Kebiasaan belajar siswa akselerasi dan siswa reguler di SMA Negeri 3 Malang / Noor Eva Turshina

 

Kata Kunci: Kebiasaan Belajar, Siswa Aselerasi, Siswa Reguler Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa kebiasaan belajar mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hasil penelitian yang dilakukan Steffe&Nesher, Grows, dan Surachmad (dalam Irawan, 1998) yang mengungkapkan bahwa hasil belajar dipengaruhi oleh kebiasaan belajar siswa. Untuk itu peneliti tergerak melakukan penelitian mengenai kebiasaan belajar yang dipusatkan pada siswa akselerasi dan siswa reguler, dimana kedua kelompok siswa tersebut memiliki banyak perbedaan antara lain pada kebiasaan belajarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebiasaan belajar siswa akselerasi dan reguler di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian dengan metode deskriptif kuantitatif disesuaikan dengan tujuan penelitian ini, yaitu untuk memperoleh gambaran tentang variabel yang diteliti yaitu kebiasaan belajar siswa akselerasi dan siswa reguler. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 3 Malang. Sampel penelitiannya yaitu total sampling untuk kelas akselerasi, dan stratified random sampling untuk kelas reguler. Instrumen yang digunakan berupa skala dan angket terbuka kebiasaan belajar. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dengan cara klasifikasi dan juga persentase. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semua siswa akselerasi SMAN 3 Malang memiliki kebiasaan belajar yang baik atau tidak ada yang berkebiasaan belajar buruk. Sedangkan untuk siswa reguler SMAN 3 Malang pada umumnya memiliki kebiasaan belajar pada tingkat yang cukup baik. Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa kebiasaan belajar siswa akselerasi lebih baik dibandingkan kebiasaan belajar siswa reguler. Meskipun demikian, baik siswa akselerasi maupun reguler sama-sama memiliki masalah dalam belajar yang apabila tidak segera mendapat penanganan maksimal maka dikhawatirkan akan menumbuhkan kebiasaan belajar yang buruk. Masalah belajar yang banyak dialami semua siswa adalah konsentrasi belajar dan adanya rasa malas belajar. Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian: (1) konselor hendaknya memaksimalkan pemberian bimbingan belajar pada siswa, (2) orang tua sepantasnya mendampingi dan memantau anak dalam belajar, dan (3) peneliti lanjut sebaiknya mengembangkan penelitian pada populasi yang lebih besar agar diperoleh gambaran yang luas tentang kebiasaan belajar antara siswa akselerasi dan siswa reguler. Dengan demikian, penelitian mengenai kebiasaan belajar siswa ini akan semakin bermafaat bagi peningkatan mutu pendidikan.

Pengaruh motivasi dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri Blitar semester gasal tahun ajaran 2010/2011 / Emy Khudhaifah

 

Kata kunci: motivasi belajar, kebiasaan belajar, prestasi. Motivasi belajar siswa kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri Blitar pada mata pelajaran sejarah berdasarkan observasi awal tergolong rendah, sedangkan kebiasaan belajar mereka tergolong kurang baik. Mereka umumnya hanya belajar saat menghadapi ujian dan jarang sekali melakukan studi atau belajar secara rutin. Cukup banyak siswa yang mempunyai kebiasaan belajar kurang baik seperti belajar dengan waktu yang tidak teratur (tidak memiliki jadwal). Prestasi belajar pada mata pelajaran sejarah siswa masih banyak yang memperoleh nilai di bawah SKM yaitu 65. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial maupun simultan motivasi belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri Blitar. Berdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan masalah, yaitu (1) apakah terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri Blitar pada mata pelajaran sejarah; (2) apakah terdapat pengaruh kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri Blitar pada pelajaran sejarah; dan (3) apakah terdapat pengaruh secara simultan antara motivasi belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri Blitar pada pelajaran sejarah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasional dan instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah proportional random sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS Madrasah Aliyah Negeri Biltar yang berjumlah 209 siswa dengan sampel sebesar 70 responden sedangkan teknik analisis datanya menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial motivasi belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini terbukti dari hasil analisis dari variabel motivasi belajar dengan uji t yaitu thitung > ttabel sebesar 2,245 > 1,995 dan signifikansi t (sig 0,00 < 0,05). Secara parsial kebiasaan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa, yang ditunjukkan hasil uji t yaitu thitung > ttabel sebesar 2,644 > 2,007 dan signifikansi t (sig 0,02 < 0,05). Kemudian diketahui secara simultan bahwa motivasi dan kebiasaan belajar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Hal ini terbukti dengan uji F yaitu Fhitung > Ftabel sebesar 4,45 > 3,13. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa diajukan. Saran yang diajukan tersebut adalah (1) pihak sekolah hendaknya juga memperhatikan faktor-faktor lain yang sekiranya dapat menunjang prestasi belajar sejarah siswa, misalnya memberikan kelengkapan dan kemudahan fasilitas sekolah yang dapat mendukung suasana belajar sejarah sehingga siswa bersemangat dalam belajar. Hal ini bisa berupa pelengkapan buku-buku sejarah yang menunjang pembelajaran, serta penambahan media pembelajaran sejarah; (2) agar guru hendaknya dapat menentukan langkah yang efektif untuk meningkatkan cara dan mutu pengajarannya; dan (3) dalam penelitian ini masih banyak variabel bebas lain yang turut berpengaruh terhadap prestasi siswa yang tidak dikaji, misalnya pendidikan guru, metode pembelajaran, intelegensi siswa, perhatian orang tua, cara mengajar guru, serta sarana dan prasarana. Oleh karena itu bagi peneliti selanjutnya hendaknya menambah variabel-variabel yang belum dikaji tersebut sehingga dapat menemukan faktor dominan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa agar selanjutnya dapat diambil langkah-langkah dalam usaha peningkatan prestasi belajar siswa.

Meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Sawojajar 5 melalui pembelajaran kooperatif model two stay two stray / Sulikin Agus Purwanto

 

Kata kunci: pembelajaran, IPA, model Two Stay Two Stray. Berdasarkan observasi awal di SDN Sawojajar 5 Malang, diketahui bahwa hasil belajar siswa kelas IV masih relatif rendah. Hasil belajar yang masih rendah ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah. Metode-metode ini membentuk siswa menjadi pasif dan kurang kreatif sehingga perlu adanya model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran Two Stay Two Stray. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Sawojajar 5 Malang dengan Kompetensi Dasar (KD) “Mengidentifikasi beberapa jenis hubungan khas (simbiosis) dan hubungan makan dan dimakan antar makhluk hidup (rantai makanan). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan aktivitas guru dalam penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (TSTS) dalam meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray, 3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dapat meningkatkan: 1) aktivitas siswa dari pra tindakan ke siklus I, dan dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan ke arah baik (B), yaitu pada tingkat K dari siklus I (5,4%) menjadi (0,4%) ke siklus II. Tingkat C dari siklus I (14,15%) menjadi (7%) ke siklus II, dan tingkat B mengalami kenaikan sebesar 12,15% yaitu dari siklus I (80,45%) menjadi (92,6%) ke siklus II, dan 2) Ketuntasan belajar siswa dari pra tindakan ke siklus I mengalami peningkatan sebesar 48,94% dan dari siklus I ke siklus II juga mengalami peningkatan hasil belajar siswa sebesar 14,2%. Dari kegiatan pra tindakan, siklus I, dan ke siklus II dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif model TSTS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun saran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti siswa ramai sendiri, guru dapat memberikan Lembar Kegiatan Kelompok pada tiap-tiap kelompok lebih dari satu lembar agar siswa lebih bertanggung jawab, namun dalam pelaksanaannya siswa tetap bekerjasama. Selain itu guru juga harus lebih merata dalam mengelola kelas supaya seluruh siswa memperoleh perhatian yang sama.

Peningkatan kemampuan menemukan ide pokok paragraf melalui model cooperative integrated reading and composition (CIRC) kelas IV SDN Tengger Lor Kabupaten Kediri /Neni Solikhah Wuragil

 

Kata kunci: peningkatan, kemampuan, model pembelajaran CIRC , ide pokok paragraf Masalah yang dihadapi oleh guru adalah kemampuan memahami bacaan siswa kelas IV SDN Tenggerlor masih rendah sehingga sulit untuk menemukan ide pokok dalam suatu paragraf. Untuk meningkatkan kemampuan menemukan ide pokok paragraf dipilih sebuah model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Dengan demikian siswa dapat meningkatkan kemampuan memahami bacaan sekaligus dapat menemukan ide pokok paragraf dengan cara kerja kelompok saling membacakan wacana kemudian menjawab pertanyaan guru berdasarkan wacana tersebut dan mencari ide pokok paragraf. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran CIRC dalam meningkatkan kemampuan menemukan ide pokok paragraf bagi siswa kelas IV SDN Tenggerlor Kabupaten Kediri, dan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalam meningkatkan ide pokok paragraf melaui model pembelajaran CIRC kelas IV SDN Tenggerlor Kabupaten Kediri. Penelitian dilaksanakan di SDN Tengger Lor Kabupaten Kediri, pada siswa kelas IV yang berjumlah 22 siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari siklus I dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Instrumen yang digunakan adalah tes baik individu maupun kelompok, lembar observasi kegiatan guru dan siswa, dan dokumentasi foto kegiatan pembelajaran. Hasil penelitian peningkatan dilihat pada saat pra tindakan hasil yang dicapai 27%, kemudian pada siklus I hasil belajar siswa juga meningkat mencapai 50%, dan pada siklus II hasil belajar siswa juga meningkat mencapai 91%. Dari angka persentase hasil belajar siswa pada pratindakan, siklus I, dan siklus II menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menemukan ide pokok paragraf. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk menemukan ide pokok paragraf hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang lebih inovatif dan mengajak siswa lebih aktif seperti model pembelajaran CIRC. Dalam menerapkan model pembelajaran CIRC, hendaknya guru memahami kegiatan pokok dan komponen-komponen yang terdapat pada model pembelajaran tersebut sehingga dapat diterapkan secara maksimal.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui penggunaan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran siswa kelas III SDN Sumbersari 03 Kabupaten Blitar / Suprih Hartini

 

Kata kunci: IPS, lingkungan, media Pembelajaran IPS sampai sekarang ini ada yang berpendapat hanya sekedar menghafalkan fakta-fakta yang disampaikan secara monoton, hal ini perlu dihindari. Guru harus berupaya untuk memberikan materi dengan cara yang berbeda, yang disukai dan dekat dengan siswa agar hasil belajar yang diperoleh meningkat. Guru dapat menggunakan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. Media lingkungan banyak terdapat disekitar siswa sehingga cocok digunakan sebagai wahana untuk menyampaikan materi kepada siswa. Hal ini merupakan latar belakang dari judul skripsi yang disusun. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimanakah penggunaan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran dan apakah penggunaan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas III SDN Sumberasri 03 Kabupaten Blitar. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran dan mendeskripsikan penggunaan lingkungan sekolah dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS kelas III SDN Sumberasri 03 Kabupaten Blitar Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas III SDN Sumberasri 03 Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar Tahun Pelajaran 2010/2011. Data yang diperoleh berupa hasil soal evaluasi, lembar observasi kegiatan belajar mengajar (aktivitas guru dan siswa di dalam kegiatan pembelajaran). Dari hasil analisis, penggunaan media lingkungan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Terbukti dengan pra siklus 63,15%, siklus I menjadi 71,05%, naik sebesar 7,9% dan siklus II menjadi 81,05% naik sebesar 10%. Pembahasan hasil penelitian, bahwa penggunaan media lingkungan sekolah dapat meningkatkan aktivitas guru dan siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa sejumlah 19 orang sehingga dapat mencapai ketuntasan secara klasikal. Berdasarkan dari penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan lingkungan sekitar di dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan aktivitas siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran serta hasil belajar siswa mengalami ketuntasan baik secara perorangan maupun klasikal.

Penggunaan metode bermain peran (pasar-pasaran) dalam upaya meningkatkan kecerdasan interpersonal pada kelompok B di RA Al Karomah Pandan Sekarmojo / Siti Mariyam

 

Kata kunci: Bermain peran (pasar-pasaran), Meningkatkan Kecerdasan Interpersonal PAUD Kecerdasan interpersonal memungkinkan anak untuk berkomunikasi dan memahami orang lain, mengerti kondidi dan pikiran atau suasana hati yang berbeda. Untuk menstimulus dan meningkatkan kecerdasan interpersonal anak, metode bermain peran (pasar-pasaran) sangat tepat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran Dengan demikian rumusan masalah yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan di kelompok B RA Al Karomah Pandan Sekarmojo, adalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah cara meningkatkan kecerdasan interpersonal anak kelompok B di RA Al Karomah dengan metode bermain peran. 2) Apakah dengan penggunaan metode bermain peran dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal anak kelompok B RA Al-Karomah. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) Mendeskripsikan langkah-langkah bermain peran dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal anak kelompok B di RA. Al-Karomah. 2) Mendeskripsikan penggunaan metode bermain peran dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal anak kelompok B di RA Al-Karomah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif berbentuk penelitian tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah anak kelompok B di RA Al Karomah Pandan Sekarmojo yang berjumlah 20 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran dan dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bermain peran (pasar – pasaran) dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal anak kelompok B berdasarkan lembar observasi pada siklus I hasil aktifitas pembelajaran pada pengembangan kecerdasan interpersonal anak terdapat 8 anak bintang dua dan 12 anak bintang tiga. Siklus II 10 anak bintang tiga sudah mencapai kompetensi dan 10 anak mencapai bintang empat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode bermain peran (pasar-pasaran) dapat meningkatkan kecerdasan interpersonal anak. Saran peneliti bagi anak didik diharapkan dapat membantu anak belajar menguasai kecerdasan interpersonal anak dengan bermain peran (pasar-pasaran). Bagi guru RA/TK disarankan untuk memperbaiki proses KBM dengan bermain. Bagi peneliti lain disarankan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal yang dipadukan dengan metode lain. Dan mempersiapkan peralatan yang digunakan dengan tepat dan benar.

Strategi pencapaian target penjualan dengan penerapan bauran pemasaran dalam divisi Groocery di Giant Hypermarket Gajayana / Richy Dwi Nur Fauzi

 

Kata Kunci : Strategi, Bauran Pemasaran Bagi perusahaan-perusahaan khususnya yang bergerak di bidang retail, banyak sekali strategi-strategi yang harus dilakukan dalam merebut pasar. Strategi merupakan cara fundamental dari tujuan sekarang dan yang direncanakan, pergerakan sumber daya manusia dan interaksi dari organisasi dengan pasar dan faktor-faktor lingkungan lain. Mengingat keberhasilan suatu perusahaan retail ditentukan oleh banyaknya jumlah penjualan yang terjadi, maka setiap perusahaan harus mampu menerapkan setiap strategi pemasaaran secara maksimal. Salah satu perusahaan retail besar yaitu Giant Hypermarket Gajayana juga menerapkan beberapa strategi dalam melakukan pemasaran barang-barangnya kepada konsumen. Strategi bauran pemasaran menjadi salah satu strategi penting yang dilakukan oleh Giant Hypermarket Gajayana. Bauran pemasaran yang terdiri dari product (produk), price (harga), place (tempat) dan promotion (promosi) menjadi perhatian penting di Giant Hypermarket Gajayana. Product adalah kegiatan menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Price adalah kegiatan menentukan besarnya harga. Place adalah kegiatan mendistribusikan produk ke tempat konsumen. Promotion adalah keegiatan mempromosikan produk agar dikenal oleh konsumen. Produk merupakan elemen kunci dari program pemasaran. Keberadaan akan produk menjadi faktor penentu bagi konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Seberapa besar sebuah perusahaan mampu menyediakan produk bagi konsumen, sebesar itu juga pengaruh yang akan didapatkan oleh perusahaan. Seiring dengan berubah-ubahnya selera dan kebutuhan konsumen maupun banyaknya pesaing yang bermunculan, maka perusahaan juga harus menyesuaikan kondisi yang sedang terjadi di pasar dan juga melakukan differensiasi terhadap suatu produk. Strategi itulah yang dijalankan oleh Giant Hypermarket Gajayana dalam menunjang keberhasilan perusahaan sehingga menjadi perusahaan besar seperti saat ini. Strategi harga juga menjadi perhatian penting dalam kegiatan pemasaran di Giant Hypermarket Gajayana. Faktor harga berpengaruh besar bagi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian. Selain itu, strategi harga juga bermanfaat bagi perusahaan untuk menghadapi para pesaing. Tempat atau saluran distribusi juga menjadi faktor pendukung dari keberhasilan suatu perusahaan khususnya bagi perusahaan yang bergerak di bidang retail. Giant Hypermarket Gajayana sebagai perusahaan besar tentunya memiliki jaringan distribusi yang luas dan itu merupakan dampak positif yang akan ditimbulkan bagi perusahaan. Kegiatan promosi merupakan salah satu strategi yang dilakukan Giant Hypermarket Gajayana dalam menunjang keberhasilan perusahaan. Dengan melakukan promosi, maka perusahaan akan semakin dikenal masyarakat dan secara tidak langsung akan berdampak pada meningkatnya jumlah pendapatan perusahaan. Keberhasilan Giant Hypermarket Gajayana menjadi perusahaan besar seperti sekarang ini tentunya juga tidak lepas dari beberapa faktor pendukung yang terlibat di dalam menjalankan operasional perusahaan. Faktor-faktor pendukung tersebut antara lain adalah (1) Luas toko memungkinkan bagi Giant Hypermarket Gajayana untuk melakukan pengadaan produk atau penjualan berbagai macam produk, (2) Banyaknya perusahaan pesaing memungkinkan Giant Hypermarket Gajayana untuk menentukan strategi harga yang signifikan dengan perusahaan-perusahaan lain, (3) Nama besar Giant Hypermarket memudahkan prusahaan ini untuk mendapatkan dan memperluas saluran distribusi, (4) Adanya modal yang tersedia tidak menghalangi perusahaan ini untuk mengadakan promosi. Selain beberapa faktor pendukung, tentunya juga terdapat beberapa faktor penghambat yang dihadapi oleh Giant Hypermarket Gajayana, antara lain adalah (1) Tingkat penjualan beberapa produk yang terkadang menurun mengakibatkan sering terjadi penumpukan barang di gudang, (2) Banyaknya pesaing sering berpengaruh terhadap perubahan strategi harga, (3) Sering terjadinya keterlambatan pengiriman barang dari distributor, (4) Situasi pasar yang berubah-ubah menuntut pihak Giant Hypermarket Hajayana untuk sering melakukan promosi di luar perencanaan sebelumnya.

Penerapan cooperative learning model think pair share untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pelayanan BK di kelas VII D di SMPN 1 Asembagus / Yuni Khairiyanti

 

Kata Kunci : Cooperative learning, think pair share, aktivitas belajar Berdasarkan UU No.20 tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan bertujuan untuk mengembangkan kamampuan atau potensi siswa dan membentuk watak yang bermartabat serta cerdas. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap kelas VII D di SMPN 1 Asembagus, tingkat aktivitas belajar dalam mata pelajaran BK di kelas masih rendah. Hal ini dapat dilihat saat siswa menerima materi BK dari konselor di kelas. Siswa terlihat hanya diam saja saat pemberian materi berlangsung. Teknik yang digunakan konselor membosankan bagi siswa yaitu teknik ekspositori lisan. Tujuan dilakukannya penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menerapkan pendekatan cooperative learning model think pair share adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa di SMPN 1 Asembagus, sehingga siswa berpartisipasi aktif dalam pemberian layanan BK di kelas. Penelitian yang dilaksanakan ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK), salah satu jenis rancangan penelitian kualitatif di bidang pendidikan. Rancangan penelitian kualitatif berlandaskan pada filsafat postpositivisme. PTK dengan menerapkan pendekatan cooperative learning model think pair share terdiri atas tiga tahapan yaitu tahap think, tahap pair, dan share. PTK terdiri atas dua siklus, siklus tersebut terdiri atas: rencana tindakan I, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Dari hasil refleksi tersebut disusun lagi rencana kegiatan pada siklus II, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas VII D di SMPN 1 Asembagus yang berjumlah 40 siswa (terdiri atas 19 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan). Data penelitian meliputi : 1) hasil observasi pada refleksi awal, 2) hasil observasi ketepatan tindakan konselor selama pemberian layanan bimbingan di kelas, 3) hasil observasi aktivitas belajar siswa selama menerima layanan bimbingan, dan 4) hasil wawancara pra tindakan dan pasca tindakan oleh konselor. Hasil analisis dan refleksi tindakan pada siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa dengan penerapan cooperative learning model think pair share. Hal ini terlihat dari temuan penelitian pada siklus II yang menunjukkan peningkatan dari pada siklus I. Peningkatan tersebut terlihat dari aspek kegiatan belajar siswa yang diobservasi, yakni: (1) visual activities , peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II sebesar 6%, (2) oral activities, peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II sebesar 35%, (3) motor activities , peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II sebesar 18%, (4) mental activities , peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II sebesar 14%, dan (5) emotional activities , peningkatan persentase dari siklus I ke siklus II sebesar 13%. Untuk ketepatan tindakan konselor dengan menerapkan cooperative learning model think pair share terdiri atas tiga tahap yaitu kegiatan awal, kegiatan inti (think, pair, dan share), dan kegiatan akhir/penutup juga mengalami peningkatan dari tindakan siklus I dan siklus II. Tindakan konselor dalam membina hubungan baik dengan siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 40% dan kegiatan evaluasi yang berupa pemberian rambu-rambu jawaban, menarik kesimpulan, dan memberi intruksi untuk mengumpulkan hasil diskusi mengalam peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 20%. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan cooperative learning model think pair share dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas dengan menerapkan pendekatan cooperative learning model think pair share, maka diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) Pemberian layanan BK di kelas hendaknya menarik, misalnya menggunakan teknik cooperative learning model TPS agar siswa antusias mengikuti pelayanan BK di kelas, (2) Konselor harus mampu menguasai kelas agar kondisi kelas tetap kondusif, misalnya dengan memahami karakteristik siswa, mengetahui kebutuhan siswa, atau dengan mengetahui apa yang diinginkan siswa sehingga konselor mudah untuk menguasai kelas, (3) Konselor hendaknya memberi variasi metode pelayanan bimbingan di kelas dalam memberikan layanan BK agar siswa tidak bosan dengan metode yang digunakan konselor dan siswa lebih antusias mengikuti pelayanan BK di kelas, misalnya menggunakan metode TPS. Metode ini menggabungkan tiga kegiatan yaitu think, pair, dan share. Dalam satu kali pertemuan siswa akan melakukan tiga kegiatan secara bergantian yaitu membahas soal dengan cara berpikir secara mandiri, diskusi secara berpasangan, dan persentasi di depan kelas sehinggga siswa tidak merasa bosan dalam mengikuti bimbingan di kelas.

Pengembangan multimedia pembelajaran mata pelajaran seni budaya dan keterampilan materi pengenalan notasi balok dengan menggunakan software Swishmaz siswa kelas 2 SDK Santa Maria 1 Malang / Yovita Pungkas Pangesdiyanti

 

Kata Kunci : Pengembangan, Multimedia, Software Swishmax, Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan Kelas 2 SD Mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan pada sub pelajaran Seni Musik kelas 2 semester 2 di sekolah dasar, siswa dituntut untuk memahami dasar-dasar dalam bermusik yaitu memahami melodi (tempo) dan notasi. Guru sering mengalami kesulitan mengenalkan notasi balok kepada siswa karena keterbatasan media, sehingga tujuan pembelajaran tidak sepenuhnya dapat dicapai. Selama ini guru sering menyampaikan materi dengan manggunakan bahasa verbal dan gambar diam, membuat siswa dapat memahami materi secara kongkret. Terbatasnya media pembelajaran tentang seni music juga menjadi salah satu kendala. Sedangkan siswa dituntut untuk menguasai dasar notasi balok sebelum siswa mempelajari alat musik. Pembelajaran konvensional juga membuat pemahaman siswa masih berupa gambaran yang abstrak tentang materi yang diberikan, sehingga guru memerlukan media pembelajaran yang tepat yang dapat digunakan dalam mendukung kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini multimedia merupakan media yang tepat karena memiliki unsur teks, gambar, animasi, dan audio untuk memperjelas materi pengenalan notasi balok. Dengan kelengkapan unsur media yang terdapat dalam multimedia memiliki potensi untuk mengatasi kesulitan pembelajaran serta dapat mencapai tujuan pembelajaran,yaitu : (1) memahami unsur seni musik; (2) menjelaskan notasi dan birama; (3) membedakan antara notasi dengan birama; (4) mengenal notai balok; (5) mengenal dan memahami tanda istirahat,(6) membaca ritme; (7) menuliskan dasar not dalam notasi balok dalam garis paranada; (8) menyebutkan nada-nada; (9) membedakan tinggi rendah dan panjang pendeknya nada Pengembangan media pembelajaran ini mempunyai tujuan untuk mengembangkan sebuah multimedia pembelajaran yang efektif, yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, berupa multimedia pembelajaran mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan dengan materi pengenalan notasi balok, sehingga siswa akan lebih memahami konsep dasar dalam pemahaman materi dasar tentang bentuk notasi balok. Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan multimedia ini adalah model Sadiman (2008). Dalam sistematika pengembangannya, terdapat langkah-langkah yang akan dilakukan guna mencapai hasil yang diharapkan. Adapun tahap-tahap tersebut antara: (1) identifikasi kebutuhan; (2) perumusan tujuan; (3) perumusan butir-butir materi; (4) perumusan alat pengukur keberhasilan; (5) penulisan naskah media; (6) produksi; (7) tes/ uji coba; (8) revisi; (9) Produk siap dimanfaatkan Pengembangan multimedia pembelajaran ini memenuhi kriteria valid, yang meliputi, ahli media 90% valid, ahli materi 92,5% valid, siswa perseorangan 90% valid, uji coba kelompok kecil 88,5 valid, uji coba lapangan 92,24 % valid. Untuk hasil belajar sebelum dengan setelah menggunakan multimedia, data tersebut menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa setelah menggunakan multimedia, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang memenuhi SKM sebanyak 66,67% pada uji coba perseorangan, 60% pada uji coba kelompok kecil, dan 71,77% pada uji coba lapangan. Pengembangan ini menghasilkan sebuah multimedia yang dikembangkan dengan software swishmax dan dikemas dalam CD yang disertai dengan petunjuk pemanfaatan bagi pengguna. Diharapkan dengan adanya kelengkapan tersebut memudahkan pengguna dalam memanfaatkan multimedia “Mari Mengenal Notasi Balok”. Saran yang diberikan pengembang untuk guru bidang studi adalah supaya lebih terlibat dalam proses produksi multimedia khususnya dalam penyusunan matei dan soal tes hasil belajar siswa, sehingga materi yang disajikan sejalan dengan tujuan pembelajaran yang ditentukan. Pengembang juga berharap sebelum pelaksanaan kegiatan pembelajaran, guru mempersiapkan semua perlengkapan yang akan digunakan dan mempelajari multimedia yang akan dipakai sebelum kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan petunjuk pemanfaatan yang telah tersedia, agar dalam pelaksanaannya guru tidak mengalami kendala dalam mengoperasikan multimedia. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan multimedia, hendaknya volume guru sedikit lebih besar dari pada volume multimedia sehingga siswa juga dapat mendengarkan penjelasan guru. Guru juga diharapkan lebih sering memanfaatkan media yang berkaitan dengan teknologi komputer. Sedangkan untuk pengembang selanjutnya, diharapkan dalam proses produksi pengembangan sajian materi dapat bekerja sama dengan ahli materi dengan lebih menambah jumlah sajian materi. Pengembang juga harus lebih teliti dalam penyusunan petunjuk pemanfaatan dengan menambahkan penjelasan yang lebih rinci tentang penggunaan dan pemanfaatan multimedia.

Pengembangan bahan ajar pada kompetensi mengidentifikasi sistem pengapian dan komponennya untuk kelas XI Teknik Kendaraan Ringan di SMK N 1 Wonomerto Kabupaten Probolinggo / Taufik Hidayatullah

 

Kata Kunci: Pengembangan Bahan Ajar, RPP, dan Mengidentifikasi Sistem Pengapian dan Komponennya Pengembangan bahan ajar ini bertujuan untuk menghasilkan produk bahan ajar cetak jenis Handout dengan judul “Sistem Pengapian Baterai” yang materinya disesuaikan dengan sajian materi dalam RPP. Handout yang dikembangkan nantinya akan dijadikan salah satu sumber belajar di SMK N 1 Wonomerto guna menciptakan kreativitas belajar mandiri siswa sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Pengembangan bahan ajar ini mengadopsi model pengembangan Dick & Carey (1987). Pengembangan model Dick & Carey adalah pengembangan yang bersifat prosedural yang meliputi ; 1) mengidentifikasi tujuan umum pembelajaran, 2) analisis pembelajaran, 3) mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik peserta didik, 4) merumuskan tujuan khusus pembelajaran, 5) mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, 6) mengembangkan strategi pembelajaran, 7) mengembangkan dan memilih materi pembelajaran, 8) merancang dan melakukan penilaian formatif, 9) merevisi materi pembelajaran, 10) merancang dan melakukan penilaian sumatif. Untuk mengetahui tingkat kevalidan, kelayakan keterpakaian produk yang dihasilkan dilakukan uji kelayakan produk dalam 2 tahap, yaitu tahap uji ahli dan uji kelompok kecil. Data diambil dengan menggunakan angket, kemudian dianalisis menggunakan deskriftif kualitatif dalam bentuk persentase. Hasil pengembangan bahan ajar ini menghasilkan bahan ajar cetak jenis handout yang materinya disesuaikan dengan sajian materi dalam RPP. Produk bahan ajar di uji coba melalui dua tahap yaitu : 1) uji coba ahli yang meliputi ahli bidang studi dan ahli pembelajaran, 2) uji coba kelompok kecil. Hasil penilai/tanggapan digunakan untuk merevisi produk sebagai bagian dari proses penyempurnaan produk bahan ajar. Hasil uji coba pada tahap ahli bidang studi memperoleh skor total 83% dengan kreteria valid, sedangkan dari ahli pembelajaran memperoleh skor 92% dengan kreteria sangat valid. Kemudian tahap uji coba kelompok kecil memperoleh skor total 80%, sehingga dari uji coba yang dilakukan handout layak digunakan sebagai sumber belajar di SMK N 1 Wonomerto. Dari serangkaian uji coba dapat diketahui kelebihan dan keterbatasan bahan ajar yang telah dikembangkan. Kelebihannya yaitu 1) bahan ajar dirancang sesuai karakteristik dan kebutuhan siswa, 2) bahan ajar disesuaikan dengan menggunakan prinsip pengetahuan yang bersifat fakta, konsep dan prosedural, 3) model pengembangan yang disesuaikan adalah Dick & Carey (1987) yang sistematis dan sesuai untuk merancang pembelajaran lebih terarah Sedangkan kelemahan bahan ajar ini adalah disusun berdasarkan karakteristik dan kebutuhan siswa di SMK N 1 Wonomerto pada kompetensi mengidentifikasi sistem pengapian dan komponennya, sehingga bila bahan ajar digunakan secara luas perlu menyempurnakan atau revisi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pengguna yang luas.

Pengaruh variasi jarak sengkang terhadap kapasitas lentur balok beton bertulang bambu yang terkekang pada jalur tekannya / Achendri M. Kurniawan

 

Kata Kunci: variasi jarak sengkang, balok terkekang, jalur tekan, tulangan bambu. Didalam konstruksi bangunan perlu ditinjau struktur yang daktail, efektif dan efisien. Struktur bangunan pada saat ini masih menggunakan tulangan baja yang mengakibatkan semakin menipisnya ketersediaan baja itu sendiri. Penggunaan bambu sebagai bahan alternatif pengganti tulangan baja pada struktur beton bertulang sangat menarik untuk diteliti. Hal ini dikarenakan kuat tarik bambu hampir menyamai kuat tarik baja. Guna mencapai perencanaan pada struktur beton bertulang yang dapat menghasilkan struktur yang kuat dan daktail maka diperlukan perencanaan yang baik. Menurut Syamsudi (2005), struktur beton bertulang yang daktail dapat diperoleh dengan pengekangan yang baik (detailing confinement). Dengan model balok beton bertulang bambu dengan variasi jarak sengkang diharapkan mampu dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam peningkatan kedaktailitasan konstruksi beton dengan pemberian beban lentur. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengetahui hubungan variasi jarak sengkang terhadap kapasitas lentur yang dapat diterima balok beton bertulang bambu yang terkekang pada jalur tekannya, 2) Mengetahui hubungan variasi jarak sengkang terhadap simpangan (lendutan) maksimum yang dapat diterima balok beton bertulang bambu yang terkekang pada jalur tekannya, 3) Mengetahui perbandingan kapasitas letur analisis dengan eksperimen. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan metode deskripsi. Untuk mendeskripsikan data hasil pengujian, parameter yang digunakan adalah pembacaan beban lentur vertikal yang terbagi atas 2 titik beban dengan jarak 24 cm. Serta kapasitas lentur yang dapat diterima balok beton bertulang bambu yang terkekang pada jalur tekannya. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil pengujian kapasitas lentur pada balok beton bertulang bambu yang terkekang pada jalur tekannya dengan menggunakan kapasitas proving ring sebesar 5 ton didapatkan kapasitas lentur pada jarak sengkang 1,7 cm sebesar 2127,500 kg, kapasitas lentur pada jarak sengkang 2,5 cm sebesar 1782,500 kg, kapasitas lentur pada jarak sengkang 5 cm sebesar 1667,500 kg, dan kapasitas lentur pada jarak sengkang 8 cm sebesar 1322,500 kg, Berdasarkan grafik 4.9, menunjukkan bahwa hubungan variasi jarak sengkang terhadap kapasitas lentur sangat mempengaruhi kapasitas lentur yang dapat diterima pada balok beton bertulang bambu yang terkekang pada jalur tekannya. Hal ini menunjukan bahwa semakin rapat jarak sengkang maka semakin besar kapasitas lentur yang dapat diterima.

Peningkatan hasil belajar PKn tentang nilai-nilai Pancasila kelas II melalui metode simulasi di SDN Ngaringan 02 Gandusari Kabupaten Blitar / Nurfita Dwi Astanti

 

Kata Kunci: Peningkakatan, PKn, Nilai, metode, simulasi Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan dalam bangku pendidikan formal. Matapelajaran ini memfokuskan pada pembentukan warga negara yang baik, cerdas, terampil dan berkarakter seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945. Peningkatan kualitas pembelajaran PKn sangat diperlukan mengingat pentingnya mata pelajaran ini bagi pembentukan generasi bangsa. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pembelajaran diantaranya yaitu dengan penggunaan metode. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa di SDN ngaringan 02 memiliki permasalahan diantaranya yaitu siswa memahami nilai-nilai Pancasila, selain itu siswa belum bisa mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan metode simulasi dalam pembelajarannya. Pada penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan metode simulasi pada pembelajaran PKn kelas II SDN Ngaringan 02 Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, (2) mendeskripsikan Peningkatan hasil belajar PKn tentang nilai-nilai Pancasila kelas II SDN Ngaringan 02 Kecamatan gandusari Kabupaten Blitar. Untuk mencapai tujuan tesebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Rancangan tindakan disusun dalam satuan siklus yang terdiri, perencanaan, tindakan observasi, dan refleksi. Instrumen utama pengumpulan data dalam penelitian ini adalah peneliti dibantu guru kelas II dengan menggunakan angket, lembar observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I, siswa mempunyai ketuntasan belajar 42%. Pada siklus II siswa mempunyai ketuntasan belajar 85,7%. Hal ini menunjukan peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus II sebesar 43,7%. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan dengan menggunakan metode simulasi siswa lebih aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran. Sehingga siswa mampu mencapai kreteria ketuntasan minimal yang ditentukan oleh sekolah. Dari penelitian ini dapat disarankan guru dalam penggunaan ini member kesempatan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal yang belum atau kurang faham sebelum dilakukannya permainan simulasi. Hal itu diperlukan agar siswa lebih lancar dalam memerankan perannya saat permainan simulasi. Melaksanakan metode simulasi sesuai dengan tahap-tahapannya sehingga siswa dapat melakukan simulasi denagan baik. Selain itu guru hendaknya dalam memilih property/ perlengkapan disesuaikan dengan kondisi lingkungan siswa sehingga penggadaan property tidak menghalangi pelaksanaan kegitan simulasi.

Peningkatan kemampuan memecahkan masalah pada anak kelompok B melalui bermain menunjukkan kejanggalan gambar di RA. M. NU 32 "Al-Hikmah" Cangkringmalang-Beji-Pasuruan / Tuchfatul Aliyah

 

Kata kunci : Kemampuan Memecahkan Masalah, Bermain Menunjukkan Kejanggalan Gambar. Penelitan ini berlatar belakang adanya kemampuan memecahkan masalah pada anak kelompok B di RA. M. NU. 32 “AL HIKMAH” Cangkringmalang Beji Kabupaten Pasuruan yang relatif rendah. Berdasarkan analisis di lapangan masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran, anak masih memerlukan bimbingan dan bantuan untuk menyelesaikan tugasnya, dikarenakan pembelajaran dilaksanakan oleh siswa kelompok B, guru menganggap tugas tersebut sangat mudah bagi anak, akhirnya mereka tidak diberikan bimbingan dan pembelajaran yang tepat sehingga mengakibatkan kondisi kelas menjadi ramai, anak berlari-larian didalam kelas dan keadaan menjadi tidak terkendali. Oleh karena itu pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah kesulitan pembelajaran anak dengan bermain menunjukkan kejanggalan gambar melalui tindakan kelas. Penelitian yang dilakukan di RA. M. NU. 32 “AL-HIKMAH” Cangkring-malang Beji Kabupaten Pasuruan pada dasarnya untuk mengatasi permasalahan tersebut yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah pada anak kelompok B melalui bermain menunjukkan kejanggalan gambar di RA. M. NU. 32 “AL-HIKMAH” Cangkringmalang Beji Kabupaten Pasuruan. Untuk mencapai tujuan diatas, penelitian ini dilakukan 1 kali dalam setiap siklus. Peneliti melakukan kolaborasi dengan guru kelas kelompok B di RA. M. NU. 32 “AL-HIKMAH” Cangkringmalang Beji Kabupaten Pasuruan. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemis dan Taggart yang terdiri dari 5 tahap, mulai proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek Penelitian adalah anak kelompok B RA. M. NU. 32 “AL-HIKMAH” yang terdiri dari 15 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan memecahkan masalah pada anak kelompok B melalui bermain menunjukkan kejanggalan di RA. M. NU. 32 “AL-HIKMAH” Cangkringmalang Beji Kabupaten Pasuruan. Terbukti dari hasil belajar yang semakin meningkat yaitu pada saat pratindakaan 56.9%, pada siklus I 69.4, pada siklus II 88.7%.

Pengaruh kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja (studi pada karyawan tetap PT. Adi Putro Wirasejati Malang) / Yohanes Andy Hermawan

 

Studi mengenai komunitas punk klaker Malang berkaitan dengan kemandirian dan perilaku prososial / Dinasty Happy Pratiwi

 

Kata Kunci: komunitas, punk, Klaker, kemandirian, perilaku prososial Punk selama ini dikenal oleh masyarakat umum dengan subjektivitas mereka sebagai sampah, sesuatu yang termarjinalkan, sesuatu yang patologis. Padahal punk merupakan sebuah sikap yang tidak hanya mengecam sistem yang berlaku dalam masyarakat modern namun juga menawarkan solusi potensial untuk mewujudkan dunia yang lebih baik. Banyak kegiatan positif mereka yang tidak terliput media mainstream termasuk kemandirian dan perilaku prososial yang mereka miliki. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kemandirian dan perilaku prososial serta kaitan keduanya dalam komunitas punk Klaker Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model studi kasus. Informan dalam penelitian ini berjumlah lima orang yakni RFK, AR, G, M dan AC. Mereka berdomisili di Klayatan, daerah yang sekaligus menjadi lokasi penelitian. Mereka merupakan bagian dari komunitas punk Klaker (Klayatan-Kemantren). Klaker terbentuk pada bulan Mei 2002. Dalam komunitas, RFK merupakan vokalis dari Malang Trauma Service dengan bassist G. M merupakan personil dari Alergi Kentes. AC merupakan personil dari dua band yakni Antiphaty dan Begundal Lowokwaru. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) observasi, (2) wawancara, (3) dokumentasi. Data dianalisis dengan teknik analisis isi. Teknik pengecekan keabsahan data dilakukan dengan (1) perpanjangan pengamatan, (2) meningkatkan ketekunan, dan (3) triangulasi sumber dan metode pengambilan data. Hasil penelitian ini menunjukan komunitas punk Klaker memiliki kemandirian dan perilaku prososial. Komunitas punk Klaker memiliki etos kerja mandiri. Selain itu, dalam bermusik pun komunitas ini bergabung dalam label indie demikian juga dalam mengadakan acara DIY mereka tidak bergantung pada sponsor dari pemilik modal besar. Beberapa acara DIY tersebut bertemakan kepedulian sosial, salah satunya dengan mengadakan konser untuk menggalang dana bagi korban bencana alam. Kemandirian sebagai perwujudan ideologi DIY dan perilaku prososial sebagai cerminan ideologi unity dan equality saling terkait. Seseorang yang belum dapat menolong dirinya untuk mampu berdiri sendiri dengan tegar akan sulit menolong orang lain. Dalam komunitas, punks secara mandiri dapat menunjukan perilaku prososialnya melalui acara DIY yang bertujuan untuk menyejahterakan orang lain yang kurang beruntung. Hal yang dapat diajukan sebagai saran yakni agar masyarakat dan komunitas punks meningkatkan intensitas interaksi mereka dengan cara bekerja sama dalam melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan seperti pengadaan workshop bagi pengangguran, kerja bakti membersihkan lingkungan.

Pengaruh pemahaman dan perilaku K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) terhadap terjadinya kecelakaan kerja di SMK Muhammadiyah I Kepanjen / Yudi Yarfi Laminanto

 

Kata kunci: pemahaman K3, perilaku K3 dan kecelakaan kerja Kelalaian dan kecerobohan kerja dapat terjadi dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Minimnya akan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang K3 merupakan dampak terbesar akan terjadinya kecelakaan kerja, disamping itu juga kurangnya pemahaman siswa tentang K3 dapat mempengaruhi perilaku siswa saat praktikum di Bengkel Teknik Pemesinan di sekolah maupun di dunia industri nantinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang K3 di dalam melaksanakan praktikum, mengetahui perilaku siswa tentang K3 di Bengkel Teknik Pemesinan, mengetahui ada tidaknya pengaruh pemahaman dan perilaku K3 siswa terhadap terjadinya kecelakaan kerja di SMK Muhammadiyah I Kepanjen. Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas XI Teknik Pemesinan 3 mengenai pemahaman dan perilaku K3 siswa di Bengkel Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dimana angket digunakan sebagai instrumen pengumpul datanya. Hasil penelitian diperoleh: (1) Tingkat pemahaman K3 siswa di dalam melaksanakan praktikum di Bengkel Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen dengan kategori sangat tinggi sebesar 35,28%, kemudian kategori tinggi sebesar 39,17%, kategori sedang sebesar 16,39%, kategori rendah sebesar 7,78% dan kategori sangat rendah sebesar 1,39%. (2) Tingkat Perilaku siswa tentang K3 di bengkel SMK Muhammadiyah I Kepanjen dengan kategori sangat baik sebesar 35,56%, kemudian kategori baik sebesar 41,85%, kategori sedang sebesar 14,22%, kategori buruk sebesar 7,78% dan kategori sangat rendah sebesar 1,67%. 3) Tingkat Kecelakaan kerja di bengkel SMK Muhammadiyah I Kepanjen dengan kategori sangat rendah sebesar 56,39%, kemudian kategori rendah 16,94%, kategori sedang 20,56%, kemudian kategori tinggi 3,33% dan kategori sangat tinggi sebesar 2,78%. 4) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan pemahaman K3 siswa terhadap terjadinya kecelakaan kerja di bengkel pemesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen. 5) Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan perilaku siswa tentang K3 terhadap terjadinya kecelakaan kerja di bengkel pemesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen. 6) terdapat pengaruh yang positif dan signifikan pemahaman dan perilaku K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) terhadap terjadinya kecelakaan kerja di SMK Muhammadiyah I Kepanjen

Hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan pilihan karier siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten & Kota Blitar / Wienda Ayu Seftiana

 

Kata kunci: pilihan karier, status sosial ekonomi Salah satu tugas perkembangan masa remaja adalah memilih dan menyiapkan pekerjaan pada masa mendatang. Karena itu diperlukan pendidikan dan keterampilan agar pencapaian pekerjaan segera terpenuhi. Status sosial ekonomi orangtua menjadi salah satu faktor dalam penentuan pilihan karier siswa. Masalah yang ditemui bahwa sebagian besar siswa, terutama yang jauh dari kota cenderung masih memiliki pemikiran yang kurang terhadap pentingnya pilihan karier bagi diri sendiri. Siswa cenderung memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan orangtuanya saja tanpa mereka ketahui bahwa lapangan pekerjaan yang ada semakin lama semakin sempit dan kesempatannya semakin sedikit. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana gambaran status sosial ekonomi orang tua siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar, (2) bagaimana arah pilihan karier siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar, (3) adakah hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan pilihan karier siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar. Berkaitan dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran status sosial ekonomi orang tua siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar, (2) arah pilihan karier siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar, (3) hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan pilihan karier siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Penelitian ini mengambil populasi seluruh siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar tahun ajaran 2010/2011, sedangkan sampel penelitian dengan menggunakan teknik Proportional Random Sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan persentase dan analisis korelasional dengan menggunakan rumus Korelasi Product-Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) status sosial ekonomi orang tua siswa kelas XI SMA Negeri di kabupaten dan kota Blitar berada pada tingkat menengah, (2) pilihan karier siswa tentang: (a) rencana siswa setelah lulus SMA mayoritas ingin melanjutkan kuliah sambil bekerja, (b) pilihan bidang pekerjaan yang paling diminati siswa adalah bidang pengetahuan, (c) pilihan jenjang karier yang banyak dipilih siswa adalah Profesional dan Manajer tingkat Menengah, (3) ada hubungan antara status sosial ekonomi orang tua dengan pilihan karier siswa kelas XI SMA Negeri se-kabupaten dan kota Blitar tahun ajaran 2010/2011. Saran yang dapat diajukan: (1) sekolah bertindak sebagai fasilitator dalam pelaksanaan program bimbingan karier, (2) konselor hendaknya memberikan berbagai informasi karier yang baru kepada siswa, terutama rencana setelah lulus SMA, informasi perguruan tinggi atau lembaga bimbingan, dan bekerja sama dengan pihak yang lebih tepat dalam memberikan informasi karier, (3) orang tua memotivasi dan tidak menuntut anak untuk mengikuti pilihan pekerjaan yang diinginkan orang tua, (4) peneliti selanjutnya dapat menambahkan variabel yang belum pernah diteliti dan menentukan sampel dengan tepat agar hasil penelitian lebih akurat.

Peningkatan kemampuan menulis karangan deskripsi dengan menggunakan curah pendapat di SDN Rejosalam II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan / Evi Puspita Sari

 

Kata Kunci: Curah Pendapat, Menulis Karangan Deskripsi. Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional khususnya dalam kegiatan pengajaran. Tetapi luar biasanya, kualitas berbahasa indonesia para siswa yang masih saja jauh dengan apa yang selalu dicita-citakan. Selama ini pengajaran bahasa indonesia di sekolah cenderung konvensional bersifat hafalan penuh dengan teori linguistik yang rumit, lebih sering menyalin dari papan tulis dan buku paket sebagai buku wajib. Pola semacam itu hanya membuat siswa merasa jenuh untuk belajar bahasa indonesia. Dengan demikian penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran dalam menulis karangan deskripsi, apakah dengan penggunaan metode curah pendapat dalam menulis karangan deskripsi, guru di sisni akan mengetahui hasil belajar siswa kelas V dalam menulis karangan, dan bagaimana aktivitas belajar siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan. Sedangkan tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran curah pendapat dalam menulis karangan, mendeskripsikan curah pendapat apakah dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan dan mendeskripsikan aktivitas belajar siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis karangan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah PTK, dimana masing-masing siklus dimulai dari tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini yaitu siswa kelas V SDN rejosalam II Kecamatan Pasrepan Kabupaten Pasuruan semester 1 tahun ajaran 2010/2011. Lokasi Penelitian di SDN Rejosalam II. Penelitian ini mencakup empat instrumen yaitu 1) observasi, 2) tes, 3) Wawancara 4)dokumentasi berupa foto saat pembelajaran berlangsung. Penelitian ini dilakukan secara bersiklus. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 24 September 2010 dan siklus II dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2010. Hasil penelitian yang diperoleh adalah hasil belajar keterampilan menulis karangan pada pra siklus dengan prosentase rata-rata kelas 53,38, dengan tingkat ketuntasan mencapai 37,5% dan tingkat ketidaktuntasan mencapai 65,38%. Pada siklus I prossentase rata-rata kelas meningkat menjadi 68,65 dengan tingkat ketuntasan mencapai 73,07dan ketidaktuntasan mencapai 26,9 %. Pada siklus II prossentase rata-rata kelas meningkat menjadi 70,58 dengan tingkat ketuntasan mencapai 87,5% dan ketidaktuntasan mencapai 12,5.% dari 24 siswa. Pada siklus II siswa ada 2 siswa yang tidak masuk dikarenakan siswa tersebut sakit.

Pemanfaatan media maket untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa dalam memahami denah di kelas IV MI Miftahul Huda Dukuhsari Sukorejo Pasuruan / Nur Cholifah

 

Kata Kunci : Maket, Berbicara, Hasil Belajar. Berdasarkan observasi awal pada tanggal 19 Juli 2010 yang dilakukan peneliti saat pembelajaran bahasa Indonesia di kelas IV MI Miftahul Huda, ditemukan fakta yaitu saat pembelajaran guru menggunakan metode ceramah. Dalam pembelajaran guru tidak menggunakan media, guru dan siswa hanya menggunakan buku paket bahasa Indonesia. Pada evaluasi akhir dihasilkan skor rata-rata 6,5. Dari 17 siswa hanya 7 siswa yang mencapai nilai di atas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 70,00 dan 10 siswa lainnya dinyatakan tidak tuntas. Menyikapi permasalahan tersebut, berbagai cara dapat dilakukan, diantaranya berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran yang seharusnya diterapkan yaitu sebuah media pembelajaran yang menarik, efektif, mengikutsertakan keaktifan siswa, penggunaan media maket ini diharapkan dapat menjadi solusi pemecahan masalah yang dihadapi oleh siswa dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas IV di MI Miftahul Huda Sukorejo Pasuruan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan media maket guna meningkatkan kemampuan berbicara siswa dan hasil belajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas IV di MI Miftahul Huda. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus yang mana setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV di MI Miftahul Huda yang terdiri dari 17 siswa. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Penelitian ini menggunakan instrument pedoman observasi, pedoman wawancara, dokumen, dan soal-soal tes Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh guru (peneliti), maka Penggunaan media maket pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas IV MI Miftahul Huda sudah sesuai dengan langkah-langkah pemanfaatan media. Penggunaan media maket pada mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas IV MI Miftahul Huda sudah dapat dikatakan berhasil dengan adanya peningkatan kemampuan berbicara dan hasil belajar siswa. Hal itu ditunjukkan dari hasil analisis rata-rata hasil belajar siswa secara keseluruhan terjadi peningkatan yaitu pada refleksi awal rata-rata hasil belajar siswa 65,50. Pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa 69,26 Pada siklus 2 rata-rata hasil belajar siswa 73,97. Hasil tersebut menunjukkan siswa telah mencapai nilai di atas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 70,00. Dalam penelitian ini disarankan kepada:1) guru untuk menggunakan media maket dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia pada materi petunjuk denah suatu tempat atau lokasi, menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan referensi yang dapat difungsikan sebagai rujukan pengembangan pembelajaran. 2) kepala sekolah untuk memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai pengayaan pengembangan profesi guru dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. 3) peneliti lanjutan agar hasil penelitian ini dijadikan rujukan dan perbaikan untuk penelitian berikutnya.

Hubungan antara konsep diri dan penyesuaian sosial siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Doko Kabupaten Blitar / Agus Zaqi Firmansyah

 

Junior High Students are individuals aged between 12-15 years, where in the span of life categorized into the age of puberty or early teens. At this time the individual has to find their own identity that is very susceptible to pressure and influence from others. At this time the teenager is less able to understand their own concepts ,they still likel to be imitate the style or behavior of people who admired. The self concepts, is individual own view of their self. Self-concept consists of positive and negative self-concept. Positive self-concept indicated by the existence of a realistic knowledge (in accordance with reality) about the condition of the individual self. Conversely, negative self-concept is when a person can not judge himself. Social adjustment is a dynamic process that aims to change individual behavior to occur more appropriate relationship between the individual with the environment. It can also be described as an individual's ability to adjust to the situation in their and in the social environment in accordance with the norms that exist in a healthy manner without causing conflict for themselves and the social environment that leads into a harmonious balance in life. Someone who has a positive assessment of their will be able to adapt well. Good social adjustment will assist in the development and achievement of students This study aims to determine (1) self-concept class VIII Doko SMP Negeri 2 Doko Dictrict Blitar 2) class VIII student’s social adjustment SMP Negeri 2 Doko District Blitar (3) the relationship between self-concept and social adjustment class VIII SMP Negeri 2 Doko District Blitar. The design used in this study are correlational descriptive with a population of eighth grade junior high school. Proportional sampling using random sampling. 57 people is taken as the sample. This study used two instruments, namely: questionnaire self-concept and social adjustment questionnaire. The results of this study were analyzed by using percentage and product moment correlation analysis. The results showed that very few students who have very positive self-concept, many students who have positive self-concept, quite a lot of students who have negative self-concept, and very few students who have very negative self-concept. For the analysis of social adjustment obtained very few students who have very positive social adjustment, many students who have high social adjustment, quite a lot of students who have low level of social adjustment, and very few students who have very low social adjustment. From the analysis there was a significant correlation between self-concept and social adjustment The results of this study can be considered to school with a better understanding of the level of self-concept of students who also had something to do with social adjustment of students. For the teachers they have to help students discover a positive self-concept. Due to a positive self-concept students will easily recognize the character and personality so they will be more confident in their activities as social beings that interact with others and can put there self in a new environment. For the counselor, they may provide personal counseling services that will get the cause of children who have negative self-concept so that children will be have a better understanding for their lact and how to react, beside that the counselor can provide placement services, particularly for placement in a group of children are able to adjust themselves in groups.

Studi tentang pelaksanaan tugas-tugas perkembangan remaja siswa SMP Islam Sunan Gunung Jati Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung / Vikry Nafi'atul Ummah

 

Kata kunci : Tugas perkembangan, remaja, SMP Islam. Manusia merupakan salah satu makhluk Tuhan yang senantiasa tumbuh dan berkembang disepanjang rentang kehidupannya. Dalam perkembangannya tersebut terdapat tugas-tugas yang harus dilalui sesuai dengan tingkatan umurnya. Demikian juga dengan siswa-siswi SMP Islam Sunan Gunung Jati yang berada pada masa usia remaja dan sedang berkembang. Siswa-siswi SMP Islam Sunan Gunung Jati tinggal di asrama yang terpisah antara siswa laki-laki dan siswa perempuan. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan : (1) pelaksanaan tugas perkembangan menerima keadaan jasmani, (2) pelaksanaan tugas perkembangan remaja membina hubungan dengan teman sejenis dan teman lawan jenis, (3) pelaksanaan tugas perkembangan remaja menerima peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing, (4) pelaksanaan tugas perkembangan remaja mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lain, (5) pelaksanaan tugas perkembangan remaja mencapai kebebasan ekonomi, (6) pelaksanaan tugas perkembangan remaja mendapatkan seperangkat nilai-nilai hidup dan falsafah hidup dan (7) apakah ada perbedaan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan SMP Islam Sunan Gunung Jati dalam pelaksanaan tugas-tugas perkembangan. Jenis penelitian adalah deskriptif komparatif. Penelitian dilaksanakan di SMP Islam Sunan Gunung Jati Kec. Ngunut Kab. Tulungagung. Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas VII, VIII dan IX SMP Islam Sunan Gunung Jati sejumlah 623 orang siswa yang terdiri dari 347 orang siswa laki-laki dan 276 orang siswa perempuan. Sampel yang diambil sebanyak 31% yaitu 108 orang siswa laki-laki dan 86 orang siswa perempuan. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Penelitian menggunakan angket sebagai instrumen dalam pengumpulan data. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis uji beda dengan teknik Independent Sample T test atau uji beda dua rata-rata. Hasil dari penelitian secara keseluruhan menunjukkan bahwa siswa laki-laki sebanyak 44.44% melaksanakan tugas perkembangan menerima keadaan jasmani dengan klasifikasi rendah, siswa laki-laki sebanyak 46.30% melaksanakan tugas perkembangan membina hubungan dengan teman sejenis dan teman lawan jenis dengan klasifikasi rendah, siswa laki-laki sebanyak 53.70% melaksanakan tugas perkembangan menerima peran sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing dengan klasifikasi sedang, sebanyak 48.15 % siswa laki-laki melaksanakan tugas perkembangan mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya dengan klasifikasi sedang, kemudian sebanyak 50.93% siswa laki-laki melaksanakan tugas perkembangan mencapai kebebasan ekonomi dengan klasifikasi rendah, sebanyak 48.15% siswa laki-laki lainnya melaksanakan tugas perkembangan menerima seperangkat nilai-nilai hidup dan falsafah hidup dengan klasifikasi sedang. Pada siswa perempuan menunjukkan, sebanyak 67.44% melaksanakan tugas perkembangan menerima keadaan jasmani dengan klasifikasi sedang, sebanyak 60.47% melaksanakan tugas perkembangan membina hubungan dengan teman sejenis dan lawan jenis dengan klasifikasi sedang, sebanyak 58.14% siswa perempuan melaksanakan tugas perkembangan menerima peran sosial sesuai dengan jenis kelamin masing-masing dengan klasifikasi sedang, tugas perkembangan mendapatkan kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya dilaksanakan dengan klasifikasi sedang oleh sekitar 58.14% siswa perempuan, selanjutnya sebanyak 56.98% siswa perempuan melaksanakan tugas perkembangan mencapai kebebasan ekonomi dengan klasifikasi sedang, dan sebanyak 51.16% siswa perempuan melaksanakan tugas menerima seperangkat nilai-nilai hidup dan falsafah hidup dengan klasifikasi sedang. . Hasil pengujian analisis uji beda dapat disimpulkan bahwa nilai Thitung =0,333 jika dikonsultasikan pada tabel dengan taraf signifikansi 0,632 (5%) d.f 192, maka nilai t= 0,333<1,972. karena nilai Thitung > Ttabel maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam pelaksanaan tugas-tugas perkembangan remaja, siswa SMP Islam Sunan Gunung Jati Ngunut Tulungagung. Berdasakan pada hasil penelitian, ada beberapa saran : (1) Bagi Lembaga, penulis menyarankan hendaknya lembaga memberikan bimbingan yang bersifat kuratif terutama bagi anak laki-laki sehingga para siswa-siswi dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik dan sesuai dengan rentang umurnya; (2) Bagi Guru/ustadz, disarankan untuk membantu siswa dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangannya; (3) bagi peneliti selanjutnya, hendaknya memilih dan mengambil sampel yang lebih luas, sehingga hasilnya lebih valid.

Pengembangan kemampuan fisik motorik melalui permainan kucing dan tikus di Taman Kanak-kanak PGRI 01 Batu / Suci Kristanti

 

Key Words: Cat and Mouse game, Early Childhood Education, Physical motor Learning activity which is suitable for young learners is playing. Therefore, a kindergarten teacher can apply games that are able to facilitate the children’s development. Motor development of kindergarten is very important to improve the whole competence. Practically, that is not optimally done yet. The learning activities in TK PGRI 01 is applied using a nice method; running while jumping using the two legs with the height of about 30 cm. Using two small chairs and a ruler seems to scare some of the children because they are afraid of height. Beside, physical motor learning has not applied learning activities through games. This research aims are 1. to describe the increase of Cat and Mouse Game development trough the physical motor ability., 2. to describe the increase of Cat and Mouse Game in TK PGRI 01 Batu. The research design uses classroom action research which involves: planning, action, observation, and reflection. In this research, the researcher works with the teacher of Kindergarten grade B. The instruments used are observation and documentation. The analytic tech used is descriptive. The result of this research shows that the Cat and Mouse Game can improve the young learners’ physical motor ability in TK PGRI 01 Batu as applied through running around a circle without falling (100%) and running while taking a flag on a friend’s back (95%). Based on this research, it is known that the improvement of physical motor ability through Cat and Mouse Game indicated in running without falling and running while taking a flag can actually be applied to the kindergarten learners in TK PGRI 01 Batu.

Hubungan perilaku konsumtif dengan harga diri siswa SMA negeri se Kota Malang / Anggi Pratiwi Putri

 

Kata Kunci: Perilaku konsumtif, harga diri, siswa SMA. Perilaku konsumtif merupakan suatu fenomena yang banyak melanda kehidupan masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. Fenomena ini menarik untuk diteliti mengingat perilaku konsumtif juga banyak melanda kehidupan remaja kota-kota besar yang sebenarnya belum memiliki kemampuan financial untuk memenuhi kebutuhannya. Remaja memang sering dijadikan target pemasaran berbagai produk industri, antara lain karena karakteristik mereka yang labil, spesifik dan mudah dipengaruhi sehingga mendorong munculnya berbagai gejala dalam perilaku membeli yang tidak wajar. Membeli dalam hal ini tidak lagi dilakukan karena produk tersebut memang dibutuhkan, namun membeli dilakukan karena alasan-alasan lain seperti sekedar mengikuti arus mode, hanya ingin mencoba produk baru, ingin memperoleh pengakuan sosial dan sebagainya. Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai perilaku konsumtif dan harga diri siswa SMA Negeri se-Kota Malang serta untuk menguji adakah hubungan perilaku konsumtif dengan harga diri siswa SMA Negeri se-Kota Malang. Dengan diketahuinya beberapa hal tersebut maka dapat dijadikan bahan evaluasi dan masukan bagi pihak sekolah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian adalah siswa SMA Negeri se-Kota Malang tahun ajaran 2010/2011. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster sampling, diperoleh sampel penelitian dengan jumlah 167 orang. Instrumen penelitian ini berupa angket model skala Likert. Analisis data dengan menggunakan analisis deskriptif (persentase) dan analisis korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sangat sedikit (4,8%) siswa berperilaku sangat konsumtif, sangat banyak (89,2%) siswa berperilaku konsumtif dan sangat sedikit (6%) siswa berperilaku tidak konsumtif, (2) sangat sedikit (3,6%) siswa memiliki harga diri tinggi, sangat banyak (95,8%) siswa memiliki harga diri sedang dan sangat sedikit (0,6%) siswa memiliki harga diri rendah, (3) dari hasil pengujian hipotesis didapat rhitung (0,537) lebih besar dari rtabel (0,127) maka dinyatakan ada hubungan yang positif dan signifikan antara perilaku konsumtif dengan harga diri siswa SMA Negeri se-Kota Malang. Berdasarkan simpulan hasil penelitian ini, disarankan pada konselor dan orang tua diharapkan lebih mengarahkan untuk berpikir dan bertindak rasional terhadap kegiatan yang menimbulkan perilaku konsumtif. Serta membimbing dan memberikan dukungan kepada putra-putrinya dalam bersosialisasi dengan teman sebaya yang sehat tanpa harus berperilaku konsumtif serta tidak membiasakan hidup bermewah-mewahan kepada putra-putrinya. Konselor memberikan layanan yang relevan kepada siswa agar mereka dapat menerima keadaan diri tanpa memaksakan merubah penampilan hingga menimbulkan perilaku konsumtif yang berlebihan. Dan memberikan pengertian bahwa segala yang dilakukan seseorang tidak harus sama dengan apa yang dilakukan orang lain.

Peningkatan kemampuan membaca ekstensif dengan strategi metakognitif siswa kelas VII SMP Maarif 1 Jatinegara-Tegal / Edi Puryanto

 

Kata kunci: strategi metakognitif, kemampuan, membaca ekstensif Sebagai salah satu keterampilan berbahasa, membaca ekstensif merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Keterampilan membaca ekstensif dibutuhkan untuk meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar. Siswa akan memperoleh pengetahuan dan pemahaman umum secara luas dari teks yang dibaca. Kenyataanya, ada permasalahan dalam kegiatan membaca ekstensif di SMP Ma’arif 1 Jatinegara Tegal. Permasalahan tersebut dapat dilihat dari pembelajaran membaca ekstensif yang belum optimal. Pada pelaksanaan pembelajaran membaca ekstensif, guru menggunakan strategi yang kurang bervariasi dan kurang inovatif. Guru mengajarkan membaca ekstensif dengan menyuruh siswa secara langsung membaca teks bacaan yang tersedia dalam buku paket. Guru tidak mengajak siswa melakukan perencanaan diri secara matang sebelum membaca ekstensif. Pada saat pelaksanaan membaca ekstensif, guru tidak mengajak siswa melakukan monitoring pemahaman isi bacaan. Guru tidak melakukan pemantauan terhadap siswa dalam memahami isi bacaan. Pada pascabaca guru langsung menyuruh siswa menjawab pertanyaan yang tersedia di bawah teks bacaan. Guru tidak memberi kesempatan pada siswa untuk mengevaluasi diri terhadap pemahaman isi bacaan atau mengadakan remedial dengan mengulang kembali membaca ekstensif. Hasil kemampuan siswa membaca ektensif masih rendah, nilai rata-rata hanya mencapai 62,05. Apabila dihubungkan dengan Kriteria Ketuntasan Belajar (KKM) mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas I di sekolah tersebut dengan angka minimal 70 hanya ada 3 atau 7,69% dari 39 siswa yang dinyatakan tuntas belajar. Salah satu strategi yang efektif untuk mengatasi permasalahan pembelajaran membaca ekstensif adalah strategi metakognitif. Penggunaan strategi ini dapat efektif karena akan melibatkan rencana-rencana atau aktivitas mental siswa yang digunakan untuk memperoleh, mengingat, dan memperbaiki berbagai macam pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan membaca ekstensif. Strategi metakognitif dalam membaca ekstensif merupakan strategi membaca ekstensif yang berkaitan dengan kesadaran siswa untuk mengatur, mengarahkan, dan mengontrol aktivitas kognitifnya melalui tiga tahap, yaitu (1) tahap perencanaan membaca ekstensif, (2) tahap pelaksanaan membaca ekstensif dengan pemonitoran, dan (3) tahap penilaian/remedial membaca ekstensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca ekstensif siswa kelas VII SMP Maarif 1 Jatinegara Tegal melalui strategi metakognitif yang mencakup tahap perencanaan membaca ekstensif, tahap pelaksanaan membaca ekstensif dengan pemonitoran, dan tahap penilaian/ remidial membaca ekstensif. Pelaksanaan penelitian tindakan dalam dua siklus, masing-masing tiga pertemuan. Subjek penelitian seorang guru dan siswa kelas VII di SMP Maarif 1 Jatinegara Tegal yang berjumlah 39 siswa. Istrumen kunci adalah peneliti yang dibantu dengan menggunakan lembar pengamatan, pedoman wawancara, lembar penilaian proses dan penilaian hasil kemampuan membaca ekstensif, serta lembar catatan lapangan. Data penelitian ini berupa hasil pengamatan aktivitas guru dan aktivitas siswa, hasil wawancara dengan guru dan siswa, kumpulan catatan lapangan, dan dokumentasi hasil kerja siswa dari setiap tindakan. Adapun analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan pengambilan simpulan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa proses dan hasil tindakan peningkatan kemampuan membaca ekstensif melalui strategi metakognitif pada siklus I belum berhasil. Proses pembelajaran membaca ekstensif pada setiap tahap belum maksimal. Pada tahap perencanaan siswa masih mengalami kesulitan dalam merumuskan tujuan, membuat prediksi cerita, dan merumuskan pertanyaan. Pada tahap pelaksanaan membaca ekstensif, sebagai siswa tidak melaksanakan membaca ekstensif sampai tuntas sehingga siswa mengalami kesulitan menemukan pokok-pokok cerita. Pada tahap evaluasi/remidial membaca ekstensif siswa melakukan evaluasi diri, mengorganisasi pemahaman terhadap isi cerita yang telah dibaca. Remidial membaca dilakukan setelah siswa menyadari bahwa ada kesulitan dalam memahami cerita yang dibaca. Hasil pembelajaran membaca ekstensif siklus I belum dinyatakan berhasil. Berdasarkan penilaian hasil dari proses pembelajaran secara kelompok kemampuan menemukan pokok-pokok isi cerita hanya memperoleh nilai rata-rata 62,50, membuat ringkasan isi cerita memperoleh nilai rata-rata 66,67, dan memberi tanggapan terhadap isi cerita memperoleh nilai rata-rata 67,36. Sedangkan hasil laporan secara individu membuat ringkasan teks cerita memperoleh nilai rata-rata 69,59. Siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 23 orang atau 58,98% dan siswa yang dinyatakan belum tuntas sebanyak 16 orang atau 48,72%. Pada siklus II proses dan hasil tindakan peningkatan kemampuan membaca ekstensif melalui strategi metakognitif pada siklus I dinyatakan berhasil. Proses pembelajaran membaca ekstensif pada setiap tahap dilaksanakan dengan baik. Pada tahap perencanaan, siswa berekplorasi melakukan peninjauan secara luas teks cerita sehingga tidak lagi menemui kesulitan dalam merumuskan tujuan, membuat prediksi cerita, dan merumuskan pertanyaan. Pada tahap pelaksanaan, siswa melakukan pemonitoran untuk memahami isi teks dengan dengan menerapkan teknik-teknik membaca ekstensif, menjawab pertanyaan isi cerita, dan menemukan pokok-pokok isi cerita. Pada tahap evaluasi/remidial, siswa melakukan evaluasi diri dan mengorganisasi kembali pemahaman terhadap isi cerita yang telah dibaca. Hasil pembelajaran membaca ekstensif siklus II telah menunjukkan keberhasilan. Berdasarkan penilaian hasil dari proses pembelajaran secara kelompok kemampuan menemukan pokok-pokok isi cerita memperoleh nilai rata-rata nilai rata-rata 79,17, membuat ringkasan isi cerita memperoleh nilai rata-rata 78,47, dan memberi tanggapan terhadap isi cerita memperoleh nilai rata-rata 80,55. Sedangan hasil laporan secara individu membuat ringkasan teks cerita memperoleh nilai rata-rata 75,64. Siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 39 orang atau 100%. Dari hasil temuan tersebut dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari siklus I ke siklus II sehingga dapat disimpulkan pembelajaran membaca ekstensif dapat ditingkatkan dengan strategi metakognitif.

Analisis pengendalian intern atas sistem penggajian pegawai tetap pada Balitjestro Kota Batu / Ernanda Dwi Savitri

 

Kata Kunci : Pengendalian Intern, Sistem, Penggajian Pengendalian intern pada sistem penggajian diciptakan untuk mengarahkan operasi-operasi instansi pemerintah supaya dapat berjalan dengan baik. Kebijakan-kebijakan inilah yang mengarahkan operasi-operasi tersebut, meliputi tindakan korektif terhadap kelemahan-kelemahan yang ada serta penyesuaian kegiatan sejalan dengan standar-standar yang telah ditetapkan atau tujuan-tujuan yang dikehendaki sehingga tujuan praktik pengendalian intern pada sistem penggajian dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada. Data yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah data-data yang berhubungan dengan proses penggajian instansi yang diperoleh selama Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro). Tujuannya adalah untuk menjelaskan sistem penggajian pegawai dan memahami kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam sistem tersebut serta pengendalian internnya. Metode pengumpulan data yang dilakukan antara lain (1) Studi Kepustakaan dan (2) Riset Lapangan yang terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil riset lapangan, menunjukkan bahwa sistem penggajian pegawai tetap pada Balitjestro terdiri dari 2 unsur berupa rangkaian prosedur dan fungsi-fungsi yang terlibat. Rangkaian prosedur tersebut meliputi prosedur pencatatan waktu hadir pegawai, prosedur pembuatan gaji pegawai dan prosedur pembayaran gaji pegawai. Sedangkan fungsi yang terlibat meliputi fungsi pencatatan, fungsi pembuat daftar gaji, fungsi akuntansi dan fungsi keuangan. Penerapan beberapa prosedur dan fungsi-fungsi yang terlibat sangat rentan oleh penyelewengan sehingga perlu diadakan tindakan pembaharuan guna terlaksananya praktik pengendalian intern yang sehat. Pada sistem penggajian Balitjestro masih terdapat 2 kelemahan. Pertama, tidak adanya pemisahan antara fungsi pembuat daftar gaji dan fungsi keuangan/pembayaran gaji. Kedua fungsi ini masih dikerjakan oleh satu orang saja sehingga perlu dilakukan restrukturisasi. Seharusnya fungsi pembuat daftar gaji dikerjakan oleh petugas bagian gaji sedangkan fungsi pembayaran gaji dikerjakan oleh bagian kasir. Kedua, kurang mutakhirnya prosedur pencatatan waktu hadir pegawai pada Kebun Percobaan. Proses pencatatan waktu hadir masih dilakukan secara manual dengan cara membubuhkan tanda tangan pada daftar hadir. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat diberikan saran antara lain (1) Melakukan restrukturisasi dengan memisahkan fungsi pembuat daftar gaji dan fungsi keuangan, (2) Melakukan pemutakhiran kembali mengenai prosedur pencatatan waktu hadir pegawai terutama yang terdapat di Kebun Percobaan, (3) Sebaiknya dibuat bagan alir agar lebih mudah dalam melaksanakan fungsi-fungsi yang terkait sehingga tercipta pengendalian intern yang baik.

Peningkatan kecerdasan linguistik melalui bermain kartu berpasangan pada kelompok B di RA. Bahrul Ulum Kemranggen Gempol-Pasuruan / Siti Zulaichah

 

Kata Kunci : Kecerdasan Linguistik, Bermain Kartu Berpasangan Latar belakang penerapan bermain sambil belajar melalui kartu berpasangan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak RA. Bahrul Ulum Kemranggen untuk meningkatkan kecerdasan linguistik terutama bercerita tentang gambar yang disediakan atau yang dibuat sendiri dengan urut dan bahasa yang jelas serta menghubungkan, menyebutkan secara sederhana dengan simbol yang melambangkannya, anak yang masih malu-malu tidak mau maju ke depan. Maka peneliti melaksanakan kegiatan dengan bermain kartu berpasangan. Rumusan masalah bagaimanakah penerapan kartu bermain berpasangan dapat meningkatkan kecerdasan linguistik dan apakah bermain kartu berpasangan dapat meningkatkan kecerdasan linguistik anak kelompok B di RA. Bahrul Ulum. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : (1) Menjelaskan penerapan bermain kartu berpasangan dalam meningkatkan kecerdasan linguistik anak Kelompok B di RA. Bahrul Ulum, (2) Mendiskripsikan peningkatan kecerdasan linguistik anak RA. Bahrul Ulum melalui bermain kartu berpasangan. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan : perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelompok B RA. Bahrul Ulum Kemranggen, Gempol-Pasuruan sebanyak 20 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi dan Dokumentasi. Hasil analisis dilihat dari taraf penguasaan pembelajaran anak. Pelaksanaan bermain kartu berpasangan menunjukkan bahwa hasil pengamatan dan observasi anak mencapai nilai 75% dengan kategori sangat baik dan mencapai ketuntasan belajar 100%. Pencapaian data pada siklus I memperoleh skor rata-rata dari 20 anak yaitu skor 67,4. Setelah dilakukan refleksi mengenai kekurangan dalam penelitian terhadap proses serta hasil tindakan, maka timbul perencaan baru untuk siklus berikutnya yaitu siklus II mengalami peningkatan menjadi skor 76,8. Penerapan bermain kartu berpasangan di RA. Bahrul Ulum Kemranggen Kabupaten Pasuruan dapat meningkatkan kecerdasan linguistik dan disarankan pada guru agar menggunakan kartu berpasangan dalam pembelajaran, sehingga anak merasa tertarik dan memotivasi untuk belajar.

Peningkatan keterampilan menulis cerita pendek sederhana melalui pengamatan lingkungan sekitar pada siswa kelas V SDN Bendo 02 Kota Blitar / Reny Charlina

 

Kata kunci: menulis, cerpen, lingkungan Keterampilan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan pada siswa. Agar siswa giat menulis karya sastra, maka diperlukan upaya yang tepat untuk memancing minat siswa dalam dunia sastra. Sebanyak 26 siswa yang mengalami hambatan dalam mengembangkan keterampilan menulis cerpen sederhana pada siswa kelas V SDN Bendo 02 Kota Blitar. Hambatan-hambatan tersebut yaitu daya imajinasi siswa masih kurang, diksi yang digunakan dalam menulis cerpen kurang bervariasi, kesulitan menentukan tema, dan kurang dapat mengembangkan ide. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan media lingkungan sekitar dalam meningkatkan keterampilan menulis cerita pendek di kelas V SDN Bendo 02 Kota Blitar, (2) mengetahui hasil peningkatan keterampilan menulis cerita pendek melalui pengamatan lingkungan di kelas V SDN Bendo 02 Kota Blitar. Sasaran pengamatan adalah siswa kelas V SDN Bendo 02 Kota Blitar yang mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia. Data dalam penelitian ini diperoleh dari evaluasi, observasi, wawancara dan dokumentasi. Evaluasi digunakan untuk mendapat data tentang kemampuan atau perolehan belajar siswa pada materi pokok Menulis Cerita pendek. Hasil penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut. (1) berdasarkan hasil tes partindakan menunjukkan bahwa rata-rata peolehan belajar siswa adalah 58,59 pada siklus I rata-rata perolehan belajar siswa adalah 62,79 dan pada siklus II adalah 67,13. Hasil skor pencapaian hasil rata-rata belajar kelas tersebut sudah bisa dikatatakan cukup baik. Dari 32 siswa hanya 9 siswa yang berada pada standar nilai minimal yaitu nilai 60, maka disarankan kepada (1) sekolah hendaknya mengembangkan penggunaan media secara kreatif dan efektif sehingga kualitas tujuan pembelajaran dapat ditingkatkan, (2) guru hendaknya lebih meningkatkan prestasi belajar siswa dengan jalan mengembangkan sistem pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya aspek menulis, sehingga kompetensi belajar siswa yang diinginkan dapat terpenuhi, dan (3) siswa hendaknya lebih semangat belajar dan berlatih, khususnya dalam meningkatkan pokok-pokok pelajaran yang masih rendah. Demikian pula, siswa perlu memupuk kesenangan, kebiasaan, dan ketrampilan menulis.

Meningkatkan kemampuan menulis cerita dengan latihan mengembangkan ide dalam gambar seri di kelas IV SDN Bangelan 03 Kabupaten Malang / Ma'ruf Eko Susanto

 

Kata Kunci : menulis cerita, gambar seri, bahasa Indonesia, sekolah dasar Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan menulis cerita siswa kelasIV SDN Bangelan 03. Berdasarhan hasil observasi yang dilakukan peneliti, siswa kurang bisa mengembangkan ide untuk dituangkan ke dalam karyanya, di samping itu kemampuan siswa dalam penggunaan tanda baca dan ejaan juga kurang. oleh sebab itu diperlukan adanya strategi yang lebih baik dalam pembelajaran, diantaranya adalah penggunaan media gambar seri. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran menulis cerita pada siswa Kelas IV SDN Bangelan 03 Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang dengan menggunakan media gambar seri, (2) Mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis cerita pada siswa Kelas IV SDN Bangelan 03 Kecamatan Wonosari Kabupaten Malang dengan menggunakan media gambar seri. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Bangelan 03 Kabupaten Malang dengan jumlah siswa sebanyak 29 anak. Pelaksanaan PTK ini terdiri dari 2 siklus dan setiap tindakan terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah dalam penelitian ini kemampuan siswa dalam menulis cerita. Kemampuan siswa dalam menulis cerita sebelum tindakan memperoleh nilai rata-rata 56,5. Setelah diberikan tindakan pada siklus I, rata-rata kemampuan menulis cerita siswa kelas IV meningkat menjadi 70,5, peningkatan nilai rata-ratanya adalah 14 (24,8%). Setelah itu dilaksanakan siklus II, hasilnya menunjukkan peningkatan nilai rata-rata menjadi 80,5, peningkatan yang terjadi dari siklus I ke Siklus II adalah 10 (14,2%). Didapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar seri dapat meningkatkan kemampuan siswa Kelas IV SDN Bangelan 03 dalam menulis cerita. Saran yang diberikan peneliti kepada para guru dan peneliti lain adalah (1) Guru dapat mengembangkan penggunaan media gambar seri pada pokok bahasan lain, (2) guru hendaknya selalu membuatan RPP, melaksanakan pengelolaan kelas yang baik, disertai komponen pelengkap pembelajaran lain, (3) penggunaan media gambar seri perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan agar memperoleh hasil yang maksimal.

Upaya peningkatan pembelajaran IPA siswa kelas IVA melalui penerapan model siklus belajar (learning cycle) di SDN Landungsari 01 Malang / Erlyk Dwi Yuliani

 

Kata kunci: pembelajaran IPA, siklus belajar Penerapan model siklus belajar setidaknya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPA kelas IVA SDN Landungsari 01 Malang, guru masih menggunakan metode konvensional dan siswa pasif selama pembelajaran. Hasil belajar siswa rata-rata masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar pratindakan yaitu 57,2 dan masih terdapat 17 siswa atau 77,3% belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 65 sehingga masih jauh dari KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model siklus belajar pada pembelajaran IPA, (2) aktivitas belajar siswa kelas IVA, (3) hasil belajar IPA setelah menerapkan model pembelajaran siklus belajar di kelas IVA. Subyek dari penelitian adalah siswa kelas IVA sebanyak 22 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk kolaboratif partisipatoris. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemmis dan Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, catatan lapangan dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model siklus belajar pada pembelajaran IPA mampu merubah cara belajar siswa dari menerima pengetahuan menjadi membentuk pengetahuan sendiri melalui serangkaian kegiatan penemuan konsep. Selain itu dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Untuk aktivitas siswa dapat terlihat dari skor rata-rata aktivitas kegiatan siswa disiklus I sebesar 74,8 dan pada siklus II skor rata-rata yang diperoleh meningkat menjadi 82. Selain itu keaktifan siswa dapat dilihat saat melakukan diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil belajar sebelumnya yaitu 57,2 dengan ketuntasan belajar kelas 22,7%, pada siklus I meningkat menjadi 65,7 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 59,1%. Sedangkan di siklus II mengalami peningkatan lagi menjadi 74,4 meskipun ada 6 siswa atau (27,3%) yang belum mencapai ketuntasan belajar secara individu, namun untuk ketuntasan belajar kelas sudah mencapai 72,7%. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk Kepala Sekolah hendaknya memotivasi agar meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran siklus belajar. Untuk guru sebaiknya menerapkan model pembelajaran siklus belajar pada pelajaran IPA dengan Kompetensi Dasar yang berbeda agar siswa lebih memahami konsep IPA dengan jelas dan mudah. Bagi peneliti yang lain mengingat pada penelitian ini masih terdapat kekurangan, diantaranya belum bisa menuntaskan hasil belajar siswa seluruhnya, maka disarankan untuk mengkombinasikan penggunaan media pembelajaran lain, lebih relevan yang sekiranya mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Disarankan juga untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan efektifitas dan motivasi belajar siswa melalui penggunaan model siklus belajar.

Pembelajaran matematika dengan pendekatan problem based learning (PBL) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas VIII-C SMP Islam Almaarif 01 Singosari / Khoirun Nisa Maulidyah

 

Kata kunci: problem based learning, motivasi belajar, prestasi belajar. Berdasarkan observasi awal melalui wawancara dengan salah satu guru matematika kelas VIII SMP Islam Almaarif 01 Singosari, diperoleh informasi bahwa motivasi dan prestasi belajar sebagian besar siswa pada mata pelajaran matematika masih tergolong rendah. Proses pembelajaran matematika di SMP Islam Almaarif 01 Singosari sering menggunakan metode ceramah dan pengerjaan soal secara individu. Siswa kurang termotivasi untuk belajar matematika. Hal tersebut berdampak pada prestasi belajar siswa yang menunjukkan bahwa masih banyak nilai tes siswa yang belum memenuhi Standar Ketuntasan Belajar Minimum (SKBM) yang ditetapkan di SMP Islam Almaarif 01 Singosari. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan pendekatan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa. Problem Based Learning , yaitu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran. Penelitian ini mendeskripsikan rancangan dan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan PBL untuk melihat motivasi dan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Islam Almaarif 01 Singosari pada materi Relasi dan Fungsi. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Proses pelaksanaan pembelajaran di awali dengan orientasi siswa kepada masalah, selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbing dalam penyelidikan individual maupun kelompok kemudian diakhiri dengan penyajian hasil karya dan evaluasi serta refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I prosentase motivasi belajar siswa sebesar 37,36% yang termasuk dalam kategori kurang dan banyaknya siswa yang tuntas belajar dalam materi relasi adalah 56,82%, sedangkan pada siklus II prosentase motivasi belajar siswa meningkat menjadi 60,43% dalam kategori baik dan banyaknya siswa yang tuntas belajar dalam materi fungsi adalah 100%. Berdasarkan ketuntasan pembelajaran yang diterapkan SMP Islam Almaarif 01 Singosari, pelaksanaan pembelajaran dikatakan berhasil apabila sekurang-kurangnya 75% siswa mendapat nilai minimal 60 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Islam Almaarif 01 Singosari.

Peningkatan keterampilan menulis narasi dengan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition siswa kelas IV SDN Sukorejo Wetan 02 Kabupaten Tulungagung / Asmiatin Anisaroh

 

Kata kunci: keterampilan menulis, narasi, model pembelajaran, cooperative intergrated reading and composition. Berdasarkan studi pendahuluan ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia tentang menulis narasi di SDN Sukorejo Wetan 02 Kabupaten Tulungagung antara lain: (1) pelaksanaan pembelajaran menulis dilakukan dengan menulis kalimat dengan huruf tegak bersambung sedangkan aktivitas untuk menulis sesuai karangan/ cerita tidak pernah diterapkan, (2) model pembelajarn bersifat satu arah, guru yang aktif dan siswa pasif,(3) guru hanya terfokus pada pencapaian target materi tanpa memperhatikan perkembangan kompetensi siswa dalam menulis narasi. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition di kelas IV SDN Sukorejo Wetan 02 Kabupaten Tulungagung, (2) untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis narasi siswa di kelas IV SDN Sukorejo Wetan 02 Kabupaten Tulungagung dengan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah IV SDN Sukorejo Wetan 02 Kabupaten Tulungagung semester I tahun pelajaran 2010/2011. waktu dan lama penelitian dimulai dari Oktober 2010 sampai Nopember 2010. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan siswa menulis narasi dengan penerapan model pembelajaran CIRC di kelas IV SDN Sukorejo Wetan 02 kabupaten Tulungagung, yaitu pada nilai proses nilai rata-rata siswa pada pratindakan sebesar 40, siklus I sebesar 74, dan siklus II sebesar 89. Pada nilai rata-rata kelompok pratindakan siswa belum dibentuk dalam kelompok, pada siklus I sebesar 70 dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 80. Presentase ktuntasan belajar siswa juga meningkat yaitu pada pratindakan sebesar 33%, siklus I sebesar 67%, dan siklus II sebesar 100%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran CIRC dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan menulis narasi siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar dalam meningkatkan keterampilan menulis narasi, guru hendaknya menyajikan kegiatan pembelajaran yang kooperatif dan menyenangkan sehingga tidak membosankan siswa. Guru hendaknya kreatif dalam memotivasi siswa untuk lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran.

Kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi di Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1977-1985 (perspektif teori kepemimpinan situasional) / Annas Thohir Syamsudin

 

Kata kunci: kepemimpinan, K.H. Imam Zarkasyi, Pondok Modern Darussalam Gontor. Kyai merupakan elemen yang paling esensial dari suatu pesantren. Keberadaan seorang kyai dalam lingkungan sebuah pesantren, adalah laksana jantung dalam kehidupan manusia. Begitu urgen dan esensialnya seorang kyai, karena dialah pengelola, pengasuh, pemimpin dan terkadang juga pemilik tunggal sebuah pesantren. Begitupula dengan kemasyhuran lembaga pendidikan Islam Pondok Modern Darussalam Gontor, tidak bisa lepas dari sosok kepemimpinan kyainya. Dalam melangsungkan pendidikan di lembaga pesantren, untuk dapat berkembang dan maju maka diperlukan menejemen pesantren yang baik. Dalam hal ini, sosok kyai tampil sebagai inti dari menejemen sebuah pesantren tersebut. Seorang kyai juga dituntut memiliki wawasan pengetahuan yang luas sehingga dalam memimpin pesantren, pengambilan keputusan yang menyangkut lembaga dapat dilakukan dengan bijaksana. K.H. Imam Zarkasyi adalah sosok pemimpin yang berhasil membawa Pondok Modern Darussalam Gontor berkembang pesat. Terlepas dari hal tersebut, K.H. Imam Zarkasyi termasuk tokoh yang juga aktif dalam kegiatan nasional. Rumusan masalah yang diangkat dari penelitian ini adalah (1) bagaimana latar belakang K.H. Imam Zarkasyi; (2) bagaimana kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi di Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1977-1985; (3) bagaimana nilai-nilai edukatif yang bisa didapat dari kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi. Adapun tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji latar belakang K.H. Imam Zarkasyi; (2) mengkaji kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi di Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1977-1985; (3) menganalisis nilai-nilai edukatif yang bisa didapat dari kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi. Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian sejarah yang meliputi lima tahap yaitu (1) pemilihan topik; (2) heuristik; (3) kritik; (4) interpretasi; (5) historiografi. Adapun hasil penelitian sebagai berikut (1) K.H. Imam Zarkasyi berasal dari keluarga terhormat yaitu memiliki hubungan darah dengan Kasepuhan Cirebon dan Pondok Tegalsari. Pendidikan yang ditempuh oleh K.H. Imam Zarkasyi adalah pendidikan formal sambil mondok. Beliau aktif dalam berbagai organisasi dan termasuk tokoh yang juga aktif dalam kegiatan nasional serta sosok yang berfikiran luas, visioner dan jauh kedepan; (2) Karakteristik K.H. Imam Zarkasyi dalam memimpin Pondok Modern Darussalam Gontor yaitu beliau merupakan sosok pemimpin yang selalu berusaha untuk memahami bawahannya dengan memperlakukan mereka secara berbeda-beda. Dalam perspektif teori Kepemimpinan Situasional, K.H. Imam Zarkasyi dalam memimpin Pondok Modern Darussalam Gontor telah menerapkan gaya telling, selling, participating, dan delegating; (3) Dari pembahasan ini dapat diambil nilai-nilai pendidikan berupa pendidikan akhlak, pendidikan keteladanan, dan pendidikan politik. Nilai-nilai pendidikan ini dapat digunakan sebagai acuan pada masa sekarang sebagai pedoman untuk bertindak. Bertolak dari penelitian ini, beberapa saran yang diajukan adalah (1) peneliti selanjutnya dapat memperdalam kajian tersebut dalam perpektif yang berbeda, karena memang kurang tepat jika menganggap gaya kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi hanya berjumlah empat saja, sebagai halnya jumlah gaya Kepemimpinan Situasional. Selain itu terdapat dimensi-dimensi spiritual khas pesantren yang tidak dapat di dikaji dengan teori ini. (2) peneliti selanjutnya juga dapat mengkaji tentang peranan K.H. Imam Zarkasyi dalam pemerintahan, mengingat keterlibatan beliau dalam beberapa organisasi pemerintahan pada waktu itu; (3) bagi pengelola lembaga pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor diharapkan agar selalu bercermin pada cara-cara yang dilakukan oleh K.H. Imam Zarkasyi dalam memimpin Pondok Modern Darussalam Gontor sehingga lembaga ini akan semakin berkembang.

Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada pembelajaran sejarah di SMP Negeri 4 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Setyo Reni Ningtyas

 

Kata Kunci: Penerapan, KTSP, Pembelajaran Sejarah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing. SMP Negeri 4 Malang merupakan salah satu sekolah berstandar nasional di kota Malang. Sebelum menjadi SMP Negeri 4 Malang, tepatnya pada saat masih menjadi PPSP, sekolah ini dalam sistem pengajarannya telah menerapkan sistem modul, tetapi dalam perkembangannya sistem modul ini tidak diterapkan lagi. Dalam pelaksanaan KTSP IPS di SMP Negeri 4 Malang masih terbagi dalam tiap bahan kajian, sehingga rekomendasi pembelajaran terpadu masih belum terlaksana. Berdasarkan hal tersebut maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah:(1) bagaimanakah pemahaman guru Sejarah mengenai KTSP di SMP Negeri 4 Malang, (2) bagaimanakah penerapan KTSP pada pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang, (3) apakah faktor pendukung dan faktor penghambat dalam penerapan KTSP di SMP Negeri 4 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan pemahaman guru Sejarah mengenai KTSP, (2) untuk mendeskripsikan penerapan KTSP pada pembelajaran Sejarah, (3) untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor pendukung dan faktor penghambat dalam penerapan KTSP. Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah pemahaman guru Sejarah di SMP Negeri 4 Malang mengenai KTSP, penerapan KTSP pada pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang serta faktor pendukung dan faktor penghambat dalam penerapan KTSP pada pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang. Untuk memperoleh data digunakan metode observasi partisipatif pasif (passive participation), wawancara mendalam (in dept interview),studi dokumentasi. Untuk menguji objektivitas dan keabsahan data digunakan teknik triangulasi sumber . Triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemahaman guru Sejarah di SMP Negeri 4 Malang mengenai KTSP sebagian besar masih terbatas hanya mengetahui secara garis besarnya. Guru hanya mampu memahami konsep dasar KTSP. Dalam kegiatan pembelajaran guru Sejarah telah menyusun program-program sesuai dengan acuan dalam KTSP, program tersebut seperti program tahunan, program semester, program mingguan dan harian, program pengayaan dan remedial, serta program pengembangan diri. Pengembangan silabus oleh guru Sejarah masih mengadopsi model silabus dari Depdiknas, selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah. Dalam penyusunan silabus guru Sejarah tidak mengalami hambatan yang berarti karena dalam penyusunannya dikerjakan secara bersama-sama dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Dalam hal penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) guru diberi kebebasan untuk mengubah, memodifikasi, dan menyesuaikan dengan kondisi sekolah dan karakteristik peserta didik. Penyusunan RPP oleh guru Sejarah dilakukan secara sekaligus untuk beberapa pertemuan, hal ini disebabkan adanya kesibukan. Pada awal pembelajaran guru Sejarah melakukan kegiatan apersepsi dan pre-test, guru masih menggunakan metode ceramah untuk membantu siswa dalam memahami materi. Dalam pembelajaran guru telah menerapkan beberapa metode, sumber belajar serta media yang cukup variatif. Evaluasi hasil belajar dilakukan guru melalui Penilaian Berbasis Kelas (PBK) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam aspek penguasaan konsep dan penerapan konsep. Selain itu, guru telah menerapkan pendekatan pembelajaran tuntas dengan mengadakan program remidi dan program pengayaan. Faktor pendukung dalam penerapan KTSP pada pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang antara lain sarana prasarana pembelajaran secara kuantitas maupun kualitas sudah cukup memadai, adanya program-program dalam rangka penerapan KTSP seperti pembentukan kepanitiaan KTSP, adanya evaluasi yang dikemas dalam rapat dinas sekolah tiap semester untuk mengevaluasi program-program yang sedang berjalan, Faktor penghambat dalam penerapan KTSP pada pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang antara lain profesionalitas guru yang masih kurang sehingga penggunaan metode pembelajaran belum bisa berlangsung secara optimal, banyaknya guru- guru yang masih kurang dalam hal penguasaan teknologi, guru-guru sejarah di SMP Negeri 4 Malang bukan alumni guru IPS, disiplin ilmu, kurangnya kesiapan siswa untuk belajar mandiri. Dari hasil penelitian tersebut maka disarankan, (1) guru hendaknya selalu meningkatkan pemahamannya tentang KTSP dan menerapkannya secara profesional, (2) guru hendaknya dapat mengembangkan kreatifitasnya sendiri dalam menyusun silabus dengan menyesuaikan kondisi dan potensi sekolah, (3) guru harus lebih kreatif dan inovatif dalam penggunaan metode pembelajaran, (4) bagi pihak sekolah hendaknya secara berkala mengadakan kegiatan seminar, workshop serta rapat kerja mengenai KTSP, sehingga pemahaman guru tentang KTSP akan semakin meningkat, (5) bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji lebih mendalam tentang sistem pengajarannya

Pengaruh inflasi dan tingkat suku bunga Bank Indonesia terhadap harga obligasi syariah yang listing di BEI pada tahun 2008-2009 / Wenda Meles Tri Nilasari

 

Kata Kunci: Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI, Harga Obligasi syariah Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindah tangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok hutang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Inflasi adalah kecenderungan kenaikan harga rata-rata untuk semua barang dan jasa. Tingkat inflasi yang tinggi biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang terlalu panas, yaitu kondisi dimana permintaan atas produk jumlahnya melebihi kapasitas dan penawaran produknya, yang mengakibatkan harga-harga cenderung mengalami kenaikan.Tingkat suku bunga SBI adalah surat berharga yang diterbitkan oleh Bank Sentral (BI) yang dilakukan atas unjuk dengan nominal tertentu dan penerbitan SBI biasanya dikaitkan dengan kebijaksanaan pemerintah terhadap operasi pasar terbuka (open market operation) dalam masalah penanggulangan jumlah uang yang beredar. Harga obligasi merupakan nilai tunai yang diterima investor dimasa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh inflasi terhadap harga obligasi syariah yang listing di BEI tahun 2008-2009 (2) pengaruh tingkat suku bunga terhadap harga obligasi syariah yang listing di BEI tahun 2008-2009 (3) pengaruh inflasi terhadap tingkat suku bunga Bank Indonesia tahun 2008-2009 Populasi yang digunakan adalah obligasi syariah yang listing di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2008-2009 sebanyak 24 obligasi, dimana dari populasi tersebut dipilih sampel dengan menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan kriteria, terpilih 6 obligasi pada 6 perusahaan yang dijadikan sampel. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis menggunakan analisis regresi dan pengujian hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) variabel inflasi tidak berpengaruh terhadap harga obligasi syariah yang listing di BEI tahun 2008-2009 (2) tingkat suku bunga SBI tidak berpengaruh terhadap harga obligasi syariah yang listing di BEI tahun 2008-2009 (3) inflasi berpengaruh terhadap tingkat suku bunga SBI tahun 2008-2009. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah (1) bagi perusahaan investasi dalam bentuk obligasi syariah merupakan investasi yang potensial karena investornya berasal dari investor syariah dan konvensional serta menggunakan sistem bagi hasil (2) bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menambahkan variabel-variabel lain diluar variabel penelitian seperti kupon, maturitas, yield, durasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga obligasi syariah (3) bagi investor investasi dalam bentuk syariah merupakan investasi yang aman karena bebas dari risiko pasar (inflasi dan tingkat suku bunga) namun investor harus juga memperhatikan hal-hal lain yang yang dapat mempengaruhi harga obligasi syariah secara langsung.

Penerapan metode simulasi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran PKn di kelas IV MI Hubbul Wathon Pandaan Pasuruan / Ahmad Subhan

 

Kata Kunci : Metode Simulasi, Aktivitas Belajar, Pkn SD Pembelajaran PKn di kelas IV MI Hubbul Wathon, menunjukkan bahwa siswa kelas IV mengalami penurunan aktivitas belajar pada materi sistem pemerintahan desa dan kecamatan. Hal ini ditandai dengan hasil observasi (refleksi awal) dari 24 siswa sekitar 70% siswa (16 orang) kurang memperhatikan pelajaran, kurang mampu mengungkapkan pendapat, kurang dalam keinginan bertanya, tidak mampu menjawab pertanyaan guru, kegiatan kerjasama kelompok kurang, dan penyelesaian tugas yang tidak tepat waktu. Dari hasil observasi tersebut maka akan ditindak lanjuti dengan penerapan metode simulasi dalam pembelajaran PKn di kelas IV MI Hubbul Wathon. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan metode simulasi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran PKn kelas IV di MI Hubbul Wathon, mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar siswa melalui penerapan metode simulasi pada mata pelajaran PKn kelas IV di MI Hubbul Wathon. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan sebanyak dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Pada pelaksanaan siklus terdiri dari planning, acting observing, dan reflecting. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV di MI Hubbul Wathon yang terdiri dari 24 siswa. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) penerapan simulasi dapat dilaksanakan dalam pembelajaran PKn dengan megikuti tahap-tahap yang telah ditulis dalam beberapa sumber buku yang dirujuk peneliti, 2) dengan menerapkan metode simulasi pada mata pelajaran PKn, dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal itu ditunjukkan dari hasil analisis rata-rata aktivitas belajar siswa secara keseluruhan terjadi peningkatan yaitu pada refleksi awal rata-rata aktivitas belajar siswa 45,2. Pada siklus I rata-rata aktivitas belajar siswa 63,6 Pada siklus 2 rata-rata aktivitas belajar siswa 74,3. Hasil tersebut menunjukkan siswa telah mencapai nilai diatas SKM (Standar Ketuntasan Minimal) yaitu 70. Baberapa saran bagi peneliti lain atau guru antara lain, 1) metode simulasi mempunyai beberapa kelebihan selain dapat meningkatkan aktivitas belajar, dapat juga meningkatkan motivasi, sikap dan juga keterampilan psikomotorik siswa, 2) kelemahan metode simulasi yang harus diperhatikan yaitu metode simulasi bisa membutuhkan waktu yang lama jika guru tidak pandai mengatur waktu serta menuntut siswa pandai bermain peran.

Deskripsi masalah karier, penyebab masalah, dan bantuan konselor pada siswa SMK Negeri 1 Bondowoso / Marlia Hesti Utari

 

Kata kunci: Masalah Karier, Penyebab Masalah, Bantuan Konselor Masalah karier adalah hambatan-hambatan yang dihadapi siswa yang membuatnya tidak dapat menentukan alternatif pengembangan karier secara cermat. Penyebab masalah adalah hal-hal yang dapat menyebabkan timbulnya masalah karier pada siswa. Bantuan yang dimaksud adalah teknik layanan yang direncanakan maupun yang diberikan oleh konselor untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah kariernya. Masalah karier dan penyebab masalahnya penting untuk diketahui agar siswa dapat memperoleh bantuan yang sesuai untuk memecahkannya. Tujuan penelitian adalah untuk (1) mendeskripsikan masalah-masalah karier yang dialami oleh siswa SMK Negeri 1 Bondowoso, (2) mendeskripsikan penyebab masalah karier yang dialami siswa SMK Negeri 1 Bondowoso, (3) mendeskripsikan bantuan apa saja yang diberikan konselor guna mengatasi masalah karier siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas X, XI, dan XII SMK Negeri 1 Bondowoso. Sampel penelitian sejumlah 198 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan angket masalah karier, penyebab masalah, dan bantuan konselor dengan pilihan jawaban ya dan tidak. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Siswa SMK Negeri 1 Bondowoso memiliki tingkat masalah karier rendah, 2) Siswa SMK Negeri 1 Bondowoso memiliki tingkat penyebab masalah cukup tinggi pada aspek motivasi siswa, sedang pada aspek kondisi ekonomi orang tua dan keadaan fisik siswa, dan rendah pada aspek pola pergaulan siswa, 3) Tingkat bantuan yang diberikan oleh konselor terhadap masalah karier siswa di SMK Negeri 1 Bondowoso tergolong tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan kepada berbagai pihak: 1) Kepala sekolah: hendaknya selalu mendukung setiap layanan bimbingan yang dilaksanakan oleh konselor, 2) Konselor: hendaknya dapat tetap melaksanakan layanan bimbingan dengan baik, agar masalah karier yang dialami oleh sebagian siswa menjadi berkurang, 3) Orang tua: hendaknya memantau, member dukungan dan kebebasan agar siswa dapat memilih karier sesuai minatnya, 4) Guru: hendaknya senantiasa membantu siswa dalam memberikan informasi-informasi karier yang penting sehingga siswa bisa terhindar dari masalah karier, 5) Peneliti lanjut: hendaknya mengadakan penelitian dengan sampel yang lebih luas.

Peningkatan proses dan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran value clarification technique (VCT) pada matapelajaran PKn kelas V di SDN Sukoharjo 1 Kota Malang / Citra Kurnia Rizkyanti

 

Kata kunci: Model Pembelajaran VCT, Matapelajaran PKn, Hasil Belajar Proses pembelajaran PKn di Sekolah Dasar menuntut guru mampu menyediakan dan mengelola pembelajaran PKn dengan metode dan teknik penunjang yang memungkinkan siswa dapat mengalami seluruh tahapan pembelajaran yang bermuatan keterampilan proses, dan penguasaan konsep. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan dengan guru kelas V di SDN Sukoharjo 1 Kota Malang tentang pembelajaran PKn diketahui beberapa permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran di kelas tersebut, diantaranya: (1) Metode mengajar yang digunakan oleh guru masih didominasi metode ceramah, (2) Aktivitas belajar siswa rendah yang ditandai oleh siswa kurang aktif dalam mencari atau menemukan pengetahuannya sendiri, (3) Hasil belajar PKn siswa kelas V masih rendah. Ada 7 siswa (24,13%) telah mencapai ketuntasan belajar individu, dan sebanyak 22 siswa (75,86%) belum mencapai ketuntasan belajar individu. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dilakukan penerapan model pembelajaran VCT. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan model pembelajaran VCT dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas V SDN Sukoharjo 1 Kota Malang pada matapelajaran PKn. (2) Mendeskripsikan peningkatan proses belajar siswa kelas V SDN Sukoharjo1 Kota Malang pada matapelajaran PKn. (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN Sukoharjo1 Kota Malang pada matapelajaran PKn Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan prosedur kerja dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 29 siswa kelas V SDN Sukoharjo 1 Kecamatan Klojen Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran VCT menunjukkan bahwa hasil belajar siswa secara klasikal terjadi peningkatan rata-rata dari 58,79 pada observasi awal menjadi 68,62 pada tindakan siklus I. Sedangkan peningkatan rata-rata dari siklus I ke siklus II meningkat dari 68,62 menjadi 75,34. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model VCT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sukoharjo 1 Kota Malang materi pokok NKRI. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapankan guru menerapkan pembelajaran VCT pada mata pelajaran PKn sehingga siswa mengetahui dan mengalami secara langsung dan materi yang diperoleh dapat diingat lebih lama.

Pengembangan permainan engklek PAUD pada pembelajaran fisik motorik anak kelompok B di TK Al-Hidayah XV Ngadirejo Kota Blitar / Eko Purnomo

 

Kata kunci : PAUD, Permaianan, Engklek Pembelajaran fisik motorik di TK Al Hidayah XV Ngadirejo Kota Blitar berjalan kurang maksimal. Keterbatasan alat yang digunakan dalam pembelajaran menyebabkan kegiatan pembelajaran menjadi lebih lama karena siswa menunggu giliran terlalu lama. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan pembelajaran fisik motorik Engklek PAUD yang mudah dilakukan dan menyenangkan bagi anak-anak sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran fisik motorik di TK Al Hidayah XV Ngadirejo Kota Blitar. Peneliti menggunakan pedoman model pengembangan dengan subyek penelitian 48 anak kelompok B di TK Al Hidayah XV Ngadirejo Kota Blitar. Tahapannya antara lain: 1). Analisis kebutuhan, 2). Membuat produk awal, 3). Tinjauan ahli, 4). Revisi produk pertama, 5). Uji kelompok kecil, 6). Revisi produk, 7). Uji lapangan, 8). Hasil akhir. Berdasarkan hasil analisa uji lapangan (kelompok besar) diperoleh penilaian sebanyak 81% anak menyatakan mudah melaakukan permainan Engklek PAUD dan sebanyak 100% anak menyatakan bahwa mereka senang melakukan permainan Engklek PAUD ini. Dengan demikian hasil klasifikasi presentase yaitu antara 80% - 100 % tergolong dalam klasifikasi baik (digunakan). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa permainan Engklek PAUD ini mudah dan menyenangkan untuk dimainkan. Sebelum dicobakan pada anak sebaiknya dipahami terlebih dahulu tentang permainan Engklek PAUD ini, alat-alat yang akan digunakan disesuaikan dengan kondisi anak. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengembangkan permainan Engklek PAUD ini menjadi model permainan bekerjasama (Cooperative Play).

Penerapan pembelajaran sains teknologi masyarakat untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 3 di SDN Mergosono 4 Kota Malang / Ririn Andriyani

 

Kata kunci: Sains Teknologi Masyarakat, Pembelajaran IPA, Hasil Belajar Proses pembelajaran IPA di Sekolah Dasar menuntut guru mampu menyediakan dan mengelola pembelajaran IPA dengan metode dan teknik yang memungkinkan siswa dapat mengalami seluruh tahapan pembelajaran yang bermuatan sains, teknologi, dan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan dengan guru kelas 3 di SDN Mergosono 4 Kota Malang tentang pembelajaran IPA diketahui beberapa permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran di kelas, diantaranya: (1) Metode mengajar yang digunakan oleh guru masih didominasi metode ceramah, (2) Aktivitas belajar siswa rendah yang ditandai oleh siswa kurang aktif dalam mencari atau menemukan pengetahuannya sendiri, (3) Hasil belajar IPA siswa kelas 3 masih rendah. Standart ketuntasan minimal untuk kelas 3 pada materi pokok lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat adalah 70. Namun 19 siswa (59%) yang mendapat nilai kurang dari 70 dan 13 siswa (41%) yang mendapat nilai 70 ke atas. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka penerapan model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) menjadi salah satu alternatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran sains teknologi masyarakat untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas 3 di SDN Mergosono 4 Kota Malang, (2) Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam Proses Pembelajaran IPA dengan penerapan pembelajaran sains teknolosi masyarakat, (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas 3 di SDN Mergosono 4 Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan prosedur kerja dilaksanakan 2 siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 32 siswa kelas 3 SDN Mergosono 4 Kota Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian dengan penerapan model pembelajaran STM menunjukkan bahwa hasil belajar secara klasikal meningkat dari rata-rata 60 meningkat menjadi 72 pada tindakan siklus I, dan meningkat menjadi 79 pada siklus II. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran STM dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 3 SDN Mergosono 4 Kota Malang materi pokok lingkungan sehat dan lingkungan tidak sehat. Saran yang diberikan peneliti dalam penerapan STM yaitu pembatasan materi sebaiknya lebih jelas, pemilihan materi yang sesuai dengan karakter STM, teknologi sederhana layak dikembangkan dikelas rendah, dan pengorganisiran waktu hendaknya dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga penerapan STM dapat terlaksana dengan baik.

Penerapan teknik pemetaan pikiran (mind mapping) untuk meningkatkan emampuan berbahasa pada anak kelompok B di TK Pertiwi Gledug I Sanankulon Blitar / Nunik Widayati

 

Kata kunci: Teknik, Mind Mapping, Kemampuan Berbahasa Manusia merupakan mahkluk sosial yang hidup bermasyarakat dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Interaksi akan berjalan lancar dengan adanya komunikasi yang baik.Salah satu kegiatan yang dapat menstimulasi otak dengan mengoptimalkan kemampuan berbahasa.Berdasarkan kenyataan di lapangan dalam penelitian awal di TK Pertiwi Gledug I Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar ditemukan bahwa perkembangan kemampuan berbahasa anak relatif rendah.Hal ini dikarenakan metode pembelajaran yang kurang tepat serta kuranya daya tarik anak dalam pembelajaran.Teknik pemetaan pikiran (Mind Mapping) dianggap tepat untuk mengatasi permasalahan yang ada, dengan Mind Mapping diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang memiliki daya tarik yang tinggi, sehingga kemampuan berbahasa anak akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan teknik Mind Mapping yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di TK Pertiwi Gledug I Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelompok B di TK Pertiwi Gledug I kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Instrumen penelitian ini adalah pedoman observasi, dokumentasi dan Tanya jawab. Hasil penelitian pada siklus I mencapai 63,4% dan siklus II memperoleh hasil mencapai 92,3% sehingga terjadi peningkatan sebesar 28,9%. Aspek sikap ingin tahu, keaktifan, dan rasa senang anak mengalami peningkatan pada siklus I mencapai 76,9% dan pada siklus II mencapai 87,3% sehingga terjadi peningkatan sebesar 10,4%. Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik Mind Mapping dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak. Berdasarkan kesimpulan disarankan kepada guru agar menerapkan teknik Mind Mapping untuk pengembangan berbahasa anak Taman Kanak-kanak (TK).

Penerapan metode pemberian tugas menggambar bebas untuk mengembangkan kemampuan seni anak kelompok B TK Al Hidayah I Talun / Anis Sofiana

 

Kata Kunci: metode pemberian tugas, kegiatan menggambar bebas, TK Penelitian ini berlatar belakang pada kurang percaya diri anak dalam menuangkan ide, imajinasi dan kreativitas dalam menggembangkan kemampuan seni menggambar bebas. Hal ini disebabkan karena dalam kegiatan pembelajaran anak cenderung dibimbing terus oleh guru, kurangnya media pembelajaran dan dalam menggambar bebas anak belum tuntas, sehingga anak tidak dapat menggembangkan kreativitasnya melalui gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode pemberian tugas untuk mengembangkan kemampuan seni menggambar bebas dan mendiskripsikan pennggunaan metode pemberian tugas dapat menggembangkan kemampuan seni menggambar bebas anak kelompok B TK Al Hidayah I Talun. Penelitian ini dilakukan di TK Al Hidayah I Talun, tanggal 15, 16 dan 18 Novenber 2010. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti juga berkolaborasi dengan Guru Kelas B. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mendukung data penellitian ini meliputi: (1) Kemampuan seni menggambar berupa imajinasi, kreativitas dan komposisi (2) keminatan dan keaktivan dalam tanya jawab, bercerita tentang gambar yang dibuat sendiri dan menggambar bebas. Penerapan metode pemberian tugas menggambar bebas dapat meningkat melalui kegiatan tanya jawab dengan gambar sesuai tema binatang dan sub tema binatang peliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) metode pemberian tugas dapat menggembangkan kemampuan seni menggambar bebas anak melalui kegiatan berbagi dan bertanya. Dengan melakukan Tanya jawab, menggunakan media gambar yang diberikan guru dan dapat melatih kemandirian percara diri anak dalam menuangkan ide dan inspirasinya melalui gambar, (2) Hal ini dapat diketahui dari peningkatan nlai proses dari pra tindakan sampai siklus II mengalami kenaikan 26% dengan rincian sebangai berikut: Pra tindakan menggambar bebas 49%, Siklus I 58% dan siklus II 74 %. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah dalam pembelajaran bidang kemampuan seni hendaknya media pembelajaran harus riil, harus komunikasi dan harus idukatif sehingga anak dapat berkembang dengan sendirinya dengan metode pemberian tugas dapat mengembangkan kreativitas anak dalam bidang pengembangan selain seni, yaitu pada bidang pengembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional.

Penggunaan lagu anak islami untuk mengembangkan kecerdasan musikal pada anak kelompok A di RA Persis Bangil / Widad

 

Kata kunci : Lagu Anak Islami, Kecerdasan Musikal Penelitian ini dilakukan karena semakin sedikitnya penggunaan Lagu Anak Islami yang digunakan bagi lembaga TK/RA sehingga pengembangan kecerdasan musikal belum maksimal terlihat.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui apakah penggunaan lagu anak Islami dapat mengembangkan kecerdasan musikal pada anak kelompok A di RA PERSIS Bangil, (2) untuk mendeskripsikan kecerdasan musikal pada kelompok A di RA PERSIS Bangil setelah mengikuti kegiatan dengan pembelajaran Lagu Anak Islami. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (Class room action Research). Dengan tahapan siklus (1) perencanaan tindakan (2) perilaku tindakan (3) observasi (4) refleksi. Subjek penelitian ialah 20 anak yang terdiri dari 12 laki dan 8 perempuan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi pedoman observasi analisis data dilakukan dengan tehnik analisis adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini adalah penggunaan lagu anak Islami untuk mengembangkan kecerdasan musikal pada anak kelompok A RA PERSIS Bangil Kabupaten Pasuruan. Pembelajaran dengan Lagu Anak Islami semakin berkembang, hal ini bisa dilihat dari perubahan siswa dari yang belum dapat menyanyikan Lagu Anak Islami menjadi dapat menyanyikan Lagu Anak Islami dengan expresi yang tampak pada wajah-wajah mereka ketika menikmati jalannya proses pembelajaran dengan rasa senang. Penggunaan Lagu Anak Islami dapat mengembangkan kecerdasan musikal pada RA PERSIS Bangil Pasuruan, hal ini tampak pada hasil observasi pada siklus I sebagian anak yang dapat mengembangkan kecerdasan musikal Lagu Anak Islami ( 39,1 %). Pada siklus II terjadi peningkatan penggunaan Lagu Anak Islami yaitu (10,15 %) Guru berperan sebagai fasilitator. Suasana proses belajar dengan menggunakan lagu anak islami lebih menyenangkan karena siswa dapat mengekspresikan dirinya.

Pengembangan inventori kebiasaan belajar berbasis komputer bagi siswa SMA / Varizal Amir

 

Key word: inventory, study habit, computer Study habit is learning method to be done by learner in the school or home, by constantly, uniformly and automatically. Study habit is one of factor can influence learning achieevement. More exellent study habit can help student get expected achieevement. To know a student is succeed or not in studying it can be known from study habit. One of way to know student tudy habit is completely. For that, it need to be developed a study habit inventory based computer. The object of development is resulted study habit inventory based compter software for Senior Hig School student can be aceepted theorycally, and then it be used by counsellor and student which tool know study habit. Methods of development research used Borg and Gall method. The development of study habit inventory based computer happened include: (1) determine topic to be developed, (2) planning (3) explain variable, indicator, descriptor, (4) developed statement item, (5) guidance expert test, (6) instrument test and observable test in field, (7) data input software, (8) media expert test, and (9) Counsellor expert test. A data is qualitative and quantitative data. Qualitative data get from input, suggest by promotor, guiadace lecturer, media expert and suggest counsellor beside that researcher accept input, comment and suggest from student about observable test in study habit inventory. Quantitative data is get from numbers in result of instrument test with statistics to know student score frecuency, calculation of validiy and reliablity coefficient. Result of development show that study habit inventory based computer have been developed: (1) has high accuracy in shown, (2) has high utility (3) the operating is easy to be used by counsellor and student (4) effective and efficient. According to result of deveopment research, suggest that will be given is: (1) counsellor, is a first promotor in implementation usage software and promotor explain the way of usage software to be learner, should comprehard software and hardware computer, because releated to software installation and to get succes implementation usage of software. Head master should provide some special computer for guidance activity and then should not join to TIK laboratory school for software aplication study habit inventory. It be done for easily and get succes implementation software completly study habit inventory. (3) To be continued in research, researcher need experiment of product to unit analysis is student to know effectiveness of output is accuracy, utility, easy and effective and efficient.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui model talking stick siswa kelas V SDN Kepanjenkidul 3 Kota Blitar / Mohamad Fatih

 

Kata kunci: membaca pemahaman, model talking stick. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa siswa belum mempunyai dan menggunakan keterampilan membaca pemahaman. Hal ini dapat diketahui dari hasil pemahaman membaca siswa kelas V di SDN Kepanjenkidul 3 Kota Blitar masih rendah. Hal ini disebabkan siswa belum sepenuhnya memahami bacaan pada materi pembelajaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan dan diterapkan model tallking stick untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman, yang pada penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan implementasi model talking stick terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Kepanjenkidul 3 Kota Blitar, (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui model pembelajaran talking stick siswa kelas V SDN Kepanjenkidul 3 Kota Blitar. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Instrumen dalam pengumpulan data penelitian ini adalah lembar wawancara, lembar observasi baik untuk aktivitas siswa maupun kemampuan guru, hasil tes dan dokumentasi. Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas V, dapat diketahui bahwa nilai yang diperoleh siswa masih berada di bawah KKM, yaitu 70, yaitu hanya 17%. Setelah menggunakan model talking stick, nilai evaluasi membaca pemahaman individu pada siklus I meningkat, yaitu menjadi 35%. Prosentase tersebut masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu 70%. Maka perlu dilakukan siklus II, dan pada siklus II nilai siswa meningkat menjadi 92%. Sedangkan nilai pada kelompok juga mengalami peningkatan yaitu 50% pada siklus I meningkat menjadi 100% pada siklus II. Aktivitas siswa dalam pembelajaran juga mengalami peningkatan, pada siklus I yaitu 60% meningkat menjadi 94% pada sikus II. Demikian juga dengan kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran talking stick juga mengalami peningkatan. Pada siklus I yaitu 60% meningkat pada siklus II menjadi 93%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran talking stick terbukti dapat meningkatkan pemahaman membaca siswa baik hasil kerja kelompok, evaluasi individu maupun aktivitas siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu disarankan bagi guru agar menggunakan model talking stick dalam pembelajaran agar hasil yang diperoleh menjadi maksimal.

Penerapan model pembelajaran learning cycle untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV di SDN Karangbesuki 04 Malang / Yayuk Supatmi

 

Kata kunci: model Learning Cycle, IPS SD, hasil belajar Pembelajaran IPS dengan metode ceramah menjadikan pembelajaran berkesan verbalisme dan monoton. Karena kegiatan siswa hanya melihat, mendengar dan mencatat, karena itu rata-rata nilai yang dicapai siswa masih dibawah kriteria yang ditetapkan disekolah yaitu 63, maka dalam penelitian ini mencoba menggunakan model pembelajaran Learning Cycle untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan model pembelajaran Learning Cycle dalam pembelajaran IPS diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajar tentang materi sumber daya alam dan kegiatan ekonomi dan siswa memiliki ketrampilan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dalam kurikulum 2006. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pelaksanaan pembelajaran IPS dengan model pembelajaran Learning Cycle materi sumber daya alam kelas IV semester I, (2) meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karangbesuki 04 Malang. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan PTK dengan model Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas IV SDN Karangbesuki 04 Malang yang berjumlah 32 anak. Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, lembar test, dan dokumentasi. Untuk test yang diberikan pada siswa, sebelumnya dilakukan pre test dengan rata-rata 37,68. Nilai ini masih jauh di bawah standar minimal ketuntasan kelas yang ditentukan oleh sekolah yaitu 63. Dari penelitian ini dapat dikemukan bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS dengan model pembelajaran Learning Cycle menjadi efektif karena siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Kemampuan guru mengajar sudah sesuai dengan RPP ini dilihat dari nilai akhir yang diperoleh dari siklus I dan II yaitu 93,23%. Kemampuan siswa terhadap pembelajaran IPS dengan model pembelajaran Learning Cycle dari siklus I dan II menunjukkan hasil rata-rata yaitu 63,61 dan 74,83.Untuk ketuntasan kelas secara keseluruhan pada kemampuan siswa terhadap model pembelajaran Learning Cycle dari siklus I dan II mengalami peningkatan yaitu 56,25% menjadi 100%. Penerapan model pembelajaran Learning Cycle dalam pembelajaran IPS di kelas IV SDN Karangbesuki 04 Malang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang menunjukkan skor rata-rata kemampuan tes siswa meningkat dari siklus I 61,90 menjadi 73,25 pada siklus II. Peningkatan skor tes siswa dari siklus I ke siklus II dengan prosentase ketuntasan sebesar 8,3%. Sedangkan hasil proses individu siswa pada siklus I 65,31 telah mengalami peningkatan menjadi 74,83. Berdasarkan hasil olahan peneliti skor rata-rata akhir siswa meningkat dari siklus I sebesar 63,61 menjadi 74,83 pada siklus I. Terjadi peningkatan skor sebesar 11,22 dengan prosentase peningkatan sebesar 8,1%. Peneliti menyarankan agar guru menerapkan model pembelajaran ini, karena sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Sikap dasar konselor da teknik pengubahan tingkah laku khas budaya Indonesia: sebuah studi perspektif hermeneutika gadamerian atas teks mengenai dakwah Walisongo / Sari Titisandy

 

Kata kunci: konselor, sikap dasar, pengubahan tingkah laku, khas budaya Indonesia, dakwah Walisongo. Perkembangan agama Islam di Jawa tidak lepas dari upaya Walisongo yang senantiasa melakukan dakwah mengenai Islam pada masyarakat Jawa. “Walisongo" berarti sembilan Wali yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Mereka adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Sikap-sikap terkenal Walisongo adalah bijaksana dan peka dalam beradaptasi dengan masyarakat Jawa. Itu semua dapat diserap sebagai sikap dasar bagi konselor Indonesia yang khas budaya Indonesia. Dalam praktiknya, konselor kurang memiliki sikap dasar yang layak sebagai konselor profesional. Konselor diharapkan memiliki sikap atau kualitas kepribadian yang ditunjukkan oleh para Wali, sehingga konselor dapat dipercaya, dihormati, dan disegani oleh konseli. Kinerja yang disertai sikap dasar kurang layak konselor seperti menghakimi konseli, menghukum konseli, atau tidak memahami kebiasaan konseli dapat menimbulkan rasa tidak nyaman konseli. Untuk itu, konselor diharapkan mampu mengaplikasikan sikap-sikap dan teknik pengubahan perilaku yang digunakan oleh Walisongo. Hal ini hendaknya dilakukan oleh konselor agar konseli merasa aman, nyaman, dan mempercayai konselor. Penelitian ini berfokus pada: 1) Apa dan bagaimanakah sikap dasar Walisongo yang dapat diserap menjadi sikap dasar konselor yang khas budaya Indonesia?, 2) Apa dan bagaimanakah teknik pengubahan perilaku yang digunakan Walisongo yang dapat diserap oleh konselor menjadi teknik pengubahan perilaku dalam konseling yang khas budaya Indonesia?. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe Hermeneutika Gadamerian, yaitu cara menafsirkan teks-teks lama sehingga didapatkan suatu informasi baru yang sesuai dengan jaman sekarang. Adapun tahap-tahap dari penelitian ini adalah: mengumpulkan teks dan buku-buku sumber, penafsiran praandaian, dan pemaparan realitas secara historis. Dalam penelitian ini, ada dua bagian kesimpulan atau hasil penelitian yaitu: pertama, ada sembilan sikap dasar konselor berdasarkan sikap Walisongo; dan kedua, ada tiga teknik pengubahan tingkah laku yang digunakan Walisongo dalam menyebarkan ajaran agama Islam pada masyarakat Jawa. Sikap dasar dan teknik pengubahan tingkah laku oleh Walisongo itu dapat diserap oleh konselor sebagai sikap dasar dan teknik pengubahan tingkah laku yang khas budaya Indonesia. Sikap dasar yang dimaksud adalah: 1) toleran, 2) rela berkorban, 3) bertanggung jawab, 4) peka, 5) penerimaan dan empati, 6) luwes atau fleksibel, 7) egaliter, 8) respek atau penuh perhatian, dan 9) narima ing pandum yang diuraikan dalam lima sifat (rela, narima, temen, sabar, dan budi luhur). Adapun tiga teknik pengubahan tingkah laku Walisongo yang dapat diserap oleh konselor adalah: 1) klarifikasi nilai, 2) teknik seni/art, dan 3) modeling. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar konsep temuan atau penteorian yang telah dipaparkan di sini dijadikan sebagai pedoman dan acuan oleh konselor dalam bimbingan dan konseling dengan nilai-nilai dan budaya khas Indonesia. Konselor dapat mengetahui dan memahami ciri kepribadian atau sikap dasar dan teknik pengubahan perilaku oleh Walisongo yang terkandung dalam nilai-nilai dan budaya Indonesia sebagaimana ditemukan dalam teks dakwah Walisongo. Di samping itu, dari hasil-hasil penelitian ini, konselor dapat meningkatkan kompetensi pribadi dengan cara mempelajari dan menyerap sikap dasar yang dimiliki Walisongo yang telah dipaparkan dalam penelitian ini. Diharapkan konselor mengaplikasikan sikap dasar Walisongo yang khas budaya Indonesia, misalnya, peka terhadap budaya yang dimiliki oleh konseli, peka terhadap konseli yang segera memerlukan bantuan konselor, luwes dalam menghadapi konseli, mempelajari karakter konseli, kebiasaan, budaya, serta adat istiadat yang dimiliki oleh konseli. Konselor juga dituntut bersikap egaliter dalam arti mengutamakan kesetaraan dan tidak membeda-bedakan konseli. Konselor juga diharapkan menggunakan teknik pengubahan perilaku yang digunakan oleh Walisongo yang telah ditemukan dalam wacana Walisongo untuk membantu konseli, misalnya konselor menggunakan teknik seni/art. Konselor diharapkan memiliki jiwa seni dan kreatif dalam memberikan bantuan kepada konseli, misalnya meminta konseli membuat puisi dengan arahan tema dari konselor dalam penyusunan komitmen atau kontrak perilaku untuk pengubahan perilaku konseli. Untuk peneliti selanjutnya, penelitian ini berguna sebagai bahan pustaka dalam kegiatan penelitian lebih lanjut tentang nilai-nilai budaya Indonesia, khususnya dakwah Walisongo dalam hubungannya dengan bimbingan dan konseling.

Penerapan metode karyawisata untuk mengembangkan emosi dan sosial siswa kelompok B di RA Al-Hamidiyah Sukorejo Pasuruan / Maria Ulfa

 

Kata Kunci : Mengembangkan, emosi sosial, RA, Karyawisata. Pengembangan emosi dan sosial di RA Al Hamidiyah mengalami kesulitan. Kesulitan ini disebabkan oleh teknik pembelajaran guru yang kurang tepat karena kurangnya permainan di dalam maupun di luar kelas. Dengan menggunakan metode karyawisata peneliti berusaha mengembangkan emosi dan sosial anak di RA Al Hamidiyah Sukorejo-Pasuruan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode karyawisata untuk mengembangkan emosi dan sosial anak di RA Al Hamidiyah Sukorejo-Pasuruan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan PTK yang di lakukan mulai awal februari sampai akhir februari 2010. subyek penelitian adalah anak RA Al hamidiyah sukorejo pasuruan yang terdiri dari 30 siswa di harapkan dengan pembelajaran metode karya wisata yang di terapkan dalam penelitian ini dapat mengembangkan emosi dan sosial di RA Al hamidiyah sukorejo pasuruan. Penelitian ini menggunakan desain action Reseach kemmis dan tanggart. Yang terdiri dari 4 tahap yaitu Perencanaan, Pelaksanaaa, Observasi, Refleksi. Hasil penelitian di kemukakan sebagagi berikut: (1) hasil observasi siswa RA Al hamidiyah pada pengembangan emosi pada siklus I pertemuan ke I sebesar 58,4% dan siklus I pertemuan ke II 78,3% maka rata-rata peningkatan pada siklus I ± 19,9%. Sedangkan pengembangan sosial pada siklus II pertemuan ke I 59,1% dan siklus ke II pertemuan II 76,9% maka rata-rata peningkatan pada siklus II adalah ± 17,8%. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan, bahwa pengembangan emosi dan sosial dapat diterapkan melalui metode karyawisata yang diterapkan dengan baik. Disarankan kepada guru agar menggunakan metode karyawisata untuk mengembangkan emosi dan sosial yang merupakan salah satu pembelajaran mengatasi permasalahan yang terjadi di RA.

Pengembangan media pembelajaran interaktif pada mata pelajaran Bahasa daerah kelas IV materi pengenalan aksara jawa Sekolah Dasar Negeri Penanggungan Kota Malang/ Tossy Aguk Satriangun

 

Kata kunci : Pengembangan,Media Pembelajaran Interaktif,Pelajaran Bahasa Daerah Media dapat diartikan suatu perantara atau pengantar pesan yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Sedangkan Media interaktif adalah media yang dapat berinteraksi secara langsung dengan pebelajar, karena interaktif memiliki komunikasi yang bersifat dua arah. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media pembelajaran interaktif yang telah melalui proses validasi pada mata Pelajaran Bahasa Daerah Kelas IV di Sekolah Dasar Penanggungan Kota Malang Media interaktif ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari media ini adalah (1) dapat digunakan secara individu (2) tidak membutuhkan waktu yang lama dalam menggunakan media ini (3) bahan ajar media bersifat interaktif sehingga siswa langsung mendapatkan feedback (balikan) dari media ini (4) dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan,dan kuis atau soal latihan (5) tampilan media disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas IV yaitu dengan penggunaan warna yang cerah dan gambar-gambar yang dapat membuat siswa tertarik dan termotivasi untuk belajar. Sedangkan kekurangan media ini adalah bahan ajar media ini hanya terbatas pada pokok materi pengenalan aksara jawa. Data pengembangan media pembelajaran interaktif ini menggunakan instrument berbentuk angket kepada ahli media, ahli materi, dan audiens (siswa) dan hasil belajar yang diberikan kepada siswa. Data tersebut diolah untuk dianalisis, di interpretasi, dan disimpulkan tingkat kevalidan dan efektivitasnya. Hasil pengembangan media pembelajran interaktif ini dikemukakan sebagai berikut: uji coba ahli media didapat persentase 93% berdasarkan kriteria hasil kelayakan, media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid, uji coba ahli materi didapat persentase 85% berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid, uji coba siswa perseorangan didapat persentase 87% kesimpulan berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid, uji coba siswa kelompok kecil didapat persentase 83% berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid, uji coba siswa kelompok kecil didapat persentase 84% berdasarkan kriteria kelayakan media pembelajaran interaktif ini termasuk kualifikasi valid. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Media Pembelajaan Interaktif Pelajaran Bahasa Daerah untuk SD kelas 4 di Sekolah Dasar Penanggungan Kota Malang valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Pengembangan permainan tradisional gobak sodor fantasi untuk pembelajaran fisik motorik anak kelompok B di TK Al-Hidayah XI Bendogerit Kota Blitar / Hari Yulianto

 

Kata kunci : Pengembangan, Permainan, Gobak Sodor Fantasi, Fisik Motorik Berdasarkan kenyataan di lapangan dalam penelitian awal ditemukan bahwa pembelajaran fisik motorik yang dilaksanakan di Kelompok B TK Al-Hidayah XI Bendogerit lebih menonjolkan pada fisik motorik halus Sedangkan fisik motorik kasar jarang dilakukan, yang meliputi: berjalan di atas papan titian, senam irama (setiap pagi), bermain jungkat-jungkit, melompat dan meloncat di atas simpai. Media serta alat yang dimiliki sekolah hanya meliputi: 1 (satu) buah bola dunia, 1 (satu) buah jungkat-jungkit, 1 (satu) buah papan prosotan, dan 2 (dua) buah papan titian, halaman untuk beraktivitas kurang luas (7m x 6m), pembelajaran fisik motorik belum mengarah pada aspek kemampuan dasar gerak yang meliputi kelenturan, kekuatan, keseimbangan, kecepatan, dan kelincahan, yang diharapkan dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran anak. Guru di TK Al-Hidayah XI Bendogerit Kota Blitar belum pernah menerapkan pembelajaran permainan tradisional seperti permainan gobak sodor fantasi. Permainan gobak sodor fantasi merupakan bentuk permainan yang diadopsi dari gobak sodor anak kampung yang disesuaikan dengan usia anak 4 - 6 tahun dan mempertimbangkan luas halaman sekolah 7 x 6 m, serta pemberian daya tarik bagi anak-anak kelompok B di TK Al-Hidayah XI Bendogerit Kota Blitar. Inti permainannya sebagai penjaga harus menghadang kelompok penyerang agar tidak bisa lolos melewati garis ke garis terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih keberhasilan seluruh anggota kelompok penyerang harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan dengan tidak tersentuh/tertangkap penjaga. Tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan permainan tradisional gobak sodor fantasi adalah untuk mengembangkan permainan tradisional gobak sodor fantasi yang dapat menyenangkan anak, dan mudah untuk dilakukan anak sebagai salah satu aternatif pembelajaran yang dilaksanakan di TK Al-Hidayah XI Bendogerit Kota Blitar. Dalam penelitian ini model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan (Research and Development) dari Borg dan Gall (1983: 775) Adapun prosedur pengembangan permainan tradisional gobak sodor fantasi adalah: 1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi (kajian pustaka, pengamatan kelas, persiapan laporan pokok persoalan), 2) Melakukan perencanaan (pendefinisian keterampilan, perumusan tujuan, penentuan urutan pengajaran, dan uji coba skala kecil), 3) Mengembangkan bentuk produk awal (penyiapan materi pengajaran, penyusunan buku pedoman, dan perlengkapan evaluasi), 4) Melakukan uji lapangan permulaan (dilakukan di TK Al Hidayah XI Bendogerit, menggunakan 8 subyek), 5) Melakukan revisi terhadap produk utama (sesuai dengan saran-saran dari hasil uji lapangan permulaan), 6) Melakukan uji lapangan utama (pada 1 sekolah dengan 44 subyek), 7) Melakukan revisi produk (berdasarkan saran-saran dari hasil uji lapangan utama). Uji coba dilakukan melalui 3 tahap, yaitu evaluasi ahli, uji coba (kelompok kecil), uji lapangan (kelompok besar). Instrumen yang digunakan adalah berisi tentang rancangan produk dan produk yang telah dibuat. Teknis analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan deskriptif berupa prosentase. Hasil pengembangan ini berupa model pembelajaran permainan gobak sodor fantasi untuk pembelajaran fisik motorik anak kelompok B Di TK Al-Hidayah XI Bendogerit Kota Blitar. Diharapkan hasil pengembangan ini dapat diujicobakan kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Selain hal tersebut karena penelitian ini hanya terbatas pada pengembangan produk, diharapkan ada penelitian selanjutnya, untuk menguji tingkat keefektifitas dari produk yang dikbangkan.

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan konsumen dalam membeli steak di The Amsterdam Garden Resto and Steal House Malang / Retno Dwi Anggreni

 

Kata Kunci: Atribut Produk, Keputusan Pembelian Konsumen Tingkat konsumsi masyarakat akan masakan steak semakin meningkat, terlihat dari semakin banyaknya restoran yang menyajikan masakan steak sebagai menu utamanya. Fenomena ini menimbulkan persaingan yang ketat, dan menyebabkan konsumen semakin selektif dalam memilih produk yang sesuai dengan keinginannya. Atribut produk seringkali dijadikan dasar oleh konsumen dalam pembelian sebuah produk, sebab untuk melakukan pembelian konsumen akan bereaksi terhadap produk dengan segala atribut yang melekat didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian konsumen masakan steak di Amsterdam Garden Resto and Steak House Malang; (2) Pengaruh atribut produk (harga, merek, pelayanan, dan rasa) secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen masakan steak di Amsterdam Garden Resto and Steak House Malang, (3) Pengaruh atribut produk (harga, merek, pelayanan, dan rasa) secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen masakan steak di Amsterdam Garden Resto and Steak House Malang; (4) Atribut produk yang paling dominan mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian di Amsterdam Garden Resto and Steak House Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan angket sebagai alat pengumpul data. Sampel yang digunakan sebanyak 100 orang, teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif dan statistik infrensial guna mendapatkan data empirik mengenai pengaruh atribut produk secara parsial dan simultan (harga, merek, pelayanan, dan rasa) terhadap keputusan pembelian konsumen masakan steak di Amsterdam Garden Resto and Steak House Malang. Hasil uji hipotesis membuktikan bahwa terdapat pengaruh secara parsial dan simultan antara variabel harga (X1), Merek (X2), Pelayanan (X3), dan Rasa (X4), terhadap keputusan pembelian konsumen masakan steak di The Amsterdam Garden Resto and Steak House (Y). Berdasarkan analisis data dengan menggunakan regresi linear berganda dan sumbangan efektif dapat diketahui bahwa variabel Rasa (X4) merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen sedangkan variabel Merek (X2) merupakan variabel yang paling kecil pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen masakan steak.

Peningkatan kemampuan dan kreativitas untuk operasi perkalian bilangan bulat dengan pendekatan discovery pada siswa kelas V MI Nurul Huda I Pasuruan / Dini Yuniati

 

Kata kunci: Kemampuan dan kreativitas, bilangan bulat, pendekatan discovery. Masalah pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam kehidupannya. Selain itu pendidikan juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai jika pendidikannya berjalan dengan baik. Guru sebagai faktor yang dominan dalam pendidikan dituntut profesionalitasnya. Sebagai tenaga yang profesional, guru harus tanggap terhadap perkembangan baru, selalu berinisiatif, inovatif, dan kreatif terhadap pembaharuan dibidang pendidikan. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang patut diperhitungkan dalam kemajuan peningkatan pendidikan. Penelitian terhadap kemampuan dan kreativitas siswa pada mata pelajaran matematika materi pokok operasi perkalian bilangan bulat bertujuan untuk mengetahui penerapan pendekatan discovery untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian bilangan bulat, meningkatkan kreativitas operasi perkalian bilangan bulat pada siswa kelas V di MI Nurul Huda 1 Gajahrejo Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Metode penelitian yan digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian tindakan kelas. Instrumen yang digunakan meliputi naska wawancara, hasil observasi, angket, dan hasil dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan melakukan wawancara, menyebarkan angket dan dokumentasi. Permasalahan dalam penelitian ini merupakan cara apa yang digunakan dalam menerapkan pendekatan discovery untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian bilangan bulat, meningkatkan kreativitas operasi perkalian bilangan bulat serta implikasinya dikelas. Dari hasil penelitian ini disarankan agar guru lebih profesional dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dan disarankan agar kepala sekolah memperhatikan media pembelajaran yang ada disekolahnya. Supaya kegiatan pembelajaran siswa dapat berlangsung sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal.

Peningkatan kemampuan membilang dengan bermain dakon pada anak kelompok "A" RA Badrul Ulum Simpar Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Atika

 

Kata kunci: Kemampuan membilang, Bermain dakon, PAUD Penelitian ini berlatar belakang adanya kemampuan membilang di kelas kelompok A RA Badrul Ulum Simpar Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan yang relatif rendah. Anak didik yang baru masuk sekolah belum mampu menguasai simbol bilangan atau angka, proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membilang diantaranya dengan bermain dakon, dengan bermain dakon anak melakukan kegiatan secara sukarela, dan kegiatan memadukan antara permainan tradisional dengan proses pembelajaran formal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan bermain dakon dalam meningkatkan kemampuan membilang pada anak kelompok A RA Badrul Ulum Simpar Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 2 tahapan, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Subyek penelitian adalah anak kelompok A RA Badrul Ulum Simpar Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan yang berjumlah 16 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi 1 dan lembar observasi 2, lembar observasi anak selama proses pembelajaran dan dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bermain dakon dapat meningkatkan kemampuan membilang pada anak kelompok A. berdasarkan lembar observasi pada siklus 1 hasil aktifitas pembelajaran pada kemampuan membilang diperoleh nilai rata-rata individu dengan nilai 2 dan nilai rata-rata kelas dengan nilai 2, Pada siklus 2 hasil observasi pada pengembangan kemampuan membilang anak meningkat diperoleh nilai rata-rata individu 4 dan nilai rata-rata kelas dengan nilai 4. Dan pada siklus 1 lembar observasi 1 diperoleh nilai 3.4, lembar observasi 2 diperoleh nilai 3.2, dan pada siklus 2 lembar observasi 1 diperoleh nilai 4.5, lembar observasi 2 diperoleh nilai 4.5. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan bermain dakon dapat meningkatkan kemampuan membilang anak. Oleh karena itu disarankan bagi guru untuk menggunakan media dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membilang anak.

Peningkatan kemampuan menulis kalimat sederhana melalui media kartu kata pada siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang / Lilik Hidayati

 

Kata Kunci: Kemampuan Menulis , Kalimat Sederhana, Media Kartu Kata Sesuai dengan kompetensi dasar menulis dan kompetensi dasar kalimat, siswa kelas II SD diharapkan sudah mampu membuat kalimat dengan baik dan benar baik secara lisan maupun tulisan. Siswa diharapkan mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dalam bentuk kalimat sederhana. Namun di SDI Daarul Fikri Dau Malang siswa kelas II seringkali mengalami kesulitan dalam membuat kalimat, terutama dalam bentuk tulisan. Jika diminta menulis kalimat, siswa kesulitan untuk menuangkan gagasan dalam pikirannya menjadi sebuah kalimat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah penggunaan media kartu kata untuk meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang?, dan (2) apakah penggunaan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang? Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penggunaan media kartu kata untuk meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang, dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis kalimat sederhana siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang. Data dari penelitian ini diperoleh melalui observasi , wawancara, dokumentasi dan tes. Teknik observasi digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang tampak dalam proses pembelajaran tentang keaktifan siswa, keberanian siswa dan kerjasama siswa dalam proses pembelajaran. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui kesan-kesan dan perasaan siswa ketika belajar menulis kalimat sederhana menggunakan media kartu kata. Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah kongkrit yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa mengerjakan soal evaluasi yang berhubungan dengan menulis kalimat sederhana. Berdasarkan hasil penelitian, Penggunaan media kartu kata dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDI Daarul Fikri Dau Malang. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi setelah diberi tindakan pada siklus I dan siklus II, yaitu peningkatan aktifitas belajar siswa sebesar 15,17 (9,75 %) dan peningkatan hasil belajar siswa sebesar 8,77 (5,56 %). Disarankan pada guru kelas II agar lebih meningkatkan kreatifitasnya dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya materi menulis kalimat sederhana. Misalnya dengan memanfaatkan media kartu kata, karena media kartu kata terbukti dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa dalam menulis kalimat sederhana.

Penerapan think pair share (TPS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas V SDN Segaran 03 Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang / Luluk Umiatin

 

Kata Kunci: Aktivitas, Hasil Belajar, Think Pair Share , IPS SD Keberhasilan proses pembelajaran di kelas salah satunya ditentukan oleh cara guru menggunakan model pembelajaran. Model pembelajaran digunakan harus sesuai dengan kebutuhan siswa, karena setiap model pembelajaran mempunyai tujuan, prinsip dan penekanan yang berbeda. Namun dalam kenyataannya guru tidak pernah menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, akibatnya aktivitas siswa pasif dan hasil belajarnya rendah. Bahkan guru hanya menggunakan satu metode pembelajaran saja dalam setiap mengajar yaitu ceramah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SDN Segaran 03 Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang melalui model pembelajaran Think Pair Share. Dalam model ini Siswa akan berpikir (Think) secara individu, kemudian siswa secara berpasangan (Pair) saling tukar pendapat untuk melengkapi penemuannya. Selanjutnya tahap berbagi dalam kelompok besar yang dilakukan dengan kelompok besar di kelas (Share). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Segaran 03 Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang dengan jumlah 25 siswa. Rancangan penelitian ini menggunakan pengembangan Kemmis dan Taggart. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan test. Sedangkan instrumen penelitiannya menggunakan pedoman wawancara, lembar observasi dan soal test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran IPS materi keanekaragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia. Hasil Pre test siswa rata-rata adalah 48,2 atau 48,2%, siklus I mengalami peningkatan yaitu menjadi 69,8 atau 69,8% dan siklus II terus mengalami peningkatan menjadi 81,8 atau 81,8%. Hasil belajar siswa dikatakan naik 12% persiklus. Sedangkan untuk aktivitas siswa menunjukkan adanya peningkatan dari 11,56 menjadi 12,88 di siklus II. Penerapan model pembelajaran Think Pair Share berhasil diterapkan pada siswa kelas V SDN Segaran 03 Kecamatan Gedangan Kabupaten Malang untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Disarankan bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam penelitian selanjutya, sehingga hasilnya dapat dijadikan pedoman dan pengembangan profesi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui pengalaman (experiential learning) bagi siswa kelas II di SDN Tanggung 2 Kota Blitar / Purwaning

 

Kata kunci: hasil belajar, PKn, ExperientialLearning Experiential Learning merupakan model pembelajaran PKn yang digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang sikap cinta lingkungan. Untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa, maka dilakukan pembelajaran melalui pengalaman (Experiential Learning). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar PKn melalui pengalaman tentang sikap cinta lingkungan siswa kelas II. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan para guru dalam membantu kegiatan pembelajaran PKn di sekolah, khususnya pada materi pokok cinta lingkungan. Penelitian ini dilakukan di SDN Tanggung 2 Kota Blitar tanggal 8 Oktober 2010 sampai 25 November 2010. Rancangan penelitian yaitu dilakukan melalui penelitian tindakan Kelas. Dimana setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sebelum dilakukan tahap siklus, terlebih dahulu dilakukan penelitian pendahuluan yaitu pra tindakan sebagai awal identifikasi masalah. Analisis data penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas II dalam pembelajaran PKn melalui pengalaman tentang cinta lingkungan. Peningkatan hasil belajar terjadi baik secara individu maupun klasikal. Peningkatan rata-rata hasil belajar secara individu pada siklus I 73,34% menjadi 93,33% pada siklus II. Sedangkan secara klasikal peningkatan rata-rata hasil belajar 47,83% menjadi 96% pada siklus II. Sehingga ada 12 siswa yang tidak tuntas pada siklus I dan satu siswa yang tidak tuntas pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan yaitu Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan judul lainnya. Siswa dihadapkan pada berbagai kegiatan yang dapat memicu kreatifitas siswa dan menumbuhkan pengalaman baru bagi siswa di dalam pembelajaran. Siswa dibimbing dan diarahkan untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Guru hendaknya menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang memacu siswa untuk aktif dalam pembelajaran, guru sebagai fasilitator bertugas membimbing dan mengarahkan siswa selama pembelajaran berlangsung.

Minat belajar siswa RSBI pada mata pelajaran IPS terpadu bidang sejarah di SMPN I Jetis Ponorogo tahun ajaran 2009/2010 / Risdiana Andriani

 

Kata kunci: minat belajar, RSBI, mata pelajaran IPS Terpadu bidang sejarah Dari hasil observasi awal dan data nilai siswa kelas VII di SMPN 1 Jetis Ponorogo selama 1 semester diketahui kelas VII RSBI kelasnya memiliki fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan kelas regular serta input siswa yang berkompeten, tetapi rata-rata hasil belajar mata pelajaran IPS Terpadu bidang sejarahnya lebih rendah dibanding kelas reguler. Masalah yang muncul ini dimungkinkan karena minat belajar sejarah siswa kelas VII RSBI yang kurang. Minat tersebut dipengaruhi oleh faktor internal dan ekternal siswa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana minat belajar siswa RSBI kelas VII SMPN 1 Jetis Ponorogo pada mata pelajaran IPS Terpadu bidang Sejarah?, (2) Faktor internal dan eksternal apa saja yang berpengaruh terhadap minat belajar siswa RSBI kelas VII SMPN 1 Jetis Ponorogo pada mata pelajaran IPS Terpadu bidang Sejarah? Dengan tujuan untuk (1) mendeskripsikan minat belajar siswa RSBI kelas VII SMPN 1 Jetis Ponorogo pada mata pelajaran IPS Terpadu bidang Sejarah, dan (2) mendeskripsikan faktor internal dan eksternal apa saja yang berpengaruh terhadap minat belajar siswa RSBI kelas VII SMPN 1 Jetis Ponorogo pada mata pelajaran IPS Terpadu bidang Sejarah. Penelitian ini menggunakan kuantitatif deskriptif untuk menggambarkan tentang kondisi minat belajar sejarah siswa kelas VII RSBI SMPN 1 Jetis Ponorogo dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII RSBI SMPN 1Jetis Ponorogo tahun ajaran 2009/2010 yang berjumlah 85 siswa yang terbagi dalam 3 kelas yaitu kelas VII A, VII B, dan VII C. Sedangkan dalam menentukan sampel, peneliti menggunakan teknik simple random sampling, yaitu pengambilan anggota sampel yang dilakukan secara acak. Dengan tingkat kesalahan 5%, maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 69 siswa yang diambil dari 3 kelas RSBI berdasarkan nomor urut absen. Dari hasil penelitian diketahui bahwa minat belajar siswa kelas VII RSBI SMPN 1 Jetis Ponorogo terhadap mata pelajaran sejarah terkategori baik dengan prosentase sebesar 52,2 %. Faktor internal yang mempengaruhi minat belajar sejarah siswa terkategori baik dengan prosentase sebesar 58 %, sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi minat belajar sejarah siswa terkategori kurang baik dengan prosentase sebesar 56,5 %. Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan dari penelitian ini adalah secara umum minat belajar IPS Terpadu bidang sejarah siswa kelas VII RSBI SMPN 1 Jetis Ponorogo sudah baik, dengan faktor internal yang berpengaruh baik terhadap minat belajar sejarah dan faktor eksternal yang berpengaruh kurang baik terhadap minat belajar sejarah. Karena itu disarankan adanya bantuan dan dukungan dari orang-orang disekitar siswa yang antara lain orang tua, guru, teman sekolah agar minat siswa terhadap mata pelajaran sejarah menjadi meningkat. Untuk penelitian selanjutknya disarankan untuk memfokuskan penelitian pada faktor eksternal apa saja yang mempengaruhi minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah.

Implementasi tools of total quality management (TQM) berbasis ISO 9001:2008 dalam penjaminan mutu sekolah (studi kasus di SMA Negeri 3 Malang) / Rochmawati

 

Kata Kunci: TQM, Tools of TQM, ISO 9001:2008, Penjaminan Mutu Konsep kualitas pendidikan memandang bahwa pemberian layanan jasa dan produk merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam sebuah proses dan berlangsung secara berkesinambungan. Kualitas suatu sekolah tentunya tidak lepas dari adanya penjamin mutu (quality assurance). Sebagai bentuk produktivitas peningkatan kualitas penjamin mutu perlu mengimplementasikan manajemen kualitas secara total, yakni TQM. Dimensi-dimensi TQM yang komprehensif memberi ruang gerak dalam setiap segi upaya perbaikan kualitas. Pemanfaatan segenap tools yang berada didalamnya menunjang dalam proses peningkatan kualitas secara berkala. Apabila dipadukan dengan ISO 9001:2008 tentunya hal tersebut merupakan langkah inovatif dan strategis dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas secara terus-menerus dan berkesinambungan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yang mencakup orientasi dasar implementasi tools of TQM berbasis ISO 9001:2008 dalam penjaminan mutu, proses implementasi, fokus orientasi jenis tools of TQM, faktor penghambat, alternatif cara mengatasi faktor penghambat, faktor pendukung, dan pemberdayaan faktor pendukung implementasi tools of TQM berbasis ISO 9001:2008 di SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa paparan profil SMA Negeri 3 Malang yang mengimplementasikan tools of TQM sebagai manajemen total dengan berbasis pada sertifikat ISO 9001:2008 dan adanya Unit Penjamin Mutu (UPM) sebagai unit pengembangan kualitas. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai key instrument. Informan dalam penelitian ini terdiri dari: (a) Kepala Sekolah, (b) Ketua UPM, (c) Waka Kurikulum, (d) Guru, (e) Siswa, dan (f) Orang tua siswa sebagai stakeholder sekolah. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan dengan menggunakan empat kriteria, meliputi: (a) credibility, dengan ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan anggota, dan kecukupan referensial; (b) tranferbility; (c) dependability; dan (d) comfirmabilitas. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap (a) reduksi data, yaitu penelaahan dalam memilah data yang diterima disesuaikan kondisi lapangan yang ada, (b) display data, yaitu hasil dari reduksi yang disusun secara terstruktur, dan (c) verifiksi data, yaitu mengkroscek kecocokan makna data yang diperoleh dari lapangan untuk mencapai kesimpulan yang kuat. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan penelitian sebagai berikut: (1) Profil kualitas SMA Negeri 3 Malang seiring perjalanan pengabdiannya senantiasa berkembang, dengan memiliki strategi unggul dalam proses penjaminan kualitasnya, yaitu melalui implementasi tools of TQM berbasis pada ISO 9001:2008 sebagai upaya peningkatan kualitas secara komprehensif; (2) orientasi implementasi TQM berbasis ISO 9001:2008 dalam penjaminan mutu di SMA Negeri 3 Malang adalah sebagai upaya peningkatan kualitas jasa pendidikan, kualitas lulusan atau produk, dan produktivitas kualitas UPM sebagai quality assurance yang bertujuan guna kepuasan pelanggan (customer satisfaying); (3) implementasi tools of TQM adalah sebagai media dalam mengidentifikasi dan memecahkan persoalan secara kreatif dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas; (4), fokus orientasi implementasi jenis tools of TQM yang digunakan adalah Diagram Ishikawa dan flowchart; (5) faktor penghambat ditinjau dari segi internal yang meliputi: (a) pelayanan pendidikan tidak sesuai, (b) kondisi lingkungan alam, dan (c) tingkat kompetensi SDM, dan dari segi eksternal meliputi: jalinan link kerjasama Internasional); (6) alternatif cara mengatasi faktor penghambat dari segi internal dengan cara: (a) menjalin link kerjasama dengan pihak pemilik fasilitas atau membeli lahan baru guna memenuhi layanan jasa pendidian, (b) meningkatkan kedisiplinan dengan kesiapsiagaan, dan menumbuhkan jiwa enterpreneurship, dan (c) melalui UPM sebagai quality assurance, diadakannya berbagai pelatihan dan pengembangan kompetensi. Sedang dari segi eksternal caranya dengan menggunakan teknologi informasi dan penguasaan bahasa asing ditunjang komunikasi efektif pada segenap stakeholder; (7) faktor pendukung, ditinjau dari segi internal meliputi: (a) kerja tim yang efektif, (b) beragam metode pembelajaran, dan (c) perolehan standar ISO 9001:2008, sertifikat Cambridge, dan RSBI menuju SBI, dari segi eksternal meliputi: (a) kemudahan sarana transportasi; (b) link Kerjasama alumni, masyarakat, dan dunia Internasional; (8) pemberdayaan faktor pendukung ditinjau dari segi internal, meliputi: (a) mengefektifkan kerja tim secara lebih maksimal, dengan pengelolaan SDM mengacu pada standar ISO 9001:2008 Clausul Nomor 6 poin 2, (b) metode pembelajaran inovatif, dengan implementasi Kurikulum SMA Negeri 3 Malang, berbasis ITI, dan penggunaan English Every Day, (c) ISO 9001:2008, Sertifikat Cambridge, dan RSBI menuju SBI, dengan dijadikannya standar ISO 9001:2008 basis dalam perbaikan dan peningkatan kualitas SMA Negeri 3 Malang, sedangkan apabila ditinjau dari segi eksternal, pemberdayaannya meliputi: (a) penggunaan sarana transportasi dan membuka peluang entrepreneurship ditunjang dengan penyediaan program persewaan bus sekolah untuk travelling, dan (b) Link kerjasama Internasional, dengan pemberdayaan segenap stakeholder. Saran yang dapat direkomendasikan dalam penelitian ini sesuai basis standar yang digunakan yaitu ISO 9001:2008, maka perlu adanya penyesuaian dan pemaksimalan program secara komprehensif dalam perbaikan dan peningkatan kualitas secara continue. Penekanan pada zero defect, yang didukung dengan kompetensi, produktivitas, dan efektifitas kerja tim perlu senantiasa dikedepankan. Pemberdayaan melalui faktor pendukung sebagai asset yang telah ada senantiasa ditingkatkan dan dikembangkan dengan tujuan dapat memenuhi apa yang diinginkan dan apa yang dibutuhkan oleh pelanggan, sehingga dalam implementasinya dapat memberi kepuasan bagi pelanggan.

Penggunaan media kartu bergambar untuk mengembangkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang / Chustini

 

Kata Kunci : Bercerita, Mengembangkan, Media Kartu Bergambar. Berdasarkan latar belakang penelitian yang dilakukan pada anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang terdapat rumusan masalah: 1). Bagaimana penggunaan media kartu bergambar untuk mengembangkan kemampuam bercerita anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang? 2) Apakah penggunaan media kartu bergambar dapat mengembangkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang? Tujuan dari penelitian ini adalah; 1) Mendeskripsikan penggunaan media kartu bergambar untuk mengembangkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang; 2) Mendeskripsikan penggunaan media kartu bergambar dapat mengembangkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif berbentuk penelitian tindakan kelas (PTK) dan dirancang dalam 2 (dua ) siklus . Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu: Perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok A TK Muslimat NU 34 Kota Malang sebanyak 18 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi kegiatan anak selama proses pembelajaran dan dokumentasi berupa foto selama proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media kartu bergambar dapat mengembangkan kemampuan bercerita anak. Berdasarkan lembar observasi pada siklus 1, nilai rata-rata kemampuan bercerita mencapai 2.1 dengan nilai prosentase sebesar 51,3%. Pada siklus 2 kemampuan bercerita anak mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata 3,1 dengan nilai prosentase 77,95%, artinya rata-rata kemampuan anak mengalami peningkatan sebesar 26,7% pada anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penggunaan media kartu bergambar dapat mengembangkan kemampuan bercerita anak kelompok A di TK Muslimat NU 34 Kota Malang. Berdasarkan hasil dan kesimpulan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat di sarankan: Bagi guru, penelitian ini mampu menjadi inspirasi untuk merancang pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif . Untuk sekolah, penelitian ini dapat memberikan masukan guna meningkatkan kualitas dan kuantitas proses belajar mengajar. Bagi peneliti selanjutnya, peneliti selanjutnya dapat lebih mengembangkan kemampuan bercerita anak melalui media pembelajaran yang lebih kreatif lagi.  

Hubungan antara keaktifan dalam mengikuti musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dan kinerja guru SMP Negeri se-kecamatan Sananwetan Kota Blitar / Nur Atika Purnama Sari

 

Kata Kunci: Keaktifan, MGMP, Kinerja Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya di sekolah. Peranan guru juga sangat menentukan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan formal. Mengingat tugas guru yang begitu berat, maka seorang guru dituntut untuk memiliki pengetahuan, wawasan, dan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman untuk menuju kepada pengembangan profesi yang diharapkan. Kualitas penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan menentukan kualitas kinerja guru. Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja guru adalah melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). MGMP adalah forum kegiatan profesional guru mata pelajaran yang sejenis.MGMP ini sangat diperlukan dalam memberikan kontribusi pada peningkatan keprofesionalan para anggotanya tidak hanya peningkatan kemampuan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran tetapi juga peningkatan kemampuan, wawasan, pengetahuan serta pemahaman guru terhadap materi yang diajarkan dan pengembangannya. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang Hubungan antara Keaktifan dalam Mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Kinerja Guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui tingkat keaktifan guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar dalam mengikuti MGMP; 2) untuk mengetahui tingkat kinerja guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar; dan 3) untuk mengetahui hubungan antara keaktifan dalam mengikuti MGMP dan kinerja guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari keaktifan dalam mengikuti MGMP sebagai variabel bebas dan kinerja guru sebagai variabel terikat. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar, yang terdiri dari 5 sekolah dan jumlah guru sebanyak 271 orang, Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportional random sampling. Untuk menghitung besarnya sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel Krejcie, sehingga dapat diambil sampel sebanyak 159 orang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan korelasi product moment pearson. Berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa keaktifan guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar dalam mengikuti MGMP termasuk dalam kategori sedang (42,77%). Sedangkan kinerja guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar termasuk dalam kategori sangat tinggi. Hal ini terlihat dari persentase frekuensi yang menunjukkan bahwa sebesar 55,35% responden memiliki kinerja yang sangat tinggi. Dari hasil analisis korelasi product moment pearson, menunjukkan bahwa rhitung lebih besar dari rtabel (0,372 > 0,155), sehingga hipotesis nol (H0) ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keaktifan dalam mengikuti MGMP dan kinerja guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar. Mengingat ada hubungan antara keaktifan dalam mengikuti MGMP dan kinerja guru, maka disarankan kepada para guru SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar untuk lebih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dalam MGMP, sehingga kinerja guru yang sudah baik dapat dipertahankan. Kepada Kepala SMP Negeri Se-Kecamatan Sananwetan Kota Blitar hendaknya selalu memantau kinerja guru, serta memotivasi guru agar selalu meningkatkan kinerjanya melalui kegiatan-kegiatan MGMP.

Penerapan pakem untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN Lecari Kecamatan Sukorejo Pasuruan / Ahmad Syairur Rozi

 

Kata Kunci: Penerapan Pakem, Hasil Belajar. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan kehidupan yang berkaitan dengan isu sosial. Guru sebagai pelaksana dan pengembang pembelajaran harus mampu memilih dan menerapkan pendekatan dan metode untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil obsevasi awal yang dilakukan peneliti, pada evaluasi akhir dihasilkan skor rata-rata 6,5 (tes akhir, 16 Juli 2010) ini dibuktikan dengan 9 dari 27 siswa yang mendapat nilai diatas standar ketentuan minimal. Antara kondisi pembelajaran yang dilaksanakan dengan hasil belajar yang dicapai, tampaknya bersinergi, Untuk mengatasi permasalahan ini dicarikan jalan keluarnya yaitu dengan model pembelajaran dan strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran. Salah satu alternatif model yang dapat dikembangkan untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah model pembelajaran Pakem, melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Pakem dalam pelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Lecari Sukorejo Pasuruan. Mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SDN Lecari Sukorejo Pasuruan setelah diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Pakem. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah peserta didik kelas IV SDN Lecari yang berjumlah 27 peserta didik. Metode penelitian yang digunakan observasi dan tes. Sedangkan intrumen penelitiannya berupa panduan observasi dan soal-soal tes. Dari analisis pra tindakan, dan dari 27 siswa kelas IV terdapat 9 siswa tuntas belajar dan 18 siswa lainnya belum tuntas belajar dengan kriteria ketuntasan kelas 75%. Hasil observasi kemampuan siswa baik secara kelompok maupun individu pada siklus I diketahui bahwa dari jumlah seluruh siswa kelas IV yaitu 27 siswa, pada pre tes terdapat 7 siswa yang tuntas belajar dan 20 siswa yang belum tuntas belajar. Sedangkan pada post tes yang telah dilaksanakan diperoleh data bahwa 21 siswa telah tuntas belajar dan 6 siswa yang belum tuntas belajar. Dari siklus II diperoleh data dari 24 siswa telah tuntas belajar dan 3 siswa yang belum tuntas belajar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh guru (peneliti), maka Penerapan model pakem pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Lecari sudah sesuai dengan langkah-langkah pakem. Penerapan pakem pada mata pelajaran IPS di kelas IV SDN Lecari sudah dapat dikatakan berhasil dengan adanya peningkatan aktivitas, interaksi, dan hasil belajar siswa. Hal itu ditunjukkan dari perolehan hasil belajar siswa dengan rata-rata pre tes 67,7 dengan 7 siswa yang tuntas belajar dan 20 siswa yang belum tuntas belajar. Sedangkan pada post tes siklus I yang telah dilaksanakan diperoleh data bahwa 21 siswa telah tuntas belajar dan 6 siswa yang belum tuntas belajar dengan rata-rata 79,4. Dari siklus II diperoleh data dari 24 siswa telah tuntas belajar dan 3 siswa yang belum tuntas belajar dengan rata-rata 80,3. Selanjutnya peneliti menyarankan bagi guru agar dapat menerapkan dan mengembangkan model pembelajaran pakem pada pembelajaran IPS kedalam kompetensi atau tema-tema yang lain, yang sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan selalu memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Perbedaan persepsi stakeholders, kepala sekolah, dan guru terhadap ujian nasional di sekolah menengah kejuruan negeri Boyolangu Kabupaten Tulungagung / Ana Ningtyas

 

Kata Kunci: Persepsi, Stakeholders, Ujian Nasional Perkembangan IPTEKS sekarang sudah semakin pesat, oleh karena itu bangsa Indonesia dituntut untuk dapat beradaptasi dan bersaing. Sehingga pemerintah dituntut untuk membuat sebuah Kebijakan pokok pemerintah tentang perluasan akses pendidikan SMK sesuai dengan kebutuhan dan keunggulan lokal (Departemen Pendidikan Nasional, 2010). Kebijakan tersebut sangat menguntungkan bagi siswa lulusan SMK dan tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi (PT) karena mereka dapat bekerja secara langsung, tidak seperti siswa yang lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Perubahan tersebut juga terjadi di bidang kurikulum pada proses evaluasi yaitu Ujian Nasional (UN). Setiap kali diselenggarakannya UN pro-kontra masih terjadi diberbagai pihak. Seperti Mahkamah Agung (MA) yang melarang dilaksanakannya UN pada Maret 2010. Hal itu yang menjadi alasan penulis untuk mengadakan penelitian tentang persepsi stakeholders, kepala sekolah dan guru terhadap UN. Serta alasan penulis memilih SMK adalah adanya matapelajaran kejuruan diujikan pada UN. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana persepsi stakeholders (DU/DI dan orangtua siswa), kepala sekolah dan guru terhadap UN. Karena selama ini pro-kontra juga terjadi pada Dunia Usaha atau Dunia Industri (DU/DI), orangtua siswa, kepala sekolah dan guru. Selain itu untuk mengetahui sejauhmana adanya perbedaan persepsi antara DU/DI, orangtua siswa, kepala sekolah, dan guru terhadap UN. Rancangan penelitiannya menggunakan rancangan penelitian survei dan deskriptif-komparasi. Untuk penelitiannya dilakukan di tiga sekolah yaitu SMKN 1, 2, dan 3 Boyolangu Kabupaten Tulungagung. Dari jumlah populasi DU/DI, orangtua siswa dan guru diambil 10% sampelnya sedangkan untuk kepala sekolah diambil dari jumlah populasi yaitu tiga orang. Dalam pengumpulan datanya peneliti meggunakan angket atau kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebesar 94% atau sebanyak 338 orang menyatakan persetujuannya terhadap pelaksanaan UN. Dengan rician sebagai berikut: pertama, sekitar 93% atau 29 DU/DI menyatakan setuju karena melalui UN dapat menciptakan output yang unggul. Kedua, 95% orangtua siswa menilai bahwa melalui UN proses penilaian siswa lebih yang efektif dalam upaya peningkatan mutu. Ketiga, 67% atau 2 orang kepala sekolah menyatakan persetujuannya terhadap UN karena tingkat prestasi siswa dapat diketahui secara murni dapat diketahui tanpa adanya bantuan dari hasil nilai tugas-tugas lain. Sedangkan untuk persepsi guru 100% menyetujui dilaksanakannya UN, persepsi tersebut dimungkinkan memiliki alasan tersendiri yaitu UN merupakan produk kebijakan pemerintah sehingga harus dilaksanakan. Hal ini menunjukkan bahwa posisi UN masih mendapat dukungan dari berbagai pihak terhadap proses penilaian atau penentuan kelulusan yang dipusatkan atau secara nasional. Dengan tidak menyerahkan sepenuhnya kepada para guru di lembaga pendidikan atau sekolah masing-masing. Sehingga secara jelas tergambar bahwa Ujian Nasional layak dijadikan sebagai proses penilaian atau evaluasi hasil belajar pada akhir jenjang pendidikan.Selanjutnya untuk hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji statistik analisis varian satu jalur (One Way Analysis of Variance) menunjukkan bahwa “ada perbedaan persepsi antara DU/DI, orangtua siswa, kepala sekolah, dan guru terhadap Ujian Nasional”. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah (1) Persepsi DU/DI terhadap Ujian Nasional menunjukkan sebagian besar derajat persepsi menyatakan persetujuannya terhadap dilaksanakannya Ujian Nasional. Karena peranan penting DU/DI terhadap SMK, terhadap siswa SMK yang berkompeten setelah lulus dapat direkrut sebagai karyawannya dan hal ini merupakan upaya DU/DI dalam mengkuti perkembangan IPTEK pesat. (2) Persepsi orangtua siswa terhadap Ujian Nasional menunjukkan persetujuannya dengan adanya Ujian Nasional. Orangtua siswa masih menilai bahwa UN merupakan proses penilaian yang paling efektif. (3) Persepsi kepala sekolah terhadap Ujian Nasional juga menyatakan setuju, dan menganggap melalui UN kualitas sekolah utamanya siswa dapat diukur. (4) Sedangkan untuk persepsi guru terhadap Ujian Nasional sama 100% menyatakan setuju. Dengan alasan UN merupakan suatu kebijakan pemerintah yang secara nyata harus dilaksanakan. (5) Ada perbedaan persepsi DU/DI, orangtua siswa, kepala sekolah, dan guru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional. Artinya terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara DU/DI, orangtua siswa, kepala sekolah, dan guru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional. Jadi kesimpulannya adalah sebanyak 94% responden atau 338 orang menyatakan persetujuannya terhadap pelaksanaan Ujian Nasional. Alasannya UN masih mendapat perhatian dan perlu dipertimbangkan karena baik persepsi guru maupun orangtua siswa adanya persamaan persepsi yaitu melalui UN proses penilaian dapat berjalan efektif. Jadi disarankan kepada semua pihak agar utamanya pengelola Depertemen Pendidikan Nasional agar lebih intensif dalam mensosialisaikan dampak positif yang diberikan dari adanya pelaksanaan Ujian Nasional. Bagi kepala sekolah peran aktif kepala sekolah terhadap informasi yang akurat utamanya mengenai Ujian Nasional, memberikan arahan atau bimbingan serta selalu mengingatkan kepada para guru untuk memotivasi siswa lebih giat belajar. Bagi guru dalam penyampaian materi pelajaran lebih atraktif agar menarik perhatian siswa untuk lebih rajin belajar serta selalu memberikan penilaian bagi siswa pada tiga aspek (kognitif, afektif, dan psikomotorik). Bagi orangtua siswa sebagai senantiasa selalu memotivasi anaknya untuk selalu belajar dirumah agar ketika Ujian Nasional, anaknya tidak merasa kesulitan dalam mengingat materi yang sudah berlalu sewaktu menempuh pendidikan setingkat dibawahnya. Bagi DU/DI peran serta DU/DI dalam proses pembelajaran dapat membantu siswa setelah lulus memiliki wawasan cara beradaptasi dengan lingkungan kerja atau memberikan kesempatan lowongan untuk dapat bekerja di DU/DI tersebut. Sedangkan bagi siswa sebagai obyek sasaran dalam Ujian Nasional, diharapkan lebih rajin belajar karena selain nilai hasil UN siswa lulusan SMK harus mampu bersaing secara global dan berkarya sesuai bidangnya serta dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Upaya meningkatkan pemahaman konsep fisika dengan menerapkan pembelajaran fenomenologis pada pokok bahasan keseimbangan benda tegar siswa kelas XI IPA 2 SMAK Andaluri Waingapu / Martina Elfira Natalinda Malo

 

Kata Kunci : Pemahaman konsep, pembelajaran fenomenologis Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru fisika kelas XI IPA 2 SMAK Andaluri Waingapu diperoleh informasi bahwa selama proses pembelajaran guru memberikan materi fisika dengan metode ceramah dan diskusi kelas, metode praktikum dan diskusi dengan teman sebaya jarang diterapkan. Pemahaman konsep dan kemampuan menerapkan konsep siswa dalam kehidupan sehari-hari kurang, nilai ulangan ke-1 dengan materi gravitasi dan ulangan ke-2 dengan materi usaha dan energi pada semester I untuk pelajaran fisika dengan skor rata-rata 50,00 dan 60,00 dan hanya 6 orang siswa dari 36 siswa yang mencapai nilai di atas KKM yaitu 64,00. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika dengan menerapkan konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika adalah pembelajaran fenomenologis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keterlaksanaan pembelajaran fenomenologis dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika dan mengetahui peningkatan pemahaman konsep fisika pada pokok bahasan keseimbangan benda tegar siswa kelas XI IPA 2 SMAK Andaluri Waingapu melalui pembelajaran fenomenologis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas berupa pembelajaran fenomenologis adaptasi dari Kemmis & Mc Taggart yang terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilakukan di SMAK Andaluri Waingapu dengan subyek penelitian kelas XI IPA 2 dengan jumlah 36 siswa, terdiri dari 18 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP), LKS, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan pembelajaran fenomenologis siswa pada siklus I sebesar 51,96%, sedangkan pada siklus II sebesar 84,37%, sehingga peningkatan penerapan pembelajaran fenomenologis siswa sebesar 32,41% dengan kategori baik. Sedangkan penerapan pembelajaran fenomenologis guru pada siklus I sebesar 83,33%, sedangkan pada siklus II sebesar 100%, sehingga peningkatan penerapan pembelajaran fenomenologis siswa sebesar 16,67% dengan kategori sangat baik. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pemahaman konsep fisika siswa melalui pembelajaran fenomenologis, dapat dilihat dari persentase rata-rata peningkatan pemahaman konsep fisika pada siklus I sebesar 50%, dan persentase rata-rata peningkatan pemahaman konsep fisika pada siklus II sebesar 78,75%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran fenomenologis untuk menjelaskan materi fisika dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika siswa. Hal ini ditunjukkan dari skor rata-rata tes pemahaman konsep fisika siswa mengalami peningkatan rata-rata 28,75%.

Hubungan pemahaman siswa tentang K3 dengan implementasinya di bengkel teknik permesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen / Wahyu Bangun Alfian

 

Kata kunci: pemahaman dan implementasi K3 Di semua tempat kerja selalu terdapat sumber bahaya yang dapat mengancam keselamatan maupun kesehatan tenaga kerja. Hampir tak ada tempat kerja yang sama sekali bebas dari sumber bahaya. Potensi bahaya di tempat kerja dapat ditemukan mulai dari bahan baku, proses kerja, produk dan limbah (cair, padat dan gas) yang dihasilkan. Seperti pada bengkel teknik pemesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen terutama bengkel kerja mesin , bengkel tersebut memiliki potensi bahaya kebakaran, keracunan, dan kecelakaan kerja. Potensi bahaya kebakaran di bengkel disebabkan oleh benda padat bukan logam (kertas, kayu, plastik), bahan cair yang mudah terbakar, benda atau barang yang berhubungan dengan listrik, serta benda atau barang logam. Setelah mengetahui dan memahami hal tersebut di atas, maka diperlukan penanganan terhadap semua potensi bahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang K3 di dalam melaksanakan praktikum, mengetahui implementasi K3 di Bengkel Teknik Pemesinan, mengetahui ada tidaknya hubungan pemahaman siswa tentang K3 dengan implementasinya di Bengkel Teknik Pemesinan. Penelitian ini dilakukan kepada siswa kelas XI Teknik Pemesinan 3 mengenai pemahaman siswa tentang K3 dengan implementasinya di Bengkel Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional dengan pendekatan kuantitatif dimana angket digunakan sebagai instrumen pengumpul datanya. Hasil penelitian diperoleh: (1) Tingkat pemahaman siswa tentang K3 di dalam melaksanakan praktikum di Bengkel Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah I Kepanjen dengan katagori sangat tinggi sebesar 33%, kemudian katagori tinggi sebesar 61%, katagori rendah sebesar 5% dan katagori sangat rendah sebesar 0%. (2) Tingkat implementasi K3 di bengkel SMK Muhammadiyah I Kepanjen dengan katagori sangat tinggi sebesar 22%, kemudian katagori tinggi sebesar 69%, katagori rendah sebesar 8% dan katagori sangat rendah sebesar 0%. Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan (1) bagi siswa disarankan untuk mematuhi peraturan dan juga pedoman khususnya mengenai K3 di dalam melaksanakan praktikum di bengkel Teknik Pemesinan agar dalam pelaksanaannya tidak mengalami kecelakaan, (2) bagi guru praktikum disarankan untuk mematuhi peraturan dan juga pedoman khususnya mengenai K3 di dalam melaksanakan pengajaran praktikum di Bengkel Teknik Pemesinan. (3) bagi mahasiswa fakultas teknik Universitas Negeri Malang disarankan agar membekali mahasiswa khususnya program studi pendidikan teknik mesin sebelum praktik mengajar tentang standar K3 pada Bengkel di SMK.

Antusiasme warga belajar keaksaraan fungsional dalam mengikuti progam vokasional (Studi fenomenologi pada pelatihan pendidikan kecakapan hidup dipusat kegiatan belajar masyarakat mandiri bhakti kota Batu) / Fitri Marendra

 

Kata Kunci: Antusiasme Warga Belajar, Program Vokasional, Pelatihan Program keaksaraan fungsional merupakan salah satu program yang dilaksanakan oleh PKBM Mandiri Bhakti. Warga belajar keaksaraan fungsional PKBM Mandiri Bhakti telah berada pada tingkat keaksaraan mandiri. Tindak lanjut dari program keaksaraan mandiri adalah pelatihan pendidikan kecakapan hidup yang kemudian dirangkum dalam program vokasional. Program vokasional berupa pelatihan pembuatan kerupuk jamur tiram. Dalam pelatihan pembuatan kerupuk jamur tiram, warga belajar terlihat aktif dan responsif, berbeda ketika mengikuti proses pembelajaran keaksaraan fungsional tingkat dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai antusiasme warga belajar keaksaraan fungsional dalam mengikuti program vokasional di PKBM Mandiri Bhakti. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif fenomenologi. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis menggunakan metode reduksi data, yaitu analisis pernyataan-pernyataan penting dan tema-tema, serta mencari semua kemungkinan makna. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah antusiasme warga belajar mengikuti program vokasional dikarenakan (1) program vokasional menjawab kebutuhan warga belajar yang bersifat ekonomis, yaitu masing-masing warga belajar memperoleh pendapatan dari hasil penjualan kerupuk jamur tiram, (2) program vokasional menjawab kebutuhan warga belajar yang bersifat nonekonomis, yaitu warga belajar dapat mengembangkan rasa semangat, rasa kompak, rasa kekeluargaan, memperluas pertemanan, berhubungan sosial dengan masyarakat lain, memperoleh kepuasan batin, serta meningkatkan percaya diri. Hasil temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bukti dalam memperkuat atau mendukung terkait dengan teori belajar orang dewasa yang memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi. Selain itu, hasil penelitian juga berkaitan dengan teori hirarki kebutuhan Maslow, yang menyatakan bahwa bila kebutuhan pada tahap pertama yaitu kebutuhan fisiologis belum terpuaskan, maka seseorang tidak akan bisa menuju pada tahap berikutnya. Hasil temuan juga berkaitan dengan teori dinamika kelompok yang mana dalam berkelompok memiliki tujuan membangkitkan kepekaan diri seorang terhadap anggota kelompok lain sehingga dapat menimbulkan rasa saling menghargai, menimbulkan rasa solidaritas anggota sehingga dapat saling menghormati, menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap sesama anggota kelompok, menimbulkan adanya i’tikad yang baik diantara sesama anggota kelompok. ii Dari hasil penelitian, saran peneliti yaitu: (1) temuan penelitian tentang antusiasme warga belajar mengikuti program vokasional dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman tentang pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pendidikan orang dewasa, serta hendaknya program-program vokasional selanjutnya yang dilaksanakan PKBM Mandiri Bhakti sesuai dengan kebutuhan belajar agar warga belajar memperoleh manfaat, seperti memperoleh keuntungan ekonomis dan nonekonomis, (2) temuan penelitian juga bermanfaat bagi jurusan Pendidikan Luar Sekolah, sebagai pembuat kebijakan hendaknya dalam mengembangkan kurikulum atau panduan pembelajaran program pelatihan lebih menekankan pada program-program vokasional yang berorientasi pada kebutuhan warga belajar sebagaimana yang dituangkan dalam mata kuliah pendidikan orang dewasa dan identifikasi kebutuhan sumber belajar masyarakat.

Persepsi guru otomotif tentang tingkat motivasi belajar siswa kelas X Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMKN 1 Pungging, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar dan upaya pengelolaannya / Ahmad Ady Dharmawan

 

Kata-kata kunci: persepsi, motivasi belajar, upaya pengelolaan. Motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam suatu pembelajaran. Masalah mengenai motivasi belajar ini sering sekali muncul dalam proses pembelajaran disekolah-sekolah, tidak terkecuali di SMK yang sudah berstandart RSBI (Rintisan Sekolah Berstandart Internasional). Guru sebagai seorang pendidik harus mampu mengetahui bagaimana motivasi yang dimiliki oleh siswanya serta faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi motivasi tersebut. Sehingga dengan begitu guru dapat menentukan upaya-upaya yang tepat dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi siswanya. Oleh karena itu persepsi guru mengenai motivasi siswa, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar dan upaya pengelolaannya ini sangat penting untuk diteliti. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan persepsi guru tentang motivasi belajar siswa kelas X Jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMKN 1 Pungging, (2) mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa kelas X menurut guru di SMKN 1 Pungging, dan (3) mengetahui bagaimana upaya yang dilakukan guru dalam mengelola (meningkatkan dan mempertahankan) tingkat motivasi yang dimiliki siswa kelas X dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di SMKN 1 Pungging. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Responden dalam penelitian ini adalah guru SMKN 1 Pungging yang mengajar Teknik Kendaraan Ringan dan guru BK, yang nantinya akan dijaring sebanyak-banyaknya menggunakan teknik sampling bola salju (snowball sampling), dimana peneliti mengambil 15 orang guru TKR dan 3 orang guru BK. Instrumen penelitian yang digunakan berupa teknik wawancara dan beberapa dokumentasi berupa kuisioner dan rekaman suara pada saat melakukan wawancara, serta catatan dari hasil wawancara. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah berupa wawancara, kuisioner dan observasi. Hasil penelitian ini (1) sebagian besar (12 orang) guru dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMKN 1 Pungging mempersepsikan bahwa siswa kelas X jurusan Teknik Kendaraan Ringan mempunyai tingkat motivasi belajar yang tergolong tinggi, (2) menurut guru SMKN 1 Pungging ada dua faktor utama yang mempengaruhi motivasi belajar siswa yaitu yang berasal dari siswa itu sendiri (faktor internal) meliputi: minat, bakat, tingkat intelegensi dan kesiapan belajar, juga faktor yang berasal dari luar individu (faktor eksternal) yang meliputi: faktor ekonomi, keluarga, lingkungan sekolah, metode pembelajaran yang digunakan serta kelengkapan sarana dan prasarana, (3) menurut guru SMKN 1 Pungging khususnya guru Teknik Kendaraan Ringan dan guru BK untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yang sudah bagus atau tinggi, dapat dilakukan dengan upaya-upaya seperti berusaha memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh para siswa untuk belajar lebih giat lagi, perlu diterapkannya sistem pembelajaran akselerasi, perlu diberikan reward atau penghargaan bagi siswa yang berprestasi, dan lain sebagainya sedangkan untuk siswa yang bermotivasi rendah dapat dilakukan dengan upaya-upaya seperti guru selalu keliling melihat apa yang dilakukan oleh siswanya dan menanyakan pemahaman mereka tentang materi yang disampaikan, memberikan peraturan yang tegas, ketika pelaksanaan KBM diselingi dengan hal-hal jenaka sehingga KBM tidak tegang terus menerus (refresh ditengah-tengah pembelajaran), memberikan pengarahan kepada orang tua/wali murid agar memberikan bimbingan dan dorongan kepada anaknya ketika berada di rumah tidak hanya di sekolah, dan lain sebagainya. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) sebagian besar atau kebanyakan guru pengajar SMKN 1 Pungging khususnya Jurusan Teknik Kendaraan Ringan mempersepsikan bahwa motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa kelas X Teknik Kendaraan Ringan tergolong tinggi, meskipun masih ada sebagian kecil atau beberapa guru yang beranggapan bahwa motivasi belajar siswa kelas X masih rendah, (2) guru-guru Jurusan Teknik Kendaraan Ringan berpandangan bahwa motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa kelas X dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari diri siswa itu sendiri (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar (faktor eksternal), (3) cukup banyak cara atau upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengelola motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa kelas X menurut guru Jurusan Kendaraan Ringan SMKN 1 Pungging, untuk meningkatkan motivasi siswa yang sudah bagus dapat dilakukan antara lain dengan: memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan siswa untuk lebih giat belajar, perlu diterapkannya sistem pembelajaran akselerasi, memberikan reward atau penghargaan bagi siswa yang berprestasi, menerapkan metode pembelajaran yang lebih menarik dan komunikatif lagi dan lain sebagainya. Sedangkan bagi yang bermotivasi rendah dapat dilakukan dengan jalan seperti: memberikan pengarahan tentang pentingnya belajar dan pengorbanan orang tua dalam biaya sekolah, guru selalu menayakan tentang pemahaman siswa, melatih siswa berpendapat di dalam kelas, memberikan peraturan yang tegas, mengubah sistem atau metode pembelajaran yang lebih menarik dan komunikatif dan lain sebagainya.

Perbedaan pemahaman konsep daur hidup hewan siswa kelas IV MI. se-gugus Kecamatan Beji antara sebelum dan sesudah penerapan model inkuiri / Mohammad Rofik

 

Kata Kunci: Perbedaan Pemahaman Konsep, Daur Hidup Hewan, Sebelum Dan Sesudah Pembelajaran, Penerapan Inkuiri. Penelitian berlatar masalah penyebab rendahnya pemahaman konsep daur hidup hewan siswa kelas IV MI. Se-Gugus Kecamatan Beji diduga disebabkan oleh kegiatan pembelajaran yang bersifat reguler, artinya pemilihan pendekatan, strategi, metode kurang bervariasi. Pembelajaran dilakukan dengan hanya ceramah, tidak memberikan aktivitas yang bermakna, dan tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan yang dipelajari. Oleh sebab itu adalah sangat rasional apabila model inkuiri ini dapat diterapkan di MI. Se-Gugus Madrasah Kecamatan Beji. Tujuan penelitian ini adalah 1). Mendeskripsikan pemahaman konsep daur hidup hewan siswa kelas IV MI. Se-gugus Kecamatan Beji sebelum menggunakan model inkuiri; 2). Mendeskripsikan pemahaman konsep daur hidup hewan siswa kelas IV MI. Se-gugus Kecamatan Beji sesudah menggunakan model inkuiri; 3). Mendeskripsikan perbedaan pemahaman konsep daur hewan siswa kelas IV MI. Se-gugus Kecamatan Beji antara sebelum dan sesudah pembelajaran dengan menggunakan Model Inkuiri. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Populasi yang diambil adalah MI se-gugus madrasah Kecamatan Beji. Adapun sampel yang diambil MI inti adalah MI Al-Ishlah dan sebagai MI imbas diambil secara random. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah instrumen butir soal tes. Instrument yang dipakai adalah butir-butir soal tes yang betul-betul valid dan Reliabel. Analisa datanya menggunakan rumus t-tes. Hasil pemahaman konsep daur hewan siswa kelas IV MI. Se-gugus Kecamatan Beji sebelum penerapan model inkuiri adalah mencapai rata-rata 39,20. Pemahaman konsep daur hewan siswa kelas IV MI. se-gugus Kecamatan Beji sesudah penerapan model inkuiri adalah mencpai rata-rata 83,95. Hasil perbedaan pemahaman konsep daur hewan siswa kelas IV MI. Se-gugus Kecamatan Beji antara sebelum dan sesudah penerapan model inkuiri setelah diuji dengan t test adalah, t hitung = 13,457, harga t tabel = 2,02. Jadi t hitung > harga t tabel. Berarti signifikan pada taraf kepercayaan 95 %. Disarankan bagi guru hendaknya dalam pembelajaran IPA dengan materi daur hidup hewan pada siswa kelas IV untuk menggunakan model inkuiri karena dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang daur hidup hewan.

Peningkatan kemampuan bersosialisasi anak melalui metode sosiodrama pada kelompok A di Taman Kanak-kanak Pelita Hati Sukun Pondok Indah Malang / Nur Ana Fatimah

 

Kata kunci : Metode Sosiodrama, Kemampuan, Bersosialisasi Soiodrama merupakan kegiatan anak untuk berekspresi dan mengungkapkan perasaan dalam bentuk percakapan, ekspresi wajah, penghayatan dan gerakan anggota badan. Dari observasi yang telah dilakukan, diketahui masalah penelitian adalah kemampuan bersosialiasi anak kelompok A TK Pelita Hati Malang masih rendah. Anak kurang memiliki keberanian untuk bercakap-cakap dengan teman lain sedangkan metode yang digunakan oleh guru adalah pemberian tugas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka peneliti memilih metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak yaitu menggunakan metode sosiodrama. Dengan menggunakan metode sosiodrama, anak-anak dapat mengungkapkan ekspresinya melalui gerak, perasaan dan ekspresi wajah. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat dirumuskan tujuan penelitian yaitu 1) untuk mendiskripsikan penerapan aktifitas permainan sosiodrama yang dapat meningkatkan proses kemampuan bersosialisasi siswa kelompok A TK Pelita Hati Malang, 2) untuk mendiskripsikan peningkatan kemampuan bersosialisasi siswa kelompok A TK Pelita Hati Malang. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif interaktif dengan rancangan Penelitian Tindakan Kelas dalam dua siklus (siklus 1 dan siklus II). Pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Teknik Pengumpulan datanya melalui observasi dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Juli 2010 di TK Pelita Hati Malang dengan subyek penelitian sebanyak 20 anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan hasil tindakan siklus 1 menunjukkan indikator peningkatan kemampuanbersosialisasi anak sejumlah 17 % dengan skor rata-rata sebesar 65 %, selanjutnya pada tindakan siklus II mengalami peningkatan sejumlah 18 % dengan skor rata-rata sebesar 83 %. Meskipun tidak mencapai hasil 100 % namun bagi peneliti hasil ini sudah sangat memuaskan. Dengan terselesaikannya penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode sosiodrama merupakan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak kelompok A TK Pelita Hati Malang. Ada beberapa saran yang dapat peneliti kemukakan diantaranya agar para guru hendaknya menggunakan metode sosiodrama, bagi kelas yang ingin mengatasi permasalahan sosial, mengubah pembelajaran dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada anak, dan pengembangan situasi kearah yang lebih kondusif, maka disarankan untuk menggunakan metode sosiodrama dalam pembelajaran.

Pengembangan media bimbingan pribadi untuk pengenalan dan akomodasi emosi berbasis multimedia kepada siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Malang / Indria Syaputri

 

Kata Kunci: Pengembangan Media, Bimbingan Pribadi, Pengenalan dan Akomodasi Emosi, dan Multimedia Pelaksanaan bimbingan dan konseling sangat memperhatikan perkembangan peserta didik diantaranya kematangan emosi siswa. Oleh karena itu peran konselor sangat penting dalam pemberian bimbingan pribadi tentang pengenalan dan akomodasi emosi terutama bagi remaja awal di SMP. Beberapa cara dalam pemberian layanan bimbingan adalah dengan ceramah dan permainan sederhana. Agar pemberian layanan bimbingan menjadi bermakna dan mencapai kompetensi yang diinginkan adalah dengan menggunakan multimedia yaitu Macromedia Flash MX. Olah karena itu, dilakukan penelitian pengembangan dengan rumusan masalah yaitu bagaimanakah bentuk dan isi multimedia yang dapat memberikan informasi bimbingan mengenai pengenalan dan akomodasi emosi yang dapat menarik perhatian siswa dan dapat memberikan siswa pembelajaran mengenai perkembangan emosi. Pengembangan media bimbingan mengikuti tahapan pengembangan 1) analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, 2) analisis tujuan, 3) perumusan materi pembelajaran, 4) penyusunan naskah, 5) penyusunan alat evaluasi, 6) produksi media, 7) evaluasi dan revisi media. Uji coba produk dilakukan pada tiga subjek yaitu ahli materi, ahli media, dan responden. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan media bimbingan berupa angket. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif yang dianalisis dengan prosentase. Sedangkan hasil belajar siswa dianalisis dengan mencari skor yang diperoleh dari latihan soal. Berdasarkan teknik analisis rata-rata dari hasil validasi kelayakan pengembangan media bimbingan secara keseluruhan memiliki rata-rata nilai 85,01%. Hal ini menunjukkan bahwa media yang dikembangkan cukup layak digunakan sebagai media bimbingan. Produk yang dihasilkan adalah media bimbingan pribadi dengan materi pengenalan dan akomodasi emosi yang dikemas dalam CD (Compact Disc). Berdasarkan latihan soal untuk mengukur hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Malang, pada uji coba perseorangan perolehan nilai rata-rata dari 3 siswa adalah 96,97 maka kategorinya adalah A dengan interpretasi “sangat menguasai/ memahami materi”. Sedangkan untuk uji coba lapangan, nilai rata-rata yang diperoleh dari 40 siswa adalah 93. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa sangat memahami dan menguasai materi bimbingan yang diberikan melalui pengembangan media bimbingan pribadi untuk pengenalan dan akomodasi emosi.

Peningkatan kemampuan membaca permulaan pelajaran bahasa Inggris dengan model picture-word inductive (PWIM) siswa kelas 4 SDN Gunong Sekar 1 Sampang / Amir Hamzah

 

Kata kunci: kemampuan, membaca permulaan, model PWIM, sekolah dasar. Dalam proses pengajaran membaca agar anak dapat menguasai membaca dengan benar, perlu dilakukan beberapa proses kegiatan dalam membaca. Bum, Roe, dan Elinor(1996) berpendapat bahwa terdapat tujuh proses kegiatan dalam membaca yang harus dilakukan selama proses berlangsung, ketujuh kegiatan tersebut adalah:(1) mengamati simbol-sismbol tulisan, (2) menginterpretasikan apa yang diamati, (3) mengikuti urutan yang bersifat linier baris kata-kata yang tertulis, (4) menghubungkan kata-kata (dan maknanya) dengan pengetahuan, (5) membuat inferensi/sim-pulan dan evaluasi materi yang dibaca, (6) membangun asosiasi, dan (7) menyikapi secara personal kegiatan membaca sesuai dengan interesnya (dalam Syafi’I, 1999:262). Adanya kesalahan dalam menerapkan konsep membaca permulaan akan menyebabkan siswa mengalami kegagalan dalam memahami teks bacaan sehingga kadang-kadang menyebabkan siswa menjadi frustasi apabila dibebani tugas untuk mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan keterampilan membaca. Sebagaimana pendapat Harp (1987) “ children at the praoperational level lack many of the concepts needed to understand reading and writing processes, and they are often frustrated when teachers expect them to perform such beginning reading tasks as memorizing rules.” (dalam Burn, Roe dan Ross, 1996: 41). Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan upaya peningkatan keterampilan membaca permulaan pada pelajaran bahasa Inggris dengan menggunakan Picture-Word Inductive Model (PWIM) pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca permulaan, penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. “Bagaimanakah meningkatkan kemampuan membaca permulaan pelajaran bahasa Inggris dengan dengan model PWIM?” (a) “Bagaimanakah proses meningkatkan kemampuan membaca permulaan pelajaran bahasa Inggris dengan model PWIM?” dan (b) “Bagaimanakah hasil meningkatkan membaca permulaan pelajaran bahasa Inggris dengan model PWIM?” Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian dilaksanakan berdasar tiga siklus tindakan atas kolaborasi antara guru dengan peneliti. Setiap siklus tindakan dilaksakan berdasar alur tindakan yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Data penelitian berupa informasi mengenai proses tindakan (hasil pengamatan dari perencanaan dan pelaksanaan), serta hasil tes siswa sebelum pelaksaan kegiatan perbaikan. Hasil tes kegiatan siswa yang dijadikan tindakan di siklus berikutnya apabila taraf penguasaannya kurang dari target pencapaian (70%). Subyek penelitian siswa kelas 4 SDN Gunong Sekar 1 Sampang, sejumlah 38 siswa yang secara aktif mengikuti kegiatan tanpa membedakan gender. Pada tahap awal disusun satuan pembelajaran yang berisi tujuan pembelajaran khusus, materi, metode, media, sumber belajar, serta evaluasi. Materi pembelajaran disesuaikan dengan kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), yakni membaca tema-tema yang sesuai dengan kegiatan siswa sehari-hari. Pada tahap pelaksaan membaca, proses pembelajaran berlangsung ditandai adanya interaksi antara guru dan siswa dalam bentuk dialog, tanya-jawab, penjelasan materi, penugasan untuk mengarahkan dan merekontruksi pengalaman sehari-hari. Dalam pembelajaran siswa diharuskan mengidentifikasi, membuat simpulan dan membangun asosiasi tentang bacaan yang dibaca. Tahap pasca membaca dilaksanakan melalui interaksi dan diskusi kelas yang dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan identifikasi, menyimpulkan dan membangun asosiasi bacaan dengan pengalaman hidupnya sehingga mampu mengontruksi kandungan makna dari bacaan yang dibaca. Hasil evaluasi yang dilakukan setiap akhir kegiatan perlakuan menunjukkan perkembangan yang baik. Taraf penguasaan rata-rata di siklus I (52,77%), mengalami peningkatan dari pencapaian pretest hanya (0,72%) di siklus II rata-rata (57,08%) dan di siklus III (70,27%) Pada siklus III pencapai hasil sudah memenuhi target (70%). Bertolak dari hasil penelitian tersebut, disarankan agar (1) guru bahasa Inggris kelas 4 SDN Gunong Sekar 1 Sampang dapat menularkan PWIM dalam pembelajaran kemampuan membaca permulaan kepada guru-guru mata pelajaran bahasa Inggris SD, khususnya di lingkungan Kabupaten Sampang, karena terbukti dapat mengontruksi kemampuan pemahaman anak terhadap teks-teks bacaan bahasa Inggris, (2) guru bahasa Inggris kelas 4 SDN Gunong Sekar 1 Sampang perlu meneruskan bimbingan kepada siswa terutama yang berkaitan dengan pembangunan asosiasi antara gambar dan bacaan dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, (3) model ini dikembangkan oleh peneliti untuk mempermudah memahami bacaan dalam teks bahasa Inggris kelas rendah yang banyak dibantu oleh gambar-gambar. Untuk itu peneliti berharap agar model PWIM digunakan dalam kegiatan membaca permulaan khususnya dan bisa juga untuk keterampilan membanca lanjutan, baik di SDN Gunong Sekar 1 Sampang maupun di sekolah dasar lainnya.

Peningkatan kualitas pembelajaran IPS kelas V menggunakan model peta konsep di SDN 1 Pisangcandi Kecamatan Sukun Kota Malang / Rachmat Eko Riza S.

 

Kata kunci: kualitas pembelajaran, IPS, model peta konsep Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memegang peranan penting dalam mengembangkan kemampuan hidup siswa. IPS memuat materi-materi yang mengajarkan kepada para siswa cara berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan cara-cara memecahkan masalah sosial yang dihadapi oleh para siswa. Pembelajaran IPS selama ini menggunakan pendekatan teacher centered dengan metode pembelajaran yang sering digunakan adalah metode direct teaching. Akibatnya adalah pengetahuan siswa tentang lingkungan sosialnya menjadi sempit dan kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh siswa menjadi terbatas. Implikasi dari cara membelajarkan IPS di SD dengan pendekatan teachers centered tampak saat observasi pembelajaran peninggalan sejarah berskala nasio-nal masa Hindu, Budha, dan Islam di kelas V SDN 1 Pisangcandi Kecamatan Sukun Kota Malang. Siswa tampak malas dan kurang antusias karena dominasi guru sangat besar saat pembelajaran. Suasana kelas menjadi tidak kondusif ketika siswa merasa bosan dan merasa tidak dilibatkan. Siswa juga kesulitan untuk memahami materi yang diajarkan oleh guru, karena harus menghapal. Efek secara umum adalah kualitas pembelajaran IPS di kelas V menjadi rendah. Salah satu cara pemecahan masalah rendahnya kualitas pembelajaran IPS kelas V SD adalah dengan menggunakan model pembelajaran peta konsep. Peta konsep berfungsi untuk memvisualisasikan konsep utama dan konsep-konsep pendukung agar mudah dipahami hubungan antar konsep tersebut. Dalam hal ini, konsep utamanya adalah peninggalan sejarah berskala nasional di Indonesia dan konsep-konsep pendukungnya adalah peninggalan sejarah dari kerajaan-kerajaan masa Hindu, Budha, dan Islam. Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui pene-rapan model pembelajaran peta konsep dalam peningkatan kualitas pembelajaran IPS kelas V SD dan apakah penggunaan model pembelajaran peta konsep dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS kelas V SD di SDN 1 Pisangcandi Kecamatan Sukun Kota Malang. Penelitian ini tergolong dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan problem solving. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus menggunakan model Kemmis dan Taggart meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi hasil tindakan. Subyek penelitian adalah siswa kelas V tahun pelajaran 2010-2011 SDN 1 Pisangcandi Kecamatan Sukun Kota Malang. Instrumen yang digunakan adalah lembar obser-vasi kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran, kemampuan afektif siswa, kemampuan siswa dalam membuat peta konsep, dan interaksi, suasana serta kreativitas belajar. Aspek peta konsep yang diamati adalah penggunaan gambar atau foto sebagai konsep utama, menggunakan garis lengkung untuk menghubungkan antar konsep, menggunakan berbagai warna, dan menggunakan satu kata kunci untuk meng-gambarkan hubungan antar konsep. Hasil penelitian menunjukkan kualitas pembelajaran IPS Kelas V SD meningkat. Kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran pada siklus 1 dengan skor 95 dan siklus 2 dengan skor 95. Kemampuan guru dalam melak-sanakan pembelajaran pada siklus 1 dengan skor 87,5 dan meningkat pada siklus 2 dengan skor 93,75. Kemampuan afektif siswa pada siklus 1 mendapat skor 68 meningkat pada siklus 2 dengan skor 80. Kemampuan siswa dalam membuat peta konsep pada siklus 1 dengan skor 83 meningkat pada siklus 2 dengan skor 89. Dan interaksi, suasana belajar, dan kreativitas pada siklus 1 dengan skor 89 dan meningkat pada siklus 2 dengan skor 94. Terdapat beberapa kendala selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini, diantaranya adalah penguasaan kelas yang kurang optimal, media pembelaja-ran yang kurang menarik perhatian siswa, luasnya materi pembelajaran, dan kurangnya dukungan dari sekolah untuk menunjang pembelajaran yang efektif dan efisien. Berdasarkan hasil penelitian maka disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran peta konsep dapat meningkatkan kualitas pembelajaran IPS Kelas V SD, khususnya pada materi peninggalan sejarah berskala nasional masa Hindu, Budha, dan Islam di Indonesia. Saran penelitian adalah mengkombinasikan peta konsep dengan media dan metode pembelajaran yang lain untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan penuh kreativitas. Selain itu perlu memperhatikan syarat pembentukan kelompok yang baik dan penguasaan kelas yang baik agar kondisi kelas tetap kondusif.

Pengaruh jenis batuan sedimen penutup pada bentuk lahan karst terhadap kualitas air tanah di Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk / Miftakul Janah

 

Kata kunci: kualitas air tanah, jenis batuan sedimen penutup Penyediaan air selalu dikaitkan dengan kondisi air yang sehat atau air yang tidak berbahaya untuk dikomsumsi. Aspek fenomena bentuk lahan akan memengaruhi kualitas maupun kuantitas dari air tanah. Formasi geologi dari setiap mineral batuan akan membentuk unsur atau senyawa kimia yang berpenga-ruh terhadap air tanah. Di wilayah Kecamatan Lengkong ditemukan kasus bahwa di semua tempat pemasak air ditemukan endapan kapur. Temuan tersebut menim-bulkan dugaan bahwa di daerah ini banyak mengandung kapur sehingga masya-rakat mengasumsikan jika mengonsumsi air tanah di Kecamatan lengkong ini tidak baik untuk kesehatan. Namun dari data Nganjuk Dalam angka tahun 2007 menunjukkan bahwa masyarakat Kecamatan Lengkong tidak banyak yang mengidap penyakit batu ginjal sebagai penyakit yang timbul jika tubuh banyak mengonsumsi zat kapur. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbedaan satuan bentuk lahan karst, menganalisis perbedaan kualitas air tanah berdasarkan jenis batuan sedimen penutup pada bentuklahan karst di Kecamatan Lengkong, dan mengeta-hui kualitas air tanah di Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk apakah masih memenuhi standar baku mutu air minum golongan A menurut PERMENKES N0.416/ MENKES/PER/ IX/1990. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Penentuan satuan bentuklahan dan jenis batu sedimen penutup menggunakan cara overlay peta geologi lembar Surabaya dan peta rupa bumi Indonesia (RBI) Kabupaten Nganjuk. Penentuan kualitas air menggunakan cara pembandingan (comparative) antara kualitas air dengan standar baku mutu air untuk golongan A yang sudah ditetapkan dalam PERMENKES No.416/MENKES/PER/IX/1990. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan satuan bentuklahan di Kecamatan Lengkong, yaitu perbukitan karst dan dataran karst. Kualitas kimia air tanah pada bentuklahan karst di Kecamatan Lengkong menunjukkan tidak ada perbedaan, dikarenakan satuan bentuklahan kurang bervariasi dan pengaruh batu-an induk masih mendominasi yaitu batuan sedimen organik (baca: batuan gam-ping/karst). Ditemukan pula penyimpangan teori bahwa batuan akuifer gunung api kuarter memiliki kandungan Fe rendah dan CaCO3 yang tinggi dikarenakan dae-rah ini merupakan daerah imbuhan/ recharge area sehingga banyak mineral terla-rut dengan aliran air tanah yang menuju tempat ini. Air tanah di Kecamatan Leng-kong masih memenuhi kriteria sebagai air minum Golongan A, sehingga masuk dalam kategori aman untuk dikonsumsi secara langsung. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengaruh batuan sedimen pada bentuk lahan karst di Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk tidak besar jika dibandingkan dengan fakta di lapangan bahwa terdapat empat macam batuan sedimen penutup dan dua satuan bentuklahan karst, namun hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas kimia air tanah tidak ada perbedaan. Hal ini dikarenakan batuan induk yaitu batuan sedimen organik karst lebih mendominasi.

Pemanfaatan sumber belajar lingkungan terdekat siswa melalui observasi untuk meningkatkan hasil belajar materi norma yang berlaku di masyarakat bagi siswa kelas III A SDN Kotalama 5 Malang / Rifa Nurdiana

 

Kata kunci: Pemanfaatan sumber belajar, Melalui Observasi, Hasil Belajar PKn SD Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi dalam pembelajaran PKn guru sering menggunakan metode ceramah dan tanya jawab saja. Faktanya, siswa kelas III A SDN Kotalama 5 Malang hanya mencapai nilai rata-rata 50 padahal KKM yang ditetapkan adalah 65. Oleh karena itu untuk meningkatkan hasil belajar PKn, peneliti mencoba menerapkan pemanfaatan sumber belajar melalui observasi. Yaitu pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Penelitian ini diracang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari siklus. Subjek yang dikenai tindakan adalah siswa SDN Kotalama 5 Malang. Pemanfaatan sumber belajar melalui observasi dimulai dengan tanya jawab tentang peristiwa-peristiwa di masyarakat. Kemudian siswa diberi kebebasan mengambil permen yang disediakan. Setelah itu, siswa diminta menyebutkan apa saja yang terjadi ketika mengambil permen tanpa peraturan. Kemudian siswa menyebutkan cara yang tepat agar permen tadi dibagi rata dan siswa mempraktekkannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber belajar melalui observasi mampu meningkatkan hasil belajar dan aktifitas belajar siswa. Siswa jadi lebih antusias, lebih berani bertanya, dan lebih kreatif dalam pembelajaran. Saran dari penelitian adalah penerapan pemanfaatan sumber belajar terdekat siswa melalui observasi perlu diterapkan dan dikembangkan pada mata pelajaran lain pada umumnya dan pada pelajaran PKn pada khususnya.

Peningkatan kecerdasan interpersonal melalui permainan kooperatif di kelompok B TK Dewi Sartika Batu / Fitriyah Wulan Cahyani

 

Keywords: Interpersonal intelligence, cooperative playing. Underlying this research by the condition of children in group B Dewi Sartika Kindergarten Batu is still exists some that has not been smart in interpersonal.16 children only 4 children can interact and work together, as well. Program given by the teachers still tend to be obsolete. Therefore, need for efforts to improve interpersonal intelligence in children B group Dewi Sartika Batu. Improving interpersonal intelligence is done through the application of cooperative playing. Because a cooperative playing is learning strategies that give children the opportunity to interact and collaborate in learning activities. The objective in conducting this research is to improve interpersonal intelligence of children through the implementation of the cooperative playing that gave priority to cooperation activities within the group so that there is interaction, interpersonal communication, and the promotion of mutual assistance and knowledge sharing among friends. This study conducted in Dewi Sartika Kindergarten Batu. Research design that will be used is class action framework. Researchers collaborating with the Mrs. Ukmiati, teacher on group B Dewi Sartika Kindergarten Batu starting from observation, problems identification, action planning, implementation, monitoring and reflection. The results showed that the application of cooperative playing can increase an interpersonal intelligence on children group B Dewi Sartika Kindergarten Batu. Improvement of interpersonal intelligence is marked with: (1) practical implementation of cooperative playing with the theme of plants by the teacher on group B Dewi Sartika kindergarten Batu accordance with the set design collaboratively with both, (2) teachers more creatively to develop learning and fun learning environment for students. Implementation of cooperative playing can improve: (1) ability of student cooperation, (2) ability to maintain friendships, (3) communication skills, (4) willingness to help each other when performing activities, and (5) willingness to share knowledge. Suggest that the improvement in student interpersonal intelligence on group B Dewi Sartika Kindergarten Batu performed by applying cooperative playing. This research can be used for other kindergarten whose state is relatively the same with kindergarten which became the stage.

Peningkatan kemampuan berbicara pada siswa kelompok B melalui metode bercerita di Taman Kanak-kanak Al-Falah Kota Batu / Yayuk Hastining Rahayu

 

Kata kunci : PAUD, Pengembangan bahasa, metode bercerita Penelitian ini berlatar belakang adanya kualitas praktek pembelajaran bercerita di TK Al Falah Batu yang masih belum maksimal.Kegiatan pembelajaran bercerita masih sangat jarang dilakukan anak,masih terpusat pada guru,dan masih belum memanfaatkan lingkungan sebagai sarana belajar yang menyenangkan,disamping itu kemampuan berbicara anak masih relative rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Penerapan metode bercerita dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa di kelas B TK Al Falah Batu 2) untuk mendeskripsikan kemampuan berbicara siswa di kelas B TK Al Falah Batu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk PTK dan dirancang dalam 2 (dua) siklus. Masing-masing terdiri dari 4 tahapan 1) perencanaan 2) tindakan dan observasi 3) refleksi 4) perbaikan rencana . refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelompok B Taman Kanak – Kanak Al Falah Kecamatan Batu Kota Batu sebanyak 16 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran dan dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak kelompok B TK Al Falah Batu. Peningkatan kualitas pembelajaran tersebut ditandai dengan:(1)diterapkannya metode bercerita anak lebih runtut dan lancar dalam bercerita;(2)ketergantungan guru pada buku teks berkurang ;(3)pembelajaran lebih terpusat pada anak;(4)penilaian hasil belajarnya tidak melalui tes;(5)situasi belajarnya lebih kondusif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, secara umum dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bercerita dapat menunjukkan kemampuan berbicara anak kelompok B di TK Al Falah Batu. Secara khusus peningkatan ini ditandai dengan tumbuhnya keberanian anak untuk bercerita secara individu di depan kelas. Selain itu dengan metode bercerita kemampuan berbicara anak menunjukkan peningkatan dari siklus I dan siklus II. Oleh karena itu dari jumlah anak dalam satu kelas hanya ada empat anak saja yang belum maksimal sesuai dengan indikator ketercapaian, maka siklus II ini sudah dinyatakan peneliti untuk diakhiri. Dari kesimpulan tersebut maka dirasakan bagi guru Taman Kanak Kanak untuk menggunakan metode bercerita pada kegiatan pembelajaran, namun berpusat pada anak, sehingga muncul keberanian dan rasa percaya diri dari anak didik kita. Selanjutnya disarankan bagi peneliti di masa mendatang menggunakan penelitian yang serupa dengan cara mengembangkan kearah model yang lebih baik menarik dan sempurna.

Peningkatan kemampuan menceritakan kembali isi cerita secara sederhana dengan media audio visual di TK Plus Al Irsyad Al Islamiyah Batu / Nurdjanah

 

Keywords : simply story retelling, visual audio media, Kindergarten. This research has background of low ability narrate to return the story content simply at group of A in TK Plus Al-Irsyad Al Islamiyyah at Batu. Teacher not yet given the appropriate media in developing ability narrate to return the story content simply. Despitefully also interest, being active, feel to happy, and creativity of child in activity learn still lower. This research aim to increase child ability in narrating to return the story content simply at TK Plus Al Irsyad Al lslamiyyah at Batu which marked with the visual audio media utilization, To Improving of interest, being active, feel to happy, and creativity of child. To reach the target above, this research is conducted with the device of research of class action (PTK) with the model learn as researcher. Researcher assisted by teacher of co-laborers of group of A in TK Plus of Al Irsyad Al Islamiyyah at Batu as collaborator, start from phase process to identify, the problem, planning, the action, action realization, observation, and reflection. For the result, it is indicate that the visual audio media utilization can improve the ability narrate to return the story content simply in TK Plus of Al Irsyad Al-Islamiyyah at Batu. Improving of study quality marked with the utilization of visual audio media in TK Plus Al Irsyad Al-Islamiyyah at Batu according to design compiled by researcher and teacher co-laborers as collaborator. Despitefully visual audio media exploiting can improve: (1) interest, being active, (3) feel to happy, (4) creativity of child in correct reading and narrate to return the story content simply. The suggesting that in improving child ability narrate to return the story content simply teaches the group A exploit the visual audio media. The result of this research is very possible applied in other Kindergarten if its condition relative equal or look like with the school becoming this research background. However, it suggested for further researcher to exploit the visual audio media at effort to improve of other ability.

Kematangan sosial anak yang mengikuti kelompok bermain (playgroup) dengan sistem sekolah sehari penuh (fullday school) (studi kasus di PG/TK Al Huda Bagus Malang) / Endita Alrobby

 

Kata kunci: kematangan sosial anak, playgroup, fullday school, studi kasus, PG/TK Al Huda Bagus Malang Layanan pendidikan anak usia dini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya hingga dewasa. Di samping Taman Kanak-kanak (TK), dewasa ini masyarakat terutama para orang tua mulai mengenal bentuk pendidikan prasekolah yang lain, yaitu kelompok bermain (playgroup). Namun kemudian pendidikan ini berkembang lagi menjadi kelompok bermain dengan sistem sekolah sehari penuh (fullday school), demi menjawab kekhawatiran para orangtua sibuk bekerja yang kesulitan menjaga putra-putrinya. Ketika anak berada di sekolah selama sehari penuh tanpa pendampingan orangtua, maka dibutuhkan kematangan sosial yang cukup pada anak. Melihat fenomena sekolah sehari penuh yang saat ini sedang marak dan menjadi trend di Indonesia, mendorong dilakukannya penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap kematangan sosial anak yang mengikuti playgroup di fullday school tersebut, terutama setelah kurang lebih 1 bulan bersekolah. Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan penelitian kualitatif dengan model penelitian studi kasus. Subjek penelitian dalam penelitian ini berjumlah empat orang dengan kriteria sebagai berikut: (1) Siswa di PG/TK Al Huda Bagus Malang dengan usia 2-4 tahun, (2) Anak dalam kondisi sehat secara fisik dan psikologis, (3) Sudah bersekolah selama minimal 1 bulan, (4) Disetujui oleh orangtua subyek. Alat pengumpul data yang digunakan adalah (1) Observasi, (2) Wawancara mendalam, (3) Dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis isi dengan tahapan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasi data tersebut dengan kriteria-kriteria tertentu, melakukan prediksi, serta menarik kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan keempat siswa playgroup di fullday school PG/TK Al Huda Bagus Malang sebagai subyek penelitian memiliki self-help general yang baik, self-help dressing yang kurang, self-help eating yang baik, locomotion yang sangat baik, occupation yang sangat baik, communication yang sangat baik, dan socialization yang sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi Fullday school PG/TK Al Huda Bagus Malang untuk dapat meningkatkan aspek kematangan sosial ketrampilan berpakaian (self-help dressing) dan ketrampilan makan (self-help eating) para siswanya dengan memaksimalkan metode Learning by Doing (penyampaian dengan praktek langsung) yang sudah ada dan kemudian dilanjutkan dengan pembiasaan.

Pengembangan kemampuan berbahasa anak melalui metode bercerita di kelompok B Roudhotul Athfal Al Hidayah Grogolan Ngembe Beji Pasuruan / Nusrotin

 

Kata kunci: Metode bercerita, Kreativitas, Roudhotul Athfal. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kreativitas siswa dengan metode bercerita di kelompok B RA Al-Hidayah Grogolan Ngembe Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas diketahui bahwa ada permasalahan dalam pembelajaran di kelompok B. Secara umum permasalahan tersebut dapat diidentifikasi menjadi beberapa masalah, yaitu model pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang tepat, kegiatan pembelajaran pada umumnya dilakukan dengan ceramah, dan penggunaan media pembelajaran yang tersedia di sekolah kurang optimal, sehingga motivasi belajar siswa rendah, yang ditandai oleh kurang aktifnya siswa dalam mencari pengetahuan sendiri dan hanya menunggu pemberian materi dari guru, hal ini berdampak pada perkembangan kreativitas siswa kurang baik. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa tersebut menggunakan pembelajaran dengan metode bercerita, terutama dalam upaya meningkatkan kreativitas berbahasa siswa melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita, 2) mendeskripsikan peningkatan kreativitas siswa dalam kemampuan menggunakan kosakata dan berbahasa dikelompok B RA Al-Hidayah Grogolan Beji. Untuk itu peneliti akan membuat rancangan penelitian ini dengan menggunakan 2 siklus, yang tiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelompok B RA Al Hidayah sebanyak 13 siswa. Data penelitian diperoleh dari hasil observasi dan wawancara. Hasil penelitian pelaksanaan pembelajaran dengan metode bercerita sebagai berikut: 1) bahasa yang sederhana, 2) mudah diterima oleh siswa, 3) menarik bagi siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan metode bercerita dapat meningkatkan kreativitas bahasa siswa dalam kemampuan menggunakan kosakata dan bahasa yang sederhana serta kemampuan menceritakan pengalaman secara sederhana, khususnya siswa kelompok B RA Al-Hidayah Grogolan Beji. Untuk itu disarankan bagi guru untuk meng

Pengaruh minat baca literatur akuntansi dan keaktifan belajar siswa terhadap hasil belajar mata pelajaran siklus akuntansi yang dimediasi oleh kemampuan berpikir kritis siswa program keahlian akuntansi kelas X di SMK Negeri 1 Malang / Vanny Andjani

 

Kata Kunci: Minat Baca Literatur Akuntansi, Keaktifan Belajar, Kemampuan Berpikir Kritis, Hasil Belajar Hasil belajar sampai saat ini menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa. Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis ini akan ditujukan sebagai variabel intervening hubungan antara minat baca dengan hasil belajar siswa serta variabel intervening hubungan antara keaktifan belajar siswa dengan hasil belajar siswa. Sehingga dapat terlihat kemampuan berpikir kritis menjadi variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel dependen (hasil belajar siswa) dengan variabel independennya (minat baca literatur akuntansi dan keaktifan belajar siswa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antara minat baca dan keaktifan belajar terhadap hasil belajar melalui kemampuan berpikir kritis siswa program keahlian Akuntansi di SMK Negeri 1 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi menggunakan analisis regresi dan analisis jalur (path analysis). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah stratified random sampling, populasi penelitian ini adalah siswa kelas X program keahlian Akuntansi SMKN 1 Malang dengan jumlah total 161, sehingga sampel yang digunakan adalah 80 siswa. Data diperoleh dengan menyebarkan angket dan dokumentasi berupa nilai rata-rata ulangan harian siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah minat baca literatur akuntansi (X1), keaktifan belajar (X2) dan variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa mata pelajaran siklus akuntansi kelas X program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Malang (Y) dengan variabel kemampuan berpikir kritis siswa sebagai variabel intervening (Z). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) terdapat pengaruh minat baca literatur akuntansi terhadap hasil belajar, 2) terdapat pengaruh minat baca literatur akuntansi terhadap hasil belajar melalui kemampuan berpikir kritis siswa, 3) terdapat pengaruh kekatifan belajar terhadap hasil belajar, 4) terdapat pengaruh keaktifan belajar terhadap hasil belajar melalui kemampuan berpikir kritis siswa, 5) terdapat pengaruh kemampuan berpikir kritis siswa terhadap hasil belajar. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan agar (a) guru terus memberikan dorongan kepada siswa untuk meningkatkan minat bacanya sehingga pengetahuan siswa bertambah, (b) guru dan siswa bersama-sama meningkatkan keaktifan belajar dalam proses belajar mengajar agar pembelajaran bisa dicapai secara maksimal.

Koordinasi proteksi arus lebih pada jaringan distribusi menggunakan software EDSA 2005 / Andhika Surya Dwinata

 

Kata Kunci : Beban, Arus, Fuse, Recloser Dalam sistem tenaga listrik, jaringan distribusi memegang peranan penting dalam menyalurkan tenaga listrik dari stasiun supply tenaga listrik kepada konsumen. Oleh karena itu diperlukan sistem pengaman yang baik yang mampu mengantisipasi bentuk gangguan yang mungkin terjadi pada saluran distribusi, Peralatan pengaman yang terdiri dari fuse (CO), recloser (PBO) dan relai arus lebih (OCR). Peralatan pengaman tersebut perlu dipasang terkoordinir pada sistem, sehingga setiap pengaman mempunyai peranan yang penting dalam mengatasi gangguan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tujuan utama tugas akhir ini adalah untuk mendapatkan hasil analisis koordinasi proteksi arus listrik pada jaringan distrubusi, sehingga ketika terjadi gangguan letak gangguan akan dapat segera terdeteksi dan peralatan pengaman tersebut akan berkoordinasi sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan terjadinya pemadaman yang lama, dan bila sampai terjadi pemadaman area pemadamannya dapat diperkecil seminimal mungkin. Metode yang digunakan untuk menyelesaikan tugas akhir ini adalah : (1) pengambilan data lapangan; (2) pengolahan data; (3) analisis data; (4) melakukan simulasi menggunakan program Edsa Technical 2005; dan (5) menganalisis data hasil simulasi. Data lapangan tersebut diperoleh dari data hasil pengukuran beban malam pada PLN Unit Pelayanan dan Jaringan (UP&J) Bululawang. Hasil simulasi menunjukan bahwa dapat diketahui hasil analisis nilai arus gangguan 3 fasa, nilai arus gangguan Line – Line, nilai arus gangguan Line – Ground, nilai arus gangguan Line – Line – Ground. Dimana arus gangguan tersebut menurut 0,5 cycle, 5 cycle, dan 30 cycle. Berdasarkan hasil simulasi dan kesimpulan maka koordinasi peralatan sangat penting bagi jaringan distribusi 20 kV untuk mencapai tingkat keandalan sehingga tidak menyebabkan terjadinya pemadaman yang lama, dan bila sampai terjadi pemadaman area pemadamannya dapat diperkecil seminimal mungkin.

Pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe teams games tournament (TGT) terhadap proses dan hasil belajar iswa kelas X SMAN 1 Lubuk Kabupaten Aceh Besar pada materi reaksi reduksi oksidasi / Bismi Aulia

 

Kata kunci: reaksi redoks, kooperatif model Teams Games Tournament (TGT), proses belajar, hasil belajar. Pendidikan merupakan bagian terpenting demi perkembangan suatu bangsa yang berkualitas. Pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru merupakan salah satu faktor yang menyebabkan belum optimalnya kualitas proses dan hasil belajar kimia siswa khususnya pada siswa kelas X di SMA Negeri 1 Lubuk. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) diharapkan mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas belajar, aktivitas mental sains, dan hasil belajar pada materi reaksi redoks. Penelitian ini mengunakan rancangan eksperimen semu dan deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Lubuk sebanyak 2 kelas. Kelas X-1 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif TGT dan kelas X-2 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari instrumen pembelajaran yaitu silabus, RPP, dan instrumen pengukuran yaitu lembar observasi aktivitas belajar, angket aktivitas mental sains, tes hasil belajar dan angket persepsi. Hasil uji coba instrumen menunjukkan bahwa 30 soal valid dengan reliabilitas 0,98. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial dengan menggunakan t-test pada taraf signifikan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kualitas aktivitas belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan materi reaksi redoks pada umumnya termasuk kategori sangat tinggi dan tinggi dalam keterlaksanaan indikator yang ada. (2) kualitas aktivitas mental sains siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi reaksi redoks menunjukkan siswa telah mampu menerapkan indikator aktivitas mental sains. (3) terdapat perbedaan yang signifikan, antara hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif TGT lebih baik daripada hasil belajar kognitif siswa kelas kontrol yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional, dimana skor rerata hasil belajar kognitif siswa kelas eksperimen 76,63 dan kelas kontrol 71,91. (4) hasil belajar afektif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan rerata sangat tinggi dan tinggi dalam keterlaksanaan indikator yang ada. (5) hasil belajar psikomotorik siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan rerata sangat tinggi dalam keterlaksanaan indikator yang ada. (6) persepsi siswa menunjukkan model pembelajaran kooperatif TGT dapat diterima siswa dengan baik (setuju) untuk diterapkan pada materi reaksi redoks.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui media gambar seri kelas V SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar / Septie Wahyuning Wulan

 

Kata kunci: keterampilan, menulis, narasi, media gambar seri Keterampilan menulis narasi di kelas V SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar masih rendah. Banyak siswa yang masih kesulitan dalam menulis narasi. Pada umumnya karangan siswa mempunyai alur tidak jelas, tidak runtut, unsur-unsur karangan narasi tidak lengkap, dan pengembangan paragraf yang masih kurang. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya media pada pembelajaran menulis narasi. Dengan adanya kondisi yang demikian, dibutuhkan penggunaan media dalam pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa, salah satunya adalah penggunaan media gambar seri. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan peningkatan keterampilan menulis narasi melalui media gambar seri pada siswa kelas V SDN Bacem 03, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan desain penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Sasaran penulisan ini difokuskan pada siswa kelas V SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar yang berjumlah 15 siswa terdiri dari 8 siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki, guru atau peneliti dan teman sejawat. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, study dokumenter, catatan lapangan, dan tes. Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa pengajaran menulis narasi melalui media gambar seri di SDN Bacem 03, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar dilaksanakan dua siklus, dan berlangsung efektif. Selain itu terdapat peningkatan pada setiap siklusnya. Hal ini terbukti dari ketuntasan klasikal pada siklus pertama yaitu 47% dan meningkat pada siklus kedua yang mencapai 87%. Kesimpulan dan saran dari penelitian ini adalah penerapan media gambar seri dalam meningkatkan keterampilan menulis narasi sesuai dengan langkah-langkah penggunaan media gambar seri yang ada, yaitu mengurutkan gambar yang disusun acak, menyusun topik, dan terakhir adalah membuat karangan. Pembelajaran yang dilaksanakan dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa kelas V SDN Bacem 03 Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar. Pada siklus pertama hanya 7 siswa yang mencapai ketuntasan individu, dan meningkat pada siklus kedua yaitu sebanyak 13 siswa. Sedangkan ketuntasan klasikal meningkat dari 47% menjadi 87%. Dari kesimpulan diperoleh fakta bahwa penggunaan media gambar seri sangat efektif dalam pembelajaran menulis narasi, hendaknya guru juga memanfaatkan media gambar seri dalam pembelajaran ataupun untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi.

Peningkatan kemampuan membaca permulaan dengan metode Glenn Doman pada anak kelompok B RA 12 Al Ikhlas Kota Batu / Chusnul Cholifah

 

Kata kunci: Peningkatan, Membaca Permulaan, Metode Glenn Doman Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan membaca anak. Hal ini disebabkan karena guru belum memberikan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan membaca, disamping itu media pembelajarannya kurang menarik bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penerapan Metode Glenn Doman untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, dan mendiskripsikan peningkatan kemampuan membaca anak dengan metode Glenn Doman pada anak kelompok B di RA 12 Al-Ikhlas Kota Batu. Penelitian ini dilakukan di RA 12 Al-Ikhlas Kota Batu,dengan subyek penelitian sebanyak 27 siswa, terdiri dari 7 anak laki-laki dan 20 anak perempuan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11, 12 Oktober dan tanggal 25 dan 26 Oktober 2010. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian inipeneliti juga berkolaborasi dengan teman sejawat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Metode Glenn Doman dengan menggunakan kartu bergambar terbukti dapat digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca pada anak TK. Proses peningkatan kemampuan membaca anak dengan menggunakan metode Glenn Doman yang menggunakan kartu bergambar dikatakan meningkat apabila kemampuan mencapai 75% atau lebih, dan dikatakan berhasil jika pada siklus II lebih baik dari siklus I. Berdasarkan hasil penelitian pada masing-masing siklus menunjukkan perolehan siklus I yang mencapai rata-rata 50,61%, sedangkan siklus II dengan rata-rata 97,52%. Sehingga dapat dikatakan terjadi peningkatan 46,91%. Keberhasilan ini ditandai dengan: (1) anak mampu membaca kata/ tulisan sesuai dengan gambarnya, (2) anak mampu memasangkan gambar yang sesuai dengan kata, (3) anak mampu membedakan huruf awal dan akhir pada kata. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Metode Glenn Doman dengan menggunakan kartu bergambar dapat meningkatkan kemampuan anak dalam membaca secara sederhana. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan prosentasi rata-rata dari siklus I mencapai 50,61% dan dari siklus II mencapai 97,52%. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan bagi guru TK atau usia dini hendaknya mampu menciptakan inovasi baru serta memanfaatkan sumber belajar yang ada guna roses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi siswa.

Pengaruh kupon, maturitas, yield to maturity obligasi, dan suku bunga SBI terhadap harga pasar obligasi perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2007-2009 / Dhana Teguh Arfianto

 

Kata kunci: kupon, maturitas, yield to maturity, suku bunga SBIdan harga pasar dan harga pasar obligasi Obligasi merupakan instrumen keuangan jangka yang diperdagangkan di pasar sekunder, jika obligasi diperdagangkan maka tingkat imbal hasil (yield) investor akan terus berubah seiring berjalannya waktu dan mengikuti pergerakan bunga pasar. Perubahan ini terjadi karena obligasi memiliki karakteristik pendapatan berupa bunga. Berdasarkan karakteristik obligasi tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk menguji seberapa besar pengaruh kupon, maturitas, yield to maturity obligasi dan suku bunga SBI terhadap harga pasar obligasi perusahaan manufaktur serta mendeskripsikan masing-masing variabel yakni kupon, maturitas, yield to maturity obligasi dan suku bunga SBI terhadap harga pasar obligasi perusahaan periode 2007-2009. Kupon obligasi adalah tingkat bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi yang umumnya setiap 1, 3, 6 atau tahunan sampai obligasi tersebut jatuh tempo. Maturitas obligasi adalah jangka waktu obligasi. Suku bunga SBI adalah harga atau balas jasa dari peminjam kepada pemberi pinjaman atas pinjaman dalam waktu tertentu. Yield to Maturity adalah hasil yang diperoleh investor sampai dengan jatuh tempo. Harga pasar obligasi adalah nilai arus kas sekarang yang ditawarkan dalam nominal presentase yaitu at par, at premium, dan at discount. Rancangan penelitian ini adalah penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel kupon, maturitas, yield to maturity obligasi dan suku bunga SBI terhadap harga pasar obligasi perusahaan manufaktur. Populasi dalam penelitian ini adalah obligasi perusahaan manufaktur yang beredar pada periode 2007-2009. Dengan teknik purposive sampling diperoleh sampel sejumlah 12 obligasi. Data yang digunakan adalah data sekunder, yang dipublikasikan oleh Harian Bisnis Indonesia 2007-2009, Indonesian Bond Market Directory (IBMD) 2008-2009, Bank Indonesia, dan Bursa Efek Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kupon obligasi memiliki tingkat bunga yang tetap dan fluktuatif, maturitas memiliki waktu jatuh tempo yang bervariasi jangka pendek, menengah dan panjang, juga suku bunga SBI cenderung mengalami penurunan, yield to maturity yang searah dengan pergerakan suku bunga serta harga pasar obligasi bervariasi at par, at premium dan at dicount. Pengaruh secara parsial menunjukan adanya pengaruh positif pada kupon obligasi perusahaan manufaktur sedangkan maturitas, yield to maturity dan suku bunga SBI memiliki pengaruh yang negatif terhadap harga pasar obligasi. Pengaruh negatif yang ditunjukkan oleh variabel yield to maturity dikarenakan harga pasar obligasi merupakan nilai sekarang arus kas. Seiring dengan meningkatnya hasil diinginkan, nilai sekarang dari arus kas akan menurun sehingga harga juga akan turun. Secara simultan variabel kupon, maturitas, yield to maturity obligasi dan suku bunga SBI berpengaruh hterhadap harga pasar obligasi perusahaan manufaktur.

Keanekaragaman arthropoda permukaan tanah pada pertanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) di kebun percobaan Karangploso dan Asembagus / Irma Nurita Rahmawati

 

KataKunci: keanekaragaman, arthropoda permukaan tanah, jarak pagar. Jarakpagar(JatrophacurcasL.)merupakansalahsatutumbuhanpotensialyangsaatinitelahdikembangbiakkankarenabijinyamenghasilkanminyakyangdapatdimanfaatkanuntukbahanbakaralternatifyangbernilaiekonomi.PertumbuhantanamanjarakpagartidaklepasdariperananArthropodapermukaantanahyangbersifatmenguntungkandanmerugikan.HinggasaatiniinformasikeanekaragamanArthropodapermukaantanahyangadapadapertanamanjarakpagarmasihsangatterbatas.AdapuntujuandaripenelitianiniadalahuntukmengetahuikeanekaragamanArthropodapermukaantanahpadapertanamanjarakpagardiKP.KarangplosodanKP.AsembagussertamengetahuiperbedaankeanekaragamanantaraArthropodapermukaantanahpadapertanamanjarakpagardikedualokasi. Jenispenelitianyangdigunakandalampenelitianiniadalahdeskriptif–komparatifdenganpendekatankuantitatif.PenelitiandilakukanpadabulanFebruari-April2010diKebunPercobaanBalittasdiKarangploso¬MalangdanAsembagus-Situbondo.Pengambilandatamenggunakanteknikpitfalltrap.PopulasidalampenelitianadalahArthropodapermukaantanahpadapertanamanjarakpagarsedangkansampelnyaadalahArthropodapermukaantanahyangterjebakpadapitfalltrap.TingkatkeanekaragamanArthropodapermukaantanahdihitungdenganindekskeanekaragamanShanon-WienerdanuntukmembandingkankeanekaragamanArthropodatanahantaraKP.KarangplosodanKP.Asembagusdengananalisisstatistikvariandanujittarafsignifikan5%. KeanekaragamanArthropodapermukaantanahpadapertanamanjarakpagarKP.Karangplosodiperoleh28familidenganfamiliyangmemilikijumlahpopulasitertinggiadalahFormicidae,Isotomidae,Hypogastruraidae,Oncopoduridae,danGryllidae,sedangkandiKP.Asembagusadalah31familidenganfamiliyangmemilikijumlahpopulasitertinggiadalahHypogastruraidaedanFormicidae.KeanekaragamanArthropodapermukaantanahdiKP.Karangplosoadalah2,1danKP.Asembagussebesar2,5keduanyatergolongsedang.BerdasarkanujivariankeanekaragamanArthropodapermukaantanahdikedualokasiP>0,05.KeanekaragamanArthropodapermukantanahKP.KarangplosodanKP.Asembagusmemilikivarianyangsama,sedangkananalisisujitdiperolehhasilP>0,05yangberartitidakterdapatperbedaankeanekaragamanantaraArthropodapermukaantanahpadapertanamanjarakpagardikedualokasi.KeanekaragamanArthropodapermukaantanahdikedualokasiyangtidaklepasdaripengaruhlingkungan,sepertisuhu,kelembaban,curahhujan,ketersediaanmakanan(nutrisi)danpredasi.

Upaya meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV MI Darul Ulum Gondangwetan dengan pendekatan kooperatif model STAD / Hidayati

 

Kata Kunci: Student Team Achievement Division (STAD), Hasil Belajar dan IPA Ilmu pengetahuan alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yamg berkaitan erat dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan saja yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran IPA kurang efektif karena pembelajaran masih terpusat pada guru dan siswa cenderung pasif sehingga hasil belajar siswa masih rendah. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas IV di MI Darul Ulum adalah melalui pembelajaran koopertif (Cooperative Learning) karena penerapan pembelajaran kooperatif ini dalam pembelajaran IPA merupakan satu bentuk perubahan pola pikir dalam kegiatan belajar mengajar IPA di sekolah. Dalam pembelajaran kooperatif terdapat beberapa variasi model yang dapat diterapkan, yaitu diantaranya: Student Team Achievement Division (STAD). Skripsi ini mempelajari tentang: (1) penerapan pendekatan kooperatif model STAD pada mata Pelajaran IPA siswa kelas IV di MI Darul Ulum Gondangwetan; (2) aktivitas siswa kelas IV MI Darul Ulum Gondangwetan dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan kooperatif model STAD; (3) hasil belajar pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV MI Darul Ulum Gondangwetan setelah menggunakan pendekatan kooperatif model STAD Tujuan penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan penerapan pendekatan kooperatif model STAD pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV MI Darul Ulum Gondang wetan; (2) mendiskripsikan aktivitas siswa MI Darul Ulum Gondangwetan dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan kooperatif model STAD; (3) mendiskripsikan hasil belajar pada mata pelajaran IPA siswa kelas IV MI Darul UlumGondangwetan setelah menggunakan pendekatan kooperatif model STAD. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptis kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta dengan data yang diperoleh saat penelitian. Secara umum proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari observasi awal, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi pada siklus I. Kemudian ditarik kesimpulan untuk selanjutnya dilakukan tindakan pada silkus II, pada siklus II juga diperoleh data dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dari hasil penelitian diperoleh data skor hasil observasi aktivitas guru siklus I pertemuan I skor yang diperoleh sebesar 54,6%, pertemuan II sebesar 68%. Sedangkan pada siklus II pertemuan I sebesar 93%, dan pertemuan II 98%. Peningkatan aktivitas siswa dapat dilihat pada prosentase aktivitas siswa yang semakin meningkat.Hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh 62,5 dan pada tahap pelaksanaan siklus II nilai rata-rata mencapai 76,35%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA siswa dengan menggunakan model STAD Dari hasil penelitian dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model STAD dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV MI Darul Ulum Gondang Wetan Berdasarkan penelitian ini maka disarankan kepada guru untuk selalu menerapkan model-model pembelajaran yang bervariasi dan bagi kepada sekolah hendaknya membantu menyediakan sarana pembelajaran yang tidak memungkinkan siswa untuk membawanya.

Penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan kemampuan sains permulaan pada anak didik kelompok A TK Negeri Pembina Kota Blitar / Anis Masriyah

 

Kata kunci : Sains Permulaan, Metode Eksperimen, Anak TK Pemilihan judul tersebut dengan latar belakang adanya penerapan metode yang kurang tepat, yaitu metode pemberian tugas yang tidak melibatkan anak secara langsung, sehingga penguasaan anak tentang sains sangat rendah, untuk itu peneliti mencoba menggunakan metode eksperimen dalam pembelajaran sains permulaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan sains permulaan anak melalui penerapan metode pembelajaran eksperimen. Penelitian yang dilakukankan peneliti hanya meneliti kegiatan sains permulaan pada pembelajaran kognitif di area sains untuk Kelompok A yang dilakukandi TK Negeri Pembina Kota Blitar. Peneliti menggunakan pedoman penilaian Unjuk kerja yang dilakukan anak dan observasi. Penelitian ini dirancang dengan penelitian tindakan kelas (PTK) pada setiap siklusnya terdiri dari planing (perencanaan), acting & observasing (tindakan & pengamatan), reflecting (refleksi) dan revise plan (revisi rencana). Berdasarkan hasil penelitian tindakan yang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan sains permulaan dengan penerapan metode pembelajaran eksperimen. Pada siklus I peningkatan mencapai 22,342% dan diperoleh rata-rata penilaian anak dalam sains permulaan sebesar 70,353%. Pada siklus II peningkatan mencapai 17,202% dan diperoleh rata-rata penilaian sebesar 87,555%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran eksperimen, kemampuan sains anak meningkat. Pembelajaran dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada anak, perubahan penilaian ke arah yang komprehensif yang tidak hanya dengan hasil kerja anak, dan pengembangan situasi pembelajaran ke arah yang lebih kondusif, maka disarankan untuk menggunakan metode eksperimen dalam kegiatan pembelajaran sains permulaan pada bidang pengembangan Kognitif.

Peningkatan keterampilan berbicara dengan pendekatan pragmatik pada siswa kelas V MI Miftahul Ulum Bajangan Gondangwetan Pasuruan / Lilis Suryani

 

Kata kunci: Pendekatan pragmatik, keterampilan berbicara, Sekolah Dasar. Bahasa Indonesia berperan sebagai alat untuk mempersatukan keberagaman bahasa, adat istiadat, suku, dan budaya. Bertolak dari hal tersebut, siswa diharapkan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Permasalahan yang terjadi di kelas adalah siswa belum mampu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta tidak sesuai dengan situasi dan konteks, sehingga perlu adanya inovasi dalam pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yaitu meningkatkan hasil belajar keterampilan berbicara siswa kelas V MI Miftahul Ulum Bajangan yang mencakup, kelancaran berbicara, intonasi, ketetapan dan ketepatan ucapan, pilihan kata yang tepat, kontak mata yang sesuai dengan situasi dan konteks saat berbicara. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) melalui tahap perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 16 orang siswa di MI Miftahul Ulum Bajangan kecamatan Gondangwetan kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan tes, observasi dan wawancara selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, pendekatan pragmatik diterapkan dalam matapelajaran Bahasa Indonesia di kelas V MI Miftahul Ulum Bajangan. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut; hasil belajar siswa berupa pemahaman konsep tentang situasi dan konteks saat berbicara secara klasikal mengalami peningkatan dari 45,4% pada pra tindakan menjadi 58,18% pada siklus I. Selanjutnya menjadi 80,6% pada siklus II. Hasil belajar yang berupa tes secara lisan pada siklus I meningkat dari 46,62% menjadi 76,85% pada siklus II. Secara keseluruhan hasil belajar siswa pada pra tindakan masih dibawah nilai standar minimum yaitu 60% mengalami peningkatan sehingga mencapai di atas standar minimum dan mencapai target yang telah ditetapkan setelah pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pragmatik pada siklus I dan II. Hal ini disimpulkan bahwa pendekatan pragmatik telah berhasil meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dari hasil penelitian ini diharapkan agar guru menerapkan pembelajaran dengan pendekatan pragmatik dalam mengajarkan matapelajaran Bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara.Bagi peneliti lain diharapkan dapat meneliti dengan menggunakan metode atau pendekatan lain dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Perbedaan perilaku agresi pada siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang yang berasal dari keluarga TNI dan keluarga non-TNI / Ainun Jariyah

 

Kata kunci: perilaku agresi, remaja Agresi merupakan bentuk pencurahan energi yang berlebih pada diri seseorang yang tampak dalam tindakan secara fisik ataupun verbal dan bertujuan untuk menekan, mengalahkan orang lain atau mengalahkan masalah yang sangat sulit. Para pelaku agresi bermacam-macam dari anak kecil hingga orang dewasa dengan latar belakang permasalahan yang beraneka ragam pula. Remaja sebagai salah satu pelaku agresi seringkali membuat resah lingkungan disekitarnya. Itu semua dikarenakan adanya persaingan atau tuntutan untuk memenuhi kebutuhan akan pengetahuan yang semakin bertambah pada remaja. Remaja yang sedang mencari identitas diri cenderung melakukan hal-hal yang menurut orang tua mereka bertentangan dengan apa yang dianggap sesuai. Kondisi semacam ini mengundang perhatian orang tua untuk mengendalikan anak dengan segera. Apabila upaya tidak dapat dilaksanakan, ada kecenderungan orang tua bertindak tidak sabar, melakukan tindakan kekerasan dan menyakiti anak. Bahkan ada pula orang tua yang malu mengakui kesalahan kemudian akan membentuk sistem pertahanan diri dan berusaha lebih keras lagi, akibat bagi anak apabila mendapat perlakuan yang keras dari orang tua dan sering menyaksikan perilaku agresif orang tua maka anak akan berperilaku agresif pula. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dan komparatif. Penelitian ini menggunakan uji terpakai. Penelitian dilakukan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang dengan subjek penelitian berjumlah 64 remaja sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan dengan reliabitas 0,940. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala perilaku agresi yang disusun berdasarkan metode Rating yang Dijumlahkan (Methods of Summated Ratings) dari Likert. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis Uji-t, yaitu Uji Independent Sample Test dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan t hitung sebesar 2, 937 dengan taraf signifikansi Sig.(2-tailed) sebesar 0,005 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa H_0 ditolak, artinya ada perbedaan perilaku agresi pada remaja yang berasal dari keluarga TNI dengan remaja yang berasal dari keluarga non-TNI. Nilai mean-1 lebih besar dari nilai mean-2 atau 118,78 > 101,81 menunjukkan bahwa perilaku agresi remaja yang berasal dari keluarga TNI lebih tinggi dari pada remaja yang berasal dari keluarga non-TNI. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi remaja sendiri bersikap lebih terbuka kepada orang tua maupun dari pihak sekolah, sehingga dapat menemukan penyelesaian atau solusi yang terbaik atas masalah yang dihadapi dan menumbuhkan rasa tanggung jawab atas segala resiko yang harus ditanggung karena perilaku agresi yang dilakukan.

Pengaruh karakteristik perusahaan terhadap kelengkapan social disclosure pada laporan tahunan perusahaan high profile yang terdaftar di BEI periode 2006-2008 / Sri Utami

 

Pengaruh relationship marketing terhadap loyalitas nasabah (studi pada nasabah tabungan Britama PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk. Cabang Malang Martadinata) / Irul Kurniawan

 

Kata Kunci: Relationship Marketing (Trust, Commitment, Communication, Conflict Handling), Loyalitas Nasabah. Perkembangan dunia bisnis yang pesat dewasa ini, telah mendorong semakin tingginya tingkat persaingan terutama pada sektor jasa. Bisnis jasa sangat berpengaruh dalam dunia modern, hal ini bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari yang tidak bisa terlepas dari berbagai sektor jasa, seperti jasa kesehatan, jasa transportasi, jasa perbankan, jasa asuransi dan lain-lain. Tingginya persaingan antar bank saat ini, memacu bank-bank untuk berlomba menarik nasabah dengan memberikan layanan perbankan yang beraneka ragam. Benteng utama agar nasabah tidak lari kepada pesaing adalah bank harus membuat nasabah menjadi loyal. Oleh sebab itu, kegiatan utama perusahaan pada saat ini adalah menciptakan loyalty, tidak cukup hanya satisfaction. Bank berusaha mendesain relationship marketing yang dimiliki sebaik mungkin untuk menciptakan dan meningkatkan loyalitas nasabah.BRI sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia yang didirikan sejak tahun 1895 dan mendedikasikan pelayanan pada masyarakat kecil sebagai hal yang utama dianggap sebagai salah satu lembaga keuangan yang memiliki nasabah-nasabah yang loyal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: pengaruh secara parsial Relationship Marketing (Trust (X1), Commitment (X2), Communication (X3), dan Conflict Handling (X4)), terhadap Loyalitas Nasabah (Y), pengaruh secara simultan Relationship Marketing (Trust (X1), Commitment (X2), Communication (X3), dan Conflict Handling (X4)), terhadap Loyalitas Nasabah (Y), dan variabel yang dominan berpengaruh terhadap Loyalitas Nasabah. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif korelasional. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah nasabah tabungan Britama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang Martadinata per Agustus 2009. Penentuan sampel menggunakan rumus Slovin dengan persen kelonggaran ketidaktelitian yang digunakan adalah 5% sehingga diperoleh sampel sebanyak 330 orang. Teknik penentuan sampel yang digunakan adalah Proportional Random Sampling dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Accidental Sampling dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Kuesioner dalam penelitian ini termasuk dalam kuesioner tertutup menggunakan skala Likert dengan 5 alternatif pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan sampel uji coba berjumlah 40 orang responden. Proses pengolahan data menggunakan software SPSS 16 for Windows. Selain itu diketahui pula Adjusted R Square sebesar 0,505. Artinya bahwa 50,5% loyalitas nasabah pada nasabah tabungan Britama PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang Martadinata dipengaruhi oleh Relationship Marketing (Trust, Commitment, Communication, dan Conflict Handling), Sedangkan sisanya sebesar 49,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Berdasarkan penelitian ini hasil yang diperoleh adalah: (1) secara parsial ada pengaruh positif yang signifikan Relationship Marketing (Trust, Commitment, Communication, dan Conflict Handling) terhadap loyalitas nasabah, (2) secara simultan terdapat pengaruh positif yang signfikan antara Relationship Marketing (Trust, Commitment, Communication, dan Conflict Handling) terhadap loyalitas nasabah, (3) variabel yang dominan pengaruhnya terhadap loyalitas nasabah dalam penelitian ini adalah variabel commitment. Saran yang dapat diberikan dalam penellitian ini adalah: (1) hendaknya PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang Martadinata terus memperhatikan dan mempertahankan relationship marketing sebagai salah satu keunggulan kompetitifnya. (2) perusahaan harus lebih inovatif dalam strategi memperoleh nasabah. Salah satu cara yang terbaik adalah dengan menerapkan program member get member yaitu nasabah mengajak orang lain untuk menjadi nasabah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Malang Martadinata. (3) hendaknya mahasiswa lain yang ingin menulis masalah tersebut lebih lanjut juga menggunakan nasabah lain diluar nasabah tabungan Britama sebagai obyek penelitian, atau mengkaji aspek lain diluar relationship marketing sebagai variabel penelitian. (4) diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk mengambil obyek atau tempat penelitian yang berbeda dari penelitian ini untuk lebih mengembangkan penelitian yang sejenis.

Penerapan metode pembelajaran proyek memasak untuk mengembangkan kemampuan kognitif pada kelompok A di TK. Arjuno 2 Kota Batu / Elni Disna Windri

 

Kata kunci: kemampuan kognitif, metode proyek. Kemampuan kognitif setiap anak berbeda, ada anak yang sudah mampu dan ada anak yang belum mampu. Namun pada kenyataannya di TK Arjuno 02 Batu banyak anak yang kurang dalam bidang kognitif, terutama dalam mengenal ukuran berat atau ringan. Seorang anak akan mengalami kesulitan membaca angka pada timbangan yang jarumnya bergoyang-goyang oleh karena itu timbangan yang paling baik untuk anak adalah timbangan tua yang sederhana atau timbangan neraca.Dengan pembelajaran melalui metode proyek memasak bertujuan mengembangkan kemampuan kognitif dalam mengenal ukuran berat. Penelitian ini di lakukan di TK Arjuno 02 Batu, tanggal 21 September 2010 sampai dengan 14 Oktober 2010. Metode penelitian yang di gunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penilaian yang di gunakan adalah lembar observasi. Dengan di terapkannya metode pembelajaran proyek masak ini, terbukti anak lebih mengenal mana yang berat dan yang ringan, anak apat menimbang secara seimbang dengan timbangan neraca, anak tahu satuan, gelas, sendok. Berasar hasil penelitian ini di sarankan agar guru dapat menerapkan metode ini guna meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam mengenal ukuran berat ringan, banyak sedikit, menimbang benda dan mengenal satuan wadah. Selain itu juga dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah.

Pemanfaatan lingkungan sekolah untuk meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana kelas II MI Darussalam Rembang Pasuruan / Erna Irawati

 

Kata kunci : Lingkungan Sekolah, Kemampuan Menulis, Kalimat Sederhana, SD. Salah satu keterampilan berbahasa yang cukup komplek adalah menulis, keterampilan menulis di sekolah dasar merupakan sesuatu yang perlu dikuasai oleh setiap siswa sekolah dasar, karena keterampilan ini menjadi sarana untuk mempelajari seluruh mata pelajaran di sekolah. Namun tidak sedikit siswa yang belum menguasai cara-cara menulis, terutama menulis kaliat sederhana khususnya bagi siswa kelas II MI Darussalam Rembang Pasuruan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh teknik meupun metode yang kurang tepat dalam penyampaian materi, sehingga peneliti ingin menciptakan suasana yang baru dalam kegiatan belajar mengajar dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sarana dalam penyampaian materi atau sebagai media dalam pembelajaran menulis kalimat sederhana di kelas II MI Darussalam Rembang Pasuruan. Tujuan dari penelitian ini yaitu: a) mendeskripsikan penerapan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekolah untuk meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana, dan b) mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana. Obyek sasaran penelitian ini adalah siswa kelas II MI Darussalam Rembang Pasuruan. Adapun metode yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data adalah wawancara, observasi , dan tes. Dengan menggunakan instrumen yang berupa pedoman wawancara, pedoman observasi, dan pedoman penilaian. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu tahap pra siklus, siklus 1 dan siklus 2. Pada tahap pra siklus dari 11 siswa 3 diantaranya tuntas dalam belajar dengan nilai 80, 75, dan 70. Pada siklus 1 dari 11 siswa 7 diantaranya yang tuntas dalam belajar dengan nilai 90, 75, 70 80,85. Pada siklus 2 dari 11 siswa 9 diantaranya yang tuntas dalam belajar dengan nilai 95, 70, 75, 85. Dari hasil atau data diatas menunjukkan bahwa pemanfaatan lingkungnan sekolah dapat meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana siswa kelas II MI Darussalam Rembang Pasuruan. Dengan demikian peneliti menyarankan kepada guru-guru yang lain hendaknya menggunakan lingkungan sekolah sebagai sarana dalampenyampaian materi agar kemampuan siswa dapat meningkat khususnya pada pembelajaran menulis kalimat sederhana.

Developing the honey comb challenge multimedia game courseware to improve the fourth graders' speaking skill at SDN Purwantoro II Malang / Ridhia Rizki Anugraini

 

Keywords: speaking, EYL, multimedia/media, courseware. This study focused on developing The Honey Comb Challenge multimedia game courseware to improve the fourth graders’ speaking skill especially in answering the teacher’s questions dealing with location (preposition of place) at SDN Purwantoro II Malang. Multimedia game courseware that is used for foreign language teaching and learning will make young learners actively participate to speak, in addition, the children would learn to communicate and express their creativity by using multimedia (Lee, 2009). This research and development (R&D) adopts the framework of Taba cited in Dubin and Olhstain (1986: 2). The materials were developed based on the basic competence of teaching speaking for the fourth graders in the syllabus used at SDN Purwantoro II Malang. The courseware consists of two themes which contains pictures dealing with location (preposition of place), music, and a music video. The courseware was assembled in the form of CD-ROM which was completed with autorun CD-ROM. The researcher also developed a guidance book of the courseware which covers the ways to navigate the courseware, the rules of the game, questions and answers for each theme in the game, and speaking scoring rubric to assess the students’ speaking skill. In courseware try-out, the students liked and enjoyed the activities in the courseware. They were really attracted and interested in the multimedia application which consists of animation and audio so that they could perform their ability in speaking skill well. Therefore the use of The Honey Comb Challenge multimedia game courseware is expected to meet the needs of media in teaching and learning speaking skill for the fourth graders at SDN Purwantoro II Malang, with the hope that it can improve their speaking skill.

Pengembangan paket bimbingan pengendalian emosi bagi siswa sekolah menengah pertama / Elok Nur Khoirisami

 

Katakunci:paketbimbingan,pengendalianemosi,siswaSMP. SiswaSMPsebagaikelompokusiaremaja,tidaklepasdarifenomenayangterjadipadasetiapremaja.SiswaSMPtermasukdalamkategoriremajaawalataumasatransisi,yangterkadangintensitasmunculnyaproblememosiseringdibandingkandenganremajaakhir.Selamamasatransisiini,remajamengalamikrisisidentitas.Krisisidentitaspadasaat-saattertentuseringkalimenimbulkanketidakstabilanemosicemas,bingung,danmerasatidakbahagia.Problememosiyangdialamiremaja,bilatidaksegeradipecahkanakanmenghambatremajadalammelakukanpenyesuaiandenganlingkungansosialdanjugadengandirinyasendiri.Konselorperlumemberikanbimbingankarenapengendalianemosibukanlahsesuatuyangdimilikisecaraalamiolehindividu,melainkanmerupakansesuatuyangdipelajari. TujuanseperangkatpengembanganpaketbimbinganpengendalianemosiadalahuntukmenghasilkanPaketBimbinganPengendalianEmosibagiSiswaSMPyanglayak,tepat,berguna,danmenarikbagisiswaSMP.ProdukyangdihasilkandaripengembanganiniadalahPaketBimbinganPengendalianEmosiyangterdiriatas(1)panduanPaketBimbinganPengendalianEmosiuntukkonselor,(2)materiPaketBimbinganPengendalianEmosiuntuksiswa,dan(3)bukukerjapengendalianemosiuntuksiswa;yangterdiriatastigapenggalan,yaitu:(I)HakikatEmosi,yangterdiriatas(a)PengertiandanJenis-jenisEmosidan (b) PerkembanganEmosipadaRemaja,(II)PengaruhEmosi,dan(III)CaraPengendalianEmosi,yangterdiriatas(a)PengaturanDiri(selfregulation)dan(b)PengaturanEmosi(emotionalregulation).Paketinidisusundenganmenggunakanmodelpembelajaranexperientiallearning. Penelitianinimerupakanpenelitianpengembanganyangmenggunakanlangkah-langkahpengembangandariBorg&Gall(1983)yangterdiriatastahapperencanaan,tahappengembanganproduk,dantahapujicoba.Subyekujicobaadalahahli,yaituahlibimbingandankonselingdanahlibahasa;ujicalonpenggunaproduk,yaitukonselor;danujikelompokkecil,yaitusatukelassiswaSMP.Datadikumpulkanmelaluiformatujiahlidanujicalonpenggunaberupaskalapenilaian,datayangdiperolehadalahdatakuantitatifdankualitatif.Sedangkanujikelompokkecilberupadatakualitatif.Datakuantitatifdianalisisdenganmenggunakananalisisreratadandatakualitatifdianalisisdenganmenggunakananalisisdeskriptif. BerdasarkanpenilaianahliBK,PaketBimbinganPengendalianEmosibagiSiswaSMPinisangatbergunauntuksiswadankonselordalammemberikanbimbingantentangpengendalianemosidenganrerata3,9.Dilihatdariaspekkelayakan,paketinisangatlayakdiberikankepadasiswadenganrerata3,56.Dariaspekketepatan,paketinitepatuntukdigunakanolehsiswadankonselordalam i memberianbimbinganpengendalianemosidenganrerata3.Adapunaspekkemenarikan,paketinimenarikdenganrerata3,sedangkanmenurutahliBahasa,PaketBimbinganPengendalianEmosibagiSiswaSMPsangattepat,dilihatdarikejelasan,kesesuaian,hubungankalimatsatudenganyanglain,danbahasayangdigunakanuntuksiswadenganrerata3,8.Berdasarkanujicalonpengguna(konselor);dilihatdariaspekkegunaan,paketinisangatbergunadenganrerata3,67;aspekkelayakan,paketinisangatlayakdenganrerata3,63;aspekketepatan,paketinisangattepatdenganreratata3,52;danaspekkemenarikan,paketinisangatmenarikdenganrerata3,75.Berdasarkanujikelompokkecil(siswa),PaketBimbinganPengendalianEmosimenarikdanpenjelasannyacukupjelas. Berdasarkanhasilpenelitiantersebut,saranyangdiberikanadalah:(1)konselorharusmemahamiprosedurbimbingandanmateribimbinganagarsiswadapatmencapaitujuanbimbinganyangdikehendaki,(2)konselorharuskreatifdalammengaturwaktukarenamengingatminimnyajamtatapmuka,(3)bagipenelitiselanjutnya,dapatmelakukanujiefektivitaspaketbimbinganpengendalianemosiuntukmengetahuikeefektivitasandankelayakanpenerapanpaketpengendalianemosidenganmenggunakanekperimensemu,dan(4)paketpengendalianemosiinidikembangkandenganmelakukanpenelitihandiSMPNegeri1PucukLamongan,sehinggaapabiladilakukanuntukSMPlain,makaperludilakukanpenyesuaian-penyesuaiandenganmenganalisiskembalikebutuhansiswaterhadappaketpengendalianemosi.

Prediksi kebangkrutan industri rokok di Indonesia yang listing di BEI periode 2005-2008 dengan menggunakan metode Z-score / Agus Subagiyo

 

Kata Kunci: Kebangkrutan, Industri Rokok, Analisis Altman (Z-Score) Kebangkrutan dapat diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya untuk menghasilkan laba. Kegagalan dapat dilihat dari dua segi, yaitu segi ekonomi dan segi keuangan. Dari segi ekonomi, perusahaan dianggap gagal apabila mempunyai return yang negative. Sedangkan dari segi keuangan, perusahaan dianggap gagal atau tidak mampu membayar utangnya pada tanggal jatuh tempo. Penelitian ini menggunakan metode Altman (Z-Score) untuk memprediksi kebangkrutan industri rokok. Rasio yang digunakan dalam metode ini terdiri dari modal kerja (X1), laba ditahan (X2), EBIT (X3), nilai pasar dari modal (X4), dan penjualan (X5). Dari hasil Z-Score kemudian perusahaan dapat dikategorikan apakah perusahaan tersebut berada pada kondisi sehat, rawan bangkrut, dan bangkrut berdasarkan titik cut off. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan kinerja keuangan, memprediksikan kebangkrutan dan melihat potensi kebangkrutan pada industri rokok yang dijadikan sampel penelitian dengan menggunakan metode Z-Score. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang tidak terdapat variabel bebas maupun terikat. Akan tetapi ada satu variabel utama yang menjadi fokus penelitian adalah tingkat kebangkrutan perusahaan yang diukur dengan indikator rasio-rasio Z-Score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan rasio pada PT BAT Indonesia Tbk mengalami penurunan dibandingkan dengan tiga perusahaan sampel yang lain. Selain itu PT BAT Indonesia Tbk pada tahun 2005 samapai dengan tahun 2008 dalam kondisi bangkrut, dan berdasarkan trend Z-Score tahun 2009 dua perusahaan dalam kondisi sehat, satu perusahaan dalam kondisi rawan bangkrut, dan satu perusahaan dalam kondisi bangkrut. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti dapat menyarankan bagi perusahaan memperbaiki manajemen dan memperbaiki kinerja keuangannya masing-masing supaya perusahaan tetap berada dalam kondisi sehat dan tidak berada dalam kondisi rawan bangkrut maupun kondisi bangkrut.

Persepsi siswa kelas VI SD Negeri se Kecamatan Klojen Malang terhadap seks / Mila Husnatin Nihaya

 

Kata Kunci: Persepsi, Siswa kelas VI SD, Seks. Saat ini banyak dijumpai siswa kelas VI SD yang sudah mulai datang bulan (bagi anak perempuan) dan mengalami mimpi basah (bagi anak laki-laki). Hal ini tidak terlepas dari semakin berkembangannya teknologi informasi misalnya banyaknya acara TV yang memperlihatkan pergaulan bebas dan banyaknya situs porno atau majalah porno yang mudah didapat oleh anak. Perkembangan teknologi itulah yang menyebabkan banyak anak cepat matang. Anak yang mengalami cepat matang, kematangan seksualnya berkembang lebih cepat dari pada rata-rata anak yang lain. Perubahan yang begitu cepat ini menimbulkan anak penasaran atas apa yang terjadi pada dirinya. Mereka akan mencari informasi tentang seks dari mana saja, misal dari guru, teman, orangtua, media masa, dll. Informasi yang tepat akan memberikan dampak yang baik bagi anak sedangkan informasi yang tidak tepat akan memberikan dampak yang buruk bagi anak. Untuk mengetahui bagaimana pengetahuan siswa tentang seks, dilaksanakan penelitian mengenai persepsi siswa kelas VI SD Negeri Se Kecamatan Klojen Malang terhadap seks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi siswa kelas VI SD Negeri Se Kecamatan Klojen Malang terhadap seks. Tujuan persepsi siswa kelas VI terhadap seks dapat dijabarkan sebagai berikut: (1) mengetahui persepsi siswa tentang pengertian seks, (2) mengetahui persepsi siswa tentang perkembangan seksual, (3) mengetahui persepsi siswa tentang sumber belajar seks, (4) mengetahui persepsi siswa tentang etika bergaul. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri Se Kecamatan Klojen Malang. Sampel penelitian sebanyak 117 orang siswa kelas VI SD Negeri Se Kecamatan Klojen Malang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multiple stage sample yaitu dengan menggunakan area probability sampel dan simple random sampling. Data dikumpulkan dengan angket yang dianalisis dengan teknik persentase. Hasil penelitian mengenai persepsi siswa kelas VI SD Negeri Se Kecamatan Klojen Malang Terhadap Seks, menunjukkan bahwa banyak siswa cukup paham tentang pengertian seks. Banyak siswa yang sangat paham tentang perkembangan seksual. Cukup banyak siswa yang sangat paham tentang sumber belajar seks. Cukup banyak siswa yang cukup paham tentang etika bergaul. Secara umum dapat disimpulkan bahwa banyak siswa yang sangat paham tentang seks, sedikit siswa yang cukup paham tentang seks, dan tidak ada siswa yang tidak paham tentang seks. Penelitian ini hendaknya dapat digunakan oleh guru kelas sebagai acuan dalam menyusun program bimbingan dan konseling. Penelitian ini hendaknya juga dapat dijadikan masukan peneliti lanjut untuk lebih memperluas populasinya dan mengembangkan instrumentnya sehingga diketahui hasil penelitian di lain populasi yang lebih dalam.

Penggunaan media domino bilangan untuk meningkatkan kemampuan berhitung perkalian dengan teknik permainan pada siswa kelas III SDN Percobaan 2 Malang / Titik Wijiastutik

 

Kata Kunci: domino bilangan, berhitung perkalian, permainan. Bermain merupakan kebutuhan yang utama bagi siswa pada usia SD. Untuk itu guru perlu memfasilitasi pembelajaran matematika yang sesuai dengan karakteristik siswa SD. Salah satu strategi yang digunakan dalam pembelajaran matematika adalah belajar melalui permainan. Dengan permainan diharapkan siswa tidak jenuh dan termotivasi untuk menyelesaikan masalah matematika khususnya perkalian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) proses pembelajaran matematika siswa kelas III SDN Percobaan 2 Malang dengan menggunakan domino bilangan, (2) kemampuan berhitung perkalian siswa kelas III SDN Percobaan 2 Malang setelah menggunakan media domino bilangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitiannya menggunakan PTK dengan model siklus yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas III SDN percobaan 2 Malang yang berjumlah 27 siswa. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan tes. Penelitian ini menggunakan standar ketuntasan belajar untuk individu yang ditetapkan 65 dan untuk ketuntasan klasikal 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran matematika meningkat, ditandai dengan siswa yang aktif berdiskusi dengan kelompoknya, banyak siswa yang ingin maju menyampaikan hasil diskusinya. Kemampuan siswa memahami konsep perkalian setelah menggunakan media kartu bilangan juga mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa sebelum menggunakan kartu bilangan hanya mencapai 61,3. Setelah menerapkan permainan dengan kartu bilangan, nilai rata-rata siswa pada siklus I mencapai 72,4. Pada siklus II mengalami peningkatan lagi yaitu nilai rata-rata mencapai 84,6. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (a) Penggunaan media kartu bilangan perkalian dalam proses pembelajaran matematika di SDN Percobaan 2 Malang telah memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri sebuah konsep perkalian, bekerja kelompok sehingga melatih sikap saling bekerjasama dengan teman, melatih keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapatnya; (b) pembelajaran dengan menerapkan media kartu bilangan perkalian pada siswa SDN Percobaan 2 Malang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berhitung perkalian. Saran yang dapat disampaikan antara lain: (a) guru hendaknya memberi pengarahan pada siswa agar dalam membuat kelompok tidak memilih-milih teman; (b) memberi penjelasan sampai siswa paham sebelum permainan dilaksanakan; (c) guru hendaknya selalu memberi motivasi (d) Guru hendaknya selalu mengingatkan siswa yang tidak mau bekerja dengan kelompok.

Penggunaan media kartu gambar untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak kelompok B di RA Miftahul Khoir / Indrarti Yhuaningsih

 

Kata kunci: media kartu gambar, kemampuan berbahasa, Roudhatul Athfal. Kemampuan bahasa sangat penting bagi anak usia dini, karena merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki anak sebagai persiapan membaca dan menulis untuk memasuki jenjang Sekolah Dasar. Untuk meningkatkan kemampuan bahasa anak, perlu adanya media pembelajaran yang dapat menarik dan menyenangkan pada saat pelaksanaan pelajaran membaca. Hasil observasi awal ditemukan bahwa anak RA Miftahul Khoir Grati Pasuruan masih rendah sebelum menggunakan kartu gambar. Sebagian anak belum mampu mencapai kriteria ketuntasan yang ditentukan oleh sekolah yaitu 60% dari ketuntasan individu. Berdasarkan hal ini, penggunaan media kartu gambar sangat tepat digunakan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan penggunaan media kartu gambar yang dapat meningkatkan kemampuan membaca anak kelompok B di RA Miftahul Khoir, 2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan membaca anak kelompok B di RA Miftahul Khoir setelah diterapkan atau dibelajarkan dengan media kartu gambar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan 2(dua) siklus. Masing-masing siklus terdiri atas 4 tahapan: perencanaan, pelaksanaan , observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok B di RA Miftahul Khoir sebanyak 20 anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi secara langsung terhadap kegiatan anak. Hasil penelitian ini menunjukkan menggunaan media kartu gambar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak kelompok B di RA Miftahul Khoir, terbukti dari hasil yang diperoleh anak dapat dilihat dari rata-rata hasil observasi anak mulai dari pratindakan (46) dengan prosentase (10%), meningkat pada siklus I (66) dengan prosentase (45%), dan meningkat lagi pada siklus II (84,15) dengan prosentase (90%) yang terus mengalami peningkatan. Dari penggunaan media kartu gambar ini dapat meningkatkan kemampuan berbahasa pada kegiatan membaca dan nilai ketuntasan belajar anak. Saran yang disampaikan yaitu penggunaan media kartu gambar dengan cara menunjukkan obyek/bendanya akan memudahkan, memotivasi dan menarik minat anak dalam pelaksanaan kegiatan membaca, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbahasa pada saat pembelajaran.

Penerapan pendekatan kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SDN Pakisaji 02 Kabupaten Malang / Zainal Abdi

 

Kata Kunci: Model Jigsaw, Hasil Belajar, IPA Pengamatan yang telah dilaksanakan di SDN Pakisaji 02 Kabupaten Malang dapat diketahui beberapa permasalahan yang timbul pada mata pelajaran IPA. Adapun rincian dari permasalahan yang timbul: (1) nilai rata-rata siswa berdasarkan ulangan harian dan formatif mencapai 35%. Nilai rata-rata tersebut masih di bawah Standar Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh sekolah tersebut, yaitu 75%; (2) guru cenderung masih mendominasi dalam proses pembelajaran; (3) siswa kurang diberi kesempatan untuk memperoleh sendiri pengetahuan yang didapat, sehingga siswa cenderung pasif dalam proses belajar mengajar. Adapun penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki siswa dengan jalan meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model Jigsaw Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis Taggart yang terdiri dari 2 siklus dan 4 tahapan, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDNPakisaji 02 Kabupaten Malang yang terdiri dari 31 siswa dengan rincian 14 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Indikasi adanya dampak yang baik terhadap hasil belajar adalah adanya kenaikan rata-rata skor dari nilai siswa yang sebelumnya mencapai 66,6 dan terus meningkat menjadi 80,3. selain itu dampak tersebut dapat dilihat dari hasil nilai tes evaluasi pada siklus I pertemuan I mencapai 58%, meningkat pada pertemuan II menjadi 68%, meningkat pada siklus II pertemuan 1 menjadi 77%, dan pada pertemuan II meningkat menjadi 84%.Serta semakin berkurangnya domiasi guru dalam proses relajar mengajar, hal tersebut dapat dibuktikan dari pencapaian guru dalam menerapkan model Jigsaw, yaitu pada siklus I pertemuan I mencapai 64% meningkat pada pertemuan II menjadi 73%, meningkat pada siklus II pertemuan I menjadi 82%, dan meningkat pada pertemuan II menjadi 96%. Berdasarkan hasil penelitian di atas disarankan agar guru senantiasa dapat menerapkan model Jigsaw yang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V di SDN Pakisaji 02 Kabupaten Malang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 |