Bilangan kompleks dan penerapannya
oleh Jumari

 

Pembelajaran dengan multi representasi untuk meningkatkan penguasaan konsep dan kemampuan pemecahan masalah siswa SMA pada materi Hukum II Newton / Ambar Sari

 

ABSTRAK Sari, Ambar. 2015. Pembelajaran dengan Multi Representasi untuk meningkatkan Penguasaan Konsep dan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMA pada Materi Hukum II Newton. Tesis, Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutopo, M.Si., (II) Dr. Wartono, M.Pd. Kata Kunci: pembelajaran dengan multi representasi, penguasaan konsep, kemampuan pemecahan masalah Siswa masih mengalami berbagai macam kesulitan dalam mempelajari hukum II Newton. Kesulitan yang dialami siswa ini dapat berdampak pada penguasaan konsep yang rendah. Kesulitan dalam mempelajari hukum II Newton harus segera diatasi agar siswa dapat menguasai konsep dengan baik dan dapat menerapkannya untuk memecahkan masalah. Jika selama ini siswa biasanya belajar dengan meng¬hafal rumus matematik, maka melalui pembelajaran dengan multi represen¬tasi siswa dapat belajar dengan berbagai format representasi. Diperlukan representasi lain seperti verbal, matematis, grafik, diagram benda bebas, diagram gerak dan simulasi Phet Force and Motion untuk mendeskripsi¬kan materi hukum II Newton secara lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pembelajaran dengan multi representasi dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa pada materi hukum II Newton, apa saja kesulitan yang masih dialami siswa sampai akhir pembelajaran dengan multi representasi dan sejauh mana pembelajaran dengan multi representasi dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Kemampuan pemecahan masalah mencakup kemampuan mengambil informasi, membuat representasi dan menggunakan representasi untuk memecahkan masalah. Subjek penelitian terdiri dari 24 siswa kelas X MIA 1 SMA Negeri 8 Malang. Penelitian dilaksanakan pada semester gasal tahun pelajaran 2014/2015. Instrumen penelitian berupa tes penguasaan konsep terintegrasi dengan kemampuan pemecahan masalah yang terdiri atas 6 soal pilihan ganda disertai alasan, pedoman wawancara dan lembar pengamatan pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain embedded experimental model untuk menggali secara lengkap subjek penelitian. Hasil penelitian diperoleh bahwa skor penguasaan konsep siswa meningkat dari rata-rata 33,33 menjadi 58,33 (p < 0,01) dengan d-effect size sebesar 1,34 (kategori kuat) dan N-gain sebesar 0,4 (kategori sedang). Ke¬sulitan yang masih dialami siswa sampai akhir pembelajaran dengan multi representasi berlangsung, antara lain dalam hal (1) mengidentifikasi gaya-gaya yang bekerja pada benda, (2) menentukan komponen resultan gaya, (3) menentukan besar percepatan sistem. Pembelajaran dengan multi representasi dapat meningkat kemampuan pemecahan masalah siswa dari rata-rata 1,1 mendekati level 1 (inadequate) menjadi 2,2 mendekati level 2 (need some improvement). Pem¬belajaran dengan multi representasi juga dapat mengubah siswa dari perilaku novice menjadi expert dalam memecahkan masalah hukum II Newton.

Hubungan kemampuan awal, motivasi berprestasi dan pengalaman mengajar dengan prestasi belajar mahasiswa penyetaraan D-II guru sekolah dasar DKI Jakarta tahun 1994
oleh Bitman Manullang

 

Pengaruh strategi pembelajaran biology environment technology society terhadap literasi biologi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Kota Malang / Eka Arum Sasi Mahardika

 

ABSTRAK Mahardika, Eka Arum Sasi. 2016. Pengaruh Strategi Pembelajaran Biology Environment Technology Society terhadap Literasi Biologi, Kemampuan Berpikir Kritis, dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X SMA Kota Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Hadi Suwono, M.Si, (II) Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd. Kata kunci: BETS, literasi biologi, berpikir kritis, hasil belajar. Pada abad 21, sains dan teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga mempengaruhi kehidupan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, diharapkan ada integrasi teknologi di dalam pendidikan. Berdasarkan hasil wawancara dan pretest dapat diketahui bahwa literasi biologi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMAN 7 Malang tergolong rendah. Upaya untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan perbaikan proses pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan literasi biologi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar biologi yaitu Biology Environment Technology Society (BETS). BETS mengintegrasikan biologi, lingkungan, teknologi, dan masyarakat yang dapat melatih siswa untuk memecahkan masalah dikehidupan sehari-hari. BETS memiliki tahapan identifikasi masalah/isu/pertanyaan, eksplorasi, eksplanasi dan solusi, dan refleksi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui pengaruh pembelajaran BETS terhadap kemampuan literasi biologi siswa kelas X SMA Kota Malang; 2) mengetahui pengaruh pembelajaran BETS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas X SMA Kota Malang; 3) mengetahui pengaruh pembelajaran BETS terhadap hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Kota Malang. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 7 Malang. Penentuan sampel berdasarkan uji kesetaraan dengan uji statistik menggunakan uji t. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 2 kelas yaitu kelas X.4 dan X.6 dengan jumlah 68 orang. Literasi biologi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif diukur melalui tes tulis. Ranah afektif dan psikomotor diukur berdasarkan hasil pengamatan selama kegiatan pembelajaran. Data literasi biologi, kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif dianalisis menggunakan analisis kovarian dengan bantuan Software SPSS 22.0 for Window. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ada pengaruh strategi BETS terhadap literasi biologi, persentase peningkatan kelas eksperimen 15,17% lebih tinggi dibanding kelas kontrol; 2) ada pengaruh strategi BETS terhadap kemampuan berpikir kritis, persentase peningkatan kelas eksperimen 14,51% lebih tinggi dibanding kelas kontrol; 3) ada pengaruh strategi pembelajaran BETS terhadap hasil belajar kognitif, persentase peningkatan kelas eksperimen 25,88% lebih tinggi dibanding kelas kontrol; rata-rata nilai afektif pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, persentase peningkatan pada kelas kontrol dari materi dunia tumbuhan ke materi dunia hewan lebih tinggi daripada kelas ekperimen yaitu sebesar 0,66%, persentase peningkatan pada kelas eksperimen dari materi dunia hewan ke materi ekosistem lebih tinggi daripada kelas kontrol yaitu sebesar 14,47%; nilai psikomotor kelas kontrol lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yaitu dengan selisih sebesar 2,67. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh strategi pembelajaran BETS terhadap literasi biologi, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar biologi siswa kelas X SMA Kota Malang. Saran berdasarkan penelitian yang telah dilakukan yaitu sebaiknya strategi pembelajaran BETS digunakan secara terus menerus dan berkelanjutan agar psikomotor siswa lebih meningkat dan sebaiknya guru menyiapkan alamat artikel ilmiah yang akan dibaca oleh siswa pada tahap eksplorasi agar rujukan yang dipakai siswa lebih terpercaya.

EFL students' preferences for corrective feedback in speaking instruction acrooss speaking course grades / Nurul Atma

 

ABSTRAK Atma, Nurul. 2015. Preferensi Pembelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing Terhadap Umpan Balik Korektif dalam Pembelajaran Berbicara Ditinjau dari Tingkatan Kelas Berbicara. Tesis. Program Pasca Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Utami Widiati, M.A., Ph.D., (II) Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Kata Kunci: preferensi pembelajar, umpan balik korektif, tingkatan kelas berbicara Tidak ada resep terbaik dalam menangani umpan balik korektif untuk merespon kesalahan. Meskipun demikian, guru dapat melakukan pengajaran yang lebih baik jika terlebih dahulu mengidentifikasi apa yang dibutuhkan dan disukai oleh ppembelajar dalam proses belajar dan mengajar. Oleh karena itu, penelitian ini menginvestigasi preferensi pembelajar terhadap umpan balik korektif dalam pembelajaran Berbicara yang meliputi persepsi terhadap umpan balik korektif, jenis-jenis kesalahan yang dikoreksi, waktu dikoreksi, penyedia koreksi dan jenis-jenis umpan balik korektif dengan membandingkan preferensi pembelajar berdasarkan tingkatan kelas Berbicara. Kelas Berbicara tersebut dibagi menjadi kelas Berbicara I dan kelas Berbicara III. Penelitian ini merupakan penelitian survei dalam bentuk desain cross-sectional. Terdapat 147 pembelajar tingkat prasarjana Universitas Negeri Malang yang berpartisipasi dalam penelitian ini dimana 74 dari mereka adalah pembelajar yang mengikuti pembelajaran Berbicara I (setelah ini disebut pembelajar di tahun pertama) dan 73 lainnya adalah pembelajar yang mengikuti pembelajaran Berbicara III (setelah ini disebut pembelajar ditahun kedua). Data dikumpulkan melalui angket sebagai data utama dan interview sebagai data tambahan. Data yang diperoleh dari angket dianalisis menggunakan SPSS 22 dengan menghitung persentasi dan Mann-Whitney U test. Data yang diperoleh dari interview dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil dari analisis data, ditemukan bahwa baik pembelajar di tahun pertama maupun pembelajar di tahun kedua ingin diberikan umpan balik korektif ketika mereka membuat kesalahan. Tetapi, terdapat perbedaan yang signifikan diantara keduanya dalam menyikapi hal tersebut yang mana pembelajar di tahun kedua lebih terbuka terhadap koreksi. Pembelajar di tahun pertama dan pembelajar di tahun kedua juga mengakui manfaat dari umpan balik korektif dalam proses pembelajaran. Meskipun demikian, beberapa dari mereka merasa malu ketika dikoreksi. Mengenai kesalahan yang mana yang harus dikoreksi, baik pembelajar di tahun pertama maupun pembelajar di tahun kedua ingin semua kesalahan mereka dikoreksi. Namun, pembelajar di tahun pertama lebih suka kesalahan tata bahasa selalu dikoreksi, sedangkan pembelajar di tahun kedua lebih suka jika kesalahan pelafalan selalu dikoreksi. Sehubungan dengan waktu pengoreksian, pembelajar di tahun pertama dan pembelajar di tahun kedua lebih suka dikoreksi setelah mereka selesai berbicara. Guru adalah korektor yang paling disukai oleh dua kelompok pembelajar tersebut. Akhirnya, tanpa memperhatikan jenis-jenis kesalahan yang berbeda, jenis umpan balik korektif yang paling disukai oleh pembelajar di tahun pertama dan pembelajar di tahun kedua adalah explicit feedback, sedangkan paralinguistic signal adalah jenis umpan balik korektif yang paling tidak disukai. Meskipun terdapat perbedaan dalam urutan preferensi terhadap umpan balik korektif untuk mengoreksi kesalahan tata bahasa dan kesalahan pelafalan diantara pembelajar di tahun pertama dan pembelajar di tahun kedua, mereka tidak signifikan, kecuali clarification request dan paralinguistic signal untuk mengoreksi kesalahan tata bahasa.

A Child language development on pronominals in the Indonesian language in Malang-east java a case study / oleh Tatiek Komariah Danti

 

Identifikasi variasigenetik kerbau (Bubalus bubalis) endemik lokal Kabupaten Cirebon berbasis mikrosatelit sebagai bahan ajar genetika di IAIN Syekh Nurjati Cirebon / Dede Cahyati Sahrir

 

ABSTRAK Sahrir, Dede Cahyati. 2015. Identifikasi Variasi Genetik Kerbau (Bubalus bubalis) Endemik Lokal Kabupaten Cirebon Berbasis Mikrosatelit sebagai Bahan Ajar Genetika di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Tesis, Program Studi Magister Pendidikan Biologi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. agr. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si, (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked. Kata Kunci:variasi genetik, kerbau (Bubalus bubalis), mikrosatelit,bahan ajar genetika Potensi kerbau (Bubalus bubalis) di Kabupaten Cirebon banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, diantaranya adalah pemanfaatan daging sebagai pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, pemanfaatan kulitnya sebagai bahan baku kerupuk, dan pemanfaatan kotorannya sebagai campuran pembuatan bata merah. Tingginya pemanfaatan kerbau di Kabupaten Cirebon belum diimbangi dengan pelestarian yang baik. Berita resmi statistik berdasarkan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat (2013) menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi kerbau di wilayah Cirebon mengalami penurunan sebesar 12,46% dalam rentang waktu 3 tahun terakhir, yaitu tahun 2011-2013. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya konservasi dengan mengetahui variasi genetik kerbau menggunakan penanda molekular mikrosatelit.Salah satu matakuliah yang menuntut keterampilan mahasiswa dalam penguasaan prinsip dan prosedur analisis materi genetik adalah matakuliah Genetika. Permasalahan mahasiswa dalam matakuliah Genetika adalah kebutuhan terhadap buku ajar berbasis penelitian yang berisi mengenai prinsip dan prosedur materi Genetika. Adanya buku ajar yang tersebut akan menjadikan mahasiswa mampu memiliki kompetensi yang diharapkan dalam perkuliahan Genetika baik dari kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan maupun kompetensi kinerja di laboratorium. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis keragaman fenotip dan genotip kerbau (Bubalus bubalis) endemik lokal Kabupaten Cirebon, serta menghasilkan buku ajarGenetika berdasarkan hasil penelitian identifikasi kerbau endemik lokal Kabupaten Cirebon berbasis mikrosatelit. Analisis keragaman genetik menggunakan penanda mikrosatelit pada lokus HEL 009, INRA 023 dan INRA 032. Metode penelitian yang digunakan terdiri atas 2 tahap, yaitu 1) deskriptif eksploratif dan 2) pengembangan. Pengembangan buku ajar pengantar genetika; prinsip dan prosedur ditujukan untuk dijadikan bahan ajar penunjang proses pembelajaran matakuliah Genetika di Jurusan Tadris IPA-Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebondengan mengadaptasi model R&D yang disusun oleh Dick dan Carey(Dick et al, 2009). Hasil penelitian menunjukkan terdapat variasi fenotip pada kerbau endemik lokal Kabupaten Cirebon, antara populasi kerbau di Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Pabuaran berdasarkan ciri morfologi yaitu bentuk tubuh, warna kulit tubuh, warna iris mata, bentuk tanduk, lingkar dada, tinggi pinggul, panjang badan, panjang kepala, panjang leher, dan panjang ekor. Adanya variasi genotippada populasi kerbau di Kecamatan Ciledug dan Kecamatan Pabuaran juga ditunjukkan berdasarkan frekuensi alel, nilai heterozigositas, dan PIC(Polimorfic Information Content). Pengembangan Bahan ajar berupa buku ajar “Pengantar Genetika; Prinsip dan Prosedur” menunjukan kriteria sangat layak sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai bahan ajar penunjang untuk matakuliah Genetika di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Keunggulan dari buku ini yaitu: (a)Materi yang terdapat pada buku ajar merupakan materi yang berbasis penelitian yang bersifat kontekstual dan mampu mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi keterampilannya, (b) komponen “situs terkait” yang ada pada buku ajar juga membantu mahasiswa belajar mandiri untuk memperluas wawasan dengan mengakses website yang berhubungan dengan materi dalam buku secara online, (c) dilengkapi gambar dan bagan berwarna, sehingga dapat mempermudah mahasiswa, dan (d) dilengkapi dengan asah kemampuan, evaluasi bab dan refleksi belajar, sehingga mahasiswa dapat mengukur tingkat penguasaan terhadap materi.

Peningkatan hasil belajar IPS kelas V dengan menerapkan model pembelajaran make a match di SDN Kidul dalem 2 Malang / Rifka Isnaini

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, Make A Match, Model Pembelajaran Hasil observasi menunjukkan bahwa nilai hasil belajar siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Dominasi guru dalam proses pembelajaran tersebut dapat menyebabkan siswa lebih bersifat pasif; (2) Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan sehingga mereka lebih banyak menunggu sajian guru daripada mencari, menemukan sendiri pengetahuan atau sikap dalam pembelajaran IPS. Untuk itu, perlu adanya inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu Make A Match. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Make A Match pada mata pelajaran IPS pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang dan (2) Mendeskripsikan model pembelajaran Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Menggunakan empat cara dalam pengumulan data, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran model Make A Match pada mata pelajaran IPS kelas V SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang dengan materi Menghargai Peranan Para Tokoh Pejuang dan Masyarakat dalam Mempersiapkan dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam setiap siklus ketuntasan hasil belajar pada aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan yaitu pada tahap tindakan pada siklus I 61,1% dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 100%. Ketuntasan hasil belajar pada aktivitas belajar siswa dari siklus I naik 38,9% ke siklus II. Dalam setiap siklus ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa mengalami peningkatan yaitu pada nilai awal sebelum tindakan adalah 13,7%, pada siklus I ada 48,3% dan pada siklus II ini mengalami kenaikan cukup tinggi yaitu 100%. Ketuntasan hasil belajar pada tes akhir siswa dari nilai awal ke siklus I naik 34,6% dan dari siklus I ke siklus II naik 51,7%. Saran yang diberikan hendaknya guru menggunakan strategi dan model pembelajaran yang menarik, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran Make A Match untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh pembelajaran fisika dengan model Problem Based Learning (PBL) terhadap literasi sains siswa ditinjau dari kemampuan awal / Nomika Rizqiana

 

ABSTRAK Rizqiana, Nomika. 2015. PengaruhPembelajaranFisikadengan Model Problem Based Learning (PBL) terhadapLiterasiSainsSiswaDitinjaudariKemampuanAwal.Tesis. Program StudiPendidikanFisika, PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. ArifHidayat, M. Si. (2) Dr. SupriyonoKoes H., M. Pd., MA. Kata kunci:kemampuanawal, literasisains, model problem based learning Pembelajaransains yang baikmerupakanpembelajaran yang dapatmeningkatkanpemahamandanliterasisains.Literasisainssiswa Indonesia yang rendahmenuntutpembelajaran yang mampumenciptakanlingkungan yang aktifyang dapatdigunakanuntukmelatihsiswadalammemahamidanmenguasaikonsepdalampembelajaran.Salah satu model pembelajaran yang mengedepankan proses sainsdanberbasispadamasalahadalahmodel problem based learning (PBL). Di dalam problem based learning (PBL)siswamemecahkansuatumasalahdi dalamkehidupansehari-harimelaluitahap-tahapmetodeilmiahsehinggasiswadapatmengetahuikaitankonsepfisikadenganpermasalahansehari-hari di dalamkehidupan.Penelitianinibertujuanuntukmengetahuipengaruhpembelajaranfisikadenganmodel problem based learning (PBL) terhadapliterasisainssiswaditinjaudarikemampuanawalsiswa. Penelitianinitermasukjenispenelitianquasi experimentdenganrancanganfaktorialduafaktor 2x2.Subjekpenelitianadalahsiswakelas X SMA Negeri 3 Malang.Pengambilansampeldilakukandenganmetodecluster random sampling, sehinggadidapatkankelas X MIA 6 sebagaikelaseksperimenmenggunakan model PBLdankelasX MIA 4 sebagaikelaskontrolmenggunakan model CORE. Instrumen yang digunakandalampenelitianiniterdiriatasduainstrumen, yaituinstrumenperlakuandanpengukuran.Instrumenpengukuranmeliputiteskemampuanawal, tesliterasisains, angketattitudesiswa, danlembarobservasiketerlaksanaanpembelajaran.Data dikumpulkanmelaluiteskemampuanawalsiswadanliterasisainssiswa yang telahdiujivaliditasdanreliabelitasnya.ReliabelitasAlpha Cronbachteskemampuanawaladalah 0,678 dantesliterasisainssiswaadalah 0,741.Ujiprasyaratnormalitasdanhomogenitasvariandilakukansebelumpengujianhipotesis. Data dianalisisdenganteknik ANAVA satujalurdengantarafsignifikanα= 0,05. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwa: (1) terdapatperbedaanrerataliterasisainspadapembelajaranfisikadengan model PBLdan model CORE, (2) terdapatperbedaanrerataliterasisainssiswapadasiswa yang memilikikemampuanawaltinggidanrendah, (3) adainteraksiantarapembelajarandenganmodel PBLdan model CORE dengankemampuanawaltinggidanrendahsiswaterhadapliterasisainssiswa.Saran yang dapatdisampaikanantara lain: (1) keterkaitanmasalahdenganmateri yang akandipelajarisangatmenentukanpemahamansiswa, (2) hendaknya dilakukan penelitian lanjutan mengenai pengembangan instrumen literasi sains siswa dan bagaimana efektivitasnya pada materi yang berbeda.

Studi pembentukan poliploid pada ikan mas (Cyprinus carpio Linn) ras Punten dengan kejutan suhu panas / oleh Muhammad Khalifah Mustami

 

Pengembangan media compact disk interaktif mata pelajaran IPA pokok bahasan air sub pokok bahasan air dapat berubah wujud untuk sekolah dasar kelas IV semester I oleh Solikin

 

Pengaruh model pembelajaran Think Talk Write (TTW) terhadap hasil belajar geografi siswa SMA / Ellysa Putri

 

ABSTRAK Putri, Ellysa. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW)Terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa SMA. Tesis. Pendidikan Geografi. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sumarmi, M.Pd., (II) Drs. I Komang Astina, M.S, Ph.D., Kata Kunci : Model Pembelajaran TTW, Hasil Belajar. Think Talk Write (TTW) merupakan model pembelajaran yang dapat menumbuhkembangkan kemampuan pemahaman konsep. Siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Langkah-langkah model pembelajaran TTW dimulai dari keterlibatan peserta didik dalam berpikir atau berdialog reflektif dengan dirinya sendiri (think), berbicara dan berbagi ide dengan temannya (talk), sebelum peserta didik menulis (write). Ketiga aktivitas TTW lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen 3-6 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh model pembelajaran Think Talk Write (TTW) terhadap hasil belajar geografi siswa SMA. Penelitian dilakukan di MAN Banda Aceh I tahun ajaran 2014/2015. Subjek penelitian merupakan siswa kelas X IS 2 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas X IS 1 sebagai kelas kontrol. Subjek penelitian ditentukan berdasarkan rata-rata nilai ujian akhir semester I yang mendekati sama. Rancangan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi exsperiment) dengan desain Non Equivalent Control Group Design. Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu hasil belajar dan variabel bebasnya model pembelajaran TTW. Instrumen pengukuran hasil belajar siswa menggunakan tes essay. Hasil pengukuran berupa data yang selanjutnya dianalisis menggunakan t-test dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran TTW berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. Berdasarkan selisih nilai posttest dan pretest, rata-rata gain score kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil ini membuktikan bahwa model pembelajaran TTW berpengaruh terhadap hasil belajar geografi siswa kelas X MAN Banda Aceh I. Saran yang dapat diberikan bagi guru dan peneliti selanjutnya yaitu: 1) bagi guru disarankan untuk: (a) Memotivasi siswa agar terlibat aktif dalam mengemukakan ide/gagasan pada tahap talk, sehingga keterampilan komunikasi lisan dapat meningkat; (b) Membantu siswa pada tahap write, karena siswa harus menyusun jawaban secara individu, sehinga keterampilan komunikasi tulisan dapat meningkat. 2) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk: (a) menguji pengaruh model pembelajaran TTW terhadap variabel lain serta pada lokasi, jenjang pendidikan, atau materi lain; (b) mengintegrasikan atau membandingkan membandingkan dengan model pembelajaran yang lain.

Pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial dengan leader style sebagai variabel moderating (stufdi pada manajer perusahaan asuransi di Kota Malang) / Amzad Ullalak Saputri

 

ABSTRAK Saputri, Amzad Ullalak. 2015. Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran terhadap Kinerja Manajerial dengan Leadership Style sebagai Variabel Moderating : Studi pada Manajer Perusahaan Asuransi di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si, Ak. (II) Bety Nur Achadiyah, S.Pd., M.Sc. Kata Kunci : Partisipasi Penyusunan Anggaran, Leadership Style, Kinerja Manajerial Teori kemungkinan (contingency theory) menyatakan bahwa jumlah dan sifat unit-unit organisasi serta tingkat wewenang untuk bertindak tergantung pada lingkungan dimana organisasi tersebut berada. Oleh sebab itu, hasil temuan penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tidak ada kekonsistenan antara peneliti satu dengan peneliti lainnya di dalam melihat hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Selain itu, sejak berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152/PMK.010/2012 tentang Tata kelola Perusahaan yang Baik bagi Perusahaan Perasuransian, perusahaan asuransi di Indonesia mulai mengalami perubahan. Pada Pasal 30 ayat 1 mengemukakan bahwa direksi wajib menyiapkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebagai penjabaran tahunan dari Rencana Jangka Panjang (RJP). Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk menguji kembali pengaruh partisipasi dalam penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial yang dimoderasi oleh leadership style pada perusahaan asuransi di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi dengan populasi manajer yang terlibat dalam penyusunan anggaran pada perusahaan asuransi di Kota Malang. Pemilihan sampel penelitian menggunakan teknik judgment sampling sehingga diperoleh 43 responden. Penelitian ini menggunakan alat analisis regresi linear sederhana dan Moderated Regression Analysis (MRA). Dari pengujian hipotesis didapati bahwa variabel partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja manajerial, dan variabel leadership style tidak dapat memperkuat pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Sumarno (2005), Sardjito & Muthaher (2007), Nor (2007), Rahardjo (2009), Himawan dan Ika (2010), Biduri (2011), Sarjana dkk (2012), dan Rochmawati (2014). Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu sampel penelitian hanya manajer yang bekerja di perusahaan asuransi di Kota Malang, responden penelitian adalah manajer sekaligus pelaksana anggaran, dan penelitian ini terbatas pada penggunaan teori kontinjensi sehingga ditemukan leadership style tidak dapat bertindak sebagai variabel moderasi, namun dapat bertindak sebagai variabel independen. Saran bagi manajer perusahaan asuransi di Kota Malang sebaiknya manajer menggunakan gaya kepemimpinan berorientasi pada tugas dalam menentukan anggaran yang harus dicapai bawahan agar bawahan lebih bertanggungjawab dalam mencapai target yang telah ditetapkan. Bagi penelitian selanjutnya yaitu menambah jumlah sampel penelitian, menempatkan variabel leadership style sebagai variabel independen, dan menggunakan teori lainnya.

