Analisis subjektif terhadap lukisan karya Fadjar Junaidi periode 2009 / Yantoro

 

Kata kunci: Analisis subjektif, Lukisan Fadjar Junaidi Bermula dari ketertarikan peneliti, ketika melihat karya-karya lukisan seorang seniman. Peneliti sebagai penikmat/penghayat karya seni, mendapatkan kesan tersendiri apabila berhadapan dengan Karya Fadjar Junaidi yang cenderung menampilkan visualisasi objek yang aneh dan lucu dan dengan tema yang sederhana tetapi penuh dengan makna, tema-temanya bersifat sederhana dan mengangkat sesuatu peristiwa yang terjadi pada masyarakat sekitar kita. Untuk mengkaji karya seni lukis ini digunakan metode penelitian dengan pendekatan apresiasi subjektif, dengan bersumber pada tiga komponen kehidupan seni, yaitu: seniman, karya seni, dan penghayat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini akan mengkaji bagaimana faktor genetik, objektif, afektif serta filosofi dalam lukisan Fadjar Junaidi dengan mendeskripsikan faktor genetik, objektif, afektif serta filosofi lukisan Fadjar Junaidi periode 2009. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah deskriptif yang mendeskripsikan Faktor genetik, objektif, dan afektif serta filosofi berdasarkan Analisis Subjektif terhadap karya lukis Fadjar Junaidi periode 2009 menggunakan metode wawancara, observasi, dokumentasi dan studi kepuatakaan. Analisis data dengan mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema serta dapat dirumuskan hipotesis, dengan analisis ini data yang terkumpul diolah dalam pembagian kelompok yang sejenis sehingga data akir yang diperoleh merupakan data yang bersifat komprehensif. Dari penelitian yang dilakukan, yakni informasi genetik Fadjar Junaidi, informasi objek karya lukisan, dan interprestasi berupa afeksi dari peneliti yang bertindak sebagai penghayat karya, diperoleh kesimpulan bahwa: Dengan kematangan berproses kreatif/kerja seni, Fadjar mampu menciptakan sebuah karya lukis yang mempunyai nilai estetika yang tinggi, dengan visualisasi objek lukisan yang kesemuanya mengalami deformasi bentuk, membuat karya Fadjar terkesan Fleksibel dan unik. Dengan gaya naifnya Fadjar berusaha menyampaikan sebuah maksud tertentu dengan dibumbuhi rasa humor yang kental. Dalam berkarya Fadjar ingin menyampaikan dan memberikan gambaran tentang realitas kehidupan yang terjadi pada masyarakat disekitar kita, pengalaman hidup, serta nilai-nilai yang ada pada kehidupan kita. Berdasarkan karya-karya yang dihasilkan, Fadjar dapat dikatakan sebagai seniman modern dengan gaya naif yang terasa lucu dan lugu, serta peka terhadab situasi dan kondisi yang terjadi disekitar kita.

Penggunaan wayang kertas sebagi media untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Juluk 2 Saronggi Sumenep / Salamet Herianto

 

Kata kunci: wayang kertas, media, kemampuan berbicara. Kemampuan berbicara merupakan salah satu dari kecerdasan majemuk yang dimiliki siswa. Kemampuan berbicara merupakan kemampuan yang paling banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berbicara merupakan kemampuan yang paling sering digunakan untuk mengungkapkan eskpresi. Kemampuan berbicara juga merupakan bentuk kemampuan awal bagi siswa untuk belajar. Pembelajaran bahasa secara umum untuk membentuk kecakapan berbicara. Di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 juga dinyatakan bahwa pelajaran dan pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Dalam peraturan tersebut jugadinyatakan bahwa tujuan pelajaran dan pembelajaran Bahasa Indonesia antara lain adalah agar siswa memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Dalam studi pendahuluan yang dilakukan pada siswa kelas V SDN Juluk 2 Saronggi Sumenep ditemukan beberapa indikator yang menunjukkan bahwa mereka mengalami kesulitan berbicara. Berdasarkan pertimbangan dari berbagai rujukan dipilihkan wayang kertas sebagai media karena diduga efektif dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Dengan demikian ditetapkan judul penelitian: Penggunaan Wayang Kertas sebagai Media Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa Kelas V SDN Juluk 2 Sumenep. Berdasarkan judul tersebut ditetapkan rumusan masalah berikut. Pertama, bagaimanakah proses pembelajaran peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Juluk 2 Kecamatan Saronggi Sumenep dengan menggunakan media wayang kertas? Kedua, bagaimanakah hasil pembelajaran peningkatan kemampuan berbicara siswa kelas V SDN Juluk 2 Kecamatan Saronggi Sumenep dengan menggunakan media wayang kertas yang berkaitan dengan aspek: a) kebahasaan, dan b) non kebahasaan? Desain penelitian dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan jenis deskriptif kualitatif. Dalam pelaksanaannya, tindakan penelitian berupa tindakan pembelajaran ditujukan kepada semua siswa kelas V SDN Juluk 2 Saronggi Sumenep. Dalam pengumpulan data, peneliti dilengkapi dengan alat pengumpul data berupa lembar pengamatan, pedoman wawancara, lembar angket, catatan lapangan, dan lembar penilaian berupa rubrik. Pelaksanaan tindakan penelitian berupa tindak pembelajaran secara bersiklus yang dilakukan dalam tiga siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Proses pembelajaran secara umum terutama diarahkan pada kegiatan siswa dan guru serta penggunaan wayang kertas sebagai media pembelajaran. Kegiatan siswa dan guru tersebut secara garis besar terbagi atas tiga tahap yakni: persiapan, pelaksanaan, dan akhir. Pada setiap tahap secara umum dapat dinyatakan berlangsung dengan baik dan dapat menggugah semangat dan minat belajar siswa. Dalam proses pembelajaran tersebut ditemukan pula bahwa semua siswa menyukai media wayang kertas dan mengusulkannya agar digunakan pada pembelajaran yang lain. Mereka merasa tidak sedang belajar melainkan merasa sedang bermain sehingga mereka bebas berdialog sesuai dengan naskah drama. Pada hasil pembelajaran peningkatan kemampuan berbicara ditemukan hasil sebagai berikut. Pertama, hasil peningkatan kemampuan berbicara secara kelompok pada Siklus I masing-masing memperoleh nilai yang berkualifikasi baik (≥ 7,0). Pada Siklus II dan III separo kelompok berkualifikasi baik (≥ 7,0) dan separo yang lain berkualifikasi sangat baik (≥ 8,0). Hasil peningkatan kemampuan berbicara secara klasikal ditemukan bahwa pada Siklus I dan II diperoleh nilai berkualifikasi baik (≥ 7,0) sedangkan pada Siklus III nilai yang diperoleh berkualifikasi sangat baik (≥ 8,0). Dari Siklus I, II, dan III terjadi peningkatan kualifikasi kualifikasi baik menjadi sangat baik. Dengan demikian media wayang kertas dapat dinyatakan efektif sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut. Pertama, kepada para guru sekolah dasar, hasil penelitian ini dapat membuktikan bahwa media wayang kertas dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Dengan demikian model pembelajaran tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pembelajaran yang layak diujicobakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa dan dasar bagi pengembangan teknik pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Kedua, kepada para kepala sekolah dasar agar merekomendasikan kepada para guru tentang pemanfaatan penggunaan media wayang kertas untuk para siswa yang memiliki kendala psikologis atau kesulitan berbicara. Dan ketiga, kepada para peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan atas penelitian lanjutan sejenis sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran khususnya pembelajaran berbicara baik dari segi proses atau pun hasil pembelajaran.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap perubahan harga saham perusahaan perbankan (Studi kasus pada PT. Bank Mandiri (Persero) TBK) periode 2006. 1-2008. 12 / Anggun Pramana Putri

 

Karakteristik batik Madura antara Kabupaten Bangkalan dan Pamekasan / Nur Fadilah

 

Kata Kunci : Karakteristik, Batik, Motif, Warna, Garis dan Budaya Lokal. Kerajinan batik Madura tersebar di beberapa wilayah, di antaranya batik dari Kabupaten Bangkalan dan batik dari Kabupaten Pamekasan yang masing-masing memiliki perbedaan karakteristik. Penelitian ini bertujuan mengetahui persamaan dan perbedaan karakteristik batik Madura antara Kabupaten Bangkalan dan Pamekasan yang meliputi motif dan warna, teknik pembuatan batik dan pengaruh budaya lokal terhadap batik Madura. Penelitian ini dilakukan di Desa Telaga biru dan Paseseh Kecamatan Tanjungbumi, Bangkalan dan Desa Klampar Kecamatan Proppo, Pamekasan selama bulan Juli dan Agustus 2010. Pendekatan dan jenis penelitian ini menggunakan kualitatif. Sumber data diambil dari informan, dan produk batik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, dokumentasi, dan wawancara terbuka melalui intrumen yang disediakan. Teknik pengambilan sampel motif dan warna dari batik Bangkalan dan Pamekasan yaitu dengan teknik purposive sampling. Analisis hasil penelitian yang dipakai adalah analisis kategorisasi. Dalam pengecekan keabsahan temuan menggunakan cara berdasarkan teknik trianggulasi sumber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persamaan motifnya yaitu diambil dari tema-tema alam seperti flora dan fauna, sedangkan perbedaannya yaitu motif batik Bangkalan ditinjau dari bentuk dan garis lebih terkesan rumit, tegas dan teratur sedangkan motif batik Pamekasan lebih terkesan dinamis dan simple. Persamaan warnanya yaitu memakai warna-warna cerah maupun gelap dan yang paling sering digunakan adalah warna merah dan hitam, sedangkan perbedaannya yaitu tingkatan warna batik Bangkalan cenderung lebih gelap dan pekat sedangkan batik Pamekasan cenderung lebih terang dan cerah. Persamaan teknik pembuatan batik Madura ditinjau dari teknik membatik (pemakaian malam) yaitu menggunakan batik tulis dan cap, perbedaannya ada penambahan teknik dari Pamekasan yaitu teknik batik kombinasi (tulis dan cap). Ditinjau dari teknik pewarnaan yaitu menggunakan teknik colet dan teknik celup, perbedaannya ada penambahan teknik dari daerah Bangkalan yaitu teknik sikat. Pengaruh budaya lokal terhadap batik Madura di Bangkalan yaitu masih mempertahankan warisan tradisi yang turun temurun yang meliputi bahan, teknik serta motif dan warna batiknya dan lebih tegas dalam menunjukkan jati dirinya sebagai batik khas pesisir, sedangkan Pengaruh budaya lokal terhadap batik Madura di Pamekasan lebih kepada inovasi dan kreasi yang justru dikembangkan menjadi motif baru dan berbagai eksperimen terhadap warna sehingga menjadikan batik Pamekasan yang kaya akan motif dan warna.

Analisis perbandingan kinerja keuangan antara PT Bak Syariah Mandiri dengan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk periode 2002-2010 / Benni Budhi Satria

 

Kata kunci : Persepsi, Pola Asuh, Kompetensi Guru, Prestasi Belajar. Dalam penelitian ini, akan dikaji tentang tiga macam pola asuh orang tua yaitu pola asuh otoriter, permisif dan demokratis serta empat macam kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi professional dan kompetensi sosial. Pembagian tiga macam pola asuh tersebut didasarkan pada pendapat dari Gunarsa (1983). Sedangkan empat macam kompetensi yang akan dikaji didasarkan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Pola asuh orang tua dan kompetensi guru patut untuk dikaji karena keduanya merupakan faktor penentu keberhasilan siswa dalam belajar dan meningkatkan prestasi belajarnya. Pola pengasuhan orang tua yang tepat akan sangat mempengaruhi kepribadian seorang anak. Hal ini berarti pola asuh merupakan salah satu penentu kualitas seorang anak. Disisi lain, peran guru juga sangat penting. Guru yang kompeten dalam bidangnya akan mempengaruhi prestasi belajar siswa. Hal ini berati kompetensi guru juga merupakan salah satu penentu kualitas belajar siswa. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana deskripsi persepsi siswa tentang pola asuh orang tua? (2) Bagaimana deskripsi persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi? (3) Bagaimana deskripsi prestasi belajar ekonomi siswa? (4) Bagaimana pengaruh persepsi siswa tentang pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar ekonomi? (5) Bagaimana pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi yang tersertifikasi dan belum tersertifikasi terhadap prestasi belajar ekonomi? (6) Bagaimana pengaruh persepsi siswa tentang pola asuh orang tua dan kompetensi guru ekonomi yang tersertifikasi dan belum tersertifikasi terhadap prestasi belajar ekonomi?. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pola asuh orang tua dan kompetensi guru ekonomi sebagai variabel independen dan prestasi belajar ekonomi sebagai variabel dependen. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X reguler SMAN 2 Malang. Sampel yang diambil sebanyak 70 siswa dengan teknik purposive random sampling yang diperoleh dengan rumus Slovin. Teknik pengumpulan data adalah melalui angket dan dokumentasi. Adapun alat analisis yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif dan regresi linear berganda. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua siswa kelas X reguler SMAN 2 Malang sebagian besar (73%) adalah demokratis dan 27% lainnya otoriter. (2) Kompetensi guru ekonomi SMAN 2 Malang adalah cukup baik (59%). (3) Prestasi belajar ekonomi siswa kelas X reguler SMAN 2 Malang adalah baik (87%). (4) Ada pengaruh positif dan signifikan antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar siswa di bidang ekonomi. (5) Ada pengaruh positif dan signifikan antara kompetensi guru ekonomi terhadap prestasi belajar siswa di bidang ekonomi. (6) Ada pengaruh positif dan signifikan antara pola asuh orang tua dan kompetensi guru ekonomi terhadap prestasi belajar bidang studi ekonomi. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian di atas yaitu: (1) Orang tua hendaknya dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya. (2) Orang tua hendaknya memberikan penjelasan tentang kesalahan yang diperbuat anak sebelum memberikan hukuman. (3) Orang tua hendaknya memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan. (4) Orang tua hendaknya memberikan pujian atau hadiah kepada anak jika anak melakukan sesuatu sesuai dengan harapan orang tua. (5) Orang tua hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengutarakan pendapat dan keinginan. (6) Guru hendaknya melakukan pre test di awal pelajaran untuk mengetahui kemampuan awal siswa. (7) Guru hendaknya lebih peduli terhadap masalah kesulitan belajar yang dihadapi siswa. (8) Guru hendaknya menunjukkan sikap lebih berwibawa di depan siswa-siswinya.

Peningkatan hasil belajar FPB dan KPK melalui pendekatan pemecahan masalah pada siswa kelas V MI Miftahul Ulum Grati Pasuruan / Nur Azizah

 

Kata Kunci : Hasil belajar, FPB dan KPK, pemecahan masalah Guru merupakan faktor utama yang memiliki peranan sebagai pengelola dan pengembang pembelajaran yang di tuntut aktif dan kreatif dalam menerapkan pendekatan dan metode mengajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi awal ditentukan bahwa hasil belajar siswa kelas V MI Miftahul Ulum Grati Pasuruan yang diperoleh dengan FPB dan KPK. Sebagian besar (75%) dari 20 siswa nilai hasil belajarnya masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan penerapan pendekatan pemecahan masalah yang dapat meningkatkan hasil belajar FPB dan KPK pada siswa kelas V MI Miftahul Ulum Grati Pasuruan, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil belajar FPB dan KPK pada siswa kelas V MI Miftahul Ulum setelah diterapkan pendekatan pemecahan masalah. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengguakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model kolaboratif, melalui empat tahapan: perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri atas dua kali pertemuan meliputi: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Penelitian ini dilaksanakan di MI Miftahul Ulum Grati Pasuruan. Subyek penelitian ini siswa kelas V, sebanyak 20 orang siswa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan meliputi lembar tes soal, lembar observasi dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis data kualitatif, yang meliputi mereduksi data, memaparkan data, dan menyimpulkan data. Hasil penelitian pembelajaran pemecahan masalah ini dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas V MI Miftahul Ulum Grati Pasuruan. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hsil formatif yang meningkat yaitu dari skor pra tindakan mencapai rata-rata 58,75%, sedangkan skor rata-rata 64,5% pada siklus I ke 74, 95% pada siklus II. Pada siklus II ini sudah mencapai ketuntasan belajar diatas 70%, sehingga kegiatan penelitian dihentikan. Dampak dari penerapan pendekatan pemecahan masalah ini dapat meningkatkan tingkat aktivitas proses belajar siswa, hasil belajar siswa, standar nilai ketuntasan belajar siswa, dan cara menerapkan pembelajaran pemecahan masalah. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada guru untuk dapat menggunakan media benda kongkret pada saat menanamkan konsep materi FPB dan KPK. Bagi siswa agar lebih meningkatkan aktivitas dalam belajar. Bagi peneliti selanjutnya dapat memberi informasi, wawasan serta dapat meningkatkan lagi hasil dari penelitian ini, dan pada penelitian tentang pemecahan masalah dapat terlaksana lebih sempurna lagi.

Penggunaan metode SQ3R untuk meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan pada siswa kelas IV SDN Kauman bangil / Apriviati Purwaningrum

 

Kata kunci : Metode SQ3R, Kemampuan Memahami Isi Bacaan, SD Hasil studi pendahuluan yang dilakukan terhadap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar Bahasa Indonesia pada aspek keterampilan memahami isi bacaan siswa Kelas IV SDN Kauman Kecamatan Bangil Semester I Tahun Pelajaran 2010-2011 masih rendah. Nilai rata-rata kelasnya hanya 59 dengan angka ketuntasan belajar kelas sebesar 33,3 % atau 8 siswa dari 24 siswa. Metode pembelajaran membaca yang selama ini dilaksanakan oleh guru kurang tepat, yaitu melalui ceramah tanpa melibatkan siswa secara aktif. Siswa jenuh dan kurang berminat memperhatikan pelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: 1) Mendeskripsikan langkah-langkah penggunaan metode SQ3R untuk memahami isi bacaan pada siswa kelas IV SDN Kauman Bangil. 2) Mendeskripsikan peningkatan kemampuan memahami isi bacaan pada siswa kelas IV SDN Kauman Kecamatan Bangil melalui penggunaan metode SQ3R. Pemecahan masalah dilaksanakan melalui penelitian tindakan kelas (PTK) secara kolaboratif antara peneliti dengan kolaborator menggunakan metode SQ3R. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Kauman Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan sebanyak 24 siswa. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui tes, observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif prosentase dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan metode SQ3R dapat meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan siswa kelas IV SDN Kauman Bangil. Hasil tes siklus I menunjukkan siswa yang memperoleh nilai ≥70 meningkat menjadi 66,7% (16 siswa) dengan nilai rata-rata 69 dibandingkan dengan hasil ulangan harian pra penelitian yang hanya sebanyak 33,3% (8 siswa) dengan nilai rata-rata 59 atau meningkat sebesar 33,4%. Pada siklus II, kemampuan memahami isi bacaan siswa tersebut meningkat kembali menjadi 83,3% (20 siswa) dengan nilai rata-rata 74. Ini menunjukkan peningkatan sebesar 16,6%. Hasil siklus II ini telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian, maka penelitian ini dihentikan pada siklus II. Peneliti menyarankan agar metode SQ3R ini diterapkan sebagai variasi dalam proses belajar mengajar di kelas agar pembelajaran yang dilaksanakan lebih bervariasi. Pada penerapan metode SQ3R yang dilaksanakan dalam penelitian ini, masih ada 4 siswa (16,7%) yang belum tuntas belajar secara individu, karena itu, diharapkan kepada peneliti lain yang melaksanakan kegiatan penelitian serupa agar meningkatkan hasil tersebut menjadi lebih baik lagi.

Pengaruh loan to deposit ratio (LDR) terhadap profitabilitas bank (Studi kasus PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk periode tahun 2005-2009) / Lia Farhana

 

Kata kunci: Loan to Deposit Ratio (LDR), Profitabilitas Bank, Return On Assets (ROA). Penelitian dilakukan didasarkan pada persoalan yang dilematis mengenai pengukuran likuiditas dalam usaha bank mengenai memasarkan dan/atau memutar uang para nasabahnya untuk mendapatkan keuntungan (profit), yang artinya bisnis perbankan harus memaksimalkan pemasaran uangnya dan sekecil mungkin mencegah uang “menganggur” (idle money). Di sisi lain, untuk dapat memenuhi kewajibannya terhadap para deposan dan debitur yang sewaktu-waktu menarik dananya dari bank, bank dituntut selalu dalam posisi siap membayar, yang artinya bank harus mempunyai cadangan uang “menganggur” yang cukup. Pada penelitian ini, tingkat likuiditas diukur dengan menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR). Semakin tinggi tingkat LDR maka laba bank akan semakin meningkat (dengan asumsi bank tersebut mampu menyalurkan kreditnya dengan efektif). Profitabilitas merupakan indikator yang paling tepat untuk mengukur kinerja suatu bank. Ukuran profitabilitas yang digunakan adalah Return On Assets (ROA). Return On Assets (ROA) digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan didalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar Return On Assets (ROA) menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat kembalian (return) semakin besar. Penelitian dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh serta seberapa besar pengaruh dari Loan to Deposit Ratio (LDR) dalam mempengaruhi profitabilitas bank yang dihitung dengan menggunakan Return On Assets (ROA) pada Bank Rakyat Indonesia. Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Bank Rakyat Indonesia, yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Teknik analisa yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah regresi linier sederhana untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Assets (ROA). Adapun saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah: (1) Bagi perbankan disarankan selain melakukan peningkatan LDR sampai batas yang telah ditetapkan oleh standar Bank Indonesia, pihak perbankan juga harus memperhatikan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi profitabilitas selain LDR, karena LDR hanya mempunyai pengaruh sedikit terhadap profitabilitas, (2) Bagi investor ataupun calon investor disarankan untuk melihat faktor-faktor lain selain LDR agar dapat mengestimasi profit yang akan diperoleh, sebelum berinvestasi, (3) Diharapkan pada peneliti selanjutnya, untuk memperluas penelitian baik dari jenis-jenis bank maupun periode yang diteliti karena pada penelitian ini hanya menggunakan satu jenis bank saja.

Studi ornamen pada arsitektur keraton sumenep Madura / Sanuri Karunia

 

Kata Kunci: Ornamen, Arsitektur, Keraton Sumenep Madura dikenal sebagai wilayah yang tandus namun kaya akan kebudayaan. Di pulau Madura sendiri terdapat beberapa corak arsitektur tradisional yang berbeda. Madura memiliki karakteristik yang unik dan berbeda dengan budaya Jawa seperti bahasa, bentuk hunian dan ornamen. Keraton Sumenep mempunyai warisan arsitektur yang cukup lengkap. Kompleks keraton Sumenep berada di jalan Dr. Sutomo Desa Pajagalan kecamatan Sumenep kabupaten Sumenep. Pembangunan dilakukan pada tahun 1763 oleh Panembahan Sumolo dengan arsiteknya Lauw Pia Ngo. Konsep dasar pembangunan Keraton Sumenep berdasarkan hablum minallah wa hablum minannas artinya berhubungan dengan Allah dan manusia. Di samping itu, ornamen-ornamen di keraton memiliki filosofi yang mendalam dan dipengaruhi oleh berbagai macam budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Latar belakang penciptaan ornamen pada arsitektur keraton Sumenep; (2) Proses dan hasil proses akulturasi budaya terhadap bentuk ornamen pada arsitektur keraton Sumenep; dan (3) Ragam unsur desain ornamen dan fungsinya pada arsitektur keraton Sumenep. Manfaaat penelitian ditujukan kepada peneliti, pemerintah daerah, mahasiswa seni dan desain, dan untuk masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan dan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini diambil dari data artefaktual, data tekstual, dan data lisan dari responden. Prosedur pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan: (1) Latar belakang penciptaan ornamen pada arsitektur keraton Sumenep dipengaruhi oleh dua faktor. Yaitu faktor emosi dan faktor teknik. Faktor emosi adalah hasil cipta yang didapat dari kepercayaan, agama, dan magis. Sedangkan faktor teknik dalam ornamen berhubungan dengan dari material apa benda itu dibuat dan bagaimana membuatnya. (2) Proses dan hasil proses akulturasi budaya terhadap bentuk ornamen dipengaruhi oleh budaya-budaya asing yang masuk ke Sumenep yaitu budaya Eropa (Belanda) dan Cina. Budaya asing ini berakulturasi dengan budaya lokal (Jawa). Sedangkan pengaruh agama adalah Islam dan Hindu/Budha. (3) Ragam desain ornamennya berupa motif geometris, flora, fauna, manusia dan bentuk-bentuk yang dipercaya sebagai simbol; serta fungsinya sebagai ragam hias murni dan simbolik.

Hubungan antara minat dan bakat menggambar dengan prestasi belajar pada mata kuliah desiain sketsa pada mahasiswa S1 pendidikan tata busana angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang / Susan Premiarahma Fitrahanies

 

Kata Kunci: Minat, bakat, prestasi belajar. Minat dan bakat menggambar merupakan salah satu diantara faktor-faktor yang berperan dalam proses pencapaian prestasi belajar matakuliah desain sketsa mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana Angkatan 2007 dan 200 Universitas Negeri Malang. Minat dan bakat menggambar khususnya menggambar desain busana yang dimilki oleh mahasiswa merupakan faktor bawaan yang didapat melalui pengetahuan dan latihan sehingga memungkinkannya untuk dapat mengembangkan bidang yang sedang ditekuninya. Sedangkan prestasi belajar matakuliah Desain Sketsa adalah hasil yang telah dicapai oleh pesaerta didik melalui proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara minat dan bakat menggambar dengan prestasi belajar pada matakuliah Desain Sketsa pada mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang, yaitu menguji hubungan antara variabel bebas X1 (minat) dan X2 (bakat) terhadap variabel terikat Y (prestasi belajar). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuisioner (angket) kepada responden yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya kemudian dihubungkan dengan data prestasi belajar matakuliah Desain Sketsa mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang. Hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki prestasi belajar yang cukup tinggi meskipun tidak disertai minat dan bakat yang tinggi pula. Berdasarkan penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa secara parsial tidak terdapat hubungan yang signifikan antara minat menggambar dengan prestasi belajar dan bakat menggambar dengan prestasi belajar matakuliah Desain Sketsa mahasiswa S1 Pendidikan tata Busana angkatan 2007 dan 2008 Universitas Negeri Malang, sedangkan secara simultan minat dan bakat menggambar yang dimliki oleh responden berpengaruh sebesar 2,8% saja terhadap prestasi belajar matakuliah Desain Sketsa dan 97,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak diteliti oleh penulis. Pada penelitian ini bakat memiliki hubungan paling dominan dibandingkan minat menggambar mahasiswa, sehingga dapat diketahui bahwa siswa yang memiliki bakat menggambar yang tinggi cenderung menyenangi kegiatan yang disenanginya.

Peningkatan kemampuan menggambar bentuk melalui model learning cycle pada kelas VIII E SMPN 1 Wringin - Bondowoso / Iswanto

 

Kata kunci: Kemampuan menggambar bentuk, Model Learning Cycle, SMP. Pengamatan terhadap karya gambar bentuk siswa-siswi kelas VIII E SMPN 1 Wringin - Bondowoso menunjukkan bahwa kemampuan menggambar bentuk siswa-siswi masih perlu ditingkatkan. Akar permasalahan terletak pada proses pembelajaran yang lebih banyak menggunakan metode ceramah, demonstrasi dan penugasan, penilaian lebih mengutamakan hasil akhir tanpa mengamati mulai dari tahap persiapan dan proses pembuatan. Akibatnya adalah kemampuan menggambar bentuk siswa-siswi tidak maksimal dan hasil karya menggambar bentuk juga tidak maksimal. Kondisi ini perlu diperbaiki dengan menerapkan model Learning Cycle. Masalah yang dirumuskan dalam peneletian ini yaitu: (1) Bagaimana penerapan model Learning Cycle sebagai upaya meningkatkan kemampuan menggambar bentuk siswa-siswi kelas VIII E SMP Negeri 1 Wringin – Bondowoso; (2) Sejauh mana penerapan model Learning Cycle dapat meningkatkan kemampuan menggambar bentuk siswa-siswi kelas VIII E SMP Negeri 1 Wringin – Bondowoso. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan menggambar bentuk siswa-siswi kelas VIII E SMPN 1 Wringin - Bondowoso melalui model Learning Cycle. Untuk itu dirancang model Learning Cycle melalui Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari 4 tahapan, yaitu: (1) Perencanaan (planning) meliputi penyusunan RPP, LKS, Media Pembelajaran, Instrumen Penelitian; (2) Tindakan (acting) dengan menerapkan model Learning Cycle yang terdiri dari fase Identification, Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation; (3) Pengamatan (observing) dilakukan bekerja sama dengan observer untuk mengamati aktivitas guru, aktivitas siswa, penilaian produk, dan wawancara dengan siswa-siswi; dan (4) Refleksi (reflecting) dengan melakukan analisa dan interpretasi terhadap hasil observasi, penilaian produk dan wawancara. Hasil refleksi digunakan untuk pertimbangan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya hingga terjadi peningkatan kemampuan menggambar bentuk siswa-siswi kelas VIII E SMPN 1 Wringin – Bondowoso dengan mencapai ketuntasan belajar menggambar bentuk secara individu dan klasikal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan menggambar bentuk siswa-siswi kelas VIII E SMPN 1 Wringin - Bondowoso melalui model Learning Cycle. Peningkatan itu diketahui dari hasil penilaian produk menggambar bentuk tiap siklus dan dibandingkan dengan siklus berikutnya hingga mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran Seni Budaya di SMP Negeri 1 wringin yaitu KKM individu ditentukan 65 dan KKM kelas ditentukan 75. Setelah siswa-siswi mengikuti pembelajaran menggambar bentuk melalui model Learning Cycle, ketuntasan individu dari 27% pada pra siklus meningkat 31,5% menjadi 58,5% pada siklus 1 dan meningkat 41,5% pada siklus 2 yang berarti sudah mencapai ketuntasan individu 100%. Nilai rata-rata kelas pada pra siklus yaitu 55,2 menjadi 74,1 pada siklus 1. Terjadi peningkatan dari pra siklus ke siklus 1 yaitu sebesar 34,03%. Nilai rata-rata kelas pada siklus 2 yaitu 81,6. Terjadi peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 yaitu sebesar 10,28%. Jadi, peningkatan dari pra siklus ke siklus 2 yaitu sebesar 44,30%. Penerapan model Learning Cycle menuntut guru Mata Pelajaran Seni Budaya memiliki ketrampilan pembelajaran yang baik, penguasaan bahan ajar, kreativitas dalam merancang langkah-langkah pembelajaran yang terencana dan terorganisir serta menuntut kesungguhan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran hendaknya dipandang sebagai sebuah tantangan profesionalisme guru untuk selalu berkembang dalam melayani pendidikan anak-anak bangsa.

Persepsi guru terhadap pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah di SD Negeri Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar / Dyan Ratna Saputri

 

Kata Kunci : persepsi guru, supervisi akademik, kepala sekolah, SD Negeri Supervisi akademik merupakan upaya kepala sekolah untuk membantu guru meningkatkan profesionalismenya. Untuk menjadi guru yang profesional, setiap guru tentunya dibekali dengan berbagai kompetensi, namun hal tersebut bukanlah jaminan bahwa ketika dalam kegiatan belajar guru tidak mengalami kesulitan maupun permasalahan, sehingga kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus memaksimalkan perannya untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru yaitu dengan melaksanakan supervisi akademik. Berdasarkan studi pendahuluan di UPTD Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar diperoleh informasi bahwa kepala sekolah di SD Negeri se-Kecamatan Kanigoro sudah melaksanakan supervisi akademik. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk mengkaji lebih dalam tentang pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah di SD Negeri Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah di SD Negeri Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar yang meliputi perencanaan program, pelaksanaan, dan evaluasi program supervisi akademik melalui persepsi guru. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru SD Negeri se-Kecamatan Kanigoro yang berjumlah 380 orang. Pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik Proporsional Random Sampling sebesar 25% (95 orang) dari jumlah populasi. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner yang digunakan untuk memperoleh data pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah yang dipersepsi guru. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan program supervisi akademik oleh kepala sekolah tergolong sangat baik dengan persentase mencapai 54%, pelaksanaan supervisi akademik oleh kepala sekolah dalam kategori cukup dengan persentase mencapai 40%, dan evaluasi progran supervisi akademik mencapai persentase tertinggi pada kategori sangat baik yaitu sebanyak 33%. Saran penelitian ini meliputi: (1) kepala sekolah hendaknya menggunakan teknik supervisi akademik yang lebih bervariasi serta lebih meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas sebagai seorang supervisor di sekolah yang dipimpinnya, (2) guru harus lebih aktif berinisiasi mengajukan diri untuk disupervisi oleh kepala sekolah, dan (3) Dinas Pendidikan hendaknya menambah frekuensi pelatihan tentang pelaksanaan supervisi akademik kepada kepala sekolah.

Upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif model stad (Student Teams Achievement Division) dengan media kartu kerja pada mata pelajaran ekonomi bagi siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Malang / Alfiyah

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif Model STAD, Media Kartu Kerja, Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams Achievement Division) dengan media kartu kerja dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa supaya hasil belajar siswa tersebut meningkat ketaraf prestasi yang lebih baik dari sebelumnya dan memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Disamping itu juga sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan siswa supaya siswa tidak pasif, peran siswa lebih dominan dibanding guru, terjadi pengembangan interaksi antara siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru dan menumbuhkan kemampuan kerjasama yang baik serta tujuan pembelajaran tercapai secara optimal. Tujuan dari penelitian yaitu mendeskripsikan penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan media kartu kerja pada mata pelajaran Ekonomi bagi siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Malang, menghitung dan mengolah hasil belajar siswa dari aspek afektif dan kognitif serta mengetahui respon siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Malang terhadap pembelajaran kooperatif model STAD dengan media kartu kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan Penelitian Tindakan Kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan pengamatan, tes dan angket respon siswa. Instrumen penelitian yakni: 1) kisi-kisi penyusunan soal beserta soal yang diuji terlebih dahulu di non-subjek penelitian yaitu siswa kelas X-2 SMA Negeri 2 Malang. Instrumen soal diuji menggunakan uji tingkat kesukaran soal, daya pembeda soal, uji validitas butir soal dan uji reliabilitas soal. Hasil uji instrumen soal diberikan ke subjek penelitian yaitu siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Malang dengan jumlah 34 siswa untuk soal pre-test dan post-test siklus I dan II; 2) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) siklus I dan II; 3) lembar observasi; 4) angket; 5) dokumentasi. Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yaitu pada bulan Agustus-Oktober 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model STAD dengan media kartu kerja dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Malang. Dapat dilihat dari data penilaian aspek afektif pada siklus I jumlah nilai rata-rata sebesar 60.7 dan pada siklus II jumlah nilai rata-rata naik sebesar 90.5 ada peningkatan 29.8 poin. Dari data penilaian aspek kognitif pada siklus I jumlah nilai rata-rata pre-test sebesar 63.65, siswa yang sudah memenuhi KKM 20.6%. Pada saat post-test jumlah nilai rata-rata naik menjadi 79.84, siswa yang memenuhi KKM 64.7%. Pada siklus I dari pre-test ke post-test ada kenaikan jumlah nilai rata-rata 16.19 poin dan siswa yang memenuhi KKM meningkat sebesar 44.1 %. Pada siklus II jumlah nilai rata-rata pre-test sebesar 66.67, siswa yang memenuhi KKM 11.8%. Pada saat post-test jumlah nilai rata-rata naik 82.16, siswa yang memenuhi KKM 82.4%. Pada siklus II dari pre-test ke post-test ada kenaikan jumlah nilai rata-rata 15.49 poin dan siswa yang memenuhi KKM meningkat 70.6%. Adapun secara klasikal siswa dapat dikatakan mengalami ketuntasan belajar apabila sebesar 75% siswa mendapat nilai KKM ≥ 75. Pada siklus II secara klasikal siswa sudah mengalami ketuntasan belajar karena jumlah siswa yang mendapatkan nilai KKM ≥75 melebihi batas yang ditentukan yaitu sebesar 82.4%. Dari hasil angket respon siswa diketahui dengan jumlah persentase tertinggi 88.2% pada umumnya siswa kelas X-3 SMA Negeri 2 Malang lebih senang belajar kelompok menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD dengan media kartu kerja pada mata pelajaran Ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian disarankan, bagi Sekolah Menengah, pembelajaran kooperatif model STAD dengan media kartu kerja dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan di sekolah dalam upaya pembinaan terhadap guru dan siswa dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Bagi guru mata pelajaran Ekonomi dapat memilih dan mengembangkan pembelajaran kooperatif model STAD dengan media kartu kerja sebagai salah satu alternatif pilihan yang sesuai dengan materi tentang perilaku konsumen dan produsen. Bagi peneliti selanjutnya dalam kegiatan belajar mengajar dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif model STAD dengan media kartu kerja secara tepat dan bervariasi serta sesuai materi supaya siswa lebih tertarik, merespon dengan baik dan hasil belajar siswa meningkat.

Analisis pengaruh dana pihak ketiga (DPK), tingkat penawaran kredit, dan non performing loan (NPL) terhadap fungsi intermediasi bank (Studi pada Bank Rakyat Indonesia, (Persero) Tbk periode 2005-2010 / Fikrulyn Nina Fibiyanti

 

Kata kunci: Dana Pihak Ketiga, Tingkat Penawaran Kredit, Non Performing Loan (NPL), Loan To Deposit Ratio (LDR), Fungsi Intermediasi Bank Dunia perbankan merupakan salah satu institusi yang sangat berperan dalam bidang perekonomian suatu negara (khususnya dibidang pembiayaan perekonomian). Hal ini, didasarkan atas fungsi utama perbankan yaitu fungsi intermediasi bank. Dalam fungsi intermediasi ini, Bank menunjukkan tingkat kemampuan dalam menghimpun dana dari masyarakat yang sebesar–besarnya dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk Kredit. Dengan menggunakan Loan To Deposit Ratio (LDR) sebagai Proxy dalam menilai Fungsi Intermediasi Bank, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Dana Pihak Ketiga, Tingkat Penawaran Kredit dan Non Performing Loan (NPL) terhadap Fungsi Intermediasi Bank. Studi Kasus pada Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Periode 2005 sampai dengan 2010 secara parsial, simultan, serta sejauh mana pengaruhnya. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan yang dipublikasikan oleh Perpustakaan Bank Indonesia kota Malang pada tahun 2010 dan berupa laporan keuangan yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia yang diakses dari www.bi.go.id. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan bahwa secara parsial dengan Uji t variabel-variabel independen: Dana Pihak Ketiga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Loan To Deposit Ratio (LDR) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000, hal ini disebabkan oleh karena bank lebih cenderung menempatkan Dana Pihak Ketiganya pada instrumen keuangan seperti SUN dan SBI karena bank takut meningkatnya Non Performing Loan (NPL) jika diberikan dalam bentuk kredit yang menyebabkan penyaluran Dana Pihak Ketiga pada masyarakat mengalami penurunan dan menyebabkan Loan To Deposit Ratio (LDR) menjadi rendah. Tingkat Penawaran Kredit berpengaruh positif dan signifikan terhadap Loan To Deposit Ratio (LDR) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000, hal ini disebabkan oleh semakin besarnya jumlah kredit yang diberikan, maka akan membawa konsekuensi semakin besarnya Loan To Deposit Ratio (LDR). Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Loan To Deposit Ratio (LDR) dengan tingkat signifikansi sebesar 0,269, hal ini disebabkan oleh karena pengawasan Bank Central terhadap bank-bank di Indonesia dalam hal penyaluran kredit masih cukup lemah sehingga meskipun pada kondisi Non Performing Loan (NPL) tinggi, bank tetap dapat melakukan kegiatan penyaluran kredit pada masyarakat. Secara simultan dengan uji F variabel-variabel independen: Dana Pihak Ketiga, Tingkat Penawaran Kredit dan Non Performing Loan (NPL) berpengaruh bersama-sama secara signifikan terhadap Loan To Deposit Ratio (LDR). Nilai Adjusted R Square sebesar 0.672 menunjukkan bahwa Loan To Deposit Ratio (LDR) dapat dijelaskan oleh variable-variabel penelitian sebesar 67,2 persen, sedangkan sisanya 32,8 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar model. Dalam model regresi ini dengan melihat kondisi Unstandardized Coefficients Beta dapat diketahui variabel yang paling dominan berpengaruh secara parsial terhadap Loan To Deposit Ratio (LDR) adalah variabel Tingkat Penawaran Kredit dengan nilai 5%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut menggunakan obyek atau variabel dan subyek penelitian atau lokasi penelitian yang beragam misalnya perbankan syariah yang sekarang mulai menjadi pilihan masyarakat. Mencoba menganalisis dengan menggunakan indikator lain yang lebih representatif mengingat nilai pengaruh masing-masing variabel baik secara parsial maupun simultan masih cukup rendah sehingga masih memungkinkan adanya variabel lain yang memiliki pengaruh yang lebih tinggi. Menggunakan dan mencari keberagaman teori dalam menganalisis variabel terhadap kondisi Fungsi Intermediasi bank. Serta menggunakan periode pengamatan yang relatif lebih lama untuk mendapatkan hasil yang representatif. Bagi pihak bank disarankan dan diharapkan mematuhi peraturan yang dikeluarkan oleh bank cantral agar kondisi fungsi Intermediasi Bank tetap stabil mengingat fenomena ketika Non Performing Loan (NPL) tinggi melebihi batas yang ditetapkan bank central, bank-bank konvensional masih dapat melakukan kegiatan penyaluran kredit.

Pembelajaran wayang orang anak sebagai upaya pelestarian seni drama tari jawa di sanggar Ang Hien Hoo Junior malang / Nety Yulika

 

Kata Kunci : profil, pembelajaran, wayang orang anak Pembelajaran tari dapat dilakukan dimana saja maupun kapan saja baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Sedangkan pembelajaran wayang orang anak melalui pendidikan non formal dapat dilaksanakan di sanggar. Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang merupakan salah satu lembaga pembelajaran seni wayang orang anak non formal yang ada di kota Malang. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah profil Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang, proses pembelajaran Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang dan apa saja faktor pendukung dan faktor penghambat proses pembelajaran di Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang, proses pembelajaran Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang dan faktor pendukung dan faktor penghambat proses pembelajaran di Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang. Dalam rencana penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu pendekatan penelitian yang mengkaji suatu fenomena kehidupan sosial dalam bentuk karakteristik yang bersifat spesifik. Penelitian dilaksanakan di Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang. Narasumber dalam penelitian ini diantaranya adalah pengelola serta tenaga pelatih Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, sajian data serta penarikan kesimpulan. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan dengan triangulasi yang terdiri dari triangulasi sumber, triangulasi waktu dan triangulasi metode. Dalam penelitian ini mengkaji tentang : 1) Profil Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang yang meliputi lokasi, sejarah, tujuan dan manajemen organisasi, 2) Pembelajaran Wayang Orang Anak di Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang yaitu persiapan, pelaksanaan serta evaluasi dan 3) Faktor pendukung serta faktor penghambat pembelajaran Wayang Orang Anak di Sanggar Ang Hien Hoo Junior Malang yang meliputi faktor pelatih, siswa, materi atau bahan ajar dan lingkungan. Dari hasil penelitian di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa manajemen pembelajaran harus disusun lebih baik lagi serta membentuk tenaga pengajar yang bertanggung jawab. Hal tersebut dilakukan agar proses pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran serta memperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Perancangan animasi 2 dimensi "Sehat mataku, senang hatiku" untuk mengenalkan pentingnya kesehatan mata bagi anak-anak / Susi Suryani Rahayu

 

Kata Kunci: perancangan, animasi 2 dimensi, kesehatan mata Kelambatan diagnosis dan penanganan penderita kelainan mata seperti katarak, retinoblastoma, dan retinopati prematuritas menyebabkan tingginya angka kebutaan dan kematian anak di Indonesia. Padahal sebetulnya sebagian besar penyebab kebutaan dan gangguan penglihatan berat dapat dicegah bila ditangani dengan cepat dan tepat (kompas, 2010:12). Selain itu banyak anak-anak masih kesulitan belajar mengenal panca indera terutama indera mata, indera terpenting di antara ke-lima panca indera. Anak perlu mendapatkan media yang menyenangkan untuk dapat memudahkan belajar tentang panca indera terutama indera mata dengan baik. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk film animasi, media interaktif, dan buku pengtahuan bergambar yang merupakan media pengetahuan indera mata untuk anak-anak yang karakteristiknya disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak. Tujuan lain adalah membrikan pengetahuan kepada anak tentang panca indera terutama indera mata. Target audience dalam perancangan animasi 2 dimensi, media interaktif dan buku pengetahuan bergambar ini adalah anak-anak usia taman kanak-kanak, dan sekolah dasar kelas 1 sampai kelas 4. Selain itu orang-orang yang tertarik dan memiliki minat yang tinggi terhadap animasi. Analisis data dalam perancangan ini menggunakan analisis isi dan bentuk. Metode perancangan yang digunakan adalah model perancangan prosedural, adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk (UM, 2000:37). Adapun proses produksi film animasi ini tersusun dalam pencarian data dan fakta pendukung, perancangan ide dasar film, praproduksi, produksi, dan pasca produksi film animasi. Produk yang dihasilkan adalah berupa VCD film animasi yang berdurasi 7 menit 1 detik, Multimedia Interaktif dan buku cerita bergambar sebagai pelengkap media film animasi ini. Berdasarkan hasil perancangan ini, disarankan bagi para orang tua dan guru untuk mengenalkan media komunikasi ini pada anak-anaknya karena produk ini memiliki kelebihan sebagai media hiburan yang mendidik. Diharapkan media ini dapat membantu anak untuk belajar, mengenal dan mengerti pentingnya kesehatan mata.

Pengaruh penggunaan media kartu kwartet terhadap minat dan keterampilan berbicara bahasa jerma siswa kelas X SMA Negeri 1 Malang / Ainun Nisak

 

Kata kunci: media pembelajaran, kartu kwartet, minat, keterampilan berbicara Media pembelajaran merupakan salah satu alat bantu yang efektif dalam pembelajaran. SMA Negeri 1 Malang merupakan salah satu SMA di Malang yang sering menggunakan media pada tiap pembelajaran. Dalam berbicara, siswa masih belum mampu berbicara dengan lancar. Selain itu, beberapa siswa belum mampu menjawab pertanyaan sederhana secara spontan tanpa melihat catatan. Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Jerman juga belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, dibutuhkan media pembelajaran yang mampu mengatasi kesulitan yang dialami oleh siswa dan dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran bahasa Jerman. Media yang dapat digunakan adalah kartu kwartet. Salah satu kelebihan dari media ini yaitu mudah diingat, karena kartu berwarna¬warni. Untuk mengetahui nama sebuah benda dapat dibantu dengan melihat hurufnya, untuk mengetahui apa wujud sebuah benda atau konsep dengan melihat gambarnya. Kartu kwartet dalam penelitian ini diperuntukkan bagi kelas X dengan tema benda-benda di sekolah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara: 1) minat belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media kartu kwartet, dan 2) keterampilan berbicara siswa sebelum dan sesudah menggunakan media kartu kwartet dalam pembelajaran bahasa Jerman. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pra-eksperimental. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Malang yang mempelajari bahasa Jerman sebagai bahasa asing pilihan. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X KT 1 SMA Negeri 1 Malang. Peneliti menggunakan sampel bertujuan (purposive sample). Data diperoleh dari nilai angket awal, angket akhir, tes awal dan tes akhir. Data dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menunjukkan: 1) terdapat perbedaan yang positif dan signifikan antara minat belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media kartu kwartet dengan nilai Z sebesar -4795 dan nilai probabilitas (Sig.)= 0.000. Nilai probabilitas (Sig.)= 0.000 < 0.05, dan 2) terdapat perbedaan yang positif dan signifikan antara keterampilan berbicara siswa sebelum dan sesudah menggunakan media kartu kwartet dalam pembelajaran bahasa Jerman dengan nilai Z sebesar -4903 dan nilai probabilitas (Sig.)= 0.002. Nilai probabilitas (Sig.)= 0.002 < 0.05. Artinya sesudah menggunakan media kartu kwartet minat dan keterampilan berbicara siswa meningkat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah media kartu kwartet berpengaruh terhadap minat dan keterampilan berbicara siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media kartu kwartet memberikan suasana belajar yang baru untuk siswa. Media ini dapat membantu siswa menghafal kosakata. Oleh karena itu, peneliti menyarankan kepada guru untuk menggunakan kartu kwartet sebagai alternatif lain media pembelajaran bahasa Jerman. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan untuk meneliti tentang media pembelajaran dengan variasi yang berbeda.

Sejarah pendidikan dasar bagi peranakan tionghoa di kota Malang (Studi kasus: Lembaga Pendidikan Sekolah Sang Timur Malang) / Choirul Anam

 

Kata kunci: Pendidikan, Peranakan Tionghoa, Sekolah Sang Timur. Kota Malang merupakan kota pendidikan, banyak lembaga pendidikan yang telah berdiri di kota ini, salah satunya adalah SDK dan SMPK Sang Timur yang terletak di Jalan Bandung No. 2, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. SDK dan SMPK ini bernaung pada Yayasan Karya Sang Timur Malang. Selain itu kota ini merupakan kota yang heterogen, terbukti dengan berbagai macam etnis, agama dan golongan yang menetap di kota ini, salah satunya adalah etnis Tionghoa. Orang-orang Tionghoa yang sudah menetap dan sudah punya keturunan di sini dinamakan peranakan Tionghoa. Beberapa dari peranakan Tionghoa tersebut menyekolahkan anaknya di SDK dan SMPK Sang Timur. SDK dan SMPK Sang Timur sebagai salah satu lembaga pendidikan di Kota Malang berperan penting dalam proses pendidikan peranakan Tionghoa yang bersekolah di sana. Mereka berperan dalam pembentukan karakter pribadi murid-muridnya. Sekolah tersebut juga menyediakan sarana dan prasarana sebagai bagian dari unsur-unsur dalam pendidikan. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti mempunyai rumusan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimanakah sejarah berdiri dan perkembangan lembaga pendidikan Sang Timur Malang?. (2) Bagaimanakah kehidupan masyarakat Tionghoa pada lembaga pendidikan Sang Timur Malang?. (3) Bagaimanakah karakteristik yang menonjol pada lembaga pendidikan Sang Timur Malang sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat Tionghoa?. Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitiannya sebagai berikut: (1) Untuk mendeskripsikan bagaimanakah sejarah berdiri dan perkembangan lembaga pendidikan Sang Timur Malang. (2) Untuk mendeskripsikan bagaimanakah kehidupan masyarakat Tionghoa pada lembaga pendidikan Sang Timur Malang. (3) Untuk mendeskripsikan dan menganalisis karakteristik yang menonjol pada lembaga pendidikan Sang Timur di Malang sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat Tionghoa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang membahas mengenai aspek pendidikan dan aspek sosial. Di sini dikaji mengenai kehidupan masyarakat peranakan Tionghoa di lingkungan sekolah SDK dan SMPK Sang Timur yang telah menyerahkan anak-anaknya untuk menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Proses pengambilan data dilakukan di Yayasan Karya Sang Timur, SDK Sang Timur dan SMPK Sang Timur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) lembaga pendidikan Sang Timur membuka diri bagi semua etnis untuk sekolah di sini, tak terkecuali peranakan Tionghoa; (2) Kehidupan masyarakat Tionghoa pada Lembaga Pendidikan Sang Timur Malang dalam hal ini adalah siswa SDK dan SMPK berlangsung seperti biasanya dan seperti layaknya anak-anak yang lain. Murid-murid dari Peranakan Tionghoa ini juga berminat pada beberapa pelajaran muatan lokal dan ekskul, seperti: pelajaran Bahasa Tionghoa dan kesenian Jawa; (3) Karakteristik yang menonjol pada lembaga pendidikan Sang Timur di Malang sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat Tionghoa adalah adanya tambahan program dalam pengajarannya yaitu pembinaan psikologis, keagamaan dan akademik yang diberikan kepada anak-anak didiknya oleh para susteran dari Yayasan Karya Sang Timur. Karakteristik lainnya adalah diberikan jiwa interpreneurship, selain juga disediakan muatan lokal bahasa Tionghoa dan ekskul gamelan Jawa. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan bagi peneliti lain yang ingin mengangkat tema yang sama agar melakukan penelitiannya dengan spasial (tempat) berbeda karena sekolah-sekolah yang murid-muridnya dari kalangan Peranakan Tionghoa ini tidak hanya di Sang Timur Malang, tetapi ada juga di beberapa sekolah lain, semisal sekolah Cor Jesu, sekolah Dempo, Santo Yusuf, dll. Saran bagi alumni Sang Timur adalah agar mereka lebih berperan lebih aktif dalam membantu kelangsungannya SDK dan SMPK Sang Timur Malang demi kemajuan sekolah tersebut.

Analisis alokasi biaya bersama dalam produksi gula pada PTPN X (Persero) PG. Lestari, Patianrowo / Eppy Dian Pitono

 

Kata Kunci: alokasi biaya bersama, produk utama dan sampingan, metode nilai jual relatif. Produk gabungan atau produk bersama (joint product) diproduksi secara bersamaan melalui suatu proses atau serentetan proses umum, dimana setiap produk yang dihasilkan memiliki lebih dari nominal dalam bentuk sesuai dengan hasil pemrosesan tersebut sehingga biaya bersama akan timbul untuk berbagai jenis produk yang dihasilkan. Biaya bersama merupakan biaya yang muncul dari produksi secara simultan atas berbagai produk dalam proses yang sama. Produk yang dihasilkan dari proses tersebut dapat digolongkan menjadi produk utama dan produk sampingan. Alokasi biaya bersama kepada produk bersama perlu dilakukan untuk menentukan harga pokok produksi. PG. Lestari, Patianrowo memproduksi gula sebagai produk utama dan tetes sebagai produk sampingan. Dalam proses produksi gabungan akan timbul biaya bersama. Biaya bersama ini perlu dialokasikan untuk mengetahui berapa kontribusi masing-masing produk bersama terhadap seluruh laba yang dihasilkan perusahaan. Metode yang digunakan oleh PG. Lestari, Patianrowo dalam mengalokasikan biaya bersama adalah dengan cara membagi total nilai harga jual setiap produk dengan total nilai jual seluruh produk yang diproduksi yang akan menghasilkan rasio dari masing-masing jenis produk. Rasio ini kemudian dikalikan dengan total biaya bersama sehingga harga pokok produksi dapat diketahui atau disebut metode nilai jual relatif. Biaya produksi bersama pada PG. Lestari, Patianrowo diperoleh dari menambahkan biaya pimpinan dan tata usaha, penyusutan aktiva tetap, pembibitan, tebu giling, tebang dan angkut tebu, pabrik, pengolahan, dan pengemasan. Metode nilai jual relatif yang digunakan PG.Lestari, Patianrowo sudah sesuai dengan teori akuntansi biaya bersama namun masih terdapat kelemahan dalam menghitung total biaya bersama karena tidak dijelaskan dan diklasifikasikan biaya-biaya yang termasuk biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik. Hal ini menyebabkan biaya yang dilaporkan pada laporan produksi gula PG. Lestari, Patianrowo (termasuk biaya untuk memproduksi atau bukan) tidak dapat diketahui. PG. Lestari, Patianrowo sebaiknya tetap mempertahankan menggunakan alokasi biaya bersama berdasarkan nilai jual relatif dalam mengalokasikan produk bersama dan menghitung biaya produksi bersama diklasifikasikan berdasarkan tiga elemen biaya produksi, yaitu biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead pabrik sehingga dapat diketahui yang termasuk biaya produksi dan yang bukan termasuk biaya produksi.

Penggunaan gaya bahasa kiasan pada novel sang pemimpi karya Andrea Hirata (Kajian stilistika) / Maria Franzisca Oki

 

Kata kunci : gaya bahasa, efek estetis, novel, Andrea Hirata Penggunaan gaya bahasa dalam karya sastra khususnya novel berfungsi untuk menimbulkan efek estetis, membangkitkan suasana, kesan, dan tanggapan indra tertentu (menggambarkan atau memunculkan unsur intrinsik seperti tokoh penokohan, amanat, setting). Novel Sang Pemimpi adalah sebuah cerita kehidupan berdasarkan kisah nyata. Novel Sang Pemimpi ini adalah novel kedua dari tetralogi karya Andrea Hirata yang menceritakan kisah persahabatan pengarang dengan kedua temannya. Novel ini disajikan sangat menarik disertai penggunaan gaya bahasa yang dominan. Penggunaan gaya bahasa (kiasan) dalam novel ini dapat menggambarkan tokoh dan wataknya ; mendeskripsikan latar/setting ;dan menampilkan amanat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penggunaan gaya bahasa kiasan pada novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata sesuai penglasifikasian gaya bahasa kiasan menurut Gorys Keraf dalam bukunya Diksi dan Gaya Bahasa. Gaya bahasa kiasan yang ditemukan juga mengacu pada kekhasan yang digunakan pengarangnya dan gaya bahasa yang memiliki hubungan dengan unsur intrinsik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Data penelitian berupa teks paparan kebahasaan dalam novel Sang Pemimpi yang mengandung gaya bahasa. Sumber datanya berupa novel Sang Pemimpi yang diterbitkan tahun 2008 oleh penerbit Bentang Pustaka, Yogyakarta. Penelitian dilakukan oleh peneliti sendiri sebagai human instrument dan dengan pembuatan kodifikasi data. Prosedur pengumpulan data dilaksanakan dengan (1) membaca novel secara keseluruhan, (2) membaca literatur yang berkaitan, dan (3) memahami dan menganalisis unsur intrinsik dan gaya bahasa. Analisis data pada penelitian dilakukan melalui prosedur (1) pengaturan data sesuai dalam tahap permasalahan yang akan dijawab, (2) pengorganisasian data dalam formalisasi tertentu sesuai dengan antisipasi ciri, urutan pilihan, data kategorisasi yang akan dihasilkan, (3) memberi kode pada data yang ditemukan, (4) penafsiran representasi makna sesuai dengan masalah yang akan dijawab, dan (5) penentuan data mana yang dianggap tidak layak, sampai ke prediksi keperluan pengumpulan data baru akibat kerumpangan data bila dihubungkan dengan keseluruhan rentang permasalahannya. Berdasarkan analisis, ditemukan dua belas jenis penggunaan gaya bahasa kiasan yaitu simile, metafora, personifikasi, alusio, eponim, epitet, sinekdoke, metonimia, antonomasia, ironi (meliputi sinisme dan sarkasme), hipalase, dan satire. Dari 446 data yang diperoleh, gaya bahasa kiasan yang paling banyak ditemukan adalah simile berjumlah 181, sedangkan lainnya metafora berjumlah 105, personifikasi 40 data, metonimia 23 data, epitet 25 data, ironi 11 data (meliputi sinisme 7 data dan sarkasme 5 data), hipalase 6 data, eponim 4 data, antonomasia 10 data, alusi 13 data, sinekdoke 11 data, dan satire 4 data. Gaya bahasa kiasan dalam novel ini menampilkan tokoh atau penokohan, mendeskripsikan watak tokoh, menggambarkan/menampilkan latar, dan menampilkan amanat. Dari analisis data diperoleh 87 data gaya bahasa yang menggambarkan latar, 76 data menggambarkan dan menghadirkan tokoh atau penokohan, 43 data yang menggambarkan watak tokoh, dan 42 data menggambarkan amanat. Gaya bahasa kiasan yang digunakan pengarang dalam novel ini menunjukkan kekhasan pengarangnya. Kekhasan gaya bahasa yang digunakan pengarang, yaitu Andrea Hirata adalah adanya penggunaan kata-kata ilmiah dan kata khusus dalam gaya bahasanya, memadukan dua kiasan dalam satu kalimat, dan memadukan unsur lingkungan dalam kiasannya. Data mengenai kekhasan gaya bahasa kiasan Andrea Hirata berjumlah 61 data.

Peningkatan keterampilan membuat parafrasa lisan melalui media film siswa kelas XI SMK Negeri 12 Malang / Rani Dwi Wulansari

 

Kata kunci : parafrasa lisan, media film. Keterampilan berbicara siswa SMK masih tergolong rendah, terlihat pada hasil belajar mereka. Nilai yang mereka peroleh dari keterampilan berbicara masih dibawah SKM. Salah satu materi yang tergolong dalam keterampilan berbicara di SMK yaitu membuat parafrasa lisan. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan pada studi pendahuluan di SMK Negeri 12 Malang yang bertempat di jalan Balearjosari Malang dengan siswa yang berjumlah 30 orang, diketahui bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran membuat parafrasa lisan belum digunakan secara maksimal. Kondisi seperti ini menyebabkan siswa menjadi kurang bersemangat dalam menerima materi yang diberikan guru. Kendala yang dialami siswa pada saat pembelajaran berbicara adalah (1) siswa lebih menyukai menggunakan bahasa gaul daripada bahasa Indonesia yang baku pada saat proses pembelajaran berlangsung, (2) siswa lebih menyukai berbincang-bincang dengan teman sebangkunya daripada mendengarkan penjelasan guru, dan (3) struktur bahasa siswa masih dipengaruhi oleh struktur bahasa daerah. Masalah tersebut disebabkan oleh penggunaan media pembelajaran membuat parafrasa lisan digunakan guru kurang tepat. Oleh karena itu, perlu dicarikan sebuah media yang inovatif dalam mengatasi masalah tersebut. Peneliti dan guru mata pelajaran sepakat untuk menggunakan media film sebagai upaya dalam meningkatkan keterampilan membuat parafrasa lisan. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan berbicara khususnya membuat parafrasa lisan, yakni siswa mampu membuat parafrasa lisan dengan memperhatikan, (1) aspek kelancaran, (2) aspek intonasi, (3) aspek kekoherensian, (4) aspek ketepatan diksi, dan (5) aspek ketepatan isi simakan dengan tuturan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif karena peneliti berusaha menggambarkan fakta, objek, dan data-data sebagaimana adanya. Oleh karena itu, sebagian data tersebut berupa data kualitatif yang tidak perlu dikuantifikasikan atau nonnumerik yang berupa angka. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Pemilihan rancangan ini sesuai dengan karakteristik PTK, yaitu permasalahan penelitian yang diangkat untuk dipecahkan bermula dari persoalan pembelajaran sehari-hari. Penelitian ini meliputi lima langkah pokok yaitu (1) perencanaan tindakan, (2) observasi/pengamatan, (3) pelaksanaan tindakan, dan (4) refleksi hasil tindakan. Peningkatan keterampilan membuat parafrasa lisan siswa ditunjukkan dengan bertambahnya persentase keterampilan membuat parafrasa lisan dari studi pendahuluan, ke tahap siklus I dan siklus II dengan Nilai Standar Kompetensi Minimal (SKM) yang ditentukan sekolah, yaitu (75). Pada studi pendahuluan, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai dengan SKM adalah 4 (10.52%) siswa. Itu berarti sebanyak 26 (86.66%) siswa memperoleh skor di bawah SKM. Pada tahap siklus I, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai SKM sebanyak 18 (60%) siswa. Siswa yang belum mencapai nilai SKM hanya 12 (40%) siswa. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan membuat parafrasa lisan siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahap siklus II, persentase jumlah siswa yang mencapai nilai sesuai SKM sebanyak 22 (73.33%), siswa yang mendapat nilai di bawah SKM sebanyak 8 (26.67) siswa. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat siswa yang tidak paham dengan apa yang telah disimaknya. Oleh karena itu, disarankan kepada guru untuk menggunakan media film dalam pembelajaran membuat parafrasa lisan atau media yang lebih inovatif untuk pembelajaran berbicara. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan media yang lebih menarik atau inovasi. Dengan demikian, hasil penelitian selanjutnya dapat memperkaya pengetahuan, khususnya mengenai upaya meningkatkan keterampilan membuat parafrasa lisan dan keterampilan berbicara pada umumnya.

Kesusaian saran prasarana, kompetensi guru, manajemen, dan proses praktikum prodi keahlian teknik otomotif di tinjau dari standar pada peraturan pemerintah RI nomor 19 tahun 2005 di SMK sekota Bontang / Amrozi

 

Kata kunci: kesesuaian, standar pendidikan, SMK, sarana-prasarana, kompetensi guru, manajemen, dan proses praktikum. Ketercapaian tujuan pendidikan dan proses pembelajaran ditunjukkan melalui terwujudnya transparasi dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan yang memungkinkan untuk mengembangkan pendidikan secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Bontang dituntut untuk meningkatkan keterampilan yang diberikan kepada para siswanya. Berbagai upaya dilakukan salah satunya pada Prodi Keahlian Teknik Otomotif, mulai dari sarana prasarana, kompetensi guru, manajemen, dan proses praktikum terus dikembangkan dan ditingkatkan. Apakah peningkatan yang dilakukan sesuai dengan standar Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005? Hal inilah yang menjadikan penelitian ini dilakukan, sehingga tujuan penelitian ini untuk mengungkap dan memerikan kesesuaian sarana prasarana praktikum, kompetensi guru, manajemen, dan proses praktikum Prodi Keahlian Teknik Otomotif ditinjau dari standar Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 di SMK sekota Bontang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan subjek penelitian guru dan laboran Prodi Keahlian Teknik Otomotif di SMK Kota Bontang yang berjumlah 18 guru dan laboran untuk SMK Negeri dan 18 guru dan laboran untuk SMK Swasta di Kota Bontang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar observasi yang didukung dengan pedoman wawancara dan dokumentasi yang berupa foto penelitian, dimana untuk instrumen lembar observasi diuji coba dengan hasil 100% dinyatakan valid dan reliabilitas menunjukkan 0,965 untuk variabel sarana prasarana, 0,972 untuk variabel kompetensi guru, 0,972 untuk variabel manajemen, dan 0,970 untuk variabel proses praktikum. Selanjutnya data dianalisis dengan teknik deskriptif dengan menggunakan formula persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) kesesuaian sarana prasarana praktik Prodi Keahlian Teknik Otomotif SMK sekota Bontang telah sesuai yang ditunjukkan oleh rerata 159,66 dan deviasi standar 47,91 di SMK Negeri sebagian besar (77,50%) sesuai, sedangkan untuk SMK Swasta sebagian besar (67,69%) sesuai dengan rerata 142,83 dan deviasi standar 35; (2) kesesuaian kompetensi guru Prodi Keahlian Teknik Otomotif SMK sekota Bontang sangat sesuai yang ditunjukkan oleh mean sebesar 224,22 dan standar deviasi 35,91 di SMK Negeri pada umumnya (82,73%) sangat sesuai, sedangkan untuk SMK Swasta pada umumnya (72,22%) sangat sesuai dengan mean sebesar 189,22 dan standar deviasi 37,14; (3) kesesuaian manajemen Prodi Keahlian Teknik Otomotif SMK sekota Bontang sangat sesuai yang ditunjukkan oleh rerata 180,38 dan deviasi standar 52,41di SMK Negeri sebagian besar (78,77%) sesuai dan sebagian besar (69,23%) SMK Swasta sesuai dengan rerata 162 dan deviasi standar 31,68.; (4) kesesuaian proses praktikum Prodi Keahlian Teknik Otomotif SMK sekota Bontang sangat sesuai yang ditunjukkan dengan guru dan instruktur pada umumnya (80,89%) proses praktikum sangat sesuai dengan mean 144 dan deviasi standar 26,99, sedangkan SMK Swasta pada umumnya (82,91%) sangat sesuai dengan mean 143,44 dan deviasi standar 15,52. Dapat disarankan kepada Dinas Pendidikan Kota Bontang untuk senantiasa menciptakan iklim yang kondusif dan melaksanakan monitoring untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan kejuruan khususnya pada SMK yang belum sesuai dengan standar, kepada Kepala Sekolah Menengah Kejuruan senantiasa melaksanakan evaluasi dan supervisi agar tercipta kinerja yang sinergis dan produktif, kepada guru praktikum prodi otomotif agar senantiasa menjunjung tinggi kode etik guru dan meningkatkan kompetensinya, dan kepada peneliti lain agar senatiasa menambah wawasan dan pengetahuan dalam penelitian.

Hubungan peran kepimpinan kepala sekolah, budaya oragnisasi sekolah dan motivasi kerja guru dengan kinerja guru SMK Negeri se Kabupaten Bojonegoro Provinsi Jawa Timur / Teguh Widodo Wurijanto

 

Kata kunci: peran kepemimpinan kepala sekolah, budaya organisasi sekolah, motivasi, kinerja guru. Sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagaimana ditegaskan dalam penjelasan pasal 15 UU SISDIKNAS, merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tujuan khusus pendidikan menengah kejuruan adalah: (1) Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja mandiri, dan dunia usaha lainnya sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya; (2) Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya; (3) Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi; (4) Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan program keahlian yang dipilih. Dalam penelitian ini ada beberapa tujuan yang ingin dicapai antara lain: (1) Untuk mendekripsikan hubungan secara langsung antara peran kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru SMK Negeri kabupaten Bojonegoro, (2) Untuk mendekripsikan hubungan secara langsung antara budaya organisasi sekolah dengan kinerja guru (3) Untuk mendekripsikan hubungan secara langsung antara peran kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru, (4) Untuk mendekripsikan hubungan secara langsung antara budaya organisasi sekolah dengan motivasi kerja guru (5) Untuk mendekripsikan hubungan secara langsung antara motivasi kerja guru dengan kinerja guru (6) Untuk mendekripsikan Motivasi kerja guru memberikan kontribusi terhadap besarnya hubungan peran kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru (7) Untuk mendekripsikan Motivasi kerja guru memberikan kontribusi terhadap besarnya hubungan budaya organisasi sekolah dengan kinerja guru SMK Negeri kabupaten Bojonegoro. Untuk menjawab pertanyaan di atas penelitian ini dirancang dengan deskriptif serta dilaksanakan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri kabupaten Bojonegoro. Ada 14 sekolah negeri dengan 76 guru negeri yang dijadikan sampel penelitian. Sampel ini diambil dengan teknik acak atau random sampling dari populasi yang terdiri 14 sekolah negeri dengan 310 guru negeri. Penelitian ini menggunakan angket sebagai instrument dalam pengumpulan data. Dari hasil penelitian dapat ditemukan dan disimpulkan bahwa (1) terdapat kontribusi langsung antara peran kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri kabupaten Bojonegoro; (2) terdapat kontribusi langsung antara budaya organisasi sekolah dengan kinerja guru; (3) terdapat kontribusi langsung antara peran kepemimpinan kepala sekolah dengan motivasi kerja guru; (4) terdapat kontribusi langsung antara budaya organisasi sekolah dengan motivasi kerja guru; (5) terdapat kontribusi langsung antara motivasi kerja guru dengan kinerja guru; (6) motivasi kerja guru memberikan kontribusi terhadap besarnya hubungan peran kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru; (7) motivasi kerja guru memberikan kontribusi terhadap besarnya hubungan budaya organisasi sekolah dengan kinerja guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri kabupaten Bojonegoro. Beberapa saran yang dapat digunakan untuk menetapkan langkah-langkah strategis bagi Dinas Pendidikan Daerah, Kepala sekolah, serta guru Sekolah Menengah Kejuruan Negeri kabupaten Bojonegoro provinsi Jawa Timur untuk: (1) selalu menciptakan budaya sekolah yang kondusif melalui suasana yang harmonis, komunikasi yang selalu terbuka, baik antara kepala sekolah dengan gurunya, kepala sekolah dengan stafnya, serta kepala sekolah dengan siswanya, sehingga terwujud disain budaya sekolah yang efektif, menghasilkan output dan outcome yang terbaik; (2) lebih akomodatif mengacu pada kebutuhan organisasi berorientasi pada misi, memiliki komitmen terhadap pencapaian tujuan dan konsisten pada mutu secara terus menerus, sehingga mampu membangkitkan kreativitas dan inovasi guru, memiliki orientasi mutu yang dipandang sebagai prestasi yang kompetitif juga menambah kesejahteraan; (3) peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan studi lanjutan yang relevan dan bahan kajian ke arah pengembangan konsep-konsep pengembangan guru yang mendekati pertimbangan-pertimbangan kontekstual dan konseptual, serta kultur pengelolaan Sekolah Menengah Kejuruan di Kabupaten Bojonegoro dalam melaksanakan sistem pengendalian kualitas pendidikan yang berkembang pada dunia pendidikan dewasa ini.

Faktor-faktor penyebab stres kerja pada praktik kerja bangku siswa kelas X TPMI 2 SMK Negeri 1 Singosari Malang / Ari Dwiyanto

 

Kata kunci: stres kerja, faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya stres kerja, dampak timbulnya stres kerja Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya stres kerja pada praktik kerja bangku di siswa kelas 1 TPMI 2 SMK Negeri 1 Singosari Malang, dan (2) Dampak timbulnya stres kerja pada praktik kerja bangku di SMK Negeri 1 Singosari Malang. Dalam penelitian ini menggunakan metode perpaduan antara kuantitatif dan kualitatif atau mixing methods. Menurut Bryman (1997), perpaduan kualitatif dan kuantitatif dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu: (a) pendekatan kualitatif sebagai pendukung pendekatan kualitatif, (b) pendekatan kuantitatif sebagai pendukung pendekatan kualititatif dan (c) pendekatan kualitatif dan kuantitatif dilakukan secara seimbang. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai pendukung kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-fakor penyebab timbulnya stres kerja pada matadiklat praktik kerja bangku di SMK Negeri 1 Singosari Malang pada kelas 1 TPMI 2 adalah kebersihan lingkungan kerja, jika tidak rutin dibersihkan akan sangat berdebu dan peralatan kerja menjadi tidak presisi, tipe kepribadian siswa yang cenderung malas dan aplikasi pelaksanaan praktik yang mengalami kebingungan, kelelahan saat praktik kerja bangku dan tidak bisa konsentrasi dalam waktu yang lama, keterlambatan masuk praktik dan tidak hadir dalam praktik yang membuat gugup dalam menjalankan praktik, kurangnya komunikasi antar siswa tentang materi praktik. Contoh yang bisa menguatkan adalah persentase hasil angket pada kebersihan lingkungan kerja dapat diketahui bahwa 15,5 dari rata-rata jumlah siswa dengan persentase 52% berpendapat sangat setuju, 13 dari rata-rata jumlah siswa dengan persentase 43% berpendapat setuju, 1,25 dari rata-rata jumlah siswa dengan persentase 4% berpendapat tidak setuju, dan 0,25 dari rata-rata jumlah siswa persentase 1% berpendapat sangat setuju, sehingga dapat dikatakan kondisi lingkungan kerja berpengaruh pada fisik dan psikis siswa saat praktik kerja bangku. Begitu juga dengan keterlambatan masuk praktik dan tidak hadir dalam praktik jika dipersentasekan dapat diketahui bahwa 10,667 dari rata-rata jumlah siswa dengan persentase 36% berpendapat sangat tidak setuju, 13,333 dari rata-rata jumlah siswa dengan persentase 44% berpendapat tidak setuju, 5,667 dari rata-rata jumlah siswa dengan persentase 19% berpendapat setuju, 0,333 dari rata-rata jumlah siswa dengan persentase 1% berpendapat sangat setuju. Sehingga dapat dikatakan kehadiran siswa berpengaruh pada fisik dan psikis saat kerja bangku berlangsung. Dampak timbulnya stres kerja pada matadiklat praktik kerja bangku adalah jika terjadi kecelakaan pengerjaan bisa berakibat pada rusaknya benda kerja yang dikerjakan dan berpengaruh pada fisik maupun psikis siswa saat praktik, timbul gejala fisik seperti kelelahan atau pusing yang dapat mengganggu aktivitas praktik yang dilakukan oleh siswa, dari gejala psikis seperti gelisah atau bingung akan membuat dampak yang sama terhadap siswa yaitu sulitnya fokus dalam praktik. Semangat kerja akan menurun dan membuat dampak yang lain seperti mengantuk, hal tersebut akan cenderung membuat lebih memilih mengistirahatkan badan daripada melanjutkan pekerjaan, akan sering terjadi kelalaian kerja mulai dari hal kecil seperti meletakkan benda dan peralatan kerja tidak pada tempatnya, sampai hal yang besar seperti cara kerja yang tidak sesuai standart operasional kerja. Kepada siswa, hendaknya selalu menjaga kebersihan, berperilaku kerja yang baik, menjalin kerjasama yang baik antar siswa, harus selalu berusaha fokus dalam praktik, menjaga komunikasi antar siswa dan hadir tepat waktu saat praktik. Kepada kepala sekolah, dalam penelitian ini ditemukan berbagai macam faktor-faktor penyebab terjadinya stres kerja yang dapat mempengaruhi praktik kerja bangku, diharapkan faktor-faktor penyebab terjadinya stres kerja tersebut bisa digunakan sebagai bahan untuk evaluasi penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) khususnya pada stres kerja sehingga bisa lebih sempurna. Selain itu kebersihan bengkel praktik kerja bangku harus selalu terjaga, alat-alat yang digunakan untuk praktik kerja bangku dalam keadaan presisi dan membuat peraturan yang tegas terhadap siswa yang tidak mematuhi standart operasional kerja praktik. Selain itu kepada peneliti lain, dalam penelitian ini belum diketahui secara signifikan dampak terjadinya stres kerja terhadap praktik kerja bangku. Peneliti lain dapat menggunakan judul penelitian “Dampak terjadinya stres kerja pada praktik kerja bangku di SMK Negeri 1 Singosari Malang.” Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pijakan awal dan bahan referensi terhadap penelitian selanjutnya.

Penerapan model pembelajaran latihan inkuiri (Inquiry Training) untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VIII-B MTs Al Maarif 01 Singosari Malang tahun ajaran 2009/2010 / Leni Setyawati

 

Kata Kunci : model latihan inkuiri, hasil belajar Berdasarkan observasi dan hasil wawancara diperoleh informasi tentang proses belajar dan fasilitas belajar di MTs Al Maarif 01 Singosari Malang. Proses pembelajaran fisika selama ini di kelas VIII- B menggunakan metode ceramah dan melatih siswa dengan latihan berhitung. Pengajaran cenderung monoton, terkesan serius, abstrak, dan kurang melibatkan aktivitas siswa melalui praktek. Hal ini akan menimbulkan kesan bagi siswa bahwa fisika itu sulit, menakutkan sehingga hasil belajar siswa rendah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah keterlaksanaan model pembelajaran latihan inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar fisika aspek afektif, psikomotorik, dan kognitif siswa kelas VIII-B MTs al Maarif 01 singosari Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, analisis dan refleksi. Tindakan yang diberikan pada siklus I dan siklus II berupa penerapan model pembelajaran latihan inkuiri yang terdiri dari lima tahap, yaitu konfrontasi masalah, pengumpulan data (Verifikasi), pengumpulan data- eksperimen, mengorganisasikan dan merumuskan penjelasan, dan menganalisis proses inkuiri.Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah RPP, LKS, tes akhir, dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, lembar observasi aspek aspek afektif dan psikomotorik. Hasil belajar fisika siswa dikatakan berhasil jika ketuntasan belajar semuanya telah mencapai 85% dari seluruh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran model pembelajaran latihan inkuiri (inquiry training) dapat meningkatkan hasil belajar aspek afektif, psikomotorik, dan kognitif MTs Al Maarif 01 Singosari Malang. Persentase keterlaksanaan pembelajaran model pembelajaran latihan inkuiri pada siklus I dan II mengalami peningkatan sebesar 11%. Peningkatan aspek afektif ditandai dengan meningkatnya persentase ketuntasan hasil belajar fisika aspek afektif siswa sebesar 59%. Peningkatan aspek psikomotorik ditandai dengan meningkatnya persentase ketuntasan hasil belajar fisika aspek psikomotorik siswa sebesar 29%. Peningkatan aspek kognitif ditandai dengan meningkatnya persentase ketuntasan hasil belajar fisika aspek kognitif siswa sebesar 22%. Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar fisika siswa mengalami peningkatan melalui penerapan model pembelajaran latihan inkuiri (inquiry training).

Pengaruh OPM (Operating Profit Margin) dan NPM (Net Profit Margin) terhadap harga saham pada perusahaan pertambangan (Mining) yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008 / Andika Fajar A.

 

Kata Kunci : OPM dan NPM, Harga Saham Untuk berinvestasi dipasar modal, selain mendapatkan keuntungan yang menjanjikan juga dihadapkan pada risiko yang besar pula, maka dalam berinvestasi di Bursa Efek Indonesia seorang investor diharapkan untuk lebih memahami dan dapat memprediksi harga saham dimasa mendatang, sehingga para investor dapat memperhitungkan besarnya keuntungan yang diharapkan akan didapatkan, dan risiko yang harus dihadapi. Analisis rasio keuangan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja keuangan suatu perusahaan. Dengan kinerja keuangan yang baik akan menyebabkan kepercayaan para investor dalam berinvestasi, sehingga berdampak pada naiknya harga saham perusahaan. Kinerja keuangan dalam penelitian ini diukur dengan variabel OPM dan NPM. Kedua variabel bebas yang digunakan yaitu OPM dan NPM dikarenakan kedua variabel tersebut dapat menilai dan mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam menekan biaya-biaya pada periode tertentu dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan pertambangan (Mining) pada tahun 2006-2008 sebanyak 18 perusahaan, dan menghasilkan 12 perusahaan pertambangan sebagai sampel untuk penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria dan digunakan dalam penelitian. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari laporan keuangan perusahaan yang terdapat di Indonesian Capital Market Directory dan Indonesia Stock Exchange. Penelitian ini menggunakan pengujian hipotesis yang diuji dengan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel OPM dan NPM secara parsial tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hal tersebut menggambarkan bahwa investor tidak menggunakan kedua rasio tersebut dalam berinvestasi. Investor lebih cenderung mengunakan analisis teknikal dalam memprediksi pergerakan harga saham masa mendatang. Koefisien determinasi sebesar 0,305 yang menunjukan bahwa 30,5% perubahan harga saham bisa disebabkan oleh variabel OPM dan NPM, sedangkan 69,5% dipengaruhi variabel lain yang tidak termasuk dalam variabel yang diteliti. Untuk penelitian selanjutnya yang sejenis disarankan untuk mengkombinasikan vaiabel-variabel rasio keuangan dengan jumlah yang lebih banyak dan tepat. Dan menggunakan data terbaru serta rentang penelitian yang lebih panjang, sehingga diharapkan akan didapatkan hasil penelitian yang lebih banyak lagi.

Pengembangan bahan ajar dalam bentuk multimedia interaktif pada mata kuliah teori graph untuk pembelajaran matematika berbasis digital / Sikky El Walida

 

Keywords: Multimedia Interaktif, media audio-visual, Teori Graph. Salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran Teori Graph dapat dilakukan dengan bahan ajar yang dapat mendukung mahasiswa dalam memahami graph melalui media audio-visual. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengembangkan bahan ajar dalam bentuk Multimedia Interaktif dalam rangka meningkatkan pencapaian hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Teori Graph. Pemilihan model pengembangan bahan ajar Dick dan Carey dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa model ini dikembangkan secara sistematis berdasarkan landasan teoritis desain pembelajaran. Prosedur pengembangan dalam pengembangan bahan ajar ini terdiri dari empat tahapan, yaitu (1) menentukan mata kuliah yang akan dikembangkan, (2) mengidentifikasi silabusnya, (3) mengembangkan bahan ajar, dan (4) mendesain dan melakukan evaluasi formatif. Data yang telah dikumpulkan melalui serangkaian evaluasi formatif dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu: (1) dua data dari evaluasi pertama berupa data hasil review ahli materi dan ahli media, (2) dua data dari evaluasi tahap kedua berupa data hasil review uji coba perorangan dan uji coba kelompok kecil, dan (3) dua data dari hasil uji lapangan berupa data hasil review dan data hasil tes mahasiswa. Instrumen yang digunakan adalah angket, wawancara berstruktur, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis statistik deskriptif. Setelah dikonversikan dengan tingkat validitas, ahli materi menilai bahwa bahan ajar ini termasuk dalam kriteria baik, sedangkan menurut penilaian ahli media, bahan ajar ini termasuk dalam kriteria sangat baik. Persentase keseluruhan angket pada uji coba kelompok kecil menunjukkan rerata 78,30%, yang berarti bahwa bahan ajar berada dalam kriteria baik. Rerata persentase angket penilaian mahasiswa terhadap bahan ajar dalam uji coba lapangan adalah 77,65%. Setelah dikonversikan dengan tabel tingkat validitas menunjukkan bahwa bahan ajar ini berada dalam kriteria baik. Setelah melalui serangkaian uji coba, menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan ini layak digunakan dalam mata kuliah Teori Graph. Hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil belajar mahasiswa sebelum pembelajaran (pretes) dengan skor rata-rata 61,31 dan sesudah pembelajaran (postes) dengan skor rata-rata 85,31, dimana ada kenaikan perolehan skor sebesar 24,00. Dengan demikian, produk bahan ajar yang dihasilkan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar mahasiswa.

Tashmim karrosah al-tadribat ala al-kitabah al-Arabiyah takmilah lisilsilah Al-Arobiyah baina al-juz al-awwal / Ika Dian Muvida

 

ملخص البحث مفيدة، إيكا ديان. ٢٠١٠ م. تصميم كراسة التدريبات على الكتابة العربية تكملة لسلسلة "العربية بين يديك" الجزء الأول. بحث علمي، قسم الأدب العربي، كلية الآداب، جامعة مالانج الحكومية. المشرف: الدكتوراندوس محمد شاطبي نووي الماجستير. الكلمات المفتاح: التدريبات، الكتابة العربية، كراسة التدريبات، العربية بين يديك إن مهارة الكتابة هي إحدى المهارات الأربع المهمة في تعليم اللغة العربية للمواد اللاحقة. وتوجد كثير من المشكلات التي ي واجهها المدرس والطلبة في عملية التعلّم والتعليم. المشكلات الموجودة في عملية تعليم الكتابة على سبيل المثال ضيق الوقت في الفصل، أو شع ور الطلبة بصعوبة فهم المواد، أو وقوع الطلبة في أخطاء كثيرة في كيفية كتابة الحروف والحركات وغيرها. لذلك، يحتاج تدريس اللغة العربية الجيد إلى الفكر الجديد في تخطيط المادة وتعليمها كما أنه لا بد أن يكون مدعوما بوسائل التعليم للتسهيل على المدرس ولحلّ المشكلات فيه. وكراسة التدريبات هي إحدى الوسائل المناسبة في عملية تدريس الكتابة العربية في قسم الأدب العربي جامعة مالانج الحكومية. الأهداف من هذا البحث، هي: ( ١) لمعرفة صيغ تدريبات الكتابة العربية لسلسلة "العربية ٢) لمعرفة تصميم كراسة التدريبات تكملة لسلسلة "العربية بين يديك" الجزء ) ،" بين يديك ١ الأول، ( ٣) إنتاج تصميم كراسة التدريبات تكملة لسلسلة "العربية بين يديك" الجزء الأول. والمنهج ( المستخدم في هذا البحث هو المنهج التصميمي. وإجراءات التصميم لهذا البحث تحتوى على: ( ١ تحليل الاحتياجات، ( ٢) الدراسات التمهيدية، ( ٣) تحديد الهدف، ( ٤) تصميم المواد الدراسية، ٥) كتابة نص الوسيلة التعليمية، ( ٦) عملية الإنتاج، ( ٧) الاختبار، ( ٨) التصحيح. قامت ) الباحثة بالاختبار الميداني في جامعة مالانج الحكومية كلية الآداب قسم الأدب العربي، ونتيجة .% الاختبار تحصل على ٧٦ صيغ .Microsoft Office PowerPoint تم تصميم هذه الكراسة باستخدام 2007 تدريبات الكتابة الموجودة في سلسلة "العربية بين يديك" الجزء الأول هي يمر الطلاب بقلمهم على ب الحروف المكتوبة غير الواضحة ونسخ جمع الحروف العربية مفردة مجردة، بالإضافة إلى كتابة حروف المدّ والحركات القصيرة والشدة والتنوين ووصل الحروف ونسخ الكلمات وتكوين كلمات وتعبيرات وترتيب كلمات لتكوين الجمل وملء فراغات وكتابة كلمات تحت الصور وتكملة جمل وإملاء مفردات مختارة في الوحدات الثلاث الأخيرة. وتقدم كراسة التدريبات صيغ تدريبات الكتابة العربية المتنوعة لزيادة الصيغ من الكتاب الأساسي. وتتكون كراسة التدريبات من بابين اثنين. المضمون من الباب الأول هو مواد كيفية كتابة الحروف والحركات والتدريبات عنهما ومن الباب الثاني هو تدريبات وصل الحروف والكلمات والجمل. واستكملت هذه الوسيلة بالقرص لتدريبات الإملاء والإنشاء الموجّه. يقتصر هذا البحث على تصميم كراسة التدريبات على الكتابة تكملة لسلسلة "العربية بين يديك" الجزء الأول. لذلك، ترجو الباحثة أن يقوم الباحث اللاحق بتصميم كراسة التدريبات في المهارات الأخرى مثلا في مهارة الاستماع والكلام والقراءة.

Penerapan model pembelajaran REACT untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa kelas XI IPA I SMA Negeri 6 Malang / Andy Kurniawan

 

Kata Kunci : Model Pembelajaran REACT, Kemampuan kerja ilmiah, prestasi belajar. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Fisika kelas XI IPA I SMA Negeri 6 Malang diperoleh informasi bahwa pembelajaran fisika menggunakan metode yang bervariasi yakni metode ceramah, diskusi, demonstrasi, dan eksperimen. Metode ceramah dapat memberikan dampak yang negatif karena siswa menjadi bosan dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini terlihat pada nilai UTS hanya 22 siswa dari 39 siswa yang memenuhi KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yakni 70. Saat metode diskusi dikelompok di-terapkan hanya beberapa siswa yang aktif sedang¬kan yang lain hanya berbicara sendiri dan ramai. Di sekolah ini eksperimen dilaksanakan hanya satu kali dalam satu semester. Guru mengalami kendala saat melakukan praktikum dikarenakan waktu untuk melakukan praktikum tidak ada. Dampak dari jarang melakukan praktikum dapat dilihat saat siswa ditunjukkan dinamo¬meter siswa tampak bingung dalam menggunakannya hanya sedikit yang mampu menggunakan. Salah satu pem¬belajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif adalah model pem-belaja¬ran REACT yang terdiri dari 5 tahapan yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transfering. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan model pembelajaran REACT dapat meningkat-kan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa kelas XI SMA Negeri 6 Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 6 malang dengan subjek penelitian kelas XI IPA I. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah kemampuan pelaksanaan pembelajaran REACT, kerja ilmiah, dan prestasi belajar. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi untuk mengukur pelaksanaan pembelajaran dan kerja ilmiah siswa serta tes untuk meng-ukur prestasi belajar siswa. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah reduksi data, paparan data, verifikasi, penarikan kesimpulan, dan refleksi. Ketercapaian kemampuan kerja ilmiah dan hasil prestasi belajar siswa dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Hasil analisis pada siklus I dan siklus II menunjukkan kemampuan kerja ilmiah siswa dan prestasi belajar kelas XI IPA I SMA Negeri 6 Malang mengalami peningkatan. Kemampuan kerja ilmiah siswa secara keseluruhan mengalami pe¬ningkatan pada siklus I ke siklus II sebesar 10,9%. Prestasi belajar pada siklus I mencapai rata-rata sebesar 80,3 dan siklus II mencapai rata-rata sebesar 80.

Survei pelaksanaan usaha kesehatan sekolah (UKS) di SMP Negeri se-kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang / Benitha Rahmawati

 

Kata Kunci: usaha kesehatan sekolah, Trias UKS Usaha Kesehatan Sekolah atau yang biasa disingkat UKS merupakan tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan di sekolah. Keberadaan UKS di sekolah sangat penting untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar, selain itu dengan keberadaan UKS akan mewujudkan sekolah yang sehat sehingga nyaman bagi siswa dalam menimba ilmu. Dalam pelaksanaannya, UKS bakerja sama dengan puskesmas setempat untuk melaksanakan program UKS, hal ini bertujuan agar pelaksanaan program mendapat pengawasan dan dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin serta sesuai dengan tujuannya. Tiap sekolah hendaknya dapat memanfaatkan semaksimal mungkin UKS yang ada, selain itu sekolah juga diharapkan untuk melibatkan siswa dalam pelaksanaan UKS. Pelaksanaan program UKS biasanya mengacu pada Tri Progran UKS atau yang biasa disebut Trias UKS. Trias UKS terdiri dari (1) pendidikan kesehatan, (2) pelayanan kesehatan, dan (3) pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Pada observasi awal yang dilakukan di SMP Negeri se- Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang didapatkan hasil bahwa semua SMP Negeri di Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang telah memiliki UKS yang di mana UKS tersebut juga telah dilengkapi dengan sarana yang dibutuhkan meskipun jumlahnya terbatas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan Tri Program UKS di SMP Negeri se-Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi SMP Negeri se-Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang. yaitu SMP Negeri 1 Yosowilangun sebanyak 83, SMP Negeri 2 Yosowilangun sebanyak 66 dan SMP Negeri 3 Yosowilangun sebanyak 37, sehingga jumlah seluruh angket yang diberikan untuk siswa sebanyak 186. Sedangkan jumlah angket yang diberikan kepada anggota PMR di SMP Negeri 1 Yosowilangun sebanyak 46, SMP Negeri 2 Yosowilangun sebanyak 38, dan SMP Negeri 3 Yosowilangun sebanyak 25, sehingga jumlah seluruh angket yang diberikan kepada anggota PMR sebanyak 109 serta 3 angket diberikan kepada masing-masing pembina PMR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan UKS di SMP Negeri se-Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang sub variabel pendidikan kesehatan mendapatkan persentase sebesar 48,24% sehingga termasuk dalam kategori kurang baik sedangkan pada sub variabel pelayanan kesehatan sebesar 30,05% yang termasuk dalam kategori tidak baik, dan pada sub variabel pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat dengan persentase sebesar 60,78% yang termasuk dalam kategori cukup baik. Secara menyeluruh berdasarkan aspek Tri Program UKS (Trias UKS) di SMP Negeri se-Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang persentase yang didapatkan sebesar 46,36% sehingga termasuk dalam kategori kurang baik.

Perakitan dan pengujian operasional motor induksi 3 fasa dalam hubungan star delta / Yanu Ermono

 

Kata kunci: perakitan panel, pengujian operasional motor, motor induksi 3 fasa, star delta Motor listrik merupakan salah satu komponen penggerak utama pada dunia industri, salah satu jenis motor listrik yang sering digunakan adalah motor induksi. Dalam penggunaannya, motor induksi memiliki arus start yang tinggi dibandingkan dengan motor sinkron yaitu mencapai 6 kali arus nominalnya. Salah satu cara untuk mengurangi tingginya arus start maka digunakan starting star delta. Alat praktikum yang telah ada memiliki beberapa keterbatasan, yaitu tidak dilengkapi alat ukur untuk mengetahui karakteristik arus dan tegangan. Selain alat ukur, alat yang telah ada tidak dapat digunakan pada pengujian motor berbeban. Adanya keterbatasan alat membuat praktikum yang dilaksanakan menjadi kurang efektif. Alat rancangan penulis merupakan penyempurnaan alat yang telah ada tersebut. Tujuan dari pembuatan tugas akhir ini adalah: (1) merencanakan alat pengujian operasional motor induksi 3 fasa dalam hubungan star delta, (2) melaksanakan perakitan, (3) melakukan pengujian operasional pada motor induksi, dan (4) menyimpulkan hasil pengujian. Pembuatan modul praktikum ini memiliki beberapa batasan masalah, yaitu: (1) motor induksi yang digunakan sebagai simulator berdaya 0,5 HP, rotor sangkar, frekuensi 50 Hz, dan tegangan 110/220 Volt, (2) pengukuran yang dilakukan yaitu pada arus masukan, daya masukan, tegangan masukan dan putaran rotor, (3) metode starting yang digunakan adalah starting star delta dengan kendali magnetik kontaktor. Metode perancangan meliputi: (1) perancangan kompnen, (2) perancangan rangkaian, (3) perakitan alat, dan (4) pengujian alat. Pada saat pengujian, beban pada motor berfungsi untuk mengetahui perubahan yang terjadi ketika beban motor berubah-ubah. Prinsip dari rangkaian kontrol adalah untuk mengontrol motor untuk terhubung star dan delta, dan rangkaian pengukuran berfungsi untuk mengetahui perubahan arus, tegangan, dan putaran motor listrik. Hasil dari analisis tersebut antara lain: (1) alat terdiri dari beberapa bagain, yaitu rangkaian kontrol, daya, dan alat ukut, (2) pada proses perakitan harus menggunakan alat yang sesuai untuk mencegah kerusakan alat dan kecelakaan kerja, (3) semakin berat beban motor, maka arus akan naik dan putaran akan turun, hal tersebut sama pada saat terhubung star maupun delta, tetapi arus dan putaran motor pada saat terhubung delta lebih tinggi.

Using flip charts to improve students' ability in writing sentences at SDN 1 Mimbaan Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo / Umaria Nur Aini

 

Key words: flip charts, writing sentences Flip charts is one of instructional media which is used to facilitate the students’ writing skills. By using instructional media, the materials in writing can be understood easily, learning activities become more interesting, and various activities can be used by the teachers. Instructional media are also very beneficial in English Language Teaching. Thus, the researcher is interested in investigating the use of flip charts in writing sentences of English at SDN 1 Mimbaan. This study is intended to investigate how the flip chart improve students’ ability of class V-A, of SDN 1 Mimbaan in writing sentences. The preliminary study showed that 85% out of 33 students scored below the minimum mastery learning standard (Standar Ketuntasan Minimal/SKM). The study was designed as a Classroom Action Research (CAR). The subject of this study was thirty three students of class V-A of SDN 1 Mimbaan. The study was conducted in two cycles, each of which consisted of four steps, namely planning, implementation, observation, and reflection. In the planning stage the researcher preparing the lesson plan, the research instrument, and prepared criteria of success. In the implementation stage the researcher conducted what had been designed in the lesson plans. In the observation stage the researcher collected data concerning flip charts implementation. In the reflection stage, the researcher decided whether or not flip chart met the criteria of success. There were four lesson plans, two in each cycle. The instrument used to collect data were interview guide for the teacher, questionnaire, writing test, observation checklist, and field notes. The criterion of success of the students is 60% students must score above the SKM with the gain equal to or above 10. The result of this study showed that flip charts upgraded the students’ scores in writing sentences, hence, their writing; 75,7 % students of class V-A scored above the minimum mastery learning (Standar Ketuntasan Minimal/SKM) with the gain equal to above 10. It can be concluded, then, that the study fulfilled the criteria of success. The finding also showed that flip charts also activates the students as well as the teacher, thus make the class run more effectively. Based on the findings, the implementation of flip charts improved the students’ writing performance from cycle to cycle. The improvement of the students’ quality in writing sentences from the preliminary study to the Cycle 1 was not significantly high. In other side, the improvement of students’ quality in writing sentences from Cycle 1 to Cycle 2 was significantly high because of two reasons, the change of topic and their better understanding in writing the sentences. In other words, there were 28 students out of 33 students (85%) who were below SKM in preliminary study, 20 students out of 33 students (60%) who achieved the score below SKM in Cycle 1, and 8 students out of 33 students (24,2%) who achieved the score below SKM in Cycle 2. Indeed, the implementation of Flip Charts in writing sentences not only improved the students’ writing performance, but also brought students’ positive attitude in teaching and learning process.

Pengaruh leverage keuangan dan rasio aktivitas terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur dengan menggunakan variabel control LQ 45 dan non LQ 45 yang listing di BEI periode 2007-2009 / Deby Eriesa Retnaningrum.

 

Pembelajaran kontekstual dengan strategi react untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang / Pentri Arfia Dewi

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kontekstual, Strategi REACT , Prestasi Belajar. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah ”Bagaimana pembelajaran kontekstual dengan strategi REACT yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 2 Malang?” Pembelajaran kontekstual dengan strategi REACT ini memuat komponen relating (menghubungkan atau mengaitkan), experiencing (mengalami), applying(menerapkan), cooperating(bekerja sama), transferring(mentransfer). Strategi ini interfokus pada pengajaran dan pembelajaran dalam konteks .Strategi REACT juga merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat membantu guru untuk menanamkan konsep pada siswa, sehingga siswa tidak sekedar menghafal rumus, akan tetapi siswa dapat menemukan sendiri, bekerjasama, dapat menerapkan dalam kehidupan dan dapat mentransfer dalam konteks baru, sekaligus belajar selalu mengaitkan dengan konteks. Untuk mendukung penelitian, maka disusun perangkat pembelajaran dan instrumen. Perangkat pembelajaran yang disusun yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Instrumen yang disusun terdiri dari(1) Lembar Observasi Aktivitas Siswa, (2) Lembar Observasi Aktivitas Guru, (3) Lembar Validasi Perangkat dan Instrument, (4) Lembar Kegiatan Siswa(LKS), (5) Lembar Wawancara, (6) Soal Tes Akhir Siklus. Perangkat dan instrumen yang telah disusun kemudian diperiksa oleh dosen pembimbing dan divalidasi oleh dua praktisi. Hasil validasi instrumen dan perangkat memenuhi kategori valid atau sangat valid. Berdasarkan hasil validasi tersebut maka instrumen dan perangkat dapat digunakan untuk pembelajaran di kelas dengan sedikit perbaikan berdasarkan saran yang diberikan oleh validator. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari 4 tahapan yaitu; (1) Perencanaan, (2) Pelaksanaan Tindakan, (3) Pengamatan/Observasi, dan (4) Refleksi. Pada siklus I rata-rata hasil observasi aktivitas siswa dalam kategori cukup aktif dengan prosentase 79,3225 % dan prosentase banyaknya siswa yang mendapatkan nilai akhir lebih dari 70 yaitu 57,14 % Karena prosentase ini kurang dari 75% maka tindakan harus dilanjutkan pada siklus II. Pada siklus II, rata-rata hasil observasi siswa mencapai prosentase 82,308 % dengan kategori baik dan prosentase banyaknya siswa yang mendapatkan nilai akhir lebih dari 70 meningkat menjadi 85,71%. Hasil ketercapaian aktivitas siswa dan prosentase nilai akhir pada siklus II masuk dalam kategori berhasil sehingga pemberian tindakan dapat dihentikan.

Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal-soal persamaan dan pertidaksamaan kuadrat berdasarkan langkah penyelesaian masalah Polya untuk mengetahui kesulitan belajar matematika siswa kelas X-6 SMA Negeri 4 Malang / Nira Radita

 

Kata Kunci: analisis kesalahan, persamaan dan pertidaksamaan kuadrat, langkah penyelesaian masalah Polya, kesulitan belajar Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang mempunyai peranan penting baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Namun matematika bukanlah mata pelajaran yang mudah bagi sebagian besar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya siswa yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal-soal termasuk soal tentang persamaan dan pertidaksamaan kuadrat. Kesalahan yang dilakukan dapat digunakan untuk mengetahui letak kesulitan belajar matematika siswa. Ada beberapa tahapan dalam menyelesaikan suatu masalah, salah satunya adalah tahap penyelesaian masalah menurut Polya, yang meliputi tahap pemahaman, tahap pemikiran rencana, tahap pelaksanaan rencana selesaian dan tahap peninjauan kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika serta kesulitan belajar yang dialami berdasarkan kesalahan yang dilakukan. Penelitian dilakukan pada siswa kelas X-6 SMA Negeri 4 Malang. Tes tertulis diberikan kepada 39 orang, jawaban siswa yang salah dikelompokkan kedalam kesalahan yang sama. Setelah itu pada setiap kesalahan dipilih salah satu siswa untuk diwawancarai. Dari hasil wawancara dapat diketahui penyebab siswa melakukan kesalahan dan kesulitan belajar yang dialami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian adalah deskriptif. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) kesalahan yang dilakukan siswa pada tahap pemahaman soal antara lain tidak menjawab soal dan tidak memperhatikan syarat-syarat yang diminta dalam soal, kesalahan pada tahap pemikiran rencana adalah salah menggunakan rumus, kesalahan pada tahap pelaksanaan rencana selesaian yaitu salah melakukan perhitungan dan salah memasukkan nilai, kesalahan pada tahap peninjauan kembali misalnya tidak memeriksa kembali jawabannya, tidak melanjutkan proses penyelesaian, salah tulis dan tidak menuliskan kesimpulan dari jawabannya, (2) kesulitan belajar yang dialami siswa yaitu sulit memahami soal, sulit bekerja dengan variabel, sulit untuk mengingat suatu materi, sulit untuk menghubungkan suatu materi dengan materi lain. Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan: 1) sebaiknya yang diajarkan guru bukan hanya materi yang ada dibuku siswa, tetapi juga dari sumber lain, 2) guru diharapkan memahami kemampuan setiap siswa agar kemampuan siswa merata, 3) guru sebaiknya memberi latihan soal dan mengaitkan materi yang sedang dipelajari dengan materi lain yang pernah dipelajari siswa.

Pengaruh debt to equity ratio (DER), long-term debt to equity ratio (LDER), dan equity to assets ratio (EAR) terhadap return saham pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia (periode 2005-2009) / Luthfiyatur Rohmah

 

Kata Kunci: Struktur Modal dan Return Saham Minat investor terhadap saham suatu perusahaan didasari oleh keyakinan terhadap kinerja perusahaan. Cara umum yang digunakan untuk melihat kelayakan kinerja suatu perusahaan adalah dengan cara menganalisis struktur modal dan return yang akan diterima atas investasi pada saham tersebut. Fungsi keuangan merupakan salah satu fungsi penting dalam aktivitas perusahaan. Informasi yang bersumber dari laporan keuangan dianggap sebagai informasi yang relevan yang dapat dipergunakan oleh investor dalam pengambilan keputusan dalam berinvestasi. Mengelola fungsi keuangan merupakan hal yang perlu diperhatikan, terutama menyangkut struktur modal perusahaan. Keputusan tentang sumber pendanaan perusahaan akan mempengaruhi harga saham perusahaan yang selanjutnya akan mempengaruhi besarnya return saham yang diperoleh investor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar struktur modal yang terdiri dari DER, LDER, dan EAR dapat mempengaruhi besarnya return saham baik secara parsial maupun secara simultan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda untuk mengetahui adanya pengaruh struktur modal terhadap return saham. Uji yang digunakan adalah Uji F dan Uji t. Populasi yang digunakan adalah semua perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2005-2008, dimana dari populasi tersebut terpilih 71 perusahaan sebagai sampel yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data dengan cara dokumentasi data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan dan Indonesian Capital Market Directory. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial dan secara simultan tidak ada pengaruh yang signifikan dari variabel Debt to Equity Ratio (DER), Long-term Debt to Equity Ratio (LDER), dan Equity to Assets Ratio (EAR) terhadap return saham yang ditunjukkan dengan angka signifikansi yang lebih besar dari 0,05. Hal ini dikarenakan adanya faktor lain yang lebih dominan berpengaruh pada return saham. Berdasarkan penelitian ini maka disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel bebas yang lain yang dapat diindikasikan berpengaruh terhadap return saham dan meneliti jenis perusahaan lain. Bagi investor penelitian ini dapat dijadikan gambaran tentang pengaruh faktor ekonomi makro terhadap return saham sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat.

Analisis pengaruh kesehatan bank terhadap harga saham perbankan pada bank (BNI, BRI, BCA) periode 2006-2008 / Ratna Puspitaningrum

 

Kata Kunci: Kesehatan Bank, Harga Saham Kesehatan bank sangat diperlukan dalam penilaian sehat atau tidaknya suatu banK. Dalam melakukan prediksi harga saham terdapat pendekatan dasar yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Untuk menilai tingkat kesehatan bank digunakan tiga rasio keuangan. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh rasio keuangan yang terdiri dari : LDR, CAR, dan ROE terhadap harga saham perbankan (BRI, BNI, BC). Sedangkan tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh rasio- rasio keuangan LDR, CAR dan ROE terhadap harga saham perbankan seberapa besarnya pengaruh tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah sektor perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia sebanyak 26 bank. Sampel ditentukan dengan teknik purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Adapun sampel dalam penelitian ini ada 3 perusahaan perbankan. Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu; variabel bebas meliputi LDR, CAR dan ROE. Sedangkan untuk variable terikatnya adalah harga saham perbankan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara LDR dan ROE terhadap harga saham perusahaan perbankan. Sedangkan hasil uji CAR berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham perusahaan perbankan.

Pengaruh lingkungan dan perbedaan individu konsumen terhadap proses keputusan konsumen berbelanja (studi pada ibu rumah tangga konsumen Hypermart Malang Town Square) / Herlin Maretasari

 

Kata kunci: Pengaruh Lingkungan konsumen, Perbedaan Individu, Proses Keputusan Konsumen Saat ini berkembangnya kegiatan pemasaran modern serta dalam rangka memasuki era perdagangan bebas, telah terjadi perkembangan yang cukup besar di Indonesia terbukti saat ini banyak berdirinya supermarket. Dalam setiap mendirikan usaha kita tidak lepas dari peranan konsumen yang kita tuju, yaitu dengan memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhannya sangatlah penting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) kondisi lingkungan konsumen dalam berbelanja di Hypermart MATOS, (2) kondisi perbedaan individu konsumen dalam berbelanja di Hypermart MATOS, (3) Pengaruh lingkungan dan perbedaan individu konsumen secara parsial dan simultan dalam berbelanja di Hypermart MATOS dan (4) Faktor yang dominan mempengaruhi proses keputusan konsumen berbelanja di Hypermart MATOS Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga konsumen Hypermart. Sampel dari penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik adalah simpel rendom sampling dan diperoleh sampel penelitian sebanyak 97 orang. Data diperoleh melalui responden dengan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner tertutup dan diukur dengan menggunakan skala Likert. Dari hasil analisis data diperoleh β1 = 0,236 dan nilai thitung = 2,447, signifikansi 0,016, nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,985 dan taraf siginifikansi 0,05 sehingga thitung > ttabel dan signifikansi t < 0,05 yang berarti bahwa hal ini membuktikan Ho yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara pengaruh lingkungan konsumen dengan proses keputusan ibu rumah tangga dalam berbelanja di Hypermart MATOS di tolak sedangkan Ha yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan antara pengaruh lingkungan konsumen dengan proses keputusan ibu rumah tangga dalam berbelanja di Hypermart MATOS diterima. Sedangkan dari hasil analisis data diperoleh β2 = 0,385 dan nilai thitung = 3,995, nilai signifikansi 0,000 nilai ini selanjutnya dikonfirmasikan dengan nilai t tabel = 1,985 dan taraf siginifikansi 0,05 sehingga thitung > ttabel dan signifikansi t < 0,05 yang berarti bahwa Ho yang berbunyi tidak ada pengaruh yang signifikan antara perbedaan individu dengan proses keputusan ibu rumah tangga dalam berbelanja di Hypermart MATOS di tolak sedangkan Ha yang berbunyi ada pengaruh yang signifikan antara perbedaan individu dengan proses keputusan ibu rumah tangga dalam berbelanja di Hypermart MATOS diterima. Pengaruh lingkungan konsumen dan perbedaan individu secara simultan terhadap proses keputusan keputusan ibu rumah tangga dalam berbelanja di Hypermart MATOS. Dari hasil analisis data diperoleh nilai β1 = 0,236; β2 = 0,385; Fhitung = 18,152 dengan signifikansi F = 0,000 berarti bahwa lingkungan konsumen, perbedaan individu mempunyai pengaruh secara simultan terhadap proses keputusan keputusan ibu rumah tangga dalam berbelanja di Hypermart MATOS. Saran yang dapat disampaikan bekaitan dengan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Hypermart MATOS harus lebih memperhatikan variabel-variabel lingkungan dan perbedaan individu konsumen dalam menentukan strategi kebijakan manajemen perusahaan agar dapat meningkatkan penjualan. Misalnya dengan memberikan informasi produk yang cukup jelas kepada konsumen dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para konsumen agar konsumen selalu mengingat produk-produk yang di Hypermart MATOS dan melakukan belanja di Hypermart MATOS. Pemberian pelayanan ini bisa berupa sikap karyawan lebih ramah dan bersahabat kepada para konsumen. (2) Ditinjau dari tingkat penghasilan bahwa sebagaian besar konsumen adalah golongan ekonomi menengah oleh karena harga produk yang ditawarkan harus sesuai penghasilan konsumen. (3) Kepada peneliti berikutnya yang mengadakan penelitian pada Hypermart MATOS untuk mengadakan penelitian lebih lanjut pada variabel lain diluar variabel yang diteliti ini yang berpengaruh terhadap proses keputusan berbelanja.

The reading ability of the 8th graders of SMP Negeri 10 Malang / Muthi'ah

 

Key Words: reading ability, SMP. This research investigates the reading ability of the 8th graders of SMPN 10 Malang. The sample of this research consists of three out of the nine classes of the 8th year of SMPN 10 Malang, including high, medium, and low achiever classes. Each of the classes consists of 39 students. The high and medium achiever classes were accessible, since there is only one class belonging to high and medium achievers. The low achiever class was chosen by using random sampling because there were more than one class of low achievers. The 8th year was the only accessible level for being used as the sample of this research because the 9th year was being prepared for facing the national final examination and the 7th year was being used by another researcher. In accordance with the nature of the objective of this study, the appropriate design was descriptive research. This research was conducted in SMPN 10 Malang. This research used four kinds of instruments; they were students’ average score, which is the average of several lessons’ mark, test score, interview and observation. Those instruments were used to support the data. The research result showed that the students’ score in the ability of reading narrative text is better than recount text, since the narrative text is easier than recount text. Based on the mean calculated, high achiever class has the best accumulation score, which impacts to the mean gained for each test. However, the mean of medium achiever class is worse than the mean of the low achiever class. In terms of reaching the goal of macro and micro skills of reading, which is stated in the 8th year curriculum, it is suggested for the EFL teacher to be more creative in considering the techniques in teaching reading skill, since reading is more emphasized than other skills. For future researchers, it is better to conduct a placement test to consider which belongs to high, medium, and low achievers. Then, in testing reading ability, it would be better if the researcher use several kinds of texts, in which the readability score are varied enough. It is better for future researchers to give various forms of questions, to examine the students’ proficiency.

Beberapa faktor yang mendorong transmigran ikut transmigrasi di daerah Kotamadya dan Kabupaten Malang / oleh Achmad Farid Muchid

 

Pengaruh penggunaan media animasi terhadap hasil belajar IPA siswa slow learner kelas V di SD Brawijaya Smart School Malang / Ninuk Wahyunita Sari

 

Sari, Ninuk Wahyunita. 2014. Pengaruh Penggunaan Media Animasi Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Slow Learner Kelas V di SD Brawijaya Smart School Malang. Skripsi. Prodi Pendidikan Luar Biasa Jurusan KSDP FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Tomas Iriyanto, S.Pd.,M.Pd. (II) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum. Kata Kunci: Media Animasi, Hasil Belajar IPA dan Slow Learner.     Siswa slow learner kelas V di SD Brawijaya Smart School Malang mengalami kesulitan ketika menghadapi pembelajaran IPA materi daur air. Siswa sulit memahami materi tersebut karena menurut mereka, daur air sulit untuk dibayangkan. , Menurut tahapan perkembangan kognitif Piaget, siswa kelas V (± 11 tahun) sudah memasuki tahapan operasional formal sementara itu, siswa slow learner masih berada pada tahapan operasional konkrit. Penjelasan mengenai daur air yang ada dalam buku penunjang IPA hanya berisi teks bacaan dan gambar ilustrasi sederhana saja, sedangkan menurut para ahli, slow learner lebih banyak berhasil belajar tanpa membaca. Pelajaran yang disajikan akan lebih mudah dikuasai jika pelajaran itu divisualisasikan. Salah satu alternatif memvisualisasikan materi pembelajaran yang bersifat abstrak adalah dengan menggunakan media elektronik berbasis audio visual berupa animasi. Penggunaan media animasi diharapkan materi yang disampaikan dapat tergambarkan dengan jelas.     Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana hasil belajar IPA siswa slow learner sebelum menggunakan media animasi; 2) bagaimana hasil belajar IPA siswa slow learner setelah menggunakan media animasi dan 3) adakah pengaruh penggunaan media animasi terhadap hasil belajar IPA siswa slow learner. Rancangan penelitian menggunakan quasi experiment dengan bentuk time series design. Penelitian ini menggunakan instrumen tes. Adapun teknik analisis data diselesaikan dengan bantuan rumus uji tanda (sign test).     Hasil belajar IPA sebelum menggunakan media animasi sebesar 61,6 yang ditunjukkan dari rata-rata hasil akhir pre tes. Sedangkan hasil belajar IPA setelah menggunakan media animasi sebesar 80,0 yang ditunjukkan dari rata-rata hasil akhir pos tes. Analisis data dengan menggunakan uji tanda menghasilkan kesimpulan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya, ada pengaruh penggunaan media animasi terhadap hasil belajar IPA siswa slow learner kelas V di SD Brawijaya Smart School Malang.     Kepada pihak sekolah dan guru, sebaiknya menerapkan media animasi sebagai alternatif dalam menyampaikan materi pembelajaran IPA. Bagi peneliti lanjutan, peneliti menyarankan agar melakukan penelitian lanjutan mengenai peningkatan hasil belajar IPA siswa slow learner kelas V pada materi daur air melalui penggunaan media animasi.

Pengaruh penerapan metode role playing problem posing terhadap motivasi dan hasil belajar akuntansi kelas XI IPS di SMA Negeri 9 Malang / Kris Dian Handayani

 

Kata kunci: pembelajaran metode Role Playing Problem Posing, motivasi belajar, hasil belajar. Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode role playing problem posing, motivasi belajar siswa menjadi hal yang penting untuk ditumbuhkan, dikembangkan, dan dirawat. Dengan penerapan metode ini, siswa diharapkan tidak hanya menerima materi pembelajaran tetapi mereka juga dilatih untuk aktif berfikir secara kritis, mampu melihat suatu permasalahan yang patut untuk dikritisi dan diselesaikan secara cerdas, serta lebih bersemangat. Selain itu siswa dapat memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan adverbial. Dengan meningkatnya motivasi belajar siswa, maka diprediksikan hasil belajar juga akan meningkat. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan mengambil tema metode pembelajaran mempengaruhi motivasi dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penerapan metode role playing problem posing terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran akuntansi. Ada 2 hal yang dideskripsikan dalam penelitian ini yaitu: (1) motivasi belajar peserta didik dan (2) hasil belajar peserta didik. Motivasi belajar merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung yang salah satunya adalah lingkungan belajar yang kondusif. Sedangkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil belajar yang dicapainya bermakna bagi dirinya sendiri dan akan tahan lama dalam ingatannya dan membentuk perilaku yang dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan pengetahuan lainnya. Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen yang dilaksanakan di SMA Negeri 9 Malang. Adapun subjek yang diteliti pada penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 1 yang berjumlah 26 orang, sebanyak 13 orang ditetapkan sebagai kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan metode role playing dan sebanyak 13 orang sisanya sebagai kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan metode role playing problem posing. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket motivasi dan posttest. Kedua instrumen ini diberikan baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Berdasarkan hasil uji t indendent sample two tailed pada variabel motivasi belajar dapat disimpulkan terdapat pengaruh positif antara metode role playing iv problem posing terhadap motivasi belajar siswa. Sedangkan berdasarkan hasil uji U Man Whitney pada variabel hasil belajar siswa menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil belajar antar kelas yang diajar dengan metode role playing dan metode role playing problem posing sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara metode role playing problem posing terhadap hasil belajar yang berarti metode role playing problem posing tidak efektif untuk meningkatkan hasil belajar. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Guru harus meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan metode pengajaran yang lebih kreatif agar siswa lebih termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. (2) Siswa juga harus berusaha untuk menumbuhkembangkan motivasi belajarnya. (3) peneliti selanjutnya, diharapkan mampu menerapkan metode pembelajaran yang tidak monoton dan sesuai dengan karakteristik siswa sehingga siswa dapat termotivasi dalam mengikuti proses belajar mengajar dan selanjutnya hasil belajar mereka dapat meningkat.

Perancangan website dan media presentasi PT. Pilar Land dalam upaya mempromosikan identitas perusahaan / Tuprian Doni Taraka Effendi

 

Kata kunci: Website, Media Presentasi Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi konstruksi terutama developer, yang sangat berkembang cepat dan melahap semua segmen teknologi yang ada dalam kehidupan manusia modern ini, maka diperlukan media komunikasi visual yang tepat untuk mempromosikan suatu usaha bidang konstruksi. Saat ini Internet bukanlah hal yg baru di dunia bisnis, dan bukan hal baru pula kalau internet di gunakan sebagai media promosi, dan karena selama ini PT. PILAR LAND dalam mempromosikan kepada kalayak umum hanya menggunakan iklan cetak, dengan jangkauan promosi yang kurang luas, maka diperlukan sebuah website dan media presentasi yang mampu memberikan informasi tentang identitas perusahaan. Tujuan dari perancangan ini adalah menghasilkan media promosi yang inovatif, efektif, komunikatif, efisien yang dapat diakses melalui internet, sehingga menjadikan PT. PILAR LAND sebagai perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi dan developer mampu mempromosikan identitas perusahaan. Model perancangan ini merupakan model perancangan deskriptif diawali dari penulisan latar belakang, pengidentifikasian data, dilanjutkan dengan pengumpulan data terdiri dari klien, target market, target audience, dan USP ( unique Selling Preposition ) kegiatan wawancara, observasi dan dokumentasi. Perancangan dilakukan pada website PT. PILAR LAND yang diupload pada domain com serta media presentasi dalam bentuk visual, antara lain: Presentation Folder, booklet, Brosur, Notes, e-book, Interactive media, dan Company Profile Video. Beberapa saran yang dapat diberikan kepada perusahaan PT. PILAR LAND yaitu menjadi perusahaan konstruksi dan developer yang tidak hanya membangun sebuah bangunan sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat dalam memberikan kepuasan atas apa yang akan dicapai, dan membuat sebuah desain website dan media presentasi yang dapat menginformasikan dan mempromosikan identitas PT. PILAR LAND agar diketahui masyarakat luas baik didalam kota maupun diluar kota Surabaya.

Perancangan video klip "Falsehood Factory" sebagai media promosi band Motherwish / Muhammad Hatta Pratama

 

Kata kunci: Motherwish , musik grunge, video klip musik, Promosi Band Musik grunge saat ini kurang peminatnya dibandingkan jenis musik lainya hal ini terbukti dari minimnya event musik grunge. Band grunge kurang mendapatkan tempat pada event yang ada. Tidak seperti di luar kota Malang, suara band-band grunge masih terdengar lantang. Hal ini terjadi karena kuranganya promosi serta pengenalan karakter band grunge di kota Malang. Perancangan media komunikasi visual berupa video klip sebagai media promosi untuk pengenalan pada khalayak tentang band dengan warna musik ‘grunge’ dari kota Malang yaitu Motherwish. Perancangan video klip musik dan media komunikasi visual (media promosinya) disusun dengan metode perancangan pengembangan prosedural yang bersifat deskriptif. Hal ini dipilih berdasarkan keefektifan metode ini dalam merangkum proses perancangan yang dilakukan. Model prosedural yaitu model yang bersifat deskriptif, yaitu menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk. Perancangan video klip Falsehood Factory selain menggunakan teknik videografi juga menggunakan teknik animasi stop motion agar lebih unik dan menarik. Kesimpulan skripsi perancangan ini adalah bagaimana membuat sebuah video klip musik sebagai media promosi yang nantinya sebagai media untuk mengenalkan band Motherwish.

Pembelajaran tari "Sri Panganti" sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler seni tari bagi siswa kelas IV di TK-SD Negeri Satu Atap Buring Kecamatan Kedungkandang Kota Malang / Mia Yunita Fitri

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Tari Sri Panganti, Ekstrakurikuler Tari Sri Panganti merupakan tarian dari daerah Lamongan yang menceritakan tentang kegembiraan dan keceriaan masa anak-anak menanti masa remaja. Tarian ini diberikan sebagai materi mata pelajaran ekstrakurikuler karena menarik dan mudah untuk di ajarkan kepada siswa SD khususnya siswa kelas IV. Ragam gerak yang diajarkan oleh guru pengajar telah dikreasikan sendiri sehingga ragam geraknya menjadi lebih indah dan dibuat lebih lincah yang disesuaikan dengan karakter anak. Namun bagaimana perencanaan, metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran tari, evaluasi hasil belajar tari, dan faktor-faktor pendukung dan penghambat pembelajaran tari Sri Panganti dalam kegiatan ekstrakurikuler seni tari yang diterapkan ingin dikaji lebih jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan pembelajaran, metode dan media pembelajaran, evaluasi hasil belajar, faktor-faktor pendukung dan penghambat pembelajaran ekstrakurikuler tari Sri Panganti bagi siswa kelas IV di TK-SD Negeri Satu Atap Buring Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bersamaan pada saat penelitian dengan tahap-tahap penelitian sebagai berikut tahap pengumpulan data, tahap reduksi, tahap penyajian data, tahap penarikan simpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru pengajar telah membuat perencanaan pembelajaran meskipun secara global, metode dalam penyajian materi menggunakan metode yang bervariasi meliputi metode ceramah, tanya jawab, demonstrasi, mencontoh gerak tari dan penugasan. Semua itu dilakukan oleh guru sebagai cara untuk berinteraksi dengan siswa dalam mendukung proses pembelajaran. Pada tahap evaluasi hasil belajar meliputi tiga unsur penilaian yaitu penilaian unsur gerak, ketepatan iringan musik, dan materi pola lantai. Faktor yang mendukung proses pembelajaran ekstrakurikuler adalah adanya ruang yang khusus untuk berlatih seni tari dan juga mempunyai panggung seni untuk menyajikan hasil dari proses pembelajaran sedangkan untuk faktor penghambat pembelajaran adalah guru pengajar ekstrakurikuler hanya satu orang sehingga apabila tidak masuk mengajar maka proses pembelajaran ekstrakurikuler tari menjadi terhenti, disamping itu waktu pelaksanaan ekstrakurikuler juga bersamaan sehingga bisa mengganggu antara pembelajaran ekstrakurikuler yang satu dengan yang lain. Saran yang diharapkan dari penelitian ini adalah kepala sekolah TK-SD Negeri Satu Atap Buring Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, menambah guru pengajar ekstrakurikuler tari dan mengatur jadwal pelaksanaan proses pembelajaran ekstrakurikuler agar proses pembelajaran tari tidak terhambat dan bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Pengaruh modernitas individu dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran terhadap economic literacy siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kepanjen / Vina Ade Handayani

 

Kata kunci: Pengaruh, Modernitas Individu, Persepsi Siswa Atas Kualitas Proses Pembelajaran, Economic Literacy. Economic literacy memiliki peranan penting dalam kehidupan berekonomi. Siswa kelas XII SMA jurusan IPS sudah seharusnya memiliki economic literacy yang baik. Economic literacy siswa sebagai hasil belajar tentunya dipengaruhi oleh proses pembelajaran ekonomi yang dialami siswa di sekolah. Di sisi lain, Ilmu ekonomi bukanlah merupakan suatu ilmu pasti melainkan ilmu yang selalu berkembang sesuai dengan zaman sehingga untuk memahaminya diperlukan sikap yang bersifat dinamis, dimana sikap tersebut dimiliki oleh individu modern. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan pengaruh modernitas individu terhadap economic literacy siswa, (2) untuk mendeskripsikan pengaruh persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran terhadap economic literacy siswa, (3) untuk mendeskripsikan pengaruh modernitas individu dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran terhadap economic literacy siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode korelasional fungsional dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket untuk mengukur modernitas individu dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran dan tes untuk mengukur economic literacy siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kepanjen dengan jumlah sampel sebanyak 84 siswa. Taraf signifikansi yang digunakan adalah 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modernitas individu siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kepanjen adalah tinggi, sedangkan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran dan economic literacy siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kepanjen adalah sangat baik. Dari hasil penelitian diperoleh persamaan: Y = 3,669+0,32 +0,8 , berarti apabila ada peningkatan modernitas individu sebesar satu satuan dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran tetap, maka economic literacy (Y) siswa akan meningkat sebesar 0,32. Apabila persespsi siswa atas kualitas proses pembelajaran meningkat satu satuan dan modernitas individu tetap, maka economic literacy (Y) siswa akan meningkat sebesar 0,8. Sedangkan konstanta sebesar 3,669 artinya jika modernitas individu dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran nilainya 0, maka economic literacy (Y) siswa nilainya adalah 3,669. Sedangkan R-Square sebesar 0,558 menunjukkan bahwa perubahan variabel economic literacy (Y) berkorelasi dengan variasi perubahan variabel modernitas individu ( ) dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran ( sebesar 55,8%, sisanya sebesar 44,2% perubahan variabel economic literacy (Y) berkorelasi dengan variasi perubahan variabel lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini. Dari hasil uji t diketahui bahwa dan mempunyai nilai signifikansi t < 0,05, dengan demikian modernitas individu ( ) dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran ( secara parsial berpengaruh signifikan terhadap economic literacy (Y). Hasil uji F menunjukkan nilai signifikansi F < 0,05, berarti modernitas individu ( ) dan persepsi siswa atas kualitas proses pembelajaran ( secara simultan berpengaruh signifikan terhadap economic literacy (Y). Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan: (1) terdapat pengaruh signifikan positif modernitas individu terhadap economic literacy siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kepanjen, (2) terdapat pengaruh signifikan positif persepsi siswa atas kualitas pembelajaran terhadap economic literacy siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kepanjen, (3) terdapat pengaruh signifikan positif secara simultan modernitas individu dan persepsi siswa atas kualitas pembelajaran terhadap economic literacy siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kepanjen. Saran yang dapat dikemukakan adalah: (1) bagi guru hendaknya dapat meningkatkan proses pembelajaran ekonomi agar menjadi lebih baik lagi dan sekaligus membantu siswa untuk meningkatkan modernitas individu yang dimiliki, misalnya melalui penugasan kepada siswa untuk mencari berita ekonomi terbaru dari internet. Kemudian siswa diminta untuk menganalisis serta memberi tanggapan atas isi berita tersebut, dengan demikian diharapkan economic literacy siswa akan meningkat, (2) bagi peneliti lain yang ingin meneliti tentang economic literacy diharapkan mau menggali dan meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi economic literacy baik faktor internal maupun faktor eksternal.

Perancangan multimedia interaktif berbasis animasi tentang belajar shalat untuk anak muslim / Faiza Cahya Purnama Safri

 

Persepsi siswa terhadap penggunaan buku ajar bahasa Jerman di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Ayu Trisnawati

 

Kata kunci: Persepsi, Kontakte Deutsch Extra, Pembelajaran bahasa Jerman. Penggunaan buku ajar dalam pembelajaran bahasa Jerman merupakan hal yang sangat penting dalam proses belajar mengajar. Pada umumnya untuk pelajaran bahasa Jerman setiap sekolah menggunakan buku Kontakte Deutsch Extra sebagai buku ajar utama di kelas XI. Ditinjau dari sudut teori mengajar, sistem pembelajaran lebih membuka peluang dalam penggunaan berbagai cara belajar dan media sehingga terdapat perbedaan-perbedaan dan keunikan individu dalam memberi respon. Masing-masing individu memiliki persepsi yang berbeda terhadap suatu informasi. Persepsi merupakan kesimpulan sesorang terhadap sesuatu melalui proses menyeleksi, mengorganisasi, dan menginterpretasi suatu rangsangan atau stimulus dari lingkungan. Persepsi mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran, termasuk dalam mempelajari bahasa Jerman. Persepsi terhadap bahasa Jerman timbul jika siswa mendapatkan rangsangan. Rangsangan tersebut bisa berupa informasi yang berhubungan dengan bahasa Jerman dan penggunaannya di kelas atau berupa informasi lain yang diperoleh siswa diluar kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi siswa terhadap buku ajar Kontakte Deutsch Extra dan persepsi siswa terhadap penggunaan buku ajar Kontakte Deutsch Extra dalam mata pelajaran bahasa Jerman di SMA Laboratorium UM. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI program IPA 2 dan IPS 2 yang berjumlah 65 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian berupa angket skala Likert. Hasilnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif prosentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa SMA Laboratorium UM memberikan persepsi yang baik terhadap buku Kontakte Deutsch Extra. Hal ini terbukti dengan hasil prosentase sebanyak (77,78%). Hal tersebut dikarenakan buku Kontakte Deutsch Extra dapat memberikan semangat kepada siswa untuk belajar dan sangat membantu dalam melatih kemampuan berbahasa Jerman karena materi yang ada di dalam buku Kontakte Deutsch Extra sudah sesuai dengan kemampuan siswa. Siswa SMA Laboraotrium UM memberikan persepsi yang baik terhadap penggunaan buku Kontakte Deutsch Extra dalam mata pelajaran bahasa Jerman. Hal ini terbukti dengan hasil prosentase sebanyak (65,07%). Hal tersebut dikarenakan siswa lebih suka menggunakan buku Kontakte Deutsch Extra dalam kegiatan belajar mengajar, apalagi jika didukung dengan penggunaan media pembelajaran. Jumlah buku yang ada di SMA Laboratorium UM juga sudah sesuai dengan jumlah siswa, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang tertib. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut. Kepada guru bahasa Jerman untuk lebih mengoptimalkan penggunaan buku Kontakte Deutsch Extra yang merupakan bahan ajar utama karena siswa menyukai buku tersebut. Bagi siswa disarankan untuk lebih meningkatkan semangat dan minat belajar dengan cara mencari informasi lebih lanjut mengenai negara Jerman melalui alamat-alamat website yang sudah tersedia di buku Kontakte Deutsch Extra. Bagi peneliti selanjutnya bisa mengkaji lebih dalam bagaimana persepsi siswa dari unsur-unsur lain.

Analisis kontribusi kantin terhadap tingkat pendapatan sekolah di SDN Percobaan 1 Malang / Lissa Nuriska Manto

 

Kata Kunci: kantin, biaya, omzet, pendapatan, kontribusi Suatu lembaga pendidikan seperti sekolah menyediakan layanan khusus bagi peserta didik untuk kelancaran dalam proses belajar-mengajar. SDN Percobaan 1 Malang juga memiliki layanan khusus tersebut yang berupa kantin sekolah. Kantin adalah suatu bangunan yang berada di lingkungan sekolah yang menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman sehat bagi seluruh warga sekolah sehingga mereka mendapatkan pelayanan setelah melakukan aktivitas jasmani maupun rohani. Kantin merupakan salah satu layanan yang keberadaannya mampu memberikan kontribusi bagi pihak lembaga. Secara materi kantin memberikan kontribusi berupa uang dan non materi berupa jasa layanan yang mempermudah semua warga sekolah dalam memenuhi kebutuhan fisiknya. SDN Percobaan 1 Malang merupakan sekolah inti di Kecamatan Lowokwaru yang menjadi contoh sekolah-sekolah lain untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu sekolah ini harus menjaga citra sekolah secara baik. Dengan adanya otonomi daerah tiap-tiap sekolah berhak mengembangkan potensinya sebaik mungkin. Salah satu cara sekolah ini mengembangkan potensinya adalah dengan meningkatkan pelayanan terhadap semua warga sekolah terutama peserta didik dalam hal layanan khusus kantin sekolah. Selain memberikan pelayanan pihak sekolah juga pendapatkan pemasukan tambahan. Kantin ini tidak ditangani sendiri oleh pihak sekolah karena diserahkan kepada pihak penyewa yang telah memberikan kontribusi. Kantin merupakan bisnis yang memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak. Dengan pengelolaan yang baik, maka dapat diketahui besarnya kontribusi secara pasti, namun dalam kenyataannya banyak kantin yang masih tradisional yang tidak melakukan pembukuan secara rutin sehingga pihak sekolah hanya menerima kontribusi tanpa banyak yang diketahui dari perkembangan kantin yang sesungguhnya. Rumusan masalah dalam penelitian ini secara umum membahas tentang komponen penting yang terdapat pada bisnis kantin yang meliputi: (1) Proses sewa kantin sekolah, (2) Biaya operasional rata-rata yang dikeluarkan kantin selama satu tahun, (3) Omzet bisnis makanan dan minuman dalam satu tahun, (4) Pendapatan bersih kantin dalam satu tahun, (5) Kontribusi kantin terhadap tingkat pendapatan di SDN Percobaan 1 Malang. Berkaitan dengan bisnis tersebut, maka penelitian ini dilakukan di SDN Percobaan 1 Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penyewaan kantin sampai dengan kontribusi kantin yang diberikan kepada pihak sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan rancangan penelitian deskriptif yang menggunakan teknik analisis laba rugi. Penelitian ini menggunakan instrumen pedoman wawancara yang berupa daftar pertanyaan dari jabaran variabel yang ada. Sumber data dari penelitian ini adalah penanggung jawab kantin dan pihak-pihak yang menyewa kantin sekolah tersebut. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi tentang apa saja yang berkaitan dengan penelitian ini. Observasi digunakan untuk mengamati keadaan sekolah saat penelitian ini dilaksanakan. Dokumentasi digunakan sebagai barang bukti yang nyata bahwa peneliti benar-benar melakukan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan biaya operasional dari seluruh kantin di SDN Percobaan 1 Malang mencapai Rp 67.050.000,- dalam satu tahun. Omzet keseluruhan kantin dalam satu tahun mencapai Rp 251.700.000,-. Pendapatan bersih yang diterima kantin dalam satu tahun mencapai Rp 184.650.000,-. Kontribusi yang diterima pihak sekolah berasal dari biaya sewa kantin yang mencapai Rp 8.000.000,- per satu tahun dari keseluruhan kantin yang ada. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah, bahwa biaya operasional tergantung dari beberapa komponen biaya. Komponen biaya tersebut meliputi biaya pegawai, biaya bahan baku, biaya sewa, dan biaya-biaya yang lainnya. Omzet bisnis kantin juga tergantung dari biaya operasional yang dikeluarkan, banyaknya konsumen/daya beli konsumen, hari efektif dan lain sebagainya. Pendapatan bersih dapat diperoleh dari omzet keseluruhan kantin dikurangi dengan biaya operasional yang telah dikeluarkan. Kontribusi yang diterima pihak sekolah jumlahnya lebih sedikit dari pendapatan yang diterima oleh masing-masing pihak penyewa. Bisnis kantin di lingkungan sekolah sangat menguntungkan untuk kedua belah pihak jika dilakukan pengelolaan kantin secara baik dan tertata sehingga dapat diketahui perkembangan kantin selama satu tahun berjalan.

Pemanfaatan e-learning sebagai sumber belajar siswa Jurusan Tata Boga SMK Negeri di Kota Malang / Noviana Wirena Carolin

 

Kata kunci: e-learning, sumber belajar, SMK Negeri, Kota Malang SMK merupakan sekolah yang berorientasi pada peningkatan mutu sumber daya manusia, yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dituntut untuk mengembangkan sistem pembelajaran dan informasi yang berbasis IT. Salah satu usaha dalam meningkatkan sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah dengan memanfaatkan media internet sebagai sumber belajar. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar siswa jurusan Tata Boga SMK Negeri di Kota Malang Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media internet sebagai sumber belajar khususnya siswa kelas XII program keahlian Tata Boga SMK Negeri di Kota Malang. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII program keahlian Tata Boga di SMK Negeri yang terdapat jurusan tata boga di Kota Malang Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling.. Teknik pengambilan data berupa kuesioner. Hasil penelitian ini adalah: 1) Intensitas penggunaan internet oleh siswa SMK kelas XII Jurusan Tata Boga memperoleh skor rata-rata (3,067) termasuk kategori baik. Rinciannya sebagai berikut: (a) Siswa (38,67%) menyatakan materi yang tersaji dalam bentuk komputer tergolong memadai (2,747), (b) siswa (50,67%) menyatakan jumlah ketersediaan laptop, LCD pada setiap kelas memadai (2,787), (c) siswa (60%) menyatakan tingkat pemakaiaan internet tergolong baik (3,080 ), (d) siswa (60%) menyatakan lebih sering menggunakan internet via ponsel dan warnet (3,347), (e) siswa (50,66%) menyatakan internet untuk pembelajaran dalam satu minggu tergolong baik (3,280), (f) siswa (60%) menyatakan penggunaan komputer oleh siswa tergolong baik (3,080), 2) Pendapat siswa tentang penggunaan internet terdiri dari 5 (lima) sub variabel yaitu: (a) siswa (36%) setuju internet dapat mengurangi interaksi sosial (2,920), (b) siswa (42,67%) setuju internet menampilkan informasi yang menyesatkan (2,573 ), (c) siswa (41,33%) siswa kurang setuju internet membuat siswa menjadi malas (2,053), (d) siswa (62,66%) siswa kurang setuju internet membuat status sosial siswa menjadi lebih tinggi (1,640), (e) siswa (42,57%) menyatakan kurang setuju internet dapat membuat siswa menjadi seorang plagiator (1,960), 3) Faktor yang memotivasi siswa memanfaatkan internet adalah: (a) siswa (37,33%) menyatakan internet adalah sumber belajar yang cukup memotivasi dalam menyediakan informasi yang up to date (2,467), (b) siswa (29,33%) menyatakan internet merupakan media belajar yang baik dan efisien dibandingkan dengan media belajar lainnya (3,013), (c) siswa (34,67%) menyatakan internet membuat waktu lebih hemat dan efisien dibandingkan media lainnya, (d) siswa (30,67%) menyatakan internet cukup berpengaruh dalam meningkatkan motivasi belajar (2,560), (e) siswa (49,33%) menyatakan internet membuat belajar lebih fleksibel dan mandiri (3,187), (f) siswa (49,33%) menyatakan internet media belajar yang baik dan memadai membantu menyelesaikan tugas sekolah (2,600) 4) Faktor dominan penghambat siswa memanfaatkan internet adalah: (a) siswa (29,33%) menyatakan penguasaan bahasa Inggris sangat mempengaruhi dalam memanfaatkan internet sebagai sumber belajar (2,493), dan (b) siswa (53,34%) menyatakan bahwa akses internet masih tergolong sangat mahal (2,947). Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Intensitas penggunaan internet oleh siswa SMK Tata Boga termasuk kategori baik; (2) Siswa kurang setuju mengenai beberapa hal diantaranya ialah: internet menampilkan informasi yang menyesatkan, internet membuat status sosial menjadi lebih tinggi, membuat siswa menjadi seorang plagiator; (3) Faktor memotivasi siswa memanfaatkan E-learning yaitu: sebagai sumber belajar yang cukup memotivasi dalam menyediakan sumber belajar yang up to date, media belajar yang baik dan efisien dibandingkan media lainnya, berpengaruh dalam meningkatkan motivasi belajar, membuat belajar lebih fleksibel dan mandiri, sebagai media belajar yang baik dan memadai dalam menyelesaikan tugas sekolah; (4) Faktor utama penghambat siswa memanfaatkan E-learning yaitu: lemahnya penguasaan bahasa inggris, biaya akses internet yang masih tergolong mahal Saran yang dapat disampaikan untuk meningkatkan pemanfaatan E-learning antara lain: siswa dapat mengoptimalkan pemanfaatan internet menjadi seimbang antara pemanfaatan internet sebagai sumber belajar dan sarana hiburan. Guru hendaknya memotivasi siswa memanfaatkan internet sebagai sumber belajar. Peneliti selanjutnya dapat mengembangkan penelitian ini dengan meneliti banyaknya jumlah guru di sekolah yang memanfaatkan internet sebagai media pembelajaran di kelas

Survei kapasitas oksigen maksimal (Vo2 maks) pemain sepakbola Persipro Kota Probolinggo / Salman Al Farisi Musa

 

Kata kunci: kapasitas oksigen maksimal (Vo2 Maks), pemain sepakbola,. Olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial (Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional No. 3 tahun 2005). Dalam perkembangannya terutama di Indonesia olahraga telah memasuki berbagai aspek antara lain: (a) aspek pendidikan yang diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan. (b) aspek rekreasi dilakukan sebagai bagian proses pemulihan kembali kesehatan dan kebugaran dan (c) aspek prestasi sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan potensi olahragawan dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat bangsa (Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional No. 3 tahun 2005 pasal 17-20). Pada cabang olahraga sepakbola tuntunan terhadap stamina yang prima merupakan hal yang tidak bisa ditawar dan dalam pencapaian stamina yang prima tidak lepas dari komponen kesegaran jasmani yaitu komponen daya tahan kardio vaskular/kardiorespiratori. Untuk memenuhi daya tahan tersebut seorang pemain sepakbola harus mempunyai energi dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu tingginya daya tahan seorang pemain dipengaruhi oleh tingginya kemampuan tubuh mengkonsumsi oksigen secara maksimal biasa disebut kapasitas oksigen maksimal (Vo2 maks). Penelitian ini adalah tentang ”survei kapasitas oksigen maksimal(Vo2 Maks) pemain sepakbola PERSIPRO kota Probolinggo”. Permasalahannya adalah bagaimana kapasitas oksigen maksimal (Vo2 Maks) pemain sepakbola PERSIPRO Kota Probolinggo Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengetahui kapasitas oksigen maksimal (Vo2 Maks) pemain sepakbola PERSIPRO Kota Probolinggo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan instrumen tes kesegaran jasmani yaitu multistage fitness test yang bertujuan mengetahui prediksi VO2 maks pada pemain sepakbola PERSIPRO kota Probolinggo. Teknik pengambilan sampel yaitu semua pemain sepakbola PERSIPRO kota Probolinggo yang berjumlah 29 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan pada pemeriksaan tekanan darah dari 29 pemain terdapat 27 pemain yang normal dan 2 tinggi normal dengan rata-rata tekanan darah pemain PERSIPRO kota Pobolinggo 118,6/74,5 atau normal dan pada pemeriksaan denyut nadi dari 29 pemain terdapat 15 pemain yang memiliki denyut nadi normal dan 14 pemain yang denyut nadi tidak normal dengan rata-rata denyut nadi pemain sepakbola PERSIPRO kota Probolinggo 62x/menit berdasarkan standar atlet dapat dikatakan tidak normal, karena standar denyut nadi atlet terletak pada kisaran 40-60x/menit. Hal ini mengindikasikan beberapa faktor penyebab diantaranya adalah merokok, asupan garam yang terlalu banyak, kolesterol tinggi dan kafein (http://artikel-kesehatan-online.blogspot.com). Solusi dari permasalahan di atas adalah dengan melakukan aktivitas fisik secara rutin karena aktifitas fisik mampu menurunkan tekanan darah selama 24 jam seperti yang disimpulkan seperti yang dilaporkan dalam Clinical Journal of Sports Medinice, oleh Dr. Domenico Di Raimondo dari Universita Degli Studi di Palermo, Italia, dan rekannya (http://www.kapanlagi.com). Hal ini akan mengurangi jumlah ketukan yang diperlukan untuk memompa darah volume yang sama dan pada gilirannya akan mengurangi denyut nadi (http://www.scumdoctor.com). Pada pelaksanaan tes lari multi tahap yang dilakukan diketahui bahwasanya dari 29 pemain mengacu pada kategori umur terdapat 5 pemain atau 17,2 % pada kategori baik sekali, pada kategori baik terdapat 16 pemain atau 55, 2 %, kemudian pada kategori kapasitas oksigen maksimal (VO2 Maks) cukup terdapat 7 pemain atau 24, 1 %, pada kategori kurang hanya ada 1 pemain atau 3, 44 % dan tidak ada pemain berkategori kapasitas oksigen maksimal (VO2 Maks) sangat kurang atau 0 %. Rata-rata kapasitas oksigen maksimal (Vo2 Maks) pemain sepakbola PERSIPRO kota Probolinggo berdasarkan umur adalah baik dengan nilai 45,7 ml/bb kg/min. Standar nasional VO2 maks untuk pemain sepakbola adalah 60 ml/bb kg/mnt, maka apabila dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan pemain sepakbola PERSIPRO kota Probolinggo belum memenuhi standar dari pemain sepakbola atau dapat dikatakan sangat kurang. Oleh karena itu disarankan pada pelatih dan pemain untuk lebih meningkatkan kesegaran jasmani terutama kapasitas oksigen maksimal (Vo2 Maks), sehingga dapat sesuai dengan standar atau bahkan mampu lebih dari standar. Pada dasarnya banyak cara untuk meningkatkan kesegaran jasmani terutama tingkat kapasitas oksigen (VO2 Maks), yaitu pemain menjaga pola hidup sehat, pelatih menerapkan latihan-latihan daya tahan aerobik seperti latihan interval, latihan terus-menerus dan latihan fartlek (hairy, 1989:202-207), yang dengan latihan tersebut pemain akan merasakan dampak positif terhadap peningkatan oksigen maksimal (VO2 Maks).

Pengembangan audio visual model latihan teknik dasar start pada olahraga renang untuk atlet Perkumpulan Renang Catalina Malang / Debrian Purnadhatu Sucahyo

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Audio Visual, Start Renang. Start dalam renang dilakukan diatas sebuah block start, kecuali renang gaya punggung. Pengajaran start renang tidak selamanya harus dilakukan secara manual hanya berupa penjelasan saja kemudian praktek namun harus memanfaatkan teknologi yang ada seperti media audio visual. Penggunaan teknologi media audio visual memang sangat dibutuhkan untuk memberikan pengajaran yang lebih maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan audio visual model latihan tentang teknik dasar start renang untuk atlet perkumpulan renang Catalina Malang. Penelitian pengembangan merupakan penelitian yang berupaya mengembangkan produk tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Dalam pendidikan jasmani, rancangan penelitian pengembangan dapat digunakan sebagai upaya pemecahan masalah pendidikan dan pembelajaran. Pengembangan ini dilakukan untuk menghasilkan sebuah produk yaitu berupa media audio visual. Seperti yang dijelaskan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan pesan atau menampilkan suatu informasi. Peneliti menggunakan Digital Video Disc (DVD) karena mampu menyimpan file dalam jumlah yang besar, juga kualitas gambar dan suaranya lebih bagus. Penelitian ini dilakukan di club Catalina Malang. Rancangan penelitian pengembangan yang digunakan adalah Pengembangan Research & Development (R&D) dari Borg & Gall. Instrument yang digunakan adalah menggunakan skala rating dan inventori. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis kualitatif dan analisis diskriptif dengan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan oleh peneliti mendapatkan hasil cukup valid 60,5% dari ahli renang 1 dan 2, cukup valid 72% dari ahli media, dan valid 83,51% dari uji coba kelompok kecil. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa media yang dikembangkan memenuhi kriteria sudah layak sehingga bisa digunakan sebagai media alternatif pembelajaran teknik dasar start renang. Saran untuk penelitian lebih lanjut dapat mengembangkan materinya lagi seperti turn and finish karena antara start, turn and finish saling berkaitan.

Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan pendekatan lesson study (studi di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang) / Andi Ira Septivani

 

Kata Kunci : Lesson Study, Pembelajaran, Pendidikan Kewarganegaraan. Guru memegang peran utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan menentukan keberhasilan siswa di sekolah. Oleh karena itu, guru sebagai salah satu tenaga kependidikan perlu dibina, dan dikembangkan. Perlu diupayakan cara atau pendekatan yang layak untuk mengatasi masalah seputar pendidikan. Melalui Lesson Study sangat dimungkinkan untuk meningkatkan keprofesionalan guru, khususnya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Karena Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan (berkesinambungan) berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini berkaitan dengan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan pendekatan Lesson Study di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah: (1) bagaimana pelaksanaan Lesson Study; (2) bagaimana problematika pelaksanaan Lesson Study; (3) bagaimana upaya peningkatan kualitas pembelajaran dengan Lesson Study; (4) upaya mengatasi problematika Lesson Study. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendiskripsikan pelaksanaan Lesson Study; (2) mendiskripsikan problematika pelaksanaan Lesson Study; (3) mendiskripsikan upaya peningkatan kualitas pembelajaran dengan Lesson Study; (4) mendiskripsikan upaya mengatasi problematika Lesson Study pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif. Subjek penelitian ini adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan dan para siswa di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data mengacu pada teknik analisis data interaktif model Miles dan Hubermen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dengan pendekatan Lesson Study di SMA Laboratorium Universitas negeri Malang adalah mempersiapkan segala sesuatu misalnya RPP, buku paket, dan media yang akan digunakan dalam PBM. Setelah itu menemui observer yang sudah dijadwalkan oleh tim pengembang Lesson Study untuk memastikan bisa ikut dalam PBM. Tahapan Lesson Study ada 3, yaitu Plan (Perencanaan), Do (Pelaksanaan), See (Refleksi); (2) problematika pelaksanaan Lesson Study di SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang adalah: (a) dari segi guru: guru model sering lupa dengan jadwal Lesson Study yang sudah disiapkan oleh tim pengembang; persiapan sebelum mengajar rumit; guru model harus ada persiapan sebelum mengajar agar tampil maksimal; media pembelajaran belum terpenuhi; pada saat pembelajaran siswa ramai, bermain hand phone dan ada yang tidak aktif saat pembelajaran; (b) dari segi siswa: kurang adanya kedisiplinan dari siswa pada saat proses belajar mengajar misalnya tidak memperhatikan guru model pada saat menyampaikan materi karena asik dengan bermain hand phone. (3) upaya peningkatan kualitas pembelajaran dengan Lesson Study adalah: (a) dari segi guru: diadakannya Lesson Study pada setiap pertemuan; adanya pemenuhan sarana dan prasarana; dengan meningkatkan dan melaksanakan program yang sudah dilaksanakan; membangun kerjasama dengan lembaga di luar SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang; strategi yang digunakan pada saat membuka kelas adalah PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan); serta memberikan masukan pada saat refleksi; (b) dari segi siswa: mempunyai kesadaran untuk disiplin dalam mengikuti proses belajar mengajar, serta memperhatikan saat guru menjelaskan. (4) upaya yang dilakukan untuk mengatasi problematika Lesson Study adalah: (a) dari segi guru: menghubungi guru model sebelum pelaksanaan Lesson Study supaya tidak lupa apabila ada jadwal; memberikan arahan kepada semua guru agar datang pada saat ada jadwal Lesson Study karena ini termasuk kepentingan bersama guna meningkatkan keprofesionalan guru; apabila ada pergeseran jam mengajar seharusnya koordinator kurikulum jauh hari menghubungi tim pengembang Lesson Study agar tidak ada jadwal yang bersamaan; mempersiapkan RPP, media, metode dan kepentingan mengajar lainnya jauh hari sebelum mengajar; mempersiapkan media untuk menunjang pembelajaran; memberi teguran pada siswa yang ramai, melempar pertanyaan pada siswa yang dirasa kurang aktif dan mengumpulkan hand phone di kotak yang dipersiapkan agar tidak mengganggu jalannya pembelajaran. (b) dari segi siswa: mengikuti pembelajaran dan memperhatikan guru pada saat menerangkan; hal yang diluar pembelajaran harus ditinggalkan terlebih dahulu misalnya bermain hand phone; apabila siswa melanggar seharusnya guru model menegur dan memberikan hukuman. Berdasarkan temuan penelitian disarankan agar: (1) pada saat Plan sebaiknya dilakukan satu minggu sebelum proses pembelajaran dikarenakan apabila ada kekurangan guru model bisa mempersiapkan beberapa hari sebelumnya sehingga pada saat pembelajaran bisa berjalan maksimal, (2) guru model sebaiknya lebih memahami langkah-langkah dalam memilih metode pembelajaran agar dalam PBM dapat berjalan sesuai dengan RPP, (3) dalam mengajar sebaiknya guru model mengelompokkan siswa secara heterogen dengan harapan siswa bisa mengatasi kesulitan secara kelompok, sehingga pembelajaran bisa berjalan lancar dan siswa aktif dalam pembelajaran, (4) guru model seb aiknya mempersiapkan media sesuai dengan jumlah kelompok agar siswa aktif dalam PBM dan menyesuaikan waktu yang terdapat dalam RPP dengan harapan materi tersampaikan semua, (5) sekolah sebaiknya menyediakan media pembelajaran Lesson Study, seperti menyediakan buku paket, LCD dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran.

Penarapan pembelajaran problem solving untuk meningkatkan hasil belajar matematika sisw kelas III SDN Mergosono 3 Malang / Riadi

 

Kata Kunci: Problem Solving, Hasil Belajar Hasil belajar sebagian besar siswa kelas III SDN Mergosono 3 Malang masih rendah. Hal ini diketahui dari observasi dan wawancara yang dilakukan pada guru kelas III SDN Mergosono 3 Malang. Hasil belajar siswa kelas III SDN Mergosono 3 Malang menunjukkan bahwa banyak siswa yang masih di bawah Standar Kelulusan Minimal (SKM) yaitu 70. Hal ini merupakan akibat dari proses pembelajaran yang digunakan di SDN Mergosono 3 Malang yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Metode pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran problem solving. Pembelajaran problem solving adalah pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik tolak pembahasan. Pembelajaran ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Matematika siswa kelas III SDN Mergosono 3 Malang melalui penerapan pembelajaran problem solving. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2010 sampai dengan tanggal 9 Agustus 2010. Data penelitian berupa hasil belajar siswa diperoleh melalui tes pada setiap akhir siklus dan proses kegiatan guru dalam menerapkan pembelajaran problem solving. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran problem solving yang dilakukan oleh guru dapat diterapkan di SDN Mergosono 3 Malang kelas III sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran problem solving. Hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan rerata sebesar 10,77 dengan persentase ketuntasan belajar secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 43,59%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran problem solving dapat meningkatkan hasil belajar Matematika siswa kelas III SDN Mergosono 3 Malang, sehingga dapat disarankan kepada guru untuk menggunakan pembelajaran problem solving pada pokok bahasan yang lain. Guru dapat menciptakan suatu variasi pembelajaran seperti menggabungkan pembelajaran problem solving dengan pembelajaran kooperatif. Guru disarankan lebih banyak memberikan reinforcement sehingga siswa akan lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.

Pengaruh ketersediaan fasilitas belajar siswa di sekolah dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Malang / Dwi Handayani

 

Kata Kunci : Ketersediaan Fasilitas belajar di sekolah, motivasi belajar siswa, Prestasi belajar Pendidikan merupakan sesuatu yang penting dan dianggap paling utama dalam kehidupan manusia dan dapat memberi bekal hidup kepada peserta didik dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebagai tempat proses belajar mengajar, sekolah harus menyediakan fasilitas belajar di sekolah yang menunjang untuk belangsungnya proses belajar tersebut. Fasilitas belajar yang lengkap dapat memunculkan motivasi dalam melakukan aktivitas belajar yang pada akhirnya akan menentukan keberhasilan belajar siswa, sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan belajar siswa tidak hanya ditentukan fasilitas belajar yang lengkap tetapi juga motivasi belajar yang besar dari siswa itu sendiri. Berdasarkan paparan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh ketersediaan fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 2 Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proporsional random sampling. Skala yang digunakan adalah skala likert dengan 4 (empat) alternatif jawaban. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Dari pengolahan data melalui uji hipotesis dapat diketahui bahwa pada variabel ketersediaan fasilitas belajar di sekolah (X1) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Pada variabel motivasi belajar siswa juga terdapat pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar. Sedangkan berdasarkan dari nilai Fhitung (15,870) dan tingkat sig.(0,000) < (0,05). Jadi secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara ketersediaan fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,328 atau sebesar 32,8% yang berarti bahwa 32,8% prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas belajar di sekolah dan motivasi belajar siswa. Sedangkan sisanya sebesar 67,2% dipengaruhi oleh faktor –faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Saran dalam penelitian ini adalah: (1) Pihak sekolah hendaknya meningkatkan fasilitas belajar di sekolah. (2) guru hendaknya memberikan bimbingan dan motivasi kepada anak didiknya agar lebih memanfaatkan fasilitas belajar yang tersedia di sekolah. (3) Siswa hendaknya dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia di sekolah dan meningkatkan motivasi belajarnya. (4) Bagi peneliti lain disarankan menggunakan wilayah populasi dan sampel yang lebih luas.

Pengembangan paket pelatihan manajemen konflik bagi siswa SMA Negeri I Kalianget / Fakhrudin Mutakin

 

Kata Kunci : paket pelatihan, manajemen konflik, siswa SMA Konflik merupakan gejala yang wajar dan bisa muncul dalam segala situasi dalam kehidupan manusia. Konflik dapat terjadi antara individu, antar kelompok, atau organisasi. Sebagian besar konflik-konflik tersebut menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, baik harta maupun nyawa. Tidak heran jika selama ini konflik banyak dihubungkan dengan agresi. Berbagai bentuk agresivitas seperti penyerangan, perkelahian, bahkan pembunuhan yang dilakukan selama terjadi konflik sebenarnya merupakan satu dari sekian strategi untuk memenangkan perselisihan. Masih terdapat alternatif lain yang dapat dilakukan untuk mendapatkan apa yang diinginkan tanpa saling melukai. Disinilah letal perbedaan antara konflik dan agresi. Konflik tidak selalu menghasilkan kerugian tetapi dapat juga membawa dampak yang konstruktif bagi pihak-pihak yang terlibat. Bagi remaja, mereka merasa banyak sekali mengalami masalah dan sukar untuk diselesaikan. Selain itu mereka juga sering mengalami konflik baik dari dalam dirinya sendiri, dengan teman sebaya, dengan keluarga ataupun dengan guru-gurunya di sekolah. Dan sebagian besar remaja masih belum dapat menyelesaikan konfliknya sendiri. Dalam penyelesaian konflik-konflik yang dialaminya, remaja lebih banyak menghadapi konflik yang mereka alami dengan cara-cara yang lebih destruktif. Dengan cara yang seperti itu, konflik yang mereka alami terkadang malah semakin meluas dan tajam. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar remaja atau anak pada masa SMA kurang memiliki keterampilan memanajemen konflik. Terkait dengan kebutuhan siswa tersebut dalam menghadapi konflik, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan konselor untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui pelatihan manajemen konflik yang didukung penggunaan salah satu media, yaitu dengan dikembangkannya paket pelatihan manajemen konflik bagi siswa SMA. Namun, B&K di SMA Negeri 1 Kalianget belum memiliki paket pelatihan manajemen konflik yang bermanfaat,mudah, tepat, dan menarik bagi siswa SMA. Pengmbangan ini bertujuan untuk menghasilkan seperangkat Paket Pelatihan Manajemen Konflik bagi Siswa SMA beserta panduan pelaksanaan pelatihannya yang dapat diterima secara teoritis dan praktis. Produk pengmbangan yang dihasilkan terdiri atas dua jenis, yaitu (1) paket pelatihan manajemen konflik bagi siswa SMA panduan untuk konselor (2) paket pelatihan manajemen konflik bagi siswa SMA panduan untuk siswa. Pengembangan paket pelatihan manajemen konflik diadaptasi dari langkah-langkah strategi pengembangan Research and Development (R&D) Borg and Gall (1983), yaitu: 1) melakukan penilaian kebutuhan (need assessment), 2) analisis data dan penetapan prioritas kebutuhan, 3) merumuskan tujuan paket pelatihan, 4) menyusun prototipe paket pelatihan, 5) penilaian produk oleh ahli, 6) revisi produk dari uji ahli, 7) hasil draf, 8) penilaian produk oleh calon pengguna produk, 9) revisi produk dari calon pengguna produk, 10) produk akhir paket pelatihan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah uji ahli dan calon pengguna produk. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis bersifat kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa paket pelatihan manajemen bagi siswa SMA menurut ahli materi adalah berguna, mudah, tepat, sangat menarik, sedangkan menurut calon pengguna produk paket pelatihan manajemen konflik ini adalah berguna, mudah, tepat dan sangat menarik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka saran yang diajukan adalah (1) konselor diharapkan dapat menggunakan paket pelatihan manajemen konflik bagi siswa SMA dalam hal pemberian layanan bimbingan pribadi sosial. (2)Konselor disarankan untuk meminta bantuan konselor pendamping apabila dimungkinkan kelas pelatihan yang cukup besar. (3) konselor disarankan melengkapi penjelasan uraian materi dengan tambahan media yang lain dalam praktik pelaksanaan paket pelatihan manajemen konflik bagi siswa SMA.

Model matematika jam air jenis polyvascular clepsydra dengan kasus viscosity dominated / Eko Purwadi

 

Kata Kunci: polyvascular clepsidra, viscosity dominated, inviscid, aliran konstan. Jam air jenis Polyvascular Clepsidra, tersusun dari serangkaian bejana yang mengalirkan air dari bejana satu ke bejana lainnya dengan dilengkapi satu bejana penampung yang berfungsi sebagai pengukur waktu. Pada setiap bejana terdapat sebuah pipa yang mengalirkan aliran air dari bejana satu ke bejana lainnya. Aliran air yang mengalir pada sebuah pipa dibagi menjadi dua kasus, yaitu untuk pipa berdiameter kecil (viscosity dominated) dan pipa berdiameter besar (nviscid). Selain berfungsi sebagai penunjuk waktu, prinsip kerja jam air jenis Polyvascular Clepsidra dapat digunakan dalam kehidupan nyata, contohnya seperti dalam pengisian air minum yang susunan bejananya menggunakan prinsip kerja jam air tersebut. Prinsip kerja polyvascular clepsydra adalah membuat aliran air pada bejana terakhir konstan. Hal ini akan diperoleh apabila ketinggian air pada bejana terakhir konstan. Model matematika yang diperoleh dari jam air tersebut adalah untuk bejana pertama , dan untuk bejana ke-N Persamaan yang pertama menjelaskan bahwa pada bejana pertama tidak ada aliran air yang masuk ke bejana tersebut, sedangkan untuk persamaan kedua terdapat aliran air yang masuk ke bejana dua. Berdasarkan hasil pembahasan tentang model matematika untuk jam air jenis polyvascular clepsydra, diperoleh bahwa lama laju aliran konstan pada bejana terakhir adalah hingga sedangkan untuk setelah itu aliran tidak konstan lagi, dan bahwa model matematika dari Polyvascular Clepsidra dengan kasus Viscosity Dominated tersebut adalah stabi

Pengaruh penggunaan pembelajaran kooperatif model two stay two stray terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Sukomoro Nganjuk / Sevita Megasanti

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Two Stay Two Stray, Hasil Belajar. Pembelajaran Kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelompok yang terdiri dari 2 orang atau lebih dengan unsur-unsur saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota, dan adanya evaluasi proses kelompok. Two Stay Two Stray merupakan model pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok dengan anggota berjumlah 4 orang yang dalam pelaksanaannya dua orang bertindak sebagai tamu dan dua orang sebagai penerima tamu. Dalam model pembelajaran ini siswa dapat saling berbagi informasi dengan kelompok lain yaitu melalui kegiatan bertamu dan menerima tamu. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen, yaitu penelitian yang bertujuan membandingkan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray dan siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IS SMAN 1 Sukomoro Nganjuk Tahun Ajaran 2010/2011. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan soal tes hasil belajar, yang diuji dengan uji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis menggunakan uji t pada taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa rata-rata kemampuan awal siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah sama. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,907lebih besar dari 0,05 dan t hitung 0,118 lebih kecil dari t tabel 1,989. Sedangkan rata-rata kemampuan akhir siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak sama. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 dan t hitung 4,868 lebih besar dari t tabel 1,989. Pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray mempunyai hubungan yang positif signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas XI IS pada mata pelajaran Ekonomi di SMAN 1 Sukomoro Nganjuk. Hal ini dapat dilihat dari uji t gain score dengan nilai signifikansi 0,013 lebih kecil dari α 0,05 dan t hitung 2,533 lebih besar dari t tabel 1,989. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray berpengaruh secara positif signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas XI IS pada mata pelajaran Ekonomi di SMAN 1 Sukomoro Nganjuk. Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah (1) Sekolah diharapkan lebih meningkatkan mutu pendidikan melalui pemberian standarisasi RPP dengan model pembelajaran yang bervariasi misalnya dengan model-model dalam metode pembelajaran kooperatif, (2) Guru diharapkan dapat memberikan variasi model pembelajaran, misalnya dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray sehingga siswa dapat belajar lebih baik serta tidak bosan dan selalu memiliki semangat yang tinggi untuk belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, (3) Peneliti lain diharapkan apabila akan melakukan penelitian yang serupa perlu memperhatikan masalah jumlah siswa. Dengan jumlah siswa yang sama akan memudahkan peneliti untuk menghitung rata-rata kemampuan siswa, sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.

Survei tentang aspek evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan SMP negeri se-kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun semester genap tahun 2009/2010 / Eko Rido Waskito

 

Kata kunci: Evaluasi, guru penjaskes, kriteria evaluasi Kriteria penilaian penjaskes mencakup aspek psikomotor, afektif, kognitif dan fisik. Dalam melakukan evaluasi bobot dan persentase yang diberikan guru pendidikan jasmani dan kesehatan berbeda-beda dalam menentukan aspek penilaian. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah materi pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan yang ada di KTSP dilaksanakan oleh guru pendidikan jasmani dan kesehatan SMP se-Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Apakah aspek psikomotorik, afektif, kognitif dan fisik dilaksanakan dalam evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan oleh guru pendidikan jasmani dan kesehatan di SMP Negeri se-Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun semester genap 2009/2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah guru pendidikan jasmani dan kesehatan sudah menggunakan standar kompetensi materi pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan sesuai dengan KTSP. Serta untuk mengetahui apakah aspek psikomotorik, afektif, kognitif dan fisik digunakan dalam evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan oleh guru pendidikan jasmani dan kesehatan di SMP Negeri se-Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun semester genap 2009/2010. Penelitan ini merupakan penelitian diskriptif. Subyek penelitian ini terdiri dari 6 guru yang mengajar mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di SMP Negeri se-Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek angket. Hasil penelitian ini berupa materi pendidikan jasmani dan kesehatan yang diajarkan sesuai dengan isi KTSP meskipun tidak semuanya dilaksanakan dari 6 guru. Dari semua aspek yang dievaluasi aspek psikomotor 66,037% dari materi keseluruhan, aspek afektif 0% aspek kognitif 6,77% dan aspek fisik 50%. Sedangkan aspek evaluasi sub materi pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan aspek psikomotor yang baru dilakukan adalah 49,019% dari materi keseluruhan aspek afektif 0% aspek kognitif 2,77% aspek fisik 29,62% dari 6 responden yang mengajar di kelas VII dan VIII. Kesimpulan penelitian ini adalah enam guru yang mengajar materi pendidikan jasmani dan kesehatan tidak menggunakan semua materi yang ada di dalam KTSP untuk kelas tujuh dan delapan secara maksimal. Untuk evaluasi aspek psikomotorik, afektif, kognitif dan fisik masih kurang dalam prakteknya. Dari ketiga SMP Negeri se-Kecamatan Dolopo aspek psikomotorik dan fisik lebih dominan sedangkan aspek afektif dan kognitif masih kurang dalam melakukan evaluasi. Saran bagi guru pendidikan jasmani dan kesehatan harus memperhatikan semua aspek dalam melakukan evaluasi. Tetapi dalam pemberian persentase penilaian harus berbeda karena dalam mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan aspek psikomotor lebih diutamakan tetapi tidak meninggalkan aspek afektif, kognitif dan aspek fisik. Berdasarkan hasil penelitian maka aspek afektif perlu ditingkatkan karena dapat melatih kepribadian dan sikap siswa sehingga siswa dapat bersosialisasi dengan baik dan memtuhi peraturan yang ada di masyarakat. Aspek kognitif juga penting karena selain melakukan praktek siswa juga mengetahui pengetahuan yang luas tentang macam-macam olahraga mulai dari sejarah peraturan dan lain-lain. Aspek fisik juga penting karena aktivitas tersebut bermanfaat untuk menjaga kebugaran fisik siswa dalam melakukan aktivitas pembelajaran pendidikan jasmani.

Partisipasi mahasiswa dalam pemilihan umum raya BEM-FA pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang / Wikan Sasmita

 

Kata kunci: partisipasi mahasiswa, pemilihan umum raya BEM-FA, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang berdiri pada tanggal 17 Agustus 2009 berdasarkan keputusan Rektor Universitas Negeri Malang No. 047/KEP/H32/OT/2009. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang terdiri dari 3 jurusan yaitu: (1) Jurusan sejarah, (2) Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, dan (3) Jurusan Geografi. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas merupakan suatau organisasi pemerintahan mahasiswa di tingkat fakultas yang bertugas; (1) mengkomunikasikan dan menginformasikan kegiatan mahasiswa di tingkat fakultas, (2) melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan OPM FIS UM, (3) menjabarkan dan melaksanakan Garis-garis Besar Program Kerja (GBPK) dalam bentuk program kerja. Begitu pentingnya Organisasi Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang sebagai penyalur aspirasi mahasiswa dengan pihak fakultas yang dijalankan oleh seorang ketua BEM-FA nantinya, maka diperlukan suatu Pemilihan Umum Raya BEM-FA untuk memilih ketua BEM-FA. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengetahui partisipasi mahasiswa dalam pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM; (2) menjelaskan faktor-faktor pendorong partisipasi mahasiswa dalam Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM; (3) menjelaskan faktor-faktor penghambat partisipasi mahasiswa dalam Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian di FIS UM jalan semarang No. 5 Malang. Sumber data dalam penelitian ini adalah mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan metode angket. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Mahasiswa FIS UM dari angkatan tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 yang terdiri dari jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, jurusan Sejarah, dan jurusan Geografi yang berjumlah 1086 mahasiswa. Pengambilan sampel menggunakan proporsional stratified random sampling dengan kriteria sample sebesar 10% dari jumlah populasi yaitu sebanyak 109 mahasiswa. Prosedur analisis data menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dengan mencari persentase dari hasil jawaban angket. Hasil penelitian menunjukkan tentang partisipasi mahasiwa dalam Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM: sebesar 80,7% mahasiswa menggunakan hak pilih; sebesar 11% mahasiswa pernah menjadi tim sukses (membantu kampanye); sebesar 2,7% mahasiswa menggunakan hak dipilih; sebesar 83,5% mahasiswa membaca media kampanye (pamflet, baliho, leaflet,spanduk) melihat poster calon ketua BEM-FA; sebesar 30,3% mahasiswa mengikuti visi misi calon ketua BEM-FA; sebesar 31,2% mahasiswa mencari informasi secara informal mengenai calon ketua BEM-FA; sebesar 7,4% mahasiswa menjadi anggota panitia penyelenggaran Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM; sebesar 4,6% mahasiswa menjadi pengawas Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM. Faktor pendorong partisipasi mahasiswa dalam Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM: sebesar 56,9% mahasiswa tertarik dengan media kampanye dan metode kampanye para calon ketua BEM-FA; sebesar 44,9% mahasiswa tertarik dengan promosi Pemilihan Umum Raya oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memilih calon ketua BEM-FA; sebesar 74,3% mahasiswa tertarik akan kemenarikan tokoh dan visi misi calon ketua BEM-FA; sebesar 54,7% dan 45,3% mahasiswa berada pada semester 3 (tiga) dan 5 (lima) yang merupakan faktor pendorong partisipasi mahasiswa dalam Pemilihan Umum Raya BEM-FA; sebesar 8,3% mahasiswa mempunyai kesamaan ras etnik atau suku dengan calon ketua BEM-FA yang di pilih; sebesar 47,7% mahasiswa mempunyai kesamaan agama dengan calon ketua BEM-FA yang di pilih; sebesar 92,7% mahasiswa merasa diberi kebebasan untuk menggunakan hak pilih; sebesar 67,9% mahasiswa merasa diberi kebebasan untuk mencalonkan sebagai calon ketua BEM-FA. Faktor penghambat partisipasi mahasiswa dalam Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada FIS UM: sebesar 6,4% mahasiswa tidak dapat melaksanakan tanggungjawab dalam menggunakan hak pilih dan hak di pilih karena ada isu-isu negatif tentang Pemilihan Umum Raya BEM-FA; sebesar 35,8% mahasiswa beranggapan bahwa Pemilihan Umum Raya BEM-FA diselenggarakan dengan bersih, jujur dan adil serta transparan; sebesar 33% mahasiswa beranggapan bahwa panitia penyelenggara Pemilihan Umum Raya BEM-FA dapat dipercaya; sebesar 73,4% mahasiswa beranggapan bahwa calon ketua BEM FIS UM tidak dapat dipercaya; sebesar 20,2% mahasiswa beranggapan bahwa KPU FIS UM melakukan manipulasi data pemilihan umum dan tidak transparan dalam perhitungan; sebesar 16,5% mahasiswa merasa terasing dengan mahasiswa lain dan merasa asing dengan kehidupan (lingkungan) kampus, karena aspirasi tidak disalurkan oleh BEM-FA; sebesar 20,2% mahasiswa merasa diperlakukan tidak adil oleh KPU Fakultas dalam hal penggunaan hak pilih dan pengajuan calon ketua BEM-FA; sebesar 9,2% mahasiswa merasa tidak dipedulikan oleh KPU Fakultas dalam hal pengajuan calon ketua BEM-FA. Dari hasil penelitian ini disarankan agar mahasiswa FIS UM: (1) menggunakan hak pilih dan hak dipilih dengan baik; (2) mengikuti kampanye para calon ketua BEM-FA dengan baik; (3) mencalonkan menjadi panitia penyelenggara dan mencalonkan menjadi pengawas Pemilihan Umum Raya Fakultas di bursa perekrutan anggota; (4) tidak tertipu dengan rangsangan politik media kampanye, metode kampanye, dan promosi tentang Pemilu Raya yang menyesatkan; (5) peduli dan berpartisipasi dengan baik dalam Kegiatan Pemilihan Umum Raya BEM-FA pada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang.

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik guru terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran akuntansi di SMAN 1 Karangan Trenggalek / Fironike Primata Dhaniyanti

 

Kata Kunci: Persepsi, Kompetensi Profesional Guru, Kompetensi Pedagogik Guru, Motivasi Belajar, Prestasi Belajar. Kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. Kompetensi guru diantaranya adalah kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh: (1) kompetensi profesional guru terhadap motivasi belajar siswa, (2) kompetensi pedagogik guru terhadap motivasi belajar siswa, (3) motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa, (4) kompetensi profesional guru terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa, (5) kompetensi pedagogik guru terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Karangan sebanyak 150 siswa. Teknik pengambilan sampel adalah teknik (proportional random sampling) sehingga diperoleh sampel berjumlah 45 siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kompetensi profesional guru, kompetensi pedagogik guru, variabel interveningnya adalah motivasi belajar, dan variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis jalur (path analysis). Analisis data dengan path analysis yang dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows 16. Hasil penelitian yang diperoleh: (1) terdapat pengaruh positif signifikan kompetensi profesional guru terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Karangan sebesar 0,345, (2) terdapat pengaruh positif signifikan kompetensi pedagogik guru terhadap motivasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Karangan sebesar 0,497, (3) terdapat pengaruh positif signifikan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Karangan sebesar 0,375, (4) terdapat pengaruh tidak langsung yang positif signifikan kompetensi profesional terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Karangan sebesar 0,133, (5) terdapat pengaruh tidak langsung kompetensi pedagogik guru terhadap prestasi belajar melalui motivasi belajar siswa kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Karangan sebesar 0,186. Disarankan kepada: (1) pihak kepala sekolah agar tetap memberikan pengawasan dan pembinaan terhadap guru (2) pihak guru lebih meningkatkan kompetensinya sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa, (3) untuk siswa diharapkan lebih meningkatkan motivasi dan prestasi belajar dengan baik, (4) penelitian selanjutnya agar melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

Pengembangan media video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli untuk mahasiswa Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang angkatan 2006 / Ahmad Mutaslim

 

Kata kunci: video pembelajaran, signal-signal perwasitan bolavoli. Wasit adalah seseorang yang memimpin jalannya pertandingan mulai dari awal hingga berakhirnya suatu pertandingan. Syarat untuk menjadi seorang wasit bolavoli yang terampil dan profesional seorang wasit harus memenuhi keriteria sebagai beikut: (1) sehat jasmani dan rohani, (2) memiliki sikap adil dan objektif dalam mengambil keputusan, (3) menguasai peraturan-peraturan perwasitan bola-voli, (4) menguasai isyarat-isyarat/signal-signal perwasitan bolavoli. Isyarat-isyarat/signal-signal perwasitan bolavoli merupakan salah satu materi dalam mata kuliah keahlian berkarya teori dan praktek bolavoli II, yang wajib ditempuh oleh setiap Mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Dari data analisis kebutuhan yang diperoleh peneliti yaitu, 75% mahasiswa dalam mempelajari signal-signal perwasitan bolavoli kurang menguasai 10% me-nguasai dan 15% tidak menguasai. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dian-taranya yaitu keterbatasan waktu belajar dan kurangnya variasi media belajar yang digunakan oleh mahasiswa dalam mempelajari signal-signal perwasitan bolavoli. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Proses pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli dalam mata kuliah teori dan praktek bolavoli II bagi mahasiswa angkatan 2006 yang sudah menempuh mata kuliah teori dan praktek bolavoli II diperlukan media pembelajaran yang baik dan tepat. Dengan media pembelajaran yang baik dan tepat dapat membantu mahasiswa dalam kegiatan belajar. Sehingga tujuan pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli yang telah ditetapkan dapat dicapai secara maksimal. Media pembelajaran yang dianggap paling baik dan tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli. (2) Dalam pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli mahasiswa hanya mendapat materi tersebut satu kali dalam seminggu, sehingga frekuensi waktu belajar mahasiswa sangat kurang dan media belajar yang digunakan hanya menggunakan buku. dengan media video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli diharapkan dapat menambah frekuensi waktu belajar bagi mahasiswa karena media video dapat dijadikan sebagai media belajar mandiri bagi mahasiswa dan juga untuk menambah variasi media belajar bagi mahasiswa. Tujuan pengembangan ini adalah (1) Menyusun skrip video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli untuk Mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Ke-sehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang angkatan 2006 yang telah menempuh Mata kuliah Teori dan Praktek bolavoli II berdasarkan hasil konsultasi terhadap para ahli dan juga dari analisis kebutuhan. (2) Mengembangkan video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli untuk Mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang angkatan 2006 yang telah menempuh Mata kuliah Teori dan Praktek bolavoli II. Metode pengembangan dalam penelitian ini menggunakan Research and Development yang dikemukakan oleh Borg dan Gall, yang telah dimodifikasi oleh peneliti. Prosedur penelitian pengembangannya adalah sebagai berikut: (1) Melakukan penelitian pendahuluan dengan analisis kebutuhan. (2) Merencanakan pengembangan. (3) Mengembangkan bentuk produk awal. (4) Melakukan uji coba produk yaitu uji coba para ahli dan uji coba tahap I (kelompok kecil). (5) Melakukan revisi produk sesuai dengan hasil tinjauan para ahli dan uji coba tahap I (kelompok kecil). (6) Melakukan uji coba tahap II (kelompok besar). (7) Melakukan revisi produk sesuai dengan hasil uji coba tahap II (kelompok besar). (8) Mengkaji produk yang telah direvisi. Pengumpulan data untuk data evaluasi ahli berupa kuesioner untuk: (1) dua orang wasit bolavoli nasional. (2) dua orang ahli media dan (3) satu ahli pem-belajaran pendidikan jasmani. Untuk mendapatkan data uji coba kelompok kecil subyeknya 15 mahasiswa dan uji coba kelompok besar subyeknya 30 mahasiswa, peneliti menggunakan metode pengumpulan data berupa instrumen yang disajikan dalam bentuk kuesioner/angket. Pada pengembangan video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli teknik yang digunakan untuk mengolah data hasil pe-nelitian adalah teknik persentase. Hasil penelitian pengembangan video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli diperoleh hasil sebagai berikut: (1) wasit bolavoli yaitu 97.9% (valid). (2) ahli media yaitu 94.7% (valid). (3) ahli pembelajaran pendidikan jasmani yaitu 90% (valid). (4) uji coba tahap I (kelompok kecil) yaitu 96.16% (valid). (5) uji coba tahap II (kelompok besar) yaitu 99.39% (valid). Kesimpulan dari penelitian pengembangan video pembelajaran signal-signal perwasitan bolavoli adalah Produk ini berisikan tentang signal-signal perwasitan bolavoli yang berisikan 25 signal yang digunakan oleh wasit I Serta 12 signal yang digunakan oleh wasit II dilanjutkan dengan lima signal bendera yang digunakan oleh hakim garis. Serta penggunaan signal-signal perwasitan bolavoli dalam suatu permainan baik yang digunakan oleh wasit I, wasit II dan hakim garis beserta contoh-contoh dalam suatu permainan.

Pengaruh cash, long term liability dan investment opportunity terhadap capital expenditure (studi empiris pada perusahaan food and beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2006-2008) / Widya Kharisma Iswardhana

 

Kata kunci : cash, long term liability, investment opportunity, capital expenditure, pecking order theory. Capital expenditure adalah salah satu bagian dari investasi yang sangat penting dalam perusahaan. Capital expenditure terkadang dikaitkan dengan kinerja perusahaan, karena diharapkan semakin tinggi capital expenditure maka semakin baik pula kinerja keuangan perusahaan tersebut. Dana yang diperlukan untuk capital expenditure berasal dari berbagai sumber baik internal maupun eksternal. Alternatif pembiayaan internal adalah penggunaan saldo laba perusahaan sedangkan alternatif pembiayaan eksternal adalah melalui hutang dan melalui penerbitan saham. Tujuan penelitian ini adalah menguji sejauh mana capital expenditure dipengaruhi oleh cash, long term liability dan investment opportunity. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang didapat dari data sekunder berupa jumlah ketersediaan kas, hutang jangka panjang, nilai kesempatan investasi dan jumlah pengeluaran modal suatu perusahaan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan food and beverages yang listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006-2008 dan sampel yang diambil sesuai dengan kriteria yang digunakan dalam purposive sampling. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksplanasi karena disesuaikan dengan rumusan hipotesis yang menduga bahwa cash long term liability dan invesment opportunity berpengaruh terhadap capital expenditure. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan pengujian hipotesis secara parsial dan simultan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif signifikan dalam variabel cash, long term liability dan invesment opportunity terhadap capital expenditure, baik secara parsial maupun simultan. Jumlah kas dan hutang jangka panjang sebagai sumber pembiayaan internal dan eksternal dalam suatu perusahaan akan menyebabkan usaha monitoring pendanaan modal suatu perusahaan lebih meningkat, serta semakin besar kesempatan investasi yang menguntungkan suatu perusahaan akan semakin besar capital expenditure yang akan dikeluarkan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar penelitian selanjutnya dalam melakukan pengukuran capital expenditure hendaknya tidak hanya berdasarkan pada nilai buku aktiva tetap awal dan akhir periode tetapi juga memperhatikan ada tidaknya pelepasan aktiva tetap selama periode tersebut.

Hubungan antara pola asuh orang tua dengan motivasi aktivitas pembelajaran di kelompok bermain yang menerapkan pembelajaran BCCT (studi di kelompok bermain Al-Ghoniyah Kota Malang) / Faizal Kurniawan

 

Kata kunci: pola asuh orang tua, motivasi aktivitas pembelajaran Untuk menumbuhkan motivasi aktivitas pembelajaran, pola asuh dari orang tua juga sangat menentukan, dan apabila anak usia dini termotivasi dirinya untuk belajar, maka proses pembelajaran akan dapat berlangsung dengan baik. Pengasuhan orang tua kepada anak merupakan bentuk interaksi langsung. Pengasuhan meliputi mendidik, membimbing, merawat, dan menjaga. Pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor penunjang motivasi aktivitas pembelajaran anak. Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Bermain Al-Ghoniyah Malang yang bertujuan untuk mengetahui: (1) pola asuh orang tua di Kelompok Bermain Al-Ghoniyah Malang, (2) motivasi aktivitas pembelajaran di Kelompok Bermain Al-Ghoniyah Malang, dan (3) hubungan antara pola asuh orang tua dengan motivasi aktivitas pembelajaran di Kelompok Bermain Al-Ghoniyah Malang. Rancangan penelitian ini bersifat deskrptif korelasional. Mengingat penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum pola asuh orang tua dengan motivasi aktivitas pembelajaran, maka penelitian ini menggunakan analisis multiple regretion yang tujuannya untuk mengetahui hubungan antara pola asuh orang tua dengan motivasi aktivitas pembelajaran di Kelompok Bermain Al-Ghoniyah Malang. Jumlah keseluruhan populasi dalam penelitian ini adalah 50 yang terdiri atas 25 orang tua dan 25 pendidik. 25 orang tua wali murid diambil dari random 15% dari total keseluran populasi wali murid 168 orang. Istrumen pengumpulan data berupa angket/kuesioner. Teknik analisis data menggunakan analisis prosentase dan multiple regretion. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kajian pola asuh otoriter sebagian besar responden menjawab tidak pernah menerapkan (39,5%), pada pola asuh permisif, sebagian besar responden menjawab tidak pernah menerapkan (38%), pada pola asuh demokratis sebagian besar responden menjawab selalu menerapkan (69%), serta pada pola asuh situasional sebagian besar responden menjawab sering menerapkan (36%). Sedangkan untuk motivasi aktivitas pembelajaran diketahui dari pendidik di Kelompok Bermain Al-Ghoniyah Malang. Dari hasil penelitian diketahui 52% anak didik sering termotivasi diri untuk mengikuti aktivitas pembelajaran. Analisis yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dengan motivasi aktivitas pembelajaran. Hal ini terbukti bahwa pola asuh mempengaruhi motivasi anak didik dalam f hitung lebih besar dari f tabel 4.362>2.87. Pada analisis pola asuh orang tua terhadap motivasi aktivitas pembelajaran diketahui F hit > F tabel = 4.362 > 2.87 maka dapat dikatakan bahwa pola asuh berpengaruh secara nyata terhadap motivasi aktivitas pembelajaran. Pada pola asuh otoriter diketahui t hit < - t tabel = -2.145 > -2.064 maka dapat dikatakan bahwa pola asuh otoriter berpengaruh terhadap motivasi aktivitas pembelajaran. Hasil analisis pada pola asuh permisif diketahui t hit > + t tabel = 2.758 > 2.064 maka dapat dikatakan bahwa pola asuh permisif berpengaruh terhadap motivasi aktivitas pembelajaran. Hasil analisis pada pola asuh demokratis diketahui t hit > + t tabel = 2.064 >1.993 maka dapat dikatakan bahwa pola asuh demokratis berpengaruh terhadap motivasi aktivitas pembelajaran. Pada hasil analisis pola asuh situasional diketahui t hit > + t tabel = 2.064 > 0.214 maka dapat dikatakan bahwa pola asuh situasional berpengaruh terhadap motivasi aktivitas pembelajaran Berdasarkan penelitian ini dapat dikatakan bahwa pola asuh demokratis sangat berpengaruh dalam pembentukan motivasi aktivitas pembelajaran dengan nilai 0.587 terbesar diantara variabel yang lain. Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang paling sering diterapkan di Kelompok Bermain Al-Ghoniyah Kota Malang. Hal ini terbukti dengan motivasi peserta didik untuk mengikuti aktivitas pembelajaran sangat tinggi. Orang tua peserta didik disarankan untuk menerapkan pola asuh demokratis guna menumbuhkan motivasi aktivitas pembelajaran peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran di kelompok bermain.

Hubungan antara persepsi tentang kecakapan hidup (life skills) dengan prestasi belajar siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen / Surya Adi Wijaya

 

Kata kunci: kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan vokasional, kecakapan akademik, prestasi belajar Kecakapan hidup adalah kemampuan dan keberanian untuk menghadapi problema kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Kecakapan hidup terdiri dari (1) kecakapan personal, (2) kecakapan sosial, (3) kecakapan vokasional, dan (4) kecakapan akademik. Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan untuk hidup, memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk memperoleh bekal keterampilan atau keahlian yang dapat dijadikan sebagai sumber penghidupannya. Siswa akan mengerti pentingnya kecakapan hidup kalau diberikan pengarahan akan pentingnya memiliki kecakapan hidup untuk dapat bersaing di dunia kerja. SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen merupakan sekolah yang memberikan pendidikan kecakapan hidup dan rata-rata memiliki nilai yang dapat dikatakan cukup tinggi. Semua itu tidak lepas dari peran serta guru dalam memberikan pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup. Berbagai macam pendidikan kecakapan hidup telah diberikan oleh SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen untuk mendongkrak prestasi belajar siswa agar lebih meningkat. Persepsi siswa terhadap kecakapan hidup sangatlah penting untuk peningkatan prestasi belajar. Apabila siswa mengetahui pentingnya kecakapan hidup maka besar kemungkinan prestasi belajarnya cenderung baik, begitu pula sebaliknya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional yaitu penelitian yang bertujuan untuk memperoleh deskripsi dan untuk menemukan ada tidaknya suatu hubungan tentang variabel-variabel yang sudah ditentukan sebelumnya. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa program keahlian pemesinan SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen sebanyak 145 siswa dan digunakan sebagai sampel sebanyak 60 siswa dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan yakni proportionate random sampling. Analisis untuk mencari hubungan secara parsial persepsi siswa terhadap kecakapan personal (X1), persepsi siswa terhadap kecakapan sosial (X2), persepsi terhadap kecakapan hidup vokasional (X3), persepsi terhadap kecakapan akademik (X4), dengan prestasi belajar (Y), dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.00 For Windows. Dari hasil penelitian ini diketahui: (1) Persepsi siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen terhadap kecakapan personal memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar dengan nilai sig t (0,026) < α(0,05) dan thitung = 2,293 > ttabel = 2,000. (2) Persepsi siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen terhadap kecakapan Sosial memiliki hubungan yang signifikan dengan Prestasi Belajar dengan nilai sig t (0,001) < α(0,05) dan thitung = 3,667 > ttabel = 2,000. (3) Persepsi siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen terhadap kecakapan Vokasional memiliki hubungan yang signifikan dengan Prestasi Belajar dengan nilai sig t (0,003) < α(0,05) dan thitung = 3,053 > ttabel = 2,000 (4) Persepsi siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen terhadap kecakapan personal memiliki hubungan yang signifikan dengan Prestasi Belajar dengan nilai sig t (0,017) < α(0,05) dan thitung = 2,464 > ttabel = 2,000. Kesimpulan yang dapat ditarik dari skripsi ini yaitu siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen memiliki persepsi terhadap kecakapan hidup personal, sosial, vokasional, dan akademik yang tergolong tinggi. Selain itu, dari hasil regresi, didapatkan ada hubungan yang signifikan antara persepsi siswa tentang kecakapan personal, sosial, vokasional, dan akademik dengan prestasi belajar siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Dari penelitian ini dapat disarankan: (1) Kepada kepala sekolah agar lebih mensosialisasikan kepada guru supaya mengajarkan pendidikan berbasis kecakapan hidup kepada siswa. (2) Kepada guru supaya meberikan pendidikan berbasis kecakapan hidup dan lebih banyak memberikan pengarahan mengenai dunia kerja. (3) Kepada orang tua hendaknya bisa memberikan pengarahan kepada anak agar mengerti akan pentingnya kecakapan hidup untuk menghadapi masa depan yang lebih baik.

Implementasi kurikulum satuan pendidikan (KTSP) pada Jurusan Usaha Jasa Boga mata diklat produktif di SMK Negeri 6 Yogyakarta / Purnanda Triandini

 

Analisis kinerja keuangan Kabupaten Sidoarjo sebelum dan sesudah terjadi fenomena lumpur Lapindo (tahun analisis 2002-2009) / Nur Indah Isro' Ifah

 

Kata kunci: Kinerja Keuangan, Fenomena Lumpur Lapindo Kabupaten Sidoarjo memiliki kesempatan untuk mengelola, mengembangkan, dan membangun daerah sesuai kebutuhan dan potensi yang dimilikinya dimana telah terjadi suatu bencana dan bulan Mei adalah bulan yang bersejarah bagi negeri ini, khususnya bagi warga Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Dimana tepatnya pada tanggal 26 Mei 2006, telah terjadi luapan lumpur lapindo yang menghancurkan wilayah Porong, Sidoarjo. Kejadian ini berawal dari kebocoran pipa gas milik PT Lapindo Brantas di lokasi pengeboran Sumur Banjarpanji-1, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Semburan lumpur Lapindo sudah berlangsung hampir 4 tahun dimana hingga saat ini semburan lumpur lapindo tidak dapat di hentikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan derajat desentralisasi fiskal (tingkat kemandirian daerah) sebelum dan sesudah terjadi fenomena lumpur lapindo di Kabupaten Sidoarjo, dan sektor- sektor ekonomi yang mengalami peningkatan dan penurunan di Kabupaten Sidoarjo sebelum dan sesudah terjadi fenomena lumpur lapindo. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantatif. Peneliti menggali data dari Dinas Pendapatan Daerah(Dispenda) Kabupaten Sidoarjo, Badan Pusat Statistik, kemudian membuat dokumen- dokumen keuangan dan segala informasi mengenai pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahaan milik daerah dan lain-lain PAD yang sah agar dapat dihasilkan penelitian kuantitatif. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tingkat kemandirian Kabupaten Sidoarjo sebelum terjadi lumpur lapindo tahun 2000 sampai dengan tahun 2006 rendah sekali atau berpola hubungan Instruktif sedangkan tingkat kemandirian Kabupaten Sidoarjo sesudah terjadi lumpur lapindo tahun 2007- 2009 masih rendah sekali dimana berpola Instruktif . PAD Kabupaten Sidoarjo mengalami perkembangan setiap tahunnya, akan tetapi tingkat pertumbuhannya setelah terjadi lumpur lapindo mangalami penurunan dimana tingkat pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan dengan sebelum terjadinya lumpur lapindo . Rata-rata perkembangan PAD Kabupaten Sidoarjo yakni 18%. Tingkat Pertumbuhan PDRB Kabupaten Sidoarjo dimana PDRB sektor primer Dari tahun ke tahun mengalami penurunan dimana sebelum dan sesudah terjadi fenomena lumpur lapindo. PDRB sektor sekunder dan sektor tersier dari tahun sebelum dan sesudah terjadi fenomena lumpur lapindo mengalami peningkatan, akan tetapi tingkat pertumbuhannya mengalami penurun setelah terjadi lumpur lapindo jika di bandingkan dengan pertumbuhan yang sebelum terjadi lumpur lapindo,Akan tetapi laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sidoarjo yang selalu meningkat dari tahun ketahun pada periode sebelumnya, masih menyisahkan beberapa permasalahan ekonomi maupun sosial akibat dari musibah yang belum tuntas. sebagaimana kita ketahui bahwa lumpur lapindo sampai saat ini belum bisa teratasi.

Perancangan video company profile Efrat Production Malang / Ramdhani Dwi Cahya Adi

 

Kata Kunci: Perancangan video, Company Profile, EFRAT Production. Semakin tumbuh dan berkembangnya pola pikir masyarakat Kota Malang terhadap trend dan gaya hidup, memicu para pengusaha untuk lebih kreatif dalam mengembangkan bidang usahanya, terlebih dalam usaha mempromosikan dan menjaga loyalitas pelanggannya. Jenis usaha yang bergerak dibidang Entertainment dan Multimedia, merupakan salah satu usaha yang menjanjikan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat akan hiburan sebagai buntuk gaya hidup mereka kini. EFRAT Production adalah salah satunya, sebuah perusahaan yang sudah mendapatkan pengakuan dari pasar, terutama oleh perusahaan-perusahaan besar ternama yang pernah menjadi kliennya. Dalam pelayanannya, EFRAT Production menginginkan suasana yang berbeda pada saat melakukan pendekatan baik itu dengan tujuan pendekatan maupun penawaran, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan latar belakang di atas diperlukan perancangan media yang dianggap efektif dan tepat dalam rangka memecahkan permasalahan tersebut. Perancangan video company profile diyakini tepat sebagai solusinya, disamping itu juga merancang media pendukungnya dengan tetap mempertimbangkan karakteristik audiencenya. Perancangan ini menggunakan metode prosedural yang bersifat deskriptif terhadap perusahaan EFRAT Production. Metode pengumpulan data dilakukan melalui (1) wawancara (2) observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah SWOT (Streght, weakness, Opportunity, Threat) dengan membandingkan data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi yang kemudian ditarik kesimpulan. Adapun fokus penelitian ini yaitu: (1) konsep perancangan Company Profile (2) proses perancangan (3) bentuk perancangan Company Profile. Hasil akhir dari perancangan ini adalah video company profile menampilkan karakter EFRAT Production kepada klien secara personal, dengan spesifikasi utama adalah informasi tentang company profile, beserta keunggulan dan nilai-nilai positif tentang EFRAT Production. Diharapkan dengan pemilihan media video company profile ini mampu meberikan daya tarik pada saat melakukan aktifitas pendekatan, sekaligus meningkatkan jumlah konsumen dan membentuk image positif pada klien. Keterbatasan perancangan ini adalah belum melalui proses uji coba, sehingga untuk mengetahui tingkat keefektifan dari perancangan ini, hendaknya dilakukan uji coba secara langsung kepada target marketnya.

Efektivitas pendekatan problem posing untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan prestasi belajar siswa (studi pada siswa kelas XII Program Keahlian Administrasi Perkantoran SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan) / Nuri Dyah Handaya

 

Kata kunci : Efektivitas pendekatan problem posing, prestasi belajar, kemampuan komunikasi, nilai hasil belajar, respons guru dan siswa. Berdasarkan hasil wawancara pada guru mata pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan bahwa pembelajaran yang dilakukan selama ini ternyata masih didominasi oleh pembelajaran konvensional dan kurang bervariatif. Sehingga mengakibatkan siswa kurang aktif dan kreatif dalam belajar. Pihak sekolah belum mampu untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan memungkinkan siswa berpikir kritis, kreatif, bertanggung jawab, memberi peluang bagi siswa untuk menjelajahi idenya yang imajinatif, serta dapat mengeksplorasi kemampuan komunikasi siswa. Oleh sebab itu perlu adanya sebuah model pembelajaran untuk membangkitkan semangat peserta didik agar aktif dalam proses pembelajaran Mengelola Sistem Kearsipan. Salah satu diantaranya adalah pendekatan problem posing. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan problem posing, 2) Untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan pendekatan problem posing efektif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa yang di tinjau berdasarkan nilai hasil belajar dan kemampuan komunikasi siswa, 3) Untuk mengetahui respons guru pengajar dan siswa terhadap pendekatan problem posing pada mata pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan. Subyek penelitian adalah siswa kelas XII program keahlian APk 2 SMK Muhammadiyah 5 Kapanjen yang berjumlah 38 siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang dirancang dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Data penelitian dikumpulkan melalui 1) wawancara guru, 2) angket siswa, 3) pre-test dan post test, 4) lembar problem posing, 5) observasi kemampuan komunikasi, 6) dokumentasi, 7) observasi pelaksanaan pembelajaran problem posing dan 8) catatan lapangan. Jenis penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus mencakup 4 tahap kegiatan, yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara deskriptif. Pada pelaksanaan tindakan mencakup 5 tahap kegiatan, yaitu: 1) Mendeskripsikan Situasi/Informasi, 2) Mendefinisikan Masalah, 3) Menampilkan Permasalahan, 4) Mendiskusikan Pemecahan Masalah, 5) Mendiskusikan Alternatif Pemecahan Masalah. Dari observasi yang dilakukan oleh kedua observer penelitian ini mengenai kemampuan guru mengelola pembelajaran dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran didapati adanya peningkatan sebesar 5%, yaitu 91,66% pada siklus I dan 96,66% pada siklus II. Peningkatan tersebut menandakan bahwa pada siklus II guru telah mampu mengelola pembelajaran dengan baik dan siswa telah dapat mengikuti pembelajaran dengan baik pula. Keberhasilan peningkatan prestasi belajar pada penelitian ini dilihat dari perbandingan dari hasil pre test dan post test siklus I dan siklus II serta menilai kemampuan komunikasi siswa pada siklus I dan siklus II. Hasil persentase pre test siklus I sebesar 82,37% dengan perbandingan persentase keberhasilan siswa sebagai berikut: 56,25% siswa yang tuntas dan 43,75% siswa yang belum tuntas. Hasil persentase post test siklus I sebesar 89,34% dengan perbandingan persentase keberhasilan siswa sebagai berikut: 92,11% siswa yang tuntas dan 7,89% siswa yang belum tuntas. Sedangkan hasil persentase klasikal kemampuan komunikasi pada siklus I adalah sebesar 83% dengan perbandingan persentase keberhasilan siswa sebagai berikut: 76,32% siswa yang tuntas dan 23,68% siswa yang belum tuntas. Pada siklus I ini peneliti menganggap penelitian ini belum berhasil sehingga perlu diadakan evaluasi dan perbaikan di siklus II. Pada siklus II, peneliti menggunakan studi kasus sebagai soal pre test dan post test. Dari soal pre test dan post test tersebut didapatkan hasil persentase klasikal pre test siklus II sebesar 84,7% dengan perbandingan persentase keberhasilan siswa sebagai berikut: 73,53% siswa yang tuntas dan 32,35% siswa yang belum tuntas. Hasil persentase klasikal post test siklus II sebesar 99,47% dan 100% siswa tuntas. Sedangkan hasil persentase klasikal kemampuan komunikasi siswa pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 88% dengan perbandingan persentase keberhasilan siswa sebagai berikut: 89,47% siswa yang tuntas dan 10,53% siswa yang belum tuntas. Dari hasil-hasil tersebut, peneliti menilai bahwa penelitian ini telah berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa. Respon siswa dan guru mata pelajaran terhadap pembelajaran adalah positif maka pendekatan problem posing. Sehingga secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa penbelajaran dengan menggunkan pendekatan problem posing ini efektif digunakan pada mata pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan khususnya pada kompetensi dasar Menentukan Sistem Kearsipan materi asas pengelolaan arsip dan sistem penyimpanan arsip. Berdasarkan temuan penelitian ini, diberikan beberapa saran sebagai berikut: 1) untuk guru SMK khususnya guru mata pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan hendaknya pendekatan problem posing ini di jadikan metode pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan pada mata pelajaran Mengelola Sistem Kearsipan, 2) untuk SMK 5 Kepanjen hendaknya mendukung kegiatan pembelajaran dengan melengkapi media pembelajaran sekolah, 3) untuk peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis pada pokok bahasan yang lain hendaknya mengkolaborasikan pembelajaran dengan pendekatan problem posing dengan metode pembelajaran lainnya agar lebih bervariatif.

Penerapan model pembelajaran think pair share (TPS) untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas X APK di SMK Muhammadiyah 2 Malang pada mata pelajaran mengaplikasikan ketrampilan dasar komunikasi) / Sri Handayaningsih

 

Kata kunci: model pembelajaran kooperatif, think pair share (TPS), hasil belajar. Guru memiliki peranan yang besar dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik di sekolah. Berangkat dari fakta yang diperoleh peneliti selama observasi di SMK Muhammadiyah 2 Malang khususnya pada mata pelajaran Mengaplikasikan Ketrampilan Dasar Komunikasi siswa kelas X masih disampaikan dengan metode ceramah. Dari sini peneliti mencoba menggunakan model pembelajaran think pair share (TPS) untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa akan meningkat dengan dikembangkannya model ini dalam proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Mengaplikasikan Ketrampilan Dasar Komunikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa akan meningkat setelah diterapkan model pembelajaran TPS. Peneliti mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang termasuk dalam penelitian kualitatif. Adapun tahapan-tahapan yang terdapat dalam PTK adalah tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan, tahap observasi, dan diakhiri dengan tahap refleksi untuk menilai kemajuan dan ketuntasan belajar siswa. Data-data yang dipergunakan untuk menilai proses selama PTK berlangsung bersumber dari nilai siswa, data observasi aktivitas guru dan siswa. Data hasil wawancara, dan catatan lapangan. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh adanya peningkatan nilail rata-rata dari ranah kognitif siswa pada pre test materi teknik bertanya yang efektif 53,35 % menjadi 71,41 % pada post test pertama dengan materi yang sama. Pada saat peneliti melanjutkan ke siklus II terjadi peningkatan skor post test kedua menjadi 82,49 %. Respon yang diberikan peserta didik juga sangat positif yang diperoleh dari wawancara yang diberikan. Pada akhir kegiatan penelitian yang dilakukan, akhirnya dapat disimpulkan bahwa pengembangan metode pembelajaran kooperatif dengan model TPS dalam proses belajar kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kategori tingkat keberhasilan peneliti juga meningkat seiring dengan diterapkannya model TPS ini pada proses belajar siklus I dan siklus II. Tetapi masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi lagi yaitu alokasi waktu yang harus diperhatikan dalam setiap tahapan dalam model TPS ini, motivasi dan arahan pada siswa harus diberikan secara intens untuk memacu semangat dan keberanian siswa, siswa diharapkan mempersiapkan terlebih dahulu segala sesuatu sebelum pelaksanaan pembelajaran di kelas, dan adanya tindak lanjut dari peneliti berikutnya sangat diharapkan dalam usahanya untuk mengembangkan model TPS ini dalam kegitan belajar mengajar.

Penerapan model pembelajaran two stay two stray untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah (studi pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan di kelas X APk SMK Muhammadiyah 2 Malang) / Vivi Artim Trisnawati

 

Kata kunci : model pembelajaran two stay two stray, kemampuan siswa memecahkan masalah, kendala, respon Berdasarkan survei awal dan wawancara dengan guru mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan, dapat disimpulkan bahwa masalah yang terjadi di kelas X APk SMK Muhammadiyah 2 Malang yaitu metode ceramah dan metode diskusi dilakukan selama pembelajaran mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan. Hal ini kurang membuat seluruh siswa berpartisipasi dalam mengemukakan pendapat atau pemikiran yang kritis serta kurang adanya kerjasama yang baik dalam berdiskusi sehingga siswa kurang meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan adanya model pembelajaran yang dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Model pembelajaran yang dapat digunakan yaitu model pembelajaran two stay two stray. Jenis penelitian tersebut adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus yakni siklus I dan siklus II. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa model pembelajaran two stay two stray dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan, kendala yang dihadapi selama pembelajaran two stay two stray terlaksana, dan respon guru serta siswa mengenai model pembelajaran two stay two stray. Data penelitian diambil dari hasil pre-test dan pos-test siklus I dan II, lembar observasi kegiatan peneliti selama mengajar, catatan lapangan mengenai pelaksanaan pembelajaran two stay two stray, dan lembar observasi kemampuan siswa. Berdasarkan penelitian tindakan kelas pada siklus I diperoleh hasil bahwa 13 siswa yang kurang berpartisipasi dalam mengemukakan pendapat dan berpikir kritis dengan baik selama pembelajaran two stay two stray. Hasil perolehan nilai pre-test pada siklus I masih terdapat 15 siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 70. Sedangkan perolehan post-test pada siklus I tidak ada siswa yang mendapat nilai kurang dari 70 berarti semua siswa telah tuntas belajar. Sedangkan pada siklus II diperoleh seluruh siswa telah berpartisipasi dalam mengemukakan pendapat dan berpikir kritis dengan baik. Pada pre-test maupun post-test pada siklus II tidak adanya siswa yang mendapatkan nilai kurang 70 berarti siswa sudah tuntas belajar. Hasil prosentase rata-rata pre-test siklus I adalah 73,2% dan post-test memperoleh 80,5%. Sedangkan hasil pre-test adalah 85% dan post-test memperoleh 91,2% pada siklus II. Ini berarti ada peningkatan dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti dan dicatat di lembar hasil observasi kemampuan siswa pada siklus I, keberhasilan untuk keterlaksanaan proses pembelajaran two stay two stray pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan telah mencapai 80,7%. Sedangkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan peneliti dan dicatat di lembar hasil observasi kemampuan siswa pada siklus II, keberhasilan untuk keterlaksanaan proses pembelajaran two stay two stray pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan telah mencapai 91,8%. Berdasarkan Arikunto (2003:235) menyatakan bahwa batas keberhasilan pembelajaran PTK yaitu sebesar 85%. Hal ini berarti keterlaksanaan proses pembelajaran two stay two stray pada mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan dinyatakan berhasil karena telah melampaui batas keberhasilan pembelajaran PTK sebesar 85%. Kendala yang dihadapi peneliti yakni keterbatasan waktu yang diberikan oleh sekolah, kebingungan siswa karena model pembelajaran two stay two stray belum pernah dilakukan di kelas dan beberapa siswa yang agak kurang aktif selama pembelajaran berlangsung. Respon guru dan siswa tertarik dengan model pembelajaran two stay two stray karena dapat membuat siswa lebih aktif dan seluruh siswa berpartisipasi dalam berdiskusi maupun mencari informasi dari kelompok lain sehingga siswa dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah. Saran yang dapat diberikan kepada Guru mata pelajaran memberikan pelayanan kepada pelanggan yakni model pembelajaran two stay two stray sebagai alternatif model pembelajaran dapat diterapkan di kelas karena dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan siswa. Siswa hendaknya berpartisipasi dalam mengemukakan pendapatnya selama proses pembelajaran berlangsung agar memahami dengan benar langkah-langkah pembelajaran sehingga siswa dapat menguasai materi yang diberikan. Pihak sekolah dapat menjadikan model pembelajaran two stay two stray diterapkan pada seluruh mata pelajaran di kelas. Dan pihak sekolah dapat memberikan kekurangan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian. Kepada pihak kampus, diharapkan menyediakan referensi mengenai model pembelajaran two stay two stray agar peneliti mampu menerapkan langkah-langkah model pembelajaran two stay two stray dengan baik. Dan dapat menjadikan model pembelajaran two stay two stray diterapkan pada seluruh mata kuliah di kelas. Peneliti lain yang ingin melakukan penelitian sejenis dengan mata pelajaran yang berbeda sebaiknya bisa memodifikasi model pembelajaran two stay two stray atau bahkan mengkolaborasi dengan model pembelajaran yang lain agar pembelajaran tersebut dapat membuat siswa lebih meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dalam berpikir kritis maupun lebih memiliki keaktifan selama pembelajaran berlangsung.

Pengaruh minat baca dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Kepanjen / Yessica Eva Santista Kristin

 

Kata kunci: Minat Baca, Fasilitas Belajar, Prestasi Belajar Siswa. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang penting dan dianggap pokok dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan diharapkan dapat meningkatkan sumber daya manusia. Tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan khususnya adalah meningkatkan prestasi belajar siswa. Peningkatan prestasi belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya minat baca dan fasilitas belajar. Minat baca adalah suatu rasa ketertarikan atau kesukaan terhadap kegiatan membaca. Dengan adanya minat baca siswa akan memperoleh informasi dan meningkatkan prestasi belajar. Fasilitas belajar adalah sarana dan prasarana yang ada di sekolah, di rumah, dan di masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi jalannya proses pendidikan. Sarana dan prasarana pembelajaran yang lengkap merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai dalam proses belajar yang berupa perubahan tingkah laku yang dinyatakan dengan skor atau nilai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ada tidaknya pengaruh minat baca terhadap prestasi belajar siswa, pengaruh fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa, pengaruh minat baca dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Instrumen dalam penelitian ini berupa angket, kemudian hasilnya di analisis dengan menggunakan teknik regresi linear berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah 86 siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kepanjen tahun ajaran 2010/2011. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 86 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian populasi karena jumlah populasi kurang dari 100. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa (1) kondisi prestasi belajar siswa tergolong baik (81,4%); (2) kondisi minat baca tergolong tinggi (77%); (3) dan kondisi fasilitas belajar tergolong cukup memadai (65,1%). Dari hasil analisis regresi diketahui (1) terdapat pengaruh minat baca terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Kepanjen sebesar 62%; (2) terdapat pengaruh fasilitas belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi sebesar 51,7%; (3) terdapat pengaruh minat baca dan fasilitas belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Kepanjen sebesar 46,1% sedangkan sisanya 53,9% disebabkan oleh variabel lain. Dari hasil penelitian diketahui bahwa minat baca merupakan variabel yang efektif mempengaruhi prestasi belajar siswa. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan minat baca dan fasilitas belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 1 Kepanjen. Saran (1) Kepala Sekolah diharapkan dalam pengadaan fasilitas belajar di sekolah hendaknya memperhatikan kebutuhan siswa terutama kebersihan ruang lingkup sekolah, memperbaiki fasilitas belajar yang ada terutama fasilitas yang menunjang proses pembelajaran. Karena pemanfaatan fasilitas belajar yang tersedia secara maksimal berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. (2) Guru hendaknya lebih sering memberikan tugas-tugas atau latihan dan lebih mengembangkan latihan tersebut, memungkinkan siswa untuk lebih membaca dari berbagai literatur buku atau sumber. (3) Bagi peneliti selajutnya apabila meneliti mengenai hal yang sama dengan penelitian ini diharapkan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas lagi dan dalam pengambilan data lebih ditingkatkan metode-metode yang digunakan sehingga hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai landasan atau bahan literatur penelitian selajutnya.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan kelas X Jurusan Akuntansi SMK Islam Batu / Denistina Fajarrina

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif, Aktivitas, Hasil belajar, Kewirausahaan Berdasarkan hasil observasi, metode pembelajaran yang diterapkan di SMK Islam Batu selama ini adalah metode konvensional melalui ceramah dan tanya jawab. Dengan metode itu menyebabkan siswa menjadi pasif dan kurang mandiri dalam belajar. Oleh karena itu perlu adanya sebuah pembaharuan pembelajaran untuk mengubah paradigma tersebut yaitu dengan penerapan pembelajaran kooperatif sehingga suasana belajar lebih kondusif dan tidak monoton. Pembelajaran kooperatif mengarahkan siswa untuk belajar hidup bermasyarakat. Karena dalam pembelajaran kooperatif secara tidak langsung siswa dihadapkan pada kondisi-kondisi yang menggambarkan kehidupan di masyarakat, diantaranya melalui diskusi kelompok, diskusi kelas atau pun kondisi dimana siswa belajar berinteraksi dengan orang lain, mengemukakan pendapat, menerima perbedaan pendapat, peduli terhadap sesama, bekerja sama, menganalisis dan menyelesaikan masalah serta berkompetisi untuk menjadi yang terbaik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian tidakan kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilakukan melalui dua siklus dimana tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X Akuntansi di SMK Islam Batu. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi, tes, catatan lapangan, dan angket belajar afektifi siswa. Teknik analisis data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu Data Reduction (Reduksi Data), Data Display (Penyajian Data) dan Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan). Hasil penelitian ini telah terbukti mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus. Pada siklus I skor yang diperoleh adalah 400 dan skor maksimalnya 650, dengan persentase nilai rata-rata 61,53% dan termasuk dalam kategori kurang baik. Pada siklus II skor yang diperoleh adalah 560 dan skor maksimalnya 650, dengan persentase nilai rata-rata 86,15% dan termasuk dalam kategori sangat baik. Walaupun peningkatannya kurang signifikan, dan terdapat beberapa siswa yang justru mengalami penurunan, akan tetapi secara keseluruhan pembelajaran ini mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa. Selain itu penilitian ini menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang terlihat dari perbandingan hasil pre-test yang dilaksanakan pada saat pra tindakan dengan hasil post-test yang diberikan pada saat akhir penerapan. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada saat pre-test sebanyak 9 siswa (18,75%) sedangkan yang belum tuntas sebanyak 38 siswa (81,25%). Hasil post-test siklus I menunjukkan peningkatan hasil belajar dengan siswa yang tuntas sebanyak 32 siswa (66,67%) dan yang belum tuntas sebanyak 16 siswa (33,33%). Untuk hasil post-test siklus II juga menunjukkan peningkatan hasil belajar jika dibandingkan dengan siklus I yaitu dengan jumlah siswa yang tuntas sebanyak 45 siswa (89,79%) dan yang belum tuntas sebanyak 5 siswa (10,21%). Walaupun pada post-test siklus II masih terdapat siswa yang belum tuntas, ini adalah hal yang wajar karena cukup sulit untuk mencapai taraf keberhasilan 100% siswa tuntas semua. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan (1) Bagi SMK Isalm Batu perlu menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) yaitu berupa pengadaan literatur guna mempermudah siswa dalam memperoleh informasi dan memperlancar proses belajar (2) Bagi guru Kewirausahaan di SMK, pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan dalam praktik pembelajaran di kelas karena tidak semua materi pelajaran cocok dengan model pembelajaran ini (3) Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together (NHT) pada pengajaran mata diklat yang sama atau mata diklat lainnya di tempat yang berbeda untuk mengembangkan model pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam proses pembelajaran, hendaknya memakai media atau kartu nomor yang dipakai siswa pada lengan kanan atau dada agar memudahkan penelili atau observer dalam mengamati aktivitas belajar siswa, dan dalam penelitian hendaknya satu kelompok diamati oleh satu observer agar data yang dianggap penting tidak terlewati.

Ekspresi nilai-nilai budaya Sasak Kemidi Rudat Lombok: perspektif hermeneutika / Murahim

 

Kata kunci: nilai budaya, Sasak, Kemidi Rudat. Setiap daerah memiliki satu bentuk kesenian yang menjadi simbol dan identitas daerah tersebut. Pulau Lombok yang didiami suku Sasak juga memiliki satu bentuk kesenian yang merupakan warisan budaya dan memiliki sejumlah nilai yang menjadi pedoman perilaku dalam kehidupan sehari-hari sehingga layak untuk dipertahankan keberadaannya. Kesenian tersebut adalah seni teater tradisional Kemidi Rudat Lombok. Upaya pemertahanan Kemidi Rudat Lombok sebagai seni khas daerah juga merupakan upaya pemertahanan kandungan nilai-nilai yang berada di dalamnya. Penelitian ini merumuskan masalah nilai-nilai budaya apa saja yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok yang meliputi (1) nilai-nilai religius apa saja yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok?, (2) nilai-nilai filosofis apa saja yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok?, (3) nilai-nilai etis apa saja yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok?, dan (4) nilai-nilai estetis apa saja yang diekspresikan melalui pementasan Kemidi Rudat Lombok? Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai budaya sasak dalam seni teater tradisional Kemidi Rudat Lombok. Nilai-nilai budaya yang dimaksud adalah (1) nilai religius, yang meliputi (a) nilai akidah, (b) nilai ibadah, dan (c) nilai muamallah; (2) nilai filosofis, yang meliputi filosofi (a) epe-aik (sang pemilik),(b) gumi-paer (bumi-tanah/tanah air), dan (c) budi-kaye (kekayaan budi pekerti); (3) nilai etis, yang meliputi (a) kepatutan dan kerja keras, (b) kepatuhan dan disiplin, (c) kepacuan atau ketekunan; (4) nilai estetis, yang meliputi (a) wujud atau rupa, (b) bobot atau isi, (c) penampilan atau penyajian. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika, yaitu penafsiran secara mendalam terhadap sebuah fenomena budaya. Pendekatan ini memiliki kaidah: (1) dibutuhkan keterlibatan dan atau partisipasi, (2) setiap usaha penafsiran, tidak bisa dihindari adanya akibat ikutan dari partisipasi dan latar belakang penafsir, (3) upaya penafsiran harus dilihat sebagai proses pendekatan kepada makna sejati, (4) walaupun ada wilayah perbedaan karena partisipasi dan latar belakang penafsir, niscaya ada pula wilayah yang mempertemukan antar penafsir, pemahaman bersama terhadap suatu masalah. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa Kemidi Rudat terdiri dari dua bagian penting yaitu bagian rudat, sebagai bagian pembuka, dan kemidi sebagai bagian inti yang merupakan bagian pementasan yang menyajikan cerita tentang perjalanan dua kerajaan yaitu kerajaan Ginter Baya dengan Raja Indra Bumaya sebagai rajanya dan kerajaan Puspasari dengan Sultan Ahmad Mansyur sebagai rajanya. Cerita tersebut diberi judul ”Prahara di Ginter Baya”. Nilai-nilai budaya yang berupa nilai religius, filosofis, etis, dan estetis ditemukan dalam dialog-dialog antar tokoh, perilaku tokoh, dan sikap tubuh para pemain. Semua nilai budaya yang ditemukan dihubungkan dengan sistem nilai dasar dalam masyarakat Sasak, hukum adat dan kitab tembang suluk berbahasa Sasak ”Tapel Adam” yang banyak berisi nilai-nilai kebijaksanaan hidup manusia Sasak. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, diajukan saran agar penelitian ini dapat dijadikan salah satu media untuk melakukan penelitian lanjutan tentang Kemidi Rudat Lombok. Temuan penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai media pengajaran tentang kearifan lokal masyarakat Sasak di pendidikan dasar dan menengah sehingga budaya luhur masyarakat Sasak lebih dikenal dan dihayati. Dalam aspek implikasi, teori hermeneutika dapat dijadikan alternatif untuk menggali khasanah kebudayaan dengan tafsir yang dalam dan akurat. Selain itu, penelitian ini dapat dijadikan titik tolak pelambagaan nilai dalam masyarakat Sasak sehingga lebih dikenal dan diaplikasikan dalam kehidupan.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan strategi fighting question untuk meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi kelas XI SMA Negeri 1 Rambipuji Jember / Robby Arie Koeswinarno

 

Kata Kunci: Strategi Fighting Question (FQ), Hasil Belajar. Metode Pembelajaran Kooperatif dengan Strategi Fighting Question yang memberikan penekanan pada struktur tertentu untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif dalam struktur kelas tradisional, yang terdiri dari 4 langkah: (1) Penyajian materi, (2) Siswa bekerja dalam kelompok, (3) Siswa beradu pertanyaan, (4) Tiap Kelompok mendapatkan penghargaan. Hasil belajar adalah kemampuan belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti pelajaran, atau hasil yang telah diperoleh siswa dari pengalaman-pengalaman dan latihan-latihan yang diikutinya selama pembelajaran berupa kognitif, afektif dan psikomotorik. Berdasarkan hasil observasi awal pada siswa kelas XI-1 SMA Negeri 1 Rambipuji Jember, bahwa siswa kurang antusias dalam menjawab pertanyaan yang diajukan guru, Siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat, Siswa kurang berani dalam mengemukakan bertanya, hasil belajar yang masih kurang dari 75 sesuai dengan criteria ketuntasan minimum. Untuk mengatasi hal-hal tersebut diperlukan suatu strategi pembelajaran yang menarik dan dapat meningkatkan kemampuan siswa. Metode pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan strategi Fighting Question (FQ) untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan: (1) Menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan strategi Fighting Question (FQ) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA Negeri 1 Rambipuji Jember. (2) Dampak menerapkan metode pembelajaran kooperatif dengan strategi Fighting Question (FQ) Untuk mengetahui peningkatkan hasil belajar (kognitif) dan aktivitas belajar (afektif) pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI-1 SMA Negeri 1 Rambipuji Koeswinarno. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas. Pene-litian dilaksanakan dalam 2 siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu : (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Subyek yang digunakan adalah siswa kelas XI-1 SMA Negeri 1 Rambipuji Jember. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi siswa, lembar observasi guru, soal tes, perangkat pembelajaran, pedoman wawancara dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan strategi Fighting Question (FQ) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Aktivitas belajar (afektif) siswa dalam pembelajaran FQ meliputi 4 aspek yaitu aspek diskusi kelompok, keterampilan bertanya, keterampilan menjawab dan keterampilan menyimpulkan. Pada siklus I rata-rata keseluruhan sebesar 63,51% meningkat menjadi 75 % pada siklus II. Sehingga secara keseluruhan mengalami peningkatan sebesar 11,49 % dalam taraf keberhasilan baik. Hasil belajar siswa dapat ditunjukkan dengan nilai post tes. Pada siklus I siswa yang tuntas belajar mencapai 25 siswa (67,57%) dengan nilai rata-rata kelas 72,03 dan pada siklus II siswa yang tuntas belajar mencapai 34 siswa (91,89%) dengan nilai rata-rata kelas 79,32. Dari hasil penelitian tersebut maka dapat diketahui bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif dengan strategi Fighting Question (FQ) untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh harga, merek, dan kualitas produk terhadap minat pembelian konsumen produk sepeda motor merek Yamaha (studi pada kepala keluarga di Dusun Bendungan Desa Landungsari) / Wanda Meilia Citraningrum

 

Kata Kunci :harga, merek, kualitas produk, minat pembelian Harga yang ditawarkan sebuah produk tentu akan sangat berbeda-beda. Konsumen dalam menyikapi varian harga yang ditawarkan tersebut pasti akan menyesuaikan dengan kemampuan daya beli disamping mempertimbangkan tentang kebutuhan akan produk tersebut. Selain harga, merek juga merupakan hal yang mempengaruhi konsumen dalam memilih sebuah produk. Sebuah produk dikatakan memiliki merek yang unggul apabila merek mudah diingat, mudah dikenali, dipertimbangkan sebagai alternatif pilihan, dan masih mengingat ketika menggunakan produk lain. Selain harga dan merek, kualitas juga merupakan hal yang sangat dipertimbangkan. Dengan adanya kualitas yang baik maka kebutuhan serta kepuasan konsumen akan terpenuhi dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi minat pembelian konsumen. Penelitian ini mempuyai 4 variabel, yaitu 3 variabel bebas diantaranya harga (X1), merek (X2), dan kualitas produk (X3) dan variabel terikat (Y) adalah minat pembelian. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif kausalitas. Populasi dalam penelitian ini adalah kepala keluarga di Dusun Bendungan Desa Landungsari yang biasanya sebagai pembuat keputusan dalam memilih sebuah produk. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden. Sampel diambil dengan menggunakan teknik Accidental sampling. Pengambilan jumlah sampel tersebut karena keterbatasan peneliti dalam hal tenaga, biaya dan waktu. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa: (1) terdapat pengaruh harga secara parsial terhadap minat pembelian sepeda motor merek Yamaha di Dusun Bendungan Desa Landungsari dengan nilai B=0,230; thitung=2,059; dan Signifikansi t=0,042; (2) terdapat pengaruh merek secara parsial terhadap minat sepeda motor merek Yamaha di Dusun Bendungan Desa Landungsari dengan nilai B=0,476; thitung=6,103; dan Signifikansi t=0,000; (3) tidak terdapat pengaruh kualitas produk secara parsial terhadap minat pembelian sepeda motor merek Yamaha di Dusun Bendungan Desa Landungsari dengan nilai B=-0,095; thitung=-0,667; dan Signifikansi t=0,506; dan (5) terdapat pengaruh variabel bebas secara simultan terhadap minat pembelian sepeda motor merek Yamaha di Dusun Bendungan Desa Landungsari dengan nilai Fhitung=14,350; dan Signifikansi F=0,000; R=0,556; R square =0,310; dan Adjusted R Square=0,288. Saran yang dapat diberikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah: (1) Sepeda motor merek Yamaha telah memiliki harga yang sesuai dengan kemampuan konsumen, merek yang unggul, dan kualitas produk yang baik, oleh karena harus tetap dijaga dan dipertahankan dengan cara menciptakan produk yang mengutamakan standar mutu dan kualitas yang bagus ketika barang hendak dipasarkan. Dengan harga, merek dan kualitas produk yang baik dan dapat diterima oleh konsumen maka dapat menjaga loyalitas konsumen sehingga tetap menggunakan sepeda motor merek Yamaha. (2) Ketatnya persaingan di pasar sepeda motor, maka produsen sepeda motor merek Yamaha harus tetap menjaga konsistensi harga yang sesuai dengan kemampuan konsumen, merek yang unggul dan kualitas produk yang baik serta mengikuti perubahan yang terjadi dengan tetap menjaga keunggulan produk. Perusahaan harus secara inovatif memperbaiki dan meningkatkan mutu produk sesuai dengan perkembangan yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Karena mempertahankan pelanggan sangatlah penting bagi keberlangsungan perusahaan. (3) Peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya agar objek penelitian yang diambil lebih baik, yaitu masyarakat umum dari berbagai golongan baik usia, jenis kelamin, dan tempat penelitian yang lebih luas supaya data penelitian yang diperoleh lebih valid dan ruang lingkupnya lebih luas. (4) Bagi peneliti selanjutnya disarankan dalam mengukur minat pembelian yang belum diketahui secara pasti tidak menggunakan rumus Slovin, akan tetapi menggunakan rumus infinitive population dari Daniel dan Terrel. (5) Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah variabel selain harga, merek, dan kualitas produk. Selain itu menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam penelitian ini dan dapat dijadikan dasar pertimbangan ilmiah bagi kesempurnaan yang ada. Perlu perhatian lebih mengenai permasalahan mengapa kualitas produk tidak berpengaruh terhadap minat pembelian sepeda motor merek Yamaha dalam penelitian ini. (6) Bagi peneliti selanjutnya juga disarankan untuk mencari solusi terkait permasalahan mengapa kualitas produk tidak berpengaruh terhadap minat pembelian, mengingat kualitas produk merupakan variabel yang seringkali dipertimbangkan sebelum memilih sebuah produk.

Pengaruh faktor psikologis konsumen terhadap keputusan pembelian laptop Axioo (studi pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang) / Aprilia Dwi Rakhmawati

 

Kata kunci : faktor psikologis konsumen, keputusan pembelian Seiring dengan perkembangan jaman dan semakin meningkatnya kebutuhan akan laptop membawa angin segar bagi perusahaan industri terutama di bidang teknologi informasi. Salah satu merek laptop yang digemari oleh sebagian masyarakat adalah merek Axioo. Perilaku para konsumen pengguna laptop Axioo ini tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor psikologis yang membuat mereka memutuskan untuk membeli dan menggunakan laptop Axioo. Faktor psikologis itu sendiri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk yang dalam hal ini adalah laptop Axioo. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif kausalitas (asimetris). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gambaran faktor psikologis konsumen terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang, (2) pengaruh faktor psikologis konsumen yang terdiri dari motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), keyakinan dan sikap (X4) secara parsial terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang, (3) pengaruh faktor psikologis konsumen yang terdiri dari motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), keyakinan dan sikap (X4) secara simultan terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang, (4) pengaruh faktor psikologis konsumen yang terdiri dari motivasi (X1), persepsi (X2), pembelajaran (X3), keyakinan dan sikap (X4) yang paling dominan terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang. Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang yang membeli dan menggunakan laptop Axioo. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 140 responden. Sampel diambil dengan menggunakan teknik Multistage Sampling yaitu pengambilan sampel secara bertahap. Adapun tahapan-tahapan tersebut antara lain teknik Stratified Sampling, Proporsional Sampling, dan Accidental Sampling. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah kuesioner atau angket tertutup karena alternatif-alternatif dari jawaban tersebut telah disediakan oleh penulis dan responden tinggal memilihnya. Angket atau kuesioner ini menggunakan skala pengukuran yang disebut Likert Scale atau Skala Likert. Hasil analisis deskriptif penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) pada variabel motivasi rata-rata jawaban responden adalah 3,66 yang masuk pada skor 4 yang berarti motivasi responden terhadap pembelian laptop Axioo baik, (2) pada variabel persepsi rata-rata jawaban responden adalah 3,80 yang masuk pada skor 4 yang berarti persepsi responden terhadap pembelian laptop Axioo baik, (3) pada variabel pembelajaran rata-rata jawaban responden adalah 3,54 yang masuk pada skor 4 yang berarti pembelajaran responden terhadap pembelian laptop Axioo baik, (4) pada variabel keyakinan dan sikap rata-rata jawaban responden adalah 3,79 yang masuk pada skor 4 yang berarti keyakinan dan sikap responden terhadap pembelian laptop Axioo baik, (5) pada variabel keputusan pembelian rata-rata jawaban responden adalah 3,85 yang masuk pada skor 4 yang berarti keputusan pembelian responden terhadap pembelian laptop Axioo baik. Sedangkan hasil analisis inferensial penelitian ini adalah: (1) terdapat pengaruh positif signifikan motivasi secara parsial terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang, (2) terdapat pengaruh positif signifikan persepsi secara parsial terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang, (3) terdapat pengaruh positif signifikan pembelajaran secara parsial terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang, (4) terdapat pengaruh positif signifikan keyakinan dan sikap secara parsial terhadap keputusan pembelian laptop Axioo studi pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang, (5) terdapat pengaruh positif signifikan faktor psikologis konsumen (motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan dan sikap) secara simultan terhadap keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang. Adapun variabel yang dominan mempengaruhi keputusan pembelian laptop Axioo studi pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang adalah variabel keyakinan dan sikap. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor psikologis dapat mempengaruhi keputusan pembelian baik secara parsial maupun secara simultan. Motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan dan sikap mempengaruhi keputusan pembelian laptop Axioo pada mahasiswa strata 1 Universitas Negeri Malang sebesar 52%, sedangkan sisanya 48% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar penelitian Saran yang dapat berikan berkaitan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah (1) perusahaan dalam hal ini laptop Axioo sebaiknya lebih memperdalam pengetahuan tentang apa yang menjadi kebutuhan konsumen (dalam hal kebutuhan akan laptop), memperbaiki persepsi konsumen yang memiliki persepsi negatif terhadap produk Laptop Axioo, menambah pengetahuan konsumen mengenai produk laptop Axioo melalui iklan maupun pameran sehingga akan mampu mempengaruhi dalam hal ini faktor psikologis konsumen sehingga terdorong untuk membeli dan menggunakan laptop Axioo, (2) peneliti menyarankan dalam penelitian selanjutnya agar objek penelitian yang diambil lebih luas, yaitu masyarakat umum dari berbagai golongan, usia, dan tempat penelitian yang lebih luas supaya data penelitian yang diperoleh lebih valid dan ruang lingkupnya lebih luas, (3) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah variabel penelitian yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian selain variabel yang diteliti pada penelitian ini. Selain itu menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam penelitian ini dan dapat dijadikan dasar pertimbangan ilmiah bagi kesempurnaan yang ada.

Pengaruh ROE (Return on Equity), DPR (Dividend Payout Ratio), EPS (Earning Per Share), dan CAR (Capital Adequacy Ratio) terhadap harga saham perusahaan perbankan di Indonesia tahun 2006-2009 / Firda Amiria

 

Kata kunci: Return On Equity (ROE), Dividend Payout Ratio(DPR), Earning Per Share (EPS), Capital Adequacy Ratio (CAR), Harga Saham Harga Saham merupakan indicator nilai dan pencerminan yang relevan dari kondisi perusahaan. Fluktuasi harga saham dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan internal perusahaan. Pergerakan saham di Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi makro dan stabilitas ekonomi. Indikator untuk mengukur besarnya harga saham diantaranya adalah Return On Equity (ROE) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan modal tertentu, Dividend Payout Ratio(DPR) merupakan rasio yang menggambarkan besarnya laba yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, Earning Per Share (EPS) merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar yang diperoleh investor atau pemegang saham per sahamnya, Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung risiko yang ikut dibiayai dari modal sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara pengaruh Return On Equity (ROE), Dividend Payout Ratio (DPR), Earning Per Share (EPS), Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap harga saham, baik secara parsial maupu simultan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan di Indonesia, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 8 perusahaan, dengan periode pengamatan selama 4 tahun (2006-2009). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program SPSS. Uji yang digunakan adalah Uji F dan Uji t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial ROE berpengaruh terhadap harga saham, secara parsia DPR tidak berpengaruh terhadap harga saham, secara parsial EPS berpengaruh terhadap harga saham, secara parsial CAR berpengaruh terhadap harga saham. Secara simultan keempat variabel bebas berpengaruh terhadap Harga saham. Berdasarkan penelitian ini maka akan disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel bebas yang lain yang dapat diindikasikan berpengaruh terhadap Harga saham dan meneliti perusahaan lain. Bagi investor penelitian ini dapat dijadikan gambaran tentang pengaruh ROE, DPR, EPS, dan CAR terhadap Harga saham sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat sebelum berinvestasi.

Ragam dan teknik pengembangan alur teks cerpen siswa kelas VII-G SMP Negeri 8 Malang / Elma Excavanti Tamaya

 

Tamaya, Elma Excavanti. 2014. Ragam dan Teknik Pengembangan Alur Teks Cerpen Siswa Kelas VII-G SMP Negeri 8 Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sunoto, M.Pd., (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd. Kata Kunci: ragam tahapan, teknik pengembangan alur, teks cerpen Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai siswa pada jenjang SMP adalah menulis cerpen. Menulis cerpen merupakan salah satu bentuk keterampilan dalam pembelajaran sastra dan bisa disebut juga sebagai suatu proses kreatif. Dalam mengembangkan ide cerita dalam cerpen, pengarang dapat mengembangkan ide cerita melalui alur atau tahapan peristiwa. Merangkai peristiwa dalam suatu cerita membutuhkan kreativitas yang tinggi karena hal tersebut akan menentukan kemenarikan suatu cerpen jika dilihat dari perspektif jalan cerita maupun ide ceritanya. Cara mengembangkan alur juga sangat bervariasi. Artinya, tidak menutup kemungkinan adanya cerpen yang mengandung tahapan alur yang berbeda antara satu cerpen dengan cerpen lain. Berdasarkan tahapan-tahapan alur tersebut, dapat ditemukan ragam dan teknik pengembangan alur pada teks cerpen. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ragam dan teknik pengembangan alur yang digunakan pada teks cerpen siswa kelas VII-G SMP Negeri 8 Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan laporan penelitian. Sumber data dalam penelitian ini adalah 28 teks cerpen siswa kelas VII-G SMP Negeri 8 Malang. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menjelaskan fokus penelitian dan menjawab rumusan masalah penelitian. Fokus penelitian ini adalah tahapan alur teks cerpen, sedangkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ragam tahapan alur dan teknik pengembangan alur siswa kelas VII-G SMP Negeri 8 Malang. Hasil analisis data dan pembahasan menunjukkan ada tujuh ragam tahapan alur, yaitu (1) pengenalan-konflik-komplikasi-klimaks-peleraian-penyelesaian sejumlah sembilan cerpen; (2) pengenalan-konflik-komplikasi-klimaks-penyelesaian sejumlah dua cerpen; (3) pengenalan-konflik-komplikasi-peleraian-penyelesaian sejumlah empat cerpen; (4) pengenalan-konflik-pengenalan-komplikasi-klimaks-penyelesaian sejumlah enam cerpen; (5) konflik-pengenalan-komplikasi-klimaks-peleraian-penyelesaian sejumlah satu cerpen; (6) konflik-pengenalan-komplikasi-klimaks-penyelesaian sejumlah empat cerpen; dan (7) konflik-pengenalan-komplikasi-peleraian-penyelesaian sejumlah dua cerpen. Selanjutnya, teknik pengembangan alur ditemukan penggunaannya pada cerpen siswa kelas SMP Negeri 8 Malang. Teknik pengembangan alur yang ditemukan adalah peristiwa, latar, dan psikologi. Hal tersebut merujuk pada cara pengarang untuk mengembangkan tahapan alurnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa secara umum cerpen siswa kelas VII-G SMP Negeri 8 Malang memiliki ragam tahapan pengenalan-konflik-komplikasi-klimaks-peleraian-penyelesaian dan tidak semua cerpen diawali dengan tahapan pengenalan dan tidak semua mempunyai seluruh tahapan alur tersebut. Efek kehilangan salah satu tahapan alur tentunya berdampak pada pengembangan alur dan pembaca. Selanjutnya, teknik pengembangan alur yang paling banyak digunakan adalah teknik pengembangan alur berdasarkan peristiwa. Penelitian tentang ragam tahapan dan teknik pengembangan alur pada teks cerpen siswa kelas VII-G SMP Negeri 8 Malang memiliki tiga saran yang ditujukan kepada guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia, siswa, dan peneliti selanjutnya. Pertama, guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia diharapkan menyusun RPP yang dapat mengakomodasi siswa untuk berkreasi terhadap karangannya. Kedua, diharapkan siswa untuk mengasah kreativitas untuk mengembangan tahapan alur dan memperhatikan kriteria teks cerpen yang utuh. Hal tersebut penting diperhatikan untuk memperoleh teks cerpen yang berkualitas. Ketiga, peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengkaji dan memfokuskan tentang ragam dan teknik pengembangan alur secara lebih komprehensif agar mendapatkan hasil penelitian yang maksimal.

Simulasi evolusi vorteks menuju keseimbangan energi bebas GL pada superkonduktor mesoskopik berdasarkan model Ginzburg-Landau / Siti Alfiah Ilmiawati

 

Kata Kunci: Kurva magnetisasi, Jumlah vorteks, Medan magnet luar, Temperatur, TDGL Persamaan TDGL banyak digunakan untuk mengkaji karakteristik dan dinamika vorteks pada bahan superkonduktor, terutama superkonduktor tipe II karena aplikasinya yang sangat luas. Selain TDGL, ada beberapa model yang membahas tentag dinamika vorteks, salah satunya adalah Model Quantum Makroskopik (MQM). Salah satu kelebihan model GL dibanding MQM adalah dapat dengan sukses mendiskripsikan fenomena superkonduktivitas yang merupakan integrasi dari perilaku elektrodinamika, mekanika kuantum, dan termodinamika Dinamika vorteks ini sangat bergantung pada geometri bahan, seperti bentuk bahan dan ukurannya. Selain itu temperatur kritis juga mempengaruhi dinamika vorteks dari suatu bahan. Dengan adanya dinamika bahan ini, maka dapat dijadikan sebagai acuan untuk lebih mendalami aplikasi lain dari bahan superkonduktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui simulasi vorteks menuju keseimbangan energi bebas GL dengan menggunakan model TDGL (Time Dependent Ginzburg-Landau). Dengan mengkondisikan bahan mesoskopik (berorde nano) dan dibuat simulasi dinamika vorteks bagi bahan berukuran , 3 , dan 4 dengan variasi temperatur untuk masing-masing bahan T = 0 Tc, T = 0,125 Tc, dan T = 0,25 Tc. Program ditulis dan dijalankan dengan Fortran 90 dengan sistem linux IBM X3400 M2. Hasil penilitian menunjukkan bahwa: (1) karakteristik kurva magnetisasi sebagai fungsi medan magnet luar M - He dipengaruhi oleh temperatur (2) karakteristik kurva jumlah vorteks sebagai fungsi medan magnet luar M – Nv dipengaruhi oleh temperatur (3) Evolusi dinamika vorteks menuju keseimbangan bergantung pada ukuran bahan dan temperatur. Dengan variasi temperatur, pada bahan berukuran tidak terdapat vorteks, untuk bahan berukuran hanya terdapat satu vorteks, dan untuk bahan berukuran terdapat tiga vorteks pada temperatur T = 0 Tc dan T = 0,125 Tc yang membentuk sebuah giant vorteks. Sedangkan pada T = 0,25 Tc hanya terdapat dua vorteks.

Pengaruh temperatur tempering terhadap sifat mekanik baja NS-1045 / oleh Agus Riyanto

 

Implementasi kebijakan SD-SMP Satu Atap (studi multisitus di Kecamatan Ngablak, Pakis dan Sawangan Kabupaten Magelang) / Wiwik Wijayanti

 

Kata kunci: wajib belajar, SD-SMP Satu Atap, implementasi kebijakan. Implementasi kebijakan pendidikan adalah suatu proses menjalankan, menyelenggarakan atau mengupayakan alternatif yang sudah ditetapkan untuk mencapai tujuan. SD-SMP Satu Atap merupakan salah satu kebijakan pendidikan. Dalam implementasi kebijakan SD-SMP Satu Atap harus didukung oleh ketersediaan komponen-komponen sistem pendidikan yang lain seperti, ketersediaan siswa, guru, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana prasarana, keuangan, dan stakeholders, agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dalam pengelolaan pendidikan selalu saja ada masalah. Upaya pemecahan masalah tersebut untuk memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat. Pengimplementasian kebijakan SD-SMP Satu Atap ini perlu adanya perencanaan. Perencanaan yang sudah disusun dan diputuskan harus disosialisasikan kepada stakeholders agar mereka mengerti, memahami, dan pada akhirnya mendukung program atau kebijakan ini. Setelah program disosialisasikan, proses selanjutnya adalah implementasi kebijakan. Dengan keterlibatan stakeholders dan dukungan komponen-komponen yang lain, maka keberadaan SD-SMP Satu Atap akan tetap berlangsung dan berkualitas. Bagaimana pengimplementasian kebijakan SD-SMP Satu Atap dan keberlanjutan programnya belum begitu terungkap. Semua hal yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah yang berkaitan dengan proses implementasi kebijakan SD-SMP Satu Atap, yang meliputi proses perencanaan SD-SMP Satu Atap, proses sosialisasi SD-SMP Satu Atap, proses implementasi , dan peran stakeholders. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan proses perencanaan kebijakan SD-SMP Satu Atap; (2) mendeskripsikan proses sosialisasi kebijakan SD-SMP Satu Atap; (3) mendeskripsikan proses implementasi kebijakan SD-SMP Satu Atap; dan (4) mendeskripsikan peran stakeholders dalam implementasi kebijakan SD-SMP Satu Atap. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dan penelitian dirancang dengan menggunakan multisitus. Sumber data meliputi: Kepala SD-SMP Satu Atap sebagai key informan, guru, siswa, masyarakat, Kepala UPT dan Kasi Dikdas. Dalam kegiatan pengumpulan data terbagi atas tiga tahapan, yakni (1) tahap persiapan; (2) tahap pengumpulan data; dan (3) tahap pencatatan data. Data yang terkumpul dianalisa dengan kegiatan (1) pengkoleksian data; (2) penampilan data, (3) reduksi data; dan (4) kesimpulan dan verifikasi. Pengecekan serta keabsahan data dilakukan dengan menggunakan derajat kepercayaan, derajat keterlibatan, derajat ketergantungan dan derajat kepastian. Temuan penelitian yang dilakukan pada tiga SD-SMP Satu Atap menunjukkan bahwa (1) perencanaan pendirian SD-SMP Satu Atap sesuai dengan persyaratan terisolir, terpencil dan terpencar; berdasarkan kebutuhan masyarakat (social demand approach); dalam perencanaan melibatkan berbagai pihak; (2) sosialisasi dilakukan oleh Kepala SD-SMP Satu Atap kepada tokoh masyarakat untuk disampaikan kepada warga masyarakat; kesadaran masyarakat dalam pendidikan semakin meningkat; (3) pihak SD, SMP dan desa bekerja sama dan saling mendukung dalam pelaksanaan kebijakan SD-SMP Satu Atap; penyelenggaraan SD-SMP Satu Atap dapat menyerap tenaga kerja; (4) peran stakeholders dalam pendidikan sesuai dengan kewenangan dan kemampuan masing-masing. Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa dalam implementasi kebijakan pendidikan harus memperhatikan aspek-aspek sosiobudaya, sosio ekonomi, sosiopolitik, psikologi, dan manajemen pendidikan. Dalam pelaksanaan suatu kebijakan harus mendapat dukungan dari semua pihak (stakeholders), ketersediaan sumberdaya dan kemudahan fasilitas yang diperlukan sehingga program wajib belajar dicapai secara efektif dan efisien.

Analisis pengaruh rasio keuangan Camel terhadap profitabilitas pada 3 bank BUMN yang listing di BEJ tahun 2003-2008 (studi kasus pada bank BRI, BNI, Mandiri) / Diastining Utami Putri

 

Kata Kunci : Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Return on Equity (ROE), BOPO dan Return On Asset (ROA) Pengelolaan perbankan nasional yang baik serta pengawasan perbankan nasional yang diperketat sangat menunjang keberhasilan kinerja perbankan itu sendiri. Dalam pengelolaan dalam perbankan sendiri harus dilakukan secara professional, sehingga dapat memperoleh keuntungan, seperti tujuan utama lainnya bank didirikan yaitu selain sebagai lembaga intermediasi dan penghimpun dana, bank memiliki tujuan untuk memperoleh laba secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR),Return on Equity (ROE), dan BOPO terhadap profitabilitas diukur dengan Return On Asset (ROA) serta melihat variabel rasio CAMEL mana yang paling dominan mempengaruhi ROA pada tiga perusahaan bank BUMN (BRI, BNI, Mandiri) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2003-2008. Data diperoleh dari Laporan Keuangan Publikasi yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dengan periode waktu tahun 2003 hingga 2008. Teknik analisa yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah regresi linier untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh mengenai hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain. Program yang digunakan adalah program EViews 3.1 dengan model estimasi Fixed Effect Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh positif dan tidak signifikan dan Return on Equity (ROE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA), selain itu BOPO berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan perbankan. Hasil penelitian ini diharapkan bahwa variabel Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Return on Equity (ROE) dan BOPO, dapat dijadikan pedoman, baik oleh pihak manajemen perusahaan dalam pengelolaan perusahaan, maupun oleh para investor dalam menentukan strategi investasi.

Analisis pengaruh penanaman modal asing dan utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia / Khoni Nurisya

 

Kata Kunci: GDP, pertumbuhan ekonomi, utang luar negeri, penanaman modal asing. Indonesia, sebagai negara sedang membangun, memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus di tahun 1990-an. Ini ditunjukkan dengan peningkatan GDP tahun per tahun, stabilitas inflasi, dan sebagainya. Tetapi sejak tahun 1997 krisis ekonomi yang melanda negara-negara Asia, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan. Itu berakibat pada sektor moneter dan sektor riil, dan ditambah lagi dengan semakin meningkatnya jumlah utang luar negeri Indonesia sebagai akibat dari nilai tukar rupiah yang semakin terus menurun karena utang luar negeri Indonesia seluruhnya dalam bentuk Dollar Amerika. Metode analisis yang digunakan adalah model Error Correction Model (ECM). Untuk tujuan analisis digunakan data sekunder berupa data time series, 1994-2008, yaitu data PDB Indonesia, Penanaman Modal Asing dan Utang Luar Negeri. Data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan Bank Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penanaman Modal Asing dan Utang Luar Negeri berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 99,20 persen. Hasil analisis menunjukkan bahwa Penanaman Modal Asing dalam jangka pendek berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi, dalam jangka panjang Penanaman Modal Asing berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dan Utang Luar Negeri dalam jangka pendek dan jangka panjang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penanaman modal asing dan Utang luar negeri merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia guna mengatasi defisit tabungan nasional yang mana dapat mendorong pembangunan nasional untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang baik. Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan diatas, Penulis mencoba untuk membahas masalah pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam hubungannya dengan penanaman modal asing (PMA) dan utang luar negeri (ULN) dengan mengangkat judul “Analisis Pengaruh Penanaman Modal Asing dan Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”.

Perbandingan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis internet web centric course dan model pembelajaran konvensional pada mahasiswa yang memiliki tingkat self-efficacy kemampuan komputer berbeda / Nurhikmah H.

 

Kata kunci: web centric course, konvensional, self-efficacy, hasil belajar Perkembangan yang cepat dalam bidang teknologi komunikasi telah memberikan sumbangan potensial pada sektor pendidikan dan pelatihan. Potensi teknologi tidak saja meningkatkan efesiensi, keefektifan, dan keluwesan proses pembelajaran, tetapi juga berdampak pada pengembangan materi, pergeseran peran pembelajar, dan semakin berkembangnya otonomi pebelajar. Peran pembelajar sebagai sumber pengetahuan berubah menjadi fasilitator, motivator, evaluator, dan tutor. Perubahan paradigma dari pembelajaran yang berpusat pada pembelajar menjadi pembelajaran yang berpusat pada pebelajar, merupakan satu upaya penting untuk mengoptimalkan proses pembelajaran yang menumbuhkan pebelajar jadi aktif belajar. Perubahan ini seharusnya tercermin dalam aktivitas belajar yang menempatkan tanggung jawab yang tinggi pada pebelajar terhadap belajar mereka sendiri. Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi tersebut, maka salah satu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar adalah model pembelajaran berbasis internet web centric course yakni suatu model pembelajaran yang menggabungkan antara tatap muka dan tanpa tatap muka (melalui internet). Pada dasarnya pembelajaran berbasis internet ini memungkinkan proses pembelajaran yang berpusat pada pebelajar sehingga lebih cenderung terjadi suatu proses pembelajaran mandiri dan proaktif pada diri pebelajar, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar pebelajar. Faktor lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran berbasis internet web centric course adalah self-efficacy kemampuan komputer yaitu keyakinan pemakai terhadap kemampuannya menggunakan komputer. Faktor ini sangat menentukan keberhasilan pebelajar dalam menggunakan komputer yang merupakan media utama dalam pembelajaran berbasis internet. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh utama dan pengaruh interaksi variabel perlakuan terhadap hasil belajar mata kuliah Sosiologi Pendidikan pada mahasiswa S1 FIP UNM. Kegunaan atau manfaat penelitian ini dipilah menjadi dua, yaitu (1) manfaat teoretis yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan dalam pendidikan dan (2) manfaat praktis untuk pelaksanaan tindakan pembelajaran di kelas dalam lembaga pendidikan. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen. Desainnya merupakan versi nonequivalent control group design. Subjek penelitian adalah mahasiswa S1 semester IV Kurikulum dan Teknologi Pendidikan dan Bimbingan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (UNM) yang berjumlah 80 orang (dua kelas). Data yang dikumpulkan diolah secara statistik inferensial dengan menggunakan teknik analisis kovarian (anakova) dua jalur 2 x 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tidak ada perbedaan hasil belajar mata kuliah Sosiologi Pendidikan antara kelompok mahasiswa yang diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran berbasis internet web centric course dan kelompok mahasiswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional, (2) ada perbedaan hasil belajar mata kuliah Sosiologi Pendidikan antara kelompok mahasiswa yang memiliki self-efficacy kemampuan komputer tinggi dan kelompok mahasiswa yang memiliki self-efficacy kemampuan komputer rendah, (3) tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan self-efficacy kemampuan komputer terhadap hasil belajar tujuan kognitif pada mata kuliah Sosiologi Pendidikan pada mahasiswa S1 FIP UNM. Statistik deskriptif menunjukkan bahwa hasil belajar mahasiswa yang memiliki self-efficacy kemampuan komputer tinggi (rerata 87,35) memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan mahasiswa yang memiliki self-efficacy kemampuan komputer rendah (rerata 82,50). Walaupun dalam penelitian ini model pembelajaran tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar, disarankan kepada para dosen hendaknya memperhatikan faktor-faktor penunjang dan kondisi pembelajaran seperti motivasi, kedisiplinan, gaya belajar, keterampilan penguasaan komputer, fasilitas yang tersedia, keterampilan mengelola pembelajaran berbasis internet dan lain-lain. sehingga dosen dapat memberdayakan mahasiswa, sumber-sumber belajar dan fasilitas yang tersedia secara maksimal dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa.

Pengembangan VCD latihan teknik sapuan rebah belakang pencak silat untuk siswa kelas dasar perguruan silat Walet Hitam Kabupaten Sumenep / Ahmad Ma'ruf Septian Rozianto

 

Kata Kunci: Pengembangan, VCD, sapuan rebah belakang pencak silat, siswa kelas dasar perguruan silat selat walet hitam. Pada saat ini perkembangan pencak silat di Indonesia sangat pesat sekali. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perguruan-perguruan di Indonesia. Salah satunya adalah Perguruan Silat Selat Walet Hitam yang berada di kabupaten Sumenep. Setiap siswa harus dapat menguasai materi yang diberikan oleh pelatih dalam jangka waktu yang sudah ditentukan dengan kurikulum Perguruan Silat Selat Walet Hitam Kabupaten Sumenep. Untuk menunjang keberhasilan tersebut adalah dengan memanfaatkan media belajar dalam proses pemahaman penguasaan materi, yaitu dengan menggunakan media video latihan teknik sapuan rebah belakang pencak silat yang dikemas dalam bentuk cimpack disk (CD). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan VCD latihan teknik sapuan rebah belakang pencak silat sehingga diharapkan siswa dapat membantu dalam proses pemahaman teknik sapuan rebah belakang. Dalam penelitian ini model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Research & Development (R&D) dari Borg & Gall (1983:775). Adapun prosedur pengembangan materi teknik sapuan rebah belakang pencak silat meliputi: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan dengan observasi di latihan serta penyebaran angket yang ditujukan kepada 5 siswa kelas dasar dan kepada pelatih perguruan silat selat walet hitam, 2) pengembangan produk awal berupa rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan satu ahli media, satu ahli latihan dan dua ahli pencak silat, 4) revisi produk pertama (sesuai dari hasil evaluasi para ahli dan uji kelompok kecil sebanyak 6 siswa kelas dasar), 5) uji lapangan dengan mengujikan hasil produk pertama pada kelompok besar yaitu pada 30 siswa kelas dasar, 6) revisi produk akhir sesuai dari hasil uji lapangan (kelompok besar), 7) hasil akhir berupa VCD latihan teknik sapuan rebah belakang pencak silat Perguruan Silat Selat Walet Hitam Kabupaten Sumenep. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah dengan cara kuesioner. Dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan deskriptif berupa persentase, dimana hasil data uji coba adalah 100% untuk kemenarikan video, dan 100% untuk kejelasan suara pembuka dalam video, 100% untuk kejelasan materi teknik sapuan rebah belakang, 100% untuk pemahaman siswa tentang model latihan teknik sapuan rebah belakang. Dan untuk klasifikasi persentase secara keseluruhan VCD latihan teknik sapuan rebah belakang pencak silat adalah persentase dengan hasil baik.

Motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center Malang (teori dari McClelland) / Arga Randika Putra

 

Kata kunci: Motivasi, Latihan Beban Olahraga menjadi gaya hidup masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan kebugaran jasmani dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Banyak hal yang aktifitas olahraga yang bisa dilakukan antara lain lari, jalan santai, basket, sepakbola, voli, renang, senam kebugaran, juga latihan di fitness center dan sanggar-sanggar kebugaran. Latihan beban merupakan salah satu olahraga yang banyak diminati dan menjadi gaya hidup masyarakat. Tujuan dari olahraga latihan beban ini selain untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh juga dapat untuk memperbaiki kondisi fisik seseorang. Atlas Fitness Center merupakan salah satu pusat kebugaran yang ada di kota Malang. Di tempat itu pada tahun 2010 memiliki jumlah member aktif 500 orang, yang terdiri dari member putra dan putri. Dari beberapa teori motivasi dari para ahli diantaranya yaitu teori hirarki dari Maslow, teori ERG dari Clayton Alderfer, dan teori Hezberg (teori dua faktor) dalam penelitian ini menggunakan teori motivasi dari Mc.Clelland yang terdiri tiga kebutuhan manusia. Tiga kebutuhan tersebut adalah 1). Kebutuhan akan berprestasi, 2). Kebutuhan akan berhubungan dengan orang lain, dan 3). Kebutuhan akan kekuatan. Mengenai ketiga kebutuhan diatas kiranya tepat untuk membahas tentang gejala-gejala dalam olahraga khususnya dalam hal ini adalah latihan beban. Di Atlas Fitness Center memiliki banyak member yang berlatih latihan beban. Tentunya setiap member memiliki motivasi yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain dalam mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center menurut teori dari Mc.Clelland, yang meliputi :1) kebutuhan akan berprestasi, 2) kebutuhan akan berhubungan dengan orang lain, 3) kebutuhan akan kekuatan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan instrumen angket. Sampel dalam penelitian ini adalah member Atlas Fitness Center yang berjumlah 50 member. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center teori dari Mc.Clelland kebutuhan akan berprestasi adalah 38,7 berada pada rentang skor 38,4-43,1 yang menyatakan bahwa motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center teori dari Mc.Clelland kebutuhan akan berprestasi termasuk kategori yang paling tinggi. Rata-rata motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center teori dari Mc.Clelland kebutuhan akan berhubungan dengan orang lain adalah 18,8 berada pada rentang skor 17,6-20,7 yang menyatakan bahwa motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center teori dari Mc.Clelland kebutuhan akan berhubungan dengan orang lain masuk kategori sangat rendah. Rata-rata motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center teori dari Mc.Clelland kebutuhan akan kekuatan adalah 17,4 berada pada skor 0-21 yang menyatakan bahwa motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center teori dari Mc.Clelland kebutuhan akan kekuatan masuk kategori sangat rendah. Hasil penelitian ini secara dominan menunjukkan bahwa motivasi member mengikuti latihan beban di Atlas Fitness Center teori dari Mc.Clelland adalah kebutuhan akan berprestasi yaitu 38,7 yang berada pada rentang skor 38,4-43,1. Dari penelitian tersebut, dapat disarankan bagi pihak Atlas Fitness Center terutama kepada instruktur harus terus meningkatkan motivasi member dalam berlatih, dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada member. Karena dengan memberikan motivasi akan meningkatkan semangat berlatih member untuk menjaga dan meningkatkan kebugaran tubuh.

Gemeente Blitar (pendirian dan perkembangan sebuah kota pedalaman, 1906-1942) / Ulin Nihayatul Khoiriyah

 

Kata Kunci: Gemeente, Kota Blitar, Desentralisasi Berdasarkan hasil paparan latar Sejarah Kota mempunyai peranan yang penting dalam mendiskripsikan perubahan administrasi, terutama dalam pelayanan publik. Salah satu gejala perubahan itu adalah Gemeente atau pemerintahan kota.. Pemerintah kota merupakan lembaga yang terbentuk setelah adanya desentralisasi. Salah satu kota yang mengalami pembentukan system perubahan pemerintahan itu adalah Gemeente Blitar. Berdasar Latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah, yakni, (1) bagaimana latar belakang penetapan Blitar sebagai Gemeente?, (2) bagaimana perencanaan dan program pembangunan Gemeente Blitar antara tahun 1911 - 1929?, dan (3) bagaimana langkah-langkah yang diambil oleh Gemeente Blitar sebagai konsekuensi dari penerapan status Gemeente?. Tujuan diadakan penelitian ini, adalah sebagai berikut: (1) mendeskripsikan latar belakang penetapan Blitar sebagai Gemeente, (2) mendeskripsikan perencanaan dan program pembangunan Gemeente Blitar antara tahun 1911 – 1929, dan (3) mendeskripsikan langkah-langkah yang diambil oleh Gemeente Blitar sebagai konsekuensi dari penerapan status Gemeente. Pada penulisan karya ilmiah ini peneliti menggunakan metode sejarah dengan pendekatan deskriptif naratif. Adapun langkah-langkah dalam penulisan sejarah digunakan metode sejarah yakni, pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi, historiografi. Hasil penelitian tersebut, antara lain sebagai berikut, (1) Latar belakang penetapan Blitar sebagai Gemeente adalah adanya keunikan yakni sebuah kota bukan Ibu kota karisidenan tetapi dijadikan Gemeente. Blitar merupakan sebuah kota pedalaman, terletak di lereng gunung kelud. Sebelum menjadi Gemeente, Blitar adalah Kabupaten. Pada tahun 1906 Kota Blitar memiliki pemerintahan sendiri, tidak lagi menjadi satu dengan Kabupaten Blitar. Penduduk Gemeente Blitar terdiri dari beberapa etnis. (2) Perencanaan dan program pembangunan Gemeente Blitar antara tahun 1911 – 1929 adalah untuk pembuatan dan perbaikan fasilitas umum. Gemeente dalam bidang financial, belum sepenuhnya mampu membiayai sendiri. Tujuan perencanaan dan program tersebut yakni, untuk memperlancar proses jalannya pemerintahan kota, serta membuat Penduduk Eropa merasa nyaman bertempat tinggal di Kota Blitar. (3) Langkah-langkah yang diambil oleh Gemeente Blitar sebagai konsekuensi dari penerapan status Gemeente adalah adanya permasalahan lokal, seperti peraturan perpajakan, yang senantiasa menyinggung hal-hal seputar kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat, selain itu adanya keterkaitan desentralisasi yang memicu modernisasi, dan adanya modernisasi tersebut yang akhirnya memicu komersialisasi. Penulisan ini diharapkan supaya dapat digunakan menginspirasi penulis lain untuk melakukan penelitian dengan topik yang lebih menarik, karena masih banyak hal yang menarik lainnya khususnya yang berkaitan dengan sejarah tentang Gemeente (Pemerintah Kota) yang ada di daerah lain. Sehingga semakin bertambah pula kekayaan pengetahuan yang dimiliki oleh sejarah tentang pemerintahan yang ada di Indonesia pada masa Kolonial.

Perbandingan kinerja keuangan daerah Kota Batu dan Kota Malang setelah adanya UU Nomor 33 Tahun 2004 (tahun analisis 2004-2009) / Alfiana Mauliddiyah

 

Kata Kunci: Kinerja keuangan, Kebutuhan fiskal, Kapasitas Fiskal, Upaya Fiskal Sejak 1 Januari 2001, Republik Indonesia menerapkan sistem desentralisasi (otonomi daerah) Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah. Berlakunya kedua Undang-Undang ini memberikan peluang kepada daerah untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Pembentukan Undang-Undang tentang perimbangan keuangan dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan kepada Pemerintah Daerah yang di atur dalam Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan bukti empiris ada tidaknya perbedaan kinerja keuangan yang dilihat dari Derajat Desentralisasi Fiskal, Kebutuhan Fiskal, Kapasitas Fiskal dan Upaya Fiskal antara Kota Batu dengan Kota Malang setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Data dan Informasi keuangan daerah yang di analisis besumber dari direktorat jenderal perimbangan keuangan pusat dan daerah Departemen Keuangan dan Badan Pusat Statistik Kota yang di wakili tahun 2004 sampai dengan tahun 2009. Analisis yang dilakukan dengan dua cara yakni menggunakan rumus prosentase dan uji hipotesis yang menunjukkan bahwasanya terdapat perbedaan kinerja keuangan antara kedua daerah setelah pemberlakuan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Hasil perhitungan derajat desentralisasi fiskal berdasarkan PAD, BHPBP, dan Sumbangan daerah terhadap TPD kota Batu rata-rata per tahun adalah 4.72%, 8.94% dan 6.70%, sedangkan untuk kota Malang rata-rata pertahunnya 11.38%, 80%, dan 10.22% . Kebutuhan fiskal Kota Batu rata-rata per tahun 3.67% dan Kota Malang sebesar 20.2%. Kapasitas fiskal Kota Batu rata-rata per tahun 3.92% untuk Kota malang rata-rata per tahun sebesar 12.8% . Upaya fiskal Kota Batu rata-rata per tahun 12.77% dan untuk Kota Malang rata-rata per tahunnya sebesar 5.58% . Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa tingkat kinerja keuangan pemerintah kota Batu dan kota Malang masih rendah untuk menunjang pelaksanaan otonomi daerah. Dan di antara kota Batu dan kota Malang yang mempunyai tingkat keuangan lebih adalah kota Malang.

Pengaruh penambahan formaldehid terhadap penetrasi pengawet asam borat-boraks ke dalam bambu apus (Gigantochloa apus) dan kekuatan mekaniknya / Anzil Azza Isma

 

Kata kunci: bambu apus (Gigantochloa apus), asam borat, formaldehid, penetrasi. Bambu merupakan tanaman yang dimanfaatkan dalam berbagai keperluan. Sudah sejak lama, bambu dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Namun, saat ini bambu semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Hal ini disebabkan karena durabilitas bambu yang rendah. Bambu sering diserang oleh berbagai macam organisme, antara lain fungi, kapang dan insekta (powder-post beetles). Komposisi bambu yang tidak beracun menjadi sumber nutrient bagi organisme penyerang tersebut. Kenyataan ini mendorong masyarakat untuk mencari metode baru dalam usaha pengawetan bambu. Pengawetan bambu dilakukan dengan berbagai cara, antara lain: pengaturan waktu tebang, pengecatan dan modifikasi bambu dengan bahan tertentu. Modifikasi bambu dapat dilakukan melalui 3 cara, salah satunya impregnasi bahan pengawet ke dalam bambu. Masuknya bahan pengawet terbukti telah memperpanjang waktu pakai bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penetrasi larutan asam borat-boraks dengan aditif formaldehida ke dalam bambu apus sebagai bahan pengawet baru, kekuatan mekanik bambu apus yang telah direndam dalam larutan tersebut dan interaksi yang terjadi antara komponen bambu dan pengawet. Penelitian ini bersifat eksperimen di laboratorium. Penelitian ini dirancang untuk melakukan pengawetan bambu apus dengan metode perendaman, yaitu sampel bambu apus direndam dalam larutan asam borat-boraks beraditif formaldehida dan diuji penetrasinya kemudian diuji FTIR untuk mengetahui interaksi yang terjadi antara komponen bambu dan pengawet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetrasi pengawet asam borat – boraks beraditif formaldehid ke dalam serat bamboo tidak berbeda dengan penetrasi asam borat – boraks tanpa aditif formaldehid. Berdasarkan spektrum IR, tidak terjadi perubahan gugus fungsi komponen bambu setelah diberi pengawet, baik dengan asam borat – boraks beraditif formaldehid maupun dengan asam borat – boraks tanpa aditif formaldehid. Kemungkinan pengawet yang diimpregnasikan hanya mengisi jaringan pembuluh bambu dan membentuk endapan.

Pandangan dunia pengarang (Yonathan Rahardjo) dan pengaruhnya terhadap tokoh dalam novel Lanang (sebuah kajian sosiologi pengarang) / Nur Jamilah

 

Kata Kunci: pandangan dunia, novel, sosiologi pengarang Novel sebagai salah satu bentuk karya sastra yang diciptakan pengarang untuk mengungkapkan kehidupan manusia dalam waktu yang lama. Di dalam suatu novel muncul peristiwa-peristiwa yang akan merubah jalan hidup para pelakunya. Dalam novel pengarang menggambarkan perubahan perilaku, watak tokoh, maupun alur cerita, serta sikap dalam menghadapi konflik kehidupan. Pengarang sebagai warga masyarakat, ia dapat dipelajari sebagai makhluk sosial. Sebagai warga masyarakat, ia tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah sosial, budaya, politik, serta mengikuti isu-isu sejamannya. Keterlibatan sosial, sikap, dan ideologi pengarang dapat dipelajari tidak hanya dari karya sastranya, tetapi juga dari dokumen biografinya. Dengan demikian penilaian yang akan diberikan terhadap karya sastra jelas akan kurang lengkap tanpa sebelumnya memahami seluruh seluk-beluk dan latar belakang sosial maupun latar belakang kebudayaan pengarangnya, karena pemahaman terhadap latar belakang kehidupan pengarang akan mempermudah atau dapat membantu memahami karya sastra. Pandangan dunia adalah ekspresi teoritis dari suatu kelas sosial pada saat karya sastra diciptakan dan para pengarang, filsuf, dan seniman yang menampilkannya. Pandangan dunia pengarang akan dapat terungkap melalui tokoh, tokoh itu sendiri adalah tokoh yang mempunyai masalah yang berhadapan dengan kondisi sosial yang ada. Pandangan dunia yang ditampilkan pengarang lewat tokoh merupakan suatu struktur global yang bermakna. Penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh deskripsi tentang pengaruh dunia pengarang sebagai pengarang terhadap tokoh dalam Novel Lanang. Adapun tujuan khusus penelitian ini, yakni mendeskripsikan (1) latar belakang sosial budaya pengarang dan pengaruhnya terhadap latar belakang sosial budaya tokoh dalam novel Lanang, (2) sumber ekonomi pengarang dan pengaruhnya terhadap sumber ekonomi tokoh dalam novel Lanang, dan (3) ideologi pengarang dan pengaruhnya terhadap ideologi tokoh dalam novel Lanang Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi pengarang. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks novel Lanang dan keterangan tentang pengarang (Yonathan Rahardjo). Data berupa unit-unit teks yang berisi deskripsi tentang pengaruh latar belakang, sumber ekonomi, ideologi Yonathan Rahardjo yang mempengaruhi latar belakang, sumber ekonomi, ideologi tokoh dalam novel Lanang . Pengumpulan data dilakukan dengan membaca sumber data dan peneliti berperan sebagai instrument (human instrument). Peneliti melakukan identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi data berdasarkan permasalahan yang dikaji. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menyeleksi, mengklasifikasi, menafsirkan, dan memaknai data kemudian mengambil kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh beberapa kesimpulan, Pertama adanya pengaruh latar belakang sosial budaya pengarang terhadap latar belakang sosial budaya tokoh dalam novel Lanang mencakup (1) pengaruh latar belakang pendidikan pengarang terhadap latar belakang pendidikan tokoh, (2) pengaruh latar belakang keluarga pengarang terhadap latar belakang keluarga tokoh, (3) pengaruh latar belakang sosial pengarang terhadap latar belakang sosial tokoh, dan (4) pengaruh latar belakang budaya pengarang terhadap latar belakang budaya tokoh. Kedua adanya pengaruh sumber ekonomi yakni pekerjaan pengarang terhadap sumber ekonomi tokoh dalam novel Lanang mencakup (1) pengaruh pekerjaan pengarang sebagai dokter hewan praktik terhadap pekerjaan tokoh sebagai dokter hewan praktik, (2) pengaruh pekerjaan pengarang sebagai technical service dan medical representative terhadap pekerjaan tokoh sebagai technical service dan medical representative, dan (3) pengaruh pekerjaan pengarang sebagai wartawan terhadap pekerjaan tokoh sebagai wartawan . Ketiga pengaruh ideologi pengarang terhadap ideologi tokoh dalam novel Lanang mencakup pandangannya terhadap (1) konsep tentang Tuhan, (2) konsep hubungan antar manusia, dan (3) konsep hubungan dengan lingkungan. Saran-saran yang dapat disimpulkan berdasarkan kesimpulan tersebut, yakni (1) peneliti berikutnya yang melakukan penelitian yang sejenis, disarankan untuk dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi penelitian dan disertai pengembangan masalah dari sudut pandang yang berbeda, (2) hasil penelitian ini hendaknya bagi pemerhati sastra disarankan agar dapat digunakan sebagai salah satu referensi dalam memahami bentuk kajian sosiologi pengarang, dan (3) para guru SMP dan SMA/MA/SMK, disarankan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai referensi dalam pengembangan bahan ajar, khususnya pengkajian sosiologi pengarang sebagai cerminan pengajaran unsur ekstrinsik sebuah novel.

Permasalahan penerapan pembelajaran tematik di kelas awal sekolah dasar / Ari Pudjiastuti

 

Kata kunci : Pembelajaran Tematik, Kelas Awal Sekolah Dasar. Sejak diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, telah terjadi perubahan paradigma dalam pendidikan, dari kurikulum yang sentralistik menjadi kurikulum yang desentralistik, termasuk di pendidikan dasar. Perubahan tersebut terjadi pada pembelajaran di kelas awal, yang semula menggunakan pendekatan mata pelajaran menjadi pendekatan tematik. Pembelajaran tematik merupakan salah satu teknik dari pembelajaran terpadu yang mengaitkan konsep-konsep dari beberapa mata pelajaran dengan tema sebagai pemersatu. Dengan suasana tersebut, anak akan terlatih mengaitkan informasi yang satu dengan informasi yang lain sehingga dapat menghadapi situasi silang lingkungan, silang pengetahuan, ataupun silang perangkat dengan keasyikan yang menyenangkan dan sekaligus menjadikan mereka belajar aktif dan terlibat langsung dalam kehidupan nyata. Perubahan ini berpengaruh pada kesiapan sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik, terutama guru sebagai pelaku pembelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian ini dilakukan di Sumatera Barat dan Kalimantan Barat. Fokus penelitian ini adalah (1) Bagaimana permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan persiapan pembelajaran tematik di kelas awal Sekolah Dasar? (2) Bagaimana permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas awal Sekolah Dasar? (3) Bagaimana permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penilaian pembelajaran tematik di kelas awal Sekolah Dasar? Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan persiapan pembelajaran tematik antara lain : (1) Guru mengalami kesulitan dalam menjabarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator terutama dalam hal menentukan kata kerja operasional yang tepat; (2) Guru kesulitan dalam mengembangkan tema dan contoh tema tidak selalu sesuai dengan kondisi lingkungan belajar siswa; (3) Guru kesulitan cara melakukan pemetaan bagi Kompetensi Dasar yang lintas semester dan Kompetensi Dasar yang tidak sesuai dengan tema; (4) Beberapa contoh silabus pembelajaran tematik yang ada sangat beragam pendekatannya sehingga menimbulkan masalah dan keraguan untuk menggunakan; (5) Guru kesulitan dalam merumuskan keterpaduan berbagai mata pelajaran pada langkah pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Permasalahan pelaksanaan pembelajaran tematik antara lain : (1) Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengajarkan lagu anak-anak sesuai tema; (2) Bahan ajar yang tersedia masih menggunakan pendekatan mata pelajaran sehingga menyulitkan guru memadukan materi sesuai tema; (3) Bahan ajar tematik masih bersifat nasional sehingga beberapa materi kurang sesuai dengan kondisi lingkungan belajar siswa; (4) Model team teaching sesuai untuk kondisi sekolah yang menerapkan sistem guru bidang studi. Namun model ini memerlukan koordinasi dan komitmen yang tinggi pada masing-masing guru; (5) Sekolah yang kekurangan jumlah guru menerapkan model pembelajaran kelas rangkap, sehingga kesulitan menerapkan pembelajaran tematik di kelas awal; (6) Untuk guru kelas dapat menggunakan model webbed yakni pembelajaran yang menggunakan suatu tema sebagai dasar pembelajaran dalam berbagai disiplin mata pelajaran; (7) Lingkungan sekolah di wilayah kabupaten masih standar dan sarana teknologi sangat kurang karena sarana pendukungnya yang tidak memenuhi syarat; (8) Guru membuat rangkuman atau kesimpulan bersama-sama dengan siswa dilakukan setiap hari di akhir pelajaran dan di akhir tema setelah berlangsung beberapa kali pertemuan; (9) Jadwal yang menggunakan mata pelajaran menyulitkan guru dalam memadukan berbagai mata pelajaran secara luwes; (10) Penggunaan jadwal tema lebih luwes dalam penyampaian pembelajaran tematik, namun memerlukan perencanaan yang matang dalam hal bobot penyajian antar mata pelajaran. Permasalahan penilaian pembelajaran tematik antara lain : (1) Guru kesulitan dalam melakukan penilaian bagi siswa kelas 1 yang belum lancar membaca dan menulis; (2) Penilaian lisan, unjuk kerja, tingkah laku, produk maupun portofolio sudah dilakukan namun jarang didokumentasikan; (3) Guru masih kesulitan membuat instrumen penilaian unjuk kerja, produk dan tingkah laku, sehingga cenderung lebih suka menggunakan penilaian tertulis; (4) Guru masih kesulitan menentukan Kriteria ketuntansan Minimal; (5) Guru juga menemui kesulitan dalam cara menilai pembelajaran tematik, karena rapor siswa menggunakan mata pelajaran.

Perbedaan tingkat kesehatan bank antara bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global / Ralengga Soqmanoreqa

 

Kata kunci: tingkat kesehatan bank, bank konvensional, bank syariah, krisis ekonomi global, CAMELS. Tingkat kesehatan perbankan Indonesia sebelum krisis ekonomi global menunjukkan kondisi perbankan yang sehat dengan CAR di atas 8%, profitabilitas dan efisiensi perbankan Indonesia sangat baik serta jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) berada di atas kredit yang diberikan. Namun saat krisis ekonomi global bank konvensional mengalami kesulitan likuiditas dan meminta bantuan likuditas kepada Bank Indonesia. Keadaan sebaliknya terjadi pada bank syariah Indonesia. Kinerja pertumbuhan pembiayaan bank syariah tetap tinggi sampai Februari 2009. Hal ini dikarenakan perbedaan dalam sistem operasi perbankan konvensional dan perbankan syariah. Untuk mengetahui perbedaan tingkat kesehatan bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global digunakan analisis tingkat kesehatan bank yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu analisis CAMELS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global dan untuk mengetahui perbedaan tingkat kesehatan antara bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global. Populasi dalam penelitian ini adalah bank konvensional dan bank syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Bank Indonesia sebanyak 29 bank konvensional dan 5 bank syariah. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dan dihasilkan 23 bank konvensional dan 3 bank syariah yang memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai sampel penelitian. Analisis data yang digunakan adalah uji beda menggunakan Independen Sample T-Test dan Paired Sample T-Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan CAMELS tingkat kesehatan bank konvensional dan bank syariah periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global berada pada kondisi perbankan yang sehat. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kesehatan bank konvensional periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global. Pada bank syariah pun tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kesehatan bank periode sebelum dan setelah krisis ekonomi global. Berdasarkan rasio CAR, KAP(1), KAP(2), NPM, ROA, dan NIM tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kesehatan bank antara bank konvensional dan bank syariah. Berdasarkan rasio ROE, BOPO, dan LDR terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kesehatan bank antara bank konvensional dan bank syariah. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi perbankan konvensional agar menjaga efisiensi penggunaan biaya operasional seperi penghematan biaya administrasi dan umum. Untuk perbankan syariah Indinesia disarankan dapat lebih menyeleksi nasabah peminjam untuk menghindari risiko gagal bayar. Bagi Bank Indonesia diharapkan adanya pergantian format dan transparasi pada laporan keuangan perbankan Indonesia dalam perhitungan rasio CAMELS serta penjelasan mengenai kriteria penilaian tingkat kesehatan bank sehingga penilaian analisis CAMELS dengan pola Bank Indonesia dapat dilakukan sepenuhnya. Bagi peneliti selanjutnya disarankan dapat melibatkan penilaian dari aspek Management dan Sensitivity to Market Risk sesuai dengan komponen penilaian yang telah ditetapkan Bank Indonesia agar diperoleh kinerja keuangan yang relevan.

Perancangan inverter daya 500 watt sebagai sarana PLTS / Afwan Fahrudin

 

Kata Kunci: PLTS, Inverter. Peralatan inverter yang mengandung oscillator, transistor, dan trafo step up. Dalam aplikasinya invereter dapat digunakan pada perangkat rumah tangga, komputer, peralatan pertukangan, pompa air, kipas angin, dan sistem suplay energi pada rumah di daerah terpencil dan berbagai barang elektronik lainnya. Alat ini berguna pada perangkat rumah tangga yang banyak digunakan terutama pada saat listrik padam, dan ketika membutuhkan sumber AC untuk digunakan pada lampu dan lainnya. Prinsip kerja inverter dimulai dari sumber tegangan DC dari bateray yang sebelumnya telah diisi oleh panel surya. Dari tegangan DC akan masuk ke rangkaian oscillator yang akan mengubah keluaran sinyal dan frekuensinya. Kemudian keluaran dari oscillator akan masuk kerangkaian driver untuk dikuatkan arusnya, dengan tujuan akan dihubungkan ke transformator step up. Transformator mengubah tegangan dari 12 Volt ke 220 Volt sesuai dengan tegangan PLN. Pada tugas akhir ini membahas mengenai bagaimana rancangan inverter daya 500 Watt sebagai sarana PLTS, bagaimana merakit inverter daya 500 Watt sebagai sarana PLTS, dan bagaimana hasil uji coba inverter daya 500 Watt dengan beban bervariasi sebagai sarana PLTS. Dari hasil pengujian dan pembahasan “ Perancangan Inverter daya 500 Watt Sebagai Sarana PLTS” Inverter yang dirancang memiliki spesifikasi nameplate, yaitu V = 220 V dan f = 50 Hz dengan daya 500 Watt serta telah berhasil diuji coba pada beban motor AC dan komputer dengan daya 380 W. Berdasarkan hasil pengujian performa alat ini mempuyai f = 49.99 Hz dan tegangan 215 Volt.

Pengaruh manajemen laba dan profitabilitas terhadap return saham pada perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI periode 2006-2008 / Betty Fajarini

 

Kata kunci: Manajemen Laba, Profitabilitas, dan Return. Manajemen Laba adalah campur tangan pihak manajemen untuk mengelola laba dengan maksud untuk memberikan gambaran yang baik mengenai kondisi perusahaan kepada pemegang saham. Manajemen laba dapat dilakukan dengan cara menaikkan atau menurunkan laba. Laba perusahaan yang tinggi dipercaya dapat menumbuhkan kepercayaan seorang investor untuk berinvestasi. Semakin tingi investasi tentu akan semakin tinggi pula keuntungan yang akan didapat, sehingga hal ini diyakini akan berpengaruh terhadap return saham. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Jika profitabilitas sebuah perusahaan meningkat, maka dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang dimiliki pemegang saham berupa return saham. Return adalah perbedaan nilai saham sebelumnya dengan nilai sekarang, yang akan dibagikan kepada investor. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan makanan dan minuman yang listing di BEI periode 2006-2008. Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan purposive sampling. Variabel independen terdiri dari manajemen laba yang diproksikan dengan Discretionary Accruals, dan profitabilitas dengan Return On Asset. Sedangkan variabel dependennya adalah Return Saham. Data yang digunakan dalam peneitian ini adalah data sekunder berupa laporan keuangan dan harga saham penutupan. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil analisis penelitian adalah sebagai berikut: 1 a) Discretionary Accruals selama tiga tahun penelitian adalah -0,00041 yang berarti sebagan besar perusahaan sampel melakukan manajemen laba dengan pola income decreasing (mean bertanda negatif), b) Rata-rata nilai ROA selama tiga tahun penelitian adalah 0,10489, c) Rata-rata nilai Return Saham selama tiga tahun penelitian adalah 0,18142; 2) Tidak terdapat pengaruh manajemen laba terhadap return, yang terbukti dengan nilai signifikansi sebesar 0,220; 3) Tidak terdapat pengaruh profitabilitas terhadap return, yang terbukti dari nilai signifikansi sebesar 0,629; 4) Tidak terdapat pengaruh manajemen laba dan profitabilitas secara simultan tidak berpengaruh terhadap return, yang terbukti dengan nilai signifikansi sebesar 0,724. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperbesar jumlah sampel dan menggunakan sampel pada perusahaan-perusahaan besar atau perusahaan yang masuk dalam kategori LQ-45, sehingga hipotesis dapat terjawab. Penelitian yang selanjutnya juga diharapakan dapat memperpanjang periode atau rentang waktu penelitian, dan meneliti variabel lain yang berkaitan dengan manajemen laba dan profitabilitas.

Analisis peterpenuhan perlengkapan peralatan praktikum sepeda motor untuk mencapai kompetensi dasar dalam KTSP di SMK Muhammadiyah 1 Malang / Luqmanul Khakim

 

Kata Kunci: Keterpenuhan Perlengkapan, Peralatan Praktikum Sepeda Motor, Kompetensi Dasar, KTSP Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan formal yang membimbing, mendidik dan melatih keahlian kepada para peserta didik. Seiring dengan tumbuhnya SMK-SMK baru, terutama SMK jurusan Otomotif, peran peralatan praktikum adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh tiap sekolah, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan. Pemerintah dalam ini menetapkan standar kelengkapan peralatan yang di atur oleh BNSP. Dalam hal ini peneliti mengambil andil untuk menjembatani antara BNSP dengan sekolah. Tujuan dari peneliti disini adalah untuk menganalisis keterpenuhan peralatan yang ada di SMK dengan standar dari BNSP. Sehingga dengan keberadaan peneliti tersebut akan memberikan masukan kepada pihak sekolah akan kelebihan dan kekurangan dari peralatan yang dimiliki pihak sekolah. Setelah itu peneliti menganalisis sejauh mana tingkat keberhasilan kompetensi dasar berdasarkan peralatan praktikum. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh peralatan praktikum sepeda motor yang ada di SMK Muhammadiyah 1 Malang. Berdasarkan hasil penelitian melalui analisis prosentase menunjukkan bahwa jumlah dari masing-masing variabel peralatan praktikum sepeda motor untuk mencapai kompetensi dasar dalam KTSP di SMK Muhammadiyah 1 Malang dapat disimpulkan, diantaranya standar kompetensi yang memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) SMK antara lain standar kompetensi: Perbaikan Sistem Hidrolik, Sistem Gas Buang, Perbaikan Sistem Bahan Bakar Bensin, Perbaikan Unit Kopling, Perbaikan Ringan Pada Rangkaian Sistem Kelistrikan Dan Instrumen, Perbaikan Sistem Starter, Perbaikan Sistem Pengisian, Perbaikan Sistem Pengapian. Kemudian standar kompetensi yang belum memenuhi SPM SMK adalah Memelihara Baterai, Overhaul Kepala Silinder, Overhaul Sistem Pendingin, Perbaikan Engine Berikut Komponen-Komponennya, Perbaikan Sistem Transmisi Manual, Perbaikan Sistem Transmisi Otomatis, Perbaikan Sistem Suspensi, dan Servis pada Roda, Ban dan Rantai. Hasil dari analisis diatas menunjukkan tidak semua kompetensi dasar ditunjang secara penuh oleh kelengkapan peralatan praktikum sesuai dengan standar BNSP. Maka dari itu untuk pihak sekolah yaitu untuk segera menambahkan kekurangan jumlah peralatan praktikum sesuai kompetensi dasar tersebut diatas serta memaksimalkan penggunaan peralatan masing-masing tersebut sehingga keberadaan dari peralatan-peralatan tersebut masih bisa digunakan lagi untuk jangka waktu yang lama.

Pengaruh akumulasi logam berat terhadap protein dan vitamin sayuran air serta pemanfaatannya untuk penyusunan bahan bacaan efek fitoremediasi / Hening Widowati

 

Kata kunci: akumulasi logam berat, bahan bacaan efek fitoremediasi, kadar protein dan vitamin sayuran air Pencemaran logam berat akibat perkembangan teknologi dan aktivitas manusia modern sulit dikendalikan, berpeluang terakumulasi pada habitat pertanian. Tanaman sayuran dapat berperan sebagai fitoremediator pencemaran, yang menyerap logam berat. Logam berat yang terserap ke dalam batang dan daun yang dikonsumsi, selanjutnya akan masuk ke dalam siklus rantai makanan. Logam berat akan bertindak sebagai radikal bebas prooksidan, bila melebihi batas toleransi dapat menimbulkan keracunan bagi tumbuhan, hewan maupun manusia. Untuk menghilangkan efek negatif radikal bebas, tanaman mengembangkan mekanisme pertahanan diri dengan menerapkan sistem antioksidan oleh vitamin antioksidan A dan C, sehingga kadar vitamin dalam sayuran menurun. Mencermati penyerapan logam berat dan hubungannya dalam mempengaruhi kadar protein, vitamin A, vitamin C melalui perubahan warna hijau sayuran merupakan langkah antisipasi pengaruh negatif logam berat pencemar. Penelitian bertujuan mengidentifikasi logam berat yang berpotensi terakumulasi pada organ sayuran air, dan pengaruhnya terhadap kandungan protein, vitamin A, vitamin C dan perubahan warna pada batang dan daun sayuran. Penelitian Tahap I melakukan survei di lingkungan bersih dan tercemar. Data dianalisis dengan One-Way Anova, regresi dan korelasi untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dan kontribusi masing-masing logam berat dalam mempengaruhi protein dan vitamin sayuran. Penelitian Tahap II melakukan eksprimen untuk menguji besar akumulasi logam berat pencemar pada organ sayuran yang dikonsumsi dan pengaruhnya terhadap kadar vitamin antioksidan A dan C, serta perubahan warna hijau pada batang dan daunnya. Percobaannya menggunakan Rancangan Acak Kelompok 3 faktor, meliputi faktor pertama variasi jenis sayuran, faktor kedua variasi bagian organ sayuran, faktor ketiga variasi media tercemar logam berat, dalam tiga waktu pemanenan yaitu sebelum, tepat, dan setelah kebiasaan memanen. Data dianalisis dengan One-Way Anava Faktorial untuk melihat ada tidaknya perbedaan, serta Anakova untuk melihat perbedaan sebelum dan setelah perlakuan, dilanjutkan Uji Beda Nyata Jujur/HSD dan Duncan; Regresi untuk mengetahui pengaruh logam berat terhadap vitamin A, vitamin C, dan warna hijau pada batang dan daun sayuran; serta Korelasi untuk mengetahui hubungan di antaranya. Hasil penelitian dimanfaatkan untuk antisipasi pengaruh logam berat terhadap penurunan protein, vitamin A, dan vitamin C dengan menyusun bahan bacaan efek fitoremediasi berupa buku pengetahuan dan leaflet pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan keamanan pangan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disusun kesimpulan: 1) Perairan tercemar logam berat yang ditumbuhi sayuran air memiliki karakteristik melebihi ambang batas maksimal persyaratan air kelas IV untuk pertanaman pada parameter BOD, COD, DHL, pH, logam berat Cd, Cr, Cu, Pb, dan Zn.; 2) Logam berat As, Cd, Cr, Cu, Pb, dan Zn secara bersama-sama mempengaruhi kadar protein, vitamin A, dan vitamin C vitamin sayuran air. Secara parsial, protein genjer dipengaruhi kenaikan Cd; protein kangkung dan selada air dipengaruhi kenaikan Pb. Vitamin A Genjer dipengaruhi kenaikan Cd parsial atau bersama-sama kenaikan Cd dan penurunan Zn; vitamin A pada kangkung air dipengaruhi kenaikan kenaikan Pb bersama-sama penurunan As, Cd, Zn; protein pada selada air dipengaruhi kenaikan Pb parsial atau bersama-sama kenaikan Pb dan penurunan As. Vitamin C genjer dipengaruhi kenaikan Cd atau bersama-sama kenaikan Cd dan penurunan Zn; vitamin C pada kangkung air dan selada air dipengaruhi oleh kenaikan Pb. Secara umum logam Cd dan Pb paling dominan mempengaruhi penurunan protein, vitamin A, dan vitamin C sayuran air; 3) Ada perbedaan akumulasi logam berat Cd, Pb pada organ batang dan daun berbagai jenis sayuran dalam berbagai waktu pemanenan. Akumulasi logam berat lebih banyak pada bagian batang, pada media logam berat tunggal (Cd atau Pb saja). Akumulasi logam berat Cd terbanyak pada kangkung air, selanjutnya selada air, dan terakhir genjer. Akumulasi logam berat Pb terbanyak pada selada air, selanjutnya kangkung air, dan terakhir pada genjer; 4) Ada perbedaan kadar vitamin A, vitamin C, dan angka skala warna hijau karena pengaruh jenis sayuran, macam media, jenis organ sayuran dan interaksi di antaranya, dalam berbagai waktu pemanenan. Penurunan kadar vitamin A, vitamin C, dan angka skala warna hijau tertinggi pada medium tercemar logam berat tunggal (Cd atau Pb saja) dibandingkan pada medium tercemar campuran antar logam berat (campuran Cd, Pb). Semakin lama rentang waktu pemanenan, semakin tinggi penurunan kadar vitamin A, vitamin C, dan angka skala warna hijau batang dan daun sayuran air; 5) Ada hubungan antara akumulasi logam berat Cd, Pb dengan kadar vitamin A, vitamin C, dan warna skala hijau pada batang dan daun sayuran air. Kenaikan Cd, Pb berpengaruh menurunkan kadar vitamin A, vitamin C, dan warna skala hijau pada batang dan daun sayuran. Besar pengaruh logam berat dalam menurunkan kadar vitamin A, vitamin C, dan warna skala hijau pada batang dan daun untuk masing-masing jenis sayuran adalah tidak sama. Hasil penelitian pengaruh logam berat pencemar terhadap protein dan vitamin sayuran air dapat dimanfaatkan untuk menyusun bahan bacaan umum berupa buku pengetahuan dan leaflet tentang efek fitoremediasi.

Pengaruh lingkungan keluarga dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS SMA Negeri 3 Blitar / Nining Pratiwi

 

Kata Kunci: Lingkungan Keluarga, Kebiasaan Belajar, Prestasi Belajar Ekonomi Pendidikan merupakan usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi belajarnya. Hal ini merupakan hak setiap warga negara Republik Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang disesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Prestasi belajar siswa pada dasarnya dapat dipengaruhi oleh 2 faktor yakni lingkungan keluarga dan kebiasaan belajar. Lingkungan keluarga merupakan pengaruh yang berasal dari keluarga siswa. Pengaruh lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar ekonomi adalah kebiasaan belajar siswa yang berasal dari individu siswa. Dilihat dari pengamatan sementara lingkungan keluarga kurang dominan mendukung dalam prestasi belajar siswa, bila dibandingkan dengan kebiasaan belajar, hal ini disebabkan karena kesibukan kedua orang tua siswa yang cenderung tinggi sehingga mereka kurang dalam memberi perhatian kepada anaknya. Sedangkan lingkungan keluarga yang akan diteliti meliputi keadaan ekonomi keluarga, perhatian orang tua, cara orang tua mendidik, dan kondisi lingkungan keluarga. Diharapkan lingkungan keluarga dan kebiasaan belajar siswa harus saling mendukung agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa menjadi lebih maksimal. Penelitian bertujuan (1) untuk mengetahui adanya pengaruh lingkungan keluarga, kebiasaan belajar, prestasi belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 3 Blitar. Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini terdiri dari lingkungan keluarga (X1) dan kebiasaan belajar (X2). Sedangkan variabel terikatnya (dependent) prestasi belajar siswa (Y). Rancangan penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan lingkungan keluarga (X1), kebiasaan belajar (X2) dan prestasi belajar siswa (Y) dalam bentuk perhitungan presentase. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menentukan besarnya pengaruh lingkungan keluarga (X1) dan kebiasaan belajar (X2) terhadap prestasi belajar siswa (Y) kelas XI IPS SMA Negeri 3 Blitar. Populasi yang berjumlah 112 siswa dan sampelnya 53 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan propotional random sampling dengan menggunakan instrumen kuesioner. skala yang digunakan skala likert dengan 5 alternatif jawaban. Uji kualitas data yang digunakan adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Jenis data menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner, sedangkan data sekunder berupa nilai UTS siswa kelas XI IPS semester gasal tahun ajaran 2010/2011. i Hasil penelitian di SMA Negeri 3 Blitar menunjukkan bahwa analisis pengaruh lingkungan keluarga terhadap prestasi belajar diperoleh nilai sig. t sebesar (0,008) < α(0,05) dan thitung (2.785) > ttabel (2.021), maka lingkungan keluarga berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar. Sedangkan nilai sig. t sebesar (0,000) < α(0,05) dan thitung (5.459) > ttabel (2.021), maka kebiasaan belajar berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar. Analisis pengaruh lingkungan keluarga dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa diperoleh nilai F hitung (57.619) > Ftabel (1.600) dengan tingkat sig. t (0,000) < α(0,05) maka lingkungan keluarga (X1) dan kebiasaan belajar (X2) secara bersama-sama (simultan) berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar siswa. Besar R Square adalah 0.697. Hal ini berarti 69,7% perubahan variabel prestasi belajar (Y) disebabkan oleh perubahan variabel lingkungan keluarga (X1) dan kebiasaan belajar (X2), sedangkan sisanya sebesar 30,3% disebabkan oleh variabel lain. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang simultan dan parsial antara lingkungan keluarga dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa. Saran yang bisa diberikan (1) Orang tua hendaknya lebih meningkatkan perhatian kepada anaknya misalkan dengan cara membuat jadwal belajar dan menemaninya saat anak belajar serta dapat membantu pada saat anak mengalami kesulitan belajar agar perkembangan anak dapat lebih baik lagi sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya. (2) Pihak sekolah hendaknya perlu meningkatkan kerjasama dengan orang tua siswa dalam berbagai bidang (selain finansial) seperti lebih memperhatikan perkembangan anak didiknya, memantau dan mengarahkan siswa agar memiliki kebiasaaan belajar yang positif sehingga akan menciptakan kondisi belajar yang baik dan kondusif yang dapat mendukung prestasi belajar siswa. (3) Bagi Peneliti Selanjutnya apabila meneliti hal yang sama dengan penelitian ini diharapkan variabel yang ingin diteliti lebih diperluas lagi dan hasil penelitian dari data ordinal seharusnya dirubah ke dalam bentuk data interval terlebih dahulu sehingga data yang diregresi akan lebih akurat dan hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai landasan atau literatur untuk penelitian lebih lanjut.

Pengaruh proses penyangraian beras ketan terhadap kualitas olahan bareh randang (kudapan tradisional khas Payakumbuh) / Muthia Osfira

 

kata kunci : penyangraian, bareh randang, daya terima Bareh randang adalah kudapan tradisional Minang Kabau khas Kota Payakumbuh. Bewarna putih, rasa manis gurih, tekstur padat berpasir, bagian luar agak mengkilap akibat adanya minyak kelapa dari santan kental yang dimasak. Berbahan dasar beras ketan yang disangrai, kemudian dihaluskan untuk dijadikan tepung, dicampur dengan gula pasir yang telah dimasak dengan santan kental. Aroma harum khas bareh randang (aroma beras ketan yang disangrai). Tujuan penelitian ini untuk menemukan apakah terdapat pengaruh proses penyangraian beras ketan terhadap kualitas hasil olahan bareh randang dengan menggunakan bahan bakar dan wadah penyangraian beras ketan yang berbeda serta melihat daya terima masyarakat Malang terhadap kudapan tradisional Payakumbuh. Penelitian ini disusun menggunakan Rancang Acak Kelompok dua faktor didapat kombinasi perlakuan sebanyak 4 macam yaitu P1W1 (gas LPG-wajan stainless stell), P1W2 (gas LPG-wajan tanah liat), P2W1 (arang kayu- wajan stainless stell) dan P2W2 (arang kayu-wajan tanah liat) masing-masing 3 kali pengulangan. Pengujian perbedaan terhadap aroma, warna, tekstur dan rasa serta kesukaan dengan format penilaian terhadap subjek uji coba, data hasil pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Varian. Hasil penelitian menunjukan adanya perbedaan pada setiap produk bareh randang. Aroma bareh randang perlakuan P2W1 dengan skor 3,383 yaitu lebih kuat dibandingkan tiga perlakuan bareh randang yang lain. Perbedaan terhadap warna juga berbeda antar tiap perlakuan. Warna bareh randang perlakuan penyangraian P2W2 lebih putih agak cokelat dari 3 perlakuan lain dengan skor 3,025. Perbedaan tekstur pada setiap perlakuan penyangraian bareh randang hampir sama yaitu padat berpasir, yang paling padat berpasir adalah perlakuan penyangraian P2W1 dengan skor 2,942. Untuk rasa bareh randang perlakuan P1W1 dengan skor 2,917 yaitu cukup manis gurih. Untuk nilai parameter organoleptik yaitu rerata tingkat kesukaan panelis terhadap aroma, warna, tekstur dan rasa masing-masing berkisar antara 2,65 (cukup menyukai) sampai 3,15 (menyukai untuk aroma), untuk warna juga berkisar antara 2,65 (cukup menyukai) sampai 3,15 (menyukai), untuk tekstur berkisar antara 2,45 sampai 2,98 (cukup menyukai) dan untuk rasa berkisar antara 3,2 sampai 3,425 (menyukai). Dapat ditarik kesimpulan bahwa perlakuan penyangraian P2W2 lebih disukai dibanding perlakuan yang lain. Bareh randang dapat diterima oleh masyarakat Malang.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 |