The use of visual aids in teaching vocabulary for the fourth graders / Shelly Cardina Dona Artha

 

ABSTRAK Artha, Shelly Cardina Dona. 2015. Penggunaan Media Visual pada Pengajaran KosaKata untuk Siswa Kelas Empat.Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dra. Sri Andreani, M.Ed. Pembimbing II: Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd. Keywords: media visual, menggunakan, young learners Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Penelitian ini menyelidiki media visual yang digunakan dalam pengajaran kosakata untuk siswa kelas empat di MIN 1 Malang. Subyekdalampenelitianiniadalah guru BahasaInggriskelas 4C.Selama proses pengumpulan data, peneliti mewawancarai guru Bahasa Inggris kelas 4C. Sementarauntukkegiatanpengamatan, instrumen yang digunakanadalahlembarpengamatan, field notes, dankamera.Data yang diperoleh kemudian dianalisa secara deskriptif melalui pengorganisasian dan perbandingan dengan beberapa teori yang terkait. Hasil dari analisis data menunjukkan tiga temuan. Pertama, media visual yang digunakan dalam pengajaran kosakata adalah pantomim, papan tulis, video, danflashcards (flashcards kata dan flashcardskecil bergambar). Semua media visual yang digunakanoleh guru dikategorikansebagai media yangsangat ideal untukmengajarkosakata.Yang kedua, guru menggunakanbeberapa criteria pemilihan media visual, yaitu keakraban, keterlihatan, kejelasan, dan biaya.Ketiga, guru menggunakanmedia visualdengansangat baik. Meskipunsemua media disimpulkansebagai media yang sangat ideal, akantetapiadabeberapaaspek yang harus di perbaiki.Menetapkan criteria pemilihan media jugasangatbaikkarenahalinimemberikankontribusi yang besarpadapenggunaanmedia. Cara guru menggunakan media jugadapatberpengaruhpadamotivasibelajarsiswadanberapabanyakinformasi yang siswadapatkandari proses belajar. Berdasarkanhasil penelitian, beberapa saran telah dibuat. Untuk para guru Bahasa Inggris pada umumnya, mereka seharusnya menggunakan media visual sekreatif mungkin pada proses pembelajaran mereka. Apakah itu untuk mengajar orang dewasa atau anak-anak, media visual memainkan peran penting sebagai alat untuk membantu guru dalam menyampaikan pelajaran secara efektif. Untuk guru Bahasa Inggris kelas 4C, disarankan untuk menggunakan media visual lain yang lebih menarik karena penggunaan media yang bervariasi akan menambah motivasi belajar siswa dan juga memberikan kesempatan untuk mereka mengalami hal baru dalam pembelajaran bahasa. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian dengan topik yangsamapada kelas yang berbeda.

Perbedaan motivasi berprestasi dan persepsi fisika melalui proses belajar mengajar dengan pemberian tugas terstruktur siswa kelas I SLTP Negeri III Bangkalan / oleh Gema Wahyudi

 

Pemerah madu berbasis centrifugal menggunakan mikrokontroler / Bagus Prasetyo

 

Kata Kunci: Mikrohidro, Evaluasi, Jaringan Distribusi, Sistem Informasi Tegangan. Penyaluran tenaga listrik dengan kapasitas daya yang kecil seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang berada di Desa Temas Kota Batu yang memakai generator sinkron 1 fasa dengan daya 10 kVA memiliki kekurangan, dari kekurangan sistem distribusi PLTMh di Desa Temas Kota Batu ini yaitu ukuran kabel yang tidak sesuai standart, tidak ketersediaannya MCB pada masing-masing group dan pentanahan untuk titik netral dan bodi peralatan yang terbuat dari logam seperti besi, sistem informasi pendeteksi jika tegangan naik maupun turun diluar batas standart seperti alarm atau indikator lampu, oleh karena itu perlu diadakannya evaluasi terhadap jaringan distribusi listrik PLTMh serta perancangan ulang dari hasil evaluasi. Adapun tujuan dari evaluasi sistem ini yaitu: mengevaluasi penghantar saluran dari output generator sampai ke jaringan penerangan jalan umum (PJU), mengevaluasi besar arus miniatur circuit breaker (MCB) utama dan saluran yang terdapat pada panel pemutus hubung bagi (PHB), merancang sistem grounding pada titik netral dan body peralatan listrik dan membuat Sistem Informasi Tegangan naik dan tegangan turun diluar batas standart. Dari hasil evaluasi didapat besar arus MCB telah rancang ulang sesuai PUIL 2000, yaitu untuk besar arus MCB utama pada penerangan dan tenaga sebesar 10A, untuk besar arus MCB utama pada penerangan sebesar 2A, sedangkan group instalasi motor pompa sebesar 6A, untuk penerangan jalan umum sebesar 2A dan group instalasi power house digunakan MCB 2A, untuk kuat hantar arus (KHA) pada output generator ke PHB menggunakan kabel NYM ukuran 2x2,5mm2, sedangkan KHA instalasi motor pompa menggunakan kabel NYM ukuran 3x1,5mm2, untuk KHA instalasi penerangan jalan umum menggunakan kabel NFA ukuran 2x6mm2, untuk resistansi pentanahan didapat nilai memilki 2Ω, pada pengujian hubung singkat MCB, besar MCB sebesar 2A akan trip pada waktu 22 detik, MCB 4A trip pada waktu 0,50 detik, MCB 6A trip pada waktu 0,42 detik dan MCB 10A trip pada waktu 0,30 detik, untuk sistem informasi tegangan akan mengeluarkan sinyal untuk memerintahkan relai jika sistem informasi mendeteksi tegangan diatas 230V untuk menghidupkan lampu merah disertai alarm dan dibawah 200V untuk menghidupkan lampu hijau disertai alarm.

Pengaruh temperatur pemanasan media pendingin terhadap kekerasan pada proses pengerasan celup baja Assab DF-2
oleh Dian Fajar Prasetyanto

 

Turunan fungsi vektor bernilai vektor / oleh Moh. Syaiful Imron

 

Kajian buku penunjang pelajaran fisika SMU kelas I cawu I / oleh Elfi Hidayati

 

Implementasi pendidikan anti korupsi melalui pendidikan kewarganegaraan di SMPN 8 Malang / Any Setyo Rahayu

 

Kata Kunci: implementasi, pendidikan anti korupsi, pendidikan kewarganegaraan Pendidikan Anti Korupsi adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar-mengajar yang kritis terhadap nilai-nilai anti korupsi. Dalam proses tersebut, Pendidikan Anti Korupsi bukan sekedar media bagi transfer pengetahuan (kognitif), namun juga menekankan pada upaya pembentukan karakter (afektif), dan kesadaran moral dalam melakukan perlawanan (psikomotorik), terhadap perilaku korupsi. SMPN 8 Malang merupakan salah satu sekolah yang menerapkan Pendidikan Anti Korupsi melalui pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian tentang implementasi Pendidikan Anti Korupsi melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup: (1) pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus PKn, (2) penyusunan RPP yang memuat Pendidikan Anti Korupsi, (3) pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn, (4) kendala-kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui mata pelajaran PKn, dan (5) upaya mengatasi kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui mata pelajaran PKn. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Lokasi penelitian di SMPN 8 Malang yang terletak di Jl. Arjuno No. 19 Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan (orang), peristiwa, dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Prosedur analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi data. Temuan penelitian menunjukkan bahwa:(1) prosedur pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus PKn adalah: (a) mengidentifikasi SK dan KD yang akan menjadi materi pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi, (b) menambah indikator tentang korupsi pada kolom indikator, (c) menambah materi pokok tentang korupsi pada kolom materi pokok sesuai dengan indikatornya, (d) menyisipkan instrumen yang berkaitan dengan korupsi untuk mengevaluasi Pendidikan Anti Korupsi, dan (e) menambah sumber belajar tentang korupsi, (2) prosedur dalam menyusun RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi adalah: (a) menyisipkan indikator materi Pendidikan Anti Korupsi, (b) menyisipkan materi Pendidikan Anti Korupsi pada tujuan pembelajaran, (c) menguraikan indikator materi Pendidikan Anti Korupsi pada materi pembelajaran, (d) merencanakan pemberian materi Pendidikan Anti Korupsi dalam langkah-langkah pembelajaran, (e) menambahkan sumber belajar, dan (f) menyisipkan instrumen tentang materi Pendidikan Anti Korupsi dalam penilaian pelajaran PKn, (3) pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn menggunakan media gambar, artikel, dan media massa serta menggunakan metode ceramah, role playing, tanya jawab, penugasan, dan diskusi kelompok. Untuk mengevaluasi Pendidikan Anti Korupsi mengikuti dengan evaluasi PKn, (4) kendala-kendala dalam pembelajaran PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi terdiri dari dua kendala yaitu kendala internal dan eksternal. Kendala internalnya meliputi: (a) guru mengalami kesulitan dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi melalui PKn karena kekurangtelitian dalam mengidentifikasi SK dan, (b) guru mengalami kesulitan dalam penyusunan silabus dan RPP PKn yang memuat materi Pendidikan Anti Korupsi karena sebelum membuat silabus dan RPP guru harus memikirkan materi Pendidikan Anti Korupsi apa yang dimasukkan dalam silabus dan RPP serta banyaknya komponen yang harus memuat materi Pendidikan Anti Korupsi mulai dari indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar dan evaluasinya, dan (c) guru mengalami kesulitan dalam pembagian waktu pembelajaran Pendidikan Anti Korupsi karena materi PKn sudah penuh dan alokasi waktu pembelajaran PKn yang sedikit. Sedangkan kendala eksternalnya adalah faktor lingkungan yang melihat korupsi sebagai hal yang biasa atau membudaya sehingga berakibat rusaknya tatanan hidup di Indonesia, dan (5) upaya mengatasi kendala-kendala internal adalah: (a) upaya mengatasi kendala dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi dengan cara sering mempelajari SK dan KD yang menjadi materi pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi serta harus teliti, (b) upaya mengatasi kendala dalam penyusunan silabus dan RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi dengan cara harus teliti dan kreatif agar semua materi bisa tersampaikan dan memiliki banyak referensi, dan (c) upaya mengatasi kendala alokasi waktu yang sedikit dengan cara banyak memberikan tugas dan juga guru harus pandai dalam memilih metode pembelajaran yang bisa menyampaikan seluruh materi baik materi PKn maupun materi Pendidikan Anti Korupsi. Sedangkan upaya mengatasi kendala eksternal karena faktor lingkungan dengan cara selalu memberi nasihat dan memberi contoh kongkrit kepada siswa dengan membiasakan bersikap dan berperilaku anti korupsi dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa tidak menganggap korupsi sebagai hal yang biasa. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan saran-saran: (1) kepada kepala SMPN 8 Malang, sekolah harus lebih memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti seminar maupun pelatihan tentang pembelajaran agar guru memiliki pengetahuan yang luas dan juga segera membuka kantin kejujuran, (2) kepada guru, guru lebih sering mempelajari Pendidikan Anti Korupsi agar mengalami kemudahan dalam pengintegrasian Pendidikan Anti Korupsi ke dalam silabus maupun RPP PKn yang memuat Pendidikan Anti Korupsi. Guru sebaiknya juga harus pandai memanfaatkan waktu secara efektif dengan menggunakan metode pembelajaran yang bisa mencakup semua materi baik materi PKn maupun materi Pendidikan Anti Korupsi, (3) kepada siswa, siswa sebaiknya bisa aktif dalam kegiatan belajar mengajar PKn dan bisa menerapkan hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari, dan (4) kepada bangsa Indonesia, pemerintah sebaiknya mensosialisasikan Pendidikan Anti Korupsi kepada seluruh elemen masyarakat agar tujuan Pendidikan Anti Korupsi bisa terlaksana secara maksimal dan tidak hanya siswa saja yang bersikap dan berperilaku anti korupsi tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Interaksi guru dan siswa kelas VII untuk membantu memahami konsep transformasi / Rachmadania Akbarita

 

ABSTRAK Akbarita, Rachmadania. 2015. Interaksi Guru Dan Siswa Kelas VII Untuk Membantu Memahami Konsep Transformasi. Tesis, Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sri Mulyati, M.Pd (2) Dra. Santi Irawati, Ph.D Kata Kunci: interaksi guru dan siswa, analisis interaksi, transformasi Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain memacu pengonstruksian ide-ide baru dan dapat meningkatkan perkembangan intelektual siswa sehingga interaksi sosial merupakan faktor penting dalam mendorong perkembangan kognitif seseorang. Proses interaksi efektif yang dikembangkan guru mampu memberikan dan mengembangkan kegiatan belajar mengajar secara optimal. Materi transformasi merupakan materi yang pada Kurikulum 2006 tidak diajarkan, akan tetapi muncul pada Kurikulum 2013 sehingga guru belum dapat menentukan atau memastikan bahwa interaksi yang biasanya digunakan dalam proses pembelajaran akan dapat membantu siswa untuk memahami konsep transformasi. Gestur yang guru lakukan melengkapi interaksi yang terjadi antara guru dan siswa. Oleh karena itu, interaksi antara guru dan siswa yang terjadi pada saat proses pembelajaran materi transformasi perlu dianalisis lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan interaksi guru dan siswa kelas VII untuk membantu memahami konsep Transformasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dilaksanakan di kelas VII SMPN 9 Malang. Subjek penelitian ini yaitu seorang guru matematika kelas VII. Model analisis yang digunakan adalah: (1) Mereduksi data; (2) Menyajikan data; (3) Menarik kesimpulan dan verifikasi data. Kesimpulan yang diperoleh yaitu interaksi antara guru dan siswa yang dilakukan dapat membantu siswa memahami konsep transformasi. Dimensi pertama yang dianalisis pada saat interaksi guru dan siswa adalah proses kognitif. Proses kognitif yang mendominasi adalah kegiatan eksplorasi. Dimensi kedua adalah proses sosial. Proses sosial yang mendominasi adalah collaborative. Dimensi yang ketiga adalah fungsi verbal. Fungsi verbal yang mendominasi adalah interrogative. Gestur menulis merupakan jenis gestur yang paling sering muncul pada saat interaksi antara guru dan siswa terjadi. Sehingga interaksi guru dan siswa yang sesuai untuk membantu pemahaman siswa adalah dengan kegiatan eksplorasi, yaitu guru secara aktif memberikan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang akan membantu siswa membangun pemahamannya. Dengan demikian akan tercipta pembelajaran yang kolaboratif. Kegiatan pembelajaran tersebut juga harus disertai gestur yang dimunculkan oleh guru agar siswa lebih mudah memahami konsep transformasi. Kegiatan belajar mengajar tersebut juga harus disertai dengan gestur guru untuk membantu siswa memahami konsep. Gestur menulis terbukti efektif digunakan untuk membantu menjelaskan kepada siswa mengenai maksud materi-materi transformasi.

Trayektori selesaian sistem persamaan diferensial linier
oleh Lilik Masruro

 

Barisan fungsi
Yusi Hartutik

 

Pemecahan masalah geometri berdasarkan langkah-langkah Polya pada siswa kelas IX ditinjau dari kemampuan spasial / Abdullah Hasan

 

ABSTRAK Hasan, Abdullah. 2013. Pemecahan Masalah Geometri Berdasarkan Langkah-langkah Polya Pada Siswa Kelas IX Ditinjau Dari Kemampuan Spasial. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (2) Dr. Abd. Qohar, M.T. Kata kunci: Pemecahan Masalah, Geometri, Langkah-langkah Polya, Kemampuan spasial Prestasi pemecahan masalah siswa Indonesia rendah pada soal tes internasional konten ruang dan bentuk yang memiliki konstruksi kemampuan spasial. Kemampuan spasial sangat penting dalam memecahkan masalah geometri dan kurangnya kemampuan ini dapat menimbulkan miskonsepsi. Kesalahan siswa dalam memecahkan masalah dapat terjadi pada tahap tertentu dan berbeda setiap siswa. Banyak penelitian menunjukkan siswa dengan kemampuan spasial tinggi menampilkan hasil yang lebih baik dibandingkan siswa dengan kemampuan spasial rendah. Namun perlu diinvestigasi strategi dari pemecah masalah berdasarkan masing-masing tingkat kemampuan spasial. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pemecahan masalah geometri berdasarkan langkah-langkah Polya pada siswa kelas IX ditinjau dari kemampuan spasial. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dilaksanakan di kelas IX SMP Al-Ma’hadul Islami Beji Pasuruan yang terdiri dari 72 siswa dengan kemampuan spasial 69% rendah, 28% sedang dan hanya 3% tinggi. Subjek penelitian diambil 6 siswa dengan masing-masing 2 siswa kemampuan spasial rendah, sedang dan tinggi. Siswa diberi tes kemampuan spasial, tugas pemecahan masalah dan terakhir diwawancarai. Soal geometri yang diberikan terdiri dari tiga soal yang diadaptasi dari soal PISA konten ruang dan bentuk dan soal penelitian sebelumnya. Pemecahan masalah geometri yang diteliti berdasarkan langkah-langkah Polya yaitu memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan memeriksa kembali. Analisis data meliputi reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Kemudian validitas data diperoleh dengan metode triangulasi membandingkan hasil tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan siswa kemampuan spasial rendah tidak dapat memecahkan masalah karena tidak memahami masalah akibat sulit membayangkan, tidak dapat menyusun rencana yang tepat, tidak dapat memvisualisasi jaring-jaring tabung yang benar, tidak dapat menggambar, atau tidak memeriksa kembali jawabannya. Siswa kemampuan spasial sedang dapat memecahkan sebagian masalah dan tidak dapat memecahkan sebagian besar masalah karena tidak dapat memvisualisasi jaring-jaring tabung yang benar, tidak dapat menyusun rencana yang tepat, tidak melaksanakan rencana dengan baik atau tidak memeriksa kembali jawabannya dan mencari kemungkinan lain. Siswa kemampuan spasial tinggi dapat memecahkan masalah secara baik meskipun sebagian kurang teliti pada proses pelaksanaan rencana atau selesai sebagian karena kurang dapat memvisualisasi jaring-jaring tabung yang benar, tidak memeriksa kembali kemungkinan lain, melakukan kesalahan dalam pelaksanaan rencananya. Siswa kemampuan spasial tinggi lebih baik dari siswa kemampuan spasial sedang kecuali pada temuan soal kubus yang dicat dan jaring-jaring tabung. Siswa kemampuan spasial tinggi dan siswa kemampuan spasial sedang lebih baik dari siswa kemampuan spasial rendah. Adapun persamaan dari ketiga tingkatan berdasarkan soal yang dipecahkan yaitu di antara 3 soal maka soal nomor 1 tentang kubus yang dipotong dan dicat paling mudah dipecahkan oleh semua tingkat kemampuan spasial, dan soal nomor 3 tentang kemasan paling sulit dipecahkan oleh semua tingkat kemampuan spasial.

Kajian mikrobiologi berdasarkan ALT koloni kapang dan isolasi serta identifikasi spesies-spesies kapang kontaminan pada beras untuk Rumah Tangga Miskin (Raskin) di Kota Malang / Sulastri

 

ABSTRAK Sulastri. 2014.KajianMikrobiologiBerdasarkan ALT KoloniKapangdanIsolasisertaIdentifikasiSpesies-spesiesKapangKontaminanpadaBerasuntukRumahTanggaMiskin (Raskin) di Kota Malang.Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd.,(II) AgungWitjoro, S.Pd., M.Kes. Kata Kunci:Raskin, KualitasMikrobiologi, AngkaLempang Total (ALT), Kapangkontaminan. Raskinmerupakan salah satusubsidipangansebagaiupayapemerintahuntukmeningkatkanketahananpangandanmemberikanperlindunganpadakeluargamiskin. Raskin rawan mengalami kerusakan selama masa penyimpanan di gudang BULOG. Dalamberasterkandungnutrisiantara lain pati, pentose, selulosa, hemiselulosadangulaberas. Nutrisitersebutselaindiperlukanolehmanusia, jugadiperlukanuntukpertumbuhandanperkembanganmikroorganismetermasukkapang.Kapangmelakukanbiodegradasiterhadapsenyawa-senyawapenyusunberas. Akibatnyaberasmenjadirusakdankuranglayakdikonsumsi.Penelitianinibertujuanuntuk: 1) menentukanAngkaLempeng Total (ALT) kolonikapangpadasampelRaskin; 2)menentukankualitasmikrobiologiRaskinberdasarkan ALT kolonikapangkontaminan; 3) mengisolasisemuaspesieskapangkontaminanpadasampelRaskindanmengidentifikasispesies-spesieskapangkontaminanpadasampelRaskin; 4) menentukanspesieskapangkontaminan yang paling dominandalamsampel Raskin. Penelitian dilakukanpadabulanDesember 2013-April 2014di LaboratoriumMikrobiologiJurusanBiologi FMIPA UniversitasNegeri Malang. PenelitiandimulaipadabulanDesember 2013-April 2014.ObjekdalampenelitianiniialahRaskindarilimakelurahan di kota Malang yaituKotalama, Tanjungrejo, Kasin, Jodipan, danJatimulyo. SampelRaskinsebanyak 25 gram dihaluskandalam mortar dan pestle, laludilarutkandalam 225 ml larutan air pepton 0,1% sehinggadiperolehsuspensidengantingkatpengenceran 10-1. Suspensidiencerkanlagipadalarutanpepton 0,1% secarabertahapsehinggadiperolehsuspensidengantingkatpengenceran 10-2, 10-3, 10-4, 10-5dan 10-6. PerlakuansampelRaskindilakukansebanyak 3 kali ulangan.Suspensipadamasing-masingtingkatpengencerandiinokulasikanpada medium lempengCzapek Agar(CA) sebanyak 0,1 ml, laludiinkubasikanpadasuhu 250C selama 7 x 24 jam. Selanjutnyadilakukanpenghitungan ALT kolonikapang, penentuankualitasmikrobiologiberdasarkan ALT kolonikapang, penghitungan ALT tiap-tiapspesieskapangkontaminan, isolasi, sertadeskripsiciri-cirimakroskopisdanmikroskopiskolonikapang. Selanjutnyadilakukanidentifikasiterhadaptiap-tiapspesieskapangkontaminansertapenentuanspesieskapangkontaminandominan. Hasildaripenelitianinimenunjukkanbahwa: 1) ALT kapangkontaminanpadaRaskinialah5,9 X 106 cfu/g; 2) hasilpenghitungan ALT kolonikapangmenunjukkanbahwakualitasRaskinkurangbaikdankuranglayakuntukdikonsumsi berdasarkan ketentuan ALT maksimum dari DIRJEN POM; 3) nama-namaspesieskapangpadasampelRaskinialahAspergillusochraceus Wilhelm. , Mycelia sterilia (a), Mycelia sterilia (b), Mycelia sterilia (c), Penicilliumrugulosum Thom., CladosporiumsphaerospermumPenzig., MoniliellaacetoabutensStolk& Dakin., AspergilluspenicilloidesSpeg., AspergillusglaucusdanAspergilluscandidusLink.dan, 4) spesieskapangkontaminan yang paling dominanpadasampelRaskinialahMycelia sterilia (b) denganreratajumlahkoloni 2,3 x 106 cfu/g.

Identifikasi pemahaman konsep satuan besaran dalam fisika siswa kelas 3 IPA SMU Negeri 5 Malang / oleh Dewi Nur Azizah

 

Hubungan antara pengelolaan kelas dan motivasi berprestasi berdasarkan persepsi siswa SMP Negeri Ngronggot Kabupaten Nganjuk
oleh Tutik Utami

 

Pengembangan software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya / Dwi Silvia Hidayati

 

Kata Kunci: software, pengendalian diri, pergaulan sebaya Pengendalian diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengolah dan mengatur sikap, perilaku serta keinginannya, atau dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Pengendalian diri diperlukan bagi tiap individu dalam bergaul dengan teman sebayanya. Oleh karena itu, individu perlu untuk mengetahui tingkat pengendalian dirinya. Berkaitan dengan perlunya individu untuk mengetahui tingkat pengendalian diri maka diperlukan media inventori mengenai pengukuran pengendalian diri. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya yang memenuhi syarat akseptabilitas dari segi kelayakan, isi, bentuk, kemampuan dan keterampilan bagi konselor dan siswa di SMK Negeri 5 Malang. Software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya dikembangkan dengan menggunakan rancangan penelitian pengembangan Borg dan Gall yang telah disederhanakan menjadi empat tahap yang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan penelitian. Tahapan penelitian dimulai dari tahap pra pengembangan, tahap pengembangan, tahap uji coba produk kemudian tahap revisi produk. Software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya diuji validitas oleh ahli materi, ahli media dan kelompok kecil. Hasil dari penelitian pengembangan ini adalah software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya. Hasil akhir menunjukkan bahwa software yang dihasilkan telah memenuhi syarat ketepatan dan kelayakan baik dari segi isi, bentuk, kemampuan dan keterampilan konselor maupun siswa. Saran pengembangan software assessment pengendalian diri dalam pergaulan sebaya adalah untuk dijadikan alat pengumpulan data tingkat pengendalian diri dalam pergaulan sebaya pada siswa SMK Negeri 5 Malang dan sebagai alat evaluasi pengendalian diri dalam pergaulan sebaya. Saran diseminasi adalah produk bisa bisa dimanfaatkan lebih luas sebagai alat untuk mengevaluasi pengendalian diri siswa dalam pergaulan sebayanya. Saran untuk pengembangan produk lebih lanjut adalah untuk mengembangkan software yang didalamnya terdapat menu tentang upaya tindak lanjut setelah mengetahui tingkat pengendalian diri siswa dalam pergaulan sebaya dan sisi kemenarikan tampilan software lebih dikembangkan lagi.

Hubungan antara permodalan dan kegiatan pemasaran dengan keberhasilan usaha pada perusahaan kerajinan kulit Puspa Usaha" dilingkungan industri kecil (LIK) Kabupaten Magetan
oleh Sri Susanti"

 

Pengembangan multimedia interaktif pembelajaran IPS tema Pahlawanku kelas IV SDN Krebet 01 Bululawang Kab. Malang / Fitri Rohdiyah Guntarto Wati

 

ABSTRAK Wati, FitriRohdiyahGuntarto. 2015. Pengembangan Multimedia InteraktifPembelajaran IPS TemaPahlawankuKelas IV SDN Krebet 01 KecamatanBululawangKabupaten Malang.Tesis.JurusanPendidikanDasar, PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing : (I) Prof. Dr.Hariyono,M.Pd., (II) Dr. Sunaryanto, M.Pd Kata kunci : Multimedia Interaktif, Pahlawanku, Pembelajaran IPS Berdasarkanhasilobservasidanwawancara di SDN Krebet 01 Bululawang, ditemukanbahwapembelajaran yang dilakukanmenggunakanmetodeceramah, penugasansertatanyajawab. Selainitu media yang digunakanadalahgambar diam. Hal inimenunjukkanbahwapemanfaatankemajuan (IPTEK) dalam proses belajarmengajarmasihkurang. Temapahlawankumerupakanmateri yang memerlukancontohuntukmempelajarinyadanmelibatkansiswasecaralangsungdalampenemuankonsep.Tujuanpenelitianpengembanganadalahmenghasilkanproduk multimedia interaktifpembelajaran IPS kelasempat, bukupetunjukpenggunaanuntuk guru dansiswasertauntukmengetahuitingkatkeefektifan, keefisienandankemenarikan multimedia interaktifpadapembelajaran IPS. Penelitianpengembanganmenggunakan model ASSURE inidiadopsidariSharon E Smaldino yang terdiridarianalisiskarakteristiksiswa, menentukantujuanpembelajaran, metode, media danbahan ajar, memanfaatkanbahan ajar, melibatkansiswadalamkegiatanbelajarmengajar, evaluasidanrevisi. Data yang dikumpulkanberupavalidasiahli, observasisertaangketsiswa.Ujicobadilakukandua kali pertemuanyaitupadatanggal 23 April 2015 dan 25 April 2015.Subjekpenelitianiniadalahsiswakelasempat SDN Krebet 01 Bululawang. Pengembangan multimedia interaktifdivalidasioleh 3 ahliyaituahli media, materidanbahasa.Hasilvalidasi media memilikikriteriacukupbaik, ahlimaterimemilikikriteriasangatbaik, danahlibahasamemilikikriteriasangatbaik.Hasilpenelitianterhadap guru padatingkatkeefektifanmemilikikriteriasangatefektif, tingkatkeefisienanmemilikikriteriasangatefisien, dantingkatkemenarikanmemilikikriteriasangatmenarik.Hasilpenelitianterhadapsiswapadatingkatkeefektifanmemilikikriteriasangatefektif, tingkatkeefisienanmemilikikriteriasangatefisien, dantingkatkemenarikanmemilikikriteriasangatmenarik. Pengembangan multimedia interaktifinidapatdigunakandalampembelajarandisekolahkhususnya di kelasempat, tetapialangkahbaiknya guru jugadapatmenambahkahataumenggunakan media lain padasaatpembelajaran. Temuan lain padasaatujicobayaituadanyakerjasamaantarasiswa yang harmonis, salingmembantudalamkegiatanbelajardanmembuatsiswalebihbersemangatbelajardibandingkansebelumsiswamenggunakan multimediasehinggadapatdikatakanbahwapengembangan multimedia interaktifinidapatdipakaisebagaipelengkapuntukmenunjangpembelajaran di dalamkelaskhususnyapadapembelajaran IPS temapahlawanku.

Pelaksanaan perjanjian sewa menyewa tanah perikanan (tambak) di Desa Ambeng-ambeng Watang Rejo Kecamatan Duduk Sampeyan Kabupaten Gresik
oleh Ida Rusdiana

 

Manajemen penjaminan mutu internal dalam pendidikan karakter di SDIT Al Uswah Surabaya dan SDIT Insan Permata Malang / Rakhma Agustina Sulistyowati

 

ABSTRAK Sulistyowati, Rakhma Agustina, 2015. Manajemen Penjaminan Mutu Internal dalam Pendidikan Karakter di SDIT Al Uswah Surabaya dan SDIT Insan Permata Malang. Tesis. Program Studi Manajemen Pendidikan. Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.H. Achmad Supriyanto,M.Pd., M.Si, (II) Dr. Hj. Mustiningsih, M.Pd. Kata kunci: penjaminan mutu internal, SDIT, pendidikan karakater Pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah menjadi perhatian banyak pihak. Pembentukan karakter peserta didik menjadi inti dari pendidikan di seluruh jenjang pendidikan baik jenis pendidikan formal maupun nonformal.Pembentukan karakter dikaitkan dengan mutu pendidikan merupakan bagian dari layanan jasa yang diberikan sekolah kepada pelanggan pendidikan, dalam hal ini guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Penjaminan mutu pendidikan (quality assurance) merupakan salah satu bagian dari manajemen mutu terpadu pendidikan. Penjaminan mutu dalam pendidikan karakter dimaksudkan agar layanan pendidikan yang diberikan sekolah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan sehingga menghasilkan profil karakter siswa yang sesuai dengan standar sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen penjaminan mutu internal dalam pendidikan karakter di SDIT Al Uswah Surabaya dan SDIT Insan Permata Malang, meliputi: (1) landasan implementasimanajemen penjaminan mutu internal dalam pendidikan karakter; (2) proses penetapan standar mutu dalam pendidikan karakter; (3) pelaksanaan standar mutu dalam pendidikan karakter ; (4) mekanisme evaluasi standar mutu dalam pendidikan karakter ; (5) langkah pengendalian standar mutu dalam pendidikan karakter; (6) langkah peningkatan standar mutu dalam pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan rancangan studi multi situs. Situs yang digunakan dalam penelitian ini adalah SDIT Al Uswah Surabaya dan SDIT Insan Permata Malang. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang terkumpul diperiksa kebenaran, kecocokan dan kehandalannya melalui proses triangulasi, yang dalam penelitian ini digunakan triangulasi metode dan sumber. Data hasil wawancara di triangulasi dengan data dari dokumen dan observasi. Data hasil wawancara dari satu responden juga dilakukan pengecekan terhadap responsen yang lain. Data yang terkumpul ditabulasi, diberi kode, dimaknai dan kemudian disimpulkan pada setiap situs penelitian, selanjutnya dibandingkan dengan data pada situs penelitian yang lain dan kemudian ditarik kesimpulan akhir. Hasil penelitian ini, pertama, landasan implementasi sistem penjaminan mutu internal dalam pendidikan karakter antara kedua situs memiliki persamaan, yaitu jaminan kualitas merupakan implementasi visi dan misi sekolah. Jaminan kualitas menjadi acuan dalam penyusunan standar mutu yang berpijak pembelajaran holistik. Jaminan kualitas sebagai sarana pengukuran mutu untuk perbaikan terus menerus dalam pendidikan karakter.Keduapenetapan standar mutu dalam pendidikan karakter dilaksanakan sebelum tahun ajaran baru dengan menggunakan mekanisme menggunakan rapat kerja. Acuannya adalah standar mutu JSIT, visi misi sekolah dan daya dukung sekolah. Bentuk penetapan standar mutu adalah jaminan kualitas dalam pendidikan karakter dan indikator pencapaian jaminan kualitas di tiap jenjang, sistem pelaksanaan penjaminan mutu yang berupa program-program penjaminan mutu. Ketiga, pelaksanaan standar mutu dalam pendidikan karakter menggunakan program pencapaian standar mutu guru dan tenaga administrasi sekolah dan standar mutu siswa yang pelaksanaannya menggunakan pendekatan siklus PDCA.Keempat, evaluasi standar mutu dalam pendidikan karakter, meliputi; a) evaluasi standar mutu siswa melalui rapat per jenjang dimana data didapatkan dari evaluasi harian, pekanan, dan semester dengan metode lapor diri, observasi dan unjuk kerja serta instrumen yang digunakan adalah check list , lembar observasi dan rating scale.Output adalahnya rapot karakter, rapot Al Qur'an dan tahfidz, dan rapot akademik ; b) evaluasi standar mutu guru dan tenaga administrasi sekolah dilaksanakan harian, bulanan dan tahunan. Metode yang digunakan lapor diri dan observasi serta instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan check list. Outputnya adalah rapot guru (penilaian kinerja guru); c) evaluasi standar prosedur dengan telaah dokume LPJ dan jurnal kegiatan. Outputnya evaluasi standar prosedur dengan revisi SOP. Hasil evaluasi menunjukkan 96% standar mutu guru dan tenaga administrasi sekolah di SDIT Al Uswah Surabaya terpenuhi dan 90% standar mutu siswa di SDIT Al Uswah Surabaya dalam pendidikan karakter terpenuhi. Standar mutu guru dan tenaga administrasi sekolah di SDIT Insan Permata Malang terpenuhi 80% dan standar mutu siswa dalam pendidikan karakter terpenuhi 88%; Kelima, pengendalian standar mutu mutu dalam pendidikan karakter untuk memperbaiki faktor penyebab standar mutu dalam pendidikan karakter tidak tercapai. Pengendalian standar mutu dengan pembinaan rutin guru, pendampingan siswa, revisi SOP melalui perubahan indikator dan perubahan prosedur pelaksanaan, meningkatkan komuniasi dan kerjasama orang tua di rumah. Keenam, peningkatan standar mutu dalam pendidikan karakter berdasarkan pada data lebih dari 80% siswa telah mencapai ketuntasan standar pencapaian jaminan kualitas dan adanya identifikasi kebutuhan pendidikan di masa datang.Mekanisme pencapaian standar melalui peningkatan indikator jaminan kualitas, peningkatan SDM guru dan penyusunan sistem pencapaian standar. Guna meningkatkan manajemen penjaminan mutu internal dalam pendidikan karakter disarankan kepala sekolah lebih memperhatikan dokumentasi data pelaksanaan penjaminan mutu; kepala sekolah meningkatkan mekanisme kontrol guru dalam pendampingan siswa; kepala sekolah membentuk tim penjaminan mutu internal;kepala sekolah melaksanakan penelusuran profil karakter alumni untuk mengetahui perkembangan karakter siswa; kepala sekolah sebaiknya meningkatkan komunikasi dengan orang tua dalam pengasuhan karakter siswa.

Kajian tentang pemahaman konsep perubahan materi melalui penggambaran mikroskopis pada siswa SMUN I Tumpang tahun ajaran 1997/1998 / oleh Isna Rohmiyati

 

The Implementation of learning together strategy to improve the reading comprehension achievement of students of MTs Negeri Tambakberas Jombang / Ima Mutholliatil Badriyah

 

ABSTRAK Badriyah, Ima Mutholliatil. 2012. The Implementation of Learning Together Strategy to Improve The Reading Comprehension Achievement of the Students of MTs Negeri Tambakberas Jombang. Tesis, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Johannes A. Prayogo, M.Pd,. M.Ed., (2) Dr. Enny Irawati, M. Pd Kata kunci: pemahaman membaca, teks report, strategy belajar bersama. Berdasarkan studi pendahuluan atas permasalahan yang dihadapi siswa kelas IX semester dua MTs Negeri Tambakberas Jombang tahun ajaran 2014/2015, penelitian ini bertujuan untuk menjabarkan bagaimana Strategi Belajar Bersama dapat meningkatkan prestasi pemahaman membaca dan keterlibatan mereka dalam proses belajar mengajar. Untuk itu rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana Prestasi Pemahaman Membaca Siswa MTs Negeri Tambakberas Jombang Dapat Ditingkatkan Melalui Strategi Belajar Bersama? (2) Bagaimana keterlibatan aktif Siswa MTs Negeri Tambakberas Jombang Dapat Ditingkatkan Melalui Strategi Belajar Bersama? Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) kolaboratif. Penelitian ini terdiri dari satu siklus yang terbagi dalam 4 tahap yakni perencanaan, penerapan, observasi, dan refleksi. Siklus dalam penelitian ini terdiri dari tiga pertemuan dalam pelaksanaan strateginya dan satu pertemuan untuk tes pemahaman membaca. Subyeknya adalah 32 siswa kelas D MTs Negeri Tambakberas Jombang pada semester kedua. Data penelitian diperoleh melalui tes pemahaman membaca, lembar ceklist observasi, dan catatan lapangan. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan prosedur Strategi Belajar Bersama yang tepat dalam pengajaran pemahaman membaca dapat meningkatkan prestasi siswa dalam pemahaman membaca dan keterlibatannya. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari tercapainya kriteria keberhasilan yang ditunjukkan oleh hasil tes pemahaman membaca dan lembar ceklist. Prosentase nilai individu siswa adalah 75% dari 32 siswa melampaui nilai kelulusan atau KKM yakni lebih besar dari 75. Nilai rata-rata siswa meningkat luar biasa menjadi 80.62. Terlebih, keterlibatan mereka mencapai 89% yang dikategorikan kedalam keterlibatan yang sangat bagus. Nilai-nilai tersebut diperoleh oleh siswa hanya dalam satu siklus saja. Peningkatan prestasi pemahaman membaca dicapai melalui penerapan langkah-langkah Strategy Belajar Bersama berikut ini: (1) Pengenalan tentang topic dan pengungkapan pendapat; (2) Pembagian teks membaca dan lembar kerja dan mengerjakannya secara individu; (3) Penjelasan tujuan pembelajaran dan peraturan Strategi Belajar Bersama; (4) Pengelompokan; (5) Penjelasan materi, contoh dan model; (6) Membaca teks dengan tenang; (7) memandu dan memberikan pertanyaan tentang topik; (8) diskusi kelompok; (9) memantau kegiatan siswa, mendorong mereka untuk saling membantu, dan memberikan bantuan kepada mereka; (10) presentasi siswa; (11) diskusi kelas; (12) umpan balik, penghargaan dan pujian atas kerja siswa; dan (13) refleksi. Berdasarkan hasil temuan tersebut, maka disarankan bagi guru dan/atau dosen yang lain untuk menerapkan strategi ini dalam kelas mereka. Bagi Kepala Sekolah diharapkan untuk membuat kebijakan terkait dengan LTS agar menjadi salah satu dari strategi yang harus diterapkan di sekolah tersebut. Juga bagi para peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini disarankan untuk digunakan sebagai salah satu referensi mereka untuk melakukan penelitian lebih lanjut pada pengajaran membaca untuk jenis teks yang lain (deskriptif, naratif, recoun dan prosedur) dan keterampilan bahasa yang lain contohnya menulis, mendengar dan berbicara baik pada jenjang pendidikan yang sama atau yang berbeda.

Hubungan keaktifan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang / Santi Anggraini

 

Kata Kunci: kegiatan ekstrakurikuler, kebiasaan belajar, prestasi belajar Kegiatan ekstrakurikuler atau pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/ madrasah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan bakat dan minat peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah/ madrasah. Banyak siswa yang kurang mengetahui bakat dan minat yang ada pada dirinya sehingga siswa juga kurang maksimal dalam pemilihan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Dalam hal ini konselor mempunyai peran yang sangat penting yaitu dalam pelaksanaan layanan penempatan dan penyaluran yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan kemampuan, bakat, minat dan ciri-ciri pribadinya, selain kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung peningkatan hasil belajar siswa, kebiasaan belajar juga memiliki hubungan yang erat dalam hal peningkatan hasil belajar siswa. Dengan demikian untuk memperoleh hasil belajar yang baik maka diperlukan pengelolaan kegiatan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar yang baik pula. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, kebiasaan belajar dan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang, selain itu juga untuk mengetahui apakah terdapat hubungan keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi belajar siswa, hubungan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa serta hubungan keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang tahun ajaran 2010/2011. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tahun pelajaran 2010/2011. Sampel penelitian ini diambil dengan menggunakan Proporsional Random sampling (sampel acak sesuai proporsi tertentu). Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket penilaian. Analisis data dilakukan dengan teknik statistika deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, product moment, uji F dan uji asumsi klasik. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh enam kesimpulan yaitu (1) Rata-rata siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang cukup aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. (2) Rata-rata siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang memiliki kebiasaan belajar yang baik. (3) Rata-rata siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Malang memiliki prestasi belajar yang cukup tinggi. (4) Ada hubungan yang signifikan antara keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang. (5) Ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang. (6) Ada hubungan yang signifikan antara keaktifan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Malang. Berdasarkan hasil penelitian ini diajukan beberapa saran yaitu: (1) Dengan melihat hasil penelitian ini pihak sekolah diharapkan dapat membantu memperbaiki kebiasaan belajar siswa agar prestasi yang diperoleh lebih baik lagi (2) Dari hasil penelitian ini diharapkan konselor lebih meningkatkan perannya dalam membantu permasalahan yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa (3) Bagi siswa diharapkan dapat mengetahui lebih banyak lagi berbagai informasi mengenai pentingnya mengembangkan kebiasaan belajar dan kegiatan ekstrakurikuler dalam meningkatkan prestasi belajar. (4) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menggunakan variabel-variabel yang lain.

Persamaan parabola dan ellips dalam koordinat cartesius dan koordinat kutub serta beberapa aplikasinya
oleh Wina Susiati

 

Kemampuan latihan pola kalimat siswa kelas IV SD negeri wilayah VI kotamadya Malang
oleh Masnur Muslich

 

Pengaruh kemandirian belajar dan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dengan variasi media terhadap rata-rata hasil belajar PLC pada siswa kelas XII Elektronika Industri di SMK Negeri 2 Singosari Kabupaten Malang / Adi Pratama

 

ABSTRAK Pratama, Adi. 2014. Pengaruh Kemandirian Belajar dan Penerapan Model PBL Dengan Variasi Media Terhadap Rata-rata Hasil Belajar PLC Pada Siswa Kelas XII Elektronika Industri di SMK Negeri 2 Singosari Kabupaten Malang. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Setiadi C.P. M.Pd., M.T.; (2) Drs. Dwi Prihanto, S.S.T., M.Pd. Kata Kunci : Kemandirian Belajar, PBL (Problem Based Learning), PLC, Variasi Media Pembelajaran, Rata-rata Hasil Belajar PLC. Dari hasil observasi serta wawancara dengan guru mata pelajaran PLC pada tanggal 15 Januari 2015, bapak Anjar Afif menjelaskan bahwa rata-rata hasil belajar PLC dari siswa EI masih kurang. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk memperoleh metode yang sesuai untuk meningkatkan rata-rata hasil belajar PLC siswa EI di SMK Negeri 2 Singosari Kabupaten Malang. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat kemandirian belajar PLC dan Metode dan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) yang akan divariasikan dengan penggunaan media pembelajaran. Sebelum melakukan penelitian dilakukan uji tingkat kemandirian terlebih dahulu dengan menggunakan angket kemandirian belajar. Untuk angket kemandirian belajar dilakukan uji coba pada kelas XI Mekatronika di SMK Negeri 2 Singosari. Setelah angket siap dan layak kemudian digunakan untuk melakukan penelitian pada kelas XII EI di SMK Negeri 2 Singosari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa antara kedua variabel yang digunakan menunjukkan hasil yang berbeda dalam rata-rata hasil belajar PLC. Setelah dilakukan penelitian pada empat kelompok eksperimen didapatkan hasil yang berbeda antara tiap kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen yang memiliki tingkat kemandirian belajar tinggi dengan menggunakan media pembelajaran simulasi memiliki rata-rata hasil belajar yang paling bagus diantara emapat kelompok sedangkan untuk kelompok eksperimen yang memiliki tingkat kemandirian belajar rendah dengan menggunakan media pembelajaran handout memiliki rata-rata hasil belajar PLC yang paling rendah. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemilihan model pembelajaran serta penggunaan media pembelajaran yang sesuai dapat mempengaruhi rata-rata hasil belajar PLC. Dengan mengetahui hasil penelitian ini diharapkan bahwa sekolah dapat melakukan pembelajaran dengan menggunakan model serta media pembelajaran yang sesuai agar memperoleh hasil belajar sesuai target.

Pengembangan media pembelajaran interaktif berbasis WEB pada mata pelajaran simulasi digital untuk siswa kelas X SMK PGRI 3 Malang / Angga Widi Hosana

 

ABSTRAK Hosana, Angga Widi. 2015. Pengembangan Media PembelajaranInteraktifBerbasis Web pada Mata PelajaranSimulasi Digital UntukSiswaKelas X SMK PGRI 3 Malang. Skripsi. JurusanTeknikElektro.FakultasTeknik.UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Dr.Eng. SitiSendari, S.T., M.T., (2) Dyah Lestari, S. T., M. Eng. Kata Kunci:pengembangan,media pembelajaran,web, schoology. MatapelajaranSimulasiDigital merupakansalahsatu matapelajaranwajibbagisiswasekolahmenengahkejuruan (SMK) yang menerapkansistemkurikulum 2013 (K13). Siswadituntutuntukmempelajari, menguasaidanmemahamikonsepdasartentangpenerapan media digital dalamkehidupansehari-hari. Berdasarkanhasilwawancara di SMK PGRI 3 Malang terdapatbeberapapermasalahandalampembelajaranSimulasi Digital yaitu: (1) Guru mengajardenganmetodekonvesionalyaitutatapmukadisertaipenugasan; (2) Tidakadanya media pembelajaraninteraktifselama proses pembelajaran, sehinggasiswakurangtermotivasidanmemahamimateri yang diajarkan. Dengan melihat kenyataantersebut, perludirancangmedia ajar berupa webagar kegiatan pembelajaran di kelasmaupun di luarkelasdapatberlangsungsecaraaktif, efektif, danbermanfaat. Penelitianinidilaksanakandengantujuanyaitu; Menghasilkan media pembelajaran media pembelajaran berbasis web pada mata pelajaran Simulasi Digital untuk siswa kelas X di SMK PGRI 3 Malang. Model pengembanganmedia pembelajaraninimengadaptasi model pengembangan ADDIE yangterdiridari 5tahapyaitu: (1)Analisiskebutuhan media pembelajaran; (2)Desain media pembelajaranberupaweb denganschoology; (3)Pengembanganmedia pembelajaranberbasisweb; (4)Implementasimedia pembelajaranberbasisweb; (5)Evaluasi. Proses evaluasidilakukanpadasetiaptahapannyayaitusebagaiberikut: (1) tahapanalisis, evaluasi yang dilakukandenganobservasidanwawancara; (2) tahapdesain, dilakukanvalidasiolehahlimateri; (3) tahappengembangandilakukanvalidasiolehahli media danahlimateri; (4) tahapimplementasi, media di ujicobakan di kelasdenganujicobakelompokkecildanujicobakelompokbesar. Berdasarkananalisis data yang telahdilakukan, diperolehpersentasehasilvalidasiahli media sebesar 91,20%, ahlimateri 93,05%, ujicobakelompokkecil 82,78%, danujicobalapangan 83,44%. Dari hasiltersebutdapatdisimpulkanbahwa media pembelajarantelahmemenuhikriteria valid dandapatdigunakandalam proses pembelajaran.

Korespondensi model atom bohr dengan teori schrodinger / oleh Subkan

 

Strategi pengorganisasian program kerja organisasi siswa intra sekolah: studi multi situs di SMAN 1 dan SMAN 3 Kota Malang / Vidya Ayu Tyagita Putri Irawati

 

Kata kunci: strategi pengorganisasian, program kerja OSIS Menurut Hadari (2003:43) menjelaskan bahwa "Strategi dapat diartikan sebagai siasat, teknik dan taktik utama dalam menggempur atau menghadapi musuh untuk memenangkan sebuah peperangan sebagai tujuan". Pembinaan kesiswaan merupakan kondisi sekolah dan masyarakat dewasa yang pada umumnya masih dalam taraf perkembangan, maka upaya pembinaan kesiswaan perlu diselenggarakan untuk menunjang perwujudan sekolah sebagai Wawasan Wiyatamandala. Strategi pengorganisasian program kerja OSIS merupakan suatu teknik atau taktik dari kegiatan OSIS untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Kegiatan OSIS merupakan suatu kegiatan yang berguna dalam mengembangkan bakat dan minat siswa dalam berorganisasi di setiap kegiatan yang diselenggarakan dan mengembangkan jiwa sosial yang lebih baik lagi di lingkungan sekolah serta lingkungan masyarakat sekitar. Kegiatan OSIS menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler unggulan yang ada di SMAN 1 dan SMAN 3 Kota Malang, hal tersebut dapat dilihat dari tingginya partisipasi setiap siswa dari kedua sekolah itu untuk mengikuti kegiatan OSIS di masing-masing sekolah tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui strategi pengorganisasian program kerja OSIS di SMAN 1 dan SMAN 3 Kota Malang. Fokus penelitian untuk mengetahui tentang strategi pengorganisasian program kerja OSIS, pelaksanaan pengorganisasian program kerja OSIS, kendala pengorganisasian program kerja OSIS, dan mengatasi kendala pengorganisasian program kerja OSIS. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yaitu sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku untuk diamati yang diperoleh dari beberapa informan yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, ketua umum OSIS serta guru yang membina dan mengikuti kegiatan OSIS dan informan lain yang terlibat dalam manajemen kegiatan OSIS di kedua lembaga tersebut dengan menggunakan alat bantu berupa catatan lapangan, alat rekam, maupun dokumentasi yang diarahkan pada latar dan individu terhadap fenomena sosial. Jenis rancangan penelitian ini sesuai dengan fokus penelitian yang mencari informasi berdasarkan objek yang diteliti adalah multi situs. Multi situs adalah suatu kasus yang sama dalam suatu penelitian, tetapi lokasi penelitian yang berbeda namun memiliki persamaan dalam penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disampaikan oleh subjek penelitian pada saat wawancara, tindakan yang dilakukan oleh subjek penelitian, dan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan OSIS. Temuan penelitian di SMAN 1 Malang yaitu: (1) strategi penyusunan program kerja OSIS yang ada dilaksanakan sesuai dengan struktur organisasi dan dibuat oleh tim (Pembina OSIS dan Pengurus OSIS), (2) pelaksanaannya terdapat faktor-faktor yang mendukung dan menghambat serta dilakukannya pendekatan pengurus OSIS terhadap warga sekolah (siswa), hal tersebut dilakukan bertujuan untuk dapat mempermudah mereka berkoordinasi dan berkomunikasi antar anggota OSIS maupun dengan Pembina OSIS serta dengan pihak sekolah agar kegiatan OSIS ini dapat berjalan dengan lancar dan dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, (3) kendala dalam kegiatan pengorganisasian program kerja OSIS hanya masalah finansial untuk kegiatan OSIS, (4) program kerja OSIS ini tidak ada kesulitan dalam mengatasi kendala. Karena, pengurus OSIS sendiri masih mampu menghadapi kendala yang ada. Sehingga, pihak sekolah tidak terlalu ikut terlibat dalam penyelesaian kendala tersebut. SMAN 3 Malang: (1) program kerja OSIS terstruktur atau terencana dalam proses penyusunan program kerja OSIS yang dilakukan pengurus OSIS yang kemudian dikonsultasikan dengan Pembina OSIS, setelah itu rancangan kegiatan tersebut diajukan kepada wakil kepala sekolah bagian kesiswaan yang kemudian di ajukan kepada kepala sekolah, (2) pelaksanaannya dilakukan pendekatan secara kolektif dan kolegial artinya kegiatan dirumuskan atau dicetuskan, ditawarkan ke anggota melalui sharing, dirapatkan bersama dengan pengurus OSIS, dimasukkan ke dalam kegiatan OSIS, kemudian memberikan informasi atau publikasi kepada para siswa, (3) kendala yang dialami kebanyakan tentang waktu pelaksanaan kegiatan, sedangkan kendala yang lain hanya masalah sponsor atau dana dalam mengadakan suatu kegiatan, dan (4) mengatasi kendala dengan cara mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh kepala sekolah. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah strategi pengorganisasian program kerja OSIS SMAN 1 Malang: (1) perumusan program kerja OSIS secara terstruktur dan dibuat oleh tim (Pembina OSIS dan Pengurus OSIS). Tujuannya agar kegiatannya bisa sukses dan lancar untuk ke depannya, (2) pelaksanaan kegiatannya, mekanisme atau tata aliran yang dilakukan adalah siswa membuat proposal kemudian diketahui oleh Pembina OSIS, Waka Kesiswaan dan Kepala Sekolah. (3) kendalanya masalah finansial atau sumber dana untuk pelaksanaan kegiatan OSIS dari sekolah dan sponsor, dan (4) jika tidak bisa mengatasi finansial, pihak sekolah ikut turun dan akhirnya dibantu sekolah untuk mengantisipasi. SMAN 3 Malang: (1) program kerja OSIS Terstruktur atau terencana setiap tahunnya dilakukan laporan pertanggungjawaban serta dilakukan evaluasi sebelumnya untuk penambahan program kerja pada kegiatan OSIS yang akan datang, (2) pelaksanaannya dilakukan pendekatan secara kolektif dan kolegial artinya kegiatan dirumuskan atau dicetuskan, ditawarkan ke anggota melalui sharing, dirapatkan bersama dengan pengurus OSIS, dimasukkan ke dalam kegiatan OSIS, kemudian memberikan informasi atau publikasi kepada para siswa, (3) kendala yang dialami kebanyakan tentang waktu pelaksanaan kegiatan, sedangkan kendala yang lain hanya masalah sponsor atau dana dalam mengadakan suatu kegiatan, dan (4) mengatasi kendala dengan cara mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan oleh kepala sekolah.

Pengambangan CD Multimedia pembelajaran Matematika materi pokok bangun datar dan bangun ruang di SD Lowokwaru 3 Malang / Shohibur Rohmat

 

Kata Kunci: pengembangan, cd, multimedia, pembelajaran, interaktif, mata pelajaran matematika Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar sangat penting untuk meningkatkan kemampuan pebelajar. Pada pembelajaran diperlukan pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih aktif. Pemakaian multimedia pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi, dan rangsangan kegiatan belajar. Produk multimedia pembelajaran interaktif ini dikembangkan dan diuji coba di SDN Lowokwaru 3 Malang pada standar kompetensi luas segi banyak sederhana, luas lingkaran, dan volume prisma segitiga pada materi bangun datar dan bangun ruang. Tujuan penelitian ini adalah : menghasilkan produk multimedia yang layak untuk pembelajaran interaktif sebagai sarana pembelajaran matematika pada materi bangun ruang dan bangun datar terhadap siswa kelas VI SDN Lowokwaru 3 Malang. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah William W. Lee dan Diana L. Owens yang terdiri dari lima tahapan : (1) analysis dan penilaian, (2) desain, (3) pengembangan dan implementasi, dan (5) evaluation. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket kuisioner yang disebarkan kepada satu ahli media, satu ahli materi, uji coba perorangan dengan 2 orang siswa, dan uji coba kelompok kecil dengan 5 orang siswa, uji lapangan dengan 15 orang siswa. Hasil validasi isi terhadap kelayakan multimedia pembelajaran ini menunjukkan hasil yang valid dengan perhitungan skor dari validasi ahli media 81,67%, validasi ahli materi 90%, uji coba perorangan 97,5%, dan uji coba kelompok kecil 96%, uji lapangan rata-rata pretest (57,75 %) dan post test (95,75 %), peningkatan hasil belajar secara keseluruhan dengan persentase (40,75). Hasil pengembangan multimedia pembelajaran telah direvisi meliputi : (1) front cover lebih disimplifikasikan, (2) menambahkan navigasi tombol “back” dalam frame-frame tengah, (3) mengubah tulisan judul sub bab materi warna hijau diganti dengan warna hitam. Saran pengembangan selanjutnya dalam pengembangan multimedia pembelajaran dalam mengujicobakan produk pada perorangan dan kelompok kecil pada siswa yang tidak ikut dalam uji lapangan dalam kelas yang sama.  

Sifat-sifat masalah nilai batas strum-lioville
oleh Andy Setiawan

 

Pengembangan media pembelajaran seni musik dengan menggunakan macromedia flash 8 di SMPN 10 Malang / Satriah

 

ABSTRAK Satriah. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Seni Musik dengan Menggunakan Macromedia Flash di SMPN 10 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Seni Tari dan Musik Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Ninik Harini, M.Sn (II) Tri Wahyuningtyas, S.Pd. M.Si. Kata kunci : media pembelajaran, materi seni musik, macromedia flash. Pengembangan media pembelajaran ini untuk meningkatkan pemahaman materi seni musik pada mata pelajaran seni budaya kelas 1 SMPN 10 Malang. Berdasarkan hasil observasi di lapangan di SMPN 10 Malang pada mata pembelajaran seni budaya, diketahui bahwa penggunaan media pembelajaran sangat terbatas. Karena kegiatan proses pembelajaran hanya menggunakan buku teks. Dengan dikembangkannya media pembelajaran macromedia flash 8 akan lebih memudahkan siswa untuk memahami suatu materi yang nantinya proses pembelajaran ini akan mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengembangkan macromedia flash dalam mata pelajaran seni musik di SMPN 10 Malang. Penelitian ini menggunakan metode model pengembangan Research and Development ( R&D ) dari Borg dan Gell dalam Ardhana (2002:9). Subjek penelitian adalah : siswa kelas VII I SMPN 10 Malang, dan guru seni budaya SMPN 10 Malang. Data penelitian menggunakan data kualitatif dan kuantitatif,diperoleh melalui observasi, wawancara, dan angket pertanyaan. Sedangkan kuantitatif diperoleh melalui dari hasil analisis data. Data yang telah didapat kemudian dianalisis dan dirancang menjadi perangkat lunak multimedia yang digunakan untuk sistem pembelajaran. Hasil penelitian dan pengembangan ini adalah macromedia flash. Hasil uji coba produk dapat disimpulkan sebagai berikut, berdasarkan penilaian ahli materi menyatakan valid dengan persentase 93,75%, penilaian ahli media menunjukkan media pembelajaran macromedia flashvalid dengan persentase 88,3%, sedangkan berdasarkan uji coba kelompok kecil menyatakan valid dengan persentase 90% dan uji coba kelompok besar menyatakan cukup valid dengan persentase 75,3%. Berdasarkan kesimpulan penelitian tersebut, dapat disarankan bagi:(1) Bagi siswa diharapkan lebih aktif dan kreatif dalam belajar dengan adanya media pembelajaran macromedia flash.(2) Bagi guru diharapkan dapat menyiapkan media untuk bahan ajar agar dalam proses belajar tidak cenderung menggunakan buku teks, seperti penulis buat yaitu menyiapkan bahan ajar media pembelajaran macromedia flash.(3) Bagi sekolah diharapkan dapat menyiapkan peralatan yang akan dibutuhkan dalam penggunaan proses belajar mengajar.

Kesesuaian antara bahan dan proses pembelajaran dengan kebutuhan belajar anak menurut perspektif ustadz dan ustadzah pada pendidikan agama Islam di Taman Pendidikan Al-Quran Ashabul Kahfi Malang
oleh Sultan Agung

 

Pengembangan sistem informasi pendukung keputusan penggunaan alat inventaris untuk pembelajaran di SMK Negeri 9 Malang / Setyo Bagus Fristanto

 

ABSTRAK Fristanto, Setyo Bagus. 2015. Pengembangan Sistem Informasi Pendukung Keputusan Penggunaan Alat Inventaris untuk Pembelajaran di SMK Negeri 9 Malang. Skripsi. Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Setiadi Cahyono Putro, M.Pd., M.T., (2) I Made Wirawan, S.T, S.S.T., M.T. Kata Kunci: Sistem Informasi, Sistem Pendukung Keputusan, Decision Support System (DSS), Sarana dan Prasarana, Inventaris Sekolah. SMK Negeri 9 Malang merupakan sekolah tinggi yang masih mengadakan pembukuan secara manual dan berkala terhadap alat inventaris sekolah, sehingga pihak sekolah masih merasa kesulitan dalam membuat laporan, pencetakan label inventaris dan pendataan data barang. Dengan adanya sistem informasi ini Kepala Sekolah dapat mengetahui perubahan atau kondisi alat inventaris yang membutuhkan tindakan lebih lanjut dengan memanfaatkan fasilitas sistem pendukung keputusan, selain itu guru menjadi lebih aktif dalam merawat sarana dan prasarana sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian pengembangan. Pengembangan sistem ini merujuk pada model pengembangan waterfall yang terdiri dari 5 tahap pengembangan, yaitu: (1) Analisis kebutuhan, (2) Perancangan sistem dan software, (3) Implementasi dan uji coba unit,(4) Integrasi dan uji coba sistem, dan (5) Operasi dan pemeliharaan. Subyek uji coba pada penelitian ini terdiri dari (1) Kepala Sekolah,(2) Wakil Kepala bidang Sarana dan Prasarana,(3) Guru,(4) Administrator dan (5) Ahli rekayasa perangkat lunak. Hasil yang dicapai dari pengembangan ini adalah tersedianya sistem informasi yang telah diuji validitasnya, sehingga layak digunakan oleh sekolah. Hasil pengujian kepada user Kepala Sekolah diperoleh 12 kelas uji tentang kesesuaian output sistem informasi mendapat persentase 100%, hasil pengujian kepada user Waka Sarana Prasarana diperoleh 11 kelas uji tentang kesesuaian output sistem informasi mendapat persentase 100%, hasil pengujian kepada user Guru diperoleh 7 kelas uji tentang kesesuaian output sistem informasi mendapat persentase 100%, hasil pengujian kepada userAdministrator diperoleh 10 kelas uji tentang kesesuaian output sistem informasi mendapat persentase 100%. Sehingga dapat disimpulkan dari pengolahan data keseluruhan kelas uji diperoleh persentase tingkat kesesuaian output sistem informasi sebesar 100% yang berarti bahwa Sistem Informasi Inventaris yang dikembangkan sudah termasuk dalam kualifikasi valid, secara fungsional sistem sudah dapat menghasilkan output yang diharapkan.

Integral fourier / oleh Ulfi Kurnia N.

 

Diagnosis kesulitan belajar fisika pokok bahasan gelombang dan bunyi bagi siswa kelas I SMU Laboratorium IKIP MALANG tahun 1998/1999 / oleh Yeni Mulyani

 

Kajian tentang minat dan persepsi belajar fisika siswa kelas II SMU PGRI 02 Talun tahun ajaran 1998/1999 / oleh Budiasih

 

Pelaksanaan pembelajaran PKn kelas tinggi di SDN Karangrejo 03 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar / Yogi Hermawan

 

Kata Kunci: Pembelajaran, PKn, Sekolah Dasar, Kelas Tinggi Aspek pembelajaran memegang peran penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Dalam hal ini, bahan ajar,metode, dan media mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap guru harus mampu menguasai kelas belajar yang dtunjukkan melalui penerapan metode-metode yang ada dan dapat memilih metode maupun media yang relevan agar bisa mencapai tujuan belajar. Adanya kendala dalam aspek pembelajaran diakibatkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) Guru, tidak menguasai bahan ajar materi dan cara penyampaian; (2) Siswa, tidak mempunyai kemauan, kemampuan, kesiapan dan kondisi belajar yang baik; (3) Sekolah, sarana dan prasarana untuk belajar mengajar kurang termasuk juga sumber belajar berupa buku panduan. Penilaian dimanfaatkan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menuntaskan materi.Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran serta bertanggung jawab dalam hasil belajar anak didiknya. Guru kelas melakukan persiapan berupa perencanaan dalam bentuk perangkat pembelajaran, pengembangan motivasi, dan pengelolaan kelas. Pelaksanaan KBM berpedoman dari RPP dengan catatan menyesuaikan dengan kondisi (fleksibel). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mengetahui pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mengetahui hambatan yang dihadapi guru kelas dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SDN Karangrejo 03, mengetahui alternatif solusi dalam mengatasi hambatan pada pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SDN Karangrejo 03. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Disebut pendekatan kualitatif karena data yang dihasilkan bukan dalam bentuk angka-angka tetapi berupa kata-kata tertulis atau lisan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu suatu penelitian yang detail atas satu latar atau satu subyek atau satu tempat penyimpanan data atau satu peristiwa tertentu. Informan terdiri dari guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan dengan cara: reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi data. Untuk menjamin keabsahan data maka dilakukan: ketekunan pengamatan dan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan pembelajaran PKn pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, dalam pelaksanaan pembelajaran PKn terutama untuk kelas tinggi difokuskan pada persiapan perangkat pembelajaran. Dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa kematangan suatu perencanaan berpengaruh cukup besar pada kelangsungan dan kelancaran KBM (2) Pelaksanaan pembelajaran PKn pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, khususnya di gugus V untuk kelas tinggi diajarkan oleh guru kelas, sesuai dengan kurikulum, berpedoman pada perangkat pembelajaran tetapi bersifat fleksibel/kondisional dalam penerapannya, menggunakan media pembelajaran sederhana dan metode ceramah variasi, dikte/mencatat, tanya jawab, diskusi kelompok, dan penugasan. Pembelajaran terdiri dari tahap awal (kegiatan apersepsi), tahap inti (penerapan metode dan pemanfaatan media), serta tahap akhir (penutup) (3) Hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran PKn pada kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mencakup aspek pembelajaran meliputi bahan ajar, pelaksanaan KBM (4) Upaya guru untuk mengatasi hambatan yang ada dalam pelaksanaan pembelajaran PKn pada siswa kelas tinggi di SDN Karangrejo 03, mengutamakan perencanaan meliputi persiapan pembelajaran (RPP dan penguasaan materi) disertai memperbaiki kekurangan yang ada seperti model maupun media pembelajaran, meningkatkan pengelolaan kelas seperti upaya memotivasi siswa melalui pendekatan sosial, serta membina hubungan yang baik dengan pihak yang terkait dalam KBM Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka peneliti dapat memberi saran bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional.

Penyusunan modul pengajaran matematika untuk kelas I cawu III SMU tentang peluang
oleh Enis Sri Rahayu

 

Studi tentang kondisi usaha industri kecil logam kuningan di Kecamatan Tapen Kabupaten Bondowoso
oleh Novia Yulianti

 

Kesadaran hukum masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan terhadap pelaksanaan Undang-undang nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) / Helen Trisna Mabella

 

ABSTRAK Mabella, Trisna, Helen. 2016. Kesadaran Hukum Masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Terhadap Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Nuruddin Hady, S.H., M.H. (II) Drs. Kt. Diara Astawa, S.H., M.Si. Kata Kunci: Kesadaran Hukum, KDRT Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum. Segala aspek kehidupan dilindungi serta dibatasi oleh hukum yang berlaku. Hal ini sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasara 1945 yang menyatakan bahwa “Indonesia adalah Negara Hukum”. Hukum bertujuan menciptakan tata tertib masyarakat dan melindungi manusia agar sesuai dengan aturan, menjamin kepastian dalam perhubungan masyarakat. Hukum diperlukan untuk penghidupan di dalam masyarakat demi kebaikan dan ketentraman bersama. Hukum kegunaannya untuk menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, dengan menciptakan ketertiban dan keseimbangan dalam masyarakat. Namun dalam kenyataannya masih banyak pelanggaran-pelanggaran bidang sosial, seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Penelitian ini dilaksanakan bertujuan (1) menjelaskan bentuk-bentuk KDRT yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, (2) mendiskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, (3) mengetahui kesadaran hukum masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Terhadap Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), (4) menjelaskan upaya yang dapat dilakukan oleh perangkat desa dan warga masyarakat untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan terhadap pelaksanaan Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualtitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bentuk-bentuk KDRT yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan adalah kekerasan psikis dan penelantaran rumah tangga. (2) faktor-faktor penyebab terjadinya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan adalah faktor masyarakat dan faktor ekonomi. (3) kesadaran hukum masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Terhadap Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) cukup tinggi. (4) upaya yang dapat dilakukan oleh perangkat desa dan warga msyarakat untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan terhadap pelaksanaan Undang-Undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah upaya preventif melalui sosialisasi sedangkan upaya represif teguran dan diserahkan ke PPA. Merujuk pada hasil penelitian ini saran yang dapat diberikan antara lain: (1) Menciptakan komunikasi yang harmonis antar masing-masing anggota baik dalam lingkup rumah tangga maupun dalam lingkungan masyarakat, (2) Masyarakat agar bisa saling memahami dan menghargai hak orang lain untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang tentram dan harmonis, (3) Masyarakat menerapkan konsep kesetaraan, baik dalam lingkup rumah tangga ataupun dalam kehidupan bermasyarakat untuk menghindari berbagai macam permasalahan dalam kehidupan, terutama masalah KDRT, (4) Masyarakat lebih terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman antar masing-masing anggota, (5) Mematuhi segala bentuk peraturan yang telah ditetapkan dan disahkan oleh pemerintah demi kelangsungan hidup yang sesuai dengan prosedur hukum.

Penentuan konduktivitas listrik tembaga (Cu) pada pcb dengan menggunakan set efek hall buatan Pudak / oleh Sunaryono

 

Peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini di Desa Banjarejo Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang / Romiatin

 

Kata Kunci : Peran Orang tua, Nilai-nilai Demokrasi, Anak Usia dini. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan kepala Desa Banjarejo Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang diperoleh informasi bahwa orang tua di desa tersebut sudah memahami konsep demokrasi. Dari 7.215 jumlah penduduk yang berada di Desa Banjarejo5.898 penduduk telah ikut berperan serta dalam pemilihan kepala desa. Masyarakat di desa tersebut hidup dengan rukun dan saling tolong-menolong, anak-anak di Desa Banjarejo juga patuh kepada orang tua. Kepatuhan anak terhadap orang tua dapat dilihat dari perilaku anak yang selalu mengikuti keinginan orang tua, seperti rajin sekolah, selalu membantu orang tua membersihkan rumah, tidak berkelahi dengan teman dan selalu merapikan barang miliknya sendiri dengan teratur. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan anak terhadap peraturan yang berlaku adalah peran orang tua dalam menanamkan nilai demokrasi pada anak usia dini. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana upaya yang dilakukan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini, (2) Faktor apa yang menghambat proses penanaman nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini, (3) Upaya apa yang dilakukan orang tua untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam penanaman nilai-nilai demokrasi pada anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, yaitu pendekatan yang menekankan pada usaha untuk menelaah suatu fenomena sosial secara wajar dan alami melalui pengamatan, wawancara atau metode penggalian data kualitatif lainnya secara mendalam. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah para orangtua di Desa Banjarejo yang memiliki anak usia 5-6 tahun, yaitu Bapak dan Ibu Wandi, Bapak dan Ibu Slamet, Bapak dan Ibu Hariyanto, Bapak dan Ibu Suwani, Bapak dan Ibu Misman, Bapak dan Ibu Safari, Bapak dan Ibu Wariadi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) upaya yang dilakukan orang tua dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi bagi anak usia dini di lingkungan keluarga sudah cukup maksimal, penanaman nilai menyelesaikan pertikaian secara damai pada anak usia dini dilakukan dengan melerai anak agar tidak bertengkar kemudian menasehati dan membujuk anak agar berbaikan menyuruh anak untuk segera minta maaf dan tidak bertengkar lagi, penanaman nilai penggunaan paksaan sesedikit mungkin pada anak usia dini dilakukan dengan cara membujuk dan merayu anak agar tidak memaksakan kehendaknya segera dipenuhi, penanaman nilai persatuan pada anak usia dini dilakukan dengan dengan menasehati agar dalam bermain tidak memilih-milih teman dan memberikan pemahaman pada anak bahwa sesama manusia harus hidup rukun, penanaman nilai musyawarah pada anak usia dini dilakukan dengan dengan mengajak anak berdialog dan berkomunikasi meminta pendapat mengenai keinginan atau masalah-masalah yang dihadapi anak, penanaman nilai keadilan pada anak usia dini menjelaskan alasan orang tua memberikan tugas yang berbeda antara tugasnya dengan tugas anggota keluarga lain dan melarang anak untuk iri pada kasih sayang yang diberikan orang tua pada anak-anaknya, penanaman nilai memajukan ilmu pengetahuan pada anak usia dini dilakukan dengan menyuruh anak menonton tayangan berita di televisi dan menanyakan hal yang tidak dimengerti oleh anak kepada orang tua. Apabila anak sudah cukup umur untuk memasuki usia sekolah, maka orang tua akan memasukkan anak ke lembaga pendidikan, penanaman nilai menghormati kebebasan orang lain pada anak usia dini dilakukan dengan menasehati agar anak tidak mengganggu orang lain, (2) Faktor penghambat penanaman nilai demokrasi pada anak usia dini adalah kurangnya kerjasama antara ayah dan ibu dalam menasehati anak, kurangnya contoh/teladan yang baik dari orang tua dan kurangnya ketegasan orang tua dalam menasehati anak, (3) Upaya yang dilakukan orang tua dalam mengatasi hambatan penanaman nila-nilai demokrasi pada anak usia dini adalah dengan menjalin hubungan kerjasama antara ayah dan ibu dalam menasehati dan mendidik anak, memberi contoh/teladan yang baik bagi anak, dan bersikap tegas kepada anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mengajukan saran: (1) Bagi jurusan Hkn disarankan untuk mengadakan program yang menunjang pendidikan demokrasi, (2) Para Orang tua disarankan untuk meningkatkan perannya sebagai pendidik dalam keluarga supaya dapat mendidik anaknya menjadi lebih baik, dengan cara mempertahankan dan lebih mengoptimalkan upaya penanaman nilai-nilai demokrasi pada anak yang telah dilakukan, selain itu orangtua harus membiasakan diri bersikap sesuai dengan nilai-nilai demokrasi sehingga akan ditiru anak, (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melengkapi kekurangan yang telah ada untuk mengembangkan ilmu tentang pendidikan demokrasi di lingkungan keluarga dan melaksanakan penelitian selanjutnya untuk meneliti masalah yang sama dengan menggunakan rancangan penelitian yang lain, serta menambah rumusan masalahnya.

Analisis semantis kamus besar bahasa Indonesia / oleh Wahyu Sukartiningsih

 

Kaidah pencacahan untuk pemilihan dan penyusunan
oleh Muslimin

 

Tinjauan sarana/prasarana K3 pada bengkel kerja keahlian teknik pemanfaatan tenaga listrik SMKN 3 Boyolangu Kabupaten Tulungagung / Yukoiri Hidayat

 

Perencanaan pintu bus dengan sistem pneumatik
oleh Mujito

 

Telaah pendekatan dakwah fardiyah (dakwah individual) dan kemungkinan aplikasinya bagi pelaksanaan konseling
oleh Moh. Fatih Luthfi

 

Perencanaan sistem hidrolik untuk bumper mobil Mazda E2000 / oleh Nur Hidayat

 

Perencanaan mesin penggerak pemarut dan pemeras kelapa dengan penggerak motor / oleh Idris

 

Coping stres mahasiswa putus cinta (suatu kajian fenomenologi terhadap pemudi dewasa awal) / Asmaul Chusna

 

Kata kunci: coping stres, mahasiswa, putus cinta. Mahasiswa tergolong dalam masa dewasa awal pada rentang kehidupannya. Salah satu tugas perkembangan yang khas dalam masa dewasa awal ini adalah orientasi pada pernikahan. Sebagai upaya pemenuhan tugas-tugas perkembangan tersebut dilakukan oleh mahasiswa salah satunya melalui jalinan hubungan pacaran (courtship). Dalam menjalani hubungan pacaran itu tidak selalu berjalan dengan baik, seringkali hubungan cinta itu kandas. Mahasiswa yang mengalami putus cinta karena diputuskan oleh pacar inilah yang menghadapi berbagai konflik intrapersonal maupun konflik interpersonal. Untuk mempertahankan kelangsungan diri dan kehidupannya, individu tersebut perlu melakukan usaha coping terhadap stressor yang menekannya. Berdasarkan fenomena tersebut, fokus penelitian ini meliputi: (1) permasalahan-permasalahan apa saja yang dialami mahasiswa putus cinta. Hal ini diteliti karena adanya asumsi yang didapat setelah diadakannya studi pendahuluan, bahwa permasalahan yang dihadapi tersebut akan melatarbelakangi dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari usaha coping yang dimunculkan. (2) coping stres mahasiswa putus cinta itu dimunculkan bagaimana dalam deskriptifnya. Hal ini diteliti karena belum adanya gambaran yang spesifik dari usaha coping mahasiswa putus cinta terhadap stressornya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi. Kehadiran peneliti sebagai pengamat berperan serta yang memanfaatkan sumber lain/informan untuk memperkuat data. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik sampling purposive. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan telaah dokumen pribadi (life history). Analisa data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu reduksi fenomenal, reduksi eidetis, dan reduksi transedental. Teknik pemeriksaan keabsahan datanya menggunakan ketekunan pengamatan dan triangulasi (triangulasi teknik dan triangulasi sumber). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1) permasalahan yang dialami oleh mahasiswa putus cinta merupakan suatu bagian dari proses coping terhadap stressor yang dilakukan secara terus-menerus hingga mencapai suatu kondisi yang aman baik secara intrapersonal maupun interpersonal dalam diri mahasiswa yang mengalami putus cinta tersebut, 2) coping stres yang dilakukan oleh mahasiswa putus cinta meliputi coping stres melalui perasaan, coping stres melalui pikiran, dan coping stres melalui perilaku yang mana kesemua coping tersebut saling berkaitan satu sama lain dalam upaya mencapai keseimbangan intrapersonal maupun interpersonal dalam diri mahasiswa yang mengalami putus cinta tersebut. Saran dari penelitian ini ditujukan kepada peneliti selanjutnya agar diadakan penelitian terhadap fenomena mahasiswa putus cinta dengan tidak hanya melibatkan satu gender subjek penelitian saja, sehingga didapatkan pemahaman mengenai dinamika kepribadian pada mahasiswa putus cinta secara komprehensif. Juga ditujukan kepada konselor di UPT BK (Unit Pelaksana Teknis Bimbingan dan Konseling) di perguruan tinggi agar dari hasil penelitian ini dapat memperkaya khasanah wacana konselor yang mendukung optimalisasi pemberian usaha bantuan khususnya kepada mahasiswa yang mengalami putus cinta.

Penyegaran udara ruang aula gedung Wisma Asri Jakarta
oleh Bambang Haryanto

 

Perencanaan mesin pengupas kulit kopi sistim lengan pemukul kapasitas 250 kg/jam
oleh Rinawati

 

Perencanaan mesin pengupas kulit kopi kering kapasitas 750 kg/jam
oleh Rasminto

 

Inventarisasi jenis-jenis ikan hasil tangkapan nelayan di pangkalan pendaratan ikan Pondokdadap Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang / oleh Yulia Indrawati

 

Pelaksanaan penjuruan siswa SMU Negeri Kabupaten Lamongan
oleh Sri Indartin

 

Kendala guru seni budaya dalam pembelajaran standar kompeensi ekspresi seni rupa di SMP Negeri se Kabupaten Madiun / Dwi Ana Romlah

 

Kata kunci: kendala, guru, pembelajaran, ekspresi, seni rupa. Di Kabupaten Madiun masih ada beberapa kompetensi dasar ekspresi seni rupa tingkat SMP yang belum dapat diberikan oleh guru seni budaya bidang seni rupa. Beberapa hambatan dialami oleh guru untuk membelajarkan kompetensi dasar tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran permasalahan atau kesulitan yang dialami guru dalam pembelajaran ekspresi seni rupa, meliputi kondisi guru mata pelajaran seni budaya, perencanaan pembelajaran oleh guru, sarana dan prasarana penunjang kegiatan pembelajaran, media pembelajaran, strategi pembelajaran, penilaian pembelajaran, minat dan motivasi siswa, dan dukungan dari kepala sekolah. Rancangan penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Deskriptif karena bertujuan untuk menggambarkan keadaan yang menjadi penyebab terhambatnya pembelajaran ekspresi seni rupa, dan kuantitatif karena data yang diolah berupa angka. Metode yang digunakan adalah kuosiner dengan instrument angket. Angket ini diberikan pada responden yang dipilih dengan teknik sampel area, dari 28 SMP Negeri di Kabupaten Madiun diperoleh 20 responden dari 20 sekolah berbeda. Data diolah dengan rumus prosentase, baik untuk pertanyaan berskala maupun tidak berskala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru seni budaya di SMP Negeri di Kabupaten Madiun mengalami beberapa hambatan dalam pembelajaran standar ekspresi seni rupa, diantaranya pada kompetensi dasar mempersiapkan dan mengadakan pameran. Faktor penghambat diantaranya adalah tidak tersedianya sarana seperti ruang pembelajaran khusus dan media pembelajaran seni rupa. Selain itu, diketahui bahwa guru seni budaya bidang seni rupa bukanlah guru yang memiliki latar belakang pendidikan seni. Para guru tersebut cukup mengalami kesulitan dalam menentukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan mengembangkan materi bahan ajar sesuai dengan KTSP. Namun demikian menurut guru seni budaya sebagian besar karya yang dihasilkan siswa memiliki kualitas yang bagus, dikerjakan tepat waktu, dan siswa memiliki antusiasme yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran ekspresi seni rupa. Instrumen penilaian yang digunakan guru untuk menilai hasil belajar siswa dalam pembelajaran ekspresi seni rupa adalah pedoman pengamatan dan rubrik penilaian, namun masih ada guru yang menggunakan soal uraian. Saran-saran yang diajukan untuk mengatasi kendala tersebut diantaranya adalah bahwa guru seni rupa harus lebih kreatif dalam usahanya untuk membelajarkan kompetensi dasar seni rupa kepada siswa, sehingga siswa tidak merasa terbebani oleh pembelajaran ekspresi seni. Kepala sekolah selain memberikan dukungan moral juga sebaiknya memberikan dukungan material.

Korelasi antara fasilitas perkuliahan dan motivasi belajar dengan indeks prestasi mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan offering A angkatan 2008 semester gasal tahun akademik 2009/2010 Universitas Negeri Malang / Shoviyul Himami

 

Kata Kunci: Fasilitas Perkuliahan, Motivasi Belajar, Motivasi Intrinsik, Motivasi Ekstrinsik, Indeks Prestasi Pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar mengajar. Belajar merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Setiap mahasiswa tentu berharap untuk mecapai hasil yang baik dan memuaskan sesuai dengan usaha yang telah mereka lakukan. Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa dalam mencapai prestasi belajar yang diharapkan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Namun demikian, hal ini tidak hanya penting bagi mahasiswa, tetapi juga dosen yang mengatur dan mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, agar dapat terjadi proses belajar mengajar yang optimal. Untuk mencapai prestasi yang memuaskan, harus didukung dengan usaha yang maksimal. Misalnya, pengadaan fasilitas yang disediakan oleh pihak lembaga dalam hal ini adalah pihak Perguruan Tinggi sebagai salah satu penyelenggara pendidikan. Keberadaan fasilitas kampus dalam hal ini pihak Jurusan terkait memiliki arti yang sangat penting, karena dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar mahasiswa. Oleh karena itu, keberadaan fasilitas perkuliahan harus dimanfaatkan oleh mahasiswa secara maksimal. Fasilitas yang dimaksud diantaranya adalah laboratorium, perpustakaan, dan ruang media. Tersedianya fasilitas perkuliahan yang lengkap dan memadai harus didukung beberapa faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam pencapaian prestasi belajar yang tinggi yaitu motivasi belajar dari diri individu mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah ada korelasi antara fasilitas perkuliahan dan motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa jurusan teknologi pendidikan offering A angkatan 2008 semester gasal tahun akademik 2009/2010 Universitas Negeri Malang. Variabel penelitian adalah Fasilitas perkuliahan(X1), dan Motivasi belajar mahasiswa(X2). Dengan Prestasi Belajar Mahasiswa (Y). Penelitian ini adalah Penelitian Korelasional. Subyek penelitian adalah Mahasiswa Jurusan Teknologi pendidikan offering A Angkatan 2008 semester gasal Tahun Akademik 2009/2010 Universitas Negeri Malang yang berjumlah 40 orang (18 perempuan dan 22 laki - laki). Instrumen yang digunakan adalah angket atau kuisioner.Teknik analisis data dalam penelitian ini analisis korelasi rank order (spearman rho), diolah dengan bantuan komputer program SPSS for Windows Versi 15,00. Hasil pengujian hipotesis membuktikan bahwa hipotesis nol (Ho) ditolak. Hal ini menyatakan bahwa terjadi hubungan yang signifikan antara fasilitas perkuliahan (X1) dan Motivasi belajar mahasiswa (X2) dengan indeks prestasi (Y) dan hubungan antara keduanya positif. Artinya jika fasilitas perkuliahan (X1) dan Motivasi belajar mahasiswa (X2) mengalami peningkatan, akan terjadi kecenderungan peningkatan indeks prestasi (Y) dan demikian pula sebaliknya. Hasil ini memperlihatkan bahwa variabel fasilitas perkuliahan (X1) dan Motivasi belajar mahasiswa (X2) berhubungan secara signifikan dengan indeks prestasi (Y) pada level 5 %. Adanya korelasi positif yang signifikan berarti, semakin lengkap fasilitas perkuliahan dan semakin tinggi motivasi belajar mahasiswa maka akan semakin tinggi pula Indeks Prestasi yang akan diperoleh. Penelitian ini hanya meneliti beberapa faktor yang berkaitan dengan fasilitas saja, belum menggali dan meneliti faktor-faktor lain yang berpengaruh. Oleh karena itu, disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan cara pengembangan variabel yang lain dan lingkup yang lebih luas sehingga dapat mencapai keberhasilan proses perkuliahan yang optimal.

Diagnosis kesulitan belajar fisika siswa kelas III catur wulan I MTs Negeri Sumenep tahun ajaran 1998/1999 pada pokok bahasan rangkaian listrik dan hukum OHM dan hambatan / oleh Endang Sufiati

 

Analisis kualitatif model reaktor atom pada pembangkit listrik tenaga nuklir / oleh Ubaidillah

 

Studi perbandingan hasil belajar fisika siswa dengan pola penjurusan yang berbeda di SMU Negeri 5 Malang / oleh Rumiati

 

Problemtika pelestarian wayang kulit di kalangan generasi muda (studi kasus di Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri) / Mifdal Zusron Alfaqi

 

Kata Kunci: Problematika Pelestarian, Wayang Kulit, Generasi muda Melestarikan kebudayaan perlu dan mendesak di lakukan, sebab kebudayaan merupakan ciri dari suatu bangsa. Salah satu yang perlu di lestarikan adalah wayang kulit. Dalam melestarikan wayang kulit memiliki banyak sekali problematika yang terjadi khususnya di kalangan generasi muda. Maka dari itu penulis ingin mencari apa yang menjadikan problematika dalam melestarikan wayang kulit di kalangan generasi muda. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) Sejarah wayang kulit, (2) Kronologis pertunjukan kesenian wayang kulit, (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam kesenian wayang kulit, (4) Pelestarian wayang kulit di Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri, (5) Problematika pelestarian wayang kulit di kalangan generasi muda. Untuk mengumpulkan data peneliti menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif, informan terdiri dari pemerintah Kecamatan Ringinrejo, dalang wayang kulit, dan generasi muda lima desa yang ada di Kecamatan Ringinrejo yaitu, Desa Jemekan, Desa Susuh Bango, Desa Selodono, Desa Dawung, dan Desa Ringinrejo. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis data tema kultural (componential analysis). Untuk menjamin keabsahan data yang ditemukan, peneliti melakukan pengecekan keabsahan data sebagai berikut: (1), Ketekunan pengamatan (2). Triangulasi. Hasil penelitian dapat di deskripsikan sebagai berikut: (1) Sejarah wayang kulit ada dua versi. Versi yang pertama yaitu wayang kulit merupakan sebuah kebudayaan dan kesenian yang berasal dari India. Versi ini tokoh-tokoh dalam wayang kulit adalah Ramayana dan Mahabarata. Versi yang ke dua adalah wayang kulit berasal dari Indonesia khususnya Jawa, wayang kulit dari jawa ini di ciptakan oleh Sunan Kalijaga untuk di jadikan alat penyebaran agama Islam. tokoh-tokoh yang ada dalam wayang kulit di tambahkan tokoh "punokawan" Semar, Petruk, Gareng, Bagong serta Limbuk dan Cangek. (2) Kronologis pertunjukan kesenian wayang kulit melalui tiga tahapan: a. Pathet Nem (Jejer), b. Pathet Nyanga, c. Pathet Manyuro. (3) Nilai-nilai wayang kulit sangatlah kaya: a. Nilai gotong royong, b. Nilai kebersamaan dan kesatuan, c. Nilai budi pekerti, d. Nilai kesenian, e. Nilai pendidikan, f. Nilai politik, g. Nilai tanggung jawab, h. Nilai kemandirian. (4) Pemerintah dan para pelaku pelestarian (dalang) berusaha untuk melestarikan wayang kulit dengan sering di gelarnya pertunjukan wayang kulit terutama pada hari-hari besar. (5) Problematika pelestarian wayang kulit terkendala masalah mendasar: a. Generasi muda tidak faham dengan cerita yang di bawakan oleh dalang. b. Generasi muda tidak faham dengan bahasa yang di gunakan dalang. c. Generasi muda merasa jenuh atau bosan di karenakan wayang kulit yang kurang terpadu dengan kebudayaan modern. d. Waktu pertunjukan wayang kulit yang lama. e. Generasi muda beranggapan wayang kulit merupakan kebudayaan yang kuno. f. Generasi muda kurang mengenal dan mengerti tentang wayang kulit. g. Belum adanya perkumpulan dalang wayang di Kecamatan Ringinrejo dan sampai sekarang perkumpulan dalang langsung di bawah PEPADI, sehingga kurang terjalinnya hubungan antara pelaku pelestarian di Kecamatan Ringinrejo. Berdasarkan hasil penelitian disarankan sebagai berikut: a. Dalang lebih mendekatkan wayang kulit dengan generasi muda. b. Pemerintah Kecamatan Ringinrejo sebagai lembaga tertinggi harus mendorong dan memfasilitasi para pelaku pelestarian wayang kulit. c. Perkumpulan dalang perlu di adakan di Kecamatan Ringinrejo. d. Sering di adakannya pagelaran wayang. e. Bahasa pada wayang kulit di padukan dengan bahasa Indonesia, ada perpaduan kebudayaan lama dengan yang baru. Sehingga adanya sebuah pembaharuan wayang kulit tanpa mengurangi nilai-nilai lakon cerita wayang kulit.

Hubungan pelaksanaan pengawasan melekat dengan prestasi kerja pegawai tata usaha Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP MALANG
oleh Mukhlis Adipranata

 

Identifikasi kesulitan belajar matematika siswa SMK Negeri 1 Kediri pada materi persamaan dan pertidaksamaan kuadrat / Ratna Widyastuti

 

Kata Kunci: Identifikasi, Kesulitan Belajar Matematika, Persamaan Kuadrat, Pertidaksamaan kuadrat. Hasil belajar antara siswa satu dengan yang lain tidaklah sama. Perbedaan hasil belajar ini dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: faktor internal yang bersifat psikologis dan faktor eksternal: proses belajar mengajar di sekolah, sosial dan situasional. Dari hasil wawancara dengan salah satu guru mata pelajaran matematika di SMK Negeri 1 Kediri diperoleh keterangan bahwa siswa SMK cenderung mengalami banyak kesulitan dalam belajar matematika antara lain pada materi persamaan dan pertidaksamaan kuadrat. Penelitian ini dilakukan untuk menngidentifikasi kesulitan- kesulitan yang dialami siswa pada materi persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat sehingga diharapkan guru pengajar matematika SMK sederajat dapat menentukan langkah antisipasi sedini mungkin. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Kesulitan belajar yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah (1) kesulitan dalam memahami dan menggunakan konsep yang berkaitan dengan materi persamaan kuadrat dan pertidaksamaan kuadrat, (2) kesulitan dalam menyelesaikan soal bentuk verbal yang berkaitan dengan aplikasi soal persamaan kuadrat, dan (3) kesulitan dalam melakukan operasi aritmetika terutama operasi pada bentuk pecahan dan tanda akar. Saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah identifikasi kesulitan perlu dilakukan sedini mungkin setelah materi tersebut diajarkan sampai dengan diperoleh sebuah kesimpulan sehingga dapat dijadikan pertimbangan bagi guru untuk mengantisipasi kesulitan pada bagian-bagian tertentu.

Profil keluarga anak asuh
studi anak asuh yang putus sekolah pendidikan dasar 9 tahun penerima bea siswa GN-OTA di Desa Petungsewu Kecamatan Wagir Kabupaten Malang
oleh Ngadam

 

Pengaruh antropometri terhadap kelelahan kerja dan hasil belajar siswa pada pekerjaan mengikir dalam matadiklat kerja bangku kelas X SMKN I Blitar Jurusan Mesin / Agus Wibowo

 

ABSTRAK Wibowo, Agus. 2010. Pengaruh Antropometri terhadap Kelelahan Kerja dan Hasil Belajar Siswa pada Pekerjaan Mengikir dalam Matadiklat Kerja Bangku Kelas X SMKN I Blitar Jurusan Mesin. Skripsi, Jurusan Pendidikan Teknik Mesin FT Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Mardji, M. Kes. (II) Dra. Anny Martingisih, M. Kes. Kata Kunci: Tinggi Badan, Kelelahan, Hasil Belajar, Mengikir. Pekerjaan mengikir merupakan salah satu pekerjaan yang paling berat di jurusan teknik permesinan karena harus menggunakan cara konvensional yaitu tenaga manusia dalam prosesnya. Hal ini untuk membentuk karakter seorang engineer yang ulet, terampil, teliti, dan efektif. Tinggi badan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada proses pekerjaan mengikir maupun hasil pengikiran. Perbedaan tinggi badan dengan ragum secara langsung mempengaruhi sikap kerja yang berdampak pada kelelahan kerja dan hasil pekerjaan mengikir. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kelompok tinggi badan terhadap kelelahan kerja dan hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan di Bengkel Jurusan Mesin SMKN I Blitar pada bulan Februari – Maret 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian komparatif. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah one-way anova. Variabel yang diteliti adalah tinggi badan siswa yang dibagi menjadi tiga kelompok yaitu tinggi badan bawah (X1), tinggi badan sesuai (X2), dan tinggi badan atas (X3). Pengukuran tinggi badan dihitung dari lantai sampai tinggi siku pada lengan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kelelahan kerja (Y1) dan hasil belajar siswa (Y2). Penelitian dilakukan selama dua jam dengan perlakuan yang berbeda pada tiap-tiap kelompok tinggi badan. Pada hasil analisis deskriptif diketahui tingkat kelelahan kerja (Y1) tertinggi dialami oleh kelompok tinggi badan bawah (X1) dengan skor rata-rata 31,09 dan tingkat kelelahan kerja terendah dialami oleh kelompok tinggi badan sesuai (X2) dengan skor rata-rata 16,68. Sementara kelompok tinggi badan atas mempunyai skor rata-rata 26,70. Untuk hasil belajar siswa, nilai tertinggi diperoleh kelompok tinggi badan sesuai dengan nilai rata-rata 80,56. Kelompok tinggi badan atas (X3) dan kelompok tinggi badan bawah (X1) mempunyai nilai rata-rata yang cenderung seimbang yaitu masing-masing 72,07 dan 72,48. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar kelompok tinggi badan terhadap kelelahan kerja dan hasil belajar siswa. Perbedaan signifikan terjadi pada parbandingan antara tinggi badan atas (X3) dan tinggi badan sesuai (X2) serta pada perbandingan antara tinggi badan bawah (X1) dan tinggi badan sesuai (X2) terhadap kelelahan kerja (Y1) dan hasil belajar siswa (Y2). Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar sekolah mempertimbang- kan faktor tinggi badan siswa dalam pengadaan peralatan meja kerja untuk mempermudah pengaturan tinggi ragum pada matadiklat Kerja Bangku. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan dengan jarak ragum terhadap siku yang lebih bervariasi atau untuk mencari pengaruh tinggi badan terhadap konsumsi energi.

Pelaksanaan CBSA bidang studi fisika kelas satu cawu III di SLTP Kodya Malang / oleh Masluchah

 

The vocbulary in composition of the English Departement students of Widya Mandala Catholic University Surabaya / by Vincentius Luluk Prijambodo

 

Penggunaan metode problem solving yang kontekstual untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada kajian pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup di kelas XI-IPS SMA Widyagama Malang / Tri Agustin

 

Kata kunci: problem solving, kemampuan memecahkan masalah Berdasarkan observasi awal yang dilakukan di kelas XI - IPS SMA Widyagama Malang pada tanggal 23 dan 30 Oktober 2010, diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru telah menggunakan beberapa metode pembelajaran, tetapi siswa masih kurang aktif. Dari kegiatan wawancara dengan siswa, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran geografi selama ini siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu untuk menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa. Salah satunya dengan penggunaan metode problem solving. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Clasroom Action Research) yang dilaksanakan dalam 2 siklus tindakan. Setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan selama 2 jam pelajaran. Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas XI-IPS semester genap tahun ajaran 2010-2011 SMA Widyagama Malang dengan jumlah 36 siswa, terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 19 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa kemampuan memecahkan masalah siswa. Kemampuan memecahkan masalah siswa diukur berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI-IPS SMA Widyagama Malang pada siklus I dan pada siklus II. Aktivitas siswa yang menunjukkan indikator kemampuan memecahkan masalah semakin meningkat setelah dibentuk dua kelompok dengan topik yang sama, kelompok pertama sebagai penyaji dan kelompok kedua sebagai pembanding. Siswa dapat saling bertukar pendapat untuk pemilihan solusi yang tepat dalam diskusi kelas. Dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah termasuk dalam kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa penggunaan metode problem solving yang kontekstual dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah siswa kelas XI-IPS khususnya pada kajian pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup di SMA Widyagama Malang. Disarankan pada guru geografi untuk menggunakan metode problem solving pada materi lain dengan memunculkan permasalahan kontekstual yang dapat diungkap dan didiskusikan sebagai salah satu alternatif pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah.

Analisis dampak sosial ekonomi masyarakat Kota Batu pada sektor pariwisata / Lutfia Handayani

 

Handayani, Lutfia. 2014. Analisis Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat Kota Batu Pada Sektor Pariwisata. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang: Pembimbing: (I) Dr. Hj. Sri Umi Mintarti Widjaja S.E., M.P., Ak. (II) Dr. Hadi Sumarsono, S.T., M. Si. Kata Kunci: Pariwisata, Dampak Sosial Ekonomi.      Pembangunan tempat wisata di Kota Batu mengalami perkembangan dari tahun ke tahun yang memberikan efek pengganda bagi sektor lain. Untuk mengetahui dampak sosial ekonomi kegiatan pariwisata, maka dilakukan penelitian mengenai analisis dampak sosial ekonomi masyarakat Kota Batu pada sektor pariwisata dengan menggunakan tippologi klassen untuk mengetahu tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor pariwisata dan multiplier keynesian yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dampak yang dapat dirasakan masyarakat lokal akibat dari perputaran uang yang terjadi di Kota Batu antara pengunjung dan masyarakat lokal.      Penelitian ini dilakukan di tempat- tempat wisata di Kota Batu, yaitu cangar, selecta, agrowisata, Jatim park dan Batu Night Spectacular (BNS) untuk melakukan kajian terhadap pengunjung dan masyarakat yang terlibat maupun yang tidak terlibat dalam kegiatan wisata. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan kuisioner. Dampak sosial dilihat sari penyerapan tenaga kerja yang dihitung dari PDRB Harga Konstan Tahun 2011 dan dianalisis dengan analisis Tipologi Klassen. Sedangkan dampak ekonomi dianalisis dengan konsep Multiplier Keynesian.      Peranan sektor pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja dalam analisis Tipologi Klassen berada dalam kuadran 1, artinya bahwa sektor pariwisata memberikan kontribusi yang tinggi terhadap pendapatan daerah serta banyak menyerap tenaga kerja. Dampak ekonomi dari kegiatan pariwisata di Kota Batu dilihat dari nilai pengganda Keynesian multiplier income sebesar Kota Batu sebesar 1,14 artinya peningkatan pengeluaran wisatawan sebesar 1 rupiah akan berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat lokal sebesar 1,14 rupiah. Nilai Ratio Income Multiplier Tipe I di Kota Batu sebesar 1,17 artinya peningkatan 1 rupiah pendapatan unit usaha dari pengeluaran wisatawan akan mengakibatkan peningkatan sebesar 1,17 rupiah. Sedangkan nilai Ratio Income Multiplier Tipe II sebesar 1,38 artinya peningkatan 1 rupiah pengeluaran wisatawan akan mengakibatkan peningkatan sebesar 1,38 rupiah.      Memperhatikan hasil penelitian kegiatan pariwisata membawa pengaruh pada kondisi ekonomi masyarakat. Oleh karena itu pemerintah Kota Batu diharapkan lebih memperhatikan dan meningkatkan sektor perdagangan, hotel restoran dan sektor jasa- jasa yang mendukung pariwisata agar dapat mengurangi jumlah pengangguran. Selain itu pendistribusian sarana dan prasarana harus ditingkatkan sesuai kebutuhan masyarakat dan pengunjung agar jumlah kunjungan di Kota Batu semakin meningkat sehingga efek pengganda yang ditimbulkan semakin tinggi.

Problematika penyusunan persiapan mengajar tertulis guru di SDN se-kecamatan Ponggok Kebupaten Blitar
oleh Uswatun Khasanah

 

Pengaruh variasi medan magnet eksternal terhadap dinamika vorteks pada JJ-SNSl TDGL termodifikasi / Ahmad Musrifin

 

ABSTRAK Musrifin, Ahmad. 2016. Pengaruh Variasi Medan Magnet Eksternal terhadap Dinamika Vorteks pada JJ-SNS Berdasarkan Model TDGL Termodifikasi. Skripsi. Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hari Wisodo, M.Si (2) Nugroho Adi. P, S.Si., M.Sc. Kata Kunci : JJ-SNS, Dinamika Voterks, Medan Magnet Eksternal, dan Persamaan TDGL termodifikasi Dinamika vorteks dalam pengaruh medan magnet eksternal pada Josephson Junction-Superconductor Normal Superconductor (JJ-SNS) telah berhasil dikaji berdasarkan persamaan TDGL termodifikasi. Sampel berukuran Lx × Ly = 50ξ0 × 50ξ0 dengan lebar sambungan LxN × LyN = 1,75ξ0 × 50ξ0 yang dialiri rapat arus eksternal sebesar Je;y = 0,024J0 telah mengindikasikan interaksi vorteks pada sambungan dengan bahan superkonduktor sisi kiri. Untuk melihat dinamika anihilasi VAV maka dipilih LxN × LyN = 1ξ0 × 50ξ0 dengan Je;x = 0,046J0. Masing-masing sistem akan mendapat pengaruh dari medan magnet eksternal He, yang diterapkan dalam arah z dalam rentang variasi 0 < Hc2(0) < 1. Pada penelitian ini solusi persamaan TDGL termodifikasi telah diselesaikan melalui metode finite-difference dengan skema forward time centered space (FTCS). Dalam keperluan menyederhanakan persamaan dan memperoleh ketelitian proses komputasi yang tinggi maka telah diperhitungkan normalisasi persamaan TDGL termodifikasi. Pemberian variasi medan magnet eksternal telah menunjukkan sifat berbeda pada kesetimbangan, konfigurasi tancapan vorteks dalam sambungan, dan eksistensi vorteks dalam JJ-SNS, serta periodisitas fenomena anihilasi pasangan VAV dalam sambungan Josephson. Kuatnya medan magnet eksternal yang diberikan membuat vorteks-vorteks lebih mudah untuk menyusun diri dalam kondisi setimbangannya dan memberikan kerapatan konfigurasi vorteks dalam sambungan. Disisi lain lemahya medan magnet eksternal telah membatasi pergerakan vorteks untuk keluar dari sistem JJ-SNS. Selain itu, pada dinamika anihilasi VAV dalam sambungan, implikasi pemberian medan magnet eksternal yang semakin kuat telah memberikan kemunculan periodisitas fenomena anihilasi VAV dalam sambungan menjadi lebih panjang. Telah diperhitungkan juga karakteristik kurva potensial (V-t) bagi masing-masing sistem JJ-SNS.

Penerapan pembelajaran perkalian dan pembagian bilangan cacah dengan problem solving untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas III SD Insan Amanah Malang / Marta Adiprayitno

 

Kata kunci: Prestasi Belajar, Perkalian dan Pembagian bilangan cacah, Pembelajaran Problem Solving Berdasarkan hasil observasi peneliti pada bulan Juli-Agustus 2010, diketahui bahwa selama proses pembelajaran matematika di kelas III B SD Insan Amanah Malang, siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran. Mereka hanya mendengar dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru. Hal tersebut disebabkan sebagian besar guru di SD Insan Amanah Malang menerapkan metode pembelajaran konvensional dalam setiap proses belajar mengajar. Sampai saat ini mereka belum menemukan suatu metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang umum terjadi pada siswa dalam rangka upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. Salah satu metode pembelajaran yang secara teoritis dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang dialami siswa SD Insan Amanah Malang khususnya untuk materi perkalian dan pembagian bilangan cacah adalah menerapkan pembelajaran dengan problem solving. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran dengan problem solving model Polya sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar perkalian dan pembagian bilangan cacah pada siswa kelas III B SD Insan Amanah Malang tahun ajaran 2010/2011. Proses pelaksanaan pembelajaran diawali dengan memberikan masalah, memahami masalah, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana yang telah disusun , dan kemudian diakhiri dengan memeriksa kembali prosedur dan hasil penyelesaian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus belajar. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas III B SD Insan Amanah Malang tahun pelajaran 2010/2011. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus I presentase banyak siswa yang tuntas belajar pada materi perkalian adalah 56%, artinya pembelajaran belum berhasil karena belum mencapai taraf ketuntasan 75% dari jumlah siswa. Sedangkan pada siklus II, presentase banyak siswa yang tuntas belajar pada materi pembagian adalah 76%, artinya bahwa pembelajaran dengan problem solving model Polya pada siklus II terjadi peningkatan prestasi belajar matematika siswa karena telah mencapai taraf keberhasilan lebih dari 75%. Hal ini dapat diperkuat dengan hasil observasi aktivitas guru dan siswa yang masuk dalam kategori “Sangat baik” pada siklus I maupun siklus II, serta hasil wawancara terhadap siswa yang menunjukkan bahwa secara umum siswa senang dan memberikan respons yang positif terhadap pembelajaran dengan problem solving model Polya.

Identifikasi kemampuan menyelesaikan soal relativitas khusus dalam matakuliah fisika modern oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika IKIP MALANG / oleh Sri Puji Andayani

 

Mustafa Kemal and Sukarno a comparison of views regarding relations between state and religion / by Ibnu Anshori

 

Penyelenggaraan program akselerasi ditinjau dari substansi manajemen pendidikan (studi multi kasus di SMA Negeri 5 Malang dan MAN Malang 1) / Denok Dwi Anggraini

 