Kajian antagonis Trichoderma spp. terhadap Collectotrichum acutatum dan Fusarium solani penyebab penyakit pada cabai rawait secara in vitro sebagai materi modul matakuliah mikologi / Husdiani Ningsih

 

ABSTRAK Ningsih, Husdiani. 2016. Kajian Antagonis Trichoderma spp. terhadap Colletotrichum acutatum dan Fusarium solani Penyebab Penyakit pada Cabai Rawit secara in vitro sebagai Materi Modul Matakuliah Mikologi. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd., (2) Dra. Dwi Listyorini, M.Si., D.Sc. Kata Kunci: Antagonisme, Trichoderma spp., Colletotrichum acutatum, Fusarium solani, Modul, Mikologi Antagonisme merupakan suatu hubungan antara kapang yang mampu menghasilkan zat atau enzim yang dapat menghambat pertumbuhan kapang patogen. Konsep ini telah dipelajari oleh mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang (UM) pada matakuliah Mikologi, namun bahan ajar yang khusus membahas mengenai antagonisme antar kapang belum tersedia. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan buku ajar berupa modul mengenai antagonisme antar kapang berbasis pada hasil penelitian eksperimen. Penelitian dan pengembangan ini mengacu pada model pengembangan Research and Developmentoleh Borg and Gall (1983). Penelitian eksperimen dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi UM. Pengumpulan data untuk pengembangan modul dilakukan dengan teknik wawancara dan angket dengan melibatkan validator ahli materi Mikologi, ahli materi Biologi, dan ahli media pembelajaran, serta mahasiswa sebagai responden uji keterbacaan modul. Hasil penelitian eksperimen menunjukkan bahwa terdapat perbedaan daya antagonis dari ketiga spesies kapang Trichodermayang digunakan. Daya antagonis tertinggi untukC. acutatum dimiliki oleh T. viride, sedangkan daya antagonis tertinggi untuk F. solani dimiliki oleh T. harzianum. Kapang Trichoderma spp. menghambat pertumbuhan kedua kapang tersebut dengan mekanisme berupa kompetisi ruang dan nutrisi, antibiosis, dan mikoparasitisme dengan menempel, membelit, dan menembus hifa kapang patogen. Hasil validasi menunjukkan bahwa modul Mikologi bersifat faktual karena disusun berdasarkan hasil penelitian eksperimen. Hasil uji keterbacaan modul Mikologi oleh mahasiswa menunjukkan bahwa konten modul mudah dipahami. Validator dan mahasiswa menilai modul dengan kriteria sangat baik dan layak digunakan pada proses pembelajaran.

Efektivitas pemungutan pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan serta konstribusinya terhadap Pensapatan Asli Daerah (PAD) Kota Malang (studi pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang tahun 2010-2013) / Narcis Asmaul Khusnah

 

ABSTRAK Khusnah, Narcis Asmaul. 2015. EfektivitasPemungutanPajak Hotel, PajakRestoran,danPajakHiburan Serta KontribusinyaTerhadapPendapatanAsli Daerah (PAD) Kota Malang (Studi Pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Malang Tahun 2010-2013).Skripsi,JurusanAkuntansi,FakultasEkonomi,UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. DodikJuliardi, S.E., M.M., Ak., (II) Dr. Sri Pujiningsih, S.E., M.Si., Ak. Kata Kunci: efektivitas, pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pendapatan asli daerah Sektor pariwisata merupakan sektor yang sangat berpotensi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah di Kota Malang. Karena pembangunanobyekwisatamaupunkawasanwisatadapatmendorongtumbuhnyaberbagaikegiatanekonomisepertijasaperhotelan, restoran, jasahiburandanrekreasi. Semakintinggiminatwisatawanterhadapfasilitas hotel, restoran, maupunhiburan yang tersediatersebut, makasemakintinggi pula pajak yang dipungutataspenggunaan hotel, restorandanhiburan. Pemerintah diharapkan mampu menggali potensi yang adasecaramaksimal demi kepentinganpembangunandaerah. Namun, selama ini target yang ditetapkantidaksesuaidenganpotensiriil di lapangan yang dapatditerimadanmasihdidasarkanataspencapaian target ataurealisasitahunsebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas pemungutan pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan di Kota Malang dengan terlebih dahulu menganalisis potensi yang seharusnya dapat diterima serta kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu metodepenelitian yang memaparkanataumenjelaskan data melaluiangka-angka. Data yang digunakanadalah data sekunder yang diperolehdari BadanPusatStatistik Kota Malang danDinasPendapatan Daerah Kota Malangdenganteknikdokumentasi. Analisis data yang digunakan meliputi analisis laju pertumbuhan, analisis potensi, efektivitas, serta kontribusi pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan terhadap pendapatan asli daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwaefektivitaspemungutanpajak hotel, pajakrestoran, danpajakhiburan di Kota Malangpada tahun 2010-2012 beradapadakriteriakurangefektif, namun pada tahun 2013 kriterianya meningkat menjadi cukup efektif. Hal ini menunjukkan bahwarealisasipenerimaanpajakdarisektorpariwisatatersebutbelummencerminkanpotensipajak yang sebenarnya. Penerimaan pajak hotel, pajakrestoran, danpajakhiburan juga dinilaikurangberkontribusi terhadap pendapatan asli daerah karenaadanyapajakdaerah lain yang memberikankontribusilebihbesar.

Pengaruh diversifikasi perusahaan, kompensasi bonus, dan profitabilitas terhadap manajemen laba (studi kasus pada perusahaan consumenr goods di BEI tahun 2012-2013 / Tri Kenyatyas Magdalena Puspa

 

ABSTRAK Puspa, T.K.M.. 2015. Pengaruh Diversifikasi Perusahaan, Kompensasi Bonus dan Profitabilitas terhadap Manajemen Laba (Studi kasus pada Perusahaan Consumer Goods di BEI Tahun 2012-2013). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (1) Hj. Yuli Widi Astuti, SE., M. Si.,Ak., (II) Dr. H. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd., M.Si., Ak. Kata Kunci : Diversifikasi Perusahaan, Kompensasi Bonus, Profitabilitas, Manajemen Laba. Manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan manajer dengan memanipulasi atau mengatur laba yang tersaji pada laporan keuangan untuk mendapatkan kepercayaan para pengguna laporan keuangan agar tetap berinvestasi.Manajemen laba sering terjadi pada perusahaan-perusahaan Indonesia. Menurut hasil pemeriksaan Bapepam-LK hingga tahun 2012, Bapepam-LK telah melakukan pemeriksaan atas 165 kasus dugaan pelanggaran di bidang pasar modal dan melakukan penyidikan terhadap 12 kasus dugaan tindak pidana di bidang pasar modal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh antara variabel diversifikasi perusahan, kompensasi bonus dan profitabilitas terhadap manajemen laba. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa informasi mengenai lokasi entitas anak perusahaan, jumlah jenis usaha anak perusahaan, besar kompensasi bonus manajer, dan persentase profitabilitas perusahaan yang bersumber dari laporan keuangan dan Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Consumer Goods yang terdaftar di BEI periode 2012-2013 sebanyak 38 perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 21 perusahaan dengan periode 2 tahun. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria (1) Perusahaan listing di BEI pada tahun 2012-2013, (2) Perusahaan mempunyai entitas anak perusahaan, (3) Perusahaan harus mendapatkan laba dua tahun berturut-turut. Analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda. Uji regresi linear berganda digunakan untuk menguji pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial diversifikasi operasional tidak berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan diversifikasi geografis berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba, lalu kompensasi bonus tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan, dan profitabilitas tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap manajemen laba. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan variabel lain yang mempengaruhi manajemen laba berdasarkan penelitian terdahulu seperti adanya opsi saham, corporate governance, status internasional, dan pajak penghasilan perusahaan. Serta menambah periode penelitian dan jumlah sampel agar hasil penelitian lebih baik.

Pengaruh penerapan model project based learning terhadap sikap dan hasil belajar akuntansi siswa di SMK Islam Kota Batu / Pamela Oktaviani H.P.

 

ABSTRAK Oktaviani, Pamela H.P. Pengaruh Penerapan Model Project Based Learning Terhadap Sikap dan Hasil Belajar Akuntansi Siswa di SMK Islam Kota Batu. Skripsi, Program Studi S1Pendidikan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Dr.Suparti, M.P., (II) Dr.Hj.Endang Sri Andayani, S.E.,M.Si.,Ak. Kata Kunci : Project-based-learning, sikap belajar, hasil belajar, akuntansi Pada penelitian ini, model Project Based Learning diuji cobakan pada siswa SMK, hal ini dikarenakan karakteristik lulusan SMK dituntut tidak hanya paham secara konsep tetapi juga secara praktek. SMK yang dipilih sebagai subjek dan objek pada penelitian ini adalah SMK Islam Kota Batu. Materi yang digunakan adalah materi seputar penyusunan laporan keuangan, materi ini dianggap relevan diterapkan menggunakan bantuan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model Project Based Learning terhadap sikap dan hasil belajar siswa Akuntansi di SMK Islam Batu. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan desain pretest-posttest group design dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan simple random sampling pada siswa XI program keahlian keuangan SMK Islam Kota Batutahun pelajaran 2014/2015. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji T (Independent Samples T-test) dan Uji Mann Whitney. Berdasarkan hasil analisis data maka dapat disimpulkan (1) terdapat pengaruh sikap belajar siswa yang diberi perlakuan model Project Based Learning dengan siswa yang tidak diberi perlakuan model Project Based Learning), (2) terdapat pengaruh hasil belajar siswa yang diberi perlakuan model Project Based Learning dengan siswa yang tidak diberi perlakuan model Project Based Learning Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan (1) pemilihan materi yang akan digunakan disesuaikan dengan karakteristik proyek, (2) penyusunan perangakat pembelajaran dan pedoman penilaian harus disiapkan lebih matang, (3) pada tahap monitoring, sebaiknya guru juga memiliki pedoman dalam mengukur kemajuan proyek milik siswa.

Perbedaan fluktuasi harga saham antara perusahaan penerima dan non penerima isra dan iqa pada perusahaan yang lsiting di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2013 / Malii Hatul Muyassaroh

 

ABSTRAK Muyassaroh, MaliiHatul. 2015. PerbedaanFluktuasiHargaSahamAntara Perusahaan Penerima Dan Non Penerima ISRA Dan IQAPada Perusahaan Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2013.Skripsi, JurusanAkuntansi, FakultasEkonomi, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Tuhardjo, S.E., M.Si., Ak, (II) Dr. H. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd., M.Si., Ak. Kata Kunci: Fluktuasi Harga Saham, ISRA, IQA, Bursa Efek Indonesia Banyakperusahaanmengikutiajangpenghargaan.Penghargaan yang diberikankepadasuatuperusahaandengansendirinyaakanmemberikanmasukankepadapihakterkaittermasuk investor tentangapa yang telahdilakukanolehperusahaan. Kualitassuatuperusahaanjugadapatterlihatdariadanyapenghargaan yang telahditerima yang bersangkutan.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengumuman penghargaan berupa ISRA maupun IQA pada perusahaan yang listing di bursa Efek Indonesia tahun 2012-2013terhadapfluktuasihargasahamantaraperusahaanpenerimadan non penerima. Sampel yang terambilsejumlah 56 perusahaan yang terdiridariperusahaanpenerimapenghargaandan non penerimapenghargaan.Periodepenelitianselamasebelashariyaitulimaharisebelum, saatdan lima harisesudahpenghargaan. Data yang digunakanadalah data sekunderyaitu data sahamharian yang diperjualbelikan di Bursa Efek Indonesia. Metode yang digunakandalampenelitianiniadalah event study yang akanmengamatipergerakanhargasaham di pasar modal di sekitartanggalpengumuman. Metodepengujianmenggunakanindependent sample t-test.Pengujiandilakukandenganmelakukanujibedaantarafluktuasisahampenerimapenghargaandan non penerimapenghargaan. HasilPenelitianinimenunjukkanbahwapengumumanpenghargaanberupa ISRA 2012 maupun 2013 berpengaruhterhadaphargasahamperusahaanpenerimapenghargaan. Hal inidibuktikandenganadanyaperbedaanfluktuasihargasahamantaraperusahaanpenerimadan non nonpenerima.Penghargaan IQA memberikanhasil yang berbedaterhadaphargasahamperusahaanpenerimadan non penerima.Hargasahamperusahaanpenerimacenderungtetapdisekitartanggalpengumumansehinggamenyebabkantidakadaperbedaanfluktuasihargasahamantaraperusahaanpenerimadan non penerima.Disarankanbagipenelitianselanjutnyauntukmemperluastahunpengamatansehinggasampel yang terambillebihbanyakdanmewakiliseluruhjenisindustri yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Hubungan antara tingkat pendidikan, masa kerja dan prestasi terhadap sistem angka kredit dengan unjuk kerja penyuluhan keluarga berencana di Jawa Timur / oleh Qusyairi

 

Penerapan model pembelajaran kooperatif time token arends untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Jatimulyo 01 Malang / Muhammad Fitra Rasyadianto

 

Kata Kunci: Kooperatif Time Token Arends , Aktifitas, Hasil Belajar, PKn. Berdasarkan Hasil observasi awal ditemukan bahwa di SDN Jatimulyo 01 Kecamatan Lowokwaru Kota Malang, khususnya pada kelas IV belum pernah menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Time Token Arends dalam pembelajaran PKn. Guru dalam melaksanakan proses pembelajaran cenderung menggunakan cara lama yaitu dengan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Kooperatif Time Token Arends; 2) mendeskripsikan penerapan pembelajaran Kooperatif Time Token Arends terhadap peningkatan aktivitas siswa; 3) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Kooperatif Time Token Arends terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang pada matapelajaran PKn. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 (dua) siklus. Subyek penelitian ini adalah 16 siswa kelas IV SDN Jatimulyo 01. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Adapun teknik untuk menganalisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kualitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model Kooperatif Time Token Arends pada pokok bahasan globalisasi dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Jatimulyo 01. Untuk aktivitas siswa dapat terlihat dari skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa disiklus I sebesar 73,5 dan pada siklus II skor rata-rata yang diperoleh meningkat menjadi 81,1. Selain itu keaktifan siswa dapat dilihat saat melakukan diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pra tindakan yaitu 57,37 dengan ketuntasan belajar kelas 31,25%, dan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif time token arends pada siklus I rata-rata hasil belajar meningkat menjadi 72,12 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 75%. Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan rata-rata hasil belajar menjadi 76,9 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 87,5% meskipun ada 2 siswa atau (12,5%) yang belum mencapai ketuntasan belajar secara individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 87,5%. Peneliti menyarankan kepada guru agar menerapkan model pembelajaran kooperatif time token arends pada mata pelajaran PKn dengan kompetensi yang lain. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan bandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik.

Pilihan kode dosen dalam proses belajar-mengajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin / oleh H. Juairiah

 

Perbedaan prestasi belajar KKPI dengan metode pembelajaran tutor sebaya dan ceramah bermakna pada siswa kelas XI di SMK Negeri 1 Tanggul Kabupaten Jember / Mahsun Huda

 

Pengembangan pembelajaran keramik jurusan pendidikan seni rupa dan kerajinan FPBS IKIP MALANG
oleh Purwatiningsih

 

Kompetensi guru teknik mesin dalam mengelola sarana dan prasarana praktik permesinan pada STM Negeri di Jawa Timur / oleh Yoto

 

The Students ability in writing business letters at banking department, facluty of economics, Tridinanti Univeristy Palembang / by Rusman

 

Peningkatan kualitas pembelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya melalui penerapan pendekatan kontekstual pada siswa kelas V di SDN Pesanggrahan 02 kota Batu / Laras Wulandari

 

Kata Kunci: Peningkatan, Hasil Belajar, IPA, Pendekatan kontekstual Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu pada waktu pembelajaran IPA di dapatkan fakta bahwa siswa kurang tertarik pada pembelajaran, siswa terlihat pasif, tanpa adanya pengamatan, percobaan, diskusi kelompok selama pembelajaran, dan rendahnya hasil belajar siswa. Guru hanya menggunakan metode ceramah, dan penugasan sehingga guru yang berperan aktif menyampaikan materi dalam pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut perlu diadakan perbaikan melalui penerapan pendekatan kontekstual materi Sifat-sifat cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendiskripsikan penerapan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya siswa kelas V di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, (2) Mendiskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa terhadap penerapan pendekatan kontekstual pada mata pelajarn IPA materi sifat-sifat cahaya kelas V di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, (3) Mendiskripsikan hasil belajar siswa terhadap penerapan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya siswa kelas V di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2011 sampai 17 Maret 2011. Subyek dalam penelitian ini yaitu siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu, dengan prosedur (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu dapat dilihat pada siklus I rata-rata nilai 88,53 pada siklus II rata-rata nilai 94,15. Hal ini ditandai dengan keberanian siswa bertanya, mengemukakan pendapat dan dapat membuat kesimpulan pembelajaran. Peningkatan rata-rata aktivitas siswa dari siklus I dengan rata-rata nilai 55 meningkat pada siklus II dengan rata-rata nilai 78. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II yaitu dari nilai pra tindakan 60, dengan ketuntasan belajar 25% meningkat pada siklus I 66,25 dengan ketuntasan 30%, dan pada siklus II meningkat menjadi 77,5 dengan ketuntasan belajar 85%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kualitas pembelajaran siswa kelas V SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari- hari siswa dengan kegiatan pengamatan, percobaan, diskusi kelompok, membuat karya sederhana sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kemampuan reseptif dan produktif terhadap kata-kata pungutan asing dalam bahasa Indonesia mahasiswa S-1 program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia PTS yang berada di wilayah eks-karesidenan Madiun / oleh Mudjiyono

 

Beberapa ragam bahasa pilihan pembicara berdasarkan konteks pembicaraan antara pembicara dengan lawan bicara pada masyarakat tutur jawa di kotamadya Surakarta / oleh Siswo Sugiarto

 

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model inkuiri yurisprudensi pada siswa kelas V SDN Sidodadi 02 Kabupaten Blitar / Imam Safii

 

Kata Kunci: hasil belajar, PKn, model Inkuiri Yurisprudensi Penelitian ini berlakang belakang adanya kualitas pembelajaran di kelas VA SDN Sidodadi 02 Kabupaten Blitar yang relatif rendah. Pembelajaran yang masih terpusat pada guru, guru masih tergantung pada buku teks, guru masih banyak menggunakan cara-cara lama, dan keaktivan siswa dalam belajar juga masih rendah. Hal ini terlihat dari 18 siswa yang mendapatkan nilai di atas 70 hanya 7 siswa (39%). Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran di kelas VA yang ditandai dengan pembelajaran yang menerapkan model Inkuiri Yurisprudensi, pembelajaran yang lebih terpusat pada siswa, guru tidak tergantung pada buku teks, situasi pembelajaran yang kondusif, dan terjadi peningkatan keaktivan dan kreatifitas siswa. Untuk mencapai tujuan di atas, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model spiral. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sidodadi 02 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar dengan subjek penelitian siswa kelas VA. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, angket, dokumentasi, dan tes. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, diperoleh peningkatan kualitas proses dan hasil belajar PKn di kelas VA. Peningkatan kualitas proses terlihat dari nilai rata-rata aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dari siklus 1 yaitu 64,5 meningkat menjadi 96 atau presentase ketuntasan 28% meningkat menjadi 83% pada siklus 2. Dari 5 siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 meningkat menjadi 15 siswa. Sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 yaitu 74 meningkat menjadi 97 atau presentase ketuntasan 55% meningkat menjadi 100% pada siklus 2. Dari 12 siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 meningkat menjadi 18 siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Inkuiri Yurisprudensi dapat meningkatkn kualitas proses dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PKn pada Standar Kompetensi 4, yaitu menghargai keputusan bersama. Untuk itu, hendaknya para guru menerapkan model Inkuiri Yurisprudensi kepada siswa supaya hasil yang diperoleh dapat maksimal/meningkat.

Pengembangan bahan ajar interaktif kimia berdasarkan metode penemuan terbimbing dan model plomp untuk mata pelajaran kosmetika pada kelas X SMK Program Keahlian Tata Kecantikan / Sri Endang Hidajati

 

Program Studi Pendidikan Kimia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof Suhadi Ibnu, MA, Ph.D., (2) Dr Subandi, M.Si. Kata kunci: bahan ajar interaktif kimia, penemuan terbimbing, model Plomp, program keahlian tata kecantikan. Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam, dan termasuk mata pelajaran kelompok adaptif yang berfungsi untuk memberikan dasar pengetahuan dalam memahami mata pelajaran produktif. Dalam program keahlian tata kecantikan, kimia diperlukan dalam mata pelajaran kosmetik. Permasalahannya adalah bahwa pembelajaran kimia yang selama ini berlangsung tidak terkait dengan kompetensi keahlian siswa. Disamping itu, belum ada bahan ajar kimia yang memadai dari segi keluasan, penyajian, kedalaman, dan kesesuaian dengan kompetensi keahlian Tata Kecantikan. Situasi ini menyebabkan minat belajar siswa terhadap kimia menjadi rendah dan mereka beranggapan bahwa belajar kimia tidak memberikan manfaat. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk: (1) menghasilkan bahan ajar interaktif kimia yang berhubungan dengan mata pelajaran kosmetika berdasarkan metode penemuan terbimbing dan model Plomp untuk kelas X SMK program keahlian Tata Kecantikan, (2) mengetahui kelayakan bahan ajar yang dikembangkan, (3) mengetahui keefektifan bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan pencapaian hasil belajar siswa, dan (4) mengetahui persepsi siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan. Bahan ajar yang dikembangkan adalah kimia larutan. Materi ini penting dalam mata pelajaran kosmetika. Pengembangan bahan ajar interaktif kimia didasarkan pada metode penemuan terbimbing dan model Plomp yang terdiri dari lima tahap, yaitu: (1) tahap investigasi awal, (2) tahap desain, (3) tahap realisasi/konstruksi, (4) tahap evaluasi dan revisi, dan (5) tahap implementasi. Kelayakan bahan ajar yang dikembangkan dinilai oleh beberapa pakar yang terdiri dari dua dosen kimia, satu guru IPA, dan satu guru produktif. Penilaian didasarkan pada kelayakan isi, penyajian, dan bahasa. Efektivitas bahan ajar yang dikembangkan didasarkan pada pencapaian hasil belajar siswa kelas X program keahlian Tata Kecantikan Kulit SMKN 3 Malang. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa masukan dan saran yang diberikan oleh para ahli untuk perbaikan bahan ajar yang dikembangkan. Data kuantitatif terdiri dari skor hasil belajar siswa dan skor hasil validasi bahan ajar berdasarkan standar instrumen validasi yang dirumuskan oleh BNSP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan tes hasil belajar yang terdiri dari 70 item dengan validitas isi 0,99. Persepsi siswa terhadap bahan ajar yang dikembangkan diidentifikasi dengan menggunakan kuesioner. Hasil pengembangan ini menunjukkan bahwa: (1) bahan ajar kimia yang dikembangkan terdiri dari dua kegiatan belajar di mana masing-masing kegiatan terdiri dari pendahuluan, pembelajaran dan penutup. Bahan ajar ini dirancang seperti tampilan web dan dikemas dalam CD autorun, (2) bahan ajar kimia yang dikembangkan layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran, (3) bahan belajar kimia yang dikembangkan adalah efektif berdasarkan pencapaian hasil belajar siswa karena 94,7% siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selain itu pencapaian hasil belajar kelompok siswa yang menggunakan bahan ajar kimia hasil pengembangan lebih tinggi dari pada kelompok siswa yang tidak menggunakan bahan ajar kimia hasil pengembangan, (4) siswa memberikan persepsi positif tentang bahan ajar yang dikembangkan. Berdasarkan hasil yang diberikan di atas bahwa bahan ajar interaktif kimia yang dikembangkan berdasarkan metode penemuan terbimbing dan model Plomp adalah layak untuk digunakan dalam pembelajaran pada siswa kelas X program keahlian Tata Kecantikan. Evaluasi lebih lanjut terhadap kelayakan dan keefektifan bahan ajar sebaiknya dilakukan untuk diseminasi yang lebih luas.

Makna pola asuh orang tua terhadap perkembangan sosio emosi anak di PAUD Taman Ceria Karangkates / Indah Tri Widiana

 

Kata Kunci: pola asuh orang tua, perkembangan emosi anak. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi anak. Dalam kehidupan anak tentunya keluarga merupakan tempat yang sangat vital. Anak-anak memperoleh pengalaman pertamanya dari keluarga. Dalam keluarga peranan orang tua sangatlah penting. Mereka merupakan model bagi anak. Ketika orang tua melakukan sesuatu anak-anak akan mengikuti prang tua mereka. Hal ini disebabkan anak dalam masa meniru. Orang tua yang satu dengan orang tua yang lainnya dalam mendidik anak-anak tentunya juga berbeda. Mereka mempunyai suatu gaya atau tipe-tipe tersendiri. Dan tentunya gaya-gaya tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Terutama perkembangan sosio-emosinya. Untuk itu fokus penelitian ini adalah bagaimana karakteristik pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anak, Bagaimana perkembangan emosi anak dari pengaruh pola asuh orang tua, serta bagaimanakah makna pola asuh orang tua terhadap perkembangan emosi anak. Untuk mendukung kegiatan tersebut, maka penulis juga memberikan kajian teori tentang hakekat keluarga, hakekat pola asuh orang tua, perkembangan emosi anak, serta makna pola asuh orang tua terhadap perkembangan emosi anak. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif dimana dalam penelitian ini mengutamakan kata-kata dalam pelaporannya. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak-anak PAUD Taman Ceria Karangkates yang berjumlah 4 anak. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sistem keabsahan data yang digunakan adalah trianggulasi. Hasil dari penelitian ini adalah dari subyek pertama ditemukan bahwa orang tua dari subyek pertama cenderung bersikap otoriter, hal ini mempengaruhi perkembangan emosinya anak pada subyek pertama mudah marah, mudah cemburu dll. Pada subyek kedua, orang tua cenderung bersikap permisif, hal ini mengakibatkan anaknya sulit bersosialisasi, sulit berkonsentrasi, serta sulit mengendalikan emosinya, dan semaunya sendiri. Pada subyek ketiga orang tua cenderung bersikap demokratis mengakibatkan anaknya mudah mengendalikan emosinya, dan pada subyek yang keempat orang tua sering mengancam anak dan memaksa anaknya untuk melakukan kemauan orang tua, hal ini mengakibatkan bahwa anak menjadi anak yang penakut, pendiam, tetapi disiplin. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua sangat mempengaruhi perkembangan anak terutama perkembangan emosi anak-anak. Hal ini disebabkan orang tua merupakan model bagi anak, serta pada masa anak-anak, mereka masih berada dalam fase meniru. Dan yang paling sering ditiru anak adalah orang tuanya. Adapun saran dari peneliti adalah Kepada orang tua hendaknya kita menjadi seseorang yang bisa menerima emosi-emosi anak Dan kita harus mengajari anak-anak kita bagaimana emosi yang baik dan bagaimana emosi yang harus kita kendalikan. Dengan begitu emosi-emosi anak kita dapat terbentuk dengan baik. Bagi sekolah PAUD hendaknya sekolah mempunyai program parenting agar orang tua bisa mengerti tentang perkembangan anak dan bagaimana cara mengembangkannya.Bagi Institusi terkait (Dinas Pendidikan), hendaknya memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada orang tua agar mengerti tentang pola asuh yang bermakna terhadap perkembangan anak. Bagi peneliti lanjutan, dari hasil yang diperoleh peneliti diharapkan untuk memperdalam lagi tentang makna pola asuh terhadap perkembangan-perkembangan yang lainnya. Serta memperlebar lagi daerah penelitian. Sehingga diperoleh data yang lebih sempurna.

Pengajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum 1994 pada kelas IV SD Laboratorium STKIP di Singaraja / oleh Made Pasmidi

 

Penerapan pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek / Asih Kurniawati

 

Kata kunci: Pemecahan Masalah, Hasil Belajar, Operasi Hitung Campuran. Bersamaan dengan kegiatan observasi dan identifikasi masalah yang peneliti lakukan di SDN Ngulankulon I Kabupaten Trenggalek pada hari Senin 4 Oktober 2010, Kepala Sekolah memberikan ijin kepada peneliti untuk mengadakan penelitian di kelas IV B. Berdasarkan hasil observasi dan tes awal diketahui bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika terutama dalam menyelesaikan soal cerita materi operasi hitung campuran. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita materi operasi hitung campuran yaitu dengan menerapkan pemecahan masalah dengan langkah-langkah: tahap memahami masalah, tahap menyusun rencana penyelesaian, tahap melaksanakan rencana penyelesaian masalah, dan tahap meninjau ulang hasil pelaksanaan.. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Selain itu mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tidakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan bersiklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pemecahan masalah pada pembelajaran matematika siswa kelas IV mengalami peningkatan. Pada siklus I skor rata-rata keberhasilan tindakan adalah 80 dan pada siklus II adalah 91. Selain itu hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yaitu 78 dan meningkat menjadi 89 pada siklus II. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah berhasil diterapkan dan dapat meningkatkan hasil belajar operasi hitung campuran siswa kelas IV B SDN Ngulankulon 1 Kabupaten Trenggalek. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan sebaiknya guru menerapkan pemecahan masalah dalam praktik pembelajaran di kelas. Selain itu penelitian ini dapat digunakan oleh Kepala Sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dan kualitas guru di sekolah. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan pemecahan masalah pada tempat yang berbeda.

Pengembangan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif pada sekolah dasar inklusi / Sri Joeda Andajani

 

Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr I Nyoman S Degeng, M.Pd, (II) Prof Dr I Wayan Ardhana, M.A, (III) Prof. Dr H Punaji Setyosari, M.Pd, M.Ed. Kata Kunci: Classroom Resources, Memfasilitasi Belajar Hasil observasi dari studi lapangan, menunjukkan bahwa permasalahan yang mendasar dalam kelas untuk anak hiperaktif bersama anak normal pada SD Inklusi, adalah (a) guru belum mempersiapkan diri dalam pemberian pelayanan pembelajaran, (b) persiapan perencanaan pembelajaran terfokus pada kelas dengan siswa yang homogen, (c) pemanfaatan sumber belajar sebagai media pembelajaran yang terbatas menjadikan kurang maksimal dalam pencapaian kemajuan belajar, (d) mengelola pembelajaran kelompok belum mencapai hasil terhadap perubahan perilaku belajar, dan (e) pelaksanaan penilaian yang aktif autentik masih bersifat penilaian umum dengan menyamaratakan semua siswa. Tujuan penelitian ini secara khusus, adalah (1) untuk menghasilkan prototipe model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif inspiratif menyenangkan menantang dan memotivasi, (2) menguji ketepatan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif, dan (3) menguji tingkat efektivitas dan efisiensi pengelolaan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif. Penelitian pengembangan yang diterapkan adalah model Borg & Gall (1983) melalui 9 langkah-langkah siklus. Data yang diperoleh melalui pelaksanaan evaluasi dikelompokkan menjadi 3 bagian: (1) hasil uji ahli teknologi pembelajaran dan ahli Pendidikan Luar Biasa, (2) hasil uji coba lapangan utama atau skala kecil, (3) hasil uji coba lapangan nyata atau skala besar. Pengukuran tingkat efektivitas dari hasil 2 ujicoba tersebut diperoleh data kuantitatif dan dianalisis dengan menggunakan teknik presentase. Kemudian mengukur efektivitas untuk mengetahui perubahan kemampuan sosial dan emosi dianalisis menggunakan teknik penskoran. Pengukuran tingkat efisiensi produk pengembangan model pembelajaran classroom resources, menunjukkan suatu keberhasilan apabila adanya kesesuaian untuk target yang diharapkan dengan tersedianya fasilitas belajar anak hiperaktif kelas I di sekolah dasar inklusi. Peroleh hasil pengembangan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif ini proses pengembangan, antara lain (1) desain penataan kelas yang interaktif inspiratif menyenangkan menantang dan memotivasi, (2) melakukan perencanaan pembelajaran, (3) tersedianya sumber belajar berbasis media video dan audio pembelajaran, (4) pembelajaran kooperatif tipe TAI dan guru pendamping PLB dan tutor teman sebaya, serta (5) bentuk pengembangan topik pembelajaran baik dengan pendekatan tematik maupun mata pelajaran dikemas melalui program video dan audio. Tingkat efektivitas hasil ujicoba lapangan utama atau skala kecil dalam pengelolaan model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar anak hiperaktif, dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran pada tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh”, hasil analisis data diperoleh 91,22%. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah”, hasil analisis data diperoleh 92,57%. Untuk mata pelajaran ”Bahasa Inggris” judul program ”Cardinal Number” hasil analisis data diperoleh 91,22%. Hasil ujicoba lapangan utama atau skala kecil pada 3 judul program video dan audio pembelajaran, menunjukkan bahwa anak hiperaktif mengalami perubahan perilaku belajar dalam kegiatan pembelajaran kelas. Pada perubahan kemampuan sosial dan emosi, menunjukkan hasil dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran untuk tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh” hasil analisis data diperoleh skor 24. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah” hasil analisis data diperoleh skor 25. Program video dan audio pembelajaran pada mata pelajaran bahasa Inggris, judul program ”Cardinal Number”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Hasil ujicoba lapangan nyata atau skala besar, dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran pada tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh”, hasil analisis data diperoleh 93,24%. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah”, hasil analisis data diperoleh 93,92%, Pada mata pelajaran bahasa Inggris, judul program ”Cardinal Number”, hasil analisis data diperoleh 91,89%. Hasil ujicoba lapangan nyata atau skala besar pada 3 judul program video dan audio pembelajaran, menunjukkan bahwa anak hiperaktif mengalami perubahan perilaku belajar dalam kegiatan pembelajaran kelas. Pada perubahan kemampuan sosial dan emosi anak hiperaktif, menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan program video dan audio pembelajaran dengan tema ”Diri Sendiri” judul program ”Mengenal Bagian-Bagian Tubuh”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Untuk judul program ”Tata Tertib di Rumah dan Sekolah”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Pada mata pelajaran bahasa Inggris, judul program ”Cardinal Number”, hasil analisis data diperoleh skor 25. Berdasar tingkat efektivitas pengelolaan model pembelajaran classroom resources, menunjukkan peningkatan dalam perubahan perilaku belajar dan kemampuan sosial maupun emosinya. Tingkat efisiensi, menunjukkan hasil bahwa ketersedianya model pembelajaran classroom resources untuk memfasilitasi belajar adanya kesesuaian dengan target yang diharapkan pada anak hiperaktif di sekolah dasar inklusi. Dengan demikian,model pembelajaran classroom resources untuk memfasiltasi belajar anak hiperaktif yang secara interaktif inspiratif menyenangkan menantang dan memotivasi telah berhasil dilaksanakan oleh guru kelas bersama guru pendamping PLB. Artinya, pemberian pelayanan pembelajaran difasilitasi bentuk ruangan kelas yang dilengkapi berbagai sumber belajar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak hiperaktif bersama anak normal, sehingga semua siswa mudah bersosialisasi antar teman tanpa membeda-bedakan dengan cara saling berkomunikasi, persahabatan, bekerjasama dan tolong menolong.

Hubungan antara partisipasi tutor dalam kegiatan pendidikan paguyuban tutor dengan unjuk kerja tutor kejar paket A di Jawa Timur / oleh Islahuddin

 

Partisipasi masyarakat industri terhadap pelaksanaan praktek kerja lapangan bagi siswa sekolah menengah kejuruan (suatu penelitian pada dunia usaha/industri di kodya Malang) / oleh Partono

 

Pengembangan kurikulum pelatihan magang di STM Nasional Malang jurusan bangunan, program studi bangunan gedung suatu studi berdasarkan kebutuhan dunia usaha jasa konstruksi / oleh Tri Kuncoro

 

Pengembangan paket pembelajaran bahasa Gorontalo sebagai alternatif muatan lokal untuk kelas I sekolah dasar di kotamadya Gorontalo
oleh Wenny Hulukati

 

Peningkatan hasil belajar melalui model picture and picture dalam pembelajaran IPS kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar / Rahajeng Kismaningsih

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran IPS, Model Picture and Picture Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas pembelajaran di kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar yang masih rendah. Karena proses pembelajaran guru sangat tergantung pada penggunaan buku paket, terpusat pada guru, disamping itu keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga masih rendah. Hal tersebut ditunjukkan dari sikap siswa yang pasif, kurang bersemangat, karena siswa hanya duduk, dengar dan catat sehingga timbul kejenuhan pada siswa yang berdampak pada hasil belajar siswa. Dari 23 siswa yang mencapai ketuntasan hanya 7 siswa (30%) Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penerapan model picture and picture dalam peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPS bagi kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar, (2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran IPS bagi kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflektion) dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kandangan II Kabupaten Blitar dengan jumlah siswa sebanyak 23 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penelitian ini meliputi: 1) tes, 2) observasi, dan 3) dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan, Penerapan model Picture and Picture dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Peningkatanaktivitas siswa pada pratindakan adalah 50% naik sebesar 21% pada siklus I dan 14% pada siklus II. Pada hasil belajar siswa peningkatan keberhasilan pratindakan sebesar 31% pada siklus I dan 30% pada siklus II Berdasarkan hal tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model Picture and Picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari 23 siswa yang tuntas sebesar 21 siswa atau 91% dan 2 siswa atau 9% tidak tuntas karena kelainan berfikir yang dialami.

Pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler (Studi kasus: Madrasah Ibtida'iyah Ma'arif desa Pagerwojo kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo) / Yuniawati Ningsih

 

Kata kunci: pengelolaan ekstrakurikuler, faktor penghambat, faktor pendukung Keberadaan kegiatan ekstrakurikuler diperlukan siswa sebagai media untuk mengembangkan potensi diri, selain itu diharapkan mampu mengangkat dan mengharumkan nama sekolah dengan prestasinya, khususnya prestasi non akademik. Kenyataan di lapangan, menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler mendapat proporsi yang tidak seimbang, kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung disepelekan. Perhatian sekolah-sekolah juga masih kurang serius, hal ini terlihat dari kurangnya dukungan yang memadai baik dari segi dana, perencanaan, dan pelaksanaan, serta perannya sebagai bagian dari evaluasi keberhasilan siswa. Selain itu kecerdasan manusia tidak hanya dilihat dari kecerdasan intelektual saja, tetapi juga dilihat emosionalnya, kreativitasnya,religiusnya. Keberagaman kecerdasan ini sangat mungkin tidak terakomodasi selama proses pembelajaran. Sekolah hanya mengutamakan pencapaian logicaldan mathematical intelegence. Padahal potensi anak beragam dan sangat memungkinkan kecerdasan tersebut dapat diasah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian pemahaman dan pengelolaan ektrakurikuler yang baik akan membentuk siswa yang kreatif, inovatif, dan beradab. Fokus penelitian yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler MI Ma'arif Pagerwojo yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, serta pengawasan, (2) faktor penghambat kegiatan ekstrakurikuler MI Ma'arif Pagerwojo dan cara mengatasinya, (3) faktor pendukung kegiatan ekstrakurikuler MI Ma'arif Pagerwojo dan cara memaksimalkannya. Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, sedangkan desain yang digunakan adalah desain studi kasus. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi berperanserta, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan, triangulasi, perpanjangan keikutsertaan, dan pemeriksaan teman sejawat. Berdasarkan analisis data yang sudah dilakukan, diperoleh empat simpulan sebagai berikut: (1) Perencanaan kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pengambilan keputusan diadakan ekstrakurikuler adalah berdasarkan keputusan rapat, dan banyaknya siswa yang berminat. Tujuan dan program kerja difokuskan pada kegiatan perlombaan. Pengadaan sarana dilakukan secara bertahap, apabila dana utama tidak mencukupi tambahan dananya harus mengajukan proposal dulu ke yayasan. Berkaitan dengan sumber dana utama berasal dari BOS dan infaq. Anggaran dana setiap ekstrakurikuler berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan yang diikuti ekstrakurikuler tersebut. (2) Pengorganisasian yang berkaitan dengan pemilihan personil diputuskan berdasarkan rapat dengan kriteriatertentu. Peran masing-masing personil sesuai dengan struktur organisasinya. Yayasan sebagai pelindung, kepala Madrasah sebagai penanggungjawab, Waka Kesiswaan sebagai perantara antara Kepala Madrasah dengan koordinator dan pelatih, koordinator yang menjalankan ekstrakurikuler dan pelatih membantu tugas koordinator sebagai pelaksana dalam hal memberikan pengajaran dan pelatihan. (3) Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler secara umum dilakukan rutin tiap minggu sekali, kecuali ekstrakurikuler drumband dua minggu sekali. Target pelaksanaannya secara umum difokuskan pada pencapaian prestasi non akademik melalui perlombaan yang diikutinya. Secara umum hambatan dalam pelaksanaannya dikarenakan minimnya dana, kurangnya minat siswa jika tidak ada perlombaan, dan kurangnya dukungan orangtua. Sedangkan faktor pendukung diantaranya adalah siswa yang bersemangat jika ada perlombaan atau event yang dihadiri, sarana yang memadai, dan pelatih yang profesional. (4) Pengawasan kegiatan ekstrakurikuler berkaitan dengan penilaian dari semua personil yang terlibat. Kinerja koordinator diawasi oleh Waka Kesiswaan, kinerja pelatih diawasi oleh Koordinator, dan perkembangan siswa diawasi oleh Pelatih. Semua pengawasan tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda dan pengawasannya dilakukan secara langsung namun belum ada instrumennya. Saran yang dapat dikemukakan adalah kepada Kepala MI Ma'arif Pagerwojo, hendaknya lebih meningkatkan perhatiannya terhadap pelaksanaan ekstrakurikuler, misalnya dengan turut serta melakukan pengawasan secara langsung terhadap pelaksanaan ekstrakurikuler, ikut serta memberikan masukan tentang pembuatan program kerja ekstrakurikuler. Kepada Guru Pembina Ekstrakurikuler (Koordinator), hendaknya membuat program kerja yang lebih rinci, membuat tata tertib bagi siswa dan pelatih ekstrakurikuler, serta membuat instrumen untuk pengawasan. Kepada Organisasi Ma'arif, hendaknya memberikan anggaran dana khusus bagi pelaksanaannya. Kepada Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan, hendaknya turut membantu pihak-pihak sekolah yang lain berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikulernya dengan melakukan penelitian di sekolah yang lain sehingga bisa membandingkan keadaan di lapangan dengan teori yang pernah diterima di perkuliahan. Kepada Peneliti berikutnya, hendaknya melakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler yang akan datang dengan menambah situs penelitian. Kepada Kepala Sekolah pada umumnya, hendaknya bisa mengambil hal-hal yang positif mengenai pengelolaan ekstrakurikuler di MI Ma'arif Pagerwojo yang sekiranya dapat menunjang kemajuan ekstrakurikuler di sekolahnya. Kepada Pengawas Sekolah, hendaknya turut membantu peningkatan kegiatan ekstrakurikuler dengan secara terprogram melakukan pengawasan terhadap kegiatan ekstrakurikuler pula, tidak hanya masalah pembelajaran saja.Kepada Kepala Dinas Pendidikan, hendaknya memberikan penghargaan bagi sekolah yang memiliki prestasi non akademik yang baik, sehingga bisa memotivasi sekolah untuk selalu melakukan peningkatan kegiatan ekstrakurikulernya.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui model investigasi kelompok pada siswa kelas IV SDN 02 Bangunmulyo pakel Kabupaten Tulungagung / Santi Retoningtyas

 

Kata Kunci: Peningktan hasil belajar, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), model pembelajaran Investigasi kelompok. Hasil belajar PKn dikelas IV SDN 02 Bangunmulyo kurang memuaskan, dari 20 siswa hanya 9 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan model pembelajaran Investigasi Kelompok untuk meningkatkan aktivitas siswa sehingga mencapai nilai yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran PKn melalui metode pembelajaran Investigasi Kelompok bagi siswa kelas IV SDN 02 Bangunmulyo Kabupaten Tulungagung, dan (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran Investigasi Kelompok pada pembelajaran PKn di kelas IV SDN 2 Bangunmulyo Kabupaten Tulungagung. Pendekatan yang dilakukan ini adalah pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan catatan lapangan. Analisis data hasil observasi siswa yaitu dengan mencari persentase banyaknya siswa yang mendapat skor dibagi jumlah siswa dan dikalikan 100%. Apabila hasilnaya 70% maka kegiatan yang dilakukan siswa sudah baik. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap pratindakan hanya 9 siswa atau 45% dari 20 siswa yang tuntas belajar. Setelah diterapkan model pembelajaran Investigasi kelompok pada siklus I pertemuan I meningkat 13 atau 65% siswa dari 20 siswa yang tuntas belajar. Lalu pada siklus I pertemuan II meningkat menjadi 16 atau 80% siswa yang tuntas belajar. Namun hasil tersebut masih belum sesuai dengan harapan peneliti sehingga dilakukan siklus II. Pada siklus II, siswa yang tuntas belajar mengalami kenaikan yaitu sebanyak 18 atau 90% siswa yang tuntas belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model Investigasi Kelompok menunjukkan hasil belajar siswa lebih baik dan mengalami peningkatan daripada hasil sebelummya dalam pembelajaran PKn. Untuk itu, disarankan hendaknya para guru lebih sering menerapkan model pembelajaran yang bervariasi. Dengan demikian pembelajaran akan lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa.

Penerapan metode karya wisata untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas V SDN Karang Besuki 4 Malang / Arisita Widuri

 

Berdasarkan hasil observasi permasalahan yang timbul di SDN Karangbesuki 4 Malang yaitu rendahnya hasil belajar siswa yang disebabkan oleh pembelajaran PKn yang kurang berani berkreatif, guru cenderung menggunakan metode ceramah yang menyebabkan siswa menjadi bosan dan tidak menyukai mata pelajaran PKn. Peneliti mengupayakan suatu metode yang dapat membuat siswa menyukai mata pelajaran PKn dan juga dapat meningkatkan hasil belajar PKn yaitu dengan penerapan metode karya wisata. Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki kondisi belajar tersebut dengan metode karya wisata.Salah satu upaya perbaikan kualitas pembelajaran melalui peningkatan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan akan baik apabila semua materi pelajaran dapat terserap oleh siswa dengan baik. Pembelajaran PKn di sekolah dasar merupakan pembelajaran dasar PKn sebelum ada pada jenjang selanjutnya dan ini akan berjalan sesuai tujuan apabila dilaksanakan dengan gembira dan memiliki aktifitas yang membuat anak-anak merasa terpanggil untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Aktifitas yang menyenangkan itu akan membuat siswa dapat menyerap secara optimal tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik. Metode ini lebih menekankan pada pembelajaran di luar kelas dan langsung mencari informasi yang diinginkan di tempat kunjungan. Ciri-ciri metode karya wisata antara lain adanya objek yang akan dipelajari, misal Balaikota, Objeknya berada di luar kelas dan hasil belajar PKn. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Karangbesuki 4, Malang tahun ajaran 2010/2011. Penelitian tindakan kelas berangkat dari permasalahan yang timbul pada subjek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrument wawancara, tes,dokumentasi, catatan lapangan dan observasi. Berdasarkan hasil analisis data dari penerapan metode karya wisata yang telah dilaksananan maka kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode karya wisata dapat meningkatnya keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan metode pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa.

