Pengaruh hasil nilai ujian akhir nasional (UAN) SMP dan minat baca terhadap hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi (studi kasus pada SMA Negeri 6 Malang) / Umi Fatwah Triarini

 

Kata Kunci Hasil Nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) SMP, Minat Baca, Hasil Belajar. Ujian Akhir Nasional (UAN) merupakan evaluasi belajar yang dilakukan akhir tahun pelajaran kelas akhir pada jenjang sekolah tertentu untuk mata pelajaran yang telah ditentukan dan diselenggarakan secara nasional. Ujian Akhir Nasional berfungsi sebagai salah satu alat untuk mengevaluasi keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar, yang akan memberikan dampak secara tidak langsung kepada sekolah, untuk menyandang predikat sekolah yang unggul atau tidak. Sedangkan minat baca merupakan suatu rasa ketertarikan untuk dapat melihat serta memahami isi dari apa yang ditulis, baik secara lisan atau hanya dalam hati yang kemudian diterapkan guru dalam metode mengajar dengan mewajibkan siswa membaca buku pelajaran sebelum diajarkan dan dibahas dalam kelas. Dengan adanya hasil nilai ujian akhir nasional dan minat baca yang tinggi akan mempengaruhi hasil belajar yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh hasil Nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) SMP terhadap hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 6 Malang. (2) pengaruh minat baca terhadap hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 6 Malang. (3) pengaruh hasil nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) siswa dan minat baca terhadap hasil belajar kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 6 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersampel 57 siswa kelas X SMA Negeri 6 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket/kuesioner dan dokumentasi. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi berganda menggunakan SPPS 16.0 diperoleh t hitung pada variabel hasil Nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) SMP (X1) sebesar 5,810 dengan signifikansi 0.000. maka t hitung lebih dari t tabel (5,810 > 2,004) dan besarnya probabilitas (Sig.) 0,000 kurang dari 0,05. Sehingga H0 ditolak dan koefisien regresi signifikan.Sedangkan t hitung pada variabel minat baca (X2) sebesar 3,649 dengan signifikansi 0,001. maka t hitung lebih dari t tabel (3,649 > 2,004) dan besarnya probabilitas (Sig.) 0,001 kurang dari 0,05. Sehingga H0 ditolak dan koefisien regresi signifikan. Dari data Anova diketahui F hitung 71,241 dengan signifikansi 0,000. oleh karena probabilitas (0,000) lebih kecil dari 0,05 atau 0,000 < 0,05 dan Fhitung lebih dari Ftabel (71,241 > 3,18) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Dari hasil analisis diketahui bahwa sekitar 73% hasil belajar ekonomi dipengaruhi oleh hasil nilai ujuan akhir nasional (UAN) SMP dan minat baca, sedangkan 27% dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel hasil nilai ujuan akhir nasional (UAN) SMP dan minat baca yang tidak dikaji dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang diberikan adalah: (1) Bagi pihak sekolah hendaknya juga ikut berpartisipasi dalam menjaga mutu pendidikan terutama tingkat prestasi para anak didiknya dengan cara meningkatkan kualitas guru pengajar dan meningkatkan sarana dan prasarana sekolah yang dibutuhkan untuk keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. Dan juga turut aktif dalam kesuksesan penyelenggaraan UAN. Bagi siswa yang hasil belajarnya kurang diharapkan selalu berusaha meningkatkan hasil belajar melalui cara belajar yang lebih efektif dan efisien sedangkan yang sudah tinggi hendaknya dipertahankan. Bagi peneliti selanjutnya untuk melengkapi hasil penelitian ini perlu mengadakan penelitian kembali untuk sampel yang lebih luas lagi dan menghubungkan variabel lain di luar variabel dalam penelitian ini.

Pengaruh kecerdasan emosi kebiasaan belajar dan kondisi sosial ekonomi keluarga terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Turen pada mata pelajaran ekonomi / Shella Rizqi Amelia

 

Kata Kunci: Kecerdasan emosi, kebiasaan belajar, kondisi sosial ekonomi dan hasil belajar Kecerdasan emosi merupakan suatu kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan perasaannya untuk dapat memandu pikiran dan tindakannya. Sedangkan kebiasaan belajar merupakan pembiasaan belajar yang dilakukan siswa. Kondisi sosial ekonomi keluarga banyak menentukan perkembangan dan pendidikan anak karena kebutuhan belajar anak memang memerlukan dana. Jadi ketika kecerdasan emosi menggambarkan perilaku setiap individu, kebiasaan belajar memberikan perbaikan dalam belajar, dan kondisi sosial ekonomi orang tua semakin mendukung pemenuhan kebutuhan belajar siswa, maka pencapaian hasil belajar siswa diharapkan dapat maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial dan simultan variabel kecerdasan emosi, kebiasaan belajar dan kondisi sosial ekonomi keluarga terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Turen pada mata pelajaran ekonomi. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Turen dengan sampel 55 siswa dari kelas tersebut sebagai responden. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik angket dan dokumentasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Dengan menggunakan analisis regresi melalui SPSS 16.0 diperoleh hasil thitung > ttabel untuk tiap-tiap variabel yaitu 3,296 > 2,006 untuk variabel kecerdasan emosi, 3,095 > 2,006 untuk variabel kebiasaan belajar dan 4,377 > 2,006 untuk kondisi sosial ekonomi. Dari hasil analisis diketahui pula bahwa sekitar 87,7 % hasil belajar ekonomi dipengaruhi oleh variabel kecerdasan emosi, kebiasaan belajar dan kondisi sosial ekonomi keluarga. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dan simultan variabel kecerdasan emosi, kebiasaan belajar dan kondisi sosial ekonomi terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Turen pada mata pelajaran ekonomi. Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang diberikan adalah: (1) diharapkan guru mengetahui bagaimana cara menghadapi siswa yang memiliki kecerdasan emosi, kebiasaan belajar dan juga latar belakang keluarga yang berbeda . (2) bagi siswa diharapkan untuk terus belajar dengan baik serta dapat menjaga kestabilan emosi dengan baik agar dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. (3) Untuk penelitian selanjutnya yang melakukan penelitian dengan topik yang sama diharapkan dapat mengambil populasi yang lebih besar dari populasi penelitian ini dan dapat dilakukan di tempat/jenjang pendidikan yang berbeda. Sehingga hasil penelitian nantinya dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam proses belajar mengajar.

Penerapan metode peta pikiran (mind mapping) untuk meningkatkan hasil belajar mata pelajaran IPS ekonomi siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung / Luky Pratama Sari

 

Kata Kunci : Metode Peta Pikiran (Mind Mapping), Pembelajaran Konvensional (ceramah dan tanya jawab), Hasil Belajar Siswa Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara terus-menerus dilaksanakan. Pada saat ini pemerintah sedang memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam pembelajaran menurut KTSP guru dituntut untuk menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan bagi siswa dan mampu mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Mengacu pada pertanyaan pembelajaran yang menyenangkan dan mengaktifkan siswa, maka metode Peta Pikiran (Mind Mapping) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pemecahannya. Peta pikiran dapat mendorong siswa untuk mencapai keberhasilan belajar melalui kegiatan belajar bersama dalam kelompok–kelompok kecil. Siswa akan merasa nyaman jika belajar dengan teman sebayanya. Metode peta pikiran juga dapat mengembangkan kemampuan berfikir kreatif siswa karena metode pembelajaran ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berlatih mengemukakan pendapat atau pertanyaan ketika tahap diskusi kelompok maupun diskusi kelas yang sedang berlangsung. Berbagai ide-ide orisinil siswa dapat dituangkan dalam bentuk peta pikiran sebagai hasil nyata dari tindak kreatif siswa. Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui penerapan metode peta pikiran (mind mapping) pada mata pelajaran IPS Ekonomi di SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung. (2) Untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode peta pikiran (mind mapping) lebih baik daripada siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran IPS Ekonomi di SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung dari bulan Oktober sampai November 2010, yang menjadi subjek penelitian adalah kelas VIIIG sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIIH sebagai kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diberi perlakuan dengan menggunakan metode peta pikiran (Mind Mapping), sedangkan pada kelas kontrol diberi perlakuan dengan menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah dan tanya jawab). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu. Teknik pengumpulan data melalui tes (pre test dan post test). Data dianalisis dalam penelitian ini adalah data hasil belajar. Analisis data hasil belajar dilakukan dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji-t Setelah kedua kelas diberi perlakuan berbeda, maka dilakukan pengujian hipotesis penelitian dengan uji-t terhadap nilai gain value sebagai hasil belajar siswa. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen yang menggunakan metode peta pikiran (Mind Mapping) dan kelas control yang menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah dan tanya jawab), hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, maka disimpulkan bahwa hasil belajar aspek kognitif pada saat tes kemampuan akhir (post test) yang diajar dengan menggunakan metode peta pikiran (Mind Mapping) lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran IPS Ekonomi kelas VIII di SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung. Saran yang dapat peneliti sampaikan antara lain (1) Peneliti seharusnya lebih mengefisienkan waktu untuk mengoptimalkan hasil penelitian.(2) Bagi siswa SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung khususnya kelas VIII yang terlibat dalam penelitian ini sebaiknya menggunakan metode peta pikiran (Mind Mapping).(3) Bagi guru mata pelajaran IPS Ekonomi di SMP Negeri 1 Boyolangu Tulungagung pada khususnya para guru IPS Ekonomi di sekolah lain pada umumnya disarankan untuk menerapkan pembelajaran dengan menggunakan metode peta pikiran (Mind Mapping) sebagai salah satu alternatif metode pembelajaran di dalam kelas. (4) Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan peningkatan, dan memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah pada mata pelajaran IPS Ekonomi.(5) Penellitian ini mungkin terdapat ketidaksempurnaan oleh karena itu bagi peneliti lain diharapkan lebih menyempurnakan penelitian ini.

Hubungan motivasi dan minat kerja dengan kesiapan kerja siswa Program Keahlian Otomotif di SMK Kota Malang / Hariyanto

 

Program Studi Pendidikan Kejuruan PPs Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Syarif Suhartadi, M.Pd., (II) Drs. Andoko, M.T. Kata kunci: Motivasi, Minat, Kesiapan Kerja, SMK Produk dari SMK, berupa lulusan tidak semuanya dapat disalurkan ke dunia kerja. Salah satu faktor penyebab lulusan SMK masih menganggur adalah tingkat kesiapan kerjanya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 8,39 persen atau 9,39 juta orang dari total angkatan kerja. oleh sebab itu penulis ingin mengungkap bagaimana kesiapan kerja siswa SMK program keahlian otomotif di Kota Malang, hubungan motivasi memasuki dunia kerja dan minat kerja dengan tingkat kesiapan kerja, serta kontribusi motivasi memasuki dunia kerja dan minat kerja terhadap kesiapan kerjanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) Motivasi memasuki dunia kerja, minat kerja dan tingkat kesiapan kerja siswa SMK program keahlian otomotif di kota Malang, (2). Hubungan antara motivasi memasuki dunia kerja dan minat kerja dengan tingkat kesiapan kerja siswa SMK program keahlian otomotif di kota Malang, (3). Kontribusi secara simultan antara motivasi memasuki dunia kerja dan minat kerja dengan tingkat kesiapan kerja siswa SMK program keahlian otomotif di kota Malang dan (4). Kontribusi secara parsial antara motivasi memasuki dunia kerja dan minat kerja dengan tingkat kesiapan kerja siswa SMK program keahlian otomotif di kota Malang. Objek penelitian adalah Siswa pada SMK Program keahlian otomotif di Kota Malang, baik negeri maupun swasta tahun pelajaran 2009/2010. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan penelitian korelasional. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, korelasi Pearson Product Moment, dan regresi linear ganda. Hasil penelitian mengungkap bahwa: (1) analisis diskriptif menunjukan motivasi kerja mempunyai rata-rata (mean) 3,82, dengan kategori tinggi. Minat kerja mempunyai rata-rata (mean) 3,85, dengan kategori tinggi, sedangkan Kesiapan kerja mempunyai rata-rata (mean) 3,81, dengan kategori tinggi (2) analisis korelasi menunjukan hubungan yang positif dan signifikan dengan hasil sebagai berikut: motivasi kerja dengan kesiapan kerja memiliki nilai korelasi sebesar (r = 0,646) antara Minat kerja dengan kesiapan kerja memiliki nilai korelasi sebesar (r = 0,468). (3) motivasi memasuki dunia kerja dan minat kerja secara simultan mempunyai kontribusi terhadap kesiapan kerja sebesar 46,3%, sedang sisanya sebesar 53,7% dipengaruhi oleh variable lain diluar model dan (4) Motivasi memasuki dunia kerja dan Minat kerja secara parsial mempunyai kontribusi signifikan terhadap kesiapan kerja, t hitung untuk motivasi memasuki dunia kerja sebesar 10,931, sedang t hitung untuk minat kerja sebesar 4,700. Artinya, kesiapan kerja siswa untuk memasuki dunia pekerjaan dipengaruhi oleh faktor motivasi serta minat siswa tersebut terhadap pekerjaan yang akan digeluti nantinya.

Analisa peranan sektor pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Malang tahun 2007-2009 / Dewi Kurniawati

 

Kata kunci : Sektor Pariwisata, tenaga kerja, PDRB Salah satu sektor yang berperan dalam pembangunan di Indonesia sekaligus memberikan kontribusi yang cukup besar baik dalam hal perolehan devisa maupun penciptaan kesempatan kerja adalah sektor pariwisata. Sektor pariwisata merupakan salah satu instrumen yang sangat efektif dalam upaya mendorong pembangunan daerah, pemberdayaan masyarakat serta menanggulangi kemiskinan. Sektor pariwisata diyakini merupakan salah satu sektor yang mampu berperan untuk mewujudkan tujuan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan sektor pariwisata di kabupaten Malang, untuk mengetahui peranan sektor pariwisata terhadap penyerapan tenaga kerja di kabupaten Malang dan untuk menganalisa strategi sektoral yang tepat guna mengembangkan sektor pariwisata yang ada untuk mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi kabupaten Malang. Penelitian ini dilakukan di kabupaten Malang dengan data tahun 2007 – 2009. Analisis yang digunakan adalah analisis tipologi klassen untuk mengetahui peranan sektor pariwisata dalam penyerapan tenaga kerja dilihat dari PDRB dan analisis SWOT untuk mencari faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam proses perkembangan pariwisata kabupaten Malang dan menentukan strategi yang tepat untuk mengembangkannya. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perkembangan pariwisata kabupaten Malang masih tergolong taraf nasional, sektor pariwisata tidak terlalu besar peranannya dalam penyerapan tenaga kerja karena sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja di kabupaten Malang adalah sektor industri pengolahan dan proses perkembangannya masih didominasi oleh faktor kelemahan dan hambatan sehingga strategi yang tepat adalah strategi defensif. Berdasar hasil penelitian dapat disarankan dengan memasukkan objek wisata di kabupaten Malang ke dalam event – event atau festival kebudayaan dan diharapkan status kepariwisataan di Kabubaten Malang dapat meningkat ke taraf internasional, membentuk usaha – usaha wisata baru yang dapat menarik wisatawan dan menciptakan lapangan usaha baru, mengadakan promosi dan memperbanyak usaha wisata dan memperbaiki sarana dan prasarana pendukung wisata khususnya di daerah terpencil.

Pengaruh struktur kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, struktur modal dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan dividen (studi pada perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007-2009) / Azhardini Fathinah H.

 

Kata kunci: kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, struktur modal, ukuran perusahaan dan kebijakan dividen Tujuan perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan melalui implementasi keputusan keuangan yang terdiri dari keputusan investasi, keuangan dan kebijakan dividen. Ketiga keputusan keuangan tersebut saling terkait satu dengan yang lainnya atau terjadi interdependensi. Berdasarkan proses pencapaian tujuan memaksimalkan nilai perusahaan akan muncul perbedaan kepentingan di antara manajer dan pemegang saham sebagai pemilik perusahaan, disebut sebagai agency conflict, dengan demikian maka secara eksplisit dapat dinyatakan bahwa karakteristik yang umum pada suatu struktur kepemilikan perusahaan dapat mempengaruhi pencapaian tujuan perusahaan dan berarti pula mempengaruhi keputusan keuangan yang terdiri dari keputusan investasi, keuangan dan kebijakan dividen. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, struktur modal dan ukuran perusahaan secara parsial dan simultan terhadap kebijakan dividen. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang listing di BEI tahun 2007-2009. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu perusahaan manufaktur yang memiliki kepemilikan manajerial, institusional,struktur modal, ukuran perusahaan dan membagikan dividen selama 3 tahun berturut-turut. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini sejalan dengan Bird in the Hand Theory, dimana para pemegang saham menginginkan adanya pembagian atau pembayaran dividen. Beberapa kelemahan dari penelitian ini, salah satunya tidak memperhitungkan variabel lain yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen, seperti ketersediaan kas, pajak, dsb. Dianjurkan untuk penelitian selanjutnya menggunakan faktor lain yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen, menggunakan sampel yang berbeda, menggunakan metode lain. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara simultan variabel kepemilikan manajerial,institusional,struktur modal dan ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Secara parsial variabel kepemilikan manajerial dan ukuran perusahaan tidak mempunyai pengaruh signifikan sedangkan variabel kepemilikan institusional dan struktur modal mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen

Meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar fisika dengan pendekatan pembelajaran penemuan (discovery) pada siswa kelas VIII-2 SMPN 3 Tulungagung / Tatik Kartikowati

 

Kata kunci: Keaktifan, Prestasi Belajar, Pendekatan Pembelajaran Penemuan (Discovery) Konsep pembelajaran IPA Fisika mengutamakan keaktifan siswa membangun pengetahuannya sendiri, membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang telah dimiliki, dan menggunakan semua pengetahuan atau pengalaman untuk belajar melalui perbedaan-perbedaan yang ada pada pengetahuan baru dan lama untuk mencapai pemahaman baru. Hal ini menunjukkan adanya perubahan dari paradigma behavioristik menjadi paradigma konstruktivistik. Paradigma konstruktivistik menekankan pada refleksi diri dan pembentukan pengetahuan yang memiliki konstribusi bagi perkembangan keterampilan-keterampilan berpikir untuk memecahkan masalah dengan menggunakan prinsip dan prosedur sains. Berdasarkan observasi di SMPN 3 Tulungagung khususnya di kelas VIII-2 menunjukkan guru masih menekankan pemberian materi pelajaran saja kurang memperhatikan proses bagaimana informasi tersebut diterima oleh siswa. Pembelajaran belum mengembangkan sikap, keterampilan berpikir, serta meningkatkan keterampilan motoriknya. Strategi pembelajaran yang digunakan guru tidak bervariasi, belum mengukur keterampilan berpikir dan meningkatkan keterampilan motoriknya. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, aktivitas siswa, dan aspek psikomotorik. Kemampuan kognitif diukur menggunakan tes yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan prestasi belajar pada konsep lensa dan optik dengan menerapkan pendekatan pembelajaran penemuan (Discovery). Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pelaksanaan pembelajaran yakni pada siklus I mencapai 69,54% dan pada siklus II mencapai 95,88%, keaktifan siswa meningkat pada siklus I mencapai 79,7% dan pada siklus II mencapai 84, 19% demikian juga prestasi belajar siswa yakni pada siklus I dicapai ketuntasan belajar siswa sebesar 54,00% dan pada siklus II mencapai 83,00% atau dengan rata-rata pada siklus I mencapai 72,83 dan pada siklus II mencapai 80,83. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan penemuan (Discovery) dapat meningkatkan mutu pembelajaran di kelas khususnya pada konsep Lensa dan Optik. Pendekatan pembelajaran penemuan (Discovery) memiliki kelebihan dan kekurangan, adapun kelebihannya (1) meningkatkan keaktifan, kreativitas, realistik dan menyenangkan. (2) meningkatkan rasa percaya diri pada siswa dan melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya. Sedangkan kekurangannya pada pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran penemuan (Discovery) ini adalah (1) memerlukan waktu yang relatif banyak dibandingkan dengan model ceramah, (2) memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang karena diperlukan naskah untuk dihayati siswa dan suasana yang menunjang, (3) memerlukan tingkat kreativitas guru yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan, (1) Guru bidang studi Fisika sejenis dapat menggunakan dan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran penemuan (Discovery) untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa, (2) Guru bidang studi IPA dapat mempelajari dan menerapkan tahap demi tahap pendekatan pembelajaran penemuan (Discovery) sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Hubungan antara persepsi guru terhadap SMM ISO 9001:2008 dan peran kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang / Setijono

 

Kata kunci: hubungan, persepsi, SMM ISO 9001:2008, kepemimpinan kepala sekolah, kinerja guru, SMKN 1 Singosari Kabupaten Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap seberapa besar hubungan persepsi guru terhadap SMM ISO 9001:2008 dan peran kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan asosiatif dengan teknik analisis korelasi produk momen, korelasi ganda dan analisis regresi linier ganda. Populasi yang menjadi obyek penelitian adalah 143 guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang dengan kategori 26 guru kelompok mata pelajaran normatif, 37 guru kelompok mata pelajaran adaptif dan 85 guru kelompok mata pelajaran produktif. Dengan berpedoman pada tabel Monogram Harry King, selanjutnya 103 guru dijadikan sebagai sampel penelitian yang diambil secara random dari populasi. Pengumpulan data penelitian sepenuhnya dilakukan dengan menggunakan angket. Sebelum angket disebar, peneliti melakukan uji instrumen kepada 30 guru yang tidak digunakan sebagai sampel penelitian. Uji tersebut dilakukan untuk memastikan bahwa tiap-tiap item instrumen yang digunakan telah memenuhi syarat validitas dan realibilitas sebagai alat ukur data penelitian. Uji validitas instrumen menggunakan analisa r product moment dari Pearson Correlation dan uji realibitas menggunakan analisa r product moment dari Spearman Brownn Correlation. Data yang terkumpul dari angket selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi produk momen, korelasi ganda dan analisis regresi linier ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi guru terhadap Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 dengan kinerja guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang dengan koefisien korelasi (r_(x1-y) ) sebesar 0,799. Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin tinggi intensitas pelaksanaan SMM ISO 9001: 2008 di SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang, maka semakin tinggi kinerja guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang, (2) ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang terhadap peran kepemimpinan kepala sekolah SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang dengan kinerja guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang dengan koefisien korelasi (r_(x2-y) ) sebesar 0,757. Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin tinggi intensitas peran kepemimpinan kepala sekolah SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang, maka semakin tinggi kinerja guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang, (3) Terdapat hubungan bersama positif yang signifikan antara persepsi guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang terhadap SMM ISO 9001:2008 dan persepsi guru terhadap peran kepemimpinan kepala sekolah SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang dengan kinerja guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang dengan koefisien korelasi (r_(x1.2-y) ) sebesar 0,726. Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin tinggi intensitas persepsi guru terhadap SMM ISO 9001:2008 dan persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang maka semakin tinggi tingkat kinerja guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan beberapa hal berikut: Pertama, untuk meningkatkan kinerja guru, intensitas persepsi guru SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang tentang SMM ISO 9001:2008 perlu ditingkatkan dengan melakukan sosialisasi tentang SMM ISO 9001:2008. Kedua, untuk memberdayakan guru meningkatkan kinerjanya, intensitas peran kepemimpinan kepala SMK Negeri 1 Singosari Kabupaten Malang sebagai motivator dan inspirator perlu ditingkatkan dengan mengadakan pembinaan secara berkala. Ketiga, dari kajian teoritis, kepala sekolah dapat memperoleh informasi dari hasil penelitian ini sebagai bahan untuk mengembangkan seni kepemimpinan kepala sekolah. Keempat, dari kajian teoritis, guru memperoleh informasi tentang pentingnya meningkatkan motivasi berprestasi agar dapat meningkatkan kinerjanya untuk menjadi guru yang profesional. Kelima, Departeman Pendidikan Nasional Kabupaten Malang diharapkan dapat menindaklanjuti dengan langkah-langkah strategis untuk mendorong pentingnya SMM ISO 9001:2008 dan peran kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru SMK Negeri I Singosari Kabupaten Malang. Keenam, dengan keterbatasan hasil penelitian ini, maka hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan untuk dimanfaatkan oleh peneliti lain dengan penelitian yang lebih luas.

Perbedaan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi informasi (TI) terhadap motivasi dan prestasi belajar fisika pada siswa SMK Negeri 1 Panji Kabupaten Situbondo / Paimin

 

Kata Kunci : media pembelajaran berbasis TI, motivasi, prestasi. Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA), Fisika adalah ilmu yang mempelajari tentang fenomena alam. Belajar fisika bukan hanya belajar menghafal rumus, belajar menghitung, atau belajar konsep, tetapi berusaha menumbuh kembangkan sikap, keterampilan berpikir melakukan metode penyelidikan dan percobaan dalam bidang fisika. Penelitian ini bertujuan untuk menguji adanya perbedaan prestasi dan motivasi siswa yang belajar dengan menggunakan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi (TI) dengan siswa yang belajar tanpa menggunakan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi (TI) pada SMK Negeri 1 Panji Kabupaten Situbondo. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi eksperimen. Rancangan penelitian ini menggunakan Pretes dan Postes dengan Kelompok Pengendali Tidak Diacak pada dua kelompok yaitu Kelompok I sebagai kelompok eksperimen yang belajar dengan menggunakan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi (TI) dan Kelompok II sebagai kelompok pembanding yang belajar dengan konvensional. Penentuan pengambilan kelompok eksperimen dan kelompok pembanding dilakukan secara random. Instrumen yang digunakan adalah soal tes yang diujicobakan dan dicari Validitas, Reabilitas, Tingkat Kesukaran, dan Daya Beda, dan dianalisis dengan statistik uji t. Hasil analisis uji prestasi diperoleh thitung sebesar 3.99, sedangkan ttabel sebesar 2.304 sehingga thitung > ttabel, Hasil analisis uji motivasi diperoleh thitung sebesar 7.55, sedangkan ttabel sebesar 2.304 sehingga thitung > ttabel. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan : terdapat perbedaan prestasi dan motivasi yang signifikan antara kelas yang belajar dengan penggunaan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi (TI) dengan kelas yang belajar tanpa dengan penggunaan media pembelajaran berbasis Teknologi Informasi (TI)

Pengaruh arus kas operasi, modal kerja bersih, dan laba per lembar saham terhadap abnormal return saham pada perusahaan LQ 45 tahun 2009 / Wisnu Wijaya

 

Kata kunci: abnormal return saham, arus kas operasi, modal kerja bersih, laba per lembar saham Investor dalam berinvestasi di pasar modal mempunyai berbagai tujuan yakni untuk mendapatkan return yang tinggi dengan tingkat risiko yang rendah atau berharap mendapatkan abnormal return dengan melihat efisiensi pasar modal. Dalam memperhitungkan return tersebut diperlukan analisis fundamental untuk menilai kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan dapat dinilai melalui analisis laporan keuangan berdasarkan informasi arus kas operasi, modal kerja bersih, dan laba per lembar saham. Informasi arus kas operasi dan modal kerja bersih dapat digunakan untuk mengetahui likuiditas perusahaan, sedangkan laba per lembar saham dapat digunakan untuk mengetahui profitabilitas perusahaan dilihat dari laba setiap lembarnya. Sehingga informasi tersebut apakah memiliki kandungan dalam mendapatkan abnormal return saham. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kondisi abnormal return saham, arus kas operasi, modal kerja bersih, dan laba per lembar saham perusahaan LQ 45 pada tahun 2009, (2) untuk mengetahui pengaruh arus kas operasi terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009, (3) untuk mengetahui pengaruh modal kerja bersih terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009, (4) untuk mengetahui pengaruh laba per lembar saham terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009, (5) dan untuk mengetahui pengaruh secara simultan arus kas operasi, modal kerja bersih, dan laba per lembar saham terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009. Penelitian ini bersifat kausalitas dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang tergabung dalam LQ 45 tahun 2009 selama 3 periode 6 bulanan pada Agustus 2008–Januari 2009, Februari 2009-Juli 2009, dan Agustus 2009-Januari 2010 sebanyak 56 perusahaan. Pengambilan sampel sebanyak 17 perusahaan yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) kondisi abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009 mengalami fluktuatif dengan kecenderungan menurun, kondisi arus kas operasi perusahaan cenderung meningkat tajam, kondisi modal kerja bersih mengalami fluktuatif dengan kecenderungan menurun, dan kondisi laba per lembar saham cenderung meningkat tajam, (2) tidak terdapat pengaruh signifikan arus kas operasi terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009, (3) tidak terdapat pengaruh signifikan modal kerja bersih terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009, (4) terdapat pengaruh negatif signifikan laba per lembar saham terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009, dan (5) terdapat pengaruh signifikan secara simultan arus kas operasi, modal kerja bersih, dan laba per lembar saham terhadap abnormal return saham perusahaan LQ 45 tahun 2009. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar investor memperhitungkan informasi laporan keuangan serta melihat kondisi ekonomi negara dalam memutuskan untuk berinvestasi di pasar modal. Bagi perusahaan LQ 45 diharapkan lebih memperhatikan nilai laba per lembar saham (EPS) perusahaan karena di antara arus kas operasi dan modal kerja bersih, hanya nilai laba per lembar saham yang berpengaruh signfikan terhadap abnormal return saham dengan pengaruh negatif. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah periode pengamatan, menambah sampel penelitian, memperdalam teori, dan menambah variabel lain dalam laporan keuangan yang tidak ada dalam penelitian agar hasil penelitian berikutnya lebih baik dari penelitian ini.

Penerapan pembelajaran berbasis modul pada mata pelajaran ekonomi bagi siswa kelas X SMA Negeri 4 Malang tahun pelajaran 2010/2011 / Pratidina Fitriani

 

Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Modul, Ekonomi, Hasil Belajar Pendidikan berperan penting dalam usaha pembentukan generasi penerus dan menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas sehingga dapat bersaing secara global. Pembaharuan di bidang pendidikan ini sebenarnya dimulai dari perubahan behaviorisme (aliran pendidikan) yang diwujudkan dengan pembelajaran yang bersifat teacher centered (berpusat pada guru) dengan pandangan konstruktivisme. Berkaitan dengan perubahan paradigma guru dalam proses belajar mengajar guru perlu menerapkan pembelajaran inovatif yang mampu dan memperkaya pengalaman belajar sehingga aktivitas siswa dalam belajar akan meningkat, akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran ekonomi. Salah satu usaha yang bisa dipakai guru untuk mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan pendekatan strategi pembelajaran berbasis modul. Pembelajaran modul termasuk salah satu sistem pembelajaran individual, sebab belajar dengan modul menuntut siswa untuk belajar mandiri. Tujuan utama pembelajaran modul adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran di sekolah, baik waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Malang. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X SMA Negeri 4 Malang Tahun Pelajaran 2010/2011, sedangkan sampelnya kelas X-1 sebagai kelas control dan kelas X-3 sebagai kelas eksperimen yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Jenis penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dengan pendekatan quasi eksperimental (eksperimen semu). Rancangan penelitian yang digunakan adalah nonrandomized control group pretest-posttest. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar aspek kognitif pada tes kemampuan akhir (post-test) antara kelas yang menggunakan pembelajaran berbasis modul, dengan kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional. Terbukti dari hasil uji-t yang menunjukkan thitung 2,211 > ttabel 2,021. Hal ini juga dibuktikan dengan nilai rata-rata kedua kelas pada saat tes kemampuan akhir (post-test). Rata-rata kelas X-3 (kelas eksperimen)yang diajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis modul lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas X-1 (kelas kontrol) yang menggunakan pembelajaran konvensional. Nilai rata-rata kelas siswa kelas X-1 (kelas kontrol) adalah 81,28sedanglan nilai rata-rata siswa kelas X-3 (kelas eksperimen) adalah 85,47. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan agar dalam mengajar guru hendaknya menggunakan modul untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar, siswa juga diharapkan memiliki kreatifitas yang tinggi sehingga modul yang dipelajari dapat diselesaikan tepat waktu, dan bagi peneliti lain disarankan untuk melakukan penlitian tentang penggunaan modul pada materi lain dan diharapkan hasil penelitian ini bisa dijadikan sebagai dasar pengembangan modul sesuai dengan mata pelajaran yang diberikan di sekolah-sekolah.

Pengaruh pendidikan budaya korporasi, kepuasan kerja dan loyalitas terhadap kinerja dosen di IKIP PGRI Bojonegoro / Eka Farida

 

Keywords: pendidikan budaya korporasi, kepuasan kerja, loyalitas, kinerja. Pendidikan budaya korporasi memiliki peranan penting untuk menilai kondisi interaksional antara masing-masing individu yang terlibat dalam proses kegiatan organisasi yang mampu memberikan dampak negatif terhadap menurunnya tingkat kepuasan kerja maupun loyalitas, sehingga secara otomatis berpengaruh terhadap kinerja. Penelitian ini dilaksanakan untuk meneliti kinerja dosen yang dipengaruhi oleh pendidikan budaya korporasi, kepuasan kerja, dan loyalitas. Tujuan penelitian ini adalah 1) ada atau tidaknya pengaruh langsung pendidikan budaya korporasi terhadap kinerja dan pengaruh tidak langsung melalui kepuasan kerja dosen; 2) ada atau tidaknya pengaruh langsung pendidikan budaya korporasi terhadap kinerja dan pengaruh tidak langsung melalui loyalitas dosen; dan 3) ada atau tidaknya pengaruh langsung kepuasan kerja terhadap kinerja dan pengaruh tidak langsung melalui loyalitas dosen di IKIP PGRI Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan rancangan hubungan kausal (cause-effect relationship) bersifat eksplanasi (explanatory) untuk menjawab pertanyaan di atas. Dalam hal ini, peneliti adalah sebagai instrumen utama. Data penelitian ini adalah penilaian yang diberikan oleh dosen atau responden. Dalam mengumpulkan data melalui penyebaran kuesioner. Dalam penelitian ini, sumber data, data, teori, dan metodologi diterapkan untuk mengecek keabsahan data. Teknik pengambilan sampel dari populasi menggunakan teknik sampel jenuh, dan analisis yang digunakan adalah deskriptif, jalur path analysis) dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan, 1) pendidikan budaya korporasi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja dosen; 2) pendidikan budaya korporasi berpengaruh positif signifikan terhadap kepuasan kerja dosen; 3) kepuasan kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja dosen; 4) pendidikan budaya korporasi berpengaruh positif signifikan terhadap loyalitas dosen; 5) loyalitas berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja dosen; dan 6) kepuasan kerja berpengaruh positif signifikan terhadap loyalitas dosen.

Pengaruh DPK, CAR dan ROA terhadap LDR melalui realisasi kredit pada bank umum konvensional yang listing di BEI tahun 2009 / Fatimatuz Zahro'

 

Kata Kunci: Dana Pihak Ketiga (DPK), Capital Adequacy Ratio (CAR), Return on Asset (ROA), Realisasi Kredit, Loan to Deposit Ratio (LDR) Pengeringan likuiditas akibat capital outflow menyebabkan pasokan dana perbankan mengalami penurunan. Adanya krisis kepercayaan antar bank yang ditandai dengan kurang optimalnya Pasar Uang Antar Bank (PUAB) menyeret dunia perbankan untuk berebut dana murah di masyarakat melalui perang suku bunga. Pertumbuhan dana simpanan (DPK) yang melambat disertai minimnya persepsi masyarakat akan kapasitas pemerintah dalam mengatasi permasalahan-permasalahan terkait menurunnya kinerja perbankan nasional, turut berkontribusi dalam penurunan kegiatan penyaluran kredit baik dari sisi permintaan dan penawaran. Kondisi ini tercermin dari tingginya nilai undisbursed loan yang menunjukkan keengganan masyarakat untuk memanfaatkan kredit akibat masih tingginya risiko sektor riil paska krisis global. Sisi pemenuhan permodalan sesuai regulasi yang ditetapkan (CAR) serta tingkat rentabilitas perbankan atas aktiva produktif (ROA) menunjukkan peningkatan seiring makin kompleksnya permasalahan perbankan yang terjadi. Ketidakoptimalan sisi funding dan lending perbankan akan menyebabkan menurunnya nilai LDR sebagai proksi fungsi intermediasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi penurunan nilai LDR diantaranya: masih rendahnya permintaan kredit masyarakat, kredit bermasalah yang tinggi, peraturan pemerintah terkait likuiditas ketat dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi DPK, CAR, ROA, realisasi kredit dan LDR pada bank umum yang listing di BEI tahun 2009 serta untuk menguji pengaruh langsung DPK, CAR dan ROA terhadap realisasi kredit, pengaruh langsung DPK, CAR, ROA dan realisasi kredit terhadap LDR, serta pengaruh tidak langsung DPK, CAR dan ROA terhadap LDR melalui realisasi kredit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif kausalitas dan teknik analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan menghasilkan 10 bank berdasarkan penguasaan aset perbankan nasional. Pemilihan kriteria tersebut mengacu pada prompt indicator agresivitas perbankan nasional dalam menghimpun dan menyalurkan dana untuk mendapatkan sampel yang representatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh secara langsung antara DPK, CAR dan ROA terhadap realisasi kredit; (2) terdapat pengaruh langsung antara DPK terhadap LDR; (3) tidak terdapat pengaruh langsung antara indeks CAR terhadap LDR; (4) tidak terdapat pengaruh langsung antara ROA terhadap LDR; (5) terdapat pengaruh langsung antara realisasi kredit terhadap LDR; dan (6) terdapat pengaruh tidak langsung antara DPK, CAR dan ROA terhadap LDR melalui realisasi kredit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa DPK dapat mempengaruhi LDR baik secara langsung maupun tidak langsung melalui realisasi kredit. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka disarankan agar dalam penelitian lebih lanjut dapat menambah variabel bebas seperti ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM), suku bunga kredit, penanaman Surat Berharga Sertifikat (SBI), kurs rupiah, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loans-NPLs), rasio hutang (Debt to Equity Ratio-DER) dan variabel lain yang mempengaruhi kinerja LDR. Selain itu hendaknya memperlebar rentang periode pengamatan dan menambah jumlah sampel serta menggunakan teknik analisis yang lain sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih baik.

Pelaksanaan pelayanan kepenasihatan akademik (studi kasus di Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang) / Wahyuni Indramaya

 

Kata Kunci : pelayanan, kepenasehatan akademik Pelaksanaan kepenasehatan akademik merupakan usaha atau upaya yang dilakukan dosen penasihat akademik dalam membantu menyelesaikan masalah akademik maupun non akademik mahasiswa namun di jurusan Bimbingan Konseling dan psikologi pelaksanaan kepenasihatan sebagian besar hanya dilaksanakan pada awal semester yaitu hanya penandatangan lembar KRS saja. Tujuan penelitian adalah (1) Mendeskripsikan pelaksanaan pelayanan kepenasehatan akademik (2) Mendeskripsikan pemaknaan kepenasehatan akademik menurut PA dan mahasiswa (3) memperoleh koneksitas faktor pendukung dan penghambat terhadap pelaksanaan pelayanan kepenasehatan akademik. Pendekatan penelitian yang digunakan kualitatif dengan ancangan studi kasus, subjek adalah dosen dan mahasiswa Bimbingan Konseling dan Psikologi. Teknik pengumpulan data menggunakan (1) wawancara, (2) observasi, dan (3) dokumentasi. Data yang diperoleh diorganisasikan, ditafsirkan, dan dianalis guna menyusun dan mengabstraksikan temuan lapangan. Keabsahan data diuji dengan (1) perpanjangan keikutsertaan (2) ketekunan pengamatan, dan (3) tehnik triangulasi. Subjek penelitian ini sebanyak 10 orang yaitu 4 dosen dan 6 mahasiswa. Hasil penelitian menujukan bahwa pelaksanaan pelayanan kepenasihatan dilaksanakan dengan fleksibel dan fungsional, waktu pelaksanaan secara rutin dan sewaktu-waktu, cara pelaksanaan secara langsung dan tidak langsung, jenis layanan yaitu layanan konseling, layanan informasi dan layanan konseling. Pemaknaan kepenasehatan menurut dosen adalah suatu upaya untuk membantu mahasiswa dalam menyelesaikan masalahnya secara akademik, sedangkan menurut mahasiswa kepenasehatan adalah suatu wadah untuk membantu mahasiswa dalam memecahkan masalah. Sikap dan komitmen dosen mempengarui pelaksanaan kepenasehatan, kebijakan jurusan dalam surat penugasan mempengarui komitmen dosen, keaktifan mahasiswa mempunyai hubungan dengan sikap dosen. Berdasarkan temuan penelitian dan pembahasan disaran bagi jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi hendaknya membuat kebijakan bahwa mahasiswa harus mendapat persetujuan dari dosen PA pada perancangan studi mata kuliah dan hendaknya menyiapkan format bimbingan. Bagi dosen hendaknya menyediakan waktu untuk kepenasihata dan diharapkan mengadakan pertemuan dengan mahasiswa bimbingannya secara berkala. Bagi mahasiswa hendaknya mahasiswa menemui dosen PA tidak hanya meminta tanda tangan dan diharapkan mahasiswa tidak enggan dan tidak malu untuk menemui dosen PA.

Identifikasi proses pengecoran aluminium skala home industry di pertamanan Pasuruan sebagai pembanding terhadap materi lab. pengecoran di Jurusan D3 Teknik Mesin Universitas Negeri Malang / Ahmad Jupri

 

Kata kunci: industri pengecoran, pembanding materi. Seorang pengajar profesional dituntut mampu mengajar dan melaksanakan kurikulum yang sudah ditetapkan. Pengajar bertugas mempersiapkan peserta didik menjadi tenaga terampil dan mampu bersaing di dunia kerja. Selain mengajar dan melaksanakan kurukulum, pengajar diharapkan mampu memberikan bekal kepada peserta didik agar sesuai terhadap kebutuhan dunia kerja. Sehingga ketika peserta didik terjun ke dunia kerja, sudah mempunyai bekal pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu sebagai seorang pengajar dituntut dapat mengikuti perkembangan dunia industri dengan mengidentifikasi jenis pekerjaan dan ketrampilan yang dibutuhkan yang ada agar lulusan perguruan tinggi selain dapat meneruskan pendidikannya dan juga siap untuk menjadi tenaga ahli pengajar yang profesional dibidangnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang proses produksi pengecoran logam alumunium di Home Industri Pengecoran Spare Part Otomotif di Keluruhan Pertamanan Pasuruan, mendeskripsikan kompetensi yang ada di Home Industri Pengecoran Spare Part Otomotif di Pertamanan Pasuruan sebagai bahan pembanding terhadap materi Lab Pengecoran di Jurusan D3 Teknik Mesin Universitas Negeri Malang. Penelitian ini dilakukan di Home Industri Pertamanan Pasuruan. Alasan pemilihan tempat ini karena home industri di pertamanan Pasuruan ini sudah terkenal dan produksi yang dihasilkan mempunyai kualitas bagus. Selain itu pemasaran produk ini sudah sampai ke luar pulau Jawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah pemilik home industri pengecoran spare part di Kelurahan Pertamanan Pasuruan dan karyawan. Lokasi penelitian ini dilakukan di home industri pengecoran spare part di Kelurahan Pertamanan Pasuruan. Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Prosedur analisis data yang dilakukan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, mengambil kesimpulan dan verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa (A) Proses produksi pengecoran logam alumunium di Home industry Pengecoran Spare Part Otomotif di Pertamanan Pasuruan adalah (1) pemilihan bahan baku, (2) peleburan, (3) penuangan ke dalam cetakan, (4) pembubutan dan pemotongan, (5) pemolesan, dan (6) finishing, (B) Kompetensi yang ada di Home industry Pengecoran Spare Part Otomotif di Pertamanan Pasuruan sebagai pembanding terhadap materi Lab pengecoran di Jurusan D3 Teknik Mesin Universitas Negeri Malang adalah (1) menggunakan cetakan dari logam, (2) mampu menggunakan dapur krusibel. Sedangkan kompetensi yang dibutuhkan di Industri Pengecoran spare part Pertamanan Pasuruan yaitu menggunakan dapur kowi. (3) Mata kuliah yang disajikan seyogyanya simultan agar mahasiswa D3 Program Studi Teknik Mesin tersebut mendapatkan kompetensi yang utuh. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan Kepada Industri Pengecoran spare part Pertamanan Pasuruan sebaiknya Industri Pengecoran ini memakai dapur kowi, Selain itu Home Industry ini juga harus memperhatikan kemampuan di bidang kognitif tidak hanya aspek psikomotorik dan afektif saja. Selain itu aspek keselamatan kerja juga harus diperhatikan.Untuk Jurusan Teknik Mesin pada mata kuliah Lab Pengecoran perlu ditambah penggunaan cetakan logam untuk meningkatkan kualitas hasil produksi. Selain itu, perlu ditambah penggunaan dengan dapur krusibel agar bahan bakar yang dipakai lebih hemat dan pengontrolan dan penambahan zat lebih mudah.Bagi tim pengembang kurikulum Universitas Negeri Malang harus mampu merespon dan mengikuti perkembangan industri di dunia kerja sehingga mahasiswa lulusan Universitas Negeri Malang mempunyai bekal yang cukup untuk terjun dalam masyarakat.

Penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together (NHT) untuk meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar siswa kelas X.1 mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 9 Malang / Ririk Andhika Riyandani

 

Kata Kunci: pembelajaran kooperatif, model numbered heads together, aktivitas kooperatif, dan hasil belajar. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi awal dapat diketahui bahwa saat pelaksanaan pembelajaran ekonomi di kelas berlangsung siswa cenderung kurang memperhatikan guru yang menyampaikan materi, siswa berbicara dengan teman sebangkunya, siswa kurang dapat bekerjasama dengan teman yang bukan teman akrabny. Selain itu guru cenderung menggunakan teknik ceramah dan pemberian tugas saat pembelajaran. Hal ini tidak sesuai dengan KTSP yang dilaksanakan di sekolah tersebut karena dengan metode guru tersebut kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk aktif selama pelaksanaan pembelajaran. Siswa kelas X.1 SMA 9 Negeri Malang kurang memiliki keterampilan sosial yang dapat dijadikan bekal saat berada dimasyarakat. Hal tersebut mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian dengan menerapkan pembelajaran kooperatif model numbered heads together agar aktivitas kooperatif siswa dalam pembelajaran dan hasil belajar siswa kelas X.1 SMA Negeri 9 Malang meliputi aspek kognitif dan afektif dapat meningkat. Masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together dapat meningkatkan aktivitas kooperatif siswa pada pembelajaran serta hasil belajar ekonomi siswa kelas X.1 SMAN 9 Malang, serta bagaimana respon siswa terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together pada mata pelajaran ekonomi kelas X.1 SMAN 9 Malang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research. Penelitian ini dilaksanakan selama dua siklus. Pada setiap siklusnya terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan awal, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek dalam penelitian ini adalah kelas X.1 semester gasal tahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 36 siswa. Berdasarkan hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif numbered heads together dapat meningkatkan aktivitas kooperatif dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X.1 SMAN 9 Malang. Peningkatan aktivitas kooperatif siswa siklus I ditunjukkan dengan rata-rata aktivitas kooperatif siswa pada siklus I sebesar yaitu dari 53,09% mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan siklus II menjadi 80,98 % yang sudah termasuk dalam kategori tinggi. Begitu juga pada rata-rata hasil belajar siswa ranah kognitif dan afektif. Peningkatan hasil belajar ranah kognitif siklus I ditunjukkan dengan persentase nilai rata-rata pre test 60, 86% sedangkan nilai rata-rata post test sebesar 84,44%. Pada siklus II nilai rata-rata pre test dan post test mengalami peningkatan yaitu dari 60, 97% menjadi 88, 89%. Peningkatan hasil ranah afektif dengan metode observasi mengalami peningkatan yaitu berdasarkan persentase nilai rata-rata aspek afektif siklus I sebesar 77, 66% menjadi 87,15% pada siklus II. Dari hasil analisi angket siswa dapat diketahui bahwa siswa kelas X.1 SMAN 9 Malang memberikan respon positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together pada mata pelajaran ekonomi. Siswa kelas X.1 SMA Negeri 9 Malang merespon positif terhadap penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together. Rata-rata respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif model NHT menyebutkan materi yang dipelajari bermakna dengan siswa yang menjawab sangat setuju sebesar 35,42%, setuju sebesar 57,64%, kurang setuju sebesar 6,25%, dan tidak setuju 0,69%. Siswa aktif dalam pembelajaran dengan siswa yang menjawab selalu aktif sebesar 36,57%, sering sebesar 51,62%, kadang-kadang sebesar 9,49%, dan tidak aktif sebesar 2,31%. Respon siswa terhadap kemampuan guru mengajar menyebutkan bahwa sudah baik dengan siswa yang menjawab sangat setuju sebesar 79,26%, setuju 19,72%, kurang setuju 3,61%, dan tidak setuju 0,2%. Sedangkan situasi pembelajaran mendukung kegiatan pembelajaran dengan siswa yang menjawab sangat setuju sebesar 38,89%, setuju sebesar 42,36%, kurang setuju 13,19%, dan yang tidak setuju sebesar 5,56%. Adapun saran yang dapat diberikan adalah bagi guru mata pelajaran khususnya mata pelajaran ekonomi disarankan untuk mencoba menerapkan metode pembelajaran kooperatif model numbered heads together, dikarenakan siswa memberikan respon yang positif terhadap penerapan pembelajaran numbered heads together. Diharapkan bagi guru, pada waktu siswa bekerja secara kelompok guru berkeliling ke setiap kelompok untuk memberikan pengarahan dan motivasi pada siswa agar lebih fokus dalam diskusi kelompok dan tidak bergurau sendiri. Dalam menerapkan pembelajaran kooperatif model numbered heads together, guru perlu mengatur waktu dan mempersiapkan pembelajaran yang dilakukan akan dilakukan dengan tepat, sehingga kegiatan pembelajaran yang dilakukan dapat berlangsung secara optimal dan efisien. Bagi peneliti selanjutnya, untuk mengatahui jauh tentang penerapan pembelajaran kooperatif model numbered heads together dalam pembelajaran ekonomi pada pokok bahasan ekonomi yang lain dan menggunakan bentuk penilaian lain.

Pengaruh return on assets (ROA), debt equity ratio (DER) dan earning per share (EPS) terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial pada perusahaan high profile di Indonesia / Eka Erny Kurnia Sari

 

Kata Kunci : Return On Assets (ROA), Debt Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial, high profile Akuntansi sebagai alat pertanggungjawaban mempunyai fungsi sebagai alat kendali terhadap aktivitas suatu unit usaha. Tanggungjawab manajemen tidak terbatas hanya pada pengelolaan dana dalam perusahaan kepada investor dan kreditor, tetapi juga dampak terhadap lingkungan alam dan sosialnya. Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh antara tingkat Return On Assets (ROA),Debt Equity Ratio (DER) dan Earning Per Share (EPS) terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilakukan perusahaan high profile di Indonesia.Variabel independen dalam penelitian ini adalah ROA, DER, dan EPS. Sedangkanvariabel dependen penelitian ini adalah pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan high profile yang listing di BEI tahun 2008. Pengujian hipotesis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) tingkat Return on Assets (ROA) berpengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan (CSRD), (2) tingkat Debt to Equity Ratio (DER ) tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial dan (3) Earnings Per Share (EPS) menunjukkan pengaruh yang positif signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa temuan empiris sebelumnya. Ada beberapa kelemahan dari penelitian ini, salah satunya adalah penelitian ini hanya menguji variabel yang mempengaruhi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan oleh kinerja keuangan yang diwakili oleh rasio profitabilitas (ROA), leverage (DER), dan rasio pasar(EPS), tidak menguji pengaruh pelaporan pertanggungjawaban sosial terhadap kinerja pasar dalam hal ini reaksi investor akan informasi tersebut, selain itu peneliti juga hanya melihat satu media pelaporan yaitu laporan keuangan.

Deteksi gorong-gorong di jalan Jakarta Kota Malang menggunakan GPR (Ground Penetrating Radar) / M. Kurniawan Azizi

 

Kata Kunci : Gorong-Gorong, GPR (Ground Penetrating Radar), Dielektrik. Pada perkembangan terakhir, Malang adalah kota rawan banjir saat musim hujan. Sering diberitakan di surat kabar bahwa di suatu daerah yang padat penduduk terjadi banjir. Bahkan banjir juga sering terjadi di area instansi-instansi atau kantor-kantor pemerintahan. Banjir tersebut banyak membawa kerugian baik material maupun non-materi. Yang paling dikhawatirkan dari fenomena ini adalah jatuhnya korban jiwa. Salah satu wilayah yang berpotensi terjadi banjir adalah Jl. Jakarta Kota Malang. Satu pertanyaan penting terkait musibah banjir yang sering tetrjadi adalah bagaimanakah keadaan gorong-gorong yang berfungsi sebagai resapan?. Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan melakukan penelitian. penelitian dapat mengaplikasikan metode Georadar, memakai alat yang disebut GPR (Ground Penetrtating Radar) eopaap OKO dengan kisaran frekuensi Hz. Prinsip kerjanya, yaitu: Apabila sinyal radar mengenai suatu inhomogenitas dalam tanah dan cacat sinyal pada obyek, maka dapat diketahui materi yang terkandung di bawah permukaan tanah. Dari pengukuran didapatkan variabel jarak serta waktu propagasi gelombang radar. Penelitian ini dilakukan untuk mengatahui: 1). Apakah gorong-gorong di Jl. Jakarta Kota Malang mampu dideteksi dengan baik menggunakan GPR dengan panduan peta gorong-gorong dari DPU Kota Malang; 2). Apakah kondisi gorong-gorong tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai serapan air hujan di sepanjang Jl. Jakata Kota malang dan sekitarnya? Kesimpulan dari penelitian ini adalah di jl. Jakarta Kota Malang terdapat gorong-gorong berdiameter 100 cm yang terletak di bawah taman sepanjang Jl. Jakarta Kota Malang. Gorong-gorong ini dibuat sebagai resapan air yang ada di pertigaan Jl. Bandung dan sepanjang Jl. Jakarta yang bermuara di sungai Brantas. Nilai dielektrik gorong-gorong sebesar 1 dan terdapat rembesan air dan lumpur di bawah dan di sampingnya dengan konstanta dielektrik sebesar 14,3. Karakter gorong-gorong mempunyai ketebalan beton sekitar ±16 cm dengan konstanta dielektrik sebesar 8, dan gorong-gorong sudah tidak berfungsi lagi.

Perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan menggunakan strategi problem based learning (PBL) dan konvensional siswa kelas X di SMKN 1 Blitar / Noer Koestiningsih

 

Kata-kata kunci : strategi problem based learning, konvensional, hasil belajar Belajar merupakan hal pokok yang tidak bisa lepas dari kehidupan semua orang. Seiring dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan yang meningkat, pemerintah berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang kreatif, mampu memecahkan persoalan-persoalan yang aktual dalam kehidupan dan mampu menghasilkan teknologi baru. Untuk menciptakan sumber daya manusia yang kreatif dan berkualitas salah satu strategi yang banyak dipakai dalam pembelajaran fisika adalah strategi Problem Based Learning (PBL), karena pemilihan PBL membantu siswa mengembangkan kemampuan memecahkan masalah terutama situasi masalah yang autentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan. Penelitian ini berupaya untuk menjawab permasalahan adakah perbedaan hasil belajar fisika antara kelompok siswa yang belajar dengan strategi PBL dan kelompok siswa yang belajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional pada siswa kelas X program keahlian teknik pemesinaan di SMKN I Blitar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental semu yang menggunakan desain pra-tes perlakuan dan pasca-tes. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri 1 Blitar tahun pelajaran 2009/2010. Pengambilan sampel penelitian yang dilakukan adalah dua kelas ditetapkan berdasarkan teknik simple random sampling. Kelas pertama diajar dengan strategi PBL, kelas kedua diajar dengan pembelajaran konvensional. Data hasil belajar dikumpulkan dengan tes dalam bentuk obyektif. Data dianalisis dengan statistik uji t. Hasil penelitian menunjukkan temuan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar antara siswa yang belajar menggunakan model PBL dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran konvensional. Hasil belajar pada kelompok PBL lebih baik daripada kelompok konvensional, hasil analisis uji t diperoleh thit = 4.00 lebih besar dari ttab = 1.692 Dengan pembelajaran fisika menggunakan strategi PBL dapat dijadikan suatu alternatif dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar fisika.

Efektifitas model pembelajaran problem based learning (PBL) dan learning cycle 5 fase (LCM) terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMK Negeri 1 Purwosari / Wulan Agustini

 

kata kunci: prestasi belajar, problem based learning, learning cycle 5 fase Aktivitas pembelajaran fisika yang terjadi di SMKN I Purwosari cenderung berpusat pada guru, siswa bersifat pasif dan kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kreatifitasnya.Pada kenyataan sekarang, untuk menghadapi dunia industri, kemampuan berpikir sangat diperlukan siswa untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang sangat kompetitif. Perlu dilakukan pembelajaran fisika yang dapat meningkatkan pola berpikir siswa untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk : menguji perbedaan model pembelajaran PBL dan LCM terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMKN I Purwosari dan Menguji keefektifan model pembelajaran yang digunakan (PBL) atau (LCM) terhadap prestasi belajar siswa SMKN I Purwosari. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experimental) pretest-postest control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMK Negeri I Purwosari tahun pelajaran 2009/2010. Sampel penelitian adalah tiga kelas yang ditetapkan berdasarkan teknik Purposive sampling. Kelas pertama belajar dengan model PBL. Kelas kedua belajar dengan LCM dan kelas ketiga belajar dengan model konvensional. Data prestasi belajar dikumpulkan dengan 25 butir tes versi 1,0 yang dimodifikasi. Data dianalisis dengan statistik ANAVA satu arah, dan uji Scheffé. Pengujian hipotesis nol dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan temuan-temuan sebagai berikut: (1) Terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar antara siswa yang belajar menggunakan model PBL dengan siswa yang belajar menggunakan model konvensional. Prestasi belajar pada kelompok PBL lebih tinggi daripada kelompok konvensional (2) Terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar antara siswa yang belajar menggunakan model LCM dengan siswa yang belajar menggunakan model konvensionalprestasi belajar siswa kelompok LCM lebih tinggi daripada kelompok konvensional (3) Pembelajaran model PBL lebih efektif daripada model konvensional dalam peningkatan prestasi belajar siswa. (4) Pembelajaran model LCM lebih efektif daripada model konvensional dalam peningkatan prestasi belajar siswa.

Perancangan traffic light dilengkapi dengan lampu indikator untuk penyeberangan menggunakan smart relay jenis Zelio SR3B261FU / Jemi Kurniawan

 

Kata Kunci: Smart reley, traffic light. Perkembangan teknologi semakin hari semakin bertambah modern, tidak terkecuali peralatanelectronik. Hampir semua menggunakan peralatan serba otomatis, misal smart reley/PLC. Smart reley yaitu alat yang dapat deprogram oleh suatu bahasa tertentu yang digunakan pada proses otomasi. Alat ini memiliki dua tipe yakni tipe compact dan modular. Smart reley ini memiliki fungsi yaitu pengontrol berbasis mokrokontroler yang memanfaatkan memori yang dapat di program untuk menyimpan instruksi dengan aturan tertentu dan dapat mengimplementasikan fungsi khhusus yakni seperti fungsi logika, pewaktu, pencacahan. Cara kerja smart reley ini adalah memeriksa kondisi input. Perancangan simulasi traffic light ini dirancang secara miniatur. Dalam perakitannya alat miniature traffic light ini ditujukan untuk kenyamanan pejalan kaki yang hendak menyeberang. Dalam hal pemrogramannya, digunakan bahasa pemrograman yaitu dengan ladder diagram. Dari hasil pembahasan dan pengujian ” Aplikasi Smart Reley Zelio SR3 B261 FU pada lampu lalu lintas (traffc light) yang digunakan untuk sarana penyeberangan jalan raya” wiring yang terpasang sudah terhubung sesuai dengan yang diperlukan. Program yang dirancang sebelum dimasukkna ke smart reley terlebih dahulu dilakukan uji simulasi dan telah sesuai dengan apa yang diperlukan. Untuk pengecekan lampu led cukup dengan mengnibungkan kedua kaki lampu dengan tegangan. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan bahwa, alat ini bekerja sesuai dengan indtruksi atau program yamg telah di program. Prinsip kerja alat ini yaitu dimulai dari group satu, dimana lampu penyeberangan akan hijau (timur) diikuti dengan lampu hijau dari utara dan selatan. Group dua, lampu penyeberangan hijau(selatan) akan menyala diikuti dengan lampu hijau traffic arah utara dan timur. Group tiga, lampu penyeberangan hijau (utara) dan diikuti lampu hijau dari arah timur dan selatan. Kondisi ini akan terus berkelanjutan.

Pengaruh persepsi siswa tentang kebijakan ujian nasional dan citra sekolah terhadap motivasi belajar siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung / Ardiyana Kusuma

 

Kata Kunci: Persepsi siswa, Kebijakan UN, citra sekolah, motivasi belajar Kebijakan UN yang ditetapkan pemerintah dimasudkan untuk melancarkan program Ujian Nasional. Dari banyak kebijakan akan mempunyai makna yang berbeda pula dipandangan siswa. Kebijakan yang mampu mengarahkan siswa kesuatu keberhasilan dalam meraih prestasi pasti akan memberikan kepercayadirian dan motif yang dapat menggugah semangat siswa untuk berusaha sebaik mungkin dalam mencapai tujuan. Motivasi belajar siswa juga dapat ditimbulkan dari citra sekolahnya. Apabila siswa telah merasa puas dengan kualitas sekolahnya maka akan muncl feed back yang berbentuk tingkah laku, salah satunya adalah dengan meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini dikarenakan siswa beranggapan bahwa sekolah mereka akan berlomba-lomba untuk belajar. Penelitian ini adalah penelitian eksplanasi (explanatory research) dengan pendekatan survey. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMA Negeri 1 Kedungwaru Tulungagung yang berjumlah 130 siswa dan sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik “purposive proportional sampling” sehingga diperoleh 60 siswa sebagi esponden. Instrument dalam penelitian ini menggunakan angket dengan skala likert memiliki 5 alternatif jawaban dan dokumentasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, untuk variable persepsi siwa tentang kebijakan UN (X1) dihasilkan nilai t 2,601 dan signifikan 0,012. Nilai signifikan disini lebih kecil dari α 5% (0,012 ≤ 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa tentang kebijakan UN berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Sementara untuk variable persepsi siswa tentang citra sekolah (X2) dihasilkan t 3,820 dan signifikan 0,000. Nilai signifikan disini lebih kecil dari α 5% (0,000 ≤ 0,05) sehinga dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa tentang citra sekolah berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Selain itu juga dihasilkan nilai F sebesar 25,190 dan signifikan 0,000. Nilai signifikan disini lebih kecil dari α 5% (0,000 ≤ 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa persepsi siswa tentang kebijakan UN dan citra sekolah berpengaruh secara simultan terhadap motivasi belajar siswa. Adapaun koefisien determinasi variable bebasnya (R square) adalah sebesar 0,469 atau sebesar 46,9% merupakan kontribusi dari kebijakan UN (X1) dan citra sekolah (X2) terhadap motivasi belajar siswa (Y). Sedangkan sisanya sebesar 53,1% merupakan kemungkinan berubahnya motivasi belajar siswa yang disebabkan oleh variable lain yang diteliti atau di luar penelitian.

Meningkatkan interaksi dan hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP Sriwedari Malang melalui pembelajaran kooperatif problem possing dipadu dengan jigsaw / Raudatus Sholihah

 

Kata kunci: interaksi siswa, hasil belajar biologi siswa, Pembelajaran Kooperatif, Problem Posing dipadu dengan Jigsaw. Salah satu tujuan pembelajaran IPA (terutama biologi) di SMP yaitu agar siswa menguasai berbagai konsep dan prinsip IPA untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan salah satu metode pembelajaran yaitu pembelajaran kooperatif Problem Posing dipadu dengan Jigsaw agar dapat memudahkan siswa dalam belajar IPA (biologi) baik secara teori maupun praktikum. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan interaksi dan hasil belajar siswa Kelas VIII SMP Sriwedari Malang melalui Pembelajaran Kooperatif Problem Posing dipadu dengan Jigsaw. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengimplementasikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas VIII sejumlah 25 orang di SMP Sriwedari Malang pada semester gasal 2010/2011. Data penelitian ini berupa interaksi dan hasil belajar siswa. Interaksi siswa diukur dengan lembar observasi pada tiap pertemuan, sedangkan hasil belajar siswa diperoleh dari selisih nilai tes tiap siklus. Ketuntasan belajar siswa berdasarkan hasil tes dengan kriteria ketuntasan belajar minimal (SKM) mencapai skor 70 dan daya serap klasikal 85% siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi siswa pada siklus II menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatan persentase rerata semua indikator pada keempat rubrik yaitu sebesar 9,7%, 13,4%, 8,2%, dan 20,6%. Hasil belajar juga mengalami peningkatan antara siklus I dan II. Peningkatan hasil belajar kognitif sebesar 14,6%. Ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus I sebesar 12,5% dan pada siklus II meningkat menjadi 75%. Hasil belajar afektif dan psikomotor juga meningkat masing-masing sebesar 10,7% dan 15,1%. Pelaksanaan metode pembelajaran kooperatif Problem Posing dipadu dengan Jigsaw selanjutnya, sebaiknya tidak perlu ada presentasi kelas, lebih memperhatikan pengaturan waktu setiap tahap, kondisi siswa, kondisi lingkungan sekolah atau tempat tinggal siswa, materi yang akan dipelajari, sering memberikan soal tes dengan tingkat kognitif C1-C6 untuk mengembangkan kemampuan kognitif siswa, dan memberikan kesempatan siswa untuk bertanya diluar jam pelajaran.

Pengaruh minat belajar, motivasi, perhatian siswa dan persepsi siswa tentang penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran ekonomi terhadap hasil belajar tengah semester gasal tahun ajaran 2010-2011 siswa kelas XI Ilmu Sosial di SMA Negeri 1 Pandaan Kabupaten Pasuru

 

Kata Kunci : minat, motivasi, perhatian siswa, media pembelajaran, hasil belajar siswa. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, intelektual maupun profesional, yang dapat dilakukan adalah perbaikan mutu pendidikan di sekolah, khususnya di SMA Negeri 1 Pandaan. Untuk mencapai hal tersebut tidaklah cukup dengan perubahan kurikulum atau meningkatkan prestasi saja, perlu juga dilihat dari aspek-aspek yang lain yaitu aspek ekstern dan aspek intern. Aspek ekstern meliputi penggunaan media pembelajaran, fasilitas belajar di sekolah, guru, peran orang tua, sedangkan aspek intern adalah meliputi minat, motivasi, perhatian siswa, inteligensi, dan potensi lain yang ada dalam diri siswa. Tiga aspek dari aspek intern yaitu minat, motivasi, dan perhatian siswa merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Hal ini cukup beralasan karena merupakan aspek yang bersifat abstrak. Kedua hal tersebut perlu diperhatikan karena merupakan variabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya suatu tujuan atau cita-cita yang ingin dicapai dalam belajar. Sedangkan dari aspek eksternal antara lain penggunaan media pembelajaran disekolah. Dengan beragamnya media yang digunakan, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan potensi, kecerdasan intelektual, dan dapat mengembangkan diri serta mengikuti perkembangan iptek yang semakin canggih. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui (1) hasil belajar siswa, (2) minat belajar siswa, (3) motivasi belajar siswa, (4) perhatian belajar siswa, (5) penggunaan media pembelajaran, (6) ada tidaknya pengaruh minat belajar, motivasi, perhatian siswa, dan penggunaan media pembelajaran ekonomi terhadap hasil belajar secara simultan, (7) ada tidaknya pengaruh minat belajar, motivasi, perhatian siswa, dan penggunaan media pembelajaran ekonomi terhadap hasil belajar secara parsial. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Pandaan dengan populasi berjumlah 70 siswa. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian populasi karena jumlah responden kurang dari 100 . Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan instrumen angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa (1) siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Pandaan memiliki minat belajar yang tinggi dengan persentase 91,42% dengan nilai mean 33. Ini berarti rata-rata siswa memiliki minat belajar yang tinggi. (2) siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Pandaan memilki motivasi yang tinggi dengan persentase 70% dengan nilai mean 37. Ini berarti rata-rata siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi. (3) siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Pandaan memilki perhatian yang tinggi dengan persentase 71,42% dengan nilai mean 30. Ini berarti rata-rata siswa memiliki perhatian yang tinggi terhadap mata pelajaran ekonomi. (4) siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Pandaan memilki persepsi tentang penggunaan media pembelajaran yang tinggi dengan persentase 54,29% dengan nilai mean 28. Ini berarti rata-rata siswa memiliki persepsi yang tinggi tentang penggunaan media pembelajaran di sekolah. (5) terdapat hubungan yang signifikan antara minat belajar dengan hasil belajar siswa. (6) terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa. (7) terdapat hubungan yang signifikan antara perhatian siswa dengan hasil belajar siswa. (8) terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan media pembelajaran dengan hasil belajar siswa. (9) terdapat hubungan yang signifikan antara minat belajar, motivasi, perhatian siswa, dan penggunaan media pembelajaran terhadap hasil belajar siswa kelas XI IPS di SMAN 1 Pandaan. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan atau memasukkan variabel lain misalnya IQ, EQ ataupun kehidupan ekonomi serta faktor-faktor internal dan eksternal sehingga hasilnya lebih reliabel dan dapat memperkuat teori dan penemuan yang ada sebelumnya.

Kajian tentang tingkah laku makan dan lama waktu bergerombol belalang juta (Schistocerca gregaria) di kebun biologi FMIPA Universitas Negeri Malang / Raudatus Sholihah

 

Kata kunci: tingkah laku makan, lama waktu bergorombol, Belalang Juta. Belalang Juta (Schistocerca gregaria) merupakan spesies yang hidup sebagai hama tanaman dan hidup bergerombol serta memiliki tingkah laku yang unik. Awalnya Belalang Juta hidup terpisah kemudian menjadi bergerombol pada sumber makanan. Belalang termasuk hewan poikiloterm, sehingga populasinya banyak dipengaruhi suhu lingkungan. Di daerah beriklim dingin pertumbuhannya lambat, sedangkan di daerah tropik seperti Indonesia pertumbuhan belalang relatif cepat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkah laku makan dan pengaruh perbedaan jumlah individu terhadap lama waktu bergerombol Belalang Juta (Schistocerca gregaria) mendekati sumber makanan. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 macam perlakuan (60, 80, 100, dan 120 ekor belalang) dan 6 ulangan tiap perlakuan. Variabel bebas dalam penelitian adalah jumlah individu Belalang Juta, sedangkan variabel terikat adalah lama waktu bergerombol Belalang Juta mendekati sumber makanan. Objek penelitian ini adalah Belalang Juta di Kebun Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Pengamatan tingkah laku makan Belalang Juta diamati di dalam aquarium pada tiap pukul 06.00-07.00 WIB selama bulan Juni sampai Agustus 2010. Data tingkah laku makan Belalang Juta dianalisis secara deskriptif, sedangkan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jumlah individu terhadap lama waktu bergerombol Belalang Juta dianalisis dengan anava tunggal. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dua kesimpulan yaitu: pertama, tingkah laku makan Belalang Juta yang muncul pada saat pengamatan adalah posisi tubuh saat memakan rumput, yaitu kepala menunduk dengan alat mulut (tipe penggigit dan pengunyah) membuka dan bergerak memakan helai rumput, sepasang kaki depan bergerak-gerak untuk memegang helaian rumput, sepasang kaki tengah diam dengan posisi lurus di samping kanan dan kiri abdomen, sepasang kaki belakang mencengkeram tempat untuk berpijak pada helaian rumput tersebut, dan dua pasang sayapnya menutup lurus di bagian dorsal tubuhnya. Kedua, jumlah individu Belalang Juta (Schistocerca gregaria) berpengaruh terhadap lama waktu bergerombol Belalang Juta. Semakin banyak jumlah individu maka semakin singkat waktu yang diperlukan untuk bergerombol mendekati sumber makanan

Analisis deret waktu untuk meramalkan pertumbuhan penduduk Kabupaten Trenggalek dengan metode Box-Jenkins dan Garch / Andri Ihsan Fatawi

 

Kata kunci: ARIMA, GARCH, pertumbuhan penduduk Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan per waktu unit untuk pengukuran. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat berdampak kurang baik bagi kelangsungan hidup. Oleh karena itu dengan peramalan diharapkan manusia dapat memprediksi kondisi yang akan terjadi, sehingga upaya untuk menekan tingkat pertumbuhan penduduk dapat diterapkan. Masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana model ARIMA Box-Jenkins dan GARCH terbaik untuk meramalkan tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Trenggalek dan bagaimana perbandingan akurasi kedua model terbaik tersebut. Analisis runtun waktu yang dipakai untuk menentukan model peramalan dengan menggunakan model ARIMA Box-Jenkins. Pendekatan model ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu tahap identifikasi model sementara, tahap estimasi parameter dan pemeriksaan model, dan terakhir adalah tahap peramalan. Sedangkan salah satu model untuk mengatasi masalah varian tidak konstan dari data acak adalah model GARCH. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari arsip Badan Pusat Statistik Kabupatan Trenggalek. Teknik analisis data model ARIMA Box-Jenkins menggunakan program Minitab 14 dan GARCH menggunakan program Eview 5.1. Sedangkan untuk menganalisis perbandingan akurasi model terbaik dari kedua model tersebut berdasarkan nilai MSE, MAE, dan MAPE. Hasil penelitian diperoleh model ARIMA yang telah memenuhi kriteria model terbaik untuk data tingkat pertumbuhan penduduk adalah ARIMA (0,1,1) dengan persamaan: dengan = 0,9014. Sedangkan untuk model GARCH yang telah memenuhi asumsi model terbaik adalah GARCH (0,1) dengan persamaan: , dimana adalah varian residual. Dari perbandingan kedua model tersebut diperoleh nilai MSE, MAE dan MAPE model GARCH (0,1) lebih kecil dari ARIMA (0,1,1) sehingga dapat dikatakan bahwa model GARCH (0,1) lebih baik untuk meramalkan tingkat pertumbuhan penduduk di Kabupaten Trenggalek.

Pengaruh kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi guru dan lingkungan belajar terhadap motivasi belajar pada mata pelajaran IPS ekonomi siswa kelas VIII SLTP N 2 Rogojampi Kabupaten Banyuwangi tahun ajaran 2010/2011 / Danny Koerniawan Pamungkas

 

Kata Kunci : Kepemimpinan, Kemampuan Berkomunikasi, Lingkungan Belajar dan Motivasi Belajar. Motivasi belajar adalah segala keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendakai dapat tercapai, agar motivasi siswa tetap terjaga, kepemimpinan, Kemampuan Berkomunikasi Guru dan Lingkungan Belajar sangat berpengaruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, dan lingkungan belajar terhadap motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Ekonomi siswa kelas VIII pada SLTP N 2 Rogojampi tahun ajaran 2010/2011. Variabel yang diangkat dalam penelitian ini meliputi Kepemimpinan, Kemampuan berkomunikasi dan Lingkungan Belajar sebagai variabel bebas, serta motivasi belajar siswa sebagai variabel terikat. Penelitian ini dilakukan di SLTP Negeri 2 Rogojampi dengan responden siswa kelas VIII sebagai populasinya. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan teknik Propotional Random Sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 69 responden. Metode Analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linier berganda, uji t dan uji F. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 16 dengan taraf signifikansi 5%. Hasil analisis regresi linier berganda Y = 13,843 + 0,242X1 + 0,277X2 + 0,064X3 , uji persamaan regresi parsial dengan uji t diperoleh t hitung sebesar 3,764 dengan signifikansi 0,000<0,05 yang berarti secara parsial, ada pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan dengan motivasi belajar siswa, sedangkan untuk variabel kemamampuan berkomunikasi diperoleh t hitung sebesar 5,413 dengan signifikansi 0,000<0,05 yang berarti secara parsial, ada pengaruh yang signifikan antara kemampuan berkomunikasi dengan motivasi belajar siswa, dan untuk variabel lingkungan belajar diperoleh t hitung sebesar 2,333 dengan signifikansi 0,023<0,05 yang berarti secara parsial, ada pengaruh yang signifikan antara lingkungan belajar dengan motivasi belajar siswa. Uji secara simultan dengan uji F diperoleh F hitung = 34,966 dengan signifikansi 0.000 < 0.05, yang berarti secara simultan ada pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi guru dan lingkungan belajar terhadap motivasi belajar siswa. Besarnya pengaruh secara simultan antara kepemimpinan dan kemampuan berkomunikasi guru terhadap prestasi belajar adalah 61,7%. Besarnya pengaruh masing-masing variabel yaitu kepemimpinan terhadap motivasi belajar siswa sebesar 17,89%, pengaruh kemampuan berkomunikasi guru terhadap motivasi belajar siswa sebesar 31,02% dan lingkungan belajar sebesar 7,73%. Mengacu dari hasil penelitian, maka diajukan saran yaitu : guru hendaknya lebih meningkatkan lagi kepemimpinan dan kemampuan berkomunikasinya serta diusahakan untuk dapat memperhatikan lingkungan belajar para siswa agar motivasi seluruh siswa tetap terjaga dan dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal.

Analisis pengaruh kondisi keuangan perusahaan, opini audit tahun sebelumnya, debt default, dan pertumbuhan perusahaan terhadap penerimaan opini audit going concern (studi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008) / Ardiya

 

KKata Kunci: Opini Audit Going Concern, Kondisi Keuangan Perusahaan, Debt Default, Pertumbuhan Perusahaan, Regresi Logistik. Jasa auditor diperlukan guna menjebatani atau sebagai perantara antara adanya perbedaan kepentingan yaitu kepentingan agen (manajemen perusahaan) dan kepentingan principal (share holder). Akuntansi public sebagai auditor eksternal atau auditor indenpen memiliki tanggung jawab untuk melaporkan jika adanya kesalahan hal-hal yang material, kesalahan manajemen yang sengaja mupun tidak, dan mengevaluasi apakah ada kesangsian terhadap kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan kehidupannya dalam kurun waktu tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang sedang diaudit. Jika tidak, banyak masyarakat yang menganggap bahwa kelalaian auditor yang menyebabkan bangkrutnya perusahaan. Oleh karena itu, bagi banyak pihak masalah pemberian opini audit going concern ini sangatlah penting. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh kondisi keuangan, opini audit tahun sebelumnya, debt default, dan pertumbuhan perusahaan terhadap pemberian opini audit going concern. Pemilihan sampel ditentukan menggukan purposive sampling method dan diperoleh sebanyak 38 perusahaan manufaktur periode 2006-2008 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengaruh antara kondisi keuangan perusahaan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Altman revised, opini audit tahun sebelumnya, debt default, dan pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan rasio pertumbuhan penjualan perusahaan terhadap penerimaan opini audit going concern dianalisis menggunakan regresi logistic (logistic regression) karena adanya variable dummy baik pada variabel dependen maupun pada variable independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi keuangan yang diproksikan dengan model prediksi kebangkrutan Altman revised, opini audit tahun sebelumnya, dan debt default berpengaruh terhadap pemberian opini audit going concern. Namun penelitian ini tidak dapat memberikan bukti adanya pengaruh pertumbuhan perusahaan yang diproksikan dengan pertumbuhan penjulan terhadap pemberian opini audit going concern. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi calon investor dalam memilih investasi yang sehat, dan menunjukkan kepada penelitian selanjutnya bahwa masih ada variable-variabel lain yang berkemungkinan mempengarui pemberian opini audit going concern. Diharapkan pada penelitian sejenis selanjutnya dapat memperpanjang tahun pengamatan sehingga dapat melihat kecenderungan trend penerbitan opini audit going concern dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan perbedaan antara periode krisis moneter dengan periode kondisi ekonomi stabil.

Analisis kontribusi dan potensi retribusi parkir terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Malang / Juanah

 

Kata Kunci: Pendapatan Asli Daerah, Retribusi Parkir, Kontribusi, Potensi. Pembangunan ekonomi merupakan suatu tahapan kegiatan menuju Indonesia yang lebih maju lagi. Di dalam pembangunan ini diharapkan masyarakat beserta pemerintah mampu menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang lebih mandiri dalam melaksanakan sistem kepemerintahannya. Maka dari itu perencanaan pembangunan yang sistemis secara matang merupakan tonggak maju-mundurnya pembangunan di Indonesia. Pembangunan nasional berfokus pada pembangunan manusia dan masyarakat seutuhnya. Pembangunan ini meliputi berbagai aspek kehidupan, tetapi lebih memberikan prioritas tinggi pada bidang ekonomi. Hal ini terjadi karena dalam pembangunan nasional menuntut adanya biaya yang besar untuk membiayai proses pembangunan tersebut. Pada masa orde baru Indonesia telah melahirkan sistem baru yaitu sistem pemerintahan yang mempercayakan kepada masing-masing pemerintah daerah untuk mengatur belanja dan pendapatannya yang disebut dengan otonomi daerah. Sistem inilah yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk berlomba-lomba memajukan daerahnya dan mengoptimalkan hasil kekayaan sumberdaya yang dimilikinya. Pendapatan Asli Daerah merupakan hasil dari optimalisasi daerah dalam memanfaatkan kekayaan daerahnya sendiri, maka dari itu PAD merupakan komponen penting dalam penyelenggaraan kepemerintahan daerah. Retribusi parkir merupakan salah satu komponen penyumbang PAD, memiliki potensi yang lebih untuk dikembangkan. Hal ini terjadi karena penerimaan retribusi parkir di Kabupaten Malang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi sebagai pihak yang berwajib dalam mengelola retribusi parkir, dirasa belum optimal dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini terlihat dari masih banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dilapangan dan belum adanya tindakan yang tegas dalam menertibakan pelanggaran-pelanggaran yang ada. Untuk mengoptimalkan penerimaan PAD di Kabupaten Malang penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. (1) Seberapa besar kontribusi retribusi parkir menyumbang Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Malang? (2) Seberapa besar tingkat pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah dan penerimaan retribusi parkir di Kabupaten Malang? (3) Seberapa besar potensi penerimaan retribusi parkir? Dan (4) Faktor apa saja yang menyebabkan kurang optimalnya pemungutan retribusi parkir? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini dirancang dengan metode kuantitatif deskriptif serta dilaksanakan di Kabupaten Malang. Ada 1 wilayah observasi dengan 15 titik parkir dijadikan sampel penelitian. Sampel pada observasi dilakukan dengan menggunakan teknik purposive random sampling dari populasi yang terdiri dari 313 titik parkir di Kabupaten Malang. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) Selama kurun waktu 5 tahun yaitu dari tahun 2005-2009, rata-rata kontribusi retribusi parkir terhadap Pendapatan Asli Daerah sebesar 0,45%. Penerimaan pada kurun waktu tersebut mengalami fluktuasi. Untuk tahun 2006, kontribusinya paling tinggi dibanding dengan kontribusi tahun yang lain. Hal ini terjadi karena pada tahun 2006 penerimaan retribusi sangat tinggi, hampir 118,35% dari tahun sebelumnya. Meskipun lonjakan tersebut sangat tinggi namun karena penerimaan pada sektor-sektor penyumbang PAD lainnya juga mengalami peningkatan yang tinggi, maka peningkatan penerimaan retribusi parkir tidak berkontribusi secara signifikan terhadap PAD. (2) Pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Malang rata-rata sebesar 20,17% dan rata-rata pertumbuhan penerimaan retribusi parkir sebesar 40% selama tahun 2005-2009.Pertumbuhan ini mengalami fluktuasi. Untuk pertumbuhan PAD mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun 2006, hal ini terjadi karena seluruh komponen penerimaan PAD mengalami peningkatan yang signifikan. (3) Potensi penerimaan retribusi parkir sebenarnya sangat tinggi. Dari hasil observasi ditemukan gap sebesar 77%, yang mana 23% dari total potensi yang masuk ke kas daerah sebagai penerimaan retribusi parkir. (4) Faktor-faktor yang mempengaruhi kurang optimalnya pemungutan retribusi parkir di kabupaten Malang adalah Adanya Peraturan Daerah yang Berlaku, Komitmen SKPD dan UPTD terkait, dan semakin banyaknya jumlah titik parkir yang dikelola (faktor kekuatan), pemungutan retribusi dilakukan dengan cara taksasi yang buruk, belum adanya tindakan tegas maupun peraturan tertulis untuk menindak pihak-pihak yang ikut serta dalam mengambil keuntungan dari kegiatan parkir dan belum semua tempat parkir beroperasi secara maksimal (faktor kelemahan), pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang yang bagus, Potensi penerimaan retribusi parkir, masih banyaknya titik parkir yang belum dikelola secara legal dan adanya penambahan wilayah penarikan (faktor kesempatan), kurangnya kesadaran objek retribusi dalam membayar retribusi parkir, jukir sebagai mitra kerja sulit dikenakan sanksi, kurang tertibnya jukir dalam bekerja dan cuaca atau musim yang kurang mendukung (faktor hambatan). Bertolak dari temuan penelitian ini, beberapa saran yang diperkirakan dapat meningkatkan penerimaan retribusi parkir pada pengelolaan parkir di Kabupaten Malang. Saran yang diajukan tersebut adalah (1) Perlu diadakannya upaya yang lebih intensif lagi dalam pemungutan retribusi parkir sehingga penerimaan retribusi parkir akan selalu mengalami peningkatan dan stabil setiap tahunnya, dengan cara pengoptimalan kembali usaha intensifikasi dan ekstensifikasi yang telah dilakukan; (2) Penerimaan atas PAD harus lebih dioptimalkan kembali dengan cara mengembangkan potensi dan keunggulan daerahnya sehingga dapat mengurangi ketergantunga terhadap pemerintah pusat dan bisa mandiri menyelenggarakan kepemerintahan daerahnya sendiri.

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk memahamkan materi persamaan kuadrat pada siswa kelas X SMK Negeri I Blitar / Ronald Adhinata

 

Kata Kunci : Kooperatif, Jigsaw, Memahamkan, Persamaan Kuadrat Berdasarkan pengalaman peneliti, hasil tes yang menunjukkan bahwa materi Persamaan Kuadrat pada tahun pelajaran sebelumnya belum mencapai ketuntasan klasikal, karakteristik siswa SMK Negeri I Blitar, dan hasil diskusi dengan guru matematika SMK tersebut maka diperlukan suatu cara dalam upaya memahamkan siswa tentang materi Persamaan Kuadrat yang salah satunya melalui pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan desain pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw yang dapat memahamkan siswa tentang materi Persamaan Kuadrat. Hasil Penelitian di SMK Negeri I Blitar menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dengan langkah-langkah pembentukan kelompok asal, pembentukan kelompok ahli, penyajian materi oleh guru, penyajian tugas oleh guru, diskusi kelompok ahli, diskusi kelompok asal, kuis/tes, dan pemberian penghargaan kelompok. Pada siklus I hasil pengamatan aktivitas siswa rata-rata sebesar 84 % atau berada pada kategori baik, sedangkan pada siklus II aktivitas siswa rata-rata sebesar 87,34% atau berada pada kategori baik. Nilai akhir pada siklus I siswa yang tuntas adalah 86,11%, sedangkan pada siklus II siswa yang tuntas sebesar 91,67 %. Respon siswa terhadap pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw sangat positif yang berarti siswa merasa bahwa belajar kooperatif tipe Jigsaw adalah menyenangkan, tidak membosankan, dan dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Dari data di atas menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dikatakan berhasil. Saran yang diberikan adalah (1) Bagi pengajar (guru) yang akan menggunakan pembelajaran tipe Jigsaw seyogyanya mempertimbangkan hal-hal seperti : kesiapan guru karena pada pembelajaran Jigsaw, para siswa di kelompok asal membahas sub-sub materi yang berbeda-beda, dan ketersediaan waktu yang cukup banyak untuk kegiatan pembelajaran, (2) Bagi peneliti lain yang menginginkan menggunakan pembelajaran tipe Jigsaw, dapat mengembangkannya lebih lanjut untuk pelajaran matematika pada pokok bahasan yang lain.

Hubungan faktor-faktor sosio-ekonomi, literasi finansial, sikap dengan keterarahan dan perilaku berinvestasi (Studi pada rumah tangga petani etnis osing dan jawa di Kabupaten Banyuwangi) / Widayat

 

Key Word : mixed method, investment behavior, household, ethnic Penelitian ini bertujuan untuk membangun model perilaku berinvestasi pada konteks rumah tangga etnis Osing dan Jawa di Banyuwangi dengan pendekatan gabungan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menjawab tujuan penelitian dan menguji hipotesis berkaitan dengan hubungan variabel sosioekonomi, literasi finansial, sikap dengan keterarahan (intention) dan perilaku berinvestasi. Sementara pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami makna (emphaty meaning) dibalik hubungan variabel laten yang berhasil dibangun. Data yang digunakan untuk membangun model pada pendekatan kuantitatif dikumpulkan dari kepala rumah tangga menggunakan wawancara terstruktur berpatokan pada daftar pertanyaan yang telah teruji validitas maupun reliabilitasnya. Sementara data kualitatif dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam kepada informan yang dipilih diantara responden berdasarkan karakteristik tertentu. Data yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Keabsahan kontruksi masing-masing variabel laten pada model, diuji dengan menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA), sedangkan kesesuaian model secara keseluruhan di deteksi dengan kaidah Goodnes Of Fit. Hubungan antar variabel laten yang dihipotesiskan diuji menggunakan uji t dengan nilai kritis 1,96. Sementara, keabsahan data kualitatif diuji dengan trianggulasi sumber (resources triangulation), didiskusikan kepada pakar, dan kemudian dianalisis secara naratif, selanjutnya dibangun proposisi sebagai pendukung model struktural. Data yang berhasil dikumpulkan dan memenuhi syarat untuk pembuatan model sebanyak 330. Dari data tersebut berhasil dibangun suatu model pengukuran dan struktural yang cukup baik. Indikasinya nampak dari indikator kesesuaian (Goodness of Fit=GOF) model secara keseluruhan yang memenuhi syarat, yakni nilai RMSEA=0,08 dan CFI =0,93, nilai GFI =0,89 dan AGFI =0,83. Model pengukuran juga mengindikasikan model yang baik dan memenuhi syarat yang ditunjukkan oleh nilai koefisien terstandar setiap item minimal 0,5 dan nilai reliabilitas konstruk (CR) minimal 0,7. Tidak seluruh hipotesis (Ha) yang diajukan diterima, hal ini dilihat dari nilai-t yang kurang dari nilai kritis (1,96). Hipotesis yang ditolak terletak pada hubungan variabel laten literasi finansial dengan keterarahan, hubungan variabel literasi finansial dengan perilaku berinvestasi serta hubungan variabel sosioekonomi dengan keterarahan. Sementara hipotesis (Ha) pada hubungan variabel keterarahan dengan perilaku berinvestasi, sikap dengan perilaku berinvestasi, sikap dengan keterarahan, sosioekonomi dengan sikap, sosioekonomi dengan perilaku berinvestasi dan sosioekonomi dengan literasi finansial tidak ditolak (not rejected). Dari wawancara secara mendalam diperoleh gambaran bahwa sikap, keterarahan, dan perilaku berinvestasi berkaitan dengan nilai maupun budaya yang diyakini oleh masyarakat. Nilai yang diyakini bahwa hidup sudah merupakan ketentuan, setiap manusia selalu memiliki hasrat dan nafsu, serta budaya gemi atau hedonis mempengaruhi sikap, keterarahan dan perilaku berinvestasi. Investasi bagi masyarakat setempat dimaknai sebagai upaya penjaminan hidup masa depan dirinya serta keluarganya dengan mengakumulasi modal untuk pengembangkan usaha, mempersiapkan hidup masa depan keturunan agar menjadi lebih baik. Mereka cenderung berinvestasi di sektor pertanian, berupa investasi produktif untuk pengembangan usaha, dan investasi pasif dalam bentuk emas atau tanah. Mahalnya harga tanah dan sulitnya mendapatkan lahan garapan yang cenderung menyempit berdampak pada sikap negatif pada sektor pertanian dan rendahnya keterarahan berinvestasi pada sektor pertanian

Implementasi pengendali kecepatan motor DC pada mobil listrik / Qifhana Khoirul Mudfa

 

Kata Kunci: Motor DC, chopper dc-dc, Step Down Converter, Step Up Converter Mobil listrik merupakan mobil yang energi penggeraknya tanpa menggunakan bahan bakar, energi yang digunakan adalah baterai. Dalam pengendali mobil listrik menggunakan chopper DC-DC, yang pengaturannya mengatura nilai tahanan pada controllernya. Dengan mengatur nilai tahanannya pada kontrol, maka akan menghasilkan kecepatan pada mobil listrik. Macam mobil listrik ada 4 macam: (1) Mobil Listrik Batterai Operate, (2) Mobil Hybrid, (3) Mobil tenaga surya atau tenaga matahari, (4) Mobil Fuel Cell. Mobil listrik yang digunakan damal tugas akhir ini adalah termasuk mobil listrik tenaga surya sell. Mobil yang komponen utamanya adalah panel surya, battery, chopper DC/DC, dan motor DC. Daya masukan dari proses DC-DC tersebut adalah berasal dari sumber daya DC yang biasanya memiliki tegangan masukan yang tetap.Dalam tugas akhir ini pengubahan tegangan secara chopper dengan pengaturan tegangan secara variabel, yaitu dengan tegangan masukan yang tetap kemudian dapat di ubah-ubah tegangannya. Pada alat pengatur kecepatan motor DC ini menggunakan tegangan masukan 48 volt dapat di atur sesuai kebutuhan. Step Down converter (penurun tegangan DC-DC) mengubah nilai tegangan masukan ke nilai tegangan keluaran yang lebih rendah. Pada rangkaian step down converter komponen elektronika yang digunakan adalah mosfet, yang digunakan sebagai saklar atau swiching. Sedangkan dengan pangaturan step up converter mengubah nilai keluaran yang lebih tinggi dengan nilai masukan. Sama seperti step down, pada rangkaiannya digunakan komponen elektronika yaitu mosfet. Selain pengaturan dengan menaikan dan menurunkan tegangan, chopper DC-DC juga mengubah arah putaran motor DC, yaitu dengan cara menggunakan relay. Dalam tugas akhir ini adalah dapat disimpulkan bahwa dalam pengaturan kecepatan motor DC untuk menghasilkan kecepatan yang sesuai, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan mobil listrik: (1) Pemilihan Motor DC, (2) beban pada mobil listrik, dan (3) Medan yang dilalui mobil listrik. Berdasarkan hasil Tugas Akhir ini, disarankan agar dilakukan pengembang­an alat dengan pengendali putaran motor dc yang menggunakan controller dengan mengatur mengatur tegangan variabel pada motor DC dengan pengereman dinamika.

Pengembangan model manajemen kinerja organisasi dengan pendekatan balance scorecard dan analytical hierarchy process pada program studi teknik industri Universitas Muhammadiyah Gresik / Sunardi

 

Disertasi, Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. H. Ahmad Sonhadji K.H., MA., Ph.D., (II) Prof. Dr. Hendyat Soetopo, M.Pd., (III) Prof. Dr. Willem Mantja. Kata kunci: model manajemen kinerja, balance scorecard, analytical hierarchy process, program studi Teknik Industri. Model manajemen kinerja program studi teknik industri perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dapat dikembangkan dengan menggunakan metode yang dapat membantu dan memudahkan upaya peningkatan kinerja organisasi di waktu yang akan datang Aspek penting dalam pengembangan model manajemen kinerja program studi teknik industri adalah mengidentifikasi dan mengembangkan indikator-indikator kinerja yang dianggap penting bagi organisasi pendidikan. Indikator-indikator kinerja yang dikembangkan digunakan sebagai dasar untuk mengimplementasikan strategi dalam upaya mencapai tujuan-tujuan. Indikator kinerja juga digunakan sebagai dasar untuk menilai keberhasilan dengan melakukan pengukuran dan evaluasi kinerja, serta upaya peningkatan kinerja melalui diagnosis dan perbaikan kinerja yang berkesinambungan. Universitas Muhammadiyah Gresik yang terletak di kabupaten Gresik propinsi Jawa Timur mempunyai peran dan potensi yang besar sehingga memerlukan suatu metode untuk meningkatkan kinerjannya. Balance scorecard merupakan salah satu sistem manajemen yang populer, dan karena kelebihannya dipilih sebagai metode untuk mengembangkan model manajemen kinerja organisasi program studi teknik industri Universitas Muhammadiyah Gresik. Balance scorecard merupakan pendekatan konseptual dan analitik untuk memerikan model ke dalam perspektif-perspektif. Dengan mengimplementasikan balance scorecard diharapkan mampu melakukan perubahan manajemen dan peningkatan kinerja yang berkesinambungan. Balance scorecard dirancang untuk menterjemahkan visi, misi, dan strategi program studi ke dalam enam perspektif yaitu: perspektif finansial, perspektif mahasiswa dan lulusan, perspektif jasa pemakai, perspektif proses internal, perspektif pemberdayaan sumberdaya manusia, dan perspektif tumbuh dan belajar. Untuk menganalisis perspektif dan indikator kinerja pada perspektif digunakan metode analytical hierarchy process. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan model manajemen kinerja yang meliputi perancangan proses perencanaan, pengukuran, evaluasi, diagnosis, dan tindakan perbaikan kinerja dengan menerjemahkan visi, misi, dan strategi program studi ke dalam inisiatif strategi, tujuan-tujuan, dan indikator-indikator kinerja dari ke enam perspektif. Indikator kinerja proses menggambarkan inisiatif strategi dan indikator kinerja hasil menggambarkan tujuan-tujuan strategis. Selanjutnya untuk menilai keberhasilan suatu organisasi dengan menentukan faktor keberhasilan tiap perspektif pada indikator kinerja hasil. Perencanaan kinerja adalah suatu target kinerja yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan pengukuran dan evaluasi kinerja. Dengan menghubungkan indikator kinerja hasil dan indikator kinerja proses dapat dilakukan diagnosis dan tindakan perbaikan kinerja. Faktor-faktor keberhasilan yang dirancang yaitu: penerimaan, pembiayaan, saving, mahasiswa drop out, tingkat kepuasan mahasiswa, tingkat kepuasan lulusan, kepuasan jasa pemakai terhadap lulusan yang bekerja dan studi lanjut, produk lembaga, rasio penelitian hibah dari jasa pemakai, tingkat kemudahan mahasiswa kerja praktek dan magang, rasio instansi kerja sama menggunakan lulusan, IPK lulusan ≥ 3,00, penguasaan lulusan terhadap IT, % lulusan yang akan menjadi pengusaha, emotional quotient, Toefl lulusan, lama studi ≤ 4 tahun, lama tunggu lulusan memperoleh pekerjaan pertama ≤ 6 bulan, % lulusan bekerja sesuai bidang ilmu, % hasil penelitian yang dipublikasikan, jumlah pengabdian masyarakat sesuai bidang ilmu, % staf pengajar berpendidikan S2 dan S3, staf pengajar lektor kepala dan guru besar, tingkat kepuasan kerja staf pengajar, kualitas layanan tenaga kependidikan, tingkat kepuasan kerja tenaga kependidikan, tingkat kepuasan terhadap jaringan IT bagi mahasiswa, tingkat kepuasan terhadap jaringan IT bagi staf pengajar, tingkat kepuasan terhadap jaringan IT bagi tenaga kependidikan, jumlah kerja sama penelitian, utilitas kelas, utilitas laboratorium, utilitas perpustakaan, kualitas iklim kerja, tingkat kualitas kecendekiawanan staf pengajar, dan komitmen staf pengajar terhadap visi dan misi lembaga. Untuk menganalisis perspektif dan indikator kinerja dengan bantuan software expert choice 11. Hasil pengembangan aalah model manajemen kinerja organisasi program studi teknik industri UMG berbasis balance scorecard dan analytical hierarchy process, terdiri dari: Buku I: Pedoman Umum, Buku II: Manual Pengukuran Kinerja, Instrumen Pengumpulan Data, dan Cara pengolahan Data, dan Buku III: Manual Evaluasi, Diagnosis, dan Tindakan Perbaikan Kinerja.

Pengaruh pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah, kecerdasan intelektual (IQ), dan cara belajar terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) kelas VIII SMP Negeri 1 Batu / Santy Wahyu Lestari

 

Kata Kunci: Pengaruh Pemanfaatan Fasilitas Belajar di Sekolah, Kecerdasan Intelektual (IQ), dan Cara Belajar dan Hasil Belajar Siswa Untuk menciptakan pembangunan nasional di bidang pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, diperlukan peningkatan dan penyempurnaan mutu pendidikan. Dalam hal ini berkaitan erat dengan peningkatan mutu proses pembelajaran yang berkaitan langsung dengan hasil pembelajaran peserta didik. Seperti tujuan pengajaran yang tepat, kelengkapan sumber-sumber belajar, serta kemampuan guru untuk memanfaatkan fasilitas belajar secara efektif dan efisien. Selain itu guru juga harus mengetahui tingkat intelegensi (IQ) dan cara belajar siswa, agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh secara parsial dan simultan Pengaruh Pemanfaatan Fasilitas Belajar di Sekolah, Kecerdasan Intelektual (IQ), dan Cara Belajar terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas VIII SMP Negeri 1 Batu. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksplanasi yaitu peneliti ingin menjelaskan pengaruh antar variabel bebas pemanfaatan fasilitas belajar di Sekolah (X1), Kecerdasan Intelektual (IQ) (X2), dan Cara Belajar (X3) dengan variabel terikat yaitu hasil belajar siswa (Y). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 48 siswa SMP Negeri 1 Batu yang dintukan secara acak. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proposional random sampling. Skala yang digunakan adalah skala likert dengan 5 (lima) pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Sedangkan untuk uji kelayakan regresi dilakukan uji asumsi klasik dan keseluruhan analisis menggunakan bantuan program SPSS for windows 16.00. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa (1) Pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah di SMP Negeri 1 Batu tergolong kategori tinggi. (2) Kecerdasan intelektual (IQ) di SMP Negeri 1 Batu tergolong kategori rata - rata. (3) Cara belajar di SMP Negeri 1 Batu tergolong kategori baik. (4) Hasil beljar siswa di SMP Negeri 1 Batu tergolong kategori baik. (5) Secara parsial, pemanfaatan fasilitas belajar di sekolah mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri I Batu, terbukti dengan sig t (0.017) < α (0.05). (6) Kecerdasan Intelektual (IQ) juga mempengaruhi hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri I Batu yang ditunjukkan dengan sig t (0.010) < α (0.05). (7) Cara belajar juga mempengaruhi hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Negeri I Batu yang ditunjukkan dengan sig t (0.014) < α (0.05). (6) Secara simultan, pemanfaatn fasilitas belajar, kecerdasan Intelektual (IQ), dan cara belajar berpengaruh terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VIII di SMP Negeri I Batu yang ditunjukkan dengan sig t (0.00) < α (0.05). Nilai R square sebesar 0,557, hal ini menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan variabel pemanfaatan fasilitas belajar, kecerdasan intelektual (IQ), dan cara belajar berpengaruh secara simultan terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) kelas VIII di SMP Negeri I Batu sebesar 55,7%. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemanfaatn fasilitas belajar di sekolah, kecerdasan intelektual (IQ), dan cara belajar baik secara parsial dan simultan berpengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas VIII di SMP Negeri I Batu. Saran dalam penelitian ini adalah (1) Bagi guru diharapkan mengetahui tingkat kecerdasan intelektual (IQ) dan cara belajar siswa sehingga guru dapat menentukan metode pembelajaran yang cocok untuk siswa. (2) Bagi sekolah diharapkan mensosialisasikan pentingnya pengetahuan guru akan perbedaan kecerdasan intelektual (IQ) yang dimiliki siswa. Hendaknya sekolah juga menyediakan sarana prasarana sekolah yang lebih baik agar dapat digunakan dalam memperlancar proses belajar. (3) Peneliti selanjutnya sebaiknya menambah variabel lingkungan masyarakat dalam memberikan kontribusi perubahan variabel hasil belajar siswa. Selain itu, dapat juga menggunakan sampel sekolah lain dan menambah jumlah sekolah yang ditiliti sehingga dapat memberikan hasil yang signifikan.

Efektifitas pembelajaran dengan media animasi pada mata pelajaran akuntansi perbankan terhadap hasil belajar siswa / Eka Erny Kurnia Sari

 

Kata Kunci : Media Animasi, Hasil Belajar Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar mata pelajaran akuntansi perbankan pada pembelajaran menggunakan media animasi dan pembelajaran konvensional. Media animasi dalam penelitian ini dikemas dalam bentuk video pembelajaran menggunakan aplikasi gabungan program Software adobe photoshop, adobe after effect dan adobe premiere sehingga mampu mengintegrasikan antara teks, gambar, suara, video dan animasi yang menarik. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas I AK SMK PGRI 2 Malang sebagai kelas kontrol dan kelas I AK SMK PGRI 6 Malang sebagai kelompok eksperimen. Pengujian hipotesis menggunakan uji t (t-test). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen terdapat perbedaan rata-rata prestasi (post test). Perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa kelas eksperimen dengan hasil belajar siswa kelas kontrol dalam mata pelajaran akuntansi perbankan menunjukkan bahwa hasil belajar kelas eksperimen berbeda signifikan dengan hasil belajar siswa kelas kontrol. Hasil penelitian ini mendukung teori motivasi menurut Keller (dalam Oenfiati, 2002) yang menyatakan bahwa motivasi merupakan konsep hipotetis untuk suatu kegiatan yang dipengaruhi oleh attention, relevance, confidence, dan satisfaction (ARCS), serta sejalan dengan beberapa temuan empiris sebelumnya. Ada beberapa kelemahan dari penelitian ini, salah satunya adalah penelitian ini hanya berlangsung selama satu kali pertemuan, sehingga menyebabkan materi pelajaran akuntansi yang diajarkan pada penelitian ini hanya satu sub pokok bahasan yaitu sub pokok bahasan akuntansi kliring.

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi realisasi jumlah kredit usaha kecil pada BPR Arthasari Kencana Singosari Malang / R.A. Nur Anggraini

 

Kata Kunci: realisasi jumlah Kredit Usaha Kecil, nilai jaminan, modal, pendapatan Bank menerapkan prinsip 5 “C” dalam pemberian kreditnya yaitu character, capacity, capital, collateral, condision dan juga prinsip 7 “P” yaitu personality, party, purpose, prospect, payment, profitability, protection. Prinsip itu juga dilakukan oleh BPR Arthasari Kencana Singosari Malang sebelum menyalurkan kredit usaha kecil kepada calon debitur. Calon debitur juga memiliki alasan-alasan yang melatar belakangi atau mempengaruhi permintaan jumlah kreditnya dalam hal ini kredit usaha kecil, diantaranya adalah faktor collateral (jaminan). Biasanya debitur yang memiliki nilai jaminan yang tinggi dalam hal ini jaminan berupa tanah, gedung, peralatan dan kendaraan akan cenderung meminta jumlah kredit usaha kecil yang tinggi pula sebab nilai jaminan menunjukkan kemampuan keuangan seseorang.Capital (modal) juga mempengaruhi permintaan jumlah kredit usaha kecil. Seseorang yang sudah memiliki modal awal yang besar dan membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usahanya maka dia akan cenderung meminta kredit usaha kecil dalam jumlah yang besar pula. Selain nilai jaminan dan modal usaha, faktor pendapatan juga berpengaruh terhadap permintaan jumlah kredit usaha kecil sebab jika pendapatan rata-rata yang diterima seseorang dari hasil usaha tiap bulannya tinggi maka kredit yang dimintanya juga akan tinggi.Diperkirakan bahwa apabila seseorang merasa pendapatannya mencukupi untuk mengangsur kredit yang dipinjamnya maka ia akan meminta kredit untuk tambahan modal usaha. Pihak bank biasanya akan merealisasikannya sebab pihak bank memprediksi bahwa kredit yang diberikan tidak akan macet. Hal ini dikarenakan pendapatan merupakan salah satu tolak ukur kemampuan finansial seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh nilai jaminan, modal usaha dan pendapatan yang dimiliki oleh debitur terhadap realisasi jumlah kredit usaha kecil pada BPR Arthasari Kencana Singosari Malang baik secara parsial maupun secara simultan. Subyek penelitian adalah BPR Arthasari Kencana Singosari Malang karena adanya keunikan yang dimiliki BPR Arthasari Kencana Singosari Malang dalam sistem pembayaran angsuran yang dapat membayar angsuran pokok lebih dari satu pada bulan yang sama tetapi angsuran bunga kredit yang harus dibayar cukup satu kali. Hal ini sangat menguntungkan bagi debitur terkait dengan pendapatan yang diterima oleh debitur yang digunakan dalam membayar angsuran kredit tersebut. Maka pada saat pendapatannya tinggi debitur dapat membayar lebih dari satu kali angsuran pokok dengan satu kali pengenaan angsuran bunga kredit dan pada saat pendapatannya rendah dapat membayar angsuran secara normal. Keunikan ini sangat menguntungkan debitur sebab angsuran bunga kredit yang harus dibayar lebih sedikit dari pada harus mengangsur secara normal, karena semakin debitur memiliki pendapatan yang tinggi/lebih untuk mengangsur pokok angsuran lebih dari satu kali maka kredit debitur akan cepat lunas dan debitur akan cenderung meminta kredit lagi dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya dan pihak BPR pasti akan merealisasikan kredit yang diajukan oleh debitur karena pihak BPR telah mengetahui kredibilitas debitur pada saat peminjaman kredit sebelumnya. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dengan teknik dokumentasi dan data primer dengan teknik wawancara. Periode penelitian yang digunakan adalah tahun 2009. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis regresi berganda dengan bantuan SPSS 14.00 for windows. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial, nilai jaminan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap realisasi jumlah kredit usaha kecil, modal usaha tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap realisasi kredit usaha kecil dan pendapatan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap realisasi jumlah kredit usaha kecil pada BPR Arthasari Kencana Singosari Malang. Sedangkan secara simultan, nilai jaminan, modal usaha dan pendapatan berpengaruh signifikan terhadap realisasi kredit pada BPR Arthasari Kencana Singosari Malang. Modal usaha dalam hal ini tidak mampu mempengaruhi realisasi jumlah kredit usaha karena ketakutan dari debitur apabila debitur tidak bisa mengangsur kredit maka akan berimbas pada modal awal yang debitur miliki. Sedangkan nilai jaminan dan pendapatan mampu mempengaruhi realisasi jumlah kredit usaha kecil karena debitur meyakini bahwa apabila memiliki nilai jaminan dan pendapatan yang tinggi maka pihak BPR akan menyetujui permohonan kreditnya. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar BPR Arthasari Kencana Singosari Malang dapat mempermudah debitur dalam memperoleh kredit usaha kecil. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menurunkan nilai jaminan yang diberikan debitur kepada pihak BPR sebagai syarat utama untuk mendapatkan kredit usaha kecil, bahkan jika bisa debitur dapat memperoleh kredit tanpa jaminan. Kemudia Pihak BPR juga dapat meningkatkan persentase pemberian kredit dari harga barang yang dijaminkan oleh debitur kepada BPR, yang sebelumnya hanya 50% dari harga barang yang dijaminkan.

Pengembangan multi media pelajaran IPA kelas VI pokok bahasan gerak bumi dan bulan di SDN 3 Wonodadi Ponorogo / Febrian Dwi Ardhianto

 

Kata kunci : Pengembangan, Multimedia, Gerak Bumi dan Bulan. Multimedia merupakan salah satu media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan multimedia dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan manfaat atau nilai tertentu dari segi penggunaanya, karena dalam penyampaianya memadukan unsur audio, visual serta interaktifitas sehingga dapat menarik minat pengguna. Berdasarkan observasi awal dilapangan adalah di sekolah tersebut belum menggunakan multimedia dan hanya menggunakan media sederhana saja dalam proses pembelajaran meskipun di sana tersedia sarana belajar yang memadai, luasnya materi Sumber Daya Alam dan terbatasnya waktu yang digunakan dalam penyampaian materi membuat siswa merasa jenuh dalam proses pembelajaran jika hanya menggunakan media sederhana dalam penyampaianya. Oleh karena itu perlu adanya penyediaan sumber belajar yang berupa multimedia yang didesain dalam bentuk bahan ajar multimedia. Pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan media pembelajaran berupa bahan ajar multimedia yang telah melalui proses validasi pada mata pelajaran IPA kelas VI di SDN 3 Wonodadi, Ponorogo. Bahan ajar multimedia ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari media ini adalah (1) dapat digunakan secara individu (2) tidak membutuhkan waktu yang lama dalam mengerjakan media ini (3) bahan ajar multimedia bersifat interaktif sehingga siswa langsung mendapatkan feedback (balikan) dari media ini (4) dilengkapi dengan petunjuk pemanfaatan, kompetensi dasar dan kuis atau soal latihan (5) tampilan media disesuaikan dengan karakteristik siswa kelas VI yaitu dengan penggunaan warna yang cerah dan animasi yang dapat membuat siswa tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan menggunakan media ini. Sedangkan kekurangan media ini adalah (1) bahan ajar multimedia ini hanya terbatas pada pokok materi gerak bumi dan bulan (2) hanya bisa digunakan secara individual saja, tidak dalam kelompok. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket validasi pengembangan bahan ajar multimedia kepada dua orang ahli media dan satu orang ahli materi kemudian data tersebut diolah untuk mengetahui tingkat kevalidan bahan ajar multimedia tersebut. Hasil pengembangan multimedia Pelajaran IPA Kelas VI Pokok Bahasan Gerak Bumi dan Bulan di SDN 3 Wonodadi Ponorogo ini memenuhi kriteria valid dengan hasil uji ahli media mencapai tingkat kevalidan 90%, ahli materi mencapai tingkat kevalidan 92,5 %. Berdasarkan hasil pengembangan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa multimedia Pelajaran IPA Kelas VI Pokok Bahasan Gerak Bumi dan Bulan, valid/layak digunakan sebagai media pembelajaran.

Studi pola venasi daun, daun kelopak dan daun mahkota tumbuhan suku Apocynaceae A.L. De Jussieu No. Cons di Kota Malang / Ana Pristiani

 

Kata kunci: bentuk daun, tipe venasi, peruratan interkosta, pola ujung peruratan, suku Apocynaceae. Apocynaceae terdiri dari 2000 jenis dalam 200 marga, di Indonesia kurang lebih 295 jenis yang salah satu daerah penyebarannya adalah pulau Jawa, yaitu terdapat 43 marga dengan 78 jenis. Berdasarkan observasi, suku Apocynaceae memiliki variasi bentuk daun dan pola venasi. Variasi bentuk daun dan pola venasi pada daun kelopak dan daun mahkota tumbuhan suku Apocynaceae dimungkinkan berbeda dengan variasi bentuk daun dan pola venasi pada daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola venasi daun dan daun-daun bunga, keterkaitan pola venasi pada daun dengan pola venasi pada daun-daun bunga, dan keterkaitan pola venasi dengan bentuk helaian daun, daun kelopak dan daun mahkota tumbuhan suku Apocynaceae yang ditemukan di kota Malang. Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun, daun kelopak dan daun mahkota tumbuhan suku Apocynaceae yang ditemukan di kota Malang, yang diambil dari 3 kecamatan di kota Malang yaitu Lowokwaru, Klojen, dan Blimbing. Penelitian dilakukan di Laboratorium Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang pada bulan Maret-Juni 2010. Penelitian deskriptif eksploratif yang mengungkap karakter yang diekspresikan dari daun dan daun bunga (mahkota dan kelopak), yaitu bentuk daun, tipe venasi, pola peruratan interkosta, dan pola ujung akhir peruratan. Metode yang digunakan yaitu adalah leaf clearing menggunakan alkohol 70% dan KOH 1%. Hasil penelitian terhadap 19 tumbuhan suku Apocynaceae terkelompok ke dalam 8 marga, memiliki 3 macam bentuk daun, yaitu memanjang, lanset, dan jorong, 4 macam bentuk daun kelopak, yaitu bulat, memanjang, lanset, dan jorong, serta 2 macam bentuk daun mahkota, yaitu memanjang dan jorong. Tipe venasi daun yaitu brochidodromous dan pola venasi daun-daun bunga yaitu sejajar. Peruratan interkosta daun mematajala dan sejajar dengan pola ujung akhir peruratan beranastomosis dan bebas bercabang, dan pola ujung akhir peruratan daun-daun bunga bebas bercabang. Pola venasi daun-daun bunga berbeda dengan venasi yang dimiliki oleh daun. Pola venasi tidak terkait dengan bentuk helaian daun, daun kelopak dan daun mahkota. Pola venasi daun-daun bunga bukan merupakan karakteristik dalam satu marga karena dapat dimiliki oleh marga yang berbeda dalam satu suku. Informasi mengenai filogeni venasi pada daun dan daun-daun bunga tumbuhan Apocynaceae akan lebih akurat jika peneliti selanjutnya melengkapi dengan penelitian venasi pada stamen dan putik.

Pengaruh kemandirian belajar, minat belajar, dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi di SMAN 3 Jombang / Dwi Nur Beti

 

Kata Kunci: Kemandirian belajar, minat belajar, fasilitas belajar Pendidikan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan juga kunci kesuksesan dalam pembangunan suatu Negara. Dalam era globalisasi kualitas sumberdaya manusia harus lebih meningkat karena persaingan begitu ketat. Dalam era globalisasi kemandirian belajar seharusnya diajarkan untuk membentuk kualitas sumberdaya manusia yang berkualitas, tangguh, mandiri. SMAN 3 Jombang merupakan sekolah menerapkan kurikulum KTSP yang melatih siswa untuk dapat belajar dengan mandiri, tanpa tergantung dengan orang lain. untuk meningkatkan kualitas pendidikan pihak sekolah dalam menjuruskan siswa pada kelas XI didasarkan pada minat siswa dan dipertimbangkan dengan nilai uas, sekolah juga memberikan sarana dan prasarana yang baik yang dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk menunjang kegiatan belajarnya, sehingga semua itu akan mempengaruhi prestasi belajar siswa nantinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemandirian belajar, minat belajar dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi di SMAN 3 Jombang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode proporsional random sampling. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Terdapat pengaruh antara kemandirian belajar terhadap prestasi belajar ekonomi, 2) Tidak terdapat pengaruh antara minat belajar terhadap prestasi belajar ekonomi, 3) Tidak terdapat pengaruh antara fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi, dan 4) Terdapat pengaruh antara kemandirian belajar, minat belajar, dan fasilitas belajar terhadap prestasi belajar ekonomi di SMAN 3 Jombang. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan 1) Bagi siswa diharapkan dapat belajar secara mandiri, dan mendukung minat dengan kemampuan untuk mewujudkan minat tersebut dan memanfaatkan fasilitas yang berhubungan dengan peningkatan prestasi belajar, 2) Bagi guru diharapkan dapat melatih siswanya untuk dapat belajar lebih mandiri, 3) Bagi pihak sekolah diharapkan dapat meningkatkan kemandirian siswa. 4) Bagi peneliti selanjutnya instrument yang digunakan harus lebih dapat menggambarkan keadaan variabel dan lebih banyak sampelnya lebih bagus.

Meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe think pair square menggunakan lembar kerja siswa / Anik Miftakhul Khasanah

 

Kata kunci: hasil belajar, lembar kerja siswa, pembelajaran kooperatif, tipe Think Pair Square Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika SMPN 1 Gondang bahwa kualitas pembelajaran matematika siswa masih rendah karena kurangnya pertukaran ide antar siswa, siswa level tinggi lebih suka mengerjakan aktivitas secara individu sedangkan siswa level rendah hanya menuliskan hasil akhir diskusi, dan juga hasil belajar siswa masih rendah. Oleh karena itu, peneliti menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square menggunakan LKS dalam pembelajaran matematika. Karena Think Pair Square adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dapat mengoptimalkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sedangkan LKS sebagai alat bantu belajar diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar siswa sehingga berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Penelitian ini difokuskan pada permasalahan yaitu, bagaimana langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square dengan menggunakan lembar kerja siswa yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa? Sehingga penelitian ini mempunyai tujuan untuk memperoleh langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square dengan menggunakan lembar kerja siswa yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan tindakan, dan refleksi. Siklus 1 dilaksanakan dalam empat kali pertemuan dan siklus 2 dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2010. Dalam penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Square dengan menggunakan lembar kerja siswa yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIA SMP Negeri 1 Gondang adalah (1) tahap Think (berpikir individu) yaitu tahap saat siswa menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru secara individu dengan menuliskan hasil penyelesaiannya pada LKSnya masing-masing, siswa diperbolehkan membuka buku sumbernya dan guru lebih mengawasi siswa pada tahap Think agar siswa mengerjakan aktivitas pada LKS secara individu. (2) tahap Pair (berpikir secara berpasangan) yaitu tahap saat siswa level rendah dipasangkan dengan siswa level sedang dan siswa level tinggi dipasangkan dengan siswa level sedang yang ditentukan oleh warna sampul yang sama dalam kelompoknya pada LKSnya masing-masing, mendiskusikan penyelesaian masalah pertama yang diberikan guru dengan menuliskan hasil penyelesaian pada LKSnya masing-masing, siswa diperbolehkan membuka buku sumbernya dan guru lebih sering mengingatkan siswa pada tahap Pair agar siswa dapat sharing dengan pasangannya masing-masing. (3) tahap Square (sharing/berbagi dalam kelompok berempat) yaitu tahap saat siswa sharing (berbagi) dan saling mengemukakan pendapat dalam menyelesaikan masalah kedua dalam kelompok berempatnya dan menuliskan hasil penyelesaiannya pada LKS masing-masing, guru menegaskan kepada siswa agar siswa yang memahami materi dapat sharing dengan anggota lain yang belum mengerti dalam kelompok berempatnya. (4) tahap presentasi hasil kerja kelompok yaitu tahap saat siswa mempresentasikan hasil kerja kelompok berempatnya di depan kelas, dimana siswa dapat memberikan usul, menjawab pertanyaan kelompok lain, memberikan sanggahan, dan mengajukan pertanyaan. Guru menunjuk kelompok presentasi pada awal tahap Square agar kelompok presentasi lebih mempersiapkan diri untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok berempatnya.

Peningkatan hasil belajar tentang operasi hitung campuran melalui strategi pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS) di kelas IV SDN Slorok 03 Doko Blitar / Irma Pintrianingsih

 

Kata Kunci: hasil belajar, pembelajaran matematika, PBAS Hasil observasi di SDN slorok 03 Doko Blitar, pada pembelajaran Matematika kelas IV kurang memotivasi siswa untuk meningkatkan aktivitas belajar. Dalam kegiatan pembelajaran guru menggunakan metode ceramah dan penugasan. Dalam proses pembelajaran pada saat guru menjelaskan materi ada anak yang hanya berbicara sendiri dengan temannya. Banyak anak yang merasa kesulitan saat diberi soal. Siswa yang masih mengalami kesulitan dan kesalahan dalam memahami materi pelajaran, tidak berani untuk bertanya kepada guru maupun teman yang lain. Banyak siswa yang cenderung bersikap diam karena mereka merasa takut untuk bertanya dan mengeluarkan pendapatnya. Selain itu waktu yang diberikan oleh guru tidak bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya hanya digunakan untuk bermain sendiri atau ngobrol dengan teman yang sama-sama tidak bisa. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah (1) Bagaimana penerapan Strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) pada pembelajaran Matematika tentang operasi hitung campuran di kelas IV SDN Slorok 03 Doko Blitar?, (2) Bagaimana peningkatan hasil belajar tentang operasi hitung campuran melalui Strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) di kelas IV SDN Slorok 03 Doko Blitar? Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dalam pembelajaran di kelas dapat diterapkan strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS). Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas(PTK). Sedangkan rancangan penelitian ini mengacu pada model spiral dari Kemmis dan Taggart. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi, kamera, tes dan lembar angket. Teknik analisa data dilakukan setelah pelaksanaan tindakan pada setiap siklus. Untuk hasil belajar digunakan KKM sebagai standar ketuntasan siswa dalam belajar yaitu sebesar 70. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN Slorok 03 Doko yang ditunjukkan dari peningkatan persentase ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus. Pada siklus I pertemuan I persentase ketuntasan belajar sebesar 68,42% , pertemuan II sebesar 78,94% dan siklus II pertemuan I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 82,05 %, pertemuan II sebesar 94,73%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) dalam pembelajaran operasi hitung campuran dapat meningkatkan hasil belajar kelas IV SDN slorok 03 Doko. Selain itu, strategi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa (PBAS) ini perlu diterapkan oleh guru agar pembelajaran yang dilakukan dapat memberikan motivasi siswa dalam belajar serta dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

Penggunaan bahasa tulis baku pada artikel "Nasehat Qolbu" tabloid Media Ummat edisi 98-100 / Abdul Havidz Wahyudy

 

Kata Kunci: bahasa tulis, ejaan, kalimat Tabloid merupakan salah satu sarana untuk menyampaikan informasi. Penyampaian informasi tersebut menggunakan bahasa yang memiliki ciri yang khas yaitu singkat, padat, jelas, sederhana, lancar, lugas, dan menarik. Ciri khas ini tentunya bukan berarti penulisan pada tabloid semena-mena dalam menggunakan ejaan. Bahasa jurnalistik pada tabloid memiliki kebebasan dalam berbahasa. Hal ini disebabkan karena bahasa jurnalistik pada tabloid harus menarik. Dalam praktiknya, jika bahasa jurnalistik dalam tabloid menggunakan bahasa tulis baku seperti yang terdapat pada ranah formal, maka penyampaian informasi dapat menyebabkan kekakuan dalam penyampaian pesan sekaligus mengaburkan makna pesan yang hendak disampaikan pada khalayak. Jadi, sah-sah saja jika bahasa tulis pada tabloid adalah ragam bahasa jurnalistik dengan menggunakan bahasa yang khas . Namun demikian, ragam bahasa jurnalistik pada tabloid tersebut bukan berarti menyimpang dari aturan. Hal ini disebabkan karena media cetak bukan hanya sebagai media untuk menyampaikan informasi, melainkan juga sebagai alat pendidik masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Aspek yang diteliti adalah penggunaan ejaan dan kalimat efektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kesalahan dalam bahasa tulis artikel “Nasehat Qolbu”. Kesalahan tersebut di antaranya adalah kesalahan penggunaan ejaan dan kalimat efektif. Kesalahan ejaan meliputi (1) ejaan kata, (2) pemenggalan kata, (3) huruf besar, (4) huruf miring, dan (5) tanda baca. Kesalahan ejaan terbanyak pada pemenggalan kata, khususnya pemenggalan kata berimbuhan. Kesalahan kalimat efektif meliputi (1) kelengkapan kalimat, (2) kehematan kalimat, dan (3) kegramatikalan kalimat. Kesalahan kalimat terbanyak pada kehematan kalimat, khususnya kata mubazir yang dapat dihilangkan. Berdasarkan hal-hal di atas, maka dapat disimpulkan bahwa masih terdapat kesalahan dalam menggunakan bahasa tulis pada artikel “Nasehat Qolbu” tabloid Media Ummat edisi 98—100. Kesalahan tersebut meliputi kesalahan ejaan dan kalimat efektif. Bahasa tulis pada sebuah media cetak seharusnya merupakan bahasa tulis yang baik dan benar guna tercapainya informasi dan maksud penulis artikel tersebut. Oleh karena itu, penulis sebuah artikel sebaiknya mengikuti kaidah-kaidah penulisan untuk tercapainya komunikasi yang efektif.

Studi pola venasi daun, daun involukrum, dan mahkota bunga pita tumbuhan yang tergolong suku Asteraceae di lingkungan kampus Universitas Negeri Malang / Theresia Eva Nila Kusuma

 

Kata kunci: Asteraceae, tipe venasi, daun involukrum, mahkota bunga pita Suku Asteraceae kebanyakan tumbuh liar di halaman, kebun, maupun tepi jalan meskipun ada yang dibudidayakan. Tumbuhan ini memiliki karakteristik pola venasi daun, daun involukrum, dan mahkota bunga pita yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola venasi daun, daun involukrum, dan mahkota bunga pita, mengetahui keterkaitan pola daun dengan pola venasi daun involukrum dan mahkota bunga pita, serta mengetahui keterkaitan bentuk helaian daun dengan pola venasi daun, daun involukrum, dan mahkota bunga pita tumbuhan suku Asteraceae. Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun, daun involukrum, mahkota bunga pita tumbuhan suku Asteraceae. Spesimen diambil di lingkungan dan daerah dengan radius 2 km dari kampus Universitas Negeri Malang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan mengungkap tipe dan pola venasi yang dimiliki daun, daun involukrum, dan mahkota bunga pita tumbuhan suku Asteraceae. Metode yang digunakan adalah metode “leaf clearing” menggunakan alkohol 70% dan KOH 10%. Hasil penelitian pola venasi daun tumbuhan tergolong suku Asteraceae memiliki tipe venasi tunggal brochidodromous dan tipe venasi gabungan actinododromous-brochidodromous dan campylodromous-brochidodromous, daun involukrum dan mahkota bunga pita memiliki tipe venasi tunggal acrodromous dan tipe venasi gabungan acrodromous-brochidodromous pada daun involukrum, dan tipe venasi gabungan campylodromous-brochidodromous pada mahkota bunga pita. Pola peruratan interkosta memata jala terdapat pada semua daun. Bentuk areolar daun, daun involukrum, dan mahkota bunga pita tidak beraturan dan bersifat tak teratur. Ujung peruratan daun dapat bercabang dua dan saling bertautan pada daun involukrum dan mahkota bunga pita. Keterkaitan pola venasi daun dengan daun involukrum dan mahkota bunga pita tumbuhan suku Asteraceae dalam satu spesies dapat memiliki pola venasi yang lebih sederhana. Bentuk daun dengan 1 buah vena primer dapat membentuk tipe venasi daun tunggal brochidodromous sehingga dapat membentuk pertulangan menyirip. Pada tumbuhan yang sama dengan pola venasi daun involukrum dan mahkota bunga pita yang berbeda karena tidak ada keterkaitan bentuk daun dengan pola venasi daun-daun bunganya. Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan memperbanyak karakter anatomi generatif seperti stamen dan pistil agar didapatkan hasil yang lebih akurat serta dapat melengkapi data taksonomi tumbuhan.

Pengembangan model latihan jump shot bolabasket pada kegiatan ekstrakurikuler di SMAK Kolase Santo Yusup Malang / Purwohadi

 

Kata Kunci: Pengembangan, Model, latihan, Jump Shot, Bolabasket Bolabasket sangat digemari masyarakat layaknya sepakbola, seiring dengan perkembangan bolabasket yang begitu pesat banyak sekolah memiliki ekstrakurikuler bolabasket. Namun pada kenyataannya tidak sedikit juga para siswa peserta ekstrakurikuler bolabasket yang kurang menguasai teknik-teknik dalam permainan bolabasket, salah satunya dalam hal melakukan teknik Jump Shot. Siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bolabasket di SMAK Kolase Santo Yusup Malang pada saat melakukan teknik jump shot maupun pertandingan, lebih banyak menggunakan teknik dribbling dan keterampilan individu sehingga kolektifitas tim tidak nampak. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk mengembangkan model latihan Jump Shot bolabasket untuk team putra pada kegiatan ekstrakurikuler di SMAK Kolase Santo Yusup Malang. Bolabasket adalah olahraga yang dimainkan oleh 10 (sepuluh) orang, terbagi atas 2 (dua) regu, dimainkan baik putra maupun putri, tiap-tiap regu berusaha memasukan bola ke dalam keranjang yang dijaga regu lawan dan berusaha menjaga keranjang sendiri serta regu yang memperoleh poin terbanyak sebagai pemenangnya. Model Pengembangan dalam penelitian ini, merupakan penerapan dari Borg & Gall yaitu ada langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan sebuah produk. Pada pengembangan model latihan Jump Shot ini melalui beberapa tahap antara lain adalah analisis kebutuhan, pembuatan produk awal, uji coba produk, revisi produk utama, uji lapangan dan revisi produk akhir. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa putra ekstrakurikuler bolabasket SMAK Kolase Santo Yusup Malang dan penelitian ini dilaksanakan di lapangan bolabasket SMAK Kolase Santo Yusup Malang pada bulan Agustus 2009 sampai bulan November 2009, dari hasil penelitian pengembangan menunjukkan tanggapan peserta ekstrakurikuler sebesar 82.4% pada uji kelompok kecil dan 84.06% pada uji lapangan sehingga produk pengembangan dapat digunakan. Kajian dan saran penelitian dari peserta ekstrakurikuler bolabasket di SMAK Kolase Santo Yusup Malang, adalah: (1) Subyek penelitian sebaiknya dilakukan pada subyek yang lebih luas, baik itu dari faktor usia dan jumlah sekolah SMP dan SMA yang memiliki kegiatan ekstrakurikuler bolabasket, (2) Hasil pengembangan ini hanya sampai tersusunnnya sebuah produk, belum sampai tingkat efektivitas produk yang dikembangkan, jadi sebaiknya dilanjutkan pada penelitian mengenai efektivitas produk yang dikembangkan, (3) Dianalisis tingkat efektivitas, dengan membandingkan dari beberapa bentuk model variasi latihan mana yang paling baik atau efektif dalam meningkatkan kemampuan keterampilan teknik Jump shot pada permainan bolabasket, (4) Buku pedoman model latihan Jump Shot ini untuk selanjutnya diharapkan bisa dikembangkan dalam bentuk VCD untuk lebih menarik minat siswa dan mempermudah pemahaman siswa tentang teknik Jump Shot dalam permainan bolabasket.

Pembelajaran menurut standar National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) yang dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi luas daerah persegi panjang kelas 3 SDN Dinoyo 1 Malang / Ika Ratih Sulistiani

 

Kata Kunci : Standar NCTM, Luas Daerah Persegi Panjang Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya masalah yang dihadapi siswa SD Negeri 1Dinoyo Malang, yaitu masih ada diantara mereka yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep Luas Daerah persegi panjang. Dari hasil diskusi dengan guru kelas, peneliti menemukan bahwa pembelajaran kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan sendiri konsep Luas Daerah persegi panjang. Masih juga dijumpai siswa yang kesulitan dalam menyelesaikan persoalan sehari-hari yang memuat model aplikasi Luas Daerah persegi panjang. Oleh karena itu diperlukan usaha yang serius dalam membangun pemahaman siswa terhadap konsep Luas Daerah persegi panjang. Usaha yang dapat dilakukan guru untuk menyelesaikan persoalan ini adalah dengan menerapkan pembelajan berdasarkan standar proses NCTM. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pembelajaran luas daerah persegi panjang menurut standar Proses NCTM yang dapat meningkatkan pemahaman siswa. Pelaksanaan pembelajaran berdasar standar proses NCTM menerapkan empat komponen dalam proses pembelajaran. Pertama, Tugas: belajar luas daerah persegi panjang melalui soal-soal dan latihan yang mengikutsertakan siswa dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Kedua, Wacana: belajar luas daerah persegi panjang menekankan kepada penggalian dan penemuan rumus. Kegiatan tersebut didukung oleh peran siswa dan guru dalam menciptakan diskusi kelas. Siswa harus aktif mengemukakan pendapat dan ide-idenya, sedangkan guru harus mahir dalam menganalisis budaya kelas . Ketiga, Lingkungan; dalam kegiatan pemberian tugas dan pelaksanaannya harus tercipta suatu lingkungan belajar yang mendukung terciptanya tugas dan wacana. Keempat, Analisis: refleksi sistematis yang dilakukan oleh guru untuk memonitor kegiatan di kelas tentang bagaimana baiknya pemberian tugas, wacana dan lingkungan yang mempercepat perkembangan matematika setiap siswa Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas 3 SD Negeri 1 Dinoyo Malang. Untuk mengetahui pemahaman siswa secara lebih mendalam dilakukan melalui tes akhir tindakan dan wawancara. Subjek wawancara adalah 5 siswa yang terdiri dari 1 siswa berkemampuan tinggi, 3 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Pemilihan subjek wawancara berdasarkan skor tes dan saran guru matematika yang mengetahui latar belakang siswa yang bersangkutan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pelaksanaan pembelajaran menurut standar NCTM yang dapat meningkatkan pemahaman siswa pada materi luas daerah persegi panjang adalah sebagai berikut. (1) guru mengelompokkan siswa, kemudian menjelaskan tugas dan tanggung jawab anggota kelompok. (2) guru menyampaikan tujuan dan indicator ketercapaian pembelajaran serta memotivasi siswa serta membangkitkan pengetahuan prasyarat siswa (3) guru membagikan LKS yang memuat soal-soal tentang penemuan rumus luas daerah persegi panjang dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan masalah yang terdapat pada LKS dan menyiapkan laporan. (4) perwakilan dari kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dan membuat kesimpulan. Respon siswa terhadap pembelajaran tersebut baik yaitu siswa senang dengan diterapkan pembelajaran luas daerah persegi panjang menurut standar proses NCTM. Dari hasil penelitian, presentase ketuntasan hasil belajar siswa meningkat 5 % dari siklus I sebesar 85 % menjadi 90 % pada siklus II. Presentase pemahaman siswa juga mengalami peningkatan, dari kategori baik menjadi kategori sangat baik yaitu 73.5 % menjadi 82.5%. Guru matematika SD yang menerapkan pembelajaran luas daerah persegi panjang dengan menurut standar NCTM disarankan memperhatikan pemahaman prasyarat siswa. Guru juga harus bisa memotivasi siswa yang pasif atau kurang berani mengemukakan pendapatnya saat ditanya, dan juga harus melakukan tindakan apabila terjadi hal-hal yang dapat mengganggu proses pembelajaran.

Pemecahan masalah dinamika rotasi dengan hukum kekekalan energi mekanik / Magdalena W. Kabrahanubun

 

Kata Kunci : Dinamika Rotasi, Hukum Kekekalan Energi Mekanik Dinamika rotasi adalah salah satu bagian dari fisika yang mempelajari tentang segala sesuatu partikel, diantaranya adalah letak suatu partikel, cara kerja partikel pada suatu sistem. Untuk menyelesaikan masalah tentang dinamika rotasi ini, dengan menggunakan beberapa konsep atau rumus – rumus tertentu. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah mengetahui penyelesaian dari dinamika rotasi dengan menggunakan hukum kekekalan energi mekanik. Persamaan untuk Hukum kekekalan energi mekanik adalah yang merupakan asal mula pernyataan “Gaya konservatif”. Hukum ini berbunyi “Jika pada suatu sistem hanya bekerja gaya-gaya dalam yang bersifat konservatif (tidak bekerja gaya luar dan gaya dalam tak konservatif), maka energi mekanik sistem pada posisi apa saja selalu tetap (kekal). Langkah-langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah dinamika rotasi yaitu, pertama mengidentifikasi benda bagian dari sistem sebagai obyek pembahasan dan pengelompokkan mana yang bergerak translasi dan yang rotasi, kedua menenentukan sumbu koordinat yang memudahkan untuk penyelesaian berikutnya, ketiga menggambar diagram gaya benda bebas untuk masing-masing benda, keempat menggunakan persamaan untuk translasi dan untuk gerak rotasi, dan yang terakhir adalah memadukan dua persamaan pada langkah 4 untuk penyelesaian akhir. Saran yang dapat disampaikan dalam penulisan ini adalah masih banyak penyelesaian dinamika rotasi dengan cara lain selain pemecahan dengan hukum kekekalan energi mekanik, oleh sebab itu dapat diteruskan dengan cara atau metode lainnya.

Analisis perbedaan penerimaan pajak penghasilan pasal 25/29 orang pribadi berdasarkan tarif pajak penghasilan pasal 17 UU No. 36 Tahun 2008 (studi kasus pada KPP Pratama Malang Selatan) / Putri Priyanti

 

Kata Kunci : Perbedaan Penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi, Tarif Pajak Penghasilan Pasal 17 UU No.36 Tahun 2008 Tarif Pajak Penghasilan Orang Pribadi adalah salah satu komponen yang menentukan berapa besar jumlah beban pajak seorang Wajib Pajak. Besarnya tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam negeri menggunakan tarif progresif. Tarif progresif adalah persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar. Perubahan tarif Pajak Penghasilan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip perpajakan yang dianut secara universal, yaitu keadilan, kemudahan, dan efisiensi administrasi, serta peningkatan dan optimalisasi penerimaan Negara dengan tetap mempertahankan sistem self assessment. Perubahan tarif Pajak Penghasilan dilakukan oleh Pemerintah untuk memberikan keringanan kepada Wajib Pajak atas pajak yang ditanggungnya berdasarkan UU No.36 Tahun 2008. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanasi. Analisis data dalam penelitian menggunakan analisis uji t. Variabel dalam penelitian ini adalah penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi. Obyek dari penelitian ini adalah penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi periode Januari-September 2009 dan periode Januari-September 2010. Teknik pengumpulan datanya adalah dokumentasi untuk Penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan adalah tidak terdapat perbedaan penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi berdasarkan tarif Pajak Penghasilan pasal 17 UU No.36 Tahun 2008. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan beberapa hal diantaranya adalah: (1), Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan melengkapi periode obyek penelitian hingga satu tahun penuh yaitu penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi pada periode Januari-Desember 2009 dan periode Januari-Desember 2010 apabila akan mengambil masalah serupa karena terdapat kemungkinan bahwa penerimaan bulan Oktober hingga bulan Desember akan memberikan pengaruh terhadap hasil penelitian, (2) Selain melengkapi periode obyek penelitian, peneliti selanjutnya bisa menambahkan faktor lain selain perubahan tarif Pajak Penghasilan apabila akan mengambil masalah yang serupa karena terbukti faktor perubahan tarif Pajak Penghasilan bukanlah faktor yang berpengaruh banyak terhadap penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 25/29 Orang Pribadi.

Analisis kerapatan trikoma dan preferensi Bemisia tabaci terhadap ketahanan kedelai tahan CPMMV berdaya hasil tinggi dan pemanfaatannya sebagai bahan ajar pengelolaan hama terpadu / One Hadith Tama

 

Kata kunci: ketahanan, CPMMV, Bemisia tabaci, trikoma, Pengelolaan Hama Terpadu Produksi kedelai yang masih rendah di Indonesia terutama disebabkan oleh CPMMV (Cowpea Mild Mottle Virus). Luasnya serangan CPMMV dipicu oleh meningkatnya populasi serangga vektor, Bemisia tabaci. Preferensi B. tabaci ini berkaitan dengan trikoma daun yang bertindak sebagai ketahanan tanaman terhadap hama tertentu. Alternatif terbaik pengendalian CPMMV dan B. tabaci adalah penggunaan varietas tanaman tahan. Pada penelitian ini, pengamatan meliputi karakter ketahanan kedelai terhadap CPMMV, preferensi B. tabaci dan kerapatan trikoma daun pada generasi F4 yang terdiri dari 8 kombinasi persilangan kedelai tahan CPMMV berdaya hasil tinggi, yaitu A (Anjasmoro X MLGG0021), B (Anjasmoro X MLGG0268), C (Gumitir X MLGG0021), D (Gumitir X MLGG0268), E (Argopuro X MLGG0021), F (Argopuro X MLGG 0268), G (Mahameru X MLGG0021), H (Mahameru X MLGG0268). Jenis penelitian deskriptif korelasional dan dilakukan menggunakan teknik kuota sampling. Pengamatan data dilakukan di kebun percobaan Muneng, Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi persilangan D, B dan C memiliki ketahanan terhadap CPMMV lebih baik daripada kombinasi persilangan A, G dan H. Pada preferensi B. tabaci, kombinasi persilangan B dan A lebih banyak terserang B. tabaci daripada kombinasi persilangan C, D, H dan G. Pada kerapatan trikoma, kombinasi persilangan B mempunyai trikoma yang lebih banyak daripada kombinasi persilangan G, D, A, C dan H. Pada uji korelasional, tidak ada korelasi antara ketahanan CPMMV dengan preferensi B. tabaci, tetapi ada kecenderungan ketahanan terhadap CPMMV akan lebih baik bila preferensi B. tabaci berjumlah sedikit dan sebaliknya. Tidak ada korelasi preferensi B. tabaci dengan kerapatan trikoma, tetapi ada kecenderungan B. tabaci lebih menyukai trikoma yang berjumlah banyak dan tidak menyukai trikoma yang berjumlah sedikit. Tidak ada korelasi antara ketahanan CPMMV dengan kerapatan trikoma, tetapi ada kecenderungan karakter ketahanan terhadap CPMMV lebih baik bila trikoma berjumlah banyak dan sebaliknya. Implikasi hasil penelitian ini dimanfaatkan untuk penyusunan modul pembelajaran Pengetahuan Lingkungan, khususnya pada konsep Pengelolaan Hama Terpadu. Rencananya uji coba modul ini akan dilakukan peneliti pada penelitian selanjutnya atau dapat juga dilakukan oleh para peneliti lainnya.

Pengaruh tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar guru terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Kepanjen / Risca Irin Setiowati

 

Kata Kunci: Tingkat Pendidikan, Pelatihan, Pengalaman Mengajar, Kinerja Guru Guru sebagai tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran dituntut untuk memiliki kinerja yang baik agar peserta didik menjadi SDM yang berkualitas dan dapat bersaing dengan negara lain. Tingkat pendidikan diperlukan untuk meningkatkan kinerjanya selain itu diperlukannya pelatihan dan pengalaman mengajar yang cukup. Tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar tersebut dapat mempengaruhi kinerja guru. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada pengaruh tingkat pendidikan, pelatihan,dan pengalaman mengajar terhadap kinerja guru. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Kepanjen karena sekolah ini merupakan Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) yang menjadikan peserta didik untuk dapat bersaing dengan dunia global sehingga dibutuhkan kinerja guru yang benar-benar berkualitas. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional dan instrumen yang digunakan berupa kuesioner. Jumlah subjek penelitian 52 guru. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja guru, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t (0,004) < α(0,050) atau nilai thitung (3,004) > ttabel (2,01). Pelatihan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja guru, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t (0,000) < α (0,050) atau nilai thitung (4,744) > ttabel (2,01). Pengalaman mengajar memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja guru, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai t (0,045) < α (0,050) atau nilai thitung (2,063) > ttabel (2,01). Selain itu diketahui secara simultan bahwa ada pengaruh tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar guru terhadap kinerja guru, terbukti dari hasil analisis diperoleh nilai F (0,000) < α (0,050) atau F hitung (14,044) > F tabel (2,79). Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Ada pengaruh signifikan tingkat pendidikan terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Kepanjen. (2) Ada pengaruh signifikan pelatihan guru dengan kinerja guru di SMA Negeri 1 Kepanjen. (3) Ada pengaruh signifikan pengalaman mengajar guru dengan kinerja guru PNS di SMA Negeri 1 Kepanjen. (4) Ada pengaruh simultan tingkat pendidikan, pelatihan, dan pengalaman mengajar guru terhadap kinerja guru di SMA Negeri 1 Kepanjen. Saran yang diajukan adalah (1) Bagi guru untuk mempertahankan dan mengembangkan metode pembelajaran yang telah dilakukan selama ini dengan mengikuti pelatihan guru untuk meningkatkan kemampuan pelaksanaan tugas-tugasnya sesuai dengan lingkup pekerjaannya sehinnga dapat meningkatkan prestasi kerja sesuai dengan ketrampilannya. (2) Bagi Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kepanjen untuk menentukan tugas dan kompetensi yang harus dicapai guru dalam upaya peningkatan kualitas kinerja guru untuk meningkatkan prestasi dan kemampuan siswa. (3)Bagi pimpinan dalam lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang untuk merumuskan kebijakan pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia, khususnya bagi para guru di SMA Negeri 1 Kepanjen. (4)Bagi peneliti lanjut disarankan untuk mengadakan penelitian yang serupa didaerah yang lain untuk lebih mempertegas kebenaran pengaruh tingkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman mengajar guru terhadap kinerja guru, agar penelitian ini dapat digeneralisasikan pada guru-guru lain di sekolah berbeda.

Pemanfaatan media lampion mekubi untuk meningkatkan kemampuan mengenal wanra anak kelompok A TK Pembina Kota Batu / Yogi Triyastuti

 

Penerapan metode pembelajaran kooperatif model numbered heads together untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerja sama dengan kolega dan pelanggan (studi pada siswa kelas X Program Keahlian APK di SMK Ardjuna 01 Malang) / Reny Solviana

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model Numbered Heads Together, hasil belajar, PTK. Pendidikan mempunyai peran penting untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa dan Negara dengan memciptakan kehidupan yang cerdas, terbuka, dan demokratis. Hal ini didasarkan pendidikan dijadikan sebagai salah satu tolak ukur kesejahteraan manusia. Salah satu penyempurnaan kurikulum yang dilakukan oleh pemerintah yaitu kurikulum 2004 atau kurikulum berbasis kompetensi (KBK) menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan atau lebih dikenal dengan KTSP. KTSP yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) adalah kurikulum opdrasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelangggan yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together, yang dalam penerapannya membantu siswa untuk memahami materi dan memberikan kesempatan kepada siswa utuk memberikan ide atau pendapat selain itu untuk meningkatkan kerjasama kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Numbered Heads Together untuk mengetahui hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan, 2) Mengetahui hasil belajar setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT pada mata diklat Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan, 3) Mendeskripsikan respon siswa dalam metode pembelajaran kooperatif NHT untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata diklat Bekerjasama Dengan Kolega Dan Pelanggan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK), yang terdiri dua siklus. Setiap siklus mencapai empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Mata pelajaran yang digunakan dlam penelitian ini adalah Bekerjasama Dengan Kolega Dan pelanggan. Penelitian dilaksanakan di SMK Ardjuna 01 Malang. Subyek penelitian adalah siswa kelas X APk 1yang berjumlah 28 siswa. Data penelitian ini dikumpulkan melalui: 1) Observasi, 2) wawancara, 3) tes, 4) Catatan Lapangan, 5) Angket, 6) dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembejaran kooperatif model Numbered Heads Together dapat dilaksanakan dengan baik dengan respon siswa terhadap pembelajaran ini juga sangat kuat. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran bekerjasama dengan kolega dan pelanggan setelah diterapakan metode pembejaran kooperatif model Numbered Heads Together mengalami peningkatan, penilaian tersebut dapat dilihat dari dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Data hasil belajar siswa menunjukkan adanya peningkatan untuk aspek kognitif dan aspek afektif. Untuk aspek kognitif nilai rata-rata pre test yaitu 58,21. pada siklus I, sedangkan pada nilai rata-rata post test menjadi 81,42 pada siklus II. Untuk ketuntasan belajar secara klasikal aspek kogintif 14,29% pada siklus I menjadi 82,15% pada siklus II. Nilai rata-rata afektif mengalami peningkatan pada siklus I 71,78 dan 92,64 pada siklus II dan ketuntasan belajar secara klasikal pada aspk afektif 64,28% pada siklus I meningkat menjadi 96,42% pada siklus II. Beberapa saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu 1) Guru hendaknya dapat menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan karena dapat menumbuhkan keaktifan siswa pada proses belajar mengajar. 2) Metode pembelajaran kooperatif model Numbered Heads Together dapat dipilih sebagai alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh guru-guru mata diklat yang lain. 3) bagi guru yang akan menerapkan metode pembelajaran Numbered Heads Together harus memperhatikan langkah-langkah pembelajaran dan menentukan waktu yang dibutuhkan. 4) dalam pelaksanaan pembelajaran sangat dibutuhkan informasi yang luas untuk menambah pengetahuan siswa, maka guru diharapkan menambah literatur buku serta mencari materi yang akan diajarkan dengan fasilitas internet.

Penerapan pembelajaran siklus belajar berbantuan media animasi komputer untuk meningkatkan keterampilan kerja ilmiah dan hasil belajar IPA siswa kelas VIII-H SMP Negeri 4 Kepanjen Kabupaten Malang / Heru Nurgiyanto

 

Kata kunci: animasi komputer, hasil belajar, kerja ilmiah, siklus belajar. Proses pembelajaran fisika di SMP Negeri 4 Kepanjen Kabupaten Malang sebenarnya sudah cukup baik, hanya saja aplikasi pembelajaran yang me¬nga¬rah¬kan pada meningkatkan keterampilan kerja ilmiah masih belum dapat dikembang¬kan. Hasil diskusi dengan guru mata pelajaran dan pengamatan proses pem¬be¬lajaran IPA (fisika) di kelas VIII-H, ditemukan per¬ma¬sa¬lah¬an rendahnya keteram¬pilan kerja ilmiah siswa dan hasil belajar siswa. Siswa yang tuntas belajar pada kelas tersebut belum mencapai 85%, se¬hing¬ga ke¬las dinyatakan belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Untuk mengatasi masalah dalam kegiatan pembelajaran di kelas tersebut, perlu adanya perbaikan model pembelajaran. Salah satu model pembe¬lajaran yang dianggap sesuai untuk menyelesaikan per¬masalahan tersebut adalah Pembelajaran Siklus Belajar Berbantuan Media Animasi Komputer. Siklus belajar menyajikan pembelajaran melalui suatu rangkaian kerja ilmiah, nilai dan sikap ilmiah. Media animasi komputer membantu memperjelas peristiwa yang terjadi sangat cepat atau sangat lambat. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilak¬sa¬na-kan dalam dua siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Pe¬¬ngumpulan data dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2010. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VIII-H SMP Negeri 4 Kepanjen, Kabupaten Ma-lang yang berjumlah 25 siswa terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 14 siswa perem¬pu-an. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi menggunakan lembar observasi yang dilakukan oleh observer dan tes tertulis. Data diana¬li¬sis dengan menggunakan model alur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penerapan Pembelajaran Siklus Be¬la-jar Berbantuan Media Animasi Komputer dapat meningkatkan keterampilan kerja il¬mi¬ah dan hasil belajar IPA pokok bahasan Cahaya siswa di kelas VIII-H SMP Negeri 4 Kepanjen, Kabu¬pa¬ten Malang. Persentase ke¬ter¬¬capaian keteram¬pilan kerja ilmiah siswa sebe¬sar 72,18% pada siklus I meningkat menjadi 86,52% pada siklus II. Nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 75,00 meningkat menjadi 79,56 pada siklus II. Ke¬tun¬¬ta¬san klasikal hasil bela¬jar kognitif meningkat dari siklus I ke siklus II dari 76% menjadi 88%. Hasil belajar psikomotorik meningkat dari 82,60% menjadi 88,43%. Guru mata pelajaran disarankan untuk menerapkan pembelajaran siklus belajar berbantuan media animasi komputer pada pokok bahasan dengan karakteristik yang sesuai misalnya kalor dan listrik dan dilakukan dengan tahapan yang sesuai. Peneliti lain juga disarankan untuk melakukan penelitian tentang keefektifan siklus belajar berbantuan media animasi komputer untuk mening¬katkan hasil belajar kognitif siswa.

Pembelajaran tata bahasa bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing tingkat pemula pada Program Bunga 2010 ISP MCE (sebuah kajian deskriptif pembelajaran BIPA) / Choirul As'ari

 

Kata Kunci: Pembelajaran, Tata Bahasa Pembelajaran Tata Bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing tingkat pemula di program Bunga 2010 merupakan program pembelajaran Bahasa Indonesia bagi mahasiswa asing asal Jepang yang dilaksanakan selama 13 hari yang diselenggarakan oleh Indonesia Studies Program STIE Malang Kucecwara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui materi apa saja yang disajikan dalam program Bunga 2010 dan strategi apa yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan metode deskriptif. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan dirancang dalam bentuk kualitatif deskripstif. Metode penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, pengamatan dan studi dokumentasi. Teknik analisa yang digunakan adalah reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, materi pembelajaran yang digunakan adalah meliputi kata tanya, kata ganti, kalimat penolakan dan persetujuan, angka, jam, kata sambung, kata depan, kata penghubung “yang”, imbuhan “me”, kalimat aktif dan pasif, kalimat perbandingan, imbuhan “ber”, “ber-an”, “me”, “me-i” serta “me-kan”. Strategi pembelajaran yang diteliti meliputi pengajar, bahan ajar, metode dan teknik, media dan evaluasi hasil pembelajaran. Ditemukan bahwa para pembelajaran dilakukan dengan sepenuhnya mengacu pada materi yang ada dan disajikan dengan metode pelatihan dan penjelasan. Media pembelajaran yang digunakan seperti ular tangga, catur jantra dan running text. Evaluasi diadakan setiap akhir kegiatan pembelajaran dan secara umum pada tengah dan akhir masa program. Dari hasil penelitian ini, saran-saran yang diajukan yaitu: (1) Bagi ISP MCE dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan program perlu melakukan penambahan waktu pembelajaran untuk materi imbuhan “me-i” dan ”me-kan”, penggunaan metode pembelajaran yang lebih variatif dalam pembelajaran, dan perlu adanya kurikulum dan garis besar pembelajaran sebagai panduan bagi para pengajar. (2) Bagi Minor BIPA UM hendaknya melakukan pendampingan penyelenggaraan program kepada ISP MCE dan (3) Bagi peneliti lain untuk dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode serta fokus penelitian yang lain, sehingga dapat secara berkelanjutan berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan pengembangan kegiatan pembelajaran BIPA.

Analisis potensi dan prospek pembelajaran IPS terpadu pada kelas VIII dan IX di SMP Terbuka Kota Madiun / Kus Irawan Prabowo

 

Kata Kunci: Proses belajar mengajar, interaksi siswa, dan sumber belajar. Kota Madiun mendirikan SMP Terbuka untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada masyarakat yang tidak dapat menyekolahkan anaknya dikarenakan faktor ekonomi dan geografis.Fokus penelitian ini adalah proses belajar mengajar, interaksi siswa, sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS Terpadu di SMP Terbuka Kota Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil rekaman wawancara, observasi dan dokumen yang diberikan oleh SMP Terbuka Kota Madiun. Teknik analisis dilakukan dengan teknik analisis deduktif induktif. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa dalam proses belajar mengajar pelajaran IPS terpadu di SMP Terbuka Kota Madiun menggunakan metode TGT(Team Game Tournament) karena siswa menjadi lebih berkonsentrasi dan termotivasi, media dalam pembelajaran kelas IX menggunakan powerpoint sedangkan kelas VIII masih menggunakan lembar kerja siswa, kondisi siswa dalam kelas tergolong baik untuk kelas IX dan kelas VIII, peran guru adalah sebagai pemateri, pengawas dan pengevaluasi. Interaksi siswa dengan guru sangat baik karena siswa berani bertanya mengenai kesulitannya dalam materi, berani menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dan di luar kelas siswa juga berinteraksi dengan guru. Interaksi siswa dengan siswa tergolong baik karena siswa sering berinteraksi dengan siswa yang lain mengenai materi dalam pembelajaran, tetapi siswa hanya memilih jenis kelamin yang sama dalam interaksi di dalam kelas. Dalam pemanfaatan sumber belajar, siswa menggunakan sumber belajar yang disediakan oleh SMP induk baik perpustakaan, laboratorium, buku-buku untuk menulis. Dalam kehidupan sehari-hari siswa sering belajar mengenai ekonomi dari kegiatan yang dilakukannya saat membeli barang diwarung, counter, dealer, dsb. Nilai hasil belajar pada pembelajaran IPS Terpadu sangat bervariasi ada yang tinggi dan rendah, untuk memperoleh nilai pelajaran IPS Terpadu tersebut bermacam-macam cara yang dilakukan siswa. Proses belajar mengajarnya, interaksi siswa, pemanfaatan sumber belajar dan nilai hasil belajar IPS Terpadu pada kelas VIII dan IX di SMP Terbuka Kota Madiun maka pembelajaran IPS Terpadu pada SMP Terbuka Kota Madiun memiliki potensi dan prospek yang sangat besar tinggal melakukan beberapa kegiatan yang ada di modul sehingga harapannya potensi ini akan lebih baik lagi dan memberikan kemajuan pada SMP Terbuka. Saran untuk pengelola SMP Terbuka Kota Madiun melakukan beberapa perbaikan-perbaikan dalam seleksi penerimaan siswa, jam tatap muka dan peraturan tatap muka.

Pengaruh model pembelajaran kreatif-produktif terhadap prestasi belajar ditinjau dari kemampuan berpikir kritis siswa kelas X Program RSBI di SMAN 1 Blitar / Mohamad Norkotib

 

Keywords: Model Pembelajaran, Model Kreatif Produktif, Prestasi Belajar Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis, 1) Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar dengan Model Pembelajaran Kreatif-Produktif (MPKP) dan siswa yang belajar dengan model konvensional; 2) Apakah terdapat interaksi antara model pembelajaran dan kemampuan berpikir kritis terhadap prestasi belajar siswa; 3) bagi siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi apakah terdapat perbedaan prestasi belajar, jika belajar dengan model pembelajaran kreatif-produktif dan belajar dengan cara konvensional; 4) bagi siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis rendah apakah terdapat perbedaan prestasi belajar, jika belajar dengan model pembelajaran kreatif-produktif dan belajar dengan cara konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen deskriptif-kuantitaif untuk menjawab pertanyaan di atas. Instrumen penelitian ini adalah tes prestasi belajar (20 butir soal pilihan ganda) dan tes kemampuan berpikir kritis (15 butir soal pilihan ganda). Data penelitian berupa nilai tes prestasi belajar dan nilai tes kemampuan berpikir kritis yang diperoleh siswa kelas konvensional maupun kelas kreatif-produktif. data dianalisis menggunakan analisis varian dua jalur. Hasil analisis data menunjukkan bahwa prestasi belajar yang ditinjau dari kemampuan berpikir kritis siswa kelas X program RSBI di SMAN 1 Blitar dipengaruhi oleh model pembelajaran kreatif-produktif dan kemampuan berpikir kritis. model pembelajaran kreatif-produktif memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar lebih baik daripada model konvensional. temuan lain penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kreatif-produktif memotivasi siswa aktif belajar, melatih siswa belajar mandiri dan menumbuhkan kreativitas siswa.

Kajian/studi tentang gerak melingkar secara sederhana / Ludia Orpa Ngoyem

 

Kata kunci :Kajian/Studi, gerak melingkar. Berdasarkan observasi peneliti, masih banyak siswa yang merasa fisika adalah ilmu pengetahuan yang sulit. Agar fisika dipandang oleh siswa sebagai ilmu ilmu pengetahuan yang menyenangkan pada tulisan ini disajiakan kajian tentang’’gerak melingkar secara sederhana’’, Metode yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskripsi sederhana.

Penelaahan terhadap usaha peningkatan pengajaran praktek pembukuan di SMEP Negeri Nganjuk / oleh Sukarsih

 

Pengaruh CAR (Capital Adequacy Ratio), NPL (Non Performing Loan), LDR (Loan to Deposit Ratio) terhadap return melalui ROE (Return on Equity) pada perusahaan perbankan tahun 2009 / Fitria Arisukma

 

Kata kunci: Return, CAR (Capital Adequacy Ratio), NPL (Non Performing Loan), LDR (Loan To Deposit Ratio), ROE (Return On Equity) Return adalah tingkat kembalian yang dinikmati oleh pemodal atas suatu investasi yang dilakukannya. Konsep return yang digunakan adalah capital gain, yaitu keuntungan yang diterima karena adanya selisih antara harga jual dengan harga beli saham dari suatu instrumen investasi. Setiap investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang mempunyai tujuan utama mendapatkan keuntungan yang disebut sebagai return baik langsung maupun tidak langsung. Indikator untuk mengukur return diantaranya adalah CAR (Capital Adequacy Ratio) merupakan rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung risiko ikut dibiayai modal sendiri, NPL (Non Performing Loan) merupakan rasio yang mengukur kredit tidak lancar dimana tingkat pengembalian kredit yang diberikan deposan kepada bank mengalami kesulitan pelunasan, LDR (Loan To Deposit Ratio) merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar semua dana masyarakat serta modal sendiri dengan mengandalkan kredit yang telah didistribusikan ke masyarakat, ROE (Return On Equity) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan modal tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh CAR (Capital Adequacy Ratio), NPL (Non Performing Loan), LDR (Loan To Deposit Ratio) secara langsung terhadap Return dan pengaruh tidak langsung melalui ROE (Return On Equity) pada perusahaan perbankan tahun 2009 baik secara parsial maupun simultan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan di Indonesia, namun setelah digunakan teknik purposive sampling didapatkan sampel sebanyak 30 perusahaan, dengan periode pengamatan tahun 2009. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah path analysis dengan menggunakan program SPSS 16. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CAR berpengaruh negatif terhadap ROE, dan tidak berpengaruh terhadap return, ROE berpengaruh positif terhadap return, sehingga ROE merupakan variabel mediasi antara variabel CAR terhadap return. NPL berpengaruh negatif terhadap ROE, dan NPL berpengaruh positif terhadap return, ROE berpengaruh positif terhadap return, sehingga ROE merupakan variabel moderator antara NPL terhadap return. LDR tidak berpengaruh terhadap ROE, LDR berpengaruh positif terhadap return, dan ROE berpengaruh terhadap return, sehingga ROE tidak berfungsi sebagai variabel moderator antara LDR terhadap return. Berdasarkan penelitian ini maka akan disarankan dalam penelitian lebih lanjut untuk menambah variabel bebas yang lain yang dapat diindikasikan berpengaruh terhadap return baik secara langsung maupun tidak langsung serta membedakan sampel perusahaan. Bagi investor penelitian ini dapat dijadikan gambaran untuk mengambil keputusan yang tepat sebelum berinvestasi.

Pengaruh pembelajaran kontekstual berbasis ICT dengan strategi inkuiri pada materi virus dan monera terhadap motivasi dan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Bangil Pasuruan / Abdul Basith

 

Kata kunci: pembelajaran kontekstual, ICT, strategi inkuiri, motivasi, hasil belajar Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat pada abad 21 ini mengakibatkan perubahan peran guru yang semula sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan dalam proses pembelajaran, menjadi fasilitator, pembimbing, konsultan dan kawan belajar. Pembelajaran diarahkan pada pembelajaran langsung oleh siswa, waktu belajar lebih fleksibel dan mengutamakan kolaborasi. Kenyataan yang dihadapi oleh dunia pendidikan dewasa ini di Indonesia adalah adanya krisis paradigma berupa kesenjangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan paradigma yang digunakan. Salah satu standar kompetensi mata pelajaran Biologi SMA kelas X dalam kurikulum 2004 adalah siswa memahami prinsip-prinsip pengelompokkan mahluk hidup. Indikator-indikator yang diharapkan yaitu siswa mendiskripsikan ciri-ciri dan struktur Virus dan Monera melalui pengamatan langsung di bawah mikroskop dan referensi, mengidentifikasi macam-macam koloni, mengklasifikasi kan, membedakan dan menganalisa sifat Virus, Eubachteria, Archaebachteria dan Cyanobacteri, menggali berbagai informasi melalui penugasan, mendiskusikan berbagai peranan dan penyakit yang terjadi dalam kehidupan manusia. Untuk mencapai harapan tersebut perlu pemanfaatan sumber belajar dan teknologi ICT dengan menyediakan objek nyata dan memberikan pengalaman belajar yang kontekstual. Namun fakta di lapangan menunjukkan masih rendahnya kesadaran, adanya kendala dan kurangnya kreatifitas guru, sehingga kompetensi yang di harapkan pada siswa kurang tercapai secara optimal. Oleh sebab itu, untuk mem perkecil kesenjangan dan menumbuhkan kreatifitas sehubungan dengan pencapaian kompetensi yang diharapkan pada siswa, maka alternatif yang dapat ditempuh salah satunya adalah pembelajaran strategi inkuiri dan pemanfaatan teknologi komputer yaitu internet yang tersedia di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran kontekstual berbasis ICTdengan strategi inkuiri terhadap hasil belajar siswa dan motivasi belajar siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan rancangan pretes dan postes kelompok tak setara atau faktorial 2x2 (the non-equivalent control group design). Subjek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Bangil Pasuruan tahun pelajaran 2010-2011 berjumlah 48 siswa dengan strategi inkuiri pembelajaran kontekstual berbasis ICT. Pengambilan sampel dan penentuan perlakuan setiap kelompok dilakukan penunjukan berdasarkan prestasi jumlah nilai NUN SMP melalui data rekapitulasi jumlah nilai NUN SMP pada PSB SMAN 1 Bangil tahun pelajaran 2010-2011. Analisis data hasil belajar siswa dan motivasi belajar siswa menggunakan teknik analisis unvariat (Anakova) dan dilanjutkan dengan uji lanjut LSD dengan bantuan program SPSS versi 17.0 Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan ICT dengan strategi inkuiri pada pembelajaran kontekstual memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar biologi siswa pada materi virus dan monera. Pemanfaatan ICT dengan strategi inkuiri lebih berpengaruh dibandingkan dengan pembelajaran konvensional terhadap motivasi belajar dan hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor siswa khususnya materi virus-monera. Sebagian besar siswa menunjukkan perhatian yang sangat tinggi, merasakan adanya keterkaitan, percaya diri dan kepuasan yang positif terhadap penggunaan sumber media ICT dengan strategi inkuiri. Dalam pembelajaran ini tidak hanya mengutamakan kemampuan kognitif siswa, tetapi mengkolaborasikan kemampuan afektif dan psikomotor. Berdasarkan hasil penelitian dapat diajukan beberapa saran yaitu; (1) untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam kemampuan mengidentifikasi, mem bedakan, menjelaskan dasar-dasar pengelompokan, (2) meningkatkan kompetensi siswa dalam kemampuan melakukan pengkajian tentang perkembangbiakan virus-monera, peranan yang menguntungkan dan merugikan bagi kehidupan manusia, (3) mendapatkan gambaran yang lengkap dan utuh tentang pembelajaran kontekstual berbasis ICT dengan strategi inkuiri terhadap motivasi dan hasil belajar siswa khususnya materi virus-monera, maka dipandang perlu bagi peneliti lain untuk memperluas dan mengembangkan variabel penelitian Dari hasil analisis data dan hasil pembahasan dapat dibuat kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pembelajaran kontekstual berbasis ICT dengan strategi inkuiri terhadap motivasi,hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotor dengan pembelajaran konvensional.

Perbandingan regresi komponen utama dengan regresi Gulud untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan nasabah / Dini Sukmaningsih

 

Kata kunci: Regresi Komponen Utama, Regresi Gulud, Kepuasan Nasabah Kepuasan nasabah adalah keadaan psikis yang menyenangkan yang dirasakan oleh nasabah di suatu lingkungan karena terpenuhinya kebutuhan secara memadai. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan nasabah atas pelayanan yang diterima meliputi : bunga yang diberikan, fasilitas yang menunjang proses transaksi, pelayanan yang diterima, jaminan keamanan dan lingkungan yang menunjang prioritas transaksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan nasabah pada penelitian ini ditentukan dengan analisis regresi komponen utama dan regresi gulud. Regresi komponen utama merupakan teknik analisis regresi yang dikombinasikan dengan teknik analisis komponen utama yaitu menjadikan analisis komponen utama sebagai tahap analisis untuk mendapatkan hasil akhir dalam analisis regresi. Regresi gulud merupakan salah satu metode yang dianjurkan untuk mengatasi masalah multikolinieritas dengan cara memodifikasi metode kuadrat terkecil biasa (MKTB). Modifikasi tersebut dilakukan dengan cara menambah tetapan bias, θyang relatif kecil pada matriks diagonal X’X, sehingga penduga koefisien regresi dipengaruhi oleh besarnya tetapan bias. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui model terbaik regresi komponen utama dan regresi gulud dari kepuasan nasabah terhadap faktor bunga, fasilitas, pelayanan, keamanan, dan lingkungan, kemudian membandingkan model terbaik regresi komponen utama dan regresi gulud. Dari hasil penelitian diperoleh model Regresi Komponen Utama sebagai berikut: Y = 15.3 + 0.4791 X1 + 0.4999 X2 + 0.4791 X3 + 0.4910 X4 + 0.1620X5 dengan R-sq = 66,5 %, KTG = 2.016, dan F-hitung = 35,68 Sedangkan untuk model Regresi Gulud sebagai berikut : Y = 15.3 + 0.3217 X1 + 0.3448 X2 + 0.3965 X3 + 0.3854 X4 + 0.1410 X5 Dengan R2 = 65.13%, KTG = 2.694, dan F-hitung = 5.23. Dari perbandingan kedua metode tersebut diperoleh nilai kuadrat tengah galat (KTG) model regresi komponen utama lebih kecil dari regresi gulud, sedangkan nilai R-sq dan F-hitung model Regresi Komponen Utama lebih besar dari Regresi Gulud sehingga dapat dikatakan bahwa model Regresi Komponen Utama lebih baik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan nasabah di Bank Rakyat Indonesia cabang Kediri.

Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian konsumen (studi pada warga Perumnas Sawojajar pelanggan koran Jawa Pos Radar Malang) / Arifin

 

Kata kunci: kualitas produk, keputusan pembelian (pelanggan). Dalam era globalisasi, persaingan di dunia bisnis semakin ketat. Munculnya para pemain baru dalam industri dan bisnis sejenis menyebabkan berkurangnya pangsa pasar yang telah dikuasai. Bahkan bukan tidak mungkin akan mengeser posisi perusahaan dalam waktu singkat akibat munculnya pesaing baru yang lebih agresif. Seperti halnya dalam bidang penerbitan media cetak munculnya banyak media cetak baru dengan keunggulan-keunggulan tertentu tentunya akan mempengaruhi perilaku pembelian konsumen dan berpotensi untuk merebut pelanggan media cetak lain. Demikian halnya dengan Jawa Pos-Radar Malang merupakan perusahaan penerbit surat kabar/Koran terkemuka di Jawa Timur, juga harus mencermati selera pasar, mengingat sebagian besar masyarakat masih menjadikan koran sebagai alternatif untuk mendapatkan informasi terkini sehari-hari. Maka dari itu Jawa Pos-Radar Malang melakukan strategi agar pelanggan yang sudah ada berubah menjadi konsumen yang loyal dan menarik minat konsumen baru dengan memberikan keunggulan dalam kualitas produk yang melekat pada koran Jawa Pos-Radar Malang yang diberlakukan untuk periode waktu tertentu dan akan berubah sesuai kondisi persaingan yang sudah ada. Maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Konsumen dalam membeli koran (Studi pada Warga Perumnas Sawojajar Pelanggan koran Jawa Pos-Radar Malang)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kondisi kualitas produk dan keputusan pembelian konsumen pelanggan Perumnas Sawojajar dalam membeli produk koran Jawa Pos-Radar Malang. (2) pengaruh kualitas produk yang terdiri dari kinerja produk (performance), keistimewaan produk (features), keandalan produk (reliability), kemampulayanan produk (service ability), dan persepsi kualitas produk (perceived quality) secara parsial terhadap keputusan pembelian koran Jawa Pos-Radar Malang di Perumnas Sawojajar. (3) pengaruh kualitas produk yang terdiri dari kinerja produk (performance), keistimewaan produk (features), keandalan produk (reliability), kemampulayanan produk (service eability), dan persepsi kualitas produk (perceived quality) secara simultan terhadap keputusan pembelian koran Jawa Pos-Radar Malang di Perumnas Sawojajar. (4) dimensi kualitas produk tersebut di atas, manakah yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen Perumnas Sawojajar dalam membeli produk koran Jawa Pos-Radar Malang Penelitian ini menggunakan instrument berupa kuesioner yang kemudian hasilnya dianalisis melalui analisis regresi linier berganda. Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan tetap koran Jawa Pos-Radar Malang yang berlangganan pada agen Jawa Pos di Perumnas Sawojajar. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan proportional random sampling jumlah populasi 2400 responden, sedangkan jumlah sample sebesar 100. Berdasarkan hasil analisis regresi diketahui bahwa terdapat pengaruh kualitas produk yang terdiri dari kinerja produk (performance), keistimewaan produk (featurers), keandalan produk (reliability), kemampulayanan produk (service ability), serta persepsi kualitas produk (perceived quality) secara parsial terhadap keputusan pembelian koran Jawa Pos-Radar Malang di Perumnas Sawojajar. Hal ini dibuktikan dengan pengaruh kinerja produk terhadap keputusan pembelian dengan nilai t hitung > t tabel yaitu 7,944 > 1, 6669 dengan taraf signifikansi t = 0.000 0,05; pengaruh keitimewaan produk terhadap keputusan pembelian dengan nilai t hitung > t tabel yaitu -2,614 > 1,6669 dan nilai signifikasi t = 0,010 0,05; pengaruh keandalan produk terhadap keputusan pembelian dengan nilai t hitung > t tabel yaitu -2,482 > 1,6669 dan nilai signifikansi t = 0,015 0,05; pengaruh kemampulayanan produk terhadap keputusan pembelian dengan nilai t hitung > t tabel yaitu 0,883 > 1,6669 dan nilai signifikansi t = 0,379 > 1,6669 dan nilai signifikansi t = 0,379 0,05; pengaruh persepsi kualitas produk terhadap keputusan pembelian dengan nilai t hitung > t tabel yaitu -1,183 > 1,6669 dan nilai signifikansi t = 0,240 0,05. Berdasarkan nilai Fhitung sebesar 14,016 dengan tingkat signifikansi 0,000 dapat disimpulkan terdapat pengaruh kualitas produk yang terdiri dari kinerja produk (performance), keistimewaan produk (features), keandalan produk (reliability), kamampulayanan produk (service ability), serta persepsi kualitas produk (perceived quality) secara simultan terhadap keputusan pembelian koran Jawa Pos-Radar Malang. Diketahui pula bahwa nilai Adjusted R Squarer sebesar 0,397 atau 39,7% dapat diartikan bahwa variabel kulitas produk dalam mempengaruhi keputusan pembelian koran Jawa Pos-Radar Malang adalah sebesar 39,7% dan sisanya sebesar 60,3% dipengaruhi hal-hal lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini Berdasarkan temuan di atas, saran yang dapat diberikan peneliti bagi pihak Jawa Pos-Radar Malang hendaknya lebih memperhatikan unsur kinerja produk yang meliputi penyajian headline , keaktulitasan berita, keragaman berita, dan keakuratan berita. Dikarenakan kinerja produk merupakan unsur yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian koran Jawa Pos-Radar Malang. Maka dari itu, disarankan agar Jawa Pos-Radar Malang dapat selalu menjaga kualitas produk dan unsur-unsur yang terkandung didalamnya sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan minat pembeliaan dan kesetiaan. Disamping juga menambah porsi pemberitaan, mengurangi space iklan dan tidak menaikkan harga. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, hendaknya peneliti selanjutnya dapat menggali variabel-variabel baru selain kinerja produk, keistimewaan produk, keandalan produk, kemampulayanan produk, dan persepsi kualitas produk yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian, yang diperkirakan meliputi variabel kualitas layanan, atribut produk, kepuasan, aspek psikologis dan beberapa variabel lain yang dapat dijadikan temuan baru dalam penelitian selanjutnya. Peneliti yang akan datang juga diharapkan lebih selektif dalam memilih teknik pengambilan sampel, agar sampel yang diperoleh lebih mewakili populasi secara keseluruhan.

Menggali pemahaman dan miskonsepsi siswa SMAN 2 Malang tentang laju reaksi dengan menggunakan instrumen duagnostik two-tier / Oscar Prananda P.

 

Pajaindo, Oscar Prananda. 2012. Menggali Pemahaman Siswa SMA pada Konsep Laju Reaksi dengan Menggunakan Instrumen Diagnostik Two-Tier. Skripsi, Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Prayitno, M.Pd., (2) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata kunci : miskonsepi, laju reaksi, tes diagnostik two–tier.    Ilmu kimia merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang memiliki karakteristik abstrak, berurutan dan berjenjang. Oleh karena itu, apabila siswa kurang memahami konsep dasarnya, maka siswa tersebut akan mengalami kesulitan dalam memahami konsep berikutnya. Jika kesulitan yang dialami siswa tidak segera diatasi dapat menimbulkan miskonsepsi. Miskonsepsi pada siswa sulit dihilangkan dan akan terbawa hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini menyebabkan siswa kesulitan dalam menghubungkan konsep baru dengan konsep salah yang dimilikinya. Laju Reaksi merupakan salah satu konsep dalam kimia yang sulit untuk dipahami. Salah satu cara yang digunakan untuk mengetahui pemahaman dan mengidentifikasi miskonsepsi siswa menggunakan instrumen diagnostik two–tier. Oleh karena itu, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian penggunaan instrumen diagnostik two–tier dengan tujuan untuk menggali pemahaman dan mengidentifikasi miskonsepsi yang dimiliki siswa pada materi laju reaksi.     Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian 94 siswa SMA kelas XI IPA. Instrumen yang digunakan adalah tes diagnostik two–tier berjumlah 25 butir soal dengan 2-4 alternatif jawaban disertai 3-5 alternatif alasan pilihan jawaban. Langkah-langkah penyusunan instrumen sebagai berikut: (1) menentukan cakupan konsep yang diteliti, (2) melakukan kajian literatur, (3) menyusun dan menyebarkan tes terbuka, (4) penyusunan dan validasi instrumen diagnostik two-tier. Reliabilitas instrumen sebesar 0,833. Data hasil tes dianalisis secara deskriptif, sedangkan miskonsepsi yang dialami siswa ditentukan berdasarkan kekonsistenan jawaban salah yang dialami siswa pada setiap pasangan soal.     Hasil penelitian tentang pemahaman dan kesalahan konsep siswa sebagai berikut. (a) Pemahaman siswa pada laju reaksi tergolong cukup, (b) ditemukan sebanyak 16 miskonsepsi antara lain: (1) laju reaksi ditentukan berdasarkan konsentrasi reaktan pada tahap cepat, (2) pada reaksi dengan harga energi aktifasi (Ea) tinggi akan lebih cepat, (3) tumbukan dengan orientasi tepat hanya terjadi pada atom-atom sejenis, (4) laju reaksi merupakan laju penambahan reaktan atau pengurangan produk, (5) pada reaksi orde nol laju reaksi semakin meningkat dengan berkurangnya konsentrasi reaktan, (6) katalis akan meningkatkan energi aktivasi sehingga reaksi akan berjalan lebih cepat, (7) pada massa yang sama laju reaksi akan semakin cepat dengan bertambahnya ukuran pereaksi, dan (8) laju reaksi makin cepat pada suhu rendah.

Pengaruh penggunaan wireless phone sebagai pengganti pemandu pada lari sprint 100 meter tunanetra terhadap waktu tempuh di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra (RSCN) Janti-Malang / Ericho Brian Wiratma

 

Kata Kunci: Tunanetra, lari sprint, wireless phone Lari sprint merupakan salah satu cabang olahraga atletik yang digemari dan menarik untuk ditonton. Lari sprint terbagi menjadi jarak 100 meter dan 200 meter. Lari sprint 100 meter juga dilakukan oleh tunanetra, yang berlari dengan peraturan khusus untuk penyandang cacat. Perbedaannya terletak pada tata cara berlari, dimana tunanetra berlari satu-persatu di lintasan. Tunanetra juga dibantu pemandu ketika berlari, yang dilakukan dengan beberapa metode untuk memandu. Sedangkan untuk tata cara start dan finish sama dengan lari sprint untuk pelari normal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu, karena dilakukan tanpa adanya kelompok kontrol, dan dilakukan untuk mengetahui apakah penggunaan wireless phone memberikan pengaruh terhadap waktu tempuh pada lari sprint 100 meter tunanetra di UPT Rehabilitasi Sosial Cacat Netra (RSCN) Janti – Malang. Sampel penelitian ini berjumlah 10 orang tunanetra laki-laki. Tes lari dilakukan sebanyak dua kali untuk memperoleh data yang selanjutnya dianalisis dan digunakan untuk menarik kesimpulan. Tes awal dilakukan dengan tes lari sprint 100 meter tunanetra dengan pemandu, tes akhir dilakukan dengan tes lari sprint 100 meter tunanetra dengan menggunakan wireless phone dimana tunanetra sudah belajar bagaimana cara menggunakan wireless phone. Analisa data berupa uji normalitas kolmogorov smirnov (one sample kolmogorov smirnov), uji homogenitas (levene statistic) dan uji beda teknik wilcoxon (wilcoxon signed ranks test). Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh penggunaan wireless phone terhadap waktu tempuh pada lari sprint 100 meter tunanetra, dari 10 sampel, 9 sampel mengalami perubahan positif dan 1 sampel mengalami perubahan negatif. Terjadi peningkatan rata-rata waktu tempuh (semakin cepat) dari 17.1105 detik menjadi 16.7340 detik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan wireless phone mempengaruhi waktu tempuh pada lari sprint 100 meter tunanetra di UPT RSCN Janti – malang. Penelitian ini sangat menarik untuk dilakukan, terlebih lagi apabila penelitian dilakukan tidak hanya pada tunanetra saja. Karena banyak penyandang cacat lainnya yang juga gemar berolahraga. Untuk penelitian-penelitian selanjutnya, diharapkan semakin banyak dilakukan penelitian pada olahraga penyandang cacat. Agar olahraga untuk penyandang cacat semakin dikenal oleh khalayak umum.

Pengaruh debt to equity ratio (DER) dan debt to total asset ratio (DAR) terhadap earning per share (EPS) melalui return on equity (ROE) pada perusahaan food and beverages yang listing di BEI tahun 2007-2009 / Hartatiek

 

Kata Kunci: Debt To Equity Ratio (DER), Debt To Total Assets Ratio (DAR), Return On Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS). Tujuan perusahaan secara umum yaitu mencapai tingkat laba yang optimal. Diukur dengan Return On Equity (ROE). Banyak variabel yang dapat digunakan untuk menentukan besarnya ROE, diantaranya yaitu Debt To Equity Ratio (DER) dan Debt To Total Assets Ratio (DAR). Kedua struktur modal ini dapat mempengaruhi ROE perusahaan. Semakin efisien penggunaan hutang maka ROE perusahaan juga semakin baik. Selain mencapai tingkat laba yang optimal, tugas lain perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada tingkat pengembalian yang akan didapat dari aktivitas investasinya. Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan keuntungan dimasa mendatang, maka banyak investor yang akan menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung pengaruh DER dan DAR terhadap EPS dan tidak langsung melalui ROE pada perusahaan Food and Beverage yang listing di BEI tahun 2007-2009. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah DER, DAR dan ROE, sementara itu variabel terikat adalah EPS. Penelitian ini merupakan jenis penelitian asosiatif yang bersifat kausalitas, sampel dalam penelitian menggunakan teknik simple random sampling dan teknik analisis data menggunakan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Debt To Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh langsung terhadap Earning Per Share (EPS) tetapi berpengaruh secara tidak langsung melalui Return On Equity (ROE). Dan Debt To Total Asset Ratio (DAR) juga tidak berpengaruh langsung terhadap Earning Per Share (EPS) tetapi berpengaruh secara tidak langsung melalui Return On Equity (ROE). Berdasarkan hasil tersebut, disarankan bagi para investor untuk melihat struktur modal yang dimiliki perusahaan karena struktur modal dapat mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Sedangkan bagi manajemen perusahaan disarankan agar lebih memperhatikan kegiatan operasional perusahaan sehingga kinerja perusahaan dapat ditingkatkan. Serta untuk para peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah variabel lain yang diduga berpotensi mempengaruhi EPS, seperti rasio perputaran aktiva tetap, penjualan, dan perputaran modal kerja. Periode pengamatan dan sampel ditambah atau bahkan meneliti pada sektor lain untuk memperoleh hasil yang berbeda.

Penerapan model pembelajaran kooperatif student teams achievement division (STAD) berbantuan komputer untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Kesamben / Suep Hadisiswoyo

 

Kata Kunci: motivasi belajar, hasil belajar, pembelajaran kooperatif. Hasil pengamatan awal terhadap pelaksanaan pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Kesamben menunjukkan motivasi belajar dan hasil belajar IPA siswa masih rendah. Guru sering mengalami kesulitan dalam merangsang siswa agar berani mengemukakan pendapat dalam proses pembelajaran. Pola pembelajaran di kelas masih terpusat pada guru, sehingga siswa kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas. Partisipasi siswa belum terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran. Mengingat hal tersebut pengembangan model pembelajaran motivasional bagi siswa merupakan kebutuhan mendesak dan perlu mendapat perhatian. Salah satu pendekatan pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang terdiri dari kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang yang siswanya bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan belajar mereka. Pembelajaran dengan kelompok-kelompok kecil bertujuan untuk meningkatkan pencapaian prestasi belajar. Pembelajaran ini berorientasi pada siswa, yaitu melibatkan siswa secara langsung baik emosional maupun sosial dalam belajar. Lima elemen pokok dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individu, (4) adanya kesamaan tujuan, dan (5) keterampilan bersosialisasi (menjalin hubungan antara pribadi). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan proses dan hasil penerapan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas sangat relevan dengan penerapan pembelajaran kooperatif STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama 6 kali pertemuan dalam dua siklus melalui empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi, pengamatan (observasi), dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Kesamben, Kabupaten Blitar semester II tahun pelajaran 2009/2010. Data penelitian berupa motivasi belajar, yang dikumpulkan dengan menggunakan instrument angket dan hasil belajar yang dikumpulkan dengan menggunakan instrument tes. Data motivasi belajar siswa menunjukkan peningkatan dari siklus I dengan nilai rata-rata sebesar 81,25 ke siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 82,31. Data hasil belajar ranah kognitif, afektif, dan psikomotor menunjukkan peningkatan perolehan nilai rata-rata dari siklus I ke siklus II. Hasil belajar ranah kognitif pada siklus I nilai rata-rata sebesar 76,09 dan pada siklus II nilai rata-rata sebesar 84,21. Hasil belajar ranah afektif pada siklus I nilai rata-rata sebesar 84,01 dan pada siklus II nilai rata-rata sebesar 86,72. Hasil belajar ranah psikomotor pada siklus I nilai rata-rata sebesar 80,24 dan pada siklus II nilai rata-rata sebesar 90,76. Hasil analisis data menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif STAD berbantuan komputer untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa SMP Negeri 1 Kesamben, dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran IPA. Melalui belajar berkelompok mampu memberdayakan siswa untuk berinteraksi lebih lama dengan sesama anggota kelompoknya, dan berpengaruh terhadap motivasi dan hasil belajar. Pemberian penghargaan sebagai bentuk penguatan kepada siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar, ternyata mampu memberikan kepuasan, memelihara kerjasama kelompok, dan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Saran-saran yang dapat dikemukakan berkaitan dengan keberhasilan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah: (1) dianjurkan agar guru menerapkan pembelajaran kooperatif ini dalam pembelajaran IPA di sekolah, (2) pembelajaran kooperatif STAD dapat dijadikan sebagai terobosan baru untuk meningkatkan mutu pembelajaran, (3) hendaknya guru menyampaikan indikator dan tujuan belajar yang hendak dicapai di awal pembelajaran, (4) hendaknya guru memberikan penghargaan (reward) sebagai bentuk penguatan dalam pembelajaran, (5) hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi peneliti lain dalam upaya meningkatakan mutu pendidikan nasional.

Pengaruh strategi pembelajaran problem based learning (PBL) berbasis multimedia dan kemampuan akademik terhadap kemampuan pemecahan masalah, penguasaan konsep, sikap, dan keterampilan pengelolaan lingkungan siswa SMK Negeri 2 Bondowoso / Rohmawati

 

Kata Kunci: PBL berbasis multimedia, kemampuan pemecahan masalah, penguasaan konsep, sikap, keterampilan pengelolaan lingkungan. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa SMK sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya, khususnya di dunia kerja. Sementara pada sisi lain, hasil observasi empirik di lapangan mengindikasikan bahwa sebagian besar lulusan SMK kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan maupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sulit untuk bisa dilatih kembali, dan kurang bisa mengembangkan diri (Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan, 2004). Temuan tersebut tampaknya mengindikasikan bahwa pembelajaran di SMK perlu mengembangkan kemampuan adaptasi siswa, di antaranya kemampuan pemecahan masalah. Selain kemampuan pemecahan masalah, kemampuan penguasaan konsep berupa kemampuan ranah kognitif tingkat tinggi perlu dimiliki siswa karena diharapkan dapat mendukung kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Demikian pula aspek sikap perlu dikembangkan untuk mendukung kemampuan adaptasi siswa. Untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut, pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL) adalah jawabannya. Sebagai salah satu lembaga pendidikan kejuruan, SMK Negeri 2 Bondowoso mengemban tugas untuk mengembangkan kemampuan adaptasi siswa melalui kelompok mata pelajaran adaptif. Permasalahannya adalah selama ini pembelajaran adaptif yang dilaksanakan di SMK Negeri 2 Bondowoso, di antaranya mata pelajaran IPA Biologi masih berpusat kepada guru (teacher centered learning), kurang menekankan kepada aktivitas mental siswa sehingga belum dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, penguasaan konsep, dan sikap siswa. Oleh karena itu implementasi strategi PBL dalam mata pelajaran IPA Biologi perlu dilakukan melalui langkah penelitian. Strategi pembelajaran PBL dalam penelitian ini diterapkan pada materi lingkungan dengan pertimbangan bumi semakin hari semakin rusak disebabkan oleh rendahnya kepedulian manusia terhadap lingkungannya. Pada umumnya, materi lingkungan sering tidak dapat dihadirkan di dalam kelas, sehingga penggunaan multimedia pada implementasi strategi pembelajaran PBL pada materi lingkungan sangat sesuai karena dapat menampilkan berbagai format. Materi lingkungan terkait erat dengan limbah sehingga aspek psikomotor berupa keterampilan pengelolaan lingkungan selayaknya dimiliki oleh siswa. Mengingat kelas atau rombongan belajar terdiri dari siswa dengan kemampuan akademik yang berbeda, maka aspek heterogenitas kelas menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam penelitian ini. Dengan demikian, langkah penelitian ini dianggap perlu untuk menguji pengaruh strategi PBL berbasis multimedia dan kemampuan akademik terhadap kemampuan pemecahan masalah, penguasaan konsep, sikap, dan keterampilan pengelolaan lingkungan siswa SMK Negeri 2 Bondowoso. Penelitian ini dirancang menggunakan quasi eksperimental (eksperimen semu), dilaksanakan di SMK Negeri 2 Bondowoso pada siswa tingkat XI semester ganjil tahun ajaran 2010/2011, dengan kelas XI A1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI A2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi pelaksanaan pembelajaran, tes kemampuan pemecahan masalah, tes kemampuan penguasaan konsep, tes sikap, lembar pengamatan kemampuan psikomotor dan lembar penilaian produk daur ulang limbah, serta angket untuk mengetahui respons siswa terhadap pembelajaran PBL berbasis multimedia. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Anakova, dilanjutkan dengan uji beda LSD (Least Significant Difference), sedangkan data pelaksanaan kegiatan daur ulang limbah serta data respons siswa dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran PBL berbasis multimedia berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan penguasaan konsep siswa, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap siswa pada lingkungan. Kemampuan akademik berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah, penguasaan konsep, dan sikap siswa pada lingkungan. Interaksi antara strategi pembelajaran PBL berbasis multimedia dan kemampuan akademik tidak berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah, penguasaan konsep, dan sikap siswa pada lingkungan.Rerata nilai keterampilan pengelolaan lingkungan siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran PBL berbasis multimedia lebih tinggi dibanding siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional. Respons siswa terhadap penerapan strategi pembelajaran PBL berbasis multimedia sangat positif. Terkait kesimpulan tersebut, maka peneliti menyarankan agar guru mengimplementasikan strategi PBL berbasis multimedia sebagai salah satu strategi pembelajaran IPA Biologi serta mata pelajaran lain di SMK. Karakteristik materi yang disarankan menggunakan strategi PBL yaitu mengandung unsur masalah yang menantang atau merangsang, bersifat interdisipliner, memungkinkan adanya penyelidikan autentik, memungkinkan dihasilkan suatu karya (artefak) dan dipamerkan (exhibit), serta memberi peluang bekerja kolaboratif dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Bagi guru yang akan menerapkan strategi pembelajaran PBL berbasis multimedia agar mempertimbangkan kesiapan siswa, kesiapan guru, dan ketersediaan sumber belajar serta fasilitas yang akan digunakan dalam implementasi strategi pembelajaran PBL berbasis multimedia.

Pengaruh customer relationship management (CRM) terhadap loyalitas nasabah / Hendri Widodo

 

Kata kunci: Pengaruh Customer Relationship Management (CRM), loyalitas nasabah Di era perdagangan bebas sekarang ini, tumpuan perusahaan untuk tetap mampu bertahan hidup adalah pelanggan yang loyal. Perusahaan harus jeli dalam melihat perubahan kebutuhan pelanggan, sehingga perusahaan dapat selalu memberikan pelayanan yang sesuai. Untuk menciptakan pelanggan-pelanggan yang setia, perusahaan dituntut untuk melakukan diskriminasi antara pelanggan-pelanggan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan bagi perusahaan. Salah satu strategi yang bisa diterapkan perusahaan adalah dengan menciptakan relationship (hubungan) antara perusahaan dengan pelanggannya. Strategi tersebut dikenal dengan istilah Customer Relationship Management (CRM). Pepers-Rogers (2004), menjelaskan “CRM (Customer Relationship Management) sebagai strategi pemasaran yang dilakukan perusahaan untuk mengelola hubungan pelanggan bagaimana mengidentifikasi pelanggan, diferensiasi pelanggan, interaksi dengan pelanggan dan mempertahankan pelanggan” Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kausalitas. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan pengaruh Customer Relationship Management (CRM) yang terdiri dari identifikasi (X1), diferensiasi (X2), interaksi (X3), customize (X4) terhadap loyalitas nasabah baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi dari penelitian ini adalah Nasabah yang memiliki tabungan, menjadi debitur dan atau yang menggunakan produk-produk Bank BTN Malang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden. Sampel diambil dengan menggunakan teknik Stratified Sampling, Proporsional Sampling, dan Accidental Sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh positif signifikan Customer Relationship Management (CRM) (identifikasi, diferensiasi, interaksi, customize) secara parsial terhadap loyalitas nasabah pada Bank BTN Malang, (2) terdapat pengaruh positif signifikan Customer Relationship Management (CRM) (identifikasi, diferensiasi, interaksi, customize) secara simultan terhadap loyalitas nasabah pada Bank BTN Malang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Customer Relationship Management (CRM) dapat mempengaruhi loyalitas nasabah baik secara parsial maupun secara simultan. Identifikasi, diferensiasi, interaksi, customize mempengaruhi loyalitas nasabah pada Bank BTN Malang sebesar 56,3%, sedangkan sisanya 43,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar penelitian Saran yang dapat berikan berkaiatan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah (1) Pelaksanaan CRM yang dilakukan bank BTN Malang harus dipertahankan secara konsisten dan sebaiknya lebih ditingkatkan supaya loyalitas nasabah dapat berlangsung lama, (2) CRM yang khusus mempengaruhi loyalitas nasabah, sekiranya dapat dijadikan acuan untuk membuat perencanaan manajemen yang lebih baik dan efektif demi tercapainya tujuan perusahaan, (3) Menjalankan hubungan baik dengan nasabah tidak hanya dilakukan oleh karyawan-karyawan tertentu saja tetapi sebaiknya juga dilakukan oleh semua karyawan yang secara tidak langsung berhubungan dengan nasabah.

Penerapan pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui metode tanya jawab teknik talking stick untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran ekonomi kelas VIII SMPN 10 Malang / Tania Dwi Maretawati

 

Kata kunci: Model Pembelajaran talking stick, aktivitas belajar, hasil belajar. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran ekonomi di SMP Negeri 10 Malang, diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran mata pelajaran ekonomi di kelas masih menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif dalam pembelajaran, sehingga menimbulkan aktivitas dan hasil belajar siswa menjadi kurang. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Strategi yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui metode tanya jawab teknik talking stick. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar ekonomi pada siswa kelas VIII F SMP Negeri 10 Malang melalui penerapan pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui metode tanya jawab teknik talking stick. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Data penelitian aktivitas dan belajar siswa yang diperoleh melalui observasi dan hasil belajar siswa diperoleh melalui post test pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I aktivitas siswa sebesar 45,16% dengan kategori “cukup” dan pada siklus II rata-ratanya meningkat menjadi 73,96% dengan kategori “baik”% pada siklus II. Sedangkan aktivitas siswa pada saat diterapkan pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui metode tanya jawab teknik talking stick pada siklus I rata-ratanya 66,67% dengan kategori “baik“ dan pada siklus II meningkat menjadi sebesar 13,33% dengan rata-rata sebesar 80% dengan kategori 80% dengan kategori “sangat baik“ dan pada hasil belajar juga mengalami peningkatan, pada siklus I sebesar 76,70% dan pada siklus II menjadi 82,95%. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui metode tanya jawab teknik talking stick dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi siswa kelas VIII F SMP Negeri 10 Malang. Saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu agar pembelajaran dengan pendekatan CTL melalui metode tanya jawab teknik talking stick dapat dijadikan salah satu alternatif pilihan bagi guru bidang studi ekonomi untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut, untuk menerapkan pada materi yang lain dan dengan sampel yang lebih luas sehingga hasil penelitian bisa berlaku lebih general.

Pengaruh kewirausahaan organisasi dan pengelola, kapabilitas pembelajaran organisasi dan inovasi manajemen terhadap kinerja koperasi primer di Kota Padang Sumatera Barat (analisis model persamaan struktural dengan metode partial least square) / Marwan

 

Kata Kunci: Karakteristik kewirausahaan, kapabilitas pembelajaran, kapabilitas inovasi, kinerja koperasi Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sumberdaya dan kapabilitas internal koperasi yang terdiri dari karakteristik kewirausahaan organisasi dan pengelola, kapabilitas pembelajaran organisasi dan inovasi manajemen terhadap kinerja koperasi primer di Kota Padang Sumatera Barat. Unit analisis dalam penelitian ini adalah koperasi primer di Kota Padang Sumatera Barat. Ukuran sampel sebanyak 97 unit koperasi dan dipilih dengan menggunakan teknik proportional random sampling. Kuesioner digunakan sebagai alat pengumpulan data dan diisi oleh pengelola koperasi sebagai responden penelitian. Analisis data dan pengujian hipotesis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan metode Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kewirausahaan organisasi dan pengelola serta kapabilitas pembelajaran organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kapabilitas inovasi manajemen koperasi. Selanjutnya karakteristik kewirausahaan organisasi dan pengelola serta kapabilitas pembelajaran organisasi berpengaruh positif dan signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui kapabilitas inovasi manajemen terhadap kinerja koperasi. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumberdaya dan kapabilitas internal memiliki peran penting dalam meningkatkan kinerja koperasi. Teori Resource Based View (RBV) dapat digunakan untuk memprediksi kinerja koperasi. Teori ini dapat diadopsi dan dikembangkan lebih lanjut dalam kajian kewirausahaan dan manajemen koperasi. Peningkatan kinerja koperasi dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas karakteristik kewirausahaan organisasi dan pengelola, peningkatan kapabilitas pembelajaran organisasi dan inovasi manajemen koperasi. Peningkatan kualitas karakteristik kewirausahaan organisasi koperasi dapat dilakukan dengan cara mengembangkan sistem imbalan berbasis kinerja. Koperasi juga dapat mengatur jam kerja yang lebih memadai terutama bagi pengelola yang bekerja paruh waktu di koperasi, merumuskan kontrak kerja yang lebih memberikan keleluasaan bagi pengelola untuk mengambil kebijakan, meningkatkan partisipasi anggota dalam mendukung kinerja pengelola, dan merumuskan aturan organisasi yang lebih fleksibel dalam menghadapi lingkungan eksternal yang semakin dinamis. Peningkatan kualitas karakteristik kewirausahaan pengelola koperasi dapat dilakukan dengan mengikutsertakan pengelola dalam kegiatan pendidikan, latihan dan penyuluhan serta kegiatan magang yang terkait dengan kewirausahaan. Kapabilitas pembelajaran organisasi koperasi dapat ditingkatkan melalui kegiatan lokakarya dan sarasehan yang melibat seluruh pihak seluruh pihak yang terkait dengan koperasi. Kapabilitas inovasi manajemen koperasi dapat ditingkatkan dengan cara mengadakan kegiatan studi banding dan mengadopsi inovasi-inovasi yang telah dilakukan oleh koperasi atau perusahaan lain. Dari aspek pendidikan ekonomi, upaya-upaya peningkatan kinerja koperasi dapat dilakukan melalui semua jenis pendidikan, baik pendidikan formal, non formal maupun informal. Penelitian ini merekomendasikan kepada koperasi untuk menindaklanjuti hasil penelitian ini dengan mengadakan kegiatan evaluasi diri untuk mengkaji, membangun dan mengembangkan sumberdaya dan kapabilitas internal yang dimiliki koperasi. Lembaga pendidikan terkait perlu menyempurnakan materi dan pengembangan kurikulum yang terkait dengan kewirausahaan dan manajemen koperasi. Selanjutnya diikuti dengan pengembangan strategi dan metode serta model-model pendidikan, latihan dan penyuluhan koperasi yang lebih inovatif dan sesuai dengan kebutuhan koperasi. Kerjasama antara berbagai pihak yang terkait dengan peningkatan kinerja koperasi perlu dituangkan dalam bentuk nota kesepahaman. Pengambil kebijakan juga perlu menyempurnakan lagi undang-undang, aturan-aturan dan kebijakan yang dapat memperkuat posisi koperasi dan gerakan koperasi di era global.

Peningkatan kemampuan menulis deskripsi dengan menggunakan strategi pengamatan lingkungan pada siswa kelas IV SDN I Pandean Dongko Trenggalek / Dewi Indiati

 

Kata kunci: kemampuan, menulis deskripsi, strategi pengamatan lingkungan. Pembelajaran menulis deskripsi di sekolah dasar pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam mengungkapkan gagasan secara tertulis. Ellis dkk (1989:178) menyatakan bahwa menulis deskripsi merupakan cara yang sangat baik untuk memulai kegiatan menulis. Dengan cara itu, siswa dapat belajar untuk mengamati sesuatu secara rinci kemudian menggambarkannya tertulis. Kemampuan mengamati dan menggambarkan suatu objek dalam bentuk tulisan tidak hanya diperoleh melalui pengetahuan, tetapi juga melalui pengalaman siswa itu sendiri. Siswa dapat menggunakan secara langsung penginderaan yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik belajar yang dimilikinya untuk menggambarkan objek. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya peningkatan keterampilan menulis deskripsi dengan menggunakan strategi pengamatan lingkungan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis deskripsi, penelitian ini merumuskan masalah sebagai berikut. “Bagaimanakah upaya peningkatan kemampuan menulis deskripsi dengan menggunakan strategi pengamatan lingkungan pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri I Pandean Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek?” (a) “Bagaimanakah upaya proses peningkatan kemampuan menulis deskripsi dengan menggunakan strategi pengamatan lingkungan?” dan (b) “Bagaimanakah upaya peningkatan hasil kemampuan menulis deskripsi berdasarkan strategi pengamatan lingkungan?”. Untuk menjawab pertanyaan di atas, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian dilaksanakan berdasar tiga siklus tindakan atas kolaborasi antara guru dan peneliti. Setiap siklus tindakan berdasar alur tindakan yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Data penelitian berupa informasi mengenai proses tindakan (hasil pengamatan dari perencanaan dan pelaksanaan), serta hasil tes siswa sebelum pelaksanaan kegiatan perbaikan. Hasil tes kegiatan siswa yang dijadikan tindakan di siklus berikutnya apabila taraf penguasaannya kurang dari target pencapaian (70%). Subyek penelititian siswa kelas 4 SDN I Pandean, Dongko, Trenggalek, sejumlah 29 siswa yang secara aktif mengikuti kegiatan tanpa membedakan gender. Hasil evaluasi yang dilakukan setiap akhir kegiatan perlakuan menunjukkan perkembangan yang baik. Taraf penguasaan rata-rata di siklus I (68,9), siklus II (87,3), dan siklus III (89,9). Bertolak dari hasil penelitian tersebut, disarankan agar (1) kepala sekolah dasar disarankan agar memberikan peluang kepada guru untuk menerapkan pembelajaran menulis deskripsi dengan strategi hasil pengamatan lingkungan, (2) guru sekolah dasar disarankan agar hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran menulis deskripsi, (3) kepada para peneliti berikutnya kiranya dapat merancang penelitian baru yang berkaitan dengan penerapan strategi hasil pengamatan lingkungan dalam pambelajaran menulis deskripsi di sekolah dasar. Dengan demikian diharapkan siswa sekolah dasar lebih terampil dalam menulis deskripsi.

Pengaruh perhatian dan status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi siswa di SMAN 7 Malang / Yunita Citra Sari

 

Kata kunci: perhatian orang tua, status sosial ekonomi orang tua, dan rasionalitas ekonomi siswa Rasionalitas ekonomi sebagai sikap yang mencerminkan kecenderungan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi, pada dasarnya telah dikenal oleh siswa SMA sejak mereka mengenal aktivitas ekonomi di lingkungan keluarga, maupun masyarakat di sekitar kehidupannya. Dengan status sosial ekonomi orang tua yang tinggi segala kebutuhan anak akan terpenuhi, dan segala keinginannya akan dicukupi, dalam hal ini diperlukan juga perhatian yang tinggi dari orang tua agar kelak anak dapat mengatur sendiri keungannya dan dapat berperilaku rasional dalam berkonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mendeskripsikan pengaruh perhatian orang tua terhadap rasionalitas ekonomi siswa, (2) untuk mendeskripsikan pengaruh status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi siswa, (3) untuk mendeskripsikan pengaruh perhatian dan status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi siswa. Penelitian ini bersifat korelasional dan dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket untuk mengukur perhatian orang tua, status sosial ekonomi orang tua dan rasionalitas ekonomi siswa. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh siswa kelas X dan XI di SMA Negeri 7 Malang dengan jumlah 708 dan berdasarkan rumus Slovin dapat diketahui sampel sebanyak 88 siswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Taraf signifikansi yang digunakan adalah 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhatian orang tua dan status sosial ekonomi orang tua siswa di SMAN 7 Malang adalah sedang, sedangkan rasionalitas ekonomi siswa di SMAN 7 Malang adalah tinggi. Dari hasil penelitian berarti apabila ada peningkatan perhatian orang tua (X_1) sebesar satu satuan dan status sosial ekonomi orang tua (X_2) tetap, maka rasionalitas ekonomi siswa (Y) akan meningkat sebesar 0,792. Apabila perhatian orang tua (X_1) dan status sosial ekonomi orang tua (X_2) meningkat satu satuan dan perhatian orang tua (X_1) tetap, maka rasionalitas ekonomi siswa (Y) akan meningkat sebesar 0,315. Sedangkan konstanta sebesar 2,221 artinya jika perhatian orang tua (X_1) dan status sosial ekonomi orang tua (X_2) nilainya 0, maka rasionalitas ekonomi siswa (Y) nilainya adalah 2,221. Sedangkan R-Square sebesar 0,532 menunjukkan bahwa perubahan variabel rasionalitas ekonomi siswa (Y) berkorelasi dengan variasi perubahan variabel perhatian orang tua (X_1) dan status sosial ekonomi orang tua ( X_2) sebesar 53,2%, sisanya sebesar 46,8% perubahan variabel rasionalitas ekonomi siswa (Y) berkorelasi dengan variasi perubahan variabel lain yang tidak dideskripsikan dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan: (1) terdapat pengaruh signifikan positif perhatian orang tua terhadap rasionalitas ekonomi siswa di SMAN 7 Malang, (2) terdapat pengaruh signifikan positif status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi siswa di SMAN 7 Malang, (3) terdapat pengaruh signifikan positif secara simultan perhatian dan status sosial ekonomi orang tua terhadap rasionalitas ekonomi siswa di SMAN 7 Malang. Saran yang dapat dikemukakan adalah: (1) Mengingat perhatian orang tua dan status sosial ekonomi orang tua berpengaruh terhadap rasionalitas ekonomi siswa, maka hendaknya orang tua berusaha untuk meningkatkan perhatian mereka kepada anaknya. Orang tua hendaknya juga berusa semaksimal mungkin dalam usaha meningkatkan pendapatannya agar dapat mendukung kebutuhan anaknya mengingat hal ini penting bagi masa depan anaknya, (2) Bagi Guru hendaknya berusaha semaksimal mungkin dalam memberikan informasi dan meningkatkan tindakan guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah, khususnya kecenderungan pola konsumsi yang rasional terhadap produk/jasa yang dibeli peserta didik, (3) bagi peneliti lain yang ingin meneliti tentang rasionalitas ekonomi diharapkan mau menggali dan meneliti faktor-faktor lain yang mempengaruhi rasionalitas ekonomi.

Penerapan pembelajaran berbasis inkuiri dengan the 5 e learning cycle model untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa kelas VII-I SMPN 2 Pandaan tahun pelajaran 2009/2010 / Ustadi

 

Kata Kunci: prestasi belajar, kemampuan kerja ilmiah, The 5 E Learning Cycle Model. Kurang lengkapnya alat-alat percobaan, banyaknya muatan materi yang harus disampaikan dan banyaknya beban tugas tambahan menyebabkan guru menggunakan metode ceramah dan demonstrasi dalam pembelajaran. Rendahnya kemampuan siswa untuk melakukan penyelidikan, menganalisis data, menyimpulkan, berkomunikasi ilmiah dan bersikap merupakan indikator rendahnya kemampuan kerja ilmiah siswa yang merupakan dampak dari kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Rendahnya nilai ulangan harian siswa merupakan indikator rendahnya prestasi belajar siswa. Oleh karena itu diperlukan suatu model pembelajaran yang menarik dan dapat melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Penerapan pembelajaran dengan the 5 E Learning Cycle Model dapat melibatkan siswa secara aktif pada setiap fase pembelajarannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa melalui penerapan pembelajaran IPA berbasis inkuiri dengan the 5 E Learning Cycle Model. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII-I SMPN 2 Pandaan tahun ajaran 2009/2010, berjumlah 30 siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif pada data kemampuan kerja ilmiah dan prestasi belajar siswa serta keterlaksanaan pembelajaran menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dengan the 5 E Learning Cycle Model dapat meningkatkan kemampuan kerja ilmiah siswa yang ditunjukkan oleh peningkatan persentase seluruh aspek kemampuan kerja ilmiah yang diamati dan prestasi belajar siswa. Prestasi belajar rata-rata siswa yang meningkat terdiri dari 66,33 pada siklus I meningkat menjadi 76,17 pada siklus II dengan jumlah siswa yang telah mencapai ketuntasan dari 11 siswa atau 37% menjadi 22 siswa atau 73,33% dari seluruh siswa.

Pengembangan perangkat pembelajaran IPA biologi SMP berbasis inkuiri terbimbing dipadu kooperatif STAD serta pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains pada siswa berkemampuan akademik atas dan bawah / Baskoro Adi

 

Kata kunci: Inkuiri, STAD, berpikir, metakognisi, keterampilan proses sains Biologi terdiri dari aspek produk dan proses. Pembelajaran Biologi di Indonesia sebagian besar terbatas pada aspek produk. Pembelajaran yang terbatas pada aspek produk menyebabkan pembelajaran berbasis isi. Keberhasilan pembelajaran berbasis isi diukur dari banyaknya konsep yang berhasil dihafalkan oleh siswa, akibatnya kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains siswa memprihatinkan. Permasalahan penting lainnya adalah mensejajarkan prestasi belajar siswa berkemampuan akademik bawah (AB) dengan siswa berkemampuan akademik atas (AA). Vygotsky menyatakan, siswa AA dan AB dapat sejajar prestasi belajarnya, jika memperoleh scaffolding dari guru dan teman sebayanya. Strategi pembelajaran yang berpotensi menyelesaikan permasalahan tersebut adalah Inkuiri terbimbing dan STAD. Inkuiri terbimbing terbukti mampu melatihkan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. Strategi STAD terbukti mampu melatihkan berpikir tinggi dan metakognisi, selain itu kegiatan diskusi pada strategi STAD mampu memfasilitasi proses scaffolding melalui tutorial sebaya. Integrasi sintaks inkuiri terbimbing dan STAD berpotensi mampu meningkatkan kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains, serta mampu mensejajarkan prestasi belajar siswa AA dan AB. Tujuan penelitian terdiri dari tujuan penelitian pengembangan dan eksperimen. Penelitian pengembangan bertujuan mengembangkan perangkat pembelajaran. Penelitian eksperimen bertujuan sebagai berikut. (1) Mengetahui pengaruh strategi pembelajaran terhadap kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. (2) Mengetahui pengaruh kemampuan akademik terhadap berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. (3) Mengetahui pengaruh interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. Tahap pengembangan merujuk pada Borg & Gall yaitu, tahap analisis kebutuhan, tahap pengembangan, dan tahap uji coba produk. Rancangan eksperimen menggunakan kuasi eksperimen pretes-postes non equivalent control group design. Variabel bebas adalah strategi pembelajaran dan kemampuan akademik. Variabel terikat adalah kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas VII SMPN di Surakarta. Penarikan sampel menggunakan stratifield random sampling untuk menetapkan 8 sampel sekolah. Setiap sampel sekolah diambil 1 sampel kelas secara acak. Sampel penelitian sebanyak 136 orang siswa terdiri dari masing-masing 68 orang siswa AA dan AB. Kemampuan berpikir tinggi dan keterampilan proses sains diukur menggunakan tes esai. Kemampuan metakognisi diukur menggunakan MAI (metacognitive awarness inventory) dan rubrik metakognisi. Instrumen terlebih dahulu diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda. Data diambil saat pretes dan postes. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan anakova dilanjutkan uji LSD. Sebelum uji anakova, dilakukan uji asumsi normalitas dan homogenitas varians. Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji homogenitas menggunakan uji Levene’s. Semua penghitungan menggunakan program SPSS versi 16,0 pada taraf signifikansi 0,05 (P < 0,05). Hasil pengembangan menunjukkan perangkat pembelajaran andal dalam meningkatkan kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. Hasil eksperimen sebagai berikut. (1) Strategi belajar berpengaruh terhadap kemampuan berpikir tinggi, metakognisi yang diukur menggunakan rubrik, dan keterampilan proses sains. Strategi belajar tidak berpengaruh terhadap kemampuan metakognisi yang diukur menggunakan MAI. (2) Terdapat perbedaan kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains pada kemampuan AA dan AB. (3) Terdapat pengaruh interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir tinggi dan metakognisi yang diukur menggunakan rubrik. Tidak terdapat pengaruh interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik terhadap kemampuan metakognisi yang diukur menggunakan MAI dan keterampilan proses sains. Strategi inkuiri terbimbing, STAD, dan gabungan (inkuiri-STAD) mampu memberdayakan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. Strategi gabungan (inkuiri-STAD) andal dalam memberdayakan kemampuan berpikir tinggi. Strategi gabungan (inkuiri-STAD) andal dalam memberdayakan kemampuan metakognisi dan keterampilan proses sains setara dengan strategi inkuiri terbimbing. Interaksi strategi pembelajaran dengan kemampuan akademik menunjukkan, strategi STAD dan gabungan (inkuiri-STAD) mampu mensejajarkan kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains pada siswa AA dan AB. Strategi inkuiri terbimbing dan konvensional kurang mampu mensejajarkan kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains pada siswa AA dan AB. Persentase pergeseran rata-rata skor berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains dari pretes ke postes pada strategi inkuiri terbimbing, STAD, dan gabungan (inkuiri-STAD) menunjukkan, siswa AB memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan siswa AA. Guru disarankan menerapkan strategi gabungan (inkuiri-STAD) untuk melatihkan kemampuan berpikir tinggi, metakognisi, dan keterampilan proses sains. Pembentukan kelas dengan kemampuan akademik homogen perlu dipertimbangkan, karena menyebabkan tidak efektifnya proses scaffolding. Pembelajaran berbasis kompetisi menyebabkan kesenjangan prestasi belajar siswa AA dan AB, perlu dipertimbangkan penggunaan pembelajaran berbasis kooperatif, baik diterapkan secara mandiri atau digabung dengan strategi lain dalam pembelajaran biologi.

Pengaruh peluang kebangkrutan, pertumbuhan perusahaan, kualitas auditor, dan opini audit tahun sebelumnya terhadap kecenderungan pemberian opini audit going concern (pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2009) / Ayunda Putri Natal

 

Kata Kunci: Opini Audit, Going Concern, Peluang Kebangkrutan, Pertumbuhan Perusahaan, Kualitas Auditor, Regresi Logistik. Opini audit going concern adalah suatu pendapat yang diberikan oleh auditor setelah melaksanakan prosedur audit yang didalamnya ditambahkan paragraf penjelasan tentang ketidakmampuan perusahaan untuk dapat bertahan dalam bisnis. Dalam kecenderungan pemberian opini audit going concern dapat dipengaruhi oleh peluang kebangkrutan (Purba 2009:86), yang didalamnya terdapat analisa rasio yang dapat mengukur tingkat kegagalan usaha. Opini audit going concern juga dipengaruhi oleh pertumbuhan perusahaan yang dilihat dari kenaikan atau penurunan rasio (Purba 2009:90), indikator yang lain juga dapat dilihat dari kualitas auditor yang diberikan oleh KAP (Chow dkk: 1987 dalam Manao & Nursetyo: 2002). Sesuai dengan teori positif Feltham dan Demski kecenderungan pemberian opini audit going concern juga dapat dipengaruhi oleh opini audit tahun sebelumnya, apabila pada tahun sebelumnya auditor memberikan opini audit going concern maka auditor juga cenderung memberikan opini yang sama pada tahun audit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh peluang kebangkrutan, pertumbuhan perusahaan, kualitas auditor, dan opini audit tahun sebelumnya terhadap kecenderungan pemberian opini audit going concern. Pemilihan sampel ditentukan dengan menggunakan purposive sampling method dan menggunakan pool time series, sehingga diperoleh sebanyak 72 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2009. Pada penelitian ini peluang kebangkrutan diproksikan dengan Revised Z-Score, pertumbuhan perusahaan diproksikan dengan pertumbuhan laba, kualitas auditor diproksikan dengan reputasi kantor akuntan publik, dan opini audit tahun sebelumnya diproksikan dengan going concern audit opinion (GCAO) dan non going concern audit opinion (NGCAO). Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah regresi logistik (logistic regression). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel peluang kebangkrutan, pertumbuhan perusahaan, kualitas auditor, dan opini audit tahun sebelumnya memiliki nilai sig. > 0,05 sehingga tidak berpengaruh terhadap kecenderungan pemberian opini audit going concern . Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian Indonesia yang labil pada periode penelitian yang diambil, yaitu tahun 2006 dan 2007 menuju masa perbaikan, tahun 2008 mengalami krisis, dan mencoba memperbaiki pada tahun 2009 sehingga auditor takut untuk memberikan opini audit going concern karena kekawatiran akan kembali terjadi bank panic, selain itu juga judgement auditor akan rencana manajemen yang dianggap mampu untuk mengatasi masalah kelangsungan hidup perusahaan.

Penerapan pembelajaran berdasarkan masalah melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA pada siswa kelas VIIA SMP Negeri 1 Pasuruan / Linamik

 

Kata kunci: Pembelajaran berdasarkan Masalah, Pembelajaran Kooperatif STAD, Motivasi, dan Hasil Belajar Guru IPA kelas VIIA SMP Negeri 1 Pasuruan menyatakan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa masih rendah. Motivasi yang rendah ditunjukkan dengan adanya rendahnya perhatian siswa terhadap pelajaran dan rendahnya rasa percaya diri siswa terhadap pelajaran IPA. Guru IPA masih banyak yang menyukai metode ceramah sehingga siswa lebih bersifat pasif. Siswa kurang dapat kesempatan menemukan konsepnya sendiri karena lebih banyak menerima informasi dari guru. Berdasarkan permasalahan tersebut maka diterapkan pembelajaran berdasarkan masalah melalui pembelajaran kooperatif STAD untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Pasuruan. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus, tiap siklus empat pertemuan. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah seluruh siswa kelas VIIA SMP Negeri Pasuruan, semester genap tahun ajaran 2009-2010 yang berjumlah 26 orang. Penelitian dilaksanakan pada pada bulan April sampai bulan Mei 2010. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi keterlaksanaan tindakan oleh guru dan siswa, catatan lapangan, angket motivasi belajar, tes hasil belajar kognitif, laporan dan poster, angket hasil belajar afektif, lembar observasi hasil belajar psikomotor. Hasil belajar kognitif diperoleh dari tes hasil belajar kognitif akhir siklus, laporan, dan poster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah melalui pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIIA SMP Negegeri 1 Pasusuruan. Peningkatan motivasi dapat dilihat dari rata-rata nilai motivasi siswa pada siklus I 80,96 dan pada siklus II 87,62. Hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa meliputi: hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, dan hasil belajar psikomotor. Peningkatan hasil belajar kognitif dapat dilihat dari ketuntasan klasikal pada siklus I 76,92% dan pada siklus II 100%. Rata-rata kelas pada siklus I 78,69 dan pada siklus II 87,39 tetapi masih perlu perbaikan pada kemampuan menganalisis dan mengevaluasi suatu permasalahan. Hasil belajar afektif pada siklus I ketuntasan klasikal mencapai 80,77% dan pada siklus II 92,31% Ketuntasan klasikal hasil belajar psikomotor pada siklus I 84,62% dan pada siklus II 92,31%. Berdasarkan hasil penelitian di atas, disimpulkan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah melalui pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIIA SMP Negeri 1 Pasusuruan.

Penerapan strategi open ended problem bersetting kooperatif untuk meningkatkan kreativitas dan pemahaman pecahan bagi siswa kelas VII SMP PGRI 6 Malang / Hena Dian Ayu

 

Kata Kunci: Bilangan Pecahan, Kreativitas, Open Ended Problem , Kooperatif. Bilangan pecahan merupakan materi matematika yang merupakan dasar dalam belajar matematika dan ilmu pelajaran lain. Pada bidang matematika, ilmu pengetahuan lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bilangan pecahan tidak dapat dihindari. Misalkan besar tingkat pertumbuhan ekonomi, suku bunga bank, keuntungan, diskon, kekuatan getaran gempa, pelajaran optik, dan lain sebagainya semuanya dinyatakan dalam bilangan pecahan. Untuk itu penguasaan terhadap materi bilangan pecahan sangat perlu. Pada kenyataannya skor tes materi bilangan pecahan sangat rendah. Kreativitas adalah kemampuan untuk menyusun atau menemukan sesuatu yang baru dalam matematika, merupakan kombinasi berpikir logis dan berpikir divergen yang memperhatikan fleksibilitas, kefasihan, dan kebaruan dalam memecahkan maupun mengajukan masalah. Kreativitas penting dalam hidup karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, karena perwujudan diri merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Pada kenyataannya pembelajaran yang terjadi selama ini umumnya kurang menekankan bagaimana siswa agar mengkonstruksi pengetahuan dan kreativitasnya. Pembelajaran Open Ended Problem Bersetting Kooperatif merupakan pembelajaran dimana guru menyajikan permasalahan yang mempunyai banyak jawaban, kemudian siswa mendiskusikannya dalam kelompok belajara dan mempresentasikan hasil diskusi serta pada akhirnya guru menyimpulkan hasil diskusi siswa mengenai materi atau konsep apa yang didapatkan siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII-B SMP PGRI 6 Malang pada semester I. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah penerapan strategi open ended problem bersetting kooperatif yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemahaman siswa?. Tujuan penelitian ini sejalan dengan rumusan masalah yaitu untuk (1) mendeskripsikan bagaimana penerapan strategi open ended problem bersetting kooperatif yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemahaman. Langkah pembelajaran berpijak pada 5 komponen model pembelajaran Joyce dan Weil (1992) yaitu, (1) sintaks, (2) sistem sosial, (3) prinsip reaksi, (4) sistem pendukung, dan (5) dampak instruksional dan pengiring. Sintaks pada pembelajaran ini terdiri dari 6 fase yaitu, (1) orientasi, (2) pembekalan dan penyajian masalah, (3) pengerjaan masalah secara individu, (4) diskusi kelompok, (5) presentasi, dan (6) penutup. Berdasarkan data tes hasil belajar pada Tindakan I dapat disimpulkan untuk pemahaman 63,3% siswa yang memperoleh skor lebih dari 65(tuntas) di bidang pemahaman dan 60% siswa yang mengalami peningkatan skor di atas kategori cukup di bidang kreativitas. Pada Tindakan II untuk pemahaman jumlah siswa yang tuntas mengalami peningkatan yaitu 66,67% dan dari segi kreativitas jumlah siswa yang tuntas juga mengalami peningkatan yaitu 76,67%. Nilai rata-rata kelas juga mengalami peningkatan dari Tindakan I ke Tindakan II, yaitu dari 59 menjadi 64,3. Berdasarkan data hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan dari Tindakan I ke Tindakan II yaitu 72,9% (cukup) menjadi 85,42% (baik). Dengan kata lain terdapat peningkatan terhadap aktivitas siswa dari Tindakan I ke Tindakan II. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwa kreativitas dan pemahaman siswa dengan penerapan strategi open ended problem bersetting kooperatif adalah meningkat.

Hubungan antara kepercayaan diri dengan perilaku merokok siswa di SMA Shalahuddin Malang / Lydia Sepvirna Eka Putri

 

Kata kunci: kepercayaan diri, perilaku merokok, remaja. Kepercayaan diri adalah perasaan yakin akan kemampuan dan kekuatan diri sendiri yang membantu seseorang bersikap positif terhadap dirinya dan orang lain. Perilaku merokok adalah aktivitas menghisap atau menghirup asap rokok dengan menggunakan pipa atau rokok yang dilakukan secara menetap. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui gambaran kepercayaan diri siswa (2) Mengetahui gambaran perilaku merokok siswa, (3) Mengetahui apakah ada hubungan antara kepercayaan diri dengan perilaku merokok siswa. Subyek penelitian adalah siswa SMA Shalahuddin Malang yang merokok sebanyak 40 siswa sebagai sampel penelitian. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala kepercayaan diri dan skala perilaku merokok. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis korelasional product moment. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu Ada hubungan antara kepercayaan diri dengan perilaku merokok siswa di SMA Shalahuddin Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 13 siswa (32,5%) memiliki kepercayaan diri tinggi, 11 siswa (27,5%) memiliki kepercayaan diri sedang dan 16 siswa (40%) memiliki kepercayaan diri dengan klasifikasi rendah. Serta 16 siswa (40%) memiliki perilaku merokok tinggi, 12 siswa (30%) memiliki perilaku merokok sedang, dan 12 siswa (30%) memiliki perilaku merokok rendah. Hasil penelitian korelasional product moment didapatkan nilai rxy = -0,315 dengan taraf siginifikasi sebesar 0,048 (sig < 0,05). Hal ini menunjukkan ada korelasi negatif antara kepercayaan diri dengan perilaku merokok, yaitu semakin tinggi kepercayaan diri siswa, maka akan semakin rendah perilaku merokok siswa. Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti memberikan saran kepada beberapa pihak yaitu: 1) Bagi sekolah Agar lebih memotivasi serta membantu dan memberikan penyuluhan peserta didiknya dalam mengembangkan kepercayaan diri agar tidak terjerumus dalam kenakalan remaja. 2) Bagi siswa Agar remaja lebih memahami pentingnya kepercayaan diri sehingga mampu mengembangkan diri secara optimal, mengerti akan bahaya merokok dan menghindarkan diri dari perilaku merokok.3) Bagi orang tua dan pengajar Agar dapat memberikan bantuan psikologis serta melakukan pendekatan kepada remaja agar dapat mengembangkan kepercayaan diri, dan memberikan contoh serta arahan agar remaja dapat terhindar dari perilaku merokok.4)Bagi peneliti selanjutnya Diharapkan dapat mengadakan penelitian pada subjek yang lebih luas dan menggunakan instrumen pengumpulan data yang lebih

Pengaruh atribut produk terhadap keputusan pembelian konsumen pasta gigi Pepsodent (studi pada ibu-ibu PKK Kelurahan Mojolangu Malang) / Sumantri

 

Kata kunci: atribut produk, harga, kemasan, kualitas, keputusan pembelian. Kesehatan merupakan harta paling berharga dalam hidup ini, begitulah kira-kira bunyi sebuah pepatah yang pernah peneliti baca. Ya, kesehatan memang sebuah harta yang sangat berharga bagi manusia. Apalah artinya uang berlimpah jika tubuh dalam kondisi sakit, makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Kesehatan tidak begitu saja dimiliki seseorang, dibutuhkan upaya untuk mendapatkan dan menjaganya. Salah satu kesehatan yang harus dijaga oleh seseoarang adalah kesehatan gigi dan mulut. Untuk itu, saat ini begitu banyak produk yang fungsinya untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, Salah satunya yaitu pasta gigi. Berbicara masalah pasta gigi, saat ini banyak sekali jenis-jenis pasta gigi yang beredar dipasaran. Seperti pasta gigi Pepsodent, Formula, Close Up, Ritadent, Ciptadent, dll. Kesemua jenis pasta gigi tersebut pada dasarnya fungsinya sama, yaitu digunakan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Namun dalam perkembangannya, diantara produk-produk tersebut memiliki ciri tersendiri, terutama dalam hal fungsi-fungsi tambahan yang diberikan oleh produk-produk tersebut. Hal tersebut tidak lain bertujuan untuk mendukung kesuksesan program pemasaran yang disusun oleh perusahaan. Sehingga pada akhirnya, produk mereka diperhitungkan oleh konsumen. Untuk dapat menarik konsumen agar melakukan pembelian, salah satunya dapat dilakukan dengan kreatifitas penciptaan atribut produk yang menarik bagi konsumen. Atribut produk dalam beberapa penelitian dan buku-buku tentang pemasaran dinyatakan sebagai komponen yang dipertimbangkan oleh konsumen sebelum mengambil keputusan pembelian. Namun tentunya antara jenis produk yang satu dengan produk yang lainnya memiliki perbedaan mana atribut produk yang dipertimbangkan oleh konsumen dan mana yang tidak. Berdasarkan penjelasan diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang Atribut Produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Atribut Produk (X) yang terdiri dari Faktor Harga (X1) dan Kemasan (X2) dan faktor Kualitas (X3) secara parsial maupun simultan terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Y). Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Accidental Sampling yaitu menentukan sampel berdasarkan kebetulan, dimana jumlah sampel yang diambil sebanyak 107 orang ibu-ibu anggota PKK Kelurahan Mojolangu Malang. Skala yang digunakan adalah Skala Likert dengan 5 (lima) opsi pilihan jawaban. Untuk menguji kelayakan instrumen digunakan uji validitas dan reliabilitas. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, dokumentasi, observasi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS for windows Versi 16.0. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel Atribut Produk (X) yang terdiri dari Faktor Harga (X1) Faktor Kemasan (X2) dan faktor Kualitas (X3) secara parsial mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pasta gigi Pepsodent. Adanya pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi dari uji t dari masing-masing variabel < 0,05. Dimana nilai tersebut berturut-turut sebagai berikut: untuk Faktor Harga (X1) mempunyai nilai signifikansi 0,001, Faktor Kemasan (X2) mempunyai nilai signifikansi 0,002 dan Faktor Kualitas (X3) mempunyai nilai signifikansi 0,003. Selain itu juga ditunjukkan dengan nilai t hitung untuk Faktor Harga = 3,348 > nilai t tabel = 1,982, Faktor Kemasan nilai t hitung = 3,244 > nilai t tabel = 1,982, dan untuk Faktor Kualitas = 2,994 > nilai t tabel = 1,982. Secara simultan Faktor Harga (X1), Faktor Kemasan (X2) dan faktor Kualitas (X3) juga mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap Keputusan Pembelian Konsumen pasta gigi Pepsodent. Pengaruh tersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000 ≤ 0,05 dan ditunjukkan oleh nilai F hitung = 25,207 > F tabel = 2,70. Selain itu diketahui pula bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0,409. Dapat diinterpretasikan bahwa variabel Atribut Produk Faktor Harga, Faktor Kemasan dan Faktor Kualitas mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dalam berbelanja produk pasta gigi Pepsodent sebesar 40,9 % dan sisanya sebesar 59,1 % dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar penelitian. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan kepada produsen pasta gigi Pepsodent sebaiknya selalu meningkatkan atau mempertahankan atribut produk yang sudah ada saat ini, selain itu sebaiknya juga menciptakan produk yang mempunyai dua macam kualitas dalam satu produk. Misalnya, kombinasi antara Pepsodent Center Fresh dan Pepsodent Pencegah Gigi Berlubang. Apabila peneliti di masa mendatang ingin menggunakan variabel Atribut Produk, peneliti menyarankan agar menambahkan variabel merek sebagai sub variabel bebasnya. Hal ini untuk mengetahui apakah variabel merek juga mempengaruhi keputusan pembelian konsumen pasta gigi pepsodent yang belum terjawab dalam penelitian ini.

Permasalahan permodalan pada beberapa usaha kecil di Kota Malang / Dika Listyaningtyas

 

Kata kunci: Implementasi, KTSP, Ekonomi Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Untuk mendukung pendidikan yang bermutu maka dibutuhkan kurikulum yang bermutu pula. Pada 7 Juli 2006 diresmikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini berusaha mengakomodir kepentingan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ada 3 hal yang dideskripsikan berkaitan dengan implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu (1) persepsi guru ekonomi mengenai KTSP; (2) implementasi KTSP pada pembelajaran ekonomi, yang dilihat dari silabus, (RPP), proses pembelajaran dan teknik penilaian kelas; (3) faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi KTSP pada pembelajaran ekonomi. Dengan lokasi penelitian yang dipilih adalah SMAI Al Maarif Singosari Kabupaten Malang Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif Deskriptif. Data yang digunakan berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer berasal dari pengamatan (observasi) dan wawancara kepada Wakil Kepala Bidang Kurikulum, 2 guru ekonomi dan 14 siswa yang berasal dari kelas X dan XI. Data sekunder berasal dari dokumen perangkat pembelajaran. Analisis Data dengan cara membandingkan dengan benchmark dan analisis content. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi dan pemahaman guru mata pelajaran ekonomi di SMAI Al Maarif Singosari Kabupaten Malang masih berkisaran mengenai pengetahuan umum saja sedangkan hal-hal yang bersifat khusus tidak bisa menjelaskan secara rinci-rinci. Dalam pengembangan komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berupa silabus Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru memiliki kemampuan untuk mengembangkan sesuai dengan acuan yang dipaparkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Proses implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada pembelajaran tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Implementasi tidak sesuai dengan yang direncanakan karena keterbatasan alokasi waktu, kekurangmampuan guru mengkondisikan pembelajaran yang menyenangkan dan karakteristik siswa yang masih belum terbiasa dengan pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa sehingga penggunaan strategi pembelajaran kurang, penggunaan sumber pembelajaran dan media pembelajaran juga menjadi tidak optimal. Dari sisi teknik penilaian proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan teknik penilaian berbasis kelas dengan melihat aspek kognitif dan afektif siswa di saat dan sesudah proses pembelajaran. Faktor pendukukung implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah cukup tersedianya sarana dan prasarana dalam mendukung proses pembelajaran serta aktifnya pihak sekolah dalam mengirimkan guru-guru untuk mengikut seminar, penyuluhan dan workshop mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Faktor penghambat dalam implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kemampuan guru yang kurang dalam mengoptimalkan sumber belajar, media pembelajaran, dan metode pembelajaran dalam proses pembelajaran dan karakteristik siswa yang masih terbiasa dengan sistem pembelajaran 1 arah. Dari hasil penelitian ini disarankan agar guru lebih sering lagi mengkuti seminar-seminar. Seminar bukan hanya mengenai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tetapi juga mengenai peningkatan mutu guru dalam kecakapam menggunakan media pembelajaran berbasis informasi dan teknologi, strategi pembelajaran dan metode pembelajaran yang efektif. Selain itu guru disarankan untuk lebih berani untuk menerapkan metode media dan sumber pembelajaran yang bervariasi meskipun karakteristik siswa masih terbiasa dengan cara belajar metode ceramah 1 arah hal ini agar membiasakan siswa pada pembelajaran sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Pengaruh tindakan supervisi terhadap kinerja junior auditor dengan konflik peran sebagai variabel intervening / Anggi Swandayani

 

Kata Kunci: Tindakan Supervisi, Kinerja Junior Auditor, Konflik Peran Sumber Daya Manusia dalam suatu organisasi merupakan penentu yang sangat penting bagi keefektifan berjalannya kegiatan di dalam organisasi. Kinerja seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat kepuasan kerja yang dimiliki. Dalam lingkungan Kantor Akuntan Publik (KAP), perlu adanya pemeliharaan kualitas atau mutu pemeriksaan auditor serta tidak lupa produktivitas para akuntannya. Analisis terhadap fungsi-fungsi supervisi dan stres peran menunjukkan adanya fungsi spesifik supervisi yang berkorelasi dengan rendahnya tingkat ambiguitas peran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah tindakan supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja junior auditor serta untuk mengetahui apakah tindakan supervisi dengan konflik peran berpengaruh signifikan terhadap kinerja junior auditor. Penelitian dilakukan pada Senior Auditor dan Junior Auditor yang bekerja pada 7 Kantor Akuntan Publik (KAP) di Kota Malang menggunakan analisis jalur. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 35 responden pada 7 KAP. Pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling. Analis data dilakukan dengan menggunakan SPSS for Windows 16,0 Setelah dilakukan proses pengolahan data dan analisis jalur diketahui hasil penelitian menyatakan (1) Tindakan Supervisi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Junior Auditor (2) Konflik Peran mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Kinerja Junior Auditor namun konflik peran tidak dapat tidak dapat memediasi pengaruh tindakan supervisi terhadap kinerja junior auditor. Hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini juga memperkuat Teori Motivasi Maslow serta Teori X dan Y dari Mc. Gregor. Hasil ini juga mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Hadi (2007) dan Cahyono (2005:676). Saran yang dapat diberikan penulis bagi Kantor Akuntan Publik (KAP) antara lain (1) Kantor Akuntan Publik diharapkan benar-benar memperhatikan saat akan melakukan rekruitmen atas auditornya. (2) pelaksanaan tindakan supervisi dalam KAP sebaiknya memperhatikan etika dan tata cara melaksanakan supervisi dengan baik agar pelaksanaan supervisi dapat berjalan secara efektif dan kinerja junior auditor dapat ditingkatkan. (3) KAP melalui auditor-auditor serta karyawan lainnya sebaiknya memperhatikan faktor-faktor yang dapat memicu timbulnya konflik yang dapat mengganggu kenyamanan saat bekerja. Bagi penelitian selanjutnya disarankan agar melakukan penelitian lebih lanjut dengan menambahkan variabel independen agar pengaruh antar variabel lebih besar, jumlah sampel dan menggunakan pemilihan metode penelitian yang lebih tepat.

Produktivitas tenaga kerja berpendidikan rendah sebagai dampak (outcome) pendidikan dalam industri padat karya di Kota Malang (sebuah studi kasus di pabrik rokok kretek "Sampoerna" Malang) / Dhiah Saptorini

 

Pengaruh persepsi konsumen tentang kredibilitas celebrity endorser pada iklan Pantene terhadap brand image produk (studi pada siswa-siswi pengguna produk Pantene di Madrasah Aliyah Negeri Rejotangan Kabupaten Tulungagung) / Dwi Khoirun Ni'mah N.

 

Kata kunci : kredibilitas celebrity endorser, brand image Dengan semakin berkembangnya arus informasi saat ini, strategi pemasaran yang kreatif dan menyentuh namun tetap efektif dan efisien mutlak diperlukan dalam upaya meningkatkan brand awareness dan merebut mind share masyarakat. Iklan merupakan salah satu kegiatan untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Salah satu cara kreatif dalam beriklan adalah dengan menggunakan endorser. Penggunaan endorser diharapkan dapat memberikan asosiasi positif antara produk dengan endorser. Asosiasi tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang dikaitkan pada suatu merek. Keterkaitan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada banyak pengalaman untuk mengkomunikasikannya. Berbagai asosiasi yang diingat konsumen dapat dirangkai sehingga membentuk citra tentang merek di dalam benak konsumen. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dan explanatory. Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan besar pengaruh kredibilitas celebrity endorser yang terdiri dari keahlian (X1), kelayakan untuk dipercaya (X2), kemampuan untuk disukai (X3) terhadap brand image produk Pantene baik secara parsial maupun secara simultan. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Rejotangan Kabupaten Tulungagung yang menggunakan shampo Pantene. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah 60 responden. Sampel diambil dengan menggunakan teknik propotional random sampling dan random sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) terdapat pengaruh positif signifikan keahlian secara parsial terhadap brand image produk Pantene pada siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Rejotangan Kabupaten Tulungagung, (2) terdapat pengaruh positif signifikan kelayakan untuk dipercaya secara parsial terhadap brand image produk Pantene pada siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Rejotangan Kabupaten Tulungagung, (3) terdapat pengaruh positif signifikan kemampuan untuk disukai secara parsial terhadap brand image produk Pantene pada siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Rejotangan Kabupaten Tulungagung, (4) terdapat pengaruh positif signifikan kredibilitas celebrity endorser (keahlian, kelayakan untuk dipercaya, kemampuan untuk disukai) secara simultan terhadap brand image produk Pantene pada siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Rejotangan Kabupaten Tulungagung. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kredibilitas celebrity endorser dapat mempengaruhi brand image produk baik secara parsial maupu secara simultan. Keahlian, kelayakan untuk dipercaya dan kemampuan untuk disukai mempengaruhi brand image produk Pantene pada siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Rejotangan Kabupaten Tulungagung sebesar 50,2%, sedangkan sisanya 49,2% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar penelitian. Saran yang dapat diberikan berkenaan dengan temuan yang diperoleh selama pelaksanaan penelitian ini adalah (1) Direktur Periklanan Procter & Gamble Indonesia hendaknya tetap mempertahankan penggunaan Anggun C. Sasmi, karena selebriti tersebut memberikan pengaruh positif terhadap brand image produk. Di dalam pemilihan endorser Pantene selanjutnya hendaknya menambahkan penggunaan endorser laki-laki karena salah satu indikator dalam penelitian ini menunjukkan bahwa responden menganggap Pantene hanya ditujukan untuk kaum perempuan, (2) dalam penelitian selanjutnya disarankan agar objek penelitian yang diambil lebih baik, yaitu masyarakat umum dari berbagai golongan, usia, dan tempat penelitian yang lebih luas supaya data penelitian yang diperoleh lebih valid dan ruang lingkupnya lebih luas, (3) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah variabel penelitian yang dapat mempengaruhi brand image produk selain variabel yang diteliti pada penelitian ini. Selain itu menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam penelitian ini dan dapat dijadikan dasar pertimbangan ilmiah bagi kesempurnaan yang ada.

Pengembangan media pembelajaran interaktif IPS kelas VI semester 1 pokok bahasan kenampakan alam dan keadaan sosial negara-negara tetangga di SDN Bandungrejosari I Malang / Mohammad Afif K.

 

Penerapan model pembelajaran problem based learning yang dipadukan dengan numbered heads together untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 7 Malang / Vivi Aprilia Safei

 

Kata Kunci : Problem Based Learning , Numbered Heads Together , hasil belajar, respon belajar Pendidikan merupakan sarana terpenting untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara. Terkait dengan hal tersebut pendidikan di Indonesia masih memiliki mutu rendah jika dibandingkan dengan negara- negara maju. Permasalahan tersebut semakin diperparah dengan didominasinya proses pembelajaran yang menyatakan bahwa sebuah pengetahuan (knowledge) merupakan perangkat fakta- fakta yang harus dihafal. Metode pembelajaran mayoritas konvensional dengan teacher oriented di dalamnya. Oleh sebab itu dibutuhkan adanya sebuah strategi belajar mengajar baru dengan mengedepankan siswa aktif (student oriented) dan menjadikan pembelajaran menyenangkan untuk mendapatkan hasil yang berkualitas dengan cara pendekatan kontekstual. Salah satunya dengan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas karena ada permasalahan yang harus disembuhkan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas.Hal tersebut diperoleh dari data yang diperoleh sebelumnya.Penelitian ini menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together karena disesuaikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar .Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk : (1) mendeskripsikan dan menganalisis penerapan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together , (2) untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together ,(3) untuk mendeskripsikan bagaimana respon siswa pada mata pelajaran ekonomi terhadap penerapan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 7 Malang. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan nyata tentang peristiwa yang tampak selama proses pembelajaran berlangsung. Peristiwa yang dimaksud adalah proses pelaksanaan langkah pembelajaran yang diterapkan dalam kelas dan hasil belajar serta respon belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi, lembar catatan lapangan, angket, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar aspek kognitif siswa pada pre test meningkat sebesar 15,90 % pada siklus I menjadi 32,56 % pada siklus II. Sedangkan post test juga meningkat sebesar 85,71% pada siklus I menjadi 92,69 % pada siklus II. Data hasil belajar aspek afektif siswa juga menunjukkan hasil belajar yang meningkat. Hasil ini didasarkan pada nilai rata- rata sebesar 70,10% pada siklus I menjadi 96 % pada siklus II. Respon belajar siswa juga menjadi meningkat. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari aspek kognitif dan afektif, serta respon siswa dalam mengikuti mata pelajaran ekonomi. Saran dalam penelitian antara lain : (1) bagi masing- masing tingkat satuan pendidikan dan guru mata pelajaran ekonomi khususnya dalam mengkondisikan dalam penggunaan model pembelajaran ini, (2) penerapan model pembelajaran Problem Based Learning Yang Dipadukan Dengan Numbered Heads Together hendaknya disesuaikan dengan materi pelajaran, (3) bagi peneliti selanjutnya diharapkan adanya pengukuran tentang tujuan pembelajaran untuk mengukur keefektifan.

Pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja melalui motivasi kerja (studi pada karyawan PT. PLN (Persero) Distribusi JAwa Timur APJ Malang) / Irma Setiawati

 

Kata Kunci: Kepemimpinan Transformasional, Motivasi Kerja, Kinerja Di dalam suatu organisasi maupun perusahaan, sumber daya manusia mempunyai peran yang sangat penting, karena sumber daya manusia merupakan penggerak di dalam organisasi, tanpa adanya sumber daya manusia maka aktivitas di dalam perusahaan bisa dikatakan tidak akan berjalan. Aktivitas yang dikerjakan oleh sumber daya yang ada diharapkan mampu meningkatkan kinerja yang telah menjadi tujuan perusahaan. Untuk itu salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja pada setiap karyawan adalah dengan adanya kepemimpinan yang baik. Salah satu cara memimpin yang dapat digunakan adalah dengan kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang memotivasi bawahan untuk melakukan sesuatu dan mencapai kinerja tertentu melebihi dari apa yang semula diharapkan/ diekspetasikan (Komardi, 2009:58). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) gambaran deskriptif kepemimpinan transformasional, motivasi kerja dan kinerja, 2) pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap motivasi kerja, 3) pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja, 4) pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja, dan 5) pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja melalui motivasi kerja. Kegiatan penelitian ini dilakukan di PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur APJ Malang. Untuk pengambilan datanya peneliti menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Dari jumlah populasi 86 orang karyawan, peneliti mengambil 70 orang karyawan sebagai responden dengan menggunakan teknik pengambilan sampel Proportionate Stratified Random Sampling. Data yang peneliti peroleh kemudian peneliti uji menggunakan uji validitas dan reliabilitas serta dianalisis menggunakan analisis jalur (Path Analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: untuk kinerja karyawan diperoleh mean sebesar 51,57 dengan standar deviasi sebesar 5,45. Motivasi kerja dengan mean 104,53 dan standar deviasi 13,64. Dan kepemimpinan transformasional dengan mean sebesar 42,31 dan standar deviasi sebesar 5,87. Dari penelitian ini juga diketahui: 1) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kepemimpinan transformasional terhadap kinerja sebesar 0,489; 2) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara motivasi kerja terhadap kinerja sebesar 0,551; 3) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kepemimpinan transformasional terhadap kinerja sebesar 0,267: dan 4) terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kepemimpinan transformasional terhadap kinerja yang dimediatori variabel motivasi kerja sebesar 0,247 serta pengaruh total dari kepemimpinan transformasional terhadap kinerja sebesar 0,541.

Analisis peranan pendapatan asli daerah terhadap anggaran pendapatan dan belanja daerah di Kabupaten Bojonegoro (tahun analisis 2006-2009) / Eva Nurfitriana

 

Kata kunci: PAD, APBD Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi yang disumbangkan PAD terhadap APBD. Berdasarkan kebijakan otonomi daerah, diatur bahwa peralihan kewenangan untuk mengurus urusan pemerintahan daerah masing-masing yang terangkum dalam UU No. 32 Tahun 2004. Desentralisai disini mencakup pelayanan jasa pemerintahan bagi masyarakat maupun desentralisasi fiskal. Dengan adanya kebijakan tersebut, mau tidak mau pemerintah daerah harus mencari strategi untuk dapat meningkatkan pendapatan daerahnya terutama PADnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan organisasi kepemerintahannya. PAD merupakan tolak ukur dari kemandirian suatu daerah. Proporsi penerimaan PAD Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2006-2007 sudah cukup baik dengan rata-rata 7,23%, akan tetapi pertumbuhannya masih fluktuatif, contohnya proporsi PAD menurun dari 7,47% pada 2007 menjadi 6,58% pada tahun 2008. Melihat potensi Kabupaten Bojonegoro, dapat dipastikan Kabupaten Bojonegoro mampu meningkatkan penerimaan PAD secara stabil. Maka dari itu, diperlukan pengkajian mendalam terhadap potensi PAD di Kabupaten Bojonegoro. Jenis penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Kedudukan peneliti dalam penelitian kuantitatif merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data, dan pada akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. Sehingga peneliti adalah instrumen kunci penelitian. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data berpedoman pada model analisis tipologi klassen. Sedangkan untuk mengetahui strategi kebijakan yang bisa diambil oleh pemerintah untuk meningkatkan PAD dengan menggunakan analisis SWOT. Secara umum PAD semakin meningkat setiap tahunnya, walaupun masih belum stabil. Peningkatan PAD untuk tahun 2007 cukup baik yaitu sebesar 8,81%, sedangkan untuk tahun 2008 hanya sebesar 3,9% dan untuk tahun 2009 semakin membaik yaitu 19,67%. Untuk kontribusi PAD masih tergolong rendah, karna pada pendanaan Kabupaten Bojonegoro, pemerintah pusat masih berperan besar, akan tetapi pertumbuhan perekonomian Bojonegoro semakin membaik, terlihat dari pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2010 sebesar 12%. Strategi Peningkatan Pendapatan Asli daerah di Kabupaten Bojonegoro dapat dijabarkan beberapa tindakan intensifikasi untuk peningkatan pajak yaitu: meningkatkan pemungutan pajak, meningkatkan pengelolaan pajak daerah, menghidupkan pariwisata Bojonegoro, meningkatkan SDM pengelola PAD. Sedangkan untuk tindakan Ekstensifikasi untuk peningkatan Pajak yaitu: menciptakan sumber-sumber pajak baru, membaca kebutuhan masyarakat daerah. Untuk strategi peningkatan retribusi secara intensifikasi yaitu: meningkatkan pelayanan jasa, peran aktif pemda dalam mengawasi pengelolaan retribusi, memperbaiki sistem operasional pemungutan retribusi, perbaikan infrastruktur umum. Sedangkan untuk yang ekstensifikasi yaitu: mencipatakan pasar dengan menghidupkan entrepreneur.

Kajian terhadap pola seleksi berdasarkan keragaan pada pemuliaan kedelai tahan CPMMV dan berdaya hasil tinggi serta pemanfaatannya sebagai sumber belajar genetika / Asriah Nurdini Mardiyyaningsih

 

Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. A. Duran Corebima, M.Pd., (2) Prof. Dr. Siti Zubaidah, M.Pd. Kata Kunci: pola seleksi, keragaan, ketahanan terhadap CPMMV, daya hasil Pola seleksi berdasarkan keragaan merupakan dasar pelaksanaan seleksi pada banyak program pemuliaan tanaman. Pola seleksi ini dilakukan dengan memilih tanaman berdasarkan fenotip karakter tertentu yang ingin dikembangkan dalam pemuliaan. Pada pemuliaan tanaman tahan CPMMV dan berdaya hasil tinggi, dilakukan pola seleksi berdasarkan keragaan daya hasil pada generasi F3 dengan parameter berat biji tanaman. Pola seleksi ini umumnya dihindari untuk dilaksanakan pada generasi awal pemuliaan karena keragaan daya hasil dikendalikan oleh multigen dan cenderung baru akan bersegregasi pada generasi lanjut sehingga sulit dijadikan dasar seleksi. Perlu dilakukan suatu kajian terhadap implikasi pelaksanaan pola seleksi berdasarkan keragaan daya hasil, khususnya pada pemuliaan kedelai tahan CPMMV dan berdaya hasil tinggi. Hasil kajian ini selanjutnya dimanfaatkan sebagai sumber belajar genetika. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan pada total populasi seluruh kombinasi persilangan generasi F3 dan F4 tanaman kedelai yang dikembangkan pada pemuliaan kedelai tahan CPMMV dan berdaya hasil tinggi. Penelitian dilakukan untuk mengungkap status keragaan ketahanan terhadap CPMMV dan keragaan daya hasil tanaman kedelai pada generasi F3 dan F4 serta melihat perbaikan karakter keduanya. Perbaikan karakter ketahanan dikaji secara deskriptif dengan membandingkan kriteria ketahanan antar kombinasi persilangan pada generasi F3 dan F4. Perbaikan karakter daya hasil dikaji menggunakan perhitungan nilai kemajuan seleksi secara langsung, maupun melalui estimasi nilai heritabilitas. Dikaji pula kesinambungan urutan kombinasi persilangan terbaik antar generasi berdasarkan pola seleksi berdasarkan keragaan daya hasil. Selanjutnya disusun bahan ajar sebagai sumber belajar genetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaan ketahanan terhadap CPMMV dan daya hasil pada F3 maupun F4 masih didominasi oleh karakter yang dikendalikan oleh gen dengan alel heterozigot sehingga persentase tanaman yang bersifat tahan maupun berdaya hasil tinggi pada kedua generasi tersebut masih rendah, meskipun terdapat kecenderungan adanya keragaan yang lebih baik pada F4. Berdasarkan pola seleksi berdasarkan keragaan daya hasil yang dilakukan pada F3, terdapat kecenderungan perbaikan ketahanan terhadap CPMMV berupa eliminasi tanaman yang bersifat rentan, dan kecenderungan perbaikan karakter daya hasil tanaman. Namun demikian, dalam penelitian ini tidak ditemukan urutan kombinasi persilangan terbaik yang sama antara generasi F3 dan F4. Dalam penelitian ini, hasil penelitian juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar genetika berupa modul pembelajaran genetika kuantitatif yang dikaitkan langsung dengan pola seleksi berdasarkan keragaan.

Kepemimpinan spiritual pada pesantren mahasiswa (studi multisitus pada Pesantren Mahasiswa Ulul Albab, Ulul Yaqin dan Ulul Hikam Malang) / Mokhamad Endri Julianto

 

Program Studi Manajemen Pendidikan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang, Pembimbing; (I) Prof. Dr. H. Hendyat Soetopo, M.Pd, (II) Prof. H. Ahmad Sonhadji KH., Ph.D., dan (III) Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadlal, M.Pd. Kata kunci : kepemimpinan spiritual, budaya organisasi, pesantren mahasiswa, nilai spiritual. Tipologi kepemimpinan dalam mengimplementasikan nilai-nilai spiritual untuk menciptakan budaya organisasi pesantren mahasiswa yang efektif. Tugas seorang pemimpin adalah mempengaruhi orang yang dipimpin untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan visi, misi, core values dan core belief organisasi. Pemimpin spiritual adalah pemimpin yang mempengaruhi orang yang dipimpin dengan cara mengilhamkan, mencerahkan, menyadarkan, membangkitkan, memampukan, dan memberdayakan lewat pendekatan spiritualitas atau nilai-nilai etis religius. Nilai-nilai etis religius inilah yang berperan sebagai mission-focused, vision-directed, philosophy-driven dan value- based institution. Ada tiga fokus terbagi dalam beberapa sub fukus yang perlu dijawab dalam penelitian ini yakni; (1) tipologi kepemimpinan terdiri dari ; (a) perspektif kepemimpinan spiritual, (b) spiritualitas kepemimpinan, (c) tipologi kepemim pinan spiritual. (2) tugas dan fungsi kepemimpinan spiritual dalam proses ; (a) pengambilan keputusan (b) pengendalian konflik, dan (c) pembangun tim (3) Sistem nilai spiritual kepemimpinan dalam budaya organisasi pesantren mahasiswa meliputi; (a) ragam nilai spiritual kepemimpinan dalam budaya organisasi pesantren mahasiswa, (b) sistem nilai kepemimpinan spiritual dalam budaya organisasi pesantren mahasiswa, (c) hambatan dan solusi penerapan nilai-nilai kepemimpinan spiritual di pesantren mahasiswa. Penelitian ini dilakukan di tiga pesantren mahasiswa, yaitu pesantren mahasiswa Ulul Albab, Ulul Yaqin dan Ulul Hikam di kota Malang Jawa Timur dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dirancang menggu nakan studi multi-situs. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data meliputi (1) teknik pengamatan partisipatif ; (2) teknik wawancara mendalam; dan (3) teknik dokumentasi. Sedangkan informannya dipilih dengan menggunakan teknik purposive, yang dipadukan dengan teknik snowball sampling. Data yang terkumpul melalui berbagai teknik tersebut, diperiksa dan dilakukan reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan menggunakan credibility (keterpercayaan), transferability (keteralihan), dependability (kebergantungan) dan confirmability (kepastian). Begitu data secara keseluruhan selesai diperiksa, data yang terkumpul dianalisis, dengan analisis dalam situs maupun analisis antar situs. Dari hasil penelitian diketahui bahwa; (1) Perspektif kepemimpinan spiritual pesantren mahasiswa merupakan organisasi yang beranggotakan para pimpinan struktural universitas dan atau yayasan serta beberapa kyai senior, kemudian disebut sebagai “majelis pengasuh” sebagai badan tertinggi di pesantren mahasiswa secara fungsional merupakan pengasuh pengurus harian dan sebagai pemimpin serta pengasuh santri mahasiswa. Segala bentuk pengadbiannya didasarkan pada pengemban amanah berdasarkan nilai-nilai spiritual keagamaan (Islam). (2) Spiritualitas kepemimpinan dalam majelis pengasuh teraktualisasi dalam mempengaruhi orang yang dipimpin dengan cara mengilhamkan, mencerahkan, menyadarkan, membangkitkan, memampukan, dan memberdayakan lewat pendekatan spiritualitas atau berperan sebagai mission-focused, vision-directed, philosophy-driven dan value- based institution. (3) Tipologi kepemimpinan berkecenderungan pada perilaku kepemimpinan kolegialpartisipatif –demokratis -religio spiritual bergantung kepada kapasitas peran dan otoritas yang dipenuhi majelis Pengasuh, serta kewenangan yang diberikan kepada pengurus harian. (4) Pengambilan keputusan majelis pengasuh dan atau pengurus harian dilakukan melalui musyawarah dan inisitif-inisiatif sebagai proses penetapan tujuan dan sosialisasi program dalam memperkaya gagasan dan keterlibatan semua pihak. (5) Penyelesaian konflik bersifat individual, mediasi, klarifikasi (tabayyun), proses ikrar dan perjanjian (tajdidun niyah), dan proses meja hijau (mahkamah), sebagai upaya penegakan syari’ah. (6) Pembangunan tim dilakukan melalui proses intensitas pertemuan dan pemerataan komunikasi di antara pengurus, pemanfaatan moment-moment, pelibatan para musrif dan musrifah di pesantren mahasiswa. (7) Ragam nilai kepemimpinan spiritual dalam budaya organisasi pesantren mahasiswa terdapat perbedaan skala nilai prioritas (scale priorities) pada warga pesantren mahasiswa. (8) Sistem nilai kepemimpinan spiritual dalam budaya organisasi pesantren mahasiswa terdapat kesepakatan nilai yang dianut bersama pada warga pesantren mahasiswa. (9) Terdapat beberapa hambatan dan solusi penyesaian dalam kepemimpinan spiritual di pesantren mahasiswa. Implikasi penelitian ini dapat mengilhami pola kepemimpinan pesantren mahasiswa yang selama ini dipimpin secara tradisional, kompensional dan individual minded. Menggunakan kepemimpinan spiritual dalam pesantren mahasiswa akan mengembalikan (khitoh) sebagai lembaga mulia (noble industry) berbasis nilai-nilai spiritual keagamaan (religio spiritual) yang mampu menciptakan budaya organisasi pesantren mahasiswa lebih efektif dan bermutu. Disarankan kepada majelis Pengasuh dan para pengurus harian pesantren mahasiswa hendaknya senantiasa tidak henti-hentinya mengembangkan profesionalisme, dan pesantren perlu kiranya semakin mendapat perhatian semua pihak (stake holders) untuk pengembangan dimasa mendatang sehingga menjadi lembaga pendidikan alternatif.

Analisis pengaruh suku bunga Bank Indonesia, kurs dollar dan jumlah uang beredar terhadap inflasi di Indonesia tahun 2000-2010 / Ryan Agustin

 

Kata kunci: suku bunga Bank Indonesia, kurs US Dollar, jumlah uang beredar, inflasi Inflasi merupakan suatu fenomena ekonomi yang mencerminkan kenaikan tingkat harga secara terus menerus dalam jangka waktu tertentu yang diikuti dengan penurunan nilai uang. Inflasi yang tinggi berpengaruh luas pada berbagai sektor kehidupan. Menurut teori kuantitas, jumlah uang beredar adalah sebab utama naiknya tingkat inflasi. Maka digunakan instrumen kebijakan moneter berupa suku bunga untuk mengendalikan tingkat inflasi. Selain itu, inflasi juga dapat ditimbulkan karena tekanan nilai tukar. Nilai tukar yang melemah juga dapat menaikkan laju inflasi Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari suku bunga Bank Indonesia (BI Rate), kurs US Dollar dan jumlah uang beredar terhadap inflasi di Indonesia tahun 2000-2010. Penelitian dirancang menggunakan metode kuantitatif dan termasuk dalam jenis penelitian korelasional. Data dalam penelitian ini merupakan data sekunder tentang suku bunga Bank Indonesia, kurs US Dollar, jumlah uang beredar dan inflasi dan diperoleh dari Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia. Data yang terkumpul dengan cara dokumentasi dianalisis secara matematis dengan teknik regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku bunga Bank Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap inflasi, kurs US Dollar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap inflasi, jumlah uang beredar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap inflasi. Secara simultan suku bunga Bank Indonesia, kurs US Dollar dan jumlah uang beredar berpengaruh signifikan terhadap inflasi di Indonesia. Saran penulis bahwa lembaga Universitas Negeri Malang hendaknya hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi, kepustakaan dan diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi kepentingan atau perkembangan lembaga terutama dalam bidang kajian permasalahan ekonomi perbankan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan acuan kepada penelitian selanjutnya misalnya penelitian tentang inflasi pasca kenaikan harga BBM atau pengaruh implementasi kebijakan moneter terhadap inflasi. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan juga rujukan bahan pertimbangan saat terjadi fluktuasi inflasi di Indonesia.

Pengaruh penerapan model pembelajaran cooperative integrated reading and composition (CIRC) terhadap hasil belajar IPS geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang tahun pelajaran 2010/2011 / Dini Afriani

 

Kata kunci: pembelajaran kooperatif, model pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC), hasil belajar. Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah proses pembelajaran yang diterapkan oleh guru di sekolah. Pelaksanaan pembelajaran saat ini perlunya perubahan paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada guru(teacher centered) menjadi berpusat pada siswa (student centered). Pembelajaran yang didominasi oleh guru mengakibatkan siswa tidak banyak berperan dalam pembelajaran sehingga siswa cenderung pasif. Kurangnya kegiatan yang membutuhkan kerjasama antar siswa juga akan menyebabkan tumbuhnya sifat individual diantara mereka. Model pembelajaran Cooperative Integrated Reading And Composition (CIRC) berperan dalam meningkatkan kerjasama dan keaktifan siswa. CIRC dapat membantu siswa belajar memahami materi pelajaran melalui bacaan/wacana, artikel dan kliping dengan cara membaca, menganalisis dan memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru dan tidak bergantung pada teks tertentu disamping meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran CIRC terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Malang khususnya pada Topik Permasalahan Kependudukan dan Upaya Penanggulangannya. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan subjek penelitian dua kelas yaitu kelas VIII A sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII D sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes yaitu prates dan pascates. Teknik analisis yang digunakan adalah uji t tidak berpasangan yang diselesaikan dengan bantuan komputer program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata gain score siswa pada kelas eksperimen sebesar 28,30 sedangkan pada kelas kontrol sebesar 22,16 dengan nilai signifikansi sebesar 0,002 < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan penerapan model CIRC berpengaruh terhadap hasil belajar IPS Geografi siswa. Saran yang diajukan untuk guru bidang studi IPS Geografi adalah menjadikan model CIRC sebagai alternatif model pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada Topik Permasalahan Kependudukan dan Upaya Penanggulangannya. Selanjutnya bagi peneliti lain agar dapat mengembangkan lebih lanjut pada materi lain dan menggunakan metode yang berbeda.

Pengelolaan sampah mandiri masyarakat perkotaan Surabaya (studi di Kecamatan Jambangan Kota Surabaya) / Dian Rizqi Ristyawati

 

Kata Kunci: pengelolaan sampah, efektivitas Menanggulangi masalah sampah yang ada khusnya di Kota besar seperti Surabaya, pemerintah kota beserta stakeholder terus berupaya dalam menyukseskan program pemberdayaan masyarakat untuk pengelolaan sampah mandiri dengan mengadakan penyuluhan akan pentingnya kebersihan lingkungan dengan menyelenggarakan lomba kebersihan yang diikuti oleh hampir seluruh merata di 163 Kel. yang ada di Surabaya, dengan menerapkan pengelolaan sampah mandiri dapat diketahui tingkat efektivitas pengelolaan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimana pengelolaan sampah mandiri yang dilakukan warga Kel. Karah dan Kel. Jambangan? (2) Problematika dalam pengelolaan sampah di Kel. Karah dan Kel. Jambangan? (3) Pengelolaan sampah mana yang paling efektif digunakan di Kel. Karah dan Kel. Jambangan?. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survey. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan tehnik wawancara. Analisis data yang digunakan yaitu deskriptif untuk memperoleh data tentang bagaimana pengelolaan sampah mandiri yang dilakukan berdasarkan variabel yang ditemukan di lapangan. Hasil penelitian diperoleh data primer dan sekunder yaitu (1) pengelolaan sampah organik di Kel. Karah dan kel. Jambangan dikelolan secara individu dengan takakura dan secara komunal dengan menggunakan komposter dan hasil pengomposan dijual ke masyarakat umum dan DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan). Pengelolaan sampah anorganik di Kel. Jambangan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu pengepul, pencuci, pembuat planel dan penjahit. Hasil produk sampah anorganik dijual di galeri daur ulang sampah (2) Problematika yang ditemukan di lapangan dalam mengelola sampah mandiri adalah tidak semua warga mengelola sampah, kurangnya manajemen pengelolaan baik kaderisasi, bahan baku, tenaga kerja terampil dan penjualan (3) Pengelolaan sampah di Kel. Jambangan lebih efektif karena mengelola sampah organik dan anorganik dengan timbunan sampah rata rata selama tahun 2007-2010 di Kel. Karah mencapai 0,35 m3dan di Kel. karah mencapai 0,36 m3. Disimpulkan (1) perbedaan pengelolaan sampah mandiri yang dilakukan di Kel. Jambangan dan Kel. Karah terletak pada pengelolaan sampah anorganik (2) Pengelolaan sampah organik di Kel. Karah dan Jambangan memiliki problematika yang sama (3) pengelolaan sampah yang paling efektif yaitu di Kelurahan Jambangan walaupun mengalami angka penurunan sampah lebih rendah dibandingkan dengan Kel. Karah Adapun saran yang dapat diberikan (1) Pengelolaan sampah di Kelurahan Karah tidak hanya mengelola sampah organik melainkan sampah anorganik (2) Dibutuhkan aspek kelembagaan untuk membentuk struktur organisasi dalam menggerakkan, mengaktifkan dan mengarahkan sistem pengelolaan sampah dengan ruang lingkup bentuk institusi, pola organisasi personalia serta manajemen (3) Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah sangat penting karena peran serta merupakan alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat.

Penerapan pembelajaran kooperatif model jigsaw untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VIII semester 1 MTS Surya Buana Malang / Nofita Sari

 

Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Model JIGSAW, hasil belajar Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan di MTs Surya Buana Malang diketahui bahwa pembelajaran IPS masih didominasi oleh ceramah meskipun kadang-kadang terdapat variasi seperti tanya jawab dan diskusi. Akan tetapi pembelajaran tersebut dirasa kurang efektif melatih siswa dalam memecahkan masalah. Sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat pada hasil belajar kelas VIII B yang menunjukkan hanya 9 siswa yang nilainya telah memenuhi KKM sedangkan 15 siswa nilainya belum memenuhi KKM. Penelitian ini dilaksanakan di MTs Surya Buana Malang dengan subjek penelitian kelas VIII B yang berjumlah 24 siswa, pada materi permasalahan kependudukan dan upaya penanggulangannya. Penelitian ini termasuk dalam penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua pertemuan. Teknik pengumpulan data hasil belajar dengan menggunakan tes yang dilakukan setiap akhir siklus. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Jigsaw.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata kelas siswa sebelum dan setelah tindakan. Pada siklus I rata-rata hasil belajar siswa sebesar 68,08 dan ketuntasannya 67%. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan data awal (pra tindakan) yaitu 63,91 dengan nilai ketuntasanya 37%. Kemudian meningkat pada siklus II sebesar 80,08 dengan nilai ketuntasan 91%. Jumlah siswa yang sudah tuntas sebelum tindakan sebesar 9 siswa kemudian pada siklus I meningkat menjadi16 siswa dan pada siklus II meningkat menjadi 22 siswa. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas VIII B MTs Surya Buana Malang.

Implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) pada pembelajaran ekonomi tahun ajaran 2010-2011 (studi kasus pada SMAI Al Maarif Singosari Kabupaten Malang) / Dika Listyaningtyas

 

Kata kunci: modal, usaha kecil Usaha kecil mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam menopang perekonomian Indonesia. Bagian pentingnya yang berperan dalam keberlangsungan usaha kecil adalah modal. Modal sebagai komponen vital menentukan arah bagaimana suatu usaha bisa berkembang. Namun dalam kenyataan, permodalan pada usaha kecil masih sangat terbatas dan mengalami banyak permasalahan serta belum ada pengungkapan. Contoh indikasi adanya permasalahan permodalan pada usaha kecil adalah jika melihat Usaha kecil yang berjumlah lebih dari 90% dari jumlah keseluruhan usaha di Indonesia, namun dalam hal penghasilan yang diperoleh masih sangatlah kecil. Hal ini terjadi dikarenakan adanya permasalahan permodalan baik dari sisi relevansi, efektivitas, dan efisiensi sehingga penelitian ini berusaha menggali mengenai permasalaan permodalan pada usaha kecil. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuatitatif deskriptif dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa observasi dan wawancara. Data awal yang dicari adalah prosentase modal dan alokasi penggunaan modal kemudian data yang diperoleh dideskripsikan secara rinci. Subyek penelitian adalah pelaku 8 sentra usaha unggulan kota Malang yaitu Sentra Keramik Dinoyo, Sentra Gerabah Penanggungan, Sentra Usaha Keripik Tempe Sanan Purwantoro, Sentra Usaha Mebel Tunjung Sekar, Sentra Usaha Rotan Bale Arjosari, Sentra Usaha Emping Jagung Arjosari, Sentra Usaha Kompor Merjosari, Sentra Usaha Saniter Karangbesuki. Hasil penelitian menunjukkan permodalan pada usaha kecil jumlahnya masih sangat kecil. Hal ini dikarenakan usaha kecil memiliki keterbatasan mengakses informasi dan adanya suku bunga yang tinggi. Dari sisi efektivitas, pemanfaatan modal masih sangat bergantung jumlah modal yang dimiliki dan keadaan pasar sedangkan di sisi efisiensi pemanfaatan modal masih terkendala besarnya modal yang dimiliki dan keterbatasan pengetahuan mengenai produksi. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan agar pemerintah memberikan kemudahan dalam memanfaatkan kredit untuk usaha kecil baik dari sisi sosialisasi kepada usaha kecil maupun tingkat suku bunga. Selain itu pemerintah juga diharapkan mampu mengontrol harga bahan baku dan bahan pembantu untuk produksi usaha kecil. Dari sisi efisiensi disarankan agar pemerintah sering melakukan pelatihan-pelatihan kepada pelaku usaha kecil mengenai alternatif produksi untuk meningkatkan efisisensi pada usaha kecil.

Pengaruh motivasi dan tata ruang kantor terhadap kinerja pegawai di Departemen Agama Bojonegoro / Laela Estuning Hidayati

 

Kata kunci: Motivasi, tata ruang kantor, kinerja pegawai Keberhasilan seseorang dalam suatu pekerjaan salah satunya ditentukan oleh motivasi atau dorongan untuk melakukan pekerjaan tersebut. Walaupun telah memilih individu dengan baik berdasarkan pada kemampuan alamiah, yang telah dilengkapi dengan latihan yang relevan dan sukses, disertakan dengan peralatan bantu yang tepat, faktor utama yang menentukan tingkat keberhasilannya adalah tingkat motivasinya. Di Indonesia, tata ruang kantor masih kurang mendapatkan perhatian. Seringkali terlihat adanya kantor-kantor besar yang tidak menata ruang kantor dengan baik terutama penempatan perabot, peralatan, dan alat-alat ketatausahaannya, sehingga semua proses kerja ketatausahaannya tidak berlangsung secara efisien. Namun, banyak kantor yang memiliki peralatan untuk proses bekerja yang lengkap, tetapi karena peralatan tersebut tidak ditata dengan baik, semua peralatan tersebut tidak dalam kondisi siap pakai. Karena itu, ruang kantor beserta kelengkapannya perlu ditata sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Penelitian ini dilakukan di Departemen Agama Bojonegoro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi, dan tata ruang kantor terhadap kinerja pegawai. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri dari motivasi (X1) dan Tata Ruang Kantor (X2) Sedangkan variable terikat dalam penelitian ini yaitu kinerja (Y). Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai Departemen Agama Bojonegoro yang berjumlah 49 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket/ kuesioner. Analisi yang digunakan adalah analisis regresi berganda dan menggunakan program SPSS versi 16,00 Hasil penelitian diketahui secara parsial variable motivasi (X1) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai (Y) karena terbukti thitung > ttabel (1,803>1,645). Dan variable tata ruang kantor (X2) tidak berpengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai (Y) karena terbukti thitung < ttabel (0,577 < 1,645). Hasil uji parsial diketahui bahwa variable yyang berpengaruh paling dominant terhadap kinerja pegawai adalah variabel motivasi (X1) karena memiliki thitung > ttabel. Secara simultan variable motivasi (X1) dan tata ruang kantor (X2) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja pegawai (Y) karena terbukti thitung > ttabel (1,711 >1,645). Kinerja pegawai dipengaruhi oleh variable bebas yaitu motivasi pegawai (X1) dan tata ruang kantor (X2) sebesar 37,6% dan sisanya 62,3% dipengaruhi oleh variable-variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Berdasarkan studi pengamatan ini dapat disarankan kepada kepala Departemen Agama agar selalu melakukan pembinaan terhadap kemampuan professional pegawai agar melakukan tugas dan fungsinya sesuai dengan pedoman yang ada sehingga dapat meningkatkan kinerjanya, kepada pegawai Departemen Agama agar melakukan pengembangan profesionalitas yang antara lain berupa mengikuti pendidikan dan atau pelatihan, pembinaan yang teratur, dan kepada peneliti lain diharapkan dapat mengembangkan penelitian tentang variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.

Penstabil tegangan DC pada pembangkit listrik tenaga angin dengan metode converter push-pull / Syaifudin Zuhri

 

Kata kunci : Converter Puss-Pull, Regulator Peralatan penstabil yang mengandung rangkaian pembangkit pulsa, converter dan regulator. Dalam aplikasinya dapat di gunakan sebagai pengisian baterai yang akhirnya bisa di gunakan dalam peralatan yang membutuhkan tegangan DC dan mampu di gunakan sebagai energy alternatife untuk memenuhi kebutuhan peralatan rumah tangga di daerah-daerah yang belum ada persediaan listrik. Prinsip kerja penstabil di mulai dari sumber tegangan DC dari generator yang di gerakkan oleh turbin. Permasalahan yang muncul dari pembangkit ini adalah kecepatan angin yang tidak menentu. Daya listrik yang dihasilkan generator juga tidak menentu. Tegangan yang di hasilkan oleh generator akan di hubungkan ke rangkaian converter untuk di step up menggunakan transformator. Sebelum tegangan dari generator masuk ke rangkaian converter, terlebih dahulu melewati mosfet yang di aktifkan oleh pembangkit pulsa melalui kaki gate untuk di kuatkan arusnya dari drain ke source. Transformator mengubah tegangan maksimal dari 15 volt ke 30 volt DC. Sedangkan untuk menjaga kestabilan tegangan pada proses pengisian baterai di perlukan regulator. Pada tugas akhir ini membahas mengenai bagaimana membuat pulse width modulation dengan IC TL494, Bagaimana membuat rangkaian penaik tegangan menggunakan metode converter push-pull, Bagaimana membuat rangkaian regulator supaya dapat digunakan dalam pengisian aki dan digunakan untuk menjalankan inverter. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diperoleh penstabilan tegangan 15 volt jika tegangan sebelum masuk regulator sebesar 16,5 volt. Tegangan keluaran penstabilan yang sebesar 13 volt mendekati tegangan yang diharapkan untuk melakukan pengisian baterai yaitu sebesar 12 volt. Simpulan dari perancangan ini adalah perencanaan Penstabil Tegangan DC Pada Pembangkit Listrik Tenaga Angin Dengan Metode Converter Push-Pull ini yang berfungsi untuk membangkitkan tenaga listrik dari generator yang di gerakan oleh angin. Tegangan keluaran dari generator ini belum stabil sehingga digunakan penaikan tegangan dan regulator untuk menstabilkan tegangan. IC LM 7815 digunakan sebagai regulator dengan penambahan transistor untuk penguatan arus.

Perbaikan faktor daya menggunakan kapasitor pada motor induksi 3 fasa / Khamidah Kusniah

 

Kata Kunci: faktor daya, kapasitor, otomatisasi Faktor daya atau cos φ yang rendah dalam industri merupakan kerugian yang harus diminimalkan. Faktor daya tersebut diakibatkan oleh pemakaian beban-beban induktif seperti lampu TL dan motor listrik. Kerugian yang ditimbulkan antara lain bertambahnya biaya listrik dan biaya instalasi yang harus disediakan, serta pemanasan pada motor induksi. Alat simulasi perbaikan faktor daya yang dapat menyesuaikan jumlah kapasitor yang dipakai untuk memperbaiki faktor daya tersebut. Adapun sistem yang dibangun pada alat otomatis ini adalah: (1) Pengukuran faktor daya; (2) Mikrokontroler dengan masukan jumlah daya reaktif dan keluaran berupa driver relay yang akan menghubungkan dan memutuskan kapasitor yang dibutuhkan dalam perbaikan faktor daya. Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana merancang alat perbaikan faktor daya pada beban-beban induktif secara otomatis dan bagaimana rangkaian untuk kontrol otomatis perbaikan faktor daya,dan Untuk mewujudkan alat perbaikan faktor daya tersebut, digunakan metode pengembangan dengan menggunakan langkah sebagai berikut: (1) Studi literatur, (2) Perencanaan dasar, (3) Perancangan alat, dan (4) Pengujian alat. Alat yang dibuat ini mampu memperbaiki faktor daya dari 0,2 menjadi 0,93. Sehingga dapat dikatakan hasil tersebut sudah layak digunakan untuk memperbaiki faktor daya. Dari analisa hasil pengujian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan: (1) Dalam memperbaiki cos φ dari beban induktif digunakan kapasitor yang dirangkai paralel. Untuk mengatur penyambungan kapasitor dapat digunakan mikrokontroler yang mana input dari mikrokontroler tersebut dari sensor beda fasa.

Perbandingan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode mengajar kelompok dan metode demonstrasi pada pelajaran menjahit celana pria kelas XI Busana di SMK Negeri 3 Malang / Nidya Sasando

 

Kata kunci: Metode Mengajar Kelompok, Metode Demonstrasi, Hasil Belajar. Metode mengajar kelompok memberikan tekanan utama pada peningkatan kemampuan individu sebagai anggota kelompok. Metode ini dapat ditempuh guru dengan jalan: membagi kelas dalam beberapa kelompok dan memberi kesempatan untuk belajar perorangan dan berkelompok kecil, dalam hal ini guru perlu mencegah terjadinya perilaku siswa sebagi parasit belajar, dan ketidakmampuan kerja kelompok. Metode demonstrasi merupakan metode pembanding yang cara penyajian pelajaran tersebut dengan cara meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan. Penilaian hasil belajar pada Sekolah Menengah Kejuruan menggunakan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, pada dasarnya merupakan proses penentuan untuk memastikan siswa apakah sudah kompeten atau belum. Hasil belajar diperoleh dari penggunaan metode mengajar kelompok dan metode demonstrasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan metode mengajar kelompok dan demonstrasi pada pelajaran menjahit celana pria yang dilakukan di SMK Negeri 3 Malang, tanggal 24 Agustus 2009 - 25 Desember 2009. Populasi diambil dari siswa kelas XI Busana. Sampel diambil dari siswa kelas XI Busana 1 dan 2. Sedangkan sumber data yang dipilih adalah guru pengajar dari masing-masing kelas. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan nilai praktik. Variabel bebas: metode mengajar kelompok dan metode demonstrasi (X), Variabel terikat: hasil belajar siswa pada pelajaran menjahit celana pria (Y). Hasil penelitian pengunaan metode kelompok: (1) Kecermatan penguasaan prilaku dalam menjahit saku passepoille 93%,saku sisi 93%, tutup tarik 93%, ban pinggang 93%. (2) Kecepatan unjuk kerja dalam menjahit saku pasepoille 64%, saku sisi 93%, tutup tarik 93% dan ban pinggang 68%. (3) Kesesuaian dengan prosedur dalam menjahit saku pasepoille 89%, saku sisi 89%, tutup tarik 93% dan ban pinggang 68%. (4) Kualitas unjuk kerja dalam menjahit saku pasepoille 93%, saku sisi 93%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 89%. (5) Tingkat alih belajar dalam menjahit saku pasepoille 89%, saku sisi 93%, tutup tarik 96% dan ban pinggang 68%. (6) Tingkat retensi dalam menjahit saku pasepoille 89%, saku sisi 93%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 68%. Hasil penelitian pengunaan metode demonstrasi: (1) Kecermatan penguasaan prilaku dalam menjahit saku pasepoille 93%, saku sisi 89%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 89%. (2) Kecepatan unjuk kerja dalam menjahit saku pasepoille 46%, saku sisi 57%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 68%. (3) Kesesuaian dengan prosedur dalam menjahit saku pasepoille 89%, saku sisi 89%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 68%. (4) Kualitas unjuk kerja dalam menjahit saku pasepoille 46%, saku sisi 57%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 68%. (5) Tingkat alih belajar dalam menjahit saku pasepoille 89%, saku sisi 46%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 68%. (6) Tingkat retensi dalam menjahit saku pasepoille 89%, saku sisi 89%, tutup tarik 89% dan ban pinggang 68%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan metode kelompok mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan metode demonstrasi pada pelajaran celana pria di kelas XI Busana SMK Negeri 3 Malang. Penelitian ini tentunya memiliki banyak kekurangan, alangkah baiknya bila peneliti lain mempunyai waktu, lokasi dan faktor lain yang mendukung akan lebih baik apabila pengambilan populasi dan sampel dilakukan dari beberapa sekolah yang melaksanakan metode mengajar kelompok dan demonstrasi pada pelajaran produktif. Penelitian selanjutnya supaya lebih sempurna lagi sebaiknya untuk membuktikan bahwa perbandingan metode mengajar kelompok dan metode demonstrasi perlu dikembangkan intrumen lain seperti angket untuk menggali data tersebut. Sebaiknya dalam memilih metode mengajar pada pelajaran produktif lebih bervariasi. Berdasarkan penelitian ini supaya lebih efektif sebaiknya mengembangkan penggunaan metode kelompok dalam pelajaran produktif di Sekolah Kejuruan.

Keefektifan model pembelajaran problem based learning (PBL) terhadap pemahaman konsep fisika siswa kelas X SMA Negeri 2 Kediri / Achmad Yoesoef

 

Kata kunci: pemahaman konsep, problem based learning Penelitian ini bertujuan untuk menguji: (1) perbedaan pemahaman konsep fisika antara siswa yang belajar menggunakan model PBL dengan siswa yang belajar menggunakan model tradisional, (2) keefektifan pembelajaran model PBL terhadap pembelajaran model tradisional dalam peningkatan pemahaman konsep fisika Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu (quasi experimental) pretest-posttest control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2009/2010. Sampel penelitian adalah dua kelas yang ditetapkan berdasarkan teknik simple random sampling. Kelas pertama belajar dengan model PBL. Kelas kedua belajar dengan model tradisional. Data pemahaman konsep dikumpulkan dengan 22 butir tes DIRECT versi 1,0 yang dimodifikasi. Data dianalisis dengan statistik ANAVA dan uji Scheffé. Pengujian hipotesis nol dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan temuan-temuan sebagai berikut. (1) terdapat perbedaan yang signifikan pemahaman konsep fisika antara siswa yang belajar menggunakan model PBL dengan siswa yang belajar menggunakan model tradisional. Pemahaman konsep fisika pada kelas PBL lebih tinggi daripada kelas tradisional (2) pembelajaran model PBL lebih efektif daripada model tradisional dalam peningkatan pemahaman konsep fisika

Penerapan metode eksperimen dan bermain peran untuk meningkatkan kualitas proses dan prestasi belajar fisika siswa kelas VII-H SMPN 4 Kediri / Atik Joedanarni

 

Kata kunci: Keaktifan, Prestasi Belajar, Metode Eksperimen, Bermain Peran Berdasarkan observasi di SMPN 4 Kediri kususnya di kelas VII-H menunjukkan guru masih menekankan pemberian materi pelajaran saja, kurang memperhatikan proses bagaimana informasi tersebut diterima oleh siswa. Strategi pembelajaran yang digunakan guru tidak bervariasi, bahkan monoton sehingga siswa belum aktif dalam pembelajaran. Oleh karena itu peneliti ingin mengembangkan belajar dengan situasi yang memungkinkan siswa pada saat KBM berlangsung keaktifan siswa, keterampilan berpikir dan keterampilan motoriknya meningkat sehingga hasilnya bisa maksimum.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan prestasi belajar pada konsep Gerak dan Kalor menerapkan metode eksperimen dan bermain peran. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi yang terdiri dari: (1) keterlaksanaan pembelajaran, (2) aktivitas siswa, dan (3) penilaian aspek psikomotorik. Kemampuan kognitif diukur menggunakan tes yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pelaksanaan pembelajaran yakni pada siklus I mencapai 70,75% dan pada siklus II mencapai 971,38%, keaktifan siswa meningkat pada siklus I mencapai 75,00% dan pada siklus II mencapai 90,00% demikian juga prestasi belajar siswa yakni pada siklus I dicapai ketutasan belajar siswa sebesar 55,00% dan pada siklus II mencapai 86,00% atau dengan rata-rata pada siklus I mencapai 70,21 dan pada siklus II mencapai 83,00. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode eksperimen dan bermain peran dapat meningkatkan mutu pembelajaran di kelas khususnya pada konsep Gerak dan Kalor. Pembelajaran dengan metode eksperimen dan bermain peran memiliki kelebihan (1) meningkatkan keaktifan, kreativitas, realistik dan menyenangkan, (2) dapat meningkatkan rasa percaya diri pada siswa dan melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya. Kekurangannya adalah (1) memerlukan waktu yang relatif banyak dibandingkan dengan model ceramah (2) memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang (3) memerlukan tingkat kreatifitas guru yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan, (1) Guru bidang studi Fisika sejenis dapat menggunakan dan menerapkan pembelajaran dengan metode eksperimen dan bermain peran untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa. (2) Guru bidang studi IPA dapat mempelajari dan menerapkan tahap demi tahap metode eksperimen dan bermain peran sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat secara optimum.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 32 | 33 | 34 | 35 | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | 46 | 47 | 48 | 49 | 50 | 51 | 52 | 53 | 54 | 55 | 56 | 57 | 58 | 59 | 60 | 61 | 62 | 63 | 64 | 65 | 66 | 67 | 68 | 69 | 70 | 71 | 72 | 73 | 74 | 75 | 76 | 77 | 78 | 79 | 80 | 81 | 82 | 83 | 84 | 85 | 86 | 87 | 88 | 89 | 90 | 91 | 92 | 93 | 94 | 95 | 96 | 97 | 98 | 99 | 100 | 101 | 102 | 103 | 104 | 105 | 106 | 107 | 108 | 109 | 110 | 111 | 112 | 113 | 114 | 115 | 116 | 117 | 118 | 119 | 120 | 121 | 122 | 123 | 124 | 125 | 126 | 127 | 128 | 129 | 130 | 131 | 132 | 133 | 134 | 135 | 136 | 137 | 138 | 139 | 140 | 141 | 142 | 143 | 144 | 145 | 146 | 147 | 148 | 149 | 150 | 151 | 152 | 153 | 154 | 155 | 156 | 157 | 158 | 159 | 160 | 161 | 162 | 163 | 164 | 165 | 166 | 167 | 168 | 169 | 170 | 171 | 172 | 173 | 174 | 175 | 176 | 177 | 178 | 179 | 180 | 181 | 182 | 183 | 184 | 185 | 186 | 187 | 188 | 189 | 190 | 191 | 192 | 193 | 194 | 195 | 196 | 197 | 198 | 199 | 200 | 201 | 202 | 203 | 204 | 205 | 206 | 207 | 208 | 209 | 210 | 211 | 212 | 213 | 214 | 215 | 216 | 217 | 218 | 219 | 220 | 221 | 222 | 223 | 224 | 225 | 226 | 227 | 228 | 229 | 230 | 231 | 232 | 233 | 234 | 235 | 236 | 237 | 238 | 239 | 240 | 241 | 242 | 243 | 244 | 245 | 246 | 247 | 248 | 249 | 250 | 251 | 252 | 253 | 254 | 255 | 256 | 257 | 258 | 259 | 260 | 261 | 262 | 263 | 264 | 265 | 266 | 267 | 268 | 269 | 270 | 271 | 272 | 273 | 274 | 275 | 276 | 277 | 278 | 279 | 280 | 281 | 282 | 283 | 284 | 285 | 286 | 287 | 288 | 289 | 290 | 291 | 292 | 293 | 294 | 295 | 296 | 297 | 298 | 299 | 300 | 301 | 302 | 303 | 304 | 305 | 306 | 307 | 308 | 309 | 310 | 311 | 312 | 313 | 314 | 315 | 316 | 317 | 318 | 319 | 320 | 321 | 322 | 323 | 324 | 325 | 326 | 327 | 328 | 329 | 330 | 331 | 332 | 333 | 334 | 335 | 336 | 337 | 338 | 339 | 340 | 341 | 342 | 343 | 344 | 345 | 346 | 347 | 348 | 349 | 350 | 351 | 352 | 353 | 354 | 355 | 356 | 357 | 358 | 359 | 360 | 361 | 362 | 363 | 364 | 365 | 366 | 367 | 368 | 369 | 370 | 371 | 372 | 373 | 374 | 375 | 376 | 377 | 378 | 379 | 380 | 381 | 382 | 383 | 384 | 385 | 386 | 387 | 388 | 389 | 390 | 391 | 392 | 393 | 394 | 395 | 396 | 397 | 398 | 399 | 400 | 401 | 402 | 403 | 404 | 405 | 406 | 407 | 408 | 409 | 410 | 411 | 412 | 413 | 414 | 415 | 416 | 417 | 418 | 419 | 420 | 421 | 422 | 423 | 424 | 425 | 426 | 427 | 428 | 429 | 430 | 431 | 432 | 433 | 434 | 435 | 436 | 437 | 438 | 439 | 440 | 441 | 442 | 443 | 444 | 445 | 446 | 447 | 448 | 449 | 450 | 451 | 452 | 453 | 454 | 455 | 456 | 457 | 458 | 459 | 460 | 461 | 462 | 463 | 464 | 465 | 466 | 467 | 468 | 469 | 470 | 471 | 472 | 473 | 474 | 475 | 476 | 477 | 478 | 479 | 480 | 481 | 482 | 483 | 484 | 485 | 486 | 487 | 488 | 489 | 490 | 491 | 492 | 493 | 494 | 495 | 496 | 497 | 498 | 499 | 500 | 501 | 502 | 503 | 504 | 505 | 506 | 507 | 508 | 509 | 510 | 511 | 512 | 513 | 514 | 515 | 516 | 517 | 518 | 519 | 520 | 521 | 522 | 523 | 524 | 525 | 526 | 527 | 528 | 529 | 530 | 531 | 532 | 533 | 534 | 535 | 536 | 537 | 538 | 539 | 540 | 541 | 542 | 543 | 544 | 545 | 546 | 547 | 548 | 549 | 550 | 551 | 552 | 553 | 554 | 555 | 556 | 557 | 558 | 559 | 560 | 561 | 562 | 563 | 564 | 565 | 566 | 567 | 568 | 569 | 570 | 571 | 572 | 573 | 574 | 575 | 576 | 577 | 578 | 579 | 580 | 581 | 582 | 583 | 584 | 585 | 586 | 587 | 588 | 589 | 590 | 591 | 592 | 593 | 594 | 595 | 596 | 597 | 598 | 599 | 600 | 601 | 602 | 603 | 604 | 605 | 606 | 607 | 608 | 609 | 610 | 611 | 612 | 613 | 614 | 615 | 616 | 617 | 618 | 619 | 620 | 621 | 622 | 623 | 624 | 625 | 626 | 627 | 628 | 629 | 630 | 631 | 632 | 633 | 634 | 635 |