Kata kunci: manajemen pendidikan, program akselerasi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 5 Ayat 4 yaitu "Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus", hal ini berarti pemerintah harus memberikan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi dan kecerdasan istimewa, agar potensi yang ada pada peserta didik dapat berkembang secara optimal dan pada gilirannya memberikan kesempatan kepada peserta didik dapat tumbuh menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Dalam menyelenggarakan program akselerasi, sekolah penyelenggara harus dapat mengoptimalkan dan mengimplementasikan manajemen pendidikan yang meliputi manajemen kurikulum, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, keuangan, serta humas. SMA Negeri 5 Malang dan MAN Malang 1 telah menyelenggarakan program akselerasi dan sudah meluluskan satu angkatan. Oleh karena itu perlu mempertanyakan penyelenggaraan program akselerasi yang ditinjau dari substansi manajemen pendidikan kedua sekolah tersebut. Fokus penelitian bagaimanakah penyelenggaraan program akselerasi yang ditinjau dari (1) manajemen kurikulum; (2) manajemen peserta didik; (3) manajemen pendidik; (4) manajemen sarana dan prasarana; (5) manajemen keuangan; serta (6) manajemen humas. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan rancangan studi multikasus, dengan menggunakan metode komparatif konstan (constant comparative method )dikarenakan setiap temuan di lapangan secara konsisten ada perbedaan yaitu perbedaan terlihat dari kurikulum yang digunakan di masing-masing sekolah. Data yang diperoleh melalui: (1) observasi; (2) wawancara; dan (3) dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data yang digunakan adalah (1) ketekunan pengamatan ; (2) triangulasi; dan (3) pengecekan anggota (member check). Kesimpulan penelitian ini, ditemukan bahwa bentuk kegiatan substansi manajemen pendidikan dalam penyelenggaraan program akselerasi di SMA Negeri 5 Malang dan MAN Malang 1 meliputi: (1) manajemen kurikulum yaitu penggunaan KTSP yang dimodifikasi oleh masing-masing sekolah dengan dikembangkan secara berdiferensiasi, dan tetap mengacu pada pemerintah pusat, hampir semua guru menggunakan bahasa bilingual dalam pembelajaran untuk mata pelajaran hard science, sedangkan MAN 1 hanya beberapa guru yang menggunakan bahasa bilingual, serta kedua sekolah menerapkan sistem pembelajaran di luar dan juga outbond; (2) manajemen peserta didik meliputi: penerimaan peserta didik dilakukan secara objektif, dan transparan, jumlah siswa masing-masing sekolah tidak sama, tergantung dari hasil tes penerimaan siswa baru yang dilaksanakan oleh masing-masing sekolah, dan kedua sekolah mempunyai standar penilaian tersendiri, standar KKM SMAN 5 yaitu 8,0, sedangkan standar KKM MAN 1 yaitu 7,5, jika nilai siswa belum memenuhi standar, maka akan dikembalikan ke program reguler; (3) manajemen pendidik meliputi: perekrutan guru program akselerasi berdasarkan kriteria tertentu, jumlah guru akselerasi di SMAN 5 sebanyak 30 orang guru dan 3 orang dilibatkan sebagai staf pengelola, guru yang mengajar di kelas X, XI, dan XII dibedakan, sedangkan jumlah guru akselerasi di MAN 1 sebanyak 25 orang guru dengan 5 orang sekaligus sebagai staf pengelola, guru yang mengajar di kelas X, XI, dan XII tidak dibedakan, tetapi jika prestasi rendah, maka akan dipindah mengajar di reguler, peningkatan mutu guru dengan cara pelatihan dan memberikan tambahan insentif, untuk SMAN 5 insentif diberikan secara langsung setiap bulan, serta evaluasi guru dilihat dari nilai siswa; (4) manajemen sarana dan prasarana, perencanaan sarpras dengan mengadakan rapat, dan penataan lingkungan belajar menyesuaikan kebutuhan guru dan materi, sarana program akselerasi lebih lengkap dari pada program reguler, sarana dan prasarana program akselerasi di SMAN 5 dan MAN 1 relatif sama, hanya di MAN 1 ada tambahan TV dan CCTV; (5) manajemen keuangan, sumber dana berasal dari pemerintah, komite, dan SPP. SPP lebih mahal daripada regular, di SMAN 5 besarnya SPP semmua siswa aksaelerasi sama yaitu Rp 400.000,00 setiap bulan, SPP sedangkan MAN 1 besarnya SPP setiap siswa akselerasi tidak sama antara Rp 0 - Rp 400.000,00 setiap bulan, tergantung dari kemampuan orang tua, serta masing-masing sekolah memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak mampu dan siswa berprestasi; (6) manajemen humas, senantiasa melibatkan orang tua dalam rangka meningkatkan program dan mutu sekolah, dengan frekuensi pertemuan minimal 3 kali dalam satu tahun, SMAN 5 menjadi anggota asosiasi akselerasi nasional, sedangkan MAN 1 menjadi ketua asosiasi akselerasi madrasah se Jawa Timur dan anggota asosiasi akselerasi nasional, serta kedua sekolah menjalin kerjasama dengan UMM dalam bidang psikologi, UB bidang MIPA, dan UM pengembangan kemampuan guru. Saran yang dapat diberikan diantaranya: (1) bagi Kepala SMAN 5, hendaknya lebih memantapkan program yang dibuat, sedangkan bagi Kepala MAN 1 hendaknya lebih memperhatikan manajemen program akselerasi sehingga dapat menjadi sekolah yang berkualitas; (2) bagi Ketua Program Akselerasi SMAN 5, hendaknya senantiasa melakukan perbaikan dalam kegiatan pelaksanaan semua substansi manajemen pendidikan terutama dalam sarana prasarana, sedangkan bagi Ketua Program Akselerasi MAN 1, hendaknya senantiasa melakukan evaluasi kegiatan substansi manajemen pendidikan; (3) bagi guru dan staf pengelola, hendaknya melakukan perbaikan tugas sebagai pengajar dan staf pengelola; (4) bagi Ketua Jurusan Administrasi Pendidikan, diharapkan agar menambah kajian ilmu manajemen pendidikan khususnya program akselerasi; (5) bagi peneliti lain, hendaknya melakukan penelitian pengembangan untuk mengetahui substansi manajemen program akselerasi yang akan datang, dengan memperdalam fokus penelitian dan kajian teorinya.

Islam and nation formation in Indonesia / by Andi M. Faisal Bakti

 

Pengaruh iklim organisasi terhadap semangat kerja : studi kasus Unit Kegiatan Mahasiswa KSR PMI Unit Universitas Negeri Malang / oleh Aliyah Rahmawati

 

Pengaruh kemampuan IPA SMP dan matematika SMP dari siswa yang mempunyai tingkat intelegensi sama terhadap prestasi belajar kimia kelas satu SMU Negeri II Ngawi / oleh M. Muttaqwiati

 

Imlementasi algoritma tabu search pada Vehicle Routing Problem with Double Time Windows (VRPDTW) / Ulfa Maulida Rahma

 

ABSTRAK Rahma, Ulfa Maulida. 2015. ImplementasiAlgoritma Tabu Search pada Vehicle Routing Problem with Double Time Windows (VRPDTW). Skripsi, Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Dra. Sapti Wahyuningsih, M.Si, Pembimbing (II): Lucky Tri Oktoviana, S.Si, M.Kom. Kata Kunci : Vehicle Routing Problem (VRP), Algoritma Tabu Search, Vehicle Routing Problem with Double Time Windows (VRPDTW), metode Nearest Neighbour. Dalam teori graph permasalahan optimasi rute kendaraan dikenal dengan Vehicle Routing Problem (VRP).Masalah Vehicle Routing merupakanpermasalahan menemukan rute optimum dari suatu pendistribusian barang dari satu atau beberapa depot ke sejumlah pelanggannya, yang mana diberikan beberapa batasan kendala. Vehicle Routing Problem with Double Time Windows (VRPDTW) yaitu VRP dengan terdapat dua batasan time window yaitu [e_0 ,l_ol] dan[e_0 ,l_or]. Time window pertama yaitu [e_0 ,l_ol]merupakaninterval waktu yang digunakanuntuk persiapan dan loading di depot sedangkan time window kedua yaitu[e_0 ,l_or]merupakaninterval waktuyang digunakan untuk perjalanan kendaraan dari depot ke customer sampai kembali ke depot. Selain dua batasan waktu tersebut, VRPDTW juga memperhatikan kendala kapasitas kendaraan yang digunakan. Untuk menyelesaikan VRPDTW, pada algoritma tabu search terdapat 3 tahapan penting yaitu tahap inisialisasi, tahap pengembangan, dan tahap pemilihan solusi terbaik. Pada tahap inisialisasi melibatkan metode nearest neighbouruntuk memperolah rute sementara serta algoritma penentuan kendaraan untuk menentukan rute ke kendaraan. Pada tahap pengembangan rute-rute yang diperoleh dari tahap inisialisai dieksplorasi lebih dalam dengan cara melakukan penukaran posisi antar titik. Solusi-sulusi sementara yang diperoleh dari tahap inisialisasi dan tahap pengembangan kemudian dimasukkan ke daftar solusi sementara (tabu list). Tahap pemilihan solusi terbaik merupakan tahap untuk memilih solusi optimum dari solusi-sulusi sementara yang terdapat dalam tabu list. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan VRPDTW dengan menggunakan algoritma tabu search. Selanjutnya agar lebih mudah dalam menyelesaikan permasalahan VRPDTW dengan menggunakan algoritma tabu search, maka direpresentasikan dalam program komputer menggunakan Borlan Delphi 7.0. Dalam Skripsi ini telah diuji coba 15, 20, 30, dan 36 titik. Beberapa kelemahan dari program ini adalah untuk jumlah titik yang banyak membutuhkan waktu yang lama dalam pengisian tabel jarak titik dan tabel permintaan.  

Penerapan model pembelajaran kooperatif numbered head together (NHT) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Kepanjen / Marinda Tanjung Iriana

 

Kata kunci : Numbered Head Together (NHT), Prestasi Belajar, Peningkatan Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri I Kepanjen masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang susah untuk dimengerti. Indikasinya dapat dilihat dari prestasi belajar siswa di SMA ini yang kurang memuaskan. Faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa adalah pembelajaran matematika yang kurang tepat sehingga dapat dikatakan proses kegiatan belajar siswa kurang berhasil. Guru juga belum pernah menggunakan variasi metode pembelajaran untuk mengatasi permasalahan tersebut. Pembelajaran yang dilakukan selama ini bersifat konvensional. Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan NHT untuk melihat prestasi belajar siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri I Kepanjen pada materi menentukan titik stasioner suatu fungsi beserta jenis ekstrimnya serta menentukan nilai maksimum dan minimum dari suatu fungsi dalam suatu interval tertutup dengan menggunakan turunan. Proses pelaksanaan pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) ini dilaksanakan melalui 4 tahapan, yaitu penomoran (Numbering), mengajukan pertanyaan (Questioning), berfikir bersama (Heads Together), dan menjawab (Answering). Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus 1 presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar dengan subpokok bahasan menentukan titik stasioner dan jenis nilai stasioner dari suatu fungsi dengan menggunakan turunan adalah 79.41 % sedangkan pada siklus 2 presentase banyaknya siswa yang tuntas belajar dengan subpokok bahasan menentukan nilai maksimum dan minimum dari suatu fungsi dalam suatu interval tertutup dengan menggunakan turunan adalah 100%. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan SMA Negeri I Kepanjen, pelaksanaan pembelajaran dikatakan mendukung atau berhasil apabila sekurang-kurangnya 80% siswa mendapat nilai minimal 75 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan NHT dalam penelitian ini berhasil. Dalam penelitian ini pembelajaran kooperatif tipe NHT yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu pada tahap penomoran (Numbering), siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang heterogen yang beranggotakan 4-5 siswa berdasarkan nilai ulangan harian siswa kemudian siswa diberi nomor-nomor sesuai dengan jumlah anggota setiap kelompoknya dengan suatu aturan khusus. Pada tahap mengajukan pertanyaan (Questioning), setiap kelompok diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) lebih dari satu lembar untuk menghindari siswa kesulitan dalam membaca LKS. Kemudian pada tahap berfikir bersama (Heads Together), siswa berdiskusi dengan teman satu kelompoknya tentang LKS yang diberikan dan guru sebagai fasilitator. Tahap yang terakhir adalah tahap menjawab (Answering), guru menunjuk nomor siswa dan kelompok siswa secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas sedangkan siswa dari kelompok lain meskipun mempunyai nomor yang tidak sama dengan yang presentasi dapat memberikan tanggapannya.

The modernization of the pesantren's educational system to meet the needs of Indonesian communities / by Suprayetno Wagiman

 

Speaking assessment as conducted by an English teacher at SMA Negeri 3 Malang / Bunga Aruma Nirmatika

 

Key words: speaking assessment, SMA Negeri 3 Malang. Assessment has gained more attention since the change of education curriculum affects one of education focuses from a question what must be taught to the students to a question what competence must be possessed by the students. Speaking assessment has become an important issue since the role of speaking become more central in language teaching with the invention of communicative language teaching. Assessing speaking as part of teaching speaking is more difficult than assessing the other skills especially in terms of how to score the students’ speaking ability. This is because there are a lot of aspects of speaking that must be considered by the teacher. In relation to the importance of assessing students’ speaking ability, this study is intended to describe how an English teacher conducts speaking assessment. The focus of this study is speaking assessment as conducted by an English teacher at SMA Negeri 3 Malang. The discussion covers the instruments used by the teacher in speaking assessment, the techniques and procedures applied in speaking assessment, and the students’ opinion about the speaking assessment conducted by the teacher. The design of this study was descriptive qualitative since this study tried to describe speaking assessments conducted by an English teacher at SMA Negeri 3 Malang. The data were collected from the English teacher and the students. One class, X7, was chosen to be observed to get the description of how the teacher conducts speaking assessment in class. To collect data, some instruments were used such as observation, interview, documentary study, and questionnaires. The findings show that the teacher used speaking scoring rubrics and speaking scoring sheets as instruments in speaking assessment. The speaking scoring rubrics used by the teacher were in the form of analytic scoring rubrics. The teacher made the scoring rubrics by adopting, adapting, and combining scoring rubrics from some sources. The teacher also used speaking scoring sheets to write the students’ speaking scores. The teacher used many variations of techniques and procedures in her speaking assessment. The teacher usually started to construct speaking assessment by looking at the standard competence and basic competence. All of the speaking tasks given to the students belong to interactive speaking since the speaking tasks require the students to perform speaking in longer and complicated interaction. The speaking tasks covered activities to become a reporter and sources of news, performing dialogues containing expressions of congratulation, gratitude, and compliment, and performing announcements. The speaking tasks made by the teacher reflected authentic tasks which involved real-life situation that applied continuous assessment since the teacher assessed the students’ speaking performance regularly in the classroom. Besides, it was found that the teacher had implemented three stages of assessment including assessment in the pre-instruction, during instruction, and post-instruction. In general, the students argued that speaking assessment conducted by the teacher was good. They also liked her speaking assessment. There were some reasons why the students liked speaking assessment conducted by the teacher. First, the scoring of speaking ability was transparent and clear. Second, the speaking assessment was fair and objective. Third, the speaking assessment was simple and effective. Fourth, the speaking tasks usually were done in groups. Based on the findings, some suggestions can be given to follow up the findings of the study. First, the English teacher is recommended to continue developing techniques and procedures applied in speaking assessment to find better techniques and procedures in the future. Second, it is suggested for the school principal to pay attention to the management of lesson schedule by giving two or three days as distance between the first and second meeting of English subject since at the English subject schedule there is no distance between meeting first and second meeting. Third, the future researchers could investigate how the teacher converts the raw speaking scores into the final speaking scores by using a formula.

Hubungan antara latar belakang orang tua dengan persepsi pekerja anak tentang pendidikan di Kecamatan Lowokwaru Kodya Malang
oleh Samsul Suhardi

 

Metafora dalam puisi Robert Frost / Kasim Ntou

 

Hubungan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dalam mata pelajaran PKn dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Kota Malang / Eko Afidin

 

Kata kunci: Hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi, partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS. Mata pelajaran PKn di terima siswa mulai dari tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi. Namun materi yang disajikan juga disesuaikan dengan jenjang yang ada. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang didapat materi yang diperoleh juga semakin komplek seperti yang terdapat pada jenjang pendidikan menengah atas (SMA). Tujuannya adalah untuk membekali siswa agar menjadi warga negara yang baik, demokratis, dan bertanggung jawab. Indikator untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam pembelajaran PKn dapat dilihat dari hasil belajarnya. Budaya politik dan demokrasi. Materi ini sangat penting untuk bekal kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga dalam mengukur hasil belajar tersebut harus dilihat secara komprehensif antara teori dan praktek. Untuk mendukung tercapainya semua itu dalam lembaga pendidikan formal. Sekolah membelajarkan siswa melalui 2 kegiatan yaitu proses pembelajaran (intra kurikuler) dan kegiatan organisasi (ekstra kurikuler). Organisasi siswa intra sekolah yang ada di sekolah disebut OSIS yang merupakan wadah kegiatan siswa dalam belajar berorganisasi. Berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan penelitian tentang hubungan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dalam mata pelajaran PKn dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Kota Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi pada siswa SMAN 3 Kota Malang (2) mendiskripsikan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Kota Malang (3) menjelaskan hubungan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMA 3 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian di SMAN 3 Kota Malang. Responden dalam penelitian ini adalah siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan metode angket. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang berjumlah 727, pengambilan sampel menggunakan teknik proporsional random sampling dengan kriteria sampel sebesar 11% dari jumlah populasi yaitu sebanyak 80 siswa. Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis deskriktif dan korelasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) materi budaya politik dan budaya demokrasi yang sangat baik 92,5%, dan 7,5% baik; (2) Kegiatan Pondok Romadhon, selalu mengikuti kegiatan Sebanyak siswa 63,6%, siswa 24,6% sering dan siswa 11,8% kadang-kadang. Kegiatan kepedulian sosial, selalu mengikuti Kegiatan Sebanyak siswa 45,6%, 41,7% sering dan 12,7% kadang-kadang. Kegiatan Bedhol Bhiwikarsu, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 25,7%, 58,6% sering dan 15,7% kadang-kadang. Kegiatan memperingati hari besar Nasional, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa (33,6%), 54,7% sering dan 10,7% kadang-kadang. Kegiatan upacara tiap bulan, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 44,7%, 37,6% sering dan 17,7% kadang- kadang. Kegiatan B-Art, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 49,6%, 37,7% sering dan 11,7% kadang-kadang. (k) Pelaksanaan Kantin Kejujuran, selalu mengikuti pelaksanaan sebanyak siswa 26,7%, 55,6% sering dan 17,7% kadang- kadang. Kegiatan Classmeeting, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 37,7%, 50,6% sering dan 11,7% kadang- kadang. Kegiatan Bunkasai, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 30,7%, 42,6% sering dan 26,7% kadang -kadang. Kegiatan PSCS, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 36%, 38% sering dan 20% kadang -kadang, 6% jarang mengikuti. Kegiatan English Day, selalu mengikuti kegiatan sebanyak siswa 42,6%, 33,7% sering dan 23,7% kadang- kadang. (3) Ada hubungan yang signifikan antara hasil belajar materi budaya politik dan budaya demokrasi dalam mata pelajaran PKn dengan partisipasi siswa dalam kegiatan OSIS SMAN 3 Malang, berdasarkan uji hipotesis dengan uji f sebesar 2,741 dengan signifikansi sebesar 0,002 sehingga sig f

Kajian tentang pengaruh temperatur inkubasi dan biakan murni sebagai starter terhadap mutu kefir / oleh Lilik Sumarmi

 

Pergantian presiden dalam praktek ketatanegaraan Republik Indonesia menurut UUD 1945
oleh Siti Rochmah

 

Eksponen dan radikal
oleh Nuriyah

 

Pengembangan media komputer interaktif sesuai standar kompetensi "menggunakan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah" untuk siswa SMA kelas XII / Eka Nurmala Sari Agustina

 

Kata Kunci: Media Komputer Interaktif, Barisan dan Deret, Pemecahan Masalah,SMA Kelas XII Pada tingkat SMA, terdapat beberapa materi yang menurut siswa masih membingungkan bagi siswa. Salah satunya adalah barisan dan deret. Walaupun materi yang diajarkan terkesan mudah dan sederhana, namun masih ada siswa yang mengalami kesulitan terutama dalam hal memodelkan dan menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan barisan dan deret. Kesulitan ini dikarenakan siswa masih bingung harus menggunakan rumus yang mana untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan barisan dan deret. Salah satu solusinya adalah mengembangkan media komputer interaktif yang membantu siswa untuk dapat memodelkan permasalahan yang terkait dengan barisan dan deret. Pembelajaran tentang pemodelan masalah barisan dan deret dilakukan agar siswa dapat menyelesaikan masalah yang muncul dengan tepat. Oleh karena itu, skripsi ini bertujuan mengembangkan media komputer interaktif sesuai dengan standar kompetensi “Menggunakan Konsep Barisan dan Deret dalam Pemecahan Masalah” untuk Siswa SMA Kelas XII. Untuk mendapatkan media komputer interaktif yang diinginkan, media ini dikembangkan dengan 10 tahapan, yaitu: 1) menentukan kebutuhan dan tujuan pengembangan program, 2) mengumpulkan referensi, 3) mempelajari materi, 4) perancangan awal, 5) perancangan dan pembuatan diagram alir program, 6) perancangan dan pembuatan struktur program media interaktif, 7) pembuatan storyboard program, 8) pembuatan program media interaktif, 9) membuat bahan pendukung, dan 10) evaluasi dan revisi program. Berdasarkan hasil validasi materi, diperoleh persentase 86,46%, dan dari validasi pembelajaran berbantuan komputer (PBK), diperoleh persentase 90,625%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa media komputer interaktif yang dikembangkan masuk pada kriteria valid dan dapat digunakan dalam pembelajaran. Selaian itu, terdapat hasil uji coba prduk kepada pengguna diperoleh persentase 89% dan diperoleh kesimpulan bahwa media komputer interaktif ini menarik dan mudah digunakan baik dari segi materi ataupun pengoperasian program.

Faktor-faktor kesulitan siswa kelas I dalam menyelesaikan soal-soal induksi matematika tahun ajaran 1998/1999 di SMU Negeri 2 Tanggul Kabupaten Jember
oleh Indah Nusantara Wati

 

Keefektifan model perolehan konsep untuk meningkatkan hasil belajar dan retensi hasil belajar siswa SMU Negeri Kabupaten Kotabaru / oleh Raudah Herleny

 

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui metode karyawisata di kelas V SDN Sananwetan 3 Kota Blitar / Fitria Dwi Srirahayu

 

Srirahayu, Fitria Dwi. 2014. Peningkatan Keterampilan Menulis Deskripsi melalui Metode Karyawisata Kelas V SDN Sananwetan 3 Kota Blitar. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Alif Mudiono, M. Pd, (II) Dra. Yuliwidiarti, S. Pd. Kata kunci: menulis deskripsi, peningkatan hasil belajar, metode karyawisata Observasi awal di kelas V SDN Sananwetan 3 Kota Blitar pada pembelajaran bahasa Indonesia tentang menulis deskripsi ditemukan beberapa permasalahan, antara lain siswa masih kesulitan dalam menuangkan ide/gagasan dalam menulis deskripsi, siswa menggunakan pilihan kata yang kurang tepat dalam mengembangkan tulisan deskripsi, dan penggunaan kosa kata yang tidak bervariasi. Hasil belajar siswa pada tahap pratindakan belum mencapai ketuntasan yang ditentukan secara klasikal sebesar 75%. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan penerapan metode karyawisata dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis deskripsi siswa di kelas V SDN Sananwetan 3 Kota Blitar dan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui metode karyawisata kelas V SDN Sananwetan 3 Kota Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Penelitian ini terdiri dari dua siklus dan tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan yang meliputi,(1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan/observasi, dan (4) refleksi. Data diperoleh dari aktivitas guru dan siswa, sedangkan instrumennya berupa lembar observasi dan lembar tes menulis deskripsi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menulis deskripsi melalui metode karyawisata dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sananwetan 3 Kota Blitar. Hal itu dapat dibuktikan dengan nilai rata-rata keterampilan menulis deskripsi siswa pada tahap pratindakan adalah 70 dengan persentase sebesar 38%, persentase tersebut termasuk kualifikasi nilai sangat kurang. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh adalah 76 dengan persentase sebesar 67%, persentase tersebut termasuk kualifikasi kurang. Pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh sudah meningkat dibandingkan pada siklus I yaitu 83 dengan persentase sebesar 86%, persentase tersebut termasuk kualifikasi baik. Keterampilan menulis deskripsi kelas V mengalami peningkatan pada setiap siklus. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode karyawisata dapat meningkatkan aktivitas dan keterampilan siswa dalam menulis deskripsi. Dengan demikian dapat disarankan bagi guru untuk menggunakan metode karyawisata pada pembelajaran menulis deskripsi agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Studi perbandingan metode perkerasan jalan raya antara metode perkerasan lentur (flexible pavement) dengan metode perkerasan kaku (rigid pavement) pada ruas jalan Malang-Turen link 088
oleh Sri Wahyuni

 

Penggunaan permainan tradisional engklek untuk meningkatkan pemerolehan kosa kata bahasa Arab siswa MI Roudlatul Muta'alimin Sawahan Turen Kabupaten Malang / Alfiatus Syahdiah

 

Kata Kunci: : permainan tradisional, pembelajaran bahasa Arab, kosa kata Permainan tradisional engklek merupakan permainan tradisional lompa-lompatan pada bidang datar yang digambar di atas tanah atau bidang datar. Permainan ini berbentuk petak-petak dan menggunakan alat bantu berupa potongan genteng atau batu ampar yang disebut dengan engklek. Dalam proses pembelajaran, tidak terbatas pada permainan modern yang dapat digunakan sebagai media. Permainan tradisional juga dapat digunakan untuk mengajarkan materi pelajaran. Salah satunya adalah permainan tradisional gacok. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan peningkatan pemerolehan kosa kata siswasetelah diterapkannya permainan tradisional engklek dalam pembelajaran bahasa Arab. Penelitian ini dilakukan di MI Raudlatul Muta'alimin Sawahan Turen (selanjutnya disingkat MI RM-ST) Kabupaten Malang, pada tanggal 21 Oktober 2010 sampai 9 Desember 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas, dengan siswa kelas VI MI RM-ST sebagai subjek penelitian. Data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif yaitu aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan permainan tradisional engklek. Sedangkan data kuantitatif yaitu nilai yang penguasaan kosa kata siswa setelah permainan engklek digunakan. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah human instrument. Artinya, penelitilah yang mengumpulkan data, menyajikan data, mengorganisasi data, memaknai data dan menyimpulkan hasil penelitian. Instrumen bantu yang digunakan berupa tes, panduan wawancara dan panduan observasi. Hasil penelitian ini dideskripsikan tentang pelaksanaan pembelajaran bahasa Arab dan peningkatan pemerolehan kosa kata siswa kelas VI MI RM-ST Kabupaten Malang pada pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan permainan tradisional engklek.Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan permainan tradisional engklek dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri atas tiga pertemuan. Pada pertemuan pertama peneliti mengedrilkan kosa kata kepada siswa dengan menggunakan bantuan kartu kata. Pada pertemuan kedua peneliti menggunakan permainan tradisional engklek untuk pembelajaran kosa kata. Pada pertemuan ketiga, peneliti menyampaikan penjelasan mengenai kalimat yang berpola fi'il+fa'il+maf'ul bih dan dilanjutkan dengan tes siklus I. Setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan permainan tradisional engklek, diketahui adanya peningkatan pemerolehan kosa kata dan nilai yang diperoleh siswa kelas VI MI RM-ST Kabupaten Malang. Pada saat pre tes nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 46. Pada saat pos tes, nilai rata-rata yang diperoleh siswa mengalami peningkatan, yaitu 77,5. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai permainan tradisional engklek ataupun permainan tradisional lainnya yang dapat diterapkan dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa Arab. Kepala MI RM-ST hendaknya bersama-sama dengan guru meningkatkan kualitas pembelajaran dengan memanfaatkan permainan yang sesuai dengan karakter anak didik, misalnya dengan menggunakan permainan tradisional engklek atau permainan tradisional yang lain dalam pembelajaran bahasa Arab.

Implementing picture series to improve the ability of the 8th grade students of SMPN 21 Malang in writing a recount text / Ritche Adriana Agustina

 

Key words: writing ability, recount text, picture series Writing skill is one of language skills that should be mastered by the students of Junior High School. One type of texts that 8th graders must be able to write is recount text. Based on the result of the students’ writing product in the preliminary study, only 30.96% of the students could reach the score 3 and 4 in terms of content and 26.19% in terms of organization. Based on the problem above, this research wanted to overcome the problem by using picture series in guiding the students in generating and organizing the ideas when they make a recount text. In addition, the using of picture series strategy has never been used in teaching writing skill, especially in teaching recount text. The research was conducted at SMPN 21 Malang, Jalan Danau Tigi Malang. The subject of the research was class of 8.6 2010/2011 academic year which consisted of 42 students, 22 females and 20 males. The research used collaborative Classroom Action Research (CAR) methodology. The data comprised the students‘ attitudes during the teaching and learning process and students‘ writing scores. The data were collected through interview guides, questionnaires, observation checklists, field notes, and the students‘ final writings. The research was conducted in two cycles. The first cycle consisted of three meetings and the second cycle consisted of two meetings. The result of the first cycle was 71.43% of the students could reach score at least 3 in terms of content and 54.76% of the students could reach score at least 3 in terms of organization. It was much better than the score of the preliminary study. The students also showed the better attitude towards writing ability. They did not feel confused anymore to write a recount text and they did not get stuck in the middle of their writing. The motivation of the students also increased, it was because the usage of picture could attract their attention. Continuing in the second cycle, the researcher got a better result of their motivation and writing products. The last result showed that 83.33% of the students reached score at least 3 in terms of content and 88.10% of the student succeeded in getting score at least 3 in terms of organization. After conducting the second cycle, the criteria of success which was at least 60% of the students could reach score at least 3 in terms of content and organization has been achieved. Overall, 31 students felt that their ability in writing a recount text was much improved than before using picture series. Therefore, the researcher stopped the action. Based on the result in this research, it could be concluded that the implementation of picture series through writing process was succeeded to help the students in generating and organizing the ideas in writing a recount text. The English teachers are suggested to apply the picture series strategy in teaching writing skill in order to get the better improvement of the students’ writing products. For the Principals, they should facilitate the English teacher in finding or making the picture series and also provide LCD in order to show the picture series. For the further researcher, it is also suggested to explore the research by using picture series in different text types and level of educations in order to know whether or not the strategy works well in improving the students’ writing skill especially in organizing and generating the ideas.

Pengaruh pH hujan asam terhadap kandungan senyawa biokimia daun murbei Morus multicaulis Perr, mortalitas larva, kualitas kokon dan serat sutera Bombyx mori L. serta pemanfaatannya dalam penyusunan buku persuteraan / Jekti Prihatin

 

Program Studi Setingkat Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd., (II) Prof. Dr. Ir. Ariffin, M.S, (III) Dr. Abdul Gofur, M.Si. Kata kunci: hujan asam, daun murbei, mortalitas, kokon, serat sutera. Hujan asam merupakan manifestasi dari banyaknya polutan sulfur dioksida dan nitrogen oksida yang ada di atmosfer yang akhirnya membentuk asam sulfat dan asam nitrat dan jatuh ke bumi berupa hujan yang asam. Pengaruhnya yang merugikan terhadap tanaman menyebabkan topik ini banyak diteliti pada berbagai tanaman hutan dan tanaman budi daya, akan tetapi penelitian pengaruh langsung hujan asam terhadap tanaman murbei dan pengaruh tidak langsungnya terhadap budidaya ulat sutera belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh paparan pH hujan asam terhadap: (1) kandungan biokimia, yaitu protein total, gula total, sukrosa, vitamin C, klorofil, pH dan kadar air daun murbei Morus multicaulis Perr., (2) mortalitas larva, (3) kualitas kokon, (4) kualitas serat sutera Bombyx mori L. Hasil kajian digunakan untuk menyusun buku sains polusi pada budi daya ulat sutera. Penelitian ini terdiri atas penelitian I dan penelitian II. Penelitian I menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama, derajad keasaman, terdiri atas 5 level, yaitu pemaparan hujan asam pH 5,6; 4,6; 3;6; kontrol hujan buatan pH 6,2 dan air sumur pH 7,0. Faktor kedua, lama pemaparan, terdiri atas pemaparan 2, 4, 6, dan 8 minggu. Pada penelitian I, tanaman murbei sebanyak 180 tanaman dipapar hujan asam selama 2, 4, 6, dan 8 minggu dengan berbagai derajad keasaman. Kandungan senyawa biokimia daun muda dan daun tua diukur menggunakan standar AOAC. Data dianalisis menggunakan multivariate anova yang dilanjutkan ke uji lanjut LSD 5% dan 1%. Untuk mengetahui besarnya pengaruh perlakuan terhadap kandungan senyawa biokimia daun digunakan analisis regresi linier ganda. Penelitian II menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) Faktorial dengan 2 faktor, yaitu faktor derajad keasaman dan jenis ras ulat sutera Bombyx mori L. Pada penelitian ini, hujan buatan disusun menggunakan air demineralisasi yang ditambah berbagai mineral yang ada pada hujan terpolusi di Sidoarjo Jawa Timur dan ditambah dengan asam sulfat. Tanaman murbei sebanyak 1500 polybag sebagai pakan ulat sutera disiram menggunakan hujan buatan dengan pH 6,2; 4,6; dan kontrol air sumur (pH 7,0) selama 5 minggu. Seluruh tanaman berada di bawah naungan plastik agar tidak terkena air hujan dari alam. Ras ulat sutera yang digunakan yaitu ras C-301 dan ras BS-09 yang merupakan F1 hasil persilangan double cross ras China dan Jepang. Ulat sutera yang baru menetas sebanyak 720 individu digunakan pada awal penelitian. Diamati mortalitas tiap instar, kualitas kokon dan serat sutera yang dihasilkan. Sebagai data pendukung diukur pula kandungan senyawa biokimia daun muda dan daun tua murbei pada pemaparan 5 minggu. Data biokimia daun dianalisis menggunakan one-way anova yang jika berbeda nyata dilanjutkan dengan LSD 5% dan 1%. Data mortalitas, kualitas kokon, dan serat sutera dianalisis menggunakan multivariate anova yang jika berbeda nyata dilanjutkan dengan LSD 5%. Hasil penelitian I perlakuan derajad keasaman dan lama pemaparan hujan asam berpengaruh sangat signifikan (P0,05). Akan tetapi, pemaparan hujan asam tidak mempengaruhi kuantitas daun yang dihasilkan. Kandungan biokimia daun murbei dari yang terendah berturut-turut pada perlakuan hujan asam adalah pH 3,6; pH 4,6; pH 5,6; kontrol air sumur pH 7,0 dan hujan buatan pH 6,2, sedangkan pada perlakuan lama pemaparan adalah lama penyiraman 8 minggu, 6 minggu, 2 minggu, dan 4 minggu. Daun murbei yang terpapar hujan asam mempengaruhi penurunan mortalitas larva (P0,05). Mortalitas larva ras C-301 akibat pengaruh tidak langsung hujan buatan pH 6,2 dan hujan asam pH 4,6 masing-masing sebesar 4,16%, lebih kecil dibandingkan kontrol sebesar 19,16%, sedangkan pada ras BS-09 pada perlakuan yang sama sebesar 1,67%, 3,33%, dan kontrol 13,33%. Perlakuan penyiraman hujan asam pada tanaman murbei memperlihatkan pengaruh yang signifikan (P

Perencanan modifikasi kopling otomatis menjadi kopling manual pada sepeda motor Honda Grand
oleh Pujo Susilo

 

Pengukuran diameter dan kedalaman kawah Copernicus di bulan dengan menggunakan Microsoft Visio Premium 2010 di Laboratorium Astronomi Universitas Negeri Malang / Ide Hardiana Santi

 

Kata Kunci: Pengukuran, Diameter, Kedalaman, Kawah Copernicus, Bulan Bulan merupakan benda langit yang paling dekat dengan bumi. (Bayong,2003:25) Permukaan bulan yang menghadap bumi selalu sama. Hal itu dikarenakan bulan selain berevolusi terhadap bumi bulan juga berotasi pada pusatnya. Permukaan bulan terlihat bercak-bercak, bopeng penuh dengan kawah. Salah satu kawah besar di permukaan bulan adalah Copernicus. Kawah Copernicus merupakan salah satu kawah yang menonjol dan tergolong muda dipermukaan bulan. Kawah ini berada di sebelah barat Oceanus Procellarum, sebelah selatnanya terdapat Mare Insularum, dan disebelah barat daya dari kawah Copernicus terdapat kawah Reinhold Imbrium. (Bussey,2004) Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui diameter dan kedalaman kawah Copernicus di Bulan. Diameter kawah dapat dihitung dengan menarik garis dari rim ke rim pada Microsoft visio premium 2010, kemudian mengalikan hasilnya dengan nilai kalibrasi. Sedangkan untuk pengukuran kedalaman dapat dihitung dengan mengukur panjang bayangan yang terbentuk (l), kemudian menghitung jarak kawah dari terminator (d). Hasilnya dikalikan dengan kalibrasi kemudian dihitung dengan persamaan h=l·d/R. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh diameter kawah Copernicus adalah (94,977±1,483) Km dengan tingkat kesalahan dari standar sebesar 0,02%, hasil tersebut sudah mendekati diameter kawah Copernicus yang sebenarnya yaitu sebesar 95 Km dalam Virtual Moon Atlas. Sedangkan untuk pengukuran kedalaman kawah Copernicus diperoleh nilai (3,707±0,627) Km dengan tingkat kesalahan dari standar sebesar 1,4%. Nilai tersebut juga sudah mendekati nilai kedalaman yang sebenarnya yaitu 3,760 Km. Hal ini menunjukkan bahwa perhitungan dengan teknik kalibrasi ini benar dan dapat digunakan untuk perhitungan jarak jauh tanpa harus terjun ke lapangan untuk melakukan pengukuran secara langsung.

Perancangan mini handbook "First Aid Beauty" berbasis fotografi untuk remaja putri / Arum Fiasari Prasetyaningtyas

 

ABSTRAK Prasetyaningtyas, Arum Fiasari. 2015. Perancangan Mini handbook “First Aid Beauty” Berbasis Fotografi untuk Remaja Putri. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Moch. Abdul Rohman, S.Sn, M.Sn, (II) Gunawan Susilo, S.Sn, M.Sn Kata Kunci: Mini handbook, First Aid Beauty, Fotografi, Remaja Putri Banyak sekali permasalahan kulit yang dialami oleh remaja putri, seperti kulit berminyak, kulit kering, dan jerawat. Para remaja putri banyak yang memilih menggunakan produk kecantikan buatan pabrik yang beredar di pasaran untuk mengatasi permasalahan kulitnya. Sayangnya, produk kecantikan buatan pabrik ini sering kali menggunakan zat kimia berbahaya untuk kulit penggunanya. Tujuan perancangan mini handbook ini adalah menghasilkan sebuah media mini handbook untuk menarik minat dan juga mampu menambah wawasan remaja putri tentang perawatan wajah dengan menggunakan bahan alami. Perancangan ini menggunakan model perancangan prosedural dan memakai sistematika yang dirancang khusus untuk perancangan mini handbook. Perancangan milik sendiri ini menyesuaikan kebutuhan dari perancangan mini handbook. Produk utama yang dihasilkan dari perancangan kali ini adalah mini handbook. Produk utama ini berukuran 10x15cm dan dicetak soft cover sehingga bisa dimasukkan kedalam saku ataupun tas kecil.Selain produk utama, juga dirancang media pendukung yaitu X-banner, sticker, gantungan kunci, pin, mug, notes, pembatas buku, dan juga bantal duduk.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |