Metode pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis fisika siswa kelas X-4 SMA Negeri Ngoro Jombang / Zetira Sayidatuttakhiyati

 

Kata Kunci: Pembelajaran kooperatif, group investigation, berpikir kritis Berdasarkan observasi awal pembelajaran Fisika di SMA Negeri Ngoro Jombang masih belum maksimal. Hal ini terlihat selama pembelajaran Fisika berlangsung, siswa cenderung tidak aktif. Siswa hampir tidak pernah bertanya kepada guru dan hanya sesekali menjawab pertanyaan guru. Untuk mengatasi masalah tersebut, guru harus mencari dan menemukan suatu cara yang dapat menumbuhkan keaktifan siswa. Guru diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah siswa terhadap pelajaran Fisika. Salah satu pembelajaran yang dapat membantu siswa berlatih memecahkan masalah adalah model Group Investigatin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kelas X-4 SMA Negeri Ngoro Jombang. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan 2 siklus dengan pokok bahasan “Hukum Newton”. Penelitian ini dilaksanakan pada semester gasal tahun ajaran 2010/2011. Berdasarkan hasil analisis dan refleksi, diketahui bahwa setelah diterapkan model pembelajaran Group Investigation, terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya skor kemampuan berpikir kritis siswa dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model Group Investigtion dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X-4 SMA Negeri Ngoro Jombang tahun ajaran 2010/2011

Analisis perkembangan pendapatan asli daerah dalam mendukung kemandirian fiskal daerah Kabupaten Malang tahun 2005-2009 / Irfan Supriyono

 

Kata kunci: Pendapatan Asli Daerah, Kemandirian Fiskal Daerah Perubahan penting yang terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan melalui otonomi daerah atau desentralisasi ditetapkan oleh pemerintah melalui Undang-undang No.32 Tahun 2004 yang diperbaharui dengan UU No 12 tahun 2008. Inti dari kebijakan otonomi daerah tersebut adalah pelimpahan atau pemberian sebagian wewenang pemerintah pusat pada pemerintah daerah, kabupaten dan kota. Pemberian kewenangan tersebut harus dilaksanakan karena semakin besar dan beragamnya kebutuan masyarakat saat ini dan masa mendatang, Suatu daerah dapat dikatakan mampu melaksanakan otonomi jika daerah memiliki kemampuan dan kewenangan menggali berbagai sumber, mengelola dan menggunakan keuangan untuk membiayai penyelanggaraan pemerintahan dan mengurangi ketergantungan pada pemerintah pusat. Demikian halnya dengan Kabupaten Malang yang berusaha meningkatkan pendapatan asli daerahnya untuk mencukupi pembiayan daerah. Upaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tentunya tidak terlepas dari peranan masing-masing komponen Pendapatan Asli Daerah. Komponen yang ada seperti penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba usaha milik daerah, serta lain-lain penerimaan yang sah. Dalam perkembangannya, retribusi daerah memberikan kontribusi yang cukup besar, sehingga perlu digali secara optimal Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendiskripsikan tentang (1) perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kabupaten Malang tahun 2005-2009, (2) tingkat kemandirian fiskal daerah Pemerintah Kabupaten Malang tahun 2005-2009, (3) upaya mengembangkan Pendapatan Asli Daerah dalam mendukung kemandirian fiskal daerah Pemerintah Kabupaten Malang tahun 2005-2009 Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif dengan perpaduan pendekatan kuantatif dan kualitatif dari berbagai sumber data yang relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian baik data primer maupun data sekunder. Penelitian dilakukan di Pemerintah Kabupaten Malang. Sumber data terdiri dari data kepustakaan dan data lapangan. Data kepustakaan bersumber dari dokumen yang berkaitan dengan perkembangan PAD dan kemandirian fiskal daerah. Ssedangkan data yang bersumber dari lapangan diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis prosentase, analisis kontribusi, analisis kinerja daerah dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa selama tahun 2005-2009 rata-rata perkembangan penerimaan pajak daerah 9%, retribusi daerah 27 %, hasil kekayaan daerah yang dipisahkan 17 %, lain-lain PAD yang sah 96 %. Sedangkan rata-rata kontribusi pajak daerah terhadap PAD 16,87%, retribusi daerah 28,30%, hasil kekayaan daerah yang dipisahkan 4,57%, lain-lain PAD yang sah 34,29%. Rata-rata realisasi atas target pajak daerah adalah sebesar 111,63%, retribusi daerah 98,81%, hasil kekayaan daerah yang dipisahkan 94,62 %, lain-lain PAD yang sah 137,81%. Tingkat kemandirian fiskal Kabupaten Malang dilihat masih rendah hal ini dilihat derajad desentralisasi fiskal, BHPBP secara rata-rata selama lima tahun anggaran (2005-2009) sebesar 7,94 dan 6,06% sedangkan sumbangan/subsidi dari pemerintah pusat sebesar 86,04%. Pemerintah kabupaten Malang memiliki kapasitas fiskal yang lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan fiskalnya.. Hal ini berarti bahwa pemerintah kabupaten Malang belum mampu memenuhi kebutuhan fiskal daerahnya memerlukan subsidi dari pemerintah pusat. Upaya intensifikasi derajat desentralisasi fiskal yaitu meningkatkan kontribusi BUMD dengan upaya pengelolaan BUMD secara efisien dan efektif, melalui perbaikan manajemen, dan peningkatan profesionalisme BUMD, serta memperkuat permodalan BUMD. Sedangkan upaya ekstensifikasinya yaitu Mengidentifikasi potensi-potensi yang dapat dijadikan sumber-sumber penerimaan PAD yang baru dengan syarat tidak membebani masyarakat lokal Upaya intensifikasi elastistas PAD terhadap PDRB yaitu menerapkan dan menyempurnakan keberadaan perda dan perbup tentang pengelolaan PAD dan PDRB secara optimal. Sedangkan upaya ekstensifikasi yaitu meningkatkan pendapatan perkapita melalui pelatihan, pembinaan dan sosialisasi sehingga masyarakat memiliki ketrampilan. Kemudian pemerintah daerah harus membuka lapangan kerja untuk menyerap tenaga kerja yang bersangkutan. Berdasarkan penelitian ini disarankan agar dalam upaya peningkatan kemandirian fiskal daerah pemerintah daerah juga dituntut untuk mengoptimalkan potensi pendapatan yang dimiliki dan salah satunya memberikan proporsi belanja modal yang lebih besar untuk pembangunan pada sektor – sektor yang produktif di daerah. Pemerintah daerah hendaknya terus mengupayakan kebijakan otonomi daerah yang bersifat ekspansif terutama disektor PAD. Penggalian sumber-sumber daerah yang berpotensi untuk meningkatkan penerimaan daerah terus dilaksanakan sehingga dapat mengurangi ketergantungan sumber keuangan daerah yang berasal dari pemerintah pusat.

Optika fisis dan penerapannya / Fatmawati Tanjong

 

Kata Kunci : Interferensi cahaya, Difraksi cahaya, Polarisasi cahaya, Optik fisis. Optika fisis merupakan salah satu bagian Ilmu Fisika yang mempunyai manfaat dan peranan yang sangat besar dalam kehidupan sehari – hari. Dalam optika fisis terdapat beberapa konsep yang sulit dipahami oleh para siswa terutama di sekolah-sekolah yang berada di daerah pedalaman. Yaitu, interferensi cahaya, difraksi cahaya dan polarisasi cahaya. Agar siswa mudah untuk memahaminya, dibutuhkan bahan pembelajaran dengan bahasa sederhana dan jelas, dilengkapi dengan contoh kehidupan sehari-hari dan contoh eksperimen. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan tujuan untuk menghasilkan bahan pembelajaran optika fisis dengan kalimat-kalimat sederhana dan jelas. Dilengkapi dengan analisis contoh-contoh peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, serta contoh-contoh eksperimen di laboratorium. Prosedur pengembangan meliputi: kajian teori, contoh kehidupan sehari-hari, contoh eksperimen di laboratorium, pengembangan draf, validasi isi oleh ahli, revisi dan uji lapangan. Setelah dilakukan revisi dan validasi ulang oleh ahli diperoleh bahwa bahan pengembangan optika fisis yang dikembangkan telah memiliki kategori yang baik untuk semua ukuran kelayakan, Sedangkan hasil uji lapangan menunjukan bahwa produk ini telah memenuhi kreteria kelayakan yang cukup baik.

Pengaruh likuiditas, profitabilitas, dan leverage terhadap rasio pembayaran dividen (DPR) dalam tahapan siklus kehidupan perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2005-2009 / Novita Rachmania

 

Kata Kunci : Likuiditas, Profitabilitas, Leverage, Rasio Pembayaran Dividen(DPR), Tahapan Siklus Hidup Perusahaan. Pengambilan kebijakan pembagian dividen, perusahaan harus mempertimbangkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaannya. Terkait dengan laba yang diperoleh dari operasi, perusahaan akan memilih apakah laba tersebut dibagikan dalam bentuk dividen kepada pemegang saham atau investor seluruhnya, ataukah sebagian harus disisihkan untuk digunakan kembali dalam investasi kembali perusahaan (reinvestment). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan perusahaan manufaktur yang dilihat dari tahapan-tahapan siklus perusahaan yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel independen yang berupa current ratio, return on equity, debt to equity ratio, dan variabel dependennya yaitu rasip pembayaran dividen (DPR). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling yang merupakan suatu bentuk dari convenience sampling bila ditinjau dari cara-cara pengambilan sampelnya. Penetapan siklus kehidupan perusahaan menurut Agrrawal & Gup (1996) didasarkan pada pertumbuhan penjualan yang dihitung dengan rumus [(net sales t – net sales t-1) / net sales t – 1] × 100 %. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap start up, variabel yang tidak berpengaruh hanya current ratio karena pada tahap ini keuntungan perusahaan sangat kecil. Pada tahap ekspansi awal variabel yang tidak berpengaruh yaitu likuiditas dan leverage karena adanya keterbatasan kas dan menahan dana dari pihak ketiga. Pada tahap ekspansi akhir variabel yang tidak berpengaruh yaitu profitabilitas karena perusahaan lebih memilih menginvestasikan labanya untuk pertumbuhan perusahaan. pada tahap kedewasaan tidak ada variabel yang tidak berpengaruh. Pada tahap penurunan variabel yang tidak berpengaruh yaitu profitabilitas dan leverage karena keuntungan kecil dan perusahaan tidak berani mengambil dana dari pihak ketiga karena keuangan pada tahap ini mengalami penurunan. Peneliti menyarankan kepada setiap perusahaan untuk selalu memperhatikan kinerja keuangannya untuk pertumbuhan perusahaan dan menyarankan peneliti berikutnya untuk menambah sampel perusahaan, menggunakan proksi yang berbeda dari rasio-rasio yang diteliti, dan menggunakan jenis persamaan yang berbeda seperti menggunakan variabel dummi untuk jenis persamaan penelitian yang lebih terperinci.

Pengaruh persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMAN 1 Tumpang Malang / Novisana Rahmawati Zulfa

 

Kata Kunci : persepsi, kompetensi guru, motivasi, prestasi Pendidikan merupakan usaha untuk mempersiapkan generasi muda sebagai penerus cita-cita bangsa. Untuk itu prestasi siswa perlu ditingkatkan untuk mempertinggi daya saing. Dalam peningkatan mutu pendidikan maupun hasil belajar siswa, Guru memiliki peranan yang sangat penting karena memegang pendidikan dan pengajaran di sekolah sehingga dapat menentukan keberhasilan siswa. Pada mata pelajaran ekonomi materi yang diajarkan kebanyakan mencakup aspek kognitif saja. Sehingga siswa dituntut untuk mampu mengingat bahkan mengahafal apa yang dijelaskan guru ataupun menghafal apa yang ada dalam buku. Oleh karenanya, dibutuhkan seorang guru yang profesional. Karena proses pembelajaran di dalam kelas adalah serangkaian pengalaman yang siswa alami, maka siswa akan memaknai pengalaman ini melalui proses persepsi dan hasil persepsi mempengaruhi aktivitas mental selanjutnya. Persepsi siswa dalam hal ini adalah kompetensi guru sebagai pengajar di kelas. Agar kompetensi yang dimiliki seorang guru baik, maka seorang guru juga memerlukan peranan siswa untuk memberikan penilaian, tanggapan dan koreksi kompetensi guru tersebut. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Tumpang untuk mengetahui (1) pengaruh secara langsung persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi terhadap motivasi belajar, (2) pengaruh secara langsung persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi terhadap prestasi belajar, (3) pengaruh secara langsung motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa, (4) pengaruh tidak langsung persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi terhadap prestasi belajar siswa melalui motivasi belajar siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-1 s.d X-9 yang berjumlah 321 siswa yang masing-masing kelas berbeda jumlah siswanya. Sampel yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 74 siswa yang diambil secara acak dengan teknik proposional random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket dan dokumentasi. Angket yang diisi oleh siswa dan dokumentasi yang didapat dari nilai UTS gasal tahun 2010/2011. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Path Analysis. Hasil analisis dapat diketahui bahwa persepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi memiliki thitung = 5,125 dan ttabel = 1,993 Jadi thitung > ttabel atau signifikansi t= 0,000 terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi. Variabel X2 memiliki thitung = 4,189 dan ttabel = 1,933 Jadi thitung > ttabel atau signifikansi t= 0,000. Variabel X1 mempunyai nilai thitung 15,136 dengan ttabel= 1,993. Jadi thitung > ttabel atau signifikansi t 0,000. Pengaruh tidak langsung sebesar 0,401 sedangkan pengaruh totalnya sebesar 0,891. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Ada pengaruh secara langsung dan positif antara presepsi siswa tentang kompetensi guru ekonomi terhadap prestasi belajar siswa kelas X mata pelajaran ekonomi, terdapat pengaruh secara langsung dan positif tentang motivasi belajar terhadap prestasi belajar , ada pengaruh secara langsung dan positif antara persepsi siswa tentang kompetensi guru terhadap motivasi belajar siswa, ada pengaruhtidak langsung persepsi siswa tentang kompentensi guru terhadap prestasi siswa melalui motivasi belajar. Saran yang dapat diberikan adalah (1) guru hendaknya mempertahankan dan selalu berusaha meningkatkan kompetensinya agar siswa memiliki persepsi yang positif terhadapnya. Dengan demikian siswa akan termotivasi untuk belajar ekonomi sehingga tujuan pembelajaran dicapai dengan optimal, (2) siswa diharapkan selalu meningkatkan motivasi belajarnya karena dengan memiliki motivasi belajar yang tinggi akan berpengaruh terhadap prestasi yang dicapainya dalam pembelajaran tersebut. Karena motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, (3) bagi peneliti yang lain yang akan mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk menambah variabel yang akan diteliti sehingga lebih bias mengungkapkan lebih banyak permasalahan dan memberikan hasil dari temuan penelitian yang lebih berarti dan lebih bermanfaat bagi banyak pihak.

Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan konsumen dalam membeli produk pada warung makan iaga bakar Mas Giri di Malang / Dahniar

 

Kata kunci: Kualitas Produk, Keputusan Pembelian, Warung Makan Iga Bakar Mas Giri. Seiring dengan perkembangan zaman persaingan dunia bisnis saat ini sangat kompetitif dan ketat, ketatnya persaingan tersebut mendorong perusahaan untuk senantiasa memproduksi produk-produk dengan kualitas yang lebih baik. Hal tersebut merupakan wujud dari sebuah masalah yang dihadapi konsumen untuk menentukan pilihan dalam memperoleh keputusan pembelian, karena keputusan pembelian merupakan hasil dari berbagai proses yang direalisasikan dalam bentuk tindakan untuk melakukan suatu pembelian yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginan konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian pada Warung Makan Iga Bakar Mas Giri Di Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian penjelasan atau eksplanatory dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian ini adalah angket yang berisi pilihan jawaban yang telah disediakan (angket tertutup), dengan skala likert. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis data deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk berupa keistimewaan dengan pengaruh paling dominan, kemudian persepsi kualitas, estetika, kinerja, dan yang paling rendah pengaruhnya adalah daya tahan terhadap keputusan pembelian konsumen pada Warung Makan Iga Bakar Mas Giri di Malang baik secara parsial, maupun secara simultan. Berdasarkan hasil tersebut diketahui pula, bahwa pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian yakni sebesar 68,7%, sedangkan 31,3% adalah faktor diluar kualitas produk yang tidak dibahas dalam penelitian. Berdasarkan pada hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat diberikan, sebagai berikut: (1) saran teoritis dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang manajemen restoran dan untuk peneliti selanjutnya diharapkan agar mengkaji beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. (2) saran praktis dengan adanya hasil penelitian ini diharapkan memberi masukan bagi pengembangan Warung Makan Iga Bakar Mas Giri Di Malang dalam jangka panjang.

Pengembangan media permainan monopoli untuk pembelajaran IPS kelas IV pokok materi permasalahan sosial di daerah setempat / Ainul Maghfuroh

 

Kata Kunci: Pengembangan, Media Permainan Monopoli, Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam interaksi pembelajaran, unsur guru dan siswa harus aktif. Aktif tidaknya siswa dalam belajar tentunya diawali dengan timbulnya rasa ketertarikan dan minat siswa itu sendiri dalam mengikuti pelajaran. Oleh sebab itu, untuk mencapai hal tersebut diperlukan suatu metode dan media pembelajaran yang tepat dengan harapan dapat membantu siswa mengembangkan pengetahuan secara efektif. Anak usia SD senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang merasakan atau meragakan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah metode dan media yang sesuai dengan karakteristik tersebut, diantaranya adalah dengan menggunakan media permainan. Dari beberapa masalah tersebut, maka peneliti mencoba mengembangkan sebuah produk media permainan melalui penelitian yang berjudul pengembangan media permainan monopoli untuk pembelajaran IPS kelas IV pokok materi permasalahan sosial di daerah setempat. Adapaun subyek yang di jadikan penelitian adalah siswa SDN Toyomarto IV Singosari-Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah produk sekaligus mengetahui keefektifitasan pemanfaatannya dalam proses pembelajaran. Data penelitian diperoleh dari hasil validasi 2 ahli media, 1 ahli materi, dan siswa. Adapun instrumen yang digunakan berupa lembar angket dan soal tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media telah layak digunakan dalam proses pembelajaran IPS pokok materi permasalahan sosial di daerah setempat. Data yang dijadikan bukti adalah hasil validasi dari 3 validator yaitu 2 ahli media dengan skor 80%, 1 ahli materi 80,3%, siswa 91,8%. Sedangkan hasil belajar siswa pada uji coba lapangan menunjukkan rata-rata nilai siswa sebelum menggunakan media adalah 53 dan setelah menggunakan media adalah 71,1. Untuk efektifitas penggunaan media dilakukan dengan uji statistik t-tes, dan hasilnya t:16,9 kemudian dibandingkan dengan tabel db 29, taraf 5% hasilnya t:2,04. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa setelah menggunakan media lebih tinggi dari pada sebelum menggunakan media, dengan ketentuan thitung>ttabel yaitu 16,9>2,04.

Pemaparan konsep-konsep dasar gelombang / Ruslan Ngabalin

 

Kata kunci: gelombang mekanik, gelombang elektromagnetik, sifat-sifat gelombang. Gelombang adalah peristiwa perambatan energi yang disebabkan oleh suatu sumber gelombang itu sendiri. Gelombang dapat dibedakan berdasarkan medium dan arah getaran terhadap arah rambat gelombang. Gelombang dibagi dalam dua bagian yaitu gelombang mekanik dan gelombang elektromagnetik. Gelombang mekanik mentransmisikan energinya melalui medium. Sedangkan gelombang elektromagnetik tidak harus memerlukan medium untuk mentransmisikan energinya. Berdasarkan arah getaran terhadap arah perambatan gelombang, gelombang dibedakan menjadi dua bagian yaitu gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Gelombang transversal yaitu gelombang yang arah getarannya tegak lurus terhadap arah permabatannya. Sedangkan gelombang longitudinal adalah gelombang yang arah getarannya searah dengan arah perambatannya. Gejala yang dialami gelombang sewaktu mengenai batas medium atau melewati celah (baik cela sempit maupun celah ganda) pada perambatannya, gelombang akan mengalami pemantulan, pembiasan, dispersi, interferensi, difraksi, dan polarisasi. Besaran-besaran fisika yang dimiliki gelombang yaitu simpangan, periode, frekuensi dan panjang gelombang, kecepatan, percepatan, fase, sudut fase, dan beda fase.

Penerapan model pembelajaran creative problem solving untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS siswa kelas VIII SMPN 10 Malang / Eka Rahma Auliya Sari

 

Kata kunci: Pembelajaran Creative Problem Solving, Hasil belajar Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan di SMP Negeri 10 Malang diketahui bahwa pembelajaran IPS masih didominasi oleh ceramah dan kadang-kadang diselingi metode tanya jawab dan diskusi. Pembelajaran tersebut dirasa kurang efektif melatih siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa kurang optimal. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 10 Malang. Subjek penelitian kelas VIII E yang berjumlah 44 siswa. Materi yang diajarkan yaitu permasalahan kependudukan dan upaya penanggulangannya. Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data hasil belajar dengan menggunakan tes yang dilakukan setiap akhir siklus. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Creative Problem Solving. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas setelah diberi tindakan. Pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa sebesar 69,43 dan ketuntasannya 66%. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan data awal (pra tindakan) yaitu 63,75 dengan nilai ketuntasanya 48%. Kemudian meningkat pada siklus II sebesar 78,59 dengan nilai ketuntasan 89%. Jumlah siswa yang sudah tuntas sebelum tindakan sebesar 21 siswa kemudian pada siklus I meningkat menjadi 29 siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 39 siswa. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model Creative Problem Solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Kajian model peluang linear dan grafik pengendali X-R untuk pengendalian kualitas statistik di PT. Hume Sakti Indonesia-Mojokerto / Afdi Bugis

 

Kata Kunci: model peluang linear, grafik pengendali X − R , pengendalian, kualitas statistik, PT. Hume Sakti Indonesia-Mojokerto. Prosedur pengendalian kualitas statistik yang telah secara luas diterapkan adalah dengan menggunakan Grafik Pengendalian atribut maupun variabel. Akan tetapi permasalahan yang timbul adalah untuk karakteristik kualitas yang mempunyai korelasi tinggi, pengendaliannya secara independen akan sangat menyesatkan (Montgomery, 1990). Di samping itu, untuk prosedur pemeriksaan secara bertahap metode ini tidak dapat berfungsi secara simultan. Selanjutnya, alternatif pertama untuk kasus demikian adalah dengan menggunakan Grafik Pengendali X − R . Dengan memandang bahwa interpretasi grafik pengendali pada intinya adalah menerima atau menolak sampel lot tertentu, maka alternatif metode yang ditawarkan adalah metode peluang linear yang merupakan suatu bentuk regresi linear dengan variabel tak bebas dummy dikotomi dan variabel bebas dapat berupa dummy atau bukan. Dengan menggunakan data karakteristik kualitas produk tiang beton tipe 190-270-200 daN produksi PT. Hume Sakti Indonesia Mojokerto diamati variabel-variabel kebengkokan, rentang kebengkokan, kekuatan tarik, banyak ketaksesuaian, retak dan terkelupas, yang selanjutnya dianalisis dengan metode grafik pengendali X − R dan metode peluang linear. Hasil yang didapatkan berupa grafik proses maupun hasil perbandingan, dari hasil tersebut dapat diamati bahwa pada kondisi suatu proses harus mengendalikan karakteristik kualitas kuantitatif dan kualitatif metode peluang linear relatif lebih efektif sebagai metode pengendalian kualitas daripada metode grafik pengendali X − R , di samping itu metode peluang linear juga lebih mempertimbangkan kondisi mesin dibandingkan dengan metode konvensional dengan memberlakukan batas toleransi yang tepat terhadap mesin-mesin produksi. Akan tetapi kenyataannya, metode model peluang linear memang relative lebih rumit daripada kedua metode tersebut dan penerapan metode ini dalam dunia produksi harus didukung oleh basis ilmu statistika yang cukup memadai.

Persepsi guru terhadap strategi pembelajaran dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di SMP Katolik se-kota Malang / Elisabeth Mayonista

 

Kata Kunci: persepsi, strategi pembelajaran, KTSP KTSP merupakan paradigma baru dalam pengembangan kurikulum,yang memiliki otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar-mengajar di sekolah.Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam megelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.Peningkatan mutu pendidikan dapat kita lakukan dengan berbagai cara,salah satunya dengan menggunakan strategi pembelajaran.Dalam pembelajaran.strategi pembelajaran adalah seperangkat tindakan guru untuk mewujudkan proses pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mencapai tujuan belajarnya.Strategi pembelajaran yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah bagaimana pemahaman guru mengenai pengembangan silabus, pengembangan RPP, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan kegiatan evaluasi pembelajaran berdasarkan KTSP. Persepsi adalah suatu pesan aktifitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian,pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain yang dipersepsi.Dasar guru berpersepsi karena guru telah mengenal KTSP, sehinngga peneliti berinisiatif untuk meneliti persepsi guru mengenai KTSP.Setiap guru mempunyai reaksi atau pandangan yang berbeda terhadap perbaikan kurikulum, pandangan itulah yang dimaksud dengan persepsi guru tentang kurikulum,dalam hal ini perbaikan kurikulum lama menjadi kurikulum baru, maka persepsi guru terhadap kurikulum akan menentukan berhasil tidaknya guru mengimplementasikan kurikulum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) persepsi guru dalam mengembangan silabus berdasarkan KTSP; (2) persepsi guru dalam mengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran berdasarkan KTSP; (3) persepsi guru dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan penilaian pembelajaran berdasarkan KTSP Di SMP katolik Se-Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif .yang membahas tentang Persepsi Guru Terhadap Strategi Pembelajaran Dalam Pelaksanaan KTSP Di SMP Katolik Se-Kota Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan angket.Teknik analis yang digunakan adalah persentase.Dalam penelitian ini guru yang dijadikan responden penelitian adalah guru yang mengajar Di SMP Katolik Se-Kota Malang dengan populasi berjumlah 189 orang. Sedangkan sampelnya adalah 83 orang guru yang meliputi SMPK St.Yusup 2,SMPK Frateran Celakat 21,SMPK Mardy Wiyata dan SMPK Sang Tmur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Sebagaian besar guru (54,4%) persepsinya cukup baik terhadap pengembanagn silabus berdasarkan prinsip pengembangan, peran dan tanggung jawab guru dan prosedur pengembangan silabus KTSP; (2) Sebagian besar guru (57,1%) persepsinya baik dalam membuat RPP, mulai dari prinsip pengembangan RPP, cara mengembangakan RPP, sampai pada kinerja guru dalam mengembangkan RPP, hampir semuanya sudah sesuai dengan tuntutan yang ada dalam KTSP; (3)Hampir seluruh guru (84,3%) persepsinya baik dalam pelaksanaan pembelajaran dan penilaian berdasarkan KTSP. Saran-saran yang dapat dikemukakan sehubungan dengan hasil penelitian yang telah diperoleh adalah (1) bagi Diknas disarankan untuk melihat kondidsi di lapangan bahwa ada sebagaian kecil guru masih kurang paham dengan KTSP, maka perlu adanya penelitiantindak lanjut dari pemerintah introspeksi dengan kebijakan yang telah dibuat untuk memantau hasil dari penerapan KTSP di lapangan dan kemudian memberikan solusi atas kendala yang ditemukan. Memperhatikan kesejahtraan guru sebagai motivasi bagi mereka agar bisa memberikan respon positif terhadap perubahan kurikulum yang ada. Selain itu diharapkan agar pemerintah memperhatikan sarana dan prasarana yang ada di masing-masing sekolah, agar sekolah bisa menenuaikan tuntutan-tuntutan KTSP secara maksimal; (2) bagi Kepala sekolah disarankan untuk selalu memperhatikan keadaan guru dilapangan berkaitan dengan kendala-kendala yang dihadapi guru dalam penerapan KTSP, walaupun sebagian besar guru persepsinya baik dan sudah bisa menerapkan KTSP. Kepala sekolah harus bisa menjadi mediasi antara pihak sekolah dengan pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas guru dan kualitas Pendidikan di Sekolah yang bersangkutan; (3) bagi peneliti lain yang menginginkan penelitian yang sama disarankan untuk melakukan observasi langsung pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

Pengaruh pelatihan dan masa kerja terhadap kinerja karyawan (studi pada bank BRI Cabang Martadinata Kota Malang) / Agus Afandi

 

Kata Kunci: Pelatihan, Masa Kerja, Kinerja. Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan ujung tombak dari sebuah perusahaan, untuk menciptakan tenaga kerja yang mempunyai kemampuan, cakap, terampil, mempunyai kemauan dan kesungguhan untuk bekerja secara efektif, perusahaan perlu mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi karyawannya. Hal ini dilakukan agar karyawan terhindar dari keusangan dan dapat mempertahankan diri agar tetap mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik. Selain itu proses penilaian kinerja juga dapat dilihat dari seberapa lama seorang karyawan bekerja pada sebuah perusahaan atau pengalaman-pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Penilaian kinerja tersebut tidak lepas dari beberapa faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diantara faktor-faktor tersebut adalah faktor pelatihan dan masa kerja. Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi pelatihan, masa kerja dan kinerja yang ada di Bank BRI cabang Martadinata Kota Malang serta mengetahui pengaruh signifikan faktor pelatihan dan masa kerja terhadap kinerja karyawan dan varaiabel mana yang dominan mempengaruhi kinerja karyawan. Dalam pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode angket yang dilaksanakan pada tanggal 24 November 2010, sedangkan dokumentasi dan wawancara yang dilaksanakan selama berjalannya penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Bank BRI Cabang Martadinata Kota Malang yang berjumlah 61 orang. Sedangkan sampelnya berjumlah 53 orang dimana pengambilan sampel menggunakan metode proportionate random sampling. Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Dari hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil penelitian sebagai berikut; (a) pelatihan di Bank BRI berjalan baik dan berpengaruh terhadap kinerja dibuktikan dengan sebanyak 38 responden (71,70%) menyatakan setuju, sedangkan 15 responden (28,30%) menyatakan sangat setuju bahwa pelatihan di Bank BRI berjalan sangat baik dan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. (b) Masa kerja karyawan berpengaruh sangat signifikan dibuktikan dengan 27 responden (50,94%) menyatakan sangat setuju, sedangkan 26 responden (49,06%) menyatakan setuju bahwa masa kerja karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan. (c) kinerja karyawan Bank BRI menujukkan kondisi yang sangat baik, terbukti dari 47 responden (88,68%) mempunyai kinerja yang lebih baik dan 6 responden (11,32%) berkinerja baik. Dari hasil analisis statistik inferensial diperoleh hasil sebgai berikut; (a) secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan pelatihan terhadap kinerja karyawan Bank BRI Cabang Martadinata Kota Malang terbukti dari nilai thitung 4,427 > ttabel 2,008. Sumbangan Efektif (SE) variabel pelatihan (X1) terhadap kinerja karyawan (Y) sebesar 19,45%. (b) Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan masa kerja terhadap kinerja karyawan Bank BRI Cabang Martadinata Kota Malang terbukti dari nilai thitung 4,929 > ttabel 2,008. Sumbangan Efektif (SE) variabel masa kerja (X2) terhadap kinerja karyawan (Y) sebesar 24,11%. (c) Diantara variabel pelatihan dan masa kerja, terbukti masa kerja berpengaruh secara dominan dengan nilai unstandardized coefficients (B) sebesar 0,505 lebih besar dibandingkan nilai unstandardized coefficients (B) variabel pelatihan sebesar 0,276. Dari hasil penelitian ini penulis dapat memberikan saran kepada Bank BRI Cabang Martadinata Kota Malang agar kegiatan pelatihan yang diadakan sebaiknya lebih difokuskan pada peningkatan ketrampilan dan pengetahuan karyawan dalam bidang perbankan dan bukan hanya bersifat sebagai penyegaran dan lebih merata pada tiap departemen. Dan juga sebaiknya perusahaan melihat masa kerja karyawan dalam penilaian kinerja dan peningkatan grade.

Penerapan model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa (studi pada siswa Program Studi Administrasi Perkantoran kelas X SMK PGRI 6 Malang) / Arik Ardana

 

Kata kunci : Pembelajaran berbasis masalah, proses dan hasil belajar Faktor penting yang dapat menentukan kemajuan suatu bangsa adalah pendidikan Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita sekarang adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang ada selama ini ternyata hanya membuat siswa sangat terbebani dengan materi dan tugas yang diberikan oleh guru dengan metode konvensional. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat memaksimalkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar yaitu metode pembelajaran berbasis masalah diharapkan tidak hanya memperdalam pemahaman peserta didik tetapi juga meningkatkan sikap positif terhadap pelajaran, rasa saling menghargai, saling memiliki dan dapat pula mengembangkan keterampilan untuk menghargai orang lain. Oleh karena itu dengan penerapan model pembelajaran berbasis masalah diharapkan siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya sehingga memperoleh hasil yang maksimal. Fokus masalah penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) di SMK PGRI 6 Malang, (2) Bagaimanakah respon siswa dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) di SMK PGRI 6 Malang, (3) Apakah hambatan dan solusi dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) pada mata pelajaran mengikuti prosedur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja di SMK PGRI 6 Malang, dan (4) Apakah model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran mengikuti prosedur keamanan, kesehatan, dan keselamatan kerja di SMK PGRI 6 Malang Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di SMK PGRI 6 Malang dengan subyek penelitian siswa kelas X program studi Administrasi Perkantoran sebanyak 48 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, tes, catatan lapangan dan dokumenter. Analisis data dilihat dari hasil belajar dan analisis angket respon siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari hasil pre test siswa pada siklus I diketahui bahwa rata-rata dari skor tes siswa sebelum tindakan adalah 67,29 dan presentase tingkat ketuntasan belajar sebesar 41,66 %. Setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning rata-rata skor tes siswa meningkat menjadi 78,85 dan presentase ketuntasan belajar sebesar 85,4 %. Pada siklus II, rata-rata dari skor tes siswa sebelum tindakan adalah 74,89 dan presentase tingkat ketuntasan belajar sebesar 64,58 %. Setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning rata-rata skor tes siswa meningkat menjadi 80,41 dengan presentase ketuntasan belajar sebesar 87,5 %. Ini membuktikan bahwa pada siklus II ini sudah mengalami peningkatan dan sudah melebihi kriteria kelulusan secara kelompok. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut. (1) Penerapan pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Mengikuti Prosedur Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja di Kelas X Apk SMK PGRI 6 Malang sudah baik. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dari siklus I ke siklus II. (2) Respon siswa dengan adanya penerapan pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Mengikuti Prosedur Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja di Kelas X Apk SMK PGRI 6 Malang menunjukkan respon sangat positif dari siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis angket yang diisi oleh siswa setelah tindakan siklus I dan siklus II dilakukan. (3) Kendala yang dihadapi adalah siswa kurang berani untuk mengemukakan pendapat dalam diskusi kelas, Pada saat membentuk kelompok siswa menjadi lebih ramai, dan ada siswa yang mendominasi jalannya diskusi. (4) Penerapan metode pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning (PBL) pada mata pelajaran Mengikuti Prosedur Keamanan, Keselamatan, dan Kesehatan Kerja di Kelas X Apk SMK PGRI 6 Malang dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Ini dapat ditunjukkan dengan meningkatnya aktivitas siswa di kelas dan hasil bejajar siswa dari siklus I ke siklus II Berdasarkan uraian di atas, adapun saran yang diberikan adalah (1) Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) hendaknya dilakukan pada mata pelajaran lain karena ini dapat memberikan pengalaman kepada siswa agar dapat memecahkan masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari. (2) Guru harus bisa mengatur waktu dan lebih menguasai kelas karena dengan kegiatan diskusi, siswa cenderung ramai sehingga waktu tidak terbuang. (3) Bagi siswa hendaknya mengikuti pembelajaran tersebut dengan sungguh-sungguh, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, dapat memecahkan suatu permasalahan dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Survei tentang manajemen Stadion Gajayana di Kota Malang (studi manajemen tentang manajemen Stadion Gajayana di Kota Malang) / Sendika Septa Indrawanto

 

Kata kunci: Manajemen Stadion,. Olahraga merupakan aktivitas gerak yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain dapat menjaga kebugaran jasmani, dengan olahraga bisa juga menjaga kesehatan tubuh. Olahraga dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, tetapi akan lebih baik apabila aktivitas olahraga dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas yang sesuai dan sudah tersedia. Melakukan aktivitas olahraga membutuhkan fasilitas, sarana, dan prasarana. Stadion merupakan salah satu sarana dan prasaran untuk melakukan kegiatan keolahragaan. Sebuah stadion yang baik selalu dikelola secara baik juga. Mulai dari kepengurusan, perawatan,sampai manajemen yang ada di dalamnya. Selama ini kita hanya tahu bahwa stadion digunakan untuk pertandingan sepakbola saja tetapi kita tidak tahu bagaimana cara pengelolaan, perawatan dan manajemen dari stadion tersebut. Sebuah stadion selalu memiliki pihak pengelola sebagai penanggung jawab. Dalam hal ini pihak-pihak yang menjadi penanggungjawab haruslah mengerti tentang manajemen olahraga karena stadion adalah sarana untuk masyarakat sekitar melakukan segala aktivitas olahraga. Pada umumnya bentuk stadion adalah simetris, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan pemandangan yang sama dan kemudahan pencapaian fasilitas penunjang dari segala posisi. Unsur-unsur yang biasanya simetris adalah posisi kursi, bentuk atap, koridor diantara bangku penonton, letak toilet, dan lain-lain.Stadion adalah suatu struktur gedung yang besar dari segi skala manusia. Biasanya pengunjung akan merasa kesulitan memahami ujung dan pangkalnya di karenakan pola-pola yang simetris dan ukuran masa bangunan yang raksasa. Untuk itu perlu dibuat suatu titik acuan atau fokus orientasi yang bisa menjadi patokan arah dan membimbing sirkulasi pengunjung. Filosofi penampilan dan gaya sebuah stadion penting untuk dipertimbangkan. Beberapa aspek penting seperti budaya lokal, representsi pemilik klub tertentu dan lain-lain perlu untuk digali dan memberi makna sebuah stadion. Hal tersebut akan memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengenang dan mengenali stadion tertentu.(http://arsitektur-data.blogspot.com/2008/03/desain-stadion.htm), diakses 21 april 2010. Menurut Hasibuan (2004:1) “manajemen merupakan ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lain secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu tujuan tertentu”. Menurut Handoko (2003:8) “Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan pengguna sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”. Sedangkan menurut Harsuki (2003:117) “manajemen olahraga adalah perpaduan antara ilmu manajemen dan ilmu olahraga yang mengelola kegiatan olahraga secara bersama dan melalui orang lain”. Manajemen itu sendiri merupakan proses yang universal sifatnya di segala bidang aspek kehidupan. Tidak hanya terbatas pada dunia usaha saja. Manajemen merupakan dasar beroperasinya segala kegiatan di dalam kehidupan manusia yang semakin kompleks. Secara tradisional manajemen itu dipandang sebagai proses untuk mencapai tujuan organisasi. Sesuai dengan pernyataan tersebut tujuan manajemen hanya dicapai secara efektif jika direncanakan, dikoordinasikan dan diawasi. Penelitian ini adalah tentang ”survei tentang manajemen stadion Gajayana di kota Malang ”. Permasalahannya adalah bagaimana manajemen di stadion Gajayana kota Malang Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manajemen stadion Gajayana di Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan instrumen wawancara dan dokumentasi. Wawancara yang dilakukan berdasarkan panduan wawancara yang telah dibuat untuk mengetahui kegiatan manajemen yang ada di stadion Gajayana kota Malang. Dokumentasi penelitian ini berisi tentang kegiatan-kegiatan perawatan dan bagian-bagian dari stadion Gajayana kota Malang Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen stadion Gajayana dilakukan oleh badan pemerintahan yang bergerak di bidang keolahragaan. Dalam kegiatan manajemen stadion Gajayana meliputi perawatan dan pemeliharaan stadion yang memerlukan biaya yang cukup besar. Biaya tersebut dapat terpenuhi dari anggaran pemerintah daerah untuk anggaran stadion Gajayana sebesar tujuh puluh juta pertahun. Sejak tahun 2005 stadion Gajayana sudah termasuk kategori stadion berstandart Internasional. Peran aktif masyarakat khususnya penonton dan suporter dalam menjaga dan ikut memelihara stadion sangat di butuhkan agar stadion tetap dalam kondisi yang baik.

Pengaruh model penjadwalan pelajaran dan motivasi berprestasi terhadap hasil belajar perawatan sepeda motor siswa kelas XI Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan di Sekolah Menengah Kejuruan / Dedi Arsil Majid

 

Kata kunci: model penjadwalan, block release, hour release, motivasi berprestasi, hasil belajar perawatan sepeda motor. Jadwal pelajaran merupakan daftar atau tabel kegiatan pemelajaran atau rencana kegiatan pemelajaran dengan dilengkapi waktu pelaksanaan. Didalam sebuah jadwal akan mengatur lama untuk setiap kali tatap muka serta interval waktu antara tatap muka satu dan yang selanjutnya dalam setiap mata pelajaran. Untuk mendapatkan keefektifan proses pembelajaran maka jadwal pelajaran yang digunakan harus tepat dan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Dalam penelitian ini dilakukan perbandingan penggunan model penjadwalan block release dan hour release pada pelajaran muatan lokal Teknik Sepeda Motor standar kompetensi Perawatan Sepeda Motor. Hal lain yang berpengaruh pada perolehan hasil belajar perawatan sepeda motor adalah motivasi berprestasi. Jika dalam sebuah kegiatan pembelajaran dilakukan dengan model penjadwalan yang tepat maka siswa dengan motivasi berprestasi tinggi diindikasikan akan memperoleh hasil belajar terbaiknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara siswa Sekolah Menengah Kejuruan yang diajar menggunakan block release dan hour release, untuk mengetahui hasil belajar siswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah dan siswa dengan motivasi beprestasi tinggi serta interaksi yang terjadi antara model penjadwalan dan motivasi berprestasi terhadap pencapaian hasil belajar pada Perawatan Sepeda Motor. Metode penelitian yang digunakan adalah true experimental dengan desain faktorial 2 x 2 yang bertujuan untuk mengetahui model penjadwalan yang lebih unggul dalam mempengaruhi pencapaian hasil belajar, tingkatan motivasi berprestasi yang lebih unggul dalam mempengaruhi pencapaian hasil belajar serta interaksi yang terjadi antara model penjadwalan dan tingkatan motivasi berprestasi. Data hasil belajar diperoleh melalui tes akhir berupa tes objektif pilahan ganda dan tes unjuk kerja. Sedang tingkatan motivasi berprestasi diketahui melalui self inventory yang diberikan kepada subjek penelitian. Anava dua jalan akan digunakan untuk menjawab hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada perbedaan yang signifikan dalam pencapaian hasil belajar atas penggunaan block release dan hour release, (2) ada perbedaan yang signifikan dalam pencapaian hasil belajar pada siswa dengan motivasi berprestasi rendah dan siswa dengan motiovasi berprestasi tinggi (3) tidak terjadi interaksi antara model penjadwalan dan motivasi berprestasi. Besar pengaruh pencapaian hasil belajar yang ditimbulkan akibat penggunaan model penjadwalan adalah sebesar 33%, sedangkan besar pengaruh pencapaian hasil belajar yang ditimbulkan akibat motivasi berprestasi adalah 47%. Secara simultan pengaruh kedua variabel tersebut dalam pencapaian hasil belajar adalah 54%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) agar digunakannya model penjadwalan block release untuk meningkatkan hasil belajar di SMK Negeri 1 Banyuanyar terutama pada standar kompetensi Perawatan Sepeda Motor atau mata pelajaran lain yang karakteristiknya memiliki kemiripan, (2) selalu memberikan dorongan terhadap motivasi berprestasi peserta didik sehingga hasil belajar bisa lebih optimal dan (3) penerapan model penjadwalan block release tidak terbatas pada salah satu tingkatan motivasi berprestasi tetapi dapat diaplikasikan pada seluruh siswa dengan berbagai tingkatan motivasi.

Persamaan garis lurus dan penerapannya / Masni Rumfot

 

Kata Kunci: persamaan garis lurus, penerapan persamaan garis lurus. Di dalam Geometri Euclid dikenal suatu aksioma, bahwa dari dua titik berbeda ada tepat satu garis yang melalui kedua titik itu. (Srimulyati, 2000:25). Berdasarkan aksioma tersebut, diperoleh beberapa kemungkinan-kemungkinan garis lurus: a. Kemungkinan I : garis miring ke kanan b. Kemungkinan II : garis miring ke kiri c. Kemungkinan III : garis horisontal d. Kemungkinan IV : garis vertikal Bentuk umum dari persamaan garis lurus adalah ax + by + c = 0, a ≠0 atau b ≠0. Persamaan garis lurus dapat digunakan untuk menyelesaikan beberapa masalah, misalnya pada masalah permintaan, penawaran, dan keseimbangan dalam bidang ekonomi. Pada masalah permintaan, penawaran dan keseimbangan dicari hubungan antara banyak barang dan harga barang. Hukum permintaan : “ Jika harga naik, maka jumlah barang/jasa yang diminta berkurang, sebaliknya jika harga barang /jasa turun, maka jumlah barang yang diminta bertambah’’. Hukum ini akan berlaku bila keadaan yang lain tetap (ceteris paribus). Hukum penawaran’’ Jika harga semakin rendah/murah maka penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya’’. Keseimbangan pasar adalah suatu keadaan pada titik (harga) tertentu di mana jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan,

Peningkatan kemampuan bersikap ilmiah dan prestasi belajar IPA (fisika) dengan pembelajaran inkuiri terbimbing pada siswa kelas VII.3 smp negeri 1 Probolinggo tahun pelajaran 2009-2010 / Siti Maimuna

 

Kata kunci: Inkuiri terbimbing, sikap ilmiah, prestasi belajar. Salah satu tujuan pendidikan dalam mata pelajaran IPA di SMP adalah melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bersikap dan bertindak ilmiah. Usaha pencapaian tujuan tersebut dilakukan dengan kegiatan penilaian secara menyeluruh meliputi 3 aspek yaitu proses, produk dan sikap ilmiah. Hasil studi pendahuluan dengan teknik wawancara, dokumentasi dan observasi di kelas VII.3 SMPN 1 Probolinggo ditemukan beberapa permasalahan diantaranya adalah: 1) terdapat 95 % pembelajaran IPA berorientasi pada pencapaian pemahaman dan penerapan konsep serta kinerja ilmiah sedangkan pengembangan sikap ilmiah kurang diorientasikan. 2) kemampuan bersikap ilmiah siswa yang ditunjukkan selama pembelajaran masih rendah, 3) sebagian besar siswa lebih suka mendapatkan informasi atau pengetahuan dari guru dan 4) prestasi belajar IPA(fisika) siswa dari nilai ulangan harian terdapat 22 siswa dari 27 siswa(81,48%) yang belum tuntas mencapai nilai KKM sebesar 75. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat kali pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 3x40 menit. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes prestasi belajar, dokumentasi, catatan lapangan dan pedoman wawancara yang dilaksanakan mulai tanggal 17 April sampai 5 Juni 2010. Subyek yang diteliti adalah siswa kelas VII.3 SMP N 1 Probolinggo tahun pelajaran 2009-2010 yang berjumlah 28 siswa. Tetapi dalam pelaksanaan penelitian hanya 22 siswa yang datanya dapat dianalisis dan disimpulkan berdasarkan kriteria keberhasilan mencapai nilai KKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing yang diterapkan pada kelas VII.3 SMP Negeri 1 Probolinggo tahun pelajaran 2009-2010 mengalami peningkatan dalam pelaksanaannya. Persentase keterlaksanaan yang diperoleh sebesar 84,23% pada siklus I meningkat menjadi 92,73% pada siklus II. Persentase pada siklus I dan siklus II ini termasuk dalam kriteria sangat baik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan bersikap ilmiah dan prestasi belajar IPA(fisika) siswa kelas VII.3 SMP N 1 Probolinggo. Peningkatan kemampuan bersikap ilmiah siswa didasarkan pada meningkatnya rata-rata persentase kemampuan bersikap ilmiah siswa sebesar 78,59% dengan kriteria baik pada siklus I menjadi 85,24% pada siklus II dengan kriteria sangat baik. Meningkatnya prestasi belajar IPA(fisika) siswa didasarkan pada peningkatan nilai rata-rata prestasi awal sebelum tindakan ke nilai prestasi belajar siklus I dan ke siklus II. Nilai rata-rata prestasi awal siswa sebesar 61,00 meningkat menjadi 73,00 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 80,20 pada siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, saran-saran yang dapat disampaikan antara lain: 1) bagi guru IPA disarankan untuk menerapkan pembelajaran ini pada siswa yang memiliki karakteristik serupa dengan kelas VII.3 SMPN 1 Probolinggo dan materi pelajaran IPA yang sesuai, 2) perlu perencanaan yg matang dan mempertimbangkan alokasi waktu untuk pembelajaran IPA yang tersedia agar tahap pembelajaran inkuiri terlaksana secara lengkap dan 3) pembelajaran ini baik diterapkan dalam kelompok kecil yaitu 4 orang yang dibentuk sendiri oleh siswa dengan persetujuan guru agar siswa merasa nyaman dan optimal bekerja dalam kelompok.

Kinerja keuangan bank konvensional sebelum dan sesudah privatisasi perbankan di Indonesia selama periode 1998-2007 (studi kasus pada PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk.) / Aprilia Fitriani Ulansari

 

Kata Kunci: Kinerja Keuangan Pada era ini, sejumlah besar bank konvensional di seluruh Indonesia telah diprivatisasi oleh pemerintah melalui penawaran umum saham. Oleh karena itu, diperlukan berbagai terobosan baru di bidang perbankan untuk menggerakkan kembali roda perekonomian Indonesia. Perbankan sebagai salah satu bidang usaha yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan perekonomian suatu negara (Agent of Development) diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. PT. Bank Rakyat Indonesia sebagai salah satu lembaga perbankan konvensional yang telah berkontribusi untuk pembangunan perekonomian di Indonesia. Permasalahan yang diteliti dalam skripsi ini adalah kinerja keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk dilihat dari rasio likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas selama periode 1998-2007 dan perbandingan kinerja keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk sebelum dan sesudah privatisasi perbankan di Indonesia selama periode 1998-2007 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, meneliti dan mendapatkan bukti empiris tentang perbedaan kinerja keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk pada periode sebelum dan sesudah privatisasi perbankan di Indonesia selama tahun 1998-2007. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder yang berupa hasil wawancara dan dan laporan keuangan dari perusahaan yang diperoleh dari Direktori Perbankan Indonesia di Bank Indonesia. Analisis data yang digunakan adalah dengan menghitung analisis rasio keuangan yaitu likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia ditinjau dari rasio likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas pada masa sebelum privatisasi dan pada masa setelah privatisasi tidak ada kenaikan yang cukup signifikan dilihat dengan menggunakan rasio standar kesehatan Bank Indonesia. PT Bank Rakyat Indonesia dilihat dari rasio likuiditas dan solvabilitasnya memperlihatkan bahwa PT. Bank Rakyat Indonesia selama periode 2003-2007 memiliki kinerja keuangan yang lebih baik dibandingkan PT. Bank Rakyat Indonesia pada periode tahun 1998-2002. Namun apabila dilihat dari standar kesehatan Bank Indonesia kedua rasio ini tidak bisa memenuhi standar keuangan. Oleh karena itu rasio ini kurang liquid dan solvabel. PT. Bank Rakyat Indonesia dilihat dari rasio rentabilitasnya memperlihatkan bahwa kinerja keuangan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk pada periode stelah privatisasi memberikan kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat bahwa pada masa setelah privatisasi rasio rentabilitas mampu memenuhi standar Bank Indonesia. Pada tahun ini, PT. Bank Rakyat Indonesia mengalami keuntungan yang besar melalui pendapatan bunga, dilihat dari rasio rentabilitasnya tergolong cukup profitabel. Privatisasi memberikan manfaat yang menunjukkan positif dalam arti ekonomi, tetapi negatif dalam sektor politik Selain itu, suatu aspek yang sering diabaikan dari privatisasi yaitu dampak fiskal, dimana keuntungan dari penjualan tersebut dapat mengurangi beban subsidi, meningkatkan pajak dan dapat membantu membayar utang atau membiayai pengeluaran sosial.

Efektivitas penerapan pemaduan model BCCT (beyond centers and circles time) dengan pembelajaran kontekstual (CTL) tipe problem based learning terhadap hasil belajar ekonomi (studi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Bangsal Mojokerto) / Ika Sofiana

 

Kata kunci : BCCT, Problem Based Learning, Hasil Belajar. Model pembelajaran pemaduan BCCT dengan PBL merupakan suatu model pembelajaran kooperatif yang pembelajarannya student oriented dengan mengubah susunan tempat duduk siswa (layout) yang disusun sedemikian rupa dengan memanfaatkan ruang kelas (lingkungan) yang bangkunya ditata menyerupai lingkaran yang dipadukan dengan pembelajaran pembelajaran kontekstual tipe PBL digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar. Peran guru dalam pengajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Dengan demikian apa yang mereka peroleh dari proses belajar tidak hilang begitu saja, karena hal tersebut berasal dari construk (bentukan) dari pengetahuan mereka sendiri, bukan berasal dari proses menghafal. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana penerapan pemaduan pembelajaran model BCCT dengan PBL dan bagaimana efektivitas pemaduan pembelajaran model BCCT dengan PBL terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi dengan melihat ada tidaknya perbedaan yang signifikan dari hasil tes prestasi belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Bangsal. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Quasi eksperimental dengan menggunakan Non equivalent Control Group Desain. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel yang ditetapkan terdiri dari dua kelas yaitu siswa kelas 7D sebagai kelas eksperimen dan 7F sebagai siswa kelas kontrol. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diajar dengan menggunakan pemaduan BCCT dengan PBL, sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok yang diajar tanpa menggunakan BCCT dalam pembelajaran. Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh langsung dari subyek penelitian dengan memberikan tes prestasi (data kognitif) dalam pembelajaran ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan dari pembelajaran. Hal itu ditunjukkan dengan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar yang menggunakan pemaduan BCCT dengan PBL dan yang tidak menggunakan BCCT, terbukti dari hasil nilai gain value t hitung sebesar 2,577>t tabel 1,999, dengan signifikansi 0,12<0,05. Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai uji t-test (beda rata-rata) gain value kelas eksperimen dengan kelas kontrol melalui pengujian menggunan bantuan program SPSS menyatakan bahwa nilai t hitung lebih besar dari t tabel dan tingkat signifikansi<0,05. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pemaduan model BCCT dengan PBL ini efektif diterapkan pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Bangsal karena dapat membuat siswa semakin aktif, interaktif, dan komunikatif sehingga pengetahuan mereka juga bertambah dan hal ini terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk guru-guru ekonomi disarankan mencoba menerapkannya tetapi sesuai dengan materi pelajaran yang ada.

Pengembangan video instruksional latihan beban untuk pemula di Sanggar Kebugaran Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang / Maulana Khusna Surindra

 

Kata Kunci: penelitian pengembangan, media instruksional, video, fitness, latihan beban. Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Kondisi kota besar yang sesak dan padat serta sibuk ini kemudian menggiring orang untuk memilih olahraga fitness (kebugaran). Salah satu olahraga dalam kebugaran yang sering dipilih orang adalah latihan beban. Penyampaian informasi tentang latihan beban dapat disampaikan melalui buku, gambar, video, kaset, dan sebagainya. Media intruksional adalah media yang dapat dikembangkan untuk menyampaikan informasi tentang latihan beban. Peneliti memilih video untuk menyampaikan informasi mengenai latihan beban. Video instruksional ini dirancang secara sistematis dengan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan beban yang telah ada sebelumnya sehingga memungkinkan member atau anggota Sanggar Kebugaran Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang dapat menerima informasi lebih mudah dan menarik. Tujuan pengembangan video instrusksional latihan beban untuk pemula ini adalah untuk mengembangkan video instruksonal latihan beban yang nantinya dapat membantu member (pemula) untuk mempercepat proses pemahaman tentang latihan beban. 6 langkah yang dipilih oleh peneliti untuk pengembangan materi instruksional latihan beban untuk pemula adalah sebagai berikut: 1) riset dan pengumpulan informasi dalam melakukan penelitian awal atau analisis kebutuhan (need assessment) dengan angket yang ditujukan kepada member dan instruktur SKIK UM, 2) pengembangan rancangan produk, 3) evaluasi para ahli dengan menggunakan 1 ahli media, 2 ahli kebugaran, 2 ahli latihan beban yang hasilnya berupa produk awal, 4) revisi tahap pertama rancangan produk berdasarkan evaluasi para ahli (hasil rancangan produk berupa produk awal), 5) revisi tahap kedua berdasarkan evaluasi ahli (hasil produk berupa video), 6) produk akhir berupa video instruksional latihan beban untuk pemula di Sanggar Kebugaran Ilmu keolahragaan Universitas Negeri Malang. Hasil pengembangan ini berupa video instruksional latihan beban untuk pemula di Sanggar Kebugaran Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang. Diharapkan hasil ini dapat diuji cobakan kepada lingkup yang lebih luas dan dapat disosialisasikan kepada fitness centre lain yang ada di kota Malang dan sekitarnya sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Karena penelitian ini hanya terbatas pengembangan produk, maka diharapkan ada penelitian selanjutnya yang menguji tentang tingkat efektivitas produk yang telah dikembangkan.

Implementasi manajemen berbasis sekolah pada sekolah dasar swasta (studi kasus di SD Islam Bani Hasyim Singosari Kabupaten Malang) / Herlin Prihartati

 

Kata kunci : manajemen berbasis sekolah, sekolah dasar, sekolah swasta Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh pemerintah, dan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan kita, namun sampai saat ini belum mengalami peningkatan yang signifikan dengan usaha yang telah dilakukan Ada tiga factor penyebab yang paling mendasar adalah : 1) adanya kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional yang menggunakan pendekatan “input-output-analysis” yang tidak dilaksanakan dengan konsekuen, 2) pendidikan nasional dilaksanakan secara birokratik dan sentralistik, dan ke 3) peran serta masyarakat. Berbagai inovasi terus diupayakan, dan dilaksanakan. Salah satunya adalah kebijakan untuk “reorientasi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional”, dengan salah satu inovasi yang dilakukan adalah inovasi dalam bidang teknologi pembelajaran di kelas yang menjadi trend di era lima tahun terakhir ini, yang mana dari manajemen (peningkatan mutu) berbasis pusat, menuju manajemen (peningkatan mutu) berbasis sekolah, yang selanjutnya kita kenal dengan istilah “manajemen berbasis sekolah” atau “MBS”. Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini mengkaji secara mendalam bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah . Penelitian ini dilakukan di SD Islam Bani Hasyim Kec. Singosari Kabupaten Malang. Untuk mengetahui secara mendalam tentang Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah di SD Islam Bani Hasyim ini. Fokus dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) bagaimana penerapan 4 pilar MBS, 2) bagaimana pengelolaan MBS, 3) bagaimana pemberdayaan Stakeholders, dan 4) bagaimana penerapan Visi, Misi di sekolah. Untuk memperoleh data yang digunakan untuk menjawab focus penelitian di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus. Pendekatan kualitatif ini berusaha untuk mendeskripsikan secara rinci tentang Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada indikator : 1) bagaimana penerapan 4 pilar MBS, 2) bagaimana pengelolaan MBS, 3) bagaimana pemberdayaan Stakeholders, dan 4) bagaimana penerapan Visi, dan Misi di sekolah , di SD Islam Bani Hasyim. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik : wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian adalah Direktur Masjidil ‘Ilm, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru, Staf TU, Sekretaris Yayasan, Guru, dan Wakil dari Wali Siswa / Santri. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan melakukan reduksi data, penarikan data, dan penarikan kesimpulan. Untuk mendapatkan keabsahan data dilakukan dengan uji triangulasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini untuk masing-masing indikator /focus penelitian dapat diinformasikan sebagai berikut : 1) Tentang penerapan 4 pilar MBS, di SD Islam Bani Hasyim (termasuk di dalamnya tentang pengelolaan MBS, dan pemberdayaan Stakeholders), adalah sebagai berikut: (a) transparansi manajemen, secara maksimal telah diberdayakan sesuai standar pelayanan minimal yang diberlakukan. Transparansi sebagai pilar pertama dalam MBS sudah dilaksanakan oleh Kepala Sekolah. Kepada masyarakat, sekolah sudah berani menyampaikan transparansi kebutuhan dan penggunaan dana, (b) Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan berdasarkan komponen: indikator input pendidikan, indikator proses dan indikator output pendidikan. Dengan cara ini yang saya lihat anak / siswa / santri cepat memahami perintah guru, anak suka berbuat sendiri, sehingga guru banyak bersifat memfasilitasi, dari semua pengalaman pembelajaran di kelas, berhasil dengan baik dan memiliki hasil yang signifikan, (c) Peran serta masyarakat di SD Islam Bani Hasyim melalui penjelasan seorang Guru, dapat dipahami bahwa: dengan prinsip sukarela, dan saling menguntungkan, dan memiliki kepentingan bersama dalam suatu wadah guna membantu kelancaran penyelenggaraan pendidikan di sekolah, telah dilaksanakan dengan maksimal, (d) Lingkungan yang baik dan nyaman di SD Islam Bani Hasyim itu secara maksimal dan sepenuhnya merupakan indikator dasar keberhasilan pendidikan disamping, realisasi PSM di sekolah ini ternyata telah berjalan dengan maksimal melalui Visi sekolah yang berbunyi “Membentuk Insan Ulul Albab lewat pendidikan Islam berkualitas, dengan Misinya: Dapat diartikan memaksimalkan pembelajaran PAIKEM dengan pengertian seperti yaitu Mewujudkan lulusan “Sekolah Dasar Islam Bani Hasyim” yang memiliki benih-benih manusia sebagai berikut: 1) Islami, mengikuti dan mewarnai perkembangan jaman dengan sifat-sifat islami, 3) Mandiri, nampak pada dorongan rasa ingin tahu yang kuat dan melepaskan diri dari kebiasaan menggantungkan diri pada orang lain, 4) Unggul, nampak pada kemampuan menguasai pengetahuan, ketrampilan dan sikap lebih tinggi dari rata-rata lulusan sekolah lain dengan jenjang dan jenis yang sama, 5) Ceria, nampak pada kesehatan jasmani dan rohani, serta melakukan aktivitasnya dengan gembira.

Penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan (Studi pada siswa kelas X APK SMK PGRI 6 Malang) / Farida Fadrianingsih

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Problem Based Learning, Hasil Belajar. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah lemahnya proses pembelajaran. Pembelajaran cenderung berpusat pada guru (teacher centered) dan siswa kurang begitu aktif dikelas hanya menerima informasi dari guru saja. Guru dalam menyampaikan materi pelajaran hanya terbatas pada buku atau modul di sekolah saja dan kurang menarik perhatian siswa untuk berperan aktif di dalam pembelajaran. Pembelajaran yang demikian membuat siswa tidak termotivasi untuk mengikuti pelajaran serta kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru karena mereka merasa jenuh dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang monoton. Masalah ini pada akhirnya berdampak negatif pada prestasi belajar siswa di sekolah. Salah satu strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, salah satunya adalah dengan menerapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) yang dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan keterampilan intelektual. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti menerapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah agar motivasi belajar siswa meningkat, sehingga dapat pula meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendiskripsikan penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) pada mata pelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan siswa kelas X APK SMK PGRI Malang, 2) Mengetahui hasil belajar siswa kelas X APK SMK PGRI 6 Malang pada mata pelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan setelah menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), 3) Mengetahui apa saja hambatan-hambatan sekaligus solusinya dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) pada mata pelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan siswa kelas X APK SMK PGRI 6 Malang, 4) Mengetahui respon siswa serta tanggapan guru mata pelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan kelas X APK SMK PGRI 6 Malang terhadap proses pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK PGRI 6 Malang tahun ajaran 2010/2011 dengan jumlah 48 orang siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) atau Classroom Action Research dengan dua siklus. Setiap siklus meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1) Reduksi data, 2) Penyajian data, dan 3) Penyimpulan hasil analisis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning (PBL) pada Mata Pelajaran bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan di kelas X APK SMK PGRI 6 Malang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat diketahui berdasarkan hasil peningkatan prestasi belajar siswa pada setiap siklusnya. Selain itu, penerapan pembelajaran kooperatif model Problem Based Learning (PBL) pada Mata Pelajaran bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan di kelas X APK SMK PGRI 6 Malang juga mendapat respon sangat positif dari siswa. Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah: 1) Bagi guru SMK PGRI 6 Malang, khususnya guru mata pelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan diharapkan dapat mengimplementasikan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan masing-masing karakteristik mata pelajaran seperti model Problem Based Learning (PBL) sebagai alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, 2) Siswa hendaknya dapat belajar dengan giat, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, meningkatkan motivasi belajar, dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, dan 3) Bagi peneliti berikutnya, agar dapat melakukan kegiatan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan menerapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah, bukan hanya pada mata pelajaran Bekerjasama dengan Kolega dan Pelanggan, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang relevan. Misalnya pada mata pelajaran Prinsip-prinsip administrasi perkantoran, dan lain-lain.

Hubungan antara perasaan ditolak lingkungan sosial dengan ketergantungan narkoba pada remaja / Ininda Mayidarani

 

Kata kunci: Perasaan Ditolak Lingkungan Sosial, Ketergantungan Narkoba, Remaja. Akhir-akhir ini penyalahgunaan narkoba semakin meningkat jumlahnya yang sebagian besar dialami oleh remaja, dimana seringkali hal tersebut disebabkan semakin meningkatnya perasaan ditolak lingkungan sosial di kalangan remaja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: (1) gambaran perasaan ditolak lingkungan sosial, (2) gambaran ketergantungan narkoba, (3) hubungan antara perasaan ditolak lingkungan sosial dengan ketergantungan narkoba pada remaja. Desain yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan subyek sebanyak 24 remaja baik laki-laki maupun perempuan yang masih atau sedang mengalami ketergantungan narkoba dan sedang menjalani proses penyembuhan di Pondok Pesantren yang diambil dengan teknik Purposive Sampling. Data perasaan ditolak lingkungan sosial dikumpulkan dengan skala perasaan ditolak lingkungan sosial (koefisien validitas item antara 0,393 sampai 0,814 dan koefisien reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach diperoleh skor 0,968) dan data ketergantungan narkoba dikumpulkan dengan angket ketergantungan narkoba adaptasi Christo Inventory for Substance-misuse Services (uji validitas telah dilakukan oleh George Christo, Ph.D., Psych diperoleh memiliki taraf uji validitas 0,88 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,74 dengan menggunakan koefisien Alpha Cronbach). Angket ketergantungan narkoba dilakukan uji ahli pada ahli sastra dan ahli narkoba menyatakan bahwa secara keseluruhan angket memiliki kualitas yang bagus serta dapat mewakili tujuan pengukuran dari tiap aspek variabel penelitian. Hasil analisis deskriptif menunjukkan tingkat perasaan ditolak lingkungan sosial sebanyak 16,67% (4 remaja) termasuk dalam kategori tinggi, 66,66% (16 remaja) termasuk dalam kategori sedang dan 16,67% (4 remaja) termasuk dalam kategori rendah. Selain itu, tingkat ketergantungan pada remaja sebanyak 33,34% (8 remaja) termasuk dalam kategori tinggi, 45,83% (11 remaja) termasuk dalam kategori sedang dan 20,83% (5 remaja) termasuk dalam kategori rendah. Hasil penelitian yang diperoleh dianalisis dengan teknik Korelasi Spearman Brown menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara perasaan ditolak lingkungan sosial dengan ketergantungan narkoba (rs = 0,715, sign.= 0,000<0,05). Artinya, semakin tinggi perasaan ditolak lingkungan sosial maka semakin tinggi ketergantungan narkobanya, sebaliknya semakin rendah perasaan ditolak lingkungan sosialnya semakin rendah pula ketergantungan narkobanya. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi remaja, hendaknya mampu meminimalisir terjadinya perasaan tertekan akibat masalah yang berkaitan dengan penolakan lingkungan sosial dan mampu menjauhkan diri dari pergaulan narkoba. Bagi masyarakat, hendaknya bisa menerima remaja yang menggunakan narkoba, sehingga dapat memimalisir tingkat ketergantungan narkoba di Indonesia.

Pengaruh gaya kepimpinan terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja pada karyawan pabrik rokok bagian produksi PT. Cakra Guna Cipta malang / Citra Purbasari

 

Kata Kunci : Gaya Kepemimpinan, Kepuasan Kerja, Kinerja Karyawan. Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku kerja pemimpin yang nyata dan konsisten untuk mempengaruhi para karyawan atau bawahannya untuk diarahkan kedalam pencapaian tujuan yang diinginkan oleh perusahaan. Dalam hal ini pemimpin harus menerapkan gaya kepemimpinan yang baik untuk menghadapi situasai kerja dalam perusahaannya, selain itu pemimpin juga harus berupaya menciptakan dan memelihara hubungan yang baik dengan para karyawannya agar mereka dapat merasakan kepuasan kerja yang di dapat karena dengan adanya gaya kepemimpinan yang baik dan dapat di terima oleh karyawan maka akan menimbulkan kenyamanan dalam bekerja. Dengan adanya kenyamanan yang dirasakan maka para karyawan juga akan bekerja dengan penuh semangat sehingga akan menimbulkan kepuasan yang maksimal. Dengan adanya kepuasan yang maksimal dari karyawan maka akan dapat meningkatkan kinerjanya, sehingga karyawan menjadi lebih rajin bekerja dan dapat menyelesaikan tugasnya dengan tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan melalui kepuasan kerja pada pabrik rokok PT. Cakra Guna Cipta Malang. Penelitian ini dilaksanakan di pabrik rokok PT. Cakra Guna Cipta Malang pada bulan Juli hingga Agustus 2010. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan tenaga kerja langsung bagian produksi yang berjumlah 884 karyawan, sedangkan sampelnya diambil sebanyak 90 karyawan dan teknik pengambilan sampel menggunakan sampel random acak sederhana (simple random sampling) Dalam penelitian ini mempunyai variabel bebas yaitu gaya kepemimpinan (X), , variabel intervening yaitu kepuasan kerjai (Z), dan variabel terikat kinerja karyawan (Y). Instrumen penelitian ini menggunakan item-item dari penelitian terdahulu yang telah teruji, sehingga untuk uji validitas dan reliabilitas tetap dilakukan untuk menguji validitas dan reliabilitas data yang diperoleh. Analisis data yang dipakai adalah analisis jalur (Path Analysis). Tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung antar variabel. Hasil penelitian ini dapat diketahui : (1) Gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT. Cakra Guna Cipta Malang (2) Kepuasan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT. Cakra Guna Cipta Malang (3) terdapat pengaruh tidak langsung gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan pada PT. Cakra Guna Cipta Malang. (4) terdapat pengaruh langsung gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan lebih besar daripada pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan secara tidak langsung pada PT. Cakra Guna Cipta Malang. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka disarankan agar dalam penelitian lebih lanjut dapat menambah jumlah waktu atau periode pengamatan dari sampel penelitian dan dari hasil penelitian ini dapat disarankan agar pihak pimpinan pabrik rokok PT. Cakra Guna Cipta, Malang hendaknya lebih mempertahankan situasi yang sudah ada dan sesuai dengan gaya kepemimpinan yang ada, serta menggunakan gaya kepemimpinan yang kondisional sehingga dapat meningkatkan semangat kerja para karyawan sehingga akan menimbulkan kepuasan kerja yang nantinya akan dapat mewujudkan kinerja karyawan yang baik dan dapat berdampak pula pada kemajuan perusahaan, antara pimpinan dan karyawan dalam perusahaan juga harus dapat menciptakan suasana kerja yang harmonis dengan cara menjalin komunikasi yang baik di dalam lingkungan kerja maupun di luar lingkungan kerja.

Pengaruh kualitas produk dan harga terhadap loyalitas konsumen melalui kepuasan sebagai variabel perantara pengguna kartu prabayar IM3 (Studi kasus pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang) / Septina Dwi Mayasari

 

Kata Kunci: Kualitas Produk dan Harga, Kepuasan, Loyalitas Dewasa ini seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, konsep pemasaran modern pun mengalami perkembangan dengan menempatkan konsumen sebagai perhatian utama dan produsen berlomba-lomba untuk sebisa mungkin dapat bersaing dengan kompetitor. Sehingga produsen dituntut untuk mempunyai strategi yang tepat dalam memenuhi kebutuhan para konsumen dan dapat memuaskan konsumen. Yang nantinya akan berpengaruh terhadap loyalitas konsumen. Semakin banyaknya pilihan produk yang beredar dipasaran, dalam hal ini kartu seluler. Kondisi ini menuntut para pemasar untuk dapat menyediakan produk-produk yang berkualitas dan harga yang terjangkau oleh konsumen serta dapat mengembangkan suatu produk yang bermanfaat dan inovatif sesuai dengan harapan konsumendan kebutuhan pasar, sehingga kepuasan setelah mengkonsumsi dapat diperoleh dan akan membuat konsumen melakukan pembelian di masa yang akan datang atau pembelian berulang pada produk yang sama. Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Malang pada bulan juli sampai agustus 2009. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi pengguna kartu IM3. Sampel yang diambil sebanyak 100 konsumen atau pelanggan pengguna kartu IM3 dengan teknik pengambilan Randome Sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara kualitas produk (X1) terhadap kepuasan (Z), harga (X2) terhadap kepuasan (Z), kualitas produk (X1) terhadap loyalitas (Y), harga (X2) terhadap loyalitas (Y), kepuasan (Z) terhadap loyalitas (Y). Penelitian ini menggunakan teknik analisis jalur dengan menggunakan SPSS 16,0 for windows. Hasil penelitian ini diketahui: (1) terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk terhadap kepuasan. (2) terdapat pengaruh yang signifikan antara harga terhadap kepuasan. (3) terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk terhadap loyalitas. (4) tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara harga terhadap loyalitas. (5) terdapat pengaruh yang signifikan antara kepuasan terhadap loyalitas. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan konsumen lebih teliti untuk membeli produk yang akan dibeli agar tidak kecewa dengan produk yang sudah dibeli, untuk pedagang atau retailer untuk menjalin komunikasi positif dengan provider, dengan memanfaatkan kegiatan purna jual yaitu keluhan terhadap provider apabila terjadi pengurangan kepercayaankonsumen terhadap produk, dan penelitian selanjutnya dilakukan secara terus menerus dengan interval waktu tertentu dapat diketahui apakah terjadi peningkatan kepuasan pelanggan akibat usaha-usaha perbaikan/peningkatan performance dari harga dan kualitas produk kartu prabayar yang dilakukan oleh operator jasa seluler yang berdampak pada loyalitas pelanggan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat fertilitas pada wanita pernah kawin berusia subur di Kecamatan Tempeh Kabupaten Lumajang / Candra Lesmana

 

Kata Kunci: fertilitas, hubungan, pengaruh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah bahwa Kecamatan Tempeh termasuk dalam tiga kecamatan yang memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi di Kabupaten Lumajang. Rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk alami dari antara tahun 2004-2008 di Kecamatan Tempeh adalah 1,035%. Bahkan CBR pernah menyentuh angka 39,06‰ dan angka CDR sebesar 28,71‰. Sementara itu pertumbuhan penduduk total Kecamatan Tempeh dari tahun 2004-2008 adalah sebesar 2,6%. Dengan pertumbuhan penduduk total sebesar 2,6% maka diprediksi akan terjadi peledakan penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Tingkat fertilitas di Kecamatan Tempeh. (2) Besarnya hubungan lama pemakaian alat kontrasepsi, tingkat pendidikan, lama periode reproduksi, tingkat pendapatan, umur kawin pertama, dan mortalitas bayi dengan tingkat fertilitas pada wanita pernah kawin berusia subur di Kecamatan Tempeh. (3) Nilai bobot sumbangan masing-masing variabel terhadap tingkat fertilitas. Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan metode survey. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah stratified random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lama pemakaian alat kontrasepsi, tingkat pendidikan, lama periode reproduksi, tingkat pendapatan, umur kawin pertama, dan mortalitas bayi. Sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat fertilitas. Responden dalam penelitian ini adalah wanita pernah kawin berusia subur di Kecamatan Tempeh yang berjumlah 357 respoden yang tersebar di tiga desa sampel yaitu Desa Tempeh Tengah, Desa Lempeni, dan Desa Jatisari. Data mentah yang terkumpul dimasukkan dalam tabulasi tunggal dan silang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis korelasi dan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa semua variabel yang diteliti kecuali tingkat pendapatan, mempunyai hubungan dengan tingkat fertilitas. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa semua variabel bebas secara simultan/bersama-sama mampu mempengaruhi tingkat fertilitas. Secara parsial hanya terdapat empat variabel yang mempengaruhi fertilitas di daerah penelitian yaitu tingkat pendidikan, lama periode reproduksi, umur kawin pertama, dan mortalitas bayi. Variabel bebas yang mempunyai bobot sumbangan terbesar terhadap fertilitas adalah lama periode reproduksi. Saran secara umum adalah tingkat pendidikan dan sosialisasi tentang pemakaian alat kontrasepsi terutama pada wanita harus ditingkatkan untuk mengurangi perkawinan pada usia muda dan mengendalikan kelahiran bayi sehingga fertilitas dapat terkendali. Kesehatan ibu-ibu hamil dan menyusui beserta janin anaknya juga harus ditingkatkan supaya mortalitas bayi dapat ditekan.

Pembelajaran kooparatif think pair share (TPS) meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan menjawab, dan hasil belajar biologi siswa SMP Brawijaya Smart Chool Malang / Kirana Nur Hayati

 

Kata kunci: Kooperatif TPS, Kemampuan Bertanya, Kemampuan Menjawab, Hasil Belajar Berdasarkan hasil observasi awal di kelas VIII B SMP Brawijaya Smart School diperoleh data bahwa, hanya 16% dari 30 siswa yang aktif mengikuti pem-belajaran, sedangkan yang lainnya pasif dikarenakan hampir 35% siswa tidak konsentrasi terhadap pelajaran, 29% siswa takut, dan 20% siswa malu. Diperoleh data pada saat kegiatan diskusi kelas, siswa yang aktif bertanya dan menjawab hanya 16%, sehingga bisa dikatakan aktivitas bertanya dan menjawab siswa kelas VIII B masih kurang. Hasil belajar yang diperoleh dari nilai UTS 26,67% dari 30 siswa yang mendapat skor diatas standar minimum (≥ 60). Untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu diterapkan pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS). Model pembelajaran TPS merupakan pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara individu (Think), kemudian mendiskusikan jawaban dengan teman sebangku (Pair), selanjutnya mendiskusikan jawaban dengan teman satu kelas (Share). Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggu-nakan pendekatan kualitatif yang terdiri atas dua siklus. Pengambilan data dalam penelitian ini dilaksanakan pada bulan Nopember – Desember 2010. Penelitian bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bertanya, kemampuan menjawab, dan hasil belajar siswa kelas VIII B SMP Brawijaya Smart School melalui penerapan pembelajaran kooperatif model TPS. Data penelitian berupa kemampuan bertanya, kemampuan menjawab, dan hasil belajar siswa aspek kognitif dan aspek afektif. Hasil penelitian menunjukkan, pembelajaran kooperatif model Think Pair Share (TPS) dapat: (1) meningkatkan kemampuan bertanya siswa kelas VIII B SMP Brawijaya Smart School pada siklus I sebanyak 30% atau 9 dari 30 siswa (taraf keberhasilan sangat kurang), dan pada siklus II meningkat sebanyak 50% atau 15 dari 30 siswa (taraf keberhasilan kurang); (2) meningkatkan kemampuan menjawab siswa kelas VIII B SMP Brawijaya Smart School pada siklus I sebanyak 20% atau 6 dari 30 siswa (taraf keberhasilan sangat kurang), dan pada siklus II meningkat sebanyak 47% atau 14 dari 30 siswa (taraf keberhasilan kurang); (3) Meningkatkan hasil belajar klasikal siswa kelas VIII B SMP Brawijaya Smart School aspek kognitif pada siklus I sebanyak 60% atau 18 dari 30 siswa (taraf keberhasilan cukup), dan pada siklus II meningkat sebanyak 86,67% atau 26 dari 30 siswa (taraf keberhasilan sangat baik). Ketuntasan hasil belajar siswa aspek afektif untuk setiap indikator yang meliputi perhatian siswa terhadap pelajaran, tanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan menghargai pendapat orang lain mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II.

Implementasi metode pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) untuk meningkatkan hasil belajar siswa (studi pada siswa kelas XI APK SMK Ardjuna 01 Malang pada mata pelajaran mail handling) / Shanti Sapta Pratiwi

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif Model TAI (Teams Assisted Individualization), Hasil Belajar Pembelajaran kooperatif telah menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan reformasi pendidikan. Pembelajaran kooperatif model TAI (Team Assisted Individualization) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang dapat diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsure kerjasama dan penguatan (reinforcement). Berdasarkan observasi awal diketahui bahwa kegiatan pembelajaran pada mata diklat Mail handling di SMK Ardjuna 1 Malang menggunakan metode ceramah, pembelajaran masih didominasi oleh guru dan kurang terpusat pada siswa. Hal ini menyebabkan siswa kurang memberikan respon selama kegiatan pembelajaran berlangsung karena siswa merasa bosan, jenuh, mengantuk, dan kurang dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini berpengaruh pada hasil belajar siswa yang menjadi kurang optimal padahal nilai ketuntasan belajar yang harus dicapai oleh siswa pada mata pelajaran Mail Handling adalah 70. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pembelajaran kooperatif model TAI pada mata pelajaran Mail Handling, peningkatan hasil belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif model TAI, serta respon siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model TAI pada mata pelajaran Mail Handling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini bersifat alamiah dan data yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk verbal. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah siswa kelas XI APK SMK Ardjuna 1 Malang. Tekhnik pengambilan dan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis data secara induktif. Tindakan yang dilakukan dalam penerapan pembelajaran kooperatif model TAI pada mata pelajaran Mail Handling adalah: 1. Peneliti menjelaskan secara rinci kepada siswa tentang metode pembelajaran kooperatif model TAI, 2. Peneliti memulai kegiatan pembelajaran kooperatif model TAI dengan memberikan pretest, kemudian siswa dibagi menjadi 4 kelompok heterogen berdasarkan segi akademik dan siswa duduk dalam kelompok yang sudah dibentuk, peneliti melakukan penyajian kelas tentang materi Mengelola Surat dan Dokunen, siswa melaksanakan kerja kelompok untuk mendiskusikan Lembar Kerja Siswa yang diberikan oleh peneliti dan mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas, kegiatan akhir adalah pemberian penghargaan terhadap kelompok yang mendapat nilai tertinggi. 3. Hasil belajar siswa dapat dilihat dari ketuntasan belajarnya yang diperoleh dari nilai pretest dan posttest. Hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model TAI dilihat dari tercapainya kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan. Data hasil belajar siswa pada siklus I nilai rata-rata siswa adalah 55, dan pada siklus II nilai rata-rata siswa adalah 67,5, mengalami peningkatan sebesar 12,5 dari siklus I. Presentase siswa yang tuntas belajar pada siklus I sebanyak 88% mengamalami peningkatan sebanyak 2 %, yaitu sebanyak 90 % pada siklus II. Analisis terhadap respon siswa dakam pembelajaran kooperatif model TAI dilihat dari 3 aspek yaitu tingkat minat siswa, tingkat keaktifan siswa, dan tingkat kebermaknaan. Berdasarkan hasil angket respon siswa, pada aspek tingkat minat siswa skor rata-rata adalah 3,105, yang termasuk dalam kriteria ”sangat positif”. Pada aspek tingkat keaktifan siswa skor rata-rata adalah 2,973 yang termasuk dalam kriteria ”positif”. Sedangkan pada aspek tingkat kebermaknaan skor rata-rata adalah 3,027 yang termasuk dalam kriteria ”sangat positif”. Berdasarkan hasil angket respon siswa pada ketiga aspek tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran pada mata pelajaran Mail Handling dengan metode pembelajaran kooperatif model TAI membuat hasil belajar lebih bermakna bagi siswa, meningkatkan minat, dan keaktifan siswa selama pembelajaran berlangsung Saran yang dapat peneliti berikan yaitu: 1. sekolah hendaknya mensosialisasikan berbagai metode pembelajaran yang baru dan meminta guru mata pelajaran untuk menerapkannya serta berinovasi terhadap metode pembelajaran yang digunakan, 2. Guru SMK Ardjuna 1 Malang disarankan mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif model TAI karena siswa memberikan respon yang positif, dapat meningkatkan hasil belajar siswa, mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak monoton, 3. Peneliti harus lebih banyak belajar tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mencari referensi sebanyak mungkin dan hasil penelitian ini dijadikan pengalaman untuk penelitian selanjutnya karena masih banyak hal yang harus dikembangkan dan digali lebih dalam, serta diharapkan dapat menemukan solusi agar metode pembelajaran kooperatif model TAI dapat diterapkan sepenuhnya dan menjadi alternative bagi guru dalam kegiatan pembelajaran

Penerapan analisis kebangkrutan model Altman (z-score) dan economic value added (EVA) sebagai penilaian kinerja keuangan perusahaan (studi pada PT. Handjaya Mandala Sampoerna Tbk tahun 1999-2008) / Septian Endosa Yogo

 

Kata kunci: Z-Score, Economic Value Added (EVA) dan kinerja keuangan perusahaan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui bagaimana tingkat kinerja keuangan perusahaan PT. HM Sampoerna Tbk pada tahun 1999-2008 berdasarkan penerapan analisis kebangkrutan model Altman (Z-Score) dan Economic Value Added. Untuk keperluan analisis data, maka data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan PT. HM Sampoerna Tbk tahun 1999–2008 yang diperoleh dari website www.sampoerna.com. Tahapan analisis data yang pertama adalah menghitung nilai Z-Score yang digunakan sebagai sistem peringatan dini dan untuk mengetahui apakah perusahaan dalam keadaan sehat atau sebaliknya diambang kebangkrutan. Kemudian menentukan nilai Economic Value Added (EVA) yang mempunyai prinsip bahwa keberhasilan manajemen diukur berdasarkan nilai tambah ekonomis yang diciptakan selama periode tertentu Hasil perhitungan dengan analisis kebangkrutan model Altman (Z-Score) untuk tahun 1999-2008 masing-masing adalah 5,0774; 4,24954; 8,95458; 5,95912; 5,89907; 5,58448; 7,11221; 7,79363; 8,67394; 6,85460. Dengan demikian keadaan keuangan PT. HM Sampoena Tbk untuk tahun 1999-2008 dalam kategori sehat atau perusahaan tidak ada tendensi untuk bangkrut karena nilai Z-Score diatas 2,99. Sedangkan berdasarkan hasil analisis EVA (Economic Value Added) untuk tahun 1999-2008, diketahui berturut-turut adalah sebesar (Rp.533.239.240); Rp.1.710.186.287; Rp.1.875.106.877; Rp.796.950.122; Rp.517.331.765; Rp. 306.298.873; Rp. 1.489.601.458; Rp. 2.389.231.617; Rp. 3.194.907.654; Rp. 3.838.558.386. Dengan demikian keadaan keuangan PT. HM Sampoerna Tbk secara umum untuk tahun 1999-2008 dalam kategori relatif baik, kecuali pada tahun 1999 yang mengalami penurunan. Hasil penelitian ini dapat memberikan saran-saran kepada perusahaan berkaitan dengan keadaan keuangan dengan menggunakan analisis Z-Score dan Economic Value Added (EVA) yaitu hendaknya perusahaan tetap berusaha memanfaatkan seluruh aktiva yang ada secara maksimal agar penjualan dapat ditingkatkan dan hendaknya perusahaan meninjau dan mempertimbangkan kembali struktur modal yang ada karena berpengaruh pada besar kecilnya biaya modal yang ditanggung perusahaan.

Pengembangan media pembelajaran untuk mengembangkan ekspresi dan kreativitas anak melalui mewarnai gambar dengan menggunakan multimedia interaktif berbasis game edukatif di taman kanak-kanak kelompok B / Wahyu Kurniasari

 

Kata Kunci : pengembangan, media pembelajaran interaktif game mewarnai gambar. Kegiatan bermain pada pergantian era dari tahun ketahun ke jaman globalisasi seperti sekarang ini tidak lagi menggunakan permainan yang tradisional akan tetapi sudah mengenal teknologi yang tidak kalah canggih. Kelemahan juga kelebihan akan perkembangan teknologi sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan saat ini. Banyak dari berbagai penelitian yang dilakukan telah menyatakan bahwa metode - metode pembelajaran saat ini sudah menggunakan teknologi. Kegiatan belajar, bermain serta bekerja sarat akan teknologi. Pada dunia pendidikan teknologi merupakan media sebagai proses pembelajaran. Dimana media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran dan perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan belajar. Tujuan dari pengembangan ini adalah untuk menghasilkan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif yang dapat meningkatkan kreatifitas dan ekspresi anak dalam kegiatan mewarnai gambar di Taman Kanak - Kanak Kelompok B. Media pembelajaran berbasis game edukasi multimedia intreraktif yang sudah dikembangkan telah diaplikasikan di Taman Kanak - Kanak Bustanul Athfal Restu 2 Malang untuk dilakukan uji validasi sebagai evaluasi untuk proses penyempurnaan berdasarkan masukan serta saran dari ahli media, ahli materi/Guru TK dan ahli pembelajaran. Setelah dilakukan uji validasi serta melalui analisis dan data evaluasi ahli media,ahli materi/Guru TK dan ahli pembelajaran. Produk media pembelajaran yang dikembangkan mengalami revisi untuk sub aspek kurang layak dengan skor 50% dan saran dari ahli media, ahli materi/Guru TK dan ahli pembelajaran sehingga dapat digunakan dalam proses belajar mengajar atau mandiri. Berdasar hasil penelitian di atas, produk pengembangan ini dapat digunakan sebagai masukan kepada para guru, instruktur dan mahasiswa/i Jurusan Seni dan Desain untuk dapat memberikan pengalaman serta menghasilkan produk yang bervariasi, kreatif dan inovatif.

Pengaruh motivasi memilih jurusan dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar siswa jurusan Akuntanasi di SMK Ardjuna 01 Malang / Defit Kristiani

 

Kata Kunci: Motivasi memilih Jurusan, kebiasaan Belajar, dan Prestasi Belajar. Motivasi memilih jurusan merupakan motivasi atau keinginan dalam diri individu siswa, adanya suatu keadaan yang mendorong tingkah laku untuk memilih dan berusaha mencapai tujuan, maka siswa atau anak didik berusaha memilih jurusan yang sesuai dengan tujuan dan cita-citanya berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Kebiasaan belajar merupakan cara bertindak seseorang dalam belajar. sedangkan prestasi belajar siswa merupakan tingkat keberhasilansiswa dalam mengikuti kegiatan proses belajar mengajar yang ditempuhnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh secara parsial motivasi memilih jurusan terhadap prestasi belajar dan kebiasaan belajar terhadap prestasi belajar, juga pengaruh secara simultan motivasi memilih jurusan dan kebiasaan belajr terhadap prestasi belajar siswa jurusan akuntansi SMK Ardjuna 01 Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II dan III jurusan akuntansi SMK Ardjuna 01 Malang yang jumlah keseluruhanya adalah 52 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif korelasional, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial motivasi memilih jurusan dan kebiasaan belajar mempunyai pengaruh positif terhadap prestasi belajar siswa jurusan akuntansi SMK Ardjuana 01 Malang, halitu dapat diketahui dari masing-masing nilai thitung 4,612 dan 3,571. diketahui secara simultan motivasi dan kebiasaan belajar juga berpengaruh positif terhadap prestasi belajr siswa jurusan akuntansi SMK Ardjuna 01 Malang dengan diperoleh nilai Fhitung sebesar 26,749. Saran yang dapat diberika yaitu: (1) siswa diharapkan lebih meningkatkan motivasinya dalam mempelajari jurusan yang dipilihnya (2) meningkatkan kualitaskebiasaan belajar bagi siswa baik melalui bahan yang dipelajari dan pengelolaan belajarnya karena kebiasan belajar berpengaruh langsung terhadap prestasi belajar (3) bagi peneliti lain yang mempunyai keinginan mengadakan penelitian sejenis disarankan untuk menggunakan populasi dan sampel penelitian yang lebih luas serta menambah variabel, karene masih banyak faktor yang berperan penting dalam pencapaian prestasi belajar secara optimal selain motivasi dan kebiasaan belajar.

Peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan strategi bertanya siswa kelas V SDN Banjarejo 2 Pegalaran Kabupaten Malang / Dwi Sri Wahyuni

 

Kata kunci: pembelajaran, strategi bertanya, membaca pemahaman Pemahaman siswa kelas V SDN Banjarejo 2 pada materi membaca pemahaman masih tergolong rendah. Hasil studi awal penelitian, proses pembelajaran membaca pemahaman di kelas V Sekolah Dasar Negeri Banjarejo 2, sebagian siswa belum mampu memahami isi bacaan. Hasil pengamatan dan pengalaman peneliti di SDN Banjarejo 2 Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa perlu ditingkatkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya fenomena-fenomena sebagai berikut. (1) Siswa masih menemui kesulitan dalam memahami isi bacaan, (2) siswa masih kesulitan mengungkapkan pesan atau informasi yang tersirat dalam bacaan, dan (3) siswa kurang termotivasi untuk mengungkapkan pendapatnya berhubungan dengan bacaan. Oleh karena itu perlu diciptakan suatu kondisi pembelajaran yang dapat membantu siswa menemukan sendiri cara menyelesaikan permasalahan yang dihadapi siswa berdasarkan pengalaman dan realitas yang dimiliki siswa. Pengoptimalan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran membaca di sekolah dasar perlu dilakukan dengan memanfaatkan berbagai strategi pembelajaran. Strategi yang dimaksud digunakan dengan tujuan agar pembelajaran membaca pemahaman dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah strategi bertanya. Penelitian ini bertujuan untuk untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Banjarejo 2 Pagelaran Kabupaten Malang melalui strategi bertanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka peneliti merancang suatu penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Banjarejo 2 Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Data penelitian diperoleh dari hasil tes awal, hasil pengamatan aktivitas belajar siswa dan aktivitas mengajar guru, tes akhir siswa, dan hasil wawancara dengan siswa. Materi yang disampaikan pada penelitian ini berupa langkah siklus yang terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan (plan), pelaksanaan tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Penelitian ini dilaksanakan dalam 1 (satu) siklus dengan 2 (dua) tindakan pembelajaran. Temuan penelitian yang didapatkan pada penelitian ini adalah (a) Pemahaman siswa terhadap materi membaca pemahaman sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata tes hasil belajar pada masing-masing tindakan pembelajaran dimana dari pembelajaran I sampai pembelajaran II mengalami peningkatan. (b) Siswa senang bekerja dalam kelompok. Alasan mereka adalah dengan bekerja kelompok maka apabila mereka menemukan kesulitan bisa bertanya kepada teman lain yang sudah paham tanpa ada rasa takut. Langkah-langkah pembelajaran dalam penelitian ini adalah Tahap prabaca, langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran, (2) memotivasi dan menjelaskan proses pembelajaran dengan strategi bertanya, dan (3) meminta siswa menyusun pertanyaan tentang tema, bagian judul, dan judul bacaan. Tahap saatbaca, langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) meminta siswa membaca teks bacaan, dan (2) meminta siswa menyusun pertanyaan tentang isi bacaan. Tahap pascabaca, langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) meminta siswa menjawab pertanyaan yang telah disusun secara berkelompok, (2) meminta siswa mengemukakan pertanyaan yang disusun dalam diskusi kelas, dan (3) meminta siswa menjawab pertanyaan tentang isi bacaan dalam diskusi kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Rancangan pembelajaran dengan strategi bertanya dalam penelitian ini dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas V SDN Banjarejo 2. Rancangan pembelajaran dengan strategi bertanya dalam penelitian ini dituangkan dalam bentuk RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), (2) Pelaksanaan rancangan pembelajaran dengan strategi bertanya berlangsung dalam satu siklus dengan dua tindakan pembelajaran. Siklus dalam PTK ini terdapat tiga tahap sebagai berikut: tahap prabaca, tahap saatbaca, dan tahap pascabaca, (3) hasil belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan, yaitu: (a) nilai rata-rata tes akhir meningkat pada pembelajaran I adalah 79, dan pada pembelajaran II 81,5; (b) persentase keberhasilan aktivitas belajar siswa juga meningkat, yaitu: 72,6% pada pembelajaran I, dan 89,8% pada pembelajaran II atau dari kriteria cukup, menjadi baik; (c) persentase keberhasilan aktivitas mengajar guru juga mengalami peningkatan, yaitu: 79,7% pada pembelajaran I, dan 93,8% pada pembelajaran II atau dari kriteria cukup, menjadi sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan hal-hal sebagai berikut: (1) Karena pembelajaran Bahasa Indonesia dengan strategi bertanya masih tergolong baru di lingkungan SDN Banjarejo 2, maka untuk pelaksanaan berikutnya diperlukan sosialisasi lebih lanjut di sekolah, (2) Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan strategi bertanya guru hendaknya berperan sebagai fasilitator dan mediator, dan membiarkan siswa membangun pengetahuan mereka sendiri, (3) Dalam kegiatan pembelajaran disarankan untuk membiasakan siswa dalam kegiatan belajar adalah dengan cara belajar kelompok, yaitu dengan membagi siswa kedalam kelompok-kelompok heterogen, (4) harus menjelaskan tugas dari masing-masing anggota kelompok sehingga mereka mempunyai tanggung jawab dalam kelompok dan dapat bekerja sama dengan baik, (5) Guru hendaknya memperhatikan pengelolaan waktu dengan baik agar pembelajaran bisa berjalan sesuai dengan rencana.

Pengelolaan program pendampingan pekerja seks komersial (PSK) untuk perubahan perilaku save seks (seks aman) di lokalisasi Slorok Desa Slorok Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang / Endik Balianto

 

Kata Kunci: pendampingan, PSK, save seks, lokalisasi, HIV/AIDS. Latar belakang penelitian ini adalah menanggapi perkembangan penularan HIV/AIDS yang semakin meningkat melalui hubungan seks dikalangan Pekerja Seks Komersial (PSK) dilokalisasi Slorok, sehingga perlu adanya perhatian dari berbagai elemen untuk mengatasi problematika tersebut sehingga dapat memutus matarantai penyebaran HIV/AIDS, salah satunya yaitu LSM Paramitra yang mempunyai visi misi menurunkan angka HIV/AIDS dengan merubah pola perilaku seks beresiko ke perilaku save seks pada PSK melalui proses pendampingan, untuk itu perlu adanya pengelolaan program yang terstruktur demi kelancaran pelaksanaan program pendampingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah pengelolaan program pendampingan Pekerja Seks Komersial (PSK) Untuk Perubahan Perilaku Save Seks (Seks Aman) Bagaimanakah pengelolaan program pendampingan Pekerja Seks Komersial (PSK) Untuk Perubahan Perilaku Save Seks (Seks Aman) di Lokalisasi Slorok. Penelitian ini dilaksanakan dilokalisasi Slorok Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif, metode pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini (1) perencanaan program pendampingan PSK untuk perubahan perilaku save seks, yang terdiri dari (a) pemetaan sosial yang terbagi menjadi 2 yaitu fisik berupa jumlah wisma,mucikari, PSK, pedagang, tukang parkir, dan keamanan lokalisasi serta denah lokasi dilokalisasi Slorok dan non fisik berupa identifikasi permasalahan dan kebutuhan PSK dilokalisasi Slorok adapun permasalahan yang mereka hadapi adalah kurangnya pengetahuan terhadap penularan dan bahaya IMS-HIV/AIDS dan pola perilaku seks yang beresiko tertular IMS-HIV/AIDS. Sedangkan kebutuhan PSK adalah pengaksesan pengetahuan terhadap penularan dan bahaya IMS-HIV/AIDS dan perubahan perilaku seks yang beresiko menjadi save seks (seks aman) dengan menggunakan kondom (b) Perumusan tujuan pada program pendampingan yaitu tujuan umum membangun visi dan komitemen ”bebas IMS-HIV/AIDS dilokalisasi sekaligus pembentukan Pokja dilokalisasi. Sedangkan tujuan khusus program pendampingan yaitu memperkuat kapasitas masyarakat dalam upaya pencegahan IMS-HIV/AIDS. Pemberdayaan komunitas masyarakat yang termaginalkan dan mempermudah akses layanan kesehatan bagi komunitas marginal. Mempermudah akses layanan kesehatan bagi komunitas marginal. (c) Sosialisasi program pendampingan, pada sosialisasi terbagi menjadi 2 tahap yaitu ketingkat Muspika dan tingkat lokalisasi Slorok adapun hambatan dalam sosialisasi yaitu tingkat respon yang kurang baik pada tingkat Muspika maupun ditingkat lokalisasi . (2) Pengorganisasian program pendampingan PSK untuk perubahan perilaku save seks, yang terdiri dari (a) Pembentukan Pokja dan (b) Pembentukan Peer Educator / Kader. (3) Pelaksanaan program pendampingan PSK untuk perubahan perilaku save seks, yang terdiri dari (a) Melakukan motivasi baik pada tingkat komunitas yaitu Pokja dan Kader dengan mengadakan workshop yang dihadiri oleh pengurus Pokja dan Kader dari seluruh lokalisasi di Kabupaten Malang sedangkan pada tingkat PSK dengan mengadakan gebyar kondom dan mendatangkan perwakilan dari DPRD untuk melakukan sosialisasi langsung ke PSK dilokalisasi Slorok, dan (b) Koordinasi yang dilaksanakan dibagi menjadi 3 tingkatan yang pertama pada tingkat komunitas yaitu Pokja dilaksanakan 2 kali dalam 1 bulan, pada tingkat kader koordinasi dilaksanakan 1 bulan sekali, kedua tingkat PSK dan ketiga tingkat Puskesmas setiap 1 bulan sekali dan 3 bulan sekali. (4) Pengawasan program pendampingan PSK untuk perubahan perilaku save seks, yang terdiri dari (a) Hambatan dalam pelaksanaan program yaitu respon PSK yang kurang karena faktor pendidikan yang rendah, kurang konsisten PSK dalam menggunakan kondom dan seringnya terjadinya perbedaan pendapat dalam pengurus Pokja dan (b) Strategi penyelesaian hambatan dengan melakukan pendekatan secara terus menerus serta memberikan informasi secara berulang-ulang dan melibatkan peran Pokja dan mucikari untuk membuat peraturan yang tertulis dilokalisasi Slorok . Saran dari penelitian ini adalah (1) Bagi jurusan pendidikan luar sekolah adanya tambahan informasi melalui kuliah atau seminar yang membahas tentang tugas tenaga pendidikan luar sekolah sebagai pendamping program pemberdayaan masyarakat. (2) Bagi pendamping lapangan hendaknya sasaran dalam program pendampingan Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk perubahan perilaku save seks (seks aman) di Lokalisasi Slorok diberi bekal tentang membaca, menulis dan berhitung untuk mengembangkan kecakapan serta dapat membantu proses penerimaan informasi oleh pendamping lapangan. (3) Bagi peneliti lain diharapkan bagi peneliti lain untuk dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode serta fokus yang lain, sehingga dapat secara berkelanjutan berpartisipasi aktif dalam program pendampingan Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk perubahan perilaku save seks (seks aman) di Lokalisasi Slorok Kabupaten Malang. (4) Bagi pemerintah daerah diharapkan lebih berperan aktif dalam program pendampingan sebagai pengevaluasi program pendampingan serta sebagai fasilitator untuk perkembangan Pokja dan Kader di Lokalisasi Slorok.

Persepsi penduduk usia angkatan kerja terhadap industri kerajinan kulit di Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan / Nurtahid Hadi Ma'rufi

 

Kata Kunci : Persepsi, Angkatan Kerja, Industri Krajinan Kulit Banyaknya jumlah angka pengangguran di Kabupaten Magetan menjadi masalah yang hingga kini belum bisa diselesaikan. Industri kerajinan kulit di Magetan banyak menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. Realita lapangan pekerjaan yang minim hingga saat ini belum bisa dipungkiri. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pengangguran di Kabupaten Magetan yang masih cukup tinggi. Hingga bulan November 2009 ini, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) maka diharapkan industri kerajinan kulit di Kabupaten Magetan bisa menjadi solusi sebagai alternatif sulitnya lapangan kerja. Masalah dalam penelitian ini adalah: 1) minimnya lapangan kerja yang ada. 2) jumlah pengangguran yang semakin banyak. 3) limbah industri kerajinan kulit yang mencemari sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi penduduk usia angkatan kerja terhadap industri kerajinan kulit di Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan Penelitian ini menggunakan metode survey. Populasi penelitian ini adalah seluruh seluruh penduduk usia angkatan kerja yang berada di 14 Kelurahan/Desa Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 100 responden. Teknik pengambilan data menggunakan metode observasi, dokumentasi dan kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan teknik tabulasi tunggal analisis ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan dihitung dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: persepsi penduduk usia angkatan kerja terhadap industri kerajinan kulit di Kecamatan Magetan Kabupaten Magetan adalah sangat baik, keberadaan industri kerajinan kulit sebagai alternatif lapangan kerja baru yang dapat menyerap tenaga kerja sehingga bisa mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Magetan, Dari hasil penelitian dapat disarankan: 1) Kepada masyarakat Magetan dan pemilik industri kerajinan kulit agar bersama-sama mengelola industri kerajinan kulit di Kabupaten Magetan supaya industri kerajinan kulit di Kabupaten Magetan dapat semakin berkembang dan bisa menjadi alternatif lapangan kerja baru. 2) Kepada pemilik industri kerajinan kulit supaya lebih mengutamakan tenaga dari penduduk usia angkatan kerja yang berada di sekitar industri kerajinan kulit di Kabupaten Magetan, supaya penduduk usia angkatan kerja bisa ikut serta dalam aktivitas industri kerajinan kulit. 3) Kepada pemilik industri kerajinan kulit supaya lebih memperhatikan lingkungan dengan mengolah limbah industri kulit agar lebih ramah lingkungan sebelum membuang limbah penyamakan kulit ke sungai.

Pengembangan buku teks geografi SMA/MA kelas X semester II pada materi atmosfer dan dampaknya terhadap kehidpan dengan model Dick and Carey / Nurin Rochayati

 

Keywords: geography textbook, development, Dick and Carey model. Geography textbook for SMA grade X of second semester written by Sugara (2006) concerning atmosphere material and its impacts toward life is still far from ideal: first, geography text “neglects” the aspect of truth in language, fact/data, concept, generalization, the truth concerning picture provided, and the comprehensibility of the material based on Standard National Education Committee (BSNP) that gives priority to; 1) content component, 2) presentation component. Second, geography textbook does not reflect the particular characteristic of knowledge concerning geography that is including formal study aspect (space, environment, and the complexity of an area). Because of that, it is needed an alternative in solving problems with developing a textbook heading for betterment in each of those aspects. The product of textbook developed based on norm in geography science and KTSP curriculum through the modification of Dick and Carey model (2001). Its procedure consists of ten stages though in this study, the researcher only develop five stages out of ten, that are: (1) identify standard of competence, basic competence and indicator based on BSNP concept, (2) analyze materials of subject, (3) textbook arranging and writing, (4) textbook validating, (5) revise the final product as a result in developing textbook. The developed textbook is in the form of Geography subject for SMA/MA grade X concerning Atmosphere material and its impacts toward life. This development is aimed for resulting a textbook suitable for the norm in geography science. The result of content material test toward textbook includes in good category. The result of field test toward textbook includes in very good category that is the average of proportion is 1922 or 80%. The average value of students level of reading ability (mean) is 16.8% which apt with the ability criteria in understanding reading text that is students include in good category that is 75-84%. It is suggested to the future researchers to utilize endorser books as references to accomplish the weaknesses of the textbook. By taking references from indicators of those books, the teacher can develop wider creativity and contextual teaching with utilizing the environment of the students. There are many things in students’ environment that have not utilize yet maximally in learning process. For dissemination, it is suggested that observation steps should be conducted until summative evaluation stage to know the effectively and efficiency of the textbook. Steps in conducting dissemination are: (1) held a seminar in regional scale, even in national scale about developing a textbook, especially geography textbook for SMA/MA, (2) introducing the textbook in Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) forum concerning geography subject, and (3) publish the textbook in a rubric or column of writing books in a website. For further development, it is suggested to develop books to two semesters and field test with taking a sample nationally all around Indonesia.

Studi kelayakan pengembangan kawasan objek wisata air terjun Haratai Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan / Mariyana Ulfah

 

Kata kunci: kelayakan, pengembangan, objek wisata. Perkembangan pariwisata selalu mengikuti kebutuhan dan keinginan masyarakat sebagai penikmat utama. Pola konsumsi masyarakat untuk berwisata sekarang ini tidak hanya untuk menikmati suasana saja namun mereka juga ingin menikmati aktivitas lain dengan sarana pendukung atraksi wisata yang disediakan. Pergeseran pola konsumsi masyarakat ini tidak bisa diikuti oleh Air Terjun Haratai sehingga objek ini banyak ditinggalkan oleh peminatnya. Terkait dengan permasalahan penelitian maka muncul suatu pertanyaan penelitian yaitu ”Bagaimanakah Kelayakan Pengembangan Objek Wisata Air Terjun Haratai Ditinjau Dari Aspek Daya Dukung Lahan, Daya Dukung Sarana Prasarana, Dan Daya Dukung Sosial Budaya Masyakatnya?”. Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka perlu dilakukan studi kelayakan objek wisata Air Terjun Haratai sebagai objek wisata di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Adapun tujuan studi ini adalah: (1) untuk mengetahui tingkat kelayakan aspek daya dukung lahan pada objek wisata Air Terjun Haratai; (2) untuk mengetahui tingkat kelayakan aspek daya dukung sarana prasarana pada objek wisata Air Terjun Haratai; dan (3) untuk mengetahui kondisi sosial budaya masyarakat dalam mendukung pengembangan objek wisata Air Terjun Haratai. Kelayakan (feasibility) yang dimaksudkan tidak mengacu pada untung rugi secara ekonomis namun hanya sebatas untuk mengetahui apakah memang objek wisata Air Terjun Haratai mempunyai sumberdaya yang potensial dan memadai untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka sasaran yang dilakukan antara lain identifikasi potensi objek yang dilihat dari aspek daya dukung lahan, daya dukung sarana prasarana, dan daya dukung sosial budaya masyarakat setempat. Metode pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah metode penelitian survei dengan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan pedoman penskoran. Berdasarkan hasil analisis dengan pedoman penskoran maka diperoleh hasil bahwa: (1) daya dukung lahan yang ada pada kawasan objek wisata Air Terjun Haratai memiliki skor sebesar 85 poin (termasuk ke dalam interval 76 – 94, yaitu sangat memenuhi syarat dilakukannya pengembangan pariwisata/sudah layak; (2) daya dukung sarana dan prasarana dengan skor sebesar 40 poin (termasuk ke dalam interval 28 – 42, yaitu kurang layak/kurang memadai); dan (3) daya sosial budaya masyarakat setempat yang ada di kawasan Objek Wisata Air Terjun Haratai dengan skor sebesar 13 poin (termasuk ke dalam interval 13 – 16, yaitu mendukung).

Pengembangan media pembelajaran berbantuan kompuyer pada mata pelajaran IPA kelas IV semester 2 di SDN Tebalo Kab. Gresik / M. Hanif Syamsu R.

 

Kata Kunci: Pengembangan Media Pembelajaran, Berbantuan Komputer, Mata Pelajaran IPA. Media adalah suatu alat yang berfungsi sebagai perantara atau saluran dalam kegiatan pembelajaran antara komunikator (penyampai pesan) dan komunikan (penerima pesan). Berdasarkan hasil pengamatan awal, melihat kondisi yang terjadi pada saat proses pembelajaran, pada mata pelajaran IPA dikelas IV di SDN Tebalo, Gresik. Belum terjadinya proses pembelajaran yang efektif, selain karena bahan (media) pembelajaran yang digunakan selama ini dipandang kurang efektif karena bahan pembelajaran yang dijadikan referensi masih terbatas pada media cetak berupa buku teks, LKS, fotocopy materi pelajaran. Begitu juga rendahnya motivasi belajar siswa karena kurangnya keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Selain itu, metode yang digunakan masih belum ada variasi sehingga peserta didik merasa jenuh. Dalam hal ini, media pembelajaran berbantuan komputer sebagai media pembelajaran dapat membantu peserta didik untuk belajar berpikir aktif serta mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPA. Meskipun penggunaan media pembelajaran berbantuan komputer tidak dapat menggantikan posisi guru dalam proses pembelajaran di kelas, akan tetapi dengan menggunakan media berbantuan komputer tersebut, dalam penyampaian materi pelajaran akan lebih mudah, pembelajaran akan lebih menarik, dan kualitas hasil belajar dapat ditingkatkan, serta dapat membangkitkan sikap positif peserta didik dalam memahami materi pelajaranya. Tujuan pengembangan media pembelajaran komputer adalah untuk mendeskripsikan keefektifan penggunaan media pembelajaran berbantuan komputer dalam pembelajaran, pendapat peserta didik tentang penggunaan pembelajaran berbantuan komputer, serta pengaruh penggunaan pembelajaran berbantuan komputer terhadap kondisional pembelajaran peserta didik dikelas. Selanjutnya, untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan pengumpulan data melalui metode tes sebagai instrumen pokok, dokumentasi, observasi, dan angket sebagai instrumen pendukung. Metode tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPA, sedangkan angket digunakan untuk mengetahui pendapat siswa tentang penggunaan pembelajaran berbantuan komputer dalam pembelajaran. Media pembelajaran ini diujikan kepada ahli media sebanyak 2 orang, ahli materi sebanyak 1 orang dan audien (peserta didik) sebanyak 20 orang. Media pembelajaran berbantuan komputer untuk peserta didik di SDN Tebalo Gresik dinyatakan efektif untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini dibuktikan bahwa hasil perhitungan statistik: data ahli media menunjukkan bahwa: jawaban responden ahli media 8 aspek menunjukkan persentase 100%, sedangkan 7 aspek menunjukkan persentase 87,5%. Sehingga secara keseluruhan tingkat validitas (kelayakan) media diperoleh 94,1 % berdasarkan kriteria itu, media tersebut layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Dari ahli materi menunjukkan bahwa: jawaban responden ahli materi 7 aspek menunjukkan persentase 100% berarti (layak), sedangkan sebanyak 3 aspek yang menunjukkan persentase 75% berarti (cukup layak). Sehingga secara keseluruhan tingkat validitas(kelayakan) media diperoleh 92,5 % dengan kriteria, media tersebut layak digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Dari audiens (peserta didik) secara perorangan menunjukkan bahwa: jawaban responden jawaban responden Audien (siswa) dalam 7 aspek menunjukkan persentase antara 85,5 % sampai 94,7% berarti (layak)., sedangkan sebanyak 3 aspek yang menunjukkan persentase antara 77,6 % sampai 78,9 % berarti (cukup layak). Sehingga secara keseluruhan tingkat validitas(kelayakan) media tersebut diperoleh 85,6 %, dengan kriteria, media tersebut layak dan peserta didik merasa terbantu dalam belajarnya. Sedangkan untuk hasil belajar siswa menunjukkan Harga t hitung = 8,16 dan d.b=19, kemudian dilakukan pengetesan pada tabel ttabel. Pada taraf signifikansi 5%=2,093. Bila dibandingkan dengan harga thitung maka 8,16>2,093. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa: hasil belajar siswa sesudah menggunakan media pembelajaran berbantuan komputer lebih baik dari pada sebelum menggunakan media pembelajaran berbantuan komputer, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar siswa. Oleh karena itu, media pembelajaran ini memberikan efek positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa terutama siswa dengan tingkat pengetahuan yang masih rendah dan itu dapat membuktikan bahwa media pembelajaran berbantuan komputer dalam penggunaannya efektif dalam pembelajaran. Dengan demikian secara umum, menunjukkan bahwa media pembelajaran berbantuan komputer ini Layak dapat digunakan dalam proses belajar-mengajar mata pelajaran IPA kelas IV di SDN Tebalo Gresik.

Penerapan perpaduan model pembelajaran numbered heads together (NHT) dan problem based learning (PBL) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X MAN Kota Blitar / Leni Sholikhah

 

Kata Kunci: Perpaduan Numbered Heads Together (NHT) Dan Problem Based Learning (PBL), Aktivitas Belajar. Seiring dengan perkembangan zaman maka pendidikan juga mengalami perubahan. Hal ini juga mengakibatkan perubahan kebijakan-kebijakan dalam bidang pendidikan sehingga mengakibatkan sekolah juga mengadakan perubahan metode-metode maupun strategi-strategi yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Tujuan penelitian ini adalah Mendeskripsikan bagaimana Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Menganalisis apakah Penerapan Perpaduan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) dan Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat naturalistic. Naturalistic menunjukkan bahwa penelitian ini terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam situasi normal yang tidak memanipulasi keadaan dan kondisinya, dan menekankan pada deskripsi alamiah. Jenis penelitia Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian ini dilakukan dalam konteks kelas yang bertujuan memperbaiki praktik pembelajara di kelas sehingga dapat meningkatkan ketrampilan proses dan hasil belajar siswa. Dalam tindakan ini peneliti terlibat langsung mulai dari awal sampai berakhirnya proses penelitian. Peneliti melakukan tindakan, eksperimen, yang secara khusus diamati terus menerus, dilihat dari kekurangannya kemudian diadakan perubahan terkontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang tepat. Penelitian tindakan ini dilakukan mengikuti proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu: (1) merencanakan, (2) melakukan, (3) mengamati, (4) merefleksi. Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas X.F MAN Kota Blitar yang berjumlah 43 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa dengan Perpaduan Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dan Problem Based Learning (PBL) ini dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa Sebelum dan sesudah dilaksanakannya perpaduan model pembelajaran NHT dan PBL. Sebelum dilaksanakan perpaduan model NHT dan PBL nilai rata-rata kelas jauh dibawah nilai standar kelulusan minimum yaitu 70. Dan setelah dilaksanakan perpaduan model pembelajaran NHT dan PBL nilai rata-rata aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Kelompok 1 dari 62,7%, pada pelaksanaan siklus II menjadi 72,0% hal ini menunjukan aktivitas belajar mereka termasuk ke dalam kategori “baik”, untuk aktivitas belajar kelompok 2 dari 65,1% naik 74,4% hal ini menunjukan aktivitas belajar mereka dalam kategori “baik”, untuk aktivitas belajar kelompok 3 mencapai 65,1% disiklus I pada pelaksanaan siklus II menjadi 74,4% hal ini masih termasuk dalam kategori “baik”, aktivitas belajar kelompok 4 dari 69,7% menjadi 76,7% ini juga masih termasuk dalam kategori “baik”, kelompok 5 mencapai 69,7% pada pelaksanaan siklus II menjadi 76,7% dengan kategori “baik”. Kelompok 6 mencapai 74,4% masih dalam kategori “baik”, kelompok 7 pada siklus II mencapai 74,4% sedangkan aktivitas belajar kelompok 8 mencapai 76,7% pada siklus II dan dalam kategori “baik”. Manfaat penelitian ini untuk peneliti yaitu dapat menambah informasi dan alternatif dalam mengembangkan model pembelajaran yang efektif dan afisien sebagai bekal kegiatan pembelajaran di masa yang akan datang. Sedangkan untuk guru dapat digunakan sebagai bahan balikan untuk mengadakan bahan koreksi diri sekaligus usaha memperbaiki kualitas diri sebagai guru yang profesional untuk meningkatkan mutu dan ketuntasan belajar siswa. Untuk sekolah diharapkan dari penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan peningkatan mutu dan kualitas pembelajaran di sekolah.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan fertilitas penduduk di Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo Kota Batu / Risa Nurhuda

 

Kata Kunci: Fertilitas, Mortalitas Desa Torongrejo merupakan desa dengan tingkat kepadatan yang tinggi, kepadatan penduduk 934 jiwa/km2. Tingginya angka kelahiran kasar dimulai tahun 2007 sebesar 8,83 kemudian meningkat pada tahun 2009 sebesar 10,86. Tingkat pendidikan penduduk yang rendah menyebabkan tingginya pernikahan diusia 15-20 tahun. Terdapat 4009 (46,26%) penduduk berstatus kawin dengan asumsi jumlah laki-laki dan perempuan sama yaitu terdapat 2004,5 wanita status kawin. Rendahnya pemakaian alat kontrasepsi yang mencapai 36,21% pasangan usia subur peserta KB di Desa Torongrejo menyebabkan ledakan penduduk sebesar 3,2%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat fertilitas penduduk, serta mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, umur kawin pertama, lama periode reproduksi, pemakaian alat kontrasepsi, mortalitas bayi dengan fertilitas, dan mengetahui faktor yang memberi bobot sumbangan paling besar terhadap fertilitas penduduk di Desa Torongrejo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuatitatif yang bersifat korelasional. Populasinya adalah wanita usia produktif (15-49 tahun) status kawin. Teknik pengambilan sampel daerah penelitian menggunakan purposive random sampling. Sampel responden dilakukan dengan teknik proporsional random sampling sebesar 305 responden. Instrumen penelitian dengan wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan statistik yaitu tabulasi, dan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan tingkat fertilitas di Desa Torongrejo tergolong tinggi, rata-rata memiliki anak diatas 3 pada penduduk golongan umur 45-49 tahun. Tingginya tingkat fertilitas berhubungan dengan tingkat pendidikan, umur kawin pertama, lama periode reproduksi, pemakaian alat kontrasepsi, dan mortalitas bayi sedangkan tingkat pendapatan tidak mempunyai hubungan dengan tingginya tingkat fertilitas di Desa Torongrejo. Sumbangan terbesar untuk fertilitas diberikan tingkat pendidikan. Pada wanita usia subur perlu adanya penundaan usia kawin dengan menigkatkan pendidikan, sehingga masa mereka untuk mengembangkan diri mereka lebih luas dan masa periode repruduksinya lebih singkat. Perlu adanya penyuluhan dan mutu layanan KB, pemerintah diharapkan peta persebaran penduduk dengan tujuan memonitoring persebaran penduduk dan peran aktif pemerintah dalam pendidikan yaitu wajib belajar 12 tahun.

Pelaksanaan strategi pelayanan dalam upaya menciptakan kepuasan konsumen pada CV. Angkasa Raya Bali / Rohmat Hariadi

 

Kata kunci : Strategi Pelayanan, Kepuasan Konsumen Pada saat ini persaingan dalam dunia usaha sangatlah ketat semua perusahaan dituntut untuk memberikan servis terbaiknya terhadap konsumen agar keinginan konsumen bisa terwujud. Konsumen pada kondisi ini seolah berperan seperti raja yang berhak memilih barang apa yang akan digunakan. Konsumen merupakan kunci dari kesuksesan semua jenis usaha. Berdasarkan hal tersebut pelayanan merupakan landasan dasar yang memperkuat keseluruhan proses pemasaran untuk dapat terus berjalan dengan baik. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan mendeskripsikan pelayanan yang diberikan oleh CV. Angkasa Raya Bali. Untuk mengetahui pelayanan yang diberikan oleh CV. Angkasa Raya Bali. Ada empat masalah yang diamati, yaitu: (1) strategi pelayanan yang diberikan oleh CV. Angkasa Raya Bali; (2) strategi pelayanan yang paling efektif yang diterapkan oleh CV. Angkasa Raya Bali; (3) kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan strategi pelayanan yang diberikan oleh CV. Angkasa Raya Bali; (4) cara mengatasi kendala yang terjadi dalam pelaksanaan strategi pelayanan yang diberikan oleh CV. Angkasa Raya Bali Hasil dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) menunjukkan bahwa: (1) strategi pelayanan yang diberikan oleh CV. Angkasa Raya Bali adalah dengan memberikan pelayanan yang unggul yang meliputi kecepatan, ketepatan, keramahan dan kenyamanan. Perusahaan ini sangat mengutamakan pelayanannya, karena kualitas pelayanan memiliki hubungan erat dengan kepuasan konsumen sehingga tercipta loyalitas konsumen seperti yang diharapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah: Keandalan, Daya Tanggap, Jaminan, Perhatian (2) strategi yang paling efektif yang diterapkan oleh CV. Angkasa Raya Bali adalah Strategi Relationship Marketing. Berdasarkan hasil kuesioner dengan jawaban konsumen yang memilih jawaban puas dan sangat puas sebesar 80% yang terdapat pada indikator keandalan, jaminan, dan daya tanggap (3) kendala-kendala yang sering terjadi dalam pelaksanaan pelayanan ini adalah sering terjadi kekosongan produk, kurangnya tenaga pengiriman saat order datang bersamaan, seringnya macet karena upacara adat, dan macetnya mesin fax secara tiba-tiba. Dengan mengetahui kendala-kendala seperti ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan. (4) adapun cara untuk mengatasi kendala dalam pelaksanaan strategi pelayanan antara lain: lebih menjalin kerjasama yang baik dengan pihak distributor, kerja tim yang bagus antara semua bagian dan penggunaan e-mail dan atau alat komunikasi yang menunjang. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis, maka saran yang ingin disampaikan penulis kepada CV. Angkasa Raya Bali adalah (1) Hendaknya pihak CV. Angkasa Raya Bali menjaga hubungan baik yang sudah terjalin diantara konsumen dan perusahaan. (2) Berdasarkan pengamatan yang didapat oleh penulis selama PKL hendaknya CV. Angkasa Raya Bali menerapkan sistem yang lebih disiplin kerja menerapkan jam kerja yang lebih tepat agar tidak banyak karyawan yang terlambat.

Pengaruh intensitas kegiatan musyawarah guru mata pelajaran, program sertifikasi, dan keterampilan dasar mengajar, terhadap kinerja guru-guru akuntansi SMK di Kota Malang / Rulfiatul Aini

 

Kata kunci: Musyawarah Guru Mata Pelajaran, Program Sertifikasi, Keterampilan Dasar Mengajar, dan Kinerja Guru Peningkatan kualitas guru sebagai pengajar dan pendidik, harus selalu diupayakan dengan cara mengadakan perbaikan yang terus menerus untuk meningkatkan kemampuan/ kompetensinya. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), penataran, studi lanjut, dan program sertifikasi guru. Upaya-upaya tersebut tidak lain hanya bertujuan untuk menghasilkan guru yang kompeten, sehingga menghasilkan pula guru-guru yang mempunyai kinerja yang tinggi. Kinerja guru merupakan produk akhir dari serangkaian tindakan yang telah dilakukan oleh guru. Kinerja yang tinggi akan menghasilkan prestasi kerja yang tinggi, baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan (Mangkunegara, 2004). Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tingkat intensitas kegiatan MGMP, program sertifikasi, keterampilan dasar mengajar, dan kinerja guru akuntansi SMK di Kota Malang. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui Pengaruh intensitas kegiatan MGMP, program sertifikasi dan keterampilan dasar mengajar terhadap kinerja guru akuntansi SMK di Kota Malang, baik secara simultan maupun secara parsial. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif korelasional, yaitu untuk mendeskripsikan variabel-variabel yang diteliti dan menentukan ada tidaknya pengaruh, serta seberapa besar pengaruh dari variabel intensitas MGMP (X1), program sertifikasi (X2), dan keterampilan dasar mengajar (X3) terhadap kinerja guru-guru akuntansi SMK di Kota Malang (Y). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Intensitas kegiatan MGMP guru akuntansi di Kota Malang termasuk kategori sedang (39,12%), program sertifikasi guru sedang (39,12%), keterampilan dasar mengajar guru akuntansi di Kota Malang termasuk kategori sangat tinggi (43,47%), tingkat kinerja guru-guru akuntansi SMK di Kota Malang termasuk kategori sangat tinggi (43,48%). Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa Intensitas kegiatan MGMP, program sertifikasi, dan keterampilan dasar mengajar berpengaruh positif terhadap kinerja guru akuntansi SMK di Kota Malang baik secara simultan maupun secara parsial. Dengan hasil penelitian ini, diharapkan agar guru-guru selalu meningkatkan kegiatan MGMP nya sebagai seorang pendidik, meningkatkan keterampilan dasar mengajarnya dalam bekerja, dan terus menjaga atau mengaplikasikan ilmu yang didapatnya dalam program sertifikasi, serta menjadi teladan bagi guru-guru lain yang belum mengikuti sertifikasi.

Analisis potensi pertumbuhan ekonomi Kota Pasuruan (pendekatan model basis ekonomi) / Riska Tri Noviyanti

 

Kata Kunci: Potensi Pertumbuhan Ekonomi, Basis Ekonomi Pembangunan daerah merupakan sub-sistem dari pembangunan nasional dan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pembangunan nasional. Salah satu tolak ukur adanya pembangunan ekonomi daerah yaitu adanya pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam usaha meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah perlu diketahui terlebih dahulu sumberdaya-sumberdaya atau potensi suatu daerah yang dapat diharapkan berkembang secara optimal. Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk mengetahui potensi-potensi daerah yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah Kota Pasuruan selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009, dan seberapa besar sumbangan sektor-sektor potensial tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Penelitian ini menggunakan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Pasuruan dan Propinsi Jawa Timur tahun 2005 hingga tahun 2009. Data tersebut diperoleh dari survei sekunder, yaitu dengan memanfaatkan data yang telah tersedia pada instansi terkait. Dalam skripsi ini digunakan model basis ekonomi yang tercermin pada analisis Location Quotient (LQ) yang dilengkapi analisis Shift Share, yang berguna untuk mengetahui sektor-sektor unggulan di Kota Pasuruan. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode Location Quotient, sektor yang memiliki indeks LQ lebih besar dari satu dan merupakan sektor basis ekonomi adalah sektor industri pengolahan dengan LQ rata-rata sebesar 1,66 %, kemudian sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan LQ rata-rata sebesar 1,96 %, serta sektor Angkutan dan Komunikasi dengan LQ rata-rata sebesar 1,18%. Hasil metode analisis Shift Share menggunakan komponen pertumbuhan differential (Dj) menunjukkan terdapat satu sektor dengan rata-rata Dj positif, yaitu sektor Industri Pengolahan dengan nilai rata-rata Dj sebesar 3.865,36 hal tersebut mengindikasikan bahwa sektor Industri Pengolahan tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor ekonomi yang sama dengan Propinsi Jawa Timur sehingga sektor tersebut memiliki daya saing tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi Kota Pasuruan, sedangkan komponen pertumbuhan proportional (Pj) menunjukkan bahwa terdapat 3 sektor yang memiliki nilai rata-rata positif yaitu sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor Industri Pengolahan , hal ini berarti Kota Pasuruan berspesialisasi pada sektor yang sama dengan sektor yang tumbuh cepat di perekonomian Jawa Timur. Pengembangan sektor industri sebagai sektor basis disarankan kepada terciptanya industri yang memanfaatkan bahan baku lokal, efisien dan berdaya saing, dan diarahkan pada berkembangnya industri hulu-hilir, serta peningkatan produk yang berkualitas dan ekonomis. Pengembangan ketiga sektor unggulan yaitu sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor angkutan dan komunikasi tanpa mengabaikan pengembangan sektor yang juga memiliki potensi untuk dikembangkan seperti sektor bank dan lembaga keuangan lainnya serta sektor jasa-jasa diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Kota Pasuruan.

Penerapan model pembelajaran role-playing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan (studi pada SMK Muhammadiyah 2 Malang kelas XI APK) / Nurlaily Fatmawati

 

Kata kunci: penerapan, model role playing, hasil belajar. Pembelajaran yang efektif adalah yang berpusat pada siswa, yaitu siswa sebagai subyek pembelajaran yang harus aktif, kreatif dan mampu berpikir kritis, dalam hal ini peran guru sebagai pembimbing dan fasilitator. Guru memiliki peranan penting artinya selain sebagai pembimbing dan fasilitator bagi siswa, guru juga harus bertindak secara professional. Dalam meningkatkan hasil belajar siswa, seorang guru diwajibkan bisa menampilkan mata pelajaran yang tidak membosankan. Guru dapat menerapkaan sistem pengajaran menggunakan metode-metode yang menarik.Salah satu metode yang dapat mengarahkan kepada siswa untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung adalah metode pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif lebih mengarah pada siswa untuk lebih aktif, interaktif, inspiratif, dan menyenangkan untuk menemukan sendiri pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran kooperatif mempunyai banyak model pembelajaran, salah satunya adalah model role playing (bermain peran). Bermain peran sebagai suatu model pembelajaran bertujuan untuk membantu siswa menemukan makna diri (jati diri) di dalam dunia sosial dan memecahkan dilema dengan bantuan kelompok. Artinya, melalui bermain peran, siswa belajar menggunakan konsep peran, menyadari adanya peran-peran yang berbeda dan memikirkan perilaku dirinya dan orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model role playing untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran mengelola sistem kearsipan. Sebagai subyek penelitian yaitu siswa kelas XI Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK Muhammadiyah 2 Malang. Pada setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan (obsevasi) serta tahap analisis dan refleksi. Hasil belajar terdiri dari aspek kognitif dengan menganalisis hasil pre tes dan post tes setiap siklus. Sedangkan aspek afektif dan psikomotor dianalisis dengan menghitung persentase frekuensi setiap indikator yang muncul. Ketentuan nilai batas minimum ketuntasan belajar siswa untuk mata pelajaran produktif adalah 70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif kerena guru telah melaksanakan pengelolaan kelas dengan baik, dimana skor rata-rata total yang diperoleh guru pada siklus I sebesar 76,5% meningkat pada siklus II sebasar 95,8%. Persentase keaktifan siswa meningkat pada siklus I sebesar 40,3% menjadi 90,4% di siklus II. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Pada aspek kognitif persentase ketuntasan belajar siswa pada post tes meningkat di siklus I sebesar 74,5 menjadi 79,1 di siklus II. Pada aspek afektif nilai rata-rata meningkat di siklus I sebesar 86 menjadi 97,2 di siklus II dan dikatakan tuntas. Sedangkan hasil belajar psikomotor juga meningkat di siklus I sebesar 70,5 menjadi 92,3 di siklus II dan dikatakan tuntas. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan adalah pertama, bagi sekolah yaitu perlu adanya literatur mengenai mata pelajaran mengelola sistem kearsipan yang lebih lengkap, guna kelancaran proses belajar mengajar. Kedua, bagi guru yaitu pembelajaran dengan model bermain peran (role playing) dapat dijadikan alternatif pilihan dalam praktek pembelajaran di kelas untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Ketiga, bagi peserta didik yaitu perlu adanya keberanian dan motivasi yang tinggi untuk terus melakukan komunikasi di depan umum atau di depan kelas ketika sedang mengemukakan pendapat atau ide. Keempat, bagi peneliti selanjutnya yaitu dapat melakukan penelitian lebih lanjut dengan penerapan model bermain peran (role playing) dengan menggunakan kompetensi dan subyek penelitian yang berbeda.

Pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif think pair share (TPS) terhadap hasil belajar IPS geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Selorejo Blitar tahun pelajaran 2010/2011 / Husnul Hotimah Lutfi Pratiwi

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS), hasil belajar Peningkatan mutu pendidikan ditandai dengan peningkatan prestasi belajar peserta didik. Aspek terpenting dalam peningkatan prestasi belajar peserta didik adalah meningkatkan mutu proses pembelajaran, hal ini tergantung dari kemampuan guru dalam mengajar maupun dalam pengelolaan kelas. Sedangkan keberhasilan guru dalam kegiatan pembelajaran salah satunya ditentukan oleh kemampuan dalam penerapan model pembelajaran. Penerapan model pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru yang diharapkan mampu untuk meningkatkan pemahaman siswa sehingga hasil belajar siswa pun juga meningkat. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Think Pair Share terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Selorejo Blitar tahun pelajaran 2010/2011 pada kompetensi dasar mendeskripsikan permasalahan kependudukan dan dampaknya terhadap pembangunan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu yang dikembangkan dengan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian ini yakni kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII C sebagai kelas kontrol yang dipilih berdasarkan kemampuan akademik kedua kelompok yang setara. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif. Data pada penelitian ini terdiri dari tiga jenis, yaitu data kemampuan awal siswa, data kemampuan akhir siswa dan data hasil belajar IPS Geografi siswa. Data hasil belajar siswa diperoleh dari selisih antara skor pasca tes dan skor pra tes (gain score). Gain score tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan uji-t dua sampel tidak berpasangan (Independent-Samples t-test). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol, yakni 42,75 untuk kelas eksperimen dan 36,86 untuk kelas kontrol. Hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,024 < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Selorejo Blitar tahun pelajaran 2010/2011. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan bagi guru IPS Geografi untuk menggunakan model pembelajaran Think Pair Share pada kompetensi dasar lain karena dapat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang dapat dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar siswa.

Penerapan pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) dengan pendekatan problem based learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar pada mata diklat keamanan, kesehatan, keselamatan kerja dan lingkungan hidup kelas X APK SMK PGRI 2 Malang / Enggar Asriani

 

Kata Kunci: Pembelajaran Group Investigation, Pembelajaran Problem Based Learning, Hasil Belajar. Mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia yang masih rendah berdampak pada rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan. Untuk kepentingan tersebut pemerintah berusaha melakukan perbaikan dalam dunia pendidikan, salah satunya dengan mengadakan perubahan dalam bidang kurikulum. Inovasi dalam bidang kurikulum ditandai dengan mulai diterapkannya kurikulum 2004 (KBK) dan kemudian diperbaiki lagi dengan diterapkannya kurikulum 2006 (KTSP). Inti dari perubahan kurikulum ini adalah lebih menekankan keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Peningkatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat dilakukan dengan penerapan model pembelajaran yang berfungsi sebagai sarana komunikasi antara guru dan siswanya. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Salah satu pembelajaran yang dapat diterapkan adalah Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation dengan Pendekatan Model Pembelajaran Problem Based Learning. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation (GI) dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL). (2) Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL). (3) Untuk mengetahui kendala-kendala dan solusi-solusi dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) dengan pendekatan Problem Baed Learning (PBL). Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK PGRI 2 Malang tahun ajaran 2010/2011 dengan jumlah 33 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Teknik analisis data yang digunakan untuk hasil belajar aspek afektif, aspek psikomotorik, dan keterlaksanaan pembelajaran menggunakann presentase dan untuk hasil belajar aspek kognitif digunakan rata-rata nilai hasil tes. Sedangkan instrumen yang digunakan lembar penilaian psikomotorik dan afektif siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2010 di SMK PGRI 2 Malang Kelas X APK pada pokok bahasan tanda-tanda bahaya ditempat kerja dan cara penanggulangan bahaya ditempat kerja. Penelitian menunjukkan bahwa Pembelajaran Model Group Investigation dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan kemampuan aktif dan berpikir kritis siswa yang ditunjukkan untuk peningkatan presentase seluruh aspek afektif siswa yang diamati dari 85.82 pada siklus I meningkat menjadi 90.47 pada siklus II. Dengan penerapan pembelajaran group investigation dengan pendakatan pembelajaran berbasis masalah hasil belajar siswa juga meningkat. Hasil belajar siswa yang meningkat terdiri dari hasil belajar aspek kognitif dari rata-rata sebesar 66.67 di siklus I meningkat menjadi 93.93 pada siklus II. Hasil belajar aspek psikomotorik pada siklus I diperoleh 90.45 menjadi meningkat pada siklus II sebesar 97.72. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran group investigation dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X APK SMK PGRI 2 Malang. Adapun saran yang dapat diberikan pada peneliti selanjutnya adalah: (1) Bagi Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Malang perlu menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap untuk mendukung efektivitas penerapan pembelajaran kooperatif model Group Investigation (GI) dengan pendekatan PBL yaitu berupa pengadaan literatur guna mempermudah siswa dalam memperoleh informasi dan memperlancar proses belajar. (2) Bagi guru SMK PGRI 2 Malang, diharapkan dapat mengimplementasikan strategi pembelajaran yang tepat, dan sesuai dengan masing-masing karakteristik mata pelajaran. (3) Bagi siswa, agar dapat belajar dengan giat, karena pembelajaran tersebut akan melatih siswa berpikir kritis, berani mengungkapkan pendapat, dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. (4) Bagi peneliti berikutnya, hendaknya dapat melakukan kegiatan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan dan menerapkan model Pembelajaran Group Investigation (GI) dengan pendekatan pembelajaran Berbasis Masalah, bukan hanya pada mata pelajaran Keamanan, Keselamatan, Kesehatan Kerja dan lingkungan kerja, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang relevan.

Efektivitas penerapan metode penilaian berbasis portofolio dalam meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS 2 SMAN 3 Blitar / Arie Prihandono

 

Kata Kunci : Metode Penilaian Berbasis Portofolio, hasil Belajar Pada dasarnya portofolio sebagai model pembelajaran berbasis penilaian merupakan usaha yang dilakukan guru agar siswa memiliki kemampuan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan dirinya sebagai individu maupun kelompok suatu kumpulan bahan. Penilaian hasil evaluasi belajar pada akhir siklus I dan II secara objektif sesuai dengan tujuan pengajaran yang ada di dalam kurikulum atau sesuai dengan persyaratan kualitas yang di tentukan. Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar. Penelitian di SMAN 3 Blitar ini bertujuan sebagai berikut : (1) Mengetahui bagaimana penerapan metode penilaian berbasis portofolio dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di mata pelajaran ekonomi siswa kelas XI IPS 2 SMAN 3 Blitar. (2)Mengetahui efektivitas penerapan metode penilaian berbasis portofolio dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi kelas XI IPS 2 SMAN 3 Blitar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang ditempuh dalam dua siklus. Setiap siklus terdapat empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Tindakan dalam setiap siklus dilakukan dengan cara peneliti memberikan tugas berupa penyelesaian suatu permasalahan secara berkelompok, yang mana setiap kelompok punya tugas masing-masing, kemudian mereka mempresentasikan hasil karya mereka dalam suatu show case yang terdiri dari portofolio dokumen dan tayangan. Adapun yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 2 SMAN 3 Blitar yang terdiri dari 37 siswa pada tahun pelajaran 2010/2011 Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui pembelajaran dengan metode penilaian berbasis portofolio, kemampuan siswa dalam menyampaikan materi di depan kelas dan belajar mandiri di rumah dapat ditingkatkan. Selain itu siswa menjadi lebih berani mengemukakan pendapat dan dapat menerapkan ilmu ekonomi dalam kehidupan bermasyarakat. Variasi penerapan pembelajaran dengan metode penilaian portofolio ini dapat juga menghindari kebosanan siswa dalam mengikuti pembelajaran Ekonomi sehingga hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I nilai 77,56% dan nilai pada siklus II sebesar 93,7%. Jadi pada siklus I dan siklus II mengalami peningkatan sebesar 16,14% Pada siklus I ke siklus II siswa mengalami peningkatan hasil belajar dalam pembelajaran penerapan metode penilaian portofolio ini. Sebagian besar siswa sudah berani mengemukakan pendapat pada permasalahan materi dalam kelas dan bertanya kepada guru materi yang dijelaskan guru yang belum paham.untuk siswa yang rajin tugas sudah maksimal dalam pengumpulan tugas dan materi yang di dapat sudah mengacu pada materi. Kesimpulan yang bisa di ambil dari penelitian: (1) Penerapan metode penilaian berbasis portofolio dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus akhir penelitian di adakan evaluasi objektif untuk mengetahui hasil belajar masing-masing siswa ada peningkatan tidaknya.dengan pokok bahasan masalah APBN, APBD, dan Kebijkan Fiskal. Penelitian ini hanya menggunakan 2 siklus, bilamana pada siklus I ada peningkatan yang belum optimal, maka lebih optimal di lanjutkan ke siklus II yang ada peningkatan signifikan.jika penelitian menggunakan metode ini belum berhasil maka peneliti harus meneruskan pada siklus yang selanjutnya sampai pembelajaran tersebut mengalami ada peningkatan (2)Efektivitas metode penilaian berbasis portofolio bisa menjadi variasi model belajar, hal tersebut membuat siswa tidak bosan dan jenuh sehingga minat belajar mereka meningkat. Hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Selain itu efektivitas penilaian berbasis portofolio juga dapat menunjang kemampuan siswa dalam menyampaikan materi di depan kelas dan belajar mandiri dapat ditingkatkan, siswa juga menjadi lebih berani mengemukakan pendapat dan dapat menerapkan ilmu ekonomi dalam kehidupan bermasyarakat Adapun saran yang di berikan dari peneliti: (1) Efektivitas metode penilaian berbasis portofolio hendaknya di sesuaikan dengan materi yang akan diajarkan , lingkungan belajar siswa, dan ketersediaan waktu yang cukup (2) Efektivitas metode penilaian berbasis portofolio hendaknya di lakukan secara bertahap sesuai dengan langkah-langkah agar mendapatkan hasil belajar optimal bagi siswa yang nantinya bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam memecahkan masalah yang sedang berkembang(3) Bagi semua pihak yang berkompeten diharapkan untuk mengembangkan penelitian ini, baik sebagai penelitian lanjutan maupun penelitian lain dari menerapakan pembelajaran metode peniliaian berbasis portofolio, sehingga model pembelajaran baru tersebut dapat berkembang di Indonesia.

Pengaruh fungsi intermediasi perbankan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia / Mokhamad Yanuar Pradita

 

Kata Kunci : fungsi intermediasi, pertumbuhan ekonomi Pembangunan pada sektor keuangan khususnya perubahan struktur perbankan Indonesia diharapkan mampu meningkatkan perekonomian sebab lembaga keuangan, khususnya lembaga perbankan mempunyai peranan yang amat strategis dalam menggerakkan roda perekonomian suatu negara. Pada masa pemulihan ekonomi bank masih belum secara optimal melakukan fungsi utamanya sebagai intermediasi keuangan yang digambarkan oleh angka perbandingan jumlah kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan atau lazim disebut dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Berdasar rumusan yang ada, maka dapat dikemukakan tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui : pengaruh fungsi intermediasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam pengumpulan datanya, penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia dan Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pada hasil penelitian, peneliti menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression). Dari hasil pengolahan data atau analisis data dapat diketahui : fungsi intermediasi berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa fungsi intermediasi perbakan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia tetapi tingkat pengaruhnya besar. Sehingga dalam periode ini fungsi intermediasi perbankan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, itu terlihat saat menurunnya penyaluran kredit karena perbankan berhati-hati dalam penyaluran kredit maka pertumbuhan ekonomi megalami perlambatan. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan menambah variabel yang bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan menggunakan periode penelitian yang terbaru sehingga hasil penelitian akan lebih akurat dan relevan.

Perencanaan dan pelaksanaan struktur kolom dan balok beton bertulang pada proyek pembangunan gedung perkuliahan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang / Muh. Nur Cholis

 

Kata kunci: perencanaan, pelaksanaan, kolom dan balok beton bertulang Kolom merupakan elemen struktur dalam bidang arah vertikal yang berfungsi untuk menerima beban-beban konstruksi dari struktur yang ada diatasnya untuk kemudian disalurkan ke struktur penahan paling bawah yaitu pondasi. Sedangkan balok adalah sebuah konstruksi yang merupakan struktur dari suatu bangunan gedung, dimana balok berbentuk persegi panjang yang mempunyai ukuran yang bervariasi tergantung dengan kebutuhan. Proyek akhir ini membahas tentang Perencanaan dan Pelaksanaan Struktur Kolom dan Balok pada Proyek Pembangunan Gedung Kuliah Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Tujuan penelitian adalah mengetahui perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan kolom dan balok beton bertulang. Dari hasil perencanaan kolom dan balok beton bertulang pada proyek, untuk hasil perencanaan kolom untuk memikul beban axial (Pu) sebesar 458 kN dan momen lentur (Mu) sebesar 169 kNm digunakan tulangan 8 D19. Sedangkan untuk balok tumpuan hasil hitungan luasan tulangan tarik sebesar 2550 mm2, dan didapat dipilih tulangan 9 D19. Adapun untuk tulangan tekan sebesar 1700 mm2, dipilih tulangan 6 D19. Dan untuk balok pada lapangan, tulangan tarik dan tekan luasan tumpuan 1133 mm2 dipilih tulangan 4 D19.Pada metode pelaksanaan pekerjaan penulangan dan pengecoran, secara umum sudah memenuhi persyaratan yang ada. Namun pada pelaksanaan pekerjaan pembokaran bekisting menggunakan alat yang dapat merusak lapisan beton. Pada proses perawatan kolom beton bertulang sesuai dengan teori yang ada. Hal ini dikarenakan pembungkusan kolom beton bertulang menggunakan plastik. Saran yang dianjurkan dari proyek akhir ini adalah, agar dilakukan pengawasan yang lebih teliti pada pelaksanaan pekerjaan struktur kolom dan balok beton bertulang, sehingga pelaksanaan proyek dapat sesuai dengan rencana.

Korelasi antara pemanfaatan video sebagai media pembelajaran, motivasi belajar dengan hasil belajar siswa mata pelajaran sains kelas V di SDN Pakunden 2 Kota Blitar / Fauzatul Laila

 

Kata kunci: pemanfaatan video, motivasi belajar, hasil belajar Sains. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Untuk mengetahui signifikasi korelasi antara pemanfaatan video Sebagai media pembelajaran dengan hasil belajar siswa kelas V di SDN Pakunden 2 Kota Blitar. (2) Untuk mengetahui signifikasi korelasi antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas V di SDN Pakunden 2 Kota Blitar. (3) Untuk mengetahui signifikasi korelasi simultan antara pemanfaatan video Sebagai media pembelajaran, motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas V di SDN Pakunden 2 Kota Blitar. Penelitian ini menggunakan metode desktriptif korelasional. Penelitian ini dilaksanakan dilingkungan Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Sukorejo Kota Blitar, khususnya pada Sekolah Dasar Negeri Pakunden 2 Blitar. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Pakunden 2 Blitar Tahun 2009/2010 di Kecamatan Sukorejo Kota Blitar yang berjumlah 111 siswa. Sampel penelitian adalah sampel total sehingga seluruh anggota populasi dijadikan responden. Teknik pengumpulan data untuk pemanfaatan video Sebagai media pembelajaran dan motivasi belajar dengan menggunakan metode angket, sedangkan hasil belajar menggunakan teknik dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi ganda dengan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas, linearitas dengan taraf signifikansi penelitian sebesar 5%. Hasil penelitian secara deskriptif secara umum menunjukkan bahwa (1) pemanfaatan video sebagai media pembelajaran memperoleh skor rerata sebesar 37,23 yang berkategori tinggi, (2) motivasi belajar memperoleh skor rerata sebesar 66,97 yang berkategori tinggi, dan (3) hasil belajar memperoleh skor rerata sebesar 69,34 yang berkategori tinggi. Hasil uji hipotesis membuktikan bahwa (1) Ada korelasi yang signifikan antara Pemanfaatan Video Sebagai Media Pembelajaran dengan Hasil Belajar siswa kelas V di SDN Pakunden 2 Kota Blitar memperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,725 dengan signifikansi sebesar 0,000; (2) Ada korelasi yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas V di SDN Pakunden 2 Kota Blitar memperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,728 dengan signifikansi sebesar 0,000; dan (3) Ada hubungan simultan yang signifikan antara Pemanfaatan Video Sebagai Media Pembelajaran, motivasi belajar dengan hasil belajar memperoleh nilai R sebesar 0,778 dan R Squre = 0,606 dengan signifikansi sebesar 0,000;. Dalam uji hipotesis ini menggunakan taraf kepercayaan 95% dengan probabilitas 5%. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah pemanfaatan video sebagai media pembelajaran dan motivasi belajar baik secara parsial maupun secara simultan memiliki korelasi yang signifikan dengan hasil belajar siswa kelas V di SDN Pakunden 2 Kota Blitar. Disarankan kepada semua pihak terkait yakni kepala sekolah dan guru untuk terus meningkatkan faktor-faktor pemanfaatan video sebagai media pembelajaran, guru serta orang tua siswa dan siswa untuk meningkatkan faktor-faktor motivasi beljar.

Perbedaan efektifitas penerapan model pembelajaran group investigation pola acak peer tutoring dan kolaboratif terhadap peningkatan pemahaman konsep ekonomi siswa SMA kelas X di SMA Negeri 8 Malang / Siti Kudoifah

 

Kata Kunci: Group Investigation, Pola Acak, Pola Peer Tutoring, Pola Kolaboratif, Pemahaman Konsep Strategi pembelajaran sangat mempengaruhi minat dan motivasi siswa untuk lebih giat belajar dan termotivasi untuk berkarya. Ketidakberhasilan dalam belajar adalah karena materi yang dirasakan sulit oleh sebagian besar siswa dan strategi/ metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang melibatkan aktivitas fisik maupun mental siswa. Dari permasalahan tersebut diperlukan upaya perbaikan strategi pembelajaran. Salah satunya dapat dilakukan dengan perbaikan teori pembelajaran sehingga dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Cooperatif learning merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan. Group investigation merupakan salah satu bentuk dari cooperative learning. Dalam mengimplementasikan group investigation bisa melalui beberapa pola dalam membentuk kelompok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan pemahaman konsep ekonomi siswa yang diajar dengan pembelajaran kelompok pola acak, pola peer tutoring dan pola kolaboratif di SMA Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan jenis rancangan Quasy Experiment dengan model pretest-postes nonequivalent control group design. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 8 Malang bulan Oktober sampai dengan November. Populasi yang dipilih adalah kelas X sebanyak 8 kelas dan yang menjadi sampel ada 3 kelas dengan rincian satu kelas kontrol dan 2 kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa tes pemahaman konsep. Sebelum data dianalisis melalui uji hipotesis (melalui Anova atau uji F) dengan SPSS 16.00 release for windows dan uji t yang diperdalam dengan tukey test dan Bonferrony test. Data harus diuji dulu melalui uji prasyarat analisis data dan uji kesamaan kemampuan awal. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan pemahaman konsep ekonomi antara pola peer tutoring (sig. 0.565 dengan mean -0.739) kolaboratif (sig. 0.198 dengan mean -1.252) dengan pola acak sebagai kontrol. Dan antara peer tutoring dengan kolaboratif tidak ada perbedaan (sig. 0.756 mean - 0.513). Berdasarkan penelitian ini, dikemukakan bahwa model pembelajaran group investigation dengan menggunakan pola acak, peer tutoring dan kolaboratif tidak memiliki perbedaan dalam meningkatkan pemahaman konsep ekonomi siswa, namun jika diamati berdasarkan interaksi dalam bekerja kelompok, kelompok yand dibentuk berdasarkan pola peer tutoring lebih aktif dalam diskusi kelompok, sedangkan semua anggota kelompok dalam pola kolaboratif memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah guru diharapkan dapat menguasai proses diskusi sehingga masing-masing kelompok bisa bekerja kelompok secara maksimal. Jika guru ingin menumbuhkan tanggung jawab yang besar diantara anggota, maka hendaklah menerapkan pola kolaboratif, namun jika guru menekankan keaktifan siswa dalam bekerja kelompok, pola peer tutoring bisa menjadi pilihan.

Penerapan pembelajaran kooperatif team assisted individualization (TAI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa mata pelajaran geografi kelas X-1 SMA Negeri 1 Sugihwaras Bojonegoro / Dita Kusumaningtyas

 

Kata kunci: Team Assisted Individualization (TAI), Hasil Belajar. Hasil observasi pada tanggal 13 Oktober 2010 menunjukkan bahwa, sebagian besar siswa (75%) tidak dapat memahami materi pelajaran Geografi dikarenakan kurangnya pemahaman dan minat pada pelajaran Geografi. Artinya, dari 32 siswa yang ada di kelas X-1 SMA Negeri 1 Sugihwaras tersebut, 78% (sekitar 25 siswa) diantaranya belum mencapai SKM yang ditentukan oleh sekolah yaitu 75. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dalam rangka meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Sugihwaras melalui model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI). Untuk mencapai maksud tersebut, maka penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA Negeri 1 Sugihwaras. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes, observasi, catatan lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan hasil belajar siswa dari pra tindakan yaitu 21,88%, pada siklus 1, menjadi 68,75%, begitu juga dengan siklus 2, menjadi 87,50%. Jadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 18,75%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan hasil belajar siswa X-1 SMA Negeri 1 Sugihwaras pada mata pelajaran Geografi dengan materi Konsep Geografi. Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, maka peneliti memberikan saran: (1) Guru perlu menerapkan Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) sebagai salah satu model alternatif dalam kegiatan pembelajaran. (2) Guru perlu mengatur alokasi waktu yang tepat sehingga semua kegiatan pembelajaran model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dapat terlaksana dengan baik. (3) Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian tentang penerapan Model Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dalam pembelajaran IPS Geografi pada materi yang lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Pengaruh lingkungan kerja terhadap motivasi kerja melalui stres kerja karyawan di Delta Super Store Kraksaan / Asih Judatus Shidqiyah

 

Kata Kunci: Lingkungan Kerja, Stres Kerja, Motivasi Kerja. Karyawan adalah sumber daya manusia yang berfungsi sebagai pengatur dan penggerak dari aktivitas perusahaan. Apabila faktor manusia kurang aktif berperan dan termotivasi dalam kegiatan perusahaan, maka kelancaran operasional perusahaan menjadi terhambat. Pemberian motivasi kepada karyawan dapat mempengaruhi aktivitas perusahaan dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja, sebab motivasi adalah suatu proses yang membangkitkan, mengarahkan dan menjaga/memelihara perilaku manusia agar terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Penelitian ini dilaksanakan di DELTA Super Store Kraksaan selama bulan Agustus 2010. Subjek penelitian ini adalah karyawan DELTA Super Store Kraksaan bagian penjualan (pramuniaga) yang berjumlah 100 orang. Sedangkan sampelnya diambil sebanyak 80 orang dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis) yang merupakan suatu bentuk terapan dari analisis regresi berganda (multiple regression analysis), tujuan dari analisis jalur adalah untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung variabel bebas terhadap variabel terikat melalui variabel intervening (perantara) dalam suatu penelitian. Penelitian ini memiliki variabel bebas yaitu Lingkungan Kerja Fisik (X1) dan Lingkungan Kerja Non Fisik (X2), variabel terikat Motivasi Kerja (Y) dan variabel intervening Stres Kerja (Z). Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan aplikasi program SPSS for windows 16.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Lingkungan Kerja Fisik (X1) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Stres Kerja (Z) karyawan di DELTA Super Store dengan tingkat signifikansi 0,316, begitu juga dengan Lingkungan Kerja Non Fisik (X2) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Stres Kerja (Z) dengan tingkat signifikansi 0,520 dan nilai R2 0,018. Sedangkan Lingkungan Kerja Fisik (X1) memiliki pengaruh signifikan terhadap Motivasi Kerja (Y) 0,004, Lingkungan Kerja Non Fisik (X2) memiliki pengaruh signifikan terhadap Motivasi Kerja (Y) 0,009 dan Stres Kerja (Z) memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap Motivasi Kerja (Y) 0,000 dan nilai R2 0,275. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan agar DELTA Super Store Kraksaan lebih memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi kerja karyawan, seperti kondisi lingkungan kerja fisik dan non fisik yang dapat membuat karyawan bersemangat dalam bekerja. Selain itu juga, stres kerja yang dirasakan karyawan rendah, berarti beban kerja yang dimiliki karyawan tidak mempengaruhi motivasi mereka dalam bekerja. Hal ini harus dipertahankan oleh pihak manajemen DELTA Super Store Kraksaan dengan tetap memperhatikan faktor-faktor yang dapat mengakibatkan stres kerja karyawan meningkat.

Perancangan corporate identity perusahaan mebel Woodyork Furniture Malang / Benny Eko Prasetyo

 

Prasetyo, Benny Eko. 2014. Perancangan Corporate Identity Perusahaan Mebel Woodyork Furniture Malang. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing 1) Drs. Sarjono, M.Sn, 2) Moch. Abdul Rohman, S.Sn, M.Sn Kata Kunci: Perancangan, Corporate Identity, Desain, Woodyork Furniture Woodyork Furniture merupakan perusahaan industri mebel yang baru berdiri di Kota Malang. Sebagai perusahaan yang baru berdiri, Woodyork Furniture membutuhkan sebuah identitas perusahaan yang memiliki konsep kuat dan diferensiasi atau usaha untuk membedakan identitasnya sehingga mampu untuk menciptakan sebuah identitas yang sesuai dengan karakteristik, bidang usaha, dan tujuan perusahaan. Perancangan logo Woodyork Furniture menggunakan metode perancangan yang dikemukakan oleh M. Yoshioka yang disesuaikan dengan kebutuhan perancangan logo. Pada konsep perancangan diciptakan gaya desain modern yang mendukung citra dan tujuan perusahaan, yaitu sebuah perusahaan yang memberikan alternatif baru dalam dunia interior desain, serta didukung dengan aplikasi warna yang melambangkan kehangatan, optimis, kesuksesan, dan profesionalisme. Perancangan ini menghasilkan logo Woodyork Furniture yang merepresentasikan citra dan tujuan perusahaan, yang diaplikasikan pada berbagai media komunikasi visual untuk membangun dan meningkatkan image perusahaan. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur dalam melakukan perancangan logo, baik bagi mahasiswa, desainer pemula, pengajar dan lain sebagainya.

Penerapan model pembelajaran peta konsep untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran keterampilan komputer dan pengelolaan informasi (studi pada siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang) / Arindiah Citra Dewi Agustin

 

Kata Kunci : Model Pembelajaran Peta Konsep, Hasil Belajar Siswa Penerapan pembelajaran yang bersifat konvensional secara terus menerus masih banyak diterapkan dalam proses belajar mengajar. Proses pembelajaran yang seperti ini lebih banyak didominasi oleh guru dan jarang melibatkan siswa, sehingga mengakibatkan siswa cenderung pasif selama proses belajar mengajar. Dalam pembelajaran ini kegiatan siswa lebih banyak duduk, diam, mendengarkan, mencatat dan mengerjakan soal, sehingga siswa terkesan malas dan jarang berpikir aktif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu cara guru dalam memberikan ilmu pada siswa secara aktif untuk perlu mendapat perhatian khusus. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memperhatikan hal tersebut adalah Model Pembelajaran Peta Konsep. Penerapan pembelajaran ini menekankan keaktifan dan kemandirian siswa, baik secara fisik maupun mental, siswa diberi kesempatan untuk belajar berpikir, menghafal, menghayati, bekerjasama, berinteraksi, kreatif, dan terampil. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui penerapan Model Pembelajaran Peta Konsep untuk Mata Pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi pada siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang; 2) Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang pada Mata Pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi dengan menggunakan Model Pembelajaran Peta Konsep; 3) Untuk mengetahui respon siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang terhadap Model Pembelajaran Peta Konsep. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam 2 siklus pada bulan Oktober sampai bulan November 2010. Dalam setiap siklus terdiri dari 2 pertemuan dan melalui 4 tahapan yaitu tahap perencanaan tindakan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan dan tahap refleksi. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran di SMK PGRI 6 Malang, dengan jumlah siswa sebanyak 48 siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber primer dan sumber sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket atau kuesioner, wawancara, observasi, dokumentasi, skenario pembelajaran, dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini adalah: 1) Penerapan Model Pembelajaran Peta Konsep dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis hasil belajar menunjukkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik siklus I dan siklus II; 2) Dalam siklus I nilai rata-rata pre test dan post test siswa kelas X APK meningkat dari 54,27 menjadi 64,27 dengan persentase kenaikan sebesar 18%. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata pre test dan post test siswa kelas X APK meningkat dari 70,52 menjadi 81,46 dengan persentase kenaikan 16%. Hasil belajar pada aspek afektif menunjukkan peningkatan pada tiap siklusnya. Pada siklus I siswa kelas X APK belum mencapai ketuntasan belajar karena hanya 21 siswa (43,75%) yang tuntas belajarnya. Sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar siswa kelas X APK sudah tercapai karena 42 siswa (87,5%) telah mencapai ketuntasan belajar. Hasil belajar aspek psikomotorik pada siklus I sebanyak 46 siswa (95,83%) sudah mencapai ketuntasan belajar dan pada siklus II sebanyak 42 siswa (87,5%) sudah mencapai ketuntasan belajar; 3) Respon siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang terhadap Model Pembelajaran Peta Konsep menunjukkan respon positif dari pernyataan yang diajukan, dimana rata-rata respon siswa sebesar 72,22% dan nilai tersebut termasuk dalam kriteria kuat. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: 1) Penerapan Model Pembelajaran Peta Konsep untuk Mata Pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi pada siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang menunjukkan bahwa Peta Konsep telah banyak memberikan manfaat pembelajaran yang berbentuk pengingatan serta pemahaman siswa dalam mengoperasikan software spreadsheet menurut kreatifitas siswa; 2) Hasil belajar siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang pada Mata Pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi dengan menerapkan Model Pembelajaran Peta Konsep, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan dapat mencapai standar kriteria ketuntasan minimal. Hal ini dikarenakan dengan Peta Konsep dapat membantu siswa untuk memahami dan mengingat langkah kerja pada materi mengoperasikan software spreadsheet; 3) Respon siswa kelas X APK di SMK PGRI 6 Malang terhadap Model Pembelajaran Peta Konsep menunjukkan respon positif dan kuat. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan bahwa: 1) Bagi sekolah, diharapkan dapat menerapkan Model Pembelajaran Peta Konsep pada Mata Pelajaran yang ada di SMK PGRI 6 Malang, selain Mata Pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi; 2) Bagi siswa, dapat lebih meningkatkan keberaniannya untuk mengajukan pertanyaan dan jawaban, karena semakin aktif siswa dalam pembelajaran seperti ini semakin baik; 3) Bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian tentang penerapan Model Pembelajaran Peta Konsep dengan menggunakan Mata Pelajaran dan subjek penelitian yang berbeda. Selain itu, dapat menerapkan Model Pembelajaran bervariasi yang menarik lainnya atau melakukan kolaborasi Model Pembelajaran Peta Konsep dengan Model Pembelajaran lain yang menarik yang dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Pemanfaatan media biji-bjian untuk meningkatkan kemampuan membilang anak kelompok B TK Raudlatul Falah Turen Malang / Fitroh Khoirun Nisa

 

Kata Kunci: Media biji-bijian, Kemampuan membilang, Anak Usia Dini. Penelitian ini berlatar belakang pada rendahnya kemampuan membilang anak dalam mengurutkan lambang bilangan dan membilang dengan benda. Hal ini disebabkan karena anak hanya sebatas hafal urutan bilangan tanpa mengetahui konsep dari bilangan itu sendiri. Selain itu guru terlihat monoton dalam memilih media yang digunakan untuk pembelajaran membilang. Permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) bagaimana pemanfaatan media biji-bijian untuk meningkatkan kemampuan membilang anak kelompok B TK Raudlatul Falah Turen Malang, (2) apakah pemanfaatan media biji-bijian dapat meningkatkan kemampuan membilang anak kelompok B TK Raudlatul Falah Turen Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelompok B TK Raudlatul Falah Turen Malang berjumlah 23 anak. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, masing-masing siklus terdiri dari tahap perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observation), refleksi (reflection). Teknik pengumpulan data untuk mendukung penelitian ini menggunakan teknik observasi, teknik dokumentasi, instrumen penelitian, dan teknik analisis data. Hasil penelitian yang diperoleh dari pemanfaatan media biji-bijian terhadap kemampuan membilang anak kelompok B TK Raudlatul Falah Turen Malang dilakukan dengan cara membilang/menyebut urutan bilangan 1-20 dengan biji-bijian, membilang (mengenal konsep bilangan dengan biji-bijian) sampai 10, membuat urutan bilangan 1-10 dengan biji-bijian. Pemanfaatan media biji-bijian ini dapat meningkatkan kemampuan membilang anak kelompok B TK Raudlatul Falah Turen Malang terbukti dari hasil siklus-1 pertemuan I 68,65% dan siklus-1 pertemuan II 80,04%. Diperoleh hasil rata-rata 74% sehingga mengalami peningkatan siklus-1 sebesar 11,4% dan pada siklus-2 diperoleh hasil rata-rata 91% sehingga mengalami peningkatan pada siklus-2 kemampuan membilang anak sebesar 17%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan media biji-bijian dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan membilang/menyebut urutan bilangan 1-20, membilang (mengenal konsep bilangan dengan benda) sampai 10, dan membuat urutan bilangan 1-20 dengan benda. Pemanfaatan media biji-bijian dapat meningkatkan kemampuan membilang anak kelompok B TK Raudlatul Falah Turen Malang terbukti dari peningkatan siklus-1 ke siklus-2 sebesar 17%. Untuk itu bagi guru TK dalam pembelajaran kemampuan kognitif disarankan menggunakan media biji-bijian sehingga anak tidak merasa bosan, anak-anak juga tertarik untuk belajar dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengeksplorasi potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak.

Pengaruh suku bunga sertifikat bank Indonesia, perubahan nilai kurs dan likuiditas perusahaan terhadap resiko investasi pada saham-saham yang terdaftar pada LQ 45 periode 2006-2009 / Yunus Aditya Pranata

 

Kata kunci: risiko investasi, suku bunga, tingkat perubahan nilai kurs, likuiditas Ada beberapa faktor yang mempengaruhi risiko saham, yaitu: Risiko Bisnis yang merupakan risiko yang timbul akibat menurunnya profitabilitas perusahaan emiten. Risiko likuiditas, berkaitan dengan kemampuan saham yang bersangkutan untuk dapat segera diperjualbelikan tanpa mengalami kerugian yang berarti. Risiko Tingkat Bunga, merupakan risiko yang timbul akibat perubahan tingkat bunga yang berlaku di pasar. Risiko pasar, merupakan risiko yang timbul akibat kondisi perekonomian negara yang berubahubah dipengaruhi oleh resesi dan kondisi perekonomian lain. Risiko daya beli, merupakan risiko yang timbul akibat pengaruh perubahan tingkat inflasi, dimana perubahan ini akan menyebabkan berkurangnya daya beli yang diinvestasikan maupun bunga yang diperoleh dari investasi, sehingga menyebabkan nilai riil pendapatan akan lebih kecil. Risiko mata uang, merupakan risiko yang timbul akibat pengaruh perubahan nilai tukar mata uang domistik (misalnya rupiah) dengan mata uang negara lain (misalnya dolar Amerika).Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh hari perdagangan terhadap return saham perusahaan LQ-45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2009. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks harga saham LQ-45 periode 2007-2008. Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel suku bunga, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap risiko investasi. Sedangkan variabel perubahan nilai kurs memiliki pengaruh yang signifikan terhadap risiko investasi. Dan variabel Likuiditas Perusahaan tidak memilki pengaruh yang signifikan terhadap risiko investasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar untuk penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan pemilihan jenis dan jumlah sampel yang lebih representatif dengan periode yang lebih panjang, sehingga dapat diamati variasi antar waktunya dan hasilnya bisa lebih kuat untuk digeneralisasikan. Selain itu sebaiknya menggunakan variabel yang berbeda dari penelitian ini, seperti misalnya menguji pengaruh inflasi, Produk Domestik Bruto, Profitabilitas, Solvabilitas terhadap Risiko Investasi. Sehingga dapat memberikan kontribusi yang penting baik bagi ilmu pengetahuan maupun masalah-masalah praktis.

Penerapan metode dan teknik pembelajaran (studi kasus di UPT Rehabilitasi Sosial Bina Cacat Netra Malang) / Ida Kurnia Yuliati

 

Kata Kunci: metode, teknik pembelajaran, “UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang” Pada perencanaan suatu materi yang akan disajikan oleh instruktur, instruktur di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang tidak melibatkan peserta didik mengingat bahwa peserta didik terkena dampak langsung atas kegiatan pembelajaran tersebut. Tampaknya ada suatu kecenderungan apabila terlibat dan berperan serta dalam pengambilan keputusan. Proses identifikasi kebutuhan belajar tidak ada keterlibatan peserta didik, padahal seharusnya proses untuk mengetahui kebutuhan belajar penekanannya lebih banyak pada sejauh mana keterlibatan seluruh peserta didik di dalam proses pembelajaran, karena untuk mengetahui kebutuhan belajar yang dibutuhkan. Mengingat bahwa peserta didik adalah orang dewasa yang kaya akan pengalaman-pengalaman, dalam menetapkan metode hendaknya memperhatikan pengalaman-pengalaman nyata dari peserta didik. Pemberian suatu materi pembelajaran hendaknya sesuai dengan kebutuhan, metode yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari intruktur pada peserta didik, metode yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode dan teknik yang digunakan, mendeskripsikan metode dan teknik yang digunakan instruktur dalam pembelajaran, dan mendeskripsikan metode dan teknik pembelajaran yang paling disenangi dan sering digunakan oleh instruktur kepada warga belajar, dan warga belajar juga menyenangi metode dan teknik pembelajaran yang digunakan di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian adalah menggunakan metode deskriptif, dengan menggunakan rancangan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah penerapan metode dan teknik pembelajaran yang digunakan di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang adalah metode dan teknik pembelajaran orang dewasa, metode dan teknik yang digunakan instruktur dalam pembelajaran di UPT RSCN Malang secara keseluruhan memahami dan dapat menerapkan metode dan teknik pendidikan orang dewasa dalam proses pembelajarannya, selanjutnya metode dan teknik pembelajaran yang disenangi oleh instruktur kepada warga belajar antara lain metode dan teknik pembelajaran yang digunakan di UPT RSCN Malang yaitu menggunakan dikte , bahwa teknik ini lebih kearah pembelajaran partisipatif, selain itu metode dan teknik pembelajaran yang digunakan di UPT RSCN Malang, berdasarkan dalam pembelajaran orang dewasa yaitu ceramah, praktek, permaianan, dan keterampilan. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan instruktur dan disenangi warga belajar adalah pendekatan kekeluargaan dengan menggunakan teknik keterampilan yang menyatakan bahwa perkembangannya pendidikan orang dewasa saat ini lebih banyak menggunakan metode partisipatif dengan pendekatan kekeluargaan, ceramah, perabaan, permainan, praktek, magang, dan demonstrasi. Berdasarkan hasil penelitan ini, dapat disarankan bagi peneliti dengan mengetahui tingkat penerapan metode dan teknik yang digunakan instruktur dalam pembelajaran di UPT RSCN Malang, maka peneliti dapat membantu dalam penggunaan metode, strategi dan teknik untuk mewujudkan terlaksananya proses pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi instruktur di UPT RSCN Malang dalam pembelajaran. Bagi instruktur hendaknya terus mengembangkan metode dan teknik pembelajaran dan keterampilan memfasilitasi, sehingga dapat memaksimalkan kualitas penyampaian materi dan dapat meminimalisir kebosanan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Bagi UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra Malang Pelaksanaan proses pembelajaran di UPT RSCN Malang hendaknya lebih melibatkan peserta didik dalam diagnosis kebutuhan belajar, pemformulasikan tujuan, perencanaan dan pengembangannya, penetapan materi, strategi dan teknik pembelajaran. Bagi Jurusan PLS FIP UM UPT RSCN Malang dapat dijadikan tempat pembalajaran bagi mahasiswa Jurusan Pendidikan Luar Sekolah dengan mengamati segala potensi baik metode dan teknik yang digunakan instruktur dalam pembelajaran orang dewasa.

Pengaruh corporate social responsibility dan leverage terhadap manajemen laba (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2009) / Fika Farsavitri

 

Keywords: Corporate Social Responsibility, Leverage, Management Earnings and Discretionary accruals The difference of interests between the principal and agent raises agency conflict that leads to earnings management practices so that management would be more concerned with its own interests. It was very influential on the performance of the company mainly in giving the company's policies against the internal and external parties. Application of corporate social responsibility allegedly able to control earnings management practices. In addition to corporate social responsibility, the leverage factor is also thought to influence earnings management. This study aims to determine the influence of corporate social responsibility and the leverage of earnings management. This research is the development of Amalia (2010) by adding a variable leverage to prove the claim that these variables affect earnings management. This study used multiple linear regression model of 10 manufacturing companies in Indonesia Stock Exchange listing period 2005-2009. Selection of the sample using purposive sampling technique. The statistical analysis used to test the hypothesis is SPSS 16 for Windows. These results prove that the Corporate Social Responsibility does not significantly influence earnings management. The most important reason is because the company still considers that the purpose of the company only to seek profits for their stakeholders. The research proves that leverage significantly influence earnings management. Companies with high leverage levels are motivated to manage earnings to avoid debt covenant violations. The calculation result is known the value of adjusted R square is 19.6% for the dependent variable of earnings management, which means that these variables are still weak in affecting earnings management. While the rest explained by other variables outside of research. Figures R is found from the calculation for 0478 means that the influence of corporate social responsibility and the leverage of earnings management as measured by discretionary accruals is weaker because this figure is below 0.5. Suggestions for future research is suggested to not only use indicators of coporate social responsibility and leverage alone in examining the effect of earnings management.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered head together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat melakukan prosedur administrasi (studi pada siswa kelas X APK PGRI 2 Malang) / Faizatu Rochmah

 

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Numbered Head Together, Hasil Belajar. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah pada proses pembelajaran yang lebih menekankan pada kemampuan penalaran siswa. Dalam penelitian ini metode pembelajaran kooperatif yang digunakan adalah pembelajaran model Numbered Head Together (NHT). Numbered Head Together (NHT) adalah suatu model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan data dianalisis secara deskriptif. Penelitian ini menggunakan dua siklus tindakan yang terdiri dari empat tahap yaitu: merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), observasi/pengamatan (observation/observe), dan refleksi (reflecting). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, angket, catatan lapangan, dokumentasi, dan wawancara. Analisis data yang digunakan terdiri dari: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa Kelas X APK di SMK PGRI 2 Malang yang berjumlah 31 siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif model Numbered Head Together (NHT) pada Mata Diklat Melakukan Prosedur Administrasi sudah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi aktivitas siswa dalam siklus I bahwa persentase aspek yang paling tinggi dalam pembelajaran NHT adalah aspek interaksi tatap muka sebesar 80,64%, aspek akuntabilitas individual sebesar 59,14%, aspek saling ketergantungan positif sebesar 79,02% dan aspek keterampilan antar personal sebesar 69,67%. Sedangkan pada siklus II persentase aspek yang paling tinggi dalam pembelajaran NHT adalah terdapat pada aspek interaksi tatap muka sebesar 93,54%, Aspek ketergantungan positif sebesar 90,32%, Aspek akuntabilitas individual sebesar 81,71%, dan aspek keterampilan antar personal sebesar 74,18%. Pembelajaran NHT dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X APK di SMK PGRI 2 Malang pada pre-test siklus I hanya 7 orang siswa sudah tuntas belajar, sedangkan 24 orang siswa belum tuntas belajar, daya serap klasikalnya 22,58% dan rata-rata nilai kelas adalah 63,71% dan pada post-test siklus I ada 16 orang siswa sudah tuntas belajar, sedangkan 15 orang siswa belum tuntas belajar, daya serap klasikalnya 51,61% dengan nilai rata-rata kelas 72,90%. Hal ini dikarenakan bahwa siswa belum terbiasa dan kurang konsentrasi terhadap pembelajaran kooperatif model NHT sehingga siswa tersebut hasil belajarnya kurang maksimal. Sedangkan pada pre-test siklus II ada 20 orang siswa sudah tuntas belajar, sedangkan 11 orang siswa lainnya belum tuntas belajar. Daya serap klasikalnya 64,51% dan rata-rata nilai kelas adalah 73,38% dan pada post-test siklus II ada 29 orang siswa sudah tuntas belajar, sedangkan 2 orang siswa belum tuntas belajar. Daya serap klasikalnya 93,54% dengan nilai rata-rata kelas adalah 79,67%. Hal ini dikarenakan bahwa siswa sudah terbiasa dengan adanya kerjasama dengan kelompok, dan siswa menjadi konsentrasi pada saat peneliti menjelaskan di depan kelas. Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut: (1) Guru sebaiknya lebih kreatif dan inovatif dalam menerapkan metode dan model pembelajaran lainnya. (2) Para peneliti selanjutnya diharapkan dalam menerapkan model pembelajaran tersebut ditambah siklus lagi yaitu siklus III supaya hasil belajar siswa akan lebih baik lagi bila dibandingkan siklus I dan II. (3). Guru selalu memotivasi siswa dalam persiapan belajar di rumah sehingga siswa sudah siap dalam menerima materi pelajaran yang akan disampaikan pada pertemuan kali ini

Pengaruh perputaran aktiva, debt to equity ratio (DER) dan pertumbuhan penjualan pada perusahaan wholesale and retail yang listing di BEI tahun 2007-2009 / Yeny Krisnawati

 

Kata Kunci : Perputaran Aktiva, Debt to Equity Ratio (DER), Pertumbuhan Penjualan dan Pertumbuhan Laba Pertumbuhan perusahaan dapat dicapai apabila ada laba yang memadai yang diperoleh secara berkelanjutan. Selain itu pertumbuhan laba yang berkelanjutan akan menunjukkan kinerja perusahaan yang baik sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pertumbuhan laba dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perputaran aktiva, debt to equity ratio dan pertumbuhan penjualan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor tersebut terhadap Pertumbuhan Laba. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan wholesale and retail yang lisitng di BEI tahun 2007-2009 berjumlah 35 perusahaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu sehingga menhasilkan sampel berjumlah 11 perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perputaran aktiva secara parsial berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan laba, (2) Debt to equity ratio (DER) secara parsial berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba, (3) Pertumbuhan Penjualan secara parsial berpengaruh positif terhadap pertumbuhan laba, (4) Perputaran Aktiva, Debt to Equity Ratio (DER) dan Pertumbuhan Penjualan secara simultan berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba. Saran bagi Perusahaan wholesale and retail perlu mengevaluasi perputaran aktiva dan DER yang tinggi dengan cara efisiensi penggunaan aktiva lancar berupa penggunaan system JIT (Just In Time) serta evaluasi pada kebijakan kredit. Bagi investor yang akan berinvestasi diharapkan lebih memperhatikan Pertumbuhan Laba dan variabel-variabel yang mempengaruhinya seperti faktor-faktor eksternal dan internal sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi pada perusahaan.

Pengaruh struktur kepemilikan saham profitabilitas, dan solvabilitas terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007-2009 / Rita Yulia Ismayanti

 

Kata Kunci: Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Return On Equity, Debt To Equity Ratio, Price To Book Value. Perusahaan adalah lembaga yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan untuk meningkatkan nilai perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan bagi pemegang saham perusahaan. Investor selalu menginginkan kemakmuran dan return yang tinggi dari investasinya. Nilai perusahaan dapat diukur dengan Price to Book Value (PBV), yaitu perbandingan antara harga penutupan saham dengan nilai buku saham. PBV memberikan indikasi tentang bagaimana para investor memandang perusahaan dan menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan untuk menciptakan nilai relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh antara variabel independen (X) yaitu: kepemilikan manajerial (X1), kepemilikan institusional (X2), return on equity (X3) dan debt to equity ratio (X4) terhadap variabel dependen (Y) yaitu price to book value pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007-2009. Jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel atau lebih. Populasi dalam penelitian ini meliputi semua perusahaan yang termasuk perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 17 perusahaan yang memenuhi kriteria sampel berdasakan purposive sampling. Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif dan merupakan data sekunder yang diperoleh dari ICMD, IDX statistics dan laporan keuangan yang dipublikasi. Periode pengamatan penelitian ini selama 3 tahun yaitu tahun 2007-2009 menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel bebas yaitu kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, return on equity dan debt to equity ratio secara simultan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Variabel kepemilikan manajerial dan return on equity secara parsial memiliki pengaruh yang positif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Variabel kepemilikan institusional dan debt to equity ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Saran bagi peneliti selanjutnya sebaiknya lebih memperluas variabel yang digunakan meliputi faktor internal dan faktor eksternal, menambah periode penelitian, memperbanyak jumlah sampel, menggunakan laporan keuangan tahun yang sudah berjalan dan menggunakan analisis jalur.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran keamanan keselamatan kesehatan dan lingkungan hidup siswa kelas X-APK SMK PGRI 2 Malang / Danny Ajar Baskoro

 

Kata Kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah, Hasil Belajar. Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah lemahnya proses pembelajaran. Pembelajaran cenderung berpusat pada guru dan siswa hanya diam, duduk dan menerima informasi dari guru. Guru dalam menyampaikan materi pelajaran kurang kreatif dan menarik perhatian siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran yang demikian membuat siswa tidak termotivasi untuk mengikuti pelajaran serta kurang bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru karena mereka merasa jenuh dengan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang monoton. Masalah ini pada akhirnya berdampak negatif pada hasil belajar siswa di sekolah. Salah satu strategi yang dapat memberikan peran aktif siswa dalam proses belajar adalah menerapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah agar dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan keterampilan intelektual. Tujuan penelitian ini adalah, Untuk mendiskripsikan penerapan model pembelajaran berbasis masalah, untuk mengetahui model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar, untuk mengetahui apa saja hambatan sekaligus solusi dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah, untuk mengetahui respon siswa kelas X Jurusan APK SMK PGRI 2 Malang terhadap proses pembelajaran berbasis masalah. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X APK SMK PGRI 2 Malang tahun ajaran 2010/2011 dengan jumlah 31 orang siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Setiap siklus meliputi empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, tes, angket, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: 1)Reduksi data, 2)Penyajian data, dan 3)Penyimpulan hasil analisis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini berdasarkan pada : siklus I hasil belajar rata-rata siswa adalah 67,5 dan mengalami peningkatan sebesar 7,5 menjadi 75 pada siklus II . Aspek afektif pada siklus I memiliki rata-rata nilai 88,2 dan mengalami peningkatan pada siklus II sebesar 90,5 . Aspek psikomotorik pada siklus I rata-rata skor siswa sebesar 79 dan meningkat sebesar 4 menjadi 83. Selain itu penerapan model pembelajaran berbasis masalah mendapat respon sangat positif sebesar 93% siswa dan 7% siswa memberikan respon positif. Saran yang direkomendasikan terkait dengan hasil penelitian ini adalah biasakan untuk menggunakan pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan minat belajar siswa, biasakan untuk mengadakan diskusi kelompok, sediakan modul khusus untuk menunjang proses belajar, sesuaikan pelaksanaan siklus belajar dengan RPP, bagi siswa SMK belajar yang rajin, biasakan berdiskusi dan mengeluarkan pendapat, untuk penelitian selanjutnya hendaknya model ini dikembangkan lagi dan tidak hanya dalam pelajaran Keamanan, Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan Hidup (K3LH) tetapi di mata pelajaran yang lain juga.

Analisis kesalahan konsep pokok bahasan kesetimbangan kimia pada mahasiswa Universitas Negeri Malang dan perbaikannya dengan strategi konflik kognitif / Venni Ika Susanti

 

Program Studi Pendidikan Kimia. Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Prof. Effendy, M.Pd, Ph.D, (II) Prof. Suhadi Ibnu, M.A, Ph.D Kata kunci : Kesalahan konsep, kesetimbangan kimia, strategi konflik kognitif, persistensi kesalahan konsep Salah satu pokok bahasan dalam ilmu kimia adalah kesetimbangan kimia. Pokok bahasan ini diberikan pada mahasiswa program studi ilmu kimia S1 Universitas Negeri Malang yang menempuh mata kuliah kimia dasar. Pada pokok bahasan kesetimbangan kimia banyak terdapat konsep-konsep abstrak yang cenderung tidak mudah dipahami. Hal ini memungkinkan terjadinya kesalahan pemahaman. Kesalahan pemahaman yang terjadi secara konsisten disebut dengan kesalahan konsep. Salah satu upaya untuk mengurangi kesalahan konsep adalah dengan menggunakan strategi konflik kognitif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengidentifikasi kesalahan-kesalahan konsep yang terjadi pada mahasiswa; (2) mengetahui keefektifan strategi konflik kognitif dalam mengurangi kesalahan konsep; (3) mengidentifikasi persistensi kesalahan konsep pada mahasiswa untuk pokok bahasan kesetimbangan kimia. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan rancangan pra-eksperimental one group pretest-postest design. Rancangan deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kesalahan-kesalahan konsep dan persistensi kesalahan konsep. Rancangan one group pretest-postest digunakan untuk mengetahui keefektifan strategi konflik kognitif untuk mengurangi kesalahan konsep pada mahasiswa. Subyek penelitian ini adalah 27 mahasiswa program studi ilmu kimia S1 Universitas Negeri Malang tahun ajaran 2007/2008. Mereka merupakan mahasiswa yang dikirim oleh pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban dan tes wawancara. Tes pilihan ganda memiliki validitas isi sebesar 96,2% dan koefisien reliabilitas tes, dihitung dengan menggunakan korelasi product moment, sebesar 0,91. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan paired sample t-test dan analisis deskriptif. Kesalahan konsep mahasiswa ditetapkan berdasarkan jawaban salah pada saat tes tulis dan wawancara. Persistensi kesalahan konsep mahasiswa dianalisis berdasarkan mahasiswa yang mengalami kesalahan konsep secara konsisten pada saat pretes, postes dan tes persistensi. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) kesalahan-kesalahan konsep yang terjadi pada mahasiswa untuk pokok bahasan kesetimbangan kimia adalah: (a) dengan bertambahnya waktu reaksi, konsentrasi reaktan semakin bertambah sampai pada saat setimbang konsentrasinya tetap; (b) pada saat setimbang, laju reaksi ke kanan dan ke kiri tetap tetapi berbeda kecepatannya dan; (c) keadaan setimbang tercapai pada saat grafik berpotongan; (d) kesetimbangan tercapai pada waktu konsentrasi reaktan dan produk sama; (e) kesetimbangan kimia merupakan kesetimbangan statis bukan kesetimbangan dinamis; (f) jumlah zat pada saat setimbang tidak dapat diidentifikasi secara stoikiometri jika menggunakan pereaksi berlebih; (g) ungkapan tetapan kesetimbangan heterogen melibatkan konsentrasi zat berfase padat; (h) penambahan zat dengan konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi zat pada keadaan setimbang akan menggeser kesetimbangan yang arahnya dari zat tersebut; (i) penambahan zat yang tidak bereaksi dalam kesetimbangan akan menggeser kesetimbangan ke reaktan; (j) penambahan zat yang bereaksi dalam kesetimbangan akan menggeser kesetimbangan ke arah produk; (k) pada kesetimbangan dengan jumlah mol reaktan dan produk berbeda, jika tekanan diperbesar atau volume diturunkan maka kesetimbangan bergeser ke pihak dengan jumlah mol yang lebih besar; (l) pada kesetimbangan dengan pelarut air, penambahan dan penguapan air tidak akan menggeser kesetimbangan karena tidak ada penambahan reaktan atau produk; (m) jika tekanan diperbesar atau volume diturunkan maka kesetimbangan bergeser ke arah produk; (n) jika suhu dinaikkan maka kesetimbangan bergeser ke pihak yang melepas panas; (o) kenaikan suhu akan menaikkan harga tetapan kesetimbangan; (p) katalis menaikkan energi aktivasi (Ea) reaksi. (2) Strategi konflik kognitif secara signifikan efektif dalam mengurangi kesalahan konsep mahasiswa pada pokok bahasan kesetimbangan kimia. (3) Persistensi kesalahan konsep yang terjadi pada mahasiswa termasuk dalam kategori sangat rendah.

Analisis tingkat kemandirian keuangan berdasarkan kinerja keuangan pada era otonomi daerah di Pemerintah Daerah Kabupaten Malang tahun 2001-2009 / Gema Aries Tripatria

 

Kata Kunci: Otonomi Daerah, Kinerja Keuangan Daerah, Tingkat Kemandirian Keuangan Dengan adanya otonomi daerah ini maka pengelolaan keuangan daerah sepenuhnya dilimpahkan kepada Pemerintah Daerah. Untuk menganalisis kinerja keuangan daerah dilakukan dengan analisis kinerja keuangan daerah atau analisis rasio keuangan daerah. Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengukur dan manganalisis tingkat kemandirian Kabupaten Malang jika dilihat dari kinerja keuangan Kabupaten Malang pada masa otonomi daerah pada tahun 2001 - 2009. Analisis data dalam penelitian ini berupa analisis kuantitatif dan deskriptif. Analisis kuantitatif yang digunakan berupa Derajat Desentralisasi Fiskal, Derajat Kemandirian Fiskal, Rasio Kemandirian dan Analsis Kinerja PAD. Hasil analisis penelitian berdasarkan perhitungan Analisis Derajat Desentralisasi Fiskal dan Analisis Kemandirian Fiskal pada tahun 2001-2009 menunjukan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Malang tidak memiliki kemampuan keuangan daerah yang baik. Berdasarkan perhitungan Rasio Kemandirian Keuangan Daerah pada tahun 2001-2009 menunjukan bahwa kemampuan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang masih rendah. Berdasarkan perhitungan Efektivitas dan Efisiensi PAD pada tahun 2001-2009 menunjukan bahwa Pemerintah Daerah kabupaten Malang mampu merealisasikan penerimaan pendapatan daerahnya sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dan dilain sisi biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan penerimaan pendapatan daerahnya lebih kecil daripada realisasi pendapatan yang diterima oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Hal ini menunjukan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Malang masih tergantung kepada Pemerintah Pusat untuk menjalankan pemerintahan terutama dalam hal keuangan. Dengan demikian diharapkan Pemerintah Daerah Kabupaten Malang dapat meningkatkan kinerja keuangannya untuk menjadikan Kabupaten Malang sebagai daerah yang mandiri pada masa otonomi daerah dengan cara memanfaatkan sektor pajak dan sektor retribusi yang mempunyai potensi dan belum dimanfaatkan secara sepenuhnya, mengoptimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah dan peningkatan sektor pariwisata daerah dengan pengemasan yang lebih baik.

Supplementary writing materials for the seventh-grade RSBI students at SMPN 1 Bondowoso / Lilies Suryaningsih

 

Graduate Program in English Language Education Department, State University of Malang. Advisors: (I) A. Effendi Kadarisman, M.A., Ph.D., (II). Prof. Dr. Nur Mukminaten, M.Pd. Key Words: Supplementary materials, writing ability, functional text The objective of the study is to develop supplementary writing materials for the seventh-grade RSBI students of junior high school. It based on the finding taken from the students’ needs of the seventh-grade RSBI students at SMPN 1 Bondowoso, it is found that the problem faced by the students is the low ability to write in English. Moreover, the writing materials in the existing book used by the school are too limited in scope to enable them to write. Therefore, this study was conducted for the purpose of developing the supplementary materials for writing. The design of the development is research and development with the adaptation of the development proposed by Dick and Carey (2001) and Sugiyono (2008), resulting in a new procedure using 6 steps. They were (1) doing needs analysis, (2) stating instructional goals, (3) developing instructional materials, (4) doing expert validation, (5) try-out, and (6) writing the final product. In the expert validation and try-out, checklists and field notes were used as the instrument to record the feedback for revision. The developed materials which consist of five units contain the standard competence and basic competence taken from the standard of content in the kurikulum SMP-SBI (2007). The arrangement of the instructional materials is adapted from the stages of teaching-learning cycle by Feez in Hyland (2003:138) covering building knowledge of the Field (BKOF), modeling of the text (MOT), join construction of the text (JCOT), and independent construction of the text (ICOT) to suit the needs of the individual learners. The developed materials were then evaluated by two experts. The evaluation showed that besides the good points, there were still a number of weak points. The weak ones were revised according to the feedback and suggestions from the experts. In the try out, it was obvious that the students were very active in following the whole process of teaching and learning. Based on the feedback from the students in the try-out, they suggested simplifying the exercise in unit 3-point “F” and “G”. After some revisions from the feedback and suggestions from the expert validation and try-out, the final product was completed. Based on the result of the research, several suggestions are offered as the following. The first suggestion deals with how to make use of the product. The suggestions are directed to the English teachers to pay attention to the allocation of time in which one topic is assigned in two meetings. Teaching writing cycles that begin with BKOF, MOT, JCOT, and ICT might spend much time if the teacher could not manage the time well. The suggestion is also directed to the students who will use this product. They should pay attention to the checklist in the assessment, especially while they have to respond to the checklist containing the aspects of the evaluation because this is actually the core of the activity to improve the writing ability. It can be helpful to revise the writing composition as their own final product. The second suggestion deals with how to socialize the product. The students’ awareness of the importance of the materials should be built. This can be done at the beginning of the course in which the students are required to have the writing supplementary materials for the classroom use. Socialization can also be made to the institution for getting permission for using it in the classroom. The third suggestion deals with the possibility to improve the product. In the case that there might be different opinion in determining the criteria in the checklist of assessment, the discussion among the English teachers can be held to get more feedback to improve the quality of the materials.

Paket pengembangan kecerdasan sosial siswa sekolah dasar melalui mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial / Elizama Zebua

 

Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling. Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Marthen Pali, M.Psi., (2) Dr. Triyono, M.Pd Kata kunci: pengembangan, paket, kecerdasan sosial, Sekolah Dasar Penelitian pengembangan ini terinspirasi oleh maraknya tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat; baik di masyarakat umumnya, maupun di masyarakat sekolah. Hal ini diduga disebabkan tipikal pembelajaran di sekolah yang cenderung mengedepankan aspek kognitif, dan tanpa sadar telah mengabaikan aspek afektif dalam pendidikan. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu upaya pemberdayaan kecerdasan sosial yang mampu mengembangkan pemahaman, adaptasi dan tindakan bijaksana ketika berhadapan dengan orang lain. Sikap kecerdasan sosial tersebut adalah salah satu kemampuan dalam diri individu yang perlu dikembangkan sejak dini. Oleh karena itu dalam memberdayakan kecerdasan sosial ini melalui bangku pendidikan, dibutuhkan upaya kolaborasi dengan guru mata pelajaran di sekolah. Mata pelajaran yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah Ilmu Pengetahuan Sosial. Rancangan penelitian ini menggunakan Research & Development. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah paket pengembangan kecerdasan sosial melalui mata pelajaran IPS, tepat diterapkan di SD. Penelitian ini dilakukan selama 8 (delapan) kali pertemuan dengan dua metode pendekatan, yakni bermain peran dan bermain simulasi. Selama penelitian, peneliti berkolaborasi dengan guru pengajar mata pelajaran IPS, di mana guru pengajar mata pelajaran bertindak sebagai pelatih dan peneliti berperan sebagai observer. Penelitian ini dilaksanakan di SD Katolik Sang Timur Malang, dalam tahun pelajaran 2010/2011 mulai dari tanggal 16 Agustus sampai dengan 5 Oktober 2010. Dari hasil penilain uji ahli dan uji kelompok kecil disimpulkan bahwa paket pengembangan kecerdasan sosial melalui mata pelajaran IPS tepat dilakukan di SD, baik dari segi feasibility, utility maupun accurasi-nya. Sedangkan hasil uji paket pengembangan kecerdasan sosial secara empirik melalui uji kelompok terbatas dari hasil observasi terhadap metode bermain peran dan bermain simulasi yang dihitung dengan Interrater Reliability pada metode Bermain Peran diperoleh sebesar rxx’ = 0,791 (r tabel 0,632) sedangkan estimasi rata-rata reliabilitas sebasar r¯xx’ = 0,582; dan Interrater Relialiability pada metode Bermain Simulasi diperoleh sebesar rxx’ = 0,698 sedangkan estimasi rata-rata reliabilitas sebesar r¯xx’ = 0,435. Artinya paket pengembangan kecerdasan sosial efektif atau bermanfaat bagi siswa SD untuk mengembangkan kecerdasan sosial.

Pengaruh kualitas pembelajaran ekonomi, pengetahuan dasar ekonomi (economic lietarcy) dan status sosial ekonomi orang tua terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswakelas XI dan XII Ilmu Sosial SMAN 1 Malang / Ana Dhaoud Daroin

 

Kata Kunci : Kualitas pembelajaran ekonomi, Pengetahuan dasar ekonomi (Economic Literacy),Status Sosial Ekonomi, Efisiensi Berkonsumsi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan penjabaran lebih lanjut pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup. Kecakapan hidup mempunyai hubungan yang erat dengan materi yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran, sehingga kualitas pembelajaran ekonomi yang baik akan berpengaruh terhadap pengetahuan dasar ekonomi siswa.Siswa merupakan pelaku ekonomi konsumen. Seorang konsumen dalam melakukan tindakan konsumsi selalu bersikap rasional, karena manusia adalah homoeconomicus. Rasionalitas konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pengetahuan dasar ekonomi dan status sosial ekonomi seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis: (1) Pengaruh kualitas pembelajaran ekonomi terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswa kelas XI dan XII ilmu sosial SMAN 1 Malang (2) Pengaruh pengetahuan dasar ekonomi (economic literacy) terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswa kelas XI dan XII ilmu sosial SMAN 1 Malang, (3) Pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswa kelas XI dan XII ilmu sosial SMAN 1 Malang, (4)Pengaruh kualitas pembelajaran ekonomi, pengetahuan dasar ekonomi( economic literacy) dan status sosial ekonomi orang tua terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswa kelas XI dan XII ilmu sosial SMAN 1 Malang. Variabel bebas pada penelitian ini adalah Kualitas Pembelajaran Ekonomi(X1), Pengetahuan Dasar Ekonomi (X2),Status sosial ekonomi orang tua (X3), variabel terikatnya adalah efiisensi dalam berkonsumsi siswa (Y).Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IS 1 dan XII IS 2 di SMAN 1 Malang yang berjumlah 56 siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Data dianalisis dengan teknik prosentase, korelasi, dan regresi dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa terdapat hubungan kualitas pembelajaran ekonomi terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswa kelas XI dan XII Ilmu Sosial SMAN 1 Malang sebesar 37,9%.Terdapat juga pengaruh yang signifikan pengetahuan dasar ekonomi (Economic Literacy) terhadap efisiensi berkonsumsi siswa kelas XI dan XII Ilmu Sosial SMAN 1 Malang sebesar 48%. Tidak ada pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswa kelas XI dan XII Ilmu Sosial SMAN 1 Malang. Kualiatas pembelajaran ekonomi, pengetahuan dasar ekonomi (Economic Literacy) dan status sosial ekonomi orang tua berpengaruh secara simultan terhadap efisiensi dalam berkonsumsi siswa kelas XI dan XII IS SMAN 1 Malang sebesar 60 %. Dari hasil penelitian ini dapat dikatakan kualitas pembelajaran ekonomi, pengetahuan dasar ekonomi (Economic Literacy) dan status social ekonomi orang tua berpengaruh secara signifikan terhadap efisiensi dlam berkonsumsi siswa kelasXI dan XII Ilmu Sosial SMAN 1 Malang.Oleh karena itu, diharapkan pihak sekolah maupun siswa yang berada di lingkungan sekolah mampu mengoptimalkan iklim akademis yang baik sehingga dapat mengoptimalkan pengetahuan ekonomi dan berpengaruh terhadap rasionalitas dan efisiensi dalam berkonsumsi siswa.

Peningkatan hasil belajar PKn melalui metode simulasi kelas VI SDN IV Pakisrejo Tulungagung / Rafi Rohayati

 

Kata Kunci: hasil belajar, PKn sekolah dasar, metode simulasi PKn merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warga negara yang mampu memahami dan melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap pelaksanaan pembelajaran PKn di SDN IV Pakisrejo Tulungagung diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran, yaitu pembelajaran berpusat pada guru sehingga siswa tidak terlibat secara aktif dalam pembelajara yang berakibat pada rendahnya hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan: (1) bagaimana penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kelas VI SDN IV Pakisrejo Tulungagung, (2) apakah penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kelas VI SDN IV Pakisrejo Tulungagung. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SDN IV Pakisrejo Tulungagung dengan jumlah 14 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket, dan observasi selama proses belajar mengajar berlangsung. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada setiap siklus yang telah dilakukan. Dari hasil penelitian menunjukkan: (1) penerapan metode simulasi meliputi orientasi, latihan bagi peserta, proses simulasi, pemantapan dan debriefing, (2) penerapan metode simulasi dapat meningkatkan hasil belajar PKn kelas VI SDN IV Pakisrejo Tulungagung baik secara individu maupun secara klasikal, dengan peningkatan persentase penilaian proses pada siklus I sebesar 14,28% dari pra tindakan, pada siklus II sebesar 42,86% dari siklus I. Sedangkan peningkatan persentase penilaian evaluasi pada siklus I sebesar 14,29% dari pra tindakan, pada siklus II adalah 42,86% dari siklus I. Hasil rata-rata penilaian evaluasi juga mengalami peningkatan, yaitu 45,71 pada pra tindakan, 59,64 pada siklus I, dan 74,85 pada siklus II.

Meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VI dalam pengerjaan hitung campuran melalui model kooperatif tipe jigsaw di SDN 1 Sedayugunung Tulungagung / Yiyin Anggarini

 

Kata kunci: hasil belajar, matematika, model kooperatif tipe jigsaw Pembelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Hal ini dikarenakan pelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan untuk memahami konsep matematika, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan. Berdasarkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika di kelas VI SDN 1 Sedayugunung Tulungagung, diketahui adanya permasalahan dalam pembelajaran, yaitu nilai rata-rata hasil evaluasi siswa pada pokok bahasan operasi hitung campuran 56,67, rasa sosial di antara siswa sangat kurang, dan aktivitas siswa dalam pembelajaran tidak bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar matematika pada siswa kelas VI dalam pengerjaan hitung campuran melalui model kooperatif tipe jigsaw di SDN 1 Sedayugunung Tulungagung. Rancangan penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subyek penelitian adalah peneliti dan siswa kelas VI SDN 1 Sedayugunung Tulungagung dengan jumlah 12 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar observasi, angket, dan tes. Analisis data dilakukan setelah pemberian tindakan pada setiap siklus yang telah dilakukan. Pembelajaran matematika pada pra tindakan, yang dilaksanakan di kelas VI SDN 1 Sedayugunung dalam pengerjaan hitung campuran menggunakan metode konvensional dan monoton, sehingga aktivitas dan hasil belajar siswa masih banyak yang belum memenuhi standar yang ditetapkan. Dari hasil penelitian menunjukkan hasil belajar matematika pada siswa kelas VI dalam pengerjaan hitung campuran melalui model kooperatif tipe jigsaw mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut diketahui dari nilai tes siswa, pada pra tindakan siswa yang mencapai KKM 33%, pada siklus I 67%, dan pada siklus II 100%. Sedangkan aktivitas belajar siswa pada siklus I kriteria dominan yang muncul cukup, dan pada siklus II baik, yang teramati pada kegiatan siswa sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe jigsaw yaitu: (a) pembentukan kelompok, (b) pembentukan kelompok baru dan berdiskusi, (c) menyampaikan hasil diskusi pada kelompok awal, (d) persentasi hasil diskusi, (e) menyimpulkan, dan (f) melakukan refleksi.

Hubungan konsep diri dengan pengungkapan diri anak pidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II A Blitar / Sakhiyyatus Sa'diyah

 

Kata kunci: Konsep Diri, Pengungkapan Diri, Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas IIA Blitar. Beberapa tahun ini tingkat kriminalitas anak di Indonesia meningkat tajam. Banyaknya kasus-kasus premanisme, kasus pencurian, perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan, yang mana kasus-kasus dilakukan oleh anak-anak dibawah umur. Anak yang melakukan perbuatan melanggar hukum dan telah menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan sangat memerlukan perhatian dan penanganan khusus, karena setiap remaja memiliki potensi, ciri, dan sifat yang khas. Tujuan penelitian adalah: (1)Untuk mengetahui konsep diri pada anak pidana Lembaga PemasyarakatanAnak Kelas II A Blitar. (2)Untuk mengetahui pengungkapan diri pada anak pidana Lembaga PemasyarakatanAnak Kelas II A Blitar. (3) Untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan pengungkapan diri pada anak pidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II A Blitar. Desain penelitian yang digunakan adalah desain korelasional dengan subyek sebanyak 50 anak pidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar yang diambil dengan teknik Purposive Sampling. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu ada hubungan positif antara konsep diri dan pengungkapan diri pada anak pidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas II A Blitar. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa anak pidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar dengan tingkat konsep diri tinggi, yakni sebanyak 35 atau 70 %orang dari total 50 orang. Anak pidana dengan tingkat konsep diri sedang sebanyak 15 orang atau 30 % dari jumlah keseluruhan 50 orang. Sedang Anak pidana dengan tingkat konsep diri rendah 0%. Sedangkan dari 50 orang sebagai responden, terdapat 22 (44%) anak yang memiliki pengungkapan diri dengan klasifikasi sedang, 27 (54,00%) anak memiliki pengungkapan diri dengan klasifikasi tinggi dan dan hanya 1 (2%) anak memiliki pengungkapan diri dengan klasifikasi rendah.Data konsep diri dikumpulkan dengan Skala Konsep Diri, koefisien relibialitas dengan menggunakan rumus alpha Cronbach diperoleh skor 0,874, dan data pengungkapan diri dikumpulkan dengan Skala Pengungkapan Diri, koefisien reliabilitas item 0,949. Hasil penelitian yang diperoleh dianalisis dengan teknik Korelasi Product Moment menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara konsep diri dengan pengungkapan diri (rxy = 0,648 sig = 0,000 < 0,05). Artinya, semakin tinggi konsep diri maka semakin tinggi pengungkapan dirinya, sebaliknya semakin rendah konsep diri maka semakin rendah pula pengungkapan dirinya. Dengan demikian anak pidana dituntut untuk tetap menyesuaikan diri dengan baik dengan cara yang dapat diterima secara mayoritas dalam kelompok masyarakat sehingga hal ini menjadi bagian dari konsep diri individu, dan membentuk pengungkapan diri yang apa adanya dan mendalam.

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model group investigation (GI) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kewirausahaan (studi pada siswa kelas XI Akuntansi di SMK PGRI 2 Malang) / Eka Sisyoria Candra Dewi

 

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation, Hasil belajar. Dalam kehidupan, pendidikan memegang peranan penting karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Upaya peningkatan kualitas pendidikan ini harus diiringi dengan kemampuan dan keterampilan yang mendukung proses belajar mengajar. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, salah satunya adalah dengan perbaikan mutu belajar-mengajar di sekolah. Proses pembelajaran di kelas saat ini masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian model pembelajaran ceramah menjadi pilihan utama dalam proses pembelajarannya, sehingga seringkali proses belajar dan prestasi belajar yang diraih tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka diperlukan sebuah strategi belajar yang yang lebih memberdayakan potensi yang dimiliki siswa atau metode pembelajaran yang melibatkan siswa aktif, sehingga dapat mengubah proses pembelajaran yang bersifat berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa yang memberikan dampak positif pada potensi dan kompetensi siswa. Salah satu solusi untuk mengatasi dominansi guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran inovatif yang konsep dasar pembelajarannya berpusat pada keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Salah satunya model tersebut adalah Group Investigation (GI). Diharapkan dengan menggunakan berbagai variasi mengajar dan salah satunya dengan menggunakan model Group Investigation (GI) ini, hasil belajar siswa akan meningkat. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1)Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Group Investigation (GI) pada mata pelajaran kewirausahaan kelas XI AK di SMK PGRI 2 Malang. (2)Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas XI AK di SMK PGRI 2 Malang pada mata pelajaran kewirausahaan setelah diterapkan model pembelajaran Group Investigation (GI). (3)Untuk mengetahui Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat proses pelaksanaan pembelajaran model Group Investigation (GI) pada mata pelajaran kewirausahaan kelas XI AK di SMK PGRI 2 Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dengan 4 tahap pada masing-masing siklusnya yakni meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, sekaligus pengamatan, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI Akuntansi di SMK PGRI 2 Malang yang berjumlah 30 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, catatan lapangan, dokumentasi, tes, dan angket. Dari hasil analisis data, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa setelah melakukan proses belajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model Group Investigation meningkat, terbukti pada aspek kognitif hasil perbandingan nilai pre-test dan post-test siklus 1 yang mengalami ketuntasan sebesar 73,34%, yang belum tuntas adalah 26,66%. Dan pada siklus 2 hasil presentase ketuntasan menjadi meningkat sebesar 90% dan yang belum tuntas menjadi 10%. Saran yang dapat peneliti berikan kepada guru mata pelajaran kewirausahaan adalah sebaiknya dianjurkan menggunakan metode kooperatif model Group Investigation untuk meningkatan hasil belajar siswa. Dalam menerapkan pembelajaran ini, guru hendaknya dapat mengorganisir waktu dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal, guru harus mengalokasikan waktu secara tepat untuk setiap tahap rencana pembelajaran yang akan disusun dan melakukan ketentuan tersebut sehingga efisiensi waktu pembelajaran terjaga. Selain itu guru juga harus selalu memberi arahan dan motivasi terhadap seluruh siswa, terutama siswa yang mempunyai kemampuan lebih rendah perlu mendapatkan perhatian yang lebih, agar mereka termotivasi dan lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya. Metode pembelajaran kooperatif model Group Investigation membutuhkan media pembelajaran, untuk itu guru harus dapat mengupayakan menggunakan media pembelajaran yang bervariasi baik handout,studi kasus, atau media pembelajaran penunjang untuk guru. Sehingga membuat peserta didik tertarik dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif STAD dan TPS terhadap kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif biologi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Malang / Tatik Sriwedari

 

Kata Kunci: STAD, TPS, kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, hasil belajar kognitif. Perubahan orientasi pembelajaran dari behavioristik menjadi paham yang berorientasi konstruktivistik berpengaruh terhadap pergeseran paradigma dari teaching (pengajaran) bergeser menjadi learning (pembelajaran). Pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) bergeser ke arah pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Paradigma baru ini dalam pelaksanaannya sangat memberdayakan potensi siswa agar berkembang lebih optimal, sehingga diharapkan mampu bersaing di dunia global. Pembelajaran di SMP Negeri 1 Malang belum sepenuhnya students centered, siswa belum diberdayakan secara maksimal sehingga kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif siswa masih kurang maksimal dan hanya didominasi oleh siswa yang berkemampuan atas saja. Salah satu model pembelajaran yang konstruktivis dalam mengembangkan potensi siswa adalah cooperative learning. Pembelajaran kooperatif selain mengembangkan aspek akademik juga mengembangkan aspek non akademik yaitu kerja sama sosial dan saling ketergantungan positif. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya STAD dan TPS mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif, oleh karena itu penelitian ini mengimplementasikan STAD dan TPS. Implementasi STAD dan TPS diharapkan juga dapat memberdayakan kemampuan berpikir kritis, melatih keterampilan proses, dan meningkatkan hasil belajar kognitif siswa. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengetahui pengaruh strategi pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif, 2) mengetahui perbedaan kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif pada siswa berkemampuan akademik atas dan bawah, 3) mengetahui pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif. Penelitian eksperimen semu untuk mengimplementasikan strategi STAD dan TPS dengan rancangan pretest-postest nonequivalent control group design dengan faktorial 3x2 dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2009/2010. Populasi penelitian adalah siswa kelas VIII RSBI di SMP Negeri 1 Malang sebanyak 120 siswa yang terdiri dari 4 kelas, sedangkan sampel penelitian adalah sebanyak 3 kelas yang terdiri dari 1 kelas untuk STAD, 1 kelas untuk TPS, dan 1 kelas untuk kontrol. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif, sebelum instrumen diujikan, dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. Pengumpulan data kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif dilakukan dengan pretes dan postes. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan untuk menguji hipotesis dilakukan uji statistik Anakova yang dilanjutkan dengan uji lanjut Least Significance Difference (LSD). Sebelum diuji statistik, dilakukan uji asumsi berupa uji normalitas dan homogenitas. Penghitungan dibantu dengan program SPSS for windows versi 16. Hasil penelitian menunjukkan, 1) ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap kemampuan berpikir kritis, rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan strategi TPS lebih tinggi 43,52% dibanding dengan siswa yang belajar dengan strategi STAD, dan lebih tinggi 107,42% dibanding konvensional, 2) ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap keterampilan proses, rata-rata nilai keterampilan proses siswa yang belajar dengan strategi TPS lebih tinggi 37,36% dibanding dengan siswa yang belajar dengan strategi STAD, dan lebih tinggi 89,9% dibanding konvensional, 3) ada pengaruh strategi pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif, rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa yang belajar dengan strategi TPS lebih tinggi 29,03% dibanding dengan siswa yang belajar dengan strategi STAD, dan lebih tinggi 67,41% dibanding konvensional, 4) ada perbedaan kemampuan berpikir kritis pada siswa yang berkemampuan akademik atas dan bawah, rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa berkemampuan akademik atas lebih tinggi 35,11% dibanding siswa berkemampuan bawah, 5) ada perbedaan keterampilan proses pada siswa yang berkemampuan akademik atas dan bawah, rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa berkemampuan akademik atas lebih tinggi 32,25% dibanding siswa berkemampuan bawah, 6) ada perbedaan hasil belajar kognitif pada siswa yang berkemampuan akademik atas dan bawah, rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa berkemampuan akademik atas lebih tinggi 26,77% dibanding siswa berkemampuan bawah, 7) tidak ada pengaruh interaksi strategi pembelajaran dan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kritis, keterampilan proses, dan hasil belajar kognitif, 8) guru dan siswa memberikan tanggapan positif terhadap implementasi pembelajaran STAD dan TPS. STAD dan TPS melatih siswa bekerja sama dan saling membantu untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan masalah dan meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Guru disarankan untuk mengimplementasikan STAD dan TPS dalam pembelajaran biologi agar siswa tidak bosan dan lebih termotivasi untuk belajar.

Analisis derajat desentralisasi fiskal keuangan daerah sebelum dan sesudah pelaksanaan kebijakan otonomi daerah di Kota Malang / Haris Galih Wardana

 

Kata Kunci : Derajat Desentralisasi Fiskal, PAD, Otonomi Daerah. Dengan berlakunya Undang-Undang No. 22 & 25 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, pemerintah di daerah dituntut untuk menjalankan roda pemerintahan yang efektif, efesien dan mampu mendorong peran masyarakat dalam meningkatkan pemerataan dan keadilan dengan mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Keberhasilan otonomi daerah tidak terlepas dari kemampuan dalam bidang keuangan. Ciri utama daerah yang mampu untuk berotonomi adalah terletak pada kemampuan daerah untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan di daerahnya dengan tingkat ketergantungan kepada pemerintah pusat mempunyai proporsi yang semakin kecil. Artinya kemandirian keuangan daerah diharapkan mampu tercipta setelah adanya otonomi daerah dan diharapkan PAD ( Pendapatan Asli Daerah ) harus menjadi bagian terbesar dalam mobilisasi dana penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sudah sewajarnya PAD dijadikan tolak ukur dalam pelaksanaan otonomi daerah. Penelitian derajat desentralisasi fiskal keuangan daerah ini di lakukan di Pemerintah Kota Malang. Dengan otonomi daerah, apakah kondisi keuangan daerah Kota Malang bisa semakin baik dalam artian tercipta kemandirian keuangan daerah di Kota Malang bila dibandingkan dengan kondisi keuangan Kota Malang sebelum adanya otonomi daerah. Data keuangan daerah yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sebelum otonomi daerah yaitu Tahun 1994 sampai dengan Tahun 1998 diperoleh dari Situs Internet Dirjen Perimbangan keuangan Negara Republik Indonesia dan data sesudah otonomi daerah yaitu Tahun 2005 sampai dengan Tahun 2009 yang diperoleh dari Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan, aset Kota Malang. Penelitian dilakukan di Dinas Pendapatan dan Pengelola Keuangan, aset Kota Malang, tanggal 3 November sampai 15 November 2010. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Analisis perhitungan yang dipakai adalah Analisis Derajat Desentralisasi Fiskal yaitu menghitung kemandirian keuangan daerah yang dilihat dari komponen data keuangan yaitu PAD ( Pendapatan Asli Daerah), BHPBP (Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak), dan SD (Sumbangan Daerah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan Kota Malang sebelum dan sesudah adanya otonomi daerah sama-sama menunjukkan ketidakmandirian. Artinya bahwa, kontribusi PAD ( Pendapatan Asli Daerah) terhadap TPD (Total Penerimaan Daerah) masih relatif kecil bila dibandingkan dengan dana perimbangan dari pemerintah pusat yaitu kontribusi BHPBP ( Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak) dan SD ( Sumbangan Daerah) terhadap TPD ( Total Penerimaan Daerah ). Sebelum otonomi daerah kontribusi yang diberikan PAD sebesar 33 % dalam Total Penerimaan Daerah. Lebih dari 65 % pembiayaan pemerintahan masih dibantu oleh pemerintah pusat. Sedangkan sesudah otonomi daerah, kontribusi yang diberikan PAD sebesar 12,5 % terhadap Total Penerimaan Daerah. Lebih dari 85 % pembiayaan pemerintahan masih dibantu oleh dana perimbangan dari pemerintah pusat. Secara umum, kinerja keuangan kota Malang dilihat dari derajat desentralisasi fiskal Kota Malang sebelum adanya otonomi daerah lebih baik bila dibandingkan sesudah adanya otonomi daerah. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi ketidakmandirian keuangan Kota Malang baik itu sebelum otonomi daerah maupun sesudah otonomi daerah. Hal tersebut dikarenakan sebelum otonomi daerah, pemerintah pusat memberikan dana bantuan berupa Pos Sumbangan dan Pos Bantuan yang cukup besar dengan prosentase diatas dari Pendapatan Asli Daerah. Namun dari sisi kontribusi PAD (Pendapatan Asli Daerah) terhadap TPD (Total Penerimaan Daerah), data keuangan sebelum otonomi daerah menunjukkan tren yang positif untuk menuju kemandirian keuangan daerah. Kondisi yang sama juga terjadi sesudah otonomi daerah. Otonomi daerah yang diharapkan mampu untuk memberikan hak dan kewenangan sepenuhnya terhadap daerah untuk meningkatkan potensi daerah agar tercipta kemandirian daerah tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kondisi keuangan Kota Malang sesudah otonomi daerah menunjukkan ketidakmandirian. Hal tersebut dikarenakan besarnya dana perimbangan berupa DAU ( Dana Alokasi Umum), DAK ( Dana Alokasi Khusus ) dan juga BHPBP ( Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak ) yang diterima Kota Malang melebihi dari penerimaan yang asli bersumber dari daerah yaitu PAD. Dari sisi kontribusi PAD (Pendapatan Asli Daerah) terhadap TPD ( Total Penerimaan Daerah ) sesudah otonomi daerah menunjukkan kondisi yang labil dan buruk untuk menuju kemandirian keuangan daerah. Hal tersebut dikarenakan peningkatan PAD yang cenderung fluktuatif dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada Pemerintah Kota Malang untuk mengoptimalkan sumber-sumber penerimaan daerah khususnya PAD (Pendapatan Asli Daerah), agar bantuan dari pemerintah pusat berupa dana perimbangan bisa berkurang sehingga tercipta kemandirian keuangan di Pemerintah Kota Malang.

Penerapan strategi Polya terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika siswa MTs Nasruddin Dampit Malang VII / Linda Sri Rahayu

 

Kata kunci: strategi polya, soal cerita, kemampuan menyelesaikan masalah Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang semakin pesat menuntut adanya perubahan dan perkembangan di segala bidang termasuk dalam dunia pendidikan. Sehubungan dengan hal itu, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, guru dituntut untuk menggunakan barbagai macam strategi pembelajaran yang mengaktifkan interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan siswa, serta siswa dengan lingkungannya. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut adalah model pembelajaran dengan pendekatan pengajaran Strategi Polya yang menggunakan empat tahapan dalam menyelesaikan masalah, tahapan tersebut antara laintahap pemahaman (Understanding Problem), perencanaan penyelesaian masalah (Planning How To Solve The Problem), pelaksanaan rencana (Carrying Out The Plan), melihat kembali (Looking Back). Penelitian ini mendeskripsikan tahap-tahap pembelajaran Strategi Polya yang dapat meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah cerita matematika siswa kelas VII MTs Nasruddin Dampit Kabupaten Malang pada materi Persamaan Linier Satu Variabel. Proses pelaksanaan pembelajaran diawali dengan proses pemahaman siswa kepada masalah, selanjutnya guru memberikan rangsangan kepada siswa untuk memunculkan ide dalam bentuk rancangan penyelesaian permasalahan, kemudian rencana yang dibuat akan diimplementasikan atau dilaksanakan, setelah pelaksanaan mendapatkan jawaban, jawaban tersebut akan dicek kembali ketepatannya. Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pada siklus I dengan subpokok bahasan Persamaan Linier Satu Variabel, siswa yang memperoleh nilai ≥ 60 ada 20 siswa dan persentase ketuntasan belajar siswa 80 % dengan nilai rata-rata kemampuan menyelesaikan masalah cerita siswa 68,92. Sedangkan pada siklus II dengan subpokok bahasan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel, siswa yang memperoleh nilai ≥ 60 ada 21 siswa dan persentase ketuntasan belajar siswa 84 % dengan nilai rata-rata kemampuan menyelesaikan masalah cerita siswa 73,13. Menurut ketuntasan pembelajaran yang ditetapkan MTs Nasruddin Dampit Malang, pelaksanaan pembelajaran dikatakan mendukung atau berhasil apabila sekurang-kurangnya 70% siswa mendapat nilai minimal 60 sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan Strategi Polya dalam penelitian ini berhasil dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di MTs Nasruddin Dampit.

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pasien (studi pada pasien rawat inap kelas III RSUD Kanjuruhan Kepanjen) / Dian Purwasih

 

Kata kunci: kualitas pelayanan, kepuasan pasien Perkembangan industri di Indonesia telah berkembang semakin pesat, salah satunya di sektor kesehatan. Rumah sakit telah menunjukkan perkembangan yang mengarah kepada profesionalisme dibidang pelayanan jasa. Perkembangan ini disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal, seperti kesadaran para pengelola rumah sakit untuk menerapkan sistem manajemen yang profesional serta tuntutan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit yang berkualitas. Kualitas pelayanan itu sendiri terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan perhatian yang dapat menjadikan pelanggan itu loyal pada perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan perhatian secara parsial maupun secara simultan antara terhadap kepuasan pasien rawat inap kelas III RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data di lakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan kuesioner. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa kuesioner tertutup. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap menyiapkan kuesioner yang diperlukan, kemudian menyebarkan kuesioner kepada responden yang sesuai dengan karakteristik penelitian, mentabulasi data yang telah diperoleh, dan menganalisis data dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Terdapat pengaruh yang signifikan kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan perhatian secara parsial terhadap kepuasan pasien rawat inap kelas III RSUD Kanjuruhan kepanjen, dan terdapat pengaruh yang signifikan kualitas pelayanan yang terdiri dari bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan dan perhatian secara simultan terhadap kepuasan pasien rawat inap kelas III RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Saran yang dapat peneliti berikan adalah: RSUD Kanjuruhan Kepanjen harus terus berupaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan diharapkan bagi peneliti berikutnya dapat menemukan atau meneliti variabel-variabel lainnya diluar penelitian ini karena kepuasan pasien dalam penelitian ini juga dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

Studi tentang pemahaman siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kesamben terhadap pokok bahasan stoikiometri / Galuh Suci Pratiwi

 

Kata kunci: pemahaman, salah konsep, stoikiometri Demi meningkatkan hasil pembelajaran kimia, pemerintah Indonesia memperbaharui kurikulum pendidikan. Pembaharuan ini menghasilkan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). KTSP memberikan hak kepada sekolah untuk menngembangkan kurikulumnya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah. KTSP ini membawa pengaruh terhadap hasil pembelajaran kimia. Faktanya, sebagian besar siswa SMA memiliki pemahaman yang kurang terhadap konsep-konsep kimia. Dengan demikian tujuan dalam penelitian ini adalah (1)mengetahui pemahaman siswa terhadap pokok bahasan stoikiometri, (2)mengetahui perbedaan antara kemampuan konseptual dengan kemampuan algoritmik yang dimiliki oleh siswa terhadap pokok bahasan stoikiometri, (3)mengetahui salah konsep yang dimiliki oleh siswa terhadap pokok bahasan stoikiometri, dan (4)mengetahui salah algoritmik yang dimiliki oleh siswa terhadap pokok bahasan stoikiometri. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuisioner berupa soal multiple choice. Sebelum digunakan mengambil data, kuisioner divalidasi terlebih dahulu oleh dua orang guru kimia SMA. Soal yang telah divalidasi kemudian digunakan untuk mengumpulkan data. Data penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Hasil analisis selanjutnya dicek keabsahannya melalui wawancara terhadap beberapa orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XI SMAN 1 Kesamben memiliki pemahaman yang sedang (42,6%) terhadap stoikiometri. Siswa memiliki perbedaan yang signifikan antara pemahaman konseptual dan algoritmik pada pokok bahasan stoikiometri, siswa cenderung memiliki kemampuan algoritmik yang lebih tinggi daripada kemampuan konseptual. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa memiliki kesalahan pemahaman yang menyebabkan mereka memiliki salah konsep. Salah konsep yang terjadi pada siswa, diantaranya (1)siswa menganggap massa zat sebelum dan sesudah reaksi tidak sama, (2)zat¬zat yang memiliki kondisi dan massa yang sama, jumlah partikelnya berbanding lurus dengan massa molarnya, (3)pereaksi pembatas adalah reaktan dengan massa paling sedikit, dan lain sebagainya. Siswa juga memiliki salah algoritmik berupa kesalahan dalam mengaplikasikan rumusmatematika, ketidaktelitian dalam menghitung, dan kesalahmemahami perbandingan bilangan. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada para guru kimia agar (1)mengembangkan lagi kemampuan siswa pada tingkatan mikroskopik dan simbolik agar siswa mampu memahami konsep abstrak, (2)memulai pembelajaran dengan kuis agar dapat mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki siswa kemudian dapat menciptakan situasi pembelajaran yang sesuai dengan pengetahuan awal siswa, (3)menguji kemampuan awal algoritmik siswa sebagai acuan pengembangan pemahaman algoritmik, (4)memperkuat kemampuan siswa dalam algorithmik.

Penerapan metode bermain peran untuk mengembangkan kemampuan bercerita anak kelompok B di TK Al-Fadholi Malang tahun ajaran 2009/2010 / Indriana Martiningsih

 

Kata Kunci : Metode bermain peran, Kemampuan bercerita, Taman kanak-kanak Metode Bermain Peran adalah salah satu strategi pembelajaran untuk menangani masalah anak, yang berkaitan dengan kesulitan bercerita. Metode Bermain Peran ini dapat dilatihkan kepada anak-anak sejak dini, agar mereka terlatih daya khayalnya sehingga bersemangat pada saat melakukan aktivitas bercerita. Anak-anak cenderung malu pada saat diminta bercerita didepan kelas, berbicara sendiri sudah dimiliki anak usia dini sejak umur 2 – 7 tahun pada masa pra operasional konkret. Metode Bermain Peran karakteristiknya adalah adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret dan dapat diamati. Tujuan penelitian ini (1) mendeskripsikan penerapan metode bermain peran dikelompok B Taman Kanak-kanak Al-Fadholi Malang, (2) mendeskripsikan penerapan metode bermain peran pada kemampuan bercerita anak kelompok B di Taman Kanak-kanak AL-Fadholi Malang. Pada penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Setiap tindakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah anak-anak kelompok B Taman Kanak-kanak Al-Fadholi Malang. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi serta lembar wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bermain peran dapat mengembangkan kemampuan dalam bercerita setiap anak di Taman Kanak-kanak. Siklus I kemampuan bercerita anak menggunakan tema binatang masih terdapat kelemahan, anak kurang enjoy karena peran yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan anak. Sedangkan siklus II kemampuan bercerita anak ada peningkatan, tema dipilih lebih dekat dengan kehidupan anak dan anak memilih perannya sendiri. Dengan diterapkan metode bermain peran dalam kegiatan pembelajaran kemampuan bercerita setiap anak secara keseluruhan dari siklus I 5,2 ada kenaikan pada siklus II 8,1 dengan rata-rata perkembangan 6,1. Oleh karena itu dapat disarankan: (1) Penerapan metode bermain peran dapat mengembangkan kemampuan bercerita anak dalam aktifitas pembelajaran. Berkaitan dengan hal itu, maka disarankan agar kelompok B Taman Kanak-kanak Al-Fadholi Malang dapat menggunakan metode bermain peran dalam aktivitas pembelajaran. (2) Bagi Taman Kanak-kanak yang ingin anak didik lebih cepat berkembang aspek perkembangannya, dapat menggunakan bermain peran untuk meningkatkan kemampuan bercerita. Disarankan bagi peneliti selanjutnya, coba diteliti lagi penerapan bermain peran untuk diterapkan dalam kemampuan anak yang lain, seperti ; kognitif, fisik motorik dan lain sebagainya.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk memahamkan operasi bilangan bulat pada siswa kelas VII SMPN 5 Malang / Hendri Lestari

 

Kata Kunci : Pembelajaran, Kooperatif tipe STAD, Operasi Bilangan Bulat. Pembelajaran yang memberikan pebelajar aktif membangun pengetahuan matematika secara bermakna dapat terwujud dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif yang paling sederhana adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions). Pembelajaran Kooperatif tipe STAD adalah pembelajaran kooperatif yang membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang siswa yang bersifat heterogen dalam kemampuan akademik dan jenis kelamin. Adanya nilai rata-rata ulangan harian matematika pada materi operasi bilangan bulat yang selalu kurang dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) setiap tahun berdasarkan pengalaman pengajar yang mengajar selama bertahun-tahun dan pengakuan beberapa praktisi pendidikan matematika dilapangan, dapat diketahui bahwa siswa SMP Negeri 5 Malang kurang memahami secara baik dan benar materi operasi bilangan bulat. Keprihatinan ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan pendekatan kualitatif yang difokuskan pada (1) operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat (2) operasi perkalian dan pembagian bilangan bulat. Pembelajaran Kooperatif tipe STAD merupakan salah satu strategi pembelajaran konstruktivis. Oleh karena itu penyajiannya di kelas diupayakan agar siswa aktif membangun pengetahuannya sendiri. Pengetahuan selanjutnya di bangun oleh siswa dengan cara bekerja sama dengan teman dalam satu kelompok. Setiap siswa di tuntut untuk saling bekerja sama. Setidaknya ada dua manfaat yang dapat diperoleh dalam pembelajaran kooperatif yaitu manfaat akademik dan manfaat sosial. Secara akademik siswa meningkatkan pemahaman materi, secara sosial siswa belajar hidup bermasyarakat. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa siswa merasa senang dengan pembelajaan kooperatif tipe STAD. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas dan sikap antusias mereka ketika mengerjakan soal-soal dalam lembar kerja operasi bilangan bulat. Hasil belajar siswa yang di ukur melalui tes individu setiap akhir tindakan telah menunjukkan bahwa siswa telah memahami materi dengan baik. Bertitik tolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan pembelajaran sebagai berikut (1) menjadikan pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai suatu pembelajaran alternatif yang layak dipertimbangkan (2) mengembangkan penelitian ini di kelas atau dalam jenjang lainnya dengan mengambil materi yang lebih luas agar hasil penelitian lebih lengkap dan mendalam (3) penyusunan LKS harus cermat dan hati-hati karena memungkinkan LKS yang di susun justru akan mematikan kreativitas siswa. Sebaiknya LKS di susun secara garis besarnya saja dan tidak terlalu menuntun langkah yang harus dilakukan siswa.

Perbedaan inteligensi antara anak yang lahir tepat waktu dengan anak yang lahir prematur / Deska Tri Ismiani

 

kata kunci: inteligensi, kelahiran tepat waktu, kelahiran prematur. Inteligensi atau kecerdasan merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seorang individu selama masa hidupnya. Dengan inteligensi seseorang dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan pendidikan maupun masyarakat sekitar. Tingkat kecerdasan seseorang biasanya di ukur dengan alat ukur psikologis sehingga nantinya menghasilkan skor kecerdasan. Hasil dari pengukuran itu sendiri, yang pada umumnya disebut dengan IQ (Intelligence Quotient). Lamanya masa kehamilan hingga persalinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi inteligensi. Hal ini menentukan lengkap atau tidaknya dan sempurna atau tidaknya organ-organ dalam individu dapat berkembang dengan baik. Proses kelahiran tepat waktu maupun kelahiran prematur menjadi penentu kecerdasan seseorang dengan segala proses perkembangan selanjutnya setelah bayi dilahirkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) bagaimana perkembangan inteligensi pada anak yang lahir normal, 2) bagaimana perkembangan inteligensi pada anak yang lahir prematur, 3) apakah ada perbedaan inteligensi antara anak yang lahir normal dengan anak yang lahir prematur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan alat ukur yaitu tes WISC untuk mengukur kecerdasan. Subyek penelitian adalah 10 siswa kelas 2 dan 3 SDN Percobaan 1 Malang, dengan kriteria lahir normal dan prematur usia 7-9 tahun. Cara menentukan subyek lahir tepat waktu yaitu menggunakan teknik random dengan cara undian menggunakan nomor absen dari setiap anak lalu dikocok. Hasil penelitian dengan rancangan deskriptif dan komparatif dengan menggunakan Mann Whitney- test menunjukan bahwa Ada perbedaan inteligensi antara anak yang lahir normal dengan anak yang lahir prematur dengan nilai Z = -2.305, signifikan pada 0.021 < 0.025. Dari tes yang diberikan dengan menggunakan alat tes WISC diperoleh hasil 5 subyek yang lahir tepat waktu sebagian besar memiliki kecerdasan termasuk kedalam kategori rata-rata, sedangkan 5 subyek pada anak yang lahir prematur semuanya termasuk kedalam kategori superior, sehingga anak yang lahir prematur memiliki inteligensi yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan anak yang lahir tepat waktu . Saran yang dikemukakan: (1) Bagi siswa, setiap anak memiliki potensi yang sama untuk mengembangkan kecerdasan yang dimiliki, tidak tergantung dari lahir tepat waktu maupun prematur, (2) Bagi orangtua, sudah menjadi kewajiban orangtua untuk terus meningkatkan dan mendukung anak dalam hal pendidikan agar dapat mengeluarkan potensi terbaiknya, (3) Bagi peneliti selanjutnya, masih banyak aspek lain yang dapat di teliti dari perbedaan anak yang lahir normal dengan anak yang lahir prematur.

Pengaruh dana pihak ketiga, capital adequacy ratio, pendapatan pembiayaan, dan non performing finance terhadap jumlah pembiayaan pada bank syariah (studi pada PT Bank Syariah Mandiri periode 2007-2009) / Aldilla De Vega

 

Kata Kunci : DPK, CAR, Pendapatan Pembiayaan, Jumlah Pembiayaan Kegiatan penyaluran kredit merupakan komponen asset terbesar sekaligus merupakan sumber resiko bagi dunia perbankan. Penyaluran kredit memiliki peran penting dalam pertumbuhan perekonomian suatu negara. Besar kecilnya penyaluran kredit dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal.Pada penelitian ini kemampuan penyaluran kredit dilihat dari variabel internal bank yaitu DPK, CAR, Pendapatan Pembiayaan, dan NPF. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh DPK, CAR, Pendapatan Pembiayaan, dan Non Performing Finance terhadap Jumlah Pembiayaan pada Bank Syariah Mandiri. Penelitian ini dilakukan pada PT Bank Syariah Mandiri. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu laporan keuangan Bulanan PT Bank Syariah Mandiri yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia dari tahun 2007- 2009. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 16 for windows. Hasil penelitian menunjukkan secara parsial variable DPK berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah pembiayaan dengan koefisien sebesar 0.682 dan tingkat signifikansi sebesar 0.013. Variabel CAR berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap jumlah pembiayaan dengan nilai koefisien sebesar 0.013 dan tingkat signifikansi sebesar 0.907. Variabel Pendapatan Pembiayaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap jumlah pembiayaan dengan nilai koefisien sebesar 0.106 dan tingkat signifikansi sebesar 0.021. Variabel NPF berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap jumlah pembiayaan dengan nilai koefisien sebesar -0.142 dan dengan tingkat signifikansi sebesar 0.536. Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat disarankan adalah: (1) bagi bank Bank Syariah Mandiri agar menjalankan manajemen yang lebih baik untuk menghindari kemungkinan risiko-risiko kredit macet yang dapat merugikan bank dan dapat meningkatkan jumlah pembiayaan kepada calon nasabah. (2) Bagi pihak bank juga diharapkan agar tetap memperhatikan CAR dan NPF dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya karena -faktor tersebut salah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya kredit yang disalurkan oleh bank. (3) Bagi peneliti lain disarankan agar menggunakan periode pengamatan yang lebih lama dan menambahkan variabel lain yang mempengaruhi penyaluran kredit sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat.

Pengembangan CD interaktif pembelajaran kemahiran berbicara bahasa Arab berbasis macromedia flash MX untuk siswa kelas VII MTs Muhammadiyah 03 Sedayulawas Brondong Lamongan / Indra Fariyanti

 

Kata kunci: CD interaktif, kemahiran berbicara bahasa Arab, Madrasah Tsanawiyah. Perkembangan teknologi yang pesat, memacu munculnya berbagai inovasi teknologi yang berupa perangkat lunak (software). Dalam bidang pembelajaran kehadiran media pembelajaran yang relevan dengan teknologi sudah dirasakan banyak membantu tugas guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pemanfaatan kecanggihan teknologi untuk kepentingan pembelajaran sudah bukan merupakan hal yang baru lagi, terutama akan membantu guru dan siswa mengatasi kesulitan belajar.. Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan: (a) hasil media CD interaktif dalam pembelajaran kemahiran berbicara bahasa Arab berbasis Macromedia Flash MX untuk siswa kelas VII MTs, (b) kelayakan media CD interaktif dalam pembelajaran kemahiran berbicara Bahasa Arab berbasis Macromedia Flash MX untuk siswa kelas VII MTs. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian pengembangan. Uji lapangan dilaksanakan di Sedayulawas, Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Prosedur penelitian ini adalah: (1) analisis kebutuhan, (2) rumusan tujuan, (3) mengembangkan materi, (4) produksi, (5) menyusun petunjuk pemanfaatan, (6) uji ahli media dan ahli materi, (7) uji coba perseorangan, (8) uji coba lapangan, (9) revisi produk. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data presentase. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti (Human Instrumen), sebagai instrumen kunci dan instrumen penunjang berupa tes dan angket. Hasil pengembangan dari seluruh item yang telah dilakukan oleh ahli media menunjukan 67,5%, ahli materi menunjukan 75%, guru bahasa Arab menunjukan 92,8%, dan kelompok kecil 72%. Hasil uji kelayakan keseluruhan menunjukan 76,8% dengan kriteria layak untuk digunakan sebagai salah satu media dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab. Berdasarkan hasil uji coba lapangan, yang didapat dari presentase hasil pekerjaan siswa melalui pre-test menunjukan 54,8% dan post-test menunjukan 96,4%. Angket yang telah isi oleh siswa-siswi MTs Muhammadiyah 03 Sedayulawas Brondong Lamongan dengan hasil keseluruhan item menunjukan 89% dengan kriteria layak.

Pengaruh kinerja keuangan terhadap return saham pada bank konvensional yang listing di BEI tahun 2006-2009 / Discha Widyantoko

 

Kata Kunci : Kinerja keuangan, return saham Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. Seorang membeli sejumlah saham saat ini dengan harapan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham ataupun sejumlah deviden dimasa datang, sebagai imbalan atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi. Untuk itu untuk mengatasi risiko yang terjadi, para investor harus dapat megambil keputusan ekonomi apakah akan menanamkan modalnya atau tidak agar mendapatkan return yang tinggi. Analisis yang dapat dilakukan oleh para investor dapat melalui kinerja keuangan dengan menggunakan analisis CAMEL yang meliputi CAR, KAP, NPM, ROA dan LDR. Tujuan dari penelitian ini adalah investor dapat menggunakan kinerja keuangan sebagai acuan untuk menanamkan modalnya apakah para investor tersebut akan mendapatkan return yang tinggi atau tidak. Populasi penelitian ini adalah seluruh bank konvensional yang listing di BEI tahun 2006 hingga 2009. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda, uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan menggunakan program SPSS 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja keungan secara parsial yang meliputi KAP, NPM, ROA dan LDR berpengaruh signifikan terhadap return saham tetapi kinerja keuangan dengan menggunakan CAR secara parsial tidak berpengaruh signifikan dengan return saham. Sedangkan secara simultan kinerja keuangan berpengaruh terhadap return saham hal ini ditunjukan dengan tingkat signifikansi 0,002 lebih kecil dari 0,005. Berdasarkan hasil penelitian di atas maka saran bagi penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Untuk memperbaiki penelitian ini diharapkan peneliti selanjutnya dapat menyempurnakan penelitian ini dengan menambah indikator dan variabel yanh lain, 2) Adanya keterbatasan data yang ada sehingga peneliti tidak memakai aspek sensitivitas dalam penelitian sehingga peneliti selanjutnya dapat menerapkan aspek sensitivitas dalam penelitian berikutnya, 3) Investor sebaiknya dapat memakai analisis CAMEL jika ingin berinvestasi pada bank sehingga dapat mengetahui keuntungan yang akan didapat dimasa yang akan datang jika menanamkan modalnya pada bank tersebut.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah dipadu kooperatif investigasi kelompok untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas VII-G SMPN 1 Trenggalek / Anik Hidayati

 

Kata kunci: Pembelajaran berbasis masalah, investigasi kelompok, keterampilan proses, dan hasil belajar. Pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pemberian pengalaman belajar secara langsung, dengan kata lain metode pembelajaran dengan teacher-centered harus diubah menjadi student-centered. Tujuannya agar siswa mampu berpikir kritis dan kreatif serta lebih peka menghadapi masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. KTSP menekankan pembelajaran IPA di sekolah harus mampu mengarahkan siswa untuk berpikir, diterapkan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry). Tujuannya agar siswa mampu berpikir, bekerja, dan bersikap serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup (life skill). Standar isi memuat keharusan bagi guru mampu menyusun silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara mandiri yang disesuaikan dengan keadaan pada tiap-tiap sekolah, hal ini menunjukkan bahwa sekolah harus mampu menjadikan lingkungannya sebagai media pembelajaran yang efektif bagi siswa. Di SMPN 1 Trenggalek siswa belum aktif, keterampilan proses belum dilatihkan dan hasil belajar kognitif di bawah KKM, sehingga penelitian ini ingin menerapkan pembelajaran berbasis masalah yang dipadu kooperatif investigasi kelompok untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar kognitif siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Pengumpulan data dilaksanakan mulai tanggal 19 April sampai 19 Mei 2010. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VII-G SMPN 1 Trenggalek yang berjumlah 25 siswa, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah dipadu kooperatif investigasi kelompok dapat meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar biologi siswa kelas VII-G SMPN 1 Trenggalek. Peningkatan keterampilan proses dengan kriteria baik sekali (BS) dan baik (B) dari siklus I sebanyak 18 siswa (72%) dan siklus II sebanyak 25 siswa (100%). Meningkatkan hasil belajar biologi siswa di kelas VII-G SMPN 1 Trenggalek, hal ini didasarkan pada peningkatan jumlah siswa yang tuntas belajar dari siklus I ke siklus II yaitu pada siklus I siswa yang tuntas belajar sebanyak 18 siswa (72%) dan pada siklus II sebanyak 23 siswa (92%). Rata-rata nilai hasil belajar kognitif siswa mengalami peningkatan 2,6% dari 76,4 di siklusI dan 79 pada siklus II. Penelitian ini menunjukkan respons positif dari siswa sebanyak 100% siswa menyatakan sangat setuju dan setuju pada 8 pernyataan pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dipadu kooperatif investigasi kelompok, dan 2 pernyataan siswa ragu-ragu yaitu pernyataan pembelajaran berbasis masalah dipadu kooperatif investigasi kelompok dapat membuat siswa memiliki kemauan tinggi untuk belajar sejumlah 8% siswa ragu-ragu, dan pernyataan penerapan pembelajaran berbasis masalah dipadu kooperatif investigasi kelompok dapat meningkatkan pemahaman 4% siswa yang ragu-ragu.

Pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan hasil belajar IPA di SMP Negeri 3 Tulungagung / Retno Winarni

 

Kata kunci: pembelajaran berdasarkan masalah, numbered heads together, hasil belajar Prestasi dan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA di SMP Negeri 3 Tulungagung masih rendah sehingga perlu adanya inovasi pembelajaran agar siswa menjadi lebih aktif dan meningkat hasil belajarnya. Penerapan pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT dalam penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Permasalahan yang dijawab dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimanakah implementasi pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, (2) bagaimanakah implementasi pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT dapat meningkatkan hasil belajar kognitif, (3) bagaimanakah implementasi pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT dapat meningkatkan hasil belajar afektif, dan (4) bagaimanakah respons siswa terhadap implementasi pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT dalam pembelajaran IPA. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap Perencanaan (Planning), Tindakan (Acting), Pengamatan (Observing), dan Refleksi (Reflecting). Tahap refleksi pada akhir siklus dilakukan untuk mengetahui perkembangan yang terjadi dan untuk menentukan strategi berikutnya dalam pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan ketercapaian aspek aktivitas belajar siswa sebesar 13.3% dari siklus I ke siklus II yaitu 82,2% pada siklus I meningkat menjadi 95,5% pada siklus II. Hasil belajar (nilai rata-rata) kognitif mengalami peningkatan sebesar 4,6 dari 78,5 pada siklus I menjadi 83,1 pada siklus II dan peningkatan ketuntasan belajar klasikal sebesar 9,1% dari 81,8% pada siklus I menjadi 90,9% pada siklus II. Rerata ketercapaian aspek afektif juga meningkat sebesar 4,4% dari 88,4% pada siklus I menjadi 92,8% pada siklus II. Implementasi pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT mendapatkan respons yang sangat baik dari siswa kelas VII 2 SMP Negeri 3 Tulungagung. Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah implementasi pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar. Pembelajaran berdasarkan masalah dipadu pembelajaran kooperatif NHT diharapkan dapat diterapkan oleh guru IPA untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Pengaruh environmental disclosure terhadap kepercayaan investor (studi pada perusahaan pertambangan dan industri perkayuan pemegang HPH dan HPHTI yang listing di BEI periode 2006-2008) / Vektor Hendrianto

 

Kata Kunci: Environmental Disclousure, Kepercayaan Investor Pada zaman sekarang isu lingkungan merupakan suatu indikator penting dalam kemajuan penting bagi kemajuan suatu perusahaan. Karena lingkungan sangat menentukan going concern suatu perusahaan karena disini akan menunjukan pertanggung jawaban perusahaan pada lingkungan eksternal perusahaan. Untuk mengetahui apakah ada pengaruhnya suatu pengungkapan lingkungan terhadap nilai suatu perusahaan salah satunya adalah dengan mengukur kepercayaan investor terhadap perusahaan hal ini dapat dilihat dari besarnya abnormal return suatu perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar pengaruh informasi pengungkapan lingkungan terhadap kepercayaan investor yang digambarkan dalam cumulative abnormal return (CAR). Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan pertambangan dan industri perkayuan pemegang HPH dan HPHTI yang terdaftar di BEI tahun 2006-2008, sehingga diperoleh sampel 14 perusahaan yang dipilih dengan purposive samping. Dengan pooled data didapatkan sebanyak 42 data observasi (14 x 3). Analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik dan uji hipotesis t secara parsial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh environmental disclousure terhadap kepercayaan investor. Hal ini terjadi mungkin karena masih belumnya ada kesedaran perusahaan-perusahaan di Indonesia akannya pentingnya pengungkapan lingkungan sehingga indikator ini kurang diperhatikan dalam pertimbangan menanamkan sahamnya. Saran yang dapat diberikan peneliti untuk penelitian selanjutnya adalah (1) memperluas sampel penelitian, misalnya memasukan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur karena masalah lingkungan pada jaman sekarang sangat mempengaruhi nilai suatu perusahaan.(2) menggunakan sumber lain selain annual report sebagai refrensi tambahan untuk memperoleh informasi mengenai lingkungan hidup perusahaan(3) menambahkan periode penelitian agar data dan hasil penelitian lebih akurat.

Pengaruh dimensi kualitas pelayanan terhadap loyalitas nasabah Bank Rakyat Indonesia di Nganjuk / Hanandhito Panji Prabowo

 

Kata Kunci : dimensi kualitas pelayanan, loyalitas nasabah Dengan persaingan yang begitu ketat saat ini, kualitas pelayanan mempunyai peranan yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pelayanan perbankan. Mempertahankan pelanggan menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan pelayanan khususnya perbankan yang bergerak dalam consumer bankmg. Kunci sukses di pasar persaingan perbankan bukan terletak pada bunga (harga) akan tetapi terletak pada distribusi pelayanan untuk menciptakan nasabah yang loyal dengan meretensi nasabahnya. Membuat nasabah tetap loyal adalah senjata utama yang harus dilakukan oleh suatu bank, bank harus bisa menciptakan loyaity tidak cukup hanya satisfaction, karena kepuasan bukanlah tujuan akhir. Perusahaan sebaiknya tidak boleh berhenti apabila telah memberikan kepuasan kepada nasabahnya, tetapi terus berupaya bagaimana menciptakan agar nasabah tersebut tidak berpindah ke besok lain dan nasabah menjadi semakin loyal. Penerapan Kualitas pelayanan yang baik akan dapat memuaskan nasabah dan pada akhirnya akan membuat nasabah loyal. Memiliki nasabah yang loyal merupakan aset dan kunci sukses sebuah bank karena dapat meningkatkan laba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh positif yang signifikan secara simultan dan parsial antara variabel bebas, yaitu dimensi kualitas pelayanan yang terdiri dari Keandalan (X1), Jaminan (X2), Bukti Fisik (X3), Empati (X4) Dan Cepat Tanggap (X5) terhadap variabel terikat, yaitu loyalitas nasabah (Y) pada Bank rakyat Indonesia di Nganjuk. Populasi pada penelitian ini adalah nasabah Bank Rakyat Indonesia di Nganjuk Roscoe dalam Sugiyono (1999) menyatakan bahwa dalam penelitian yang akan melakukan analisis dengan multivariate (korelasi atau regresi misalnya), maka jumlah anggota sampel minimal 10 kali dari jumlah variable yang diteliti. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 6 variabel x 20 = 120 responden. Teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah accidenial sampling di mana responden secara kebetulan bertemu dengan peneliti pada waktu melakukan transaksi pada Bank BRI di Nganjuk. Pengambilan data dilakukan dengan tehnik kuesioner. Penelitian N menggunakan analisis regresi linier berganda dengan uji hipotesis menggunakan uji t dan uji F menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,000 yang berarti koefisien regresi signifikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (I), Secara simultan ada pengaruh positif yang signifikan antara dimensi kualitas pelayanan yang terdiri dari Keandalan (X1), Jaminan (X2), Bukti Fisik (X3), Empati (X4) Dan Cepat Tanggap (X5) dengan loyalitas nasabah Pada Bank BRI di Nganjuk. Hal ini ditunjukkan dengan nilai sig F = 0,000. (2). Secara parsial ada pengaruh positif yang signifikan antara jaminan dan empati dengan loyalitas nasabah Pada Bank BRI di Nganjuk. Hal ini ditunjukkan dengan nilai sig t jaminan = 0,000, dan empati = 0,002. (3). Dimensi kualitas pelayanan mempunyai pengaruh terhadap loyalitas sebesar 26,7% sedangkan 73,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini (4). Variabel yang paling kuat mempengaruhi loyalitas nasabah pada Bank BRI di Nganjuk adalah jaminan yang ditunjukkan dengan nilai sumbangan efektif = 22,49%. Saran yang dapat peneliti berikan adalah sebagai berikut: (1) Diharapkan memperhatikan dan terus berupaya meningkatkan dimensi kualitas pelayanan khususnya keandalan, bukti fisik dan cepat tanggap. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif yang signifikan baik secara simultan maupun parsial terhadap loyalitas nasabahnya. (2) Diharapkan agar dimensi jaminan sebagai variabel yang berpengaruh dominan perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya mencapai loyalitas nasabah. Walaupun kualitas pelayanan Bank BRI di Nganjuk berada pada kategori baik, akan tetapi diperlukan adanya perbaikan terus-menerus untuk mempertahankan kemampuan dalam membuat nasabah menjadi loyal. Artinya nasabah benar-benar merasakan pelayanan yang diberikan Bank BRI di Nganjuk melebihi harapan mereka. (3) Disarankan agar dapat menggali variabel-variabel lain selain kualitas pelayanan yang dapat mempengaruhi loyalitas nasabah. Karena dalam penelitian ini menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,267 berarti bahwa kualitas pelayanan berpengaruh sebesar 26,7% terhadap loyalitas nasabah, sedangkan 73,3% dipengaruhi oleh faktor atau variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel-variabel tersebut contohnya brand image atau citra bank yang bersangkutan, bauran pemasaran, atribut produk, promosi dan beberapa variabel lain yang dapat mempengaruhi loyalitas nasabah.

Pengaruh DAR (debt to asset ratio) dan DER (debt to equity ratio) terhadap return saham melalui profitabilitas (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI periode 2006-2009) / Ika Fithriana

 

Kata Kunci: Debt to Asset Ratio, Debt to Equity Ratio, Return On Equity, Return Saham Dalam kondisi yang tidak menentu sekarang ini, banyak perusahaan yang sulit untuk bertahan. Oleh karena itu dituntut ke hati-hatian bagi semua pelaku usaha berkaitan dengan segala kebijakan yang diambil perusahaan. Kemampuan atau kinerja suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangan, yang dapat diukur dengan menggunakan rasio. Rasio tersebut antara lain rasio DAR, DER dan ROE yang akan mengukur seberapa besar hutang dari perusahaan jika dibandingkan dengan aktiva yang dimiliki dan laba yang diperoleh perusahaan dari modal yang ada. Dengan melihat kinerja dari perusahaan tersebut, investor akan menilai bagaimana posisi perusahaan dan akan menganalisa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk memberikan return kepada investor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel DAR, DER, ROE, terhadap return saham. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui fungsi variabel ROE sebagai moderator atau mediator dalam pengaruh profitabilitas terhadap return saham.Dalam penelitian ini return saham diukur dengan membandingkan selisih harga saham periode t dengan harga saham periode t-1 dengan harga saham peride t-1, Debt to Asset Ratio diukur dengan membandingkan total utang dengan total aktiva, Debt to Equity Ratio diukur dengan membandingkan total hutang dengan total modal sendiri, dan Return On Equity yang diukur dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan manufaktur yang listing di BEI pada tahun 2006-2009 sebanyak seratus empat puluh satu (141) perusahaan. Dengan menggunakan metode purposive sampling diperoleh sampel penelitian adalah berjumlah 9 perusahaan. Analisis data yang digunakan adalah Analisis jalur yang dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.00 for Windows, dengan tingkat signifikansi10%. Uji analisis digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh langsung, tidak langsung dan pengaruh total antara variabel DAR dan DER, terhadap return saham melalui ROE. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DAR dan DER tidak memiliki pengaruh terhadap ROE. Sedangkan terhadap return saham, hanya variabel ROE yang secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah kriteria sampel, menggunakan variabel lainnya, memperpanjang periode penelitian, serta diharapkan menggunakan uji multikolinearitas dalam pengujian asumsi klasik. Para investor juga diharapkan melakukan analisis kinerja keuangan perusahaan dalam melakukan investasi.

Pengembangan media pembelajaran geografi dengan aplikasi program Microsoft Office Publisher pada mata pelajaran geografi kelas X di SMA Negeri 7 Malang untuk topik perkembangan jagatraya dan pembentukan bumi / Antis Rizqiyyah Raihan Diniy

 

Kata kunci: media pembelajaran, microsoft office publisher, perkembangan jagat raya, pembentukan bumi. Topik perkembangan jagat raya dan pembentukan bumi merupakan materi yang diajarkan pada mata pelajaran geografi kelas X semester 1. Kajian dalam materi tersebut mengenai jagat raya, tata surya, proses terjadinya bumi, serta perkembangan bentuk muka bumi. Materi tersebut mendapatkan porsi cukup banyak dibandingkan dengan materi lainnya, sehingga memerlukan visualisasi agar memudahkan siswa mengetahui proses terjadinya bumi dan sistem tata surya. Pengembangan media menggunakan aplikasi microsoft office publisher ini akan membawa objek nyata ke dalam kelas. Sesuai dengan latar belakang, masalah pada penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: karena topik perkembangan jagat raya dan pembentukan bumi memerlukan visualisasi untuk memudahkan siswa mengetahui proses terjadinya bumi dan sistem tata surya, maka diperlukan pengembangan media pembelajaran yang dapat mengintegrasikan antara teks, gambar, animasi, audio dan video untuk mata pelajaran geografi pada topik perkembangan jagat raya dan pembentukan bumi. Pengembangan media pembelajaran dengan menggunakan aplikasi program microsoft office publisher ini mengikuti beberapa tahapan yaitu: (1) Tahap analisis materi, (2) Tahap pengembangan sinopsis, (3) Tahap penyusunan story board, (4) Tahap produksi media yang meliputi produksi, editing media dan prototipe media, (5) Tahap validasi produk yang meliputi validasi media dan validasi materi, (6) Tahap uji coba produk, dan (7) Tahap revisi media. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam validasi dan ujicoba media berupa angket. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yang dianalisis dengan persentase. Produk yang dihasilkan adalah media pembelajaran dengan menggunakan aplikasi program microsoft office publisher untuk materi perkembangan jagat raya dan pembentukan bumi yang dikemas dalam bentuk compact disk (CD). Media pembelajaran ini mampu mengintegrasikan teks, audio, gambar, animasi dan video. Hasil uji coba pada siswa memperoleh nilai 87% yang menunjukkan bahwa media yang dirancang layak digunakan sebagai media pembelajaran. Melalui angket ini diketahui bahwa media pembelajaran ini dapat menarik minat siswa untuk mempelajari materi pekembangan jagat raya dan pembentukan bumi, meningkatkan kemudahan siswa dalam memahami materi, meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari materi serta memberikan pengetahuan dan pengalaman baru kepada siswa. Pada akhirnya pemanfaatan dan penggunaan media ini diharapkan dapat menunjang efektifitas, efisiensi dan daya tarik dalam pembelajaran.

Faktor pembentuk mutu modal manusia, modal sosial dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan rumah tangga keluarga (studi pada rumah tangga petani, nelayan, dan pedagang di pedesaan dan perkotaan di Sumatera Barat) / Yulhendri

 

Kata Kunci : Kesejahteran Keluarga, Modal Manusia, Modal Sosial, Intensitas Merantau, Motivasi Belajar Fenomena sosial dan ekonomi terlihat diantara rumah tangga terdapat perbedaan tingkat kesejahteraan. Sebagian rumah tangga keluarga terlihat sejahtera dengan pendapatan yang tinggi namun sebagian lain masih banyak yang miskin dan memiliki penghasilan yang rendah. Keahlian dan koneksi yang banyak diyakini sebagai penentu tingkat produktivitas dan pendapatan seseorang.. Tujuan penelitian ini akan menjelaskan, menguraikan tentang faktor-faktor pembentukan mutu modal manusia, dan modal sosial pengaruhnya terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga keluarga. Disamping itu penelitian ini juga ingin menguraikan tentang perbedaan perilaku rumah tangga petani, nelayan dan pedagang dalam membangun mutu modal manusia dan modal sosial tersebut. Tidak hanya itu, penelitian ini juga akan melihat perbedaan proses pembentukan mutu modal manusia, dan modal sosial dan pengaruhnya terhadap kesejahteraan rumah tangga antara rumah tangga yang tinggal dipedesaan dan perkotaan. Jumlah sampel sebesar 156 rumah tangga, dan memenuhi syarat 147 kasus (cases). Pemilihan responden dilakukan dengan multi stage random sampling pada daerah tingkat ekonomi tinggi, menengah dan rendah. Responden adalah kepala rumah tangga petani, nelayan dan pedagang di Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Padang dan Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat. Pendekatan penelitian menggunakan data kuantitatif dan dianalisis menggunakan struktural aquational model (SEM). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Tingkat kesejahteraan rumah tangga secara langsung dipengaruhi oleh mutu modal manusia. Sementara itu tingkat pendidikan dan modal sosial tidak memiliki pengaruh secara langsung terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga. (2) Mutu modal manusia dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan motivasi belajar kepala rumah tangga. Sementara itu intensitas merantau tidak memiliki pengaruh secara langsung dalam pembentukan mutu modal manusia rumah tangga keluarga (3) Mutu modal Sosial rumah tangga dipengaruhi oleh motivasi belajar kepala rumah tangga. Sementara itu intensitas merantau dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga tidak memiliki pengaruh langsung dalam pembentukan mutu modal sosial rumah tangga. (4) Hasil analisis yang dilakukan menemukan tidak ada perbedaan antara tingkat kesejahteran, mutu modal manusia dan modal sosial, intensitas merantau, tingkat pendidikan dan motivasi belajar antara rumah tangga yang tinggal di desa dan di kota di Sumatera Barat. (5) Perilaku rumah tangga dalam intensitas merantau, bersekolah, dan motivasi belajar tidak jauh berbeda antara petani, nelayan dan pedagang dalam pembentukan mutu modal manusia dan modal sosial dan tingkat kesejahteraan. Namun ada sedikit perbedaan dalam hal: 1) tingkat kepercayaan antara rumah tangga pedagang dengan nelayan, 2), kasih sayang antara rumah tangga pedagang dengan petani dan 3) rasa aman antara pedagang dan petani.. Disarankan berdasarkan temuan penelitian ini: (1) Kepala rumah tangga memberikan alokasi dana yang cukup untuk menyekolahkan anak mereka lebih lama, mengikuti kursus pendidikan keterampilan yang lebih banyak, dan tentu saja memberikan motivasi ekstrinsik kepada anak (2) Pemerintah, perlu meningkatkan akses anak pada lembaga pendidikan formal dan lembaga pelatihan. Sebaiknya dimasa mendatang lebih banyak anak memiliki kemampuan pada kecakapan teknik, pada usaha untuk memproduksi barang dan jasa, dan kemampuan wirausaha. Untuk mengantisipasi banyaknya anak usia sekolah yang melakukan merantau (rural urban migration) sebaiknya di desa bangun infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekonomi pedesaan dan diiringi dengan peningkatan kapasitas dan pelayanan pendidikan non formal dan informal pada jenis keterampilan kecakapan hidup (life skills). (3) Penelitian lanjutan, perlu mengamati rumah tangga dirantau, dan proses pengembangan bisnis orang minang dirantau. Dalam konteks modal Sosial disarankan untuk fakus pada unit analisis perusahaan. Disamping itu diperlukan kajian yang bersifat kualitatif untuk menggali data lebih mendalam sehingga dengan demikian pengkajiannya akan lebih mendalam dan memberikan makna yang lebih besar

Nilai-nilai demokrasi dalam pemilihan kepala adat masyarakat suku Tengger di Kecamatan Sukapura (Desa Ngadisari, Desa Wonotoro, Desa Jetak) Kabupaten Probolinggo / Viki Hamzah

 

Kata Kunci: Nilai Demokrasi, Pemilihan Kepala Adat, Masyarakat Tengger Pada masyarakat tradisional atau adat, pemimpin memperoleh kekuasaannya dikarenakan mewarisi jabatan pimpinan dari orang tuanya. Hal ini menjadi dasar kepercayaan masyarakat bahwasanya pewarisan tahta kekuasaan harus diwariskan kepada seseorang yang memiliki garis keturunan dari pemimpin sebelumnya. Pemerintahan yang turun-temurun inilah yang menjadi kebiasaan masyarakat untuk menentukan pemimpin berdasarkan sistem kekerabatan. Dalam kehidupan masyarakat Tengger otoritas kepemilikan tahta kekuasaan, selain melalui proses pewarisan kekuasaan yang didasarkan atas garis keturunan, kekuasaan juga dapat diperoleh dengan cara demokrasi melalui musyawarah oleh masyarakat dengan syarat-syarat yang harus ditempuh calon pemimpin adat untuk menjadi pemimpin adat. Penelitian ini bertujuan: (1) Mendeskripsikan latar belakang pemilihan kepala adat bagi masyarakat Tengger, (2) Mendeskripsikan mekanisme pemilihan kepala adat masyarakat Tengger, (3) Mendeskripsikan nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam pemilihan kepala adat masyarakat Tengger, (4) Mendeskripsikan kendala yang dialami dalam proses pemilihan kepala adat masyarakat Tengger, (5) Mendeskripsikan partisipasi masyarakat Tengger dalam pengambilan kebijakan pemerintahan adat Tengger. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yaitu suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap suatu organisasi, lembaga atau gejala tertentu. Subjek penelitiaanya adalah kepala adat, dukun adat dan masyarakat Tengger yang memiliki pengetahuan tentang adat Tengger. Adapun tahapan pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) latar belakang pemilihan kepala ada masyarakat Tengger dilaksanakan karena: kepala adat yang lama telah berakhir masa jabatannya yang dikarenakan meninggal dunia atau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepala adat, (2) masyarakat Tengger yang ingin menjadi kepala adat harus menjadi dukun adat terlebih dahulu dan untuk menjadi dukun, masyarakat Tengger harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu: a). Harus memiliki kepribadian yang baik b). Harus menghafal mantera-mantera, c) harus sudah berkeluarga, d). Harus berasal dari masyarakat Tengger (tidak harus berasal dari keturunan dukun terdahulu), e). Diajukan oleh masyarakat, f). Mengikuti Mulunen, g) bersih diri. Pemilihan kepala adat dilaksanakan melalui musyawarah, (3) nilai-nilai demokrasi yang diterapkan dalam proses pengajuan dukun adalah adanya musyawarah untuk mufakat, kebebasan mengeluarkan pendapat, menghargai pendapat orang lain, sedangkan nilai-nilai demokrasi yang diterapkan dalam pemihan kepala adat adalah pemilihan dilaksanakan dengan musyawarah mufakat, kebebasan mengeluarkan pendapat, menghargai pendapat orang lain, sikap saling percaya, (4) kendala yang dialami dalam proses pengajuan dukun adat yaitu di saat 30 hari sebelum Mulunen apabila ada orang yang meninggal di desa setempat, maka calon dukun adat yang berasal dari desa setempat dan akan mengikuti ujian pada mulunen tidak boleh mengikuti ujian karena dianggap desa tersebut belum bersih dari (perilaku, sifat) masyarakat yang tidak baik, (5) Keterlibatan masyarakat Tengger dilakukan melalui musyawarah desa yang dipimpin oleh dukun adat desa dan difasilitasi oleh pemerintahan desa, aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat Tengger akan diakomodir oleh dukun adat desa tersebut selanjutnya akan dibawa dan dibahas dalam Paruman Dukun untuk dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan oleh kepala adat Tengger. Dari hasil penelitian ini saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi masyarakat Tengger hendaknya benar-benar mengajukan calon dukun yang memiliki pemahaman yang lebih tentang adat Tengger, sehingga nantinya apabila sudah menjadi dukun adat tidak hanya bisa memimpin upacara adat saja tetapi juga memberikan pemahaman tentang adat Tengger kepada masyarakat, (2) Bagi kepala adat maupun dukun adat di masing-masing desa hendaknya memberikan pembelajaran bagi generasi muda tentang cara-cara pelaksanaan upacara adat, sehingga apabila dukun adat sudah berhalangan tetap maka ada generasi muda yang akan melanjutkannya dalam memimpin upacara adat dengan terlebih dahulu mengikuti mulunen, (3) Bagi pengurus paruman dukun hendaknya membuat peraturan yang legal yang didasari kesepakatan seluruh dukun dan perwakilan masyarakat Tengger tentang mekanisme pemilihan kepala adat sehingga pelaksanaan pemilihan kepala adat tidak didasarkan pada situasi dan kondisi tertentu, (4) Bagi pengurus paruman dukun hendaknya melibatkan masyarakat Tengger di masing-masing desa untuk aktif dalam kegiatan melestarikan adat Tengger maupun dalam pengkaderan generasi dukun adat Tengger yang akan datang, (5) Bagi perangkat desa yang ada di wilayah Tengger hendaknya memberikan pembelajaran bagi pelaksanaan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan masyarakat dengan melibatkan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan desa yang ada kaitannya dengan pelaksanaan nilai-nilai demokrasi.

Visualisasi penerapan persamaan diferensial linear orde dua pada osilator harmonis linear / Yudha Bahtiar Putra Satya

 

Kata Kunci: Persamaan Diferesensial Orde II, Osilator Harmonis, Mathematica5.1 Persamaan diferensial merupakan suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa turunan dari suatu fungsi yang tidak diketahui. Persamaan diferesensial terdiri dari persamaan diferesensial orde I, persamaan diferesensial orde II atau lebih tinggi. Persamaan diferesensial orde lebih tinggi adalah persamaan yang menggunakan lebih dari satu kali operasi diferesensial. Untuk memudahkan penelusuran solusi atas persamaan diferensial orde II dapat dibantu dengan menggunakan software Mathematica5.1 . Selain itu, perangkat ini juga dapat menampilkan grafik hasil penghitungan pada kasus tertentu. Osilator harmonis merupakan salah satu topik utama dalam fisika. Persamaan gerak osilator harmonis linear berupa persamaan diferensal orde II linear, meskipun solusi analitiknya dapat diselesaikan secara eksak, namun kerumitannya cukup tinggi terutama untuk kasus osilator harmonis teredam dan terpaksa. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana memvisualisasikan gerak osilator harmonis sederhana, gerak osilator harmonis teredam, dan gerak osilator harmonis terpaksa sebagai aplikasi persamaan diferensial linear orde dua. Setelah dilakukan visualisasi persamaan diferensial linear orde dua pada osilator harmonis linear dengan program Mathematica 5.1, maka didapatkan hasil sebagai berikut: (1) Visualisasi solusi gerak osilator harmonis linear sederhana sebagai penerapan persamaan diferensial linear orde dua homogen, memberikan hasil posisi awal hanya mempengaruhi amplitudo dan arah jika posisi awal bernilai negatif ( berlawanan arah jika posisi awal positif ). Sedangkan benda akan melewati titik kesetimbangan (x = 0) pada saat yang sama untuk semua nilai awal, (2) Visualisasi solusi gerak osilator harmonis linear teredam sebagai penerapan persamaan diferensial linear orde dua homogen menunjukkan bahwa pentingnya nilai kondisi awal dalam menghasilkan gerak. Dalam kasus posisi awal bernilai negatif, tetapi kecepatan awal bernilai positif menyebabkan fungsi menjadi positif dan akhirnya menuju nol, dan (3) Visualisasi solusi gerak osilator harmonis linear terpaksa sebagai penerapan persamaan diferensial linear orde dua tak homogen dipengaruhi oleh jenis fungsi dan nilai fungsi dari gaya luar atau gaya pemaksa.

Analisis hasil belajar menurut kebiasaan dan pemanfatan waktu belajar siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri Malang / Rindhitya Lutfiyanti

 

Kata Kunci: Kebiasaan Belajar, Pemanfaatan Waktu Belajar, Hasil Belajar Kebiasaan belajar merupakan perilaku siswa dalam proses belajar secara tetap, teratur dan berkesinambungan dari waktu ke waktu dan pada akhirnya menjadi ciri dari seorang siswa melalui proses belajar yang bersifat tetap. Pemanfaatan waktu belajar adalah suatu perbuatan belajar dengan menggunakan waktu yang tepat yang dapat dilihat dari banyaknya waktu belajar setiap kali belajar, pembagian waktu belajar dan penggunaan waktu luang. Hasil belajar adalah hasil belajar siswa dalam bentuk nilai ujian tengah semester yang diperoleh siswa setelah mengalami proses belajar. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisis hubungan kebiasaan belajar dengan hasil belajar siswa SMA Laboratorium UM. Untuk mengetahui dan menganalisis hubungan pemanfaatan waktu belajar dengan hasil belajar siswa SMA Laboratorium UM. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional yang dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis Chi Square. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 57 responden dari total populasi sebanyak 135 siswa kelas XI IS SMA Laboratorium UM. Kesimpulan kebiasaan belajar di SMA Laboratorium UM yang selalu dan sering dilakukan adalah kebiasaan mengikuti pelajaran dan menghadapi ujian. Pemanfaatan waktu belajar yang tinggi adalah penggunaan waktu luang, selanjutnya banyaknya waktu belajar siswa untuk belajar lebih dari 60 menit setiap kali belajar dan pengaturan waktu belajar lebih dimanfaatkan untuk belajar pada waktu malam hari. Kebiasaan dan pemanfaatan waktu belajar dengan hasil belajar masing-masing variabel kebiasaan dengan hasil belajar dan pemanfaatan waktu belajar dengan hasil belajar memiliki hubungan yang signifikan ditunjukkan dari hasil analisis Chi Square. Semakin siswa memiliki perilaku yang ditunjukkan dalam kebiasaan dan pemanfaatan waktu belajar maka siswa tersebut akan memperoleh hasil belajar yang baik. Saran dalam penelitian ini adalah guru dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar dengan cara meningkatkan perilaku kebiasaan belajar yang baik dan memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk belajar dengan baik. Siswa hendaknya meningkatkan kebiasaan belajar yang baik terutama kebiasaan dalam belajar kelompok dan kebiasaan belajar mandiri. Siswa hendaknya memanfaatkan waktu luang untuk belajar. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan menambah instrumen dan teknik pengumpulan data agar hasil pengamatan penelitian dapat mengukur dengan lebih rinci mengenai kebiasaan dan pemanfaatan waktu belajar dan menambah sub variabel dan indikator agar hasil dapat lebih baik memaparkan dengan lebih detail sesuai subjek dan objek yang diteliti.

Analisis makna simbolik dan fungsi pada upacara pernikahan suku Talang Mamak, Desa Talang Perigi, Kecamatan Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu, Riau / Uswatun Hasanah

 

Kata Kunci: upacara pernikahan suku Talang Mamak, makna simbolik, fungsi. Suku Talang Mamak merupakan suku terasing yang hidup di pedalaman Ka¬bupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Upacara pernikahan suku Talang Mamak me¬miliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan suku-suku lain yang ada di Riau, se¬perti suku Sakai, suku Hutan atau suku Asli, suku Akit, suku Laut, suku Bonai, suku Melayu, suku Delik, dan suku Dayun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik dan fungsi yang terdapat pada upacara pernikahan suku Talang Mamak. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan bagi pemerintah dalam usaha melestarikan kebudayaan daerah serta menambah wawasan dan pengetahuan yang lebih mendalam tentang upacara pernikahan suku Talang Mamak khususnya dan upacara pernikahan pada umumnya. Selain itu, penelitian ini diharapkan berdampak positif bagi generasi muda untuk tetap melestarikan dengan cara menerapkan tradisi yang selama ini berlaku. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian diperoleh dari rekaman dan hasil wawancara. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara terarah dengan narasumber. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotik dan sosial budaya masyara¬kat. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manu¬sia,yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data dilakukan kegiatan trianggu¬lasi data. Analisis data dilakukan dengan cara mentranskripsi hasil rekaman, kemudi¬an memilah-milah data berdasarkan kelompoknya yang relevan dengan penelitian. Selanjutnya membandingkan antara catatan, pengamatan, dan rekaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam upacara pernikahan suku Talang Mamak terdapat makna-makna simbolik yang ada pada peralatan dan bahan¬bahan upacara, tempat dan pelaksanaan upacara. Selain itu upacara pernikahan juga memiliki fungsi bagi suku Talang Mamak yaitu sebagai sistem proyeksi masyarakat, mempertebal rasa solidaritas antar sesama, alat pendidikan, alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial dan agama, alat pengesahan dan pelestarian kebudayaan, upaya untuk melestarikan keturunan, hiburan, dan fungsi upacara pernikahan dalam bidang ekonomi di masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut misalnya meneliti secara lebih mendetail tentang fungsi dan makna pada mantra-mantra atau doa pada upacara pernikahan suku Talang Mamak. Selain itu pe¬nelitian tentang nilai-nilai yang terkandung pada pernikahan suku Talang Mamak per¬lu dikaji lebih lanjut guna melengkapi penelitian sebelumnya.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe problem posing untuk meningkatkan keterampilan bertanya dan prestasi belajar fisika pada siswa kelas VIIIF SMPN 1 Pandaan tahun pelajaran 2009-2010 / Eny Hariati

 

Kata Kunci: Peningkatan, Keterampilan Bertanya, Prestasi Belajar, Kooperatif Tipe Problem Posing Berdasarkan hasil observasi di kelas VIIIF SMPN 1 Pandaan diperoleh data bahwa pola pembelajaran yang diterapkan di kelas lebih didominasi oleh pembelajaran konvensional. Siswa masih menggantungkan penjelasan dari guru (teacher center), siswa cenderung pasif karena mereka hanya menerima materi dan latihan soal dari guru, belum dapat belajar dengan kemauan sendiri karena mereka hanya menunggu perintah guru. Keterampilan siswa dalam mengajukan pendapat dan masalah masih rendah. Prestasi belajar siswa kelas VIIIF masih tergolong rendah atau belum memenuhi KKM 70, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas rapor tengah semester genap untuk pelajaran fisika hanya mencapai rata-rata 60,66. Jumlah siswa yang memenuhi KKM hanya mencapai 10% dari 36 siswa. Solusi pemecahan masalah tersebut diterapkan pembela¬jaran Kooperatif Tipe Problem Posing. Permasalahan yang timbul dalam lapangan meliputi proses pembelajaran, keterampilan bertanya, dan prestasi belajar. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan keterlaksanaan penerapan pembela¬¬jaran Kooperatif Tipe Problem Posing dalam meningkatkan keterampilan bertanya dan prestasi belajar fisika pada siswa kelas VIIIF SMPN 1 Pandaan tahun pelajaran 2009-2010, 2) mengetahui peningkatan keterampilan bertanya pada siswa kelas VIIIF SMP Negeri 1 Pandaan tahun pelajaran 2009-2010 3) mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa kelas VIIIF SMPN 1 Pandaan tahun pelajaran 2009-2010. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), penelitian ini dilakukan sebanyak 2 siklus. Instrument yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi: 1) lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, 2) lembar Problem Posing untuk mengukur keterampilan bertanya, 3) soal tes untuk mengukur prestasi belajar fisika, dan 4) angket respons untuk mengetahui respons siswa terhadap pembelajaran Kooperatif Tipe Problem Posing. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa persentase keterlaksanaan pembelajaran Kooperatif Tipe Problem Posing mengalami peningkatkan dari siklus I mencapai 84,83% dan siklus II mencapai 93,70%. Persentase keterampilan bertanya siswa meningkat, pada siklus I mencapai 61,79% dan siklus II 66,98%. Prestasi belajar fisika juga meningkat, pada siklus I mencapai nilai rata-rata kelas 66,57 dan siklus II 71,43 dan ketuntasan klasikal 60% dari jumlah siswa. Berdasarkan data di atas diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran Kooperatif Tipe Problem Posing dapat meningkatkan keterampilan bertanya dan prestasi belajar Fisika pada siswa kelas VIIIF SMPN 1 Pandaan tahun pelajaran 2009-2010. Saran yang perlu disampaikan antara lain: 1) pembelajaran Kooperatif Tipe Problem Posing jika diterapkan pada kelas yang memiliki kemampuan rendah, hendaknya guru terlebih dahulu melakukan sosialisasi langkah-langkah pembelajaran kepada siswa sebelum proses pembelajaran dimulai, 2) guru hendaknya mempertimbangkan pembagian tugas pada masing-masing kelompok pada saat presentasi karena terbatasnya waktu, 3) guru hendaknya memberi contoh membuat soal pada siswa, 4) guru hendaknya memberi tugas pada siswa untuk membaca lebih dahulu materi yang akan dipelajari di kelas agar pada saat proses pembelajaran, siswa dapat lebih aktif dan kreatif dalam membuat soal dan mendiskusikan jawabannya.

Peningkatan interaksi sosial dan hasil belajar siswa melalui penerapan model numbered heads together (NHT) dengan menggunakan program adobe flash sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII di SMPN Negeri 1 Singosari / Eny Widyawati

 

Kata Kunci: Interaksi sosial, hasil belajar, numbered heads together (NHT), adobe flash Berdasarkan pengalaman PPL peneliti di SMP Negeri 1 Singosari, dapat diketahui bahwa, penggunaan model dan media pembelajaran sebagai penunjang kegiatan pembelajaran di kelas masih kurang optimal, serta kurangnya pengetahuan guru dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis komputer. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan penelitian, peneliti akan berkolaborasi dengan guru kelasVIII SMP Negeri 1 Singosari untuk melaksanakan observasi awal. Hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa kelas yang digunakan observasi memiliki masalah dalam pembelajaran, masalah tersebut dapat dilihat pada model pembelajaran yang dilaksanakan dikelas kurang maksimal yang mengakibatkan masih banyak siswa yang kurang berinteraksi dan hanya diam saja pada saat pembelajaran berlangsung. Selain itu, hasil belajar siswa kelas VIII khususnya pada mata pelajaran Ekonomi belum mencapai KKM yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan program Adobe Flash sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan interaksi sosial dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi kelas VIII di SMP Negeri 1 Singosari. (2) penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan program Adobe Flash sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan interaksi sosial siswa pada mata pelajaran Ekonomi kelas VIII di SMP Negeri 1 Singosari. (3) penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan program Adobe Flash sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi kelas VIII di SMP Negeri 1 Singosari. (4) respons siswa terhadap pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan program Adobe Flash sebagai media pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan selama 2 siklus pada siswa RSBI kelas VIII-A SMP Negeri 1 Singosari. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes, pengamat partisipan, catatan lapangan, angket dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, display data, dan verifikasi data. Dari hasil analisis data diketahui bahwa aspek-aspek interaksi sosial mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar aspek kognitif menunjukkan bahwa dalam siklus I pada saat post-test siswa yang tuntas belajar sebanyak 62,5% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 37,5%. Pada siklus I siswa belum dapat mencapai ketuntasan secara klasikal karena secara keseluruhan siswa yang tuntas belajar belum mencapai 85%. Dalam siklus II pada saat post-test siswa yang tuntas belajar sebanyak 87,5% dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 12,5%. Pada siklus II ini siswa dapat mencapai ketuntasan secara klasikal karena secara keseluruhan siswa yang tuntas belajar lebih dari 85%. Dengan demikian hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penerapan model Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan program Adobe Flash sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan interaksi sosial dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ekonomi kelas VIII di SMP Negeri 1 Singosari. Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang diberikan adalah: (1) Bagi guru disarankan untuk mencoba menerapkan pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan program Adobe Flash sebagai media pembelajaran karena dari respon siswa, diperoleh data bahwa siswa senang dengan pembelajaran tersebut sehingga diharapkan dapat memvariasi cara guru dalam mengajar sehingga siswa tidak bosan. (2) Bagi peserta didik untuk lebih meningkatkan keberaniannya dalam mengajukan pertanyaan dan jawaban, karena semakin aktif siswa berinteraksi dalam pembelajaran maka hasil yang diperoleh akan semakin baik. (3) Bagi peneliti berikutnya diharapkan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan pembelajaran dengan model yang sama pada mata pelajaran yang sama/beda namun pada lokasi yang berbeda untuk mengembangkan dan menerapkan pembelajaran model Numbered Heads Together (NHT) dengan menggunakan program Adobe Flash sebagai media pembelajaran.

Pengaruh pemanfaatan media berbasis TIK sebagai sumber belajar ekonomi terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Ilmu Sosial SMAN 2 Blitar / Yoyok Agung Suharso

 

Kata Kunci :Teknologi Informasi dan Komunikasi, Internet, e-book dan audio visual, Prestasi belajar siswa. Pendidikan merupakan salah satu hal penting yang turut menentukan nasib sebuah bangsa. Dengan kualitas pendidikan yang baik maka akan terbentuk generasi bangsa yang cerdas dan berkompeten di bidangnya. Bidang pendidikan selalu melakukan perbaikan dan pengembangan sarana maupun prasarana sekolah, demi terselenggarakannya proses belajar yang nyaman, efektif dan efisien. Media berbasisTeknologi informasi dan komunikasi (TIK) berperan sebagai sarana yang dapat dipakai untuk menyampaikan proses pembelajaran. Dalam penelitian ini teknologi menggunakan 3 bentuk yaitu internet, e-book dan audio visual. internet adalah salah satu media berbasis teknologi informasi dengan jaringan internasional yang dapat memudahkan siswa dalam belajar dari informasi yang ada di internet, khususnya dibidang ekonomi. Sedangkan e-book adalah salah satu bentuk buku berbentuk software yang dalam pengadaannya tidak perlu berbentuk hard copy. Dan audio visual merupakan sarana media berupa video pembelajaran dengan menggunakan bantuan LCD untuk dapat ditampilkan berupa bentuk gambar dan suara. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui pemanfaatan media berbasis TIK sebagai sumber belajar pada siswa kelas XI Ilmu Sosial SMAN 2 Blitar, khususnya pada mata pelajaran ekonomi. (2) Mengetahui pengaruh pemanfaatan media berbasis TIK sebagai sumber belajar ekonomi siswa kelas XI Ilmu Sosial SMAN 2 Blitar. (3) Mengetahui persepsi tentang pemanfaatan media berbasis TIK sebagai sumber belajar ekonomi siswa kelas XI Ilmu Sosial SMAN 2 Blitar. Penelitian ini menggunakan penelitian sampel dari jumlah keseluruhan siswa kelas XI Ilmu Sosial SMAN 2 Blitar. instrumen yang digunakan adalah angket dan prestasi belajar siswa dalam bentuk ulangan harian dan UTS. Data dianalisis dengan teknik prosentase, korelasi dan regresi sederhana dengan bantuan software komputer SPSS 16.0 for Windows. Berdasarkan analisis data dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh tingkat pemanfaatan media berbasis TIK (internet,e-book dan audio visual) terhadap prestasi belajar siswa kelas XI Ilmu Sosial SMAN 2 Blitar. Dengan koefisien korelasi terdapat hubungan antara pemanfaatan media berbasis TIK (internet, e-book dan audio visual) terhadap hasil belajar siswa kelas XI Ilmu Sosial SMAN 2 Blitar sebesar 0,247 atau 24,7%.

Pengaruh kadar air dalam adonan mortar terhadap kuat tekan mortar pada campuran 1 kapur : 1 semen : 3 pasir
oleh Suprayitno

 

Keefektifan kalimat dalam teks laporan hasil observasi siswa kelas X IPS 2 SMA Negeri 1 Garum / Johan Susanto

 

Susanto, Johan. 2014. Keefektifan Kalimat Dalam Teks Laporan Hasil Observasi Siswa Kelas X IPS 2 SMAN 01 Garum . Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Roekhan, M. Pd. Kata Kunci: kalimat efektif, teks laporan hasil observasi. Laporan adalah suatu cara komunikasi dimana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Karakteristik laporan yakni teks yang bertujuan memberikan pengetahuan atau informasi sejelas-jelasnya kepada pembaca. Karakteristik lainnya dari suatu laporan adalah dipenuhinya teks itu dengan fakta. Berdasarkan paparan di atas, laporan hasil observasi memiliki dua ciri sebagai berikut: (1) menyajikan fakta-fakta tentang peristiwa, tempat, benda, dan orang. (2) menambahkan pengetahuan dan wawasan kepada pembacanya. Fakta-fakta itu biasanya bisa didukung dengan gambar, tabel maupun bagan yang memperkuat fakta tersebut agar lebih memperjelas dan mudah dipahami. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh deskripsi yang objektif tentang keefektifan kalimat dalam teks laporan hasil observasi yang ditulis siswa berdasarkan (1) ciri kegramatikalan, (2) kelogisan, (3) ciri kelengkapan kalimat, (4) ciri kehematan kalimat, dan (5) ciri kepaduan kalimat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan disusun dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah teks laporan hasil observasi yang ditulis siswa kelas X IPS II SMAN 01 Garum tahun pelajaran 2013–2014. Pengumpulan data dilakukan dengan memberi perintah soal menulis teks laporan hasil observasi pada siswa. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan struktural dan makna. Data yang terkumpul berupa kalimat yang terdapat dalam teks laporan hasil observasi pekerjaan siswa dianalisis melalui tiga tahap, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan simpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan ketekunan pengamatan dan diskusi dengan teman sejawat. Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, keefektifan kalimat berdasarkan ciri kegramatikalan kalimat dalam teks laporan hasil observasi yang dikerjakan siswa terdiri atas kalimat efektif dan kalimat tidak efektif. Kalimat efektif ditandai dengan hadirnya unsur subjek dan predikat kalimat. Kalimat tidak efektif ditemukan pada kalimat yang tidak menghadirkan unsur subjek dan predikat kalimat. Kalimat efektif ditemukan sebanyak 58 kalimat (75%) dan kalimat tidak efektif sebanyak 19 kalimat (25%). Kedua, keefektifan kalimat berdasarkan ciri kelogisan kalimat dalam teks laporan hasil observasi yang dikerjakan siswa terdiri atas kalimat efektif dan kalimat tidak efektif. Kalimat efektif ditandai dengan sudah logisnya hubungan antar unsur-unsur kalimat. Kalimat yang tidak efektif ditemukan pada kalimat yang menggunakan kata bermakna tidak logis dan tidak hadirnya unsur subjek. Kalimat efektif ditemukan sebanyak 72 kalimat (93%) dan kalimat tidak efektif sebanyak 5 kalimat (7%). Ketiga, keefektifan kalimat berdasarkan ciri kelengkapan kalimat dalam teks laporan hasil observasi yang dikerjakan siswa terdiri atas kalimat efektif dan kalimat tidak efektif. Kalimat efektif ditandai dengan sudah hadirnya unsur wajib kalimat, yaitu subjek dan predikat. Kalimat tidak efektif ditandai dengan tidak hadirnya unsur wajib Subjek pada kalimat. Kalimat efektif ditemukan sebanyak 72 kalimat (93%) dan kalimat tidak efektif sebanyak 5 kalimat (7%). Keempat, keefektifan kalimat berdasarkan ciri kehematan kalimat dalam teks laporan hasil observasi yang dikerjakan siswa terdiri atas kalimat efektif dan kalimat tidak efektif. Kalimat efektif ditandai dengan tidak adanya pengulangan subjek dalam satu kalimat, sedangkan kalimat yang tidak efektif ditemukan pada kalimat yang mengulang unsur makna yang jamak dalam satu kalimat. Kalimat efektif ditemukan sebanyak 54 kalimat (70%) dan kalimat tidak efektif sebanyak 23 kalimat (30%). Kelima, keefektifan kalimat berdasarkan ciri kepaduan kalimat dalam teks laporan hasil observasi yang dikerjakan siswa terdiri atas kalimat efektif dan kalimat tidak efektif. Kalimat efektif dapat ditandai dengan subjek dan predikat kalimat jelas tidak terganggu unsur keterangan atau unsur lain. Kalimat tidak efektif disebabkan karena subjek dan predikat kalimat tidak jelas karena terganggu unsur keterangan atau unsur lain dan tidak adanya tanda koma (,) setelah keterangan di awal kalimat. Kalimat efektif ditemukan sebanyak 64 kalimat (83%) dan kalimat tidak efektif sebanyak 13 kalimat (17%). Saran dalam penelitian ini disampaikan kepada: pertama, peneliti bahasa yang lain. Peneliti bahasa yang lain disarankan supaya dapat menggali lebih dalam tentang kebahasaan, khususnya bidang sintaksis dan semantik yang berkaitan dengan keefektifan kalimat. Penelitian selanjutnya yang bisa dilakukan, misalnya penelitian yang mengangkat permasalahan tentang kalimat efektif pada karya tulis ilmiah yang dikerjakan siswa. Kedua, saran ditujukan kepada guru bidang studi Bahasa Indonesia. Guru bidang studi bahasa Indonesia disarankan supaya hasil penelitian ini bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan sumber belajar, khususnya yang berkaitan dengan keterampilan menulis pada Kurikulum 2013. Berdasarkan hasil penelitian, keefektifan kalimat dalam teks laporan hasil observasi yang dikerjakan siswa beberapa menggunakan kalimat tidak gramatikal, tidak logis, tidak lengkap, tidak hemat dan tidak padu, sehingga kalimat tersebut menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, dalam mengajarkan materi tentang menulis, khususnya yang berkaitan dengan menulis kalimat efektif dalam teks laporan hasil observasi agar lebih mencermati strukturnya maupun makna. Hasil penelitian ini juga bisa dijadikan bahan evaluasi bagi guru bidang studi Bahasa Indonesia. Evaluasi yang dimaksud berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menulis kalimat yang efektif. Hal ini karena dalam teks laporan hasil observasi yang dikerjakan siswa ditemukan kalimat yang tidak gramatikal, tidak logis, tidak lengkap, tidak hemat maupun tidak padu. Oleh karena itu, ketika menilai karya siswa yang berupa teks laporan hasil observasi, hendaknya lebih diteliti kegramatikalan, kelogisan, kehematan, kelengkapan dan kepaduan kalimat yang digunakan. Jadi, guru bisa langsung memberikan masukan, saran, dan penguatan materi, khususnya yang berkaitan dengan menulis kalimat yang efektif kepada siswa.

Pengaruh kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan melalui kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2007-2009 / Zuliya Rohma

 

Kata Kunci: Kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan dividen, nilai perusahaan Tujuan utama manajer keuangan perusahaan adalah untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemegang saham mempercayakan pengelolaan perusahaan kepada manajer keuangan. Kenyataannya manajer perusahaan sering mempunyai tujuan lain yang tidak selalu memaksimumkan kemakmuran pemegang saham, melainkan mementingkan kesejahteraan mereka. Hal ini dapat menimbulkan adanya konflik keagenan yang menyebabkan dikeluarkan biaya untuk mengurangi konflik tersebut. Biaya keagenan ini dapat dikurangi dengan meningkatkan kepemilikan manajerial, peningkatan DPR, meningkatkan pendanaan dengan utang dan institusional investor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan secara langsung maupun tidak langsung melalui kebijakan dividen. Penelitian ini berjenis penelitian korelatif kausalitas. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2007-2009. Dengan teknik purposive sampling diperoleh sampel sejumlah 10 perusahaan. Data yang digunakan adalah data sekunder, berupa laporan keuangan yang dipublikasikan pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan www.idx.co.id. Analisis data yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Analisis data didukung dengan penggunaan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kepemilikan manajerial berpengaruh secara langsung terhadap nilai perusahaan tetapi tidak berpengaruh secara tidak langsung melalui kebijakan dividen (2) Kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui kebijakan dividen (3) Kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional secara simultan berpengaruh terhadap kebijakan dividen (4) kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan kebijakan dividen secara simultan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan pada perusahaan untuk memperhatikan besarnya komposisi kepemilikan saham manajerial. Bagi investor dalam menanamkan modalnya, investor hendaknya tidak hanya memperhatikan besar kecilnya dividen yang dibagikan akan tetapijuga memperhatikan perataan laba, risiko investasi dll. Sedangkan untuk peneliti lebih lanjut yaitu disarankan untuk menambah sampel dengan karakteristik perusahaan yang lebih homogen, jumlah sampel yang lebih banyak, serta periode pengamatan yang lebih lama untuk mendapatkan hasil yang representatif.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 |