Kemampuan guru bahasa Indonesia melaksanakan pembelajaran membaca di SMU Negeri Kotamadya Pontianak / oleh Syambasrii

 

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi guru SD dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris di SD se-kecamatan Pakel kabupaten Tulungagung
oleh Septi Ingin Palawi

 

Pendidikanm empunyaai rti pentingb agik ehidupanm anusias, ehinggan egara menempatkannymae njadis alahs atut ujuann asionalu. ntuk mewujudkan pembangunanna sionadl i bidangp endidikand iperlukanp eningkatand an p"rry"-prr**tt penyelenggaraapne ndidikann asionayl angd isesuaikadne ngan p"tt.-bungun ilmu pengetahuadna nt eknologis ertak eseniant,a happ erkembangan pesertad idik, kesesuaiadne nganli ngkunganp, erkembangamn asyarakadt,a n kebutuhanp embangunan. I penilitian ini bertuluanu ntuk mengetahuki esu-litan-kesulitayna ng dihadapi guruS D dalamm elaksurrui.upne mbelajarabna hasaIn ''ggrids i sD. untuk menjawab f'deermskarispatilfa. hadni atas,m etodey angd igunakand alamp enelitianin i adalahm etode Hasil penelitian ini di harapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk lebih meningkatkaknu alitasg urud alamm elaksanakapne mbelalarabna hasaIn ggrisd i SD Penelitianin i dilakukand i SD se-KecamataPna kelK abupatenT ulungagung, sampepl enelitianin i adalahg uru-guruS D yangt elahm emberikanp embelalaran bahasaIn ggrism ulai dari kelasI V-VI SD, sejumlah2 4 orangg uru' Hasilp enelitianin i menunjukkanb ahwad ari24 orangg uru,s ebagrabne sar guru( 68,32%om) engalamki esulitand alamm erencanakapne ngajarabna hasaIn ggris, ierutamad alamh al : l) merumuskatnu juan,2 )memahammi ateri,3 ) memilih sumber belalar/media,4m) enetapkaKn BM,-5)memiliha lat evaluasis, edangkasne bagian besarg uru( 67,16%)m engalamki esulitand alamm elaksanakapne ngajarabna hasa Inggdi, yangm eliputi: 1) menankp erhatians iswa,2 ) menimbulkanm otivasi,3 ) mimberitan acuan,4 ) membuakt aitan,5 ) menjelaskamn ateri,6 ) memberikan umpanb alik, 7) menerapkamn etodec erarnah8, ) menerapkamn etoded iskusi,9 ) menerapkamn etodet anyaja wab, 10)m enerapkamn etodek erjak elompok,I l) ,rr"runglu* inti pelajaran1, 2)m emberikantu gas,d ans ebagianb esarg uru( 58,3%) mengaiamki esulitand alamm engevaluashia silp engajarabna hasaIn ggris,y ang melif,uti: l) menentukajne nis tes,2 ) menentukabne ntukt es,3 ) menganalisisso al. 111 Dari data di atas menunjukkan b ahwap elaksanaanp embelajaranb ahasa Inggris di SD se-KecamataPn akelK abupatenT ulungagungm asihm engalami kesulitanb, aik dalamm erencanakapne mbelajarabna hasaIn ggris,m elaksanakan pembelajarabna hasaln ggris,m aupunm engevaluashia silp embelajarabna hasa Inggris.G urup engajabr idangs tudiB ahasaIn ggrisd i SD SeK ecamatanP akel Tulungagungh, arusm emiliki kemampuank husus,b aik melalui penataranl,a tihan tambahand an lokarkarya yang menitik beratkanp adak etrampilang uru padab idang studiB ahasaIn ggns

Analisis gaya dalam cerpen-cerpen Yusach Ananda / oleh Christianto Syam

 

Pengaruh jumlah tanaman perlubang dan pemberian atonik terhadap petumbuhan tanaman kangkung darat serta hubungannya dengan pelaksanaan praktikum dasar-dasar agronomi / oleh Sri Djajati

 

Pengembangan media game pembelajaran dengan model permainan ular tangga mata pelajaran bahasa inggris di SMP Negeri 4 Tulungagung / Sumarni

 

Kata kunci : Pengembangan Media Game, Permainan ular Tangga, Bahasa Inggris, Descriptive Teks, Procedure Teks, Simple Present Tense. Media game pembelajaran ular tangga dikembangkan karena untuk memberikan variasi dalam pembelajaran kelas agar pembelajaran tidak membosankan. Selain itu, siswa dapat belajar sambil bermain.Salah satu sekolah yang menjadi tempat penelitian pengembangan adalah SMP Negeri 4 Tulungagung, dalam pembelajarannya masih cenderung menggunakan metode ceramah dan menggunakan media konvensional. Salah satu mata pelajaran yang masuk dalam ujian nasional yaitu bahasa Inggris, masih belum menggunakan media berbasis komputer dan pemanfaatan komputer untuk pembelajaran masih jarang digunakan untuk mata pelajaran bahasa Inggris selain Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Selama pembelajaran bahasa Inggris, siswa masih kesulitan dalam hal kosakata, menulis kembali dalam bahasa Inggris dan mengartikan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan produk media game pembelajaran ular tangga mata pelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 4 Tulungagung untuk : (1) Meningkatkan kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata bahasa Inggris, (2) Meningkatkan kemampuan dalam menulis kembali teks dalam bahasa Inggris, (3) Meningkatkan kemampuan dalam menerjemahkan kata atau kalimat dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya. Metode pengembangan yang digunakan adalah model ADDIE dengan prosedure pengembangan yang terdiri dari 5 tahap yaitu : (1) Analyse (analisis) (2) Design (desain), (3) Development(pengembangan), (4)Implementation (implementasi), (5) Evaluation (evaluasi). Media game pembelajaran siap digunakan dalam kegiatan pembelajaran kepada siswa SMP kelas VII. Sampel yang diambil adalah siswa SMP kelas VII A dan VIIB dalam pembelajaran bahasa Inggris diSMP Negeri 4 Tulungagung. Sumber data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam Pengembangan ini menggunakan beberapa instrumen antara lain: angket (ahli media, ahli materi, siswa) dan tes (pre-test dan post-test). Teknik analisis data yang digunakan antara lain: analisis angket, interpretasi data dengan kriteria tingkat validitas dan mengolah tes hasil belajar siswa dengan menggunakan kriteria keberhasilan media game ular tangga dan hasil belajar siswa dengan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media game ular tangga. Hasil pengembangan media game pembelajaran ular tangga mata pelajaran bahasa Inggris yang telah diujicobakan kepada ahli media, ahli materi dan siswa. Hasil validasi ahli media diperoleh 94,5%, ahli materi diperoleh 100%, siswa dalam uji coba individu diperoleh hasil sebesar 87,5%, siswa dalam uji coba terbatas ( kelompok kecil) diperoleh hasil sebesar 87,8%, siswa dalam uji coba lapangan (klasikal) diperoleh hasil sebesar 87,5%, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa media game ular tangga yang dikembangkan termasuk dalam kriteria Valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran bahasa Inggris pada materi descriptive teks, procedure teks dan simple present tense di SMP Negeri 4 Tulungagung. Hasil tes belajar baik pre- test maupun post- test yang diberikan kepada siswa kelas VII di SMP Negeri 4 Tulungagung, pembelajaran dengan menggunakan media game pembelajaran ular tangga ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan media game pembelajaran ular tangga, persentase peningkatan hasil belajar pada uji coba individu sebesar 11,1%, uji coba terbatas (kelompok kecil) sebesar 10,4% dan uji coba lapangan sebesar 10,6 % . Berdasarkan hasil penelitian pengembangan tersebut, perlu dikembangkan media game untuk mata pelajaran yang lainnya dan disesuaikan dengan identifikasi kebutuhan dalam pembelajaran.

Efektivitas pelatihan asertivitas (Assertive Trainning) untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung / Amalia Fitriana

 

Kata Kunci : pelatihan asertivitas, perilaku asertif, teknik konseling Keterampilan asertif perlu dimiliki oleh siswa SMA. Namun kenyataannya banyak diantara siswa yang tidak berani untuk mengambil sikap secara tegas, mengungkapkan suatu pernyataan, pendapat, pikiran dan perasaannya secara lugas. Mereka sering bimbang dan ragu-ragu dalam memilih cara berperilaku sebagai ciri keasertifan. Salah satu pelatihan yang efektif untuk meningkatkan perilaku asertif adalah menggunakan pelatihan asertivitas. Sejauh mana keefektifannya diperlukan uji empirik melalui penelitian. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan pelatihan asertivitas (assertive training) untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung. Sedangkan hipotesis yang digunakan adalah pelatihan asertivitas (assertive training) efektif untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Populasi siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung tahun ajaran 2010/2011. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling. Jumlah subjek yang diambil sebanyak 60 siswa yang dibagi dalam 2 kelompok, kelas eksperimen dan kelas kontrol. Data diperoleh melalui subjek, menggunakan inventori perilaku asertif yang telah diuji validitasnya dengan menggunakan analisis butir dan uji reliabilitas dengan didapatkan r alpha sebesar 0.911>r tabel 0.04 dengan tingkat kepercayaan 95% . Analisis hasil penelitian adalah dengan menggunakan signifikansi statistik. Signifikansi statistik menggunakan uji t. Dari hasil penghitungan didapatkan nilai mean skor peningkatan perilaku asertif kelompok eksperimen sebesar 4,93 lebih tinggi dari pada kelompok kontrol sedangkan berdasarkan hasil uji beda (t-test) antar kelompok didapatkan nilai thitung sebesar 4,356 dengan signifikansi 0,000. Dari hasil analisis tersebut nilai thitung mempunyai signifikansi thitung kurang dari 0,05, maka dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan peningkatan perilaku asertif antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen, sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan asertivitas efektif untuk meningkatkan perilaku asertif siswa kelas X SMAN 1 Karangrejo Tulungagung. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) Bagi konselor, diharapkan dapat menggunakan pelatihan asertivitas sebagai salah satu teknik untuk memberikan layanan bimbingan kepada siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat melakukan penelitian lanjutan serupa dengan menggunakan desain eksperimen yang berbeda sehingga hasil penelitian dapat dibandingkan. Dalam penelitian ini juga hanya melakukan satu kali post test, sehingga tidak diketahui secara pasti berapa lama efek pemberian treatment. Ada baiknya jika dilakukan lebih dari satu kali pemberian post test untuk melihat tingkat efektivitas jangka panjang treatment pelatihan asertivitas terhadap peningkatan perilaku asertif subjek penelitian

Kecanduan game online siswa sekolah menengah pertama di kota Malang / Muhammad Asrori

 

Kata Kunci: Sekolah Menengah Pertama, kecanduan, game online Berdasarkan hasil observasi awal, banyak siswa Sekolah Menengah Pertama yang bermain game online. Dari keterangan subjek awal yaitu Alen diketahui bahwa penggunaan game online terbanyak adalah siswa Sekolah Menengah Pertama. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan penelitian mengenai kecanduan game online siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan jenis game online yang dimainkan, faktor-faktor yang membuat siswa sulit untuk melepaskan aktifitas tersebut, ciri-ciri siswa yang mengalami kecanduan game online, dan pengaruh game online bagi siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Subjek peneliti adalah siswa Sekolah Menengah Pertama di Kota Malang yang kecanduan game online.Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan reduction dan display. Hasil penelitian menghasilkan: banyak siswa yang memilih game jenis FPS (First Person Shooter) untuk dimainkan karena lebih menantang dan memacu adrenalin, bermain game online sebagai bentuk pelarian dari masalah-masalah yang dihadapi, bermain game online untuk mencari kepuasan, bermain game online mempengaruhi tingkah laku pemainnya, seperti agresivitas. Hasil temuan penelitian sebagai berikut: (1) jenis game online yang biasa dimainkan siswa adalah jenis FPS (First Person Shooter ) yang berisi peperangan, (2) faktor-faktor yang membuat siswa sulit untuk melepaskan aktifitas bermain game online adalah subjek merasa sudah ketagihan atau kecanduan memainkan game online, (3) ciri-ciri siswa yang mengalami kecanduan game online terbagi menjadi: salience, tolerance, withdrawal, mood modification or escape, chasing, conflic, problem dan bailout. (4) Bermain game online mempengaruhi tingkah laku pemainnya, seperti agresivitas yang semakin tinggi, kenakalan remaja, pergaulan yang semakin menyempit. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi siswa untuk tidak berlebihan dalam bermain game, siswa diharapkan menahan diri untuk bermain game online, menghindari ajakan bermain game online, mengubah perilaku bermain game online ke hal-hal yang lebih positif, mampu memilih alternatif terbaik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Konselor hendaknya mencegah siswa agar tidak kecanduan game online dengan memberikan informasi tentang game online kepada siswa yang belum mengalami kecanduan game online, konselor juga mampu memberikan layanan bimbingan kepada siswa yang telah mengalami kecanduan game online agar bisa mengurangi tingkat kecanduan yang dialami.

Nilai anak dan tanggung jawab orang tua pada anak sebagai faktor-faktor penentu terhadap sikap keluarga berencana di kelurahan Tunggul Hitam Kodya Padang / oleh Hasanuddin

 

Kondisi lingkungan perumahan desa Petungsewu kecamatan Dau kabupaten Malang / oleh Gunarti

 

Kontribusi Business Center dalam menanamkan jiwa kewirausahaan pada siswa: studi kasus di SMK Negeri 1 Singosari / Lilis Sugi Rahayu Ningsih

 

ABSTRAK N. Rahayu, Lilis Sugi. 2015. Kontribusi Business Center dalam Menanamkan Jiwa Kewirausahaan pada Siswa: Studi Kasus di SMK Negeri 1 Singosari. Tesis, Program Studi Pendidikan Bisnis dan Manajemen, Program Magister Pendidikan, Fakultas Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si, Pembimbing (II) Dr. H. AgungWinarno, M.M Kata kunci:Kontribusi Business Center, Pembelajaran Kewirausahaan,Jiwa Kewirausahaan ABSTRAK: Penjelasan dalam Panduan Pelaksanaan Business Center (2009) bidang-bidang yang dapat mendirikan business center yaitu bidang pertanian, teknik dan kelautan.SMK Negeri 1 Singosari masuk dalam salah satu bidang yang ditunjuk pemerintah untuh mendirikan business center. Konteks penelitian ini untuk meneliti kontribusi business center dalam menanamkan jiwa kewirausahaan pada siswa sesuai Panduan Pelaksanaan Business Center (2009). Sehingga, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kontribusi business center dalam menanamkan jiwa kewirausahaan pada siswa melalui aktivitas pembelajaran kewirausahaan, aktivitas bisnis, dan kendala-kendala yang dihadapi dalam mengelola business centerdi SMK Negeri 1 Singosari. Metode yang yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan studi kasus untuk menjabarkan fokus penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus untuk memfokuskan kajian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi business center yaitu, pertama. sebagai media pembelajaran bagi siswa seperti kegiatan praktikum kewirausahaan siswa, Kedua, membantu lulusan SMK untuk berwirausaha melalui kegiatan praktikum yang menanamkan jiwa kewirausahaan pada siswa, yaitu percaya diri, bertanggungjawab dan jujur, sabar dan tekun, dan berpikir untuk masa depan. Kemudian yang kurang maksimal dalam menanamkan jiwa kewirausahaan yaitu, pantang menyerah dan berani mengambil risiko, kreatif dan inovatif, dan berani memimpin. Ketiga, kontribusi business center dalam membantu siswa SMK untuk menjalankan kegiatan pembelajaran yang berorientasi bisnis melalui kegiatan praktikum kewirausahaan. Selanjutnya kendala-kendala yang dihadapi dalam mengelola business center, yaitu kegiatan pembelajaran kewirausahaan memerlukan perhatian yang menyesuaikan dengan bakat dan minat siswa. Kendala berikutnya pada kegiatan praktikum siswa mudah putus asa dikarenakan siswa tidak memiliki motivasi untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan. Kendala terakhir yaitu pada pelaksanaan kegiatan di business center kurang maksimal akibat semua guru tidak memanfaatkan business center, hanya seorang guru yang memiliki komitmen dalam pelaksanaan business center.

Pengaruh penggunaan bahan bakar solar, bio solar dan Pertamina Dex terhadap opasitas gas buang pada mesin diesel commonraol D-4D turbocharger / Andi Hidayat

 

ABSTRAK Hidayat, Andi. 2015. Pengaruh Penggunaan Bahan Bakar Solar, Bio Solar dan Pertamina Dex terhadap Opasitas Gas Buang pada Mesin Diesel Commonrail D-4d Turbocharger. Skripsi. Depertemen Teknik Otomotif. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Paryono, S.T, M.T, (II) Drs. Partono, M.Pd Kata kunci : mesin diesel, bahan bakar diesel, opasitas Penggunaan perbedaan bahan bakar dapat menyebabkan perubahan opasitas gas buang. Opasitas atau lebih dikenal sebagai kepekatan gas buang menjadi masalah serius di Indonesia. Pertumbuhan masyarakat yang terus meningkat akan memicu perkembangan jumlah kendaraan yang terus bertambah. Mesin diesel adalah kendaraan dengan tingkat opasitas tinggi jika dibandingkan mesin bensin. Sehingga harus ada penyikapan serius untuk mengurangi opasitas gas buang mesin diesel. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan bakar solar, bio solar, dan pertamina dex terhadap opasitas gas buang pada mesin diesel commonrail D-4D turbocharger. Desain penelitian ini adalah eksperimental. Bentuk rancangan dalam penelitian ini adalah rancangan faktorial. Hasilnya, data kuantitatif diperoleh dari perbedaan penggunaan bahan bakar dan putaran mesin terhadap opasitas gas buang. Analisis data dimulai dari identifikasi data dan selanjutnya menganalisis data menggunakan uji anova. Ada tiga hasil sebagai kesimpulan dalam penelitian ini. Pertama, ada perbedaan yang signifikan opasitas gas buang antara mesin diesel commonrail yang menggunakan bahan bakar solar, bio-solar dan pertamax dex. Kedua, ada perbedaan yang signifikan opasitas gas buang antara mesin diesel commonrail dengan putaran mesin rendah (1500 rpm), menengah (2000 rpm) dan atas (3000 rpm). Ketiga, terdapat interaksi yang signifikan antara penggunaan jenis bahan bakar dengan perubahan putaran mesin berkaitan dengan opasitas gas buang.

Pengembangan pembelajaran ekonomi berwawasan keindonesiaan di MAN 3 Kota Malang / Isnan Nisa Nasution

 

ABSTRAK Nasution, Isnan Nisa. 2015. Pengembangan Pembelajaran Ekonomi Berwawasan Keindonesiaan di MAN 3 Kota Malang. Tesis.Prodi S2PendidikanEkonomi, Jenjang Magister, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mit Witjaksono M.S., E.D (II) Dr. Hari Wahyono, M. Pd. Kata Kunci: pembelajaran ekonomi berwawasan keindonesiaan, pembelajarankooperatif Tujuan dari penelitian pengembanganiniyaituuntukmengembangkanpembelajaranekonomiberwawasankeindonesiaan yang di kemaskedalambukupanduan guru danbukupanduansiswa, pengembanganbukupanduanini diperuntukkanbagisiswakelas X semester 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan Design Based Research(DBR).Teknik analisis data yang digunakan adalah kuantitatifdenganteknik statistikadeskriptifdankualitatif. Berdasarkan hasil penelitianpengembanganmenunjukkan hasiltanggapanpesertadidikpadasaatujicoba di MAN 3 kota Malang sebesar 89,2%. Hal ini berarti bahwaPengembangan Pembelajaran Ekonomi BerwawasanKeindonesiaan dapat memahamkan peserta didik tentang konsep ekonomi yang sesuai dengan idiologi bangsa Indonesia terutama dapat menanamkan nilai-nilai Pancasiladan UUD 1945 Pasal 33 yaitunilaikebersamaandankekeluargaan yang didalamnyaterintegrasi pulanilaitoleransi, jujur, tanggungjawab, gotongroyongdandemokrasi.Selainitupenerapanpembelajaran kooperatifyang menerapkan pembelajaran kelompoksangatdibutuhkan agar siswa berinteraksi dengan teman yang lainsehingga dapat menstimulus siswa untuk menerapkannilaikebersamaandankekeluargaandalampembelajaran. Olehkarenaitubuku panduan pembelajaran ini dikembangkanuntukmemudahkan pendidik dalam mengajarkan nilai-nilai keindonesiaandalam materi "Permasalahan Ekonomi dan Cara Mengatasinya."

Pengembangan modul berbasis penelitian analisis aktivitas fosforilasi protein membran spermatozoa kambing untuk matakuliah Teknik Analisis Biologi Molekuler di Universitas Negeri Malang / Alif Yanuar Zukmadini

 

ABSTRAK Zukmadini, Alif Yanuar. 2015. Pengembangan Modul Berbasis Penelitian Analisis Aktivitas Fosforilasi Protein Membran Spermatozoa Kambing untuk Matakuliah Teknik Analisis Biologi Molekuler di Universitas Negeri Malang. Tesis. Jurusan Pendidikan Biologi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Umie Lestari, M.Si., (II) Dr. Murni Sapta Sari, M.Si Keywords: Modul berbasis penelitian, aktivitas fosforilasi, teknik analisis biologi molekuler Pendidikan tinggi merupakan salah satu lembaga yang berperan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan pendidikan Program Studi Biologi di Universitas Negeri Malang adalah menciptakan lulusan yang prospektif terhadap dunia sains. Matakuliah Teknik Analisis Biologi Molekuler (TABM) merupakan matakuliah keahlian dan keterampilan yang memberikan bekal bagi mahasiswa untuk menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Materi yang terdapat pada matakuliah TABM merupakan materi yang aplikatif karena dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kualitas sperma secara molekuler. Saat ini kualitas sperma secara molekuler masih sangat terbatas, kualitas sperma secara molekuler dapat diketahui dari aktivitas fosforilasi yang terjadi pada protein membran spermatozoa kambing. Peranan matakuliah TABM yang sangat aplikatif perlu didukung oleh penggunaan bahan ajar yang aplikatif pula. Hasil analisis kebutuhan yang dilakukan melalui wawancara dan pemberian angket, menunjukkan bahwa sebanyak 80% mahasiswa sangat setuju jika dikembangkan modul berbasis penelitian analisis aktivitas fosforilasi protein membran spermatozoa kambing yang memuat prinsip dan teknik analisis protein. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan modul berbasis penelitian analisis aktivitas fosforilasi protein membran spermatozoa kambing yang telah tervalidasi sehingga layak digunakan pada matakuliah TABM dan untuk mengetahui aktivitas fosforilasi pada protein membran spermatozoa kambing PE dan Boer. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan model pengembangan Borg & Gall (1983). Tahap penelitian dan pengembangan yang dilakukan dibatasi sampai lima tahap yaitu, research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, dan main product revision. Modul berbasis penelitian yang dikembangkan mengacu pada sistematika pengembangan modul menurut Depdiknas (2008) yang terdiri dari bagian pendahuluan, kegiatan pembelajaran, dan penutup. Komponen yang terdapat di dalam setiap kegiatan pembelajaran terdiri dari tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, materi, rangkuman, lembar kegiatan mahasiswa, tes formatif, umpan balik (self assessment), dan kunci jawaban tes formatif. Metode penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif yang menggunakan instrumen berupa lembar validasi. Penelitian mengenai analisis aktivitas fosforilasi protein membran spermatozoa kambing dilakukan melalui beberapa prosedur laboratorium diantaranya isolasi protein, elektroforesis SDS-PAGE, elektroelusi, dan uji aktivitas fosforilasi. Data hasil penelitian dan pengembangan berupa 1) persentase kevalidan modul yang diperoleh dari hasil penilaian oleh ahli materi, ahli bahan ajar, uji coba kelompok kecil 2) nilai aktivitas fosforilasi protein membran spermatozoa kambing. Hasil penelitian dan pengembangan berupa modul berbasis penelitian dan nilai aktivitas fosforilasi protein membran spermatozoa kambing. Hasil validasi menunjukkan bahwa persentase kevalidan modul dari ahli materi sebesar 95,40%, dari ahli bahan ajar sebesar 99,49%, dan dari uji coba kelompok kecil sebesar 86,35%. Keseluruhan persentase yang diperoleh termasuk ke dalam kategori valid. Hasil penelitian mengenai aktivitas fosforilasi protein 43 kDa menunjukkan bahwa jumlah ATP yang difosforilasi pada protein membran spermatozoa kambing PE sebesar 179 ppm, sedangkan pada kambing Boer sebesar 159,5 ppm. Unit aktivitas fosforilasi protein 43 kDa pada kambing PE sebesar 69,29 x 10-2 µmol/mL.menit, sedangkan pada kambing Boer sebesar 61,61x10-2µmol/mL.menit. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu 1) modul berbasis penelitian analisis aktivitas fosforilasi protein membran spermatozoa kambing layak digunakan pada matakuliah TABM, 2) nilai aktivitas fosforilasi protein 43 kDa pada membran spermatozoa kambing PE lebih besar dibandingkan dengan nilai aktivitas fosforilasi pada kambing Boer.

Gangguan psikiatri pada anak-anak dengan retardasi mental / oleh Triman Prasadio

 

Penerapan permainan outbound untuk meningkatkan proses dan hasil belajar dalam tema kerjasama siswa kelas I SDN Bareng 5 Malang / Suci Wilujeng Widiati

 

Kata Kunci : Permainan Outbound, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, SD Pembelajaran tematik pada kelas I di SDN Bareng 5 masih kurang efektif dan kurang dimengerti bagi siswa. Karena beberapa siswa tidak fokus dan terpusat pada saat guru menerangkan pembelajaran di depan kelas, hanya siswa yang duduk di depan dan tengah yang begitu antusias mendengarkan guru saat menerangkan pelajaran. Akibatnya beberapa siswa hasil pre test siswa kelas I siswa yang mampu mencapai ketuntasan minimal hanya 11 siswa dan yang mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal ada 25 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan permainan outbound untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam tema kerjasama siswa kelas I SDN Bareng 5 Malang; (2) Peningkatan aktivitas belajar pembelajaran PKn, Bahasa Indonesia dan matematika dalam tema kerjasama di kelas I SDN Bareng 5 Malang; (3) Peningkatan hasil belajar pembelajaran PKn, Bahasa Indonesia, dan matematika dalam tema kerjasama di kelas I SDN Bareng 5 Malang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Kehadiran dan peran peneliti bertindak sebagai instrumen utama, perencana tindakan, dan pelaksana tindakan. Subyek penelitian adalah siswa kelas I SDN Bareng 5 Kota Malang. Langkah-langkah penelitian ini adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi dan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan permainan outbound dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Permainan outbound yang diterapkan ada empat permainan yaitu permainan human scrable, karet gelang estafet pada siklus I dan permainan kotak kerjasama dan permainan angka pada siklus II. Permainan human scrable adalah permainanan yang mencari dan menempelkan huruf sesuai gambar yang ada. Permainan karet gelang estafet adalah permainan yang mengoper karet gelang dari satu siswa ke siswa yang lainnya. Permainan kotak kerjasama adalah permainan yang mencari potongan gambar (puzzle) dan potongan huruf pada kotak kemudian ditempelkan pada sterofom. Sedangkan permainan angka adalah permainan yang menghitung banyaknya gambar dan mencari huruf dan angka sesuai banyak gambar yang ada. Dalam permainan outbound terdapat keberanian, keaktifan dan kerjasama untuk melakukannya. Keberanian terlihat saat siswa mengacungkan tangan untk menjawab pertanyaan guru. Sedangkan keaktivan dan kerjasama terlihat saat siswa mencari dan menempelkan gambar, huruf dan angka. Aktivitas belajar siswa dalam tema kerjasama pembelajaran PKn, Bahasa Indonesia dan matematika dengan menggunakan permainan outbound semakin meningkat. Hal ini terbukti saat selama proses pembelajaran yaitu dari 6,33 menjadi 7,03 pada siklus I dan 7,5 menjadi 7,83 pada siklus II. Siswa yang biasanya tidak mau mendengarkan guru saat mengikuti pelajaran menjadi senang saat mengikuti pembelajaran dengan bermain outbound. Hasil belajar rata-rata kelas pada pra tindakan sebesar 55 menjadi 75,83 pada siklus I meningkat lagi menjadi 90,28 pada siklus II. Kesimpulan yang dapat diambil adalah penerapan permainan outbound dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam tema kerjasama siswa kelas I SDN Bareng 5 Malang. Saran yang dapat diberikan agar permainan outbound dapat diterapkan pada tema lainnya di kelas rendah dan pada mata pelajaran di kelas tinggi.

Persepsi guru tentang kenakalan siswa di SDN Rejoagung 3 Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang / Ganjar Setyo Widodo

 

ABSTRAK Widodo, Ganjar, Setyo. 2015. Persepsi Guru Tentang Kenakalan Siswa Di SDN Rejoagung 3 Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang. Tesis, Program Studi S2 Pendidikan Dasar Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., (II) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed. Kata Kunci: persepsi, guru, kenakalan siswa, SDN Rejoagung 3. Berdasar atas hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada berbagai sumber (guru dan masyarakat) pada tanggal 11 September 2014 sampai dengan 30 Oktober 2014 di SDN Rejogung 3, ditemukan fakta bahwa pernah terjadi perilaku mencuri uang saku yang dilakukan oleh seorang siswa terhadap teman-temannya. Guru mengungkapkan bahwa siswa SDN Rejoagung 3 sering melakukan tindakan indisipliner terhadap peraturan sekolah. Tidak hanya itu, peneliti juga menjumpai poster-poster di depan ruang kelas yang berisi anjuran untuk tidak berbuat negatif. Terakhir, peneliti menjumpai fakta bahwa latar belakang pendidikan dan pengalaman guru-guru di SDN Rejoagung 3 bermacam-macam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan rancangan studi kasus fenomenologis. Data yang akan dikumpulkan oleh peneliti yaitu berupa data fisik, tertulis, aktivitas, dan lisan. Sumber data dalam penelitian ini yaitu semua guru di SDN Rejoagung 3. Prosedur pengumpul data yang digunakan yaitu melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Prosedur analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian terhadap persepsi guru SDN Rejoagung 3 tentang kenakalan siswa yaitu: 1). Kenakalan siswa adalah perilaku menyimpang dan melanggar peraturan sekolah yang dilakukan oleh siswa, sehingga mengganggu suasana belajar dan merugikan individu lain; 2). Bentuk kenakalan siswa dikategorikan menjadi 2, yaitu kenakalan siswa berupa perilaku mengganggu dan kenakalan serius siswa. Perilaku mengganggu dipersepsikan beragam meliputi: tidak memperhatikan kerapian, tidak memperhatikan penjelasan guru, agresif; mencontek, membuat ancaman fisik dan verbal kepada guru atau siswa, mengalihkan pembicaraan dari materi pelajaran atau diskusi, tidak patuh terhadap arahan guru, Ngeyel (tetap berbicara dan tidak mengakui kesalahan), sedangkan kenakalan serius siswa meliputi: perilaku membolos dan mencuri; 3). Beragam persepsi guru menyebutkan bahwa ada 7 penyebab kenakalan siswa yaitu: kondisi fisik, kurangnya perhatian orang tua (pendidikan moral dan dukungan ekonomi), metode pembelajaran guru yang kurang bervariasi (monoton), bahasa yang digunakan guru sulit untuk dipahami siswa, faktor lingkungan yang negatif, dan materi pelajaran terlalu banyak; 4). Beragam persepsi guru mengenai cara mengatasi kenakalan siswa, yaitu: pemberian model bagi siswa, teguran verbal, sanksi fisik, perhatian khusus, memanipulasi pemberian tugas, memberikan aktivitas pengganti, memanipulasi lokasi tempat duduk, memberikan pemahaman khusus, memberikan kisi-kisi belajar, berkomunikasi dengan orang tua, memberikan peraturan, memberikan pilihan baik-buruk, pembiasan, memberikan pengalaman gagal, memberikan motivasi, berkomukasi secara pribadi dengan siswa, dan dikembalikan kepada orang tua. Peneliti memberikan saran kepada peneliti selanjutnya untuk mengkaji kenakalan-kenakalan yang belum terungkap dalam penelitian ini, guna pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu pendidikan dasar dan psikologi, khususnya tentang kenakalan siswa. Bagi guru SDN Rejoagung 3 diharapkan membaca hasil penelitian ini untuk merekonstruksi pemahaman kenakalan siswa, khususnya berkaitan dengan perilaku tidak memperhatikan kerapian. Bagi dinas pendidikan, diharapkan mengembangkan hasil penelitian ini ke dalam bentuk buku panduan, guna memberikan referensi bagi para guru-guru muda, guna memberikan pemahaman tentang kenakalan siswa dan penanganannya.

Pengaruh motivasi belajar, disiplin belajar, dan penyusuaian diri terhadap prestasi akademik mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang / Augusto Da Costa

 

ABSTRAK Da Costa, Augusto. 2015 Pengaruh Motivasi Belajar, Disiplin Belajar dan Penyesuaian Diri Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Timor Leste yang Kuliah di Malang.Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Triyono, M.Pd., (II) Dr. Adi Atmoko, M.Si. Kata Kunci: motivasi belajar, disiplin belajar, penyesuaian diri, prestasi akademik, mahasiswa Timor Leste. Penelitian korelasional mengenai pengaruh motivasi belajar, disiplin belajar dan penyesuaian diri terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan pengaruh ketiga variabel independen tersebut terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang. Mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang berjumlah 460 mahasiswa, dari jumlah tersebut ada 427 mahasiswa sarjana. Diambil 40% atau 171 dari mahasiswa sarjana dengan cara proposionate area random sampling menjadi sampel penelitian. Peneliti menggunakan skala motivasi belajar, skala disiplin belajar dan skala penyesuaian diri untuk mengumpulkan data penelitian. Model regresi ganda digunakan untuk mengungkapkan pengaruh ketiga variabel independen terhadap prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang. Berdasarkan analisis model regresi ganda, ditemukan bahwa prestasi akademik para mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Malang dipengaruhi oleh motivasi belajar 17,6%, disiplin belajar sebesar 31,9%, penyesuaian diri sebesar 32,7% berarti terbukti hipotesis dan asumsi bahwa ketiga variabel tersebut berpengaruh terhadap prestasi akademik. Akumulasi pengaruh ketiga variabel independen sebesar 82,2% sedangkan 17,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini disarankan kepada beberapa pihak: pertama, setiap Universitas di Timor Leste dan Universitas di Malang yang menerima mahasiswa dari Timor Leste.Kedua, Pemerintah Timor Leste terutama kementerian pendidikan dan kebudayaan. Ketiga,seluruh civitas akademik bahwa hasil penetian ini menjadi sumber faktual dan empiris dalam layanan bimbingan dan konseling untuk menyeimbangkan aspek nonkognitif dan kognitif saling berpengaruh dalam meraih prestasi akademikdan keempat,kepada peneliti selanjutnya untuk lebih memfokus-kan penelitian mengenai peranan faktor nonkognitif dalam meraih prestasi akademik.

Gantirugi internasional pencemaran minyak di laut / oleh Komar Kantaatmadja

 

Perbedaan motivasi dan hasil belajar IPS menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media audio visual (studi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jatinegara Kabupaten Tegal) / Teguh Sudarmawan

 

ABSTRAK Sudarmawan, Teguh. 2015. Perbedaan Motivasi dan Hasil Belajar IPS menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD Berbantuan Media Audio Visual (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Jatinegara Kabupaten Tegal).Tesis.Program Studi Pendidikan Dasar Kosentrasi IPS, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si, (2) Dr. Achmad Amirudin, M.Pd. Kata kunci: model pembelajaran kooperatif tipe STAD, media audio visual, motivasi belajar, dan hasil belajar IPS Pemilihan model pembelajaran sangat menentukan kualitas pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Untuk mencapai kualitas pembelajaran yang tinggi setiap mata pelajaran khususnya IPS harus diorganisasikan dengan model-model yang tepat pula. Salah satu model yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Dimana pembelajaran model STAD ini dalam pelaksanaannya dibantu dengan media audio visual. Dengan model pembelajaran STAD berbantuan audio visual siswa tidak hanya dapat bekerja sama dan menyumbangkan pikirannya dalam kelompok, tetapi siswa akan dapat lebih mudah mengerti dan memahami materi-materi yang telah diajarkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan motivasi dan hasil belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media audio visual dengan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperimen). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design. Penelitian ini dilakukan di kelas VII SMP Negeri 2 Jatinegara Kabupaten Tegal tahun pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari 188 siswa. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media audio visual dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvesional dengan t-hitung sebesar 2,727 pada taraf signifikansi 0,05; (2) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan audio visual dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional dengan t-hitung sebesar 6,131 pada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan temuan-temuan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi dan hasil belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD berbantuan media audio visual dan model konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jatinegara Kabupaten Tegal. Beberapa saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian adalah(1) guru hendaknya memilih model pembelajaran STAD sebagai alternatif model

Perkembangan garis politik dan perundang-undangan mengenai pemerintahan di daerah di Indonesia dan garis besar pelaksanaannya di Sumatera Utara / oleh M. Solly Lubis

 

Pemanfaatan media lingkungan sekitar pada penjumlahan dan pengurangan untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas I SDN Ketawanggede 1 kota Malang / Khusnul Khotimah

 

Kata kunci: PTK, Media Lingkungan Sekitar, Pembelajaran Matematika, Penjumlahan dan Pengurangan, Hasil Belajar. SDN Ketawanggede 1 Kota malang merupakan sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Berdasarkan hasil observasi awal ditemukan kondisi tentang rendahnya penguasaan materi dikarenakan penggunaan media pembelajaran yang dipakai di SDN Ketawanggede 1 Kota malang ini yaitu media sedotan. Siswa cenderung terlihat jenuh setiap kali pembelajaran hanya menggunakan media sedotan. Permasalahan ini dicoba diatasi dengan penggunaan media lingkungan sekitar seperti daun dan kerikil serta mencoba pembelajaran yang dilakukan di luar kelas untuk meningkatkan keaktifan siswa sehingga siswa lebih mudah dalam memahami konsep matematika. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan : 1) penggunaan media lingkungan sekitar pembelajaran matematika kelas 1 dengan memanfaatkan media lingkungan sekitar pada pokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan asli; 2) Peningkatan hasil belajar siswa Kelas 1 SDN Ketawanggede 1 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang meliputi beberapa tahap yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan pengumpulan data diperoleh dari observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas I SDN Ketawanggede 1 Kota Malang, dengan banyaknya siswa 35 siswa. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2010-2011, jenis data yang dipakai dalam penelitian ini berupa nilai Matematika, LKS, soal test akhir sebanyak 10 soal, lembar observasi penguasaan materi siswa dan lembar observasi aktivitas siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : 1) Penggunaan media lingkungan sekitar dapat meningkatkan keaktifan siswa SDN Ketawanggede 1 Kota Malang pada pelajaran matematika; 2) Setelah diterapkannya media lingkungan sekitar pada siklus I materi penjumlahan nilai rata-rata siswa naik sebesar12,28 dari rata-rata hasil pra tindakan, rata-rata siswa menjadi 71,71, pada siklus I materi pengurangan rata-rata nilai siswa naik sebesar 16 dari rata-rata hasil pra kegiatan, rata-rata siswa menjadi 66,86, sedangkan pada siklus II materi penjumlahan rata-rata nilai siswa naik sebesar 14,29 dari siklus I, rata-rana nilai siswa menjadi 86, dan pada siklus II materi pengurangan rata-rata nilai siswa naik sebesar 9,43 dari siklus pertama, rata-rata nilai siswa menjadi 76,29. Media lingkungan sekitar sangat dekat dengan anak sehingga siswa dapat memperolehnya dengan mudah. Pembelajaran di luar kelas membantu siswa karena membuat siswa lebih aktif dan tidak jenuh saat pembelajaran berlangsung.

Hubungan hasil uji kompetensi keahlian, pengalaman praktik kerja industri, dan motivasi kerja dengan kesiapan kerja siswa SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Kabupaten Trenggalek / Rista Rusdianawati

 

ABSTRAK Rusdianawati, Rista. 2015. HubunganHasilUjiKompetensiKeahlian, PengalamanPraktikKerjaIndustri, danMotivasiKerjadenganKesiapanKerjaSiswa SMK KompetensiKeahlianTeknikKomputerdanJaringan di KabupatenTrenggalek.Tesis, Program StudiPendidikanKejuruan, Pascasarjana, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I)Prof. H. A. Sonhadji, K.H., M.A., Ph. D., (II) Dr. Muladi, S.T., M.T. Kata kunci: hasilUKK, pengalamanPrakerin, motivasikerja, kesiapankerja, SekolahMenengahKejuruan, TeknikKomputerdanJaringan SekolahMenengahKejuruan (SMK) sebagaisebagaisalahsatusubsistempendidikannasionalmemilikimisimembekalipesertadidiknyadenganketerampilansertailmupengetahuandanteknologi agar lulusannyasiapuntukbekerja.Beberapafaktorpenting yang menunjangkesiapankerjalulusan SMK adalahkompetensi, pengalamanpraktikkerjaindustri(Prakerin), danmotivasikerja yang baik.Tujuanpenelitianiniyaituuntukmengetahuihubunganantarahasil UKK, pengalamanPrakerin, danmotivasikerjasecaraserentakdengankesiapankerja; hubunganantarahasilUjiKompetensiKeahlian (UKK) dengankesiapankerja; hubunganantarapengalamanPrakerindengankesiapankerja;danhubunganantaramotivasikerjadengankesiapankerjasiswa SMK kompetensikeahlianTeknikKomputerdanJaringan (TKJ) di KabupatenTrenggalek. Penelitianinidilakukanmenggunakanpendekatankuantitatifdenganrancangankorelasional.Populasiyang digunakanadalahseluruhsiswaKelas XII kompetensikeahlian TKJ tahunajaran 2014/2015 di SMKN 1 Pogalan, SMKN 1Suruh, dan SMK Islam 1 Durenan. Pengambilansampeldilakukandenganteknikproportional random samplingdandiperoleh 151 siswasebagairesponden.Data,dianalisismenggunakananalisisdeskriptif, korelasiparsial, korelasiberganda, danregresiberganda.Sebelummelakukananalisistersebut, makaperludilakukanujiprasyarat yang terdiridariujinormalitas, ujilinieritas, ujimultikolinieritas, ujiautokorelasi, danujiheteroskedastisitas. Hasilpenelitianmenunjukkanbahwaterdapathubungan yang signifikandanpositifantarahasil UKK, pengalamanPrakerin, danmotivasikerjadengankesiapankerja;terdapathubungan yang signifikandanpositifantarahasil UKK dengankesiapankerja;terdapathubunganyang signifikandanpositifantarapengalamanPrakerindengankesiapankerja;danterdapathubunganyang positifdansignifikanantaramotivasikerjadengankesiapankerja. Hal inimengandungartibahwasemakinbaikhasil UKK, pengalamanPrakerin, danmotivasikerja, makasemakintinggitingkatkesiapankerjasiswa.Berdasarkanhasilpenelitianini, makarekomendasi yang diajukanantara lain hendaknyapihaksekolahterusmembekalipesertadidikdengankompetensisesuaidenganbidangkeahliannya, meningkatkankerjasamadenganpihakindustri, danmemberikanbimbingankariruntukmeningkatkanmotivasikerjasiswa.Bagipihakindustrihendaknyamembimbing, mengarahkan, danmengawasisiswa yang sedangmelakukanPrakerinterutamaberkaitandenganaspekketerampilandansikap.

Using whispering and spelling game (Whispelga) to improve the speaking ability of the seventh graders of SMPN 2 Tarub, Tegal regency / Toni Haryanto

 

ABSTRAK Haryanto, Toni. 2015. Menggunakan whispelga (whispering spelling game) untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas VII SMPN 2 Tarub, Kabupaten Tegal. Tesis, Pendidikan Bahasa Inggris. Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Enny Irawati, M.Pd, (II) Dr. Johannes Ananto Prayogo, M.Pd, M.Ed. Kata Kunci: whispering spelling game, kemampuan berbicara Mempelajari sebuah bahasa berarti belajar bagaimana berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut. Belajar berbicara dalam suatu bahasa juga menjadi penting untuk dapat berkomunikasi dengan efektif. Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa kedua dengan jelas dan efisien bermanfaat dalam mencapai keberhasilan di sekolah maupun dalam setiap tahap kehidupan. Oleh karena itu, kemampuan berbicara harus diberikan perhatian lebih dalam proses pembelajaran sehingga membuat siswa mampu berbicara dalam bahasa target di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana penggunaan whipelga mampu meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa kelas VII SMPN 2 Tarub. Subjek penelitian ini adalah 33 siswa kelas VIIE SMPN 2 Tarub, Kabupaten Tegal tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian ini didasarkan pada hasil studi pendahuluan yang menunjukkan masih rendahnya kemampuan berbicara bahasa Inggris para siswa tersebut. Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari studi pendahuluan, perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Data yang dihasilkan didapat melalui angket, lembar pengamatan, catatan lapangan dan tes berbicara para siswa. Penelitian ini menggunakan strategi pembelajaran whispelga (whispering spelling game). Keberhasilan penelitian ini didasarkan pada peningkatan nilai berbicara siswa, keterlibatan dalam pembelajaran dan persepsi siswa pada penggunaan strategi ini. Penelitian ini disebut berhasil jika 80% siswa mencapai nilai 70 sebagai kriteria ketuntasan minimal (KKM) dan sisanya meningkat 1 tingkatan, sedikitnya 80% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan sedikitnya 80% siswa merespon positif penggunaan strategi ini. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan strategi whispelga dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Setiap siswa mengalami peningkatan nilai berbicara, 27 orang (81,8%) pada tingkatan baik dan sisanya 6 orang (18,1%) pada tingkatan cukup, dengan nilai rata-rata 70,68 (baik). Dalam setiap pertemuan rata-rata 85% siswa aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran, 31 orang (96%) merespon positif penggunaan strategi ini dalam proses pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini sudah mencapai kriteria keberhasilan. Dari hasil pengamatan juga menunjukkan para siswa secara aktif terlibat setiap kegiatan dalam proses pembelajaran. Mereka terlihat antusias dan dinamis melakukan setiap kegiatan dalam proses pembelajaran. Selain itu, hasil angket juga menunjukkan hampir semua siswa merespon positif penggunaan strategi ini. Dengan kata lain, penggunaan strategi whispelga telah berhasil meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris kelas VIIE SMPN2 Tarub, Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2014/2015 karena mengenalkan kosakata yang mungkin digunakan, mengintegrasikan keempat kemampuan berbahasa (mendengarkan, membaca dan menulis untuk meningkatkan kemampuan berbicara) dan konstruksi tata bahasa. Strategi ini terdiri dari tiga langkah utama: 1) pengenalan kosakata yang digunakan dimana peneliti memperkenalkan, membacakan, melafalkan dan menjelaskan kosakata dan siswa bersama-sama membaca dan melafalkan kosakata yang mungkin digunakan untuk menggambarkan profesi yang telah ditentukan (1 pertemuan); 2) bermain whispelga dimana para siswa mengintegrasikan keempat kemampuan berbahasa (menggunakan kemampuan mendengar, membaca dan menulis untuk meningkatkan kemampuan berbicara), siswa bermain membisikkan, mengeja dan membuat kalimat menggunakan kata-kata yang telah disediakan (2 pertemuan); dan 3) konstruksi tata bahasa dimana para siswa dengan bantuan peneliti membuat kalimat yang baik secara tata bahasa Inggris untuk menggambarkan dan membuat alur deskripsi yang baik dari profesi yang telah ditentukan (1 pertemuan) sehingga disarankan kepada guru bahasa Inggris yang memiliki permasalahan serupa untuk menggunakan strategi whispelga ini dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Untuk peneliti lanjut diharapkan juga dapat mengembangkan strategi ini untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa pada kemampuan berbicara pada jenis teks yang lain.

Akibat defisiensi yodium berat / oleh R. Robertus Josef Sri Djokomoeljono

 

Pengembangan rubrik analitik asesmen komunikasi matematika tertulis siswa SMP dalam pemecahan masalah open-ended / Aresqi Tunggal Asmana

 

ABSTRAK Asmana, Arezqi Tunggal. 2015. Pengembangan Rubrik Analitik Asesmen Komunikasi Matematika Tertulis Siswa SMP dalam Pemecahan Masalah Open-Ended. Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Nengah Parta, S.Pd, M.Si, (II) Dr. Makbul Muksar, S.Pd, M.Si. Kata Kunci: pengembangan, rubrik analitik, asesmen, komunikasi matematika tertulis, pemecahan masalah open-ended Hubungan asesmen dengan pendidikan matematika sangat erat. Dalam pembelajaran matematika, komunikasi dan pemecahan masalah merupakan tujuan yang sangat penting. Terutama komunikasi matematika tertulis dan pemecahan masalah open-ended. Untuk memperoleh informasi tentang hal itu, diperlukan metode asesmen yang baik berupa rubrik pada setiap tes. Menurut Danielson (1997), lebih sesuai digunakan rubrik analitik karena informasi yang diperoleh tentang kekuatan dan kelemahan siswa lebih jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengembangan dan memperoleh rubrik analitik yang valid, praktis, dan efektif. Pengembangan ini bersandar pada model Plomp (2010) yang terdiri dari 3 fase, yaitu: (1) penelitian awal; (2) fase prototipe; dan (3) fase penilaian. Penyusunan rubrik analitik bersandar pada teori rubrik Danielson (1997) yang memuat 4 hal. Untuk mendukung pengembangan rubrik itu, dikembangkan instrumen yang terdiri dari: (1) lembar validasi rubrik analitik dan instrumen; (2) lembar penyekoran; (3) angket respons guru; (4) tes formatif; dan (5) tes sumatif. Subjek uji coba adalah 2 guru matematika dan 33 siswa kelas VIII. Dari validasi dan uji coba diperoleh rubrik analitik yang terdiri dari 6 aspek dan 2 sub aspek. Aspek rubrik itu, yaitu: (1) menuliskan hal-hal yang diketahui dan ditanya; (2) membuatkan gambar/sketsa (jika diperlukan); (3) menggunakan aturan; (4) melakukan perhitungan; (5) membuatkan kesimpulan; dan (6) menampilkan alternatif penyelesaian. Bobot 1 untuk aspek pertama dan kelima serta bobot 2 untuk aspek kedua, ketiga, keempat, dan keenam. Sedangkan sub aspek rubrik itu yaitu keakuratan dan kelengkapan. Setiap aspek dan sub aspek mempunyai 4 level yaitu 0, 1, 2, dan 3. Hasil penelitian ini adalah rubrik analitik yang valid, praktis, dan efektif. Kevalidan rubrik itu ditunjukkan oleh skor rata-rata semua validator adalah 3,1. Kemudian kepraktisan rubrik itu ditunjukkan oleh (1) koefisien korelasi antar kelas adalah 0.980, 0.990, dan 0.991 serta (2) skor rata-rata semua guru adalah 3,44. Selanjutnya keefektifan rubrik itu ditunjukkan oleh (1) rata-rata persentase total skor perkembangan adalah 7,7% dan (2) sebesar 75,8% siswa memperoleh KMT positif. Selain itu, deskripsi kinerja setiap kelengkapan aspek rubrik analitik masih memerlukan penelitian lanjutan.

Pengembangan perangkat pembelajaran tematik berorientasi guided discovery pada siswa kelas IV SDN 4 Sambimulyo Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi / Wahyu Sri Indarti

 

ABSTRAK Indarti, Wahyu Sri. 2015. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Tematik Berorientasi Guided Discovery pada Siswa Kelas IV SDN 4 Sambimulyo Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi. Tesis, Program Studi Pendidikan Dasar Konsentrasi Guru Kelas, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Fatchur Rohman, M.Si., (II) Dr. Ibrohim, M.Si. Kata Kunci: perangkat pembelajaran, pembelajaran tematik, model guided discovery. Tersedianya perangkat pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan pembelajaran merupakan aspek penting dalam mencapai tujuan pembelajaran secara seimbang atara sikap, keterampilan dan pengetahuan. Berdasarkan observasi awal di SDN 4 Sambimulyo Kecamatan Bangorejo Kabupaten Banyuwangi, ditemukan guru jarang sekali menggunakan perangkat pembelajaran dalam kegiatan belajar. Kondisi tersebut didukung dengan perangkat pembelajaran yang dimiliki sekolah kurang dari standar pengembangan sesuai aturan pemerintah. Salah satu pemecahan masalah adalah dengan memilih mengembangkan perangkat pembelajaran tematik berorientasi guided discovery yang membantu guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik seperti yang diamanatkan Kurikulum 2013. Tujuan penelitian dan pengembangan ini untuk menghasilkan perangkat pembelajaran tematik berorientasi guided discovery berupa silabus, RPP, dan modul yang divalidasi dan efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian danpengembanganinimenggunakan modelpengembangan ber-dasarkan Borg and Gall yang disederhanakan. Produk yang dikembangkan adalah perangkat pembelajaran tematik berorientasi guided discovery. Instrumen pengumpulan data berupa lembar kuesioner, lembar analisis, angket validasi, angket keterbacaan, angket keterterapan, lembar wawancara guru, lembar observasi aktivitas siswa, lembar tes, lembar penilaian kinerja, dan angket respon siswa. Tingkat kevalidan produk menunjukkan perangkat pembelajaran valid dengan skor sebesar 93%. Tingkat keterbacaan menunjukkan bahwa perangkat yang dikembangkan mudah dibaca dengan skor sebesar 86%. Tingkat keterterapan produk menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran dapat digunakan dalam pembelajaran dengan skor sebesar 90%. Tingkat keefektifan produk mencapai 83%. Berdasarkan data di atas, produk yang telah dikembangkan dapat dikatakan sangat valid, tingkat keterbacaan tinggi, memiliki keterterapan cukup tinggi dan memiliki keefektifan sangat baik.

Peran pemerintah daerah, usaha mikro kecil dan menengah dan guru dalam mengembangkan intensi berwirausaha pada siswa SMK Negeri 1 Lumajang / Eka Sulvijayanti

 

ABSTRAK Sulvijayanti, Eka. 2015. Peran Pemerintah Daerah, Usaha Mikro Kecil Dan Menengah Dan Guru Dalam Mengembangkan Intensi Berwirausaha Pada Siswa Smk Negeri 1 Lumajang. Tesis. Program Studi S2 Pendidikan Bisnis dan Manajemen. Program Pascasarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ery Tri Djatmika, M.A., M.Si. (2) Dr. Suwarni, M.Si. Kata kunci: pemerintah daerah, usaha kecil dan menengah, guru, intensi berwirausaha. Tamatan dari SMK diharapkan mampu dan siap bekerja sebagi tenaga ahli dibidangnya, dan dapat membuka lapangan pekerjaan, namun pada kenyataanya angka keterserapan lulusan di dunia kerja dan industri masih jauh dari angka yang diharapkan, selain faktor ketersediaan lapangan pekerjaan yang masih belum sesuai dengan jumlah lulusan yang dihasilkan, faktor kualitas lulusan masih menjadi penyebab banyaknya lulusan yang belum bekerja. Kebijakan pemerintah daerah dapat mendorong tumbuhnya entrepreneur dari tamatan SMK yang memiliki keterampilan tertentu. Selain itu Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga menjadi salah satu faktor terbentuknya entrepreneur muda. Penerapan PSG (Pendidikan Sistem Ganda) di SMK sejak tahun ajaran 1993/1994 merupakan bagian dan implementasi konsep link and match. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis kualitatif deskriptif. Penelitian ingin mengetahui dan memahami peran pemerintah daerah, usaha kecil menengah dan guru kewirausahaan dalam mengembangkan intensi berwirausaha pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Lumajang berdasarkan pengalaman pribadi. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Peran pemerintah daerah, usaha kecil menengah dan guru dalam mengembangkan intensi melalui aspek perceived desirability pada siswa SMK Negeri 1 Lumajang yaitu melakukan dorongan agar tercipta keinginan menjadi pengusaha dengan progam pelatihan, penawaran modal bergulir dan melakukan kegiatan prakerin. Dari prakerin muncul ketertarikan untuk melakukan wirausaha. 2) Peran pemerintah daerah, usaha kecil menengah dan guru dalam mengembangkan intensi melalui aspek perceived feasibility pada siswa SMK Negeri 1 Lumajang yaitu melakukan pembinaan dan pembimbingan, pemberian motivasi di tempat magang, di sekolah dan dalam pembelajarn sehingga rasa percaya diri akan timbul pada diri siswa SMK Negeri 1 Lumajang. 3) Peran pemerintah daerah, usaha kecil menengah dan guru dalam mengembangkan intensi melalui aspek propensity to action pada siswa SMK Negeri 1 Lumajang yaitu pemerintah mengadakan dana pinjaman pada wirausahawan baru, usaha kecil menengah memberikan contoh pada siswa SMK Negeri 1 Lumajang bagaimana menjadi wirausahawan yang baik melalui kegiatan prakerin dan guru selalu memberikan bimbingan dan kesempatan mengenal dunia usaha yang sudah terpilih dari sekolah. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa: 1) Perlu dilakukan program dari pemerintah seperti seminar dan pelatihan tentang kewirausahaan dan mendatangkan wirausahawan yang sukses secara berkesinambungan agar siswa SMK Negeri 1 Lumajang dapat terbuka pikiran mereka untuk menjadi wirausahawan. 2) Perlu dilakukan pembinaan dan pembinaan secara berkesinambungan terhadap siswa SMK Negeri 1 Lumajang agar rasa percaya diri mereka tidak hilang. Motivasi yang kuat dari guru yang berkelanjut akan sangat mendukung kepercayaan diri siswa. 3) Perlu dilakukan program pemerintah yang tepat guna. Dana bergulir yang dilakukan oleh pemerintah terhadap wirausahawan baru harus tepat sasaran. Serta, perlu adanya keterbukaan antar pemilik usaha kecil menengah atau dunia indutri dan dunia usaha (DUDI) terhadap siswa SMK Negeri 1 Lumajang yang sedang prakerin.

Beberapa aspek tentang ketegaran fungsi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan industri di Indonesia case-study perkembangan industri di Indonesia 1958-1967 / oleh Sukadji Ranuwihardjo

 

Pengelolaan siswa jalur prestasi kinestetik olahraga dalam pencapaian hasil belajar (studi multikasus di SMPN 3, SMAN 2, dan SMKN 2 Banjarmasin) / Fauziah

 

ABSTRAK Fauziah, 2015. Pengelolaan Siswa Jalur Prestasi Kinestetik Olahraga dalam Pencapaian Hasil Belajar (Studi Mulitikasus di SMPN 3, SMAN 2, dan SMKN 2 Banjarmasin). Disertasi. Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., M.A., Ph.D., (II) Dr. H. Imron Arifin, M.Pd, dan (III) Dr. H. Muhammad Saleh, M.Pd Kata kunci: pengelolaan, siswa jalur prestasi kinestetik olahraga, pencapaian hasil belajar Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 5 Ayat (4) menyatakan bahwa warga negara memiliki kecerdasan dan atau bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kemudian menindaklanjuti melalui Peraturan Gubernur No. 065 Tahun 2012, pasal 1 (9) bahwa: siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa adalah siswa yang secara signifikan memiliki potensi dalam bidang kemampuan umum, akademik khusus, kreativitas, kepemimpinan, seni dan/atau olahraga dikelola oleh pemerintah. Program ini diberikan agar potensi yang dimilik siswa jalur prestasi termasuk kinestetik olahraga dapat berkembang secara optimal dan memberi kontribusi bagi pembangunan bangsa Indonesia. Berdasarkan studi pendahuluan bahwa program pendidikan jalur bakat-prestasi yang dilaksanakan di sekolah-sekolah menengah pertama, menengah atas dan menengah kejuruan di lingkungan Pendidikan Nasional Kota Banjarmasin ditemukan permasalahan yaitu siswa tidak naik kelas karena hasil belajarnya tidak dapat memenuhi standar kriteria ketuntasan minimal. Penelitian ini mendeskripsikan terkait dengan pengelolaan siswa jalur prestasi kinestetik olahraga dalam pencapaian hasil belajar (studi multikasus di SMPN 3, SMAN 2, dan SMKN 2 Banjarmasin) meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan: (a) identifikasi dan seleksi siswa baru, (b) kurikulum berdeferensiasi, (c) proses dan hasil pembelajaran, (d) administrasi dan manajemen satuan pendidikan, (e) organisasi kelembagaan satuan pendidikan, (f) sarana dan prasarana, (g) ketenagaan, (h) pembiayaan, (i) peran serta masyarakat dan (j) lingkungan dan budaya sekolah, (3) pengawasan, (4) pelaporan dan pertanggungjawaban. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dilakukan pada tiga kasus, yaitu SMPN 3, SMAN 2, dan SMKN 2 Banjarmasin. Berdasarkan latar perbedaan jenjang sekolah dan kekhasan penyelenggaraan program siswa jalur prestasi kinestetik digunakan rancangan penelitian multikasus, dengan metode komparatif konstan dan induksi analisis termodifikasi dalam analisis data. Orientasi teoretik yang digunakan adalah pendekatan fenomenalogis, sedangkan sampel ditetapkan secara purposif sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: (1) wawancara, (2) observasi dan (3) studi dokumentasi. Data yang terkumpul melalui ketiga teknik tersebut diorganisir, ditafsirkan dan dianalisis secara berulang-ulang, baik melalui analisis dalam kasus (within case analysis) maupun analisis lintas kasus (cross case analysis), guna penyusunan konsep dan abstraksi temuan lapangan. Kredibilitas data dicek dengan prosedur triangulasi, pengecekan anggota, diskusi teman sejawat dan pengecekan mengenai kecukupan referensi. Sedangkan dependabilitas dan konfirmabilitas dicapai dari pengeditan oleh para pembimbing. Temuan penelitian ini adalah: (1) perencanaan pengelolaan siswa jalur prestasi kinestetik ketiga kasus memiliki program berbeda: kelas reguler, kelas khusus olahraga dan inklusi dan pola yang sama yaitu berupa Rencana Kerja Sekolah (RKS), Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dan rencana pengembangan kurikulum sekolah,. (2) pelaksanaan pengelolaan siswa jalur prestasi kinestetik dalam pencapaian hasil belajar meliputi: (1) identifikasi dan seleksi siswa baru melalui proses talent scouting, (2) kurikulum berdeferensiasi standar nasional baik KTSP maupun K-13, (3) proses dan hasil pembelajaran belum maksimal. (4) administrasi dan manajemen tertib. (5) organisasi kelembagaan dengan pembagian tugas. (6) sarana dan prasarana mencukupi. (7) kualifikasi pendidikan guru belum maksimal. (8) pembiayaan sekolah dari dana BOS APBD dan APBN, orang tua siswa, masyarakat. (9) lingkungan dan budaya sekolah cukup fleksibel. (10) peran serta masyarakat dari komite sekolah dan orang tua siswa. (3) Pengawasan yang terkoordinasi dari kepala sekolah, wakasek, wali kelas dan guru-guru. (4) pelaporan dan pertanggung jawaban melalui hasil Evaluasi Diri Sekolah, pencapaian kurikulum, raport dan penetapan mutu sekolah. Ketiga sekolah sama-sama mengutamakan: (1) perencanaan dengan perberbedaan pada program reguler, kelas Khusus olahraga dan inklusi. (2) pelaksanaan: (a) identifikasi dan seleksi siswa dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin dan Tim Panitia Penyelenggara (b) kurikulum berdiferensi KTSP dan Kurikulum 2013. (c) administrasi dan manajemen sesuai program reguler, KKO dan inklusi. (d) proses dan hasil penilaian standar kelas reguler, KKO dan inklusi dengan standar KKM. (e) organisasi kelembagaan terkoordinir. (f) sarana dan prasarana belum mencukupi. (g) ketenagaan guru berpendidikan diploma, S1 & S2, terdapat kekurangan guru pada bidang studi tertentu. (h) pembiayaan bersumber dana BOS APBN, APBD, iuran komite, alumni dan masyarakat. (i) peran serta masyarakat dari komite sekolah, orang tua, alumni dan dunia usaha/dunia industri. (j) lingkungan dan budaya sekolah mendukung. (3) pengawasan kepala sekolah, tim supervisi Dinas Pendidikan, dan (4) pelaporan dan pertanggungjawaban: mutu pendidikan dan hasil belajar (raport).

Kajian business model Canvas dalam pembelajaran entrepreneurship mahasiswa pascasarjana Program Studi Pendidikan Bisnis dan Manajemen Universitas Negeri Malang tahun angkatan 2013 / Rini Kurniati

 

ABSTRAK Kurniati, Rini. 2015. Kajian Business Model Canvas dalam Pembelajaran Entrepreneurship Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pendidikan Bisnis dan Manajemen Universitas Negeri Malang Tahun Angkatan 2013. Tesis, Jurusan Pendidikan Bisnis dan Manajemen, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof.Dr. F. Danardana Murwani, M.M., (2) Dr. Wahju Wibowo, A.Md, S.E, M.Si, Kata Kunci: Business Model Canvas, Pembelajaran Entrepreneurship, Prodi Pendidikan Bisnis dan Manajemen. Pembelajaran entrepreneurship merupakan salah satu wujud kepedulian terhadap kemajuan bangsa dalam bidang pendidikan. Melalui pembelajaran entrepreneurship dapat mengajarkan keterampilan, kreativitas, inovasi, dan sikap berwirausaha kepada generasi bangsa sesuai dengan tuntutan tenaga kerja yang berubah-ubah seiring waktu. Pembelajaran entrepreneurship bukan hanya mengajarkan seberapa besar laba/rugi yang diperoleh, melainkan bagaimana strategi usaha dapat menciptakan, menghadapi persaingan dan mempertahankan usaha. Sebuah inovasi baru muncul untuk menjawab strategi berwirausaha yang tepat bagi kalangan mahasiswa untuk memulai suatu bisnis. Inovasi strategi ini disebut dengan Business Model Canvas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji lebih dalam bagaimana langkah yang ditempuh untuk merancang Business Model Canvas, bagaimana implementasi Business Model Canvas dalam suatu usaha, bagaimana hambatan yang dialami selama mengimplementasikan konsep Business Model Canvas, serta manfaat apa yang diperoleh mahasiswa PBM tahun angkatan 2013 dari kajian Business Model Canvas. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-kualitatif untuk menjawab pertanyaan di atas. Dalam hal ini, peneliti adalah sebagai instrumen utama. Teknik yang digunakan melalui wawancara mendalam dibantu dengan alat perekam dan dokumentasi. Trianggulasi sumber dan teknik digunakan untuk mengecek keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum Business Model Canvas merupakan inovasi strategi yang banyak memberikan manfaat sebagai start-up bisnis bagi mahasiswa Prodi Pendidikan Bisnis dan Manajemen dalam pembelajaran entrepreneurship, sehingga strategi berbisnis ini dikaji kembali oleh mahasiswa tahun angkatan selanjutnya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkan kepada mahasiswa untuk tetap mempertahankan usaha yang telah dijalankan dengan meningkatkan value proposition produk. Bagi dosen pengampu pembelajaran entrepreneurship selanjutnya diharapkan dapat menggunakan metode atau strategi penyampaian materi yang lebih efektif melalui pembentukan kelompok dan penekanan pada praktek pembuatan konsep Business Model Canvas. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan lebih spesifik dalam menyoroti tema ini dan menambah objek penelitian agar dapat dibandingkan dengan peneliti sebelumnya.

Pengaruh model pembelajaran Advance Organizer berbantuan Concept Maps terhadap penguasaan konsep suhu dan kalor ditinjau dari pengetahuan awal siswa / Hamidah Dian Oktaviani

 

ABSTRAK Oktaviani, Hamidah Dian. 2015. Pengaruh Model Pembelajaran Advance Organizer Berbantuan Concept Maps Terhadap Penguasaan Konsep Suhu dan Kalor Ditinjau dari Pengetahuan Awal Siswa. Tesis. Program Studi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Supriyono Koes H, M.Pd, MA. (2) Dr. Siti Zulaikah, S.Pd,. MSi. Kata Kunci: Advance organizer, Concept Maps, Penguasaan Konsep, Pengetahuan Awal. Penguasaan konsep adalah aspek kunci dari pembelajaran fisika. Usaha perbaikan yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam mengembangkan penguasaan konsep siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran Advance Organizer berbantuan concept maps (peta konsep). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh model pembelajaran Advance Organizer berbantuan concept maps (peta konsep) dan pengetahuan awal terhadap penguasaan konsep pada mata pelajaran fisika SMK. model pembelajaran Advance Organizer berbantuan concept maps (peta konsep) yang diterapkan dalam penelitian ini mengunakan sintaks yang terdiri atas tiga tahap, dengan urutan: 1) Presentasi Advance organizer, 2) Presentasi tugas pembelajaran, dan 3) Penguatan susunan kognitif.. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi, dengan rancangan faktorial. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri 2 Batu Tahun Pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari tujuh kelas. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak enam kelas. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pengetahuan awal dan tes penguasaan konsep yang berbentuk pilihan ganda. Reliabilitas tes pengetahuan awal sebesar 0,826 dan tes penguasaan konsep sebesar 0,713. Data yang dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik Anava dua jalur 2x2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penguasaan konsep kelompok siswa yang belajar melalui model pembelajaran advance organizer berbantuan concept maps lebih tinggi daripada kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran inductive thinking model; (2) Penguasaan konsep kelompok siswa yang memiliki pengetahuan awal tinggi lebih tinggi daripada kelompok siswa yang memiliki pengetahuan awal rendah.; (3) Tidak terdapat interaksi model pembelajaran dan pengetahuan awal siswa terhadap penguasaan konsep. Beberapa saran dikemukakan berkenaan dengan hasil penelitian ini. Pertama, para guru Fisika disarankan untuk menggunakan model pembelajaran advance organizer berbantuan concept maps karena terbukti model ini mampu mengembangkan penguasaan konsep siswa. Kedua, sekolah hendaknya mengukur pengetahuan awal siswa terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai di awal semester untuk menentukan perlakuan pada saat pembelajaran.

Analisis proses dan kesalahan translasi matematis antar representasi fungsi kuadrat oleh siswa SMA kelas X SMAN 10 Malang / Mei Rina Hadi

 

ABSTRAK Hadi, Mei Rina. 2015.Analisis Proses dan Kesalahan Translasi Matematis antar Representasi Fungsi Kuadrat oleh Siswa Kelas X SMAN 10 Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang, Pembimbing:(I)Prof. Akbar Sutawidjaja, M. Ed, Ph.D., (II) Dr. Sri Mulyati, M.Pd. Kata kunci: translasi matematis, representasi, kesalahan translasi, fungsi kuadrat Translasi atau proses translasi diartikan sebagai proses kognitif dalam mentransformasikan informasi yang termuat dalam suatu representasi (sumber) ke representasi yang lain (target).Kemampuan siswa untuk mentranslasikan representasi yang berbeda akan membantu guru menilai pemahaman siswa.Proses translasi matematis dapat dijabarkan dalam empat aktivitas, yakni unpacking the source, preliminary coordination, constructing the targetdetermining equivalence.Pada proses translasi matematis juga dimungkinkan terjadi kesalahan, kesalahan tersebut dapat dikategorikan sebagai interpretation error, implementation error, ataupreservation error.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan proses dan kesalahan translasi matematis antar representasifungsi kuadrat yang dilakukan siswa kelas X. Penelitian difokuskan pada translasi antar representasi fungsi kuadrat dari grafik ke simbolik, tabel ke simbolik, dan verbal ke simbolik. Penelitian dilaksanakan di SMAN 10 Malang dengan subyek penelitian enam siswa kelas X, yang telah mempelajari konsep fungsi kuadrat. Data yang dikumpulkan antara lain hasil uji translasi matematis, hasil wawancara, dan rekaman audio visual. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji translasi matematis, pedoman wawancara, dan rekaman audio visual. Analisis data difokuskan pada empat aktivitas translasi matematis dan kesalahan yang dilakukan selama proses translasi matematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa translasi matematis fungsi kuadrat dari grafik ke simbolik dapat dilakukan dengan baik dan lengkap oleh siswa kelompok tinggi, sedangkan kelompok sedang dan rendah cukup baik namun masih belum memperoleh fungsi kuadrat yang sesuai. Kesalahan yang dilakukan siswa selama translasi dari grafik ke simbolik adalah kesalahan interpretasidan kesalahan implementasi. Translasi matematis dari tabel ke simbolik dilakukan dengan tuntas oleh siswa kelompok tinggi, sedangkan kelompok sedang cukup baik namun berhenti pada proses konstruksi, dan kelompok rendah menunjukkan adanya kesalahan pemahaman dari tabel yang diberikan sehingga belum dapat melakukan aktivitas konstruksi target. Kesalahan yang dilakukan siswa selama translasi dari tabel ke simbolik adalah kesalahan interpretasi dan kesalahan implementasi. Translasi matematis dari verbal ke simbolik hanya dapat dilakukan dengan tuntas oleh siswa kelompok tinggi, sedangkan kelompok sedang dan rendah tidakmenunjukkan adanya proses konstruksi target. Pada translasi dari verbal ke simbolik, siswa melakukan kesalahan interpretasi dan kesalahan pengawetan.

Kesalahan penggunaan konjungsi ........... oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2013 Universitas Negeri Malang / Gery Winda Nabella

 

Nabella, Gery Winda. 2015. Kesalahan Penggunaan Konjungsi 以后 yǐhňu, 后来 hňulái, 然后 ránhňu oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin Angkatan 2013 Universitas Negeri Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Tiksno Widyatmoko, M.A. (2) Iwa Sobara, S.Pd, M.A. Kata Kunci: Kesalahan penggunaan konjungsi,以后 yǐhňu, 后来 hňulái, dan然后 ránhňu Dalam pembelajaran bahasa Mandarin terdapat beberapa materi yang dianggap sulit oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin angkatan 2013 Universitas Negeri Malang dalam matakuliah Gramatika, salah satunya adalah materi penggunaan konjungsi以后 yǐhňu, 后来 hňulái, 然后 ránhňu. Konjungsi-konjungsi tersebut sering digunakan saat berkomunikasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa dan faktor yang menyebabkan mahasiswa melakukan kesalahan tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Adapun instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data adalah tes, sedangkan instrumen pendukung adalah wawancara. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa bentuk kesalahan penggunaan konjungsi yang dilakukan oleh mahasiswa, yaitu (1) kesalahan pemilihan konjungsi, sebanyak 198 kesalahan, (2) tidak menggunakan konjungsi dalam kalimat, sebanyak 14 kesalahan, (3) penempatan konjungsi yang tidak sesuai aturan, sebanyak 117 kesalahan, dan (4) tidak menentukan jawaban dan membiarkan kosong, sebanyak 56 kesalahan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, juga ditemukan faktor yang menyebabkan mahasiswa melakukan kesalahan adalah: (1) pemahaman yang kurang terhadap penjelasan yang diberikan oleh dosen, (2) kurangnya kemampuan untuk membedakan penggunaan konjungsi, (3) kurangnya kemampuan untuk menempatkan konjungsi di tempat yang benar, dan (4) tidak memiliki kemauan untuk belajar lebih keras.

Pengembangan penilaian autentik dalam pembelajaran tematik terintegrasi pendidikan lingkungan hidup tema Indahnya Negeriku kelas IV SDN Songgokerto 03 Batu / Dian Anggraini

 

ABSTRAK Anggraini, Dian. 2015. Pengembangan Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Tematik Terintegrasi Pendidikan Lingkungan Hidup Tema Indahnya Negeriku Kelas IV SDN Songgokerto 03 Batu. Tesis. Program Studi Pendidikan Dasar, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd (II) Dr. Muhardjito, M.S. Kata Kunci : penilaian autentik, pembelajaran tematik, pendidikan lingkungan hidup Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pengikat dari beberapa muatan pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman yang bermakna. Prinsip dalam menerapkan dan melaksanakan pembelajaran tematik yaitu (1) bersifat kontekstual atau terintegrasi dengan lingkungan, (2) bentuk belajar harus dirancang agar siswa bekerja secara sungguh-sungguh dan mengaplikasikannya, dan (3) efisiensi waktu. Berdasarkan prinsip di atas maka pembelajaran tematik dapat diintegrasikan dengan muatan lokal Kota Batu yaitu Pendidikan Lingkungan Hidup. Pembelajaran tematik yang dilaksanakan diimbangi dengan penilaian yang dapat menggambarkan kemampuan siswa dalam tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Oleh karena perlu dikembangkan penilaian yang sesuai yaitu dengan penilaian autentik. Pada kenyataannya penilaian autentik yang digunakan pada Kurikulum 2013 ini masih banyak mengalami kendala yaitu (1) guru kebingungan dalam menggunakan dan membuat penilaian sikap, (2) pengembangan soal terbatas pada C1-C2, (3) penilaian keterampilan hanya terbatas pada praktik, dan (4) pengorganisasian penilaian pada buku guru masih minim. Berbagai kondisi tersebut diperlukan penilaian autentik dalam pembelajaran tematik terintegrasi Pendidikan Lingkungan Hidup tema Indahnya Negeriku kelas IV. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan yaitu menggunakan model O’Malley & Pierce. Adapun tahap-tahap dalam model pengembangan penilaian O’Malley & Pierce ini yaitu tahap pertama membangun sebuat tim, tahap kedua menentukan tujuan penilaian, tahap ketiga membuat spesifikasi produk, tahap keempat melakukan pengembangan profesional pada penilaian autentik, tahap kelima mengkaji penelitian terdahulu, tahap keenam mengadaptasi penilaian yang ada, tahap ketujuh mencoba produk ke lapangan, dan tahap kedelapan melakukan revisi produk. Adapun hasil uji validasi isi dan uji lapangan pada penelitian dan pengembangan ini yaitu diperoleh tingkat kevalidan isi produk instrumen non tes sebesar 80,9% yang artinya produk ini dalam kriteria valid, dan boleh digunakan dengan revisi kecil. Kevalidan isi produk instrumen tes uraian sebesar 82,87% masuk pada kriteria valid, dan boleh digunakan dengan revisi kecil. Reliabilitas tes uraian yang digunakan adalah menggunakan analisis Alpha dengan tingkat reliabilitas tes uraian ulangan harian I r11 = 0,77405 dengan kategori tinggi. Tingkat reliabilitas tes ulangan harian II r11 = 0,65442 dengan kategori cukup. Tingkat reliabilitas tes ulangan harian III r11 = 0,83718 masuk pada kategori tinggi.

Pengembangan bahan ajar kimia berbasis pendekatan ilmiah (scientific approach) pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit untuk siswa kelas X Sekolah Menengah Atas / Sri Wahyuni

 

ABSTRAK Wahyuni, Sri. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Pendekatan Ilmiah (Scientific Approach) Pokok Bahasan Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit untuk Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas. Tesis. Program Studi Pendidikan Kimia, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (II) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si. Kata kunci: bahan ajar kimia, larutan elektrolit dan nonelektrolit, pendekatan ilmiah Rendahnya kemampuan sains siswa SMA di Indonesia termasuk matapelajaran kimia, salah satunya disebabkan oleh pembelajaran yang lebih menekankan aspek teoritis dan kurang mengembangkan proses sains dalam pemerolehan konsep. Berbagai upaya telah dilakukan salah satunya dengan penerapan pendekatan ilmiah seperti yang diamanatkan dalam kurikulum 2013. Penerapan pendekatan ilmiah mensyaratkan penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan pendekatan ilmiah pula. Bahan ajar yang ada selama ini masih berorientasi pada isi dan belum disusun sesuai dengan langkah-langkah intruksional dengan pendekatan ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengembangkan bahan ajar kimia berbasis pendekatan ilmiah yang layak digunakan dalam pembelajaran, (2) untuk mengetahui efektifitas bahan ajar hasil pengembangan pada pembelajaran kimia, (3) untuk mengetahui persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Pengembangan bahan ajar mengadopsi model pengembangan 4D dari Thiagarajan et al., (1974), yang meliputi empat tahap pengembangan yaitu define, design, develop, dan disseminate. Draf hasil pengembangan divalidasi menggunakan instrumen penilaian bahan ajar yang dikembangkan berdasarkan standar penilaian bahan ajar yang dirumuskan oleh BSNP. Penilaian kelayakan bahan ajar meliputi empat aspek yaitu kelayakan isi, bahasa, sajian dan kegrafisan. Penilaian dilakukan oleh dua ahli isi dan dua ahli pembelajaran. Keterbacaan bahan ajar juga diujicobakan terhadap enam siswa pada uji perorangan. Data yang dikumpulkan terdiri dari data kualitatif (komentar dan saran dari ahli isi, ahli pembelajaran dan siswa) dan data kuantitatif (penilaian angket dan hasil postes). Efektifitas penggunaan bahan ajar diketahui dari uji lapangan terbatas yaitu dengan melihat perbedaan skor postes siswa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen yang diolah menggunakan independent sample t-test. Kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang digunakan untuk uji efektifitas memiliki distribusi kemampuan yang setara yang diketahui berdasarkan uji-t kemampuan awal. Soal postes terdiri dari 25 soal pilihan ganda yang sebelumnya telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Koefisien reliabilitas diukur menggunakan rumus Kuder-Richardson 21 (K-R 21), dan didapatkan nilai sebesar 0,734. Data skor postes dianalisis menggunakan independent sample t-test. Persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar diketahui berdasarkan angket persepsi pada uji lapangan terbatas. Bahan ajar hasil pengembangan terdiri dari buku guru dan buku siswa yang dilengkapi dengan power point dan video pembelajaran. Bahan ajar untuk pokok bahasan larutan elektrolit dan nonelektrolit ini terdiri dari dua kegiatan belajar yang masing-masing meliputi kegiatan pendahuluan, mengamati, membuat pertanyaan, mengumpulkan informasi, menganalisis informasi dan mengkomunikasikan. Hasil penilaian ahli isi dan ahli pembelajaran menunjukkan kelayakan buku guru 85,9% dan buku siswa 86,2%. Hasil penilaian bahan ajar dari uji perorangan menunjukkan nilai 89,2%. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar pengembangan layak digunakan pada pembelajaran kimia. Persepsi siswa terhadap pembelajaran menggunakan bahan ajar pengembangan yaitu sebesar 80,3%, yang berarti bahwa persepsi siswa sangat baik ketika diajar menggunakan bahan ajar hasil pengembangan. Hasil uji coba bahan ajar hasil pengembangan menunjukkan bahwa 90,5% siswa mencapai skor di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu di atas nilai 71. Uji t yang dilakukan terhadap skor tes siswa menunjukkan bahwa skor tes siswa yang belajar menggunakan bahan ajar hasil pengembangan lebih tinggi daripada skor tes siswa yang belajar menggunakan LKS dari penerbit yang biasa dipakai di SMAN 1 Jenangan. Penilaian lebih lanjut tentang kelayakan dan efektifitas bahan ajar sebaiknya dilakukan dengan penyebaran bahan ajar yang lebih luas.

Analisis kesulitan siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika pisa dan pelaksanaan scaffolding / Sunarti

 

ABSTRAK Sunarti. 2015. Analisis Kesulitan Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Matematika PISA dan Pelaksanaan Scaffolding. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Akbar Sutawidjaja, M.Ed, Ph.D, (II) Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph.D Kata Kunci: analisis kesulitan, masalah PISA, scaffolding Programme for International Student Assessment (PISA) adalah suatu program penilaian siswa tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Fokus dari PISA adalah literasi yang menekankan pada keterampilan dan kompetensi siswa yang diperoleh dari sekolah dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai situasi. Indonesia berpartisipasi sebagai peserta sejak tahun 2000, namun hasil yang diperoleh cenderung tidak memuaskan. Bahkan pada PISA 2012, posisi Indonesia nyaris sebagai juru kunci yaitu berada di peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam tes. Ini berarti, pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain di dunia dan mengindikasikan bahwa literasi matematika siswa Indonesia sangat lemah sehingga masih mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah PISA. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tipe kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika PISA dan pelaksanaan scaffoldingnya. Kesulitan siswa dianalisis dengan mengacu pada proses literasi matematika PISA yaitu formulate, employ, dan interpret sedangkan scaffolding yang dilakukan mengacu pada tahapan scaffolding Anghileri level 2 dan 3 yaitu explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking. Jenis penelitian adalah deskriptif eksploratif menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 6 siswa SMP yang terbagi dalam 3 kelompok, masing-masing dengan kemampuan matematika baik, sedang, dan kurang. Masalah yang diberikan terdiri dari 3 tema dengan 4 pertanyaan yang diadaptasi dari soal matematika PISA. Hasil penelitian menunjukkan kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan masalah PISA adalah: (1) menuliskan atau merumuskan situasi/konteks masalah secara matematika; (2) menggunakan konsep atau prosedur matematika yang sesuai untuk menemukan solusi dikarenakan kurangnya pemahaman awal; dan (3) menginterpretasi/ menafsirkan hasil matematika yang diperoleh kembali ke dalam konteks masalah yang diberikan. Adapun scaffolding yang dilakukan sebagai upaya mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut antara lain: (1) memberikan instruksi agar siswa membaca dan mencermati masalah yang diberikan; (2) mengajukan pertanyaan arahan yang dapat mempermudah siswa dalam memilih dan menggunakan konsep atau prosedur matematika yang sesuai untuk menemukan solusi; (3) memberikan instruksi untuk meninjau kembali solusi/hasil yang diperoleh; dan (4) mengajukan pertanyaan arahan yang dapat mempermudah siswa dalam menafsirkan hasil yang diperoleh kembali ke konteks masalah yang diberikan. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberikan beberapa saran antara lain: (1) sebaiknya siswa dibiasakan berlatih dengan soal-soal yang sesuai karakter soal PISA; (2) hendaknya siswa dibiasakan untuk menuliskan langkah atau proses penyelesaian dengan rinci; (3) proses pemberian bantuan (scaffolding) hendaknya tetap memperhatikan prinsip teori konstruktivisme, dan (4) kajian tentang masalah PISA dalam penelitian ini masih pada konten, proses dan konteks terbatas, sehingga perlu adanya penelitian lain yang lebih mendalam.

Sejarah peradilan dan perundang-undangannya di Indonesia sejak 1942 dan apakah kemanfaatannya bagi kita bangsa Indonesia / oleh Sudikno Mertokusumo

 

Pengembangan media pembelajaran bahasa Jerman interaktif G-Lernen berbasis Flash pada matakuliah Zids-Vorbereitung Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang / Mega Karisma Verina

 

Pengembangan modul pada mata pelajaran jaringan berbasis luas (WAN) kelas XI Program Keahlian TKJ di SMK Diponegoro Tumpang / Riska Nia Amalia

 

ABSTRAK Amalia, Riska Nia. 2016. PengembanganModulPada Mata PelajaranJaringanBerbasisLuas (WAN) Kelas XI Program Keahlian TKJ di SMK DiponegoroTumpang. Skripsi, Program StudiPendidikanTeknikInformatika, JurusanTeknikElektro, FakultasTeknik, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (1) Drs. WahyuSakti G.I., M.Kom, (2) Drs. HariPutranto Kata Kunci: Pengembangan, Modul, JaringanBerbasisLuas (WAN), TKJ JaringanBerbasisLuas (WAN) merupakansalahsatumatapelajaranproduktif yang pentingbagisiswajurusan TKJ.Berdasarkanobservasi di SMK DiponegoroTumpang,matapelajaranJaringanBerbasisLuas (WAN) memilikibeberapakendaladalam proses pembelajaranyaitusiswacenderungkurangmemperhatikandantidakmencatatmateri. Guru matapelajaranJaringanBerbasisLuas (WAN) hanyamenjelaskanmaterisecaralisandantidakmenyediakanbuku ajar untuksiswa, sehinggasiswa yang tidakmemperhatikanketika guru menerangkanpelajarantidakakanbisamemahamipelajaranJaringanBerbasisLuas (WAN). Dan fasilitaskomputerbelummemadai. Dan jugabahan ajar sangatkurangdanbelumpernahdikembangkankhususnyabahan ajar berupamodulJaringanBerbasisLuas (WAN). Model Pengembanganmoduljaringanberbasisluas (WAN) menggunakan model pengembangan Dick and Carey. Adapunlangkah-langkahpenelitianmenurut Dick and Carey yaitu: (1) Identifikasitujuan; (2) Melakukananalisisinstruksional; (3) Analisispembelajardanlingkungan; (4) MerumuskantujuanPerformansi; (5) Pengembangantesacuanpatokan; (6) Pengembangansiasatinstruksional; (7) Pengembangandanmemilih material instruksional; (8) Merancangdanmelaksanakanpenilaianformatif; (9) danRevisiinstruksional. Modul yang dihasilkandaripenelitianpengembanganiniyaitumodul guru danmodulsiswa. Modul yang dikembangkantelahmelaluitahapanvalidasiahli media, validasiahlimateri, ujicobakelompokkecil, danujicobakelompokbesar. Hasilvalidasiahli media adalah86.76% dan 88.33%, hasilvalidasiahlimateriadalah 89.06% dan 98.44%, hasilujicobakelompokkeciladalah 87.62%, danhasilujicobakelompokbesaradalah 89.70%. Dari data tersebutdapatdisimpulkanbahwamodulJaringanBerbasisLuas (WAN) yang dikembangkanlayakuntukdigunakandalampembelajaranmatapelajaranJaringanBerbasisLuas (WAN) Kelas XI di SMK DiponegoroTumpang.

Pengembangan media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis konstruktivis untuk kelas X SMK pada materi geometri / Andika Putra R.

 

ABSTRAK Putra. R, Andika. Pengembangan Media Pembelajaran Matematika Berbantuan Komputer Berbasis Konstruktivis Untuk Kelas X SMK pada Materi Geometri. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Dr. H. Toto Nusantara, M. Si., (2) Dr. Abdul Qohar, S. Kom, M. T. Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran, Geometri, Borg dan Gall Minat belajar siswa dalam belajar matematika pada materi geometri dengan sub pokok bahasan jarak pada bangun ruang terlihat masih rendah. Materi ini termasuk salah satu topik dalam mata pelajaran matematika yang agak sulit dipahami siswa. Salah satu penyebab rendahnya minat belajar siswa adalah dalam mengajarkan materi ini guru masih menggunakan media buku dan penghapus papan yang dimisalkan sebagai bangun ruang sehingga menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif dan pada saat menggambar guru memerlukan waktu yang lama. Berdasarkan masalah tersebut peneliti ingin mengembangkan media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis konstruktivis pada materi geometri dengan sub pokok bahasan jarak pada bangun ruang dan dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Dengan menggunakan media pembelajaran ini diharapkan siswa dapat memahami materi jarak pada bangun ruang dengan baik. Media pembelajaran ini terdiri dari CD pembelajaran dan LKS. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan proses dan hasil pengembangan media pembelajaran matematika berbantuan komputer berbasis konstruktivis untuk SMK kelas X pada materi geometri dengan sub pokok bahasan jarak pada bangun ruang yang valid, praktis dan efektif. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan, dengan menggunakan prosedur penelitian Borg dan Gall yang telah dimodifikasi terdiri dari beberapa langkah utama yaitu analisis produk yang dikembangkan, mengembangkan produk awal, dan uji coba produk. Media ini diujicobakan ke SMK N 1 Singosari dengan mengambil satu kelas yaitu kelas X. Hasil penelitian ini menunjukan media yang dikembangkan valid dengan skor rata-rata kevalidan 3,36, praktis dengan skor rata-rata kepraktisan 3,58 dan efektif dengan ketuntasan penguasaan materi sebanyak 88,89% serta penilaian siswa 0,67 dengan kriteria positif. Berdasarkan pengembangan media ini, disarankan agar dilakukan pengembangan media pembelajaran berbantuan komputer untuk materi jarak atau materi-materi lain yang lebih interaktif dan inovatif. Media ini juga dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk melakukan pengkajian dan pengembangan yang lebih lanjut sehingga diperoleh media sejenis yang lebih baik. Adapun pembuatannya sebaiknya juga memperhatikan kelemahan-kelemahan media pembelajaran berbantuan komputer yang sudah ada.

Kedudukan mandiri dan pertanggungjawaban terbatas dari perseroan terbatas / oleh Rudhi Prasetya

 

Penerapan strategi relating, experiencing, applying, cooperating, and transfering model search, solve, create, and share untuk meningkatkan penalaran matematika siswa / Maria Rosari Anggun Mursitorini

 

ABSTRAK Mursitorini, Maria Rosari Anggun. 2015. Penerapan Strategi Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, and Transferring Model Search, Solve, Create, and Share untuk Meningkatkan Penalaran Matematis Siswa. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. I Nengah Parta, S.Pd, M.Si dan (2) Dra. Santi Irawati, Ph.D. Kata kunci: pembelajaran, strategi REACT, model SSCS, penalaran matematis Salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah penalaran. Pentingnya penalaran dalam pembelajaran matematika adalah sebagai komponen utama dalam penyelesaian masalah. Namun, berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa dalam penyelesaian soal, siswa cenderung menghafal rumus dan cara penyelesaian seperti yang dicontohkan oleh guru. Hal ini mengindikasikan bahwa penalaran matematis siswa masih rendah. Faktor yang menyebabkan rendahnya penalaran siswa adalah pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk mengonstruksi pemahamannya sendiri. Salah satu cara untuk meningkatkan penalaran matematis di kelas tersebut adalah melalui perbaikan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran dengan Strategi REACT Model SSCS yang dapat meningkatkan penalaran matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas X MIA 5 SMA Negeri 1 Ambarawa tahun pelajaran 2014-2015. Langkah-langkah pembelajaran Strategi REACT Model SSCS yang dilakukan adalah: (1) pengaitan (relating), dengan mencari (search) kaitan antara materi persamaan dan fungsi kuadrat yang akan dipelajari dengan pengetahuan atau materi sebelumnya, (2) pengalaman (experiencing) dan penerapan (applying), menyelesaikan (solve) beberapa permasalahan nyata tentang persamaan dan fungsi kuadrat dengan menerapkan pengetahuan yang dimiliki, (3) kerja sama (cooperating), dengan mendiskusikan penyelesaian masalah yang diberikan dalam kelompok, kemudian menyampaikan (share) hasilnya melalui presentasi, dan (4) pentransferan (transferring), dengan menyelesaikan soal tugas atau kuis secara individu. Peningkatan kemampuan penalaran matematis dalam penelitian ini diukur melalui penguasaan siswa terhadap materi ajar meliputi LKS, tugas, kuis, serta tes akhir siklus yang meliputi aspek-aspek berikut: (1) merumuskan permasalahan, (2) memperkirakan strategi penyelesaian masalah, (3) menguji strategi penyelesaian masalah yang disusun, dan (4) memberikan penjelasan terhadap jawaban yang diberikan. Pada pembelajaran siklus II, persentase ketuntasan siswa dalam menyelesaikan masalah di LKS pada setiap pertemuan lebih dari 65%. Rata-rata nilai tugas dan kuis adalah 82,19 dan 85,15. Selanjutnya, sebanyak 77,8% siswa mencapai KKM 75 dalam menyelesaikan soal tes akhir siklus. Hasil tersebut telah memenuhi kriteria keberhasilan penelitian. Oleh karena itu, pembelajaran Strategi REACT Model SSCS dikatakan dapat meningkatkan penalaran matematis siswa.

Proses pemeriksaan perkara pidana di Pengadilan Negeri Malang (suatu tinjauan terhadap pelaksanaan Undang-undang No. 8 tahun 1981 tentang KUHAP)
oleh Agus Sugianto

 

Pertumbuhan lembaga legislatif di Indonesia / oleh Nyoman Dekker

 

Kolaborasi pembelajaran kooperatif tipe quiz-quiz trade dan fan pick untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS (studi di kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-Bati Kabupaten Tanh laut) / Muhammad Wahyu

 

ABSRTRAK Wahyu, Muhammad. 2015. Kolaborasi Pembelajaran Kooperatif Tipe Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPS (Studi di Kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut). Tesis Program studi Pendidikan Dasar (Kons.IPS), Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. H. Budi Eko Soetjipto, M.Ed, M.Si dan (II) Dr.Achmad Amirudin, M.Pd Kata kunci : Quiz-Quiz Trade,Fan N Pick, hasil belajar, motivasi belajar Hasil Pengamatan pada waktu pembelajaran IPS kelas VIII di SMP Negeri 3 Bati-Bati diketahui bahwa guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional yaitu ceramah, motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran IPS sangat rendah dan hasil belajar IPS rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan kolaborasi model pembelajaran kooperatif tipe quiz-quiz trade dan fan n pick untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dan motivasi belajar pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-bati. Kedua model ini saling mendukung satu sama lain, namun tetap terpisah dan tidak menjadi suatu model yang baru. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Bati-bati tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 24 siswa dan dilaksanakan dengan 2 siklus. Data yang dikumpulkan meliputi: (1) hasil observasi kegiatan guru, (2) hasil observasi kegiatan siswa, (3) Tes hasil belajar dan (4) angket motivasi belajar siswa. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan pembelajaran kooperatif kolaborasi tipe Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick dapat meningkatkan hasil belajar dari siklus I ke siklus II, (2) motivasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus II, (3) Adapun masalah-masalah yang dihadapi dalam penelitian ini adalah (a) banyak siswa yang tidak memperhatikan pelajaran pada siklus I, (b) waktu yang digunakan tidak sesuai dengan yang direncanakan pada siklus I, (c) kelas menjadi ramai dan gaduh. Permasalahan-permasalahan tersebut sudah bisa diatasi pada siklus II sehinggga pembelajaran bisa berjalan lancar dan sesuai dengan yang direncanakan. Saran yang diberikan adalah (1) penerapan kolaborasi model Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick membutuhkan pengelolaan waktu yang baik sehingga dalam pembelajaran lebih efektif karena model pembelajaran ini melibatkan siswa secara aktif. (2) Harus menguasai pengelolaan kelas menggunakan model pembelajaran kooperatif Quiz-Quiz Trade dan Fan N Pick dengan baik sehingga siswa aktif dan lancar dalam pembelajaran dengan menggunakan model ini (3) lebih memperhatikan kepada kemampuan siswa dalam pengelolaan tanggung jawab pribadi sehingga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keberhasilan yang dicapai bersama.

Bentuk direktif bahasa Indonesia kajian etnografi komunikasi / oleh Abdul Syukur Ibrahim

 

Penerapan model problem solving untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang / Gita Septyanna Wulandari

 

Kata kunci: Problem Solving, Hasil Belajar IPA, Sekolah Dasar Dari hasil observasi terhadap siswa dan guru diketahui bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru. Guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi, siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, sehingga siswa kurang bersemangat dalam belajar. Guru kurang kreatif dalam menyampaikan materi, siswa hanya membayangkan apa yang sisampaikan guru tanpa memperoleh pengalaman langsung Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Penerapan model Problem Solving dalam pembelajaran IPA materi pesawat sederhana siswa kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang; (2) Peningkatan hasil belajar IPA materi pesawat sederhana Kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang menggunakan model Problem Solving. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) model kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dengan guru kelas, peneliti sebagai pengajar dan guru kelas sebagai observer. Subjek penelitian dibatasi pada siswa kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang yang berjumlah 38 siswa. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan penggunaan model Problem Solving dapat meningkatkan hasil belajar IPA materi pesawat sederhana kelas V SDN Tulusrejo 2 Malang. Dalam menerapkan model Problem Solving pada materi pesawat sederhana terdapat langkah-langkah yang sistematis sehingga siswa menjadi terus termotivasi dalam pembelajaran. Hasil belajar siswa telah meningkat dari pra tindakan ke siklus 1 dan siklus 2.. Peningkatan hasil belajar IPA tersebut, terlihat hasil belajar dari pra tindakan dengan siklus 1 dan siklus 2. Hasil belajar tersebut terbukti bahwa pada pra tindakan siswa yang tuntas dengan nilai 75 adalah 13,1%, sedangkan 78,3% siswa tidak tuntas. Pada siklus 1 dengan penerapan model problem solving terlihat adanya peningkatan hasil belajar yaitu dari 38 siswa dengan nilai 75 adalah 31% siswa tuntas, sedangkan 60,4% tidak tuntas, dan pada siklus 2 dengan nilai 75 adalah 10,5% siswa tidak tuntas dan 86,9% siswa tuntas. Dari ketuntasan klasikal hasil belajar siswa yang peneliti inginkan adalah >75% dari jumlah siswa dalam kelas tuntas, tetapi dalam penerapannya pada akhir siklus 2 siswa yang tuntas dalam kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang adalah 86,9% tuntas. Peningkatan hasil belajar dari pra tindakan sebesar ke siklus 1 adalah 17,9%, sedangkan dari pra tindakan ke siklus 2 adalah 73,8%, dari peningkatan yang dapat dikatakan cukup besar itu, maka penerapan model problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang dan model problem solving sudah cocok untuk diterapkan dikelas V SDN Tulusrejo 02 Malang dengan materi pesawat sederhana.. Saran yang dapat disampaikan dari penelitian adalah sebaiknya guru kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang untuk dapat menggunakan beberapa model pembelajaran agar siswa lebih tertarik, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA. Untuk kepala sekolah SDN Tulusrejo 02 Malang agar dapat memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran dan untuk penelit lanjutan sebaiknya untuk penerapan model problem solving disiapkan lembar observasi aktivitas siswa yang terkait dengan model yang digunakan, hal ini dimaksudkan agar penelitian lebih berjalan dengan baik dan peneliti dapat mengetahui keberhasilan penerapan model yang digunakan.

Kontribusi ketersediaan sarana prasarana praktik dan keterampilan mengajar guru terhadap kepuasan serta dampaknya pada kompetensi kejuruan siswa SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan se-Kota Malang / Becik Gati Anjari

 

ABSTRAK Anjari, Becik Gati. 2015. Kontribusi Sarana Prasarana Praktik dan Keterampilan Mengajar Guru terhadap Kepuasan serta Dampaknya pada Kompetensi Kejuruan Siswa SMK Kompetensi Keahlian TKJ se-Kota Malang. Tesis,Pendidikan Kejuruan, Program PascasarjanaUniversitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. Ir.Syaad Patmanthara, M.Pd., (II) Dr. Muladi, S,T., M.T. Kata Kunci: sarana prasarana praktik, keterampilan mengajar guru, kepuasan siswa, kompetensi kejuruan Perkembanganpendidikan SMK saat ini menimbulkan persaingan dalam memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat.Pelayanan tersebut hendaknya dapat mewakili harapan masyarakat. Masyarakat berharap agar lulusan SMK nantinya akan memiliki kompetensi khusus untuk bekal bersaing di dunia usaha maupun industri. Pencapaian kompetensi berkaitan erat dengan kualitas proses belajaryang dapat dinilai dari seberapa besar kepuasan siswa. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui kontribusi sarana prasarana praktik dan keterampilan mengajar guru terhadap kepuasan serta dampaknya pada kompetensi kejuruan siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif untuk melihat kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat melalui hubungan kausal. Model analisa pola hubungan antar variabel menggunakan analisis jalur (path analysis). Subjek penelitian adalah siswa kompetensi keahlian TKJ di SMK Negeri se-Kota Malang, sampel penelitian ditentukan menggunakan teknikpurposive random sampling, yaitu sebesar 166 siswa dari tiga sekolah yaitu SMK N 5, SMK N 8dan SMK N 10 Malang. Hasil analisis menunjukkan bahwa:(1) terdapat kontribusi ketersediaan sarana prasarana praktik terhadap kepuasan siswa sebesar 10,36%, (2) terdapat kontribusi keterampilan mengajar guru terhadap kepuasan siswa sebesar 7,6%, (3) terdapat kontribusi ketersediaan sarana prasarana praktikterhadap kompetensi kejuruan siswa sebesar 3,31%(4) terdapat kontribusi keterampilan mengajar guru terhadap kompetensi kejuruan siswa sebesar 3,38%, (5) terdapat kontribusikepuasan siswaterhadap kompetensi kejuruan siswa sebesar 4,49%, (6)terdapat kontribusi ketersediaan sarana prasarana praktik dn keterampilan mengajar terhadap kepuasan siswa sebesar 21,2%, (7) terdapat kontribusiketersediaan sarana prasarana praktik, keterampilan mengajar guru dan kepuasan terhadap kompetensi kejuruan siswa sebesar 17,9%.

Pengaruh Collaborative Strategic Reading (CSR) dan gaya kognitif terhadap pemahaman bacaan siswa SMA di Kota Malang / Abdul Hamid B.

 

ABSTRAK Hamid, Abdul. 2015. PengaruhCollaborative Strategic Reading (CSR) dan Gaya KognitifterhadapPemahamanBacaanSiswa SMA di Kota Malang.Disertasi. Program StudiTeknologiPembelajaran, Pascasarjana, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr. I NyomanSudanaDegeng, M.Pd., (II) Prof. Dr. H. PunajiSetyosari, M.Ed., M.Pd., (III) Dr. WarasKamdi, M.Pd. Kata Kunci : CSR, gayakognitif, pemahamanbacaan Collaborative Strategic Reading(CSR) adalahstrategimembaca yang dirancanguntukmemperbaikikemampuansiswadalammemahamibacaandenganbekerjasecarakolaboratifdalammenemukan ide-ide dariteks.Untukdapatmemahamiataumemperolehinformasidariteks, tidakhanyamemerlukanstrategimembaca yang sesuai, akantetapijugatergantungdarigayakognitifdarimasing-masingpembaca. Dengan kata lain, strategimembacadangayakognitifmerupakanduavariabel yang salingmemberikontribusiterhadapkemampuanmemahamibacaan. Jenisgayakognitif yang dimaksudadalahgayakognitifField Dependence (FD) dangayakognitifField Independence (FI). tujuanpenelitianiniadalahuntuk: (1) mengujiperbedaanpemahamanisibacaanantarasiswa yang diberiperlakuandenganstrategimembaca CSR dengansiswa yang diberiperlakuandenganstrategimembaca SQ3R; (2) mengujiperbedaanpemahamanisibacaanantarasiswa yang mempunyaigayakognitiffield dependence (FD) dengansiswa yang mempunyaigayakognitiffield independence (FI); (3) mengujipengaruhinteraksiantarastrategimembacadengangayakognitifsiswaterhadap pemahamanbacaan. Jenispenelitianiniadalahpenelitiankuasieksperimendenganmenggunakandesainnonequivalent control group design 2x2. Subyekpenelitianiniadalahsiswakelas X SMAN 10 Malang dan SMA Wisnuwardhana Malang.Jumlahsubyekuntuk SMAN 10 sebanyak 90 siswa yang terdiriatas 45 sebagaikelompokeksperimendan 45 sebagaikelompokkontrol. Sedangkansubjekdari SMA Wisnuwardhana Malang sebanyak 40 siswa yang terdiriatas 20 siswasebagaikelompokeksperimendan 20 siswasebagaikelompokkontrol. Penentuansubyekpenelitianmenggunakanteknikcluster random sampling. Instrumen yang digunakandalampenelitianiniadalahtesgayakognitifyaituGroup Embedded Figure Test (GEFT) untukmengetahuijenisgayakognitifsiswadanteskemampuanmemahamibacaan. Data yang terkumpuldianalisisdenganteknikanalisis data ANOVA denganbantuan program SPSS 20.0 for Windows padatarafkesalahan 5% atautarafkeyakinan 95%.Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa: (1) terdapatperbedaan yang signifikankemampuanmemahamiisibacaanantarakelompoksiswayang diajardenganstrategiCSR dengansiswa yang diajardenganstrategi SQ3R.Strategi CSR mempunyaipengaruhlebihbaikdibandingkandenganstrategi SQ3R dalampemahamanbacaan.Hal inidibuktikandenganhasilhipotesis yang menunjukkanbahwanilaiFhitung yang diperoleholehstrategimembacauntukvariabelkemampuanmemahamiisibacaansebesar 230.797 dengannilaiprobabilitasatausignifikansi 0.00 < 0.05; (2) terdapatperbedaan yang signifikankemampuanmemahamiisibacaanantarasiswa yang memilikigayakognitifField Dependence(FD) dengansiswa yang memilikigayakognitifField Independence(FI).Siswa yang memilikigayakognitif FI mempunyaipengaruhlebihbaikdibandingkandengansiswa yang mempunyaigayakognitif FD dalampemahamanbacaan. Hal inidapatdibuktikandenganhasilpengujianhipotesis yang menunjukkanbahwanilaiFhitunggayakognitifsiswasebesar 6.798 dengannilaiprobabilitasatausignifikansisebesarρ< 0.05; (3) terdapatinteraksiantarastrategimembacadengangayakognitifterhadapkemampuanmemahamiisibacaan. Hal inidibuktikandenganhasilujihipotesis yang menunjukkanbahwanilaiFhitungsebesar 20.252 dengannilaiprobabilitasatausignifikansisebesarρ< 0.05. Berdasarkantemuanpenelitianini, makadisarankansebagaiberikut: (1) Guru dapatmenjadikanstrategimembaca CSR sebagaisalahsatualternatifstrategimembaca yang dapatdigunakandalampembelajaranpemahamanbacaan (reading comprehension) sehinggadapatmembantumengatasikesulitan-kesulitansiswadalammemahamiteksBahasaInggris; (2) Guru dalammemilihstrategimembacahendaknyadisesuaikandengangayakognitifdarimasing-masingsiswasupayadapatmengatasikesulitan-kesulitandalammemahamibacaansertamampumeningkatkanketerampilanmemahamibacaanmereka; (3) Di dalampembelajaranmemahamibacaan, disarankansiswa yang memilikigayakognitif FI sebaiknyadiajardenganstrategi CSR dansiswa yang memilikigayakognitif FD diajardenganstrategiSQ3R; (4) Bagipeneliti lain yang inginmelakukanpenelitianlebihlanjuttentangstrategi CSR, sebaiknyatidakhanyauntukkemampuanmembacateksBahasaInggristapibisadilakukanpenelitianterhadapkemampuanmemahamibacaanbahasa Indonesia ataubahasaasinglainnya, (5) Penelitianinimenggunakanvariabelstrategi SQ3R sebagaipembandingdaristrategi CSR.Olehkarenaitu, bagipeneliti lain seyogyanyamenggunakanstrategimembacalainya yang dapatdijadikansebagaipembandingdenganstrategimembaca CSR; dan (6) Penelitianinimenggunakangayakognitifsebagaivariabel moderator. Akan tetapiselainvariabel moderator gayakognitifdidugaadavariabel moderator yang lain misalnyagayabelajar (learning style), motivasiberprestasijugaberpengaruhterhadappemahamanbacaan. Untukitudisarankandiadakanpenelitianlebihlanjutdengan moderator lain yang dikombinasikandenganstrategimembaca CSR

Pengaruh strategi pembelajaran mandiri self regulated learning dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar praktik produktif peserta didik di SMK / Sutikno

 

ABSTRAK Sutikno, 2015. Pengaruh Strategi Pembelajaran Mandiri, Self Regulated Learning dan Motivasi Berprestasi terhadap Hasil Belajar Praktik Produktif Peserta Didik di SMK, Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Pasca-sarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Punaji Setyosari, M.Pd, M.Ed, (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (III) Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Kata Kunci: Strategi pembelajaran mandiri, self regulated learning, motivasi berprestasi, hasil belajar praktik produktif. Perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher centered instruction) menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (learner centered instruction) merupakan salah satu upaya penting dalam mengoptimalkan proses pembelajaran yang dapat membangkitkan peserta didik lebih aktif belajar. Belajar secara utuh dan bermakna dalam kehidupannya (learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together). Desain pembelajaran yang sesuai dengan paradigma diharapkan dapat menjadi solusi dan menjawab tantangan ke masa depan, yakni perubahan era industrialisasi yang membawa konskuensi terhadap perubahan kurikulum di sekolah menengah kejuruan. Strategi pembelajaran mandiri dapat diterapkan sesuai konsep school preneurship, yang bertujuan membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri peserta didik. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengkaji teori yang diarahkan pada upaya meningkatkan kualitas pembelajaran praktik produktif di sekolah menengah kejuruan. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen nonequivalent control group design secara faktorial. Rancangan faktorial 2 x 2 x 2 dengan variabel bebas strategi pembelajaran, variabel moderator self regulated learning dan motivasi berprestasi, dan variabel tergantung hasil belajar. Subyek penelitian peserta didik kelas XI kompetensi keahlian pemesinan di SMK Negeri 1 Trenggalek dan SMK Negeri 3 Tulungagung dengan N = 128. Pelaksanaan pada semester gasal tahun pelajaran 2014/2015. Teknik pengumpulan data melalui tes, angket dan observasi. Teknik analisis data pengujian hipotesis menggunakan teknik statistik Ancova tiga jalur dengan faktorial 2 x 2 x 2 satu kovariat. Hasil analisis pengujian hipotesis diperoleh adanya pengaruh utama dan pengaruh interaksi yang signifikan. Dibuktikan secara umum hipotesis statistik (H0) ditolak dan hipotesis penelitian (H1) diterima. Melalui pembahasan dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran mandiri dalam praktik produktif di SMK mempunyai keandalan dan peranan yang signifikan dalam mengantarkan belajar peserta didik untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Strategi pembelajaran mandiri meningkatkan kompetensi hard skills dan soft skills peserta didik. Hal ini sesuai konsep school preneurship untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi kajian selanjutnya, dan dapat memfasilitasi untuk memperoleh desain pembelajaran yang bermakna .

Kontekstual pengembangan bahan ajar kewirausahaan SMK / Nina Farliana

 

ABSTRAK Farliana, Nina. 2015. Kontekstualisasi Pengembangan Bahan Ajar Kewirausahaan SMK. Tesis, Jurusan Pendidikan Ekonomi, Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. MitWitjaksono, MS.Ed., (2) Dr. Agung Haryono, S.E., M.P., Ak. Kata kunci: Kontekstualisasi, Bahan Ajar, Kewirausahaan. Mata pelajaran kewirausahaan difokuskan bertujuan agar peserta didik dapat mengaktualisasikan diri dalam perilaku wirausaha. Kondisi empiris yang terjadi diantaranya materi yang dibahas dalam pembelajaran kurang sesuai dengan konteks dan isu-isu yang sedang berkembang dalam masyarakat. Kondisi ideal yang seharusnya adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide yang dimiliki untuk belajar. Pentingnya kontekstualisasi pengembangan bahan ajar memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan lebih banyak sehingga meningkatkan keterampilan yang dimiliki. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah (1) menghasilkan bahan ajar kewirausahaan yang kontekstual untuk SMK yang valid, praktis, dan efektif bagi peserta didik sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar. (2) untuk mengetahui efektivitas penggunaan bahan ajar kewirausahaan. Penelitian ini menggunakan model pengembangan design based research (DBR) dengan enam fase pengembangan yaitu: (1) identifikasi masalah, (2) merumuskan produk pengembangan bahan ajar, (3) desain dan pengembangan bahan ajar, (4) uji coba prototipe bahan ajar, (5) evaluasi kelayakan prototipe bahan ajar, dan (6) penyempurnaan kontekstualisasi pengembangan bahan ajar kewirausahaan SMK. Hasil validasi ahli pendidikan dan praktisi ditunjukkan dengan persentase sebesar 81,25% (valid/ layak) dan 79% (layak). Selanjutnya uji perorangan terhadap bahan ajar menunjukkan 78% yang berarti bahan ajar cukup praktis sehingga dapat digunakan dengan revisi. Kemudian uji kelompok kecil menunjukkan 82%, serta uji lapangan tentang tanggapan bahan ajar menunjukkan persentase sebesar 81,11% yang berarti bahwa bahan ajar praktis dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran. Evaluasi kelayakan bahan ajar juga dilihat dari hasil analisis angket motivasi siswa yang menunjukkan persentase sebesar 80,83%, yang berarti bahwa bahan ajar termasuk kualifikasi praktis serta telah mampu meningkatkan motivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran kewirausahaan. Hasil akhir dari kontekstualisasi pengembangan bahan ajar berupa refleksi kegiatan pembelajaran yang menyatakan bahwa outcome kegiatan pembelajaran telah mampu menciptakan situasi pembelajaran dimana siswa mampu mengaitkan pengetahuan dengan situasi kondisi di lingkungan sekitar tempat tinggal. Siswa juga mampu memahami materi yang diajarkan yang kemudian mampu diaktualisasikan dalam suatu bentuk keterampilan. Kontekstualisasi pengembangan bahan ajar kewirausahaan telah menghasilkan temuan penelitian yang berupa pemahaman dan motivasi siswa dalam pembelajaran serta penggunaan bahan ajar kewirausahaan yang kontekstual efektif digunakan dalam pembelajaran di kelas.

Teori ergodik / oleh Ipung Yuwono

 

Perbedaan optimisme belajar siswa SMAN 8 Malang berdasarkan jenis kelamin pada penerapan teknik attributional Retraining dan guided imagery / Nur Fadhilah Umar

 

ABSTRAK Umar, Nur Fadhilah. 2015. Perbedaan Optimisme Belajar Siswa SMAN 8 Malang Berdasarkan Jenis Kelamin Dalam Penerapan Teknik Attributional Retraining dan Teknik Guided Imagery. Tesis. Program Studi Bimbingan Dan Konseling Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Andi Mappiare, AT. M.Pd, (II) Prof. Dr. Fattah Hanurawan, M.Ed., M.Si Kata Kunci : Optimisme Belajar, Teknik Attributional Retraining, Teknik Guided Imagery, Jenis Kelamin Optimisme belajar merupakan faktor afeksi yang berpengaruh terhadap pencapaian akademik, motivasi berpestasi, efikasi diri, self-esteem dan tingkat depresi seseorang. Rendahnya optimisme belajar merupakan salah satu masalah yang banyak dialami siswa dalam proses belajarnya di sekolah. Teknik konseling yang dapat digunakan untuk meningkatkan optimisme belajar siswa adalah teknik attributional retraining dan teknik guided imagery. Tujuan penelitian ini adalah (I) menguji perbedaan optimisme belajar siswa dalam penerapan teknik attributional retraining dan teknik guided imagery, (II) menguji perbedaan optimisme belajar siswa berdasarkan jenis kelamin dalam penerapan teknik attributional retraining dan teknik guided imagery, (III) menguji interaksi antara faktor teknik konseling dan jenis kelamin terhadap optimisme belajar siswa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi experiment dengan menggunakan teknik pengukuran pretest-posttest non-equivalent group design dengan rancangan faktorial 2 x 2. Populasi pada penelitian ini adalah kelas X SMAN 8 Malang. Jumlah Sampel pada penelitian ini sebesar 24 siswa yang dibagi menjadi 12 sampel pada kelompok teknik attributional retraining dan 12 sampel pada kelompok teknik guided imagery. Alat pengumpul data pada penelitian ini adalah skala optimisme belajar siswa yang telah diuji validitas dan reabilitasnya. Teknik analisis data menggunakan analisis kovarian (ANACOVA) dengan bantuan SPSS 16 for windows. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa (I) ada perbedaan optimisme belajar siswa dalam penerapan teknik attributional retraining dan teknik guided imagery, (II) ada perbedaan optimisme belajar siswa berdasarkan jenis kelamin dalam penerapan teknik attributional retraining dan teknik guided imagery, (III) tidak ada interaksi secara signifikan antara faktor teknik konseling dan jenis kelamin terhadap optimisme belajar siswa.

Penerapan model project-based learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang / Dewi Nofita Sari

 

Kata kunci: Model Project-Based Learning, Aktivitas, Hasil belajar, IPA. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPA kelas IV SDN Ketawanggede 2 Malang, terdapat permasalahan siswa pasif dalam pemebalajaran IPA dan guru masih menggunakan metode ceramah. Hasil belajar siswa masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan pada ulangan harian yaitu 59, jauh dari ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 67. Oleh karena itu peneliti menerapkan model Project-Based Learning untuk mengatasi permasalahan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1)penerapan model proyek pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas belajar siswa kelas IV, (3) hasil belajar IPA setelah menerapkan model pembelajaran proyek di kelas IV. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 23 siswa yang terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan model proyek pada pembelajaran IPA siswa kelas IV dalam dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat. Guru memfasilitasi dan memotivasi siswa sehingga siswa dapat membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian aktivitas/kegiatan. Penggunaan model ini dapat meningkatkan aktivitas. Hal ini terbukti dari rata-rata aktivitas belajar siswa sebelumnya yaitu 81 pada siklus I meningkat menjadi 91,6 di siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar pratindakan pada materi "energi dan perubahannya” adalah 59 yang tuntas hanya 6 orang (26%), pada siklus I meningkat menjadi 74,5 yang tuntas 16 siswa (69,6%). Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 89,2 yang tuntas 22 siswa (95,6%). Kesimpulannya penerapana model proyek dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN ketawanggede 2 Malang. Saran bagi Kepala Sekolah agar memotivasi guru untuk lebih terfokus dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model proyek. Untuk guru dan peneliti lain dalam menerapkan model proyek tidak terpisah-pisah, sebaiknya 1 proyek minimal di selesaikan 1 siklus dan untuk siklus berikutnya diupayakan mengganti dengan kegiatan proyek lain yang sesuai dengan proyek sebelumnya.

Keefektifan pelatihan metakognisi melalui model experiental learning untuk meningkatkan kinerja konselor dalam layanan konseling / Muya Barida

 

ABSTRAK Barida, Muya. 2015. Keefektifan Pelatihan Metakognisi melalui Model Experiential Learning untuk Meningkatkan Kinerja Konselor dalam Layanan Konseling. Tesis, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. IM Hambali, M.Pd., (II) Dr. Adi Atmoko, M.Si. Kata Kunci: pelatihan metakognisi, model experiential learning, kinerja konselor dalam layanan konseling. Metakognisi adalah keterampilan dalam mencari tahu apa yang terjadi, menciptakan aturan main, persepsi, wicara diri, gambar visual, penjelasan, dan pengharapan yang dapat mempengaruhi kinerja individu. Konselor perlu meninjau keterampilan metakognisinya, untuk meningkatkan kinerja dalam layanan konseling. Kenyataan yang terjadi di lapangan bahwa masih banyak siswa tidak nyaman dengan keberadaan konselor karena suka memarahi, konselor hanya melayani siswa bermasalah, kurang aktif melakukan pendekatan kepada siswa, kurang menguasai konsep layanan, teknik yang digunakan masih konvensional, dan tidak melakukan evaluasi layanan. Kondisi-kondisi tersebut dapat menimbulkan dampak negatif yang berkelanjutan apabila tidak ada langkah dari konselor untuk memperbaiki kualitas kinerja sebagai konselor profesional. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan pelatihan metakognisi melalui model experiential learning. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keefektifan pelatihan metakognisi melalui model experiential learning untuk meningkatkan kinerja konselor dalam layanan konseling. Penelitian menggunakan experimental design dengan model single subject A-B-A1. Subjek penelitian ini adalah lima konselor SMP Negeri 5 Sukoharjo, yang dipilih dengan menggunakan teknik purpossive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa instrumen bahan perlakuan dan instrumen pengumpul data. Hasil penelitian melalui analisis visual grafik menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai pelaksanaan layanan konseling bagi masing-masing konselor. Peningkatan terjadi dari fase baseline, fase treatment, hingga fase setelah treatment ditarik. Berdasarkan hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan metakognisi melalui model experiential learning efektif untuk meningkatkan kinerja konselor dalam layanan konseling. Saran yang dapat peneliti kemukakan (1) bagi konselor: (a) konselor hendaknya terus melatih diri untuk menggunakan keterampilan metakognisi secara tepat dalam melaksanakan layanan konseling sehingga mampu mencapai kinerja yang optimal, dan (b) konselor hendaknya mengisi instrumen kuesioner sesuai dengan kondisi saat ini agar menghasilkan kondisi yang representatif; dan (2) bagi peneliti selanjutnya: (a) apabila desain penelitian ini diterapkan di sekolah atau terhadap konselor lain, maka hendaknya disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu, dan (b) hendaknya fase ketiga dari desain single subject A-B-A1 ini dilakukan lebih dari satu kali pertemuan sehingga diperoleh hasil yang lebih reliabel mengenai dampak dari variabel independen terhadap variabel dependen.

Pengaruh entrepreuneur oerientation terhadap product innovation melalui learning orientation (pada home industry ledre Kabupaten Bojonegoro) / Mifta Hulaikah

 

ABSTRAK Hulaikah, Mifta. 2015. Pengaruh Entrepreneur Orientation Terhadap Product Innovation Melalui Learning Orientation (Pada Home Industry Ledre Kabupaten Bojonegoro). Tesis, Program Studi S2 Pendidikan Bisnis dan Manajemen, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. F Danardana M, M.M, (II) Dr. Aniek Indrawati, S.Si, M.M Kata Kunci: Entrepreneur Orientation, Learning Orientation, Product Innovation, Home Industry Ledre Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu wilayah yang mempunyai potensi industri makanan, khususnya makanan Ledre yang mempunyai peran sebagai penyumbang PDRB terbesar bagi Kabupaten Bojonegoro dan sebagai salah satu bentuk usaha yeng memanfaatkan potensi daerah atau kearifan lokal. Karena itu, usaha ini perlu meningkatkan kemampuannya dalam menginovasi produk (Product Innovation), agar mempunyai keunggulan dibanding usaha lain serta dapat bertahan dalam lingkungan yang kompetitif. Abad 21 merupakan abad dimana pengetahuan menjadi faktor penentu keberhasilan usaha, sehingga untuk meningkatkan inovasi produk tersebut dapat menggunakan orientasi pembelajaran (Learning Orientation). Learning by doing, para pelaku usaha kecil dapat belajar ketika mereka telah menjalankan bisnisnya dengan orientasi kewirausahaan (Entrepreneur Orientation). Orientasi kewirausahaan merupakan sikap secara entrepreneur yang dapat merangsang munculnya pengetahuan akan hal-hal baru sehingga dapat pula menumbuhkan inovasi produk. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap orientasi pembelajaran, pengaruh orientasi kewirausahaan terhadap inovasi produk, dan pengaruh orientasi pembelajaran terhadap inovasi produk. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif, penelitian yang menggunakan data dimana peneliti menjelaskan hubungan kausal antara variable-variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yang digunakan adalah pengusaha home industry Ledre Kabupaten Bojonegoro sebanyak 236 orang. Menggunakan teknik purposive sampling, maka sampel yang dihasilkan adalah sejumlah 115 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, dokumentasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah path analyze. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan Entrepreneur Orientation, Learning Orientation dan Product Innovation pelaku home industry Ledre Kabupaten Bojonegoro cenderung tinggi. Entrepreneur Orientation berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Learning Orientation. Entrepreneur Orientation berpengaruh positif dan signifikan terhadap Product Innovation dan Learning Orientation berpengaruh positif dan signifikan terhadap Product Innovation Home Industry Ledre Kabupaten Bojonegoro Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menambah indikator dari variabel penelitian, menambah cakupan inovasi, serta mencoba mengaplikasikan pada lembaga non bisnis. Untuk pelaku Home Industry Ledre sendiri, sebaiknya terus meingkatkan kemampuan belajar, kemampuan untuk bersikap secara wirausaha sehingga dapat terus meningkatkan inovasi produk demi bisa bertahan dalam lingkungan kompetitif dan tetap menjadi asset berharga bagi Kabupaten Bojonegoro.

A Proposed national elementary education program for Indonesia / by Soepartinah Pakasi

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |