Dinamika reka cipta motif batik Jonegoroaan tahun 2009-2013 serta muatan edukasi / Adhitya Dewanto

 

ABSTRAK Dewanto. Adhitya. 2015. Dinamika Reka Cipta Motif Batik Jonegoroan tahun 2009-2013 serta Muatan Edukasi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Abdul Latif Bustami, M.Si, (2) Drs. Irawan, M.Hum. Kata Kunci: Perkembangan, Kreasi, Motif, Batik Jonegoroan Motif batik di Kabupaten Bojonegoro memiliki warna kalem serta bentuk ornamen yang bebas. Ragam hiasnya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur letak geografis, keadaan alam, falsafah penduduk, sifat masyarakat, pola penghidupan dan kepercayaan masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, muncul kreasi baru untuk setiap motif yang memberikan perubahan bentuk maupun warna. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan penelitian untuk mengetahui perkembangan kreasi motif Batik Jonegoroan tahun 2009-2013. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup latar belakang motif Batik Jonegoroan tahun 2009-2013, karakteristik industri Batik Jonegoroan tahun 2009-2013,dan perkembangan kreasi motif dari Batik Jonegoroan tahun 2009-2013. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode penelitian sejarah. Penelitian sejarah merupakan penelitian yang mencoba untuk mendeskripsikan secara sistematis dan objektif dengan berbagai tahap. Adapun langkah-langkah dalam penelitian sejarah adalah: (1) Pemilihan topik, (2) Pengumpulan sumber (heuristic), (3) Kritik sejarah/keabsahan sumber (verifikasi), (4) Analisis dan sintesis (interpretasi), (5) Penulisan sejarah (historiografi). Hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) Kabupaten Bojonegoro memiliki letak geografis yang cukup strategis. Dari segi perkembangan kebudayaan membatik, Kabupaten Bojonegoro terletak diantara dua daerah yang mempunyai sejarah perbatikan yang cukup panjang yaitu batik Tuban dan Surakarta. (2) Kabupaten Bojonegoro telah mengenal batik pada kisaran waktu tahun 1960-1970 dapat dibuktikan dengan adanya batik dari seseorang perajin pada masa itu yang masih tersimpan dan terawat. Karakteristik UMKM industri batik Jonegoroan tahun 2009-2013 dapat dibedakan menjadi industri besar, sedang, dan kecil. Industri besar memproduksi secara khusus pengembangan kreasi motif batik Jonegoroan dengan tema Mliwis Mukti yang diambil dari cerita rakyat dan keragaman alam Kabupaten Bojonegoro. Industri sedang mempunyai keistimewaan dalam mengembangkan kreasi motif batik menjadi lebih sederhana dengan mengeksploitasi tema jati dan penggunaan pewarna alami. Industri kecil masih mengembangkan kreasi 14 motif yang dipatenkan oleh pemerintah. (3) Perkembangan kreasi motif dari batik Jonegoroan tahun 2009-2013 dapat diklasifikasikan sebagai berikut yaitu tahun 2009 dan 2010 semua industri batik Jonegoroan masih terbelenggu oleh motif paten yang ditentukan pemerintah. Tahun 2011, motif batik mulai dikreasikan dengan cara memasukkan latar belakang motif pedalaman, pesisiran,bahkan kombinasi antar keduanya. Tahun 2012, kreasi motif batik dilakukan dengan memasukkan makna sosial pada tema kreasi motif, latar belakang makna sosial di latar belakangi ciri khas jenis batik pedalaman maupun pesisiran.Tahun 2013, terjadi persaingan pengembangan kreasi antar industri pada satu motif, motif batik pada umumnya dikreasikan dengan cara penyederhanaan warna dan memasukkan makna sosial, sebagai ciri khas motif pedalaman. Beberapa industri melakukan kreasi motif batik dengan merubah warna agar terlihat lebih cerah yaitu menggunakan pewarna sintesis, sebagai karakteristik batik pesisiran. Nilai-nilai edukasi juga terkandung dalam batik. Adapun nilai pendidikan karakter yang dapat dilihat dalam perkembangan batik Jonegoroan adalah nilai Kreatif yang dapat dilihat dari perubahan bentuk motif batik. Selain itu, juga terdapat nilai Kerja keras yang dapat terlihat dari Kerja keras industri-industri batik Jonegoroan yang terealisasikan dengan adanya tambahan 5 motif. Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran kepada berbagai pihak. (1) Bagi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro agar tetap mendukung pelestarian Batik Jonegoroan agar terus perkembang dan terkenal. (2) Bagi pengusaha dan para perajin batik agar lebih terinspirasi dengan memberikan kreasi-kreasi yang lebih banyak.(3) Kepada peneliti yang selanjutnya disarankan penelitian lebih mendalam mengenai eksistensi industri batik jumputan di Bojonegoro.

Tinjauan sosiologi sastra terhadap kumpulan cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari / oleh Antonius Totok Priyadi

 

Perubahan sosial dalam wisata Teksas Wonocolo sebagai program pemberdayaan masyarakat (studi kasus di Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro) / Achmad Mustopa Sugiono

 

ABSTRAK Mustopa S, Achmad. 2016. “Perubahan Sosial dalam Wisata Teksas Wonocolo Sebagai Program Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus di Desa Wonocolo Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro)”. Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hardika, M.Pd, (II) Dr. Zulkarnain Nasution, M.Pd. Kata Kunci: Perubahan Sosial, Pemberdayaan Masyarakat, dan Wisata Teksas Wonocolo. Wisata Teksas Wonocolo adalah sebuah wisata minyak dan gas sebagai bentuk program pemberdayaan yang diberikan oleh pertamina yang berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bojonegoro serta aparatur desa Wonocolo. Dalam kurun waktu terakhir ini, peneliti menyadari penelitian yang membahas wisata minyak dan gas masih belum ada. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai program Wisata Migas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan perubahan sosial yang terjadi dengan adanya program Wisata Teksas Wonocolo sebagai pemberdayaan masyarakat.di desa Wonocolo Kecamatan Kedewan Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah instrumen orang, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, peneliti menggunakan teknik trianggulasi, dengan analisis spiral menurut Cresswell. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat Wonocolo mengalami perubahan aktivitas di bidang pekerjaan yaitu penjual, dan kerja sama masyarakat tidak mengalami perubahan dengan adanya Wisata Teksas Wonocolo, serta organisasi atau kelembagaan masyarakat dapat di katakana tidak berfungsi. Selain itu perubahan sosial yang terjadi dapat dinyatakan bahwa perubahan sosial dalam bentuk lambat, kecil, direncanakan, dan terbilang suatu inovasi dalam faktor penyebab perubahan sosial, serta lapisan masyarakat terbuka sebagai faktor pendorong. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah pemberdayaan harus berfokus pada masyarakat sehingga dalam perubahan sosial khususnya lingkup sosial mengenai interaksi masyarakat, kerja sama, dan kelembagaan masyarakat akan benar-benar berfungsi dan tujuan pemberdayaan akan tercapai secara maksimal. .

Analisis filogeni kura-kura (Cuora amboinensis) wilayah Ambon, Gorontalo, dan Luwu berbasis sekuen gen cytochrome B sebagai buku ajar evolusi di Universitas Negeri Malang / Candra Hermawan

 

ABSTRAK Hermawan, Candra. 2015. Analisis Filogeni Kura-kura (Cuora amboinensis) Wilayah Ambon, Gorontalo, dan Luwu Berbasis Sekuen Gen Cytochrome b sebagai Buku Ajar Evolusi di Universitas Negeri Malang. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. agr. H. Mohamad Amin, S.Pd., M.Si., (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked. Kata Kunci: Filogeni, Cuora amboinensis, gen cytochrome b, buku ajar Keberadaan Cuora amboinensis di Indonesia mengalami penurunan drastis dan terancam punah. Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature and Nature Resources (IUCN) diketahui bahwa spesies ini memiliki resiko tinggi untuk mengalami kepunahan, telah terjadi penurunan jumlah pada 10 tahun terakhir sebanyak 20%. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah menurunnya jumlah populasi kura-kura adalah melakukan konservasi dengan melihat kekerabatannya. Matakuliah evolusi hanya membahas evolusi secara umum, diperlukan bahan ajar yang membahas evolusi secara molekuler dan kontekstual guna menutupi kekurangan teori evolusi Darwin yang tidak mampu menjelaskan transfer informasi biologis dari generasi ke generasi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengeksplorasi hubungan kekerabatan C. amboinensis wilayah Ambon, Gorontalo, dan Luwu dilihat dari analisis konstruksi pohon filogeni, jarak genetik, similaritas, substitusi nukleotida, dan haplotype network berdasarkan variasi sekuens gen cytochrome b; dan menghasilkan buku ajar Evolusi dari hasil analisis sekuen gen cytochrome b C. amboinensis dari wilayah tersebut. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu penelitian deskriptif eksploratif dan penulisan buku ajar untuk matakuliah Evolusi. Penelitian dalam laboratorium memiliki tahapan: isolasi DNA jaringan, purifikasi DNA, Poly Chain Reaction (PCR), elektroforesis horizontal, dan sekuensing gen. Penulisan buku ajar memiliki tahapan sesuai dengan pengembangan Borg & Gall, namun hanya dilakukan sampai tahap kelima: penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba terbatas, dan revisi produk tahap awal. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa simpulan peniltian. Pertama, hasil analisis filogeni menunjukkan bahwa individu Cuora amboinensis dari daerah yang sama memiliki hubungan kekerabatan lebih tinggi dibanding dari daerah lain, namun terdapat anomali pada sampel Gorontalo 10 yang memiliki kekerabatan lebih dekat dengan wilayah Ambon. Kedua, buku ajar Pengantar Evolusi Molekuler berisi bahasan materi evolusi molekuler yang kontekstual dan mampu menutupi kekurangan teori evolusi Darwin yang tidak dapat menjelaskan transfer informasi biologis dari generasi ke generasi.

Pengaruh toksisitas Dharmabas 500 EC dan Dharmafur 3G terhadap kematian berudu katak lembu (Rana catesbiana, Shaw) sebagai materi dalam pengajaran ekologi / oleh Atok Miftachul Hudha

 

Analisis filogeni kura-kura Sulawesi (Cuora amboinensis) berbasis sekuen gen Cytochrome B sebagai buku ajar matakuliah teknik analisis biologi molekuler Universitas Negeri Malang / Devan Aditya Rahman

 

Kajian novel Rafilus sebuah tinjauan sosio-psiko-struktural / oleh Wahyudi Siswanto

 

Penggunaan media permainan tradisional Sondah untuk menumbuhkan minat belajar peserta didik pada bidang studi sejarah di SMA Negeri 10 Malang kelas XII-IIS 2 / Siti Munziah Fauzanty

 

ABSTRAK Fauzanty, Siti Munziah. Penggunaan Media Permainan Tradisional Sondah untuk Menumbuhkan Minat Belajar Peserta Didik Pada Bidang Studi Sejarah Di SMA Negeri 10 Malang Kelas XI – IIS 2. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Malang. Pembimbing : Dra. Siti Malikhah Towaf, M.A., Ph.D Kata Kunci : Minat Belajar, Permainan Tradisional Sondah Pembelajaran yang cenderung berdiskusi membuat peserta didik menjadi bosan, sehingga membutuhkan media pembelajaran yang menyenangkan. Peneliti berusaha mengurangi kebosanan dengan permainan tradisional sondah untuk menarik minat belajar peserta didik. Permainan tradisional sondah digunakan sebagai media pembelajaran karena banyak peserta didik yang sudah lupa dengan permainan tradisional. Permainan tradisonal sondah digunakan saat pembelajaran berlangsung agar peserta didik menjadi bersemangat saat mengikuti pembelajaran sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan : (1) mengetahui penggunaan permainan Tradisional Sondah sebagai media pembelajaran Sejarah, (2) mengetahui penggunaan permainan Tradisional Sondah dapat meningkatkan minat belajar peserta didik dalam mata pelajaran sejarah, (3) mengetahui pendapat peserta didik mengenai penerapan pembelajaran menggunakan media permainan sondah untuk mata pelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas (PTK) sebanyak dua siklus untuk mengukur minat peserta didik dalam pembelajaran sejarah. Data yang diambil untuk pengumpulan data adalah observasi awal, dokumentasi menentukan apakah peserta didik antusias atau tidak mengikuti pembelajaran dengan menggunakan permaian tradisional sondah, wawancara guru bidang studi dan peserta didik, catatan lapangan dan penghitungan angket menentukan skor minat belajar peserta didik dengan point. Hasil data menunjukkan siklus 1 point yang didapatkan dari rata – rata peserta didik untuk minat belajar adalah 83,7. Untuk hasil siklus 2 point yang didapatkan dari rata – rata peserta didik untuk minat belajar adalah 86,9. Maka peserta didik mengalami peningkatan minat pembelajaran sejarah menggunakan permainan tradisional sondah. Karena penggunaan permainan tradisional sondah melibatkan fisik dan mental sehingga daya ingat akan kuat dibandingkan hanya mendengarkan saja saat pembelajaran. Dari hasil penelitian ini, disarankan bagi peserta didik untuk lebih menigkatkan minat belajar sejarah menggunakan media pembelajaran lainnya. Bagi pihak sekolah diharapkan dapat memanfaatkan media permainan tradisional sondah untuk meningkatkan minat belajar peserta didik agar lebih tertarik lagi pada pelajaran sejarah atau menggunakan permainan tradisional yang lain untuk sekaligus melestarikan permaian tradisional Indonesia. Untuk pembaca yang ingin melakukan penelitian lanjutan, disarankan menggunakan instrumen lainnya dan memperdalam konsep dan sebuah permainan tradisional yang berhubungan dengan minat belajar peserta didik.

The differences of students' writing achievements across different course levels / by Nur Mukminatien

 

Hubungan tingkat pendapat keluarga buruh tani lahan kering dengan tingkat pendidikan anak di Desa Resapombo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar / Lusiana Handayani

 

ABSTRAK Handayani, Lusiana. 2015. Hubungan Tingkat Pendapatan Keluarga Buruh Tani Lahan Kering dengan Tingkat Pendidikan Anak di Desa Resapombo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Budi Handoyo, M.Si, (II) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: Tingkat Pendapatan Keluarga Buruh Tani Lahan Kering, Tingkat Pendidikan Anak Penggunaan lahan di Desa Resapombo didominasi oleh lahan kering sehingga sebagian besar masyarakat banyak mengusahakan pertanian lahan kering. Petani lahan kering di Desa Resapombo dibedakan menjadi golongan pemilik tanah dan buruh tani. Buruh tani tersebut bekerja kepada pemilik tanah sehingga besar kecilnya pendapatan yang diterima tergantung pada upah yang diberikan oleh pemilik tanah. Pendapatan yang diterima oleh keluarga buruh tani digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya terutama dalam hal pendidikan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendapatan keluarga buruh tani lahan kering dengan tingkat pendidikan anak di Desa Resapombo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Penelitian ini berdasarkan tujuannya berbentuk penelitian korelasional. Sampel dalam penelitian ini didapatkan dengan menggunakan teknik random sampling yaitu sebesar 30 kepala keluarga buruh tani lahan kering. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner. Teknik analisis data menggunakan Chi Kwadrat untuk mengetahui hubungan tingkat pendapatan keluarga buruh tani lahan kering dengan tingkat pendidikan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis menggunakan Chi kuadrat untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendapatan keluarga buruh tani lahan kering terhadap tingkat pendidikan anak didapatkan hasil dengan nilai χ2hitung sebesar ˗20,78 dan χ2tabel sebesar 5,99 atau χ2hitung (˗20,78) ≤ χ2tabel (5,99) maka H0 diterima. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendapatan keluarga buruh tani lahan kering dengan tingkat pendidikan anak di Desa Resapombo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Berdasarkan kesimpulan maka diajukan saran kepada pemerintah daerah hendaknya dapat meningkatkan pendapatan keluarga buruh tani lahan kering dengan cara memberikan penyuluhan tentang usaha pengolahan hasil pertanian antara lain membuat tempe, menanam cambah, jamur atau memberikan pelatihan ketrampilan sebagai tukang. Bagi penelitian lanjut diharapkan untuk mengadakan penelitian buruh tani lahan basah dalam menyempurnakan penelitian ini.

Kontribusi motivasi terhadap semangat kerja dosen IAIN Sunan Ampel di Surabaya / oleh Mike Supraptiwi

 

Konstribusi pedagang wanita dalam pendapatan ekonomi rumah tangga di Pasar Tradisional Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang / Gigih Hilmawan Bakti

 

ABSTRAK Hilmawan B, Gigih. 2015. Kontribusi Pedagang Wanita Dalam Pendapatan Ekonomi Rumah Tangga Di Pasar Tradisional Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Singgih Susilo, M.S, M.Si (II) Drs. M. Yusuf Idris Kata kunci: kontribusi pendapatan Pertambahan penduduk yang semakin meningkat membawa berbagai akibat, terutama pada peningkatan jumlah kebutuhan. Lahan pertanian yang sempit menunjukkan menunjukkan bahwa dibutuhkan sektor informal lain yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Penelitian ini dilaksanakan di Pasar Merjosari Kecamatan Lowokwaru. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kontribusi pedagang wanita dalam pendapatan ekonomi rumah tangga di pasar tradisional Merjosari Kecamatan Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah pedagang wanita di Pasar Merjosari Kecamatan Lowokwaru. Sampel dipilih menggunakan teknik random sampling. Teknik pengambilan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tabulasi tunggal dan tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang wanita di Pasar Merjosari merupakan usia produktif dan berstatus menikah. Pendidikan yang ditempuh sebagian besar adalah SMP. Sebagian besar pedagang wanita tersebut berstatus sebagai ibu rumah tangga. Pendapatan bersih yang diperoleh pedagang wanita sebesar Rp 2.000.000,00-Rp 2.999.000,00. Pendapatan suami atau anggota keluarga lain sebesar Rp 1.000.000,00-Rp 1.999.000,00. Sebagian besar pedagang wanita memberikan kontribusi sebesar 40,00–59,99 persen dari seluruh pendapatan total keluarganya. Faktor banyaknya tanggungan keluarga berhubungan dengan besarnya pendapatan bersih, sedangkan faktor curahan waktu, jenis barang dagangan, dan lokasi berdagang tidak berhubungan dengan besarnya pendapatan bersih pedagang Wanita di Pasar Merjosari.

Fermentasi biji mucuna pruriens dc dan pengaruhnya terhadap kwalitas protein / oleh Indrawati Gandjar

 

Penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) intik meningkatkan kemampuan komunikasi siswa kelas X mata pelajaran geografi SMA Negeri 1 Gedeg Mojokerto / Devi Sintia Wulan Sari Lukmana

 

ABSTRAK Lukmana, Devi Sintia Wulan Sari. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Siswa Kelas X Mata Pelajaran Geografi SMA Negeri I Gedeg Mojokerto. Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si, (II) Ir. Juarti, M.P. Kata Kunci: Two Stay Two Stray, Kemampuan Komunikasi Hasil observasi awal menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi siswa kelas X MIA 4 di SMA Negeri I Gedeg Mojokerto masih rendah, hal ini nampak pada hasil observasi awal yang hanya ada 6 siswa yang berkomunikasi aktif. Ada beberapa kelemahan yang mempengaruhi rendahnya kemampuan komunikasi siswa yaitu: (1) siswa kurang aktif berkomunikasi dengan siswa yang lainnya, (2) siswa malu bertanya tentang materi yang belum dimengerti karena tidak percaya diri. Oleh karena itu, diperlukan sebuah tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa adalah model Two Stay Two Stray (TSTS). Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dengan menerapkan model pembelajaran TSTS. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Tahapan tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah diskusi dan tanya jawab yang berpusat pada siswa dengan menggunakan model TSTS. Pada model TSTS siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok heterogen, dimana kelompok tersebut berjumlah 4 orang siswa, setelah itu siswa akan bertamu kekelompok yang lain untuk mendapatkan informasi, sedangkan dua lainnya tetap tinggal dalam kelompoknya untuk membagikan informasi kepada kelompok tamu, setelah itu siswa yang bertamu kembali ke kelompoknya untuk membagikan informasi yang sudah didapatkannya. Hasil yang diperoleh, yaitu penerapan model pembelajaran TSTS dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dari siklus I ke siklus II. Hal tersebut terlihat pada rata-rata kemampuan komunikasi siswa yang semakin meningkat dari siklus I ke siklus II sebesar 19,6%. Berdasarkan hal tersebut, disarankan kepada sekolah untuk menggunakan TSTS sebagai alternatif pertimbangan penggunaan variasi model mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran sekolah. Bagi guru geografi, TSTS sebagai salah satu alternatif dalam melaksanakan proses pembelajaran geografi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Bagi penelitian lebih lanjut, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk mengadakan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran TSTS untuk meningkatkan kemampuan komunikasi siswa pada materi pembelajaran yang lain.

Penerapan pendekatan whole language untuk meningkatkan kemampuan membaca cerita pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen kota Malang / Putri Manggiasih

 

Kata kunci : Pendekatan Whole Language, Membaca Cerita, SD Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh guru masih menerapkan pembelajaran yang terpisah-pisah antara keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan Whole Language yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah antara keterampilan membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Pendekatan Whole Language berangkat dari paham konstruktivis yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh dan menyeluruh. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan penerapan pendekatan Whole Language dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang, 2) mendeskripsikan penerapan pendekatan Whole Language untuk meningkatkan kemampuan membaca cerita pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang. Dalam penelitian ini, rancangan pembelajaran yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklusnya terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang. Jumlah siswanya adalah 16 orang siswa, terdiri dari 6 siswa putra dan 10 siswa putri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Whole Language dapat meningkatkan kemampuan membaca cerita pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang. Perolehan prosentase rata-rata siswa dari pra tindakan ke siklus I meningkat sebesar 12,5 %. Sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 31,25 %. Disarankan agar guru dapat menerapkan pendekatan Whole Language pada mata pelajaran Bahasa Indonesia karena dalam pendekatan tersebut telah mencakup secara lengkap teknik-teknik kegiatan membaca.

Pengaruh scintific method berdasarkan teori John Stuart Mill terhadap hasil belajar geografi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Talun / Erlina Agustia Ningrum

 

ABSTRAK Ningrum, ErlinaAgustia. 2015. Pengaruh Scientific Method berdasarkanTeori John Stuart Mill terhadapHasilBelajarGeografiSiswaKelas XI SMA Negeri 1 Talun.Skripsi, JurusanGeografi, FakultasIlmuSosial, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Budi Handoyo, M.Si, (II) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. Kata Kuci: Scientific MethodJohn Stuart Mill, HasilBelajar Scientific methodmerupakanpembelajaranyang mampumeningkatkanhasilbelajarsiswa.Rendahnyahasilbelajarsiswadalampembelajaranmerupakanpermasalahan yang seringterjadi.Penggunaan scientific methodberdasarkanteori John Stuart Mill menggunakanmasalahnyata di lingkungansebagaisuatukonteksbagisiswauntukbelajartentangcaraberpikirkritisdanilmiah. Pembelajaraniniakanmengubahcarabelajarsiswa. Siswadapatbelajarsecaraberkelompokmenyelesaikanpermasalahan yang diperolehsecaralangsungmelaluieksperimen.Melaluikerjasamadaneksperimensecaranyatamembuatsiswamemperolehpengalamansendiri.Selainitulangkah-langkahdalampembelajaranmenjadikansiswalebihaktifdalambelajardanpemahamanlebihmatangakanmembuathasilbelajarsiswalebih optimal. Penelitianinibertujuanuntukmendeskripsikanpengaruhscientific methodberdasarkanteori John Stuart Mill terhadaphasilbelajargeografisiswakelas XI SMA Negeri 1 Talun.Metodepenelitianinimenggunakanpenelitianquasi experiment.Rancanganpenelitianeksperimensemuiniadalahpretest-postest control grup. Perlakuanpadakelaseksperimenmenggunakanscientific methodberdasarkanteori John Stuart Mill sedangkanpadakelaskontroldiberikanperlakuandenganmetodeceramah. Data dikumpulkandengancarapretestdanposttest. Analisisdata dalampenelitianinimenggunakanuji-t (t-test). Hasildalampenelitianinimenunjukkanadanyapengaruh yang signifikanantarahasilbelajargeografisiswa yang belajardenganmenggunakanscientific methodberdasarkanteori John Stuart Mill dengansiswa yang hanyabelajardengan model ceramah.Selainitudapatdikemukakanjugabahwascientific methodberdasarkanteori John Stuart Mill lebihefektifdaripada model ceramahdalammeningkatkanhasilbelajargeografisiswa.Hal inidapatdilihatdari rata-rata hasilbelajargeografisiswakelaseksperimenlebihtinggidaripadasiswakelaskontrol. Berdasarkanhasilanalisisdanpembahasanpenelitian, diperolehkesimpulanbahwaadapengaruhpenggunaan model pembelajaranscientific methodberdasarkanteori John Stuart Mill terhadaphasilbelajargeografisiswakelas XI SMA Negeri 1 Talun.Pelaksanaanscientific methodjugamemilikikekurangandalamtiaptahapannya, sehinggadalampelaksanaannyaharusdiperhatikanhal-hal yang terdapatpadasetiaptahapanscientific methodberdasarkanteori John Stuart Mill danperluadanyapersiapan yang matang agar metodetersebutbisaterlaksanadenganbaik.

Dinamika komik Wayang Indonesia periode 1955-2014 (studi kasus komik Mahabharata karya R.A. Kosasih) / May Rossy Fadzry

 

ABSTRAK Rossy Fadzry, May. 2015. Dinamika Komik Wayang Indonesia Periode 1955- 2014 (Studi Kasus Komik Mahabharata Karya R.A. Kosasih). Skripsi, Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. I Wayan Legawa, M.Si. Kata Kunci: Dinamika, Komik Wayang, Komik Mahabharata. Komik Wayang adalah jenis komik yang pernah merajai industri komik Indonesia, komik jenis ini mampu menyaingi eksistensi komik asing yang telah lebih dulu hadir di Indonesia, hal tersebut menjadi sebuah fenomena yang menarik. Kepopuleran komik wayang dipicu oleh hadirnya salah satu karya dari seorang komikus bernama R.A. Kosasih yaitu komik Mahabharata. Fenomena kepopuleran komik tersebut menimbulkan beberapa pertanyaan untuk dicari jawabnya, diantaranya adalah: Pertama, apakah ada komik karya R.A Kosasih yang monumental dalam dunia komik Indonesia. Kedua, bagaimana perkembangan komik Mahabharata karya R.A Kosasih dalam komik Indonesia periode 1955-2014. Ketiga, apa faktor yang mempengaruhi dinamika komik Mahabharata karya R.A Kosasih dalam komik Indonesia periode 1955-2014. Keempat, apa kontribusi komik Mahabharata karya R.A Kosasih dalam pelestarian budaya bangsa. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan komik karya R.A Kosasih yang monumental dalam dinamika komik Indonesia, mendeskripsikan perkembangan komik Mahabharata karya R.A Kosasih dalam komik Indonesia periode 1955-2014, mengetahui faktor yang mempengaruhi dinamika komik Mahabharata karya R.A Kosasih dalam komik Indonesia peridoe 1955-2014, mendeskripsikan kontribusi komik Mahabharata karya R.A. Kosasih dalam pelestarian budaya bangsa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Tahap-tahap dalam metode penelitian sejarah, terbagi menjadi lima tahap, yaitu pemilihan topik, heuristik (pengumpulan data), verifikasi (kritik Sumber), interpretasi (penafsiran), dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komik Mahabharata adalah karya R.A. Kosasih yang paling monumental karena komik tersebut telah dicetak ulang berkali-kali tahun 1955 hingga akhir 2014. Faktor yang mempengaruhi dinamika komik Mahabharata adalah faktor cerita dalam komik tersebut, isi ceritanya adalah cerita wayang yang telah hidup dan mengakar pada masyarakat Indonesia. Faktor bahasa yang digunakan dalam komik; bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu bagi bangsa ini, dimana hampir semua suku yang ada di Indonesia memahaminya. Munculnya beragam Jenis komik; Komik silat, remaja, dan humor, membuat masyarakat mempunyai banyak pilihan bacaan. Hadirnya taman bacaan membuat komik-komik klasik termasuk salah satunya komik Mahabharata karya R.A. Kosasih bertahan di tengah hingar bingarnya persaingan komik. Kerinduan penggemar terhadap komik wayang menjadi salah satu motif hadir kembalinya komik Mahabharata karya R.A. Kosasih. Komik Mahabharata karya R.A. Kosasih telah berkontribusi terhadap dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Pengembangan paket pembelajaran IPA biologi kelas VIII SMPLB-B SLB PTN Bagian C Malang dengan model Dick, Carey & Carey / Whening Dyah Triarini

 

TTesis, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (II) Dr. Sulton, M.Pd. Kata kunci: pengembangan, paket pembelajaran IPA Biologi, model Dick Carey & Carey Pengembangan merupakan bagian dari bidang garapan teknologi pembelajaran. Penelitian ini dilaksnakan untuk mengadakan pengembangan paket pembelajaran IPA Biologi Kelas VIII SMPLB-B. Tujuan pengembangan adalah: 1) menghasilkan paket pembelajaran Biologi berupa buku teks dengan kalimat pendek dan lebih sederhana beserta kata-kata tertentu yang memerlukan bahasa isyarat serta dilengkapi dengan media visual berupa gambar statis, panduan guru, dan panduan siswa dengan memperhatikan karakteristik siswa Tunarungu Kelas VIII SMPLB-B di Sekolah Luar Biasa Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang yang mengalami hambatan dalam komunikasi bahasa verbal; 2) membantu siswa tunarungu mempermudah belajarnya sehingga dapat meningkatkan kualitas belajarnya guna mencapai kompetensi dasar yang menjadi tuntutan kurikulum dengan memperhatikan karakteristik kebutuhannya. Pengembangan ini menggunakan model Dick Carey & Carey, dengan sembilan langkah yang terdiri dari: 1) menilai kebutuhan untuk mengidentifikasi tujuan; 2) analisa instruksional; 3) mengidentifikasi kebutuhan dan konteks; 4) merumuskan tujuan performa (unjuk kerja); 5) mengembangkan instrumen penilaian; 6) mengembangkan strategi instruksional; 7) mengembngkan dan memilih materi instruksional; 8) melaksanakan evaluasi formatif; 9) merevisi pembelajaran. Pengembangan ini melalui lima tahap yaitu: 1) menetapkan matapelajaran yang akan dikembangkan; 2) mengidentifikasi kurikulum matapelajaran yang dikembangkan; 3) proses pengembangan bahan ajar IPA Biologi dengan Sembilan langkah Dick Carey & Carey; 4) menyusun bahan ajar, panduan siswa dan panduan guru; 5) uji coba produk yang meliputi tanggapan ahli isi mata pelajaran, ahli desain dan media pembelajaran, uji coba perorangan dan uji coba lapangan. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa tanggapan terhadap bahan ajar baik dari ahli isi, ahli desain maupun ahli media menyatakan dalam kualifikasi sangat baik. Tanggapan terhadap panduan siswa maupun panduan guru dari ahli isi, ahli desain maupun ahli media menyatakan telah memadai. Saran yang diajukan sehubungan dengan pemanfaatan adalah sebagai berikut:1) sebelum menggunakan bahan ajar ini, sebaiknya guru membaca terlebih dahulu petunjuk penggunaan bahan ajar; 2) bahan ajar ini hanya digunakan untuk siswa SLB Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang; 3) apabila digunakan pada siswa lain sebaiknya dilakukan analisis kebutuhan siswa dahulu supaya materi bahan ajar sesuai dengan karakteristik siswa.

Kompetensi pedagogik guru administrasi perkantoran (APK) di SMK Muhamadiyah 3 Singosari / Cahyo Mardika

 

ABSTRAK Mardika, Cahyo. 2015. Kompetensi Pedagogik Guru Administrasi Perkantoran Di SMK Muhammaddiyah 3 Singosari. Skripsi, Program Studi S1 Pendidikan Administrasi Pekantoran, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra.Wasiti, S.Sos, M.Si. (2) Elfia Nora, SE, Msi Kata kunci: Kompetensi Pedagogik, Guru Administrasi Perkantoran Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kompetensi pedagogik. Dengan kompetensi yang dimiliki guru tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang bermutu yang membuat siswa termotivasi untuk lebih bersemangat dalam proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kompetensi pedagogik guru Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Sasaran penelitian ini adalah guru Administrasi Perkantoran yang tersertifikasi di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Prodedur penelitian ini adalah observasi awal, pelaksanaan penelitian, analisis data, penarikan kesimpulan data dan pelaporan. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, dokumentasi, dan observasi dilengkapi dengan instrument penelitian yaitu panduan wawancara, lembar observasidan catatan lapangan serta menggunakan alat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 3 Singosari sudah baik, terbukti guru telah berusaha menerapkan indikator yang terkandung dalam kompetensi pedagogik guru meliputi: (1) Guru sudah sangat menguasai karakteristik peserta didik, dengan melakukan pendekatan personal, pretes, dan diskusi. (2) Guru sudah menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. (3) Kaitannya dengan pengembangan kurikulum, guru menerapkan kurikulum dalam pengembangan yang sudah sesuai dengan format kurikulum yang diterapkan. (4) Dalam penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik, guru mengaitkan konteks pembelajaran dengan kehidupan nyata, memberikan kesempatan kepada siswa berinteraksi dengan siswa lain terkait pembelajaran. (5) Guru telah memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi dalam proses pembelajaran. (6) Untuk mengembangkan potensi peserta didik, guru banyak melaksanakan kegiatan diskusi dan praktikum kelompok atau individu. (7) Cara berkomunikasi guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat baik, guru menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan baku, santun dan mudah dipahami. (8) Penyelenggaraan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar berdasarkan aspek kognitif, aspek psikomotorik, dan aspek kognitif. (9) Kaitannya dengan pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, guru memanfaatkannya untuk melihat kemajuan belajar siswa dan remidial/pengayaan. (10) Guru hanya melakukan kegiatan tindakan reflektif pada satu bulan di awal semester dengan tujuan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Disarankan agar sekolah selalu mendukung usaha peningkatan kualitas guru-guru melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang kompetensi pedagogik guru dalam bidangnya, seperti seminar pengembangan model dan media pembelajaran yang kreatif bagi siswa, workshop pelaksanaan penelitian tindakan kelas.

Pengaruh dana pihak ketiga dan non performing financing terhadap penyaluran pembiayaan yang dimoderasi oleh tingkat inflasi pada Bank Umum Syariah (periode 2013-2014) / Erviana

 

ABSTRAK Erviana. 2014. Pengaruh Dana Pihak Ketiga dan Non Performing Financing terhadap Penyaluran Pembiayaan yang Dimoderasi oleh Tingkat Inflasi pada Bank Umum Syariah (Periode 2013-2014). Skripsi, Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Heri Pratikto, M.Si., (II) Dr. Ely Siswanto S. Sos., M.M. Kata Kunci: Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), Tingkat Inflasi, Penyaluran Pembiayaan, Bank merupakan sarana yang strategis dalam perekonomian. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya jumlah perbankan syariah serta penghimpunan dan juga penyaluran dana yang dilakukan oleh Bank Umum Syariah. Tujuan Penelitian ini adalah 1) mengetahui kondisi Penyaluran Pembiayaan, DPK, NPF, dan Tingkat Inflasi pada Bank Umum Syariah (BUS) periode 2013-2014; 2) menganalisis pengaruh DPK dan NPF terhadap Penyaluran Pembiayaan yang Dimoderasi oleh Tingkat Inflasi pada Bank Umum Syariah periode 2013-2014. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder. Populasi dalam penelitian ini adalah 11 BUS yang terdaftar di Bank Indonesia periode 2013-2014. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 8 BUS. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah format dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi moderasi menggunakan uji residual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kondisi Penyaluran pembiayaan BUS periode 2013-2014 mengalami fluktuasi dengan tren meningkat secara elastis, DPK mengalami fluktuasi dengan tren menurun elastis, NPF mengalami peningkatan secara elastis dan Tingkat Inflasi mengalami fluktuasi dengan tren menurun sangat elastis mendekati stagnan. 2) DPK berpengaruh positif signifikan terhadap penyaluran pembiayaan. 3) NPF tidak berpengaruh terhadap penyaluran pembiayaan. 4) tingkat inflasi tidak memoderasi pengaruh DPK terhadap penyaluran pembiayaan, sehingga tingkat inflasi tidak berperan sebagai variabel moderator.Saran yang diberikan adalah sebagai berikut: 1) bagi perbankan syariah agar dapat menjaga tingkat bagi hasil, menambah jaringan kantor, menambah modal, dan memperhatikan tingkat suku bunga Bank Indonesia. 2) bagi peneliti selanjutnya agar melakukan pengembangan dengan menggunakan variabel lain seperti tingkat suku bunga Bank Indonesia, Financing to Deposit Ratio, Debt to Equity Ratio, Quick Ratio, atau Return on Equity.

Pengaruh kepemilikan publik, kebijakan dividen, leverage terhadap nilai perusahaan (studi pada p[erusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011-2013) / Benita Vioretta Situmorang

 

ABSTRAK Vioretta, Benita. 2015. Pengaruh Kepemilikan Publik, Kebijakan Dividen, Leverage, terhadap Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Property dan Real Estate yang Listing di BEI tahun 2011-2013) . Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. H. Cipto Wardoyo, S.E., M.Pd, M.Si. Ak.CA , (II) Dr. H. Eka Ananta S, S.E., M.Si. Ak. CA Kata Kunci : Kepemilikan Publik, Kebijakan Dividen, Leverage, Nilai Perusahaan Nilai perusahaan penting bagi perusahaan karena menggambarkan keadaan perusahaan secara umum, untuk meningkatkan hal tersebut manajer akan mengmbil beberapa keputusan. Salah satu keputusan yang diambil manajer adalah melalui struktur kepemilikan saham publik. Dengan adanya struktur kepemilikan saham publik, maka pihak manajemen perusahaan berupaya untuk meningkatkan tingkat akuntabilitas, transparansi, dan ketepatan waktu dalam menyajikan laporan keuangan atau kondisi perusahaan. Semakin tinggi tingkat kepemilikan saham publik maka semakin baik pula nilai perusahaan dimata masyarakat. Keputusan lain yang diambil manajer adalah penggunaan hutang (leverage). Hutang yang dimiliki perusahaan akan dianggap oleh calon investor sebagai pertanda bauk karena perusahaan akan mampu melakukan investasi lain dan melunasi hutang tersebut. Selain itu, untuk meningkatkan nilai perusahaan, manajer juga menerapkan kebijakan dividen. Dimana kebijakan dividen akan dipersepsi baik oleh pemegang saham, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsistensi pengaruh kepemilikan publik, kebijakan dividen, dan leverage terhadap nilai perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan Real Estate dan Propertyyang terdaftar di BEI periode 2011-2013 sebanyak 62 perusahaan. Dengan teknik purposive sampling diperoleh sampel sejumlah 10 perusahaan. Penelitian ini menggunakan analisis data menggunakan uji analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, uji analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemilikan publik, kebijakan dividen, leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang diajukan antara lain pengujian nilai perusahaan selain menggunakan kepemilikan publik, kebijakan dividen, dan leverage dapat pula menambahkan variabel lain yang diduga dapat meningkatkan nilai perusahaan semisal kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial. Serta peneliti selanjutnya sebaiknya menggunakan sampel penelitian dengan wilayah populasi yang lebih besar agar mengungkap lebih banyak permasalahan yang ada dan memberikan hasil temuan yang lebih terperinci.

Anakisis rasio keuangan sebagai dasar untuk menilai kinerja keuangan di PT. Amak Firdaus Utomo Probolinggo / Gayuh Budi Mukhlisin

 

Dalam penulisan Tugas Akhir ini penulis memilih PT. Amak Firdaus Utomo sebagai tempat penelitian untuk mengetahui kinerja keuangannya. Dalam penilaian kinerja perusahaan ada 2 aspek yang dapat dilihat yaitu financial dan non financial, dalam sudut pandang financial keberhasilan suatu perusahaan dalam menjalankan operasionalnya dapat dilihat dari laporan keuangan yang disusun pada setiap akhir periode, dengan tujuan dapat mengetahui seberapa besar tingkat kinerja keuangan perusahaan jika dilihat dari rasio likuiditas, solvabilitas, rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Profitabilitas perusahaan biasanya dilihat dari laporan laba rugi perusahaan. Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya, solvabilitas diukur dengan membuat perbandingan seluruh kewajiban terhadap seluruh aktiva dan perbandingan seluruh kewajiban terhadap ekuitas. Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancarnya yang diukur dengan menggunakan perbandingan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Aktivitas adalah kemampuan perusahaan dalam mempertahankan usahanya dalam jangka waktu panjang. Dalam menilai aktivitas perusahaan indikator yang digunakan adalah laporan laba rugi dan neraca keuangan perusahaan serta berbagai indikator keuangan dan non keuangan lainnya. PT Amak Firdaus Utomo jika dilihat dari rasio-rasio profitabilitas dari tahun 2005 s/d2007 mengalami kenaikan, dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban fianancialnya masih dikatakan baik. Jika dilihat dari rasio-rasio solvabilitas dari tahun 2005 s/d 2007 mengalami penurunan, dapat disimpulkan bahwa tingkat solvabilitas perusahaan dikatakan baik. Jika dilihat dari rasio-rasio aktivitas dari tahun 2005 s/d 2007 mengalami penurunan tingkat aktivitas, dapat disimpulakn bahwa tingkat aktivitas perusahaan belum maksimal. Jika dilihat dari rasio-rasio profitabilitas mengalami kenaikan, dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas dari perusahaan dapat dikatakan baik Disarankan oleh penulis bahwa untuk menjamin tingkat likuiditas perusahaan agar tetap baik, manajemen diharapkan mampu meningkatkan jumlah aktiva lancar berupa kas. Untuk menjamin tingkat solvabilitas perusahaan tetap baik, menejemen diharapkan dalam kegiatan pendanaan produksi perusahaan melakukan pembiayaan dengan kas dari pada memilih melakukan hutang. Untuk menjaga tingkat aktivitas perusahaan manajemen perlu menjaga keefektivan dari sumber daya yang dimiliki dengan cara memperlancar perputaran aktiva dan persediaan, meminimalkan biaya-biaya, serta meningkatkan modal yang dimiliki. Untuk meningkatkan keuntungan perusahaan, manajemen perlu melakukan langkah-langka seperti: meningkatkan jumlah penjualan, melakukan kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan

Pengaruh persepsi wajib pajak atas perubahan peraturan perpajakan, pelayanan fiskus, dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas (studi pada KPP Pratama Lamongan) / Prysca Yunita

 

ABSTRAK Yunita, Prysca. 2015. Pengaruh Persepsi Wajib Pajak Atas Perubahan Peraturan Perpajakan, Pelayanan Fiskus, dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan Pekerjaan Bebas (Studi Pada KPP Pratama Lamongan). Skripsi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Sawitri Dwi Prastiti, S.E., M.Si., Ak. (II) Hj. Yuli Widi Astuti, S.E., M.Si., CA. Kata Kunci: Perubahan Peraturan Perpajakan, Pelayanan Fiskus, Sanksi Pajak, Kepatuhan Wajib Pajak Motivasi merupakan dorongan yang ada dari dalam diri seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan. Motivasi mengacu pada harapan atau ekspektasi wajib pajak dalam melakukan tindakan yang mengacu kepada kepatuhan pajak. Seorang wajib pajak akan cenderung melakukan hal-hal atau tindakan yang mengarah kepada kepatuhan karena memiliki motivasi, seperti terhindar dari sanksi pajak, meningkatkan penerimaan negara, dan dorongan untuk memperoleh kenyamanan fasilitas umum yang disediakan negara, serta keamanan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh WPOP yang melakukan pekerjaan bebas di Kabupaten Lamongan dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, berdasakan persepsi WP atas perubahan peraturan perpajakan, pelayanan fiskus, dan sanksi pajak. Selain itu, penelitian ini juga digunakan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas yang terdaftar pada KPP Pratama Kabupaten Lamongan. Sampel yang digunakan adalah convenience sampling, dimana dalam mendapatkan responden didasarkan pada kesediaan wajib pajak yang datang ke KPP Pratama Kabupaten Lamongan untuk mengisi kuesioner penelitian, sehingga didapatkan sejumlah 35 responden. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini adalah perubahan peraturan perpajakan, pelayanan fiskus, dan sanksi pajak secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas. Keterbatasan penelitian ini anatara lain dalam proses menyusun indikator pertanyaan pada angket terkait kepatuhan material tidak bersumber pada Surat Edaran Nomor SE-2/PJ/2008 Tentang kepatuhan pajak, faktor yang mempengaruhi kepatuhan hanya perubahan peraturan perpajakan, pelayanan fiskus, dan sanksi pajak, Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket tertutup yang sudah disediakan jawaban dimana indikator pernyataan mungkin tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Saran terkait untuk penelitian ini adalah hendaknya KPP Pratama Kabupaten Lamongan melakukan perbaikan diri dengan meningkatkan sosialisasi atas perubahan peraturan perpajakan, meningkatkan pelayanan fiskus, dan semakin mempertegas sanksi pajak bagi pelanggarnya sehingga diharapkan kepatuhan wajib pajak akan meningkat, mengingat bahwa pajak merupakan sumber utama pendapatan dalam negeri yang memberikan kontribusi besar dalam pembiayaan pembangunan negara.

Hubungan antara penguasaan pengetahuan masyarakat, kemampuan berpikir formal, dan lamanya memecahkan masalah dengan keberhasilan memecahkan masalah / oleh Sumarli

 

Pengembangan modul pembelajaran kontektual pada mata pelajaran siklus akuntansi di SMK 2 Muhammadiyah Malang / Sheny Cynthia Dewi

 

ABSTRAK Dewi, Shenny Cynthia. 2014. Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Kontekstual Untuk Kelas X SMK 2 Muhammadiyah Malang. Skripsi, Prodi Pendidikan Akuntansi. Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Sumadi, S.E.,M.M, (II) Dr. Hj, Endang Sri Andayani ,S.E., M.Si.,AK. Kata Kunci : Pengembangan, Modul Kontekstual . Berdasarkan hasil observasi di SMK Muhammadyah 2 Malang pembelajaran di sekolah tersebut belum menggunakan modul atau LKS. Bahan ajar yang digunakan hanya berupa handout yang juga masih belum sesuai dengan karakteristik siswa yang berkaitan dengan tingkat pemahaman maupun kondisi kontekstual di daerah siswa. Penerapan kontekstual yang pada siswa dirasa masih kurang, berdasarkan wawancara dengan guru siswa masih belum sepenuhnya memahami jika materi tidak disertai dengan contoh nyata yang ada disekitar mereka. Tujuan pengembangan modul ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar berupa modul berbasis kontekstual pada pokok bahasan menyusun laporan keuangan perusahaan dagang untuk kelas X SMK Muhammadiyah 2 Malang. Model pengembangan yang digunakan adalah adaptasi dari model pengembangan Borg and Gall (1983). Langkah-langkah pengembangan yang harus ditempuh yaitu analisis kebutuhan, pengembangan modul, uji kelayakan modul kemudian revisi modul ke-1, uji coba pengguna terbatas, revisi ke-2, sehingga menjadi produk akhir. Uji kelayakan dilakukan oleh 2 orang validator materi/isi dan seorang ahli pengembangan bahan ajar yang menilai mutu modul. Pengembangan modul akuntansi ini diujicobakan kepada 10 siswa kelas X Akuntansi SMK Muhammadiyah 2 Malang sebagai pengguna modul. Prsentase rata-rata yang diperoleh dari penilaian kedua validator yaitu 80,65% yang berarti modul valid untuk digunakan. Berdasarkan penilaian Validator desain, modul dinyatakan valid dengan presentase rata-rata 92,9% dan validasi ahli oleh ahli materi sebesar 90,6%. Hasil uji coba tersebut menunjukan bahwa modul dinyatakan valid untuk digunakan dengan presentase 92,6%. Berdasarkan hasil pengembangan disarankan agar modul ini dapat digunakan sebagai bahan ajar dalam kelas yang didampingi oleh guru maupun digunakan untuk belajar mandiri dirumah, dan dapat digunakan sebagai referensi pengembangan modul pada materi yang lain

Hubungan antara relevansi materi bahan dengan tingkat partisipasi anggota kelompok pendengar pembaca dan pemirsa (Klompencapir) di Kabupaten Dati II Malang / oleh Sefnath Nuniary

 

Identifikasi pemahaman konseptual dan algoritmik serta faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa kelas XI IPA SMAN 10 Malang pada materi hidrolisis garam / Ikhwanto

 

ABSTRAK Ikhwanto. 2015. Identifikasi Pemahaman Konseptual dan Algoritmik serta Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar Siswa Kelas XI IPA SMAN 10 Malang pada Materi Hidrolisis Garam.Skripsi,Program Studi Pendidikan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si., (2) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata kunci: pemahaman konseptual-algoritmik, kesulitan belajar, hidrolisis garam Konsep-konsep dalam ilmu kimia saling berhubungan antara satu dengan yang lain dan memiliki karakter yang berjenjang mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks.Salah satu materi dalam kimia yang memiliki konsep yang cukup kompleks adalah materi hidrolisis garam. Siswa harus memiliki pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik untuk menguasai materi hidrolisis garam. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi tingkat pemahaman konseptual dan algoritmik siswa kelas XI IPA SMAN 10 Malang, (2) mengetahui letak kesulitan siswa, dan (3) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa pada materi hidrolisis garam. Desain penelitian ini adalahpenelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA SMAN 10 Malang yang terdiri dari 68 siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2. Subjek adalah siswa yang diduga mengalami kesulitan yang memiliki rata-rata nilai UH hidrolisis garam rendah yang dipilih secara selektif dengan teknik purposive sampling. Penjaringan data menggunakan instrumen tes diagnostik, angket, dan wawancara (triangulasi data). Tes diagnostik berupa soal pilihan ganda beralasan dan uraian bertahap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pemahaman konseptual siswa tergolong sangat rendah (27,2%) dan tingkat pemahaman algoritmik siswa tergolong sangat rendah (15,8%), (2) kesulitan-kesulitan yang dialami siswa, (a) pada konsep umum reaksi hidrolisis garam adalah membedakan reaksi hidrolisis dengan ionisasi dan menentukan garam yang dapat terhidrolisis; (b) pada konsep penentuan jenis-jenis reaksi hidrolisis garam adalah mengidentifikasi senyawa yang tergolong asam kuat/lemah dan basa kuat/lemah; (c) pada konsep persamaan reaksi hidrolisis adalah menentukan ion garam yang terhidrolisis dan menuliskan persamaan reaksi yang benar; (d) pada konsep penentuan sifat larutan hasil reaksi hidrolisis garam adalah menentukan sifat keasaman larutan garam; (e) pada konsep hubungan antaraKa, Kb, dan Kh adalah menjelaskan hubungan Ka, Kb, dan Kh dengan sifat keasaman garam; (f) pada konsep stoikiometri larutan hidrolisis garam adalah menentukan rumus pH garam, mengkonversi mol menjadi molar, dan menghitung konsentrasi ion garam; (g) pada konsep perhitungan nilai Ka, Kb, dan Kh adalah menentukan konsentrasi ion H+/OH- dan menentukan rumus persamaan hubungan antaraKa, Kb, dan Kh yang tepat, (3) faktor dominan yang mempengaruhi kesulitan siswa dalam mempelajari hidrolisis garam adalah faktor internal, yaitu faktor rendahnya kemampuan manajemen waktu dan pendisiplinan diri siswa untuk belajar (40,4%), sedangkan faktor eksternal faktor yang dominan adalah faktor tidak adanya kelompok belajar siswa (37,4%).

Pengembangan panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa Sekolah Menengah Pertama dengan model structured learning approach / Mawardi Djamaluddin

 

ABSTRAK Djamaluddin, Mawardi. 2015. Pengembangan Panduan Pelatihan Keterampilan Asertif bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama dengan model Structured Learning Approach. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Dany Moenindyah Handarini, M.A, (II) Dr. Carolina Ligya Radjah, M. Kes. Kata Kunci: pengembangan, panduan pelatihan, keterampilan asertif, structured learning approach. Keterampilan asertif merupakan salah satu jenis keterampilan sosial yang perlu dimiliki oleh siswa SMP untuk menunjuang terbinanya hubungan interpersonal yang berkualitas dengan orang-orang disekitarnya. Keterampilan asertif sangat penting untuk memberikan dampak ikutan bagi siswa SMP dalam mengembangkan perilaku yang terintegrasi dengan keterampilan asertif, misalnya perilaku jujur dan mempedulian hak-hak yang melekat pada orang lain dalam kontek hubungan interpersonal. Mengembangkan keterampilan asertif bagi siswa SMP memerlukan sebuah panduan pelatihan yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengembangkan keterampilan asertif siswa. Berdasarkan hasil studi literatur terhadap hasil penelitian sebelumnya yang terkait dengan peningkatan keterampilan asertif, maka panduan pelatihan keterampilan asertif yang dikembangkan ini bertujuan untuk melengkapi panduan sejenis yang telah dikembangkan sebelumnya. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan asertif bagi siswa SMP yang terdiri dari lima komponen keterampilan asertif yaitu keterampilan meminta izin, keterampilan negosiasi, keterampilan membantu orang lain, keterampilan menggunakan kontrol diri, dan keterampilan berbagi sesuatu. Penelitian pengembangan ini menggunakan model Borg dan Gall (2003) sebagai acuannya, secara prosedural pengembangan panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP melalui tiga tahapan, yaitu tahap pra pengembangan, tahap pengembangan, dan tahap pasca pengembangan. Data penelitian yang diperoleh berupa analisis data kuantitatif dan paparan data kualitatif berupa saran dan masukan dari ahli BK dan calon pengguna produk. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala penilaian akseptabilitas yaitu angket penilaian yang meliputi aspek kegunaan, kelayakan, ketepatan, dan kepatutan panduan pelatihan keterampilan asertif. Data penelitian yang dipaparkan berupa data kuantitatif dan data kualitatif, data kuantitatif berupa hasil penilaian dari ahli bimbingan dan konseling serta penilaian calon pengguna produk melalui skala penilaian akseptabilitas dengan menggunakan teknik analisis data Inter-Rater Agreement Model. Sementara itu, untuk data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara dan penilaian berupa lembar saran dan perbaikan pada skala penilaian akseptabilitas panduan dari ahli bimbingan dan konseling serta calon pengguna produk. Penelitian ini mengembangkan panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP sebagai instrumen panduan pelatihan dengan berbasis pada model Structured Learning Approach yang dapat memfasilitasi konselor dan siswa secara mandiri dalam mengembangkan keterampilan asertif. Panduan ini telah melalui serangkaian tahapan uji validasi untuk mengukur tingkat akseptabilitas dari panduan. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah sistematika dalam panduan pelatihan keterampilan asertif bagi siswa SMP yang relevan dengan kebutuhan dan karakterisrik siswa serta konselor. Ragam bahasa yang digunakan dalam langkah-langkah pelatihan dan buku materi pada umumnya perlu dilakukan adaptasi sehingga mudah dipahami oleh konselor dan siswa. Kedua, masalah tahapan-tahapan yang perlu terlebih dahulu dilakukan oleh konselor sebelum mengimplementasikan langkah-langkah pelatihan. Instrumen need assement yang representatif sehingga dapat secara objektif menjaring siswa sebagai subyek pelatihan pengembangan keterampilan asertif. Instrumen need assement berperan untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang benar-benar membutuhkan pelatihan tersebut.

Pengaruh simpanan masyarakat, LDR dan BOPO terhadap penyaluran kredit pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. periode bulan Janubari 2011 - 21 Desember 2014 / Teguh Tri Mahardian

 

ABSTRAK Mahardian, Teguh Tri. 2015. Pengaruh Simpanan Masyarakat, LDR dan BOPO Terhadap Penyaluran Kredit Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Periode Bulanan Januari 2011 – Desember 2014. Skripsi, Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang (UM). Pembimbing : (I) Dr. H Agung Haryono, S.E., M.P., Ak (II) Drs. Mardono, M.Si Kata Kunci: Penyaluran Kredit, Simpanan Masyarakat, LDR, BOPO Peran perbankan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi perekonomian suatu Negara. Hampir semua faktor yang berhubungan dengan berbagai kegiatan keuangan selalu membutuhkan jasa bank. Salah satunya sebagai lembaga intermediasi yang tugasnya menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Simpanan Masyarakat merupakan sumber pendanaan paling utama yang diperlukan bank untuk melaksanakan fungsi intermediasi yaitu menyalurkan dana kepada masyarakat. Kredit bank merupakan sumber dana bagi pengusaha dalam mengembangkan usahanya. Semakin tinggi simpanan masyarakat yang dihimpun bank maka semakin banyak pula bank menyalurkan kredit maka akan lebih banyak sektor riil yang dapat menyerap kredit. Untuk itu perlu diketahui faktor-faktor internal dari sisi perbankan yang diperkirakan mempengaruhi bank dalam menyalurkan kredit, yang bisa berasal dari tingkat likuiditasyang dinilai dengan LDR serta tingkat efisiensi kinerja operasional perbankan yang dinilai dengan BOPO Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif,teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, dokumen yang digunakan adalah laporan keuangan dari Bank Indonesia dalam bentuk Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI). Selanjutnya data yang digunakan merupakan data sekunder (time series). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu regresi linier berganda (multiple regression analysis model). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa simpanan masyarakat berpengaruh positif terhadap penyaluran kredit yaitu jika simpanan masyarakat tinggi, maka penyaluran kredit Bank BRI akan semakin tinggi. LDR mempunyai pengaruh positif terhadap penyaluran kredit yaitu jika nilai LDR tinggi, maka penyaluran kredit juga akan semakin tinggi. Sedangkan BOPO menunjukkan pengaruh yang negatif terhadap penyaluran kredit pada Bank BRI yaitu jika BOPO tinggi, maka penyaluran kredit akan semakin rendah. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa Simpanan Masyarakat , LDR dan BOPO memiliki pengaruh terhadap penyaluran kredit pada Bank BRI pada periode yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi pihak perbankan untuk selalu melihat perkembangan Simpanan Masyarakat dan lebih menjaga nilai LDR dan BOPO dalam penyaluran kredit. Untuk penelitian selanjutnya agar menambah atau mencari variabel lain selain variabel yang digunakan dalam penelitian ini agar memperluas penelitian yang ada.

Kesejahteraan subjektif pada pengemis / Tika Puji Lestari

 

ABSTRAK Lestari, Tika Puji. 2015. Kesejahteraan Subjektif pada Pengemis. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra. Sri Weni Utami, M. Si., (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S. Psi., M. Psi. Kata Kunci : Kesejahteraan Subjektif, Pengemis Pengemis merupakan salah satu permasalahan yang telah lama dihadapi pemerintah Indonesia. Pemerintah kota Malang juga telah lama menghadapi permasalahan pengemis.Berdasarkan studi pendahuluan peneliti di Dinas Sosial Kota Malang, jumlah pengemis yang ada di Kota Malang semakin meningkat walaupun Satpol PP dan dinas sosial secara rutin melakukan razia. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut tersebut aspek psikologis yang perlu dibahas dari permasalahan pengemis adalah kesejahteraan subjektif yang dipersepsikan oleh pengemis. Kesejahteraan secara subjektif yang dipersepsikan oleh masing-masing individu dalam kajian ilmu psikologi disebut subjective well-being. Penelitian ini bertujuan mengungkap kesejahteraan subjektifpada pengemis yang berlokasi di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologis. Partisipan dalam penelitian berjumlah 4 orang dengan kualifikasi sebagai berikut (1) telah mengemis lebih dari lima tahun, (2) sumber pendapatan utama dari mengemis (3) berusia minimal 20 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara dan observasi. Tehnik analisis data menggunakan tehnik analisis data fenomenologi yang berakhir pada kesimpulan. Berdasarkan analisis data dalam penelitian dihasilkan kesimpulan sebagai berikut. (1)Secara umum pengemis yang menjadi subjek penelitian belum merasa sejahtera secara subjektif dari empat subjek penelitian tiga subjek tidak merasa sejahtera secara subjektif. (2) subjek satu merasa sejahtera secara subjektif. (3) subjek dua juga merasa sejahtera secara subjektif namun tidak setinggi subjek satu.Perbedaan sikap antara subjek satu dan subjek dua menjadi penyebab perbedaan perasaan sejahtera secara subjektif antara subjek satu dan subjek dua. Subjek satu merasa sejahtera secara subjektif karena memiliki sikap ulet dan pantang menyerah sedangkan subjek dua berdasarkan sikap pasrahterhadap nasib. (4)Subjek tiga belum merasa sejahtera secara subjektif karena belum merasa puas dan bahagia dengan hidup menjadi pengemis. (5) subjek empat juga belum merasa sejahtera secara sujektif. Penilaian subjek tiga dan subjek empat terhadap kehidupan menjadi pengemis selalu dibandingkan dengan profesi kedua subjek sebelum menjadi pengemis yaitu sebagai pembantu rumah tangga. (6) Subjek dua yang merasa sejahtera namun tidak setinggi satu, subjek tiga dan empat yang belum merasa sejahtera tetap bertahan menjadi pengemis dikarenakan mendapatkan dukungan sosial dari keluarga terdekat. (7) Prediktor kesejahteraan subjektifpada pengemis yang paling menonjol adalah kognisi yaitu cara menginterpretasikan peristiwa secara positif yang mana keempat subjek penelitian memiliki interpretasi yang kurang positif terhadap peristiwa yang pernah dialami dan menjadikan interpretasi tersebut sebagai alasan untuk bertahan menjadi pengemis, prediktor kedua adalah optimisme dalam menghadapi masa depan. Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada dinas sosial Kota Malang untuk dilakukan penanganan secara psikologis kepada para pengemis dengan konseling kelompok yang bertujuan menitik beratkan pada penanganan kognisi pengemis. Kepada masyarakat luas diharapkan mengesampingkan rasa kasihan kepada para pengemis sehingga tidak memberikan uang untuk memutus rantai pertumbuhan jumlah pengemis. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian dengan variabel lain terkait semakin meningkatnya jumlah pengemis yang ada di Kota Malang seperti analisis faktor penyebab seseorang berprofesi sebagai pengemis.

Studi hubungan antara pelaksanaan supervisi pengajaran dengan kemampuan mengajar PMP guru-guru SD negeri sekecamatan Buleleng di Kabupaten daerah tingkat II Buleleng / oleh I Nyoman Natajaya

 

Studi tentang kualitas soal ebtanas matematika dan analisis kesalahan jawaban siswa SMP di Kabupaten Kendari tahun ajaran 1992-1993 / oleh Sunandar

 

Pengembangan bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif pada pokok bahasan asal usul persebaran manusia di Indonesia untuk siswa kelas X SMAN 1 Kedungwaru, Tulungagung / Dwi Fitriawati

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, sejarah, multimedia interaktif, pemahaman Observasi di lapangan menunjukkan kecenderungan bahwa guru hanya terpaku pada bahan ajar yang disajikan dalam bentuk cetak, yaitu buku teks dan LKS. Selain itu, bahan ajar yang terdapat di sekolah juga masih terbatas. Siswa menganggap bahan ajar yang berupa buku cetak kurang menarik, terlalu banyak teori, serta kurang dekat dengan siswa. Pada akhirnya hal tersebut akan membuat siswa mengalami banyak kesulitan dalam memahami materi yang disajikan di dalamnya, sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Alasan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan pengembangan bahan ajar sejarah yang berbasis multimedia interaktif pada pokok bahasan “Asal-Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia”. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar sejarah berbasis multi-media interaktif pada pokok bahasan asal-usul dan persebaran manusia di kepulauan Indonesia untuk kelas X. Adapun fokus penelitian ini adalah (1) me-ngembangkan bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif yang memenuhi standar isi dan penyajian untuk siswa SMA kelas X, (2) mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif untuk siswa SMA kelas X. Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model desain pengembangan berbasis media oleh Sadiman tahun 2008. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 8 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) pengembangan materi pembelajaran, (4) perumusan alat ukur keber-hasilan, (5) penulisan naskah bahan ajar, (6) produksi, (7) uji coba, (8) revisi. Uji coba kelayakan produk dilakukan melalui validasi ahli materi, ahli media dan uji coba siswa kelompok besar di SMA Negeri 1 Kedungwaru. Dari hasil uji bahan ajar dengan ahli materi menghasilkan rata-rata kelaya-kan sebesar 86%, ahli media 91%, dan siswa 87%. Hasil validasi dengan ahli materi menunjukkan bahwa bahan ajar harus direvisi karena dari 24 aspek yang diujikan terdapat 3 aspek yang belum layak, sedangkan menurut ahli media pro-duk tergolong layak dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran, dan dari siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak sehingga siap diimplementasikan. Hasil uji coba lapangan menunjukkan terjadinya peningkatan persentase hasil belajar siswa yaitu dari 52% menjadi 80%. Dari peningkatan hasil belajar siswa, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar dapat meningkatkan pemahaman siswa. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah (1) dari segi materi dan penyajian, bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif tergolong layak sehingga dapat diimplementasikan, (2) bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Hasil pengembangan produk bahan ajar sejarah ini dapat dibaca,dipelajari, dan dimanfaatkan oleh semua pihak yang membutuhkan. Siswa dapat memanfaat-kan bahan ajar ini secara mandiri maupun dengan bimbingan guru. Guru juga diharapkan mampu menguasai teknik pembuatan media interaktif, sehingga mampu untuk memproduksi sendiri bahan ajar yang berbasis multimedia interak-tif. Bagi sekolah bahan ajar ini dapat dijadikan pertimbangan sebagai bahan ajar alternatif serta memfasilitasi guru untuk belajar membuat bahan ajar yang berbasis multimedia interaktif. Bahan ajar ini dapat disebarluaskan melalui jurnal dan MGMP. Bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan pengembangan bahan ajar sejarah yang berbasis multimedia interaktif untuk materi lain.

Pelaksanaan pendidikan sistem ganda (studi kasus pada SMEA Negeri Gorontalo) / oleh Salma Z. Bowtha

 

Keefektifan bibliokonseling dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP / Asri Octaviana Dwi Rahayu

 

Kata kunci: keefektifan, bibliokonseling, kesadaran akan kepedulian Tugas konselor selain memperhatikan perkembangan kemampuan akademis siswa juga harus mengembangkan sosio-emosional siswa yang terangkum dalam pendidikan karakter. Salah satu karakter yang harus dikembangkan dalam diri siswa adalah peduli. Cara agar siswa berperilaku peduli adalah dengan menumbuhkan kesadarannya. Salah satu teknik bimbingan yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP yaitu melalui "Teknik Bibliokonseling". Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siswa SMP, diketahui bahwa siswa-siswa memiliki kesadaran akan kepedulian rendah/sedang dengan ditunjukkan banyaknya fenomena yang terjadi seperti bolos sekolah, penindasan terhadap junior, tidak memperhatikan guru, dan masih banyak yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan "bibliokonseling" dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu, dengan one group pretest posttest design, dimana alat ukur yang digunakan sebelum dan setelah perlakuan adalah sama. Penelitian jenis ini bertujuan untuk memperbaiki kesadaran akan kepedulian siswa dan melihat ada tidaknya perbedaan sebelum dan setelah pemberian perlakuan. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP yang memiliki kesadaran akan kepedulian rendah dan sedang yaitu sebanyak 12 orang siswa. Instrumen penelitian berupa skala kesadaran akan kepedulian yang dilengkapi dengan validitas dan reliabilitas instrument, dengan hasil validitas 1 item tidak valid dan memiliki reliabilitas skala yang tinggi. Bibliokonseling ini menggunakan media cerpen dalam treatmentnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji wilcoxon. Hasil perhitungan data penelitian menggunakan uji wilcoxon dan dapat disimpulkan bahwa bibliokonseling efektif dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP dilihat dari Zhitung ˃ Ztabel atau - Zhitung < - Ztabel sebesar - 3.064 < - 1.96. Kesimpulan penelitian ini adalah bibliokonseling efektif dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi konselor untuk menggunakan media ini dalam kegiatan bimbingan untuk menjalankan pendidikan karakter salah satunya menumbuhkan kesadaran akan kepedulian. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya lebih memperbanyak jenis media yang diberikan sebagai treatment agar peningkatan kesadaran akan kepedulian siswa lebih optimal.

Pengaruh riview rangkuman dan gaya kognitif terhadap perolehan belajar dan retensi dengan ceramah bermedia overhead projector / oleh Esau Mambraku

 

Model pembelajaran inkuiri sosial untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Pagentan 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang / Adi Prayogo

 

ABSTRAK Prayogo, Adi. 2014. Penerapan Model Pembelajaran inkuiri sosial untuk Meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS Siswa Kelas IV SDN Pagentan 02 kecamatan Singosari Kabupaten Malang. SKRIPSI, PRODI S1 PGSD jurusan kependidikan sekolah dasar dan prasekolah, fakultas ilmu pendidikan, universitas negeri malang. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Murtiningsih, S.Pd, M.Pd (2) Dra. Sri Sugiharti, M.Pd Kata kunci: Model Pembelajaran inkuiri sosial, aktivitas belajar, hasil belajar IPS. Berdasarkan pengamatan peneliti di kelas IV di SDN Pagentan 02 Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, pada pelaksanaan pembelajaran IPS khususnya materi permasalahan sosial di daerahnya yang dilaksanakan tanggal 18 Februari 2014 ditemukan bahwa pembelajaran kurang efektif. Hal ini disebabkan beberapa siswa terlihat lebih banyak berbicara, daripada memperhatikan guru, kemudian guru hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan, sehingga menyebabkan siswa bosan, kurang aktif dan berdampak hasil belajar siswa rendah. Program pembaharuan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu selalu diupayakan baik melalui pengembangan kurikulum maupun melalui sistem pembelajaran. Pada kenyataannya di SDN Pagentan 02 dijumpai bahwa buku teks dan lembar kegiatan siswa yang menjadi sumber belajar jumlahnya terbatas dan menjadi acuan utama dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), tahap perumusan tindakan merupakan kegiatan yang dilaksanakan peneliti sebagai guru bidang studi IPS untuk menetapkan rencana tindakan dan jadwal pelaksanaan serta merumuskan Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas IV, dengan melalui tindakan-tindakan tertentu. Dalam hal ini tindakan yang diambil adalah penerapan inkuiri pada pembelajaran IPS untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Pagentan 02 kecamatan Singosari kabupaten Malang tahun pelajaran 2013/2014 materi kegiatan ekonomi dalam pemanfaatan sumber daya alam. Melalui tindakan tersebut materi pembelajaran yang diterima akan lebih efektif dan mudah diterima oleh siswa Penerapan model Inkuiri Sosial pada pembelajaran IPS materi permasalahan-permasalahan sosial di daerahnya pada kelas IV SDN Pagentan 02 kecamatan Singosari secara keseluruhan sudah sesuai dengan RPP yang telah dibuat dan sudah melibatkan melibatkan seluruh siswa dalam pembelajaran Peningkatan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Pagentan 02 kecamatan Singosari dengan penerapan model Inkuiri Sosial pada materi permasalahan sosial di daerahnya bisa dikatakan baik. Hal ini bisa dilihat dari hasil aktivitas siswa yang aktif 58% pada siklus I dan meningkat menjadi 78% pada siklus II Peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Pagentan 02 kecamatan Singosari dengan penerapan model Inkuiri Sosial pada materi permasalahan sosial di daerahnya bisa dikatakan baik. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan dari pratindakan rata-rata hasil belajar siswa 58,7, pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa 67,7 dan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa 80 Berkaitan penelitian ini disarankan yaitu: bagi guru agar aktivitas dan hasil belajar meningkat, sebaiknya guru memperhatikan gaya belajar siswa sehingga dapat menggunakan temuan penelitian ini sebagai acuan oleh guru IPS lainya untuk melaksanakan pembelajaran dengan penerapan model inkuiri sosial. Bagi sekolah hendaknya dapat menciptakan suasana yang kondusif dengan menyediakan sarana dan prasarana sehingga pembelajaran IPS dapat lebih efektif dan efisien.Bagi Pengembang Pendididkan khususnya pendidikan dasar, dalam menyusun kurikulum IPS kelas IV SD/MI hendaknya berorientasi pada kebutuhan karakteristik dan kemampuan akademik siswa.

Pengembangan bahan ajar berbasis learning cycle 5 fase berbantuan CD video animasi pembelajaran pada materi elektrokimia untuk SMA kelas XII / Nur Annidaul Muslimah

 

ABSTRAK Muslimah, Nur Annidaul. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Learning Cycle 5 Fase Berbantuan CD Video Animasi Pembelajaran pada Materi Elektrokimia untuk SMA Kelas XII. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. (2) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. Kata Kunci : bahan ajar, Learning Cycle 5 Fase, elektrokimia, Thiagarajan. Kimia merupakan salah satu rumpun Ilmu Pengetahuan Alam yang konsep-konsepnya mencakup tiga aspek penting untuk disajikan yaitu makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Salah satu materi kimia yang perlu disampaikan dengan tiga aspek tersebut adalah elektrokimia. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa kebanyakan siswa hanya mampu merepresentasikan materi ini dalam aspek makroskopik dan simbolik saja.Siswa masih kurang mampu merepresentasikan aspek mikroskopik pada materi elektrokimia sehingga dibutuhkan suatu bahan ajar yang bisa menyajikan materi dalam tiga aspek tersebut. Bahan ajar yang dibutuhkan tidak hanya berupa buku/ LKS saja, tetapi dilengkapi alat peraga untuk menampilkan/ menyajikan aspek mikroskopik dalam pembelajaran.Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan suatu bahan ajar cetak dan animasi serta mengetahui tingkat kelayakannya. Model pembelajaran yang digunakan dalam bahan ajar ini adalah Learning Cycle 5 fase yang terdiri dari lima fase yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Animasi dalam bahan ajar ini berupa animasi 2 dimensi yang dikembangkan dengan menggunakan sofware Power Point 2010 dan Camtasia 7. Animasi yang dikembangkan tersebut kemudian dimasukkan dalam sebuah CD Player. Model pengembangan bahan ajar yang digunakan adalah model pengembangan 4 D menurut Thiagarajan. Empat langkah pengembangan tersebut adalah define (pembatasan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebarluasan). Tahap pengembangan hanya dilakukan sampai pada tahap develop berupa validasi isi karena keterbatasan waktu dan biaya. Validasi isi bahan ajar dilakukan melalui penilaian oleh ahli (validator) dan uji coba terbatas. Penilaian oleh ahli dilakukan oleh satu orang dosen dan dua orang guru SMA, sedangkan uji coba terbatas dilakukan pada sepuluh orang siswa kelas XII yang telah menerima materi elektrokimia. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah angket menggunakan skala Likert 1-5. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari nilai rata-rata hasil validasi dengan menggunakan teknik analisis nilai rata-rata. Data kualitatif diperoleh dari komentar, saran dan kritik dari validator. Kedua data tersebut merupakan dasar untuk melakukan revisi terhadap produk yang dikembangkan. Hasil validasi isi diperoleh nilai rata- rata hasil penilaian buku guru dan buku siswa oleh ahli sebesar 82% dengan kriteria sangat layak/ sangat valid. Nilai rata-rata penilaian CD Video Animasi Pembelajaran sebesar 75% dengan kriteria layak/ valid. Nilai rata-rata dari uji coba terbatas pada buku siswa sebesar 81% dengan kriteria sangat layak/ sangat valid. Nilai rata-rata uji coba terbatas pada CD Video Animasi Pembelajaran sebesar 75% dengan kriteria layak/valid. Hasil validasi tersebut menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan layak untuk digunakan.

Keefektifan bibliokonseling untuk mengembangkan kesadaran akan kejujuran siswa SMP / Ika Nofiyanti

 

Kata Kunci: Kejujuran, Kesadaran Akan Kejujuran, Bibliokonseling. Indonesia sedang dihadapkan pada persoalan moral yang sangat serius. Pergeseran orientasi kepribadian yang mengarah pada berbagai perilaku amoral sudah demikian jelas dan tampak terjadi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Salah satunya adalah ketidakjujuran, yang dapat dilihat hampir setiap tahun adalah masalah kecurangan UAN. Tidak hanya masalah Ujian, namun ketidakjujuran berimbas pada situasi yang lebih besar, yaitu maraknya kasus korupsi yang berawal dari ketidaksadaran individu untuk melakukan kejujuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan bibliokonseling untuk mengembangkan kesadaran akan kejujuran siswa SMP. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP. Bibliokonseling adalah salah satu teknik yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Konsep bibliokonseling adalah dengan menggunakan bahan bacaan sebagai media untuk mencapai suatu tujuan yaitu mengembangkan kesadaran akan kejujuran. Dalam penelitian ini, teknik bibliokonseling yang digunakan adalah menggunakan cerita pendek sebagi media. Adapun tahaptahapnya adalah dengan membagikan cerita pendek, refleksi isi dan refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen, dan refleksi pengalaman. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan one group pretest posttest. Dari analisis data dapat diketahui bahwa bibliokonseling efektif untuk mengembangkan kesadaran akan kejujuran siswa SMP. Oleh sebab itu diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) Dalam mengaplikasikan teknik ini, konselor harus mempersiapkan bacaan yang sesuai dengan usia kelompok eksperimen, cerita harus menarik, serta waktu pelaksanaan kegiatan bibliokonseling harus kontinyu (2) Diharapkan menggunakan analisis data time series agar pengontrolan kenaikan kesadaran akan kejujuran untuk setiap treatment lebih mudah dilihat. Sebaiknya untuk penelitian selanjutnya, peneliti menggunakan kelompok kontrol dan menyiapkan pertanyaan refleksi yang lebih mendalam dan kritis sebagai stimulus untuk siswa.

Penerapan metode steepst descent untuk mencari kampiran solusi dua soliton dari persamaan korteweg-de vries (DKV) / oleh Tjang Daniel Chandra

 

Studi tentang kemampuan membaca tabel dan grafik kimia pada siswa kelas I SMUN Ngantang Malang / oleh Anik Muslihatin

 

Pengukuran kecepatan aliran air dengan efek doppler gelombang optis / oleh Endang Purwaningsih

 

Keterlibatan orang tua dalam perkembangan multiple intelligences anak usia dini (studi kasus di PAUD Tunas Harapan Karang Duren Pakisaji Malang) / Merdi Ana Duhita Rahayu

 

Kata Kunci: keterlibatan orang tua, perkembangan multiple intelligences anak. Teori multiple intelligences (MI) memberikan landasan yang kuat untuk mengidentifikasi dan mengembangkan spektrum kemampuan yang luas di dalam diri setiap anak. Gardner memaparkan 7 kecerdasan yang menunjukan kopetensi intelektual yang berbeda, yang terdiri dari kecerdasan linguistik, logikamatematika, gerakan-badan, ruang, musik, antar pribadi, dan intra pribadi. Berkaitan dengan hal itu PAUD Tunas Harapan mengupayakan agar MI berkembang secara optimal. Keterlibatan pihak orang tua dan keluarga diperlukan dalam proses pembelajaran anak usia dini. Namun keterlibatan orang tua yang berlebihan terhadap anak pada saat pembelajaran di kelas seharusnya tidak dilakukan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan beberapa hal, yang mencangkup pemahaman orang tua terhadap kegiatan pengembangan MI anak, keterlibatan orang tua di sekolah dalam pembelajaran di kelas, dan alasan yang menyebabkan terjadinya keterlibatan dari orang tua di PAUD Tunas Harapan. Penelitian ini mengunakan pendekatan penelitian kualitatif dan dengan jenis penelitian studi kasus dalam bentuk deskripsi. Metode yang dipakai adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, melaksanakan display data, mengambil kesimpulan/ verifikasi. Hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil sebagai berikut. (1) Masalah pemahaman orang tua terhadap kegiatan pengembangan MI anak masih kurang, tetapi orang tua memiliki pemahaman kegiatan yang dilaksanakan di PAUD Tunas Harapan baik, karena memiliki manfaat pada anak terutama bagi perkembangan anak di masa depan. (2) Masalah keterlibatan orang tua dalam perkembangan MI anak usia dini terlihat jelas dalam proses pembelajaran di kelas. Keterlibatan orang tua saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung dirasa kurang tepat mengingat hak dan kewajiban masing-masing antara orang tua dan guru. Sehingga dapat disimpulkan 1) keterlibatan orang tua tidak sesuai dengan hak dan kewajiban yang seharusya dilakukan oleh orang tua seperti yang tercantum dalam Undang-undang sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 7. 2) kepala PAUD kurang menjalankan fungsinya sebagai pimpinan, dalam hal ketegasannya menetapkan aturan-aturan, terutama aturan mengenai keterlibatan orang tua selama pembelajaran di kelas sedang berlangsung. (3) Masalah alasan orang tua ikut terlibat dalam pembelajaran di kelas adalah, orang tua ingin selalu membantu serta memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Faktor yang mempengaruhi adalah 1) hubungan antar pribadi yang menyenangkan, 2) metode melatih anak, 3) peran yang dini, 4) struktur keluarga dimasa kanak-kanak, 5) rangsangan lingkungan (external factor). Orang tua telah berupaya member stimulasi dalam membantu perkembangan anaknya, namun semua itu tergantung pada anak, apakah anak memiliki keinginan atau tidak (internal factor). Sehingga di perlukan adanya penanganan khusus terhadap anak yang menunjukan sedikit penyimpangan dari perkembangan normalnya dilihat dari tahapan usia anak. Saran penelitian, (1) Bagi orang tua atau masyarakat;Hendaknya selalu meningkatkan pengetahuan maupun informasi yang terkait dengan peran orang tua serta pengembangan MI anak baik melalui keaktifan membaca majalah PAUD, maupun dari media massa. (2) Bagi pengelola PAUD Tunas Harapan; Hendaknya memberikan bimbingan pengasuhan anak pada orang tua melalui parenting education, selalu meningkatkan mutu kualitas mengajar, mengoptimalkan fungsi dan peran sebagai guru dengan baik, melakukan perbaikan terhadap manajemen pengelolaan lembaga, serta meningkatkan hubungan kerjasama antara lembaga pendidikan PAUD dengan orang tua terutama dalam menyamakan pemahaman mengenai pengasuhan di rumah dan pembelajaran di PAUD. (3) Bagi Lembaga PLS; Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam memberikan kebijakan pengelolaan PAUD. (4) Bagi Peneliti selanjutnya; Hendaknya dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode kuantitatif tentang anak terkait dengan PAUD, terutama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini.

Penentuan konsentrasi pembawa muatan pada semikonduktor silikon tipe P berdasarkan prinsip efek Hall / oleh Ida Fitriyah

 

Pengaruh sekolah, urbanisasi dan jenis kelamin terhadap taraf dan struktur inteligensi dan prestasi sekolah / oleh Engelina Bonang

 

Nilai aplikatif pembinaan bahasa Indonesia dalam Mimbar Pembangunan Agama bagi guru-guru agama di kecamatan Pare kabupaten Kediri / oleh Fatchul Munir

 

Pengaruh urutan penyajian representasi dalam pembelajaran inkuiri terbimbing dan kemampuan berpikir ilmiah terhadap hasil belajar siswa / Trining Puji Astutik

 

ABSTRAK Astutik, Trining Puji. 2015. Pengaruh Urutan Penyajian Representasi dalam Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dan Kemampuan Berpikir Ilmiah terhadap Hasil Belajar Siswa. Tesis. Program Studi Pendidikan Kimia Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Drs. H. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D., (2) Prof. Drs. H. Effendy, M.Pd., Ph.D. Kata-kata kunci: inkuiri terbimbing,urutan penyajian representasi, kemampuan berpikir ilmiah, hasil belajar Penyajian materi larutan elektrolit dan reaksi redoks seharusnya melibatkan representasi makroskopik, simbolik, dan mikroskopik. Namun dalam praktik, representasi mikroskopik yang sarat dengan pemahaman konseptual cenderung diabaikan. Kondisi ini menyebabkan siswa cenderung memiliki pemahaman konseptual yang rendah mengenai representasi mikroskopik. Kemampuan berpikir ilmiah (KBI) harus dimiliki siswa untuk memahami representasi mikroskopik. Sayangnya, beberapa penelitian melaporkan bahwa sebagian besar siswa SMA belum mencapai kemampuan berpikir formal, yang dibutuhkan untuk mengembangkan KBI. Beberapa penelitian memaparkan bahwa model pembelajaran inkuiri terbimbing efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir formal. Oleh karena itu, inkuiri terbimbing juga diharapkan dapat membantu dalam mengembangkan KBI. Dengan inkuiri terbimbing akan membuat siswa lebih mudah dalam mengkonstruk konsep yang dipelajari. Pembelajaran inkuiri terbimbing pada materi larutan elektrolit dan reaksi redoks perlu melibatkan representasi makroskopik, mikroskopik, dan simbolik. Pembelajaran inkuiri terbimbing dengan urutan penyajian representasi berbeda mungkin memberikan hasil belajar yang berbeda.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh urutan penyajian representasi yang berbeda dalam pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar siswa, (2) pengaruh KBI terhadap hasil belajar siswa, dan (3) interaksi antara urutan penyajian representasi yang berbeda dalam inkuiri terbimbing dengan KBI terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 2x3. Subjek penelitian adalah dua kelas X-MIA SMA Laboratorium UM pada tahun pelajaran 2013/2014. Subjek penelitian dipasangkan berdasarkan skor KBI sehingga diperoleh dua kelompok yang sama. Setiap kelompok terdiri dari 6 siswa yang termasuk dalam level concrete, 6 siswa dengan level low formal, dan 4 siswa dengan level upper formal.Satu kelompok dibelajarkandengan model inkuiri terbimbing dengan urutan penyajian representasi makroskopik-mikroskopik-simbolik (Ma-Mi-Sim), sedangkan kelompok yang lain dibelajarkan dengan model inkuiri terbimbing dengan urutan penyajian representasi makroskopik-simbolik-mikroskopik (Ma-Sim-Mi). Data penelitianadalah skor KBI dan skor hasil belajar. Skor KBI dikumpulkan menggunakan instrumen Classroom Test of Scientific Reasoning(CTSR):Multiple Choice Versionyang dikembangkan oleh Lawson. CTSR merupakan tes objektif yang terdiri dari 24 butir soal. Hasil uji coba tes dalam Bahasa Indonesia memilki koefisien reliabilitassebesar 0,74, dihitung dengan persamaan KR-20. Skor hasil belajar dikumpulkan menggunakan tes materi larutan elektrolit dan tes materi reaksi redoks. Tes materi larutan elektrolit berbentuk esai yang terdiri dari 23 soal dengan hasil validasi isi sebesar 92,0% dan koefisien reliabilitas yang diukur dengan persamaan Cronbach’s a sebesar 0,89. Tes materi reaksi redoks berbentuk esai yang terdiri dari 10 soal dan pilihan ganda dengan tiga alternatif pilihan jawaban yang terdiri dari 2 soal dengan hasil validasi isi sebesar 88,2% dan koefisien reliabilitas yang diukur dengan persamaan Cronbach’s a sebesar 0,81. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Two Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) siswa yang dibelajarkan dengan urutan penyajian representasi Ma-Mi-Sim dalam pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki hasil belajar lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan urutan penyajian Ma-Sim-Mi; (2) siswa dengan tingkatan KBI upper formal memiliki hasil belajar lebih tinggi dibandingkan siswa dengan tingkatan KBI low formal dan concrete; dan (3) tidak ada interaksi antara urutan penyajian representasi yang berbeda dalam pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kemampuan berpikir ilmiah terhadap hasil belajar siswa.

Pembiayaan program pendidikan nonformal (studi kasus oada pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Tambo, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang) / Imanusrin Busyairi Muslim

 

Kata kunci: Pembiayaan, Program Pendidikan Masyarakat, PKBM Manajemen Lembaga Nonformal merupakan hal yang sangat penting bagi keberlangsungan sebuah Lembaga Nonformal. Sedangkan, pembiayaan merupakan salah satu faktor penting dalam manajemen yang turut menentukan keberlangsungan lembaga maupun program. Adapun Program Pendidikan Masyarakat adalah program yang dilaksanakan berdasarkan identifikasi potensi lokal. Program ini diselenggarakan untuk memberikan peningkatan kualitas masyarakat dari yang belum berdaya menjadi berdaya, dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak mampu menjadi mampu, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan pembiayaan program pendidikan masyarakat yang diselenggarakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Penelitian ini dilaksanakan di PKBM Tambo Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang pada tanggal 2 Juli sampai dengan 25 November 2010. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Sumber data berasal dari Program Pendidikan Masyarakat yang diselenggarakan pada tahun 2010, yakni Program Kursus Wirausaha Desa (KWD) dan Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM). Subyek penelitian adalah pengurus PKBM Tambo, Tutor Program dan Warga Belajar. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah wawancara dan studi dokumentasi. Deskripsi analisis hasil penelitian dengan cara reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian dapat ditemukan bahwa : (1) Sumber Pembiayaan bagi Program Kursus Wirausaha Desa (KWD) yang diselenggarakan PKBM Tambo adalah BPPNFI Regional IV Surabaya. Sedangkan, Program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM) bersumber dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PNFI Kementrian Pendidikan Nasional ; (2) Strategi penjaringan calon pendonor program yang diterapkan oleh PKBM Tambo melalui beberapa tahap, yaitu : (a) menghimpun informasi mengenai program dari Calon Lembaga Pendonor, (b) pengidentifikasian potensi lokal, (c) merumuskan proposal program, (d) meminta rekomendasi dari pemerintah daerah setempat untuk legalisasi proposal, (e) diserahkan dan dikomunikasikan secara jelas mengenai teknis penyelenggaran program tersebut kepada Lembaga Calon Pendonor, (f) Seleksi tahap administrasi, (g) tahap visitasi oleh lembaga calon pendonor program, (h). Pengumuman penerima BOP dari Lembaga Pendonor Program ; (4) Rincian Penggunaan Dana Program KWD (a) 50 % untuk Biaya Operasional, meliputi untuk rekrutmen peserta didik, honorarium pengelola dan pendidik, bahan dan peralatan praktek, biaya evaluasi hasil belajar, laporan, bahan habis pakai termasuk ATK, dan biaya operasional tidak langsung seperti biaya daya dan jasa, pemeliharaan peralatan serta biaya operasional lainnya yang menunjang proses pembelajaran ; (b) 40 % untuk Biaya Personal, dipergunakan untuk kepentingan peserta didik, misalnya: dana stimulant wirausaha ; dan (c) 10 % untuk Biaya Manajemen, dipergunakan untuk keperluan manajemen penyelenggaraan program, misalnya: penyusunan proposal, biaya rapat-rapat, dan biaya-biaya lain yang menunjang kelancaran penyelenggaraan program. Sedangkan Rincian Penggunaan Dana Program KUM meliputi (a) 5 % untuk Identifikasi Calon WB, (b) 7 % untuk ATK WB dan penyelenggaraan, (c) 35 % Pembelajaran dan Pelatihan Keterampilan, (d) 10 % untuk Penyelenggaraan Program, (e) 40 % untuk tranport Tutor atau pelatih keterampilan, dan (f) 3 % untuk penilaian pembelajaran pelatihan keterampilan ; (5) PKBM Tambo menerapkan dua sistem Administrasi Laporan Keuangan, antara lain : (a) Administrasi Laporan Keuangan Pembelian Jasa, meliputi honorarium, identifikasi warga belajar, transport, dan lain sebagainya ; dan (b) Administrasi Laporan Keuangan Pembelian Barang, meliputi ATK, penyusunan proposal, penyusunan laporan, sertifikat dan lain sebagainya. Untuk pelaporan kepada Lembaga Mitra, PKBM Tambo selalu mematuhi segala prosedur yang ditentukan oleh Lembaga Mitra ; dan (6) Efektivitas Pembiayaan Program Pendidikan PKBM Tambo sudah baik, karena memenuhi Indikator Keberhasilan Program yang ditentukan oleh Lembaga Mitra. Pembiayaan Program Pendidikan PKBM Tambo sudah efektif bila dikaji dari aspek efektivitas. Efisiensi Internal (Analisis Keefektivitasan Biaya/Cost Effectiveness Analysis) dan Efisiensi Eksternal (Analisis Biaya Manfaat/Cost Benefit Analysis). Berdasarkan hasil penelitian ini, ada beberapa saran yang dapat dijadikan masukan, antara lain : (1) bagi PKBM Tambo untuk tetap menjaga kinerjanya dalam mempertahankan eksistensi lembaga melalui program-program yang diselenggarakan tanpa melupakan efektivitas dan efisiensi dari program-program tersebut, (2) Jurusan Pendidikan Luar Sekolah berorientasi meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam bidang manajemen lembaga non formal, (3) Bagi Warga Belajar untuk meningkatkan hasil pembelajaran agar terjaga kualitasnya, (4) Bagi Pemerintah dan Lembaga Mitra untuk tetap mendukung berbagai satuan pendidikan dalam memberdayakan masyarakat.

Pengaruh perilaku merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok / Dwita Ayuningtyas

 

Kata kunci: perilaku merokok, memori jangka panjang, perokok Banyak perokok mengatakan mereka tidak dapat berfikir kalau tidak sambil merokok. Ingatan yang kacau tiba-tiba menjadi cerah ketika mereka mulai menghisap rokok. Padahal secara biofisiologi, kadar nikotin yang ada di dalam darah akan mengurangi catu oksigen ke otak, yang berarti kinerja otak akan terganggu, bukan sebaliknya kinerja otak menjadi lebih lancar. Penelitian ini akan mencoba membuktikan pengaruh merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Pretest-Posttest Control Group Design. Desain ini melakukan pengukuran sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) pemberian treatment. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pemberian tes. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah naskah cerita, lembar soal, blangko (lembar jawaban), dan rokok. Subjek penelitian diminta menjawab soal berdasarkan cerita, dimana nantinya subjek penelitian akan dilihat skor ingatannya melalui tes materi tersebut. Setelah skor ingatan didapat, maka selanjutnya dilakukan proses analsis data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, ada pengaruh perilaku merokok terhadap memori jangka panjang pada perokok, yaitu ingatan perokok ketika di tes sambil merokok lebih rendah dibandingkan dengan ingatan tanpa merokok. Kedua, ada perbedaan antara ingatan jangka panjang pada perokok dan non-perokok, yaitu ingatan pada perokok lebih rendah dibandingkan ingatan non-perokok. Ketiga, ada hubungan antara lamanya menjadi perokok (dalam tahun) dengan ingatan jangka panjang pada perokok, dimana terjadi korelasi yang negative antara keduanya yaitu semkain lama seseorang menjadi perokok maka semakin rendah ingatannya. Keempat, ada hubungan antara jumlah rata-rata merokok perhari (dalam batang) dengan ingatan jangka panjang, dimana terjadi korelasi yang negative juga diantara keduanya, yaitu semakin banyak jumlah rata-rata merokok perhari (dalam batang) maka semakin rendah ingatannya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka sarannya sebagai berikut: (1) bagi para perokok, diharapkan untuk berhenti merokok, karena efek negatif yang dimunculkan oleh rokok secara perlahan dapat sangat membahayakan diri dan orang-orang disekitarnya, (2) bagi para orang tua, diharapkan dapat membantu dan mengambil peran dalam proses sosialisasi anak dengan lingkungan, terutama ketika anak menginjak masa remaja karena kebanyakan pada masa inilah seorang anak mulai mengenal rokok dari pergaulannya. Orang tua sebagai publik figure juga harus memberi contoh tidak merokok dan menjaga supaya anak-anaknya tidak merokok, (3) bagi masyarakat, diharapkan dapat ikut berpartisipasi membantu pemerintah dalam rangka menertibkan perokok yang merokok di tempat-tempat yang tidak semestinya , misalnya di Rumah Sakit, lingkungan kantor pemerintahan, atau tempat umum lainnya yang dapat mengganggu orang di sekitarnya dengan lebih menggalakkan kampanye anti merokok, (4) bagi peneliti selanjutnya, diharapkan informasi-informasi yang ditanyakan dalam tes materi penelitian ini dibuat lebih jelas dan spesifik, agar tidak terjadi perbedaan persepsi diantara subjek penelitian, (5) bagi peneliti selanjutnya, sebelum penelitian diadakan peneliti tidak melakukan pengukuran IQ terhadap subjek penelitian karena keterbatasan waktu sehingga diharapkan peneliti selanjutnya melakukan pengukuran tingkat IQ subjek penelitian, dan mengambil subjek berdasarkan tingkatan IQ yang sama, sehingga hasil yang didapatkan bisa lebih baik, (6) bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini hanya menggunakan 30 orang untuk kelompok eksperimen, dan 30 orang untuk kelompok kontrol, dimana jumlah ini dirasa masih kurang untuk penelitian semacam ini, sehingga akan jauh lebih baik jika jumlah subjek yang dipakai dalam penelitian selanjutnya ditambah.

Hubungan antara kemampuan berpikir kreatif terhadap terhindarnya salah konsep arus dan tegangan listrik pada siswa kelas III SMP Ma'arif I Ponorogo / oleh Eny Fachriyah

 

Pengaruh diskusi terhadap model mental mahasiswa pada fenomena perambatan panas / Mustaqim

 

ABSTRAK Mustaqim, 2015. Pengaruh Diskusi terhadap Model Mental Mahasiswa pada Fenomena Perambatan Panas. Tesis. Prodi Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Markus Diantoro, M.Si., (II) Dr. Sutopo, M.Si Kata kunci: model mental, kegiatan diskusi, fenomena perambatan panas Peserta didik menggunakan model mental untuk memahami dan menjelaskan fenomena fisika khususnya fenomena perambatan panas. Mengingat bahwa fenomena perambatan panas merupakan proses yang dinamis, kontekstual dan membutuhkan banyak konsep dasar fisika untuk mempelajarinya sehingga penting untuk melihat model mental mahasiswa terhadap fenomena tersebut. Model mental peserta didik bersifat internal, tidak lengkap dan selalu mengalami perubahan. Penelitian terdahulu belum melihat adanya perubahan model mental akibat interaksi sosial sehingga penelitian ini bertujuan melihat perubahan model mental yang terjadi setelah mahasiswa mengikuti kegiatan diskusi kelompok dan kelas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yakni studi fenomenologi model mental mahasiswa mengenai fenomena perambatan panas. Terdapat tiga fenomena yakni perambatan panas pada kaki, karpet dan keramik, fenomena perambatan panas pada batang aluminium dan pada cairan yang diberikan ke mahasiswa. Sebanyak 30 orang mahasiswa S1 Pendidikan Fisika yang mengikuti mata kuliah Fisika Dasar II berpartisipasi dalam penelitian ini. Data diperoleh melaluites tulis, wawancara, dan transkrip hasil diskusi. Analisis data dilakukan dengan metode perbandingan tetap yakni membandingkan data hasil tulisan, gambar dan penjelasan mahasiswa saat wawancara. Hasil penelitian pada fenomena 1, didapatkan 4 model mental awal yang kemudian mengalami perubahan menjadi 2 model setelah diskusi. Seluruh mahasiswa benar dalam menjelaskan konsep kesetimbangan termal, tetapi mereka berbeda dalam memprediksi besar suhu kedua benda sebelum diinjak kaki. Pada fenomena 2, untuk model mental makroskopis konduksi panas, diperoleh 5 model mental sebelum diskusi yang kemudian berubah menjadi 4 model setelah diskusi. Model mental mikroskopis konduksi panas, didapatkan tiga model mengenai bagaimana cara panas merambat dalam batang. Pada fenomena 3, diperoleh 5 model mental awal yang kemudian berubah menjadi 2 model setelah diskusi. Hasil ketiga fenomena tersebut menunjukan bahwakegiatan diskusi kelompok dan kelas yang diberikan efektif untuk memicu perubahan model mental mahasiswa. Penelitian ini masih memiliki banyak kelemahan, diharapkan peneliti selanjutnya untuk lebih memperdalam proses wawancara dan mencoba berbagai variasi metode pembelajaran sebagai upaya memicu perubahan model mental.

Evaluasi potensi mata air sumber Plintahan untuk suplay kebutuhan air bersih penduduk Desa Plintahan Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan / Dewi Trisnayanti

 

ABSTRAK Trisnayanti, Dewi. 2015. Evaluasi Potensi Mata Air Sumber Plintahan Untuk Suplai Kebutuhan Air Bersih Penduduk Desa Plintahan Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didik Taryana, M.Si, (II) Drs. Dwiyono Hari Utomo, M. Pd, M.Si. Kata Kunci : potensi mata air, kebutuhan air bersih, evaluasi Desa Plintahan merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Desa Plintahan memiliki 3 mata air yang saat ini dimanfaatkan oleh PDAM Pemkot Surabaya untuk mensuplai air bersih penduduk kota Surabaya sebesar 97 liter/detik, 24 liter/detik, dan 12 liter/detik. Sedangkan penduduk Desa Plintahan hanya memanfaatkan sisa debit dari mata air yang dikelola sendiri oleh masyarakat (HIPPAM). Penelitian ini bertujuan untuk 1) Untuk menganalisis potensi (kuantitas) mata air Sumber Plintahan di Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan dari waktu ke waktu. 2) Untuk menganalisis kebutuhan air bersih penduduk Desa Plintahan Kecamatan Pandaan. 3) Untuk mengevaluasi potensi mata air Sumber Plintahan sebagai suplai air bersih penduduk Desa Plintahan. Penelitian ini menggunakan metode survey yaitu mengumpulkan data tentang kuantitas (debit) air dan menghitung kebutuhan air penduduk Desa Plintahan Kecamatan Pandaan. Objek dalam penelitian ini berupa objek fisik (mata air) dan objek sosial (penduduk). Sampel responden ditentukan dengan Stratified Random Sampling dan jumlah responden ditentukan dengan Proportional Sampling berdasarkan jenis pekerjaan. Jumlah responden dengan mata pencaharian sebagai petani 22 KK, pegawai swasta 92 KK, dan wiraswasta 15 KK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Total keseluruhan debit air pada musim penghujan sebesar 442.800 liter/hari dan pada musim kemarau sebesar 352.512 liter/hari. 2) Total keseluruhan kebutuhan air bersih daerah penelitian diperoleh dengan cara menambahkan total kebutuhan air dari masing-masing jenis pekerjaan sebesar 68.518,64 liter/hari. 3) Kuantitas air: besarnya debit mata air pada musim penghujan sebesar 442.800 liter/hari dan pada musim kemarau sebesar 352.512 liter/hari sedangkan total kebutuhan air bersih sebesar 68.518,64 liter/hari; Kualitas air: Berdasarkan hasil uji kualitas air terhadap mata air Sumber Plintahan diketahui bahwa sifat fisik, sifat kimia dan bakteriologi masih dibawah standar baku mutu yang ditetapkan sehingga mata air memiliki kualitas yang baik dan layak untuk dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Saran yang dapat diberikan 1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit air yang ada cukup besar sehingga perlu dioptimalkan agar air dapat digunakan semaksimal mungkin. 2) Menjaga kelestarian lingkungan mata air dengan cara tidak menghilangkan daerah resapan air agar debit air tetap terjaga. 3) Diperlukan pengecekan pipa saluran air ke rumah penduduk secara berkala agar penduduk dapat memanfaatkan air dengan maksimal.

Kemampuan menulis siswa kelas III SMA Negeri Kotamadya Surabaya / oleh Leonardo Indra Ardiana

 

Peranan Bung Tomo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya tahun 1945 / Agung Ari Widodo

 

Kata Kunci: Bung Tomo, Kemerdekaan Indonesia, Surabaya Bung Tomo merupakan salah satu tokoh dalam peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pasca Proklamasi Kemerdekaan Bung Tomo berhasil mengajak rakyat Surabaya untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan pasukan Sekutu dan NICA. Kedekatan dengan rakyat inilah yang membuat Bung Tomo populer. Bung Tomo mempunyai cara yang berbeda dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya Ulasan tentang peranan Bung Tomo masih sedikit, oleh karena itulah penulis mengangkat judul Peranan Bung Tomo Dalam Mempertahankan Kemerdekaan di Surabaya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana riwayat hidup Bung Tomo, (2) bagaimana situasi politik kota Surabaya pasca Proklamasi Kemerdekaan, dan (3) bagaimana peranan Bung Tomo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya pada tahun 1945. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan riwayat hidup Bung Tomo, (2) mendeskripsikan situasi politik kota Surabaya pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan (3) mendeskripsikan peranan Bung Tomo dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Surabaya pada tahun 1945. i Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang antara lain meliputi pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah Bung Tomo lahir dalam lingkungan kampung Surabaya, tepatnya di daerah Blauran. Akibat depresi ekonomi pada tahun 1930-an, keluarga Bung Tomo harus berjuang hidup dibawah tekanan. Bung Tomo sendiri ikut bekerja membantu orang tuanya. Jiwa kebangsaan Bung Tomo terasah ketika ikut dalam KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Prestasi terbaik Bung Tomo dalam KBI adalah memperoleh lencana elang. Prestasi ini membuat Bung Tomo menjadi terkenal di kampungnya. Ditambah lagi Bung Tomo mempunyai kemampuan dalam hal tulis-menulis yang mengantarkannya menjadi wartawan Domei. Daya tarik inilah yang membuat PRI (Pemuda Republik Indonesia) merekrut Bung Tomo dan menempatkannya dalam seksi penerangan. Berita Proklamasi Kemerdekaan pertama kali diketahui oleh Bung Tomo, Yacob, dan R. Sumadi. Bung Tomo kemudian membuat pengumuman yang ditempel di depan kantor berita Domei dan bisa dibaca oleh rakyat. Pasca menerima berita Proklamasi dengan segera di Surabaya diadakan peralihan pemerintahan dan perebutan senjata dari Jepang. Bung Tomo turut serta dalam perundingan dengan pihak Jepang dalam rangka mendapatkan persenjataan dari Jepang. Bung Tomo ikut andil dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya. Bung Tomo membentuk BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) yang bertujuan menampung para rakyat untuk bersiap menghadapi datangnya pasukan Inggris dan NICA. Pembentukan BPRI ini berawal dari rasa kecewa Bung Tomo ketika melihat kondisi Ibukota Jakarta, dimana orang-orang Belanda maupun Sekutu bebas berkeliaran di jalanan Ibukota. BPRI mempunyai senjata ampuh dalam menggerakkan massa, yaitu Radio Pemberontakan. Pidato Bung Tomo di Radio Pemberontakan berhasil memberikan semangat kepada rakyat untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan di Surabaya. Memang Bung Tomo seringkali melakukan kesalahan dalam memberikan informasi melalui radio, tapi berkat Radio Pemberontakan ini pula terjalin komunikasi antar laskar pejuang. Bagi rekan-rekan mahasiswa yang berminat pada periode revolusi, penelitian tentang Bung Tomo bisa dikaji lebih lanjut. Penulisan tentang Bung Tomo ini bisa dilajutkan dari periode pasca revolusi. Pada peristiwa pertempuran Surabaya 10 November 1945 masih ada tokoh-tokoh yang belum dikaji, seperti Dul Arnowo, Residen Sudirman, drg. Murtopo yang juga mempunyai peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.

Pengaruh pembangunan prasarana perhubungan terhadap perubahan ekonomi pertanian masyarakat Tengger di Desa Ngadas / oleh Seger Alharis

 

Upacara Petik Laut Sembonyo" pada masyarakat nelayan Teluk Prigi Kabupaten Trenggalek kajian antropologi religi / oleh Dewi Rosmawati

 

Teaching argumentative writing through cooperative learning / by Fathor Rasyid

 

Perbedaan prestasi dan motivasi belajar mahasiswa Administrasi Pendidikan berdasarkan variasi asal sekolah dalam proses perkuliahan pada Program Studi Administrasi Pendidikan / Bahtiar Agung Pambudi

 

ABSTRAK Pambudi, Bahtiar Agung. 2015. Perbedaan Prestasi dan Motivasi Belajar Mahasiswa Administrasi Pendidikan Berdasar Variasi Asal Sekolah dalam Proses Perkuliahan Pada Program Studi Administrasi Pendidikan. Pembimbing: (I) Dr. Bambang Setyadin, M.Pd, (II) Dr. Asep Sunandar, S.Pd, M.AP. Kata Kunci: motivasi belajar, prestasi belajar, mahasiswa Pencapaian prestasi belajar sangat erat kaitanya dengan motivasi belajar. Bilamana motivasi belajar dalam tingkatan baik, maka dapat dilihat prestasi belajarnya juga baik. Motivasi belajar mampu menjadi stimulus sekaligus daya pendobrak yang tumbuh di dalam diri mahasiswa untuk mencapai prestasi belajar yang baik. Tidak peduli itu berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda, perbedaan jenis kelamin, kelas ekonomi yang berbeda. Setiap individu memiliki kemauan dan kemampuan yang dapat mendorong dirinya untuk terus berprestasi dan sukses dalam pencapaian proses belajarnya. Penelitian ini bertujuan untuk,(1) Mendeskripsikan tingkat motivasi belajar mahasiswa Program Studi Administrasi Pendidikan (AP),(2) Mendeskripsikan tingkat prestasi mahasiswa Program Studi AP,(3) Mendeskripsikan perbedaan motivasi belajar mahasiswa dan mahasiswi Administrasi Pendidikan,(4) Untuk menjelaskan tingkat perbedaan motivasi belajar mahasiswa AP dari lulusan SMA, MA, dan SMK,(5) Untuk menjelaskan tingkat perbedaan prestasi belajar mahasiswa dan mahasiswi AP,(6) Mendeskripsikan tingkat perbedaan prestasi belajar mahasiswa AP dari lulusan MA, SMA, dan SMK. Penelitian ini menggunakan teori motivasi,yaitu teori Maslow (teori kebutuhan)kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security), yaitumenekankan pada kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan, kebutuhan akan aktualisasi diri. Teori McClelland (teori kebutuhan berprestasi)menekankan pada kebutuhan akan prestasi (nAch - Achivement Need), kebutuhan akan kekuasaan (nPOW- Need for Power), kebutuhan berafiliasi (nAff- Need for Affiliation).Teori Skinner tentang penguatan dan modifikasi perilakudengan penguatan yang bersifat positif, maupun penguatan yang bersifat negatif. Metode penelitian yang digunakan, pendekatan kuantitatif-deskriptif-komparatif. Dengan membandingkan variabel penelitian, yaitu Motivasi belajar mahasiswa dengan prestasi belajar mahasiswa. Sedangkan variabel kategorinya, yaitu jenis kelamin dan latar belakang sekolah. Populasi dalam penelitian sejumlah 296 mahasiswa, kemudian pengambilan sampel menggunakanan teknik random sampling dan menggunakan rumus formula Slovin, diperoleh hasil sampel sejumlah 170 mahasiswa. Selain itu diperoleh validitas pada variabel motivasi belajar 0.916 reliabilitas motivasi belajar, yaitu 0, 918, sedangkan prestasi belajar validitas didapatkan dari sumber petugas administrasiProgram Studi AP. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif ordinal dari variabel motivasi belajar, interval prestasi belajar, dan data nominal pada jenis kelamin dan latar belakang sekolah. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket tertutup. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan rumus deskriptif, rumus Product Moment Pearson, dan menggunakan rumus One Way Analysis of Variance (ANOVA) untuk membandingkan atau komparasi. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa: (1) Secara keseluruhan tingkat motivasi belajar mahasiswa pada Program Studi AP termasuk dalam kriteria sedang, (2) Hasil analisis deskriptif menunjukkan secara keseluruhan prestasi belajar mahasiswaProgram Studi AP termasuk dalam kriteria tinggi, (3) Tidak terdapat perbedaan motivasi belajar antara mahasiswa dan mahasiswi dengan kriteria motivasi belajar ‘sedang’, (4) Tidak ada perbedan motivasi belajar antara mahasiswa berlatar belakang MA, SMA, dan SMK dengan kriteria motivasi belajar ‘sedang’, (5) Terdapat perbedaan prestasi belajar antara mahasiswa dan mahasiswiProgram Studi AP dengan kriteria prestasi belajar ‘tinggi’, (6) Tidak terdapat perbedan prestasi belajar antara mahasiswa berdasarkan variasi asal sekolah seperti MA, SMA, dan SMK dengan kriteria prestasi belajar ‘tinggi’. Implikasi dalam penelitian ini, yaitu: (1) Perlu menjaga motivasi belajar mahasiswa dan terus-menerus dilakukan pemberian motivasi oleh dosen kepada mahasiswa secara komperhensif dan berkelanjutan, pemberian dorongan mental dan akademik, (2) Perlunya peningkatan sarana dan fasilitas belajar serta penyediakan ruang belajar, (3) Perlu ada inovasi pembelajaran, danselalu menekankan mahasiswa untuk dapat mendorong dirinya sendiri untuk belajar, (4) Perlunya pemberian dorongan belajar merata tidak ada pembedaan antara pemberian motivasi dari SMA, MA, atau SMK, (5) Perlu adamonitoring yang dilakukan dosen pembina akademik terhadap hasil belajar mahasiswanya dan dirasa perlu ada kelompok-kelompok belajar kecil yang tiap anggotanya diisi oleh mahasiswa dan mahasiswi, (6) Perlu adanya dukungan dari berbagai aspek, utamanya dalam aspek strategi belajar dan inovasi pembelajaran yang digunakan dosen, secara teoretik kegiatan kelompok belajar atau study club. Saran dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagi KetuaProgram StudiAP, hendaknya meningkatkan sarana prasarana atau fasilatas yang mendukung mahasiswa mencari berbagai macam referensi belajar, pemilihan bahan ajar yang sesuai, serta mengarahkan semua dosen untuk selalu memberikan motivasi-motivasi kepada mahasiswa, penyediaan fasilitas internet gratis dan koneksi cepat, (2) Bagi Dosen AP dirasa perlu memberikan motivasi setiap kali perkuliahan berlangsung, perlunya mengembangkan strategi-strategi belajar atau metode belajar yang tepat dan pemilihan strategi belajar dengan menggunakan kelompok belajar hendaknya diacak tiap kelompok diisi oleh mahasiswa dan mahasiswi, (3) Bagi mahasiswa AP hendaknya lebih meningkatkan kesadaran dan usahanya dalam rangka memperoleh referensi atau informasi dari berbagai macam media, lebih aktif berkonsultasi,memiliki tingkat tanggungjawab pribadi yang tinggi, memiliki tujuan belajar, memiliki rencana atau program belajar yang menyeluruh, dan memanfaatkan umpan balik, (4) Bagi Peneliti lain, hendaknya peneliti lain dapat mengembangkan penelitian ini dengan meneliti hasil belajar sebelum mahasiswatersebut berkuliah agar dapat memberi gambaran kemampuan akademik mahasiswa tersebut sebelum masuk perguruan tinggi.

Mikroalga sebagai bioindikator pencemaran perairan di waduk Selorejo untuk pengembangan buku referensi biologi / Lukluk Ibana

 

ABSTRAK Ibana, Lukluk. 2015. Mikroalga sebagai Bioindikator Pencemaran Perairan di Waduk Selorejo untuk Pengembangan Buku Referensi Biologi. Tesis. Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc. Ph.D., (II) Dr. Hj. Dahlia, M.S. Kata kunci: struktur komunitas mikroalga, bioindikator pencemaran, buku referensi biologi. Waduk Selorejo, merupakan salah satu perairan multifungsi yang dapat digunakan sebagai pengendali banjir, pembangkit listrik, pengairan serta manfaat lainnya seperti perikanan dan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi komposisi jenis mikroalga; 2) menganalisis struktur komunitas mikroalga; 3) menganalisis faktor fisiko-kimia perairan; 4) menganalisis mikroalga sebagai bioindikator tingkat pencemaran perairan waduk Selorejo dan 5) menyusun buku referensi biologi. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, tahap pertama penelitian deskriptif eksploratif dan tahap kedua penelitian pengembangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2015. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun dan pada kedalamanan 0 m, 1 m, dan 1,5 m dengan menggunakan water bottle sample. Pengembangan buku referensi dilaksanakan pada matapelajaran Biologi, SMAN 7 Malang berdasarkan hasil validasi materi, media pembelajaran, praktisi pendidikan dan uji keterbacaan oleh siswa. Hasil penelitian ditemukan 103 spesies mikroalga yang terdiri dari 6 divisi, yaitu Bacillariophyta sebanyak 47 spesies, Chlorophyta sebanyak 36 spesies, Cyanophyta sebanyak 11 spesies, Dinophyta sebanyak 4 spesies, Euglenophyta sebanyak 3 spesies, dan Chrysophyta sebanyak 2 spesies. Kepadatan populasi berkisar antara 1140 ind/l-2336 ind/l. Struktur komunitas mikroalga di waduk Selorejo memiliki keanekaragaman spesies dan kestabilan ekosistem sedang, kemerataan spesies menunjukkan persebarannya cukup merata, terdapat beberapa spesies yang mendominasi. Faktor fisiko-kimia bervariasi berdasarkan stasiun pengamatan dan kedalaman. Kecerahan berpengaruh sebesar 88,1% terhadap kepadatan, sedangkan suhu, pH, DO, Fosfat, dan BOD berpengaruh sebesar 50% terhadap kepadatan populasi mikroalga. Mikroalga yang dijadikan sebagai spesies bioindikator yaitu Acanthoceros zachariasii, Aulacoseira sp, Ceratium hirundinella, Synedra acus, dan Tribonema viridae. Buku referensi hasil penelitian yang dikembangkan layak untuk digunakan sebagai buku nonteks pelajaran di SMAN 7 Malang.

Teorema Taylor untuk fungsi dua peubah dan penerapannya
oleh Mutmainnah

 

Kajian daya antibakteri ekstrak etanol kulit batang dan buah kersen (Muntingia calabura) terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro sebagai bahan ajar elektronik pada matakuliah mikrobiologi / Mucharommah Sartika Ami

 

ABSTRAK Ami, Mucharommah Sartika. 2015. Kajian Daya Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Batang dan Buah Kersen (Muntingia calabura) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro sebagai Bahan Ajar Elektronik pada Matakuliah Mikrobiologi. Tesis. Jurusan Pendidikan Biologi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd., (II) Dr. Endang Suarsini, M.Ked. Kata kunci: daya antibakteri, Muntingia calabura, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, bahan ajar elektronik. Tanaman Kersen (Muntingia calabura) memiliki potensi sebagai tanaman berkhasiat obat karena mengandung senyawa-senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol. Senyawa-senyawa bioaktif ini memiliki sifat antibakteri. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan adanya daya antibakteri beberapa bagian tanaman Kersen. Pada penelitian ini, bagian tanaman Kersen yang akan diuji daya antibakterinya adalah kulit batang dan buah. Hasil pengujian daya antibakteri ini dapat menjadi sumber belajar bagi mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis kandungan senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol secara kuantitatif; (2) menganalisis daya antibakteri ekstrak etanol kulit batang dan buah Kersen terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro; (3) menentukan konsentrasi yang paling efektif ekstrak etanol kulit batang dan buah Kersen dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus; serta (4) mengembangkan bahan ajar elektronik Mikrobiologi berdasarkan hasil penelitian eksperimen. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian eksperimen dan penelitian pengembangan. Penelitian eksperimen dilakukan mulai bulan Maret hingga Mei 2015 di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang, Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Universitas Islam Negeri Malang, dan Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang. Ekstrak etanol kulit batang dan buah Kersen diuji kandungan senyawa flavonoid, saponin, tanin, dan polifenol secara kuantitatif dengan metode spektrofotometri. Adapun bakteri uji yang digunakan dalam uji daya antibakteri ini adalah Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Pengujian daya antibakteri ini dilakukan secara in vitro menggunakan metode difusi cakram. Daya antibakteri ekstrak etanol kulit batang dan buah Kersen terhadap bakteri uji, ditentukan berdasarkan ukuran diameter zona hambat pertumbuhan bakteri uji yang terbentuk di sekeliling cakram kertas. Pengujian daya antibakteri ekstrak etanol kulit batang dan buah Kersen ini, juga dilakukan untuk menentukan konsentrasi yang paling efektif dari kedua macam ekstrak terhadap masing-masing bakteri uji. Konsentrasi yang paling efektif ditentukan berdasarkan konsentrasi ekstrak terendah yang menghasilkan diameter zona hambat tertinggi. Hasil penelitian tentang pengujian daya antibakteri ini selanjutnya digunakan sebagai bahan penyusunan bahan ajar elektronik pada matakuliah Mikrobiologi. Penyusunan bahan ajar elektronik ini dilakukan mengacu pada model pengembangan Lee dan Owens (2004). Bahan ajar elektronik ini divalidasi oleh ahli materi Mikrobiologi, ahli bahan ajar, dan divalidasi kemudahan penggunaannya oleh mahasiswa Biologi jenjang S1 di Universitas Negeri Malang yang telah menempuh matakuliah Mikrobiologi. Hasil penelitian ini adalah: (1) ekstrak etanol kulit batang Kersen mengandung flavonoid 55,74 g/kg, saponin 8,23 g/kg, tanin 17,83 g/kg, dan polifenol 99,81 g/kg; sedangkan ekstrak etanol buah Kersen mengandung flavonoid 32,82 g/kg, saponin 5,07 g/kg, tanin 14,64 g/kg, dan polifenol 69,78 g/kg; (2) ekstrak etanol kulit batang dan buah Kersen memiliki daya antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro; (3) konsentrasi yang paling efektif untuk ekstrak etanol kulit batang Kersen dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus adalah 500 mg/ml dan 700 mg/ml, sedangkan konsentrasi yang paling efektif untuk ekstrak etanol buah Kersen dalam menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus adalah 400 mg/ml dan 600 mg/ml; (4) telah dikembangkan bahan ajar elektronik untuk matakuliah Mikrobiologi berdasarkan hasil penelitian eksperimen. Bahan ajar telah divalidasi dan hasil validasi menunjukkan bahwa bahan ajar elektronik ini layak untuk digunakan. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) peneliti lain perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui daya antibakteri ekstrak etanol bagian-bagian tanaman Kersen selain kulit batang dan buah, dan selanjutnya dapat dilakukan uji keefektifannya secara in vivo; dan (2) dosen pengampu matakuliah Mikrobiologi perlu mengaplikasikan bahan ajar elektronik yang dihasilkan melalui penelitian ini dengan mempertimbangkan sumber daya hayati lokal untuk diterapkan dalam kegiatan praktikum pengujian daya antibakteri ekstrak tanaman.

Hubungan persepsi guru tentang media jejaring sosial dalam pemanfaatannya untuk keefektifan pembelajaran siswa di SMP Negeri se-Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo / Oky Yoga Satria Pradana

 

ABSTRAK Pradana, Oky Yoga Satria. 2015. HubunganPersepsi Guru tentang Media JejaringSosial dalamPemanfaatannyauntukKeefektifanPembelajaranSiswa di SMP Negeri se KecamatanPonorogoKabupatenPonorogo. Skripsi. JurusanAdministrasiPendidikan, FakultasIlmuPendidikan, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. NurulUlfatin, M.Pd, (II) DesiEriKusumaningrum, S.Pd, M.Pd. Kata Kunci: persepsi guru, jejaringsosial, keefektifan pembelajaran siswa Penggunaan media internet sebagaitempatdancaraberinteraksisosialdansebagaisumberinformasisangattinggi di Indonesia, terbuktidengansemakinbanyaknyapenggunabeberapaakunjejaringsosial. Tidakhanyamasyarakatumum, di lingkunganpendidikan pun media internet sudahbanyakdigunakanolehpesertadidikmaupun guru. Internet (jejaringsosial) jugadapatdimanfaatkansebagai media alternatifdalampembelajaran. Saatinipemanfaatan media jejaringsosialoleh guru untukberinteraksisosialataumengikutitrend. Penelitianinibertujuanuntuk: (1) mendeskripsikantingkatpersepsi guru tentang media jejaring sosialdalampemanfaatannyauntukkeefektifanpembelajaransiswa, (2) mendeskripsikantingkatpemanfaatan media jejaringsosialuntukkeefektifanpembelajaransiswa, (3) mengujihubunganpersepsi guru tentang media jejaringsosial dalampemanfaatannyauntukkeefektifanpembelajaransiswa, (4) menemukanperbedaanpersepsi guru laki-lakidan guru perempuantentang media jejaringsosialdalampemanfaatannyauntukkeefektifanpembelajaransiswa. Metodepenelitian yang digunakan, adalahpendekatankuantitatifdeskriptif-korelasi-komparasi, dengan model korelasionaldwivariat (X Y). Penelitianinimengungkapduamacamkelompokvariabelsebagaidasaracuanpenelitian. Kelompokpertamavariabelbebas (X) adalahpersepsitentang media jejaringsosialdenganvariabelterikat (Y) pemanfaatan media jejaringsosialuntukkeefektifanpembelajaransiswa, sedangkankeduavariabeltersebutmerupakanvariabel taut dalamdesainkelompokkeduadenganvariabelkategorinyajeniskelamin. Populasidalampenelitianiniberjumlah 322 orang, kemudiandigunakantekniksimple random samplingdanformula Slovinuntukpengambilansampel, sejumlah 178 orang. Data dikumpulkanmelaluiangketdenganvaliditas 0,926, dan 0,874, reliabilitasyaitu 0,947 dan 0,962. Teknikanalisis data dalampenelitianinimenggunakananalisisdeskriptif (menentukankualifikasidanpersentase), rumusone way Analysis of Variance (ANOVA) untukkomparasi, danrumusproduct moment pearsonuntukkorelasi. Hasilpenelitianmenunjukkan, bahwa: (1) tingkatpersepsi guru tentang media jejaringsosial dalampemanfaatannyauntukkeefektifanpembelajaransiswa di SMP Negeri se KecamatanPonorogoKabupatenPonorogoberadadalamkategorisedang, (2) tingkatpemanfaatan media jejaring sosial untuk keefektifan pembelajaransiswadi SMP Negeri se KecamatanPonorogoKabupatenPonorogoberadadalamkategorisedang, (3) terdapathubunganantarapersepsi guru tentang media jejaringsosial dalampemanfaatannyauntukkeefektifanpembelajaransiswa di SMP Negeri se KecamatanPonorogoKabupatenPonorogo, dan (4) terbuktitidakadaperbedaanpersepsi yang signifikanantara guru laki-lakidanguru perempuantentang media jejaringsosial dalampemanfaatannyauntukkeefektifanpembelajaransiswa di SMP Negeri se KecamatanPonorogoKabupatenPonorogo. Saran dalampenelitianini, sebagaiberikut: (1) bagiKepalaDinasPendidikanKabupatenPonorogo, hendaknyamempertimbangkanuntukmembuatregulasitentangpemanfaatan media jejaringsosialsebagaisaranaalternatifuntuk proses pembelajarandalampengembangankurikulum, (2) bagiKepalaDinasPerhubungan, KomunikasidanInformasiKabupatenPonorogoselakuinstansi yang dapatmemberikanlayanandanfasilitasmengenaihalkomunikasikepadapublikhendaknyamempertimbangkanuntukmemberikanlayananataupembuatan media jejaringsosialkhusus yang dimanfaatkansebagaisarana proses pembelajaranalternatifbagi guru, (3) bagiKepalaSekolahSMPN selakusupervisordanmanajersekolahhendaknyamempertimbangkandanmemberikanwawasan yang lebihmendalamterhadappemanfaatan internet kepada guru maupunpesertadidik, khususnyatentangmanfaat media jejaringsosialsebagaisaranaalternatif proses pembelajaran, (4) bagi Guru SMPN untukmempunyaiinovasi alternative dalam proses pembelajaransiswa, khususnya media jejaringsosial, agar manfaatdari media jejaringsosialdapatdimaksimalkandalam proses pembelajaran, dan (5) bagiPeneliti lain hendaknyadapatmengembangkanhasilpenelitianinidenganmenelitiobjek, maupunlokasipenelitian yang berbeda , yaitudarisisi, peserta didik di SLTP, denganvariabel yang berbeda.

Persepsi guru terhadap implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di SMP Negeri 1 Srengat / Pungky Choirunnisa Nugroho Wati

 

Kata kunci: persepsi, implementasi KTSP. Peningkatan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan, baik secara konvensional maupun inovatif. Dalam pembaharuan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti, salah satu diantaranya adalah pembaharuan kurikulum, dan kurikulum pengganti yang dianggap lebih baik yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dalam KTSP,kemampuan guru sangatlah penting dalam mengembangkan silabus, mengembangkan RPP, mengembangkan program, melaksanakan evaluasi, mengetahui faktor pendukung dan penghambat, dan upaya mengatasi faktor penghambat. Oleh karena itu, persepsi guru tentang berbagai hal terkait KTSP perlu di ungkap. Permasalahan yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana persepsi guru terhadap KTSP. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan persepsi guru tentang pengembangan silabus dalam KTSP, (2) mendeskripsikan persepsi guru tentang pengembangan RPP dalam KTSP, (3) mendeskripsikan persepsi guru tentang pengembangan program dalam KTSP, (4) mendeskripsikan persepsi guru tentang evaluasi pembelajaran, (5) mendeskripsikan persepsi guru tentang faktor pendukung dan penghambat implementasi KTSP, (6) mendeskripsikan persepsi guru tentang upaya untuk mengatasi faktor penghambat implementasi KTSP. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Subjek penelitian adalah guru SMPN 1 Srengat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan berikut: reduksi data, narasi deskriptif, dan narasi abstraksi sementara dan narasi abstraksi akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1)persepsi guru tentang pengembangan silabus adalah guru yang tergabung dalam MGMP merupakan guru yang mengembangkan silabus; (2)persepsi guru tentang pengembangan RPP adalah sesuai dengan format RPP dalam KTSP; (3)pengembangan program yang biasa dipergunakan oleh guru meliputi promes, prota, remidi dan pengayaan; (4) evaluasi pembelajaran sesuai dengan bidang studi mata pelajaran; (5)faktor penghambat dan pendukung implementasi adalah keberagaman siswa,sarana dan prasarana; (6)untuk mengatasi hambatan yang dihadapi adalah dengan pemberian motivasi terhadap siswa,dan pemakaian metode pembelajaran yang tepat. Adapun saran yang diajukan adalah: (1)peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran; (2)pemberian motivasi kepada siswa untuk peningkatan prestasi; (3)bagi penelitian selanjutnya diharapkan adanya variasi variabel yang beragam.

Proses berpikir siswa bergaya kognitif field dependent dan field indepedent dalam menyelesaikan soal cerita dan scaffoldingnya / Siti Mariya Ulfa

 

ABSTRAK Ulfa, Siti Mariya. 2015. Proses Berpikir siswa Bergaya kognitif Field Dependent dan Field Independent dalam Menyelesaikan Soal Cerita dan Scaffoldingnya. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si., (II) Dr. Hery Susanto, M.Si. Kata Kunci: Proses Berpikir, Field Dependent dan Field Independent, Soal Cerita, Scaffolding Rendahnya hasil TIMSS dan PISA untuk Indonesia disebabkan karena siswa kebingungan mengerjakan soal cerita. Pada PISA hampir secara keseluruhan soal berbentuk cerita sedangkan di Indonesia soal-soal yang diberikan kepada siswa masih sedikit yang berbentuk cerita. Hal ini bisa dicermati dari soal-soal UN, LKS dan buku pedoman siswa. Untuk melihat bagaimana siswa menyelesaikan soal cerita, maka perlu dilakukan penelusuran proses berpikir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa bergaya kognitif field dependent dan field independent dalam menyelesaikan soal cerita sebelum dan saat scaffolding. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMPN 5 Malang yaitu 2 orang siswa bergaya kognitif field dependent dan 2 orang siswa bergaya kognitif field independent. Penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan tes GEFT, lembar tes soal cerita, dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah konsep Miles dan Huberman yaitu reduksi data, pemaparan data dan kesimpulan. Proses berpikir ditelusuri menggunakan fase entry, attack, dan review. Scaffolding yang digunakan mengacu pada scaffolding yang diungkapkan oleh Anghileri untuk level 2 dan 3. Soal cerita yang digunakan adalah soal cerita yang diadaptasi dari soal PISA untuk konten shape dan space. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses berpikir subjek field dependent terjadi pada semua fase namun mengalami kendala pada fase attack. Kendala yang ditemukan adalah mereka tidak dapat membuat dugaan sendiri jika dugaan yang pertama salah. Keduanya mengalami “stuck” dan tidak dapat menemukan solusi menuju “aha”. Scaffolding untuk level 2 dan 3 yaitu explaining, reviewing, restructuring dan developing conceptual thinking digunakan untuk setiap penyelesaian soal kepada subjek field dependent. Scaffolding juga terjadi secara bertingkat, artinya satu scaffolding belum dapat membantu dalam menemukan solusi sehingga memerlukan scaffolding kembali. Proses berpikir subjek field independent terjadi pada semua fase namun mengalami kendala pada fase attack. Kendala yang ditemukan adalah mereka salah dalam mengambil langkah-langkah penyelesaian. Ketika menyadari kesalahannya mereka segera dapat menemukan langkah-langkah penyelesaian yang tepat. Tidak semua level scaffolding terjadi pada subjek field independent dan hanya dengan satu scaffolding mereka langsung menyadari kesalahannya.

Pengembangan media pem,belajaran IPA berbasis multimedia pada materi Tata Surya siswa kelas IX SMPLB Bagian B (Tunarunggu) YPTB Malang / Nurvita Dwi Andriani

 

ABSTRAK Andriani,N.D. 2015. “Pengembangan Media Pembelajaran IPA Berbasis Multimedia pada Materi Tata Surya Siswa Kelas IX SMPLB bagian B (Tunarungu) YPTB Malang”. Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. M. Efendi, M.Pd., M.Kes., (II) Henry Praherdiono, M.Si.,M.Pd Kata Kunci : media pembelajaran, multimedia, tunarungu, IPA Anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam menerima informasi yang menyebabkan kurangnya pemahaman terhadap materi pelajaran termasuk materi IPA. Pembelajaran IPA yang dilakukan harusnya dapat membuat hubungan yang bermakna antara pengalaman hidupannya dengan pembelajaran IPA di kelas. Pembelajaran yang bermakna memerlukan media pembelajaranberbasis multimedia untuk memvisualisasikan materi sebagai pengalaman belajar. SMPLB bagian B (Tunarungu) YPTB Malang adalah sekolah khusus tunarungu yang belum sempurnadalam menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia pada mata pelajaran IPA. Tujuan pengembangan media pembelajaran IPA berbasis multimedia materi tata surya ini yaitu untuk menghasilkan media pembelajaran IPAmateri tata surya yang valid secara teoretik dan empiris oleh ahli dan dapat diimplementasikan di SMPLB bagian B (Tunarungu) YPTB Malang. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan William W. Lee dan Diana L. Owens. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: audience analysis, technology analysis, situation analysis, task analysis, critical analysis, objective analysis, issue analysis, media analysis, extand data analysis,dan cost analysis. Secara keseluruhan, media pembelajaran IPA berbasis multimedia pada materi tata surya untuk siswa kelas IX SMPLB Bagian B (Tunarungu) YPTB Malang ini telah dinyatakan valid dengan rincian: 88,09524% valid menurut ahli materi dan 75,64103% cukup valid menurut ahli praktisi, dan 93,75% valid menurut ahli media.

Keintegralan mutlak dari integral Gauge
suatu studi perbandingan dengan integral Riemann
oleh Pa'is

 

Pengembangan modul kepercayaan diri untuk membantu siswa agar lebih aktif saat proses pembelajaran di SMP Negeri 9 Malang / Achmad Noval Sukmana

 

ABSTRAK Sukmana, Achmad Noval. 2015. Pengembangan Modul Kepercayaan Diri untuk Membantu Siswa Agar Lebih Aktif Saat Proses Pembelajaran di SMP Negeri 9 Malang. Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Adi Atmoko, M.Si (II) Yuliati Hotifah, S.Psi. M.Pd Kata Kunci: Kepercayaan diri, siswa aktif Kepercayaan diri berperan sangat penting dalam menentukan kesuksesan anak di masa mendatang. Siswa yang memiliki kepercayaan diri rendah akan berpengaruh pada hasil belajar khususnya dalam bidang akademik. Jika tidak segera diselesaikan akan timbul masalah yang lebih kompleks seperti nilai akademik menurun, bahkan siswa bisa tidak naik kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa modul yang disertai dengan prosedur penggunaan modul yang tepat dan layak untuk digunakan oleh konselor, guru, siswa, dan tenaga pendidik lainnya sebagai alat bantu yang berguna untuk menumbuhkan rasa percaya diri agar siswa bisa lebih percaya diri dan yakin akan kemampuannya, dan lebih aktif saat proses pembelajaran. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 9 Malang dengan menggunakan desain penelitian one group pre test-post test design yaitu dengan memberikan pretest dan posttest untuk mengetahui keefektifan modul. Penelitian dilakukan sebanyak lima kali pertemuan dengan pretest diberikan pada awal pertemuan dan posttest diberikan pada akhir pertemuan. Subyek penelitian yaitu 6 orang siswa kelas VII A yang memiliki tingkat kepercayaan diri paling rendah berdasarkan hasil nilai pretest. Analisis data dilakukan menggunakan uji nonparametrik (Wilcoxon signed rank test) untuk mengetahui perbedaan antara nilai pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul kepercayaan diri bagi siswa SMP ini efektif. Hal ini dapat dilihat dari hasil nilai pretest dan posttest yang menunjukkan bahwa subyek mengalami peningkatan kepercayaan diri yang cukup signifikan. Kemudian hasil uji nonparametrik dengan menggunakan SPSS 20 ditemukan bahwa Asymp. Sig. (2-tailed)/nilai probabilitas sebesar 0,026 < 0,05, maka Ho ditolak atau ada perbedaan antara nilai pretest dan posttest setelah diberikan perlakuan modul kepercayaan diri bagi siswa SMP. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu perlu dilakukan pengujian terhadap keefektivan modul diluar proses penelitian dengan skala lebih besar, dan beberapa waktu setelah proses penelitian dilaksanakan (misal 1 s/d 2 bulan setelah penelitian). Saran kepada konselor yaitu untuk menyebarluaskan modul kepada rekan sejawat agar produk ini dapat digunakan secara luas.

Upaya meningkatkan pemahaman konsep faktorisasi prima melalui pembelajaran think-pair-share pada siswa kelas V MI Annidhomiyah Pasuruan / Siti Fauziyah

 

ABSTRAK Fauziyah, S. 2009. Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Faktorisasi Prima Melalui Pembelajaran Think-Pair-Share Pada Siswa Kelas V MI Annidhomiyah Pasuruan. Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Pra Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universiyas Negeri Malang, Pembimbing (1) Drs. Tomas Iriyanto, S. Pd, M.Pd, (II) Dra. Sri Harmini, S. Pd, M. Pd. Kata kunci : meningkatkan, faktorisasi prima, MI, Think-Pair-Share Pembelajaran matematika dalam pemahaman konsep faktorisasi prima di kelas V mengalami kesulitan. Kesulitan ini disebabkan oleh teknik pembelajaran guru yang kurang tepat. Dengan menggunakan Pembelajaran Think-Pair-Share, peneliti berusaha meningkatkan pemahaman konsep faktorisasi prima siswa kelas V MI Annidhomiyah Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Pembelajaran Think-Pair-Share untuk meningkatkan pemahaman konsep faktorisasi prima siswa kelas V MI Annidhomiyah Pasuruan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan PTK yang dilakukan selama Lima bulan yaitu mulai Agustus sampai akhir Desember 2009. Subyek penelitian adalah siswa kelas V MI Annidhomiyah Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan yang terdiri atas 32 siswa. Diharapkan dengan Pembelajaran Think-Pair-Share yang diterapkan dalam penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman konsep faktorisasi prima siswa kelas V MI Annidhomiyah Pasuruan. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Tanggart yang terdiri empat tahap,yaitu, perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut (1) Hasil observasi siswa pada . kelas V MI Annidhomiyah yang ditandai dengan adanya peningkatan keaktifan, Pada siklus I terdapat peningkatan antara 4 % hingga 39 % pada setiap komponen. Pada komponen aktivitas bertanya terjadi peningkatan sebesar 32,9 %, aktivitas menjawab meningkat menjadi 39,3 %, aktivitas berdiskusi meningkat menjadi 7,8 %, aktivitas mengemukakan ide meningkat menjadi 4,7 %, dan aktivitas melaporkan hasil diskusi menjadi 4,7 %. Maka rata-rata peningkatan seluruh komponen aktivitas siswa mulai siklus I dan siklus II adalah 17,88 %. Hasil belajar siswa pada siklus I rata - rata 60 % pada siklus II 70,8 % dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan pembelajaran Think-Pair-Share untuk memahami konsep faktorisasi prima mengalami peningkatan . Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan. Bahwa pemahaman konsep faktorisasi prima melalui pembelajaran Think-Pair-Share dapat di terapkan dengan baik Disarankan kepada guru agar menggunakan pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu pembalajaran mengatasi permasalaan yang terjadi di MI.

Pengaruh pembelajaran kimia dengan model web based learning terhadap hasil belajar kognitif siswa SMA kelas X ditinjau dari kemampuan self-directed learning / Krida Puji Rahayu

 

ABSTRAK Rahayu, KridaPuji. 2015. Pengaruh Pembelajaran Kimia dengan Model Web Based Learning terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa SMA Kelas X Ditinjau dari Kemampuan Self-Directed Learning Siswa. Tesis, Program Studi Pendidikan Kimia Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. SurjaniWonorahardjo, Ph.D., (II) Dr. MunzilArief, M.Si. Kata kunci: ikatan kimia, model web based learning, kemampuan self-directed learning, hasil belajar kognitif. Ikatan kimia merupakan salah satu topik utama dalam kimia yang menjelaskan tentang kestabilan unsur, simbol Lewis, ikatan ionik, ikatan kovalen, dan ikatan logam. Konsep ikatan kimia merupakan materi bersifat abstrak dan merupakan konsep dasar untuk mempelajari konsep berikutnya. Pemahaman konsep ikatan kimia yang benar sangat penting sebagai bekal awal untuk mempelajari materi berikutnya. Siswa tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep barujika telah memahami konsep awal. Oleh karena itu, perlu diciptakan pembelajaran yang dapat membantu siswa dalam memahami konsep dengan benar. Model web based learning memanfaatkan media yang memfasilitasi kebutuhan siswa dalam berinteraksi. Interaksi dilakukan dengan tujuan untuk mengonstruksi dan memahami konsep, menggali informasi dengan variasi sumber belajar yang menyediakan alat bantu berupa gambar, grafik, simbol, dan video maupun bentuk dinamis seperti animasi sebagai visualisasi untuk memahami konsep abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruhdan interaksi antara pembelajaran kimiadengan model web based learning menggunakan moodle dan blog terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas X pada materi ikatan kimia ditinjau dari kemampuan self-directed learningsiswa yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimental semu yaitu posttest only-nonequivalent control group design. Untuk mengetahui perbedaan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, rancangan penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 2 x 3. Penelitian dilakukan di SMA N 9 Malang. Pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling. Sampel penelitian terdiri dari 2 kelas yaitu kelas X MIA 5 (28 siswa)sebagaikelasmoodle (diberikan model web based learningdengan media moodle) dan kelas X MIA 6 (26 siswa) sebagai kelas blog (diberikan model web based learning dengan media blog). Data penelitian adalah hasil belajar siswa yang dikumpulkan menggunakan instrument berupa tes objektif yang terdiri dari 35 soal tes materi ikatan kimia dengan validitas isi sebesar 81,8% (sangat tinggi) dan koefisien reliabilitas dihitung dengan menggunakan KR-21, sebesar 0,88 (valid danreliabel).Uji terhadap hipotesis dari penelitian ini dilakukan dengan menggunakan statistik uji ANAVA dua jalur melalui bantuan program SPSS 16for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tidak ada perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model web based learning baik yang menggunakan media blog maupun moodle; (2) ada perbedaan hasil belajar kognitif siswa ditinjau dari kemampuan self-directed learning baik yang dibelajarkandengan media blog maupun moodle; (3) terdapat interaksi antara model pembelajaran dan kemampuan self-directed learning terhadap hasil belajar kognitif siswa.Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar dalam mengajarkan kimia maupun bidang ilmu sains lainnya lebih memperhatikan tingkat kemampuan self-directed learning siswa yang dapat mempengaruhi pemahaman konsep dan hasil belajar kognitif siswa melalui penerapan model web based learning.

Pengembangan model pembelajaran transformatif untuk program pembinaan karang taruna / Fuad Hasan

 

ABSTRAK Hasan, Fuad. 2015.Pengembangan Model PembelajaranTransformatifuntuk Program PembinaanKarangTaruna. Tesis. Program StudiPendidikanLuarSekolah, PascasarjanaUniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. M. DjauziMoedzakir, M. A., (II) Dr.UmiDayati, M. Pd. Kata kunci: pembelajarantransformatif,karangtaruna, pendidikanluarsekolah Karang Taruna merupakan organisasi kepemudaan yang cukup tua. Dalam perkembangannya, Karang Taruna mengalami 3 fase, yaitu fase pembentukan, fase kejayaan, dan saat ini sedang berada pada fase kefakuman. Fakumnya Karang Tarunaterjadi karena permasalahan permasalahan mindset pengurus dan anggotanya dan permasalahan pembinaan. Permasalahanmindset yang dimaksud adalah mindset pesimistis (harus dibantu pemerintah, sulit melakukan kerjasama dengan pemerintah, dan tidak menguntungkan). Permasalahan pembinaan adalah pembinaan cenderung bersifat seremonial. Tujuandaripenelitiandanpengembanganiniadalahmembuat model pembelajarantransformatifuntuk program pembinaanKarangTaruna.Penelitianinimenggunakan model penelitiandanpengembangan yang dikembangkanolehBorg & Gall (1979).Modelpembelajaran yang dibuat mengacu pada model pengembangan yang dibuat oleh Joyce & Weil (1996) yang menggunakankomponen sintaksis, sistemsosial, prinsipreaksi,sistempendukung, dandampakinstruksionaldanpengiring. Hasil pengembangan model pembelajaran transformatif ini adalah (1) model pembelajaran transformatif ini dikemas dalam bentuk model pembelajaran dan panduan implementasi. (2) model pembelajaran dan panduan implementasi yang dihasilkan berisikan komponen sintaksis, sistem sosial, prinsip reaksi, sistem pendukung dan dampak. (3) hasilvalidasiahli bidang studi Pendidikan Luar Sekolah, ahli model pembelajaran dan pengguna,menunjukkanbahwamodel pembelajaran dan panduan implementasi yang dihasilkan adalah valid. Saran pemanfaatan model ini adalah (1) memahami model dan panduan implementasi secara utuh, (2) mempersiapkan alat dan media yang dibutuhkan, (3) mengetahui situasi dan kondisi tempat pembelajaran yang akan digunakan, (4)konsisten dalam melaksanakan setiap tahapan pembelajaran, (5) berfokus pada tujuan, dan (6) mengevaluasi secara rutin. Saran desiminasinya adalah (1) dilakukan uji coba pada divisi Karang Tarunalainnya, (2) dilakukan uji coba pada skala yang lebih luas, dan (3) dibuat dengan bahasa yang lebih sederhana. Saran pengembangan lanjutannya adalah (1) Dikembangkan contoh permasalahan yang memuat setiap aspek permasalahan organisasi dan juga divisiKarang Taruna, (2) Dilakukan uji coba pada Karang Taruna dengan sasaran yang lebih variatif, dan (3) Dikembangkan/dimodivikasi berdasarkan konteks lokal.

Mobile robot pemindah barang berdasar warna dengan kontrol manual dan otomatis menggunakan bluetooth / Chandra Ferdiantoro

 

ABSTRAK Ferdiantoro, Chandra. 2015. Mobile Robot Pemindah Barang Berdasar Warna Barang Dengan Kontrol Manual Dan Otomatis Menggunakan Bluetooth. Tugas Akhir, Program Studi D3 Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(1) Dr. Eng. Siti Sendari,S.T.,M.T. (2) Dyah Lestari,S.T.,M.Eng. Kata kunci : Mobile, Bluetooth, Robot pemindah barang, Manual, Otomatis. Perkembangan teknologi saat ini mendorong manusia untuk terus berpikir kreatif, tidak hanya menemukan penemuan baru, tapi juga memaksimalkan sebuah sistem yang telah ada. Dengan demikian kebutuhan manusia tentang sistem kontrol yang memudahkan setiap pekerjaanya setiap tahun semakin berkembang. Salah satu aspek yang tidak akan pernah terpisahkan dalam kehidupan sekarang ini adalah arus globalisasi seperti saat ini. Dimana dalam perkembangan arti globalisasi itu sendiri akan sangat banyak sekali bentuk dan jenisnya, mulai dari segi ekonomi hingga teknologi. Untuk sejalan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat khususnya dalam dunia industri, maka diciptakanlah robot yang dikendalikan oleh teknologi komputer yang tanpakabel (Wireless). Bluetooth adalah salah satu teknologi wireless yang sekarang banyak diminati karena harga bluetooth lebih murah dan lebih mudah digunakan untuk mengontrol sebuah sistem. Robot didesain agar dapat memindah barang yang dikendalikan dengan mikrokontroler Atmega16 dengan sensor berupa photodiode dan LED RGB (Red, Green, Blue) dengan menggunakan pemrograman bahasa C. Dalam pembuatan mobile robot pemindah barang berdasar warna barang dengan kontrol manual dan otomatis menggunakan bluetooth terdiri dari beberapa tahapan yaitu: (1)Mencari teori-teori yang berhubungan dengan alat yang dibuat; (2) Proses perancangan; (3) Pembuatan alat; (4) Pengujian per blok diagram; (5) Pengujian keseluruhan. Uji alat diketahui bahwa: (1) Sensor warna RGB untuk mengetahui apakah sensor warna dengan perbandingan cahaya yang dipantulkan sesuai dengan warna barang yang didekatkan pada sensor menggunakan fitur ADC dapat bekerja sesuai dengan baik;(2) Sensor garis photodiode untuk mendeteksi garis hitam dan putih pada jalan menggunakan kontrol otomatis;(3) komunikasi USART antara bluetooth dan robot berfungsi dengan baik sesuai dengan keinginan;(4) driver motor L293D berfungsi dengan baik yang diuji dengan menggunaka sinyal PWM. Hasil pengujian alat diketahui bahwa: (1) Sensor warna RGB dengan fitur ADC dapatbekerja sesuai dengan baik;(2) Sensor garis photodiode untuk mendeteksi garis hitam dan putih bekerja sesuai dengan baik;(3) komunikasi USART antara bluetooth dan robot berfungsi dengan baik sesuai dengan keinginan; (4) driver motor L293D berfungsi dengan baik;(3) sensor warna RGB berfungsi dengan baik sesuai dengan keinginan untuk mendeteksi warna benda yang akan didekatkan pada sensor.

Pengembangan buku ajar biologi kelas XII SMA materi mutasi dan bioteknologi berbasis pendekatan saintifik / Rifqi Hardiana Pragaswati

 

ABSTRAK Pragaswati, Rifqi Hardiana. 2015. Pengembangan Buku Ajar Biologi Kelas XII SMA Materi Mutasi dan Bioteknologi dengan Pendekatan Saintifik. Tesis, Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. agr. H. Mohamad Amin, S. Pd, M. Si., (II) Dr. Munzil, M. Si. Kata kunci: pengembangan, buku ajar, pendekatan saintifik, mutasi, bioteknologi Biologi merupakan salah satu bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis. Oleh sebab itu biologi bukan hanya sebagai kumpulan fakta, konsep atau prinsip, akan tetapi juga meliputi metode ilmiah dan sikap ilmiah. Materi mutasi dan bioteknologi merupakan salah satu materi yang aplikasinya terkait dengan kehidupan sehari-hari, namun pemahaman terhadap ilmu-ilmu dasarnya banyak bersifat abstrak. Materi tersebut membutuhkan pembelajaran yang mengacu pada proses penemuan fakta / konsep / teori secara ilmiah, dan diharapkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran melalui proses mentalnya yang berorientasi ilmiah. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di salah satu SMA Negeri di Kota Malang, dapat diketahui bahwa metode pembelajaran yang digunakan di sekolah tersebut adalah ceramah dan diskusi presentasi. Pemilihan pendekatan pembelajaran kurang menyesuaikan karakteristik biologi, karena siswa tidak dilibatkan langsung memperoleh konsep biologi yang ditemukannya sendiri, sehingga mengakibakan retensi siswa terhadap materi tersebut masih kurang. Buku ajar belum sepenuhnya mampu memfasilitasi pembelajaran yang berpendekatan ilmiah. Sehingga diperlukan bahan ajar yang tepat untuk mengajarkan materi mutasi dan boteknologi. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan mengkonkretkan konsep-konsep yang abstrak tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan produk berupa buku ajar berbasis pendekatan saintifik yang layak dan tervalidasi. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan Thiagarajan (4D) yang terdiri dari: define, design, develop, dan dissiminate, tetapi tanpa tahap dissiminate. Instrumen pengumpulan data yang digunakan pada pengembangan ini berupa angket yang disebarkan kepada ahli materi, ahli media, ahli pendidikan, ahli penerapan lapangan, dan siswa. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Sampel uji coba terbatas diambil dari peserta didik SMA Negeri 3 Malang. Data yang diperoleh dari para ahli dan siswa digunakan untuk memperbaiki bahan ajar, sehingga layak untuk digunakan. Hasil validasi buku ajar dari ahli materi menyatakan tingkat kelayakan dengan persentase 83%, ahli media 98%, ahli pendidikan 82%, ahli penerapan lapangan 84,9%, dan uji coba terbatas 85%. Dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dapat diterapkan pada pembelajaran mutasi dan bioteknologi tingkat SMA.

Pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas VII MTs Negeri Wonorejo Pasuruan / Illiyatus Sholiha

 

ABSTRAK Sholiha, Illiyatus. 2015. Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbantuan Modul Pengelolaan Sampah Berbasis 6M terhadap Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII MTs. Negeri Wonorejo Pasuruan. Tesis, Program Studi Pendidikan Biologi, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Hj. Mimien Henie Irawati, M.S., (II) Dr. Ibrohim, M.Si. Kata kunci: inkuiri terbimbing, modul pengelolaan sampah berbasis 6M, keterampilan proses sains, hasil belajar. Pengetahuan lingkungan, sikap, dan perilaku sadar lingkungan sebaiknya ditanamkan pada diri seseorang sejak dini, salah satunya melalui sekolah. Pembelajaran lingkungan di sekolah dapat dilakukan melalui berbagai upaya salah satunya dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum IPA. Pengetahuan, sikap, dan perilaku sebagai produk dari sains diperoleh melalui serangkaian proses ilmiah sehingga dalam belajar sains (IPA) diperlukan keterampilan proses sains. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa kelas VII MTs. Negeri Wonorejo. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semudengan rancangan pretest posttest nonequivalent control group design. Populasi penelitian seluruh siswa kelas VII yaitu kelas VII-A, VII-B, VII-C, VII-D, dan VII-E karena memiliki karakter yang sama terkait pengelolaan sampah. Pengambilan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan karakter yang sama terkait pengelolaan sampah, juga mempertimbangkan kemampuan akademik yang setara antara dua kelas yang menjadi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dan guru mata pelajaran yang sama, termasuk guru mata pelajaran Biologi, serta penjadwalan jam mata pelajaran Biologi yang tidak berbeda secara signifikan. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria tersebut adalah kelas VII-A dan VII-B. Secara acak diambil kelas VII-A sebagai kelompok kontrol dan kelas VII-B sebagai kelompok eksperimen. Metode pengumpulan data melalui pretes dan postes menggunakan instrumen tes keterampilan proses sains, tes hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor. Uji hipotesis dengan Anakova, sebelumnya dilakukan uji normalitas Kolmogorov Smirnov dan uji homogenitas Levene’sTest sebagai uji prasyarat untuk mengetahui data berdistribusi normal dan homogen. Hasil analisis data keterampilan proses sains menunjukkan nilai p=0,000 < α=0,05, jadi ada perbedaan keterampilan proses sains yang signifikan antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M dengan siswa yang diberi pembelajaran multimetode. Hasil analisis data hasil belajar kognitif menunjukkan p=0,004 < α=0,05, jadi ada perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M dengan siswa yang diberi pembelajaran multimetode. Hasil analisis data hasil belajar afektif menunjukkan p=0,001 < α=0,05, jadi ada perbedaan hasil belajar afektif yang signifikan antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M dengan siswa yang diberi pembelajaran multimetode.Hasil analisis data hasil belajar psikomotor menunjukkan p=0,000 < α=0,05, jadi ada perbedaan hasil belajar psikomotor yang signifikan antara yang diberi pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M dengan siswa yang diberi pembelajaran multimetode. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M berpengaruh terhadap keterampilan proses sains, hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor. Berdasarkan hasil penelitian diajukan saran yaituguru mata pelajaran dapat menggunakan pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan modul pengelolaan sampah berbasis 6M sebagai salah satu bentuk pembelajaran lingkungan yang diintegrasikan ke dalam kurikulum karena telah terbukti berpengaruh terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa.

Pengembangan bahan ajar muatan lokal bahasa Buol untuk sekolah dasar kelas I semester I di Kabupaten Buol / Hariyanto S. Auna

 

Pengembangan modul bercirikan kontekstual pada pokok bahasan dimensi dua kelas X TKR SMK Berdikari Jember / Yantin Wijayanti Putri

 

ABSTRAK Putri, Yantin Wijayanti. 2015. Pengembangan Modul Bercirikan Kontekstual pada Pokok Bahasan Dimensi Dua Kelas X TKR SMK Berdikari Jember. Tesis. Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. I Nengah Parta, M.Si., (II) Dra. Santi Irawati, M.Si, Ph. D. Kata Kunci: pengembangan modul, pembelajaran kontekstual, dimensi dua, sekolah menengah kejuruan Pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan, mata pelajaran pada kelompok adaptif digunakan untuk menunjang mata pelajaran yang ada dalam kelompok produktif. Oleh karena itu pelajaran-pelajaran di kelompok adaptif harus disesuaikan dengan pelajaran-pelajaran pada kelompok produktif. Berdasaran hal tersebut maka diadakan penelitian untuk mengembangkan sebuah modul yang sesuai dengan pelajaran produktif TKR. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah modul matematika bercirikan kontekstual pada pokok bahasan Dimensi Dua kelas X TKR SMK Berdikari Jember yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pengembangan modul ini mengadaptasi model pengembangan 4-D yang ditemukan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel. Dari 4 tahap pada tahap 4-D hanya digunakan 3 tahap yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), dan tahap pengembangan (developt). Modul yang telah jadi akan diuji validitasnya, efektifitasnya dan kepraktisannya. Data penelitian diperoleh dari proses validasi ahli, lembar pengamatan aktivitas guru, lembar pengamatan aktivitas siswa, tes pemahaman materi, respon siswa. Proses validasi dilakukan 2 kali. Pada proses validasi pertama didapat banyak revisi dan kekurangsesuaian modul. Setelah direvisi maka dilakukan proses validasi kedua. Dari validasi kedua ini diperoleh hasil bahwa konten pada modul telah memiliki materi yang benar, sesuai dengan kebutuhan siswa, kebutuhan belajar dan SK-KI, penulisan modul, tampilan modul dan penggunaan bahasa telah konsisten sehingga dapat disimpulkan bahwa modul valid dan dapat diujicobakan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X TKR 1, X TKR 2, dan guru matematika. Proses uji coba dilakukan secara bergantian antara kelas X TKR 1 dan X TKR 2. Sehingga setelah dilakukan ujicoba pertemuan pertama pada kelas X TKR 1 dan dianalisis lalu dilakukan perbaikan serta diujicobakan pada kelas X TKR 2. Selama proses uji coba juga dilakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan aktivitas siswa. Pada proses ujicoba kedua, di akhir pembelajaran siswa diminta untuk menceritakan pendapat siswa tentang proses pembelajaran menggunakan modul. Setelah proses uji coba selesai maka diberikan tes kepada siswa, angket respon, dan wawancara. Setelah selesai, dilakukan analisis terhadap hasil uji coba. Berdasarkan hasil pengamatan guru didapat bahwa guru dapat melaksanakan pembelajaran sesuai RPP dengan menggunakan modul sehingga modul praktis. Berdasarkan lempar pengamatan aktivitas siswa, hasil tes, angket dan wawancara dapat disimpulkan bahwa tercapai ketuntasan klasikal, siswa memberikan respon positif, dan siswa aktif dalam pembelajaran menggunakan modul ini. Maka modul dapat dikatakan efektif.

Prototipe kompor listrik portable berbasis mikrokontroler ATMega16 / Ahmad Faishal Abid

 

ABSTRAK Abid, Ahmad Faishal. 2015. Prototipe Kompor Listrik Portable Berbasis Mikrokontroler ATmega16. Tugas Akhir, Program Studi D3 Teknik Elektronika, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Ahmad Fahmi, ST., MT. (II) Dr. Eng. Anik Nurhandayani ST., MT. Kata Kunci : Kompor Listrik, Portable, Mikrokontroler, ATmega16, LM35. Pemanas listrik adalah suatu alat listrik yang mengubah energi listrik menjadi panas. Diantaranya adalah kompor listrik atau pemanas listrik dengan heater. Konsep pemanas tersebut cukup sederhana, heater dihubungkan dengan sumber listrik secara langsung. Jika keperluan mendadak dan tidak ada sumber listrik yang tersedia maka heater tidak bisa digunakan. Dengan dibuatnya prototipe alat ini tentunya dapat mempermudah pengontrolan dalam sistem pemanas. Tujuan pembuatan Tugas Akhir ini antara lain: (1) Merancang dan membuat prototipe kompor listrik portable berbasis mikrokontroller Atmega16; (2) Menguji panas hasil prototipe kompor listrik portable berbasis mikrokontroler Atmega16. Metode perancangan terdiri dari beberapa tahapan yang meliputi : (1) proses perancangan sistem (2) pembuatan alat (3) pengujian rangkaian alat tiap blok dan (4) pengujian rangkaian alat keseluruhan sistem. Hasil dan pembahasan : (1) Minimum sistem ATmega 16 telah berfungsi dengan baik dengan diuji pada output setiap port menggunakan Modul LED 8 Bit; (2) Driver TRIAC Optoosilator telah berfungsi dengan baik yaitu dapat mengatur duty cycle yang keluar ke elemen pemanas; (3) Sensor suhu LM35 telah berfungsi sesuai fungsinya yaitu dapat membaca perubahan suhu pada objek kerja pemanas; (4) Power Supply berfungsi dengan baik yaitu sebagai catu daya akumulator; (5) Rangkaian Inverter telah berfungsi sesuai fungsinya yaitu dapat mengubah tegangan DC ke AC; (6) Pengujian keseluruhan sistem menunjukkan bahwa sistem dapat bekerja sesuai dengan perancangan. Meliputi: Rangkaian Inverter dapat merubah tegangan DC to AC dari akumulator ke transformator step-up. PWM dan sensor suhu LM35 dapat beroperasi sesuai rancangan, PWM dapat diatur melalui potensiometer dan sensor suhu dapat memonitoring suhu pada objek kerja. Objek kerja tersebut beroperasi pada suhu 50-100 ˚C. Kesimpulan dari pengujian sistem : (1) Rancangan Prototipe Kompor Listrik Portable Berbasis Mikrokontroler ATmega16 sudah dapat terealisasi sesuai dengan spesifikasi awal pembuatan; (2) Pada hasil pengujian alat, panas yang dihasilkan pada Prototipe Kompor Listrik Portable Berbasis Mikrokontroler ATmega16 sudah layak dimonitoring oleh sensor suhu LM35. Perbandingan hasil pengujian dengan termometer air raksa terdapat selisih tidak terlalu signifikan dikarenakan linear pada alat ukur yang berbeda

Metafora dalam Al-Qur'an dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia kajian atas metafora cahaya, kegelapan dan beberapa sifat Allah / oleh Nurul Murtadho

 

Pengembangan instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah untuk siswa SD kelas IV tema "Makananku Sehat dan Bergizi" / Karimatus Saidah

 

ABSTRAK Saidah, Karimatus. 2015. Pengembangan Instrumen Penilaian Keterampilan Proses Ilmiah Untuk Siswa Kelas IV SD Tema “Makananku Sehat dan Bergizi”. Tesis, Jurusan Pendidikan Dasar, Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof.Dr. Siti Zubaidah M.Pd., (II) Dra. Siti Malikah Towaf, M.A., Ph.D. Kata kunci: penilaian, keterampilan proses ilmiah. Penilaian keterampilan proses ilmiah dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penguasaan keterampilan proses ilmiah siswa sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan dalam buku guru kurikulum 2013. Instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah dalam buku guru belum mengukur seluruh kompetensi dasar yang disajikan dalam pembelajaran. Hasil studi pendahuluan menunjukkan guru kesulitan memantau penguasaan keterampilan proses ilmiah siswa, dalam melakukan penilaian guru tidak menyusun instrumen penilaian, melainkan langsung memberikan nilai. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah 1) mengembangkan instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah untuk siswa kelas IV SD; 2) mengembangkan instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah yang mengukur tujuan pembelajaran sesuai kompetensi yang dibelajarkan; 3) mengembangkan prototipe instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah; 4) mengembangkan instrumen keterampilan proses ilmiah untuk diujicobakan kepada guru dan siswa kelas IV SD; dan 5) menghasilkan produk akhir instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah untuk digunakan guru dan siswa. Model pengembangan yang digunakan yaitu model ADDIE (analysis, design, development, implementation, evaluation). Prosedur pengembangan dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan ADDIE. Desain uji coba terdiri dari 3 kegiatan yaitu, validasi ahli, validasi pengguna dan uji coba. Subjek uji coba terdiri dari 30 siswa kelas IV di SDN Brenggolo 1. Jenis data yang digunakan berupa data kualitatif dan kuantitatif. Instrumen pengumpulan data menggunakan angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif untuk mengolah data hasil wawancara, observasi dan teknik analisis deskriptif kuantitatif untuk menganalisis data angket hasil validasi ahli dan pengguna. Produk yang dihasilkan berupa instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah untuk diisi oleh guru, instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah berbasis peer assesment dan self assesment. Hasil validasi ahli menunjukkan persentase kevalidan sebesar 92,2 %, hal ini menunjukkan produk sangat valid, sangat tuntas dan dapat digunakan. Hasil validasi pengguna menunjukkan presentase kevalidan sebesar 93,3 %. Hal ini menunjukkan produk dapat digunakan. Hasil uji coba menunjukkan produk efektif dan dapat digunakan dengan beberapa revisi. Revisi terhadap instrumen yang dikembangkan mengarah pada perbaikan ejaan, tata tulis, penggunaan kosa kata dan penyesuaian pedoman penilaian dengan aturan yang berlaku. Produk yang dikembangkan memiliki beberapa keunggulan yaitu sesuai dengan fungsi utama penilaian, sesuai dengan rencana belajar yang telah ditetapkan di awal, membantu guru mendapatkan data yang lebih luas tentang kesulitan yang dialami siswa selama melaksanakan keterampilan, dan memberikan umpan balik baik kepada guru maupun siswa. Kelemahan dari instrumen yang dikembangkan ini adalah sangat tergantung pada penerapan buku guru dan buku siswa disekolah, hanya menilai kompetensi IPA sedangkan kegiatan belajar dilaksanakan secara tematik, dan tidak menilai keseluruhan keterampilan proses ilmiah, melainkan hanya yang ditampilkan dalam kegiatan pada buku guru dan buku siswa saja. Saran dalam memanfaatkan produk hendaknya diterapkan pada kurikulum 2013, dan diadakan workshop penggunaan instrumen bagi guru yang belum menerapkan kurikulum 2013, serta mengawasi siswa selama kegiatan peer & self assesment berlangsung. Diseminasi instrumen hendaknya dilakukan dengan menyebarluaskan di sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 dalam lingkup kabupaten. Pengembangan produk lebih lanjut dapat dilakukan dengan menyusun instrumen penilaian keterampilan proses ilmiah untuk semua keterampilan sesuai dengan teori yang ada dan mengembangkan instrumen penilaian keterampilan ilmiah pada tema-tema lain.

Efektifitas penggunaan LKS terhadap hasil belajar fisika siswa SMU Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 1998/1999 pada pokok bahasa rangkaian listrik arus searah / oleh Hena Sulistyarini

 

Studi hujan rancangan dengan metode normal dan log normal pada waduk Gongseng Kabupaten Bojonegoro / Aidy Muhlas

 

ABSTRAK Muhlas, Aidy. 2014. StudiHujanRancangandenganMetode Normal dan LogNormal padaWadukGongsengKabupatenBojonegoro. ProyekAkhir,Program Studi Diploma III TeknikSipildanBangunan, JurusanTeknikSipil, FakultasTeknik, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Ir. Nugroho Suryoputro, M.T.,(II) Ir. Titi Rahayuningsih, M.Si. Kata kunci: hujanrancangan, metode, normal, log normal, wadukGongseng Sungai di wilayahKabupatenBojonegoromemilikiperbedaan debit air reratadimusimkemaraudandimusimhujan yang relatifbesar, makaperludibangunwadukGongsengyang diprioritaskanuntukmemenuhituntutanmasyarakat yang lebihnyatadanmendesak, yaituuntukmengembangkanpertaniandanmeningkatkansuplai air irigasi, membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, pengendali banjir, pembangkit tenaga listrik, kegiatan pariwisata dan perikanan daratsertapenyediaan air bakuuntukwilayahKabupatenBojonegoro. Lokasi pekerjaan studi Waduk Gongseng terletak di Desa Kedungsari, Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Metodeperhitunganhujanrancanganmenggunakanmetode Normal banyakdigunakandalamanalisisfrekuensicurahhujan, analisisstatistikdaridistribusicurahhujantahunan, debit rata-rata tahunan, dansebagainya.Sedangkanmetode Log Normal merupakanhasiltransformasidaridistribusi Normal denganmengubahvariatmenjadinilailogaritmik. Curah hujan rerata wilayah DAS Gongseng Kabupaten Bojonegoro, dengan jumlah data curah hujan yang digunakan n=32, didapatkan jumlah curah hujan 2749,84 mm dengan rerata 85,933 mm, curah hujan maksimum 136,69 mm, curah hujan minimum 65,25 mm.Besarnya curah hujan dalam periode ulang (T) dengan metode Normal mengasilkan data sebagai berikut: 1) X2th = 85.933 mm; 2) X5th = 100.259 mm; 3) X10th = 107.764 mm; 4) X25th = 116.343 mm; 5) X50th = 120.897 mm; 6) X100th = 125.672 mm; 7) X500th = 135.053 mm; 8) X1000th = 138.635 mm.Besarnya curah hujan dalam periode ulang (T) dengan metode Log Normal mengasilkan data sebagai berikut: 1) X2th = 84.451 mm; 2) X5th = 98.709 mm; 3) X10th = 107.113 mm; 4) X25th = 117.166 mm; 5) X50th = 123.580 mm; 6) X100th = 130.176 mm; 7) X500th = 144.176 mm; 8) X1000th = 149.910 mm. Dari Uji kesesuaian distribusi dengan uji Smirnov Kolmogorof diperoleh Dmaks = 6,772< DCr = 23,61 sehingga metode Normal dan Log Normal dapat diterima sebagai medote perhitungan hujan rancangan di Waduk Gongseng. Dari Uji kesesuaian distribusi dengan uji Chi Square diperoleh X2h = 1,375

Pengembangan pembelajaran ekosistem dan lingkungan hidup berbasis project based learning untuk meningkatkan pemahaman konsep, sikap, dan pengelolaan lingkungan dal;am mendukung program adiwiyata di SMP Negeri 2 Malang / Arga Triyandana

 

ABSTRAK Triyandana, Arga. 2015. Pengembangan Pembelajaran Ekosistem dan Lingkungan Hidup Berbasis Project Based Learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep, Sikap dan Pengelolaan Lingkungan dalam Mendukung Program Adiwiyata di SMP Negeri 2 Malang. Tesis. Jurusan Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Mimien Henie Irawati, M.S., (II) Dr. Ibrohim, M.Si. Kata kunci: pembelajaran ekosistem dan lingkungan hidup, project based learning, pemahaman konsep, sikap dan pengelolaan lingkungan. Tuntutan hidup pada abad 21 seseorang harus mampu ways of thingking, ways of working, tools for working and skills for living in the word. Dibutuhkan peran pendidikan yang sangat sentral dalam menfasilitasi kesiapan hidup pada abad 21. Sesuai tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan dapat diintegrasikan antara kurikulum, metode pembelajaran dan Bahan ajar yang tepat dalam menjawab beberapa tantangan pada abad 21 salah atu upaya pemerintah dalam bidang pendidikan yaitu dengan implementasi program Adiwiyata, sesuai dengan salah satu komponen adiwiyata yaitu kegiatan lingkungan berbasis partisipatif. Tujuan penelitian ini adalah 1) menghasilkan produk berupa perangkat pembelajaran Ekosistem dan Lingkungan Hidup berbasis project based learning untuk meningkatkan pemahaman konsep, sikap dan pengelolaan lingkungan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang; 2) mengetahui tingkat keefektifan perangkat pembelajaran Ekosistem dan Lingkungan Hidup berbasis project based learning. Penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan dengan menggunakan model pengembangan Borg and Gall yang terdiri dari (1)Research and Information Collecting, (2) Planning, (3) Develop Preliminary Form of Product, (4) Preliminary Feld Testing, (5) Main Product Revision, (6) Main Field Testing, (7) Operational Product Revision, (8) Operational Field Testing, (9) Final Product Revision, dan (10) Desimination and Implementation. Pada penelitian ini, hanya dilakukan sampai tahap Main Field Testing dengan melakukan uji coba produk perangkat pembelajaran pada sekolah uji coba. Hasil validasi perangkat pembelajaran oleh ahli desain pembelajaran dan praktisi pendidikan menunjukkan bahwa silabus, RPP, dan modul dengan klasifikasi valid dan dilakukan revisi ringan sehingga perangkat siap untuk diterapkan dalam pembelajaran. Validasi modul oleh ahli materi dan ahli media juga menunjukkan klasifikasi yang valid hanya diperlukan revisi ringan sehingga siap diterapkan dalam pembelajaran. Hasil analisis data pada didapatkan data hasil rerata pemahaman konsep sebelum diterapkannya pembelajaran Ekosistem dan Lingkungan Hidup berbasis PjBL sebesar 59,91 dan setelah diterapkannya pembelajaran Ekosistem dan Lingkungan Hidup berbasis PjBL sebesar 69,29 jadi terjadi peningkatan yang tidak signifikan terhadap pemahaman konsep pada siswa, begitu juga pada sikap siswa menunjukkan rerata sebesar 60,56 dan 60,57, sedangkan terjadi peningkatan cukup signifikan pada pengelolaan lingkungan yaitu sebesar 78,53 dan 83,10, sehingga pembelajaran Ekosistem dan Lingkungan Hidup berbasis PjBL mampu meningkatkan kemampuan pengelolaan lingkungan siswa. Secara keseluruhan perangkat pembelajaran berbasis PjBL ini cukup efektif sesuai dengan data keterlaksanaan desain pembelajaran. Pengembangan perangkat pembelajaran lebih lanjut perlu memperhatikan beberapa saran yaitu: a) penelitian pengembangan selanjutnya dapat dilaksanakan sampai tahap disseminate; b) penelitian pengembangan selanjutnya dapat diperluas KD-nya; c) penelitian selanjutnya dapat dikembangkan sampai materi lain yang lebih luas; d) hendaknya dapat diterapkan dalam penelitian tindakan kelas atau dalam penelitian eksperimen semu sehingga dapat dilakukan refleksi; e) penelitian selanjutnya dapat digunakan dengan model pembelajaran lain yang lebih variatif dan menarik bagi peserta didik.

Animasi 3 dimensi tentang kisah pingitan Tini (based on story RA Kartini) / Allan Pahlavi

 

ABSTRAK Pahlavi, Allan, 2015. Animasi 3 Dimensi Tentang Kisah Pingitan Tini (Based On Story RA Kartini). Tugas Akhir, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Andy Pramono S.Kom, M.T, (II) Mitra Istiar Wardhana, S.Kom, M.T Kata Kunci: Animasi 3D, Kisah Pingitan Tini. Animasi 3 Dimensi “Kisah Pingitan Tini (Based On Story RA Kartini)” ini adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk memberikan pengetahuan tentang tradisi pingitan yang sekarang sudah mulai ditinggalkan. Sehingga melalui film animasi dan game ini dapat menghasilkan sebuah produk yang bisa diterima dan diminati oleh masyarakat Indonesia dari semua kalangan khususnya generasi muda. Proses visualisasi animasi 3 dimensi kisah Pingitan Tini ini mempunyai 3 tahap perancangan, yaitu pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Sedangkan model perancangan yang digunakan adalah model prosedural yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Dalam perancangan ini, perancang mengerjakan 3 tahap, yaitu Animating, Lipsync dan Sound Editing. Perancangan ini menghasilkan sebuah film animasi 3 dimensi, serta sebuah game 2 dimensi (visual 3 dimensi) yang menceritakan seorang wanita bernama Tini yang memasuki masa-masa pingitan. Dan juga menghasilkan beberapa media pendukung untuk memperkenalkan hasil dari perancangan ini seperti stiker, dan poster yang di desain sesuai dengan hasil dari perancangan visual animasi.

Pamakaian oksasir sebagai bahan pengganti asam oksalat dalam percobaan redoks di SMU / oleh Ninin Pudji Isnaini

 

Pengembangan perangkat pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis blended learning melalui lesson study dan pengaruhnya terhadap peningkatan motivasi, sikap ilmiah, keterampilan berpikir kritis, kemampuan kognitif, psikomotor pada matakuliah genetika / Waris

 

ABSTRAK Waris, 2016. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Blended Learning melalui Lesson Study dan Pengaruhnya terhadap Peningkatan Motivasi, Sikap Ilmiah, Keterampilan Berpikir Kritis, Kemampuan Kognitif, dan Psikomotor pada Matakuliah Genetika. Disertasi Program Studi Pendidikan Biologi. Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D (II) Prof. Dr. Hj.Mimien Henie Irawati Al Muhdhar, MS. (III) Dr. Fatchur Rohman, M.Si. Kata kunci: Inkuiri terbimbing, Blended Learning, Lesson Study, motivasi, sikap ilmiah, kemampuan kognitif, keterampilan berpikir kritis, psikomotor, genetika. Proses pembelajaran di Program Studi Pendidikan Biologi FPMIPA IKIP PGRI Jember belum sepenuhnya dikembangkan untuk memberikan peluang belajar cerdas, kritis, kreatif, dan memecahkan masalah pada mahasiswa. Praktek Pembelajaran masih berbentuk penyampaian secara tatap muka (lecturing), searah dan belum menumbuhkembangkan proses partisipasi aktif mahasiswa. Proses pembelajaran masih didominasi oleh dosen. Inovasi dan kreativitas mahasiswa juga kurang dikembangkan untuk memproses informasi dan menemukan sendiri pemaknaan pengetahuan. Sharing antar dosen juga belum dilakukan, pemanfaatan teknologi informasi belum optimal. Dampak dari proses pembelajaran seperti yang disebutkan di atas adalah motivasi belajar, sikap ilmiah, keterampilan berpikir kritis, kemampuan kognitif, dan psikomotor masih dalam kategori kurang. Hasil belajar mahasiswa untuk matakuliah genetika nilai rata-ratanya adalah C. Faktor penting lain yang masih kurang diperhatikan adalah melatihkan kemampuan mahasiswa untuk mengobservasi, mengeksplorasi, mengumpulkan data, menganalisis data, dan mengkomunikasikan hasil kegiatannya baik secara on line maupun off line. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis Blended Learning melalui Lesson Study untuk mata kuliah genetika. Dengan dikembangkannya perangkat pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang berimplikasi terhadap peningkatan motivasi belajar, sikap ilmiah, keterampilan berpikir kritis, kemampuan kognitif, dan psikomotor. Penelitian pengembangan ini menggunakan model 4D dari Thiagarajan et al (1974) yang meliputi tahap define, design, develop, dan disseminate. Kegiatan Lesson Study sebagai upaya pendukung diintegrasikan dalam model penelitian pengembangan 4D yaitu pada tahap develop dan diterapkan pada dua kelas paralel yang memprogram mata kuliah genetika yang berjumlah 54 mahasiswa. Data yang diperoleh dari model pengembangan 4D berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif berupa saran dan pendapat baik lisan maupun tertulis dari validator, dosen yang tergabung dalam tim Lesson Study, dan dari mahasiswa yang sebagai responden. Data kuantitatif berupa nilai hasil kuesioner yang diperoleh dari dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bologi. Data kuantitatif juga berupa nilai hasil tes yang diperoleh dari kuasi eksperimen dengan sampel 58 mahasiwa yang menempuh matakuliah genetika. Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner, lembar validasi, lembar observasi dan soal tes essay. Data kuantitatif hasil kuesioner dan tes dianalisis menggunakan statistik ANACOVA, Analisis data menggunakan SPSS versi 16 for windows. Hasil penelitian pengembangan adalah perangkat pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis Blended Learning untuk matakuliah genetika yang berupa silabus, RPP, bahan ajar dalam bentuk power point yang dilengkapi dengan audio visual, sintaks pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis Blended Learning, dan WEB E-Learning yang sudah diujicoba dan divalidasi. Hasil validasi perangkat pembelajaran yang dikembangkan berturut-turut adalah silabus = 90,63%, RPP = 86,27%, bahan ajar = 78,90%, instrumen penilaian motivasi = 89,81%, instrumen penilaian sikap ilmiah = 89,81%, instrumen penilaian kemampuan kogtinitif = 90,46%, instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis = 93,06%, instrumen penilaian psikomotor = 91,67%, dan WEB E-Learning 79,17%. Rata-rata hasil validasi ahli menunjukkan lebih dari 70% sehingga perangkat pembelajaran yang dikembangkan layak untuk digunakan. Hasil observasi tentang keterlaksanaan sintaks inkuiri terbimbing berbasis Blended Learning melalui Lesson Study menunjukkan 97,27% terlaksana pada komponen kegiatan dosen dan 96% terlaksana pada komponen kegiatan mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa sintaks pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis Blended Learning telah terlaksana dengan sangat baik. Tanggapan mahasiswa terhadap proses pembelajaran dengan mengimplementasikan sintaks inkuiri terbimbing berbasis Blended Learning melalui Lesson Study menunjukkan 21,79% sangat setuju, 78,21% setuju, 0% kurang setuju, 0% tidak setuju, dan 0% sangat tidak setuju. Berdasarkan hasil refleksi kegiatan Lesson Study menunjukkan bahwa hasil penelitian pengembangan ini berdampak positif terhadap proses pembelajaran pada Program Studi Pendidikan Biologi karena: (1) menambah wawasan dosen/tim Lesson Study yang terlibat di dalamnya tentang metode pembelajaran genetika, (2) dosen/tim memperoleh pengalaman berharga dari proses pembelajaran yang diamati dan berencana mengaplikasikan pengalaman baik itu terhadap matakuliah yang diampunya, (3) menambah pengetahuan tentang teknik penilaian dalam pembelajaran. Hasil analisis data kuantitatif menggunakan statistik ANACOVA pada taraf signifikansi 5% (p value < 0,05) menunjukkan pada variabel motivasi belajar diperoleh p value = 0,004, peningkatan motivasi pada kelas eksperimen lebih tinggi 4,5% dari pada kelas kontrol. Pada variabel sikap ilmiah diperoleh p value = 0,002, peningkatan sikap ilmiah pada kelas eksperimen lebih tinggi 0,7% dari kelas kontrol. Pada variabel keterampilan berpikir kritis diperoleh p value = 0,000, peningkatan keterampilan berpikir kritis pada kelas eksperimen lebih tinggi 30,9% dari kelas kontrol. Pada Variabel kemampuan kognitif diperoleh p value = 0,000, peningkatan kemampuan kognitif kelas eksperimen lebih tinggi 39,1% dari kelas kontrol. Pada variabel psikomotor diperoleh p value = 0,000, psikomotor kelas eksperimen lebih tinggi 4,9% dari kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi strategi pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis Blended Learning efektif untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

Berpikir pseudo siswa dalam memecahkan masalah pisa / Izza Nur Hayati

 

ABSTRAK Hayati, Izza Nur. 2015. Berpikir Pseudo Siswa dalam Memecahkan Masalah PISA. Tesis. Program Studi Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Subanji, M.Si, (II) Dr. Abdul Qohar, M.T. Kata Kunci: berpikir pseudo, pemecahan masalah, PISA Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan mendeskripsikan berpikir pseudo siswa dalam memecahkan masalah PISA. Masalah PISA diambil dari soal PISA tahun 2012 tema ”Selling Newspaper” yang dialihbahasakan dan disesuaikan dengan konteks Indonesia. Peneliti memaparkan tiga subjek penelitian yang mengalami berpikir pseudo. Setiap subjek diberi masalah PISA untuk mengetahui berpikir pseudo yang dialaminya. Data penelitian ini adalah jawaban tertulis dan transkrip think aloudyang diperoleh dengan instrumen masalah PISA dan alat rekam.Selanjutnya, data direduksi dan disajikan dalam bentuk struktur berpikir sebelum dan sesudah refleksi untuk setiap subjek pada masing-masing pertanyaan. Dari struktur berpikir subjek-subjek tersebut, peneliti memberikan kesimpulan mengenai berpikir pseudo yang mereka alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya berpikir pseudo siswa dalam memecahkan masalah PISA meliputi: 1) berpikir pseudo dalam memahami masalah disebabkan karena siswa menyelesaikan masalah dengan proses berpikir yang spontan atau Direct Translated Approach di mana siswa menerjemahkan kata-kata atau kalimat yang terdapat pada masalah secara langsung tanpa memahami maknanya, contohnya langsung mengalikan bilangan 350 dengan 200 karenatidak memahami perbedaan sistem penggajian untuk penjualan 240 koran atau lebih, 2) berpikir pseudo dalam memilah dan mengaitkan informasi terjadi ketika siswa tidak mampu menentukan informasi yang ia butuhkan untuk memecahkan masalah, contohnya siswa menghitung gaji karyawan Harian Malang menggunakan sistem penggajian Bintang Malang padahal sistem penggajian kedua penerbit tidak saling terkait, 3) berpikir pseudo dalam memilih strategi penyelesaian masalah terjadi ketika proses mengingat prosedur secara samar-samar (fuzzy memory) yang kemudian diterapkan pada masalah, contohnya langsung menentukan banyaknya koran yang terjual apabila memperoleh gaji Rp 60,000,00 padahal seharusnya menghitung gaji tambahan terlebih dahulu, dan 4) berpikir pseudo dalam mentransformasi masalah menjadi bentuk matematika terjadi karena kurangnya pengetahuan awal yang dimiliki dan juga disebabkan oleh ketidaklengkapan substruktur berpikir, contohnya tidak mampu menggambar grafik sistem penggajian kedua penerbit koran berdasarkan informasi-informasi yang diketahui pada masalah.

Nilai eigen dan penerapannya
penyelesaian sistem persamaan diferensial linier homogen dengan koefisien konstan yang berbentuk X'(t)=AX(t)
oleh Sutianah

 

The use of RAFT strategy to improve the eight grade students' writing ability at MTs Salafiyah Syafiiyah Babakan Ciwaringin Cirebon / Amroh Umaemah

 

ABSTRAK Umaemah, Amroh.2015.Penggunaan Strategi RAFT Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Pada Siswa Kelas Delapan MTs Salafiyah Syafiiyah Babakan Ciwaringin Cirebon. Thesis. Program Pascasarjana pada Pendidikan Bahasa Inggris,Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. M. Adnan Latief, M.A.,Ph.D. (2) Dr. Enny Irawati, M.Pd. Kata Kunci: Strategi RAFT, peningkatan, kemampuan menulis. Walaupun ketrampilan menulis mempunyai peran yang signifikan dalam kehidupan sehari hari, nampaknya di MTs Salafiyah Syafiiyah Babakan Ciwaringin Cirebon,mengajarkan ketrampilan menulis mengalami kesulitan dalam meningkatkan kemampuan murid-murid dalam bidang tersebut. Hasil penelitian pendahuluan menjelaskan murid-murid MTs Salafiyah Syafiiyah mengalami kesulitan dalam hal : menuangkan ide, mengungkapkan topik, memilih kata- kata yang tepat, menggunakan tata bahasa yang sesuai dengan konteks kalimat dan rendahnya motivasi siswa dalam belajar ketrampilan menulis. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas kolaboratif, yaitu kerjasama antara peneliti dan guru dalam menyiapkan prosedur strategi RAFT yang sesuai dengan kondisi siswa,membuat rencana pengajaran, menentukan kriteria kesuksesan belajar, melakukan tindakan, mengamati dan melakukan refleksi. Strategi ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan menulis teks pesan pendek. RAFT adalah strategi menulis dengan memahami empat komponen kegiatan proses menulis. Keempat komponen tersebut adalah: Role (Peran sebagai penulis), Audience (Tulisan tersebut ditujukan kepada siapa), Format ( bentuk tulisan yang dipilih) Topik (yang menjadi bahan tulisan atau subyek tulisan ). Keempat komponen tersebut merupakan kunci dalam menuangkan ide dan isi tulisan. Strategi ini dipilih karena telah banyak digunakan dan terbukti dalam berbagai penelitian. Pertanyaan penelitiannya adalah sejauh mana Strategi RAFT dapat meningkatkan kemampuan menulis teks pesan pendek pada siswa kelas dua MTs Salafiyah Syafiiyah Babakan Ciwaringin Cirebon. Subyek penelitian ini adalah 30 siswa MTs Salafiyah Syafiiyah Babakan Ciwaringin Cirebon Jawa Barat tahun ajaran 2015/2016. Penelitian ini menggunakan dua siklus, setiap siklusnya terdiri atas tiga kali pertemuan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, catatan lapangan, tes menulis dan questionnaire. Ada dua kriteria keberhasilan belajar, yaitu :1) Kemampuan murid-murid berhasil apabila seluruh siswa mencapai nilai minimum yang telah ditentukan, yaitu 55. 2) Keterlibatan siswa yang aktif dalam prosess implementasi RAFT mencapai 75 % . Temuan penerapan strategi RAFT berhasil meningkatkan kemampuan menulis. Peningkatan dari siklus 1 sampai siklus 2, dibuktikan dengan kenaikan prosentase keberhasilan siswa sesuai kriteria keberhasilan belajar yang telah ditentukan. Kriteria keberhasilan pertama adalah jika seluruh siswa (100%) mencapai standar minimal atau lebih dari nilai standar (55) yang telah ditentukan, maka siswa dinyatakan berhasil dalam pelajaran menulis teks pesan singkat.Temuan penelitian memperlihatkan pada siklus pertama terdapat 60 %, sedangkan disiklus ke dua, 100% siswa berhasil mecapai nilai standar yang telah ditentuan (55), bahkan lebih. Kriteria kedua adalah Jika 75% siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Disiklus 1 ada 74,24 % siswa sedangkan di siklus 2, 77,55% siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan tersebut.Temuan lainnya adalah prosedur mengimplementasikan RAFT yang meliputi beberapa tahapan yaitu: (1) peneliti meminta siswa berkelompok dan memilih murid yang pandai menjadi pemimpin kelompok; (2) memperlihatkan strategi RAFT dari video; (3) Menjelaskan pentingnya RAFT dalam proses penulisan;(4) Membimbing siswa meneliti komponen RAFT sebagai alat mengungkapkan ide, yaitu Role yang maksudnya adalah penulis posisinya sebagai apa?,Audience siapa pembacanya?, Format, bentuk tulisannya apa? apakah surat, iklan, artikel, undangan, memo atau pesan pendek.Topik adalah apa yang ingin diungkap tulisan tersebut?; (5) memberikan latihan menuangkan RAFT;(6) Membimbing kelompok mengisi RAFT sesuai pernyataan yang ada?; (7) Mempresentasikan RAFT hasil diskusi; (8) Memberikan model RAFT untuk teks pesan pendek; (9) meminta kelompok meneliti rancangan RAFT untuk teks pesan singkat; (10) Menjelaskan RAFT utk tulisan teks pesan pendek serta ciri-cirinya; (11) Membimbing siswa untuk meneliti tata bahasa yang digunakan dalam teks pesan pendek; (12) Membimbing kelompok menulis RAFT dengan format teks pesan pendek; 913) Mengklarifikasi kelompok menulis RAFT sebagai proses pengumpulan gagasan; (14) Meminta kelompok meneliti komponen topik RAFTnya; (15) Membimbing siswa menemukan kata-kata yang sesuai dengan topik pada komponen RAFT; (16) Meminta kelompok menentukan tata bahasa yang digunakan sesuai dengan topik; (17) Meminta kelompok membuat rancangan tulisan berdasarkan RAFT yang telah dibuat; (18) Kelompok mempresentasikan RAFT dan rancangan tulisan didepan kelas; (19) Guru mengklarifikasi presentasi siswa; (20) Meminta setiap siswa membuat RAFT untuk teks pesan singkat; (21) Menuliskan rancangan tulisan pertama berdasarkan RAFT yang disusun; (22) meminta siswa merevisi dengan panduan , pertama direvisi sendiri kedua dengan temannya; (23) Jika diperlukan mintalah masukan dari guru; (24) Tulis kembali berdasarkan masukan dari teman dan guru; (25) Meminta murid-murid untuk mengedit sendiri dengan panduan editing; (26) Mengarahkan siswa mengedit rancangan tulisannya berdasarkan masukan dari teman maupun guru; (27) Menuliskan rancangan akhir tulisan berbentuk teks pesan pendek; (28) Meminta siswa mempublikasikan tulisannya di depan kelas, menempelkan di majalah dinding atau memposting di blog sekolah melalui internet. Berdasar temuan dapat disimpulkan; strategi RAFT efektif meningkatkan kemampuan menulis dan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar bahasa Inggris. Para guru bahasa Inggris yang mempunyai masalah yang sama disarankan menerapkan strategi RAFT sebagai salah satu alternatif meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Bagi para peneliti yang akan datang disarankan melakukan penelitian sejenis dengan tingkatan sekolah yang berbeda serta setting, subyek dan ketrampilan berbahasa yang berbeda pula.

Mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang / Nofi Sri Utami

 

Kata Kunci : Mediasi, Persidangan Izin Poligami, Pengadilan Agama Kota Malang Mediasi merupakan proses penyelesaian sengketa yang dapat memberikan akses yang lebih besar kepada para pihak menemukan penyelesaian yang memuaskan dan memenuhi rasa keadilan. Sebelum dilakukan pelaksaanaan mediasi maka pelaku harus memenuhi persyaratan mediasi yang ditentukan oleh pengadilan, dalam pelaksanaan mediasi masih banyak pelaku izin poligami yang belum mengerti akan keefektifan dilakukanya mediasi. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai mediasi dalam persidangan izin poligami. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup Faktor-faktor yang mendorong seorang suami untuk melakukan izin poligami, keefektifan mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang, pelaksanaan mediasi dalam proses persidangan di Pengadilan Agama Kota Malang, keberhasilan mediasi dalam proses persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan data permohonan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang tahun 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan trianggulasi data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap penelaah data, tahap identifikasi data, dan tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, masalah Faktor-faktor yang mendorong seorang suami untuk melakukan izin poligami. Banyak faktor yang mendorong seorang melakukan poligami meliputi istri tidak mau dicerai, suami merasa mampu secara materi, negara membolehkan poligami serta dalam islam tidak dilarang. Dengan faktor tersebut maka seorang suami melakukan poligami. Kedua, masalah keefektifan mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang. Mediasi yang dilakukan di Pengadilan Agama Kota Malang sangatlah efektif. Dimana keefektifan ini ditunjukan dengan kejelasan para pihak mengenai hak dan kewajiban yang harus dilakukan saat melakukan poligami sehingga para pihak yang melakukan izin poligami tidakada yang dirugikan karena sama-sama mengetahui kemauan masin-masing. Ketiga, masalah pelaksanaan mediasi dalam proses persidangan di Pengadilan Agama Kota Malang. Pelaksanaan mediasi ada 2 tahap yaitu tahap pramediasi dan pelaksanaan mediasi. Dimana pramediasi merupakan tahap dimana pelaku izin poligami mendapatkan tawaran mediator dari pengadilan serta melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan dalam melakukan izin poligami sedangan pelaksanaan mediasi merupakan tahap dimana pelaku izin poligami bertemu secara langsung yang dipimpin oleh seorang mediator yang telah dipilih oleh pelaku izin poligami maupun ditentukan oleh pengadilan. Keempat, masalah keberhasilan mediasi dalam persidangan izin poligami di Pengadilan Agama Kota Malang. Mediasi dikatakan berhasil jika pelaku-pelaku poligami tidakada yang keberatan dengan dilakukanya poligami dan hakim telah melaksanakan tugasnya menjadi mediator dengan memberikan nasehat-nasehat yang baik kepada pelaku poligami. Jika mediasi dinyatakan berhasil maka Pengadilan Agama akan membuatkan akta perdamaian yang disetujui oleh para pihak izin poligami kemdian digunakan sebagai bukti untuk menikah lagi. Sedangkan jika gagal maka akan dilanjutkan ke tahap persidangan.

Analisis kesulitan menyelesaikan soal-soal optika geometri siswa kelas II SMU Laboratorium IKIP MALANG / oleh Wiwik Ernawati

 

Analisis kemampuan siswa dengan gaya kognitif field independent dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah-langkah Polya / Tohir Zainuri

 

Struktur penalaran siswa SMA yang memiliki koneksi matematis tinggi dalam menyelesaikan soal / Ratna Eka Iswahyuni

 

ABSTRAK Iswahyuni, RatnaEka.2015.StrukturPenalaranSiswa SMA yangMemilikiKoneksiMatematikaTinggidalamMenyelesaikanSoal.Tesis,Program Studi Pendidikan Matematika,Pascasarjana, UniversitasNegeriMalang.Pembimbing:(I) Prof. Akbar Sutawijaya, M. Ed, Ph. D,(II)Dr.Abdur Rahman As’ari,M.Pd,M.A. KataKunci: Strukturpenalaran, koneksimatematika. Penalaranmerupakansalahsatutopikmenarikdalamduniapendidikan, terutamadalambidangmatematika.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanstruktur penalaran siswa yang memiliki koneksi matematika tinggi.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan subyek penelitian adalah tiga orang siswa yang memilikikemampuankoneksimatematikatinggi.Sedangkanuntukinstrumenpenelitianterdiridariinstrumenutamayaitupenelitisendiridaninstrumenpendukungyaitusoalteskoneksimatematika, tespenalaranproporsional, sertapedomanwawancara Penelitian ini diawali dengan pemberian tes koneksimatematikakepadasembilan orang siswakelas X dan XI MIA untukmengukurkemampuankoneksimatematikanya. Kemudianjawabansiswadianalisisberdasarkanpedomanpenskoran.Dari hasilanalisisdidapatkansiswa yang memilikikemampuankoneksitinggi, kemampuankoneksisedang, dankemampuankoneksirendah.Terdapatsebanyaktiga orang siswa yang memilikikemampuankoneksimatematikatinggi.Selanjutnya, siswa yang memilikikemampuankoneksimatematikatinggidiberikantespenalaran.Setelahselesaimengerjakansoaltespenalaran, siswatersebutdiwawancarauntukmengetahui proses dalammenghasilkanjawaban. Dari hasiljawabansiswasecaratertulisdanlisankemudiandianalisisdandideskripsikan. Hasilpenelitianmenunjukkansiswa yang memilikikoneksimatematikatinggisaatmelakukanpenalaranuntukmenyelesaikansoalmelaluilangkah-langkahkebiasaanpenalarandalam NCTM (2009) yaitumenganalisismasalah, menerapkanstrategi, menggunakankoneksi, danmerefleksisolusi.Padatahapmenganalisismasalah yang dilakukanolehsubjekyaitumengidentifikasikonsep-konsep yang relevan, prosedurataurepresentasi yang mengungkapkaninformasipentingtentangmasalahdanberkontribusiterhadapsolusi; mendefinisikankondisi yang relevan; mencaripoladanhubungan; sertamempertimbangkansituasikhusus.Padatahappertama, strukturpenalaransiswaberupapembentukanpremis-premis.Padatahapmenerapkanstrategi, subjeklebihmemilihuntukmerepresentasisoaldalambentukgambarsederhanauntukmempermudahmerekadalammemahamisoal. Sebagian besar struktur penalaran siswa untuk tahap kedua menjadi satu dengan struktur penalaran di tahap ketiga yaitu mengoneksikan premis-premis untuk mengonstruk kesimpulan yang logis.Pengoneksiandilakukanpadapremisdenganpremis, premisdengankesimpulanawal, danantarakesimpulanawalsehinggadihasilkankesimpulanakhir.Padatahapkeempatyaitumerefleksisolusi, yang dilakukansubjekadalahmenentukansolusiberdasarkanpremis-premis yang telahdikoneksikanlalumengecekkelogisandarisolusi yang merekahasilkan. Selainmenunjukkanlangkah-langkahdalamkebiasaanpenalaran, subjekjugamenunjukkanbahwadalammenyelesaikansoalmerekalebihmenggunakanpemikiran yang mendalam, teliti, danberhati-hatiuntukmenentukansolusi.Dalampenelitianini, penalaransiswa yang sepertiitudisebutpenalaransemantik.Tetapitidaksemuapenalaransemantik yang dilakukansiswamenghasilkanjawaban yang benar.Hal inidikarenakansiswamenambahkanasumsi yang belumdapatditentukankebenarannya. Saran yang dapatdikemukakandalampenelitianiniyaitu guru dapatmemfasilitasisiswauntukdapatmengembangkankemampuankoneksimatematikanyasehinggakemampuanpenalarannyajugaikutberkembang..

Daerah integral terurut bilangan bulat dan lapangan bilangan rasional
oleh Rini Dwi Astuti

 

The use of visual aids in teaching vocabulary for the fourth graders / Shelly Cardina Dona Artha

 

ABSTRAK Artha, Shelly Cardina Dona. 2015. Penggunaan Media Visual pada Pengajaran KosaKata untuk Siswa Kelas Empat.Skripsi. Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing I: Dra. Sri Andreani, M.Ed. Pembimbing II: Dr. Sri Rachmajanti, Dip. TESL, M.Pd. Keywords: media visual, menggunakan, young learners Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Penelitian ini menyelidiki media visual yang digunakan dalam pengajaran kosakata untuk siswa kelas empat di MIN 1 Malang. Subyekdalampenelitianiniadalah guru BahasaInggriskelas 4C.Selama proses pengumpulan data, peneliti mewawancarai guru Bahasa Inggris kelas 4C. Sementarauntukkegiatanpengamatan, instrumen yang digunakanadalahlembarpengamatan, field notes, dankamera.Data yang diperoleh kemudian dianalisa secara deskriptif melalui pengorganisasian dan perbandingan dengan beberapa teori yang terkait. Hasil dari analisis data menunjukkan tiga temuan. Pertama, media visual yang digunakan dalam pengajaran kosakata adalah pantomim, papan tulis, video, danflashcards (flashcards kata dan flashcardskecil bergambar). Semua media visual yang digunakanoleh guru dikategorikansebagai media yangsangat ideal untukmengajarkosakata.Yang kedua, guru menggunakanbeberapa criteria pemilihan media visual, yaitu keakraban, keterlihatan, kejelasan, dan biaya.Ketiga, guru menggunakanmedia visualdengansangat baik. Meskipunsemua media disimpulkansebagai media yang sangat ideal, akantetapiadabeberapaaspek yang harus di perbaiki.Menetapkan criteria pemilihan media jugasangatbaikkarenahalinimemberikankontribusi yang besarpadapenggunaanmedia. Cara guru menggunakan media jugadapatberpengaruhpadamotivasibelajarsiswadanberapabanyakinformasi yang siswadapatkandari proses belajar. Berdasarkanhasil penelitian, beberapa saran telah dibuat. Untuk para guru Bahasa Inggris pada umumnya, mereka seharusnya menggunakan media visual sekreatif mungkin pada proses pembelajaran mereka. Apakah itu untuk mengajar orang dewasa atau anak-anak, media visual memainkan peran penting sebagai alat untuk membantu guru dalam menyampaikan pelajaran secara efektif. Untuk guru Bahasa Inggris kelas 4C, disarankan untuk menggunakan media visual lain yang lebih menarik karena penggunaan media yang bervariasi akan menambah motivasi belajar siswa dan juga memberikan kesempatan untuk mereka mengalami hal baru dalam pembelajaran bahasa. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian dengan topik yangsamapada kelas yang berbeda.

Keterampilan proses sains dan kemampuan pemecahan masalah pada pembelajaran IPA berorientasi outdoor learning siswa kelas VII SMP Islam Almaarif 02 Singosari / Lilik Kurniawati

 

ABSTRAK Kurniawati, Lilik. 2015. KeterampilanProsesSains dan KemampuanPemecahanMasalah pada Pembelajaran IPA BerorientasiOutdoorLearningSiswaKelas VII SMP Islam Almaarif 02 Singosari. Tesis, ProgramStudiPendidikanDasarKonsentrasi IPA, Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. ArifHidayat, M.Si(II) Dr. LiaYuliati, M,Pd. Kata kunci: keterampilanprosessains, kemampuanpemecahanmasalah, outdoorlearning. PembelajaranIPAsebaiknyatidakhanyamementingkanhasiltetapi juga prosesbelajar, terutamaproseskognitif dan psikomotoriksiswadalammenguasaisuatumateri. Melaluipenerapanpembelajaran IPA berorientasioutdoorlearningdapatdikembangkanketerampilanprosessains dan kemampuanpemecahanmasalahsiswa. Penelitianinibertujuanuntukmengetahuibagaimanaketerampilanprosessains yang dikembangkan, kemampuanpemecahanmasalah, danresponsiswapada pembelajaran IPA berorientasioutdoorlearning. Penelitianinimenggunakanmixed method dengandesainembedded experimental model. Pemilihansampelmenggunakanmetodepurposive sampling, yaitu24 siswakelasVII SMP Islam Almaarif 02 Singosari.Instrumen yang digunakanterdiriatas instrument perlakuanberupaRencanaPelaksanaanPembelajaran (RPP) danLembarKerjaSiswa (LKS), instrument pengukuranberupalembarobservasiketerlaksanaanpembelajaran, lembarangketresponsiswa, lembarpedomanwawancara, lembarobservasiketerampilan proses sains, catatanlapangan, kuisdan instrument teskemampuanpemecahanmasalah. Secaraumumpenelitianinidilakukandalam 4 tahapan, yaitupretest, intervensipembelajaran IPA berorientasioutdoorlearning,posttest, danwawancarasertapemberianangket.Data dianalisissecarakualitatifdankuantitatif.Analisis data kualitatifdengancaramereduksidata, pengkodean, daninterpretasi data yang berkaitandenganketerampilan proses sains yang diterapkan,kemampuanpemecahanmasalahdanresponsiswaterhadappembelajaran IPA. Analisis data kuantitatifhasilpretestdanposttestuntukpeningkatankemampuanpemecahanmasalahmenggunakanrumus gain yang dinormalisasi (N-gain). Hasilpenelitianinimenunjukkanbahwa 1) Keterampilan proses sains yang dikembangkanpadasetiaptahapanterdiridarimelakukanpengamatan, merumuskanpertanyaan, merumuskanhipotesis,melakukaneksperimen, membuat data, mengelompokkandanmenganalisisdata, merumuskankesimpulan, mengkomunikasikan, sertamengaplikasikankonsepdanmembuatprediksi,nilai rata-rata tertinggisebesar 92.7terdapatpadaaspekmelakukaneksperimen, 2) Kemampuanpemecahanmasalahsiswapadapembelajaran IPA berorientasioutdoor learningmengalamipeningkatan, dan3) ResponsiswapadapembelajaranIPA berorientasioutdoor learningsangatpositif.

Perbedaan motivasi berprestasi dan persepsi fisika melalui proses belajar mengajar dengan pemberian tugas terstruktur siswa kelas I SLTP Negeri III Bangkalan / oleh Gema Wahyudi

 

Pemerah madu berbasis centrifugal menggunakan mikrokontroler / Bagus Prasetyo

 

Kata Kunci: Mikrohidro, Evaluasi, Jaringan Distribusi, Sistem Informasi Tegangan. Penyaluran tenaga listrik dengan kapasitas daya yang kecil seperti Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang berada di Desa Temas Kota Batu yang memakai generator sinkron 1 fasa dengan daya 10 kVA memiliki kekurangan, dari kekurangan sistem distribusi PLTMh di Desa Temas Kota Batu ini yaitu ukuran kabel yang tidak sesuai standart, tidak ketersediaannya MCB pada masing-masing group dan pentanahan untuk titik netral dan bodi peralatan yang terbuat dari logam seperti besi, sistem informasi pendeteksi jika tegangan naik maupun turun diluar batas standart seperti alarm atau indikator lampu, oleh karena itu perlu diadakannya evaluasi terhadap jaringan distribusi listrik PLTMh serta perancangan ulang dari hasil evaluasi. Adapun tujuan dari evaluasi sistem ini yaitu: mengevaluasi penghantar saluran dari output generator sampai ke jaringan penerangan jalan umum (PJU), mengevaluasi besar arus miniatur circuit breaker (MCB) utama dan saluran yang terdapat pada panel pemutus hubung bagi (PHB), merancang sistem grounding pada titik netral dan body peralatan listrik dan membuat Sistem Informasi Tegangan naik dan tegangan turun diluar batas standart. Dari hasil evaluasi didapat besar arus MCB telah rancang ulang sesuai PUIL 2000, yaitu untuk besar arus MCB utama pada penerangan dan tenaga sebesar 10A, untuk besar arus MCB utama pada penerangan sebesar 2A, sedangkan group instalasi motor pompa sebesar 6A, untuk penerangan jalan umum sebesar 2A dan group instalasi power house digunakan MCB 2A, untuk kuat hantar arus (KHA) pada output generator ke PHB menggunakan kabel NYM ukuran 2x2,5mm2, sedangkan KHA instalasi motor pompa menggunakan kabel NYM ukuran 3x1,5mm2, untuk KHA instalasi penerangan jalan umum menggunakan kabel NFA ukuran 2x6mm2, untuk resistansi pentanahan didapat nilai memilki 2Ω, pada pengujian hubung singkat MCB, besar MCB sebesar 2A akan trip pada waktu 22 detik, MCB 4A trip pada waktu 0,50 detik, MCB 6A trip pada waktu 0,42 detik dan MCB 10A trip pada waktu 0,30 detik, untuk sistem informasi tegangan akan mengeluarkan sinyal untuk memerintahkan relai jika sistem informasi mendeteksi tegangan diatas 230V untuk menghidupkan lampu merah disertai alarm dan dibawah 200V untuk menghidupkan lampu hijau disertai alarm.

Pengaruh temperatur pemanasan media pendingin terhadap kekerasan pada proses pengerasan celup baja Assab DF-2
oleh Dian Fajar Prasetyanto

 

Turunan fungsi vektor bernilai vektor / oleh Moh. Syaiful Imron

 

Kajian buku penunjang pelajaran fisika SMU kelas I cawu I / oleh Elfi Hidayati

 

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 | 658 | 659 | 660 |