada peningkatan keterampilan menulis deskripsi pada siswa. Peningkatan ketuntasan belajar (berdiskusi dalam kelompok) pada siklus I sebesar 46,1%, siklus II sebesar 61,3%, dan siklus III sebesar 92,2%. Ketuntasan belajar (keterampilan menulis deskrpsi) yang diperoleh pada saat pra tindakan sebesar 15,3%, siklus I sebesar 46,1%, siklus II sebesar 65,3%, dan siklus III sebesar 84,5%. Penerapan model TTW dalam pembelajaran menulis deskripsi ini merupakan salah satu alternatif dalam meningkatan keterampilan menulis deskripsi siswa SD sehingga dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa.

Catatan budaya dalam buku teks BIPA Beginning Indonesia (through self-instruction) / Achmad Kusen Sutrisno

 

Kata kunci: deskripsi, catatan budaya, buku teks, dan bipa Pembalajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) memiliki tiga jenis materi pembelajaran, yaitu materi kebahasaan, materi keterampilan berbahasa dan materi budaya. Materi kebahasaan mencakup materi mengenai fonologi, morfologi, sintaksis dan lain sebagainya. Materi keterampilan berbahasa mencakup aspek menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Sedangkan, materi kebudayaan mencakup hal-hal yang memiliki unsur kebudayaan Indonesia dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa Indonesia yang dipelajari, misalnya materi tentang salam, pertanyaan kesantunan, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan catatan budaya dalam buku teks Beginning Indonesian karangan John U. Wolff, Dede Oetomo dan Daniel Fietkewicz. Adapun rumusan tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan wujud materi budaya dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction), (2) mendeskripsikan penggolongan/ klasifikasi materi budaya dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction), (3) mendeskripsikan hubungan materi budaya dengan materi lain dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction), dan (4) mendeskripsikan penyajian materi budaya dalam buku teks Beginning Indonesian (Through Self-Instruction). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif. Dikatakan kualitatif karena data dalam penelitian ini merupakan data verbal dan peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian ini dan penelitian ini bertujuan untuk melukiskan keadaan materi budaya secara alamiah. Penelitian ini mengikuti tahapan penelitian (1) tahap perencanaan, (2) pengumpulan data, (3) kodifikasi data, (4) analisis data, dan (5) penyajian data. Hasil analisis data menunjukkan (1) wujud materi budaya dalam buku teks merupakan materi budaya bendawi dan tak bendawi, (2) klasifikasi materi budaya beragam sesuai dengan topik kebiasaan bertamu, ungkapan kesantunan/ basa-basi, cara menghormati orang lain, kebiasaan menawar harga, salam, keramah-tamahan, kebiasaan dalam bertelepon, kebiasaan dalam hal menggunakan angkutan umum, kebiasaan arisan, dan kebiasaan makan di tempat umum, (3) materi budaya memiliki hubungan dengan bagian Kalimat Dasar, Pertanyaan-Pertanyaan, Pilihan Berganda, dan Latihan Pola Kalimat, dan (4) penyajian materi budaya mengacu pada penggunaan kalimat dasar dalam percakapan baik menggunakan acuan langsung maupun tidak langsung. Wujud catatan budaya dalam buku teks BIPA Beginning Indonesian: Through Self-Instruction (BI) adalah catatan budaya bendawi dan tak bendawi. Dari sembilan belas materi dalam buku teks tersebut, hampir semua wujud catatan budaya dalam buku teks BI adalah wujud catatan budaya tak bendawi (intangible), hanya terdapat sebuah materi bendawi (tangible). Wujud budaya ii bendawi adalah materi budaya tentang pasar tradisional, sementara wujud catatan budaya tak bendawi mencakup (1) kebiasaan berpamitan, (2) ungkapan kesantunan/ basa-basi, (3) sopan santun, (4) cara menghormati orang lain, (5) kebiasaan dalam menerima tamu, (6) kebiasaan bertamu, (7) kebiasaan menawar harga, (8) salam, (9) keramah-tamahan, (10) kebiasan mencicipi hidangan, (11) kebiasaan dalam hal makan, (12) kebiasaan dalam bertelepon, (13) kebiasaan dalam hal menggunakan angkutan umum, (14) kebiasaan arisan, dan (15) kebiasaan makan di tempat umum. Penggolongan/ klasifikasi catatan budaya dalam buku teks BI disajikan dengan topik yang beragam. Topik-topik tersebut adalah (1) kebiasaan bertamu, (2)ungkapan kesantunan/ basa-basi, (3) cara menghormati orang lain, (4) kebiasaan menawar harga, (5) salam, (6) keramah-tamahan, (7) kebiasaan dalam bertelepon, (8) kebiasaan dalam hal menggunakan angkutan umum, (9) kebiasaan arisan, dan (10) kebiasaan makan di tempat umum. Hubungan catatan budaya dengan materi-materi lain dalam buku teks BI mencakup hubungan catatan budaya dengan sub-sub unit lain dalam satu unit pelajaran. Hubungan tersebut mencakup hubungan catatan budaya dengan bagian Kalimat Dasar, Pertanyaan-pertanyaan, Pilihan berganda, dan Latihan pola kalimat. Penyajian catatan budaya dalam buku teks BI disajikan dengan dua bentuk acuan pada penggunaan kalimat dasar dalam percakapan. Dua acuan tersebut adalah bentuk acuan langsung pada penggunaan kalimat dasar dalam percakapan dan bentuk acuan tidak langsung namun berhubungan dengan penggunaan kalimat dasar dalam percakapan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan pengajar BIPA sebagai fasilitator hendaknya dapat menggunakan materi budaya dalam buku teks BI dengan mengembangkan aspek budaya yang lebih beragam dan tidak terpaku pada buku teks saja. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan untuk melakukan penelitian terhadap materi-materi budaya yang terdapat dalam buku teks selain materi budaya yang berbentuk catatan budaya.

Studi tentang perilaku hidup sehat siswa sekolah dasar negeri Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo / Devi Tri Kuncoro Habibi

 

Kata kunci: kesehatan, perilaku hidup sehat, siswa sekolah dasar Dalam rangka mensukseskan program Indonesia sehat 2010, maka peran siswa terkait perilaku hidup sehat dalam meningkatkan derajat hidup dan kesehatannya harus dioptimalkan. Tetapi berdasarkan observasi awal, masih ditemukan perilaku siswa SDN Klenang Kidul II yang belum mencerminkan perilaku hidup sehat seperti jajan sembarangan serta makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu. Sebagai generasi penerus bangsa dengan harapan menjadi siswa yang sehat seutuhnya khususnya secara fisik, maka perlu adanya pembinaan dan pengembangan perilaku siswa SDN Klenang Kidul II dalam meningkatkan derajat hidup dan kesehatannya. Upaya pembinaan ini, salah satunya melalui pelaksanaan pendidikan kesehatan, baik yang diberikan di lingkungan sekolah maupun yang diajarkan oleh orang tua siswa di rumah. Tujuan dari pelaksanaan pendidikan kesehatan ini adalah terbentuknya perilaku hidup sehat yaitu perilaku individu yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah perilaku hidup sehat siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo khususnya perilaku sehat fisik. Dari rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku hidup sehat siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo khususnya Perilaku sehat fisik. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan rancangan deskriptif dan menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV, V dsn VI SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo dengan jumlah responden sebanyak 43 siswa. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan instrumen berupa angket yang terdiri dari 35 pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui rata-rata persentase perilaku sehat fisik siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo sebesar 68,49%, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku sehat fisik siswa SDN Klenang Kidul II Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo termasuk dalam kategori cukup baik. Dengan diketahuinya hasil penelitian ini maka penulis menyarankan kepada para guru serta orang tua siswa di SDN Klenang Kidul II untuk lebih meningkatkan pelaksanaan pendidikan kesehatan, terutama terkait dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan fisik siswa, lebih meningkatkan pengawasan terhadap perilaku siswa sehari-hari dan memberikan contoh atau teladan kepada siswa, serta memberikan fasilitas yang mendukung terbentuknya perilaku hidup sehat siswa.

Penerapan analisis deret waktu untuk meramalkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara ke Kota Batu / Desy Dwi Arfiani

 

Kunci: peramalan, wisatawan, metode seasonal ARIMA, metode winter’s eksponensial smoothing Mengamati pertumbuhan kunjungan wisatawan ke beberapa daerah wisata di Indonesia merupakan suatu hal yang menarik, terlebih lagi jika dapat melakukan peramalan jumlah kunjungan wisata pada beberapa bulan kedepan. Hal ini sangat bermanfaat bagi dinas pariwisata setempat untuk pelaksanaan program-program yang berhubungan dengan program pemerintah tentang kepariwisataan Indonesia. Pada skripsi ini data yang digunakan berupa data sekunder yaitu data wisatawan yang terdiri dari data wisatawan domestik dan data wisatawan mancanegara yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data deret waktu adalah data yang disusun berdasarkan urutan waktu atau data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu. Dengan demikian, data deret waktu berhubungan dengan data statistik yang dicatat dan diselidiki dalam batas-batas (interval) waktu tertentu. Dari suatu data deret waktu dapat diketahui apakah peristiwa, kejadian, gejala atau variabel yang diamati berkembang mengikuti pola-pola perkembangan yang teratur atau tidak. Oleh sebab itu, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peramalan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara ke kota Batu dengan menggunakan analisis deret waktu yaitu metode seasonal ARIMA dan Metode winter’s eksponensial smoothing. Setelah data jumlah wisatawan mancanegara dikerjakan dengan metode seasonal ARIMA diperoleh nilai MSE 17662 sedangkan rata-rata penyimpangan metode winter’s eksponensial smoothing untuk data wisatawan mancanegara dengan nilai parameter = 0.4,= 0.04 dan = 0.001 adalah 12908,3. Sedangkan data jumlah wisatawan domestik dikerjakan dengan metode seasonal ARIMA diperoleh nilai MSE 30114470 dan rata-rata penyimpangan metode winter’s eksponensial smoothing untuk data wisatawan domestik dengan nilai parameter  = 0.382, = 0.071 dan  = 0.001 adalah 23187710. Sehingga metode winter’s eksponensial smoothing lebih sesuai untuk digunakan dalam meramalkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara di Kota Batu karena mempunyai rata-rata penyimpangan peramalan yang lebih kecil daripada metode seasonal ARIMA.

Peningkatan aktivitas belajar dan kemampuan membaca cepat melalui metode speed reading pada siswa kelas IV SDN Pakisaji 02 Malang / Nur 'Ani Pratiti

 

Kata Kunci: Speed Reading, Membaca Cepat, Sekolah Dasar Membaca merupakan kegiatan/aktifitas untuk memahami ide atau gagasan yang tersirat dalam sebuah bacaan yang melibatkan beberapa komponen ketrampilan berbahasa. Di jaman yang semakin maju seperti sekarang ini, ilmu dan teknologi berkembang semakin cepat baik lewat media cetak maupun elektronik. Membaca cepat adalah sistem membaca dengan memperhitungkan waktu baca dan tingkat pemahaman terhadap bahan yang dibacanya. Speed Reading merupakan keterampilan yang harus dipelajari agar mampu membaca lebih cepat sekaligus memahami semua yang terkandung di dalam bacaan yang bersangkutan. Penelitian membaca cepat ini pada pelajaran Bahasa Indonesia di SDN Pakisaji 02 Malang kelas IV, mengamati masalah – masalah yang meliputi: (1) kecepatan membaca siswa kurang dalam membaca non fiksi, (2) kurangnya kemampuan siswa memahami isi teks bacaan, (3) kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran membaca. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek dalam penelitian adalah siswa kelas IV SDN Pakisaji 02 Malang yang berjumlah 38 siswa. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan proses analisis data penelitian ini berpedoman pada langkah–langkah analisis data penelitian kualitatif, yang terdiri dari: (1) Reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa kemampuan membaca cepat siswa kelas IV SDN Pakisaji 02 Malang melalui metode Speed Reading mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari hasil pra tindakan aktivitas belajar rata–rata siswa dari 62,68 meningkat pada siklus I menjadi 74,58, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 87,43. Kecepatan rata–rata membaca siswa dari 119 kpm pada pra tindakakan meningkat menjadi 141 kpm pada siklus I. Dan semakin meningkat lagi menjadi 152 kpm. Pemahaman tentang isi bacaan juga meningkat dari hasil pra tindakan 52,63 meningkat pada siklus I menjadi 77,89 dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 83,16. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru dalam pembelajaran mata pelajaran lain aspek membaca bisa menggunakan metode Speed Reading karena dapat meningkatkan hasil belajar dan mempersingkat waktu baca. Dengan metode Speed Reading siswa juga dapat dengan mudah dan teliti dalam menghitung kecepatan membacanya baik menghitung sendiri maupun secara berpasangan/berkelompok.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran snowball throwing siswa kelas V SDN Susukanrejo I-II Kecamatan Pohjentrek Kabupaten Pasuruan / Jakoba Layaba

 

Kata kunci : Hasil Belajar, Snowball Throwing, IPS SD Keberhasilan guru dalam mengajar dapat di nilai berdasarkan ketercapaian tujuan pembelajaran yang direncanakan. Tujuan pembelajaran IPS SD pada jenjang pendidikan dasar antara lain adalah mengembangkan pengetahuan dan penanaman konsep-konsep IPS yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataannya pembelajaran IPS yang dilakukan di SDN SusukanrejoI-II selama ini di anggap sulit hal ini disebabkan banyaknya materi dalam IPS yang mengharuskan siswa menghafal isi materi sebanyak mungkin. Selain itu cara penyajian materi guru pada umumnya terlalu sering menggunakan metode ceramah serta kurang variasi dalam model pembelajaran. Dengan demikian siswa akan merasa jenuh oleh pembelajaran yang disajikan guru tersebut. Dampak dari permasalahan tersebut yaitu rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa pada pratindakan yang menunjukan bahwa nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa adalah 53,38 dengan 8 siswa (25,81%) yang sudah mencapai ketuntasan dan 23 siswa (74,19%) yang belum mencapai ketuntasan. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan model pembelajaran Snowball Throwing. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penggunaan model pembelajaran snowball throwing dalam meningkatkan aktivitas belajar materi Ilmu Pengetahuan Sosial siswa kelas V SDN Susukanrejo I-II. (2) Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran snowball throwing pada siswa kelas V SDN Susukanrejo I-II Kec. Pohjentrek Kab. Pasuruan pada materi ” perjuangan mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan indonesia”. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang digunakan adalah model Kemmis dan Taggrat penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Subjek penelitian ini adealah siswa kelas V SDN Susukanrejo I-II yang berjumlah 31 siswa yang terdiri dari 23 siswa perempuan dan 8 siswa laki-laki. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes dan rencana pelaksanaan tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) penerapan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa baik secara individuai, klasikal maupun kelompok. 2) penerapan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Susukanrejo. Hal ini dapat dilihat pada peningkata hasil tes tulis pada setiap siklus. Hasil tes pada siklus I mencapai 66,93 dan meningkat menjadi 81,45 pada siklus II, Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Susukanrejo I-II. Tentunya model pembelajaran ini bisa diterapkan pada kelas yang berbeda. Saran kepada guru sebaiknya menggunakan model pembelajaran snowball throwing sebagai variasi model pembelajaran. Saran kepada siswa hendaknya meningkatkan hasil belajar dengan cara lebih aktif dan kreatif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan kooperatif learning model STAD mata pelajaran IPS kelas VA SDN Mergosono I Kota Malang / M. Habiburrohman

 

Kata Kunci : Pendekatan Kooperatif model STAD, Hasil Belajar, IPS SD Berdasarkan observasi awal siswa kelas V SDN Mergosono 01 ditemukan beberapa permasalahan, yaitu: 1) penggunaan metode pembelajaran hanya ceramah saja; 2) siswa tidak dapat memahami materi yang disampaikan guru; 3) siswa merasa bosan untuk belajar IPS karena selalu cenderung menghafal; 4) rendahnya hasil belajar siswa, nilai siswa masih dibawah standart ketuntasan minimal yaitu hanya 18,5% siswa dari 27 siswa atau hanya 5 siswa yang mampu mencapai ketuntasan minimal dengan kriteria ketuntasan individu 70. Sedangkan rata-rata kelasnya hanya mencapai 58,5. Hal tersebut dikarenakan pembelajaran masih menggunakan metode yang monoton yaitu ceramah, sehingga guru berperan aktif dalam pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut di atas perlu diadakan pembaharuan dalam hal pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sesuai adalah pendekatan kooperatif model STAD, yaitu pembelajaran kelompok yang terdiri dari berbagai tingkat kemampuan siswa (heterogen). Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD pada pembelajaran IPS siswa materi pokok keragaman kenampakan alam dan buatan kelas VA SDN Mergosono I Malang. mendeskripsikan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif model STAD materi pokok kenampakan alam dan buatan kelas VA SDN Mergosono I Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, tindakan dan observasi, refleksi dan revisi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VA SDN Mergosono 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang yang berjumlah 27 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model STAD dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Mergosono 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Hal ini dilihat dari peningkatan aktifitas siswa dari siklus I ke siklus II. Perolehan rata-rata postes yang juga meningkat tajam, dari rata-rata sebelumnya (58,5) mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (65,18) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya yaitu (48%) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (75,18) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (85,18%). Berdasarkan hasil penilitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kooperatif model STAD dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Mergosono 1 Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Penerapan problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar biologi siswa kelas X.2 SMAN 2 Blitar materi perusakan dan pencemaran lingkungan / Anis Yonata

 

Problem based learning (PBL) untuk meningkatkan prestasi belajar fisika dan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas X.3 SMA Negeri 1 Slahung Ponorogo / Puput Harjanto

 

Kata Kunci: pembelajaran berbasis masalah, PBL, prestasi belajar, kemampuan berpikir kreatif. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan guru fisika SMA Negeri 1 Slahung Ponorogo rata-rata prestasi belajar fisika pada kelas X.3 adalah 65. Hasil tersebut menunjukkan angka yang relatif rendah dibandingkan dengan kriteria ketuntasan minimum di SMA Negeri 1 Slahung Ponorogo yaitu 75. Proses pembelajaran yang biasa dilaksanakan berlangsung satu arah dan siswa cenderung pasif. Siswa kurang dalam memperoleh pengalaman langsung yaitu melaksanakan praktikum, dan guru kurang memberikan kesempatan serta kepercayaan terhadap diri siswa, sehingga kemampuan berpikir kreatifnya kurang bisa dikembangkan. Untuk itu perlu diberi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran lain, yaitu model pembelajaran berbasis masalah (PBL), yang melibatkan siswa secara aktif dalam melakukan penyelidikan terhadap permasalahan yang diberikan. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dibutuhkan kemampuan berpikir kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif dan prestasi belajar fisika kelas X.3 SMA Negeri 1 Slahung Ponorogo melalui model pembelajaran berbasis masalah (PBL). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Sebagai subjek penelitian adalah siswa kelas X.3 SMA Negeri 1 Slahung Ponorogo, berjumlah 36 siswa. Masing-masing siklus terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individu dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah tes prestasi belajar fisika berupa ulangan harian, dan tes kemampuan berpikir kreatif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas X.3 SMA Negeri 1 Slahung Ponorogo mengalami peningkatan prestasi belajar fisika dan kemampuan berpikir kreatif, setelah diberi tindakan berupa penerapan skenario pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL). Peningkatan prestasi belajar fisika ditandai dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa dari 75,62 pada siklus I menjadi 78,70 pada siklus II. Peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa dari kriteria rata-rata kurang sebesar 8,02 pada siklus I menjadi kriteria rata-rata baik sebesar 13,92 pada siklus II. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, pembelajaran berbasis masalah (PBL) terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar fisika dan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada siklus I dan siklus II.

Pengembangan bahan ajar sosiologi untuk kelas XI SMA Negeri 2 Kefamenanu / Anselmus Yata Mones

 

Keyword : Pengembangan Bahan Ajar, Model R2D2, Bahan Ajar Sosiologi Belajar merupakan tindakan dan perilaku pebelajar yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya bisa dialami oleh pebelajar itu sendiri. Dalam belajar tersebut, perlu adanya sumber belajar yang memadai agar melaluinya pebelajar dapat meningkatkan kualitas berpikir dan terjadi perubahan perilaku. Salah satu sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran adalah bahan ajar. Tujuan Pengembangan ini adalah menghasilkan produk bahan ajar sosiologi yang didesain secara menarik dan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pebelajar di SMA Negeri 2 Kefamenanu. Dalam pengembangan ini, peneliti mengikuti desain pengembangan model R2D2 (Recursive, Reflective, Design and Development) yang diperkenalkan oleh Willis (1995). Model memiliki prosedur kerja sebagai berikut yakni (1) pendefinisian, (2) perencanaan dan pengembangan, dan (3) penyeberluasan. Model pengembangan ini mampu menjawabi persoalan di atas karena memiliki tiga prinsip dasar yakni recursive, reflektive dan partisipatoris. Pengembangan bersifat recursive, yakni berpijak pada masalah nyata pembelajaran dan kontekstual. Bersifat reflektive artinya kegiatan pengembangan dimulai dari desain yang kurang jelas, namun terus dilakukan kegiatan pengembangan sambil terus melakukan perbaikan dan bersifat partisipatoris artinya pengembangan ini melibatkan beberapa pihak diantaranya ahli isi, ahli media, ahli desain, pembelajar dan pebelajar. Selanjutnya dilakukan kegiatan uji coba ahli (isi, media dan desain), uji coba perorangan, uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Dari hasil analisis data diperoleh persentasi untuk masing-masing ahli terhadap bahan ajar dan panduan pembelajaran. Untuk hasil uji coba ahli isi terhadap bahan ajar diperoleh persentase sebesar 80%. Sedangkan untuk panduan pembelajaran diperoleh 83%. Hasil uji ahli media terhadap bahan ajar diperoleh persentase sebesar 77,7 %. Sedangkan hasil uji ahli desain terhadap bahan ajar dan panduan pembelajaran, masing-masing diperoleh persentase sebesar 87,5%. Angka-angka persentase ini jika dicocokan dengan tabel kelayakan yang sudah ditetapkan (tabel 3.1), maka berada pada level baik dan tidak perlu revisi. Namun sesuai dengan beberapa catatan dan ungkapan ahli melalui wawancara, mereka menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan, diperbaiki dan ditambahkan atau dihilangkan demi kesempurnaan produk bahan ajar dan panduan pembelajaran. Sedangkan uji yang difokuskan pada pebelajar terdiri dari uji perorangan (3 orang), uji kelompok kecil (12 orang) dan uji coba lapangan. Dari hasil analisis diperoleh persentase untuk uji perorangan terhadap bahan ajar dan panduan pembelajaran sebesar 78,9% dan 82.2%. Untuk uji kelompok kecil terhadap bahan ajar dan panduan pembelajaran sebesar 85.09% dan 86.4%. Sedangkan uji lapangan terhadap bahan ajar dan panduan pembelajaran sebesar 87% dan 87.3%. Angka-angka persentase ini jika dicocokan dengan tabel kelayakan yang sudah ditetapkan maka berada pada level baik dan tidak perlu revisi. Berdasarkan seluruh hasil ujicoba, dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1) proses pengembangan bahan ajar dengan melibatkan tim partisipasi (ahli, pembelajar dan pebelajar) sangat efektif karena materi dan proses pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pebelajar, 2) pebelajar merasa sangat diperhatikan dan dihargai terutama mengenai kemampuan awal (entry behavior) atau pengetahuan sebelumnya (prior knowledge), 3) pebelajar juga merasakan suasana kooperatif, di samping menghargai perbedaan pendapat yang kadang muncul saat diskusi. Pebelajar juga dapat terdorong untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya, 4) pebelajar terdorong untuk mengetahui materi sangat tinggi, ada ketertarikan untuk membaca dan mengolah persoalan yang disediakan di dalam materi ajar, 5) komponen bahan ajar memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang lain, memacu rasa ingin tahu pebelajar untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Perancangan media permainan keluarga mystery map untuk membantu orang tua mengoptimalkan kemampuan intelegensi dan kepekaan emosional anak / Dody Purnama Putra

 

Kata Kunci : Permainan Keluarga, Mystery Map, Intelegensi, kepekaan emosional, anak. Orang tua kerapkali menitik beratkan pola pendidikan anak khususnya anak anak dalam penggunaan pola pendidikan yang mengedepankan kematangan IQ yang kerapkali dikaitkan dengan keberhasilan anak pada waktu yang akan datang, Melihat kondisi tersebut maka diperlukan langkah yang menyeluruh dalam mengoptimalkan kemampuan anak usia 4-6 tahun yang sangat dekat dengan keluarga dalam hal ini orang tua serta kental dengan dunia bermain. Media permainan edukasi bukan merupakan hal baru, namun format media permainan yang sebagian besar mengarah pada pengaplikasian komputer, membuat sebagian masyarakat tidak mampu membeli atau tidak mampu mengoperasikan perangkat pendukung tersebut. Perancangan ini bertujuan untuk memberikan alternatif solusi bagi para orang tua yang menginginkan proses pengoptimalan kemampuan anak yang sesuai dengan kebutuhan tersebut yaitu memperoleh rancangan permainan keluarga yang mampu membantu orang tua mengoptimalkan kemampuan intelegensi dan kepekaan emosional anak. Data perancangan diperoleh dari hasil lapangan berupa angket yang dibagikan pada 100 orang responden yang terdiri dari orang tua anak di Kelurahan Arjowinangun, Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang, Jawa Timur, serta analisa SWOT data produk MyMap dengan permainan sejenis yang ada di pasar seperti logico, ular tangga, dan monopoly Hasil dari perancangan ini berupa permainan keluarga MyMap, serta media pendukung promosi berupa iklan majalah, iklan koran, poster, visual merchandising, packaging. Perencanaan kreatif media berupa pembiayaan media (bugeting), penjadwalan media (scheduling). Kesimpulan dari perancangan ini yaitu masih ditemukan beberapa kekurangan yang dimiliki oleh MyMap yaitu masih terbatasnya pengguna media pada anak usia minimal 10 tahun dan hanya terbatas pada media konvensional yaitu format permainan papan. Berdasarkan perancangan ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dalam hal ini proses uji produk pada ahli dan pengguna, sehingga dihasilkan produk yang berkualitas dan memiliki daya saing di pasar.

Implementasi kebijakan pemberian pinjaman modal terhadap usaha kecil di era otonomi daerah tahun 2009 di BRI KCP Pakis (studi pada pengusaha kecil bidang kerajinan di Kabupaten Malang) / Ahmad Zubaidi

 

Kata Kunci: kebijakan, pemberian modal, UMKM sektor usaha kecil. Pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah yang selanjutnya disebut sebagai KUMKM merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan bangsa yang berdaya saing serta menciptakan pembangunan yang merata dan adil. Meskipun telah menunjukkan perannya dalam perekonomian nasional, usaha kecil masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Hal ini terjadi dalam hal produksi dan pengolahan pemasaran, sumberdaya manusia desain dan teknologi, permodalan, serta iklim usaha. Secara umum berbagai kelemahan dan permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku usaha yang berdasarkan prioritasnya, yaitu meliputi: 1) kurangnya permodalan, 2) kesulitan dalam pemasaran, 3) persaingan usaha yang ketat, 4) kesulitan bahan baku, 5) kurangnya teknisi produksi dan keahlian, 6) kurangnya keterampilan manajerial (SDM), dan 7) kurangnya pengetahuan dalam masalah manajemen termasuk dalam keuangan dan akuntansi. Selain itu, pelaku usaha kecil juga membutuhkan adanya iklim usaha yang kondusif seperti adanya kemudahan dalam hal perijinan, perundangan yang memadai dan kondisi makro ekonomi yang stabil. Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui implementasi kebijakan pemerintah kabupaten Malang dalam hal pemberian modal bagi UMKM sektor usaha kecil, 2) mengetahui dampak kebijakan dari pemerintah Kabupaten Malang tentang pemberian modal bagi UMKM, 3) mengetahui hambatan kebijakan dalam pemberian modal dan strategi pemerintah dalam pengembangan UMKM di era otonomi daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Dalam penelitian ini, peneliti betindak sebagai instrumen kunci. Data penelitian dikumpulkan melalui: 1) observasi, 2) wawancara, 3) dokumentasi. Subjek penelitian adalah dinas KUKM Kabupaten Malang. Teknik analisis data melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) pemerintah telah mempersiapkan dari APBD untuk memberikan bantuan kucuran dana kepada UMKM, dan pemerintah juga telah bekerjasama dengan bank-bank diantaranya BRI, BNI dan lain-lain dalam penyaluran kredit, 2) para pelaku usaha ini tidak bisa mudah untuk mengakses bantuan dana pemerintah, dikarenakan masih banyaknya para pelaku usaha yang tidak bisa memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah diberikan oleh pemerintah maupun bank dalam peminjaman modal atau kredit, 3) hambatan pemerintah dalam pemberian modal adalah dari kelayakan usaha itu sendiri yaitu tidak bisa melengkapi surat perijinan dalam peminjaman modal, dalam hal ini dimisalkan tidak adanya surat ijin usaha, surat ijin mendirikan bangunan tempat usaha, dan tidak mempunyai NPWP, 4) strategi pemerintah dalam mengembangkan UMKM ini adalah pemerintah memberikan sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait dengan cara-cara mendapatkan pinjaman uang dari bank tersebut. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu: 1) bagi pemerintah kabupaten Malang bahwasannya orientasi kebijakan UMKM diarahkan pada: pertama, membangun daya saing untuk pertumbuhan dan ekspor. Yang kedua adalah perluasan kerjasama terutama sektor mikro yang mungkin nanti akan berkaitan dengan penanganan kemiskinan. Selain itu, pemerintah harus menerapkan tiga peranan dalam penguatan sektor UMKM yaitu secara aktif mencari pertumbuhan ekonomi, menciptakan iklim usaha yang kondusif, dan membuka akses terhadap sumber dinamika pertumbuhan internal UMKM itu sendiri, 2) bagi para pelaku usaha seharusnya lebih aktif dalam berkonsultasi kepada pihak pemerintah yang mengurusi bidang usaha kecil. Bagi para pelaku usaha yang baru atau masih dalam tahap rintisan, dihimbau agar segera melengkapi segala administrasi yang telah ditetapkan dalam pendirian usaha baru. Selain itu, sebaiknya para pelaku usaha mencari atau mendirikan paguyuban usahanya baik sejenis maupun multi jenis agar pasar dan jaringan yang didapat lebih luas, 3) bagi perbankan supaya tidak mempersulit para pelaku usaha dalam meminjam modal kepada bank. Baik itu diringankan dari segi administrasinya, 4) bagi peneliti berikutnya, disarankan dalam meneliti mengenai UMKM dalam hal permodalan, pemasaran maupun SDM para pelaku usaha ini untuk mengembangkan dan menyempurnakan penelitian ini.

Penerapan pembelajaran kooperatif model stad dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Pogar III Kecamatan Bangil Pasuruan / Rusika

 

Kata Kunci Pembelajaran IPS, hasil belajar, model STAD, Sekolah Dasar Salah satu tujuan pembelajaran IPS SD adalah agar siswa mengenal konsep-konsep, yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan serta memiliki kemampuan berkomunikasi dan berfikir kritis. Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih, menerapkan pendekatan dan metode untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dalam mengajar di SD Pogar III Kecamatan Bangil,dengan materi pokok “perkembangan teknologi transportasi. Ternyata selama ini yang diterapkan adalah pembelajaran konvensional yang banyak menggunakan metode ceramah dan kurang melibatkan aktivitas siswa, sehingga terjadi kecenderungan para siswa dibiasakan sekedar mendenganr apa yang diajarkan oleh guru, dengan demikian nilai hasil belajar siswa masih tergolong rendah Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan model STAD yang dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Pogar III Kecamatan Bangil dan dilakukan dengan subyek siswa SDN Pogar III sebanyak 23 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laik dan 9 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas atau PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart yang terdiri dair 4 tahapan yaitu perencanaan pelaksanaan observasi dan refleksi. Peningkatan hasil belajar setelah mengikuti pembelajarn kooperatif model STAD dapat dikatakan baik karena rata-rata skor siswa pada tes akhir siklus I adalah 43,29 % dari jumlah siswa yang mencapai skor lebih dari 60 adalah dan 56,71% kurang mencapai skor dari 60 .Sehingga pada siklus II jumlah siswa yang mendapat nilai diatas skor lebih dari 60 yaitu 82,61% dan yang mendapat nilai dibawah skor 60 yaitu 17,39 Saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah guru kelas IV di SDN Pogar III dapat menerapkan model STAD dalam pembelajaran IPS SD khususnya dan,mata pelajaran lain umumnya, karena pembelajaran kooperatif model STAD sebagai salah satu alternatif untuk peningkatan hasil belajar siswa. i

Implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 dalam meningkatkan mutu manajemen sekolah (studi multikasus di SMAK Santo Albertus dan SMP Negeri 1 Malang) / Myriam Juniati

 

Kata kunci: implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000, meningkatkan, mutu manajemen sekolah Implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 merupakan penataan manajemen sekolah untuk menciptakan suatu sistem organisasi dan budaya sekolah yang kondusif untuk membangun komitmen tumbuhnya mutu manajemen sekolah sebagai penjamin mutu. Untuk itu lembaga pendidikan perlu menyiapkan kerangka sistem mutu lembaganya ke arah yang diinginkan sesuai dengan sasaran atau tujuan akhir yang mampu mencapai kesesuaian dengan keinginan yang diharapkan dari pelanggan atau mitra kerja sekolah tersebut. Munculnya pendidikan asing di kota-kota besar Indonesia sangat pandai mengemas pendidikan persekolahnya dengan kualitas, kompetensi, keunggulan, kompetitif dan profesionalitas. Lembaga-lembaga pendidikan mengupayakan memiliki mutu bertaraf nasional bahkan internasional agar mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan asing yang mulai berkembang pesat. Salah satu upaya yang secepatnya ditangani oleh para penyelenggara pendidikan persekolahan adalah perlu adanya transformasi dan inovasi sistem manajemen kelembagaan persekolahan dengan menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Fokus penelitian ini adalah implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 dalam meningkatkan mutu manajemen sekolah dengan rincian fokus: (1) proses implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 dan (2) proses mempertahankan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Lokasi penelitian ini di SMAK Santo Albertus Malang dan SMP Negeri 1 Malang yang merupakan sekolah memiliki sejarah panjang didirikan sebelum kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki karakteristik budaya sekolah yang berandil besar dalam membentuk pribadi peserta didik, aneka prestasi di bidang akademik dan non akademik diraih, dan bersertifikat ISO 9001:2000. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan multikasus, karena dua kasus penelitian dengan latar yang berbeda. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan tiga cara, yakni: (1) wawancara mendalam, (2) observasi berperan serta pasif, (3) studi dokumentasi. Pemilihan informan penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan alur (a) reduksi data, (b) penyajian data, (c) penarikan kesimpulan, (d) analisis data kasus individu, (e) analisis data lintas kasus. Agar memperoleh keabsahan data dilakukan dengan empat kriteria: (1) kredibilitas, (2) transferbilitas, (3) dependabilitas, dan (4) konfirmabilitas. Dari hasil paparan data penelitian di lapangan ditemukan sebagai berikut: Kasus SMAK Santo Albertus Malang dan SMP Negeri 1 Malang merupakan sekolah mengimplementasikan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 dengan urutan fokus: Pertama, proses implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000, yaitu: (1) latar belakang implementasi sistem manajemen mutu mutu ISO 9001:2000; (2) persiapan implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000; (3) proses implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000; (4) tindak lanjut implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Kedua, proses mempertahankan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000, yaitu: (1) manfaat implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000; (2) proses mempertahankan sistem manajem mutu ISO 9001:2000. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan secara umum Implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 di sekolah merupakan penataan manajemen sekolah untuk menciptakan suatu sistem organisasi dan budaya sekolah yang kondusif untuk membangun komitmen tumbuhnya mutu manajemen sekolah sebagai penjamin mutu. Sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 bila dilaksanakan dengan konsisten akan memperoleh manfaat-manfaat bagi sekolah antara lain seperti : (1) menentukan secara jelas tanggung jawab dan wewenang dari personel kunci; (2) mendokumentasikan prosedur secara baik; (3) menerapkan sistem dokumentasi yang efektif; (4) meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan; (5) meningkatkan citra dan daya saing organisasi; (6) memberikan kepada seluruh warga metode pelatihan yang sistematis melalui prosedur mutu dan instruksi kerja; (7) sebagai alat bagi pimpinan puncak menilai kinerja sumber daya manusia; (8) biaya yang efektif dan efisien; (9) sebagai sarana bekerja dengan benar dan terkendali di setiap waktu; (10) sistem manajemen dengan kinerja optimal karena adanya sistem PDCA (Plan, Do, Check, Act) yang mengendalikan mutu pelayanan secara sistematis. Manfaat implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 akan terlihat dengan data dan informasi yang terekam dan selalu terpantau serta diinformasikan kepada seluruh warga terhadap perkembangan kinerja organisasi baik yang telah mencapai sasaran mutu maupun yang belum. Sehingga dengan mengimplementasikan sistem manajeman mutu ISO 9001:2000 mampu meningkatkan mutu manajemen sekolah. Berdasar pada kesimpulan tersebut, maka dapat dirumuskan saran-saran sebagai berikut: perlunya komitmen dari pimpinan puncak/ Top Management dalam implementasikan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 untuk meningkatkan mutu manajemen sekolah, sehingga mendatangkan kepuasan pelanggan bagi stakeholders dan melibatkan semua warga mengikuti sosialisasi manajemen mutu ISO secara terus-menerus, terlibat aktif dalam implementasi ISO sesuai klausul ISO yang tercantum dalam dokumen ISO.

Penerapan pembelajaran kooperatif model student teams achiement division (Stad) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas VIII-D SMP Negeri I Malang / Arif Raharjo

 

Kata-kata kunci: Motivasi, Prestasi Belajar,Kooperatif Model STAD Hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas VIII-D SMP Negeri I Malang, menunjukkan bahwa pembelajaran fisika masih sering menggunakan metode ceramah dan jarang sekali guru melakukan diskusi kelompok. Disisi lain motivasi dan prestasi belajar siswa rendah, hal ini terlihat pada saat guru menjelaskan materi pelajaran sebagian besar siswa tidak memperhatikan penjelesan guru, siswa terlihat kurang aktif dalam hal bertanya maupun menjawab materi pelajaran,siswa kurang memiliki literatur yang dibawa dia dalam kelas untuk menunjang pemahaman siswa tentang materi fisika yang diajarkan dan nilai rata-rata ulangan harian siswa masih dibawah SKM yang ditentukan oleh SMP Negeri I Malang. Proses pembelajaran dikelas dapat dikatakan tuntas belajar bila 85% siswanya tuntas belajar. Motivasi belajar merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Bertolak dari fenomena yang ditemukan di lapangan, peneliti kemudian merumuskan beberapa permasalahan, yaitu: (1) Apakah pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan motivasi belajar fisika siswa kelas VIII-D SMP Negeri I Malang? (2) Apakah pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa kelas VIII-D SMP Negeri I Malang? Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data yang dikumpulkan berupa kata-kata atau angka yang dijabarkan dalam kalimat. Penelitian difokuskan pada motivasi dan prestasi belajar yang dilakukan dengan 2 siklus tindakan. Prestasi belajar siswa diukur dengan menggunakan tes yang berbentuk uraian, tes ini dilaksanakan setiap akhir siklus. Sedangkan motivasi belajar, diukur dengan menggunakan instrumen berupa lembar observasi motivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran fisika dengan model STAD secara keseluruhan dapat meningkatkan motivasi belajar fisika kelas VIII-D SMP Negeri I Malang. Hal ini didukung oleh hasil analisis lembar observsi motivasi belajar yang mengalami peningkatan dari sebelum diberi tindakan dan setelah diberi tindakan. Hal tersebut ditunjukkan dengan siswa sudah mulai teradaptasi dan mengikuti pola pembelajaran yang diterapkan oleh peneliti di lapangan, keberanian siswa untuk bertanya juga meningkat. Rerata persentase keberhasilan tindakan mengalami peningkatan pada motivasi belajar siswa sebanyak 19,7%. Sedangkan untuk prestasi belajar juga mengalami peningkatan, prestasi belajar siswa dari 70% tuntas belajar kelas pada siklus kedua menjadi 97,5% tuntas belajar kelas dan persentase ini sudah melebihi dari standar tuntas belajar yaitu 85%

Hubungan antara pelaksanaan mengajar guru dan self efficacy mengajar guru dengan sikap guru terhadap ujian nasional / Jati Fatmawiyati

 

Kata Kunci: Pelaksanaan Mengajar, Self Efficacy, Sikap Ujian Nasional merupakan alat evaluasi pendidikan yang menimbulkan berbagai kontroversi. Ujian Nasional dipandang produktif untuk mengukur kinerja sekolah dan kinerja pendidikan nasional pada umumnya. Sebaliknya dipandang kontraproduktif ditinjau dari tujuan pendidikan untuk mengembangkan pribadi setiap peserta didik secara menyeluruh. Guru merupakan pihak yang berperan penting dalam pelaksanaan Ujian Nasional, terutama berperan dalam mempersiapkan siswa menghadapi Ujian Nasional, dengan demikian tentunya guru mempunyai sikap terhadap Ujian Nasional. Sikap guru ini diduga dipengaruhi oleh berbagai hal, diantaranya bagaimana pelaksanaan mengajar dan juga self efficacy yang dimiliki guru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) pelaksanaan mengajar guru, (2) self efficacy guru, (3) sikap guru terhadap Ujian Nasional, (4) hubungan antara pelaksanaan mengajar guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional, (5) hubungan antara self efficacy guru sikap guru terhadap Ujian Nasional dengan, dan (6) mengungkap hubungan antara pelaksanaan mengajar guru dan self efficacy guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah guru kelas IX SMP Negeri 1 Gondang Tulungagung dan siswa kelas IX SMP Negeri 1 Gondang Tulungagung sebagai sumber data bagi populasi guru. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 32 guru dan 160 orang siswa sebagai sumber data bagi populasi guru. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket pelaksanaan mengajar guru, skala Teacher Sense of Efficacy Scale dan Skala Sikap Guru Terhadap Ujian Nasional. Hasil penelitian menunjukkan: (1) sebagian besar pelaksanaan mengajar guru dalam kategori baik, (2) sebagian besar guru memiliki tingkat self efficacy tergolong tinggi, (3) sebagian besar guru bersikap mendukung Ujian Nasional, (4) ada hubungan positif dan signifikan antara pelaksanaan mengajar guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional sebesar rx1y = 0,657 (p = 0,000 < 0,05), (5) ada hubungan positif dan signifikan antara self efficacy guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional sebesar rx2y = 0,508 (p = 0,003 < 0,05), dan (6) hasil analisis regresi berganda antara variabel pelaksanaan mengajar guru dan self efficacy guru dengan sikap guru terhadap Ujian Nasional menunjukan nilai Fhitung sebesar 15,364 (p=0,000< 0,05). Saran yang dikemukakan sebagai berikut: Bagi guru, guru hendaknya mempertahankan pelaksanaan mengajarnya dan self efficacy yang dimilikinya. Kemampuan mengajar dan self efficacy mempunyai peranan yang penting dalam menentukan sikap dan perilaku guru, khususnya sikap guru terhadap Ujian Nasional. Bagi para peneliti selanjutnya, khususnya peneliti dengan topik yang sama, hendaknya mencari faktor penyebab lain yang dapat berpengaruh terhadap sikap guru terhadap Ujian Nasional dan untuk mengungkap sikap seseorang terhadap objek sikap sebaiknya tidak hanya berdasar pada satu komponen afektif saja tetapi dilengkapi dengan komponen sikap yang lain yakni komponen kognitif dan konatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum guru bersikap mendukung Ujian Nasional, sehingga dengan demikian pemerintah hendaknya tetap melanjutkan pelaksanaan Ujian Nasional sebagai alat evaluasi pendidikan nasional.

Penerapan pembelajaran tenatik tema kesehatan untuk meningkatkan berbagai kemampuan siswa kelas II SDN Ampelsari I Kabupaten Pasuruan / Sunartin

 

Kata Kunci : Pembelajaran Tematik, Berbagai Kemampuan Siswa kelas II SD Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran. Sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas pembelajaran di kelas II SDN Ampelsari I Pasuruan yang relatif rendah. Kegiatan pembelajaran masih tergantung pada buku teks, belum memanfaatkan lingkungan terdekat atau lingkungan sekitar. Di samping itu juga, berbagai kemampuan dasar siswa dalam belajar masih rendah, keaktifan siswa dalam belajar kurang, dan pemahaman terhadap konsep kesehatan juga relatif rendah. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran tematik tema kesehatan yang dapat meningkatkan kemampuan dasar siswa kelas II SDN Ampelsari I Pasuruan. 2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan berbahasa siswa kelas II SDN Ampelsari I Pasuruan. 3) Mendeskripsikan peningkatan pemaha-man konsep kesehatan siswa kelas II SDN Ampelsari I Pasuruan. 4) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif siswa kelas II SDN Ampelsari I Pasuruan. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Model PTK yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas jenis kolaboratif, mulaidari tahap proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan siklus I nilai ketuntasan masih belum tercapai, nilai rata-rata siklus I 71,25 dari criteria ketuntasan kelas yaitu 75 %. Pada siklus II dari 24 siswa ( 100 % ) sudah mencapai kriteria ketuntasan dengan nilai rata-rata 78,7. Dari hasil penelitian tersebut, penerapan pembelajaran tematik tema kesehatan dapat meningkatkan berbagai kemampuan dasar siswa kelas II SDN Ampelsari I Pasuruan. Peningkatan berbagai kemampuan dasar tersebut, ditandai dengan : 1) Dalam pembelajaran membaca semua siswa dapat membaca dengan lancar. 2) Dalam pembelajaran menulis siswa dapat menulis dengan baik dan benar. Di samping itu, penerapan pembelajaran tematik di kelas II SDN Ampelsari I dapat meningkatkan pemahaman konsep tentang kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran tematik tema kesehatan dapat meningkatkan kemampuan dasar siswa kelas II SDN Ampelsari I Pasuruan. Disarankan bahwa dalam pembelajaran tema kesehatan guru kelas II SDN Ampelsari I hendaknya menggunakan model tematik. Hasil penelitian ini, sangat dimungkinkan dapat diterapkan di kelas II sekolah lain yang kondisinya sama dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini.

Identifikasi pemahaman konseptual dan pemahaman siswa kelas XII IPA SMA Negeri 7 Malang pada materi sifat koligatif larutan tahun pelajaran 2009/2010 / Danny Tri Mawardi

 

Kata kunci: pemahaman konseptual, pemahaman algoritmik, sifat koligatif larutan. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari ilmu pengetahuan alam (IPA) yang berhubungan dengan sifat-sifat zat, perubahan zat, hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang menggambarkan perubahan zat,serta konsep-konsep dan teori-teori yang menjelaskan perubahan tersebut. Dalam ilmu kimia terdapat dua jenis pemahaman yang harus dikuasai oleh siswa, yaitu pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik. Pemahaman konseptual merupakan pemahaman tentang hal-hal yang berhubungan dengan konsep, yaitu arti, sifat, dan uraian suatu konsep. Pemahaman algoritmik merupakan pemahaman tentang prosedur atau serangkaian peraturan yang melibatkan perhitungan matematika untuk memecahkan suatu masalah. Salah satu materi kimia yang mencakup kedua pemahaman tersebut adalah sifat koligatif larutan. Adanya kedua aspek pemahaman baik konseptual maupun algoritmik dalam materi sifat koligatif larutan menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap sifat koligatif larutan tidak dapat didasarkan pada salah satu diantara kedua aspek tersebut. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian adalah untuk: (1) mengetahui persentase siswa kelas XII IPA SMA Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2009/ 2010 yang dapat menjawab pertanyaan konseptual maupun algoritmik pada materi sifat koligatif larutan; (2) mengetahui persentase siswa kelas XII IPA SMA Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2009/ 2010 yang dapat menjawab pertanyaan konseptual, tetapi salah menjawab pertanyaan algoritmik pada materi sifat koligatif larutan; (3) mengetahui persentase siswa kelas XII IPA SMA Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2009/ 2010 yang dapat menjawab pertanyaan algoritmik, tetapi salah menjawab pertanyaan konseptual pada materi sifat koligatif larutan; (4) mengetahui persentase siswa kelas XII IPA SMA Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2009/ 2010 yang tidak dapat menjawab pertanyaan konseptual maupun algoritmik pada materi sifat koligatif larutan; (5) mengetahui adanya perbedaan antara tingkat pemahaman konseptual dengan pemahaman algoritmik siswa kelas XII IPA SMA Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2009/ 2010 pada materi sifat koligatif larutan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XII IPA SMA Negeri 7 Malang tahun pelajaran 2009/2010, yaitu kelas XII IPA 1, XII IPA 2 dan XII IPA 3 yang terdiri dari 111 siswa. Sampel penelitian adalah kelas XII IPA 1 dan XII IPA 3 yang dipilih dengan teknik sampling kelompok dengan cara undian kelas. Instrumen penelitian berupa tes objektif yang tersusun dari 13 soal pemahaman konseptual dan 13 soal pemahaman algoritmik yang dibuat berpasangan masing-masing

Persepsi guru tentang penilaian portofolio dan pelaksanaannya di SMA negeri Kota Malang (studi pada guru yang membina mata pelajaran ekonomi di SMA negeri Kota Malang) / Retno Erwin A.

 

Kata Kunci : Guru, Persepsi, Pelaksanaan, Penilaian Portofolio. Dunia pendidikan memiliki tantangan untuk meningkatkan standar kualitas sumber daya manusia yang nantinya mampu bersaing dalam era global yang menuntut keterampilan serta kreatifitas tinggi. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sistem penilaian dilandasi oleh prinsip validitas, reabilitas, menyeluruh, berkesinambungan, obyektif dan mendidik. Sehubungan hal tersebut, pendekatan penilaian yang digunakan adalah pendekatan penilaian berbasis kelas salah satunya adalah penilaian portofolio. Keberhasilan pelaksanaan penilaian portofolio sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mempersepsikan, menerapkan dan mengaktualisasikan penilaian portofolio dalam pembelajaran. Kemampuan guru dalam mempersepsikan penilaian portofolio tersebut terutama berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman guru. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) mendeskripsikan persepsi guru SMA Negeri di Kota Malang yang membina Mata Pelajaran Ekonomi tentang konsep penilaian portofolio; 2) mendeskripsikan persepsi guru SMA Negeri di Kota Malang yang membina Mata Pelajaran Ekonomi tentang implementasi penilaian portofolio dalam KTSP, 3) mendeskripsikan persepsi guru SMA Negeri di Kota Malang yang membina Mata Pelajaran Ekonomi tentang pelaksanaan kegiatan balajar mengajar dalam rangka implementasi penilaian portofolio; 4) mendeskripsikan bagaimana guru SMA Negeri di Kota Malang yang membina Mata Pelajaran Ekonomi melaksanakan penilaian portofolio; 5) mendeskripsikan hambatan yang terjadi pada pelaksanaan penilaian portofolio. Dalam mengumpulkan data, penulis menggunakan metode kuisioner/angket, wawancara dan dokumentasi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Guru Yang Membina Mata Pelajaran Ekonomi Di SMA Negeri Kota Malang yang berjumlah 33 orang. Penelitian ini adalah penelitian populasi karena pertimbangan jumlah populasi <100 responden. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa 33 responden sebagian besar atau sebesar 79% guru SMA Negeri yang membina Mata Pelajaran Ekonomi di Kota Malang memiliki persepsi yang baik. Presentase skor sebesar 74,48% juga menunjukkan bahwa Guru SMA Negeri yang membina Mata Pelajaran Ekonomi di Kota Malang memiliki persepsi yang baik. Pelaksanaan penilaian portofolio guru SMA Negeri yang membina Mata Pelajaran Ekonomi di Kota Malang cukup baik, ini diperlihatkan oleh data yang menunjukkan bahwa sebagian besar atau sebanyak 17 responden (51,52%) menyatakan bahwa kadang-kadang melaksanakan penilaian portofolio. Sebanyak 72% dari responden memiliki kemampuan melaksanakan penilaian portofolio dengan cukup baik, tetapi hanya sebagian kecil yaitu sebesar 35,46% yang dapat menunjukkan bukti dokumen pelaksanaan penilaian portofolio yang mereka lakukan. Dari hasil penelitian ini penulis dapat memberikan saran kepada kepada guru SMA Negeri yang membina Mata Pelajaran Ekonomi di Kota Malang hendaknya guru dapat lebih meningkatkan kompetensinya yang lebih baik lagi, kepada pihak sekolah mendukung pelaksanaan penilaian portofolio dengan menyediakan tempat penyimpanan folder portofolio dan sekolah lebih bijak dalam menentukan jumlah rombongan belajar, kepada peserta didik dapat lebih kooperatif dalam proses pembelajaran karena penilaian portofolio membutuhkan komunikasi yang multi arah, kepada orang tua siswa untuk turut berperan memantau perkembangan belajar peserta didik, kepada peneliti selanjutnya agar dapat mengungkap pelaksanan penilaian portofolio dengan lebih mendalam melalui teknik observasi yang dapat mengungkapkan kegiatan secara lebih rinci.

Perancangan film pendek tenatng komunitas musik indie di kota Malang dengan judul "Malang Noise Garden" / Zendytya Yudhana Putra Hermadi

 

Kata Kunci: perancangan, film pendek, komunitas musik indie. Kota Malang pernah dikenal sebagai barometer musik nasional dengan segudang talenta bermusiknya tetapi saat ini para musisi di Kota Malang kurang terasa gaungnya. Padahal secara musikalitas, baik kemampuan teknis, ide dan warna musik kota Malang patut diperhitungkan oleh kota-kota lain di negeri ini. Maka mulai munculah kesadaran dari para penggiat musik indie di Kota Malang untuk memajukan musik indie di Kota Malang apalagi dengan mulai semakin terbukanya pemikiran masyarakat Kota Malang untuk menerima sesuatu yang baru, segar dan unik. Perancangan film pendek tentang komunitas musik indie di Malang ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah media yang memberikan informasi kepada masyarakat khususnya masyarakat pemerhati musik indie bahwa Kota Malang mempunyai band-band indie yang berkualitas secara musikalitas sehingga ada gerakan untuk memajukan musik indie di Kota Malang dengan memberikan apresiasi yang lebih agar musik indie di Kota Malang dapat maju dan diterima yang pada akhirnya Kota Malang dapat kembali diperhitungkan sebagai barometer musik nasional. Pada prosedur perancangan dipaparkan langkah-langkah prosedural yang ditempuh dengan menetapkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk yang berupa rancangan media. Langkah-langkah dalam metode perancangan meliputi (1) perumusan masalah, (2) pengumpulan dan analisis data, (3) penetapan konsep perancangan dan (4) program perancangan. Hasil dari perancangan berupa film pendek yang mengangkat tema perkembangan musik indie di Kota Malang dengan teknik visualisasi cut to cut yang dikemas dalam bentuk VCD (video compact disc) dengan durasi + 20 menit berjudul “Malang Noise Garden”. Produk ini juga dilengkapi dengan beberapa media pendukung yang berupa poster, stiker, X-banner, gantungan kunci, pembatas buku, kaos, foto-foto aktivitas band indie, pin, brosur, dan ambient media berupa media 3 dimensi yang dapat berputar. Hal-hal yang perlu diteliti, dikembangkan dan ditindaklanjuti dari perancangan ini adalah observasi yang lebih mendalam tentang komunitas musik indie di Kota Malang sehingga dapat dicapai hasil perancangan yang lebih baik dari segi informasi yang disampaikan dan dari segi kualitas gambar yang ditampilkan.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang go publik di Bursa Efek Indonesia tahun 2005-2007 / Lucien Meytasari

 

Kata Kunci: Current Ratio, Earning Per Share, Return On Investment, Debt to Total Assets, Total Assets Turn Over dan Dividen Payout Ratio. Kebijakan dividen merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Salah satu faktor penetapan kebijakan dividen yaitu faktor financial yang diukur dengan menggunakan unsur-unsur kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan mampu memberikan gambaran baik kepada manajemen maupun para investor mengenai pertumbuhan dan perkembangan perusahaan serta kondisi keuangan pada periode tertentu. Kinerja keuangan dapat diukur dengan menggunakan analisis rasio keuangan yang merupakan hubungan perkiraan neraca dan laporan laba rugi terhadap satu laporan dengan laporan yang lain, yang memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan serta penilaian terhadap keadaan suatu perusahaan. Laba perusahaan merupakan unsur dasar dari kebijakan dividen sehingga analisis rasio keuangan berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan yang diukur dengan rasio keuangan berupa Current Ratio (CR), Earning Per Share (EPS), Return on Investment (ROI), Debt To Total Assets, Total Asset Turn Over dan Dividen Payout Ratio (DPR) pada perusahaan manufaktur yang go publik di BEI, (2) Untuk menguji pengaruh Current Ratio (CR), Earning Per Share (EPS),Return on Investment (ROI), Debt To Total Assets, Total Asset Turn Over secara parsial terhadap Dividen Payout Ratio (DPR) pada perusahaan manufaktur yang go publik di BEI pada tahun 2005-2007, (3) Untuk menguji pengaruh rasio keuangan yang berupa Current Ratio (CR), Earning Per Share (EPS), Return on Investment (ROI), Debt To Total Assets, Total Asset Turn Over secara simultan terhadap Dividen Payout Ratio (DPR) pada perusahaan manufaktur yang go publik di BEI pada tahun 2005-2007. Jenis penelitian ini adalah Explanatory Research yaitu penelitian yang menyoroti hubungan antara variabel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2005-2007 yang berjumlah 151 perusahaan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling, sehingga terpilih 24 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2005-2007 sebagai sampel penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Kondisi kinerja keuangan pada perusahaan manufaktur yang go publik pada tahun 2005-2007 yang meliputi current ratio mengalami tren meningkat, earning per share ii mengalami tren menurun, return on investment mengalami tren meningkat, debt to total assets mengalami tren meningkat, dan total assets turn over mengalami tren meningkat, dan dividen payout ratio memiliki tren meningkat, (2) Hanya Variabel Earning per Share saja yang berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Dividen Payout Ratio pada perusahaan manufaktur yang go publik pada tahun 2005-2007, (3) Rasio keuangan yang berupa Current Ratio, Earning Per Share (EPS), Return on Investment (ROI), Debt To Total Assets, dan Total Asset Turn Over mempunyai pengaruh secara simultan terhadap Dividen Payout Ratio (DPR) pada perusahaan manufaktur yang go publik di BEI pada tahun 2005-2007. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan (1) Variabel dalam penelitian ini belum mampu menjelaskan variasi variabel yang mempengaruhi dividen payout ratio dikarenakan variabel dalam penelitian ini memiliki nilai Adjusted R-Square hanya sebesar 12,6% dan sisanya sebesar 87,4% dijelaskan oleh variabel di luar penelitian ini, (2) Perusahaan manufaktur hendaknya selalu meningkatkan kinerja perusahaannya, terutama tentang rasio pasar yaitu earning per share dikarenakan rasio ini berpengaruh terhadap kebijakan dividen, (3) Apabila para investor berkeinginan untuk berinvestasi pada perusahaan manufaktur, maka hendaknya para investor secara selektif memperhatikan kondisi kinerja keuangan perusahaan manufaktur setiap tahunnya, para investor dapat memperhatikan Earning per Share sebagai pertimbangan atas pengembalian investasinya (dividen), sehingga kegiatan investasi yang akan dilakukan benar-benar dapat memberikan jaminan atas keuntungan yang akan diterima, (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperkaya jumlah sampel pada perusahaan manufaktur, mengingat jumlah perusahaan manufaktur yang sangat banyak dengan menggunakan periode penelitian yang terbaru sehingga penelitian ini dapat lebih berkembang dan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi pihak-pihak yang terkait.

Perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta bidang musik di Indonesia dalam mengahadapi teknologi motion pictures expert group audio layer III (MP3) / Nadia Amalia

 

Kata Kunci : Perlindungan Hukum, Pemegang Hak Cipta, Bidang Musik, Teknologi Motion Pictures Expert Group AudioLayer III (MP3). Dibidang Hak cipta, pengaturan dan perlindungannya telah diatur dalam Undang- Undang Nomor 6 tahun 1982, tentang hak cipta sebagaimana telah diubah dan ditambah serta disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987, dan terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997, tentang hak cipta, yang merupakan pengganti dari Auteurswet 1912 sebagimana termuat dalam Staastblad Tahun 1912 Nomor 600, tentang hak cipta. Undang-Undang tersebut selain menyempurnakan beberapa ketentuan yang dirasakan kurang memberi perlindungan bagi pencipta, juga mengadakan penambahan dan penyesuaian seperlunya dengan persetujuan Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) sebagai bagian dari General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)/ Word Trade Organitation (WTO). Kemudian Undang-Undang Hak Cipta 1982 ini secara total diganti dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002, tentang Hak Cipta yang telah mulai berlaku pada 29 Juli 2003. Aktifitas pertukaran file Motion Pictures Expert Group AudioLayer III (MP3) ini jelas merugikan hak ekonomi para pencipta musik, belum lagi aktifitas pertukaran konvensional yang nyata dapat kita lihat sehari-hari. Upaya dalam memperbaiki keadaan tersebut adalah dengan menyebarluaskan pemahaman yang sebenarnya mengenai arti, fungsi dan peranan perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta bidang musik di Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita semua tidak cukup hanya mengandalkan dengan cara mengundangkan suatu peraturan perundang-undangan dengan menempatkannya dalam Lembaga Negara, agar setiap orang dianggap mengetahui perundang-undangan tersebut. Perlu adanya usaha yang sungguhsungguh untuk menyebarluaskan materi perundang-undangan tersebut kepada masyarakat, termasuk kepada aparat penegak hukumnya, agar semua memahami dan menyadari secara benar perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta di Indonesia. Metode Penelitian ini menggunakan metode kajian yuridis normatif, yaitu penelitian ini menjadikan sistem norma sebagai pusat kajiannya. Yang berfokus pada peraturan perundang-undangan terkait dengan perlindungan hukum bagi pemegang hak cipta bidang musik di indonesia dalam menghadapi teknologi Motion Pictures Expert Group AudioLayer III (MP3). Hasil dari penelitian ini, (1) Problematika Hak Cipta di Indonesia muncul karena budaya masyarakat tradisional di indonesia tidak mengenal hak cipta. Nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia tidak mengenal pemilik individu terhadap suatu karya cipta dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan seni. Pada intinya tiru-meniru dalam kehidupan seni masyarakat tradisional tidak pernah dirisaukan dan dipermasalahkan. Sedangkan negaranegara maju mengusung filsafat individualisme dan kapitalisme, yang kemudian mewujud dalam gagasan melindungi hak-hak milik individual, khususnya perlindungan terhadap property, baik intellectual property maupun modal (capital). Inilah prolematika hak cipta di Indonesia yang kemudian menjadi pertemuan interaksi yang tentu saja polanya sangat ii ditentukan oleh latar belakang budaya masing-masing pihak yang berinteraksi; (2) Tindakan para pemilik file MP3 yang saling bertukar file Motion Pictures Expert Group AudioLayer III (MP3) termasuk dalam doktrin fair use di dalam perundang-undangan tentang hak cipta. Namun terhadap progam komputer khususnya Motion Pictures Expert Group Audio Layer III (MP3) pengecualian yang diperbolehkan hanya pembuatan salinan oleh pemegang lisensi penggunaan sebagai cadangan bila terjadi kerusakan saja. sedangkan bagi kepentingan pendidikan, penelitian atau non komersial lainnya Undang-Undang Hak Cipta Indonesia belum mengaturnya. Dalam beberapa pasal Undang-Undang Hak Cipta yang mengatur tentang penggunaan dan perlindungan progam komputer untuk kepentingan pendidikan atau non komersial dalam Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002, tentang Hak Cipta belum diatur secara tegas, atau terjadi kekosongan hukum dibidang ini. Hal ini memungkinkan di laksanakan dalam suatu mekanisme penerapan fair use terhadap karya cipta progam komputer khususnya Motion Pictures Expert Group Audio Layer III (MP3); (3) Tindakan para pemilik file Motion Pictures Expert Group AudioLayer III (MP3) yang saling bertukar file MP3 termasuk dalam doktrin fair use di dalam perundang-undangan tentang hak cipta. Namun terhadap progam komputer khususnya Motion Pictures Expert Group Audio Layer III (MP3) pengecualian yang diperbolehkan hanya pembuatan salinan oleh pemegang lisensi penggunaan sebagai cadangan bila terjadi kerusakan saja. sedangkan bagi kepentingan pendidikan, penelitian atau non komersial lainnya Undang-Undang Hak Cipta Indonesia belum mengaturnya. Dalam beberapa pasal Undang-Undang Hak Cipta yang mengatur tentang penggunaan dan perlindungan progam komputer untuk kepentingan pendidikan atau non komersial dalam Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002, tentang Hak Cipta belum diatur secara tegas, atau terjadi kekosongan hukum dibidang ini. Hal ini memungkinkan di laksanakan dalam suatu mekanisme penerapan fair use terhadap karya cipta progam komputer khususnya Motion Pictures Expert Group Audio Layer III (MP3). Saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan hasil dari peneiltian adalah sebagai berikut : (1) Perlu diadakan sosialisasi tentang pentingnya hak cipta pada semua masyarakat sampai ke daerah-daerah, khususnya pada masyarakat selebritis, seniman dan budayawan agar menghayati norama-norma yang berlaku di masyarakat, supaya tidak menjadi korban oleh pelanggar hak cipta yang tidak bertanggung jawab, sehingga memberi pengetahuan lebih tentang pentingnya suatu ciptaan atau hasil karya; (2) Adanya perbaikan dalam Undang- Undang No.19 tahun 2002, tentang hak cipta yang masih banyak kelemahan di tiap ayatnya, agar lebih terfokus tentang ciptaan yang semakin hari semakin banyak dan berkembang; (3) Agar aparat hukum dapat berperan sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No.19 tahun 2002, tentang hak cipta. Menjalankan sebagaimana mestinya sehingga kasus-kasus pelanggaran hak cipta di Indonesia dapat dengan mudah dan cepat terselesaikan.

Manajemen pemasaran sekolah alam bilingual (Studi kasus di SDI Surya Buana Malang) / Ainun Nikmah

 

Kata kunci: manajemen pemasaran, sekolah alam bilingual Lembaga pendidikan keberadaanya sangat dibutuhkan masyarakat, akan tetapi sebaliknya masyarakat juga dibutuhkan oleh lembaga pendidikan. Agar penyelenggaraan pendidikan dapat berjalan secara maksimal maka keterlibatan semua pihak baik pemerintah, keluarga, swasta dan masyarakat umumnya sangat dibutuhkan oleh sekolah. Untuk meningkatkan hubungan yang baik antara masyarakat dan lembaga sekolah maka dibutuhkan komunikasi yang baik. Oleh karena itu disini peran serta Hubungan Masyarakat (Humas) sangat dibutuhkan. Setiap organisasi, dari kegiatan awal sampai akhir, akan melalui berbagai bentuk dan tahap kegiatan yang harus menyatu dan terpadu dalam rangka mencapai mutu terbaik. Perekat dari semua tahap kegiatan dan usaha itulah yang disebut dengan humas. Sedangkan untuk manajemen pemasaran itu sendiri adalah merupakan kegiatan penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program- program yang dibuat untuk membentuk, membangun dan memelihara, keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar guna mencapai tujuan organisasi (perusahaan) jangka panjang (Assauri, 2002:12). Fokus penelitian ini adalah tentang bagaimana manajemen pemasaran di Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang, sedangkan fokus secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut: (a) proses perencanaan pemasaran di Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang; (b) teknik pemasaran di Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang; (c) teknik pengawasan pemasaran di Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang; (d) media yang paling efektif dalam pemasaran di Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang; (e) faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan manajemen pemasaran di Sekolah Alam Bilingual SDI Surya Buana Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah studi kasus karena ada satu kasus pada satu objek penelitian, yaitu SDI Surya Buana Malang. Lokasi penelitian terletak di Jalan Simpang Gajayana IV/631 Malang. Peneliti berperan sebagai instrument kunci, dengan subjek peneliti Kepala Sekolah dan guru SDI Surya Buana Malang. Sumber data yang digunakan berupa kata-kata yang diperoleh melalui wawancara dan berupa tindakan yang diperoleh melalui kegiatan observasi dan pengamatan yaitu dengan keterlibatan peneliti mengamati secara langsung serta dokumen yang berkaitan dengan manajemen pemasaran. Data yang diperoleh dianalisis selama dan setelah pengumpulan data. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan tiga kriteria yaitu: kepercayaan penelitian, validitas, reliabilitas, dan objektivitas (Wiyono 2007:21). ii Hasil penelitian ini adalah manajemen pemasaran yang terdiri dari perencanaan, teknik pelaksanaan, teknik pengawasan, media yang paling efektif, serta faktor pendukung dan penghambat dalam manajemen pemasaran. Perencanaan disini meliputi: kegiatan yang harus dikerjakan adalah kegiatan memasarkan sekolah kepada masyarakat luas, kedua adalah dimana kegiatan itu akan dilakukan, salah satu kegiatannya saat sekolah mengundang masyarakat sekitar untuk datang ke sekolah dalam rangka sholat Idul Adha, ketiga adalah kapan waktunya adalah pada bulan April sampai dengan bulan juni, keempat adalah bagaimana cara memasarkan sekolah dengan menggunakan berbagai teknik serta alat-alat pemasaran, kelima adalah siapa saja orang-orang didalamya yaitu kepala sekolah dibantu oleh para pendidik beserta staf. Dan terakhir adalah mengapa pemasaran tersebut perlu dilakukan adalah dalam upaya agar sekolah mendapatkan siswa lebih banyak untuk bersekolah di SDI Surya Buana Malang ini. Pelaksanaanya dilakukan dengan menggunakan teknik serta alat dan media pemasaran mulai dari seperti penggunaan brosur, spanduk, getok tular atau dari orang ke orang, televisi, radio, majalah, kalender sekolah, buku profil, album kenangan, dan alat transportasi. Dana yang digunakan berasal dari yayasan serta sebagian berasal dari pemerintah. Teknik pengawasan dilakukan dengan dua teknik yaitu pengawasan secara langsung dan pengawasan tidak langsung. Pemilihan media yang paling efektif dalam menarik peserta didik yang berada di dekat sekolah adalah teknik getok tular atau dari mulut ke mulut, hal ini diketahui dari wawancara dengan berbagai narasumber. Sedangkan untuk yang berada jauh dari sekolah yang paling efektif adalah menggunakan media brosur. Faktor pendukung dan penghambat, faktor pendukungnya meliputi: (1) dukungan dari masyarakat luas, tokoh masyarakat, (2) dukungan dari siswa di Surya Buana Malang mulai dari TK, SDI, MTs, serta SMA (3) dukungan dari Yayasan Bahana Cipta Persada (4) dukungan dari Kepala Sekolah, para pendidik juga seluruh staf. Faktor penghambatnya meliputi: (1) banyak masyarakat di dekat sekolah akan tetapi mereka tidak menyekolahkan anaknya di sini, (2) persaingan dengan sekolah swasta, (3) letak sekolah yang terletak di dalam kampung sehingga belum banyak orang yang tahu bahwa ada sekolah Surya Buana. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disarankan kepada: (1) Kepala Sekolah SDI Surya Buana agar tetap mempertahankan serta meningkatkan manajemen pemasaran, lebih giat dalam memasarkan sekolahnya dengan menggunakan berbagai macam teknik dan media pemasaran yang ada. (2) Bagi Guru SDI Surya Buana Malang harus lebih giat dalam mendidik para peserta didik agar mereka dapat lebih berprestasi baik dalam segi bidang akademik maupun non akademik. (3) Bagi Orangtua Siswa hendaknya lebih selektif dalam memilih sekolah untuk anaknya, agar tidak salah pilih dalam menyekolahkan anaknya serta merasa puas terhadap prestasi yang telah dicapai dengan menyekolahkan anaknya pada sekolah yang berkualitas. (4) Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih kepada para mahasiswa tentang manajemen pemasaran di lembaga pendidikan. (5) Bagi Peneliti selanjutnya diharapkan meneliti lebih baik dan lebih mendalam lagi mengenai manajemen pemasaran, akan tetapi pada latar penelitian yang berbeda tentunya pada sekolah yang berbeda.

Studi pembelajaran tari prales pada kegiatan ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Kandangan sebagai pengenalan karya tari daerah setempat / Qolbiatullah Ayu Ferdini Yufanria

 

Kata Kunci: pembelajaran tari Prales, ekstrakurikuler, SMP Tari Prales sebagai media pendidikan kegiatan seni yang menyalurkan nilai-nilai tertentu pada siswa. Proses tersebut merupakan sebuah upaya transformasi agar mencapai sejumlah tujuan pendidikan yang diharapkan. Tari Prales mengadopsi cerita dari desa Kandangan yang bermula dari upacara adat penanaman boneka yang dilakukan setiap tahun pada bulan syura (muharram), dengan hari dan tanggal yang telah ditentukan oleh sesepuh desa yang dianggap menguasai tentang hal ihwal pelaksanaannya. Masalah yang dirumuskan adalah pelaksanaan pembelajaran tari Prales, nilai-nilai yang terkandung dalam pembelajaran tari Prales, faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran tari Prales. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran tari Prales, nilai-nilai yang terkandung pembelajaran tari Prales dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembelejaran tari Prales. Penelitian ini merupakan penelitian desktiptif kualitatif yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kandangan. Sumber dari penelitian ini adalah guru seni budaya SMP Negeri 1 Kandangan, waka kurikulum, siswi kelas VII & VIII yang mengikuti kegiatan esktrakurikuler, naskah tari Prales, dokumentasi. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis yang dilakukan yaitu dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data kemudian penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) Pelaksanaan pembelajaran tari Prales pada kegiatan ekstrakurikuler tari di SMP Negeri 1 Kandangan berlangsung dengan cara menyiapkan dan menysusun RPP kegiatan ekstrakurikuler terlebih dahulu, kemudian didalam pelaksanaan pembelajaran kegiatan esktrakurikuler dibagi menjadi 3 tahap yaitu persiapan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Media yang digunakan berupa audiotape dan video cassette recorder, serta ruang praktek berupa panggung serbaguna. Adapun metode yang digunakan adalah metode ceramah, tanya jawab, kerja kelompok, demonstrasi dan drill, (2) nilai ilmu pengetahuan yang terkandung dalam Tari Prales yaitu cerita dari Tari Prales yang berasal dari upacara adat istiadat di daerah Kandangan. Nilai ketrampilan yang terkandung dalam Tari Prales yaitu trampil mengolah wiraga,wirama dan wirasa. Nilai estetika/keindahan yang terkandung dalam Tari Prales yaitu terdapat pada desain busana dan tata rias serta keindahan setiap gerakan. Nilai moral yang terkandung dalam pembelajaran tari Prales yaitu terdapat pada kesucian wanita harus dijunjung tinggi dan kesucian itu harus dijaga. Nilai religius yang terkandung dalam pembelajaran tari Prales yaitu terletak pada upacara adat yang berfungsi sebagai sarana mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas ii hasil bumi yang melimpah, (3) faktor yang mempengaruhi pembelajaran tari Prales dibagi menjadi dua yaitu mulai dari faktor internnya yang meliputi jasmani dan psikologi. Faktor ekstern dari pembelajaran tari Prales yaitu meliputi faktor keluarga dan sekolah. Saran dari penelitian ini yaitu dalam proses pembelajaran hendaknya guru lebih aktif, nilai-nilai yang ditemukan dalam pembelajaran tari Prales harus tetap dijaga agar tidak tercampur dengan kebudayaan barat, faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan pembelajaran tari Prales hendaknya memberi dampak positif sehingga tercipta rasa semangat dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Perbandingan hasil belajar bahasa Indonesia antara metode konvensional dan metode GI (Group Investigation) pada siswa kelas IV SDN Kemloko 01 Kabupaten Blitar / Udin Sugara

 

Kata-kata Kunci : Hasil Belajar, Metode Konvensional, Pembelajaran Kooperatif, Metode GI (Group Investigation) Upaya untuk memperbaiki mutu proses pembelajaran serta hasil belajar tidaklah cukup dengan perubahan kurikulum saja, melainkan perlu dilihat guru, siswa, sumber belajar dan metode apa yang digunakan guru dalam proses pembelajarannya. Proses pembelajaran tentunya melibatkan banyak faktor. Faktor internal yaitu siswa, guru, minat, bakat, kecerdasan, motivasi belajar siswa, dan metode yang digunakan. Faktor eksternal yaitu orang tua serta lingkungan yang juga sangat mendukung tercapainya tujuan yang dicita-citakan, khususnya peningkatan hasil belajar siswa. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa yang diajar dengan menggunakan metode GI (Group Investigation) lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar bahasa Indonesia siswa yang diajar dengan metode konvensional pada siswa kelas IV SDN Kemloko 01 Kabupaten Blitar. Jenis penelitian ini adalah komparatif kausal yang bertujuan untuk mengetahui hubungan kausal (sebab akibat) dengan jalan membandingkan dua kelompok subyek atau lebih. Ada 2 kelompok dalam penelitian ini, yaitu kelompok A adalah kelas yang dalam proses pembelajarannya menggunakan pembelajaran kooperatif metode GI (Group Investigation), sedangkan kelompok B adalah kelas yang dalam proses pembelajarannya menggunakan metode konvensional. Hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif metode GI (Group Investigation) lebih baik dibandingkan siswa yang diajar dengan metode konvensional. Hal ini terlihat dari rata-rata atau mean dari masing-masing kelompok yaitu 84,16 pada kelompok A dan 74,61 pada kelompok B. Keadaan ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif metode GI (Group Investigation) dapat menghasilkan hasil belajar yang baik. Dari berbagai temuan dalam penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan dengan menggunakan pembelajaran kooperatif metode GI (Group Investigation) siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya dengan memilih metode pembelajaran yang menjadikan siswa lebih aktif dan tidak membosankan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Sehingga dapat mendukung kegiatan pembelajaran di kelas, bagi Guru dapat menerapkan pembelajaran kooperatif metode GI (Group Investigation) dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi pihak SDN Kemloko 01 perlu kiranya penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan keterampilan mengajar guru yang dapat mendukung hasil belajar siswa. Kepada peneliti lain dapat menggunakan populasi dan sampel penelitian yang lebih luas serta dengan materi yang berbeda agar mendapatkan data yang lebih baik dalam penelitian tentang pembelajaran kooperatif metode GI (Group Investigation).

Prototype pengolahan limbah asam menjadi PH balanced / Liyan Vibriyanto Putra

 

Kata Kunci: Limbah Asam, Pengolahan Limbah Limbah merupakan hasil samping dari suatu proses produksi. Limbah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelum dibuang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah asam merupakan salah satu contoh limbah yang dapat mencemari lingkungan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif limbah asam yaitu dengan menetralkan pH asam. Proses penetralan yaitu dengan menggunakan larutan penetral yang dicampur dengan komposisi yang seimbang. Proses penetralan limbah asam umumnya dilakukan secara manual dengan memanfaatkan tenaga operator. Cara ini dapat diefektifkan lagi dengan menyusun sistem kerja otomatis dengan menggunakan mikrokontroler dan PC. Mikrokontroler digunakan untuk mengendalikan proses kerja komponen secara langsung sedangkan PC digunakan untuk mengirimkan instruksi ke mikrokontroler serta mengambil data tentang pH hasil pengolahan. Komunikasi antara PC dengan mikrokontroler menggunakan saluran RS 485 yang mendukung komunikasi dengan jarak yang cukup jauh. Prototype pengolahan limbah asam yang dibuat terdiri dari mekanik (miniatur bak dan alas), rangkaian kendali elektronik dan software pada PC. Prototype ini mampu melakukan simulasi penetralan limbah asam dengan proses kerja sebagai berikut: mula-mula limbah asam dimasukkan ke bak pencampuran. Setelah mencapai volume tertentu, larutan penetral ditambahkan sedikit demi sedikit sampai pH larutan mencapai kondisi normal (6-7). Apabila pH larutan telah mencapai normal maka limbah sudah dapat dibuang. Prototype ini memiliki keunggulan antara lain dapat mengendalikan proses baik secara otomatis maupun manual dari jarak jauh, mampu menampilkan data pH larutan hasil pengolahan serta mampu menyimpan data tersebut. Dengan penggunaan prototype ini, proses penetralan limbah asam dapat menjadi lebih efektif dan efisien.

Prevalensi telur cacing nematoda parasit usus manusia pada sayuran selada (Lactuca sativa L.) di Kecamatan Poncokusuma Kabupaten Malang / Sa'diyatul Hasanatuz Zahroh

 

Kata kunci: Telur Cacing, Nematoda Parasit Usus Manusia, Sayuran Selada (Lactuca sativa L.) Selada merupakan salah satu sayuran yang dapat tumbuh subur di lingkungan dengan kelembaban yang tinggi. Di pasar Kecamatan Poncokusumo selada banyak dijual dan umumnya berasal dari Kota Batu. Untuk menyirami sayuran selada, para petani menggunakan air sungai. Sungai oleh penduduk sekitar digunakan untuk mandi, mencuci, membuang kotoran (feses), maupun membuang feses hewan sehingga dimungkinkan adanya telur Nematoda parasit usus manusia yang menempel pada selada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis telur Nematoda parasit usus manusia yang ditemukan pada sayuran selada (Lactuca sativa L.) di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang dan mengetahui prevalensi telur Nematoda parasit usus manusia yang ditemukan pada sayuran selada (Lactuca sativa L.) di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Jenis penelitian merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan mendeskripsikan telur cacing Nematoda parasit usus manusia yang ditemukan pada sayuran selada (Lactuca sativa L.) di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi FMIPA UM ruang 212 pada bulan Februari sampai April 2010. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh telur cacing Nematoda pada sayuran selada di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah telur cacing Nematoda parasit usus manusia dalam 100 gram sayuran selada yang diambil dari 3 pasar di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dirujuk dari buku Penuntun Laboratorium Parasitologi Kedokteran (Hadidjaja, 1990), yaitu dengan mencuci selada menggunakan larutan NaOH 0,25% kemudian mengendapkan larutan hasil cuciannya. Selanjutnya mensentrifuge larutan tersebut kemudian sedimen diamati di bawah mikroskop. Data yang diambil berupa ciri morfologi yang meliputi panjang, diameter, warna, dan kondisi telur cacing Nematoda parasit usus manusia serta jumlah telur cacing tersebut. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Penentuan jenis telur cacing Nematoda parasit usus manusia merujuk buku Atlas Helminthologi Kedokteran (Jeffery, 1983). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis telur Nematoda parasit usus manusia yang ditemukan pada sayuran selada di Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang adalah Ascaris lumbricoides dan Enterobius vermicularis. Prevalensi telur cacing Ascaris lumbricoides adalah sebesar 84,6% dan prevalensi telur cacing Enterobius vermicularis adalah sebesar 15,4%.

Pengaruh kualitas jasa terhadap loyalitas pelanggan (Studi pada pelanggan servis mobil merek Toyota di Auto 2000 Malang Soetoyo) / Anis Wiji Rahayu

 

Kata kunci: Kualitas Jasa, Loyalitas Pelanggan. Bisnis jasa sangat berperan dalam kehidupan modern. Perusahaan yang berorientasi kepada pelanggan akan selalu memberikan kualitas produk dan jasa (layanan) semaksimal mungkin. Sebagai main dealer resmi Toyota, Auto 2000 Malang Sutoyo yang mempunyai fasilitas Express Maintanance dituntut untuk memberikan pelayanan servis mobil yang baik. Dengan adanya kualitas jasa yang baik maka kebutuhan akan terpenuhi sehingga pelanggan dapat merasakan kepuasan dan akhirnya mendatangkan kesetiaan pelanggan, karena pelanggan yang loyal merupakan asset paling penting bagi perusahaan untuk dapat bertahan dan memenangkan persaingan. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah mengenai keadaan kualitas jasa yang dirasakan pelanggan dan loyalitas pelanggan di Auto 200 Malang Soetoyo serta pengaruh yang signifikan baik secara parsial dan simultan antara variabel bebas, yaitu kualitas jasa yang terdiri dari bukti langsung (X1), keandalan (X2), daya tanggap (X3), jaminan (X4), dan Empati (X5) terhadap variabel terikat, yaitu loyalitas pelanggan (Y). Populasi pada penelitian ini adalah pelanggan servis mobil merek Toyota di Auto 2000 Malang Soetoyo. Selanjutnya dengan menggunakan rumus Slovin dihasilkan jumlah sampel 100 responden. Teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian adalah simple random sampling. Sedangkan Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, statistik inferensial, pengujian hipotesis dengan uji t dan uji F, dan perhitungan sumbangan efektif dan relative serta uji asumsi klasik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keadaan kualitas jasa yang dirasakan pelanggan sesuai dengan harapan pelanggan servis. Hal ini ditunjukan dengan penilaian yang diberikan oleh pelanggan servis mengenai kualitas jasa yang diberikan Auto 2000 Malang Soetoyo adalah baik. Jika kualitas jasa yang diberikan Auto 2000 Malang soetoyo baik maka pelanggan akan merasakan kepuasan sehingga dapat mendorong loyalitas pelanggan. Hal ini terbukti dengan penilaian yang diberikan oleh pelanggan servis yang menyatakan loyal kepada Auto 2000 Malang Soetoyo. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukan secara parsial variabel bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas pelanggan servis di Auto 2000 Malang Soetoyo, (1) bukti langsung sig t 0,017 < 0,05 dengan taraf signifikansi 5%, (2) keandalan sig t 0,021 < 0,05 dengan taraf signifikansi 5%, (3) daya tanggap sig t 0,020 ≤ 0,05 dengan taraf signifikansi 5%, (4) jaminan sig t 0,029 < 0,05 dengan taraf signifikansi 5%, (5) empati sig t 0,000  0,05 dengan taraf signifikansi 5%, (6) secara simultan variabel bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati memiliki pengaruh yang signifikan terhadap loyalitas pelanggan servis di Auto 2000 Malang Soetoyo dimana nilai sig F = 0,000 < 0,05 dengan taraf signifikansi 5%. Dari lima dimensi kualitas jasa, variabel empati merupakan kualitas jasa yang dominan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan servis di Auto 2000 Malang Soetoyo. Dengan demikian kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu: (1) Keadaan kualitas jasa di Auto 2000 Malang Soetoyo dinilai pelanggan sudah baik hal tersebut senada dengan kondisi tingkat loyalitas pelanggan servis yang menyatakan sikap loyalnya untuk melakukan servis di Auto 2000 Malang Soetoyo. (2) Terdapat pengaruh yang signifikan kualitas jasa (bukti langsung, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati) baik secara parsial maupun simultan terhadap loyalitas pelanggan servis di Auto 2000 Malang Soetoyo. Saran yang dapat peneliti sampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk tetap mempertahankan agar pelanggan servis tetap loyal, maka Auto 2000 Malang Soetoyo diharapkan terus memperhatikan, mempertahankan, serta meningkatkan pelayanan atau kualitas jasa khususnya empati yang ditunjukan karyawan kepada pelanggan dengan semaksimal mungkin. (2) Diharapkan kepada peneliti berikutnya untuk meneliti variabel lainya yang dapat mempengaruhi kualitas jasa selain kelima dimensi kualitas jasa yang diteliti dalam penelitian ini seperti kredibilitas, fleksibilitas, aksesbilitas, reputasi dsb.

Penerapan model discovery pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo Kecamatan Klojen kota Malang / Retno Dwi Astuti

 

Kata Kunci: Model discovery , Motivasi, Aktivitas, Hasil Belajar, IPS SD. Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Oro-oro Dowo, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS di kelas IV. Permasalahan tersebut antara lain: (1) terjadi kebosanan pada siswa saat pembelajaran berlangsung, hal tersebut menandakan lemahnya motivasi belajar siswa; (2) rendahnya tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran; (3) iklim pembelajaran masih bersifat teacher centered. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal metode pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang sesuai adalah model Discovery, yaitu model pembelajaran yang membuat siswa menemukan sendiri apa yang dipelajarinya, sehingga diharapkan, apa yang didapat siswa lebih bertahan lama dan siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Discovery pada pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo; (2) mendeskripsikan peningkatan motivasi dan aktivitas siswa melalui penerapan model Discovery; (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model Discovery. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan model Kemis & MC.Taggart. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan.. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Oro-oro Dowo Kota Malang dengan jumlah siswa 29 anak. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Discovery pada pembelajaran IPS telah berhasil meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Oro-Oro Dowo. Hal ini dilihat dari perolehan observasi tentang motivasi dan aktivitas siswa serta rata-rata postes yang terus meningkat. Berdasarkan hasil observasi, motivasi siswa mengalami peningkatan pada siklus II. Begitu juga dengan aktivitas siswa, yang paling tampak yaitu sebagian besar siswa sudah berani bertanya/menjawab serta melaporkan hasil diskusi. Hasil belajar siswa terus meningkat mulai dari rata-rata sebelumnya (63,55) mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (74,48) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya yaitu (55,17%) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (83,21) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (82,76%). Disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan- kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seobtimal mungkin.

Struktur atributif frasa bahasa Indonesia / Heny Sulistyowati

 

Kata kata kunci: struktur atributif, frasa Atributif merupakan konstituen penjelas yang menerangkan nomina dalam frasa nominal, frasa verbal, frasa ajektival atau kelas kata lain yang mempunyai fungsi menjelaskan. Letak atribut dapat berada di sebelah kiri inti, di sebelah kanan inti atau mengapit inti. Berdasarkan hal tersebut, penelitian struktur atributif frasa bahasa Indonesia penting dilakukan karena didasarkan alasan: (1) untuk mengetahui bermacam-macam fungsi atributif frasa, (2) untuk mengetahui distribusi unsur-unsur atributif setiap frasa, dan (3) untuk mengetahui hubungan makna struktur atributif setiap frasa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan memperoleh deskripsi tentang: (1) fungsi atributif frasa bahasa Indonesia yang meliputi: (a) fungsi atributif frasa nominal, (b) fungsi atributif frasa verbal, dan (c) fungsi atributif frasa ajektival, (2) distribusi unsur atributif frasa bahasa Indonesia yang meliputi: (a) distribusi unsur atributif frasa nominal, (b) distribusi unsur atributif frasa verbal, dan (c) distribusi unsur atributif frasa ajektival, dan (3) hubungan makna struktur atributif frasa bahasa Indonesia yang meliputi: (a) hubungan makna struktur atributif frasa nominal, (b) hubungan makna struktur atributif frasa verbal, dan (c) hubungan makna struktur atributif frasa ajektival Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Wujud data penelitian berupa wacana teks tulis yang diperoleh melalui teknik perekaman. Data dianalisis dengan menggunakan kajian distribusional. Prosedur analisis data dilakukan melalui empat tahap kegiatan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) pereduksian data, (3) penyajian data, dan (4) penyimpulan temuan penelitian dan verifikasi. Hasil penelitian struktur atributif frasa dalam bahasa Indonesia ini meliputi: fungsi atributif frasa bahasa Indonesia, distribusi atributif frasa bahasa Indonesia, dan hubungan makna atributif frasa bahasa Indonesia. Fungsi atributif frasa bahasa Indonesia yang ditemukan meliputi: fungsi atributif frasa nominal, fungsi atributif frasa verbal, dan fungsi atributif frasa ajektival. Fungsi atributif frasa nominal berpola: (a) I(N)+A(N), (b) I(N)+ A(V), (c) I(N)+A(partikula, konjungsi), (d) I(N)+A(numeralia), dan (e) I(N)+ A(Aj.). Fungsi atributif frasa verbal berpola: (a) A(V)+I(V), (b) I(V)+A(Aj.), (c) I(V)+A (konjungsi), dan (d) I(V)+A(modal/aspek). Fungsi atributif frasa ajektival meliputi: ajektiva bertaraf dan ajektiva tidak bertaraf. Fungsi atributif frasa ajektival bertaraf berpola: (a) I+A, (b)A+I, (c) A+I+A, dan (d) A+A+I. Fungsi atributif frasa ajektival tidak bertaraf berpola: (a) A+I, (b) A+pengingkar (A)+I, c) A1+I+I+A2, dan (d) A+I+yang+A+I. Distribusi atributif frasa dalam bahasa Indonesia yang ditemukan meliputi: distribusi atributif frasa nominal, distribusi atributif frasa verbal, dan distribusi atributif frasa ajektival. Distribusi atributif frasa nominal meliputi: post atributif nominal dan pre atributif nominal. Distribusi atributif post atributif nominal berpola: (a) N1+N2, (b) N+A, (c) N+V, (d) N+pronomina persona, dan (e) N+pronomina demonstrativa. Distribusi atributif pre atributif nominal berpola: (a) N2+N1,dan (b) kata sandang+N. Distribusi atributif frasa verbal meliputi: post atributif verbal dan pre atributif verbal. Distribusi post atributif verbal berpola: (a) V+A, dan (b) V+frasa konjungsi. Distribusi pre atributif verbal berpola: (a) V1+V2, (b) aspek/modal+V, dan (c) pengingkar+V. Distribusi atributif frasa ajektival meliputi: post atributif ajektival dan pre atributif ajektival. Distribusi post atributif ajektival berpola: (a) A1+A2 dan (b) Aj.+N. Distribusi pre atributif ajektival berpola: (a) pengingkar+ajektival dan (b) perbandingan+ajektiva. Hubungan makna atributif frasa dalam bahasa Indonesia yang ditemukan dalam wacana naratif meliputi hubungan makna atributif frasa nominal, hubungan makna atributif frasa verbal, dan hubungan makna atributif frasa ajektival. Hubungan makna atributif frasa nominal menyatakan makna: (a) penerang, (b) pembatas, (c) penentu/penunjuk, (d) jumlah, dan (e) sebutan. Hubungan makna struktur atributif frasa verbal menyatakan makna : (a) kemungkinan, (b) kemampuan, (c) kepastian, (d) keinginan, (e) kesediaan, (f) keharusan, dan (g) keizinan. Hubungan makna atributif frasa ajektival menyatakan makna: (a) negatif, (b) tingkatan, (c) penentu sifat, (d) ukuran, (e) warna, (f) waktu, (g) jarak, (h) sikap batin, dan (i) cerapan. Hasil penelitian ini mempunyai implikasi teoretis dan praktis. Secara teoretis dapat meningkatkan kompetensi kebahasaan secara komprehensif dan menyeluruh. Secara praktis dapat dijadikan bahan kajian kompetensi kebahasaan dan kompetensi kemampuan berbahasa.

Penerapan permainan kartu bilangan untuk meningkatkan hasil belajar perkalian kelas III SDN Candirenggo V Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Suparjimah Adriana

 

Kata kunci : Hasil Belajar, Perkalian Matematika, Penerapan Permainan, SD. Pembelajaran Matematika sering ditemukan suatu permasalahan. Masalah yang muncul disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : faktor siswa, guru, bahan, strategi pembelajaran, dan media. Pembelajaran cenderung didominasi guru. Metode mengajar yang digunakan oleh guru kurang bervariasi, kurang bisa mengaktifkan siswa. Proses pembelajaran menjadi monoton sehingga hasil belajar siswa tidak optimal. Bukti konkritnya adalah berdasarkan dokumen nilai formatif siswa kelas III SDN Candirenggo V Kecamatan Singosari Kabupaten Malang pada semester 1 tahun ajaran 2009 / 2010. Nilai siswa dibawah kriteria ketuntasan yaitu nilai 65. Terutama pada standart kompetensi melakukan operasi hitung bilangan sampai tiga angka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan proses pembelajaran matematika dilihat dari keaktifan siswa. Penerapan permainan kartu bilangan diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas, yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Candirenggo V Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, yang terdiri dari 21 siswa, yaitu 10 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Hasil Penelitian ini adalah : Proses pembelajaran matematika berlangsung aktif dan hasil belajar siswa meningkat, setelah penerapan permainan kartu bilangan. Hal ini terbukti dengan peningkatan aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung adalah 52,38 %. Sedangkan hasil nilai rata-rata pratindakan 58,80 mengalami peningkatan sebesar 10,96 sehingga menjadi 69,76 pada siklus I. Persentase peningkatan hasil belajar dari pratindakan ke tindakan siklus 1 dapat dikategorikan tinggi. Nilai rata-rata pada siklus I adalah sebesar 69,76 meningkat menjadi 76,66 pada tindakan siklus II meningkat 6,90 persentase peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II 33 % dan dapat dikategorikan tinggi. Secara keseluruhan nilai rata-rata pra tindakan yang 58,80 mengalami peningkatan hasil belajar dari pra tindakan ke siklus II dapat dikategorikan baik. Kesimpulannya adalah penerapan permainan kartu bilangan dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar perkalian pada siswa kelas III SDN Candirenggo V Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Bertolak dari temuan ini maka penerapan permaianan kartu bilangan pada perkalian dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi masalah perkalian pada pembelajaran matematika.

Kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA NU Maarif Pandaan dengan menggunakan pengalaman pribadi / Wrestika Ratih Panglipur

 

Kata kunci : kemampuan, menulis, cerpen, dan pengalaman pribadi. Orientasi Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia terletak pada hakikat pembelajaran berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Selain belajar bahasa, belajar sastra juga mempunyai peranan yang penting. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi baik lisan maupun tulisan serta menimbulkan penghargaan terhadap hasil cipta manusia. Salah satu kemampuan yang harus dikuasai dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah menulis. Dalam pembelajaran Bahasa indonesia di SMA, salah satu kemampuan menulis yang harus dipelajari adalah menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Dari pengalaman pribadi bisa dijadikan sebuah cerpen. Secara umum penelitian ini untuk mengetahui kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA NU Maarif Pandaan. Secara khusus bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan dengan menggunakan pengalaman pribadi pada aspek menentukan judul yang menarik, (2) mendeskripsikan kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan dengan menggunakan pengalaman pribadi pada aspek mengembangkan alur, (3) mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan dengan menggunakan pengalaman pribadi pada aspek menentukan tokoh-tokoh dalam cerpen, (4) mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan dengan menggunakan pengalaman pribadi pada aspek mengembangkan latar, (5) mendeskripsikan kemampuan menulis siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan dengan menggunakan pengalaman pribadi pada aspek penggunaan sudut pandang, dan (6) mendeskripsikan kemampuan menulis cerpen siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan dengan menggunakan pengalaman pribadi pada aspek penulisan ejaan dan tanda baca. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah hasil karya cerpen siswa. Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data skor hasil menulis cerpen siswa yang diubah menjadi skor siswa. Skor tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan kualifikasi kemampuan yang sudah ditetapkan. Siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan kurang mampu menulis cerpen dengan judul yang menarik, sehingga dapat menimbulkan ketertarikan untuk membaca cerpen tersebut dan sesuai dengan isi cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menggambarkan bahwa kurang dari 60% siswa yang nilainya mencapai Standar Kelulusan Minimal, yaitu 75. Siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan kurang mampu untuk menulis cerpen dengan alur yang menarik, sehingga menimbulkan keingintahuan pada diri pembaca untuk membaca cerpen tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menggambarkan bahwa 52,7% siswa mendapatkan nilai di bawah SKM. Siswa kelas X SMA NU Ma’arif kurang mampu untuk mendeskripsikan tokoh dalam cerpennya dengan adanya konflik antara tokoh protagonis dan antagonis, atau dengan adanya konflik antara tokoh dan batinnya. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menggambarkan bahwa hanya 47,3% siswa yang mampu mendapatkan nilai di atas SKM. Sedangkan 52,7% siswa mendapatkan nilai di bawah SKM, yaitu 75. Siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan mampu menggambarkan latar dalam cerpen berdasarkan pengalaman pribadi dengan penggambaran latar yang memberikan kesan realistis, menciptakan suasana yang seolah-olah ada dan sungguh-sungguh terjadi. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa sebesar 84.2% atau sebanyak 32 orang siswa dari 38 subjek penelitian mendapatkan nilai di atas SKM. Siswa kelas X SMA NU Ma’arif mampu menggunakan sudut pandang dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan sebesar 100% atau seluiruh siswa dari 38 subjek penelitian mampu menggunakan sudut pandang dengan jelas, sehingga dapat ditentukan cerpen tersebut menggunakan sudut pandang orang pertama atau ketiga. Siswa kelas X SMA NU Ma’arif Pandaan kurang mampu dalam menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi dari segi penulisan ejaan dan tanda baca. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang menyebutkan bahwa sebesar 21% saja siswa yang mendapatkan nilai di atas SKM. Sedangkan 79% siswa mendapatkan nilai di bawah SKM. Dalam penulisan cerpennya, 79% siswa ini melakukan kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca lebih dari 15 kali kesalahan. Sehubungan dengan hasil penelitian ini, disarankan kepada guru untuk lebih kreatif dalam mengajar. Disarankan pada guru untuk mengemas pembelajaran dengan lebih menarik sehingga siswa bersemangat untuk belajar. Kepada calon peneliti lain yang ingin melakukan penelitian yang sejenis disarankan agar melakukan penelitian lebih lanjut dengan media atau metode yang lain.

Pelaksanaan program pendidikan seni kurikulum SMU 1994 di SMU Negeri se Kodya Malang / oleh Sumanto

 

Hubungan minat siswa terhadap prestai belajar siswa kelas I dan II pada mata pelajaran kerajinan tangan dan kesenian di SLTP I Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang tahun ajaran 1997/1998 / oleh Welly Purnama Kumalasari

 

Penerapan pembelajaran kooperatif group investigation (GI) untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan prestasi belajar biologi siswa kelas XI IPA 2 SMA Negeri 9 Malang / Yunita Kristina Utami

 

Analisis reaksi padar modal Indonesia terhadap pelaksanaan right issue (Studi pada perusahaan yang listing di bursa Efek Indonesia periode 2003-2008) / Yulita Wicahyanti

 

Kata Kunci: Right Issue, Return, Abnormal Return (AR), Cumulative Abnormal Return (CAR), Cumulative Average Abnormal Return (CAAR), Dan Trading Volume Activity (TVA). Right issue menjadi pilihan yang menarik bagi perusahaan karena relatif memerlukan biaya yang rendah jika dibandingkan dengan melakukan pinjaman kepada bank. Pelaksanaan right issue dapat menjadi sebuah informasi bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Pengumuman right issue dapat memberikan sinyal positif karena mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan yaitu membeli saham, akibatnya permintaan saham akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menjelaskan perbedaan return saham sebelum dan setelah pelaksanaan right issue, (2) menjelaskan perbedaan AR saham sebelum dan setelah pelaksanaan right issue, (3) menjelaskan perbedaan CAR saham sebelum dan setelah pelaksanaan right issue, (4) menjelaskan perbedaan CAAR saham sebelum dan setelah pelaksanaan right issue, (5) menjelaskan perbedaan TVA saham sebelum dan setelah pelaksanaan right issue. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik studi peristiwa (event study). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang listing di BEI dan melakukan right issue pada tahun 2003-2008. Sedangkan sampel dalam penelitian ini sebanyak 31 perusahaan yang diambil secara purposive sampling. Periode pengamatan adalah selama 21 hari bursa. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data perusahaan yang melakukan right issue tahun 2003-2008, harga saham harian perusahaan sampel selama periode pengamatan, data volume perdagangan saham, dan data jumlah saham beredar. Data variabel return, AR, CAR, CAAR, dan TVA dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik pengujian statistik non parametrik yaitu uji Willcoxon Signed Rank Test. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa return, AR, CAR, CAAR dan TVA tidak terdapat perbedaan sebelum dan setelah pelaksanaan right issue. Hasil tersebut mengindikasikan investor tidak bereaksi atas pelaksanaan right issue. Selain itu diduga kandungan informasi right issue kecil sehingga tidak dapat mempengaruhi keputusan investor. Adapun saran yang dalam penelitian ini: 1) Emiten dapat mempertimbangkan dalam memberikan sinyal kepada pasar, 2) Sebelum menanamkan saham pada saat right issue sebaiknya melihat dengan seksama dan mempelajari terlebih dahulu kondisi perusahaan yang bersangkutan, 3) perhitungan abnormal return menggunakan market adjusted model dan market model, 4) memperpanjang periode jendela, 5) menggunakan teori dasar yang lain, misal:random walk theory.

Penerapan model pembelajaran think pair share (TPS) pada materi ekosistem dan pencemaran lingkungan untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar siswa kelas X-C SMAN 1 Ngantang / Nury Aji Saktianny

 

Kata kunci: Think Pair Share, Aktivitas Kooperatif, Hasil belajar Observasi awal dan wawancara dengan pihak SMAN 1 Ngantang, Malang yang dilakukan pada tanggal 5 Mei 2010 menunjukkan bahwa pembelajaran yang sering dilakukan adalah ceramah. Saat pembelajaran berlangsung, siswa masih kurang aktif menjawab dan belum berani mengungkapkan pendapat tentang materi. Rerata hasil belajar siswa yaitu 62,81 sedangkan kriteria ketuntasan belajar sebesar 53,12%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih rendah dan belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (85%). Dengan adanya permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan melakukan penerapan model pembelajaran Think Pair Share. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar siswa. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri dari dua siklus. Kedua siklus dilakukan selama dua kali pertemuan. Siklus I dilakukan pada tanggal 12 Mei dan 19 Mei 2010, sedangkan siklus II dilakukan pada tanggal 26 Mei dan 2 Juni 2010. Setiap pertemuan dalam pembelajaran terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ekosistem dan Pencemaran Lingkungan. Model pembelajaran TPS terdiri dari tiga langkah yaitu langkah thinking (berpikir), pairing (berpasangan), dan sharing (berbagi). Model TPS memberikan waktu kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas kooperatif siswa mengalami peningkatan. Aktivitas kooperatif yang dilakukan siswa pada siklus I, tingkatan cukup (C) mendominasi sebesar 54,98%, tingkatan baik (B) mencapai 31,86% dan tingkatan kurang (K) sebesar 13,12%. Pada siklus II tingkatan baik sudah mendominasi aktivitas kooperatif yaitu sebesar 70% Tingkat cukup dan kurang sudah mengalami penurunan yaitu masing-masing mencapai 26,25% dan 3,75%. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan dari sebelum tindakan ke siklus I dan siklus II. Rerata hasil belajar siswa sebelum tindakan yaitu 62,81, rerata hasil belajar pada siklus I yaitu 71,31, dan pada siklus II yaitu 83,59. Sebelum tindakan persentase ketuntasan 53,12%, pada siklus I persentase ketuntasan 68,75%, sedangkan pada siklus II persentase ketuntasan 87,50%. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran TPS dapat meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar Siswa kelas X-C SMAN 1 Ngantang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar diterapkan model pembelajaran TPS sebagai pembelajaran alternatif untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar siswa.

Rancang bangun knalpot dilengkapi catalytic converter bahan dasar tembaga untuk konsentrasi polutan CO dan HC engine 4 langkah satu silinder / Agung Tri Saputro, Ahmad Yazid Quswaini

 

Pengaruh strategi pembelajaran project based learning (PjBL) terhadap keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep siswa kelas X SMA Negeri di Kota dan Kabupaten Malang / Maya Trisulistiyorini

 

Kata kunci: strategi pembelajaran Project Based Learning (PjBL), keterampilan metakognitif, pemahaman konsep Kegiatan belajar di sekolah ditujukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru harus memperhatikan kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Kebanyakan guru hanya melaksanakan kegiatan pembelajaran saja tanpa memperhatikan aspek yang harus dikembangkan dalam diri siswa. Aspek yang perlu dikembangkan adalah aspek keterampilan metakognitif dan aspek kognitif yang berhubungan dengan pemahaman konsep. Bila siswa memiliki keterampilan metakognitif yang baik akan mampu menjadi pebelajar yang mandiri, mampu merencanakan, memonitor dan mengevaluasi dalam kegiatan belajarnya. Siswa yang memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik tentunya dapat dengan mudah menguasai konsep materi pelajaran. Salah satu alternatif yang dapat memberdayakan keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep agar mengarah pada tujuan kurikulum adalah strategi pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Keunggulan strategi ini adalah meningkatkan motivasi, meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah, meningkatkan kemampuan untuk mencari informasi, meningkatkan kemampuan dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas, dan meningkatkan kejasama kelompok. Penerapan strategi pembelajaran PjBL dalam penelitian ditujukan untuk mengungkapkan pengaruhnya terhadap keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep siswa. Penelitian dilakukan di SMA Negeri di Kota dan Kabupaten Malang pada Semester Genap Tahun Ajaran 2009/2010 dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa di SMA Negeri 7 Malang, SMA Negeri 9 Malang dan SMA Negeri 1 Gondang Legi Malang dengan menggunakan kelas kontrol yaitu X-7, X-4, X-F dan kelas eksperimen yaitu X-3, X-7, X-8, X-A. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain penelitian menggunakan non equivalent control group design. Analisis yang digunakan adalah analisis anakova satu arah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PjBL berpengaruh terhadap keterampilan metakognitif siswa. Siswa yang difasilitasi dengan strategi pembelajaran PjBL memiliki keterampilan metakognitif 41,1% lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diberi strategi pembelajaran konvensional. Dilihat dari kemampuan kognitif yang berhubungan dengan pemahaman konsep siswa menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PjBL berpengaruh terhadap kemampuan kognitif siswa. Siswa yang difasilitasi dengan strategi pembelajaran PjBL memiliki kemampuan kognitif 44,8% lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diberi strategi pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, terlihat bahwa strategi pembelajaran PjBL dapat diandalkan dalam rangka meningkatkan keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep. Melihat fakta yang telah ditunjukkan, maka diharapkan guru dapat menerapkan strategi pembelajaran PjBL dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Selain itu pengaturan alokasi waktu dan pemberian motivasi pada siswa juga harus diperhatikan agar pelaksanaan strategi pembelajaran berjalan dengan baik.

Genetic-structuralist analysis on "the road not taken" and "stopping by woods on a snowy evening" / Moh. Alex Chandra

 

Key Words: genetic structuralism, worldview, sociological aesthetics Using Genetic Structuralism as the theoretical basis, this study will give a new way in criticizing the poems. Genetic Structuralism is introduced by Lucien Goldmann. He believes that literary work is a dynamic structure because it is considered as a product of a historical process. During the process, literary work is influenced by the existence of society where the literary work is created. As a result, there is the same structure between the structure of the literary work and the structure of the society. Goldmann continues that the basis of this theory is the hypothesis that all human behavior is an attempt to give a meaningful response to a particular situation to create a balance between the human as the subject and the environment as the object. Usually, this theory is used to analyze prosaic works because this theory needs characters as an imaginative element to investigate the author’s worldview. Through this study, I try to apply Genetic Structuralism as a foundation in studying poems in order to see the poet’s worldview. It seems odd to use this theory in studying poems, but it does not mean that it is impossible to apply this theory in criticizing the poems still, there is a weakness. The weakness is that, not all types of poems have imaginative characters. So, Genetic Structuralism is only applicable to lyrical poems. First, I analyze the poems through the construction of the lines in each stanza. Every word and phrase in the lines is investigated, including the meanings, the forms, the synonyms and the basic reason, which deals with the usage of the words, criticized. Then, I turn the meaning of each word in the poem into interpretations that, later, will be used to compare it which the biography of the poet. The comparison process will produce a new conclusion. This conclusion will be used as the main idea to investigate the poet’s worldview. The poet’s worldview is compared to the structure of the poem. When there is a synchronic relation between the worldview and the structure of the poems, then it means that the sociological aesthetic is achieved well. The result of this study deals with the poet’s worldview, in this study, Robert Frost, produces three basic elements as the basis of the construction of “The Road Not Taken” and “Stopping by Woods on a Snowy Evening”. The elements are: God, Nature, and Human. Among those elements, there is a close relation each other. God as the Highest element is the Most Powerful One. God takes control of the two other elements. The two elements would not exist if there were no God as the controller. The rest of the elements stand in the same level.

Hubungan kemampuan adversity dengan prestasi belajar pada mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Negeri Malang / Fakul Hidayah

 

Kata kunci: kemampuan adversity, prestasi belajar Setiap orang selalu menginginkan sukses dalam kehidupan. Dalam mencapai sukses seseorang selalu dihadapkan dengan hambatan dan kesulitan. Hal ini juga terjadi dalam pendidikan di perguruan tinggi, dimana indikasi sukses mahasiswa dilihat dari prestasi akademiknya. Sebagai program studi yang memiliki banyak peminat, mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang memiliki kesulitan tersendiri dalam menjalani pendidikannya, seperti perbedaan sifat pendidikan di SLTA dan perguruan tinggi yang mencakup kurikulum, disiplin, hubungan dosen dengan mahasiswa, masalah hubungan sosial, ekonomi dan pemilihan bidang studi atau jurusan (Gunarsa, 2004). Kemampuan Adversity adalah kemampuan seseorang dalam bereaksi terhadap kesulitan yang dihadapinya (Stoltz, 2000). Seseorang yang memiliki Kemampuan Adversity tinggi akan bereaksi dengan tepat dan dapat mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Dalam menghadapi kesulitan dalam perguruan tinggi, mahasiswa perlu memiliki kemampuan adversity yang tinggi sehingga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan korelasional dengan besaran populasi sebanyak 475 mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Negeri Malang. Besaran sampel berjumlah 115 mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Malang yang ditentukan dengan teknik incidental sampling. Hasil uji validitas aitem diperoleh nilai validitas aitem antara 0.262-0.655 dan penghitungan reliabilitas dengan koefisien alpha cronbach 0,893. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kemampuan adversity dengan prestasi belajar pada mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Negeri Malang (rxy = 0.498, sig = 0,000 < 0,05). Artinya semakin tinggi kemampuan adversity mahasiswa maka semakin baik prestasi belajar. Hasil analsis deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa Prodi Psikologi UM yang memiliki kemampuan adversity tinggi sebanyak 27 mahasiswa (23.48%), sedang 65 mahasiswa (56.52%), dan rendah 23 mahasiswa (20%). Sedangkan prestasi belajar pada mahasiswa dengan predikat pujian berjumlah 1 mahasiswa (0.87%), memuaskan 30 mahasiswa (26.09%), dan cukup memuaskan 4 mahasiswa (3.48%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan kepada: (1) mahasiswa: Percaya terhadap kemampuan diri dan belajar untuk memiliki kendali terhadap semua masalah yang dihadapi (3) jurusan psikologi: adanya pembentukan kesadaran bahwa pendidikan seharusnya juga mengembangkan aspek-aspek psikologis peserta didik. (3) peneliti selanjutnya: dapat mengembangkan penelitian tentang kemampuan adversity misalnya menjadikan tipe adversity (Quitters, Campers dan Climbers) sebagai variabel penelitian.

Pengaruh lingkungan keluarga dn perilaku menyimpang siswa terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang / Aulia Qanitati

 

Kata Kunci : Lingkungan Keluarga, Perilaku Menyimpang Siswa, Prestasi Belajar. Prestasi belajar tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. Diantara faktor-faktor tersebut, penelitian ini mengkhususkan pada lingkungan keluarga dan perilaku menyimpang siswa. Tujuannya adalah untuk menganalisis: (1) Keadaan lingkungan keluarga siswa, (2) Tingkat perilaku menyimpang siswa, (3) Pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa, (4) Pengaruh perilaku menyimpang siswa terhadap terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa, (5) Pengaruh secara simultan lingkungan keluarga dan perilaku menyimpang siswa terhadap prestasi belajar mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Bersifat deskriptif karena bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang keadaan lingkungan keluarga dan tingkat kenakalan siswa. Bersifat korelasional karena penelitian ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya pengaruh antara variabel bebas dan variabel terikat baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang Tahun Ajaran 2010/2011 yang berjumlah 103 siswa, dan sampel sebanyak 51 siswa. Sampel di ambil secara acak. Teknik pengambilan sampel menggunakan proporsional random sampling. Pengumpulan data menggunakan teknik kuesioner dan dokumentasi. Analisis data penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda. Dari analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut: (1) Keadaan lingkungan keluarga siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang cukup baik dengan persentase sebesar 45,10% dan memiliki hubungan yang positif. (2) Tingkat perilaku menyimpang siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang rendah dengan persentase sebesar 51% dan memiliki hubungan yang negatif. (3) Secara parsial terdapat pengaruh positif yang signifikan antara variabel lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang. (4) Secara parsial terdapat pengaruh negatif yang signifikan antara variabel perilaku menyimpang siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang. (5) Secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan keluarga dan perilaku menyimpang siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang. Disarankan kepada lingkungan keluarga khususnya orang tua siswa kelas XI IPS SMA Negeri 5 Malang agar lebih membantu siswa saat belajar di rumah dan menciptakan suasana rumah yang nyaman untuk mendukung kegiatan belajar siswa di rumah. Untuk siswa SMA Negeri 5 Malang, sebaiknya bisa mengendalikan sikap baik di sekolah maupun di luar sekolah agar tidak terjadi perilaku menyimpang sehingga prestasi belajar di sekolah baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk lebih memperluas variabel penelitian, selain variabel yang diteliti dalam penelitian ini seperti variabel disiplin belajar, fasilitas belajar, dan sebagainya yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Serta diharapkan juga teknik pengambilan data tidak hanya dilakukan dengan penyebaran angket atau kuesioner tetapi dengan teknik wawancara dan observasi agar hasil penelitian lebih obyektif dan akurat.

Kepuasan kerja karyawan sebagai pemediasi pengaruh gaya kepimpinan situasional terhadap komitmen organisasi terhadap komitmen organisasi (Studi pada karyawan tetap PT. Adiputro Wirasejati Malang) / Effendi Tri Krisdianto

 

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan Situasional, kepuasan kerja karyawan, komitmen organisasi. Keberhasilan dalam suatu organisasi ditentukan oleh gaya kepemimpinan dan peranan dari karyawan. Agar karyawan dapat bekerja dengan baik dan mencapai prestasi kerja yang diharapkan, maka peranan pemimpin dalam memimpin dan memotivasi bawahannya sangat menentukan, karena karyawan merupakan aset perusahaan yang dinamis dan selalu berkembang. Dalam arti yang luas kepemimpinan dapat dipergunakan setiap orang dan tidak hanya terbatas berlaku dalam suatu organisasi atau kantor tertentu, meleinkan kepemimpinan bisa terjadi di mana saja asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Penelitian ini dilakukan di PT. Adi Putro Wirasejati Malang pada bulan Mei sampai dengan Juli 2010. Subjek dalam penelitian ini adalah Karyawan tetap PT.Adi Putro Wirasejati. Karyawan PT.Adi Putro Wirasejati Malang yang berjumlah 214 orang. Sedangkan sampelnya diambil sebanyak 67 dan teknik pengambilan sampel menggunakan propotional random sampling. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis). Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu gaya kepemimpinan situasional (X), variabel intervening yaitu kepuasan kerja karyawan (Z) dan variabel terikat yaitu komitmen organisasi (Y). Data yang diperoleh dengan menggunakan beberapa cara, antara lain : angket atau kuesioner, wawancara atau interview, dan observasi. Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga uji coba kuesioner untuk menguji instrumen tidak perlu dilakukan. Sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Berdasarkan teknik analisis statistik deskriptif diketahui bahwa sebanyak 54 orang Karyawan PT.Adi Putro Wirasejati Malang setuju bahwa gaya kepemimpinan situasional yang diterapkan di perusahaan cukup baik, sebanyak 61 orang Karyawan PT.Adi Putro Wirasejati Malang setuju bahwa mereka memiliki kepuasan kerja yang tinggi, Sementara sekitar 59 orang yang lain mempunyai komitmen organisasi yang tinggi. Sedangkan berdasarkan teknik analisis inferensial atau analisis regresi berganda dengan menggunakan taraf kesalahan 5%, dapat diketahui variabel gaya kemimpinan (X) mempunyai nilai sig t signifikansi α (0,000 < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel gaya kepemimpinan (X) berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan kerja (Z) secara langsung. Variabel kepuasan kerja karyawan (Z) mempunyai nilai sig t signifikansi α (0,000 < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel kepuasan kerja (Z) berpengaruh secara signifikan terhadap komitmen organisasi (Y) secara langsung. Variabel gaya kepemimpinan situasional (X) mempunyai nilai sig t < signifikansi α (0,001 < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel gaya kepemimpinan situasional (X) berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi kerja (Y) secara langsung. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti adalah dengan meningkatkan komitmen organisasi, hendaknya perusahaan lebih memperkuat keterikatan karyawan terhadap perusahaan, karena kemungkinan tingkat komitmen organisasi karyawan tersebut dikarenakan mereka adalah karyawan tetap. Secara umum hal ini menjadi generalisasi bahwa karyawan yang berada pada posisi “aman” adalah mereka yang mempunyai tingkat komitmen tinggi.

Peranan sanggar budaya Taruna Malang dalam menanamkan sikap santun pada tingkah laku anak peserta sanggar Kelurahan Sawojajar Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Fita Musrifah

 

Kata Kunci: peranan sanggar, menanamkan, sikap santun, tingkah laku anak. Pendidikan budi pekerti (sopan santun) memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Pendidikan sikap santun lebih sering diajarkan oleh orang-orang yang ada di lingkungan sekitar. Pendidikan sikap santun lebih baik diberikan ketika anak berusia balita. Sanggar Budaya Taruna merupakan salah satu tempat untuk belajar tari tradisional, klasik dan tari kreasi baru yang berada di kota Malang. Sanggar Budaya Taruna memiliki motto ”Dengan Sanggar Taruna Budaya Jadilah Anak yang Santun dan berbakti”. Sanggar Budaya Taruna merupakan sebuah wadah yang membina dan menyalurkan bakat anak-anak dan Remaja Indonesia khususnya dalam bidang seni tari nusantara. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Jenis tari yang diajarkan pada Sanggar Budaya Taruna (2) proses pembelajaran tari pada Sanggar Budaya Taruna (3) bentuk sikap santun yang diajarkan pada Sangggar Budaya taruna (4) cara penanaman sikap santun sebagai pendidikan bagi anak peserta Sanggar Budaya Taruna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitataif bersifat diskriptif dan jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian study kasus. Sumber data yang utama dalam penelitian ini adalah kata-kata atau ucapan yang diperoleh melalui wawancara dan pengamatan. Adapun analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa deskriptif kualitatif. Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi kasus. Karena yang diteliti berkenaan dengan suatu lembaga. Hasil dari penelitian ini Sanggar Budaya Taruna Malang yang terletak di jalan Terusan Sulfat No 55 Kota Malang, berdiri sejak Januari 2006, latihan rutin dilakukan setiap hari Jumat dan Minggu. Sanggar Budaya Taruna merupakan salah satu sanggar yang ada di kota Malang. Jenis tari yang diajarkan ada tiga jenis yaitu tari tradisional contohnya tari remo gebyar barong, tari klasik contohnya tari topeng klana, gambir anom. Dan tari kresai baru contohnya tari kijang, merak. Proses pembelajaran tari pada Sanggar Budaya Taruna dilakuakn dengan tiga tahapan yaitu ketika anak-anak latihan rutin, undangan pentas dan studi pentas. Anak diberikan contoh yang baik tentang sikap santun ketika bertemu dengan orang yang lebih tua. Dalam proses pembelajaran tidak ada hukuman bagi anak yang terlambat datang latihan. Bentuk sikap santun yang terkandung dalam tari yang diajarkan adalah cara bersikap kepada orang yang lebih tua dan bersikap kepada orang yang baru dikenal bahkan belum dikenal. Cara penanaman dilakukan menggunakan empat metode pendekatan penanaman i ii nilai antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi, permainan peranan. Penanaman sikap santun dengan pemberian contoh, ketika anak-anak istirahat mereka diberikan penjelasan tentang asal usul dan cerita dari tersebut. Sanggar Budaya Taruna akan menjadi tempat untuk menyalurkan bakat yang ada pada diri anak-anak yang berada di wilayah Malang dan tetap menjadi tempat yang melestarikan budaya nasional.

Persepsi siswa terhadap pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di SMAN 1 Asembagus Situbondo / Anita Eka Irianti

 

Kata Kunci: Persepsi Siswa, Pembelajaran PKn Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Citizenship Education) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara yang baik, cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Namun, dalam prosesnya hasil survei peneliti baik dari pengalaman sewaktu PPL maupun data-data dari internet, selama ini pembelajaran PKn masih bersifat monoton dan kurang menarik. Hai ini disebabkan beberapa kendala antara lain: (1) guru mata Pelajaran PKn masih mengalami kesulitan dalam mengaktifkan siswa untuk terlibat langsung dalam proses penggalian dan penelaahan bahan pelajaran, (2) sebagian siswa memandang mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran yang bersifat konseptual dan teoritis, (3) praktik kehidupan di masyarakat baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, agama seringkali berbeda dengan wacana yang dikembangkan dalam proses pembelajaran di kelas. Bertolak dari hal tersebut dilakukan penelitian tentang persepsi siswa terhadap pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMAN 1 Asembagus Situbondo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) persepsi siswa terhadap materi pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, (2) persepsi siswa terhadap metode yang digunakan dalam pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, (3) persepsi siswa terhadap media yang digunakan dalam pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, (4) persepsi siswa mengenai sikap guru dalam pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, (5) persepsi siswa mengenai evaluasi hasil pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Asembagus. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 11 kelas atau 366 siswa, sedangkan sampelnya diambil 6 kelas atau 201 siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis pendekatan deskriptif kuantitatif. Data dalam penelitian diperoleh dengan menggunakan instrumen angket tertutup, yang kemudian dianalisis dengan menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sebanyak 57,71% siswa memiliki persepsi yang sangat baik terhadap materi pelajaran Pendidikan i ii Kewarganegaraan(PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, dikatakan sangat baik karena siswa menunjukkan persepsi yang sangat baik dari indikator yang sudah ditetapkan dengan tepat dan baik, yaitu sangat tertarik, sangat senang, mempunyai pandangan sangat baik, mempunyai penilaian sangat baik, berperilaku sangat baik, dan sangat antusias, (2) sebanyak 47,26% siswa memiliki persepsi yang sangat baik terhadap metode yang digunakan dalam pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, dikatakan sangat baik karena siswa menunjukkan persepsi yang sangat baik dari indikator yang sudah ditetapkan dengan tepat dan baik, yaitu sangat tertarik, sangat senang, mempunyai pandangan sangat baik, mempunyai penilaian sangat baik, berperilaku sangat baik, dan sangat antusias, (3) sebanyak 46,27% siswa memiliki persepsi yang sangat baik terhadap media yang digunakan dalam pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, dikatakan sangat baik karena siswa menunjukkan persepsi yang sangat baik dari indikator yang sudah ditetapkan dengan tepat dan baik, yaitu sangat tertarik, sangat senang, mempunyai pandangan sangat baik, mempunyai penilaian sangat baik, berperilaku sangat baik, dan sangat antusias, (4) sebanyak 47,76% siswa memiliki persepsi yang sangat baik terhadap sikap guru dalam pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, dikatakan sangat baik karena siswa menunjukkan persepsi yang sangat baik dari indikator yang sudah ditetapkan dengan tepat dan baik, yaitu sangat tertarik, sangat senang, mempunyai pandangan sangat baik, mempunyai penilaian sangat baik, berperilaku sangat baik, dan sangat antusias (5) sebanyak 51,24% siswa memiliki persepsi yang sangat baik terhadap kegiatan evaluasi hasil pembelajaran pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diajarkan di SMAN 1 Asembagus Situbondo, dikatakan sangat baik karena siswa menunjukkan persepsi yang sangat baik dari indikator yang sudah ditetapkan dengan tepat dan baik, yaitu sangat tertarik, sangat senang, mempunyai pandangan sangat baik, mempunyai penilaian sangat baik, berperilaku sangat baik, dan sangat antusias. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan supaya guru menjelaskan proses pembelajaran secara lebih baik, menyiapkan situasi belajar yang lebih kondusif, memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai metode yang digunakan, menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, menggunakan media pembelajaran yang tepat sehingga mampu membantu pemahaman siswa, memberikan motivasi yang yang lebih besar kepada siswa, membuat soal-soal tes yang sesuai dengan kemampuan siswa, dan segera memberikan balikan atau hasil belajar kepada siswa.

Identifikasi konsep sukar dan kesalahan konsep materi pada siswa SMP Islam Almaarif 01 Singosari Malang / Deni Widyawati

 

Kata Kunci: konsep sukar, kesalahan konsep, konsep materi Konsep kimia pada umumnya berjenjang dan berurutan dari yang sederhana ke kompleks. Konsep kompleks hanya dapat dipahami jika konsep yang lebih fundamental telah benar-benar dipahami. Kesulitan memahami konsep mengakibatkan konsep tersebut dianggap sukar dan dapat menyebabkan siswa mengalami salah konsep. Siswa dikatakan mengalami salah konsep apabila memberikan jawaban salah secara konsisten pada sejumlah soal yang dasar konsepnya sama. Kesalahan konsep pada konsep yang fundamental berdampak pada pemahaman konsep berikutnya yang lebih kompleks. Salah satu konsep fundamental dalam kimia yang sangat penting untuk dipahami adalah konsep materi, meliputi sifat dan wujud materi, unsur, senyawa, dan campuran, yang dipelajari di kelas VII semester I. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi: (1) deskripsi konsep sukar, (2) konsep sukar yang dimiliki siswa, dan (3) kesalahan konsep yang dialami siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa SMP Islam Almaarif 01 Singosari Malang dan sampel adalah kelas VII sebanyak 72 siswa dan kelas VIII sejumlah 74 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut.Instrumen pada penelitian berupa tes diagnostik sebanyak 23 butir soal. Soal berupa pilihan ganda dengan 5 alternatif jawaban yang diperkuat dengan alasan pemilihan jawaban dan hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) deskripsi konsep sukar adalah: mean, median, modus, jawaban salah siswa minimal (Xmin), dan jawaban salah siswa maksimal (Xmax) pada siswa kelas VII dan VIII berturut-turut 51, 53, 55, 23, 65 dan 55, 56, 0, 27, 69. (2) konsep sukar yang dimiliki siswa adalah: (a) konsep perbedaan sifat kimia materi di kelas VII dan VIII, (b) konsep sifat fisika materi di kelas VII dan VIII, (c) konsep hubungan wujud materi dengan titik leleh di kelas VII dan VIII, (d) konsep penentuan wujud unsur karbon, neon, dan raksa di kelas VIII, (e) konsep sifat unsur logam di kelas VII dan VIII, (f) konsep perbedaan sifat unsur logam dan unsur nonlogam di kelas VII dan VIII, (g) konsep lambang unsur di kelas VII dan VIII, (h) konsep menentukan nama, lambang, dan jenis unsur di kelas VII, (i) konsep penggolongan unsur logam di kelas VII dan VIII, (j) konsep penggolongan unsur semilogam di kelas VII dan VIII, (k) konsep penggolongan unsur nonlogam di kelas VII dan VIII, (l) konsep perbedaan campuran homogen dan campuran heterogen di kelas VII dan VIII, (m) konsep identifikasi campuran homogen di kelas VII dan VIII, ii (n) konsep penggolongan larutan di kelas VII dan VIII, (o) konsep penggolongan koloid di kelas VII dan VIII, (p) konsep penggolongan suspensi di kelas VII dan VIII, (q) konsep identifikasi jenis dan sifat campuran di kelas VII dan VIII, (r) konsep penggolongan unsur di kelas VII, (s) konsep penggolongan senyawa di kelas VII dan VIII, (t) konsep penggolongan campuran di kelas VII dan VIII, (u) konsep perbedaan unsur, senyawa, dan campuran di kelas VII dan VIII, (3) kesalahan konsep yang dialami siswa adalah menganggap : (a) daya hantar (panas dan listrik) adalah sifat kimia sebanyak 6% siswa kelas VII dan 3% siswa kelas VIII, (b) suhu pada saat perubahan zat (titik didih dan titik lebur) adalah sifat kimia sebanyak 4% siswa kelas VII dan 4% siswa kelas VIII, (c) zat cair mempunyai susunan partikel berdekatan dan tersusun teratur sebanyak 18% siswa kelas VII dan 26% siswa kelas VIII, (d) karbon berwujud gas pada suhu kamar sebanyak 33% siswa kelas VII dan 46% siswa kelas VIII, (e) unsur logam mempunyai suhu pada saat perubahan zat (titik didih dan titik cair) rendah (minus o C) hanya dialami siswa kelas VIII yaitu 1%, (f) lambang unsur berasal dari huruf pertama dan huruf kedua nama unsur dan menggunakan bahasa Indonesia sebanyak 10% siswa kelas VII dan 1% siswa kelas VIII, (g) raksa adalah unsur nonlogam karena berwujud cair sebanyak 42% siswa kelas VII dan 53% siswa kelas VIII, (h) logam aliase adalah unsur sebanyak 17% siswa kelas VII dan 20% siswa kelas VIII, (i) semua gas adalah senyawa sebanyak 42% siswa kelas VII dan 46% siswa kelas VIII.

Peran polisi lalu lintas dalam meningkatkan disiplin berlalu lintas siswa SMA Probolinggo / Dyah Fitri Siswaningtyas

 

Kata Kunci: Peran, Polisi Lalu Lintas, Kesadaran, Berlalu Lintas, Siswa SMA Pelanggaran lalu lintas merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Begitu juga permasalahan lalu lintas yang terjadi di Kota Probolinggo. Permasalahan lalu lintas di kota ini merupakan masalah yang harus segera ditangani oleh Polisi lalu lintas. Hal ini dikarenakan jumlah pelanggar lau lintas di Kota Probolinggo di dominasi oleh kalangan siswa-siswa SMA. Dimana kalangan siswa SMA sering ugal-ugalan dalam menggunakan jalan dan berlalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Peranan Satlantas Polresta Probolinggo dalam meningkatkan kesadaran berlalu lintas siswa SMA Negeri Probolinggo, (2) Apa saja kendala yang dihadapi dan upaya apa saja yang dilakukan Satlantas Polresta Probolinggo dalam menangani pelanggaran lalu lintas yang dilakuakn siswa SMA Negeri Probolinggo Penelitian tentang peran Polisi Lalu Lintas dalam meningkatkan kesadaran berlalu lintas siswa SMA Negeri Probolinggo ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian hukum empiris yuridis sosiologis. Di mana peneliti meneliti hukum lalu lintas yang tidak hanya mengkaji Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan saja, tetapi peneliti turun kelapangan dan mengamati langsung bagaimana kinerja Polisi Lalu lintas dan bagaimana situasi serta kondisi lalu lintas. Subyek penelitian ini adalah polisi lalu lintas dan para siswa SMA Kota Probolinggo. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian yang diperloleh dari penelitian ini adalah (1) Peran Satlantas Polresta Probolinggo dalam meningkatkan kesadaran berlalu lintas Siswa SMA Kota Probolinggo adalah dengan mengadakan (a) Sosialisasi UU No. 22 Th 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; (b) Seleksi Pelajar Pelopor tingkat SMA Se Kota Probolinggo; (c) Police go to campus; (d) Program safety ridding; (e) Saka Bhayangkara Lalu lintas; (f) Pemasangan spanduk tertib lalu lintas di sekolah – sekolah. (2) Kendala yang dihadapi yaitu (a) Rendahnya tingkat kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara dan pentingnya tertib lalu lintas; (b) Pada saat akan dilakukan penindakan pelanggaran lalu lintas, kebanyakan korban mencoba melarikan diri sehingga mengancam keselamatan pelanggar dan petugas Satlantas; (c) Jumlah pelanggar yang terlalu banyak, Banyaknya pelanggar membuat aparat kewalahan untuk mengawasi dan mengontrolnya. Sedangkan upaya yang dilakukan oleh Satlantas Polresta ii Probolinggo dalam menangani pelanggaran lalu lintas yang dilakukan siswa SMA Negeri Probolinggo adalah dengan cara (a) Penindakan tilang; (b) Penindakan dengan teguran yaitu dengan cara memberikan penjelasan tentang pelanggaran yang telah dilakukan oleh pengendara. (3) Pihak sekolah sangat merespon baik dengan diadaknnya Sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Satlantas Polresta Probolinggo, khususnya guru BK dan guru Pendidikan Kewarganegaraan. Mereka mengusulkan agar tertib lalu lintas dimasukkan ke dalam kurikulum karena hal tersebut nantinya tidak hanya akan menghindarkan seseorang dari risiko kecelakaan, namun pada gilirannya akan membentuk karakter dan budaya masyarakat. (4) Bagi pihak Satlantas Polresta Probolinggo sosialisasi menúnjukkan banyak perubahan disiplin berlalu lintas siswa SMA Kota Probolinggo. Hal ini dapat dilihat dari hasil pemberian tilang yang dilakukan kepada 200 anak SMA dan sederajat. Rata-rata tilang yang diberikan setelah diadakan sosialisasi menurun hingga 21,75 %. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar: (1) Satlantas Polresta Probolingo harus lebih tegas.dalam menindak pelanggar lalu lintas khususnya siswa SMA; (2) dalam memberikan penyuluhan harus lebih variatif lagi seperti setelah diadakan penyuluhan dilakukan penilaian terhadap kedisiplinan berlalu lintas siswa SMA Kota Probolinggo yang selanjutnya bertujuan akan diberikannya penghargaan terhadap sekolah mana yang paling sedikit melakukan pelanggara lalu lintas; (3) kedepannya hendaknya pendidikan tertib lalu lintas dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Hal ini akan mengajarkan siswa sejak dini untuk tertib dalam berlalu lintas. Sebab menanamkan kesadaran berlalu lintas sejak usia dini sangat efektif dan diharapkan begitu para pelajar menginjak masa remaja mereka akan tertib dalam berlalulintas; (4) razia motor beserta kelengkapan berkendara harus ditingkatkan frekuensinya dan dilakukan di sekolah-sekolah SMA Kota Probolinggo; (5) menumbuhkan budaya malu terhadap para pelanggar lalu lintas khususnya sisw-siswa SMA Kota Probolinggo yaitu dengan cara memotret pelanggar lalu lintas, kemudian menyebarkan foto disekolah-sekolah SMA Kota Probolinggo. Dengan cara ini diharapkan para siswa akan merasa jera untuk melanggar disiplin berlalu lintas.

Hubungan antara status ekonomi orangtua dan bimbingan karier dengan pilihan karier siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang / Irma Kusumawati

 

Kata kunci : Status sosial ekonomi, bimbingan karier, pilihan karier Status sosial ekonomi adalah kemampuan seseorang yang diukur dari segi kedudukan atau jabatan seseorang dan tingkat penghasilan atau pendapatannya. Perencanaan layanan bimbingan karier adalah suatu layanan yang membantu siswa untuk memahami dirinya, bakat dan minat yang dimiliki untuk membantu kehidupannya di masa depan. Pilihan karier adalah kecenderungan seseorang menentukan dan membuat keputusan pekerjaan yang akan ditekuni sebagai sumber nafkah hidupnya dan dilakukan sepanjang hidupnya. Penelitian ini memiliki rumusan masalah sebagai berikut; (1) bagaimanakah status sosial ekonomi orangtua siswa Kelas X, (2) bagaimanakah bimbingan karier, (3) bagaimanakah pilihan karier siswa Kelas X, (4) hubungan antara status sosial ekonomi orangtua dengan pilihan karier siswa Kelas X, (5) hubungan antara bimbingan karier di SMA Negeri 2 Malang dengan pilihan karier pada siswa Kelas X, (6) hubungan antara status sosial ekonomi orangtua siswa Kelas X dan perencanaan bimbingan karier pada pilihan karier siswa Kelas X SMA Negeri 2 Malang. Populasi siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang yang berjumlah 320 orang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdiri 80 orang siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara cluster dimana subjeknya besar, bisa diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih. Teknik analisis data yang digunakan adalah persentase untuk melihat status sosial ekonomi, perencanaan karier, dan pilihan karier, sedangkan untuk mengetahui hubungan ketiganya menggunakan Pearson Correlations. Hasil penelitian diketahui bahwa, status sosial ekonomi siswa kelas X SMA Negeri 2 Malang dengan spesifikasi ayah siswa yang berpendidikan tinggi sejumlah 46,8%, ibu siswa yang berpendidikan tinggi sejumlah 51,9%, jumlah ayah siswa yang pekerjaannya tergolong pekerjaan semi terampil dan tidak terampil sejumlah 46,8%, jumlah ibu siswa yang pekerjaannya tergolong pekerjaan semi terampil dan tidak terampil sejumlah 46,8%, jumlah siswa yang perekonomian keluarganya ditopang oleh 1 orang saja sejumlah 64,9%, jumlah pendapatan keluarga siswa yang berada pada nilai nominal Rp. 945.37 - Rp. 3.000.000 sejumlah 41,6%, dan jumlah orangtua siswa yang menyandang jabatan sebagai pengurus organisasi di masyarakat sejumlah 77,9%. Tahap perencanaan yang dapat terlaksana secara baik oleh konselor sebesar 81,8%, tahap penyusunan program yang terlaksana dengan baik oleh konselor adalah 74%, jumlah tahap pelaksanaan program oleh konselor yang terlaksana adalah sebesar 66,2%, jumlah tahap eveluasi program yang terlaksana oleh konselor sebesar 74%. Siswa yang memahami pilihan kariernya sejumlah 85,7%, siswa yang memahami keserasian antara kepribadian dan pekerjaan yang dipilihnya sejumlah 84,4%, jumlah siswa yang memahami lingkungan kerja yang akan dipilihnya sejumlah 89,6%, jumlah siswa yang mampu mengambil keputusan terhadap kariernya sejumlah 55,8%. Hubungan antara status sosial ekonomi orangtua dengan pilihan karier siswa dengan r sebesar 0,327 dan nilai signifikan sebesar 0,000. Hasil dari hubungan antara bimbingan karier dengan pilihan karier siswa dengan r sebesar 0,591 dan nilai signifikan sebesar 0,000. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa r hitung > r table dan sig<0,05. Hasil korelasi status sosial, bimbingan karier dengan pilihan karier (R) = 0,234 menunjukkan bahwa ada korelasi yang sangat signifikan antara status sosial ekonomi orang tua dan bimbingan karier dengan pilihan karier siswa karena 0,234 < 0,05 dan P = 0,138. Sehubungan dengan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, peneliti menyarankan sebagai berikut: konselor hendaknya perlu meningkatkan kualitas pelaksanaan bimbingan karier di sekolah, kepala sekolah diharapkan dapat memfasilitasi konselor sekolah untuk mengadakan materi pada papan bimbingan dan workshop, khususnya untuk bantuan logistik agar menjadi wadah bagi para siswa untuk menyalurkan potensi-potensi yang dimilikinya, orang tua diharapkan dapat memantau dengan baik pendidikan anak, serta membantu pemilihan pendidikan dan cita-cita sesuai dengan potensi anak dan status sosial ekonomi yang mampu dijangkau oleh orangtuanya.

Perancangan desain web dan media pendukung web sebagai sarana promosi bagi PT. Radjawali Aero Service / Mohammad Indra Wicaksono

 

Analisis perbedaan persepsi konsumen tentang strategi promosi penualan, strategi harga dan strategi promosi penjualan, strategi harga dan strategi layanan purna jual, antara dealer sepeda motor Honda, Yamaha, dan Suzuki di Perumahan Blitar Panorama Megah Kelurahan Gedog

 

Kata Kunci: Strategi Promosi Penjualan, Strategi Harga, Strategi Layanan Purna Jual. Dalam kondisi perekonomian dan perdagangan yang semakin global dan transparan, setiap perusahaan akan dihadapkan pada kancah persaingan yang semakin tajam, menjadikan tiga merk sepeda motor asal Jepang yaitu Honda, Yamaha, dan Suzuki semakin diminati masyarakat Indonesia terutama di kota Blitar. Dengan melihat perbedaan strategi yang pastinya setiap dealer turut serta di dalam memberikan keunggulan untuk memasarkan produknya. Perusahaan yang berorientasi kepada konsumen akan selalu memberikan kualitas produk dan layanan semaksimal mungkin, yang pada akhirnya mendatangkan kepuasan konsumen dan kesetiaan. Oleh karena itu, pemasar perlu mengetahui persepsi konsumen baik yang positif atau negatif guna menunjang keberhasilan tersebut. Penelitian ini mengambil sampel sebesar 74 responden dialokasikan secara proporsional menjadi Honda 32 pengguna, Yamaha 24 pengguna dan Suzuki 18 pengguna dengan tingkat kesalahan 5%. Hipotesis ini adalah (1) Ada perbedaan persepsi konsumen secara signifikan tentang strategi promosi penjualan antara dealer Honda, Yamaha, dan Suzuki. (2) Ada perbedaan persepsi konsumen secara signifikan tentang strategi harga antara dealer Honda, Yamaha, dan Suzuki. Dan (3) Ada perbedaan persepsi konsumen secara signifikan tentang strategi layanan purna jual antara dealer Honda, Yamaha, dan Suzuki. Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif dan uji beda t-test, mengindikasikan (1) Ada perbedaan persepsi konsumen secara signifikan tentang strategi promosi penjualan antara dealer Honda, Yamaha, dan Suzuki, dengan perbandingan mean 37.6250>35.5938>34.1667 dan nilai t tabel sebesar 81,196. Hasil mean tersebut menunjukkan Yamaha memiliki keunggulan yang relatif besar dibandingkan Honda dan Suzuki dalam melakukan strategi promosi penjualan berdasarkan indikator pameran dagang yaitu sebesar 71,9%. (2) Ada perbedaan persepsi konsumen secara signifikan tentang strategi harga antara dealer Honda, Yamaha, dan Suzuki, dengan perbandingan mean 19.9063>19.7917>18.8333 dan nilai t tabel sebesar 74,557. Hasil mean tersebut menunjukkan Honda memiliki keunggulan yang relatif besar dibandingkan Yamaha dan Suzuki dalam melakukan strategi harga berdasarkan indikator potongan harga, potongan harga (diskon), dan jangka waku kredit yaitu sebesar 65,6%. (3) Ada perbedaan persepsi konsumen secara signifikan tentang strategi layanan purna jual antara dealer 4 Honda, Yamaha, dan Suzuki, dengan perbandingan mean 63.8333>61.5313>59.3889 dan nilai t tabel sebesar 83,462. Hasil mean tersebut menunjukkan Yamaha memiliki keunggulan yang relatif besar dibandingkan Honda dan Suzuki, dalam melakukan strategi layanan purna jual berdasarkan indikator kesediaan memberikan saran tentang pemeliharaan produk dan terpercaya yaitu sebesar 66,7%. Dalam realisasinya dealer Honda memiliki keunggulan dibandingkan Yamaha dan Suzuki dalam melakukan strategi promosi penjualan berdasarkan indikator pameran dagang yaitu sebesar 71,9%, sedangkan untuk dealer Yamaha memiliki keunggulan dibandingkan Honda dan Suzuki dalam melakukan strategi harga berdasarkan indikator potongan harga yaitu sebesar 70,9% dan strategi layanan purna jual berdasarkan indikator memberikan saran pemeliharaan produk dan terpercaya yaitu sebesar 66,7%. Besarnya perbedaan persepsi konsumen pada dealer Honda, Yamaha, dengan Suzuki adalah sebesar 0,000 berada dibawah level of significance yang digunakan (α=0,05), sehingga perbedaan persepsi konsumen diterima.

Perbandingan efektivitas model pembelajaran jigsaw dengan model pembelajaran student team achievement divisions (STAD) dalam kemampuan berargumentasi siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen / Ima Verantika

 

Kata Kunci : Model Pembelajaran Jigsaw, Model Pembelajaran STAD, Kemampuan Berargumen, Pembelajaran Berbicara. Minat dan kemampuan siswa dalam berargumentasi siswa di sekolah masih rendah. Keterampilan berargumentasi yang termasuk dalam kegiatan berbicara masih dianggap sulit oleh siswa. Ketidaktahuan ini refleksi dari ketidak tahuan siswa tentang apa yang harus dibicarakan, untuk apa dibicarakan, ada pada latihan (praktik) berbicara. Kalaupun ada latihan, kegiatan tersebut tidak efektif dan tidak manarik bagi siswa. Di samping itu, teknik mengajar guru kurang bervariasi. Pernyataan ini dapat dibuktikan dari hasil pretes berbicara siswa dalam kemampuan berargumentasi, dalam pretes tersebut masih banyak siswa yang tersendat-sendat dalam berbicara, tidak mengembangkan isi argumennya dengan fakta dan contoh-contoh, serta masih banyak siswa yang menggunakan bahasa yang tidak baku dalam menyampaikan argumen. Jika hal itu terus terjadi maka tujuan pembelajaran berbicara tidak akan pernah tercapai, siswa akan tetap gagap dan gugup dalam berbicara. Oleh sebab itu, dibutuhkan pemilihan model pembelajaran yang efektif dan membuat siswa tertarik, lebih siap dan merangsang siswa untuk aktif berbicara khususnya dalam berargumentasi. Model pembelajaran Jigsaw dan model pembelajaran STAD adalah salah satu model pembelajaran yang biasanya digunakan untuk mengajarkan kemampuan berbicara, tetapi tidak pernah terpikir oleh guru manakah di antara kedua model pembelajaran tersebut yang lebih efektif digunakan untuk pembelajaran berbicara khususnya dalam berargumentasi. Tujuan penelitian ini adalah (1)mengetahui perbedaan kemampuan berargumentasi siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran diskusi kelompok dengan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Jigsaw, (2) mengetahui perbedaan kemampuan berargumentasi siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran diskusi kelompok dengan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran STAD, (3) mengetahui kemampuan berargumentasi siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dengan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran STAD dan, (4) mengetahui kefektifan antara model pembelajaran jigsaw dengan model pembelajaran STAD dalam kemampuan berargumentasi siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Kepanjen. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen komparatif. Penelitian eksperimen murni digunakan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Jigsaw terhadap kemampuan berargumentasi, pengaruh model pembelajaran STAD terhadap kemampuan berargumentasi dan pengaruh model pembelajaran diskusi kelompok terhadap kemampuan berargumentasi. Dalam penelitian eksperimen terdapat kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, jadi dalam penelitian ini untuk kelompok eksperimennya terdapat dua kelas yaitu kelas dengan model Jigsaw dan model STAD, sedangkan untuk kelompok kontrol adalah kelas dengan model pembelajaran diskusi kelompok. Instrumen yang digunakan untuk mengambil data adalah tes, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian tentang perbandingan efektivitas antara model pembelajaran Jigsaw dengan model pembelajaran STAD setelah pengujian hipotesis diketahui bahwa perbandingan antara kelas yang diajarkan dengan model pembelajaran Jigsaw sebesar 87.45 lebih tinggi dibadingakan dengan ratarata siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran diskusi kelompok yaitu sebesar 77.38. Untuk rata-rata kemampuan siswa yang dibandingkan antara siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran STAD sebesar 83.40 juga lebih tinggi daripada rata-rata kemampuan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran diskusi kelompok. Dari paparan data di atas dapat diketahui bahwa rata-rata kemampuan siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Jigsaw lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran diskusi kelompok dan model pembelajaran STAD. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran Jigsaw lebih efektif digunakan dalam kemampuan berargumentasi. Berdasarkan hasil penelitian saran yang diajukan sebagai berikut (1) Guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, hendaknya menjadikan penelitian ini sebagai masukan untuk menambah pengetahuan dan kreatifitas dalam memilih model pembelajaran di sekolah, (2) Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan model pembelajaran lain agar siswa memiliki kemampuan berargumen yang lebih baik dan diharapkan menggunakan instrument penelitian dengan aspek penilaian yang lebih rinci baik dari segi kebahasaan dan nonkebahasaan.

Pengembangan multimedia interaktif sebagai media pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial pokok bahasan atmosfer dan hidrosfer kelas VII di Mts. Al-Mubarok Sumbersuko, Lumajang / Bahrudin Efendi

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Multimedia Interaktif, Ilmu Pengetahuan Sosial. Media pembelajaran sebagai salah satu komponen sumber belajar dan merupakan bagian integral dari keseluruhan komponen pembelajaran dan menempati posisi yang penting dan diharapkan dapat memberikan motivasi belajar terhadap pebelajar sehingga berdampak pula pada peningkatan hasil belajarnya. Sementara itu, berdasarkan hasil observasi di MTs. Al-Mubarok Penggunaan media pembelajaran pada mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan sosial belum sepenuhnya digunakan kegiatan belajar masih menggunakan metode ceramah dan buku teks. Pengembang membuat Multimedia Interaktif ini sebagai salah satu alternatif pilihan media dalam proses pembelajaran pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah produk media pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran yang efektif bagi siswa yang dapat digunakan untuk belajar mandiri, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Sadiman (2008). Dalam sistematika pengembangannya, terdapat tahapan-tahapan yang akan dilakukan guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut antara: (1) identifikasi kebutuhan; (2) perumusan tujuan; (3) perumusan butir-butir materi; (4) perumusan alat pengukur keberhasilan; (5) penulisan naskah media; (6) produksi; (7) tes/ uji coba; (8) revisi; (9) Produk siap dimanfaatkan Hasil pengembangan Multimedia Interaktif ini memenuhi kriteria valid/layak yakni, hasil uji coba ahli media 95%, uji coba ahli materi 90%, uji coba siswa perseorangan 85%, dan hasil uji coba klasikal pada siswa adalah 86%, dengan demikian media ini layak digunakan dalam proses pembelajaran. Sedangkan untuk hasil belajar pada uji coba lapangan, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah penggunaan Multimedia interaktif, ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang memenuhi SKM sebanyak 66,6% pada uji coba perorangan dan 62% pada uji coba klasikal. Dengan demikian, Multimedia Interaktif ini bisa dikatakan efektif. Saran yang diajukan untuk siswa diharapkan meningkatkan kebiasaan belajar mandiri dengan cara bersentuhan dengan teknologi informasi dan komunikasi salah satunya menggunakan multimedia interaktif dalam membantu belajar, untuk guru dan sekolah hendaknya Multimadia Interaktif ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran, sehingga dapat memotivasi siswa untuk belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Identifikasi potensi lahan hutan mangrove di wilayah pisisr Kabupaten Probolinggo menggunakan sistem informasi geografi (SIG) / Dikin Faisol

 

Kata kunci : Identifikasi, SIG, Potensi Lahan, Hutan Mangrove Hutan mangrove adalah suatu ekosistem habitat daerah pantai yang harus dipertahankan keberadaannya. Ancaman langsung yang paling serius terhadap mangrove adalah pembangunan tambak oleh masyarakat. Hal ini disebabkan adanya peraturan perundangan dan penegakan hukum yang kurang tegas. Untuk mengidentifikasi potensi lahan hutan mangrove, salah satunya menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG dapat digunakan untuk menganalisis potensi lahan hutan mangrove. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik lahan mangrove dan potensi lahan hutan mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah hutan mangrove di Kabupaten Probolinggo. Sampel diambil secara purposive sampling. Parameter yang digunakan dalam mengidentifikasi potensi hutan mangrove adalah kualitas fisik tanah/tekstur tanah, kualitas air dan kerapatan hutan mangrove. Hasil penelitian diketahui bahwa kerakteristik lahan hutan mangrove kabupaten Probolinggo berdasarkan peta unit lahan daerah pesisir Kabupaten Probolinggo adalah potensi lahan tinggi teletak pada Kecamatan Kraksaan dan Kecamatan Gending dengan titik sampel A3, A4, C1 dan C2 memiliki unit lahan 4Al, 7Al, 4Gru dan 7Gru, potensi lahan sedang terletak pada Kecamatan Tongas, sebagian terletak di Kecamatan Paiton dan Kecamatan Dringu dengan titik sampel A1, A2, A5 dan B2 memiliki Unit Lahan 4Al dan 7Al, sedangkan potensi lahan rendah terletak sebagian pada Kecamatan Paiton dan Kecamatan Dringu dengan titik sampel A6 dan B1 memliki unit lahan 4Al dan 7Al. Persebaran potensi lahan hutan mangrove di Kabupaten Probolinggo sesuai untuk dikembangkan sebagai lahan perkembangan hutan mangrove di Desa Asembagus Kecamatan Kraksaan dan Desa Curahsawo Kecamatan Gending dengan daya dukung lingkungan baik dengan skor total 42. Dengan total luas lahan yang berpotensi untuk hutan mangrove daya dukung lingkungan baik dengan skor total 42 adalah 61,52 ha dan total luas lahan yang berpotensi untuk hutan mangrove daya dukung lingkungan sedang dengan skor total 21 adalah 226,49 ha sedangkan daya dukung buruk dengan skor total 16 adalah 2,86 ha.

Perbedaan kematangan karier siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler SMAN 3 Malang / Raudhah

 

Kata Kunci: Kematangan Karier, Perkembangan Karier, Siswa Akselerasi, Siswa Reguler. Kematangan karier secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan individu dalam mengenal dan mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Kematangan memilih karier bukanlah hanya suatu peristiwa semata, melainkan suatu proses yang cukup kompleks, karena proses yang dimaksud berlangsung dalam tahapan-tahapan yang membutuhkan waktu yang relatif panjang. Banyak faktor yang mempengaruhi kematangan karier. Dalam kaitannya dengan kematangan karier, apakah tingkat kematangan karier siswa kelas akselerasi lebih tinggi dari pada siswa kelas regular mengingat secara intelegensi siswa kelas akselerasi lebih tinggi, siswa yang berada di kelas akselerasi juga adalah orang-orang pilihan yang dianggap siap dengan rencana-rencana masa depannya, dianggap telah memiliki gambaran jelas akan masa depan yang diinginkan sehingga mampu mencari informasi-informasi dari luar tanpa perlu menunggu pemberian layanan informasi dari sekolah. Ataukah malah sebaliknya siswa kelas akselerasi memiliki tingkat kematangan karier yang lebih rendah daripada siswa kelas regular, memingat umur yang kurang matang, waktu di sekolah yang lebih pendek, kesibukan dan tuntutan akademis yang lebih tinggi, sibuk dengan percepatan akademik, kurangnya diberikan orientasi perguruan tinggi dan layanan-layanan karier di sekolah. Sehingga pada intinya ada perbedaan kematangan karier antara siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler. Oleh karena itu maka peneliti mengambil judul “Perbedaan Tingkat Kematangan Karier Siswa Kelas Akselerasi dengan Siswa Kelas Reguler SMA N 3 Malang”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan tingkat kematangan karier siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler di SMA N 3 Malang Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif komparatif. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap, antara lain: tahap penentuan populasi dan sampel, tahap penyusunan instrumen, tahap uji coba instrumen, tahap pengumpulan data dan analisa data. Populasi dan sampel yang ditentukan adalah siswa kelas XI akselerasi dan siswa kelas XI reguler, dengan teknik total sampling dan random dengan total sampel sebanyak 75 siswa. Instrumen yang digunakan adalah inventori dengan uji validitas menggunakan rumus korelasi Product Momen Person dan menguji reabilitas menggunakan menggunakan rumus Cronbach Alpha. Analisis data yang digunakan adalah analisis persentase dan analisis uji hipotesis dengan menggunakan Uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas akselerasi sebagian besar berada pada kategori sangat matang, sedangkan siswa program reguler mempunyai tingkat kematangan karier dalam kategori matang. Dengan demikian tingkat kematangan karier siswa kelas akselerasi lebih tinggi dibanding dengan siswa reguler, sehingga bisa dikatakan terdapat perbedaan tingkat kematangan karier siswa kelas akselerasi dengan siswa kelas reguler. Atas dasar hasil penelitian, maka disarankan: (1) Konselor dapat memberikan layanan bimbingan karier yang sesuai dengan kebutuhan siswa terkait dengan perkembangan kariernya, (2) Konselor lebih memberikan perhatian dan layanan bimbingan karier yang lebih intensif pada siswa kelas reguler, (3) Dalam penelitian selanjutnya, disarankan menggunakan populasi dan sampel yang lebih luas, memaparkan keterkaitan faktor-faktor yang mendukung kematangan karier yang lebih kompleks lagi, sehingga penelitian akan lebih berkembang

Strategy penyelesaian konflik pembagian harta warisan antakerabat dalam taneyan lanjang di Madura / Mery Atika

 

Kata kunci: strategi penyelesaian konflik, harta warisan, kerabat, taneyan lanjang Tatanan rumah pada pemukiman tradisional Madura, yang lazim disebut taneyan lanjang, adalah salah satu contoh hasil olah budaya yang lebih didasarkan kepada makna yang mendasari pola pemikiran masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai kekerabatan. Taneyan Lanjang merupakan suatu kumpulan rumah yang terdiri atas keluarga- keluarga yang mengikatnya. Satu kelompok rumah terdiri atas 2 sampai 10 rumah, atau dihuni sepuluh keluarga yaitu keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya. Jadi hubungan keluarga kandung merupakan ciri khas dari kelompok ini. Terkait dengan pembagian harta warisan, keberadaan taneyan lanjang justru menjadi indikator kerentanan munculnya konflik antar kerabat. Konflik pembagian harta warisan antar kerabat sulit dielakkan apalagi dalam kehidupan bersama dalam taneyan lanjang, namun dapat dicegah ataupun bila telah terlanjur terjadi dapat diatasi dengan stategi yang tepat. Konflik sendiri bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Dengan strategi penyelesaian konflik yang tepat, pihak konflik dapat memperoleh dampak positif terutama terhadap selamatnya hubungan kekerabatan dalam taneyan lanjang itu sendiri. Fokus dalam penelitian ini adalah: (1) Bentuk konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, (2) Motif dan sumber penyebab konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, (3) Pihak-pihak yang terlibat konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, (4) Bentuk-bentuk strategi penyelesaian konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, dan (5) Dampak-dampak yang timbul dari penerapan strategi penyelesaian konflik pembagian harta warisan yang dilakukan antar kerabat dalam taneyan lanjang. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif berperspektif etnografi dengan model penelitian studi kasus. Berdasarkan teknik purposive sampling, dipilih tiga orang untuk menjadi subyek penelitian. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) Wawancara mendalam, dan (2) Observasi nonpartisipan. Data yang diperoleh dianalisis secara constant comparative method. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah: (1) Ketekunan pengamatan, (2) Generalisasi Empiris, (3) Triangulasi sumber dan, (4) Kecukupan referensial. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) Bentuk konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang terdiri dari dua bentuk konflik yaitu (a) Konflik dengan saudara kandung yang terjadi pada dua subyek penelitian, yaitu pada kasus subyek 1 dan kasus subyek 2. Pada kasus subyek 1, konflik terjadi akibat pengalihan rumah warisan kakek, yang semula ditempati subyek kemudian dialihkan pada kakak subyek. Pada subyek 2, konflik diawali oleh permintaan kakak subyek agar anaknya yang akan menikah menempati rumah peninggalan orangtua mereka yang saat itu ditempati oleh subyek. Adapun subyek diminta untuk pindah dan tinggal bersama saudara yang lain, (b) Konflik dengan keponakan, konflik ini terjadi pada subyek 3, konflik diawali dari gugatan pihak keponakan untuk meminta harta warisan yang telah dihibahkan oleh subyek; (2) Motif dan sumber penyebab konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang diinisiasi oleh satu motif yaitu motif penguasaan harta warisan oleh salah satu pihak kerabat yang dalam hal ini bersumber dari faktor (a) Sistem pembagian yang tidak transparan dan cenderung diputuskan secara sepihak, (b) Tidak adanya bukti secara tertulis yang sah secara hukum, (c) Ketidakadilan pembagian warisan; (3) Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang meliputi (a) Taretan dhalem meliputi ibu, suami, saudara kandung dan paman subyek. Taretan dhalem terlibat pada semua kasus subyek yaitu, pada subyek 1, 2 dan 3, (b) Taretan jau yaitu sepupu empat generasi atau empat pupuan. Taretan jau terlibat pada kasus subyek 3, dalam hal ini ia berperan sebagai pihak penengah konflik dan (c) Oreng lowar kyai dan kepala desa setempat. Oreng lowar terlibat pada kasus subyek 3, yang berperan sebagai pihak saksi pada keputusan hasil rundingan pada kasus subyek 3; (4) Bentuk-bentuk strategi penyelesaian konflik yang digunakan subyek penelitian dalam konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang adalah (a) Yielding, dilakukan oleh subyek 1 dengan tujuan untuk menyelamatkan hubungan kekerabatan dengan saudara kandung daripada mempertahankan aspirasinya (b) Contending- withdrawing, terjadi pada subyek 2, pada awalnya kedua pihak saling mempertahankan aspirasi masing-masing, kemudian berakhir dengan dengan saling menarik diri, (c) Contending -problem solving, tahapan ini dilalui oleh subyek 3. Pada awal konflik, kedua pihak saling bersikeras pada aspirasinya masing-masing, namun intervensi pihak ketiga penengah konflik berhasil dilakukan, pada akhirnya dapat diambil keputusan yang dapat diterima oleh kedua pihak yang bertikai ; (5) Dampak-dampak yang timbul dari penerapan strategi penyelesaian konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang antara lain dapat (a) Mempererat hubungan kekerabatan, hal ini terjadi pada subyek 3, (b) Keretakan hubungan kekerabatan, hal ini terjadi pada subyek 2, (c) Perubahan sikap yaitu pemisahan ruang dapur, terjadi pada subyek 1 dan 2, dan soker, terjadi subyek 2 dan 3, (d) Kerusakan harta benda, hal ini terjadi pada kasus subyek 2. Saran yang diajukan oleh peneliti adalah: Perlunya mempersiapkan hal kewarisan, pihak terkait dalam hal ini pemilik warisan ataupun pewaris dapat melakukan pencatatan mengenai warisan yang dimilikinya yang sah secara hukum. Adapun pihak pemerintah terdekat, yaitu aparat desa dapat mengkoordinasikan cara-cara pelaksanaan pencatatan yang benar, sosialisasi mengenai pentingnya pencatatan bisa dilakukan dalam program-program musyawarah desa. Sebagai figur yang sangat berpengaruh pada masyarakat Madura, kyai dalam hal ini dapat menjembatani dan memberikan solusi-solusi yang tepat pada kasus-kasus konflik yang terjadi. Keterbatasan dalam penelitian yang hanya sampai pada tujuan deskriptif-interpretif pada strategi penyelesaian konflik dapat dikembangkan dengan penelitian lebih lanjut dan mendalam dengan tujuan kritis untuk mengusahakan transformasi personal dan sosial yang mengarah pada transformasi konflik dengan menggunakan teknik snowball, dengan tujuan dapat memperkaya informasi mengenai informan penelitian.

Penerapan kemampuan menjelaskan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas X-1 SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Pipit Maidayanti

 

Kata kunci: strategi penyelesaian konflik, harta warisan, kerabat, taneyan lanjang Tatanan rumah pada pemukiman tradisional Madura, yang lazim disebut taneyan lanjang, adalah salah satu contoh hasil olah budaya yang lebih didasarkan kepada makna yang mendasari pola pemikiran masyarakatnya yang menjunjung tinggi nilai kekerabatan. Taneyan Lanjang merupakan suatu kumpulan rumah yang terdiri atas keluarga- keluarga yang mengikatnya. Satu kelompok rumah terdiri atas 2 sampai 10 rumah, atau dihuni sepuluh keluarga yaitu keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya. Jadi hubungan keluarga kandung merupakan ciri khas dari kelompok ini. Terkait dengan pembagian harta warisan, keberadaan taneyan lanjang justru menjadi indikator kerentanan munculnya konflik antar kerabat. Konflik pembagian harta warisan antar kerabat sulit dielakkan apalagi dalam kehidupan bersama dalam taneyan lanjang, namun dapat dicegah ataupun bila telah terlanjur terjadi dapat diatasi dengan stategi yang tepat. Konflik sendiri bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Dengan strategi penyelesaian konflik yang tepat, pihak konflik dapat memperoleh dampak positif terutama terhadap selamatnya hubungan kekerabatan dalam taneyan lanjang itu sendiri. Fokus dalam penelitian ini adalah: (1) Bentuk konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, (2) Motif dan sumber penyebab konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, (3) Pihak-pihak yang terlibat konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, (4) Bentuk-bentuk strategi penyelesaian konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang, dan (5) Dampak-dampak yang timbul dari penerapan strategi penyelesaian konflik pembagian harta warisan yang dilakukan antar kerabat dalam taneyan lanjang. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif berperspektif etnografi dengan model penelitian studi kasus. Berdasarkan teknik purposive sampling, dipilih tiga orang untuk menjadi subyek penelitian. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) Wawancara mendalam, dan (2) Observasi nonpartisipan. Data yang diperoleh dianalisis secara constant comparative method. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah: (1) Ketekunan pengamatan, (2) Generalisasi Empiris, (3) Triangulasi sumber dan, (4) Kecukupan referensial. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) Bentuk konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang terdiri dari dua bentuk konflik yaitu (a) Konflik dengan saudara kandung yang terjadi pada dua subyek penelitian, yaitu pada kasus subyek 1 dan kasus subyek 2. Pada kasus subyek 1, konflik terjadi akibat pengalihan rumah warisan kakek, yang semula ditempati subyek kemudian dialihkan pada kakak subyek. Pada subyek 2, konflik diawali oleh permintaan kakak subyek agar anaknya yang akan menikah menempati rumah peninggalan orangtua mereka yang saat itu ditempati oleh subyek. Adapun subyek diminta untuk pindah dan tinggal bersama saudara yang lain, (b) Konflik dengan keponakan, konflik ini terjadi pada subyek 3, konflik diawali dari gugatan pihak keponakan untuk meminta harta warisan yang telah dihibahkan oleh subyek; (2) Motif dan sumber penyebab konflik pembagian harta warisan antar kerabat dalam taneyan lanjang diinisiasi oleh satu motif yaitu motif penguasaan harta warisan oleh salah satu pihak kerabat yang dalam hal ini bersumber dari faktor (a) Sistem pembagian yang tidak transparan dan cenderung diputuskan secara sepihak, (b) Tidak adanya bukti secara tertulis yang sah secara hukum, (c) Ketidakadilan pembagian warisan; (3) Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang meliputi (a) Taretan dhalem meliputi ibu, suami, saudara kandung dan paman subyek. Taretan dhalem terlibat pada semua kasus subyek yaitu, pada subyek 1, 2 dan 3, (b) Taretan jau yaitu sepupu empat generasi atau empat pupuan. Taretan jau terlibat pada kasus subyek 3, dalam hal ini ia berperan sebagai pihak penengah konflik dan (c) Oreng lowar kyai dan kepala desa setempat. Oreng lowar terlibat pada kasus subyek 3, yang berperan sebagai pihak saksi pada keputusan hasil rundingan pada kasus subyek 3; (4) Bentuk-bentuk strategi penyelesaian konflik yang digunakan subyek penelitian dalam konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang adalah (a) Yielding, dilakukan oleh subyek 1 dengan tujuan untuk menyelamatkan hubungan kekerabatan dengan saudara kandung daripada mempertahankan aspirasinya (b) Contending- withdrawing, terjadi pada subyek 2, pada awalnya kedua pihak saling mempertahankan aspirasi masing-masing, kemudian berakhir dengan dengan saling menarik diri, (c) Contending -problem solving, tahapan ini dilalui oleh subyek 3. Pada awal konflik, kedua pihak saling bersikeras pada aspirasinya masing-masing, namun intervensi pihak ketiga penengah konflik berhasil dilakukan, pada akhirnya dapat diambil keputusan yang dapat diterima oleh kedua pihak yang bertikai ; (5) Dampak-dampak yang timbul dari penerapan strategi penyelesaian konflik pembagian harta warisan dalam taneyan lanjang antara lain dapat (a) Mempererat hubungan kekerabatan, hal ini terjadi pada subyek 3, (b) Keretakan hubungan kekerabatan, hal ini terjadi pada subyek 2, (c) Perubahan sikap yaitu pemisahan ruang dapur, terjadi pada subyek 1 dan 2, dan soker, terjadi subyek 2 dan 3, (d) Kerusakan harta benda, hal ini terjadi pada kasus subyek 2. Saran yang diajukan oleh peneliti adalah: Perlunya mempersiapkan hal kewarisan, pihak terkait dalam hal ini pemilik warisan ataupun pewaris dapat melakukan pencatatan mengenai warisan yang dimilikinya yang sah secara hukum. Adapun pihak pemerintah terdekat, yaitu aparat desa dapat mengkoordinasikan cara-cara pelaksanaan pencatatan yang benar, sosialisasi mengenai pentingnya pencatatan bisa dilakukan dalam program-program musyawarah desa. Sebagai figur yang sangat berpengaruh pada masyarakat Madura, kyai dalam hal ini dapat menjembatani dan memberikan solusi-solusi yang tepat pada kasus-kasus konflik yang terjadi. Keterbatasan dalam penelitian yang hanya sampai pada tujuan deskriptif-interpretif pada strategi penyelesaian konflik dapat dikembangkan dengan penelitian lebih lanjut dan mendalam dengan tujuan kritis untuk mengusahakan transformasi personal dan sosial yang mengarah pada transformasi konflik dengan menggunakan teknik snowball, dengan tujuan dapat memperkaya informasi mengenai informan penelitian.

Penerapan model pembelajaran kooperatif team games Tournament (TGT) untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa biologi SMA Negeri 10 Malang / Martha Christina

 

Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif model Team Games Tournament (TGT), motivasi belajar, aktivitas belajar Berdasarkan hasil observasi awal dengan guru mata pelajaran biologi kelas XI IPA 3 SMA Negeri 10 Malang diketahui bahwa SMA Negeri 10 Malang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan metode yang digunakan sudah bervariasi mulai dari belajar kelompok (10%) dan praktikum (10%), namun guru masih sering menggunakan metode ceramah. 80% peran guru masih dominan dalam proses pembelajaran sehingga siswa menjadi pasif dan tidak terlibat langsung dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan pengalaman peneliti selama menjadi guru PPL SMA Negeri 10 Malang, kelas XI IPA 3 menunjukkan bahwa siswa kurang tertarik terhadap pembelajaran biologi. Ketidaktertarikan siswa dapat dilihat dari suasana kelas maupun aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Siswa sering berbicara sendiri, tidak memperhatikan penjelasan guru, dan bersikap pasif sehingga suasana kelas menjadi gaduh. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa rendah sehingga perlu ada variasi model pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas belajar siswa. Team Games Tournament (TGT) sebagai salah satu model pembelajaran yang menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif diharapkan dapat memotivasi siswa agar dapat lebih aktif meskipun mereka bekerja dalam bentuk kelompok. Setiap anggota kelompok dalam TGT berjuang demi kelompoknya agar dapat bersaing untuk memperoleh penghargaan sedangkan masing-masing anggota kelompok juga saling mendukung sehingga dengan TGT dapat terjalin kerjasama dan kolaborasi yang baik dan dapat menghindarkan siswa bersikap pasif dalam kelompok. Melalui pembelajaran yang menyenangkan, diharapkan siswa akan lebih termotivasi dalam belajar sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan hasil belajarnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa SMA Negeri 10 Malang. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus tindakan yang terdiri dari 4 kali pertemuan. Setiap siklus meliputi tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 10 Malang semester genap tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 39 siswa dengan materi Sistem Reproduksi. Pengambilan data dilaksanakan bulan Maret-Mei 2010. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi motivasi siswa, lembar observasi aktivitas siswa, lembar observasi kegiatan guru, dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif dan teknik persentase. ii Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa biologi SMA Negeri 10 Malang. Hasil pembelajaran dilihat dari keseluruhan aspek motivasi belajar secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 11,62% yaitu dari 72,64% pada siklus I menjadi 84,26% pada siklus II. Aktivitas belajar siswa secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 22,98% yaitu dari 62,56% pada siklus I menjadi 85,54% pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan beberapa hal sebagai berikut: (1) Guru biologi hendaknya menerapkan model pembelajaran kooperatif TGT dalam proses pembelajaran karena dapat meningkatkan motivasi dan aktivitas siswa biologi. (2) Guru yang menerapkan model pembelajaran kooperatif TGT harus dapat lebih merata dalam mengelola kelas sehingga seluruh siswa memperoleh perhatian yang sama dan akhirnya dapat meningkatkan motivasi dan aktivitasnya dalam kegiatan pembelajaran. (3) Guru hendaknya pandai menggunakan waktu dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif TGT karena model pembelajaran ini membutuhkan waktu yang relatif lama.

Pengembangan multimedia pembelajaran interaktif mata pelajaran sains kelas V semester 2 di SDN Tisnonegaran 3 Probolinggo / Widya Dian Bestari

 

Kata Kunci: pengembangan media, multimedia, media pembelajaran, interaktif, sains, Probolinggo. Multimedia adalah perpaduan antara teks teks, grafik, sound, animasi, dan video untuk menyampaikan pesan kepada publik Sedangkan, istilah pembelajaran atau pengajaran adalah upaya untuk membelajarkan pebelajar. Multimedia pembelajaran interaktif merupakan salah satu media yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam belajar. Karena media pembelajaran yang digunakan nantinya melibatkan interaksi antara media dan siswa. Pembelajaran dengan menggunakan media interaktif berkembang atas dasar pembelajaran konvensional yang tidak bisa memenuhi kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk media pembelajaran interaktif untuk mata pelajaran Sains. Sehingga diharapkan dengan produk ini siswa lebih termotivasi dalam memahami materi pembelajaran dan ada peningkatan prestasi dalam belajar. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan pengumpulan data melalui metode tes sebagai instrumen pokok, dokumentasi, observasi, dan angket sebagai instrumen pendukung. Metode tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sains, dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pribadi dan nilai siswa, observasi dilakukan untuk mendapatkan data mengenai kondisional pembelajaran siswa, sedangkan angket digunakan untuk mengetahui pendapat pengguna tentang media pembelajaran interaktif ini dalam pembelajaran. Media pembelajaran interaktif ini divalidasikan oleh ahli materi sebanyak 2 orang, ahli media sebanyak 2 orang, dan audiens siswa sebanyak 20 orang. Setelah dianalisis media pembelajaran interaktif ini dinyatakan valid dengan hasil perhitungan ahli media 87,5%, ahli materi 92,5% dan siswa individual 82,9% serta siswa kelompok kecil 90%. Hal ini menunjukkan media pembelajaran interaktif cukup dapat memberikan efek positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa secara menyeluruh, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran interaktif sangat efektif digunakan dalam pembelajaran siswa, khususnya mata pelajaran Sains. Berdasarkan hasil penelitian ini disaran bagi pihak sekolah, hendaknya dapat lebih meningkatkan lagi pengadaan sarana pembelajaran interaktif menggunakan media ini sebagai media utama maupun tambahan dalam kegiatan pembelajaran, karena telah terbukti efektif meningkatkan hasil belajar siswa.

Penyusun sistem informasi pariwisata untuk mendukung promosi objek wisata di Kabupaten Mojokerto / Amelia Pratiwi

 

Kata Kunci: Pariwisata, Sistem Informasi Geografis (SIG) Pariwisata di Kabupaten Mojokerto sangat beragam namun masih memerlukan pengembangan terutama pada objek wisata yang mempunyai potensi dan promosi wisatanya, hal ini dikarenakan informasi tentang objek wisata tersebut masih kurang. Untuk lebih mengembangkan pariwisata di Kabupaten Mojokerto diperlukan suatu informasi yang lebih informatif sehingga dapat memberikan kemudahan bagi wisata- wan. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1)Apakah penggunaan sistem informasi pariwisata berbasis data spasial dapat membantu inventarisasi objek wisata di Kabupaten Mojokerto? (2)Bagaimana promosi objek wisata di Kabupaten Mojokerto? Penelitian ini bertujuan: (1) Melakukan inventarisasi objek wisata di Kabupaten Mojokerto. (2)Melakukan penyusunan informasi periwisata berbasis data spasial di Kabupaten Mojokerto. Ruang lingkup penelitian ini adalah objek wisata di wilayah Kabupaten Mojo- kerto. Populasi dalam penelitian ini adalah objek wisata yang ada di tiga kecamatan di Kabupaten Mojokerto yaitu Kecamatan Trawas, Kecamatan Pacet, dan Kecamatan Trowulan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dan ob- servasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis dengan SIG dan analisis deskriptif. Dalam analisis SIG peta RBI Digital 1 : 25000 terbitan BAKORSUL- TANAL tahun 2001 wilayah Kabupaten Mojokerto didigitasi ulang dan divalidasi dengan menggunakan software arcview 3.3. Peta yang sudah didigitasi ulang dan di- validasi kemudian diberi animasi menggunakan Macromedia flash. Berdasarkan hasil anaisis, objek wisata yang ada di Kabupaten Mojokerto ter- bagi atas objek wisata yang sangat berpotensi, berpotensi, cukup berpotensi dan ku- rang berpotensi. Untuk itu dalam pengembangannya perlu adanya pioritas. Selain itu juga untuk promosi yang ada di Kabupaten Mojokerto perlu adanya penyempurnaan dengan memanfaatkan aplikasi SIG yang menggunakan Arcview dan macromedia flash sehingga dapat disajikan informasi pariwisata yang cepat dan data yang dihasil- kan lebih menarik serta para wisatawan dapat dengan mudah mengakses informasi pariwisata Kabupaten Mojokerto. Saran yang dapat diberikan adalah dalam pengembangan onjek wisata sebaiknya lebih dipioritaskan pada objek wisata yang mempunyai potensi tinggi dan peningka- tan aksesibilitas, akomodasi, pengusahaan daya tarik wisata dan promosi objek wi- sata.

Penerapan diagram roundhouse melalui pembelajaran kooperatif jigsaw untuk meningkatkan kesadaran metakognitif dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri 6 Malang / Lya Ratnawati

 

Kata Kunci: diagram Roundhouse, jigsaw, kesadaran metakognitif, hasil belajar Berdasarkan observasi yang dilakukan pada tanggal 9 Maret 2010 di kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Malang diketahui sebagian besar kegiatan belajar mengajar (KBM) masih didominasi oleh guru. Hal ini disebabkan kesadaran metakognitif siswa yang rendah, selain itu sebanyak 70% siswa belum tuntas hasil belajarnya. Penelitian tentang pembelajaran yang dapat meningkatkan kesadaran metakognitif dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Malang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya dengan penerapan diagram Roundhouse melalui pembelajaran kooperatif Jigsaw. Melalui penerapan pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran metakognitif dan hasil belajar Biologi siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 2 Februari – 18 Mei 2010. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 3 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian yang digunakan dalam PTK ini siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Malang tahun ajaran 2009- 2010 yang berjumlah 27 siswa, terdiri 10 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Data penelitian ini berupa keterlaksanaan penerapan diagram Roundhouse melalui pembelajaran kooperatif Jigsaw yang diukur berdasarkan persentase keberhasilan tindakan; kesadaran metakognitif diukur menggunakan lembar inventori skala likert; dan hasil belajar yang terdiri dari dua ranah yaitu ranah kognitif dan ranah afektif, ranah kognitif yang diukur berdasarkan hasil tes setiap akhir siklus dan ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus; serta ranah afektif yang diukur berdasarkan hasil tes setiap akhir siklus dan ketuntasan belajar siswa pada masing-masing siklus. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu soal tes, lembar observasi keterlaksanaan tindakan oleh guru dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan diagram Roundhouse melalui pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan kesadaran metakognitif dan hasil belajar siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Malang. Ketuntasan klasikal kesadaran metakognitif mengalami peningkatan pada setiap siklus, siklus I 80,77%; siklus II 88,46%; siklus III 100%. Hasil belajar ranah kognitif pun mengalami peningkatan ketuntasan klasikalnya pada setiap siklus, siklus I 57,69%: siklus II 76,92%; siklus III 92,31%. Sedangkan hasil belajar ranah afektif mengalami penurunan dari siklus I 100% menjadi 88,46% pada siklus II, dan mengalami peningkatan pada siklus III 91,67%. Analisis hasil penelitian dapat disimpulkan pelaksanaan penerapan diagram Roundhouse melalui pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan kesadaran metakognitif dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA1 SMA Negeri 6 Malang. Disarankan guru perlu melaksanakan penerapan diagram Roundhouse melalui pembelajaran kooperatif Jigsaw sebagai salah satu metode alternatif pembelajaran dan perlu diadakan penelitian dengan mengukur hasil belajar ranah psikomotor.

Penerapan pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TS-TS) dengan menggunakan model sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 7 Malang pada mata pelajaran akuntansi tahun ajaran 2009/2010 / Fonin Din

 

Kata Kunci: Pembelajaran Koperatif, Modul Sebagai Media Pembelajaran, Two Stay Two Stray (TS-TS), Motivasi, Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 7 Malang diketahui bahwa motivasi belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi masih kurang, pembelajaran yang dilakukan masih cenderung konvensional dan tidak adanya sumber belajar yang mendukung sebagai media pembelajaran seperti buku penunjang ataupun LKS (Lembar Kerja Siswa). Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa serta media pembelajaran untuk mempermudah siswa memahami materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Pembelajaran yang diterapkan adalah pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TS-TS). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas XI IPS 4 SMA Negeri 7 Malang dengan menggunakan modul sebagai media pembelajaran dalam penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TS-TS). Jenis penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan 2 siklus. Tahapan pelaksanaan PTK meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Instrumen yang digunakan berupa soal tes, lembar observasi, lembar angket evaluasi diri, lembar angket modul dan wawancara. Adapun analisis data yang dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan motivasi belajar yang dapat diukur melalui 3 aspek yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek keantusiasan, (3) aspek keseriusan. Begitu pula terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa yang dapat dilihat melalui posttest siklus 1 dan posttest siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat diberikan adalah (1) guru harus memperhatikan siswa dan memberikan semangat siswa pada saat pembelajaran berlangsung, (2) dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif, hendaknya diperhatikan materi pelajaran yang akan diajarkan dan juga alokasi waktu pada saat metode kooperatif dilakukan, (3) sebelum pembelajaran dimulai hendaknya guru telah mempersiapkan alat-alat penunjang kegiatan pembelajaran.

Pengaruh persentase bioetanol ketela pada bensin dan variasi putaran mesin terhadap kebisingan mesin bensin / Chandra Bayu Fenanta

 

Kata Kunci: Persentase Bioethanol Ketela, Putaran Mesin, Kebisingan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, mentargetkan substitusi biofuel pada tahun 2024 adalah minimal 5% terhadap konsumsi energi nasional, serta Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain, menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam penyediaan dan pengembangan bahan bakar nabati, diantaranya bioetanol dan biodiesel. Penggunaan bioethanol selain ditujukan untuk mensubtitusi bensin juga dimaksudkan untuk menekan tingginya polusi suara khususnya yang disebabkan oleh kendaraan bermotor. Hal ini dipertegas Pemerintah dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.48 Tahun 1996 tentang suara yang dapat mengganggu kesehatan dan lingkungan. Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang signifikan antara campuran bioethanol ketela dengan bensin pada putaran mesin 800 rpm, 1250 rpm, 1850 rpm, 2450 rpm, 3050 rpm, dan 3650 rpm terhadap kebisingan mesin bensin. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar observasi untuk mencatat hasil pengukuran, tool set, tachometer, sound level dan mesin yang digunakan dalam penelitian ini adalah engine stand mesin bensin 4 langkah jenis Datsun sedangkan bahan yang digunakan bahan yang digunakan adalah bioethanol ketela yang dicampur dengan bensin dengan persentase 5%, 10%, dan 15%. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial (design faktorial) dan menggunakan analisis anava satu jalur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: a) Terdapat perbedaan kebisingan antara campuran bioethanol 5%, 10%, dan 15% dengan bensin pada putaran mesin 800 rpm. b) Terdapat perbedaan kebisingan antara campuran bioethanol 5%, 10%, dan 15% dengan bensin pada putaran mesin 1250 rpm. c) Terdapat perbedaan kebisingan antara campuran bioethanol 5%, 10%, dan 15% dengan bensin pada putaran mesin 1850 rpm. d) Terdapat perbedaan kebisingan antara campuran bioethanol 5%, 10%, dan 15% dengan bensin pada putaran mesin 2450 rpm. e) Terdapat perbedaan kebisingan antara campuran bioethanol 5%, 10%, dan 15% dengan bensin pada putaran mesin 3050 rpm. f) Terdapat perbedaan kebisingan antara campuran bioethanol 5%, 10%, dan 15% dengan bensin pada putaran mesin 3650 rpm. Semakin tinggi persentase bioethanol pada bensin semakin tinggi kebisingan yang dihasilkan. Kebisingan minimum yang dihasilkan bahan bakar bensin sebesar 82,0875 dB pada 800 rpm, sedangkan kebisingan maksimum yang dicapai bahan bakar 85% bensin + 15% bioethanol ketela pada 3650 rpm sebesar 99,6 dB.

Pengaruh model pembelajaran learning cycle terhadap kualitas proses, hasil belajar dan retensi hasil belajar siswa pada materi pokok asam basa kelas XI IPA SMAN 1 Indrapuri Aceh Besar / Fatimah Zahri

 

Kata kunci: Siklus belajar, proses belajar, hasil belajar, persepsi, retensi, asam- basa Materi asam basa terdiri dari banyak konsep yang berkaitan dengan konsep sebelumnya seperti disosiasi dan kesetimbangan. Topik ini juga banyak melibatkan perhitungan matematika. Kombinasi keduanya cenderung menyebabkan siswa mengalami kesulitan untuk mempelajarinya. Model pembelajaran daur belajar enam fase (LC-6) yang berorientasi pada konstruktivistik diharapkan dapat memudahkan siswa dalam mempelajari topik ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) perbedaan hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC-6 dengan siswa yang diajar dengan model konvensional, (2) perbedaan retensi hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajar LC-6 dengan siswa yang diajar dengan model konvensional, (3) kualias proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran LC-6 dan model konvensional, dan (4) persepsi siswa terhadap penerapan model pembelajaran LC-6 dan model konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan eksperimen semu. Rancangan deskriptif digunakan untuk menggambarkan kualitas proses belajar mengajar dan persepsi siswa terhadap penerapan model pembelajaran LC-6 dan model pembelajaran konvensional. Rancangan eksperimen semu digunakan untuk mempelajari hasil belajar siswa dan retensi setelah pembelajaran dengan menggunakan model LC-6 dan model konvensional. Subjek penelitian ini adalah siswa dari dua kelas XI IPA SMAN 1 Indrapuri Aceh Besar, tahun ajaran 2009/2010 yang terdiri dari 27 siswa setiap kelasnya. Salah satu dari kelas tersebut proses pembelajarannya menggunakan model LC-6 dan yang lainnya diajarkan dengan model konvensional. Uji t digunakan untuk membandingkan hasil belajar siswa dan retensi yang diperoleh dari pembelajaran dengan model LC-6 dan model konvensional. Siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC-6 dan model konvensional menggunakan buku teks kimia yang sama. Data penelitian adalah hasil belajar dan retensi hasil belajar, kualitas proses pembelajaran dan persepsi siswa terhadap pelaksanaan model pembelajaran LC-6 dan model konvensional. Data hasil belajar dan retensi dikumpulkan dengan menggunakan tes objektif yang terdiri dari 20 item. Hasil uji coba instrumen tes hasil belajar memberikan validitas isi sebesar 99,0% dan koefisien reliabilitas, diukur dengan rumus Kuder-Richardson-20, sebesar 0,64. Data proses belajar dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi dengan validitas isi sebesar 98,0%. Data persepsi siswa dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dengan validitas isi sebesar 99,7% untuk model pembelajaran LC-6 dan 99,0% untuk model pembelajaran konvensional. Temuan penelitian adalah: (1) hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran LC-6 lebih tinggi dari hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran konvensional, (2) tes retensi pertama dan kedua menunjukkan bahwa retensi siswa model pembelajaran LC-6 lebih baik daripada retensi siswa model pembelajaran konvensional, (3) kualitas proses belajar mengajar model pembelajaran LC-6 adalah lebih baik daripada model pembelajaran konvensional, (4) siswa yang diajar dengan menggunakan model LC-6 merespon positif terhadap penerapan model pembelajaran, sedangkan siswa yang diajar dengan model konvensional merespon netral terhadap model pembelajaran yang diterapkan.

Penerapan model pembelajaran team assisted individualization untuk meningkatkan keaktifan belajar geografi siswa kelas X-5 semester 2 di SMA Negeri 7 Malang / Sri Agustina

 

Kata kunci: keaktifan belajar, pembelajaran kooperatif model TAI Berdasarkan hasil observasi awal pada hari sabtu tanggal 12 September 2009 diperoleh gambaran kondisi siswa di kelas X-5 SMA Negeri 7 Malang yaitu keaktifan siswa masih tergolong rendah. Rendahnya keaktifan belajar siswa ini dilihat dari hasil perhitungan lembar observasi sebelum siklus. Kalkulasi perhitu- ngan aktivitas siswa di kelas X-5 di antaranya yaitu siswa yang tidak aktif belajar mencapai 72,22% sedangkan siswa yang aktif hanya 27,78%. Untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti mengambil langkah menerapkan model pembela- jaran Team Assisted Individualization. Tujuan penelitian ini adalah untuk me- ningkatkan keaktifan belajar geografi siswa kelas X-5 semester 2 di SMA Negeri 7 Malang dengan menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualiza- tion. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian tindakan kelas yang menuntut peneliti untuk terlibat langsung dalam proses penelitian mulai dari perencanaan, penelitian hingga pelaporan data. Kegiatan penelitian terdiri dari 2 siklus penelitian, setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dengan 4 tahapan pe- nelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi. Penelitian ini dilaksanakan di kelas X-5 SMA Negeri 7 Malang dengan jumlah siswa 36 orang, pada materi menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan muka bumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan keaktifan belajar siswa dengan peningkatan rata-rata keaktifan siswa sebesar 54,74% pada siklus I meningkat menjadi 83,33% pada siklus II. Peningkatan keaktifan juga dapat di-lihat dengan meningkatnya keaktifan kelompok siswa yaitu sebesar 47,92% pada siklus I menjadi 82,64% pada siklus II. Saran yang diajukan dalam penelitian ini yaitu: (1) bagi guru disarankan untuk menggunakan model pembelajaran TAI sebagai salah satu model pembela- jaran alternatif agar dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa, (2) guru perlu mengatur pengelolaan waktu yang tepat sehingga semua kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model TAI dapat terlaksana dengan baik, (3) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk memfokuskkan penggunaan model pembelajaran TAI dalam peningkatan keaktifan siswa untuk mengungkapkan ide/pendapat, (4) bagi peneliti selanjutnya yang berminat menggunakan pembelajaran dengan mo- del TAI agar dapat dikembangkan lebih lanjut pada materi lain dan pada mata pelajaran lain agar dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. i

Pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja (studi pada karyawan CV. Top Ten Tobacco Kediri) / Aprillia Dwi Kartikasari

 

Kata Kunci : Budaya Organisasi, Kepuasan kerja, dan Komitmen organisasional. Perkembangan dalam dunia usaha di Indonesia saat ini yang semakin cepat dan pesat berakibat juga pada berubahnya budaya. Sehingga organisasi dituntut untuk mempunyai budaya organisasi yang membedakan dengan organisasi lain yang sejenis. Percepatan perubahan lingkungan berakibat pada perubahan budaya perusahaan. Bagaimana karyawan berperilaku dan apa yang seharusnya mereka lakukan, banyak dipengaruhi oleh budaya yang dianut oleh organisasi tersebut, atau disebut dengan budaya organisasi. Kesuksesan sebuah organisasi tidak hanya didukung oleh budaya organisasinya saja tetapi juga bagaimana organisasi tersebut menumbuhkan komitmen bagi karyawan untuk mencapai tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya organisasi yang ada di CV. Top Ten Tobacco Kediri guna meningkatkan kepuasan kerja serta komitmen organisasi. Penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu budaya organisasi sebagai variabel independen, kepuasan kerja sebagai variabel intervening, dan komitmen organisasional sebagai variabel dependen. Tujuan penelitian ini diwujudkan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif guna menggetahui gambaran masing-masing variabel budaya organisasi, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS for Windows Release 12.0, untuk proses pengolahan data dan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa: (1) Pengaruh budaya organisasi terhadap kepuasan kerja b= 0,640, (2) Pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasional b= 0,297, (3) Pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen organisasional b= 0,303, (4) Pengaruh budaya organisasi terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja b= 0,490. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa: (1) terdapat pengaruh langsung positif yang signifikan budaya organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan; (2) Terdapat pengaruh langsung positif yang signifikasi budaya organisasi terhadap komitmen organisasional , (3) terdapat pengaruh langsung positif yang signifikan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasional, (4) terdapat pengaruh tidak langsung positif yang signifikan budaya organisasi terhadap komitmen organisasional melalui kepuasan kerja. Deskripsi penilitian menyatakan bahwa budaya organisasi tinggi, kepuasan kerja tinggi dan komitmen organisasional tinggi. Saran yang bisa diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh adalah: (1) Hasil analisis deskriptif yang meliputi budaya organisasi, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional digunakan CV. Top Ten Tobacco Kediri untuk lebih memperhatikan komitmen organisasional karyawan pada organisasi atau perusahaan misalnya dengan sering mengadakan suatu kegiatan yang melibatkan seluruh karyawan ikut dalam kegiatan tersebut, yang nantinya kebersamaan akan muncul pada diri karyawan. Dengan adanya rasa kebersamaan yang terjalin dapat menumbuhkan komitmen bagi diri karyawan, (2) Untuk menciptakan budaya organisasi yang kondusif sebaiknya budaya organisasi CV. Top Ten Tobacco terus meningkatkan dalam memperhatikan suatu pekerjaan , pengambilan keputusan, pertemuan rapat diusahakan tepat waktu, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta. (3) Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap komitmen organisasional. Sehingga perlu ditempuh cara-cara untuk dapat terus meningkatkan kepuasan kerja. Cara-cara meningkatkan kepuasan kerja karyawan adalah dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja karyawan yaitu faktor pegawai dan faktor pekerjaan. antara lain dengan cara member kesempatan untuk bekerja sendiri, melakukan hal yang berbeda dalam bekerja, dengan cara begitu semoga dapat menciptakan kepuasan kerja yang tinggi. (4) Hendaknya CV. Top Ten Tobacco Kediri untuk meningkatkan komitmen organisasi yang tinggi, seharusnya perusahaan harus selalu menanamkan bahwa nilai-nilai karyawan sama dengan perusahaan

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 |