Pengaruh tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru ekonomi di SMA sekota Probolinggo / Rina Wahyuningtyas

 

Kata kunci: tingkat pendidikan, pelatihan, pengalaman mengajar, profesionalisme guru Pengembangan SDM merupakan hal yang penting bagi bangsa Indonesia memasuki era globalisasi. Tanpa mutu SDM yang unggul berarti tidak mempunyai daya saing yang tinggi, maka bangsa Indonesia akan terpuruk di dalam persaingan kehidupan abad XXI. Oleh karena itu, satu-satunya wadah yang berfungsi sebagai pengembangan SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk menciptakan kehidupan bangsa yang cerdas, damai, dan demokratis. Dalam hal ini, Pendidikan Nasional memegang peranan penting dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan bangsa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata baik material maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam sebuah proses pendidikan, guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting selain komponen lainnya seperti tujuan, kurikulum, metode, sarana dan prasarana, lingkungan, dan evaluasi. Guru sebagai komponen yang paling penting karena dianggap mampu memahami, mendalami, melaksanakan, dan akhirnya mencapai tujuan pendidikan (Ainurrofiq dalam M.Nurdin,2004). Mengingat guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, maka perlu dikembangkan sebagai tenaga profesi yang bermartabat dan profesional. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, “untuk menjadi guru yang profesional, seseorang harus mempunyai empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi” Diyakini Robotham (1996:27), kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh melalui jalur pendidikan formal maupun pengalaman. Menurut Dedi Supriadi (1999: 180) bahwa profesionalisme guru merupakan hasil dari profesionalisasi yang dijalaninya secara terus menerus. Artinya semakin lama seseorang menekuni profesi sebagai seorang guru akan semakin tinggi juga tingkat profesionalismenya, begitu juga sebaliknya. Secara rinci diungkap Suyanto (2001) bahwa selama kemampuan profesional guru belum bisa mencapai tataran ideal guru bersangkutan harus mendapatkan pelatihan yang terus menerus. Dalam era globalisasi seperti sekarang semua ilmu pengetahuan cepat usang. Apalagi kalau guru tidak di-training dan tidak bisa memperoleh akses informasi yang baru dan jika itu terjadi maka guru akan ketinggalan. Maka tidak ragu lagi bahwa untuk mencapai kualitas pendidikan yang baik maka guru harus selalu ditingkatkan kemampuannya agar guru selalu segar informasinya, kuat etos kerjanya, dan cerdas akalnya. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Variabel dalam penelitian ini adalah ii Tingkat Pendidikan (X1), Pelatihan (X2), Pengalaman Mengajar (X3), dan Profesionalisme Guru (Y). Penelitian ini dilakukan kepada para guru ekonomi di SMA se-Kota Probolinggo. Respondennya adalah guru ekonomi, kepala sekolah dan para siswa dari guru yang diteliti. Dalam penelitian ini guru yang diteliti sebanyak 30 orang yang tersebar dalam 10 SMA baik Negeri maupun Swasta se-Kota Probolinggo. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kuesioner/angket tertutup yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan uji t dan uji F pada taraf signifikansi 0,05. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa : (1) Variabel bebas yang meliputi pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar mempunyai pengaruh yang signifikan dengan profesionalisme guru ekonomi di SMA se-Kota Probolinggo. Hal ini ditunjukkan dari besarnya sebesar 0,440 artinya besarnya kontribusi pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar terhadap profesionalisme guru ekonomi di SMA se-Kota Probolinggo sebesar 44% dan sisanya 56% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian ini. (2) Secara parsial variabel tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang paling dominan dengan hasil uji t hitung 2,080 dan koefisien regresi parsial sebesar 6,379, artinya bahwa apabila kondisi X1 (tingkat pendidikan) meningkat 1 satuan maka Y (profesionalisme guru) akan meningkat sebesar 6,379 satuan. Untuk variabel pelatihan t hitung = 2,982 dan koefisien regresi parsial sebesar 2,276, artinya bahwa apabila kondisi X2 (pelatihan) meningkat 1 satuan maka Y (profesionalisme guru) akan meningkat sebesar 2,276 satuan. Dan untuk variabel pengalaman mengajar t hitung = 3,248 dan koefisien regresi parsial sebesar -3,519, artinya bahwa apabila kondisi X3 (pengalaman mengajar) meningkat 1 satuan maka Y (profesionalisme guru) akan meningkat sebesar-3,519 satuan, hal ini dapat terjadi karena nilai koefisien korelasinya yang bertanda negatif. Berdasarkan hasil penelitian di atas, saran yang dapat diberikan pemerintah sebaiknya menerapkan quality control yang baik terhadap kinerja guru dengan cara menciptakan sistem pengawasan yang ideal untuk mengevaluasi dan mengawasi kinerja guru baik pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar di kelas maupun di luar kelas, tidak hanya dalam bentuk penilaian portofolio saja. Quality control yang dapat dilakukan oleh Kepala Sekolah maupun Pemerintah (Diknas Pendidikan) dalam hal ini dapat melalui : (1) Penerapan sanksi yang tegas bagi guru yang telah terbukti melanggar aturan, sehingga seorang guru dari waktu ke waktu akan semakin termotivasi untuk meningkatkan kompetensinya dan menunjukkan bentuk kinerja yang jauh lebih baik lagi. (2) Pelaksanaan Kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) pada guru ekonomi secara berkala dan periodik. Melalui MGMP tersebut, semua guru ekonomi dapat bertukar informasi, merumuskan permasalahan yang dihadapi sewaktu mengajar, serta mencari pemecahannya secara bersama-sama. (3) Peningkatan kreativitas guru ekonomi dalam menciptakan metode-metode pembelajaran, sehingga pembelajaran yang berlangsung tidak monoton dan lebih menyenangkan. Apabila kondisi seperti yang telah diuraikan di atas telah tercapai, maka bukan hal yang tidak mungkin bahwa ini akan memberikan pengaruh yang sangat positif terhadap tingkat profesionalisme seorang guru dan hal ini dapat berdampak pada kualitas pendidikan di Indonesia.

Representasi nilai-nilai budaya jawa dalam tokoh novel biola tak berdawai karya Seno Gumira Ajidarma (Sebuah kajian sosiologi sastra) / Fitrahayunitisna

 

Kata Kunci: Nilai budaya, novel Biola Tak Berdawai Nilai budaya adalah ide-ide yang mengonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dari kehidupan manusia. Konsepsi-konsepsi tersebut berakar dalam bagian emosional dari alam jiwa manusia sehingga sulit untuk diamati oleh panca indra karena nilai tersebut memang bersifat abstrak. Nilai budaya yang terdiri dari konsepsi-konsepsi itu hidup di dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, dan konsepsi-konsepsi tersebut merupakan hal-hal yang dianggap amat bernilai dalam hidup oleh karena itu, nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi sikap dan tata cara hidup manusia di dalam masyarakat. Penelitian ini berawal dari prinsip bahwa karya sastra merupakan cerminan dari realita sosial dalam kelompok masyarakat yang secara potensial mengemban gambaran obyek, gagasan, pesan, dan nilai tertentu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan pendekatan sosiologi sastra yang bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan Tuhan, nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan sesamanya, dan nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan dirinya sendiri di dalam novel Biola Tak berdawai. Penelitian ini telah menemukan nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan Tuhan, nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan sesamanya, dan nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan diri sendiri dalam novel Biola Tak Berdawai karya Seno Gumira Ajidarma. Nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan Tuhan meliputi nilai-nilai religius budaya Jawa dalam emosi keagamaan. Aspek yang kedua adalah nilai-nilai religius budaya Jawa dalam kepercayaan tokoh terhadap dimensi gaib, dewa-dewa, makhluk halus, dan roh nenek moyang dalam novel. Aspek yang ketiga adalah nilai-nilai religius budaya Jawa dalam kepercayaan tokoh terhadap sistem ritus dan upacara keagamaan dalam novel. Nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan sesamanya meliputi prinsip kerukunan, nilai hormat, tolong menolong dan etika pergaulan laki-laki dan perempuan. Nilai-nilai budaya Jawa dalam kaitannya hubungan tokoh dengan diri sendiri dalam novel meliputi pengendalian diri akan nafsu dan ego, dan sikap batin sepi ing pamrih.

Strategi pelayanan konsumen atas pembayaran rekening listrik dengan menggunakan metode prob pada PT PLN (Persero) kota Malang / Marta Aries Pratama

 

Kata Kunci :Strategi Pelayanan Konsumen, PPOB, Komputerisasi. Perusahaan mempunyai cara sendiri-sendiri dalam mendapatkan keuntungan dan meningkatkan keuntungannya dari tahun ke tahun. Keuntungan biasanya diperoleh bersumber dari kegiatan perusahaan. Sistem merupakan jaringan prosedur yang berhubungan dalam suatu rangkaian yang menyeluruh untuk melaksanakan suatu kegiatan perusahaan. Oleh sebab itu strategi pelayanan sangat berpengaruh besar pada kegiatan perusahaaan. Dengan adanya pelayanan yang baik maka diharapkan penyelewengan terhadap perusahaan utamanya pada pembayaran rekening listrik dapat dihindari dan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya untuk kepentingan perusahaan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pelayanan yang baik dan mengetahui kekuatan, kelemahan yang timbul dan rekomendasi perbaikan dalam pelaksanaan pelayanan konsumens atas pembayaran rekening listrik dengan menggunakan metode PPOB. Adapun tahapan pelayanan diantaranya yaitu (1) melakukan strategi pelayanan yang baik terhadap Pembayaran rekening listrik dengan menggunakan PPOB pada PT PLN (Persero) UP Malang Kota (2) Mengetahui kekuatan, kelemahan yang timbul dan rekomendasi perbaikan dalam penggunaan strategi pelayanan konsumen atas pembayaran rekening listrik dengan menggunakan metode PPOB pada PT PLN (Persero) UP Malang Kota. Metode Pengumpulan data yang digunakan adalah (1) Interview/wawancara (2) Observasi (3) Dokumentasi (4) Kepustakaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa strategi pelayanan konsumen atas pembayaran rekening listrik pada perusaan sudah cukup baik, dalam metode PPOB terdapat kekuatan diantaranya (1) Pembayaran rekening listrik dapat dilakukan secara On-Line (2) memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas, hal ini dapat dilihat dari struktur organisasi yang telah ada (3) digunakan password untuk menjaga datanya, selain itu sistem PPOB memilki kelemahan (1) Walaupun menggunakan sistem On-Line, tapi masih banyak terjadi ketidakcocokan data (2) Kurangnya jumlah bukti pembayaran yang harus diarsipkan (3) belum menggunakan program utility super erase yang mampu benar-benar menghapus disk secara bersih jika data penting/rahasia dihapus. Untuk itu dibuatlah rekomendasinya sebagai berikut: (1) Meningkatkan pemantauan terhadap kinerja sistem komputer yang berbasis On-Line agar proses perusahaan tetap berjalan dengan baik (2) menambah jumlah bukti pembayaran untuk diarsipkan (3) Digunakannya program utility super erase yang mampu benar-benar menghapus disk secara bersih. Strategi pelayanan dalam perusahaan sangat penting, karena untuk meningkatkan loyalitas pelanggan dan menghindari adanya penyelewengan terhadap kekayaan perusahaan.

Pengaruh konsentrasi ion Cu2+ terhadap adsorpsi ion Cd2+ dari larutan Cd(NO3)2 dan Cu(No3)2 oleh nata de coco dengan metode batch / Fitria Defi Ratnaningsih

 

Kata kunci: adsorpsi, konsentrasi, ion Cd2+, ion Cu2+, nata de coco. Adsorpsi adalah suatu proses penyerapan atom, ion atau molekulmolekul dalam larutan pada suatu permukaan adsorben. Proses adsorpsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adanya ion penganggu pada sistem. Penelitian yang telah dilakukan oleh Windawati (2008) tentang pengaruh konsentrasi ion Cu2+ sebagai ion pengganggu terhadap persentase teradsorpsi ion Cd2+ oleh arang sekam padi dan arang komersial menyatakan bahwa ion pengganggu tidak berpengaruh secara signifikan pada adsorpsi ion Cd2+. Pada penelitian ini digunakan ion Cu2+ sebagai ion pengganggu adsorpsi ion Cd2+dalam larutan adsorbat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ion Cu2+ terhadap adsorpsi ion Cd2+. Penelitian lain tentang pengaruh volume adsorbat terhadap adsorpsi ion Cd2+ oleh Nurastiningtyas (2005) dan Nurwati (2005) menyatakan volume adsorbat bertambah menyebabkan persentase adsorpsi ion Cd2+ menurun. Penelitian ini bersifat eksperimental yang dilakukan di laboratorium Kimia Jurusan Kimia dan Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang. Serbuk nata de coco diperoleh dari pengeringan gel nata de coco lalu dihancurkan dan dibuat serbuk.Variabel bebas penelitian ini adalah konsentrasi ion Cu2+ dan volume yang berbeda. Variabel terikatnya persentase ion Cd2+ dan Cu2+ yang teradsorpsi dan profil adsorpsi klorofil (sistem terpisah) oleh serbuk nata de coco. Adsorbat yang digunakan merupakan campuran larutan Cd(NO3)2 dan Cu(NO3)2 dengan variasi konsentrasi Cu2+ (0, 10, 25, 50) ppm dan konsentrasi Cd2+ tetap yaitu 25 ppm dengan volume adsorbat 25 mL, 50 mL, dan 75 mL. Penelitian ini menggunakan metode batch, yaitu larutan adsorbat yang telah dicampur dengan serbuk nata de coco dikocok menggunakan shaker dengan kecepatan 100 rpm selama 20 menit. Larutan disaring, lalu filtrat ditampung. Pengukuran konsentrasi ion Cd2+ dan Cu2+ dilakukan sebelum dan sesudah adsorpsi dengan menggunakan AAS. Profil adsorpsi klorofil terhadap serbuk nata de coco dilakukan dengan metode sama seperti pada ion Cd2+ dan Cu2+. Pengukuran absorbansi awal dan akhir adsorpsi klorofil digunakan spektronik 20D+ dengan pengenceran 50 dan 100 kali pada panjang gelombang 398 nm. Hasil penelitian menujukkan (a) Bertambahnya konsentrasi ion Cu2+ dalam larutan adsorbat dengan konsentrasi ion Cd2+ tetap 25 ppm tidak berpengaruh secara signifikan terhadap persentase adsorpsi ion Cd2+. (b) Persentase teradsorpsi ion Cd2+ relatif konstan dengan konsentrasi tetap 25 ppm, sedangkan persentase teradsorpsi ion Cu2+ meningkat dengan bertambahnya konsentrasi. (c) Profil serapan klorofil menunjukkan bahwa persentase terabsorpsi berbanding terbalik dengan kenaikan konsentrasi.

Hubungan aktivitas organisasi terhadap kecerdasan emosional (EQ) pengurus organisasi Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang / Arif Prasetyo

 

Kata Kunci:keaktifanberorganisasi, kecerdasanemosional, HMS FT UM Organisasikemahasiswaanmerupakansalahsatu media penghubungantaraduniapendidikan/kampusdankehidupanbermasyarakat.Organisasikemahasiswaanmembawasetiapanggotanyauntukbersinggunganlangsungdengankehidupan di duniakerja, di organisasikemahasiswaananggotanyadiajarkanuntukmenumbuhkankemampuansoft skill yang berhubungandengankecerdasanemosional.Berkaitandenganhalitumakadiperlukanpembahasanmengenaihubunganaktivitasorganisasiterhadapkecerdasanemosional. Penelitianinidilaksanakandengantujuanuntukmendeskripsikanbeberapahal, yang mencakupaktivitasberorganisasidankecerdasanemosional, kemudianapakahterdapathubunganantaraaktivitasorganisasiterhadapkecerdasanemosional. Penelitianinimenggunakanrancanganmetodekorelatif.Sampeldalampenelitianiniadalah 40 pengurusHimpunanMahasiswaSipilFT-UM.Sedangkanuntukteknikpengumpulan data menggunakanangket/kuesioner. Berdasarkanhasilanalisis data tersebut, makadiperolehbeberapasimpulanhasilpenelitiansebagaiberikut.Pertama,aktivitasorganisasiHimpunanMahasiswaSipil FT-UM termasukdalamkategorisangattinggidan sangat aktifdenganpersentase rata-rata setiapinstrumen57,5%. Kedua, masalahkecerdasanemosionalpengurusHimpunanMahasiswaSipil FT-UMcenderung berada dalam kategori tinggi denganpersentaserata-rata setiapsetiap instrument 60%. Ketiga, darihasilanalisiskorelasipearsonantaraaktivitasorganisasidengankecerdasanemosionalpengurusHimpunanMahasiswaSipil FT-UM, diperoleh besarnya nilai koefisien korelasi sebesar 0,901 dengan sig≤ α, yaitu 0,000 < 0,05. Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima artinya Ada hubungan yang signifikan antaraaktivitasorganisasiterhadapkecerdasanemosional (EQ) pengurusHimpunanMahasiswaSipil (HMS)UniversitasNegeri Malang pada taraf signifikansi 5%, dan hubungan tersebut bermaknapositif.Yang artinya semakin baik aktivitas berorganisasi maka semakin baik pula tingkat kecerdasan emosionalnya, begitu juga dengan sebaliknya apabila semakin kurang aktivitas berorganisasi maka semakin kurang pula tingkat kecerdasan emosionalnya.

Pengaruh penerapan kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Together) dan TS-TS (Two Stay Two Stray) terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas X MAN 3 Malang pada materi alkana, alkena, dan alkuna / Reni Antasari

 

Kata kunci: kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together), model pembelajaran kooperatif tipe TS-TS (Two Stay-Two Stray), hasil belajar, motivasi belajar, Alkana, Alkena, dan Alkuna. Penerapan KTSP merupakan salah satu usaha pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan KTSP yaitu model pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk bisa aktif dan berinteraksi dengan orang lain. Tipe model pembelajaran kooperatif di antaranya yaitu NHT (Numbered Head Together) dan TS-TS (Two Stay-Two Stray). Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Head Togeher) dan TS-TS (Two Stay-Two Stray) terhadap hasil belajar kimia siswa dan untuk mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa yang dibelajarkan dengan kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dan TS-TS (Two Stay-Two Stray) pada materi Alkana, Alkena, dan Alkuna. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah eksperimental semu (Quasy Experimental Design) dan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di MAN 3 Malang dimana populasinya adalah siswa kelas X semester 2 yang berjumlah tujuh kelas. Teknik Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling yaitu dengan pertimbanganpertimbangan tertentu, dimana peneliti bertanya ke guru kimia tentang kelas X yang memiliki kemampuan yang sama. Dari informasi yang diberikan diperoleh dua kelas yang dapat dijadikan sampel. Kelas XC sebagai kelas eksperimen dikenai perlakuan menggunakan kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dan TS-TS (Two Stay-Two Stray) dan kelas XD sebagai kelas kontrol menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together). Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah instrumen perlakuan dan pengukuran Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kombinasi model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) dan TS-TS (Two Stay-Two Stray) berpengaruh terhadap hasil belajar dan motivasi belajar siswa. Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi (rata-rata kelas 83,54) dibandingkan dengan hasil belajar siswa kelas kontrol (rata-rata kelas 70,09). Demikian juga dengan motivasi belajar, dimana rata-rata motivasi belajar siswa lebih tinggi yaitu 83,51 dibandingkan dengan rata-rata motivasi belajar siswa kelas kontrol.

Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui problem based learning (PBL) pada siswa kelas VII MTs Sura Buana / Puji Tri Agung Waluyo

 

Kata kunci: problem based learning, pemecahan masalah, kemampuan pemecahan masalah Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang semakin pesat menuntut adanya perubahan dan perkembangan di segala bidang termasuk dalam dunia pendidikan. Sehubungan dengan hal itu, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, guru dituntut untuk menggunakan barbagai macam strategi pembelajaran yang mengaktifkan interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa, serta siswa dengan lingkungannya. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut adalah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pembelajaran. Penelitian ini mendeskripsikan tahap-tahap pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII MTs Surya Buana Malang pada materi operasi bilangan bulat. Proses pelaksanaan pembelajaran diawali dengan orientasi siswa kepada masalah, selanjutnya guru mengorganisasi siswa untuk belajar dan membimbing dalam penyelidikan individual maupun kelompok kemudian diakhiri dengan penyajian hasil karya dan evaluasi serta refleksi. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus I dengan subpokok bahasan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 ada 23 siswa dan persentase ketuntasan belajar siswa 74,19 % dengan nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 73,71. Sedangkan pada siklus II dengan subpokok bahasan perkalian dan pembagian bilangan bulat, siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 ada 28 siswa dan persentase ketuntasan belajar siswa 90,32 % dengan nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa 81,13. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan MTs Surya Buana Malang, pelaksanaan pembelajaran dikatakan mendukung atau berhasil apabila sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai minimal 70 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan Problem Based Learning (PBL) dalam penelitian ini berhasil. Sehingga pembelajaran dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di MTs Surya Buana Malang

Penerapan model inquiry untuk meningkatkan hasil belajar IPS di kelas IV SDN Lecari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan / Maksum Soleh

 

Kata Kunci: penerapan, inquiry,prestasi belajar, IPS, SD IPS merupakan pelajaran yang memegang peranan penting karena berhubungan dengan sikap atau mental anak dimasa datang. Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran IPS harus mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil observasi awal ditemukan bahwa siswa SDN Lecari Kec. Sukorejo Kab. Pasuruan belum menerapkan model pembelajaran inquiry. Sebagian siswa belum mampu mencapai criteria ketuntasan kelas 80% dan ketuntasan individu 75 dari materi. Berdasarkan hal ini, model pembelajarfan inquiry sangat tepat digunakan sebagai alternatif dalam proses pembelajaran, karena dapat mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1) Mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran inquiry dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas IV SDN Lecari Kec. Sukorejo Kab. Pasuruan; 2) mendeskripsikan aktifitas dan partisipasi siswa dalam pembelajaran IPS dengan model inquiry kelas IV SDN Lecari Kec. Sukorejo Kab. Pasuruan; 3) mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar IPS pada pokok bahasan Sumber Daya Alam melalui model pembelajaran inquiry. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Metode Kemmis dan Mc Tanggart dengan 2 (dua) siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahapan: Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi, dan Refleksi. Standar nilai ketuntasan minimal 75 dengan ketuntasan belajar kelas 80 dari jumlah subyek penelitian. Subyek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV SDN Lecari Kec. Sukorejo Kab. Pasuruan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan tes. Instrument pengumpulan data yang digunakan berupa pedoman wawancara, APKG II, dan dokumentasi. Hasil analisis data setelah penerapan model pembelajaran inquiry menunjukkan bahwa: 1) pembelajaran IPS dengan penerapan model pembelajaran inquiry, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran mencapai skor 97 dengan prosentase keberhasilan 97%; 2) untuk aktivitas belajar secara klasikal mencapai nilai rata-rata pada kegiatan pembukaan sebesar 2,0, kegiatan inti sebesar 5,04, dan kegiatan penutup sebesar 1,0, dan; 3) hasil belajar siswa mencapai nilai rata-rata 83,04 dengan ketuntasan belajar kelas sudah tercapai 91,30% Kesimpulan penelitian adalah (1) pembelajaran IPS dengan penerapan model pembelajaran inquiry, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran mencapai skor 97 dengan prosentase keberhasilan 97%; (2) untuk aktivitas belajar secara klasikal mencapai nilai rata-rata pada kegiatan pembukaan sebesar 2,0, kegiatan inti sebesar 5,04, dan kegiatan penutup sebesar 1,0, dan; (3) hasil belajar siswa mencapai nilai rata-rata 83,04 dengan ketuntasan belajar kelas sudah tercapai 91,30%, Penerapan Model Inquiry Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS di Kelas IV SDN Lecari Kec. Sukorejo Kab. Pasuruan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terbukti dari hasil yang diperoleh siswa sebelum dan sesudah penerapan model pembelajaran inquiry, post test siklus I dan post test siklus II yang terus mengalami peningkatan. Saran yang disampaikan kepada guru yaitu agar dapat menerapkan model pembelajaran inquiry pada pembelajaran IPS dengan kompetensi lain ataupun mata pelajaran lain. Model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat digunakan dalam penelitian-penelitian lain sebagai bahan bandingan sehingga dikemudian hari menjadi lebih baik

Hubungan religiusitas dengan coping stres pada mahasiswa di lembaga tinggi pesantren Luhur Malang / Rosyidah Asna

 

Kata Kunci: Religiusitas, Coping Stres, Mahasiswa Stres merupakan salah satu masalah krusial yang sering sekali melanda mahasiswa, individu yang sedang dalam proses menuju usia yang matang. Stressor (penyebab stres) mahasiswa saat ini tidak hanya seputar akademik tetapi termasuk juga relasi sosial dengan teman, pacar, kegiatan non akademis yang bersifat idealis maupun non idealis, dunia pergaulan, finansial serta dunia kerja. (www.allabout stres.com). Apalagi grafik usia yang menunjukkan bahwa para mahasiswa umumnya berada dalam tahap remaja (adolescence) hingga dewasa muda (early adulthood) (Santrock, 2006). Seseorang pada rentang usia ini masih labil dalam hal kepribadiannya, sehingga dalam menghadapi masalah, mahasiswa cenderung terlihat kurang berpengalaman. Strategi coping stres menjadi solusi paling baik yang bisa digunakan mahasiswa. Beberapa studi menunjukkan bahwa religi memainkan peran yang penting dalam mengatasi stres. Dua sumber coping stres yang biasanya dilakukan adalah prayer dan Faith in God (berdoa dan berserah diri pada Tuhan) (Belavich, 1995 dalam Pitaloka, 2005). Tujuan utama penelitian ini adalah untuk 1) Mengetahui gambaran religiusitas mahasiswa di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, 2) Mengetahui gambaran coping stres mahasiswa di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, 3) Mengetahui apakah ada hubungan antara religiusitas dengan coping stres pada mahasiswa di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Paradigma penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Variabel religiusitas diukur dengan menggunaan skala religiusitas dan coping stres diukur dengan skala coping stres. Subjek penelitian adalah 46 mahasiswa yang tinggal di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis korelasi Product Moment dari Pearson dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil dari penelitian ini menunjukkan 1) Religiusitas mahasiswa dalam kategori sedang, yakni sebesar 43,48% 2) Coping stres mahasiswa dalam kategori sedang sebesar 45,65%, 3) Terdapat hubungan positif yang cukup signifikan antara religiusitas dengan coping stres dengan rxy 0,454 dengan p = 0,002<0,05. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada 1) Mahasiswa hendaknya meningkatkan religiusitas dalam semua dimensi supaya mampu melakukan coping stres dengan lebih baik, 2) Pesantren, menambah khazanah keilmuan sehingga dapat digunakan sebagai pijakan untuk memperbaiki sistem pengajaran, 3) Peneliti selanjutnya, mampu melakukan penelitian sejenis dengan memakai pendekatan kualitatif, menggunakan instrumen lain yang lebih mendalam, serta mengkomparasikan problem focused coping dan emotion focused coping supaya terlihat bentuk coping mana yang lebih baik dan lebih berhubungan dengan religiusitas.

Hubungan pengembangan profesional, keefektifan komunikasi dan kompensasi dengan kinerja guru MAN Malang Raya / Kuni Utami Handayawati

 

Kata kunci: pengembangan profesional, keefektifan komunikasi, kompensasi, dan kinerja guru Kinerja guru dapat terbangun dengan sebaik-baiknya tentunya tidak hanya memiliki latar pendidikan yang memadai tetapi secara umum oleh berbagai faktor internal maupun ekternal, misalnya pengembangan profesional, keefektifan komunikasi, dan kompensasi. Pengembangan profesional ditujukan untuk membantu guru menjadi profesional. Guru yang profesional akan menjalankan tugas yang dibebankan kepada dirinya dengan baik terutama berkaitan dengan tugas utamanya yaitu mengajar para siswanya. Melalui pengembangan profesional kinerja guru diharapkan akan dapat meningkat pula. Faktor lain yang dipandang memiliki hubungan dengan kinerja guru adalah keefektifan komunikasi yang berlangsung di sekolah dan kompensasi. Keefektifan komunikasi yang terjalin dengan baik akan mempengaruhi penyampaian program sekolah, rencana program sekolah maupun saat pelaksanaan program yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan kinerja guru. Kompensasi yang berupa tingkat kesejahteraan guru diduga akan mempengaruhi kinerja, sebab untuk meningkatkan kualitas kinerja diperlukan adanya tingkat kesejahteraan guru yang memadai, sebab kompensasi penting bagi guru sebagai individu. Besarnya kompensasi memerlukan ukuran nilai karya mereka di antara guru itu sendiri, keluarga, dan masyarakat. Bila para guru memandang kompensasi mereka tidak memadai maka motivasi, prestasi dan kinerja mereka bisa turun secara dramatis. Pengembangan profesional, keefektifan komunikasi, dan kompensasi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kinerja guru Madrasah Aliyah Negeri di Malang Raya. Untuk mengkajinya, penelitian ini dilakukan dengan rumusan masalah sebagai berikut: (1) seberapa tinggi gambaran deskriptif mengenai pengembangan profesional guru di lembaga pendidikan MAN di Malang Raya? (2) seberapa tinggi gambaran deskriptif mengenai keefektifan komunikasi di lembaga pendidikan MAN di Malang Raya? (3) seberapa tinggi gambaran deskriptif mengenai kompensasi guru di lembaga pendidikan MAN di Malang Raya? (4) seberapa tinggi gambaran deskriptif mengenai kinerja guru di lembaga pendidikan MAN di Malang Raya? (5) apakah ada hubungan yang signifikan antara variabel pengembangan profesional dengan variabel kinerja guru MAN di Malang Raya? (6) apakah ada hubungan yang signifikan antara variabel keefektifan komunikasi dengan variabel kinerja guru MAN di Malang Raya? (7) apakah ada hubungan yang signifikan antara variabel kompensasi dengan kinerja guru MAN di Malang Raya? dan (8) apakah ada hubungan yang signifikan antara variabel pengembangan profesional, keefektifan komunikasi, dan kompensasi dengan variabel kinerja guru MAN di Malang Raya? (9) seberapa tinggi sumbangan efektif variabel pengembangan profesional, keefektifan komunikasi, dan kompensasi dengan variabel kinerja guru MAN di Malang Raya? Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah 297 orang guru. Sampel diambil dengan teknik acak proporsional sehingga diperoleh anggota sampel sebanyak 170 orang guru. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan instrumen kuesioner, dengan merujuk pada skala Likert. Instrumen yang telah disusun, diuji coba tingkat validitasnya dengan teknik Product Moment dari Pearson. Sedangkan estimasi reliabilitas instrumen dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Hasil uji coba instrumen dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 16 for Window. Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini mencakup analisis deskriptif, uji persyaratan analitis yang mencakup uji normalitas dengan teknik Kolmogorov Smirnov dan uji linearitas dengan Scatter Plot, uji hipotesis yang mencakup uji t untuk mengetahui korelasi antar variabel secara parsial, dan uji regresi ganda untuk mengetahui korelasi variabel secara bersama-sama. Analisis hasil penelitian dengan bantuan program SPSS versi 16 for Window. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pengembangan profesional guru MAN di Malang Raya dalam kategori tinggi dengan distribusi skor (49%), (2) tingkat keefektifan komunikasi guru MAN di Malang Raya dalam kategori tinggi dengan distribusi skor (50%), (3) tingkat kompensasi kerja guru MAN di Malang Raya masih dalam kategori sedang dengan distribusi skor (46%), (4) tingkat kinerja guru MAN di Malang Raya dalam kategori tinggi dengan distribusi skor (61%), (5) terdapat hubungan positif yang signifikan antara pengembangan profesional dengan kinerja guru MAN di Malang Raya, dengan sig 2 tailed 0,000 < α 0,05, (6) terdapat hubungan positif yang signifikan antara keefektifan komunikasi dengan kinerja guru MAN di Malang Raya, dengan sig 2 tailed 0,000 < α 0,05, (7) terdapat hubungan positif yang signifikan antara kompensasi dengan kinerja guru MAN di Malang Raya, dengan sig 2 tailed 0,000 < α 0,05, (8) terdapat hubungan yang signifikan antara pengembangan profesional guru, keefektifan komunikasi, dan kompensasi dengan kinerja guru MAN di Malang Raya dengan sig 0,000 < α 0,05. (9) besarnya pengaruh hubungan ketiga variabel tersebut terhadap kinerja guru MAN di Malang Raya adalah R2 = 0,271 atau (27,1%). Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) para guru MAN di Malang Raya perlu mempertahankan dan meningkatkan program pengembangkan profesionalitasnya untuk meningkatkan kualitas kinerja dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, (2) kepala sekolah MAN di Malang Raya dalam meningkatkan kinerja guru hendaknya merancang kebijakan untuk mempertahankan dan meningkatkan keefektifan komunikasi (3) kepala sekolah MAN di Malang Raya dalam rangka meningkatkan kinerja, guru hendaknya merancang kebijakan kompensasi baik langsung maupun tidak langsung. Kebijakan yang dimaksud dimulai dengan kegiatan pengukuran kinerja guru secara terukur dan obyektif. Dari hasil pengukuran kinerja ini dapat dijadikan dasar dalam penentuan pemberian kompensasi terhadap guru. Kebijakan tersebut harus dilaksanakan secara obyektif dan terbuka. Apabila kebijakan tersebut dilaksanakan secara simultan, konsisten dan didukung oleh partisipasi guru diharapkan kinerja guru akan meningkat.

Pembelajaran membaca Al-Quran khusus dewasa dengan buku tsaqifa di insan kamil center Malang / Agil salim

 

Kata kunci: Pembelajaran, Membaca, Al-Qur’an, Dewasa, Tsaqifa. Belajar Al-Qur’an memang dianjurkan dimulai sejak usia anak-anak. Namun belajar Al-Qur’an bukan hanya kewajiban anak-anak akan tetapi ia adalah kewajiban seluruh umat Islam di semua jenjang usia. Fakta di masyarakat banyak sekali orang dewasa yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Oleh karenanya diperlukan sebuah pembelajaran membaca Al-Qur’an khusus dewasa. Diantara pembelajaran Al-Qur’an khusus dewasa yang ada saat ini adalah pembelajaran Al-Qur’an khusus dewasa yang dilaksanakan oleh Insan Kamil Center Malang dengan menggunakan buku teks Tsaqifa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran membaca Al-Qur’an khusus dewasa dengan buku Tsaqifa di Insan Kamil Center Malang. Subjek penelitian ini antara lain adalah pimpinan Insan Kamil Center Malang, para pengajar, dan para peserta yang berjumlah 26 orang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan deskriptif kaualitatif dengan instrumen penelitian berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, kuesioner, pengambilan sampel dan dokumentasi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, kuesioner, pemberian tes dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan (1) Proses pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan menggunakan buku Tsaqifa di Insan Kamil Center Malang (2) Hasil belajar peserta setelah mengikuti pembelajaran, dan (3) Tanggapan peserta terhadap pembelajaran membaca Al-Qur’an khusus dewasa buku Tsaqifa di Insan Kamil Center Malang. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pembelajaran membaca Al-Qur’an khusus dewasa dengan buku Tsaqifa memiliki hasil yang baik hal itu diketahui melalui hasil belajar peserta setelah mengikuti pembelajaran, dari 26 peserta diketahui bahwa 65,4% atau 17 peserta dinilai sudah lancar membaca, sedangkan sisanya yaitu sekitar 15,4% atau 4 peserta cukup lancar membaca, dan sekitar 19,2% atau 5 peserta dinilai kurang lancar membaca. Demikian pula tanggapan peserta terhadap proses pembelajaran juga sangat baik, sebagaimana ditunjukkan oleh tanggapan peserta terhadap proses pembelajaran, yakni sekitar 92% atau 24 peserta menyatakan sangat puas terhadap kegiatan awal pembelajaran, 8% atau 2 peserta menyatakan cukup puas. Selanjutnya terhadap inti pembelajaran diperoleh data sebesar 88,5% atau sekitar 23 peserta menyatakan sangat puas, dan 11,5% atau 3 peserta menyatakan cukup puas. Terhadap kegiatan akhir pembelajaran diperoleh data 77% atau 20 peserta menyatakan sangat puas, dan 15,4% atau 4 peserta menyatakan cukup puas, dan 8% atau 2 peserta tidak memberikan tanggapan. Tanggapan terhadap materi pembelajaran diperoleh data sebesar 88,5% atau 23 peserta menyatakan sangat puas terhadap media pembelajaran, 11,5% atau 3 peserta menyatakan cukup puas. Terhadap media diperoleh data 69% atau 18 peserta menyatakan kurang puas, dan 8% atau 2 peserta menyatakan cukup puas, 19% sisanya menyuatakan sangat puas. Selanjutnya tehadap evaluasi pembelajaran diperoleh data sebesar 8% atau 2 peserta menyatakan cukup puas, dan 92% atau 24 peserta menyatakan sangat puas. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran maka disarankan agar kualitas buku teks Tsaqifa ditingkatkan dengan melakukan revisi terhadap penulisan huruf Arab yang dirasa terlalu kecil dan warna yang kurang mencolok. Oleh karena itu diharapkan penggunanaan buku teks Tsaqifa akan semakin efektif penggunaannya dengan memperbesar font/bentuk tulisan huruf arab pada buku teks dan memilihkan warna terang seperti biru menyala atau hijau muda untuk huruf-huruf yang disambung dan tidak disambung agar mudah dibedakan oleh peserta. Selain itu disarankan bagi peseta agar mau meningkatkan kemampuan dalam membaca Al-Qur’an dengan cara banyak berlatih secara mandiri dan tidak hanya bergantung kepada jadwal belajar yang ditetapkan oleh Insan Kamil Center Malang. Sedangkan bagi peneliti lain disarankan agar melakukan penelitian lanjutan yang berkenaan dengan pembelajaran membaca Al-Qur’an khusus dewasa dengan sasaran yang lebih luas.

Studi tentang pelaksanaan tugas-tugas perkembangan remaja siswa SMK Negeri 2 Malang / Indana Zulfa

 

Kata Kunci : Tugas-tugas Perkembangan, Remaja. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa transisi ini, remaja merupakan masa pencarian identitas diri, masa penuh gejolak, dan ketegangan. Remaja sebagai bagian dari masyarakat mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya. Kelancaran pelaksanaan tugas-tugas perkembangan sebelumnyaa akan mempengaruhi pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada masa selanjutnya, begitu sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan (1) menerima keadaan fisik/jasmani; (2) membina hubungan dengan teman sejenis dan lawan jenis (sebaya); (3) memperoleh kebebasan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya; (4) mencapai kebebasan/kemandirian ekonomi; (5) menerima seperangkat nilai hidup(mencapai perkembangan keimanan dan ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa). Penelitian ini dilakukan terhadap siswa SMK Negeri 2 Malang. rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X dan kelas XI. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Proportional Stratified Random Sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan angket. Analisis hasil penelitian yang digunakan adalah analisis persentase dan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima tugas-tugas perkembangan sebagian besar siswa mencapai tugas-tugas perkembangan kelima dengan berkualifikasi tinggi, sedangkan sebagian besar tugas-tugas perkembangan pertama hingga keempat sekitar rata-rata. Bertitik tolak dari hasil penelitian, diajukan saran (1) agar konselor mengembangkan program Bimbingan dan Konseling yang memprioritaskan layanan yang bersifat developmental (untuk siswa yang melaksanakan tugas-tugas perkembangan dengan klasifikasi tinggi dan sedang), dan curative (untuk siswa yang melaksanakan tugas-tugas perkembangan dengan klasifikasi rendah); (2) peneliti selanjutnya dengan topik yang sama hendaknya dapat memperluas jumlah populasi penelitian sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan ke arah yang lebih luas. Selain itu, diharapkan peneliti dapat menggunakan instrumen pengumpul data yang lain seperti observasi, dan wawancara hingga dapat diperoleh data yang lebih lengkap dan akurat.

Memahami budi darma dan karya sastranya oleh Wahyudi Siswanto

 

Penerapan metode bermain peran dalam upaya meningkatkan kecerdasan natural pada siswa kelompok B di RA persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Erlina Nur Rachmawati

 

Kata Kunci : Bermain Peran, Kecerdasan Naturalis, PAUD Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kecerdasan natural pada siswa kelompok B di RA Persis Bangil melalui metode Bermain Peran dengan menggunakan bahan alam yang ada disekitar lingkungan anak misalnya memanfaatkan kebun sekolah pada Roudlorul Athfal Persis Pogar Bangil. Penelitian ini dilakukan di RA Persis Bangil, pada semester I Tahun Ajaran 2010-2011 yang dilakukan pada bulan Agustus 2010. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan yang dilakukan melalui dua siklus, dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dalam penelitian ini juga berkolaborasi dengan guru kelas B. Penerapan metode bermain peran dalam pembelajaran kecerdasan natural dikelompok B dapat dilaksanakan dengan baik sesuai dengan perencanaan yang digunakan, lebih perpusat pada anak, pembelajaran tampak aktif dan kreatif, pemahaman anak terhadap konsep melestarikan lingkungan dan suasana pembelajaran terkesan menyenangkan. Dan Hasil penelitian dalam penerapan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kecerdasan naturalis, bermain peran dapat meningkatkan kecerdasan naturalis, penerapan tersebut seperti kemampuan anak dalam memelihara lingkungan, kemampuan anak dalam mengunting dengan berbagai media. Berdasarkan hasil analisis data pada peningkatkan kecerdasan naturalis dengan bermain peran terlihat pada kemampuan seni, kognitif, fisik motorik, bahasa, pembiasaan dilihat pada prosentase skor pada siklus I mencapai skor 73,3% atau mencapai 70-79% dari skor yang diharapkan yang dilihat kriteria bagus sedangkan yang diperoleh pada data siklus II mencapai skor 85,24% atau mencapai angka skor 80-100% yaitu sangat bagus dari skor yang diharapkan terjadi adanya peningkatan nilai rata-rata 19,43% maka metode bermain peran dapat meningkatkan kecerdasan natural pada anak kelompok B bisa diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut bahwa dalam pembelajaran bermain peran meningkatkan kecerdasan naturalis hendaknya diterpkan ditengah-tengah sekolah yang secara simtematik mengimplementasikan pembelajaran metode bermain peran untuk meningkatkan kecerdasan natural secara penuh.

The teaching of reading comprehension in MAN 3 Malang from the perspective of schema theory / Moch. Asfrofihuda

 

Keywords: schema, schema theory, background knowledge, reading comprehension, strategy The objectives of this study were to describe the kinds of strategies applied in the teaching of reading comprehension in MAN 3 Malang and to find the relevance of the strategies to the schema theory. Reading as one of the language skills is a written form of communication. The business of reading relates to the way the reader gets a message from a text. The students typically make use of their background knowledge, vocabulary, grammatical language, and experience with the text to help them understanding a written text. So it cannot be denied that previous knowledge is very important for the students to get the message of the text. Therefore, schema theory, a theory that proposes how previous knowledge aids the acquisition of new information in reading comprehension process by activating, selecting, and then reinforcing schemata used to comprehend the text. In accordance with the nature of the objective of this study, the appropriate design was descriptive qualitative research. The research was conducted in MAN 3 Malang which is located at Jl. Bandung 7, Malang, East Java. The subjects of the study were the teachers who taught the students of eleventh grade class involved in the observation. The observation was done on March 17 – May 27, 2009. The researcher used field notes in the observation for data collection and also got some documentation as supporting data. The result of the study would be described in a detailed words form in findings and discussions. From the findings of 8 field notes and 8 lesson plans, it can be shown that there were 7 strategies applied by the teachers in the class in the teaching of reading comprehension. They are pre-questions, previewing, teaching vocabulary, inserted questions, post-questions, giving feedback, and summarizing. The teachers divided the teaching of reading comprehension into three phases. The first phase was pre-reading activity. In this phase, the teacher applied pre-question, previewing, and teaching vocabulary strategies. The second phase was whilst-reading activities. In this phase, the teacher applied inserted-question. The last phase was post-reading activity. In this phase, the teacher applied post questioning, giving feedback, and making summarization strategies. To conclude, the teaching reading comprehension strategies applied by the teacher in MAN 3 Malang were considered relevance to the schema theory. It was proved by the using of three phases of teaching of reading comprehension and 7 strategies in the purpose of activating, selecting, and reinforcing the students’ schemata. It is suggested to English teachers to know more about the schema theory and make lesson plans which represent the schema theory because it will be valuable if they can use the strategies in the teaching of reading comprehension in the class.

Pemanfaatan media VCD untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Tunas Rimba Malang / Ratna Anggraeni

 

Kata Kunci : Mengembangkan kemampuan kognitif. Media VCD, TK Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan kognitif anak kelompok A TK Tunas Rimba Malang dalam mengenal lambang bilangan/angka. Guru belum memberikan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan kognitif anak, serta kegiatan pembelajaran yang membosankan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media VCD untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Tunas Rimba Malang dan mendeskripsikan pengembangan kemampuan kognitif anak kelompok A TK Tunas Rimba Malang melalui media VCD. Penelitian dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model guru sebagai peneliti, mulai dari tahap proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi yang dilaksanakan di kelompok A TK Tunas Rimba Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media VCD dapat meningkatkan kemampuan anak dalam menyebutkan lambang bilangan/angka, mengenal lambang bilangan/angka dan membilang dengan menunjukkan benda sampai 5. Selain itu dengan memanfaatkan media audio visual (VCD) dapat memberikan suasana baru dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan yang dilakukan pada pelaksaanaan pemanfaatan media VCD adalah a) guru memberi keterangan pengantar/apersepsi materi yang akan ditayakan; b) guru mengajak anak secara bersama-sama menyimak tayangan; c) anak diminta untuk menyebutkan bilangan yang sesuai dengan tayangan di dalam kaset VCD dan menunjukkan kartu angka yang sesuai; d) guru menstimulasi anak agar lebih teliti dalam menyimak tayangan kaset, sehingga timbul komunikasi antara guru dan anak-anak; e) guru melakukan pengulangan dengan menanyakan kembali isi cerita dan menunjukkan kartu angka yang sesuai; f) setelah menonton VCD, anak diminta untuk melaksanakan kegiatan mengurutkan kartu angka dan mengenal konsep bilangan dengan benda. Caranya dengan menjepitkan jepitan jemuran sesuai angka ke kartu angka, menempelkan kertas atau biji sesuai dengan angka, menggambar sesuai angka dan menarik garis antara gambar dengan angka yang sesuai. Melalui kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan media audio visual untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak kelompok A di TK Tunas Rimba Malang, terjadi peningkatan kemampuan kognitif. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan data keberhasilan anak pada pra siklus 33,33%, siklus I 54,16% dan siklus II 83,33%. Sedangkan peningkatan rata-rata jumlah nilai pada pra siklus adalah 1,75, siklus I 2,375 dan meningkat pada siklus II menjadi 3,0625. Disarankan untuk menggunakan media VCD untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam mengenalkan, menyebut, dan membilang dengan benda serta kemampuan yang lain.

Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah (Berbantuan komputer dan tanpa bantuan komputer) terhadap ketrampilan praktis mahasiswa dengan kemampuan awal berbeda pada matakuliah perancangan rangkaian elektronika / Agus Budi Santoso

 

Kata Kunci : Model Pembelajaran berbasis Masalah Berbantuan Komputer, Kemampuan awal, Ketrampilan Praktis. Pergeseran paradigma pembelajaran telah mengubah prinsip pembelajaran yang semula behavioristik dan menekankan latihan untuk menumbuhkan kebiasaan, telah bergeser ke pembelajaran yang bersifat konstruktivistik dan menekankan pentingnya peran kognitif untuk mengkonstruksi informasi. Orientasi pembelajaran yang teacher centered ditinggalkan dan berubah menjadi student centered. Pengaruh paham konstruktivisme dalam pembelajaran semakin kuat, sehingga melahirkan metode pembelajaran yang inovatif seperti pembelajaran kontekstual, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berdasar masalah dan lain-lain. Sebagai salah satu model pembelajaran, pembelajaran berbasis masalah (PBL) tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada siswa. PBL utamanya dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah dan ketrampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim, M. 2000). Dalam hal ini, siswa dipandang sebagai pusat dari kegiatan belajar. Oleh karena itu penelitian tentang pengaruh model pembelajaran berbasis masalah berbantuan komputer untuk meningkatkan ketrampilan praktis mendapat perhatian untuk diteliti. Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya pada semester genap tahun ajaran 2008 – 2009 sampai dengan semester ganjil tahun ajaran 2009 – 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah “post test only control group design”, dengan variabel bebas metode pembelajaran, variabel moderator kemampuan awal dan variabel terikatnya adalah ketrampilan praktis. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis two way ANAVA. Hasil analisis data menunjukkan (1) Signifikansi perbedaan model pembelajaran terhadap ketrampilan praktis sebesar 0,000 < 0,05. Pembelajaran berbasis masalah berbantuan komputer mempunyai pengaruh lebih besar dibanding pembelajaran berbasis masalah tanpa bantuan komputer dalam membelajarkan ketrampilan praktis perancangan rangkaian elektronika. (2) Signifikansi perbedaan kemampuan awal terhadap ketrampilan praktis sebesar 0,028 < 0,05. Ini menunjukkan bahwa kemampuan awal pebelajar yang tinggi mempunyai pengaruh lebih besar dibandingkan kemampuan awal pebelajar yang rendah dalam meningkatkan kemampuan ketrampilan praktis perancangan rangkaian elektronika. (3) signifikansi interaksi antara model pembelajaran dan kemampuan awal terhadap ketrampilan praktis adalah sebesar 0,999 jauh lebih besar dari 0,05. Ini menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan kemampuan awal terhadap ketrampilan praktis. Hal ini berarti model pembelajaran berbasis masalah berbantuan komputer mempunyai pengaruh lebih baik dalam meningkatkan kemampuan ketrampilan praktis pebelajar dibanding pembelajaran berbasis masalah tanpa bantuan komputer terlepas dari kondisi kemampuan awal pebelajar. Demikian juga kemampuan awal pebelajar yang tinggi mempunyai pengaruh lebih baik dalam meningkatkan ketrampilan praktis dibanding kemampuan awal pebelajar yang rendah terlepas model pembelajaran yang digunakan. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan sebagai simpulan penelitian, berikut ini dipaparkan beberapa saran : 1) Saran bagi pemakai hasil penelitian (a) Model pembelajaran berbasis masalah berbantuan komputer, merupakan model pembelajaran yang patut dikembangkan dalam membelajarkan keterampilan dalam perancangan rangkaian elektronika. (b) model pembelajaran berbasis masalah berbasis masalah berbantuan komputer juga dapat dikembangkan dalam membelajarkan keterampilan perancangan keteknikan (engineering design) dengan menggunakan program CAD dan simulasi yang sesuai. (c) Penggunaan tekologi modern (Komputer) dalam model pembelajaran, perlu dikembangkan dalam membelajarkan keteknikan kususnya yang bersifat pengetahuan prosedural dan pemecahan masalah. (d) Kemampuan awal dalam hal ini adalah kemampuan kognitif pebelajar perlu mendapat perhatian untuk dapat meningkatkan keterampilan praktis perancangan keteknikan kususnya rangkaian elektronika. (e) Peningkatan keterampilan kognitif taraf tinggi (analisis, sintesis dan aplikasi) perlu dikembangkan dalam pembelajaran perancangan keteknikan. 2) Saran bagi Peneliti selanjutnya : (a) Keterbatasan penelitian ini adalah subyek penelitian yang hanya diambil dari satu tempat yaitu Jurusan TE, FT UNESA. Untuk lebih sempurna penelitian sejenis ini perlu dikembangkan dengan memperluas subyek penelitian. (b) Penelitian ini juga dapat diterapkan pada pembelajaran yang membelajarkan perancangan keteknikan (design engineering) pada umumnya, dengan menggunakan program komputer yang sesuai. (c) Penelitian yang menggunakan PBL berbantuan komputer sebagai variabel bebas, perlu dipilih dengan cermat variabel moderator yang akan dapat memperkuat atau memperlemah variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat. (4) Dalam penelitian ini komputer digunakan sebagai alat bantu (scaffold). Sehingga perlu dilakukan penelitian sejenis dengan menggunakan komputer sebagai alat pembelajaran (Computer-based Instructional).

Pengaruh latihan aerobik teratur siang hari dan malam hari terhadap peningkatan kadar hemoglobin dalam darah pada tikus putih / Farul Prastiawan

 

Kata Kunci: Latihan aerobik teratur, siang hari, malam hari, hemoglobin. Atlet dapat menjalankan aktifitas yang lama apabila kandungan oksigen dalam tubuh dapat tercukupi. Sedangkan dalam pemenuhan oksigen dalam tubuh dibutuhkan hemoglobin yang cukup dalam darah. Hemoglobin dapat ditingkatkan apabila terjadi hipoksia. Hipoksia dapat terjadi apabila melakukan latihan fisik secara terus-menerus. Penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa pemberian latihan aerobik dan anaerobik untuk meningkatkan jumlah hemoglobin mempunyai pengaruh yang tidak nyata. Pada perlakuan aerobik didapatkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan perlakuan anaerobik. Sehingga peneliti ingin mengetahui apakah ada pengaruh latihan aerobik teratur yang dilakukan pada siang hari dan malam hari terhadap peningkatan jumlah hemoglobin dalam darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dan perbedaan latihan teratur pada saat siang hari dan malam hari terhadap peningkatan kadar hemoglobinPenelitian ini menggunakan experimental laboratories dengan rancangan penelitian Randomized Control Group Postest Design. Sampel penelitian menggunakan tikus putih jenis rattus norvegicus strain wistar berjenis kelamin jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 5 ekor. Kelompok 1 ialah kelompok kontrol, kelompok 2 ialah kelompok yang diberi perlakuan renang pada siang hari, kelompok 3 ialah kelompok yang diberi perlakuan renang pada malam hari. Pengaruh latihan diketahui dengan cara mengukur kadar hemoglobin dalam darah. Pengukuran hemoglobin dalam darah menggunakan HORIBAABX Diagnostics. Berdasarkan analisis data terdapat perbedaan pengaruh yang tidak signifikan antara latihan aerobik teratur pada saat siang hari dan latihan aerobik teratur pada saat malam hari terhadap peningkatan hemoglobin. Tetapi dilihat dari nilai rata-rata kontrol = 15.06, siang = 15.04, malam = 14.56, terdapat perbedaan jumlah kadar hemoglobin pada tikus. Kesimpulan bahwa terdapat pengaruh yang tidak nyata latihan aerobik teratur yang dilakukan terhadap peningkatan jumlah kadar hemoglobin. Saran berdasarkan hasil penelitian ini, perlu diadakan penelitian yang serupa dengan jumlah sampel dan bentuk latihan yang berbeda. Perlu diadakan penelitian yang serupa dengan memisahkan tikus satu dengan tikus yang lain pada kandang yang berbeda. Perlu diadakan penelitian serupa dengan metode pemeriksaan darah dengan parameter yang berbeda, baik dari tingkat sel maupun molekuler.

Proses berpikir mahasiswa dalam mengkonstruksi bukti dengan induksi matematika di lain Mataram ditinjau dari teori pemorosesan informasi / Romiyati Asna

 

Kata Kunci: Proses Berpikir, Konstruksi Bukti, Induksi Matematika, Teori Pemrosesan Informasi Dalam mempelajari matematika diperlukan kemampuan berpikir dan bernalar tinggi pada diri mahasiswa. Salah satu objek dalam matematika yang sangat memerlukan kemampuan berpikir tinggi adalah proses konstruksi bukti dengan induksi matematika. Proses konstruksi bukti dengan induksi matematika merupakan suatu proses yang kompleks dan membutuhkan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan berpikir dalam proses pengerjaannya. Salah satu teori yang mengkaji tentang proses berpikir seseorang adalah teori pemrosesan informasi. Teori pemrosesan informasi merupakan salah satu tipe teori belajar kognitif, yang mengkaji secara detail dan mendalam tentang hubungan antara bagian-bagian informasi sejak diterimanya informasi dari lingkungan sampai tersimpannya informasi tersebut secara permanen dalam pikiran seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir mahasiswa dalam pengkonstruksian bukti dengan induksi matematika ditinjau dari teori pemrosesan informasi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode Think Aloud yaitu peneliti memberikan masalah kepada mahasiswa untuk diselesaikan, dan dalam proses menyelesaikan masalah tersebut mahasiswa mengungkapkan secara keras apa yang sedang mereka pikirkan. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa proses berpikir mahasiswa IAIN Mataram dalam mengkonstruksi bukti berawal dari adanya informasi dari lingkungan berupa soal pembuktian. Soal pembuktian terdiri dari tiga soal yaitu , 6 membagi dan  , yang instruksi pembuktiannya dengan menggunakan induksi matematika. Informasi selanjutnya dimasukkan ke dalam sensory register melalui indra penglihatan dan pendengaran. Kemudian terjadi pengolahan untuk menyaring informasi mana yang perlu dan tidak perlu untuk diberi perhatian. Attention yang terjadi, terfokus pada soal secara lengkap yaitu bentuk S(n) dari ketiga soal dan perintah penggunaan induksi matematika yang ditunjukkan dengan munculnya persepsi tentang rangsangan yang sesuai dengan informasi yang sudah diberi perhatian yaitu penyelesaian soal dilakukan dengan induksi matematika. Didalam short term memory, konstruksi bukti dengan induksi matematika mulai di proses dengan melakukan retrieval terhadap konsep prinsip induksi matematika. Proses retrieval yang terjadi pada mahasiswa yang tergolong dalam subjek kelompok atas berjalan lancar. Dalam memori jangka panjang subjek kelompok ini, tersimpan pengetahuan-pengetahuan yang dibutuhkan oleh memori kerja. Pembuktian kebenaran dengan induksi matematika di interpretasi dengan benar, mulai dari pembuktian kebenaran untuk n=1 sampai n=k+1. Asumsi kebenaran untuk n=k dipahami sebagai dasar pembuktian kebenaran untuk n=k+1 oleh subjek kelompok atas. Berbeda halnya dengan yang terjadi pada subjek kelompok menengah dan bawah. Asumsi kebenaran untuk nilai n=k yang ditulis tidak dilibatkan dalam proses pembuktian kebenaran untuk n=k+1. Proses engkoding yang terjadi pada mahasiswa berupa penguatan terhadap sejumlah konsep-konsep yang sudah di retrieval dari memori jangka panjang. Dari penelitian yang sudah dilakukan oleh penulis, ada beberapa hal yang dapat ditindaklanjuti ke depannya dari penelitian ini diantaranya: (1) Perlu adanya penelitian yang lebih banyak dan mendalam lagi tentang proses berpikir terhadap objek-objek matematika yang lain berdasarkan teori pemrosesan informasi (2) Perlu adanya model pembelajaran yang dapat membantu siswa/mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru agar pengetahuan tersebut dapat tersimpan secara permanen di memori jangka panjang mereka.

Meningkatkan kemampuan menulis kalimat sederhana melalui model pembelajaran numbered heads together (NHT) pada siswa kelas II SDN Bumiayu IV Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Iin Martalivia

 

Kata Kunci: menulis, kalimat sederhana, Numbered Heads Together (NHT), SD Pembelajaran menulis kalimat sederhana merupakan salah satu pembelajaran di SD yang peranannya sangat penting. Kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa masih tergolong rendah. Kenyataan di lapangan, hasil belajar menulis kalimat sederhana pada siswa kelas II SDN Bumiayu IV Kecamatan Kedungkandang Kota Malang belum sesuai apa yang diharapkan. Siswa masih belum menguasai cara menulis kalimat sederhana dengan baik dan benar. Sebagai guru harus mempunyai cara dalam mengatasinya dengan menggunakan model pembelajaran, salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis kalimat sederhana melalui model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) pada siswa kelas II SDN Bumiayu IV Kecamatan Kedungkandang Kota Malang . Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian dilakukan dengan dua siklus. Proses pelaksanaan tindakan pada sikus I dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, sedangkan siklus II dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Secara umum, hasil penelitian dalam temuan-temuan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis kalimat sederhana di kelas II SDN Bumiayu IV Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Dalam pembelajaran menulis kalimat sederhana dalam dua siklus terlihat jelas pada siklus II sudah lebih baik dari pada siklus I. Semua indikator dan tujuan pembelajaran sudah terpenuhi mulai dari aktifitas siswa, saat berdiskusi kelompok, dan hasil evaluasi yang mengalami peningkatan pada siklus II yang signifikan dari siklus I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan peningkatan hasil belajar siswa yang ditandai dengan: (1) pembelajaran yang berjalan lebih optimal (2) hasil penulisan kalimat sederhana siswa yang sudah sesuai menurut unsur kalimat yang berupa bentuk dan makna; (2) jumlah siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) dalam menulis kalimat sederhana mencapai 83,3%. Berdasarkan hasil penelitian, secara umum dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menulis kalimat sederhana dapat meningkat dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) pada siswa kelas II SDN Bumiayu IV Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Berkaitan dengan hal itu, maka disarankan agar guru kelas II SD hendaknya melaksanakan pembelajaran menulis kalimat sederhana dengan banyak memberikan latihan, terutama membuat kata benda (S) dan kata kerja (P) kemudian menggabungkannya menjadi kalimat sederhana yang berpola Subjek Predikat (SP).

Pengaruh penggunaan bahan ajar IPA terpadu tema gerak dan ciri kehidupan terhadap kemampuan berpikir dan prestasi belajar siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang pada kemampuan akademik berbeda / Sofia Ratnasari

 

Kata Kunci: bahan ajar IPA Terpadu, kemampuan berpikir, prestasi belajar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan pembelajaran mampu mengorientasikan siswa kepada lingkungan nyata, sehingga siswa dapat mengasah kemampuan berpikirnya. Kemampuan berpikir dan prestasi belajar merupakan aspek penting yang harus diberdayakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan KTSP. Salah satu alternatif yang dapat mewujudkan tujuan pembelajaran adalah penerapan bahan ajar IPA Terpadu. Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan pengalaman belajar yang terkait. Penerapan bahan ajar IPA Terpadu tersebut ditujukan untuk mengetahui pengaruh terhadap kemampuan berpikir dan prestasi belajar siswa pada kemampuan akademik berbeda. Kemampuan berpikir dalam penelitian ini diukur berdasarkan tingkat kognitif pertanyaan dan jawaban siswa ketika pelajaran dan prestasi belajar diukur dari nilai pretest dan postest. Penelitian dilakukan di SMP Negeri 20 Malang pada semester genap 2009/2010 dengan populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 20 Malang tahun ajaran 2009/2010. Sampel penelitian ini adalah kelas VIIC (kelas eksperimen) dan kelas VIID (kelas kontrol). Sampel dipilih menggunakan purposive sampling, sedangkan penentuan kelas eksperimen dan kontrol dipilih secara acak. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian non equivalent group design versi faktorial 2x2. Analisis prestasi belajar menggunakan anakova, sedangkan kemampuan berpikir dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar IPA Terpadu, pertanyaan siswa kelas eksperimen yang memiliki kemampuan akademik atas meningkat sampai pada level kognitif analisis (C4). Siswa kelas eksperimen yang difasilitasi dengan bahan ajar IPA Terpadu memiliki prestasi belajar 12,2% lebih tinggi dibandingkan siswa kelas kontrol yang menggunakan buku teks. Bahan ajar IPA Terpadu berhasil memberdayakan prestasi belajar siswa berkemampuan akademik rendah dengan persentase kenaikan sebesar 25%, sedangkan siswa berkemampuan akademik tinggi mengalami kenaikan 35%. Berdasarkan persentase keterbacaan bahan ajar IPA Terpadu yang diukur dari segi isi materi, soal, bahasa, penyajian dan pembelajaran, secara umum siswa memberi tanggapan positif terhadap bahan ajar. Sebagian besar siswa memberi tanggapan setuju terhadap segi pengukuran yang terdapat pada soal kuisioner.

Penerapan bauran pemasaran pada rumah makan lesehan dan galeri "Joglo Dau" Malang / Anggi Adri Witanto

 

Kata kunci: Bauran pemasaran. Memasuki era dimana persaingan yang semakin ketat ini setiap perusahaan dituntut untuk dapat mempengaruhi konsumen agar tetap menggunakan atau memanfaatkan produk dari perusahaan tersebut apabila perusahaan tersebut ingin tetap bertahan di era persaingan yang makin ketat. Untuk saat ini di kota Malang banyak sekali bermunculan rumah makan, ini akan semakin memperketat persaingan. Salah satu dari rumah makan yang ada di kota Malang adalah Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) Penerapan strategi produk pada Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. (2) Penerapan strategi harga pada Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. (3) Penerapan strategi distribusi pada Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. (4) Penerapan strategi promosi pada Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. Pelaksanaan dari Praktikum Manajemen Pemasaran III yang digunakan dalam penyusunan Tugas Akhir ini dilakukan mulai tanggal 1 Oktober 2009 dan berakhir pada tanggal 31 Oktober 2009. Untuk sistem praktik di Rumah Makan Lesehan & Galeri “Joglo Dau” Malang, dilakukan sesuai dengan perencanaan kegiatan, yaitu: mencari data yang ada dalam Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang dengan bekerja langsung sesuai pekerjaan apa yang dilakukan karyawan Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. Sesuai dengan judul yang telah diambil maka penulis melakukannya dengan terjun langsung bersama para karyawan. Dari hasil laporan ini dapat diketahui strategi bauran pemasaran yang diterapkan oleh Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. (1) Strategi produk menu khusus, strategi dimana Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang menawarkan menu khusus pada konsumen yang khas dengan Joglo Dau. (2) Strategi penetapan harga sendiri, strategi dimana harga yang di bebankan kepada konsumen di ciptakan sendiri oleh Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang. (3) Strategi saluran distribusi langsung, yaitu selain sebagai produsen Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang juga merupakan distributor. (4) Strategi bauran promosi, strategi mengoptimalkan setiap metode promosi yang digunakan oleh Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang dalam memasarkan produknya di pasar. Berdasarkan hasil laporan ini, dapat disarankan agar Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang: (1) Menjaga dan meningkatkan kualitas produk dari Rumah Makan Lesehan dan Galeri “Joglo Dau” Malang (strategi produk). (2) Upaya penekanan harga untuk menghadapi persaingan. (3) Tetap mengadakan promosi-promosi (strategi promosi). (4) Meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen.

Analisis perbedaan volume perdagangan saham dan return saham sebelum dan setelah akuisisi perusahaan yang listing di BEI tahun 2005-2008 / Rofik Muniroh

 

Kata kunci: akuisisi, volume perdagangan saham, return saham. Perusahaan dituntut untuk selalu mengembangkan strategi guna mempertahankan eksistensi dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat bahkan untuk berkembang. Strategi perusahaan dalam hal ini melakukan ekspansi baik internal maupun eksternal. Ekspansi yang banyak dilakukan adalah dalam bentuk panggabungan usaha salah satunya yaitu akuisisi. Akuisisi adalah pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau asset suatu perusahaan oleh perusahaan lain, dan dalam peristiwa ini baik perusahaan pengakuisisi maupun yang diakuisisi tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah. Kegiatan akuisisi dilakukan dalam upaya untuk menghasilkan sinergi atau nilai tambah yang tidak mungkin dicapai bila perusahaan berdiri sendirisendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan volume perdagangan saham dan return saham sebelum dan setelah akuisisi. Penelitian ini menggunakan event study pada periode 1 Januari 2005 sampai dengan 31 Desember 2008. Berdasarkan teknik pengambilan sampel Purposive Judgement Sampling diperoleh 11 perusahaan acquirer yang memenuhi kriteria sebagai sampel. Analisis data untuk uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov Test. Analisis statistik yang digunakan untuk menghitung uji beda adalah statistik non parametrik Wilcoxon Signed Rank Test dengan periode pengamatan 45 hari yaitu 22 hari sebelum, 1 hari saat terjadi dan 22 hari setelah akuisisi untuk variabel volume perdagangan saham dan return saham. Hasil penelitian variabel volume perdagangan saham menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah akuisisi. Hal tersebut mengindikasikan investor beranggapan bahwa akuisisi tidak memberikan nilai tambah atau sinergi bagi perusahaan. Faktor yang diduga menjadi penyebab hasil tersebut adalah adanya peristiwa-peristiwa yang mempengaruhi kondisi pasar modal seperti naiknya harga minyak dunia dan krisis global, serta periode pengamatan yang kurang panjang yaitu 22 hari sebelum dan 22 hari setelah akuisisi menyebabkan hasil sinergi belum kelihatan. Variabel return saham menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan setelah akuisisi, berarti akuisisi memiliki kandungan informasi dan diperolehnya abnormal return yang positif menunjukkan tambahan kemakmuran pemegang saham. Peneliti selanjutnya sebaiknya menggunakan sampel yang lebih besar dan membedakan jenis akuisisi serta menggunakan periode yang lebih panjang agar diperoleh hasil yang lebih baik.

Hubungan antara lingkungan kerja fisik dan beban kerja dengan stres kerja pada karyawan PT. Boma Bisma Indra / Shinta Vidia Apriani

 

Kata Kunci: Lingkungan Kerja Fisik, Beban Kerja, Stres Kerja Lingkungan kerja fisik merupakan salah satu faktor yang menjadi penyumbang penyebab stres bagi karyawan perusahaan. Begitu juga dengan beban kerja di suatu perusahaan bisa jadi pembangkit stres. Munculnya stres, terutama stres kerja, pada karyawan memberikan dua dampak pada perusahaan, ada yang menguntungkan maupun merugikan bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Apakah ada hubungan antara lingkungan kerja fisik dengan stres kerja pada karyawan di PT. Boma Bisma Indra ? 2) Apakah ada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada karyawan di PT. Boma Bisma Indra ? 3) Apakah ada hubungan antara lingkungan kerja fisik dan beban kerja dengan stres kerja pada karyawan di PT. Boma Bisma Indra ? Penelitian ini dilaksanakan dengan rancangan kuantitatif korelasional. Populasi penelitian adalah karyawan PT. Boma Bisma Indra Pasuruan. Pengambilan sampel menggunakan tekhnik Purposive Sampling. Alat pengumpul data berupa 1) Skala Lingkungan Kerja Fisik yang dikembangkan dengan teori dari Munandar dengan validitas berkisar (rxy) = 0,36 sampai 0,82 dan reliabilitas 0,932, 2) Skala Beban Kerja yang dikembangkan dengan teori Everly dan Giordano dengan validitas berkisar (rxy) = 0,35 sampai 0,83 dan reliabilitas 0,940, 3) Skala Stres Kerja yang dikembangkan dengan teori dari Selye dengan validitas berkisar (rxy) = 0,31 sampai 0,69 dan reliabilitas 0,811. Hasil penelitian menunjukkan 1) Lingkungan kerja fisik karyawan di PT. Boma Bisma Indra Pasuruan sebesar 100% dan tergolong sedang, 2) Beban kerja karyawan di PT. Boma Bisma Indra Pasuruan sebesar 90% dan tergolong dalam tingkat sedang, 3) Stres kerja karyawan di PT. Boma Bisma Indra Pasuruan sebesar 92% dan tergolong dalam tingkat sedang, 4) Koefisiensi korelasi sebesar r = - 0,007, signifikansi = 0,959 (p > 0,01). Hal ini berarti tidak ada hubungan antara lingkungan kerja fisik dengan stres kerja 5) Koefisiensi korelasi sebesar r = 0,390, signifikansi = 0,005 (p < 0,01). Hal ini berarti ada hubungan positif dan signifikan antara beban kerja dan stres kerja, 6) Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi diperoleh koefisiensi regresi sebesar R = 0,512 dengan F hitung sebesar 8,333 (p = 0,001 < 0,005) yang berarti ada hubungan positif dan signifikan antara lingkungan kerja fisik dan beban kerja dengan stres kerja. Berdasarkan hasil analisis diperoleh koefisien determinasi R Square sebesar 0,262 atau 26,2%. Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel lingkungan kerja fisik dan beban kerja terhadap variabel stres kerja sebesar 26,2%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara Lingkungan Kerja Fisik dan Beban Kerja dengan Stres Kerja Pada Karyawan PT. Boma Bisma Indra. Selain itu disarankan pula untuk peneliti selanjutnya yang berminat mengkaji permasalahan ini untuk menambah indikator dalam instrumen yang digunakan, sehingga data hasil penelitian dapat lebih akurat

Kajian implementasi penjabaran kompetensi dasar ke dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) biologi kelas XI ditinjau dari kelengkapan dan keruntutan penyajian isi menurut standar proses untuk SMA negeri di Tulungagung / Nanang Purwanto

 

Kata kunci: penjabaran kompetensi dasar, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), standar proses. Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) harus memperhatikan prinsip dan langkah-langkah penyusunan yang sudah ditetapkan dalam Permendiknas No 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Dari hasil observasi yang dilakukan pada bulan April 2010 di SMA Negeri yang ada di Kabupaten Tulungagung, peneliti menemukan adanya perbedaan isi pada komponen RPP dari beberapa RPP yang terkumpul. Adanya perbedaan tersebut mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kesesuaian RPP biologi kelas XI buatan guru dengan Standar Proses sebagai perencanaan pembelajaran yang lengkap dan sistematis. Adanya persamaan RPP biologi dari seluruh SMA Negeri yang ada di Kabupaten Tulungagung, maka peneliti memilih 46 buah RPP biologi sebagai sampel penelitian secara spesifik 13 RPP dari SMAN Kedungwaru dan 33 RPP dari SMAN 1 Gondang. Penelitian ini terbatas pada analisis dokumen dan menggunakan 63 item pernyataan dengan acuan Standar Proses sebagai instrumen penelitian. Karakteristik dan fakta tentang RPP didapat dengan cara mengidentifikasi isi masing-masing komponen RPP dan data hasil identifikasi berupa skor/angka. Data tersebut kemudian diolah yang berbentuk persentase dan dinilai berdasarkan kriteria penilaian RPP. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 66,215% RPP buatan guru biologi SMAN di Tulungagung dinyatakan baik dengan rincian (1) dari 69,3% indikator yang dinyatakan cukup baik, terdapat 6,518 % rumusan indikator mengarahkan ke pencapaian keterampilan dan tidak ada rumusan yang mengarahkan ke pencapaian afektif, (2) dari 61,52% rumusan tujuan pembelajaran yang dinyatakan cukup baik, sebanyak 43,57% rumusan tujuan pembelajaran yang mengandung komponen C (Condition), tidak ada rumusan yang mengandung komponen D (Degree) dan mengarahkan ke pencapaian afektif, dan hanya 4,5% yang mengarahkan ke pencapaian keterampilan, (3) dari 77,6% materi ajar yang dinyatakan baik, sebanyak 50% materi ajar dituliskan dalam bentuk butir-butir, (4) dari 57,77% metode pembelajaran dalam kategori cukup baik, sebanyak 50% yang mencantumkan pendekatan, model pembelajaran serta metode-metode yang digunakan dalam model, penggunaan metode pembelajaran dan hanya 4,41% yang mengarahkan ke pencapaian keterampilan, (5) dari 51,92% langkah-langkah pembelajaran dalam kategori baik, sebanyak 50% kegiatan pendahuluan berisi penjelasan tentang komptensi yang harus dikuasai, sebanyak 1,04% kegiatan penutup berisi penilaian guru terhadap proses dan hasil pembelajaran, tidak ada kegiatan refleksi peserta didik, sebanyak 1,04% kegiatan penutup berisi pemberian umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, dan 3,7% kegiatan penutup berisi perencanaan kegiatan tindak lanjut hasil pembelajaran, (6) dari 94,14 % sumber/media pembelajaran dalam kategori sangat baik, (7) dari 51,365% teknik penilaian dalam kategori cukup baik, sebanyak 4,66% teknik penilaian mengarahkan ke pencapaian keterampilan, tidak tampak jelas prosedur penilaian kegiatan awal, dan sebanyak 33,98% tampak jelas prosedur penilaian kegiatan akhir. Berdasarkan hasil penelitian ini dan mengacu pada Permendiknas No 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, menyarankan untuk beberapa aspek penilaian dalam komponen RPP yang perlu diperbaiki yaitu (a) rumusan indikator tidak mengarahkan ke pencapaian keterampilan dan afektif, (b) rumusan tujuan pembelajaran yang tidak mengandung komponen C (Condition), komponen D (Degree) dan yang tidak mengarahkan ke pencapaian afektif dan keterampilan, (c) materi ajar yang tidak ditulis dalam bentuk butir-butir, (d) metode pembelajaran yang tidak mencantumkan pendekatan, model pembelajaran serta metode-metode yang digunakan dalam model, penggunaan metode pembelajaran dan yang tidak mengarahkan ke pencapaian keterampilan, (e) pada langkah-langkah pembelajaran, kegiatan pendahuluan yang tidak berisi penjelasan tentang komptensi yang harus dikuasai, kegiatan penutup yang tidak berisi penilaian guru terhadap proses dan hasil pembelajaran, yang tidak berisi kegiatan refleksi peserta didik, yang tidak berisi kegiatan penutup berisi pemberian umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, dan yang tidak berisi kegiatan penutup berisi perencanaan kegiatan tindak lanjut hasil pembelajaran, (f) teknik penilaian yang tidak mengarahkan ke pencapaian keterampilan, yang tidak jelas prosedur penilaian kegiatan awal, dan yang tidak jelas prosedur penilaian kegiatan akhir.

Pengaruh struktur modal dan financcial leverage terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008 / Syaiful Anwar

 

Kata Kunci: Struktur Modal, Financial Leverage dan Harga Saham. Harga Saham merupakan nilai dari penyertaan atau kepemilikan seseorang dalam suatu perusahaan. Untuk melihat nilai buku, nilai pasar, dan nilai instrinsik saham maka diperlukan analisis yang tepat. Penelitian ini menggunakan analisis fundamental karena analisis ini melakukan pendekatan eksternal dan internal perusahaan. Kondisi internal perusahaan dapat dilihat dari kinerja keuangannya yang diukur dengan rasio keuangan. Rasio-rasio keuangan yang digunakan adalah LDER dan DAR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel-variabel struktur modal dan financial leverage terhadap harga saham baik secara parsial dan secara simultan Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data laporan keuangan. Populasi penelitian ini adalah laporan keuangan tahunan pada tahun 2006-2008, sebanyak 152 perusahaan. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 10 perusahaan yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi struktur modal dan financial leverage yang fluktuatif. Secara parsial struktur modal berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham, sedangkan financial leverage juga berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Kemudian dari penelitian ini didapatkan hasil secara simultan struktur modal dan financial leverage berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bagi perusahaan untuk perlu menganalisis dan mempertimbangkan kedua faktor yaitu struktur modal dan financial leverage. Sedangkan peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel-variabel lain yang potensial dalam memberikan kontribusi terhadap perubahan harga saham. Selain itu, dapat juga menggunakan sampel perusahaan sektor usaha tertentu dan menambah periode observasi sehingga dapat memberikan hasil yang lebih signifikan. Selanjutnya bagi investor dapat menjadikan harga saham sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi khususnya pada perusahaan manufaktur.

Pengaruh penambahan silver nitrat (AgNO3) dalam media murashige skoog (MS) terhadap daya regenerasi kotiledon dua genotipe jarak pagar (Jatropha curcas L.) / Sofia Ratnasari

 

Kata Kunci: AgNO3, media MS, daya regenerasi kotiledon jarak pagar. Jarak pagar (Jatropha curcas l.) mempunyai potensi besar sebagai penghasil minyak biodiesel. Biji J. curcas L.merupakan bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan dasar penghasil biodiesel. Kendala yang sering dialami dalam upaya memperoleh tanaman J. curcas L. untuk bahan baku pembuatan minyak adalah penyediaan bibit, yang salah satunya dapat ditanggulangi dengan menggunakan teknik in vitro (kultur jaringan). Teknik in vitro merupakan salah satu cara untuk menyediakan bibit tanaman jarak pagar dalam skala besar. Keberhasilan pengadaan bibit jarak pagar melalui kultur jaringan dipengaruhi oleh media kultur, eksplan, Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), dan lingkungan. Etilen diproduksi oleh sel tanaman yang dikultur dan oleh agar pada medium kultur. Etilen dapat menghambat embriogenesis somatik dan regenerasi tunas. Silver nitrat (AgNO3) berpotensi sebagai inhibitor etilen yang dapat menghambat pertumbuhan eksplan. Penelitian mengenai kultur jaringan tanaman jarak pagar yang menggunakan penambahan AgNO3 pada media MS sampai saat ini belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan AgNO3 pada media MS terhadap daya regenerasi kotiledon J. curcas L. genotip B67 dan D11 yang merupakan koleksi plasma nutfah Balittas. J. curcas L. genotip B67 dan D11 memiliki produksi biji yang tinggi pertahunnya. Jenis penelitian adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial, dengan kombinasi perlakuan berjumlah 8 dan setiap kombinasi diulang 15 kali. Variabel bebas adalah genotip J. curcas L. B67 (J1) dan D11 (J2), serta AgNO3 yang ditambahkan pada media dengan konsentrasi: 0, 30, 60 dan 90µM pada media induksi tunas MS + BAP 0,5 mg/L + IBA 0,4 mg/L. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: perkembangan eksplan, pertumbuhan kalus, kecepatan muncul tunas, dan jumlah tunas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip berpengaruh terhadap pertumbuhan kalus dan jumlah tunas J.curcas.. Penambahan AgNO3 pada media menghambat perkembangan kalus menjadi tunas dan mengurangi jumlah tunas yang terbentuk, tetapi dapat mencegah terjadinya browning pada kalus. Media tanpa konsentrasi AgNO3 (M0) merupakan media terbaik terhadap perkembangan eksplan, pertumbuhan kalus dan jumlah tunas bagi genotip B67 (J1), sedangkan media dengan konsentrasi AgNO3 30 µM (M1) merupakan media terbaik terhadap perkembangan eksplan, pertumbuhan eksplan dan jumlah tunas bagi genotip D11(J2).

Penerapan pembelajaran kooperatif model role playing pada mata diklat melakukan negosiasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X pemasaran di SMKN 1 Turen Malang / Viky Rizki Firdiansyah

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif model role playing, hasil belajar Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif model Role Playing pada mata diklat melakukan negosiasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa serta untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan pembelajaran kooperatif model Role Playing. Sebagai subyek penelitian, peneliti memilih siswa kelas X Pemasaran di SMKN 1 Turen. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang berusaha mengkaji dan merefleksikan secara mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini terdiri dari siklus I dan siklus II, yang masing-masing siklus dilakukan dalam 4 kali pertemuan. Pada setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan (observasi) serta tahap analisis dan refleksi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah motivasi, meyakinkan, dan mendorong calon pelanggan kearah kesepakatan. Data yang diperoleh meliputi pengamatan aktifitas guru dan aktifitas peserta didik, hasil belajar siswa dari hasil pre-test dan post-test, Wawancara dengan guru dan peserta didik. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, soal tes, dan lembar catatan lapangan. Dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Role Playing pada mata diklat melakukan negosiasi, nilai siswa meningkat cukup signifikan terlihat pada hasil nilai pre-test dan post-test pada siklus I dan siklus II. Hal ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa kelas X Pemasaran SMKN 1 Turen Malang terhadap mata diklat Melakukan Negosiasi sebelum dan setelah pelaksanaan pembelajaran kooperatif model Role Playing.

Studi pendapat tentang manajemen organisasi persaudaraan beladiri Shorinji Kempo Universitas Brawijaya periode 2008/2009 / Imam Mukhlis

 

Kata kunci: Manajemen Organisasi Persaudaraan Beladiri Shorinji Kempo. Organisasi adalah suatu kesatuan yang bergerak ke arah tujuan tertentu. Organisasi terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama. Salah satunya organisasi persaudaraan beladiri Shorinji Kempo, yang lebih dikenal dengan nama PERKEMI. PERKEMI adalah suatu organisasi yang mengelola atau menangani persaudaraan beladiri Shorinji Kempo di Indonesia. Karena PERKEMI menangani beladiri shorinji kempo, maka PERKEMI mempunyai aturan yang mengatur pembina, pengurus dan peserta beladiri shorinji kempo. Pengaturan atau peraturan oleh PERKEMI adalah penting agar beladiri shorinji kempo di Indonesia berkembang sesuai dengan tujuan. Oleh karena itu penting untuk mengetahui perkembangan setiap PERKEMI, yang salah satunya PERKEMI Universitas Brawijaya. Untuk mengetahui perkembangan PERKEMI Universitas Brawijaya, maka peneliti menarik dari berbagi pendapat, baik pendapat pembina, pengurus dan anggota tentang manajemen organisasi PERKEMI UB khususnya pada periode 2008/2009. Sehingga peneliti mengambil judul Studi Pendapat Tentang Manajemen Organisasi Persaudaraan Beladiri Shorinji Kempo Universitas Brawijaya Pada Periode 2008/2009. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana pendapat pembina, pengurus dan anggota tentang manajemen organisasi persaudaraan beladiri shorinji kempo Universitas Brawijaya yang berkaitan dengan aspek (1) perencanaan, (2) pengorganisasian, (3) pelaksanaan, dan (4) pengawasan menurut pembina (kyu I keatas), pengurus dan anggota beladiri shorinji kempo Universitas Brawijaya. Dengan mendeskripsikan jalannya aktifitas organisasi persaudaraan beladiri shorinji kempo Universitas Brawijaya, maka hasil penelitian ini diharapkan adanya satu alternatif pemecahan yang dapat dijadikan acuan bagi organisasi shorinji kempo Universitas brawijaya untuk berkembang secara baik dan tepat tanpa harus menyimpang dari tujuan yang hendak dicapai. Penelitian ini dilaksanakan di Dojo (tempat latihan kempo) Universitas Brawijaya dengan subyek penelitian pembina atau pelatih ( kyu I keatas), pengurus dan anggota persaudaraan beladiri Shorinji Kempo Universitas Brawijaya 2008/2009. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif, rancangan penelitian yang digunakan adalah survey. Instrumen yang digunakan adalah angket, sedangkan analisis datanya adalah jenis statistik diskriptif kuantitatif dengan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen organisasi persaudaraan beladiri shorinji kempo Universitas Brawijaya menurut pembina baik, menurut pengurus baik, dan keterlibatan anggota dalam manajemen baik. Hal ini ditunjukkan dari jawaban responden melalui angket sebagai berikut: (1) aspek perencanaan menurut pembina 83,65%, menurut pengurus 85%, menurut anggota 76%, (2) aspek pengorganisasian menurut pembina 78,21%, menurut pengurus 78,33%, menurut anggota 77,83%, (3) aspek pelaksanaan menurut pembina 72,64%, menurut pengurus 67,86%, menurut anggota 61,75%, (4) aspek pengawasan menurut pembina 54,10%, menurut pengurus 86,67%, menurut anggota 81,28%. Kesimpulan dari peneliti diatas di peroleh hasil bahwa manajemen organisasi persaudaraan beladiri shorinji kempo Universitas Brawijaya secara keseluruhan adalah baik. Secara rinci setiap aspek variabel adalah aspek perencanaan baik, aspek pengorganisasian baik, aspek pelaksanaan cukup, dan aspek pengawasan baik. Maka untuk pembina dan pengurus organisasi persaudaraan beladiri shorinji kempo untuk lebih meningkatkan lagi kinerjanya agar menjadi lebih baik.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan (studi kasus pada siswa kelas XI SMK Sriwedari Malang) / Yusita Maharani

 

ABSTRAK Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), Hasil Belajar Siswa, Mata Diklat Kewirausahaan. Kualitas pendidikan di negara Indonesia masih sangat rendah bila dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya di dunia. Hal ini secara otomatis berdampak pula pada rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kita. Untuk kepentingan hal ini pemerintah berusaha sekeras mungkin melakukan perbaikan dalam sistem pendidikan kita, salah satunya dengan mengadakan perubahan dalam hal kurikulum. Inovasi dalam kurikulum ditandai dengann mulai diterapkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 dan kemudian diperbaiki lagi dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendiikan (KTSP) Standar Isi 2006. Inti dari perubahan ini adalah lebih menekankan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran (student oriented) dan guru sebagai fasilitator. Salah satu strategi pembelajaran yang bisa dijadikan alternatif dan tentunya sesuai dengan tuntutan kurikulum KTSP 2006 ini adalah model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu pembelajaran yang menggunakan masalah/kasus riil di kehidupan sehari-hari sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan ketrampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimanakah penerapan model pembelajaran mata diklat kewirausahaan yang ada di SMK Sriwedari Malang? (2) Bagaimanakah penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) di SMK Sriwedari Malang? (3) Apakah melalui penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan? (4) Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) pada mata diklat kewirausahaan? Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Sriwedari Malang Tahun Pelajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 13 (4 laki-laki dan 9 perempuan). Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan 2 siklus. Instrumen penelitian yang digunakan untuk variabel keterlaksanaan penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah lembar observasi tindakan guru. Sedangkan untuk variabel hasil belajar siswa adalah lembar observasi tindakan siswa, Lembar Kerja Siswa (LKS) dan soal tes (Pretest dan Posttest). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) sudah optimal. Hal ini ditunjukkan dengan telah diterapkannya semua tahapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Selain itu, penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat kewirausahaan. Peningkatan ini ditunjukkan oleh peningkatan hasil nilai pretest dan posttest. Rata-rata skor pretest siswa pada siklus I sebesar 67,3 mengalami peningkatan menjadi 69,2 pada siklus II. Selain itu, rata-rata skor posttest siswa juga meningkat dari 73,1 pada siklus I menjadi 81,9 pada siklus II. Adapun saran yang dapat diberikan peneliti adalah: (1) Bagi Kepala SMK Sriwedari Malang , untuk memberikan motivasi kepada semua guru mata diklat baik kewirausahaan maupun yang lainnya agar menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dalam proses belajar mengajarnya, (2) Bagi guru mata diklat kewirausahan SMK Sriwedari Malang untuk mencoba menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada bahasan yang lain karena siswa memberikan respon yang positif terhadap model pembelajaran ini dan dapat mengimplementasikan model pembelajaran Problem Based Learning pada pokok bahasan yang sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya, (3) Bagi guru mata diklat kewirausahaan SMK Sriwedari Malang agar dalam proses pembelajaran lebih meningkatkan aspek psikomotorik siswa, misalkan dengan membiasakan siswa untuk presentasi dan diskusi kelas, (4) Dalam menerapkan model pembelajaran ini, guru perlu mengatur waktu, menyiapkan rencana kegiatan dan media yang tepat sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efisien sehingga tuntutan kurikulum tercapai, (5) Dalam menerapkan model pembelajaran ini, guru perlu menyebutkan indikator-indikator yang ada dalam tahap pembelajaran Problem Based Learning agar yang diajarkan lebih optimal, (6) Bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini disarankan untuk menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning pada mata diklat yang berbeda.

Evaluasi pelaksanaan program dana hibah kepada masyarakat kelurahan melalui lembaga pemberdayaan masyarakat kelurahan (LPMK) di Kelurahan Rampal Celaket Kecamatan Klojen Kota Malang tahun 2009 (studi kasus RT 04 dan RT 06 di RW 06) / Agistari Linawarti

 

Kata Kunci: program dana hibah dan lembaga pemberdayaan masyarakat Kelurahan (LPMK). Program dana hibah sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap masyarakat disetiap Kelurahan dengan memberdayakan masyarakatnya untuk memilih sendiri jenis-jenis kegiatan yang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dapat bermanfaat juga untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan serta pemeliharaan hasil pembangunan. Jenis kegiatan untuk dana hibah yang dapat dilaksanakan adalah kegiatan pembangunan Kelurahan yang aspiratif dengan berpedoman pada hasil Musrenbangkel termasuk kegiatan pemberdayaan perempuan, sosial kemasyarakatan dan kegiatan mendesak lainnya yang harus dilaksanakan. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Rampal Celaket, Ketua RW 06, Ketua RT 04, dan Ketua RT 06 yang berada di RW 06 sebagai sasaran atau pelaksana dari program dana hibah ini. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus sehingga dapat diperoleh dengan jelas gambaran dari permasalahan yang diteliti. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan Ketua LPMK, Ketua RW 06, Ketua RT 04, dan Ketua RT 06 yang berada di RW 06; analisis dokumen yaitu diperoleh dari BAPPEDA Kota Malang, BKBPM Kota Malang, dan LPMK Kelurahan Rampal Celaket. Dalam tahap analisis data ini peneliti lakukan dengan cara menganalisis data dokumen program dana hibah kepada masyarakat Kelurahan melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) dengan beberapa kajian teori yang berhubungan dengan program dana hibah kepada masyarakat Kelurahan melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) ini, dan wawancara yang telah peneliti lakukan kepada Ketua LPMK, Ketua RW 06, Ketua RT 04, dan Ketua RT 06 yang berada di RW 06. Prinsip pelaksanaan dana hibah adalah akuntabel, terukur kinerja dan kualitasnya. Prinsip pengelolaan dan penggunaan dana hibah adalah efektif, efisien dan transparan. Pertanggungjawaban penggunaan dana hibah secara administrasi, teknis dan keuangan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan kegiatan pembangunan harus sesuai dengan rencana kegiatan yang telah diverifikasi dan disetujui tim teknis tingkat Kecamatan, yang apabila didalam pelaksanaan kegiatan pembangunan terjadi perubahan dari rencana kegiatan yang telah diverifikasi dan disetujui oleh tim teknis tingkat Kecamatan, masyarakat melakukan musyawarah untuk menentukan perubahan kegiatan dengan membuat berita acara perubahan. Tim teknis tingkat Kelurahan mengajukan perubahan kegiatan beserta berita acara perubahannya kepada tim teknis tingkat Kecamatan dan tim teknis tingkat Kecamatan menyampaikan perubahan melalui Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat (BKBPM) untuk dibuatkan Perubahan Naskah Perjanjian Hibah Daerah. Adapun saran yang dapat diberikan kepada masyarakat (1) peran masyarakat sangat diperlukan agar program ini dapat berjalan dengan baik, dan diharapkan setiap perangkat saling berkoordinasi dengan jajaran-jajaran lain mengenai pencapaian program ini, dalam hal ini berkoordinasi dengan Ketua RW dan RT masing-masing di lingkungan Kelurahan Rampal Celaket Kecamatan Klojen Kota Malang. (2) diharapkan tim pengawas atau monitoring selalu mengawasi jalannya program ini agar pencapaiannya dapat diketahui sampai sejauh mana dilaksanakan dan tentunya agar program ini benar-benar dilaksanakan dengan kegiatan-kegiatan baik fisik dan non fisik yang telah disepakati di forum Musrenbangkel. (3) diharapkan bagi kalangan akademisi atau peneliti-peneliti yang lain dapat memperluas cakupan penelitian, sehingga tidak hanya mengenai proses penyaluran dan manfaat tetapi juga mengenai hal-hal lain yang berkaitan dengan program dana hibah kepada masyarakat Kelurahan melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) ini.

Penerapan pembelajaran paikem untuk meningkatkan kreativitas siswa kelas IV MI Darul Ulum Rembang Kec. Rembang Kab. Pasuruan / Silahi

 

Kata kunci : Kreativitas, Menulis Bacaan, PAIKEM Pada era globalisasi seperti sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi sangatlah pesat. Untuk itu diperlukan generasi yang mampu berpikir cerdas, kreatif dan dinamis. Dan salah satu usaha untuk mewujudkna tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan kemampuan pembelajaran sejak dini. Pembelajaran bahasa Indonesia terutama dalam aspek menulis masih menjadi masalah yang sulit bagi siswa khususnya di Kelas IV MI Darul Ulum Rembang. Hal itu dapat dilihat dari hasil penilaian pada pra tindakan dan proses pembelajaran bahasa Indonesia terutama dalam hal menulis bacaan yang sesuai dengan ejaan yang baik dan benar. Masih banyak siswa yang cepat merasa jenuh pada saat pembelajaran menulis berlangsung. Banyak faktor yang mempengaruh hal tersebut, diantaranya: Pembelajaran berlangsung tanpa adanya variasi metode, dalam kegiatan belajar mengajar para siswa dituntut untuk menguasai semua Kompetensi Dasar tanpa di imbangi dengan metode yang sesuai. Selain itu guru lebih sering memakai metode ceramah, dengan kata lain minat baca para siswa kurang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan proses dan hasil PAIKEM dalam upaya mengoptimalkan pembelajaran menulis bacaan. 2) Mendeskripsikan penggunaan tanda baca titik ( . ) dan koma ( , ). 3) Mendeskripsikan penggunaan huruf kapital. 4) Mendeskripsikan proses dan hasil PAIKEM dalam upaya mengembangkan kreativitas siswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode yang berusaha mengungkapkan gejala-gejala sebagai mana adanya pada masa kini. Dan didalamnya tercakup suatu usaha penyelidikan, pencatatan, penganalisaan, dan penginterpretasian kondisi-kondisi yang terjadi. Cara kerja metode deskriptif dimulai dari pengumpulan data, penganalisaan data, penginterprestasian data kemudian penarikan kesimpulan.subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV MI Darul Ulum Rembang Kec. Rembang Kab. Pasuruan yang berjumlah 31 siswa. Instrumen penelitian ini menggunakan lembar tes atau tugas Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa: 1) PAIKEM dapat mengoptimalkan pembelajaran menulis siswa kelas IV MI Darul Ulum Rembang. 2) Tingkat kesalahan penulisan tanda baca titik (.) dan tanda baca koma (,) dalam tulisan siswa kelas IV MI Darul Ulum Rembang. 3) Tingkat kesalahan penulisan huruf kapital dalam tulisan siswa kelas IV MI Darul Ulum Rembang. 4) PAIKEM dapat mengembangakn kreativitas siswa MI Darul Ulum Rembang. Hasil peningkatan ini terlihat pada hasil belajar siswa dalam menulis bacaan, dimana pada siklus 1 pertemuan petama prosentase hasil belajar siswa mencapai 50% dan pada pertemuan kedua meningkat menjadi 65%. Adapun pada siklus II pertemuan pertama prosentase hasil belajar siswa mencapai 76,15% dan pada pertemuan kedua mengalami peningkatan mencapai 86,12%. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan kepada: (1) Guru, hendaknya lebih meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain dengan menggunakan banyak metode, tidak terbatas hanya pada metode ceramah dan tanya jawab saja, melainkan juga lebih banyak memanfaatkan media pembelajaran agar penyampaian materi lebih menarik bagi siswa, (2) Siswa, hendaknya lebih meningkatkan kemampuannya menulis terutama dalam penggunaan tanda baca koma (,) tanda baca titik (.), dan huruf kapital, juga dalam pemahaman mengenai unsur kebahasaan yang lain, (3) siswa hendaknya memperbanyak pembendaharaan kata, diantaranya dengan membaca, (4) penelitian lanjutan, terutama mengenai metode pengajaran bahasa Indonesia dengan pokok bahasan menulis.

Pengaruh pertumbuhan, ukuran, dan profitabilitas terhadap peringkat obligasi (studi pada perusahaan finance yang listing di Bursa Efek Indonesia) / Tetty Widiyastuti

 

Kata Kunci: Pertumbuhan, Ukuran, Profitabilitas, Peringkat Obligasi Pentingnya peringkat obligasi adalah untuk memberikan pernyataan yang informatif dan memberikan isyarat tentang kemungkinan terjadinya default hutang perusahaan. Peringkat obligasi juga membantu para investor untuk menentukan kebijakan investasi, baik investor individu maupun institusional. dapat dimonitor dari informasi peringkatnya. Perubahan dalam peringkat obligasi suatu perusahaan akan mempengaruhi pada baik kemampuannya untuk meminjam modal jangka panjang maupun biaya modal tersebut. Agen-agen pemeringkat akan meninjau obligasi yang beredar secara berkala, di mana sebagai hasil dari perubahan kondisi yang dialami oleh emitennya. Peringkat obligasi memiliki arti penting bagi perusahaan maupun investor. pertama, karena peringkat obligasi adalah indikator dari resiko gagal bayarnya, peringkat ini memiliki pengaruh langsung yang dapat diukur pada tingkat suku bunga obligasi dan biaya utang perusahaan. Kedua, kebanyakan obligasi dibeli oleh investor institusional daripada individual, dan banyak indikasi dibatasai hanya berinvestasi pada sekuritas yang layak investasi. Jadi, jika obligasi sebuah perusahaan jatuh di bawah peringkat BBB, perusahaan akan mengalami kesulitan menjual obligasi baru karena kebanyakan potensi pembeli, akan tidak diperbolehkan untuk membelinya. Tujuan dari penelitiaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan, ukuran, dan profiabilitas terhadap peringkat obligasi pada perusahaan finance yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2009. Penelitian tersebut menggunakan alat bantu statistik yaitu regresi linier yang terdapat di dalam program spss. Faktor pertumbuhan, ukuran, dan profitabilitas sebagai variabel independen sedangkan peringkat obligasi sebagai variabel terikatnya. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa peringkat obligasi pada perusahaan finance dipengaruhi oleh ukuran dan profitabilitas. Oleh sebab itu perusahaan sebaiknya menjaga kinerja perusahaan dengan menjaga rasio keuangan tersebut sehingga dapat memperoleh peringkat obligasi yang lebih baik.

Hubungan antara pemahaman visi sekolah, keterampilan profesional, insentif, sumber daya sekolah, dan rencana tindak dengan motivasi berprestasi guru pada SMA rintisan sekolah bertaraf internasional Provinsi Bali / I Ketut Kerta

 

Kata kunci : kesamaan visi personal, keterampilan profesional, insentif, sumber daya sekolah, rencana tindak, motivasi berprestasi Motivasi berprestasi guru merupakan salah satu dimensi ukuran keefektifan sekolah. Oleh karena itu kepala sekolah sebagai manajer pendidikan di sekolah, hendaknya memperhatikan faktor-faktor motivasi berprestasi guru-guru agar keefektifan sekolah dapat diwujudkan secara menyeluruh dan terpadu. Faktor motivasi berprestasi guru meliputi: standar keunggulan tugas, standar keunggulan diri, dan standar keunggulan orang lain Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan motivasi berprestasi, kesamaan visi, keterampilan profesional, insentif, sumber daya sekolah, dan rencana tindak sekolah pada SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Provinsi Bali, (2) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal sekolah dan sumber daya sekolah, (3) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan sumber daya sekolah, (4) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal dan rencana tindak, (5) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara keterampilan profesional guru dan rencana tindak, (6) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan rencana tindak, (7) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara sumberdaya sekolah dan rencana tindak, (8) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal dan motivasi berprestasi guru, (9) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara keterampilan profesional dan motivasi berprestasi, (10) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan motivasi berprestasi, (11) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara sumber daya sekolah dan motivasi berprestasi, (12) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara rencana tindak dan motivasi berprestasi, (13) hubungan tidak langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal sekolah dan rencana tindak melalui sumberdaya sekolah, (14) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan rencana tindak melalui sumberdaya sekolah, (15) mengetahui hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal sekolah dan motivasi berprestasi guru melalui sumber daya sekolah, (16) mengetahui hubungan tidak langsung yang signifikan antara insentif dan motivasi berprestasi melalui sumberdaya sekolah, (17) mengetahui hubungan tidak langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal dan motivasi berprestasi melalui rencana tindak, (18) mengetahui hubungan tidak langsung yang signifikan keterampilan profesional dengan motivasi berprestasi melalui rencana tindak, (19) mengetahui hubungan tidak langsung yang signifikan antara insentif dengan motivasi berprestasi melalui rencana tindak, dan (20) mengetahui hubungan tidak langsung yang signifikan antara sumberdaya sekolah dengan motivasi berprestasi melalui rencana tindak. Penelitian ini menggunakan jenis rancangan deskrptif-korelasional.Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang memuat komponen kesamaan visi personal, keterampilan profesional, insentif, sumber daya sekolah, rencana tindak, dan motivasi berprestasi guru. Data digali dari 315 responden yang diambil dengan menggunakan teknik proporsional random sampling pada guru SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Provinsi Bali. Sedangkan untuk menanalisis data digunakan analisis Structural Equation Model-Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa: (1) persepsi guru terhadap kesamaan visi personal berada pada kategori sangat tinggi, (2) persepsi guru terhadap keterampilan profesional berada pada kategori sangat tinggi, (3) persepsi guru terhadap insentif berada pada kategori sangat tinggi, (4) persepsi guru terhadap sumber daya sekolah, (5) persepsi guru terhadap rencana tindak berada pada kategori sangat tinggi, dan (6) persepsi guru terhadap motivasi berprestasi berada pada kategori sangat tinggi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal sekolah dan sumber daya sekolah, (2) ada hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan sumber daya sekolah, (3) ada hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal dan rencana tindak, (4) ada hubungan langsung yang signifikan antara keterampilan profesional guru dan rencana tindak, (5) ada hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan rencana tindak, (6) ada hubungan langsung yang signifikan antara sumberdaya sekolah dan rencana tindak, (7) ada hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal dan motivasi berprestasi guru, (8) ada hubungan langsung yang signifikan antara keterampilan profesional dan motivasi berprestasi, (9) ada hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan motivasi berprestasi, (10) tidak ada hubungan langsung yang signifikan antara sumber daya sekolah dan motivasi berprestasi, (11) ada hubungan langsung yang signifikan antara rencana tindak dan motivasi berprestasi, (12) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal sekolah dan rencana tindak melalui sumberdaya sekolah, (13) ada hubungan langsung yang signifikan antara insentif dan rencana tindak melalui sumber daya sekolah, (14) tidak ada hubungan langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal sekolah dan motivasi berprestasi guru melalui sumber daya sekolah, (15) tidak ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara insentif dan motivasi berprestasi melalui sumberdaya sekolah, (16) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara kesamaan visi personal dan motivasi berprestasi melalui rencana tindak, (17) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara keterampilan profesional dengan motivasi berprestasi melalui rencana tindak, (18) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara insentif dengan motivasi berprestasi melalui rencana tindak, dan (19) ada hubungan tidak langsung yang signifikan antara sumberdaya sekolah dengan motivasi berprestasi melalui rencana tindak. Berdasarkan beberapa temuan hasil penelitian di atas, dikemukakan beberapa saran yan diharapkan bermanfaat, bai pembuat kebijakan pendidikan, khususnya pemerintah provinsi Bali, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, Kepala/Wakil Kepala SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Provinsi Bali, para pengawas sekolah, dan guru-guru SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Provinsi Bali,agar hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan sebagai acuan untuk menentukan strategi dalam manajemen organisasi sekolah sehingga dengan strategi yang dilaksanakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan motivasi berprestasi guru-gurunya, (2) kepada guru-guru SMA Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Provinsi Bali, agar penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang: kesamaan visi personal guru, keterampilan profesional, insentif, sumber daya sekolah, dan rencana tindak serta motivasi berprestasi guru pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Provinsi Bali, (3) kepada Pengawas SMA Sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional di Provinsi Bali,agar hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan rujukan untuk melakukan suatu strategi pembinaan dalam mengembangkan komitmen dan kecakapan profesional kepala sekolah dan guru, agar motivasi berprestasi, kinerja sekolah dan keefektifan sekolah makin meningkat serta tujuan institusional pendidikan di sekolah-sekolah yang menjadi wilayah binaannya dapat terwujud secara merata, (4) kepada Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten / Kota, agar temuan basil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk pengambilan kebijakan paling tepat dalam membina dan mengembangkan motivasi berprestasi guru di sekolah, sehingga kinerja sekolah dapat meningkat dengan baik dalam membina dan mendidik anak-anak bangsa untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bermutu dan berdaya saing tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional, (5) kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Provinsi Bali, agar temuan hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan yang paling tepat dalam melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten/Kota dalam rangka pembinaan terhadap: sekolah, kepala sekolah, dan guru-guru, sehingga implementasi program-program pendidikan, pembinaan pemuda, dan olahraga yang berada dibawah naungan binaan Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten di seluruh Bali dapat berjalan padu dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di provinsi Bali, (6) kepada para peneliti lain yang menaruh minat kuat untuk meneliti tentang motivasi berprestasi, agar temuan hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu rujukan dalam mencari dan atau menelusuri variabel-variabel lainnya di luar variabel kesamaan visi personal guru, keterampilan profesional, insentif, sumber daya sekolah, dan rencana tindak, sehingga temuan hasil penelitiannya nanti akan dapat menambah wawasan bagi peneliti-peneliti berikutnya.

Perbandingan penerapan pembelajaran kooperatif model student team achievement division dengan numbered head together untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi kelas VII pada pokok bahasan kegiatan ekonomi manusia SMP Negeri 1 Singosari / Yohanes Cervatius Ma

 

Kata Kunci :Pembelajaran kooperatif Model Student Teams Achievement Divisions (STAD), Model Numbered Heads Together (NHT), Motivasi Belajar, Hasil Belajar Motivasi berkaitan erat dengan prestasi atau hasil belajar. Siswa yang tinggi motivasinya pada umumnya memiliki hasil belajar yang baik sebaliknya siswa yang memiliki motivasi rendah hasil belajarnya juga akan rendah. Tanpa adanya motivasi belajar, seseorang tidak akan merasa tertarik untuk memperhatikan guru maupun lingkung kelasnya. Untuk mendapatkan motivasi dan hasil belajar yang baik, guru harus pandai memilih metode yang cocok untuk tujuan dan bahan ajar mengajar serta sesuai dengan kemampuan siswa, disamping itu juga dapat meningkatkan motivasi belajar, maka guru harus menciptakan proses belajar mengajar yang melibatkan siswa, guru harus memahami dan mengembangkan berbagai media keterampilan dalam mengajar, serta guru harus tepat dalam menggunakan metode pembelajaran. Pemilihan metode yang kurang tepat, media belajar yang kurang bahkan cara mengajar guru yang membosankan bagi siswa merupakan beberapa faktor yang berasal dari guru yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa serta menurunnya hasil belajar siswa tersebut. Pendekatan pembelajaran yang dipilih hendaknya dapat memberikan tantangan yang bisa membangkitkan ketertarikan siswa dan menimbulkan motivasi belajar untuk tetap dan terus semangat belajar. Disamping itu juga harus dapat menimbulkan kemampuan dasar yang dimiliki siswa agar dapat diterapkan dalam menyelesaikan tugas-tugas, sehingga siswa dapat meramalkan sendiri hal-hal yang baru.Berdasarkan teori motivasi belajar “ Keberhasilan dalam suatu bidang studi tidak selalu sepenuhnya tergantung dari usaha dan kemampuan siswa tetapi yang terpenting disini adalah keyakinan siswa bahwa dia sendiri adalah pihak yang seluruhnya bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan”. Hal tersebut memberikan arti bahwa dalam memotivasi siswa, peran guru juga penting dalam meyakinkan siswa untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui perbedaan efektivitas model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan NHT (Numbered Heads Together) dalam meningkatkan motivasi belajar ekonomi bagi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Singosari. (2) Untuk mengetahui perbedaan efektivitas model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Divisions) dan NHT (Numbered Heads Together) dalam meningkatkan hasil belajar ekonomi bagi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Singosari. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan membagi kelompok penelitian menjadi dua kelompok eksperim`en, yaitu kelompok pertama adalah kelompok eksperimen yang belajar dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik STAD dan kelompok kedua adalah kelompok eksperimen yang belajar dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik NHT. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, soal tes, perangkat pembelajaran dan angket tanggapan siswa terhadap penerapan kedua teknik pembelajaran tersebut. Analisis data menggunakan uji-t. Hasil motivasi belajar siswa diperoleh dengan nilai thitung (2,146) > ttabel (2,012) maka thitung > ttabel, dengan nilai rata-rata (mean) pendekatan pembelajaran kooperatif teknik STAD yaitu 11,8750 dan nilai rata-rata (mean) dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik NHT yaitu 10,5000 dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division terbukti lebih efektif dalam meningkatkan motivasi belajar ekononomi siswa daripada metode pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together. Hasil belajar siswa dapat ditunjukkan dengan nilai post tes. Diperoleh nilai thitung (2,146) > ttabel (2,012) maka thitung > ttabel, dengan nilai rata-rata (mean) yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik STAD yaitu 79.5833 dan nilai rata-rata (mean) yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik NHT yaitu 65.0000 maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik STAD lebih efektif dibandingkan dengan kelas yang diajarkan dengan pendekatan pembelajaran kooperatif teknik NHT. Ada beberapa saran yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1 )Bagi guru mata pelajaran ekonomi di SMP NEGERI 1 Singosari khususnya dan para guru ekonomi lain pada umumnya disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division sebagai salah satu alternatif pembelajaran didalam kelas, dalam rangka meningkatkan motivasi dan hasil belajar ekonomi siswa. Karena sudah terbukti bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi Kegiatan Pokok Ekonomi Masyarakat. (2) Bagi peneliti lanjutan, disarankan untuk meneliti dan membandingkan beberapa metode yang dikenal selama ini, sehingga guru dapat memilih metode pembelajaran yang tepat, yang dapat meningkatkan hasil belajar. Disarankan pula untuk diadakan penelitian lanjutan dengan cakupan materi yang lebih luas dan memadukan beberapa metode pembelajaran.

Keefektifan paket pelatihan keterampilan self-disclosure untuk meningkatkan konsep diri siswa SMP / Mega Ika Mariana

 

Kata Kunci : Self-disclosure, konsep diri. Dalam pelaksanaan BK di sekolah saat ini masih banyak persoalan yang dihadapi berkaitan dengan self-disclosure siswa, misalnya enggannya siswa untuk datang ke ruang BK guna mengungkap masalah yang dihadapinya, hal ini dipicu oleh ketidakterbukaan diri siswa dalam berbagai permasalahan yang dihadapi, di samping itu siswa masih kurang mampu berhubungan antarpribadi khususnya keterbukaan diri. Untuk dapat membuka diri, sebelumnya individu harus memahami diri sendiri yaitu menyadari dan memahami perasaannya, siapa dirinya, kualitas diri, harapan-harapan, dan pengembangan sikap terhadap dirinya sendiri. Pengetahuan dan sikap tersebut dikenal dengan konsep diri (self concept). Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan paket pelatihan keterampilan self-disclosure untuk meningkatkan konsep diri siswa SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun. Penelitian ini dilakukan di SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan desain penelitian one group pretest-posttest control design. Subyek yang dijadikan sampel penelitian adalah siswa SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun kelas VII sebanyak 64 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala Keterampilan Self-Disclosure dan skala Konsep Diri dengan menggunakan model penskalaan Likert. Analisis data menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata hasil pre-test skala konsep diri kelas eksperimen dan rata-rata hasil post-test skala konsep diri kelas eksperimen adalah berbeda secara signifikan. Rata-rata hasil post-test skala konsep diri kelas eksperimen (112.09) lebih tinggi daripada rata-rata hasil pre-test skala konsep diri kelas eksperimen (98.25). Dapat disimpulkan bahwa kedua rata-rata populasi adalah tidak identik karena nilai Sig. (0,000) ≤ 0,05 dan thitung (-5.313) ≥ ttabel (1,998). Hal ini dapat disimpulkan bahwa paket keterampilan self-disclosure efektif untuk meningkatkan konsep diri siswa SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun. Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan remaja dapat mengungkapkan dengan baik mengenai dirinya sendiri, dapat mengontrol emosi terhadap segala perilakunya, dapat meningkatkan keakraban yang dilandasi kepercayaan dan kekeluargaan.

Penerapan model pembelajaran group investigation (GI) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa mata diktlat ekonomi kelas X akuntansi di SMK PGRI 2 Malang / Yekti Wikanti

 

Kata kunci: Study model Group Investigation (GI), activity, study result In globalisation era, ability compete, have skill of technology and knowledge become important progressively for progress a nation. To have compete, every individual must have reliable interest in many area as according to enthusiasm, talent, and ability. But, now Indonesian Human Resource situation haven’t competitif. Indonesian Education require to get reconditional and special attention education require to be done to increase the education quality. One of the way is to change of curriculum, that is Curriculum Base on Competention ( KBK) 2004 as completion of Curriculum 1994. In KBK, student compete can be developed as maximum, besides student have an excellence of comparability and competitif according to the national and international standard quality . One of the study model which there are in KBK is Group Investigation ( GI). This research represent class action research ( PTK) which consist of two cycle and use qualitative approach. Each cycle consist of four phase that is planning, execution, and observation, reflektion. Passed to this action on cycle I and II as according to Study Plan Program ( RPP) with GI study model. Study lesson used at this research is Economics lesson for the class X semester II year 2006 / 2007 Membership of Accountancy Program, on the sub of compete supply and demand analyse. To know the student activity in their study using GI study model the observer do the observation by using sheet observation and to know the learn result increasing to be evaluated from cognate aspect, So the observer have do the calculation of pre-test and post-test value. Collecting data appliance which is used in this research is tes, observation, interview, field note and documentation. While analyse data technique used to this observation are : reduction data , data presentation, and also make a tes conclusion. For the data subject which used in this research is class student of X Membership Of Accountancy Program SMK PGRI 2 Malang their amount are 44 student. Based to the result of this research, it showing that by using GI study model can make improve result and student learning activity. Student activity based to the observation result of both of the observer at cycle I, its average value presentage is 82,14% including category of B+, cycle of II is 100% including category A. While activity and skill of student co-operative at cycle I for phase 1 average value 70,45%, category of B-; Phase 2 equal to 62,73% category of C+; Phase 3 56,44% category of C; Phase 4 62,27% category of C; Phase 5 60% category of C; Phase 6 66,13% category of B-. At cycle of II for phase 1 yielded by average value 81,36% category of B+; Phase 2 71,36% category of B; Phase 3 68,18% category of B-; Phase 4 69,09% category of B-; Phase 73,94% category of B; Phase 6 76,34% category of B+. Result of the learn after the student study by using GI study model is increase to 27,46. At the pre-test cycle of I mean 38,17. At the cycle post-test of I obtained mean 65,63. At the cycle of II also experience of the increase, that is equal to 23,29 where the result of cycle pre-test of II equal to 47,56 while cycle post-test of II obtained mean 70,85. Based to the result of this research, the following suggestion are ( 1) In the implementation of study using GI study model, the student much better have to be active look for the information as according to this topic of which they studied; ( 2) At Economics study the teacher much better using GI study model to increase activity and skill of co-operative student; ( 3) To the teacher of Economic lesson of SMK PGRI 2 Malang, study using GI study model can be used to increase result of the student learning.

Perancang video klip musik tani maju band dengan judul "Lembur" sebagai media promosi album ketiga / Galih Putro Priambodo

 

ABSTRAK Galih Putro Priambodo. 2010. Perancangan Video Musik Dengan Judul Lembur Sebagai Media Promosi Untuk Album Ketiga Tani Maju. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual Jurusan Seni & Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si (II) Rudi Irawanto, S.Pd, M.Sn Kata kunci: Tani Maju ,video klip musik, album ketiga Tani Maju adalah sebuah nama dari Group Band Musik Indie asal Kota Malang yang masuk dalam jenis musik kontemporer, yaitu penggabungan musik yang menggunakan instrument tradisional dengan instrument modern. Musik dari Tani Maju memang terlihat unik dan aneh, tapi kita dapat melihat kandungan pesan yang disampaikan, seperti kritikan Politik, Sosial, Budaya, serta percintaan.Video klip musik merupakan media audio-visual yang tepat dan efektif dalam menyampaikan sebuah informasi dan juga media promosi kepada khalayak ramai, sebab dalam media ini terdapat satu bentuk komunikasi yang berfungsi untuk mempengaruhi serta mengajak masyarakat sehingga terpengaruh dan melakukan tindakan. Latar belakang permasalahan dari penulisan ini adalah bagaimana memberi informasi kepada masyarakat bahwa band Tani Maju telah mengeluarkan album ketiga dalam kaset dan cd. Perancangan video klip musik dan media komunikasi visual (media promosinya) disusun dengan metode perancangan pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Hal ini dipilih berdasarkan kefektifan metode ini dalam merangkum proses perancangan yang dilakukan. Model prosedural yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Secara umum model perancangan pengembangan meliputi riset audience, kemudian proses analisis, dan terakhir adalah proses perancangan. Hasil dari skripsi perancanan ini adalah sebuah video klip musik dalam bentuk vcd, poster, cover pack vcd, stiker, kaos, X-banner, spanduk, cd label, dan cover kaset. Yang nantinya semua media ini dibuat untuk mendukung penjualan álbum ketiga dari band Tani Maju. Kesimpulan skripsi perancangan ini adalah bagaimana membuat sebuah video klip musik sebagai media promosi yang nantinya sebagai media untuk peluncuran album ketiga. Selain itu juga sebagai media hiburan yang bukan sekedar tontonan tapi juga tuntunan yang tidak lepas dari etika yang berlaku dimasyarakat umum.

Pemanfaatan cd pembelajaran berbasis adobe flash untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang / Yusniar Marhaeni

 

Kata Kunci: pembelajaran, media, motivasi belajar, hasil belajar Masalah belajar dipengaruhi motivasi dan hasil belajar. Perkembangan teknologi media berbasis komputer telah berpotensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi, dan sebagainya. Media akan dapat membawa kita pada situasi belajar dimana learning with effort akan digantikan dengan learning with fun. Jadi, proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, dan tidak membosankan akan cenderung memotivasi siswa dalam belajar, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh pemanfaatan CD pembelajaran berbasis adobe flash terhadap peningkatan motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang dalam proses pembelajaran akuntansi, (2) pengaruh pemanfaatan CD pembelajaran berbasis adobe flash terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang dalam proses pembelajaran akuntansi. Penelitian ini merupakan penelitian sampel dua kelas yang dilakukan kepada 75 siswa kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 di SMA Negeri 6 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner (angket) dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah Analisis Uji Beda Dua Sampel Independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemanfaatan CD pembelajaran berbasis adobe flash dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan nilai thitung sebesar 25,070 > ttabel = 1,675 dan (2) CD pembelajaran berbasis adobe flash dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan nilai thitung sebesar 2,038 > ttabel = 1,666. Berdasarkan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa CD pembelajaran berbasis adobe flash dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Saran yang dapat diberikan adalah (1) hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah untuk memperbaiki sistem pembelajaran dan fasilitas sekolah, sehingga terjadi perbaikan pada kualitas pembelajaran yang inovatif dan kreatif, (2) para guru harus meningkatkan kemampuan mengajar yang lebih kreatif dengan menggunakan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan motivasi belajar sehingga hasil belajar (tujuan belajar) dapat dicapai secara optimal, (3) motivasi belajar yang tinggi akan memacu individu untuk mencapai hasil terbaik yang diinginkannya, sehingga hal tersebut akan menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi akan kemampuan individu tersebut, dan kepuasan akan hasil yang diperoleh melalui proses belajarnya, dan (4) bagi penelitian selanjutnya yang akan mengadakan penelitian sejenis, melaksanakan pembelajaran dengan media interaktif berbasis komputer dengan fasilitas laboratorium komputer/multimedia sehingga terjadi interaksi antara siswa dengan sumber belajar, pengukuran motivasi belajar siswa dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan diberikan, dan penelitian sebaiknya tidak dilaksanakan di satu sekolah saja, sehingga diperoleh hasil uji komparatif yang dapat digeneralisasikan.

Pengelolaan dana pendidikan untuk rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) (Studi kasus di SMP Negeri 1 Pamekasan) / Siti Hosnul Hotimah

 

Kata Kunci: pembelajaran, media, motivasi belajar, hasil belajar Masalah belajar dipengaruhi motivasi dan hasil belajar. Perkembangan teknologi media berbasis komputer telah berpotensi besar dalam merubah cara seseorang untuk belajar, untuk memperoleh informasi, menyesuaikan informasi, dan sebagainya. Media akan dapat membawa kita pada situasi belajar dimana learning with effort akan digantikan dengan learning with fun. Jadi, proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, dan tidak membosankan akan cenderung memotivasi siswa dalam belajar, sehingga akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh pemanfaatan CD pembelajaran berbasis adobe flash terhadap peningkatan motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang dalam proses pembelajaran akuntansi, (2) pengaruh pemanfaatan CD pembelajaran berbasis adobe flash terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 6 Malang dalam proses pembelajaran akuntansi. Penelitian ini merupakan penelitian sampel dua kelas yang dilakukan kepada 75 siswa kelas XI IPS 1 dan XI IPS 2 di SMA Negeri 6 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kuesioner (angket) dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah Analisis Uji Beda Dua Sampel Independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemanfaatan CD pembelajaran berbasis adobe flash dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan nilai thitung sebesar 25,070 > ttabel = 1,675 dan (2) CD pembelajaran berbasis adobe flash dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan nilai thitung sebesar 2,038 > ttabel = 1,666. Berdasarkan penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa CD pembelajaran berbasis adobe flash dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Saran yang dapat diberikan adalah (1) hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah untuk memperbaiki sistem pembelajaran dan fasilitas sekolah, sehingga terjadi perbaikan pada kualitas pembelajaran yang inovatif dan kreatif, (2) para guru harus meningkatkan kemampuan mengajar yang lebih kreatif dengan menggunakan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk meningkatkan motivasi belajar sehingga hasil belajar (tujuan belajar) dapat dicapai secara optimal, (3) motivasi belajar yang tinggi akan memacu individu untuk mencapai hasil terbaik yang diinginkannya, sehingga hal tersebut akan menimbulkan kepercayaan diri yang tinggi akan kemampuan individu tersebut, dan kepuasan akan hasil yang diperoleh melalui proses belajarnya, dan (4) bagi penelitian selanjutnya yang akan mengadakan penelitian sejenis, melaksanakan pembelajaran dengan media interaktif berbasis komputer dengan fasilitas laboratorium komputer/multimedia sehingga terjadi interaksi antara siswa dengan sumber belajar, pengukuran motivasi belajar siswa dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan diberikan, dan penelitian sebaiknya tidak dilaksanakan di satu sekolah saja, sehingga diperoleh hasil uji komparatif yang dapat digeneralisasikan.

Peningkatan pemahaman konsep bilangan pada anak kelompok A melalui aktivitas bermain benda lingkungan sekitar di Taman Kanak-Kanak Mawar Indah 2 Kota Batu / Menok Astutik

 

Kata Kunci : Konsep Bilangan, Aktivitas Bermain, Benda Lingkungan Sekitar, Pendidikan Anak Usia Dini. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di kelompok A, Taman Kanak – kanak Mawar Indah 02 Sidomulyo Kecamatan Batu Kota Batu terdapat rumusan masalah : 1). Bagaimanakah penerapan aktivitas bermain benda lingkungan sekitar pada anak kelompok A di TK Mawar Indah 02 Sidomulyo Batu 2). Apakah penggunaan aktivasi bermain benda dapat meningkatkan pemahaman konsep bilangan pada anak kelompok A di TK Mawar Indah 02 Sidomulyo Batu . Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mendeskkripsikan penerapan aktivasi bermain benda lingkungan sekitar pada anak kelompok A di TK Mawar Indah 02 Sidomulyo Batu . 2). Untuk mendeskripsikan aktivasi bermain benda lingkungan sekitar dapat meningkatkan pemahaman konsep bilangan pada anak kelompok A di TK Mawar Indah 02 Sidomulyo Batu . Rancangan Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitas berbentuk tindakan kelas dan di rancang dalam 2 (dua ) siklus . Masing – masing terdiri dari 5 tahapan 1) Refleksi awal 2) Perencanaan 3) Pelaksanaan tindakan 4) Pengamatan 5) Refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak kelompok A, Taman kanak – kanak Mawar Indah 02 Sidomulyo kecamatan Batu Kota Batu sebanyak 25 anak. Metode pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran dan dokumen tasi berupa foto selama pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan aktivitas bermain benda lingkungan sekitar dapat meningkatkan pemahaman konsep bilangan. Berdasarkan lembar observasi pada siklus I kelancaran anak menyebut urutan bilangan mencapai 64%, kemampuan anak dalam mengenal angka 64% , ketepatan dalam memasangkan angka dengan benda 56%, pada siklus II hasil observasi untu kelancaran menyebut ururtan bilangan meningkat 88%, kemampuan anak mengenal angka meningkat 80%, ketepatan dalam memasangkan benda dengan angka meningkat 76% .Bedasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan aktivitas bermain benda lingkungan sekitar dapat meningkatkan pemahaman konsep bilangan pada anak kelompok A di TK Mawar Indah 02 Sidomulyo Batu .   Berdasarkan hasil dan kesimpulan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat di sarankan : Bagi anak didik hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi anak . Untuk sekolah memberikan masukan bagi peningkatan mutu pembelajaran yang kreatif dan inovatif di taman kanak – kanak. Bagi guru Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan peranan guru dalam mendampingi kegiatan pembelajaran sebagai usaha untuk mengetahui masalah pemahaman anak tentang konsep bilangan dan hendaknya menggunakan benda langsung untuk memudahkan anak memahami konsep bilangan.

Pembuatan busana pesta remaja dengan hiasan laju-lajur kain berbentuk geometri / Silvia Rizki Amelia

 

Religiusitas pada remaja delinkuensi di SMA Islam Malang / Amelia Ayu Permata Sari

 

Kata Kunci : religiusitas, remaja, delinkuensi Saat ini kenakalan remaja atau juvenile delinquency mulai marak ditemukan di mana saja. Banyak pakar merumuskan penyebab dan faktor pembentuk perilaku yang mulai marak ini serta mencari penanganan permasalahan ini. Salah satu aspek yang disoroti adalah rendahnya religiusitas yang dimiliki oleh remaja delikuen, sehingga tidak mampu mengontrol perilaku menyimpang tersebut. Disinilah penelitian akan difokuskan pada pengungkapan religiusitas yang terbentuk pada remaja delinkuensi di SMA Islam Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Islam Malang. Seluruh subyek didapatkan dengan metode Purpossive sampling. Kriteria subyek penelitian, yaitu: remaja usia 16-19 tahun, melakukan delinkuensi pada saat sekarang, merupakan siswa di SMA Islam Malang dan bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan induksi, reduksi data, kategorisasi dan sintesisasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui cara (1) memperpanjang masa keikutsertaan peneliti di lokasi penelitian, (2) membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil pengamatan, dan (3) triangulasi sumber yaitu mengkonfirmasikan data yang didapat dari subyek primer dengan subyek sekunder seperti guru BK dan teman satu geng, Hasil penelitian ini mendapatkan tiga bentuk delinkuensi yang dilakukan pada lima remaja di SMA Islam Malang, yaitu delinkuensi situasional, sistematis, dan kumulatif. berdasarkan ketiga bentuk delinkuensi tersbut ditemukan dua tingkat delinkuensi yaitu biasa dan khusus. Faktor perilaku delinkuensi remaja membedakan religiusitas diantara remaja delinkuensi, terutama pada aspek pelanggaran. Peneltian ini menemukan tiga aspek religiusitas yang terjadi pada remaja delinkuensi di SMA Islam Malang, yaitu aspek ketahanan pada konflik, aspek pelanggaran, dan aspek konsekuensi. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada murid SMA Islam Malang, yaitu (1) Lebih banyak mengkaji ajaran dan nilai Islam dengan berdiskusi atau berdialog, (2) Berlatih menyelesaikan konflik yang terjadi dalam diri remaja dengan cara mengkaitkan antara masalah dan tuntunan dalam Islam. Disamping itu penanaman religiusitas pada remaja delinkuensi dengan cara berdialog bukan dengan cara dogmatis serta ancaman atau hukuman.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted individualization) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI sosial 1 SMA Negeri 2 Malang / Rafi Bayani Fabik

 

Kata kunci: Metode Pembelajaran Kooperatif Model TAI (Team Assisted Individualization), Motivasi, Prestasi belajar. Pembelajaran kooperatif model TAI adalah bentuk pembelajaran kooperatif yang berarti siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, dimana dalam tiap kelompok terdapat satu asisten (siswa yang kemampuan akademiknya lebih baik) yang membantu proses belajar kelompok. Motivasi belajar adalah suatu dorongan internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang (individu) untuk bertindak atau berbuat mencapai tujuan, sehingga perubahan tingkah laku pada diri siswa diharapkan terjadi. Prestasi belajar adalah kemampuan kognitif siswa yang dicapai setelah penerapan pembelajaran kooperatif model TAI yang ditunjukkan oleh nilai-nilai tes yang diberikan. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar akuntansi siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Malang melalui pembelajaran kooperatif model TAI. (2) Mendeskripsikan peningkatan prestasi belajar akuntansi siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Malang melalui pembelajaran kooperatif model TAI. Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu penelitian yang dilakukan guru di kelas pada saat berlangsungnya proses pembelajaran dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang dilakukan untuk memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan profesionalisme guru. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Dari keempat indikator motivasi belajar (perhatian, keterkaitan, percaya diri dan kepuasan) yang diukur, diperoleh hasil bahwa semua indikator mengalami pergeseran dari kategori cukup baik menjadi baik dan yang baik menjadi sangat baik, tetapi indikator kepuasan mengalami pergeseran terbesar dibandingkan dengan indikator lainnya. Penerapan pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Peningkatan tersebut diukur dari tes akhir hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa. sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran TAI dapat meningkatkan prestasi belajar. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu:(1) Bagi guru, guru harus memahami langkah-langkah, syarat-syarat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembelajaran TAI. (2)Bagi siswa, siswa harus lebih menjaga kekompakan dan kerjasama dalam kelompok. (3) Bagi sekolah, media pembelajaran yang mendukung pembelajaran TAI disediakan untuk menunjang proses belajar.

Pengaruh motivasi belajar, fasilitas belajar di sekolah terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi IPS kelas XI SMA Negeri 5 Malang / Indra Sukma Rianto

 

Kata Kunci : Penggaruh Motivasi Belajar, Fasilitas Belajar, Prestasi Belajar Pendidikan merupakan suatu yang penting dan dianggap paling utama dalam kehidupan manusia dan dapat memberi bekal hidup kepada peserta didik dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sehubungan dengan itu maka sudah menjadi kewajiban bagi lembaga pendidikan di Indonesia untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut baik lembaga pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan sekolah merupakan lembaga yang mempunyai tujuan pembelajaran yang sangat penting bagi peningkatan kualitas sumber daya menusia (SDM). Sebagai tempat proses belajar mengajar, sekolah harus menyediakan fasilitas belajar yang menunjang untuk berlangsungnya proses belajar tersebut. Kondisi itu diantaranya adalah menyediakan sarana dan prasarana agar dapat menemukan berbagai pengetahuan yang dibutuhkan dan juga melibatkan siswa dalam proses belajar tersebut. Dalam kegiatan proses belajar mengajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan dapat memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tercapai tujuan yang dikehendaki. Motivasi belajar dapat dilihat dari karakteristik tingkah laku siswa yang menyangkut minat, ketajaman perkataan, ketajaman konsentrasi, aktivitas dan partisipasi dalam proses pembelajaran. Meskipun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau bakat siswa dan materi yang akan diajarkan, namun apabila tidak dibarengi dengan motivasi belajar siswa, maka proses belajar mengajar tidak akan berlangsung optimal. Selain itu tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu para siswanya agar timbul keinginan dan kemauan untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Dengan adanya pemanfatan fasilitas belajar dan motivasi belajar dapat dilihat perubahan prestasi yang akan diraih oleh siswa-siswi di sekolah. Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil yang diperoleh seorang siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu atau setelah menyelesaikan program tertentu. Prestasi belajar juga merupakan bukti keberhasilan usaha yang dicapai, sedangkan belajar memiliki suatu proses mental yang mempengaruhi pada penguasaan pengetahuan, kecakapan, kebiasaan atau sikap yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilakukan sehingga menimbulkan tingkah laku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prestasi belajar adalah suatu nilai yang memajukan hasil yang dicapai siswa setelah melalui proses belajar. Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka dapat diketahui tujuan penelitian yaitu (1) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis tingkat motivasi siswa di SMA Negeri 5 Malang ii (2) untuk mendekripsikan dan menganalisis fasilitasbelajar sekolah yang ada di SMA Negeri 5 Malang(3)Untuk mendeskripsikan dan menganalisis tingkat prestasi belajar siswa di SMA Negeri 5 Malang, (4) Untuk menentukan besarnya pengaruh pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah terhadap prestasi belajar siswa di SMA Negeri 5 Malang, (5) Untuk menentukan besarnya pengaruh motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa di SMa Negeri 5 Malang, (6) Untuk menentukan besarnya pengaruh fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar secara simultan terhadap prestasi belajar siswa di SMA Negeri 5 Malang. Dalam penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk menggambarkan tentang kondisi obyektif motivasi belajar, fasilitas belajar di sekolah, dan prestasi belajar siswa. Sedangkan analisis statistik inferensial yaitu regresi linier berganda atau ubahan untuk mengetahui besarnya pengaruh motivasi belajar dan fasilitas belajar di sekolah secara simultan terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di SMA Negeri 5 Malang. Variabel bebas penelitian ini terdiri dari motivasi belajar (X1). Dan fasilitas belajar (X2), Sedangkan variabel terikatnya prestasi belajar siswa (Y) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 5 Malang yang berjumlah70 siswa dan sampelnya sebesar 70 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster Proportional Random Sampling. Dari pengolahan data melalui uji hipotesis dapat diketahui bahwa pada variabel fasilitas belajar (X2) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar terbukti besaran probabilitas (Sig) t pada variabel fasilitas belajar (X2) adalah 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada variabel motivasi belajar secara parsial juga terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar dengan besaran probabilitas (Sig) t pada variabel motivasi belajar (X1) adalah 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sedangkan secara simultan berdasarkan dari hasil uji F diketahui besaran probabilitas (Sig.) F 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa pemanfaatan fasilitas belajar dan motivasi belajar terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas XI di SMA Negeri 5 Malang. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan tidak hanya meneliti pemanfaatan fasilitas belajar dan motivasi belajar saja yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, tetapi masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti faktor guru sebagai pendidik harus mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan dengan metode pembelajaran kooperatif, kemampuan IQ siswa ataupun keadaan kehidupan ekonomi serta faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa sehingga hasil penelitian lebih reliable dan dapat memperkuat teori serta penemuan yang telah ada sebelumnya.

Persepsi guru ilmu pengetahuan sosial terhadap kegiatan musyawarah guru mata pelajaran dan kemampuan guru mengelola proses belajar-mengajar SMP Negeri se-Kabupaten Ponorogo / Meilia Ratna Sari

 

Kata Kunci : persepsi, kegiatan MGMP, kemampuan guru mengelola proses belajar mengajar Secara ideal tujuan dibentuknya MGMP adalah guru sebagai anggota MGMP dituntut aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini terkait dengan peningkatan kemampuan guru serta adanya standar kemampuan yang harus dicapai dalam mengajar oleh guru dalam suatu wilayah. Namun pada kenyataannya tidak semua guru aktif mengikuti kegiatan MGMP sehingga ini akan berpengaruh terhadap pemahaman mengenai KTSP yang kemudian akan mempengaruhi kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Idealnya, para guru yang aktif dalam MGMP memiliki kemampuan yang terus meningkat, sehingga proses belajar mengajar IPS semakin baik. Realitasnya proses belajar mengajar belum banyak berubah. Atas dasar pemikiran tersebut, perlu dilakukan penelitian, bagiamana persepsi guru IPS terhadap kegiatan MGMP dan kemampuan guru mengelola proses belajar mengajar di SMP Negeri Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan bagaimana persepsi guru IPS terhadap kegiatan MGMP dan kemampuan guru mengelola proses belajar mengajar SMP Negeri se-Kabupaten Ponorogo. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Subjek dalam penelitian adalah para anggota MGMP IPS SMP Negeri se-Kabupaten Ponorogo. Jumlah populasi yang diteliti berjumlah 78 orang. Instrumen yang digunakan yaitu wawancara dan angket. Hasil penelitian ini adalah: Aspek-aspek persepsi terhadap kegiatan MGMP IPS SMP Negeri se-Kabupaten Ponorogo terdiri dari komponen kognitif (pengetahuan, keyakinan, informasi, dan pandangan terhadap MGMP IPS), komponen afektif (emosional: senang, tidak senang, positif-negatif terhadap kegiatan MGMP IPS), dan komponen konatif (perilaku dan sikap terhadap kegiatan MGMP IPS). Sebagian besar guru tahu tentang semua kegiatan yang dilakukan oleh MGMP IPS dan mereka mengikuti setiap kegiatan yang diadakan. Anggota MGMP IPS senang dan menilai kegiatan MGMP IPS berpengaruh positif terhadap kemampuan mengelola PBM. Dengan adanya aturan untuk disiplin ternyata tidak membuat para anggota MGMP IPS enggan mengikuti setiap kegiatan yang diadakan. Berdasarkan analisis deskriptif persentase menunjukkan bahwa kegiatan MGMP IPS SMP Negeri se-Kabupaten Ponorogo tergolong tinggi tinggi. Dari hasil analisis regresi diperoleh

Pengaruh program keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan PT. Indonesia Marina Shipyard / Herman Wahyudi

 

Kata Kunci: Program Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas Kerja Pencegahan kecelakaan kerja pada dasarnya merupakan tanggung jawab karyawan dan perusahaan yang wajib memelihara kondisi kerja yang selamat sesuai dengan ketentuan perusahaan. Umumnya kejadian kecelakaan kerja disebabkan kesalahan manusia (human error), dimana penyebab kecelakaan bermula pada kegiatan tidak selamat manusia itu sendiri. Ada beberapa perbuatan yang mengusahakan keselamatan, antara lain setiap karyawan bertugas sesuai dengan pedoman dan penuntun yang diberikan, setiap kecelakaan atau kejadian yang merugikan harus segera dilaporkan kepada atasan, setiap peraturan dan ketentuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja harus dipatuhi secermat mungkin, semua karyawan harus bersedia saling mengisi atau mengingatkan akan perbuatan yang dapat menimbulkan bahaya dan peralatan atau perlengkapan K3 dipakai bila perlu. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang memberikan gambaran atas kondisi yang terjadi di instansi dengan cara menjelaskan gejala-gejala yang timbul oleh suatu obyek penelitian, dalam hal ini data diperoleh di karyawan bagian produksi PT. Indonesia Marina Shipyard. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa program keselamatan dan kesehatan kerja serta produktivitas kerja PT. Indonesia Marina Shipyard masuk dalam kategori cukup baik. Terdapat pengaruh positif yang signifikan keselamatan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan PT. Indonesia Marina Shipyard. Terdapat pengaruh positif yang signifikan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan PT. Indonesia Marina Shipyard. Secara bersama-sama terdapat pengaruh positif dan signifikan program keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas kerja PT. Indonesia Marina Shipyard. Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian, maka diajukan beberapa saran yaitu diharapkan untuk memberikan pelatihan-pelatihan kepada para karyawan dalam rangka untuk mendukung program kesehatan dan keselamatan kerja yang telah ditetapkan. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka untuk memberikan suatu memberikan keahlian kepada karyawan dalam penggunaan fasitas yang disediakan oleh perusahaan. Perusahaan diharapkan untuk lebih memperhatikan mengenai penempatan peralatan kerja di perusahaan sesuai dengan ketentuan sehingga mampu mendukung kerja karyawan dan tidak membahayakan keselamatan karyawan.

Penerapan keterampilan memberi penguatan dalam pembelajaran di kelas III SDN Madyopuro IV Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Yuniva Narbitasari

 

Kata kunci : Penerapan, Keterampilan Memberi Penguatan Keterampilan memberikan penguatan merupakan salah satu keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai guru untuk membantu siswa memenuhi kebutuhannya dalam mencapai perkembangan yang optimal pada pembelajaran. Guru memiliki kelebihan serta kekurangan dalam menerapkan penguatan karena kemampuan setiap guru berbeda-beda. Selain itu, masih ditemukan beberapa sikap guru yang kurang sesuai saat memberikan penguatan. Keterampilan memberikan penguatan yaitu kecakapan yang harus dikuasai guru dalam memberikan penghargaan kepada siswa agar terdorong mengulangi kembali sikap positif dalam pembelajaran sehingga mencapai perkembangan secara optimal. Penghargaan tersebut antara lain penguatan verbal berupa kata atau kalimat pujian dan penguatan non verbal berupa penguatan gestural, kontak, dengan mendekati, kegiatan yang menyenangkan, simbol/benda dan tak penuh. Agar penguatan bermakna bagi siswa maka harus diberikan dengan sungguh-sungguh, bervariasi dan menghindari penggunaan respon negatif. Penguatan harus jelas diberikan kepada sasaran serta diberikan segera setelah siswa melakukan respon positif. Metode yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini yaitu metode deskriptif kualitatif untuk menghasilkan data berupa uraian kata-kata. Teknik analisis data hasil penelitian yang digunakan berdasar pada analisis data model Miles dan Huberman. Sedangkan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh antaralain kelebihan guru kelas III SDN Madyopuro IV dalam menerapkan penguatan seperti memberikan penguatan dengan antusias dan hangat serta bermakna bagi siswa, memberikan penguatan yang bervariasi dan dengan segera pada siswa. Guru juga memiliki kekurangan dalam menerapkan penguatan seperti memberikan penguatan pada pribadi dalam kegiatan kelompok dan menggunakan respon negatif pada siswa yang menjawab salah. Penguatan positif membuat siswa bersemangat sedangkan penguatan negatif membuat sebagian siswa lebih bersemangat dan beberapa siswa lainnya tidak memperhatikan pembelajaran. Berdasarkan data di atas disimpulkan bahwa setiap guru memilliki kelebihan dan kekurangan dalam menerapkan penguatan. Penguatan memiliki pengaruh positif dan negatif bagi siswa. Saran bagi guru harus memiliki pengetahuan yang banyak tentang keterampilan memberikan penguatan agar dapat menerapkannya dengan baik.

Efek rhodamine B yang diberikan selama masa organogenesis terhadap perkembangan embrio mencit (Mus musculus) galur Balb-C / Syarifatul Hidayah

 

Kata kunci: rhodamine B, perkembangan embrio, mencit Rhodamine B adalah zat warna sintetik berbentuk serbuk kristal berwarna kehijauan, berwarna merah keunguan dalam bentuk terlarut pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsentrasi rendah. Rhodamine B awalnya digunakan sebagai pewarna tekstil, kertas dan cat, akan tetapi sering disalahgunakan untuk pewarna makanan. Pemberian rhodamine B pada mencit Galur Australia dengan dosis 150 ppm, 300 ppm, dan 600 ppm menyebabkan terjadinya nekrosis sel hati dan desintegrasi atau disorganisasi jaringan di sekitarnya (Siswati dan Slamet, 2000). Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek rhodamine B yang diberikan selama masa organogenesis terhadap perkembangan embrio mencit (Mus musculus) Galur Balb-C. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan berupa pemberian rhodamine B dengan taraf dosis, yaitu 0 (kontrol); 150; 300; 450 dan 550 mg/kg berat badan/hari, masing-masing dengan 6 ulangan. Rhodamine B yang dilarutkan dalam akuades diberikan pada mencit secara oral dengan alat gavage selama periode organogenesis (hari kebuntingan ke 7 s.d. 16). Mencit kontrol diperlakukan dengan akuades menggunakan cara yang sama. Mencit dibedah pada hari kebuntingan ke-18 dan dilakukan pengamatan mengenai jumlah implantasi, jumlah kematian intrauterus, jumlah anak sekelahiran, berat fetus hidup dan kelainan struktur, sedangkan untuk mengetahui keterlambatan penulangan rangka dilakukan dengan pewarnaan Alizarin red S. Data yang terkumpul dianalisis dengan Oneway Anova pada taraf uji 0,05 dan bila terdapat pengaruh, dilakukan uji lanjut Tukey HSD untuk mengetahui besar dosis rhodamine B yang memberikan pengaruh signifikan. Hasil penelitian ini adalah rhodamine B mulai dosis 150 mg/kg berat badan/hari memberikan efek terhadap perkembangan embrio dalam hal memperkecil jumlah implantasi, jumlah anak sekelahiran dan berat fetus, memperlambat penulangan badan vertebra sakrokaudalis dan falangs median kaki belakang fetus mencit. Rhodamine B mulai dosis 300 mg/kg berat badan/hari memberikan efek terhadap perkembangan embrio dalam hal memperlambat penulangan median kaki depan dan distal kaki belakang. Rhodamine B mulai dosis 450 mg/kg berat badan/hari memberikan efek terhadap perkembangan embrio dalam hal meningkatkan terjadinya resorpsi embrio mencit. Rhodamine B dengan dosis 500 mg/kg berat badan/hari memberikan efek memperlambat penulangan metakarpal, falangs, dan distal kaki depan, maupun falangs kaki ii belakang. Rhodamine B sampai dengan dosis 500 mg/kg berat badan/hari tidak memberikan efek terhadap kematian fetus intrauterus, penulangan metatarsal, lumbar dan sternum, struktur sternum, rusuk vertebra torakalis dan vertebra torakalis. Kesimpulan penelitian ini adalah ada efek rhodamine B yang diberikan selama periode organogenesis terhadap perkembangan embrio mencit (Mus musculus) Galur Balb-C. Efek rhodamine B berupa: memperkecil jumlah implantasi, jumlah anak sekelahiran dan berat fetus, memperlambat penulangan badan vertebra sakrokaudalis dan falangs median kaki belakang fetus mencit (mulai dosis 150 mg/kg berat badan/hari), memperlambat penulangan median kaki depan dan distal kaki belakang (mulai dosis 300 mg/kg berat badan/hari), meningkatkan terjadinya resorpsi embrio mencit (mulai dosis 450 mg/kg berat badan/hari), memperlambat penulangan metakarpal, falangs, dan distal kaki depan, maupun falangs kaki belakang fetus mencit (dosis 500 mg/kg berat badan/hari)

The use of videocast to improve listening skill of english departement student of STAIN Palopo / Syamsudarni

 

Thesis, Graduate Program in English Language Education, State Universtiy of Malang. The Advisors: (1) Prof. Bambang Yudi Cahyono, M.Pd., M.A., Ph.D., (2) Fachrurrazy, M.A., Ph.D. Key words: Videocast, listening skill, STAIN Palopo The development of technology has influenced English teachers and students to improve their abilities in utilizing the technology in the teaching and learning process. Teachers have strong demand to utilize the information technology from the Internet as medium in the application of classroom teaching process. Because the use of technology has an important role as teaching and learning aid, Videocast is proposed to solve some problems encountered in the teaching of listening skill. The preliminary study conducted at STAIN Palopo, South Sulawesi, showed that the ability of the students in listening skills such as note taking, finding main ideas, finding detail information, and summarizing still far from what was expected by the curriculum. To solve these problems, the researcher used Videocast as an instructional medium by implementing three steps in the teaching of listening, i.e. pre-listening, whilst-listening, and post-listening activities. This study utilized a collaborative action research design in which the researcher and the collaborative teacher worked together in designing the lesson plan, implementing the action, observing the action, and making reflection. The subjects of the study were the fourth semester students of English Department in State College for Islamic Studies (STAIN) Palopo in the academic year 2009/2010. This study was conducted in two cycles by following the procedure of the action research i.e. planning, implementing, observing, and reflecting. The instruments for collecting data consist of test, field notes, observation sheets, and questionnaire. The activities performed in the pre-listening step using Videocast were: giving explanation about the objective and assigned tasks, showing students the video screen, finding some important words, brainstorming on the topic learnt, setting the students into groups of five, and giving models of expression. In whilst-listening, the activities were: playing an English Videocast while doing note taking and discussing the main idea of the topic, playing again the Videocast while continuing the note taking activity and then discussing for finding detail information and summarizing, asking students’ opinion and then checking and discussing their answers. Post-listening activities were conducted by reviewing on the grammatical/structural rules and asking students’ feedback. As extensive listening, the follow-up activities were conducted by asking students to listen two new topics downloaded from thr Internet and then answering the worksheets about note taking, finding main ideas, finding detail information, and summarizing for each meeting. The findings of the study show that the use of Videocast can improve the students’ listening skill. The improvement can be seen in the increased score of the students’ listening from the preliminary study and the score after the implementation of the teaching of listening using Videocast in Cycle 2. The students’ average score in the preliminary study was 66.23, while the average score in the end of implementation of this study was 74. More specifically, there were 26 students (86.7%) got higher than or equal to 61 in the end of the study while in preliminary study 17 of the students (56.6%) got the score higher or equal to 61. Despite the score of the students’ improvement in listening skill, the findings also indicated that the students had positive responses and were actively involved in the teaching of listening using Videocast. The average score of students’ responses was 86.27% and the average score of students’ involvement was 80.3% From the findings, the following suggestions are proposed to the English teachers and for further researcher. English teachers are suggested to implement the teaching of listening using Videocast. This instructional media can be used as both intensive listening and extensive listening activities to retain the message that has been heard longer. The teachers should provide a variety of appropriate materials according to their level and provide various strategies in order to improve the learning process and results. In addition, the duration of Videocast playing should be made appropriate with the students’ level. Further researchers can conduct more intense research study by developing Videocast materials which are downloaded from the Internet by considering the students’ level and their interest using different research design such as Research and Development (R & D) design. Developing their research on the use of Videocast in integrated way is also possible. In addition, one of the Videocast facilities is that the students can record themselves to speak in front of the computer and then other students can access their performance through the Internet. Researchers are recommended to develop this research by using the recording system of Videocast in the Internet to improve the students’ interest and their speaking skill.

Perancangan media komunikasi visual suplemen zingrow sebagai upaya pengenalan produk baru dan pemantapan positioning program peninggi badan fastep / Althofur Rohman

 

Kata kunci: Perancangan media komunikasi, Produk Suplemen, pemantapan positioning, peninggi badan Faktor tinggi badan pada dewasa ini bagi sebagian orang menjadi sebuah masalah tersendiri. Beberapa posisi pekerjaan atau profesi seperti pramugari, pramuniaga, sekretaris, model, hingga bidang kemiliteran mencantumkannya sebagai salah satu syarat. Fenomena tersebut merupakan peluang yang segera direspon oleh berbagai pihak. Pada awal tahun 1992 di Indonesia mulai banyak bermunculan produk-produk peninggi badan buatan China berbentuk Tablet yang mengklaim dapat menambah tinggi badan FASTEP adalah sebuah produk peninggi badan milik CV Adi Wibawa yang didukung oleh suplemen khusus dengan merk Nature Strenght yang mulai dipasarkan semenjak tahun 1996. Pada tahun 2006 kemudian Nature Strenght digantikan oleh Zingrow produk dari AMERIKAL, sebuah perusahaan di Amerika yang memproduksi obat-obatan dan suplemen. Sebagai sebuah merk baru , hal yang mutlak harus dilakukan untuk Zingrow adalah mengenalkan dan mengkomunikasikannya kepada konsumen dan calon konsumen. FASTEP sebagai sebuah program peninggi badan yang lengkap dan sesuai dengan slogannya yaitu Fast, Secure, Easy and Enjoy, adalah produk yang berada pada fase pertumbuhan. Pada fase ini untuk mempertahankan pertumbuhan pasar yang pesat selama mungkin serta untuk mempersempit peluang pesaing, perusahaan menggunakan beberapa strategi pemantapan positioning yang diwujudkan melalui diferensiasi dan pengembangan saluran distribusi produk yang berwujud pada distribusi sub produk FASTEP yaitu Zingrow pada apotek serta gerai-gerai penjual obat dan suplemen. Strategi ini dilakukan salah satunya karena pesaing FASTEP seperti Ortopedi dan Nature Height menggunakan saluran distribusi yang sama dengan FASTEP yaitu melalui mail order. Rumusan masalah dalam perancangan ini adalah Bagaimana rancangan serta aplikasi yang tepat dan menarik untuk media promosi dan komunikasi visual suplemen Zingrow yang dapat membantu memantapkan positioning FASTEP sebagai produk induk. Perancangan ini menggunakan model prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Sedangkan data untuk perancangan ini diperoleh melalui 4 cara yaitu: (1) Observasi, (2) Interview, (3) Survey, dan (4) Studi kepustakaan. i Dari data yang telah dianalisis, maka produk yang dihasilkan berupa media komunikasi visual yang terdiri dari Above the Line media berupa (1) Poster, (2) Iklan display media massa, (3) Frontlite, dan (4)Neonbox. Below The Line media berupa (1) Kalender, (2) Rak Display, (3) Leaflet, dan (4) Mini X Banner. Ambience media berupa (1) media Lift dan (2) Eskalator.

Pelaksanaan strategi pelayanan untuk meningkatkan volume penjualan Smesco Mart koperasi Unit Desa Batu / Teguh Wahyu Kartika

 

Kata kunci: Strategi Pelayanan, Volume Penjualan Dewasa ini persaingan dalam dunia bisnis semakin ketat dan banyak perusahaan yang dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen atau pelanggannya dalam memenuhi semua keinginan konsumen. Konsumen merupakan hal yang penting untuk kelangsungan sebuah perusahaan, oleh karena itu mempertahankan konsumen sangatlah perlu dilakukan oleh sebuah perusahaan, agar kesuksesan sebuah perusahaan dapat tercapai. Berdasarkan hal tersebut pelayanan merupakan landasan dasar yang memperkuat keseluruhan proses pemasaran untuk dapat terus berjalan. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan mendeskripsikan Pelaksanaan Strategi Pelayanan Untuk Meningkatkan Volume Penjualan Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu. Untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan Strategi Pelayanan Untuk Meningkatkan Volume Penjualan Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu. Ada tiga masalah yang diamati, yaitu: (1) Strategi Pelayanan yang diberikan Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu; (2) Pelaksanaan Strategi Pelayanan Untuk Meningkatkan Volume Penjualan Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu; (3) Kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan strategi pelayanan yang diberikan oleh Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu; (4) Cara mengatasi kendala yang terjadi dalam pelaksanaan strategi pelayanan yang diberikan oleh Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu. Hasil dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) menunjukkan bahwa: (1) Strategi pelayanan yang dilakukan oleh Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu yaitu dengan memberikan service excellence yang meliputi kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan. Koperasi ini sangat mengutamakan pelayanannya, karena kualitas pelayanan memiliki hubungan erat dengan kepuasan konsumen sehingga terciptanya loyalitas konsumen dapat berpengaruh terhadap Volume Penjualan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah: Bukti Fisik/Tangibles, Keandalan/Reliability, Daya Tanggap/Responsiveness, Jaminan/Assurance, Empati/Emphaty. (2) Pelaksanaan strategi pelayanan dapat meningkatkan Volume Penjualan Koperasi, pelaksanaan strategi pelayanan dapat memberikan kepuasan konsumen dan dapat menciptakan loyalitas konsumen, berpotensi menjadi penghasilan masa depan, menumbuhkan rekomendasi “Getok Tular” positif, meningkatkan Volume Penjualan Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu. (3) Kendala-kendala yang sering terjadi dalam pelaksanaan pelayanan. Kurangnya tempat duduk dan meja di depot susu Smesco Mart, tugas yang sangat padat membuat pegawai kurang memuaskan konsumen karena rasa capai. (4) Memperluas tempat yang ada dan menambah jumlah kursi dan meja yang sekarang ini ada, selalu mengawasi segala pelayanan yang diberikan pegawai terhadap konsumen. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis, maka saran yang ingin disampaikan penulis kepada Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu, adalah: (1) Hendaknya Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu memperluas lokasi, menambah tempat duduk dan kursi agar dapat menampung pengunjung yang semakin bertambah. Hal ini dirasa penulis dapat memberikan rasa nyaman terhadap konsumen yang terus bertambah. (2) Berdasarkan pengamatan yang didapat oleh penulis selama PKL hendaknya pihak Smesco Mart Koperasi Unit Desa Batu selalu memantau pegawai dalam memberikan pelayanan, karena pelayanan yang memuaskan sangat berpengaruh sekali terhadap kelangsungan koperasi dan Volume Penjualan koperasi.

Analisis sektor-sektor ekonomi dalam rangka pengembangan kebijakan perekonomian kota Blitar / Amin

 

Kata kunci : Pembangunan Daerah, Produk Domestik Regional Bruto, Location Quotient (LQ), Kontribusi Sektoral, Model Rasio Pertumbuhan (MRP), dan Klaassen Typology. Pemilihan strategi yang tepat untuk mengembangkan sektor-sektor ekonomi yang berpotensi menjadi unggulan (leading sector) perlu untuk dikaji. Hal ini disebabkan karena sektor unggulan memegang peranan penting sebagai penggerak utama dalam dinamika perekonomian daerah. Dengan strategi yang tepat, kebijakan yang diambil dapat mengoptimalkan seluruh potensi dari masing-masing sektor tersebut. Harapannya adalah akan terjadi akselerasi pembangunan yang pada akhirnya dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Kota Blitar. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) Sektor-sektor ekonomi manakah yang berpotensi menjadi unggulan (leading sector) dan berkontribusi besar dalam pembangunan ekonomi Kota Blitar?. (2) Kebijakan pembangunan ekonomi yang bagaimanakah yang sesuai untuk akselerasi pembangunan Kota Blitar?. Tujan penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi dan menganalisis sektor-sektor ekonomi yang berpotensi menjadi unggulan (leading sector) dan berkontribusi besar dalam pembangunan ekonomi Kota Blitar (2) Mengidentifikasi dan menganalisis kebijakan pembangunan ekonomi yang sesuai untuk akselerasi pembangunan Kota Blitar. Variabel dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha dengan rentang waktu tahun 2004-2008. Alat analisis yang digunakan adalah analisis Location Quotient (LQ), Kontribusi Sektoral, Model Rasio Pertumbuhan (MRP), dan Klaassen Typology. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Berdasarkan analisis Location Quotient (LQ), sektor jasa-jasa merupakan sektor basis di samping empat sektor lainnya yaitu sektor konstruksi, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan sektor pengangkutan dan komunikasi, (2) Berdasarkan kontribusi sektoral pembentuk PDRB Kota Blitar, sektor yang memiliki kontribusi paling besar adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, kemudian disusul sektor jasa-jasa dan sektor angkutan dan komunikasi, (3) Berdasarkan analisis Model Rasio Pertumbuhan (MRP), sektor industri pengolahan merupakan sektor yang mempunyai laju pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan sektor yang sama di Jawa Timur. Selain sektor industri pengolahan, ada tiga sektor lainnya yang memiliki laju pertumbuhan lebih tinggi dibanding ii sektor yang sama di Jawa Timur yaitu sektor listrik, gas dan air bersih, sektor jasa-jasa dan sektor konstruksi, (4) Berdasarkan analisis Klaassen Typology, sektor jasa-jasa merupakan sektor yang maju dan tumbuh dengan pesat di samping dua sektor lainnya yaitu sektor konstruksi, dan sektor listrik, gas dan air bersih. Dengan demikian, dalam menentukan prioritas pembangunan, harus mempertimbangkan sisi internal dan eksternal masing-masing sektor. Sisi internal dilihat dari besarnya kontribusi sektor terhadap PDRB. Sedangkan sisi eksternal dilihat dari sisi laju pertumbuhan dan tingkat kebasisan masing-masing sektor. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian di atas yaitu: (1) Penetapan kebijakan pembangunan dan pengembangan sektoral perekonomian daerah hendaknya lebih memprioritaskan sektor yang berpotensi menjadi unggulan (leading sector) untuk dikembangkan sebagai lokomotif pendorong pertumbuhan perekonomian daerah. Meskipun demikian, sektor-sektor lainnya yang bukan merupakan unggulan tetap mendapat perhatian secara proporsional sesuai dengan potensi dan peluang pengembangannya, (2) Pembangunan di Kota Blitar dengan pendekatan pembangunan sektoral dengan memperhatikan sektor yang berpotensi menjadi unggulan (leading sector), maka akan diperoleh kebijakan pembangunan yang sesuai dengan kondisi dan potensi daerah serta lebih memberikan prioritas pembangunan di tiap-tiap sektor, (3) Hendaknya Kota Blitar dijadikan sebagai Kota Industri dan Jasa Unggulan. Hal ini mengacu pada hasil penelitian dan fakta empiris yang ada. Kedua sektor tersebut merupakan leading sector. Dengan demikian sudah sepatutnya jika arah pembangunan Kota Blitar diarahkan pada pengembangan kedua sektor tersebut.

Penerapan strategi pelayanan untuk meningktkan kepuasan pelanggan pada PT. PLN (Persero) distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Malang Kota / Dedi Iskandar

 

Tugas Akhir ini ditulis dengan maksud untuk mendiskripsikan pelayanan jasa demi mempermudah dalam memberikan pelayanan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota kepada pelanggan sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan. Penulis mengambil beberapa tujuan penulisan dalam penulisan tugas akhir ini, antara lain adalah (1) Bentuk-bentuk pelayanan pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota, (2) Bagaimana strategi pelayanan yang digunakan PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota, (3) Faktor penghambat dan pendukung dalam memberikan pelayanan di PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota. Hasil penelitian dari praktik kerja lapangan menunjukkan bahwa (1) Bentuk-bentuk Pelayanan pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota adalah pemberian Pelayanan Informasi, pelayanan Permintaan Penyambungan Baru, pelayanan Permintaan Perubahan Daya, Pelayanan Permintaan berhenti Sebagai Pelanggan, Pelayanan Permintaan Perubahan Nama Pelanggan, Pelayanan Permintaan Perubahan Golongan Tarif, Pelayanan Permintaan Penyambungan, Pelayanan Pembayaran Tagihan Susulan Dari Penerbitan Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), Pelayanan Permintaan Pemutusan Sementara Dan Kemudian Meminta Dipasang Kembali, Pembongkaran Sambungan Tenaga Listrik Tanpa Penyambungan Kembali, Pelayanan Pengaduan Pelanggan, Pelayanan Permintaan Pembayaran Kembali (Restitusi), Pelayanan Permintaan Angsuran, Pelayanan Pembayaran Dimuka Rekening Listrik. (2) Strategi Pelayanan pada PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Malang Kota sebagai berikut strategi Relationship Marketing, strategi Superior Customer Service, strategi Uncondotional Guarantees/ Extraordinary guarantees, strategi Penanganan Keluhan, serta strategi Peningkatan Kinerja. (3) Faktor Pendukung Pelayanan Pada PT. PLN (Persero) UP Malang Kota adalah fasilitas sarana dan prasarana yang memadai dan canggih seperti AMR, SIGO, serta customer service yang akan memudahkan pelayanan pelanggan, adanya tim khusus PDKB, dan lokasi kantor yang strategis. Faktor penghambat pelayanan pada PT.PLN (Persero) UP Malang Kota adalah sumber daya karyawan yang belum optimal sehingga mengakibatkan tujuan pelayanan pelanggan menjadi terhambat dan sarana transportasi yang kurang sehingga menyebabkan lambatnya penanganan pengaduan pengaduan gangguan. Strategi pelayanan merupakan hal yang sangat penting karena strategi yang baik dapat mencapai tujuan dari perusahaan. Dengan menerapkan strategi pelayanan pelanggan yang meliputi strategi Relationship Marketing, strategi Superior Customer Service, strategi Unconditional Guarantess/ Extraordinary guarantees, strategi penanganan keluhan, serta strategi peningkatan kinerja diharapkan dapat meningkatkan pelayanan semaksimal mungkin guna mencapai kepuasan pelanggan. Faktor pendukung dalam pelayanan adalah didukungnya fasilitas sarana yang memadai dan canggih seperti SIGO, AMR, serta customer service yang akan memudahkan pelayanan kepada pelanggan. Akan tetapi masih terdapat faktor-faktor penghambatnya yakni kurangnya kinerja pegawai yang diakibatkan dari sumber daya pegawai yang masih minim, belum meratanya penggunaan fasilitas pelayanan seperti PRAQTIS serta kurangnya koordinasi dan komunikasi antara operator dengan petugas lapangan yang kurang baik sehingga menimbulkan keterlembatan dalam penanganan keluhan yang akan merugikan perusahaan. Berdasarkan praktik kerja lapangan yang dilakukan penulis, maka saran yang ingin disampaikan penulis kepada PT. PLN (PERSERO) Unit Pelayanan Malang Kota adalah (1) PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota hendaknya memiliki strategi khusus dalam hal mengatasi masalah bentuk-bentuk pelayanan yang sering dikeluhkan seperti pelayanan pasang baru, pelayanan penambahan daya, pelayanan pemberian informasi, pelayanan pengaduan pelanggan, (2) PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota hendaknya tidak memfokuskan strateginya hanya pada strategi pembayaran, (3) PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota seharusnya dapat lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusianya sehingga tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan menurunnya kepuasan pelanggan dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya PT. PLN (Persero) dapat melakukan peremajaan karyawan sehingga dapat mengurangi karyawan yang sudah tidak produktif dan menerapkan seleksi yang ketat agar dapat memperoleh sumber daya manusia yang benar-benar berkualita

Faktor-faktor yang mempengaruhi wisatawan berkunjung di obyek wisata Roro Kuning Kabupaten Nganjuk / Yunus Harioko

 

Kata Kunci: faktor pariwisata, atraksi wisata, aksesbilitas, keramahtamahan, kenyamanan, wisatawan berkunjung. Era reformasi yang mulai dilaksanakan sejak tahun 1999 menjadikan kebijakan pemerintah berubah dari sentralisasi menjadi dentralisasi. Sebagai salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur, Nganjuk merupakan salah satu daerah otonom yang memiliki kebijakan dalam mengelola rumah tangganya sendiri. Salah satu potensi yang dimiliki wilayah Kabupaten Nganjuk adalah sektor pariwisata. Faktor atraksi wisata, aksesbilitas, keramahtamahan dan kenyamanan. Faktor-faktor ini menjadi sangat penting untuk diteliti karena seorang wisata datang berkunjung ke tempat wisata karena ingin menikmati atraksi wisata yang disajikan, aksesbilitas sebagai sarana untuk dapat mencapai lokasi wisata, keramahtamahan sebagai bagian dari perilaku dan kesan yang diberikan oleh lokasi wisata yang dirasakan oleh wisatawan ketika berkunjung serta kenyamanan menjadi sangat penting karena wisatawan berkunjung agar mendapatkan kenyamanan. Minat berperilaku adalah suatu proporsi yang menghubungkan diri dengan tindakan yang akan datang. Perilaku dari wisatawan mengenai keinginan untuk berkunjung kembali pada lokasi tujuan wisata yang sama atau berharap untuk merekomendasikan lokasi tujuan wisata yang dikunjungi kepada orang lain dimasa yang akan datang. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh atraksi wisata (X1), aksesbilitas (X2), keramahtamahan (X3), kenyamanan (X4) terhadap wisatawan berkunjung (Y) di objek wisata Roro Kuning Kabupaten Nganjuk. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasional. Populasi yang dipilih adalah wisatawan yang sedang berkunjung di objek wisata Roro Kuning Kabupaten Nganjuk dengan sampel sebanyak 100 orang. Pengambilan sampel penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode accidental sampling, dan metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Hasil dari analisis yang didapat melalui penyebaran kuesioner menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara atraksi wisata (X1), keramahtamahan (X3) dan kenyamanan (X4) terhadap wisatawan berkunjung di objek wisata Roro Kuning Kabupaten Nganjuk (2) tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara aksesbilitas terhadap wisatawan berkunjung di objek wisata Roro Kuning Kabupaten Nganjuk. Saran yang dapat direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian yang didapatkan adalah: Kepada Dinas terkait (1) terus berupaya untuk mengembangkan objek wisata Roro Kuning dengan menambah atraksi wisata (2) meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan (3) memperbaiki akses jalan dan sarana transportasi. Penelitian berikutnya yang ingin meneliti lebih jauh lagi tentang kepariwisataan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi wisatawan berkunjung sebaiknya meneliti faktor-faktor yang tidak diteliti dalam penelitian ini atau melakukan penelitian yang lebih mendalam dengan faktor yang lebih beragam agar khasanah keilmuan lebih banyak dan menemukan hal yang baru dalam dunia kepariwisataan.

Penerapan cooperative learning model two stay two stray (TSTS) untuk meningkatkan hasil belajar geografi kompetensi dasar menjelaskan pemanfaatan sumber daya alam secara arif pada siswa kelas XI 18-4 SMA Negeri 2 Malang / Geo Sukma Mardali Prihatmoko

 

Kata kunci: cooperative learning, model two stay two stray (TSTS), hasil belajar. Observasi awal diketahui bahwa metode pembelajaran Geografi yang dilakukan di SMA Negeri 2 Malang adalah ceramah, pemberian tugas, dan kerja kelompok. Metode yang digunakan masih kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa cenderung hanya menerima apa yang diberikan oleh guru. Dalam kegiatan diskusi kelompok, selama ini belum pernah diterapkan diskusi yang mengembangkan pengetahuan siswa, hal ini menyebabkan hasil belajar siswa rendah. Hal itu terlihat dari hasil belajar siswa dengan ketuntasan klasikal sebesar 62% dan rata-rata kelasnya sebesar 71,86. Jumlah ketuntasan belajar siswa itu kurang dari standar ketuntasan minimal (SKM) untuk mata pelajaran Geografi sebesar > 75 dan ketuntasan belajar klasikalnya sebesar ≥ 85%. Hasil belajar tersebut perlu ditingkatkan dengan menerapkan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS), karena model ini mengajak siswa untuk lebih aktif dan dapat mengembangkan pengetahuan siswa, sehingga dengan diskusi yang mengembangkan pengetahuan siswa, diharapkan pengetahuan siswa akan bertambah, dan hasil belajarnya juga meningkat. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, maka penelitian ini dirancang dengan model penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada bulan Nopember–Desember 2009. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI IS-4 yang berjumlah 38 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, Teknik pengumpulan data melalui tes. Tindakan yang dilakukan yaitu pembelajaran kooperatif model two stay two stray (TSTS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan mulai dari pra tindakan ke siklus 1 dan siklus 1 ke siklus 2. Rata-rata hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 71,86 pada siklus 1 meningkat menjadi 74,4 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 82,81. Ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan, pada proses pembelajaran pra tindakan sebesar 62%, siklus 1 sebesar 74%, dan pada siklus 2 menjadi 91%. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan: (1) Bagi guru geografi agar menggunakan model two stay two stray untuk meningkatkan hasil belajar siswa. (2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian sejenis dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran kooperatif model two stay two stray dengan subjek penelitian yang berbeda.

Pengaruh kompensasi finansial dan non finansial terhadap produtivitas kerja karyawan (Studi pada karyawan produksi bagiab linting PR. Jaya Makmur Malang) / Indra Kusuma Wardhana

 

Kata Kunci : religiusitas, remaja, delinkuensi Saat ini kenakalan remaja atau juvenile delinquency mulai marak ditemukan di mana saja. Banyak pakar merumuskan penyebab dan faktor pembentuk perilaku yang mulai marak ini serta mencari penanganan permasalahan ini. Salah satu aspek yang disoroti adalah rendahnya religiusitas yang dimiliki oleh remaja delikuen, sehingga tidak mampu mengontrol perilaku menyimpang tersebut. Disinilah penelitian akan difokuskan pada pengungkapan religiusitas yang terbentuk pada remaja delinkuensi di SMA Islam Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Islam Malang. Seluruh subyek didapatkan dengan metode Purpossive sampling. Kriteria subyek penelitian, yaitu: remaja usia 16-19 tahun, melakukan delinkuensi pada saat sekarang, merupakan siswa di SMA Islam Malang dan bersedia menjadi partisipan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan induksi, reduksi data, kategorisasi dan sintesisasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui cara (1) memperpanjang masa keikutsertaan peneliti di lokasi penelitian, (2) membandingkan data hasil wawancara dengan data hasil pengamatan, dan (3) triangulasi sumber yaitu mengkonfirmasikan data yang didapat dari subyek primer dengan subyek sekunder seperti guru BK dan teman satu geng, Hasil penelitian ini mendapatkan tiga bentuk delinkuensi yang dilakukan pada lima remaja di SMA Islam Malang, yaitu delinkuensi situasional, sistematis, dan kumulatif. berdasarkan ketiga bentuk delinkuensi tersbut ditemukan dua tingkat delinkuensi yaitu biasa dan khusus. Faktor perilaku delinkuensi remaja membedakan religiusitas diantara remaja delinkuensi, terutama pada aspek pelanggaran. Peneltian ini menemukan tiga aspek religiusitas yang terjadi pada remaja delinkuensi di SMA Islam Malang, yaitu aspek ketahanan pada konflik, aspek pelanggaran, dan aspek konsekuensi. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan kepada murid SMA Islam Malang, yaitu (1) Lebih banyak mengkaji ajaran dan nilai Islam dengan berdiskusi atau berdialog, (2) Berlatih menyelesaikan konflik yang terjadi dalam diri remaja dengan cara mengkaitkan antara masalah dan tuntunan dalam Islam. Disamping itu penanaman religiusitas pada remaja delinkuensi dengan cara berdialog bukan dengan cara dogmatis serta ancaman atau hukuman.

Perbaikan nilai moral melalui model pembelajaran VCT siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar / Agus Wiji Lestari

 

Kata kunci: pembelajaran, nilai moral, VCT. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat membantu siswa dalam me-mahami suatu materi pelajaran. Maka dari itu dilakukan penelitian yang mengang-kat tentang perbaikan nilai moral siswa kelas V melalui penggunaan model pem-belajaran VCT dalam pembelajaran PKN di SDN Ngeni 08 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan mendeskripsikan pelak-sanaan pembelajaran PKn di SDN Ngeni 08 Kecamatan Wonotirto pada tahap pra tindakan, mengetahui dan mengungkap penerapan model pembelajaran VCT pa-da mata pelajaran PKn dalam memperbaiki nilai moral bagi siswa kelas V SDN Ngeni 08 dan mengetahui dan mengungkap pelaksanaan pembelajaran PKn dalam menanamkan nilai moral bagi siswa kelas V SDN Ngeni 08. Pelaksanaan pembelajaran PKN pada pratindakan dilakukan dengan meng-gunakan metode ceramah. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran PKN pada siklus I dan siklus II dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran VCT. Stimu-lus yang diberikan pada siklus I berupa sebuah cerita yang memuat nilai moral. Sedangkan pada siklus II stimulus yang diberikan berupa cerita yang harus dipe-rankan secara langsung oleh siswa. Hasil analisis data menunjukkan pelaksanaan pembelajaran PKN menggunakan model pembelajaran VCT dapat meningkatkan penanaman nilai moral pada siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar. Rata-rata hasil belajar siswa pada tahap pratindakan mencapai 62,73% me-menuhi kriteria keberhasilan cukup baik. Hasil belajar siswa pada siklus I mening-kat menjadi 66,36 % dan memenuhi kriteria cukup baik. Siklus II menunjukkan pe-ningkatan hasil belajar siswa yaitu menjadi 76,36 % dan telah mencapai krite-ria baik. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran VCT dapat me-ningkatkan penanaman nilai moral siswa, yaitu pada tahap pra tindakan men-capai persentase 51,45% sedangkan pada siklus I mencapai persentase 69 % dan pada siklus II mencapai 84,82%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bahwa pembelajaran PKN dengan menerapkan model pembelajaran VCT dapat meningkatkan penana-man nilai moral pada siswa kelas V SDN Ngeni 08 Kecamatan Wonotirto Kabu-paten Blitar. Oleh karena itu disarankan agar model pembelajaran VCT ini digu-nakan dalam mata pelajaran lain yang memerlukan penanaman nilai moral pada siswa.

Peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas V dengan pendekatan penemuan terbimbing di SDN Kedungrejo V Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk / Katinem

 

Kata Kunci : IPA SD, Hasil Belajar IPA, Pendekatan Penemuan Terbimbing. Hasil pengamatan pendahuluan proses pembelajaran IPA yang berlangsung di kelas V SDN Kedungrejo V menunjukkan guru menjelaskan materi dengan metode ceramah dan pemberian tugas, sehingga diperoleh gambaran pembelajaran yang kurang efektif. Penggunaan metode ceramah berlebihan dapat menyebabkan siswa jenuh, membosankan dan tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Pada pembelajaran ini suasana kelas cenderung teacher-centered sehingga siswa menjadi pasif. Untuk memecahkan masalah ini dilakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan menerapkan pendekatan penemuan terbimbing.. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan rancangan PTK. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (1) Tes, (2) Observasi, (3) Dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah (1) Peneliti sendiri merupakan instrumen utama (2) Pedoman Observasi, (3) Kamera, (4) Lembar tes. Hasil analisis data menunjukkan bahwa: peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran pada siklus I sebesar 61% dan pada siklus II sebesar 90% dari 6 unsur yang diamati. Peningkatan persentase kerjasama siswa dalam diskusi kelompok pada siklus I dan siklus II yang meliputi : a) siswa dapat melakukan percobaan secara runtut sesuai langkah kerja dengan semua pada siklus I sebesar 35%, dan pada siklus II sebesar 60%, b) siswa melakukan percobaan runtut tapi ada yang salah pada siklus I sebesar 30%, dan pada siklus II sebesar 25%, c) siswa melakukan percobaan secara tidak runtut pada siklus I sebesar 25%, dan pada siklus II sebesar 15%, d) siswa tidak melakukan percobaan pada siklus I sebesar 10%, dan pada siklus II tidak ada siswa yang tidak melakukan percobaan. Hasil belajar siswa dengan skor rata-rata 54,5 (pra tindakan), 68 (siklus I), 84,5 (siklus II). Dilihat dari persentase daya serap siswa juga meningkat dari 25% (pra tindakan), 65% (siklus I), 90% (siklus II). Sedangkan dari ketuntasan belajar maka terjadi penurunan jumlah dari siswa yang berkreteria belajar rendah dan sangat rendah 15 (pra tindakan), 7 (siklus I), dan 2 (siklus II).. Kesimpulan dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah penerapan pendekatan penemuan terbimbing dalam pembelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Kedungrejo V Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Disarankan supaya guru dalam mengajar mata pelajaran IPA maupun mata pelajaran yang lain, hendaknya mencoba menggunakan strategi belajar dengan pendekatan penemuan terbimbing.

Penggunaan messy play dalam upaya meningkatkan kecerdasan naturalis pada anak kelompok B di RA persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Aida Rika Sari

 

Kata Kunci: Penggunaan Messy Play, kecerdasan naturalis Peningkatan kecerdasan naturalis melalui penggunaan Messy Play di RA Persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan pada anak usia 5-6 tahun/kelompok B masih sangat rendah, utamanya dalam hal membuat gambar menggunakan teknik kolase dengan berbagai media, mengungkapkan asal mula terjadinya sesuatu dan membuat berbagai bentuk dengan playdough/finger painting. Dari pengalaman-pengalaman yang terjadi, dilakukan penelitian tindakan kelas dengan penggunaan Messy Play sebagai upaya meningkatkan kecerdasan naturalis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan Messy Play dalam upaya meningkatkan kecerdasan naturalis, mendeskripsikan peningkatan aktivitas anak melalui penggunaan Messy Play, dan mendeskripsikan peningkatan kecerdasan naturalis dengan menggunakan Messy Play pada anak kelompok B di RA Persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian yang dilakukan melalui dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian yang digunakan adalah anak-anak yang belajar pada semester I tahun 2010-2011 pada Roudlotul Athfal Persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Saat dilakukan pendataan, jumlah subjek penelitian sebanyak 20 anak. Pada pelaksanaan penelitian ini juga melibatkan dua orang, kolaborator sebagai pengamat atau observer. Pada penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi yaitu berupa catatan lapangan, hasil karya dan dokumentasi kecerdasan naturalis melalui penggunaan Messy Play. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis tindakan yaitu dengan meggunakan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II. Hasil analisis data pada siklus 1 mencapai nilai rata 70,2 atau mencapai 50% dan siklus II dengan nilai rata-rata 82,2 atau mencapai 85%, maka penggunaan Messy Play dapat meningkatkan kecerdasan naturalis pada anak usia 5-6 tahun/kelompok B bisa diterima. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang peningkatan kecerdasan naturalis dapat disimpulkan bahwa kecerdasan naturalis pada anak usia 5-6 tahun dapat ditingkatkan melalui pembelajaran melalui penggunaan Messy Play, maka disarankan agar menggunakan Messy Play dalam hal peningkatan kecerdasan naturalis.

Pengaruh suku bunga SBI, kurs rupiah dan anflasi terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) dan Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode Januari 2007-Juni 2010 / Henny Widyawati

 

Kata Kunci: Suku Bunga SBI, Kurs Rupiah, Inflasi, IHSG dan JII. Keputusan dalam menentukan kebijakan investasi sangatlah penting bagi perusahaan. Dengan investasi, investor dapat memperoleh keuntungan berupa capital gain atau deviden serta dana yang mereka miliki tidak akan tergerus inflasi, namun di lain sisi juga dapat menimbulkan risiko ketidak pastian kondisi ekonomi baik itu dari sektor makro maupun mikro ekonomi. Oleh karena itu, investor harus berhati-hati dalam menentukan kebijakan investasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Suku Bunga SBI, Kurs Rupiah dan Inflasi terhadap Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) dan Jakarta Islamic Index (JII) di Bursa Efek Indonesia periode Januari 2007—Juni 2010. Penelitian ini menggunakan populasi lima macam indeks yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Jakarta Islamic Index (JII) tahun Januari 2007—Juni 2010. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dan menghasilkan 2 indeks yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan uji regresi linier dengan nilai α sebesar 5% atau 0.05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi Suku Bunga SBI, Kurs Rupiah dan Inflasi pada umumnya mengalami penurunan dan peningkatan dengan trend yang tidak terlalu tajam. Inflasi mengalami penurunan dengan trend yang cukup tajam, sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik dengan trend yang cukup fluktuatif begitu pula dengan Jakarta Islamic Index (JII). Hal ini menunjukkan adanya gejolak ekonomi yang terjadi dan menyebabkan sektor ekonomi terganggu. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa secara parsial Suku Bunga SBI, Kurs Rupiah berpengaruh terhadap IHSG dan JII akan tetapi inflasi secara parsial tidak berpengaruh terhadap IHSG dan JII, Hasil penelitian secara simultan menunjukkan bahwa Suku Bunga SBI, Kurs Rupiah dan Inflasi berpengaruh terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Jakarta Islamic Index (JII). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan untuk penelitian yang sama di masa yang akan datang, diharapkan dapat memasukkan variabel-variabel lain yang lebih beragam untuk menganalisis variabel-variabel yang mempengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Jakarta Islamic Index (JII), sehingga hasil penelitian dapat lebih baik dan lebih lengkap. iii    

Toksifikasi ikan berformalin yang dipaparkan secara berulang pada mencit (Mus musculus) dan detoksifikasinya menggunakan klorofilin sebagai bahan penyusun buku pendidikan kesehatan / Alfonds Andrew Maramis

 

Disertasi, Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Aloysius Duran Corebima, M.Pd., (II) Prof. Dr. dr. Sumarno, DMM, SpMK, dan (III) Dr. agr. Mohamad Amin, M.Si. Kata kunci: toksifikasi, formalin, detoksifikasi, klorofilin. Formalin masih sering ditemukan terkandung dalam bahan makanan, walaupun penggunaanya sebagai bahan tambahan pangan telah dilarang. Formalin disalahgunakan sebagai pengawet bahan makanan karena harganya yang relatif murah dan penggunaannya yang relatif sederhana. Berdasarkan kenyataan bahwa konsumsi bahan makanan yang terkontaminasi formalin masih sulit dihindari, sehingga perlu untuk meneliti dampak merusak formalin pada setiap tingkat organisasi biologis dari suatu organisme. Perlu juga mengkaji upaya pencegahan kerusakan atau detoksifikasi akibat paparan bahan makanan berformalin tersebut. Upaya pencegahan dilakukan melalui suplementasi suatu bahan alami, yaitu klorofilin. Selanjutnya, hasil dari rangkaian penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan promosi kesehatan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh toksifikasi paparan ikan berformalin pada tingkat molekuler (ekspresi Caspase-9 dan ekspresi HSP70), seluler (apoptosis), dan jaringan (nilai SGOT dan SGPT) dari organ hepar hewan coba mencit (Mus musculus); 2) pengaruh detoksifikasi suplementasi klorofilin; 3) pengaruh model paparan berulang, dan 4) pengaruh bersama dari toksifikasi dan detoksifikasi dengan model paparan berulang. Penelitian ini juga bertujuan menyederhanakan hasil penelitian ke dalam media cetak seperti buku umum atau buku ilmiah populer, sebagai bentuk promosi kesehatan khususnya keamanan pangan bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimental, yang rancangannya mengikuti Rancangan Acak Kelompok Faktorial 4x6. Faktor sebagai variabel bebas terdiri dari faktor waktu dan faktor perlakuan. Faktor perlakuan terdiri dari 6 kelompok, yaitu: kontrol negatif, kontrol positif ikan, kontrol positif formalin, perlakuan ikan berformalin, perlakuan ikan berformalin dan suplementasi klorofilin, dan perlakuan klorofilin. Faktor waktu terdiri dari 4 kelompok, yaitu: hari ke-0, ke-2, ke-14, dan ke-62. Variabel terikat dalam penelitian ini, yaitu: jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi Caspase-9, jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi HSP70, jumlah sel hepar mencit yang mengalami apoptosis, nilai SGOT dan SGPT. Data masing-masing variabel terikat yang didapat, dianalisis menggunakan ANOVA Faktorial dengan tingkat signifikansi 1%. Selanjutnya, dilakukan uji Post Hoc pada faktor-faktor dari masing-masing variabel terikat yang menunjukkan perbedaan signifikan untuk mengetahui perbandingan perbedaan antar tiap kelompok faktor. Uji Post Hoc yang digunakan adalah uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) 1% untuk masing-masing faktor, atau uji Least Significant Difference (LSD) 1% untuk interaksi kombinasi kelompok antar-faktor. Kemudian, data hasil penelitian disusun dan disederhanakan menjadi suatu buku umum atau buku ilmiah populer, yang berfungsi sebagai media dalam promosi kesehatan khususnya keamanan pangan bagi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan formalin (baik dalam bentuk senyawa tunggal maupun dalam bentuk campuran dengan daging ikan) menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi Caspase-9, jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi HSP70, jumlah sel hepar mencit yang mengalami apoptosis, nilai SGOT dan SGPT. Selanjutnya, suplementasi klorofilin mampu menurunkan peningkatan jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi Caspase-9, jumlah sel hepar mencit yang mengalami apoptosis, nilai SGOT dan SGPT, bahkan menormalkan ekspresi HSP70. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa paparan formalin dapat menyebabkan toksifikasi pada tingkat molekuler, seluler dan jaringan dari organ hepar mencit. Selanjutnya, suplementasi klorofilin dapat berperan sebagai detoxifier terhadap toksifikasi yang disebabkan oleh formalin. Model dari paparan berulang berdasarkan kelompok faktor waktu menyebabkan peningkatan jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi Caspase-9, jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi HSP70, dan jumlah sel hepar mencit yang mengalami apoptosis, terkecuali nilai SGOT dan SGPT. Pola dari variabel-variabel yang mengalami peningkatan tersebut pada umumnya sama, yang mana peningkatan telah teramati, bahkan ketika paparan berulang baru memasuki hari ke-2. Selanjutnya, jumlah sel hepar mencit yang mengekspresi Caspase-9 dan mengalami apoptosis, relatif mengalami stagnasi sampai paparan berulang memasuki hari ke-62. Berbeda dengan ekspresi HSP70, setelah mengalami peningkatan pada saat paparan berulang memasuki hari ke-2, dan mengalami stagnasi sampai hari ke-14, ekspresi protein ini mengalami penurunan pada saat paparan berulang memasuki hari ke-62. Penurunan ekspresi HSP70 pada saat paparan berulang memasuki hari ke-62 memperlihatkan bahwa ekspresi HSP70 sebagai bentuk pertahanan seluler bersifat adaptif. Terdapat hubungan yang erat antara ekspresi Caspase-9, ekspresi HSP70, apoptosis, SGOT, dan SGPT. Terekspresinya Caspase-9, terekspresinya HSP70, terjadinya apoptosis, sampai masuknya enzim-enzim fungsional seperti SGOT dan SGPT ke dalam sistem sirkulasi darah, merupakan rangkaian proses toksifikasi yang terjadi secara satu arah dan berurutan mulai pada tingkat molekuler, seluler, sampai jaringan. Dari data hasil penelitian ini dan kajian pustaka yang relevan, disusun sebuah buku yang berjudul “Klorofilin, Penawar Racun Bahan Makanan Berformalin”, menggunakan model pengembangan buku populer. Buku ini merupakan media promosi kesehatan bagi masyarakat umum yang berfokus pada dua konsep utama, yaitu: 1) penyakit yang disebabkan oleh konsumsi bahan makanan, lebih khusus lagi bahan makanan berformalin; dan 2) pencegahan penyakit kronis melalui konsumsi bahan alami klorofilin, yang senyawa asalnya banyak terkandung dalam buah-buahan dan sayur-mayur. Konsep utama informasi kesehatan yang dipromosikan, dikemukakan secara motivasional. Sehingga, masyarakat sebagai sasaran promosi kesehatan tidak hanya mendapatkan informasi kesehatan yang berguna, tetapi juga mendapatkan pelatihan autodidak terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis.

Perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas X SMA Laboraturium Universitas Negeri Malang dengan pembelajaran pemecahan masalah dan pembelajaran ekspositori / Basuki Rahmat

 

Kata kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran Pemecahan Masalah, dan Pembelajaran Ekspositori Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah pemilihan metode pembelajaran yang digunakan dalam penyampaian materi. Selama ini pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru pengajar matematika di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah pembelajaran ekspositori. Salah satu tujuan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kemampuan pemecahan masalah sehingga siswa diharapkan mempunyai keterampilan dalam memecahkan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran pemecahan masalah dan pembelajaran ekspositori. Penelitian ini dilakukan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang yaitu X-1, X-2, X-4, X5, dan X-6. Data hasil belajar diperoleh dari tes hasil belajar pada pokok bahasan jarak dalam ruang dimensi tiga. Hasil uji hipotesis diperoleh nilai probabilitas 0,031 (kurang dari 0,05)yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar kelas kontrol dan kelas eksperimen. Ratarata skor hasil belajar pada kelas kontrol adalah 55,74 dan rata-rata hasil belajar pada kelas eksperimen adalah 62,65. Hal ini berarti hasil belajar pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil ini merupakan akibat dari perlakuan berbeda yang diberikan kepada kedua kelas yang memiliki kemampuan awal yang sama. Jadi, kesimpulan penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa kelas X dengan pembelajaran pemecahan masalah lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa kelas X dengan pembelajaran ekspositori.

Pengaruh penggunaan hypermedia dalam pembelajaran menggunakan strategi siklus belajar terhadap pemahaman dan aplikasi konsep kimia pada siswa SMP dengan dua gaya belajar berbeda / I Made Kirna

 

Disertasi, Program Studi Teknologi Pembelajaran, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wayan Ardhana, M.A., (II) Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd, (III) Dr. Sulthon, M. Pd. Kata kunci: hypermedia, siklus belajar, gaya belajar, pemahaman konsep kimia, aplikasi konsep Belajar pemahaman dalam konteks paradigma baru tidak cukup hanya pada aspek konstruksi mental. Dalam belajar pemahaman, pebelajar diharapkan juga mampu mengaplikasikan pengetahuannya secara fleksibel dan kreatif pada lingkungan atau situasi praktis. Isu penting pembelajaran sains, utamanya kimia, adalah masih rendahnya pemahaman konsep siswa. Sebagian besar siswa pemula, SMP, belajar kimia tidak bermakna sehingga pengetahuannya sulit diaplikasikan. Pembelajaran pemahaman konsep yang sesuai dengan hakekat sains semestinya didorong pada pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri, seperti siklus belajar, namun implementasinya mengalami kendala, utamanya kendala teknis, seperti keterbatasan alat/bahan dan waktu. Di samping itu, pembelajaran pemahaman konsep kimia juga penting mempertimbangkan hakekat kimia yang sifatnya submikroskopis dan visuospatial. Kemajuan teknologi multimedia, seperti hypermedia, sangat potensial dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan teknis implementasi pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri. Fasilitas yang dimiliki oleh hypermedia juga sangat potensial untuk mengoptimalkan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pemahaman konsep. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan hypermedia dalam pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri, yaitu siklus belajar tiga fase. Penelitian ini juga menjelaskan pengaruh pembelajaran menggunakan hypermedia terhadap siswa dengan gaya belajar berbeda. Tujuan penelitian ini adalah: (1) membandingkan efektivitas penggunaan hypermedia dan nonhypermedia (konvensional) dalam pembelajaran menggunakan strategi siklus belajar dilihat dari pemahaman dan kemampuan mengaplikasikan konsep kimia pada siswa SMP, (2) mengkaji pengaruh gaya belajar dimensi verbal-visual terhadap efektivitas penggunaan hypermedia dalam memfasilitasi belajar kimia pada siswa SMP, dan (3) mengkaji interaksi antara strategi penyampaian siklus belajar menggunakan media berbeda (SB-hypermedia dan SB-nonhypermedia) dan gaya belajar (verbal dan visual) terhadap efektivitas pembelajaran kimia pada siswa SMP. Penelitian kuasi eksperimen dengan rancangan pretest-posttest nonequivalent control group design dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Penelitian dilakukan di dua SMP Negeri yang dipilih secara cluster random sampling (multistage) dari populasi SMPN di kota Singaraja, yaitu SMPN 2 dan SMPN 6 Singaraja. Penelitian dilakukan di kelas VII semester I pada tahun akademik 2009/2010. Jumlah siswa yang dilibatkan adalah sebanyak 118 orang yang terdiri dari 53 laki-laki dan 65 perempuan. Data penelitian dikumpulkan menggunakan: (1) tes pemahaman konsep, (2) tes aplikasi konsep, dan (3) angket gaya belajar verbal-visual hasil adaptasi dari Index of Learning Style, ILS, Felder-Soloman. Tes pemahaman konsep terdiri dari 25 soal pilihan ganda yang sebagian mengandung pilihan alasan dengan reliabilitas alpha Cronbach = 0,797. Tes aplikasi konsep terdiri dari 6 soal essay dengan reliabilitas alpha Cronbach = 0,875. Analisis faktor dilakukan untuk menentukan validitas konstruk angket gaya belajar verbal-visual adaptasi ILS Felder-Soloman. Hasil analisis faktor menunjukkan bahwa hanya 7 dari 11 item ILS Felder-Soloman yang valid dan diperoleh tiga konstruk yang menjadi landasan konseptual dari angket ini, yaitu: (a) format informasi yang disukai untuk memori atau mengingat; (b) format informasi yang disukai untuk input; dan (c) format informasi yang disukai karena bakat seni menggambar. Reliabilitas angket gaya belajar verbal-visual adaptasi ILS Felder-Soloman adalah 0,649. Data dianalisis secara deskriptif dan MANCOVA faktorial 2x2 dengan menggunakan SPPS 13.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemahaman konsep kimia siswa SMP kelas VII yang menggunakan hypermedia lebih tinggi dibandingkan dengan yang menggunakan nonhypermedia; (2) siswa yang memiliki gaya belajar visual mempunyai pemahaman konsep yang lebih tinggi dari pada yang memiliki gaya belajar verbal; (3) ada interaksi antara strategi penyampaian siklus belajar (SB-hypermedia dan SB-nonhypermedia) dan gaya belajar (verbal dan visual) terhadap pemahaman konsep, dan (4) kemampuan aplikasi konsep siswa SMP kelas VII tidak berbeda secara signifikan, baik antara kelompok strategi penyampaian siklus belajar menggunakan media berbeda (SB-Hypermedia dan SB-Nonhypermedia), maupun kelompok gaya belajar dimensi verbal-visual. Terkait dengan pemahaman konsep, temuan penelitian ini menegaskan bahwa visualisasi konseptual dan kemampuan literasi visual siswa berperan penting dalam pembelajaran sains. Praktikum laboratorium akan optimal dalam memfasilitasi pengembangan pemahaman mendalam apabila didukung dengan visualisasi konseptual. Pembelajaran sains sangat penting mengembangkan kemampuan literasi visual dengan memberikan peluang siswa memahami visualisasi konseptual sekaligus mendorong siswa menyampaikan pemahamannya menggunakan visualisasi. Terkait dengan kemampuan dalam aplikasi konsep, temuan ini menegaskan bahwa kemampuan dalam mengaplikasikan konsep tidak berkaitan langsung dengan jenis media. Kemampuan aplikasi konsep lebih banyak dikontribusi oleh intensitas latihan mengaplikasikan konsep dengan menggunakan kasus yang bervariasi. Berdasarkan temuan penelitian, guru sains SMP disarankan menggunakan hypermedia untuk mendukung pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri dalam rangka meningkatkan pemahaman konsep dan literasi teknologi. Dalam mengelola pembelajaran sains, utamanya kimia pemula, guru disarankan memberikan penekanan pembelajaran pada aspek submikroskopis menggunakan bantuan visualisasi (analogi konseptual) dan mendorong siswa mengemukakan pemahamannya menggunakan visualisasi. Gaya belajar verbal-visual perlu menjadi pertimbangan guru dalam mengelola pembelajaran menggunakan teknologi multimedia. Perhatian khusus perlu diberikan kepada siswa verbal dalam pembelajaran sains yang menggunakan teknologi ini.

Peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui permainan tebak gambar pada siswa kelas I MI Darul Ulum II Rowogempol Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan / Titis Wahyuni

 

Kata Kunci : Membaca Permulaan, Permainan Tebak Gambar, Aktivitas Belajar Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat. Permainan Tebak Gambar menguji kecepatan dan keakuratan anak dalam menebak suatu gambar yang disamarkan dengan cara secara sengaja sebagiannya ditutupi. Sedangkan Aktivitas Aktivitas Belajar itu berhubungan dengan masalah belajar menulis, mencatat, memandang, membaca, mengingat, berpikir, latihan atau praktek, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan membaca permulaan melalui permainan tebak gambar pada siswa kelas I MI Darul Ulum II Rowogempol Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan dan mendeskripsikan penerapan membaca permulaan melalui permainan tebak gambar untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas I MI Darul Ulum II Rowogempol Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif berdasarkan data yang diperoleh di lapangan. Rancangan penelitian ini disusun dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan jenis tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian untuk membaca permulaan pada siklus I mencapai 60,87 %, untuk siklus II 86,96 % yang membacanya sudah lancar, sedangkan sisanya 13,04 % membacanya masih mengeja tetapi sudah mulai lancar dalam arti tinggal melatih saja supaya lebih lancar lagi. Sedangkan untuk aktivitas belajar pada siklus I siswa termotivasi dengan pembelajaran menggunakan permainan Tebak Gambar, untuk siklus II siswa merasa antusias dan lebih aktif lagi dengan pembelajaran menggunakan permainan Tebak Gambar. Dari hasil penelitian ini disarankan Diharapkan Sekolah/Lembaga untuk memfasilitasi guru-guru dalam mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan permainan Tebak Gambar. Kepada para guru untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran bagi siswanya, khususnya pembelajaran membaca dengan menggunakan permainan Tebak Gambar. Dan diharapkan peneliti lain untuk lebih meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelas I melalui permainan Tebak Gambar.

Penerapan penilaian portofolio dalam pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X4 SMAN 8 Malang / Adzimatnur Muslihasari

 

Kata kunci: penilaian portofolio, keaktifan belajar, hasil belajar Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterapkan di SMA Negeri 8 Malang memicu adanya variasi pembelajaran serta variasi penilaian proses dan hasil belajar yang menjadi tuntutan dasar proses pembelajaran di sekolah. Adanya variasi pembelajaran dan penilaian proses dan hasil belajar ini diharapkan dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran dan mutu hasil belajar siswa. Salah satu variasi penilaian tersebut adalah penilaian portofolio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas X-4 SMA Negeri 8 Malang setelah diterapkan penilaian portofolio dalam pembelajaran kontekstual. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas dua siklus. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Tempat penelitian di SMA Negeri 8 Malang dengan subjek penelitian siswa kelas X-4 yang berjumlah 40 siswa (20 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan). Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2009/2010. Portofolio digunakan dalam penilaian ini karena dapat bercerita tentang aktivitas siswa dalam sains, dapat menilai dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Fokus portofolio adalah pemecahan masalah, berpikir dan pemahaman, komunikasi tertulis, hubungan sains dan pandangan siswa terhadap dirinya sebagai orang yang belajar sains. Portofolio memungkinkan peserta didik untuk lebih berpartisipasi dalam proses pembelajaran sehingga keaktifan dan hasil belajar siswa juga meningkat. Hasil penelitian setelah diterapkan penilaian portofolio pada mata pelajaran biologi dengan pokok bahasan “Kerusakan Lingkungan dan Upaya Pelestariannya” dan “Limbah dan Daur Ulang Limbah” menunjukkan adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa. Peningkatan keaktifan belajar siswa terlihat dari jumlah siswa yang bertanya, menjawab, dan kegiatan praktikum. Pada siklus I, terdapat 6 siswa yang bertanya sesuai dengan pokok bahasan dan memunculkan masalah baru, 7 siswa yang bertanya sesuai pokok bahasan tetapi tidak memunculkan masalah baru, dan tidak ada siswa yang bertanya tidak sesuai dengan pokok bahasan. Hal ini meningkat pada siklus II dimana terdapat 8 siswa yang bertanya sesuai pokok bahasan dan memunculkan masalah baru, 8 siswa yang bertanya tetapi tidak memunculkan masalah baru, dan terdapat 2 siswa yang bertanya tidak sesuai dengan pokok bahasan. Untuk indikator menjawab pertanyaan, baik yang diajukan oleh guru atau siswa, terdapat 9 siswa yang menjawab salah, 10 siswa menjawab benar, dan 2 siswa yang menjawab sangat tepat pada siklus I. Jumlah ini meningkat pada siklus II, dimana terdapat 3 siswa menjawab salah, 12 siswa iv menjawab tepat, dan 5 siswa menjawab sangat tepat. Untuk indikator kegiatan praktikum, terdapat 3 siswa yang tidak melakukan kegiatan praktikum sama sekali, 29 siswa melakukan kegiatan praktikum tetapi masih melakukan kegiatan lain, dan 7 siswa yang melakukan kegiatan praktikum tanpa melakukan kegiatan lain pada siklus I. Jumlah ini meningkat pada siklus II, dimana terdapat 2 siswa yang tidak melakukan kegiatan praktikum sama sekali, 24 siswa melakukan kegiatan praktikum tetapi masih melakukan kegiatan lain, 13 siswa yang benarbenar berkonsentrasi pada kegiatan praktikum tanpa melakukan kegiatan lain. Peningkatan hasil belajar terlihat dari rata-rata nilai Ulangan Harian (UH) dan nilai portofolio siswa. Rata-rata nilai UH siswa meningkat dari 81,82 menjadi 87,05 dengan persentase ketuntasan meningkat juga dari 82,05% pada siklus I menjadi 89,74% pada siklus II. Rata-rata nilai portofolio oleh diri sendiri pada siklus I adalah 417,95 (83,59) meningkat menjadi 448,3 (84,26) pada siklus II. Rata-rata nilai portofolio oleh teman pada siklus I adalah 414,87 (82,97) meningkat menjadi 446,5 (83,67). Rata-rata nilai portofolio oleh guru pada siklus I adalah 414,23 (82,85) meningkat menjadi 448,6 (83,5). Persentase ketuntasan belajar berdasarkan penilaian portofolio pada siklus I adalah 76,9% meningkat menjadi 87,18% pada siklus II.

Pengaruh lama penyimpanan terhadap kualitas mikrobiologi dan kelayakan kosumsi susu kental manis berdasarkan angka lempeng total bakteri / Adzimatnur Muslihasari

 

Kata kunci: Lama penyimpanan, susu kental manis, angka lempeng total bakteri Pemanfaatan/konsumsi susu kental manis di masyarakat saat ini sangat besar, terutama pada masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Biasanya susu kental manis kemasan kaleng yang mereka beli tidak habis sekali pakai, namun baru habis sekitar satu minggu setelah kemasan kaleng dibuka. Dalam jangka waktu tersebut, jika cara penyimpanan mereka tidak benar, maka akan menyebabkan kontaminasi mikroba dari lingkungan ke dalam susu. Kontaminasi mikroba akan menyebabkan kerusakan susu kental manis dan mempengaruhi kelayakan konsumsinya secara mikrobiologis. Uji kelayakan konsumsi susu kental manis dapat dilakukan dengan uji kualitas mikrobiologi, salah satu di antaranya berdasarkan angka lempeng total bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh perbedaan lama penyimpanan pada suhu kamar terhadap kualitas mikrobiologi berdasarkan Angka Lempeng Total bakteri susu kental manis, (2) pengaruh merk terhadap kualitas mikrobiologi berdasarkan Angka Lempeng Total bakteri susu kental manis, (3) pengaruh interaksi antara lama penyimpanan dan merk terhadap kualitas mikrobiologi berdasarkan Angka Lempeng Total bakteri susu kental manis, dan (4) batas waktu penyimpanan susu kental manis pada suhu kamar yang masih layak dikonsumsi berdasarkan standar Angka Lempeng Total bakteri. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Negeri Malang, pada bulan Juni 2010 hingga Agustus 2010. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Lama penyimpanan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 9x24 jam, 10x24 jam, 11x24 jam, dan 12x24 jam. Penentuan Angka Lempeng Total (ALT) dilakukan dengan metode hitungan cawan. Sampel penelitian diambil dari toko di kota Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) angka lempeng total bakteri pada susu kental manis meningkat seiring dengan bertambahnya lama penyimpanan pada suhu kamar, (2) merk Y menghasilkan angka lempeng total bakteri paling besar, (3) interaksi lama penyimpanan dan merk yang berpengaruh paling besar terhadap kualitas mikrobiologi susu kental manis berdasarkan angka lempeng total bakteri adalah susu kental manis merk Y yang disimpan selama 12x24 jam, dan (4) batas waktu penyimpanan susu kental manis yang masih layak dikonsumsi berdasarkan standar angka lempeng total yang ditetapkan oleh Badan POM (1 x 104 koloni/gram sampel) adalah 9x24 jam. iii iiii

Pengaruh motivasi menjadi tutor terhadap tingkat keatitifannya dalam pelaksanaan pembelajaran keaksaraan fungsional di desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang / Nur Intan Parahita

 

Kata Kunci: Motivasi, tingkat keaktifan, keaksaraan fungsional Salah satu ketertindasan masyarakat yang merupakan kondisi nyata hingga dewasa ini adalah masih banyaknya warga masyarakat Indonesia yang masih buta aksara. Suatu kenyataan bahwa masyarakat buta aksara pada umumnya berada dalam kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan ketertinggalan dalam berbagai bidang kehidupan. Hal ini merupakan tanggung jawab Negara dan semua komponen bangsa untuk memenuhinya, karena merupakan prasyarat dalam kehidupan modern dewasa ini bahwa setiap warga Negara dalam menghadapi tantangan hidupnya harus mampu menyesuaikan diri terhadap perubahanperubahan yang terjadi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Program keaksaraan fungsional merupakan bentuk pelayanan pendidikan luar sekolah untuk membelajarkan warga masyarakat penyandang buta aksara. Sasaran dari program keaksaraan fungsional yakni warga masyarakat yang buta aksara yang tidak dibatasi umur. Strategi pembelajaran yang dilaksanakan dalam program keaksaraan fungsional yaitu diskusi, membaca, menulis, berhitung dan pelatihan ketrampilan fungsional. Tutor adalah orang yang memegang peran penting dalam pembelajaran. Kesuksesan warga belajar juga dipengaruhi oleh tingkat kehadiran tutor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) motivasi tutor dalam mengajar program pendidikan keaksaraan fungsional di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang, (2) tingkat keaktifan tutor dalam mengajar program pendidikan keaksaraan fungsional di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang, dan (3) pengaruh yang signifikan antara motivasi tutor dengan tingkat keaktifan dalam mengajar program pendidikan keaksaraan fungsional di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah tutor program keaksaran fungsional yang berjumlah 44 orang. Sedangkan sampel yang digunakan adalah total sampel. Instrumen yang digunakan adalah angket, tenik analisis data yang digunakan adalah prosentase dan regresi sederhana yang diolah menggunakan komputer program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model regresi telah layak regresi (F = 32,089, Sig. = 0,000 < 0,05), Besarnya koefisien korelasi atau keeratan hubungan R ii = 0,658. Besarnya pengaruh atau koefisien determinasi motivasi terhadap tingkat keaktifan tutor dalam pelaksanaan program pendidikan keaksaraan funsional R2 = 0,433. Berarti bahwa ada pengaruh motivasi terhadap tingkat keaktifan tutor dalam pelaksanaan program pendidikan keaksaraan funsional 43,3 %, sedangkan 56,7 % yang lainnya dipengaruhi oleh variabel – variabel atau faktor – faktor lain yang mempengaruhi tingkat keaktifan. Dari hasil penelitian disarankan pada: (1) Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan penelitian sejenis hendaknya dikembangkan dengan ruang lingkup yang lebih luas baik variabel ataupun populasinya. Dengan demikian dapat dijadikan acuan peneliti dimasa yang akan datang (2) Bagi Jurusan pendidikan Luar Sekolah hasil dari penelitian ini dapat dijadikan kontibusi dalam bidang pengembangan pembelajaran keaksaraan fungsional (3) Bagi Pelaksana Program Keaksaraan Fungsional diharapkan dengan adanya penelitian ini diharapkan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada penyelenggara, pelaksana, dan tutor dalam pembinaan dan pengembangan non formal, khususnya dalam meningkatkan motivasi tutor dalam melaksanakan tugasnya sebagai tutor program pendidikan keaksaraan fungsional

Hubungan persepsi siswa tentang kompetensi guru akuntansi dengan prestasi belajar siswa kelas X program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Lumajang / Trilaksono Wahyu Aji

 

Kata Kunci: Persepsi Siswa, Kompetensi Guru, Prestasi Belajar Siswa. Guru sebagai pemegang peranan penting dalam peningkatan mutu pendidikan dituntut memiliki keahlian, kemampuan, serta profesionalisme yang tinggi terhadap tugas yang diembannya. Kompetensi guru dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas sangat menentukan keberhasilan pendidikan secara keseluruhan. Kompetensi guru menunjukkan kapasitas seorang individu dengan menggunakan kemampuan intelektual atau mental dan fisik untuk mengerjakan berbagai tugas. Saat guru mampu mentransfer pengetahuan keterampilannya sehingga siswa terpuaskan serta terpenuhi keinginannya, persepsi siswa tentang kompetensi guru akan baik. Persepsi siswa tentang kompetensi guru dalam proses pembelajaran apabila positif maka tidak menutup kemungkinan hasil prestasi belajar siswa akan bagus. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui hubungan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru akuntansi dengan prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Lumajang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksplanasi. Sampel dalam penelitian adalah semua siswa kelas X sebanyak 126 siswa. Instrumen yang digunakan untuk menjaring data adalah angket/kuesioner dan dokumentasi. Teknik pengolahan data yang digunakan adalah persentase dan korelasi product moment. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan : (1) Persepsi siswa tentang kompetensi guru akuntansi di SMK Negeri 1 Lumajang rata-rata sangat baik, yaitu sebesar 72,22% (2) Prestasi belajar siswa kelas X program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Lumajang tergolong baik, dengan persentase sebesar 50% (3) Penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang rendah tapi signifikan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru dengan prestasi belajar siswa X program keahlian akuntansi di SMK Negeri 1 Lumajang. Berdasarkan dari hasil penelitian maka ada beberapa saran antara lain bagi (1) Siswa hendaknya lebih meningkatkan belajarnya agar dapat memahami materi dan dapat meraih prestasi belajar yang maksimal. (2) Guru hendaknya menyadari kompetensi yang dimiliki dan selalu berusaha untuk meningkatkan kompetensi yang dimilikinya. (3) Sekolah hendaknya memperhatikan sarana dan prasarana pendukung proses belajar dan secara konsisten mengirimkan para guru-guru pengajar dalam seminar serta pelatihan guna meningkatkan kompetensi yang dimiliki.

Pengaruh strategi pembelajaran TPS dan strategi TPS-PBMP terhadap kesadaran dan kweterampilan metakognitif serta pemahaman konsep pada pembelajaran IPA siswa kelas IV Sekolah dasar / Sulviana Puspitasari

 

Kata kunci: TPS, TPS-PBMP, kesadaran dan keterampilan metakognitif, pemahaman konsep. Dalam pembelajaran IPA di sekolah hendaknya mencapai tujuan pembelajaran yang menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif, dan mandiri sesuai dengan tujuan KTSP yang merumuskan agar siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif. Pemberdayaan kemampuan berpikir dapat dikembangkan melalui pengembangan keterampilan metakognitif siswa. Siswa dengan keterampilan metakognitif yang baik akan mampu menjadi pebelajar yang mandiri. Siswa mampu merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi dirinya sendiri dalam kegiatan belajarnya sendiri. Hal tersebut menyebabkan siswa akan memiliki kesadaran untuk belajar dalam dirinya. Seiring dengan pemberdayaan keterampilan metakognitif siswa, pemahaman konsep dalam pembelajaran akan berkembang juga. Siswa yang menjadi pebelajar mandiri, lebih mudah memilah konsep-konsep penting yang perlu dipelajarinya, sehingga secara tidak langsung siswa belajar untuk memahami konsep yang sedang dipelajari. Penelitian dilaksanakan di SDN Ketawanggede II Malang dan SDN Penanggungan Malang pada semester gasal tahun ajaran 2009/2010. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Ketawanggede II Malang dan SDN Penanggungan Malang tahun ajaran 2009/2010. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Ketawanggede II Malang sebagai kelas berstrategi TPS dan siswa kelas IV SDN Penanggungan Malang sebagai kelas berstrategi TPS-PBMP. Siswa kelas IV SDN Ketawanggede II Malang terdiri atas 24 orang sedangkan siswa kelas IV SDN Penanggungan Malang terdiri dari 33 orang. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain penelitian control group pre test post test. Data kesadaran metakognitif siswa diperoleh dengan instrumen inventori. Data keterampilan metakognitif diukur menggunakan penilaian rubrik terhadap hasil pretes dan postes. Data pemahaman konsep diukur melalui penilaian non rubrik terhadap hasil pretes dan postes. Data keterampilan metakognitif dan pemahaman konsep selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik Anakova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TPS PBMP memberikan pengaruh 35,38% lebih rendah daripada siswa dengan strategi TPS terhadap kesadaran metakognitif siswa. Pada keterampilan metakognitif siswa, strategi TPS-PBMP memberikan pengaruh 6,99% lebih tinggi daripada strategi TPS. Pada hasil penelitian terhadap pemahaman konsep siswa, strategi TPS-PBMP memberikan pengaruh 12,73% lebih tinggi daripada strategi TPS. ii Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, dapat menunjukkan bahwa strategi TPS dengan paduan PBMP dapat diandalkan untuk mengembangkan keterampilan metakognitif siswa dan pemahaman konsep siswa dibanding strategi TPS saja. Merujuk pada fakta tersebut, maka diharapkan guru dapat menerapkan penggunaan strategi pembelajaran kooperatif, terutama TPS dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Peningkatan siswa akan semakin baik jika pembelajaran disertai dengan PBMP. Selain itu pada penelitian ini strategi pembelajaran yang dipakai adalah strategi pembelajaran TPS dan TPS-PBMP, maka dapat dicobakan strategi pembelajaran lain untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kesadaran dan keterampilan metakognitif, serta pemahaman konsep siswa.

Peningkatan kemampuan mendeskripsikan benda secara tertulis melalui media gambar siswa kelas II MI Miftahul Huda 1 Manaruwi Bangil / Istiqomah

 

Kata Kunci: Mendeskripsikan benda, tertulis, media gambar. Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisa. Tujuan penulisan skripsi ini adalah: (1) Mendeskripsikan penggunaan media gambar dalam meningkatkan kemampuan mendeskripsikan benda dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas II MI Miftahul Huda. (2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan siswa dalam mendeskripsikan benda secara tertulis dengan menggunakan media gambar pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas II MI Miftahul Huda 1. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus memerlukan waktu 4 x 30 menit.Tehnik pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, Wawancara, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mendeskripsikan secara tertulis melalui pemanfaatan media gambar dengan peningkatan 9% pada siklus I dibandingkan dengan nilai pratindakan, dan peningkatan 6,6% pada siklus II. Dengan identifikasi gambar secara teliti didukung kemampuan siswa mendeskripsikan benda secara tertulis dan bimbingan guru selama kegiatan berlangsung maka terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa kelas II MI Miftahul Huda. Untuk membantu siswa mendeskripsikan benda sebaiknya guru memanfaatkan gambar dalam pembelajaran mendeskripsikan benda agar kemampuan siswa dapat meningkat.

Simbol budaya Madura dalam cerita rakyat Madura / Hasan Busri

 

Disertasi. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Imam Syafi’ie, (II) Dr. Djoko Saryono, M.Pd., (III) Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd. Kata kunci: simbol budaya, pola keyakinan, pola pikir, pola sikap, dan cerita rakyat Cerita rakyat Madura merupakan salah satu produk budaya yang bersifat khas. Sebagai produk budaya yang bersifat khas, cerita rakyat Madura dalam perspektif teoritis mengekspresikan simbol budaya Madura. Penelitian ini difokuskan pada simbol budaya yang mencerminkan: pola keyakinan, pikir, dan sikap masyarakat Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan ancangan semiotik dan hermineutik. Data penelitian yang dikumpulkan berbentuk simbol verbal: kata, frasa, kalimat, maupun tuturan (teks) yang mencermikan: pola keyakinan, pikir, sikap masyarakat Madura dan teks-teks tentang budaya Madura. Sumber data penelitian adalah cerita rakyat Madura yang disampaikan secara lisan oleh masyarakat Madura (penutur cerita rakyat. Pengumpulan data penelitian meliputi (1) pengamatan, (2) perekaman, (3) pentranskripsian data terekam menjadi tertulis. Keabsahan data diperoleh dengan (1) perpanjangan keikutsertaan, (2) pengamatan mendalam, (3) kajian berulang, (4) trianggulasi dan diskusi dengan pembimbing, budayawan, dan teman sejawat. Analisis data penelitian ini, menggunakan analisis etnografi Analisis etnografi tersebut meliputi (1) analisis domain, (2) analisis taksonomi (3) analisis komponen, dan (4) analisis tema kultural. Selanjutnya dilakukan pendeskripsian, pengekplanasian, dan penyimpulan simbol budaya Madura, yang meliputi pola keyakinan masyarakat Madura, pola pikir masyarakat Madura, dan pola sikap masyarakat Madura. Berdasarkan penelitian ditemukan pertama, simbol budaya yang mencerminkan pola keyakinan masyarakat Madura dalam cerita rakyat meliputi pola keyakinan masyarakat Madura terhadap Tuhan, takdir, dan mitos. Simbol budaya yang mencerminkan pola keyakinan masyarakat Madura terhadap Tuhan dalam cerita rakyat Madura meliputi keyakinan terhadap (1) keberadaan Tuhan yang ditandai dengan adanya ungkapan nama-nama Tuhan, sifat-sifat Tuhan, dan penggunaan sifat-sifat dalam pemberian nama anak-anak masyarakat Madura; (2) kekuasaan Tuhan yang ditandai dengan adanya ungkapan tentang kekuasaan, (3) keesaan Tuhan (ketauhidan) yang ditandai dengan adanya ungkapan ketauhidan Tuhan, dan (4) mitos yang ditandai dengan ungkapan yang meyakini waktu, tempat, benda, dan orang sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua, simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura dalam cerita rakyat Madura, meliputi pola pikir terhadap Tuhan, diri sendiri, orang lain (sesama), hakikat hidup, hakikat karya, hakikat harta, hakikat ilmu, hakikat waktu, alam semesta. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap Tuhan ditandai dengan adanya pandangan bahwa segala sesuatu yang menyangkut hidup dan kehidupan manusia, alam semesta ialah kekuasaan Tuhan. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap diri sendiri ditandai dengan adanya pandangan bahwa masyarakat Madura senantiasa wawasdiri dan menjaga kehormatan. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap orang lain ditandai dengan adanya pandangan bahwa dalam kehidupan harus bermanfaat buat orang lain, tidak merugikan dan menyusahkan orang lain. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap hakikat hidup dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya pandangan bahwa hidup adalah perjuangan (berusaha dan bekerja keras), wawas diri, sederhana, dan berbakti. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap karya dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya pandangan bahwa manusia manusia dengan karya harus bermanfaat baik pada dirinya sendiri maupun masyarakat (orang lain). Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap waktu ditandai dengan adanya pandangan bahwa masa lalu merupakan bekal (pengalaman) untuk menata masa kini, dan masa kini merupakan bekal untuk masa yang akan datang. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap hakikat harta dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya pandangan bahwa harta itu harus diusahakan (dengan bekerja), merupakan kekuasaan Tuhan, dan harus dikelola dengan baik. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya pandangan bahwa (1) ilmu meliputi ilmu keduniaan dan agama, (2) sumber dari segala ilmu adalah Al-Quran dan Hadist, dan (3) ilmu sejati adalah perpaduan antara ilmu keduniaan dan ilmu agama. Simbol budaya yang mencerminkan pola pikir masyarakat Madura terhadap alam semesta ditandai dengan adanya pandangan bahwa alam semesta harus dijaga dan dilestarikan. Ketiga, simbol budaya yang mencerminkan pola sikap masyarakat Madura dalam cerita rakyat Madura, meliputi pola sikap terhadap Tuhan, sesama manusia, diri sendiri, dan alam semesta. Simbol budaya yang mencerminkan pola sikap terhadap Tuhan dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya sikap (1) keberagamaan, yaitu dengan mengucapkan dua kalimat sahadat, (2) ketaatan dan kepatuhan, yaitu dengan menjalankan ibdah salat, zakat, puasa, haji, dan senantiasa berzikir kepada Tuhan, (3) ketakwaan (kesempurnaan hidup), yaitu penyerahan diri atau kepasrahan hidup kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan (4) tindakan simbolis, yaitu aktivitas ibadah seperti berzikir, menyekar (nylase), berdoa, bertapa, bersemidi yang dilakukan di tempat-tempat khusus. Simbol budaya ang mencerminkan pola sikap terhadap sesama manusia dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya (1) kepatuhan, (2) kekerabatan/kekeluargaan, (3) kebersamaan, (4) keselarasan, (5) kebijaksanaan, (6) kasih sayang, dan (7) sikap berbahasa. Simbol budaya ang mencerminkan pola sikap terhadap diri sndiri dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya (1) sikap waspada, (2) sikap realistik, dan (3) sikap bertanggung jawab. Simbol budaya ang mencerminkan pola sikap terhadap alam semesta dalam cerita rakyat Madura ditandai dengan adanya sikap menjaga dan melestrarikan alam semesta.

Pengaruh current ratio dan debt to equity ratio terhadap harga saham melalui divident payout ratio (Studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008) / Fina Rosania

 

Kata Kunci: Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Harga Saham, Dividend Payout Ratio (DPR) Adanya perkembangan pasar modal yang pesat dapat membuat investor merasa lebih leluasa dalam melakukan aktivitas investasinya. Setiap investor yang berinvestasi dalam saham, mereka harus rajin memantau perkembangan terakhir kondisi perusahaan karena perkembangan kondisi perusahaan pasti berpengaruh pada harga saham yang diterbitkannya. Oleh karena itu, perusahaan berkewajiban untuk mengelola kinerja keuangannya dengan efektif dan efisien, sehingga mampu meningkatkan nilai perusahaan yang juga akan meningkatkan harga saham agar investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) Tingkat current ratio, debt to equity ratio, dan dividend payout ratio pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008. (2) Tingkat harga saham pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008. (3) Pengaruh secara langsung dan tidak langsung current ratio terhadap harga saham melalui dividend payout ratio pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008. (4) Pengaruh secara langsung dan tidak langsung debt to equity ratio terhadap harga saham melalui dividend payout ratio pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008. Data yang digunakan bersumber dari laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2006-2008 yang dipublikasikan, yaitu: (1) Neraca konsolidasi, (2) Laporan laba rugi, dan (3) Laporan perubahan modal serta sumber data lain yang terdapat dalam daftar rujukan. Sedangkan populasi yang digunakan yaitu perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, dengan memilih perusahaan manufaktur yang masuk dalam 50 Leading Companies in Market Capitalization tahun 2009 serta yang memperoleh laba dan membagikan dividen secara berturut-turut selama periode 2006-2008. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mendokumentasikan berupa laporan keuangan yang dipublikasikan dari data sekunder yang diterbitkan dari Website Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh langsung dan antara current ratio dan debt to equity ratio terhadap harga saham. Namun tidak terdapat pengaruh secara tidak langsung antara current ratio dan debt to equity ratio terhadap harga saham melalui dividend payout ratio. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dividend payout ratio tidak mampu menjadi variabel mediator i v maupun variabel moderator yang dapat menjelaskan hubungan antara current ratio dan debt to equity ratio terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2006-2008. Hal ini disebabkan oleh adanya kebijakan manajemen perusahaan yang mengalokasikan atau tidak laba bersihnya sebagai dividen. Para investor lebih cenderung memberikan kepercayaan kepada para manajer perusahaan selaku pengelola perusahaan untuk mengelola dana yang ada dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya terutama dalam pengelolaan dana secara efektif dan efisien sehingga meningkatkan kepercayaan investor dan menarik investor untuk menanamkan modalnya. Serta dalam melakukan investasi, investor sebaiknya memperhatikan faktor-faktor internal perusahaan seperti kinerja manajemen perusahaan dan faktor-faktor eksternal perusahaan misalnya keadaan perekonomian suatu negara, pajak (baik atas dividen maupun atas capital gain), dan inflasi yang akan berpengaruh terhadap harga saham.

Upaya meningkatkan wajib pajak terdaftar (NPWP) melalui kebijakan ekstensifikasi pajak di kantor pelayanan pajak (KPP) pratama Probolinggo / Oktavianus Didit S

 

Kata kunci: Upaya Ekstensifikasi Wajib Pajak, Meningkatkan Wajib Pajak Terdaftar (NPWP) Pajak merupakan pembayaran Wajib Pajak kepada negara untuk kelangsungan hidup suatu negara dalam melaksanakan pembangunan di segala bidang, yang sifatnya wajib. Sedangkan Ekstensifikasi Wajib Pajak adalah kegiatan yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama dalam rangka meningkatkan wajib pajak terdaftar. Teknik pengumpulan data dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah: dokumen dan intervew. Tugas Akhir ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui bagaimana upaya ekstensifikasi wajib pajak yang dilakukan oleh KPP Pratama Probolinggo (2) Untuk mengetahui bagaimana hasil evaluasi dari upaya ekstensifikasi wajib pajak tersebut. Metode analisa yang digunakan adalah dengan mengolah data yang diperoleh dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Probolinggo berupa jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi tahun 2007dan 2008. Berdasarkan analisa data tersebut, upaya ekstensifikasi wajib pajak yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Probolinggo yaitu melalui pendataan atau penyisiran, sosialisasi dan penyuluhan, kerjasama dengan instansi-instansi yang terkait (Mou). Dari ketiga upaya ekstensifikasi wajib pajak yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Probolinggo dapat meningkatkan jumlah wajib pajak orang pribadi pada tahun 2007 dan 2008. Dampak ini tentunya juga memberikan partisipasi terhadap jumlah pendapatan pada KPP Pratama Probolingo khususnya, dan di Indonesia pada umumnya. Dengan memperhatikan hasil yang diperoleh diatas, sebaiknya Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama dibawah naungan Direktorat Jenderal Pajak untuk selalu meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak serta meningkatkan kegiatan sosialisasi atau penyuluhan ini misalnya dapat dilakukan melalui media televisi seperti iklan layanan masyarakat mengenai pentingnya fungsi pajak (terutama NPWP) dengan yang diharapkan memberikan kontribusi yang besar tehadap kepatuhan wajib pajak serta kepada negara sebagai salah satu sumber penerimaan yang dipergunakan untuk pembangunan di segala bidang.

Pengaruh earning per share (EPS), price earning ratio (PER), return on equity (ROE), dan tingkat likuiditas terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2007-2009 / Yusniar Marhaeni

 

Keywords: earnings per share, price earning ratio, return on equity, liquidity rate, stock price Investor who will invest has to consider how the condition of company for real, in this circumstance, it is reflected in its financial ratios. If the financial ratios of the company have a good prospect in the future, the ratios can influence the demand rate of the stock price, so that the information of company through the financial ratios is a factor which can influence decision in investment. The aims of this research is to test the influence of earnings per share, price earning ratio, return on equity, liquidity rate to stock price. The information of financial ratios can be considered influences if the ratios can change the investor’s decision of doing transaction in capital market. This research uses the populations of manufatured companies start from period 2007 until 2009 as samples. The samples is taken using purposive sampling and gained 145 companies as samples. The kind of data is quantitative data. The measure of variables used for earnings per share, price earning ratio, return on equity, liquidity rate, and stock price are means value of each independent variable and closing price of stock price for three years, to know the influence of each independent variable to dependent variable. Model analysis used in the hypothesis test of this research is double regression analysis. The result of this research proves that (1) EPS and PER partially influence positively significant to stock price, proved by each tstatistic’s value 21,761 and 6,110 with significancy < 0,05, (2) ROE and liquidity rate partially do not influence to stock price based on tstatistic’s value 0,420 and 1,033 with significancy > 0,05, and (3) EPS, PER, ROE, and liquidity rate simultaneously influence positively significant to stock price, based on F value 150,408 with significancy 0,000. These results prove that the information of financial ratios in this research influences the investor’s decision of doing transaction in capital market. Based on this research, it is suggested for the next similar research to use more and various samples, also add the window period, take variables which is considered able to influence stock price.

Using qars strategy to improve reading comprehension skill of students of tarbiyah departement of Muhammadiyah University of Palu / Andi Naniwarsih

 

Kata Kunci: pemahaman membaca, strategi Question-Answer Relationships Dari hasil penelitian pendahuluan yang dilaksanakan pada siswa Jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palu, ditemukan bahwa (1) siswa sulit mengenali jenis-jenis pertanyaan, (2) siswa sulit untuk menjawab pertanyaan secara langsung dari teks, (3) mereka tidak tahu menjawab pertanyaan yang tersirat dalam teks disebabkan karena siswa tidak diajarkan untuk mengatasi pertanyaan. Oleh karena itu, nilai mereka tidak mencukupi and proses belajar mengajar tidak menarik. Nilai rata-rata hanya 55.85 atau sama dengan nilai D. Oleh karena itu, strategi Question-Answer Relationships (QARs) dirancang untuk meningkatkan kemampuan pemahaman membaca mereka. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dimana peneliti sebagai seorang guru dan kolaborator bertindak sebagai seorang observator yang bekerja sama dalam melaksanakan semua tahapan yaitu planning, implementing, observing, dan reflecting. Ada beberapa instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu observation checklist, field note, quiz, dan questionnaire. Subjek penelitian ini adalah 26 siswa semester dua Jurusan Tarbiyah Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palu tahun akademik 2009/2010. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa penerapan strategi QARs berhasil dalam meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa Jurusan Tarbiyah dalam dua siklus dimana terdiri dari tiga pertemuan pada proses belajar mengajar dan satu pertemuan untuk kuis karena kriteria kesuksesan telah tercapai. Kriteria pertama adalah bahwa jika 65% siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan proses belajar mengajar dan data analisis menunjukkan bahwa 73,80% siswa terlibat didalamnya. Berdasarkan pada kriteria yang kedua adalah paling sedikit 65% siswa memperoleh nilai sama atau lebih dari 65, dalam hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata siswa dari nilai studi awal adalah 55.85, sementara 65.94 di siklus pertama dan 75.15 di siklus kedua. Kriteria terakhir adalah jika 75% siswa mempunyai respon yang positif terhadap pelaksanaan Question-Answer Relationships (QARs), dan hasil penelitian mengungkapkan 94.62% siswa merespon positif terhadap strategi ini. Prosedur yang tepat dalam penerapan strategi QARs pada pengajaran membaca terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: (1) membagi siswa menjadi beberapa kelompok, (2) menugaskan siswa membaca dalam hati, (3) menganjurkan siswa untuk mendiskusikan isi bacaan bersama kelompoknya, (4) mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi jenis-jenis pertanyaan yaitu right there, think and search, author and me dan on my own, (5) menganjurkan siswa membuat jenis-jenis pertanyaan berdasarkan teks yang diberikan, (6) menugaskan siswa saling tukar pertanyaan kepada kelompok lain, (7) menyuruh siswa menjawab pertanyaan, (8) berdiskusi untuk menghubungkan pertanyaan dan jawaban pada setiap kelompok. Selanjutnya, mempertimbangkan hasil temuan penelitian yang positif pada penggunaan strategi QARs untuk mengajar membaca, disarankan kepada guru bahasa Inggris untuk memanfaatkan strategi QARs sebagai salah satu solusi alternatif dalam pengajaran pemahaman membaca dalam kelas. Bagi peneliti lainnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat sebagai sebuah acuan dalam melaksanakan penelitian yang sama dengan latar belakang yang berbeda misalnya Genera English atau English for Specific Purpose (ESP) dan juga pada mata kuliah lainnya seperti writing skill, listening comprehension atau speaking skill.

Ekspresi metaforis dalam tuturan Kada Tominaa Daerah Tana Toraja / Anastasia Baan

 

Kata Kunci: Ekspresi Metaforis, Kosakata, Pesan, Gaya Tutur, Hermenutika Tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja merupakan salah satu sastra lisan di daerah Tana Toraja yang dituturkan dengan bahasa Toraja yang berwujud syair. Kada tominaa daerah Tana Toraja sebagai sasta lisan yang memiliki kekhasan tersendiri, selalu diekspresikan untuk kepentingan-kepentingan tertentu sesuai bunyi syair tersebut. Kada tominaa daerah Tana Toraja dituturkan oleh pemangku adat dalam setiap upacara pemakaman atau yang disebut rambu solo’ dan upacara syukuran atau yang disebut rambu tuka’. Penelitian ini berusaha memerikan hal-hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini memerikan tiga aspek, yakni: (1) kosakata ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, (2) gaya tutur ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, dan (3) pesan yang terdapat pada tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika. Data penelitian ini berupa tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, informasi tentang tradisi masyarakat daerah Tana Toraja, dan kegiatan sehari-hari masyarakat daerah Tana Toraja. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumen, wawancara, dan observasi. Dalam pengumpulan data, peneliti sebagai instrumen kunci dilengkapi dengan panduan observasi, panduan wawancara, dan alat perekam (handycam). Ketika pengumpulan data, peneliti melakukan seleksi data, identifikasi data, klasifikasi data, kategorisai data. Analisis data dilakukan dengan mengikuti model hermeneutika dalam pandangan Ricoeur, yakni melalui level semantik, level refleksif, dan level eksistensial. Untuk memverifikasi temuan penelitian, dilakukan triangulasi temuan kepada pakar bahasa dan budayawan daerah Tana Toraja. Berdasarkan temuan penelitian, dikemukakan hasil penelitian sebagai berikut: kosakata ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja meliputi (1) bentuk kosakata ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, dan (2) kosakata kategori ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja. Bentuk kosakata ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, meliputi (a) bentuk kosakata serapan dari bahasa Indonesia, dan (b) bentuk kosakata khas Tana Toraja. Bentuk kosakata serapan dari bahasa Indonesia, meliputi (a) kosakata serapan yang tidak mengalami perubahan tulisan dan pengucapan, dan (b) kosakata serapan yang mengalami perubahan tulisan dan pengucapan yaitu pada huruf akhir suatu kata. Bentuk kosakata kategori ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja meliputi (a) kosakata kategori human (manusia), (b) kosakata kategori animate (binatang), (c) kosakata kategori living (tumbuhan), (d) kosakata kategori object (objek), (e) kosakata kategori terrestrial (terestrial), (f) kosakata kategori cosmos (kosmos), (g) kosakata kategori substance (substansi), (h) kosakata kategori energy (energi), dan (i) kosakata kategori being (keadaan). Kosakata kategori human dalam tutuan kada tominaa daerah Tana Toraja dapat diklasifikasikan atas empat, yaitu (a) yang menyebutkan sapaan kekerabatan, (b) yang menyebutkan kata ganti orang, yakni kata ganti orang pertama tunggal, kata ganti orang pertama jamak, kata ganti kedua tunggal, dan kata ganti orang ketiga tunggal. (c) yang menyebutkan pekerjaan atau mata pencaharian, yakni sebagai petani dan sebagai peternak, selebihnya adalah bekerja sebagai pegawai negeri dan buruh. dan (d) yang menyebutkan tradisi dan kepercayaan. Kosakata kategori living (tumbuhan) dalam tutuan kada tominaa daerah Tana Toraja dapat diklasifikasikan atas dua, yakni (a) tanaman jangka pendek (b) tanaman jangka panjang. Kosakata kategori object (objek) dapat diklasifikasikan atas dua, yakni (a) sarana pertanian dan (b) sarana berhias diri. Kosakata kategori terrestrial dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu (a) hamparan daratan dan (b) hamparan perairan. Kosakata kategori being dapat diklasifikasikan atas dua, yakni (a) suasana perasaan dan (b) kondisi kehidupan. Gaya tutur ekspresi metaforis dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, meliputi (a) bentuk tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja (b) teknik tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, dan (c) pola pengembangan tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja. Bentuk tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, meliputi (a) tuturan langsung, (b) tuturan tidak langsung. Teknik tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, meliputi (a) perbandingan secara langsung, (b) perbandingan secara terurai, (c) pengisahan atau pelukisan, dan (d) penginsanan suatu objek. Pola pengembangan tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, meliputi (a) pola pengulangan, (b) pola penjelasan, dan (c) pola penegasan. Pesan yang terdapat dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, meliputi (a) isi pesan yang dituturkan dalam kada tominaa daerah Tana Toraja, dan (b) fungsi pesan yang terdapat dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja. Isi pesan dalam kada tominaa daerah Tana Toraja dapat dikategorisasikan menjadi tiga ranah, yakni (a) tradisi budaya masyarakat daerah Tana Toraja, (b) hubungan sosial kemasyarakatan daerah Tana Toraja, meliputi hubungan saling mencintai antaranggota keluarga, dan hubungan saling peduli antarmasyarakat, (c) pekerjaan atau mata pencaharian masyarakat daerah Tana Toraja. Fungsi pesan yang terdapat dalam tuturan kada tominaa daerah Tana Toraja, meliputi (a) fungsi pesan dalam tindak ekspresif, dan (b) fungsi pesan dalam tindak direktif. Fungsi pesan dalam tindak ekspresif, berupa (a) meminta maaf, dan (b) mengungkapkan perasaan. Fungsi pesan dalam tindak direktif, berupa (a) harapan, (b) nasihat.

Pembelajaran IPS terpadu dalam program RSBI di SMPN I MAlang / Liana Safitri

 

Kata Kunci : Rintisan SMP Bertaraf Internasional, Pembelajaran IPS Terpadu, Pembelajaran Sejarah Adanya fenomena Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional memberikan dampak pada proses pembelajaran, misalnya saja untuk mata pelajaran MIPA dan TIK wajib menggunakan bahasa Inggris dan pembelajaran berbasis IT sedangkan untuk mata pelajaran yang lain termasuk pelajaran IPS Terpadu (sejarah) tidak diwajibkan tetapi disesuaikan dengan kemampuan guru. Berdasarkan hal tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pelaksanaan RSBI di SMP N I Malang (2) Bagaimana Pembelajaran IPS Terpadu (sejarah) dalam program RSBI di SMP N I Malang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan bagaimana Pelaksanaan RSBI di SMP N I Malang, (2) untuk mendeskripsikan bagaimana Pembelajaran IPS Terpadu (sejarah) dalam program RSBI di SMP N I Malang. Penelitian ini dilaksanakan di SMP N I Malang. Penelitian ini menggunakan jenis dan pendekatan deskriptif kualitatif serta rancangan penelitiannya adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Pemilihan informan secara Purposive. Data yang terkumpul dianalisis dengan alur: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Untuk memperoleh keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik atau metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) proses pelaksanaan RSBI meliputi perencanaan RSBI dilakukan dengan memilih ketua program RSBI dan menyusun RKAS-1 dan RKAS-2, pelaksanaan RSBI dilakukan dengan pengembangan dari RKAS-1 dan RKAS-2 yaitu pelaksanaan 8 SNP atau IKKM yang dikembangkan untuk mencapai IKKT yaitu mencapai ciri keinternasionalan, serta monitoring RSBI dilakukan dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pemerintah kota/kabupaten. (2) Pembelajaran sejarah dalam program RSBI, meliputi perencanaan terdiri dari silabus dan RPP yang disusun berdasarkan kurikulum KTSP, pelaksanaan pembelajaran sejarah di kelas RSBI menggunakan metode diskusi dan guru tidak menggunakan bahasa Inggris dalam menjelaskan materi serta tidak memanfaatkan media yang ada dikarenakan faktor kemampuan guru, serta monitoring dilakukan pada peserta didik untuk mengetahui hasil belajar dengan menggunakan penilaian kognitif, unjuk kerja dan pengamatan dan hasilnya siswa tuntas dalam belajar yaitu telah memenuhi KKM. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya mengkaji mengenai tentang pemanfaatan sarana dan prasarana untuk menunjang proses pembelajaran sejarah di kelas RSBI.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe think pair share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar IPS kelas V di SDN Turi 01 kota Blitar / Kusrini Hidayah

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), Siswa Hasil Belajar. Berdasarkan hasil observasi di SDN Turi 01 Kota Blitar peneliti menemukan beberapa hal, yaitu SDN Turi 01 Kota Blitar memilki karakteristik siswa dengan kemampuan kognitif menengah ke bawah. Pembelajaran di SDN Turi 01 Kota Blitar secara konvensional dimana guru mengajar dengan ceramah serta pembelajaran berpusat pada guru (teacher center). Penerapan pembelajaran secara ceramah menyebabkan aktivitas dan hasil belajar siswa rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Jenis penelitian ini adalah termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dengan dua siklus. Subjek dal;am penelitian ini adalah siswa SDN Turi 01 Kota Blitar Kelas V dengan jumlah siswa perempuan 12 dan siswa laki-laki 8 0rang.instrumen dalam penelitian berupa tes akhir untuk mengetahui hasil belajar dan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS yaitu pra siklus 61%, siklus I menjadi 69.5% naik 8.5%, siklus II naik 83%, dari jumlah siswa 20 orang. Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa dari 20 siswa dapat tuntas 18 siswa sedangkan yang 2 siswa tidak tuntas karena memiliki kemampuan kognitif yang rendah.

Hubungan kemandirian, motivasi dan ketersediaan sumber belajar dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri Candipuro-Lumajang / Muchamad Fatoni

 

Program Studi Pendidikan Ekonomi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing:( I ) Prof. Dr. Wahjoedi, M.E, ( II ) Prof. Dr. Sudarmiatin, M.Si. Kata Kunci : Kemandirian belajar, Motivasi Belajar, Ketersediaan Sumber Belajar dan Hasil Belajar, Mata Pelajaran Ekonomi. Hasil belajar ekonomi di pengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya berhubungan dengan sejumlah karakteristik belajar siswa seperti kemandirian belajar, motivasi belajar, dan ketersediaan sumber belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) hubungan antara kemandirian belajar dengan hasil belajar; (2) hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar; (3) hubungan antara sumber belajar dengan hasil belajar; (4) hubungan simultan antara kemandirian belajar, motivasi belajar dan ketersediaan sumber belajar dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi. Penelitian dengan rancangan korelasional ini di laksanakan di SMA Negeri Candipuro-Lumajang, dengan populasi sebanyak 324 siswa dan sampel 179 siswa. Sampel di ambil secara acak atau random. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner atau angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan positif yang signifikan antara kemandirian belajar (X¹) dengan hasil belajar (Y); (2) terdapat hubungan positif yang signifikan antara motivasi belajar (X²) dengan hasil belajar (Y); (3) terdapat hubungan positif yang signifikan antara ketersediaan sumber belajar (X ³) dengan hasil belajar (Y); (4) terdapat hubungan yang positif yang simultan antara kemandirian belajar (X¹), Motivasi Belajar (X²), dan ketersediaan sumber belajar (X³) dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi (Y). Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: (1) Kepala SMA Negeri Candipuro- Lumajang untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran ekonomi diharapkan dapat menciptakan suasana yang mendukung kemandirian belajar siswa, memotivasi siswa untuk belajar secara mandiri dan menyediakan sumber belajar yang cukup ; (2) Kepada guru ekonomi SMA Negeri Candipuro- Lumajang untuk dapat membimbing siswa agar belajar mandiri, memotivasi siswa dan turut menyediakan sumber belajar siswa agar hasil belajar siswa lebih meningkat; (3) kepada siswa agar dapat belajar mandiri dengan penuh kesadaran, memotivasi dirinya dan menggunakan sumber belajar yang ada; (4) kepada peneliti menyarankan agar dapat meneliti kasus sejenis dengan wilayah populasi yang lebih besar serta dapat mengungkap lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil penelitian yang lebih berarti dan bermanfaat bagi masyarakat.

Orientasi nilai budaya, pengalaman pelatihan, dan kompensasi dalam hubungannya dengan motivasi kerja dan kinerja guru SMA Negeri di kota Surabaya / Sulasminten

 

Program Studi Manajemen Pendidkan Program Pasca Sarjana. Universitas Negeri Malang. Pembibimbing: (1) Prof.H.Ahmad Sonhadji K.H.,M..A, Ph.D.;(2)Prof.Dr. HendyatSoetopo; (3) Dr. Prof. Salladien. Kata kunci: orientasi nilai budaya, pengalaman pelatihan, kompensasi, motivasi kerja,kinerja guru Lajunya pasar global perlu diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia agar dapat berkompetisi baik di tingkat internasional, nasional, regional, wilayah yang dimulai dari tingkat sekolah, karena di sekolah merupakan pijakan awal meraih kompetisi. Ini berarti guru sebagai ujung tombak.memiliki peran penting dalam mempersiapkan, memotivasi dan memberi bekal kepada siswa untuk meraih keberhasilan berkompetisi. Mempersiapkan, memotivasi dan memberi bekal kepada siswa diwujudkan dalam bentuk kinerja guru, dan kinerja akan berjalan dengan baik bila ada faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti motivasi kerja, kompensasi yang diterima guru, pengalaman pelatihan yang dialami guru, dan orientasi nilai budaya yang di anut guru. Studi awal menunjukkan bahawa orientasi nilai budaya yang ditanamkan sekolah pada warga sekolah merupakan arah dari pencapaian tujuan sekolah. Kepala sekolah yang mempunyai hubungan yang harmonis dan usaha kuat dalam merumuskan , mensosialisasikan dan menanamkan visi misi dan semboyan sekolah dapat mempengaruhi motivasi kerja warga sekolah sehingga memperoleh hasil yang positif dari unjuk kerja seluruh warganya. Selain itu, sejarah perjuangan sekolah yang cukup panjang dan didukung oleh kebijakan pemerintah kota Surabaya seperti dalam pemilihan uji coba model pembelajaran akan berpengaruh terhadap kinerja guru. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan secara empirik hubungan antara variabel orientasi nilai budaya, pengalaman pelatihan, dan kompensasi dengan motivasi kerja dan kinerja guru. Secara khusus bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan baik langsung maupun tidak langsung antara orientasi nilai budaya pengalaman pelatiha, dan kompensasi, dengan motivasi kerja dan kinerja guru; Penelitian dilaksanakan di kota Surabaya, yang melibatkan 22 SMA Negeri dengan analisis pemodelan berbasis PLS. .Penentuan besar sampel menggunakan model dua yang rekomendasi pemodelan berbasis PLS, yaitu sepuluh kali jumlah jalur, yaitu 7X10 yang selanjutnya akan dilakukan resampling bootstrapping. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) rata-rata orientasi nilai budaya, pengalaman pelatihan, kompensasi, motivasi kerja dan kinerja guru SMA Negeri Surabaya berada dalam kategori baik/tinggi; (2) Secara komprehensif model konseptual hubungan antar konstruk adalah fit (baik), memenuhi standar persyaratan Gododness of-fit, sehingga dapat digunakan untuk menguji hipotesis. (3) Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara orientasi nilai budaya dengan motivasi kerja guru.(4) Terdapat hubungan signifikan antara pengalaman pelatihan dengan motivasi kerja guru.(5) Terdapat hubungan signifikan antara kompensasi dengan motivasi kerja guru. (6) Terdapat hubungan signifikan antara orientasi nilai budaya dengan kinerja guru. (7) Terdapat hubungan signifikan antara pengalaman pelatihan dengan kinerja guru. (8) terdapat hubungan signifikan antara kompensasi dengan kinerja guru (9)Terddapat hubungan signifikan antara motivasi kerja guru dengan kinerja guru (10) Terdapat hubungan tidak langsung signifikan antara pengalaman pelatihan dengan kinerja guru melalui motivasi kerja guru. (11) Terdapat hubungan tidak langsung signifikan antara kompensasi dengan kinerja guru melalui motivasi kerja guru. Temuan dalam penelitian (1) Orientasi nilai budaya berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru dengan pengukur utama adalah hubungan antar manusia. (2) Kinerja guru akan semakin lebih baik bila didukung pula oleh pengalaman pelatihan yang diperoleh guru untuk memenuhi kebutuhan propesioinalismenya, dengan mengutamakan pemberian kesempatan berbagi pendapat dengan guru-guru lain baik selama maupun sesudah pelatihan. (3) Secara statistik terbukti pula bahwa kompensasi yang diperoleh guru berpengaruh segnifikan terhadap kinerja guru, dengan pengukur utama adalah aspek pensiun. Ini berarti bahwa bila terpenuhi harapan guru tentang penerimaan pensiun yang tinggi/memadai akan berpengaruh terhadap tingginya kompensasi yang diterima guru dan akan berpengaruh terhadap tingginya kinerja guru. (4) Motivasi kerja guru berpengaruh terhadap kinerja guru secara signifikan. Adapun aspek pengukur utama tingginya motivasi kerja guru adalah prestasi itu sendiri, dimana kemampuan memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi guru oleh kepala sekolah, supervisor, pihak Depdiknas mewakili pemerintah akan mempertinggi motivasi kerja guru dan akan mempertnggi kinerjanya. Berdasarkan temuan penelitian diajukan beberapa saran sebagai berikut: kepada pemerintah daerah dan jajaran dinas pendidikan maupun kepala sekolah agar (1) dalam upaya meningkatkan kinerja guru melalui orientasi nilai budaya lebih me-ngedepan-kan hubungan yang harmonis dengan para bawahan. (2) upaya meningkatkan kinerja guru melalui pengalaman pelatihan lebih mengedepankan pemberian kesempatan bagi para guru untuk berbagi pendapat baik selama maupun sesudah pelatihan. (3) Upaya meningkatkan kinerja guru melalui kompensasi perlu lebih mengedepankan aspek pemberian pensiun yang lebih memadai harapan guru. (4) Upaya meningkatkan kinerja guru melalui motivasi kerja perlu mengutamakan kemampuan memberi pengakuan atas prestasi yang diraih guru. Kepada para peneliti agar (1) dilakukan penelitian eksperimen tentang hubungan langsung antara orientasi nilai budaya dengan motivasi kerja guru. (2) penelitian tentang hubungan tidak langsung antara orientasi nilai budaya dengan kinerja guru melalui motivasi kerja guru dengan pemodelan berbasis PLS.

Pengaruh variabel makroekonomi terhadap profitabilitas perusahaan pertambangan yang terdaftar pada LQ-45 periode 2004-2008 / Raynanda Devita Caroline

 

Kata Kunci : Variabel makro ekonomi, profitabilitas. Keberhasilan suatu perusahaan, dilihat dari manajemen dengan menganalisa laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Salah satu alat ukur yang digunakan adalah profitabilitas, dalam penelitian ini digunakan rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba. Tujuan penelitian ini adalah : (1)Menguji pengaruh makro ekonomi terhadap profitabilitas ROE perusahaan pertambangan, (2)Menguji pengaruh pendapatan perkapita terhadap profitabilitas ROE perusahaan pertambangan,(3)Menguji pengaruh pertumbuhan rata – rata industri terhadap profitabilitas perusahaan pertambangan,(4)Menguji pengaruh nilai tukar Rupiah pada Dollar terhadap profitabilitas perusahaan pertambangan. Penelitian ini merupakan studi analisis kuantitatif yang menggunakan analisis regresi berganda yang disebut juga penelitian terapan. Penelitian ini menggunakan data kuantitatif yang diukur dalam suatu skala numerik yang dikumpulkan dengan teknik pengambilan berbasis data kemudian disusun secara pooling. Adapun periode penelitian tahun 2004 sampai 2008, dengan populasi sebanyak 8 perusahaan pertambangan dengan teknik sampling yang digunakan purposive sampling maka sample penelitian tersebut terdiri dari 6 perusahaan pertambangan yaitu (1)PT.Aneka Tambang,(2)PT.Bumi resources, (3)PT.International Nickle Indonesia,(4)PT.Medco energi international,(5)PT.Tambang batu bara bukit asam,(6)PT.Timah. Berdasarkan hasil pegujian statistik dan analisa pembahasan, diketahui bahwa (1) Variabel makro ekonomi yang diwakili oleh pendapatan perkapita, pertumbuhan rata – rata industri, dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan pertambangan karena variabel makro ekonomi mempengaruhi profitabilitas melalui faktor – faktor eksternal lainnya (2) Pendapatan perkapita tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan pertambangan karena pada periode penelitian sitiasi perekonomian brrada pada masa krisi, dan banyaknya terjadi bencana dan kondisi cuaca yang tidak dapat diprediksiakan tetapi perusahan pertambangan memiiki cadangan asset yang digunakan untuk terus bertahan dan brroperasi (3) Pertumbuhan rata – rata industri tidak berpengaruh pada profitabilitas perusahaan pertambangan karena pertumbuhan rata – rata industri yang secara tidak langsung menurun akibat naiknya harga bahan baker minyak, batu bara dan nikel, dan kondisi industri dunia yang sempat mengalami defisit, tetapi perusahaan menjalankan kebijakan strategis yaitu menekan biaya produksi, agar tetap berjalannya operasional perusahaan pertambangan, sehingga pertumbuhan rata – rata industri tidak berpengaruh pada profitabilitas (4) Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar tidak berpengaruh pada profitabilitas perusahan pertambangan karena banyak dari perusahaan pertambangan tersebut yang menggunakan Dollar, sehingga naik turunnya kurs tidaka akan mempengaruhi profitabilitas, karena permintaan pasar begitu banyak Saran dan masukan bagi perkembangan penelitian lebih lanjut yaitu (1) Perlu ditambahnya factor lain dari variable makroekonomi maupun diluar makroekonomi, (2)Peride pengamatan yang dilakukan diperbesar, (3)Penambahan rujukan dan jurnal – jurnal penelitian.

Pengaruh humas terhadap citra perusahaan (Studi pada persepsi konsumen telkomsel di GraPari telkomsel Jember) / Dewi Puspitasari

 

Kata Kunci: Humas, Citra Perusahaan Era kompetisi merupakan tantangan global yang harus di hadapi oleh para pelaku bisnis diberbagai sektor kehidupan, termasuk sektor media komunikasi. Era kompetisi global tidak hanya ditandai dengan adanya pasar bebas. Kemajuan teknologi komunikasi yang begitu pesat telah menciptakan saluran informasi baru yang begitu banyak, sehingga publik internasional juga memiliki pilihan saluran komunikasi yang sangat beraneka ragam. Masalah komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia. Melalui komunikasi manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, tempat kerja, pasar masyarakat atau dimana pun manusia berada. Begitu pentingnya komunikasi dalam kehidupan manusia, dan harus diakui bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa komunikasi, karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dengan berkomunikasi secara efektif maka, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh manusia bisa berjalan dengan baik. Hal tersebut secara tidak langsung menuntut perusahaan untuk lebih teliti dan kritis dalam memilih strategi pemasaran, Humas bukanlah menjadi satu-satunya bagi perusahaan itu untuk mampu bersaing, terlebih bagi perusahaan yang menjual produk yang sama dan berada pada harga yang sama. Diperlukan upaya khusus dalam mencapai tujuan perusahaan untuk memberikan citra positif kepada masyarakat tidak terkecuali GraPARI Telkomsel Jember juga melaksanakan kegiatan Humas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi unsur Humas (publikasi, peristiwa, berita, pelayanan masyarakat, identitas media) yang dirasakan oleh konsumen produk Telkomsel, dan bagaimana pengaruh Humas secara parsial dan simultan terhadap citra perusahaan berdasarkan persepsi konsumen Telkomsel Jember. Jumlah sampel sebanyak 140 responden, sedangkan teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk mendeskripsikan variabel bebas public relation yang terdiri dari publikasi (X1), peristiwa (X2), berita (X3), pelayanan masyarakat (X4), identitas media (X5), variabel terikatnya adalah citra perusahaan. Untuk menentukan besar pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari variabel Humas dan citra perusahaan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda dengan signifikansi 0,05. teknik analisis ini digunakan untuk menganalisis pengaruh Humas terhadap citra perusahaan baik secara parsial ataupun simultan. Hasil perhitungan pada pengujian simultan di peroleh bahwa Fhitung (40,969) > dari Ftabel (2,282) sedangkan signifikansi (0,000) < dari alpha pada taraf 5% atau 0,05 artinya variabel Humas (X) berpengaruh secara simultan terhadap variabel citra perusahaan (Y). Sedangkan untuk koefisien determinan (Adjusted R Square) sebesar 0,590 atau 59%. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel publikasi (X1), memiliki thitung 6,664 > ttabel 1,978, X1 berpengaruh secara parsial. Variabel peristiwa (X2) didapat thitung 1,294 > ttabel 1,978, X2 tidak memiliki pengaruh secara parsial. Variabel berita (X3) didapat thitung 1,999 > ttabel 1,978, X3 berpengaruh secara parsial. Variabel pelayanan masyarakat (X4) didapat thitung 2,916 > ttabel 1,978, X4 berpengaruh secara parsial. Varaibel identitas media (X5) didapat thitung 3,587 > ttabel 1,978, X5 berpengaruh secara parsial. Variabel Humas (X) memiliki pengaruh sebesar 60,45% terhadap citra perusahaan. Selanjutnya hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan yang ditujukan oleh Humas secara simultan terhadap citra perusahaan. Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada GraPARI Telkomsel Jember agar melakukan survei berkala untuk mengukur tingkat harapan dan persepsi konsumen mengingat tuntutan konsumen terhadap Humas terus berkembang seiring kemajuan jaman dan menghadapi persaingan antar perusahaan penyedia telekomunikasi. Selanjutnya untuk mencapai citra perusahaan perlu meningkatkan citra positif dengan jalan selalu meningkatkan pendekatan hubungan melalui Humas kepada konsumen. ABSTRAK Puspitasari, Dewi. 2010. Pengaruh Humas Terhadap Citra Perusahaan (Studi pada Persepsi Konsumen Telkomsel di GraPARI TELKOMSEL Jember). Skripsi, Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Wayan Jaman Adi Putra, M.Si (II) Titis Shinta Dewi, S.P, M.M Kata Kunci: Humas, Citra Perusahaan Era kompetisi merupakan tantangan global yang harus di hadapi oleh para pelaku bisnis diberbagai sektor kehidupan, termasuk sektor media komunikasi. Era kompetisi global tidak hanya ditandai dengan adanya pasar bebas. Kemajuan teknologi komunikasi yang begitu pesat telah menciptakan saluran informasi baru yang begitu banyak, sehingga publik internasional juga memiliki pilihan saluran komunikasi yang sangat beraneka ragam. Masalah komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia. Melalui komunikasi manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah tangga, tempat kerja, pasar masyarakat atau dimana pun manusia berada. Begitu pentingnya komunikasi dalam kehidupan manusia, dan harus diakui bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa komunikasi, karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dengan berkomunikasi secara efektif maka, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh manusia bisa berjalan dengan baik. Hal tersebut secara tidak langsung menuntut perusahaan untuk lebih teliti dan kritis dalam memilih strategi pemasaran, Humas bukanlah menjadi satu-satunya bagi perusahaan itu untuk mampu bersaing, terlebih bagi perusahaan yang menjual produk yang sama dan berada pada harga yang sama. Diperlukan upaya khusus dalam mencapai tujuan perusahaan untuk memberikan citra positif kepada masyarakat tidak terkecuali GraPARI Telkomsel Jember juga melaksanakan kegiatan Humas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi unsur Humas (publikasi, peristiwa, berita, pelayanan masyarakat, identitas media) yang dirasakan oleh konsumen produk Telkomsel, dan bagaimana pengaruh Humas secara parsial dan simultan terhadap citra perusahaan berdasarkan persepsi konsumen Telkomsel Jember. Jumlah sampel sebanyak 140 responden, sedangkan teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk mendeskripsikan variabel bebas public relation yang terdiri dari publikasi (X1), peristiwa (X2), berita (X3), pelayanan masyarakat (X4), identitas media (X5), variabel terikatnya adalah citra perusahaan. Untuk menentukan besar pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari variabel Humas dan citra perusahaan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda dengan signifikansi 0,05. teknik analisis ini digunakan untuk menganalisis pengaruh Humas terhadap citra perusahaan baik secara parsial ataupun simultan. Hasil perhitungan pada pengujian simultan di peroleh bahwa Fhitung (40,969) > dari Ftabel (2,282) sedangkan signifikansi (0,000) < dari alpha pada taraf 5% atau 0,05 artinya variabel Humas (X) berpengaruh secara simultan terhadap variabel citra perusahaan (Y). Sedangkan untuk koefisien determinan (Adjusted R Square) sebesar 0,590 atau 59%. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial variabel publikasi (X1), memiliki thitung 6,664 > ttabel 1,978, X1 berpengaruh secara parsial. Variabel peristiwa (X2) didapat thitung 1,294 > ttabel 1,978, X2 tidak memiliki pengaruh secara parsial. Variabel berita (X3) didapat thitung 1,999 > ttabel 1,978, X3 berpengaruh secara parsial. Variabel pelayanan masyarakat (X4) didapat thitung 2,916 > ttabel 1,978, X4 berpengaruh secara parsial. Varaibel identitas media (X5) didapat thitung 3,587 > ttabel 1,978, X5 berpengaruh secara parsial. Variabel Humas (X) memiliki pengaruh sebesar 60,45% terhadap citra perusahaan. Selanjutnya hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan yang ditujukan oleh Humas secara simultan terhadap citra perusahaan. Dari hasil penelitian ini, disarankan kepada GraPARI Telkomsel Jember agar melakukan survei berkala untuk mengukur tingkat harapan dan persepsi konsumen mengingat tuntutan konsumen terhadap Humas terus berkembang seiring kemajuan jaman dan menghadapi persaingan antar perusahaan penyedia telekomunikasi. Selanjutnya untuk mencapai citra perusahaan perlu meningkatkan citra positif dengan jalan selalu meningkatkan pendekatan hubungan melalui Humas kepada konsumen.

Pembelajaran bercerita untuk meningkatkan kecerdasan linguistik anak kelompok B RA. Hidayatus shibyan Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan / Suhartini

 

Kata kunci: Pembelajaran Bercerita, Kecerdasan linguistik. Kecerdasan linguistik adalah kecerdasaan dalam mengolah kata atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Salah satu pembelajaran untuk meningkatkannya dengan menggunakan pembelajaran bercerita. Penelitian ini bertujuan: (1) mendiskripsikan pelaksanaan pembelajaran bercerita dalam meningkatkan kecerdasan linguistik anak kelompok B, (2) mendiskripsikan hasil pembelajaran bercerita dalam meningkatkan kecerdasan linguistik anak kelompok B. Penelitian ini menggunakan rancanagan PTK, subyek penelitian adalah anak kelompok B dengan jumlah 25 anak, lokasi penelitian adalah RA Hidayatus Shibyan Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Tekhnik pengumpulan datanya dengan melalui lembar observasi dan dokumentasi berupa foto selama pembelajaran. Dan analisis data dilakukan dengan deskriptif kualitatif dan kuantitatif berbentuk tindakan kelas dan dirancang dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran bercerita dapat meningkatkan kecerdasan linguistik anak kelompok B RA Hidayatus Shibyan Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan lembar observasi pada siklus I hasil aktifitas pembelajaran anak adalah 44,2 (69%) secara klasikal dengan kategori baik. Pada siklus II hasil aktifitas anak meningkat menjadi 70,32 (83%) secara klasikal dengan kategori sangat baik. Dapat disimpulkan dari siklus I ke siklus II meningkat 14 %. Oleh karena itu disarankan, bagi lembaga untuk memperbaiki pembelajaran yang sudah ada menjadi lebih baik dengan merancang pembelajaran yang bermakna bagi anak, yang bisa mencapai sembilan kecerdasan, termasuk kecerdasan linguistik. Bagi guru RA dapat menerapkan pembelajaran bercerita untuk meningkatkan kecerdasan linguistik, Jika anak memiliki kecerdasan linguistik yang berkembang dengan baik maka anak mempunyai kapasitas mengelola kata dan bahasa dengan aktivitas utama menulis, membaca, berbicara dan mendengarkan. Dan bagi peneliti yang lain dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam penelitian berikutnya.

Studi tentang motivasi belajar dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran yang menggunakan microsoft di kelas X mekanik otomotif di SMK Negeri 6 Malang tahun pelajaran 2010/2011 / Yudi Andrianto

 

Kata-kata kunci: microsoft powerpoint, motivasi, prestasi belajar Media pembelajaran memiliki pengaruh terhadap motivasi belajar dan prestasi belajar siswa. Media pembelajaran menentukan keberhasilan pencapaian prestasi yang baik, dengan media pembelajaran yang baik materi akan dapat disampaikan dengan baik juga. Tujuan penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan pemahaman pembelajaran siswa kelas X Mekanik Otomotif terhadap penggunaan media microsoft powerpoint di SMK Negeri 6 Malang tahun pelajaran 2010/2011 pada mata pelajaran motor bakar, (2) untuk mendeskripsikan motivasi belajar siswa terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan media microsoft powerpoint di SMK Negeri 6 Malang pada kelas X Mekanik Otomotif tahun pelajaran 2010/2011 pada mata pelajaran motor bakar, (3) Untuk mengetahui prestasi belajar siswa terhadap penggunaan media microsoft powerpoint pada proses pembelajaran di SMK Negeri 6 Malang pada kelas X Mekanik Otomotif tahun pelajaran 2010/2011 pada mata pelajaran motor bakar. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Responden penelitian ini adalah siswa kelas X jurusan Teknik Mekanik Otomotif di SMK Negeri 6 Malang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner atau angket yang hasilnya dianalisa dengan perhitungan prosentase, metode observasi dengan instrumen penelitian sistem tanda (sign system), dalam proses observasi (pengamat) tinggal memberikan tanda atau tally pada kolom tempat peristiwa yang muncul, metode wawancara dan metode dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah siswa memahami proses pembelajaran dengan media microsoft powerpoint dengan jumlah prosentase 84.210% dan sebanyak 15.789% siswa tidak memahami proses pembelajaran dikarenakan guru terlalu cepat menanyangkan materi pembelajaran dan dikarenakan huruf yang digunakan dalam materi yang disampaikan dengan media microsoft powerpoint terlalu kecil. Media pembelajaran microsoft powerpoint yang disajikan guru dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses belajar, didapat 92.105 % siswa berpendapat lebih aktif dalam mengikuti proses belajar jika guru menggunakan media microsoft powerpoint, dan 7.89 % siswa berpendapat tidak aktif dalam belajar karena dirasa membosankan. Prestasi belajar siswa dengan menggunakan media microsoft i ii powerpoint didapatkan hasil yang memuaskan dengan nilai rata-rata prestasi belajar siswa diatas nilai 7 dan ketuntasan belajar diatas 75% yaitu 84% dan 92%.. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) siswa kelas X Mekanik Otomotif SMK Negeri 6 Malang dapat memahami pembelajaran dengan menggunakan media microsoft powerpoint, (2) penggunaan media microsoft powerpoint dapat membangkitkan semangat siswa kelas X Mekanik Otomotif SMK Negeri 6 Malang dalam mengikuti proses pembelajaran, (3) prestasi yang dihasilkan dari proses pembelajaran dengan menggunakan media microsoft powerpoint diperoleh nilai rata-rata yang memuaskan dengan nilai rata-rata diatas 7 dan ketuntasan belajar 84% dan 92%. Ini menunjukkan proses pembelajaran dengan menggunakan media microsoft powerpoint cukup efektif dan mampu memberikan motivasi belajar yang baik terhadap siswa kelas X Mekanik Otomotif SMK Negeri 6 Malang.

Peningkatan keaktifan dan kemampuan mewarnai gambar melalui model pembelajaran berdasarkan minat anak kelompok A di RA. M.NU 32 "Al Hikmah" Cangkringmalang - Beji - Pasuruan / Ita Syamrifah

 

Kata kunci : Keaktivan , Kemampuan Mewarnai Gambar, Model Pembelajaran Berdasarkan Minat. Penelitan ini berlatar belakang adanya keaktivan dan kemampuan mewarnai gambar di RA.M.NU. 32 “AL HIKMAH”Cangkringmalang Beji Pasuruan yang relatif rendah. Faktor penyebab rendahnya kemampuan dalam mewarnai gambar, antara lain: (1) kebebasan berimajinasi sering di hambat; (2) kurangnya memberi contoh hasil karya yang sudah jadi ditunjukkan kepada siswa; (3) cenderung menyalin gambar; (4) anak terbiasa dan kurang percaya diri; (5) kurangnya perhatian orang tua dalam memantau dan membimbing putra-putrinya ketika belajar di rumah. Penelitian ini bertujuan untuk peningkatan keaktivan dan kemampuan mewarnai gambar melalui model pembelajaran berdasarkan minat di RA.M.NU. 32 “AL HIKMAH”Cangkringmalang Beji Pasuruan yang ditandai dengan kemampuan siswa kelompok A di dalam model pembelajaran berdasarkan minat meningkat, juga keaktivan dan kemampuan siswa dalam mewarnai gambar meningkat. Untuk mencapai tujuan diatas, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian kelas (PTK) dengan model kolaborasi. Peneliti melakukan kolaborasi dengan Ibu Khoirul Waroh, guru kelas kelompok A di RA.M.NU. 32 “AL HIKMAH”Cangkringmalang Beji Pasuruan , mulai dari tahap proses identifikasi masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keaktivan dan kemampuan mewarnai gambar melalui model pembelajaran berdasarkan minat di RA.M.NU. 32 “AL HIKMAH”Cangkringmalang Beji Pasuruan. Peningkatan pembelajaran tersebut ditandai dengan: (1) keaktivan siswa dalam kegiatan tanya jawab dan bercakap-cakap serta kemampuan siswa dalam bercerita meningkat; (2) proses model pembelajaran berdasarkan minat siswa sudah bisa memilih area-area yang siswa inginkan; (3) desain pembelajaran menggunakan secara kolaboratif; (4) guru suda bisa membebaskan siswa dalam memlih pembelajaran berdasarkan minat; (5) hasil penilaian pembelajaran menyeluruh; (6) situasi pembelajaran lebih kondusif. Kesimpulannya bahwa keaktivan dan kemampuan mewarnai gambar siswa meningkat, disarankan bahwa dalam peningkatan keaktivan dan kemampuan mewarnai gambar di RA.M.NU. 32 “AL HIKMAH”Cangkringmalang Beji Pasuruan hendaknya menggunakan model pembelajaran berdasarkan minat . Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan dapat diterapkan dikelas kelompok A sekolah lain jika kondisi relatif sama atau mirip dengan sekolah yang menjadikan latar belakang dalam penelitian ini.

Pandangan dunia pengarang tentang persoalan pendidikan dan sosial budaya dalam novel "Laskar Pelangi" karya Sndrea Hirata (Kajian strukturalidme genetik) / Herson Kadir

 

Tesis. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof.Dr.H.Ahmad Rofi’uddin, M.Pd (II) Prof.Dr.Maryaeni, M.Pd Kata kunci: pandangan dunia pengarang, persoalan pendidikan dan sosial budaya, strukturalisme genetik Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan salah satu novel yang merepresentasikan persoalan sosial masyarakat. Novel ini menceritakan dimensi kehidupan yang cukup kompleks menyangkut persoalan ketimpangan pendidikan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial masyarakat Belitong dalam kurun waktu tertentu. Persoalan-persoalan tersebut merupakan masalah pokok yang menjadi genetik novel Laskar Pelangi itu sendiri. Persoalan sosial yang terjadi di masyarakat, ketika diangkat oleh pengarang melalui karya sastra sebagai dokumen sosiobudaya, akan memberikan makna yang kompleks dan mengandung misi tertentu. Sehubungan dengan hal itu, novel Laskar Pelangi penting diteliti karena dianggap sebagai sebuah dokumen sosiobudaya yang mengandung makna. Setiap makna yang terkandung pada sebuah novel tentunya dapat diperoleh dari kajian berbagai aspek dan unsur yang membangunnya. Pada konteks penelitian ini novel Laskar Pelangi dikaji dari aspek pandangan dunia pengarangnya. Masalah yang dianalisis adalah (1) bagaimana pandangan dunia pengarang tentang persoalan pendidikan dan (2) bagaimana pandangan dunia pengarang tentang persoalan sosial budaya dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode dialektik berdasarkan perspektif teori strukturalisme genetik. Metode ini dilakukan dengan cara menganalisis hubungan timbal balik antara karya sastra dengan masyarakat melalui analisis latar dan para tokoh problematik. Sumber data penelitian adalah novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, cetakan ketujuhbelas tahun 2008. Data penelitian berbentuk kutipan teks dan paparan kebahasaan berupa paragraf, kalimat dan kata-kata mengenai deskripsi performance tokoh seperti; nama, pikiran, sikap tindakan tokoh; dan deskripsi latar tempat, ruang, dan waktu dalam cerita Laskar Pelangi yang mendukung ditemukannya pandangan dunia Andrea Hirata tentang persoalan pendidikan dan persoalan sosial budaya. Hasil penelitian menunjukan; (1) representasi pandangan dunia pengarang tentang persoalan pendidikan secara umum adalah (a) keinginan masyarakat untuk memperoleh pemerataan pendidikan dengan meniadakan diskriminatif terhadap masyarakat miskin dalam hal memperoleh pendidikan yang layak, (b) gagasan mengenai perlunya kebijakan pendidikan yang propublik dan tuntutan untuk menghindari komersialisasi pendidikan, dan (c) perlunya keikhlasan, fakta integritas, dan tanggung jawab para guru dalam dunia pendidikan meskipun dalam berbagai keadaan yang kurang menunjang baik secara internal maupun eksternal, serta pentingnya semangat dan motivasi belajar yang tinggi untuk ditanamkan dalam diri setiap siswa guna meningkatkan kecerdasan diri, tanpa harus bergantung pada fasilitas dan sumber belajar yang memadai; (2) representasi pandangan dunia pengarang tentang persoalan sosial budaya secara umum adalah (a) menunjukan keinginan masyarakat yang tidak mau terbelenggu dalam lingkaran kemiskinan terstruktur dan keinginan masyarakat yang tidak mau dilabeli oleh perbedaan status yang dapat menimbulkan konflik, (b) gagasan penting mengenai penghargaan tehadap simbol-simbol budaya setiap daerah untuk mencapai harmoni kehidupan, keinginan masyarakat yang tidak mau adanya budaya yang bersifat power distance, serta (c) menyodorkan sebuah gagasan penting mengenai pembauran sosial yang sangat mengedepankan sikap saling menghargai antarsesama suku, sehingga dapat menumbuhkan rasa persatuan, persaudaraan, dan solidaritas yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gagasan, perasaan, dan aspirasi pengarang yang tertuang di dalam novel Laskar Pelangi disampaikan oleh Andrea begitu banyak dan sangat berimplikasi terhadap perubahan sosial. Persoalan sosial budaya yang terjadi di Belitong, merupakan sebuah hipogram potret sosial dari kondisi yang masih terjadi pula di Indonesia selama ini. Untuk itu, disarankan kepada semua pihak seperti guru, dosen, pemerhati sastra, dan peneliti sastra agar memanfaatkan penelitian ini sebagai referensi dalam kegiatan pembelajaran dan bahan pembanding dalam diskusi kesastraan. Mengkaji pandangan dunia pengarang dalam sebuah novel cukup penting, karena pandangan dunia ini bukan hanya sebuah fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat menyatukan kelompok sosial masyarakat.

Dinamika seni tari Kiprah Glipang "Sanggar Andhika Jaya dan Sanggar Putra Andhika Jaya" Desa Pendil Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo era 1980-2014 serta nilai-nilai edukasinya / Dwi Candra Wibawa

 

ABSTRAK Wibawa. Dwi Candra. 2015. DinamikaSeniTariKiprahGlipang“SanggarAndhika Jaya danSanggarPutra Andhika Jaya”DesaPendil Kecamatan BanyuanyarKabupatenProbolinggotahun 1980-2014 danNilai-nilai Edukasinya. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Yuliati, M.Hum, (II) Dr. Abdul Latif Bustami, M.Si Kata Kunci :Dinamika, Seni, Tari Kiprah Glipang, Nilai-nilai Edukasi Makna tari Kiprah Glipang Probolinggo merupakan simbolisme perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Maksuddariperlawanansimbolisini, yaitukarenapadawaktuitumasyarakatmasihbelummampumelawansecarafisik, yang akhirnyamerekamembuatperkumpulandanmenciptakansebuahtarian, yang mengekspresikanseorangprajuritketikasedangmenujumedanperanguntukmelawanpenjajahBelanda.Alasandipilihnyapenelitianiniadalahkedekatanemosional, peneliti ingin menunjukkaneksistensi kesenian tari Kiprah Glipang pada masyarakat Desa Pendil Kabupaten Probolinggo serta untuk mengetahui lebih jauh tentang dinamika kesenian tari Kiprah Glipang dalam setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang dinamika yang terjadi pada kesenian tari Kiprah Glipang tahun 1980-2014, mendiskripsikan upaya masyarakat Desa Pendil dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk melestarikan kesenian tari Kiprah Glipang, serta menjelaskan tentang nilai-nilai edukasinya. Pendekatan yang digunakan adalahpendekatankualitatifdenganmetodehistoris(penelitiansejarah). Penelitiansejarah merupakanpenelitian yang mencobauntukmendeskripsikansecarasistematisdanobjektifmelaluiberbagaitahap. Adapunlangkah-langkahdalampenelitiansejarahadalah: (1) Pemilihantopik, (2) Pengumpulansumber (heuristik), (3) Kritiksejarah/keabsahansumber (verifikasi), (4) (interpretasi), (5) Penulisansejarah (historiografi). Hasil penelitian diperoleh sebagai berikut: (1) Dinamika Seni Tari Kiprah Glipang Era 1980-1988 ini sangat pesat, kesenian Kiprah Glipang tampil pada eventtingkat propinsi sampai tingkat nasional dan pada era tahun ini juga ditemukan adanya dinamika terlihat pada aspek seniman, kostum, alat musik, gerakan tari dan durasi waktu, (2) Dinamika Seni Tari Kiprah Glipang era 1991-1999 masih mewujudkan eksistensinya dalam pementasannya. Dinamika pada era tahun ini terlihat di lembaga pendidikan serta kesenian tari Kiprah Glipang mengalami dinamika pada aspek penambahan kostum di Era 1999. (3) Dinamika Seni Tari Kiprah Glipang era 2004-2014, pada era ini perkembangan kesenian tari Kiprah Glipang mengalami kemajuan yang pesat. Pemerintah Kabupaten Probolinggo sering mengadakan event untuk melestarikan kesenian tari Kiprah Glipang ini. Dinamika yang terjadi era tahun ini adanya nampak pada aspek alat musiknya, terjadi perubahan kreasi bentuk alat musik Kentongan yang diciptakan oleh seniman Kiprah Glipang. (4) berbagai upaya yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Pendil dan pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk menjaga dan melestarikan kesenian tari Kiprah Glipang. Nilai edukasi yang terkandung dalam kesenian tari Kiprah Glipang ini salah satunya nilai pendidikan Karakter, seperti karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya dan suka menolong dan gotong-royong, selain nilai pendidikan karakter nilai muatan lokal juga terdapat dalam kesenian tari Kiprah Glipang, seperti seni budaya. Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran kepada berbagai pihak, 1) Bagi pemerintahan Kabupaten Probolinggo, diharapkan agar lebihseriusdalam mengesahkan hak paten tentang kesenian Kiprah Glipang sebagai kesenian khas masyarakat Kabupaten Probolinggo, 2) Bagi masyarakat Desa Pendil, agarkeikutsertaandalammenjaga, melestarikan, memperkenalkankesenianTariKiprahGlipanginisebagaikeseniankhasMasyarakatKabupatenProbolinggo, 3) Bagi peneliti selanjutnya agar bisamengupastentangKonflik yang terjadiantaraKesenianKiprahGlipangKabupatenProbolinggodengankesenianGlipangLumajang.

Studi tentang pengembangan soft skill siswa mekanik otomotif di SMK Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2010/1011 / Totok Hariono

 

Kata Kunci : pengembangan soft skill siswa. Dampak yang dapat dilihat adalah ketika lulusan sudah memasuki dunia kerja. Secara keilmuan dan keterampilan (Hard Skill) mereka adalah pekerja yang siap, tetapi secara mental mereka belum siap. Jarang lembaga pendidikan yang menyiapkan lulusanya untuk cepat beradaptasi dengan lingkungannya, memiliki kemampuan bekerja dalam tekanan, memiliki kreativitas dan inovatif, kemampuan komunikasi interpersonal dan komunikasi massa, kesiapan menghadapi pimpinan, kesiapan menghadapi ritme dan volume kerja, kemampuan membaca prosedur kerja, kemampuan menganalisis situasi kerja, dan berbagai sikap lain (Soft Skill). Karena lembaga perusahaan sekarang ini dalam merekrut karyawan atau tenaga kerja lebih mementingkan soft skill dari pada hard skill. Research dan fakta aktual di lapangan menunjukkan bahwa soft skill memiliki peran penting dalam menentukan kesuksesan seseorang dalam bekerja. Hard skill merupakan persyaratan minimal bagi seseorang untuk memasuki bidang pekerjaan tertentu, sedangkan soft skill akan menentukan pengembangan diri dalam pekerjaan. Adapun tujuan dalam penelitian ini yaitu: 1) Mendeskripsikan tentang pengembangan soft skill siswa Mekanik Otomotif di SMK Negeri 12 Malang, 2) Mendeskripsikan kendala yang dihadapi sekolah dalam pengembangan soft skill siswa Mekanik Otomotif di SMK Negeri 12 Malang, 3) Mendeskripsikan kebijakan yang diambil sekolah terhadap pengembangan soft skill siswa Mekanik Otomotif di SMK Negeri 12 Malang, 4) Mendeskripsikan implementasi kebijakan sekolah dalam pengembangan soft skill siswa Mekanik Otomotif di SMK Negeri 12 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan atau jenis penelitian kualitatif. Pendekatan ini diambil berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain: 1) Penelitian ini tidak mengukur variabel-variabel, dan 2) penelitian ini berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan. Penelitian ini menggunakan salah satu jenis pendekatan penelitian kualitatif yaitu jenis pendekatan fenomologis adalah suatu kebenaran yamg di dapatkan dengan cara menangkap fenomena yang memancar dari apa yang diteliti. Menurut Iskandar (2009:204) penelitian fenomologis berorientasi untuk memahami, menggali dan menafsirkan arti dari peristiwa-peristiwa, fenomena-fenomena dan hubungan dengan orang-orang yang biasa dalam situasi tertentu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebagian besar para pengajar jurusan Mekanik Otomotif beranggapan bahwa soft skill mutlak dibutuhkan oleh siswa, dan harus lebih dikembangkan lagi. Menurut para pengajar bahwa soft skill siswa Jurusan Mekanik Otomotif pada umumnya sudah baik, sedangkan di Jurusan Mekanik Otomotif sendiri belum ada kebijakan yang baku untuk meningkatkan i ii soft skill bagi siswanya. Sebagian besar pengajar sendiri telah mempunyai cara-cara khusus untuk mengembangkan soft skill siswa, dalam melaksanakan cara-cara tersebut para pengajar mempunyai kendala tersendiri dan berbeda-beda tiap pengajar. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu, 1) Keseluruhan para pengajar beranggapan bahwa soft skill siswa Jurusan Mekanik Otomotif sudah baik, 2) Kebijakan sekolah dalam mengembangkan soft skill bagi siswa mengambil kebijakan dengan cara sepenuhnya menyerahkan ke pengajar mata pelajaran agar dikembangkan sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, 3) Sebagian besar para pengajar beranggapan pengimplementasian kebijakan untuk mengembangkan soft skill di Jurusan Mekanik Otomotif bisa dikatakan kurang diimplementasikan dengan baik oleh sebagian besar para pengajar atau guru, 4) Kendala yang dihadapi menurut para pengajar dalam mengembangkan soft skill beragam mulai dari faktor siswa sampai dengan dukungan fasilitas yang kurang.

Pengaruh variasi lama sintering dan ukuran pertikel terhadap kuat tekan dan mikrosreuktur keramik porselin / Fenny Dwi Rahayu

 

Kata kunci: Lama sintering, Ukuran partikel, Kuat tekan, Mikrostruktur. Pada umumnya, porselen dipanaskan sampai suhu 1350 0C atau 1400 0C, bahkan ada yang lebih tinggi lagi hingga mencapai 1500 0C dengan waktu yang relatif lama, sehingga keramik porselen mempunyai kualitas yang tinggi, dan pada saat pemanasan dengan suhu tinggi tersebut terjadi penggelasan atau vitrifikasi pada body keramik. Namun, pada penelitian ini menggunakan pemanasan pada suhu rendah, yakni ada bahan tambahan yang disebut frit, yang bisa membuat keramik ini tetap kuat walaupun dengan suhu rendah. Pada penelitian-penelitian sebelumnya telah dilakukan sintering dengan lama penahanan 3 jam, 4 jam, 6 jam bahkan ada yang mencapai 12 jam. Sehingga pada penelitian ini, peneliti mencoba menvariasi lama penahanan 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam dan 10 jam. Porselen yang tampaknya tipis dan rapuh sebenarnya mempunyai kekuatan karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti gelas. Adapun penelitian ini bertujuan mengetahui berapa besar kuat tekan dan bagaimana bentuk mikrostruktur keramik porselen jika lama sintering dan ukuran partikelnya divariasi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisika Material FMIPA Universitas Negeri Malang dan di BPTIK Malang, bulan maret sampai juni 2010. Adapun langkah-langkah penelitian yang dilakukan adalah:(1) menge-mesh bahan kaolin, ball clay, silika dan frit dengan variasi masing-masing mesh 80, mesh 100 dan mesh 200. (2) menimbang bahan. (3) mencampur bahan. (4) mencetak bahan. (5) mengeringkan bahan dengan suhu 110 0C. (6) bahan disintering dengan variasi lama yang berbeda yakni waktu 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam dan 10 jam dengan suhu kontrol yakni 1250 0C. (7) menguji kuat tekan keramik. (8) melakukan Uji Mikrostruktur dengan menggunakan SEM. Kemudian di analisis. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa: (1) waktu lama sintering untuk menghasilkan nilai kuat tekan tertinggi adalah 6 jam yakni sebesar 41,76 MPa. (2) hubungan kuat tekan keramik porselen terhadap variasi ukuran partikel terdapat pengaruh yakni semakin halus ukuran partikel maka semakin besar nilai kuat tekan yang didapat, sehingga didapat nilai kuat tekan tertinggi ketika menggunakan mesh 200 sebesar 41,75 MPa. (3) pada variasi lama penahanan 4 jam, 6 jam dan 8 jam, kehomogenan dan pemerataan pendistribusian grain terjadi pada bahan dengan lama penahanan 6 jam. Pada lama penahanan 6 jam ini memiliki nilai kuat tekan yang paling besar. (4) pada variasi ukuran partikel mesh 80, 100 dan 200 masih terdapat kekurang homogenan, tetapi pada ukuran mesh 200 memiliki ukuran butiran yang kecil sehingga keramik pada butiran yang paling halus ini berpengaruh pada nilai kuat tekannya dan memiliki nilai kuat tekan yang tinggi.

Pengaruh investasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja dalam sub sektor industri manufaktur besar dan sedang di kota Malang tahun 1998-2008 / Nur Mariatul Kifayah

 

Kata Kunci: Penyerapan Tenaga Kerja, Investasi, Pertumbuhan Ekonomi. Persoalan pokok yang dihadapi Indonesia dalam bidang ketenagakerjaan adalah kelebihan tenaga kerja serta kecilnya kesempatan kerja yang tercipta pada setiap sektor sehingga terjadi pengangguran. Investasi merupakan faktor penting dalam menciptakan lapangan kerja yang pada gilirannya akan mengurangi pengangguran. Dengan demikian terjadi penambahan output dan pendapatan baru pada faktor produksi tersebut yang akan menciptakan keberhasilan pertumbuhan ekonomi sehingga meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan pengaruh investasi terhadap penyerapan tenaga kerja dalam sub sektor industri manufaktur besar dan sedang di Kota Malang. 2) Mendeskripsikan pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja dalam sub sektor industri manufaktur besar dan sedang di Kota Malang. 3) Mendeskripsikan pengaruh variabel investasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja dalam sub sektor industri manufaktur besar dan sedang di Kota Malang. 4) Mendeskripsikan variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap penyerapan tenaga kerja dalam sub sektor industri manufaktur besar dan sedang di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksplanatif yaitu menjelaskan bagaimana atau adakah pengaruh investasi dan pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja. Penelitian ini menggunakan data time series tahun 1998-2008. Seluruh data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari BPS Kota Malang dan DISPERINDAG Kota Malang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, yaitu teknik atau proses untuk memperoleh data dengan jalan mengumpulkan, mencatat, merekam data-data yang telah dipublikasikan oleh instansi-instansi terkait. Sedangkan analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda. Berdasarkan alat analisis yang digunakan, maka peneliti telah memperoleh hasil bahwa secara parsial, investasi berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dengan nilai thitung>ttabel yaitu 9,837>2,024 begitu juga pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja dengan nilai thitung>ttabel yaitu 3,593>2,024. Selain itu, investasi dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara simultan terhadap penyerapan tenaga kerja dengan nilai Fhitung >Ftabel yaitu 50,941>5,25 sehingga dari hasil uji t dapat diketahui bahwa variabel dominan berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja adalah investasi dengan nilai thitung>ttabel lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara parsial dan simultan variabel investasi dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Sedangkan variabel investasi berpengaruh dominan terhadap penyerapan tenaga kerja dengan nilai thitung (9,837) lebih besar dari ttabel (2,024). Saran dari peneliti untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor industri yang ada di Kota Malang sebagai berikut : Pemerintah lebih mempermudah pinjaman modal dengan bunga ringan ; Perusahaan lebih meningkatkan kualitas tenaga kerja dan potensi investasi ; Diharapkan untuk penelitian selanjutnya mampu memperoleh data dengan periode penelitian yang lebih banyak dan lebih luas dengan memasukan variabel penjelas lain.

Penerapan model role playing pada mata pelajaran IPS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Purwodadi 3 Kecamatan Blimbing kota Malang / Adellia Shinta Dewi

 

Kata Kunci: Model Role Playing, Aktivitas, Hasil Belajar, IPS SD. Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran IPS kelas IV di SDN Purwodadi 3, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS di kelas IV. Permasalahan tersebut antara lain: (1) terjadi kebosanan pada siswa saat pembelajaran berlangsung, hal tersebut menandakan lemahnya aktivitas belajar siswa; (2) rendahnya tingkat partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran; (3) iklim pembelajaran masih bersifat teacher centered. Hal tersebut disebabkan karena metode yang digunakan lebih banyak ceramah. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah model Role Playing, yaitu model pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan model Role Playing pada pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN Purwodadi 3; (2) mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa melalui penerapan model Role Playing; (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model Role Playing. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Adapun rancangan PTK yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan observasi, refleksi dan rencana perbaikan. Empat tahap tersebut merupakan langkah berurutan dalam satu siklus dan berhubungan dengan siklus berikutnya. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Purwodadi 3 Kota Malang dengan jumlah siswa 29 anak. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Role Playing pada Pembelajaran IPS telah berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Purwodadi 3. Hal ini dilihat dari perolehan observasi tentang aktivitas siswa serta rata-rata postes yang terus meningkat. Berdasarkan hasil observasi, aktivitas siswa mengalami peningkatan pada siklus II, yang paling tampak yaitu sebagian besar siswa sudah berani bertanya/menjawab serta melaporkan hasil diskusi. Hasil belajar siswa terus meningkat mulai dari rata-rata sebelumnya (63,55) mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (74,48) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya yaitu (55,17%) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (83,21) dan prosentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (82,76%). Berdasarkan pembahasan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model Role Playing pada Pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Purwodadi 3 Kecamatan Blimbing Kota Malang. Disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin. Sehingga dari penelitian ini disarankan agar para guru memilih dan menerapkan model pembelajaran yang lebih inovatif, menarik dan komunikatif agar siswa lebih aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran.

Penerapan metode permainan remas daun sepatu untuk meningkatkan kemampuan motorik halus dan minat belajar anak kelompok A di TK Muslimat 01 Sukolilo Jabung Malang / Dewi Izzatu Afifah

 

Kata kunci: metode permainan remas daun sepatu, kemampuan fisik motorik halus, minat belajar, taman kanak-kanak. Fisik motorik halus merupakan gerakan anak yang menggunakan otot-otot halus dan sebagian anggota tertentu yaitu koordinasi bagian kecil dari tubuh, terutama tangan dengan panca indera. Pada kegiatan menulis kelompok A di TK Muslimat 01 belum mencapai hasil maksimal. Hal ini dikarenakan guru memberi pembelajaran yang monoton, terlalu mengandalkan buku paket, kurangnya inovasi-inovasi pembelajaran, dan karena kurangnya pengetahuan guru tentang ke-PAUD-an. Remas daun sepatu merupakan salah satu permainan yang bisa dijadikan pembelajaran inovatif mampu meningkatkan kemampuan fisik motorik halus dan minat belajar anak. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana penerapan permainan remas daun sepatu untuk meningkatkan kemampuan gerak motorik halus dan minat belajar pada anak di kelompok A?; (2) Apakah penerapan permainan remas daun sepatu dapat meningkatkan minat belajar anak di kelompok A?; (3) Apakah penerapan permainan remas daun sepatu dapat meningkatkan kemampuan gerak motorik halus di kelompok A? Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendekripsikan: (1) Mendeskripsikan langkah-langkah pelasanaan penerapan permainan remas daun sepatu guna meningkatkan kemampuan gerak motorik halus dan minat belajar pada anak di kelompok A; (2) Mendeskripsikan penerapan metode permainan remas daun sepatu untuk meningkatkan kemampuan fisik motorik halus dan minat belajar anak di kelompok A; (3) Mendeskripsikan penerapan permainan remas daun sepatu untuk meningkatkan minat belajar anak di kelompok A. Metode dalam penelitian ini menggunakan: (1) Rancangan penelitian deskriptif, melalui (a) Tahap perencanaan yaitu menentukan indikator, menjabarkan indikator, merumuskan KBM, dan menentukan media dan perlatan permainan; (b) Tahap pelaksanaan yang sesuai tahap perencanaan; (c) Observasi kegiatan; (d) Refleksi; (2) Latar dan subjek penelitian ini di TK Muslimat 01 Sukolilo Jabung Malang dengan jumlah 22 siswa; (3) Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dari proses observasi; (4) Instrumen penelitian diisi ketika observasi berlangsung; (5) Analisis permainan ini adalah keaktifan siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah metode permainan remas daun sepatu dapat meningkatkan kemampuan fisik motorik halus mencapai 91,63% dan kemampuan minat belajar anak mencapai 99,6%. Saran dalam penelitian ini adalah permainan tradisional harus tetap dilestarikan mengingat banyak manfaat bagi anak-anak, salah satunya permaian remas daun sepatu yang dapat dijadikan koleksi pembelajaran inovatif dan menyenangkan di TK.

Penerapan promosi unruk pengenalan produk baru pada PT. Bank Negera Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama malang / Hazar Umadita Sahara

 

Kata Kunci: Promosi, produk baru Akibat semakin ketatnya persaingan di dunia perbankan, maka akan berdampak pada pendapatan atau omset bank itu sendiri. Untuk itu suatu bank dituntut memperluas market sharenya agar tidak kalah dengan bank lain, dalam mengatasi hal ini maka pihak bank perlu menyusun strategi pemasaran yang efisien dan sesuai dengan kondisi pasar bank pada saat ini. Dengan menggunakan metode marketing mix diharapkan akan dapat meningkatkan omset dan pendapatan yang bersangkutan. Telah kita ketahui bahwa marketing mix itu dapat di implementasikan dalam sistem pemasaran. Dalam rangka memenangkan persaingan antara bank dalam menjalankan bauran pemasarannya dapat dilakukan berbagai strategi. Salah satu isi dari marketing mix adalah promosi yang merupakan kumpulan kiat insentif yang beraneka ragam. Kebanyakan berjangka pendek dirancang untuk pembelian suatu produk atau jasa tertentu secara lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen ataupun nasabah. Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa promosi adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh produsen atau pemasar untuk menginformasikan, mempengaruhi serta membujuk para calon pembeli tentang keberadaan suatu produk barang dan jasa yang dihasilkan, agar konsumen tertarik untuk membeli serta menggunakan barang atau jasa yang ditawarkan tersebut. Berdasarkan uraian diatas kegiatan promosi dapat menggunakan berbagai jenis promosi secara simultan dan terintegrasi dalam suatu rencana promosi produk yang merupakan kombinasi dari unsur-unsur promosi yang lebih dikenal dengan bauran promosi atau promotion mix. Lima jenis promosi yang biasa disebut bauran promosi yaitu iklan (addvertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat dan publisitas (publicity and public relation), serta pemasaran langsung (direct marketing) untuk memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan. Hal ini telah melatar belakangi penulisan Tugas Akhir ini, yaitu untuk mengetahui: (1) Bagaimana ragam promosi yang digunakan dalam upaya pengenalan produk baru pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama Malang, (2) Bagaimana penerapan strategi promosi yang digunakan untuk pengenalan produk baru pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama Malang, (3) Apakah faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pengenalan produk baru pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama Malang. Adapun dalam penerapan promosi untuk pengenalan produk baru pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama Malang terdiri dari tiga hal yaitu: (1) Ragam promosi yang digunakan oleh PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama Malang yaitu melalui komunikasi langsung atau tatap muka (personal selling), iklan (addvertising), penggunaan promosi melalui media. Promosi penjualan (sales promotion) diunakan untuk menarik nasabah agar membeli produk atau jasa yang ditawarkan. Publisitas (publicity) merupakan kegiatan promosi untuk memancing nasabah melalui kegiatan seperti pameran, bakti sosial dan kegiatan lainya. (2) Penerapan strategi promosi dimana dalam pelaksanaannya pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Utama Malang menggunakan Strategi pengeluaran promosi untuk mengetahui standar pengeluaran promosi yang dialokasikan. Strategi bauran promosi, strategi berupaya memberikan distribusi yang optimal dari setiap metode promosi. Strategi pemilihan media, strategi ini untuk memilih media yang tepet untuk kampanye iklan. Strategi copy periklanan untuk menjelaskan manfaat produk. Strategi penjualan, memindahkan posisi ketahap pembelian melalui penjualan tatap muka. Strategi motivasi, dalam motivasi terdapat kompensasi dan evaluasi. (3) Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan promosi produk baru pada Bank Negara Indonesia, adanya cabang-cabang pembantu di beberapa wilayah, adanya ATM Bersama yaitu bekerjasama dengan bank-bank milik pemerintah. Adanya kerjasama antara perusahaan swasta. Adapun faktor penghambat yaitu adanya peraturan daerah yang sangat ketat. Masih sedikitnya media televisi swasta di daerah malang yang menyebabkan promosi tidak efisien, mahalnya biaya iklan di wilayah malang. Oleh karena itu berdasarkan pemaparan diatas, dapat diberikan saran untuk (1) Meningkatkan promosi yang efektif dan efisien melalui media iklan. (2) Meningkatkan promosi melalui segmentasi pasar dan pasar sasaran yaitu segmentasi demografik. (3) Memberikan rasa puas kepada nasabah melalui mutu pelayanan yang berkualitas. (4) perlunya menambah mesin ATM di tempat-tempat strategis dan pusat perbelanjaan.

Using directed reading-thinking activity (DR-TA) to improve the students' reading comprehension at the english education study program of STAIN Palangkaraya / Santi Erliana

 

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharmanto Ruslan, M. Pd, Advisor (II) Drs. Fachrurrazy, M.A., Ph. D Kata kunci: DR-TA, keterampilan membaca, teks ekspositori Teks ekspositori merupakan salah satu teks yang diajarkan pada tingkat perguruan tinggi. Teks informatif ini dianggap sebagai teks yang paling sulit bagi mahasiswa bahasa Inggris semester dua di STAIN Palangkaraya dari teks-teks yang lain mengingat teks ini menggunakan kosakata baru dan kontekstual, dan diorganisir menggunakan lebih dari satu struktur. Pendekatan berbasis proses yang menjadi acuan Strategi DR-TA dipadukan dengan restrukturisasi, prosedur pengajaran yang berupaya membangun kewaspadaan siswa terhadap penggunaan struktur tertentu dalam teks informatif, diterapkan dalam penelitan tindakan kolaboratif ini. Penelitian tindakan ini dilaksanakan pada mahasiswa semester dua pada mata kuliah Membaca Pemahaman II di STAIN Palangka Raya untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan kemampuan membaca dengan menggunakan strategi DR-TA dipadukan dengan restrukturisasi. Strategi DR-TA meliputi tiga fase (prediksi, membaca dalam hati terbimbing, dan pembuktian prediksi) bertujuan mengarahkan mahasiswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi proses membaca mereka. Berdasarkan temuan dari penelian yang dilakukan dalam dua siklus menunjukkan bahwa strategi ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa, khususnya kemampuan mengidentifikasi topik, ide pokok, organisasi yang dipergunakan penulis dalam menulis teks ekspositori, struktur teks, informasi tersurat, dan menarik kesimpulan dari pesan tersirat yang disampaikan penulis. Nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan yang pesat dari 70 pada tes pendahuluan menjadi 72.93 pada Siklus 1, dan 80 pada Siklus 2. Temuan penelitian juga menunjukkan hasil positif bahwa siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dari 58.14% di Siklus 1 menjadi 79.2% di Siklus 2. Peningkatan kemampuan membaca dapat dilihat melalui pendekatan melalui tiga tahap prosedur pelaksanaan strategi DR-TA yakni sebelum membaca, membaca, dan sesudah membaca. Tahap sebelum membaca bertujuan meningkatkan pengetahuan bahasa dengan cara meningkatkan pengetahuan awal mereka. Langkah-langkahnya adalah menampilkan gambar yang berkaitan dengan topik dan memperkenalkan kosakata baru atau kontekstual dengan cara menuliskannya pada papan tulis. Kemudian, terdapat lima langkah pada tahap membaca yaitu prediksi, membaca dalam hati terbimbing, pembuktian prediksi, restrukturisasi, dan evaluasi pemahaman isi bacaan. Langkah-langkah pada tahap prediksi adalah: (1) menulis judul dari teks yang akan dibaca pada papan tulis, (2) mengelompokkan kelas, (3) memberikan model atau simulasi bagaimana menyatakan prediksi, (4) membagikan lembar kerja siswa, (5) meminta siswa membuat prediksi secara lisan, (6) membuat daftar prediksi siswa pada papan tulis, dan (7) meminta siswa mendiskusikan daftar prediksi yang tersedia di papan tulis, dan menyatakan pendapat mereka atas prediksi yang paling baik. Sementara itu, langkah-langkah pada tahap membaca dalam hati terbimbing adalah (8) membagikan teks yang akan dibaca, (9) meminta siswa untuk membaca teks dengan tujuan untuk mengidentifkasi komponen essai, kata kunci yang diperkenalkan diawal, dan menemukan informasi yang mendukung atau menolak prediksi mereka, dan (10) memberikan modeling, contoh atau simulasi bagaimana membuktikan prediksi. Kemudian, langkah-langkah pada tahap pembuktian prediksi adalah: (11) meminta siswa untuk mengkonfirmasikan prediksi mereka, dan (12) meminta siswa untuk membuktikan prediksi mereka dengan menunjukan informasi yang terdapat dalam teks untuk mendukung pendapat mereka. Setelah ketiga fase DR-TA selesai, fase berikutnya adalah restrukturisasi. Adapun langkah-langkahnya adalah (13) meminta siswa mengidentifkasi struktur yang digunakan dalam teks, dan (14) meminta siswa melengkapi graphic organizer yang telah disediakan. Akhirnya, pemahaman siswa akan isi teks dievaluasi pada langkah (15) pertanyaan pemahaman secara lisan kepada siswa. Akhirnya, rekomendasi hasil penelitian ini ditujukan kepada siswa, pengajar bahasa Inggris, dan peneliti pada bidang yang sama. Pertama-tama, siswa diharapkan tidak hanya menggunakan DR-TA ketika dikelas membaca saja, namun pada saat dimana mereka sedang membaca teks apapun jenisnya. Kemudian bagi pengajar dianjurkan untuk menggunakan DRTA dalam mengajar. Akhirnya untuk peneliti pada bidang yang sama, pengembangan prosedur strategi DR-TA dalam penelitian tindakan dapat dilaksanakan dengan memperluas keahlian mikro reading untuk tingkat kebisaan yang lebih tinggi.

Using Web folio to improve the writing skills of the students of informatics management / Atiqah Nurul Asri

 

Tesis, Jurusan Pengajaran Bahasa Inggris, Program Pasca Sarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Monica D. D. Oka, M.A., (II) Prof. Dr. Nur Mukminatien, M.Pd. Kata kunci: web folio, meningkatkan, kemampuan menulis Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa dengan menggunakan web folio. Dalam penelitian ini asesmen dianggap sebagai bagian dari proses pengajaran sehingga web folio digunakan sebagai instrumen yang tidak hanya menskor tetapi juga meningkatkan kemampuan menulis siswa. Subyek penelitian ini adalah mahasiswa semester tiga Program Studi Manajemen Informatika Poiteknik Negeri Malang, kelas 2C. Berdasarkan penelitian sebelum penelitian tindakan ini dilakukan, dengan menggunakan rubrik penelitian yang diperkenalkan Berhman pada tahun 2003, diperoleh bahwa 75% tulisan mahasiswa termasuk dalam kategori insufficient atau uneven (dinilai 2). Maka dari itu, dengan memanfaatkan salah satu laboratorium multimedia yang memfasilitasi komputer yang terhubung dengan internet bagi tiap mahasiswa, web folio diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulis mereka. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif dan dilakukan selama dua siklus yang masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tahap perencanaan meliputi: (1) mengidentifikasi tujuan penelitian, (2) menentukan konten web folio yang akan dibuat, (3) menyiapkan aplikasi web yang akan digunakan, (4) menyiapkan rubrik penilaian, dan (5) menginformasikan web folio ini pada pihak-pihak yang terkait dengan pengajaran. Adapun tahap pelaksanaan adalah tahap mengimplementasikan strategi web folio yang terdiri dari: (1) menjelaskan strategi ini secara lisan dan melengkapi penjelasan dengan petunjuk pengerjaan secara tertulis dan contoh web folio yang dibuat pengajar, (2) memperkenalkan aplikasi web yang telah disiapkan sebelumnya dan meminta siswa membuat akun di situs web yang digunakan, (3) mengajarkan materi tentang paragraf dan esai dan meng-unggahnya di situs web yang digunakan, (4) melakukan asesmen (dilakukan sendiri, dengan bantuan teman, dan oleh guru) dan memberikan umpan balik, (5) meng-unggah hasil tulisan siswa di situs web, dan (6) memberikan skor. Tahap selanjutnya adalah tahap pengamatan di mana data dicatat dan dikumpulkan selama strategi dilaksanakan dengan menggunakan instrumen penelitian seperti catatan penelitian, lembar observasi, petunjuk interview, kuesioner, dan web folio mahasiswa itu sendiri. Penelitian ini difokuskan pada proses implementasi strategi web folio dan produk yaitu tulisan siswa secara kuantitas (jumlah entri/tulisan siswa) dan kualitas (skor entri siswa yang didasarkan rubrik penilaian Berhman) sebagai bukti siswa mengalami peningkatan pada kemampuan menulisnya. Penelitian ini dianggap berhasil jika memenuhi kriteria keberhasilan sebagai berikut: (1) 80% siswa dapat menampilkan 3 entri atau lebih dalam bentuk paragraf atau esai yang berhubungan dengan informatika dan (2) 60% nilai rata-rata entri siswa termasuk kategori sufficient (atau dinilai 3) Dari data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa semua kriteria keberhasilan tercapai ketika siklus kedua berakhir. Dari catatatan penelitian dan lembar observasi, dapat disimpulkan bahwa strategi web folio benar-benar diimplementasikan di kelas dan berhasil meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. Dari produk tulisan yaitu web folio siswa dapat disimpulkan bahwa 90% entri siswa diunggah di situs web, terdiri dari paling sedikit 3 entri dalam bentuk paragraf dan esai; dan 90% skor entri siswa (berdasarkan rubrik penilaian Berhman) termasuk kategori sufficient (nilai rata-rata 3). Di samping itu, dari kuisioner dan hasil interview, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa sangat antusias dan termotivasi selama strategi web folio diimplementasikan.

Respons kalus lima klon abaca pada media MS+BAP+Vitamin C dan respons tunas yang dihasilkan pada medium MS+Arang aktif / Asnawi Hasan Syahrony

 

Kata kunci: klon abaca, respons kalus, proliferasi tunas, pembentukan akar Abaca (Musa textilis Nee) merupakan tanaman penghasil serat berkualitas tinggi dan berdaya guna luas yang berasal dari Filipina, dan termasuk ke dalam genus Musa, familia Musaceae. Abaca sebagai komoditas ekspor dapat dikembangkan dalam skala luas, namun kendala utama yang dihadapi adalah penyediaan bibit bermutu dalam jumlah besar dan dalam waktu yang cepat. Kultur jaringan merupakan salah satu alternatif untuk membantu masalah tersebut, karena dengan teknik kultur jaringan dapat diperoleh bibit dalam jumlah besar, bebas penyakit, dan dalam waktu yang singkat. Balittas mempunyai koleksi beberapa klon abaca yang telah diketahui karakternya. Banyak di antara klon-klon abaca koleksi Balittas yang belum diketahui tingkat proliferasi dan perakarannya pada kultur in vitro, sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui tingkat proliferasi dari beberapa klon abaca tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan respons kalus lima klon abaca koleksi Balittas, dengan parameter kecepatan muncul tunas, jumlah tunas dan kecepatan muncul akar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk memperoleh data klon abaca yang memliki kecepatan pertumbuhan yang paling baik, tambahan informasi bagi pengembangan teknik kultur jaringan abaca dalam rangka penyediaan bibit tanaman dalam skala besar, dan dapat digunakan untuk menghitung efisiensi waktu, bahan, dan tenaga terhadap pengembangan kultur jaringan abaca. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas) Karangploso-Malang, mulai bulan November 2009 sampai bulan Januari 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), 5 klon abaca sebagai perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah respons kalus lima klon abaca yang meliputi kecepatan muncul tunas, jumlah tunas yang dihasilkan, dan kecepatan muncul akar. Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis menggunakan Anava dan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan paling baik digunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan taraf signifikasi 5%. Hasil penelitian menunjukkan pada analisis jumlah tunas didapatkan hasil signifikan, dengan jumlah tunas paling tinggi pada klon tangongon, UB 13, dan UB 8. Analisis kecepatan munculnya tunas menunjukkan hasil signifikan dengan kecepatan muncul tunas paling cepat pada klon UB 8, UB 13, tangongon dan UB 11. Analisis kecepatan muncul akar menunjukkan hasil signifikan dengan kecepatan muncul akar paling cepat pada klon tangongon dan UB 8.

Pengembangan media pembelajaran berbasis WEB pada mata pelajaran IPS kelas V di SD Muhammadiyah Sidayu Gresik / Liya Farokah

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran Berbasis Web, Ilmu Pengetahuan Sosial. Penggunaan teknologi internet untuk keperluan pendidikan yang semakin meluas terutama di negara maju, merupakan fakta yang menunjukkan bahwa dengan media ini memang dimungkinkan diselenggarakannya proses belajar mengajar yang lebih efektif. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di lapangan, diketahui bahwa pembelajaran di SD Muhammadiyah masih menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah dan berpusat pada buku teks. Proses pembelajaran seperti ini sangat membosankan dan kurang menarik minat siswa karena hanya terpusat pada guru sebagai pusat informasi dan pembelajaran terbatas oleh waktu, sedangkan mata pelajaran IPS merupakan bidang studi yang rumit dan ruang lingkupnya sangat luas. Web dijadikan pilihan untuk digunakan sebagai media pembelajaran, sebab selain bisa dikombinasikan dengan teks, gambar, suara, juga dapat dikombinasikan dengan video. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk berupa media pembelajaran berbasis web sebagai salah satu alternatif pilihan media untuk mempermudah proses pembelajaran IPS. Desain pengembangan media ini menggunakan model pengembangan Arif S. Sadiman dengan subjek uji coba adalah siswa kelas V di SD Muhammadiyah Sidayu. Jenis data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari tanggapan ahli materi, ahli media dan siswa terkait dengan kualitas media yang dihasilkan. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil skor hasil belajar siswa (pre test dan post test) sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran berbasis web. Hasil dari validasi pengembangan media pembelajaran berbasis web ini adalah 1) pada data ahli media dikatakan valid digunakan dengan hasil 82,50%, 2) pada data ahli materi dikatakan cukup valid digunakan dengan hasil 77,5%, 3) pada data siswa kelompok kecil dan uji lapangan hasil yang diperoleh adalah 84,1% dan 87,2% sehingga media dikatakan valid digunakan, 4) pada data hasil pre-test dan post-test kelompok kecil terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 66,7% menjadi 100% dengan demikian media pembelajaran berbasis web yang dikembangkan valid, 5) pada data hasil pre-test dan post-test kelompok klasikal terjadi peningkatan hasil belajar yang semula 54,1% menjadi 80% dengan demikian media yang dikembangkan valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Dalam Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Web pada Mata Pelajaran IPS perlu ada perbaikan dalam pemilihan jenis huruf teks disesuaikan dengan kaidah desain visual, perlu perencanaan visual yang baik agar tampilan lebih menarik, warna bisa diperkaya lagi namun tetap harmonis, beberapa ilustrasi diperbesar agar terlihat lebih jelas dan durasi penyajian materi perlu ditambah.

Penerapan strategi produk dan harga sebagai variabel bauran pemasaran pada PT. PLN (Persero) distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Malang Kota / Rajev Akbar Ratu

 

Kata kunci: strategi, produk dan harga Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi era globalisasi sekarang ini kebutuhan masyarakat dari waktu ke waktu semakin bertambah, baik dari segi ekonomi, politik, sosial, maupun budaya. Karena kebutuhan semakin beragam dan semakin bertambah, persaingan antar perusahaan pun tidak bisa dihindarkan. Persaingan antar perusahaan semakin ketat sehingga menuntut para pelaku bisnis dalam bidang jasa lebih menerapkan strategi pemasaran jasanya. Tujuan perusahaan menciptakan produk sesuai dengan kebutuhan konsumen merupakan tanggung jawab semua departemen, mulai dari bagian produksi, personalia, keuangan hingga pemasaran. Dan penentuan harga merupakan titik kritis dalam bauran pemasaran jasa karena harga menentukan pendapatan dari suatu bisnis. Keputusan penentuan harga juga sangat signifikan, dalam penentuan nilai dan manfaat yang dapat diberikan kepada pelanggan dan merupakan peranan penting dalam gambaran kualitas jasa. Strategi penentuan harga dalam perusahaan jasa dapat menggunakan penentuan tarif premium pada saat permintaan tinggi dan tarif diskonto pada saat permintaan menurun. PT. PLN (Persero) harus mampu melihat dan melaksanakan kebijakan harga yang tepat dari produk yang ditawarkan sehingga menimbulkan daya tarik konsumen. PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Malang Kota merupakan salah satu bagian dari Area Pelayanan dan Jaringan PT. PLN (Persero) Malang serta juga sebagai BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dalam bidang jasa kelistrikan yang melayani pelanggan. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan ingin memberikan kemudahan mengenai pengadaan prasarana listrik bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga PT. PLN (Persero) tetap harus berupaya meningkatkan pemasaran produknya agar lebih dipahami masyarakat. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk (1) Untuk mengetahui pelaksanaan strategi produk pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota, (2) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam melaksanakan strategi produk pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota, (3) Untuk mengetahui strategi penetapan harga pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota, (4) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota. Terdapat pelaksanaan strategi produk pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota yaitu (1) Analisis Situasi, (2) Penentuan Tujuan Produk, (3) Penentuan Sasaran Pasar, (4) Penentuan Anggaran, (5) Penetapan Strategi Produk, (6) Evaluasi Pelaksanaan Strategi. Dan strategi penetapan harga yang digunakan pada PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota yaitu (1) Strategi Penetapan Harga yang Sudah Mapan, (2) Strategi Fleksibilitas Harga, (3) Strategi Kepimpinan Harga. Berdasarkan pratikum yang dilakukan penulis, maka saran yang ingin disampaikan penulis kepada PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Unit Pelayanan Blimbing, adalah (1) Dalam menetapkan kebijakan harga sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Akan tetapi harus tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat dengan pemberian subsidi oleh pemerintah, agar harga dapat dijangkau oleh masyarakat. (2) Dalam melaksanakan strategi produk agar lebih efektif maka PT. PLN (Persero) Unit Pelayanan Malang Kota harus lebih memperketat pengawasan terhadap pegawai misal setiap petugas harus menyerahkan laporan kerjanya setiap selesai melaksanakan tugas, sehingga kegiatan tersebut berjalan efektif. (3) Menerapkan sistem tarif dengan benar dan efektif. (4) Memacu penjualan kWh secara maksimal antara lain dengan mempercepat pelayanan dan mengurangi waktu padam karena gangguan.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |