Pengaruh rasio kecukupan model, dana pihak ke tiga, dan kredit bermasalah terhadap penyaluran kredit (studi pada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Periode 2002-2011) / Binti Shofiatul Jannah

 

Turunan satu fungsi dan aplikasinya / Iksan Rumaru

 

Kata kunci: Turunan , fungsi Turunan merupakan salah satu konsep matematika yang dipakai untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal ini aplikasi turunan untuk menyelesaikan permasalahan dalam bidang matematika dan fisika. Aplikasi turunan sering digunakan dalam bidang matematika dan fisika. Dalam bidang matematika, konsep turunan dimanfaatkan misalnya untuk mencari gradien, titik stasioner, dan menentukan kecekungan suatu grafik fungsi. Sedangkan dalam bidang fisika, konsep turunan digunakan dalam menentukan kecepatan atau percepatan suatu benda bergerak. Suatu fungsi dikatakan mempunyai turunan di apabila ada, dan ditulis Permasalahan matematika yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diselesaikan dengan konsep turunan dibuat terlebih dahulu model matematikanya dan kemudian diselesaikan dengan konsep turunan. Dalam skripsi ini, konsep turunan dibatasi hanya untuk turunan tingkat pertama.

Penggunaan multimedia untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan pramembaca pada anak kelompok A RA El Mawaddah Grati Pasuruan / Zulfa Normasari

 

Kata Kunci: Multimedia, Motivasi, Kemampuan Pramembaca. Kemampuan membaca bagi anak usia dini saat ini sudah menjadi kebutuhan dna tuntutan berbagai pihak, baik orang tua maupun sekolah dasar. Oleh karena itu sejak TK kegiatan pramembaca sudah dilaksanakan. Hanya saja kegiatan belajar dan media yang digunakan cenderung konvensional. Hal ini juga terjadi di RA El Mawaddah Grati Pasuruan. Sehingga seringkali menimbulkan rasa bosan pada anak, semangat belajarnya kurang bagus, dan hasilnya kurang memuaskan. Pesatnya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikais (TIK) saat ini memungkinkan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan anak dengan multimedia yang animatif dan dinamis. Dengan menggunakan Powerpoint bisa dihasilkan media belajar yang menarik bagi anak. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan penerapan media pembelajaran berbasis multimedia untuk anak kelompok A. RA El Mawaddah. 2) Untuk mengetahui motivasi pramembaca pada anak kelompok A. RA El Mawaddah melalui penerapan media pembelajaran berbasis multimedia. 3) Untuk mengetahui peningkatan kemampuan pramembaca pada anak kelompok A. RA El Mawaddah melalui penerapan media pembelajaran pramembaca berbasisi multimedia. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan tujuan untuk mendeskripsikan penerapan media pembelajaran pramembaca berbasis multimedia dan mengetahui peningkatan motivasi dan kemampuan pramembaca pada anak kelompok A. RA El Mawaddah Grati Pasuruan. Subjek penelitian terdiri dari 20 anak. Untuk mengetahui hasil penelitian, analisis data menggunakan metode deskriptif yaitu persentase. Berdasarkan analisis data diperoleh peningkatan motivasi anak pada pratindakan rata-rata nilainya 49,9, pada siklus I nilai rata-ratanya 56,9, dan pada siklus II nilai rata-ratanya adalah 74,45. Adapun untuk kemampuan pramembaca anak Pada tahap Pratindakan rata-rata perolehan nilai anak adalah 41,9 dengan ketuntasan 35%. Setelah dilakukan kegiatan belajar pada Siklus I terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 58,9 dengan ketuntasan 50%. Pada Siklus II terjadi peningkatan nilai dengan rata-rata 76,57 dengan ketuntasan 90%. Demikian juga dengan motivasi anak dalam kegiatan pramembaca meningkat pada setiap siklusnya. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan beberapa hal yaitu: Agar pembelajaran lebih menyenangkan, tidak membosankan, dan menarik minat anak, maka disarankan menggunakan media belajar berbasis multimedia selain media konvensional. Bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian ini disarankan agar media belajar berbasis multimedia yang digunakan hendaknya bersifat animatif dan dilengkapi suara atau musik yang menarik minat anak. Agar murid lebih tertarik lagi, disarankan media belajar bersifat interaktif. Media belajar yang interaktif memungkinkan keaktifan motorik anak.

The implementation of role play to improve the EFL speaking ability of the fourth semester students of STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang / Khudriyah

 

Keywords: Role play, speaking ability Based on the researcher’s experience in the teaching of speaking and the preliminary study, the researcher found some problems, namely the students’ speaking ability was poor, their average score was 43.8 and their motivation to study was low. It was because the teacher used monotonous technique in teaching speaking. To overcome these problems, the researcher proposed one strategy in the teaching of speaking that is role play. This study was designed to improve the students’ speaking ability using role play. The study was intended to describe how role play can improve the speaking ability of the fourth semester students of STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang. The study was collaborative classroom action research in which the researcher and the collaborator worked together in conducting this study. The researcher acted as the teacher while the collaborator observed the teacher and the implementation of role play. This study was conducted in two cycles using the following procedures: planning, implementing, observing, and reflecting. Each cycle consisted of three meetings. The data of the study were gathered through the following instruments - observation checklist, field notes, audio recording, and questionnaire. The subjects of this study were 30 students of STIT Al Urwatul Wutsqo Jombang. The finding of the study revealed that the appropriate model of role play as strategy to teach speaking includes the following procedures. (1) brainstorming by turning the video related to topic and questioning the students about what they have watched, (2) telling students what is going to be done, (3) dividing students into pairs, (4) giving the handouts, (5) drilling the handout to the students, (6) distributing the cards containing the situation to each student, (7) guiding the students to make conversation and improvised it, (8) modeling the students by performing role play with one of them , (9) asking them to make their own conversation, and practiced on their own seat, (10) asking them to perform the role play in pair, and (11) asking them to report their experience relate to the topic orally. Furthermore, the finding of the study indicated that role play was successful in improving students’ speaking ability. The improvement could be seen from the increase of students’ average speaking score from 43.8 in the preliminary study, and 54.2 in Cycle 1, to 64.7 in Cycle 2. Besides, the finding indicated that role play was effective in enhancing the students to be actively involved in the teaching and learning process. It was found that the number of the students who were actively involved was 22 (73.3%). It is suggested that English teachers apply role play since it can be practical contribution on how to improve the students’ speaking ability with more practice of using oral communication in their real and natural communication activities, and as a relevant knowledge about the teaching of speaking. It is also recommended to the institution, that the findings of the research are used for decision making that the teaching of speaking in this institution have to use role play as the strategy. And for the future researchers, the findings of this research can become a good reference as strategy to teach speaking.

Pengembangan buku teks geografi pada standar kompetensi "menganalisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup" SMA/MA kelas XI semester II model Dick and Carey / Syafril

 

Evaluasi perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru mata pelajaran IPS Terpadu (Ekonomi) Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Sidoarjo / Deffy Novasisca

 

Kata kunci: evaluasi, perangkat pembelajaran, pelaksanaan mengajar, guru ekonomi Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas perangkat pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran sebagai bagian dari peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan melalui evaluasi. Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Melalui evaluasi bisa mengetahui perkembangan kualitas perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru, dengan cara menganalisis dan memberi penilaian terhadap masalah yang ditemukan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui kualitas perangkat pembelajaran guru mata pelajaran ekonomi, kualitas pelaksanaan pembelajaran guru mata pelajaran ekonomi, kesesuaian perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru mata pelajaran IPS terpadu (ekonomi) sekolah menengah pertama di Kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan jenis penelitian evaluatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu pedoman wawancara, lembar observasi, dan dokumen perangkat pembelajaran. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pelaporan. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kualitas perangkat pembelajaran sekolah menengah pertama di kabupaten Sidoarjo yang paling baik yaitu dari guru ekonomi SMPN 3 Porong (SG) dan yang kurang yaitu dari guru ekonomi SMPN 1 Sidoarjo (HR). Kedua, kualitas pelaksanaan pembelajaran sekolah menengah pertama di Kabupaten Sidoarjo dari guru ekonomi SMPN 3 Porong (SG) dengan persentase sebesar 95% lebih baik daripada guru ekonomi SMPN 1 Sidoarjo (HR) persentase sebesar 87,5%, guru ekonomi SMPN 1 Porong (PN) sebesar 80% dan guru ekonomi MTs Al-Fudhola Porong (IS) sebesar 77,5%. Ketiga, kesesuaian perangkat pembelajaran dan pelaksanaan mengajar guru ekonomi sekolah menengah pertama di kabupaten Sidoarjo yang terdiri dari guru ekonomi SMPN 1 Sidoarjo (HR), guru ekonomi SMPN 1 Porong (PN), guru ekonomi SMPN 3 Porong (SG), dan guru ekonomi MTs Al-Fudhola Porong (IS) setiap melakukan pembelajaran di dalam kelas tidak bisa selalu sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat. Berdasarkan hasil penelitian maka penulis mengajukan saran: (1) Bagi sekolah diharapkan mempunyai standar dalam pembuatan perangkat pembelajaran, (2) Bagi guru dapat menyusun perangkat pembelajaran yang terlebih dahulu dimulai dengan pengalokasian waktu kemudian membuat Program Tahunan, Program Semester, SILABUS, dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dalam pelaksanaan pembelajaran diharapkan mengacu pada perangkat pembelajaran yang telah disusun agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal, (3) Bagi Kepala Sekolah diharapkan untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dalam penyusunan perangkat pembelajaran, (4) Bagi peniliti lain diharapkan bisa mengembangkan penelitian sebelumnya, (5) Bagi Universitas Negeri Malang (UM) diharapkan bisa lebih meningkatkan kriteria atau standar pendidikan untuk mempersiapkan calon guru profesional, terutama guru pada mata pelajaran ekonomi.

Analisis implementasi KTSP dalam pembelajaran kimia di SMA Negeri 2 dan SMA Negeri Siwalima Ambon / Herlina Laborar

 

Kata Kunci : Implementasi KTSP, Pembelajaran Kimia, SMA. KTSP merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh setiap sekolah, dan dikembangkan sesuai tuntutan otonomi pendidikan. KTSP menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran. Mengingat perubahan kurikulum sering terjadi, maka perlu dilakukan analisis terhadap implementasi KTSP. Analisis implementasi ini dapat berkaitan dengan kemampuan dan unjuk kerja guru sebagai pelaksana kurikulum, dalam hal penyusunan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran serta tindak lanjut, dalam kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah, yang didalamnya termasuk komponen pendukung dan penghambat pembelajaran kimia di sekolah, serta pandangan guru terhadap perubahan kurikulum. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memaparkan implementasi KTSP dalam pembelajaran Kimia dengan menggunakan guru mata pelajaran Kimia dan Kepala Sekolah sebagai informan kunci. Objek penelitian adalah SMA Negeri 2 dan SMA Negeri Siwalima Ambon. Data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan 2 cara yaitu ketekunan pengamatan dan triangulasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi, penyajian data dan verifikasi atau kesimpulan akhir sebagai temuan penelitian. Temuan hasil penelitian antara lain: (1) kesuksesan implementasi KTSP tergantung pada jumlah, latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, beban mengajar, rasio guru dan siswa, serta minat guru dalam mengembangkan profesinya; (2) pemahaman guru dari kedua sekolah terhadap penyusunan perencanaan pembelajaran berupa penyusunan silabus dan RPP masih sangat rendah; (3) dalam pelaksanaan pembelajaran, guru kimia mengalami kesulitan karena tidak didukung dengan sarana prasarana yang memadai, bahan ajar dan media yang terbatas, serta strategi/pendekatan/metode pembelajaran yang digunakan guru kurang bervariasi; (4) dari segi penilaian pembelajaran, guru kimia mengalami kesulitan pada ranah-ranah penilaian afektif dan psikomotor; (5) faktor-faktor pendukung implementasi KTSP adalah profesionalisme guru; kerjasama dan kekompakan guru kimia dalam pelaksanaan tugas; sarana prasarana, lingkungan sosial siswa dan kebijakan sekolah; (6) faktor-faktor penghambat implementasi KTSP antara lain: keterbatasan kemampuan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran; belum adanya kesepahaman diantara guru dalam menerapkan KTSP; kurangnya kegiatan sosialisasi dan workshop yang dapat menjawab kebutuhan guru dalam pelaksanaan KTSP; terbatasnya sarana prasarana; intensitas keterlibatan siswa dalam aktivitas ekstra-kurikuler yang tinggi; kesibukan guru akibat tugas ganda; kekurangan guru mata pelajaran kimia (SMAN Siwalima Ambon); jumlah rombongan belajar sangat besar (SMAN 2 Ambon); (7) pandangan guru; KTSP baik untuk pengembangan pendidikan di Indonesia; dan (8) kegiatan sosialisasi KTSP dan pengembangannya oleh guru akan lebih efektif bila dilakukan melalui MGMP. Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran yang dapat diajukan agar implementasi KTSP berjalan dengan baik antara lain: (1) mengurangi beban guru dari tugas-tugas administrasi yang menyita waktu; (2) sosialisasi KTSP yang lebih optimal; (3) pihak Dinas Pendidikan Kota Ambon maupun Provinsi Maluku serta sekolah diharapkan dapat melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan; (4) dilakukan kegiatan peningkatan kemampuan guru kimia dalam penguasaan materi pelajaran; (5) ditingkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan teknik penilaian yang dapat mengukur kemampuan siswa secara menyeluruh; (6) difungsikannya kembali MGMP sekolah maupun MGMP Kota Ambon; (7) supervisi yang dilakukan oleh Diknas tidak hanya pada kelengkapan administratif perangkat perencanaan guru, tetapi juga harus pada kontennya.

Mitos etnik kembaran Papua dalam perspektif hermeneutika / Adolina V. Lefaan

 

Kata Kunci: Mitos Kembaran, Tipe, Makna, dan Fungsi. Mitos Kembaran merupakan warisan turun temurun yang menjadi produk budaya Kembaran. Semua amanah, petuah, adat istiadat, norna-norma, nilai-nilai serta hukum adat terpatri di dalam mitos Kembaran. Penuturan yang masih terkemas dalam bentuk oral menunjukkan, bahwa mitos Kembaran terggolong jenis sastra lisan. Sebagai karya sastra, tentu saja akan tepat jika karya tersebut dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Khususnya di dalam pembelajaran sastra di sekolah, terutama sekolah di Papua, agar dapat memanfaatkan sebagai bentuk pembelajaran lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya Kembaran yang terpatri di dalam mitos kembaran. Secara substansial, penelitian ini mengambarkan mengenai tiga hal pokok yakni, (1) tipe mitos Kembaran yang mencakup, (a) mitos human endogonik, (b) mitos Kosmogonik, (c) mitos asal-usul, dan (d) mitos transformasi. (2) makna mitos yang mencakup persepsi Kembaran tentang (a) hubungan manusia dengan manusia, dan (b) hubungan manusia dengan alam. (3) fungsi mitos Kembaran yang mencakup, (a) fungsi mistis, (b) fungsi kosmologis, (c) fungsi pedagogis. Pedekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan ancangan hermeneutika,yang merujuk pada ilmu interpretasi. Dalam kaitannya dengan interpretasi pada teks mitos Kembaran, digunakan hermeneutika objektif (Overmann dkk., 1979:368). Hermeneutika objektif dianggap sebagai perspektif metodologois yang cocok bagi kebutuhan kajian mitos Kembaran, karena teks mitos itu sendiri mengandung tanda-tanda budaya. Tanda-tanda itu memerlukan pemahaman secara total di dalam konteks masyarakat pemiliknya. Selain itu digunakan pula hermeneutika Ricoeur dan Dilthey sebagai pelengkap dan bandingan guna kelengkapan interpretasi terhadap mitos Kembaran. Berdasarkan temuan lapangan, terdapat 13 teks mitos Kembaran. Pengklasifikasian itu terdiri atas, empat tipe, yang meliputi (1) mitos human endogonik, (2) mitos kosmogonik, (3) mitos asal-usul, dan (4) mitos transformasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa makna mitos kembaran mengacu pada dua pola hubungan yaitu, (1) hubungan manusia dengan manusia, dan (2) hubungan manusia dengan alam. Mitos Kembaran memiliki potensi yang dapat mempengaruhi, dan mengarahkan pikiran, perasaan, serta perilaku personal maupun kolektif masyarakat Kembaran. Penuturan cerita mitos ini pada hakikatnya mempunyai peran sebagai ungkapan dan rumusan kepercayaan terhadap agama suku, norma, adat-istiadat,dan memberi pendidikan praktis kepada orang kembaran agar dapat menghargai dan melestarikan relasi dengan alam sekitarnya, serta memperkokoh relasi dengan kosmologis Kembaran. Temuan ini menghasilkan 4 fungsi penting dalam mitos Kembaran, yakni fungsi mistis, kosmologis, sosiologis, dan pedagogis. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, bahwa mitos Kembaran merupakan sastra lisan kembaran yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan tindakan berpola orang Kembaran, merupakan produk budaya kembaran. Mitos Kembaran merangkum, dan merumuskan semua pengetahuan Kembaran yang terkemas rapih dengan bahasa sebagai media penyampaian, serta norma, dan hukum adat sebagai fungsi kontrol terhadap sejumlah aturan yang terstruktur berdasarkan konvensi kolektifitas Kembaran. Secara holistis teks mitos Kembaran memiliki satu tema sentral yaitu, tema asal-usul. Berdasarkan perspektif sastra lisan, mitos kembaran mengacu pada dua relasi, yakni hubungan manusia dengan manusia dan relasi hubungan manusia dengan alamnya. Secara esensial relasi hubungan tersebut terjalin sejak nenek moyang Kembaran memulai segala kehidupan mereka di atas bumi. Orang Kembaran tidak hanya menjalin hubungan diantara mereka yang masih hidup, tetapi juga dengan para leluhur yang telah berada di alam sana. Fenomena ini di buktikan melalui berbagai ungkapan amanah di dalam cerita mitos, dan tindakan bermakna kembaran dalam keseharian mereka. Secara koherensif pengetahuan kembaran dalam kehidupan sangat erat dengan ekologi Kembaran. Mereka menghargai dan menghormati setiap perjuangan nenek moyang yang telah mewarisi tanah sebagai pusaka. ”Tanah begitu sakral,” sehingga disimbolkan sebagai ”rahim seorang perempuan,” artinya sebagai kandungan seorang Ibu yang melahirkan manusia Kembaran di atas bumi. Makna tanah menjadi hakikat yang mendasari kebijakan positif dalam kolektifitas Kembaran. Sebagai tendensi dalam kolektivitas komunal Kembaran, maka motif tadi mengkosntruksikan pikiran, perasaan, perilaku serta karateristik Kembaran dalam menjalani hidup. Dalam perspektif fungsional, peranan mitos Kembaran sangat memengaruhi sistem yang berada di dalam keseharian Kembaran.

Faktor yang mempengaruhi kebiasaan belajar pada siswa frustrasi terhadap guru / Lusihana

 

Kata kunci: kebiasaan belajar, frustrasi, siswa SMP Nita (fiktif) mengalami frustrasi saat kelas VII. Dia berharap dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Harapannya tidak sejalan dengan kenyataan yang ada. Dalam proses belajar di sekolah dia mengalami beberapa hambatan. Baginya guru mata pelajaran Matematika, tidak dapat menerangkan dengan jelas, sehingga dia tidak dapat memahami dengan baik materi yang diterangkan. Selain itu dia memiliki kelemahan dalam menghafal. Hal ini terus berlanjut hingga pada akhirnya saat kelas VIII, dia masuk di kelas reguler dan dia menjadi malas belajar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memahami makna belajar bagi subjek; (2) memahami kebiasaan belajar subjek; (3) memahami frustrasi yang dialami subjek serta tolerasi frustrasi subjek dalam menghadapi frustrasi yang dialami; (4) memahami penyebab umum frustrasi yang dialami subjek; (5) menemukan hal-hal baru dalam proses penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan subjek tunggal sebagai objek penelitian. Peneliti hadir empat kali dalam seminggu. Tempat penelitian di SMPN 1 Lumajang. Prosedur pengumpulan data yang digunakan adalah teknik triangulasi. Analisis data terdiri dari tiga tahap yaitu reduksi fenomenal, reduksi eiditis, dan reduksi transedental. Pengecekan keabsahan data menggunakan tiga jenis triangulasi, yaitu triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Tahap-tahap penelitian terdiri dari tahap pra lapangan dan tahap pekerjaan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan makna belajar bagi subjek adalah untuk mendapatkan hal-hal yang tidak pernah didapat sebelumnya. Belajar tidak hanya dilakukan dengan membaca buku-buku mata pelajaran di sekolah saja. Kebiasaan belajar subjek yang tampak saat kelas VIII adalah kebiasaan belajar buruk, di sekolah maupun di rumah. Subjek mengalami frustrasi saat kelas VII pada dua mata pelajaran yaitu Matematika dan IPS. Subjek tidak dapat mentoleransi frustrasi yang dialami dengan baik. Penyebab umum frustrasi yang dialami subjek, yaitu sebab dari dalam dan dari luar diri subjek. Sebab dari dalam, kurangnya kemampuan subjek dalam menghafal dan adanya rasa takut untuk bertanya kepada guru mengenai hal yang belum dimengerti, sedangkan sebab dari luar, cara mengajar guru yang tidak jelas. Hal-hal baru tidak ditemukan dalam proses penelitian. Kesimpulan yang didapat dari penelitian adalah frustrasi yang dialami subjek pada saat kelas VII berdampak pada kebiasaan belajarnya. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan fenomena yang serupa dengan latar yang berbeda dengan multi subjek. Selain itu disarankan pula untuk menemukan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kebiasaan belajar pada siswa frustrasi terhadap guru serta persepsi siswa terhadap guru. Pembuatan paket pelatihan untuk melatih frustrasi siswa juga disarankan dengan tujuan untuk melatih siswa dalam mengelola frustrasinya dengan baik.

Hubungan antara kematangan emosi, kontrol, agresi, dan penyesuaian diri siswa SMK Pekerjaan Umum (PU) Malang / Rena Yulia Lestari

 

Keywords: emotional maturity, aggression control, self adaptation. Adolescence is a time where emotional stress rises especially under social pressure and new condition. A teenager is considered having reached emotional maturity when he does not explode his emotion in front of other people but control it correctly and in the way that is accepted by the others. The increase of aggressive behavior is one of the examples of teenager’s inability to control aggression. Teenagers who are emotionally immature can be more easily aggressive than the others who are emotionally mature. If teenagers do not control their emotion and aggression, they will have problems dealing with social relation which makes them difficult to adapt with their environment. The aims of the research are: (1) to know the emotional maturity, (2) self adaptation level, (3) aggression control, (4) the relationship between emotional maturity and self adaptation, (5) the relationship between aggression control and self adaptation, and (6) the relationship among emotional maturity, aggression control, and self adaptation on students of SMK Pekerjaan Umum (PU) Malang. This research uses quantitative research with descriptive and correlation research design. The subjects of this research are the students of Class X of Motorcycle Engineering Department, Class X Automotive Machinery Department, and Class X of Survey Department at SMK PU Malang. The sampling technique used here is total sampling. The instruments used in this research are emotional maturity scale, aggression control scale, and self adaptation scale with Likert scaling model. This research uses descriptive analysis and correlation analysis of Product Moment Pearson with significant level 5%. The research results show that: (1) there are many students of SMK PU Malang who have medium emotional maturity level; (2) there are many students of SMK PU Malang who have medium aggression control level; (3) there are many students of SMK PU Malang who have medium self adaptation level; (4) there is a positive and low correlation between emotional maturity and self adaptation; (5) there is a positive and high correlation between aggression control and self adaptation; and (6) there is a relation among emotional maturity, aggression control, and self adaptation with effective contribution 31,7%. Based on the research results, counselors are expected to give their students any knowledge in relation to emotion and guide them how to handle emotion and control it correctly through special guidance, seminar about problems with emotional aggression behavior, or students’ self adaptation. In addition, next researchers are expected to use the research results as reference to develop another research about emotional maturity, aggression control, and self adaptation using different methods, for example, using qualitative research to complete data accuracy.

Penggunaan metode bermain dengan media dot to dot untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam mengenal bilangan 1-10 pada kelompok A di TK Al-Muhajirin Malang / Sri Handayani

 

Kata kunci: metode bermain, media Dot to Dot, mengenal bilangan 1-10 Kemampuan kognitif anak dalam menyebutkan bilangan 1-10 di kelompok A TK Al Muhajirin, Malang masih rendah, hanya 15 % anak yang memiliki kemampuan berbahasa kognitif dalam menyebutkan bilangan 1-10 yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi guru juga ditemukan beberapa masalah yang menjadi penyebab, yaitu dari 6 guru pengasuh di TK AL Muhajirin 4 diantaranya berasal dari input S1 non kependidikan, sehinga dalam merancang satuan kegiatan harian masih bersifat konvesional. Media dan sumber belajar masih kurang menarik, hal ini tampak pada pola gambar dan beberapa media ciptaan guru. Penelitian ini bertujuan Mendeskripsikan penggunaan metode bermain dengan media Dot to Dot yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif dalam mengenal bilangan 1 sampai dengan 10, siswa kelompok A TK Al Muhajirin Malang dan Mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif dalam mengenal angka 1 sampai dengan 10 siswa kelompok A TK Al-Muhajirin Malang yang dibelajarkan dengan metode bermain dengan media Dot to Dot Penelitian ini dilaksanakan Kelompok A di TK Al Muhajirin Blimbing Tahun Pelajaran 2010 / 2011. Subyek penelitian 20 anak didik . Penelitian dilakukan selama dua siklus dengan prosedur umum meliputi tahapan : (1) Perencanaan tindakan. (2) Pelaksanaan Tindakan. (3) Pengamatan. (4) Refleksi. (5) Revisi tindakan. Analisis data secara deskriptif baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif .Alat pengumpulan data berupa lembar observasi penilaian kemampuan anak. Berdasarkan diskripsi pembelajaran dan analisis data, diperoleh Hasil bahwa penggunaan metode bermain dengan mengunakan media Dot to Dot yaitu dengan cara menghubungkan titik bilangan dan pengunaan metode bermain dengan media Dot to Dot dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak dalam mengenal bilangan 1 sampai dengan 10 pada siswa kelompok A TK Al–Muhajirin Blimbing Malang . Hasil penelitian menunjukan bahwa Pengunaan metode bermain dengan media Dot to Dot dapat meningkatan kemampuan kognitif anak dalam mengenal bilangan 1-10, maka disarankan kepada guru Taman kanak-Kanak untuk mengunakan metode bermain dengan media Dot to Dot sesuai dengan Tema yang direncanakan dalam SKH dan dengan warna dan gambar yang menarik.

Peningkatan pembelajaran soal cerita FPB melalui strategi peningkatan kemampuan berpikir (SPKB) siswa kelas V SDN Tlogo 03 Kabupaten Blitar / Reni Prasetyawati

 

Kata Kunci: pembelajaran, FPB, SPKB Pemilihan model pembelajaran dalam proses pembelajaran harus mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna, dan melatih berpikir siswa tidak hanya sekedar mengingat dan memahami. Sehingga dalam pembelajaran matematika dapat efektif dan mencapai sasaran.Hal ini akan terlihat berdasarkan hasil pererapan model pembelajaran yang dilakukan guru. Pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suana lingkungan belajar yang aktif. Berdasarkan data dari hasil observasi proses pembelajaran yang terjadi masih cenderung pasif dan siswa kelas V masih bingung dalam memahami kata demi kata yang terdapat dalam soal cerita tentang FPB yang diberikan. Sehingga masih banyak siswa yang hasil belajarnya di bawah KKM. Adapun cara untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu peneliti menggunakan model pembelajaran SPKB atau Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir.. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pembelajaran penyelesaian soal cerita FPB di kelas V SDN Tlogo 03 Kabupaten Blitar. Adapun subjek penelitian adalah siswa siswi kelas V SDN Tlogo 03, Kabupaten Blitar semester I tahun pelajaran 2010/2011. Siswa yang diteliti berjumlah 15 siswa, dengan jumlah siswa perempuan sebanyak 4 dan 11 siswa laki-laki. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II dimana masing-masing siklus dilaksanakan satu kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari perencanaa, observasi, tindakan dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penelitian tindakan kelas dikatakan berhasil apabila nilai rata-rata kelas mencapai lebih dari nilai KKM yaitu 70 dan ketuntasan klasikal mencapai 80 %. Dari hasil refleksi pada tiap siklus nilai ketuntasan belajar klasikal menunjukkan adanya peningkatan. Nilai ketuntasan belajar klasikal pada pra tindakan 33,33%, siklus I 66,67% sedangkan pada siklus II 100%. Pada siklus II menunjukkan hasil yang baik bahkan melebihi tolok ukur yang telah ditentukan. Dengan demikian pembelajaran soal cerita FPB melalui SPKB siswa kelas V SDN Tlogo 03 Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar dapat ditingkatkan. Untuk itu disarankan agar guru kelas V dalam melakukan pembelajaran matematika mengenai penyelesaian soal cerita FPB menggunakan model pembelajaran SPKB.

Peningkatan kemampuan dalam mengenal ciptaan Allah melalui strategi karya wisata pada anak TK Negeri Pembina 3 Sukun Malang / Siti Aropah

 

Kata Kunci: kemampuan pembiasaan, moral dan emosional, karya wisata, TK negeri pembina 3 Sukun Malang Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan pembiasaan anak. Hal ini disebabkan karena kegiatan pembelajaran belum melibatkan anak dan belum memberikan kebebasan kepada anak untuk berekspresi dan mencoba kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Tujuan penelitian secara umum untuk menginformasikan bagi para pembaca, bahwa betapa pentingnya metode mengajar dikuasai oleh pendidik, sedangkan secara khusus untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran karya wisata dalam mengenalkan ciptaan Allah pada anak TK dan untuk mengetahui pembelajaran karya wisata yang dapat meningkatkan kemampuan mengenal ciptaan Allah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Tindakan Kelas dengan proses siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas karya wisata terbukti dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pembiasaan anak TK Negeri Pembina 3 Sukun Malang. Penerapan metode karya wisata terbukti dapat meningkatkan kemampuan pembiasaan anak. Peningkatan ditandai dengan meningkatnya kemampuan pembiasaan anak dalam hal mengenal ciptaan Allah, dimana pada siklus I kemampuan pembiasaan anak mencapai 73,8% meningkat menjadi 89,5% pada siklus II. Peningkatan kemampuan pembiasaan lainnya adalah dalam hal rasa ingin tahu, memelihara lingkungan, berbuat baik terhadap makhluk Allah dan membedakan ciptaan Allah dalam kegiatan telah mencapai semuanya sesuai dengan yang ditargetkan. Disarankan kepada pendidik untuk menerapkan aktivitas karya wisata dalam kegiatan belajar mengajar pada bidang pengembangan kemampuan pembiasaan anak. Pada pelaksanaan aktivitas karya wisata hendaknya pendidik memperhatikan keamanan dan keselamatan anak selama kegiatan berlangsung.

Peningkatan kemampuan mengelompokkan benda melalui permainan "kelompokkan aku" pada anak kelompok B di RA. Jamilah 45 Ngembe Beji Pasuruan / Siti Masiffah

 

Kata Kunci: Permainan, Kemampuan Mengelompokkan Benda, PAUD. Kemampuan anak kelompok B RA. Jamilah 45 Ngembe Beji Pasuruan dalam mengelompokkan benda relatif rendah. Hal ini terbukti dari tugas yang telah diberikan berupa mengelompokkan benda, hanya sebagian kecil dari mereka yang dapat menyelesaikan tugas dengan baik, bahkan cenderung bosan dengan pola tugas tersebut. Melalui permainan Kelompokkan Aku diprediksi dapat mengatasi masalah di atas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan pembelajaran kemampuan mengelompokkan benda melalui permainan ”Kelompokkan Aku” dan mendeskripsikan permainan ”Kelompokkan Aku” dapat meningkatkan kemampuan mengelompokkan benda anak di RA. Jamilah 45 Ngembe Beji Pasuruan. Proses penelitian ini dilakukan di halaman depan sekolah RA Jamilah 45 Ngembe Beji Pasuruan dengan teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan pengambilan gambar/foto. Untuk mencapai tujuan diatas, penelitian ini juga dilakukan dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan metode kolaboratif, dengan menggunakan acuan model siklus PTK yang dikembangkan oleh Kemis & Mc. Tagrat (1990). Peneliti melakukan kolaborasi dengan guru kelas kelompok B RA. Jamilah 45 Ngembe Beji, mulai dari tahap proses identifikasi masalah perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun proses pelaksanaan pembelajaran kemampuan mengelompokkan benda melalui permainan ”Kelompokkan Aku” di RA. Jamilah 45 Ngembe Beji Pasuruan, pada setiap pertemuan dilakukan dengan kegiatan yang berbeda tetapi dalam kemampuan yang sama yaitu kemampuan mengelompokkan benda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan permainan Kelompokkan Aku dapat meningkatkan kemampuan mengelompokkan benda anak,terbukti dengan adanya peningkatan yang terjadi setelah pelaksanaan tindakan siklus I & II sebesar 10,94%. Berdasarkan penelitian ini, dalam kemampuan mengelompokkan benda berdasarkan jenisnya, belum menggunakan benda aslinya atau masih menggunakan media gambar yang diwarna sesuai warna aslinya disarankan kepada peneliti lanjutan untuk melakukan penelitian lanjutan tentang kemampuan mengelompokkan benda dengan menggunakan benda konkrit atau aslinya.

Penerapan model pembelajaran student teams-achievement divisions (STAD) untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV MI Darul Ulum Rembang Kabupaten Pasuruan / Siti Kholilatul Jannah

 

Kata Kunci: Pembelajaran Model STAD, Hasil Belajar, IPA Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti pada pembelajaran IPA di kelas IV MI. Darul Ulum Rembang Pasuruan menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam kelas tersebut rendah, kurang tepatnya guru dalam memilih cara dan media selama pembelajaran. Pembelajaran belum berdasarkan filosofi kontruktivisme. Guru hanya menjelaskan tanpa ada alat peraga sedangkan siswa hanya disuruh diam mendengarkan. Selain itu selama pembelajaran suasana terasa tegang dan membosankan, kurangnya suasana menyenangkan yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu perlu adanya suasana pembelajaran yang baru yang dapat meningkatkan hasil belajar. Salah satu model pembelajaran yang diyakini dapat meningkatkan hasil belajar siswa antara lain pembelajaran kooperatif model Student Teams-Achievement Divisions (STAD). Sebab dalam model pembelajaran STAD menawarkan kelebihan-kelebihan, antara lain: (1) Memberi tanggung jawab individual. (2) Melatih siswa untuk fokus terhadap pembelajaran. (3) Rasa saling memiliki, rasa harga diri, penerimaan terhadap siswa-siswa mainstream. (4) Seluruh siswa menjadi lebih siap dalam belajar kelompok. (5) Melatih kerjasama yang baik. (6) Membantu meningkatkan pemahaman materi pembelajaran melalui pembelajaran teman dalam kelompok. (7) Belajar menjadi guru untuk teman sejawat (peer teaching). (8) Siswa lebih termotivasi untuk bisa saling belajar bekerjasama bersama teman dalam sekelompok untuk meningkatkan hasil belajar yang maksimal. Secara garis besar prosedur STAD sebagai berikut. (1) Guru membuat dan menyajikan soal-soal pre-tes kepada semua siswa. (2) Guru menyajikan materi secara garis besar. (3) Masing-masing kelompok (terdiri 4-5) anggota yang heterogen, mendiskusikan materi yang ada dalam lembar kerja (Work Sheet). (4) Siswa mencocokkan lembar kerja dengan kunci (Answer Key). (5) Siswa mengambil kuis-kuis individual (mengerjakan soal-soal pos-tes). (6) Guru membuat tabel kerja untuk menghitung skor pre-tes, pos-tes, dan perolehan skor kemajuan individu (gain score). Dalam tabel kerja STAD dapat juga dicantumkan hasil skor kerja kelompok yang berupa pengerjaan LKS dan setelah itu dijumlah dengan gain score untuk memperoleh skor kelompok secara keseluruhan. (7) Guru memberi penghargaan kepada kelompok yang menang.. Diskusi kelompok pada STAD memiliki fungsi utama untuk mempersiapkan anggota-anggotanya agar melakukan yang terbaik dalam kuis, sehingga mereka terpacu untuk meningkatkan hasil belajar mereka. Terlebih model pembelajaran ini sesuai dengan karakter siswa MI kelas IV yang masih senang untuk berlomba dan mendapatkan hadiah. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Subyek penelitian ini yaitu siswa kelas IV MI. Darul Ulum Rembang Pasuruan pada bulan Juli s.d. Oktober tahun pelajaran 2010/2011. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan tes untuk mengetahui peningkatan hasil belajar.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan indikator jika tujuan penelitian yang berupa peningkatan hasil belajar IPA dapat tercapai maka pelaksanaan PTK ini diakhiri. Berdasarkan hasil evaluasi belajar IPA siswa pada pra tindakan 45,97, sedangkan pada siklus I pertemuan ke-1, ke-2 dan pertemuan ke-3 mencapai rata-rata 64,75 dan hasil belajar IPA siswa pada siklus II pertemuan ke-1 dan pertemuan ke-2 mencapai rata-rata 80,87. Hal ini berarti terdapat peningkatan sebesar 16,12. Jadi dapat disimpulkan bahwa siswa kelas IV MI. Darul Ulum Rembang Pasuruan mengalami peningkatan hasil belajar IPA Dengan demikian penerapan pembelajaran model STAD dalam meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas IV MI. Darul Ulum Rembang Pasuruan telah terbukti keberhasilannya dan dapat diterima. Namun demikian, nampaknya masih sangat diperlukan upaya-upaya lebih lanjut dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Studi kualitas akustik ruang seminar di Universitas Negeri Malang ditinjau dari waktu dengung (reverberation time) / Puguh Prasetiyo

 

Kata kunci: kualitas akustik, ruang seminar, waktu dengung (reverberation time). Universitas Negeri Malang mempunyai delapan ruang seminar dengan kondisi fisik yaitu volume, jenis, dan luasan bahan penyusun ruang yang berbeda-beda, sehingga menyebabkan kualitas akustik ruang tersebut berbeda-beda pula. Untuk mengetahui kulitas akustik dari masing-masing ruang dilakukan melalui cara menghitung waktu dengung dengan indikator volume ruang dan total luas bahan penyusun ruang. Hasil kajian ini dapat digunakan sebagai salah satu evaluasi ulang kualitas akustik di Universitas Negeri Malang. Kualitas Akustik ruang diprediksi berdasakan waktu dengung. Waktu dengung dihitung dari rasio volume ruang terhadap total luas serapan bahan penyusun ruang. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan populasi dan sampel sebanyak delapan ruang seminar yang diambil secara sampling sensus atau sampel jenuh. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Analisa data untuk mendapatkan kualitas akustik dilakukan dengan cara mengkonversi waktu dengung ke kualitas akustik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja akustik dari delapan ruang seminar bervariasi: (1) Lima ruang memiliki kinerja akustik yang baik, karena berada dalam standar waktu dengung 0,8 ≤ RT < 1,4 detik. Ruang tersebut adalah ruang AVA teknik sipil (D9) dengan nilai waktu dengung 1,184 detik, ruang aula FIP (E1) dengan nilai waktu dengung 1,127 detik, ruang aula perpustakaan pusat dengan nilai waktu dengung 1,175 detik, ruang aula FE(E3) dengan nilai waktu dengung 1,197 detik, dan ruang aula utama (A3) dengan nilai waktu dengung 1,396 detik. (2) Dua ruangan memiliki kinerja akustik baik tetapi lemah, karena masuk dalam standar waktu dengung 1,4 ≤ RT ≤ 2 detik. Dua ruang tersebut adalah ruang aula sastra (E8) dengan nilai waktu dengung 1,560 detik dan ruang aula FMIPA (O1) dengan nilai waktu dengung 1,665 detik. (3) Satu ruang memiliki kinerja akustik yang tidak baik karena berada di luar standar waktu dengung 0,8 > RT > 2 detik. Ruang tersebut adalah ruang aula teknik (H5) dengan nilai waktu dengung 2,339 detik. Saran untuk meningkatkan kualitas akustik yaitu penataan ulang ruangan untuk menambahkan bahan penyusun ruang yang mempunyai koefisien penyerapan bunyi yang besar sehingga dapat meningkatkan kinerja akustik ruang. Untuk para perencana bangunan khususnya dalam merencanakan ruang yang memerlukan perilaku akustik harus sangat memperhatikan volume ruang, luasan, dan material penyusun ruang supaya mendapatkan kualitas akustik yang sesuai dengan standar.

Perancangan environment sign Universitas Negeri Malang / Daniel Santio Dianiko

 

Kata Kunci: environment sign, sign system, Universitas Negeri Malang Untuk meningkatkan image baik Universitas Negeri Malang di mata masyarakat, maka salah satunya dengan merancang environment sign. Environment sign merupakan tanda atau rambu yang berada dalam suatu lingkungan tertentu, dalam kasus ini adalah tanda atau rambu yang berada di lingkungan Universitas Negeri Malang. Pemilihan environment sign dikarenakan Universitas Negeri Malang masih kurang memiliki informasi berupa sign system yang dapat membantu para tamu atau warga kampus sendiri mengetahui lokasi kampus atau isi dari kampus Universitas Negeri Malang. Tujuan perancangan ini ialah menghasilkan produk berupa media komunikasi visual berbentuk environment sign yang digunakan oleh Universitas Negeri Malang agar dapat meningkatkan fasilitas dan mutu pendukung non akademis dibidang komunikasi dan informasi. Dalam perancangan environment sign Universitas Negeri Malang ini, model perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural yang bersifat linier dan terdeskripsi langkah-langkah kerjanya, sehingga jelas arah berpikir dalam penyusunannya. Diawali dengan mencari latar belakang masalah, merumuskan masalah serta tujuan perancangan, kemudian mengidentifikasi data, baik data primer atau data sekunder lalu menyimpulkan hasilnya. Setelah ditemukan hasil kesimpulannya maka perlu disintesiskan untuk membangun konsep perancangan. Jika konsep perancangan sudah matang, maka dapat mengerjakan proses desain yang dimulai dari idea layout, rough layout, comprehensive layout sampai menemukan desain final untuk membuat produk final dari perancangan environment sign Universitas Negeri Malang ini. Produk final tersebut adalah segala macam bentuk environment sign yang dibutuhkan oleh Universitas Negeri Malang untuk meningkatkan fasilitas dan mutu pendukung non akademis di bidang komunikasi dan informasi berupa sign system. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat dari observasi ditemukan beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut antara lain ialah masih kurang informatif dan kurang meratanya beberapa environment sign yang sudah dimiliki Universitas Negeri Malang, sehingga banyak pengunjung yang masih sangat kesulitan mendapatkan informasi yang tepat. Permasalahan berikutnya, pihak Universitas belum memiliki standar pemasangan environment sign sendiri yang sesuai standar yang berlaku. Ini mengakibatkan masih banyak kekeliruan pengaplikasian sign system didalam areal kampus Universitas Negeri Malang. Permasalahan lainnya adalah environment sign yang sudah ada masih kurang mencerminkan jati diri dari Universitas Negeri Malang. Dari beberapa permasalahan di atas, maka dapat menyebabkan image baik Universitas Negeri Malang menurun di mata masyarakat.

Pengaruh variasi rasio penulangan (p) terhadap kapasitas lentur pelat beton bertulang bambu / Mizfar Iwan Sucahyono

 

Kata kunci: pelat bertulangan bambu, kapasitas lentur, variasi rasio penulangan. Struktur beton mempunyai kekuatan tekan yang cukup besar, namun sangat lemah terhadap tarik. Karena itu penggunaan beton selalu dipadukan dengan bahan yang mempunyai kuat tarik tinggi yaitu baja. Namun,baja yang selama ini dijadikan sebagai tulangan merupakan bahan tambang yang tidak dapat diperbaharui, sehingga keberadaannya suatu saat akan habis. Dalam upaya pencarian alternatif, dilakukan penelitian-penelitian, antara lain terhadap material pengganti berupa hasil alam yaitu bambu. Selain itu, bambu juga merupakan sumber daya alam yang murah, dan memiliki kuat tarik yang menyamai kuat tarik baja tulangan. Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui kapasitas lentur pada masing-masing variasi ρ yang mampu di tahan oleh pelat beton betulang bambu pada saat eksperimen, (2) Untuk mengetahui pengaruh ρ terhadap kapasitas lentur pelat beton bertulang bambu, dan (3) Untuk mengetahui perbandingan kapasitas lentur hasil analisa teoritis dengan hasil eksperimen. Berdasarkan hasil eksperimen didapatkan data kapasitas lentur yang dihasilkan model pelat beton bertulang bambu dengan ρ = 0,01 adalah sebesar 264,5 kg, ρ = 0,02 adalah sebesar 322 kg, ρ = 0,03 adalah sebesar 448,5 kg, dan ρ = 0,04 adalah sebesar 552 kg. Sedangkan berdasarakan hasil analisa teoritis didapatkan data kapasitas lentur yang dihasilkan model pelat beton bertulang bambu dengan ρ = 0,01 adalah sebesar 200,59 kg, ρ = 0,02 adalah sebesar 397,77 kg, ρ = 0,03 adalah sebesar 585,03 kg, dan ρ = 0,04 adalah sebesar 767,85 kg. Hubungan antara ρ dengan kapasitas lentur digambarkan dengan sebuah grafik yang menunjukkan besar ρ dengan kapasitas lentur yang terjadi, semakin besar ρ pada benda uji, dalam hal ini adalah pelat beton bertulang bambu maka semakin besar pula kapasitas lenturnya. Kapasitas lentur yang berdasarkan hasil eksperimen pada pelat beton bertulang bambu dengan ρ = 0,01 lebih besar 24,16 % dari hasil perhitungan analitis, pelat beton bertulang bambu dengan ρ = 0,02 lebih kecil 19,05 % dari hasil perhitungan analitis, pelat beton bertulang bambu dengan ρ = 0,03 lebih kecil 23,34 % dari hasil perhitungan analitis, dan pelat beton bertulang bambu dengan ρ = 0,04 lebih kecil 28,11 % dari hasil perhitungan analitis berdasarkan hasil perhitungan analitis dan hasil eksperimen menunjukkan bahwa cara perhitungan untuk menghitung kapasitas lentur plat dengan tulangan baja bisa dipakai untuk menghitung kapasitas lentur plat dengan tulangan bambu.

Penggunaan metode bercerita untuk meningkatkan kecerdasan intrapersonal pada kelompok (A) di RA. Persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan / Siti Aisyah

 

Kata Kunci : Penggunaan Metode Bercerita, Kecerdasan Intrapersonal Anak usia 4-6 tahun merupakan bagian dari anak usia 6 tahun. Pada perkembangan anak di usia tersebut sangat dibutuhkan permbiasaan-pembiasaan baik di bidang pengembangan. Pembiasaan meliputi aspek pengembangan moral dari nilai-nilai agama serta pengembangan sosial emosional dan kemandirian. Pengembangan kemampuan bercerita untuk mengenalkan kedisiplinan, kemandirian dan tata tertib di RA Persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan pada Kelompok A usia 4-5 tahun masih sangat rendah, utamanya dalam menerapkan kemandirian, kedisplinan dan tata tertib sekolah. Dari pengalaman-pengalaman yang terjadi dilakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode bercerita sebagai upaya meningkatkan kecerdasan intrapersonal anak usia 4-5 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan langkah-langkah pembelajaran dengan metode bercerita dalam upaya meningkatkan kecerdasan intrapersonal dan mendiskripsikan metode bercerita untuk meningkatkan kecerdasan intrapersonal pada Kelompok A di RA Persis Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan melalui 2 siklus, masing-masing siklus terdiri atas tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi, subyek penelitian yang digunakan adalah anak-anak pada Roudlotul Athfal Persis Kecamatan Bangil Kabupaten. Subyek penelitian sebanyak 20 anak, pada penelitian ini teknik pengumpul data dilakukan melalui teknik observasi yaitu berupa catatan lapangan dan pedoman penilaian. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis tindakan yaitu dengan menggunakan nilai rata-rata dari siklus I dan siklus II. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai rata-rata 59,2 % pada siklus I dan nilai rata-rata 72 % pada siklus II, maka metode bercerita dapat meningkatkan kecerdasan intrapersonal (pada kelompok A bisa diterima). Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang metode bercerita dalam upaya meningkatkan kecerdasan intrapersonal pada Kelompok A disimpulkan bahwa kecerdasan intrapersonal dapat ditingkatkan dengan metode bercerita.

Perbandingan kemandirian belajar dan prestasi belajar IPS (sejarah) antara siswa yang tinggal di pesantren dan siswa yang tinggal bersama orangtua pada siswa MTs Surya Buana Malang tahun pelajaran 2010/2011 / Eko Hadi Susilo

 

Kata Kunci: Kemandirian Belajar, Prestasi Belajar, Pesantren, Orangtua. MTs Surya Buana Malang menerapkan pembelajaran yang berbasis konsep Triple R, Religius, Reasioning dan Reasearch. Sebagian siswa yang belajar di MTs ada yang bermukim di pesantren, sebagian yang lain tinggal bersama orangtua. Lingkungan pesantren dan lingkungan orang tua tentu membawa peran penting pada pola belajar siswa, salah satunya adalah membentuk karakter belajar siswa yang mandiri yakni, bertanggungjawab, tidak tergantung kepada orang lain. Terkait hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti perbedaan kemandirian dan prestasi belajar siswa yang tinggal di pesantren dengan siswa yang tinggal bersama orangtua. Penelitian ini mengacu pada masalah: (i) tingkat kemadirian belajar serta (ii) Prestasi Belajar antara siswa yang tinggal di pesantren dan siswa yang tinggal bersama orangtua, serta (iii) perbandingan dari keduanya dan bertujuan untuk mengetahui: (i) tingkat kemandirian belajar, dan (ii) prestasi belajar siswa yang tinggal di pondok pesantren dan juga siswa yang tinggal bersama orang tua, mengetahui (iii) perbedaan kemandirian belajar dan prestasi antara siswa yang tinggal di pondok pesantren dan siswa yang tingal bersama orang tua pada siswa MTs Surya Buana. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif dengan pendekatan kuantitatif serta menggunakan dokumentasi dan angket dalam pengumpulan data. Populasi penelitian adalah seluruh siswa MTs Surya Buana baik yang tinggal di Pondok maupun yang tinggal bersama orangtua, dengan teknik pengambilan sampel jenuh dan Proportional Random Sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kemandirian dan prestasi belajar antara siswa yang tinggal di Pesantren dan siswa yang tinggal bersama orang tua. Berdasarkan hasil uji multivariat diperoleh nilai diperoleh nilai F test untuk kemandirian belajar sebesar 7.174 dengan nilai sig. 0,009 sedangkan nilai F test untuk prestasi belajar (Ulangan Harian) sebesar 52.961 dengan nilai sig. 0,001 dengan tingkat kesalahan 5% (0,05). Dapat diinterpretasikan bahwa jika nilai signifikansi < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa Hipotesis nol ditolak yaitu ada perbedaan kemandirian dan prestasi belajar antara siswa yang tinggal di Pesantren dan siswa yang tinggal bersama orang tua. Bertitik tolak dari penelitian ini, saran yang di ajukan, berdasarkan hasil penelitian ini bagi peneliti lain diharapkan lebih menganalisis secara deskriptif kemandirian belajar siswa di Pesantren guna mengulas lebih dalam karakter kemandirian belajar dan pentingnya belajar secara mandiri.

Kemampuan apresiasi prosa fiksi siswa kelas III SMP Nergeri Lumajang / Mistur Haris Sutikno

 

Penerapan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas V SDN Brambang Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan / Khuriyatul Aisyiyah

 

Kata Kunci : Kontekstual, Hasil Belajar, IPA IPA merupakan Ilmu Pengetahuan yang berisi konsep-konsep yang berhubungan dengan alam sebagai hasil eksperimen/percobaan dan observasi. Bertdasarkan pengamatan di SDN Brambang, kurang berhasilnya pembelajarana IPA disebabkan guru kurang melibatkan siswa dalam pembelajaran, sehingga siswa kurang aktif dan tidak termotivasi untuk belajar. Dari SKM 70 Terbukti dari hasil tes yang dilakukan, diperoleh rata-rata nilai kelas 54,82, dari 28 siswa ada 20 siswa yang nilainya di bawah SKM, dan 8 siswa yang sudah sesuai/ di atas SKM. Untuk mengatasi hal tersebut salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung. Penelitian ini mengguanakan model kontekstual dimana model kontekstual tersebuat merupakan model pembelajaran yang membuat siswa menghubungkan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat, sehingga diharapkan, apa yang didapat siswa lebih bertahan lama dan siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan penerapan pembelajaran kontekstual mata pelajaran IPA siswa kelas V, (2) mendeskripsikan aktivitas belajar siswa, (3) peningkatan hasil belajar siswa, subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas V SDN Brambang Kecamatan Gondangwetan Kabupaten Pasuruan, sebanyak 23 siswa. Sedang Instrumen yang digunakan adalah dokumentasi. Lembar Observasi dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan pembelajaran IPA kelas V SDN Brambang. Hal ini terjadi karena guru telah melakukan pembelajaran sesuai dengan langkah-langkah konteksttual yang ada. Untuk aktivitas siswa pada siklus I menunjukkan nilai rata-rata 36,08 sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 71,52 nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat mulai pada pra tindakan 54,82 Siklus I 67,50 dan Siklus II 77,63 Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah (1) penerapan pembelajaran kontekstual telah dilaksanakan, (2) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, (3) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada guru kelas V SDN Brambang agar menerapkan pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran IPA sehingga pembelajaran yang dilaksankan melibatkan aktivitas siswa secara penuh baik fisik maupun mental.

Starting direct online pada motor tiga fasa berbasis mikrokontroler AT89S51 pada berbagai pengoperasian / Abid Arif

 

Keywords: Starting Direct Online, switches. Machines that are in many factories use large power induction motors and small. with still a lot of manual operation, but by using the control with the microcontroller does not need to use a lot of places, more simple, and inexpensive. In the motor starting phase of the Starting Direct Online and microcontroller as early switch will be safer for the operator because of the power used power volt DC (Direct Current) and more cost effective for the operation. The working principle of this device starts from the presses of the switch are available on the keypad, there will be an input to activate the logic gates in the form of programs and has been loaded into ICAT89S51 which functioned as a brain to drive the motor driver, so the motor will operate in accordance with the needs of the plant. From the test results and discussion "Starting Direct Online At Motor Three Phase AT89S51 Microcontroller-Based On Various Operation" Starting Online Direct who successfully designed a criteria of electricity in Indonesia, because it can be operated with dc voltage of V = 4.2 VDC to 5 VDC and f = 50 Hz and has been successfully tested in phase 3Φ ½ hp motor, equivalent to 372 W. This tool is also equipped with LED lights as a motor indicator lights work. Starting Direct Online is installed after the MCB (miniature circuit breaker) which is connected to the A1-A2 contactor. Starting Online Direct microcontroller mounted to make it more practical, safe, efficient, and more simple.

Penerapan pembelajaran dengan media pohon matematika untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika pada materi operasi hitung campuran bilangan bulat siswa kelas V SDN Ploso I Kabupaten Pacitan / Sherly Candra Dewi

 

Kata kunci: media, pohon matematika, motivasi belajar, prestasi belajar Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di SDN Ploso I Pacitan, diketahui bahwa pembelajaran masih berpusat pada guru, siswa cenderung pasif, gaduh dan tidak berkonsentrasi terhadap penjelasan yang diberikan guru. Hal ini berakibat sebagian siswa kesulitan dalam memahami konsep matematika. Selain itu diperoleh data pada materi sebelumnya bahwa prestasi belajar matematika siswa tergolong rendah, karena hanya 45 % dari 35 siswa yang tuntas belajar. Untuk itu perlu diterapkan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, menarik, dan mampu mengkonstruksi pengetahuannya. Alternatif pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa diantaranya dengan menggunakan media pohon matematika. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Ploso I Pacitan, dengan subjek siswa kelas VA yang berjumlah 35 siswa. Materi yang diajarkan operasi hitung campuran bilangan bulat. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan. Teknik pengumpulan data menggunakan angket motivasi belajar, lembar observasi motivasi belajar siswa, dan tes. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran dengan media pohon matematika yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika. Pembelajaran dengan media matematika terdiri dari 4 langkah, yaitu 1) penyajian materi, 2) latihan mengajukan soal, 3) merancang pohon matematika, dan 4) evaluasi. Merancang pohon matematika dilakukan secara berkelompok sehingga siswa berdiskusi dalam menumbuhkan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi dan prestasi belajar siswa meningkat dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan angket motivasi sebelum tindakan, persentase skor klasikal adalah 74,60% meningkat menjadi 77,58% pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 79,88%. Berdasarkan lembar observasi motivasi belajar matematika, pada siklus I persentase keberhasilan motivasi adalah 75,32% meningkat menjadi 84,66% pada siklus II. Sedangkan persentase ketuntasan belajar siswa berdasar tes awal sebelum tindakan adalah 51,43% dengan nilai rata-rata tes 75,37 meningkat menjadi 84,29% dengan nilai rata-rata tes 82,86 pada siklus I dan pada siklus II meningkat menjadi 97,14% dengan nilai rata-rata tes 84,29. Sehingga siswa kelas VA SDN Ploso I Pacitan dapat dikatakan tuntas belajar secara klasikal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan media pohon matematika dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa kelas VA SDN Ploso I Pacitan.

Pengembangan perangkat pembelajaran kolaboratif dengan asesmen portofolio pada mata pelajaran bahasa Indonesia (kesustraan) di sekolah menengah atas / Moh. Saifudin

 

Hubungan self efficacy dan kematangan dalam memilih karier siswa akselerasi di Madrasah Aliyah Negeri Malang I / Septikasari

 

Kata Kunci: Self Efficacy, Kematangan dalam Memilih Karier Penelitian Osipow yang menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi adanya kebingungan dan keragu-raguan ialah tidak adanya struktur kognitif siswa terhadap masalah karier. Tidak adanya struktur kognitif siswa terhadap masalah karier menyebabkan adanya kecenderungan untuk memilih pekerjaan yang bergengsi, terhormat, gaji besar, pekerjaan yang ringan, meskipun tidak sesuai dengan keadaan diri maupun lingkungan. Selain itu ada pula siswa yang belum mandiri dalam memilih karier. Mereka hanya mengikuti keinginan orang tua meskipun tidak sesuai dengan minat dan kompetensinya. Ketidakmandirian ini menunjukkan bahwa siswa dalam memilih karier tidak realistis dan belum matang karier. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui gambaran self efficacy yang dimiliki siswa akselerasi di MAN Malang I, (2) mengetahui gambaran kematangan dalam memilih karier yang dimiliki siswa akselerasi di MAN Malang I, dan (3) mengetahui bentuk hubungan antara self efficacy dengan kematangan karier siswa akselerasi di MAN Malang I. Ditinjau dari tujuan dan sifat penelitian, maka penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif korelasional. Karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang variabel yang diteliti dan bersifat korelasi. Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa akselerasi di MAN Malang I. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan berupa skala self efficacy dan skala kematangan karier. Data dianalisis menggunakan teknik persentase dan uji regresi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa: (1) Sebesar 68,57 % siswa akselerasi di MAN Malang I memiliki self efficacy yang sedang, (2) Sebesar 65,71% siswa akselerasi di MAN Malang I memiliki kematangan karier yang sedang dan (3) Ada hubungan positif yang signifikan antara self efficacy dengan kematangan karier. Sebesar 63,0 % perubahan kematangan karier disebabkan oleh perubahan self efficacy dan sisanya 37,0 % disebabkan oleh faktor di luar perubahan self efficacy. Saran yang diajukan berdasarkan hasil penelitian adalah: (1) mengingat sumbangan self efficacy sebesar 63 % terhadap kematangan karier, maka konselor mengadakan bimbingan kelompok bagi siswa akselerasi yang memiliki self efficacy yang tinggi. Sedangkan siswa yang mempunyai self efficacy rendah dan sedang, konselor memberikan konseling kelompok, (2) Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa akselerasi di MAN Malang I memiliki kematangan karier sedang. Tetapi konselor diharapkan mengadakan konseling karier bagi siswa yang memiliki kematangan karier rendah dan sedang. Dan bagi siswa yang memiliki kematangan karier yang tinggi, konselor mengadakan bimbingan karier, (3) Sumbangan self efficacy yang besar terhadap kematangan karier, seharusnya diimbangi dengan diperkuatnya prestasi belajar, persuasi sosial dan past experience dan (4) Pada penelitian lebih lanjut, disarankan pengambilan populasi dilakukan lebih luas agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan ke seluruh populasi yaitu seluruh siswa akselerasi.

Pola pemberian penguatan (reinforcement) dalam pelaksanaan pembelajaran PKn di SMP Negeri 5 Malang / Ratna Baktiani

 

Kata Kunci : Penguatan (Reinforcement), Pembelajaran PKn. Penggunaan penguatan (reinforcement) di dalam pembelajaran dapat mempunyai pengaruh perilaku positif terhadap proses pembelajaran siswa dan bertujuan untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, merangsang, dan meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku dan siswa yang produktif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Perilaku siswa yang diberi penguatan (reinforcement) oleh guru PKn di SMP Negeri 5 Malang, (2) bentuk penguatan (reinforcement) yang diberikan oleh guru PKn di SMP Negeri 5 Malang, (3) cara pemberian penguatan (reinforcement) yang diberikan oleh guru PKn di SMP Negeri 5 Malang, (4) dampak pemberian penguatan (reinforcement) bagi siswa di SMP Negeri 5 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi kasus. Subjek penelitian adalah guru PKn dan siswa kelas VII dan VIII. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 5 Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Perilaku siswa yang diberi penguatan (reinforcement) oleh guru PKn di SMP Negeri 5 Malang adalah beberapa perilaku yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran PKn yang berlangsung di kelas. Perilaku positif yang diberi penguatan antara lain: (a) menjawab pertanyaan, (b) siap mengikuti ulangan, (c) tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, (d) memberikan pendapat terkait materi pelajaran, dan (e) mendapat nilai baik. Sedangkan perilaku negatif yaitu ramai pada saat guru memberikan materi, terlambat mengumpulkan tugas dan mendapat nilai ulangan di bawah rata-rata. (2) Bentuk penguatan (reinforcement) yang digunakan oleh guru PKn di SMP Negeri 5 Malang adalah bentuk penguatan verbal dan nonverbal. Bentuk penguatan verbal yang digunakan antara lain: (a) kata-kata pujian yaitu “pintar”, “benar”, “bagus”, “tepat”, “pendapat yang bagus” dan kata pujian “kerjamu bagus, tapi masih perlu diperbaiki lagi”, (b) tambahan nilai, dan (c) memberi semangat. Bentuk penguatan nonverbal yaitu berupa: (a) pandangan langsung kepada siswa, dan (b) mendekati siswa dengan menepuk pundak siswa. Bentuk penguatan verbal adalah bentuk yang paling sering digunakan oleh guru. Ketika guru memberikan penguatan nonverbal biasanya bersamaan dengan penggunaan penguatan verbal. (3) Cara pemberian penguatan (reinforcement) yang dilakukan oleh guru di SMP Negeri 5 Malang adalah langsung diberikan pada saat perilaku siswa tampak sehingga pemberian penguatan (reinforcement) tersebut tidak ditunda-tunda. Guru mengungkapkan jika pemberian penguatan dilakukan secara langsung maka akan berdampak yang signifikan bagi siswa. Cara pemberian penguatan (reinforcement) yang diberikan guru PKn di SMP Negeri 5 Malang ada 2 cara antara lain: (a) langsung diberikan kepada siswa yang bersangkutan dan (b) langsung diberikan kepada kelompok. (4) Dampak pemberian penguatan (reinforcement) di SMP Negeri 5 Malang sangat terlihat. Dampak pemberian penguatan (reinforcement) tersebut antara lain: siswa merasa (a) senang, (b) bergairah mengikuti pelajaran, dan (c) dampak berantai/ siswa lain ikut termotivasi dengan mengikuti perbuatan baik yang diberi penguatan (reinforcement) dan meninggalkan perbuatan yang kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang diberikan antara lain: (1) Guru harus menggunakan penguatan (reinforcement) secara bervariasi dalam pemberian penguatan baik penguatan secara verbal dan nonverbal dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa tidak merasa bosan dan jenuh dengan pola penguatan yang tetap, (2) Guru juga harus bersikap hangat dan antusias pada saat memberikan penguatan sehingga siswa dapat lebih merasa dihargai, (3) Guru harus melakukan pengaturan waktu pemberian penguatan yang lebih efisien oleh guru sehingga tidak selalu setiap saat guru banyak memberikan penguatan (reinforcement), (4) Sekolah perlu juga untuk memfasilitasi dalam mendukung guru memberikan penguatan (reinforcement) kepada siswa sehingga siswa merasa lebih diperhatikan dan lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

Peningkatan keterampilan menulis melalui teknik pembelajaran menulis terpimpin di kelas V MI. Miftahul Ulum Grogol Gondangwetan Pasuruan / Khilmiyatur Rokhman

 

Kata kunci : Menulis , Gambar Seri, Bahasa Indonesia SD. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang termuat dalam empat komponen keterampilan berbahasa di SD/MI. Menulis adalah menuangkan ide atau gagasan kedalam bentuk tulisan. Terdapat banyak strategi, media belajar dan pendekatan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran menulis. Materi keterampilan menulis yang diajarkan di SD kelas tinggi yaitu menulis puisi, menulis laporan, menulis surat dan, menulis karangan. Media belajar yang dapat dimanfaatkan dalam menulis antara lain gambar seri .Gambar seri yang disajikan dipilih berdasarkan tema yang telah disepakati bersama antara guru dan siswa. Setiap gambar seri yang disajikan memuat satu pikiran pokok yang nantinya dijadikan kerangka karangan. Kemudian kerangka karangan tersebut dikembangkan menjadi beberapa paragraf. Penelitian ini dilakukan di MI. Miftahul Ulum Grogol Gondangwetan Pasuruan. Tanggal 12 April- 15 Mei 2010. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif berupa PTK. Data yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam menulis adalah skor yang diperoleh siswa pada lima tahap menulis yang telah dilaksanakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik pembelajaran menulis terpimpin dengan media gambar seri dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis karangan. Pada tahap pra tindakan ketuntasan hasil belajar siswa ada pada 43%, siklus I mengalami peningkatan menjadi 62,8%. Siklus II meningkat menjadi 72,3% dan pada siklus III telah mengalami peningkatan menjadi 89%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya cara mengatasi rendahnya minat siswa dalam menulis karangan, penerapan teknik atau pendekatan menulis lain untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis.

Penerapan permainan bendera untuk meningkatkan kemampuan kognitif pada anak kelompok B di RA Miftahul Huda I Kenep Beji-Pasuruan / Juairiyah

 

Kata kunci : permainan bendera, kognitif, PAUD. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Oleh sebab itu, pembelajaran di taman kanak-kanak hendaknya tidak terlepas dari permainan. Bermain juga merupakan tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak TK. Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, bahasa, emosi, sosial. Dengan demikian anak memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukainya. Bereksperimen memecahkan masalah dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan penerapan permainan bendera untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak dan mendiskripsikan pengembangan kemampuan kognitif dengan cara penerapan bermain bendera. Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif berbentuk penelitian tindakan kelas dan dirancang dua siklus masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B RA Miftahul Huda I Kenep Beji Pasuruan yang berjumlah 20 anak. Pengumpulan data diperoleh melalui lembar observasi aktivitas anak selama proses pembelajaran dan dokumentasi berupa foto. Hasil penelitian menunjukkan belum dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak, pada siklus I rata-rata mendapat 2 bintang, pada siklus II meningkat menjadi rata-rata anak mendapat 3 bintang . Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah : (1) penerapan permainan bendera dalam meningkatkan kemampuan kognitif adalah suatu permainan dengan menggunakan media bendera yang diterapkan di RA Miftahul Huda I Kenep Beji Pasuruan untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak, (2) penerapan permainan bendera dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru RA dapat menerapkan permainan bendera untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak dan bagi peneliti yang lain dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam pengembangan penelitian berikutnya.

Pengembangan kemampuan berbicara bahasa Indonesia melalui permainan puzzle pada anak kelompok A di RA. Hasan Munadi I Beji Pasuruan / Imanunah

 

Kata Kunci: Berbicara, Bahasa, Permaian, Puzzle Pembelajaran di TK dan dan kelompok bermain bersifat aktif dan menyenangkan. Metode bermain dan metode pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi, tetapi berbagai kekeliruan perlakuan muncul di lapangan yang mempengaruhi perkembangan anak, diantaranya (1) proses – proses pembelajaran yang cenderung diarahkan pada penguasaan pembelajaran tertentu, (2) kemampuan yang bersifat akademik. Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan pengembangan kemampuan berbicara bahasa Indonesia melalui permainan puzzle dalam mengembangkan kemapuan bahasa anak dan mendiskripsikan pengembangan kemampuan berbahasa melalui permainan puzzle. Pengembangan ini dilakukan di RA. Hasan Munadi I Beji Pasuruan pada tanggal 12 – 13 November 2010. Pengembangan yang digunakan adalah penilitian tindakan kelas. Penilitian dilakukan II siklus, yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi, subyek penelitian. Pada penelitian teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi yaitu berupa catatan lapangan dan pedoman penelitian. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji pada hipotesis tindakan yaitu dengan menggunakan nilai rata – rata siklus I dan siklus II juga data kualitatif. Hasil penelitian dan perkembangan berbicara melalui permainan puzzle terdapat peningkatan yang signifikan. Pada siklus I diperoleh hasil rata – rata dari hasil observasi belajar anak 52,9%, sedangkan pada siklus II mencapai 83,1%. Sehingga ini dapat mengembangkan kemampuan berbicara bahasa Indonesia kelompok A di RA, Hasan Munadi I Beji Pasuruan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lanjut dan dapat dijadikan sumbangsih atau pengembangan hasanah sebagai kajian teoritis.

Perubahan sosial masyarakat desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu (1970-2009) / Irma Nur Aini Ulfa

 

Kata Kunci : perubahan sosial, kelompok masyarakat, masyarakat Desa Punten Desa Punten Kota Batu mempunyai tradisi selamatan desa yang dilakukan setiap tahun untuk menghormati para leluhurnya. Tetapi selamatan ini mengalami perubahan yang disebabkan oleh perubahan masyarakatnya dalam memandang tradisi selamatan desa. Perbedaan pendapat ini juga menyebabkan timbulnya kelompok-kelompok masyarakat di Desa Punten. Perubahan sosial adalah proses yang meliputi bentuk keseluruhan dari aspek kehidupan masyarakat. Masyarakat desa maupun kota pasti akan mengalami perubahan-perubahan dari segi ekonomi, politik, budaya maupun sosial. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan berasal dari faktor luar dan dalam masyarakat itu sendiri. Perubahan sosial masyarakat desa Punten disebabkan oleh pengaruh dari luar desa juga dari dalam masyarakat itu sendiri. Dalam penelitian ini dirumuskan 2 permasalahan. Pertama, penyebab dari perubahan sosial masyarakat desa Punten tahun 1970-2009? Kedua, dampak dari perubahan sosial yang terjadi di desa Punten tahun 1970-2009? Penelitian ini dilakukan di desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu tanggal 17 Maret 2010-21 April 2010. Peneliti menggunakan metode sejarah yaitu, pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial yang terjadi pada Desa Punten dimulai pada tahun 1970 dan berakhir pada tahun 2009. Hal ini disebabkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat. Ada tiga kelompok besar yaitu kelompok agamis (Muhammadiyah) adalah kelompok yang tidak setuju dengan adanya selamatan bersih desa. Kelompok budaya (kejawen dan Sumarah) adalah kelompok yang sangat mendukung acara selamatan bersih desa. Dan kelompok campuran (NU dan Wahidiyah) adalah kelompok yang memadukan unsur budaya dengan unsur agama. Masing-masing kelompok memiliki permasalahan yang berbeda-beda, tetapi masalah pokok dari ketiga kelompok ini mengenai persepsi upacara adat Desa Punten. Ketiga kelompok ini menyatu ketika kelompok-kelompok ini menghadapi tantangan masalah baru yaitu kristenisasi. Karena kedatangan agama Kristen di Desa Punten telah mengganggu eksistensi agama Islam di Desa Punten. Selain itu, pembangunan gereja di Desa Punten tidak memiliki ijin dari pemerintah. Saran untuk penelitian berikutnya supaya lebih mendalami permasalahan yang terjadi antar kelompok tersebut dan mencari faktor lain yang menyebabkan perubahan sosial masyarakat desa Punten.

Kepemimpinan oreng beddhel di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep (1999-2009) / Chandra Enggar Pramita

 

Kata Kunci : kepemimpinan, oreng beddhel, Desa Legung Timur Pemimpin adalah sosok yang paling dominan dalam suatu kelompok. Sosok seorang pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi kelompok yang dipimpinnya. Oleh karena itu, kepemimpinan yang baik sangat diperlukan demi membawa kelompok yang dipimpinnya itu mendapatkan keberhasilan seperti yang diharapkan. Salah satu kelompok orang yang memerlukan seorang pemimpin adalah masyarakat desa. Pemimpin ditingkat pedesaan adalah Kepala Desa. Seorang Kepala Desa, harus mampu memenuhi harapan-harapan masyarakat untuk memajukan desanya. Dari observasi yang dilakukan di Desa Legung Timur, yang juga dikenal sebagai tempat asal kehidupan manusia pasir, bahwa kepemimpinan oreng beddhel dapat mengangkat nama orang-orang yang tergabung didalamnya, sehingga penilaian masyarakat Desa Legung Timur tidak selalu buruk kepada sosok oreng beddhel dan dapat menilai seseorang melalui kinerja yang dilakukan selama masa kepemimpinannya itu. Alasan lain dipilihnya penelitian ini adalah karena kedekatan emosional dan di Desa Legung Timur belum ada yang mengangkat sosok kepemimpinan Kepala Desa yang berasal dari golongan oreng beddhel sehingga peneliti memilih topik ini. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti mengambil rumusan masalah: (1) Bagaimana sejarah keberadaan manusia pasir Legung Timur? (2) Bagaimana kepemimpinan oreng beddhel di Desa Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep tahun 1999-2009? Latar belakang Kepala Desa Legung Timur yang berasal dari kalangan preman, dalam istilah masyarakat Legung Timur disebut oreng beddhel menarik untuk diteliti. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan sejarah keberadaan manusia pasir yang diketahui orang-orang cukup aneh selama ini serta menganalisi kepemimpinan Kepala Desa di Legung Timur selama tahun 1999-2009 yang sama-sama berasal dari golongan oreng beddhel. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi dokumen, observasi dan wawancara. Data wawancara diperoleh melalui wawancara tokoh-tokoh setempat, data dikumpulkan secara sistematis agar pemahaman masyarakat tentang fenomena sosial yang terjadi diamati dengan menggunakan fenomena sosial itu sendiri dan menghasilkan data secara lisan atau tertulis dari orang-orang dan perilaku dan penulisannya dituangkan dalam bentuk sejarah lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Legung Timur dengan keseharian yang dikenal sebagai manusia pasir mempunyai sosok pemimpin yang berasal dari kalangan oreng beddhel. Selama proses pemilihan Kepala Desa hingga masa kepemimpinannya menimbulkan penilaian baik dan buruk dari masyarakat desa Legung Timur. Ada yang menanggapi positif dan ada yang tidak, ada yang mendukung dan ada pula yang menjatuhkan. Ada yang lebih cenderung pada kepemimpinan Pak Juanda dan ada yang mendukung kepemimpinan Pak Maskam. Dari setiap konflik yang dialami masyarakat Legung Timur, peranan Kepala Desa cukup baik. Dalam sistem pemilihan Kepala Desa tahun 2006 sudah tidak lagi menganut sistem kekerabatan. Setelah tahun 2006 sistem pemilihan langsung mulai digunakan, para elit desa yang menjadi perangkat desa masih anggota keluarga dan teman-teman dekat Kepala Desa yang menjabat. Dari penulisan ini dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan oreng beddhel di Desa Legung Timur ini tidak selalu memberikan hasil yang baik untuk warganya, masih ada juga warga yang merasa tidak cocok dan kecewa dengan kepemimpinan oreng beddhel. Masyarakat dan Kepala Desa dalam menyikapi suatu konflik atau dalam kinerja yang kurang maksimal. Namun di satu sisi ada juga mereka yang tetap mendukung kinerja kepemimpinan oreng beddhel. Dengan penelitian ini, disarankan dapat memberikan semangat baru untuk Kepala Desa dan perangkat desa terkait agar dalam melayani serta memimpin desa dengan baik dan mereka bisa lebih terbuka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penggunaan metode karya wisata dalam meningkatkan kecerdasan naturalis pada kelompok B di RA. Tarbiyatus Shibyan Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan / Khamidah

 

Kata kunci: Metode Karyawisata, Kecerdasan naturalis, PAUD Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dikelompok B di RA Tarbiyatus Shibyan di Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan, terdapat rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimanakah penerapan metode karyawisata dalam meningkatkan kecerdasan naturalis anak B di RA Tarbiyatus Shibyan di Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan,2) Apakah penerapan metode karyawisata dalam meningkatkan kecerdasan naturalis anak B di RA Tarbiyatus Shibyan di Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) Mendeskripsikan penerapan metode karyawisata untuk meningkatkan kecerdasan naturalis anak kelompok B di RA Tarbiyatus Shibyan Baujeng Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan.2) Mendeskripsikan peningkatan kecerdasan naturalis dengan penerapan metode karyawisata pada anak kelompok B di RA Tarbiyatus Shibyan Baujeng Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kuantitatif berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan dirancang dalam dua siklus. Masing-masing terdiri dari empat tahapan yaitu perncanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B di RA Tarbiyatus Shibyan di Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan. Yang berjumlah 20 anak. Metode pengumpulan data diperoleh dengan cara observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian mnunjukkan bahwa metode karyawisata dapat meningkatkan kecerdasan naturalis anak kelompok B. Berdasarkan lembar observasi pada siklus satu adalah dengan empat anak mendapat nilai bintang satu dan 15 nilai bintang dua dan satu anak mendapat nilai bintang tiga. Pada siklus II meningkat menjadi enam anak mendapat nilai bintang empat dan 14 anak mendapat nilai bintang tiga. Berdasarkan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode karyawisata dapat meningkatkan kecerdasan naturalis anak. Pada siklus 1 skor bintang tiga adalah satu anak, nilai bintang dua adalah 15 anak dan nilai bintang satu adalah empat anak. Pada siklus II mengalami peningkatan dengan hasil nilai bintang empat ada enam anak dan bintang tiga 14 anak. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat mengembagkan metode karyawisata untuk meningkatkan kecerdasan naturalis anak. Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah hendaknya lebih di variatif lagi agar anak lebig bersemangat.

Pemanfaatan media permainan monopoli untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas 3 MI Sabilunnajah Pasrepan / Nur Fauzia

 

Kata Kunci: Permainan Monopoli, Hasil Belajar. Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional khususnya dalam kegiatan pengajaran. Selama ini pengajaran IPS pun di sekolah cenderung konvensional bersifat hafalan penuh dengan teori linguistik yang rumit, lebih sering menyalin dari papan tulis, buku paket sebagai buku wajib, serta guru yang cenderung menggunakan metode ceramah. Pola semacam itu hanya membuat siswa merasa jenuh untuk belajar IPS. Dengan demikian penelitian ini dilakukan untuk (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPS di kelas 3 MI Sabilun Najah Pasrepan dengan memanfaatkan media permainan monopoli; (2) mendeskripsikan pemanfaatan media pembelajaran permainan monopoli untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas 3 MI Sabilunnajah Pasrepan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Jenis penelitian ini adalah PTK, terdiri dari 2 siklus dimulai dari tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian ini yaitu siswa kelas 3 MI Sabilunnajah Pasrepan-Pasuruan semester 1 tahun ajaran 2010/2011. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 1) observasi, 2) tes, 3) Wawancara, 4) dokumentasi. Penelitian ini dilakukan secara bersiklus. Tiap Siklus dilakukan dalam dua kali pertemuan. Siklus I dilaksanakan pada tanggal 13 dan 15 Nopember 2010. Siklus II dilaksanakan pada tanggal 20 dan 22 Nopember 2010. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pada siklus I prosentase rata-rata kelas meningkat menjadi 64,28 dengan tingkat ketuntasan mencapai 50% dan ketidaktuntasan mencapai 50 %. Pada siklus II prossentase rata- rata kelas meningkat menjadi 77,85 dengan tingkat ketuntasan mencapai 78,57% dan ketidaktuntasan mencapai 21.43% dari 14 siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan memanfaatkan media permainan monopoli mengalami keberhasilan. Dari penelitian ini diharapkan agar guru dapat menggunakan media permainan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Bagi peneliti lain apabila menggunakan media ini diharapkan untuk menambah referensi dalam pembelajaran IPS yang menarik dan menyenangkan bagi siswa.

Peningkatan ketrampilan berbicara melalui pembelajaran dramatisasi kreatif pada siswa kelas V SDN Menyarik Kecamatan Winongan Kabupaten Pasuruan / Dwi Budiarti

 

Kata Kunci: Ketrampilan Berbicara, Pembelajaran Dramatisasi Kreatif. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah diarahkan pada empat aspek keterampilan, yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Salah satu aspek yang penting adalah aspek berbicara. Dengan keterampilan berbicara siswa akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan secara lisan dalam konteks dan situasi pada saat mereka sedang berbicara. Untuk meningkatkan keterampilan berbicara, perlu adanya pembelajaran yang sesuai, salah satunya adalah pembelajaran dramatisasi kreatif. Dengan pembelajaran dramatisasi kreatif diharapkan hasil ketrampilan berbicara siswa menjadi meningkat dan lebih baik. Hasil observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas ketrampilan berbicara di SDN Menyarik adalah 3,2 atau mencapai nilai 62 jauh dari rata-rata kelas 75. Rendahnya nilai siswa disebabkan oleh guru jarang menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendiskripsikan penerapan dramatisasi kreatif dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas V SDN Menyarik Winongan Pasuruan, (2) Mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas V SDN Menyarik Winongan Pasuruan melalui strategi pembelajaran dramatisasi kreatif. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pada penelitian ini penekanannya adalah pembelajaran dramatisasi kreatif untuk meningkatkan ketrampilan berbicara. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas V SDN Menyarik Winongan Pasuruan sebanyak 25 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan hasil pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan diskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdapat empat komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran dramatisasi kreatif dapat meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SDN Menyarik Winongan Pasuruan. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata ketrampilan berbicara mulai pra tindakan 3,2 atau dengan nilai 62, meningkat pada siklus I menjadi 3,9 dengan nilai 72, dan meningkat lagi pada siklus II menjadi 4,6 dengan nilai 79. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, maka peneliti menyimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dramatisasi kreatif, dapat meningkatkan ketrampilan berbicara siswa kelas V SDN Menyarik Winongan Pasuruan. Untuk itu peneliti menyarankan kepada guru untuk menerapkan pembelajaran yang bervariasi dan sesuai dengan materi untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal sesuai dengan yang diinginkan.

Pengaruh metode student teams achievement division (STAD) dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar bidang studi sistem pemindah tenaga / Yeni Ratih Pratiwi

 

Kata kunci : STAD, Motivasi Berprestasi, Sistem Pemindah Tenaga Sistem pemindah tenaga sebagai salah satu bidang studi di SMK yang menuntut siswa untuk berpikir rasional yang dibutuhkan dalam jurusan teknik kendaraan ringan dan sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, belakangan ditemui hasil belajar bidang studi sistem pemindah tenaga yang tidak memenuhi SKM (Standar Ketuntasan Minimal). Tidak terpenuhinya standart ketuntasan minimal dari bidang studi ssitem pemindah tenaga ini tidak terlepas dari motivasi berprestasi yang dimiliki siswa dalam belajar, kemampuan siswa untuk menerima pelajaran dan kemampuan guru mengelola dan menggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran. Salah satu solusi pemecahan tersebut adalah melalui metode pembelajaran yang tepat antara lain dengan pembelajaran STAD (Students Teams Achievement Division). Penelitian ini bertujuan untuk menguji (1) keefektifan dua metode pembelajaran (pembelajaran STAD dan pembelajaran konvensional), (2) ada tidaknya perbedaan motivasi berprestasi siswa yang terdiri dari motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah, (3) ada tidaknya interaksi antara penerapan metode pembelajaran (pembelajaran STAD dan pembelajaran konvensional) dengan tingkat motivasi berprestasi (tinggi dan rendah). Tujuan-tujuan tersebut diatas dicapai dengan melakukan penyusunan rancangan pembelajaran, perangkat pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, serta melakukan penelitian. Rancangan pembelajaran dikembangkan. Dengan perangkat pembelajaran berupa LKS dan tes formatifnya. Penelitian dilakukan dengan menerapkan pembelajaran STAD dan pembelajaran konvensional dengan menggunakan rancangan penelitian quasy exsperiment (eksperimen semu) faktorial 2 x 2 populasi penelitian adalah SMKN 12 Malang. Sampel penelitian ditetapkan dengan teknik acak (undi). Penetapan kelompok subjek dilakukan secara random assignment to groups (Campbell and Stanley dalam Mukhadis, 2003). Subjek penelitian adalah siswa kelas XII sebanyak 2 kelas, satu kelas dengan pembelajaran STAD dan satu kelas dengan pembelajaran konvensional Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar dan self inventory motivasi berprestasi. Tes hasil belajar terdiri dari 15 butir soal dengan indeks validitas butir bergerak dari r = 0,057 s.d 0,654 dengan indeks korelasi alpha (α = 0,706). Angket motivasi berprestasi terdiri dari 20 butir pertanyaan dengan indeks validitas butir bergerak dari r = 0,489 s.d 0,829 dengan indeks korelasi alpha (α = 0,941). Teknik analisis data dilakukan dengan analisis diskriptif dan statistik Anova faktorial 2 x 2. Uji Anova menggunakan SPSS 15 for windows. Pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 5 % . Hasil analisis data dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa: nilai signifikansi untuk metode diperoleh 0,004, nilai signifikansi untuk motivasi 0,000, dan nilai signifikansi untuk metode*motivasi 0,038. Hal ini dapat diinterpretasikan, pertama ada perbedaan hasil belajar bidang studi sistem pemindah tenaga antara kelompok siswa yang diberi perlakuan menggunakan metode pembelajaran STAD dan kelompok siswa yang diberi perlakuan menggunakan metode pembelajaran konvensional. Kedua ada perbedaan hasil belajar bidang studi sistem pemindah tenaga antara kelompok siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan kelompok siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah. Dan ketiga ada interaksi antara metode pembelajaran STAD dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar bidang studi sistem pemindah tenaga. Berdasarkan uji scheffe untuk melihat keunggulan dari tiap kelompok diperoleh hasil kelompok yang signifikan adalah kelompok P2B2 atau kelompok yang diberi perlakuan menggunakan metode pembelajaran STAD dan memiliki motivasi berprestasi tinggi. Dari deskripsi umum hasil penelitan, pengujian hipotesis, dan pembahasan, didapat kesimpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, keunggulan metode pembelajaran STAD terhadap metode pembelajaran konvensional dalam hasil belajar bidang studi sistem pemindah tenaga ditentukan oleh kondisi motivasi berprestasi siswa. Hasil belajar dalam kelompok STAD lebih unggul daripada kelompok konvensional hanya pada motivasi berprestasi tinggi. Pada motivasi berprestasi rendah metode pembelajaran STAD terhadap metode pembelajaran konvensional hasil belajar siswa tidak lebih unggul. Kedua, keunggulan motivasi berprestasi tinggi terhadap motivasi berprestasi rendah dalam hasil belajar bidang studi sistem pemindah tenaga ditentukan oleh jenis metode pembelajaran. Hasil belajar dalam kelompok siswa yang bermotivasi tinggi lebih unggul daripada yang bermotivasi rendah hanya pada jenis metode pembelajaran STAD, pada metode pembelajaran konvensional motivasi berprestasi tinggi tidak lebih unggul daripada motivasi berprestasi rendah.

Penerapan pendekatan pakem untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas VI SDN Watukosek Gempol Pasuruan / Danang Fatkhur Rohman

 

Kata kunci: Pendekatan PAKEM, Pembelajaran IPA, Hasil Belajar. Pendekatan PAKEM merupakan salah satu pendekatan yang memberikan suasana belajar aktif berpengalaman kepada peserta didik sehingga materi yang dipelajari dapat dipahami peserta didik, serta dapat meningkatkan hasil belajar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Bedasarkan fakta dilapangan bahwa hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam peserta didik masih belum mencapai Standard Ketuntasan Belajar Mengajar (SKBM) dengan materi pokok Konduktor dan Isolator Panas. Hal ini dibuktika oleh guru kelas dengan menunjukkan dokumen nilai hasil ulangan harian (ke-3) tentang materi konduktor dan isolator panas menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh peserta didik kelas VI adalah 68.14. Tujuan penelitian ini adalah, (1) Untuk mendiskripsikan penerapan pendekatan PAKEM pada pembelajaran IPA di kelas VI SDN Watukosek Gempol Pasuruan tentang materi konduktor dan isolator panas. (2) Untuk mendiskripsikan aktivitas peserta didik kelas VI SDN Watukosek Gempol Pasuruan dalam pembelajaran IPA tentang materi konduktor dan islator panas dengan menggunakan pendekatan PAKEM. (3) Untuk mendiskripsikan penerapan pendekatan PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik Kelas VI SDN Watukosek Gempol Pasuruan dalam pembelajaran IPA tentang materi konduktor dan isolator panas. Jenis dan pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan bersifat kolaborasi partisipatorik. Sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VI SDN Watukosek yang berjumlah 28 peserta didik. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, tes, wawancara dan dokumentasi. Analisis data adalah teknik deskriptif kualitatif. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan dua pertemuan pada setiap siklusnya, yang melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa penerapan pembelajaran pendekatan PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar serta aktivitas belajar peserta didik. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil belajar peserta didik dengan rata-rata pre tes 53.92, siklus I pertemuan 1 dengan nilai rata-rata 61.25, dan siklus I pertemuan 2 dengan nilai rata-rata 66.03 sedangkan ketuntasan belajar menurut SKBM di SDN Watukosek 70, hasil belajar peserta didik pada siklus 1 pertemuan 1 dan siklus I pertemuan 2 dinyatakan belum tuntas, akan dilakukan perbaikkan pada siklus II. Pada siklus II pertemuan 1 perolehan hasil belajar peserta didik dengan nilai rata-rata 69.46 dan siklus II pertemuan 2 dengan nilai rata-rata 78.21, keberhasilan klasikal peserta didik telah mencapai 78.5% atau 22 dari 28 peserta didik telah mencapai SKBM yang telah ditentukan di SDN Watukosek Gempol Pasuruan yakni 70. peningkatan ini juga disertai dengan peningkatan aktivitas peserta didik dengan rata-rata siklus I pertemuan 1 = 54.8 dan siklus I pertemuan 2 = 63.6 sedangkan siklus II pertemuan 1 = 67.1 dan siklus II pertemuan 2 = 76.9. Dari penjelasan tersebut dapat dikumukakan bahwa pendekatan pembelajaran PAKEM dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik serta mengoptimalkan aktivitas peserta didik dalam mengikuti pembelajaran IPA. Berdasarkan hasil penelitian dan temuan-temuan yang diperoleh maka disarankan: a) selama proses pembelajaran dengan pendekatan PAKEM berlangsung, guru lebih banyak memberikan motivasi dan perhatian kepada peserta didik. b) bagi kepala sekolah hendaknya hasil penelitian ini dapat dijadikan untuk rujukan untuk menyediakan sumber belajar dan sarana prasarana yang menunjang penggunaan pendekatan pembelajaran inovatif khususnya pendekatan PAKEM.

Pengembangan komik matematika sebagai media pembelajaran RME untuk siswa kelas VII SMP pada pokok bahasan keliling dan luas segitiga / Nur Aini Lathifah Habibi

 

Kata kunci : RME, komik matematika, keliling dan luas segitiga. Penyampaian pokok bahasan luas dan keliling segitiga umumnya bersifat abstrak dan kurang menarik sehingga siswa kurang tertarik dan mengalami kesulitan untuk memahaminya. Salah satu alternatif untuk mengatasi kendala tersebut adalah penyampaian soal tentang luas dan keliling segitiga melalui komik matematika yang berbasis RME. Pesan yang berupa permasalahan dalam kehidupan sehari-hari disampaikan dalam komik biasanya jelas, runtut dan menyenangkan, sehingga siswa menjadi termotivasi untuk mempelajari dan menyelesaikan permasalahan. Oleh karena itu dilakukan pengembangan media pembelajaran RME dengan pokok bahasan luas dan keliling segitiga dengan menggunakan komik matematika. Komik Matematika dikembangkan sebagai media pembelajaran yang dapat membantu guru dalam pembelajaran RME pada pokok bahasan luas dan keliling segitiga. Masalah kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan materi luas dan keliling segitiga disajikan dalam bentuk gambar dan dialog-dialog pada komik untuk meningkatkan motivasi siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Prosedur dalam pengembangan komik terdiri menjadi tiga tahap yaitu (1) tahap pra produksi, (2) produksi, dan (3) pasca produksi. Tahap pra produksi yaitu identifikasi kebutuhan, merumuskan tujuan instruksional, mengembangkan materi dan menyusun petunjuk pemanfaatan. Tahap produksi yaitu merupakan tahap pembuatan komik mulai dari menentukan ide cerita hingga pencetakan. Tahap pasca produksi yaitu tahap validasi dan uji coba. Komik matematika telah divalidasi oleh 2 dosen Matematika Universitas Negeri Malang dan 2 guru matematika SMP. Uji coba melibatkan 5 siswa kelas VIII SMP Negeri Satu Atap Merjosari Malang. Hasil yang didapatkan dari data angket validasi oleh para ahli tentang kualitas komik sebesar 83,03% dan dinyatakan valid dan tidak perlu revisi.Sedangkan hasil keseluruhan yang didapatkan dari data angket validasi oleh ahli tentang peranan komik sebagai media pembelajaran RME sebesar 80,35% dan dinyatakan valid dan tidak perlu revisi. Hasil keseluruhan yang didapatkan dari data angket audiensi/siswa tentang kualitas komik sebesar 94,28% dan dinyatakan valid, sedangkan Hasil keseluruhan yang didapatkan dari data angket audiensi/siswa tentang peranan komik sebagai media pembelajaran RME sebesar 97,5% dan dinyatakan valid dan tidak perlu revisi. Melalui angket ini diketahui bahwa media pembelajaran ini dapat menarik minat siswa untuk mengerjakan permasalahan luas dan keliling segitiga dalam bentuk komik.

Peningkatan pembelajaran tentang mengidentifikasi peredaran darah manusia melalui model inside-outside-circle (IOC) pada siswa kelas V SDN Landungsari 01 Malang / Fitria Wulandari

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Peredaran darah, Model IOC. Pada pembelajaran gangguan alat peredaran darah manusia di kelas V SDN Landungsari Malang ditemukan bahwa, siswa masih belajar secara individual, kurang adanya kerjasama di antara siswa, dan juga guru kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun pengalamannya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil pra tindakan yaitu 44,70 dan masih terdapat 30 siswa (88,23%) yang belum mencapai ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan yaitu 65. Selain itu juga dapat diketahui bahwa nilai rata-rata UTS kelas dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada semester gasal 2010 sebesar 63,20 yang juga masih berada di bawah KKM yang ditentukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penggunaan model pembelajaran Inside Outside Circle (IOC) pada pembelajaran peredaran darah manusia di kelas V SDN Landungsari 01 Malang, (2) keaktifan siswa ketika pelaksanaan pembelajaran peredaran darah manusia dengan model pembelajaran Inside Outside Circle (IOC), (3) peningkatan hasil belajar peredaran darah manusia dengan menggunakan model pembelajaran Inside Outside Circle (IOC), dan (4) mendeskripsikan respon siswa kelas V SDN Landungsari 01 Malang mengenai pelaksanaan pembelajaran peredaran darah manusia dengan model pembelajaran Inside Outside Circle (IOC). Penelitian ini dilakukan di SDN Landungsari 01 Malang dengan subyek siswa kelas V sebanyak 34 siswa. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc. Taggart, meliputi empat tahap yaitu 1) planning, 2) acting & observing, 3) reflecting dan 4) revise plan. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, dokumentasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model IOC pada pembelajaran peredaran darah manusia siswa kelas V SDN Landungsari 01 Malang dapat dilaksanakan dengan baik, dalam dua siklus dengan siklus I terdiri dari dua pertemuan dan siklus II terdiri dari satu kali pertemuan. Hal ini terbukti pada setiap siklus seluruh indikator dapat tercapai dengan baik sesuai RPP yang dibuat. Penggunaan model IOC juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa berupa hasil kinerja kelompok dan hasil tes tulis. Hal ini terbukti dari rata-rata hasil tes tulis pada siklus I yaitu 65,45 dengan ketuntasan belajar kelas 11,76% meningkat menjadi 75,15 dengan ketuntasan belajar kelas sebesar 90,90% pada siklus II. Selain itu, penggunaan model IOC juga terbukti meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini siswa juga memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran yang berlangsung. Maka dari itu saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di SD adalah guru dapat menggunakan model pembelajaran pada materi atau mata pelajaran lain. Selain itu, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan penelitian-penelitian berikutnya agar menjadi lebih baik di kemudian hari.

Peningkatan keterampilan berbicara bahasa Indonesia dengan menggunakan media permainan doll speak pada siswa kelas III SDN Gambiran I Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan / Widiastuti

 

Kata Kunci: keterampilan berbicara, permainan doll speak, SD Untuk mempermudah siswa mengeluarkan ide atau gagasan dalam berbicara, guru sebaiknya menggunakan media pembelajaran yang relevan dengan kompetensi yang akan dicapai. Untuk meningkatkan keterampilan berbicara, peneliti menggunakan media permainan boneka (doll speak), karena boneka sangat disukai oleh siswa terutama di kelas rendah, hal ini dilakukan agar siswa lebih termotivasi dan bebas mengungkapkan ide dalam berbicara . Permasalahan yang terungkap selama melakukan penelitian: (1) Siswa kesulitan dalam berbicara yaitu dalam ketepatan ucapan dan intonasi berbicara, (2) Siswa belum banyak dalam menggunakan pemilihan kata dan struktur kalimat saat berbicara, (3) Siswa kurang keras (nyaring) dalam berbicara, dan (4) siswa kurang lancar dalam keterampilan berbicara Penelitian ini merupakan penelitian yang berbasis kelas. Dengan demikian, metode yang digunakan yaitu metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang meliputi dua siklus. Tiap-tiap siklus dilakukan secara berdaur yang terdiri atas empat tahap, yaitu 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Data penelitian diambil melalui tes dan nontes. Alat pengambilan data tes yang digunakan berupa instrumen tes perbuatan yang berisi aspek-aspek kriteria penilaian keterampilan berbicara. Alat pengambilan data nontes yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, dan dokumentasi (foto). Selanjutnya, data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Kegiatan yang dilaksanakan dalam penelitian ini berdasarkan pada langkah-langkah sebagai berikut. (1) pemodelan cerita, (2) bermain peran doll speak secara berpasangan, (3) tanya-jawab, (4) bermain doll speak dalam kelompok besar) Berdasarkan hasil penelitian bahwa hasil proses belajar siswa pada pembelajaran berbicara melalui permainan Doll Speak mengalami peningkatan yang lebih baik bila dibandingkan dengan hasil belajar siswa sebelumnya. Nilai proses belajar sebelum tindakan (pra tindakan) rata-rata kelas 48,9. Pada siklus 1 mengalami peningkatan sebesar 19,4 dari 48,9 menjadi 68,5 pada siklus I. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 16,8 yaitu dari 68, 5 menjadi 85,3 pada siklu II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam keterampilan berbicara dengan media boneka (doll speak), dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa kelas III SDN Gambiran I Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan.

Pengaruh relationship marketing terhadap loyalitas konsumen sepeda motor Yamaha (studi pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Liza Amalia Rezka

 

Kata kunci: Relationship marketing, loyalitas konsumen Relationship Marketing akan berlangsung dengan baik jika para pelanggan mempunyai kebutuhan yang bersifat jangka panjang atau dengan kata lain Relationship Marketing ini akan sangat efektif pada pelanggan yang tepat, yaitu pelanggan yang sangat terikat pada sistem tertentu dan mengharapkan pelayanan yang konsisten dan tepat waktu. Konsep Relationship Marketing juga berusaha membangun hubungan dan perhatian yang lebih terhadap pelanggan di dalam mempertahankan pelanggannya, karena mereka sadar bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menarik pelanggan baru di perkirakan 5 kali lebih besar dibandingkan dengan mempertahankan pelanggan lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) ada tidaknya pengaruh relationship marketing (keuntungan bersama atau mutual benefit, komitmen atau commitment, kebenaran atau authenticity, komunikasi atau communication) secara parsial terhadap loyalitas pelanggan pengguna sepeda motor yamaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UM, 2) ada tidaknya pengaruh secara simultan relationship marketing terhadap terhadap loyalitas pelanggan pengguna sepeda motor yamaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UM. Desain penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Desain deskriptif untuk mendeskripsikan variabel realationship marketing dan loyalitas konsumen. Sedangkan metode korelasional untuk mengetahui ada tidanya pengaruh realationship marketing terhadap loyalitas konsumen. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi UM yang menggunakan sepeda motor Yamaha. Teknik sampling yang digunakan adalah accidental sampling. Jumlah sampel sebanyak 66 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket relationship marketing dan angket loyalitas konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel relationship marketing (keuntungan bersama, kebenaran, komitmen dan komunikasi) secara parsial terhadap loyalitas konsumen sepeda motor Yamaha, 2) terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel relationship marketing (keuntungan bersama, kebenaran, komitmen dan komunikasi) secara simultan terhadap loyalitas konsumen sepeda motor Yamaha, 3) komunikasi PT Yamaha terhadap konsumen sepeda motor Yamaha merupakan variabel dominan dalam membentuk loyalitas konsumen. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka diajukan saran-saran yaitu :1) kepada PT Yamaha Motor Kencana Indonesia agar memanfaatkan prinsip relational marketing dengan jalan menjalin komunikasi secara lisan maupun tulisan untuk mengetahui kebutuhan, ataupun ketidakpuasan konsumen, sehingga bisa menyediakan kebutuhan dan menghindarkan ketidakpuasan konsumen, dan 2) kepada para peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mendalami tema relational marketing agar melakukan peneltian sejenis untuk jenis-jenis produk yang lain, misalnya pengaruh Relational Marketing terhadap loyalitas konsumen produk makanan, minuman dan jasa

Pemanfaatan media ritatoon untuk meningkatkan hasil belajar SBK bidang seni rupa kelas IV MU Hubbul Wathon Kec. Pandaan Kab. Pasuruan / Novia Irmawati

 

Kata Kunci : Ritatoon, Hasil Belajar, Seni rupa Berdasarkan observasi saat pembelajaran seni rupa materi menggambar di kelas IV MI Hubbul Wathon, ditemukan fakta bahwa materi menggambar kurang dilaksanakan. Untuk pembelajaran menggambar diberikan waktu akhir ujian semester. Saat pembelajaran guru menggunakan metode ceramah dan tanpa menggunakan media. Guru hanya menggunakan buku paket kesenian sebagai sumber belajar. Evaluasi akhir dihasilkan skor rata-rata kelas sebesar 65, yaitu dari 23 siswa hanya 10 siswa yang mencapai nilai di atas SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal) 70,00 dan 13 siswa lainnya tidak mencapai SKBM yang ditetapkan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan proses pembelajaran seni rupa materi menggambar ilustrasi dengan memanfaatkan media ritatoon di kelas IV MI Hubbul Wathon; (2) Mendeskripsikan aktivitas pembelajaran seni rupa materi menggambar ilustrasi dengan memanfaatkan media ritatoon di kelas IV MI Hubbul Wathon; (3) Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar seni rupa materi menggambar ilustrasi dengan memanfaatkan media ritatoon di kelas IV MI Hubbul Wathon. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Subyek penelitian adalah siswa kelas IV di MI Hubbul Wathon sebanyak 23 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan tes. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa penggunaan media ritatoon pada pembelajaran seni rupa di kelas IV MI Hubbul Wathon, sudah dapat dikatakan berhasil dengan adanya peningkatan proses pembelajaran pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Penggunaan media ritatoon juga telah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal itu ditunjukkan dengan adanya peningkatkan aktivitas siswa yang terjadi pada saat pembelajaran. Taraf peningkatan aktivitas siswa pada siklus 1 yaitu sebesar 64,37 dan pada siklus 2 sebesar 73,11. Untuk hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari refleksi awal dengan pencapaian rata-rata kelas sebesar 65,00; pada siklus I meningkat menjadi 67,50; dan pada siklus 2 meningkat lagi menjadi 68,94. Peningkatan hasil belajar siswa tidak hanya terfokus pada aspek ketrampilan kognitif tapi juga pada aspek keterampilan afektif dan keterampilan psikomotorik. Kesimpulannya adalah penggunaan media ritatoon pada pembelajaran seni rupa materi menggambar ilustrasi di kelas IV MI Hubbul Wathon sudah dapat meningkatkan proses pembelajaran, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa. Saran ditujukan bagi guru untuk menggunakan media ritatoon dalam pembelajaran seni rupa agar proses pembelajaran, aktivitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat; bagi kepala sekolah dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai pengayaan pengembangan profesi guru dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.

Penerapan strategi bauran pemasaran pada organisasi kemahasiswaan IKIP MALANG tingkat institut dan fakultas (studi tentang penerapan pemasaran pada organisasi non bisnis
oleh Moh. Yasin

 

Pengaruh pemberian bimbingan karier dengan sistem paket terhadap pilihan karier siswa kelas VIII SMO Negeri 2 Bantur Kabupaten Malang / Triminingsih

 

Kata kunci: bimbingan karier, sistem paket, pilihan karier Bimbingan karier merupakan usaha membantu individu dalam menentukan pilihan kariernya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bimbingan karier dapat dilaksanakan dengan berbagai metode, salah satunya dengan sistem paket. Banyak terjadi di lapangan siswa yang menyesal karena memilih sekolah lanjutan yang tidak sesuai dengan cita-citanya, sehingga berpengaruh pada pilihan karier mereka. Hal tersebut menunjukkan kurangnya bimbingan karier yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Masalah dalam penelitian ini adalah pengaruh pemberian bimbingan karier dengan sistem paket terhadap pilihan karier siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Bantur Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian bimbingan karier dengan sistem paket terhadap pilihan karier pada siswa kelas VIII. Dengan penelitian ini diharapkan siswa mampu menentukan pilihan karier dengan informasi sekolah lanjutan yang diperoleh, selain itu siswa juga mendapatkan informasi yang berupa paket sehingga informasi dapat dipergunakan pada lain waktu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Rancangan ini membutuhkan kelas sebagai kontrol dan kelas sebagai eksperimen. Subjek penelitian ini adalah kelas VIII, karena pada masa tersebut merupakan masa tentatif yang merupakan masa perkembangan karier dimana siswa mampu merencanakan pilihan karier sesuai dengan potensinya, sehingga dibutuhkan informasi yang mendukung. Teknik pengambilan sampel yang dipilih adaah purposive sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah angket pilihan karier siswa dan diberikan pada saat pre-test dan post-test. Pre-test dilaksanakan sebelum kelas diberi perlakuan dan post-test diberikan setelah masing-masing kelas, baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol diberi perlakuan. Perlakuan pada kelas eksperimen adalah diberikan bimbingan karier dengan sistem paket, sedangkan pada kelas kontrol diberikan bimbingan karier dengan metode ceramah. Untuk mengetahui perbedaan hasil pemberian perlakuan yang diberikan pada masing-masing kelas dianalisis dengan menggunakan uji-T (paired sample T-test). Hasil dari penelitian ini bahwa tidak ada pengaruh perbedaan antara bimbingan karier dengan sistem paket dengan pemberian bimbingan karier dengan sistem ekspositori. Perbedaan pemberian perlakuan hanya pada perubahan jenis pilihan pekerjaan pada satu tingkatan saja, dan bukan pada perubahan tingkat pilihan karier. Tidak adanya pengaruh tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain topik materi yang diberikan tidak sesuai dengan pertanyaan dalam instrumen, frekuensi pemberian perlakuan (treatment) yang kurang, dan penggunaan bahasa yang kurang jelas dalam penyusunan instrumen. Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah bagi sekolah, bimbingan karier hendaknya diberikan dengan pengembangan fasilitas sekolah tidak hanya dengan pemberian materi di ruang kelas. Bagi konselor hendaknya memberikan bimbingan karier dengan berbagai metode dan variasi dalam penggunaan metode. Penggunaannya disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan, pemberian materi tidak hanya dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi berkelanjutan. Bagi para siswa perlu menentukan pilihan pekerjaan yang diminati dan mempersiapkan diri mulai dari sekarang. Bagi peneliti yang lain, hendaknya memperbaiki isi paket dan memberikan perlakuan (treatment) lebih dari satu kali, sehingga pengaruh pemberian perlakuan dapat diketahui

Pengaruh penggunaan media pembelajaran panel hidrolik terhadap hasil belajar mata diklat hidrolik siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Alat Berat SMK Negeri 1 Singosari / Sunawi

 

Kata- kata Kunci: media pembelajaran, motivasi berprestasi, hasil belajar Hasil belajar hal yang selalu menjadi orientasi dari setiap pelaksanaan proses pembelajaran. Inti dari proses pembelajaran adalah penyampaian informasi melalui pemberian pengalaman oleh guru kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Fakta di lapangan menunjukkan kurang optimalnya guru dalam melaksanakan proses pembelajaran terkait dengan pemanfaatan media pembelajaran dan pemahaman terhadap motivasi berprestasi siswa atau potensi siswa sebagai faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media pembelajaran panel terpisah, panel utuh dan motivasi berprestasi siswa terhadap hasil belajar sistem hidrolik di SMK Negeri 1 Singosari. Ada 3 hal yang dieksperimenkan, yaitu (1) pengaruh yang signifikan hasil belajar sistem hidrolik, antara kelompok peserta didik yang menggunakan media pembelajaran panel terpisah dan panel utuh; (2) pengaruh yang signifikan hasil belajar sistem hidrolik, antara kelompok siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan kelompok siswa motivasi berprestasi rendah; (3) interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan motivasi berprestasi siswa ada pengaruh terhadap hasil belajar sistem hidrolik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Data penelitian berupa hasil pengukuran terhadap variabel yang dioperasikan dengan menggunakan instrumen. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu tes tertulis dalam bentuk tes objektif. Data yang dimaksud adalah hasil belajar sistem hidrolik. Kegiatan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Analisis data dilakukan dengan analisis ANOVA dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ada pengaruh yang signifikan hasil belajar sistem hidrolik, antara kelompok siswa yang menggunakan media pembelajaran panel terpisah dan media pembelajaran panel utuh; (2) ada pengaruh terhadap hasil belajar, antara kelompok siswa yang motivasi berprestasi tinggi dengan kelompok siswa yang motivasi berprestasi rendah; (3) tidak ada interaksi antara penggunaan media pembelajaran panel dan motivasi berprestasi yang berpengaruh terhadap hasil belajar sistem hidrolik . Berdasarkan hal tersebut, guru perlu mengusai penggunaan media pembelajaran sehingga dalam proses pembelajaran, dapat memaksimalkan informasi yang disampaikan kepada siswa, SMK hendaknya lebih inovatif dan variatif dalam pembuatan media pembelajaran, perlunya pemenuhan kebutuhan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran oleh pihak terkait.

Meningkatkan prestasi belajar IPS melalui media televisi pada siswa kelas V SDN Kraton 06 Kabupaten Magetan / Lesi Apriani

 

Kata Kunci: Prestasi, IPS, Media Televisi Masalah yang terjadi di SDN Kraton 06 terkait dengan pembelajaran IPS adalah kurangnya keterampilan guru dalam menyediakan pembelajaran yang bermakna, proses pembelajaran didominasi oleh metode ceramah, suasana pembelajaran kurang menyenangkan, hal ini terbukti dari beberapa siswa terlihat tegang dan dari 40 siswa hanya 7 siswa saja yang nilainya dapat mencapai kriteria ketuntasan minimal atau kurang dari 70. Untuk itu, guru dapat menggunakan media yang dapat menarik siswa untuk meningkatkan prestasi, seperti media televisi. Tujuan dari penelitian ini adalah: mendiskripsikan penerapan media televisi dalam pembelajaran IPS .mendiskripsikan prestasi belajar melalui media pendidikan televisi bagi siswa kelas V SDN Kraton 06 Kabupaten Magetan. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebanyak dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Sasaran penelitian ini adalah guru dan siswa Kelas V SDN Kraton 06 Kabupaten Magetan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi untuk memperoleh data yang berupa hasil Lembar Kerja Siswa, lembar observasi kegiatan belajar mengajar (aktivitas guru dan siswa di dalam kegiatan pembelajaran). Data dalam penelitian ini diperoleh dari evaluasi, observasi, dan dokumentasi. Evaluasi digunakan untuk mendapat data tentang kemampuan atau perolehan belajar siswa pada materi pokok keragaman suku budaya di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diperoleh peningkatan penggunaan media televisi dengan hasil pada siklus I dengan rata-rata 65,5 dan siklus II dengan nilai rata-rata 73,5. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas V SDN Kraton 06 Kabupaten Magetan yang berjumlah 40 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS tentang keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia melalui media televisi dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Sehingga disarankan agar hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan penelitian lebih lanjut dengan judul lainnya. Siswa dihadapkan pada berbagai kegiatan yang dapat memicu kreatifitas siswa dan menumbuhkan pengalaman baru bagi siswa di dalam pembelajaran. Siswa dibimbing dan diarahkan untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Guru hendaknya menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang memacu siswa untuk aktif dalam pembelajaran, guru sebagai fasilitator bertugas membimbing dan mengarahkan siswa selama pembelajaran berlangsung.

Pengembangan paket layanan informasi sekolah lanjutan untuk siswa SD di Kota Malang / Titis Indari

 

Kata kunci: layanan informasi, sekolah lanjutan, paket. Siswa sebagai individu mempunyai potensi yang berbeda-beda. Informasi sekolah lanjutan perlu diberikan kepada siswa sebagai dasar menetapkan keputusan untuk memilih sekolah lanjutan dengan melihat kondisi pilihan pendidikan yang semakin banyak. Terkait dengan pemilihan sekolah lanjutan, guru kelas mempunyai tugas untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam pemilihan sekolah lanjutan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memberikan layanan informasi sekolah lanjutan kepada siswa. Wajib Belajar (WAJAR) 9 tahun menjadi hal paling yang mendasari penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan paket layanan informasi sekolah lanjutan untuk siswa SD di Kota Malang yang praktis dan efektif digunakan oleh guru kelas sebagai media pemberian informasi sekolah lanjutan. Model pengembangan yang digunakan adalah model Dick & Carey. Tahap pengembangan paket meliputi: (1) penyususnan paket layanan informasi, (2) uji ahli BK, (3) uji ahli media dan bahasa (4) revisi dari uji ahli BK, ahli media, dan ahli bahasa (5)Uji coba calon pengguna produk, (6) revisi dari hasil uji coba calon pengguna produk (7) uji coba siswa. Penilaian dilakukan oleh ahli BK, ahli media dan bahasa yaitu dosen PGSD. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan angket untuk penilaian uji ahli dan calon pengguna produk. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. Berdasarkan penilaian ahli BK, ahli media dan ahli bahasa serta uji coba calon pengguna, paket layanan informasi ini sangat berguna bagi guru kelas dalam memberikan materi sekolah lanjutan. Dilihat dari aspek kemudahan penggunaan paket layanan informasi ini sangat mudah digunakan. Dari aspek kemenarikan, paket ini sangat menarik dilihat dari bentuk penyajian materi yang mampu menarik perhatian siswa. Ditinjau dari aspek keakuratan paket ini akurat untuk digunakan oleh guru kelas dalam memberikan layanan informasi sekolah lanjutan. Berdasarkan hasil penelitian disarankan: (1) guru kelas hendaknya memanfaatkan paket untuk meningkatkan layanan informasi sekolah melalui pembelajaran di kelas, (2) penelitian selanjutnya hendaknya melengkapi informasi sekolah lanjutan secara menyeluruh, khususnya informasi profil SMP dan MTs di Kota Malang dan perlu mengintegrasikan paket layanan informasi sekolah lanjutan ke dalam bentuk web agar siswa dapat lebih mudah mengakses bersama orang tua kapanpun dan dimanapun.

Penerapan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran matematika untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI RPL 2 SMK Negeri 9 Malang / Neni Hanifa Lutfiana

 

Kata Kunci: contexstual teaching learning, aktivitas belajar siswa Berdasarkan observasi awal dan wawancara informal yang dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2010 dengan guru Matematika kelas XI RPL 2 SMK Negeri 9 Malang diketahui bahwa sebagian besar proses pembelajaran masih didominasi guru dan siswa masih pasif. Dari 34 siswa hanya 4 siswa saja yang bertanya, sedangkan siswa yang lain hanya mendengarkan saja bahkan ada beberapa siswa yang berbicara dengan teman sebangkunya dan tidak mendengarkan penjelasan guru dan pertanyaan temannya. Saat presentasi kelas, sebanyak 12 siswa tidak mendengarkan teman yang presentasi, kebanyakan berbicara dengan teman sebangkunya dan ada yang melamun sendiri, bahkan ada yang mengerjakan tugas mata pelajaran lain. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa yaitu dengan menggunakan pembelajaran kontekstual (Contexstual Teaching Learning). Penelitian ini dilaksanakan di SMKN 9 Malang, dengan subjek siswa kelas XI RPL 2 yang berjumlah 34 siswa. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data aktivitas belajar siswa menggunakan lembar observasi aktivitas belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan langkah-langkah pembelajaran kontekstual (CTL) pada kelas XI RPL 2 SMKN 9 Malang. Pada penelitian ini, aktivitas belajar siswa meningkat dari siklus I yang hanya mencapai 67,64% atau 23 siswa yang aktif menjadi 76,47% atau 26 siswa aktif pada siklus II. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kontekstual (Contexstual Teaching Learning) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI RPL 2 SMKN 9 Malang.

Figures of speech in the jingles of children's snack commercial on television / Nita Mardiani

 

Key words : jingle, snack, stylistics, figure of speech Designing a jingle for children’s commercial is one challenging activity that advertisers must do. Since children’s perceptions are not yet well-developed, it makes advertisers have to work extra hard to create effective commercials by using jingles. Snack commercial is one commercial which has a certain market and viewers who are children. In order to create a good jingle, the advertisers need to use certain style that would make the jingle catchy, easy to understand and repeat (Kirkpatrick, 1964). This research deals with the figures of speech in the jingles of children’s snack commercials on television. The objectives of the study are to find the kinds of figures of speech in the jingles of children’s snack commercials on television and to identify the meaning of each figure of speech that is used in the jingles of children’s snack commercials on television. As stylistics is the product of abstractions, the researcher used the stylistics theories by Widdowson (1975), and Shaw (1972), which explain on the figures of speech and the categorization of kinds of figures of speech. According to the related theories, this study used the review of advertising procedure by Kleppner (1966) for the principles of jingles in the commercials. The research design of this study was descriptive-qualitative. The data were fifteen jingles of children’s snack commercials on television. The commercials were taken in January-October 2010 randomly which were broadcast in INDOSIAR, RCTI, TRANS7, TRANS TV and GLOBAL TV. The researcher found that the kinds of figures of speech existing in the jingles of children’s snack commercials were: personification, synecdoche, hyperbole, and parallelism and figures of sound were: assonance, repetition, and alliteration. The frequencies of each kind of figures of speech and figures of sound were various. The first rank is repetition. The number was 13 out of 41 jingles (31,7%). The second rank is assonance. It appeared 11 times out of 41 jingles (26,8%). The third rank was hyperbole which appeared 7 out of 41 jingles (17.0%). From the result it can be inferred that repetition is mostly used in the jingles of children’s snack commercials on television. Finally it is suggested the advertisers in generating the jingles of children’s snack commercials should be more effective, persuasive, interesting, convincing and educating. It is also suggested that educational practitioners can apply the use of figures of speech from a real context that is a jingle as material for teaching. By giving material from the real context, the educational practitioners are to be able to help their students understand the materials more easily. For the other researchers, they are suggested that they use the results of this study as their reference.

The media used for teaching biology in bilingual class of grade VII at SMP Negeri 2 Malang / Lutfiyan Khusyabaroh

 

Key words: Media Used, Bilingual Class English is not only taught as important subject in the school, it is also used as media communication in bilingual class. Because English is still a foreign language for us, the English teachers work harder to make the students understand English better. Moreover, in bilingual class, the students have to use English as medium of communication for some bilingual subjects, they are physics, biology, and mathematics. The bilingual teachers deliver the material using English. Therefore, they use some instructional media to help them in explaining the material. In this study, the researcher just observes biology class. The researcher observes the media used for teaching biology of grade VII. The study takes place in VII I because the students are very active and easy to cooperate. This study is needed because the findings are important especially for the school, teacher, and students of bilingual class in SMP Negeri 2 Malang in particular, and other RSBI schools in general. This study is designed descriptively. It was conducted to describe the media used in teaching biology subject using English as medium of communication in bilingual class at SMP Negeri 2 Malang. The school was chosen because it provides four bilingual classes. The study aims at: (1) describing kinds of media used (2) the teacher’s considerations in choosing certain kinds of media and (3) the students’ opinion of the media used. The findings show that only visual media was used. There are no audio media and audiovisual media. The media used for teaching biology in bilingual class are module, slides (computer), game (Monopoly), and pictures. All of the media were successful in helping the teacher. However, the game monopoly was the most interesting media based on the students’ and teacher’s opinion. The conclusions of the study are the students pay more attention to the lesson and motivated to study harder. Based on the observations, the researcher has four suggestions, they are: the school has to provide appropriate loud speakers, the teacher has to vary the audio and audiovisual media use appropriate picture media, and join workshop related to media used in bilingual class.

Studi pelaksanaan dan rencana anggaran biaya (RAB) pekerjaan "pile cap" pada pondasi tiang pancang untuk pembangunan gedung hotel & restoran Jatim Park II Batu / Zakariya Akni

 

Kata kunci: pondasi, pile cap, biaya Pondasi merupakan bagian dari bangunan yaitu konstruksi yang menghubungkan struktur bagian atas dengan tanah,untuk menjamin kesetabilan bangunan terhadap muatan atau beban. Dalam pekerjaan pile cap sering terjadi perbedaan antara desain dengan pelaksanaan pekerjaan, maka dari itu dalam pelaksanaan pekerjaan pile cap memerlukan metode dan pengawasan dilapangan yang ketat agar hasilnya sesuai dengan desain. Tujuan studi lapangan ini untuk mengetahui pelaksanaan pekerjaan penggalian tanah, pembongkaran ujung tiang pancang, pekerjaan lantai kerja, metode pelaksanaan pekerjaan pile cap, serta biaya pekerjaan pile cap. Hasil studi lapangan diharapkan dapat digunakan untuk refrensi dalam mengkaji ulang pelaksanaan pekerjaan pile cap agar mendekati keadaan ideal sesuai ketentuan. Pile cap merupakan bagian dari struktur pondasi yang berupa plat beton sebagai penutup pada pondasi tiang pancang dan dapat berbentuk plat setempat, lajur, atau plat menerus dan selalu dibuat bertulang yang berfungsi untuk perataan beban yang diterima dari kolom menuju pondasi dibawahnya. Studi dilakukan diproyek Pembangunan Gedung Hotel dan Restoran Jatim Park II jl Oro-oro Ombo No. 9 Batu. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan cara (1) observasi untuk mengamati pelaksanaan pekerjaan pile cap selama kegiatan proyek berlangsung. (2) wawancara untuk melengkapi data tentang pelaksanaan pekerjaan pile cap. (3) dokumentasi untuk mendapatkan informasi tentang perencanaan pelaksanaan pile cap yang dilakukan oleh kontraktor pelaksana. Hasil studi lapangan memberikan gambaran sebagai berikut: (1) Pelaksanaan pekerjaan pengalian tanah sudah dilakukan sesuai perencanaan dan ketentuan dengan panjang 2 meter lebar 2 meter dan kedalaman 1 meter, pembongkaran ujung tiang pancang sudah dikerjakan sesuai ketentuan yaitu menggunakan drop hamer , lantai kerja tidak dilaksanakan dalam proyek ini. (2) Metode pelaksanaan pile cap sudah dilakukan sesuai tahapan yakni: (a) pelaksanaan pekerjaan penulangan dengan menggunakan tulangan deformed diameter 16 mm dan dirancang sesuai gambar; (b) pekerjaan bekisting menggunakan multy plex tebal 9mm tinggi 70cm mengelilingi pile cap, (c) pekerjaan pengecoran menggunakan beton redy mix K 275 dengan angka slump 6cm. (d) perawatan beton dilakukan dengan penyiraman air. (3) Besarnya biaya pekerjaan untuk satu pile cap type P1 sebesar Rp 4,051,618.00. Berdasarkan studi lapangan ini disarankan untuk pelaksana proyek sebaiknya diperhatikan pembuatan lantai kerja, karena berfungsi sebagai lapisan penahan apabila terjadi pergeseran tanah yang disebabkan oleh perubahan cuaca, gempa dan sebagainya.

Peningkatan kemampuan menulis teks pidato siswa kelas X di MAN Malang I melalui media artikel / Nanik Yuniarti

 

Kata kunci: menulis, teks pidato, media artikel. Salah satu ragam keterampilan menulis yang diajarkan di SMA/MA adalah menulis teks pidato. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, pembelajaran menulis teks pidato menjadi salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa SMA/MA secara maksimal. Oleh karena itu peran guru dan siswa sangat besar selama proses pembelajaran menulis teks pidato. Guru dituntut dapat menggunakan strategi dan media pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan kemampuan menulis teks pidato. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada studi pendahuluan di MAN Malang I, diketahui bahwa strategi dan media yang digunakan dalam menulis teks pidato masih konvensional. Kondisi seperti ini menyebabkan kegiatan belajar siswa tidak aktif dan hasil belajar siswa belum maksimal. Selain itu, siswa juga mengalami kendala dalam menulis teks pidato. Kendala yang dialami siswa dalam menulis teks pidato adalah (1) kurangnya konsentrasi siswa dalam mendengarkan penjelasan dari guru, (2) siswa kesulitan menulis pidato sesuai dengan unsur-unsur teks pidato yaitu pembuka, isi, dan penutup, (3) menulis teks pidato dengan memperhatikan ejaan yang benar. Hambatan ini muncul karena media yang digunakan dalam pembelajaran kurang menarik sehingga mengakibatkan suasana pembelajaran yang membosankan dan kurang menarik konsentrasi siswa sehingga hasil yang dicapai dalam pembelajaran kurang maksimal. Berdasarkan permasalahan tersebut, perlu dicarikan sebuah strategi dan media pembelajaran yang menarik dan inovatif untuk mengatasi masalah tersebut. Peneliti dan guru mata pelajaran sepakat untuk menggunakan media artikel sebagai upaya dalam meningkatkan kemampuan menulis teks pidato. Pemilihan artikel sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis teks pidato ini disebabkan oleh mudahnya untuk mendapatkan artikel. Siswa dapat memperoleh artikel melalui media massa, misalnya, koran atau majalah dan saat ini siswa juga bisa memperoleh artikel melalui internet. Selain itu, dalam artikel permasalahan di kupas dan dibahas secara tuntas dengan alasan yang logis dan gagasan yang cemerlang. Dengan itu, diharapkan dapat membantu siswa dalam menulis teks pidato. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis teks pidato pada 4 aspek yaitu (1) aspek pembuka, (2) aspek isi, (3) aspek penutup, dan (4) aspek ejaan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif karena penelitian ini berusaha menggambarkan fakta, objek, dan data-data sebagaimana adanya. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), pemilihan rancangan ini sesuai dengan karakteristik PTK, yaitu permasalahan yang diangkat untuk dipecahkan bermula dari permasalahan pembelajaran sehari-hari. Penelitian ini meliputi empat langkah pokok yaitu (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi/pengamatan, dan (4) refleksi hasil tindakan. Penelitian ini berlokasi di MAN Malang I yang terletak di jalan Baiduri Bulan 40 kota Malang. Penelitian ini lebih dikhususkan pada kelas XE. Kelas X di MAN Malang I terdiri atas 7 kelas, yaitu kelas XA--XG. Sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan 22 siswa kelas XE MAN Malang I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan siswa menulis teks pidato dilakukan dengan menggunakan media artikel. Peningkatan kemampuan menulis pembuka dilakukan dengan proses membaca, mencermati, dan menganalisis contoh teks pidato dengan memperhatikan unsur-unsur teks pidato , membaca artikel baru untuk memantapkan pemahaman siswa terhadap pemanfaatan artikel sebagai media, mendata dan menentukan topik dan tujuan pidato, kemudian menulis kerangka teks pidato berdasarkan inspirasi dari artikel yang telah dibaca dan mengembangkan kerangka yang telah dibuat menjadi pembuka pidato yang baik. Peningkatan kemampuan menulis isi pidato dilakukan dengan proses mengembangkan kerangka isi teks pidato yang telah dibuat dengan memperhatikan topik dan tujuan pidato. Mengembangkan latar belakang, butir-butir pembahasan, dan klimaks pidato. Peningkatan kemampuan menulis penutup dilakukan dengan proses menjelaskan cara menulis penutup yaitu dengan memberikan kesimpulan dan salam penutup pada akhir pidato dengan memperhatikan isi dan pembuka pidato. Peningkatan aspek ejaan dilakukan dengan cara menjelaskan ejaan yang benar, penggunaan tanda baca, penulisan kata, dan penulisan huruf kapital sebelum kegiatan tes dimulai. Peningkatan kemampuan menulis teks pidato juga ditunjukkan dengan bertambahnya persentase kemampuan menulis teks pidato dari studi pendahuluan ke tahap siklus I dan siklus II. Pada studi pendahuluan, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai dengan SKM adalah 6 (27,27%) siswa. Itu berarti sebanyak 16 (72,72%) siswa memperoleh skor dibawah SKM. Pada tahap siklus I, persentase jumlah siswa yang mencapai skor sesuai SKM sebanyak 20 (90,90%) siswa. Siswa yang belum mencapai nilai sesuai SKM hanya 2 (9,09%) siswa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks pidato siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahap siklus II, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai SKM sebanyak 22 (100%) siswa. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang memperoleh nilai di bawah SKM dan kemampuan siswa menulis pidato sudah baik. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menggunakan media artikel dalam pembelajaran menulis teks pidato. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan media artikel dalam pembelajaran menulis teks pidato pada jenjang yang berbeda misalnya SMP atau menggunakan media artikel untuk kompetensi menulis yang lain. Dengan demikian, hasil penelitian selanjutnya dapat memperkaya pengetahuan mengenai upaya meningkatkan kemampuan menulis siswa.

Pengaruh inteligensi, motivasi berprestasi, lingkungan belajar, dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XII ilmu sosial SMA Negeri 1 Tumpang / Linda Wulan Prihantini

 

Kata Kunci : Intelegensi, Motivasi Berprestasi, Lingkungan Belajar, Fasilitas Belajar, dan Prestasi Belajar Ekonomi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan, perubahan dan pembaharuan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pendidikan adalah prestasi belajar siswa. Faktor – faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah faktor interen (kesehatan, intelegensi dan bakat, motivasi dan minat, cara belajar) dan faktor eksteren (keluarga, sekolah, masyarakat, lingkungan sekitar). Sehingga faktor intelegensi, motivasi berprestasi, lingkungan belajar dan fasilitas belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : 1) Apakah intelegensi berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang ? 2) Apakah motivasi berprestasi berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang ? 3) Apakah lingkungan belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang ? 4) Apakah fasilitas belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang ? 5) Apakah intelegensi, motivasi berprestasi, lingkungan belajar dan fasilitas belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi siswa kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang ?. Dalam penelitian ini sampel di diambil dengan teknik pemilihan random sampling atau sampel random dari siswa kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 32 siswa yang terbagi dalam empat kelas yaitu kelas XII Ilmu Sosial 1, Ilmu Sosial 2, Ilmu Sosial 3, Ilmu Sosial 4. Variabel yang dikaji yaitu variabel independen yang terdiri dari intelegensi, motivasi berprestasi, lingkungan belajar dan fasilitas belajar. Sedangkan variabel dependennya adalah prestasi belajar ekonomi. Metode pengumpulan data menggunaka observasi, dokumentasi dan angket. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik inferensial yaitu regresi berganda untuk mengetahui besarnya pengaruh antara intelegensi, motivasi, lingkungan belajar, dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi siswa dan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji multikolonieritas, autokorelasi, heterokedastisitas dan normalitas serta uji hipotesis yaitu uji t dan uji f. Hasil penelitian yang dianalisis melalui uji asumsi klasik di ketahui tidak ada multikolonieritas, tidak ada autokorelasi, tidak ada heterokedastisitas dan data berdistribusi normal. Sedangakan hasil melalui uji hipotesis yaitu uji t dan uji f di ketahui tingkat signifikan (0,044) < 0,05 maka: H0 ditolak Ha diterima (intlegensi), tingkat signifikan (0,109) > 0,05 maka: H0 diterima Ha ditolak (motivasi berprestasi), tingkat signifikan (0,264) > 0,05 maka: H0 diterima Ha ditolak (lingkungan belajar), tingkat signifikansi (0,102) > 0,05 H0 diterima Ha ditolak (fasilitas belajar), tingkat signifikan (0,049) < 0,05 maka: H0 ditolak Ha diterima (intelegensi, motivasi, lingkungan belajar, dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi siswa) semuanya pada taraf alpha 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : (1) Ada pengaruh yang signifikan antara intelegensi dengan prestasi belajar ekonomi kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011. Dengan hasil analisis dengan nilai signifikan 0,044; ( 2)Tidak ada pengaruh yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan prestasi belajar ekonomi kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011. Dengan hasil analisis dengan nilai signifikan 0,109; (3) Tidak ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar dengan prestasi belajar ekonomi kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011. Dengan hasil analisis dengan nilai signifikan 0,264; (4) Tidak ada pengaruh yang signifikan antara fasilitas belajar dengan prestasi belajar ekonomi kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011. Dengan hasil analisis dengan nilai signifikan 0,102; (5) Ada pengaruh yang signifikan antara intelegensi, motivasi berprestasi, lingkungan belajar dan fasilitas belajar dengan prestasi belajar ekonomi kelas XII Ilmu Sosial SMA Negeri 1 Tumpang tahun ajaran 2010/2011. Dengan hasil analisis dengan nilai signifikan 0,049. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bagi kepala sekolah, sekolah hendakanya memberikan fasilitas yang baik untuk menunjang aktivitas pembelajaran agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswanya. Bagi guru mata pelajaran ekonomi khususnya dan bagi guru pada umumnya, guru di harapkan mampu menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi bukan hnya berorentasi pada SKM, serta menghimbau siswanya untuk memanfaatkan fasilitas yang ada dengan sebaik – baiknya guna menunjang proses pembelajaran. Bagi para siswa hendaknya dapat memotivasi dirinya sendiri untuk berprestasi meskipun memilki intelegensi rendah, karena dengan motivasi yang tinggi akan mampu meningkatkan prestasi belajar. Atur waktu sebaik mungkin untuk belajar, sehingga meskipun aktif dalam kegiatan baik di lingkungan sekolah atau masyarakat tetap bisa berprestasi sealain itu fasilitas yang ada hendaknya dapat menujang kegiatan pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar.

Peramalan curah hujan di daerah Karangploso dengan menggunakan metode auto regressive integreted moving average (ARIMA) dan metode dekomposisi / Sofie Marwia

 

Kata kunci: curah hujan, metode Auto Regressive Integreted Moving Average (ARIMA), metode dekomposisi. Data curah hujan merupakan salah satu contoh data deret waktu yang menunjukkan pola musiman. Berdasarkan hal tersebut, maka besarnya curah hujan di daerah Karangploso dapat diramalkan dengan menggunakan metode peramalan deret waktu yaitu metode Auto Regressive Integreted Moving Average (ARIMA) dan metode dekomposisi. Dari kedua metode itu dapat dicari metode yang paling cocok untuk meramalkan curah hujan di daerah Karangploso dengan melihat nilai Mean Squared Error (MSE) dari masing-masing metode. Dengan menggunakan metode ARIMA, didapatkan model ARIMA (2,2,2) (1,2,1)12 untuk meramalkan curah hujan di daerah Karangploso. MSE dari model ARIMA (2,2,2) (1,2,1)12 adalah 24188. Dengan menggunakan metode dekomposisi, didapatkan persamaan untuk meramalkan curah hujan di daerah Karangploso sebagai berikut: Yt = (151.3494+0.471013 x t) x Ct x It x Et Dengan nilai MSE sebesar 45.71091 Jika melihat nilai MSE dari keduanya, nilai MSE yang paling kecil adalah nilai MSE dari metode dekomposisi. Dengan demikian, metode yang paling cocok untuk meramalkan curah hujan di daerah Karangploso adalah metode dekomposisi.

