Meningkatkan keterampilan menulis berita melalui menyimak rekaman berita radio di kelas V SDN Kamulan 02 Kabupaten Blitar / Novialita Angga Wiratama

 

Kata Kunci: menulis, media rekaman berita, hasil belajar. Hasil observasi pembelajaran bahasa Indonesia dalam keterampilan menulis kelas V di SDN Kamulan 02 tahun ajaran 2010/2011 terdapat beberapa kekurangan. Guru hanya menggunakan metode ceramah, tidak menggunakan media sehingga siswa kurang berminat dan tidak aktif dalam pembelajaran. Setelah pembelajaran selesai siswa mengumpulkan hasil pekerjaan di meja guru untuk dinilai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan media rekaman berita radio dalam meningkatkan pembelajaran keterampilan menulis berita dan mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis melalui Menyimak rekaman berita di radio siswa kelas V di SDN Kamulan 02 Kabupaten Blitar. Metode penelitian yang digunakan adalah PTK dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Langkah-langkah penelitian berupa perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data yang diperoleh berupa hasil tes, lembar observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data diawali dengan mengumpulkan data, menyajikan dan mendeskripsikan data kemudian menarik kesimpulan. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan penerapan media rekaman berita radio, diperoleh peningkatan keterampilan menulis berita pada siswa di kelas V. Peningkatan hasil belajar dari pratindakan, siklus I ke siklus II sebagai berikut. Pada pra tindakan rata-rata nilai kelas 59 dengan persentase 40%. Siklus I mengalami peningkatan adalah 68 dengan persentase keberhasilan tindakan sebesar 60%. Siklus II diperoleh rata-rata hasil belajar bahasa Indonesia siswa sebesar 76 dengan persentase keberhasilan tindakan sebesar 80%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia keterampilan menulis setelah diterapkan pembelajaran menggunakan media rekaman berita radio.

Penerapan model cooperative integrated reading and composition untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas V SDN BAndungrejosari 1 Malang / Dewi Fensiska Mardiah

 

Kata kunci: Model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), membaca pemahaman, hasil belajar. Hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas VA SDN Bandungrejosari 1 Malang pada pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi membaca pemahaman didapatkan fakta bahwa pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi. Rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 50,35 dengan ketuntasan kelas 20%, sedangkan SKM yang ditentukan adalah 65,00 untuk hasil belajar dan 65% untuk ketuntasan kelas. Untuk itu agar dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa, perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model CIRC yang dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VA SDN Bandungrejosari 1 Malang. Dalam penelitian ini peneliti menjadi pengajar dan guru kelas sebagai observer. Proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menerapkan model CIRC dapat dilaksanakan dengan efektif dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Aktivitas pembelajaran tersebut meliputi kerjasama membacakan teks bacaan, menemukan gagasan utama, merangkum cerita sekaligus menceritakan kembali, serta saling merevisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model CIRC untuk materi membaca pemahaman cerita rakyat dapat dilaksanakan dengan efektif. Kemampuann membaca pemahaman siswa meliputi pemahaman literal, reorganisasi, dan inferensial. Teks bacaan yang diberikan pada siswa telah disesuaikan dengan formula SMOG. Hasil belajar pada siklus I rata-rata 51,32 dan ketuntasan kelas 40% meningkat pada siklus II menjadi rata-rata 65,34 dan ketuntasan kelas mencapai 73,68%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan bahwa penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana rujukan penelitian lebih lanjut dengan memperhatikan dan melakukan persiapan yang matang dalam pembagian tugas kelompok untuk menghindari kekacauan dalam pengorganisasian kelompok serta memilihkan teks bacaan yang sesuai dengan kelas dan usia siswa.

Penerpan model numbered head together untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pasanggrahan 02 kota Batu / Vita Dwi Agustina

 

Kata kunci: Numbered Head Together (NHT), Kemampuan Membaca Pemahaman, Sekolah Dasar (SD) Penelitian ini berlatar belakang pada kurangnya kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Hal ini disebabkan karena model pembelajarannya yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar masih bersifat konvensional dan teacher centered. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan model NHT untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Penelitian ini dilakukan di SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu dengan subyek penelitian siswa kelas IV sebanyak 16 siswa yang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan. Rancangan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini, peneliti berkolaborasi dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia Kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model NHT dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu. Hal ini ditandai pada kegiatan diskusi kelompok yang menggunakan model NHT pada tahap berpikir bersama dan pemberian jawaban, siswa aktif dan berani dalam mengemukakan pendapatnya baik ketika diskusi dengan anggota kelompoknya maupun pemberian jawaban dengan adanya presentasi siswa di depan kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketuntasan belajar siswa secara individu dan klasikal mengalami peningkatan. Pada pra tindakan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 40% (6 siswa) dari jumlah keseluruhan (16 siswa), peningkatan mencapai 33,33% pada siklus I yaitu ketuntasan belajar klasikal mencapai 73,33% (11 siswa), dan siklus II ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 100%, artinya prosentase peningkatan ketuntasan belajar secara klasikal siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 02 Kota Batu dari tahap pra tindakan sampai siklus II mencapai 60% yaitu 10 siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca pemahaman. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model NHT dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 0 Kota Batu, oleh karena itu guru disarankan untuk menerapkan model Numbered Head Together pada mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya pada kemampuan membaca pemahaman. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat dikembangkan untuk mata pelajaran lain agar pembelajaran menjadi bervariasi.

Politisasi kesenian ludruk di Kediri 1959-1966 / Aulina Faiza

 

Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan keterkaitan antara kesenian ludruk dengan politik praktis yang ada di Kediri. Ludruk muncul dan berkembang di kalangan rakyat kecil yang fungsinya sebagai media hiburan rakyat, namun pada masa penjajahan Jepang ludruk juga digunakan untuk mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga tidak heran jika dalam perkembangannya ludruk dimanfaatkan oleh partai-partai politik tertentu untuk menarik massa. Dalam hal ini PKI sebagai salah satu partai terbesar di Kediri memanfaatkan kedekatan ludruk dengan rakyat kecil karena memang basis massa terbesar PKI berasal dari kalangan rakyat bawah seperti buruh dan petani. Alasan lain yaitu didorong oleh adanya sumber dan buktibukti yang mengarah kepada ludruk yang dipolitisi oleh PKI bersama Lekra, dan belum adanya penelitian tentang politisasi kesenian ludruk di Kediri. Tujuan penelitian ini adalah : (1) Mengetahui situasi politik di Kediri tahun 1959-1966; (2) Mengetahui praktik politisasi kesenian yang dilancarkan oleh PKI terhadap ludruk di Kediri tahun 1959-1966 yang berlangsung variatif; (3) Mengetahui akhir dari politisasi kesenian ludruk di Kediri tahun 1959-1966. Metode penelitian yang dipakai adalah metode penelitian sejarah yang meliputi lima tahap yaitu a. Pemilihan topik; b. Heuristik (pengumpulan sumber); c. Verifikasi (kritik sejarah, keabsahan sumber); d. Interpretasi (analisis dan sintesis); e. Historiografi atau penulisan. Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dikemukan sebagai berikut (1) Kediri merupakan daerah dengan tingkat polarisasi politik yang tinggi khususnya antara PKI, PNI dan NU. Ketiga partai tersebut mewakili struktur sosial masyarakat yang ada di Kediri. (2) Lembaga Kebudayaaan Rakyat (Lekra) yang didirikan pada tahun 1950 oleh beberapa seniman serta tokoh-tokoh PKI seperti Njoto dan D.N Aidit dianggap sebagai bagian PKI. Pada kenyataannya tidak hanya PKI bersama Lekra yang memanfaatkan pertunjukan ludruk, namun dari pelaku kesenian yang kreatif juga mengambil keuntungan dari sering diundangnya grup ludruk mereka dalam acara-acara mereka. (3) Pasca peristiwa G/30S/1965 yang terjadi di Jakarta, setelah Soeharto mengumumkan bahwa PKI merupakan dalang dari pembunuhan para jenderal, NU segera menyiapkan untuk memerangi orang-orang PKI. Anshor dibantu tentara mulai menangkap orang-orang PKI, hampir semua elemen komunis tingkat desa keatas dihabisi. Orang-orang yang tergabung dalam BTI, Gerwani, Pemuda Rakyat, Sobsi serta Lekra juga mengalami hal yang sama, namun ada yang menarik bahwa para seniman ludruk binaan Lekra banyak yang tidak ikut terbantai, karena banyak dari seniman yang selamat mengaku pernah ikut berpentas dalam acara-acara yang disponsori PKI namun tidak ikut sebagai anggota Lekra, karena itulah mereka selamat dari pembantaian meskipun semua grup ludruknya dibubarkan. Pada tahun 1967 atas prakarsa TNI AD Dam VIII Brawijaya menghidupkan kembali perkumpulan ludruk di Kediri yang mendapat dukungan dari para seniman ludruk, salah satunya melahirkan Ludruk Kartika Nada, Candra Kirana dan Ludruk Kopasgad. Peleburan grup ludruk dengan tentara itu terjadi sampai pada tahun 1975, pada tahun ini ludruk kembali dipolitisasi, bahkan bisa dikatakan politisasi terjadi secara mutlak. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diajukan adalah (1) Kajian sejarah politik khususnya Politisasi Kesenian di Kediri pada tahun 1959-1966 sebenarnya masih luas, peneliti menemukan bahwa pada tayub dan jaranan juga dimanfaatkan oleh PKI. (2) Kajian sejarah mengenai Politisasi Kesenian Ludruk di Kediri yang dibahas hanya sebatas tahun 1959-1966 saja, padahal pada masa Orde Baru sebenarnya ludruk juga masih dipolitisasi oleh TNI AD secara mutlak. Sehingga memerlukan kajian yang lebih dalam. (3) Hasil penelitian yang dituangkan dalam materi pembelajaran tentang pendidikan politik ini masih belum bisa menampilkan sajian pendidikan politik dalam perspektif sejarah yang lengkap dan praktis. Diharapkan dalam penelitian selanjutnya mampu memberikan sajian materi pembelajaran yang lebih lengkap dan praktis sehingga mudah dipahami oleh siswa.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model pembelajaran cooperative integreted reading and composition siswa kelas IV MI Nurul Huda Ngadirejo kota Blitar / Ani Kristiana

 

Kata Kunci: menulis, karangan narasi, cooperative integreted reading and composition Sesuai dengan hasil temuan observasi lapangan di MI Nurul Huda Ngadirejo kota Blitar pada siswa kelas IV dimana rendahnya keterampilan menulis narasi disebabkan oleh model pembelajaran yang kurang variatif. Hal inilah yang menyebabkan model pembelajaran menulis narasi menjadi monoton dan skhirnya siswa menjadi bosan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition dalam pembelajaran menulis narasi dan peningkatan keterampilan menulis melalui penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II dengan masing-masing siklus 2 kali pertemuan. Teknik analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dari data yang didapatkan menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition dapat berjalan baik dan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi terbukti hasil belajar siswa menunjukkan ketuntasan klasikal dari 58% pada pratindakan menjadi menjadi 84% pada siklus I dan 87,5% pada siklus II. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Cooperative Integreted Reading And Composition berjalan baik dan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan agar guru menerapkan model pembelajaran inovatif Cooperative Integreted Reading And Composition dalam meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa. Selain itu, guru juga harus aktif mencari informasi mengenai model pembelajaran inovatif yang lain agar menambah pengetahuannya mengenai model pembelajaran serta dapat memilih model pembelajaran yang sesuai untuk masalah pembelajaran yang sedang dihadapi.

Pengembangan multimedia pembelajaran berbasis WEB mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi di SMA An-Nur Bululawang Malang / Muhammad Abdul Ghofur

 

Kata kunci: Pengembangan, Multimedia Pembelajaran, Berbasis Web, TIK, Sadiman Salah satu media pembelajaran yang berkembang pada saat ini adalah teknologi informasi yang wujudnya berupa web dan salah satu teknologi informasi yang mendukung pembelajaran adalah komputer, khususnya pembelajaran berbasis web. Web dapat disajikan dengan perpaduan gambar, tulisan dan gerak yang berguna untuk mempermudah pemahaman belajar dan juga bisa diakses tidak harus di satu tempat atau terpaku pada lokasi tertentu, selama bisa tergabung dalam jaringan. Sehingga bisa dikatakan web bisa dimanfaatkan dimana saja dan kapan saja, ketika memang pembelajaran itu dibutuhkan. Berdasarkan hasil observasi di SMA An-Nur Bululawang Malang dalam pencapaian nilai harian belajar siswa dalam ulangan harian dipandang masih belum memenuhi target SKM mata pelajaran TIK yakni 70 sedangkan siswa ratarata nilainya 50-60. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pola pembelajaran yang masih bersifat konvensional, sekolah memberikan batasan dalam akses internet karena ditakutkan siswa yang berstatus santri menggunakan internet untuk mengakses situs porno atau untuk hal-hal yang negatif dikarenakan memang belum tersedianya teknisi tenaga ahli dalam pengontrolan akses internet, maka dari itu siswa belum bisa memanfaatkan internet secara maksimal dalam pembelajaran, serta jumlah siswa yang lebih banyak dari setiap kelas rata-rata 40 siswa dibandingkan jumlah komputer yang tersedia 20 unit, sehingga masih perlu adanya upaya peningkatan hasil belajar salah satunya dengan variasi dalam pembelajaran di sekolah. Web pembelajaran diharapkan menjadi pilihan yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Karena media web ini bisa diakses melalui jaringan yang sudah dimiliki oleh sekolah, sehingga siswa bisa belajar secara mandiri. Selain itu media web sudah diorganisasikan dan dikombinasikan dengan materi gambar, suara, video tutorial dan soal latihan di sajikan secara interaktif memberikan pembelajaran yang menarik, dan dapat mempermudah guru dalam penyampaian pesan pembelajaran kepada siswa dalam memahami materi, serta memotivasi belajar siswa sehingga diharapkan dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa. Berdasarkan permasalahan itu, maka pengembang memandang perlu memproduksi media pembelajaran yang dapat digunakan pada proses belajar mengajar dengan menggunakan multimedia pembelajaran berbasis web. Adapun tujuan dari pengembangan media pembelajaran ini untuk menghasilkan produk multimedia pembelajaran berbasis web yang memberikan variasi dalam pembelajaran serta untuk mengetahui validitas multimedia pembelajaran berbasis web mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, kelas XI semester 2 dengan materi pokok software pengolahan angka Microsoft excel 2003 dan untuk mengetahui apakah produk yang dibuat memberikan variasi baik dari segi media maupun metode pembelajaran yang dihasilkan maupun dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Multimedia pembelajaran berbasis web ini dikembangkan dengan mengadaptasi model pengembangan Sadiman yang terdiri dari 9 langkah, yaitu (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) perumusan materi, (4) perumusan alat pengukuran keberhasilan, (5) desain (storyboard), (6) produksi, (7) validasi, (8) revisi. (9) produk siap dimanfaatkan Pengumpulan data dilakukan pengembang dengan menggunakan angketvalidasi, pre test dan post test, kepada ahli media, ahli materi, dan audien kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan media pembelajaran serta meningkatnya hasil belajar siswa sesudah menggunakan multimedia pembelajaran berbasis web. Hasil pengembangan Multimedia pembelajaran berbasis web untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tentang software pengolahan angka microsoft excel 2003 di SMA An-Nur Bululawang Malang ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli materi mencapai tingkat kevalidan 97,5%, ahli media mencapai tingkat kevalidan 87,5%, dan uji responden (siswa) Perseorangan mencapai tingkat kevalidan 90%, kelompok kecil mencapai tingkat kevalidan 76,75%, dan hasil uji lapangan mencapai tingkat kevalidan 80,7%. Dan dari hasil nilai uji coba siswa post test di bandingkan dengan pre test, pada uji coba perseorangan 29%, uji coba kelompok kecil 26%, dan uji coba lapangan 23,3%.Menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil pengembangan telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia pembelajaran berbasis web untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi tentang software pengolahan angka microsoft excel 2003 di SMA An-Nur Bululawang Malang, dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga bisa dikatakan valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran. Saran pengembang bagi pengembang produk selanjutnya yakni mengkaji lebih dalam pada saat pemilihan materi, pemilihan software yang digunakan, komposisi warna, gambar dan menyediakan teknisi untuk mengatur jaringan internet untuk mengontrol secara berkelanjutan pada penggunaan internet sehingga pengaksesan internet bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran dan kemudian memberikan balikan yang akan di dapat oleh siswa agar menghasilkan media yang layak disajikan dalam bentuk multimedia pembelajaran berbasis web.

Daya serap mahasiswa semester III PGSD II FIP IKIP MALANG terhadap bahan kuliah bidang studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia: aspek kognitif tahun akademik 1995/1996
Elpipres Muhammad Niku

 

Pengaruh minat memilih program keahlian Administrasi Perkantoran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar (studi pada siswa kelas XI program keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 3 Singosari) / Adhitya Admadhani

 

Kata Kunci: minat, motivasi belajar, prestasi belajar. Dalam keseluruhan proses belajar mengajar terjadi interaksi antara berbagai komponen. Masing-masing komponen diusahakan saling mempengaruhi sehingga dapat tercapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami siswa sebagai anak didik. Dengan belajar, maka kemampuan mental siswa semakin meningkat.Tidak bisa disangkal bahwa dalam belajar seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sehingga penting bagi siswa untuk mengetahui faktor-faktor tersebut. Hal ini juga lebih penting tidak hanya bagi siswa tetapi juga bagi seorang guru di dalam mengatur dan mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, sehingga dapat terjadi proses belajar mengajar yang optimal,faktor-faktor tersebut diantaranya adalah minat memilih program keahlian dan motivasi belajar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh minat memilih program keahlian Administrasi Perkantoran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar pada siswa program keahlian Administrasi perkantoran di SMK Muhammadiyah 3 Singosari. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif korelasional, dan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa program keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 3 Singosari yang berjumlah 198 siswa sedangkan jumlah sampelnya adalah 63 siswa yang diambil dari seluruh siswa kelas XI program keahlian Administrasi Perkantoran. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil analisis menyatakan bahwa secara simultan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara minat memilih program keahlian Administrasi Perkantoran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar dengan hasil perhitungan R square (R2) sebesar 0,245 atau 24,5%, dengan nilai Fhitung (9,751) > Ftabel(3,150). Sedangkan secara parsial terdapat pengaruh positif yang signifikan antara minat memilih program keahlian Administrasi Perkantoran dengan nilai thitung(2,268) > ttabel(2,000),dan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar dengan nilai thitung(2,291) > ttabel(2,000). Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa: (1) Ada pengaruh yang signifikan antara minat memilih program keahlian administrasi perkantoran terhadap prestasi belajar; (2) Ada pengaruh yang signifikan antara motivasi belajar terhadap prestasi belajar; dan (3) Ada pengaruh yang signifikan antara minat memilih program keahlian administrasi perkantoran dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar. Berikut ada beberapa saran yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak guna meningkatkan minat memilih program keahlian dan motivasi belajar siswa: (1) Mengadakan kegiatan akademis yang dapat menumbuhkan minat siswa pada bidang perkantoran. Caranya adalah dengan meningkatkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, dan berorientasi pada praktek; (2) Meningkatkan fungsi dan jumlah fasilitas sarana dan prasarana laboratorium serta melengkapinya, dan mengadakan perbaikan untuk penggantian terhadap alat-alat praktek yang rusak dan sudah tidak layak pakai; (3) Setiap siswa hendaknya mampu untuk membangkitkan motivasi dalam dirinya sendiri, baik itu berupa motivasi instrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Sehingga kegiatan belajar akan dapat berjalan dengan baik dan siswa akan dapat mencapai prestasi belajar yang optimal; (4) Dalam menyampaikan materi hendaknya guru menyajikannya semenarik mungkin dengan menggunakan berbagai macam metode mengajar, agar tercipta suasana kelas yang menyenangkan. Selain itu guru juga hendaknya melakukan pendekatan secara individu kepada siswanya yang mengalami kesulitan dalam belajar sehingga dengan adanya kerja sama yang baik antara guru dan siswa diharapkan nantinya minat dan motivasi siswa akan meningkat dan prestasi belajar siswa di sekolah akan meningkat pula.

Penggunaan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan kemampuan sosial anak kelompok B di RA 08 Dewi Sartika Junrejo - Batu / Siti Astutik

 

Kata Kunci : Pembelajaran kooperatif model jigsaw, kemampuan sosial, anak TK kelompok B. Pembelajaran kooperatif model jigsaw merupakan kegiatan pembelajaran kelompok terdiri dari 4-6 anak yang terstruktur, terarah, terpadu, efektif dan efisien dalam mengkaji sesuatu melalui proses kerjasama, bergotong-royong, saling membantu secara kolaboratif untuk tujuan bersama sehingga tercapai proses dan hasil belajar yang produktif. Pembelajaran dimulai dengan pembentukan kelompok awal, yang diberi materi dan tugas yang berbeda, anggota kelompok yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub yang sama bertemu dengan kelompok baru tim ahli untuk berdiskusi dan menyelesaikan tugas, selanjutnya kembali pada kelompok awal menyampaikan hasil dari kelompok ahli, diakhiri dengan presentasi dari kelompok ahli. Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan sosial agar anak dapat menunjukkan sikap kerjasama dan persatuan, rasa percaya diri dan terbiasa menunjukkan kepedulian. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi dilaksanakan 2 siklus 4 pertemuan. Analisis data dimulai dari pengelompokkan hasil observasi terstruktur dengan menggunakan lembar observasi dan dokumentasi. Selanjutnya dideskripsikan dalam bentuk grafik dan tabel, dan disimpulkan hasil kemampuan sosial dan peserta didik. Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh dua kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut:1) pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat digunakan meningkatkan kemampuan sosial anak di RA. 08 Dewi Sartika dengan memperhatikan karakteristik perkembangan dan tema yang digunakan; 2) pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat meningkatkan kemampuan sosial anak senang bermain dengan teman, dapat melaksanakan tugas kelompok, berani bertanya secara sederhana dan senang menolong. Untuk memaksimalkan keberhasilan dalam rangka mengembangkan kemampuan peserta didik disarankan agar dalam pembelajaran kooperatif model jigsaw: 1) kepada guru PAUD agar menggunakan media yang sudah dikenal anak dan peserta didik dalam kelompok tidak lebih dari 6 anak; 2) kepada lembaga PAUD bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw agar dimasukkan dalam rencana pembelajaran di akhir setiap tema; 3) disarankan pada peneliti lebih lanjut untuk mengadakan penelitian kembali pembelajaran kooperatif model jigsaw bagi Taman kanak-kanak sehingga perkembangan kemampuan peserta didik dapat diprediksi lebih baik lagi.

Peningkatan pemblajaran IPA siswa kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang melalui model inside outside circle (IOC) / Ida Iriana

 

Kata Kunci: Model Inside Outside Circle (IOC), Pembelajaran IPA. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang, diperoleh permasalahan sebagai berikut: (1) pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan metode diskusi namun guru masih terlalu banyak menjelaskan materi, (2) aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA kurang maksimal, dan (3) hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA belum mencapai SKBM. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model IOC dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang, (2) aktivitas belajar IPA melalui penerapan model IOC, dan (3) hasil belajar IPA melalui penerapan model IOC pada siswa SDN Pisang Candi 2 Malang. Inside Outside Circle (IOC) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif, yaitu para siswa membentuk kelompok, mencari informasi, membentuk lingkaran kecil dan besar, bertukar informasi, diskusi kelompok, serta mempresentasikan hasil diskusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang yang berjumlah 28 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran IOC dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDN Pisang Candi 2 Malang. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya aktivitas guru dalam penerapan model IOC. Pada siklus 1 mendapatkan rata-rata (88,89%) meningkat pada siklus 2 menjadi (95,55%). Peningkatan aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari rata-rata siklus 1 (60,28%) meningkat pada siklus 2 menjadi (77,67%) peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil belajar siswa yang meningkat dari pra tindakan (55,17%), siklus 1 (44,64%) meningkat pada siklus 2 menjadi (87,49%). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) bagi Kepala Sekolah. Hendaknya selalu membimbing guru untuk melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa, (2) diharapakan guru menerapkan model IOC dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA tentang struktur bumi, (3) dan bagi peneliti lain, diharapkan untuk meneliti model IOC pada mata pelajaran lain.

Peningkatan pembelajaran IPA siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang melalui model Team Assisted Individualization (TAI) / Age Putra Wilyono

 

Kata Kunci: Model Team Assisted Individualization (TAI), Pembelajaran IPA. Model Team Assisted Individualization merupakan model pembelajaran yang memadukan antara belajar individu dan kelompok. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA di kelas V SDN Sumbersari 1 Malang, diperoleh temuan sebagai berikut: (1) pelaksanaan pembelajaran IPA menggunakan metode ceramah, (2) aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA kurang optimal, dan (3) hasil belajar IPA yang mencapai SKBM yang ditetapkan yaitu 60. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model Team Assited Individualization dalam pembelajaran IPA pada siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang, (2) aktivitas belajar IPA pada siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang, dan (3) hasil belajar IPA pada siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Sumbersari 1 Malang yang berjumlah 18 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu lembar observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Team Assisted Individualization dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDN Sumbersari 1 Malang. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya aktivitas siswa dalam penerapan model Team Assisted Individualization. Pada pertemuan 1 memperoleh nilai (56,41), pertemuan 2 (71,79), pertemuan 3 (84,61), pertemuan 4 (97,43). Meningkatnya aktivitas belajar dalam pembelajaran IPA pertemuan 1 sampai 4 mencapai taraf keberhasilan klasikal baik, pada pertemuan 1 memperoleh nilai (53,17%), pertemuan 2 (56,74%), pertemuan 3 (59,12%), pertemuan 4 (62,03%). Meningkatnya hasil belajar ditunjukkan pada nilai rata-rata setiap pertemuan yang meningkat. Hal ini dapat dilihat pada nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus 1 (64,1), siklus 2 (91,02). Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan: (1) Bagi Kepala Sekolah, hendaknya selalu memotivasi guru untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada aktivitas siswa, (2) Hendaknya guru menerapkan model Team Assisted Individualization khususnya pada pembelajaran IPA tentang sifat-sifat cahaya, dan (3) bagi peneliti lain, diharapkan untuk meneliti kembali model Team Assisted Individialization serta dapat diterapkan pada mata pelajaran, kelas, dan sekolah yang lain.

Penggunaan permainan tebak misteri untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 Malang / Lailaturrohmatin

 

Kata Kunci : menulis deskripsi, permainan tebak misteri Dari hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa tingkat kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) hasil penilaian menulis yang dilaksanakan oleh guru selama pembelajaran, (2) aktivitas pembelajaran terpusat pada guru, (3) siswa belum mampu mendeskripsikan tentang benda atau manusia, (4) guru juga kurang inovatif dalam memilih serta menggunakan metode, (5) guru jarang menggunakan media yang ada. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru terutama menulis terkadang membuat siswa kesulitan dalam menangkap materi yang disampaikan. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan media dan cara mengajar guru. Hal tersebut menyebabkan siswa menjadi malas untuk menulis. Untuk itu, perlu adanya media yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa yaitu dengan menggunakan permainan tebak misteri. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan permainan tebak misteri untukmeningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 Malang dan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis deskripsi siswa kelas III SDN Bareng 3 Malang dengan menggunakan permainan tebak misteri. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas III SDN Bareng 3 malang sebanyak 31 anak. Pelaksanaan PTK ini terdiri dari 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan lembar pengamatan kelompok, lembar pengamatan individu. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tiga cara yaitu: (1) reduksi data, (2) paparan data, (3) penyimpulan data. Kemampuan awala menulis deskripsi siswa rata-rata adalah 55. Setelah diberi tindakan pada siklus I rata-rata kemampuan menulis deskripsi siswa menjadi 61. Dari pelaksanaan siklus I menunjukkan peningkatan rata-rata 6. Pelaksanaan siklus II, menunjukkan rata-rata kemampuan menulis deskripsi siswa meningkat menjadi 89. Peningkatan skor rata-rata dari siklus I ke siklus II adalah 28. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan permainan tebak misteri dengan memanfaatkan benda yang dibungkus dapat meningkatkan kemampuan menulis deskripsi siswa. Saran yang diberikan kepada guru dan peneliti lain adalah: (1) guru hendaknya bisa menerapkan permainan tebak misteri pada pokok bahasan yang lain, (2) peneliti lain hendaknya bisa mengelola kelas dengan baik agar bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, agar memperoleh hasil yang maksimal.

Penerapan model learning cycle untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Jatimulyo 01 Malang / Hariza

 

Kata kunci: learning cycle, pembelajaran IPA Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan terhadap pembelajaran IPA ditemukan fakta bahwa pembelajaran hanya terikat pada LKS yang berisi kumpulan soal. Aktivitas belajar siswa cenderung pasif, hanya sebatas mendengarkan penjelasan dari guru kemudian mengisi LKS untuk selanjutnya dibahas bersama-sama di kelas dan dinilai. Hal ini berdampak buruk terhadap hasil belajar siswa. Berkaitan dengan itu, perlu diadakan perbaikan pembelajaran dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan model learning cycle. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan model learning cycle dalam pembelajaran IPA, aktivitas belajar siswa kelas dalam pembelajaran IPA dengan penerapan model learning cycle, dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan penerapan model learning cycle. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif model kolaboratif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Jatimulyo 1 Malang. Data penelitian yang dikumpulkan yakni data berupa paparan penerapan model learning cycle, aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV dalam pembelajaran IPA dengan penerapan model learning cycle. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi, wawancara, dan tes. Pada penelitian ini diperoleh tiga simpulan yakni (a) penerapan model learning cycle pada pembelajaran IPA menggambarkan tahapan mulai dari siswa memperoleh pengetahuan sampai penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, (b) penerapan model learning cycle pada pembelajaran IPA mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, peningkatan aktivitas tersebut dapat dilihat selama pembelajaran berlangsung berupa siswa melakukan kegiatan untuk menemukan pengetahuan baru, mengkomunikasian hasil kegiatan, mengajukan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, (c) penerapan model learning cycle pada pembelajaran IPA mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Pada saat pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa hanya mencapai 58,75 dengan ketuntasan 31,25%. Pada siklus 1 diperoleh rata-rata hasil belajar siswa mengalami kenaikan menjadi 74,6 dengan ketuntasan 56,25%. Pada siklus 2, diperoleh rata-rata hasil belajar mencapai 88 dengan ketuntasan 87,5%. Untuk itu, disarankan model pembelajaran learning cycle hendaknya dapat diterapkan dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa

Penerapan teknik pembelajaran mind map untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 kota Malang / Yuli Tulistiyani

 

Kata kunci: mind map, aktivitas, hasil belajar, IPS, SD Berdasarkan hasil tes pra tindakan yang peneliti lakukan di kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang, semua siswa nilainya di bawah rata-rata. Siswa kurang memahami materi koperasi karena pembelajaran yang diterapkan membuat siswa merasa bosan dan kurang bersemangat. Pembelajaran yang dilakukan guru yaitu dengan tanya jawab, diberikan penjelasan dan mengerjakan LKS. Selain itu, menurut penjelasan dari salah satu guru bahwa siswa kelas IV daya ingatnya kurang. Untuk itu, dalam penelitian ini diterapkan teknik pembelaran mind map untuk mengatasi masalah tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk: (1) mendeskripsikan penerapan teknik pembelajaran mind map untuk meningkatkan aktivitas belajar IPS siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang, (2) mendeskripsikan penerapan teknik pembelajaran mind map untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang, dengan prosedur penelitian menurut Kemmis & MC. Taggart yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus meliputi 4 tahapan diantaranya: (1) perencanaan, (2) tindakan dan observasi, (3) refleksi dan (4) perbaikan rencana. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara, (3) pedoman dokumentasi, (4) soal-soal tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai aktivitas siswa mencapai prosentase ketuntasan klasikal 33,33% pada siklus I, 88,89% pada siklus II. Begitu juga rata-rata klasikalnya dari 65,61 pada siklus I, 79,22 pada siklus II. Sedangkan hasil belajar didapatkan prosentase ketuntasan klasikal 0% pada pra tindakan menjadi 22,22% pada siklus I, 77,78% pada siklus II. Begitu juga rata-rata klasikalnya dari 13,67 pada pra tindakan menjadi 64,11 pada siklus I, 75,61 pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu teknik pembelajaran mind map dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas IV SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Saran yang diberikan yaitu hendaknya guru dapat: (a) menerapkan teknik pembelajaran mind map sebagai variasi teknik pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam mengikuti pembelajaran, (b) memilih teknik pembelajaran yang sesuai dan efektif dalam penyampaian materi pelajaran IPS, (c) agar pengetahuan siswa dapat berkembang, maka sebaiknya siswa diberikan tindak lanjut untuk membuat catatan dengan menggunakan teknik mind map untuk pembelajaran berikutnya.

Peningkatan kualitas belajar bercerita dengan sandiwara boneka pada kelompok A TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi / Titik Boyong Riwayati

 

Kata Kunci : Kualitas Belajar Bercerita, Sandiwara Boneka, TK Penelitian ini berlatar belakang rendahnya kemampuan bercerita secara sederhana pada kelompok A TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi. Guru belum memberikan media yang tepat dalam mengembangkan kemampuan bercerita secara sederhana. Disamping itu juga keberanian, ketertarikan, kemauan anak untuk menceritakan kembali dalam kegiatan bercerita masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bercerita dengan sandiwara boneka di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi yang ditandai dengan pemanfaatan sandiwara boneka. Peningkatan keberanian, ketertarikan, dan kemauan anak dalam bercerita. Untuk mencapai tujuan diatas,penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model guru sebagai peneliti. Peneliti dibantu guru pendamping kelompok A Taman Kanak-kanak ABA Fajar Harapan Gondanglegi sebagai kolaborator, mulai dari tahap proses identifikasi, masalah, perencanaan, tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sandiwara boneka dapat meningkatkan kemampuan bercerita secara sederhana di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi. Peningkatan kualitas belajar ditandai dengan pemanfaatan sandiwara boneka di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi sesuai desain yang disusun oleh peneliti dan guru pedamping sebagai kolaborator. Disamping itu pemanfaatan sandiwara boneka di TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi dapat meningkatkan (1) keberanian anak untuk maju kedepan kelas, (2)ketertarikan anak dalam mendengarkan cerita, (3) kemampuan anak dalam bercerita. Bercerita dengan memanfaatkan sandiwara boneka anak sangat berani untuk bercerita di depan kelas, kemampuan anak dalam bercerita juga meningkat, ketertarikan anak juga meningkat sehingga anak dalam bercerita tidak banyak yang bergurau dengan temannya karena guru dalam membelajarkan anak, lebih banyak anak praktek melalui sandiwara boneka sehingga pembelajaran lebih terpusat pada anak. Tidak hanya anak disuruh mendengarkan cerita saja dan di ceritakan kembali tanpa menggunakan alat peraga yang menarik bagi anak. Disarankan bahwa dalam meningkatkan kemampuan bercerita secara sederhana guru kelompok A TK ABA Fajar Harapan Gondanglegi memanfaatkan sandiwara boneka. Hasil penelitian ini sangat mungkin diterapkan di TK lain jika kondisinya relative sama atau mirip dengan sekolah yang menjadi latar penelitian ini. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk memanfaatkan sandiwara boneka pada upaya peningkatan kemampuan lainnya

Peningkatan keterampilan berbicara melalui teknik wawancara di kelas V MI Plus Islamiyah Gaprang Kabupaten Blitar / Suryaningsih

 

Kata kunci: keterampilan berbicara, teknik wawancara, Sekolah dasar Hasil observasi awal yang telah dilakukan di MI Plus Islamiyah Gaprang Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar, siswa kurang mampu dalam keterampilan berbicara. Latar belakang penelitian ini adalah guru lebih sering menekankan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menekankan pembelajaran menulis dan membaca. Oleh sebab itu guru juga harus mengingatkan siswa bahwa kemampuan berbicara berhungan erat dengan kemampuan berbahasa yang lain misalnya menyimak, membaca dan menulis. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan penerapan wawancara dalam meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas 5 MI Plus Islamiyah Gaprang Kab.Blitar. (2) Mendeskripsikan peningkatan keterampilan berbicara melalui teknik wawancara pada siswa kelas 5 MI Plus Islamiyah Gaprang Kab. Blitar. Penelitian yang dilakukan menggunakan jenis penelitian tindakan (action research), yaitu penelitian tindakan kelas (PTK). Analisis data penelitian yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Data dijaring melalui pedoman wawancara, angket, dokumentasi, catatan lapangan dan lembar observasi dengan indikator kelancaran berbicara, keruntutan berbicara dan ketangkasan berbicara siswa. Secara klasikal siswa belum mampu mencapai KKM. Namun, dengan menggunakan teknik wawancara mampu memotivasi siswa dalam pembelajarannya, siswa mampu mencapai KKM yang ditentukan sekolah melalui teknik wawancara. Pada pelaksanaan siklus I, siswa mampu mencapai 60,86%. Dari 23 siswa, 15 siswa yang mampu mencapai nilai diatas 6,00. Pada siklus II, 100% siswa telah mencapai KKM yang ditentukan. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, dengan menggunakan teknik wawancara, siswa lebih memahami teknik wawancara dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan bahasa yang santun, dengan demikian hasil belajar siswa dapat meningkat. Hal ini tampak pada siklus I mencapai 60,86% 100% pada siklus II.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui pembelajaran berbasis masalah pada siswa kelas IV SDN Karangrejo 02 kecamatan Garum Kabupaten Blitar / Prisma Ikawati

 

Kata Kunci: Peningkatan hasil belajar, PKn, Pembelajaran Berbasis Masalah Pengamatan di SDN Karangrejo 02 kelas IV pada mata pelajaran PKn siswa belum memahami cara dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya belajar PKn merupakan belajar memecahkan suatu masalah. Oleh sebab itu pembelajaran PKn hendaknya mulai dengan pengenalan suatu masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Untuk menciptakan suatu pembelajaran yang sesuai dengan memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk melatih memecahkan suatu permasalahan yaitu dengan menerapkan Pembelajaran Berbasis Masalah. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dalam mata pelajaran PKn pada siswa kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar? (2) Apakah pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar PKn dalam kaitannya dengan upaya peningkatan pemahaman nilai moral siswa kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar? Tujuan penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penerapan pembelajaran berbasis masalah pada kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar. (2) Mendeskripsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan desain penelitianya adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Model penelitian ini adalah kolaboratif, dimana penulis bertindak sebagai pelaksana sekaligus pengamat dalam kegiatan belajar mengajar yang di bantu guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan dalam memecahkan suatu masalah dan hasil belajar siswa. Rata-rata keterampilan dalam memecahkan masalah pada pra tindakan mencapai 11.4% meningkat menjadi 69.2% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 77%. Sedangkan hasil belajar yang di peroleh setelah kegiatan pembelajaran juga mengalami peningkatan. Rata-rata hasil belajar pada pra tindakan adalah 58.2% meningkat menjadi 73.37% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 80.4%. Sedangkan ketercapaian belajar secara klasikal pada pra tindakan 44% meningkat menjadi 66.7% dan pada siklus II meningkat menjadi 85.2%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Karangrejo 02 Kabupaten Blitar. Dalam membelajarkan siswa guru disarankan menciptakan pembelajaran dengan menghadirkan suatu permasalahan yang berkaitan dengan lingkungan.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui model group investigation bagi siswa kelas IV SDN Soso 03 Gandusari Kabupaten Blitar / Murti Rahayu

 

Kata Kunci : hasil belajar, IPS, model group investigation Hasil observasi yang peneliti lakukan di SDN Soso 03 di dapatkan kenyataan bahwa keberhasilan siswa dalam pembelajaran IPS di kelas IV masih terdapat kekurangan. Kekurangannya terletak dari guru dalam pembelajarannya cenderung menggunakan metode ceramah. Selain itu, buku yang sering digunakan dalam pembelajaran siswa yaitu buku paket, siswa disini dalam mengerjakan soal melihat jawaban dari buku paket, sehingga siswa tidak mendapat pengembangan materi. Hal ini membuat siswa kurang aktif dan pembelajaran tidak optimal, berdampak pada hasil belajar siswa yang masih dibawah nilai ketuntasan individu (65%) dan nilai ketuntasan klasikal (80%). Siswa yang tuntas sebanyak 6 siswa dengan prosentase 37,5%, siswa yang tidak tuntas sebanyak 10 siswa dengan prosentase 62,5%. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran model group investigation dalam pembelajaran IPS dan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran model group investigation. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dua siklus. Masing-masing siklus memiliki tahapan penyusunan rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilaksanakan di SDN Soso 03 Gandusari dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV Tahun Pelajaran 2010/2011. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi dan tes. Teknik analisis data dengan menggunakan batas ketuntasan individu 65% dan ketuntasan klasikal 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model group investigation dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dilihat dari peningkatan yang diperoleh siswa pra tindakan rata-ratanya 61,2 dengan persentase 37,5%, siklus I pertemuan 1 rata-ratanya 63 dengan persentase 50%, pertemuan 2 rata-ratanya 67 dengan persentase 62,5%, dan pertemuan 3 rata-ratanya 71 dengan presentase 68,75%, siklus II pertemuan 1 rata-ratanya 77 dengan persentase 75%, pertemuan 2 rata-ratanya 79 dengan persentase 8,25%, dan pertemuan 3 rata-ratanya 92 dengan persentase 87,5%. Dari siklus I sampai dengan siklus II mencapai peningkatan sebesar 13% dari 16 siswa yang tuntas 14 siswa dan yang belum tuntas 2 siswa Karena mereka dari keluarga yang broken home dan memiliki latar belakang keluarga yang tidak berpendidikan, sehingga kurang perhatian dalam belajar., selain itu motivasi dan keinginan untuk berprestasi kurang. Kesimpulannya bahwa dengan menerapkan model group investigation pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mengenal perkembangan teknologi produksi, transportasi, dan komunikasi siswa kelas IV SDN Soso 03 Gandusari. Disarankan kepada guru untuk menerapkan model pembelajaran group investigation baik pada mata pelajaran IPS maupun pada pembelajaran lainnya, sehingga akan meningkatkan mutu pembelajaran.

Analisis buku teks mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (PKn) kelas II Sekolah dasar (SD) / Avivatu Rosita

 

Kata Kunci: analisis buku teks, kesesuaian pendekatan penulisan, materi, sistem evaluasi dengan kurikulum tahun 2006. Buku teks digunakan sebagai buku penunjang dalam proses pembelajaran. Namun saat ini masih ada beberapa buku yang belum sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan tahun 2006 baik dari segi pendekatan penulisan, kompetensi maupun sistem evaluasi Oleh karena itu, untuk mengatasi kondisi seperti itu, para guru atau calon guru harus memiliki kemampuan menelaah buku teks. Dalam penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. (1) bagaimana kesesuaian pendekatan penulisan buku teks dengan pendekatan yang ada dalam kurikulum yang ditetapkan tahun 2006? (2) bagaimana kesesuaian materi dalam buku teks dengan kompetensi dalam kurikulum yang ditetapkan tahun 2006? (3) bagaimana kesesuaian sistem evaluasi yang ada dalam buku teks dengan sistem evaluasi dalam kurikulum yang ditetapkan tahun 2006? Untuk memecahkan masalah tersebut, penelitian dirancang dengan model analisis isi. Sumber data penelitian ini adalah buku teks PKn SD/MI Kelas 2 yang ditulis oleh Setiati Widihastuti dan Fajar Rahyuningsih, penerbit Pusat Perbukuan Depdiknas 2008. Data hasil analisis dikumpulkan menggunakan instrumen. Data yang dikumpulkan sebagai berikut: pertama, kesesuaian pendekatan penulisan pada bab 1 sesuai dengan pendekatan filosofis konstruktivisme namun pada akhir pembahasan belum ada konfirmasi jawaban yang tepat, sedangkan pada bab 2, 3, dan 4 sesuai dengan pendekatan filosofis kognitivisme. Tidak ertulis pendekatan kurikuler yang berupa SK, KD dan tidak sesuai dengan pendekatan pembelajaran tematik; kedua, kesesuaian materi dari 4 SK dan 9 KD dijabarkan menjadi 22 indikator, tetapi 7 indikator pembelajaran tidak dibahas; ketiga, kesesuaian sistem evaluasi terdapat 189 sistem evaluasi aspek kognitif, 10 istem evaluasi aspek afektif dan tidak terdapat sistem evaluasi aspek psikomotor. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan: pertama, Pendekatan penulisan buku teks tidak sesuai dengan pendekatan dalam kurikulum tahun 2006; kedua, Materi dalam buku teks kurang sesuai dengan kompetensi dalam kurikulum tahun 2006; ketiga, Sistem evaluasi dalam buku teks cenderung pada aspek kognitif, sedangkan untuk aspek afektif hanya terdapat afektif yang bersifat kognitif saja, dan tidak terdapat aspek psikomotor. Saran-saran dari hasil penelitian: pertama, penulis hendaknya melakukan revisi pada buku teks PKn kelas II; kedua, bagi guru atau calon guru, sebelum mempergunakan buku teks, guru dapat menelaah kesesuaian materi buku teks dengan kurikulum tahun 2006 dan guru bisa mengembangkan sendiri materi jika indikator belum dicantumkan atau memanfaatkan sumber belajar yang lain. Ketiga, bagi peneliti lain hendaknya dapat meneliti materi buku teks PKn sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan karakteristik siswa SD.

Penerapan pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IV dalam menyelesaikan soal cerita di SDN Bareng 01 Klojen kota Malang / Mike Irawati

 

Kata Kunci : pemecahan masalah, soal cerita. Hasil Observasi awal serta pengambilan data awal dengan tes mata pelajaran matematika di kelas IVa SDN Bareng 01 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal berbasis pemecahan masalah masih sangat rendah. Terbukti dari 34 siswa tidak ada satu pun yang tepat menjawab soal pemecahan masalah yang disajikan dalam cerita.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan diketahui bahwa kesalahan terjadi akibat siswa tidak memahami permasalahan yang dihadapinya. Selain itu akar permasalahan juga terdapat pada penguasaan yang rendah dalam langkah atau cara penyelesaian soal cerita dan soal-soal yang berbasis masalah. Penelitian ini menawarkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas IV dalam menyelesaikan soal cerita. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan strategi pemecahan masalah heuristik IV. Strategi heuristik IV merupakan strategi pemecahan masalah dengan cara menyederhanakan masalah. Adapun langkah-langkah dalam strategi heuristik IV yaitu pemahaman masalah, perencanaan, dan penyelesaian masalah yang meliputi pelaksanaan penyelesaian, pengecekkan kembali serta kesimpulan jawaban. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menggunakan pendekatan kualitatif. data yang terkumpul dianalisis menggunakan deskriptif kualitatif. penelitian dilakukan dalam 2 siklus tindakan kelas. Siklus I terdiri dari 3 kali pertemuan dan siklus II terdiri dari 4 spertemuan. Pertemuan ke-4 pada siklus II dilaksanakan untuk memantapkan hasil penelitian karena pada pertemuan ke-3 hasilnya turun, yang disebabkan oleh kondisi pembelajaran yang kurang kondusif. Penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan guru kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan Prosentase keterlaksanaan pembelajaran pemecahan masalah oleh guru terlaksana 95% dan pembelajaran pada siswa 75%. Kemampuan siswa kelas IVa dalam menyelesaikan masalah mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 56%, dari 26% menjadi 82%. Prosentase pencapaian keberhasilan penelitian 82% masuk dalam kategori baik. Hal yang harus lebih diperhatikan lagi dalam mengetahui apresiasi siswa dan observer hendaknya dilakukan wawancara setiap selesai pelaksanaan pembelajaran.

Penerapan model pembeljaran advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran IPS di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan sukun kota Malang / Novalina Eka Hapsari

 

Kata kunci: Pembelajaran IPS, Advance Organizer, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal terhadap pembelajaran IPS kelas IV SDN Karang Besuki 01 Malang, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh SDN Karangbesuki I, sehingga perlu dilakukan penelitian. Alternatif pemecahannya yaitu dengan menggunakan model advance organizer. Advance organizer adalah pola belajar mengajar yang dirancang untuk memperbaiki efektifitas prestasi, efisiensi perilaku belajar, sehingga siswa dapat menyerap, mencerna, dan mengingat bahan pembelajaran dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model pembelajaran advance organizer pada matapelajaran IPS untuk siswa kelas IV di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan Sukun Kota Malang. (2) peningkatan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan Sukun Kota Malang pada matapelajaran IPS melalui penerapan model pembelajaran advance organizer. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK, dalam bentuk guru sebagai peneliti. Pelaksanaan PTK mengacu pada model siklus PTK oleh Kemmis dan Taggart meliputi empat tahap yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Kancah dari penelitian ini yaitu di SDN Karangbesuki 01 Kecamatan Sukun Kota Malang. Subyek dari penelitian yaitu siswa kelas IV sebanyak 37 siswa yang terdiri dari 20 siswa dan 17 siswi. Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi menggunakan lembar observasi aktivitas guru dan siswa, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran advance organizer dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada matapelajaran IPS terutama pada konsep koperasi. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil tes akhir siswa siklus I, yaitu 65,89 siswa yang telah tuntas sebanyak 21 siswa dengan ketuntasan belajar klasikal 56,76%. Rata-rata hasil tes akhir siklus II yaitu 72,75, atau ketuntasan belajar klasikal mencapai 82,97%. Kesimpulan penelitian ini yaitu penerapan model advance organizer dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Karangbesuki I pada matapelajaran IPS. Saran yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu (1) Sebaiknya guru menggunakan model advance organizer untuk meningkatkan hasil belajar IPS pada materi pokok koperasi, (2) peneliti lain dapat mengembangkan penelitian dengan menggunakan model advance organizer untuk mengatasi masalah bagi siswa yang lambat belajar agar hasil belajar siswa mencapai ketuntasan belajar klasikal secara maksimal.

Peningkatan hasil belajar matematika pada materi pecahan melalui problem based learning (PBL) model polya pada siswa kelas III SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar / Ria Nurvitasari

 

Kata kunci : Hasil Belajar, Pecahan, PBL Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti di kelas III pada waktu pembelajaran Matematika adalah sebagai berikut: (1) pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif dan tidak bisa menyampaikan gagasannya, (2) penjelasan guru terlalu cepat sehingga kurang dapat dipahami siswa, (3) siswa yang ramai di dalam kelas masih cukup banyak dan kurang mendapat perhatian dari guru, (4) siswa sangat jarang bertanya pada guru mengenai materi yang belum mereka pahami, dan (5) guru kurang memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap proses pembelajaran Matematika yang berlangsung diperoleh hasil yang kurang memuaskan, yaitu dari 15 siswa hanya 5 siswa saja yang nilainya dapat mencapai KKM (kriteria ketuntasan minimal) atau ≥ 60, sedangkan 10 siswa lainnya masih belum dapat mencapai KKM atau < 60. Untuk itu agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Model Polya. Rumusan masalah penelitian ini: (1) Bagaimanakah aktivitas siswa selama pembelajaran penerapan Problem Based Learning (PBL) Model Polya pada materi pecahan kelas III semester 2 di SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar? (2) Apakah ada peningkatan hasil belajar pecahan melalui pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Model Polya pada siswa kelas III semester 2 di SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar? Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas III. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar), guru kelas (mitra peneliti) sebagai observer, dan rekan mahasiswa sebagai pengambil foto dalam proses pembelajaran pecahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran PBL Model Polya tentang pecahan pada kelas III SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar sangat baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang sangat baik pula. Presentase ketuntasan belajar siswa pada pra tindakan adalah 33,3%, pada siklus I 66,7% dan siklus II adalah 100%. Berdasarkan hasil kesimpulan disarankan kepada guru kelas III SDN Binangun 02 Kecamatan Binangun Kabupaten Blitar untuk menggunakan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Model Polya dalam pembelajaran Matematika khususnya pada materi pecahan agar hasil belajar siswa meningkat dan lebih optimal

Peningkatan hasil belajar matematika dengan materi luas dan keliling persegi panjang melalui pembelajaran berbasis masalah kelas 3 SDN Karangtengah I kota Blitar / Fifi Elfa Wahyuni

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran Berbasis Masalah Dalam observasi permulaan yang dilakukan oleh peneliti, peneliti menemukan beberapa masalah yang terjadi dalam pemebelajaran matematika di kelas 3 SDN Karangtengah I. masalah tersebut adalah 1) bahwa dalam mengajar matematika guru selalu aktif untuk memberikan ceramah kepada siswa sedangkan siswa hanya duduk, diam dan mendengarkan saja, 2) Adanya salah dalam memaknai konsep yang telah diberikan guru. Dari temuan tersebut maka peneliti akan melakukan penelitian dengan judul "Peningkatan Hasil Belajar Matematika dengan Materi Luas dan Keliling Persegi Panjang Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah di Kelas 3 SDN Karangtengah I Kota Blitar" Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yakni tujuan pengajaran (intruksional), pengalaman ( proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Tujuan intruksional pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang diingikan pada diri siswa. Oleh sebab itu, dalam penilaian hedaknya diperiksa sejauh mana perubahan tingkah laku siswa melalui proses belajar. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas ( PTK). Yang dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas 3 yang berjumlah 26 siswa terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Adapun alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah 1)Tes 2) Observasi dan 3) wawancara. Analisis data dilakukan pada data yang telah diperoleh baik dari lembar observasi, penilaian tes, maupun catatan lapangan. Aktifitas belajar siswa pada pembelajaran berbasis masalah meningkat hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan skor pada kegiatan pra tindakan yang hanya mencapai 6, dengan persentase 23 % sedangkan pada skor aktifitas siswa pada siklus II aktifitas siswa mencapai skor 20 dengan persentase aktifitas siswa sebesar 95%. Pada nilai hasil belajar siswa selama pembelajaran berbasis masalah mencapai nilai rata-rata 7,9. Dengan presentase ketuntasan sebesar 100%. Dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah telah meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari tingkat keberhasilan belajar siswa sebesar 79 serta persentase dari tingkat ketuntasan belajar siswa yang telah mencapai ketuntasan klasikal dan individual sebesar 100%. Dalam melaksanakan pembelajaran berbasis masalah harus dapat memperhitungkan waktu, tinngkat kesulitan permaslahan, serta pemecahan masalah agar pembelajaran dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa seyogyanya guru dapat mengurangi kesalahan konsep pada siswa dengan cara siswa berperan aktif menemukan konsep dan mengkonstruksikan konsepnya sendiri.

Peningkatan hasil belajar PKn kelas V melalui metode simulasi di SDN Plosokerep 1 kota Blitar / Tika Wahyu Fitrianingsih

 

Kata Kunci : media pembelajaran, PKn SD, hasil belajar. Berdasarkan hasil observasi ddiketahui bahwa di SDN Plosokerep 1 Kota Blitar siswa kurang aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain itu strategi pembelajaran kurang bervariasi dan kurang melibatkan siswa SDN Plosokerep 1 Kota Blitar. Hal tersebut berdampak pada perolehan rara-rata nilai ulangan dan ketuntasan belajar. Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan metode simulasi dalam pembelajarannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan: (1) bagaimana penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kelas V SDN Plosokerep Kota Blitar, (2) apakah penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kelas V SDN Plosokerep 1 Kota Blitar. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN Plosokerep kota Blitar dengan jumlah 17 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket dan observasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Analilsis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada setiap siklus yang telah dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan: (1) penerapan metode simulasi meliputi orientasi, latihan bagi peserta, proses simulasi, dan pemantapan, (2) penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn secara klasikal dengan peningkatan rata-rata penilaian proses pada siklus 1 pertemuan 1 sebesar 57,05, pada silus 1 pertemuan 2 sebesar 61,70, pada siklus 1 pertemuan 3 sebesar 67, pada siklus 2 pertemuan 1 sebesar 68,29, pada siklus 2 pertemuan 2 sebesar 74,23,dan pada siklus 2 pertemuan 3 sebesar 85,12. Sedangkan pada rata-rata penilaian evaluasi pada pra tindakan 59,64, pada siklus 1 pertemuan 1 sebesar 61,76, pada siklus 1 pertemuan 2 sebesar 64,70, pada siklus 1 pertemuan 3 sebsesar 64,70, pada siklus 2 pertemuan 1 sebesar 66,47, pada siklus 2 pertemuan 2 sebesar 71,18, pada siklus 2 pertemuan 3 sebesar 74,70. Berdasarkan analisis data yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa metode simulasi dapat membawa pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil beajar siswa setelah pembelajaran dilakukan. Saran dari penelitian yaitu guru menggunakan metode simulasi untuk pembelajaran agar nilai belajar meningkat.

Meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi melalui model pembelajaran quantum learning siswa kelas IV SDN Sukorejo 3 kota Blitar / Ihda Hasniah Yulisa

 

Kata kunci: quantum learning, keterampilan menulis, narasi Hasil observasi awal yang telah dilakukan di SDN Sukorejo 3 kota Blitar mata pelajaran bahasa Indonesia materi menulis karangan narasi diperoleh data bahwa siswa belum menguasai materi menulis karangan narasi. Hal ini dibuktikan dengan nilai hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran yaitu hanya 33% siswa yang dapat melampaui KKM kelas yaitu 65. Siswa yang lain yaitu 67% belum memenuhi KKM. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu perbaikan pembelajaran yaitu dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan penerapan model pembelajaran quantum learning untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa kelas IV SDN Sukorejo 3, (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa kelas IV SDN Sukorejo 3 kota Blitar dengan model pembelajaran quantum learning. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yaitu penelitian bersifat deskripstif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sukorejo 3 kota Blitar pada kelas IV dengan jumlah siswa 24 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat pada peningkatan rata-rata prosentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan yaitu 33 % dan meningkat menjadi 67% pada siklus I. Pada siklus II jumlah ini terus meningkat menjadi 83%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model dengan menggunakan model quantum learning dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi siswa kelas IV SDN. Sukorejo 3 kota Blitar. Dengan demikian, dapat disarankan bagi peneliti bahwa dengan melihat realitas dilapangan tentang pembelajaran selama ini, maka untuk ke depannya peneliti berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan guru dan dapat memberikan alternatif model pembelajaran salah satunya model pembelajaran quantum learning. Bagi siswa dapat meningkatkan motivasi belajar, siswa lebih aktif, kreatif, dan dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi. Dengan pemberian media yang menarik dan pemutaran musik klasik dapat memberikan suasana belajar yang berbeda kepada siswa. Bagi guru dapat menerapkan model pembelajaran quantum learning sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi non fiksi.

Peningkatan pemahaman konsep operasi bilangan pecahan melalui model pembelajaran kontekstual di kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar / Yanurisma Al Rosidah

 

Kata kunci: peningkatan pemahaman, penjumlahan bilangan pecahan, pengurangan bilangan pecahan, model pembelajaran kontekstual Hasil observasi awal yang telah dilakukan di SDN Maron 04 Kabupaten Blitar mata pelajaran diperoleh pembelajaran Matematika yang dilaksanakan oleh guru antara lain: guru tidak mengaitkan pembelajaran operasi hitung bilangan pecahan dengan kehidupan sehari-hari siswa dam guru tidak pernah membelajarkan penjumlahan pecahan dengan menggunakan media dan strategi yang membuat siswa aktif bekerja untuk membuktikan kebenaran dari pernyataan yang dianggap ketentuan tersebut. Hal ini dibuktika dengan nilai hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran yaitu hanya 45% siswa yang dapat melampaui KKM kelas yaitu 62. Agar dapat meningkatkan pemahaman siswa dan tercapainya tujuan pembelajaran dalam matapelajaran matematika perlu diadakan perbaikan pembelajaran dengan memantapkan konsep operasi hitung bilangan pecahan melalui model pembelajaran kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kontekstual pada pembelajaran Matematika tentang operasi hitung bilangan pecahan di kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar, (2) untuk mengetahui dan mendeskripsikan peningkatan pemahaman operasi hitung bilangan pecahan melalui model pembelajaran kontekstual di kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskripstif kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas IV. Dalam penelitian ini peneliti sebagai guru (pengajar) dan guru kelas (mitra peniliti) sebagai observer. Tahapan dalam penelitian ini yaitu dimulai dengan pengumpulan data, yaitu melalui observasi, wawancara, dan tes. Kemudian pelaksanaan yang melalui tahapan perencanaan, observasi, dan refleksi. Selanjutnya analisis data, yaitu melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman siswa. Data yang diperoleh yaitu, prosentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan adalah 45%, pada siklus I adalah 65% dan pada siklus II adalah 75%. Hal ini dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan pemahaman konsep operasi bilangan pecahan pada siswa kelas IV SDN Maron 04 Kabupaten Blitar. Berdasarkan kesimpulan dapat disarankan kepada guru untuk menggunakan model pembelajaran kontekstual yang kehidupan siswa sehari-hari agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Dan saran bagi siswa hendaknya siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan meningkatkan kerjasamanya dalam berkelompok.

Peningkatan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi melalui pembelajaran pengembangan outline pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang / Hadi Setio Prabowo

 

Kata Kunci: menulis, paragraf, kohesi, koherensi, outline, SD Pembelajaran menulis paragraf merupakan salahsatu pembelajaran di sekolah dasar peranannya sangat penting. Hal itu dikarenakan kemampuan menulis paragraf merupakan salahsatu dasar kemampuan siswa dalam menulis lanjut. Oleh karena itu, pembelajaran menulis paragraf harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin agar hasil yang didapatkan bisa optimal. Kenyataan di lapangan, hasil belajar menulis paragraf pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang belum sesuai apa yang diharapkan. Hasil penulisan paragraf siswa masih belum memenuhi syarat-syarat paragraf yang baik, khususnya syarat kohesi dan koherensinya. Secara umum penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi melalui pembelajaran pengembangan outline pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan bentuk penelitian guru sebagai peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran pengembangan outline dapat meningkatkan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Peningkatan tersebut ditandai dengan: (1) telah diterapkannya pembelajaran pengembangan outline dalam menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi; (2) siswa telah menggunakan piranti kohesi dan koherensi dengan baik dalam menulis paragraf melalui pengembangan outline; (3) hasil penulisan paragraf siswa sudah memenuhi syarat kohesi dan koherensi; (4) jumlah siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) dalam menulis paragraf mencapai lebih dari 90 %. Berdasarkan hasil penelitian, secara umum dapat disimpulkan bahwa (1) Pembelajaran menulis paragraf melalui pembelajaran pengembangan outline dilakukan dengan a) perumusan tema, b) penulisan subtema, c) penelaahan subtema, d) pengurutan subtema, dan e) pengembangan tema dan subtema menjadi paragraf utuh; (2) Pembelajaran pengembangan outline dapat meningkatkan keterampilan menulis paragraf yang memenuhi syarat kohesi dan koherensi pada siswa kelas V SDN Ciptomulyo 1 Malang. Hasil penelitian ini sangat dimungkinkan untuk diterapkan di kelas V sekolah lain.

Penerapan model peta konsep untuk meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV SDN Mojosari Kabupaten Malang / Dimas Kusuma Dyan Pamungkas

 

Kata kunci: pembelajaran, IPA, model peta konsep. Proses belajar mengajar harus dapat mengembangkan cara belajar mendapatkan, mengelola, menemukan, menggunakan dan mengkomunikasikan perolehan atau hasil belajar. Berdasarkan observasi awal di SDN Mojosari Kabupaten Malang, diketahui kegiatan belajar mengajar masih didominasi oleh guru dan hasil belajar siswa kelas IV masih relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan metode ceramah. Metode-metode ini membentuk siswa menjadi pasif, kurang kreatif dan pengetahuan mereka kurang berkembang sehingga perlu adanya model pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi aktif dan dapat membantu siswa mengaitkan pengetahuan awal mereka dengan pengetahun baru yang mereka pelajari. Model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk lebih dapat mengaktifkan siswa salah satunya adalah model pembelajaran peta konsep. Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Mojosari Kabupaten Malang dengan Kompetensi Dasar (KD) “Keterkaitan antara sumber daya alam, lingkungan, teknologi dan masyarakat . Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan aktivitas guru dalam penerapan pembelajaran model peta konsep dalam meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV, 2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran model peta konsep, 3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran model peta konsep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model peta konsep dapat meningkatkan: 1) aktivitas belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan ke kategori baik (B), yaitu pada kategori kurang (K) dari siklus I (55,21%) menjadi (11,76%) ke siklus II. Kategori cukup (C) dari siklus I (31,93%) menjadi (11,76%) ke siklus II, dan kategori baik (B) mengalami kenaikan sebesar 50,7% yaitu dari siklus I (12,85%) menjadi (76,47%) ke siklus II, dan 2) Prosentase ketuntasan belajar siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan hasil belajar siswa sebesar 24,92%. Dari kegiatan pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran model peta konsep dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun saran untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti siswa ramai sendiri, guru dapat memberikan Lembar Kegiatan Siswa pada tiap-tiap kelompok lebih dari satu lembar agar siswa lebih bertanggung jawab, namun dalam pelaksanaannya siswa tetap bekerjasama. Selain itu guru juga harus lebih merata dalam mengelola kelas supaya seluruh siswa memperoleh perhatian yang sama.

Peningkatan hasil belajar IPS melalui metode diskusi pada siswa kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar / Devis Hendrawan

 

Kata kunci: pembelajaran IPS, metode diskusi, hasil belajar Pemilihan metode pembelajaran sangat penting untuk dipertimbangkan oleh guru karena metode pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam mempelajari materi. Selama ini guru kurang memahami pentingnya metode pembelajaran, sehingga siswa pasif dan bosan dalam pembelajaran hal itu terbukti dari 20 siswa kelas IV SDN Gununggede 03 yang mendapat nilai di atas 70 sebanyak 11 anak. Berdasarkan hal tersebut tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan metode diskusi pada pembelajaran IPS di kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar, 2) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPS melalui metode diskusi di kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar. Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian terdiri dari dua siklus, tiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Instrumen dalam penelitian ini yaitu lembar observasi aktifitas siswa, tes, dan dokumentasi. Data direkam dengan instrumen tersebut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dari pratindakan, siklus I, dan siklus II diketahui persentase peningkatan aktifitas siswa dan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas IV SDN Gununggede 03 Kabupaten Blitar. Persentase aktifitas siswa pada siklus I pertemuan 1 meningkat sebesar 20%, pertemuan 2 meningkat sebesar 25%, pertemuan 3 meningkat sebesar 5%. Pada siklus II pertemuan 1 meningkat sebesar 10%, pertemuan 2 meningkat sebesar 15%, pertemuan 3 meningkat sebesar 15%. Persentase hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan 1 meningkat sebesar 25%, kemudian pada pertemuan 2 meningkat 10%, dan pertemuan 3 meningkat 10%. Pada siklus II pertemuan 1 meningkat sebesar 5%, pertemuan ke 2 meningkat 10% dan pada pertemuan 3 meningkat sebesar 5%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode diskusi dapat diterapkan dalam pembelajaran IPS di SD dan dapat meningkatkan kemampuan serta hasil belajar siswa.

Peningkatan keterampilan menulis narasi melalui model picture and picture pada siswa kelas III SDN Turi 2 kota Blitar / Miftachudin

 

Kata kunci: peningkatan keterampilan menulis narasi, model picture and picture Keterampilan menulis narasi di kelas III SDN Turi 2 Kota Blitar kurang memuaskan, yaitu hanya terdapat 12 siswa dari jumlah total 34 siswa yang sudah mencapai batas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), yaitu 65. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa, sehingga nilainya juga dapat meningkat. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan menulis narasi siswa setelah mengikuti pembelajaran melalui model picture and picture. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) pe-rencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Turi 2 Kota Blitar dengan subyek penelitian siswa kelas III. Hasil penelitian pada siklus 1 nilai rata-rata kelas 74, ada 25 siswa yang tuntas belajar dan 9 siswa belum tuntas belajar atau persentase ketuntasan 74%. Sedangkan pada siklus 2 nilai rata-rata siswa 80, ada 32 siswa yang tuntas belajar dan 2 siswa belum tuntas belajar dengan persentase ketuntasan 94%. Peningkatan keterampilan menulis narasi menggunakan model picture and picture nilai rata-rata siswa pada siklus 1 yaitu 74 meningkat menjadi 81 atau persentase ketuntasan 74% meningkat menjadi 94% pada siklus 2. Dari 11 siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 meningkat menjadi 32 siswa pada siklus 2. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model picture and picture dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis narasi. Untuk itu, hendaknya para guru disarankan untuk menerapkan model picture and picture kepada siswa supaya keterampilan menulis siswa semakin meningkat.

Pengembangan desain pembelajaran karakter pada mata pelajaran PKn berbasis kitab Ta'limul Muta'alim di SDN Kedungsolo Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo / Layli Hidayah

 

Kata Kunci: Desain pembelajaran karakter, kitab Ta’limul Muta’alim Fakta yang diperoleh dari hasil pengamatan pada PPL pada bulan September-Oktober 2010 di SDN Kedungsolo kecamatan Porong kabupaten Sidoarjo yakni sikap siswa terhadap gurunya kurang baik berbicara dengan menggunakan bahasa jawa kasar (ngoko) terhadap gurunya misalkan “Bu, atase sampean gak iso boso jowo ae’’, meminta uang pada gurunya dan membuat bulan-bulanan gurunya misalkan “Suit…suit Pak Agus pacarae sopo ce”. Anak yang seperti itu membutuhkan perbaikan karakter, salah satunya yakni dengan memasukkan unsur pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Dalam suatu proses pembelajaran diperlukan suatu desain pembelajaran. Desain tersebut harus mengandung unsur karakter. Salah satu desain tersebut yakni desain pembelajaran karakter berbasis kitab Ta’limul Muta’alim. Desain pembelajaran karakter berbasis kitab Ta’limul Muta’alim adalah tata cara yang dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat petunjuk penggunaan, RPP, dan bahan pembelajaran yang dipadukan dengan materi yang ada dalam kitab Ta’limul Muta’alim serta desain pembelajaran ini bisa membentuk karakter siswa. Desain pembelajaran yang dibuat selama ini hanyalah desain pembelajaran yang mengedepankan sisi kognitif tanpa memperhatikan perkembanagan karakter anak. Kitab Ta’limul Muta’alim yakni kitab karangan Syekh Al-Zanurji yang membahas tentang etika pelajar dalam mencari ilmu. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pengembangan desain pembelajaran karakter berbasis kitab Ta’limul Muta’alim. Skripsi pengembangan ini dilakasanakan dengan tujuan menghasilkan desain pembelajaran karakter untuk SD berdasarkan kitab Ta’limul Muta’alim yang valid, dan mendeskripsikan tingkat kevalidan desain pembelajaran karakter untuk memperbaiki karakter anak. Model pengembangan yang digunakan untuk menyusun desain pembelajaran ini yakni berupa model prosedural. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Langkah-langkah untuk menyusun desain pembelajaran ini yakni: (1) menemukan mata pelajaran yang terdapat pembentukan sikap anak yakni mata pelajaran PKn; (2) merumuskan SK dan KD pada mata pelajaran PKn menjadi indikator dan pengembangan indikator; (3) menemukan materi pada kitab Ta’limul Muta’alim yang didalamnya terdapat materi musyawarah dan menghormati guru; (4) menyusun RPP yang berisi (skenario pembelajaran, LKS, soal evaluasi dan penilaian); (5) membuat bahan pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan lembar observasi.ii Berdasarkan hasil pengembangan desain pembelajaran yang divalidasi oleh ahli model dan ahli materi kitab Ta’limul Muta’alim, ahli materi PKn dan audien. data nilai yang diperoleh yakni valid. Setelah desain pembelajaran ini diterapkan saat di lapangan hasil belajar siswa meningkat dan sikap siswa menjadi lebih baik terutama dalam sikap penghormatan kepada guru

Peningkatkan keterampilan menulis narasi melalui model cooperative learning tipe stad (Student Teams Achievement Division) siswa kelas IV SDN Ketawanggede 1 Malang / Titik Dwi Fajariani

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, STAD, Menulis Narasi, hasil belajar Menulis narasi merupakan salah satu kemampuan yang diberikan kepada siswa mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, namun kenyataannya masih banyak siswa yang belum mampu menulis narasi secara benar. Mereka masih kesulitan dalam menyusun kalimat-kalimat menjadi sebuah paragraf yang utuh dan padu, siswa kurang paham dengan penggunaan ejaan dan tanda baca dan siswa mengalami kesulitan dalam menuliskan sebuah kejadian atau peristiwa secara runtut berdasarkan pengalaman. Berdasarkan uraian tersebut peneliti memilih menulis narasi sebagai bahan pertimbangan ini. Salah satu materi dalam menulis narasi sebagai pengalaman pribadi. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis lebih banyak membahas tentang menulis pengalaman pribadi tujuannya agar siswa dapat menulis narasi dengan baik. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan : 1) penerapan menulis narasi dengan menggunakan model Cooperative Learning tipe STAD siswa kelas IV SDN Ketawanggede I Malang; 2) Peningkatan hasil belajar siswa Kelas IV SDN Ketawanggede 1 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, masing-masing siklus melalui tahapan-tahapan, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan dalam siklus tersebut dituangkan dalam tiap tahapan proses penulisan, yang terdiri dari prapenulisan, penulisan, dan penyuntingan. Dalam penerapan pelaksanaan tindakan diterapkan tahapan-tahapan model STAD yang terdiri dari presentasi, kerja kelompok, tes, penentuan skor dan penghargaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pembelajaran kooperatif kemampuan siswa dalam mengembangkan isi, penyusunan kalimat secara runtut, dan ketepatan penulisan EYD dalam menulis narasi semakin meningkat dari siklus ke siklus berikutnya, Siklus I yang menunjukkan ketuntasan klasikal 61% dan Siklus II yang menunjukkan 95% mengalami ketuntasan menulis. Narasi yang ditulis siswa menjadi lebih baik, lengkap, susunan paragrafnya beruntun dari kalimat satu ke kalimat yang lain, serta pola pengembangan isinya tepat. Peningkatan kemampuan siswa tersebut dilakukan dengan cara menerapkan bentuk-bentuk belajar yang efektif, menyenangkan, dan saling bekerja sama.

Mengubah miskonsepsi IPA melalui model savi pada siswa kelas IV SDN Talangagung 01 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Ony Krisnawati

 

Kata kunci: miskonsepsi IPA, model SAVI Pembelajaran IPA dengan menggunakan metode ceramah dan penugasan telah menjadikan siswa sebagai subjek belajar yang pasif karena aktivitas siswa hanya mendengar penjelasan guru, menghafal apa yang didengar, mencatat hasil penjelasan guru dan mengerjakan soal yang mengacu pada buku paket atau LKS, sehingga aktivitas siswa baik secara fisik maupun intelektual kurang terlatih dalam menemukan fakta, konsep, dan prinsip dengan sendirinya melalui sebuah percobaan. Aktivitas siswa dalam pembelajaran cenderung pasif. 17 (85%) dari 20 siswa mengalami miskonsepsi tentang sumber energi panas dan sumber energi bunyi. Hasil belajar siswa rata-rata 62. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model SAVI. Keunggulan model SAVI adalah siswa akan lebih aktif dalam belajar karena melibatkan gerak fisik dan intelektual untuk mendapat berbagai keterampilan yang dapat membantu siswa untuk memahami materi dan mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan kritis terhadap masalah yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan konsepsi awal siswa terkait dengan energi panas dan energi bunyi sebelum menggunakan model SAVI, 2) Mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model SAVI pada pembelajaran IPA kelas IVA, 3) mendeskripsikan hasil belajar siswa dengan model SAVI pada pembelajaran IPA kelas IVA, 4) mendeskripsikan konsepsi akhir siswa secara ilmiah setelah diterapkan model SAVI pada pembelajaran IPA kelas IVA SDN Talangagung 01 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan model SAVI dapat mengubah miskonsepsi siswa, meningkatkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan miskonsepsi siswa yakni 5 siswa (25%) masih mengalami terkait sumber energi panas dan 4 siswa 20% masih mengalami miskonsepsi terkait sumber energi bunyi, meningkatnya aktivitas belajar pada siklus I mencapai rata-rata 84,7 dan siklus II mencapai rata-rata 94,42. Sedangkan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan pada siklus I dan II. Pada siklus I diperoleh rata-rata 90,70 dan siklus II diperoleh rata-rata 89,37. Penelitian ini menerapkan model SAVI pada materi pokok energi panas dan energi bunyi yang telah berhasil mengubah miskonsepsi siswa, meningkatkan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa. Jadi peneliti lain dan guru jika ingin mengubah miskonsepsi siswa, meningkatkan aktivitas belajar siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa disarankan menggunakan model SAVI dengan menyesuaikan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan model SAVI.

Peningkatan keterampilan menulis melalui pemanfaatan buku yang ada di perpustakaan sekolah siswa kelas V SDN Karangrejo 02 Kecamatan Garum Kabupaten Blitar / Jepi Priyo Tysono

 

Kata kunci: Kegemaran, perpustakaan sekolah, keterampilan menulis. Mengajar guru dalam kegiatan keterampilan menulis ringkasan cerita di dalam kelas masih monoton, yaitu pembelajaran dilakukan hanya di dalam kelas dan memberikan bacaan yang telah ditentukan oleh guru tanpa meberikan kebebasan siswa untuk memilih bacaan, sehingga siswa tidak tertarik dan cenderung bosan dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia terutama dalam menulis ringkasan cerita. Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) bagaimanakah pelaksanaan pemanfaatan perputakaan dalam kegemaran keterampilan menulis pada kelas V SDN Karangrejo 02, (2) apakah pemanfaatan perpustkaan sekolah dapat meningkatkan kegemaran keterampilan menulis siswa kelas V SDN Karangrejo 02. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Data dan sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang meliputi proses, sikap, dan hasil. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara (1) teknik observasi, (2) teknik wawancara, (3) teknik tes, dan (4) dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa (1) lembar observasi, (2) pedoman wawancara, (3) lembar tes, dan (4) foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran melalui pemanfaatan perpustakaan pada kelas V menunjukkan keberhasilan. Hal ini ditunjukkan oleh terpenuhinya semua kriteria dalam prosedur pelaksanaan pembelajaran dengan pemanfaatan perpustakaan. Hal itu juga diikuti dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Persentase ketuntasan belajar siswa pada pratindakan adalah 25%, pada siklus I adalah 75 % dan pada siklus II adalah 91%. Kesimpulan yang dapat diambil setelah pelaksanaan pembelajaran melalui pemanfaatan perpustakaan sekolah adalah pembelajaran bahasa indonesia berhasil dilaksanakan, karena terbukti dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran bahasa indonesia. Oleh karena itu, disarankan kepada semua pihak yang berkaitan dengan kelas V khususnya, maupun pihak lain di bidang pendidikan untuk menerapkan pembelajaran melalui pemanfaatan perpustakaan ini dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa indonesia.

Penerapan model group investigation untuk meningkatkan pemebelajaran IPA siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang / Dedik Setiyo Winoto

 

Kata Kunci : Group Investigation, aktivitas, hasil belajar, IPA Hasil observasi menunjukkan bahwa aktivitas dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2 Malang masih rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Hasil penilaian yang dilaksanakan oleh guru pada materi gaya; (2) Siswa terlihat ramai tapi tidak berkaitan dengan pembelajaran; (3) Aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; (4) Media pembelajaran hanya terpaku pada gambar yang ada pada buku pelajaran. (5) Pembelajaran IPA yang dilakukan oleh guru kurang variatif. Guru mendominasi pembelajaran sehingga hal ini menyebabkan siswa hanya menjadi pendengar pasif. Untuk itu, perlu adanya penggunaan model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa untuk aktif berdiskusi dan memecahkan masalah. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan model Group Investigation pada pembelajaran IPA kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2; (2) Mendeskripsikan aktivitas siswa kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2 setelah penerapan model Group Investigation; (3) Mendeskripsikan hasil belajar V SD Negeri Kidul Dalem 2 setelah penerapan model Group Investigation. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Kidul Dalem 2 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Menggunakan empat cara dalam pengumpulan data, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunkan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Penerapan pembelajaran dengan menggunakan model Group Investigation dapat meningkatkan pembelajaran IPA materi "Bumi dan Alam Semesta" pada siswa kelas V SDN Kidul Dalem 2 Malang. Penilaian penyusunan RPP sebesar 90,44% dan meningkat pada siklus II sebesar 95,59%. Sedangkan penerapan model Group Investigation pada siklus I sebesar 74,47% dan meningkat pada siklus II sebesar 86,23%. Aktivitas belajar siswa sebesar 42,34% pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 64,03%. Hasil belajar siswa sebesar 55 % pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 75,93%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disarankan kepada guru atau peneliti lainnya serta kepala sekolah sebaiknya memperhatikan kekurangan yang dipaparkan dalam penelitian ini seperti penggunaan waktu yang cukup lama, pengorganisasian kelas, dan selalu memberikan motivasi kepada siswa.

Penerapan pendekatan science environment technology society (SETS) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV SDN Selorejo Tulungagung / Ika Diana Tristanti

 

Kata Kunci : Pendekatan SETS, IPA SD, hasil belajar. Hasil observasi menunjukkan bahwa tingkat aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN Selorejo Tulungagung tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari data nilai tes siswa, siswa yang memperoleh nilai antara 50-59 ada 3 siswa, 60-69 ada 12 siswa, 70-79 ada 12 siswa dan 80-89 ada 2 siswa. Dengan observasi yang telah dilakukan diketahui bahwa standar ketuntasan minimal (SKM) sekolah adalah 70 dan siswa yang mendapat nilai dibawah SKM ada 15 siswa. Untuk itu, perlu adanya suatu cara yang digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan pendekatan SETS. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan penerapan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society) dalam mata pelajaran IPA kelas IV di SDN Selorejo materi sumber daya alam, (2) Mendeskripsikan aktivitas siswa kelas IV SDN Selorejo dalam mata pelajaran IPA dengan materi sumber daya alam dan (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPA dengan materi sumber daya alam kelas IV di SDN Selorejo melalui pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society) Subjek yang diteliti adalah siswa kelas IV di SDN Selorejo Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung semester 2 tahun ajaran 2010/2011. Banyak siswa ada 29 siswa. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3) Pengamatan, (4) Refleksi. Pengumpulan data menggunakan 5 teknik, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi, dan (5) Catatan Lapangan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian dari hasil belajar awal siswa yaitu ada 14 siswa (48%) yang mendapatkan nilai lebih dari 70. Setelah dilaksanakan siklus I, nilai siswa meningkat menjadi 17 siswa yang mendapat nilai diatas 70 dengan ketuntasan klasikal sebesar 58%. Selanjutnya pada siklus II, nilai siswa mengalami peningkatan menjadi 24 siswa dengan ketuntasan klasikal sebesar 84%. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan SETS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas IV di SDN Selorejo Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Saran yang diberikan peneliti bagi guru sebaiknya dapat menerapkan pendekatan SETS dalam pembelajaran IPA dengan memperhitungkan waktu, karena memerlukan waktu yang relatif lama dan mempertimbangkan materi yang akan diajarkan karena pendekatan SETS tidak dapat diterapkan dalam semua materi.

Penerapan model pembelajaran student facilitator and explaining (SFAE) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Merjosari 1 Malang pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan / Putri Mahanani

 

Kata kunci: model SFAE, aktivitas, hasil belajar, PKn, SD. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada guru dan siswa kelas IV SDN Merjosari Malang, diketahui bahwa pembelajaran yang dilakukan selama ini masih cenderung guru yang menjadi pusat pembelajaran. Hasil belajar siswa pun masih belum maksimal. Oleh karena itu masalah ini perlu untuk segera diselesaikan karena siswa SD merupakan aset negara sehingga pemberian pendidikan yang berkualitas sangat dibutuhkan. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemahaman materi globalisasi yaitu dengan menggunakan model pembelajaran SFAE. Pelaksanaan pembelajaran PKn dengan model pembelajaran SFAE mengikuti langkah-langkah sebagai berikut. (1) guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai, (2) guru mempresentasikan materi globalisasi, (3) siswa berkelompok menyelesaikan tugas tertentu, kemudian siswa mempresentasikan hasil diskusi mereka kepada siswa lain,(4) guru menyimpulkan hasil presentasi siswa, (5) guru menerangkan semua materi, (6) penutup. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan penerapan model pembelajaran SFAE dalam pembelajaran PKn materi globalisasi pada siswa kelas IV SDN Merjosari 1 Malang. Selain itu mendeskripsikan aktivitas dan hasil belajar siswa sebagai akibat penerapan model pembelajaran SFAE. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek dalam penelitian ini yaitu guru kelas IV dan seluruh siswa kelas IV SDN Merjosari 1 Malang. Prosedur pelaksanaannya yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan tindakan, (3) Observasi, (4) Refleksi. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) pedoman observasi, (2) pedoman wawancara dan (3) soal-soal tes. Hasil penelitian yang dilaksanakan selama dua siklus menunjukkan bahwa model pembelajaran SFAE dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini ditandai dengan peningkatan hasil belajar dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari prosentase keberhasilan kelas yang tuntas pada pra tindakan sebesar 41% meningkat menjadi 62% pada siklus I dan meningkat menjadi 81% di siklus II dengan persentase peningkatan dari pra tindakan ke siklus I sebesar 21% dan dari siklus I ke siklus II sebesar 19%, sehingga prosentase peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal dari pra tindakan ke siklus II sebesar 40%. Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran SFAE dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Disarankan saat guru menerapkan model SFAE, perlu diperhatikan kemampuan siswa, sebab model ini menuntut siswa yang dapat membaca, bertanggung jawab, memiliki kemampuan individu untuk menjadi fasilitator dan membelajarkan siswa. Guru disarankan juga menggunakan variasi model pembelajaran sehingga siswa tidak jenuh dan hasil belajar dapat meningkat.

Penerapan model pembelajaran giving question and getting answer untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kecamatan Klojen kota Malang / Rizki Yusuf Hidayat

 

Kata Kunci : Model Giving Question and Getting Answer, Aktivitas, Hasil Belajar, PKn SD Berdasarkan hasil survey awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa hasil belajar dan aktivitas siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang masih rendah, hal ini dapat dilihat dari: (1) Hasil nilai raport siswa pada semester ganjil tahun ajaran 2010-2011 yang masih di bawah rata-rata KKM; (2) Aktivitas pembelajaran berpusat pada guru; (3) Guru hanya menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan; (4) Media pembelajaran hanya terpaku bacaan yang tersedia pada buku pelajaran. Hal ini menyebabkan siswa lebih cepat bosan. Untuk itu, perlu adanya suatu model pembelajaran yang membuat siswa lebih kreatif. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendiskripsikan penerapan model GQGA dalam pembelajaran PKn kelas IV, (2) mendiskripsikan peningkatan aktivitas belajar PKn siswa kelas IV, dan (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan datanya dengan menggunakan observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan tiga cara, yaitu reduksi data, paparan data, dan penyimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penerapan model GQGA siklus I keberhasilannya mencapai 91,25% sedangkan siklus II meningkat menjadi 98,75%, (2) Keaktifan siswa pada siklus I ketuntasan klasikalnya sebesar 73,7% sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 96,1%, (3) Hasil Belajar saat pratindakan rata-rata hasil belajar siswa adalah 64,6 dengan ketuntasan klasikal sebesar 53,3%. Siklus I nilai rata-rata hasil belajar siswa menurun menjadi 53 dengan ketuntasan klasikal 33,3%. Siklus II nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 74 dan ketuntasan klasikal menjadi 76,67%. Kesimpulan yang diperoleh adalah penerapan model GQGA dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang. Dalam penelitian ditemukan kendala bahwasanya guru masih belum sepenuhnya menguasai kelas. Saran yang diberikan hendaknya penerapan model GQGA disiapkan lebih matang baik media dan penguasaan kelas, labih sering memberikan penguatan dan penghargaan berupa hadiah agar aktivitas belajarnya meningkat, dan memberikan hadiah bagi yang hasil belajarnya sudah diatas rata-rata kelas agar terpacu meningkatkan hasil belajarnya.

Peningkatkan hasil belajar siswa menggunakan media puzzle pada pembelajaran PKn kelas IV SDN Kuwik II Kec. Kunjang Kab. Kediri / Devid Krisetya Agung

 

Keywords: learning, group work, media puzzles, learning Civics The use of media as the title puzzle in Civics learning is due to the low student learning outcomes fourth grade II SDN Kuwik Kunjang Kediri District. Over the last five meetings, students are able to achieve the target ketuntatan learn just 35% only. This was caused by several aspects, one of them because during the teachers' conduct lessons only use the lecture method, so that low student motivation and resulted in the low learning outcomes. Writing this thesis aims to describe the use of media on learning puzzles Fourth grade Civics II SDN Kuwik Kunjang Kediri District, describes the puzzle of learning to use media to enhance student learning outcomes. This study was designed with classroom action research design. The design of the study was designed in two cycles. Each cycle consists of planning, execution, observation and reflection. Reflection activities carried out each end of the cycle and pledged the determination of the action in the next cycle. Phase of research carried out collaboratively with the supervising teacher who is appointed by the school as an observer. Data obtained from this study were analyzed with descriptive qualitative way. Learning to use the media puzzles can improve the learning process in class IV Civics II SDN Kuwik Kunjang Kediri District. This is evident from the pre-cycle learning outcomes by 35% up to 60% in cycle I and rose again to 92% in cycle II. Learning to use media that carried the maximum puzzles, can improve student learning outcomes. This is evident by the increasing percentage of mastery learning that occurred from pre-cycle, the cycle I to cycle II, amounting to 35.9% increased to 82% then becomes 94.8%. Based on the discussion it can be concluded that with the implementation of group work methods to use the media puzzles, activities, motivation and student learning outcomes can be improved, it is evident with increasing student learning outcomes both individually and in groups. With a well-coordinated management in a learning process, from submission of information, establishment of study groups of students, guidance and supervision of student activities performed, then the learning will be able to achieve maximum results.

Peningkatan kemampuan menyimak isi cerita anak melalui penetapan strategi direct listining thinking activities (DLTA) pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 3 kota Malang / Innany Mukhlishina

 

Kata kunci: kemampuan menyimak, isi cerita anak, strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA), SD. Berdasarkan hasil tes pra tindakan kemampuan menyimak isi cerita anak yang peneliti lakukan di kelas V SDN Pisang Candi 3 Kota Malang dapat diketahui bahwa kemampuan menyimak isi cerita anak siswa rendah. Siswa kesulitan menyebutkan unsur cerita, menjawab pertanyaan sesuai cerita yang didengar, dan kesulitan menceritakan kembali isi cerita yang telah didengar. Aktivitas belajar siswa belum terlibat aktif dalam isi cerita. Pembelajaran yang dilakukan guru dengan cara memberikan bacaan kepada siswa untuk dibaca siswa sendiri bukan dibacakan oleh guru. Hal itu tidak sesuai dengan aspek pada kurikulum pembelajaran Bahasa Indonesia yaitu aspek mendengarkan. Selain itu belum ada media yang digunakan guru. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) untuk meningkatkan kemmapuan menyimak isi cerita anak pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) dalam meningkatkan kemampuan menyimak isi cerita anak, (2) mendeskripsikan tingkat keberhasilan penerapan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) dapat meningkatkan kemampuan menyimak isi cerita anak. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis&Mc.Taggart. Pengumpulan data menggunakan 5 teknik, yaitu (1) Observasi, (2) Wawancara, (3) Tes, (4) Dokumentasi, dan (5) Catatan Lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata aktivitas kemampuan menyimak isi cerita anak siswa mencapai 87,3 dengan kriteria A (baik sekali) pada siklus I dan 93,76 dengan kriteria A (baik sekali) pada siklus II. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar kemampuan menyimak isi cerita anak siswa mencapai 55,46 dengan kriteria C (cukup) pada pra tindakan menjadi 68 dengan kriteria B (baik) pada siklus I dan 89,07 dengan kriteria A (baik sekali) pada siklus II. Kesimpulan dari penelitian yaitu bahwa penerapan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) dapat meningkatkan kemampuan menyimak isi cerita anak pada siswa kelas V SDN Pisang Candi 3 Kota Malang. Saran yang diberikan adalah hendaknya guru dapat: (a) menerapkan strategi Direct Listening Thinking Activities (DLTA) sesuai tahap-tahapnya; (b) memilih cerita anak yang disukai siswa yaitu dengan tokoh binatang; (c) menggunakan media yang bervariasi yaitu media rekaman dan gambar; (d) memberi ruang lebih banyak untuk siswa mengaktualisasikan dirinya.

Meningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun daftar melalui model pembelajaran think pair share pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri / Titis Andestya Furinda

 

Kata Kunci : Hasil Belajar, Luas Bangun Datar, Think Pair Share Berdasarkan studi pendahuluan ada beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran matematika materi luas bangun datar di SDN Senden II Kabupaten Kediri antara lain: (1) pelaksanaan pembelajaran masih bersifat konvensional , (2) siswa pasif dalam kegiatan pembelajaran, (3) masih banyak siswa yang belum memahami materi luas bangun datar, (4) masih banyak siswa yang mendapat hasil belajar di bawah KKM. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendiskripsikan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri, (2) untuk mendiskripsikan peningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun datar melalui model pembelajaran Think Pair Share pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri semester II tahun pelajaran 2010/2011. Waktu dan lama penelitian dimulai dari Februari 201I sampai April 201I. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes,wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran Think Pair Share dalam meningkatkan hasil belajar matematika materi luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Senden II Kabupaten Kediri meningkat. Pada pratindakan belum ada penilaian aktifitas siswa, pada siklus I sebesar 72 % dengan kriteria baik, dan siklus II sebesar 89% dengan kriteria sangat baik. Dan hasil belajar siswa pada pratindakan rata-rata 58 dan ketuntasan 40%, pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa adalah 69 dan ketuntasan 79%, sedangkan pada siklus II rata-rata hasil belajar siswa adalah 80 dengan ketuntasan klasikal 93%. disimpulkan bahwa model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan aktifitas siswa dan hasil belajar luas bangun datar pada siswa kelas III SDN Senden II. Berdasarkan hasil penelitian disarankan model pembelajaran Think Pair Share dapat dijadikan alternatife bagi guru untuk diterapkan pada pembelajaran Matematika selanjutnya, karena model pembelajaran Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar siswa, serta dapat melatih siswa untuk bekerja secara individu maupun berkolaborasi dengan temannya.

Peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model talking stick pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 kota Blitar / Perdana Prihandar

 

Kata kunci: keterampilan menulis, menulis deskripsi, model talking stick. Hasil observasi siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar diketahui bahwa guru kelas mengajar menulis karangan deskripsi dengan cara siswa langsung diminta untuk membaca materi tentang karangan deskripsi, kemudian siswa diminta untuk membuat karangan tersebut. Guru tidak menjelaskan karakteristik dan contoh karangan deskripsi sebelumnya, kemudian karangan tersebut dikumpulkan kembali kepada guru tanpa adanya penunjukan hasil karya siswa secara klasikal. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan penerapan model talking stick dalam meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar dan (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis deskripsi melalui model talking stick pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif . Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini diawali dengan tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Instrumen dalam pengumpulan data penelitian ini adalah lembar wawancara, lembar observasi baik untuk aktivitas siswa maupun kemampuan guru, catatan lapangan, hasil tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian penerapan model talking stick dalam pembelajaran diperoleh persentase siswa yang tuntas belajar pada siklus 1 yaitu 52%. Persentase tersebut masih belum memenuhi standar yang telah ditetapkan, yaitu 70%, maka dilanjutkan pada siklus 2. Pada siklus 2 persentase siswa yang tuntas belajar naik menjadi 86%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran talking stick dalam meningkatkan keterampilan menulis deskripsi pada siswa kelas V SDN Sukorejo 3 Kota Blitar terbukti dapat meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi. Oleh karena itu, disarankan bagi guru agar menerapkan model talking stick dalam pembelajaran agar hasil yang diperoleh bisa maksimal.

The implementation of learning together strategy to improve the reading comprehension ability of the english education departement studens of Unima / Livianni Lambe

 

Graduate Program in English Education Language Teaching, State University of Malang. Advisors: (1) Dr.Johannes A.Prayogo, M.Pd, M.Ed. and (2) Dr. Monica Djohana D. Oka, M.A Key Words: learning together strategy, reading comprehension ability. Reading is an activity that is done by reader to understand written texts and it can be classified into word recognition and comprehension. Word recognition refers to the process of perceiving how written symbols correspond to one's spoken language, whereas comprehension is the process of making sense of words, sentences and connected text. In teaching reading, especially when the language is foreign to the students, teachers need to assist students to set their reading purposes as to facilitate comprehension and get responses from them. Failure to do this may lower students' motivation or discourage them to make attempts for comprehension as well as to react to what is written in the text. This situation also happened to the students of English Education Department of UNIMA, which was indicated by the average score of preliminary test that was 54.59. From preliminary study observation which was conducted prior to the study, the researcher found out the following facts: (1) the students had difficulty in finding main idea and determining text type, (2) the students did not know whether the questions were explicit or implicit, (3)most of the students were passive and unmotivated in the reading class, and (4) teacher's teaching was monotonous. Based on the problems above, the researcher in this research concentrated on finding main ideas, determining text types and students' participation in the reading class. To overcome the problems, the researcher employed Learning Together Strategy as one of cooperative learning strategies. The strategy was selected for it is believed that it can facilitate more communicative practices and provide enjoyable learning activity. Learning Together Strategy consists of five main principles namely (1) positive interdependence, (2) face to face interaction, (3) individual accountability, (4) interpersonal and small group skills, and (5) group processing. The researcher utilized the design of Collaborative Classroom Action Research, in which the researcher was assisted by a collaborative teacher (a colleague) conducted the research. The research was conducted in a single class that consisting of twenty eight students who join Reading Comprehension III class in the academic year 2009/2010, in which all of the students were taken as the subjects of the research. The procedure of the research consisted of four main steps: planning of the action, implementation of the action, observation, and analysis and reflection. To collect the data, the researcher used some instruments namely observation sheet, field notes, reading test and questionnaire. The findings of the research show that Learning Together Strategy has been proven to be able to improve the students' reading ability, especially the ability to identify main ideas and text types (Procedure and Analytical Exposition Texts). The students' average score decreased from 54.59 in the preliminary test to 41.66 in Cycle 1. Afterwards, in Cycle 2, the students' average score improved greatly from 41.66 in Cycle 1 to 73.80 in Cycle 2. In addition, the findings of the study also describe that the strategy improves the students' participation. In preliminary study, most of the students were passive and unmotivated before the strategy implemented. After the strategy implemented, based on analysis of observation sheet and field notes, the students participate more actively during the teaching-learning process, which is indicated by the average score 98.33 (98.33%) in Cycle 1 and 100 (100%)in Cycle 2. Based on the findings, the improvement of students' achievement in Reading Comprehension III is encompassed through the appropriate procedure of Learning Together Strategy as the following steps: (1) explaining the aim of lesson and introducing text ( type of text), (2) asking students to tell individually their idea related to topic, (3) dividing students into groups of four and asking students to determine a different job/role, (4) introducing purpose of the text ( relating to SIO), (5) asking students to determine the texts relating to SIO and answering reading questions, (6) encouraging the students to help each other and monitoring the students discussion, (7) asking one or two group to present the answer in front of the class, (8) discussing the answer with the whole class, and (9) giving reward or compliment to the group assignment. The researcher finally suggests that the students apply the strategy in their study. This strategy is given opportunity for the students to discuss and to work together during teaching-learning process and to lead the students helping each other to improve their reading comprehension ability. She also suggests that the English lecturers are to train the other students using the strategy either in improving reading comprehension or other skills (e.g. listening, speaking, and writing) Then, they must be very careful in selecting reading materials to be used in the teaching and learning activities. The reading materials should meet the students' level and should not those have been read by the students. Moreover, the lecturers should be supportive and encouraging the students because the atmosphere created during the implementation determines success .Administrators in English Education Department of UNIMA are also suggested to use the findings of this research as the basis of making policy to develop education to higher quality concerning the teaching of English Reading Comprehension using Learning Together Strategy. The last, the researcher suggests the other researchers to use the result of the research as relevant reference when they want to conduct research dealing with the implementation of the Learning Together Strategy in the same field of English subject.

Penerapan pembelajaran berprogram untuk meningkatkan hasil belajar pendidikan kewarganegaraan pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 kota Blitar / Dewi Sanianti

 

Kata Kunci: Pembelajaran Berprogram, Hasil Belajar, Pendidikan Kewarganegaraan Hasil observasi pra tindakan menunjukkan terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SDN Karangtengah 1 Kota Blitar, yaitu: (1) pelaksanaan pembelajaran menggunakan model konvensional yang tidak memperhatikan perbedaan yang ada pada setiap siswa, (2) pelaksanaan pembelajaran didominasi guru, (3) guru tidak menggunakan media pembelajaran, (4) nilai rata-rata hasil belajar siswa adalah 66,33, (5) siswa yang mencapai hasil belajar di atas KKM sebanyak 15 siswa atau 35% dari jumlah siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran berprogram pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar, (2) untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar PKn pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar 2010/2011. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan adalah adalah analisis data kualitatif dan didukung dengan data kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. Hasil penelitian penerapan pembelajaran berprogram pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 kota Blitar, menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar PKn, dari pra tindakan ke siklus 1 dan ke siklus 2. Nilai rata-rata hasil belajar pada pra tindakan yaitu 66,33, pada siklus 1 meningkat menjadi 74,30 dan pada siklus 2 meningkat menjadi 76,70. Peningakatan rata-rata hasil belajar siswa dari pra tidakan sampai siklus 2 adalah 10,37. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan persentase ketuntasan belajar klasikal, dari pra tindakan ke siklus 1 dan ke siklus 2. Siswa yang tuntas belajar pada pra tindakan yaitu 15 siswa atau 35%, pada siklus 1 yaitu 29 siswa atau 67%, siklus 2 yaitu 34 siswa atau 79%. Peningkatan ketuntasan belajar klasikal siswa dari pra tindakan sampai siklus 2 adalah 44%. Siswa belum tuntas belajar sebanyak 9 siswa, dikarenakan siswa tesebut kurang memperhatikan penjelasan yang diberikan guru. Penerapan pembelajaran berprogram PKn pada siswa kelas IV SDN Karangtengah 1 Kota Blitar dapat berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada agar pembelajaran diharapkan berjalan seoptimal mungkin.

Penerapan model POE (Predict. Observe, explain) untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang / Setyaningtyas Wahyu Nugraheni

 

Kata kunci : pembelajaran IPA, model POE, aktivitas, hasil belajar Pembelajaran IPA pada siwa kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang selama ini masih berpusat pada guru dan masih sering menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Guru jarang mengajak siswa melakukan percobaan. Dalam kegiatan tanya jawab guru jarang memberikan pertanyaan yang menuntut siswa untuk berpikir seperti meminta siswa untuk memprediksi suatu permasalahan. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran cenderung pasif. Hasil belajar siswa rata-rata 68,79. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran POE. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penerapan model POE dalam pembelajaran IPA di kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang, (2) peningkatan aktivitas belajar siswa kelas III setelah dibelajarkan melalui model POE, serta (3) peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Karangbesuki 4 Malang setelah dibelajarkan melalui model pembelajaran POE. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas III sebanyak 21 siswa, dengan siswa laki-laki sebanyak 12 siswa dan 9 siswa perempuan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah PTK dalam bentuk kolaboratif. Pelaksanaan PTK yang digunakan meliputi empat tahapan, yaitu: 1) planning, 2) acting 3) observing, dan 4) reflecting. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain: observasi, dokumentasi, tes, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model POE dapat meningkatkan pembelajaran IPA. Terbukti pada pembelajaran yang sudah dilaksanakan, siswa terlibat langsung dalam pembelajarannya sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator. Prosentase untuk keberhasilan guru dalam menerapkan model pada siklus 1 mencapai 93,39% dan meningkat pada siklus 2 menjadi 100%. Nilai rata-rata aktivitas belajar siswa pada siklus I adalah 70,50 dengan kriteria memuaskan dan pada siklus II rata-rata aktivitas belajar meningkat menjadi 77,22 dengan kriteria memuaskan. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 57,14% dengan nilai rata-rata hasil belajar siswa 73,81 dan pada siklus II prosentase meningkatan menjadi 85,71% dengan nilai rata-rata 79,91. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah untuk kepala sekolah hendaknya dapat memberikan dukungan dan pengarahan kepada guru agar dapat menerapkan model pembelajaran POE sehingga dapat meningkatkan pembelajaran IPA. Guru diharapkan dapat menerapkan model pembelajaran POE pada materi lain selama materi tersebut sesuai dengan karakter model pembelajaran POE.

Hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dan kemandirian emosi pada remaja akhir di kota Malang / Diar Arsyianti

 

Kata Kunci : pola asuh demokratis orang tua , kemandirian emosi. Pola asuh orang tua sangat menentukan perkembangan remaja. Salah satu pola asuh yang ideal adalah pola asuh asuh demokratis. Pola asuh ini dapat membentuk remaja memiliki kemandirian emosi. Kemandirian emosi adalah kemampuan memecahkan ketergantungannya (sifat kekanak-kanakannya) dari orangtua dan remaja dapat memuaskan kebutuhan kasih sayang dan keakraban di luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran pola asuh demokratis orang tua, (2) gambaran kemandirian emosi, dan 3) mengetahui hubungan antara pola asuh demokratis orang tua dan kemandirian emosi pada remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dan merupakan penelitian korelasional dengan teknik purposive sampling. Subyek dalam penelitian ini sebanyak 100 remaja yang berusia 16-18 tahun dan sejak kecil tinggal dengan orang tuanya. Instrumen yang digunakan adalah Skala Pola Asuh Demokratis orang tua dan Skala Kemandirian Emosi yang telah teruji validitasnya dengan teknik korelasi Product Moment dan reliabilitasnya dengan teknik Alpha-Cronbach. Koefisien validitas Skala Pola Asuh Demokratis orang tua pada kisaran 0,258-0,705 dan Skala Kemandirian Emosi pada kisaran 0,309-0,618. Sementara reliabilitas skala pola asuh demokratis orang tua sebesar 0,840 dan reliabilitas skala kemandirian emosi sebesar 0,867. Hasil analisis deskriptif menunjukkan : (1) Sebanyak 19 orang (19%) remaja yang memiliki tingkat pola asuh demokratis orang tua tergolong tinggi, 65 orang (65%) tergolong sedang, dan 16 orang (16%) tergolong rendah, (2) Remaja yang memiliki tingkat kemandirian emosi tinggi sebanyak 17 orang (17%), 56 orang (56%) sedang dan 27 orang (27%) kategori rendah (3) Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara pola asuh demokratis orang tua dan kemandirian emosi (rxy = 0,815 sig = 0,001 < 0,05). Artinya, semakin tinggi pola asuh demokratis orang tua maka semakin tinggi kemandirian emosinya, sebaliknya semakin rendah pola asuh demokratis maka semakin rendah pula kemandirian emosinya.

Perbedaan prestasi belajar adobe photoshop dengan penerapan project-based learning berbantuan multimedia interaktif dibandingkan direct instruction berbantuan multimedia interaktif pada siswa kelas XI SMAN 2 Malang / Hayu Noeritasari

 

Kata kunci: Project-based Learning, Direct Instruction, Multimedia Interaktif, Prestasi Belajar, Adobe Photoshop Penerapan model pembelajaran direct instruction (DI) yang bersifat teacher centered di SMA Negeri 2 Malang mengakibatkan siswa menjadi pasif dan kurang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah secara mandiri. Hal ini didasarkan hasil pengamatan pada saat PPL (Praktik Pengalaman Lapangan), khususnya untuk mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Oleh karena itu, diperlukan metode pembelajaran yang menuntut siswa pro aktif, salah satunya adalah project-based learning (PjBL). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi perbedaan karena penerapan PjBL dibandingkan dengan DI yang sama-sama berbantuan multimedia interaktif. Rancangan penelitian eksperimen ini menggunakan Post-test Only Control Design dengan pemilihan kelompok yang tidak acak. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas XI SMA Negeri 2 Malang semester 2 tahun ajaran 2010/2011. Sampel yang digunakan adalah dua kelas, yaitu kelas XI IPA 2 sebagai kelompok eksperimen dengan menggunakan model PjBL dan kelas XI IPA 3 sebagai kelompok kontrol yang diajar menggunakan model DI. Instrumen yang digunakan terdiri dari: instrumen perlakuan dan pengukuran. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai prestasi belajar siswa pada kelas eksperimen sebesar 87,20 sedangkan kelas kontrol 80. Berdasarkan uji t diperoleh hasil bahwa nilai probabilitas hitung < 0,05 (0,000 < 0,05). Kesimpulan dari hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai prestasi belajar siswa yang diajar menggunakan PjBL dibandingkan DI yang sama-sama didukung penggunaan multimedia interaktif. Penerapan PjBL terlihat mampu memicu keaktifan dan memberikan pengaruh positif terhadap kelas XI IPA 2 (eksperimen) sehingga prestasi belajarnya lebih tinggi dari pada kelas XI IPA 3 (kontrol).

Pemanfaatan media animasi audio visual untuk meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang / Lina Rohma Yunita

 

Kata Kunci: media animasi audio visual, keterampilan menyimak Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SDN Bareng 4 Malang, keterampilan menyimak khususnya menyimak cerita anak masih tergolong rendah. Hal tersebut dikarenakan (1) siswa kurang terampil dalam menyimak cerita anak, (2) siswa kurang merasakan manfaat dari menyimak cerita anak, (3) kegiatan pembelajaran menyimak cerita anak yang kurang bervariasi dan menarik, dan (4) keberadaan media pembelajaran yang masih belum merata di sekolah-sekolah. Untuk itu peneliti ingin melakukan perbaikan pembelajaran dan meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan memanfaatkan media animasi audio visual. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan media animasi audio visual yang dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang, (2) mendeskripsikan apakah pemanfaatan media animasi audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus, yaitu siklus 1 dan siklus 2, yang dalam tiap siklusnya terdiri dari empat tahap, yaitu (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflection). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang dengan jumlah siswa 16 anak. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan media animasi audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang. Perolehan nilai rata-rata pra tindakan adalah 46,44, nilai rata-rata siklus 1 adalah 67,77 dan nilai rata-rata siklus 2 adalah 78,74. Hasil keterampilan menyimak cerita anak pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang mengalami peningkatan dari siklus 1 dan siklus 2. Dengan prosentase dari pra tindakan ke siklus 1 sebesar 21,33% dan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 10,97%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media animasi audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas V SDN Bareng 4 Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menerapkan media animasi audio visual pada materi lain yang sesuai.

Hubungan antara pengendalian diri (Self Control) dan perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri / Ririt Rennawati

 

Kata Kunci: pengendalian diri (self control), perilaku cybersex, siswa SMA. Siswa SMA termasuk pada masa remaja yaitu masa peralihan dari masa anak-anak menjadi individu yang memiliki kematangan dan adanya perubahan secara hormonal ditandai dengan gejala perkembangan seksualitas. Selain itu, secara sosio-emosional siswa SMA mengalami kelabilan dan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Oleh karena itu, pengendalian diri (self control) pada siswa SMA sangat diperlukan untuk mengatur perilaku mereka agar sesuai norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat, terlebih terkait masalah mengenai seksualitas seperti perilaku cybersex yang sekarang menjadi fenomena baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran pengendalian diri (self control) pada siswa SMA Negeri 7 Kediri, (2) gambaran perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri, dan (3) hubungan antara pengendalian diri (self control) dan perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri. Rancangan penelitian adalah deskriptif dan korelasional dengan pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-XII SMA Negeri 7 Kediri yang berjumlah 93 orang, dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Instrument pengambilan data dengan memberikan Skala Pengendalian Diri dan Skala Perilaku Cybersex pada subyek. Data penelitian dihitung dengan teknik analisis korelasi nonparametrik Spearman-Brown. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pengendalian diri siswa SMA Negeri 7 Kediri termasuk kategori sedang sebanyak 73 dari 93 responden dengan persentase 78,49 %, (2) Perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri termasuk kategori sedang sebanyak 79 dari 93 responden dengan persentase 84,95%, dan (3) Hasil korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara pengendalian diri (self control) dan perilaku cybersex pada siswa SMA Negeri 7 Kediri (rxy = -0,239 dengan nilai Sign. = 0,021 Sign. < 0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: (1) Pihak sekolah, dapat mengembangkan self control siswa dengan memberikan layanan informasi tentang arti pentingnya memiliki self control yang tinggi, dan memberikan informasi mengenai bahaya perilaku cybersex bagi diri sendiri dan hubungan dengan orang lain, (2) Peneliti selanjutnya, yang berminat membahas cybersex disarankan untuk melakukan penelitian secara lebih komprehensif dengan cara menambah variabel, jumlah populasi, dan menggunakan wawancara.

Kemandirian remaja down syndrome / Niken Nurmei Ditasari

 

Kata Kunci : Kemandirian Remaja Down Syndrome. Kemandirian meliputi perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Remaja merupakan kalangan yang memiliki tugas perkembangan, yakni mencapai kemandirian. Down syndrome adalah abnormalitas kromoson yang paling banyak menyebabkan retardasi mental Remaja down syndrome memiliki tujuan perkembangan yang sama dengan remaja normal, yakni mencapai kemandirian. Sekolah merupakan lingkungan interaksi yang penting pada masa remaja. Di Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus Bhakti Luhur Malang terdapat beberapa siswa yang berusia remaja dan terdiagnosis down syndrome. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Peneliti menggunakan metode pengambilan data wawancara, observasi dan studi dokumen, analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta triangulasi teknik dan sumber digunakan dalam pengecekan keabsahan data. Subyek dalam penelitian ini berjumah 5 orang yang merupakan remaja yang terdiagnosis down syndrome. Temuan dalam penelitian ini, yakni remaja down syndome tidak mudah marah, terlatih untuk menghormati orang yang, terlatih untuk melakukan aktivitas tanpa bantuan orang lain, mampu mengelola uang hingga pecahan senilai lima ribu rupiah, memiliki keterampilan kerja sederhana, mampu meyelesaikan masalah konkrit sederhana yang baru ditemuinya, mampu menyelesaikan soal hitungan hingga operasi perkalian, mampu menyelesaikan soal hitungan operasi penjumlahan dan pengurangan hingga bilangan belasan ribu, mampu memahami perintah sederhana, mampu menyampaikan keinginan pada orang lain, menjawab pertanyaan dengan kata dasar tunggal, terlatih untuk bertanggungjawab terhadap tugas piket, terlatih untuk menaati peraturan di sekolah dan menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis. Adapun saran yang dapat diajukan terakit dengan temuan dalam penelitian ini adalah orang tua, guru dan pihak sekolah sebaiknya menciptakan lingkungan yang kondusif yang dapat membantu mempertahankan wujud dari kemandirian yang sudah tampak pada remaja down syndrome dan mengembangkan aspek- aspek kemandirian yang lain sesuai dengan kemampuan mereka. Terkait dengan temuan bahwa remaja down syndrome menunjukkan ketertarikan terhadap lawan jenis, orang tua, guru dan pihak sekolah diharapkan mampu memberikan pendidikan seksual yang proporsional bagi mereka. Peneliti lain diharapkan meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian remaja down syndrome dan aspek-aspek perilaku seksual pada remaja down syndrome.

Penggunaan permainan kartu bilangan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar penjumlahan bilangan dua angka pada siswa kelas I SDN Turupinggir II Megaluh Jombang / Endi Pertama Putra

 

Kata kunci : permainan kartu bilangan, aktivitas, hasil belajar, penjumlahan bilangan dua angka, SD. Hasil tes pra tindakan pada materi penjumlahan bilangan dua angka yang diujikan kepada siswa kelas I SDN Turipinggir II menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam melakukan penjumlahan bilangan dua angka masih rendah. Hanya ada 5 siswa (20,00%) yang memperoleh nilai antara 85 dan 100. Terdapat 7 siswa (28,00%) yang memperoleh nilai antara 70 dan 84. Terdapat 4 siswa (16,00%) yang memperoleh nilai antara 55 dan 69. Terdapat 5 siswa (20,00%) yang memperoleh nilai antara 40 dan 54. Serta, 4 siswa (16,00%) masih memperoleh nilai di bawah 40. Siswa belum menguasai betul beberapa konsep prasyarat seperti fakta dasar penjumlahan dan nilai tempat. Selain itu, pembelajaran yang dilakukan guru kurang bervariasi sehingga menyebabkan pembelajaran terkesan monoton dan kurangnya aktivitas siswa dalam pembelajaran. Peneliti melakukan upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika tersebut dengan menggunakan permainan kartu bilangan. Tujuan penelitian ini: (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran menggunakan permainan kartu bilangan pada materi penjumlahan bilangan dua angka, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran menggunakan permainan kartu bilangan, dan (3) mendeskripsikan hasil belajar siswa menggunakan permainan kartu bilangan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas dengan pen-dekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SDN Turipinggir II Megaluh Jombang. Prosedur penelitiannya: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Observasi, dan (4) Refleksi di setiap siklusnya. Instrumen pada penelitian ini berupa (1) soal-soal tes, (2) lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, dan (3) lembar observasi aktivitas siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan pembelajaran menggunakan permainan kartu bilangan pada materi penjumlahan bilangan dua angka dilaksanakan dengan sangat baik, (2) aktivitas siswa dalam pembelajaran juga sudah sangat baik dan mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata skor aktivitas siswa dari siklus I dengan presentase 67,67% ke siklus II dengan presentase 85,67%, dan (3) hasil belajar siswa sudah baik dan mengalami pening-katan dari pra tindakan, siklus I dan siklus II, yaitu dari nilai rata-rata kelas pra tindakan dengan nilai 63,60 meningkat menjadi 71,60 pada siklus I dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 84,80. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk menggunakan permainan kartu bilangan sebagai salah satu pembelajaran alternatif khusunya pada materi penjumlahan bilangan dua angka. Namun, perlu dipertimbangkan juga mengenai manajemen waktu dan pengelolaan kelas yang baik.

Penerapan strategi direct reading thinking activities (DRTA) untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman dalam pembeljaran bahasa Indonesia siswa kelas V SDN Kasin Malang / Yuni Sulistiyowati

 

Kata kunci: strategi Direct Reading Thinking Activities, membaca pemahaman. Hasil observasi yang dilakukan peneliti di SDN Kasin Malang, ditemukan bahwa proses pembelajarannya masih didominasi oleh guru, tidak ditemukannya siswa membangun sendiri pengetahuannya. Pada proses pembelajaran siswa cenderung ramai sendiri, tidak adanya tanggung jawab untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Kemampuan membaca pemahaman yang diperoleh siswa pun masih belum maksimal. Penenlitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan strategi Direct Reading Thinking Activities (DRTA) dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDn Kasin Malang; (2) mendeskripsikan peningkatakn kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Kasin Malang. Kegiatan pembelajaran dengan strategi DRTA ini mengaktifkan siswa karena siswa mampu membangun pengetahuannya, siswa harus dapat membuat prediksi dari judul ataupun gambar, serta membuat prediksi dari isi paragraf selanjutnya dan pada akhirnya kemampuan membaca pemahaman siswa akan meningkat. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas. Subyek penelitian adalah siswa kelas VB SDN Kasin Malang, pada semeser genap tahun ajaran 2010/2011. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan test. Teknik analisis data dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa meningkat. Pada siklus I kemampuan membaca pemahamn siswa sebesar 63,97 dan pada siklus II sebesar 78,73. Peningkatan disini sebanyak 14,74%. . Membaca (reading) dapat meningkatkan pengetahuan siswa, meningkatkan pemahaman serta meningkatkan daya konsentrasi siswa. Dalam membaca bukan hanya sekedar membaca saja, tetapi juga perlu berfikir (thinking). Berfikir ternyata dapat membuat anak dapat berfikir kreatif. Teori mengatakan bahwa membaca merupakan salah satu proses berfikir. Dalam proses ini seseorang akan memanfaatkan sel-sel otak untuk melakukan "pencernaan" terhadap tulisan yang dibaca. Aktivitas dalam membaca juga perlu, aktivitas dalam strategi DRTA disini adalah dapat menggerakkan siswa lebih fokus membaca karena didorong oleh keinginan dan hasrat ingin mengatahui jalan ceritanya. Penelitian selanjutnya diharapakan bisa lebih bervariatif kegiatan yang dilakukan siswa serta diharapkan strategi DRTA ini dapat diterapkan untuk mata pelajaran lainnya sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut berkenaan dengan strategi DRTA ini.

Penelitian tentang sistim penilaian menurut kurikulum SMA tahun 1975 / Cholid

 

Kentongan elektronik berbasis mikrokontroler dengan SMS / Andi Kurniawan

 

Kata kunci: Mikrokontroler, SMS, PDU, Kentongan elektronik Sarana informasi bagi masyarakat semakin bertambah seiring bertambahnya waktu dan kemajuan teknologi. Dengan begitu sarana tradisional sudah mulai terpinggirkan. Seperti kentongan yang mempunyai beberapa kelemahan diantaranya jangkauan suara yang sempit menyebabkan kentongan tidak menjadi alat komunikasi utama dalam dunia modern. Dikembangkannya kentongan pukul menjadi kentongan elektronik diharapkan efisien dalam menyebarluaskan informasi secara masal dan jangkauan suara menjadi luas. Pengontrolan menggunakan SMS untuk mempercepat dan mudah dalam penyampaian informasi. Pengembangan dari kentongan pukul menjadi kentongan elektronik berbasis mikrokontroler yang dapat dikendalikan secara langsung dengan menekan push button maupun jarak jauh menggunakan SMS. Dengan menggunakan SMS akan lebih efisien dalam menyebarluaskan informasi. Ketika dalam pengiriman SMS maka isi pesan tersebut akan diter-jemahkan terlebih dahulu ke dalam bentuk PDU. Dengan mengirim SMS yang sudah disuaikan PDU sebagai tanda kentongan (ken1, ken 2, ken 3, ken 4, ken 5, ken 6) ke HP server, kemudian pesan diteruskan ke mikrokontroler. Apabila perintah dapat diaktifkan, maka mikrokontroler akan memberikan instruksi ke HP server untuk mengirim pesan berupa SMS (ken1, ken 2, ken 3, ken 4, ken 5, ken 6) ke HP user TX/RX sebagai laporan bahwa perintah sudah dijalankan. Dengan demikian kentongan elektronik berbasis mikrokontroler dapat di-kendalikan secara langsung dengan push button maupun jarak jauh menggunakan SMS. Kentongan elektronik berbasis mikrokontroler berhasil dikendalikan handphone user dengan mengirim pesan SMS, pesan akan diterima oleh handphone server lalu akan diterjemahkan oleh mikrokontroler, jika pesan tersebut sesuai format yang telah dikehendaki maka mikrokontroler akan menjalankan sebuah intruksi untuk membunyikan buzzer dan mengirim balik pesan tersebut ke HP user penerima. Agar bunyi kentongan yang dihasilkan mirip dengan suara kentongan yang sesungguhnya, dengan menggunakan tambahan IC ISD 1420. Dengan penambahan rangkaian pengeras suara sehingga dapat diaplikasikan langsung kemasyarakat.

Peningkatan keterampilan menganalisis unsur instrinsik cerita melalui model pakem siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar / Anik Wahyulina

 

Kata kunci: penggunaan model PAKEM, bahasa Indonesia, sekolah dasar Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran. Permasalahan yang dihadapi adalah adanya ketuntasan klasikal yang belum tercapai dan kurang adanya antusias siswa dalam menerima pelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan model PAKEM dalam meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerita dan mendiskripskan peningkatan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerita siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kulaitatuf, jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kaligambir 04 Kabupaten Blitar dengan jumlah 20 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, dokumentasi, dan observasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Refleksi dilakukan setelah setiap siklus. Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa model PAKEM dapat meningkatkan keterampilan mengalisis unsur intrinsik cerita. Siswa semakin aktif dan tidak takut untuk mengekspresikan ide-ide yang dimilikinya. Selain menambah pengetahuan, siswa juga belajar bersosialisasi dengan teman-temannya, hal ini terlihat pada waktu siswa melaksanakan kerja kelompok. Selain itu penilain hasil juga mengalami peningkatan, Ini terbukti dari nilai pratindakan sampai ke siklus penilain proses siklus I ketuntasan klasikal adalah 80 % dan pada siklus II ketuntasn klasikal mencpai 100 %. Pada penilain hasil pratindakan ketuntasan klasikal mencapai 40 %, pada siklus I mencapai mencapai 65 % dan pada siklus II adalah 100 %.Dari di atas maka peneliti memberikan saran, guru hendaknya menggunakan model PAKEM sebagai salah satu cara atau alternatif utuk meningkatakan hasil belajar siswa dan meningkatkan aktivitas siswa dalam kelas, kegiatan ini dilaksanakan secara berkesinambungan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia maupun mata pelajaran lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan materi lain.

Perbedaan hasil belajar IPS sejarah antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran learning cycle dan pembelajaran konvensional di kelas VIII SMPN 3 Batu tahun ajaran 2010/2011 / Wiwit Sulistiani

 

Kata kunci : Pembelajaran Learning Cycle, Pembelajaran Konvensional, dan Hasil Belajar Kegiatan pembelajaran IPS Sejarah kelas VIII di SMPN 3 Batu masih menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, yang dibuktikan dengan nilai-nilai IPS Sejarah siswa masih banyak yang dibawah standar ketuntasan minimum sekolah yaitu ≥ 73. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu metode dan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle, yaitu suatu model pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivisme. Pembelajaran Learning Cycle ini dapat mengembangkan atau memperkaya konsep- konsep yang dimilki siswa sebagai bekal awal kognisinya dan dapat membuat siswa lebih aktif dalam proses belajar karena membuat siswa bisa mandiri dalam belajar. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran konvensional, (2) Bagaimana hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran Learning Cycle. (3) Bagimana perbedaan hasil belajar IPS Sejarah antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran Learning Cycle dan pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah penelitian experimen, dalam penelitian ini bentuk desain experimen yang digunakan adalah Nonequvalent Control Group Design. Dalam desain ini terdapat 2 kelas yaitu kelas eksperimen (VIII A) dan Kontrol (VIII D). Pada saat penelitian kelas eksperimen diajar dengan pembelajaran Learning Cycle dan kelas kontrol diajar dengan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hasil belajar IPS Sejarah antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan, dibuktikan dengan analisis yang menggunakan uji-t. Berdasarkan hasil perhitungan uji-t, diperoleh t hitung (5,552) ≥ t tabel (2,000). Jadi nilai kelas ekperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, dengan nilai rata-rata kelas eksperimen 74,54 dan kelas kontrol 65,64. Maka Hal ini menunjukan bahwa model pembelajaran Learning Cycle baik digunakan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar. Disarankan bagi peneliti yang mungkin tertarik dengan penelitian sejenis, untuk melakukan pengembangan dalam keseluruhan apsek (instrumen, sampel, tempat) penelitian agar dapat memperoleh hasil yang lebih baik.

Peningkatan keterampilan menyimak dongeng melalui penggunaan media boneka tangan siswa kelas 2 SDN Polehan 4 Malang / Agus Setyorini

 

Kata Kunci: Keterampilan menyimak, dongeng, media boneka tangan, SD Berdasarkan hasil pengamatan pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi menyimak teks pendek, menunjukkan hasil belajar menyimak belum tuntas. Identifikasi masalah belajar menyimak adalah (1) sikap negatif yang ditampilkan siswa saat proses pembelajaran seperti mengganggu teman saat menyimak, berbicara sendiri, mengeluh saat diberi tugas, menyimak tidak serius (2) siswa mudah bosan dalam kegiatan pembelajaran, (3) siswa tidak menguasai bahan teks pendek, (4) hasil belajar berupa menceritakan isi teks pendek yang telah disimak kurang, (5) teknik pembelajaran menyimak kurang variatif, (6) tidak adanya media pembelajaran sehingga siswa tidak tertarik mengikuti proses pembelajaran. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam PTK ini dilaksanakan dua siklus, siklus I dilaksanakan dalam 2 × pertemuan dan siklus ke II dilaksanakan dalam 2 × pertemuan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas II SDN Polehan 4 Kota Malang dengan jumlah 44 siswa. Data dari penelitian ini diperoleh melalui observasi , wawancara, dokumentasi dan tes. Teknik observasi digunakan untuk mengamati perilaku siswa saat pembelajaran menyimak dongeng. Teknik wawancara digunakan untuk mengetahui kesan-kesan dan perasaan siswa ketika belajar menyimak menggunakan media boneka tangan. Teknik dokumentasi digunakan untuk mendokumentasikan data tentang proses pembelajaran yang menggambarkan langkah-langkah kongkrit yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Sedangkan tes digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa menyimak dongeng. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa hasil menyimak dongeng oleh siswa pada pratindakan hanya mencapai 59,10% dan skor rata-rata kelas hanya 52,86 dengan skor kriteria ketuntasan minimal secara individu 56,28. Sedangkan setelah pemberian tindakan, persentase meningkat menjadi 90,09% pada akhir siklus II dan rata-rata kelas mencapai 69,27. Dengan demikian pemberian tindakan pada siklus II telah berhasil. Kesimpulan dari penelitian ini adalah boneka tangan dapat digunakan sebagai media belajar menyimak dongeng siswa kelas II, dan dengan media boneka tangan dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar menyimak dongeng siswa kelas II. Disarankan bagi peneliti selanjutnya maupun guru kelas II bahwa dalam pembuatan media boneka tangan agar menjahit boneka tangannya agar lebih kuat, guru hendaknya berlatih teknik mendongeng dengan boneka tangan agar tujuan belajar yang diinginkan dari siswa dapat tercapai.

Peningkatan pemahaman isi paragraf melalui model pakem siswa kelas V SDN Kandangan 2 Kabupaten Blitar / Leni Diana Putri

 

Kata Kunci: meningkatkan pemahaman, paragraf, model PAKEM Penelitian ini bertujuan (1) mendeskripsikan penerapan model PAKEM dalampeningkatan kemampuan memahami paragraf pada siswa kelas V SDN Kandangan 02 Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar dan (2) mendeskripsikan peningkatan pemahaman paragraf melalui model PAKEMbagi siswa kelas V SDN Kandangan 02 Kabupaten Blitar. Pendekatan yang digunakandalam penelitianiniadalah pendekatankualitatif denganjenispenelitiantindakankelasyang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflektion) dandilaksanakandalam 2 siklus.Subjekpenelitianiniadalahsiswakelas V SDN Kandangan 2 KabupatenBlitardenganjumlahsiswasebanyak 23 siswa.Teknikpengumpul-an data yang digunakanuntukmendukung data penelitianinimeliputi: (1) lembarobservasi, (2) catatanlapangan, (3) dokumentasidan(4) hasiltes.Teknikanalisis data yang digunakandalampenelitianiniadalahteknikanalisis data kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifatmenggambarkankenyataansesuaidengan data yang diperoleh dengan tujuanuntukmengetahuiprestasibelajar yang dicapaisiswa jugauntuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Hasil penerapan model PAKEM dapat meningkatkan pemahaman isi paragraf pada siswa kelas V di SDN Kandangan 2 Kabupaten Blitar. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya aktivitas belajar siswa selama pembelajaran berlangsung dan peningkatan hasil pemahaman isi paragraf pada siklus I dan siklus II. Pada hasil pemahaman isi paragraf siswa yang dinilai dari hasil tes akhir dari siklus I ke siklus II yang meningkat dari siklus I dengan presentase 87% menjadi 91% pada siklus II, hal ini menunjukkan peningkatan pemahaman isi paragraf pada siswa secara klasikal sebesar 4%. Berdasarkanhasilpenelitianmakadapatdisimpulkanbahwapenerapanmodel PAKEM dapat meningkatkanpemahamanisiparagrafpadasiswakelas V. Dari 23 siswa yang tuntassebesar 21 siswaatau 91% dan 2 siswaatau 9% tidaktuntaskarenakelainanberfikir yang dialami.

Perancangan company profile SMK Negeri 2 Batu sebagai media promosi / Nugroho Ade Trisnawan

 

Kata kunci: company profile, promosi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) merupakan sebuah lembaga pendidikan setara SMA yang memiliki konsentrasi pada suatu bidang tertentu. Pendidikan yang diberikan oleh SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) lebih menekankan pada pendidikan keterampilan dengan lebih banyak praktek yang menunjang siswa untuk menjadi ahli dalam suatu bidang. SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) diadakan untuk mencetak tenaga-tenaga yang siap untuk langsung bekerja setelah lulus dari sekolah ini. Company profile ini dibuat sebagai media promosi SMK Negeri 2 Batu untuk sarana menarik minat target audience. Produk yang dihasilkan berupa sebuah paket company profile. Untuk mendukung produk perancangan company profile ini maka dibuat media promosi komunikasi visual berupa poster, stiker, kalender 2010, horizontal banner, book note, kartu nama dan stationary set. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah perancangan company profile SMK Negeri 2 Batu efektif sebagai sarana promosi dalam meningkatkan brand images SMK di masyarakat serta menjaring minat calon siswa baru. Saran yang dapat diberikan pada SMK Negeri 2 Batu adalah diharapkan dapat meneruskan kegiatan promosinya agar dapat mencapai visi dan misi yang dimiliki.

Perancanaan buku kumpulan komik strip sebagai media informasi tentang tata cara masuk perguruan tinggi negeri melalui SNMPTN / Faisal Amin Suhada

 

Kata kunci: perancangan, komik strip, media informasi, SNMPTN. SNMPTN hingga sekarang merupakan satu-satunya pola seleksi yang dilaksanakan secara bersama oleh seluruh Perguruan Tinggi Negeri dalam satu sistem yang terpadu dengan menggunakan soal yang sama atau setara dan diselenggarakan secara serentak. SNMPTN dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku berdasarkan pada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 006 tahun 2008 tentang Pedoman Penerimaan Calon Mahasiswa Baru pada Perguruan Tinggi Negeri dan Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional No.18/DIKTI/Kep/2008 tanggal 28 Maret 2008 tentang Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Pada pelaksanaan SNMPTN tahun 2010 ini akan diterapkan sistem pendaftaran secara online untuk pertama kalinya. Perancangan ini bertujuan untuk menyediakan media informasi yang efektif dan efisien serta dapat diterima oleh target audiens, yaitu remaja usia 18 - 20 tahun yang masih memenuhi syarat untuk mengikuti SNMPTN. Model perancangan yang dipakai merupakan model perancangan deskriptif yang menerangkan langkah- langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk. Diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian tujuan, dilanjutkan dengan pengumpulan data yang berhubungan dengan isi dan perancangan komik serta penggunaan konsep-konsep tersebut yang nantinya akan diaplikasikan dalam komik. Perancangan ini akan menghasilkan produk sebuah buku kumpulan komik strip terdiri dari 30 cerita yang berdiri sendiri pada setiap halaman namun masih tetap berhubungan satu sama lain. Gaya ilustrasi yang dipakai adalah percampuran dan pengembangan dari gaya ilustrasi kartun dan gaya ilustrasi manga agar menghasilkan gaya ilustrasi baru yang lain, khas dan sesuai dengan gaya penceritaan yang lebih merujuk ke komedi serta diminati oleh target audiens. Dari proses perancangan ini dapat diambil kesimpulan bahwa komik dapat dipakai sebagai salah satu pilihan media informasi yang baik dan efisien. Informasi tersebut disajikan dalam bentuk ilustrasi visual komik yang menarik didukung dengan bahasa verbal agar lebih jelas dimengerti. Informasi yang disampaikan dapat dibungkus dengan cerita yang menarik yang dapat disesuaikan dengan target market. Kedepannya nanti diharapkan konsep tema dari perancangan buku ini akan dapat diterapkan untuk perancangan buku yang selanjutnya dengan jenis tema yang lain untuk target market yang lain pula, seperti tata cara masuk ke SMA/SMK untuk pelajar SMP dan lain-lain.

Sintesis dan penentuan struktur dengan metode difraksi sinar-X senyawa kompleks perak (1) sianat dengan ligan trifenilfosfina / Lilik Sunaria

 

Kata-kata Kunci : struktur senyawa kompleks, perak(I) sianat, trifenilfosfina Garam perak(I) dapat bereaksi dengan ligan yang merupakan basa Lewis dari unsur golongan 15 yaitu nitrogen, fosfor, arsen, dan antimon membentuk senyawa kompleks perak(I). Salah satu ligan yang mempunyai atom donor fosfor adalah trifenilfosfina. Garam perak(I) dengan ligan trifenilfosfina membentuk senyawa kompleks dengan perbandingan stoikiometri 1:1; 1:2 dan 1:3. Senyawa kompleks yang telah dilaporkan dapat berupa monomer, dimer, tetramer kubus dan tetramer tangga. Penelitian dilakukan untuk mensintesis dan menentukan struktur senyawa kompleks dengan menggunakan difraksi sinar-X kristal tunggal. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental yang terdiri dari dua tahap yaitu tahap sintesis dan penentuan struktur senyawa kompleks hasil sintesis. Sintesis dilakukan dengan cara mereaksikan garam perak(I) sianat dan ligan trifenilfosfina dalam pelarut asetonitril pada perbandingan stokiometri 2:1. Senyawa kompleks yang diperoleh dikarakterisasi menggunakan metode difraksi sinar-X. Data difraksi sinar-X diperoleh dari The Crystalography Center of University of Western Australia, sedangkan penentuan struktur dilakukan dengan menggunakan program XTAL 3.7 . Hasil penelitian diperoleh kristal berbentuk kubus tak berwarna dan terdekomposisi pada suhu 200-210 °C. Senyawa kompleks dikarakterisasi dengan menggunakan metode difraksi sinar-X dan penentuan struktur menggunakan program XTAL 3.7. Senyawa kompleks mengkristal dalam kisi monoklinik dengan kelompok ruang P21/c yang merupakan tetramer kubus dengan geometri di sekitar atom pusat tetrahedral terdistorsi. Parameter sel satuan untuk kompleks [AgNCO(PPh3)]4 adalah a = 24,675(2) Å, b = 12,113(1) Å, c = 25,458(2) Å, β = 114,665(1)° z = 4, R = 0,038 untuk 17707 refleksi independen.

Penigkatan efektivitas pembelajaran pengembangan kebugaran jasmani dengan menggunakan program remidi pada siswa kelas X perawat sosial 1 di SMKN 2 Malang / Tajul Arifin

 

Kata kunci: Efektifitas Pembelajaran, Tes Kesegaran Jasmani Indonesia, Program Remidi Kebugaran jasmani merupakan salah satu unsur penting yang sangat dibutuhkan seseorang dalam melakukan segala aktivitasnya. Untuk dapat mencapai kondisi kebugaran jasmani yang baik, seseorang perlu melaksanakan latihan fisik yang melibatkan komponen-komponen kebugaran jasmani dengan metode latihan yang benar. Jeis-jenis latihan kebugaran jasmani terdiri dari latihan kekuatan, kecepatan, daya tahan otot, daya taha kardiovaskuler. Tes kesegaran jasmani Indonesia dapat dilakukan pada proses pembelajaran dengan memperhatikan karakter usia dan jenis kelamin. Pada peneliti ingin mengetahui efektifitas pembelajaran yang diberikan guru pendidikan jasmani dan mengetahui tingkat kebugaran jasmani siswa SMKN 2 Malang. Hasil penelitian awal dari 40 siswa kelas X Perawat Sosial 1 SMKN 2 Malang bahwa 5 atau 12,5% siswa memiliki klasifikasi kesegaran jasmani sedang, sedangkan 35 atau 87,5 % siswa memiliki kesegaran jasmani kurang. Hal ini menunjukkan bahwa kesegaran jasmani siswa kelas X Perawat Sosial 1 SMKN 2 Malang ini mayoritas kurang Berdasarkan beberapa fakta tersebut di atas peneliti tidak hanya terbatas pada mengetahui tingkat kebugaran jasmani, tetapi peneliti akan menganalisa kekurangan hasil pada item tes yang diberikan. Tes Kesegaran Jasmani Indonesia (TKJI ) untuk remaja umur 16-19 tahun adalah tolok ukur kebugaran jasmani berbentuk rangkaian butir-butir tes yang masuk dalam rangkaian merupakan satu tolok ukur. Dengan demikian tolok ukur ini tidak berlaku atau tidak dapat dipergunakan untuk mengukur kebugaran jasmani mereka yang tidak termasuk kelompok umur tersebut, karena klasifikasinya hanya berlaku untuk umur 16-19 tahun (Pussegjas,2010:33). Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Pada penelitian tindakan kelas ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Aqib, 2009:22) antara lain: (1) menyusun rencana (planning), (2) pelaksanaan rencana kegiatan (acting), (3) observasi (observing), dan (4) refleksi (reflecting). Pelaksanaan tindakan meliputi, yang melakukan tindakan adalah siswa kelas X perawat social 1 di SMKN 2 Malang, pada saat pembelajaran setiap hari Senin, mulai jam 07.00 di stadion gombong UM dan SMKN 2 Malang. Pengumpulan data melalui tes, observasi, dokumentasi kemudian dianalisis. Hasil penelitian ini pada tindakan siklus I pencapaian hasil tes kesegaran jasmani yaitu dari 40 siswa terdapat 23(57.5%) siswa tidak remidi. Sedangkan pada tindakan siklus II pembelajaran mengalami peningkatan yang lebih baik yaitu 17(42.5%) siswa yang remidi, semuanya sudah mengalami peningkatan yang lebih baik. Kenyataan hasil tes tersebut menunjukkan bahwa pemahaman siswa tentang tes kesegaran jasmani sudah memenuhi nilai, karena terdapat 40 orang siswa (100%) nilai kesegaran jasmaninya sudah memenuhi kriteria standar baik. Kesimpulan penelitian bahwa pemberian program remidi pada masingmasing item aspek kesegaran jasmani dalam pembelajaran dapat meningkatan pemahaman siswa kelas X Jurusan Perawat Sosial 1 SMKN 2 Malang tentang tes kesegaran jasmani melalui dua siklus (siklus 1 dan siklus 2). Disarankan bagi SMKN 2 Malang khususnya, dan untuk sekolah-sekolah setingkat umumnya untuk menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi pembelajaran, khususnya program remidi dalam pembelajaran karena terbukti bisa meningkatkan pemahaman siswa tentang tes kesegaran jasmani.

Penerapan pendekatan whole language untuk meningkatkan kemampuan membaca cerita pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen kota Malang / Putri Manggiasih

 

Kata kunci : Pendekatan Whole Language, Membaca Cerita, SD Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia yang dilakukan oleh guru masih menerapkan pembelajaran yang terpisah-pisah antara keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan Whole Language yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah antara keterampilan membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Pendekatan Whole Language berangkat dari paham konstruktivis yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh dan menyeluruh. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan penerapan pendekatan Whole Language dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang, 2) mendeskripsikan penerapan pendekatan Whole Language untuk meningkatkan kemampuan membaca cerita pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang. Dalam penelitian ini, rancangan pembelajaran yang digunakan adalah PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dan dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklusnya terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang. Jumlah siswanya adalah 16 orang siswa, terdiri dari 6 siswa putra dan 10 siswa putri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Whole Language dapat meningkatkan kemampuan membaca cerita pada siswa kelas V SDN Bareng 4 Kecamatan Klojen Kota Malang. Perolehan prosentase rata-rata siswa dari pra tindakan ke siklus I meningkat sebesar 12,5 %. Sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 31,25 %. Disarankan agar guru dapat menerapkan pendekatan Whole Language pada mata pelajaran Bahasa Indonesia karena dalam pendekatan tersebut telah mencakup secara lengkap teknik-teknik kegiatan membaca.

The use of english in the teaching and learning of chemistry at SMAN 4 Malang / Dwi Setyowati

 

Kunci: penggunaan Bahasa Inggris, Kelas Berstandar Internasional, fungsi bahasa, bahasa kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran dan pembelajaran Kimia di sebuah kelas berstandar internasional di SMAN 4 Malang. Kimia dipilih sebagai mata pelajaran dalam penelitian ini karena Kimia merupakan mata pelajaran baru untuk siswa kelas X di Sekolah Menengah Atas. Selain itu, bahasa yang digunakan oleh guru dan siswa dalam pengajaran dan pembelajaran Kimia di kelas berstandar internasional berbeda dengan penggunaan bahasa di kelas biasa. Kemudian penelitian ini dielaborasi dalam beberapa aspek pembahasan seperti (1) tahaptahap pengajaran dan pembelajaran Kimia di kelas berstandar internasional, (2) tahap-tahap pengajaran dimana di dalamnya guru menggunakan bahasa Inggris, (3) fungsi bahasa yang digunakan dalam pengajaran dan pembelajaran Kimia, dan (4) masalah-masalah yang dihadapi guru Kimia dalam menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kelas. Metode penelitian deskriptif digunakan sebagai metode penelitian ini. Instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi, wawancara, kuesioner, catatan lapangan, dan perekam video. Subjek penelitian ini adalah seorang guru Kimia dan 38 siswa kelas X-6. Data penemuan menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Inggris di kelas berstandar internasional, khususnya di mata peljaran Kimia di SMAN 4 Malang telah memenuhi persyaratan dari segi penggunaan bahasa Inggris di sekolah berstandar internasional di tahun pertama yang diamanatkan oleh Depdiknas. Namun,Penggunaan bahasa Inggris masih belum konsisten. Hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan bahasa Inggris yang dimiliki oleh guru dan siswa. Meskipun guru telah mencoba menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kelas di setiap tahap pengajaran, guru tersebut masih mengalami hambatan untuk mengajarkan pelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris ke siswa. Untuk meningkatkan keahlian guru dalam berbahasa Inggris, guru tersebut telah mengambil dua kali kursus bahasa Inggris di luar sekolah. Hasil penemuan yang lain menunjukkan bahwa guru menggunakan Teknik Tiga Fase untuk mengajarkan Kimia. Guru tersebut juga mampu menggunakan bermacam-macam fungsi bahasa untuk mengatur situasi di kelas. Berhubungan dengan hasil penemuan, sekolah tersebut disarankan untuk menyediakan pelatihan bahasa Inggris untuk guru yang mengajar di kelas berstandar internasional. Di samping itu, guru seharusnya lebih konsisten dalam menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan guru seharusnya lebih menerapkan bermacam-macam teknik pengajaran supaya siswa lebih termotivasi dalam belajar. Sekolah tersebut juga dapat memberikan fasilitas seperti pusat mengakses diri sendiri (Self Access Center). Selain itu, sekolah dapat menyelenggarakan kompetisi-kompetisi dalam bahasa Inggris seperti kontes membaca berita, kompetisi bercerita, debat, dsb. Di samping itu, pemerinatah juga diharapkan mengkaji ulang perkembangan program Rintisan Sekolah Bertaraf International (RSBI) di Indonesia dengan kenyataan yang terjadi di RSBI itu sendiri. Sehingga pemerintah diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat tentang perkembangan pendidikan di Indonesia.

Identifikasi pemahaman konseptual siswa kelas XII IPA-1 dan XII IPA-2 SMA Negeri 6 Malang tahun ajaran 2010/2011 pada materi aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia dalam kehidupan sehari-hari / Febrina Nur Aini

 

Kata kunci: pemahaman konseptual, reaksi redoks, elektrokimia Konsep dalam ilmu kimia bersifat abstrak dan saling berkaitan, termasuk pada materi reaksi redoks dan elektrokimia. Untuk mempelajari konsep-konsep tersebut diperlukan pemahaman konseptual dan algoritmik. Hasil-hasil penelitian melaporkan bahwa pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam materi reaksi redoks dan elektrokimia termasuk dalam kategori rendah. Jika pemahaman siswa terhadap materi reaksi redoks dan elektrokimia rendah, hal ini akan berdampak sulitnya siswa untuk memahami aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pemahaman siswa tentang reaksi redoks, Sel Galvani, dan Sel Elektrolisis, (2) pemahaman siswa tentang aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia, (3) kesulitan siswa dalam memahami aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia dalam kehidupan sehari-hari, dan (4) hubungan antara pemahaman tentang reaksi redoks dan elektrokimia terhadap pemahaman tentang aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-korelasional. Populasi penelitian siswa kelas XII IPA SMA Negeri 6 Malang, yang terdiri dari tiga kelas yang homogen. Sampel penelitian adalah 52 siswa kelas XII IPA-1 dan XII IPA-2 yang diambil secara “purposive random sampling”. Instrumen penelitian berupa tes tertulis yang berjumlah 45 butir soal konseptual dengan materi meliputi reaksi redoks, Sel Galvani, Sel Elektrolisis, dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil uji coba, diperoleh validitas isi instrumen 88% dan reliabilitas dihitung menggunakan rumus KR-20 sebesar 0,61. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes dan dianalisis dengan perhitungan persentase jawaban benar dan koefisien korelasinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemahaman siswa tentang reaksi redoks termasuk dalam kategori sedang, sedangkan pemahaman siswa tentang Sel Galvani dan Sel Elektrolisis termasuk dalam kategori rendah, (2) pemahaman siswa tentang konsep aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia termasuk dalam kategori sedang, (3) kesulitan siswa dalam memahami materi aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia dalam kehidupan sehari-hari yaitu: (a) siswa tidak dapat menjelaskan umur pemakaian baterai zink-karbon yang relatif pendek disebabkan produk ion dari reaksi tidak dapat berdifusi dengan cepat meninggalkan elektroda; (b) siswa tidak dapat menentukan fungsi bagian-bagian pada baterai zink-karbon; (c) siswa tidak dapat menjelaskan penurunan potensial aki akibat penumpukan PbSO4; (d) siswa menganggap bahwa pengisian ulang pada aki dengan cara diganti elektrolitnya; (e) siswa tidak dapat menjelaskan mengapa Al bersifat tidak mudah teroksidasi; (f) siswa menganggap bahwa besi dapat dilindungi dengan memberikan lapisan kromium; (g) siswa tidak dapat menentukan elektroda yang digunakan pada proses penyepuhan; (h) siswa tidak dapat menentukan waktu yang diperlukan untuk suatu proses elektrolisis; serta (i) siswa tidak dapat menentukan elektroda yang digunakan dalam proses pemurnian tembaga, dan (4) Terdapat hubungan yang linear positif dengan kategori lemah antara pemahaman siswa tentang reaksi redoks dan elektrokimia terhadap pemahaman siswa tentang aplikasi reaksi redoks dan elektrokimia dalam kehidupan sehari-hari.

Peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui pembelajaran model pakem pada siswa kelas 1 di SDN Dawuhan 1 Kabupaten Nganjuk / Susanti Rahayu

 

Kata kunci: membaca permulaan, model PAKEM. Hasil observasi menunjukkan bahwa masalah yang terjadi pada siswa kelas 1 SDN Dawuhan I Kabupaten Nganjuk adalah siswa kurang aktif secara mental dan fisik dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan guru hanya menggunakan satu model pembelajaran saja yaitu model ceramah. Berdasarkan uraian tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah penerapan pembelajaran PAKEM dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Dawuhan 1 Kabupaten Nganjuk, dan (2) apakah dengan model PAKEM dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas 1 SDN Dawuhan I Kabupaten Nganjuk? Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes dan dokumentasi. Penerapan pembelajaran model PAKEM pada pelaksanaan siklus I menunjukan bahwa siswa masih kurang memiliki keberanian untuk tampil di depan kelas dan siswa pasif dalam pembelajaran sehingga kemampuan membaca siswa belum meningkat. Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II, aktivitas belajar siswa menunjukkan hasil yang sangat baik. Sebagian besar siswa telah memiliki keberanian untuk tampil di depan kelas, serta menyimpulkan hasil kegiatan secara lisan. Siswa juga aktif dalam memjawab pertanyaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan melalui model PAKEM dapat meningkatkan hasil membaca permulaan siswa. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil belajar siswa pada pra tindakan sebesar 41%, siklus I sebesar 71%, dan siklus II sebesar 91%. Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca permulaan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran membaca permulaan melalui model PAKEM dapat meningkatkan keaktifan dan kemampuan membaca siswa kelas I SDN Dawuhan 1 Kabupaten Nganjuk, oleh karena itu guru disarankan agar dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan hendaknya guru menggunakan model pembelajaran yang lebih inovatif dan mengajak siswa lebih aktif seperti model pembelajaran PAKEM.

Penerapan model picture and picture untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Gampingan 01 Pagak / Dewi Diansari

 

Kata Kunci: Picture and Picture, Pembelajaran, IPA Peneliti melakukan observasi awal dengan melihat langsung pembelajaran IPA yang dilakukan guru kelas IV SDN Gampingan 01 Pagak. Dari hasil observasi dan wawancara dengan guru, peneliti menemukan kelemahan dari pembelajaran yang dilakukan oleh guru yaitu: (1) pembelajaran yang dilakukan guru kurang variatif, dan (2) siswa pasif dalam pembelajaran. Kelemahan tersebut menyebabkan nilai rata-rata hasil evaluasi mata pelajaran IPA yaitu 49,1 Jenis Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dengan subyek penelitian adalah siswa kelas IV SDN Gampingan 01 Pagak Kabupaten Malang dengan Kompetensi Dasar (KD) “Mendeskripsikan daur hidup beberapa hewan di lingkungan sekitar, misalnya kecoa, nyamuk, serta kupu-kupu”. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan aktivitas guru dengan penerapan pembelajaran model Picture and Picture dalam meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV, (2) mendeskripsikan aktivitas siswa dalam pembelajaran model Picture and Picture, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran model Picture and Picture. Penelitian telah dilaksanakan sesuai rancangan penelitian. Dalam pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Gampingan 01 Pagak, guru telah menggunakan model Picture and Picture. Hasi observasi guru dalam pembelajaran melalui model Picture and Picture juga semakin meningkat dari tiap pertemuan pada masing-masing siklus. Pembelajaran dengan menggunakan model Picture and Picture dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata aktivitas belajar siswa yaitu 54,65 meningkat menjadi 75,8 pada siklus II. Pembelajaran dengan menggunakan model Picture and Picture juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus I diperoleh rata-rata nilai evaluasi siswa yaitu 69,1 meningkat menjadi 85,8 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa model Picture and Picture dapat meningkatkan pembelajaran IPA selain itu juga meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN Gampingan 01Pagak, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SDN Gampingan 01Pagak, kompetensi dasar ” Mendeskripsikan daur hidup beberapa hewan di lingkungan sekitar, misalnya kecoa, nyamuk, serta kupu-kupu”. Dari kegiatan pra tindakan, siklus I, dan ke siklus II dapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajaran model Picture and Picture dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun saran untuk perbaikan pembelajaran ini yaitu diharapkan sebelum menggunakan model Picture and Picture, sebaiknya pembelajaran menggunakan media yang kongkrit atau media asli, guru lebih memotivasi siswa dalam kegiatan kelompok

Penerapan strategi think pair square dan explicit instruction untuk meningkatkan hasil belajar TIK siswa kelas X di SMA Negeri 1 Tumpang / Rosiana Andriyani

 

Kata Kunci : Think Pair Square,Explicit Instruction, Hasil Belajar, TIK Munculnya variasi strategi pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan hasil belajar di dunia pendidikan Indonesia. Namun sayangnya tidak semua guru menguasai penerapan variasi model pembelajaran yang ada, tak terkecuali guru mata pelajaran TIK di SMA Negeri 1 Tumpang yang hampir semua gurunya telah tersertifikasi. Guru bidang studi menerapkan strategi Explicit Instruction yang belum banyak memberikan perubahan karena masih berpusat pada guru. Hal ini tentu dinilai kurang efektif karena pembelajaran yang diharapkan saat ini bersifat student centered dengan kemampuan berpikir secara kolaboratif. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tersebut, perlu dicoba berbagai variasi strategi pembelajaran kelompok yang juga mampu mengatasi permasalahan kurangnya fasilitas di sekolah, misalnya strategi Think Pair Square. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan hasil belajar kognitif, (2) perbedaan hasil belajar afektif, (3) perbedaan hasil belajar psikomotorik, (4) perbedaan hasil belajar keseluruhan siswa yang belajar menggunakan strategi Think Pair Square dan Explicit Instruction, (5) pengaruh penerapan strategi Think Pair Square terhadap hasil belajar siswa di kelas X SMA Negeri 1 Tumpang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu. Rancangan eksperimental semu digunakan untuk membandingkan hasil belajar siswa. Sampel penelitian adalah siswa kelas X4 sebagai kelas kontrol (Explicit Instruction) dan siswa kelas X2 sebagai kelas eksperimen (Think Pair Square) yang diambil dengan teknik Random Sampling. Instrumen yang digunakan yaitu instrumen perlakuan, yaitu silabus, RPP, dan LKS dan instrumen pengukuran, yaitu soal tes, lembar penilaian afektif, lembar penilaian psikomotorik, dan lembar angket respon siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Dalam penelitian ini didapatkan rata-rata hasil belajar kognitif siswa pada kelas kontrol sebesar 79,75 dan kelas eskperimen 79,37, hasil belajar afektif siswa kelas kontrol 72,76 dan kelas eksperimen 83,28, hasil belajar psikomotorik siswa kelas kontrol sebesar 61,45 dan kelas eksperimen 76,64, hasil belajar keseluruhan siswa kelas kontrol sebesar 71,32 dan kelas eksperimen 79,77 serta hasil angket respon siswa terhadap penerapan strategi think pair square sebesar 78,47. Data hasil belajar siswa dari masing-masing kelas diuji hipotesis menggunakan uji-t dan data hasil angket respon siswa diuji menggunakan uji regresi linear sederhana. Kesimpulannya adalah tidak terdapat perbedaan hasil belajar kognitif, terdapat perbedaan hasil belajar afektif, psikomotorik dan hasil belajar keseluruhan siswa. Selanjutnya hasil uji regresi linear sederhana diperoleh Sig. (0,054)>(0,05) sehingga kesimpulannya tidak ada pengaruh yang signifikan penerapan strategi Think Pair Square terhadap hasil belajar siswa, namun secara keseluruhan respon siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran ini adalah baik.

Hubungan antara konsep diri dengan konformitas pada anak jalanan jaringan kemanusian Jawa Timur (JKJT) kota Malang / Ike Dwi Herawati

 

Kata kunci: konsep diri, konformitas, anak jalanan. Pada masa remaja kehidupan untuk berkumpul bersama teman-teman tidak lepas dari dirinya. Sehingga remaja cenderung menuju kearah teman sebaya dan mulai melepaskan dirinya dari pengaruh orang tua. Jika remaja selalu mengikuti norma kelompoknya maka tugas perkembangan remaja yaitu mencapai kedewasaan, kemandirian, dan pada akhirnya untuk membina kehidupan berumah tangga menjadi terhambat. Sedangkan anak jalanan itu sendiri, identik dengan kehidupan yang keras, sangat mengikuti aturan-aturan yang dibuat kelompok dan berusaha menjadi sama dengan teman-teman anak jalanan yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk (1)mendeskripsikan konsep diri anak jalanan, (2)mendeskripsikan konformitas anak jalanan, (3) untuk mengetahui apakah ada hubungan antara konsep diri dengan konformitas anak jalanan Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Kota Malang. Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif korelasional. Untuk mengetahui tingkat validitas aitem digunakan Korelasi Product Moment, dengan r tabel= 0.349 untuk n= 30, reliabilitas aitem dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpha Cronbach, skala konsep diri memiliki reliabilitas sebesar 0.889, dan skala konformitas memiliki reliabilitas sebesar 0.882. Penelitian dilakukan pada komunitas anak jalanan di Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Kota Malang dengan subyek penelitian berjumlah 40 anak. Instrumen yang digunakan berupa skala konsep diri dan skala konformitas yang dikembangkan oleh penulis. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan tehnik analisis deskriptif dan teknik analisis Korelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara konsep diri dengan konformitas pada anak jalanan dengan nilai koefisien korelasi sebesar r= 0.762 dengan p

Peningkatan keterampilan berbicara bahasa inggris melalui lagu dan permainan pada siswa kelas IV di SDN Madirejo 02 Kecamatan Pujon Kabupaten Malang / Fenty Hidayanti

 

Kata Kunci: lagu, permainan, keterampilan berbicara, bahasa Inggris SD Permainan dan lagu merupakan sarana bagi anak untuk menjelajahi dunia­nya. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan, permainan dan lagu dapat diguna­kan dalam pembelajaran untuk mempermudah siswa dalam memahami bahan pe­lajaran yang disajikan. Permainan dan lagu dapat memiliki dua fungsi penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Pertama, berbagai macam permainan dan lagu-lagu dapat digunakan untuk mengajar bahasa Inggris, seperti kosakata (vocabulary), pengucapan (pronunciation), dan kelancaran (fluency). Kedua, per­mainan dan lagu dapat memperkenalkan masyarakat dan budaya pemakai bahasa Inggris sebagai bahasa pertama. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk melatih siswa agar dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan baik dan benar. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Data yang terkumpul, dianalisis mulai dari reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Madiredo 02 Kecamatan Pujon Kabupaten Malang tahun ajaran 2010/2011 dengan diberi tindakan kelas berupa penerapan pembelajaran bahasa Inggris melalui lagu dan permainan dan dilaksanakan dalam 2 siklus setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan melalui tahapan-tahapan: perencana­an, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui lagu dan permainan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris ternyata lebih meningkatkan keterampilan berbicara siswa dari aspek kebahasaan (pronunciation,accuracy, dan vocabulary ) dan non kebahasaan (fluency, keberanian, volume suara). Hal ini ditunjukkan dari rata-rata nilai siswa dari setiap kelompok yaitu kelompok tinggi, sedang dan rendah yang selalu mengalami peningkatan walaupun sedikit. Masing-masing kelompok terse­but berturut-turut mempunyai rata-rata nilai, pada pra tindakan 71,7; 61,7; 46,7 menjadi 78,6; 69; 63,7 pada siklus I, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 89,3; 79,8; 73,8. Selain itu, dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal, dapat diketahui bahwa pada pra tindakan hanya terdapat 8 siswa yang tuntas belajar (25%) meningkat menjadi 18 siswa (56,25%) pada siklus I. Selanjutnya, pada siklus II terjadi kenaikan peningkatan belajar dari 56,25%% meningkat menjadi 87,5% dan sebanyak 28 siswa yang tuntas belajar. Berdasarkan deskripsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan pembelajaran melalui lagu dan permainan dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa.

Implementasi pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan (Studi pada siswa kelas XII Jurusan Akuntansi SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen) / Zaifullah

 

Kata kunci: Pembelajaran kooperatif, Group Investigation, Keaktifan, Hasil belajar Pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) dilakukan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) merupakan variasi dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi keaktifan siswa dalam belajar, maka semakin baik hasil belajar mereka. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keaktifan dan hasil belajar pada mata pelajaran kewirausahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) penerapan model pembelajaran Group Investigation; (2) keaktifan belajar siswa pada saat penerapan kooperatif model Group Investigation; (3) hasil belajar siswa setelah diadakan pembelajaran kooperatif model group investigation; (4) respon siswa pada saat penerapan kooperatif model Group Investigation pada mata pelajaran kewirausahaan. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, dimana dalam setiap siklus meliputi empat tahap yaitu: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah kelas XII jurusan Akuntansi 2 SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes, panduan observasi, format penilaian dan angket untuk siswa dan dokumentasi. Dalam tindakan siklus I keaktifan dan hasil belajar pembelajaran masih kurang. Pada tindakan siklus II keaktifan siswa sudah sangat baik dibandingkan dengan siklus I. Teknis analisis dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil belajar terdiri dari aspek kognitif dengan menganalisis hasil pre tes dan post tes setiap siklus. Sedangkan aspek afektif dan psikomotor dianalisis dengan menghitung persentase frekuensi setiap indikator yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pembelajaran kooperatif model Group Investigation sangat bermanfaat bagi siswa karena model tersebut telah terbukti dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa, keaktifan belajar siswa yang pada siklus I sebesar 51,4% meningkat pada siklus II sebesar 81,6 % .(2) hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran kooperatif model Group Investigation mengalami peningkatan dimana diketahui pada tindakan siklus 1 nilai post test siswa meningkat sebesar 86% dibanding nilai pre test mereka sebesar 43%. Pada tindakan siklus 2 nilai post test siswa meningkat sebesar 73% dibandingkan nilai post test mereka sebesar 93,3%. Diketahui bahwa dalam tindakan siklus 2 ini kelas telah memenuhi taraf ketuntasan belajar dimana persentase siswa yang tuntas belajar diatas batas minimum persentase ketuntasan belajar kelas. Berdasarkan penelitian ini, saran yang diajukan adalah sebagai berikut (1) Kepala Sekolah hendaknya dapat menjadikan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) sebagai salah satu pertimbangan dalam upaya memperbaiki penerapan strategi pembelajaran di sekolah, (2) Guru hendaknya dapat menjadikan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) sebagai variasi dalam pemilihan model pembelajaran dengan tujuan agar siswa tidak bosan atau jenuh serta siswa dapat lebih aktif dan berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, (3) Siswa seharusnya dapat berpikir kreatif, aktif, mandiri dan lebih termotivasi dalam proses pembelajaran melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI). Sehingga siswa tidak terlalu bergantung lagi terhadap guru.

Pelaksnaan pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) pada kelas V-A semester genap tahun ajaran 2010/2011 di SDN Kesatrian I Malang / Sulistiana

 

Kata Kunci: Pelaksanaan Pembelajaran, Pembelajaran TIK Pembelajaran di SDN kesatrian I Malang telah menerapkan kurikulum TIK tahun 2004. Yang berarti SDN kesatrian I telah mengajarkan mata pelajaran TIK. Pelaksanaan pembelajaran TIK berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan silabus. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang baik, maka pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Pelaksanaan pembelajaran perlu adanya evaluasi untuk mengetahui adanya perubahan dan memberikan alternatif pertimbangan dalam suatu program. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan Pelaksanaan Pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada kelas V-A Semester Genap Tahun Ajaran 2010-2011 di SDN Kesatrian 1 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, Performance Test, dan dokumentasi. Selanjutnya analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran TIK pada kelas 5-A semester genap tahun ajaran 2010-2011 di SDN Kesatrian 1 Malang, pelaksanaan pembelajaran TIK guru telah mengacu dan menggunakan silabus dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajarn (RPP) yang telah dibuat, dalam evaluasi proses belajar, guru dalam pelaksanaan pembelajaran dari beberapa pertemuan aspek-aspek yang diamati nampak sesuai dengan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat, dan evaluasi hasil belajar, dari hasil observasi performance test siswa dari beberapa pertemuan sebagian besar siswa menguasai aspek-aspek sesuai dengan lembar paktek. Namun pelaksanaanya kurang maksimal karena keterbatasan waktu dan keterbatasan sarana prasarana seperti komputer yang disediakan oleh pihak sekolah kurang memenuhi. Bertolak dari hal tersebut disarankan kepada kepala SDN Kesatrian I Malang untuk lebih memperhatikan waktu dalam menyampaikan materi mata pelajaran TIK serta media pembelajaran dikelas maupun di ruang praktek. Untuk guru TIK lebih memperhatikan lagi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Lampu strobo untuk berbagai jenis mobil yang dilengkapi pengirim dan penerima pesan tujuan melalui SMS (Short Message Service) / Arisandi

 

Kata kunci: strobo, handphone, mikrokontroler, mobil, dan SMS. Kemacetan lalu lintas yang terjadi menyebabkan beberapa kendaraan terjebak pada lokasi kemacetan. Oleh karena itu, perlu adanya indikator yang terpasang pada kendaraan yang memiliki kepentingan mendesak sehingga menunjukan kepada pengendara lain agar mendahulukan kendaraan tersebut. Indikator yang dipakai di Indoneseia adalah strobo. Strobo yang terpasang pada mobil tertentu yang diatur pada PP Nomor 44 Tahun 1993, tentang Prasarana Kendaraan dan Pengemudi pada pasal 66, 67, dan 75. Perencanaan, pembuatan dan implementasi perancangan “Lampu Strobo untuk Berbagai Jenis Mobil yang Dilengkapi Pengirim dan Penerima Pesan Tujuan melalui SMS (Short Message Service)” ini merupakan implementasi ilmu elektronika dari perkuliahan ke aplikasi sebenarnya dan bagi pemilik mobil, dapat memberikan kemudahan karena dapat diterapkan pada semua jenis mobil serta dilengkapi dengan fasilitas pengirim dan penerima pesan melalui SMS. Hasil Perencanaan, pembuatan dan implementasi perancangan menunjukkan bahwa bahwa system bekerja sesuai dengan apa yang diharapkan. Handphone bekeerja sebagai sensor dan pemberi informasi berfunsi dengan baik, LCD, blok LED, sirine, dan buzzer bekerja sesuai dengan instruksi yang terprogram pada mikrokontroler, yaitu pada saat biru maka program biru bekerja, pada saat kuning maka program kuning bekerja, saat program kuning dijalankan, dan seterusnya. Kesimpulan dari pembuatan tugas akhir ini adalah (1) dalam perancangan lampu strobo untuk semua jenis mobil yang dilengkapi fasilitas pengirim dan penerima pesan tujuan melalui SMS secara efektif dan efisien adalah (a) menentukan sistem kerja alat yang akan dibuat, (b) menentukan input dan, (c) menentukan output yang diinginkan. (2) Dalam pembuatan lampu strobo untuk berbagai jenis mobil yang dilengkapi dengan pengirim dan penerima pesan tujuan melalui SMS agar dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan adalah (a) menentukan komponen yang akan dipakai, (b) membuat skema rangkaian, (c) membuat PCB (Printed Circuit Board), (d) melakukan pengeboran PCB dan (e) penyolderan komponen. (3) Pengujian lampu strobo untuk berbagai jenis mobil yang dilengkapi dengan pengirim dan penerima pesan tujuan melalui SMS dilakukan berdasarkan perbandingan antara hasil perhitungan teori dan pengukuran. Hasil perbandingan menunjukkan sistem yang telah dibuat dapat bekerja dan hasilnya mendekati kesamaan antara teori dengan hasil pengujian.

Pengaruh penerapan pembelajaran CLSEG dan pembelajaran ceramah interaktif terhadap hasil belajar TIK materi mempraktikan keterampilan dasar komputer kelas VII SMP Negeri 13 Malang / Gres Dyah Kusuma Ningrum

 

Kata kunci: Cooperative Learning, Expert Group, pengaruh, hasil belajar, pe-rangkat.keras. Salah satu kunci utama dalam proses belajar mengajar adalah guru. Namun pada kenyataannya masih banyak guru yang kurang memperhatikan penggunaan metode belajar yang tepat. Pola pembelajaran masih didominasi oleh peran seorang guru. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan sebuah model CLSEG (Cooperative Learning Strategi Expert Group) pada materi mempraktikan keterampilan dasar komputer. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui seberapa besar pengaruh dan perbedaan hasil belajar siswa antara penerapan pembelajaran model CLSEG dan ceramah interaktif materi “Mempraktikan Keterampilan Dasar Komputer” Kelas VII SMP Negeri 13 Malang, serta untuk mengetahui mampu atau tidaknya model CLSEG dalam meningkatkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ada di sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan pola pretest- posttest control group design. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 13 Malang Tahun Pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari 8 kelas. Sampel penelitian menggunakan dua kelas dimana teknik pengambilannya melalui purposive sam-pling. Kelas VII G sebagai kelas eksperimen dan VII E sebagai kelas kontrol.Variabel penelitian terdiri dari, variabel bebas yaitu metode pembelajaran dan variabel terikat yaitu hasil belajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen perlakuan dan instrumen hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan model CLSEG terdapat pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, dilihat dari perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan yaitu sebesar 34,71, sedang-kan dengan penerapan ceramah interaktif juga terdapat pengaruh meskipun tidak sebesar dengan penerapan model CLSEG, dilihat dari perbedaan rata-rata sebelum dan sesudah perlakuan yaitu 27,79. Hasil belajar antara kelas kontrol dan eksperimen juga menunjukkan perbedaan signifikan yaitu dengan nilai Sig(p) 0,002

Peningkatan penguasaan kosakata melalui membaca buku cerita anak pada siswa kelas IV SDN Kepanjenlor 2 kota Blitar / Wahyu Dwi Friandhani

 

Kata kunci: penguasaan, kosakata, buku cerita Berdasar dari hasil observasi pratindakan terhadap pelaksanaan pembelajaran kosakata di kelas IV SDN Kepanjenlor 02 Blitar, diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran, yaitu nilai rata-rata hasil evaluasi siswa hanya mencapai nilai 64, sebagian besar siswa kesulitan mengartikan kosakata sukar dengan benar dan kesulitan menyusunnya ke dalam kalimat yang sesuai dengan struktur dan ejaan yang benar. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman kosakata siswa melalui membaca buku cerita anak. Berkaitan dengan itu maka diperlukan pembahasan tentang penguasaan kosakata tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian berupa paparan hasil observasi dan nilai evaluasi siswa pada proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi, tes dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia yaitu peneliti dan guru kelas IV. Analisis data dimulai dari tahap penelahaan, tahap identifikasi dan klasifikasi data, tahap evaluasi data. Berdasarkan hasil analisis data tetsebut diperoleh simpulan hasil penelitian siklus I, menunjukkan penguasaan kosakata siswa kelas IV menggunakan buku cerita anak mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut diketahui dari persentase nilai tes siswa, pada pra tindakan siswa yang mencapai KKM 28,58%, pada siklus I 71,43 %, dan pada siklus II 91,42 %. Sedangkan aktifitas belajar siswa pada siklus I kriteria dominan yang muncul cukup baik, dan pada siklus II sangat baik, yang teramati pada kegiatan siswa sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yaitu: (a) pembentukan kelompok diskusi, (b) menyelesaikan tugas kelompok, (c) persentasi hasil diskusi, (d) menyimpulkan, dan (e) melakukan refleksi.

Pengembangan bahan ajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia untuk siswa SD/MI kelas IV berbasis cooperative learning / Farida Yufarlina Rosita

 

Kata Kunci: pengembangan, keterampilan berbicara, cooperative learning Berbicara merupakan hal yang penting karena digunakan sebagai bentuk komunikasi antarmanusia. Keterampilan berbicara sebagai salah satu keterampilan berbahasa sudah diajarkan sejak siswa duduk di bangku Sekolah Dasar. Akan tetapi, siswa belum ikut berperan aktif dalam pembelajaran berbicara di kelas karena belum tersedianya bahan ajar khusus untuk siswa SD/MI kelas IV. Berkaitan dengan itu, diperlukan pengembangan bahan ajar baru sebagai alternatif media berbicara yang khusus untuk siswa SD/MI kelas IV. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan bahan ajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia untuk siswa SD/MI kelas IV berbasis cooperative learning. Secara khusus, tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah dihasilkannya isi materi, penyajian, dan kelayakan bahasa bahan ajar. Penelitian ini menggunakan metode pengembangan dan bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini mendeskripsikan pembelajaran berbicara dan mengembangkannya dalam bentuk bahan ajar keterampilan berbicara bahasa Indonesia untuk siswa SD/MI kelas IV berbasis cooperative learning. Spesifikasi produk dari penelitian ini adalah dihasilkannya bahan cetak berupa bahan ajar yang berisi isi materi keterampilan berbicara, penyajian keterampilan berbicara, dan kelayakan bahasanya. Model pengembangan bahan ajar ini dirumuskan dengan tahapan analisis pendahuluan, analisis kurikulum, penyusunan RPP berbasis cooperative learning, penulisan dan penyusunan bahan ajar, uji coba, revisi, dan dihasilkan produk akhir. Uji coba produk dirumuskan dalam lima tahap, yaitu: a) desain uji coba, b) subjek uji coba, c) jenis data, d) instrumen pengumpulan data, e) teknik analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan penyebaran angket. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa human instrument, yaitu peneliti sendiri, pedoman wawancara, dan angket. Data verbal berupa catatan, komentar, saran, dan kritik langsung dituliskan pada angket maupun bahan ajar. Untuk mengetahui kevalidan data, dilakukan uji coba produk kepada dua pakar, satu guru, dan siswa. Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, isi materi dalam bahan ajar akan lebih baik jika dilengkapi dengan materi yang membelajarkan keterampilan berbicara secara langsung. Kedua, penyajian bahan ajar meliputi contoh-contoh, gambar, ilustrasi, dan paduan warna. Penggunaan aspek-aspek tersebut dalam bahan ajar ini relevan dengan tingkat intelektual dan emosional siswa kelas IV SD/MI. Ketiga, aspek kelayakan bahasa yang digunakan dalam bahan ajar ini mudah dipahami oleh siswa kelas IV SD/MI karena bahasa yang digunakan dalam bahan ajar ini sederhana dan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan siswa dalam memahami sebuah bahasa.

Perbedaan prestasi belajar siswa kelas XI IPS yang menggunakan pembelajaran inquiry dengan pembelajaran klasikal pada pelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Malang tahun ajaran 2010/2011 / Mohammad Abdul Aziz

 

Kata kunci: Inquiry, Prestasi Belajar, Sejarah Pendidikan adalah salah satu aspek pencapaian kemajuan bangsa sehingga dari tahun ke tahun pola pembelajaran dalam pendidikan di negara ini harus mengalami perubahan yang mengarah lebih baik dengan terobosan dan inovasiinovasi yang baru. Pemilihan tempat didasarkan pada keinginan peneliti untuk melihat bagaimana bentuk pengembangan pembelajaran ini dapat diterapkan di sekolah SMA Negeri 9 Malang memiliki pengaruh yang sama dengan hasil penelitian sebelumnya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian eksperimen. Penggunaan penelitian ini sengaja dilakukan karena peneliti ingin membangkitkan suatu kejadian atau keadaan, kemudian diteliti bagaimana akibatnya Pendekatan yang digunakan dalam menganalisis data adalah pendekatan kuantitatif, hal ini dipilih karena menggunakan data berupa angka yaitu prestasi belajar siswa untuk mendeskripsikan hasil penelitian. Penelitian ini menggunakan dua sampel kelas yaitu kelas XI IPS dengan tujuan untuk mengkaji dua variabel yaitu penerapan metode Inquiry sebagai variabel bebas serta prestasi belajar sebagai variabel terikat. Pada kelompok eksperimen akan diberi perlakuan menggunakan pola berpikir kritis melalui pertanyaan dengan metode Inquiry sedangkan pada kelompok kontrol akan diberi perlakuan dengan metode ceramah. Pada kelompok eksperimen yang menerapkan metode Inquiry diperoleh nilai rata-rata sebesar 69.15, dari perlakuan metode ini dapat dikatakan bahwa metode Inquiry ini dapat meningkatkan prestasi. Pada kelompok kontrol ini nilai rata-rata siswa sebesar 66.16, tetapi dalam pencapaian ini lebih rendah dibandingkan dengan kelompok eksperimen. Analisis yang menggunakan hasil uji t menunjukkan bahwa thitung 3.606> 0.05, hasil ini menunjukkan hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan pembelajaran Inquiry ini. Hasil pada penelitian ini juga menjelaskan bahwa pembelajaran yang selama ini dilakukan membuat siswa merespon baik, hal ini dikarenakan siswa selama ini hanya sebagai salah satu pelaku pembelajaran bukan menjadi sebagai faktor penting pendukung pembelajaran. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memotivasi seluruh pihak yang terkait dengan kegiatan pembelajaran untuk terus melakukan evaluasi dan juga meningkatkan inovasi yang dapat menciptakan suasana kegiatan pembelajaran menjadi lebih kondusif dengan menghasilkan output yang lebih baik

Efektivitas penerapan metode latihan terpusat dan latihan tersebar pada mata pelajaran ekonomi (studi eksperimen kelas X di SMA Negeri 9 Malang) / Dewi Nining Ari W.

 

Pemilihan pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan kualitas proses pembelajaran. Selama ini proses pembelajaran kita masih menganut model konvensional (metode terpusat) yaitu proses pembelajaran yang terpusat pada guru sehingga motivasi belajar, daya pikir, dan daya tarik siswa kurang dalam mengikuti proses pembelajaran dikelas. Sedangkan metode Latihan Tersebar adalah jenis latihan yang diberikan guru secara bertahap dan disertai waktu istirahat yang sangat sesuai untuk meningkatkan hasil belajar siswa.Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Latihan Terpusat (2)Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan metode Latihan Tersebar (3)Untuk mengetahui keefektifan penerapan metode Latihan Terpusat dan Latihan Tersebar pada mata pelajaran Ekonomi. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 9 Malang mulai tanggal 30 Oktober sampai dengan 13 November 2007. Rancangan penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimental dengan menggunakan Nonequivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 9 Malang tahun ajaran 2007/2008 dengan jumlah 208 siswayang terbagi dalam 6 kelas. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu siswa kelas X.4 sebagai kelas kontrol dan siswa kelas X.2 sebagai kelas eksperimen. Kelompok Eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan metode Latihan Tersebar, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diajar dengan metode Latihan Terpusat (konvensional). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaaan hasil belajar yang signifikan dari penerapan Metode Latihan Terpusat dan Latihan Tersebar pada mata pelajaran ekonomi Hal ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan varian data gain skor yang signifikan antara metode latihan terpusat dan metode latihan tersebar, terbukti dari hasil analisis uji t-independent sampel yang menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 2,275 dengan Signifikasi = 0,027 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari metode Latihan Terpusat dan Latihan Tersebar pada mata pelajaran ekonomi, kemudian disarankan bagi guru dalam mengajar hendaknya menerapkan Metode Latihan Tersebar sebagai salah satu alternatif pembelajaran di dalam kelas, dan bagi peneliti lain yang ingin mengembangkan penelitian ini lebih lanjut agar dapat menggunakan populasi dan sampel yang luas serta dengan materi yang berbeda.

Teachers' techniques in the teaching of reading comprehension to the tenth garde students of SMAN 8 Malang / Uyun Khilla Khildah

 

Key words: teachers’ techniques, reading comprehension, three phase technique In this globalization era, students should have the ability to compete at international level. This requires English skills. One of the important English skills the students need to master is reading. The role of teacher is very important in helping the students to master the skill. They need to use appropriate techniques in the teaching of reading and divide the reading lesson into three stages: pre-reading, whilst-reading, and post-reading stage to achieve the goals of the teaching and learning. This study was aimed to know the techniques used by the English teachers of SMAN 8 Malang in the teaching of reading comprehension to the tenth grade students. The research problems in this study were:1.What techniques are used by the English teachers of SMAN 8 Malang in the teaching of reading comprehension in the pre-reading stage? 2.What techniques are used by the English teachers of SMAN 8 Malang in the teaching of reading comprehension in the whilst-reading stage?3.What techniques are used by the English teachers of SMAN 8 Malang in the teaching of reading comprehension in the post-reading stage? This study was a descriptive qualitative study. The instruments used in this study were an observation sheet, an interview guide, field notes, and a recorder. The subjects of this study were three English teachers of the tenth graders of SMAN 8 Malang and three classes which were taught by the teachers. The observation was done on 10, 13, and 16 November 2010. In this study, the first observed teacher was called Teacher A, the second observed teacher was called Teacher B, and the third observed teacher was called Teacher C. The findings of this study showed that the three English teachers had conducted the teaching of reading in the three reading stages. The teachers used various techniques in each stage. In the pre-reading stage, Teacher A introduced the text by stating the title of the text, Teacher B activated the students’ background knowledge and provided a purpose of reading, and Teacher C reviewed previous lesson and introduced the text by stating the title of the text. In the whilst-reading stage, the three teachers used silent reading. While in the post-reading stage, Teacher A used questioning and a cloze exercise, Teacher B used questioning and three exercises: finding sequence words in the text, producing four questions, and writing how seeds grow, and Teacher C conducted group discussion and used story mapping as the techniques. The conclusions of this study were that the three English teachers had conducted the teaching of reading comprehension in the three reading stages. In the pre-reading stage the various interesting activities used by Teacher B were quite effective in activating and enriching the students’ background knowledge. She provided the purpose of reading also. So, the students had an idea on what to find in the text and read with purpose. While Teacher A and Teacher C, they need to improve their techniques which can facilitate the students better before they are reading a text because what they did was only telling the students the text title. In the whilst-reading stage, the technique used by the teachers was an effective technique. In the post-reading stage, the three teachers used various interesting techniques which were effective to explore the students’ knowledge of the text. Based on the results of the study, it is suggested that teachers should carry out more activities in the pre-reading stage which can facilitate the students before reading the text such as brainstorming and giving leading questions. The teacher should also use another technique while the students are reading the text such as inducing imagery because it might help the students to comprehend the text if they imagine how the characters and events happened in the text. Another suggestion for the teacher is that they should give a certain amount of time for the students in reading the text in order that they could understand the text well.

Meningkatkan hasil belajar PKn melalui metode role playing di kelas IV SDN Ardirejo 3 Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang / Ita Afni Mubalihah

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, PKn, Role Playing. Berdasarkan observasi awal pada pembelajaran Pkn kelas IV di SDN Ardirejo 3, diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran PKn di kelas IV. Permasalah tersebut antara lain: (1) terjadi kebosanan pada siswa saat pembelajaran berlangsung, hal ini disebabkan oleh guru yang masih menggunakan metode konvensional; (2) siswa terlihat pasif pada saat pembelajaran PKn. Hal tersebut disebabkan karena metode yang digunakan lebih banyak ceramah. Untuk itu perlu diadakan pembaharuan dalam hal metode pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang sesuai adalah metode Role Playing, yaitu metode pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri di dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru. Langkah PTK ini meliputi 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Empat tahap tersebut merupakan langkah berurutan dalam satu siklus dan berhubungan dengan siklus berikutnya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Ardirejo 3 Kabupaten Kabupaten Malang dengan jumlah siswa 23 anak. Teknik yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan tes, sedangkan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Role Playing pada Pembelajaran PKn telah berhasil meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SDN Ardirejo 3. Hal ini dilihat dari phasil observasi tentang aktivitas siswa serta rata-rata evaluasi yang terus meningkat. Berdasarkan hasil observasi, sebagian besar siswa sudah berani bertanya/menjawab serta melaporkan hasil diskusi. Hasil belajar siswa terus meningkat mulai dari rata-rata sebelumnya (54,87) mengalami peningkatan pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar (69,73) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya yaitu (69,56%) meningkat pada siklus II dengan rata-rata kelasnya sebesar (75,65) dan persentase ketuntasan belajar kelasnya sebesar (78,26%). Disarankan untuk penelitian selanjutnya hendaknya dapat memperbaiki kelemahan- kelemahan yang ada sehingga pembelajaran diharapkan berjalan seobtimal mungkin.

Evaluasi prosedur penilaian belajar siswa mata pelajaran matematika kelas V SD semester genap tahun ajaran 2010/2011 di SDN Ngaglik 02 Batu / Eka Septya Putri

 

Kata kunci : TGT (Teams Games Tournament), Hasil belajar. Pendidikan memiliki peran penting dalam memperbaiki mutu sumber daya manusia dan kemajuan suatu bangsa hanya bisa dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat meningkatkan harkat serta martabat manusia Indonesia. Selain pembenahan kurikulum, peningkatan mutu pendidikan juga dilakukan melalui metode-metode yang diterapkan supaya hasil belajar siswa semakin meningkat. Metode-metode pembelajaran tersebut salah satunya dengan menerapkan medel pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) . dalam pembelajaran model ini siswa dituntut untuk salang bekerjasama dalam kelompok heterogen dan bersaling dalam meja turnamen melawan perwakilan keompok lain. Diharapkan dengan model pembelajaran TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran IPS kelas VII SDN Tlogosari 01 kabupaten Malang melalui penerapan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament). Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas dan dideskripsikan secara kantitatif. Intrument yang digunakan adalah lembar observasi, catatan lapangan, lembar wawancara guru, LKS, soal turnament dan tes hasil belajar Penelitian dilakukan di SDN Tlogosari 01 Kabupaten Malang mulai tangal 28 Februari 2011 sampai tanggal 19 maret 2011. Subyek penelitian siswa kelas VI yang berjumlah 33 siswa. Dibagi menjadi 8 kelompok heterogen dalam diskusi mengerjakan LKS dan dibagi menjadi 4 kelompok homogen untuk melakukan permainan turnament dengan mengumpulkan skor sebanyak mungkin untuk kelompoknya. Hasil penelitian siklus I menunjukan beberapa kelemahan dan kekuarangan , di antanya guru masih belum memahami konsep pembelajaran model TGT, kurangnya kemampuan guru dalam mengolah kelas, siswa masih belum terbiasa dengan proses pembelajaran TGT, siswa belum mengerti peraturan permainan turnamen. Namun melalui pengukuran tes hasil belajar siklus I menunjukan peningkatan hasil belajar siswa bila dibandingkan dengan sebelum tindakan dilakuakan . Hal ini dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar pada saat pratindakan hanya memperoleh presentase ketuntasan 42,42% meningkat di siklus I menjadi 78,78%. Untuk melanjutkan penerapan model pembelajaran TGT siklus II dilakukanlah perbaikan-perbaikan oleh peneliti dan guru bidang studi. Perbaikan tersebut di antaranya memberikan pemahaman guru dalam model pemebelajaran kelas, meningkatkan perhatian pada siswa dan membantu guru dalam menjelaskan peraturan permainan. Dalam siklus ke II siswa sudah memahami penerapan model pembelajaran TGT dan menunjukan hasil yang memuaskan. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa siklus I memperoleh presentase ketuntasan 78,78% pada siklus II meningkatan yaitu menjadi 100% Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran TGT (Teams Games Tournament) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SDN Tlogosari 01 Kabupaten Malang. Diharapkan dari hasil penelitian ini guru dapat menerapkan model pembelajaran TGT di kelas untuk upaya meningkatkan hasil belajar siwa

Studi evaluasi pelaksanaan pekerjaan lapisan pondasi pada pembangunan jalan Babat-Bojonegoro; Padangan-Bojonegoro / Kurnia Novian Firmansyah

 

Kata kunci : Evaluasi, Pelaksanaan Lapisan Pondasi dan Jalan Jalan raya merupakan salah satu sarana transportasi yang memegang peranan penting dalam kehidupan kita. Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas dan lapisan pondasi atas adalah lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan. Lapisan pondasi jalan ini sebagai struktur utama dalam menopang beban dari kendaraan. Tujuan studi lapangan ini adalah: (1) Mengetahui hasil uji material di lapangan dan pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi jalan; (2) Mengetahui perbedaan volume tebal padat rencana dan pelaksanaan lapisan pondasi jalan pada pembangunan jalan Babat-Bojonegoro; Padangan-Bojonegoro. Pada studi ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan tentang pelaksanaan pekerjaan jalan khususnya pekerjaan lapisan pondasi. Metode pengumpulan data dengan observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Pengolahan data dilakukan memeriksa kelengkapan data. Data tersebut kemudian akan dibandingkan dengan kajian pustaka sehingga dapat diambil kesimpulan dan saran. Hasil dari studi lapangan diketahui bahwa urutan pelaksanaan pekerjaan adalah sebagai berikut: (1) persiapan pengerjaan lapis pondasi, dengan pengukuran memberi tanda batas pada jalan yang akan direkonstruksi dan pengaturan lalu lintas; (2) pembongkaran rekondisi jalan dan pemadatan lapisan tanah dasar bisa dilaksanakan jika persiapan sudah selesai; (3) penghamparan dan pemadatan agregat kelas B yang dilakukan dalam 2 layer dan dilakukan sand cone test tiap layernya; (4) Setelah pekerjaan agregat B dilakukan, dapat diteruskan pengerjaan agregat kelas A dan sand cone test; (5) Kepadatan masing-masing lapis pondasi juga telah memenuhi syarat kepadatan yang ditentukan yaitu 100% dan pelaksanaan pekerjaan lapis pondasi sesuai dengan spesifikasi teknik. Pada pekerjaan agregat kelas B dilapangan terjadi perbedaan volume ketebalan yang tidak sesuai dalam gambar bestek, tetapi masih dalam batas toleransi yang tertuang di spesifikasi teknik. Berdasarkan hasil studi lapangan dapat disarankan untuk melakukan pengawasan yang lebih teliti pada saat pelaksanaan pekerjaan dan material yang dipesan, sehingga didapatkan kualitas lapisan yang maksimal.

Studi keanekaragaman dan kelimpahan spesies burung di area pohon jati petak 72a-1 RPH Mlandingan BKPH Panarukan KPH Bondowoso / Lukman Satria Karimullah

 

Kata Kunci: Spesies burung, keanekaragaman, kelimpahan relatif Keanekaragaman burung di Pulau Jawa terdapat kurang lebih 289 jenis burung. Bondowoso merupakan daerah yang memiliki pegunungan, perbukitan, kawasan hutan, dan perkebunan. Mengingat spesies burung dapat dijadikan salah satu indikator perubahan ekologi lingkungan dan belum adanya data keanekaragaman burung di kawasan tersebut sehingga dilakukan penelitian mengenai keanekaragaman dan kelimpahan spesies burung. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) Macam spesies burung yang ditemukan di area pohon jati pada petak 72a-1 KRPH Mlandingan BKPH Panarukan KPH Bondowoso, (2) Indek kelimpahan relatif spesies burung yang ditemukan di area pohon jati pada petak 72a-1 KRPH Mlandingan BKPH Panarukan KPH Bondowoso, (3) Indeks keanekaragaman spesies burung di area pohon jati pada Petak 72a-1 KRPH Mlandingan BKPH Panarukan KPH Bondowoso (4) Status tiap spesies burung yang ditemukan di area pohon jati pada petak 72a-1 KRPH Mlandingan BKPH Panarukan KPH Bondowoso menurut Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2009. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Objek penelitian semua jenis burung yang ada di area pohon jati pada petak 72a-1 KRPH Mlandingan BKPH Panarukan KPH Bondowoso. Penelitian ini dilakukan di enam titik. Data berupa jenis spesies burung dan jumlah burung yang ditemukan. Data dianalisis secara deskriptif, yaitu membuat sketsa dan foto selanjutnya dibandingkan dengan buku Mackinnon, jumlah burung yang didapat dihitung dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiever dan dihitung kelimpahan relatifnya, selanjutnya dilihat status burung yang diamati menurut Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2009. Hasil penelitian menunjukkan jumlah spesies burung di area pohon jati pada petak 72a-1 KRPH Mlandingan BKPH Panarukan KPH Bondowoso sebanyak 36 jenis yang tergolong dalam 19 familia. Pada pagi hari kelimpahan relatif paling tinggi adalah Sepah kecil sebanyak 9.04% dan pada sore hari kelimpahan paling tinggi adalah Walet sapi sebanyak 11.43%, secara keseluruhan pada penelitian ini didapat kelimpahan relatif paling besar yaitu Walet sapi sebanyak 9.74%. Keanekaragaman burung dilokasi penelitian ini tergolong sedang dengan indek H’= 1.35, struktur komunitasnya tergolong labil yang ditunjukkan oleh nilai kemerataan jenis E = 0.38, walaupun ada dominasi dari beberapa jenis spesies burung namun hanya pada tingkat yang rendah hal ini diketahui dari indek dominasi jenis D = 0.055. Pada penelitian tersebut ditemukan 9 jenis spesies burung yang dilindungi.

Pengembangan bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif pada pokok bahasan asal usul persebaran manusia di Indonesia untuk siswa kelas X SMAN 1 Kedungwaru, Tulungagung / Dwi Fitriawati

 

Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, sejarah, multimedia interaktif, pemahaman Observasi di lapangan menunjukkan kecenderungan bahwa guru hanya terpaku pada bahan ajar yang disajikan dalam bentuk cetak, yaitu buku teks dan LKS. Selain itu, bahan ajar yang terdapat di sekolah juga masih terbatas. Siswa menganggap bahan ajar yang berupa buku cetak kurang menarik, terlalu banyak teori, serta kurang dekat dengan siswa. Pada akhirnya hal tersebut akan membuat siswa mengalami banyak kesulitan dalam memahami materi yang disajikan di dalamnya, sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Alasan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan pengembangan bahan ajar sejarah yang berbasis multimedia interaktif pada pokok bahasan “Asal-Usul dan Persebaran Manusia di Kepulauan Indonesia”. Berdasarkan paparan pada bagian latar belakang tersebut, maka tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar sejarah berbasis multi-media interaktif pada pokok bahasan asal-usul dan persebaran manusia di kepulauan Indonesia untuk kelas X. Adapun fokus penelitian ini adalah (1) me-ngembangkan bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif yang memenuhi standar isi dan penyajian untuk siswa SMA kelas X, (2) mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif untuk siswa SMA kelas X. Untuk mencapai tujuan penelitian di atas digunakan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model desain pengembangan berbasis media oleh Sadiman tahun 2008. Berdasarkan model tersebut, dalam penelitian ini ada 8 tahap pengembangan yang dilakukan, yakni (1) identifikasi kebutuhan, (2) perumusan tujuan, (3) pengembangan materi pembelajaran, (4) perumusan alat ukur keber-hasilan, (5) penulisan naskah bahan ajar, (6) produksi, (7) uji coba, (8) revisi. Uji coba kelayakan produk dilakukan melalui validasi ahli materi, ahli media dan uji coba siswa kelompok besar di SMA Negeri 1 Kedungwaru. Dari hasil uji bahan ajar dengan ahli materi menghasilkan rata-rata kelaya-kan sebesar 86%, ahli media 91%, dan siswa 87%. Hasil validasi dengan ahli materi menunjukkan bahwa bahan ajar harus direvisi karena dari 24 aspek yang diujikan terdapat 3 aspek yang belum layak, sedangkan menurut ahli media pro-duk tergolong layak dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran, dan dari siswa menunjukkan bahan ajar tergolong layak sehingga siap diimplementasikan. Hasil uji coba lapangan menunjukkan terjadinya peningkatan persentase hasil belajar siswa yaitu dari 52% menjadi 80%. Dari peningkatan hasil belajar siswa, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar dapat meningkatkan pemahaman siswa. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah (1) dari segi materi dan penyajian, bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif tergolong layak sehingga dapat diimplementasikan, (2) bahan ajar sejarah berbasis multimedia interaktif dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Hasil pengembangan produk bahan ajar sejarah ini dapat dibaca,dipelajari, dan dimanfaatkan oleh semua pihak yang membutuhkan. Siswa dapat memanfaat-kan bahan ajar ini secara mandiri maupun dengan bimbingan guru. Guru juga diharapkan mampu menguasai teknik pembuatan media interaktif, sehingga mampu untuk memproduksi sendiri bahan ajar yang berbasis multimedia interak-tif. Bagi sekolah bahan ajar ini dapat dijadikan pertimbangan sebagai bahan ajar alternatif serta memfasilitasi guru untuk belajar membuat bahan ajar yang berbasis multimedia interaktif. Bahan ajar ini dapat disebarluaskan melalui jurnal dan MGMP. Bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan pengembangan bahan ajar sejarah yang berbasis multimedia interaktif untuk materi lain.

Pengembangan bahan ajar cetak IPS dengan menggunakan pendekatan desain grafis untuk SD/MI kelas IV semester I / Arief Fepriyanto

 

Kata Kunci : pengembangan, bahan ajar cetak, desain grafis Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat berjalan dengan baik dibutuhkan suatu media pembelajaran, salah satunya adalah bahan ajar. Bahan ajar yang digunakan dapat berupa silabus, sistem penilaian, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), buku ajar, lembar kerja siswa (LKS). Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Pengembangan bahan ajar cetak IPS dengan menggunakan pendekatan grafis untuk SD/MI kelas IV semester I Tujuan pengembangan ini adalah untuk menyediakan bahan ajar yang dapat menambah minat siswa dalam mempelajari pelajaran IPS sehingga dapat menciptakan suasana aktif dan kondusif dalam pembelajaran di kelas Pengembangan ini menggunakan prosedur penelitian model Borg & Gall yang telah dimodifikasi oleh Pramita. Langkah-langkah yang dilakukan adalah Pengumpulan Data, Perencanaan, Pengembangan produk awal, Validasi produk, Revisi Produk Awal, Uji coba klompok kecil, Revisi produk akhir. Bahan ajar yang dikembangkan adalah berupa buku pelajaran yang biasa digunakan dalam pembelajaran di kelas. Desain validasi yang dilakukan adalah validasi isi rancangan produk. Validasi isi rancangan produk dilakukan melalui validator ahli media, ahli desain, ahli materi, validasi siswa secara perseorangan terdiri dari 2 orang siswa kelas IV SD yang memiliki tingkat kognitif berbeda, dan validasi kelompok kecil yang terdiri dari 10 orang siswa kelas IV SD. Instrumen yang digunakan adalah angket. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan menggunakan presentase. Dari hasil penilaian pada validasi ahli media diperoleh presentase 96,6% yang berarti bahwa bahan ajar telah layak digunakan dalam pembelajaran IPS di kelas. Hasil penilaian ahli desain diperoleh 86,6 % yang berarti bahwa bahan ajar telah layak digunakan dalam pembelajaran IPS di kelas. Hasil penilaian pada validasi ahli materi diperoleh presentase 93,% yang berarti bahwa bahan ajar telah layak digunakan dalam pembelajaran IPS di kelas. Hasil penilaian pada validasi secara perseorangan diperoleh presentase 92,5% sedangkan hasil penilaian pada validasi kelompok kecil diperoleh presentase 93,8% yang berarti bahwa bahan ajar telah layak digunakan dalam pembelajaran IPS di kelas. Saran yang diberikan untuk peneliti selanjutnya adalah hendaknya dilakukan penelitian tentang efektivitas bahan ajar ini dalam pembelajaran IPS SD/MI kelas VI semester I.

Pengembangan media pembelajaran sejarah dengan program adobe flash untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI IPS SMAN 1 Campurdarat / Arih Faridasari

 

Kata Kunci: media pembelajaran, sejarah, flash, motivasi belajar Pemanfaatan teknologi di era modern ini sangat penting. Terutama dalam bidang pendidikan yaitu untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar seperti halnya untuk pelajaran sejarah. Persoalan yang muncul dalam pembelajaran sejarah antara lain kejenuhan siswa dalam belajar dan kurangnya motivasi belajar. Jika hal tersebut dibiarkan tentunya hal ini akan berdampak kepada prestasi belajar siswa karena siswa juga tidak akan memahami materi pelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan suatu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, yaitu dengan memanfaatkan media pembelajaran sejarah. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan media pembelajaran sejarah yang dapat mempersentasikan proses masuknya Islam di Nusantara dan perkembangan Islam di Nusantara yang dapat membantu meningkatkan motivasi belajar siswa. Media ini dikembangkan dengan menggunakan program animasi Adobe Flash CS3 Profesional yang dapat menggabungkan antara teks, gambar, dan suara dalam bentuk animasi. Rancangan penelitian menggunakan model pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif dan eksperimental. Model pengembangan prosedural deskriptif ini meliputi kegiatan identifikasi kompetensi dasar dan indikator, analisis bahan ajar, desain media, produksi, editing, prototipe media, validasi produk, uji coba produk, dan produk akhir. Penelitian eksperimental digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa. Produk yang telah divalidasi akan diujicobakan untuk mengetahui motivasi belajar siswa. Data penelitian bersifat kuantitatif dan diperoleh dari uji validasi produk dari ahli media dan ahli materi serta data uji coba produk di sekolah. Data tersebut dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif persentase. Hasil uji validasi diketahui bahwa bahwa media ini “valid”. Hasil uji coba produk diperoleh nilai 94% dengan kriteria “layak”. Berdasarkan hasil uji validasi dan uji coba tersebut, disimpulkan bahwa produk valid dan layak digunakan sebagai media pembelajaran disekolah. Hasil data motivasi bahwa produk ini dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sebesar 22,1%. Motivasi belajar yang awalnya 55,5% dengan kategori sedang menjadi 77,6% dengan kategori tinggi. Dari penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan manfaat dan pengembangan produk yang akan datang adalah: (1) guru hendaknya merubah cara pembelajarannya berbasis IT dan menggunakan media pembelajaran ini di kelas, (2) penggunaan LCD proyektor untuk memperoleh tampilan yang lebih besar sehingga memudahkan siswa untuk mengamati tayangan, (4) pengembang produk yang akan datang dapat membuat produk untuk bahasan lain ataupun melengkapi kekurangan dari produk yang peneliti buat.

Keefektifan bibliokonseling dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP / Asri Octaviana Dwi Rahayu

 

Kata kunci: keefektifan, bibliokonseling, kesadaran akan kepedulian Tugas konselor selain memperhatikan perkembangan kemampuan akademis siswa juga harus mengembangkan sosio-emosional siswa yang terangkum dalam pendidikan karakter. Salah satu karakter yang harus dikembangkan dalam diri siswa adalah peduli. Cara agar siswa berperilaku peduli adalah dengan menumbuhkan kesadarannya. Salah satu teknik bimbingan yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP yaitu melalui "Teknik Bibliokonseling". Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada siswa SMP, diketahui bahwa siswa-siswa memiliki kesadaran akan kepedulian rendah/sedang dengan ditunjukkan banyaknya fenomena yang terjadi seperti bolos sekolah, penindasan terhadap junior, tidak memperhatikan guru, dan masih banyak yang lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan "bibliokonseling" dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu, dengan one group pretest posttest design, dimana alat ukur yang digunakan sebelum dan setelah perlakuan adalah sama. Penelitian jenis ini bertujuan untuk memperbaiki kesadaran akan kepedulian siswa dan melihat ada tidaknya perbedaan sebelum dan setelah pemberian perlakuan. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP yang memiliki kesadaran akan kepedulian rendah dan sedang yaitu sebanyak 12 orang siswa. Instrumen penelitian berupa skala kesadaran akan kepedulian yang dilengkapi dengan validitas dan reliabilitas instrument, dengan hasil validitas 1 item tidak valid dan memiliki reliabilitas skala yang tinggi. Bibliokonseling ini menggunakan media cerpen dalam treatmentnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji wilcoxon. Hasil perhitungan data penelitian menggunakan uji wilcoxon dan dapat disimpulkan bahwa bibliokonseling efektif dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP dilihat dari Zhitung ˃ Ztabel atau - Zhitung < - Ztabel sebesar - 3.064 < - 1.96. Kesimpulan penelitian ini adalah bibliokonseling efektif dalam menumbuhkan kesadaran akan kepedulian bagi siswa SMP. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi konselor untuk menggunakan media ini dalam kegiatan bimbingan untuk menjalankan pendidikan karakter salah satunya menumbuhkan kesadaran akan kepedulian. Sedangkan untuk peneliti selanjutnya lebih memperbanyak jenis media yang diberikan sebagai treatment agar peningkatan kesadaran akan kepedulian siswa lebih optimal.

Peningkatan efektivitas pembelajaran pecahan melalui penggunaan juring pecahan pada siswa kelas IV semester 2 SDN Bareng 4 Malang / Ninik Setiana

 

Kata Kunci: efektivitas pembelajaran, pecahan, juring pecahan Berdasarkan hasil observasi awal siswa kelas IV SDN Bareng 4 Malang, ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran Matematika dengan materi penjumlahan pecahan, yaitu: (1) sarana pembelajaran kurang, (2) pembelajaran kurang bermakna, (3) guru kurang mengembangkan media pembelajaran. Salah satu alternatif yang dapat diambil yaitu pembelajaran dengan penggunaan media juring pecahan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan penerapan penggunaan juring pecahan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran pecahan pada siswa kelas IV semester 2 SDN Bareng 4 Malang, dan (2) mendeskripsikan penerapan dengan penggunaan juring pecahan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran pecahan pada siswa kelas IV semester 2 SDN Bareng 4 Malang. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Langkah Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitiannnya siswa kelas IV SDN Bareng 4 Malang dengan sebanyak22siswa. Intrumen yang digunakan yaitutes, observasi, catatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media juring pecahan dapat meningkatkanaktivitas dan hasil belajar Matematika dengan materi penjumlahan pecahan di kelas IV SDN Bareng 4 Malang. Perolehan hasil belajar siswa meningkat, dari nilai pretes terlihat 36,36%, pada siklus I mencapai 54,55%, jadi dari hasil pre tes ke siklus I meningkat sebesar 18,19%. Sedangkan dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 27,27%, hal ini terlihat dari siklus I yang tuntas 54,55% dan siklus II yang tuntas mencapai 81,82%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media juring pecahan meningkatkan efektivitas pembelajaran pada siswa kelas IV SDN Bareng 4 Malang. Disarankan agar guru dapat menciptakan variasi dalam pembelajaran dan dapat menggunakan media konkret saat pembelajaran yang memang membutuhkan media.

Hubungan antara kepercayaan diri dengan ketrampilan komunikasi interpersonal siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang / Trisetya Utami

 

Kata kunci: Kepercayaan diri, Keterampilan komunikasi, interpersonal. Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi remaja dalam pelaksanaan tugas-tugas perkembangan yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Hal ini yang sering menjadi permasalahan. Remaja yang mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi maka kemungkinan besar dalam berkomunikasi akan lancar dan remaja tersebut tidak akan menghindari situasi komunikasi. Sebalikanya apabila kepercayaan diri yang dimiliki remaja tersebut rendah maka kemungkinan remaja tersebut akan cenderung kurang terampil dalam berkomunikasi dan cenderung menghindari situasi komunikasi. Dalam hal ini remaja tersebut tidak mau terlibat dalam situasi percakapan, menarik diri dari pergaulan, merasa tidak aman dan hanya berbicara apabila terdesak saja. Keadaan tersebut akan berdampak buruk bagi perkembangan kepribadian remaja baik di ingkungan sosial maupun pada pencapaian hasil studi di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) gambaran kepercayaan diri siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang, (2) gambaran keterampilan komunikasi interpersonal siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang, (3) hubungan antara kepercayaan diri dengan keterampilan komunikai interpersonal siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang Tahun ajaran 2010/2011 dengan jumlah sampel yang digunakan 90 siswa. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Random Sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal. Teknik Analisis Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis Deskriptif dan teknik Korelasi Product Moment dari Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) banyak (62,2%) siswa kelas X SMA Negeri 3 Malng yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi, sangat sedikit (14,4%) siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang yang memiliki tingkat kepercayaan diri sangat tinggi, sangat sedikit (17,8%) siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang yang memiliki tingkat kepercayaan diri rendah, dan sangat sedikit (5,6) siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang yang memiliki tingkat kepercayaan diri sangat rendah; (2) banyak (57,8%) siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang yang memiliki keterampilan komunikasi interpersonal tinggi, sangat sedikit (22,2%) siswa yang memiliki tingkat keterampilan komunikasi interpersonal sangat tinggi, sangat sedikit (14,4%) siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang yang memiliki tingkat keterampilan komunikasi interpersonal rendah, dan sangat sedikit (5,6%) siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang yang memiliki tingkat keterampilan komunikasi sangat rendah; (3) Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif (0,533) antara variabel kepercayaan diri dengan keterampilan komunikasi interpersonal siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang tahun ajaran 2010/2011, semakin tinggi kepercayaan diri maka akan semakin tinggi pula keterampilan komunikasi interpersonal siswa. Berdasarkan hasil penelitian, konselor hendaknya membantu siswa menghadapi permasalahan yang berkaitan dengan kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi.Bagi siswa yang mempunyai tingkat kepercayaan diri dan keterampilan komunikasinya tinggi layanan bimbingan yang diberikan bersifat pengembangan serta memberikan pembinaan secara intensif agar mampu mengembangkan kemmapuan atau potensi secara maksimal. Bagi siswa yang memiliki kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi interpersonal dalam klasifikasi rendah dan sangat rendah, konselor dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang bersifat perbaikan atau pengentasan. Misalnya konseling bagi kelompok siswa tersebut. Hal ini bertujuan agar siswa mempunyai kepercayaan diri sehingga dapat meningkatkan dan mengembangkan keterampilan dalam berkomunikasi. Dengan adanya informasi baik dari konselor kepada guru maupun guru kepada konselor dapat membantu dalam perkembangan siswa. Selain itu guru dapat memanfaatkan informasi yang ada untuk strategi metode pembelajaran yang efektif untuk sisiwa, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif.

Analisis problematika yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika rintisan sekolah bertaraf internasional dan alternatif penyelesaiannya / Riya Dwi Puspa

 

Kata kunci: Problematika, guru matematika, rintisan sekolah bertaraf internasional, alternatif penyelesaian. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) merupakan rintisan satuan pendidikan yang diselenggarakan dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan standar salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan / atau Negara maju lainnya. Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) merupakan suatu pembaharuan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, tentu saja terdapat kemungkinan para guru matematika mengalami problematika dalam pembelajaran matematika sesuai kurikulum yang diterapkan dalam RSBI. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti pada 3 (tiga) RSBI di kota Malang, 83,33% guru matematika menyatakan tidak mempunyai kesulitan dalam mengembangkan atau menyusun silabus mata pelajaran Matematika dalam Bahasa Inggris. Dalam mengembangkan atau menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika dalam Bahasa Inggris, 50% guru matematika menyatakan mempunyai kesulitan. Selain itu, 83,33% guru matematika menyatakan mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran sesuai kurikulum yang digunakan dalam RSBI. Dalam pembelajaran matematika pada tingkat SMP dan SMA, guru matematika telah mengukur ranah kognitif dan afektif. Dalam mengevaluasi ranah kognitif 83,33% guru matematika menyatakan tidak mengalami kesulitan. Sedangkan dalam mengevaluasi ranah afektif, 50% guru matematika menyatakan mengalami kesulitan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa guru matematika memiliki kesulitan dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Beberapa kesulitan tersebut antara lain mengembangkan kegiatan pembelajaran, menentukan metode dan strategi pembelajaran, mengelola kelas, menggunakan bahasa inggris dalam pembelajaran, menyusun materi yang mengarah pada pengembangan aspek kognitif siswa sedangkan pada ranah afektif, guru tersebut mengalami kesulitan dalam melakukan penilaian yang tergantung pada situasi dan kondisi siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan guru meningkatkan pemahaman mengenai kurikulum yang sesuai dengan pelaksanaan RSBI, meningkatkan penguasaan konsep matematika dan penggunaan Bahasa Inggris. Peningkatkan tersebut dapat dilakukan dengan secara aktif mengikuti kegiatan sosialisasi mengenai pembelajaran dalam RSBI, memanfaatkan penggunaan internet, mengikuti kursus bahasa inggris yang sesuai dengan bidang pelajaran matematika.

Implementasi kebijakan pajak reklame untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) Kota Malang / Sri Wahyuni

 

Kata kunci: Implementasi Kebijakan, Pajak Reklame, Pendapatan Asli Daerah Berbagai kebijakan tentang keuangan daerah ditempuh oleh pemerintah pusat agar pemerintah daerah mampu meningkatkan kemampuannya dalam membiayai urusan penyelenggaran pemerintah dan pembangunan di daerahnya sesuai dengan prinsip daerah otonomi yang nyata, dinamis dan bertanggung jawab serta untuk mempercepat tercapainya kemandirian kabupaten/kota khususnya pada bidang pendanaan. Kemampuan daerah dalam memajukan perekonomian daerahnya terlihat dalam perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) setiap tahunnya. Mengingat sumber dana pembangunan daerah sebagian besar diperoleh dari pemerintah pusat, maka Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang merupakan indikator untuk menilai tingkat kemandirian pemerintah daerah di bidang keuangan harus ditingkatkan. Sehingga dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang meningkat dapat diupayakan peningkatan dalam pembiayaan pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah secara efektif efisien sejalan dengan pengelolaan keuangan negara. Seiring dengan diberlakukannya UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan daerah, maka setiap daerah diberikan kesempatan untuk menggali potensi daerahnya masing-masing guna meningkatkan PAD. Oleh karena itu Kota Malang melakukan upaya optimalisasi pada pajak reklame dengan cara mengeluarkan Perda No. 4 tahun 1998 tentang Pajak Reklame dan Peraturan Walikota Malang No. 4 tahun 2008 tentang Tata Cara Penghitungan Pajak Reklame, serta Peraturan Walikota Malang No. 22 tahun 2008 tentang Tata Cara Perijinan, Pemasangan dan Pencabutan Reklame. Permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah kebijakan pemerintah Kota Malang tentang pajak reklame?; Bagaimanakah kebijakan pemerintah Kota Malang dalam pelaksanaan pemungutan pajak reklame?; Bagaimanakah implementasi kebijakan pajak reklame terhadap perolehan Pendapatan Asli Daerah Kota Malang? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kebijakan pemerintah Kota Malang dalam pajak reklame, untuk mendeskripsikan kebijakan pemerintah Kota Malang dalam pelaksanaan pemungutan pajak reklame dan untuk mendeskripsikan implementasi kebijakan pajak reklame yang telah diterapkan oleh pemerintah Kota Malang sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan penggunaan dokumen. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif Miles dan Huberman yang melalui tiga tahap yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil temuan penelitian dikemukakan bahwa: implementasi kebijakan Pajak Reklame Kota Malang dituangkan dalam Perda No. 4 tahun 1998 tentang Pajak Reklame. Sedangkan implementasi kebijakan pemungutan pajak reklame dituangkan dalam Peraturan Walikota Malang No. 4 tahun 2008 tentang tata Cara Penghitungan Pajak Reklame serta tertuang juga dalam Perda Kota Malang No. 4 Tahun 1998 tentang Pajak Reklame. Dalam implementasi kebijakan pajak reklame Kota Malang sebagai upaya untuk meningkatkan PAD dalam hal pengelolaannya pajak reklame dikelola oleh Dispenda Kota Malang dan mengenai perijinan pemasangan reklame dikelola oleh Dinas Perizinan Kota Malang, sedangkan penertiban reklame dilakukan oleh Satpol PP Kota Malang. Klasifikasi ruas jalan untuk pemasangan reklame dibagi dalam empat klasifikasi lokasi yaitu Klasifikasi A, B, C dan D. Setiap klasifikasi/lokasi jalan memiliki tarif pajak reklame yang berbeda-beda. Besarnya pajak reklame yang ditentukan adalah 20% dari total pendapatan pajak reklame, sedangkan untuk reklame rokok atau minuman keras dikenakan pajak sebesar 25 % dan dipungut dengan sistem jemput bola. Dalam pengawasannya dilakukan dengan melakukan operasi untuk mengecek keadaan reklame yang ada di Kota Malang. Implementasi kebijakan reklame Kota Malang sampai saat ini masih belum berjalan secara maksimal karena masih terdapat hambatan. Jika dilihat dari sudut pandang peningkatan PAD maka implementasi kebijakan ini sudah mencapai successful implementation, karena target PAD yang ditargetkan sebesar Rp.29.412.479.407,75 dapat tercapai sebesar Rp.30.235.275.266,00 selama kurun waktu 2005-2010. Kontribusi pajak reklame dalam menyumbang pendapatan daerah pada tahun 2010 sebesar 8,9 %. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang masyarakat sebagai sasaran kebijakan maka implementasi kebijakan pajak reklame ini masih dikategorikan sebagai unsuccessful Implementation. Selanjutnya faktor pendukung implementasi kebijakan pajak reklame adalah tersedianya sumber daya berupa sarana dan prasarana yaitu fasilitas yang digunakan untuk memantau pelaksanaan kebijakan berupa kendaraan dinas serta tersedianya jumlah staf yang memadai dan adanya kerjasama antara berbagai dinas, sedangkan faktor penghambat dalam implementasi kebijakan pajak antara lain: minimnya kesadaran penyelenggara reklame tentang ketepatan membayar pajak reklame; kurangnya SDM dari Dispenda Kota Malang sendiri. Berdasarkan temuan penelitian diatas disarankan: Upaya pemerintah dalam peningkatan dan pembinaan terhadap para wajib pajak sehingga tidak terlambat dalam membayar pajak reklame, Pemerintah kota Malang hendaknya lebih mempertegas sanksi dan juga perlu diadakan penertiban terhadap reklame-reklame ilegal, Perlu diadakan pemantuan secara maksimal di setiap titik pemasangan reklame di Kota Malang sehingga tidak merusak keindahan Kota Malang, Dispenda lebih rutin dalam melakukan operasi untuk memantau reklame-reklame yang tidak mendapat izin atau reklame ilegal.

Pengembangan instrumen evaluasi diri penguasaan teknik dasar komunikasi dalam konseling pada mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang / Ribut Purwaningrum

 

Kata Kunci:instrumen, teknik komunikasi, konseling. Konseling adalah proses pemberian bantuan yang bersifat profesional dalam rangka membantu individu mencapai perkembangan yang optimal. Dengan demikian, konseling hendaknya dilaksanakan oleh orang-orang yang terlatih di bidangnya, dan dilakukan berdasarkan teknik-teknik tertentu. Salah satu teknik yang melandasi konseling adalah teknik dasar komunikasi dalam konseling. Dalam praktiknya, banyak konselor yang belum terampil melaksanakan teknik dasar komunikasi dalam konseling dengan baik. Akibatnya, banyak konseling di lapangan yang tidak efektif. Hal ini disebabkan tidak adanya instrumen evaluasi diri yang mampu membantu mengukur tingkat penguasaan teknik dasar komunikasi dalam konseling, sehingga tidak ada kesempatan untuk melakukan evaluasi diri. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan sebuah instrumen evaluasi diri untuk membantu mengukur tingkat penguasaan teknik dasar komunikasi dalam konseling bagi mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Malang dengan kriteria memiliki ketepatan, kegunaan dan kemudahan baik secara teoritis maupun praktis.. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan yang diadaptasi dari Borg and Gall (1983) dan Sukmadinata (2008). Populasi penelitian adalah mahasiswa program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang angkatan 2004, 2005, 2006, 2007, dan 2008. Sampel peneilitian diambil secara simple random sampling sebanyak 50 orang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket penilaian. Analisis data dilakukan dengan teknik statistika deskriptif, uji validitas, dan uji reliabilitas. Dari tabel correlation dapat diketahui bahwa semua item pernyataan adalah valid karena nilai pearson correlation untuk masing-masing item pernyataan bernilai lebih dari r tabel yaitu r 49(0.05) = 0.282. Dari tabel reliability statistic dapat diketahui bahwa nilai cronbach alpha untuk semua kategori adalah lebih dari 0,6. Dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen evaluasi diri penguasaan teknik dasar komunikasi dalam konseling ini memiliki tingkat ketepatan, kegunaan, dan kemudahan yang memadai. Saran pengembangan instrumen ini adalah untuk menjadikan instrumen pengukuran ini sebagai instrumen utama pengumpulan data tingkat penguasaan teknik dasar komunikasi dalam konseling pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang dan sebagai alat evaluasi dalam matakuliah keterampilan dasar komunikasi. Saran untuk penulis selanjutnya adalah untuk mengembangkan instrumen pengukuran seperti ini dalam bentuk software.

Keefektifan bibliokonseling untuk mengembangkan kesadaran akan kejujuran siswa SMP / Ika Nofiyanti

 

Kata Kunci: Kejujuran, Kesadaran Akan Kejujuran, Bibliokonseling. Indonesia sedang dihadapkan pada persoalan moral yang sangat serius. Pergeseran orientasi kepribadian yang mengarah pada berbagai perilaku amoral sudah demikian jelas dan tampak terjadi di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Salah satunya adalah ketidakjujuran, yang dapat dilihat hampir setiap tahun adalah masalah kecurangan UAN. Tidak hanya masalah Ujian, namun ketidakjujuran berimbas pada situasi yang lebih besar, yaitu maraknya kasus korupsi yang berawal dari ketidaksadaran individu untuk melakukan kejujuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan bibliokonseling untuk mengembangkan kesadaran akan kejujuran siswa SMP. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa SMP. Bibliokonseling adalah salah satu teknik yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Konsep bibliokonseling adalah dengan menggunakan bahan bacaan sebagai media untuk mencapai suatu tujuan yaitu mengembangkan kesadaran akan kejujuran. Dalam penelitian ini, teknik bibliokonseling yang digunakan adalah menggunakan cerita pendek sebagi media. Adapun tahaptahapnya adalah dengan membagikan cerita pendek, refleksi isi dan refleksi diri, pengembangan komitmen, uji coba komitmen, dan refleksi pengalaman. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan menggunakan one group pretest posttest. Dari analisis data dapat diketahui bahwa bibliokonseling efektif untuk mengembangkan kesadaran akan kejujuran siswa SMP. Oleh sebab itu diajukan beberapa saran yang perlu dipertimbangkan sebagai berikut: (1) Dalam mengaplikasikan teknik ini, konselor harus mempersiapkan bacaan yang sesuai dengan usia kelompok eksperimen, cerita harus menarik, serta waktu pelaksanaan kegiatan bibliokonseling harus kontinyu (2) Diharapkan menggunakan analisis data time series agar pengontrolan kenaikan kesadaran akan kejujuran untuk setiap treatment lebih mudah dilihat. Sebaiknya untuk penelitian selanjutnya, peneliti menggunakan kelompok kontrol dan menyiapkan pertanyaan refleksi yang lebih mendalam dan kritis sebagai stimulus untuk siswa.

Pengembangan media pembelajaran fisika kartun animasi pokok bahasan gerak untuk siswa SMP kelas VII semester 2 / Joko Dwi Eryanto

 

Kata kunci: pengembangan, media, fisika, kartun animasi Perkembangan IPTEK yang diiringi dengan perkembangan komputer sebagai sarana pembelajaran memungkinkan dibuatnya media pembelajaran yang berbasis animasi komputer sehingga dapat membantu proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah media pembelajaran fisika berbasis animasi komputer dengan gambar kartun yang dapat digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran fisika SMP kelas VII pada pokok bahasan gerak. Pokok bahasan gerak terdiri dari pengertian gerak, jarak, perpindahan, dan lintasan, kecepatan dan kelajuan, percepatan dan perlambatan, gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development) yaitu langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru. Produk tersebut berupa media pembelajaran berbasis animasi komputer dengan memberikan gambar dan simbol kartun. Pengembangan produk media pembelajaran kartun animasi ini menggunakan desain yang merupakan modifikasi dari langkah-langkah penelitian dan pengembangan yang dikemukakan oleh Borg & Gall yang terdiri dari studi pendahuluan, pengembangan produk, dan pengujian. Software yang digunakan untuk mengembangkan produk media pembelajaran ini adalah software SwishMax 2005. Penelitian ini hanya sampai pada tahap uji coba terbatas. Pengambilan data uji coba terbatas media pembelajaran dilakukan dengan menggunakan instrument berupa angket/kuisioner kepada ahli media, ahli materi dan audien (siswa). Kegiatan validasi dilakukan di SMP Negeri 9 Malang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik persentase. Berdasarkan analisis data uji coba terbatas ahli media, ahli materi dan audien (siswa) diketahui tingkat kevalidan media pembelajaran yang dikembangkan sebesar 83% menurut ahli media, 89% menurut ahli materi, dan 85% menurut audien (siswa).

Hubungan antara tingkat penguasaan materi matakuliah proses belajar mengajar (PBM) dengan prestasi praktik pengalaman lapangan (PPL) mahasiswa Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang tahun akademik 2007/2008 / Muhammad Mujtaba Ha

 

Kata Kunci: Matakuliah Proses Belajar Mengajar (PBM), Prestasi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Matakuliah PBM merupakan serangkaian matakuliah wajib yang harus ditempuh dengan tujuan agar nantinya mahasiswa memiliki kemampuan pengetahuan, sikap serta keterampilan dasar dan dapat menerapkan proses belajar mengajar yang baik sebagai syarat untuk menjadi tenaga kependidikan yang profesional. Rangkaian matakuliah PBM meliputi matakuliah kemampuan dasar mengajar, pengembangan bahan ajar, perencanaan pengajaran, strategi belajar mengajar, dan evaluasi pendidikan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, diharapkan tingkat penguasaan terhadap materi matakuliah PBM merupakan penguasaan yang menyeluruh yang mencakup keutuhan pengetahuan, sikap serta ketrampilan dalam proses belajar mengajar yang nantinya digunakan sebagai bekal untuk melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), mengingat di dalam matakuliah PBM terdapat serangkaian pengetahuan serta ketrampilan proses belajar mengajar dari tahap perencanaan sampai penilaian atau evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan tingkat penguasaan materi matakuliah PBM mahasiswa Jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008; (2) mendeskripsikan prestasi PPL mahasiswa Jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008; (3) menjelaskan hubungan antara tingkat penguasaan materi matakuliah PBM dengan prestasi PPL mahasiswa Jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Lokasi penelitian di Jurusan HKn FIS UM. Sumber data dalam penelitian ini adalah manusia, dan dokumen. Teknik pengumpulan data menggunakan metode angket dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008 yang berjumlah 82 mahasiswa, dengan sampel mahasiswa Jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008 yang telah menempuh PPL semester gasal tahun 2010 yaitu sebanyak 77 mahasiswa. Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis statistik inferensial (Analisis korelasi dan regresi linear sederhana). Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sebesar 100% mahasiswa jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008 memiliki tingkat penguasaan materi matakuliah PBM yang tinggi; (2) Sebesar 100% mahasiswa jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008 memiliki prestasi PPL tinggi; (3) Hubungan antara tingkat penguasaan materi matakuliah PBM dengan prestasi PPL sebesar 0,829 atau 82,9%; (4) Ada hubungan yang signifikan antara tingkat penguasaan materi matakuliah PBM dengan prestasi PPL mahasiswa Jurusan HKn FIS UM tahun akademik 2007/2008. Berdasarkan temuan penelitian di atas, saran yang diajukan adalah sebagai berikut; (1) Diharapkan jurusan hukum dan kewarganegaraan agar memberi bekal pengetahuan tambahan kepada mahasiswa dengan tidak hanya penyampaian materi saja melainkan juga latihan-latihan belajar mengajar; (2) mahasiswa perlu meningkatkan penguasaan terhadap materi matakuliah Proses Belajar Mengajar (PBM); (3) perlu diadakan penelitian lain tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penguasaan materi matakuliah PBM dan prestasi PPL.

Metode pembelajaran sentra dan lingkaran (seling) dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak kelompok bermain Restu 2 Malang / Rifa'atul Machmudah

 

Kata Kunci: pendidikan anak usia dini (PAUD) metode sentra dan lingkaran (Seling), kecerdasan interpersonal Kegiatan pembelajaran pada anak dini harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak dan tahap perkembangannya. Sentra dan Lingkaran (Seling) adalah salah satu metode pembelajaran anak yang berorientasi pada anak. Proses layanan pembelajaran didasarkan pada tahapan perkembangan masingmasing anak dan mengembangkan kreativitas anak. Pelaksanaan metode pembelajaran yang baik dan sesuai akan mampu merealisasikan tujuan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menjelasakan pelaksanaan metode Sentra dan Lingkaran (Seling) dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal anak di Kelompok Bermain Restu 2 Malang. Metode Sentra dan Lingkaran (Seling) merupakan metode pembelajaran yang terfokus pada kebutuhan dan tahap-tahap perkembangan anak. Penelitian ini juga akan menjelaskan segala sesuatu yang menjadi faktor tercapainya kecerdasan interpersonal anak dengna mengguanakan metode Sentra dan Lingkaran (Seling). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif deskriptif. Responden penelitian ini adalah kepala sekolah, guru dan orang tua murid Kelompok Bermain Restu 2 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain observasi,wawancara, dan studi dokumen. Teknik analisis data diantaranya reduksi data, display data, serta pengambilan keputusan dan verifikasi. Dalam metodologi penelitian juga dilakukan pengecekan keabsahan data diantaranya perpanjangan kehadiran peneliti, ketekunan pengamatan, serta triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan metode Sentra dan Lingkaran terhadap kecerdasan interpersonal anak yang ada di Kelompok Bermain Restu 2 sangat baik. Hal ini dikarenakan komponen-komponen belajar dapat berfungsi baik. Faktor penghambat hanya dirasa ketika ada murid baru karena harus ada adaptasi dari mereka dengan lingkungan sekolah. Faktor pendukung diantaranya guru sangat memfasilitasi dan tepat menggunakan metode Sentra dan Lingkaran (Seling), fasilitas, sarana dan prasarana sangat mendukung, serta orang tua yang selalu mendukung dan aktif dalam kegiatan sekolah. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi referensi kepustakaan bagi praktisi akademik dalam upaya pengembangan metode pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta bagi jurusan dapat memantapkan dan menambah referensi kepustakaan tentang metode pembelajaran di Kelompok Bermain tertentu. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi evaluator bagi Kelompok Bermain Restu 2 sehingga kedepan bisa lebih baik lagi.

Keterlibatan orang tua dalam perkembangan multiple intelligences anak usia dini (studi kasus di PAUD Tunas Harapan Karang Duren Pakisaji Malang) / Merdi Ana Duhita Rahayu

 

Kata Kunci: keterlibatan orang tua, perkembangan multiple intelligences anak. Teori multiple intelligences (MI) memberikan landasan yang kuat untuk mengidentifikasi dan mengembangkan spektrum kemampuan yang luas di dalam diri setiap anak. Gardner memaparkan 7 kecerdasan yang menunjukan kopetensi intelektual yang berbeda, yang terdiri dari kecerdasan linguistik, logikamatematika, gerakan-badan, ruang, musik, antar pribadi, dan intra pribadi. Berkaitan dengan hal itu PAUD Tunas Harapan mengupayakan agar MI berkembang secara optimal. Keterlibatan pihak orang tua dan keluarga diperlukan dalam proses pembelajaran anak usia dini. Namun keterlibatan orang tua yang berlebihan terhadap anak pada saat pembelajaran di kelas seharusnya tidak dilakukan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan beberapa hal, yang mencangkup pemahaman orang tua terhadap kegiatan pengembangan MI anak, keterlibatan orang tua di sekolah dalam pembelajaran di kelas, dan alasan yang menyebabkan terjadinya keterlibatan dari orang tua di PAUD Tunas Harapan. Penelitian ini mengunakan pendekatan penelitian kualitatif dan dengan jenis penelitian studi kasus dalam bentuk deskripsi. Metode yang dipakai adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan triangulasi. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, melaksanakan display data, mengambil kesimpulan/ verifikasi. Hasil analisis data tersebut, diperoleh tiga simpulan hasil sebagai berikut. (1) Masalah pemahaman orang tua terhadap kegiatan pengembangan MI anak masih kurang, tetapi orang tua memiliki pemahaman kegiatan yang dilaksanakan di PAUD Tunas Harapan baik, karena memiliki manfaat pada anak terutama bagi perkembangan anak di masa depan. (2) Masalah keterlibatan orang tua dalam perkembangan MI anak usia dini terlihat jelas dalam proses pembelajaran di kelas. Keterlibatan orang tua saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung dirasa kurang tepat mengingat hak dan kewajiban masing-masing antara orang tua dan guru. Sehingga dapat disimpulkan 1) keterlibatan orang tua tidak sesuai dengan hak dan kewajiban yang seharusya dilakukan oleh orang tua seperti yang tercantum dalam Undang-undang sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 7. 2) kepala PAUD kurang menjalankan fungsinya sebagai pimpinan, dalam hal ketegasannya menetapkan aturan-aturan, terutama aturan mengenai keterlibatan orang tua selama pembelajaran di kelas sedang berlangsung. (3) Masalah alasan orang tua ikut terlibat dalam pembelajaran di kelas adalah, orang tua ingin selalu membantu serta memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Faktor yang mempengaruhi adalah 1) hubungan antar pribadi yang menyenangkan, 2) metode melatih anak, 3) peran yang dini, 4) struktur keluarga dimasa kanak-kanak, 5) rangsangan lingkungan (external factor). Orang tua telah berupaya member stimulasi dalam membantu perkembangan anaknya, namun semua itu tergantung pada anak, apakah anak memiliki keinginan atau tidak (internal factor). Sehingga di perlukan adanya penanganan khusus terhadap anak yang menunjukan sedikit penyimpangan dari perkembangan normalnya dilihat dari tahapan usia anak. Saran penelitian, (1) Bagi orang tua atau masyarakat;Hendaknya selalu meningkatkan pengetahuan maupun informasi yang terkait dengan peran orang tua serta pengembangan MI anak baik melalui keaktifan membaca majalah PAUD, maupun dari media massa. (2) Bagi pengelola PAUD Tunas Harapan; Hendaknya memberikan bimbingan pengasuhan anak pada orang tua melalui parenting education, selalu meningkatkan mutu kualitas mengajar, mengoptimalkan fungsi dan peran sebagai guru dengan baik, melakukan perbaikan terhadap manajemen pengelolaan lembaga, serta meningkatkan hubungan kerjasama antara lembaga pendidikan PAUD dengan orang tua terutama dalam menyamakan pemahaman mengenai pengasuhan di rumah dan pembelajaran di PAUD. (3) Bagi Lembaga PLS; Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam memberikan kebijakan pengelolaan PAUD. (4) Bagi Peneliti selanjutnya; Hendaknya dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan metode kuantitatif tentang anak terkait dengan PAUD, terutama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini.

Perbedaan hasil belajar TIK melalui pembelajaran kooperatif teams games tournament (TGT) dengan kooperatif kelompok biasa pada siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang / Dian Fitri Perwitasari

 

Kata kunci: Kooperatif, Teams Games Turnament (TGT), perbedaan, hasil belajar. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, guru dituntut dapat menciptakan lingkungan belajar yang inovatif, kreatif, dan dapat memotivasi siswa untuk menciptakan keaktifan dengan cara mengupayakan siswa untuk bekerja dalam suatu kelompok belajar. Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan siswa aktif adalah metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah suatu cara mengajar dimana siswa dalam kelas dipandang sebagai kelompok atau dibagi dalam beberapa kelompok. Macam dari pembelajaran kooperatif antara lain jigsaw, Group Investigation, Listening Team, Teams Games Turnament (TGT), dan lain sebagainya. TGT adalah pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok heterogen untuk saling berdiskusi, dimana pada tiap akhir diskusi akan dilakukan permainan akademik untuk masing-masing anggota kelompok yang dikemas dalam bentuk turnamen untuk memotivasi siswa dalambelajar. Pembelajaran kooperatif sering dilakukan oleh guru, tetapi pelaksanaannya belum optimal. Siswa aktif masih mendominasi kerja kelompok sehingga diskusi yang diharapkan tidak berjalan secara maksimal. Dengan penggunaan kooperatif TGT diharapkan mampu meningkatkan motivasi siswa dalam kelompok dan belajar bekerja sama antar anggota kelompok untuk mendapatkan nilai terbaik dengan harapan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar TIK siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang melalui pembelajaran TGT dengan pembelajaran kelompok biasa. Penelitian menggunakan desain eksperimen semu (quasy experimental design) dengan pola pretest-posttest control group design. Sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu kelas X5 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X6 sebagai kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah silabus, RPP, lembar angket, dan tes tulis (prates-pascates dan kuis). Uji hipotesis menggunakan uji t dengan bantuan SPSS 16.0 For Windows. Hasil uji t menghasilkan nilai Sig (p) = 0,000 < 0,05, sehingga Ho ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar TIK antara kelompok eksperimen melalui pembelajaran TGT (Teams Games Turnament) dan kelompok kontrol melalui pembelajaran kelompok biasa.

Pengembangan media video pembelajaran keterampilan dasar mengajar matakuliah kemampuan dasar mengajar mahasiswa semester VI Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang / Mincewati Silalahi

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Video Pembelajaran, Keterampilan Dasar Mengajar . Media video Pembelajaran Kemampuan Dasar Mengajar adalah adalah rekaman gambar hidup atau gambar bergerak yang saling berurutan yang mengkaji karakteristik performansi guru dan kompetensi guru, ketrampilan dasar mengajar: ketrampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilam menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil. Berdasarkan hasil observasi dan pengalaman penulis yang pernah mengikuti matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, mengalami kurangnya waktu untuk mengkaji keterampilan dasar mengajar secara visual dan mengembangkannya secara praktis. Media-media video pembelajaran yang pernah diproduksi di Jurusan Teknologi Pendidikan berisi materi delapan ketrampilan mengajar secara terpisah atau tidak integral. Tujuan pengembangan ini adalah : (1)Menghasilkan produk video pembelajaran matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar yang dapat dijadikan sebagai media dalam pencapaian tujuan perkuliahan yang titentukan. (2)Memvalidasi produk video pembelajaran yang dikembangkan. Video pembelajaran ini divalidasi oleh ahli media, ahli materi dan audiens. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi dan observasi kemampuan dasar mengajar mahasiswa. Adapun hasil uji coba yang telah dilakukan sebagai berikut : (1) ahli media didapatkan skor persentase sebesar 90,5%(2) ahli materi didapatkan skor persentase sebesar 97,5 % (3) Uji coba perseorangan didapatkan skor persentase sebesar 92,25% (4) Uji coba kelompok kecil didapatkan skor persentase sebesar 90,5 % (5) Uji coba lapangan didapatkan skor persentase sebesar 86,7% . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa video pembelajaran keterampilan dasar mengajar matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar termasuk kriteria valid. Media video pembelajaran ini mempunyai kelebihan yaitu, (1) dapat digunakan secara klasikal untuk pembelajaran di kelas maupun secara individual di luar kelas perkuliahan (2) tidak memerlukan waktu yang lama untuk mempelajari materi (3) background frame dan soundeffect bervariasi menambah motivasi mahasiswa untuk memperhatikan materi (4) di awal setiap segmen terdapat narasi dalam bentuk audio dan caption yang menjelaskan mengenai pengertian masing- masing keterampilan dasar mengajar (5) materi yang divisualisasikan adalah mata pelajaran Teknik Informasi untuk mendukung keterampilan mahasiswa jurusan Teknologi pendidikan untuk memenuhi prospek lapangan kerja yang membutuhkan guru-guru Teknik Informasi (6) terdapat narasi yang ditampilkan dalam bentuk audio dan caption yang menyebutkan komponen-komponen dan prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menerapkan masing- masing keterampilan dasar mengajar. Sedangkan kelemahan dari media ini yaitu : (1) Materi yang divisualisasikan pemeran dalam video terbatas hanya materi guru TIK sekolah Dasar (2) harus ada komputer atau laptop untuk melihat tayangan dari media ini. Berdasarkan hasil pengembangan dan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa media video pembelajaran keterampilan dasar mengajar matakuliah Kemampuan Dasar Mengajar valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran. Beberapa saran pemanfaatan media ini agar dapat digunakan secara maksimal untuk perkuliahan yaitu; (1) bagi dosen, pada saat dosen memanfaatkan media ini dalam proses perkuliahan perlu memperhatikan petunjuk pemanfaatan untuk mengoptimalkan proses perkuliahan (2)bagi mahasiswa, dalam penggunaan media ini saat melihat tayangan hendaknya disertai dengan membuka buku yang berkaitan dengan materi sehingga apa yang dilihat dapat disesuaikan dengan materi yang ada di buku. (3)bagi Pengembang Selanjutnya, pengembang selajutnya hendaknya lebih memperhatikan sumber materi supaya lebih banyak referensi sebagai pembanding untuk menghasilkan visualisai materi yang lebih bervariasi dalam video.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 | 636 | 637 | 638 | 639 | 640 | 641 | 642 | 643 | 644 | 645 | 646 | 647 | 648 | 649 | 650 | 651 | 652 | 653 | 654 | 655 | 656 | 657 |