An error analysis of the use of past tense in a recount paragraph by the eight graders of the SMP Negeri 1 Jiwan Madiun / Riske Christin Maria

 

Key Words: error, recount, past tense This thesis is a study about the errors in using past tense in recount paragraph made by the eighth graders of SMP Negeri 1 Jiwan Madiun. Students consider writing is the most difficult skill than others. Therefore, in writing a recount paragraph the students often make errors. This study was conducted under the consideration that past tense plays an important role in writing a recount paragraph. The purposes of this study are to find out the types of errors of the use of past tense in recount text made by the eighth graders students of SMP Negeri 1 Jiwan Madiun and to find out the possible causes of those errors. The study was conducted using descriptive approach. The sample of this study was the eighth graders of SMP Negeri 1 Jiwan Madiun, 8D, which consisted of 33 students. The source of the data was recount paragraph made by the students.The instruments that was used are a checklist and interview to the teacher and some of the students. The checklist is based on the surface Strategy taxonomy by Dulay that consist of error of omission, error of addition, error of misformation, and error of misordering, and the Causes of errors by Richard that consist of overgeneralization, ignorance of rule restriction, incomplete application of rule and false concept hypothezised. In analyzing the data, error analysis is used in which there were three steps; they are identifying the errors, putting the errors in checklist tables and the last step is evaluation of errors. The result of the analysis shows that there were 239 errors from 223 sentences. They were 98 errors of misformation, that consisted of misformation of verb, misformation of prepotision, misformation of be and omission of plural noun marker. 81 errors of omission, that consisted of omission of –ed, omission of definite article, omission of be, omission of plural noun marker. 50 errors of addition that consisted of addition of be, addition of preposition, addition of definite article. And 10 errors of misordering that consisted of misordering of adverb and misordering of noun phrase. The factors that caused the students to make errors in the writing skills were: 6 error sentences were caused by overgeneralization, 102 error sentences caused by ignorance of rule restriction, 43 error sentences caused by incomplete application of rule, and 20 error sentences caused by false concept hypothesized. Based on the result of the research, it is suggested that English teacher should pay attention to the area of difficulties in English grammar. By knowing the errors made by the students, the teacher should use it as feedback to know the area of difficulties in learning English past tense. The last, the teacher should be able to explain to the students about past tense by using the situation around them as the example in using past tense rule. The next researchers are expected to investigate the

Peningkatan aktivitas dan hasil belajar perkalian bilangan dua angka dengan menggunakan model pembelajaran discovery pada kelas IVB SDN Penanggungan Malang / Lilik Nurhafidoh

 

Kata Kunci : aktivitas, hasil belajar, perkalian bilangan dua angka, model pembelajaran discovery Berdasarkan hasil observasi pada pembelajaran, rendahnya aktivitas dan hasil belajar perkalian bilangan dua angka di kelas IVB SDN Penanggungan Malang disebabkan pembelajaran yang dilakukan setiap hari kurang menarik. Kurang bervariasinya metode maupun kegiatan pembelajaran ini berdampak pada minimnya pemahaman konsep siswa terutama konsep dasar perkalian dan teknik menyimpan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar perkalian bilangan dua angka dengan menggunakan model pembelajaran discovery pada kelas IVB SDN Penanggungan Malang. Dalam model ini siswa menemukan konsep sendiri. Guru hanya sebagai pembimbing dan fasilitator. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IVB SDN Penanggungan Malang dengan jumlah 40 siswa. Teknik pemgumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Sedangkan instrumen penelitiannya menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, lembar penilaian proses, Lembar Kegiatan (LK), lembar observasi penilaian proses, soal evaluasi perkembangan individu. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar perkalian bilangan dua angka pada kelas IVB SDN Penanggungan Malang. Pada siklus 1 hasil belajar siswa 62,5%. Pada siklus 2 hasil belajar siswa naik menjadi 80%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 17,5%. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan model discovery berhasil diterapkan pada siswa kelas IVB SDN Penanggungan Malang untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Disarankan bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam penelitian selanjutnya, sehingga hasilnya dapat dijadikan pedoman dan pengembangan profesi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Penerapan pembelajaran berbasis multiple intelligences untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi relasi dan fungsi kelas VIII MTs Muhammadiyah 2 Gandusari / Yuniek Fauzanin Mahmudah

 

Kata kunci: multiple intelligences, relasi dan fungsi, prestasi belajar. Berdasarkan data prestasi belajar matematika siswa MTsM 2 Gandusari, kelas VIII-C semester I tahun ajaran 2010/2011 pada materi relasi dan fungsi ternyata prestasi belajar siswa tergolong masih rendah. Sesuai data yang diperoleh dari nilai ulangan harian pada materi ini, masih banyak siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan. Terdapat 83,33% siswa yang belum tuntas. Dengan kata lain, secara klasikal ketuntasannya hanya 16,67% dengan rata-rata kelas 51,83. Dari hasil wawancara dengan guru matematika di kelas ini dapat diketahui bahwa prestasi siswa di bidang non akademik sebenarnya termasuk membanggakan. Menurut teori multiple intelligences, kesulitan siswa dalam memahami suatu konsep dapat diatasi jika proses pembelajaran dilakukan dengan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan tetap memperhatikan berbagai aspek kecerdasan yang dimiliki siswa. Penerapan multiple intelligences ini diharapkan mampu mengatasi kesulitan siswa dalam memahami materi relasi dan fungsi. Tipe kecerdasan yang dipilih dalam penelitian ini adalah kecerdasan verbal-matematis, kecerdasan visual-matematis, dan kecerdasan interpersonal¬matematis. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan desain pembelajaran berbasis multiple intelligences yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi relasi dan fungsi di kelas VIII. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian dilakukan di MTsM 2 Gandusari Trenggalek dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VII-C tahun ajaran 2010/2011. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2010 dan berlangsung dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu (1) tahap perencanaan, (2) tahap tindakan, (3) tahap observasi, dan (4) tahap refleksi. Berdasarkan temuan penelitian dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran berbasis multiple intelligences yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada materi relasi dan fungsi di kelas VIII meliputi tiga aspek. Pertama, aspek verbal-matematis, siswa menyusun cerita narasi yang memuat data, siswa menyusun laporan kelompok dengan dibimbing dan diberi penjelasan mengenai hal-hal terkait keruntutan, sistematika penulisan, dan kerapian, siswa mempresentasikan laporan kelompok di depan kelas dengan terlebih dahulu diberikan modeling serta tata cara presentasi yang baik, siswa mengajukan/ menanggapi pertanyaan pada kegiatan presentasi, siswa membuat kesimpulan tentang pengertian relasi dan fungsi. Kedua, aspek visual-matematis, siswa menyatakan data ke dalam bentuk diagram panah, diagram Cartesius, dan himpunan pasangan berurutan pada media kertas karton dan hasilnya dipasang di depan kelas. Ketiga, aspek interpersonal-matematis, siswa pertanyaan-pertanyaan pada lembar diskusi kelompok, siswa bekerjasama dalam penyusunan laporan kelompok, dan siswa memberikan penilaian aktivitas kelompok. Peningkatan prestasi belajar pada siklus I yakni sebesar 38%, sedangkan pada siklus II sebesar 60%. Pada siklus I ketuntasan belajar siswa yakni 55,56% dengan rata-rata kelas 65,07, sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar belajar siswa sebesar 77,76% dengan rata-rata kelas 70,90.

Peningkatan kecepatan efektif membaca siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Malang dengan strategi P3K / Indra Mardiyana

 

Kata kunci: kecepatan efektif membaca, penghambat kecepatan membaca, Strategi P3K. Salah satu kompetensi membaca yang diukur adalah kecepatannya. Kecepatan membaca harus dibarengi pemahaman isi bacaan. Kecepatan tertentu yang diperoleh dari kegiatan membaca yang disesuaikan dengan pemahaman isi bacaan ini disebut kecepatan efektif membaca. Strategi P3K diduga dapat meningkatkan kecepatan efektif membaca. Strategi ini merupakan rangkaian latihan memperluas jangkauan mata, mempercepat gerak mata, mempersempit bidang baca, dan mengurangi regresi. Strategi ini digunakan pada kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Malang, karena kecepatan dan pemahaman bacaannya rendah. Tujuannya agar hasil dan proses kecepatan efektif membaca siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Malang dengan Strategi P3K meningkat. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian ini terdiri atas persiapan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, analisis dan refleksi. Persiapan tindakan berupa penyusunan RPP berdasarkan kompetensi dasar tentang membaca cepat yaitu KD 11.1 menemukan pokok-pokok isi teks dengan membaca cepat 300 kpm. Pelaksanaan tindakan terdiri atas dua siklus. Siklus 1 dilaksanakan tanggal 18 Mei 2010 dan siklus 2 dilaksanakan tanggal 25 Mei 2010. Untuk memudahkan merekam data dari tahap ini maka digunakan lembar pengamatan. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 3 Malang yang berjumlah 27 siswa. Instrumen yang digunakan berupa instrumen tes dan nontes. Teknik pengumpulan data terdiri dari teknik tes dan nontes. Data teknik tes diperoleh dari hasil tes membaca. Data nontes penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik diskriptif kuantitatif dan teknik diskriptif kualitatif. Hasil penelitian terdiri atas hasil studi pendahuluan, Siklus 1, dan Siklus2. Hasil studi pendahuluan yaitu rata-rata kecepatan efektif membaca siswa satu kelas adalah 79,68% atau termasuk dalam kriteria hasil kurang, tidak ada siswa yang memperoleh kriteria hasi sangat baik (>300 kpm), baik (251–300kpm), maupun cukup (201 –250 kpm). Seluruh siswa (100%) hasil kecepatan efektif membacanya adalah kurang (≤ 200 kpm). Kecepatan efektif membaca pada Siklus 1 yang menunjukkan hasil sangat baik (> 300 kpm) berjumlah 2 siswa (8%), yang menunjukkan hasil baik (251–300 kpm) berjumlah 9 siswa (36%), yang menunjukkan hasil cukup (201–250 kpm) berjumlah 8 siswa (32%), dan yang menunjukkan hasil kurang (≤ 200 kpm) berjumlah 6 siswa (24%). Rata-rata kecepatan efektif membaca siswa satu kelas adalah 249,9 kpm. Temuan di siklus 1 yaitu: (1) siswa masih melakukan kebiasaan penghambat kecepatan membaca, khususnya menggerakkan bibir, 2) siswa menggunakan alat bantu untuk mencari jawaban, 3) siswa tampak jenuh dengan teks pada latihan. Hasil tersebut belum memenuhi tujuan penelitian sehingga dilakukan Siklus 2. Hasil kecepatan efektif membaca Siklus 2 yang menunjukkan hasil sangat baik (300 kpm ) berjumlah 9 siswa (36%), yang menunjukkan hasil baik (251–300 kpm) berjumlah 10 siswa (40%), yang menunjukkan hasil cukup (201–250 kpm) berjumlah 6 siswa (24%), dan tidak ada siswa yang menunjukkan hasil kurang (≤ 200 kpm). Rata-rata kecepatan efektif membaca Siklus 2 adalah 326,2 kpm. Selain itu, kebiasaan penghambat kecepatan membaca yang dilakukan siswa berkurang tiap siklusnya. Hasil penelitian Siklus 2 sudah memenuhi tujuan penelitian sehingga tidak perlu dilaksanakan siklus selanjutnya. Kesimpulan dari penelitian ini yang pertama, terjadi peningkatan kecepatan efektif membaca. Hasil studi pendahuluan menunjukkan rata-rata kecepatan membaca 132 kpm, meningkat di Siklus 1 menjadi 358,2 kpm, dan di siklus 2 meningkat menjadi 428,6 kpm. Persentase peningkatan kecepatan membaca dari studi pendahuluan ke Siklus 1 adalah 63%, dan persentase peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 16,4%. Pemahaman bacaan pada studi pendahuluan adalah 59,48%, meningkat di siklus 1 sebesar menjadi 69,2%, dan di siklus 2 meningkat menjadi 74%. Persentase peningkatan pemahaman dari studi pendahuluan ke siklus 1 adalah 14% dan peningkatan pemahaman dari siklus 1 ke siklus 2 adalah 6,5%. Kecepatan efektif membaca pada studi pendahuluan adalah 79,68 kpm meningkat di siklus 1 menjadi 249,9 kpm dan meningkat di siklus 2 menjadi 326,2 kpm. Persentase peningkatan kecepatan efektif membaca dari studi pendahuluan ke Siklus 1 sebesar 68% dan peningkatan dari Siklus 1 ke siklus 2 sebesar 23,4%. Kesimpulan kedua, terjadi peningkatan proses kecepatan membaca dan pemahaman bacaan siswa kelas XI IPS Negeri 3 Malang dengan Strategi P3K. Peningkatan mencakup strategi pembelajaran, penampilan guru, dan keadaan siswa. Pada studi pendahuluan diketahui bahwa keaktifan siswa dalam pembelajaran kurang, dan guru kurang menggunakan strategi untuk meningkatkan keepatan efektif membaca. Pada Siklus 1 terjadi peningkatan proses berupa digunakannya strategi dan media, guru kurang menguasai kelas dan menejemen waktu kurang, serta keaktifan siswa meningkat, tapi masih melakukan penghambat kecepatan membaca. Pada Siklus 2 terjadi peningkatan berupa modifikasi latihan memudahkan siswa, menejemen waktu oleh guru baik, dan penggunaan alat bantu mampu mengurangi kebiasaan penghambat kecepatan membaca siswa. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu Strategi P3K diharapkan diujicobakan di jenjang lain. Ragam latihan bisa dimodifikasi asal sesuai dengan konsep strategi P3K. Teks yang digunakan untuk latihan lebih bervariasi sesuai tingkat pemahaman siswa. Jika terjadi kesulitan dalam menerapkan Strategi P3K, maka latihan-lathannya dapat dimodifikasi sesuai teori membaca cepat. Dalam menghitung detik saat membaca, bisa menggunakan deret angka dengan interval tertentu, sebagai pengganti stopwatch.

Perbandingan efektivitas pendekatan konstruktivistik model learning cycle (LC 5E) dengan pembelajaran kooperatif model two stay two stray dalam peningkatan prestasi belajar ekonomi pokok bahasan perilaku konsumen dan produsen kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk / Dwi

 

Kata kunci: Learning Cycle 5E (LC 5E), Two Stay Two Stray, Prestasi Belajar Ekonomi Kegiatan pembelajaran merupakan proses berpikir siswa untuk melengkapi struktur kognitifnya sehingga memiliki keterhubungan antara konsep-konsep pengetahuan di dalamnya. Hal ini dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yang kompleks. Guru sebagai fasilitator harus mampu memilih dan menentukan pendekatan, metode, dan model pembelajaran yang tepat dengan pokok bahasan yang akan dipelajari, sehingga siswa mampu mencapai prestasi belajar di atas KKM. Penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray pada pokok bahasan Perilaku Konsumen dan Produsen menyebabkan prestasi belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk pada mata pelajaran ekonomi khususnya pokok bahasan perilaku konsumen dan produsen masih di bawah KKM. Hal ini karena model pembelajaran Two Stay Two Stray adalah model pembelajaran yang mengoptimalkan aktivitas interaksi siswa dan kurang dalam kontruksi pengetahuan untuk melengkapi struktur kognitif siswa, sehingga kegiatan pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa. Penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5E dipercaya mampu mengatasi masalah rendahnya prestasi belajar siswa pada pokok bahasan Perilaku Konsumen dan Produsen. Model pembelajaran Learning Cycle 5E (LC 5E) merupakan model pembelajaran yang mengembangkan aspek kognitif meliputi struktur, isi, dan fungsi yang menekankan pada organisasi-organisasi mental tingkat tinggi untuk memecahkan masalah-masalah serta proses perkembangan intelektual termasuk konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar dengan menerapkan pendekatan konstruktivistik model Learning Cycle 5E (LC 5E) pada pokok bahasan Perilaku Konsumen dan Produsen kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk; 2) Untuk mengetahui prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model Two stay Two Stray pada pokok bahasan Perilaku Konsumen dan Produsen kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk; dan 3) Untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar dengan menerapkan pendekatan konstruktivistik model Learning Cycle 5E (LC 5E) dengan prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray pada pokok bahasan Perilaku Konsumen dan Produsen kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen, dengan rancangan penelitian adalah Pre Experimental Design. Populasi pada penelitian adalah seluruh Siswa kelas X SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk. Sedangkan sampel yang diambil terdiri dari dua kelas, dimana satu kelas sebagai kelompok eksperimen 1 yaitu kelas X-4 dan satu kelas sebagai kelompok eksperimen 2 yaitu kelas X-5 yang diambil dengan teknik Purposive Random Sampling. Data diambil dari dokumentasi, wawancara, dan tes (pre test dan post test). Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji persyaratan yaitu uji normalitas dan uji homogenitas, dan uji hipotesis yaitu uji beda rata-rata kemampuan awal (t test), kemampuan akhir (t test), dan gain value (t test). Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar menggunakan pendekatan konstruktivistik model Learning Cycle 5E (LC 5E) dengan peningkatan prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif Model Two Stay Two Stray. Dari hasil analisis statistik dengan menggunakan Uji-t diperoleh hasil: 1) Nilai rata-rata pre test dari kelompok eksperimen 1 adalah 23,50 dan nilai pre test pada kelompok eksperimen 2 adalah 22,50; 2) Nilai rata-rata post test kelompok eksperimen 1 yang diajar dengan model Learning Cycle 5E sebesar 75,75 dan nilai rata-rata post test kelompok eksperimen 2 yang diajar dengan model Two Stay Two Stray sebesar 66,84; dan 3) Rata-rata gain value kelompok eksperimen 1 yang diajar dengan model Learning Cycle 5E (LC 5E) sebesar 52,25, sedangkan rata-rata gain value kelompok eksperimen 2 yang diajar dengan model Two Stay Two Stray sebesar 44,34. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik model Learning Cycle 5E (LC 5E) lebih tinggi daripada peningkatan prestasi belajar ekonomi siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan sebagai berikut: 1) Bagi guru mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk khususnya dan di sekolah lain umumnya, disarankan untuk lebih selektif dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan; 2) Bagi lembaga pendidikan dan institusi yang terkait, disarankan untuk membantu mensosialisasikan pendekatan konstruktivistik model Learning Cycle 5E (LC 5E) dan mengadakan kerjasama dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan kemampuan guru melalui pelatihan dan penataran cara menerapkan pendekatan konstruktivistik di sekolah-sekolah secara benar; dan 3) Bagi Penelitian Lanjutan disarankan untuk menerapkan model Learning Cycle 5E pada pokok bahasan yang berbeda dengan karakteristik yang sama dan sampel yang lebih luas, sehingga dapat diketahui apakah terdapat hasil yang sama dengan hasil penelitian ini. Disarankan pula untuk diadakan penelitian lanjutan dengan mengukur prestasi belajar tidak hanya dari ranah kognitif saja tetapi juga ranah afektif dan psikomotor agar menghasilkan penelitian yang memiliki nilai lebih. Karena respon siswa terhadap penerapan pembelajaran model Learning Cycle 5E dalam penelitian ini belum dapat diungkapkan, maka disarankan penelitian berikutnya dapat mengungkapkan hal tersebut.

Perbedaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan tipe NHT terhadap hasil belajar pada pokok bahasan penerapan fungsi peripheral dan instalasi PC siswa kelas X SMKN 6 Malang / Agus Nuryanto

 

Kata Kunci: Hasil Belajar, Jigsaw, Numbered Heads Together (NHT), Peripheral. Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan strategi pembelajaran yang diharapkan mampu memperbaiki sistem pendidikan yang telah berlangsung selama ini. Salah satu tolak ukur keberhasilan guru adalah bila dalam pembelajaran mencapai hasil yang optimal. Keberhasilan ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru untuk mengelola proses belajar mengajar. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara langsung dengan guru Peripheral kelas X TKJ di SMKN 6 Malang, diperoleh keterangan bahwa metode yang sering digunakan dalam pengajaran peripheral adalah metode ceramah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatif dengan menggunakan metode eksperimen semu (quasi experimental). Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar ranah kognitif dan ranah psikomotorik siswa kelas X TKJ pada pokok bahasan Perbaikan Peripheral sebagai variabel terikat sedangkan variabel bebasnya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan tipe NHT. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X TKJ di SMKN 6 Malang semester 1 tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 266 siswa dengan sampel penelitian adalah kelas X TKJ 4, kelas X TKJ 5, dan kelas TKJ 6. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling kelompok (kluster). Instrumen penelitian ini yaitu instrumen pembelajaran dan pengukuran. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif. Analisis stasistik kuantitatif untuk menganalisis data kemampuan awal siswa dan hasil belajar siswa yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Untuk hasil belajar ranah kognitif, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (NHT) (84,42) lebih tinggi dari kelas eksperimen (Jigsaw) (77,47) dengan selisih sebesar 6,95 poin. Sedangkan untuk hasil belajar ranah psikomotorik, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (NHT) (85,63) lebih tinggi dai kelas eksperimen (Jigsaw) (80,68) dengan selisih sebesar 4,95 poin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap hasil belajar (ranah kognitif dan ranah psikomotorik) siswa pada kompetensi "Menerapkan Fungsi Peripheral dan Instalasi PC" siswa kelas X SMKN 6 Malang tahun pelajaran 2010/2011.

Studi pengembangan variasi bolu kemojo jas Pekanbaru dengan buah sebagai penambah rasa dan aroma / Endang Sri Hastuti

 

Kata kunci : Pengembangan, Bolu Kemojo, buah Bolu Kemojo adalah kue khas Pekanbaru yang terbuat dari terigu, santan, telur, margarin, pewarna dari daun pandan dan daun suji, garam dan vanili. Bolu Kemojo memiliki bentuk menyerupai bunga kemboja dan rasa yang manis dan legit. Tujuan penelitian ini adalah menemukan apakah dengan penambahan buah pada Bolu Kemojo khas Pekanbaru akan meningkatkan aroma dan rasa, komposisi buah dan jenis buah dalam Bolu Kemojo khas Pekanbaru yang disukai masyarakat sebagai penambah rasa dan aroma. Pengujian terhadap aroma, rasa dan kesukaan dengan menggunakan format penilaian terhadap subjek uji coba, kemudian hasil uji coba dianalisis menggunakan persentase dan dijabarkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan aroma dan rasa pada Bolu Kemojo. Penilaian aroma buah tertinggi adalah produk B sangat beraroma sebesar 53,3%, penilaian rasa buah tertinggi adalah produk D berasa buah sebesar 63,3%, penilaian terhadap kesukaan tertinggi adalah produk A sebesar 56,7% responden menyatakan suka. Komposisi buah yang banyak untuk tambahan bahan pada Bolu Kemojo tidak menjadi jaminan disukai oleh konsumen. Oleh karena itu pemilihan jenis buah yang akan digunakan sangat penting. Diantara dua jenis buah yang digunakan pada penelitian, buah nangka adalah yang paling disukai sebagai penambah rasa dan aroma. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan buah pada Bolu Kemojo khas Pekanbaru meningkatkan aroma dan rasa produk variasi B dan produk variasi D. Komposisi buah dalam Bolu Kemojo yang disukai masyarakat adalah dengan penambahan buah nangka 5% dan penambahan buah pisang 20%. Jenis buah yang paling disukai masyarakat pada Bolu Kemojo khas Pekanbaru sebagai penambah rasa dan aroma adalah buah nangka. Maka dapat disarankan penambahan buah pada variasi Bolu Kemojo harus memperhatikan tingkat kematangan buah, jenis buah, teknik pemotongan buah dan pemerataan taburan buah pada adonan. Pemerintah Kota Pekanbaru dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menambah variasi produk Bolu Kemojo. Masyarakat wirausaha (pengusaha) dapat menjadikan Bolu Kemojo khas Pekanbaru sebagai prospek usaha makanan di kota Malang pada khususnya. Peneliti selanjutnya yang juga tertarik untuk melakukan pengembangan produk Bolu Kemojo khas Pekanbaru dapat menambahkan kajian untuk mengembangkan bauran pemasaran.

Analisis penggolongan kelas kata kalimat bahasa Jerman oleh mahasiswa Sastra Jerman angkatan 2008/2009 dalam mata kuliah Deutsche Syntax / Aric Susilowati

 

Kata kunci : kelas kata, Bahasa Jerman, Penggolongan Kesalahan-kesalahan dalam penggolongan kelas kata kalimat berbahasa Jerman seringkali terjadi. Sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam menggolongkan kelas kata dengan benar. Penggolongan kelas kata yang sulit dilakukan mahasiswa adalah penggolongan dari kata yang berada di dalam kalimat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penggolongan kelas kata bahasa Jerman oleh mahasiswa sastra Jerman dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan penggolongan kelas kata bahasa Jerman mahasiswa angkatan 2008/2009 Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini diperoleh dari tes tertulis dan juga data angket yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan mahasiswa meenggolongkan kelas kata. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2008/2009 offering A dan offering B yang melaksanakan kuliah dalam waktu yang sama pada kelas Deutsche Syntax yang ditempuh pada semester ganjil 2010/2011. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) mahasiswa mampu atau tidak melakukan banyak kesalahan dalam menggolongkan kata di dalam kalimat pada kelas kata Verben, Artikel, Präposition, Numerale, Interjektion (2) mahasiswa melakukan kesalahan dalam menganalisis kata di dalam kalimat kelas kata Pronomen, Adverb, Partikel, Substantiv dan Konjunktion, Adjektiv. Pada kelas kata Pronomen kesalahannya pada penggolongan Indevinitivpronomen, Demonstrativpronomen, Introgativpronomen. Pada kelas kata Adverb kesalahan terbanyak meliputi Temporaladverbien, Modaladverbien. Pada kelas kata Partikel kesalahan terbanyak adalah kesalahan penggolongan Negationpartikeln nicht yaitu hampir semua mahasiswa salah dalam menggolongkan kelas katanya. Pada kelas kata Substantiv yaitu kesalahan penggolongan terhadap nama. Pada kelas kata Konjunktion kesalahan terbanyak pada kata sowie, als dan kata als...auch. Pada kelas kata Adjektiv kesalahan dilakukan lebih dari setengah mahasiswa pada kata krank, vorigen, meisten, nächsten, letzte Kesulitan yang dialami mahasiswa karena dalam menggolongkan kelas kata diperlukan ketelitian dalam penggolongan kelas kata. Disarankan untuk mahasiswa lebih bisa meningkatkan semangat dan motivasi belajar khususnya belajar materi kelas kata. Untuk dosen diharapkan dapat menjadi pertimbangan pengajaran kelas kata yang dapat mempermudah mahasiswa dalam belajar materi kelas kata, misalnya dengan menggunakan metode, media dalam belajar, serta penyesuaian materi belajar.

Perbedaan kemampuan menerjemahkan teks fiksi dan non fiksi mahasiswa jurusan Sastra Jerman UM angkatan 2008 pada matakuliah Ubersetzung Deutsch-Indonesisch / Ruli Lesmono

 

Kata kunci: Kemampuan, menerjemahkan, teks fiksi dan non fiksi Menerjemahkan adalah suatu kegiatan mengungkapkan kembali makna dari bahasa sumber secara sama atau sedekat-dekatnya dengan bahasa sasaran dengan memperhatikan leksikon, struktur gramatikal, situasi, komunikasi, dan konteks bahasa sumber sehingga terjadi komunikasi antara pengarang, penerjemah, dan pembaca dengan baik. Berdasarkan pengamatan peneliti, kemampuan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman UM angkatan 2008 dalam menerjemahkan teks fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia sangat baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) kemampuan menerjemahkan teks fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia mahasiswa angkatan 2008 UM pada matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch, (2) kemampuan menerjemahkan teks non fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia mahasiswa angkatan 2008 UM pada matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch, dan (3) signifikansi perbedaan antara kemampuan menerjemahkan teks fiksi dan non fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia mahasiswa Jurusan Sastra Jerman UM angkatan 2008 pada matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kuantitatif. Sumber data penelitian ini adalah rekap nilai hasil terjemahan teks fiksi dan non fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia yang diperoleh dari dosen Pembina matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi. Kemudian data diseleksi sesuai dengan jenis teks terjemahan. Selanjutnya data dianalisis. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan T-test sampel berhubungan dengan bantuan Kalkulator screen yang terdapat pada komputer untuk mengetahui signifikansi perbedaan antara kemampuan menerjemahkan teks fiksi dan non fiksi mahasiswa Jurusan Sastra Jerman UM angkatan 2008 pada matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch. Dari hasil analisis ditemukan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kemampuan menerjemahkan teks fiksi dan non fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia mahasiswa Jurusan Sastra Jerman UM angkatan 2008. Hal ini berarti bahwa kemampuan mahasiswa Jurusan Sastra Jerman UM angkatan 2008 dalam menerjemahkan teks fiksi lebih baik daripada menerjemahkan teks non fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia. Untuk meningkatkan kemampuan dalam menerjemahkan teks non fiksi bahasa Jerman ke bahasa Indonesia disarankan kepada mahasiswa Jurusan Sastra Jerman angkatan 2008 UM untuk sering berlatih menerjemahkan teks non fiksi bahasa Jerman, kemudian hasilnya dikonsultasikan ke dosen-dosen Pembina matakuliah Übersetzung Deutsch-Indonesisch.

Perbedaan hubungan antara bentuk dan penyusunan tata ruang kantor dengan efisiensi kerja pegawai di Kantor Taman Kanak-kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang / Ndetta Wingkasa

 

Kata kunci: tata ruang kantor, efisiensi kerja Kedudukan dan peranan kantor berkembang dengan pesat dan sangat menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Dalam kehidupan organisasi yang berorientasi pada masa depan, dalam arti bahwa penyelenggaraan kegiatan perkantoran memerlukan pimpinan dan staf yang mengerti akan tugasnya dan bersemangat mencurahkan perhatiannya secara sungguh-sungguh, dan berusaha untuk dapat mengolah informasi, sehingga dapat menjadi sesuatu yang berdaya guna. Berkenaan dengan penataan ruang kantor yang ideal untuk menghindari main coba-coba yang berkali-kali dan keraguan, maka sebuah perencanaan tata ruang kantor yang baik sangat diperlukan, rencana tata ruang itu hendaknya diuji menyeluruh oleh arus kerja normal, arus manusia dan dokumen sebelum ditetapkan dengan pasti. Penataan tata ruang kantor tersebut meliputi bentuk tata ruang kantor dan penyusunan tata ruang kantor, sehingga pengaturan susunan tempat kerja yang baik akan menentukan arus kerja kantor dan berdampak pada efesiensi kerja. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah kondisi tata ruang kantor di Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang?, (2) bagaimanakah tingkat efisiensi kerja pegawai di Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang?, (3) apakah terdapat hubungan antara kondisi tata ruang kantor (bentuk tata ruang kantor dan penyusunan tata ruang kantor) secara parsial dengan efisiensi kerja pegawai di Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang?, (4) apakah terdapat hubungan secara simultan antara kondisi tata ruang kantor dengan efisiensi kerja pegawai di Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang?. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Untuk variabel bebasnya yakni Tata Ruang Kantor (X) yang terdiri dari variabel Bentuk Tata Ruang Kantor (X1), Penyusunan Tata Ruang Kantor (X2). Sedangkan variabel terikatnya adalah Efisiensi Kerja Pegawai (Y). Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah 26 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan Sampel Total (Total Sampling), yaitu jumlah populasi keseluruhan dijadikan sampel penelitian. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket. Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik deskriptif dan regresi berganda. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Secara deskriptif tata ruang kantor (X) yang terdiri dari bentuk tata ruang (X1) dan penyusunan tata ruang kantor (X2) di Kantor Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang berada pada klasifikasi sangat baik; (2) Secara deskriptif tingkat efisiensi kerja pegawai (Y) di Kantor Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas negeri Malang berada pada klasifikasi sangat baik; (3) Secara parsial masing-masing subvariabel tata ruang kantor memiliki pengaruh yang berbeda terhadap efisiensi kerja pegawai. Subvariabel bentuk tata ruang kantor (X1) secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi kerja pegawai (Y), sedangkan subvariabel penyusunan tata ruang kantor (X2) secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi kerja pegawai (Y); (4) Tata ruang kantor (X) secara simultan (bersama-sama) berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi kerja pegawai (Y). Berdasarkan kesimpulan penelitian ini, peneliti mengajukan saran: (1) bagi Kepala Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas penataan tata ruang kantor yang telah dimiliki sehingga dapat memotivasi pegawai dalam meningkatkan kinerja atau prestasi di Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang. Sedangkan bentuk tata ruang kantor yang telah ada hendaknya perlu diperhatikan lagi pemilihannya, karena pemilihan bentuk tata ruang kantor rancangan terbuka kurang bisa memaksimalkan tingkat efisiensi kerja pegawai di kantor Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang. Bentuk tata ruang kantor yang dapat dijadikan pertimbangan ketika rekonstruksi ulang tata ruang kantor adalah bentuk kantor bersel, karena jenis kantor ini dapat memberikan ruangan yang terpisah sesuai dengan kebutuhannya; (2) bagi Kepala Bagian Tata Usaha Taman Kanak-Kanak Laboratorium Universitas Negeri Malang agar hasil penelitian ini digunakan untuk bahan tambahan referensi dalam melaksankaan rekonstruksi ulang tata ruang kantor pada waktu yang akan datang dalam rangka meningkatkan efisiensi kerja pegawai (3) bagi Jurusan Administrasi Pendidikan diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan referensi dan sumber pengkajian lebih lanjut mengenai manajemen perkantoran.

Peningkatan kemampuan menulis cerpen dengan menggunakan strategi webbing siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Kertosono / Puji Astuti R.E.

 

Kata kunci: peningkatan kemampuan, pembelajaran, menulis cerpen, strategi webbing Menulis cerpen merupakan salah satu kompetensi dasar menulis sastra yang wajib dikuasai oleh siswa di kelas X. Tujuannya agar siswa mampu mengekspresikan pikiran, ide, gagasan, pengalaman, dan imajinasinya melalui menulis cerpen. Kenyataannya, ditemukan permasalahan dalam pembelajaran menulis cerpen di kelas X SMA Muhammadiyah 2 Kertosono. Beberapa permasalahan tersebut adalah, siswa sulit menemukan ide yang kreatif dan segar, sulit mengaplikasikan unsur-unsur pembangun cerpen, sulit menggunakan pilihan kata, dan mengaplikasikan pengalaman pribadi siswa ke dalam cerpen. Dalam proses pembelajaran, guru tidak memberikan materi yang cukup tentang menulis cerpen dan belum membimbing siswa selama proses menulis. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan ketika menulis cerpen dan isi ceritanya kurang hidup. Untuk mengatasi masalah tersebut, dirancang penelitian tindakan kelas dengan menggunakan strategi webbing. Dipilihnya strategi webbing karena: pertama, strategi webbing didasari pada teori yang memudahkan dan menyenangkan anak untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman yang ada di pikirannya dalam bentuk visualisasi gambar dan tulisan; dan kedua, webbing merupakan alat untuk membantu siswa berpikir secara sistematis dan terorganisasi dengan baik karena ide-ide di otak yang sifatnya masih abstrak dapat divisualisasikan secara konkrit dalam bentuk kata-kata kunci yang diletakkan dalam bulatan-bulatan webbing sehingga siswa dengan mudah dapat mengembangkan kata-kata kunci tersebut menjadi kalimat, paragraf, dan akhirnya menjadi sebuah cerpen yang utuh. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing tiga pertemuan. Tujuannya adalah meningkatnya kemampuan siswa menulis cerpen dengan menggunakan strategi webbing pada tahap pemunculan ide, pengembangan ide, penulisan draf awal cerpen, dan penyempurnaan cerpen. Sumber data berasal dari pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen siswa kelas X SMA Muhammadiyah 2 Kertosono dengan menggunakan strategi webbing. Data penelitian meliputi data kuantitatif berupa nilai tes awal kemampuan siswa menulis cerpen, nilai kemampuan siswa menulis cerpen setelah diterapkan tindakan, dan data penilaian proses aktivitas guru dan siswa selama pelaksanaan tindakan. Selain itu, juga data kualitatif berupa data hasil observasi dan wawancara tahap studi pendahuluan, catatan pengamatan aktivitas guru dan siswa selama pelaksanaan tindakan, serta data hasil wawancara dengan guru dan siswa pada setiap akhir tindakan. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Adapun analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan pengambilan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan siswa pada tahap pemunculan ide, pengembangan ide, penulisan draf awal cerpen, dan penyempurnaan cerpen. Pada tahap pemunculan ide siklus I, guru menampilkan gambar-gambar peristiwa dan aktivitas siswa. Hal ini mengakibatkan pemunculan ide yang banyak namun kurang beragam, yaitu hanya mengangkat seputar peristiwa dan aktivitas siswa di sekolah. Pada siklus II, guru menampilkan gambar-gambar peristiwa yang tidak hanya berisi peristiwa dan aktivitas siswa di sekolah, tapi juga menampilkan gambar-gambar peristiwa dan kejadian dalam masyarakat yang lebih luas. Hasilnya, ide-ide yang diangkat siswa semakin beragam, tidak hanya seputar dunia remaja namun juga mengangkat masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat secara luas, seperti kemiskinan, bencana alam, pengemis tua, dan sebagainya. Pada tahap pengembangan ide, yaitu pengembangan webbing tema, sub-subtema yang merupakan rincian dari tema semakin mendukung atau mencerminkan tema utama, serta rumusan subtema tidak lagi hanya sekedar penjabaran cerita saja dari tema yang diangkat, namun sudah menunjukkan perincian ide dasar tambahan. Pada pengembangan webbing alur, sudah adanya konsistensi antara peristiwa dalam tahapan dengan rincian peristiwa-peristiwanya, adanya ketepatan dalam penentuan peristiwa tiap tahapan, pengembangan alur dan tahapan alur lebih dirinci dalam unit-unit peristiwa, dan adanya perincian pada tahap konflik. Pada tahap pengembangan webbing tokoh, siswa sudah menentukan tokoh-tokohnya, baik tokoh utama protagonis, antagonis, dan tokoh tambahan. Keadaan fisik dan sifat tokoh pun semakin dapat dideskripsikan secara detail. Pada tahap pengembangan webbing latar, baik latar tempat, waktu, maupun suasana sudah dirinci, lengkap dengan karakteristik dan sifat khasnya. Pada tahap pengembangan webbing sudut pandang, siswa telah merinci dengan masing-masing jenis sudut pandang dengan ciri khasnya, serta sudah menentukan sudut pandang yang dipakai dalam pengisahan cerpennya. Pada tahap penulisan draf awal cerpen, siswa menunjukkan kemampuan dalam menulis pembuka cerpen, pendeskripsian karakter tokoh, pendeskripsian latar, pemunculan konflik, pemberian peleraian, dan penutup cerpen, yang secara umum tulisan siswa semakin baik dan menarik, sehingga kualifikasinya meningkat dari kualifikasi cukup pada siklus I ke kualifikasi baik pada siklus II. Pada tahap penyempurnaan cerpen siklus I, siswa menunjukkan kemampuan dalam menyunting dan merevisi cerpen, yang secara umum siswa dapat menyunting pembuka cerpen, pendeskripsian tokoh, pendeskripsian latar, pengembangan alur, penutup cerpen, pemilihan kata, penggunaan bahasa, dan penggunaan ejaan dan tanda baca, sehingga kualifikasinya meningkat dari kualifikasi cukup pada siklus I ke kualifikasi baik pada siklus II. Berdasarkan peningkatan hasil dan produk tersebut, kemampuan siswa dalam menulis draf akhir cerpen mengalami peningkatan, baik dari segi pemilihan tema, pengembangan alur, penggambaran karakter tokoh, penggambaran latar, penggunaan gaya bahasa, maupun ejaan dn tanda baca, sehingga dapat disimpulkan pembelajaran menulis cerpen dapat ditingkatkan dengan strategi webbing.

Pengaruh return on equity (ROE), price earning ratio (PER), dan price book value (PBV) terhadap return saham pada perusahaan property dan real estate yang listing di BEI periode 2005-2009 / Donny Pradinata

 

Kata Kunci: Return On Equity, Price Earning Ratio, Price Book Value, Return Saham Investasi pada asset keuangan mengandung banyak ketidakpastian, sehingga investor perlu melakukan penilaian terhadap saham yang akan dipilihnya. Para investor hendaknya menganalisa faktor-faktor yang berkaitan dengan dinamika saham agar bisa mengambil keputusan tentang saham perusahaan yang dipilih. Faktor tersebut salah satunya adalah berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan. Adapun kinerja keuangan yang digunakan adalah Return On Equity (ROE), Price Earning Ratio (PER), dan Price Book Value (PBV). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat ROE, PER, PBV, dan return saham, serta untuk mengatahui ada atau tidaknya pengaruh signifikan antara ROA, ROE, dan PBV secara parsial dan simultan terhadap return saham.. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan property dan real estate yang listing di BEI periode 2005-2009. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan diperoleh 8 perusahaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan analisa data menggunakan bantuan SPSS 16.0 for windows dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa ROE, PER dan PBV secara parsial berpengaruh terhadap return. Secara simultan variabel ROE, PER, dan PBV berpengaruh signifikan terhadap return. Saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan penelitian ini adalah, untuk investor hendaknya tetap memperhatikan kinerja keuangan perusahaan dan rasio-rasio keuangan yang lain, seperti likuiditas dan leverage. Selain itu, investor juga harus memperhatikan faktor makro yang terjadi, seperti inflasi, kurs, rumor, dan tingkat suku bunga agar tidak salah dalam menentukan investasi selanjutnya. Bagi perusahaan atau emiten, hendaknya tetap menjaga kebijakan deviden dan kondisi fundamental perusahaan, karena kinerja perusahaan tetap menjadi kriteria investor dalam memilih investasi. Penelitian berikutnya sebaiknya menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak, variabel-variabel lain, dan periode yang lebih panjang, sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.

Telaah kompetensi dasar membaca dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah / Lukman Hakim

 

Kata Kunci : kompetensi dasar membaca, pembelajaran bahasa Indonesia. Kurikulum merupakan salah satu komponen penting dari sistem pendidikan, karena kurikulum merupakan komponen pendidikan yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan, baik oleh pengelola maupun penyelenggara; khususnya oleh guru dan kepala sekolah. Dalam kaitannya dengan KTSP, Depdiknas telah menyiapkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD) berbagai mata pelajaran untuk dijadikan acuan oleh para pelaksana (guru) dalam mengembangkan KTSP pada satuan pendidikan masing-masing. Standar kompetensi dan kompetensi dasar merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan aspek-aspek kompetensi dasar membaca yang diajarkan dari SD sampai SMA, (2) mendeskripsikan kesinambungan aspek-aspek kompetensi dasar membaca dari SD sampai SMA, (3) mendeskripsikan gradasi aspek-aspek kompetensi dasar membaca dari SD sampai SMA, dan (4) mendeskripsikan pengulangan aspek-aspek kompetensi dasar membaca dari SD sampai SMA. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Sedangkan metode penelitiannya adalah deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kompetensi dasar membaca yang terdapat dalam standar isi. Sumber data dalam penelitian ini adalah standar isi yang diterbitkan oleh BSNP. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa Aspek-aspek kompetensi dasar membaca di SD antara lain: (1) membaca nyaring, (2) membaca lancar, (3) membaca puisi, (4) membaca dalam hati, (5) membaca intensif, (6) membaca dongeng, (7) membaca sekilas, (8) membaca memindai, (9) membaca pantun, (10) membaca cepat, (11) membaca teks percakapan, (12) membaca cerita, dan (13) membaca teks drama. Kemudian aspek-aspek kompetensi dasar membaca di SMP antara lain: (1) membaca memindai, (2) membaca cepat, (3) membaca teks perangkat upacara, (4) membaca intensif, (5) membaca ekstensif, (6) membaca nyaring, (7) membaca cerita (cerpen), (8) membaca puisi, (9) membaca teks drama, dan (10) membaca novel. Selanjutnya aspek-aspek kompetensi dasar membaca di SMA antara lain: (1) membaca cepat, (2) membaca ekstensif, (3) membaca memindai, (4) membaca intensif, (5) membaca nyaring, (6) membaca puisi, (7) membaca cerpen, (8) membaca hikayat, (9) membaca novel, dan (10) membaca buku biografi. Kompetensi dasar membaca di kelas I terdapat kesinambungan, di kelas II terdapat kesinambungan, di kelas III terdapat kesinambungan, di kelas IV tidak terdapat kesinambungan, di kelas V tidak terdapat kesinambungan, di kelas VI tidak terdapat kesinambungan, di kelas VII terdapat kesinambungan, di kelas VIII terdapat kesinambungan, di kelas IX terdapat kesinambungan, di kelas X terdapat kesinambungan, di kelas XI terdapat kesinambungan, dan di kelas XII terdapat kesinambungan. Kompetensi dasar membaca aspek membaca nyaring dari SD sampai SMA terdapat kesinambungan, aspek membaca puisi terdapat kesinambungan, aspek membaca intensif terdapat kesinambungan, aspek membaca memindai terdapat kesinambungan, aspek membaca cepat terdapat kesinambungan, aspek membaca teks sastra terdapat kesinambungan, dan aspek membaca ekstensif tidak terdapat kesinambungan. Gradasi aspek-aspek kompetensi dasar membaca di kelas I lebih sulit semester 2, di kelas II lebih sulit semester 1, di kelas III lebih sulit semester 2, di kelas IV tidak bisa digradasikan, di kelas V tidak bisa digradasikan, di kelas VI tidak bisa digradasikan, di kelas VII lebih sulit semester 2, di kelas VIII lebih sulit semester 1, di kelas IX lebih sulit semester 2, di kelas X lebih sulit semester 2, di kelas XI lebih sulit semester 2, dan di kelas XII lebih sulit semester 2. Kompetensi dasar membaca aspek membaca nyaring dari SD sampai SMA lebih sulit di SMA, aspek membaca puisi lebih sulit di SMA, aspek membaca intensif lebih sulit di SMA, aspek membaca memindai lebih sulit di SMA, aspek membaca cepat lebih sulit di SMA, aspek membaca teks sastra lebih sulit di SMA, dan aspek membaca ekstensif lebih sulit di SMP. Kompetensi dasar membaca di kelas I tidak terdapat pengulangan, di kelas II terdapat pengulangan, di kelas III tidak terdapat pengulangan, di kelas IV terdapat pengulangan, di kelas V tidak terdapat pengulangan, di kelas VI tidak terdapat pengulangan, di kelas VII terdapat pengulangan, di kelas VIII terdapat pengulangan, di kelas IX tidak terdapat pengulangan, di kelas X tidak terdapat pengulangan, di kelas XI terdapat pengulangan, dan di kelas XII terdapat pengulangan. Kompetensi dasar membaca aspek membaca nyaring dari SD sampai SMA terdapat pengulangan, aspek membaca lancar tidak terdapat pengulangan, aspek membaca puisi terdapat pengulangan, aspek membaca intensif terdapat pengulangan, aspek membaca memindai terdapat pengulangan, aspek membaca cepat terdapat pengulangan, aspek membaca prosa terdapat pengulangan, aspek membaca teks drama tidak terdapat pengulangan, dan aspek membaca ekstensif terdapat pengulangan. Berdasarkan temuan penelitian tersebut dapat disarankan bagi peneliti selanjutnya perlu mengadakan penelitian lanjutan dengan fokus yang berbeda, misalnya mengenai keterampilan berbahasa yang lain. Bagi pengembang hendaknya dalam penyusunan komponen kurikulum lebih operasional lagi sehingga mudah dilaksanakan oleh pengguna kurikulum.

Hubungan intensitas interaksi dengan komputer dan prestasi belajar bidang produktif terhadap rencana pemilihan karier siswa Jurusan TKJ SMK Katolik Blitar / Candra Kurniawan

 

Kata Kunci: intensitas interaksi dengan komputer, prestasi belajar bidang produktif, rencana pemilihan karir. Kegiatan keseharian yang dilakukan oleh siswa jurusan TKJ adalah berinteraksi dengan komputer. Dengan berinteraksi dengan komputer, maka siswa akan memperoleh informasi dan pengetahuan serta dapat meningkatkan keterampilannya dalam penggunaan komputer. Hal ini tentunya akan sangat mempengaruhi pemiliham karier siswa yang kemungkinan besar akan memilih pekerjaan atau bidang pendidikan yang lebih tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan tingkat interaksi dengan komputer, tingkat prestasi belajar di bidang produktif, dan tingkat perencanaan pemilihan karier, (2) mencari hubungan antara tingkat interaksi dengan komputer dengan tingkat perencanaan pemilihan karier, (3) mencari hubungan antara tingkat prestasi belajar dalam bidang produktif dengan tingkat perencanaan pemilihan karier, dan (4) mencari hubungan secara simultan antara tingkat intensitas interaksi dengan komputer dan tingkat prestasi belajar dalam bidang produktif dengan tingkat rencana pemilihan karier Jenis penelitian ini adalah deskriptif dan korelasional. Populasi penelitian adalah siswa kelas XI jurusan TKJ SMK Katolik Blitar. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel 59 siswa yang terdiri dari siswa kelas XI Jurusan TKJ. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket instrumen intensitas interaksi dengan komputer, rencana pemilihan karier, dan dokumentasi nilai bidang produktif. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan korelasi ganda. Hasil penelitian ini ialah (1) siswa kelas XI jurusan TKJ SMK Katolik Blitar memiliki tingkat intensitas interaksi dengan komputer cenderung berada dalam kategori tinggi sebanyak 22 responden (37,29%), tingkat prestasi belajar bidang produktif cenderung berada dalam kategori sedang sebanyak 19 responden (32,20%), dan tingkat rencana pemilihan karier cenderung berada dalam kategori rendah sebanyak 21 responden (35,59%), (2) hasil korelasi antara intensitas interaksi dengan komputer dengan rencana pemilihan karier sebesar 0,691 dan sig.=0,000 < 0.05, berarti ada hubungan signifikan antara interaksi dengan komputer dengan rencana pemilihan karier siswa, (3) hasil korelasi antara prestasi belajar bidang produktif dengan rencana pemilihan karier sebesar 0,693 dan sig.=0,000 < 0.05, berarti ada hubungan signifikan antara prestasi belajar bidang produktif dengan rencana pemilihan karier siswa, dan (4) hasil korelasi antara intensitas interaksi dengan komputer dan prestasi belajar bidang produktif dengan rencana pemilihan karier sebesar 0,717 dan sig.=0,000 < 0.05, berarti ada hubungan secara simultan signifikan antara intensitas interaksi dengan komputer dan prestasi belajar bidang produktif dengan rencana pemilihan karier siswa

Penilaian kinerja manajemen dengan menggunakan analisis laporan keuangan pada PT Pos Indonesia (Persero) Blitar / Wendra Kusuma Atmadja

 

Kata kunci: Likuiditas, Profitabilitas, Solvabilitas, dan Aktivitas. Perkembangan dan persaingan pada perusahaan penyedia layanan telekomunikasi yang ketat saat ini, mengakibatkan perusahaan meningkatkan pelayanan terbaik kepada konsumen sehingga pendapatan bagi perusahaan tidak berkurang dan berusaha memperbaiki kinerja manajemennya. Melalui laporan keuangan dapat diperoleh informasi penting bagi pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan, dapat dimanfaatkan untuk memprediksi kondisi keuangan masa mendatang, dan untuk mengukur tingkat kinerja manajemen selama periode waktu tertentu yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan oleh manajemen, sehingga diperoleh tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengukur kinerja perusahaan PT POS melalui analisis laporan keuangan perusahaan dengan metode rasio keuangan. Penilaian kinerja dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan analisis rasio yang membandingkan antar pos-pos terkait dalam neraca dan laporan laba-rugi serta membandingkan kondisi di laporan keuangan dengan teori yang terdapat dalam referensi yang digunakan. Dari rasio yang dihasilkan, kinerja PT POS Malang selama tahun 2004-2008 untuk rasio likuiditas dinilai semakin baik karena persentasenya semakin naik sehingga kewajiban dapat dijamin, dari rasio profitabilitas dinilai baik karena mengalami kenaikan dari tahun ke tahun dan adanya peningkatan laba bersih, rasio solvabilitas dinilai mengalami kenaikan yang baik karena dapat memaksimalkan nilai aset untuk mendanai kewajiban yang dimiliki, rasio aktivitas dinilai baik karena dapat dengan cepat mengubah akun piutang menjadi kas. Dari rasio yang ada disarankan perusahaan memberi perhatian pada aset dan akun pendapatan karena nilainya masih mungkin untuk ditingkatkan lagi. Meningkatkan nilai aktiva melalui kenaikan nilai kas dan piutang. Mengurangi biaya melalui pengurangan intensitas dalam melakukan perjalanan dinas sehingga laba bersih perusahaan dapat ditingkatkan, dan meningkatkan pelayanan kepada konsumen agar perusahaan dapat bersaing.

Perbandingan antara pemikiran Soekarno dengan Tan Malaka tentang nasionalisme / Lanny Hardianto

 

Kata kunci: Perbandingan, Pemikiran, Nasionalisme Perkembangan nasionalisme tidak dapat lepas dari peran kepemimpinan Soekarno. Soekarno aktif membangkitkan kesadaran rakyat kepada hak-hak dan martabatnya sebagai manusia utuh yang hakiki. Perjuangan Soekarno dalam menentang penjajah diwujudkan melalui pemikiran-pemikiran yang kritis menyangkut bangsanya yang masih terjajah secara fisik maupun mental. Selain Soekarno sebagai tokoh pembebasan nasional, dalam menghadapi kaum penjajah terdapat tokoh radikal kiri yang juga berjasa dalam usaha merebut kemerdekaan Indonesia. Tokoh radikal kiri itu bernama Tan Malaka. Perjuangan Tan Malaka dalam menentang penjajah dilakukan dengan perjuangan gerilya. Ia juga menentang kebijakan kaum kolonialis dan imperialis melalui ide-ide pemikirannya. Soekarno dan Tan Malaka mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam merebut Kemerdekaan Indonesia. Rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah (1) bagaimana persamaan pemikiran nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka, (2) bagaimana perbedaan pemikiran nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka, (3) bagaimana prospek pemikiran nasionalisme mereka di era globalisasi. Tujuan penulisan skripsi ini adalah (1) untuk mengetahui dan memahami persamaan pemikiran nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka, (2) untuk mengetahui dan memahami perbedaan pemikiran nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka, (3) untuk mengetahui dan memahami prospek pemikiran nasionalisme mereka di era globalisasi. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan melakukan analisis terhadap data dan fakta yang diperoleh dari sumber pustaka sehingga memperoleh suatu hasil analisis berupa argumentasi penulis. Proses penggarapan yang digunakan meliputi heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Persamaan pemikiran nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka meliputi (1) Dalam hal ideologi mereka menginginkan berdirinya suatu negara Indonesia yang berbentuk republik, (2) dalam hal politik mereka menginginkan adanya persatuan di kalangan rakyat dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa Indonesia, (3) dalam hal ekonomi mereka menghendaki suatu ekonomi terencana yang menginginkan gotong royong seluruh rakyat Indonesia, (4) dalam hal sosial mereka menginginkan rakyat Indonesia menjadi sejahtera baik spiritual maupun materiil, (5) dalam hal budaya mereka menginginkan agar bangsa Indonesia melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Indonesia serta menolak pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Perbedaan pemikiran nasionalisme Soekarno dan Tan Malaka meliputi (1) dalam hal ideologi pemikiran Soekarno didasarkan pada Marhaenisme sedangkan pemikiran Tan Malaka didasarkan pada komunisme, (2) dalam hal politik Soekarno dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia menggunakan cara diplomasi sedangkan Tan Malaka dalam hal mewujudkan kemerdekaan Indonesia menggunakan cara konfrontasi, (3) dalam hal ekonomi Soekarno menginginkan agar seluruh perusahaan yang berskala besar dimiliki oleh pemerintah tetapi rakyat harus diikutsertakan dalam mengontrol perekonomian Indonesia sedangkan Tan Malaka menginginkan agar rakyat Indonesia saja yang memegang semua perusahaan serta mengontrol perekonomian Indonesia, (4) dalam hal sosial Soekarno mencita-citakan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila sedangkan Tan Malaka menghendaki masyarakat Indonesia menjadi masyarakat komunis. Globalisasi merupakan suatu fenomena nyata dalam perkembangan kehidupan manusia yang dampaknya dapat dirasakan hingga seluruh segi kehidupan. Indonesia dewasa ini sedang dilanda arus globalisasi dengan intensitas yang tinggi. Dalam aspek ekonomi penanaman modal asing merupakan salah satu persoalan yang harus diperhatikan bangsa Indonesia. Pada aspek politik persaingan yang tidak sehat diantara para elit politik dimanfaatkan pihak tertentu untuk memecah belah persatuan bangsa. Pada aspek budaya, budaya lokal bangsa Indonesia semakin terpinggirkan. Melihat berbagai permasalahan yang ada maka nasionalisme masih diperlukan dan sangat relevan di masa yang akan datang serta konsep Tri Sakti yang digagas Soekarno dan konsep Merdeka 100% yang digagas oleh Tan Malaka masih sangat relevan hingga saat ini.

Perancangan komik anti korupsi untuk menumbuhkan sikap anti korupsi siswa SMP / Dhara Alim Cendekia

 

Kata kunci : perancangan, komik, anti koruspi, siswa SMP. Korupsi adalah salah satu dari faktor-faktor yang menghancurkan bangsa. Oleh karenanya, untuk meningkatkan kesadaran generasi penerus bangsa agar mempunyai kepribadian anti korupsi, dibutuhkan media yang dapat mempengaruhi mereka, salah satunya komik. Pemilihan komik sebagai media dikarenakan komik merupakan media yang disukai oleh siswa SMP. Dengan demikian diharapkan pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh target audience. Maksud dan tujuan dari disusunnya perancangan komik anti korupsi ini adalah untuk menginspirasi siswa SMP agar berkepribadian dan berperilaku anti korupsi, serta berani melawan korupsi dimanapun mereka berada. Sehingga memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa agar Indonesia terbebas dari korupsi. Model perancangan yang dibuat adalah menggunakan model perancangan yang bersifat prosedural dengan menerangkan langkah-langkah yang dilakukan untuk menghasilkan produk komik. Data yang dipakai sebagai acuan berupa data-data yang bersumber dari kepustakaan, pengalaman pribadi, dan dari perkuliaahan yang diikuti penulis. Hasil perancangan ini adalah satu buah komik dengan dua cerita yang menceritakan kas kelas dan kantin kejujuran. Serta media pendukung lainnya yang berupa poster, pin, pembatas buku, poster, stiker. Berdasarkan perancangan ini, dapat disarankan agar dikembangkan peran komik dengan lebih mendalam, tidak hanya sebagai media hiburan saja. Secara teoritik hasil perancangan ini efektif karena telah dirancang menggunakan pendekatan ilmiah sesuai dengan metodologi perancangan yang lazim. Meskipun demikian dibutuhkan ujicoba keefektifannya agar diperoleh hasil empirik sesuai dengan kebutuhan fungsinya.

Pengaruh jumlah dewan komisaris, kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen laba (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009) / Muhamad Yanuar Hendro Nugroho

 

Kata Kunci: Jumlah Dewan Komisaris, Kepemilikan Institusional, Leverage, dan Manajemen Laba. Laporan keuangan merupakan penghubung antara pihak manajemen dengan pihak di luar perusahaan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan. Asimetri informasi yang terjadi antara manajemen dengan pihak di luar perusahaan telah dimanfaatkan manajemen untuk melakukan manajemen laba dengan berbagai maksud dan tujuan. Tindakan manajemen laba tersebut dapat dikendalikan atau diminimalkan dengan penerapan corporate governance yang konsisten serta kebijakan leverage yang ada didalam perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jumlah dewan komisaris, kepemilikan institusional, dan leverage terhadap manajemen laba. Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian Sefiana (2009) yang meneliti tentang pengaruh corporate governance terhadap manajemen laba. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen secara parsial serta mencari variabel mana yang memiliki hubungan paling dominan terhadap Manajemen laba. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan manufaktur periode 2007 sampai 2009. Pemilihan sampel berdasarkan teknik purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis regresi linear berganda dan uji t untuk menguji hipotesis yang diajukan.. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa secara parsial variabel jumlah dewan komisaris dan leverage berpengaruh positif secara signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan kepemilikan institusional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Saran bagi penelitian selanjutnya adalah dalam penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan periode waktu yang lebih panjang dan menggunakan sampel perusahaan lain seperti LQ-45 dan perbankan, selain itu sebaiknya penelitian selanjutnya menggunakan variabel corporate governance yang lain seperti dewan direksi dan komite audit.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII SMP N 4 Malang materi persamaan garis lurus / Moh. Khoridatul Huda

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Investigasi Kelompok, Pemecahan Masalah Matematika, Persamaan Garis Lurus Selama Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di SMP N 4 Malang, peneliti mendapatkan informasi bahwa proses pembelajaran matematika di kelas masih didominasi guru. Guru menjelaskan materi, memberikan contoh soal dan penyelesaiannya, dan memberi siswa latihan soal. Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti menerapkan pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian yaitu siswa kelas VIII-E SMP N 4 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII SMP N 4 Malang materi Persamaan Garis Lurus. Langkah pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VIII-E SMP N 4 Malang materi persamaan garis lurus meliputi: siswa berkelompok sesuai dengan kesamaan minat pada suatu topik bahasan, diskusi kelompok dengan pemberian tambahan nilai bagi kelompok paling aktif, presentasi hasil diskusi oleh dua wakil kelompok yang ditunjuk kelompok lain, dan diskusi kelas dengan guru hanya sebagai pendamping. Pembelajaran koopearatif tipe investigasi kelompok ini dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang meliputi aspek kemampuan menjalin kerja sama, kemampuan menuliskan permasalahan dalam bentuk yang mudah dipahami, dan kemampuan menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Meningkatnya kemampuan pemecahan masalah siswa tersebut dapat diketahui dari peningkatan nilai tes siswa, yaitu sebesar 69,44% dari jumlah siswa dan peningkatan keaktifan siswa pada aspek: bekerja sama memecahkan masalah, memberikan pendapat apabila ada teman sekelompok yang belum mengerti, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan berkomunikasi dengan teman dan guru selama proses pembelajaran di kelas.

Perbedaan model pembelajaran problem solving dan ceramah untuk peningkatan hasil belajar dan kemampuan memecahkan masalah geospasial mata kuliah SIG pada mahasiswa semester VI Prodi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang / Endang Surjati

 

Kata kunci: Pembelajaran Problem Solving, Hasil Belajar, Memecahkan Masalah, dan Geospasial Pendidikan di perguruan tinggi umumnya mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama mempersiapkan mahasiswa untuk memasuki lapangan kerja dan kedua untuk mengembangkan manusia yang literat ilmu dan teknologi yang membantunya mengembangkan diri untuk hidup dalam masyarakat sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang berlaku. Model pembelajaran problem solving dalam pembelajaran sangat mendukung pencapaian tujuan yang kedua ini. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui apakah model pembelajaran problem solving dapat meningkatkan hasil belajar dan kemampuan memecahkan masalah geospasial mahasiswa pada mata kuliah SIG semester VI prodi pendidikan geografi Universitas Negri Malang dan (2) Untuk mengetahui tingkat signifikan perbedaan model pembelajaran problem solving dan ceramah dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah geospasial dengan menggunakan data geospasial. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen kuasi dengan desain penelitian nonequivalent (pretest and posttest) control-group design. Dalam penelitian ini menggunakan variabel independen adalah model pembelajaran problem solving dan varibel dependen adalah aspek kemampuan pemecahan masalah geospasial. Populasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang yang mengikuti mata kuliah sistem informasi geografi yaitu berjumlah 124 orang mahasiswa. Sedangkan sampel yang digunakan adalah kelas L dan kelas K yang berjumlah 70 orang mahasiswa. Metode pengolahan data dilakukan dengan teknik analisa uji t. Temuan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil pengujian hipotesis disajikan berikut ini: (1) Model pembelajaran problem solving tidak meningkatkan hasil belajar dan kemampuan memecahkan masalah geospasial mahasiswa pada mata kuliah SIG semester VI Prodi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang dan (2) Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran problem solving dan ceramah untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah geospasial dengan menggunakan data geospasial pada mata kuliah SIG semester VI Prodi Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang. Hasil analisa uji-t menunjukkan antara Post problem solving dan Post konvensional tidak ada beda secara signifikan, karena F hitung lebih kecil dari F kritisnya. Nilai F hitung sebesar 2.021 dan signifikan pada level 0,162. Karena nilai Fhitung > Ftabel maka dapat diambil keputusan untuk menerima H0 dan menolak H1, atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran problem solving yang dilaksanakan pada kelas eksperimen dengan pembelajaran ceramah yang dilaksanakan pada kelas kontrol. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan pada pembelajaran sistem informasi geografis hendaknya dosen menerapkan model pembelajaran yang bervariasi menyesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran, mempertimbangkan kemampuan awal mahasiswa mengenai geosfer, dan disarankan agar mahasiswa diarahkan untuk mengadakan secara mandiri sarana dan prasana dalam pembelajaran geografi.

The implementation of writer's workshop approach to improve mechanical writing skills of the third semester english education students at IKIP Utomo Malang / Diah Royani Meisani

 

Key Words: Tanda Baca, Lokakarya Penulis. Penelitian ini dilakukan berdasarkan adanya masalah yang dihadapi oleh mahasiswa pendidikan bahasa inggris di IKIP Budi Utomo Malang menyangkut penggunaan tanda baca yang benar dalam menulis. Masalah tersebut meliputi: penggunaan tanda petik untuk menyatakan bentuk jamak, tidak, kurang koma, kelebihan, dan kesalahan penempatan tanda baca. Berkenaan dengan masalah tersebut, lokakarya penulis diaplikasikan untuk mengatasinya. Lokakarya penulis merupakan suatu pendekatan dalam mengajar menulis yang terdiri dari tiga langkah: pelajaran singkat (mini-lesson), menulis mandiri (independent writing), dan tukar pendapat dan tukar karya (sharing). Sehingga, rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana menerapkan pendekatan lokakarya penulis yang dapat meningkatkan kemampuan mekanik siswa semester tiga pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Budi Utomo Malang dalam menulis berkaitan dengan penggunaan tanda baca yang benar?” Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaborasi yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran menulis melalui pendekatan lokakarya penulis dan mencaritahu bagaimana menerapkan pendekatan lokakarya penulis yang dapat meningkatkan kemampuan mekanik siswa semester tiga pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Budi Utomo Malang dalam menulis berkaitan dengan penggunaan tanda baca yang benar. Lokakarya penulis dipilih menjadi strategi dalam penelitian ini karena berdasarkan Calkins (2006), melalui pendekatan lokakarya, murid-murid dapat meningkatkan kemampuan menulis mereka karena adanya banyak waktu dan keleluasaan untuk menulis tentang apa dan bagaimana cara mereka menuliskannya. Terlebih lagi, peran guru lebih banyak sebagai pembimbing, pengarah, dan fasilitator. Komunitas kelas menjadi masyarakat belajar dimana siswa berkesempatan melakukan sharing dan publikasi terhadap produk tulisan mereka. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester tiga jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di IKIP Budi Utomo Malang yang mengambil mata kuliah Writing II. Merekla terdiri dari 28 mahasiswa. Dalam penelitian ini, terdapat dua siklus yang dilakukan berdasarkan prosedur penelitian tindaka kelas, yaitu: perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi. Tiap siklus membutuhkan tiga pertemuan. Data-data yang ada dalam penelitian ini diperoleh melalui tabel observasi, tes mekanik, catatan lapangan, dan kuisioner. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan lokakarya penulis berhasil mencapai tujuan setelah adanya revisi dan modifikasi yang dilakukan pada siklus 2. Revisi dan modifikasi tersebut meliputi perubahan format langkah lokarkarya, yaitu menjadi: pelajaran singkat (mini-lesson), tukar pendapat (sharing), dan menulis mandiri (independent writing). Format ini berbeda dengan format yang dilakukan pada siklus 1 berdasarkan format asli menurut Calkins (2006). Ada beberapa kelebihan pada penerapan lokakarya penulis pada siklus 2 yaitu keikutsertaan siswa secara aktif dalam mengikuti pelajaran singkat (mini-lesson), mengerjakan latihan secara berpasangan, dan melakukan diskusi kelompok. Secara tidak langsung, keikutsertaan siswa secara aktif dalam kegiatan tersebut sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan tanda baca yang benar dalam menulis. Hal ini dibuktikan dengan adanya kenaikan prosentase siswa yang mendapat nilai rata-rata dan di atas rata-rata bahwa di siklus 1 hanya 24% siswa, namun pada siklus 2 prosentase itu bertambah menjadi 86%. Selain itu, hasil kuisioner juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa setuju bahwa kegiatan berkelompok dapat meningkatkan keaktifan siswa melalui diskusi dan kegiatan berkelompok yang secara tidak langsung dapat meningkat pemahaman dan pengetahuan satu sama lain. Mereka juga setuju bahwa setelah lokakarya penulis diaplikasikan di kelas menulis, kemampuan mekanik siswa meningkat. Berdasarkan hasil penelitian diatas, saran-saran berikut dibuat: pertama, para guru Bahasa Inggris disarankan untuk mengaplikasikan pendekatan lokakarya penulis dalam pelajaran menulis dengan format sebagai berikut: pelajaran singkat (mini-lesson), tukar pendapat (sharing), dan menulis mandiri (independent writing) karena format ini terbukti dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan kelas yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kemampuan mekanik mereka yaitu menggunakan tanda baca yang benar dalam menulis; kedua, ian dengan menggunakan lokakarya penulis dengan adanya perbaikan dan atau modifikasi mengingat adanya keterbatasan pada penelitian ini.

Penerapan problem posing pada pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang / Jamaliatul Badriyah

 

Kata Kunci: Problem Posing, Kemampuan Berpikir Kreatif Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika di SMPN 4 Malang, didapatkan bahwa ketrampilan mengerjakan soal matematika pada siswa khususnya kelas VIII-C kurang, sebagian besar dari mereka hanya mampu mengerjakan soal dengan tipe soal seperti yang dicontohkan oleh gurunya, mereka juga kurang lancar dalam mengerjakan suatu soal. Selain itu, hasil observasi tentang kemampuan berpikir kreatif siswa juga menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII-C sangat rendah. Kegiatan pembelajaran di SMPN 4 Malang diisi dengan guru menjelaskan materi, kemudian memberi contoh soal, dan memberi tugas mengerjakan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran problem posing yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII-C SMPN 4 Malang. Kriteria kemampuan beripikir kreatif meliputi ketrampilan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilan berpikir orisinal, ketrampilan memperinci, dan ketrampilan menilai. Pada akhir siklus II presentase kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat dan mencapai 60% serta sudah tidak ada lagi siswa dengan kemampuan berpikir kreatif pada tingkat 1 (tidak kreatif). Ini berarti terdapat peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa. Dari hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran problem posing yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa meliputi siswa secara individu membuat soal berdasarkan situasi yang diberikan guru dan menjawab soal yang telah mereka buat sendiri, kemudian mereka berkelompok mendiskusikan pertanyaan dan jawaban yang telah dibuat oleh masing-masing anggota, kemudian mereka menukarkan soal yang telah mereka buat kepada kelompok lain dan mendiskusikannya.

Keefektifan konseling realita untuk menegakkan disiplin / Ninda Wahyu P

 

Kata kunci: Konseling realita, Perilaku disiplin Banyaknya kasus siswa SMP yang tidak disiplin, membuat siswa yang tidak disiplin ini mengalami hambatan dalam menjalankan kewajibannya sebagai siswa di sekolah. Hal ini tentu akan berakibat pada proses belajar mengajar dan prestasi mereka di sekolah. Salah satu alasan tidak disiplin adalah faktor intern yaitu kepribadian dari siswa tersebut. Bimbingan bagi siswa yang tidak disiplin ini diperlukan untuk membantu menyelesaikan permasalahan mereka dan membuat mereka agar dapat mengikuti proses belajar mengajar secara baik. Dalam hal ini, siswa yang tidak disiplin diberikan bantuan dengan konseling realita dengan menggunakan prosedur WDEP. Penyelenggaraan konseling ini digunakan untuk merubah tingkah laku tidak disiplin sehingga dilakukan eksperimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan konseling realita dalam menegakkan perilaku disiplin siswa SMP. Hipotesis dari penelitian ini adalah konseling realita efektif untuk menegakkan perilaku disiplin siswa SMP. Rancangan penelitian ini adalah single-subject eksperimental design jenis A-B-A’. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah tiga orang siswa yang tidak disiplin di sekolah. Data awal dari penelitian ini peneliti peroleh dari studi dokumentasi dan observasi awal. Tingkah laku yang diobservasi adalah 1) Tidak memakai seragam lengkap, 2) menggobrol dengan teman sebangku saat pelajaran berlangsung, 3) bermain Hp, 4) tidak mengerjakan PR, 5) bolos sekolah, 6) terlambat masuk kelas, 7) membuang sampah tidak pada tempatnya. Prosedur penelitian dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan analisis data melalui fase A, fase B, dan fase A’. Hanya ada satu (1) macam data yang diambil dalam penelitian ini yaitu data frekuensi melalui sistem pencatatan observasi (observational recording system) sebagai instrumen untuk pengambilan data. Teknik observasi ini menggunakan pedoman observasi. Berdasarkan perhitungan reliabilitasnya, dapat dijelaskan bahwa hasil analisis reliabilitas instrument penelitian menunjukkan koefisien reliabilitas 80% ke atas. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan visual inspection. Atas dasar Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase perubahan tingkah laku dari siswa yang tidak disiplin yang dimunculkan oleh ketiga subjek penelitian setelah diberikan treatment, hampir semuanya mengalami penurunan perilaku tidak disipilin 80 % sampai 100%. Persentase perubahan tersebut mengandung pengertian bahwa konseling realita efektif untuk penegakkan perilaku dispilin. Dari hasil penelitian ini disarankan kepada konselor dapat memberikan bantuan kepada siswa yang tidak disiplin dengan menggunakan konseling realita dengan prosedur WDEP agar permasalahan siswa tersebut bisa cepat teratasi dan tugas perkembangan mereka dapat berjalan sebagaimana mestinya. Konselor juga sebaiknya dapat bekerjasama dengan guru atau wali kelas dalam penanganan siswa yang tidak disiplin. Hal ini disebabkan guru atau wali kelas yang lebih banyak mengetahui tingkah laku siswanya saat proses pembelajaran. Kepala sekolah diharapkan dapat memberikan fasilitas dan bekerjasama dengan konselor sekolah untuk mengembangkan program Bimbingan dan Konseling, agar kerja konselor sekolah dapat lebih optimal. Penelitian eksperiment ini hendaknya dapat dikembangkan dengan meningkatkan desain yang ada, misalnya dengan menggunakan desain A-B-A’-B’, ataupun A-B-A’-B’-C. Sebaiknya tidak hanya diterapkan bagi siswa yang tidak disiplin saja, tetapi lebih dikembangkan pada permasalahan siswa yang lainnya agar penelitian ini dapat lebih berkembang. Subjek yang diteliti bisa lebih ditambah agar mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

Analisis pemahaman konseptual dan algoritmik materi larutan asam basa, buffer dan larutan garam siswa kelas XI SMAN 3 Mojokerto serta upaya perbaikannya dengan pendekatan mikroskopik / Mustofa

 

Kata kunci : pemahaman konseptual, pemahaman algoritmik, pendekatan mikroskopik Tujuan pembelajaran kimia di SMA adalah untuk membekali pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan peserta didik yang dipersyaratkan untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Ada dua kategori pemahaman dalam ilmu kimia yaitu pemahaman konseptual dan pemahaman algoritmik. Pemahaman konseptual adalah kemampuan dalam menjelaskan teks, diagram, dan fenomena yang melibatkan konsep-konsep pokok yang bersifat abstrak dan teori-teori dasar sains. Pemahaman algoritmik adalah kemampuan dalam menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan suatu permasalahan dengan menggunakan rumus atau perhitungan untuk mendapatkan hasil yang berupa angka-angka. Selama ini evaluasi dalam pembelajaran kimia cenderung ditekankan pada soal-soal algoritmik dibandingkan soal-soal konseptual dengan anggapan bahwa kemampuan algoritmik siswa adalah menunjukkan kemampuan konseptualnya. Dalam kenyataan hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konseptual siswa cenderung tertinggal dibandingkan pemahaman algoritmiknya. Banyak siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah algoritmik meskipun mereka tidak memahami konsep dasarnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal konseptual dan soal-soal algoritmik pada materi larutan asam-basa, buffer, dan larutan garam; (2) mengukur hubungan antara kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal algoritmik dengan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal konseptual tentang larutan asam basa, buffer, dan larutan garam; dan (3) menidentifikasi keefektifan pendekatan mikroskopik sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal konseptual pada materi larutan asam basa, buffer, dan larutan garam. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan rancangan penelitian eksperimen semu. Rancangan penelitian deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan pemahaman konseptual dan algoritmik siswa. Rancangan penelitian eksperimen semu, yaitu nonequivalent control group design digunakan untuk mengidentifikasi keefektifan penggunaan pendekatan mikroskopik untuk meningkatkan pemahaman konseptual siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI semester dua program IPA SMAN 3 Mojokerto tahun pelajaran 2009/2010 yang telah menerima materi larutan asam basa, buffer, dan larutan garam yang terdiri dari 4 kelas paralel dengan jumlah siswa untuk setiap kelas 35 atau 36 siswa. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang diambil secara acak dari empat kelas yang ada. Satu kelas merupakan kelas eksperimen dan diberi pembelajaran ulang dengan pendekatan mikroskopik, sedangkan kelas yang lain merupakan kelas kontrol dan diberi pembelajaran ulang tanpa menggunakan pendekatan mikroskopik. Pemahaman siswa diukur dengan tes pilihan ganda yang terdiri dari 10 item untuk tes pemahaman algoritmik dan 10 item untuk tes pemahaman konseptual. Dari hasil uji coba instrumen tes diperoleh validitas isi sebesar 93,3% dan reliabilitas tes, dihitung dengan menggunakan rumus Spearman-Brown, sebesar 0,77. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan uji statistik korelasi dan anacova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kemampuan siswa kelas XI IPA SMA Negeri 3 Mojokerto dalam menyelesaikan soal-soal konseptual dan soal-soal algoritmik pada materi larutan asam-basa, buffer, dan larutan garam termasuk dalam kategori rendah. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal algoritmik lebih baik daripada kemampuannya dalam menyelesaikan soal-soal konseptual, (2) korelasi antara kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal algoritmik dengan soal-soal konseptual tentang larutan asam-basa, buffer, dan larutan garam adalah sangat lemah, (3) pembelajaran ulang materi larutan asam- basa, buffer, dan larutan garam dengan menggunakan pendekatan mikroskopik meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal konseptual dan soal-soal algoritmik lebih tinggi dibandingkan pembelajaran ulang tanpa menggunakan pendekatan mikroskopik.

Keingintahuan anak dan komunikasi inu (Sebuah kajian dengan perspektif interaksionisme simbolik terhadap anak dari keluarga pedagang) / Raisah Fatich Annisa

 

Kata Kunci : Keingintahuan, Komunikasi, Interaksi Awal masa kanak-kanak adalah usia emas perkembangan. Pada usia ini anak sering memiliki keingintahuan yang tinggi yang pantas diperhatikan. Atas dasar itu, peneliti membuat rumusan masalah: (1) bagaimanakah deskripsi keingintahuan an-ak. Artinya, bagaimana tingkat keingintahuan, arah keingintahuan dan juga tentang tingkat toleransi terhadap keingintahuannya, atau ada deskripsi lainnya ; (2) bagai-manakah deskripsi komunikasi ibu tehadap anak dalam merespon keingintahuan anak. Apakah ibu berkomunikasi otoriter, demokratis, atau permisif ;(3) bagaimana koneksitas antara keingintahuan anak dan komunikasi ibu. Apakah suatu tipe komunikasi yang digunakan ibu dapat juga merubah dimensi perilaku anak. Penelitian dilakukan di sebuah perkampungan di tengah kota Malang. Fokus penelitian ialah interaksi antara ibu dan anak usia 4-6 tahun, pada keluarga pedagang. Disini digunakan pendekatan kualitatif dengan, jenis interaksionisme simbolik. Proses pengambilan sampelnya menggunakan snowball sampling, pengambilan data dilakukan dengan observasi partisipatoris, dan wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan mendeskripsi, mengkatagorisasi dan penegasan koneksi. Hasil yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah: (1) Pada umumnya anak-anak memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi untuk dipenuhi, cenderung memiliki toleransi frustrasi rendah, dan mengarah pada perkembangan aspek kognitif, afektif, dan konatif; (2) Dalam merespon keingintahuan anak, Ibu cenderung menggunakan salah satu dari tiga tipe komunikasi yaitu otoriter, demokratis, dan permisif. Namun kecenderungan itu bersifat fluktuatif, Ibu tidak selalu berkomunikasi dengan satu tipe saja. Misalnya Ibu yang cenderung demokratis pun juga pernah bersikap otoriter ketika anak menunjukkan sikap tidak patuh, begitu pula pada tipe yang lain; (3) Komunikasi ibu yang semakin mendekati tipe demokratif, menyebabkan tingginya toleransi frustrasi dan tingginya keseimbangan perkembangan aspek kognitif, afektif dan konatif anak. Sebaliknya semakin menjauhi tipe demokratif semakin rendah keseimbangan perkembangan aspek kognitif, afektif, konatif dan juga toleransi frustrasi anak. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, disarankan bagi orang tua untuk dapat mengubah tipe komunikasinya kearah tipe komunikasi demokratis. Bagi konselor Bagi konselor terutama di TK dan SD diharapkan dapat memberikan dukungan sistem berupa program atau kegiatan yang dapat membantu orang tua dalam merespon keingintahuan anak.

Hubungan pemanfaatan laboratorium komputer dengan hasil belajar teknologi informasi dan komunikasi (TK) di MA pembangunan Pondok Pesantren Al Fattiah Arjosari Pacitan / Anik Sugiarti

 

Kata Kunci : Pemanfaatan Laboratorium Komputer,Hasil Belajar. Pemanfaatan laboratorium komputer disekolah maupun di madrasah sangat berpengaruh dan berhubungan dengan hasil belajar TIK yang dicapai siswa. Pemanfaatan laboratorium komputer meliputi kondisi laboratorium komputer, intensitas penggunaan laborstorium komputer dan pelaksanaan pembelajaran TIK di laboratorium komputer. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan pemanfaatan laboratorium komputer dengan hasil belajar TIK siswa di MA Pembangunan Pondok Pesantren Al Fattah Arjosari Pacitan. Objek penelitian adalah siswa MA Pembangunan Pondok Pesantren Al Fattah Arjosari Pacitan dengan sampel sebanyak 43 siswa. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional untuk mengetahui hubungan antara pemanfaatan laboratorium komputer dengan hasil belajar TIK siswa. Analisis korelasianal menggunakan analisis korelasi sederhana dan analisis regresi ganda, berbantuan SPSS 16. Hasil penelitian ditunjukkan bahwa peralatan yang ada di laboratorium sudah menunjang dan memenuhi kebutuhan pembelajaran, intensitas penggunaan laboratorium dalam kategori sedang, pelaksanaan pembelajaran memiliki kategori sedang, hasil belajar berada pada kategori sedang. Ditemukan hubungan dari masing- masing sub variabel pada pemanfaatan laboratorium komputer dengan hasil belajar TIK siswa dengan koefisien korelasi masing – masing, kondisi laboratorium komputer 0,453 dengan interpretasi signifikan, intensitas penggunaan laboratorium komputer 0,130 dengan interpretasi tidak signifikan dan pelaksanaan pembelajaran TIK di laboratorium komputer sebesar 0,836 dengan interpretasi signifikan. Pemanfaatan Laboratorium komputer secara simultan terhadap hasil belajar TIK diperoleh koefisien korelasi sebesar 0.889 dengan interpretasi yang signifikan. Berdasarkan temuan penelitian, pemanfaatan laboratorium komputer secara maksimal, akan menunjang kemudahan dan kelancaran siswa dalam memahami materi mata pelajaran TIK dan mata pelajaran yang lain melalui pemanfaatan fasilitas internet yang ada di laboratorium komputer untuk memperoleh berbagai ilmu pengetahuan yang baru, yang akan menunjang hasil belajar TIK siswa maupun hasil belajar pada mata pelajaran yang lain.

Perbedaan model pembelajaran kooperatif tipe stad dengan metode ceramah bermakna terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan menjelaskan fungsi menu dan ikon serta cara penggunaannya pada microsoft word 2003 kelas VIII di SMP Negeri 1 Malang / Nihara Safitri

 

Kata Kunci : Kooperatif Tipe STAD, Ceramah Bermakna, Prestasi Belajar. Dalam menyampaikan materi pembelajaran guru harus mampu memilih model pembelajaran yang efektif dan inovatif sesuai dengan kondisi dan situasi. Kenyataan bahwa siswa memiliki kemampuan yang heterogen merupakan tantangan bagi guru untuk membantu meningkatkan prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran yang inovatif. Salah satu model pembelajaran untuk menghadapi kemampuan siswa yang heterogen adalah model tipe STAD. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan prestasi belajar yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD, (2) untuk mendeskripsikan prestasi belajar siswa yang menggunakan pembelajaran ceramah, (3) untuk mengetahui perbedaan yang signifikan pada prestasi belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD dengan ceramah bermakna pada pokok bahasan menjelaskan fungsi menu dan ikon serta cara penggunaannya dalam MS.Word 2003 kelas VIII SMP Negeri 1 Malang. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan Quasi Experimental Design, sampel yang digunakan adalah kelas VIII A sebagai kelompok eksperimen yang di ajar dengan model STAD dan kelas VIII D sebagai kelompok kontrol yang belajar dengan metode ceramah bermakna. Instrumen yang digunakan yaitu: instrumen pembelajaran berupa silabus, RPP, kisi-kisi, dan kunci jawaban soal. Instrumen pengukuran berupa tes objektif dan lembar observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif dengan bantuan SPSS. Analisis statistik kuantitatif digunakan untuk menganalisis data kemampuan awal siswa dan prestasi belajar siswa, terdiri dari uji normalitas untuk mengetahui apakah kedua sampel kelas tersebut berdistribusi normal, uji homogenitas digunakan mengetahui apakah kedua sampel kelas tersebut homogen, dan uji hipotesis dengan uji t, digunakan untuk mengetahui ada atau tidak ada perbedaan prestasi belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan siswa yang belajar dengan model ceramah bermakna. Untuk prestasi belajar ranah kognitif, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (81,93) lebih tinggi dari kelas kontrol (75,61). Sedangkan untuk prestasi belajar ranah psikomotorik, diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (75,43) lebih tinggi dari kelas kontrol (71,62), dan untuk prestasi belajar ranak afektif diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (78,94) lebih tinggi dari pada kelas kontrol (74,54). Sehingga disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan prestasi belajar (pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik) siswa materi “Menjelaskan Fungsi Menu dan Ikon Serta Cara Penggunaannya Pada Micosoft Word 2003”

Studi komparasi penerapan metode superitem dengan penerapan metode ceramah bermakna terhadap prestasi belajar dasr pembuatan WEB siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Batu / Lia Wahyuliningtyas

 

Kata Kunci: prestasi dalam belajar, Superitem, Teknologi Informasi dan Komunikasi, HTML, komparasi. Metode Superitem merupakan pendekatan pemecahan masalah yang menempatkan guru sebagai fasilitator dimana kegiatan belajar mengajar akan dititik beratkan pada keaktifan siswa dalam pembelajaran dasar pembuatan web statis. Dengan pembelajaran menggunakan metode pengajaran taksonomi SOLO/superitem diharapkan siswa akan lebih aktif dan prestasi belajar dapat maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan tingkat prestasi belajar siswa karena penerapan metode “Superitem”; (2) untuk mendeskripsikan tingkat prestasi belajar siswa karena penerapan metode “Ceramah Bermakna”; (3) untuk mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar dasar pembuatan web karena penerapan metode “Superitem” dibandingkan dengan penerapan metode “Ceramah Bermakna”. Rancangan penelitian ini adalah kuantitatif komparatif dengan menggunakan metode eksperimen semu (quasi experimental). Rancangan penelitian eksperimen ini merupakan rancangan dengan Post test-Only Control Design dengan pemilihan kelompok yang tidak diacak. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri 2 Batu semester 1 tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 235 siswa. Sedangkan sampel penelitian ini adalah kelas XI IPA 1 (43 siswa) sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA 2 (43 siswa) sebagai kelas eksperimen. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling purposive. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 2 Batu pada mata pelajaran TIK dan variabel bebasnya adalah metode Superitem untuk kelas eksperimen dan metode Ceramah Bermakna untuk kelas kontrol. Hasil analisis data menggunakan uji-t, diperoleh thitung (10,093) > ttabel (1,658), jadi Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara penerapan metode Superitem dibandingkan dengan metode Ceramah bermakna. Perbedaan tersebut dilihat dari ranah kognitif, psikomotorik dan afektif siswa. Pada ranah kognitif skor rerata nilai tes akhir (post test) siswa yang diperoleh kelas eksperimen (87,44) dan pada kelas kontrol (70,88). Sedangkan pada ranah psikomotorik skor rata-rata penilaian proses pada kelas eksperimen sebesar 90,38 dan kelas kontrol sebesar 74,85. Dan ranah afektif skor rata-rata penilaian proses pada kelas eksperimen sebesar 86,49 dan kelas kontrol sebesar 74,20. Nilai akhir total prestasi belajar siswa kelas eksperimen yang terdiri dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa, dengan skor rerata yaitu 88,30 dan untuk kelas kontrol didapat skor rerata yaitu 73,27.

Pengaruh pemberian ethrel dan lama penyimpanan terhadap kadar gula reduksi pisang kepok kuning (Musa paradisiaca L.) / Fatkhul Chorimah

 

Kata Kunci: Ethrel, Lama Penyimpanan, dan Kadar Gula Reduksi. Pisang kepok kuning merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak ditanam, dikonsumsi masyarakat dan memiliki kandungan gizi dan nilai ekonomi yang cukup tinggi. Ethrel digunakan untuk mempercepat pemasakan buah dan mempercepat respirasi setelah dipanen. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh: (1) pemberian ethrel terhadap kadar gula reduksi pisang kepok kuning (Musa paradisiaca L.), (2) lama penyimpanan terhadap kadar gula reduksi pisang kepok kuning (Musa paradisiaca L.), dan (3) interaksi pemberian ethrel dan lama penyimpanan terhadap kadar gula reduksi pisang kepok kuning (Musa paradisiaca L.). Rancangan penelitian ini berupa eksperimen yang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dan 6 ulangan. Faktor pertama konsentrasi ethrel dengan 4 taraf 0 ppm, 500 ppm, 1000 ppm dan 1500 ppm. Faktor kedua lama penyimpanan dengan 4 taraf 0 hari, 2 hari, 4 hari dan 6 hari. Pemberian ethrel dan lama penyimpanan sebagai variable bebas dan kadar gula reduksi sebagai variable terikat. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai Juli 2010 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pengujian kadar gula reduksi menggunakan alat spektrofotometer dengan metode Nelson-Somogyi. Objek penelitian pisang kepok kuning (Musa paradisiaca L.) yang diperoleh dari petani pisang di daerah Pakisaji Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) pisang kepok kuning (musa paradisiaca L.) yang diberi ethrel dengan konsentrasi 1000 ppm memberikan rerata kadar gula reduksi tinggi di antara perlakuan lain; (2) pisang kepok kuning (musa paradisiaca L.) yang disimpan selama 6 hari memberikan rerata kadar gula reduksi tinggi di antara perlakuan lain; (3) pisang kepok kuning (Musa paradisiaca L.) yang diberi ethrel 500 ppm dengan lama penyimpanan selama 6 hari lebih baik dari perlakuan lainnya karena buah tidak cepat busuk. Konsentrasi ethrel yang digunakan untuk memeraman pisang sebaiknya tidak lebih dari 500 ppm dan digunakan dalam skala produksi untuk memperoleh pematangan buah yang merata.

Peningkatan pemahaman konsep nilai tempat bilangan melalui model pembelajaran aktif, kreatif efektif dan menyenangkan (Pakem) pada anak kelas III SDN Plosoarang 02 Blitar / Ali'ul Choriyah

 

Kata Kunci: nilai tempat bilangan, media, PAKEM. Pada proses pembelajaran Matematika tentang nilai tempat bilangan di SDN Plosoarang 02, terjadi beberapa hambatan antara lain: beberapa anak mengantuk, ramai, guru menggunakan metode yang monoton dan anak kurang antusias serta aktif saat proses pembelajaran. Dari hasil evaluasi banyak anak mengalami kegagalan mengerjakan soal tentang nilai tempat bilangan, 4 anak mengerjakannya keliru dengan nilai bilangan, dan 3 anak yang lain keliru karena kurang teliti. Hanya ada 1 anak yang berhasil mengerjakan dengan benar. Atas dasar latar belakang di atas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran nilai tempat bilangan melalui Model PAKEM pada anak kelas III SDN Plosoarang 02 Blitar dan mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep nilai tempat bilangan melalui Model PAKEM pada anak kelas III SDN Plosoarang 02 Blitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik analisa data kualitatif dilakukan dengan menelaah seluruh data, mereduksi data, menafsirkan data, dan memberikan pemaknaan hasil. Berdasarkan data penelitian, ada peningkatan ketuntasan belajar pada pratindakan secara klasikal yaitu 17.5% meningkat menjadi 41.6% pada siklus I dan 66% pada siklus II . Sehingga ada 7 anak yang tidak tuntas pada pratindakan dan semua anak mengalami ketuntasan pada siklus II. Hal ini di dukung dengan data wawancara anak yang merasa selalu letih dan takut akan pelajaran Matematika mengaku senang mengikuti pelajaran setelah siklus II.Serta hasil observasi selama siklus I dan II yang menunjukkan peningkatan keaktifan dan kreatif anak selama proses pembelajaran. Bertolak dari data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan pembelajaran nilai tempat bilangan melalui model PAKEM bilangan mampu meningkatkan pemahaman konsep anak terhadap nilai tempat bilangan pada kelas III SDN Plosoarang 02. Oleh karena itu, disarankan dalam proses pembelajaran hendaknya guru menentukan model pembelajaran dan media yang tepat, sehingga pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Evaluasi program pembelajaran mata diklat produktif kelas wirausaha Jurusan Tata Boga di SMK Negeri 3 Malang / Muslimah

 

kata-kata kunci: evaluasi, program pembelajaran, mata diklat produktif, kelas wirausaha. Evaluasi merupakan suatu cara yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan program pembelajaran yang telah dilaksanakan. Evaluasi yang digunakan secara benar akan banyak memberikan informasi tentang kelemahan program pembelajaran serta mengenai perkembangan dan keterbatasan siswa. Pedoman dalam menentukan sesuatu yang menjadi obyek evaluasi, yaitu: program, pelaksanaan program dan hasil program. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan program pembelajaran mata diklat produktif kelas wirausaha Jurusan Tata Boga yang dilaksanakan di SMK Negeri 3 Malang. Penelitian ini termasuk penelitian evaluasi (evaluation research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data primer dan data sekunder dalam penelitian ini adalah 1 orang guru mata diklat produktif kelas wirausaha dan alumni kelas wirausaha yang bekerja dan yang berwirausaha sendiri. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah triangulasi yang bersifat menggabungkan data hasil penelitian dari berbagai teknik pengumpulan data. Penelitian kualitatif perolehan datanya dilakukan secara alami di mana hasil dari penelitian tersebut dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Desain penelitian ini menggunakan metode dokumentasi dan metode wawancara dalam proses mengambil data. Hasil penelitian ini diketahui bahwa program pembelajaran mata diklat produktif kelas wirausaha yang dilaksanakan di SMK Negeri 3 Malang telah terlaksana sesuai dengan program semester dan silabus yang telah dibuat, pelaksanaannya sudah tercapai tujuannya. Program pembelajaran ini di lihat dari perencanaan program, yang meliputi kurikulum, silabus dan RPP, pelaksanaan program, yang meliputi kesesuaian dengan program, pembelajaran mengelola usaha, kualitas bimbingan dan hambatan, serta hasil program yang meliputi berwirausaha dan bekerja.

Penerapan metode permainan simulasi pada mata pelajaran PKn untuk meningkatkan aktivitas belajar siswakelas IX di SMPN 1 Kauman Ponorogo / Rizki Wahyunita W.

 

Kata kunci: Pendidikan Kewarganegaraan, permainan simulasi, aktivitas belajar Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkinkan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan Kewarganegaraan menuntut siswa menunjukkan sikap yang baik, kreatif, dan bertanggungjawab. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, metode yang digunakan masih berpusat pada guru (teacher centered), siswa sering pasif dalam kegiatan pembelajaran, jarang bertanya maupun menjawab atau dengan kata lain siswa kurang terlibat secara optimal dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini merupakan salah satu penyebab kurangnya aktivitas belajar siswa. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah: (1) bagaimana penerapan metode permainan simulasi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IX di SMPN 1 Kauman Ponorogo?, (2) apakah metode permainan simulasi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IX di SMPN 1 Kauman Ponorogo? Untuk mengatasi permasalahan seperti diuraikan diatas, maka peneliti mencoba menerapkan metode permainan simulasi dan menganalisis dampaknya terhadap aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap dalam penelitian ini meliputi 4 tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini berlangsung dalam 2 tahap, yaitu tindakan I dan tindakan II. Subyek penelitian adalah siswa kelas IX A SMPN 1 Kauman Ponorogo. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tahapan analisis data terdiri atas beberapa kegiatan yang diantaranya yaitu klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa metode permainan simulasi yang diterapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran PKn. Peningkatannya adalah dari hasil analisis siklus I, aktivitas belajar siswa sebesar 67.44%, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 89.41%. Hasil ini diharapkan akan bermanfaat sebagai informasi bahwa penerapan metode permainan simulasi dapat meningkatkan aktivitas siswa di SMP. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang bisa peneliti sampaikan sehubungan dengan metode permainan simulasi adalah bagi guru Pendidikan Kewarganegaraan dianjurkan menerapkan pembelajaran menggunakan metode permainan simulasi pada mata mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan karena siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran menggunakan metode ini dan bagi siswa sekolah menengah disarankan agar selalu meningkatkan aktivitas belajarnya agar terbiasa untuk aktif dalam pembelajaran di kelas supaya proses belajar dapat berjalan dengan baik dan menarik

Upaya guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada bidang keahlian bangunan di SMKN 1 Singosari Malang / Daniel Murunsia Ratri Husadhano

 

Kata kunci: Upaya Guru, Motivasi Belajar Siswa Motivasi belajar merupakan faktor psikis. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat dalam belajar. Motivasi belajar akan mempunyai pengaruh yang besar dalam kegiatan belajar siswa. Dengan naik dan menurunnya motivasi belajar siswa maka guru harus memberikan motivasi kepada para siswanya agar siswa selalu optimis dan lebih percaya diri dalam belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan upaya guru dalam memotivasi dengan motivasi belajar siswa pada kelas X bidang keahlian bangunan di SMKN 1 Singosari Malang. Upaya guru dan motivasi siswa saling memiliki hubungan dikarenakan motivasi merupakan tujuan dari upaya guru dan upaya guru merupakan rambu-rambu untuk mengatur motivasi siswa pada kegiatan belajar mengajar di kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Singosari Malang Bidang Keahlian Bangunan pada tanggal 12 Maret 2010 sampai 25 September 2010. Rancangan penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah guru pengajar mata pelajaran kelas X dan siswa kelas X Bidang Keahlian Bangunan. Diperoleh menggunakan angket dengan skala interval. Deskripsi analisis hasil penelitian dengan cara menginterpretasikan hasil skor angket ke skala interval. Dari hasil penelitian dapat dideskripsikan bahwa : (1) Motivasi belajar siswa di Bidang Keahlian Bangunan kategori tinggi, dapat dilihat dari nilai skor rata-rata angket motivasi siswa sebesar 56,05; (2) Upaya guru dalam memberikan motivasi belajar siswa di Bidang Keahlian Bangunan kategori tinggi, dapat dilihat dari nilai skor rata-rata angket upaya guru sebesar 69,55. Upaya guru dalam memotivasi siswa dan motivasi belajar siswa tidak memiliki hubungan yang signifikan yang memiliki hubungan yang dikategorikan lemah, hal ini dapat dilihat dari hasil analisis korelasi dengan skor 0,023 dengan signifikan sebesar 0,475. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan upaya guru kelas X dalam memberikan motivasi lebih ditingkatkan, karena motivasi sangat penting dalam mewujudkan harapan siswa dalam memperoleh nilai yang memuaskan serta mampu berkompetensi dalam berbagai hal sampai memperoleh kesuksesan di masa depan.

Makna tradisi "selamatan petik pari" sebagai wujud nilai-nilai religius masyarakat Desa Petungsewu Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / Eka Yuliyani

 

Kata Kunci: Makna tradisi , Religi, Keterkaitan religi dengan tradisi Tradisi “Selamatan Petik pari” merupakan salah satu tradisi yang berada di kabupaten Malang,tradisi ini telah ada sejak zaman nenek moyang Orang Jawa,selamatan ini dilakukan untuk mendapatkan keselamatan dalam penggarapan lahan pertanian,dihindarkan dari hama padi dan mendapatkan hasil panen yang bagus dan berlimpah.Dalam awal prosesi pelaksanaanya disiapkan uborampe(sesajian) yang berisikan kemenyan,kaca,sisir,pisang,bunga berwarna-warni,ketan,benang,kapas.Selain itu para ibu juga menyiapkan tumpeng yang berisikan makanan beserta lauk-pauknya.Semua bahan untuk ritual dibawa kesawah yang hendak dipanen kemudian tokoh adat mulai membacakan mantra-mantra sesuai agama masing-masing dan Uborampe diletakan diatas anyaman bambu yang masyarakat menyebutnya dengan encek,kemudian potongan padi yang telah dipotong dengan ani-ani dibawa kerumah dan di hajatkan kembali dengan mnbaca doa sesuai agam yang berhajat. Religi adalah suatu sistem berkaitan dari keyakinan-keyakinan dan upacara keramat artinya yang terpisahkan dan pantang, keyakinan- keyakinan yang berorientasi pada suatu komunitas moral, yang disebut umat. Religi Orang Jawa sering juga disebut sebagai Javanisme atau Javaneseness dari kata kejawen atau kejawaan yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Istilah ini merupakan deskripsi atas unsur-unsur kebudayaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang mendefinisikannya sebagai kategori khas.Javanisme (kejawen) berisikan kosmologi,mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik.Budaya kejawen memahami kepercayaan berbagai macam roh yang dapat menimbulkan musibah, bahaya, kecelakaan atau penyakit apabila mereka dibuat marah atau penganutnya tidak berhati-hati.Untuk menangkal semua itu, Orang Jawa kejawen memberikan sesajen yang dipercaya dapat menghindarkan manusia dari berbagai hal yang tidak diinginkan. Makna yang terdapat dalam tradisi petik pari adalah menyatunya tradisi dengan religi masyarakat dengan toleransi yang begitu tinggi,dan terjalinya kerukunan antar umat beragama,hal ini karena masyarakat Desa Petungsewu memiliki dua mayoritas agama yaitu Hindu dan Islam.Keterkaitan religi dan tradisi “Selamatan Petik Pari” adalah merupakan hubungan timbal balik antara emosi keagamaan,sistem keyakinan,kelompok keagamaan,dan sistem ritual. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan asal-usul Tradisi “Selamatan Petik Pari, (2) mendeskripsikan prosesi pelaksanaan tradisi “Selamatan Petik Pari”, (3)mendeskripsikan makna yang terdapat dalam tradisi “Selamatan Petik Pari”, (4) mendeskripsikan keterkaitan antara religi dengan tradisi “Selamatan Petik Pari”, dan (5) mendeskripsikan perubahan dan pergeseran pada tradisi “Selamatan Petik Pari”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, data dikumpulkan dengan cara observasi partisipatif, studi dokumentasi serta wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Penelitian dilakukan di desa Petungsewu Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang dengan obyek penelitian adalah masyarakat Desa Petungsewu, tokoh adat, perangkat desa Petungsewu. Dari hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa, asal-usul tradisi “Selamatan Petik Pari” telah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Jawa. Prosesi pelaksanaan tradisi ini dimulai dengan mempersiapkan sesajian dan tumpeng,kemudian sesajian dan tumpeng dibawa kesawah yang hendak dipanen dan dimulailah ritual membaca mantra yang di pimpin oleh ketua adat setempat,kemudian sesajian dan sisa tumpeng dibawa kembali kerumah untuk dihajatkan kembali.Makna yang terdapat dalam tradisi ini adalah terjalinnya kerukunan dalam bermasyarakat didalam perbedaan,karena masyarakat desa Petungsewu yang mempunyai dua keyakinan mayoritas tapi tetap menjalankan satu tradisi secara bersama-sama.Keterkaitan religi dan tradisi dalam tradisi “Selamatan Petik Pari” adalah mereka menjalankan tradisi karena percaya dengan hal–hal mistik tapi dalam penyampaian doanya selalu ditujukan kepada Yang Maha Kuasa.Perubahan dan pergeseran tradisi yang terjadi tidak terlalu terlihat,hanya dalam sistem peralatan upacara saja yang agak berkurang,sedangkan dalam emosi keagamaan dan sistem keyakinan masyarakat tetap berjalan sebagaimana mestinya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya masyarakat lebih mengerti tentang kandungan makna yang terdapat dalam setiap budaya yang dimiliki oleh kabupaten Malang dan tetap menjaga, melestarikan kebudayaan daerah secara berkelanjutan supaya tidak tergilas oleh arus globalisasi.

Kreativitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik (studi di SDN Petungsewu II kelas 1) Kecamatan Wagir Kabupaten Malang / Agus Setiyawan

 

Kata Kunci: Kreativitas, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendekatan tematik. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada. Yang dimaksud dengan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada adalah dalam arti sudah ada sebelumnya, yaitu segala pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya, baik selama dibangku sekolah maupun yang dipelajarinya dalam keluarga dan masyarakat. Pendidikan Kewarganegaraan adalah pendidikan yang bertujuan membentuk warga Negara yang baik, demokratus, cerdas, religius, dan bertanggungjawab Pembelajaran tematik sebagai pendekatan pembelajaran termasuk salah satu pendekatan pembelajaran terpadu, Istilah pendekatan pembelajaran tematik pada dasarnya adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengkaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa Tujuan penelitian ini adalah: (1) Untuk mengetahui sejauh mana wawasan guru PKn SDN Petungsewu II terhadap pendekatan pembelajaran tematik (2) Untuk mengetahui bagaimana kreativitas guru PKn dalam menyusun rancangan pembelajaran PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik dikelas 1 SDN Petungsewu II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, (3) Untuk mengetahui bagaimana kreativitas guru PKn dalam pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik di SDN Petungsewu II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, (4) Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik di SDN Petungsewu II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, dan (5) Untuk mengetahui bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh guru untuk mengatasi hambatan yang timbul dalam pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik di SDN Petungsewu II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Untuk mencapai tujuan tersebut, data dikumpulkan dengan cara observasi partisipatif, studi dokumentasi serta wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Penelitian dilakukan di SDN Petungsewu II Kelas 1 Kecamatan Wagir Kabupaten Malang dengan objek penelitian adalah pelaksanaan pembelajaran PKn SD melalui pendekatan pembelajaran tematik. Dari hasil temuan peneliti dilapangan, dalam pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan tematik di SDN Petungsewu II kelas 1 antara lain sebagai berikut ; 1). Rancangan pembelajaran, dalam tahap ini guru PKn Kelas 1 SDN Petungsewu II menyiapkan media pembelajaran tematik yang berupa gambar-gambar yang berhubungan dengan tema yang akan diajarkan kepada siswa. Disini peneliti tidak menemukan guru menentukan tema pembelajaran tematik, karena untuk pelaksanan pembelajaran tematik di SD kelas 1 sampai kelas III pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional memberikan buku panduan pelaksanaan pembelajaran tematik dimana sudah dilengkapi dengan tema pembelajaran untuk masing-masing mata pelajaran. Dengan demikian, guru hanya tinggal menentukan tema penghubung antar mata pelajaran berdasar kesamaan indikator pencapaian dari masing-masing kompetensi dasar. Estela itu guru membuat RPP pembelajaran tematik, 2). Pelaksanaan pembelajaran, dari hasil pengamatan, peneliti melihat bahwa guru bidang studi PKn kelas 1 di SDN Petungsewu II kurang kreatif khususnya dalam hal pengelolaan pembelajaran. Hal ini dikarenakan kurangnya pengalaman guru dalam mengajar, sehingga guru tidak bisa mengelola proses pembelajaran dengan baik. Selain itu media yang dipakai juga kurang bervariasi, yang mengakibatkan siswa tidak antusias dan termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. . Berdasarkan hasil penelitian di SDN Petungsewu II Kecamatan Wagir Kabupaten Malang, maka dapat disarankan : 1. Perlu tersedianya media pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik. 2. Guru hendaknya membuat dan menyiapkan sendiri media pembelajaran sebagai sarana pendukung dalam pelaksanaan pembelajarn PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik. Media pembelajaran tidak harus mahal, akan tetapi efisien dan lentur (bisa dipakai atau mudah digunakan oleh siswa dan guru). 3. Dalam membuat RPP, guru PKn kelas 1 agar lebih lengkap lagi. Mengingat RPP itu sebagai pedoman mengajar dimana fungsinya agar guru tidak keluar dari materi pembelajaran yang diajarkan. 4. Diharapkan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pelakasanaan pembelajaran PKn melalui pendekatan pembelajaran tematik. Hal ini dikarenakan, dalam penelitian ini banyak kekurangan yang mungkin perlu untuk disempurnakan dan ditindak lanjuti.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dengan pembelajaran kooperatif jigsaw pada mata pelajaran KKPI untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X di SMK Negeri 1 Singosari / Mike Prastiwi

 

Kata Kunci: hasil belajar, PBL, Jigsaw, KKPI. Kualitas siswa dalam memahami berbagai konsep yang ada dalam pembelajaran KKPI disebabkan oleh salah satunya bentuk pembelajaran di sekolah yang masih berpusat pada guru sehingga siswa lebih bersikap pasif. Cara yang dianggap tepat dalam mengatasi masalah tersebut adalah penerapan pembelajaran berbasis masalah dengan kooperatif Jigsaw, karena dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi siswa dan meningkatkan keahlian dalam menyampaikan ide-ide, meningkatkan kemampuan bekerja sama, memberi kesempatan kepada siswa untuk menghargai perbedaan dan melatih siswa dalam menyelesaikan suatu permasalahan, sehingga siswa dapat terlibat aktif. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini menyangkut bagaimana hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Kooperatif Model Jigsaw ataupun hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan perbedaan hasil belajar siswa yangn diajar dengan kedua model pembelajaran tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan pretest posttest control group design. Populasi dalam penelitan ini adalah siswa kelas X SMK Negeri 1 Singosari. Sampel penelitiannya adalah kelas X SP (Surve Pemetaan) sebagai kelas kontrol dan kelas X TPm2 (Teknik Pemesinan) sebagai kelas eksperimen, tiap kelas berjumlah 30 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah yang dipadu dengan koopertif Jigsaw mengalami peningkatan sebesar 35,85%, (2) hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah juga mengalami peningkatan sebesar 25,79% dan (3) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah yang dipadu dengan koopertif Jigsaw dengan siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.

Peningkatan hasil belajar siswa kelas IV mata pelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran probing promting di SDN Palangsari II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan / zainulloh

 

Kata Kunci : Peningkatan, Hasil Belajar , IPA, Probing Promting Berdasarkan hasil pengamatan di SDN Palangsari II, Permasalahan yang timbul diantaranya, 1) Faktor pembelajaran berpusat pada guru, kurang adanya partisipasi siswa yang berarti, 2) Rendahnya aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar, siswa cenderung pasif hanya bersifat menerima penjelasan dari guru dan mencatat, 3) Kurang menariknya situasi pembelajaran sehingga terlihat kaku aktivitas siswa merasa tegang apabila menerima materi pembelajaran IPA, 4) Rendahnya prestasi belajar siswa jika dilihat dari rata-rata nilai ketuntasan yang diperoleh oleh masing-masing siswa. Penelitian ini bertujuan adalah:1) Mendeskripsikan penerapan Model Pembelajaran Probing Promting pada mata Pelajaran IPA kelas IV SDN Palangsari II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan, 2) Mendeskripsikan aktifitas siswa kelas IV SDN Palangsari II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan selama penerapan model pembelajaran Probing Promting pada pembelajaran IPA, 3) Mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas IV SDN Palangsari II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan dalam penerapan model pembelajaran Probing Promting pada pembelajaran IPA Dalam penelitian ini penerapan model pembelajaran probing promting pada siswa kelas IV SDN Palangsari II emnggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1)Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menuntun pengetahuan siswa terhadap materi yang dipelajari, 2) guru mengembangkan pembelajaran memberi pertanyaan-pertanyaan secara acak 3) guru memberi pujian terhadap jawaban siswa yang masuk, 4) Mengevaluasi hasil belajar siswa. Data penelitian berupa hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan hasil observasi terhadap penerapan model pembelajaran probing promting, observasi terhadap aktivitas siswa selama pembelajara, dan mengevaluasi hasil belajar siswa Penerapan model Pembelajaran probing promting berdampak positif dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar, dapat meningkatkan hasil belajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil sebelum dilaksanakan model pembelajaran probing promting. Diketahui nilai rata-rata 59,1 dengan ketuntasan klasikal 36,36% meningkat menjadi rata-rata 64,5 dengan ketuntasan klasikal 45,45%. Pada siklus II mengalamai peningkatan lagi menjadi 69,55 dengan ketuntasan klasikal 81,82%. Kendala yang dihadapi dalam penerapan model pembelajaran probing promting adalah siswa masih belum terbiasa dengan model pembelajaran yang diterapkan sehingga siswa merasa kaku dan belum siap dalam memecahkan masalah yang dihadapi yakni menjawab pertanyaan-pertanyaan yang langsung ditujukan kepadanya.. Hasil belajar siswa kelas IV SDN Palangsari II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan masih perlu ditingkatkan lagi melalui upaya-upya terencana dan berkesinambungan. Hasil penelitian ini akan dijadika landasan bagi peneliti lain untuk penelitia sejenis yang akan datang. Berdasarkan hasil penelitian kelas ini, maka saran yang kami ajukan adalah: 1)Kepada guru disarankan bagi guru untuk menerapkan model pembelajaran probing promting pada mata pelajaran IPA agar lebih memahami begitu juga dapat diterapkan pada pelajaran lain yang sesuai dengan materi, 2) Bagi lembaga pendidikan disarankan menerapkan model pembelajaran probing promting untuk meningkatkan hasil belajar efektifitas dan efisiensi pembelajaran, juga untuk meningkatkan kualitas atau mutu prestasi siswa dengan kinerja guru, 3) Bagi peneliti lain disarankan dapat mengembangkan model pembelajaran probing promting pada mata pelajaran lain sehingga dapat kualitas pendidikan yang lebih baik.sehingga menjadi pembelajaran yang lebih menarik dan lebih baik, 4) Bagi kepala sekolah diharapkan mengadakan pembinaan terhadap guru-guru SDN Palangsari II Kecamatan Puspo Kabupaten Pasuruan tentang penerapan model pembelajaran probing promting,5)Bagi peneliti lanjutan disarankan supaya mengkombinasikan dengan media yang ada disekitar sekolah, yang relevan dan lebih lengkap, yang mampu meningkatkan hasil belajar secara optimal. Dan disarankan untuk mencoba mengembangkan penelitian lanjutan yang membahas tentang peningkatan efektifitas dan motivasi belajar siswa melalui model pembelajarn probing promting.

Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian konsumen di rumah makan ayam bakar Wong Solo Malang / Sri Mulyasari

 

Kata Kunci: Kualitas Produk dan Keputusan Pembelian Konsumen Perkembangan usaha jasa boga dalam negeri dan usaha jasa boga asing dewasa ini relatif pesat, sehingga intensitas persaingan dalam usaha jasa boga semakin ketat. Hal tersebut berdampak pada pilihan yang beraneka ragam, maka dari itu setiap perusahaan harus memiliki kualitas produk yang unggul agar dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dalam memutuskan pembelianya terhadap suatu produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Deskripsi kualitas produk di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang; (2) Deskripsi keputusan pembelian konsumen di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang, (3) Pengaruh positif kualitas produk (kinerja, daya tahan, etetika dan kualitas yang dipersepsikan) secara parsial terhadap keputusan pembelian konsumen di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang; (4) Pengaruh positif kualitas produk (kinerja, daya tahan, etetika dan kualitas yang dipersepsikan) secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang; (5) Variabel kualitas produk yang paling dominan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang. Jenis penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif dengan metode explanatory research. Data yang diperoleh dengan menggunakan angket tertutup skala likert dengan empat alternatif jawaban. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang melakukan pembelian di Rumah Makan Ayam bakar Wong Solo Malang. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dengan menggunakan teknik accidental sampling. Sumber data berupa data primer dan data sekunder, sedangkan teknik analisa data yang digunakan yaitu analisis regresi berganda. Hasil penelitian yaitu: (1) Kualitas produk yang meliputi kinerja produk, daya tahan, estetika produk, dan kualitas yang dipersepsikan di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang dikategorikan cukup baik. (2) Keputusan pembelian konsumen di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo Malang dikategorikan baik. (3) Pengaruh positif kualitas produk yang meliputi kinerja produk sebesar 18,1% , daya tahan produk 37%, estetika produk 19,7%, dan kualitas yang dipersepsikan 68% terhadap keputusan pembelian konsumen. (4) Pengaruh positif kualitas produk terhadap keputusan pembelian konsumen yaitu sebesar 61,4% sedangkan 38,6% disebabkan oleh faktor lain diluar penelitian. (5) variabel yang paling dominan yaitu kualitas yang dipersepsikan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas produk mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian, diharapkan para pengusaha usaha jasa boga lainnya dapat terus meningkatkan kualitas produknya guna menarik para konsumen yang loyal yang akan berdampak positif terhadap pendapatan perusahaan. Selain itu perlu dilakukan juga penelitian dengan variabel-variabel lain dari penelitian ini, guna mengetahui penyebab 38,6% faktor diluar penelitian ini.

Penerapan metode bermain sains untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Laboratorium Universitas Negeri Malang / Rizki Mumpuni

 

Kata Kunci: Metode Bermain Sains, Kognitif Anak usia prasekolah umumnya merupakan anak yang aktif dan ingin tahu, namun yang terjadi pada anak kelompok B TK Laboratorium UM masih sedikit anak yang antusias terhadap pembelajaran. Selain itu kemampuan kognitif anak yang berhubungan berfikir teliti, mengingat, membedakan benda masih rendah. Hal ini karena anak tidak dilibatkan secara langsung dalam memecahkan masalah.Mengingat dunia anak adalah bermain dan merupakan bagian dari perkembangan kognitif. Apalagi daya tangkap sains anak Indonesia berada pada peringkat ke 34 dari 38 negara, maka diperlukan penerapan metode bermain sains untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) mendeskripsikan penerapan metode bermain sains untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Laboratorium Universitas Negeri Malang, 2) mendeskripsikan keaktifan anak kelompok B TK Laboratorium Universitas Negeri Malang meningkat saat diterapkan metode bermain sains, 3) mendeskripsikan peningkatan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Laboratorium Universitas Negeri Malang saat diterapkan metode bermain sains. Penelitian ini dilakukan di TK Laboratorium Universitas Negeri Malang mulai tanggal 28 September sampai 14 Oktober 2010, dengan menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam 2 siklus. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan , yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan Guru Kelas B. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siklus I keaktifan anak sudah meningkat walaupun ada satu anak yang memiliki skor 12 di bawah skor minimal, namun pada silkus II keaktifan anak dapat dikategorikan sangat aktif. Sedangkan kemampuan kognitif anak pada siklus I sudah meningkat menjadi 65,2% namun masih di bawah standar ketuntasan klasikal yaitu 75%. Pada siklus II meningkat menjadi 91,3%. Dapat disimpulkan metode bermain sains dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan kemampuan kognitif anak kelompok B TK Laboratorium Universitas Negeri Malang. Kegiatan bermian sains ini meliputi; 1) mengelompokkan benda melalui mengujicobakan bahan yang larut dalam air dan yang dapat menyerap air,2) menyebutkan perbedaan dua benda melalui membuat air gula, 3) sebab akibat melalui wujud air (padat, cair, gas), 4) menjelaskan proses kegiatan atau percobaan melalui proses terjadinya hujan. Disarankan bagi para pendidik anak usia dini untuk menggunakan kegiatan bermain sains ini dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak dan juga dapat dipakai sewaktu menjelaskan proses terjadinya hujan pada tema air.

Meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan kecepatan melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) pada siswa kelas V SDN Tepas 03 Kabupaten Blitar / Anang Winariyanto

 

Kata Kunci: Pembelajaran Matematika, Kooperatif Tipe STAD, Hasil Belajar Proses pembelajaran matematika di SDN Tepas 03 pada umumnya masih menggunakan metode tradisional. Hal ini dapat diliat dari cara membelajarkan siswa kelas V guru hanya mengandalkan ceramah pada seluruh materi yang diberikan. Sehingga dalam proses kegiatan belajar mengajar terdapat ketimpangan-ketimpangan yang seharusnya tidak ada yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Ketimpangan dalam proses belajar mengajar tersebut antara lain siswa pasif, saat ditanya siswa apakah telah paham terhadap materi yang diberikan guru hanya diam saja dan setelah diberi soal hasilnya tidak sesuai dengan kriteria minimal ketuntasan belajar hal ini dapat diliat dari hasil belajar siswa dari 38 siswa hanya ada 8 siswa yang memperoleh skor nilai 70 atau 20% dan siswanya yang 30 siswa hanya memperoleh skor nilai antara 25 s/d 55 siswa atau skitar 80% siswa mendapat nilai rendah atau tidak sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal belajar matematika. Adanya hal tersebut diatas maka perlu diadakan upaya perbaikan dalam pembelajaran supaya hasil belajar siswa dapat meningkat maka penulis akan menggunakan dan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division). Model ini dipilih karena sesuai dengan keadaan siswa di SDN Tepas 03 yang sangat beraneka ragam mulai dari jenis kelamin, agama, kemampuan akademik, budaya dan lain-lain. Selain itu dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memotivasi siswa khususnya dalam hal bertanya, mengeluarkan pendapat serta mampu bersosialisasi bersama temanya. Dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu pada akhirnya dapat saling mengisi antara kekurangan dan kelebihan siswa satu dengan yang lain sehingga siswa dapat lebih mudah memahami materi dan hasil belajar dapat meningkat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) bagai-manakah pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas V SDN Tepas 03 pada pra-tindakan? (2) bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas V SDN Tepas 03 dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD? (3) bagaimanakah peningkataan hasil belajar matematika di kelas V SDN Tepas 03 dari pra-tindakan, siklus I dan siklus II dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD?. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas V SDN Tepas 03 pada tahap pra-tindakan, (2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I dan siklus II, (3) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dari pra-tindakan/observasi yang kemudian diimplementasikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I yang selanjutnya bila diketemukan hal-hal yang dirasa dapat menghambat kegiatan pembelajaran dan harus perlu diperbaiki maka selanjutnya dapat dibuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II yang digunakan untuk memperbaiki hasil belajar pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebelumnya dengan mengacu pada permasalahan yang didapat dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualititatif. Rancangan yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari tiga tahap yaitu pra-tindakan, siklus I dan siklus II. Masing-masing tahap terdiri dari (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi. Data dan sumber yang dibutuhakan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa yang meliputi produk dan keterlaksanaan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara (1) teknik observasi, (2) teknik kuis, (3) teknik kuisioner/angket. Instrumen yang digunakan berupa (1) lembar observasi, (2) kuisioner/angket, (3) kuis/tes, (4) catatan lapangan (field note). Teknik analisa data dipilah menjadi 4 kelompok data, (1) data hasil belajar siswa, (2) data pengamatan pembelajaran kooperatif tipe STAD, (3) data kegiatan mengajar guru, dan (4) data yang diperoleh dari angket siswa. Hasil belajar siswa yang diperoleh pada aktivitas guru pada siklus I memperoleh skor 83,50 atau kualfikasi nilai baik, dan aktivitas guru pada siklus II memperoleh skor 94,50 atau kualifikasi nilai sangat baik. Kesimpulan berdasarkan temuan dari peneliatian ini, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran selama pra-tindakan, siklus I dan siklus II dengan mene-rapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika, serta dapat meningkatkan aktivitas siswa dan aktivitas guru dalam mengembangkan keterampilan kooperatif dalam hal (1) menghargai pendapat orang lain, (2) mengambil giliran dan berbagi tugas, (3) mengundang orang lain untuk bicara, (4) bertanya, (5) mendengarkan dengan aktif, (6) tidak berbeda dalam tugas, (7) bersama-sama memeriksa jawaban. Saran yang diberikan adalah (1) bagi siswa, setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengaplikasikan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan kehidupan sehari-hari khususnya dalam hal bekerjasama dan mengeluarkan pendapat, (2) bagi guru, dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif tipe STAD pada mata pelajaran lainnya, (3) bagi peneliti lain, penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD perlu dikembangkan lebih lanjut dan lebih bervariasi untuk memperbaiki kekurangan dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Peningkatan kemampuan bercerita melalui pemanfaatan media gambar seri pada anak kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kota Blitar / Nisa Cahyanul Fidin

 

Kata Kunci : Bercerita, kemampuan bercerita, media gambar seri Berdasarkan studi pendahuluan pada anak-anak usia dini khususnya kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal kota Blitar sering diadakan kegiatan guru meminta anak bercerita tentang dirinya atau pengalaman yang dialami di depan teman-teman anak. Ada sebagian anak sudah terlihat mampu bercerita tentang pengalaman pada teman-temannya walaupun masih terpatah-patah, namun ada pula yang tampak masih malu, bahkan ada anak yang diam tanpa sepatah katapun. Bercerita dengan menggunakan alat peraga masih jarang dilakukan oleh guru, khususnya media gambar seri. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendeskripsikan penggunaan media gambar seri dalam peningkatan kemampuan bercerita kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal kota Blitar. (2)Mendeskripsikan meningkatnya kemampuan bercerita anak usia dini pada kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal kota Blitar setelah penggunaan media gambar seri. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian usia dini kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal Kota Blitar. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi kegiatan siswa. Teknik analisis data digunakan analisis data kualitatif. Peningkatan ini merupakan hasil perbaikan dari hambatan atau kendala yang muncul pada siklus I. Dari hasil siklus 2 pertemuan 2 ketuntasan belajar anak mencapai 70%. Sehingga pembelajaran yang dilakukan 2 siklus ini menunjukkan hasil yang diharapkan. Pada siklus I ketercapaian ketuntasan belajar sebesar 45%, sedangkan pada siklus II pencapaian ketuntasan belajar sebesar 70% sehingga terjadi peningkatan ketuntasan belajar sebesar 25 %. Berdasarkan hasil penelitian disarankan bahwa kegiatan bercerita menggunakan media gambar seri dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan bercerita anak. Media gambar seri yang digunakan hendaknya berukuran besar, berwarna agar menarik bagi anak. Guru lebih mempersiapkan kelengkapan belajar agar suasana kelas dapat terkondisikan dengan baik sehingga apa yang disampaikan guru dapat dimengerti anak. Guru harus selalu memberikan motivasi kepada anak agar anak percaya diri untuk melakukan sesuatu yang baru. Guru mempersiapkan tema yang sesuai dan menarik.

Pengaruh persepsi atribut produk terhadap keputusan pembelian simpati (Studi pada konsumen simpati di citra seluler, Malang) / Fery Moniagara

 

Kata Kunci: Atribut Produk, Keputusan Pembelian Pengaruh globalisasi sangat besar terhadap persaingan dunia bisnis saat ini. Persaingan dibidang pemasaran menghadapi banyak tantangan, sehingga tiap perusahaan dituntut untuk menerapkan strategi pemasaran yang tepat. Daya tarik suatu produk tidak dapat dilepaskan dari atribut produk yang ada, karena atribut produk merupakan salah satu dari wujud nyata suatu produk. Atribut produk merupakan alat yang cukup efektif dalam mempengaruhi konsumen, melalui atribut produk dapat merangsang konsumen untuk melakukan pembelian produk. Operator telepon seluler yaitu simpati merupakan produk jasa yang memberikan layanan dan fasilitas bagi pengguna ponsel agar dapat berkomunikasi. Selama ini simpati merupakan market leader, namun dengan munculnya pesaing baru yang juga memberikan fitur-fitur maupun atribut produk yang tidak kalah bersaing. Simpati harus mempertahankan posisinya, maka diperlukan usaha agar atribut produk yang ditawarkan tetap kompetitif. Oleh karena itu atribut produk sebaiknya tetap jadi perhatian karena atibut produk dapat menimbulkan pengaruh konsumen untuk melakukan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel atribut produk terhadap keputusan pembelian Simpati. Penelitian ini mempunyai 2 variabel, yaitu variabel independen (X) yang terdiri dari Merek (X1), Harga (X2), Kualitas (X3), dan Layanan Tamabahan (X4), dan variabel dependen (Y) Keputusan Pembelian. Penelitian ini dilakukan pada konsumen simpati di citra seluler, Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis regresi berganda, data diperoleh dengan menggunakan teknik kuesioner tertutup. Populasi tidak diketahui jumlahnya sehingga dalam pengambilan sampel menggunakan teknik sampel aksidental dan rumus infinite population. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 139 orang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows 16,0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) merek, dari hasil analisis data diperoleh nilai 1 = 0,456; t hitung = 6,210; signifikan t = 0,000. Hal ini menunjukkan merek berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (2) harga, dari hasil analisis data diperoleh 2 = 0,277; nilai t = 3,049; signifikan t = 0,003. Hal ini menunjukkan harga berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (3) kualitas, dari hasil analisis data diperoleh 3 = 0,021; nilai t = 0,243; signifikan t = 0,808. Hal ini menunjukkan kualitas tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, (4) layanan tambahan, dari hasil analisis data diperoleh 4 = 0,203; nilai t = 2,682; signifikan t = 0,008. Hal ini menunjukkan layanan tambahan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan secara parsial terdapat 3 variabel yang menunjukkan signifikansi terhadap keputusan pembelian yaitu merek, harga, dan layanan tambahan, sedangkan variabel kualitas tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Secara simultan merek, harga, kualitas, dan layanan tambahan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang telah diperoleh adalah bagi perusahaan sebaiknya tetap mempertahankan persepsi merek karena memiliki pengaruh paling dominan dalam keputusan pembelian konsumen.

Peningkatan motivasi dan ketuntasan belajar anak TK melalui pemberian hadiah di TK Al Hidayah Sumberjo Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar / Arina Hidayati

 

Kata kunci : Motivasi, motivasi belajar, aktivitas belajar, pemberian hadiah Berdasarkan kenyataan di lapangan, dalam penelitian awal ditemukan bahwa motivasi belajar anak Kelompok B TK Al-Hidayah Sumberjo masih sangat rendah. Hal itu terlihat pada saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung, anak kurang memperhatikan penjelasan guru tentang tema yang disampaikan. Anak berbicara terus dengan temannya, tidak mencoba mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Anak terlambat mengumpul tugas atau lembar kerja karena terlalu banyak berbicara dengan temannya. Selain itu ada juga anak yang tidak mau menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru padahal sebelumnya guru sudah memberi petunjuk pengerjaan dan memberi contoh cara mengerjakan . Dari hasil observasi awal, didapat 3 rumusan masalah yang berhubugan dengan masalah-masalah peningkatan motivasi dan ketuntasan belajar anak TK, yaitu (1) bagaimana langkah-langkah kegiatan pemberian hadiah untuk meningkatkan motivasi anak TK; (2) apakah pemberian hadiah dapat meningkatkan motivasi belajar anak TK; dan (3) apakah pemberian hadiah dapat meningkatkan ketuntasan belajar anak TK di TK Al Hidayah Sumberjo Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar. Penelitian ini dilakukan di TK Al Hidayah Sumberjo Kelompok B yang berjumlah 15 anak, mulai bulan Nopember-Desember 2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research). Adapun tahap-tahap penelitiannya terdiri dari 2 siklus, yaitu meliputi: siklus 1 dan siklus 2 yang masing-masing siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan (plan), pelaksanaan (act), pengamatan (observe), refleksi (reflect). Siklus 1 dilaksanakan berdasarkan hasil pengamatan pada kegiatan pra siklus. Siklus 2 dilaksanakan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus 1. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, penilaian perkembangan anak dan dokumentasi. Hasil penelitian;(a) guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sudah sangat baik maksudnya sebelum guru memberikan tugas guru menjelaskan cara pengerjaan secara bertahap dan jelas, (b) pada saat kegiatan, guru menggunakan hadiah untuk menstimulus anak mengerjakan kegiatan yang diberikan agar motivasi dan ketuntasan belajar anak meningkat. Hadiah ternyata mampu meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar anak, terbukti 97,5% rata-rata anak sudah tuntas belajar. Hal ini berarti, pembelajaran sudah berhasil. Dari penelitian ini dapat disimpulkan 3 hal, yaitu; 1). Adanya langkah-langkah kegiatan pemberian hadiah;(a) Guru memberi modal 1 tanda bintang kecil pada papan bintang prestasi untuk setiap anak, (b) Anak yang berhasil menyelesaikan kegiatan mendapatkan 1 tanda bintang kecil, (c) Anak yang berperilaku baik juga akan mendapatkan tanda bintang kecil, (d) Anak yang tidak mampu menyelesaikan kegiatan tanda bintangnya akan berkurang, (e) Anak yang berperilaku kurang baik, bintangnya akan berkurang , (f) Tanda bintang akan dihitung pada kegiatan akhir untuk mengetahui siapa yang mendapatkan tanda bintang paling banyak, (g) Anak yang mendapatkan tanda bintang paling banyak berhak menerima hadiah bintang besar. 2). Peningkatan motivasi belajar anak TK melalui pemberian hadiah baik berupa verbal maupun non verbal ternyata sangat efektif digunakan. Hal ini terlihat dari hasil belajar anak rata-rata di kelas mencapai 97,5%. 3). Ketercapaian ketuntasan belajar anak dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan hadiah akan dapat dicapai dengan maksimal, karena anak cenderung ingin meraih hadiah yang akan diterimanya meskipun hadiah yang diperebutkan tidak begitu berharga dari pandangan orang dewasa, namun tanda bintang merupakan suatu tanda keberhasilan dan kebanggaan bagi anak usia dini. Dengan membawa pulang hadiah tanda bintang dia merasa sangat bangga dan bisa menunjukkan hasil kerjanya tersebut kepada orang tua mereka. Diharapkan hasil penelitian ini dapat diteliti lagi kepada kelompok yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan yang terkait sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Selain hal tersebut karena penelitian ini hanya terbatas pada penelitian tindakan kelas, diharapkan ada penelitian selanjutnya, untuk memperbaiki dan menguji efektifitas hadiah untuk memotivasi belajar anak.

Penerapan media peta untuk meningkatkan hasil belajar IPS kelas IV SDN Wrati II Kecamatan Kejayan Kabupaten Psuruan / Leksono Minto Utomo

 

Kata Kunci : Media Peta, Hasil Belajar, Sumberdaya Alam dan Kegiatan Ekonomi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar ditekankan pada siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna, lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial dan bertanggung jawab meningkatkan rasa toleransi dan persaudaraan dilingkungannya sendiri dan antar manusia. Proses pembelajaran yang berjalan di SDN Wrati II secara umum masih menempatkan peserta didik sebagai obyek kegiatan pembelajaran. Proses pembelajaran di kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya. Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan pada saat proses belajar mengajar di kelas IV SDN Wrati II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan pada tanggal 06 Agustus 2010, diketahui terdapat beberapa permasalahan pada pembelajaran IPS di kelas tersebut. Dari permasalahan tersebut mengakibatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV kurang optimal yaitu 61,54. Padahal kriteria ketuntasan minimalnya adalah 65. Oleh karena itu, pada penelitian ini dicoba untuk menangani kurang optimalnya hasil belajar IPS dengan menerapkan media peta, melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Ibrahim, dkk (2000:38) peta adalah penyajian visual yang merupakan gambaran datar dari permukaan bumi atau sebagian dari padanya dengan menggunakan titik-titik, garis-garis dan simbol visual lainnya, sehingga dapat menggambarkan lokasi suatu tempat, luas, jarak antar tempat, dan keadaan dalam bentuk perbandingan dengan menggunakan skala tertentu. Sedangkan Latuheru (1988:1) menyatakan bahwa peta adalah gambaran konvensional dari pada permukaan bumi serta fenomena-fenomena yang diperkecil di atas bidang datar yang disesuaikan terhadap skala. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa materi pokok sumberdaya alam dan kegiatan ekonomi dengan menerapkan media peta. Penelitian ini menggunakan desain PTK dengan model Kemmis dan Taggart yang terdiri atas empat fase, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan media peta (peta sumberdaya alam hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan pertambangan di Jawa Timur) dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN Wrati II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan. Hal ini terbukti dari data yang memaparkan hasil belajar pada siswa meningkat dari pra tindakan ke siklus I yaitu dari 61,54 menjadi 70,58 dan dari siklus I ke siklus II yaitu dari 70,58 menjadi 94,23. Semua siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan penerapan media peta (peta sumberdaya alam hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan pertambangan di Jawa Timur) di kelas IV SDN Wrati II Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan pada siklus I berjalan dengan baik meskipun ada beberapa kendala. Namun, hal itu dapat diperbaiki pada siklus II. Adapun saran yang diberikan antara lain yaitu: (1) guru bisa menerapkan media peta (peta sumberdaya alam hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan pertambangan di Jawa Timur) dalam pembelajaran IPS di kelas IV, (2) selain dengan penerapan media peta (peta sumberdaya alam hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan pertambangan di Jawa Timur), guru perlu menerapkan media pembelajaran lain sehingga hasil belajar siswa kelas IV dapat lebih ditingkatkan lagi, (3) penerapan media peta (peta sumberdaya alam hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan pertambangan di Jawa Timur) dalam pembelajaran pada penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti-peneliti lain.

Perbedaan penerapan pembelajaran berbasis proyek (project based learning) dengan pola pengelompokan tutor sebaya dan ceramah bermakna terhadap prestasi belajar TIK kelas XI semester I SMAN 2 Malang / Fitria Nur Hasanah

 

Kata Kunci: Tutor Sebaya, Pembelajaran Berbasis Proyek, Ceramah Bermakna, Prestasi Belajar. Permasalahan yang sering kali dijumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara optimal adalah Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL). PBL berfokus pada konsep dan prinsip inti sebuah disiplin, memfasilitasi siswa untuk berinvestigasi, pemecahan masalah, dan tugas-tugas bermakna lainnya, dan menghasilkan produk nyata. Pola tutorial sebaya merupakan model pembelajaran kelompok, dalam masing-masing kelompok terdapat seorang anggota yang memiliki kemampuan akademik yang lebih baik dan anggota lainnya memiliki kemampuan yang lebih rendah yang dipilih secara acak. Dalam penelitian ini diterapkan penggabungan antara PBL dengan pola pengelompokkan Tutor sebaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prestasi belajar siswa yang menggunakan model PBL dengan pola pengelompokkan Tutor Sebaya dan yang diajar dengan menggunakan metode Ceramah Bermakna, serta untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar kedua kelas. Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu tipe pretest-posttest non-equivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswas kelas XI SMAN 2 Malang semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011. Sedangkan sampel penelitian ini adalah kelas XI IPA B1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA B2 sebagai kelas kontrol. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive sampling. Instrumen penelitian ini yaitu instrumen perlakuan dan pengukuran. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik kuantitatif untuk menganalisis data kemampuan awal siswa, prestasi belajar siswa yang terdiri dari uji normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan prestasi belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Prestasi belajar kelas eksperimen lebih tinggi daripada prestasi belajar siswa kelas kontrol. Untuk nilai proyek diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (84,34) lebih tinggi dari kelas kontrol (78,22). Untuk nilai formatif diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (87,12) lebih tinggi dari kelas kontrol (82,56). Sehingga disimpulkan bahwa penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek dengan pola pengelompokkan Tutor Sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar TIK.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |